Ceritasilat Novel Online

Bara Maharani 1

Eps 1 Bara Maharani - Khu Lung

Baca online Bara Maharani - Khu Lung

Cersil Bara Maharani - Khu Lung.

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com Karya . Khu Lung diterjemahkan oleh Tjan Ing Djoe

Jilid KE 1 Membalas budi tuan penolong ayah bunda.

Malam telah kelam, suasana diseluruh jagad sunyi tak kedengaran sedikit suarapun, cahaya rembulan lapat2 muncul dari balik awan yang gelap ...

angin malam berhembus sepoi-sepoi menggoyangkan daun dan ranting pepohonan disekeliling sana.

Jauh memandang kedepan yang nampak hanya hutan belantara, gonggongan srigala me nimbulkan suasana yang ngeri dimalam itu.....

Sebidang tanah kecil muncul ditengah hutan belantara, sebuah gubuk reyot berdiri disisi sebuah kuburan yang usang .

Dibawah sinar purnama tampak seorang pemuda berusia enam tujuh belas tahunan berlutut didepan kuburan itu, sebuah kuburan tak bernisan, wajahnya hitam pekat dengan alis yang tebal dan badan yang kekar.

Disisi pusara terletak sebuah kursi peyot, seorang perempuan cantik berwajah agung duduk dengan penuh kewibawaan disitu.

Angin berhembus makin kencang, kerlipan kunang2 seakan2 api setan yang muncul dari neraka...kecuali isak tangis yang lirih hanya bintang nun jauh disana menemani jagad yang sunyi dan sepi.

Tiba2 perempuan cantik itu menyeka air mata yang membasahi wajahnya, kemudian berkata .

"Anak Seng, waktu sudah tidak pagi lagi, tenangkanlah hatimnu dan dengarkanlah pesan ibumu baik-baik !" .

"Ibu, katakanlah ! ananda akan memperhatikannya dengan seksama!"

Buru2 pemuda itu putar badan seraya berlutut dihadapan ibunya.

"Aaai...!"

Helaan napas panjang membelah kesunyian yang mencekam seluruh jagad.

"Situasi dalam dunia persilatan dewasa ini tidak aman, kejahatan merajalela. suasana diliputi kegelapan bagaikan hutan belantara, kau harus ingat baik2 pesanku, setiap orang yang memiliki ilmu silat jauh lebih kuat darimu, sembilan bagian pastilah kaum durjana yang mengacau masyarakat..." . Sepasang alis pemuda itu menjungkit, diatas wajahnya yang hitam itu tiba2 terlintas cahaya yang tajam, sorot mata mengerikan memancar dari-balik kelopak matanya yang basah oleh air mata.

"Anakku kau tak boleh bekerja menuruti angkara murka"

Ujar perempuan cantik itu sambil membelai rambut puteranya.

"Dalam pertempuran berdarah yang berlangsung dalam pertempuran Pak Beng-Hwie sepuluh tahun berselang, seluruh kekuatan inti kaum lurus dan sesat telah bertemu satu sama lainnya sayang kaum lurus berhasil ditumpas hingga ludas dan kaum sesat malah merebut kemenangan! aaai.... dunia telah berubah, badai darah melanda di-mana2" . la mendongak dan menghela napas panjang. .,Anakku, kau harus ingat ! dalam perjalananmu didunia persilatan janganlah terlalu menuruti suara hati, jangan mendatangkan bencana bagi dirimu sehingga menyia2kan pendidikan serta pelajaranku selama sepuluh tahun ".

"Ananda akan ingat selalu pesan ibu'' sahut pemuda itu sambil menyeka air mata.

"Kehormatan serta martabat pribadi adalah urusan kecil, melenyapkan kaum durjana serta menolong umat manusia dalam dunia persilatan barulah pekerjaan yang maha besarl" . Perernpuan cantik itu mengangguk .,Sebelum kau berhasil menumpas kaum durjana lenyap dari permukaan bumi, janganlah sekali menikah dan punya istri, dari pada persoalan keluarga mengacauksn pikiran serta konsentrasimu dalam usaha untuk menumpas kaum iblis dari muka bumi dan menyelamatkan umat manusia dari lembah kehancuran."

Pemuda tersebut baru berusia enam tujuh belas tahun, tentu saja ia belum sampai memikirkan soal pacar, isteri apalagi menikah dan punya anak, sekalipun begitu ia tahu pesan ibunya pasti ada maksud tertentu maka ia mengangguk berulang sebagai pernyataan bahwa dia akan mengingatnya selalu didalam hati.

Perempuan cantik tadi merandek sejenak, kemudian seraya berpaling kearah kuburan disisi tubuhnya, ia berkata lagi dengan nada sesenggukan.

"Demi keadilan dan kebenaran, kau tak boleh bersipat pengecut dan mencari keselamatan diri sendiri..." . Teringat akan situasi yang mencekam dalam dunia persilatan dewasa ini, perempuan itu tak dapat menahan lagi dan menangis terisak! "Ibu legakanlah hatimu"

Buru2 sianak muda itu menghibur ibunya dengan suara halus.

"Ananda pasti akan menjunjung tinggi semangat serta kebesaran jiwa ayahku almarhum, aku pasti akan berjuang mati2an demi kebenaran dalam dunia persilatan" . Perempuan cantik itu mengangguk, demikianlah ibu dan anakpun saling berpandangan dengan air mata bercucuran, membuat hutan belantara itu seakan2 diliputi kabut hitam, menyirnakan cahaya rembulan dan menutupi seluruh jagad. Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya perempuan cantik itu berhasil menguasai diri, sambil menyeka noda air mata dipipinya ia berkata lagi.

"Anakku, dengarlah baik2 ! didalam kota Keng-Chin terdapat seorang lelaki she-Chin bernama Pek-Cuan, ia mempunyai ikatan dendam kesumat sedalam lautan dengan seorang gembong iblis yang bergelar Boe Liang sinkoen dari gunung Boe-Liang-san dalam bilangan Propinsi In-Lam, dendam ini sudah terikat banyak tahun lamanya dan Boe Liang Sinkoen pernah bersumpah akan mencabut jiwa seluruh keluarga Chin !" . Ia merandek sejenak untut tukar napas, kemudian terusnya .

"Dalam pertemuan Pak Beng Hwie yang telah berlangsung tempo dulu, ayahmu telah menantang Boe Liang Sinkoen untuk turun tangan terlebih dahulu dalam babak pertama, maksudnya ia hendak gebah pergi lebih dahulu musuh paling tangguh yang berkepandaian lihay, agar kaum pendekar bisa mendapatkan sedikit harapan untuk hidup. Aaaai ! meskipun pada akhirnya Boe Liang Sinkoen berhasil dikalahkan dan mengundurkan diri dari pertemuan tersebut namun tenaga murni ayahmu pun mengalami banyak kerusakan dalam suatu pertempuran berdarah yang kemudian berlangsung akhirnya ia menemui ajalnya dan gagal menolong kaum pendekar lolos dari bencana!"

Sembari berbicara sinar mata kedua orang itu tanpa terasa sama2 memandang kearah pekuburan disisi mereka, empat pasang mata menyorotkan cahaya redup yang diliputi kesedihan.

Terdengar perempuan cantik itu berkata lebih jauh .

,.Sebelum pertarungan antara ayahmu dengan Boe Liang Sinkoen dilangsungkan, mereka telah mengadakan pertaruhan yang diliputi jangka waktu sepuluh tahun, seandainya salah satu diantara mereka menderita kalah maka sang pecundang harus mengurung diri selama sepuluh tahun.

Ahirnya sebagaimana kau ketahui Boe Liang Sinkoen lah yang menderita kekalahan maka dia harus mengasingkan diri selama sepuluh tahun.

Sesaat sebelum meninggalkan pertemuan tadi ia telah sesumbar dan mengatakan bahwa siapapun yang ada didunia kangouw dilarang mencabut jiwa Chin Pek Cuan kecuali dia seorang.

Kaum sesat yang merajai Bu-lim sebagian besar punya hubungan erat dengan dirinya, ada pula yang jeri terhadap dirinya, maka dalam pertemuan tadi kendati ilmu silat yang dimiliki Chin Pek Cuan amat rendah tetapi dia berhasil mengundurkan diri datum keadaan selamat.

Sekalipun begitu dengan kekuatan yang dimilikinya sudah tentu ia masih bukan tandingan dari Boe Liang Sinkoen, sekembalinya kerumah terpaksa ia harus lawatkan sisa hidup sepuluh tahun yang terakhir ini dengan tenang sambil setiap saat menantikan kedatangan musuhnya untuk mencabut jiwanya ".

Sang pemuda yang selama ini membungkam, kini segera menimbrung dari samping .

"Ibu, waktu sepuluh tahun cukup panjang dan lama, apakah Chin Pek Cuan tak bisa menyingkir atau menyembunyikan diri disuatu tempat yang terpencil misalnya ?"

"Chin Pek Cuan adalah seorang lelaki berhati keras bagaikan baja, dia tak sudi bertekuk lutut terhadap siapapun, kalau suruh dia menyembunyikan diri sebagai kura2 hanya disebabkan untuk hidup lebih lanjut, sudah tentu tak sudi ia lakukan!" .

"Oooh, kiranya begitu!"

Pemuda itu manggut mendengarkan perkataan ibunya lebih lanjut.

"Pertarungan sengit didalam pertemuan Pak Bang Hwie akhirnya selesai juga, ayahmu menemui ajalnya disaat itu juga sedang ibumu menderita luka parah, sebenarnya pada waktu itu aku ada niat untuk menyusul ayahmu, apa daya ada beban kau yang hidup didunia, maka atas bantuan serta perlindungan para Too yu, aku berhasil menerjang keluar dari kepungan dalam keadaan selamat " . Ia mengbela napas sedih, matanya sayu dan jauh memndang kedepan....

"Ibumu dapat hidup hingga kini sebagian besar adalah berkat bantuan dari Chin Pek Cuan, dia pula yang membopong janasah ayahmu turun dari pertemuan tersebut" .

"Budi pertolongan yang demikian besar sudah sewajarnya kalau kita balas, ananda berjanji pasti akan menemukan orang itu dan membalas budinya" .

"Aaai...! dewasa ini jiwa Chin Pek Cuan sekeluarga terancam bahaya maut, sedang luka parah dari ibumu belum sembuh, keadaanku bagaikan orang cacad yang kehilangan segenap kekuatan tubuhnya, tidak mungkin aku bisa menandingi Boe-Liang Sinkoen dalam keadaan begini, darimana kita dapat membalas budi yang amat besar itu."

"Bagaimana kalau ananda yang berangkat ke kota Keng-Chiu untuk menyelamatkan jiwa keluarga Chin dari ancaman maut ???"

Seru si anak muda itu setelah termenung dan berpikir sejenak.

"Mungkin dengan kecerdikan kita masih sanggup menggebah pergi Boe-Liang Sin Koen !" . .,Hmm ! dengan kecerdikan apakah kau hendak mengakali Boe Liang Sin-Koen, dengan kekuatan apa kau hendak mengalahkan gembong iblis itu ?"

Seru sang ibu sambil tertawa dingin.

,.Bukankah baru saja kukatakan kepadamu, melakukan segala persoalan janganlah mengikuti napsu serta angkara murka, kenapa kau sudah melupakan pesan ibumu ?

Manyaksikan wajah ibunya yang keren dan penuh berwibawa, pemuda itu segera tundukkan kepalanya rendah2 dan segera mohon maaf.

Tiba2 terdengar perempuan itu menghela napas.

"Anakku! ibu selalu berharap agar kau bisa meneruskan cita-cita ayahmu almarhum yang mulia dan luhur itu ! aku harap kau bisa berjuang guna menyelamatkan seluruh umat manusia dari cengkeraman iblis dan durjana, disamping itu akupun berharap kau tidak menjumpai bencana dan bahaya maut hingga bisa hidup seratus tahun lamanya dan tidak memutuskan keturunan ayahrnu Bagaimana kau hendak mengatur diri hal ini terpaksa harus kuserahkan pada keputusanmu sendiri " .

"Ananda mengerti, ananda pasti tak akan menyiakan harapan ibu dan ayah !"

Dalam hati perempuan cantik itu menghela napas, setelah termenung beberapa saat lamanya daridalam saku dia keluarkan sepucuk surat, katanya sambil serahkan surat tadi ketangan sianak muda itu .

"Sudah banyak tahun aku memutar otak mencari akal yang baik untuk menyelamatkan keluarga Chin dari bencana maut, namun apa daya tak sebuah carapun yang berhasil aku dapatkan maka apa boleh buat terpaksa kugunakan siasat penangguhan serangan untuk rnengundurkan persoalan ini beberapa waktu lagi" . Menyaksikan surat tersebut disegel dengan lak merah buru2 pemuda itu memasukkan ke dalam sakunya mendadak ia teringat bahwasanya udara malam sangat dingin, segera serunya sambil tertawa paksa.

"Ibu, marilah kita kembali kedalam rumah dan Ianjutkan pembicaraan disitu saja, mau bukan??" . Setelah membiarkan puteranya berlutut semalaman suntuk, perempuan cantik itu merasa tidak tega membiarkan dia tersiksa lebih jauh maka dia segera mengangguk. Begitulah setelah berlutut dan memberi hormat dihadapan nisan ayahnya, sianak muda itu segera mengganderg tangan ibunya berjalan masuk kedalam rumah. Sakembalinya kedalam rumah, perempuan cantik tadi berkata kembali.

"Boe Liang Sinkoen adalab seorang jagoan yang berotak cerdas, setelah batas waktu sepuluh tahun telan lewat pertama dia pasti akan mendatangi kota Keng-Chiu terlebih dahulu untuk mencabut nyawa Chin Pek Cuan sekeluarga karena itu setelah fajar menyingsing nanti kau harus segera turun gunung sebelum bulan dua belas tanggal delapan belas kau harus sudah berjaga2 diluar rumah keluarga Chin Pek Cuan, nantikanlah kedatangan Boe Liang Sinkoen disini, sebab menurut dugaanku sebelum tengah malam pembunuh itu pasti sudah datang " .

"Kalau memang kita kenal dengan Chin Pek Cuan apa lagi sahabat karib, kenapa aku tak diperkenankan mendatangi mereka ?"

"Aaaai ..! semasa ayahmu masih hidup, dia adalah pujaan kaum pendekar dan orang gagah. S.andainya Chin Pek Cuan tahu akan asal usulmu maka ia tak nanti mengijinkan kita ibu dan anak ikut menempuh bahaya bersama dirinya, lagipula meskipun aku punya rencana, berhasil atau tidak pada detik ini masih sulit bagiku untuk meramalkannya " . Bibir pemuda itu bergetar seperti mau mengucapkan sesuatu, tapi perempuan cantik ini sudah keburu ulapkan tangannya seraya berkata .

"Tak usah kau tanyakan apa sebabnya, kau hanya perlu ingat, seandainya Boe Liang Sinkoen telah munculkan diri maka kau harus berusaha memancingnya berlalu dari situ, kemudian setelah tiba ditempat yang tak ada manusianya serahkan surat dariku itu. Kalau ia bertanya apapun juga kepadamu jangan kau jawab barang sekecappun !"

Kendati didalam hati pemuda itu merasa sangsi dan tidak habis mengerti, namun ia tidak berani bertanya. Setelah berpikir sejenak tanyanya.

"Apa yang harus kulakukan setelah serahkan surat ini kepadanya-"

"Sepuluh tahun berselang ayahmu berhasil mendapatkan sebatang "

Tan Hwee-Tok Lian atau Teratai beracun empedu api yang mana kemudian dipelihara dalam perkampungan Liok-Soat-San Cung kita, kau tentu masih ingat akan persoalan ini bukan?"

"Apakah teratai berbonggol hitam berdaun merah bagaikan batu bata itu?"

Perempuan cantik tersebut mengangguk, meIihat rambut putranya awut2an ia belai kepala sianak muda itu dan menyahut.

"Teratai tersebut mengandung racun yang keji, dalam kolong langit tak ada seorang manusiapun yang sanggup memunahkan daya kerja racun itu, menyusuplah kedalam perkampungan Liok-Soat-San Cung dan usahakanlah untuk mendapatkan teratai beracun itu, kemudian cepat2lah kembali kemari.`' Bicara sampai disini ia termenung setengah harian lamanya, tiba2 ia menghela napas panjang.

"Seandainya teratai beracun itu telah hi¬lang, maka kau harus selidiki benda itu dan berusaha untuk memperolehnya kembali," .,Ibu, andaikata Boe Liang Sin Koen tak mau sudahi persoalan itu begitu saja, apa yang harus ananda lakukan?"

Sepasang alis perempuan cantik itu berkerut kencang, beberapa saat lamanya ia berdiri termangu2

"Aku rasa dengan nama besar ayahmu serta diriku dalam dunia persilatan beberapa tahun berselang, suratku itu masih mempunyai daya pengaruh yang besar ia merandek seje¬nak dan tertawa getir. Orang bu-lim sebagian besar tahu kalau ibumu belum mati, tapi tak seorangpun yang tahu kalau ilmu silatku telah musnah, kendati Boe Liang Sin Kun jumawa dan angkuh rasanya dia masih belum berani banyak bertingkah dihadapanku."

Pemuda itu .mengangguk, teringat akan penderitaan ibunya selama ini wajahnya segera berubah jadi amat sedih.

"Setelah ananda berlalu, paling cepat tahun depan baru bisa pulang kegunung, ibu seorang diri.."

"Aaaii...bocah! apa kau anggap kehidupan kita berdua digunung yang terpencil ini adalah suatu kehidupan yang menggembirakan hati ??..."

Tukas perempuan itu sambil tersenyum, wajahnya tiba2 berobah jadi serius.

"Perkumpulan milik kita kemungk!nan besar sudah terbengkalai tidak karuan, delapan bagian Teratai Racun Empedu Api itu sudah dicuri orang, maka dari itu kau harus bertindak menurut keadaan, bagaimanapun juga kau harus dapatkan teratai racun itu dan hantar kemari tahun depan" .

"Ibu apa gunanya Teratai Racun Empedu Api itu bagimu?? apakah penting artinya terhadap masalah yang bersangkutan dengan keluarga Chin?" .

"Ooouw...! teratai racun itu mempunyat kegunaan lain" . Sebenarnya ia tak mau terangkan lebih jauh, tapi setelah dilihatnya air muka putra kesayangannya berubah jadi murung akhirnya ia tertawa.

"Bila Teratai Racun itu berhbasil kau dapatkan maka luka dalam yang kuderita akan jadi sembuh dan ilmu silatku akan pulih kembali seperti sedia kala" .

"Aaah. kiranya begitu, kenapa tidak kau terangkan sejak tadi?"

Jerit pemuda itu sambil berjingkrak2 kegirangan. Benda mustika yang demikian berharga merupakan benda impian setiap umat setelah lewat sepuluh tahun, mana mungkin masih berada ditempat semula?"

Perempuan cantik itu mengerti akan kebingungan putranva, untuk mencegah pikiran yang bukan2, dengan cepat ia berseru sambil tertawa.

"Duduknya perkara dibalik persoalan ini sukar kuterangkan dalam waktu singkat nanti saja setelah kau berhasil mendapatkan teratai racun itu barulah kuceritakan kepadamu. Fajar telah menyingsing, kau boleh segera melakukan perjalanan!" . Mendengar luka dalam ibunya bakal bisa sembuh pemuda itu tidak berpikir lebih jauh lagi, semangatnya berkobar dan segera mempersiapkan diri untuk berangkat. Tapi sesaat kemudian ia merandek dan balik kesisi ibunya sambil berkata dengan hati berat.

"lbu, fajar baru saja menyingsing, biarkanlah ananda menemani ibu sarapan pagi lebih dahulu kemudian baru melakukan perjalanan!"

Perempuan cantik itu mengangguk, maka mereka berduapun masuk kedapur mempersiapkan sarapan pagi. ,Anakku, ilmu silat yang kau miliki amat rendah"

Ujar perernpuan cantik itu memecahkan kesunyian.

"Aku rasa dalam perjalananmu berkelana dalam dunia persitatan, alangkah baiknya kalau ganti nama dan merahasiakan asal usulmu yang sebenarnya, dari pada memancing kaum iblis serta kaum durjana untuk menimpakan bencana kematian bagimu" . .,Ananda mengerti semakin kita simpan baik2 kerlipan cahaya pedang, makin sedikit kesulitan yang bakal ditemui"

Jawab pemuda ini, setelah termenung sejenak bisiknya lirih.

"Ibu, siapa sih sebenarnya pembunuh dari ayahku? dan siapa pula yang melancarkan serangan berat terhadap ibu sehingga kau orang tua menderita luka dalam yang amat parah ?"

Mendengar pertanyaan itu air muka perempuan cantik itu seketika berubah jadi adem, dengan perasaan tidak senang ia menegur .

"Bukankah sudah sering kukatakan kepadamu, bahwa kau harus lebih mengutamakan keadilan serta kebenaran umat manusia daripada dendam kesumat peribadi? mengapa kau selalu saja mengingat2 dendam pribadi ?"

"Hmmm.. ! sungguh membuat hatiku jadi ke cewa..!"

Melihat ibunya marah, buru2 pemuda ini tundukkan kepalanya dan tidak berkata lagi, sementara daiam hati ia berpikir .

"Jelas orang yang telah membinasakan ayahku serta melukai ibuku adalah beberapa orang gembong iblis yang merajai dunia persilatan, aku harus berlatih ilmu silatku lebih tekun asal kaum durjana dan manusia2 sesat ini berhasil kulenyapkan dari permukaan bumi, berarti pula dendam kesumat ayahku telah berhasil kutuntut balas " . Tiba2 terdengar perempuan cantik itu berseru kembali .

"Seng-jie, setelah turun gunung kau tidak diperkenankan menyelidiki maupun mencari tahu persoalan yang menyangkut pertemuan Pak Beng Hwie.."

Ia merandek sejenak., lalu ujarnya lagi.

"Kecuali keenam belas jurus ilmu pedang itu, andaikata kau pernah mencuri belajar ilmu silatku, maka ilmu silat tersebut tak boleh kau latih apalagi mempergunakannya dihadapan orang lain !"

Tiada hentinya pemuda ini mengangguk tanda mengerti.

Beberapa saat kemudian fajar telah menyingsing, sarapan pagipun telah disiapkan, maka selesai bersantap dia pun mendengarkan kembali nasehat serta penerangan2 dari ibunya mengenai perguruan silat yang ada di Bulim, peraturan Bu-lim serta pantangan2nya.

Dengan seksama pemuda itu mencatatnya didalam hati.

Menanti sang surya telah memancarkan cahayanya menyinari seluruh jagad, ia baru berpamitan kepada ibunya, bersembahyang didepan batu nisan ayahnya kemudian berangkat turun gunung.

Kota Keng-Chiu terletak disebelah selatan jalan raya King Ouw, jaraknya dengan bukit dimana ibunya berdiam kurang lebih ada ribuan li jauhnya, untung ia masih muda, pakaian yang dikenakan sederhana terbuat dari bahan kasar, berwajah hitam pekat dan tidak terlalu menarik perhatian orang.

Sepanjang perjalanan tiada gangguan apapun yang dijumpai, dan suatu hari sampai juga sianak muda itu ditempat tujuannya.

Musim dingin telah tiba, angin utara yang kencang dan berhawa dingin berhembus kencang dikota Keng-Chtu, salju turun dengan derasnya mengubah seluruh permukaan bumi bagaikan lapisan kapas.

Setibanya didalam kota, tanpa mengalami kesulitan apapun ia berhasil mendapat tahu letak gedung bangunan milik Chin Pek Cuan, diam2 ia berjaga selama beberapa hari disitu.

Selama ini diapun berhasil mengetahui bahwa keluarga Chin beserta pelayan serta pembantunya semua berjumlah tiga empat belas orang.

Tahun baru telah menjelang tiba, kecuali perayaan yang agak sederhana dan sunyi rupanya pihak keluarga Chin sama sekali tidak menggubris atas bencana besar yang menimpa diri mereka.

Sebagai seorang bocah yang patuh terhadap perintah orang tuanya, sianak muda itu berjaga terus siang maupun malam disekitar gedung keluarga Chin kendati angin dan salju turun dengan derasnya.

