Eps 7 Iblis Sungai Telaga - Khu Lung
Baca online Iblis Sungai Telaga - Khu Lung
Cersil Iblis Sungai Telaga - Khu Lung.
Wan Goat heran.
"Kakak Hiong apa katamu?"
Ia bertanya. Hong Kun menjawab dengan keras .
"Sejak saat ini kau harus mendengar dan menurut kata-katakku! Jika kau membandel dan menantangnya, jangan heran kalau aku tidak mengenal kasihan lagi padamu!"
Berkata begitu, pemuda itu turun dari pembaringan, membetulkan pakaiannya dan memasang pedang Kie Koat pada punggungnya.
Wan Goat terkejut, hatinya terasa nyeri.
Hebat kata-kata yang berupa seperti tikaman itu.
Hampir ia pingsan karenanya, ia pun turun dari pembaringan untuk merapikan pakaiannya juga.
Sambil berpakaian itu ia mengawasi tajam muka orang, masih air matanya berlinang dikedua belah matanya.
Ia mendapat perasaan "Kakak Hiong"
Dari hari kemarin beda dengan sekarang ini. Tapi ia berkata .
"Tak peduli keujung langit dan pojok laut, aku akan ikut kau!"
"Hahaha!"
Hong Kun tertawa nyaring.
"He, budak bau! Siapakah yang menghendaki kau tergila-gila begini rupa? Tak tahu malukah kau?"
Wan Goat melengak, ia heran sekali lalu hatinya menjadi panas.
"Aku toh istrimu!"
Katanya keras.
"Kenapa kau berubah begini rupa?"
"Jangan rewel!"
Bentak Hong Kun, matanya melotot.
"Inilah kutukan atas dirimu sendiri! Inilah penyakit yang kau cari! Siapa suruh kau mencintai aku hingga kau membuatku berbahagia satu malam? Siapa yang harus dipersalahkan?"
Wan Goat gusar hingga tak tahu harus berbuat apa, ia menubruk untuk memegang baju orang sambil ia menangis terisak-isak.
Naik darahnya Hong Kun, sebelah tangannya melayang menggaplok telinga orang hingga orang roboh, sambil menunding ia berkata sengit .
"Telah cukup aku dipermainkan wanita! Hari ini ialah pembalasanku yang pertama! Maka kau, hitung-hitung saja nasibmu yang lagi apes! Maka kau harus menerima nasibmu!"
Habis berkata begitu, Hong Kun melompat keluar jendela, buat kabur, tak mau ia berdiam lama-lama sebab itulah rumah penginapan.
Pikirannya Wan Goat kacau, ia pun melompat menyusul.
Celaka untuknya, begitu ia tiba, ia dipapaki satu hajaran hingga ia menjerit.
"Aduh!"
Tertahan.
Terus ia roboh pula pingsan.
Sedangkan Hong Kun sudah lantas melenyapkan diri.
Sampai besok paginya barulah Wan Goat terasadar dari pingsannya, ia rebah diatas pembaringan dan ada orang yang tengah mengurusnya.
Ketika ia mengawasi, ia kenali orang itu adalah Tan Hong, si nona yang malam itu datang bersamasama "It Hiong".
Lantas ia berpikir."Nona ini datang bersama "It Hiong", dia mesti mempunyai hubungan erat luar biasa dengan pemuda itu.
Apakah itu seperti hubungan eratnya tadi malam?
Maka tiba-tiba timbullah cemburunya, sehingga bukannya berterima kasih, ia justru menjadi gusar.
Ia menolak dengan kasar tangan Tan Hong, terus ia bangun untuk duduk dan berkata dingin .
"Kakak Hiong sudah pergi! Kau berbuat begini baik hati, kepada siapa kau hendak pertontonkan itu?"
Tan Hong melengak, itulah teguran yang tak ia mengerti.
"Nona Siauw, apa kau kenal aku?"
Tanyanya.
"Kenapa kau terluka begitu parah?"
Suara nona itu perlahan dan prihatin, hatinya Wan Goat menjadi tergerak. Ia lantas menangis, tapi ia memaksakan diri untuk tertawa, hingga ia jadi tertawa sedih. Masih hatinya panas, katanya dingin .
"Kalau kau hendak susul dia, kau susullah lekas! Tak usah kau berdiam lama disini berpura bermurah hati!"
Bingung Tan Hong mendapat perlakuan itu. Biar bagaimana, ia merasa kurang puas, akan tetapi masih ia dapat menahan diri, ia melirik dan tertawa dengan paksa.
"Kau rupanya tidak mengerti maksud baikku,"
Katanya.
"Aku melihat persahabatan antara partai kita, aku juga mengutamakan keharusan diantara sesame Kang Ouw untuk saling tolong.
Demikianlah ketika aku melihat kau rebah pingsan sendirian saja, sedang kaupun terluka, mana dapat aku berdiam saja tidak menolongmu?
Begitulah aku lantas tolong dirimu!"
Berkata begitu Tan Hong hening sejenak dan menatap muka orang.
"Nona Siauw,"
Katanya kemudian.
"Rupanya kau telah kena tipu orang dan diperhina hingga kau menjadi penasaran sekali. Namun kita adalah wanita Kang Ouw, buat apa kita membawa diri seperti wanita kebanyakan? Itu artinya menyiksa diri sendiri!"
Wan Goat menangis sedih, airmatanya bercucuran deras. Sekian lama ia berdiam menenangkan diri, kemudian ia menghapus air matanya. Msih ia sesegukan, ketika ia berkata .
"Kakak, kau toh tidak menggusari aku bukan?"
Tan Hong tidak menjawab, ia hanya merogoh obat pulung dari dalam sakunya untuk dimasukkan kedalam mulut orang.
"Adik jangan kau menganggap aku sebagai orang asing."
Katanya sabar.
"Aku lihat kau tentu mempunyai suatu sebab, maka kau menjadi berduka begini, tidak adik! Aku tak menggusari kau."
Perlahan-lahan Wan Goat dapat menguasai diri.
"Malam itu, kakak,"
Katanya bertanya.
"Ketika kakak bersama It Hong datang kegubuk kami, kalian datang dari manakah?"
Tan Hong dapat menerka orang mencintai It Hiong, bahwa nona ini pasti telah kena tipu, maka ia lantas mengasi keterangan halnya ia mengejar orang mulai dari rumah penginapan di Liong peng sampai ia kena dibikin tak sadarkan diri, hingga ia tak tahu apapun yang telah terjadi, sampai ia tahu-tahu disadarkan oleh Lam Hong Hoan.
"Kalau aku melihat orang itu, perbuatan dia beda seperti langit dan bumi dengan sifatnya Tio It Hiong,"
Ia menambahkan kemudian.
"Hanya sampai sekarang masih aku belum memperoleh kepastian. Mungkin dialah Tio It Hiong palsu, tapi kenyataannya?"
Mendengar keterangan itu, Wan Goat merasai tubuhnya bagaikan tergetar dan menggigil keras, telinganya seperti ditulikan guntur.
"Kakak,"
Tanyanya heran.
"Apa kakak tidak mendustai aku? Darimana kakak mendapat alasan dan menerka dialah Tio It Hiong palsu."
Tan Hong menatap nona ini.
"Ketika aku pertama kali bertemu dengannya, akupun menerka dialah Tio It Hiong."
Ia menjawab kemudian.
"Aku baru menaruh curiga setelah aku mendengar penjelasan Locianpwe Beng Kee Eng. Ketika kami meninggalkan gunung Ay Lao San, adik Hiong masih berada diatas gunung tengah melayani Kwie Tiok Giam Po. Karena itu, mana dapat ia telah melakukan segala perbuatan busuknya itu dalam waktu yang demikian pendek!"
"Tetapi, kakak,"
Kata Wan Goat.
"Biarlah segala soalnya kakak Hiong itu. Yang aku ingin tahu sekarang ialah apa yang membedakan yang tulen dengan yang palsu? Dapatkah kakak menjelaskannya?"
Tan Hong mengawasi nona itu, ia tertawa.
"Bukankah diantara To Liong To dan Pay In Nia terdapat permusuhan, kenapa adik nampaknya sangat bingung dan begini mendesak ingin mengetahui bedanya It Hiong palsu dan tulen?"
Wan Goat melengak, mukanya merah, tatap ia bersedih.
"Aku sama dengan kau, kakak."
Sahutnya.
"Seperti kau, aku juga ingin ketahui dia itu Kakak It Hiong atau bukan!...."
Kali ini Wan Goat menerka bahwa Tan Hong juga sudah jadi korbannya si "Kakak Hiong"
Seperti dia sendiri.
Jilid 26 Tan Hong berpikir sebelumnya ia menjawab. Ia malu akan menutur terus terang hal ikhwalnya dengan It Hiong palsu itu, sebab ia hampir menjadi korban. Ia menghela nafas.
"Dalam hal memperhatikan adik Hiong, kita berdua sama saja."
Sahutnya kemudian.
"Cuma halnya dalam keberuntungan aku kalah dari kau, adik. Kau berbahagia sekali."
"Kakak"
Wan Goat menyela, suaranya tajam.
"Kakak, aku minta sukalah kau bicara dengan sebenar-benarnya."
Tan Hong bersikap sungguh-sungguh.
"Adik"
Sahutnya.
"Kita ada sesama wanita, buat apa kau sampai menegas begini ? Mana dapat aku mendustakan kau."
Wan Goat menjerit perlahan, dia menangis pula, air matanya mengucur deras. Ia mendekam.
"Oh, aku mau mati !"
Katanya.
"Mana ada muka aku hidup didalam dunia ?"
Tan Hong menepuk-nepuk bahu orang.
"Anak tolol !"
Katanya.
"Manakah semangatmu sebagai wanita Kang Ouw ? Bukankah belum ada kepastiannya orang ada It Hiong yang palsu atau yang tulen ? Apakah soalmu dapat dibereskan dengan hanya menangis saja ?"
Bagaikan tersentak Wan Goat bergerak bangun untuk berduduk.
"Kakak, kau ajarilah aku !"
Katanya, matanya masih penuh air.
"Hatiku sudah hancur. Bagaimana sekarang ?"
Tan Hong mengenggam tangan orang.
"Jika orang itu benar Tio It Hiong."
Kata ia sungguhsungguh.
"bukankah percuma kau mengucurkan air matamu ini ? Kalau sebaliknya, dialah si manusia palsu, maka adalah tugasmu untuk menuntut balas ! Maka itu sekarang mari kita membuat perjalanan guna mencari dia buat menyelidiki hal yang sebenarnya ! Buat apa berlaku tolol, bicara tentang mati. Itu cuma bakal mendatangkan tertawaan orang !"
Nona Siauw melengak, lantas ia menghapus airmatanya.
"Kakak benar !"
Katanya kemudian.
"Ah, kenapa aku jadi tolol begini ?"
Ia menggerakkan tubuhnya akan turun dari pembaringan.
Selagi bergerak itu ia merasakan lengannya masih sakit dan dadanya pun nyeri.
Ia lantas menggosokgosok dadanya.
Ia merasa nyeri berbareng di hatinya dan karena lukanya itu "Siauw Wan Goat bersumpah tak akan menjadi manusia kalau dia tak dapat membalas sakit hati ini !"
Demikian katanya keras.
Tepat itu waktu, dari luar terdengar suara ketukan dengan pintu disusul dengan datang masuknya dua orang, ialah Lam Hong Hoan dan Bok Cee Lauw.
Malam itu Hong Hoan kaget, selekasnya dia melihat adik seperguruannya lenyap, lantas dia menerka adik itu telah diculik oleh si pemuda, sebab pemuda itu hilang juga.
Maka lantas ia ajak Cee Lauw pergi mencari hingga mereka mesti berputaran, hingga baru sekarang mereka menemui adik itu.
Adanya Tan Hong bersama si adik membuatnya heran.
Melihat kedua saudara seperguruan itu, Wan Goat menangis sebagai anak kecil.
Ia menubruk dan merangkul Hong Hoan, ia menangis bukan main sedihnya.
Tan Hong merasa bahwa tak dapat ia berdiam lebih lama disitu, maka ia menghadapi Lam Hong Hoan dan berkata .
"Lam Cianpwe, sukalah kau menghiburi adikmu ini, haraplah kau melindungi nama besar dari To Liong To ! Kebetulan sekali cianpwe tiba disini ! Nah, ijinkanlah aku mengundurkan diri !"
Tanpa menanti jawaban lagi, wanita jago dari Hek Keng To itu lantas bertindak pergi.
Lam Hong Hoan menerka kata-katanya Nona Tan itu mesti ada artinya sebab adik seperguruannya itu menangis saja.
Ia rada gugup maka juga ia mendelong mengawasi orang pergi.
Bok Cee Lauw juga heran, hingga ia menggeleng-geleng kepala.
"Cit-sumoay"
Tanyanya kemudian kepada adik seperguruannya yang ketujuh itu yang bungsu.
"apakah budak Tan Hong berani main gila terhadapmu ?"
Wan Goat lagi menangis, tak dapat ia menjawab kakak seperguruan itu.
"Adikku, kau bicaralah !"
Cee Lauw mendesak. Masih Wan Goat sesegukan saja.
"Hm !"
Cee Lauw bersuara sengit.
"Apakah bocah Tio It Hiong itu kau jadi...."
Dia sebenarnya mau mengatakan "kau jadi bentrok dengan Tan Hong"
Atau ia kena dicela si nona yang sudah lantas mengangkat mukanya menoleh kepadanya.
"Cis"
Demikian nona itu.
"Aku tak mempunyai kegembiraan seperti kau yang gemar menggodia orang..."
Berkata begitu Wan Goat menekan dadanya. Ia merasa nyeri. Hong Hoan menerka adik itu terluka di dalam.
"Hayo, kita pulang dulu !"
Ia mengajak.
"Kita perlu lekas mengobati adik kita ini !"
Habis berkata begitu, kakak seperguruan itu lantas menggendong adiknya itu.
Ia terus lari keluar.
Maka Bok Cee Lauw pun lari menyusulnya.
Sementara itu Gak Hong Kun si Tio It Hiong palsu sudah menyingkarkan jauh-jauh dari tempat dimana ia hajar pingsan Siauw Wan Goat.
Ia puas sekali atas perbuatannya itu.
Ia mendapat dua rupa kepuasan, puas karena bisa melampiaskan kebenciannya kepada wanita, puas karena sudah mencicipi kenikmatan hidupnya dengan seorang nona cantik.
Kenyataan ini membuatnya ketagihan.
Ia memikir buat melanjutkannya perbuatannya serupa itu.
Lalu ia memikirkan siapa harus dijadikan korban nomor dua, wajar saja ia segera ingat Pek Giok Peng pacarnya itu yang katanya sudah dirampas Tio It Hiong.
Ingat namanya Pek Giok Peng, Hong Kun tertawa bergelak sendirinya.
"Sekarang aku mau melihat bukti penyamaranku ini !"
Katanya hatinya puas.
"Setelah melihat aku, ingin aku lihat dia bakal terjatuh dalam rangkulanku atau tidak ! Pasti dia akan menyerahkan dirinya dengan suka rela..... Lantas ia pikirkan dimana adanya Giok Peng sekarang. Di vihara Siauw Lim Sie atau di Lek Tiok Po ? Segera ia mengambil keputusan. Ia terus menyewa perahu akan berangkat ke timur dengan mengikuti sungai Tiang Kang, ia melintasi Siangyang untuk tiba di Kayhong. Di itu hari yang pemuda ini tiba di kota kayhong dimana ia terus mengambil hotel, ia lantas mendengar halnya pelbagai partai tengah membuat perjalanan atau penyelidikan guna mencari Tio It Hiong. Ia mendengar berita itu dengan hati puas. Hasil perbuatannya itu sudah menerbitkan kegemparan dan Tio It Hiong telah menjadi hinaan orang banyak. Cuma ada satu hal yang membuatnya sulit, ia masih menyamar sebagai Tio It Hiong, karena Tio It Hiong lagi dicari, ia mudah terlihat orang yang mengenalnya. Karena ini, diwaktu siang tak mau ia keluar dari kamarnya, bahkan diwaktu malam ia lebih sering berdiam didalam gelap. Ia mau menjaga jangan sampai ada orang melihat dia. Kekuatirannya Gak Hong Kun bukan tidak beralasan. Selagi ia lewat di Siangyang, ia telah dapat dilihat oleh muridnya seorang Bu Lim yang ternama. Jago Bu Lim itu ialah Koay To Ciok Peng, si golok kilat yang pada tiga puluh tahun dulu namanya menggemparkan kalangan rimba persilatan yang disebelah selatan dan sebelah utara. Bahkan dialah sahabat karib dari Bu Eng Thung Liok Cim. Maka juga habis lolos dari bahaya maut, Liok Cim telah pergi ke rumah sahabatnya itu, buat menumpang disitu hingga kepada sang sahabat ia telah menuturkan malang yang menimpa diri dan keluarganya itu. Ciok Peng bersedia membantu sahabat itu serta membalaskan sakit hatinya si saudara angkat. Maka dia telah menanyakan terang-terang wajah dan potongan tubuhnya It Hiong serta cara berpakaiannya, sesudah mana dia menitahkan beberapa orang muridnya pergi membuat penyelidikan. Demikian itu hari, selekasnya ia menerima laporan salah seorang muridnya, Ciok Peng lantas mengajak See Sie, murid kesayangannya berangkat dari Siangyang, menyusul terus ke Kayhong, lantas ia membuat penyelidikan yang tepat, sesudah itu baru ia mengambil keputusan akan bertindak di waktu malam. Malam itu Hong Kun merebahkan diri sambil berjaga-jaga, ia sudah pulas namun ia terasadarkan dengan kaget oleh satu suara berkeresek pada daun jendela yang terus terpentang terbuka. Justru ia kaget, justru ia mendengar bentakan nyaring dari luar jendela.
"Jahanam Tio It Hiong, kau keluarlah untuk terima binasa !"
Tak mau Hong Kun memperdengarkan pula suaranya.
Diam-diam ia merosot turun dari pembaringannya, matanya dipasang untuk melihat siapa orang diluar kamar itu.
Karena ia berdiam itu, ia mendengar pula suara diluar.
"Tio It Hiong, akulah Koay To Pang ! Aku tidak mau main sembunyi-sembunyi maka juga aku memanggil kau keluar ! Mari kau harus membuat perhitungan buat Bu Eng Thung Liok dan keluarganya ! Bangsat kau berdiam saja, menyembunyikan diri apakah artinya itu ?"
Mulanya terkejut lantas hatinya Hong Kun menjadi panas.
"Tua bangka itu mencari mampusnya."
Pikirnya sengit.
Ia tidak takut.
Dengan mencekal erat-erat pedangnya, ia berlompat melewati jendela sebelum ia meletakkan kakinya ditanah, pedangnya sudah diputar di depannya.
Terus saja ia berkata nyaring.
"Hendak aku mencoba golok kilatmu dapat bergerak bagaimana cepatnya !"
Ciok Peng dapat melihat sinar pedang orang. Ia tahu itulah sebuah pedang mustika maka tak mau ia berlaku sembrono. Bahkan ia lompat mundur dulu. Untuk berlaku lalai, ia kata.
"Koay Toa Ciok Peng tidak biasanya membinasakan setan tanpa nama karena itu jahanam kau sebutkan dulu namamu !"
It Hiong palsu tertawa terkekeh.
"Tua bangka !"
Sahutnya.
"Kau sendiri bilang kau belum kenal aku, cara bagaimana kau dapat berkata bahwa kau datang guna membuat perhitungan, buat membalaskan sakit hati orang ? Tidakkah kau bakal ditertawakan kaum Kang Ouw andiakata perbuatanmu sekarang ini sampai tersiar diluaran ?"
Ciok Peng merasai mukanya panas.
Ia menyesal sudah bicara seenaknya saja.
Tapi ia tetap gusar, maka juga ia berdiri sambil mengawasi tajam.
Tiba-tiba terdengar suara golok dihunus dan terlihat sinarnya berkelebat, disusul dengan suara ini .
"Suhu, jangan layani dia ! Ijinkan muridmu yang mencoba jahanam itu !"
Kiranya itulah gerak-geriknya See Sie, sang murid, yang panas hatinya sebab lawan sangat temberang.
Dia maju terus untuk menyerang It Hiong palsu.
Hong Kun tidak lantas menangkis, ia hanya berkelit.
Masih ia berkelit terus waktu serangan diulangi dan diulangi lagi.
Untuk sementara ia cuma melindungi saja tubuhnya.
Sebegitu jauh, pedangnya pun belum berhasil bentrok dengan goloknya si penyerang.
"Aku mesti bertindak !"
Pikirnya selewat lagi beberapa jurus.
Ia tahu ia bisa terancam kalau Ciok Peng sendiri turun tangan.
Sambil menutup diri itu, diam-diam ia mengeluarkan racun Hun Tok Han, racunnya yang dapat membuat orang pingsan seketika, lantas sehabisnya itu, ia menanti kesempatan.
Begitu dia dapat angin, dia menyebar bubuknya yang beracun !
Ciok Peng dapat melihat gerakan tangan kiri musuh itu, lekas-lekas ia menyerukan muridnya .
"See Sie, lekas putar golokmu ! Tutup napasmu dan mundur !"
See Sie mendengar dan lantas ia mundur dengan pesat sekali, hingga ia berhasil membebaskan diri dari bubuk jahat itu.
Tapi It Hiong palsu sangat cerdik dan licik, justru orang lompat mundur, justru ia mencelat ke belakang, untuk lantas lompat naik ke atas genting dimana ia menghilang dalam gelap gulita.
Maka wajar saja, selagi berlompat, ia tertawa nyaring buat mengejek lawannya !
Lega hatinya Ciok Peng terhadap akan muridnya tidak kurang suatu apa, karenanya terus ia lompat pula ke atas genting guna mengejar pemuda itu.
Atau ia segera mendengar suara keras disebelah depannya .
"Tio It Hiong ! Kau mau lari ? Lihat tanganku !"
Ia percepat larinya hingga ia melihat Tio It Hiong dihadang seorang imam tua dengan janggut panjang dan punggung tergemblokkan pedang.
Beruntun tiga kali imam itu sudah menyerang dan orang yang diserangnya senantiasa berkelit walaupun dia memegang pedang, tak berani atau tak mau dia menggunakan pedangnya itu.
Setelah datang dekat, Ciok Peng mengenali It Yap Tojin dari Heng San.
Imam tinggal imam tetapi pikirannya It Yap Tojin pendek dalam urusan muridnya dengan It Hiong yang dikalahkan It Hiong itu dia tak puas bahkan dia membenci si anak muda she Tio hingga timbul niatnya mengajar adat.
Hanya mengingat dia adalah pihak lebih tua dan dari tingkat lebih tinggi tak berani dia sembarang turun tangan.
Kebenciannya kepada It Hiong bertambah setelah dia mendapat keterangan halnya It Hiong sudah merampas Giok Peng pacarnya muridnya.
Maka baginya datanglah ketika yang baik, selekasnya dia mendengar berita ramai tentang Tio It Hiong sudah berbuat kejam dan busuk, hingga kemurkaan kaum Bu Lim telah dibangkitkan karenanya.
Maka bulatlah tekadnya akan binasakan It Hiong buat membalaskan sakit hati muridnya itu.
Sungguh kebetulan bagi It Yap Tojin, malam itu ia berada di tempat dan dapat melihat Ciok Peng lagi mengintil It Hiong palsu.
Terang ia tidak mengenali muridnya yang telah merubah wajahnya itu justru orang kabur dan menghina Ciok Peng, ia keluar dari tempatnya sembunyi dan lantas menyerang hingga tiga kali serangan.
Hong Kun bingung mengenali penghadangnya itu adalah gurunya sendiri.
ia memberitahukan guru itu bahwa dia adalah sang murid atau ia mesti membatalkan itu sebab Ciok Peng keburu tiba.
Ia repot sekali.
It Yap sedang gusar dan semua serangannya berbahaya.
Untungnya buat Hong Kun, ia sudah mewariskan kepandaian gurunya itu hingga biar bagaimana sulit juga, masih dapat ia menyelamatkan dirinya.
Ciok Peng terus berdiri menonton.
Tak berani ia turun tangan.
Ia kuatir perbuatannya itu nanti menyebabkan kemarahannya It Yap Tojin.
Ia tahu jago dari Heng San ini separuh sesat, separuh lurus.
Ketika See Sie menyusul ia juga melarang muridnya maju menyerang Hong Kun.
Beberapa kali Hong Kun mau membuka rahasia, sabansaban ia membatalkannya.
sebabnya itu ialah hadirnya Ciok Peng serta murid disitu.
Kalau ia membuka rahasia, habis sudah nasibnya !
Gurunya mungkin mengerubutinya.
Ia sudah lantas bermandikan peluh.
Tapi ia harus membela dirinya.
Diakhirnya ia mendapat satu akal.
Demikian selagi menghindar diri dari satu serangan, ia menghunus pedangnya, terus ia menggerakkan tiga rupa gerakan ilmu pedang Heng San Pay sembari berbuat berita, ia menatap gurunya.
Sebenarnya itulah satu isyarat kaum Heng San Pay dan artinya .
"Aku adalah Gak Hong Kun, murid Heng San Pay !"
Sementara itu It Yap Tojin telah menjadi sangat penasaran.
Ia telah menduga dengan tiga jurus saja ia bakal dapat merobohkan pemuda itu, ia tidak menyangka bahwa orang yang demikian lincah dan gesit dan bisa bertahan dari pelbagai serangannya itu.
Ketika ia melihat orang menghunus pedang, tanpa merasa ia tertawa dingin dan kata di dalam hatinya .
"Kau mau mampus terlebih cepat, ya ?"
Habis itu lantas ia menjadi heran.
Ia melihat orang memberi isyarat cara Heng San Pay itu.
Ia pula merasa aneh akan sinar matanya orang itu.
Tanpa merasa ia berlambat bergerak, pedangnya juga bakal ia hunus.
It Hiong palsu sangat cerdik, ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang paling baik itu.
Justru sang guru berlambat, justru ia lompat jauh dan terus kabur, untuk melenyapkan diri dalam gelapnya sang malam.
"Ah !"
Berseru Ciok Peng, menyesal. Lantas ia lompat untuk mengejar. Atau .
"Saudara Ciok, tahan !"
Demikian seru guru dari Heng San.
"Aku bercuriga terhadap bocah itu !"
Ciok Peng membatalkan niatnya untuk mengejar.
"Apakah totiang mencurigakan bahwa bocah jahanam itu bukannya Tio It Hiong dari Pay In Nia?"
Ia tanya. It Yap Tojin tidak menjawab. TIba-tiba saja ia merasa bahwa ia sudah keliru bicara. Lekas-lekas ia berpura batukbatuk.
"Aku si tua heran kenapa bocah itu tidak mau melawan dengan menangkis pelbagai seranganku.."
Sahutnya kemudian. Ciok Peng tidak berkata apa-apa, tetapi ia heran yang lagak si imam tak wajar dan kata-katanya itu sendiri bertentangan dengan gerak geriknya semula.
"Sampai jumpa pula"
Kata ia yang terus memberi hormat dan mengajak muridnya berlalu pergi.
Ia pikir tidak ada gunanya buat meminta keterangan imam itu.
It Yap Tojin membiarkan Koay Tong berlalu kemudian ia pun berlalu meninggalkan tempat itu, ia hanya berlalu dengan pikiran bekerja keras.
Ia sudah mulai mendapat meraba-raba.
Biar bagaimana ia menyayangi muridnya dan sebaliknya sangat membenci Tio It Hiong....
Hong Kun sementara itu sudah pergi dengan hatinya lega.
Ia lolos dari ancaman maut, tak lagi ia merasa takut.
Ia pula tidak menyesali semua perbuatannya itu.
Sebaliknya, ia memuji kecerdikannya sendiri, dapat mengelabui gurunya.
Sekeluarnya dari wilayah kayhong, ia menuju langsung ke Siong San, guna mencari Giok Peng, sasarannya yang nomer dua, supaya hancur lebur ikatan cinta kasih It Hiong dan isterinya itu !
Ketika itu gunung Siong San atau lebih tepat Siauw Lim Sie, telah menjadi repot sekali.
Telah datang tak sedikit orangorang partai Rimba Persilatan yang menerima undangan, sedang para murid yang bertugas merondia gunung bekerja siang dan malam, sebab disamping penjagaan, mereka selalu dapat menyambut tamu-tamu disembarang saat.
Di pihak dalam, semua murid Siauw Lim Pay dimasihkan berlatih dengan keras terutama untuk melatih Lohan Tiu, Barisan istimewanya.
Pek Cut Taysu sendiri yang memimpin latihan pasukan isitimewa itu.
Di lain pihak, Pek Cut sendiri selalu mengharap-harap lekas tibanya pemuda Tio It Hiong, guna anak muda itu membantu ia membebaskan Siauw Lim Sie atau Siauw Pay, dari ancaman malapetaka.
Sementara itu, satu hal pun membuatnya Bingung dan juga kuatir.
Itulah berita halnya Tio It Hiong sudah melakukan pelbagai pembunuhan dan perampasan.
Mungkinkah itu ?
Pula, beberapa orang muridnya yang diutus ke pelbagai arah guna menyelidiki pemuda she Tio itu, belum ada yang pulang dengan laporannya.
Baru sesudahnya Cio Kiauw In dan Pek Giok Peng tiba, ia mendengar halnya Tio It Hiong masih berada di Ay Lao San, tengah menghadapi Kwie Tiok Giam Po, si nenek lihai dengan bangsinya yang luar biasa itu.
