Eps 1 Kereta Berdarah - Khu Lung
Baca online Kereta Berdarah - Khu Lung
Cersil Kereta Berdarah - Khu Lung.
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com. Kereta Berdarah Karya . Khulung Diceritakan oleh Tjan ID
Jilid 1 Bab SINAR REMBULAN nan terang memancarkan sinarnya memenuhi seluruh permukaan tanah, sebuah bangunan rumah yang amat besar dan angker berdiri di bawah kegelapan malam yang membuta.
Dari dalam bangunan rumah itu terlihatlah sinar lampu yang redup secara samar-samar memancarkan sinarnya berkelap-kelip, suasana begitu sunyi....
sedikitpun tidak terdengar suara.
Saat ini merupakan musim rontok yang cukup dingin, angin berhembus dengan santarnya di sekeliling rimba membuat pepohonan pada bergoyang dan mengeluarkan suara yang amat berisik.
Di bawah sorotan sinar rembulan, tiba-tiba....
dari dalam hutan berlarilah mendatang seekor kuda dengan amat cepatnya di atas kuda itu duduklah seorang pemuda berusia kurang lebih dua puluh tahunan, pada tubuhnya memakai seperangkat pakaian singsat yang berwarna putih keperakperakan, pada punggungnya yang tertutup oleh secarik mantel berwarna hijau tua tersorenlah sebilah pedang panjang ikat kepala yang berwarna putih berkibar tak henti-hentinya bertiup angin.
Jika dilihat dari wajahnya kelihatan sekali dia amat lelah, bahkan penuh dikotori oleh debu serta pasir.
Ketika dilihatnya bangunan besar itu cepat-cepat dia menarik tali les kudanya, suatu senyuman segera muncul menghiasi bibirnya diikuti oleh hembusan napas lega.
"Heeeey.... akhirnya sampai di rumah juga,"
Pikirnya di dalam hati.
"Sekarang aku tidak usah terlalu cemas lagi."
Dengan perlahan dia menjalankan kudanya ke depan pintu, sesudah meloncat turun dari punggung tunggangannya dengan perlahan dia mulai mengetuk pintu rumah.
Beberapa saat kemudian, terdengarlah suara langkah yang ribut semakin lama semakin mendekat diikuti terbukanya pintu besar dengan amat perlahan seorang kakek tua berbadan bongkok dengan perlahan muncul di depan pintu dan memperhatikan sang pemuda dengan penuh keheranan.
Air muka pemuda itu sekali lagi memperhatikan senyuman manisnya.
"Tiong-siok,"
Panggilnya sambil tertawa.
"Bagaimana keadaan kamu orang tua? Apa sudah lupa pada diriku?"
Air muka kakek tua bongkok itu segera berubah sangat hebat, titik-titik air mata menetes keluar dari kelopak matanya.
"Ing Siauw ya!"
Serunya dengan nada gemetar.
"Kiranya kau sudah pulang."
Pemuda itu tertawa, dengan menggunakan tangannya dia menepuk-nepuk pundak si orang tua, ujarnya kembali sambil tertawa.
"Tiong-siok, tidak bisa salahkan kamu yang sudah lupa padaku, kita sudah ada sepuluh tahun lamanya tidak bertemu. Sesudah menerima surat dari Tia, karena suhu dia orang tua sedang sakit, maka dia menyuruh aku berangkat terlebih dahulu, entah Tia, dia orang tua apakah dalam keadaan baikbaik saja?"
"Kenapa?"
Seru si kakek tua bongkok itu tertegun.
"Suhumu Ku Kiam Seng atau si pendekar pedang menyendiri dari gunung Chin Leng, Cu Thayhiap tidak ikut datang?"
Pemuda itu segera mengerutkan alisnya rapat-rapat.
"Sebetulnya di rumah sudah terjadi peristiwa apa?"
Ujarnya.
"di dalam suratnya Tia tidak memberi penjelasan, penyakit yang diderita suhu sangat berat dia tidak ikut datang."
Si kakek tua bongkok itu berdiri tertegun kembali beberapa saat lamanya, akhirnya dengan nada amat sedih ujarnya.
"Loo-ya sudah tiga hari lenyap tanpa bekas."
"Apa?"
Teriak pemuda itu terperanjat.
"Tiong-siok, perkataanmu apa betul?"
Dengan perlahan kakek tua bongkok itu menundukkan kepalanya rendah-rendah, tidak sepatah katapun diucapkan keluar.
Pemuda itu benar-benar dibuat terperanjat oleh berita ini dia berdiri tertegun di tempat, titik-titik air mata menetes keluar membasahi wajahnya, dia sama sekali tidak menduga dengan nama besar ayahnya sebagai Siang Kiang Thayhiap, Koan Thian Jen ternyata bisa lenyap tanpa bekas.
"Bagaimana keadaannya sekarang ini? Sebetulnya sudah terjadi peristiwa apa?"
Dengan termangu-mangu dia menoleh kembali ke arah kakek tua bongkok itu lalu tanyanya kembali.
"Tiong-siok, sebetulnya sudah terjadi peristiwa apa?"
Dengan perlahan-lahan si kakek tua bongkok itu menghela napas panjang.
pada setengah bulan yang lalu mendadak di belakang rumah kita muncul sebuah pintu rahasia, aku beserta Loo-ya lalu bersama-sama pergi mencari dan membuka pintu tersebut....
Heey....
coba kau terka barang apa yang ada dibalik pintu rahasia itu?
Sebuah tengkorak manusia, di atas kening tengkorak manusia itu tertancaplah sebilah pedang pendek.
Begitu Loo-ya melihat benda tersebut air mukanya segera berubah sangat hebat, sesudah menutup kembali pintu rahasia itu dia segera kirim surat kepadamu meminta suhumu datang ke sini, dia sudah memutuskan sebelum suhumu datang ke sini tidak perduli sudah terjadi urusan apapun aku dilarang memasuki pintu rahasia itu lagi....
Heeeey....
Tidak disangka pada tiga hari yang lalu Loo-ya entah sudah pergi kemana?"
Dengan termangu-mangu Koan Ing mendengarkan kisah itu, sebuah tengkorak manusia?
Di atas keningnya tertancap sebilah pedang pendek?
Selamanya dia belum pernah mendengar orang berkata kalau di dalam Bu-lim ada perkumpulan atau partai yang menggunakan cara begitu sebagai tandanya.
Dengan termangu-mangu Koan Ing termenung berpikir keras, akhirnya dengan menggigit kencang bibirnya dia berkata kembali.
"Tiong-siok, mari kita pergi kesana lihatlihat!"
Seketika itu juga si kakek tua bongkok itu menjadi melengak.
"Tetapi.... tetapi Cu Thayhiap...."
"Suhu tidak akan segera datang kemari, apalagi Tia sudah tiga hari lenyap tanpa bekas, dia orang tua tentu memasuki tempat itu."
Teringat akan lenyapnya ayahnya selama tiga hari air mukanya segera berubah menjadi amat murung bercampur sedih.
Tiba-tiba Koan Ing membuka mulutnya kembali menyadarkan lamunan dari si kakek tua bongkok itu.
"Tiongsiok. Kau tidak perlu merasa kuatir buat diriku, aku sudah cukup besar, aku masih bisa menjaga diriku sendiri."
"Ing Siauw-ya,"
Akhirnya ujar si kakek tua bongkok itu sambil menghela napas panjang.
"ibumu sudah meninggal dunia sejak dahulu, kini tinggal kau seorang saja yang hidup.... kau harus lebih berhati-hati menjaga diri."
Ketika Koan Ing mendengar si orang tua bongkok ini mengungkit kembali soal ibunya yang sudah meninggal dunia, teringat kembali ayahnya yang lenyap tanpa bekas, tidak terasa lagi hatinya serasa ditusuk oleh berjuta-juta batang golok sukar ditahan.
"Tiong-siok, aku sudah tahu!"
Serunya sambil mengerutkan keningnya rapat-rapat.
Sekali lagi si orang tua bongkok itu menghela napas panjang, kemudian dengan terpaksa dia putar badannya berjalan masuk ke dalam rumah.
Setelah masuk ke dalam ruangan tengah mereka melanjutkan perjalanannya menuju ke ruangan belakang dan masuk ke dalam kamar paling ujung.
Sesampainya di dalam kamar itu terlihatlah si orang tua bongkok itu ragu-ragu sebentar akhirnya dia ulurkan tangannya menekan sesuatu pada dinding kamar.
Di balik pintu rahasia itu terlihatlah keadaan yang gelap gulita, tanpa berpikir panjang lagi Koan Ing segera menerobos masuk ke dalam tetapi mendadak dia menghentikan langkahnya, karena saat itulah dia sudah mendengar suara jeritan tertahan dari si orang tua bongkok itu.
"Tiong-siok ada apa?"
Tanyanya.
"Itu.... itu tengkorak manusia, kenapa sekarang sudah rubuh ke atas tanah?"
Mendengar perkataan dari si orang tua bongkok itu dengan cepat Koan Ing memutarkan badannya dan berjalan keluar dari lorong tersebut.
"Selama ini apakah pintu ini ditutup terus?"
"Selamanya aku belum pernah masuk lagi ke dalam, kecuali Loo-ya tidak ada orang luar lagi yang pernah masuk kesana."
Beberapa perkataan dari Koan Ing baru saja ini sebetulnya diucapkan secara kebetulan saja, pada saat dia berbicara berbagai pikiran sudah berkelebat di dalam benaknya.
Mendadak dia maju kembali ke depan lantas masuk ke dalam pintu rahasia tersebut dan berjongkok memeriksa keadaan dari tengkorak itu dengan amat teliti, agaknya dia punya maksud untuk menemukan sesuatu dari benda tersebut.
Baru saja tubuhnya berjongkok sampai separuh jalan, mendadak dia merasakan segulung angin pukulan yang amat santar menyambar dari belakang badannya, hatinya menjadi sangat terperanjat, tanpa menoleh lagi dia sudah tahu ada orang sedang membokong dirinya dari arah belakang.
Dengan kecepatan yang luar biasa tubuhnya berputar ke samping, jari telunjuk serta jari tengah tangan kirinya dengan cepat ditonjokkan ke depan menotok jalan darah "Yao Hu Hiat"
Pada punggung orang itu.
Tetapi baru saja tangan kiri dari Koan Ing ini tiba di tengah jalan secara tiba-tiba terasalah olehnya suatu golakan hati yang amat keras menerjang hatinya, buru-buru dia mundur dua langkah ke belakang sedang bulu kuduknya pada berdiri.
Kiranya orang yang baru saja membokong dirinya dari belakang itu bukanlah seorang manusia hidup, melainkan sesosok mayat yang sudah dingin kaku.
Dari gerakan menotok tangan kirinya segera diubah menjadi telapak biasa dan menyambut datangnya mayat tersebut, di bawah sorotan sinar lampu lilin yang samar di dalam satu kali pandang saja dia sudah mengenal kembali kalau mayat itu bukan lain adalah mayat dari ayahnya Koan Thian Jen.
Seketika itu juga Koan Ing merasakan seluruh tubuhnya kaku, bagaikan baru saja dia mentas dari gentong yang berisikan air dingin seluruh tubuhnya meringkik.
Kepalanya pening matanya berkunang-kunang seperti baru saja dipukul dengan sebuah martil besar.
Mendadak....
dia mendengar suara teriakan dari Tiong-siok yang amat keras, dia sadar kembali dari kagetnya, bayangan pertama dengan cepat berkelebat di dalam benaknya.
Dengan perasaan amat gusar dia bersuit panjang, tubuhnya bagaikan kilat cepatnya menubruk ke arah samping terus naik ke atas wuwungan rumah pada lorong tersebut.
Setelah mengikuti suhunya si pendekar pedang menyendiri dari gunung Chin Leng selama sepuluh tahun lamanya, imannya sudah dilatih cukup kuat, sekalipun baru saja dia menemui kejadian yang menyedihkan hatinya tetapi untuk sementara dia masih sanggup untuk menguasai dirinya sendiri.
Dengan perasaan amat gusar Koan Ing meloncat ke atas wuwungan rumah, dalam lobang itu dengan menggunakan sepasang matanya yang amat tajam dia memperhatikan keadaan di sekelilingnya, di bawah sorotan sinar api lilin yang redup mendadak matanya terbentur dengan sesosok bayangan manusia yang sedang berlari menjauhi tempat itu.
Dalam hati dia merasa terkejut dan bercampur gusar, satusatunya ingatan yang berkelebat di dalam benaknya saat ini hanyalah ingin menangkap si pembunuh.
Tubuhnya segera berkelebat ke depan, laksana seekor burung elang dengan gerakan yang amat cepat bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya dia melayang ke depan mengejar ke arah bayangan hitam itu.
Dia sama sekali tidak menduga dengan nama besar dari ayahnya Siang Kiang Thayhiap ternyata bisa dibunuh orang dengan demikian mudahnya, bahkan masih ada satu teka teki buat dirinya siapakah bayangan hitam itu?
Sungguh besar nyalinya sehingga berani menyatroni diri Siang Kiang Thayhiap yang sudah punya nama terkenal di dalam Bu-lim.
Walaupun di dalam hatinya Koan Ing terus berpikir keras tetapi kakinya sedikit pun tidak berhenti, bagaikan kilat cepatnya dia mengejar terus ke arah orang itu.
Di dalam dua tiga kali loncatan saja akhirnya Koan Ing berhasil mendekati sampai di belakang badan orang itu.
Agaknya orang itupun sama sekali tidak menduga kalau Koan Ing bisa mengejar begitu cepatnya, tubuhnya mendadak berhenti sambil membalikkan badannya dia melancarkan satu pukulan dahsyat menghajar pundak kiri dari Koan Ing.
Saat ini Koan Ing memangnya sedang bersiap-siap menawan pihak musuh, melihat datangnya serangan ini dengan dinginnya dia mendengus, tubuhnya semakin mendesak ke depan sedang tangan kanannya di ayun menotok jalan darah Cian Cing Hiat pada pundak orang itu.
Tubuh Koan Ing semakin mendekati tubuh orang itu, baru saja jarinya mau melancarkan totokan mendadak pergelangan tangan orang itu berputar balas mencengkeram tangannya.
Koan Ing menjadi sangat terperanjat untuk menghindar sudah tidak sempat lagi, telapak tangan kiri orang itu dengan amat tepat menghajar dada kirinya.
Terdengar dia mendengus dengan amat beratnya, untung sekali tenaga dalam orang itu tidak tinggi sehingga pukulannya ini tidak terlalu berat bersarang di dadanya, walaupun begitu dia merasakan juga dada kanannya teramat sakit.
Ketika orang itu melihat serangannya mencapai pada sasarannya tanpa menunggu Koan Ing berganti napas lagi tubuhnya bertindak semakin maju mendesak tubuh Koan Ing, pada saat tangan kanannya berkelebat pada genggamannya sudah bertambah lagi dengan sebilah pedang pendek kemudian dengan dahsyatnya di tusukan ke iga Koan Ing.
Karena sedikit gegabah Koan Ing terkena hajaran dari pukulan orang itu, dalam hatinya dia benar-benar merasa terkejut bercampur gusar, kini mana dia mau mengalah lagi?
Mendadak tangan kanan dengan mendatar berputar setengah lingkaran di depan dada.
Orang itu mendengus dengan dinginnya serangan dari Koan Ing ini kelihatan amat aneh dan tidak jelas arah yang hendak dituju, tetapi orang itu tidak perduli, tubuhnya semakin maju ke depan.
Baru saja pedang pendek orang itu di tusukan ke depan, tangan kanan dari Koan Ing yang berputar setengah lingkaran di depan dadanya mendadak berkelebat ke depan, tiga jari tangannya menyambar pergelangan tangannya dengan amat dahsyat.
Orang itu menjadi sangat terperanjat karena dia sekarang baru sadar ketiga jari tangan dari Koan Ing yang mengancam urat nadi pergelangan tangannya ini sukar untuk dihindari, walaupun dia mau berkelit dengan cara apapun tidak mungkin akan bisa berhasil.
Waktu yang dibutuhkan mereka berdua untuk bertempur baru-baru ini sangat singkat sekali, belum sempat dia berpikir panjang mendadak terasalah olehnya urat nadi pada pergelangan tangan kanannya sudah terbentur dengan tiga jari totokan dari Koan Ing.
Di dalam keadaan yang amat terperanjat terburu-buru dia mundur ke belakang, dia tahu jika dia mau selamat maka pedang pendek itu harus dilepaskan, sedangkan tangan kirinya bersamaan waktunya pula melancarkan pukulan ke arah dada Koan Ing.
Tiga jari dari Koan Ing dengan cepat dibalik merebut pedang pendek yang ada di tangan orang itu kemudian dengan gerakan cepat pula dia meloncat mundur ke belakang.
Begitu dia mundur, orang itupun tidak berani mendesak kembali, masing-masing berdiri diarah yang berlawanan sambil saling berpandangan.
Agaknya orang itu sama sekali tidak menduga kalau tenaga dalam dari Koan Ing jauh di atas seperti apa yang diduga semula, tidak disangka pukulan yang dilancarkan olehnya ternyata sudah mencapai sasaran yang kosong.
Dalam hati Koan Ing semakin merasa terperanjat lagi, dia tahu pada saat ini orang yang bisa melancarkan serangan sambil memutarkan pergelangan tangannya saja cuma si manusia aneh dari Laut Timur Ciat Ie Toocu, Ciu Tong beserta anak muridnya.
Karena sifatnya yang aneh dan berkepandaian tinggi para jago yang ada di dalam Bu-lim tidak seorangpun yang berani mencari gara-gara dengan Ciu Tong ini, tidak perduli orang itu punya hubungan atau sangkut paut dengan Ciat Ie To, asalkan berbuat salah kepada mereka maka orang-orang itu tentu akan menawan orang tersebut, tetapi....
dengan kepandaian silat yang dimiliki ayahnya tidak mungkin beliau bisa terbunuh oleh orang semacam ini.
Pikirannya dengan cepat berkelebat, akhirnya di dalam hati dia mengambil kesimpulan bahwa kematian ayahnya tentu mempunyai sangkut paut yang sangat erat dengan orang ini.
Berpikir sampai di sini, pandangan matanya segera beralih ke atas wajah orang itu, di tengah kegelapan dia hampirhampir tidak sanggup untuk melihat lebih jelas lagi bentuk wajahnya, tetapi secara samar-samar dia masih bisa tahu kalau lawan di hadapannya merupakan seorang pemuda yang usianya masih muda.
"Heee.... heee.... kau punya hubungan apa dengan Ciat Ie Toocu dari lautan Timur?"
Terdengar Koan Ing dengan dinginnya berseru.
Pemuda itu menjadi melengak, dia sama sekali tidak menduga karena satu jurus serangannya tadi sudah memberitahukan perguruannya kepada Koan Ing sedang sampai kini dia sendiri masih tidak tahu jurus-jurus aneh yang digunakan Koan Ing tadi berasal dari perguruan mana.
Dia berdiam diri beberapa waktu lamanya, kemudian dengan congkaknya mendengus.
"Hmm, kalau sudah tahu aku orang punya hubungan dengan pihak pulau Ciat Ie, kenapa kamu orang masih tidak mundur teratur dari tempat ini?"
Sepasang alis dari Koan Ing dikerutkan semakin mengencang.
Pada sembilan belas tahun yang lalu sewaktu diadakan pertemuan puncak para jago di atas gunung Hoa-san, Ciat Ie Toocu dengan mengandalkan ilmu silatnya yang sangat aneh dan lihay pernah menggetarkan seluruh dunia persilatan sehingga mendapat sebutan sebagai Chiat Hay Mo Su atau si iblis sakti dari luar lautan, sejak itulah tidak ada orang yang berani mencari gara-gara lagi dengan si iblis dari pulau Ciat Ie To ini.
Sekalipun di dalam hatinya Koan Ing tahu itu si iblis sakti Ciu Tong sukar untuk dilayani tetapi dendam sakit hati ayahnya harus dibalas, dia tidak akan mundur teratur karena hal ini.
Terdengar dia tertawa dingin tak henti-hentinya, ujarnya kemudian.
"Hee.... hee sekalipun kamu orang punya sangkut paut dengan orang-orang pulau Ciat Ie To, aku juga tidak akan membiarkan kau pergi dari sini."
Sambil berkata tubuhnya dengan cepat bergerak maju mendesak ke arah orang itu.
Orang itu sama sekali tidak menduga Koan Ing begitu bernyali berani mencari gara-gara dengan pihak pulau Ciat Ie To, dia tahu dirinya bukanlah tandingan tubuhnya dengan cepat berjumpalitan di tengah udara kemudian dengan tergesa-gesa mengundurkan diri dari situ.
Dalam hati Koan Ing sudah ambil keputusan untuk menawan orang itu, sudah tentu dia tidak akan membiarkan dia pergi dengan seenaknya, tubuhnya segera melayang pula ke depan mengejar dari belakang badannya.
Dengan cepat orang itu melarikan diri ke dalam sebuah lorong kecil di bawah tanah kemudian dengan cepatnya lenyap di tengah kegelapan.
Melihat keadaan disana Koan Ing menjadi ragu-ragu.
dia tidak paham seluk beluk di tempat itu tapi diapun tidak ingin melepaskan orang itu begitu saja.
Tangan kanannya dengan cepat dibalik memasukkan pedang pendek itu ke arah pinggangnya, sepasang telapak tangannya sesudah melancarkan satu serangan dahsyat tubuhnya baru berkelebat ke arah lorong tersebut.
Kiranya dia menggunakan tenaga pantulan dari angin pukulan tadi untuk mengetahui keadaan di sana, tubuhnya tanpa berhenti lagi dengan cepat melayang ke dalam.
Lorong kecil di bawah tanah itu sangat sempit dan ruwet sekali, cabang kecil-kecil banyak tersebar di sekitar sana membuat dia yang sedang melakukan pengejaran di dalam sekejap saja sudah kehilangan jejak musuhnya.
Untuk beberapa saat lamanya Koan Ing menjadi sangat bingung, dia berdiri termangu-mangu di sana.
Lama sekali dia pusatkan perhatiannya untuk mendengarkan keadaan di sekelilingnya tetapi selama ini tidak terdengar sedikit suarapun.
Diam-diam pikirnya di dalam hati.
"Dengan kepandaian yang dimiliki orang berbaju hitam tadi, tidak mungkin dia bisa berjalan tanpa menimbulkan suara.... Hmm, kecuali dia sudah berhenti bergerak di sekitar tempat itu."
Koan Ing agak ragu-ragu sebentar, sepasang telapaknya mendadak melancarkan satu serangan dahsyat ke depan sedang tubuhnya bersamaan waktunya pula membuka pintu besi itu untuk menerobos masuk ke dalam.
Berpikir sampai di sini, sepasang mata Koan Ing yang sangat tajam mulai memperhatikan keadaan di sekitar tempat itu.
Lorong kecil di bawah tanah itu sangat gelap sekali sehingga sukar untuk melihat lima jarinya sendiri, tetapi pada sebelah kiri dari tempat itu secara samar-samar memancar keluar sinar yang agak remang.
Koan Ing semakin mengerutkan alisnya rapat-rapat, dia mulai berjalan mendekati tempat berasalnya sinar itu.
Kurang lebih sesudah berjalan sepuluh kaki jauhnya terlihatlah sebuah pintu besi muncul di hadapannya, dari balik pintu secara samar memancar keluar sinar merah darah yang agak tawar, di dalam kegelapan sinar merah itu sangat menusuk mata membuat hati setiap orang yang melihat serasa bergolak dengan kerasnya.
Begitu tubuh Koan Ing masuk ke dalam ruangan itu, dari samping tubuhnya segera terdengar suara dengusan yang amat dingin bergema mendatang, segulung angin pukulan yang sangat dahsyat menerjang dirinya dari arah samping.
Dia benar-benar merasa sangat terperanjat sekali, dari angin pukulan yang baru saja dilancarkan oleh orang itu dia sudah tahu kalau tenaga dalam orang itu sudah mencapai pada tingkat yang jauh lebih tinggi dari dirinya sendiri, tangan kanannya dengan cepat dibalik lalu batas melancarkan satu serangan gencar mengarah pergelangan tangannya.