Beberapa hari dengan cepatnya telah berlalu malam ini adalah Bulan Cia-Gwee tanggal satu, malam telah menjelang tiba, ia sambil mengenakan seperangkap baju kasar telah berdiri didepan pintu keluarga Chin, memandang dua belah pintu yang tertutup rapat perlahan2 ia naik keatas undakan dan duduk bersila di depan pintu sambil setiap saat memperhatikan gerakgerik dalam gedung itu.

Angin berhembus semakin kencang hujan salju turun makin deras, pakaian kasar yang tipis kini sudah ternoda oleh salju, keadaan pemuda tersebut tidak lebih bagaikan pengemis yang tiada bertempat tinggal.

Mendadak...

suara rentetan ledakan mercon berkumandang dari dalam gedung.

Diikuti pintu terpentang, lebar2, dari balik gedung berjalan keluar tiga orang, seorang kakek berjanggut panjang dan memakai jubah lebar berdiri ditengah sedangkan dikedua belah sisinya masing2 berdiri seorang pemuda dan seorang dara ayu.

Perlahan2 pemuda itu mendongak, dalam hati ia menduga sikakek tua itu pastilah tuan penolongnya Chin Pek Cuan, ia tak mau kehilangan adat maka buru2 bangkit berdiri seraya menjura.

"Cayhe adalah seorang gelandangan yang tak bertempat tinggal"

Katanya.

"Bilamana cayhe harus berteduh dari serangan angin dan salju didepan gedung anda, mohon maaf yang sebesar2nya."

Untuk menghindar pelbagai pertanyaan yang mungktn bakal diajukan secara bertubi2, selesai berkata ia segera putar badan dan berlalu dengan langkah lebar.

"Siauw-ko, tunggu sebentar !"

Mendadak kakek itu menghardik. Mendengar teriakan itu terpaksa sianak muda tadi berhenti dan balik kembali.

"Loo Wangwee, kau ada urusan apa memanggil diriku ?"

Dengan gusar kakek itu mendengus, matanya melotot wajahnya membesi. sambil melirik sekejap kearah gulungan kain dibawah ketiak pemuda itu, dia tertawa dingin.

"Hmm ! rupanya kau adalah kaki tangan anjing dari perkumpulau Sin-Kie-Pang ?".

"Perkumpulan panji sakti ???"

Seru pemuda itu melengak.

"Hamba bernama Hong-Po Seng dan sama sekali tiada sangkut pautnya dengan perkumpulan Sin Kie-Pang ".

"Hong-po Seng ??"

Dengan pandangan yang tajam kakek itu menatap wajah pemuda tersebut tak berkedip.

"Suatu nama yang asing sekali, diantara jago2 yang ada dalam Bu-lim tiada seorangpun yang memakai she Hong¬po !"

Hong-po Seng mengerti bahwasanya sikakek tua itu telah mencurigai asal usulnya yang kurang genah, merasa sulit untuk menerangkan persoalan ini terpaksa ia menjura seraya berseru .

"Hamba masih muda dan tak tahu urusan, bila sudah mengganggu ketenteraman Loo wangwee harap suka dimaafkan!" .

"Nanti dulu, diluar dingin sedang berhembus kencang dan salju turun dengan besarnya, silahkan saudara cilik masuk kedalam ruangan untuk minum air teh dahulu" . Seraya berkata kakek itu mendadak melancarkan satu cengkeraman kilat kearah pergelangan lawan. Menyaksikan datangnya serangan yang demikian cepat, diam2 Hong po Seng merasa terperanjat, sebetulnya ia masih sanggup untuk berkelit kebelakang namun secara tiba2 satu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia segera urungkan niat untuk berkelit dan biarkan tangannya dicekal . Ia pasti sudah menaruh curiga terhadap diriku"

Batinnya dalam hati."

Andai kata aku melawan niscaya kesalah pahaman ini akan berlangsung makin dalam, bahkan ada kemungkinan malahan mendatangkan pelbagai kesulitan bagiku.

Dalam pada itu kelima jari tangan kekar itu berbagaikan jepitan telah mencengkeram pergelangan Hong po Seng kemudian menariknya masuk kedalam ruangan.

"Blaaam!"

Pintu besar kembali tertutup rapat.

Melangkah keatas undak2kan tampaklah lampu lilin menerangi seluruh ruangan, meja perjamuan telah dipersiapkan ditengah pendopo.

Kakek itu baru rnelepaskan cengkeramannya setelah tiba disisi meja perjamuan, ia ambil tempat duduk dikursi utama sedang pemuda dan gadis itu duduk dikedua belah sisinya.

Hong-po Seng lantas putar otaknya, ia merasa setelah tiba disini sepantasnya kalau ia hadapi dengan keadaan yang wajar, maka sehabis memberi hormat diapun mengambil tempat duduk dikursi bagian tamu.

Menunggu setelah pemuda itu duduk, kakek tadi baru tertawa hambar dan berkata .

"Saudara cilik, dengan menempuh hembusan angin kencang dan badai salju yang deras semalam suntuk kau berjaga didepan rumah kami aku rasa dibalik tindak tandukmu ini pasti tersembunyi suatu alasan yang besar bukan ? malam ini adalah malam Tahun Baru, perduli kau musuh atau sahabat, harap kau suka memberi keterangan yang jelas kepada kami " ,.Aaah. ternyata tingkah lakuku sudah diperhatikan mereka sejak permulaan"

Pikir Hong po Seng.

"Aaai ... ! bagaimanapun juga orang kangouw kawakan memang jauh lebih lihay !"

Karena pihak lawan sudah mengajukan pertanyaan secara blak2an maka untuk sesaat ia jadi bingung tidak keruan, tak tahu apa yang harus dilakukan dalam keadaan begini, akhirnya terpaksa ia menjura dan bertanya dengan suara lirih.

"Tolong tanya siapakah nama besar loo Wangwee ??".

"Siauwko, apa gunanya sudah tahu masih pura2 bertanya ? loohu adalah Chin Pek Cuan"

Ia tuding pemuda serta gadis disisinya lalu menambahkan.

"Dia adalah puteraku Giok Long, serta puteriku Wan Hong, ilmu silat keluarga kami biasa2 saja dan tiada yang perlu dibanggakan."

Mengikuti arah yang ditunjuk.Hong-po Seng berpaling, tampaklah Chin Giok Long adalah seorang pemuda ganteng yang berusia dua puluh tiga empat tahunan, sedang Chin Wan Hong adalah seorang gadis ayu dan alim yang berusia tujuh delapan belas tahunan, saat itu mereka berduapun sedang memandang kearahnya dengan pandangan sangsi.

Disaat yang amat singkat ituiah Hong-po Seng berhasil mendapatkan jawaban yang dirasakan tepat, ujaraya.

"Boanpwee salama berkelana dalam dunia persilatan tidak lain hanya berharap bisa memperoleh seorang guru yang pandai dan belajar sedikit ilmu silat untuk menjaga diri, dari mulut orang hamba dengar bahwa dikota Keng Chiu terdapat seorang jago she-Chin bernama Cuan, katanya ilmu telapak Kim-sah-ciang nya telah mencapai puncak kesempurnaan," .

"Haah.. haah..saudara cilik, kau terlalu memuji, sedikit kepandaian silat yang loohu miliki tidak pantas untuk dihargai orang" . Semenrara itu Chin Giok Liong sedang mengambil poci arak untuk memenuhi cawannya, tiba2 Chin Pek Cuan merampas poci ini kemudian didorongnya kedepan. Hong-po Seng yang menyaksikan datangnya poci arak tadi mencurigakan, buru2 meletakkan kembali cawannya kemeja, lalu dengan sepasang tangan menekan disisi cawan ia unjukkan sikap seolah2 sedang memberi hormat. Rupanya Chin Pek Cuan hendak meminjam penghormatan arak itu untuk menjajal tenaga lweekang dari Hong-po Seng, namun setelah menyaksikan sikap pemuda itu dalam hati segera pikirnya.

"Sunggub cerdik dan cekatan keparat cilik ini, pandai sekali dia merahasiakan diri hingga sedikit titik kelemahanpun tak nampak."

Mendadak Chin Wan Hong berpaling ujarnya kepada ayahnya.

"Tia, aku lihat saudara ini sama sekali tiada maksud jahat, cepat atau lambat Boe Liang Sin-Koen bakal datang kemari, apa gunanya kau seret orang lain turun kelaut hingga membuat dia ikut merasakan penderitaan ini?"

"Haa...,haaa.,..Wan jie, kau sudah kebelinger meskipun ia berdandan bagaikan orang rudin tetapi gerak geriknya gagah dan mantap, tidak nanti seorang jagoan biasa dapat mendidik seorang murid yang begitu pandai dan luar biasa macam dia!"

Ucapan ini mendelongkan wajah Chin Giok Liong berdua, tanpa sadar mereka sama2 berpaling kearah Hong-po Seng.

Menyaksikan pemuda ini baru berusia enam tujuh belas tahunan, berbadan kekar dan berwajah hitam, wajah persegi dengan telinga lebar, hidung mancung, alis tebal, meski wajahnya gagah namun tiada keistimewaan apapun matanya bening sedikitpun tidak menyerupai seorang jagoan bertenaga dalam tinggi, tanpa sadar mereka berseru aneh dan merasa amat tercengang, masa manusia macam beginipun merupakan seorang jagoan libay yang maha hebat ?

Melihat sorot mata ketiga orang itu sama2 dialihkan kearahnya, Hong Po Seng jadi jengah dibuatnya, buru2 ia menjura.

"Loo Wan-gwee tadi kau mengungkap soal perkumpulan Sin Kie Pang, sebetulnya perkumpulan macam apakah panji sakti itu?" .

"Ehm! perkumpulan Sin Kie Pang?? tidak boleh suatu perkumpulan yang sering kali melakukan perbuatan2 jahat dan diluar peri kemanusiaan, kaum durjana dan iblis yang ada disekitar Ouw-Khong delapan puluh persen adalah bajingan2 dari perkumpulan Sin Kie Pang !" .

"Ehmm. sedikitpun tidak salah, orang ini sangat membenci segala bentuk kejahatan"

Pikir Hong Po Seng, untuk menghindari perhatian orang terhadap dirinya, buru2 ia bertanya kembali.

-"Cici ini barusan mengatakan bahwa cepat atau lambat Boe-Liang Sinkoen bakal datang kemari, apakah dia juga seorang pentolan dari peraumpulan Sin-Kie-Pang???" .

Chin Pek Cuan adalab seorang jago kawakan yang mempunyai pengetahuan serta pengalaman yang amat luas, ia tahu Hong-po Seng sengaja bertanya ini itu tidak lebih hanya untuk mengulur waktu belaka, sebagai orang yang berwatak aseran mendengar orang lain mengungkap soal orang yang paling dibenci nya selama ini, hawa gusarnya segera berkobar dengan mata melotot dan wajah merah padam segera serunya.

"Kau tanyakan soal Boe-Liang Sinkoen, bangsat tua itu?? dia adalah ". .,Dia adalah seorang Sinkoen yang disegani orang dan seorang manusia gagah yang akan datang menuntut balas bagi sakit hatinya....'. serentetan suara yang amat dingin berkumandang datang dari luar pintu. Sambil berseru pintu besar terpentang lebar dibawah sorot cahaya lilin yang bergoyang terhembus angin perlahan2 muncullah seorang pemuda berbaju putih yang berwajah ganteng bermata tajam dan penuh dengan napsu membunuh dimukanya, ia berdiri bertolak pinggang ditengah ruangan kurang lebih beberapa depa disisi Hong-po Seng. Menyaksikan kehadirannya yang mendadak tanpa mengeluarkan sedikit suarapun diam2 Hong-po Seng terkesiap juga atas kelihayan orang, tapi ia mengetahui bahwa orang itu pasti bukanlah Boe-Liang Sinkoen pribadi, tanpa terasa ia mendengas dan diperhatikannya orang itu beberapa saat lamanya. Usia pemuda berbaju putih itupun belum mencapai dua puluh tahunan, berdiri ditengah kalangan matanya dengan tajam mengerling kesana kemari dengan senyuman dingin menghiasi bibirnya, bukan saja sombong dan jumawa bahkan lagaknya tengik membikin hati jadi panas. Sekilas memandang sebagai jago yang berpengalaman Chin Pek Cuan mengerti bahwa pihak lawan tidak bermaksud baik, perlahan2 ia bangkit berdiri dan menegur.

"Siapakah saudara ?? slapa namamu ?? apakah kedatanganmu kemari adalah sebagai utusan dari Boe-Liang Sinkoen ???" .

"Hmm! aku bernarna Kok See Piauw"

Sinkoen adalah suhuku!

Eeh..

eeeh...bila kalian tahu diri cepatlah siapkan senjata dan turun tangan bersama, barang siapa dapat melarikan diri dari pintu ruangan ini, kongcu-ya anggap nasibnya baik dan mujur, mulai detik itu juga aku tak akan mencari satroni dengan dirinya lagi ".

,.Sombong amat orang ini !"

Batin Hong Po Seng, dia segera berseru dengan suara lantang .

"Sudah lama cayhe mendengar akan nama besar dan Boe Liang Sin Koen, diluar sedang turun hujan sangat lebat, karena sahabat tidak undang gurumu untuk masuk kedalam ruang?? agar dengan begitu cayhepun bisa ikut mengagumi kehebatan dari gurumu !" . Sepasang alis Kok See Piauw terkejut kencang, sepasang matanya dengan tajam menatap pemuda itu tanpa berkedip, kemudian jengeknya;

"Hmm..sungguh tak nyana kaupun seorang manusia yang lihay"

Ia tertawa dingin ."

Sin koen jauh berada ribuan li dari sini, tak usah kuatir, kalian boleh turun tangan dengan hati lega."

Hong-po Seng tertegun. pikirnya .

"Aaah. ternyata kejadian jauh berada diluar dugaan ibuku, apa yang harus kulakukan sekarang ??" . Untuk beberapa saat lamanya ia tiada akal untuk mengatasi persoalan ini, sinar matanya lantas berputar dan sengaja dialihkan kearah Chin Pek Cuan, sedikitpun tidak salah sinar mata semua orangpun lantas beralih kearah si orang tua itu. Sambil mengelus jenggot Chin Pek Cuan mendongak dan tertawa ter-bahak2, suaranya nyaring bagaikan genta dipalu bertalu-talu membuat seluruh ruangan bargetar dan cahaya api Jilin bergoyang kencang.

"Tua bangka sialan"

Maki Kok See Piauw penuh kegusaran.

"Kematian sudah berada di ambang pintu, kau masih juga berani berlagak ??? kurang ajar !"

Sementara itu baik Chin Giok Liong maupun Chin Wan Hoag tidak mengucapkan sepatah-katapun, dengan wajah penuh kegusaran mereka berdiri disisi ayahnya sambil bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan.

beberapa orang pelayan yang semula melayani dalam ruangan itu diam2 pada ngeloyor pergi sesudah dilihatnya situasi berubah makin buruk.

Selesai tertawa dengan wajah menampilkan suatu sikap yang aneh Chin Pek Cuan menolek kearah Kok See Piauw, lalu berkata.

"Bagaimanapun juga Thian memang mempunyai mata, akhirnya dia memberi juga kesempatan bagi loohu untuk melampiaskan rasa mangkel dan mendongkol yang kupendam selama ini. Hmmm ! kalau kau yakin mempunyai kekuatan untuk menandingi diriku, silahkan menanti sebentar !"

Berbicara sampai disitu tanpa menunggu jawaban orang, ia lantas berpaling kearah Hong-po Seng seraya menegur .

,.Engkoh cilik, Lku harap kau mengutarakan maksud tujuanmu yang sebenarnya kepada loo hu, sebenarnya ada urusan apa kau datang kemari ?"

Dalam waktu yang amat singkat, pelbagai pikiran sudah berkelebat dalam benak Hong-po Seng, menyaksikan situasi yang terbentang di depan mata saat ini, ia merasa cara yang sudah diatur ibunya tak mungkin bisa dilaksanakan lagi sebab meski usia Kok See Piauw masih muda nanun ditinjau dari gerak-geriknya ia sadar meski dirinya bergabung dengan Chin Pek Cuan sekalian bertiga belum tentu bisa menandingi kehebatannya, ia merasa bahwa dirinya harus mencari satu akal bagus untuk menghadapi keadaan ini, kalau tidak bukan saja keluarga Chin bakal musnah bahkan dia sendiripun bakal mati diujung tangan orang she Kok tersebut.

Walaupun usianya masih muda baik kecerdasan maupun keberanian Hong-po Sang tiada taranya, kalau tidak tak nanti ibunya serahkan tugas yang sangat berat ini kepada dirinya.

Oleh sebab itu ia lantas bangkit berdiri meninggalkan tempat duduknya, ambil keluar surat titipan dari ibunya dan membuka sampul surat itu kemudian dibaca isinya.

Tampaklah surat itu berbunyi demikian.

Surat ini berasal dari Hoa, perkampungan Liok-Soatsan cung dan dipersembahkan untuk Boe-Liang Sin-Koen Lie kong.

"Sejak berpisah dipuncak Pak Beng, dalam sekejap mata sepuluh tahun sudah lewat.,.... sengketa kita waktu ada dikota Co-Chiu tempo dulu menyangkut soal Lie kong dengan kaum pendekar tapi dalam kenyataan suamiku almarhumlah yang jadi pokok utama peristiwa tersebut, aku rasa semua orang sudah tahu akan persoalan ini....." . Membaca sampai disini sianak muda itu merasa rada tercengang bercampur curiga, pikirnya.

"Entah dendam sakit hati apa yang dimaksudkan?? mengapa menyangkut pula diri ayahku?"

Tampak surat itu berbunyi demikian.

"Dendam berlarut2 hingga kini, dan sekarang kau hendak melampiaskan hati itu terhadap orang lain, benarkah tindakan itu?? meski aku Boen-si tidak becus, tak nanti aku berpeluk tangan belaka menyaksikan orang lain yang harus memikul akibat dari persoalan itu. Maka andaikata kau percaya dengan perkataan aku tunggulah satu tahun lagi, sampai waktunya aku pasti akan melayaninya Lie kong untuk beradu kepandaian guna menyelesaikan masalah lampau...." , Hong Po Seug terkesiap, diam2 serunya didalam hati.

"Aaah. kiranya ibu sengaja menulis surat tantangan kepada Boe Liang Sin Koen dan ada maksud untuk menyelesaikan sendiri masalah sakit hati ini !" . Sudah tentu ia tahu dibalik persoalan ini tentu masih terkandung hal lain yang lebih mendalam, namun musuh tangguh berada didepan mata tak mungkin baginya untuk berpikir lebih jauh, sepasang tangannya segera diremas dan hancurlah surat tadi jadi ber keping2. Tatkala Hong Po Seng mengambil keluar sepucuk surat tadi semua orang memandangnya dengan pandangan penuh curiga, tetapi setelah dilihatnya pemuda itu dengan cepat membaca isi surat tadi kemudian menghancurkan lumatkan jadi berkeping2, dari curiga mereka jadi tercengang. Dalam pada itu Kok See Piauw tetap membungkam dalam seribu bahasa, sepatah kata pun tidak diucapkan keluar.

"Dengan susah payah ibu mendidik aku selama seputuh tahun, apakah tujuan yang sebenarnya?"

Pikir Hong-po Seng didalam hati.

"Kok See Piauw tidak lebih hanya anak murid dari manusia she Lie itu, kalau aku tak sanggup menghadapi dirinya, apa gunanya aku bercita2 membalaskan dendam ayahku serta menolong umat bulim dari bencana? ". 0000O0000 Setelah mengambil keputusan didalam hatinya, tanpa menjawab pertanyaan dari Chin Pek Cuan lagi ia berpaling kearah Kok See Piauw dan menegur dengan suara hambar.

"Sahabat Kok, seorang diri kau melakukan perjalanan sejauh ribuan lie tidak lain hanya datang kemari untuk mancari balas, aku rasa ilmu silat yang dimiliki gurumu pasti sudah berhasil kau pelajari semua bukan ? "

Sebagai murid kesayangan dari gurunya sejak kecil Kok See Piauw sudah terbiata di manja, hingga tanpa terasa terdidiklah satu watak tidak pandang sebelah matapun terhadap orang lain sekarang rnendengar ejekan tersebut kontan hawa amarahnya berkobar.

Dengan mata melotot alis menjungkit dan wajah merah padam bentaknya.

"Manusia rendah yang tak tahu diri ! ayoh cepat cabut keluar senjatamu, kalau kau sanggup menahan lima puluh jurus serangan Kok sauwya-mu, detik itu juga sauw-ya mu akan angkat kaki dan berlalu dari sini '"

"Bagus sekali !"

Sambut Hong-po Seng dengan suatu teriakan keras, ia segera menyambar bungkusan kain meja dan ambil keluar selatang pedang baja yang kasar dan berat.

Lebar pedang ini cuma dua coen dengan tebal delapan millimeter, warnanya hitam pekat dan sukar untuk dibedakan sebenarnya senjata itu terbuat dari besi atau baja.

Dengan sepasang alis berkerut Kok See Piauw segera mendengus dingin, dadanya dibusungkan kedepan, sang telapak diputar setengah lingkaran lalu meluncur kemuka kirim satu pukulan dahsyat.

"Kurang ajar, manusia liar yang tak tahu aturan !"

Maki Hong-po Seng dengan hati mendongkol.

Kakinya segera melangkah kesamping untuk menghindari ancaman lawan, pedang bajanya dIsapu keluar mengirim satu babatan kilat.

Sreeet...!

sepintas lalu babatan ini kelihatan sangat lambat padahal dalam kenyataan cepatnya luar biasa, tampak cahaya hitam berkelebat lewat serentetan hawa pedang yang tajam dan menggidikkan hati langsung menerjang dada Kok See Piauw.

Sungguh lihay anak muda dari Boe Liang Sin-Koen, dengan cepat badannya miring ke samping menghindarkan diri dari babatan musuh, tangan kirinya menjangkau keluar merampas gagang pedang lawan, sementara telapak kanannya laksana kilat meluncur kemuka melancarkan satu babatan dahsyat.

Bukan begitu saja, bersamaan waktunya pula ia lancarkan tendangan kilat dengan kaki kanannya menghajar pusar sianak muda itu.

Dalam satu jurus dengan tiga gerakan yang berbeda, benar2 suatu ancaman yang keji, telengas dan dahsyat.

Chin Pek Cuan ayah beranak tiga orang yang menonton jalannya pertarungan dari sisi kalangan diam2 merasa bergidik juga setelah melihat kelihayan orang.

Ilmu silat yang dipelajari Hong po Seng istimewa sekali, ia jarang mengadakan latihan namun apa yang dipelajari amat banyak, dalam satu jurusan serangan ia sudah dapat menyaksikan kelihayan lawan, ia tahu akan kehebatan, serta kelemahan pihak musuh dan menyadari pula dalam lima puluh jurus mendatang masih sulit bagi dirinya untuk menyelesaikan pertarungan ini.

Tampak pedang bajanya menegang, badannya tiba2 berputar kencang satu lingkaran busur pedangnya dengan mengikuti gerakan tersebut bergeser pula kebelakang, gerakan yang mirip suatu serangan tapi bukan serangan, mirip namun bukan pertahanan ini seketika dengan gampangnya berhasil memunahkan ancarnan dari serangan kilat Kok See Piauw.

"Hmm ! gerakan yang manis jitu."

Seru Kok See Piauw tanpa sadar.

"Keparat cilik rupanya kau masih memiliki sedikit ilmu hitam yang ampuh !" . Dalam pembicaraan pedangnya laksana kilat merangsek kemuka dalam sekejap mata ia telah melancarkan delapan buah serangan kilat yang kesemuanya merupakan jurus2 mematikan dan jurus2 keji. Dengan cepat Hong po Seng putar pedangnya sedemikian rupa sehingga membentuk satu lapisan benteng tak berwujud yang sangat kuat, dengan gampang pula ia berhasil membendung kedelapan buah serangan lawan. Sreeeet ! ..Sreeeeet..! desiran tajam melanda permukaan bumi, angin puyuh menggulung kesana kemari menggidikkan hati siapa yang manyaksikan jalannya pertempuran itu. Chin Pek Cuan yang menonton dari samping kalangan, diam2 merasa tercengang, pikirnya .