Ia merasa aneh dan bercuriga, walaupun ia adalah seorang pendeta tua dan beribadat, toh hatinya terguncangkan juga.....
Kiauw In dan Giok Peng telah mengambil tempat di gubuk, di gunung belakang.
Mereka sangat mengharap-harap kembalinya It Hiong.
Buat menyambut pertemuan besar kaum persilatan itu, mereka perlu lekas-lekas melatih ilmu silat pedang Sam Cay Kiam.
Ilmu mana tak dapat dipelajari tanpa It Hiong.
Sam Cay dari Sam Cay Kiam berarti langit, bumi dan manusia, dan itu berarti pula tiga orang.
Kiam ialah pedang.
Pada suatu malam nan terang bulan, Giok Peng muncul di muka jendela akan memandangi si putri malam yang tetap permai, yang cahayanya terang bersih dan sinarnya lembut.
Seluruh daerah pegunungan tampak terang dan tegas, suasana sunyi sekali.
Justru itu, mendadak ia menarik napas dalam-dalam dan terus meneteskan air matanya.
Tak ada lagi napsunya menikmati malam yang indah itu.
Maka hendak ia memutar tubuhnya buat meninggalkan jendela itu atau mendadak ada orang yang menepuk bahunya.
"O, adik Peng...."
Demikian tiba-tiba suaranya Nona Kiauw In.
"Adik, kau kenapakah ? Apakah kau kuatir Tan Hong nanti merampas adik Hiongmu ? Aku lihat kau selalu berduka...."
Giok Peng menepis air matanya.
"Oh, kakak tegakah dengan kata-katamu ini ?"
Ia balik bertanya.
"bukankah keselamatannya adik Hiong berarti keselamatanmu juga ?"
Kiauw In sangat mencintai It Hiong dan senantiasa memikirkannya tetapi ia sabar dan hatinya sangat tenang dan mantap, tidak sebagai Giok Peng yang hatinya mudah goncang itu.
Mendengar pertanyaan itu, ia menghela nafas.
"Semoga adik Hiong dilindungi Tuhan supaya ia lekas kembali !"
Katanya sungguh-sungguh.
"Dengan kembalinya adik Hiong maka akan terang jelaslah itu semua berita buruk dan bebas !"
Giok Peng terdiam. Ia ada sangat berduka. Maka keduanya jadi berdiam terus. Lewat sekian lama, Kiauw In menarik tangan orang.
"Malam begini indah"
Katanya.
"mari kita melatih Sam Cay Kiam..."
Dan tanpa menanti jawaban, ia sudah lantas mengambil pedang meraka yang digantung ditembok untuk dibawa keluar dari kamar, buat pergi ke Pekarangan yang luas yang dikitari pagar pepohonan.
Giok Peng mengiringi kehendak kakaknya yang luwes itu, maka dilain saat berdua mereka sudah mulai melatih ilmu pedangnya itu menuruti ajarannya Tek Cio Siangjin selama Kiauw In masih berada di gunungnya.
Sayangnya kedudukan huruf "Thian"
Langit kosong, sebab tidak adanya It Hiong hingga tinggal dua kedudukan "Tan"
Bumi dan "Jia"
Manusia.
Biarnya mereka dapat berlatih dengan baik, kekosongan itu terasa sekali.
Tengah mereka berlatih itu mendadak terlihat satu bayangan berlompat masuk dengan melewati pagar pepohonan, lantas orang itu berdiri tegak di dalam Pekarangan.
Telihat sebatang pedang menggemblok pada punggungnya.
Kiauw In dan Giok Peng berhenti berlatih dengan segera.
Tentu sekali berbareng mereka pun teruslah untuk mengawasi dengan tajam.
"Siapa ?"
Tegur Nona Cio. Mendadak saja Giok Peng menjadi sangat girang.
"Adik Hiong ! Kau pulang !"
Serunya seraya lantas ia berlompat lari kepada suaminya itu ! "Adik Peng"
Balas memanggil orang itu.
"kau.."
Mendadak dia berhenti berbicara terus, sebab tiba-tiba dia insyaf bahwa dia telah salah menggunakan panggilan.
Dia pun tidak berani memanggil Kiauw In.
Tapi dia masih ingat akan berpura batuk-batuk sambil dia tunduk....
Giok Peng sudah lantas memegang lengan orang untuk digoyang-goyang.
"Adik, kau kenapakah ?"
Tanyanya, agaknya sangat menyayangi.
"Ada apakah ? Mari kau turut pada kakakmu..."
Kiauw In sementara itu melengak.
It Hiong memanggil adik pada Giok Peng !
Ia tahu, panggilan itu biasanya ialah kakak.
Ia pula heran, kenapa It Hiong tidak menyapanya, ia selain sangat mencintai, It Hiong pun sangat menghormatinya.
Kenapa sekarang adik atau adik tidak seperguruannya itu diam saja ?
Karenanya ia terus berdiri diam, matanya mengawasi tajam, pada si anak muda.
Terangnya sang rembulan membuatnya dapat melihat orang dengan tegas.
Ketika itu It Hiong palsu telah berkata perlahan .
"Selagi di Ay Lao San, adikmu telah terkena racunnya Kwie Tiok Giam Po. Syukur aku masih dapat melarikan diri. Sampai sekarang, setiap dua hari sisanya racun masih tetap menganggu kesehatanku dan setiap kali aku terganggu, kesadaranku hilang, lantas aku menjadi kasar dan kalap kehendakku selalu ingin menyerang dan membunuh orang-orang, habis itu baru hatiku tenang pula. Aku sudah melakukan perbuatan keliru dengan membinasakan beberapa orang...... ah !...."
Giok Peng terkejut, tetapi ia lantas ingat hosin ouw, obat mujarab itu.
"Kau mempunyai hosin ouw, kau telah makan itu atau tidak ?"
Tanyanya. Ia meraba muka orang dengan perlahan sekali.
"Oh, kau menjadi terlebih kurus....". Berkata begitu mendadak si nona ingat sesuatu, segera sambil mengawasi ia kata .
"Adik, kenapa kau tidak gunakan ilmu tenaga dalam Hian Bun Sian Thian Khie kang guna mengusir racun di dalam tubuhmu itu ?"
Prihatin suaranya si nona dan air matanya sudah lantas menggenang.
It Hiong menengadah langit, ia berdiam saja.
Itulah caranya guna mengelakkan pertanyaannya Giok Peng, yang ia tidak dapat jawab.
Kalau ia menjawab sembarangan saja ia kuatir nanti rahasianya terbuka.
Ia tahu penyamarannya sempurna tetapi ia berwaspada.
Selama itu, Kiauw In masih terus memasang mata.
Ia melihat It Hiong sebagai It Hiong yang tulen, cuma gerak gerik orang yang berbeda.
Ia menerka-nerka.
Apakah itu disebabkan racunnya Kwie Tiok Giam Po ?
It Hiong palsu menengadah langit tetapi diam-diam ia melirik pada Nona Ciu.
Ia merasa hatinya tidak tenang sebab nona itu terus mengawasi padanya.
Ia kuatir nona itu yang sabar luar biasa, nanti mencurigainya.
Ia pun lantas berpikir apa yang ia harus lakukan supaya ia tak terus berada dalam kekuatiran.
Dengan lantas ia mendapat akal.
Terus ia berpura menggigil dan berkata dengan suara tak tegas.
"Ah, ah, racun dalam tubuhku mulai bekerja pula ! Kakak, tolong aku !"
Giok Peng kaget.
"Apa aku mesti perbuat, adik ?"tanyanya Bingung.
"Aku nanti lakukan segala apa katamu ! Bilanglah !"
Hong Kun memandang ke depan, kepada Kiauw In.
"Ia ada di sana, aku tidak berani menyebutkannya..."
Katanya perlahan sekali.
Benar-benar Giok Peng sangat bingung.
Dia terpengaruhkan sangat oleh ketakutan bahwa It Hiong nanti bercelaka karena keracunannya itu.
Dia sampai melupakan segala apa, sampai lupa Kiauw In siapa.
Dia juga menyangka karena It Hiong mau bicara sendiri padanya, itu tentu disebabkan si anak muda sangat mencintainya.
Maka ia lantas kata pada Kiauw In.
"Kakak, racun dalam tubuh adik Hiong bekerja pula, tolong kau pergi mengambil air dingin ! Maukah kau ?"
"Apakah air dingin dapat melenyapkan racun ?"
Tanya Kiauw In, lalu dengan perlahan-lahan juga ia bertindak menghampiri.
Hong Kun bingung.
Dia kuatir tipu dayannya itu gagal.
Dia mencoba menenangkan diri.
Makin keraslah niatnya untuk menyingkirkan nona Cio.
Terpaksa ia berlaku sabar dan kata perlahan .
"Kakak, kenapa kakak tidak memperhatikan aku ? Jiwaku bakal tak dapat bertahan lebih lama pula....Tegakah kau kakak ?"
Kiauw In mengawasi tajam.
"Apakah kau sesalkan kakakmu ini tega, adik ?"
Tanyanya.
"Kaulah justru yang tega terhadap adik Peng !"
Berkata begitu ia maju pula dan tindak sinar matanya menatap muka orang.
Selagi berjalan tangannya si nona merogoh ke dalam sakunya mengeluarkan sebutir obat pula, kemudian sembari mengangsurkan itu, ia kata .
"Apakah kau melupakan obat pemunah racun yang mujarab dari Bie Lek Sie ? Nah, lekas kau makan ini !"
Hong Kun tidak tahu tentang obat itu, tak berani ia banyak bicara, tak berani ia menanya apa-apa.
Ia menyambuti obat itu dan memakannya.
Melihat orang makan obat itu, kecurigaannya Kiauw In menjadi bertambah kuat.
Obat Kay Tok Tan dari pendeta dari Bie Lek Sie cuma ada pada It Hiong dan disimpannya di dalam peles batu hijau, ia sendiri tidak memilikinya.
Obatnya barusan adalah obat biasa saja.
"Adik"
Ia berkata pula.
"kau telah makan obat itu, lekas kau duduk beristirahat untuk mengatur pernafasanmu. Kau gunakan tenaga Hian Bun Sian Thian Khie kang guna membikin obat bekerja ke seluruh anggota tubuhmu, supaya racun dapat diusir keluar."
"Racun sudah menyerang ke tan-tian, tak dapat aku meluruskan lagi pernafasanku..."
Sahut si licik. Kiauw In berpikir keras.
"Adik"
Katanya pula.
"kalau begitu cobalah kau berlatih diri dengan ilmu silat Hang Liong Hok Houw Ciang hoat dari Paman In. Ilmu itu dapat membikin darah mengalir dengan baik..."
Hong Kun kaget bagai disambar guntur.
It Hiong pandai ilmu silat itu, tetapi ia sejuruspun ia tidak mengerti, mana dapat ia menjalaninya ?
Maka ia berpura terus, ia mengernyitkan alis dan mengerutkan muka, nafasnya dibikin memburu.
Ia kata .
"Sekarang..... ini..... tenagaku...... habis...... Apakah Pa..........man..... In.......... ada di dalam .....?"
Ada maksudnya Hong Kun maka ia bertanya begitu.
Ia kuatir In Gwa Sian berada didalam gubuk itu.
Itulah berbahaya.
Tapi justru karena ia menanya itu, ia telah membuka rahasia.
Orang menyebut Paman In, ia menyebut paman pula !
In Gwa Sian adalah ayah angkatnya It Hiong bukannya paman.
Mendengar itu bukan main panas hatinya Kiauw In.
Ia telah mendapat bukti bahwa It Hiong ini It Hiong palsu.
Tapi ia masih dapat mengendalikan hatinya.
Maka ia dapat memperlihatkan tampang muka yang sangat berduka dan prihatin terhadap pemuda di depannya itu.
"Kau tidak dapat meluruskan nafasmu, adik. Kau juga tidak bisa berlatih"
Katanya perlahan dan menyesal, sikapnya menyayangi.
"Kalau begitu marilah masuk ke dalam untuk merebahkan diri buat beristirahat. Paman In tidak ada disini, ia telah pergi ke Siauw Lim Sie untuk mendamaikan sesuatu, mungkin ia tak sempat pulang. Adik Peng, kau payanglah dia kedalam...."
Diam-diam Hong Kun bergirang mendengar kata-kata si nona.
Itulah yang ia kehendaki.
Tidak adanya In Gwa Sian di gubuk itu berarti ia dapat bergerak dengan bebas.
Bukan saja Giok Peng, mungkin Kiauw In juga bakal terjatuh ke dalam pelukannya.
Ia ada demikian girang hingga ia dapat jalan setindak demi setindak sampai ia lupa bahwa ia baru berpura sakit sekali.
Giok Peng memperpanjang orang sampai didalam kamar, ia menggantung pedangnya si anak muda di dinding, ia membantui juga membukai baju luarnya orang muda itu.
Yang ia rebahkan dengan berhati-hati diatas pembaringan.
"Adik Hiong, bagaimana kau rasai tubuhmu ?"
Tanyanya. Hong Kun menggeleng kepala, mukanya meringis, ia malah lantas merintih.
"Adik"
Berkata Kiauw In.
"kalau racun bekerja hingga kalapmu bakal kumat, hingga kau mau membunuh orang, kau harus beritahukan itu kepada kami supaya kami bisa bersiap sedia menyingkirkan diri."
"Jangan kau berkuatir kakak"
Sahut It Hiong palsu.
"Habis makan obatmu barusan aku merasa jalan darahku rada longgar, aku merasa jauh lebih ringan."
Ia mengucap begini karena ia kuatir nona-nona itu nanti meninggalkannya.
Giok Peng lantas menanyakan tentang pertempuran di Ay Lao San, atas itu Hong Kun menjawab dengan isapan jempolnya.
Selama itu Kiauw In duduk disisi, diam mendengari maka ia dapatkan banyak keterangan yang mencurigakannya.
Ketika si anak muda berdiam sekian lama tiba-tiba ia campur bicara dengan menanya.
"Adik, setelah kau terkena racun, kau dapat lari turun gunung, habis bagaimana dengan Paman Beng ? Apakah pamanmu itu masih tetap terkurung di Ay Lao San ?"
Hong Kun telah melihat Kee Eng di Liong peng, ia menjawab tanpa ragu .
"Tidak ! Paman Beng sudah lolos dari Ay Lao San !"
Kiauw In menanya pula .
"Adik, kau tidak dapat melawan racunnya Kwie Tiok Giam Po, habis bagaimana caranya kau membantu Paman Beng ?"
Hong Kun berpura mau muntah. Tak dapat ia menjawab pertanyaan itu. Ia bergerak berbalik kedalam. Terus ia tidak menyahuti. Ketika itu Giok Peng melihat malam sudah lewat jauh.
"Sudah jam tiga kakak"
Kata ia pada Kiauw In.
"Baik kakak kembali ke kamarmu. Sesudah makan obat, aku rasa adik Hiong sudah bebas dari ancaman racunnya. Aku kuatir kakak nanti terlalu letih dan kantuk..."
Kiauw In menyahuti dengan perlahan, seperti perlahan juga langkahnya. Katanya di dalam hati.
"Adik Peng, kau terlalu polos. Manusia palsu kau percaya sebagai suamimu, apakah kau tak takut nanti kena terpedaya ? Baiklah hendak aku saksikan kepandaiannya jahanam ini !"
Memasuki kamarnya yang berada disebelah kamarnya Giok Peng, sengaja Nona Ciu memperdengarkan suara tertutupnya pintu, terus dengan diam-diam ia kembali ke kamarnya sang adik.
Ia dapat menggunakan ilmu ringan tubuh Tangga Mega hingga ia tidak memperdengarkan suara apa.
Ia mendekam di bawah jendela sambil mengintai ke dalam.
Sekian lama kamarnya Nona Pek tetap sunyi saja.
Ketika itu Hong Kun sudah menggerakkan tubuhnya buat duduk, ia membawa jeriji tangannya ke bibirnya buat memberi isyarat supaya Giok Peng jangan bersuara.
Habis itu ia menggapaikan.
Giok Peng duduk dikursi, ia berbangkit dan menghampiri untuk duduk ditepi pembaringan.
"Bagaimana, adik ?"
Tanyanya perlahan.
"Kau tak merasakan apa-apa lagi ? Apakah kau ingin makan sesuatu ?"
Hong Kun tertawa, sebelah tangannya diletaki dibahu si nona. Giok Peng melirik, ia tunduk. Dengan telunjuknya, It Hiong palsu menolak dagu orang. Dia tertawa.
"Kau menjadi terlebih kurus, adik Peng."
Katanya.
"Ini tentu disebabkan kau terlalu memikirkan aku...."
Giok Peng menolak tangan orang, ia melirik .
"Adik, tidurlah."
Katanya.
"Besok akan aku mohon Paman In minta obat dari Locianpwe Ngay Eng Eng. Jago tua itu kabarnya ahli pemunah racun !"
Hong Kun tidak berkata apa-apa, hanya tangannya merapah repeh.
Ia bersenyum berseri-seri, kali ini disebabkan kegirangannya yang sangat.
Segera juga tiba saatnya ia akan merasakan kenikmatan seperti disaat ia mempermainkan Siauw Wan Goat...
Giok Peng merasa heran.
Tak biasanya It Hiong berbuat demikian.
Mendadak ia berbangkit bangun, lalu memutar tubuh dan menatap si anak muda.
"Adik"
Tanyanya.
"dari mana kau pelajari cara ceriwismu ini ? Apakah kau tidak menyayangi dirimu ? Bukankah kau tengah keracunan parah ?"
Habis berkata begitu, nona ini mau kembali ke kursi di jendela. Hong Kun kembali menarik tangan orang.
"Kau gusar, adik Peng ?"
Tanyanya. Giok Peng terperanjat. Orang memanggil dirinya "Adik Peng !"
Tadi pun ia mendengarnya tetapi ia tidak perhatikan. Kali ini suara itu terdengarnya lain. Tapi tetap ia belum bercuriga.
"Adik"
Katanya.
"apakah pikiranmu masih kacau ? Bagaimana kau rasai tubuhmu ? Apa racun jahat itu bekerja pula ?"
Hong Kun menarik kedua tangan orang, memaksa si nona duduk pula. Ia bersenyum. Lantas ia kata .
"Perpisahan tak lama memang jauh daripada saat pengantin baru ! Adikku, apakah kau berpura-pura saja ? Apakah kau tengah mempermainkan aku ?"
Giok Peng tunduk, ia tidak mengatakan apa-apa hanya tertawa perlahan.
Ia seperti sudah mulai limbung dalam laut asmara.....
Kiauw In diluar jendela telah melihat semua itu, ia merasa saat sangat gawat sudah tiba, perlu ia bertindak.
Dengan lantas ia kembali ke kamarnya.
Ia mengambil jinsom untuk memeras itu lalu mengaduknya dengan air dingin di dalam mangkuk, setelah mana ia lekas kembali ke kamarnya Nona Pek.
Ia telah mengetuk pintu sambil memanggil dengan perlahan.
Giok Peng membukai pintu.
Di dalam hati ia kurang puas.
Nona itu seperti menganggunya.
Tapi ia lekas-lekas menanya .
"Ah, kakak ! Sudah jauh malam kenapa kakak masih belum tidur ?"
"Aku tak dapat tidur"
Sahut Kiauw In mendusta.
"Aku selalu memikirkan sakitnya adik Hiong, aku kuatir racunnya nanti kumat. Diwaktu malam seperti ini dimana kita bisa dapatkan obat pemunah racun ? Maka itu aku lantas membuatkan air jinsom ini. Baik adik Hiong meminumnya buat menguatkan tubuhnya....."
Kiauw In tidak menyerahkan mangkuk obat kepada Giok Peng, hanya ia menyerahkannya kepada Hong Kun, sembari ia berkata .
"Adik, habis minum ini kau singkirkan segala pikiranmu yang tidak-tidak, kau beristirahatlah ! Kau tahu sendiri kalau kau berfikir yang bukan-bukan, kesesatan bakal membahayakan jiwamu !"
Kata-kata itu dapat diartikan dua maksudnya itu bisa berupa juga nasihat berikut ancaman.
Mendengar itu gentar hatinya Hong Kun.
Tidak demikian dengan Giok Peng.
Nona Pek menganggap Kiauw In berbuat baik demikian mungkin disebabkan nona itu mengiri terhadapnya....
Hong Kun kuatirkan jinsom itu adalah racun atau obat pingsan untuknya.
Di dalam hati ia mengutuk Kiauw In .
"Budak bau, kau mau main gila ya ! Kau masih terlalu hijau bagiku ! Kau kira dapat kau perdayakan aku."
Pemuda ini menyambuti mangkok, ia menggerakkan tubuh buat duduk, sambil berbuat begitu ia membikin mangkok terbalik maka tumpahlah air obat ke lantai, ia berpura-pura kaget, lalu dengan tampang likat ia mengawasi Kiauw In dan kata .
"Maaf kakak, aku menyia-nyiakan capek lelahmu ini. Dasar aku tidak punya rejeki...."
Tak puas Giok Peng, sengaja dia menyindir .
"Kakak bermaksud baik terhadapmu ! Aku tidak sanggup berbuat seperti kakak ini."
Kiauw In tidak memperdulikan suara kawan yang mudah tersinggung itu, yang keras jelusnya. Ia justru berkata kepada Hong Kun.
"Adik, dimanakah kau taruh kitab Sam Cay Kiam hadiah dari guru kita ? Mari kau keluarkan kasih pada aku, dapatkah ?"
Hong Kun kaget, lekas-lekas dia tunduk dengan perlahan, dia kata .
"Menyesal kakak, kitab itu hilang di Ay Lao San selagi aku melarikan diri...."
Giok Peng menyela .
"Urusan kitab itu baik besok saja kita bicarakan ! Kakak, jangan kau ruwetkan pikirannya adik Hiong !"
Nona ini bertindak menghampiri pembaringan akan duduk dipinggirannya.
Di waktu itu Hong Kun berpikir keras.
Ia menerka Kiauw In telah mencurigainya.
Inilah berbahaya.
Makin lama makin mudah rahasianya terbuka.
Celaka kalau kedoknya lucut.
Maka ia lantas bertindak.
Dengan berpura-pura hendak pergi ke kakus, ia turun dari pembaringannya, ia mengenakan baju luarnya, setelah itu dengan tiba-tiba ia lompat ke dinding, akan menyambar pedangnya kemudian dengan sama cepatnya ia lompat balik kepada Giok Peng untuk menotok jalan darah thay yang nona itu, buat membuatnya pingsan !
Ia berniat memondong nona itu buat dibawa kabur seperti dahulu hari dia melarikan Wan Goat.
Kiauw In tapinya sudah siap sedia.
Dengan tangan kirinya ia menolak Giok Peng sampai si nona mundur dua tindak, dengan tangan kanannya dia menyambuti tangan kanan pemuda itu yang dipakai menyerang Nona Pek.
Ia menghajar dengan satu pukulan sebuah jurus Hang Liong Giok Houw Ciang.
"Bangsat ! Kalau kau laki-laki, beritahukanlah namamu !"
Bentaknya.
Pek Giok Peng kaget sekali, berbareng menjadi sangat gusar.
Ia lantas mengerti maksudnya Kiauw In dan tahu It Hiong itu It Hiong palsu.
Mukanya lantas jadi merah sendirinya.
Ia jengah kalau ia ingat bagaimana barusan ia dipermainkan pemuda tak dikenal itu.
Dengan alis berdiri dan mata mendelik, ia menyambar sebuah kursi dan dipakai untuk menghajar si orang busuk !
Tak sempat Hong Kun menghunus pedangnya, ia menangkis dengan pedangnya yang masih bersarung itu, hingga kursi pecah rusak.
lalu kesempatan itu dipakai olehnya buat berlompat keluar jendela.
Setibanya diluar dengan berani dia menantang .
"Kalau kamu bernyali besar, mari keluar. Kita bertempur buat beberapa jurus !"
Giok Peng gusar bukan main, ia lompat ke tembok akan mengambil pedangnya, disaat ia mau lompat keluar jendela, Kiauw In menarik ujung bajunya.
"Jangan menempur dia seorang diri !"
Kata kakak ini.
"Dia bukan sembarang orang. Mari kita melayaninya berdua buat melihat asal usul ilmu silatnya !"
OooooOooooo Giok Peng menurut. Ketika kemudian ia berdua Kiauw In lompat keluar, si manusia jahat sudah hilang tak karuan pula. Ia mendongkol sekali, mau ia pergi mencari.
"Sudah adik !"
Berkata Kiauw In. Ia mencegah.
"Kita cuma berdua kalau kita mengejar, bagaimana andiakata dia menggunakan tipu daya, memperangkap kita ? Bukankah itu berbahaya? Buat membuat perhitungan, kita jangan tergesagesa......"
Dan kakak ini menarik adik itu masuk ke dalam gubuk mereka. Saking mendongkol, Giok Peng menangis, ia menjatuhkan diri dalam rangkulannya Kiauw In. Ia menyesali dirinya.
"Dasar aku yang tolol !"
Katanya.
"Kenapa aku tidak mengenali orang ? Bagaimana nanti aku harus menemui adik Hiong ?"
"Jangan berduka, adik"
Kiauw In menghiburi.
"Kau belum menjadi korbannya jahanam itu ! Kau tahu setiap saat aku berjaga-jaga terhadapnya. Tadi pun aku mengintai dari luar jendela hingga aku melihat tegas sepak terjangnya. Tentang kesucian dirimu adik, aku yang bertanggung jawab!"
Giok Peng menyusuti air matanya. Ia menarik napas panjang.
"Aku yang harus mati !"
Katanya.
"Syukur ada kau, kakak, yang melindungi aku, kalau tidak mana ada muka melihat orang-orang."
Kiauw In mengusap-usap rambut indah nona itu.
"Sabari hatimu adik, kau berlaku tenang."
Ia menghiburi pula.
"Bukankah kita sudah seperti saudara kandung ? Mana ada perbedaan diantara kita ? Sebenarnya telah sekian lama aku mencurigai orang itu tetapi karena aku ingin bukti, aku bersabar terus, aku seperti membiarkan kau dijadikan korban. Bukankah kau sudi memaafkan aku ?"
Giok Peng berbangkit akan merapihkan rambutnya.
"Mana berani aku menyesalkan atau menggusari kau, kakak ?"
Katanya.
"Aku justeru berterima kasih kepadamu ! Kakak, aku sangat mengagumi kecerdikanmu !"
Lewat lagi sekian lama, barulah Giok Peng dapat menenangi diri. Sekarang ia dapat berpikir.
"Kakak"
Katanya.
"bagaimana sebabnya maka kau ketahuilah dialah adik Hiong palsu ?"
Kiauw In bersenyum.
"Siapa yang hatinya sedang sangat terpengaruhkan sesuatu mungkin saja dia lupa segala apa."
Sahutnya.
"Ketika itu orang pintar bisa menjadi bodoh. Kau sangat memikirkan adik Hiong, adik. Lantas mendadak kau melihat dia, maka itu juga mendadak juga terbangunlah semangatmu. Kau menjadi sangat girang secara mendadak sekali hingga kau tak sempat berpikir lainnya. Di dalam keadaan seperti itu, mana dapat kau berpikir jernih ?"
"Tetapi, kakak."
Kata pula nona Pek.
"bukankah kau juga memikirkan keras adik Hiong sebagaimana yang aku pikirkan ? Inilah yang aku tidak mengerti !"
"Adik, aku harap kau tidak menerka keliru"
Berkata Nona Cio sabar.
"Siapakah orang yagn tidak mencintai suaminya ? Bukankah setiap orang mencintainya ? Kita tapinya beda daripada orang kebanyakan. Kitalah wanita Kang Ouw. Maka kalau kita menghadapi sesuatu, harus kita bersikap lebih tenang. Aku sudah merasa heran, selekasnya dia memanggil kau 'adik Peng', maka diam-diam aku lantas perhatikan padanya. Makin lama kecurigaanku makin bertambah. Dia gagal memperlihatkan Hian Bun Sian Thian Khie kang dan Hang Liong Hok Houw Ciang hoat. Itu masih tidak apa sebab dia baru terkena racun, mungkin dia lemah tak berdaya. Lantas hal obatnya pendeta dari Bie Lek Sie ! Bukankah obat itu ada pada adik Hiong ? Obat yang aku berikan adalah obat biasa saja, toh dia percaya ! Dengan begitu, dia seperti membuka rahasianya sendiri......"
"Tetapi kakak,"
Kata Giok Peng "toh benar kalau orang terkena racun dia jadi lupa segala apa ? Ada kemungkinannya bukan ?"
"Tetapi biasanya,"
Kiauw In menjelaskan lebih jauh.
"siapa terkena racun yang jahat, dia benar-benar melupakan segala apa, matanya seperti buram, gerak geriknya tidak biasa pula. Didalam keadaan begitu, mana orang dapat ingat akan kesenangan hidup suami istri ?"
Mukanya Giok Peng merah.
"Tadi,"
Kiauw In tanya.
"selama berduaan saja, apakah kau tidak melihat sesuatu yang mencurigai ?"
"Ya, ada..."
Sahut Giok Peng, kembali mukanya merah. Kiauw In tersenyum.
"Itulah lucu adik ! Kenapa orang tak tahu kebiasaan suaminya."
Giok Peng menubruk kakak itu, untuk mendekam dibahunya.
"Ah, kakak, kau menggodia aku !"
Katanya.
Ia malu tapi toh ia tertawa.
Selagi kakak beradik itu bergurau, tiba-tiba ada asap bertiup masuk dari luar jendela, hanya lantas asap itu buyar kembali menyusul mana dari luar terdengar bentakan keras suara yang nona-nona itu mengenali seperti suaranya In Gwa Sian.