Jurus yang digunakan si pembokong itu ternyata sangat hebat dan mempunyai perubahan yang sangat aneh sekali, serangan yang dilancarkan Koan Ing dengan penuh perhitungan ini ternyata sudah mencapai pada sasaran yang kosong.
Dalam hati Koan Ing benar-benar merasa sangat terperanjat, segera teringat olehnya kemungkinan sekali orang inipun merupakan orang-orang dari pulau Ciat Ie To di lautan Timur, walaupun saat ini dia sudah tahu tetapi dia sama sekali tidak mempunyai pengalaman bertempur dengan musuhmusuh yang menggunakan ilmu silat demikian anehnya karena itu diapun tidak mempunyai cara-cara untuk memecahkan ilmu tersebut.
Terlihatlah pergelangan tangan orang itu tiba-tiba menekuk ke bawah menyambar badannya, dengan cepat Koan Ing berjongkok untuk menghindar.
"Sreeeet....!"
Mantel di punggungnya sudah terkena sambaran tersebut sehingga terobek.
Tubuhnya dengan cepat bergeser ke samping, di dalam keadaan yang amat kritis itulah dia berhasil menghindarkan diri dari serangan musuh kemudian berkelebat untuk berdiri di pinggir ruangan saat ini seluruh tubuhnya sudah basah kuyup oleh keringat dingin yang mengucur keluar dengan amat derasnya, dengan tenaga dalam yang begitu tinggi dari orang itu bilamana serangannya tadi dengan tepat menghajar badannya, saat ini dia pasti binasa atau sedikitnya terluka amat parah.
Setelah badannya bisa berdiri tegak, sepasang matanya dengan amat tajam menyapu sekejap ke arah sekeliling tempat itu.
Di bawah sorotan sinar yang agak remang terlihatlah tepat di hadapannya duduklah bersila seorang lelaki berusia tiga puluh tahunan dengan wajah penuh kegusaran, di sampingnya berdirilah si pemuda berbaju hitam yang memancing dirinya kemari tadi.
Sekali lagi Koan Ing merasa sangat terperanjat, kelihatannya orang yang baru saja melancarkan serangan bokongan kepadanya itu bukan lain adalah orang yang duduk bersila Jika dilihat keadaannya jelas orang itu adalah seorang yang cacat tetapi....
seorang cacat saja kepandaiannya sudah begitu lihay, jelas sekali ilmu silat yang dimilikinya memang betulbetul mengerikan sekali.
Ayahnya telah dibunuh orang, tidak salah lagi orang yang ada di hadapannya inilah si pembunuh yang sesungguhnya.
Orang itu dengan pandangan amat dingin memandang ke arah Koan Ing, mendadak sepasang telapaknya menggebrak permukaan tanah tubuhnya laksana kilat yang menyambar berkelebat menubruk ke arah diri Koan Ing, bersamaan pula telapak tangannya dengan mengancam belakang maupun muka tubuhnya mengirim satu pukulan dahsyat ke arah diri Koan Ing.
Saat ini Koan Ing sudah melakukan persiapan, tangan kanannya dengan cepat membalik.
"Criiing!"
Pedang panjang yang tersoren di punggungnya sudah dicabut keluar, di dalam sekejap mata dia sudah melancarkan tiga tusukan dahsyat.
Setiap tusukan pedangnya selalu berbentuk bulat setengah lingkaran, tetapi kecepatan arah yang diancam pedang itu memaksa orang itu mau tidak mau menarik kembali serangannya.
Mereka berdua saling serang menyerang sebanyak tiga jurus banyaknya, tampaklah orang itu secara tiba-tiba melancarkan satu serangan kosong ke depan sedang tubuhnyapun dengan cepat berkelebat kembali ke tempat semula.
Sepasang matanya jelas memperlihatkan perasaannya yang amat terkejut, air mukanya berubah menjadi merah padam saking gusarnya.
Koan Ing yang dipelototi sudah tentu tidak mau mengunjukkan kelemahannya, diapun balas memandang ke arah musuh dengan pandangan amat gusar sedang dalam hati diam-diam dia merasa sangat kaget, kehebatan dari tenaga dalam orang itu sungguh-sungguh memaksa dia sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk melancarkan serangan balasan.
Beberapa saat kemudian terdengarlah orang itu baru membuka mulutnya bertanya.
"Hmmm. Tentu kau anak murid dari itu Kong Bun-yu."
Kong Bun-yu yang dimaksud adalah si pendekar aneh Thian-yu Khie Kiam daripada Siao, Khet, Sin, Mo atau si dewa aneh, sakti, iblis daripada empat aneh di dalam dunia kangouw saat itu, dia merupakan suheng daripada suhunya si pendekar pedang menyendiri dari gunung Chin Leng, Cu Yu.
Kiranya suhunya Cu Yu suheng-te pada masa yang lalu dikarenakan suatu urusan sudah berbentrok sehingga tidak akur, dan kini masing-masing pada mengambil jalannya sendiri-sendiri.
Kini sewaktu mendengar orang itu menyebut dirinya sebagai murid Kong Bun-yu dia segera tertawa dingin, belum sempat dia membuka mulutnya untuk memberikan jawaban terdengar orang itu dengan dinginnya sudah berkata kembali.
"Aku adalah anak murid dari Ciat Ie Toocu, Bun Ting-seng, lebih baik urusan yang sudah terjadi disini kau tidak usah ikut campur."
Diam-diam Koan Ing sedikit merasa terperanjat, tidak terkira olehnya orang yang ada di hadapannya sekarang ini adalah si iblis sakti dari dalam Bu-lim, Cing Ie Kongcu atau si sastrawan berbaju sutera, Bun Ting-seng adanya.
Tidak tahu dikarenakan persoalan apa dia bersembunyi di tempat ini bahkan sepasang kakinya sudah cacat?
Tidak menanti Koan Ing berbicara, Bun Ting-seng sudah keburu menyambung kembali.
"Perguruanmu maupun perguruanku tidak ada hubungan apa-apa dan selamanya tidak saling ganggu mengganggu, walaupun karena keteledoranmu ini aku harus mengorbankan latihanku selama tiga tahun, tetapi memandang wajah suhumu aku akan menyudahi saja urusan ini hari."
Si pendekar pedang Thian-yu Khei Kiam, Kong Bun-yu memiliki kepandaian silat yang sangat aneh sekali, dengan mengandalkan ilmunya yang amat sakti Thian-yu Khie Kang dia merajai dunia persilatan, baik di dalam melancarkan pukulan maupun ilmu pedangnya selama ini selalu membuat setengah lingkaran dulu di depannya sendiri tetapi ketepatannya tidak pernah meleset, pihak lawannya bilamana tidak membubarkan serangannya sendiri maka dia pasti terluka di bawah serangan pedang atau pukulannya, karena itulah walaupun Bun Ting-seng merupakan seorang iblis yang amat lihay terhadap diri Kong Boeo Yu pun dia tidak berani berlaku kasar apalagi menyalahi dirinya.
Koan Ing tertawa dingin tak henti-hentinya.
"Hee.... hee.... heee.... suhuku adalah si pendekar pedang menyendiri dari gunung Chin Leng, sama sekali bukan itu si pendekar pedang aneh Thian-yu Khei Kiam, kau sudah salah sangka apalagi dendam terbunuhnya ayahku aku harus minta ganti pula."
Bun Ting-seng jadi melengak, dia adalah seorang jago kawakan di dalam Bu-lim apapun juga dia sudah bisa menduga, dia tahu Koan Ing merupakan seorang pemuda yang baru saja menerjunkan diri ke dalam dunia kangouw dan kini mau mengadu jiwa pula dengan dirinya, untung saja dia bukan anak murid dari Kong Bun-yu tetapi Koan Ing itu pasti tidak akan melepaskan dirinya begitu saja.
Bilamana dia sungguh-sungguh berkelana di dalam dunia kangouw setelah mengetahui siapa dirinya, siapa yang berani mengganggu Su Khei Sam Ceng atau si empat aneh tiga genah?
Dia tertawa dingin pula.
"Kau memiliki ilmu aneh Thian-yu Khei Keng, memandang hal itu untuk sementara aku lepaskan kamu orang satu kali ini, apalagi urusan yang sudah terjadi disinipun kau tidak tahu. Hmmm.... Hmm perlu aku beritahu padamu, ayahmu modar karena dia cari jalan kematian ini sendiri!"
Sinar mata Koan Ing segera berkedip-kedip dengan gusarnya, dia tahu si sastrawan berbaju sutera Bun Ting-seng ini jadi orang amat ganas dan kejam sekali, tetapi haruskah dia mengalah cuma karena atasan itu?
Apalagi ketidak akuran antara suhunya si pendekar pedang menyendiri dari gunung Chin Leng ini dengan si pendekar pedang aneh Thian-yu Khei Kiam semua orang sudah mengetahuinya, bentroknya dia dengan pihak pulau Ciat Ie To dari pihak Kong Bun-yu tidak mungkin kau membantu dirinya tapi kenapa Bun Ting-seng mau menyudahi urusan ini.
pikirannya dengan cepat bergerak memikirkan hal ini.
Bun Ting-seng yang melihat Koan Ing tetap tidak mau pergi air muka berubah menjadi sangat hebat....
"Kamu orang tidak mau pergi, apa sengaja menunggu saat kematian buat dirimu?"
Bentaknya dengan amat gusar. Koan Ing pun mengerutkan alisnya rapat-rapat.
"Hmm.... hmmm...."
Dengusnya dengan amat gusar.
"Sebelum dendam sakit hati kematian ayahku dilunasi aku tidak akan pergi dari sini."
Air muka Bun Ting-seng berubah semakin menghebat, tangannya dengan cepat menggape memberi tanda kepada si pemuda berbaju hitam yang berdiri di sampingnya.
Si pemuda berbaju hitam itu segera putar badannya dan menekan sesuatu di atas dinding, tampaklah sebuah pintu rahasia terbuka dengan perlahannya ke arah samping.
Dalam hati Koan Ing merasa sangat terperanjat, tubuhnya meloncat ke atas untuk menubruk ke depan, sedang mulutnya dengan perasaan amat gusar membentak.
"Ini hari aku orang mau mencoba-coba kepandaian sakti dari Teng Hay Mo Kang!"
Baru saja tubuhnya mencelat ke atas mendadak tampaklah olehnya air muka Bun Ting-seng sudah berubah menjadi merah darah, dia membentak keras tangan kanannya dibabat ke depan dua bilah pedang pendek bagaikan kilat cepatnya sudah meluncur menghajar badan Koan Ing.
Pedang pancang yang ada di tangan Koan Ing cepat-cepat di pontang-pantingkan ke depan memukul jatuh kedua bilah pedang pendek itu.
Tetapi dengan cepat pula tubuhnya tergetar ke belakang beberapa tindak, pergelangan tangannya terasa sakit sekali tergetar oleh tenaga dalam yang disalurkan ke dalam kedua bilah pedang pendek itu.
Karena terdesak oleh kedua bilah pedang pendek itu tubuh Koan Ing jadi berhenti sejenak, saat itulah sepasang tangan dari Bun Ting-seng sudah memukul ke atas permukaan tanah, tubuhnya dengan cepat melayang ke atas sambil melancarkan lima serangan dahsyat mengancam seluruh tubuh musuhnya, jurus serangannya sangat aneh tetapi lihay sekali.
Koan Ing benar-benar merasa terperanjat, pedang panjangnya dengan cepat berputar satu lingkaran ke depan, dengan menggunakan jurus "Thian Hong Cu-hok"
Atau pelangi langit menutup jalan pedangnya berkelebat menyerang pergelangan tangan dari sepasang tangan Bun Ting-seng.
Mereka berdua sama-sama tidak tahu jelas keanehan dan kesaktian ilmu silat pihak lawannya, jurus-jurus serangan yang baru saja digunakan separuh jalan terpaksa harus ditarik kembali.
Koan Ing hanya merasakan keanehan dari ilmu silat yang dimiliki Bun Ting-seng ini benar-benar membuat hatinya jera, karena pertempuran inilah tenaga dalamnya pun di dalam beberapa saat ini mengalami kerugian yang sangat besar.
Baru saja hatinya merasa ragu bercampur heran, tibatiba....
suara ringkikan kuda yang amat ramai berkumandang keluar dari dalam ruangan tersebut.
Bluuuk....!
Empat ekor kuda jempolan berwarna merah darah dengan menarik sebuah kereta yang amat besar dan megah menerjang keluar....
orang yang ada di atas kereta itu bukan lain adalah si pemuda berbaju hitam itu.
Ketika kereta kuda itu menerjang keluar dari pintu Bun Ting-seng sudah tidak kuat menahan diri lagi, dia muntahkan darah segar dengan sangat derasnya, sedang tubuhnya dengan kecepatan yang luar biasa menubruk ke arah kereta berkuda itu.
Koan Ing yang melihat munculnya sebuah kereta berkuda secara tiba-tiba di sana sesaat dibuat tertegun, tetapi sebentar kemudian dia sudah tahu apa yang telah terjadi, Bun Tingseng pasti sudah terluka parah, sedangkan kereta berkuda itu bukankah "Kereta Berdarah"
Yang pernah menggetarkan dunia persilatan?
Sembilan belas tahun yang lalu sewaktu empat manusia aneh mengadakan pertemuan di atas gunung Hoa-san, tujuan mereka yang terutama juga dikarenakan Kereta berdarah ini.
Menurut berita yang tersiar di dalam Bu-lim katanya pada masa yang lalu pernah berdiri sebuah partai yang diberi nama Hiat-ho-pay atau partai banjir darah, kepandaian silat dari orang-orang Hiat-ho-pay ini sangat tinggi sekali sukar dijajaki oleh orang lain bahkan ciangbunjiennya memiliki sebuah kereta berkuda yang bisa digunakan di daratan maupun di dalam air dan diberi nama Kereta berdarah, dimana kereta itu berada di sana pasti akan terjadi banjir darah laksana mengalirnya air di sungai.
Akhirnya para jago di dalam Bu-lim bekerja sama untuk bersama-sama menumpas partai Hiat-ho-pay ini membuat kelanjutan dari kereta berdarah ini merupakan suatu teka-teki buat semua orang.
Menurut berita yang tersiar katanya di dalam kereta berdarah itu termuat juga ilmu silat yang dimiliki ciangbunjin partai Hiat-ho-pay tempo hari, karenanya Kereta Berdarah ini jadi incaran setiap jago di dalam Bu-lim bahkan diperebutkan baik oleh golongan Pek-to maupun dari kalangan Hek-to.
Berita tentang Kereta berdarah ini semakin tersiar luas, tapi karena tidak ditemukan buktinya maka keinginan para pencaripun semakin lama semakin menipis, tetapi pada dua puluh tahun yang lalu itulah mendadak Bu-lim Ku cu atau si manusia tunggal dari Bu-lim Jien Wong munculkan diri dengan mengendarai kereta berdarah itu.
Kepandaian silat yang dimiliki Jien Wong ini sebetulnya biasa saja, tetapi ketika dia muncul kembali, kepandaian silat yang dimilikinya sangat tinggi sekali, berturut-turut dia membinasakan ratusan orang jago nomor wahid di dalam Bulim.
Dimana kereta berdarahnya tiba di sana pasti banjir darah.
Dengan kejadian itu para jago di dalam Bu-lim lainnya segera berkumpul untuk mengerubuti pemilik kereta berdarah itu.
Pertempuran di atas gunung Hoa-san, empat manusia aneh bersatu padu mengerubuti si manusia tunggal dari Bu-lim itu dan akhirnya berhasil juga membinasakan dirinya, tetapi dikarenakan memperebutkan kereta berdarah ini masingmasing pihak lalu terjadi duel yang seru.
Kepandaian silat yang dimiliki manusia-manusia aneh ini masing-masing mempunyai keistimewaan yang tersendiri, sesudah bertempur siang malam sepuluh hari lamanya masih tidak dapat juga menentukan siapa menang siapa kalah.
Pada saat itulah si manusia tunggal dari Bu-lim sadar kembali dari pingsannya, dengan meminjam kesempatan sewaktu mereka berempat pada rebutan dia meloncat naik ke atas kereta dan melarikan diri dari situ.
Waktu itulah empat manusia aneh baru merasa terkejut, walaupun mereka tahu dia pasti binasa tetapi dalam hati mereka pun tak urung merasa murung juga.
Sembilan belas tahun kemudian persoalan kereta berdarah itu sudah dilupakan orang saat ini, cuma ada nama-nama "Sian, Khei, Sin, Mo"
Saja yang menggetarkan dunia persilatan, siapa sangka kereta berdarah itu ternyata bisa muncul kembali di tempat ini.
Pikiran ini dengan cepatnya satu persatu berkelebat di dalam benaknya, ketika dia sadar kembali dari lamunannya Bun Ting-seng sudah menunggang kereta melarikan diri, dia menjadi sangat terkejut baru saja dia bersiap-siap untuk melakukan pengejaran mendadak terlihatlah sesosok bayangan manusia berkelebat masuk ke dalam, orang itu bukan lain si kakek bongkok.
Waktu itu kereta berdarah sedang beranjak menerjang ke depan sedang si kakek bongkokpun berlari mendatang dari arah depan, bilamana dia tidak cepat-cepat menghindar tentu segera akan terbinasa di bawah injakan kaki kuda itu.
Melihat hal ini Koan Ing menjadi sangat terperanjat, untuk sesaat dia tidak bisa mengurusi kereta berdarah itu lagi, tubuhnya dengan cepat berkelebat mendorong badan si kakek bongkok itu ke samping.
Kereta berdarah dengan amat cepatnya menerjang terus ke depan, cepat-cepat Koan Ing merendahkan badannya.
"Bluuuumm!"
Dengan menjebol dinding ruangan itu kereta berdarah tersebut melarikan dirinya ke arah depan.
Koan Ing dengan cepat menyambar ke dua belah pedang pendek yang disambitkan Bun Ting-seng ke arahnya tadi, tubuhnya segera berkelebat pula ke depan dengan mengambil jalan dinding yang sudah jebol tadi dia melakukan pengejaran.
Pada saat tubuhnya bergerak itulah terdengar suara ringkikan kuda yang memanjang diikuti dengan suara berputarnya roda-roda kereta menjauhi tempat itu.
Kereta berdarah sudah berlari menjauhi tempat itu, di bawah sorotan sinar rembulan terlihatlah dia seorang diri berdiri termangu-mangu di sana.
Setelah termangu-mangu beberapa waktu lamanya barulah terlihat Koan Ing menyimpan kembali pedang panjangnya dan memungut kedua bilah pedang pendek tersebut.
Mendadak....
tampaklah olehnya di bawah sorotan sinar rembulan dari tubuh kedua bilah pedang pendek itu memancarkan sinar hijau yang sangat tajam sekali, di sekeliling tubuh pedang itu melingkarlah sebuah lingkaran garis berwarna merah darah, tidak lain tidak bukan itulah tanda kepercayaan daripada partai Hiat-ho-pay tempo hari.
Dari dalam sakunya dia segera mengambil keluar pedang pendek yang ditemuinya semula, kini terlihatlah tiga bilah pedang pendek dengan bentuk serta besar kecil yang sama berjejer di tangannya.
Seketika itu juga Koan Ing menjadi paham, kiranya Koan Thian Jen ayahnya sudah menemui tanda kepercayaan dari Hiat-ho-pay ini sehingga membuat orang tua merasa tegang, mungkin karena dia memasuki jalan di bawah tanah itulah maka sudah menemui kematian di bawah serangan Bun Tingseng itu.
Dengan berdiam diri dia termenung berpikir beberapa waktu lamanya, tak terasa lagi air mata menetes keluar dengan derasnya membasahi wajahnya, dalam hati dia merasa sangat sedih sekali.
Tidak disangka olehnya baru saja dia keluar dari perguruan belum sempat bertemu dengan ayahnya, ternyata dia orang tua sudah dicelakai orang lain.
Tiong-siok dengan perlahan berjalan mendekati diri Koan Ing, dari kelopak matanya air matapun menetes keluar membasahi wajahnya.
"Ing Siauw ya,"
Ujarnya dengan perlahan.
"Kau harus mencari balas atas kematian Loo-ya."
Mendengar perkataan dari Tiong-siok ini, Koan Ing merasakan hatinya semakin sedih, dengan perlahan-lahan dia memejamkan sepasang matanya. Sesudah berdiam diri beberapa waktu lamanya dia baru berkata.
"Tiong-siok, aku pasti akan membalas atas kematian Tia, sesudah kita mengubur jenazah ayah, aku akan segera berangkat cari musuh besarku, tidak perduli dia lari ke ujung langitpun, aku pasti akan mengejar dan mendapatkan si pembunuh yang melarikan diri menunggang kereta berdarah itu."
Dengan perlahan-lahan dia memutar tubuhnya, mendadak dia berdiri tertegun tampaklah olehnya di atas tanah menggeletak sebilah pedang pendek beserta sarungnya, dengan termangu-mangu dan hati penuh tanda tanya dia berjalan mendekati kemudian memungutnya.
Ooo)*(ooO Bab KETIKA Koan Ing memungut pedang pendek itu terasalah olehnya kalau pedang itu sangat berat, dengan meminjam sorotan sinar rembulan dia memeriksa lebih teliti lagi, tampaklah olehnya sarung pedang pendek itu terbuat dari emas yang memancarkan sinar terang.
Dengan perlahan-lahan dia mencabut keluar pedang itu, terlihatlah seluruh tubuh daripada pedang itu memancarkan hawa dingin yang berwarna merah darah, jelas sekali pedang itu merupakan sebilah pedang yang sangat berharga sekali.
Koan Ing sekali lagi terjerumus di dalam keadaan termangu-mangu, bukankah ini yang di sebut sebagai "pedang sakti darah mengalir"?
Tidak salah, pedang ini bukan lain adalah benda kepercayaan dari ciangbunjin partai Hiat-ho-pay, ini hari tidak disangka bisa terjatuh di tangannya.
Dengan perlahan-lahan dia memasukkan kembali pedang itu ke dalam sarungnya kemudian menyimpannya di dalam saku, sesudah termenung beberapa waktu lamanya dia angkat kepalanya dan menghela napas panjang.
Dalam hati dia bersumpah pasti akan mengejar kereta berdarah itu, dia harus membalaskan sakit hati ayahnya, teringat akan ayahnya tak tertahan lagi air mata menetes keluar dengan derasnya.
Sang surya memancarkan sinarnya jauh di tengah udara, angin musim rontok bertiup dengan santarnya membuat awan yang menipis pada melayang menjauh.
Kota Kang Cho merupakan pemandangan yang paling indah di daerah Kang Lam.
Pemuda dengan potongan badan tegak, pakaian berkabung, berpedang dan menunggang seekor kuda jempolan dengan perlahan menjalankan kudanya memasuki kota, dari sinar matanya jelas memperlihatkan dia sangat lelah, pemuda itu bukan lain adalah Koan Ing yang sedang melakukan pengejaran terhadap jejak kereta berdarah.
Dia sudah melakukan pengejaran selama sepuluh hari lamanya, selama ini dia cuma tahu arah dimana kereta berdarah itu melarikan diri, di sepanjang jalan yang dilaluinya, tampaklah olehnya mayat-mayat para jago-jago Bu-lim menggeletak di atas tanah, dia tahu itu pasti perbuatan dari si kereta berdarah itu.
Dengan cepat Koan Ing melarikan kudanya ke dalam kota.
Baru saja dia berjalan melalui pintu kota tampaklah olehnya seorang pemuda dengan dandanan pelayan berlari mendatang.
"Kongcu kau mau cari penginapan?"
Tanyanya kepada diri Koan Ing.
"Penginapan Lay Hong kami mempunyai pelayanan yang paling bagus."
Koan Ing yang sudah melakukan perjalanan selama beberapa hari lamanya kinipun merasa badannya sedikit lelah, dia segera mengangguk kemudian mengikuti pelayan itu berjalan masuk ke dalam, sesudah berbelok satu lorong sampailah mereka di depan pintu rumah penginapan Lay Hong tersebut.