"Ilmu pedang apakah ini ? tampaknya biasa sederhana dan sama sekali tiada keajaiban atau keanehannya ..."

Sebagai salah seorang jago tua yang pernah menghadiri pertemuan Pak Bang Hwie, boleh dikata kepandaian silat dari pelbagai partai, perguruan serta aliran yang ada dikolong langit sudah pernah dilihatnya semua, tetapi rangkaian ilmu pedang yang digunakan Hong-po Seng barusan sama sekali belum pernah dilihat ataupun didengarnya, terasa betapa dahsyatnya pengaruh serangan itu menguasai seluruh kalangan.

Pertarungan antara jago2 lihay hanya berlangsung sekejap mata, tahu2 Kok See Piauw telah melancarkan delapan buah serangan berantai lagi, dengan gampang Hong-po Seng berhasil memunahkan seluruh ancaman tersebut, namun secara lapat2 ia mulai terdesak pada posisi dibawah angin dan tak sanggup untuk melancarkan serangan balasan kembali.

"Kok See Piauw, tahan!"

Mendadak terdengar Chin Pek Cuan membentak keras.

Bentakan ini amat nyaring dan keras mem¬buat seluruh bangunan gedung itu bergetar keras, begitu hebat suaranya seolah2 guntur yang membelah bumi disiang hari bolong.

Dengan cepat Kok See Piauw melayang mundur kebelakang, lalu dengan nada penuh kegusaran teriaknya.

"Tua bangka sialan, bukankah sejak tadi aku sudah suruh kalian untuk turun tangan bersama2, siapa suruh kamu tolak tawaranku itu ??? Hmmm! kalau masih ada pesan terak¬hir yang hendak kau sampaikan cepat utarakan keluar, kalau tidak Kongcu ya mu tidak akan berlagak sungkan2 lagi" . Chin Pek Cuan tertawia dingin.

"Bajingan cilik, kau tak usah gelisah! malam ini loohu akan suruh kau mati disini tanpa tempat kubur !" . Kemudian ia berpaling kearah Hong Po Seng dan bentaknya.

"Sahabat kecil, perduli darimanakah asal usulmu kalau kau hendak mencari satroni dengan bajingan ciiik she Kok ini, aku harap kau suka menunggu dahulu di luar pintu, kami keluarga Chin tidak sudi memberi kesempatan kepadamu untuk berkelahi disini !" . Begitu keras dan keren suaranya sehingga menggetarkan hati sianak muda kita. mula2 Hong Po Seng tertegun kemudian pikirnya.

"Secara terang2an aku membantu dirinya,"

Kenapa sebaliknya dia malah memaki aku dengan kata yang begitu keras?

bukankah hal ini jauh melanggar kebiasaan ?".

Berpikir demikian ia lantas mengundurkan diri kesamping kalangan dan berkata sambil tertawa.

"Loo Wan-gwee, bukankah kau hendak bunuh sauw ya itu sahingga tiada tempat kubur baginya?? kalau cahye diharuskan menunggu diluar pintu. Bukankah aku bakal menunggu dengan sia2 belaka ??" .

"Keparat cilik, tutup bacotmu yang busuk"

Dengan penuh kegusaran Kok See Piauw tertawa seram "Kongcuya akan suruh kau merasakan kelihayanku !".

Dia maju kedepan kemudian dengan gemasnya melancarkan satu babatan kearah tubuh lawan.

Chin Pek Cuan mengirim satu tendangan kilat menghancurkan meja perjamuan dihadapannya, Braaak...

kepingan kayu bagaikan anak panah berbareng meluncur kearah tubuh Kok See Piauw.

Anak murid dari Boe-Liang Sin koen ini jadi semakin gusar, telapaknya dibabat kebawah menghantam rontok kepingan2 kayu meja yang mengancam-dirinya, angin puyuh menyapu permukaan bumi, kepingan kayu yang termakan sabetannya ini segera mencelat ke angkasa dan menyebar keempat penjuru.

Diam2 bergidik juga hati semua orang yang menyaksikan kedahsyatan serangannya itu, belum sampai pikiran kedua berkelebat dalam benak mereka, Kok See Piauw sudah rentangkan sepasang lengannya menyerang berbarengan kearah Hong po Seng serta Chin Pek Cuan.

"Akan kusaksikan dahulu kelihayan dari loo enghiong ini, biarlah untuk sementara waktu aku menyingkir dahulu kesamping kalangan"

Pikir Hong-po Seng.

Sepasang kakinya segera menjejak tanah, sebelum serangan musuh mengancam tiba badannya sudah melayang mundur beberapa depa kebelakang dan lolos dari ancaman tersebut.

Tampaklah Chin Pek Cuan memiringkan tubuhnya kesamping, sepasang telapak laksana kilat didorong kemuka secara berbareng.

"Criiing...!"

Bentrokan nyaring menggema diangkasa seolah2 dua batang medali emas saling membentur satu sama lainnya.

Kok See Piauw mendengus gusar, jari telunjuk tangan kirinya bagaikan batang tombak meluncur kemuka mengancam sepasang mata Chin Pek Cuan, telapak kanan menjangkau ke bawah secara tiba2 menyerobot dadanya.

Ilmu telapak Kim Sah Ciang yang dilatih Chin Pek Cuan telah mencapai pada puncaknya, dalam pertarungan itu sepasang telapaknya berubah jadi kuning keemas2an, menyaksikan datangnya ancaman jari tangan lawan yang ampuh dan sukar diduga arah tujuannya, dengan cepat ia kaluankan jurus serangan "Long-Po-Kang-Ciauw"

Atau Gulungan Ombak Menghantam Karang dan secara tiba2 mem-bentur kedepan. Jurus"

Long Po Kang Ciauw "

Atau gulungan ombak menghantam karang ini meski hanya suatu jurus serangan yang amat sederhana, namun setelah dipergunakan Chin Pek Cuan yang disertai dengan segenap tenaga murni yang dimilikinya berubah jadi amat dahsyat.

Sudah tentu Kok See Piauw tidak sudi membiarkan tubuhnya termakan oleh pukulan maut itu, buru2 ia enjotkan badannya melayarg mundur beberapa depa kebelakang.

"Ehmm...! Ilmu telapak Kim Sah Ciang nya bisa dilatih mencapai taraf sedemikian hebatnya, benar2 luar biasa !"

Pikirnya Hong Po Seng didalam hati. Mendadak terdengar Chin Pek Cuan membentak keras.

"Chin Tiong Pasang api ! Long jie, wan jie siapkan senjata tajam"

Mendengar teriakan itu baik Hong Po Seng maupun Kok See piauw yang sedang bertempur jadi amat terperanjat, sebelum mereka sempat mengartikan maksud dari teriakan tersebut, Chin Giok Liong serta Chin wan Hong telah mencabut keluar senjata tajamnya dan bersama2 menubruk kearah Kok See Piauw.

"Bluumm ! Bluumm ...!"

Suara ledakan keras segera menggema dari sisi kiri kanan, depan serta belakang ruang tengah itu, seketika itu juga bau belirang yang tajam dan amat menusuk penciuman menyebar keseluruhan angkasa.

"Tua bangka sialan! kau pingin modar"

Maki Kok See Piauw dengan hati terkejut bercampur gusar.

Sepasang telapaknya laksana kilat melancarkan serangan berantai yang hebat dan mematikan.

Menghadapi serangan2 yang gencar dan luar biasa ini Chin Giok Liong berdua keteter hebat, tidak selang beberapa jurus mereka sudah terdesak kedalam posisi yang amat kritis dan bahaya, setiap saat maut bakal mengancam keselamatan mereka.

Hong Po Seng yang menjumpai kejadian jadi terperanjat, tanpa memperdulikan situasi disekelilingnya yang keritis dan berbahaya itu, ia ayunkan pedangnya dan menerjang kedepan.

Bersama dengan Chin Pek Cuan, satu dikiri yang lain dikanan berbareng membendung jalan pergi Kok See Piauw.

Blumm...

Blumm ...

ledakan dahsyat tiada hentinya berdentuman diangkasa, jilatan api mulai membakar ruang depan dan kian lama kian membesar sehingga akhirnya terjadilah kebakaran besar dalam seluruh ruangan.

Ternyata Chin Pek Cuan yang tahu bahwa bencana besar setiap saat bakal menimpa keluarganya, ia bersumpah tak mau menyerah dan takluk dengan begitu saja, maka secara diam2 disekeliling ruang tengah telah ditanami obat2 peledak, ia akan menantikan kedatangan Boe Liang Sin-koen dalam ruangan itu kemudian baru turunkan perintah memerintahkan pembantu2nya yang telah dipersiapkan diluar ruangan menyulut api sumbu dan meledakkan obat2 peledak tersebut.

Sudah lama ia mengetahui akan kelihayan Boe Liang Sin-koen, tahu pula bahwa api sembarangan tidak nanti bisa mengurung dirinya untuk menghindari kecurigaan orang maka ia perintahkan Chin Giok Liong putranya serta Chin Wan Hong putrinya untuk ikut serta dalam usaha tersebut, mereka mengambil keputusan untuk adu jiwa bersama2 Boe Liang Sin koen.

Siapa tahu Boe Liang Sin Koen yang ditunggu2 tidak datang, sebaliknya malah dibebani dengan nyawa Hongpo Seng.

Siasat adu jiwa yang dipersiapkan ini sudah tentu lihay sekali, dalam sekejap mata seluruh ruang tengah teIah terkepung oleh jilatan api yang berkobar2 dengan hebatnya, ditambah pula hembusan angin yang kencang membuat kobaran api tadi menyebar makin cepat.

Tidak selang beberapa saat kemudian seluruh gedung rumah keluarga Chin telah tertelan didalam lautan api.

Cahaya api membumbung tinggi keangkasa, asap yang tebal menutupi awan, berita kebakaran ini dengan cepat menjalar keseluruh kota, penduduk disekitar sana berbondong2 datang mengerubung sambil menolong api, sementara dalam ruang tengah masih berlangsung suatu pertempuran berdarah yang seru dan ramai.

Ditengah pertarungan sengit itu secara beruntun Kok See Piauw melancarkan serangan mematikan, ia bermaksud cepat2 menyelesaikan pertarungen itu dan segera meloloskan diri dari kepungan.

Dalam tiga lima jurus kemudian, Chin Pek Cuan bertiga segera terjebur dalam situasi yang kritis dan berbahaya, maut setiap saat mengancam keselamatan mereka.

Menjumpai situasi yang kritis dan tidak menguntungkan itu, secara mendadak Hong-po Seng membentak keras, sekuat tenaga ia lancarkan satu babatan kedepan.

Babatan ini bukan saja cepat bahkan kuat dan penuh bertenaga, laksana samberan kilat hawa pedang menyebar keempat penjuru mengiringi desiran tajam yang memekikkan anak telinga.

Kok See Piauw terperanjat, segera pikirnya .

"Sungguh hebat keparat cilik ini, tenaga lweekang yang dimilikinya tidak berada dibawah tenaga murniku !" . Walaupun ia jumawa namun bukanlah manusia yang bodoh, ia tahu Hong-po Seng pun anak murid seorang jago lihay kenamaan, dengan hadirnya pemuda itu dalam pertempuran tersebut tak mungkin baginya untuk melancarkan pembasmian terhadap keluarga Chin, apalagi kobaran api sudah kian mendesak kalangan itu, ia segera ambil keputusan untuk mengundurkan diri terlebih dahulu dari sana. Sepasang telapaknya segera melancarkan serangan memaksa keempat orang itu buru2 mengundurkan diri kebelakang. Menggunakan kesempatan yang sangat baik itulah mendadak ia enjotkan badannya meluncur naik keatas tiang penglari. Siapa sangka posisi Chin Pek Cuan sekarang dari tetamu jadi tuan rumah, sudah tentu ia tak sudi membiarkan musuhnya melarikan diri dengan begitu saja, dengan cepat ia loncat keatas sambil mengirim satu babatan yang dahsyat ketubuh musuhnya Kok See Piauw teramat gusar, ditengah udara ia tarik napas panjang2 dan disimpannya didalam dada, mendadak tubuhnya berjungkir balik mengarah kebawah, tangan kanannya dengan menggurat setengah lingkaran bagaikan gunung Tay san menekan kepala ia hajar batok kepala Chin Pek Cuan.

"Sudah ! sudahlah !"

Diam2 Hong po Seng berseru didalam hati bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya dia segera meluncur kearah Kok See Piauw, dan..sreeet...!

sebuah babatan dahsyat segera dilepaskan.

Sementara itu hawa panas dalam ruangan semakin meningkat, asap tebal menutupi seluruh jagad, bukan saja panas dan sumpek suara gemerutukan kayu yang dimakan api lebih2 menggetarkan hati orang yang mendengar.

Berada dalam situasi yang serba sulit dan membingungkan ini Kok See Piauw tak sanggup melayang lebih jauh, akhirnya ia berhasil dipaksa turun kembali kedalam ruangan.

Dalam sekejap mata ketiga orang itu terlibat kembali dalam suatu pertarungan yang maha sengit, dua bersaudara Chin segera maju membantu.

siapa sangka pertarungan antara ketiga orang itu semakin seru, gagallah kedua orang bersaudara itu ikut bagian dalam pertarungan tadi.

Ilmu pedang yang dimiliki Hong-po Seng semuanya berjumlah enam belas jurus, bukan saja semuanya jurus sederhana yang umum dan biasa bahkan tiada keistimewaan apapun jua, namun kesempurnaan tenaga lweekang yang dipancarkan dalam pedang itu benar2 luar biasa sehingga membuat Kok See Piauw sama sekali tak berkutik.

Mendadak satu serangan kilat lawan memaksa Chin Pek Cuan tak sanggup mempertahankan diri, ia segera terjerumus dalam keadaan yang kritis dan berbahaya.

Serangan Kok See Piauw yang telah menggunakan ilmu "Kioe Pit Sin Ciang"

Ajaran perguruannya melanda datang bagaikan gulungan ombak ditengah samudra luas, begitu hebat dan dahsyat membuat permukaan bumi seakan2 bergetar.

Chin Pek Cuan jadi nekad, ia kerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk menerjang musuh dan mengajak lawan adu jiwa ..Ditengah suasana yang panas dan tegang inilah, satu ingatan berkelebat dalam benak Hongpo Seng, secara tiba2 ia teringat kembali akan ibunya yang mengasingkan diri ditengah pegunungan sunyi.

"Tugas pertama belum kuselesaikan, bila demikian saja jiwaku lantas melayang, bagaimana malu dan menyesalnya ibu yang sudah mendidik diriku secara susah payah"

Jeritnya didalam hati.

Berpikir demikian, semangatnya lantas berkobar kembali, ditengah bentakan nyaring pedangnya laksana sambaran kilat berkelebat ke depan melancarkan satu serangan mematikan, cahaya hitam berkilauan menusuk pandangan, dengan dahsyat dan hebatnya langsung menerobos pertahanan musuh dan mengancam tubuh lawan.

Kok See Piauw benar2 dibikin naik pitam, hawa amarahnya sudah tak dapat dikendalikan lagi, menyaksikan api telah membakar seluruh isi ruang dalam, ia sadar bila dirinya tidak segera angkat kaki dari situ mumpung sekelilingnya belum terbakar, niscaya badan¬nya bakal terbakar dan jiwanya akan melayang ditempat itu.

Secara beruntun ia segera melancarkan serangan berantai memancing pergi pedang Hong-po Seng, sementara telapak kanannya lak sana kilat memancarkan satu tabokan maut kearah Chin Pek Cuan.

Menyaksikan tindakan lawan, Hong-po Seng terperanjat, ditinjau dari datangnya serangan itu ia tahu bahwa sulit bagi Chin Pek Cuan untuk melepaskan diri dari ancaman tersebut, segera pikirnya .

"Aku datang kemari adalah bermaksud untuk membalas budi kebaikan yang pernah ia lepaskan terhadap keluarga kami, mana boleh kubiarkan dia menemui ajalnya ditangan keparat tersebut ?"

Lngatan itu laksana kilat berkelebat dalam benaknya, cepat2 pedangnya diputar balik dengan maksud untuk membendung serangan lawan, siapa sangka tindakannya itu sudah tak sempat lagi.

Dalam situasi yang amat kritis dan berbahaya itulah bahu kirinya segera dimiringkan ke samping kemudian bagaikan banteng terluka ia tumbuk lengan Kok See Piauw yang sedang mengirim ancaman maut itu.

Tindakan Hong-po Seng yang berani nekad beradu jiwa ini jauh diluar dugaan Kok See Piauw, dalam gugupnya ia lepaskan ancamannya terhadap Chin Pek Cuan dan putar badan sambil kirim satu babatan kebelakang.

"Bluum...!"

Serangan tadi dengan telak bersararg dibahu Hong-po Seng membuat sianak muda itu mendengus berat, badannya terpental delapan depa dari tempat semula dan jatuh bergelindingan diatas tanah.

Menyaksikan peristiwa itu, sepasang mata Chin Pek Cuan berubah jadi merah berapi2 dengan gusarnya ia berteriak .

"Loohu akan adu jiwa dengan dirimu !" . Sepasang lengan direntangkan kemudian menubruk kedepan dengan suatu gerakan yang amat ganas. Melihat pibak lawan bagaikan orang gila sedang melancarkan tubrukan kearahnya, Kok See Piauw terkesiap, bulu kuduknya pada bangun berdiri. Karena takut pinggangnya sampai ketubruk lawan sehingga sulit baginya untuk melepas¬kan terburu2 ia enjotkan badannya berkelit satu langkah kesamping, kemudian bersuit nyaring dan meloncat naik ketengah udara. Dalam pada itu seluruh dinding ruangan tengah sudah berubah jadi merah membara karena termakan api, jilatan api berkobar di mana2, karena tubrukunnya mengenai sasaran yang kosong, tak tahan lagi tubuh Chin Pek Cuan terjengkang kedepan sejauh beberapa langkah. menanti ia berhasil berdiri tegak, Kok See Piauw sudah berada empat tombak dari tempat semula dan sedang melayang keatas atap rumah. Semua kejadian ini hanya berlangsung dalam waktu yang amat singkat, baru saja Hong po Seng bangkit berdiri, ujung bajunya sudah terjilat api dan mulai terbakar, buru2 ia jatuhkan diri kembali keatas tanah dan berguling2 untuk memadamkan jilatan api tersebut, menanti ia meloncat bangun untuk kedua kalinya, suitan nyaring Kok See Piauw sudah berada ratusan tombak jauhnya. Kecerdikan Hong po Seng melebihi orang lain, menyaksikan empat penjuru sudah terkepung oleh kobaran api yang amat dahsyat sehingga tiada jalan lain mereka untuk lolos dari ruangan itu tanpa berpikir panjang lagi ia buang pedang bajanya keatas tanah kemudian menyambar sapasang kaki Chin Giok Liong sekali diputar dengan kerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya ia lemparkan tubuh sianak muda itu keatas lobang atap rumah. Mimpipun Chin Giok Liong tidak menyangka kalau ia bakal ditangkap Hong po Seng dan dilemparkan keatap rumah, menanti ia mendusin dari kagetnya dan tubuhnya telah melayang ketengah udara buruk teriaknya.

"Hong po Siauwhiap.."

Sepasang tangannya diayun kesamping, ia segera menyambar tiang penglari rumahnya dan dipegang eraterat.

Dalam sangkaan Hong po Seng ruang tengah itu sangat tinggi, ia duga dua bersaudara keluarga Chin tidak nanti sanggup melompatnya, maka sesudah melemparkan tubuh Chin Giok Liong keatas tiang ia segera putar badan mencengkeram sepasang kaki Chin Wan Hang "Gadis muda itu jadi ketakutan, buru2 ia kebelakang tubuh ayahnya sambl menjerit.

"Ayah !!"

Mula2 Chin Pek Cuan pada tertegun melihat tingkah laku sianak muda itu, tapi dengan cepat ia mengarti ada maksud yang sebenarnya, dengan cepat ia tarik lengan Hong po Seng lalu diajaknya lari maju kesudut ruangan itu.

"Saudara cilik, ikutilah diri loohu !"serunya.

"Tapi..tunggu dulu sebentar Loocianpwee..pedang boanpwee ." . Chin Wan Hong yang mendengar perkataan itu buru2 memungut pedang baja milik pemuda tersebut dari atas tanah, sementara Chin Giok Liongpun sudah loncat turun keatas tanah, maka mereka berduapun dengan cepat menyusul dibelakang ayah mereka. Sebelah barat ruang besar tadi merupakan dinding tembok yang terbuat dari batu bata, kobaran api belum sampai membakar habis tempat itu. Setibanya ditepi dinding sepasang telapak Chin Pek Cuan segera mendorongnya dengan sekuat tenaga. Gruuuduk...! dinding tersebut terhantam roboh sepuluh bagian, sambil menarik pergelangan tangan Hong po Seng, jago tua she Chin ini segera menerobos masuk kedalam sebuah mulut lorong yang sempit. Sadarlah hati Hong po Seng sesudah menyaksikan bahwasanya dinding tembok yang dibangun disitu ternyata beriapis dua, pikirnya.

"Tidak aneh kalau mereka tetap bersikap tenang kendati empat penjuru sekeliling mereka sudah terkepung oleh jilatan api, ternyata jauh sebelumnya mereka sudah siapkan jalan keluar yang sangat rapi, Huuu" ,_ hitung2 aku sudah menguatirkan keselamatan mereka dengan percuma..!"

Lorong sempit dibalik lapisan dinding ini amat panas bagaikan sebuah tungku yang di bawah onggokan api, secara beruntun keempat orang itu menerobos masuk beberapa lang kah jauhnya, keringat sebesar kacang kedelai telah membasahi seluruh tubuh mereka, udaranya sumpek dan sesak ditambah pula hawa yang panas menyengat badan mereka semua walaupun terhitung jagoan lihay, tak urung napasnya tersengkal2 juga bahkan hampir saja jatuh tak sadarkan diri, Pertama2 Chin Wan Hong lah yang tidak tahan, tangan dan kakinya jadi lemas, senjata tajam yang dicekalnya segera terjatuh keatas tanah.

Buru2 Hong po Seng menyambar tangannya dan menyeret gadis itu meneruskan perjalanan sedang Chin Giok Liong memutar pedang baja dari atas tanah kemudian menyusulnya dari belakang.

Demikianlah dengan susah payah mereka merangkak lagi sejauh beberapa tombak dalam lorong sempit itu, tiha2 Chin Pek Cuan menghentikan langkahnya dan meraba sebuah papan batu, dengan sekuat tenaga dibukanya batu tadi.

Dibawah batu besar tersebut merupakan sebuah gua yang dalam, pertama2 Chin Pek Cuan yang meloncat turun terlebih dahulu, disana ia bikin api dan memasang obor.

Ketiga orang lainnya dengan cepat menyusul dari belakang, begitu menginjakkan kakinya didalam gua itu terasalah badan jadi nyaman dan segar kembali, dengan seksama Hong Po Seng segera mengamati daerah sekeliling tempat itu.

Kiranya dimana mereka berada saat ini merupakan sebuah ruang bawah tanah yang besar dan lebar, dihadapan ruang itu terdapat sebuah pintu dan entah menghubungkan ruangan tersebut dengan mana ?

Chin Pek Cuan dengan mulut membungkam membuka pinto tadi dan kemudian memimpinnya berjalan lebih dahulu dipaling depan, sementara ketiga orang lainnya mengintil dibelakangnya.

Diluar pintu ruang bawah tanah merupakan sebuah lorong yang sempit, tidak jauh mereka melewati lorong tadi sampailah disebuah pintu lagi, pintu itu sebenarnya terkunci tapi sekarang kuncinya telah dibuka dan dibuang ke samping.

Entah berapa lama mereka sudah berjalan, mendadak terdengar Chin Pek Cuan berseru dengan nada gemas .

"Aaai...! sayang ! sayang...".

Jilid 2. Jadi tawanan Sin Kee Pang "Ayah, apa yang perlu kau sayangkan?"

Tanya Chin Wan Hong sambil menyeka keringat yang membasahi wajahnya.

"Sayang bajingan cilik itu tidak berhasil kita bakar sampai mampus jadi arang !" .,Oooh .., aku kira ayah sedang menyayangkan gedung rumah kita ", gadis itu merandek sejenak, lalu terusnya.

"Entah dirumah nenek apakah akan terjadi pula sesuatu atau tidak ?"