Kiauw In dan Giok Peng dapat mencium sedikit asap itu, yang baunya harum tetapi lekas-lekas mereka menahan napas, maka itu cuma pusing sedikit, mereka lantas pulih pula.
Lantas mereka saling memandang terus mereka berlompat keluar jendela.
Tepat di dalam Pekarangan pagar, di sana tampak Pek Cut Tasyu ketua Siauw Lim Pay tengah berdiri tegak.
Kedua nona datang menghampiri, buat mengunjuk hormat.
"Apakah loSiansu dapat melihat orang jelas ?"
Tanya mereka. Belum lagi pendeta itu menjawab atau Pat Pie Sie Kie sudah tiba. Dia lantas tertawa nyaring dan kata .
"Bangsat itu memiliki dua buah kaki yang tak dapat dicela, dia berhasil meloloskan diri dari tanganku !"
Kemudian dia menoleh kepada kedua nona dan kata sambil tertawa pula .
"Kalian berdua sangat temaha akan tidur nyenyak ! Kalau aku si tua bangka datang terlambat satu tindak saja, apakah itu bukan artinya celaka ?"
"Ah, paman bisa saja !"
Berkata Giok Peng. Dia jengah berbareng penasaran.
"Paman tahu, jahanam itu sudah datang sekian lama dan datangnya dengan menyamar sebagai adik Hiong. Sesudah sekian lama, baru kami ketahui dialah manusia palsu maka kami mengusirnya ! Siapa sangka, dia bernyali sangat besar, dia berani datang pula ! Bahkan dia menggunakan obat pulas !"
Pek Cut memperdengarkan pujinya.
"Apakah tan wat berdua telah melihat tegas ?"
Tanyanya. Kiauw In menjura dan menjawab.
"Tampang dan pakaian dia semuanya mirip dengan adik Hiong. Kami mengetahui kepalsuannya setelah kami berbicara dengannya dan menguji ilmu silatnya !"
"Habis kalian kena terpedayakan atau tidak ?"
Tanya In Gwa Sian yang tiba-tiba, wajahnya jadi sungguh-sungguh.
"Tidak !"
Menjawab kedua nona, cepat dan bebareng. Mendapat jawaban itu, mendadak wajahnya si pengemis menjadi terang pula.
"Kalau begitu muridnya si hidung kerbau tak dapat dicela !"
Katanya.
"Paman In"
Kemudian Kiauw In tanya.
"ada urusan apa malam-malam paman datang kemari ? Adakah ada didapat sesuatu isyarat ?"
In Gwa Sian meloloskan buli-bulinya untuk menenggak araknya. Ia mengusap-usap mulutnya.
"Adalah si pendeta yang menarik, membetot aku."
Sahutnya kemudian, perlahan.
"Nah, kau tanya saja padanya !"
Pek Cut taysu bersenyum tanpa menanti sampai ditanya si nona ia sudah lantas diberikan keterangan.
Sebenarnya beruntun-runtun ketua Siauw Lim Sie itu telah menerima laporan Tio It Hiong sudah kembali ke Siauw Sit San.
It Hiong pernah menolong Siauw Lim Sie dari bencana besar, setiap anggotanya kenal atau mengenalinya.
Karena It Hiong datang dengan jalan bertarung dalam hal ini ialah Hong Kun yang menyamar It Hiong palsu, ia tidak ada yang hadang.
DI beberapa tempat penjagaan, dia dapat lewat dengan bebas.
Pek Cut Taysu menerima semua laporan itu dengan girang.
Ia ingin segera menemui pemuda yang dianggapnya sebagai penolong itu.
Maka ia cari In Gwa Sian yang sudah datang terlebih dahulu dan mengajaknya ke belakang gunung, ke tempatnya Kiauw In dan Giok Peng.
Tepat mereka datang mendekati rumah gubuk, mereka dapat melihat satu bayangan orang bergerak.
Pendeta dan pengemis itu memang bermata sangat celi, lebih-lebih Pat Pie Sin Kit si orang Kang Ouw kawakan.
Bahkan ia lantas dapat menerka maksud orang.
Tidak ayal lagi dia berlompat maju, menghampiri bayangan itu dan menghajarnya.
Itulah saatnya Hong Kun menceploskan bubuk beracunnya yang berupa seperti asap itu.
Hebat muridnya It Yap Tojin ini.
Dia mendapat tahu ada serangan gelap.
Dia menarik pulang tangannya sambil berkelit, hingga dia lolos dari kejaran itu, selekasnya dia mengenali si pengemis, dia kabur tanpa ragu lagi.
Demikian dia lolos dihutan lebat, dipuncak kemana dia lari.
Tak dapat In Gwa Sian menyusulnya.
Itulah sebabnya, waktu kedua nona lari menyusul, pertama mereka cuma menemui ketua Siauw Lim Sie dan belakangan barulah si Paman In muncul.
"Sesudah mendekati usia seratus tahun, baru inilah yang pertama kali lociap menemui orang jahat yang melakukan penyamaran dan melakukan kejahatan istimewa ini."
Pek Cut menambah-kan keterangannya. Kemudian ia berpaling kepada In Gwa Sian, untuk berkata .
"Kalau begini, In Sicu, terang sudah bahwa Tio Tanwat telah orang fitnah dan si manusia jahat adalah pemuda barusan !"
Matanya In Gwa Sian bersinar, kulit mukanya bergerakgerak, terus ia mengangguk-angguk. Tapi ia tidak mengatakan sesuatu. Sampai disitu, Giok Peng memberi hormat kepada si pendeta.
"Silahkan loSiansu dan Paman In mampir dahulu untuk minum teh !"
Ia mengundang. Pek Cut Taysu membalas hormatnya dengan sebelah tangannya.
Jilid 27
"Terima kasih !"
Bilangnya.
"Lolap hendak lekas kembali ke kuil akan membunyikan genta, isyarat serta menitahkan murid-muridku segera mencari atau memegat orang jahat itu."
In Gwa Sian menengadah langit. Ia melihat fajar telah tiba.
"Pendeta tua, tak usah kau berbuat demikian lagi."
Cegahnya.
"Itulah percuma saja. Orang itu sangat sempurna ilmu ringan tubuhnya, dia tentu sudah lama turun gunung. Manusia jahat bakal menerima nasibnya sendiri, demikian dengan penjahat tadi, tak nanti dia lolos dari hukumannya !"
Pek Cut mengangguk. Ia menggerakkan tangannya.
"Kedua tanwat, silahkan kembali untuk beristirahat"
Ia mempersilahkan.
"Lolap meminta diri !"
In Gwa Sian tampak berpikir, lalu dia kata kepada kedua nona .
"Nanti kalau sudah ada kesempatannya, aku si tua akan menjenguk kalian berdua untuk membicarakan soal anak Hiong. Sekarang kalian jangan banyak pikir, cuma akan memusingkan kepala saja ! Paling benar biar rajinlah kalian berlatih, bersiap sedia menyambut hari pertemuan besar nanti !"
Habis berkata, ia lantas bertindak mengikuti ketua Siauw Lim Sie itu.
Semenjak itu maka Pek Cut Taysu telah mengasi titah baru, siapa pun datang ke Siauw Lim Sie, dia harus dilaporkan dahulu dan tidak dapat dia dibiarkan masuk dengan bebas seperti Tio It Hiong palsu itu.
Penjagaan pun dipesan untuk diperketat.
Hong Kun sementara itu dapat keluar dengan bebas dari pelbagai pos penjagaan Siauw Lim Sie, sebab ia tetap masih menyamar sebagai Tio It Hiong dan diluar pengejarannya In Gwa Sian, dia bersikap tenang-tenang saja.
Sampai jauh dari kaki gunung SiongSan, baru dia duduk diatas sebuah batu untuk beristirahat, untuk sekalian menyesali usahanya yang gagal itu.
Ia menjadi mendongkol dan penasaran sekali, hingga timbul niatnya untuk melakukan lain pembunuhan guna melampiaskan kebusukan hati itu.
Sekali ia benar-benar menjadi seorang manusia sesat.
Selagi It Hiong palsu ini beristirahat itu, beberapa orang rahib tampak tengah mendatangi.
Waktu itu sudah fajar.
Mereka itu pada menggendol pedang dan mendatanginya dengan berlari-lari.
Merekalah rombongan Pauw Pok Tojin dari Ciang Shia Pay bersama beberapa orang muridnya, yang datang memenuhi undangan untuk pertemuan besar di gunung Tay San nanti.
Diantara murid-muridnya itu terdapat Gu Tauw Kong yang baru sembuh dari lukanya.
Dia ini melihat Hong Kun, dia lantas mengenalinya, maka lantas saja ia lompat maju, dia menghunus pedang sambil memperdengarkan suara dingin tanpa mengucap sepatah kata terus dia menyerang anak muda yang menjadi musuhnya itu.
Hong Kun lihai, dengan mudah dia lompat berkelit.
Dia menghunus pedangnya.
Dia pula segera mengenali penyerangnya itu ialah imam dari Ceng Shia Pay yang dia telah lukakan di Liong peng.
"Hai, roh gelandangan diujung pedang !"
Dia membentak.
"masih berani kau datang menerima kebinasaanmu !"
Lantas dia maju untuk membalas menyerang. Bahkan dia mendesak, menyerang terus hingga tiga kali ! "Tahan !"
Berseru Pauw Pok Tojin.
"Tauw Kong, siapakah orang ini ?"
Tauw Kong berlompat mundur.
"Suhu, dia inilah yang melukakan murid serta membinasakan bebeapa orang adik seperguruanku !"
Sahutnya.
"Dialah Tio It Hiong yang menyerbu gunung dan mencuri pusaka kita !"
Pauw Pok segera berpaling kepada si anak muda.
Ia ada cukup besar, hendak dia menanyakan sesuatu, atau mendadak serangannya si anak muda itu telah tiba.
Terpaksa ia menyampok dengan kebutannya sambil membentak .
"Manusia ganas ! Kau mengandalkan pedang mustikamu dengan apa kau tak memandang orang ya ?"
Bersama Pauw Pok berada juga Pauw Goan Tojin, adik seperguruannya. Dia ini gusar, maka dia maju ke depan kakak seperguruannya, untuk segera menuding Hong Kun sambil tertawa .
"Bocak busuk, jika berani, nyalimu besar, sebutkanlah nama gurumu ! Pinto akan tak pedulikan siapa tua siapa muda, bersedia pinto melayanimu bertempur !"
Tak berani Hong Kun menyebut nama perguruannya dan biarpun dia bernyali besar, dia juga takut memakai namanya Tek Cio Siangjin, maka itu dengan kelicikannya dia menjawab saja .
"Jangan kau bertingkah dengan ketua-bangkaanmu ! Jika kau mempunyai kepandaian, kau keluarkanlah itu untuk ku merampas pulang pusaka parta Ceng Shia Pay kamu !"
Mendengar disebutnya pusaka mereka, semua murid Ceng Shia Pay menjadi gusar sekali, maka semua maju serentak sambil mereka menghunus senjatanya masing-masing.
Empat diantara mereka itu sudah lantas mengambil kedudukan mengurung di empat penjuru.
Gu Tauw Kong adalah yang memegang pimpinan sebab itulah semacam tiu, Barisan istimewa dari Ceng Shia Pay, namanya Keng Hoan Thian Pauw Kiam Tiu.
Cocok dengan namanya Barisan itu.
"Barisan pedang"
Kiam tiu.
Segera juga It Hiong palsu sudah mulai diserang dari empat penjuru.
Itulah serangan yang teratur sempurna.
Ke empat batang pedang maju bergantian atau berbareng, menikam atau menebas atau membacok.
Dia tak takut tetapi dia toh repot.
Tak mudah akan meloloskan diri, jangankan buat melakukan penyerangan membalas.
Seru sekali pertempuran itu.
Kelima buah pedang berkilauan, anginnya menghembus kemana-mana, suara bentroknya nyaring.
Sampai sekian lama itu, kedua pihak terus berkutat saja.
Gu Tauw Kong berempat tak berhasil merobohkan musuh yang lihai itu dan Hong Kun tak sanggup meloloskan diri dari pengurungan, ia cuma berhasil membela diri saja.Pauw Pok Tojing menonton terus.
Ia melihat hebatnya pertempuran.
Terpaksa, ia menguatirkan keselamatan murid-muridnya.
Ia mendapat kenyataan pemuda itu lihai sekali.
Ia menjadi menyayangi kepandaian orang itu.
Maka juga akhirnya ia berkata nyaring .
"Hei bocah, jika kau mengembalikan pusaka gunung kami, suka pinto membuka jalan lolos bagimu !"
Hong Kun sudah lantas menunjuki kecerdikannya.
Dia mengerti kalau dia bertempur terus ada kemungkinan dia nanti kalah ulet.
Sudah sekian lama pertempuran berlangsung dan dia belum berdaya sama sekali.
Maka pikirnya.
"Baiklah aku bersabar ! Laginya buat apa segala benda pusaka orang."
Tetapi dia menghendaki kepastian.
"Totiang"
Demikian serunya.
"Apakah totiang bersungguhsungguh ?"
Sambil berkata begitu, pemuda ini merogoh ke sakunya dan terus mengulapkan tangannya itu, akan memperlihatkan benda pusaka orang yang dia rampas.
Itulah yang dipanggil Pek Giok Siam uh, atau "Kodok Gemula"
Yang berkhasiat menyembuhkan luka. Habis mengasi lihat itu, ia kembalikan benda itu ke dalam sakunya. Pauw Goan Tojin mendongkol sekali. Terang orang itu menunjuki kelicikannya.
"Lekas menggunakan It Kie Thian lo !"
Ia menyerukan ke empat muridnya.
"Perketat kepungan ! Binasakan dia !"
Perintah itu dituruti, ke empat murid Ceng Shia Pay menyerang pula.
"It Kie Thian lo"
Berarti "Jaring Langit senyawa".
Pula penyerangan dilakukan dengan keras luar biasa.
Maka itu selagi pedang-pedang lawan berkilauan dan anginnya menderu, It Hiong palsu menjadi repot sekali mencoba menyelamatkan dirinya.
Tetapi muridnya It Yap Tojin tidak takut.
Dia berani dan cerdik.
Lantas tangan kirinya merogoh pula sakunya, kali ini buat mengeluarkan Pek Giok Siam uh bersama bubuk pulasnya yang beracun, Bie Hun Tok Han, sembari melemparkan itu ke arah Gu Tauw Kong, ia berseru .
"Terimalah pusakamu ini !"
Menyusul seruan itu maka terbang berhamburanlah bubuknya yang lihai itu !
Dilain pihak, Pauw Pok Tojin yang jujur melihat orang mau melemparkan pusakanya, sudah lantas menyerukan orangorangnya "Lepaskan pengurungan !
Berikan dia jalan hidup !"
Ke empat murid itu sudah lantas berhenti mengurung sedangkan Gu Tauw Kong terus menyodorkan tangannya guna menyambuti pusakanya atau segera ia kena mencium bubuk racun itu, seketika juga tubuhnya limbung terus roboh pingsan, sementara kedua kawannya yang dapat mencium sedikit, terhuyung mundur dengan kepala sedikit pusing, lekas-lekas mereka menyampok ke depan, akan membuyarkan bubuk, setelah mana ketiganya menjatuhkan diri untuk duduk bersila, buat mengatur pernafasannya.
Di lain pihak lagi, Gak Hong Kun yang cerdik telah menggunakan kesempatan buat angkat kaki, tetapi dasar dia licik dan juga ganas, dia berlompat kepada Gu Tauw Kong sambil mengayun pedangnya.
Dia memikir sekalian saja membunuh musuh itu walaupun oarng sudah rebah pingsan.
Sementara itu Pauw Goan Tojin yang berpengalaman, lantas menerka jelek selekasnya ia melihat robohnya Tauw Kong itu maka justru Hong Kun menyerang dengan kecepatan yang luar biasa, dia sudah menyambut serangan busuk dari pemuda itu.
Hong Kun terperanjat, ia mencoba berkelit dengan Tiat Poam Kio, jurus silat Jembatan Papan Besi, akan tetapi biar bagaimana, ia toh terlambat maka juga bajunya robek terpapas pedang dan darahnya mengalir keluar membasahi bajunya itu !
Selagi penyerangan itu berlaku Pauw Pok telah menyerukan adik seperguruannya .
"Sute, tahan!"
Pauw Goan mentaati kata-kata kakak seperguruannya, ia masukkan pedangnya ke dalam sarungnya, matanya mengawasi It Hiong palsu yang kabur seketika, hilang lenyap di tempat jauh.
Habis itu, ia menghampiri Tauw Kong untuk ia menjemput Pek Giok Saim Uh yang ia terus letaki diatas hidung orang, sedangkan dengan tangannya yang lain ia menotok, menekan dan menguruti dada dan perut si pingsan, guna memberikan pertolongannya.
Luar biasa khasiatnya benda pusaka itu yang bisa menyingkirkan racun dan menyembuhkan, karena dilain detik, Gu Tauw Kong mendusin dengan tidak kurang suatu apa.
Hampir berbareng dengan itu, ketiga yang lainnya pun dapat berbangkit sebab mereka bisa menyelamatkan diri dengan usaha penyaluran pernapasannya itu.
Pauw Pok Tojin menyimpan benda pusakanya, sesudahnya Gu Tauw Kong berempat dapat berjalan bersama-sama mereka mulai pula bertindak ke arah Siauw Lim Sie.
Sembari jalan Pauw Pok penuh keragu-raguan.
Inilah sebab ia melihat ilmu silatnya It Hiong tak mirip dengan ilmu silat Kie Bun Pat Kwa Kiam dari Pay In Nia dan gerakan ringan tubuhnya tak sama dengan ilmu ringan tubuh Te In Ciong, Tangga Mega.
Walaupun demikian, ia cuma merasa heran, tidak ia utarakan itu.
Ia melihat tetapi ia menutup mulut........
Selagi Tio It Hiong palsu kabur meninggalkan gunung Siong San, maka It Hiong yang dapat celaka berbalik menjadi memperoleh keberuntungan, hingga tidak saja jiwanya tak lenyap di jurang di Ay Lao San itu, sebaliknya ia memperoleh buku silat pedang Gie Kiam Sut.
Tanpa ia ketahui, It Hiong terjatuh di dalam jurang dengan ia tercebur ke dalam air hingga saking terkejut ia kena menengaknya.
Justru karena itu, karena hawa dingin ia lantas terasadar.
Ia melihat gelap disekitanya.
Air dingin luar biasa dan perih rasanya terkena mata.
Maka ia lantas memejamkan pula matanya itu serta menyalurkan pernafasan dengan ilmu Hian Bun Sian Thian Khie kang, sedangkan kedua tangannya digerak geraki tak hentinya untuk berenang.
Ia terus menahan nafas.
Ia tahu, ia terjatuh ke air dan tenggelam, entah berapa dalam.
Maka ia ingin muncul dipermukaan air itu.
Tidak lama muncul juga ia dipermukaan air.
Ia berenang terus sampai tangannya memegang stalaktit.
Sekarang ia bisa membuka matanya tetapi disekitarnya gelap, tak dapat ia melihat apa-apa.
Ia pula merasa seluruh tubuhnya gatal, hingga ia menjadi terkejut.
Disebelah itu ia telah biasa dengan dingin itu.
Ketika ia pusatkan tenaga matanya ia cuma bisa melihat sejauh tiga kaki.
Tiba-tiba si anak muda ini melihat sinar kuning emas berkelebat di depannya bergerak maju dan mundur.
Waktu ia mendekati kiranya itulah sekumpulan ikan yang sisiknya mengeluarkan cahaya seperti kunang-kunang.
Dan kumpulan ikan itu berkumpul di mulutnya sebuah goa.
Dengan berani ia masuk ke dalam goa itu hingga kakinya kena injak lumut yang tebal dan licin sekali.
Goa itu mendaki naik.
Ia lantas bertindak seperti merayap, kedua tangannya sekalian dipakai sebagai mata, sebab tetap ia berada di dalam gelap gulita.
Ia pula merasa yang ia mendaki berputar.
Jadi terowongan itu tidak terus lempang.
Waktu ia angkat tangannya ke atas, tangan itu membentur langit-langit goa, terpisah goa dari kepala cuma satu kaki.
Ditempat seperti itu, terang tak dapat ia duduk atau kepalanya akan sundul dengan langit-langit.
Terpaksa ia beristirahat sambil rebah diam saja.
Selekasnya ia merasa letihnya berkurang, ia mulai merayap pula hingga tangan dan kakinya bekerja sama.
Makin jauh ia merayap, It Hiong merasai terowongan mendaki terus.
Tentu sekali tak tahu ia berapa jauh ia sudah berjalan merayap itu.
Makin ia merayap makin ia mendaki tinggi.
Kembali ia merasa bahwa ia telah merayap memutari.
Hanya kali ini segera ia merasa debarannya angin dan waktu ia membuka matanya, ia melihat sedikit sinar terang.
Sementara itu ia merasa letih bukan main, cuma dengan menguatkan hatinya dapat ia merayap lagi kira-kira tiga puluh tombak.
Disini ia merasa gua makin lebaran dan juga langitlangitnya tinggi, cari duduk dan berjongkok ia dapat berdiri tanpa kepalanya sundul.
"Ah !"
Demikian ia menghela nafas, lalu ia meluruskan jalan nafasnya.
Ia berduduk akan beristirahat.
Kali ini ia duduk bersemedi dengan membuka matanya supaya ia bisa melihat segala apa.
Ia merasakan nadinya bagaikan tertutup, itulah penghalang untuk mengatur pernafasannya.
Cuma ia merasa hatinya tenang, ia lantas ingat bahwa ia telah jadi korban racunnya lagu bangsi dari Kwie Tiok Giam Po.
Maka lekaslekas ia merogoh sakunya, mengeluarkan peles hijaunya buat mengeluarkan pil dari pendeta tua dari Bie Lek Sie, untuk terus dimakannya.
Bahkan sekali telan, ia menelan enam butir.
Sesudah itu ia menyenderkan tubuhnya pada dinding dan matanya dipejamkan.
Tanpa merasa, ia tidur kepulasan.
Entah berapa lama sudah sang waktu lewat.
Tatkala It Hiong mendusin, pakaiannya sudah separuh kering sendirinya.
Yang menggirangkan hatinya ialah waktu ia mendapat kenyataan tenaganya sudah pulih dan otaknya sudah jernih seperti biasa.
sekarang ia ingat akan rasa lapar.
Untung baginya, rangsum bekalannya tidak lenyap, hingga ia bisa mengeluarkan itu dan mulai mengisi perutnya.
Lalu tibalah saatnya yang anak muda ini berbangkit, untuk mulai berjalan.
Ia mengikuti jalanan yang banyak pengkolannya.
Ia mengharap-harap bisa tiba di mulut goa.
Ia pula merasa aneh, goa itu bebas dari tikus atau ular atau binatang lainnya.
Satu hal ia kuatirkan juga, kalau jalan keluar masih jaun, ia bisa kehabisan rangsum dan celakalah bila ia sampai kelaparan.
"Bak !"
Tiba-tiba terdengar satu suara keras dan It Hiong terperanjat.
Ia berjalan sambil berpikir keras, matanya sampai tak memperhatikan jalan disebelah depan itu, maka diluar tahunya ia membentur dinding.
Lantas ia mengawasi, ia menjadi girang sekali.
Ia melihat sinar matahari !
Bukan main girangnya !
Lantas ia lari ke arah darimana cahaya itu datang.
Berdiri di mulut goa, It Hiong berpaling ke belakang.
Ia melihat goa itu cukup lebar.
Tadi dari dalam, tak dapat ia melihat lebih tegas.
Ia melihat pembaringan dan kursi batu.
Benda lainnya tapinya tak ada.
"Pasti goa ini pernah orang pakai buat bertapa"
Pikirnya.
"Karenanya mulut goa ini pastilah jalan keluar...."
Dengan tenang It Hiong mengawasi dinding.
Ia mendapat lihat dinding yang rata seperti buatan manusia, lebar kira satu tembok.
Mungkin itu hasil papasan dengan golok atau kapak.
Dinding lainnya tak rata.Sesudah pikirannya menjadi lega itu, It Hiong cepat kembali ketenangannya.
Disitu tak ada benda lainnya.
Ia jadi tertarik dengan dinding yang rata itu.
Lantas ia bertindak menghampiri sampai dekat sekali, untuk meneliti.
Samar-samar ia melihat huruf-huruf, hanya sebab cahaya kurang tak dapat ia melihat nyata, hingga juga tak dapat ia membaca huruf-huruf itu.
Ia ingat api lekapannya tetapi tak dapat ia menyalakan itu karena sumbunya basah bekas kerendam.
Saking masgul It Hiong pergi ke pembaringan batu.
Ia naik diatas itu dan duduk beristirahat guna menenangka hatinya.
Mulanya ia tetap berpikir keras.
Dengan begitu tak dapat ia duduk tenteram.
Pikirannya tertarik pada dinding licin itu.
Ia turun dari pembaringan, ia berjalan mondar mandir.
"Bagaimana aku harus berdaya buat bisa melihat dan membaca huruf-huruf itu ?"
Pikirnya berulang-ulang. Masih lewat pula beberapa saat sampai mendadak saja ia ingat sesuatu.
"Ah, mengapa aku menjadi tolol ?"
Akhirnya ia kata sambil menepuk tangan.
Ia lantas mengambil sumbunya yang tadi ia lemparkan ke tanah sebab tak dapat disulut nyala.
Buat mendapatkan api, ia mencabut pedangnya.
Ia pakai itu buat mengetuk dinding, hingga pelatikannya merupakan api.
Kali ini sesudah berulang-ulang dapat juga ia menyalakan sumbu itu hingga selanjutnya sumbu itu menggencang terus hingga bisa dipakai menyalai.
Ada bagian lain yang telah tumbuh lumut lantas lumut itu dikorek,disingkirkan.
Untuk kegirangannya, ia melihat tiga huruf yang berbunyi "Gie Kiam Sut"
Ilmu Mengendalikan Pedang.
Itulah ilmu pedang yang sudah lenyap dari perbendaraan dunia persilatan selama setengah abad paling belakang.
Orang umumnya menyebut itu sebagai ilmu "Pedang Terbang".
Huruf-huruf lainnya adalah cara mempelajari ilmu pedang yang istimewa itu.
It Hiong telah mengerti ilmu pedang walaupun Gie Kiam Sut sulit setelah ia membaca berulang-ulang, dapat ia menangkap artinya.
Hal itu membuatnya girang bukan main.
Lupa segalanya, ia terus membaca dan membacanya sampai ia sanggup mengapalkan itu diluar kepala, hingga ia lupa lapar dan haus !
Untuk melatih diri dengan ilmu pedang yang baru ini, maka It Hiong berdiam di dalam goa itu.
Ia tidak menyia-nyiakan waktu kecuali buat makan dan beristirahat sewaktu-waktu, terutama buat tidur.
Di waktu malam ia tidur sampai waktu sudah larut, untuk besoknya bangun pagi-pagi.
Selama itu ia telah menghabiskan semua bekalan rangsum keringnya.
Bahkan disaat ia menghadapi kesempurnaan latihannya itu, ia mengisi perut dengan beberapa lembar daun hosin ouw sebab tak mau ia membuang waktu sedetik juga !
Dengan memakan hosin ouw obat mujarab itu, It Hiong dapat menahan lapar.
Di sebelah itu, khasiat obat membuatnya bertambah hingga ia menjadi lebih ringan, kesaktiannya bertambah hingga ia menjadi sangat bersemangat, ia pula merasa bahwa matanya dapat melihat dengan terlebih terang.
Mula pertama It Hiong dapat menerbangkan pedangnya setinggi tiga tombak lebih dan sejauh belasan tombak.
Itulah hasilnya dua bulan, tetapi hasil itu adalah hasil belasan tahun buat orang biasa.
Ia memperoleh kecepatan sebab bakat dasar baik ilmu silatnya sendiri, pengaruh obat dan rejekinya.
Tapi hasil itu belum memuaskan.
Ia ingin memperoleh lebih.
Toh ada sebab-sebab yang memaksanya meninggalkan goa terlebih cepat.
Itulah soal pamannya, urusan pertemuan besar kaum persilatan di gunung Tay San, memikirkan Kiauw In, Giok Peng dan anaknya.
Pula janjinya dengan Tan Hong.
Tentunya ia diliputi urusan famili, partai, dan asmara.
Maka akhirnya ia mengambil keputusan buat berangkat pulang.
Pagi itu masih It Hiong berlatih, selesai itu dan beristirahat sebentar, terus ia berjalan menuju ke mulut goa, akan keluar dari situ, hingga ia melihat dinding gunugn disekitarnya.
Dinding itu tinggi seratus tombak lebih.
Matahari sudah muncul akan tetapi hal mana belum buyar seluruhnya.
Sejauh tiga puluh tombak kabut tebal.
Setelah mengawasi ke atas sekian lama, It Hiong mengerahkan tenaganya.
Ia mesti mendaki dinding itu.
Untuk ini ia mesti menggunakan ilmu ringan tubuh Tangga Mega.
Saban-saban ia meminta bantuan pedangnya guna menikam dinding, guna menancapkan pedangnya itu supaya ia bisa meminjam kekuatan pedang guna saban-saban mengapungi tubuhnya naik terus.
Ketika akhirnya ia tiba diatas gunung, ia girang bukan main.
Ia menghirup pula hawa segar di tempat terbuka.
Ia mengawasi ke pelbagai arah habisnya sambil bersiul nyaring ia lari turun gunung.