Di depan rumah penginapan itu sudah terlihatlah berpuluhpuluh orang dengan dandanan pakaian lebar berwarna putih, melihat hal ini tak terasa lagi Koan Ing mengerutkan alisnya rapat-rapat, dia merasa sangat heran sekali atas keadaan di sana, buat apa orang-orang dengan dandanan yang sama itu berkumpul di sana?
Ketika teringat kalau urusan itu tidak ada hubungannya dengan dirinya diapun tidak mau ambil perduli lagi, setelah turun dari kuda tunggangannya dia berjalan masuk ke dalam rumah penginapan itu, Keadaan di dalam rumah penginapan itu diatur sangat rapi sekali, begitu masuk dia sudah berada di sebuah ruangan yang amat besar, di belakang ruangan besar itu berderetlah dua buah bangunan rumah.
Koan Ing segera berjalan masuk ke dalam ruangan tengah, terlihatlah di tengah ruangan kini sudah bertambah lagi dengan seorang pemuda dengan berpakaian baju berwarna hijau, alis pemuda itu hitam pekat wajahnya penuh senyuman, jika dilihat dari dandanan serta sikapnya jelas dia merupakan anak seorang hartawan.
Dengan seenaknya saja Koan Ing melirik sekejap ke arahnya, dalam hati dia benar-benar merasa sangat heran, pikirnya dalam hatinya.
Di depan sana banyak kelihatan orang yang sedang melakukan jual beli, kenapa sesudah masuk ke dalam rumah penginapan ini seorang pun tidak tampak?
Sedang dia memikirkan urusan ini, pemuda berbaju hijau itu dengan langkah perlahan sudah berjalan mendekat, ujarnya sambil tersenyum.
"Tolong tanya apakah saudara mau memberitahukan nama saudara?"
Koan Ing menjadi melengak.
"Siauwte bernama Koan Ing, entah saudara punya urusan apa?"
Pemuda tampan itu sekali lagi memperlihatkan senyuman manisnya.
"Bukankah saudara putra dari Siang Kiang Thayhiap? Dan baru saja datang dari rumah?"
Mendengar perkataan itu Koan Ing merasa sangat terperanjat, pikirnya.
"Entah dari mana asalnya orang ini, dia tahu aku berasal dari daerah Siang Kiang tentu tahu juga tentang diriku, kelihatannya dia mengandung sesuatu maksud terhadap diriku."
Dengan perlahan dia angkat kepalanya memperhatikan sekejap ke arah pemuda tampan itu, tampaklah sepasang matanya yang jeli menarik dengan kulit berwarna putih salju.
persis mirip seorang gadis, dia benar-benar tertegun oleh keadaan itu.
"Aku memang berasal dari daerah Siang Kiang."
Sahutnya.
Ketika pemuda tampan itu melihat sinar mata dari Koan Ing dengan amat tajamnya memperhatikan dirinya terus menerus, sepasang matanya segera berkedip agaknya dia berusaha mau menghindar, alisnya segera dikerutkan dalam-dalam sambil balas melototi diri Koan Ing ujarnya.
"Lalu peristiwa kereta berdarahpun tentu kau tahu bukan?"
"Kereta berdarah?"
Seru Koan Ing tertegun.
Dia sama sekali tidak menduga peristiwa munculnya kereta berdarah sudah tersebar luas di dalam Bu-lim, di dalam hati dia masih mengira orang yang mengetahui peristiwa Kereta berdarah ini cuma beberapa orang saja, sungguh tidak terkira orang inipun mencari dirinya karena soal ini.
Pemuda tampan itu sewaktu melihat Koan Ing tidak menjawab, dalam anggapannya Koan Ing mau berpura-pura, dengan perasaan tidak senang dia mendengus.
"Kereta berdarah sudah muncul kembali di dalam Bu-lim bahkan sudah membinasakan tiga belas jago nomor wahid dari Bu-lim,"
Ujarnya sembari tertawa dingin.
"Bukan begitu saja, bahkan setiap orang Bu-lim yang ditemuinya tentu dibinasakan, munculnya kereta berdarah kini sudah diketahui oleh para jago di dalam Bu-lim, bukankah kau sudah menguntit kereta berdarah itu sejak dia munculkan dirinya untuk pertama kali?"
Koan Ing yang mendengar pemuda ini berbicara tak hentihentinya dia cuma mengangguk sambil tertawa.
Tetapi mendadak pemuda tampan itu berdiri melengak, sama sekali tidak terduga olehnya Koan Ing bisa mengaku begitu cepatnya.
"Lalu kereta berdarah itu sekarang berada dimana?"
Tanyanya dengan cepat.
"Bilamana aku tahu sekarang tidak akan berdiri mematung di tempat ini,"
Sahut Koan Ing sambil tertawa. Pemuda tampan itu benar-benar terdesak oleh kata-kata dari Koan Ing ini, air mukanya berubah sangat hebat, bentaknya dengan amat gusar.
"Kau tidak ingin bicara?"
Alis yang dikerutkan Koan Ing pun semakin kencang, dia merasa jengkel sekali melihat silat orang itu begitu buruknya.
"Kalau tidak mau berbicara lalu bagaimana?"
Serunya sambil tertawa gusar. Air muka pemuda itu segera berubah sangat hebat, dengan pandangan yang amat gusar dia pandangi diri Koan Ing.
"Hmmm, jangan menyesal kau!"
Ancamnya. Begitu dia selesai berbicara tampaklah dari luar pintu berjalan masuk seseorang sambil berkata.
"Siauw Touw-cu, buat apa marah-marah dengan orang ini, biarlah aku beri sedikit hajaran kepada orang ini."
Dengan perlahan-lahan Koan Ing balik badannya, tampaklah di depan pintu rumah penginapan itu sudah bertambah lagi dengan seorang lelaki berusia pertengahan dengan memakai baju berwarna putih, wajahnya lebar telinganya besar, sikapnya gagah sekali.
Diam-diam dalam hati dia merasa sangat terperanjat.
"Siauw Touw-cu? Entah pemuda ini berasal dari perkumpulan apa? Kini dirinya betul-betul sudah tersangkut dalam satu peristiwa dengan perkumpulannya. walaupun dia tidak takut segala sesuatu, tetapi dendam sakit hati ayahnya belum dibalas, dirinya mana boleh membuang waktu dengan percuma?"
Pemuda tampan itu sekali lagi mendengus, dia mundur satu langkah ke belakang tanpa mengucapkan sesuatu, agaknya dia sudah memberi ijin kepada orang itu untuk turun tangan.
Tampaklah orang berusia pertengahan itu melemparkan satu senyuman ke arah Koan Ing.
"Koan Siauw-hiap"
Ujarnya.
"Tahukah kamu orang yang ada di hadapanmu sekarang adalah Siauw Touw-cu dari perkumpulan Tiang-gong-pang? cepat kau minta maaf kepadanya, kemungkinan sekali melihat kesopanan dirimu, dia orang mau melepaskan dirimu satu kali ini."
Dalam hati diam-diam Koan Ing merasa sangat terperanjat.
"Tiang-gong-pang? Siauw Touw-cu dari Tiang-gong-pang? Bukankah dia adalah putra dari si Tiang Gong Sin-cie atau si jari sakti dari Tiang Gong, Sang Su-im dari "Sian, Khei, Sin Mo"-empat manusia aneh? Dia sama sekali tidak menduga kalau dirinya sudah bentrok dengan seorang manusia yang paling sukar untuk dihadapi. Ketika pemuda tampan itu mendengar si lelaki berusia pertengahan itu meminta Koan Ing untuk meminta maaf kepadanya, dia menjadi amat gusar.
"Hoo Lieh!"
Teriaknya keras.
"Jika kamu orang tidak suka bertempur dengan dia, biarlah aku sendiri saja yang turun tangan."
Koan Ing menjadi melengak, kiranya orang lelaki berusia pertengahan ini bukan lain adalah TanJiang KuayJien atau si tombak sakti Hoo Lieh, segera dia tertawa.
"Terima kasih atas kebaikan dari Ho Thayhiap, tetapi aku tidak salah, aku tidak akan meminta maaf kepadanya."
Ketika Hoo Lieh melihat sikap Koan Ing tetap tenangtenang saja tanpa berubah sedikitpun juga dia menjadi tertegun, pikirnya.
"Pemuda ini sungguh mirip harimau yang baru saja turun dari gunung, bagaimana dia tidak takut dengan nama besar dari si jari sakti Sang Su-im?"
Di dalam hati sebetulnya pemuda tampan itu merasa tidak senang karena si Hoo Lieh sudah laporkan namanya, dalam anggapannya setelah Koan Ing mendengar namanya ini dia tentu minta ampun kepada dirinya tetapi tidak disangka olehnya dia sama sekali tidak menjadi jeri.
Dia menjadi amat gusar sekali.
"Bagus sekali!"
Teriaknya keras.
"Nyalimu sungguh tidak kecil, aku sama sekali tidak menduga kamu orang mempunyai nyali yang demikian besarnya."
Hoo Lieh tahu dengan jelas bagaimana sifat Siauw Touwcunya ini, di dalam hatinya diam-diam dia mau memuji atas semangat yang tinggi dari Koan Ing, karena takut bilamana Siauw Touw-cunya turun tangan sendiri sehingga membuat Koan Ing celaka dengan gugup serunya.
"Siauw Touw-cu tahan dulu, biar aku saja yang turun tangan memberi sedikit pelajaran kepadanya."
Sambil berkata tubuhnya dengan cepat bergerak ke depan, telapak tangannya dengan melancarkan satu serangan dahsyat menghajar pundak kanan Koan Ing.
Koan Ing segera mengerutkan alisnya rapat-rapat, walaupun di dalam hatinya dia merasa sangat berterima kasih sekali atas maksud baik dari Hoo Lieh to tapi di dalam permainan kali ini dia sama sekali tidak mau mengalah barang satu tindakpun, karena di dalam kedua buah urusan ini sama sekali tidak mempunyai sangkut pautnya.
Tangan kanannya dengan cepat berputar satu lingkaran ke depan, jari tengah maupun jari telunjuknya dikencangkan setelah berputar setengah lingkaran di tengah udara dengan kecepatan yang luar biasa dia menggencet pergelangan tangan dari Hoo Lieh.
Dalam hati Hoo Lieh menjadi sangat terperanjat sekali datangnya serangan ini, ketika dia melihat tangan kanan dari Koan Ing menggencet pergelangan tangannya dia tahu jika tidak cepat-cepat menarik serangannya maka dia akan menemui bencana, tetapi terhadap cara menyerang yang digunakan Koan Ing baru-baru ini dia sudah pernah mendengarnya.
Tangan kanannya dengan cepat ditarik ke belakang, saat itulah Koan Ing sudah mendengus dengan amat dinginnya, tangan kanannya sedikit merendah dari serangan jari diubah menjadi serangan mencengkeram, lima jarinya dengan sangat dahsyat sekali mencengkeram pergelangan tangan Hoo Lieh.
Ketika Hoo Lieh melihat cengkeraman dari Koan Ing ini dilakukan amat cepat dan tepat bahkan lima jarinya laksana mega yang menutupi langit hatinya terasa berdesir, untuk sesaat dia benar-benar dibuat bingung oleh keadaan, dengan tergesa-gesa tubuhnya bergerak mundur ke belakang.
Baru saja Hoo Lieh mengundurkan dirinya terdengar si pemuda tampan yang menonton jalannya pertempuran di samping sudah memperdengarkan suara dengusannya yang sangat dingin.
"Berhenti."
Teriaknya.
Sebetulnya di dalam hati Koan Ing dia tidak ingin berbuat sesuatu terhadap diri Hoo Lieh, kini mendengar si pemuda tampan itu berteriak untuk menghentikan pertempuran itu cepat-cepat tubuhnya meloncat ke samping, dengan pandangan yang amat dingin dia melototi diri pemuda tampan itu.
"Tidak kusangka sama sekali setelah si pendekar pedang aneh Thian-yu Lhei Kiam bersembunyi sepuluh tahun lamanya ternyata berhasil memperoleh seorang murid semacam kau!"
Seru pemuda tampan itu sambil mengerutkan keningnya.
Koan Ing cuma tertawa tawar saja, ketika dia mendengar si pemuda tampan itu sudah salah menganggap dirinya sebagai anak muridnya Kong Bun-yu, di dalam keadaan semacam ini dia tidak mau membantah suatu senyuman manis segera menghiasi bibirnya kembali.
Setelah Hoo Lieh mendengar perkataan dari pemuda tampan itu, melihat juga sikap dari Koan Ing yang tidak bermaksud membantah segera sudah menganggap dia benarbenar anak murid dari Kong Bun-yu, dalam hati kecilnya diamdiam dia merasa sangat terperanjat, si pendekar pedang aneh bukanlah seorang yang mudah diganggu, kini mereka mencari gara-gara dengan diri Koan Ing bilamana nanti Kong Bun-yu ikut unjukkan diri, mereka harus berbuat bagaimana untuk menghadapi dia orang?
Si pemuda tampan yang melihat Koan Ing cuma tertawa tawar saja tanpa berbicara sudah menganggap dia tidak pandang sebelah matapun terhadap dirinya, hawa amarah yang membakar di dalam hatinya semakin berkobar.
Terdengar dia tertawa dingin tak henti-hentinya.
"Hmmm, kau kira kepandaian silat yang kau miliki sekarang ini sudah sangat tinggi sekali? Hee.... hee.... jangan mimpi dulu di siang hari bolong, kau kira sesudah menjadi anak muridnya si pendekar pedang aneh Kong Bun-yu lalu tidak ada orang yang berani mengganggu kamu orang? Ini hari aku sudah ambil keputusan pasti akan menahan kamu di sini. Koan Ing yang melihat kesalahpahaman pemuda itu terhadap dirinya semakin lama semakin mendalam, dia mengerutkan alisnya tetapi tetap membungkam di dalam seribu bahasa. Mendadak.... dengan kecepatan yang luar biasa pemuda tampan itu menggerakkan badannya melayang ke depan diri Koan Ing. Koan Ing yang melihat kecepatan gerak dari pemuda tampan ini jauh berada di luar dugaannya, dalam hati benarbenar merasa sangat terkejut, tangan kirinya dengan tergesagesa diangkat sedang tangan kanannya setelah berputar satu lingkaran ke depan menyambut datangnya serangan dari pemuda itu. Tangan kanan si pemuda dengan cepat diulur ke depan, diantara lima jarinya yang runcing dan sangat tajam itu, jari tengah serta jari telunjuknya di kencangkan kemudian dengan cepat menyambar mengancam jalan darah Cie Tie Hiat pada diri Koan Ing. Koan Ing yang melihat kecepatan gerak dari si pemuda luar biasa ditambah ketepatan menotok jalan darahnya dalam hati terasa bergidik. tidak malu dia sebagai putra dari si jari sakti yang punya nama besar di dalam dunia persilatan. Dalam hati dia tahu dirinya bukanlah tandingannya, lima jari tangan kanannya segera dipentangkan lebar-lebar, gayanya seperti sedang menyambut datangnya serangan, seperti juga sedang menarik kembali serangannya, inilah yang dinamakan Thiao Hong pian Huan atau pelangi langit berubahubah daripada ilmu Mo Thian-yu Cap jie Si. Jurus serangan ini boleh dikata merupakan suatu jurus serangan sungguh-sungguh boleh juga merupakan sebuah jurus serangan yang kosong, dapat ditarik dapat juga diserang sesuka hatinya, terhadap penjagaan tubuh boleh dikata rapat sekali sehingga air hujan pun sukar tembus. Agaknya si pemuda tampan itupun pernah mendengar kehebatan dari ilmu telapak Thian-yu Ciang Hoat ini, sekalipun belum pernah bertemu secara langsung tetapi terhadap jurus serangan yang digunakan Koan Ing dia tidak berani menerimanya dengan gegabah. Lima jarinya dengan perlahan ditarik kembali, tubuhnya dengan cepat berkelebat ke samping tubuh Koan Ing kemudian berjumpalitan di tengah udara. Melihat gaya serangan dari pemuda itu, Koan Ing untuk sesaat dibuat bingung juga, tubuhnya dengan cepat berkelebat ke samping sepasang telapaknya dengan menggunakan jurus Seng Gwat Ceng Hwee atau bintang bulan berebut pamor melancarkan serangan dahsyat ke depan. Baru saja Koan Ing melancarkan serangannya sampai di tengah jalan mendadak pemuda tampan yang tubuhnya masih ada di tengah udara itu membentak. Mendadak tangannya dibalik melancarkan tujuh kali totokan, dimana serangan itu lewat segera terdengarlah suara gesekan yang amat membisingkan telinga. Koan Ing menjadi sangat terkejut, walaupun dia pernah mendengar nama besar dari si Tiang Gong Sin-cie atau si jari sakti Sang Su-im, tetapi selamanya belum pernah mengetahui kalau ilmunya Leng Gong Chiet Cie atau ilmu tujuh jari menembus awan bisa begitu dahsyatnya, di dalam keadaan yang amat terkejut terasalah angin serangan itu sudah mendekati badannya. Angin serangan itu sama sekali tidak memberikan sedikit tempat kosongpun buat dirinya untuk menghindarkan diri, terasa segulung demi segulung angin serangan menghajar setiap jalan darahnya, tubuhnya tergetar dengan amat keras, untuk menghindar tidak sempat lagi jalan darah 'Cie Ti', 'Sauw Hu', serta 'Cian Cing', tiga jalan darah besar sudah tertotok, tak tertahan lagi tubuhnya roboh ke atas tanah dengan menimbulkan suara yang amat keras. Setelah pemuda tampan itu berhasil menotok rubuh Koan Ing, air mukanya kelihatan sudah berubah menjadi merah darah, dengusnya dengan dingin.
"Hmm, ilmu sakti Thian-yu Khei Kang tidak disangka cuma begitu saja."
Sekalipun kini Koan Ing sudah dikuasai oleh pihak musuh tetapi dalam hati merasa sangat gusar bercampur malu, dia mengira dengan kepandaian silat yang dimilikinya sekarang ini sudah lebih dari cukup untuk mengangkat nama di dalam dunia persilatan, siapa sangka ini hari dia harus jatuh kecundang ditangan seorang gadis yang sedang menyamar sebagai seorang putra, jika begitu saja tidak sanggup lalu kapan dia baru bisa membalas sakit hati ayahnya?
Dia memejamkan sepasang matanya erat-erat, sepatah katapun tidak diucapkan.
"Sungguh keras sekali hatinya,"
Terdengar si pemuda tampan itu mendengus lagi dengan amat dinginnya.
"Cepat gotong dia ke dalam!"
Koan Ing tetap memejamkan sepasang matanya tanpa mengucapkan separah kata pun, terasalah dua orang segera menggotong badannya masuk ke ruangan belakang.
Tetapi....
baru saja badannya diangkat mendadak dari badannya terjatuh suatu benda.
"Criiiing....!"
Dengan cepat pemuda itu memungutnya.
"Pedang sakti Hiat Ho Sin pin!"
Teriak pemuda itu tertahan. Tetapi sebentar kemudian dia sudah mendengus kembali dengan dinginnya, sambil mengembalikan pedang dia ke dalam tubuhnya, dia berkata.
"Kiranya kau adalah ciangbunjin dari Hiat-ho-pay, sungguh maaf, sungguh maaf....
"Diam-diam dalam hati Koan Ing merasa sangat terperanjat, kini pedang sakti Hiat Ho Sin pin sudah muncul, keadaan dirinya akan semakin merepotkan.
Baru saja dia digotong sampai di ruangan belakang, mendadak terdengar suara hiruk-pikuk bergema di luar ruangan hatinya jadi merasa sangat heran.
Bagaimanapun juga dia masih mempunyai sifat kanakkanak, diam-diam matanya dipentangkan kembali, terlihatlah si pemuda tampan itu dengan sepasang matanya yang melotot lebar-lebar sedang memandang dengan gusarnya ke arah jendela luar.
Ketika Koan Ing memandang keluar kembali, terlihatlah saat itu tubuh si pemuda tampan dengan kecepatan yang luar biasa sudah berkelebat keluar ruangan.
Dari luar rumah penginapan itu muncullah seorang pemuda berusia dua puluh lima enam tahunan, seluruh tubuhnya memakai baju berwarna putih salju sedang pada ujung bibirnya tersungginglah suatu senyuman yang sangat congkak sekali.
Hoo Lieh pun dengan tergesa-gesa mengikuti diri pemuda itu berjalan keluar dari ruangan dalam, diam-diam Koan Ing mulai mengintip dari balik pintu belakang sedang dalam hati diam-diam pikirnya.
"Ehmm.... siapakah sebetulnya pemuda berbaju putih itu?"
Ketika pemuda berbaju putih itu melihat munculnya Hoo Lieh serta pemuda tampan di hadapannya segera tertawa terbahak-bahak.
"Dimana Siauw Touw-cu kalian?"
Tanyanya keras-keras.
"Akulah, siapakah kamu orang?"
Teriak pemuda tampan itu dengan amat gusar, sedang suara dengusan yang amat dingin bergema terus dari hidungnya.
"Heee.... hee...."
Terdengar si pemuda berbaju putih itu tertawa ringan, sedang sepasang matanya dengan amat tajam memperhatikan seluruh tubuh pemuda itu dari atas kepala hingga ke ujung kakinya.
"Aku dengar si jari sakti Sang Loo pak punya seorang puteri yang sangat cantik sekali, ini hari aku bertemu sendiri tidak terkira begitu tampan kiranya, aku kira kamu orang tentunya Siauw-tan moa y bukan?"
Saking Kekhienya seluruh air muka Sang Siauw-tan sudah berubah menjadi merah padam, untuk sesaat tak sepatah katapun bisa diucapkan keluar....
"Saudara sebenarnya siapa?"
Tanya Hoo Lieh yang ada di samping dengan cepat.
"Kalau sudah tahu nama dari Siauw Touw-cu kami kenapa tidak lekas-lekas menghindar?"
"Ha.... haaa.... haaa.... cayhe adalah Ciu Pak, tentunya kalian sudah pernah mendengar namaku bukan?"
Dalam hati Hoo Lieh merasakan perasaannya berdesir, dia sama sekali tidak menyangka kalau pemuda berbaju putih yang ada di hadapan ini ternyata adalah bukan lain putra dari Chiat Hay Mo Su atau si iblis sakti dari luar lautan Ciu Tong, si Bo Cing Kongcu atau si sastrawan tak berbudi Ciu Pak.
Menurut berita yang tersiar di dalam Bu-lim katanya kepandaian silat orang ini jauh berada di atas kepandaian silat suhengnya si sastrawan berbaju sutera Bun Ting-seng, entah karena persoalan apa ini hari dia bisa munculkan diri di hadapan mereka?
"Hmmm.
Kiranya anak anjing dari iblis luar lautan!"
Seru Sang Siauw-tan sambil mendengus dingin.
"Aku harus menjajal-jajal juga kepandaian silat Khi Bun Mo Kang dari kalian!"
Sambil berkata tubuhnya dengan cepat bergerak, tangan kanannya dibabat ke depan menotok jalan darah Cie Bun Thoy Hiat pada dada sebelah kanan dari Ciu Pak. Ciu Pak segera tertawa terbahak-bahak.
"Siauw-tan moay-moay, Walaupun kita bertemu baru untuk pertama kalinya tetapi sejak dahulu aku sudah ingin sekali bertemu dengan kamu orang, ada perkataan lebih baik kita bicarakan secara baik-baik saja buat apa turun tangan main kepalan?"
Walaupun pada mulutnya dia berbicara demikian tetapi gerakan tangannya sedikitpun tidak kendor, tubuhnya miring ke samping dengan gaya yang amat manis berhasil menghindarkan diri dari totokan jari Sang Siauw-tan ini.
Koan Ing yang mengintip dari belakang jendela, ketika melihat gerakan dari Ciu Pak di dalam hati diam-diam ikut merasa kuatir atas keselamatan dari Sang Siauw-tan, kelihatan sekali orang yang bernama Ciu Pak ini jadi orang kurang jujur dan berhati licik, sedangkan kepandaian silat yang dimilikipun sangat tinggi sekali, dia merupakan seorang manusia yang sangat berbahaya sekali.