"Aku rasa tidak mungkin. Hemmm ... ilmu silat yang dimiliki bajingan cilik ini amat lihay, aku rasa kepandaian dari bajingan tua itu jauh akan lebih Iihay dari pada sepuluh tahun berselang !"

Sementara pembicaraan itu masih berlangsung, permukaan lorong sempit itu makin lama semakin meninggi dan tiba2 sampailah pada ujungnya.

Hong-po Seng segera mendongak memandang keatas, tampaklah diatas kepala terdapat sebuah jendela dan disekitar jendela itu penuh dengan debu dan sarang laba2, jelas sudah banyak tahun tak pernah dibukanya barang sekalipun.

Chin Pek Cuan tancapkan obornya keatas tanah lebih dahulu kemudian pasang telinga memperhatikan keadaan disekelilingnya beberapa saat setelah itu baru membuka santekan jendela dan mendorong jendela tadi kebawah hingga terbuka lebar, diatas jendela masih terdapat sebuah papan batu yang besar dan berat kembali ia geserkan batu tadi kesamping, selapis cahaya merah seketika memancar masuk kedalam lorong.

Setelah mematikan obor, pertama2 Chin Pek Cuan yang loncat keluar lebih dahulu dari bawah lorong diikuti Hong-po Seng dari belakangnya, mendadak pemuda itu merasakan bahu kirinya teramat sakit, kepalanya secara tiba2 jadi berat dan pusing tujuh keliling, matanya berkunang2, dan hampir saja ia roboh terjengkang keatas tanah.

Chin Giok Liong serta Chin Wan Hong yang melihat keadaan sianak muda itu buru2 maju memayang, sementara Chin Pek Cuan segera berpaling dan menegur dengan nada kuatir.

"Loo te bagaimana keadaan lukamu??" . Setelah bahu kirinya terhajar oleh sebuah pukulan Kok See Piauw hingga jatuh terjengkang kebelakang, Hong Po Seng tanpa beristirahat kerahkan segera tangannya untuk melemparkan tubuh Chin Giok Liong keatas atap rumah, waktu itu api sedang berkobar dengan ganasnya, dalam keadaan seperti itu Chin Pek Cuan sudah lupa untuk memeriksa keadaan pemuda tersebut rada payah, mereka bertiga baru merasa kuatir dan hatinya tidak tenteram. Dengan cepat Hong Po Seng menenangkan hatinya lalu menarik napas panjang2 dan salurkan hawa murninya keseluruh tubuh, menanti rasa sakit ia derita sudah banyak berkurang barulah ujarnya sambil tertawa.

"Karena terburu2 hendak melarikan diri, lagi pula serangan dilancarkan dalam keadaan gugup, Kok See Piauw hanya menggunakan tenaga tidak sampai dua bagian, sayang waktu itu aku sudah lupa untuk mengatur pernapasan" .

"Entah ada racunnya tidak serangan telapak dari bangsat itu !"

Tanya Chin wan Hong dengan wajah gelisah.

"Belum pernah aku dengar ilmu pukulan Kioe Pit Sinciangnya mengandung hawa racun !"

Jawab Hong po Seng sambil tertawa, sekali enjot ia meloncat keluar dari dalam lorong.

Kiranya jalan keluar dari lorong rahasia itu terletak dibawah tembok pekarangan halaman belakang rumah keluarga Chin, baru saja Hong-po Seng meloncat keluar dari dalam lorong, ia segera merasakan hawa panas yang amat menyengat badan memenuhi angkasa, ia lantas berpaling, terlihatlah gedung rumah keluarga Chin yang megah dan besar kini sudah tinggal puing2 yang berserakan, api besar sebagian besar sudah padam kecuali di sana sini masih terjadi kebakaran kecil.

Chin Pek Cuan adalah seorang pendekar gagah yang tidak terlalu memikirkan soal harta kekayaan, begitu keluar dari tempat persembunyiannya ia lantas menutup kembali batu cadas tadi kemudian menggape kearah Hong-po Seng dan meloncat keluar dari pekarangan.

Terhadap sianak muda ini diam2 jago tua tersebut menaruh rasa kagum bercampur terima kasih, walaupun perasaannya itu tidak sampai diutarakan keluar namun sikap serta tindak-tanduknya cukup membuat pemuda kita merasakan kemesraan serta kehangatan yang luar biasa.

Diluar dinding pekarangan merupakan sebuah jalan lorong yang sempit.

lebarnya tidak mencapai empat depa dan dikedua belah sisinya merupakan halaman belakang rumah orang demikianlah keempat orang itu sementara suara hiruk-pikuk penduduk menolong api masih kedengaran dari depan gedung.

Angin dan hujan salju sudah berhenti....cahaya merah memantul keudara membiaskan selapis pemandangan yang menyeramkan.,...tiba2 dari mulut lorong berkelebat keluar tiga sosok bayangan manusia tanpa mengucapkan sepatah katapun mereka segera menghadang jalan pergi Chin Pek Cuan sekalian.

Jago tua dari keluarga Chin ini sudah lama melakukan perjalanan dalam dunia persilatan banyak pengetahuan serta pengalaman yang diperolehnya selama ini, menyaksikan kemunculan ketiga orang itu ia lantas mengerti bahwa kedatangan orang2 itu tidak bermaksud baik Dengan cepat ia hentikan langkah kakinya dan memandang wajah orang2 itu dengan sinar mata tajam.

Tampaklah orang berdiri ditengah memakai topi kulit di kepalanya, jubahnya lebar dan terbuat dari kulit, wajahnya penuh bercambang, sorot matanya dingin menyeramkan, senyuman dingin menghiasi bibirnya yang lebar.

Rupanya orang itu adalah pemimpin diantara rombongan tersebut.

Chin Pek Cuan mendeugus dingin, ia segera maju menyongsong kedatangan mereka sambil menegur .

"Siapa kalian ? apa maksud kamu sekalian menghalangi jalan pergi kami?"

Orang itu tertawa seram.

"Cayhe she Kwa bernama Thay dengan gelar 'Hiat-Sat-Tui-Hoan' atau Malaekat darah pengejar Sukma. Chin loo Wan-gwee! kau adalah seorang hartawan kaya raya, sudah tentu tidak akan kenali diriku!"

Diam2 Chin Pek Cuan terkesiap juga mendengar nama itu, tetapi diluar ia tetap berlagak tenang.

"Oooh, kiranya Kwa Toa Thong-cu!"

Serunya sambil tertawa.

"Kalau begitu loohu benar2 punya mata tak kenali gunung Thay-san. waah......besar sekali dosaku ini ! "

Sepasang alisnya berkerut, dengan nada menyindir serunya kembali.

"Kwa Thongcu. apakah kau sedang menjalankan perintah dari Kok kongcu untuk menangkap diri loohu?"

Malaikat Darah Pengejar Sukma tertawa seram.

"Hemmm.... Hemmm... Loo wan gwee tajam banar mulut tuamu itu. Aku orang she Kwa adalah anak buah parkumpulan Sin Kie Pang, seorang Thongcu dari cabang kota Keng Chiu tidak akan sudi manjalankan perintah orang lain!" . Ia merandek sebentar senyuman licik terlintas diatas wajahnya dan menambahkan.

"Cuma saja Heeh heeh Boe Liang Sin Koen adalah sahabat karib Pek loo kami, sedang kota Keng Chiu adalah daerah kekuasaan dari aku orang she Kwa, maka mau tak mau urusan yang menyangkut tugas diriku tak akan kubiarkan barlalu dengan begitu saja! " .

"Aneh benar tingkah laku orang yang bernama Kwa Thay ini. Diam2 Hong PoSeng mambatin."

Didalam percakapannya sorot mata orang ini berkeliaran tidak menentu, jangan2 dia sedang menjalankan satu siasat busuk dan bermaksud hendak menjebak kami sekalian?

Karena berpikir begitu tanpa sadar kewaspadannya pun segera ditingkatkan.

Dalam pada itu Chin Pek Cuan telah mendengus dingin.

"Hemm! bajingan busuk dari perkampungan Sin Kie Pang ternyata benar2 bukan manusia baik !"

"Tua bangka she Chin!"

Mendadak lelaki berjubah hijau yang ada disisi kiri menghardik dengan penuh kegusaran "Kau harus tahu, meskipun kolong langit sangat luas, tapi bila kau berani menyalahi atau menyinggung nama baik perkumpalan Sin Kie Pang, tidak nanti kami akan biarkan kau hidup dengan aman tenteram diatas jagad !" .

"Cuuh...!"

Chin Pek Cuan meludah keatas tanah.

"Para enghiong hoohan serta orang gagah sudah mati semua, yang tinggal saat ini hanya kalian bajingan2 tengik yang berani mengaku sebagai enghiong..Hmmm! sungguh menyebalkan !" . Lama kelamaan Malaikat darah Pengejar sukma pun jadi naik pitam juga mendengar ejekan2 tersebut, dalam waktu singkat sepasang telapaknya telah berubah jadi merah darah, rupanya orang itu sudah mempersiapkan diri untuk melancarkan serangan. Suasana berubah semakin tegang, nampaknya sebentar lagi satu pertempuran sengit segera akan berlangsung tiba, Hong-po Seng meloncat maju kedepan sambil menarik lengan Chin Pek Cuan serunya.

"Loocianpwee, tunggu sebentar !"

"Loote, silahkan kau menyingkir, bajingan2 tengik sudah terlalu banyak melakukan kejahatan, aku orang she Chin sudah tak tahan menyaksikan tingkah laku mereka..." . Tiba2 bayangan manusia berkelebat lewat, Hiat-Sat-Tui-Hoan atau Malaikat darah pengejar sukma Kwa Thay telah menyusup datang sambil melancarkan sabuah serangan. Chin Pek Cuan segera bertindak cepat, telapaknya diayun menyambut datangnya serangan itu dengan keras lawan keras. Blaaam..! ditengah bentrokan keras yang memekikkan anak telinga tubuh Chin Pek Cuan tetap tak bergelimang dari tempat samula, sebaliknya malaikat darah pengejar sukma terpukul satu langkah kearah belakang. Chin Pek Cuan bukanlah seorang prajurit kecil yang tak bernama meskipun baru saja bergebrak mati2an melawan Kok See Piauw, namun untuk menghadapi seorang Tongcu ia masih memiliki sisa tenaga. Setelah berhasil merebut posisi diatas angin dalam segebrakan saja, tubuhnya merangsek semakin kedepan. jurus2 maut dilancarkan bertubi2 memaksa Kwa Thay si Malaikat darah pengejar sukma terpaksa harus mundur berulang kali kebelakang. Tanpa terasa mereka telah keluar dari gang sempit itu. Dalam pada itu Hong Po Seng telah sembunyikan pedang bajanya dibelakang punggung, punya rencana untuk menaklukkan lebih dahulu kedua orang pria lainnya, siapa tahu kedua orang itu tiba2 putar badan dan melarikan diri, salah seorang diantaranya dangan cepat merogoh kedalam saku mengambll suatu benda yang akan dilemparkan keatas tanah. Matanya cukup tajam dan awas, sekalipun memandang ia dapat lihat bahwa benda itu adalah sebuah bom udara, otaknya dengan cepat bekerja, serunya mendadak sambil tertawa keras .

"Eeeei.... eeei.... harap kalian berdua jangan bergebrak dulu, cayhe ada beberapa patah kata hendak diutarakan lebih dulu!" . Ditengah bergetarnya sang bahu, tahu2 ia sudah menyelinap diantara Kwe Thay serta Chin Pek Cuan. Pada dasarnya Malaikat darah pengejar sukma memang mempunyai rencana lain, ditambah pula ia sadar bahwa harapan baginya untuk rebut kemenangan amat tipis maka sambil mendorong sampan mengikuti aliran sungai katanya.

"Saudara cilik, apa yang hendak kau katakan???" . Diam2 Hong-Po Seng melirik sekejap kearah lelaki berjubah hijau tadi, melihat orang itu sudah menyimpan kembali bom udaranya kedalam saku ia lantas berpikir dalam hati.

"Pengaruh dari perkumpulan Sin-Kee Pang terlalu besar, komplotan merekapun terlalu banyak, andaikata pekerjaan kita pada malam ini kurang bersih sudah pasti keluarga Chin tak mungkin bisa hidup dalam keadaan ten tram dan aku sendiripun jangan harap bisa berkelana lagi didalam dunia persilatan!" . Pikiran tersebut dengan cepatnya berkelebat dalam benak sianak muda itu. setelab sangsi akhirnya ia berkata sambil tertawa.

"Ilmu Kiem Sah ciang dari Chin Loocian pwee dapat menghancur lumatkan batu bong pay, sedangkan ilmu pukulan Coe Sah ciang dari Kwa Tongcu dapat membinasakan orang seketika, kepandaian semacam ini boleh dibilang setali tiga uang dan sama kuatnya lebih jauh jauh Pastilah kedua belah pihak sama2 menderita luka, siapapan tak akan memperoleh kebaikan apapun jua!" .

"Haaah...haah...perkataanmu tepat sekali saudara cilik"

Dengan cepat Kwa Thay si Malaikat darah pengejar nyawa menanggapi sambil tertawa tergelak."

Tak kusangka usiamu meski masih muda namun ketajaman matamu benar2 luar biasa!".

Sebaliknya Chin Pek Cuan mendengus dingin, sepatah katapun tidak berbicara.

Hong Po Seng pura2berlagak pilon, katanya lagi sambil tertawa.

"Kota Keng Chia adalah daerah kekuasaan Kwa Tongcu sedang Chin Loo enghiong adalah hartawan kaya dari kota Keng chiu pula pepatah kuno mengatakan daripada perselisihan lebih baik jangan berselisih, bukankah kalian adalah tetangga baik ? kenapa harus saling bermusuhan dan mengikat tali persengketaan ini ?"

"Tepat sekali ! semula aku orang she Kwa pun mempunyai pikiran begini tapi sayang Chin Loo enghiong tak tahu diri, maka apa boleh buat aku orang she Kwa terpaksa tak dapat membantu !"

Mendengar pembicaraan itu Chin Pek Cuan segera sadar bahwa Kwa Thay jelas mengandung rencana lain, diam2 lantas ia berpikir .

.,Anjing keparat rupanya dengan menggunakan kesempatan dikala rumahku sedang kebakaran kau hendak merampok harta milik aku orang she Chin ?

...

Hmmm !

kurang ajar dia tak mau berpikir dahulu manusia macam apakah aku orang she Chin ini ?

sekalipun ada emas atau perak tidak nanti kuserahkan begitu saja kepada kalian kawanan anjing-anjing geladak !"

Berpikir sampai disini, bukannya marah ia malah tertawa.

"Ooooh .. kiranya Kwa Tongcu mempunyai maksud baik . waah, kalau begitu aku Chin Pek Cuan telah bertindak terlalu sembrono !"

Setelah menjura tambahnya lagi.

"Kalau memang kau bermaksud mengikat tali persahabatan dengan diriku, nah! sampai jumpa lain kesempatan."

Dengan langkah gagah ia segera berlalu. Mula-mula Kwa Thay Si Malaekat darah pengejar nyawa tertegun, kemudian ia tertawa seram.

"Chin wangwel"

Serunya "Seandainya Thay hujienmu berada didalam kota, aku harap kau suka bertindak sedikit hati2, jangan sampai diketahui oleh Kok kongcu."

Ucapan ini mengejutkan hati Chin Pek Cuan dengan cepat ia putar badan, dengan sorot mata penuh dengan napsu membunuh selangkah demi selangkah ia dekati kembali manusia she Kwa itu.

Malaikat darah pengejar nyawa sadar bahwa pihak musuhnya telah dibikin naik pitam dan segera akan turun tangan, meski hatinya kebat kebit namun sepasang telapaknya dipersiapkan juga, hawa murni disalurkan keseluruh tubuh dan slap menghadapi segala kemungkinan.

"Barusan cayhe mendapat laporan dari anak buahku, katanya Thay hujien dari keluarga Chin rupanya sudah hidup dalam dunia persilatan yang penuh dengan dosa, kini ia sudah cukur rambut jadi pendeta dikuil Pek-Im Koan..,"

Bicara sampai disitu mendadak ia merandek sementara senyuman yang menyeramkan menghiasi bibirnya.

Bisa dibayangkan betapa gusarnya Chin Pek Cuan setelah mendengar perkataan itu, saking marahnya seluruh rambutnya pada berdiri kaku bagaikan landak, tangan dan kaki gemetar keras, sambil menggigit bibir teriaknya keras.

"Bajingan....bajingan....sungguh bagus perbuatanmu!"

Untuk sesaat ia jadi bim.bang dan tiada pemecahan, dengan sendirinya tak berani bergerak sembarangan. Chin Giok Liong dengan wajah pucat pias bagaikan mayat segera maju selangkah kedepan serunya .

"Kwa Tongcu, kaupun terhitung seorang enghiong yang punya nama didunia persilatan masa terhadap nenekku yang telah berusia tujuh puluh tahun lebih dan tak mengerti ilmu silat kalian bertindak kasar? hai ...dimana peri kemanusiaanmu?? kau telah mengapakan dirinya?"

Malaikat darah pengejar nyawa Kwa Thay mendongak dan segera tertawa terbahak-bahak.

"Heee....heee.... aku tidak meng-apa2kan dirinya, berhubung aku lihat ayahmu juga terhitung seorang cakal bakal dunia persilatan, karena takut ada orang sampai melukai nenekmu, maka sengaja kuboyong dirinya untuk pindah kesuatu tempat, disamping itu mengutus pula beberapa orang saudara untuk merawat serta melayaninya setiap saat!"

"Hei..anjing busuk she Kwa!"

Tiba2 terdengar Chin Pek Cuan membentak keras.

"Katakan terus terang berapa yang kau minta? Satu laksa, dua laksa? Aku orang she Chin segera penuhi permintaanmu itu, kalau lebih dari itu ...maap aku tak bisa melayani."

"0ooh, sungguh sosial Loo wangwee!"

Puji Kwa Thay sambil acungkan jempolnya, kepada lelaki berjubah hijau itu pesannya.

"Chin loo wangwee akan memerseni kau dan kita semua dua laksa tahil perak untuk kalian bertahun baru besok datanglah kemari untuk menerima sumbangan itu, sedang aku tak akan mengambil sepeserpun!" .

"Terima kasih atas pemberian dari Loo wang Gwe"

Buru2 lelaki berjubah hijau itu menjura kepada Chin Pek Cuan.

Hong Po Seng yang mengikuti jalannya peristiwa itu diam2 merasa kheki bercampur mendongkol, namun berhubung persoalan itu menyangkut keselamatan dari ibu Chin Pek Cuan, sudah tentu ia tak berani menimbrung seenaknya.

Terdengar pria berjubah hijau itu berkata lagi.

"Thay hujien amat rindu kepada cucu perempuannya ia suruh cayhe datang kemari untuk mengajak nona Wan Hong berkunjung kesitu salama beberapa hari, cayhe harap Loo wangwe suka mengabulkan perintahnya ini! sedang loo wan-gwee sendiri kali saja pergi memapak Thay hujien!"

Hong Po Seng kendati seorang pemuda yang cerdas tetapi ia belum begitu paham akan hubungan antara lelaki dan wanita, anggapannya berhubung uang belum mereka terima maka Chin wan Hong hendak dijadikan sandera.

Sebaliknya Chin Pek Cuan sendiri dapat menangkap arti lain dari ucapan tersebut, ia tahu bahwa Kwa Thay suka tertarik olah kecantikan wajah putrinya dan jelas mempunyai niat jahat terhadap putrinya, seketika itu juga seluruh badannya jadi gemetar keras saking gusarnya, gigi saling beradu gemeretakan.

"Haaah.... haaah.. haaah.. Loo wangwee, kau tak usah kuatir"seru Kwa Tay sambil tertawa tergelak.

"Nona Wan Hong adalah seorang gadis perawan yang cantik dan masih suci, kami pasti akan menjaga keselamatannya baik dan tak akan melukai seujung rambutnya pun juga!" . Sembari berkata dengan lagak tengik dan senyum cengar cengir ia menoleh kearah Chin Wan Hong. Chin Pek Cuan adalah seorang jago tua yang berwatak berangasan, walaupun ia sadar bahwa keselamatan ibunya terancam namun hawa gusar yang bergelora dalam dadanya tentu sukar dikendalikan lagi, ia lantas punya pikiran untuk melenyapkan ketiga orang itu terlebih dulu kemudian baru berusaha menolong ibunya. Hong po Seng cukup waspada, dari tingkah laku sijago tua itu iapun lantas dapat menebak apa yang sedang dipikirkan buru2 teriaknya.

"Loo cianpwee, bukankah didalam ruang bawah tanah sana terdapat tumpukan emas perak serta berlian yang tak bernilai jumlahnya? bagi kita orang2 yang belajar silat, harta toh bukan terhitung benda yang sangat berharga. Mengapa kau tidak serahkan dahulu harta itu kepada Kwa Tongcu sedang sisa persoalan lainnya kita rundingkan lagi secara perlahan-lahan ?"

Mendengar perkataan itu Chin Pek Cuan tertegun, segara pikirnya.

"Dalam ruang bawah tanah mana terdapat emas perak dan berlian ? ngawur benar omongan bocah ini ."

Mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya, dengan cepat ia dapat menangkap mak sud hati sianak muda itu, maka seraya ulapkan tangannya ia berseru.

,.Kwa Tongcu, marl ikuailah aku orang she Chin !"

Habis berkata ia melangkah terlebih dahulu ke dalam gang sempit tadi.

Kwa Thay si Malaikat darah pengejar nyawa merasa sangsi untuk beberapa saat lamanya ia ikut Chin Pek Cuan sedang menggunakan akal bulus untuk menjebak dirinya, tapi pikiran lain segara berkelebat dalam benaknya.

,.Meskipun tua bangka she Chin ini adalah seorang manusia yang sukar dilayani, ketiga orang bocah cilik itu bukanlah manusia2 kosen yang sulit dirobohkan, sekalipun kami harus hadapi mereka berempat dengan hanya bertiga saja, kendati kemenangan belum tentu di pihak kami rasanya untuk meloloskan diri masih bukan satu masalah yang terlalu sulit ...

kenapa aku barus ragu2"

Karena dorongan napsu kemaruknya terhadap kekayaan ia sudah terlalu pandang rendah diri Hong po Seng, begitu menjumpai Chin Pek Cuan telah melangkah masuk kedalam lorong sempit, buru2 ia ulapkan tangannya, bersama dua orang lainnya dengan cepat menyusul kedalam.

Sementara itu kentongan keempat sudah lewat, seluruh gedung bangunan keluarga Chin telah hancur berantakan oleh api berkobar dengan hebatnya itu, udara ditutup oleh awan gelap sedang suasana dijalan raya sabelah depan pun telah sunyi.

Dengan hati panas, mendongkol dan penuh kegusaran Chin Pek Cuan berjalan terus kedalam lorong sempit yang suasananya paling gelap, mendadak ia tak sanggup menahan golakan hawa amarahnya lagi, sambil putar badan sebuah serangan dahsyat segera dilancarkan menghantam tubuh Kwa Thay si malaikat darah pengejar nyawa.

Melihat pihak lawan tiba2 berobah pikiran, orang she Kwa itu kontan naik pitam cepat ia mengegos kesamping kemudian balas melancarkan sebuah serangan dahsyat hardiknya.

"Tua bangka she Chin! rupanya kau sudah tidak memikirkan lagi nyawa nenek tua itu?"

Dalam pada itu Hong-go Seng begitu melihat Chin Pek Cuan telah turun tangan, tubuhnya segera berkelebat lewat menghadang jalan mundur dari musuh2nya, pedang baja dikebaskan kemuka kemudian mengirim satu sapuan kilat.

llmu pedang yang digunakan betul2 luar biasa hebatnya, ditengah kesunyian yang mencekam seluruh jagad terdengar satu desiran tajam yang amat memekikkan telinga bergeletar membelah angkasa.

Baru saja kedua orang pria itu putar badannya dalam keadaan gugup mereka jadi terkesiap dan menjerit kaget, buru-buru mereka loncat mundur kebelakang dengan sekuat tenaga.

Saking tegang dan kagetnya hampir saja tubuh mereka menumbuk diatas punggung Kwa Thay.