Di detik itu tak tahu ia arah tujuannya.
Yang penting ialah asal ia tiba dulu di kaki gunung.
Disini ia akan bisa memilih jalan atau menanya orang.
Sementara itu pada hari itu, pagi-pagi habis para pendeta melakukan ibadatnya, telah diadakan sebuah rapat dimana hadir semua orang anggota dari kuil Siauw Lim Sie serta para tamunya yang terdiri dari beberapa orang ketua partai dan orang-orang rimba persilatan.
Di kursi baris kedua hadir para pendeta dan murid dari tingkat kedua.
Ruang rapat itu memang tempat khutbah, jumlah hadirin seratus orang lebih tetapi suasana tenang dan sunyi.
Tidak ada orang yang bicara.
Semua berdiam.
Segera juga Pek Cut Taysu ketua Siauw Lim Sie berbangkit dari tempat duduknya.
Ia merangkap tangannya sembari hormat pada semua hadirin sambil mulutnya mengucapkan doa puji, setelah mana ia menatap keseluruh hadirin.
Dengan demikian ia melihat diantara sekalian hadirIn Goaw Han Tojin dari Bu Tong Pay bersama Pauw Goan Tojin adik seperguruannya, Cio Sim Tojin dari Kun Lun Pay, Cukat Tan dan Hea Poan Liong dari Ngo Bie Pay juga In Gwa Sian serta lainnya sejumlah tiga puluh orang lebih ahli silat kenamaan.
Tiga orang lagi tidak hadir disebabkan pantangan keagamaan dari Siauw Lim Sie ialah Beng Sio Sanhay dari Kun Lun Pay serta Cio Kiauw In dan Pek Giok Peng, walaupun mereka telah berada diatas gunung.
Dengan tenang tetapi bersungguh, Pek Cut Taysu mengutarakan sebab musabab atau keperluannya Tay Su Tay Hwan.
Pertemuan Besar di gunung Tay Su nanti, ialah guna menentang bencana rimba persilatan, guna menyelamatkan dunia persilatan lurus dan ancaman pihak yang sesat.
Maka itu para hadirin terutama harus sadar seluruhnya, diminta suka nanti bekerja sama menumpas para bajingan itu.
"Begitulah, maka lolap bersama Sicu In Gwa Sian sudah mengirim surat undangan kepada pelbagai pihak yang sama tujuan, guna kita membuat pertemuan di Lam Thian bun digunung suci Tay San. Sekarang sudah tanggal sepuluh bulan delapan, saatnya sudah mendesak. Disebelah kanan kiri kita menyusun kekuatan, kita juga perlu ketahui kekuatan pihak lawan, supaya kita bisa menempatkan pepatah . 'Tahu lawan, tahu diri sendiri. Seratus kali perang, seratus kali menang.' Maka itu para hadirin yang terhormat, tolong kalian membantu memberikan petunjuk supaya kita dapat bekerja dengan sempurna."
In Gwa Sian tidak menanti suara orang berhenti, sembari menepuk meja dia berkata keras .
"Eh, pendeta tua, buat apa sih kau bicara merendah panjang lebar begini ? Kalau kita menghadapi kawanan bajingan jin, kita hajar saja, tak usah kita banyak berpikir lagi ! Buat aku si orang tua, aku cuma akan menyediakan dua tangan ini."
Demikian tabiatnya si pengemis, yang tidak sabaran.
Memang biasanya kalau ia bicara dengan orang, atau orangorang sebayanya tak sudi ia pakai adat istiadat atau aturan.
Ia membawa caranya sendiri, baik ditempat umum atau di tempat resmi.
Sekalipun Pek Cut Taysu ketua dari Siauw Lim Sie, suci dan dihormati oleh semua orang, bagi ia sama saja.
Ia bicara tanpa bahasa pengertian.
Masih lugas ia memanggil imam tua, sedangkan Tek Cio Siangjin, tabib kenamaan gurunya It Hiong, ia kerap panggil dengan sebutan si hidung kerbau !
Diantara hadirin ada murid-muridnya yang masih muda yang semangatnya meluaplupa, mereka ini bertepuk tangan dan berseru menyambut suaranya si pengemis itu.
Setelah suasana sunyi kembali, Pauw Pok Tojin dari Ceng Shia Pay berbangkit.
Ia mengangguk kepada para hadirin, istimewa mengangguk kepada In Gwa Sian, sembari menyingkap janggutnya yang panjang, ia berkata sabar .
"In sicu benar, hanya itu aku pikir, kalau kita berlaku sabar sedikit dan kita merundingkan tentang kekuatan pihak sana, mungkin itu ada baiknya juga. Pernah pada tiga puluh tahun dahulu pinto bertemu dengan Thian Cia si imam tua si biang kejahatan. Itulah pertemuan di tengah jalan di Holo. Dalam pertemuan itu pinto menginsyafi lihainya ilmu Sam Im Khie kang dan Sam Ciang hoat yang dimilikinya. Setelah sekarang lewat puluhan tahun, entah berapa jauh sudah kemajuannya kedua ilmunya itu. Atau mungkin dia telah menambah dengan lain macam kepandaian yang jauh terlebih lihai. Maka itu, lawan sebagai dia itu sungguh tak dapat dipandang ringan !"
Habis berkata, rahib itu mengawasi para hadirin, lalu mengangguk terus berduduk pula. Setelah itu Cukat Tan, murid kepala Ngo Bie Pay, berbangkit dan berkata .
"Sayang guruku Leng In Tojin tak dapat datang hadir dalam rapat ini, sebab ialah ia kebetulan lagi menutup diri. Karena itu aku yang rendah telah dikirim kemari guna minta maaf, buat aku menerima segala titah agar aku dapat berbuat apa-apa untuk kita semua."
Habis berkata, Cukat Tan mengawasi para hadirin, lalu ia bertanya .
"Taysu, telah aku mendengar tentang saudara Tio It Hiong murid pandai dari Tek Ciok Siangjin dari Pay In Nia, halnya dia telah membantu mengusir kawanan bajingan yang telah menyerbu kemari, bahwa kepandaiannya luar biasa lihai. Aku kagum sekali mendengar halnya itu. Tapi sekarang manakah saudara Tio itu, kenapa ia tidak turut hadir disini ?"
Pemuda itu menanya polos, tetapi itu justru menyulitkan Pek Cut Taysu hingga ia berdiam saja.
Maka ia dapat menjawab karena ia sendiri tidak tahu dimana adanya pemuda yang ditanyakan itu.
Sementara itu sejumlah hadirin yang tak mengerti maksud pertanyaannya Cukat Tan pada menoleh mengawasi murid Ngo Bie Pay itu.
Alis panjang dari Pek Cut Taysu bergerak, agak bersangsi ia berkata juga.
"Sebenarnya sekarang ini Tan wat Tio It Hiong sedang pergi ke Ay Lao San berhubung dengan urusan pamannya, Tanwat Beng Kee Eng tetapi lolap rasa bila tiba saatnya pertempuran ia tentu akan datang tepat pada waktunya. Tentang Tio Tanwat itu harap sicu tak usah buat kuatir."
Justru baru pendeta itu habis berkata muncullah seorang kacung muridnya dengan laporannya ini.
"Kakak Beng Kee Eng dengan masih sakit telah tiba dan ia menantikan perintah Su cun."
Kata-kata Su cun itu berarti guru yang terhormat. Mendengar laporan berduka, ia girang sebab murid itu datang dan berduka lantaran orang lagi sakit. Ia lantas memberikan perintahnya.
"Tempatkan ia di Ruang Bawah. Kalau ada bicara lainnya, tunggu sampai sebentar malam !"
Kacung murid itu mengangguk lantas dia mundur. Pek Cut menahan sabar. Sebenarnya ingin ia segera bicara dengan murid Siauw Lim Sie itu. Ia berbangkit pula dan berkata .
"Sebenarnya sulit buat kita mengetahui tentang kekuatan lawan maka itu benar seperti katanya In Lo sicu, kita baik menyambutnya dengan kekuatan kita. Sekarang hendak lolap menitahkan. Ang Sian Sute berangkat bersama dua puluh orang murid sebagai rombongan pertama. Mengenai pelbagai partai, lolap minta para ciangbunjin untuk mengatur masingmasing orangnya sendiri. Kita sendiri para hadirin, akan berangkat pada tanggal tiga belas yang mendatang. Karena itu, silahkan sicu semua bersiap-siap !"
Semua hadirin segera berbangkit.
"Baiklah !"
Kata mereka serempak.
Maka sampai disitu selesai sudah rapat itu dan semua orang lantas bubaran.
Malam itu juga Pek Cut mengajak Liauw In dan In Gwa Sian pergi ke Ho In pendoponya yang disebut Ruangan Bawah itu untuk melihat Beng Kee Eng.
Mereka disambut Whie Hoay Giok yang selalu mendampingi dan merawat gurunya itu.
Kemudian anak muda pintu menggendong gurunya, buat diajak keluar dari kamarnya akan membuat pertemuan di ruang tamu.
Kee Eng tetap belum dapat berdiri maka ia memberi hormat dengan mengangguk saja kepada gurunya bertiga itu.
Ia pun memohon maaf.
Terharu Liauw In melihat keadaan muridnya itu.
"Muridku, kau terkena racun siapa ?"
Tanyanya memotong kata-kata si murid.
"Dan sicu Tio It Hiong, dimanakah adanya dia sekarang ?"
Kee Eng memberikan keterangannya, bagaimana mulanya ia dipancing Kie Cie Hoan Heng Su, bagaimana ia terkena racunnya ular oleh Kin Lam It Tok sampai It Hiong datang menolong bersama Hoay Giok serta Tan Hong dari Hek Keng To.
"Apa kabar kemudian mengenai Tio sicu ?"
Tanyanya Pek Cut yang memuji sang Buddha.
Kee Eng tidak dapat memberi keterangan kecuali hanya di dusun Liong Peng tiu di pinggiran propinsi Secuan, ia telah bertemu orang yang mirip It Hiong yang sudah melukakan murid-murid dari Ceng Shia Pay dan malamnya ia bertiga telah diserang secara menggelap hingga Tan Hong pergi mengejar penyerang gelap itu, bahwa sejak itu Nona Tan belum kembali.
"Ha, binatang itu berubah !"
Teriak In Gwa Sian yang bergusar dengan secara mendadak matanya mendelik, alisnya terbangun.
"Sabar In Locianpwe,"
Kee Eng meminta.
"Dengan kepalaku ini aku yang muda berani menjamin anak Hiong tak nanti melakukan sesuatu yang dapat membuat malu gurunya ! Yang harus dipikirkan justru keselamatan dirinya karena ia berada di gunung Ay Lao San sendiri saja...."
Pek Cut Taysu mengernyitkan alisnya.
"Dalam hal itu cuma keselamatannya Tio Tanwat yagn harus dipikirkan."
Katanya.
"Dalam hal itu mesti ada terasangkut sepak terjang orang jahat yang bekerja mengalihkan bencana buat mencelakai orang !"
Pendeta itu lantas menuturkan halnya itu malam ada orang yang menyamar sebagai Tio It Hiong sudah datang mendatangi kamar suci di gunung belakang Siauw Lim Sie dan memperdaya Pek Giok Peng.
Karenanya ia mau menyangka benar It Hiong sebenarnya lagi menghadapi bahaya, mungkin dia terkurung di Ay Lao San atau ditangah jalan telah dirintangi orang jahat.
Mendengar semua itu, In Gwa Sian tidak lagi bergusar.
Terpaksa, ia menjadi berduka.
Sambil menyentil-nyentil meja, ia memperdengarkan suara bagaikan ngelamun.
Pek Cut berduka sekali, tetapi di depannya In Gwa Sian ia mencoba berlaku tenang.
"Bagaimana kalau lolap mencoba meramalkan keadaannya Tio Tanwat ?"
Ia tanya kemudian. In Gwa Sian menjadi seorang luar biasa, ia tak percaya ilmu tenung, maka dia kata dalam hatinya .
"Orang hidup atau mati sudah takdir. Mana aku percaya segala nujummu ? Mana orang ketahui apa yang terjadi di tempat jauh ratusan lie ? Dasar si pendeta tua banyak tingkahnya."
Walaupun dia memikir demikian Pat Pie Sin Kit toh tak menolak kata-katanya sang pendeta.
"Kau, kau cobalah !"
Katanya tawar.
"Kau membuat capek dirimu saja, pendeta tua !"
Pek Cut lantas duduk bersila sambil memejamkan mata, mulutnya komat kamit, entah apa yang ia ucapkan.
Habis membaca jampi tangan kirinya dimasuki ke dalan tangan baju yang kanan, terus ia berdiam bagaikan orang bersemedi.
Lewat sesaat mendadak ia membuka matanya yang bersinar terang terus ia memperlihatkan wajah girang terus ia berkata nyaring kepada In Gwa Sian.
"In Sicu, jangan kuatir ! Barusan ramalanku adalah ramalan yang baik sekali ! Memang Tio Tanwat menghadapi ancaman bencana tetapi dia selamat, bahkan dari dalam ancaman bahaya dia memperoleh kebaikan. Dia justru harus diberi selamat !"
In Gwa Sian bersangsi, separuh percaya separuh tidak. Kemudian ia menghela nafas.
"Syukur kalau seperti katamu itu, pendeta tua ! Buatku tidak ada lain keinginanku agar anak itu tak kurang suatu apa !"
Ayah angkat ini menyayangi anak itu.
Dalam keadaan berduka itu, ia tetap memanggil Pek Cut si pendeta tua, sedangkan pendeta itu selalu menghormatinya dengan memanggil ia In Sicu.
Sicu itu berarti pengamal, penderma.
Liauw In sementara itu mendukakan muridnya, yang ia lihat keadaan parah sekali.
Bagaimana racun ular itu dapat disingkirkan, supaya murid ini bisa sembuh hingga kesehatannya pulih seluruhnya.
Ia adalah seorang pendeta tetapi saking berdukanya, air matanya menetes beberapa butir.
Tetapi mendengar kata-katanya Pek Cut, sang suheng, kakak seperguruan, ia lantas tanya kakak seperguruan itu.
"Suheng, dapatkah ramalanmu itu terbukti ?"
"Ya, benarkah ramalanmu itu tepat ?"
In Gwa Sian turut bertanya. Pek Cut tertawa.
"Kalau aku gagal, akan aku bertapa lagi sepuluh tahun !"
In Gwa Sian tertawa.
"Aku cuma bergurau !"
Katanya. Pek Cut mengawasi Kee Eng, lalu ia tanya Liauw In, bagaimana dia lihat sakitnya murid itu.
"Barusan aku memeriksa dia"
Sahut Liauw In.
"Muridku terkena racun jahat, pada ketiga jalan darahnya yang paling berbahaya...."
Pendeta ini, sang sute, adik seperguruan, bicara pada kakak seperguruannya itu sambil menjura. Ia tampak sangat suaram.
""Ha !"
Mendadak In Gwa Sian berseru.
"Eh, pendeta tua, apakah lupa bahwa didalam kuilmu ini ada ahli pengobatan racun ular ? Nah, lekas kau undang si tua bangka she Ngay datang kemari buat dia mengobati keponakan muridmu ini ! Apakah yang harus ditunggu lagi ?"
Kata-kata ini menyadarkan Liauw In dan kakaknya, lantas saja ia berlompat untuk terus lari keluar.
Untung bagus buat Kee Eng, segera setelah ia dirawat Ngay Eng Eng, racunnya telah bisa diusir, cuma buat ia sehat kembali seperti biasa, harus beristirahat selama satu tahun.
Biar bagaimana, keadaan seumumnya toh membuat hati orang lega.
Pada malam tanggal lima belas bulan delapan, rembulan indah luar biasa.
Diwaktu begitu di rumah-rumah orang sedang asyik merayakan pesta Tiong Cia pertengahan musim gugur, berkumpul diantara sanak keluarga, saling memberi selamat.
Tapi di gunung Tay San, orang bergerak-gerak didalam rombongan besar, sebagaimana besar juga jumlahnya mereka masing-masing.
Diatas puncak, segala apa tampak mirip siang hari, sedangkan sang angin bertiup bersiur-siur.
Pohon-pohon cemara memain diantara sang angin, dahandahannya bergerak bagaikan bayangan bergerak, bagaikan bersaing dengan golok dan pedang ditangannya dua rombongan orang itu.
Itulah kawanan jago-jago kaum lurus dan sesat yang telah datang menghadiri pertemuan besar rimba persilatan guna merebut pengaruh.
Di pihak lurus sadar guna menegakkan keadilan buat kesejahateraan khalayak ramai.
Di pihak sesat buat menjagoi guna nanti memperluas pengaruh.
Mereka berkumpul di puncak datar dari Koan Kit Hoang, puncak Melihat Matahari.
Diluar dari kedua rombongan besar itu adalagi satu rombongan lain, hanya jumlahnya sangat kecil karena mereka cuma berdua, satu pria dan satu wanita.
Yang satu tua, yang lainnya muda.
Yang pria berdandan sebagai Agama To, To Kauw, jenggotnya panjang, punggungnya tergendolkan pedang.
Yang wanita berdandan ringkas, pada punggungnya tergemblokan sanho pang.
Sebab mereka itulah It Yap Tojin ahli pedang dari Heng San Pay dan Tan Hong, si cantik dari Hek Keng To, pulau ikan Lodan Hitam.
It Yap Tojin termasuk orang separuh sesat, separuh sadar, kali ini dia mengambil sikap sebagai kampret, jadi ada ketegasan terakhir.
Tan Hong kaum sesat tetapi ia mencintai Tio It Hiong, ya dia menggilainya maka dia telah mengambil ketetapan buat berubah cara hidupnya, buat meninggal-kan kesesatan, guna hidup lurus selanjutnya.
Dia datang untuk menjenguk Tio It Hiong dengan siapa dia belum pernah bertemu pula sejak perpisahan mereka di Ay Lao San.
Dia bahkan tak tahu si anak muda berada dimana dan bagaimana keadaannya.
Di pihak sadar, rombongan dipimpin oleh Pek Cut Taysu, ketua Siauw Lim Pay, ia muncul dari rombongan dengan diapit oleh Ang Sian dan Liauw In, kedua adik seperguruannya.
Dengan jubah suCinya dia nampak tenang dan agung.
Dengan mengangkat tangannya, ia memberi hormat pada pihak lawan, lalu berkata dengan suara dalam.
"Para sahabat rimba persilatan, selamat datang. Pin lap mohon sudi apalah pemimpin para sahabat suka keluar dari rombongan kalian untuk kita berbicara !"
Kata-kata "pin-lap"
Itu seperti "pin-jeng"
Adalah "aku"
Buat kaum pendeta Hed Kauw Agama Buddha. Di dalam rombongan pihak sesat itu lantas terdengar suara "Hm !"
Yang dingin menyusul itu muncullah orang yang menyuarakannya.
Kiranya dialah Thian Cie Lojin.
Dia diiringi muridnya yaitu Tong Hiang, serta Cit Mo Siauw Wan Goat, bajingan nomor tujuh, si bungsu dari To Liong To, pulau Naga Melengkung.
Si orang tua, yang dandanannya pria bukan wanita bukan, sudah lantas membuka suaranya .
"Eh, pendeta tua, apakah kau masih belum naik ke nirwana ? Nah, ada pesan terakhir apakah dari kau ? Silahkan mengatakannya, tak ada halangannya."
Ucapan itu kontan membangkitkan amarah sejumlah orang kaum lurus itu. Orang tua mirip orang banci itu terlalu kasar, dia menghina sangat. Pek Cut Taysu sebaliknya melawan kekasaran dengan senyuman.
"Tak usah kita mengadu mulut"
Katanya tertawa.
"Buat menjadi jago untuk merebut pengaruh orang masih harus mempertunjuki kepandaiannya yang berarti ! Nah, losiancu tolong kau utarakan pendapatmu mengenai pertemuan besar kita ini. Silahkan !"
Thian Cie Lojin tertawa terkekeh.
"Aku ?"
Tanyanya jumawa.
"Buat aku berkelahi satu sama satu atau main keroyokan sama saja! Aku bersedia menyambut kamu dengan cara apapun ! Cuma kalau bertempur tanpa syarat itulah tidak menarik. Bagaimana kalau membataskan umpama sampai sepuluh kali ? Di dalam sepuluh itu tiga untuk bu pie dan tujuh bun pie ! Aku percaya dengan begini seandianya pihakmu yang kalah, kamu akan kalah dengan menutup mulut kamu, kalah dengan puas !"
"Amida Buddha !"
Berseru Pek Cut.
"Baiklah, aku menerima baik saranmu ini."
Sahutnya.
"Sebutkanlah bagaimana caranya yang pertama. Lebih dahulu bn pie atau bun pie ?"
"Lebih dahulu bu pie tiga kali !"
Sahutnya.
"Dengan itu kita akan uji kepandaianmu yang sesungguh-sungguhnya. Habis itu barulah bun pie. Nanti, sehabisnya pertandingan yang keenam, maka kamu dapat memikir-mikir ! Andiakata kamu sudah tidak punya tenaga lagi, empat pertandingan yang selanjutnya boleh disudahi dengan begitu saja."
Mendengar suara orang itu, Pat Pie Sin Kit gusar bukan main. Ia lantas saja berlompat maju.
"Siluman bangkotan !"
Bentaknya.
"Kau keluarkan ilmu Sam Im Ciang mu, kau pakai itu menyambut Hang Liong Hok Houw ku untuk mencoba-coba !"
Setelah berkata tadi Thian Cio sudah lantas memutar tubuhnya buat kembali kedalam rombongannya, waktu ia mendengar bentakan itu lantas ia menoleh.
"Eh, pengemis tua, sang waktu masih banyak sekali !"
Berkata dia, tawar.
"Jangan kau tergesa-gesa !"
Pek Cut Taysu menarik ujung baju kawannya itu.
"Jangan layani dia bicara"
Katanya sambil ia terus mengajak keuda adik seperguruannya mundur.
In Gwa Sian menurut.
Sejenak itu, sunyilah medan laga itu.
Sang putri malam terus bersinar indah.
Dari pihak sesat lantas tampak majunya satu tubuh kecil dan langsing yang cara berlompatnya lincah sekali.
Selekasnya ia tiba ditengah lapangan lantas ia berkata dengan suaranya yang nyaring halus.
"Aku yang muda adalah Teng Hiang, aku ingin belajar kenal dengan kepandaian istimewa dari orang-orang yang berilmu."
Melihat gayanya itu, hatinya Giok Peng panas.
"Nanti aku yang keluarkan mengajar adat pada anak itu !"
Katanya pada Kiauw In sengit. Nona Cio mencekal lengan orang.
"Sabar"
Katanya.
"Kita dengar dahulu suaranya Pek Cut Taysu."
Justru itu sang pendeta mengawasi pihaknya sambil menanya siapa yang bersedia maju melayani nona itu.
Cukat Tan dari Ngo Bie Pay muncul sebelum sang pendeta menutup matanya.
Ia memberi hormat pada ketua itu terus ia lompat ke tengah lapangan menghampiri si nona penantang.
Murid Ngo Bie Pay ini baru berusia dua puluh lebih, tampan dan gagah orangnya.
Dia mengenakan baju biru yang singkat dan sepatunya sepatu ringan.
Dengan pedang di punggungnya, dia tampak menarik hati.
Hatinya Teng Hiang menggetar ketika melihat pemuda itu, kontan ia tertarik hati, lantas matanya memain, tetapi kemudian ia tertawa dan berkata dengan bentakannya .
"Jika kau bernyali besar, berani menyambut pedang nonamu, maka haruslah kau memberitahukan dahulu namamu !"
Alisnya si anak muda berbangkit.
"Aku Cukat Tan dari Ngo Bie Pay !"
Sahutnya nyaring.
"Kau catatlah !"
Berkata begitu si pemuda menghunus pedang terus menikam sambil ia memberi peringatan.
"Awas ! Lihat pedangku !"
Teng Hiang bergerak mundur satu tindak. Ia tidak segera menghunus pedangnya. Sebaliknya ia tertawa manis dan kata merdu.
"Kau berhati-hatilah menyambutku !"
Baru sekarang dengan cepat ia mencabut pedangnya dan menusuk.
Barusan itu Cukat Tan menyerang untuk menggertak saja.
Setelah pedangnya diluncurkan separuh, ia menarik pulang kembali.
Justru itu tibalah pedang si nona, maka terpaksa ia menangkis tusukan itu.
Karena itu beradulah pedang mereka berdua, suaranya nyaring, percikan apinya muncrat, hingga keduanya saling mencelat mundur menyingkir dari percikan itu.
Cukat Tan merasai besarnya tenaga lawan, ia menjadi waspada.
Ketika ia menyerang pula, ia menggunakan "Soat Hoa Kiam hoat"
Ilmu silat "Bunga Salju", ilmu itu gerakannya ialah .
satu beruntun menjadi tiga.
Teng Hiang melayani dengan seksama.
Ia hendak membuat anak muda itu mengagumi ilmu silatnya, maka ia berlaku keras.
Segera ia menyerang dengan jurus Melintang Mengusap, yang terus diubah menjadi "Badai Menggulung Salju".
Di dalam hati Cukat Tan terkejut.
Ia tidak menyangka seorang nona mempunyai tenaga demikian besar.
Tanpa ayal lagi, ia melayani dengan ilmu pedang "Bunga hujan berhamburan".
Dengan demikian kedua pedang jadi bergerak sama cepatnya, cuma cahayanya yang tampak, pedangnya tidak !
Para penonton kedua belah pihak kagum menyaksikan pertempuran seru itu, semua menonton dengan berdiam, tanpa suara, mata mereka mengawasi tajam.
Tengah kedua pihak bertempur hebat itu, mendadak tubuh Teng Hiang mencelat tinggi.
Pedangnya diarahkan ke kepala lawan.
Ia bermaksud supaya lawan menangkis serangan itu, hingga tubuh orang lowong dan ingin mendepaknya, itulah jurus silat "Burung Belibis Turun Di Pasir Dasar"
Cukat Tan menangkis dengan jurus silat "Menggoyanggoyang langit Memisahkan Mega"
Tak sempat ia mundur, maka buat melindungi dadanya, ia mengulur kakinya menyambuti kaki lawan.
Teng Hiang melihat ancaman bahaya, ia menangkis tangan orang dengan tangan kirinya.
Tiba-tiba ia terkejut.
Tangannya si anak muda keras sekali dan ia merasa lengannya nyeri dan kaku.
Tetapi yang hebat ialah ujung sepatunya telah terasambar lawan, hingga guna membebaskan diri, mesti ia tebas tangannya orang.
Ia melakukan itu dengan cepat sekali.
Cukat Tan melepaskan cekalannya.
Ia lihat pedang berkelebat hendak menebas tangannya itu.
Justru itu, dengan kecepatan luar biasa, si nona mengulurkan tangannya ke kepala orang !
Kaget sekali pemuda itu, ia mencoba mengelik kepalanya, ia toh sedikit ayal, kopiahnya telah kena terasambar !
Selagi si pemuda lompat mundur, s pemudi turut berlompat mundur.
Keduanya saling mengawasi dengan berdiri bengong.
Ternyata kepandaian mereka seimbang.
Hanya sejenak, maka gegerlah orang-orang di kedua belah pihak.
Mendadak mukanya Cukat Tan menjadi merah.
Ia tahu apa artinya tawa itu.
Orang mentertawakannya sebab ia masih memegangi sepatunya si nona.
Sedangkan Teng Hiang melongo disebabkan sepatunya itu copot kena dirampas lawan !
"Nah, ini aku kembalikan sepatumu !"
Katanya kemudia.
Dan ia melemparkan sepatu ditangannya itu.
Teng Hiang menyambuti, matanya mendelik kepada si anak muda.
Rupanya ia mendongkol.
Setelah itu ia pun melemparkan kopiah orang yang ia telah kena cabut dari kepala orang dan merampasnya.
"Ini, sambutlah !"
Ia berseru.
Hebat jalannya pertempuran dan jenaka juga tetapi kesudahannya seri.
Setelah itu sama-sama mereka mengundurkan diri kedalam rombongannya masing-masing.
Dari dalam kalangan sesat segera muncul dua orang lain.
Kiranya dialah Yan Tio Siang Cian si sepasang ganas dari tanah Yan Tio dua saudara yang masing-masing bernama dan bergelaran Toa Cian Leng Gan, si Telengas Besar dan Siauw Cian Leng Ciauw, si Telengas Kecil.
Untuk wilayah utara merekalah dua orang kejam kaum Hek To, Jalan Hitam.
Selamanya kalau mereka mencuri mereka berdua saja dan biasanya pula mereka tak meninggalkan korban hidup, mesti korban mati.
Dan kalau mereka berselisih, mereka mesti menuntut balsa dengan membinasakan semua musuhnya Yang paling mereka senangi ialah menganiaya, membuat orang tersiksa.
Itulah kekejaman yang membuat mereka memperoleh julukan "Cian"
Ialah kejam atau telengas dan "Siang"
Sepasang. Dua bersaudara itu bertubuh kate dan gumu mukanya, berdaging tak rata, matanya bersinar bengis. Senjata mereka yaitu golok bengkok melengkung yang istimewa, yang umum menyebutnya "Bima To"
Atau golok Birma. Ilmu golok mereka juga istimewa sebab selamanya mereka berkelahi berdua bersama, goloknya dicekal ditangan kiri dan kanannya masing
KANG ZUSI website
http.//cerita-silat.co.cc/ masing seperti kita menggunakan golong sepasang.
Siauw Cian yang memegang golok dengan tangan kiri dan Toa Cian dengan tangan kanan.