Sang Siauw-tan ketika melihat serangannya mencapai pada sasaran yang kosong mendengar pula perkataan dari Ciu Pak begitu tidak memandang sebelah matapun kepada dirinya dalam hati betul-betul merasa sangat jengkel, tubuhnya dengan cepat mencelat ke atas kemudian melayang di tengah udara.
pertemuan puncak para jago di gunung Hoa-san tempo hari, walaupun Ciu Tong memiliki ilmu aneh Hu Si Kang atau ilmu mayat membusuk tetapi terhadap ilmu jari Han Yang Cie dia paling takut cukup satu kali totokan saja segera akan memecahkan seluruh tenaga dalam yang dilatihnya.
Berpikir sampai di sini tubuhnya yang ada di tengah udara segera membalik kearah yang berlawanan, berturut-turut dia melancarkan tujuh kali serangan totokan yang amat dahsyat, tampaklah tujuh gulung angin pukulan yang amat santar dengan amat cepatnya meluncur mengancam tujuh jalan darah penting pada tubuh Ciu Pak.
Dalam hati Sang Siauw-tan sekarang ini sedang merasa gemas atas kekotoran perkataan dari Ciu Pak ini, karenanya baru saja mulai bergebrak dia sudah menggunakan ilmu jari Tiang Gong Chiet Cie andalan ayahnya.
Tubuhnya dengan cepat melayang ke depan mendesak terus ke arahnya, tetapi Ciu Pak cuma tertawa terbahakbahak, sinar matanya yang amat tajam berkelebat beberapa kali, mendadak tubuhnyapun ikut melayang ke tengah udara mengejar dari belakang tubuh Sang Siauw-tan.
Melihat gerak-geriknya itu Sang Siauw-tan menjadi amat gusar, diam-diam makinya.
"Hmmm, omonganmu sedikitpun tidak bersih, aku harus memberi sedikit pelajaran kepada kamu orang."
Suara angin serangan yang menembus udara meluncur ke depan membuat orang yang melihat benar-benar merasa sangat terperanjat.
pada tempo hari Ciu Tong pernah merasakan kerugian di tangan Sang Su-im, sudah tentu Ciu Pak pun tahu bagaimana lihaynya ilmu jari Han Yang Cie yang dimiliki Sang Siauw-tan ini, ketika dilihatnya tujuh serangan bersama-sama mengancam seluruh tubuhnya dia tertawa terbahak-bahak, tubuhnya sedikit miring ke samping, dengan sengaja dia membiarkan ke tujuh buah serangan itu menghajar separuh badannya yang ada di sebelah kirinya.
Dengan amat dahsyatnya ke tujuh buah serangan itu dengan tepat menghajar badannya, terdengar dia mendengus dengan amat beratnya, air mukanya berubah sangat hebat....
mendadak tubuhnya dengan dahsyatnya menubruk ke arah diri Sang Siauw-tan.
Sang Siauw-tan baru saja menggunakan seluruh tenaga yang ada untuk melancarkan tujuh totokan itu, ketika dilihatnya Ciu Pak sama sekali tidak menghindar dalam hati merasa sangat girang sekali, kini secara tiba-tiba dia melihat tubuh Ciu Pak bukannya rubuh bahkan menubruk ke arahnya, dia menjadi sangat terperanjat.
Sewaktu menghadapi Koan Ing tadi dia hanya menggunakan ilmu jari yang biasa saja tetapi sudah terasa amat ngotot, apa lagi kini dia harus menggunakan ilmu jari Han Yang Cie yang sudah terkenal di dalam Bu-lim, terasa olehnya tenaga dalamnya berkurang.
Kini melihat Ciu Pak mendesak terus ke arah dirinya, di dalam keadaan yang amat terdesak dia melancarkan satu pukulan dahsyat ke arahnya.
Ciu Pak tertawa terbahak bahak, dalam sekejap saja dia sudah berhasil menawan diri Sang Siauw-tan.
Hoo Lieh sama sekali tidak menduga keadaan di dalam kalangan pertempuran bisa berubah sampai sedemikian rupa, baru saja dia bermaksud untuk maju ke depan saat itulah Sang Siauw-tan sudah berhasil dikuasai oleh pihak musuh.
Dengan cepat Ciu Pak merangkul tubuh Sang Siauw-tan ke dalam pelukannya.
"Aku kira kalian tidak akan maju untuk merebut orang bukan?"
Tegurnya sambil menoleh ke arah Hoo Lieh sekalian.
Tempo hari sesudah Ciu Tong mendapatkan kerugian dari Sang Su-im di atas gunung Hoa-san dengan segera dia pulang ke pulau Ciat Ie To untuk memikirkan cara pemecahan ilmu tersebut akhirnya dia berhasil menciptakan sebuah ilmu aneh, dia mengalirkan seluruh darahnya pada separuh badannya sehingga membuat separuh badan yang sebelah menjadi kaku laksana kayu lapuki sekalipun terkena serangan yang bagaimana dahsyatpun saat itu tidak akan terasa lagi.
Setelah Ciu Pak mengumpulkan hawa murninya pada separuh badannya sekalipun dia tidak sampai rubuh oleh tujuh totokan sekaligus dari Sang Siauw-tan tadi tetapi dia merasakan juga badannya menjadi kaku, untung saja tidak sampai rubuh sehingga bisa menubruk kembali ke depan.
Setelah pertempuran di atas gunung Hoa-san tempo hari, sekalipun akhirnya si manusia tunggal di dalam Bu-lim melarikan diri dengan menunggang Kereta berdarah tetapi di dalam hati mereka berempat masing-masing merasa tidak puas lalu sudah memutuskan untuk mengadakan pertemuan kembali dua puluh tahun kemudian.
Saat itulah Sang Siauw-tan sudah kehabisan tenaga, untuk melawanpun tidak ada gunanya lagi.
Hoo Lieh tahu Ciu Pak yang disebut sebagai Bo Cing Kongcu atau si kongcu tak berbudi sudah tentu sifatnya sangat kejam sekali, cukup dilihat dari serangannya baru-baru ini saja sudah jelas tertera kalau hatinya amat kejam sedang serangannya pun sangat ganas.
Segera dia tertawa dingin.
"Tentunya Ciu Kongcu masih ingat dengan pangcu perkumpulan kami bukan?"
"Haa.... haa ha.... haa.... waktu dua puluh tahun sudah hampir tiba, ayahku saat ini sedang melatih silatnya mencapai pada waktu yang terpenting, sudah tentu pamanpun demikian pula bukan?"
Hoo Lieh yang sedang omong kosong tetapi terbongkar oleh diri Ciu Pak untuk sesaat lamanya tidak sanggup mengucapkan sepatah katapun, sesudah termangu-mangu beberapa saat lamanya barulah dia berkata kembali.
"Entah apa maksud tujuan kedatangan Ciu Kongcu kali ini?"
Ciu Pak tertawa, sesudah melihat sekejap ke arah Sang Siauw-tan yang berada di dalam pelukannya dia berkata.
"Padahal jelasnya tidak ada urusan, sejak tadi aku sudah bilang sama kalian. baiknya kita berunding saja, asalkan kalian mau menyerahkan sang pemuda yang sedang melakukan pengajaran terhadap Kereta berdarah itu, segera akan menyudahi urusan ini."
Hoo Lieh menjadi melengak, pikirnya.
"Ooooh.... kiranya Si Bo Cing Kongcu Ciu Pak inipun sedang mencari diri Koan Ing."
"Bagaimana?"
Tanya Ciu Pak sembari tertawa dingin.
"Jangan coba menipu aku yaaah, aku tahu kalian sudah berhasil menipu dia kemari, sudah tentu dia tidak akan lolos dari tangan kalian, ayoh cepat serahkan padaku!"
Jilid 2 Sehabis berkata dia tertawa tambahnya.
"Kaupun tahu ayahmu mempunyai hubungan yang sangat baik dengan ayahnya Siauw-tan Moay-moay, aku tidak akan berani memperlakukan tidak senonoh terhadapnya."
Ketika Hoo Lieh mendengar Ciu Pak mengungkit-ungkit juga tentang Koan Ing, mendadak di dalam benaknya terlintas satu ingatan, segera dia pikirkan satu siasat yang sempurna.
Ciu Pak melihat Hoo Lieh tidak mengucapkan sepatah kaupun dia segera mengerutkan keningnya.
"Kenapa?"
Seketika itu juga Hoo Lieh terjaga kembali dari lamunannya dengan amat terkejut.
"Oooh.... oooh.... dia sudah diantar pergi dari sini.
"Apa?"
Tanya Ciu Pak terperanjat, sedang sinar matanya berkedip-kedip tak henti-hentinya. Hoo Lieh tertawa paksa.
"Karena ingin mengetahui jejak dari kereta berdarah, begitu berhasil menawan dirinya kami sudah membawa dia pergi untuk disiksa, saat ini sudah tidak ada lagi di sini."
Dengan pandangan ragu-ragu Ciu Pak memandang diri Hoo Lieh beberapa saat lamanya, lama sekali baru terdengar dia mendengus dengan dinginnya.
"Hmmm.... hmmm, kau jangan menganggap aku seorang manusia yang mudah dipermainkan...."
Walaupun pada mulutnya dia berbicara begitu, tetapi di dalam hatinya merasa ragu-ragu juga, dengan kekuatan dari perkumpulan Tiang-gong-pang, untuk membawa seorang jago yang memiliki ilmu silat biasa saja bukanlah suatu pekerjaan yang sukar.
Bahkan untuk kirim dia pergi dari tempat inipun merupakan suatu urusan yang mudah sekali dikerjakan, tetapi dia pun merasa curiga bahwa Hoo Lieh sudah menganggap dia tidak berani melakukan perbuatan tidak senonoh terhadap diri Sang Siauw-tan sehingga sengaja berkata tidak ada.
Sekali lagi Hoo Lieh tertawa paksa.
"Bilamana Ciu Kongcu percaya terhadap diriku, aku segera akan kirim orang untuk pergi mengejar, mungkin setengah jam kemudian sudah bisa sampai di sini kembali. Dengan beberapa patah kata dari Hoo Lieh ini membuat perasaan curiga yang semula meliputi hati Ciu Pak segera tersapu bersih dari dalam hatinya, diapun tidak takut Hoo Lieh bisa melakukan sesuatu perbuatan terhadap dirinya, dia segera mendengus.
"Hmmm, baiklah aku beri setengah jam buat kau orang."
Hoo Lieh segera mengangguk dan putar badannya berjalan menuju ke ruangan dalam.
Ciu Pak tetap berdiri dengan amat dinginnya di tempat semula, selama ini dia selalu bersiap sedia terhadap segala macam permainan gila dari Hoo Lieh, dia tak ingin membuntuti diri Hoo Lieh, dalam anggapannya asalkan Sang Siauw-tan masih ada di tangannya Hoo Lieh tidak akan berani melakukan sesuatu yang merugikan dirinya.
Koan Ing yang diam-diam mencuri lihat dari balik jendela, ketika melihat Sang Siauw-tan tertawan, di dalam hati diamdiam merasa amat terperanjat, akhirnya dia dengar pula beberapa patah perkataan dari Hoo Lieh yang sangat membingungkan, membuat dia semakin merasa bingung tujuh keliling.
Dengan cepat Hoo Lieh berjalan mendekati samping badan Koan Ing kemudian memberikan tanda dengan lirikan mata kepada kedua orang pengawal yang ada disampingnya untuk menggotong tubuh Koan Ing menuju ke salah satu kamar di samping ruangan tersebut.
Tanpa banyak pikir panjang lagi Hoo Lieh membebaskan jalan darah dari Koan Ing, kemudian ujarnya sambil merangkap tangannya memberi hormat.
"Koan Siauwhiap, ini hari kau orang harus membantu perkumpulan kami."
Koan Ing tidak paham apa arti dari perkataan dari Hoo Lieh ini, dia segera mengerutkan alisnya kebingungan.
"Ho Thayhiap kau sedang membicarakan urusan apa, aku Koan Ing sama sekali tidak paham,"
Ujarnya.
"Aku ingin sekali agar Koan Siauwhiap mau menyamar sebentar sebagai suhumu."
Sekali lagi Koan Ing dibuat melengak. Dengan cepat Hoo Lieh membetulkan perkataannya.
"Maksudku menyamar sebagai suhumu Kong Bun-yu Thayhiap."
Mendengar perkataan itu Koan Ing menjadi paham apa maksudnya yang sebenarnya, dia membantah.
"Kau sudah salah sangka, suhuku bukan Kong Bun-yu, suhuku adalah si pendekar pedang menyendiri dari gunung Chin Leng,"
Sekarang ganti Hoo Lieh yang dibuat melengak, dia mengira Koan Ing adalah anak muridnya Kong Bun-yu, siapa sangka ternyata dugaannya sama sekali meleset.
Tetapi urusan ini sudah menjadi begini, dia pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi, terpaksa sambungnya.
"Untuk menolong Siauw Touw-cu harap Koan Siauwhiap mau memberi bantuan kepada kami,"
Koan Ing yang baru saja kena ditawan oleh serangan Sang Siauw-tan dalam hati masih merasa sangat tidak puas, kini dia diminta untuk menyamar sebagai Kong Bun-yu hatinya semakin kheki.
"Bukankah lebih bagus lagi kalau kau serahkan saja diriku kepadanya?"
Hoo Lieh tertawa, dengan pengalamannya yang luas dan pengetahuannya yang mendalam hanya di dalam sekali pandang dia sudah dapat mengetahui kalau Koan Ing sedang mengumbar sifat ke bocah-bocahannya.
Ujarnya kemudian sambil tertawa.
"Koan Siauwhiap, jangan dibilang Ciu Pak itu seorang manusia yang tidak bisa dipercaya, dengan memandang perasaan jerinya terhadap pangcu kami sesudah dia berhasil menawan diri Siauw Touwcu tidak mungkin dia orang mau melepaskannya kembali, coba Koan Siauwhiap bayangkan saja jika dia tidak mau melepaskan dia orang akan apa jadinya? Sekarang urusan sudah jadi begini, kecuali Koan Siauwhiap seorang tidak ada lagi yang bisa memberi pertolongan untuk membebaskan diri Siauw Touw-cu."
Koan Ing yang mendengar perkataan dari Hoo Lieh ini tak terasa hatinya bimbang juga, sebetulnya dia ingin pergi menolong Sang Siauw-tan, tetapi baru saja dia kena tawan oleh dirinya kini bilamana dirinya harus pergi menolong dia orang harus ditaruh kemana wajah sendiri?
Dia betul-betul merasa tidak enak untuk berbuat itu, Sejak semula Hoo Lieh sudah tahu perasaan hati Koan Ing ini, tetapi dia tidak sampai mengutarakannya keluar.
"Urusan seperti ini kita manusia golongan pendekar dan enghiong hoo han siapa bisa melakukannya, jikalau Koan Siauwhiap tidak mau melakukannya dikarenakan tadi Siauw Touw-cu sudah berbuat salah terhadap dirimu, aku Hoo Lieh juga tidak akan memaksa. Koan Siauwhiap boleh meninggalkan tempat ini sesukanya. Biarlah urusan yang ada disini aku Hoo Lieh memikirkannya seorang diri, aku rasa akhirnya urusan tentu akan mencapai penyelesaiannya dengan sendirinya."
Koan Ing yang hatinya dipanasi oleh beberapa patah kata dari Hoo Lieh ini membuat sepasang alisnya dikerutkan rapatrapat, ujarnya kemudian.
"Tapi aku takut penyamaranku tidak persis."
Hoo Lieh yang mendengar Koan Ing sudah menyanggupi, hatinya menjadi amat girang.
"Soal ini Koan Siauwhiap boleh berlega hati."
Ujarnya dengan cepat "Koan Thayhiap sudah lenyapkan diri dari Bu-lim kurang lebih lima puluh tahun lamanya, dengan usia dari Ciu Pak sekarang ini tidak mungkin dia pernah bertemu dengan dia orang tua, apalagi akupun bisa membantu sedikit buat kamu orang.
Koan Ing yang merasa dirinya sudah memberi kesanggupan sudah tentu harus melakukannya dengan rela hati, dia tahu Kongcu tak berbudi bukan manusia yang dapat diganggu seenaknya, sedikit berbuat salah saja mungkin bisa membuat urusan semakin menjadi kacau.
Dengan pandangan amat tajam Hoo Lieh memperhatikan wajah Koan Ing, lalu ujarnya.
"Yang perlu kau perhatikan, asalkan suara serta gerak-gerikmu sangat luwes tanpa rasa kikuk, urusan sudah tentu akan berhasil, sekarang biar aku bantu ubahkan sedikit wajahmu kemudian kita latihan satu kali, aku kira urusan tidak akan ada bahayanya,"
Di dalam hati Koan Ing sudah membuat perhitungan yang masak, dengan berdiam diri dia segera mengangguk, Ciu Pak yang seorang diri berdiri menanti di tengah ruangan kini sudah sedikit merasa tidak sabaran, matanya dilirikkan ke kanan ke kiri melihat keadaan sedang wajahnya kelihatan amat murung, terlihatlah dengan menggendong badan Sang Siauw-tan dia berjalan menuju ke sebuah bangku, Sesudah duduk di atas bangku dia meletakkan badan Sang Siauw-tan ke atas tanah dan menotok jalan darah pulasnya, setelah itu dengan amat tajam dia memperhatikan wajahnya, dia merasa wajah dari Sang Siauw-tan sangat cantik sekali.
Semakin melihat dia merasa semakin tertarik, mendadak dia melepaskan topi yang menutupi kepalanya, seketika itu juga gulungan rambut yang amat panjang terurai ke bawah, Dia menjadi tertegun, di dalam benaknya dia sama sekali tidak menyangka kalau wajah Sang Siauw-tan semakin cantik lagi tanpa memakai topi itu, Walaupun orang lain menyebut dirinya sebagai Kongcu tak berbudi tetapi sekarang merasa sayang juga untuk melepaskan diri Sang Siauw-tan, dia tahu ayahnya Sang Su-im bukanlah manusia yang bisa dipermainkan seenaknya, jika dia harus melepaskan diri Sang Siauw-tan maka di dalam menghadapi ayahnya Sang Su-im dia akan mengalami kesulitan.
Berpikir sampai disitu tak terasa lagi pada ujung bibirnya tersungginglah salah satu senyuman yang amat tawar.
Pada saat yang bersamaan mendadak terdengar olehnya suara bentakan keras yang amat gusar diikuti tubuh Hoo Lieh terlempar masuk ke tengah ruangan, dia menjadi termangu-mangu, sedang tubuhnya dengan amat cepat bangkit berdiri.
Baru saja badannya bergerak, terlihatlah seorang siucay berusia pertengahan dengan menggembol sebilah pedang berjalan masuk ke dalam ruangan dengan langkah yang amat perlahan.
Tubuh Hoo Lieh terus menerus mundur ke belakang, tombaknya yang ada ditangan dengan cepat diputar ke depan dadanya kemudian dengan sekuat tenaga menusuk ke arah dada si siucay pertengahan itu.
Si siucay berusia pertengahan itu cuma tertawa menghina, tangan kanannya diputar satu lingkaran di depan dada kemudian dengan sangat mudahnya dia berhasil menghindarkan diri dari tusukan Hoo Lieh lalu memukul dengan amat tepatnya ujung tombak tersebut.
Terkena sampokan tangan siucay berusia pertengahan itu tak tertahan lagi ujung tombak tersebut patah menjadi dua bagian.
Ooo)*(ooO Bab Dengan amat terperanjat Hoo Lieh mundur dua langkah ke belakang.
Dalam hati Ciu Pak merasa amat terperanjat, dengan gerakkan yang begitu mudah si siucay berusia pertengahan itu sudah berhasil menghancurkan ujung tombak yang sedang melancarkan serangan ke arahnya, jika dilihat dari gerakan tersebut jelas sekali kalau tenaga dalam orang ini tidak berada di bawah tenaga dalam ayahnya.
Dia merasa agaknya gerakan tangan orang ini pernah didengarnya, pikirannya dengan cepat berputar.
Mendadak hatinya terasa berdesir, jurus serangan yang menggunakan putar setengah lingkaran di depan dada cuma ada seorang yang menggunakannya yaitu keluarga dari Thian-yu Khei Kiang Kong Bun-yu.
Berpikir sampai di situ dengan cepat dia berteriak.
"Tahan....!"
Hoo Lieh mundur dua langkah ke belakang sepatah katapun tidak diucapkan sedangkan si siucay berusia pertengahan itu dengan pandangan sangat dingin memperhatikan diri Ciu Pak kemudian dengan kerasnya mendengus.
"Hmmm, kau memiliki ilmu Mayat membusuk, sudah tentu anak murid dari Ciu Tong siluman tua itu."
Dalam hati Ciu Pak semakin bergidik pikirnya.
"Sungguh tajam pandangan mata orang ini, cuma di dalam satu kali pandangan saja dia sudah tahu kalau aku memiliki ilmu mayat membusuk...."
Segera dia mengangguk.
"Ciu Tong memang ayahku, apakah saudara adalah paman Kong?"
Si siucay berusia pertengahan itu tertawa dingin.
"Kalau sudah tahu aku si orang tua, kenapa tidak cepat menyingkir dari sini? hmmm, kau kira urusan kereta berdarah adalah urusan yang dapat dicampuri oleh kalian dari angkatan muda?"
Ciu Pak melengak, sebenarnya saat ini dia sudah ada di atas angin, sudah tentu dia orang tidak ingin meninggalkan tempat ini dengan begitu mudah, apalagi jurus serangan yang baru saja digunakan Kong Bung Yu ini sama sekali tidak memperlihatkan sesuatu keanehan atau keistimewaan.
Dengan memperlihatkan tertawa paksa dia berseru.
"Paman Kong...."
Kong Bun-yu segera melototkan matanya bulat-bulat, potongnya setengah berteriak.
"Cepat kau pulang beritahu sama si siluman tua, katakan saja kereta berdarah sudah muncul kembali, kitapun harus bergebrak coba-coba lihat siapa yang lebih unggul, ayoh cepat menggelinding dari sini."
Sehabis berkata tangan kanannya diayun sebilah pedang pendek dengan kecepatan yang luar biasa meluncur ke depan, tapi baru saja meluncur sampai di tengah jalan pedang itu mendadak berputar dan berbelok ke samping untuk kemudian meluncur dan menancap di atas dinding.
Ciu Pak merasa sangat terperanjat, ilmu pedang semacam ini selamanya dia tidak pernah mendengarnya, segera dia berjalan mendekati dinding, terlihatlah pedang pendek itu sudah tertancap ke dalam dinding sampai ke gagangnya, dia benar-benar merasa sangat terkejut, kelihatannya tenaga dalam dari Kong Bun-yu ini jauh lebih tinggi satu singkat dari tenaga dalam ayahnya.
Dia mencabut kembali pedang pendek itu, hatinya terasa semakin bergidik, kiranya pada tubuh pedang pendek itu tergoreslah sebuah garis berdarah yang amat panjang, tidak salah lagi itulah tanda dari partai Hiat-ho-pay, dia tidak raguragu lagi, segera putar badannya memberi hormat.
"Terima kasih paman Kong tidak turun tangan jahat kepadaku."
Sehabis berkata begitu tanpa menoleh lagi dia melarikan diri terbirit-birit meninggalkan tempat itu.
Hoo Lieh yang melihat Ciu Pak meninggalkan tempat itu dengan terbirit-birit, segera berlari ke samping tubuh Sang Siauw-tan bantu membebaskan dirinya dan totokan.
Sang Siauw-tan yang jalan darahnya terbebas dengan perlahan bangkit berdiri, dari kelopak matanya tak tertahan titik-titik air mata menetes keluar membasahi pipinya, selama ini dia tidak pernah menderita kekalahan seperti ini hari.
Koan Ing menghembuskan napas lega, dengan perlahan dia menghapus penyamarannya, pertempurannya tadi dengan diri Hoo Lieh sudah tentu hanya pura-pura saja, sedang pedang yang dilempar tadi terlebih dahulu pada dinding setelah dipasang besi semberani di tambah pula dia memiliki pedang pendek peninggalan partai Hiat-ho-pay karenanya dengan mudah sekali mereka berhasil mengusir Ciu Pak dari sana, Sewaktu Sang Siauw-tan melihat orang yang baru saja menolong dirinya bukan lain adalah diri Koan Ing, dia sedikit melengak, dalam hati dia merasa sangat tidak puas sesudah memandang beberapa saat ke arahnya, mendadak dia orang memperdengarkan suara dengusan yang amat dingin.