Hong-po Seng mengayunkan pedangnya kedepan, tiba2 bahu kirinya terasa amat sakit hingga merasuk ketulang sumsum, gerakan pedangnya kontan jadi rada lambat, menggunakan kesempatan itulah kedua orang lelaki tadi segera loncat keluar dari kepungan hawa pedang lawan.

Sianak muda itu jadi amat gusar, apalagi setelah dilihatnya mereka berdua telah menyingkap jubah meloloskan senjata tajamnya, sambil gertak gigi kembali ia lancarkan sebuah babatan kilat.

Kedua orang itu adalah anak buah dari kantor cabang perkumpulan Sin Kie Pang di kota Keng-Chiu, pada hari2 biasa belum pernah menjumpai kepandaian ilmu pedang yang begini dahsyatnya, seketika itu juga pecahlah nyali mereka, sambil menjerit kaget kembali mereka berdua mengegos kesamping.

Sebaliknya malaikat darah Pengejar nyawa sendiri, bagaimanapun juga dia adalah seorang pemimpin suatu daerah, dalam keadaan yang terkepung dan berhadapan dengan serangan2 gencar dari Chin Pek Cuan, sudah tentu tiada kesempatan lagi untuk mengurusi anak buahnya, tapi ia tahu bahwa keadaan anak buahnya amat kritis dan berbahaya.

Dalam keadaan gugup dan kagetnya, cepat ia meraung gusar.

"Lepaskan tanda bahaya!!" . Sejak semula Hong-po Seng telah berjaga2 atas tindakan tersebut, ketika melihat babatan pedangnya mengenai sasaran kosong dan menjumpai pula pria berjubah hijau itu telah meluncur kearah tembok, pergelangannya segera ditekan kebawah, dengan gagang pedang bajanya ia sodok jalan darah "Tiong-Lie"

Di atas tubuhnya.

Pedang baja itu berwarna hitam pekat, ditambah pula sodokan itu dilancarkan dengan kecepatan yang tak terkirakan, seketika itu juga pinggang pria berjubah hijau itu termakan oleh sodokan berat tersebut, ia menjerit kesakitan dan tubuhnya segera roboh terjengkang keatas tanah.

Melihat serangannya berhasil mengenai sasaran, pedangnya dengan cepat dibabat kesebelah kiri menyerang pria lainnya.

Orang itu baru saja meloloskan ruyung baja dari pinggangnya, merasakan datangnya ancaman, dalam keadaan gugup dan tergopoh2 dengan cepat ia tangkis serangan pedang Hong po Seng dengan senjatanya.

Traaaang.....!

terdengar suara bentrokan nyaring bergeletar diangkasa diiringi percikan bunga2 api.

Hong-po Seng belum lama terjun kedalam dunia persilatan, watak serta hatinya masih lembut dan penuh welas kasih, ketika pergelangannya diputar sampai ditengah jalan tiba2 ia tabok senjatanya sejajar dengan dada, meski begitu ruyung baja pria itu terbabat putus juga jadi beberapa bagian, tabokan tersebut bersarang diatas punggungnya membuat ia roboh terjengkang diatas tanah dan tak sanggup bangun kembali.

Tiga jurus dua gerakan serangan itu dilancarkan hanya dalam waktu yang amat singkat, Kwa Thay yang berlasil mengetahui keadaan itu dari suara jeritan rekan2nya jadi terkesiap dan mengucurkan keringat dingin.

Dalam posisi yang terkepung rapat oleh musuh2 tangguh ia tak berani bergebrak lebih jauh, dalam suatu kesempatan mendadak ia membentak keras, sepasang kakinya menjejak tanah dan segera meloncat keatas dinding tembok sebelah kiri.

Pada saat itulah...dari tempat kejauhan terdengar seseorang sedang berseru.

"Kwa-loo-te,...."

Suaranya serak, berat dan datar....dan ru¬panya suara tadi dipancarkan dari tempat ke jauhan.

Hong Po Seng jadi terkesiap, segera ia melayang kedepan, gagang pedangnya bergerak cepat menghajar jalan darah 'Kwan-Go an' ditubuh Kwa Thay, sementara mulutnya berseru dengan nada berat .

,.Orang yang bakal datang memiliki ilmu silat yang amat lihay, biar boanpwee pancing pergi orang2 itu sedang loo wan-gwee cepatlah berusaha menolong orang!?"

Sang tangan bekerja cepat, ia tangkap tubuh Kwa Thay yang sedang roboh terjengkang ke atas tanah dan melemparkannya kebelakang dinding tembok tinggi.

Otaknya cerdas dan tindak tanduknya cekatan, meski usia Chin Pek Cuan telah melewati setengah abad namun tanpa sadar ia telah mendengarkan petunjuk dari sianak muda itu.

Sambil mencengkeram dua orang lainnya dengan sebat ia loncat masuk kebelakang tembok tinggi.

Tatkala dilihatnya dua bersaudara Chin masih berdiri tak berkutik ditempat setnula, dengan hati gelisah Hongpo Seng kembali berseru.

"Kenapa kalian berdua belum berlalu ? ayoh cepat melarikan diri dari sini !"

Tangannya dengan cepat berkelebat mencengkeram pergelangan tangan Chin Wan Hong, gadis itu jadi gugup buru2 ia meloncat kebelakang tembok pekarangan.

Belum lama dua bersaudara Chin rnenyembunyikan diri, dari mulut lorong telah berkumandang datang suara teguran yang serak dan berat .

"Siapa disitu ?"

"0ooh... sungguh cepat gerakan tubuh mereka"

Pikir Hong po Seng, ketika ia berpaling tampaklah dua sosok bayangan hitam bagaikan sambaran kilat sedang meluncur datang, raut wajah mereka sukar dilihat dengan jelas.

Buru2 sianak muda itu enjotkan badannya dan lari keluar dari tempat persembunyiannya dengan langkah lebar.

Tatkala kedua orang itu baru saja melangkah masuk kedalam lorong sempit itu, mereka telah menyaksikan gerakan tubuh Hong-po Seng yang sedang lari dari sana dengan gerakan cepat bagaikan sambaran kilat, diamdiam mereka memuji atas kehebatan ilmu silatnya.

Terdengar bentakan keras bergeletar diangkasa, diiringi seruan ,Kejar ' dua sosok bayangan manusia meluncur kedepan dengan amat cepatnya mengejar diri Hong-po Seng yang sudah lari terlebih dahulu.

Tiga sosok bayangan manusia berlarian diatas permukaan salju yang putih, dalam waktu singkat mereka telah keluar dari tembok kota.

Hong-po Seng yang Iari dipaling depan, sambil berkelebat tiada hentinya ia awasi gerak gerik dibelakang tubuhnya, mendadak ia temukan kurang lebih sepuluh tombak dibelakang mereka telah menguntit pula sesosok bayangan marusia, orang itu mempunyai gerakan tubuh yang enteng dan cekatan sedikit pun tidak kedengaran suara berisik, sedang sepaluh tombak lagi dibelakang orang tadi berkumandang suara gemerisik yang nyaring, diam2 ia lantas berpikir.

"Jelas kepandaian silat yang dimiliki kedua orang itu sangat lihay, kalau aku harus melawan mereka berdua sekaligus jelas kekuatanku masih belum memadahi, lebih baik kubereskan dahulu salah satu diantaranya kemudian baru mencari kesempatan untuk membereskan yang lain, kalau tidak begitu, lama kelamaan aku bisa kehabisan tenaga!"

Setelah mengambil keputusan demikan, hawa murninya segera disalurkan keseluruh badan dan berlari semakin cepat lagi kedepan.

000O000 Sedikitpun tidak salah, setelah saling berkejaran beberapa lamanya dua orang pengejar yang menyusul dari belakang mulai berpisah, yang satu didepan dan yang lain ada dibelakang.

Ketika waktu berlalu semakin lama, orang yang berada dipaling belakang ketinggaIan semakin jauh lagi, akhirnya napas orang itu tersengkal2 dan larinya makin perlahan.

Beberapa waktu kemudian bayangan tubuh Hong-po Seng sudab lenyap tak berbekas hanya meninggalkan percikan salju yang berhamburan di-mana2.

Waktu itu fajar baru saja menyingsing, suasana disekeliling tempat itu sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, Hong-po Seng sambil membawa sang pengejar yang kini tinggal seorang telah meninggalkan kota Keng Chiu sejauh lima puluh lie.

Orang itu mengejar terus tiada hentinya, apa daya kekuatan mereka seimbang hingga walaupun ia tidak sampai ketinggalan namun untuk menyusul lebih cepat jelas tak mungkin, disamping itu orang tersebut pun tak sudi melepaskan mangsanya begitu saja.

Dalam keadaan pikiran yang kalut dan bingung ia mendengus gusar, segenap tenaganya segera dilenyapkan keluar.

Seketika itu juga terdengar ujung baju tertiup angin, Sreeet...

sreeet....

tubuhnya bergerak lebih dekat lima enam tombak lagi dari sianak muda itu.

Diam-diam Hong Po Seng merasa terperanjat, meninjau dari keadaan tersebut ia sadar bahwa sulit bagi dirinya untuk melepaskan diri dari kejaran orang itu.

Terpaksa ia bulatkan tekad dan segera berhenti berlari, pedangnya dilintangkan sejajar dengan dada siap menghadapi sagala kemungkinan.

Dalam waktu singkat orang itu sudah berdiri dihadapan musuhnya, ketika menemukan bahwasanya Hong Po Seng hanya seorang bocah yang baru barusia enam tujuh belas tahun, ia merasa tercengang dan tidak habis mengerti, lama sekali ia melengak dan ragu-ragu.

Hong-po Seng sendiripun dengan menggunakan kesempatan itu memperhatikan raut wajah lawannya, dia adalah seorang kakek berjubah biru yang mempunyai potongan wajah menyeramkan, sepasang mata elangnya yang tajam menatap tubuhnya dari atas kepala hingga keujung kaki, dari ujung pedang sampai ujung baju, wajahnya berubah berulang kali, entah apa yang sedang dipikirkan.

"Sahabat !"

Akhirnya pemuda kita menegur sambil tertawa.

"Dimalam tahun baru yang seharusnya dirayakan dengan suka ria, kenapa kau kejar terus aku sibocah rudin ?" .

"Tingkah lakumu mencurigakan, melihat orang lantas melarikan diri jelas membuktikan bahwa kau telah melakukan perbuatan terkutuk yang malu dilihat orang, setelah Loo-ya mu menjumpai kejadian semacam ini tentu saja harus kuurus sampai jelas duduk perkaranya !" .

"Oooh, tadinya aku mengira saudara adalah komplotan penyamun dari perkumpulan Sin Kie-Pang, tak tahunya adalah seorang Loo-ya maaf maaf" .

"Keparat cilik, rupanya matamu sudah buta!"

Terdengar kakek berjubah biru itu membentak gusar.

"Loo-ya mu she-Tio dan justru adalah orang Hoe Hoat Pelindung hukum dari perkumpulan Sin Kie Pang!".

"Oooo!!. ternyata kau adalah Tio Loo Hoe-hoat! "seru Hong-po Seng dengan alis berkerut.

"Lalu siapa yang ada dibelakangmu tadi?? mengapa sampai sekarang belum juga sampai disini?"

"Bocah keparat, kau benar2 seorang manusia yang berhati licik. Hmmm....! tiada halangan kuberitahukan kepadarnu, orang yang ada dibelakang itu she-Liem dan rnerupakan seorang Hiang-su dari perkumpulan Sin Kie-Pang, sebentar lagi aku Tio loo-ya akan kembali ke markas untuk melewati masa Tahun Baru ini " . Ia merandek sejenak, kemudian tambahnya.

"Bocah keparat, siapa namamu dan berasal dari mana? cepat katakan yang jelas, loo-ya segera akan membawa kau pergi menjumpai pangcu kami, tanggung kau bakal jadi kaya dan hidup dalam kemakmuran!" . Sim-hoat tenaga dalam yang dilatih Hong po Seng jauh berbeda dengan simhoat tenaga lwekang partai2 lain, kini sembari mengatur pernapasan ia tersenyum dan berkata kembali.

"Aaah. jadi saudara mengejar diriku dengan susah payah tujuannya tidak lain adalah hendak mengajak aku masuk komplotan ? tapi sebelum itu aku ingin tahu lebih dulu, sebetulnya kedudukan Hiangcu serta Hoe-Hoat mana yang lebih besar ? bagaimana pula kalau dibandingkan dengan Kwa Tongcu ?" . Kakek berjubah biru itu tertawa congkak.

"Dibawah Pangcu terdapat para Tongcu yang memimpin cabang2 perkumpulan Hiang-cu adalah seorang pembantu yang ditempatkan dibawah Tongcu, kedudakannya rendh dan amat kecil, ia tidak lebih seorang pelayan yang harus mondar mandir menjalankan tugas. Sebaliknya Hoe Hoat Loo ya langsung dibawah pimpinan pangcu, kedudukannya tinggi dan tidak menjalankan perintah dari siapapun. Eeei ..bocah cilik, siapa gurumu ?? aneh benar pedang baja milikmu itu !" . Hong po Seng tersenyum, bukan menjawab ia malah bertanya kembali .

"Berapa banyak sih para Hoe-hoat yang ada didalam perkumpulan Sin Kie Pang ?".

"Haah....haah....haah... tidak banyak pun tidak termasuk sedikit, semuanya berjumlah tiga puluh orang, aku orang she-Tio adalah pahlawan yang ikut memperjuangkan berdirinya perkumpulan, sudah lama mengikuti pangcu dan termasuk salah seorang kepercayaan !"

Suara orang ini serak berat dan lantang, gelak tertawa maupun pembicaraannya amat menusuk pendengaran. Hong-po Seng yang mendengar penjelasan itu diam2 merasa terperanjat, pikirnya .

"Pengaruh serta kekuatan perkumpulan Sin Kie Pang benar2 amat luas dan besar, cukup ditinjau dari para Hoe-hoat nya saja mencapai jumlah tiga puluhan. Ehmmm... orang she Tio ini mengaku sebagai salah seorang kepercayaan pangcunya, mungkin ilmu silat yang dimiliki termasuk dalam kelas utama !"

Berpikir demikian ia sengaja tersenyum dan berkata.

"Tio loo-ya ! wah ... maaf seribu kali maaf, berhubung aku masih ada urusan lain yang harus segera diselesaikan terpaksa kita berpisah sampai disini saja, bila ada jodoh kita berjumpa lagi dilain waktu " . Kakek berjubah biru itu mendongak dan segera tertawa tergelak. ,.Heeeh .. heeh ..heeeh ..bocah cilik kita bisa saling berjumpa itu namanya jodoh kau jangan harap bisa melarikan diri lagi!"

Badannya bergerak cepat kedepan, jari tangannya segera mengirim satu totokan kilat.

Totokan itu nampaknya dilancarkan dengan gerakan yang enteng dan sederhana, padahal tempat yang diancam adalah jalan darah kematian ditubuh Hong-po Seng, sekali kena nyawa sianak muda itu pasti melayang.

Hal ini bisa menunjukan betapa keji dan telengasnya sikakek itu.

Hong po Seng merasa terkejut bercampur gusar, pedang bajanya segera diputar kencang dan mengirim serangan.

Terdengar kakek berjubah biru itu tertawa keras, badannya berkelebat mendadak dalam genggamannya telah bertambah dengan sebilah pedang pendek, sambil melangkah kedepan memutar tubuhnya, cahaya tajam berkilauan memenuhi angkasa, serbuan babatan kilat dilepaskan membabat pergelangan tangan Hong-po Seng.

Dalam waktu singkat cahaya tajam berkilauan diangkasa, desiran tajam menggeletar memekakan telinga, ditengah remang2nya cuaca dua sosok bayangan manusia saling menyambar kesana kemari, sebuah pertempuran sengitpun telah berlangsung.

Dilengah pertarungan itu luka diatas bahu kiri Hong-po Seng terasa sakit hingga merasuk ketulang sumsum, namun dengan wataknya yang keras hati, meski luka bahunya terasa amat sakit namun tidak sampai mengganggu jalannya pertarungan, maka sambil menahan sakit ia layani terus serangan2 gencar dari kakek berjubah biru itu.

Tapi setelah pertarungan berjalan semakin lama dilihatnya totokan jari kiri berputaran, pedang kanan dimainkan dengan begitu keji dan telengas, seolah2 antara dia dengan dirinya sudah terikat dendam sedalam lautan dan bagaimanapun juga jiwanya akan dihabiskan hari itu juga, pemuda she Hong-po ini jadi naik pitam, bentaknya penuh kegusaran.

"Hey, orang she Tio, antara kita berdua toh tak pernah terikat dendam kesumat apapun juga, kenapa kau selalu mendesak diriku sedemikian rupa?"

Diam2 kakek berjubah biru itu sendiripun merasa terperanjat, mimpipun ia tak pernah menyangka kalau pemuda yang berusia enam tujuh belas tahunan ini bukan saja ilmu meringankan tubuhnya sempurna, dalam hal tenaga lweekang serta permainan pedangpun demikian lihayna, tapi ketika ia teringat kembali akan hasil latihannya selama sepuluh tahun, kendati dalam hati terkesiap ia masih yakin bahwa kemenangan pasti berada dipihaknya.

Oleh karena itu setelah mendengar seruan tersebut, sambil tertawa lantang katanya.

,.Siapa yang tunduk kepadaku ia hidup, siapa yang membangkang dia harus modar bocah keparat !

mengingat usiamu masih amat muda lebih baik cepat2lah buang senjatamu dan menyerah kalah, mungkin saja selembar jiwamu masih bisa kuampuni !

"Kurang ajar...!"

Pikir Hong-po Seng dalam hati.

"Rupanya kawanan manusia laknat ini sudah terbiasa menganiaya kaum lemah dengan sewenang2nya, Hmm ! membicarakan soal cengli dengan mereka sama artinya memetik gitar didepan kerbau !" . la sadar andaikata kemenangan tidak cepat2 diraih maka sulit baginya untuk meloloskan diri, maka ia mulai bersikap tenang dan makin mengendorkan serangan2nya sementara dengan tajam ia menantikan kesempatan baik untuk menghancurkan kakek tua itu dalam sebuah serangan mendadak. Beberapa saat kemudian gelap berubah semakin gelap oleh awan hitam, salju pun turun dengan derasnya. Tiba-tiba terdergar kakek berjubah biru itu membentak keras.

"Hey bocah keparat, kenapa dengan lengan kirimu??"

Setelah lama bartarung belum berhasil juga merebut kamenangan kakek tua ini mulai gelisah dan tidak tenteram, apa daya pertahanan dari Hong Po Seng benar2 sangat kuat, kendati serangannya ber tubi2 dan teramat gencar namun belum juga berhasil merobohkan pertahanan lawan.

Karena mendapat getaran2 keras luka dibahu kiri Hong Po Seng sudah terasa amat sakit sejak tadi, karena itu selama bertarung tangan kirinya mencengkeram ikat pinggang kencang2, kini setelah mendengar suara teguran itu ia tertawa keras.

"Tangan kiriku terkenal karena ampuhnya, aku takut kalau sampai kugunakan tangan ini jiwamu lantas melayang. maka aku berusaha menahan sebisanya .......... bukankah diantara kita tiada ikatan dendam apapun juga ? Nah, itulah dia aku jadi tak tega untuk turun tangan jahat, tapi kalau kau memang tak tahu diri, apa boleh buat !"

Kakek tua berjubah biru itu tahu kalau sianak muda she Hong-po ini sedang mengacau belo, ia mendengus dingin, serangan pedangnya diperketat dan mengurung tubuh lawannya rapat2.

Mendadak Hong-po Seng merasakan daya tekanan disekeliling tubuhnya makin berlipat ganda, diam2 ia jadi gelisah, ia takut Hiangcu she Liem itu keburu datang, andaikata sampai terjadi begitu dengan satu lawan dua jelas posisinya akan semakin terjepit dan berbahaya.

Otaknya segera berputar cepat, akhirnya ia ambil keputusan untuk menempuh bahaya, sebuah serangan gencar segera dilepaskan.

Sementara itu kakek berjubah biru itu secara beruntun telah melepaskan sembilan buah serangan berantai, kesembilan buah serangan itu dilancarkan dalam rangkaian satu gerakan, cepatnya lua biasa dan sukar diikuti oleh pandangan mata.

Pada dasarnya Hong-po Seng memang ada maksud memancing musuhnya masuk jebakan, ia segera membuka tubuh dan sengaja memperlihatkan sebuah titik kelemahan.

Padang bajanya mengunci kiri menangkis kekanan seolah2 sudah kehabisan tenaga untuk bertahan, sementata kakinya dengan mengikuti aliran sungai mendorong sampan, secara beruntun mundur pula sembilan langkah ke belakang, Menyaksikan keadaan lawannya kakek berjubah biru itu jadi amat girang, pedang pendeknya mencukil keatas memancing pergi pedang baja sianak muda itu, sedang jari tangan kirinya bagaikan tombak segera disodok kedalam.

Sodokan jari ini dilancarkan dengan kecepatan bagaikan kilat, arah yang dituju bukan lain adalah jalan darah lie-keng-hiat didada Hong-po Seng, andaikata serangan itu mengena sasarannya meski tubuhnya terbuat dari bajapun pasti akan roboh terjengkang.

Siapa tahu tubuh Hong-po Seng hanya bergetar sebentar saja setelah teamakan oleh sodokan jari itu, diikuti ia membentak keras, pedangnya segera membabat kemuka.

Pertarungan yang berlangsung aatara kedua orang itu telah mencapai ratusan jurus, salju berderai dengan derasnya....

angin dingin berhembus menusuk tulang....

pertarungan antara mereka berdua berjalan makin sengit dan ngeri.

Kakek berjubah biru itu ada maksud cepat2 menyelesaikan pertarungan ini, maka dalam totokannya tadi ia telah mengerahkan segenap tenaga yang dimilikinya siapa sangka bukan saja Hong-po Seng tidak roboh malahan melancarkan satu batatan kilat kearahnya, dalam keadaan gugup dan terkesiap buru2 badannya miring kesamping untuk meloloskan diri.

Serangan babatan dari Hong-po Seng barusan telah menggunakan kekuatan yang maha besar bagaikan tindihan gunung Thay-san terdengar suara bentrokan nyaring menggema diangkasa, pedang pendek sikakek berjubah biru itu segera mencelat keangkasa.

Diikuti cahaya pedang berkelebat lewat, bahu kanannya dari atas hingga kebawah seketika terbabat putus jadi dua bagian, darah segar muncrat keempat penjuru membasahi permukaan bumi yang putih oleh salju, keadaan kakek ini, benar2 mengerikan sekali.

Untuk pertama kalinya ia membunuh orang membuat Hong Po Seng tak kuat menahan emosinya, lama sekali ia berdiri termangu2 sebelum mundur bebarapa langkah kebelakang dan duduk bersila diatas tanah untuk mangatur pernapasan.

Haruslah diketahui, ayahnya adalah seorang tokoh dunia persilatan yang memiliki ilmu silat sangat lihay dan merupakan pula tulang punggung dari kalangan lurus, sebelum partemuan Pak Bang diadakan dan menyaksikan kaum iblis telah meraja lela di mana-mana, maka secara diam2 ia telah meleburkan segenap kepandaian silat yang dimilikinya kedalam sebuah rangkaian ilmu pedang yang terdiri dari enam belas jurus dan ditulis dalam se

Jilid kitab, kemudian bersama2 dengan pedang baja itu diserahkan ketangannya, ia berbuat demikian sebagai persiapan andaikata akhirnya ia mati, putranya masih dapat mewarisi sedikit kepandaiannya.

Oleh karena itulah baik tenga dalam maupun ilmu pedangnya ia mendapat warisan langsung dari ayahnya.

Ibunya dahulu juga termasuk seorang tokoh Bu-lim yang sangat ihay, kemudian meski tenaga lweekangnya punah namun ilmu silatnya masih tetap dimiliki, sayang kepandaian silat ibunya tidak sesuai bagi kaum pria maka tak sepotongpun ilmu silat itu diwariskan kepada putranya, ia hanya khusus memerintahkan puteranya mempeIajari keenam belas jurus ilmu pedang itu.