Setibanya di tengah lapangan keduanya mengulapkan golok mereka, untuk pun berkata dengan berbareng.
"Tadi orang melawan satu dengan satu tetapi kami berdua saudara, kami menghendaki dua lawan dua. Tangan kami sudah gatal sekarang. Kami mau mencari orang yang darahnya dapat dipakai mencuci golok kami ini ! Nah, siapakah yang bernyali besar hendak mencoba-coba golok kami ?"
Tantangan itu dikeluarkan dengan suara yang dikurung pengerahan tenaga dalam, maka juga terdengarnya nyaring bagaikan genta membuat telinga bagaikan berbunyi pengang.
Kedua rahib dari Bu Tong Pay, Leng Hian dan Seng Hian hendak menyambuti tantangan itu tetapi sebelumnya sampai mereka keluar dari dalam rombongan, dua sosok tubuh orang lainnya sudah mendahului, mereka berlompat mirip bayangan, hanya dua orang itu lompat ke depannya Pek Cut Taysu atau memberi hormat sambil berkata .
"Lo Siansu, dapatkah kami berdua kakak beradik yang menyambut tantangan pihak sana itu ?"
Itulah Cio Kiauw In dan Pek Giok Peng. Pek Cut Taysu menoleh kepada In Gwa Sian baru ia memberikan jawabannya sambil ia mengangguk.
"Baiklah tanwat berdua, asal kalian berhati-hati !"
Kedua nona lantas berlompat maju, tangan mereka masing-masing pada gagang pedang mereka.
Dengan menuruti kebiasaan kaum Bu Lim rimba persilatan lebih dahulu mereka menyapa dengan hormat kepada kedua lawan itu.
Toa Cian Len Gan tertawa bergelak.
"Bagaimana nyaring namanya kelima partai besar rimba persilatan di tionggoan."
Demikian ejeknya.
"Siapa sangka ini yang muncul hanya dua orang nona cilik !
Justru kami berdua saudara tak mempunyai rasa kasihan terhadap nona-nona manis.
Nona-nona baiklah kamu pulang saja, akan mencicipi penghidupan berbahagia di rumah kamu !
Janganlah kamu hanya membuat malu saja disini."
Hatinya Giok Peng panas sekali mendengar hinaan itu.
Kiauw In yang sabar pun tidak puas.
Lantas keduanya tanpa membuka suara lagi menghunus pedang mereka, untuk menyerang dari jurus Kie Bun pat Kwa Kiam hoat.
Yan Tio Sian Cian tetap memandang sebelah mata kepada kedua nona itu, mereka juga sangat mengandalkan golok mereka yang tajam seperti golok mestika.
Mereka lantas menangkis dengan maksud membacok kutung pedang lawan.
Tapi mereka terkejut.
Mereka menangkis angin, sebab nona dengan cepat sekali sudah menarik pulang ke arah pundak lawan.Terpaksa, kedua saudara itu berkelit mundur dan tindak !
Baru sekarang mereka sadar bahwa nona-nona itu tidak dapat dipandang ringan.
Jilid 28 Cio Kiauw In berdua mendesak.
Itulah saatnya buat dapat menang diatas angin.
Mereka pun sebal terhadap kedua lawan itu, ingin mereka lekas-lekas merobohkannya.
Leng Gan dan Leng Ciauw kalah ketika, terpaksa mereka membiarkan diri mereka terdesak hingga mereka repot menangkis, tak hentinya mereka berlompatan akan menjauhkan diri ke kiri atau kanan dia, ke segala arah.
Mereka menjadi sangat kaget dan gusar sekali.
Mereka penasaran sekali.
Tapi gusar dan penasaran tinggal gusar dan penasaran, mereka tetap tidak dapat segera membebaskan diri dari desakan.
Beruntung bagi mereka, mereka masih tetap bisa bertahan.
Semua penonton kagum.
Di pihak lurus, orang berbareng girang melihat pihaknya menang angin.
Di pihak sesat, selagi mengagumi pertempuran mereka menguatirkan kawannya nanti kena dikalahkan.
Dengan berlangsung terus pertempuran, kedua saudara Leng seperti sudah dikurung sinar pedangnya kedua pedang nona-nona lawannya itu.
Itu berarti malapetaka tengah mengancam.......
Tan Tio Ciam pun penasaran sebab sampai sebegitu jauh tak dapat mereka membentur pedang lawan sedang niat mereka ialah membuat kedua pedang itu terkutungkan.
Kiauw In dan Giok Peng tahu golok lawan tajam luar biasa, mereka berlaku cepat sekali.
Tak mau mereka membiarkan senjata mereka beradu dengan bagian tajam dari golok.
Pek Cut Taysu dan In Gwa Sian menonton dengan perhatian, si pendeta melirik si pengemis, lantas dia bersenyum.
Mereka puas sebab nona-nona itu telah mempertunjuki kepandaiannya yang mengagumkan.
Cukat Tan dilain pihak menjadi sangat kagum, dia seperti lupa pada diri sendiri.
Pikirnya .
"Ilmu pedang Bunga Salju guruku lihai sekali, tetapi dibanding dengan ilmunya nonanona itu, kepandaianku masih kalah setingkat......."
Tengah jago muda dari Ngo Bie Pay itu bagaikan ngelamun, tiba-tiba dia mendengar jeritan hebat.
Segera dia menoleh ke arah lapangan dimana sudah terjadi satu perubahan.
Yan Tio Siang Cian repot bukan main.
Mereka cuma bisa membela diri.
Leng Tiauw penasaran dan bingung.
Sudah tujuh delapan puluh jurus pihaknya tetap berada dibawah angin.
Itulah tidak menguntungkan, bahkan berbahaya.
Saking bingung, dia menjadi tak dapat menguasai lagi dirinya.
Diam-diam merogoh keluar senjata rahasianya yang istimewa "Hong Go Tok Piauw", yaitu piauw tawon beracun, yang beracun.
Selekasnya dia mendapat kesempatan, dia lantas menimpuk Giok Peng.
Itulah bokongan, perbuatan curang.
Pedangnya Nona Peng berputar terus, piauw itu kena terasampok hingga terpental balik.
Sialnya senjata rahasia itu makan tuan, ialah menancap di pergelangannya sendiri, nancap dalam setengah dim.
Dia menjerit, membuat Leng Gan, kakaknya kaget sekali.
Sebabkan ketahui, piauw beracun itu piauw maut, akan meminta jiwa setelah racunnya mengalir sampai kerongkongan.
Di dalam satu jam racun akan meresap ke seluruh anggota tubuh terutama bagian perut.
Ini artinya tak ada pertolongan pula.
Maka juga kakak ini menggertak gigi, dengan telengas dia membabat kutung lengan adiknya itu, guna mencegah menjalarnya racun.
Kalau tadi Leng Ciauw menjerit tertahan, sekarang dia berteriak sekerasnya saking nyerinya tubuhnya terhuyung beberapa tindak.
Dia mesti memegang kehormatan dirinya.
Semampunya dia bertahan.
Dengan begitu tak sampai dia roboh.
Cuma jeritannya itu yang membuat orang mendengar dan mengetahui hal jeritannya itu.
Kiauw In melihat kejadian itu.
Segera nona itu berlompat mundur.
Dia menghormati aturan kaum Kang Ouw, tak mau dia menggunakan kesempatan itu membinasakan musuh.
Malah melihat Giok Peng masih menyerang Leng Gan, dia menyerukan akan si adik menunda perkelahiannya itu.
Nona Pek mendengar kata, dia menahan serangan pedangnya, tetapi disaat dia mau mengundurkan diri, tiba-tiba beberapa cahaya menyambar ke arahnya !
Itulah bokongannya Toa Cian Leng Gan yang bersakit hati karena adiknya dilukai, bukannya dia menyerang Kiauw In, dia justru membokong Giok Peng yang lengah, tak siap sedia itu.
Dengan tangan kirinya dia menimpukkan piauw-nya yang beracun itu.
Ketika itu si nona tengah membalik belakang.
Sedangnya piauw maut itu mau merampas jiwa orang, satu sinar pedang berkelebat menyampoknya jatuh ke tanah berumput.
Itulah perbuatannya Kiauw In yang membantu adiknya.
Hal itu membuat gusar nona yang sabar itu yang terus mencelat ke depan Toa Cian, bahkan terus saja ia menyerang dengan satu luncuran pedang dengan ilmu "Burung Air Mematuk Ikan."
Toa Cian kaget sekali.
Ia mau menyerang lawan, siapa tahu ia pun diserang.
Repot ia mengelakkan diri.
Ketika ia menggerakkan lengan kirinya, tepat lengan itu terbabat pedangnya si nona.
Maka ia pun menjerit seperti adiknya itu, lengan kirinya itu putus dan jatuh ke tanah !
"Jika kalian tidak puas, mari maju pula !"
Kiauw In kata sambil ia menuding dua saudara Leng itu, si Sepasang Ganas.
Leng Gan menotok tubuhnya sendiri, guna menghentikan darah yang mengucur keluar dari lengannya itu, dengan sinar mata penuh kebencian, dia mengawasi tajam Nona Cio kemudian ia kata sengit .
"Sakit hati lengan buntung ini pasti akan datang harinya yang aku akan tagih dari kau, budak !"
Berkata begitu jago dari Yan tio itu menjemput kedua potong tangan mereka, lalu sambil menarik tangan saudaranya lalu pergi mengundurkan diri.
Pek Cut Taysu lantas mengasih dengar suaranya yang nyaring .
"Losicu Thian Cia, terima kasih yang kau telah sudi mengalah !"
Dari dalam rombongan sesat itu bukannya Thian Cia yang menyambut sang pendeta, hanya satu suara yang cempreng. Katanya .
"Inilah belum berarti apa-apa ! Segera juga tongcu nomor satu dari Losat Bun kami dari Ay Lao San, Hong Hwio Lui Siu Pek Lie Cek akan mengajukan dirinya. Pendeta tua berhati-hatilah kau memilih orang untuk melayaninya !"
Tongcu yang disebut namanya itu sudah lantas muncul bersama sepotong senjatanya yang luar biasa yaitu Tok kak Tong-jin, boneka perunggu dengan kaki sebuah, lima jalan darahnya tersimpankan senjata rahasia beracun.
Panjangnya boneka itu empat kaki dan beratnya empat puluh kati.
Pek Lie Cek mempunyai kepala besar dan mata bundar, hidungnya hidung singa dan mulutnya besar lebar, pipinya berewokan dan dagunya berjanggut panjang.
Dia pula bertubuh besar.
Dia mengenakan baju kuning panjang sampai dimulut dan sepatunya sepatu ringan warna hitam.
Tiba di lapangan dia berdiri tegak hingga sikapnya menjadi keren sekali, kata orang mirip dengan malaikat penjaga pintu....
"Siapa bernyali besar, mari muncul akan terima binasa !"
Demikian orang itu membuka suara. Suaranya keras, sikapnya jumawa. Suara itu bagaikan guntur kerasnya. Pek Cut Taysu lantas mengawasi orang-orang pihaknya.
"Bagaimana kalau aku si tua yang melayani dia ?"
Tanya Pat Pin Sin Kit yang tak biasanya menjadi sungkan. Pendeta dari Siauw Lim Sie itu menggeleng kepala sambil berkata .
"Jangan tergesa-gesa Losicu, sebentar akan muncul lawan yang tangguh...."
Belum berhenti suaranya sang pendeta Gouw Hoat Taysu sudah muncul dan sembari memberi hormat berkata pada ketuanya.
"Suheng, dapatkah adikmu yang keluar ?"
Pek Cut Taysu mengangguk dengan perlahan, maka Goay Hoat Taysu lantas berlompat ke tengah lapangan sambil ia membawa sianthung, tongkatnya yang panjang mirip toya.
Bahkan segera dia memperdengarkan suaranya terhadap pihak lawan.
"Sicu Peklie Cek, apakah sejak perpisahan kita, sicu masih sehat-sehat saja ? Apakah sicu masih mengenali padaku si pendeta dari dua belas tahun yang lampau ?"
Peklie Cek mengawasi pendeta itu. Lantas ingat ia kepada peristiwa dahulu di jalan di perbatasan propinsi Siamsee -Kamsiok. Ketika itu dalam satu bentrokan dia telah merasai lengan "Lohan Cian"
Dari si pendeta.
"Hm !"
Dia lantas memperdengarkan suara dinginnya.
"Sungguh berbahagia ! Sungguh berbahagia disini kita berjumpa pula !"
Berkata begitu ia lantas memutar senjatanya yang luar biasa itu, hingga anginnya menderu-deru.
Ia tidak takut.
Dua belas tahun yang lalu ia kalah, tetapi setelah itu ia masuk dalam rombongan Losat Bun dan belajar lebih jauh dibawah pimpinannya Kwie Tiok Giam Po, maka ia bukanlah Peklie Cek yang dahulu.
Ia sengaja berlaku jumawa guna memancing keluarnya si pendeta yang ia tak menyebut namanya secara langsung.
Segera setelah kedua pihak berdiri berhadapan, Gouw Hoat Taysu mulai dengan penyerangannya.
Peklie Cek menyambut serangan itu dengan satu tangkisan keras, maka sebagai akibat bentrokan itu, keduanya sama-sama mundur tiga tindak.
Gouw Hoat Taysu tak menghiraukan tenaga lawan yang bertambah itu, ia maju pula kembali ia menyerang.
Peklie Cek tertawa.
Dia mundur ke samping satu tindak, kepalanya diegoskan.
Selewatnya tongkat lawan, dia membalas menghajar dengan hebat, niatnya membikin tongkat terpental terlepas dari cekalan lawan.
Gouw Hoat Taysu dapat menerka maksud lawan itu.
Ia mengelit tongkatnya, tetapi bukan ditarik pulang hanya diteruskan dipakai menyerang ke pinggang si orang takabur.
Peklie terkejut.
Dia tidak menyangka si pendeta demikian cepat.
Terpaksa dia harus waspada.
Habis berkelit dia berseru .
"Kepala gundul, kau sambutlah ini !"
Dan dia menyerang dengan jurusnya "Membelah Bambu". Gouw Hoat penasaran yang orang masih membelah. Ia menyambut dengan sekuat tenaganya. Ilmu silat yang dipakai ialah "Kie Kee Thian Ho"
Atau "Jembatan di Kaki Langit".
Hebat bentroknya kedua senjata berat itu.
Percikan apinya muncrat.
Lengan kanannya Peklie Cek terasa kesemutan dan nyeri, tubuhnya terpental mundur lima tindak.
Sebaliknya adalah Gouw Hoat Taysu, yang kuda-kudanya tangguh.
Dia melesak kakinya tiga dim dan tubuhnya limbung, bergoyang beberapa kali.
Dengan cepat dia berlompat maju kepada lawan, tongkatnya dipakai menyerang pula.
Sembari menyerang itu, ia berkata nyaring .
"Hong hwe Lui-siu, kau juga sambutlah tongkatku ini !"
Peklie Cek tidak takut.
Masih ia mau menguji tenaga lawan.
Ia percaya kekuatannya masih akan bertahan.
Segera ia menangkis dengan bonekanya itu.
Lagi-lagi kedua senjata beradu keras, suaranya sampai memekakkan telinga.
Tapi kedua jago tetap sama tangguhnya.
Maka mereka terus melanjuti pertempuran mereka.
Seperti tanpa terasa, mereka sudah melalui kira tiga puluh jurus.
Sekarang ini lengan mereka masing-masing terasa kaku dan darah seperti bergolak di dalam dada mereka.
Satu kali mereka bentrok keras lantas keduanya sama-sama mundur.
Ketika itu dipakai buat mengatur pernapasan masingmasing, berniat menyerang pula tetapi mereka berjaga-jaga kalau-kalau nanti kena didahului.
Diluar kalangan maka tongcu Losat Bun yang nomor dua habis sabar.
Dialah Sam Chiu Pia Kauw Hu Leng, si Kera Bertangan Tiga.
Dia habis sabar sebab menanti terlalu lama hingga dia kuatir kawannya nanti kalah sebab sudah selama itu sang kawan belum berhasil merebut kemenangan.
Dia pula bukannya maju akan membantu kawannya itu, hanya dengan tiba-tiba secara diam-diam dia menyerang Gouw Hoat Taysu dengan senjata rahasianya yang diberi nama Tengkorak Badsi.
Senjata itu menyambar dari atas ke bawah, menungkrap kepala.
Melihat menyambarnya senjata rahasia lawan, dari dalam rombongan pihak lurus menyambar pula serentetan dari enam buah Liam Cu, mutiara biji tasbih kaum pendeta agama Buddha, semua menyerang kepada senjata rahasia lawan itu.
Tepat serangan itu !
Hancurlah senjata rahasia lawan, besinya muncrat ke empat penjuru, akan tetapi bubuknya yang berwarna merah tua justru turun dengan perlahan-lahan, turun ke arah Gouw Hoat Taysu yang sudah tak berdaya.
Apakah yang telah terjadi ?
Kenapakah Gouw Hoat Taysu roboh ?
Inilah akibat bentrokan si pendeta dengan lawannya, bentrokan yang terakhir.
Habis mereka berjaga-jaga, mereka mengadu kekuatan pula.
Peklie Cek meyerang, keduanya roboh sama-sama, sebab kepala mereka pusing, dada mereka bergolak, tenaga mereka habis.
Mereka pula muntah darah.
Justru bubuk beracun itu turun.
Ang Sian Taysu dapat melihatnya.
Pendeta ini menerka kepada bubuk jahat.
Ia lompat keluar dari kalangan, ia menyerang dengan pukulan angin Loahan Ciang.
Maka buyarlah bubuk itu terkena angin keras dari pukulan itu.
Ketika itu Hu Leng juga sudah masuk ke dalam kalangan.
Ia mengangkat bangun tubuh Peklie Cek, buat diajak mengundurkan diri.
Tiba-tiba Cukat Tan lompat menghampiri, anak muda ini terus menyerang orang she Hu itu, yang ditikam punggungnya.
Hu Leng tidak melihat datangnya orang, dia pula tidak tahu orang menyerangnya.
Tapi justru itu, dari rombongan sesat ada sesosok tubuh yang membalas, menangkis membuat pedang si anak muda terpental, berbareng dengan orang itu menegur .
"Eh, bocah, kau tahu aturan rimba persilatan atau tidak ?"
Cukat Tan mundur satu tindak, dia mengawasi orang yang menghalangi serangannya itu. Kiranya orang itu ialah Tan Hong dari Hek Keng To.
"Barusan orang menyerang dengan senjata rahasianya !"
Si anak muda balik menegur.
"Apakah itu berarti dia menghormati aturan kaum rimba persilatan ? Aku hanya menurut buat ! Kalau kau berani, mari kau melayani ilmu pedang dari Ngo Bie Pay barang beberapa jurus ! Beranikah kau ?"
Di saat itu dari kedua belah pihak ada tujuh atau delapan orang yang berlompat keluar, bersiap buat bertarung guna membantai pihaknya masing-masing.
Pek Cut Taysu sudah lantas berseru meminta pihaknya mengundurkan diri dan menyuruh murid-murid Siauw Lim Sie segera membantu Gouw Hoat buat dibawa balik ke dalam rombongan.
Sampai disitu Thian Cie Lojin muncul dengan tindakan perlahan.
Dia tertawa dan kata.
"Kali ini pertempuran seri pula ! Nah, pendeta tua, bagaimana kalau kita mulai dengan bunpie ?"
Licik jago tua ini, tak mau ia menyebutkan soal serangan gelapnya Hu Leng itu yang mulai melanggar aturan rimba persilatan.
Malah dengan cerdik ia hendak menukar bertarung mereka.
Setelah bun pie, mengadu tenaga dengan cara keras, sekarang ia hendak mulai dengan bun pie, cara halus.
"Terserah kepadamu, sicu pinlap selalu sedia untuk melayani"
Sahut Pek Cut Taysu tenang.
Thian Cie sudah lantas mengulapkan tangannya maka muncullah Ang Gan Kwie Bo dari gunung Lee San di pulau Haylam.
Dengan sinar matanya yang bengis jago wanita itu menyapu ke arah pihak lurus, lalu dia berkata dengan suaranya yang dingin yang berada jumawa .
"Tuan siapakah yang mempunyai kegembiraan untuk mendengarkan lagu Toat Hun Im Po dari tenaga dalamku ?"
Ilmunya Ang Gan Kwie Bo itu berarti "Gelombang Lagu Merampas Roh."
Leng Hian Tojin dari Bu Tong Pay sudah lantas menggerakkan tubuhnya menghadapi ketua Siauw Lim Pay, ia menjura sambil bekata .
"Bagaimana kalau kali ini pici yang menunjuki keburukanku ?"
Pek Cut Taysu mengangguk. Lantas Leng Hian bertindak menghampiri lawan, yang terus tertawa tawar dan kata seenaknya saja.
"Eh, Leng Hian hidung kerbau, benarkan kau mempunyai kepercayaan yang ilmu Hian bun Lio Kam Cin Kie dari Bu Tong Pay kamu dapat bertahan dari ilmuku ? Nah, kau berhati-hatilah !"
Ilmu Bu Tong Pay yang disebutkan Ang Gan Kwie Bo itu adalah ilmu tenaga dalam yang berdasarkan patkwa, delapan diagram.
Leng Hian tidak menjawab, hanya sambil bersenyum dia mengerahkan tenaga dalamnya.
Ia berdiri tegak mengawasi lawan yang takabur itu.
Sejenak kemudian, ia mengulur sebelah tangannya, baru setengah jalan, ia sudah berseru perlahan .
"Kau sebutilah !"
Ang Gan Kwie Bo menggerakkan pinggangnya untuk berjaga-jaga, lalu ia mengibas sebelah tangannya, memapak tangan lawan itu.
Ia menggerakkan tangannya dengan perlahan tetapi berbareng dari mulutnya terdengar suara tertawa yang nyaring dan tajam seumpama kata suara bajingan.
Itulah Toat Hun Im Po !
Kedua tangan mereka lantas beradu satu sama lain, nampaknya mereka seperti main-main.
tak tahunya kedua belah pihak tengah mengerahkan tenaga dalam mereka.
Mereka tengah menguji kekuatan masing-masing.
Tubuh mereka lantas menggigil, tangan mereka bergemetaran.
Selama itu Ang Gan Kwie Bo terus tertawa makin lama suaranya makin keras makin tinggi, terdengarnya tajam sekali hingga telinga orang terasa bagaikan tertusuk-tusuk.
Kedua rombongan terpisah dari dua orang itu sepuluh tombak lebih tetapi mereka yang tenaga dalamnya belum sempurna, mereka merasakan kehebatan tawa itu.
Itulah yang diumpamakan "Tangisan keras di selat Bu Kiap, tangisan berdarah burung cockoo, nyanyian iblis dikuburan musim gugur atau tangisan diwaktu malam dari seorang janda."
Toh semua itu masih kalah hebatnya.
Semangat orang dapat buyar karenanya.
Pek Cut Taysu sudah lantas memerintahkan murid atau kawannya yang tenaga dalamnya kurang untuk bergerak munduk belasan tombak supaya mereka tak usah menjadi korban konyol.
Di sana pun mereka harus menjaga diri baikbaik.
Di pihak sesat juga orang telah bergerak mundur sendirinya.
Di tengah lapangan, kepalanya Leng Hian dan Ang Gan telah sama-sama mengeluarkan uap putih bagaikan halimun.
Suaranya si sesat tak lagi terus menerus, hanya suka terputusputus akan tetapi nada dan iramanya tak sedap buat sang telinga.
Suara itu membuat hati orang berdebaran.
Di dalam keadaan seperti itu, sekonyong-konyong saja Leng Hian Tojin bersiul nyaring dan panjang, hingga siulannya itu berkumandang di lembah dan sekitarnya.
Siulan itu pula bagaikan menutup tawanya lawan.
Tak lama siulan itu, lalu berhenti tetapi berbareng dengan itu lenyap juga tawanya Ang Gan Kwie Bo.
Maka itu sunyilah medan pertempuran itu.
Dua dua lawan tampak berdiri diam.
Uap diatas kepala mereka sudah berkurang.
Tangan mereka tapinya masih terus menempel satu pada lain, tak bergeming sedikit juga.
Gouw Hian Tojin, ketua Bu Tong Pay menjadi bingung.
Ia tahu bahwa pertempuran segera akan sampai pada detik terakhir.
Inilah sangat berbahaya.
Dan ia menguatirkan keselamatannya sang sute, adik seperguruannya.
Buat membantu, ia tidak berani.
Itulah akan melanggar aturan rimba persilatan dan nama baiknya bakal tercemar karenanya.
Maka ia menjadi tidak karuan rasa, berulang kali ia mengepalngepal tangannya serta menggedruk-gedruk tanah !
Selagi sunyi senyap itu tiba-tiba terdengar suaranya Pek Cut Taysu .
"Kali ini kita yang kalah ! Leng Hian Totiang, silakan mengundurkan diri !"
Terus ia mementangkan tangannya, untuk segera dirapatkan pula.
Atas itu maka tubuhnya Leng Hian, mirip boneka kayu, bergerak ke arah rombingannya, datang kepada tangannya si pendeta.
Karena Pek Cut Taysu telah menggunakan ilmu "Liap Hun Ciu Siu Kang", Menarik Roh"
Guna membantu si imam.
Ketika itu terlihat Thian Cia Lojian tahu-tahu sudah berada di tengah lapangan untuk menekan jalan darah sin tong dan thian cu di punggungnya Ang Gan Kwie Bo, guna membantu wanita tua itu menyalurkan napasnya.
Sebab juga nyonya itu telah sampai pada saat mati hidupnya....
Di pihak Siauw Lim Pay, Gouw Hian juga sudah lantas membantu Leng Hian, adiknya.
Selama kedua pihak saling menolong kawan itu, kesunyian tetap berlangsung, cuma deburan angin yang terdengar.
Rembulan sudah mulai doyong ke barat.
Mungkin waktu itu sudah jam empat mendekati fajar.
"Inilah pertempuran yang menjengkelkan, yang memepatkan hati."
Kata Pat Pie Sin Kit In Gwa Sian yang menjadi tak sabaran. Hanya sejenak, segera terdengar tawanya Thian Cie Lojin. Ketua pihak sesat itu sudah lantas berkata .
"Bun pie yang pertama sudah berlalu ! Terima kasih ! Terima kasih kalian sudah mengalah ! Nah, pendeta tua, masih ada pertandingan yang kedua ! Siapakah dari pihakmu yang bakal maju ?"
Belum lagi Pek Cut Taysu menjawab, atau Pat Pie Sin Kit sudah bertindak keluar dari dalam rombongan, terus dia membentak .
"Siluman tua, jangan tertawa ! Beranikah kau malayani aku, si orang tua ?"
Thian Cie Lojin mengawasi, ia membuat main bibirnya, lalu dengan dingin menjawab .
"Baik ! Baik ! Supaya tulangmu yang sudah tua tidak hancur berantakan, bagaimana kalau kita main-main dengan batu licin itu ? Setujukah kau ?"
In Gwa Sian tertawa lebar.
"Kita sudah berusia hampir seratus tahun, kalau kita mati, kita tidak mati muda !"
Katanya.
"Kau tidak suka keras lawan keras, baiklah, akan aku turuti kehendakmu ! Apakah kepandaianmu itu ? Kau keluarkanlah !"
Tanpa berkata apa-apa Thian Cie Lojin bertindak ke dinding bukit di kaki puncak, In Gwa Sian berjalan bersama.
Rombongan di kedua pihak lantas turut mengikuti mereka itu, guna masing-masing mengambil tempat.
Batu yang disebutkan Thian Cie itu berupa seperti tembok, lebar satu tombak persegi, bagian mukanya rata licin, bekas dipapas dengan golok atau kapak.
Jadi itulah buatan manusia.
"Di sini kita mencoba khie kang kita !"
Berkata Thian Cie tertawa sambil tangannya menunjuk dinding rata itu.
"Siapa yang kalah, dia harus hapus buat selamanya, agar dia tak muncul pula ! Pengemis tua, beranikah kau berjanji demikian ?"
In Gwa Sian tertawa.
"Siluman tua, apa juga kau katakan, aku terima baik !"
Thian Cie Lojin lantas berdiri di depan dinding batu itu, tenaganya lantas dikerahkan hingga terdengar otot-ototnya pada meretak.
Ia mengeluarkan napas, ia maju beberapa tindak, terus ia mundur beberapa tindak pula.
Ini cara pengerahan tenaga.
Ia ulangi beberapa kali lalu mendadak ia melenggak hingga pinggangnya melengkung keluar dan kepalanya dongak terangkat ke atas.
Habis itu mendadak saja ia mengajukan diri, agaknya ia hendak menerjang batu besar itu, atau mendadak pula ia menghentikan tindakannya.
Ia mengangkat pula kepalanya dan mukanya diarahkan kepada batu itu, terus ditempelkan.
Selagi berdiri diam itu, segera juga tampak keluar dari arah mukanya.
Pinggang dan kakinya diluruskan tetapi kedua belah pihak tangannya bergerak-gerak seperti bergemetar.
Selama itu tampak mukanya seperti melesak kepada permukaan dinding.
Hanya sekira kesadaran mati, mendadak jago tua kaum sesat itu berlompat mundur, tubuhnya terhuyung beberapa tindak sebelumnya dia dapat berdiri tetap tegak.
Ia berdiri dengan memejamkan mata, terus ia mengembuskan napas panjang.
Di lain saat ia mementang matanya dan kata nyaring .
"Telah aku pertunjuki kepandaianku yang buruk. Nah ini dia ilmuku yang dijuluki Sam In Sin kang, pada dinding batu itu tertinggal tanda melesak dari mukaku ! Pengemis tua bagaimana perasaanmu sekarang ? Panas hatimu atau tidak ?"
Memang, orang banyak melihat mukanya Thian Cie telah bertapak dan berbekas didinding batu lebar yang rata itu.
Petaan itu tegas dan jelas sekali, sehingga semua orang menjadi sangat kagum.
Di pihak lurus orang berkuatir buat Pat Pie SIn Kit.
Musuh demikian lihai, dapatkah dia diatasi atau sedikitnya menyamai ?
In Gwa Sian telah menyaksikan gerak geriknya lawan itu, selama orang masih membawa aksi terus berdiam saja tapi selekasnya orang membuka suara jumawa itu, ia menyambutnya dengan tertawa berkakakan.
"Hai siluman tua !"
Ktanya nyaring.
"Sam Im Sin kang mu ini tak dapat dicela banyak, sayangnya pada bagian mukamu itu tidak ada bekas kumis janggutnya."
Suara itu menusuk tajam telinga Thian Cie Lojin si pria bukan wanita bukan.....
Dari tindakan ayal-ayalan, In Gwa Sian bertindak menghampiri dinding itu dari mana lawannya sudah mengundurkan diri guna dia memberikan giliran padanya.
Ia berhenti di depan batu terus ia menghadapinya sambil berdiri tegak untuk segera mengumpulkan tenaga dalamnya.
Itulah tenaga dalam dari ilmu Tong Cu Kang, ilmu kanak-kanak atau "Jaka".
Cepat luar biasa mukanya si pengemis menjadi merah umpama kata seperti api, giginya atas dan bawah gemeretak nyaring, kumis dan jenggotnya lantas bergerak-gerak sendirinya tanpa angin, berdiri kaku bagaikan jarum perak.
Matanya yang dipentang sebentar dipejamkan memperlihatkan cahaya tajam sekali.
Berdiri sebagai itu mukanya In Gwa Sian hampir menempel pada dinding.
Lain tiba saatnya ia memperdengarkan serunya yang nyaring, lantas mukanya didekatkan pada batu hampir nempel hingga kumis janggutnya itu mengenai dinding rata dan licin itu.
Gerakkan itu diulangi beberapa kali, saban kalinya si pengemis memperdengarkan serunya itu.
Ia baru berhenti beraksi sesudah pada batu itu tampak bekas-bekas kumis janggut.
Semua orang melengak, mata mendelong, mulut ternganga.
Semua kagum dan heran.
Itulah ilmu tenaga dalam yang mereka belum pernah dengar, jangan kata menyaksikannya.
Sudah Thian Cie hebat, sekarang ada pula yang lebih hebat.
Namanya itu bun pie, ujian lunak atau halus, kesudahannya itulah tenaga yang kuat sekali.
Sementara itu It Yap Tojin yang menyaksikan pertandingan itu, tahu apa akibatnya adu tenaga dalam diantara Thian Cie dan In Gwa Sian.
Akibat itu ialah kedua orang tersebut sudah mengobral tenaganya, hingga masing-masing sudah mendapat luka di dalam, luka yang parah, yang sukar obatnya.
Tapi hal itu membuatnya puas.
Kelemahan kedua jago itu berarti bahwa ia berkurang saingannya dengan dua orang.
Buat manjagoi, ia bagaikan mendapat jaminan.
Ia berada diantara sesat dan lurus.
Di saat ini mendadak timbul niatnya buat menjadi jago Bu Lim, akan menjuarai rimba persilatan.
Maka ia tertawa perlahan, tawa puas lalu diamdiam ia mengangkat kaki.
Sementara itu Tan Hong di satu pihak telah menanti dengan tidak sabaran.
Sudah mendekati jam empat, masih belum ia melihat munculnya Tio It Hiong, pacar dalam citacitanya.
Sendirinya ia menjadi bingung, Ada niatnya menghampiri Kiauw In, buat minta keterangannya nona Cio, ia ragu.
Bersama Kiauw In ada Giok Peng dan berani ia mendekati nona yang galak itu.
Ia takut nanti terbit salah paham.
Ia memikir buat berlalu, tetapi hatinya tak mengizinkan.
Biar bagaimana ingin ia melihat It Hiong.
Maka terpaksa ia berlaku sabar.
Ia berdiri seorang diri saja.
Di sana ada banyak orang tetapi ia kesepian.....
In Gwa Sian sendiri tahu yang ia telah mengobral tenaga dalamnya hingga ia menjadi letih sekali, akan tetapi di depannya Thian Cie Lohin tak mau ia menunjuki itu.
Di lain pihak, ia ingin sekali mengadu jiwa dengan jago tua itu agar orang tak dapat menjagoi dan mengancam dunia rimba persilatan.
Kalau ia menang, syukur atau sedikitnya, biarlah mereka berdua mati bersama.....
"Eh, siluman tua"
Kata ia yang sengaja tertawa nyaring.
"Pertandingan kita ini sangat menarik hati ! Sayang belum ada kepastiannya ! Bagaimana, apakah kau berani menyambut tanganku ?"
Ketika itu beda daripada lawannya yang masih dapat berdiri, Thian Cie sudah duduk numprah ditanah, sebab hendak ia mengatur pernafasannya.
Ia insyaf yang ia telah menggunakan semua tenaga dalamnya hingga menjadi letih sekali.
Ia mendengar tantangannya si pengemis, hatinya menjadi gentar.
Ia bakal mati atau terluka parah.
Hanya, bagaimana kalau ia tidak menyambuti tantangan itu ?
Bukankah ia justru mau menjadi jago rimba persilatan ?
Mana bisa ia mengangkat muka ?
Maka itu ia berpikir keras.
Perlahan-lahan jago tua itu berbangkit bangun, matanya mengawasi kedua rombongan.
Ia berlaku ayal-ayalan untuk menang waktu.
Kemudian ia tertawa dan kata .
"Ya, kitalah dua orang tua yang tak mau mampus, kapan lagi kesempatan buat kita bergembira ria kalau bukan sekalian saja malam ini ? Mari, pengemis bangkotan, mari ! Sebelum ada akhirnya, jangan kita berhenti ! Mari !' "Nah, berhati-hatilah menyambuti tanganku !"
Berseru In Gwa Sian selekasnya lawan itu menerima tantangannya.
Ia lantas menyerang dengan satu jurus dari Han Liong Hok Mo Ciang, pukulan Menaklukan Naga Menundukkan Harimau.
Dan itulah pengerahan tenaga yang terakhir.
Thia Cie Lojin terkejut sekali.
Begitu orang bersuara, begitu angin serangannya sudah lantas tiba.
Ia licik tapi tak sempat mengelakkannya.
Terpaksa ia mengerahkan tenaga terakhirnya menangkis serangan itu.
Hebat suara nyaring yang menjadi kesudahan dari beradunya tangannya kedua jago itu.
Mereka sendiri pada mengeluarkan suara tertahan.
Kontan Thie Cie Lojin roboh terguling untuk terus berguling.
Pat Pie Sin Kit terhuyung-huyung beberapa tindak, tak dapat ia bertahan terus, ia roboh terduduk.
Pek Cut Taysu memuji Sang Buddha, ia lompat kepada kawannya itu.
Kiauw In dan Giok Peng turut lompat bersama, hingga ketiganya lantas berada disisinya si pengemis luar biasa.
In Gwa Sian duduk bercokol dengan tenang, mukanya tersungging senyuman, napasnya berjalan dengan perlahan.
Melihat keadaan orang itu, Pek Cut Taysu yang biasanya tabah menjadi terkejut dan pucat mukanya.
Dan lekas-lekas ia mengeluarkan obat "Ban Biauw Leng Tan"
Buatan Siauw Lim Pay dan masuki beberapa butir ke dalam mulutnya jago tua itu sembari ia menekan jalan darah beng hun dipunggungnya.
Kiauw In dan Giok Peng memegangi In Gwa Sian dikiri dan di kanan, mereka mengucurkan air mata melihat keadaannya paman itu yang napasnya tinggal satu kali dan satu kali tarikan saja tarikannya sangat lemah.
"Paman In ! Paman !"
Mereka memanggil-manggil.
"Paman In, bagaimana kau rasa ?..."
Juga semua orang lainnya kaum lurus menjadi sangat berduka.
Thian Cie Lojin juga telah digotong pergi oleh rombongannya, yang tak mempunyai harapan lagi atau kelanjutan jiwanya.
Menyaksikan keadaan itu Jie Mo Lam Hong Hoan, bajingan nomor dua dari To Liong To berkata keras .
"Hm !"
Beginilah tingkahnya orang-orang partai-partai besar dari Tionggoan !
Tingkahnya mirip lagak wanita saja !
Apakah yang aneh kalau orang bertempur dan binasa ?
Apakah cukup dengan ditangiskan saja ?
Hayo bilang kalian berani atau tidak untuk bertempur dengan kami ?"
Sengaja Lam Hong Hoan berkata demikian karena ia melihat pihak kaum sesat sudah kalah semangat disebabkan runtuhnya Thian Cie Lojin, orang yang sangat diharapkan oleh golongannya.
Ia hendak membantu mukanya.
Ketika itu Pek Cut Taysu tengah membantu In Gwa Sian, ia mengerahkan tenaga dalamnya.
Tak dapat ia melayani orang bicara, maka ia melirik dan mengedipi mata pada Liauw In, adik seperguruannya itu yang menyambuti orang bicara.
Belum lagi pendeta itu muncul atau Leng Hian Tojin dari Bu Tong Pay sudah mendahuluinya.
Rahib itu maju dan mengangguk kepada Lam Hong Hoan, dan sembari tertawa bertanya hormat .
"Ada pepatah berkata ular tanpa kepala tak dapat jalan. Maka itu, Lam Sicu, selagi Thian Cie Lojin telah menerima keruntuhannya, punyakah kau tenaga atau kemampuan untuk menggantikannya memimpin kawanan dari luar lautan kamu, untuk membuat pertandingan ini dilanjutkan ?"
Ditanya begitu Lam Hong Hoan bungkam, hingga ia berdiri diam saja.
Teng Hiang dengan air mata bercucuran bertindak maju.
Berdiri di sisinya Lam Hong Hoan terus dia menuding Leng Hian untuk berkata keras .
"Hidung kerbau, jangan berbicara takabur ! Tentang sakit hatinya guruku ini, aku Teng Hiang, aku bersumpah akan aku perhitungkan dengan kau sekalian ! Hari ini biarlah suka aku mengasi lewat kepada kamu tetapi nanti sesudah lewat satu tahun akan aku cari kamu buatku mencari keadilan !"
Ketika itu sinarnya si putri malam sudah mulai suaram, selagi baru saja si nona berhenti bicara dari atas puncak tempak satu bayangan orang berlompat turun sembari lompat itu, bayangan itu memperdengarkan suaranya yang keras.
"Buat apa menunggu sampai satu tahun lagi ? Tak dapatkah itu dilakukan malam ini juga ?"
Segera terlihat orang itu ada seorang muda dengan jubah panjang, di belakangnya tergendol pedangnya.
Dia berwajah tampan dan gagah.
Kiranya dialah Tio It Hiong.
Melihat anak muda itu datang secara tiba-tiba Pek Giok Peng lantas berbangkit hendak ia berlari menghampirinya, tetapi baru ia berseru "Adik Hiong !"
Atau ia sudah ditarik oleh Kiauw In yang segera ia berkata padanya perlahan.
"Sabar adik ! Lihat dulu dia yang palsu atau bukan !"
Luar biasa nona Cio.
Sekalipun ia sangat memikirkan It Hiong dan mengharap-harapnya di dalam keadaan sulit seperti itu masih dapat ia berwaspada.
Di saat itu maka dari sisi dinding puncak pun tampak munculnya satu tubuh yang langsing yang terus menghampiri It Hiong di depan siapa dia tertawa manis dan menyapa merdu .
"Adik Hiong. Mengapa baru sekarang kau datang ?"
Pada punggungnya nona itu tampak senjatanya yaitu sanho pang.
Maka tak salah lagi dialah Tan Hong dari Hek Keng To.
Dan dia datang langsung pada si anak tanpa ragu-ragu lagi.
Tak puas Giok Peng melihat tingkahnya Nona Tan.
Seperti biasanya rasa jelusnya muncul tanpa dapat dicegah, hanya dia dapat tidak sembarang bertindak.
Ia cuma berkata nyaring kepada si anak muda .
"Paman In terluka parah sekali. Dia saat mati hidupnya. Lekas kau membantu membantunya ! Kenapa kau ayal-ayalan ?"
"Oh !"
It Hiong memperdengarkan suaranya lantas ia berpaling kepada Lam Hoang Hoan dan Teng Hiang untuk melirik sesudah itu, dia menghampiri In Gwa Sian.
Pek Giong Peng mau memapaki si anak muda itu.
Lagi-lagi ia dicegah Kiauw In.
Ia menjadi tidak puas.
Maka ia menoleh kepada kakak itu, akan menatap matanya.
Atau ia melihat Nona Cio terdiam mengawasi tajam kepada si anak muda.
Tio It Hiong bertindak turut kepada In Gwa Sian.
Selekasnya dia datang dekat, bukannya dia menghampiri ayah angkat itu, guna menyapa atau membantunya, mendadak dia menggerakkan tangannya untuk menyerang.
"Kurang ajar !"
Demikian satu bentakan nyaring halus yang dibarengi dengan serangannya kepada tangannya si anak muda, guna menghadang serangannya dia itu.
Menyusul itu bangun berdirilah nona yang berseru itu yang menyerang dengan tangan kirinya kepada orang sambil dia mendamprat .
"Hai, bangsat yang tak tahu malu ! Bagaimana kau begini kejam menyerang kepada orang tua yang lagi tak berdaya ?"
Kata-kata itu adalah campuran panas hati dan menyesal, ketika Giok Peng mendengar itu, dia bagaikan terasadar.
Pek Cut Taysu lagi menolong In Gwa Sian, ia toh menoleh mengawasi si anak muda.
In Gwa Sian sudah sadar, ia turut mengawasi juga.
Semua orang pihak lurus itu menjadi heran, kenapa It Hiong bersikap demikian aneh ?
Kenapa dia menyerang ayah angkatnya sendiri ?
Kenapa dia bentrok dengan nona Cio ?
Giok Peng pun heran hingga ia berdiri bengong saja.
In Gwa Sian mengawasi sebentar walaupun matanya rada kunang, ia toh lantas mengenali anak pungutnya itu.
Ia menjadi gusar sekali.
Dengan suara tak tegas, ia berkata keras .
"Anak Hiong tahan ! Apakah artinya perbuatan anehmu ini....?"
Saking mendongkol, napasnya jago tua itu menjadi sesak. Ia pingsan seketika.
"Paman In jangan bergusar !"
Kiauw In berseru.
"Dia ini It Hiong palsu."
Mendengar suaranya Kiauw In, Giok Peng dan Tan Hong bagaikan dihajar guntur lantas mereka sadar. Sebaliknya para hadirin semakin heran. Tiba-tiba Cukat Tan murid Ngo Bie Pay berseru .
"Dia yang telah menyerang ayah angkatnya sendiri, dia juga menempur tunangannya, dia sama jahatnya dengan satu bajingan. Maka itu jangan perdulikan dia yang tulen atau yang palsu. Mari kita bekuk dia ! Bekuk dia baru bicara !"
Dan ia mendahului lompat maju guna membantu Kiauw In.
Suaranya Cukat Tan mendapat sambutan hangat.
Sejumlah anak muda lantas menghunus masing-masing senjatanya, terus mereka itu maju menghampiri.
Tio It Hiong, ya Tio It Hiong palsu melihat suasana buruk itu.
Dengan tiba-tiba dia berlompat ke tengah tanah lapang ke arah Nona Tan.
Tan Hong masih ragu-ragu ketika ia melihat si anak muda berlompat itu tetapi tidak ayal lagi, ia menyerang dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya menyambar ke muka orang.
Niatnya buat membetot kulit muka orang, kulit yang menyamai wajahnya It Hiong sejati.
Hong Kun dapat menerka maksud orang.
Ia tidak menangkis tangan kanan nona itu, bahkan sengaja ia biarkan mukanya kena diraba, setalah mana ia berlompat mundur.
Tan Hong heran bukan main.
Ia bukannya meraba topeng atau lainnya.
Hanya kulit dan daging yang lunak, licin dan hangat.
Jadi itulah bukan topeng.
Hong Kun mundur bukannya buat mundur pergi, dia hanya menggunakan tipu daya.
Dia mau membikin Tan Hong menjadi bersangsi betul-betul.
Tapi justru dia mundur itu, satu serangan tangan segera meluncur ke arahnya !
Itulah Siauw Wan Goat, bajingan bungsu dari To Liong To yang menyerang secara tiba-tiba.
Dia mempuaskan penasarannya terhadap It Hiong, dia berlompat maju dan menyerang.
Hong Kun berkelit tetapi kurang cepat.
Iganya terhajar hingga ia merasakan nyeri.
Untung baginya serangan Wan Goat dilakukan dengan setengah hati.
Nona itu membenci tetapi hanya separuh, sebab tetap dia masih menyinta.
Sambil menyerang itu dia membentak .
"Manusia tak berbudi ! Nonamu hendak mengadu jiwa denganmu !"
Panas hati Hong Kun.
Ia memandang si nona.
Dia tidak bergusar tetapi dengan airmata menggenang.
Ia menjadi sebal.
Tak ingin ia digurambangi nona itu.
Maka timbullah rasa bencinya.
Ia pula tak ingin nanti terkepung dan terbekuk oleh orang lurus.
Itu sebab rahasianya bakal terbuka.
Tapi ia cerdik sekali, ia kata nyaring .
"Siauw Wan Goat, jangan salah paham. Cinta kita dalam bagaikan lautan ! Mari kita pergi !"
Nona Siauw heran hingga ia menjadi melongo.
Justru ia berdiam itu, Hong Kun maju menikam padanya !
Pemuda itu hendak merampas nyawa orang.
Selagi si anak muda itu menyerang, dua sosok tubuh lompat berbareng kepadanya.
Yang satu menyerang dengan senjata roda sepasang Ji Goat Siau lun yang lain dengan cambuk joan pian, dengan begitu beradulah senjata mereka.
Roda sepasang yaitu Ji Goat Siau lun kena terpapat kutung, hingga pemiliknya menjadi berdiri bengong.
Wan Goat melihat penolongnya itu ialah kedua kakaknya, kakak nomor dua Lam Hong Hoan dan kakak nomor lima Bok Cee Lauw itu yang senjatanya terkutung sekejap itu, meluaplah hawa amarahnya.
Maka ia lantas menikam Hong Kun.
Dalam nekad ia bersedia mati bersama.....
Hong Kun melayani serangan itu tetapi karena ia kuatir nanti kena terkepung, setelah mendapat kesempatan, ia berlompat mundur akan terus lari turun gunung.
Ketika si anak muda mau kabur itu ia mendengar tawa yang dalam dan dingin lantas seorang tua merintangi larinya.
Dia itu seorang tua dengan jubah panjang dan janggut mancung seperti janggutnya kambing gunung.
"Eh, Tio It Hiong bocah !"
Bentak orang tua itu.
"Mana kegagahanmu selama di Ay Lao San. Apa dengan cara begini saja kau hendak kabur ?"
Kata-kata itu ditutup dengan serangan dua belah tangan kosong. It Hiong palsu, ia tidak menangkis, ia juga tidak lantas melawan. Ia hanya mundur dua tindak.
"Siapa kau ?"
Bentaknya. Orang tua itu tertawa.
"Kau berpura-pura ya ?"
Tegurnya.
"Bocah, akulah Kiu Lam It Tok ! Aku datang menghaturkan obat pemunah racun buat pamanmu ! Jika kau benar kosen mari layani aku."
Lagi sekali orang tua itu mengulangi serangannya.
Hong Kun datang ke Tay San dengan maksud mengacau, tak perduli terhadap pihak mana ia hendak menerbitkan salah paham, supaya orang terus bentrokan.
Siapa tahu dua-dua pihak justru memusuhinya.
Ia menyesal yang niatnya gagal.
Tapi satu hal ia telah lihat tegas semua pihak tak ada yang berkesan baik dan senang terhadap musuhnya.
Hal ini membuatnya sedikit girang.
Tetapi sekarang Kiu Lam It Tok menghadangnya, timbullah rasa jemunya.
Diamdiam ia mengeluarkan racunnya yang berbahaya itu, ia mengebut si orang tua setelah itu ia lari ke arah kaum sesat, buat juga melepaskan bubuk beracunnya itu !
Hanya sebentar saja, enam atau tujuh orang kaum sesat itu telah roboh karena kena mencium bubuk beracun.
Yang lainnya ada yang menangkis dengan sampokan, ada yang lompat berkelit.
Dengan begitu, kaum sesat itu menjadi kacau.
Ang Gan Kwie Bo dari Ngo Cie San mempunyai seorang murid bernama Cio Hoa, murid itu tidak tahu selatan, hendak dia membokong penyebar maut itu, dengan berani dia lompat menerjang atau dia lantas terkena bubuk beracun, kontan dan roboh tak sadarkan diri.
Ang Gan Kwie Bo terkejut.
Lekas-lekas ia menutup jalan darahnya sendiri, ia menahan napas, sambil berbuat begitu ia lompat ke depan untuk menjemput, memondong muridnya itu, buat dibawa pergi.
Hanya belum lagi ia mengangkat kaki, satu sinar pedang sudah berkelebar ke arahnya.
Ia berkelit dengan memutar tubuhnya, hingga ia bisa lantas melihat penyerangnya itu, ialah Tio It Hiong palsu.
Ia menjadi gusar sekali, ia lantas membalas menyerang dengan tangan kiri, terus ia membuka suara, akan menyanyikan lagu yang lihai itu, lagu Toat Hun Im Po, Gelombang Irama Merampas Nyawa !
Mendengar suara itu, kontan It Hiong palsu menggigil, pernapasannya menjadi tidak karuan, tubuhnya terus terhuyung-huyung.
Lekas-lekas dia berdiam diri, guna menetapkan hati, buat mengatur pernafasannya.
Dengan begitu, tak dapat ia berkelahi lebih jauh.
Ang Gan Kwie Bo bingung, hendak ia membantu muridnya, melihat orang tidak bergerak lebih jauh, ia menghentikan suaranya, ia bawa muridnya itu masuk ke dalam rimba.
Lam Hong Hoan dan Siauw Wan Goat mengejar si anak muda, selagi mendatangi, mereka mendengar suaranya jago wanita dari Ngo Cie San itu, pikiran mereka kacau, lekas-lekas mereka berhenti berlari guna mengatur pernafasan mereka.
Selekasnya suara berhenti dan si nyonya tua lari terus, baru mereka mengejar pula.
Hong Kun panas hati dan penasaran menyaksikan ia masih dikejar Hong Hoan dan Wan Goat, lantas ia menyambuti, mendahului menikam si orang she Lam.
Hoang Hoan juga gusar.
Ia melancarkan joan pian hingga cambuk itu menjadi kaku dan panjang seperti tombak, menikam ke dadanya si anak muda.
Hong Kun menangkis dengan satu tebasan, niatnya supaya cambuk lawan bisa ditebas kutung.
Tapi Hong Hoan lihai, dapat ia menarik pulang senjatanya untuk dipakai mengulangi serangannya, dengan begitu dapat ia mendesak lawan, yang terpaksa berkelahi sambil mundur.
Menyaksikan si anak muda terdesak, Siauw Wan Goat tidak maju membantui kakaknya.
Dia hanya berdiri diam untuk menonton.
Rasa tak tega terhadap si anak muda membuat hatinya goncang dan serba salah.
Sesudah Hong Kun mundur tiga tombak lebih, mendadak Kiu Lam It Tok muncul pula, jago itu terus berlompat maju sambil menyerang sembari dia menyerukan .
"Lihat tanganku !"
Hong Kun repot.
Ia dikepung dari depan dan belakang.
Sementara itu, ia sudah bermandikan peluh.
Satu kali ia berlompat sambil menyerang, di saat Hong Hoan berkelit ia berlompat terus.
Maka tibalah ia disebelah barat tanah lapang itu, ditempat rombongannya kaum lurus.
Tepat itu waktu Tan Hong berlompat maju pula.
Si nona penasaran, maka ingin dia ketahui, It Hiong itu It Hiong palsu atau tulen.
Di lain pihak dia melihat Kiauw In berdua Giok Peng tengah mengawasi tajam kepada It Hiong, rupanya mereka itu tengah meneliti anak muda itu.
Maka berpikirlah dia.
"Mereka itu istrinya It Hiong. Mereka dapat berlaku sabar, kenapakah aku tidak ? Kalau aku maju terus, bukankah orang akan mentertawakan aku ? Baiklah, aku bersabar....."
Maka dia mundur pula. Ketika itu terdengar suaranya Giok Peng berkata kepada Kiauw In.
"Kakak, kalau dia bukannya adik Hiong, kenapa dia menyerang pihak sana ? Wanita dari To Liong To itu seperti juga mempunyai hubungan yang tak layak dengan dia ! Bagaimanakah pandangan kakak ?"
Tan Hong menoleh ke arah darimana suara itu datang.
Dia melihat Kiauw In menarik tangannya Giok Peng dan berulang kali menggelengkan kepala, mulutnya bungkam, matanya tetap menatap It Hiong.
Kiu Lam It Tok Sia Hong bersama Lam Hong Hoan sudah mengambil sikap mengepung bersama akan tetapi sepasang tangan kosongnya tidak dapat menandingi golok Kia Hoat dari Hong Kun, tak berani tangan berdarah daging itu menyentuh pedang yang tajam itu, bahkan pedang mustika, maka sering dia merubah serangannya atau berlompatan berkelit.
Maka juga lantas juga dia terdesak menjadi pihak yang diserang.
Karena dia terdesak itu, dia membuat sulit juga pada Lam Hong Hoan, kawannya hingga cambuk panjang she Lam itu tak berani sembarangan diluncurkan, kuatir nanti mencelakai kawan sendiri.
Dengan demikian It Hiong palsu menjadi mendapat angin.
Selagi bertempur itu, Hong Kun masih sempat melirik ke sekitarnya hingga ia melihat ada ancaman bahwa ia nanti kena terkurung.
Para "penoton"
Agaknya semakin mendekati, ia melihat di barat Kiauw In bersama Giok Peng, ditimur Siauw Wan Goat bersama Bok Cee Lauw.
Di bagian tengah ada Tan Hong.
Justru mereka itu bertiga yang dikuatirkan bakal melucuti kedoknya.
Celaka kalau dia terkurung, pasti rahasianya akan terbuka dan itu berarti namanya terutama nama perguruannya bakal runtuh.
"Aku harus menyingkir !"
Demikian ia mengambil keputusan.
Maka juga dia lantas menyerang Kiu Lam It Tok yang dia desak dengan tikaman atau sabetan berantai lima kali tak hentinya.
Terpaksa, Sia Hong telah terdesak mundur.
Lam Hong Hoan penasaran, dia mencoba mendesak, cambuknya memain turun dan naik, cepat dan berbahaya.
Selagi dia mendesak itu mendadak ada orang lain yang berlompat masuk ke dalam kalangan pertempuran, orang mana sambil memperdengarkan suara yang bengis.
"Manusia jahat, serahkan nyawamu !"
Dan dialah Cukat Tan, murid Ngo Bie Pay.
Hebat pemuda she Cukat itu.
Begitu dia menyerang, begitu dia mendesak, pedangnya menyambar-nyambar tak hentinya tiga kali beruntun.
Hong Kun repot, hingga tanpa merasa ujung bajunya terhajar cambuknya Hong Hoan dan robek.
Dia menjadi kaget, tak mau dia membuang waktu lagi.
Lantas dia menjatuhkan diri dengan jurus "Tidur Mabuk diatas pasir".
Dia menggulingkan tubuh buat menjauhkan diri sampai tiga tombak, setelah mana dia berlompat bangun sambil terus mengayun sebelah tangannya, melepaskan bubuk beracunnya yang seperti halimun musim semi itu.
Dengan senjata rahasia itu, dia menghadang orang mengejarnya.
Dia sendiri terus lari turun gunung.
Jilid 29 Sia Hong dan Lam Hong Hoan berdiri melongo, mengawasi lawannya kabur.
Mereka tidak dapat mengejar.
Selekasnya halimun racun itu lenyap, maka lima sosok tubuh lantas berlari-lari turun gunung, larinya sangat cepat.
Merekalah orang-orang yang paling prihatin terhadap Tio It Hiong, Cio Kiauw In, Pek Giok Peng, Tan Hong dan Siauw Wan Goat, yang kelima ialah si pemuda Cukat Tan, yang paling mengagumi Tio It Hiong !
Sementara itu sunyilah medan pertempuran.
Dengan berlalunya Gak Hong Kun si pengacau, pertempuran juga telah tidak dilanjuti lagi.
Lam Hong Hoan menghela nafas melihat gadis seperguruannya itu kabur menyusul Tio It Hiong, terus ia menoleh berniat kembali kepada rombonganya, rombongan kaum sesat atau ia lantas menjadi berdiri melongo !
Kiranya rombongan itu sudah mengangkat kaki secara diam-diam, tak seorang juga yang tinggal !
Yang menjadi kecuali ialah Teng Hiang yang lagi menangis sedih sambil memeluki tubuhnya Thian Cie Lojin dan Cek hong-cu Cin Tong dari Hek Keng To bersama Bok Cie Lauw lagi berdiri diam disisi mereka.
Beberapa orang yang roboh karena racunnya Gak Hong Kun telah tiada pula.
Kapan Kiu Lam It Tok menyaksikan semua itu, dia mendongkol sekali.
Dia bukannya mengumbar hawa amarahnya, dia justru tertawa terbahak-bahak.
Dia lantas memberi hormat kepada Lam Hong Hoan sambil berkata .
"Sampai jumpa pula !"
Terus dia pun lari mengangkat kaki. Lam Hong Hoan bertindak menghampiri Teng Hiang.
"Nona Teng, bagaimana kau hendak urus mayat gurumu ini ?"
Tanyanya. Teng Hiang menepas air matanya.
"Bukankah lebih baik akan menguburnya di puncak Koan JIt Hong ini ?"
Katanya menjawab pertanyaan itu.
"Dengan begini, sekalian kuburannya dapat dijadikan peringatan peristiwa di sini !"
Lam Hong Hoan mengangguk lalu dengan dibantu Cia Tong dan Bok Cie Lauw, ia menggali tanah buat mengubur Thian Cie Lojin.
Mereka memilih tempat di dalam rimba.
Selesai dengan upacara penguburan yang sangat sederhana itu, Hong Hoan mengajak si nona bersama Bok Cie Lauw dan Cin Tong pergi ke tengah lapang, ia menghadapi ke arah barat, ke tempatnya kaum lurus untuk berkata nyaring .
"Aku minta Pek Cut Taysu dari Siauw Lim Sie keluar untuk bicara."
Ketika itu pihak lurus tidak lantas meninggalkan tempat pertemuan dan Pek Cut Taysu repot membantu In Gwa Sian dengan menggunakan "Tay Poan-jiak Siam-kang"
Yaitu ilmu keagamaan Prajna besar, jalan darah dan pernapasannya si pengemis dibuat lurus hingga dia sadar dari pingsannya.
Dia mendengar suaranya Hong Hoan, di saat itu dia letih sekali sebab ia mesti menguras semua tenaga dalamnya.
Tapi dialah pemimpin disitu dan dia yang diminta, terpaksa tanpa menanti beristirahat dahulu, dia muncul dengan dipayang Liauw In dan Ang Sian berdua.
Dia bertindak perlahan-lahan.
Kapan dia sudah melihat Hong Hoan berempat itu, dia kata sabar.
"Pertemuan besar ini tak perduli siapa yang kalah, dengan ini telah ditutup, karena itu Lam sicu ada pengajaran apakah lagi dari diri kalian ?"
Dengan tampang sungguh-sungguh, dengan suara keren Lam Hong Hoan berkata .
"Dalam pertempuran ini tanpa dijelaskan pula, terang pihak kami yang kalah, tetapi kali ini ketua kami dari To Liong To tidak dapat hadir. Karena itu kelak di belakang hari, pastilah To Liong ToCit Mo akan mencari kalian untuk mencari keputusan ! Pendeta tua, kau mempunyai nyali atau tidak akan menerima tantangan kami ini ?"
Pek Cut Taysu memuji sang Buddha.
"Bukankah kita samasama orang rimba persilatan ?"
Katanya bertanya.
"Kenapakah permusuhan hendak terus menerus diperpanjang ? Demi menghindarkan bencana rimba persilatan, bukankah lebih baik untuk menanggalkan itu ?"
Tapi Lam Hong Hoan tetap gusar, kata dia bengis .
"Sakit hati dari kebinasaannya Locianpwe Thian Cie Lojin serta penasaran dari terkutungnya tangan dari Yan Tio Siang Bian, dapatkah itu dihabiskan dengan kata-kata sederhana seperti kata-katamu ini ? Inilah hutang darah yang mesti kami tagih. Lain tahun pada hari ini ketua dari To Liong To pasti akan memimpin orang-orang gagah dari luar lautan datang ke kuil Siauw Lim Sie kalian di Siong San guna membuat perhitungan ! Pendeta tua, kau lihatlah !"
Habis mengucap itu Lam Hong Hoan lantas mengajak Teng Hiang bertiga berlari-lari turun gunung.
Pek Cut Taysu menarik nafas melihat orang berlalu itu.
Dengan munculnya sang surya, dengan cahayanya terang dan hangat lembut maka sekarang pulihlah keremangan puncak Koan JIt Hong seperti sedia kala.
Habis memandangi cuaca Pek Cut Taysu berkata kepada Ang Sian Siang-jin, menyuruh adik seperguruan itu menitahkan beberapa orang murid pergi mencari kayu, bambu dan rotan untuk membuat semacam joli guna mengangkut In Gwa Sian pulang.
Ang Sian Siangjin menyahuti, lantas ia pergi untuk bekerja.
Bersama Liauw In, Pek Cut Taysu kemudian menghampiri rombongannya yang tengah berkumpul di kaki puncak, diatas tanah yang penuh berumput, setelah memandang semua orang, ia berkata .
"Dengan bantuan besar dari tuan semua, dalam pertemuan ini kita memperoleh kemenangan, walaupun kemenangan kecil. Hanya kejadian ini sayang belum bisa menghapuskan bencana rimba persilatan. Thian Cie Lojin telah menerima bagiannya tetapi In Losicu In Gwa Sian telah mendapat luka parah. Hal ini amat mendukakan pihak kita, sedangkan barusan, Lam Hong Hoan sudah mengancam dengan tangannya. Memang benar kita tak usah takut tapi pun benar bahwa kita harus waspada. Karena itu tuan-tuan, lolap memohon kerja sama lebih jauh dari kalian, untuk kita berjaga-jaga supaya kita jangan mengijinkan ada bajingan yang menyelusup ke Tionggoan untuk membuat kekacauan. Tuan-tuan, disaat kita bakal berpisah ini, tolong kalian memberikan petunjuk kalian, petunjuk-petunjuk yang ada faedahnya untuk kita semua."
Sang Hiang Tojin berbangkit, ia mengangguk memberi hormat.
"Harap janganlah kau sungkan, Toheng,"
Berkata rahib itu.
"Buat menghindari bencana rimba persilatan, kami takkan menampik segala apa. Dengan ini kami berjanji, asal kami menerima surat dari Toheng, segera pinto akan memimpin anggota kami untuk datang menerima segala titah. Nah, toheng, perkenankanlah kami meminta diri !"
Benar-benar Sang Hiang mengajak rombongannya berlalu setelah mereka memberi hormat pada Pek Cut Taysu beramai.
Lalu Pauw Pok Tojin dari Beng Shia Pay berbangkit dan sembari memberi hormat kepada Pek Cut Taysu, ia berkata .
"Pinto mohon bertanya, bagaimana dengan Tio It Hiong murid pandai dari Tek Cio Totiang ? Gerak gerik dia menjadi satu teka teki ? Kenapa dia sebentar palsu, sebentar asli ? Kuil Leng Siauw Koan kami telah dikacau olehnya serta beberapa muridku pun terbinasa dan dilukai. Pinto minta sukalah Toheng membuat penyelidikan, supaya kutu busuk kaum rimba persilatan itu bisa disingkirkan. Buat ini lebih dahulu pinto menghaturkan banyak terima kasih. Nah, Toheng, ijinkanlah kami mengundurkan diri !"
Imam itu lantas mengajak rombongannya memberi hormat, terus mereka pergi turun gunung.
Pek Cut Taysu membalas hormat, ia mengucap terima kasih seraya memberi selamat jalan.
Habis itu, ia tampak masgul.
Itulah karena soal Tio It Hiong yang membingungkan itu.
"Jika benar semua kejahatan itu diperbuat oleh anaknya itu, akan aku binasakan dia !"
Berkata In Gwa Sian yang gusar bukan main.
"Sobat Losicu,"
Pek Cut Taysu menghibur pendeta itu yang baru terasadar itu, tak selayaknya si pengemis bergusar.
"Sekarang ini baiklah Losicu merawat diri lebih dahulu. Akan lolap membuat penyelidikan, guna membikin soal menjadi terang dan jelas."
Sampai disitu, para tetamu atau kawan lainnya berganti memohon diri, buat berpamitan hingga mereka tak usah kembali dahulu ke kuil.
Dilain saat, Ang Sian Siangjin sudah kembali bersama joli daruratnya.
Diwaktu naik ke joli, In Gwa Sian tidak melihat Kiauw In dan Giok Peng, ia tanya kemana perginya nona-nona itu.
"Mereka lagi menyusul Tio Sicu."
Pek Cut Taysu memberikan keterangan.
Lantas mereka turun gunung, buat berjalan pulang.
Sementara itu Kiauw In berlima, setibanya mereka di kaki puncak, mereka telah kehilangan orang yang disusulnya.
Mereka tak dapat menyandak tadi sebab mereka tidak berani datang terlalu dekat, mereka jeri terhadap bubuk beracun yang jahat dari pemuda yang dicurigai itu.
"Sudah, adik, tak usah kita menyusul terus."
Kata Kiauw In kemudian sambil ia menahan larinya Giok Peng.
"Paman In terluka parah, mari kita melihat padanya, mari kita pulang !"
"Di sana ada Pek Cut Taysu yang merawati, aku percaya luka Paman In tidak berbahaya,"
Kata Nona Pek.
"Aku berpikir buat menyusul lebih jauh, buat melihat bagaimana sebentar."
Ketika itu Tan Hong, yang lari belakangan, menyandak kedua nona. Ia memberi hormat dan berkata .
"Kakak, kenapa kakak berhenti disini ? Bagaimana penglihatan kakak, apakah benar ia tidak Hiong yang terkena racun hingga tabiat atau kelakuannya menjadi berubah demikian rupa ?"
Berkata begitu, Tan Hong hanya memandang Kiauw In, tak terhadap Giok Peng.
Giok Peng memandang tajam kepada Tan Hong, bukannya dia menjawab pertanyaan nona itu, bahkan ia dengan suaranya yang tak sedap berkata .
"Kau bersama adik Hiong telah pergi bersama ke Ay Lao San, apakah kau bikin di sana ? Bukankah kau yang membujukinya hingga dia menjadi berubah demikian macam ? Aku justru hendak meminta keteranganmu !"
Bukan main berdukanya Tan Hong. Ia bermaksud baik, orang keliru menerimanya. Terhadap nona Pek, tak dapat dia bergusar menuruti tabiatnya. Maka itu, dia menjadi sedih sendirinya.
"Tentang kepergianku ke Ay Lao San bersama adik Hiong,"
Kata ia sambil menangis.
"ada suheng Whie Hoay Giok serta cianpwe Beng Kee Eng yang mengetahuinya. Kalau kakak salah mengerti, silahkan kakak tanyakan mereka itu berdua."
"Hm !"
Giok Peng membentak.
"Merekalah orang laki-laki, mana mereka ketahui tentang kepandaianmu, budak setan ? Kalau sampai terjadi sesuatu atas dirinya adik Hiong kau yang harus bertanggung jawab !"
Tan Hong berdiam, dia menangis sedih sekali hingga tubuhnya menggigil.
Kiauw In berkasihan melihat orang demikian berduka.
Ia berkesan baik sekali terhadap nona itu yang seperti dia, sangat mencintai Tio It Hiong.
Dia menghampiri, akan menggenggam tangan orang.
"Nona Tan, janganlah kau berduka karena kata-katanya adik Giok Peng."
Ia menghibur.
"Kita bertiga toh memikir sama semua buat kebaikannya adik Hiong. Apakah kau pun ada soal, bukankah baik untuk kita mengatakannya dengan sejujurnya ?"
Berkata begitu Kiauw In menarik Giok Peng.
"Adik Peng, janganlah kau salah paham terhadap Nona Tan"
Kata ia pula.
"Nona ini pun telah berjasa kepada adik Hiong."
Tadi Giok Peng tengah panas hati, dia bicara keras, sekarang melihat sikapnya Kiauw In dengan luwes, dia sadar. Dia malu sendirinya. Dia memangnya jujur.
"Barusan aku berbuat salah."
Kata dia mengakui.
"Itu semua sebab kecerobohan kakakmu ini, maka itu suka apalah kau memakluminya."
Tan Hong bersyukur mendengar kata-kata halus dari Kiauw In, sekarang ia mendengar Giok Peng meminta maaf. Legalah hatinya, hilang kesedihannya. Ia lantas menepas air matanya.
"Terimakasih kakak berdua, kalian sangat menyayangi aku."
Kata dia yang lantas dapat bersenyum.
"Kakak, Tan Hong akan ukir kebaikan kalian ini dalam hatinya. Demi adik Hiong, aku tak akan mundur walaupun aku mesti menghadapi lautan api ! Kakak apakah ajaran kakak untukku ?"
"Buat mencari adik Hiong, usaha kita harus dipecah menjadi dua."
Kata Kiauw In.
"Pertama-tama kita harus cari tahu dimana adik Hiong sekarang ini, terutama guna mengetahui tentang keselamatan dirinya. Yang kedua ialah memberi tahu siapa sebenarnya orang muda tadi. Segala ia sama dengan adik Hiong kecuali gerak geriknya. Kalau dia benar adik Hiong, dia tentunya menjadi korban semacam obat atau racun yang merusak sifat asalnya. Di dalam hal ini, ia membutuhkan pengobatan dan perawatan yang cepat dan tepat. Nah, bagaimana kalian pikir ?"
"Baik rupa maupun pakaiannya, orang itu tidak ada bagianbagiannya yang mencurigai,"
Kata Giok Peng.
"apa yang beda ialah caranya dia menyamai adik Hiong. Sebenarnya aku bingung sekali."
Kiauw In diam berpikir sampai dia ingat satu hal.
"Adik Tan."
Katanya kemudian kepada Tan Hong.
"coba kau tuturkan hal ikhwal kalian semenjak atau selama kalian pergi ke Ay Lao San sampai peristiwa yang paling akhir yang kau ketahui. Kau ceritakan segala apa dengan jelas, mungkin dari situ dapat memikir sesuatu."
Berkata begitu nona Cio mengajak kedua kawan itu pergi berduduk di atas batu di tepi gunung.
Tan Hong mengikuti, dia duduk dibatu.
Lebih dahulu dia merapikan rambutnya yang kusut tertiup angin.
Dia pun tunduk dahulu mengingat-ingat.
Setelah itu baru dia memberikan keterangannya.
Dia menutur segala apa dengan jelas terutama disaat mereka mau berpisahan sebab Tio It Hiong pergi mendaki gunung seorang diri guna menggempur kaum Losat Bun.
"Sejak itu aku tidak tahu apa-apa lagi mengenai adik Hiong"
Kata ia kemudian.
"Adalah kemudian di Liong Peng aku bertemu pemuda yang mirip adik Hiong itu dan malamnya dirumah penginapan dia datang menyerbu cianpwe Beng Kee Eng hingga aku mengejarnya. Hampir aku bercelaka ditangannya. Aku terkena bubuknya yang jahat, yang membuatku roboh tak sadarkan diri. Dia membawa aku ke sebuah gubuk dimana aku secara kebetulan ditolongi Lam Hong Hoan. Belakangan lagi di kecamatan Iap lee di rumah penginapan aku bertemu dengan Siauw Wan Goat yang kena diakali oleh pemuda itu, dia telah dicemarkan dan dilukai."
Tan Hong menghela nafas.
"Adik Hiong menjanjikan aku buat kami bertemu pula di gunung Tay San."
Ia menyambungi akhirnya.
"Adik Hiong jujur, dia pasti memegangi janjinya. Disamping itu dia benci perbuatan jahat, aku percaya dia pasti akan menghadiri pertemuan besar itu, sebab itulah saatnya guna mengakhiri bencana rimba persilatan. Tapi malam ini, adik Hiong tidak hadir. Hal itu membuatku bingung dan berkuatir."
Dua-dua Kiauw In dan Giok Peng berpikir keras, mereka berkuatir dan bingung.
Itulah sebab Tio It Hiong mendaki gunung Ay Lao San seorang diri.
Sekian lama mereka berdiam saja.
Tan Hong juga terus membungkam.
"Setelah mendengar penuturan kau, Nona Tan,"
Akhirnya Kiauw In berkata .
"aku berkesimpulan pemuda di Kuan JIt Hong tadi bukanlah adik Hiong, dia pasti seorang lain yang memalsukan dirinya. Dia pula bukannya orang dari golongan sesat yang hendak mengacau. Dia mestinya musuh dari adik Hiong yang menyamar dan bertindak guna menimpakan segala dosa kepada adik Hiong !"
Giok Peng dan Tan Hong mengawasi nona itu.
"Bagaimana kakak,"
Tanyanya.
"bagaimana sekarang ?"
"Menurut aku, baik kita bekerja dengan memisah diri."
Sahut nona Cio.
"Adik Tan, coba kau pergi ke Ay Lao San guna membuat penyelidikan di sana guna mencari jejaknya adik Hiong. Aku bersama adik Peng, aku akan pergi menyelidiki pemuda yang mencurigai itu. Setelah setengah bulan, kita akan bertemu pula di rumah di belakang gunung Siong San itu. Apakah kalian setuju ?"
Tan Hong adalah wanita Kang Ouw, dia lompat bangun paling dulu.
"Akan aku turut perintahmu, kakak !"
Katanya pada Kiauw In.
"Nah, adikmu berangkat lebih dahulu ! Sampai kita berjumpa pula !"
Ia lari turun gunung, akan terus menghilang cepat. Giok Peng mengawasi orang berlari-lari.
"Ah, anak tolol !"
Katanya tertawa.
"Dia sudah tahu bahwa adik Hiong sudah mempunyai kau dan aku, kakak. Kenapa dia masih tergila-gila demikian rupa ? Memangnya di kolong langit ini sudah tidak ada pertanyaan lagi ?"
Kiauw In tersenyum, matanya melirik nona itu.
"Inilah mungkin yang dibilang hutang dari limaratus tahun dahulu !"
Kata ia sabar.
"Adik Tan itu bolehlah dikata seorang yang harus dikasihhani....."
Giok Peng mengawasi kakak itu.
"Tetapi kakak."
Katanya.
"Disisi pembaringan kita, dapatkah kita membiarkan lain orang tidur menggores ? Kakak bicara dengan seenaknya ! Kakak berpura menjadi orang baik hati !"
Kiauw In tidak melayani bicara, ia hanya menengadah langit. Sang waktu berjalan terus.
"Mari !"
Ia mengajak adik itu.
Giok Peng mengikuti, maka pergilah mereka berdua.
Ke empat nona itu dan Cukat Tan telah jadi permainannya Gak Hong Kun.
Dia tahu dia dikejar, itulah artinya berabe.
Maka setibanya di kaki gunung, dia menyelinap ke samping, masuk di tempat pepohonan lebat dimana ada batu karang yang besar.
Di situ tanpa terlihat dari sebelah luar, dia merebahkan diri.
Sempat dia melihat lewatnya lima orang yang mengejarnya itu, hampir dia keluar dari tempat persembunyiannya, akan menyusul Giok Peng sebab melihat nona Pek timbul pula cinta bahkan jelusnya hingga dia ingin memiliki nona itu.
Dia membatalkan niatnya itu sebab lantas dia melihat datangnya Lam Hong Hoan sekalian kemudian beruntun yang lain-lain, yang meninggalkan puncak Koan JIt Hong.
Baru sesudah semua orang lewat, dia keluar dari tempatnya bersembunyi itu.
Selama itu dia rebah saja.
Setelah tiba di jalan umum, dia berlari-lari, niatnya menyusul Giok Peng.
Sementara itu Cukat Tan sudah berlaku cerdik.
Sesudah menyusul sekian lama tanpa hasil, timbullah kecurigaannya hingga ia berpikir .
"Mengimbangi dengan lari kita, tak mungkin orang itu tak dapat disusul. Mestinya dia bersembunyi di tengah jalan. Baik aku tungu dia disini...."
Dan ia pergi ke tepi jalan dimana terdapat gerombolan rumput tebal dan tinggi, disitu dia menyembunyi-kan diri.
Tak lama terlihatnya orang-orang yang berjalan pulang dari tempat pertemuan.
Paling belakang, terlihat juga orang yang dicarinya, berlari-lari melewatinya.
Ia puas sekali.
Diam-diam ia lantas menguntit.
Tio It Hiong palsu baru berhenti berlari dan berjalan perlahan, itu sudah magrib.
Dengan berani dia memasuki kota karena dia menerka Giok Peng semua singgah di dalam kota itu.
Dia ingat pelajaran yang dapat dari Koay To Ciok Pek dikota Kay hong ketika diserang, maka dia takut menemui orang, kuatir nanti menjadi berabe.
Dia sengaja mencari sebuah jalan yang sepi serta rumah penginapan kecil dan buruk perlengkapannya.
Cukat Tan terus membuntuti dan ia pun singgah di penginapan itu.
Dengan demikian terus ia bisa memasang mata.
Perhatiannya anak muda she Cukat itu terlalu dipusatkan kepada pemuda yang ia bayang itu, diluar tahunya ditengah jalan tadi ia terlihat oleh Teng Hiang, si nona yang pikirannya menjadi kacau sebab kematian gurunya, hingga ia menjadi sebatang kara.
Dia telah memisah diri dari Lam Hong Hoan.
Melihat si anak muda, semangatnya menjadi terbangun.
Sejak di tempat pertandingan tadi, dia sudah sangat tertarik oleh pemuda yang tampan itu yang kepandaian pedangnya dia telah uji sendiri.
Dia lantas mengikuti dan masuk juga di penginapan yang sama.
Hanya dia tak mau berlaku sembrono akan segera menyapa pemuda itu.
Cukat Tan baru mendapat tahu orang menguntitnya setelah mereka sudah memasuki rumah penginapan.
Ia tidak tahu maksud orang tetapi ia bercuriga maka diam-diam ia berwaspada.
Ia pula berpura tak lihat nona itu.
Teng Hiang mendapat meja di sebelah timur karena Cukat Tan duduk di meja sebelah barat.
Tetapi setelah beberapa tetamu berlalu dia pindah ke dekat meja si anak muda.
Habis memesan barang makanan, diam-diam Teng Hiang mengawasi si anak muda.
Dimatanya, pemuda itu tampan sekali, hingga hatinya menjadi sangat tergiur.
Hingga ingin dia supaya anak muda itu segera berada didalam rangkulannya.
Dia lantas berpikir keras.
Apa daya akan dapat berbicara dengan pemuda itu.
Mereka ada dari laIn Golongan bahkan baru saja mereka bertempur sebagai lawan satu dengan lain.
Dia sebenarnya cerdas, hingga dia dapat "merokoki"
It Hiong dengan Giok Peng, tetapi buat urusannya sendiri ini, pikirannya menjadi ruwet.
Sulitnya ialah dia mau menjaga derajat supaya si pemuda tidak mengatakan centil dan ceriwis.
Cukat Tan minum seorang diri, ia pun berpikir keras.
Ketika itu, orang yang dikuntit dan diintainya menyekap diri di dalam kamar.
Satu kali ia menuang araknya malahan hingga terkena bajunya.
Teng Hiang tertawa melihat orang kelabakan sebab bajunya terkena arak itu.
Cukat Tan terperanjat mendengar si nona tertawa, ia menoleh.
Teng Hiang mengawasi pemuda itu hingga sinar mata mereka berdua seperti beradu satu sama lain.
Ia tersenyum, ia memperlihatkan wajah manis.
Cukat Tan hendak membersihkan bajunya waktu ia mendapati sebuah saputangan dilemparkan kepadanya dan si nona berkata sambil tertawa .
"Kau susutlah dengan saputangan ini ! Sebenarnya arak tidak membuat orang sinting, hanya oranglah yang sinting sendirinya !' Si pemuda menyambuti saputangan itu, ia menyusuti bajunya, kemudian setelah memerasnya kering, ia bertindak menghampiri si nona.
"Terima kasih !"
Katanya sambil mengembalikan saputangan itu. Teng Hiang tertawa.
"Kita sama-sama orang Kang Ouw, jangan kita berlaku sungkan !"
Katanya manis.
"Ya, kalau kita tidak bertempur, kita tak bakal kenal satu pada lainnya ! Cukat kongcu, kiranya kau baru sampai disini !"
"Kongcu"
Adalah panggilan terhormat tuan untuk seorang muda. Cukat Tan tertawa. Di dalam keadaan seperti itu, tak dapat ia berlaku bengis atau memusuhkan si Nona Tanpa alasan.
"Maaf, Nona Teng Hiang !"
Ia berkata.
"Nona pun singgah disini ?"
Teng Hiang mengangguk.
Itulah pembicaraan permulaan mereka, lantas selanjutnya mereka dapat memasang omong tanpa canggung lagi.
Teng Hiang demikian pandai membawa diri hingga lenyaplah keragu-raguan pemuda itu terhadap dirinya.
Ia memangnya tidak bermaksud jahat bahkan baik.
Sebab ia ingin mencapai cinta kasihnya si anak muda.
Dari berpisah meja, berdua mereka lantas duduk bersamasama.
Dan mereka makan dan minum sampai cukup setelah mana Cukat Tan kena dibujuk akan memasuki kamar si nona, buat mereka melanjuti memasang omong dengan asyik.
Banyak soal yang dibicarakan sampai kepada halnya Tio It Hiong.
Cukat Tan dengan polos mengutarakan kekagumannya terhadap Tio It Hiong, akan kemudian ia tanya nona di depannya itu .
"Nona, kau telah banyak menjelajah, apakah kenal Tio It Hiong ?"
Sebelumnya menjawab, si nona tersenyum dan melirik si anak muda.
"Ah, kenapa kau masih saja memanggil aku nona, nona lagi ?"
Katanya. Ia menegur tetapi tidak gusar.
"Apakah dengan begitu kau tak kuatir derajatmu akan turun ? Memang pergaulan kita masih sangat baru tetapi aku merasa kita sudah sangat akrab satu dengan lain, maka itu aku tak menyukai panggilanmu ini ! Tak dapatkah kau memanggil kakak kepadaku ?"
Cukat Tan melengak.
"Dia asal sesat tetapi begitu rupa kita saling berbahasa, apakah kelak guruku tak akan menegurku ?"
Pikirnya bingung.
"Hebat kalau aku dipersalahkan....."
Tapi si nona cantik sekali dan suaranya merdu maka tergeraklah "hati batunya", ia berpikir keras hingga tak dapat ia segera memberikan jawabannya.
Teng Hiang mengawasi, dia tertawa terus dia menepuk bahu orang.
"Bagaimana, eh ?"
Tanyanya.
"Menyebut kakak saja begini susah ! Apakah kau memandang hina kepadaku ?"
Tiba-tiba si nona menjadi sedih, air matanya meleleh keluar. Itulah perubahan sejenak, itu pula kepandaiannya seorang wanita yang cerdik. Tak dapat Cukat Tan mempertahankan diri lagi.
"Kakak !"
Panggilnya.
"Kakak, kau....."
Bukan main girangnya Teng Hiang tetapi ia tidak segera utarakan itu pada wajahnya. Perlahan-lahan ia mengangkat mukanya, menatap anak muda itu.
"Adik, apakah katamu ?"
Tanyanya.
"Aku menyesal, kakak."
Sahut si anak muda itu.
"Aku menyesal telah membuatmu berduka."
Ia nampaknya likat. Teng Hiang tersenyum.
"Tak akan aku sesalkan kau, adik."
Bilangnya.
"Adik yang baik, jangan kau pikirkan itu......"
Pemuda itu mengawasi lampu, ia berdiam saja. Teng Hian pun berdiam, ia cuma mengawasi, lewat sesaat barulah ia memecahkan kesunyian itu.
"Eh, adik, bukankah tadi kau menanyakan aku tentang Tio It Hiong ?"
Tanyanya. Cukat Tan melengak, ia bagaikan baru mengingat sesuatu.
"Ya, kakak."
Sahutnya.
"Aku menanya kau kenal Tio It Hiong atau tidak....."
Mendengar disebutnya nama Tio It Hiong, Teng Hiang masgul.
Lantas ia ingat peristiwa pada suatu malam di Lek Tiok Poo, itulah ketika ia menempur salah seorang lawan dan jatuh dari atas genting tetapi Tio It Hiong menyanggah tubuhnya hingga ia kena terpeluk dan menjadi tak kurang suatu apa, itulah kejadian yang tak dapat dilupakan.
Itulah suatu budi.....
Masih ada suatu hal lain yang Teng Hiang ingat benar.
Itulah katanya Tio It Hiong bahwa si anak muda akan memperlakukan ia sama seperti terhadap Pek Giok Peng.
Kata-kata itu ia mengartikan banyak, itulah kata-katanya seorang pria pada seorang gadis belia, Itu waktu pun Tio It Hiong, si anak muda memanggilnya "adik"
Itu pun yang menyebabkan ia berduka dan kabur dari Lek Tio Po sebab dia merasa tak mungkin ia melayani pemuda itu bersama-sama Giok Peng yang mudah jelus itu.
Maka ia kabur dan kebetulan sekali ia bertemu dengan Thian Cie Lojin si jago tua yang lihai hingga ia berguru padanya.
Sekarang gurunya menutup mata dan ia menjadi sebatang kara pula.
Tapi ia tidak takut merantau seorang diri.
Ia telah berpengalaman dan bernyali besar.
Selama mengikuti Giok Peng merantau, ia sudah melihat dan mendengar banyak.
Tapi sekarang di depannya itu ada seorang pemuda lain yang tak kalah tampan dan gagahnya.
Pikirannya lantas berubah.
"Tio It Hiong ?"
Dia menegaskan tiba-tiba, lalu dia tertawa.
"Bukan saja kakakmu ini mengenalnya, bahkan kami pernah....."
Mendadak saja budak bengal ini berhenti bicara. Hampir ia membuka rahasianya. Syukur ia lantas ingat peristiwa itu bisa membangkitkan kesan tak baik dalam hatinya Cukat Tan.
"Apakah itu kakak ?"
Tanya Cukat Tan polos.
"Kami pernah berkenalan, dalam waktunya pendek sekali."
Sahut si nona yang terpaksa menderita.
"Kakak"
Tanya pula si anak muda.
"Kalau kakak kenal dia kenapa kemarin ini di Koan JIt Hong, kakak tidak menyapanya. Aneh bukan, Tio It Hiong justru bertempur dengan tunangan atau istrinya ! Aku maksudkan dengan Cio Kiauw In dan Pek Giok Peng. Hal itu membuatku heran sekali......."
Teng Hiang mau menunjuki pengetahuannya yang luas, ia juga ingin membuat senang anak muda itu, ia lantas menjawab perlahan.
"Kau tidak tahu adik didalam dunia Kang Ouw terdapat banyak sekali akal muslihat yang licik ! Di atas puncak Koan JIt Hong itu dapat orang menyamar dan menipu orang lain tetapi tidak kakakmu ini !"
Cukat Tan heran, ia mendelong menatap nona cantik manis di depannya itu.
"Ah, kakak maksudkan dialah Tio It Hiong palsu ?"
Tanyanya.
"Habis kakak, siapakah dia sebenarnya ?"
"Dialah Gak Hong Kun, murid dari Heng San Pay !"
"Gak Hong Kun ?"
Cukat Tan mengulangi nama orang.
Mendadak saja pintu jendela terpentang, satu tubuh berloncat masuk, sebatang pedang menyambar pada nona Teng, sembari menyerang secara mendadak itu, si penyerang pun memperdengarkan suara bengis .
"Teng Hiang budak bau, kau cari mampus ya ?"
Kaget Teng Hiang juga Cukat Tan tetapi sempat mereka berlompat memisahkan diri, menyingkir dari ujung pedang itu, setelah mana mereka menghunus pedangnya masing-masing.
Keduanya balik mengawasi si penyerang gelap itu.
Mudah saja akan mengenali orang ialah Tio It Hiong si pengacau puncak Koan JIt Hong.
"Kau siapa ?"
Cukat Tan menegur.
"Jangan usil aku siapa !"
Sahut orang itu membentak.
"Gak Hong Kun !"
Berkata Teng Hiang yang tidak takut.
"Jangan kau main gila ! Apakah kau sangka rahasiamu dapat ditutup terhadap Teng Hiang ?"
Hatinya Gak Hong Kun tergetar.
Dia memang paling takut orang membeber rahasianya.
Tapi dia tidak takut, sebaliknya dia jadi membenci Teng Hiang juga Cukat Tan.
Maka muncullah keinginannya untuk menyingkirkan sepasang muda mudi itu.
Tapi dia licik sebelum dia turun tangan ingin dia mengorek dahulu keterangannya nona itu.
Berapa banyak si nona telah mengetahui rahasianya.
Maka ia tertawa terkekeh-kekeh.
"Eh, budak bau, jangan kau menghina orang."
Tegurnya.
"Apakah kau sangka tuan besarmu benar takut akan ancamanmu ini ? Nah, kau bicaralah !"
Kecerdikannya Teng Hiang tak kalah dari kecerdikannya si anak muda, ia menangkap maksud hati orang. Ia kata jumawa.
"Sudah cukup bagiku yang aku ketahui kaulah orang Tio It Hiong palsu ! Buat apa bicara banyak pula ?"
Cukat Tan gelap bagi tampangnya Tio It Hiong dan Gak Hong Kun berdua.
Sekarang ia hanya merasa pasti bahwa orang adalah It Hiong palsu.
Maka itu ia terus mengawasi tajam anak muda di depannya itu yang matanya bersinar mengandung sifat kekejaman atau kegemaran akan pembunuhan.
Diam-diam ia merasa bergidik sendirinya.
Diam-diam pula ia melirik dan mengedipi mata pada Teng Hiang, mengisikkan untuk si nona berwaspada.
Gak Hong Kun ingin membinasakan dua orang muda ini tetapi ia masih memikirkan bagaimana caranya.
Berat usahanya kalau muda mudi itu bekerja sama.
Kepandaiannya Teng Hiang ia telah ketahui, tidak demikian kepandaiannya Cukat Tan.
Maka ia pikir baik ia ancam saja Teng Hiang.
"Ah, kenapa aku lupa"
Pikirnya kemudian, mendadak ia ingat sesuatu.
"Bukankah selama di Heng San pernah dia menunjukkan cintanya padaku ? Kenapa sekarang aku tidak mau pakai itu sebagai umpan ? Dengan mendapati tubuhnya, aku pun bisa terus peralat padanya."
Setelah memikir begitu, Gak Hong Kun lantas merubah sikapnya.
"Adik yang baik"
Katanya sabar.
"bukankah kau telah melihat sendiri bagaiman Tio It Hiong telah merampas pacar orang ? Habis kenapakah kau hendak membantunya buat membuka rahasiaku ? Coba kau pikir apakah kebaikannya Tio It Hiong terhadapmu."
Teng Hiang mengawasi dengan berdiam saja.
Ucapan itu memang membangkitkan cintanya terhadap Tio It Hiong.
Gak Hong Kun pandai melihat selatan.
Ia sudah maju satu tindak, hendak ia maju lebih jauh.
Ia tertawa dan kata pula.
"Demikan, adik aku jadi gemar berdandan sebagai dianya. Aku ingin menarik perhatian supaya kau makin mencintai aku ! Nah, demikian rupa aku menggilai kau, adik, kau tahu atau tidak ?"
Coba Gak Hong Kun bersikap begini sebelumnya Teng Hiang bertemu dengan Cukat Tan, pasti akan mudah saja ia dapat merebut hati si nona.
Sekarang tidak.
Bahkan sikapnya itu menimbulkan kesan sebaliknya.
Teng Hiang justru menerka orang mau merusak pergaulannya dengan pemuda she Cukat itu.
"Apakah artinya penyamaranmu ini ?"
Tanya si nona tawar.
"Apakah artinya semua perbuatanmu itu ? Kau bicara begini rupa terhadap aku, berapa tebal mukamu ? Apakah kau tak kuatir orang justru membencimu ?"
Gak Hong Kun terkejut.
Tak dia sangka bahwa dia bakal dapat perlakuan sebaliknya dari pada apa yang dia harapharap.
Dia lantas melirik kepada Cukat Tan saingannya itu !
"Jika kau tak sudi menerima aku, adik, tidak apa."
Kata ia.
"Sekarang aku minta sukalah kiranya kau menyimpan rahasiaku ini."
"Atas nama persahabatan kita dahulu hari !"
"Kalau kau menampik, hm !"
Tak puas Teng Hiang. Orang bicara tak karuan. Katakatanya orang itu pula dapat menggoncangkan kepercayaannya Cukat Tan ! Kalau anak muda itu bercuriga ? Maka ia mau mencegah.
"Aku Teng Hiang, aku ada seorang putih bersih !"
Kata ia keras.
"Apakah hubungan kau dengan aku ? Kapannya kita bersahabat ? Jangan kau mengoceh saja ! Awas, pedang nonamu tak akan mengampunimu !"
Habis dayanya Gak Hong Kun, habis pula sabarnya. Mendadak saja dia menghunus pedangnya hingga sinarnya itu berkemilau diseluruh ruang itu.
"Teng Hiang !"
Bentaknya.
"Kau suka menerima atau tidak, terserah kepadamu ! Mengingat persahabatan kita, telah aku memberikan kau satu jalan hidup ! Kau tahu atau tidak, siapa ketahui rahasiaku, dia tak dapat hidup lebih lama pula !"
Cukat Tan menjadi gusar sekali. Orang telah mendesak nona yang ia cintai. Maka bangkit bangunlah sepasang alisnya.
"Kiranya kaulah seorang jahat !"
Teriaknya.
"Kalau kau benar gagah, kau sambutlah beberapa jurusku !"
Begitu ia menantang, begitu si anak muda menyerang. Ia menikam ! "Tahan!"
Teng Hiang maju sama tengah.
"Kalau kita mau mengadu jiwa, mari kita cari tempat yang sepi. Kita tidak dapat mengganggu ketenteraman disini !"
Itulah yang Gak Hong Kun inginkan. Memang ia takut nanti ada orang lain yang muncul disitu dan orang itu mengenalinya.
"Bocah bau,"
Katanya jumawa.
"kalau benar kau berani, pergilah kau keluar pintu kota timur, di Go Gu Po ! Ditanjakan itu akan aku nantikanmu untuk mengantarkan kau pergi berpulang....."
Kata-kata itu disusul dengan lontaran tubuh pesat keluar jendela.
Malam itu Gak Hong Kun keluar buat mencari tahu tentang Giok Peng, kebetulan ia melihat api dikamarnya Teng Hiang.
Ia lantas datang mencintai, maka lebih kebetulan pula ia menemui pemudi itu bersama si pemuda.
Mulanya ia tidak menghiraukan segala apa, hendak mengangkat kaki, akan tiba-tiba ia mendengar namanya disebut-sebut dan Teng Hiang membuka rahasianya.
Dalam gusarnya ia lantas masuk kekamar orang, niat membinasakan muda mudi itu atau ia bersangsi sebab ia belum tahu kepandaiannya pemuda she Cukat itu.
Pula di dalam penginapan, tak berani ia membuat onar.
Keributan bakal merugikannya.
Demikian ia menahan sabar dan menantang untuk berkelahi di luar kota.
Hatinya Cukat Tan masih panas, hendak ia melompat menyusul, tapi Teng Hiang menarik ujung bajunya.
"Jangan kena dipancing, adik !"
Mencegah si nona.
"Jangan susul dia !"
"Tadi kita sudah berjanji, kakak."
Kata si anak muda polos.
"Janji kaum rimba persilatan harus dipenuhi. Mana dapat sudah berjanji, tapi kita tidak muncul...."
Teng Hiang tertawa.
"Seorang laki-laki tak dapat membiarkan dirinya diperdayakan !"
Kata ia.
"Terhadap manusia jahat, buat apa kita mengukuhi kehormatan kita ? Paling benar kita jangan ladeni dia !"
Tapi Cukat Tan sedang bersemangatnya.
"Tetapi, kakak,"
Kata dia.
"dapat menyingkirkan seorang jahat juga menjadi salah satu tugas kaum rimba persilatan ! Aku Cukat Tan sekalian saja hendak aku menguji kepandaian orang itu !"
Tak mau Teng Hiang mengadu mulut dengan orang yang dia cintai itu.
"Sungguh kau gagah, adik !"
Katanya sambil memuji.
"Menghormati kepercayaan justru menjadi peganganku, hal itu membuatku gembira. Cuma biar bagaimana harus kita waspada ! Kita harus berjaga-jaga dari akal busuknya !"
Keduanya lantas bersiap, habis memadamkan api, mereka meninggalkan kamar dengan jalan meloncati jendela.
Mereka berlari-lari keluar kota.
Teng Hiang kira ketika itu sudah jam empat.
Selekasnya muda mudi ini mendekati Go Gu Po, di sana mereka melihat sinar pedang bergerak-gerak bagaikan bayangan memain diantara bayangan pepohonan.
"Mari lekas !"
Cukat Tan mengajak.
Di sana ada pertempuran, hendak ia melihat siapa mereka itu.
Ia perkeras larinya.
Teng Hiang lari keras menyusul pemuda itu.
Diatas tanjakan itu, dua orang tengah bertempur seru, yang satu ialah Siauw Wan Goat dari To Liong To, yang lainnya si Tio It Hiong palsu.
Siauw Wan Goat kecewa, bersusah hati dan gusar.
Ia telah dipermainkan pemuda itu.
Ia jadi nekad dan bersedia mati bersama si pemuda.
Sejak di Koan JIt Hong ia mencari anak muda itu, sampai kebetulan ia melihat si anak muda berlari-lari ke pintu kota timur itu.
Ia menyusul dan menyandak, ditanyakan itu lantas ia menyerang.
Maka itu bertarunglah mereka berdua.
Siauw Wan Goat berkelahi dengan menggunakan ilmu ringan tubuh dari To Liong To namanya "Kwio Siam Tong Hiang"
Artinya ilmu "Bajingan berkelit".
Ia bergerak-gerak dengan sangat pesat dan lincah dan tidak ada suaranya juga.
Mulanya ditikam Gak Hong Kun dapat berkelit, walaupun itulah bokongan.
Inilah sebab dia lihai sekali.
"Kau cari mampus !"
Dia membentak setelah dia menoleh dan mengenali jago wanita dari pulau naga melengkung itu.
Siauw Wan Goat makin gusar, dia menyerang pula.
Maka itu, berdua mereka menjadi bertempur sampai tibanya Cukat Tan dan Teng Hiang.
Dalam ilmu silat, Gak Hong Kun menang satu tingkat, tetapi si nona nekad.
Dia terdesak maka satu kali, karena ayal sedikit saja ujung pedang si nona sudah berhasil menggores iga kirinya hingga bajunya robek dan kulitnya tergores hingga darahnya mengalir keluar.
Hal ini membuatnya gusar sekali.
Belum pernah orang melakukan secara demikian.
Maka ia balik menyerang hebat sekali.
Ia menggunakan jurus silat "Su Yan Hong In"
Atau "Badai di Empat Penjuru."
"Traaang,"
Demikian terdengar satu suara nyaring sesudah jurus-jurus dikasihh lewat.
Siauw Wan Goat kaget sekali.
Pedangnya kena dipapas kutung pedang mustika lawannya yang dia benci itu.
Sudah begitu pedang lawan terus meluncur ke kepalanya.
Tapi sempat ia berkelit, memindahkan diri ke belakang orang, maka terus saja dengan pedang buntungnya ia menghajar punggung musuhnya.
Ia menggunakan pedang seperti senjata rahasia !
Gak Hong Kun terkejut, selekasnya si nona lenyap dari depannya.
Ia lantas menerka akan datangnya serangan dari belakang, ia lantas memutar tubuh sambil mendak seraya dengan pedangnya menangkis ke belakang.
Maka tepat ia kena menghajar pedang buntung hingga pedang itu terpental jauh setombak lebih.
Siauw Wan Goat hilang napsu berkelahinya.
Tanpa pedang ia pasti tak dapat berbuat apa-apa.
Tanpa ragu lagi, ia putar tubuhnya dan lari turun tanjakan.
Gak Hong Kun panas hati, ia ingin binasakan nona itu, maka ia mengejar, tetapi orang tidak mau memberi ketika padanya.
Tiba-tiba saja Cukat Tan menghadang di depannya.
Teng Hiang mengenali Siauw Wan Goat, ia membiarkan si nona lewat sambil ia menanya .
"Adik Wan Goat, siapakah orang yang mengejarmu ?"
Siauw Wan Goat berlari terus tetapi dia menoleh dan menjawab .
"Dialah Tio It Hiong !"
Teng Hiang tertawa di dalam hati.
"Dasar budak tolol !"
Pikirnya.
"Dia cari penyakit sendiri ! Si palsu dikatakan si tulen !"
Sementara itu Cukat Tan yang memegat Tio It Hiong palsu segera membentak .
"Orang she Gak, tahan ! Cukat Tan menepati janji !"
Gak Hong Kun menahan diri dengan ia lompat jumpalitan mundur. Setelah ia hadapi si anak muda she Cukat, terus ia berkata nyaring .
"Bocak cilik, kau mau mati ya ? Lekas kau minggir ! Tuan Gak kamu hendak menyingkirkan kau budak bau itu, habis dia baru aku akan berurusan dengan aku !"
Teng Hiang tertawa haha-hihi, dengan tangannya menunjuk ke bawah tanjakan dimana Siauw Wan Goat sedang berlari-lari.
Didalam waktu yang lekas, Nona Siauw tampak sudah seperti bayangan, yang terus melenyap.....
"Gak Hong Kun, kau lihat !"
Berkata pula Nona Teng.
"Berapa lihainya ilmu ringan tubuhmu ? Dapatkah kau menyusul nona itu ?"
Ketika itu pula cuaca remang-remang.
Gak Hong Kun melihat lenyapnya Siauw Wan Goat, hatinya semakin panas, maka mau ia memindahkan kemarahannya terhadap muda mudi di depannya itu.
Ia mengawasi mereka dengan sorot mata bengis.
"Kamu berdualah yang dikatakan ada jalan ke sorga kamu tidak ambil, kamu justru menuju neraka !"
Katanya keras. Cukat Tan gusar.
"Lihat pedang !"
Serunya dan terus ia menikam.
Dia tahu sang lawan menggunakan pedang mustika, tak sudi ia memberi ketika akan pedang musuh memapas kutung pedangnya, tak sudi ia memberi ketika akan pedangnya, maka itu ia berkelahi dengan waspada.
Asal ditangkis dia dahului menarik pulang pedangnya.
Cepat sekali dia menusuk berulang-ulang sebab dia menggunakan "Soat Hoa Kiam hoat"
Ilmu pedang "Bunga Salju."
Gak Hong Kun tidak memandang mata pada anak muda itu dan ia tidak lari walaupun orang ada berdua bersama Teng Hiang.
Ia percaya mudah saja ia kaan mengalahkan pemuda itu.
Bukankah ia bersenjatakan Kie Koat, pedang mustikanya ?
Maka adalah diluar dugaannya yang pemuda itu cerdik sekali dan sangat gesit, bergeraknya sangat lincah.
Cukat Tan menang diatas angin.
Teng Hiang menonton pertempuran dengan merasa kagum untuk pemuda she Cukat itu sebab orang dapat melayani Gak Hong Kun dengan baik sekali.
Beberapa kali anak muda she Gak itu mencoba membabat pedang orang gagal bahkan ada kalanya habis membabat, dia repot sendirinya sebab setelah berkelit Cukat Tan terus melakukan penyerangan pembalasan.
Maka berimbanglah kekuatan mereka berdua.
Lama-lama Cukat Tan toh kalah ulat.
Ia lebih muda dan kalah pengalaman, ia menjadi kalah tenaga.
Perlahan-lahan gerak geriknya menjadi lambat.
Gak Hong Kun gusar, dia penasaran, tetapi dia pun merasa letih.
Menurut keinginannya ingin ia dengan satu gebrak saja menyudahi pertempuran itu dengan lawan dapat dirobohkan.
Keinginan itu tak mudah dipenuhi.
Cukat Tan tetap dapat berkelahi walaupun gerak geriknya sudah kendor.
Selama itu berdua mereka bermandikan peluh pada dahinya, apa panaspun mengendus.
Teng Hiang terus menonton, dia bermata tajam, dia bisa melihat keadaan.
Setelah mendapati Cukat Tan sudah letih, tak mau dia berdiam saja.
Ia berkuatir pemuda itu salah tangan dan roboh ditangan musuh.
Itulah berbahaya.
Pemuda itu bisa terbinasakan atau sedikitnya terluka parah.
Maka ingin dia membantunya.
"Adik, kau beristirahatlah !"
Akhirnya dia berseru.
"Kau kasihlah kakakmu yang membereskan si manusia jahat !"
Dengan hanya satu kali berloncat masuk sudah si nona dalam kalangan pertempuran dan dengan dua tiga kali serangan saja, dia membuat dirinya menang diatas angin.
Cukat Tan merasai keletihannya, bagus si nona menggantikan.
Dengan lantas ia lompat mundur untuk beristirahat.
Gak Hong Kun menjadi mendongkol sekali.
Belum tercapai maksudnya membinasakan si anak muda itu, sudah datang nona ini, satu tenaga baru.
Ia juga telah merasa letih.
"Kalau aku berkelahi terus, bisa-bisa aku roboh."
Pikirnya, maka itu sambil melayani Teng Hiang dia berkata .
"Aku ingat akan persahabatan kita, maka kali ini suka aku mengampuni jiwamu, Teng Hiang ! Kau sebenarnya bukan satu manusia yang baik-baik ! Kau berhati-hatilah ! Ingat olehmu, kekasih yang baru tak sama dengan kekasih yang lama ! Ha ha ha haaa.... !"
Tak kepalang mendongkolnya Teng Hiang sampai ia berkhayal dan pedangnya kena terasampok.
Syukur bukannya ditebas pedangnya menjadi tidak sampai terkutungkan.
Tengah ia terperanjat, lawannya sudah lompat mundur, untuk terus memutar tubuh dan lari mendaki tanjakan.
Teng Hiang melengak mengawasi orang kabur.
Ia tidak mau mengejar, sebaliknya ia masuki pedangnya kedalam sarungnya.
Ia dongak melihat langit, sang pagi sudah tiba, sang matahari mulai muncul......
Ketika itu, Cukat Tan sedang duduk mengatur pernafasannya.
Dengan perlahan si nona bertindak menghampiri, untuk terus bertanya dengan suaranya yang menyatakan dia sangat prihatin.
"Adik, apakah kau terluka di dalam ?"
Cukat Tan menggelengkan kepala.
Dia tidak menjawab, bahkan dia duduk terus dan matanya tetap dipejamkan.
Teng Hiang tahu selatan, tak mau ia mengganggu.
Menanya pula dan tidak.
Dia bertindak ke sisi si anak muda untuk berdiri diam disitu, matanya melihat kelilingan.
Sembari berdiam itu dia seperti menjagai si anak muda dengan berbareng dia pun beristirahat.
Belum lama beristirahat dari bawah tanjakan terlihat dua orang berlari-lari mendatanginya.
Cepat larinya mereka itu, cepat sekali mereka sudah datang mendekati.
Mereka adalah Cio Kiauw In dan Pek Giok Peng !
Kiauw In heran menyaksikan Teng Hiang berdiri disisinya Cukat Tan yang lagi beristirahat itu, hingga dia mengawasi saja.
Tidak demikian dengan Giok Peng walaupun nona Pek pun heran.
"Eh, Teng Hiang, apakah kau bertempur dengan sahabat Cukat ini ? "
Tanya nona itu, nona bekas majikan.
Teng Hiang jengah.
Sekarang mereka ada dari laIn Golongan.
Walaupun demikian masih melekat rasanya suasana pergaulan majikan dan pegawainya.
Maka atas teguran si nona, dia lebih dahulu memberi hormat, baru ia menjawab .
"Jangan salah mengerti nona. Sekarang ini Teng Hiang dengan tuan Cukat ini adalah sahabat-sahabat Kang Ouw."
Tiba-tiba si nona merasai mukanya panas hingga katakatanya terputus...... Kiauw In melihat selatan, lekas-lekas dia mengedipi Giok Peng, lalu ia berkata tertawa.
"Nona Teng Hiang, selagi kau turun gunung dari Koan JIt Hong, ada atau tidak kau melihat seseorang yang segalanya mirip dengan Tio It Hiong ?"
"Ah, kakak In !"
Kata Teng Hiong tertawa.
"Kenapa kakak begini sungkan terhadap aku si Teng Hiang.....?"
Dia hening sedetik lalu meneruskan .
"Adik Cukat ini baru saja menempur orang yang kakak sebutkan itu. Mereka bertempur sama sekali. Dia itu......"
Hampir Teng Hiang memberitahukan bahwa orang itu adalah Gak Hong Kun, baiknya dia lantas ingat disitu ada Giok Peng. Kalau dia menyebutkannya, bekas nonanya itu tentulah bersusah hati.
"Eh, Teng Hiang,"
Tegur Giok Peng yang menjadi tidak sabaran.
"sejak kapan kau belajar bicara main terputus-putus begini ? Apakah di depanku kau masih mau main gila ?"
Teng Hiang cerdik, ia memutar haluan, sahutnya .
"Orang itu baru saja lari mendaki tanjakan ini, kalau nona mau mencari dia baik lekas susul padanya !"
Ketika itu Cukat Tan sudah pulih kesegarannya, dia dapat mendengar pembicaraan orang, lantas ia berbangkit bangun, matanya pun dibuka.
"Nona-nona, aku yang rendah telah menemui orang itu sejak tadi malam."
Ia berkata tanpa diminta lagi.
"Dialah orang yang menyamar-nyamar menjadi saudara Tio. Menurut aku dialah Gak...."
"Kau biarkan kakakmu yang bicara ! "
Teng Hiang memotong si anak muda, sebab anak muda itu mau menyebutkan namanya Hong Kun.
"Nona, orang itu benar Gak Hong Kun !"
Kali ini sudah terlanjur, Teng Hiang menyebut terang namanya si orang she Gak. Mukanya Giok Peng menjadi pucat, dia melengak, matanya dibuka lebar-lebar.
Jilid 30
"Benarkah kata-katamu ini, Teng Hiang ?"
Tanyanya kemudian.
"Apakah yang mencurigakan kau maka kau mengenali penyamarannya itu ?"
Teng Hiang mau bicara dengan sebenar-benarnya, maka ia tuturkan hal pembicaraan diantara Tong It Beng dan Gak Hong Kun semasa di rumah penginapan di kecamaTan Hong bwe, bagaimana It beng menganjurkan Hong Kun menyamar menjadi It Hiong guna memfitnah pemuda she Tio, buat mengacaukan dunia Sungai Telaga.
Ia jelaskan juga yang It Hiong palsu itu telah memakai cat muka buatan luar negeri hingga Hong Kun menjadi mirip sekali dengan It Hiong.
Mendengar itu Giok Peng membanting-banting kaki.
"Memang aku telah menerka bangsat itu."
Katanya sengit.
"Cuma sampai sebegitu jauh, belum ada jalan untuk membuka rahasianya."
"Dan kalian berdua,"
Kata Kiauw In pada Teng Hiang dan Cukat Tan.
"kenapa kalian bertempur dengan Gak Hong Kun ?"
Pertanyaan itu membuat canggung dua dua Teng Hiang dan Cukat Tan, hingga muka mereka menjadi bersemu dadu, hingga mereka saling melirik tanpa dapat memberikan jawaban.
Memang sulit buat mereka menceritakan halnya tadi malam mereka sedang berbicara dengan asyik sampai diganggu Hong Kun.
"Sebenarnya Hong Kun benci aku."
Kata Teng Hiang kemudian.
"Dia membenci aku takut aku membuka rahasianya, maka itu dia hendak membunuh kami berdua. Begitulah kami berjanji bertempur disini."
Kiauw In cerdas sekali. Ia lantas mendapat satu pikiran. Dengan sungguh-sungguh ia memegang tangannya Teng Hiang dan kata halus .
"Adik Teng ! Kau telah ketahui rahasianya Hong Kun yang busuk itu. Dapatkah kau membantu adik Hiong membersihkan dirinya ? Kalau kau sudi dapat kau menyebar perbuatan busuknya ini di muka umum dan dengan demikian lenyap sudah penasaran adik Hiong."
Teng Hiang berpikir, matanya berputaran.
"Kakak In,"
Katanya kemudian.
"dapatkah kau menanti sebentar bersama adik Cukat ini ? Hendak aku bicara dahulu dengan Nona Pek......"
Kiauw In mengangguk. Teng Hiang menghampiri Giok Peng buat diajak menyingkir sedikit jauh. Keduanya lantas bicara perlahan sekali satu dengan lain. Habis itu Giok Peng kembali ke tempatnya.
"Kakak mari !"
Ia memanggil Kiauw In, tangannya menggapai.
Kiauw In mengangguk dan menghampiri.
Cukat Tan heran hingga ia mengawasi dengan mendelong.
Ia cuma bisa melihat kedua nona saling berbisik.
Kiranya Teng Hiang mengajukan syarat untuk ia dapat menerima baik permintaannya Nona Cio dan syaratnya itu ialah supaya Giok Peng menjadi perantara untuk mencomblangi jodohnya dengan jodohnya Cukat Tan.
Dalam hal ini yang sukar yaitu soal menginsyafkan Len In Tojin, ketua Ngo Bie Pay, gurunya Cukat Tan, agar guru itu senang menerima Teng Hiang sebagai istri muridnya itu.
Maka juga perlu Nona Cio berunding dengan Nona Pek.
"Adik Peng, terimalah syarat ini."
Kiauw In menganjurkan Giok Peng sesudah ia mengasi keterangan pada nona itu, yang nampak rada bersangsi.
"Di dalam hal ini yang paling penting ialah urusan adik Hiong, supaya perkaranya menjadi terang dan dia bebas dari fitnah."
Giok Peng tidak melihat lain jalan maka ia mengangguk. Dengan begitu, berdua mereka menghampiri muridnya Thian Cie Lojin itu, Giok Peng sudah lantas menepuk bahunya budak pelayan.
"Teng Hiang,"
Katanya.
"urusanmu menjadi tanggung jawab kami berdua kakak beradik, suka kami menerima syaratmu itu ! Sekarang bagaimana dengan permintaan kami. Sukalah kau menerimanya dan melakukan itu ?"
Teng Hiang menjawab lantas, dengan sungguh-sungguh ia kata .
"Untuk membeberkan rahasianya Gak Hong Kun, Teng Hiang akan segera melakukannya. Buat itu ia bersedia menyerbu api. Nah, beginilah janji kita, tak akan ada yang menyesal dan melanggarnya !"
Habis berkata begitu bukan main bunga hatinya Nona Teng ini hingga wajahnya terang dengan senyuman hingga kecantikannya nampak mentereng sekali.
Tinggallah Cukat Tan yang ketika mengetahui urusan jodohnya itu mukanya menjadi merah.
Ia girang tetapi toh ia likat.
Di lain pihak diam-diam ia berkuatir gurunya nanti menentang dan menguasirnya sebab ia telah memilih seorang nona dari kaum sesat.
Kalau gurunya menampik dan dia digusur.........
"Nah, disini kita berpisah dahulu,"
Baca Juga: Pedang Kiri Pedang Kanan 3
Baca Juga: Pedang Hati Suci 6