"Hmmm, jangan kau anggap pertolonganmu ini hari bisa memaksa hatiku menaruh perasaan terima kasih kepadamu, ini hari kau menolong aku, lain kali aku akan membalas budi kebaikanmu ini."
Selesai berkata dengan amat dingin dia mengibaskan tangannya membawa Hoo Lieh sekalian meninggalkan tempat itu.
Hoo Lieh tahu sifat dari Sang Siauw-tan ini, diapun tidak punya akal lain terpaksa dengan pandangan minta maaf dia memandang sekejap ke arah diri Koan Ing.
Koan Ing sendiri sama sekali tidak mengira setelah dia menolong diri Sang Siauw-tan dia bisa bersikap begitu dingin terhadap dirinya, saking gemasnya tak sepatah katapun bisa diucapkan keluar, cuma matanya dengan pandangan melotot memandang bayangan Sang Siauw-tan sekalian meninggalkan tempat itu.
Dia yang melihat mereka pada meninggalkan tempat itu tanpa menggubris dirinya lagi, dengan gusarnya mendepakkan kakinya ke atas tanah, pikirnya.
"Hmmm, bocah perempuan itu sungguh tidak punya aturan, lebih baik untuk selamanya jangan sampai bertemu muka kembali dengan dirinya."
Cuaca semakin menggelap, malam hari pun datang menjelang, malam itu dia beristirahat satu malam disana, keesokan harinya baru berangkat kembali menuju ke arah utara, Koan Ing yang baru saja keluar dari pintu sebelah utara mendadak dari hadapannya berpapasan dengan seorang penunggang kuda yang bukan lain adalah si kongcu tak berbudi Ciu Pak, batinya menjadi amat terperanjat, pikirnya.
"Aduh celaka, jangan sampai diketahui oleh dia orang."
Setelah mereka berdua saling lewat di sampingnya, hati Koan Ing baru merasa sedikit lega, tiba-tiba....
"Iiih...."
Terdengar si kongcu tak berbudi Ciu Pak berseru tertahan kemudian menahan tali les kudanya, dan putar balik kudanya melakukan pengejaran.
Koan Ing tahu tentu Ciu Pak sudah menaruh perasaan curiga terhadap dirinya, pikirannya dengan cepat berputar memikirkan suatu cara untuk meloloskan diri dari pengejaran tersebut.
Ciu Pak dengan cepat sudah berada dihadapan diri Koan Ing, dia memandang sekejap ke arahnya kemudian pada ujung bibirnya tersungginglah suatu senyuman yang misterius, tanyanya.
"Hey siauwko, Sang Siauw-tan sekarang ada dimana?"
Koan Ing yang melihat Ciu Pak sudah berada di hadapannya, dia segera sadar untuk menghindarkan diri sudah tidak sempat lagi, Dia pura-pura melengak.
"Siapa yang bernama Sang Siauwtan?"
Ciu Pak tertawa dingin sesudah memperhatikan kembali seluruh tubuh Koan Ing beberapa saat lamanya, dia berkata kembali dengan perlahan.
"Penyamaranmu sungguh mirip sekali, cuma suaramu.... Heee.... Heee...."
Koan Ing tahu Ciu Pak sudah mengenali dirinya, dengan amat tenangnya dia tersenyum, mendadak sepasang kakinya melancarkan tendangan menghajar perut kuda tunggangannya, membuat sang kuda dengan cepat berlari ke depan.
Ciu Pak yang melihat Koan Ing tertawa, dia mengira dia mau mungkir kembali, teringat kembali selama hidupnya baru untuk pertama kali dia mengalami penipuan yang demikian memalukan, perasaannya gusar segera membakar hatinya.
Dia sama sekali tidak menyangka Koan Ing bisa melancarkan tendangan menghajar perut kuda sehingga tunggangannya kesakitan dan lari ke depan, di dalam keadaan yang amat gusar tubuhnya dengan cepat meloncat ke atas sembari berteriak.
"Mau lari kemana?"
Baru saja suaranya diucapkan keluar, tubuhnya laksana seekor burung elang sudah melayang ke tengah udara kemudian dengan dahsyatnya menubruk ke tubuh Koan Ing, Koan Ing dengan cepat mencabut keluar pedangnya, kemudian balas melancarkan satu tusukan dahsyat mengancam punggungnya, Dengan dingin dia mendengus, tubuhnya dengan cepat menghindar ke samping, sedang tangannya tanpa menoleh lagi mencengkeram ke arah pedang pendek tersebut sebaliknya tangan kirinya dengan amat cepat menghajar iga di badannya.
Koan Ing sama sekali tidak menduga kalau tenaga dalam dari Ciu Pak begitu tinggi, tangan kanannya dengan cepat mengendor kemudian berlari mengejar ke arah kuda tersebut, Ciu Pak sendiri juga sama sekali tidak menyangka Koan Ing bisa melepaskan pedangnya, melihat serangannya tidak mencapai pada sasaran dia mendengus kembali, tangan kanannya dengan cepat menyambar pedang pendek itu dan dipandangnya lebih teliti, terlihatlah di atas tubuh pedang itu tergoreslah sebuah jalur merah darah, Saat ini perasaan gusarnya sudah mencapai pada puncaknya, bukan saja dia sudah berhasil mengejutkan dirinya sampai melarikan diri terbirit-birit bahkan kehilangan seorang penting juga, Ciu Pak dengan amat gusar mendengus, tubuhnya dengan cepat meloncat naik ke atas punggung kudanya dan mengejar ke arah Koan Ing, Koan Ing tahu sifat si kongcu tak berbudi ini amat ganas dan kejam sekali, asalkan dirinya terjatuh ke tangannya, maka akibat yang akan diterima sukar untuk dibayangkan, Dengan mengempit kencang perut kudanya dia melarikan tunggangannya itu dengan amat cepatnya, Demikianlah segera terjadilah suatu perlombaan kuda saling kejar mengejar, kurang lebih satu jam kemudian jarak diantara mereka masih tetap sejauh tiga kaki lebih.
Kini jalanan di hadapannya adalah suatu jalan bukit yang amat terjal, Ciu Pak tidak sabaran lagi, sambil bersuit panjang tubuhnya meloncat ke atas menubruk ke arah Koan Ing.
Koan Ing yang melarikan diri dengan menunggang kuda mulai merasa tubuhnya amat lelah, kecepatan bergeraknya pun semakin berkurang.
Di dalam dua tiga kali loncatan saja Ciu Pak sudah berhasil menyandak belakang tubuhnya.
Koan Ing merasakan hatinya berdesir, dia tahu untuk melarikan diri tidak mungkin lagi, tubuhnya dengan cepat meloncat turun dari punggung kudanya.
Ciu Pak dengan cepat mengejar ke arahnya, telapak tangan kanannya dengan dahsyat menghajar arah belakang Koan Ing.
Dengan cepat Koan Ing menghindar ke samping, pedang panjangnya dicabut keluar dari sarungnya, setelah ujung pedangnya membuat gerakan setengah lingkaran di tengah udara, dengan hebat menebas pergelangan tangan Ciu Pak.
Ciu Pak bukanlah manusia yang goblok, dia bisa melihat kehebatan dari serangan pihak lawan, dia tahu ilmu pedang ini bukan lain adalah ilmu pedang Thian-yu Kiam Hoat yang menggetarkan seluruh dunia persilatan.
Dia tertawa dingin, tubuhnya dengan cepat meloncat ke tengah udara, kemudian berturut-turut melancarkan tendangan dahsyat disertai lima pukulan gencar, Ilmu silat dari Ciat Ie To memang sangat aneh dan amat sakti, setiap arah serangan yang dituju selalu jauh berada di luar dugaan Koan Ing, Walaupun Koan Ing bukannya manusia yang belum pernah bertempur dengan ilmu silat yang demikian anehnya tetapi untuk beberapa saat lamanya dia dipaksa repot juga untuk menangkisi setiap serangan, dia mulai merasa tangan dan kakinya mulai linu, Kehebatan dari tenaga dalam Ciu Pak jelas sekali jauh lebih tinggi dari tenaga dalamnya sendiri, semakin bertempur dia merasa semakin terdesak dibawa angin, Ciu Pak tahu musuhnya tidak bisa meraba kelemahan dari ilmu silatnya, segera dia menggunakan kesempatan ini semakin mendesak diri Koan Ing, membuat dia orang untuk berganti napaspun tidak sempat.
Walaupun dia ragu Koan Ing mempunyai sangkut paut dengan diri Koan Bun-yu, tetapi selama ini dia belum pernah menderita kerugian yang demikian besarnya, jika ini hari dia tidak berhasil melukai diri Koan Ing maka namanya di dalam dunia kangouw akan terganggu juga.
Koan Ing yang semakin lama semakin terdesak dalam hati segera merasa amat mendongkol sekali, dia gemas kenapa ilmu silatnya sendiri tidak hebat sehingga tidak dapat memberikan perlawanan yang lebih seru lagi terhadap lawannya.
Sebetulnya dia sudah terdesak di bawah angin, kini pikirannya bercabang dua.
terdengar Ciu Pak tertawa dingin, mendadak pedang panjangnya berhasil dipukul mabur oleh serangan musuh, Koan Ing merasa hatinya berdesir, dengan cepat dia mundur tiga langkah ke belakang, Ciu Pak tetap berdiri di tempat dengan dinginnya, lama sekali dia pandang wajah sang pemuda, kemudian ujarnya dengan dingin.
"Kau boleh buntungi satu tangan dan satu kakimu sendiri, melihat di atas suhumu, aku beri kesempatan hidup buat dirimu,"
Koan Ing mengerutkan alisnya rapat-rapat, sepatah katapun tidak diucapkan.
"Bagaimana? Tidak tega?"
Ejek si kongcu tak berbudi itu tak henti-hentinya.
"Kekalahanku kemarin hari dikarenakan kau orang, kamu tahu sudah mempengaruhi aku seberapa besar? jika kau tidak tega, mari biar aku yang mewakili kau turun tangan!"
Sekali lagi Koan Ing mengerutkan alisnya, dia tahu nyawanya sekarang berada di dalam cengkeramannya orang lain, buat dirinya sudah tentu tidak ada perkataan lain lagi, tetapi bilamana dia orang hendak memberikan siksaan kepadanya dia sudah ambil keputusan untuk mengadu jiwa, Ciu Pak tertawa-tawa, ujarnya.
"Orang lain memanggil aku sebagai si kongcu tak berbudi, hal ini dikarenakan aku paling suka melihat mimik yang amat jelek dari orang yang sekarat."
Sambil berkata dia mulai mendesak ke arah diri Koan Ing.
Tetapi....
baru saja Ciu Pak maju dua langkah ke depan dari tempat kejauhan secara mendadak berkumandang datang suara suitan panjang yang satu tinggi yang lain rendah....
Begitu mendengar suara suitan tersebut, air muka si kongcu tak berbudi segera berubah sangat hebat, dia memandang sekejap ke arah diri Koan Ing, agaknya dia bermaksud membereskan dirinya terlebih dahulu tetapi merasa tidak berani juga untuk tinggal lebih lama lagi disana.
Dalam hati Koan Ing sendiri saat ini juga merasa sangat heran jika didengar dari kedua buah suara suitan itu jelas sekali kepandaian silat mereka amat tinggi tetapi dia sama sekali belum pernah dengar orang berkata ada orang aneh yang menggunakan suara suitan mempertanyakan kedudukannya.
Sinar mata Ciu Pak segera berkelebat beberapa kali, tubuhnya dengan cepat berputar kemudian melarikan diri dengan mengambil jalan semula.
Koan Ing benar-benar merasa amat heran, dia tidak tahu jago darimana yang sudah munculkan diri sehingga membuat manusia semacam Ciu Pak pun ketakutan seperti itu, dalam hati benar-benar merasa tidak paham, Di dalam sekejap saja suara suitan itu sudah berhenti, Koan Ing tidak mau ambil perduli lagi, segera dia melanjutkan perjalanan menuju ke depan.
Kurang lebih seperminum teh kemudian tampaklah olehnya seorang kakek tua yang rambutnya sudah beruban dengan langkah sempoyongan berjalan mendekati dirinya.
Koan Ing segera menghentikan langkahnya, dia mengerutkan alisnya rapat-rapati pikirnya.
"Eeeh.... kenapa dengan orang tua ini? Agaknya dia menderita luka dalam yang amat parah...."
Baru saja dia berpikir sampai disitu mendadak tampaklah orang tua itu terhuyung-huyung kemudian rubuh ke atas tanah.
Koan Ing menjadi sangat terperanjat dengan cepat dia maju dua langkah ke depan membimbing bangun.
"Lootiang, kau...."
Belum selesai dia berbicara, baru saja tangannya menempel pada pundak si orang tua, mendadak nampaklah tubuhnya secara tiba-tiba berdiri tegak, lima jari tangan kanannya laksana cakar macan dengan kecepatan bagaikan kilat mencengkeram tangan kanan Koan Kecepatan gerak dari orang tua itu sama sekali tidak memberi kesempatan bagi Koan Ing untuk membalas, terdengar dia mendengus dengan amat berat separuh badan bagian kanannya sudah menjadi kaku sedikitpun tak bisa bergerak, Saking sakitnya keringat sebesar kacang kedelai sudah mengucur keluar membasahi bajunya, kepandaian silat yang dimiliki si orang tua itu ternyata jauh berada di atas dirinya bahkan dirinyapun sama sekali tidak menyangka dia orang bisa turun tangan membokong dirinya.
Saking tak tahannya terdengar Koan Ing berteriak.
"Hey.... tidak kusangka di dalam dunia sekarang ini masih ada manusia yang tak tahu malunya."
Orang tua itu tertawa serak, segera dia menyeret badan Koan Ing mendekati dirinya.
"Kau tidak kenal dengan aku si orang tua? Aku bernama Gui Cun-pak, seharusnya kau tidak boleh memaki aku orang tua.... tahu?"
Koan Ing menjadi tertegun, kiranya orang yang ada di hadapannya sekarang ini adalah Thiat-lang atau srigala baja Gui Bun Cun Pak.
Suhunya si pendekar pedang menyendiri pernah memberitahukan kepadanya bahwa di dalam dunia kangouw ada sepasang suami istri yang amat lihay dan sering muncul di dalam Bu-lim mereka bernama Thiat-lang atau srigala baja Gui Cun-pak serta Cien-hu atau Si rase perak Cau Tok-soat, karena kedua manusia ini mempunyai sifat yang sangat aneh, karenanya suhunya sama sekali tiiak kenal kepada mereka ini.
Sungguh tidak disangka olehnya Gui Cun-pak adalah manusia semacam ini.
Gui Cun-pak angkat kepalanya memandang sekejap ke arah empat penjuru kemudian kepada Koan Ing ujarnya.
"Aku dengar katanya kau orang adalah ahli waris dari Thian-yu Khoi Kiam, apa benar?"
"Bukan!"
Seru Koan Ing dengan amat tawar sedang sepasang alisnya dikerutkan rapat-rapat. Gui Cun-pak menjadi melengak kemudian tertawa dingin tak henti-hentinya.
"Hey nenek tua!"
Teriaknya ke arah kejauhan.
"Setan cilik ini bilang bukan."
Baru saja perkataan dari Gui Cun-pak ini ucapkan dari dalam sebuah rimba segera berkelebat keluar sesosok bayangan manusia.
"Mana mungkin bukan?"
Serunya kurang puas, Suara orang itu sangat aneh sekali laksana pekikan burung malam membuat Koan Ing yang mendengar merasakan seluruh badannya sangat tidak enak, dia tidak tahu siapakah orang ini, apakah mungkin si rase perak Cau Tok-soat?
Sedang dia berpikir terdengar Gui Cun-pak sudah berteriak kembali.
"Hey nenek tua, cepat kemari sambut ini!"
Begitu dia menutup mulutnya, tubuh Koan Ing yang ada ditangannya dengan cepat dilemparkan ke arah Cau Tok-soat.
Koan Ing yang dilemparkan Gui Cun-pak ke tengah udara segera merasa jalan darahnya lancar kembali, belum sempat dia melakukan gerakan tubuhnya sudah diterima oleh si rase perak Cau Tok-soat sedang jalan darah "Leng Thay Hiat"nya sudah terancam oleh telapaknya.
Sedikit saja dia mengerahkan tenaga dalam maka jiwanya segera akan melayang.
Koan Ing menjadi sangat terperanjat.
tubuhnya dengan cepat berbalik ke samping sedang tangan kanannya dengan membentuk setengah lingkaran melancarkan serangan dahsyat menghajar tubuh Cau Tok-soat.
Baru saja serangan ini dikerahkan keluar terdengar Cau Tok-soat sudah tertawa dingin, tubuhnya berkelebat ke samping lima jari tangan kanannya dari telapak berubah menjadi mencengkeram, gerakan tubuhnya yang sangat cepat bagaikan kilat ini membuat Koan Ing belum sempat berganti jurus tangannya sudah berhasil dicengkeram oleh pihak musuh.
Cau Tok-soat yang berhasil mencengkeram diri Koan Ing segera berkata kepada suaminya Gui Cun-pak.
"Memang bukan, mungkin dia anak murid dari Cu Yu."
Sehabis berkata dia melepaskan kembali diri Koan Ing.
Dalam hati Koan Ing benar-benar merasa sangat terperanjat, dia sama sekali tidak mengira kalau pandangan mereka berdua begitu tajamnya, cuma satu jurus saja dia melancarkan serangan segera sudah diketahui oleh mereka kalau dirinya bukanlah anak murid dan si Thian-yu Khei Kiam Tapi, entah mereka berdua punya ganjalan sakit hati apa dengan si Kong Bun-yu itu?
Sambil berpikir pandangannya dengan amat tajam memperhatikan kedua orang itu, tampaklah si nenek yang ada di hadapannya mempunyai badan yang sangat kurus dan repot sekali, rambutnya sudah pada beruban, tetapi sepasang matanya amat tajam bagaikan sebilah pisau.
Gui Cun-pak memandang sekejap ke arah diri Koan Ing kemudian ujarnya.
"Hey si nenek reyot, lebih baik kita bunuh saja dirinya."
Dengan perlahan Cau Tok-soat mengangguk, tangannya dengan perlahan diangkat siap dihajarkan ke atas batok kepala Koan Ing.
Pada saat itulah mendadak terdengar suara dengusan yang amat berat berkumandang dari tempat kejauhan.
Dia menjadi sangat terperanjat, tubuhnya dengan cepat mundur ke belakang.
Walaupun suara dengusan itu tidak keras, tetapi amat jelas sekali didengar, bahkan seperti berkumandang keluar dari samping badannya saja.
Koan Ing sendiripun merasa amat terperanjat, ketika dia menoleh ke belakang terlihatlah di samping jalan tidak jauh dari tempat itu muncullah seorang kakek tua berjubah hijau berdiri berjajar dengan seorang nona yang amat cantik sekali.
Ketika Koan Ing melihat ke arah gadis itu mendadak dia berdiri tertegun, terasa olehnya wajah nona itu seperti pernah di kenalnya.
Setelah berdiri termangu-mangu beberapa saat lamanya akhirnya teringat juga olehnya kalau gadis itu bukan lain adalah Sang Siauw-tan yang kemarin menyamar sebagai seorang lelaki.
Sang Siauw-tan yang kini sudah berganti memakai baju perempuan kelihatan sangat cantik sekali membuat dia saking terpesonanya berdiri melongo, Sang Siauw-tan segera mendengus dan menoleh ke arah lain pura-pura tidak melihat.
Koan Ing segera sadar kembali dari lamunannya, pikirnya di dalam hati, Jago berkepandaian tinggi semacam dia boleh dikata sangat sedikit jumlahnya, kakek berjubah hijau ini tentu si jari sakti Sang Su-im adanya, Gui Cun-pak maupun Cau Tok-soat sama sekali tidak menyangka secara tiba-tiba bisa muncul seorang yang berkepandaian demikian tingginya, bahkan kemunculannya tidak terasa oleh mereka.
Sinar mata dari Gui Cun-pak dengan berkelebat, tanyanya dengan suara berat.
"Siapa kau orang?"
"Tiang Gong Sin-cie, kau juga tidak kenal?"
Balas tanya si kakek tua berbaju hijau itu dingin.
Seketika itu juga Gui Cun-pak maupun Cau Tok-soat merasakan hatinya berdesir, walaupun di dalam hati mereka berdua sejak dulu sudah punya maksud untuk mencoba-coba ilmu silat dari empat manusia aneh tetapi nama besar dari Tiang Gong Sin-cie sudah cukup membuat hatinya keder, sehingga walaupun Sang Su-im kini sudah muncul dihadapan mereka, Gui Cun-pak berdua tidak berani memperlihatkan gerakan apapun.
Gui Cun-pak yang mendengar nama besar dari Tiang Gong Sin-cie segera merasakan hatinya berdebar-debar, sesudah berusaha menenangkan hatinya dia berteriak kepada isterinya.
"Hey nenek reyot, cepat bersiap sedia!"
Si rase perak Cau Tok-soatpun kelihatannya merasa terkejut juga, mendengar suara teriakan dari Gui Cun-pak dia menjadi sadar kembali, tubuhnya dengan cepat berkelebat berdiri di belakang badan Gui Cun-pak sedang tangan kanannya ditempelkan ke atas punggungnya.
Nama besar mereka berdua berada di bawah nama-nama Sian, Khei Sin, Mo empat manusia aneh, untuk menandingi kebesaran nama keempat orang itu mereka dengan amat rajinnya berlatih ilmu silat dan menciptakan suatu ilmu aneh dari tenaga gabungan untuk mengalahkan musuh-musuhnya.
Tiang Gong Sin-cie, Sang Su-im ketika melihat mereka berdua walaupun sudah mendengar nama besarnya bukannya lari pergi bahkan memperlihatkan gaya hendak melawan, membuat hatinya menjadi gusar.
Dengan dinginnya dia mendengus.
"Hmm.... hmm.... nama besar dari Thiat-lang Cien-hu aku orang sudah pernah mendengar, jika ini hari aku orang tidak kasi sedikit hajaran buat kalian, tentu kamu sekali tidak akan tahu tingginya langit dan tebalnya bumi."
Ooo)*(ooO Bab BEGITU selesai dia berbicara, tubuhnya dengan cepat berkelebat menubruk ke arah Cau Tok-soat.
Sejak Thiat-lang Cien-hu menciptakan ilmu ini, kali ini baru untuk pertama kalinya digunakan, sedang musuh yang dihadapipun merupakan Sang Su-im yang memiliki kepandaian silat yang paling tinggi pada saat ini, dalam hati mereka berdua tak terasa merasa tegang juga.
Begitu dilihatnya tubuh Tiang Gong Sin-cie berkelebat, saking tegangnya tanpa pikir panjang lagi Gui Cun-pak sudah mengirim satu pukulan dahsyat ke arah Sang Su-im.
Sang Su-im yang disebut sebagai Tiang Gong Sin-cie atau si jari sakti juga tentu kehebatan ilmu meringankan tubuh merupakan salah satu ilmu andalannya, sudah tentu pula sekali pukulan yang dilancarkan Gui Cun-pak tadi tidak mencapai pada sasarannya.
Gui Cun-pak Yang melihat serangannya mencapai sasaran kosong untuk menghindar sudah tidak sempat lagi, jari tangan Sang Su-im sudah berhasil menyandak punggung si rase perak Cau Tok-soat, segera Sang Su-im yang berhasil mencengkeram punggung diri Cau Tok-soat segera melemparkan badannya ke arah luar.
Ketika tangan kanannya diayunkan hatinya merasa sangat heran sekali, semula dia menganggap mereka berdua sedang menggunakan ilmu silat meminjam tenaga memukul lawan, walaupun ilmu tersebut mengutamakan tenaga dalam tetapi di dalam pandangan mereka sebagai jago-jago berilmu tinggi bukanlah suatu ilmu yang hebat.
Tetapi begitu dia melemparkan tubuh si rase perak Cau Tok-soat ke depan segera tertampaklah olehnya badan mereka berdua sama sekali tidak berpisah dan bersama-sama melayang ke depan.
Dia tersenyum, dia tahu ilmu tersebut tidak lebih gubahan dari ilmu tenaga dalam meminjam tenega menyerang musuh yang sudah diketahui olehnya.
Gui Cun-pak serta Cau Tok-soat yang terlempar ke tengah udara dengan cepat mereka berjumpalitan di tengah udara kemudian melayang turun kembali ke atas permukaan tanah dengan amat ringannya.
Gui Cun-pak menjongkokkan badannya ke bawah, diapun saking gusarnya seluruh wajah sudah berubah menjadi merah padam, dengan sepasang mata yang melotot keluar, dia memandang tajam diri Sang Su-im.
Begitu tubuh si rase perak mencapai permukaan tanah dia segera meloncat naik ke atas punggung Gui Cun-pak, pada mulanya mengeluarkan suara suitan kegusaran.
Rambutnya yang sudah memutih pada berkibar tertiup angin agaknya dia benar-benar merasa amat gusar ketika melihat mereka sudah terdesak di bawah angin.
Sang Su-im yang berhasil melemparkan tubuh mereka berdua ke tengah udara tapi melihat keadaan mereka sama sekali tidak gentarpun, dia tidak berani berlaku gegabah lagi.
Dia belum pernah bertempur secara langsung melawan mereka berdua, bahkan sekali pandang saja dia sudah dapat melihat kalau ilmu silat yang digunakan oleh Thiat-lang Cienhu ini sama sekali bukanlah ilmu silat biasa yang pernah ditemuinya.
Diapun tahu berhasilnya tadi semuanya dikarenakan sikap gegabah dari kedua orang itu, sehingga memberikan kesempatan dirinya untuk merebut kemenangan.
Walaupun dalam hati dia sudah mulai waspada tetapi pada air mukanya masih tetap tersungging suatu senyuman yang amat tawar kini ada orang di dalam kalangan, bilamana sampai orang-orang diluaran mengetahui kalau dia Tiang Gong Sin-cie masih harus bersikap hati-hati terhadap dua orang boanpwee harus ditaruh kemana wajahnya?
Dengan amat tajam Gui Cun-pak memperhatikan diri Sang Su-im, air mukanya sudah berubah menjadi merah padam, Mendadak tubuhnya bagaikan seekor katak meloncat ke depan, sepasangnya tangannya melancarkan satu pukulan yang amat dahsyat menghajar tubuh Sang Su-im, pukulan yang dilancarkan keluar terasa amat aneh sekali, Sang Su-im tertawa terbahak-bahak, pikirnya.
"Hmm, dugaanku sedikitpun tidak salah, ilmu silat mereka berdua tidak lebih hanya gubahan dari ilmu meminjam tenaga yang sering terdapat di dalam Bu-lim, Dia tidak ingin memberi perlawanan kepada mereka dengan menggunakan ilmu jari saktinya, dia merasa jikalau untuk melawan manusia semacam inipun dia harus mengeluarkan ilmu jari saktinya bukankah nama baiknya di dalam dunia kangouw akan terganggu? Dengan kepandaian silat yang dimiliki Sang Su-im sekarang ini boleh dikata setiap jurus serangan dari setiap partai mau pun perkumpulan dia mengetahuinya dengan amat jelas, dengan enaknya dia melancarkan tiga pukulan sekaligus dengan menggunakan jurus Sin Toh Pat Ciang atau ilmu delapan pukulan unta sakti dari Thian-san-pay. Thiat-lang Cien-hu yang berdempet menjadi satu juga satu orang saja dengan Gui Cun-pak yang melancarkan serangan di dalam sekejap saja merekapun sudah melancarkan tiga puluh jurus banyaknya. Sang Su-im yang melawan mereka berdua dengan menggunakan jurus-jurus serangan yang acak-acakan sudah cukup membuat dia berada di atas angin, sudah tentu dia semakin tidak memandang sebelah mata pun kepada mereka lagi. Tadi dalam hatinya tak urung merasa sedikit terkejut juga, tak disangka olehnya kedua orang manusia ini masih mempunyai sedikit ilmu simpanan yang begitu hebat bahkan jurus-jurus serangan yang digunakan untuk menyerang dirinyapun bisa memaksa dirinya harus berpikir dulu sebelum melancarkan serangan. Di dalam pertempuran yang amat sengit itu tak hentihentinya Sang Su-im berpikir terus, dia tahu jikalau dia harus bertempur sebanyak lima puluh jurus banyaknya masih belum sanggup memukul rubuh mereka berdua maka namanya di dalam Bu-lim akan merosot. Pada saat Sang Su-im sedang merasa amat murung itulah mendadak Thiat-lang Cien-hu bersama-sama bersuit panjang Cien-hu meloncat turun dari punggung Thiat-lang lantas mereka berdua dengan empat telapak tangan bersama-sama melancarkan serangan menghantam Sang Su-im. Sang Su-im Yang pikirannya sedang bercabang, kini melihat serangan musuh begitu gencar, hatinya merasa amat terperanjat saat inilah empat buah angin pukulan sudah berada di hadapannya membuat dia benar-benar terkejut. Dengan cepat dia membentak keras, sepasang telapaknya bersama-sama melancarkan pukulan dahsyat ke depan.
"Braaaak....!"
Di tengah suara benturan yang amat keras sehingga menggetarkan seluruh permukaan bumi, angin pukulan mereka berdua sudah berhasil dipukul balik oleh angin pukulannya.
Tanpa menanti mereka berdua berganti serangan kembali dengan perasaan amat gusar dia menjentikkan jari tengah serta jari telunjuk tangan kanannya.
"Sreet! Sreet....!"
Dua gulung angin serangan memecahkan kesunyian dengan amat cepatnya menghajar tubuh mereka berdua.
Untuk menghindar tidak sempat lagi, tanpa mengeluarkan sedikit suarapun Thiat-lang serta Cien-hu rubuh ke atas tanah terhajar oleh sentilan tersebut.
Sang Su-im segera mendengus, dia mundur satu langkah ke belakang kemudian melirik sekejap ke arah Koan Ing, pikirnya.
"Jika aku betul-betul menggunakan ilmuku yang sebenarnya mereka tidak akan tahan lebih lama."
Tangannya dengan cepat bergerak kembali membebaskan jalan darah mereka yang tertotok, ujarnya dengan amat dingin.
"Ini hari aku lepaskan kalian pergi, lain kali jika sampai bentrok lagi dengan aku si orang tua, hmmm, kalian harus tahu tidak semudah ini aku mau lepaskan kalian."
Gui Cun-pak serta Cau Tok-soat yang sudah mengeluarkan ilmu andalan mereka Thian Ku Yu Gong, atau burung elang meloncat di langit tetapi berhasil ditotok rubuh juga oleh Sang Su-im hanya di dalam satu kali kebutan saja, membuat hati mereka berdua rada merasa sedih.
Pada waktu yang lalu dalam hati mereka sudah menaruh minat untuk menjajal ilmu silat dari empat manusia aneh kemudian merebut nama besar di dalam Bu-lim, siapa sangka baru bertemu dengan saleh satu dari empat manusia aneh mereka sudah berhasil dipukul rubuh, saat itulah mereka baru tahu kalau kepandaian silat yang dimiliki mereka masih terpaut amat jauh dari kepandaian empat manusia aneh.
Kini mendengar Sang Su-im mau melepaskan mereka dari kematian membuat hati mereka merasa amat girang, tanpa mengucapkan sepatah katapun mereka berdua saling pandang sekejap kemudian tanpa menoleh lagi sudah melarikan diri terbirit-birit, di dalam sekejap saja sudah lenyap tanpa bekas.
Koan Ing yang melihat pertempuran antara mereka bertiga di dalam hari diam-diam merasa amat terperanjat.
dengan keanehan dari ilmu silat mereka bertiga boleh dikata baru pertama kali ditemuinya selama hidupnya.
Setelah Thiat-lang Cien-hu meninggalkan tempat itu, dengan perlahan Sang Siauw-tan melirik sekejap ke arah Koan Ing kemudian ujarnya kepada diri ayahnya Sang Su-im.
"Tia, kemarin hari orang ini sudah menolong aku satu kali, kali ini lepaskanlah dia pergi."
Sang Su-im menyapu sekejap ke arah diri Koan Ing.
"Urusan ini kau ingin diselesaikan secara bagaimana terserahlah kau lakukan sendiri,"
Ujarnya sambil tertawa tawar. Sang Siauw-tan dengan amat congkaknya segera menoleh ke arah Koan Ing, ujarnya sambil mencibirkan bibirnya.
"Hey, kaupun boleh pergi, sejak saat ini kita sama-sama tidak berhutang budi, lain kali kau harus sedikit berhati-hati."
Mendengar perkataan itu, dalam hati Koan Ing merasa sangat tidak senang tetapi diapun tidak bisa berbuat apa-apa terhadap mereka berdua, karena kepandaian silat yang dimilikinya sampai sekarang ini belum sanggup untuk mengalahkan dia.
Terpaksa dengan hati mendongkol dia tidak memberikan reaksi, apalagi mengingat nyawanyapun baru saja ditolong oleh Sang Su-im sewaktu Thiat-lang hendak mencabut nyawanya tadi.
Ketika Sang Siauw-tan melihat Koan Ing saking gusarnya sudah berdiri termangu-mangu disana tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun, dengan amat bangga dia lemparkan satu senyuman manis.
"Tia, mari kita pergi,"
Ajaknya kemudian kepada ayahnya.
Sehabis berkata dengan tangan menggandeng Sang Su-im mereka berdua pergi meninggalkan tempat itu.
Kini tinggal Koan Ing seorang diri yang berdiri termangumangu disana dengan hati yang mangkel dan mendongkol, dia memandang bayangan tubuh Sang Su-im ayah beranak yang meninggalkan tempat itu, pikirnya.
"Hmm, sekalipun kau orang sudah menolong nyawaku tetapi tidak seharusnya bersikap begitu kasar terhadap aku."
Berpikir sampai disitu, tak tertahan lagi dia mendepakkan kakinya ke atas tanah.
Sebenarnya diapun ingin turun gunung, tapi ketika dilihatnya Sang Su-im ayah beranak pun mengambil jalan itu, dia segera membatalkan niatnya, sebaliknya malah menuntun kudanya menuju ke tengah gunung.
Kurang lebih sepertanak nasi kemudian mendadak di jalanan gunung di hadapannya muncul seorang kakek tua yang kurus kecil sedang memandang dirinya dengan pandangan yang sangat dingin.
Koan Ing menjadi amat terperanjat, bukankah orang itu srigala baja Gui Cun-pak adanya?
Tidak disangka sama sekali olehnya kalau dia orang ternyata tidak pergi, kelihatannya dia sengaja datang mencari dirinya.
Ketika dia menoleh ke belakang tampaklah di tengah jalanan sudah bertambah lagi dengan seseorang yang bukan lain adalah si rase perak Cau Tok-soat.
"Hey orang muda,"
Terdengar Gui Cun-pak berkata sambil tertawa dingin tak henti-hentinya.
"Kau tak akan lolos lagi dari tempat ini, sejak tadi aku sudah menduga kalau Sang Su-im pasti akan pergi meninggalkan kau seorang, kami masih ada beberapa patah kata hendak ditanyakan kepadamu."
Ketika Koan Ing melihat jalan mundurnya sudah terhadang, hatinya terasa amat berat, sepatah katapun tidak dapat diucapkan. Cau Tok-soat yang ada di belakangpun ikut membuka bicara.
"Sebetulnya kami mengira kepandaian silat kami sudah seimbang dengan kepandaian empat manusia aneh itu tapi sekarang kami baru tahu kalau kepandaian kami agaknya hampir-hampir jauh tertinggal.
"Asalkan kau mau membawa kami mencari jejak kereta berdarah itu, kami segera akan lepaskan kau pergi,"
Sambung Gui Cun-pak lagi sambil tertawa dingin.
Koan Ing tetap membungkam di dalam seribu bahasa, dalam ingatannya dia terus menerus memikirkan urusan yang lain.
Terdengar Cau Tok-soat tertawa dingin lagi.
"Dengan kepandaian silat yang kau miliki sekarang ini tidak ada kesempatan lagi buat kau memilih-milih."
Ujarnya.
"Kau bisa menguntit dari daerah Siang Kiang sampai disini sudah tentu mempunyai keterangan yang lebih luas lagi untuk membawa kami menemukan kereta berdarah tersebut. Kini Koan Ing terjebak kembali ke dalam hal yang sangat membahayakan, pikirannya segera berputar, batinnya, Jika aku berhasil melatih ilmuku sehingga berada seimbang dengan kepandaian empat manusia aneh maka tak akan ada lagi manusia yang berani mencari setori dengan aku...."
Kini dia tidak dipandang sebelah mata pun oleh Sang Siauw-tan, semuanya dikarenakan ilmu silat yang dimilikinya tidak cukup, kalau tidak mana mungkin Sang Siauw-tan berani memandang begitu rendah kepada dirinya?
Hmm....
pada satu hari dia harus memperlihatkan kepandaian silat yang sesungguhnya di hadapan Sang Siauw-tan.
Gui Cun-pak yang melihat Koan Ing sedang termangumangu tanpa mengucapkan sepatah katapun, segera dengan dingin dia mendengus.
"Kau jangan pikirkan permainan busuk terhadap diriku?"
Bentaknya dengan keras.
Koan Ing yang dibentak oleh Gui Cun-pak segera tersadar kembali dari lamunannya, dia menyapu sekejap ke arah dua orang itu, tiba-tiba dalam hatinya timbul suatu perasaan yang amat aneh, pikirnya lagi, Jikalau ini hari aku tidak sanggup untuk melawan mereka berdua, buat apa pergi belajar ilmu silat yang lebih hebat lagi.
Pikiran yang sangat aneh ini, berkelebat di dalam benaknya, di dalam sekejap saja dia tidak memikirkan kembali mati hidupnya.
tubuhnya dengan cepat meloncat ke atas, tangan kanannya dibabat dengan dahsyatnya menyambit pedang pendek itu ke arah musuh kemudian tubuhnya sendiri berlari dengan cepat ke arah atas musuh.
Gui Cun-pak serta Cau Tok-soat sama-sama tidak menyangka kalau Koan Ing berani melarikan diri, untuk beberapa saat lamanya mereka berdua berdiri tertegun, pikirnya.
"Hmm.... bocah ini sudah tidak ingin nyawanya sendiri? Kenapa dia orang tidak pikir-pikir dulu apa bisa lolos dari tangan kami berdua?"
Sebentar kemudian mereka berdua sudah sadar kembali dari lamunannya, dengan cepat tubuhnya meloncat ke atas tetapi bersamaan dengan itu pedang pendek yang di sambit oleh Koan Ing tadi dengan tepat menyambar di hadapan mereka.
Dengan cepat Gui Cun-pak menerima pedang tersebut, di dalam sekilas pandang saja dia sudah melihat kalau pada tubuh pedang pendek itu tergoreslah sebuah goresan merah darah, bukankah pedang ini merupakan tanda dari partai Hiatho-pay?
Tak tertahan lagi dia menjerit tertahan.
Tubuh Cau Tok-soat dengan amat cepatnya meluncur ke depan, saat ini di dalam pikiran mereka semua sudah menganggap kalau Koan Ing pasti tahu jejak dari kereta berdarah itu karenanya mereka tidak akan melepaskan kembali mangsanya dengan begitu saja.
Kini tubuh Koan Ing sudah berada kurang lebih sepuluh kaki dari mereka berdua, tetapi mereka berdua yang sudah mengambil keputusan untuk menawan dia tubuhnya berkelebat semakin kencang lagi, satu dari kiri yang lain dari kanan dengan amat cepatnya mengejar diri Koan Ing.
Koan Ing begitu melayangkan badannya ketika melihat kedua orang musuhnya masih ada kurang lebih sepuluh kaki jauhnya dari dalam hatinya telah timbul suatu harapan, sinar matanya dengan cepat menyapu sekejap ke arah sekelilingnya kemudian dengan amat cepatnya berlari masuk ke dalam sebuah buian yang amat lebat sekali, Tetapi jalanan di sekitar gunung ini, Si Thiat-lang Cien-hu jauh lebih paham daripada Koan Ing.
Ketika mereka berdua melihat tubuh Koan Ing dengan amat cepatnya berkelebat masuk ke dalam hutan yang amat lebat itu, dalam hati diam-diam merasa amat gusar, mereka heran apakah pemuda itu tidak pernah memikirkan kalau dia tidak akan lolos dari tangan mereka berdua?
Baru saja tubuhnya mencapai pinggiran hutan itu mereka berdua sudah berhasil mengejar diri Koan Ing tidak lebih lima kaki di belakang tubuhnya.
Koan Ing sama sekali tidak pernah menyangka kalau gerakan tubuh mereka berdua bisa begitu cepatnya, dia benar-benar merasa amat terperanjat.
Matanya segera memandang ke depan, sesudah memutar dua kali di sekeliling hutan itu tubuhnya dengan cepat meluncur naik ke atas sebuah pohon besar.
Gui Cun-pak serta Cau Tok-soat yang berhasil mengejar hingga sangat dekat dengan Koan Ing mendadak kehilangan jejak Koan Ing membuat mereka berdiri tertegun, tapi dengan cepatnya sudah sadar kembali, mereka merasa Koan Ing tentu sudah bersembunyi di suatu tempat.
Dengan dingin mereka segera mendengus, Koan Ing tentu sudah bersembunyi di atas pohon....
tapi sekalipun begitu apa dia kira bisa lolos dari kejarannya?
Koan Ing yang berhasil bersembunyi di atas Pohon, diapun tahu jelas kalau dia orang tidak akan begitu mudah bisa lolos dari pengawasan mereka berdua.
Walaupun dalam hati dia tahu sekalipun dirinya terjatuh ke tangan si Thiat-lang Cien-hu demi kereta berdarah berdua tidak akan berbuat sesuatu terhadap dirinya, tetapi hatinya tak urung merasa murung juga.
Matanya dengan melotot lebar-lebar memperhatikan keadaan di sekeliling tempat itu, dia mau cari adakah tempat yang bisa di gunakan untuk meloloskan diri.
Tetapi dia tidak berani banyak bergerak, kini Gui Cun-pak serta Cau Tok-soat sudah berada tidak jauh dari pohon dimana dia bersembunyi, sedikit dia berisik saja segera akan diketahui oleh mereka.
Terdengar dengan amat dinginnya Cau Tok-soat membentak.
"Hey, Koan Ing, kau jangan mengira bisa melarikan diri seenaknya, bila aku berhasil menemukan dirimu, pertama-tama akan aku putuskan dulu sepasang kakimu."
Koan Ing menjadi amat terkejut, dia tahu jika Cau Tok-soat sudah mengatakan begitu maka dia bisa melakukannya.
Sinar matanya segera menyapu sekejap ke arah sekeliling tempat itu, terlihatlah tidak jauh dari tempat dianya berada di atasnya sebuah pohon terdapatlah sebuah gua yang amat lebar, Pikirannya segera bergerak, dengan perlahan dia turun dari pohon tersebut kemudian dengan cepatnya berkelebat menyusup ke dalam gua di tengah pohon tersebut.
Gerakannya kali ini tidak akan kedengaran oleh Thiat-lang Cien-hu mereka berdua, tetap, dia sama sekali tidak menyangka kalau dalamnya gua itu mencapai puluhan kaki.
Ketika kakinya menginjak dalam gua itu dia segera merasakan kakinya menginjak suatu tempat yang kosong.
Dia menjadi amat terperanjat, terasalah keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, dia bukannya takut terjatuh kedalam, cuma dia takut suara yang ditimbulkan akan diketahui oleh Thian Lang Cien-hu yang ada di depan, jikalau mereka ikut masuk ke dalam gua bukankah dirinya tidak akan lolos kembali dari tangan mereka?
Tubuh Koan Ing dengan cepat jatuh di atas permukaan tanah, baru saja dia mau bangkit berdiri, sekali lagi hatinya merasa sangat kaget, terlihatlah di samping tempat itu terdapatlah sebuah jalan di bawah tanah itu, pikirnya.
"Jika aku tertangkap kembali oleh mereka berdua, mereka pasti akan menyiksa diriku habis-habisan, daripada menunggu di sini, baiknya aku bersembunyi di dalam jalan di bawah tanah itu saja.... jika mereka menyusul turun juga mengambil kesempatan mereka tidak bersiap sedia akan melancarkan satu serangan bokongan mengobrak-abrik mereka, sedikit2nya bisa juga menerima kembali pokoknya."
Berpikir sampai di sini, Koan Ing segera menyembunyikan dirinya, terdengarlah suara tindakan kaki semakin lama semakin mendekat dan akhirnya berhenti di luar pintu gua itu tetapi mereka berdua sama sekali tidak masuk ke dalam, mereka berjaga-jaga di sana.
Sedang Koan Ing merasa keheranan mendengar Gui Cunpak yang ada di luar sudah berseru dengan suaranya yang amat berat.
"Koan Ing, kau keluarlah, kami tidak akan melukai dirimu,"
Mendengar perkataan itu Koan Ing mengerutkan alisnya rapat-rapat, pikirnya di dalam hati.
"Perkataan orang semacam itu tidak bisa dipercaya, mereka takut aku membokong, mereka lalu sengaja mengucapkan kata-kata tersebut agar aku terpancing keluar."
Lama sekali dia termangu mangu tapi tidak terdengar juga suara dari luaran kali ini sebaliknya malah membuat hatinya merasa sangat cemas, kenapa Gui Cun-pak serta Cau Tok-soat tidak ikut turun kemari?
Pikirannya berputar?
Memikirkan berbagai urusan, jikalau Thiat-lang serta Cien-hu sudah melakukan persiapan dengan kepandaian yang dimiliki mereka sekarang ini tidak mungkin bisa terbokong oleh dirinya tapi kenapa mereka berjaga2 saja di tempat luaran?"
Mereka tidak punya alasan yang kuat untuk mengharuskan dirinya keluar dari tempat ini, Lama sekali barulah Koan Ing mendengar suara berbisikbisik dari mereka berdua cuma dia tidak mendengar dengan jelas apa soalnya, Lewat beberapa saat lagi terdengar suara yang amat ringan bergema di dalam ruangan bawah tanah itu, dia tahu salah satu di antara dua orang itu sudah turun ke bawah, kini hatinya malah sebaliknya terasa amat tegang, sepasang matanya dengan amat tajam memperhatikan mulut pintu gua tersebut, Terlihatlah sesosok bayangan manusia meloncat turun ke bawah, dengan cepat Koan Ing mencabut pedangnya, di dalam sekejap saja dia sudah melancarkan tiga kali serangan.
"Orang yang baru saja turun itu agaknya sama sekali tidak menyangka Koan Ing bisa berbuat demikian,"
Dengan gusarnya dia mendengus dan balas melancarkan tiga serangan dahsyat.
Keadaan di dalam ruangan gua itu amat sempit dan kecil sekali lagi pula Koan Ing melancarkan serangan dengan menggunakan ilmu Thian-yu Kiam Hoat yang merupakan ilmu yang dahsyat untuk beberapa saat lamanya orang itu tak dapat mengapa-apakan diri Koan Ing.
Dari suara dengusan orang itu, Koan Ing bisa dapat tahu kalau orang itu bukan lain daripada si srigala baja Gui Cunpak.
Sepuluh jurus dengan cepatnya berlalu, tiba tiba....
Plaaak....
pedang panjang di tangannya berhasil dipukul lepas dari tangannya.
Koan Ing tahu dia tidak boleh bertempur lebih lama lagi, tubuhnya segera merendah menerobos masuk ke dalam ruangan goa yang lebih dalam lagi, dia bermaksud sesudah menempatkan suatu jarak yang cukup jauh, kemudian mencari suatu tempat yang persembunyiannya lebih baik untuk sekali lagi turun tangan membokong diri Gui Cun-pak.
Gui Cun-pak yang ada di dalam goa, walaupun kepandaian silatnya jauh lebih tinggi dari kepandaian silat dari Koan Ing tetapi gerakan tubuhnya tidak seberapa jauh lebih cepat dari gerakan Koan Ing, karenanya mereka berdua satu di depan yang lain di belakang dengan amat cepatnya sudah berlari sejauh sepuluh kaki lebih.
Koan Ing yang berlari di depan, ketika secara tiba-tiba tidak mendengar lagi suara tindakan kaki dari Gui Cun-pak yang sedang melakukan pengejaran ke arahnya, tak terasa lagi sudah berdiri termangu.
Dia menanti beberapa waktu lamanya di sana tetapi tak terdengar juga suara dari Gui Cun-pak yang sedang mengejar, hatinya merasa sangat heran sekali, pikirnya.
"Hmm.... buat apa aku menunggu dirinya, baiknya aku maju terus ke depan, coba lihat disana apa ada jalan keluar tidak...."
Berpikir sampai disini dia segera berjalan maju ke depan.
Kurang lebih sepuluh kaki di hadapannya telah muncul sebuah ruangan batu yang amat besar.
Dalam hati Koan Ing sangat heran sekali, dia segera bangkit berdiri, dengan meminjam sinar terang yang memancar masuk ke dalam gua dia berjalan terus ke depan.
Tampaklah luas ruangan batu itu ada kurang lebih puluhan kaki, pada ujung ruangan itu duduklah sesosok mayat manusia yang sudah mengering, di tempat lain terdapat juga beberapa tengkorak manusia.
Dalam hati dia merasa sangat heran, pikirnya.
"Heeeh.... sungguh heran, di tempat sini ternyata ada sebuah ruangan yang demikian besar, tidak kusangka sama sekali ada juga orang yang mau mendiami tempat yang lebih mirip dengan tempat ini."
Sesudah berdiri termangu-mangu beberapa saat lamanya dengan perlahan dia berjalan mendekati mayat tersebut.
Tapi baru saja dia orang angkat kakinya maju ke depan, mendadak mayat yang sudah mengering itu meloncat ke atas kemudian bagaikan kilat cepat meluncur ke arahnya.
Dia menjadi sangat terperanjat, di dalam anggapannya dia sudah mengira orang itu adalah sesosok mayat, sama sekali tidak terduga kalau ternyata dia adalah seorang manusia hidup.
Melihat datangnya serangan dari orang itu tangan kanannya dengan cepat melancarkan serangan dengan menggunakan jurus Thian Hong Coa Lok atau pelangi langit menutup jalan dari ilmu telapak Thian-yu Ciang Hoat.
Tapi baru saja dia melancarkan serangan itu sampai di tengah jalan, tangan kanannya sudah berhasil dicengkeram oleh orang itu, terasalah olehnya pergelangan tangannya amat panas seperti dibakar, sakitnya luar biasa.
Dengan menyeret tubuh Koan Ing tubuh orang itu berputar setengah lingkaran di tengah udara kemudian melayang kembali ke tempat semula, teriaknya dengan amat gusar.
"Kau muridnya Cu Yu?"
Koan Ing menjadi tertegun, dia sama sekali tidak menduga dengan serangannya tadi dia sudah mengetahui asal usul perguruannya sendiri.
Ketika dia angkat kepalanya memandang terlihatlah sepasang mata orang itu sudah dicongkel keluar, kini sepasang matanya berlobang tak berisi sedang sepasang kakinya pun sudah terbabat putus keadaannya sangat mengerikan sekali.
Hatinya menjadi sangat terperanjat, sepasang kaki orang itu sudah putus sedang matanya pun buta tetapi kepandaian silatnya sangat tinggi sekali, kelihatannya tidak berada di bawah silat empat manusia aneh, siapakah sebenarnya orang ini?
Kenapa sebelumnya dia belum pernah mendengar adanya manusia semacam ini?
Koan Ing yang di dalam sekali gebrakan saja sudah berhasil ditawan pihak musuh, bahkan diketahui juga asal perguruannya dia benar-benar merasa amat terperanjat.
"Apakah orang ini mempunyai dendam sakit hati dengan suhunya pada masa yang lalu?"
Melihat wajahnya yang amat aneh itu dalam hati tak terasa lagi timbul perasaan bergidik yang membuat bulu romanya pada berdiri.
Ketika orang aneh itu melihat dia orang tidak mengucapkan sepatah katapun tangan kanannya segera diayun melemparkan tubuhnya ke pojokan ruangan.
"Manusia tidak punya semangat."
Serunya sambil tertawa dingin. Ooo)*(ooO Bab Koan Ing yang dilemparkan orang aneh itu ke ujung ruangan sama sekali tidak punya tenaga untuk melawan.
"Braaak!"
Punggungnya dengan sangat keras menghajar dinding ruangan tersebut. Ketika mendengar orang aneh itu mengejek dirinya tidak punya semangat hatinya amat gusar, sambil merangkak bangun teriaknya nyaring.
"Suhuku memang si pendekar pedang menyendiri dari gunung Chiu Leng!"
Agaknya orang aneh itu sudah menduga kalau dia bisa berkata demikian, pada wajahnya sama sekali tidak kelihatan perubahan yang aneh, dia duduk termangu-mangu beberapa saat lamanya agaknya sedang mengingat kembali suatu urusan.
Lama sekali baru terdengar dia berseru dengan suara berat.
"Kau kemarilah...."
Koan Ing yang sudah dibuat keder oleh ilmu silat orang aneh itu menjadi rada ragu-ragu, tetapi ketika teringat kembali kalau si orang aneh itu sudah memaki dirinya sebagai manusia tidak becus hatinya terasa panas juga, segera dia berjalan ke arah orang aneh itu dan berhenti kurang lebih tiga langkah di hadapannya, dia takut manusia aneh itu turun kembali menyerang ke arahnya, karena itu dengan amat waspada di a memperhatikan terus gerak-geriknya.
Terdengar si orang aneh itu dengan amat dingin mendengus.
"Kesini maju lebih dekat lagi!"
Serunya keras. Dalam hati Koan Ing merasa mendongkol juga, pikirnya.
"Hmmm kenapa aku harus takut untuk maju lebih dekat lagi? Apa kau kira aku takut dengan kau orang?"
Berpikir sampai disini dia segera maju kembali ke depan.
Tetapi baru saja kaki kirinya maju lagi satu langkah mendadak tubuh orang aneh itu bergerak tangan kanannya berputar satu lingkaran di depan dada kemudian melancarkan satu pukulan dahsyat ke arahnya.
Koan Ing menjadi amat terperanjat untuk menghindar tidak sempat lagi, tubuhnya miring ke samping, dengan tepatnya menerima hajaran dari orang aneh tersebut.
"Braaak....!"
Sekali lagi punggungnya tertumbuk pada dinding ruangan membuat seluruh tubuhnya terasa pegal linu.
Dengan cepat dia meloncat bangun dari atas tanah tak terasa hatinya bergidik juga.
Jelas sekali ilmu pukulan Yang baru saja digunakan itu bukan lain adalah Sim Hoat tingkat atas dari ilmu sakti Thianyu Khei Kang tetapi kemantapan dari pukulan serta kecepatan dan geraknya jauh di atas suhunya sendiri, dia menjadi bingung sendiri.
Pikirnya.
"Aku belum pernah mendengar di dalam perguruan ada orang semacam ini, tapi jelas dia menggunakan ilmu Thian-yu Khei Kang?"
Terdengar orang itu berdiam diri sebentar kemudian ujarnya dengan serius.
"Cepat jatuhkan diri berlutut memberi hormat kepada supekmu Thian-yu Khei Kiam, Kong Bun-yu."
Koan Ing menjadi melengak, dia pernah mendengar cerita dari suhunya katanya supek Kong Bun-yu adalah seorang lelaki tampan yang dandanannya amat perlente, mana mungkin dia orang bisa berubah seperti begini?
Menurut suhunya supeknya Kong Bun-yu pernah bergaul rapat dengan seorang perempuan, tetapi dia orang tua tidak menjelaskan lebih luas lagi.
Tak disangka Kong Bun-yu yang ditemuinya sekarang ternyata berwajah begitu aneh dan mengerikan sekali, walaupun begitu mana dia tahu supeknya ini termasuk di dalam salah satu empat manusia aneh, dia sendiri harus menaruh rasa hormat kepadanya.
Setelah termangu-mangu beberapa waktu dia lantas jatuhkan diri berlutut.
"Koan Im menghunjuk hormat kepada supek."
"Hmm.... bagaimana kau bisa sampai di tempat ini?"
"Tecu didesak oleh Thiat-lang Cien-hu."
Ketika Kong Bun-yu mendengar disebutnya nama Thiatlang Cien-hu tampak suatu hawa amarah terlintas pada wajahnya, dia mendengus dingin tapi tidak mengucapkan sepatah katapun.
Koan Ing segera menceritakan kisahnya bagaimana dia terdesak masuk ke dalam ruangan di bawah tanah ini, Agaknya Kong Bun-yu sama sekali tidak punya minat untuk mendengarkan kisahnya, segera dia bertanya.
"Keadaan suhumu apakah baik-baik saja?"
Mendengar Kong Bun-yu mengungkit kembali suhunya, dia segera palingkan wajahnya memandang tajam wajah suheng suhunya.
"Keadaan tubuh suhu beberapa waktu ini kurang memuaskan, sesudah lama dia orang tua tidak dapat turun dari pembaringan."
"Lama.... tempo hari suhu sudah terkena satu pukulanku, kini sudah tentu tidak akan tahan lagi. Mendengar perkataan tersebut Koan Ing merasakan hatinya tergetar amat keras mendadak dia bangkit berdiri. Dia yang sejak kecil dididik dan di besarkan oleh Cu Yu sudah menganggap gurunya seperti ayahnya sendiri, kini mendengar perkataan dari Kong Bun-yu sudah tentu hatinya merasa amat terkejut bercampur gusar. Walaupun sepasang mata dari Kong Bun-yu sudah buta tapi segala gerak-gerik dari Koan Ing tidak dapat luput dari pengawasannya, mendadak tangan kanannya menyambar ke depan mengirim satu pukulan, Kraak....! Tulang tengkorak yang ada dipolkan ruangan sudah terpukul hancur oleh angin pukulannya.
"Heee.... heee...."
Serunya dengan suara berat.
"Walaupun peristiwa tempo hari dikarenakan kesalahanku, tetapi aku adalah supekmu kau berani berlaku kurangajar di hadapanku?"
Koan Ing yang melihat air muka Kong Bun-yu amat murung dan sedih, dia menjadi termangu-mangu, ini adalah urusan dari kaum angkatan tua mana boleh dia orang ikut mencampurinya?
Terpikir akan hal ini tak tertahan lagi titiktitik air mata menetes keluar membasahi pipinya.
Kong Bun-yu pun duduk termenung tak berbicara, lama sekali baru terdengar dia berkata lagi.
"Pada saat seperti ini kau bisa tiba di sini sungguh bagus sekali...."
Koan Ing segera menghapus bekas air matanya dengan menggunakan tangannya, kini dia sedang memikirkan bagaimana keadaan dari suhunya Cu Yu sekarang sehingga perkataan dari Kong Bun-yu sama sekali tidak terdengar olehnya.
Agaknya Kong Bun-yu tahu apa yang sedang dipikirkannya oleh Koan Ing, dengan dinginnya dia mendengus.
"Hmm.... seorang lelaki sejati tak akan merasa kesusahan untuk memikirkan suatu urusan."
Koan Ing segera mengerutkan alisnya, dia tidak ingin dipandang remeh Kong Bun-yu, dengan nada melawan teriaknya.
"Peristiwa yang sudah lampau sudah tentu aku tidak mau ikut campur, tetapi akibat yang diderita suhuku sekarang adalah diakibatkan oleh kau orang, kalau begitu aku bukanlah sutitmu, kau pun bukanlah supekku!"
Pada wajah Kong Bun-yu segera terlintas hawa amarahnya, sambil tertawa keras teriaknya.
"Bagus, punya semangat.... punya semangat...."
Seusai berkata, air mukanya berubah menjadi amat serius, ujarnya kembali.
"Tapi kau jangan melupakan satu hal, perguruan Thian-yu masih ada aku sebagai ciangbunjinnya, sedang suhupun belum di keluarkan dari perguruan, jikalau kau tidak ingin memanggil aku sebagai supek aku tidak akan memaksa tetapi kau orang harus mengerjakan satu urusan dulu."
Dengan pandangan tajam Koan Ing memperhatikan diri Kong Bun-yu, tidak tahu apa arti dari perkataan ini, Tetapi urusan ini menyangkut soal perguruan sedang Kong Bunyupun merupakan seorang ciangbunjin perkataan yang diucapkan tidak mungkin bisa bernada guyon.
Sepasang telapak tangan Kong Bun-yu segera direntangkan dan lantas telapak tangannya mencengkeram sebuah batok kepala dari tengkorak itu pada saat itu tenaganya disalurkan segera terdengarlah suara yang amat keras kedua buah batok kepala tengkorak manusia itu sudah tercengkeram hancur sehingga berubah menjadi bubur.
"Heee.... heee.... kecuali kau bisa memisahkan hancuran tulang-tulang batok kepala yang baru aku lakukan sekarang ini."
Ujarnya tawar.
Koan Ing menjadi tertegun, di tempat kegelapan semacam ini harus memisahkan tumpukan bubuk batok kepala ini?
Ketika Koan Bun-yu mendengar lama sekali Koan Ing tidak mengucapkan sepatah katapun, dia segera mendengus, ujarnya dingin.
"Kedua orang ini sudah menerjang masuk ke tempatku sehingga aku binasakan diri mereka pada tiga tahun yang lalu, cuma urusan yang demikian kecilnya saja kau tidak bisa lakukan masih berkata mau berbuat pekerjaan yang lain? hmmm"
Koan Ing yang dipanasi oleh perkataan Kong Bun-yu ini sepasang alisnya-segera dikerutkan rapat-rapat.
"Kenapa tidak bisa?"
Teriaknya keras.
Selesai berkata dia berjalan maju ke depan dan memandang ke arah sana, terlihatlah batok kepala tengkorak tersebut sudah dicengkeram menjadi bubuk halus oleh tenaga pencetan sepasang telapak Kong Bun-yu sehingga menjadi setumpuk bubuk berwarna abu-abu, hal ini membuat hatinya tertegun.
Kong Bun-yu tidak ambil perduli Koan Ing lagi, dengan amat tenangnya dia duduk tak berbicara.
Koan Ing benar-benar dibuat tertegun oleh keadaan yang dihadapinya, dia bingung harus berbuat bagaimana baiknya, keadaan di dalam gua itu sebenarnya sudah amat gelap apa lagi cuaca pada saat itu sudah menjelang malam membuat keadaan di dalam gua saking gelapnya sukar untuk melihat lima jarinya sendiri.
Kong Bun-yu tidak berbicara lagi dari atas tembok dia memetik sebuah jamur dimasukkan ke dalam mulut terus dikunyah.
Melihat keadaan yang begitu mengerikan dengan mata terbelalak mulut melongo Koan Ing memandang diri Kong Bun-yu agaknya Kong Bun-yu sudah terbiasa hidup di tempat itu dengan menggantungkan daripada jamur, tetapi dengan kehebatan dari ilmu silatnya, bagaimana mungkin dia bisa terjatuh hingga ke dalam keadaan semacam ini?
Koan Ing seorang diri termenung memikirkan banyak pertanyaan, tetapi Kong Bun Yo tidak menggubris dirinya lagi.
Ia sendiri memejamkan matanya berlatih pernapasan, terlihatlah sepasang tangannya dengan mendatar, dada diangkat ke atas kemudian membentuk setengah lingkaran di tengah udara.
Dimana tangan Kong Bun-yu berkelebat pada udara segera terdengar suara deburan yang amat berat.
Dalam hati Koan Ing menjadi sangat terperanjat, ilmu silat dari Thian-yu-pay selamanya berbeda jauh dengan ilmu silat partai lain, di dalam melatih tenaga dalam bukannya mengutamakan ketenangan sebaliknya mengutamakan gerak, kedahsyatan tenaga dalam yang dimiliki Kong Bun-yu sekarang ini menurut penglihatannya mungkin masih jauh lebih tinggi dari kepandaian si Tiang Gong Sin-cie Sang Su-im.
Sinar terang semakin redup sepasang matanya kini tidak dapat melihat apa-apa lagi walaupun begitu dia masih bisa dengar kalau Kong Bun-yu sedang berlatih Thian-yu Chiet Co Sin yang merupakan ilmu tenaga dalam tingkat atas.
Dia yang seharian penuh tidak makan sesuap nasipun kini merasakan perutnya amat lapar sedang badannya sangat lelah, untuk mengambil jamur yang ada di atas tembok dia merasa tidak tega atau lebih tepat lagi tidak punya minat sama sekali.
Koan Ing yang duduk termangu-mangu tidak lama kemudian sudah tertidur dengan amat pulasnya.
Ketika dia sadar kembali dari pulasnya hari sudah pagi, terlihatlah Kong Bun-yu masih tetap berlatih tenaga dalamnya selama ini Kong Bun-yu tetap tidak mengucapkan sepatah katapun, dia terus menerus berlatih tenaga dalamnya.
Ketika Koan Ing melihat Kong Bun-yu begitu menghina dirinya dalam hati merasa sangat tidak senang, pikirnya.
"Hmm.... aku harus bisa memisahkan abu tengkorak itu menjadi dua bagian."
Berpikir sampai disini dia segera duduk di samping abu tulang itu dan menghapus abu yang ada di atas batu di kedua belah sampingnya, setelah itu dari tanah mengambil sekerat tulang dan mulai menutul membagi menjadi dua bagian.
Baru beberapa lama dia sudah merasakan pandangannya menjadi kabur, sepasang matanya terasa amat pedas sukar untuk dipentangkan kembali, terpaksa dia beristirahat sebentar.
Saat itulah perutnya terasa amat lapar sekali hingga sukar untuk ditahan, hatinya menjadi sangat bingung.
Jilid 3 SAKING lapar yang tidak tertahan lagi, tanpa berpikir panjang terpaksa tangannya mencomot jamur yang melekat pada dinding ruangan tersebut kemudian dijejalkan ke dalam mulut.
Jamur yang semula diduga tentu sukar untuk dikunyah kini dalam keadaan nyata tidaklah terlalu sukar untuk menelannya ke dalam mulut tetapi kalau dia harus berdiam begini terus menerus sampai kapan dia baru berhasil memisahkan tulangtulang yang sudah hancur ini?
Sehabis berlatih ilmu pernapasan dengan perlahan Kong Bun-yu mencabut keluar sebuah pedang panjang dari belakang tubuhnya, Koan Ing dapat melihat begitu pedang tersebut dicabut keluar dari sarungnya segera terasalah segulung angin yang amat dingin sekali menyerang badannya.
Seluruh tubuh pedang itu memancarkan sinar kebiru-biruan yang menyilaukan mata, di tengah-tengah antara sinar tersebut terlihatlah sebuah lukisan emas yang amat aneh sekali, sekali pandang saja ia sudah dapat tahu kalau pedang ini pastilah bukan barang sembarangan.
Kong Bun-yu setelah mencabut keluar pedangnya lalu dengan tangan kiri perlahan-lahan mengelusnya, dia menghela napas dengan perlahan.
"Heeey.... sudah lama aku tidak menggunakan pedang."
Agaknya dia benar-benar sangat terharu akan hal itu, dengan termangu-mangu dia memegang erat-erat pedang tersebut.
Mendadak tangan kirinya dibabat ke depan, sekerat tulang manusia segera terlempar ke atas, bersamaan waktunya pula tangan kanannya digetarkan dengan disertai suara dengungan yang amat nyaring pedang panjang di tangannya itu segera membentuk sebuah lingkaran yang amat besar di depan dadanya.
Di tengah berkelebatnya sinar pedang, tulang manusia tersebut sudah terbabat putus menjadi dua bagian dan tepat terjatuh di hadapan Koan Ing.
Dengan cepat Koan Ing menundukkan kepalanya, melihat tulang manusia tersebut ternyata sudah dibabat putus menjadi dua bagian dengan bekas bacokan yang amat rata sekali, hatinya benar-benar merasa amat ragu dengan tak terasa lagi dia mengambil kedua belah tulang itu.
Segera terasalah sampai beratnya pun sama.
Diam-diam dia merasa amat terperanjat, walaupun sepasang mata dan kaki dari Kong Bun-yu sudah hilang tetapi kesempurnaan dari tenaga dalamnya serta keanehan dari ilmu pedangnya benar-benar amat tinggi sehingga susah dicarikan tandingannya pada saat ini.
Terdengar Kong Bun-yu mendengus dengan amat dinginnya, kepada Koan Ing ujarnya.
"Ilmu silat dari semua partai yang ada di dalam Bulim sekarang ini tidak ada sebuahpun yang merupakan ilmu yang betul-betul lurus, setiap melancarkan serangan mereka tentu langsung menyerang musuhnya, di antara kedua hal ini kebanyakan mereka tidak mau melancarkan serangan secara terang-terangan, sedang jurus serangannyapun jauh dari jalan yang sebenarnya, pada masa yang lalu sucouwmu Kiem Kiam Sioe Su, sudah menggunakan seluruh hidupnya untuk menyelami ilmu silat dari seluruh Bu-lim, akhirnya dia berhasil juga ciptakan ilmu sakti Thian-yu Khei Kang ini, tentu kau bisa bayangkan bukan bagaimana tingginya ilmunya tersebut?"
Koan Ing yang mendengar perkataan dari Kong Bun-yu ini semakin lama terasa semakin tertarik dengan ilmu silat demikian aneh dan lihaynya, bilamana dirinya mau berlatih dengan sungguh-sungguh bukankah pada kemudian hari dia tidak usah takut dengan si kongcu tak berbudi lagi?
Kong Bun-yu yang melihat Koan Ing sama sekali tidak memberikan reaksi apa pun segera dia mendengus.
"Haruslah kau ketahui, sebelum kamu orang berhasil memisahkan abu tulang ini maka selama itu pula aku menjadi supekmu."
Saat itulah Koan Ing baru sadar dari lamunan, kiranya secara tiba-tiba dia mulai merasakan kalau supeknya Kong Bun-yu bermaksud hendak menurunkan ilmu sakti Thian-yu Khei Kang tersebut kepadanya.
Dengan perlahan dia angkat kepalanya terlihatlah air muka Kong Bun-yu sudah berubah menjadi sangat angker sekali, dibalik keangkeran itu terlihat juga warna keabu-abuan yang mulai meliputi seluruh tubuhnya.
Dengan perlahan dia tundukan kepalanya di dalam sekejap mata itu pula agaknya dia berhasil mengetahui kesedihan di dalam hati orang tua itu, tak terasa lagi dia mengerutkan alisnya rapat-rapat tapi tetap tak mengucapkan sepatah katapun.
Kong Bun-yu tidak banyak bicara, tetapi sewaktu dia mulai merasakan kalau Koan Ing sudah amat lelah, pada saat itulah secara enaknya saja dia menjelaskan dua buah jurus aneh kepadanya.
Koan Ing tidak ingin mempelajari ilmu tersebut, tetapi dalam hati diapun merasa ingin tahu, teringat akan Kong Bunyu pun merupakan supeknya sendiri, bilamana dia belajar silat darinya bukanlah tidak mengapa?
Berpikir sampai disitu diapun mulai ikut belajar terhadap ilmu yang diturunkan Kong Bun-yu kepadanya, dia mulai merasakan keterangan dari Kong Bun-yu yang diberikan kepadanya amat jelas sekali bahkan dia merasa bahwa setiap jurus serangan yang disampaikan sangat beralasan sekali dan sama sekali berbeda dengan jurus-jurus silat lainnya.
Di bawah bimbingan dari Kong Bun-yu inilah dia berhasil memahami beberapa banyak keanehan serta kelihayan dari ilmu itu.
Waktu berlalu dengan amat cepatnya di dalam sekejap saja beberapa bulan sudah berlalu dengan amat cepatnya, abu tulang yang dipisahkan kini baru mencapai seperempatnya saja, tetapi pandangan matanya sudah mendapatkan kemajuan yang amat pesat, semakin membagi semakin cepat dan dalam hatinyapun mulai merasakan kebosanan yang benar-benar memuakkan.
Walaupun selama ini Kong Bun-yu sama sekali belum pernah mengungkit kembali peristiwa yang sudah terjadi tempo hari tetapi dari semua gerak-geriknya Koan Ing bisa mengambil sedikit kesimpulan.
Tetapi kesemuanya itu dia pun merasa heran walaupun sepasang mata dan kaki dari Kong Bun-yu sudah kehilangan kegunaannya tetapi ilmu silatnya masih amat tinggi sekali, tapi kenapa dia tidak mau keluar dari tempat itu?
Demikianlah setiap hari Koan Ing berlatih terus, pagi hari dia harus berlatih ilmu lweekang Thian-yu Chiet Co Si kemudian mulai bekerja lagi untuk memisahkan abu-abu tulang manusia tersebut.
Pada suatu hari....
Kong Bun-yu yang duduk di sampingnya mendadak membuka mulut bertanya kepadanya.
"Kau sudah berhasil memisahkan beberapa bagian?"
Koan Ing menjadi melengak, selama ini Kong Bun-yu tidak pernah menanyakan urusan mi tetapi entah kenapa ini hari dia membuka mulut bertanya?"
"Hampir seperempatnya,"
Jawabnya kemudian dengan perlahan.
"Hmmm sudah satu bulan lamanya, kau masih ingin melepaskan diri dari Thian-yu-pay?"
Ketika Koan Ing melihat air muka Kong Bun-yu sedikit tidak beres dia segera bangkit berdiri.
"Suhuku bersikap sangat baik sekali terhadap diriku, kau sudah membunuh suhuku, bagaimana aku mau memanggilmu sebagai supek?"
Air muka Kong Bun-yu segera berubah amat hebat, dengan gusar bentaknya.
"Lalu bagaimana dengan ilmu siiat yang sudah kau pelajari dari diriku selama satu bulan ini?"
Koan Ing menjadi keheran-heranan.
belajar "ilmu silat dari dirinya selama satu bulan ini?
Selain disuruh memisahkan abuabu tulang manusia itu apa lagi yang dikerjakan sendiri?
Dalam hatipun dia mulai merasa jengkel, dengan cepat dia meloncat maju ke depan.
"Aku sekarang ada disini, dengan kepandaian silatmu setiap saat kau masih bisa mencabut kembali kepandaian yang aku miliki sekarang ini."
"Baiklah,"
Teriak Kong Bun-yu semakin gusar setelah dilihatnya sikap Koan Ing masih tetap ketus. Jika kau orang memang sudah mengambil keputusan begitu aku segera memenuhi keinginanmu itu."
Selesai berkata tangan kanannya digunakan mencabut keluar pedang panjangnya, mendadak tangan kirinya kirim satu pukulan membuat abu tulang yang ada di atas tanah terpukul mabur sedang pedang ditangan kanannya dengan membentuk sinar kemerah-merahan dengan amat cepatnya berkelebat di tengah udara.
Di mana ujung pedangnya menyambar benda yang ada disitu segera terbabat menjadi dua bagian, keadaannya sama sekali tidak kacau, jelas kelihatan kecepatan gerak pedangnya memang benar-benar amat lihay.
Melihat hal itu Koan Ing menjadi berdesir rasanya, dengan ketinggian ilmu silat dari Kong Bun-yu sampai hancuran tulangpun bisa dipisahkan kembali menjadi bagian2 yang amat kecil hal ini sudah perlihatkan kalau kelihayan ilmu silatnya bukanlah tandingan dan dirinya sendiri.
"Sekarang kau boleh pergi dari sini!"
Tiba-tiba terdengar Kong Bun-yu membentak kembali. Koan Ing menjadi melengak, tetapi dia sama sekali tidak pergi dari sana.
"Hmmm.... kenapa kau tidak pergi?"
Teriak Kong Bun-yu dingin.
"Abu tengkorak itu bukan aku yang memisahkan, bagaimana aku harus pergi dari sini?"
Agaknya Kong Bun-yu segera dibuat melengak oleh katakata dari Koan Ing ini, dia angkat kepalanya kemudian termenung berpikir beberapa saat lamanya.
Koan Ing yang melihat Kong Bun-yu dibuat termangumangu oleh sikapnya, dia pun sedikit tertegun dibuatnya.
apa yang sedang dipikirkan Kong Bun-yu sekarang ini?
Tapi dia tidak banyak tanya, walaupun hatinya heran tapi mulutnya tetap bungkam dalam serbu bahasa.
Lama sekali baru kelihatan Kong Bun-yu tundukkan kepalanya kembali, ujarnya kepada diri Koan Ing.
"Peristiwa yang terjadi tempo hari memang benar adalah kesalahanku, tetapi urusan itu tidak bisa ditarik kembali lagi. Heey.... tidak disangka dengan kebesaran namaku pada tempo hari kini harus menerima nasib yang demikian buruknya.... sebelum aku meninggal maukah kau menerima satu permintaanku?"
Seluruh air muka Kong Bun-yu diliputi oleh kesedihan membuat Koan Ing yang melihat hal itu dibuat termangumangu, sebelum meninggal?
Apakah Kong Bun-yu sudah mendekati kematiannya?
Dengan nama besarnya bagaimana dia orang bisa berubah menjadi demikian tak bersemangat?
Teringat budi Kong Bunyu terhadap dirinya selama satu bulan ini di mana dengan tak henti-hentinya dia orang memberikan petunjuk ilmu silat kepadanya membuat hatinya pun terasa ikut bersedih.
Kong Bun-yu yang melihat Koan Ing tidak memberikan jawab segera, ujarnya kembali.
"Selama hidupku ini, aku orang mempunyai sifat keras kepala, selamanya apa yang sudah aku kerjakan tidak akan menyesal kembali, beberapa patah perkataanmu tadi secara mendadak sudah membuat aku menjadi sadar kembali, sekalipun aku sebagai seorang ciangbunjin tetapi dalam hidupku ini aku cuma mengurusi dendam sakit hati pribadiku sendiri saja, sama sekali tidak pernah mengurusi tugasku sebagai seorang ketua partai."
Koan Ing yang mendengar perkataan ini hatinya jauh semakin lunak, teringat kalau Kong Bun-yu bukan saja merupakan supeknya, bahkan diapun merupakan seorang pendekar kenamaan, berpikir sampai disitu tak terasa lagi dia sudah menyahut.
"Supek ada permintaan apa, silahkan memberi petunjuk."
"Tidak perduli urusan yang bagaimana beratnya, kau tidak akan menyesali kembali?"
Tanyanya dengan wajah penuh diliputi kegirangan.
Koan Ing menjadi ragu-ragu sejenak, dia tidak tahu sebenarnya supeknya ini hendak memerintahkan dirinya untuk berbuat apa, tapi akhirnya da menyanggupinya juga.
"Aku akan melakukannya dengan sepenuh tenaga."
"Hmm. kalau begitu kau kemarilah."
Koan Ing menjadi melengak, tapi dia pun dengan cepat berjalan mendekati diri Kong Bun-yu.
"Berlutut."
Koan Ing menurut saja dan dengan cepat jatuhkan diri berlutut, Kong Bun-yu lalu meletakkan tangannya ke atas kepalanya, dia berkata.
"Sejak saat ini juga kau adalah Ciangbunjien angkatan ketiga dari Thian-yu-pay."
Koan Ing benar-benar dibuat tertegun oleh kenyataan ini, semula dia mengira Kong Bun-yu mau menyuruh dia berbuat sesuatu urusan tetapi tidak disangka ternyata dia hendak meminta dirinya menduduki jabatan sebagai Ciangbunjien dari partai Thian-yu-pay.
Dari belakang badannya Kong Bun-yu mengeluarkan sebuah pedang panjang lalu menyerahkannya kepada Koan Ing, ujarnya kembali.
"Pedang ini bernama Kiem-hong-kiam yang selama ini tidak pernah berpisah dari tangan sucow serta diriku, kau baik-baiklah melindunginya, selama ini orang yang menjabat sebagai ciangbunjin dari partai Thian-yu selamanya merupakan pendekar jagoan dari Bu-lim, kau harus mengingat-ingat akan hal ini."
"Tetapi.... tetapi kepandaian silatku sangat rendah aku tidak berhak untuk menduduki sebagai ciangbunjin suatu partai, hal ini tidak mungkin terjadi!"
Bantah Koan Ing sambil menerima pedang tersebut. Kong Bun-yu menjadi amat gusar, bentaknya.
"Ilmu silat tidak lebih hasil latihan dari seseorang, kenapa kau orang begitu tidak becus?"
Koan Ing yang mendengar Kong Bun-yu memaki dirinya dengan amat kasar dia menjadi termangu-mangu, dia tahu maksud Kong Bun-yu adalah baiki ilmu silat adalah hasil latihan dari seseorang, benar, sedikitpun tidak salah, dengan usia Kong Bun-yu yang masih muda tempo hari dia sudah berhasil merebut kedudukan sebagai salah satu dari empat manusia aneh, hal inipun berkat ketekunan latihannya itu.
Berpikir sampai disini, dia segera menerima pedang tersebut.
"Sejak ini hari tecu Koan Ing akan melaksanakan tugas sebaik-baiknya sehingga tidak sampai menyia-nyiakan harapan dari supek. Kong Bun-yu tersenyum puas.
"Dengan kepandaian yang dimiliki suhumu sehingga dia orang berhasil mendidik kau sampai seperti ini, jelas sekali kalau bakatmu amat bagus sekali, sebelum aku meninggal kau harus tetap tinggal di dalam gua ini, aku akan menurunkan seluruh ilmu silatku kepadamu."
Koan Ing termenung tidak berbicara, teringat akan tugasnya pada kemudian hari, teringat pula kalau supeknya Kong Bun-yu tidak akan lama lagi hidup di dunia ini, tak terasa lagi hatinya menjadi amat sedih.
Terdengar Kong Bun-yu tertawa keras ujarnya.
"Aku sudah terkena bokongan orang lain dan tidak lama kemudian akan meninggal dunia, dalam hal ini kau tidak perlu mengetahui lebih jelas lagi apa sebabnya, tempo hari sucouwmu karena hendak mendirikan partai Thian-yu ini saking lelahnya dia orang sudah menemui ajalnya sehingga nama dari partai kita tidak bisa muncul di dalam Bu-lim, sampai waktumu walaupun di dalam Bu-lim aku orang berhasil mendapatkan julukan sebagai Thian-yu Khie Kiam tetapi selama ini pula aku cuma berhasil mengimbangi kepandaian silat dari manusia aneh lainnya, sekarang harapan ku yang terakhir terletak di tanganmu, kau harus bisa mengembangkan nama Thian-yupay di dalam Bu-lim."
Dia berhenti sebentar untuk menghela napas panjang, lalu sambungnya lagi.
"Latihanku selama puluhan tahun ini sebenarnya sudah memperoleh sedikit kemajuan, cuma sayang pertemuan puncak para jago yang diadakan untuk kedua kalinya di atas gunung Hoa-san bulan Tong Ciu nanti, aku tidak dapat hadir, dalam hal ini kau harus sudah hadir, sebelum aku meninggalkan kau harus tetap tinggal gua ini untuk mempelajari seluruh ilmu silat yang aku pahami selama hidupku ini."
Koan Ing hanya berdiam diri saja, dia tidak ingin memberikan komentar apa-apa kepada dirinya.
Demikianlah sejak hari itu mereka berdua mulai saling memperdalam ilmunya sendiri-sendiri, Koan Ing pun di bawah bimbingan dari Kong Bun-yu sudah mendapatkan kemajuan kang amat pesat sekali.
Tubuh Kong Bun-yu semakin hari semakin lemah, sering sekali tanpa ada sebab dia sudah tertawa terbahak-bahak, lagaknya mirip sekali dengan orang gila, walaupun dalam hati Koan Ing merasa tidak betah tapi dia tidak bisa berbuat apaapa, terpaksa dengan rajinnya dia melatih ilmu silatnya sendiri.
Hari itu ilmu silatnya sudah memperoleh kemajuan yang dia sendiri selamanya belum pernah menduga.
Terdengar Kong Bun-yu berkata kepadanya.
"Hey.... Koan Ing, tentu selama beberapa hari ini kau bisa melihat keadaanku yang seperti orang setengah gila bukan? Kini seluruh ilmu silat yang aku miliki sudah aku turunkan kepadamu, kau boleh meninggalkan tempat ini."
Koan Ing menjadi melengak, walaupun pada tempo hari Kong Bun-yu berbuat sesuatu yang tidak senonoh kepada suhunya tetapi sikapnya terhadap dirinya amat baik sekali, teringat kembali kalau dia orang mau meninggal, hatinya merasa amat sedih sekali.
Kong Bun-yu tertawa kembali, ujarnya.
"Buat apa kau orang memperlihatkan lagak seorang gadis? Dengan kepandaian silat yang kau miliki sekarang ini, walaupun tidak jelek tetapi jika dibandingkan dengan ilmu silat yang dimiliki Sang Su-im masih tertinggal amat jauh, kelicikan dan kejahatan yang ada di Bu-limpun kau orang tidak tahu. Setelah kau keluar dari sini janganlah sekali-kali menyiarkan berita kematianku, untuk menjaga kewibawaan dari seorang ketua partai besar kau jangan terlalu merendahkan derajatmu, kalau tidak kau orang akan mendapatkan kerugian yang amat besar sekali."
Dengan perlahan Koan Ing jatuhkan diri berlutut di hadapannya. hatinya benar-benar terasa amat susah.
"Supek,"
Ujarnya sedih.
"Sekarang aku tidak ingin pergi lagi, aku ingin tinggal lebih lama lagi disini."
Kong Bun-yu menjadi melengak, tapi sebentar kemudian dia sudah tertawa terbahak-bahak.
"Kau tidak mau pergi pun sekarang harus pergi juga."
Tiba-tiba suara tertawanya yang amat keras berhenti di tengah jalan, kemudian tidak terdengar suaranya kembali.
Koan Ing menjadi melengak., tapi sebentar saja dia sudah tahu kalau Kong Bun-yu telah membunuh diri dengan jalan menghancurkan isi perutnya sendiri.
Tak terasa lagi dia meneteskan air matanya, dengan cepat dia jatuhkan diri berlutut dan memberikan penghormatannya yang terakhir.
Teringat akan pengalamannya selama dua bulan ini, tak terasa lagi dia menghela napas panjang.
Koan Ing berdiri termangu-mangu beberapa saat lamanya, akhirnya dia teringat kembali keterangan yang diberikan Kong Bun-yu kepadanya, dengan perlahan dia mendorong sebuah pintu batu di samping kanan kemudian menaiki sebuah tangga batu yang amat panjang.
Dengan langkah perlahan dia melanjutkan perjalanannya keluar dari dalam ruangan tersebut.
Saat itu musim gugur sudah tiba, terasa angin bertiup dengan kencangnya, sedaun pada rontok memenuhi seluruh tanah.
Koan Ing yang teringat akan persoalan Kereta Berdadah tak terasa lagi sudah menghela napas panjang.
entah itu kereta berdarah sekarang berada dimana?
Bagaimana dengan sakit suhunya?
Baru saja dia termenung, mendadak terdengar sebuah suara yang dingin berkumandang keluar dari samping tubuhnya.
"Hey bangsat cilik, lama sekali kau pergi kesana."
Dengan cepat Koan Ing putar badannya, dia menjadi amat terperanjat, kiranya di belakang tubuhnya sekarang ini sudah berdiri seorang yang bukan lain adalah si Thiat-lang, Gui Cunpak adanya.
Dia sama sekali tidak menduga kalau Gui Cun-pak bisa menanti dirinya dengan begitu sabar, teringat akan keadaan dari supeknya Kong Bun-yu mendadak di dalam benaknya terbayang suatu ingatan.
"Apakah buntungnya sepasang kaki Supek ada sangkut paut dengan mereka berdua?"
Gui Cun-pak dengan pandangan tajam memperhatikan diri Koan Ing, ketika dilihatnya lama sekali dia tidak memberikan jawabannya ia segera mendengus, tubuhnya dengan cepat berkelebat lima jari tangan kanannya dipentangkan kemudian dengan kecepatan yang luar biasa mencengkeram tubuh Koan Ing, Koan Ing yang sudah mendapatkan latihan selama beberapa bulan di dalam gua sudah tentu ilmu silatnya memperoleh kemajuan yang amat pesat sekali, kaki kanannya dengan cepat bergerak, setelah membentuk setengah lingkaran busur di atas tanah tubuhnya dengan amat cepatnya menyingkir ke samping menghindarkan diri dari cengkeraman maut Gui Cun-pak tersebut.
Koan Ing Yang berhasil menghindarkan diri cengkeraman Gui Cun-pak, tanpa menoleh lagi tangan kanannya dibalik lima jarinya dengan amat cepat dan tepat tanpa banyak menemui kesukaran mencengkeram jalan darah Cie Ti Hiat pada tangan kanan musuhnya.
Gui Cun-pak benar-benar merasa amat terperanjat, tidak disangka sama sekali olehnya selama dua bulan tidak bertemu Koan Ing dia orang sudah memperoleh kemajuan yang begitu pesat di dalam ilmu silatnya hal ini benar-benar membuat hatinya bergidik.
Dia mana tahu kalau selama bulan pertama Koan Ing sudah dilatih ketajaman mata serta kekuatan jarinya, kini serangannya benar-benar amat membahayakan sekali.
Sedangkan langkah yang digunakan bukan lain adalah ilmu langkah Thian-yu-poh atau ilmu langkah manunggal yang diandalkan Kong Bun-yu selama berkelana di dalam Bu-lim, Setiap langkah yang dilaluinya semuanya mengandung rahasia yang amat dalam sekali, bahkan sampai empat manusia aneh pun pada masa yang lalu tidak bisa memecahkan ilmu tersebut apalagi Gui Cun-pak sebagai seorang manusia biasa?
Di dalam keadaan terkejut Gui Cun-pak benar-benar dibuat bingung, terpaksa dia mundur dua langkah ke belakang, pikirnya.
"Sungguh sialan, nenek reyotpun tidak ada disini ini hari aku betul-betul didesak di bawah angin oleh setan cilik ini,"
Ooo)*(ooO Bab BERPIKIR sampai disitu tanpa banyak pikir lagi Gui Cun-pak melancarkan dua serangan kembali, Koan Ing yang melihat serangannya mencapai pada sasaran dia tidak sungkan-sungkan lagi, semula dia memang masih menaruh rasa jeri terhadap diri Gui Cun-pak, tetapi saat ini rasa jeri itu sudah tersapu bersih dari benaknya.
Kaki kirinya dengan cepat menutul permukaan tanah menghindarkan diri dari kedua buah serangan Gui Cun-pak ini, tangan kanannya ditarik ke atas lantas balas mengurung musuhnya.
Gui Cun-pak yang melihat dua buah serangannya kembali mencapai pada sasaran kosong hatinya semakin bergidik, dia benar-benar dibuat terkejut dan ketakutan oleh keanehan dan kelihayan dari ilmu silat Koan Ing ini.
Dengan cepat serangan Koan Ing sudah menyapu ke depan wajahnya, baru saja dia orang mau menghindar mendadak kaki kanan Koan Ing diangkat melancarkan tendangan menghajar tumitnya, serangannya ini mengandung hawa pukulan yang amat hebat, asalkan terkena serangan tersebut tanggung tumitnya akan hancur dibuatnya.
Gui Cun-pak menjadi gugup, jurus serangan yang dilancarkan Koan Ing semakin lama semakin aneh dan semakin lihay lagi, membuat dia untuk beberapa saat lamanya dibuat kebingungan sehingga gerakan tubuhnyapun semakin kacau.
Walaupun Koan Ing masih belum paham benar terhadap jurus serangannya, tetapi tak urung pipi kanannya terkena sambaran jari-jari Koan Ing juga sehingga terasa panas, pedas, linu dan sukar ditahan.
Dia menjadi amat terkejut bercampur gusar, dengan amat kerasnya dia bersuit panjang tangannya diayun berturut-turut melancarkan sepuluh serangan lebih.
Kali ini dia melancarkan serangan dengan menyalurkan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya, tanpa banyak rewelrewel lagi ilmu telapak Na Im Ciang yang paling diandalkan dikeluarkan.
Sebenarnya dia pun merupakan seorang jago yang mempunyai nama terkenal di dalam Bu-lim, begitu ilmu andalannya dikeluarkan jurus-jurus serangannyapun semakin gencar dan membingungkan sekali.
Semakin bertempur Koan Ing merasa hatinya semakin mantap, dia segera mengeluarkan seluruh ilmu silat yang berhasil dipelajarinya dari dalam gua untuk melawan Gui Cunpak.
Walaupun kepandaian silatnya sudah amat tinggi tetapi tenaga dalamnya jauh di bawah Gui Cun-pak, apalagi banyak jurus serangan lihay yang belum dapat digunakan olehnya dengan sempurna, dengan demikian untuk mencapai kemenanganpun dia masih belum sanggup, Sekalipun dengan demikian Gui Cun-pak pun untuk sementara waktu tidak dapat mengapa-apakan dirinya.
Di dalam sekejap mata saja mereka berdua sudah bergerak kurang lebih lima puluh jurus banyaknya, hati Gui Cun-pak semakin lama semakin terperanjat, pada dua bulan yang lalu Koan Ing tidak dapat lolos dari tangannya, cuma di dalam lima jurus saja tetapi kehebatan dari ilmu silatnya sekarang ini benar-benar berada diluar dugaannya, bahkan terhadap jurusjurus serangan yang digunakan Koan Ing diapun harus menaruh tiap bagian perasaan jerinya.
Jikalau hal ini dibiarkan berlarut terus, kemungkinan sekali beberapa hari kemudian kepandaian silat dari Koan Ing akan jauh lebih tinggi lagi, ini semakin membahayakan kedudukannya.
Sambil bertempur Gui Cun-pak berpikir keras, dia benarbenar merasa terperanjat atas kelihayan musuhnya.
Pada saat mereka berdua sedang bertempur dengan amat serunya itulah mendadak dari dalam hutan muncul seseorang, kedatangan orang tersebut seketika itu juga membuat suasana di tengah kalangan menjadi berubah, masing-masing dengan cepat meloncat mundur ke belakang.
Dengan cepat Koan Ing menoleh ke arah orang tersebut, tetapi sebentar kemudian dia sudah dibuat tertegun, orang itu berjubah hijau dengan wajah berwarna kuning pucat, dia orang bukan lain adalah suhunya si pendekar pedang menyendiri Cu Yu adanya.
Hatinya benar-benar terasa amat terkejut bercampur girang, tak tertahan lagi teriaknya.
"Suhu."
Tubuhnya dengan cepat berkelebat menuju ke arah orang itu.
Gui Cun-pak yang mendengar Koan Ing memanggil orang itu sebagai suhunya dalam hati semakin merasa terkejut lagi, dengan diam-diam dia putar badannya meninggalkan tempat itu.
Koan Ing dengan cepat berlari ke depan suhunya, kedatangan dari suhunya yang mendadak ini seketika itu juga mengingatkan Koan Ing atas perkataan dari Kong Bun-yu, saat ini hatinya benar-benar sangat gembira sekali sehingga tanpa terasa air mata sudah menetes keluar membasahi pipinya.
Wajah Cu Yu yang kuning pucat tampak sedikit bergerak, tangannya dengan perlahan-lahan mengelusi kepala Koan Ing ujarnya.
"Anak bodoh, kau kenapa menangis."
"Suhu,"
Seru Koan Ing sambil melelehkan air matanya.
"Kau orang tua datang dari mana?"
"Kau jangan menanyakan urusan itu dulu tadi aku melihat kepandaian silatmu amat tinggi sekali, sebenarnya sudah terjadi urusan apa?"
"Aku sudah bertemu dengan supek...."
"Supekmu?"
Potong Cu Yu dengan terperanjat.
"Sekarang dia berada dimana?"
Koan Ing ragu-ragu sebentar, akhirnya jawabnya juga.
"Supek sudah meninggal, dia berada di dalam gua itu."
Baca Juga: Iblis Sungai Telaga 7
Baca Juga: Dendam Sejagad Legenda Kematian Khu Lung