Walau begitu semua kepandaian melatih badan jadi kuat, ilmu menyembuhkan luka dalam maupun luka racun., ilmu menggeserkan jalan darah serta ilmu2 lain untuk melindungi keselamatan putranya telah diwariskan semua kepada Hong po Seng, Kendati begitu totokan berat dari kakek berjubah biru tadi hampir saja membuyarkan hawa murni didalam tubuhnya ditambah pula ia harus berlari jauh dan bertarung lama, luka diatas bahu kirinya menyerang pula tiada hentinya, begitu pertempuran usai cepat2 ia mengatur pernapasan diatas permukaan salju.

Hawa murni baru saja mengelilingi tubuhnya satu kali, napasnya belum sampai teratur, mendadak dari tempat kejauhan terdengar berkumandang datang suara derap kaki kuda yang nyaring.

Cepat si anak muda itu membuka matanya, tampaklah sebuah kereta kuda yang mentereng dan megah dengan empat ekor kuda penarik yang tinggi dan besar sedang berlari mendekat dengan cepatnya.

Sang kusir adalah seorang lelaki berusia empat puluh tahunan, memakai mantel terbuat dari kulit binatang, memakai topi bulu dan membawa cambuk kuda sepanjang satu tombak yang terbuat dari kulit kijang.

Dandanannya mewah, mentereng dan agung, seolah2 kereta dari pangeran atau bangsawan kaya.

Setelah memandang sekejap kearah kereta itu, dalam hati ia berpikir .

"Kereta ini dari arah selatan menuju ke¬utara mungkin tempat yang dituju adalah kota Keng-chiu, entah..."

Sungguh cepat lari kuda itu, dalam sekejap mata telah berada kurang lebih puluhan tombak dihadapan sianak muda itu. Mendadak terdengar sang kusir berseru .

"Lapor nona, ada orang disana...eei? mayat dari Tin hoe-boat menggeletak disana!"

Taaar !

kereta kuda itu bergeser tiga tombak jauhnya diatas permukaan salju dan berhenti tepat didepan Hong-po Seng.

Sianak muda itu perlahan2 mendongak memandang kearah kereta mentereng itu, mendadak ia merasa terperanjat, kiranya sepasang mata dari kusir itu amat tajam bercahaya, sepasang keningnya menonjol tinggi2 sekilas memandang siapapun tahu kalau tenaga lwekangnya amat sempurna.

"Waah....celaka...rupanya aku telah bertemu dengan jago lihay"

Pikir pemuda she Hong-po ini.

"Kusirnya saja sudah begitu ithay, apa lagi majikannya...." . Tanpa sadar matanya dialihkan keatas kereta. Horden tersingkap kesamping, terdengar suara teguran yang merdu berkumandang keluar.

"Tio Hot-hoat mana yang kau maksudkan "

Tio Cien !

Seraut wajah gadis yang cantik dengan sanggul yang tinggi muncul dari balik horden jendela, disusul munculnya pula seorang dayang kecil berbaju merah berdiri dibelakang dara ayu tadi.

Pandangan mata Hong po Seng jadi cerah, pikirnya .

"Oooh, ternyatahanya seorang dara ayu, ditinjau dari dandanannya yang agung dan mentereng jelas kepandaian silataya belum tentu lihay !"

Dalam pada itu gadis ayu tadi sudah melongok keluar jendela memandang sekejap kearah mayat yang terbelah jadi dua diatas permukaan salju, biji matanya berputar memandang pula sekejap kearah Hong-po Seng yang duduk bersila diatas tanah, dari perubahan wajahnya nampak jelas betapa terkejut dan kagetnya gadis itu.

"Hey, apakah kau yang bacok Hoe hoat kami jadi dua bagian ?"

Mendadak terdengar dayang dalam kereta menegur.

Melihat dayang itu baru berusia belasan dan sifat kekanak2annya belum hilang, timbul rasa senang dan simpatik dalam hati Hong-po Seng ia segera tersenyum dan mengangguk.

"Mengapa kau bunuh dirinya ?"

Kembali dayang cilik itu bertanya.

"Aku sendiripun tak tahu. ia hendak main bunuh diriku terpaksa aku dahului dirinya ?"

"Oh Sam!"

Mendaduk terdengar gadis ayu itu berseru.

"Coba ambillah pedang antiknya itu dan perlihatkan kepadaku !"

Mendengar perintah itu sang kusir kereta tadi segera loncat turun dari tempat duduknya, sungguh hebat gerakan tubuh orang ini bukan saja enteng bahkan sama sekali tak bersuara.

Hong po Seng sudah menyadari akan kelihayan lawannya, melihat orang itu meloncat kearahnya, dengan cepat ia !oncat bangun dan bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan.

"Hey, lebih baik kau jangan melawan.."

Terdengar dayang cilik itu berseru lagi.

"Kalau tidak maka kau bakal rugi dan menderita sakit !"

Sementara seruan itu baru saja berkumandang, kusir tadi telah meluncur kehadapan Hong¬ po Seng, tangannya segera berkelebat marampas pedang baja itu.

Tentu saja sianak muda itu tak sudi menyerah dengan begitu saja, pedang bajanya diputar lalu membabat kebawah, dalam waktu singkat partarungan seru telah berkobar.

Sungguh lihay kepandaian silat yang dimiliki kusir itu, tangan kanannya menyerang kesana sebentar membabat kemari, semua sarangan tak pernah berpisah dari urat2 ini ditubuh Hong Po Seng, sementara telapak kakinya menjulur menarik tiada hentinya coba merampas pedang baja itu.

Serangannya cepat, aneh dan tidak berada dibawah Kok See Piauw.

Diam-diam Hong Po Seng marasa cemas bercampur gelisah, dari gerakan tubuh musuhnya yang gesit dan cepat dia tahu kepandaian orang berlipat ganda lebih tinggi dari kepandaian sendiri, ditambah pula ia baru saja menyelesaikan pertarungan sengit dan bahu kirinya telah terluka tak mungkin baginya untuk merebut kemenangan.

Mau lari?

kemana dia harus pergi?

mau mandah dibekuk?

tentu saja ia tak sudi., .

satu2nya jalan yang ia miliki hanyalah bertempur sampai titik darah penghabisan.

Meskipun kecerdasan otaknya luar biasa, apa daya kekuatan tidak memadahi, sebelum ia memperoleh satu akal bagus untuk menghindarkan dari maut, sebuah totokan kilat dari kusir itu telah menghajar diatas pinggangnya.

Totokan itu datangnya mendadak dan diluar dugaan, baik dipunahkan maupun dihindari sudah tak sempat lagi, dalam gugup kegelisahnya hawa murni diatas pusarnya ditekan kebawah jalan darah diatas pinggangpun segera bergeser setengah coen dari tempat semula.

Tatkala serangan totokan dari kusir itu mengenai tubuh Iawannya, tiba2 ia merasa ujung jarinya tergelincir kesamping lalu mental baIik tanpa terasa tegurnya sambil tertawa.

"Bocah cilik, hebat benar kepandaianmu, rupanya ilmu tersebut bernama Hoei Si-Kang wan terbang melayang bukan.

". Hong-po Seng menjerit kesakitan setelah terkena sodokan tersebut, pedang bajanya segera diperkencang dan mengirim tiga buah serangan berantai yang sangat gencar. Menghadapi serangan2 maut semacam itu, kusir tadi tak berani gegabah, buru-buru ia mundur kebelakang berulang kali. Haruslah diketahui ilmu pedang yang digunakan sianak muda itu paling banyak mennggunakan tenaga, setelah hawa murninya makin menipis permainan ilmu pedangnya jadi kacau, senjata berat lima puluh dua kati itupun bukan membantu malahan menjadi beban yang berat, setiap saat ada kemungkinan terlepas dari cekalannya. Dalam hal ilmu silat segala yang dipaksakan merupakan pantangan paling besar, meski dalam hati ada niat apa daya tenaga tidak memadahi, setelah saling bergebrak dua puluhan jurus tiba2 pergelangan kanannya kena dicengkeram oleh kusir kereta itu, sekujur badannya jadi gemetar keras, hawa murni jadi buyar, ketiaknya jadi kaku dan badannya roboh terjengkang diatas permukaan salju. Melihat musuhnya telah roboh kusir kereta itu memungut pedang baja tadi dari tangan Hong-po Seng kemudian diangsurkan kedalam kereta. Gadis cantik itu menerima senjata tersebut kemudian dibolak balik melihatnya beberapa saat, tiba2 jarinya mengentil diatas tubuh pedang baja itu hingga berbunyi gemerencingan yang nyaring.

"Pedang itu terbuat dari baja murni yang sukar didapatkan dalam kolong langit."

Ujar kusir itu dari samping kereta.

"Golok mustika maupun pedang mustika sukar uniuk menebas kutung senjata tersebut, benda ini terhitung salah satu benda mustika dalam dunia persilatan."

Gadis cantik itu melirik sekejap kearah Hong-po Seng yang mengeletak diatas tanah, lalu tanyanya kepada kusir itu .

"Pernahkah kau dengar dahulu ada orang yang pernah menggunakan senjata tajam seperti ini?"

Kusir itu berpikir sebantar lalu menggeleng "Enghiong kenamaan yang ada dalam Bu-lim tak seorangpun yang pernah menggunakan pedang baja seperti ini."

Maksud dari ucapan itu jelas sekali, manusia kenamaan yang tersohor dalam dunia kangouw tak seorangpun yang tak dikenal olehnya apa lagi senjata andalan yang yang mereka gunakan.

Gadis cantik itu mengangguk perlahan, sorot matanya dialihkan kembali kearah Hong¬po Seng, lalu tegurnya.

"Kau adalah anak murid dari partai mana"

Hong-po Seng yang menggeletak diatas tanah merasakan sesuatu siksaan yang sukar di lukiskan dengan kata2, mellhat gadis itu bertanya dengan wajah tawar, iapun menjawab dengan suara hambar .

"Ilmu silat berasal dari keluarga sendiri, aku tak pernah angkat guru!" .,Ehmm! ilmu silatmu tidak lemah, semestinya keturunan dari keluarga kenamaan, apa she mu? dan siapa pula nama besar dari ayahmu??"

Sudah tentu tak mungkin bagi Hong-po-Seng untuk menjawab sejujurnya, tapi diapun tidak ingin memalsukan nama ayahnya, segera sahutnya dengan suara melantur.

"Aku she Hong-po, ayahku telah banyak tahun tutup usia, kini setelah aku jatuh ketanganmu, rasanya lebih baik tak usah kusebut kan lagi nama ayahku almarhum!"

Sepasang alis gadis cantik itu berkerut kencang, rasa tidak senang terlintas diatas wajahnya, sesudah termenung sebentar katanya kepada Oh Sam si kusir kereta itu.

"Coba geladah sakunya, andaikata tiada hal yang mencurigakan lenyapkan saja jiwanya."

Raut wajah gadis itu cantik jelita bagaikan bidadari, sungguh tak nyana hatinya keras dan telengas, memandang jiwa manusia bagaikan rerumputan, sungguh tidak sesuai dengan wajahnya yang cantik jelita itu.

Setelah mendapat perintah kusir itu segera mendekati tubuh Hong po Seng tanpa mengucapkan sepatah katapun, dengan cepat seluruh sianak muda itu diperiksa dengan seksama.

"Aaaai.. tak usah kau geledah lagi! "tukas Hong-po Seng sambil menghela napas panjang.

"Tiada tanda2 yang mencurigakan dalam sakuku, silahksn kau turun tangan secepatnya!".

"Hmmm, tutup mulutmu, kau tidak berhak untuk melarang diriku melakukan pemeriksaan."

Diam2 Hong-po Seng menghela napas dan pejamkan matanya rapat2.

"Aaaai .. ibu mengharapkan putranya jadi seekor naga, siapa sangka harapannya hanya sia2 belaka"

Ia berpikir didalam hati "Meskipun mati hidup manusia berada ditangan Thian, tapi aku mati dalam keadaan penasaran!".

Bila seseorang telah mendekati ajalnya seringkali otaknya jadi makin cerdas dari keadaan biasa, ia teringat kembali akan teratai racun "Tan-Hwee-Tok-Lian,", teringat puIa surat dari ibunya.

Ia tahu ibunya hendak menggunakan kemustajaban dari teratai beracun itu untuk menyembuhkan luka dalam yarg dideritanya serta pulihkan kembali tenaga dalam yang dimilikinya, setelah itu munculi kembali didalam dunia persilatan untuk membereskan rekening lama.

Berpikir sampai kesitu ia merasa amat menyesal dan kecewa, ia merasa tidak seharusnya ia beradu jiwa dengan Hoe hoat she-Tio itu, bukan saja sama sekali tak ada hasilnya malahan hawa murni yang ia miliki jadi lemah, selembar jiwanya dikorbankan dengan percuma dan yang paling penting lagi ia bakal menyia-nyiakan harapan ibunya yang mengasingkan diri diatas gunung terpencil.

Samentara pelbagai ingatan berkelebat dalam benaknya dan diam2 ia merasa amat menyesal, Oh Sam sikusir kereta itu telah selesai menggeledah seluruh pakaiannya, kecuali sebuah kepingan perak tiada benda lain yang ada disitu.

Maka hawa murninya segera dikumpulkan di atas telapak kanan siap dihantamkan kebawah, mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya, cepat ia tarik pakaian si anak muda itu kemudian memeriksa bahu kirinya.

"Aah !"

Jeritan kaget bergema diangkasa.

"Lapor siocia, orang ini telah merubah wajahnya dengan obat merubah muka !"

Sebenarnya gadis cantik itu telah menarik kembali tubuhnya kedalam kereta, ketika mendengar seruan tersebut, ia segera melongok kembali keluar jendela, sekilas memandang segera temukan meski raut wajah Hong-po Seng hitam pekat bagaikan pantat kuali, namun dari batas leher hingga kebawah berwarna putih bersih, nampak suatu perbedaan yang menyolok sekali antata warna putih dan hitam itu.

Hong-po Seng sebenarnya telah pejamkan mata menantikan kematian, ketika secara tiba2 rahasianya ketahuan orang ia segera buka mata menyapu sekejap sekeliling tempat itu.

Betapa gusarnya sewaktu melihat Oh Sam sedang melepaskan pakaian yang ia kenakan, dengan rasa jengah bercampur marah bentaknya .

"Sejak dilahirkan aku memang bertubuh belang apa salahnya kalau keadaanku begini? Hemmm buat apa kalian kaget dan menjerit-jerit seperti orang edan ? "

"Coba singkap ujung baju orang itu!"

Mendadak terdengar gadis cantik itu berkata kembali.

Oh Sam segera menyingkap ujung baju Hong po Seng, tampaklah meskipun sepasang tangan pemuda itu hitam pekat tapi dari batas sikut keatas ternyata berkulit putih bersih juga, seolah2 belum pernah tetkena sorot sinar matahari.

"Bekas telapak yang membekas diatas lengannya berbentuk sembilan ruas, apakah ia sudah termakan oleh pukulan sakti Kioe Pit Sin orang?"

Kembali gadis itu menegur. Kiranya diatas bahu kiri sianak pemuda itu tertampak jelas telapak berwarna hijau yang terpatah patah persis berjumlah sembilan ruas. Oh Sam segera mengangguk.

"Bagaimana menurut pendapat siocia?' tanyanya. Biji matanya yang jeli berputar kesana kemari, sebentar memandang tubuh Hong-po Seng yang putih, sebentar memandang pula wajahnya yang hitam pekat, akhirnya timbul rasa ingin tahu dalam hati gadis itu serunya.

"Bawa kembali kedalam markas dan periksa yang seksama" . Selesai berkata tubuhnya lenyap dibalik kereta. Oh Sam segera mengangkat tubuh Hong-po Seng dan loncat naik keatas tempat duduknya, ia letakkan tubuh sianak muda itu disisinya setelah itu cambuk kulit kijangnya diayunkan ketengah udara, diantara ledakan pecut yang nyaring kereta itu bergerak kembali kearah utara dengan cepat. Kereta megah itu buatannya sangat kuat dan indah, ilmu mengendalikan kereta dari Oh Sam pun sangat tinggi ditambah pula keempat ekor kuda kuning itu telah mendapat pendidikan yang cukup lama, meski berlarian diatas permukaan salju namun larinya tetap tenang dan mantap. Angin dingin berhembus kencang seoIah2 golok tajam mengiris iris badan, amat tersiksa rasanya ditubuh. Jalan darah Hong po Seng tertotok membuat ia tak sanggup mengerahkan hawa murninya untuk melawan rasa dingin, beberapa saat kemudian wajahnya telah berubah jadi pucat pias begaikan mayat, ke empat anggota badannya jadi kaku dan sukar bergerak lagi. Tapi ia tidak bicara maupun buka suara, sambil pejamkan matanya ia pura-pura mengantuk. Padahal yang benar hawa murninya per¬Iahan2 dihimpun kembali untuk membebaskan jalan darah yang tertotok. Dibawah salju, mendadak muncul seorang pria berbaju hitam tampak dari kejauhan, ketika orang itu berjumpa dengan kereta berwarna kuning emas tersebut, dengan cepat segera menyingkir ketepi jalan seraya buru2 menjura.

"Saudara Oh Sam ! kiong hie.... kiong hie selamat tahun baru...!" . Oh Sam diatas kereta tetap duduk dengan angkuhnya, sampai biji matapun tidak melirik barang sekejap kearah orang itu, sahutnya hambar.

"Liem Hiang cu, bagus.... bagus....itu! Tio hoe hoat menantikan dirimu disebelah depan sana" . Sementara berbicara, kereta kuda telah melewati dari sisi tubuhnya dengan cepat. Sebelum tengah hari tiba2 kereta telah masuk kedalam kota Keng Chiu, jalan darah Hong Po Seng yang tertotok pun hampir berhasil ditembusi, tiba2 terdergar Oh Sam membentak rendah, kereta kuda itu telah berhenti didepan sebuah bangunan besar, suara ucapan tahun baru segera bermunculan dari sekeliling tempat itu. Tatkala Hong-po Seng membuka matanya, ternyata kereta telah berhenti dipintu depan markas besar perkumpulan Sin Kie Pang cabang kota Keng-chiu, didepan pintu telah penuh dengan orang yang menyambut kedatangan mereka, semua orang sama2 memberi hormat kepada kusir tersebut sambil menyebut dirinya Oh Sam-ya. Dengar sinar mata tajam Oh Sam menyapu sekejap wajah orang2 itu, tiba2 ia bertanya.

"Kwa Hoa Tongcu kenapa tidak kelihatan"

"Lapor Sam-ya!"

Seorang kakek berjubah hijau segera menjawab.

"Kemarin malam telah terjadi keonaran, Hoen tongcu serta dua orang pembantu telah lenyap tak berbekas, tadi sebenarnya ada seorang Tio loo hoe-hoat serta seorang Liem thangcu menjadi tamu kami, tapi entah bagaimana jejak merekapun tiba-tiba lenyap tak berbekas!"

Oh Sam dengan wajah keren mendengus dingin, ia tidak menanggapi perbuatan itu. Kakek berjubah hijau itu segera berkata lebih jauh.

"Sebenarnya dalam markas kami telah menawan orang-orang tawanan perempuan, mereka adalah berasal dari keluarga Chin Pek Cuan, tapi setelah bentrokan kemarin malam mereka telah terlepas semua, peristiwa ini telah kami laporkan kemarkas besar harap Sam-ya suka memberi pertimbangan "

Hong-po Seng yang kebetulan mendengar pula pembicaraan itu dalam hati merasa amat girang, sekalipun ia sendiri terjatuh ditangan orang tetapi bagaimanapun juga kesulitan yang dihadapi keluarga Chin berhasil ia selesaikan dengan balk, atas perintah dari ibunya sedikit banyak diapun bisa mempertanggung jawabkan diri.

Tampak Oh Sam ulapkan tangannya melarang kakek berjubah hijau itu bicara jauh, ia berpaling dan tanyanya.

"Siocia, apakah kau hendak turun dari kereta untuk bersantap lebih dahulu?"

"Tak usah!"

Gadis cantik dalam kereta itu menyahut.

"Kau makanlah cepat sedikit, kemudian kita lanjutkan kembali perjalanan kita."

Oh Sam mengiakan, sebelum meninggalkan kereta tersebut, mendadak ia putar tangannya melancarkan totokan kembali keatas jalan darah 'Tiong Khek' ditubuh Hong-po Seng, setelah itu baru masuk kedalam ruangan.

Tindakan tersebut kontan membuat Hong-po Seng jadi meringis, pikirnya dalam hati.

"Aai ... sudah, sudahlah,"

Rupanya kusir kereta itu adalah seorang jago kawakan yang sangat lihay, untuk meloloskan diri dari tangannya mungkin jauh lebih sukar daripada naik keatas langit !"

Rupanya sebelum jalan darah 'Thian Ci"

Yang tertotok lebih dulu tadi sempat ditembusi. Oh Sam telah menambahi dengan sebuah totokan lagi diatas jalan darah "Tiong Khek"

Jelas kusir itu takut kalau pemuda itu berhasil membebaskan diri dari pengaruh totokan dan melarikan diri.

Sesaat kemudian muncul tiga orang dari dalam ruangan, diatas tangan mereka masing-masing membawa sebuah nampan yang penuh berisi makanan lezat, dayang cilik tadi segera membuka pintu kereta dan menerima hidangan tersebut.

Hong-po Seng yang sudah sehari semalam tidak bersantap dengan cepat perutnya jadi keroncongan setelah mencium bau harum air liur tak tertahan mengucur keluar.

Kereta kuda itu diparkir dipinggir jalan, Hong po Seng segera alihkan sinar matanya menengok kesana menengok kemari, ia berharap bisa melihat wajah keluarga Chin sekali lagi.

Tetapi sayang sekali meski letak markas besar cabang perkumpulan Sin Kie Pang terletak ditepi jalan raya, tapi bagi orang2 yang tiada perlu kebanyakan suka berputar lewat jalan lain ditambah pula hari itu adalah hari Tahun Baru, banyak toko tutup dan banyak orang lebih suka berada dirumah, sekalipun Hong-po Seng sudah setengah harian lamanya menengok kesana menengok kemari, tak sesosok bayangan manusiapun berhasil dia jumpai.

Kurang lebih sepertanak nasi kemudian Oh Sam telah muncul kembali diambang pintu, ia langsung menghampiri jendela kereta dan membisikkan sesuatu kedalam.

Jilid KE 3 Wajah Hitam yang sulit dibersihkan TERDENGAR gadis cantik yang berada di dalam kereta itu segera berkata.

"Biarlah kupikirkan lebih dahulu baru kita bicarakan lagi!"

Kedahsyatan ilmu silat yang dimiliki Oh Sam sukar dicarikan tandingannya dalam kalangan dunia persilatan, tetapi sikapnya terhadap gadis cantik itu ternyata menghormat dan tunduk seratus persen.

Mendengar sahutan tadi ia lantas mengiakan dan kembali ke tempat duduknya di depan kereta, sekali sentak tali les, kereta itu kabur kembali ke depan dengan gerakan cepat.

Beberapa saat kembali sudah lewat, kereta kudapun telah keluar dari pintu utara kota Keng-Chiu, mendadak dari balik ruang kereta menggema keluar suara sentilan jari.

Diikuti suara dari gadis cantik tadi berkumandang datang.

"Bawa orang itu ke dalam kereta, aku ada persoalan yang hendak kutanyakan kepadanya". Oh Sam segera menghentikan keretanya dan mencengkeram tubuh Hong Po Seng masuk ke dalam ruang kereta, dayang cilik tadi telah membuka pintu kereta, Oh Sam pun segera melangkah masuk ke dalam keretanya.

"Pemuda ini memiliki berbagai macam ragam kepandaian aneh, siocia barus berjaga-jaga atas kelihayannya! ". Gadis cantik itu mengangguk ketus, dayang cilik itupun menutup kembali pintu kereta menurunkan korden dan kereta berangkat kembali menuju keutara. Hong Po Seng duduk dengan punggung bersandar di atas dinding kereta, sepasang matanya berputar ke sana ke mari mencari pedang baja miliknya. Tampaklah dalam ruang kereta sebelah kanan terletak sebuah kursi empuk yang dapat digunakan untuk duduk ataupun tidur, di sudut kiri terdapat sebuah meja kecil, empat belah dinding tertutup oleb korden yang halus dan indah, selembar kulit harimau terbentang di atas lantai, sebuah lantai keraton tergantung di atas kereta dan di atas dinding kereta terdapat sebuah lemari kecil, dalam lemari itu terdapat beberapa macam barang antik serta beberapa

Jilid buku.

Sambil bertopang dagu gadis cantik itu duduk di atas kursi empuk sementara dayang cilik tadi duduk di atas kasur sutera di bawah kaki majikannya.

Tiga buah nampan berisi makanan terletak di atas meja kecil dan sama sekali belum disentuh.

Sedangkan pedang baja milik Hong Po Seng tidak nampak bayangannya.

Tiba-tiba terdengar dayang cilik itu menegur dengan suara merdu.

"Hay, siapa namamu?"

"Aku she Hong Po bernama Seng!"

Sahut si anak muda itu tanpa ragu-ragu, sorot matanya menyapu sekejap ke atas wajah gadis itu kemudian balik tanyanya.

"Dan siapa pula nama nona berdua?"

Sebagai seorang pemuda yang sejak kecil telah di didik keras oleh ibunya, kesopanan selalu diutamakan olehnya dalam setiap pergaulan. ,.Aku bernama Siauw Ling!"

Terdengar dayang cilik itu menyahut sambil tertawa. ,.Sedang siocia kami she Pek, siapa namanya ....... Rahasia! Kau tak boleh tanya dan tak boleh tahu". Hong Po Seng tertawa hambar.

"Nona Pek, kau memanggil cayhe datang kemari entah ada persoalan apa?""". Gadis cantik itu termenung beberapa saat lamanya, kemudian ia baru bertanya dengan suara hambar.

"Orang yang mewariskan ilrau silat kepadamu apakah pernah membicarakan soal kelihayan dari ilmu pukulan Kioe-Pit-Sin-ciang?"

Hong po Seng mengerti dibalik ucapan tersebut pasti ada sebab-sebabnya, ia jadi terkesiap.

"Cayhe belum lama terjunkan diri ke dalam dunia persilatan, pengetahuanku sangat cetek dan pengalamanku boleh dibilang belum ada, entah sampai di manakah kelihayan dari ilmu pukulan Kioe-Pit-Sin-ciang itu?"

Ketika didengarnya si anak muda itu sama sekali tidak menyebutkan nama dari yang orang telah mewariskan ilmu silat kepadanya, di atas wajah sang gadis yang cantik jelita itu terlintas senyuman mengejek.

"Hmmm, tidak sampai tiga hari, lengan kirimu bakal jadi cacad! Dapatkah jiwamu tertolong hal ini harus dilihat dari nasibmu, apakah kau punya rejeki atau tidak" . Hong-po Seng semakin terkesiap mendengar perkataan itu, pikirnya dalam hati.

"Serangan yang dilancarkan Kok See Piauw dalam keadaan tergopoh-gopoh dan gelisah paling banter cuma menggunakan tenaga dua bagian belaka, dan jelas ilmu pukulan "

Kioe Pit Sin Ciang"

Itu tak beracun, kenapa hanya luka yang demikian kecilnya bisa mengakibatkan lenganku jadi cacad?

Bahkan menurut gadis ini jiwaku bisa terancam?

Aneh .....

sungguh tak habis mengerti..............".

Terdengar gadis cantik itu telah berkata lagi dengan nada dingin.

"Kau anggap, aku sedang menakut-nakuti dirimu atau membohongi dirimu?... Hmm!"

"Aaaai akupun tahu tiada berguna menakut-nakuti, cuma saja ...... setelah aku terluka, mau sedih atau menyesal apa gunanya, toh nasi telah berubah jadi bubur!'.

"Hmmm belum tentu begitu, asal kau punya keinginan untuk tetap melanjutkan bidup, aku punya kepandaian untuk menyelamatkan selembar jiwamu!" .

"Kalau didengar nada pembicaraannya ...... rupa nya aku harus memohon sendiri ........."

Pikir Hong Po Seng. oooOooo Dari sikap lawannya yang termenung tak bicara, gadis cantik itu mengerti bahwa hatinya sudah digerakkan oleb perkataannya barusan, ia lantas tertawa hambar.

"Semua orang yang di kolong langit banya tahu bahwa ilmu pukulan "Kioe Pit Sin Ciang"

Adalah suatu ilmu pukulan yang sangat lihay, namun tak seorangpun yang tahu di manakah letak kelihayannya, yang dimaksudkan "Kioe Pit Sin"

Di sini sama sekali bukan berarti akibat pukulan yang berpatah-patah jadi sembilan bagian".

"Aaah! benar, semestinya orang-orang baru bisa berpikir sampai kesitu"

Batin Hong Po Seng ketika mendengar gadis itu menghentikan pembicaraannya, terpaksa ia buka suara;

"Pengetahuan maupun pengalaman nona sangat luas, hal ini membuat cayhe merasa amat kagum, tapi aneh apa yang dimaksudkan sebagai "Kioe Pit"

Dalam ilmu pukulan ini?".

"Ilmu pukulan ini aneh dan istimewa sekali, bagi korban yang terkena oleh pukulannva, dilarang makan sekenyang-kenyangnya dilarang minum sepuas-puasnya, dilarang bergembira berlelebihan, dilarang sedih kelewatan batas, tak boleh kedinginan dan tak boleh kepanasan .....

". Berbicara sampai di sini, sinar matanya dialihkan keatas ujung baju Hong Po Seng yang terbakar hangus oleh api, serentetan sikap mengejek terlintas di atas wajahnya. Hong Po Seng tertegun dan melongo, pikirnya.

"Aaah, benar. Setelah aku terluka mula-mula tubuhku kepanasan oleh kobaran api kebakaran, setelah itu aku kedinginan oleh tiupan angin dan salju, setelah itu harus berlarian dan bertempur semalam suntuk, tenta saja keadaan bertempur runyam ..." . Tiba-tiba ia teringat kembali sewaktu kemarin malam masih berada di dalam lorong rahasia milik keluarga Chin, waktu itu ia pernah jatuh pingsan satu kali dan hampir saja jatuh terjengkang, hanya saja ketika itu peristiwa tersebut sama sekah tidak diperhatikan, kini ia sadar dan menjadi paham, jelas itulah akibatnya dari kambuhnya luka bekas terkena pukulan.

"Siauw-Ling! bebaskan jalan darahnya yang tertotok"

Merdadak terdengar gadis cantik itu berseru. Dayang cilik itu manis, ia rnendekati sisi tubuh Horg Po Seng kemudian menggerakan telapaknya menabok di atas jalan darah "Thin-Ci"

Di tubuh pemuda tersebut.

"Sudah cukup?"

Tanyanya kemudian sambil tertawa "Bebaskan pula jalan darah Tiong-Kheknya!". Buru-buru dayaitg cilik itu menepuk pula di atas jalan darah "Tiong-Khekhiat"

Sehingga jalan darah yang tertotok itu segera tergetar bebas.

Diam-diam Hang Po Seng mengatur pernapasannya dan mengalirkan hawa murni ke seluruh tubuhnya, ia bermaksud hendak melancarkan peredaran darah dalam badannya.

Siapa sangka tiba-tiba kepalanya pusing tujuh keliling, seluruh tubunya bergetar keras kemudian roboh terjengkang ke atas lantai, seketika itu juga ia jatuh tak sadarkan diri.

Ucapan dan gadis itu sedikitpun tidak salah, ilmu pukulan Kioe Pit Sin Ciang yang muncul pada saat ini jauh berbeda dengan sepuluh tahun berselang, kekejaman kesedihan, serta kehebatan racunnya boleh dibilang mematikan setiap korban yang terkera oleh pukulan tersebut, hanya saja selama sepuluh tabun Boe Liang Sin Koen tak pernah tinggalkan goa pertapaannya sedangkan Kok See Piauw pun belum lama terjun ke dalam dunia persilatan, sampai di manakah kehebatan dari ilmu pukulan tersebut hanya beberapa orang saja yang tabu.

Ketika menjumpai Hong Po Seng jatuh tak sadarkan diri di atas lantai, dayang cilik itu segera berjongkok dan memeriksa tubuh pemuda tersebut, katanya kemudian.

"Siocia, apakah kau hendak menerima orang ini sebagai pembantu kita? ...." . Dengan ujung jarinya yang dibasahi oleh air ludah ia gosok-gosok wajah Hong Po Seng yang tajam pekat itu keras, ujungnya lebih jauh.

"Andaikata wajah orang ini tidak dipoles dengan obat penyaruan, aku pikir ia pasti tampan dan menarik! ".

"Coba kau totok jalan darah "Jien Tiong"nya!"

Terdengar gadis cantik itu menitahkan.

Mendengar perintah dari majikannya dayang cilik itu segera melancarkan sebuah rotokan di bawah lekukan hidung pemuda tersebut, seluruh tubuh dan kulit badan Hong Po Seng tergetar keras, dalam waktu singkat ia siuman kembali dari pingsannya.

"Heng po Seng, dengarkan baik-baik!"

Kata gadis cantik itu dengan wajah adem. Aku bernama Pek Koen Gie Pek Loo Pangcu ketua dari perkumpulan Sin Kee Pang adalah ayahku!"

Sejak semula Hong po Seng telah menduga sampai di situ maka ia tidak sampai kaget setelah mendengar pengakuan dari dara ayu tersebut, sepasang telapaknya segera menekan ke atas lantai coba merangkak bangun.

Siapa sangka karena sedikit mengerahkan tenaga itulah luka di atas bahu kakinya terasa amat sakit hingga merasuk ke dalam isi perutnya, tubuh jadi lemas dan sekali lagi ia roboh terjengkang di atas lantai.

Dayang cilik yang ada di sisinya segera memayang ia bangun, katanya.

"Eeeea kau harus sedikit tahu diri, jangan sampai menjengkelkan atau menggusarkan siocia kami!".

"Terima kasih atas perhatian diri nona cilik"

Sabut Hong po Seng tertawa hambar.

"Entah nona Pek masih ada petunjuk apa lagi? Cayhe siap mendengarkan dengan seksama!". Setelah jatuh pingsan dan siuman kembali, wajah pemuda itu dari hitam pekat kini berubah jadi kuning pucat, sepasang matanya suram tak bersinar, suaranya untuk berbicara pun lemah tak bertenaga, seakan-akan seseorang yang sedang menderita sakit parah. Pek Koen Gie sema sekali tidak terharu oleh keadaan orang, katanya perlahan-lahan.

"Kemarin malam di rumah keluarga Chin Pek Cuan telah terjadi peristiwa, kebetulan kaupun berada di kota Keng-chiu, bahumu terluka oleh pukulan, pakaianmu terbakar sebagian oleh api, jelas tak bisa dipungkiri lagi kau pasti sudah turut campur dalam peristiwa itu bukan begitu? ". Semangat Hong Po Seng segera berkobar setelah mendengar dara itu mengungkap kembali peristiwa di keluarga Chin.

"Nama besar Boe Liang Sin Koen telah menggetarkan seluruh Liok lim, ia mempunyai seorang murid yang bernama Kok See Piauw, meski ilmu silat yang dimilikinya jauh lebih kuat dari aku orang she Hong Po, menurut pendapat caybe, alangkah baiknya kalau pihak perkumpulan Sin Kee Pang jangan ikut campur dalam persoalan keluarga Chin ini" . Pek Koen Gie dapat menangkap arti lain dalam perkataan tersebut, jelas pemuda itu sedang menyindir perkumpulan Sin Kee Pang yang sedang membaiki Kok See Piauw dengan harapan bisa menggaet Boe Liang Sin Koen berpihak kepada mereka, diam-diam dia jadi naik pitam.

"Pihak perkumpulan Sin Kee Pang kami telah kehilangan tiga orang dan kematian seorang Hoe Hoat"

Serunya sambil tenawa dingin.

"Apakah hutang darah ini harus kami catat atas namamu!".

"Hmmm. ketiga orang itu telah kubacok mati semua, mayat mereka telah kulempar ke dalam kobaran api, saat ini mungkin abunya pun sudah musnah terhembus angin. Kalau memang kalian mau mencari balas, catat saja keempat lembar jiwa itu atas namakul"

Pek Koen Gie mendengus dingin, dalam waktu singkat di atas wajahnya yang cantik jelita terlintas hawa dingin yang menggidikkan hati.

"Hmmm kau tak usah menanggung dosanya Chin Pek Cuan, selama mereka ayah dan anak masih hidup di kolong langit, cepat atau lambat pasti akan terjatuh ke dalam jaring perkumpulan Sin-Kie-Pang! ". Hong-po Seng jadi sangat gelisah.

"Nona kau sengaja mengucapkan kata-kata seperti ini bukankah kasarnya ada maksud memaksa diri cayhe? Entah kau ada perintah apa yang hendak diutarakan kepada cayhe, katakanlah asal aku Hong-po Seng dapat kerjakan pasti akan kulakukan ". Pek Koen Gie tertwa dingin.

"Rupanya kaupun terhitung seorang manusia cerdik!"

Ia merandek sejenak.

"Anak buah perkumpulan Sin-Kee-Pang bukanlah manusia yang boleh dibunuh oleh orang luar, andaikata kau ingin melepaskan diri dari persoalan ini satu-satunya jalan hanya menyumbang tenaga bagi perkumpulan kami. Mengingat usiamu masih muda, kepandaian silatmu tidak lemah dan merupakan seorang manusia berbakat yang punya kemungkinan besar untuk maju, persoalan yang telah lewat tak akan kubicarakan lagi, aku tanggung jika keluarga Chin tidak akan mengalami ancauan bahaya apapun! ". Mula-mula Hong-po Seng tertegun, kemudian ia jadi paham dengan duduknya perkara.

"Oooh, ternyata huhungan antara nona dengan Boe-Liang san bukan hanya hubungan biasa, kalau tidak tak nanti kau berani mengucapkan kata-kata sesumbar itu! "

"Hanya mendengar nada ucapanku saja ia bisa menebak maksudnya, kecerdikan orang ini benar-benar sukar dicarikan tandingannya di kolong langit ....."

Diamdiam Pek Koen Gie berpikir.

Melihat ia sedang pejamkan mata seolah-olah lagi berpikir, iapun segera menanti dengan tenang tanpa mengganggu.

Hong po Seng diam-diam memikirkan kembali situasi yang dihadapi sekarang, dimulai dari keselamatan keluarga Chin ibunya yang meagasingkan diri di atas bukit, serta nama ayahnya almarhum yang cemerlang dalam Bu-lim .....

akhirnya ia tertawa getir.

"Nona!"

Katanya kemudian.

"Tidak sulit bagiku untuk menggabungkan diri menjadi anggota perkumpulan Sin-Kie Pang, tapi kesulitan justru terletak pada ketidak tulusan hatiku, aku tak dapat bersikap setia dengan sepenuh hati kepada kalian. Nona, bagaimana pandanganmu mengenai hal ini ?"

"Persoalan itu tidak sulit untuk diatasi"

Jengek Pek Koen Gie sambil tertawa dingin.

"Kalau kau berani mengkhianati perkumpulan, maka kau akan kuhukum menuruti peraturan, aku rasa hal ini bukan merupakan satu kesulitan ". Ia merandek sejenak, lalu tambahnya .

"Menurut penglihatanku, kesulitan justru terlerak pada upacara untuk masuk jadi anggota, aku takut kau sulit untuk menuruti! ".

"Upacara masuk jadi anggota bagaimana maksudmu ?? tolong nona suka menjelaskan!".

"Hmm, kalau dibicarakan semestinya sederhana dan gampang sekali, cukup asal kau suka berlutut dibadapanku, mendengarkan nasehat serta teguranku kemudian mengijinkan aku menancapkan tiga batang jarum beracun penempel tulang di atas tubuhmu maka secara resmi kau telah kuterima sebagai anggota perkumpulan Sin Kie Pang. Bagaimana? apakah kau perlu mempertimbangkan lagi?"

Merah padam selembar wajah Hong-po Seng begitu selesai mendengar perkataan itu, hawa amarah yaog bergelora dalam rongga dadanya sukar dikendalikan lagi.

Saking gusarnya luka di atas bahunya seketika kambuh kembali, pandangan jadi gelap dan sekali lagi ia jatuh tak sadarkan diri ...

"Siocia, kenapa kau ajukan peraturan seperti itu?"

Terdengar dayang cilik itu menegur dengan wajah tertegun bercampur tercengang. Dahulu belum pernah kudengar ada peraturan semacam ini!"

Pek Koen Gie tertawa dingin.

"Watak serta tabiat orang ini kukoay sekali, kalau dikatakan ia tidak takut mati ternyata ia sangat takut menghadapi kematian, kalau dikatakan takut mati ternyata ia mempunyai sikap memandang suatu kematian bagaikan pulang ke rumah, terhadap manusia semacam ini siapapun bisa dibikin apa boleh buat, oleh karena itu aku perlu menghina dirinya habis-habisan, bila ia berani menghianati diriku maka sekali hantam akan kubereskan selembar jiwanya" . Dayang cilik itu seperti mengerti seperti pula tidak mengerti atas pembicaraan majikannya, terdengar ia berkata.

"Orang ini sangat cerdik, ilmu silatnya tentu bagus juga bukankah lebih baik kalau siocia menerima menjadi pembantu yang setia??" . Sambil berkata ia totok kembali jalan darah "Jien Tiong"

Di lekukan hidung Hong-po Seng, pemuda itupun siuman kembali. Perlahan-lahan si anak muda itu membuka matanya, mententeramkan hatinya dan berpikir.

"Sebelum persoalan-persoalan yang dibebankan kepundakku kuselesaikan secara baik, aku tidak boleh mati. sebab kalau tidak aku bakal menyia-nyiakan jerih payah ibuku sela na ini. Tetapi kalau disuruh aku menerima penghinaan yang demikian besarnya, mungkin sukrna ayah yang berada di alam baka pun akan ikut merasa malu sebinpga sepanjang masa beliau tak bisa pejamkan mata. Aaaa ..... sungguh bikin aku jadi serba salab, nana yang harus kulakukan?" . Semakin dipikir kepalanya makin pusing, hatinya makin putus asa....... mendadak ia mendongak, sinar matanya terbentur dengan sorot mata gadis itu empat mata terbentur jadi satu mengakibatkan sekujur tubuh Hong Po Seng bergetar keras saking kagetnya. Sepasang alis Pek Koen Gie kontan berkerut, ujarnya dengan nada dingin.

"Apakah kau telah mengambil keputusan?? ". Hong Po Seng mententeramkan kembali hatinya dan memandang lagi ke atas wajah gadis itu, ia temukan di balik biji matanya yang jeli terkardung sifat kejam yang amat sangat, tanpa terasa pikirnya dalam hati.

",Gadis ini tentu mempunyai dendam sakit hati lain terhadap diriku, kalau tidak mengapa ia begitu benci dan sakit hati terhadap diriku??...."

Mana ia tahu Pek Koen Gie sejak kecil sudah terbiasa dimanjakan.

belum pernah ia mengalami penghinaan ataupun pandangan rendah dari orang lain, sebagai orang yang halus di luar keras di dalam sudah tentu hatinya tersinggung terlebih dahulu tatkala gadis itu mengetahui bahwa Hong Po Seng sama sekali tidak memandang sebelah matapun terhadap perkumpulan Sin Kee Pang yang besar itu.

Ditambah pula kecantikan wajah Pek Koen Gie bagaikan bidadari, setiap berjumpa dengan dirinya tentu tertarik dan terpesona oleh kecantikan wajahnya, siapa tahu Hong-po Seng bukan saja tidak tertarik kepadanya, bahkan seakan-akan menganggap kecantikan wajahnya hanya suatu kejadian yang lumrah dan tak usah dikejutkan, tentu saja gadis itu merasa amat tersinggung, gengsinya terasa diturunkan oleh sikap pemuda itu.

Hal inilah yang menyebabkan timbulnya rasa sakit hati dan benci dalam hati gadis she Pek itu, ia bersumpah hendak membalas dendam, ia berjanji hendak menghina pemuda itu habis-habisan.

Lama sekali Hong po Seng termenung dan mempertimbangkan persoalan itu, tapi ia belum berhasil juga melepaskan dari simpul mati tersebut, akhirnya sambil menghela napas pikirnya .

"Meskipun ini hari aku menyerah, belum tentu ia mau melepaskan diriku dengan begini saja, penghinaan yang lebih besar tentu akan kualami dikemudian hari. Daripada menanggung derita dan siksaan lebih baik kusudahi saja hidupku sampai di sini. Setelah mengambil keputusan demikian, ia lantas mendongak dan berkata.

"Nona, cayhe sudah mengambil keputusan."

Badannya lemah tentu saja hal ini mempengaruhi suaranya hingga kedengaran amat lirih, mendadak Pek Koen Gie naik pitam, tanpa menantikan selesainya ucapan itu katanya.

"Manusia konyol, apa yang hendak kau katakan? kalau bicara jangan lemah lembut seperti cacing kepanasan, utarakanlahdengan sedikit bersemangat "

"Bagus! bagi cayhe urusan mati hidup adalah suatu peisoalan kecil, sebaliknya kehormatan dan gengsi adalah masalah besar, aku telah mengambil keputusan untuk menempuh jalan mati saja!"

Pek Koen Gie semakin naik pitam setelah mendengar perkataan itu, dengan tangan kaki gemetar serunya.

"Kalau sekarang juga kubereskan jiwamu. Hmm, terlalu enakan bagimu" ..... Berbicara sampai di situ ia lantas ulapkan tangannya ke arah Siauw Leng. Melihat kode majikannya dayang cilik itu buru-buru mengetuk dinding kereta. Kereta kuda itu segera berhenti, pintu di buka dan Oh Sam melongok ke dalam. Siauw Leng segera memberi tanda, tanpa mengucapkan sepatah katapun Oh Sam mencengkeram tubuh Hong-po Seng dan dibawa keluar dari ruang kereta. Sejak semula Hong-po Seng sudah tiada tenaga untuk memberikan perlawanan, iapun menyadari bila hawa amarahnya berkobar niscaya ia bakal jatuh tak sadarkan diri, oleh sebab itu sambil menahan rasa mangkel dan sedih yang berkecambuk dalam hatinya, ia biarkan dirinya dibawa keluar kereta , dan meneruskan perjalanan menuju ke Utara. Ilmu pukulan Kioe Pit Sin Ciang benar-benar sangat lihay, hasil latihan Hong po Serg yang susah payah selama banyak tahun ternyata tidak sanggup menahan sebuah gebukan ringan ilmu pukulan tersebut. Kini terhembus oleh angin dingin dan badai salju, ditambah pula rasa lapar yang tak terhingga dalam waktu singkat ia jatuh pingsan kembali. Oh Sam cuma melirik sekejap ke arahnya, sedikitpun orang ini tidak menunjukkan rasa kasihan, simpatik ataupun maksud untuk menolong, sikapnya acuh tak acuh. Di musim salju yang dingin siang jauh lebib rendek dan malam, ketika sore hari baru menjelang tiba diudara sudah gelap gulita, sejak jatuh tak sadarkan diri tadi Hong-po Seng belum sadar kembali, sementara Oh Sam pun melarikan kereta kudanya cepat-cepat menuju ke luar kota Seng-Chiu. Mendadak suara derap kaki kuda yang amat santar berkumandang datang dari arah depan belasan ekor kuda jempolan dengan gagah dan cepatnya menerjang keluar dari balik pintu kota menyongsong kedatangan mereka. Dari jauh memandang rombongan tersebut. Oh Sam segera menghardik keras.

"Siapa di situ???".

"Yang baru datang benarkah Oh San ya??"

Sahutan nyaring menggema tiba.

Sementara pembicaraan masih berlangsung ke dua belah pihak telah saling berdekatan, terdengar suara ringkikan kuda menjulang keangkasa, dua belas orang mendatang bersama-sama loncat turun dari atas kuda dan berdiri penuh rasa bormat di depan pintu kereta.

Korden kereta tersingkap, Pek Koen Gie menengok sekejap keluar sambil bertanya.

"Loe Hoen Tongcu, kalian datang kemari dengan menggembol senjata tajam apakah telah terjadi suatu peristiwa diluar dugaan?? ". Pria kekar yang menggembol golok besar bergagang emas pada punggungnya itu segera maju menjura, lalu menjawab.

"Barusan hamba sekalian memperoleh laporan kilat yang mengatakan di dusun sebelah timur telah kedatangan serombongan manusia yang sangat mencurigakan, keadaan mereka seperti orang yang sedang meugungsi .." .

"Aku akan menantikan laporanmu di ruang kantor cabang"

Tukas Pek Koen Gie tanpa menantikan orang itu menyelesaikan kata-katanya.

"Andaikata rombongan itu adalah keluarga dari Chin Pek Cuan, segera tangkap semua dan gusur kedalam kantor, jangan lepaskan barang seorangpun diantara mereka dan jangan kalian celakai pula jiwa mereka!"

Habis berkata ia ulapkan tangannya.

Orang she Loei itu mengiakan dengan penuh rasa hormat, diikuti oleh anak buahnya masing-masing meloncat naik ke atas kudanya.

Mendadak Oh Sam meloncat ke depan jendela katanya .

"Chin Loo jie adalah seorang manusia pemberani sudah tersohor akan kekerasan hatinya ia tak sudi menyerah kepada musuhnya dan tidak takut mati untuk menangkap beberapa orang itu hidup-hidup, hamba rasa beberapa orang ini masih belum mampu untuk melakukannya ".

"Ehmm, kalau begitu kaupun ikut pergi!" . Seketika ada seseorang yang menyerahkan kuda tunggangannya untuk Oh Sam sedang ia sendiri menggantikan kedudukan sebagai kusir kereta. Dalam waktu singkat Oh Sam beserta orang-orang itu telah berlalu dari Kereta kuda masuk ke dalam kota dan langsung menuju ke markas perkumpulan Sin Kee Pang cabang kota Seng Chiu, Pek Koen Gie turun dari kereta mengangguk terhadap orang-orang yang menyambut kedatangannya kemudian langsung menuju ke ruang dalam. Siauw Leng dengan menjinjing sebuah kotak terbuat dari emas menyusul di belakangnya diikuti orang yang bertindak sebagai kusir tadi membopong lubuh Hong po Seng. Orang itu membawa tubuh pemuda she Hong po ini menuju ke sebuah ruang besar dan menyandarkan dirinya di atas sebuah kursi besar, sementara meja perjamuan telah dipersiapkan di tengah ruangan. Selesai cuci muka dan ganti pakaian Pek Koen Gie muncul dalam ruangan itu diiringi serombongan wanita. Pek Koen Gie duduk di kursi utama, dua orang wanita mengiringi dikedua belah sampingnya sedang sisanya mengitari di depan meja, terdengar suara pembicaraan yang nyaring dan ramai berkumandang memenuhi seluruh ruangan, semua orang bergembira ria kecuali Pek Koen Gie seorang, wajahnya selalu murung dan kesal jarang sekali ia buka suara untuk bercakap-cakap apalagi tertawa. Di tengah perjamuan, seorang dayang muncul sambil membawa sebuah nampan, di atas nampan terletak secawan air jahe serta sembilan buah mangkok kecil, dalam mangkok masing-masing diisi dengan cuka, minyak kayu putih, arak kuning, air jeruk serta pelbagai macam obat-obatan lainnya dan segumpal kapas Siauw Leng tertawa cekikikan, dengan wajah berseri-seri ia mendekati tubuh Hong po Seng, mula-mula ia cekoki pemuda itu semangkok air jahe, kemudian dengan menggunakan kapas yang dicelupkan ke dalam minyak kayu putih ia mulai menggosok wajah Hong po Seng yang berwama hitam pekat itu. Sepertanak nasi telah lewat namun warna hitam di atas wajah Hong po Seng sama sekali tak luntur ataupun berubah, maka Siauw Leng mengambil lagi segumpal kapas yang direndam dengan air cuka, namun obat perubah warna itu benar-benar sangat hebat, meski sudah digosok berulang kali hasilnya tetap nihil, wajah Hong po Seng tetap hitam pekat seperti sedia kala. Siauw Leng jadi amat kecewa, melibat si anak muda itu mulai mendusin kembali ia segera goyang-goyangkan tubuhnya sambil berteriak keras "Hey Hong po Seng, sebenarnya wajahmu sudah kau polesi dengan obat apa?"

Pek Koen Gie sendiripun merasa ingin tahu bagaimana gerangan wajah sebenarnya dari pemuda itu, ia berhenti minum dan alihkan sinar matanya ke arah sana, demikian pula dengan puluhan pasang mata lainnya berbareng dialihkan ke atas wajah Hong po Seng.

Pemuda she Hong po yang baru saja mendusin dan pingsannya hanya memandang sekejap ke arah sekelilingnya dengan wajah mendelong lama sekali ia baru bertanya ;

"Nona apa yang kau tanyakan?"

"Eeei", wajahmu telah kau polesi dengan obat apa?"

Teriak Siauw Leng. Hong po Seng tahu kematian tak akan terbindar dari dirinya, ia jadi malas buka suara. tapi iapun takut dayang cilik itu ribut tiada bentinya maka ia menyahut.

"Sejak aku berusia tujuh tahun, setiap hari wajahku kugosok dengan air obat, tiga tahun kemudian wajahku telah berubah jadi begini dan mungkin selama hidup wajahku tak akan pulih kembali seperti sedia kala, nona cilik aku lihat lebih baik kau tak usah buang tenaga dengan percuma "

"Hey. sampai di mana sih kelihayan dari rnusuhmusuh besarmu??"

Hingga kau pandang persoalan yang kecil jadi masalah besar??"

Mendadak terdengar Pek Koen Gie mendengar dengan suara dingin.

Sorot mata Hong-po Seng berkilat, ia melriik sekejap ke arahnya seakan-akan hendak mengucapkan sesuatu namun akhirnya ia batalkan maksud tersebut dan pejamkan kembali matanya.

Siauw-Leng si dayang cilik jadi kheki, sambil mencibirkan bibirnya ia menyingkir dari situ.

Perempuan yang duduk di sebelah sisi Pek Koen Gie mendadak menimbrung dengan suara lantang .

"Hey bocah muda, perduli siapakah musuh besarmu asal kau mohonkan bantuan serta perlindungan dari siocia kami, meski Thian Ong Loo-cu ataupun Giok-Hong-Thay Tie tak nanti mereka berani mengganggu selembar jiwamu! ". Hong-po Seng tetap pejamkan matanya dengan mulut membungkam, terhadap ocehan perempuan tersebut ia sama sekali tidak ambi gubris. Diam-diam Pek Koen Gie jadi mendongkol, ia angkat cawan araknya dan sekali teguk menghabiskan isinya, mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia berpikir .

"Senang hidup takut mati adalah kebiasaan dari manusia, sekarang ia berlagak angkuh dan sombong tidak lebih karena terdorong oleh emosi belaka, asal aku dapat memancing rahasia hatinya dan berhasil mengetahui kelemahannya maka ia akan takut menghadapi kematian, asal dalam hatinya sudah timbul rasa takut menghadapi kematian, tidak terlalu sulit bagiku untuk menaklukan dirinya ". Berpikir demikian ia lantas tertawa dingin katanya.

"Hong Po Seng, kematianmu telah berada di ambang pintu, bila kau masih terdapat pekerjaan atau tugas yang belum sempat diselesaikan utarakan saja kepadaku, mengingat kau mempunyai beberapa bagian semangat seorang ksatria, setelah kau mati aku dapat perintakan orang-orang untuk menyelesaikannya! ".

"Antara kau dengan aku terpisah oleh paham yang berbeda, aku rasa tidak baik kalau kita beterjasama"

Tampik Hong Po Seng dengan suara hambar, matanya melotot besar.

"Maksud baik dirimu lebih baik kuterima di dalam hati saja, aku tak berani merepotkan diri nona" . Meski ia diluar bicara demikian, dalam hati terbayang kembali wajah ibunya yang penuh kasih sayang, teringat kembali ucapan ibunya bahwa hanya teratai racun empedu api saja yang dapat menyembuhkan sakitnya serta memulihkam kembali kepandaian silatnya, tanpa sadar titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya. Haruslah diketahui bagi orang ksatria lebih baik mati terbunuh daripada menerima penghinaan, meskipun Hong Po Seng mempunyai keinginan untuk melanjutkan hidup namun andaikata ia disuruh berlutut di hadapan Pek Koen Gie sambil mendengarkan nasehat serta tegurannya, hai itu boleh dibilang merupakan suatu penghinaan yang maha besar bagi seorang manusia, juga merupakan penghinaan terhadap keluarga kakek moyangnya. Oleh karena itu setelah dipikirkan pulang pergi, ia merasa kematian adalah jalan yang terbaik baginya untuk ditempuh. Kini terpancing oleh Pek Koen Gie, tanpa sadar air mata telah membasahi wajahnya. Pek Koen Gie pribadi sebagai seorang putra pangcu yang paling berkuasa di kolong langit pada hari-hari biasa selalu andalkan kekuasaan ayahnya untuk berbuat sewenang-wenang, mengikuti adatnya setelah Hong Po Seng menyinggung perasaan halusnya sebagai seorang wanita, ia bersumpah untuk membalas dendarn sakit hati ini. Sekarang melihat si anak muda itu telah mengucurkan air matanya, ia jadi girang, biji matanya mengerling sekejap kearah Siauw Leng memberi tanda. Siauw Leng adalah seorang dayang yang masih muda, watak kekanak-kanakkannya belum hilang, ia takut sebelum sempat melihat wajah sebenarnya dari Hong-po Seng dia keburu mati, maka menjumpai keringanan mata majikannya, ia segera mengambil semangkok nasi dan diberikan kepada seorang dayang disisinya sambil berpesan .

"Lengan toaya itu tidak leluasa uatuk bergerak, cepat kau suapin dirinya hingga kenyang!" . Hong-po Seng sudah seharian penuh tidak bersantap, perutnya sejak semula sudah terasa amat lapar, dalam keadaan seperti ini diapun ogah untuk memperhatikan adat istiadat lagi, di bawah suapan dayang tadi dalam waktu singkat ia telah menghabiskan dua mangkok nasi. Suasana di dalam ruaagan ini nyaman dan hangat, selesai bersantap merasa semangatnya pulih kembali, keempat anggota badannyapun sudah mulai terasa segar, maka ia lantas pejamkan matanya diam-diam mengatur napas. Setelah menderita siksaan seharian penuh, semangat dan kekuatan Hong-po Seng mengalami kerusakan yang sangat hebat, dalam semedinya ia temukan seluruh uraturat penting di atas bahu kirinya telah tersumbat, meski lengan kirinya mungkin jadi cacad nanun jiwanya masih dapat diselamatkan, maka dari itu ia tidak terlalu merasa kuatir. Selesai berlatih beberapa saat lamanya ia merasa badannya jadi lelah, pandangannya berkunang dan ia tertidur nyenyak. Pek Koen Gie sendiri selesai bersantap berbicara sejenak dengan perempuan-perempuan itu, karena hatinya murung ia segera berpamitan dan kembali kekamarnya. Siauw Leng mengikuti majikannya duduk tepekur di atas meja ..... lama kelamaan ia sendiri terlelap dalam tidurnya. Kentongan ketiga ... kentongan keempat.,. kentongan kelima ayam mulai berkokok suara ketukan Bok Hie dari kaum paderi berkumandang di tengah kesunyian. Mendadak terdergar suara derap kaki kuda secara lapat-lapat berkumandang datarg. Pek Koen Gie tersentak bangun dari tidurnya, sepasang biji mata yang bening memancarkan cahaya tajam, tanpa sadar ia melirik sekejap kearah Hong Po Seng. Siauw Leng pun tersentak bangun dari tidurnya, dengan mata masih mengantuk ia beiseru.

"Siocia. apakah air tehnya sudah dingin?"

Hong po Seng pun baru saja mendusin dari tidurnya, mendengar suara hiruk pikuk di luar ruangan yang bercampur dengan isak tangis kaum wanita dan bocah cilik mula-mula ia tertegun, sementara suara gaduh tadi sudah semakin dekat dengan ruangan mereka.

Mendadak korden tersingkap.

Oh Sam masuk ke dalam lebih dabulu diikuti anak buah kantor cabang kota Keng Chiu yang menggusur sembilan orang tawanan, dalam waktu singkat mereka sudah berada dalam ruangan semua.

Diam-diam Hong po Seng melirik sekejap ke arah orang-orang itu, ia temukan salah seorang dara berbaju hijau yang ada di situ bukan lain adalah Chin Wan Hong puteri kesayangan dari Chin Pek Cuan, dengan hati terperanjat ia loncat bangun, teriaknya ;

"Nona Chin, dimanakah ayahmu?"

Waktu itu Chin Wan Hong sedang memayang seorang nenek tua yang rambutnya telah beruban semua, melihat kemunculan Hong-po Seng di tempat itu ia berdiri tertegun, lama sekali baru sahutnya ;

"Ayah serta engkohku menguatirkan keselamatanmu maka kemarin malam mereka memisahkan diri untuk mencari dirimu, sekarang entah mereka berada dimana??? ". Dengan tajam ia perhatikan sekejap wajah pemuda itu lalu tanyarya berubah.

"Kau terluka parah ???". Hong-po Seng menggeleng.

"Tidak terlalu menguaitrkan !". Sinar matanya rnerayap sekejap kesekeliling ruangan, ia temukan diantara sembilan orang lainnya ada enam orang adalah perempuan dan seorang adalah bayi yang masih kecil, di samping itu terdapat seorang kakek berjubah hijau serta seorang pria berusia tiga puluh tahunan, tubuh mereka berdua telah basah oleh lepotan darah segar, sepasang tangannya dibelenggu di atas panggung. Oh Sarn berjalan mendekati majikannya lalu membisikkan sesuatu kesisi telinganya, Pek Koen Gie segera mengangguk tiada hentinya.

"Chin Wan Hong!"

Mendadak ia menegur dengan nada dingin.

"Tiga orang manusia dari kantor cabang kota Keng-Chiu apakah mati di tangan kalian ayah dan anak???" . Hong-po seng cepat berpaling, dengan wajah gusar timbrungnya dari samping.

"Bukankah cayhe sudah berkata berulang kali, ketiga orang itu modar diujurg pedang bajaku. mengapa nona menuduh orang lain yang bukan-bukan??" . Pek Koen Gie tertawa seram.

"Baiklah. siapa duluan siapa belakangan sama saja!"

Ia menoleh dan menambahkan "Loe Tongcu perintahkan orang untuk siapkan alat siksaan! ...."

Untuk menyiksa seseorang caranya berbeda jauh dengan cara membunuh orang, ketika dilihatnya Hong-po Seng sama sekali tidak dibelenggu dan takut si anak muda itu mcmberikan perlawanannya hingga anak buahuya tak sanggup melayani, mendengar perintah tersebut buru-buru Loe Hoen Tongcu menjura.

,Biarlah hamba turun tangan sendiri!".

Tangannya berkelebat mencabut keluar golok besar gagang emas dari atas punggungnya kemudian dengan langkah lebar maju ke depan.

Hong-po Seng putar otaknya dengan cepat ia tahu percuma baginya untuk melawan, maka sambil bulatkan tekad ia berdiri tak berkutik di tempat semula.

Selangkah demi selangkah Loe Hoen Tong berjalan semakin dekat, kaki-kakinya mendadak ditekuk, tiga jari tangan kirinya menusuk kehadapan matanya sementara lengan menggapai membacok-bacok kepala lawan.

Cahaya emas tampak berkelebat lewat, sebentar lagi batok kepala Hong Pe Seng bakal berpisah dengan badannya ".

Mendadak Chin Wan Hong menjerit, keras dan membentak sambil menahan isak tangis;

"Turggu sebentar! ". Loe Hoen Tongcu terperanjat dia ingin menarik kembali serangannya namun tak sempat, disaat yang kritis itulah mendadak pergelangan tangannya terasa bergetar keras, tahu-tahu golok emasnya sudah lerjepit oleh dua jari tangan Oh Sam. Kendati begitu tak urung leher kiri Hong po Seng termakan juga oleh bacokan tersebut hingga muncul sebuah bekas luka yang panjangnya mencapai dua coen, darah segar-segar mengalir keluar dengan derasnya. Bagaimanapun juga Oh Sam adalah pelayan lama keluarga Pek, dengan mata kepala sendiri ia saksikan Pek Koen Gie menginjak dewasa, terhadap tabiat serta tingkah laku majikan mudanya ini ia mengetahui sangat jelas, ia tahu andaikata majikannya ada niat membinasakan Hong po Seng, sejak semula pemuda itu telah dibunuhnya! jiwa si anak muda itu dapat selamat hingga kini jelas menunjukkan kalau ia mempunyai tujuan lain karena itulah disaat yang kritis ia telah menjepit gagang golok orang.

"Loe Hoen tongcu tunggu sebentar!"

Serunya.

"Siocia sedang menyelidiki siapakah pembunuh yang sebenarnya dari ketiga orang kita, coba kita dengar dulu apa yang hendak diucapkan perempuan itu!"

Lolos dari lubang kematian Hong po Seng merasakan hatinya jadi kosong.

setelah termangu-mangu beberapa saat lamanya ia baru berpaling ke arah Chin Wan Hong.

Tampaklah sepasang mata gadis itu telah basah oleh air mata, timbul rasa iba dan kasihan dalam hati kecilnya segera ia berkata.

"Nona Chin, sebetulnya aku tidak ingin memberitahukan kepadamu, tapi setelah kejadian berubah jadi begini akupun terpaksa harus berbicara sesungguhnya. Chin Wan Hong mengangguk.

"Apa yang hendak kau katakan, utarakanlah keluar, bila tidak ingin dikatakan janganlah kau ucapkan!" . Hong-po Seng tertawa ramah.

"Ayahmu telah melepaskan budi yang tak terhingga besarnya kepada keluarga Hong-po kami, aku Hong po Seng sengaja datang ke kota Keng Chiu bukan lain adalah untuk membalas budi kebaikan tersebut. Setelah terjadinya penstiwa seperti ini kendati aku Hong-po Seng harus mengorbankan selembar jiwaku keselamatan seluruh keluarga Chin harus kupertahankan terlebih dahulu, kalau tidak aku bakal malu pulang ke rumah, daripada tugasku tak terselesaikan lebih baik aku mati di sini saja" . Chin Wan Hong tertegun beberapa saat lamanya, mendadak ia berpaling ke arah Pek Koen Gie seraya berkata .

"Keluarga paman Yap kami sama sekali tidak tersangkut dalam peristiwa ini, nenekku dan ibuku juga bukan orang-orang dunia persilatan, andaikata kau suka melepaskan mereka pergi, segera akan kuberitahukan siapakah pembunuh yang sebenarnya"

"Heee. .heee.

"pandai amat kau berbicara"

Jengek Pek Koen Gie sambil tertawa dingin.

"Baiklah, coba kau katakan lebih dahulu siapakah pembunuh yang sebenarnya?"

"Ketiga orang itu semuanya mati di ujung senjataku,"

Sahut Chin Wan Hong dengan air mata bercucuran "

"Mayat mereka telah kami buang ke dalam lorong rahasia keluarga kami, aku rela mengorbankan jiwaku untuk menebus dosa tersebut."

Meski perkataan itu diutarakan halus, luwes tanpa emosi namun sikapnya kukuh dan teguh rupanya dia hendak korbankan selembar jiwanya demi menyelamatkan seluruh jiwa keluarganya.

"Hemm, polos amat jalan pikiranmu!"

Jengek Pek Koen Gie sambil mendengus dingin "Orang-orang dari perkumpulan Sin Kee Pang bukan manusia sebangsa gentong nasi yang bisa dipermainkan seenaknya, dengan andalkan kepandaian silat yang kau miliki masa mampu untuk mencabut selembar jiwanya Kwa-Thay?'' "Heng-jie!"

Tiba-tiba nenek tua berambut putih itu buka suara.

"Nenekmu telah berusia tujuh puluh lima tahun, sudah masanya bagiku untuk mati kau mohonkan saja kepada nona itu untuk melepaskan paman Yapmu sekeluarga, kita orang-orang dari keluarga Chin akan tetap tinggal di sini."

"Loo Thay Koen'"

Mendadak kakek berbaju hijau itu menyela sambil tertawa tergelak!' Dewasa ini seluruh penjuru kolong langit telah dijajah oleh kaum iblis serta manusia-manusia laknat yang terkutuk, bagaimanapun juga aku Yap See Ciat pernah mempunyai nama besar dalam dunia persilatan, kini keadaanku terdesak hingga harus bersembunyi di desa menjadi petani, bila aku tidak korbankan selembar jiwaku demi keadilan, akan ditaruh kemanakah selembar wajahku ini?"

Hong po Seng yang mendengar perkataan itu diamdiam menghela napas panjang pikirnya .

"Aaai",.jaman apakah ini? kenapa kaum kesatria dan patriot-patriot gagah hanya bisa main bersembunyi belaka? sekali unjukkan diri, kematian segera mengancam jiwa raganya"

Tiba-tiba Pek Koen Gie betseru keras.

"Bagus! Kalau memang kalian pingin mati semua, akan kupenuhi harapanmu semual", ia menoleh dan hardiknya .

"Gusur mereka semua keluar dari sini dan babiskan nyawa mereka !"

Dari perubahan wajah dara cantik itu Loe Hoen Tongcu mengerti babwa majikan mudanya ini benarbenar sudah naik pitam, keputusan yang diambilpun bukan gertak sambal lagi, dengan golok tersoren ia segera melangkah ke depan siap memenggal batok kepala kakek berambut hijau itu.

Hong po Seng terperanjat menghadapi situasi semacam itu, cepat-cepat dia mendongak dan tertawa keras.

Suaranya keras, tinggi dan melengking amat menusuk pendengaran, suaranya jauh lebih tak enak didengar dari pada isak tangis yang menyedihkan, begitu panjang dan keras gelak tertawanya sampai air muka semua orang berubah hebat, darah segar mulai mengucur dan ujung bibirnya membasahi wajah dan dadanya.

Pek Koen Gie segera meloncat bangun, sambil mendepak meja hardiknya keras-keras .

.,Hong-po Seng..."

Apa yang kau tertawakan ???"

"Hm ..Hm . , betapa gagahnya perkumpulan Sin Kee Pang ha .. ha " ..betapa jantannya jago-jago perkumpulan panji sakti "....... Dengan langkah lebar ia maju kemuka, kernudian bertekuk lutut dan jatuhkan diri berlutut dihadapan dara ayu itu. Tindakan ini benar-benar luar biasa sekali, kecuali Siauw Leng si dayang cilik yang mengetahui duduk perkara sebenarnya, baik para jago dari perkumpulan Sin Kee Pang maupun para ang-gota keluarga dari Chin Wan Hong sama2, tertegun dan berdiri melongo, mata mereka terbelalak lebar-lebar, tak seorangpun mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Pek Koen Oie sendiri walaupun dalam hatinya memang ada niat untuk menghina dan mempermalukan si anak muda itu, namun setelah Hong Po Seng jatuhkan diri berlutut dihadapannya tak urung ia dibikin terkesiap juga sehingga untuk beberapa saat lawannya berdiri ter mangu-mangu. Lama sekali ...... akhirnya ia tertawa seram.

"Hmm ..... Hmm.. Hong Po Seng, apa maksudmu berlutut di hadapanku?"

"Apalagi??"

Sahut Hong Po Seng sambil angkat kepalanya."

Tentu saja masuk menjadi anggota perkumpulan Sin Kee Pang! Kesusahan dan kesulitan hanya bisa dibebaskan dengan kematian, ternyata kematianpun tidak mudah diperoleh"

Pek Koen Gie betul-betul naik pitam, telapak tangannya langsung diayun menggaplok pipi sianak muda itu keras-keras.

Hong po Seng mendengus berat, setelah isi perutnya terluka ia tak sanggup mengerahkan tenaga dalamnya untuk melawan, termakan gaplokan tersebut dalam mulutnya segera terasa ada sesuatu yang mengganjal, ketika disemburkan ke atas telapak, tampaklah benda itu bukan lain adalah tiga biji gigi yang berlumurkan darah segar.

OoOoO Pada dasarnya Chin Wan Hong adalah seorang nona yang balus lembut dan berhati penuh welas kasih, setelah menyaksikan penderitaan serta penghinaan yang diterima Hong po Seng, hatinya jadi amat sedih seperti diiris-iris dengan pisau, ia meraung keras.

,Manusia she Pek!

Baca Juga: Bukit Pemakan Manusia Khu Lung

Baca Juga: Walet Besi 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert