Ceritasilat Novel Online

Iblis Sungai Telaga 6

Eps 6 Iblis Sungai Telaga - Khu Lung

Baca online Iblis Sungai Telaga - Khu Lung

Cersil Iblis Sungai Telaga - Khu Lung.

Sekarang ini mereka pikirkan soal jalan keluar.

Mereka baru berhenti bertindak selekasnya It Hiong melihat tumpukan batu yang tadi malam ia buat !

Tanpa merasa ia tertawa sendirinya.

Tan Hong sebaliknya melihat ke sekitarnya, ia memasang mata tajam.

Jauh lima tombak dari tumpukan batu itu tampak sebuah batu besar mirip daun pintu nempel pada dinding.

Pintu itu tak terlihat tadi malam selagi mereka terbenam dalam kegelapan.

dengan berlompatan, ia menghampiri batu mirip pintu itu, bahkan dengan kedua tangannya, ia lantas menolak dengan keras.

"Plak !"

Demikian terdengar suara pada pintu itu hingga percikan batu dan hancurannya berterbangan, tetapi pintunya sendiri tidak bergeming. Hoay Giok nampak heran.

"Mungkin inilah jalan keluar !"

Berkata dia.

"Sute, apakah yang kau lihat ?"

It Hiong mengawasi tajam.

Tidak ada sesuatu yang mendatangkan rasa curiganya.

Maka ia mengawasi terus.

Dari pintu dan semua pinggirannya ia memasang mata terus ke sekitarnya.

Dua kaki dari pintu itu ada sebuah batu yang mirip tanduk kambing tergantung pada tembok dinding itu tingginya kira sebatas pundak.

Ia lantas menghampiri batu itu, terus ia memegangnya dan memutarnya menarik ke kiri dan kanan.

Mendadak saja terdengar suara nyaring, tahu-tahu daun pintu batu itu telah terbuka sendirinya hingga diambang pintu itu nampak sebuah jalan.

Hoay Giok bersorak tertawa sambil bertepuk tangan.

"Dasar orang baik dilindungi Thian !"

Serunya.

"Siapa sangka mudah saja kita menemui jalan keluar."

Tan Hong pun bergirang, ia bersenyum melirik si anak muda.

It Hiong lantas bertindak ke pintu buat memasukinya.

Hoay Giok dan Tan Hong mengikuti.

Pintu rahasia itu memimpin mereka ke sebuah tempat terbuka yang berupa seperti punggung gunung.

Dari situ mereka dapat memandang ke sekitarnya, semua puncak atau rentetan pegunungan yang penuh dengan pepohonan.

Di waktu pagi, sang angin mendatangkan rasa nyaman.

Di kaki puncak yang tertinggi di tempat yang rata terlihat segunduk bangunan yang gentingnya memberi cahaya kilau keemasan.

"Mungkin itu sarangnya Losat Bun !"

Berkata Tan Hong sambil menunjuk.

"Baik kita beristirahat dahulu disini, baru kita hampiri mereka. Setujukah kau ?"

Dua-dua It Hiong dan hoay Giok setuju.

Memang setelah si nona bicara, mereka seperti mendadak saja merasa letih.

Mereka tidak tidur semalam suntuk, mereka habis berjalan jauh dan berpikir keras.

Jalan jauh sebab mereka berputaran disitu-situ juga !

Lantas ketiganya duduk untuk mengisi perut dengan rangsum kering, habis mana mereka berdiam bersemedhi.

Di dalam waktu satu jam It Hiong telah mengembalikan seluruh tenaganya luar dan dalam hingga ia menjadi segar sekali, sehat lahir dan bathin.

Ketika ia berbangkit bangun, Tan Hong dan Hoay Giok masih terus duduk mematung.

Ia tidak mau menganggu mereka itu, ia hanya berdiri sambil mengawasi ke sekitarnya.

Secara demikian, ia pun secara diam-diam tengah melindungi kedua kawan itu.

Mereka berada di tempat terbuka, tidaklah heran kalau lewat lagi sekian lama mereka kena dipergoki orang Losat Bun yang lagi tugas meronda, maka atas seruan dia lantas muncul serombongan kawannya yang berseragam diantara siapa orang yang menjadi pemimpin adalah orang usia setengah tua, jubahnya panjang, pinggangnya dilibat sabuk.

Dia bermuka putih dan bersih hingga dia tampak seperti seorang pelajar.

Cuma sepasang matanya tajam dan bersinar mirip mata tikus serta kopiahnya yang membuatnya mirip seperti sastrawan.

Kopiahnya kopiah kembang juga kopiah seragam.

Dialah Cian Pek Longkun Sutouw Kit si Sastrawan Seribu Lengan.

Di belakang dia terlihat Cia Cu Koan Im Lou Hong Hui karena merekalah sepasang suami istri yang menjadi anggotaanggotanya dari Losat Bun Hong Hui adalah yang menganjurkan suaminya menempur ketiga musuh itu yang dia benci sebab dia dikalahkan mereka itu.

Beda daripada istrinya itu Sutouw Kit bertabiat tinggi, suka mengungguli diri.

Dia pula sangat cerdik dan licik.

Kalau dia mencelakai orang, dia ingin berbareng memperoleh sama karenanya.

Demikianlah sebabnya kecuali melepas api di Poan Coa Kok, dia seperti membiarkan orang dari malam sampai pagi itu sampai orang terpergok perondanya.

Dia tidak menyangka orang tak mati terbakar sedangkan tadinya dia sudah kegirangan siang siang dan percaya orang akan mati semua hangus menjadi abu.

Sutouw Kit mengawasi ketiga orang itu.

Nampak tegas dia heran.

"Hai, manusia bau !"

Dia membentak selekasnya dia datang dekat.

"kamu sudah tidak mampus terbakar, bukannya kamu kabur untuk menolong jiwa kamu, kenapa kamu masih berdiam disini ? Mau apakah kamu, mempunyai berapa banyak batok kepala ?"

It Hiong tidak menjadi gusar walaupun orang bersikap galak itu. Ia malah memberi hormat seraya berkata sabar.

"Tuan, partaimu dan aku yang rendah tidak bermusuh, kenapa sekalipun sekarang kita baru bertemu, tuan telah menjadi begini bergusar ? Aku harap tuan dapat ketahui bahwa kami datang kemari adalah karena mentaati janjinya Kui Cie Hoan Keng Su, guna kami ialah dia dan aku membereskan urusan kami. Aku percaya tuan adalah yang menjadi cianpwe kaum Kang Ouw,maka itu kenapa dengan tiba-tiba saja tuan mencampuri urusanku dengan Keng Su ?"

Hoay Giok dan Tan Hong terasadarkan karena suara keras dari Sutouw Kit, mereka membuka mata dan melihat tibanya musuh, dengan lantas mereka menghampiri It Hiong bersiap sedia untuk turun tangan.

Wajahnya Sutouw Kit berubah selekasnya dia mendengar suara halus dari si anak muda.

Ia pun telah diangkat menjadi cianpwe, orang dari angkatan tua.

Itulah suatu kehormatan untuknya.

"Kau bicara manis, anak"

Katanya tertawa.

"Ya, katakatamu beralasan juga. Cuma tahukah kau aturan kami disini ? Siapa lancang masuk ke tempat kami hukumannya ialah hukuman tanpa ampun lagi ! Kamu sudah memasuki Lok Han Kok dan sekarang Poan Bon Kok, dua lembah, jika aku Sutouw Kit tidak menjalankan aturan kami itu, mana dapat aku memberikan pertanggungan jawabku ?"

Diam-diam It Hiong bergirang. Telah ia dengan akalnya mengangkat orang memakai topi tinggi-tinggi. Maka lagi ia memberi hormat dan berkata hormat seperti tadi .

"Kita kaum rimba persilaran, yang kita utamakan ialah kepercayaan dan hormat menghormati, dapat kita membedakan budi dari perasaan, terutama harus kita bedakan permusuhan lama dan permusuhan baru, supaya dua-duanya itu dapat diputuskan pada waktu gilirannya. Karena itu aku yang rendah, aku minta supaya aku dapat membereskan dahulu perhitunganku dengan Keng Su, supaya aku dapat menolong Paman Beng kami. Habis itu, cianpwe, apa juga yang kau kehendaki, bersedia kau mengiringinya !"

Lou Hong Hui panas hati. Dia menyela.

"Sakit hati di Lok Hun Kok kemarin tak dapat aku lepaskan ! Maka itu, budak, apakah katamu ?"

Dia lantas menuding Tan Hong, matanya mendelik bengis.

Tan Hong berpengalaman.

Ia dapat menerka kenapa It Hiong bersikap demikian merendah.

Karena itu, tak suka ia menyambut kegalakan Hong Hui dengan kekerasan.

Sebaliknya, ia lantas tertawa.

"Harap kau tidak keliru mengerti, Lou Tongcu"

Ia berkata hormat.

"Apa yang terjadi di Lok Hun Kok itu adalah tongcu yang memberi pengajaran padaku, bukannya tongcu keliru menangkis, tetapi kalau tongcu masih merasa kurang puas, baiklah, aku bersedia menghaturkan maafku ! Nah, kakak, terimalah hormatnya adikmu !"

Tepat seperti gerak geriknya It Hiong, Tan Hong memberi hormat kepada wanita jago Losat Bun itu.

Hung Hui berdiam.

Dia memang suka diangkat sebagaimana suaminya.

It Hiong puas melihat suasana itu.

Ia maju satu tindak terus ia memberi hormat pula pada suami istri itu seraya ia berkata .

"Sekarang ini aku yang rendah mohon diberi ketika, akan menghadap kepada ketua kalian untuk memohon petunjuknya, dengan cara bagaimana urusan dengan Keng Su dapat diputuskan. Bagaimana kalau aku minta perantara kedua tongcu ? Adat itu terlebih dahulu aku mengucap banyak banyak terima kasih !"

Di mulut It Hiong berkata hormat tetapi dalam perbuatan dia bertindak menurut rencananya sendiri ialah tanpa menanti jawaban kedua tongcu itu, terus ia bertindak maju, perbuatan mana diturut oleh Tan Hong dan Hoay Giok.

Tanpa merasa Sutouw Kit tertawa, terus ia memberi isyarat kepada rombongannya itu membuka jalan bagi ketiga tetamu yang tak diundang itu.

Hingga It Hiong bertiga bisa maju tanpa rintangan bahkan mereka lantas mempercepat jalan mereka.

Habis melewati sekelompok rimba, It Hiong tiba di depan pintu gerbang dari sebuah bangunan yang tinggi dan besar yang tadi mereka lihat dari jauh.

Di muka tangga tampak penjagaan delapan anggota berseragam dari Losat Bun, pemimpin siapa tadi It Hiong menyebutnya "ketua".

Sebenarnya ketua Losat Bun itu adalah kauwcu semacam raja agama.

Para penjaga itu mengenakan kopiah dan pakaian seragam dan pinggangnya masing-masing tergantungkan sebuah golok partainya yang seragam juga.

Di atas pintu gerbang tedapat tiga huruf besar .

"Lo Sat Bun". Tembok berwarna merah, jubahnya putih. Halaman luar itu luas. Di kiri dan kanannya terpancang bendera partai yang berkibaran diantara setinggi empat tombak. Dilihat sekilar, tempat itu mirip markasnya seorang jendral ! It Hiong bertiga lantas bertindak ditangga batu itu. Dia lantas disusul Sutouw Kit yang terus menitahkan ketiga tetamunya berhenti untuk menanti disitu, katanya dia hendak melaporkan dahulu dan harus menanti kesudahannya laporan itu. Habis berkata dia segera bertindak masuk dengan cepat. Hoay Giok heran terhadap apa yang dia lihat itu, kata dia .

"Pernah aku menyaksikan ini dalam kaum Kang Ouw tapi juga cara Ay Lao San ini adalah suatu yang baru untukku !"

"Partai sesat dan orang-orangnya semuanya memang beda daripada partai dan orang yang kebanyakan"

Berkata Tan Hong.

"Mereka semua bersikap aneh, karena itu perlu guna mengelabui mata orang banyak ! Karena itu kakak Whie, janganlah kau heran. Yang terang ialah kita harus waspada sebab aku percaya sebentar kita akan mengalami suatu pertumpahan darah !"

"Tetapi kita harus sabar !"

It Hiong turut bicara.

"Kita datang kemari buat membantu paman Beng, jadi tak usah kita bertempur selekasnya kita melihat orang. Jangan kita menanam bibit permusuhan dengan kaum sesat !"

Tan Hong dan Hoay Giok mengangguk. Ketika itu muncullah seorang kacung yang berseragam juga. Dia menggapai pada It Hiong dan kata .

"Tetamu she Tio, silahkan masuk !"

Itu pun cara mempersilahkan tamu-tamu yang beda sekali dengan caranya kaum Kang Ouw di Tionggoan.

It Hiong tidak mengatakan apa-apa dengan tangan kanan dipegangnya Keng Hong Kiam, dia bertindak maju dengan sikapnya yang gagah.

Tan Hong dan Hoay Giok mengintil di belakang kawan itu.

Selewatnya pintu gerbang tiba sudah mereka disebuah halaman berlantai bata, di kiri dan kanannya adalah beranda didalam mana terdapat ukiran dari dewa-dewa atau malaikatmalaikat yang aneh macamnya.

Ada wanita, ada pria, ada juga pelbagai macam binatang.

Bahkan ada ukiran orang tanpa pakaian !

Di muka Toa tian yaitu pendopo besar terdapat patung kayu yang tinggi dan besar, tubuhnya tubuh manusia, kepalanya binatang, rambutnya merah dan riap-riapan mukanya biru, matanya tajam seperti mata singa, sedangkan mulutnya merah seperti darah.

Di kedua gigi mulutnya tumbuh gigi yang merupakan caling yang tajam.

Sebagai penutup tubuh adalah jubah suci kaum agama Tao dan kakinya telanjang.

Pada tangan dan kaki terdapat gelang emas.

Mengawasi patung aneh itu, orang heran dan siapa yang nyalinya kecil hatinya bisa menjadi ciut.

Di bawah patung aneh itu terdapat dua buah meja terbuat dari kayu semacam pohon aren.

Di atas meja tidak ada tempat abu atau cipok, cuma ada sebuah para dari kayu yang panah tertancap lengkie yaitu bendera-bendera kecil pertanda pelbagai perintah.

Disamping para-para bendera itu terdapat sebuah tempat air dingin dimana tampak sebilah pisau belati yang tajam mengkilat.

Ditengah-tengah pendopo ada sebuah kursi emas, diatas kursi itu duduk bercokol seorang wanita tua yang rambutnya sudah putih, semua mukanya keriputan, tangannya memegang sebuah seruling hitam mengkilat.

Di belakang kursi kebesaran itu berdiri enam orang nona, pakaiannya berkembang seragam, kepalanya ditutup kain penutup berkembang juga hingga ke dahinya.

Rambut mereka juga riap-riapan.

Selagi senjata dipinggang mereka terdapat goloknya masing-masing.

Di kiri dan kanan terdapat lima buah kursi, dua di kanan, tiga di kiri.

Dua kursi di kanan yang serupa perlengkapannya, kosong, tidak ada yang duduk.

Adalah yang dikiri diduduki oleh Sutouw Kit, Lou Hong Hui dan Keng Su.

Kacung tadi memimpin ketiga tetamunya sampai dipendopo besar itu, sembari membungkuk.

Ia kata pada si nyonya tua .

"Melaporkan kepada Kauwcu, para tetamu sudah tiba !"

Habis itu dia mundur dengan hormat. It Hiong baru saja hendak memberi hormat atau dia didahului wanita tua dan keriputan itu yang berkata keras .

"Bocah she Tio tak usah kau bawa lagak hormatmu ! Tentang maksud kedatanganmu, aku si wanita tua sudah mendapat tahu dari muridku, jadi tak usah kau bicara banyak lagi ! Hanya sekarang kau harus turut agama kami, kau harus menusuk diri mengeluarkan darahmu buat menghormati Couwsu kami, setelah itu baru kita bertindak buat membereskan perhitungan !"

It Hiong tidak menjawab atau mengutarakan sesuatu. Ia hanya berkata dengan sungguh-sungguh.

"Sekarang ini dimana adanya Tin Pet Hong Kee Eng yang menjadi pamanku ? Aku minta diberitahukan."

"Tutup mulut !"

Bentak si nenek gusar. Tan Hong segera maju dan tindak untuk menghadang di depannya It Hiong. Ia tidak menanti anak muda ini sempat bertindak.

"Kwie Tiok Giam Po Ciok Kauwcu !"kata ia.

"Kenalkah kau akan Tan Hong dari Hek Keng To ?"

Nona itu tahu aturan Losat Bun yang aneh-aneh, maka juga langsung ia memanggil orang dengan sebutan "kauwcu".

Matanya Kwik Tiok Giam Po lantas mengawasi si nona.

Mata itu bersinar sangat dingin.

Ia tidak lantas menjawab hanya balik bertanya .

"Terhadap Beng Leng Cinjin, bagaimanakah kau membahasanya ?"

"Dialah Toasuheng ku !"

Sahut Tan Hong singkat. Toa suheng ialah kakak seperguruan kesatu.

"Kau telah datang ke tempat kami ini dengan siapakah kau bersangkut paut ?"

Tanya pula si nenek.

"Yang utama ialah akan menanyakan kesehatan dari Ciok Kauwcu !"

Nenek itu membuka matanya, kembali mata bersinar tajam.

"Hai budak setan !"

Mendadak dia membentak.

"Bagaimana kau berani mendusta terhadap aku si orang tua ? Jika aku tidak memandang muka kakak seperguruanmu itu, pasti sudah akan mengalir lidahmu yang tajam. Lekas bicara terus terang !"

Maka si nenek yang julukannya itu Kwie Tiok Giam Po berarti si Nyonya Giam Bang si Bajingan nampak menjadi sangat bengis seperti suaranya pun keren sekali.

Tetapi Tan Hong tidak jeri.

Mulanya si nona terperanjat parasnya sampai berubah, hanya sedetik dia mendapat pulang ketenangannya.

Bahkan dia tertawa.

"Jangan salah paham, Ciok Kauwcu !"

Katanya seenaknya saja.

"Dengan sebenarnya selainnya menunjukkan kesehatan kauwcu, masih ada dua buah soalku, dua rupa permintaan !"

Matanya Kwie Tiok Giam Po dikasihh turun. Ia tidak sebengis semula.

"Apa yang kau pikir hendak minta itu ?"

Tanyanya. Tan Hong memberikan jawaban cepat dan langsung.

"Permintaan kesatu"

Demikian sahutnya.

"Inilah supaya Beng Kee Eng dibebaskan !"

Ia hening sejenak akan melihat sikap orang. Lantas ia meneruskan.

"yang kedua ialah soal upacara memuja Couwsu kalian yang diharuskan kepada adik Hiong ku ini, dalam hal mana adik Hiong mengeluarkan darahnya ! Aku minta supaya dia dibebaskan !"

Mendengar itu si nenek tertawa. Itulah tawanya yang sangat jarang orang dengar.

"Hai budak setan, kau sangat cerdik !"

Katanya.

"Kau membuat aku si orang tua sangat menyukaimu ! Sekarang soal kedua permintaanmu itu ! Dan soal itu bergantung kepada kepandaian kalian !"

It Hiong tak sudi mendengari lebih lama pula pembicaraannya dua orang itu. Dengan suara nyaring ia kata .

"Aku memohon keadilan Kauwcu ! Inilah dalam perkaranya pamanku Beng Kee Eng yang telah ditawan dan dikurung di Kiu ci Hui Hoan Keng Sa !"

Nenek itu tidak menjawab hanya ia mengibasi tangannya ke belakang atas mana salah seorang pengiringnya si nona berseragam baju berkembang maju kemeja suci untuk menjemput sebatang lengkie yang terus ia bawa ke depan kursinya.

Mulanya ia menjura dalam setelah berdiri pula dengan tegak, ia memutar tubuhnya seraya terus berkata nyaring .

"To cu Keng Su, terimalah lengkie ini ! Lantas kau boleh membereskan perselisihanmu dengan tamu she Tio ini !"

Keng Su sudah lantas berbangkit untuk berkata terang dan tegas .

"Hambamu ini bukanlah lawannya bocah ini, karena itu hambamu ini mohon belas kasihan Kauwcu atas cacatnya tubuhku supaya tugas itu diserahkan kepada lain orang saja !"

"Keng Su !"

Berkata si raja agama heran.

"Musuhmu ini kaulah yang mengundang dan menjanjikan maka sudah selayaknya kalulah yang menyambut dia buat membereskan perhitungan kalian. Couwsu sudah mengeluarkan perintahnya, apakah kau benar demikian berayal buat berani menolaknya ? Jika kau tidak dapat merobohkan lawanmu, aku si wanita tua dapat membalaskan sakit hatimu ! Nah, pergilah kau mati dengan hatimu tenang !"

Mendengar penolakan ketuanya itu muka Keng Su menjadi pucat, sembari tunduk, ia menyambuti lengkie dari tangannya hamba wanita itu, kemudian dengan mengangkat kaki palsunya dengan memperdengarkan suara nyaring, dia maju melompat berjingkrakan ke halaman di muka tangga.

It Hiong melihat gerak geriknya Keng Su, lantas ia nyaring berkata kepada ketua dari Losat Bun.

"Dalam hal urusanku ini aku yang rendah telah membuat rencanaku ! Jika aku Tio It Hiong kalah akan kupatahkan pedangku ! Jika apa untung aku yang menang, aku minta supaya Paman Beng segera dibebaskan. Bagaimana kauwcu ? Aku minta kau memberikan persetujuanmu!"

Kwie Tiok Giam Po menjawab dengan cepat .

"Baik, aku terima kehendakmu ini ! Sudah jangan banyak bicara lagi !"

Mendengar suara itu It Hiong segera memutar tubuhnya, hendak ia pergi menghadapi Keng Su atau ia melihat satu bayangan berkelebat disusul dengan suara beradunya senjata tajam yang nyaring sekali !

Apakah yang telah terjadi ?

Itulah karena Whie Hoay Giok telah mendahului turun tangan.

Ketika Keng Su pergi ke halaman muka itu, dia sudah lantas mengeluarkan senjatanya.

Itulah Tiat pit atau pit besi dan Hoay Giok segera mengenali senjata istimewa dari gurunya, hingga habislah sabarnya sedetik itu, terus saja dia melompat maju dan menyerang kepalanya Kiu Cio Hot Hoan !

Lengan kanan dan kaki kiri dari Keng Su telah ditebas kutung oleh It Hiong ketika terjadi pertempuran di kaslor sewaktu di Haphui, dia telah mengganti itu dengan besi hingga dia mempunyai lengan dan kaki besi.

Dengan pergantian itu maka kelincahannya berkurang, tetapi ilmu silatnya tetap lihai.

Bahkan dibanding dengan Hoay Giok, dia terlebih lihai satu tingkat, tetapi dalam gusarnya si anak muda lupa segala apa.

Girangnya Keng Su melihat orang berlompat kepadanya.

Dia memang benci anak muda itu, hingga dia berkeinginan membinasakannya buat melampiaskan penasarannya.

Demikian ketika dia diserang dengan golok dia mengangkat tiat pit kanan dengan apa dia menangkis dengan keras, berbareng dengan itu, tiat pit kirinya dibarengi diluncurkan ke dada orang !

Kalau dengan tangan kanan dia menggunakan jurus silat "Membakar langit Memberaikan mata"

Dengan tangan kirinya dia memakai jurus "Langsung Menyerbu Istana Naga Kuning".

Dia bersikap telengas, ini karena dia percaya sangat akan ketangguhannya.

Hoay Giok sedang sangat bergusar ketika ia menyerang secara mendadak itu, toh ia terkejut waktu ia mendapatkan sambutan demikian keras hingga tangannya menggetar dan terasakan nyeri.

Tapi yang membuatnya lebih kaget ialah waktu ia merasai sambaran angin dan melihat senjata lawan yang kiri mengarah dadanya, dengan gugup ia terpaksa menggunakan goloknya melakukan penangkisan.

Hingga dengan susah payah bisa juga ia menyelamatkan dirinya.

Ia lantas mundur lima tindak !

Keng Su tidak mau mengerti, sudah penasaran ia pun diserang terlebih dahulu.

Maka ia lantas berlompat maju membalas menyerang !

Hoay Giok juga penasaran, ia menyambut serangan itu, dengan demikian, keduanya jadi bertarung seru.

Ia tahu ia kalah lihai tetapi ia nekad.

Ia keluarkan dua-dua kepandaiannya, ilmu golok Lohan To dibantu dengan ilmu tangan kosong Lohan Ciang.

Maka itu dapat ia bertahan.

Karena pertempuran terjadi secara demikian mendadak, ketua dari Losat Bun sampai diam saja, begitu juga It Hiong dan Tan Hong.

Kedua pihak bahkan jadi menonton.

Lewat sekian lama kedua pihak masih terus saling menyerang dengan hebat sekali.

Keng Su kecele, sedang menurut pikirannya dia akan berhasil merobohkan lawan dalam waktu tiga sampai lima jurus.

Karena kecele hatinya menjadi bertambah panas.

Maka tibalah saatnya yang dia mengeluarkan seluruh tenaganya.

Golok disampok tiat pit !

Hoay Giok terkejut.

Ia kalah gesit, goloknya kena terhajar.

Hebatnya golok itu terlepas dari cekalan dan terpental !

Keng Su melihat ketika baiknya dia meneruskan menyerang pula ke arah pampilingan lawan atau dia segera menjadi kaget.

Serangannya itu disambut dengan satu sinar putih berkelebat, lalu tahu-tahu senjatanya sudah kena terkutungkan dan di depannya berdiri seorang muda yang tampan dan gagah.

Itulah It Hiong yang membantu kakak seperguruannya.

Ia datang pada saatnya yang tepat.

Keng Su melengak.

Lebih dulu dari pada itu tangkisan si anak muda membuatnya terkejut dan mundur dua tindak.

Hanya habis melengak ia lantas menunjuki kemarahannya.

Matanya pun sampai bersinar berapi.

"Kau berani melanggar pantangan kaum Kang Ouw menyelak diantara orang yang lagi berkelahi satu sama satu ?"

Tegurnya dingin. Dia pula lantas mengasi keluar joan pian yaitu ruyung lunaknya. It Hiong bersenyum.

"Kau menjanjikan tuan kecilmu datang kemari buat membereskan hutang lama kita !"

Sahutnya lantang.

"Sekarang aku telah tiba disini, inilah urusan kita ! Sekarang aku beri ketika kepadamu untuk kau yang mulai menyerang supaya kalau sebentar kau roboh, kau roboh dengan puas, kau menerima nasibmu !"

Keng Su sudah siap sedia, joan pian ditangan kiri, hui hoan gelang terbangnya ditangan kanan.

Ia telah membuang tiat pit rampasan dari Beng Kee Eng.

Sebab senjatanya itu tak dapat dipakai melayani lawannya yang muda ini.

Ia pun tidak sudi banyak omong lagi.

Maka ia geraki joan pian dari atas ke bawah, menyerang kerongkongan si anak muda.

Jurus silatnya ialah yang dinamakan "Ikan terbang melintasi gelombang."

"Bagus !"

Berseru It Hiong yang berkelit ke samping, untuk meneruskan membalas membacok pedangnya naik ke atas terus turun ke bawah mengarah batok kepala lawan itu !

Ia cuma berkelit setengah tindak membebaskan diri dari senjata lawan itu.

Keng Su melihat ancaman bahaya, ia mundur dua tindak.

It Hiong tak sudi memberi ketika lagi pada lawannya begitu orang mudur, begitu ia merangsak.

Ia lantas menggunakan ilmu silat pedang Khie bun Pat Kwa Kiam.

Keng Su mempunyai pengalaman dari tiga puluh tahun, sekarang dia keluarkan semua itu.

Dia insyaf salah sedikit saja, jiwanya bisa melayang.

Dia bergerak gesit bagaikan naga sebab dia telah melihat sinar pedang lawan sudah seperti mengurungnya.

Semua orang Losat Bun menonton dengan prihatin.

Ratarata mereka ngeri menyaksikan bergeraknya pedang lawan itu.

Keng Su berkelahi sambil berpikir keras.

Ia tahu yang pasti ia menang waktu.

Di samping mendesak ia selalu mencari kesempatan yang baik.

Ketika itu tiba lewat beberapa jurus pula.

Disaat datang satu bacokan yang sangat hebat, ia lantas berkelit habis itu, ia lantas membalas dengan ruyung lunaknya.

Tapi ia tidak cuma membalas, ia membarengi menyerang.

Hanya ia memakai tangannya yang lain dan dengan menerbangkan gelang mautnya !

Sekali menimpuk, ia melepaskan tiga buah gelang yang menyambarnya berupa benda hitam !

Sasarannya ialah dada, perut dan kaki !

Jilid 22 It Hiong berkelahi dengan keras, tetapi berhati-hati sempat ia melihat lawan menggerakkan tangan kirinya.

Ia dapat menerka maksud lawan.

Tak mau ia berlaku sembarangan.

Lantas ia menjejak tanah dan lompat tinggi dengan ilmu ringan tubuh Tangga Mega.

Satu kali tubuhnya melesat naik, bebaslah dia dari ancaman gelang maut itu yang semuanya menyerang kesasaran kosong.

Melihat lawan menggunakan senjata rahasia, hatinya It Hiong menjadi panas.

Kalau ia kurang awas dan terlambat sedikit saja ia bisa roboh konyol.

Maka ia memandang musuh itu dengan sinar mata menyala, terus dari atas ia melesat turun dengan gerakan capung menyambar, sedangkan dengan pedangnya ia menikam kedada lawan dengan tikaman "Burung Air Mematuk Ikan."

Semua gerakan itu dilakukan dengan sangat cepat.

It Hiong tahu tak dapat lawan diberi kesempatan menyingkir.

Keng Su sebaliknya melongo ketika mendapatkan hajarannya gagal semua.

Ia mendapatkan tubuh musuh bagaikan lenyap dari depan matanya.

Justru ditengah keheranan itu, serangan balasan dari si anak muda telah tiba.

Ia kaget sekali, dengan gugup ia menangkis dengan joanpian!

"Tass!"

Terdengar satu suara dan putuslah senjata lunak itu yang tak dapat merintangi pedang, sehingga ujung pedang itu meluncur terus kedada lawan yang jadi sasaran!

Keng Su mengeluar-kan jerit tertahan, tubuhnya lantas roboh terkulai.

Ia kehilangan jiwa tanpa berdaya lagi.

It Hiong mengawasi tubuh musuh-musuh, terus ia memasuki pedangnya kedalam sarung.

Adalah disaat itu ia mendengar suara menyambar dari belakangnya.

Ia menerka kepada serangan gelap.

Ia berlompat maju satu tindak sambil terus memutar tubuhnya berbalik ke belakang sambil ia menolak dengan tangannya.

Satu suara nyaring terdengar.

Itulah akibat serangan yang kena terbendung.

Karena hebatnya bentrokan kedua pihak sama-sama mundur dua tindak!

"Curang!"

Demikian teriakan nyaring tetapi halus.

Itulah suara Tan Hong yang melompat maju menyerang kepada pembokongnya si anak muda.

It Hiong segera mengenali penyerangnya itu, ialah Cian Pek Long kun Sutouw Kit salah seorang tongcu, ketua seksi dari Losat Bun.

Ia menjadi heran, pikirnya.

"Kenapa dia main bokong? Bukankah dia telah berlaku sebagai cianpwe hingga aku menghargainya?"

Kiranya Sutouw Kit berbuat demikian saking tak tahannya menyaksikan kebinasaan Keng Su, sesama tongcu.

Ia menganggap kematian itu memalukan Losat Bun, maka hendak ia mencoba memperbaiki citra partainya.

Iapun merasa jeri menyaksikan ilmu pedang si anak muda demikian mahir hingga lantas ia memikir untuk membokong adalah cara yang baik.

Tapi Tan Hong melihat orang berbuat curang, tak dapat si nona mengendalikan diri lagi.

Iapun maju menyerang hingga mereka berdua jadi bergebrak.

Dalam waktu yang pendek, mereka sudah lantas bertarung secara seru sekali.

"Tahan!"

Terdengar suaranya Kwie Tiok Giam Po.

Seruan itu tajam bagi siapa yang mendengarnya.

Menyusul itu, tubuhnya Sutow Kit mencelat meninggalkan kalangan pertempuran untuk kembali kedalam ruangan.

Tan Hong tidak mengejar, dia hanya tertawa dan berkata kepada It Hiong.

"Musuh telah terbinasa, Beng Locianpwe dapat ditolongi!"

Tapi It Hiong berkata perlahan.

"Aku masih menyangsikan kejujuran pihak Losat Bun ini, aku kuatir mereka menggunakan akal licik. Karenanya jangan kita dibutakan oleh kemenangan kita ini. Berhati-hatilah!"

Berkata begitu si anak muda menarik ujung bajunya si nona untuk kembali kedalam pendopo. Hoay Giok sudah lantas mengikuti, selekasnya dia memungut goloknya yang tadi terlepas jatuh.

"Perhitunganku dengan Keng Su sudah dapat diselesaikan,"

Berkata si anak muda kepada ketua Losat Bun.

"Oleh karena itu aku minta sudi apalah Kauwcu memenuhi janji dengan membebaskan Paman Beng! Dapatkah?"

"Kata-katanya Losat Bun tegak bagaikan kiu-teng!"

Menjawab sinenek dengan keras dan dingin nadanya.

"Mana dapat aku menghilangi kepercayaanku terhadap kau, bocah jika kau mempunyai kepandaian, pergilah kau kegua batu di belakang puncak sana, sambutlah sendiri pamanmu itu!"

It Hiong tidak mau membuang waktu, ia bahkan tanpa berkata apa-apa lagi, setelah emberi isyarat tangan kepada Tan Hong dan Hoay Giok, ia mengundurkan diri dari pendopo besar itu, terus diikuti kedua kawannya.

Tapi begitu ia menindak dianak tangga, tiba-tiba dari belakang ia mendengar suara nyaring.

"Anak she Tio, kau kembalilah!"

Itulah suaranya sinenek. Kontan It Hiong dan dua kawannya menduga-duga. Entah apa maunya raja agama Losat Bun tu? Si anak muda menghentikan langkahnya dan memutar tubuh untuk menghadapi sinenek itu.

"Ada pengajaran apakah dari Kauwcu?"

"Mari, kemari!"

Berkata sinenek bengis.

"Aku hendak memberitahukan kau satu hal yang ada kebaikannya untukmu!"

It Hiong bertindak maju, ia mengawasi tajam semua orang Losat Bun.

"Ada bicara apa, Kauwcu? Silahkan!"

Katanya singkat.

"Oh, bocah bau!"

Lou Hong Hui menyela.

"Kau baru menang sedikit, lantas kau bersikap begini sombong terhadap ketua kami! Kau kurang ajar!"

Sepasang alisnya sipemuda bangun berdiri, tapi dia menahan sabar. Ia Cuma mengawasi bengis pada wanita itu da berkata .

"Kau boleh mengatakan apa yang kau suka, tak sempat aku melayanimu!"

"Eh, anak she Tio, jangan tergesa-gesa!"

Sinenek berkata .

"Aku si tua belum habis bicara!"

Dia berhenti sebentar sesudah mana baru dia meneruskan .

"Sudah sepatutnya aku memenuhi janjiku kepadamu! Urusannya Keng Su sudah beres, tinggal urusanmu sendiri! Kau telah lancang memasuki tampat kami ini! Kau telah melanggar aturan kami! Tahukah kau apakah hukumannya buat pelanggaran itu?"

It Hiong gusar, orang hendak mempermainkannya.

"Kauwcu hendak menghukum bagaimana kepadaku?"

Tanyanya.

"Coba jelaskan!"

Sinenek menatap tajam.

"Siapa lancang memasuki tempat ini, hukumannya ialah hukuman mati!"

Katanya seram. Lagi ia berhenti sejenak.

"Tapi ditanganku si orang tua, suka memberi satu kesempatan kepadamu supaya kau dapat jalani hidupmu!"

It Hiong terus mengawasi. Tak mau ia segera menjawab.

"Jalan hidup itu,"

Kata sinenek melanjuti .

"Kau harus meyambut sepuluh jurus dari masing-masing tongcu kami. Habis itu kau mesti mendengar sebuah lagu dari tanganku yang kuberi nama BIE CIN TOAN HUN MENYESATKAN YANG BENAR DAN MEMUTUSKAN ROH. Sekarang ini tongcu kami yang nomor satu dan dua kebetulan tidak hadir, sebab mereka lagi menghadiri rapat pertandingan ilmu pedang digunung Tay San, hingga sekarang tinggallah tongcu nomor tiga dan nomor empat, yaitu Satouw tongcu dan Lou tongcu. Hal ini memudahkan kau, sebab kau hanya harus melayani dua puluh jurus...."

It Hiong tidak takut, ia suka menerima syarat itu. Maka ia berkata .

"Tio It Hiong mempunyai nyali mendatangi gunung ini, pasti dia bernyali juga untuk menyambuti jurus-jurus kamu! Nah, tongcu yang mana yang hendak paling dahulu menjalankan peraturan kamu, silahkan maju! Jangan kalian banyak rewel lagi!"

Sutouw Kit gusar sekali.

"Bocah jangan takabur!"

Bentaknya.

"Tunggu dahulu!"

Berkata Kwie Tiak Giam Po dingin.

"Partai kami harus mentaati peraturannya, maka itu kamu pergi dahulu menolong si orang tua she Beng, habis itu barulah kamu datang kemari untuk menjalankan hukuman! Asal kamu masih mempunyai jiwa kamu1"

Hoay Giok pun sengit.

"Sute,"

Katanya pada It Hiong.

"Jangan layani mereka mengoceh! Mari kita lekas-lekas pergi menolong suhu!"

Hoay Giok senantiasa ingat gurunya. It Hiong merapatkan kedua tangannya.

"Jika kauwcu tidak mempunyai ajaran lainnya, dengan ini aku yang rendah mohon diri!"

Walaupun dia berkata demikian, It Hiong memutar tubuhnya dan berlalu tanpa menanti jawaban lagi. Tan Hong mendelik terhadap Sutouw Kit dan Lou Hong Hui, setelah itu sambil mengasi suara menghina "Hm!"

Ia menyusul si anak muda, maka iapun disusul Hoay Giok.

Sekeluarnya dari pintu gerbang.

It Hiong beramai memperhatikan letak bangunan yang menjadi sarang Losat Bun itu.

Dengan begitu mereka bisa menyaksikan gunung di belakang gedung itu, yang puncaknya berentet-rentet terutama puncak utamanya yang tinggi sekali.

Dari jauh itu, mereka cuma melihat sebuah jalan naik.

Dari situ, tak kelihatan gua dimana guru atau paman mereka dikurung.

Sudah sinenek tidak memberi keterangan, merekapun tidak menanyakan.

Tan Hong mengawasi si adik Hiong itu.

"Sudah adik,"

Katanya perlahan.

"Buat apa kita memutar otak memikirkan letaknya gua itu? Lihat di muka pintu gerbang itu, bukankah disitu ada orang? Bukankah mereka adalah petunjuk jalan kita yang telah tersedia?"

Nona itu memonyongkan mulutnya ke arah beberapa orang berseragam itu, yang bertugas di muka pintu gerbang. It Hiong menggeleng kepala.

"Tak dapat."

Katanya keras kepala, tak menyukai menggunakan kekerasan yang merendahkan martabatnya.

"Itu namanya main paksa-paksa!"

"Kenapa tidak adik"

Tanya si nona heran.

"Lebih dahulu dengan hormat kita minta keterangan mereka itu, lalu kalau mereka menyangkal kita bekuk satu diantaranya1 Musahil mereka tak takut mati?"

It Hiong memperlihatkan tampang sungguh-sungguh.

"Kakak maafkan, kali ini aku tak dapat menerima baik saranmu ini!"

Kata dia.

"Dua jalan itu tak akan ada faedahnya, kalau kita bicara hormat mereka tak akan mempedulikan dan kalau kita memaksa kita bakal dicela orang! Mustahil kita bertiga tak mampu mencari gua itu? Mari!"

Pemuda ini terus emutar tubuh, bertindak ke arah belakang gedung besar itu. Tan Hong dan Hoay Giok terpaksa mengikuti. Selagi memutar tubuhnya, si anak muda berkata pada si nona.

"Memang pendapatnya Tio sute mengatasi kita satu tingkat! Aku sangat mengaguminya! Bagaimana dengan kau, Nona Tan?"

Selalu pemuda ini memanggil nona kepada pemudi itu.

Tan Hong tesenyum, ia cuma mengangguk tidak menjawab.

It Hiong berjalan terus, ia tidak menghiraukan dua orang kawannya itu.

Sebentar saja ia sudah melalui belasan tombak.

Maka mau tidak mau Tan Hong dan Hoay Giok lari menyusul!

Selanjutnya mereka berlari-lari.

Dalam keuletan, It Hiong unggul banyak.

Itulah karena kasiatnya darah belut.

Iapun menang latihan ilmu ringan tubuh Tangga Mega.

Makin lama ia lari main pesat.

Itulah sebab semangatnya, didorong keinginannya lekas-lekas menyelamatkan pamannya!

Tan Hong menjadi jago dari Hek Keng To, diapun dapat lari keras, dia mencoba menyusul pemuda yang dicintainya itu.

Tidak demikian halnya dengan Wie Hoay Giok.

Dia ini ketinggalan, meskipun dia sudah termasuk hitungan kelas satu.

Dia mencoba menyusul hingga lekas juga pakaiannya basah dengan peluhnya.

Dimata dia Tan Hong terutama It Hiong mirip bayangan saja....

Tiga puluh lie sudah dilalui, jalanan makin sukar.

Ada gangguan pohon lebat, pohon berduri dan juga otot-otot rotan.

Jalannya pun berliku.

"Ah..."

It Hiong memperdengarkan suaranya.

Terus berhenti bertindak, matanya diarahkan kesekitar.

Tak ada gua yang nampak, yang ada hanya itu batu-batu karang, rumput dan pohon rotan.

Disamping itu gunung sunyi sekali.

"Apakah aku salah mengambil jalan?"

Pikir anak muda ini.

"Apakah kaum Losat bun sengaja menipu kita?"

Berpikir begini, anak muda ini menyesal juga telah menolak sarannya Tan Hong untuk minta keterangan orang-orang Losat Bun sebagai petunjuk jalan.

Sekarang ia jadi memperlambat pertolongannya.

Selagi pemuda ini berpikir terus, tiba-tiba ia mendengar suaranya Tan Hong .

"Adik Hiong....adik Hiong....adik Hiong!"

Suara itu terbawa angin...

hingga kadang-kadang terputus.

Hanya melengak sebentar, ia lantas lari balik hingga ia melihat si nona sedang berdiri diatas sebuah batu besar dan tangannya menggapai ke arahnya, Diantara tiupan angina yang santer, tampak rambut hitam nona itu bagaikan gelombang sutera, sungguh indah dipandang.

Lekas sekali It Hiong telah tiba pada si nona.

"Kakak,"

Tanyanya segera.

"Apakah kakak mendapati guanya?"

Tan Hong menunjuk ke arah kiri, pada dinding gunung yang ditutup akar-akar rotan.

"Barusan saja aku melihat satu bayangan manusia berkelebat di sana."

Sahutnya memberi keterangan.

"Ketika aku menyusul sampai disini, bayangan itu sudah lenyap, Kau lihat pohon rotan demikian lebat, mungkin mulut gua ketutup pohon itu..."

It Hiong mengawasi tempat yang ditunjuk itu. Ia juga menoleh ke belakang kesarangnya sinenek tua. Untuk pergi ketempat itu ia terpaksa jalan balik....

"Mari!"

Katanya, lalu dengan terpaksa ia jalan kembali.

Tepat disebuah tikungan, mereka berpapasan dengan Hoay Giok yang ketinggalan jauh.

Kasihan pemuda itu, ia bermandi peluh dan napasnya memburu keras.

Melihat simuda-mudi dia menjadi heran.

Dia lantas melihat dirinya.

"Eh, eh kenapa kalian kembali?"

Tanyanya Bicara susah. Tanpa menantikan jawaban dia menjatuhkan diri untuk duduk menghilangkan lelah. Tan Hong mengawasi It Hiong.

"Kita membuang-buang waktu..."

Katanya. It Hiong sebaliknya mengawasi sang suheng.

"Suheng, apakah kau kurang sehat?"

Tanyanya.

"Dahulu dilembah Pek Keng Kok kau kuat lari puluhan lie dan bahkan masih dapat berkelahi dengan musuh tangguh! Kenapa sekarang kau tampak payah?"

Tan Hong melirik sipemuda, terus dia berkata .

"Kau menggunakan Te In Ciong hingga kau lari bagaikan terbang, masih kau mengatakan orang lain tak punya guna? Mana dapat!"

It Hiong mengerti, maka lantas ia tampak jengah.

"Maaf suheng,"

Katanya sabil memberi hormat kepada Hoay Giok.

"Aku sangat memikirkan Paman Beng sampai aku lari tanpa kira-kira, hingga aku membuat suHeng Sangat capek..."

Hoay Giok tidak gusar, bahkan ia melompat bangun sambil tertawa. Habis istirahat sebentar, ia menjadi segar pula.

"Yang salah ialah aku yang tidak punya guna."

Katanya kemudian.

"Tidak dapat aku menyesalkan kau, bahkan dengan begini aku jadi dapat menghemat lariku..."

Mau tidak mau It Hiong tersenyum, juga Tan Hong.

"Tapi inilah pengalaman!"

Berkata si nona.

"Sekarang kita boleh berlari sedikit perlahan. Kita ambil jalan disisi dinding itu untuk pergi kedinding karang di sana yang mungkin ada lobang guanya..."

Hoay Giok heran.

"Kalian belum mendapatkan gua itu?"

"Belum,"

Sahut It Hiong, sedangkan Tan Hong menuturkan perihal bayangan yang dilihatnya "Kalau begitu, pastilah itu sebuah gua yang dirahasiakan..."

Kata Hoay Giok. Bertiga mereka berjalan bersama. Mereka mesti jalan perlahan. Sesudah melalui kira-kira lima puluh tombak sampai juga mereka dikaki dinding itu, yang dibawahnya terdapat sumber air.

"Tadi aku melihat bayangan orang di sana."

Tan Hong memberitahukan sambil menunuk tempat orang melenyapkan diri.

"Karena jaraknya masih sangat jauh, sukar aku melihat dia tegas-tegas."

It Hiong memperhatikan tempat yang ditunjuk itu juga keatasnya.

Dinding tinggi cuma ada akar rotan dan pohonpohon kecil.

Sumber air muncrat dari dinding, airnya berhamburan.

Dibawah sekali barulah ada sumber air itu.

Ada sebuah kolam kecil tempat air itu berkumpul.

Kolam itu terpisah jauh dari sumber air mungkin seratus tombak.

Dengan melihat gerak-gerik bayangan orang yang dilihat Tan Hong itu, It Hiong menerka mesti ada lobang atau gua rahasia didekat situ.

Ia kasih tau apa yang ia duga itu, maka bersama-sama mereka memasang mata mencari lubang gua itu.

Sebegitu jauh Cuma tampak akar rotan dan daun-daun, tiada sesuatu yang mencurigakan, Hoay Giok menjadi penasaran.

"Mungkin nona keliru melihat bayangan"

Katanya.

"Disini dimana ada tempat untuk orang bersembunyi? Buat apa kita berdiam lebih lama disini?"

"Kenapa kau menjadi tak sabaran, kakak Wie?"

Tanya Tan Hong tertawa.

"Memang sulit mencari lubang gua itu, tetapi aku merasa pasti, disini kita bakal menemui orang Losat Bun..."

It Hiong memandang nona itu dan juga Hoay Giok.

"Kau pasti merasa letih suheng, baiknya kau duduk menanti disini."

Katanya kemudian pada kakak seperguruannya itu.

"Nanti aku mencoba mendaki dinding gunung itu, untuk memeriksa akar rotan yang menutupinya."

Kata-kata itu ditujukan juga pada Tan Hong.

Habis berkata si anak muda lantas melompat tinggi dengan lompatan Te In Ciong, sebab ilmu ringan tubuh itu tidak melulu buat lari jauh dan cepat tapi juga untuk melompat tinggi.

Maka dalam sekejap tubuhnya mencelat lincah dan pesat seumpama burung terbang.

Tengah It Hiong mendaki itu, mendadak dari dinding ditempat dimana dia tiba, ada kepala orang yang nongol, orang itu terlepas rambutnya, mukanya hitam begitupun sinar matanya tajam sekali.

Selekasnya dia melihat orang, dia menyambar tangannya yang sebelah, buka untuk menangkap hanya buat melepaskan senjata rahasia, senjata itupun hitam warnanya.

Hampir berbareng dengan It Hiong, juga Tan Hong dan Hoay Giok yang lagi menanti sambil menyaksikan temannya melompat naik, telah mendapat serangan serupa.

Hanya serangan ini datangnya dari tempat tidak seberapa jauh dari tempat pertama.

Penyerangnyapun hitam muka dan sinar matanya sangat tajam.

It Hiong kaget karena serangan mendadak itu, tapi dia tidak bingung.

Dengan cepat dia berhasil menyampoknya.

Ia hanya terkejut pula setelah mendapatkan kenyataan senjata rahasia itu berupa seekor ular beracun!

Tan Hong pun bebas dari serangan gelap itu.

Dia melihat serangan datang sambil berkelit.

Dia menghajar dengan sanhu pang.

Maka senjata rahasia itu juga roboh mati dengan mengeluarkan darah sebab badannya remuk.

Tidak demikian dengan Hoay Giok, pemuda ini sedang duduk diam sambil matanya dipejamkan, ia mendusin dengan terkejut ketika merasakan angina menyambar ke arahnya.

Lantas ia berkelit, tapi terlambat sedikit, tahu-tahu bahu kirinya telah kena terpagut senjata rahasia yang istimewa itu.

"Aduh!"

Ia menjerit perlahan, tanan kanannya terus dipakai menyampok, tapi tangan itu juga disambut dengan pagutan bahkan kali ini nyerinya luar biasa sampai keulu hati.

Ular licik itu habis menggigit dia menjatuhkan diri dan menghilang diantara rumput tebal!

Hebat Hoay Giok.

Dia roboh seketika, mukanya menjadi pucat, mulutnya mengeluarkan rintihan, bakan tangan dan kakinya terus menggigil.

Tan Hong menyaksikan kawannya itu, dia menjadi kaget sekali.

"Kakak Wie, kau kenapa?"

Tanyanya, terus ia cepat menghampiri untuk memeriksa lukanya yang berada didua tempat, bahu kiri dan tangan kanan.

Disaat ia hendak membangunkan tubuh kawannya itu, mendadak dua bayangan orang melompat kepadanya, masing-masing menyerang dengan golok dan cambuk.

Walaupun ia kaget, ia lompat berkelit membebaskan diri dari bacokan dan cambukan.

Setelah itu ia membalas dengan senjatanya.

Lebih dahulu ia lompat kepada lawan yang bersenjata cambuk, untuk mendesaknya mundur sebelum orang sempat menggunakan lagi senjatanya.

Habis itu ia melompat ke arah Hoay Giok, yang sedang dihampiri musuh yang bersenjata golok, yang mau membacoknya.

Satu sampokan ruyung membuat golok musuh terpental dan tubuhnya tertolak mundur dua tindak!

Setelah mengawasi kedua penyerangnya, Tan Hong heran, kiranya mereka orang-orang suku Biatuw yang mukanya hitam-hitam, juga matanya, rambut riap-riapan.

Kakinya tanpa sepatu, tubuh bagian atas telanjang dan bagian bawahnya tertutup semacam kain.

Usia mereka rata-rata tiga puluhan.

Karena terpukul mundur, kedua orang Biauw itu melengak, tapi hanya sebentar lantas keduanya maju pula.

Sambil berseru-seru mereka mengurung si nona.

Tan Hong menjadi sangat mendongkol, mukanya menjadi merah berapi.

Sudah dikerubuti tadipun dibokong.

Tak ayal lagi ia mengeluarkan ilmu silat pulau Hek Keng To dan balas menyerang.

Ia bergerak lincah berputaran sebab ia selalu mesti menjauhkan diri dari cambuk.

Setelah jauh lalu mendesak.

Kalau ia terus merenggangkan diri, ia menjadi repot.

Itulah maunya cambuk hingga ia bisa dicambuki tanpa henti.

Dilain pihak dengan ruyung tak dapat ia membuat kutung cambuk itu.

Ternyata dua orang Biauw itu bukan sembarang orang, mereka dapat bersilat dengan baik dengan masing-masing senjatanya itu.

Mereka pun sangat bersemangat dan cerdik, sebab mereka tak membiarkan senjata mereka terhajar ruyung si nona!

Mereka dapat maju dan mundur dengan cepat.

It Hiong sementara itu habis menyampok ular terus menyambar akar rotan, hingga dia dapat mempertahankan dirinya tak jatuh.

Tepat waktu itu, telinganya mendengar suara mendatangi.

Datang dari bawahnya!

Maka segera ia melihat Tan Hong tengah dikepung dua orang musuh dan Hoay Giok rebah tak berkutik ditanah.

Ia terkejut dan segera ia melepaskan tangannya untuk lompat turun bahkan tanpa mengatakan sesuatu, dengan pedangnya ia terus menyerang orang Biauw yang bersenjata cambuk itu.

Hanya dengan satu gebrakan, orang Biauw itu sudah kaget sekali.

Cambuknya kutung, saking jerinya dia memutar tubuh dan menjauhkan diri.

It Hiong tidak mengejar hanya terus ia menghadapi orang itu dan bertanya .

"Siapakah kau?"

Anak muda ini tidak ketahui bahwa orang Biauw itu bernama Michi dan kawannya yang bersenjata golok Shali.

Mereka adalah murid-muridnya Kiu Lam It Tok Sia Hong, Si Tunggal Beracun dari Kwiecu Selatan.

Sia Hong menjadi ahli racun ular.

Semua senjatanya empunyai racun, maka orang berikan dia gelar tersebut, jago ahli racun satu-satunya.

Dia tinggal menyepi di Kwiecu Selatan, hidup diantara ular-ular jahat.

Karena ia sering memasuki wilayah suku Biauw, ia jadi kenal bangsa itu dan mengetahui adapat kebiasaannya hingga akhirnya ia menerima dua orang muridnya itu, yang ia ajari ilmu silat dan cara menggunakan racun.

Sebenarnya Sia Hong hidup diantara dua golongan sesat dan lurus.

Diapun bersahabat dengan Kwie Lok Giam Po.

Pertemuannya dengan ketua Losat Bun terjadi waktu dia mengejar seekor ular beracun sampai di Ay Lao san, dimana dia tinggal beberapa bulan lamanya dan telah bertemu dengan orang Losat Bun yang mengajaknya kenal dengan sinenek, hingga mereka itu menjadi sahabat erat.

Bersama dua muridnya itu, Sia Hong tingal didalam gua, guna memperdalam kepandaiannya menggunakan racun ular.

Guanya itu ia beri nama "Sarang Ular"

Tempat melatih racun. ketika Beng Kee Eng kena dipancing Keng Su mendatangi Ay Lao San, ia kena racunnya Sia Hong hingga ia menjadi kehilangan tenaganya hingga tertawan dan dikurung didalam gua batu.

"Aku Mikhi!"

Sahut orang Biauw itu yang bersenjata cambuk. Dia bicara keras dan bersikap bengis.

"Kalau kau berani mendekati aku satu langkah lagi. Awas, akan aku berikan kau racun jahat dari guruku Kin Lam It Tok!"

Mendengar disebutnya gelar Kin Lam It Tok itu, alisnya It Hiong berbangkit, terus ia berpikir.

Pernah ia dengar nama itu entah dari siapa, ia lupa.

Maka ia lantas mengingat-ingatnya.

Dua kali ia mnyebut gelaran itu serta menerka-nerka dia orang macam apa...

Tengah si anak muda berpikir, ia mendengar jeritan "Aduh!"

Dan melihat orang Biauw bersenjata golok itu roboh dengan mulutnya mengeluarkan darah sebab dia terhajar Tan Hong hingga terluka dalam. Menyusul itu Tan Hong berkata keras .

"Adik Hiong, lekas tolongi kakak Wie! Kenapa kau masih bicara saja dengan orang Biauw itu?"

It Hiong terkejut.

Ia lantas lompat mendekati Hoay Giok serta memegangi tubuhnya buat dibangunkan.

Ia melihat muka orang merah dan panas, matanya dipejamkan, mulut mengeluarkan busa, sedangkan napasnya tersengal-sengal.

Tampak kedua lengannya bengkak dan melar dua kali lipat.

"Kakak! Kakak!"

Ia memanggil-manggil.

"Kakak! Kau kenapakah?"

Hoay Giok tidak menjawab, dia diam saja, tubuhnya sangat lemas san tak kuat ia berdiri. Tan Hong menghampiri.

"Dia pasti terkena racun ular!"

Kata si nona.

"Tadi aku lihat dia roboh setelah terpanggut ular yang dilempar ke arahnya, Adik Hiong dapatkah obat Hosin Ouw menolong dia?"

Ketika itu It Hiong bingung bukan main, sampai ia mengeluarkan air mata.

Masih ia memanggil-manggil sang kakak, sampai suara Tan Hong menyadarkannya.

Karena itu , ia lantas ingat obat untuk melawan racun hadiah dari pendeta tua dari Bie Lek Sie digunung Kiu Kiong San.

"Tertolong!Tertolong!"

Serunya berulang-ulang kegirangan. Tan Hong menggantikan memegang Hoay Giok.

"Lekas! Lekas keluarkan obat itu!"

Dia menganjurkan It Hiong, diapun sangat kuatir melihat kondisi kawannya itu.

It Hiong merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah botol kecil dari kaca hijau, ia lantas membuka tutupnya dan mengeluarkan enam butir obat pulung yang langsung diremas dalam kepalannya, setelah itu ia menotok jintiong, hisungnya Hoay Giok, terus memaksa membuka mulutnya untukmemasukkan obat tersebut.

Tapi saat itu Hoay Giok tak dapat mengunyah sehingga obat tetap terkumur saja!

Tan Hong merebahkan tubuh Hoay Giok ditanah.

"Adik Hiong, coba paksa memasukkan obat itu dengan tenaga dalammu!"

Katanya.

Dia bingung, tapi dia cerdas dan bisa berpikir cepat.

Diapun lantas membantu dengan menekan tangan kanannya pada jalan darah teng-bun dari pemuda yang keracunan tersebut.

It Hiong menurut, ia lantas bekerja.

Ia membungkuk membawa mulutnya ke depan mulut Hoay Giok sesudah mana ia segera mengemposkan tenaga dalamnya.

Ternyata usaha itu memberi hasil.

Obat dapat terdorong masuk kedalam tenggorokannya.

Lalu tak berselang satu jam, perutnya anak muda itu berbunyi keruyukan nyaring.

Itulah tanda obat sudah bekerja dengan baik.

Menyusul itu lekas sekali tampak Hoay Giok membuka kedua matanya dan kaki tangannyapun bergerak-gerak.

Karena itu It Hiong lantas menghentikan bantuannya.

"Kakak! Kakak Wie!"

Ia memanggil-manggil. Tan Hong menarik pulang tangannya dan membantu orang buat diangkat bangun guna duduk menyandar pada sebuah batu besar. Lewat sekian lama baru Hoay Giok dapat membuka mulutnya.

"Sute aku mual sekali..."

Katanya sukar.

Dan belum suaranya habis lantas dia muntah mengeluarkan cairan hitam yang bau.nyaksikan itu, It Hiong dan Tan Hong lega, itu artinya semua racun sudah dapat dikeluarkan hingga tidak lagi mengancam jiwa Hoay Giok.

"Kakak wie, bagaimana kau rasa sekarang?"

Tanya Tan Hong.

"Sekarang aku tidak merasakan apa-apa kecuali letih."

"Kalau begitu kakak istirahatlah!"

Kata It Hiong.

"Lebih baik lagi kalau kau meluruskan pernapasanmu."

Hoay Giok menurut, ia mencoba duduk dengan tegak.

Baru sekarang It Hiong ingat musuh.

Ia mendapati lawannya Tan Hong lagi duduk meluruskan dirinya, sedangkan lawannya, yaitu Mikhi telah pergi entah kemana, rupanya dia sudah kabur dari tadi.

Tan Hong menunjuk orang Biauw itu, katanya pada It Hiong .

"Dialah yang membantu kita mencari mulut gua itu!"

Si anak muda mengangguk. Ketika itu sudah mendekati magrib, setelah melirik Hoay Giok, iapun duduk dibatu dan nampaknya lesu. Tan Hong menghampiri seraya membawa kue kering.

"Mari makan!"

Kata nona itu tertawa.

"Kakak Wie mengalami bencana, kelihatannya Kin Lam It Tok benar-benar lihai. Entah dia memiliki racun apa lagi yang lebih dahsyat."

It Hiong makan kue itu, tak dapat ia menjawab, lalu ia minum dari kantungnya.

"Tak usah kita takut padanya!"

Katanya kemudian.

"Dunia Kang Ouw boleh memuji dia tapi kita membekal obat mujarab dari pendeta tua Bie Lek Sie."

Tan Hong mengangguk.

"Kau benar adik, cumalah tak ada salahnya kita waspada..."

Katanya. It Hiong mengawasi nona it, ia terharu untuk kebaikan hatinya.

"Kau baik sekali kakak,"

Katanya sungguh-sungguh.

"Kau telah membantu kami tanpa menghirauka ancaman bencana, tak tahu aku bagaimana membalas budimu ini?"

Tan Hong tersenyum, ia merasaka hatinya sangat bahagia. Ia memandang pemuda itu lalu tertunduk.

"Dengan kata-katamu ini adik, kau seperti memandang aku sebagai orang luar..."

Katanya perlahan. Dari duduk ia berdiri lalu membalikkan tubuhnya. Lantas juga terdengar bisiknya perlahan. It Hiong melengak, ia lantas berdiri dan menghampiri nona itu dan memegang bahunya.

"Oh kakak,"

Katanya.

"Aku meyesal karena kata-kataku tadi kau berduka, apa salahku? Harap kau sudi memaafkan aku..."

Dia a maju ke depan nona itu buat menjura.

Tan Hong berbalik, air matanya berlinang.

Ia menatap si anak muda hingga sinar mata mereka bentrok, keduanya berdiam saja.

Hati mereka yang bekerja masing-masing.

Tiba-tiba Tan Hong tertawa, dengan saputangannya lekaslekas ia menghapus air matanya dan melirik si anak muda.

"Bukankah telah aku katakan, adik?"

Katanya kemudian, suaranya rada menggetar.

"Buatku sudah cukup asal kau tidak menyia-nyiakan hatiku..."

It Hiong terdiam.

Ia bukannya tak mengerti maksud orang.

Hanya keadaan menyulitkannya.

Diam-diam ia menggigil sendirinya, kenapa selalu asmara mengganggunya?

Kenapa setiap wanita yang ditemuinya menyukainya?

Kenapa orang ska membantu dia dengan mempertaruhkan jiwanya?

Maka itu, tegakah ia menampik budi kebaikan itu?

Pasti ia akan jadi manusia tak berbudi, tak mempunyai perasaan kemanusiaan...

Dalam masgul, anak muda ini Cuma bisa menghela napas...

"Kau kenapa, adik?"

Tanya Tan Hong yang mengawasi orang.

"Aku rasa aku dapat menebak hatimu itu. Aku ingat pepatah kuno . Dapat satu, mengetahui diri sendiri matipun tak meyesal. Kakakmu ini justru mau bekerja untukmu, biarpun darahku harus muncrat digunung sunyi ini aku akan tersenyum diaLam Sana! Sebaliknya aku tak suka mendengar kau mengucapkan terima kasih atau bersyukur terhadapku, itulah artinya kau mengaanggap aku orang asing! Sudah, jangan memikir terlalu banyak, kau membikin ruwet dirimu sendiri!"

It Hiong menarik napas dalam dalam, ia tidak mengatakan sesuatu.

Sang angin bersiur perlahan, membuat ujung lengan baju mereka bergerak-gerak.

Anginpun membawakan harum tubuh si nona memasuki hidung It Hiong, hingga sipemuda tak keruan rasa.

Ia mengendalikan diri, ia mengangkat kepala memandang langit, mengawasi malam.

Tanpa merasa sang malam telah tiba.

Malam sunyi seperti diwaktu siang, hanya kali ini mendadak ada satu suara yang menggangunya.

Sebuah siulan lama dan nyaring membuat gunung bagaikan bergetar dan berkumandang ke empat penjuru lembah.

Menyusul itu dua bayangan orang tampak berlari mendatangi.

Orang yang pertama sampai itu lantas menghampiri si orang Biauw yang masih duduk diam.

Terus tubuhnya diangkat dan dibawa pergi.

It Hiong melompat maju, ia menyerang punggung orang dengan satu serangan tangan kosong.

Orang itu berkelit, terus membalas menyerang dengan senjata rahasia, terus lari lebih jauh.

Tapi It Hiong sudah melompat lagi menghadang di depannya.

"Jika kau benar gagah, mari sambut pukulan Hang Liong Hok Houw ku!"

Tantangnya, dan terus ia menyerang pula.

Orang itu terdesak, kalau ia terhajar pasti akan mendapat luka dalam.

Dasar ia lihai berkelit, dengan lompat kesisi jauh satu tombak lebih.

Sekarang dia tak lari lebih jauh, hanya dia berdiri diam sambil tertawa berulang kali, suaranya tak sedap didengar.

Habis itu dia berkata tawar .

"Hm! Hm! Bocah! Kau pernah apakah dengan Pat Pie Sin Kit? Kenapa kau berani banyak tingkah dengan Hiang Liong Hok Houw Ciang di depan aku si orang tua?"

It Hiong heran hingga ia melengak.

Segera ia mengawasi orang itu hingga sekarang ia dapat melihatnya dengan jelas.

Dia ternyata seorang tua dengan tubuh sedang, tampangnya bersih , tatapan matanya tajam, sinarnya berkilau.

Dia memelihara kumis dan janggut "kambing gunung", bajunya baju kasar, sepatunya ringan.

Pada pinggangnya, kiri dan kanan, ia gantungkan beberapa karung, entah apa isinya semua itu.

Dan dipunggungnya ada semacam benda, dikatakan seruling bukan seruling, warnanya hitam mirip pipa panjangnya tiga kaki lebih.

Ia bersikap jumawa, wajah dan tampangnya mendatangkan perasaan tegang.

Selekasnya dia sadar, It Hiong merasa kurang puas, maka ia juga menjawab nyaring ."Akulah Tio It Hiong dan Put Pie Sin Kit In Gwa Sian adalah ayah angkatku!

Kau sudah berusia lanjut tapi lagakmu tak menghormati diri sendiri!

Kenapa kau mudah saja bicara keras?"

Mendengar itu, sepasang alis si orang tua bangun. Segera ia berkata dengan dingin .

"Bocah, kau dengar! Kamu sudah melukai muridku, tapi sekarang kau masih berani putar lidah dihadapanku! Nampaknya kaulah si orang mampus! Nah, coba kau rasai tangannya Kin Lam It Tok!"

It Hiong terperanjat mendengar orang memperkenalkan diri.

Kiranya inilah si racun tunggal dari Inlam selatan, jago atau ahli racun ular.

Ia segera ingat pamannya, maka bukannya menyambut tantangan malah ia bertanya .

"Apakah paman Beng ku dikurung olehmu didalam guamu?"

Kin Lam It Tok tidak menjawab, ia hanya tertawa dingin, keras dan nyaring.

"Eh, bocah! Kalau kau berpikir untuk membebaskan si orang she Beng dari guaku sarang ular, sama saja kau menyia-nyiakan jiwamu! Aku si orang tua menyayangkan usiamu yang masih muda, dan kaupun nampaknya bukan sembarang orang Kang Ouw karena nyalimu besar! Nah, bocah, meskipun kau sudah melukai muridku, suka aku memberi ampun padamu! Jika kau tahu diri pergilah kau turun gunung!"

It Hiong tak puas dengan tingkahnya orang tua itu.

"Kebaikan hatimu ini orang tua, aku terima dengan baik!"

Katanya.

"Akan tetapi aku mempunyai pendirian lain. Seorang laki-laki dia harus tahu budi dan wajib tahu membalasnya! Apakah kau sangka It Hiong adalah seorang yang takut dan cuma memahami hidup? Tidak! Aku bukan manusia rendah semacam itu! Jika aku tak mempunyai kepandaian untuk menolong pamanku, tidak nanti aku datang kegunung Ay Lao San ini. Aku sudah berkeputusan tidak akan meninggalkan tempat ini selama aku masih bernyawa! Ada berapa banyak racun dalam sarang ularmu yang dapat menghadang aku memasukinya!"

Kin Lam It Tok menjawab dengan jumawa ."Tidak banyak! Tidak banyak! Julukanku It Tok, si tunggal racun, tapi walaupun tunggal kau bakal merasakan cukup banyak!"

Ia berhenti sedetik lantas menambahkan .

"Guaku itu berada diatas dinding itu, jika kau benar mempunyai nyali besar, naiklah kesana kau boleh coba-coba racunku!"

Habis berkata itu , dia menjemput pula muridnya dan terus mengangkat kaki. Perlahan-lahan jalannya. It Hiong kuatir orang nanti meracuni pamannya, hendak ia mencegahnya, maka lantas ia berkata pula .

"Orang tua, namamu menggetarkan dunia Kang Ouw, tapi kenapa kau berbuat begini macam terhadap aku. Bukankah kita tidak saling kenal dan tidak bermusuhan? Sungguh sayang, kau termasyur tapi kau kesudian menjadi andalannya pihak Losat Bun! Kenapa kau mengurung Paman Beng yang telah melepas budi besar padaku? Aku datang kemari buat menolong orang guna membalas budinya itu, karena itu terpaksa aku telah mendatangi wilayahmu ini! Orang tua karena kaulah seorang tersohor, bersediakah kau menjanjikan sesuatu? Supaya hatiku Tio It Hiong menjadi puas dan takluk!"

Kin Lam It Tok menunda langkahnya dan berkata dingin .

"Bocah kembali kau hendak main-main! Apakah kau sangka kau sederajat denganku hingga kau menantang janji menghendaki aku menawarkan syarat kepadamu?"

"Itu bukan maksudku orang tua!"

It Hiong berkata.

"Yang kukehendaki adalah satu cara lain! Hendak aku mengutarakan itu, kau suka menerima baik atau tidak, terserah padamu!"

Si Tunggal Racun heran hingga dia mendelong.

"Eh, bocah kau sebutkanlah!"

It Hiong menunjuk tampang sungguh-sungguh dan berkata .

"Kami tidak hendak merintangi kau menolong muridmu! Bahkan sebaliknya mungkin aku dapat mengobati lukanya itu.....!"

Kin Lam It Tok memotong kata-katanya dengan tertawa. Dengan lagak san suara memandang remeh dia berkata .

"Syaratnya itu ialah aku membebaskan si orang she Beng? Benarkah?"

It Hiong tidak menjawab langsung, katanya sabar .

"Kita tidak bermusuhan satu sama lain, atas nama dunia Kang Ouw, dapatkah kau lakukan itu, orang tua! Walaupun demikian itulah syarat yang tak aku kehendaki!"

Orang tua itu agak habis sabar.

"Eh bocah!"

Bentaknya.

"Kenapa kau bicara setengahsetengah?"

Alisnya It Hiong bangkit berdiri lantas ia berkata dengan gagah .

"Kau harus berjanji akan tidak mencelakai pamanku itu, setuju!"

It Tok tertawa dingin.

"Oh, kiranya begitu?"

Katanya.

"Jika aku tidak suka berjanji, habis kau mau apa? Apa kau sangka kau dapat mencegah aku si orang tua?"

Tepat waktu itu, diantara sinar rembulan terlihat satu bayangan orang berkelebat, terus terdengar suara nyaring tapi merdu .

"It Tok! Kalau kau benar jago, beranikah kau merampas muridmu dari tanganku?"

Berbareng dengan suaranya, orangnya sudah berada di depannya jago tua dari Kwiecu Selatan itu.

Dialah si Nona Tan Hong, yang dengan kecerdikannya sudah merampas Michi yang ia pegang nadinya atau urat kematiannya.

Dengan tak dapat berkutik, orang Biauw itu mandah dituntun.

Kit Lam It Tok berdiam, dia melihat suasana tidak baik, lalu ia batuk-batuk.

"Bagaimana dengan syaratmu kalau itu ditukar dengan muridku ini?"

Tanyanya kemudian. It Hiong menjawab dengan cepat dan secara polos.

"Kalau itu yang kau kehendaki orang tua, terserah!"

Tan Hong tertawa terkekeh-kekeh, katanya .

"Dengan syarat ini orang tua, kau telah menang diatas angin! Masihkah kau tak mau menerima dengan baik?"

It Tok menjawab dengan cepat .

"Baik, beginilah janji kita! Aku tak akan mencelakai pamanmu itu!"

"Tapi kami tidak menerima dengan baik!"

Mendadak datang satu suara keras dan galak, menyusul mana muncullah orangnya berlompat datang.

Merekalah Tok Pie Longkun Sutouw Kit dan Cie Ciu Koan Im Lou Hong Hui.

Mereka lantas berdiri di depan It Tok dan rombongan It Hiong.

Lantas Sutouw Kit mengawasi It Tok untuk berkata .

"Kami dari Losat Bun, kami orang-orang yang tak suka melakukan sesuatu yang gelap! Kami datang kemari untuk mengambil jiwanya si orang she Beng! Inilah saatnya buat membalas darah yang dimuncratkan. Locianpwe, buat apa kau melayani mereka ini?"

Mendadak parasnya It Tok berubah menjadi seram, dengan dingin ia berkata .

"Aku si orang tua, aku bisa mengatakan satu tapi tak pernah menjadi dua. Dengan bocah ini aku telah berunding dan berjanji! Perkataanku telah keluar, aku harus membuktikan itu! Dalam urusanku ini, apakah kalian sangka ada orang diluar yang dapat campur tangan? Tidak! Nah kedua tongcu, kalian ada bebas, kalian dapat melakukan apa yang kalian suka asal itu urusan masing-masing! Nah, maaf aku si orang tua tak dapat melayani kalian lebih lama!"

Menutup katanya itu, jago tua ini menyambuti Mikhi dari tangan Tan Hong untuk dipondong dan dibawa pergi!

Kali ini dia berlalu sambil berlari-lari hingga dilain saat lenyap sudah bayangannya!

It Hiong pandai melihat suasana.

Ia lantas mendapat kekuatiran Sutouw Kit dan Lou Hong Hui nanti pergi kesarangnya It Tok untuk mencelakai pamannya, lekas-lekas ia berkata pada Tan Hong!

"Kakak, sebenarnya buat apa kita datang kegunung Ay Lao San ini?"

Tan Hong heran mendengar pertanyaan itu, tapi ia dapat berpikir cepat, dan dapat menangkap maksud It Hiong. Maka dengan cepat juga ia memberikan jawaban .

"Kita datang kemari guna menolong Beng Locianpwe bebas dari dalam kurungan !"

"Sekarang ada orang hendak mencelakai Beng Locianpwe itu."

Kata pula It Hiong.

"Maka itu apa yang harus kita lakukan?"

Tan Hong menjawab nyaring .

"Orang yang ingin mencelakai Beng Locianpwe itu ialah musuh besar kita, maka kita basmi saja tanpa ampun!"

Suara nyaring si nona sampai menyadarkan Wie Hoay Giok yang sekian lama itu terus bersemadi memulihkan kesehatannya.

Dia melompat bangun dan lari menghampiri.

Selekasnya dia melihat Sutouw Kit berdua, dia mengawasi mereka itu dengan bengis.

Lou Hong Hui gusar, dia membentak .

"Kamu dua mahluk celaka, jangan kamu banyak bicara yang tidak-tidak! Kamu tahu gunung Ay Lao San ini adalah tempat kuburanmu semua!"

Kata-kata nyonya ini ditutup dengan satu serangan joanpian kepada It Hiong.

Si anak muda tidak menangkis atau mundur.

Ia justru melompat maju dua tindak terus ia balas menyerang dengan dua tangan berbareng.

Ia menggunakan dua jurus dari ilmu silat Hiong Liong Hok Ciang, Tangan Menaklu Naga Menundukkan Harimau.

Tangan kanan dengan jurus "Didalam Awan Mengambil Bulan, sasarannya ialah jalan darah siuteng sedang tangan kiri dengan jurus "Dengan Sebelah Tangan Menawan Naga"

Yang bergerak untuk menangkap tangan lawan yang memegang joanpian itu.

Hong Hui terperanjat.

Ia menyerang siapa tahu ia justru yang didahului.

Ia menjadi repot sebab sulit buat ia menggunakan terus senjatanya itu.

Ia justru harus menyelamatkan diri untuk mundur atau berkelit juga sukar.

Maka terpaksa ia lantas menggunakan jurus "Tian Poan Kio"

Jembatan Papan Besi.

Ia bebas dari sambaran tangan kanan lawan tapi anginnya itu membuat mukanya terasa panas.

Dilain pihak ia menurunkan tangan kanannya dengan kaget sambil menggerakkan senjatanya untuk melindungi diri.

Barulah setelah itu ia dapat melompat mundur dua tindak.

It Hiong tidak mau memberi hati.

Orang mau membinasakan pamannya, ia menjadi gusar.

Setelah musuh itu mundur, ia maju menyusul kembali menyerang, kedua tangannya bergerak tak hentinya.

Karena dia telah terdesak, Hong Hui menjadi sangat repot.

Tak berdaya dia dengan senjatanya itu.

Diapun merasa tangan lawannya bergerak secara luar biasa.

Tapi diapun tersohor sebagai siganas, dia tidak takut lantas menggertak gigi.

Segera ia menggunakan ilmu silat Im Yang Ciang, ilmu tenaga dalam Losat Bun.

Dengan begini diapun menggunakan kedua tangannya.

Tangan kirinya lantas berubah menjadi bayanganbayangan dari seratus lebih tangan yang semua eluncur kepada si anak muda, kemuka, dada dan perut.

Demikianlah, maka bertempurlah kedua macam ilmu silat dari kedua partai lurus dan sesat.

Tenaga dalam Hian Bun Sian Thian Khie kang melawan Losat Bun dan Hong Hok Louw Ciang melawan Im Yang Ciang.

Bahkan sebenarnya It Hiong sendiri mewakili dua partai, yaitu Pay In Nia dan Pat Pie Sin Kit.

Jilid 23 Bertarung belum lama Hong Hui terperanjat sendirinya.

Ia mendapat kenyataan lama-lama gerak gerik tangan kirinya tak cocok dengan gerakan tangan kanannya yang mencekal joanpian.

Ia cerdik, hendak ia menggunakan akal.

Hendak ia melayani tetap pada It Hiong dengan dilain pihak berniat melepaskan joanpian hanya bukan diledaki dengan begitu saja tetapi sambil dipakai menyerang secara menggelap kepada pihak musuh!

Pada musush yang lagi menonton dipinggiran yang tak bersiap sedia!

Akan tetapi Tan Hong yang dijadikan sasaran adalah seorang yang berpengalaman ia jeli telinganya awas matanya ia lantas melihat ada bayangan melesat ke arahnya dengan cepat ia berkelit sambil membungkuk dalam sedangkan dengan tau ho pang ia menangkis katas.

Maka itu joanpian lawan terhajar menggeletak ditanah!

Hong Hui menyesal akan kegagalannya itu, tetapi dia tak dapat berpikir lagi, dia mesti mengutamakan perlawanannya terhadap It Hiong.

Dia melayani selama lima puluh jurus masih dia tak berdaya merobohkan lawan.

Maka dia menjadi nekad.

Diam diam dia mengerahkan tenaganya pada lengan kirinya setelah itu dia menyerang sehebat habatnya sambil menyerukan lawan .

"Eh bocah kalau kau berani sambtlah tanganku ini !"

Hanya lebih dahulu dia menyerang dengan tangan kanannya.

"Mari coba"

Menjawab It Hiong berani.

Hong Hui girang.

menyusuli tangan kanannya itu menyeranglah ia dengan tangan kirinya dengan dahsyatnya sebab ia telah menguras semua tenaganya.

Tak ampun lagi beradulah kedua belah tangan dengan benturan yang keras.

Akibatnya itu yaitu Hong Hi terpental mundur sejauh tujuh tindak tubuhnya limbung turus roboh terkulai karena tubuhnya bagian dalam telah bergetar hebat.

It Hiong pun terpental tiga tindak tetapi dia segera berdiri tegak sambil meluruskan jalan darahnya menyalurkan pernapasannya.

Tan Hong terkejut dia segera lompat ke sisi si anak muda.

"Adik, apakah kau mendapat luka didalam?"

Tanyanya prihatin. It Hiong membuka matanya yang tadi ia pejamkan Habis menyalurkan diri itu ia merasa kesehatannya tidak terganggu. Maka ia lantas tertawa.

"Tidak!"

Sahutnya perlahan.

Tepat itu waktu It Hiong melihat dan mendengan sesuatu dengan berbareng ia melihat bayangan orang berkelebat bersama berkelebatnya cahaya berkilau terus terdengar suara barang terasampok disusul jatuhnya golok ketanah.

Lalu akhirnya tubuhnya Hoay Giok berlompat ke arahnya.

Hoay Giok yang nafasnya tersengal-sengal.

Apakah yang telah terjadi?

Hoay Giok menonton pertempuran dengan asyik.

selekasnya ia melihat Hong Hui roboh ia lompat kepada wanita itu goloknya diayun Ia hendak membunuh orang saking panasnya hatinya karena ia berniat hebat membalas dendam gurunya.

Berbareng dengan dia berlompat juga Cian pwee Longkun SuToaw Kit Dia ini melihat istrinya roboh hendak ia menyelamatkan.

Tapi dia berbareng melihat orang hendak membinasakan istrinya itu cepat luar biasa dia menangkis Hoay giok membuat golok terlepas jatuh dan orangnnya termasgul ke arah It Hiong.

Pemuda she Tio itu lantas melihat bagaimana SuToaw Kit tengah mencoba menolong Hong Hui dan Hoay Giok berdiri bernapas membara disisinya.

Ia dapat mengerti duduknya kejadian.

"Kau kena terhajar musuh kakak?"

Ia tanya.

"Tidak ada artinya!"

Sahut Hoay Giok sangat mendongkol.

"Masih bagus nasibnya wanita siluman itu, sayang kepandaianku masih rendah hingga golokku kena dibikin orang terpental...."

"Malam ini mereka itu berdua harus dibereskan"

Berkata Tan Hong perlahan, habis dia melirik SuToaw Kit dan Lan Hong Hui "

Demi keselamatannya paman Beng, tak dapat tidak kita harus berlaku keras, bukankah benar demikian adik Hong? It Hiong berpikiran lain menjawab.

"Asal mereka tahu diri dan rela mengundurkan dirinya tak usah kita ambil jiwanya."

"Tetapi adik!"

Kata Hoay Giok matanya mendelik "toh ada pepatah yang mengatakan bahwa siapa tidak berkeras hati dialah bukan laki laki sejati!

Bermurah hati terhadap lawan berarti berlaku kejam terhadap diri sendiri Kau toh ketahui itu bukan?"

Selagi It Hiong belum menjawab Tan Hong sudah pergi memungut goloknya Hoay Giok untuk diserahkan pada pemiliknya. Ia melihat dua orang itu lagi berdiri diam saling mengawasi. Lantas ia kata.

"Kenapa kalian berdiam saja? Bukankah kita sedang menghadapi musuh musuh yang kejam?"

It Hiong mengangkat kepalanya memandang nona itu "Aku tengah memikirkan kata katanya kakak Hoay Giok bagaikan emas hendak aku ukir itu di dalam hatiku supaya tak sampai dapat dilupakan!"

Terus dia menjura pada si kakak dan kata.

"Kakak Giok kata katamu menyadarkan aku membuatku dapat menghilangkan sifat lemah hati wanita dari dalam kalbuku! Kakak aku sangat kagum terhadapmu."

"Jangan berkata begini adik"

Kata Hoay Giok cepat.

"kita bagaikan saudara kandung satu dengan yang lain jangan berlaku sungkan."

Tan Hong mengawasi orang yang ditanyai itu ia tertawa geli. Ia menganggap lagak orang jenaka. It Hiong menoleh mengawasi si nona bersungguh sungguh.

"Jangan tertawakan aku kakak!"

Katanya "

Selanjutnya aku akan bersikap menuruti kata kata emas dari kakak Hoay Giok akan aku buang sifatku yang lemah itu"

Memang kekurangannya seseorang muda ialah terlalu keras otak terlalu lemah hingga ia tak dapat berlaku sama tengah mana itu jalan yang mudah dan sukar.

Dikira mudah Tapi itu pula jalan yang sulit.

Co Kiauw In yang luwes menghendaki si adik Hiong berlaku murah hati supaya dia bebas dari "kutukan"

Dimana yang bisa agar It Hiong dapat mengampuni orang.

Karenanya si anak muda menjadi gagah tetapi lemah hati mudah merasa kasihan Sekarang ia justru mendengar kata kata gagah dari Whi Hoay Giok Kakak ini muda tetapi pengalamannya tidak banyak dia tahu segala apa.

Maka itu terbangunlah semangatnya.

Ia memang membenci kejahatan maka sekarang ia menganggap si sesat tetap sesat dia berdoa atau tidak.

Sementara itu Lou Hong Hui telah sadarkan diri berkat bantuan suaminya.

ia membuka matanya, ia mengeluarkan napas lega terus ia bangun berdiri.

Tatkala itu si petani malam sudah menunjuki saat kira jam tiga, langit bersih sekali hingga puncak dan rimba tampak jelas dan di depan mata sejauh tiga tombak atau lebih, orang bisa melihat segala apa dengan nyata.

Demikian Hong Hui bisa melihat It Hiong bertiga sedang berkumpul bersama.

Mendadak munculk kegusarannya sambil berseru ia bergerak menghampiri si anak muda, musuhnya itu.

Ia mau mencari balas Sutouw Kit menghadang istri itu.

"Lukamu masih belum sembuh"

Kata sang suami.

"jangan kau turuti hawa amarahmu! Mana dapat kau berkelahi pula ? Itulah larangan kaum rimba persilatan! Sekarang kau duduklah beristirahat nanti aku sendiri yang membereskan mereka itu. Berkata begitu suami ini merogoh sakunya mengeluarkan sebutir pil yang ia terus masuki kedalam mulut istrinya kemudian ia berkata di telinga istrinya itu.

"Dari mereka bertiga rupanya si anak muda yang paling lihai.

Bocah yang bersenjata golok itu biasa saja kepandaiannya akan tetapi mereka berdua nampaknya sangat erat hubungannya.

Maka itu kalau kita bisa bekuk bocah itu kawan kawannya tentu akan tunduk dan menyerah atas kehendak kita!."

Sebagai seorang Kang Ouw yang berpengalaman Sutaw Kit pandai melihat dan berikir maka juga ia dapat menerka tepat dan terus mendapat ide itu untuk membekuk dan menguasai Hoay Giok.

Hong Hui mengangguk membenarkan pendapat suaminya itu, Ia bernapas lega.

Segera Sutauw Kit berteriak ke arah It Hiong bertiga.

Kembali dia membawa tingkahnya seorang Cianpwe orang yang usianya lebih tua serta tingkatannya llebih tinggi.

Dia berhenti sejenak satu tombak dari mereka itu terus ia mengelurkan suara lantang ."Eh bocah bau yang tahu langit tinggi dan bumi tebal!

Losu!

Bun sudah berlaku murah terhadap kamu kenapa kamu berani banyak tingkah di sini?

kamu berani melukai Lou tongcu!

Kamu bosan hidup disini ya?

Sepasang alisnya It Hiong bangkit matanya menyala.

"Manusia yang tidak menepati janji!"

Bentaknya "bagaimana berani kamu datang kemari untuk mencelakai pamanku? mari jika hendak belajar kenal dengan dengan seribu tanganmu! Mari kita lihat siapa sebenarnya yang sudah bosan hidup!"

"Anak muda ini menyebut "seribu tangan"

Sebab itulah artinya gelaran dari Sutauw Kit "Cian Pie Longkun"

Orang dengan seribu bahu" (cian pie) "Tutup bacotmu!"

Sutauw Kit membentak Dia tampak tetap bengis.

Lantas dia maju menyerang.

Benar hebat tangannya itu, sebab tangan dua tetapi bergerak dalam banyak bayangan saking cepatnya.

It Hiong heran melihat gerakan tangan lawan itu, ia tidak takut sebaliknya ia menjadi mendongkol dan penasaran.

Ia lantas menyambut selekasnya ia mengerahkan tenaga dalamnya, siap sedia untuk mengadu tangan itu dengan lain.

Tangan kiri dipakai menjaga diri tangan kana dipakai menyerang dan pukulan pukulan tangan.

Menaklukkan Naga menundukkan Harimau.

dengan jurus "menyingkap Mega Mengambil Rembulan"

Itulah siasat "Penyerang dia balas dengan menyerang".

Sutaw Kit heran hingga ia lantas lompat mundur.

Belum pernah ia menemui lawan berani seperti pemuda ini.

Kalau dia menyerang terus mungkin ia berhasil, tetapi pun sudah pasti ia sendiri bakal bahaya.

Ia menganggap mundur dahulu paling selamat.

Demikian dia mengalah.

It Hiong jemu dengan lagak orang.

begitu berhasil merangsak ia meneruskan mendesak tiga kali ia menyerang terus menerus.

Sutauw Kit benar-benar lihai.

Dapat dia mengelak.

Segera dia membalas.

Kali ini dengan "Poa Lui Ciang Hoat"

Pukulanpukulan tangan kosong "guntur"

Ia menyerang berulang ulang hingga tujuh puluh dua kali. It Hiong terus menangkis atau berkelit dari semua hajaran itu Ia ditolong oleh Tou In Ciong, lompatan "Tangga Mega"

Ilmu ringan tubuh yang lihai sekali itu.

Maka itu pertarungan jadi berjalan cepat dan seru sampai puluhan jurus mereka masih sama unggulnya.

Sutauw Kit menjaga diri baik baik supaya tak kena terhajar Ia melihat bukti pada istrinya yang terluka demikian parah.

Sebaliknya ingin sekalian berhasil menyerang mengenai sasarannya, guna membalas sakit hati istrinya itu.

Dia mengharap harap supaya lawannya kehabisan tenaga.

Pengharapannya jago Losat Bun itu pengharapan yang beralasan.

Lawan toh masih muda lawan selayaknya kalah ulet daripadanya.

Dia sendiri termasuk jago tua dan tahu baik akan kekuatan dirinya.

Tapi It Hiong dapat bertahan.

Terpaksa ia mesti bertahan juga.

Semua penonton kagum, mereka tak dapat membedakan mana kawan dan mana lawan saking cepatnya dan orang itu berlompatan menyerang dan mengulat.

Selagi mendekati jurus yang keseratus Sutauw Kit merasa hatinya tak tenang.

Inilah sebab ia mendapat kenyataan lawan muda itu tetap gesit dan tangguh.

Ia sendiri sebaliknya merasa tenaganya mulai berkurang dan inilah berbahaya untuknya.

"Aku mesti mendahului dia!"

Demikian pikirnya.

Lantas ia mengambil keputusan dan bertindak luar biasa bengisnya ia mendesak lawannya terpaksa It Hiong mesti mundur sampai dua tindak.

Justru lawan .....

menyerangnya dengan .....

jurus dari poa jui Ciang yaitu "Sinar Kilat Api bara"

Hanya itu selekasnya dirubah menjadi cengkraman kepada bahu.

Hoay Giok kaget sekali ketika ia tengah kesengsem menyaksikan perlawanannya It Hiong yang sangat mengagumkan padanya ,....

(tidak terbaca)..

SuToaw Kit tercekat dengan tangannya itu gagal dengan serangannya yang pertama ia menyusuli dengan yang lain tapi kali ini pasti gagal pula.

Kali ini Tan Hong yang menggagalkannya.

Nona itu menghajar tangannya dengan ruyung ......

Ia menjadi terkejut berbareng penasaran.

Lantas ia menyambar yang sisinya buat.............seru keras supaya pemilik ruyung ........

Tan Hong berlaku waspada dan Cepat Ia menarik pula ruyungnya buat terus dipakai menyerang pula kepem...........

lawan.

Tapi ia disambut lawan.

Kali ini SuToaw Kit juga menyambut dengan dua dua tangannya inilah yang ia kehendaki ia memang mau mengguna tipu Bahkan sengaja ia melancarkan ruyung sedikit jauh supaya dapat tersentuh lawan itu.

Dengan begitu Hoay Giok jadi mendapat ketika menjaga dirinya.

Hampir Cian Pie Longkun dapat mencekal ujung ruyung atau mendadak lawan mnyerangnya dengan keras sekali maka itu kedua tangannya tersentuh ujung ruyung itu Tapi yang mengagetkan ia adalah ....

tangannya terasa kaku.

Akibat sentuhan itu Untuk menyelamatkan diri lantas ia menendang si nona.

Tan Hong justru mengeluarkan tenaga dalam Mo Teng Ka ketika tendangan mengancamnya terpaksa ia berkelit dengan lompat mundur sendiri dengan kaget menarik pulang ruyungnya menarik pulang sambil disontakkan ke arah lawan.

Seketika itu juga terjadilah dua hal hampir berbareng Sutaw Kit berdiri limbung hingga ia mundur dua tindak terus dia memuntahkan darah disebelah dia Hoay Giok pun mendadak roboh dengan sendirinya terus dia bergulingan ditambah dengan tangannya yang satu memegangi bahu tangannya yang lain hingga menyaksikan itu Tan Hong kaget sekali.

Itulah kejadian diluar dugaannya si nona Kiranya Loa Hong yang berduduk diam menyalurkan pernapasannya telah melihat jalannya pertempuran itu mengetahui suaminya berada dibawah angin Ketika itu pula Hoay Giok maju untuk membacok suaminya.

Untuk menolong suaminya itu tidak ada jalan lain lantas ia menjemput batu hancur dan memakai itu sebagai gantinya senjata rahasia menyerang si anak muda.

Dia berhasil sebab Hoay Giok terhajar lengan kanannya lengan itu patah dan goloknya jatuh ketanah terjatuh robohnya tubuhnya hingga ia bergulingan saking ngerinya.

It Hiong telah menyaksikan semua Tak keburu ia menolong kakak seperguruanya itu ia pun menjadi sangat gusar Matanya hendak ia memburu si kakak untuk membantu atau mendadak ia memikir lain.

Ia sudah berlompatan ia merubah arahnya terus ia lompat kepada SuToaw Kit dan menghajarnya dengan satu hajaran yang keras dan mengenai punggung jago Losat Bun itu tanpa si jago sampai berdaya Tan Hong melengak menyaksikan semua kejadian.

Semua terjadi dengan sangat cepat.

Hong Hui lompat kepada suaminya untuk memayangnya buat mencoba membantu.

Suaminya itu terus muntah muntah darah.

It Hiong sebaliknya lompat kepada Hoay Giok untuk mengasi dia bangun serta paling dahulu memberikan dia obat pemunah racun.

Jago wanita dari pulau ikan Lodan Hitam tidak melengak lama.

Segera dia lompat kepada Loa Hong Hui dan menghajarnya dengan ruyungnya.

SuToaw Kit mendapat lihat datangnya serangan kepada istrinya.

Dia sudah terluka parah akibat serangan satu jurus.

Dari Hang Liong Hok Kouw Ciang.

Dia masih memuntahkan darah tetapi melihat istrinya itu terancam bahaya hendak dia menolongnya dengan sisa tenaganya Maka dia meronta lantas dia maju dengan dua duanya guna menangkis serangan dia pun sambil berseru "istriku lekas menyingkir!

jangan kau hiraukan aku lagi...!"

Cuma begitu jago Lohat Bun ini mengeluarkan kata katanya segera dia roboh terkulai tanpa berkutik lagi karena tak dapat dia bertahan dari pukulan kematian dari Nona Tan.

Dia lain pihak Hong Hui sudah lantas kabur menuruti anjuran suaminya Hanya sebentar saja ia telah menjauhkan diri empat tombak seraya terus menuju ke bawah gunung.

Tan Hong hendak mengejar musuh itu atau hendak ia membatalkan pikirannya itu, Ia sangat It Hiong lagi membantu Hoay Giok hingga kedua anak muda itu tak dapat di tinggal pergi dikuatirkan waktu muncul musuh atau musuh musuh yang mestinya berada disekitar tempat itu.

Begitulah habis mengawasi tubuhnya Sutow Kit ia menghampiri It Hiong dan Hoay Giok.

Selekasnya dia menelan obatnya si pendeta tua dari Bie Lek Sie.

Hoay Giok merasa nyerinya berkurang.

Obat itu dapat mengoobati luka luka dan racun.

Ia tak lagi merintih dan mukanya pun berubah menjadi merah pula tak sepucat semula.

Lega hatinya It Hiong menyaksikan kemustajaban obat itu.

Ia sekarang memikirkan lengan yang patah dari kakak seperguruannya itu.

Obat apakah harus dipakai tak usah lama ia berpikir lantas ia mendapat akal.

Ia mengeluarkan pil yang lain ia mengunyah itu terus ia borehkan ditempat yang luka pada lengannya sang suheng.

kemudian luka itu dibabat dengan robekan ujung sang baju.

habis membalut luka ia meneruskan dengan mengempos tenaga dalamnya ketubuh Hoay Giok guna menyalurkan darahnya dengan baik supaya daging dan tulang berambung pula dengan tepat seperti sedia kala.

Ketika Tan Hong datang menghampiri kedua anak muda itu lagi sama sama berdiam Hioay Giok tengah bersemadhi meneriam bantuan ternaga dalam It Hiong lagi mengemposkan tenaga dalamnya itu.

Ia berdiam saja disisi mereka itu mengawasi sambil berjaga jaga kuatir musuh datang membokong.

Sang waktu terus berjalan tak hentinya.

Fajar tiba sudah Cahaya terang mulai tampak diufuk timur terus keseluruh jagad Di atas pohon burung burung mulai bercowetan.

Hoay Giok menghela napas terus membuka matanya terus ia berbangkit bangun berdiri.

Dengan perlahan sekali ia mencoba menggerakan tangan kanannya yang terluka.

Ia tidak merasa nyeri.

Ia mencoba menggerakkan lebih jauh dengan pelbagai gerakan ke kiri dan kanan, ke atas dan bawah.

Untuk girangnya ia merasai tangannya itu bergerak bebas seperti biasa.

Maka bukan main girangnya.

"Sute !"

Katanya.

"Darimana kau mendapatkan obat yang mujarab sekali ini ? Sute, lukaku telah sembuh !"

It Hiong tidak lantas menjawab kakak seperguruan itu.

Ia justru berdiam sebagai orang lagi bersemadhi.

Inilah karena ia perlu beristirahat habis ia mengemboskan terlalu banyak tenaga dalamnya yang membuatnya letih.

Adalah Tan Hong yang tertawa dan berkata .

"Syukur kau telah sembuh kakak Whie. Kau bukan ditolong oleh obat melulu tetapi juga karena bantuan tenaga dalam adik Hiong ! Kalau tidak, kesembuhanmu tak secepat ini !"

Hoay Giok mengawasi It Hiong yang duduk bersila sambil memejamkan mata dan tubuhnya tak berkutik. Ia menghela napas dan berkata .

"Sungguh baik hatinya Tio sute. Aku bersyukur bukan main !"

Tan Hong bersenyum.

Selagi sang waktu terus berjalan merayap, kesunyian terus menguasai tanah pegunungan itu.

Tan Hong bertiga merasa aman.

Tak pernah datang pula musuh.

Mungkin Kiam Lam It Tok repot membantu kedua muridnya dan Losat Bun tengah menantikan si jago muda yang diharuskan datang pula guna menjalankan syarat atau aturan partainya itu.........

Selekasnya It Hiong pulih seperti biasa, tanpa banyak omong lagi ia mengajak kedua kawannya mencari lobang gua.

Mereka hendak lekas menolong Beng Kee Eng.

Sekarang tak ada lagi rintangan.

Mereka mengingat-ingat dari mana datangnya bokongan tadi.

Mereka pun melihat dari mana Kim Lam It Tok muncul dan kemana ia pergi.

Tidak terlalu lama mereka menggunakan waktunya.

Sarang Ular itu lantas dapat ditemukan.

Letaknya tak seberapa jauh dari mulut sumber air.

Mulut gua itu teraling rapat oleh akar rotan, pantas sukar dicarinya.

It Hiong menghunus Keng Hong Kiam.

Dengan itu membabati sekalian akar yang merintanginya.

Setelah itu dengan berani ia memasuki lobang itu.

Tan Hong dan Hoay Giok ia ajak bersama.

Lobang itu berupa seperti terowongan.

Di langitnya terdapat stalaktit.

Dari situ menetes terus air seperti butiran-butiran air es.

Karenanya, tanahnya lembab.

Sejauh lima tombak di sebelah depan tampak sinar terang dari sebuah lentera yang digantung di dinding.

Cahaya itu hanya cukup buat orang mengenali jalanan.

Ketiganya maju dengan perlahan, senjatanya masingmasing siap sedia.

Selewatnya belasan tombak, mereka melihat makhluk bergerak-gerak di tanah.

"Ular !"

Seru It Hiong yang berjalan di muka.

Tangannya dipakai mencegah kedua kawannya maju lebih jauh.

Tan Hong dan Hoay Giok berhenti.

Mata mereka mengawasi kepada makhluk itu.

Di sana ada sekumpulan ular besar dan kecil, ada yang kuning, hijau dan merah dan belang juga.

Selainnya yang bergerak-gerak, ada yang mengangkat kepalanya dan mengulur memain lidahnya, sedangkan semua matanya bercahaya bengis.

Risau rasanya mengawasi sekalian binatang dengan sikapnya yang mengancam itu........

"Sekarang bagaimana, adik Hiong ?"

Tanya Tan Hong. Ia gagah tetapi ia jeri terhadap binatang merayap itu. Dia tak bebas seluruhnya dari tabiat wanita, takut akan ular.

"Hebat sarangnya Kiu Lam It Tok ! Ular melulu !"

Tanpa malu-malu si nona merapatka tubuhnya pada It Hiong dan menyendernya.

It Hiong bersikap tenang.

Setelah mengawasi sekian lama, tangannya merogoh sakunya mengeluarkan peles obatnya.

Ia mengulapkan itu di muka si nona.

"Buat apa takut, kakak ?"

Katanya.

"Kita toh mempunyai obat dari pendeta tua dari Bie Lek Sie itu. Mana dapat ular beracun ini mencelakai kita ? Sia-sia saja segala akalnya Kiu Lam It Tok terhadap kita !"

Lantas si anak muda membuka tutup peles dan mengambil isinya.

Ia memberikan tiga butir masing-masing pada si nona dan Hoay Giok.

Ia sendiri mengambil tiga butir pula untuk bersama-sama memakannya.

Hoay Giok pernah merasai pagutan ular beracun.

Walaupun ia telah menelan obat, hatinya masih cemas.

Ia berjalan dengan berhati-hati sekali.

Matanya dipasang tajam-tajam.

"Ular memenuhi jalanan, mana dapat sekali gua semuanya dibinasakan......"

Kata ia bersangsi.

"Biar bagaimana kita sukar luput dari pagutan satu diantaranya........ Biarnya kita sudah makan obat, kita toh harus waspada......... Sute, aku pikir harus kita mencari jalan paling mudah untuk melewatinya.........."

Perlahan-lahan Tan Hong mendapat pulang ketabahan hatinya. Ia berpikir selekasnya ia mendengar kata-katanya Hoay Giok.

"Kakak Whie, kenapakah kita tidak mau menggunakan api ?"

Katanya kemudian.

"Bukankah ular dan binatang buas lainnya takut api ?"

"Benar, benar !"

Menjawab Hoay Giok girang hingga ia menepuk-nepuk tangan.

"Sungguh kau cerdik Nona Tan !"

It Hiong berdiam, ia menggeleng kepala, alisnya dikerutkan.

"Kau takuti apa, sute ?"

Tanya Hoay Giok heran.

"Api dan asap dapat mengusir ular."

Sahut si anak muda.

"Tetapi asap pun dapat membuat Paman Beng sukar bernafas hingga ia terancam bahaya lain........"

"Tapi kita harus dapat mengira-ngira menggunakannya."

Kata Tan Hong bersenyum.

"Bagaimana kalau kita membuat sejumlah obor dari kayu atau cabang-cabang kering. Kita sulut dan ombang-ambingkan itu sembari kita berjalan maju ? Aku bukan maksudkan kita membakar habis semua ular ini......"

Selagi bicara itu, Nona Tan tampak gembira sekali. It Hiong memandang nona itu, lalu ia tunduk dan berkata dengan perlahan .

"Kembali seorang Kakak Cio Kiauw In......."

Manis Tan Hong merasa mendengar pujian itu. Ia disamakan dengan Kiauw In, si cantik, sabar dan cerdas.

"Ah, adik. Kau lagi mempermainkan aku !"

Katanya bersenyum.

"Mana dapat aku dipadu dengan Kakak Kiauw In mu itu ?"

It Hiong berdiam. Kata-katanya nona itu bercabang dua.

"Mari kita bekerja seperti katanya Nona Tan !"

Hoay Giok menyela.

Dan dia lantas memutar tubuh, buat lari balik untuk keluar dari mulut gua.

Tan Hong menyusul, disusul juga oleh It Hiong.

Di lain detik, ketiga orang itu sudah kembali ke dalam terowongan.

Masing-masing mencekal beberapa ikat bahan api.

Mereka menyalakan api dan menyulut obor istimewa itu hingga terowongan terang dengan cahaya apinya.

It Hiong dan Tan Hong berjalan maju berendeng, obor di tangannya senantiasa di goyang-goyang ke kiri dan ke kanan.

Hoay Giok berjalan di belakang, membawa cekalan obor lainnya untuk menggantikan setiap obor yang sudah padam.

Cara itu memberi hasil.

Melihat api dan mencium bau asap, semua ular lantas bergerak.

Semua berebut lari ke sebelah dalam terowongan.

Mereka itu ketakutan dan berlomba keluar.

Dengan ular itu berebutan lari, It Hiong dapat maju dengan terlebih cepat.

Terowongan mungkin panjang tiga puluh tombak.

Habis itu terlihat gua merupakan ruang, ada pembaringan, kursi dan mejanya.

Semua terbuat dari adukan batu hancur.

Hanya ruang ini kosong, tidak ada penghuninya.

Sampai disitu, entah semua ular menghilang kemana.......

"Suhu ! Suhu !"

Hoay Giok memanggil-manggil.

Tidak ada jawaban, cuma terdengar kumandang yang keras.

It Hiong dan Tan Hong mencoba turut memanggilmanggil tetapi cuma kumandang menjadi jawabannya.

Setelah itu mereka berdiam, mata mereka dipasang ke seluruh ruang.

Mereka mengharapi melihat sesuatu.....

Tiba-tiba dari satu pojok, dimana tampak rebung batu terdengar suatu suara perlahan.

"Ah !"

Seru Tan Hong tertahan, lalu terus ia menarik ujung bajunya It Hiong.

Anak muda itu memasang mata.

Tan Hong bukan cuma menarik.

Ia juga bertindak.

Maka bersama-sama berdua mereka pergi ke pojok itu.

Kiranya di belakang rebung batu itu terdapat sebuah ruang kecil yang penuh terhamparkan rumput kering.

Di situ terdapat sesosok tubuh orang yang rebah tak berdaya.

Melihat orang itu, It Hiong berlompat maju lantas ia mengangkat dan memondongnya, dibawa ke dalam ruang buat diletaki dengan hati-hati diatas pembaringan batu.

Orang itu ialah Beng Kee Eng, paman atau guru mereka.

Dia membuka matanya yang lemah, mukanya pucat pasi dengan mata yang guram itu dia mengawasi tiga orang yang berdiri terpaku di hadapannya.

Inilah sebab tegangnya hati mereka itu.

Akhirnya It Hiong mencekal lengan sang paman, air matanya turun meleleh.

"Paman !"

Panggilnya.

"Paman !"

Bee Kee Eng berdiam saja. Ia mendengar seperti tak mendengar, melihat seperti tak melihat. Ia tetap hanya mendelong ! Hoay Giok berlutut di depan gurunya itu. Air matanya bercucuran.

"Suhu !"

Panggilnya.

"Suhu, kau kenapa ? Kenapa suhu berdiam saja ? Apakah suhu tidak mengenali kami ?"

Murid itu lantas menangis dan It Hiong turut terus mengucurkan air matanya.

Di dalam keadaan seperti itu, mereka bingung hingga seperti tak dapat berpikir dengan tenang.

Keadaan Beng Kee Eng sungguh mengharukan, pantas membuat orang tak berdaya.

Tan Hong tidak kenal Beng Kee Eng, ia tak bersitegang hati seperti kedua anak muda itu.

Mau juga pikirannya tetap tenang.

Ia cuma terharu dan merasa berkasihan.

Ia tidak bingung.

Ia dapat berpikir.

Melihat keadaannya pemuda yang seperti lumpuh itu, Tan Hong berlaku mantap dan cepat.

Paling dahulu ia menotok kedua pemuda itu pada masing-masing jalan darah hek tiam.

Inilah guna menenangkan mereka itu supaya kesadaran mereka mudah pulih.

Hendak ia mengambil hatinya It Hiong dengan melakukan sesuatu.

Setelah menotok kedua anak muda itu, lantas Tan Hong mengawasi Beng Kee Eng.

Bagaikan mayat, Beng Kee Eng rebah tak bergeming.

Dia tak dapat bicara.

Melihat keadaannya mungkin itulah akibat totokan lawan pada jalan darahnya.

Karena itu Nona Tan lantas memperhatikan seluaruh tubuh orang guna mencari kebenaran dari dugaannya itu.

Tak sulit akan mendapat kenyataan kecuali telah ditotok kedua jalan darah hun hiat dan ahiat yang menyebabkan orang tak sadar dan gagu, Beng Kee Eng pun ditotok jalan darah sinToan di punggung, jalan darah hoktouw di belakang pinggang juga jalan darah siang kiok di perut.

Di semua tempat tertotok itu terdapat tetesan darah.

Menyaksikan itu, Tan Hong sebal benar terhadap Kiu Lam It Tok.

Ia menganggap jago racun itu kejam sekali.

Tapi ia harus bekerja.

Maka ia mengumpul tenaga dalamnya pada tangannya, terus ia menepuk hun hiat dan hiat.

Untuk tiga jalan darah lainnya yang mengeluarkan darah ia menunda sebab ia tidak mengerti dan kuatir nanti mencelakai jago itu.

Lewat sesaat, sadar sudah Beng Kee Eng.

Hanya belum dapat dia menggerakkan tubuhnya.

Maka itu ia cuma bisa mendelong mengawasi si nona yang dia tak kenal itu.

Ia merasa aneh.

"Locianpwe."

Tan Hong lantas menyapa.

"Kenalkah locianpwe akan dua orang itu ?"

Ia terus menunjuk kepada It Hiong dan Hoay Giok yang lagi rebah di pembaringan batu itu.

Beng Kee Eng menoleh.

Maka ia melihat keponakan dan muridnya yang terasayang lagi tidur nyenyak.

Ia memperlihatkan rupa tak mengerti atau kaget, terus saja dia menghela napas dan mengeluh.

"Habislah........."

Tapi sedetik kemudian, mendadak tampangnya menjadi bengis.

"Siapakah kau ?"

Ia tegur Tan Hong, gusar.

Tan Hong girang mendapat jago itu sudah sadar benar.

Maka tanpa mau melayani teguran orang, justru pergi menepuk-nepuk dahulu jalan darah It Hiong dan Hoay Giok membuat kedua anak muda itu lantas mendusin setelah mana ia menyesalkan si pemuda she Tio dengan mengatakan .

"Adik Hiong, mengapa nyalimu lemah tidak karuan ? Paling penting ialah menolong dahulu Paman Beng !"

It Hiong dapat dikasihh mengerti. Segera ia menahan sedih hatinya. Ia berlompat bangun sambil memanggil keras .

"Paman !"

Terus ia lari kepada paman itu memelukinya. Beng Kee Eng heran dan girang sampai ia mengeluarkan air mata.

"Aku tidak sangka bahwa aku masih dapat menemui kalian, anak-anak....."

Katanya terisak-isak.

"Adik Hiong, jangan bicara saja !"

Tan Hong menyela.

"Telah aku periksa tiga buah jalan darah penting dari Paman Beng telah kena terpagut ular beracun. Maka itu paling perlu ialah kau mengobatinya dulu."

Beng Kee Eng mendengar itu, dia menarik napas dalamdalam. Lantas dia kata lemah .

"Ketiga luka jalan darah itu bukan karena totokan atau pagutan ular, hanya disebabkan tusukan jarum emas yang ada racunnya. Sudah lama aku ditusuknya dan racun sudah bekerja lama menyelusup ke nadi maka juga walaupun ada obat mujarab mungkin waktunya sudah terlambat......."

"Jangan kuatir suhu."

Berkata Hoay Giok. Ia pun menghampiri gurunya itu.

"Orang baik diberkahi Tuhan Yang Maha Kuasa. Adik Hiong mempunyai obat pemunah racun yang sangat mujarab. Walaupun racun ular jahat sekali, obat masih dapat memunahkannya."

Bagaikan baru terasadar It Hiong segera merogoh ke dalam saku bajunya.

Ia mengeluarkan peles obatnya dan mengambil enam butir diantara obat itu dan dengan lantas ia memasuki obat ke dalam mulut pamannya untuk dikunyah dan ditelan sedangkan tiga butir lainnya dihancurkan dengan air untuk dipakai memborehkan luka pada tiga jalan darah yang membahayakan itu.

"Sabar Paman. Segera paman akan sembuh."

Ia menghibur pamannya itu yang ia minta berdiam jangan bergerak guna mengasi ketika obat berjalan dan bergerak.

Kee Eng menurut.

Ia rebah dengan berdiam saja.

Selang satu jam ia bergerak karena mual.

Ia muntah-muntah mengeluarkan bau yang amis sekali.

Bukan cuma itu saja, juga ditempat yang luka lantas muncul kepalanya tiga batang jarum !

It Hiong bertiga kaget berbareng girang.

Hebat obatnya si pendeta tua.

Tanpa ayal lagi pemuda she Tio itu menggunakan dua jari tangannya akan menjepit dan mencabut ketiga jarum itu satu demi satu, setelah mana lubang-lubang luka mengeluarkan darah hitam.

Jarum-jarum itu sendiri yang panjang tiga dim bersinar kuning emas kebiru-biruan.

Kee Eng menarik napas dalam-dalam.

Masih ia nampak lesu.

Masih dia berduka.

Kata dia perlahan .

"Semua jarum telah keluar dan rasa nyerinya telah lenyap tetapi aku masih sangat lemah, tenagaku tidak pulih. Tak dapat aku menggunakannya. Nampaknya usaha kalian sia-sia belaka........."

"Janganlah berkecil hati, locianpwe."

Tan Hong menghibur.

"Jika benar-benar kami tidak berhasil menolong locianpwe, akan kita bawa locianpwe turun dari gunung Ay Lao San ini guna mencari tabib yang pandai guna menolong terlebih jauh ! Sekarang locianpwe sabar saja dan beristirahatlah dengan tenang !"

Beng Kee Eng dapat dibujuki.

It Hiong dan Hoay GIok pun membantunya.

Malam itu dilewatkan mereka berempat di dalam sarang ular itu.

Selama menantikan sang waktu, Kee Eng dibantu dengan pengurutan seluruh tubuhnya.

Hanya kali ini obat belum juga bekerja.

Sampai pagi, jago tua ini belum dapat pulang tenaganya, tak dapat ia bangun sendiri.........

It Hiong semua bingung.

Mereka berpikir keras sampai mereka ingat kepada Kiu Lam It Tok.

Bahwa mereka harus mencoba mencari jago Kwieciu Selatan itu buat mendapatkan pertolongan-nya walaupun secara paksa.

Ada pepatah yang berkata .

"Buat membebaskan orang dari ikatan mesti dipakai tenaganya orang yang mengikatnya"

"Beng Locianpwe."

Tan Hong lantas tanya Kee Eng.

"Tahukah locianpwe dimana Sia Hong menyembunyikan dirinya ?"

"Malam itu sepulangnya Sia Hong, dia repot mengobati kedua muridnya."

Kee Eng memberikan keterangan.

"Habis itu dia menotok dan menjarumi aku hingga aku tidak tahu apaapa lagi.........."

Benar-benar sulit.

It Hiong bertiga menggeledah seluruh ruang itu untuk mencari obat selama satu jam sia-sia saja.

Mereka tidak mendapatkan sesuatu tetapi pemuda she Tio itu penasaran, dia mencari terus.

Ia mengikuti setiap dinding.

Akhirnya dia menemukan sebuah lubang yang tertutup tapi didalam situ tersembunyi sebuah kotak kecil terbuat dari kayu yang atasnya berukiran tiga buah huruf, bunyinya "Kay Tok Tan"

Artinya pil pemunah racun.

"Aku berhasil !"

Ia berseru dalam girangnya. Lantas ia membuka tutup kotak atau segera ia berdiri menjublak saja ! Kotak itu kosong melompong ! Ada juga segumpal kertas kecil yang bertuliskan .

"Racun ular pada tubuhnya si orang she Beng dapat menyambung jiwanya sampai tiga bulan. Sampai di Rapat di gunung Tay San. Jika kalian benar mempunyai kepandaian, obat pemunahnya akan didapatkan. Sia Hong."

Hoay Giok menggertak gigi saking mendongkol.

Lantas ia mencaci maki Kiu Lam It Tok yang dikatakan kejam dan licik.

Tak ada perasaannya sebagai orang Kang Ouw sejati !

"Si bajingan tukang main racun sudah kabur, percuma kita mencaCinya."

Berkata Tan Hong.

"Sekarang ini paling perlu kita melindungi Beng Locianpwe berlalu dari gunung ini."

Itulah benar. It Hiong dan Hoay Giok pun dapat menyabari diri.

"Kakak benar."

Kata It Hiong.

"Kita terusl menuruti saja suara hati kita hingga kita melupakan tugas kita."

"Si bajingan berkata kita masih mempunyai waktu tiga bulan. Mungkin dia dapat dipercaya."

Kata Tan Hong pula.

"Syukur, waktu itu cukup lama. Maka yang penting sekarang ialah kita harus menghadapi pihak Losat Bun. Setelah berhasil meninggalkan gunung ini, selanjutnya pasti locianpwe akan dapat ditolongi ! Nah, mari kita bekerja !"

Hoay Giok dan It Hiong setuju.

Hoay Giok segera menghampiri gurunya.

Ia membuka ikat pinggangnya guna memakai itu melibat tubuh sang guru yang ia angkat dan gendong.

Ia minta sang guru suka bersabar dan bertahan.

"Mari !"

Kata anak muda ini selesai berdandan. Goloknya ia cekal di tangan kanan. Tan Hong dan It Hiong mengikuti, tetapi It Hiong sambil berkata .

"Kakak Whie, kau jalan di muka. Aku telah berunding dengan kakak Tan, ia akan ikut kau buat melindungi kalian. Aku sendiri akan jalan di belakang buat menjaga kalau-kalau musuh datang mengejar. Apa juga terjadi atas diriku, kau jangan pedulikan. Kalian lari terus asal paman selamat !"

Itulah kata-kata mirip pesan terakhir. Hoay Giok mengerti.

"Dimana nanti kita bertemu ?"

Tanyanya.

"Aku pikir tempat itu ialah Siauw Lim Sie di Siong San."

Sahut It Hiong.

"Di manapun ada ayah angkatku, itulah tempat yang aman ! Nah, sampai kita berjumpa pula di gunung itu !"

"Tetapi aku....."

Tiba-tiba Tan Hong berkata, suaranya tertunda.

"Memang kakak tidak dapat pergi ke Siauw Lim Sie."

Berkata It Hiong.

"Baik kakak mengantar paman sampai di tempat yang aman. Selanjutnya terserah kepada kakak sendiri ! Kakak telah banyak melepas budi padaku. Aku, Tio It Hiong akan aku ingat itu untuk membalasnya !"

Bukan main berdukanya Tan Hong.

Ia mesti berpisah dari adik itu sedang sampai sebegitu jauh mereka bertiga telah seperti sehidup semati.

Tapi ia tahu suasana.

Itulah perpisahan yang sukar dihindari.

Dengan lesu, bahkan sedih ia berkata .

"Adik, kau memandang aku sebagai orang luar. Dengan perpisahan ini, sampai kapan kita akan jumpa pula. Entah aku masih mempunyai untung baik menemukan kau pula atau tidak."

It Hiong melengak. Ia terharu. Hanya sekejap, terbangun pula semangatnya. Lantas ia berkata sungguh-sungguh.

"Kakak, kau telah pertaruhkan jiwa ragamu membantu kami mencari dan membantu Paman Beng, budimu yang sangat besar itu tak nanti aku lupakan. Hanya sekarang, suasana memaksa kita berpisah ! Kakak, biar kita berpisah buat sementara waktu saja ! Jangan kakak bersusah hati ! Bukankah bakal lekas tiba saatnya Rapat Besar di gunung Tay San ? Nah, waktu rapat itu ialah waktu pertemuan kita pula. Bukankah itu bagus ?"

Tan Hong diingatkan akan rapat besar itu Tay San Tay Hwe. Ia nampak girang.

"Bukankah rapat itu bakal diadakan nanti bulan delapan tanggal lima belas ?"

Kata ia bertanya.

"Benar, kakak !"

Sahut It Hiong.

"Sekarang sudah bulan enam tanggal pertengahan, maka ini waktu perpisahannya tidak lama lagi !"

Hoay Giok mendengari pembicaraan itu.

"Mari !"

Ia mengajak, sebab pembicaraan pun telah selesai. Maka berlalulah mereka dengan cepat, meninggalkan sarangnya Sia Hong itu.

"Hoay Giok,"

Kata Kee Eng selagi mereka menuju ke mulut gua.

"Di dasar terowongan ini ada jalan rahasia, jadi tak usah kalian ambil jalan mulut gua yang sukar itu. Mari aku tunjuki jalannya."

Itulah bagus.

Maka orang menuruti kata-kata orang tua itu.

Lantas mereka mengubah tujuan ke dasar gua.

Jalanan gelap dan berliku-liku, sempit dan sulit sekali.

Tan Hong cerdik.

Untuk mengatasi jalan yang gelap, ia mengambil sebuah lentera dari dalam raung hingga selanjutnya mereka memakai penerangan yang membuat mereka dapat berjalan jauh terlebih cepat.

Lewat satu jam mereka lantas melihat cahaya matahari.

Bukan main leganya hati mereka.

Telah mereka keluar dari sarang ular.

Matahari sudah berpindah ke barat.

Ketika itu kira-kira jam tiga atau empat lohor.

It Hiong memandang ke sekitarnya akan melihat arah buat mencari jalan meninggalkan gunung itu.

Ia lantas menuju ke arah kiri, Hoay Giok dan Tan Hong mengikutinya.

Terpaksa ia yang mesti membuka jalan.

Waktu mereka sampai di tempat tadi malam mereka menempur Cian Piu Longkau Sutouw Kit, mayatnya tongcu dari Losan Bun itu sudah tidak ada, tinggal darahnya saja di atas rumput.

"Ah..."

Ia menghela napas.

Terus ia bersiul buat melegakan hatinya.

Baru berhenti siulannya anak muda ini atau dari suatu pojok gunung, mereka melihat munculnya serombongan orang, ialah serombongan orang berseragam topi dan pakaiannya berkembang yang semuanya membekal golok.

Cepat sekali mereka itu sudah memegat jalan.

"Kakak Hoay Giok !"

Berkata It Hiong.

"Kakak Hong ! Kalian teruslah tetapi kalian harus berhati-hati !"

Lantas anak muda ini dengan pedang terhunus berlompat maju ke depan guna menghampiri orang Losat Bun itu, mau membuka jalan supaya kedua kawannya dapat menerobos rombongan penghadang itu guna pergi meloloskan diri.

Ia pula tahu karena lawan berjumlah besar, ia memerlukan pertempuran dengan waktu singkat dan demi itu, mesti bersikap telengas.

Kawanan Losat Bun itu berjumlah kira-kira tiga puluh orang, mereka berbekal golok dan juga pedang.

Yang menjadi kepala tiga orang, berada paling muka.

Yang satu ialah Lou Hong Hui.

Dari dua yang lain, merekalah seorang touwlo atau rahib dan seorang tua.

Si rahib yang kepala dan rambutnya dilibat gelang emas bermata gede dan beralis gemplok, daging di mukanya pada menonjol dan senjatanya ialah sebatang tongkat kuningan.

Dan si orang tua yang berkulit mukanya gelap memiliki mata tikus yang bersinar tajam dan di punggungnya tergemblok senjatanya, golok sepasang.

Kiranya mereka itulah murid-murid murtad dari Siauw Lim Sie .

Tiat Lo han Loe Liong dan Co siang Hui Kan Tie Uh.

Sebenarnya mereka itu berdua lagi melakukan perjalanan mencari kawan guna menghadiri Tay Sam Tay Hwea.

Mereka main hasut sana dan hasut sini.

Kebetulan mereka tiba di Ay Lao San.

Mereka menemui anaknya Sutauw Kit terbinasakan.

Lantas mereka menyatakan suka memberi bantuan buat membalaskan kepada musuh terus mereka menemani Lou Hong Hui.

Lebih dahulu daripada itu, mata-mata Losat Bun telah mencari tahu tentang rombongannya It Hiong itu.

Maka mudah saja mereka ini dipegat.

Karena kedua belah pihak sudah menjadi musuh yang saling mengenal dengan yang lain, pertempuran segera dimulai.

Dimulai oleh Hong Hui yang memberi isyarat lirikan mata kepada kedua kawannya hingga kedua kawan itu maju dengan segera, menyerang kepada It Hiong.

It Hiong membentak .

"Bagus kamu bertiga maju berbareng !"

Terus ia menggerakkan pedangnya dan menyambut serangan.

Lantas ia menggunakan Khie bun Patkwa Kiam.

Hanya kali ini ia bergerak ketiga arah sebab musuhnya tiga orang !

Kee Liong sangat mengandalkan tenaga dalamnya yang istimewa dan juga senjatanya yang berat.

Dengan berani dia menyambut It Hiong.

Niatnya buat menyampok terpental pedangnya pemuda itu.

Selekasnya kedua senjata beradu, percikan apinya bermuncratan.

Suaranya terdengar nyaring, lantas si rahib menjadi sangat kaget.

Gagal senjatanya yang dia buat andalan itu bahkan tangannya yang kanan bergemetaran hingga hilang tenaganya.

Terpaksa dia mundur satu tindak.

Justru itu Kan Tie Uh berlaku licik.

Dia justru menyerukan mereka itu .

"Saudara-saudara ! Kalian lihat bocah itu ! Aku si tua hendak membereskan kawan-kawannya !"

Terus dia berlompat untuk Hoay Giok yang menggendong gurunya, bahkan dia segera menyerang dengan bacokan yang hebat.

Sama-sama dari pihak Siauw Lim Sie, Hoay Giok kenal ilmu silatnya rahib itu.

Yang sulit untuknya ialah ia lagi menggendong gurunya hingga ia tak bebas menggunakan goloknya.

Tapi ia tidak putus asa.

Ia tahu bagaimana harus mengendalikan diri.

Maka dia menjauhkan dirinya secara lincah.

Kan Tie Uh penasaran.

Dia mendesak terus.

Sebentar saja dia sudah membacok lima kali saling susul.

Sampai di situ dia barulah dihadang Tan Hong.

Nona ini menghadang sambil terus menusuk matanya dengan sanhopang.

Dia terkejut.

Dia berkelit.

Karenanya bebaslah Hoay GIok.

Kan Tie Uh berkelit dengan jurus silat "Jembatan Papan Besi", hampir pipinya tersentuh ruyung.

Tetapi toh ia merasai giris.

Ia menjadi kaget berbareng gusar.

Karena ia kenal si nona, ia lantas saja mendamprat .

"Hai budak bau dari Hek Keng To ! Kau hendak mencari laki ? Muka Tan Hong menjadi merah. Ia dikatakan mencari laki ! Maka terbangunlah sepasang alisnya terus dia membentak .

"Siapakah yang menentang partai ? Kau toh tahu sendiri bukan ? Bagus kau mempunyai muka akan menegur lain orang ! Kau lihat senjataku !"

Nona ini tidak takut.

Ia maju sambil menikam.

Kan Tie Uh memuat perlawanan.

Dia menggunakan jurus silat Lohan To, Golok Arhat yang dia robah menjadi ilmu golok kaun Bwe Hoa Hun.

Dia pula berlaku bengis.

Dia sangat membenci si nona dan berniat merampas jiwanya.

Sesudah si nona binasa, pikirannya mudah saja dia nanti merobohkan Hoay Giok dan membekuk Beng Kee Eng.

Walaupun ia berani, Tan Hong tidak mau melawan keras dengan keras.

Ia insyaf bahwa ia kalah tenaga.

Maka sebaliknya ia melawan keras dengan kelunakan.

Lekas-lekas ia mengerahkan tenaga lunak dari Mo Teng Ka, ilmunya dari pihak Hek Keng To, pulau ikan Lodan Hitam.

Dengan kelincahannya, ia seperti bersilat berputaran di sekitar lawan ganas itu.

Tengah mereka berdua bertempur itu, mendadak mereka dikejutkan satu jeritan yang menyayatkan hati.

Tanpa merasa keduanya berhenti berkelahi hampir berbareng.

Mereka berpaling ke arah dari mana jeritan itu datang.

Di sana tampak Kee Liong rebah mandi darah.

Darah masih menyembur keluar dari dadanya yang terkena padang Keng Hong Kiam dari It Hiong.

Sebab si anak muda tidak suka memberi hati padanya dan merobohkannya dengan cepat.

Bahkan It Hiong berhasil juga membekuk Lou Hong Hui, tangan siapa dicekal erat-erat hingga nyonya itu berdiam sambil mukanya meringis menahan nyeri cekalan itu !

Dia pun bermandikan peluh pada mukanya.

It Hiong menjadi sengit.

Biar bagaimana ia mesti menolong menyelamatkan pamannya.

Maka itu ia tahu yang ia mesti berkelahi cepat.

Itu artinya ia mesti bersikap keras.

Karena ini dengan lantas ia menggunakan ilmu ringan tubuh Tangga Mega yang sangat diandali itu.

Dengan begitu, ia bisa bergerak dengan sangat gesit.

Dengan begitu juga berhasil mendesak lawan-lawannya.

Dia selalu menggunakan tangan kirinya akan menyerang dengan jurus-jurus Hong Liong Hok Houw Ciang dari ayah angkatnya.

Kee Liong lihai, selain bekas orang partai Siauw Lim Pay, ia pula ketua Tay Sora Ban dan latihannya latihan dari beberapa puluh tahun.

Dia termasuk orang kelas satu.

Di lain pihak, dia dibantu Lou Hong Hui, wanita kaum Kang Ouw ilmu silat tangan kosong Im Yang Ciang, dia jadi berbesar hati.

Hanya sayang dia justru menghadapi muridnya Tek Cio Siangjin atau anak pungutnya In Gwa Sian.

Dia seperti bertemu binatang pawangnya.

Di lain pihak lagi It Hiong pula tak sudi membuang-buang waktu yang berharga.

Begitulah kapan telah tiba saatnya senjata mereka beradu setelah mereka bertempur lima puluh jurus lebih, It Hiong menggunakan siasat membalas penyerangan dengan penyerangan.

Dengan keras ia menyampok tongkat lawan hingga tongkat terpental, lantas ia meneruskan menikam ke arah dada Kee Liong.

Kee Liong mati daya, dadanya terkena pedang yang tajam itu.

Maka menjeritlah dia dan tubuhnya roboh dengan bermandikan darah itu !

Hong Hui kaget menyaksikan kawannya roboh binasa, tetapi ia tidak menjadi takut dan lari.

Justru It Hiong belum bersedia, dia membarengi menyerang dengan pukulan Im Yan Ciang.

Tak terkecewa dia digelarkan si kejam.

It Hiong menyambar pedangnya dari tubuhnya Kee Liong ketika serangannya si nyonya itu tiba.

Tidak dapat serang itu ditangkis dengan senjata.

Terpaksa ia berkelit terus tangan kirinya dipakai membalas menyerang.

Hanya mendadak ia merubah serangannya menjadi tangkapan, ialah ia menyambuti menangkap tangan si nona dengan jurus "Di tengah Laut Menawan Naga".

Ia berhasil dengan tangkapannya itu.

Ia berubah pikiran karena ia ingat belum tentu Hoay Giok dapat lolos.

Andiakan pemuda itu dan gurunya kena ditawan Losat Bun, Hong Hui bisa dipakai sebagai orang tukaran.

Jika tidak, mudah saja ia merampas nyawanya si nyonya nanti !

"He, murid murtad dari Siauw Lim Pay.

Masihkah kau tidak mau mengangkat kaki ?"

Bentak It Hiong melihat Kan Tie Uh masih membandel.

Ia menarik tangannya Hong Hui buat diajak berjalan.

Kan Tie Uh takut sekali.

Dua kawannya telah mati atau tertawan.

Tidak ayal sedetik juga, ia memutar tubuh dan lari menghilang di dalam sebuah tikungan.

Jilid 24 Beberapa puluh orang berseragam itu kaget dan jeri hati, lantas mereka berseru-seru saling mengisyaratkan.

Mereka juga lantas memutar tubuh dan lari menyelamatkan diri.

Sebaliknya It Hiong bertiga lantas berkumpul.

Hoay Giok tidak berlari terus karena musuh telah tumpas dan kabur.

Ketika itu sang magrib pun mulai tiba.

It Hiong menyuruh Hong Hui duduk ditanah.

Ia menotoknya membuat orang tak dapat bergerak, kemudian baru ia masuki pedangnya ke dalam sarungnya.

Baru sekarang ia menghela nafas lega.

"Kakak Whie, bagaimana dengan Paman ?"

Tanyanya. Ia lantas duduk untuk beristirahat. Sunyi di sekitar mereka, cuma ocehan sang burung yang terdengar.

"Guruku tak kurang suatu apa,"

Hoay Giok menjawab.

"Takut Nona Tan datang disaat yang tepat hingga aku bebas dari ancaman si bajingan yang telengas sekali. Dia mendesak hebat kepadaku !"

It Hiong berpaling kepada Tan Hong, wajahnya menunjuki dia sangat bersyukur, hendak ia mengucapkan sesuatu tetapi dia batal.

Inilah sebab dia bersangsi, tak berani dia sembarang bicara.

Dia takut dengan menghaturkan terima kasih, si nona nanti tersinggung dan ia bakal bersusah hati.

Hal itu pernah terjadi beberapa kali.

Maka itu, cuma sinar matanya yang menunjukkan terang bahwa dia bersyukur sekali.

Selagi si pemuda mengawasinya, Tan Hong juga lagi memandangi si anak muda itu.

Dengan begitu sinar mata mereka seperti bentrok satu dengan lain.

Maka juga kontaklah hati mereka.

Keduanya sama-sama berdiam.

Tan Hong merasa hatinya sedap sekali, terpaksa, ia bersenyum.

Sungguh ia cantik manis.

Sementara itu Kee Eng telah menyaksikan apa yang terjadi.

Saking tidak berdaya, ia berdiam saja.

Tenaganya telah hilang dan belum mau pulih kembali.

Melihat It Hiong menjadi demikian gagah, ia kagum sekali, hatinya lega.

Benar hebat keponakan itu.

"Inilah yang dibilang gelombang sungai Tiang kang yang di belakang mendorong ombak yang di depan."

Kata ia menghela nafas saking kagumnya itu.

"Kau telah memiliki ilmu silatmu ini, anak Hiong. Di belakang hari apa yang diimpi-impikan kelak kau pastilah akan memegang pimpinan rimba persilatan. Dengan begitu maka saudaraku Siu Pek akan memperoleh turunannya yang sejati !"

Saking lega hatinya jago tua itu meneteskan air mata kegirangan. Di dalam hati It Hiong puas karena paman itu memujinya, tetapi yang menggerakkan hatinya ialah disebut nama "saudaraku Siu Pek"

Itu.

Selama beberapa tahun belum pernah ia mendengar lain orang menyebut nama ayahnya, hanya kali ini oleh Kee Eng saking kagumnya.

Justru ia mendengar nama ayahnya itu, terbangunlah semangatnya.

Ia menjadi ingat punahnya keluarganya, peristiwa yang sangat menyedihkan dan menyakitkan itu.

Ia telah berhasil menuntut balas tetapi ia toh ingat halnya ia telah berpisah dari ayah bundanya itu.

Ia sadar tetapi ia lantas seperti membayangi peristiwa terjadi.

Ia menjadi bersedih, air matanya meleleh tanpa merasa...

Berempat mereka berduduk di rumput, semuanya berdiam saja.

Mereka berpikir masing-masing.

Selama berdiam, mereka mengingat sesuatu.

Angin magrib pun bershilir halus meniup pergi hawa panas sang siang mendatangkan hawa nyaman.

Tan Hong melihat tibanya sang sore lantas ia mengeluarkan rangsumnya dan membagi-bagikannya.

"Malam ini kita harus dapat turun dari Ay Lao San ini"

Kata ia sembari tertawa.

"Mungkin akan terjadi pula pertempuran dahsyat. Maka itu perlu kita makan dengan cukup !"

Mendengar suaranya si nona, parasnya It Hiong berubah. Selagi beristirahat buat sedetik ia seperti melupakan diri masih berada di tempat berbahaya itu. Maka ia lantas berkata memesannya.

"Aku percaya Kwie Tiok Giam Po lihai sekali, seandianya aku mesti bertempur dengannya asal kita bergebrak, aku minta kakak bersama suheng lantas melindungi paman menyingkir dari sini supaya lekas-lekas kalian dapat turun gunung. Tentang bagaimana akan aku meloloskan diri, jangan kalian pikirkan !"

"Aku mengerti adik,"

Sahut Tan Hong mengangguk, suaranya perlahan dan air matanya tergenang. It Hiong makan dengan cepat, lantas ia bangun berdiri.

"Sudah tiba saatnya !"

Berkata dia.

"Mari kita turun gunung !"

Dia terus menotok Hong Hui buat membikin orang supaya dapat bergerak, terus dia menuntunnya pergi berjalan.

Hoay Giok merapikan gendongan dan turut berangkat diiringi oleh Tan Hong.

Lari belum lama sampai sudah mereka di depan sarangnya Losat Bun.

Di sana tampak bayangan dari banyak orang bergerak-gerak dan terlihat juga kilauannya pelbagai macam senjata.

It Hiong membawa sikapnya seorang laki-laki sejati.

Dia tidak lantas maju untuk menyerang hanya dia berdiri di muka pintu gerbang, untuk memperdengarkan suaranya yang nyaring.

"Kauwcu dari Losat Bun, mari kita membuat pertemanan ! Sukalah kau memperlihatkan diri !"

"Tunggu !"

Berseru seorang Losat Bun yang menjaga pintu.

"Kenapa kita tidak mau menyerbu dan pergi selagi si nenek tua belum muncul ?"

Tanya Tan Hong berbisik pada si anak muda.

"Kau lihat itu di kiri dan kanan, kakak,"

Berkata It Hiong sambil tangannya menunjuk.

"Aku percaya di sana telah tersembunyikan banyak orang untuk memegat dan merintangi kita. Lihat saja, mereka begini tenang. Mestinya mereka sudah mengatur perangkap. Tak nanti Kwie Tiok Giam Po demikian baik budi membiarkan kita meninggalkan gunung dengan dia tak mengambil suatu tindakan. Maka itu baik kita menemukan dulu baru kita bertindak."

Selagi mereka bicara, diambang pintu gerbang sudah bermunculan orang-orang Losat Bun, pria dan wanita semua berseragam, senjatanya golok dan pedang dan sebelah tangannya pada memegang obor terang-terang.

Jumlah mereka itu lima atau enam puluh orang.

Langsung mereka memasuki lapangan dimana mereka terus memecah diri di dua Barisan kiri dan kanan.

Obornya diangkat tinggi hingga seluruh lapangan menjadi terang sekali.

Menyusul pasukan pertama itu muncul lagi seBarisan kecil dari dua belas orang nona-nona, rambutnya yang terbuka memakai ikat rambut berkembang.

Semua mereka mengenakan jubah panjang dengan kaki telanjang juga.

Sebagai senjata pedang panjang ditancap di punggung mereka.

Empat orang yang paling belakang membawa lentera yang biasa dipakai di dalam istana raja-raja.

Merekalah yang mengiringi seorang wanita tua.

Itulah si nenek Kwie Tiok Giam Po, ketua dari Losat Bun.

"Cis"

Tan Hong meludah.

"Segala Losat Bun saja memakai aturan bau semacam ini !"

Nona Tan sebal dan jumawa sekali.

Si nenek tua berjalan terus tanpa menghiraukan rombongan It Hiong, setibanya ditengah lapangan, lantas ia menjatuhkan diri untuk berduduk di atas kursi, yang terus ada yang menyediakannya.

Lantas empat pengiringnya mendampingi di kiri dan kanan.

Dan dua belas nona-nona lainnya itu berkumpul ditengah lapangan itu, tapi hanya sekejap, lantas mereka memecah ke empat penjuru, mengatur diri tanpa bersuara.

Selesai itu dengan satu bentakan muncullah seorang anggota Losat Bun pria.

Dia bertindak maju untuk memberi hormat kepada ketua atau raja agamanya.

Habis itu dia kembali, untuk menghampiri It Hiong.

Sambil menuding dia kata bengis pada si anak muda .

"Kauwcu mengundang engkau !"

It Hiong melirik Tan Hong dan Hoay Giok, lantas ia serahkan Hong Hui pada Nona Tan.

Ia sendiri bertindak maju, mengikuti orang Losat Bun itu.

Diterangnya obor tampak wajahnya Kwie Tiok Giam Po tidak memberi kesan lain kecuali dingin.

Lantas dengan dingin juga dia berkata keren .

"Eh ! Bocah cilik. Inilah kau sendiri yang lancang memasuki Ay Lao San, maka inilah saatnya kau menerima hukuman mati ! Nah, ada apakah pesanmu yang terakhir ?"

It Hiong tidak jeri sama sekali. Ia dapat mengerti sikap atau adat luar biasa dari raja agama Losat Bun ini. Di dalam hati ia merasa lucu dan tertawa karenanya. Dengan suara nyaring ia menjawan .

"Aku yang muda, aku biasa melakukan sesuatu dengan tidak merembet-rembet lain orang, demikian juga kali ini, akulah yang bertanggung jawab sendiri ! Katanya kau lihai, kauwcu, aku bersedia akan belajar kenal dengan kepandaianmu itu tetapi lebih dahulu hendak aku menanya tegas-tegas kepadamu, bagaimana dengan sahabatku ini ?"

"Apakah mereka itu memikir akan turun dari gunung ini dengan masih hidup ?"

Balik tanya si nenek. Tapi It Hiong membentak .

"Kauwcu ! Kaulah seorang tua dan bekenamaan, kenapa sekarang sepak terjangmu ini tak membedakan hitam dari putih dan putih dari hitam ? Apakah kau tidak takut dunia rimba persilatan nanti mentertawakanmu ? Ingat kauwcu, jiwanya Lou Tongcu masih berada di tanganku !"

Kauwcu itu berdiam. Dia berpikir keras. Lantas parasnya nampak berubah. Ia tak sebengis semula.

"Kau mau berbuat apakah atas dirinya ?"

Tanyanya.

"Kau menghendaki apakah ?"

It Hiong menjawab cepat dan tegas.

"Kau membiarkan kawan-kawanku turun gunung dengan selamat, lantas aku juga membebaskan tongcumu ini !"

Kwie Tiok Giam Po, si nenek tertawa.

"Jika aku menolak ?' tanyanya. It Hiong menjawab nyaring .

"Segera akan aku bunuh Lou Hong Hui !"

Nenek itu menatap tajam si anak muda. Lantas ia menjadi sabar.

"Bocah, kau bersemangat laki-laki !"

Katanya perlahan.

"Baiklah, aku terima baik keinginanmu itu !"

Lalu terus ia menggapaikan tangannya memanggil salah seorang anggotnya kepada siapa ia bicara bisik-bisik atas mana anggota itu segera berlalu pergi dengan berlari-lari !

Menyusul itu orang-orang Losat Bun lantas memisahkan diri ke pinggiran, buat membuka jalan.

It Hiong segera berseru .

"Kakak Whie ! Kakak Tan Hong ! Lekas kalian turun gunung, jagalah baik-baik Paman Beng !"

"Ya !"

Sahut Nona Tan yang lantas saja membuka langkahnya turun dari gunung mendampingi Hoay Giok yang menggendong gurunya.

Sebagai seorang yang berpengalaman, tak mau ia melepaskan Hong Hui, tangan siapa ia terus cekal erat-erat hingga mereka bisa berjalan bersama-sama.

Ia pula tidak mau berlari-lari, sebaliknya ia berjalan dengan perlahan-lahan.

Setiba ditangan lapangan, Tan Hong berpaling kepada It Hiong untuk berkata dengan suara sedih .

"Adik Hiong, kau berhati-hatilah. Kami berangkat lebih dahulu !"

It Hiong menghampiri akan menggantikan mencekal tangannya Hong Hui....

"Paman Beng, pergilah turun gunung !"

Kata ia pada pamannya.

"Jangan takut apa-apa, tak usah menguatirkan anak Hiong !"

Beng Kee Eng seorang laki-laki sejati, ia insyaf akan gawatnya keadaan itu maka itu disaat seperti itu, tak sudi ia menggempur semangatnya keponakan itu, maka ia jawab dengan gagah .

"Ya !"

Kepada Hoay Giok ia kata .

"Lekas berangkat !"

Baru saja jauh setombak lebih Tan Hong sudah berpaling pula.

"Adik Hiong !"

Katanya.

"Sampai kapan saja akan aku menantikanmu !"

"Aku tahu kakak !"

Sahut si anak muda singkat.

"Kakak pergilah !"

Berkata begitu anak muda ini diam-diam mengawasi kepergiannya tiga orang itu sampai mereka turun gunung dan lenyap diantara gelapnya sang malam.

Ia tahu bahwa katakatanya Tan Hong itu mengandung makna terlebih dalam, hingga tanpa terasa ia berpikir keras.

Ia sadar ketika ia merasa Hong Hui lepas dari cekalannya dan waktu ia melihat kesekitarnya ia mendapati ia sudah dikurung di empat penjuru oleh orang-orang yang berseragam rambut panjang riapriapan ke punggung dan bahunya serta dahinya dilibat dengan semacam sabuk.

Itulah serombongan dari dua belas orang nona-nona, yang semua tangannya memegang pedang.

Cara berdirinya mereka itu menandakan bahwa mereka telah mengatur diri dalam tiu, Barisan rahasia, Su Ciang Tiu rangkap Pat Kwa Tiu.

Ia insyaf akan ancaman itu maka ia mengumpulkan semangatnya supaya pikirannya menjadi tetap dan mantap.

Sekian lama anak muda itu berdiri tegak tetapi tenang, ia melihat lawan belum bergerak sama sekali.

Ia heran hingga ia menerka-nerka.

"Entah mereka hendak menunggu apa ?"

Pikirnya.

"Lebih baik aku mendahului mereka. Aku harus mendahului keluar dari kurungan tiu ini !"

Begitu ia berpikir begitu It Hiong menghunus Keng Hong Kiam, hingga terdengar suara menyeresetnya yang nyaring serta tampak sinarnya berkeredepan, begitu juga ia lantas menyerang seorang nona yang berada di depannya sekali !

Hebat nona itu, luar biasa cepatnya dia berkelit.

Dia berlompat ke samping, pedangnya diputar melengkung.

Selekasnya It Hiong menarik pulang pedangnya, tempat kosong nona itu sudah diisi seorang kawannya, sedangkan dia sendiri menggeser mengganti tempat kawan itu Dan masih mereka berdiam terus.

Hingga tiu pun tetap diam tak bergerak....

Menyaksikan sikap orang itu, It Hiong tak mau banyak pikir lagi.

Sudah pasti keputusannya !

Keluar dahulu dari dalam kurungan tiu itu !

Kali ini si anak muda tidak menyerang seperti tadi.

Ia menjejak tanah sambil berseru terus tubuhnya loncat mencelat.

Inilah sebab ia menggunakan ilmu ringan tubuh Tangga Mega.

Ia berlompat tinggi dua tombak, pedangnya di depan dadanya.

Ia berlompat ke arah Pat Kwa Tiu...

Barisan segi delapan.

Setelah tubuhnya turun, baru ia menikam nona di depannya.

Asal si nona berkelit pikirnya mau ia menerobos keluar !

Aneh si nona.

Dia tidak mengikuti kawannya tadi.

Dia bukannya lompat ke samping hanya mundur empat tindak, menyusul mana kawannya lantas menggantikan lowongannya itu untuk dia sebaliknya terus mengisi lowangan si kawan.

Habis itu lagi-lagi mereka berdiam !

It Hiong mendongkol.

Jadinya ia cuma hendak di kurung bukan buat diserang dan dirobohkan atau ditawan.

Hampir ia menuruti hawa amarahnya dan menerjang pula, baiknya ia ingat pantangan tak boleh keras hati dan sembrono atau ia bakal kena dikalahkan lawan.

Maka itu ia menenangkan diri berdiri diam sambil tangannya memegangi gagang pedang mustikanya, matanya melihat dan melirik ke segala arah.

Menyusul itu maka dari luar tiu terdengar suara bangsi nadanya, mendesak keras, seumpama teriakan seekor kuda tengah kabur berlari-lari, suaranya tajam membuat telinga orang ketulian seperti berbunyi mengacau.

Mendengar it tahulah It Hiong bahwa itu ada suara bangsi lagi "Cie Ciu Toan Hua"

Menyesatkan Yang Asli, Memutuskan Nyawa.

Pasti itulah lagunya Kwie Tiok Giam Po yang hendak mengasih pertunjukan apa.

Ia lantas merasakan hatinya goncang dan darahnya bergolak.

Lekas-lekas ia menenangkan diri dengan Hian Bun Sian Thian Khie kang, mulutnya berkelemik mengucapkan sesuatu hingga lekas juga ia memperoleh ketenangannya kembali.

Suara bangsi sementara itu telah menyebabkan tiu bergerak-gerak.

Empat nona-nona dari Siu Cian Tiu lantas berjalan pesat mengitari si anak muda, rambut mereka teriapriap.

Sang angin dan pedang mereka berkeredepan, menyilaukan mata.

Segera mereka itu ditelan oleh delapan nona-nona dari Pat Kwa Tiu, yang merupakan kurungan luar, hanya itu mereka itu berjalan berputaran dengan perlahanlahan dan mutarnyapun dari arah yang berlawanan.

Maka itu, itulah gabungan tiu yang aneh.

Selagi It Hiong tetap berdiam, hatinya tenang dan terbuka dan matanya berwaspada.

Nona-nona dari Su Ciang Tiu berputaran makin cepat makin cepar sampai tubuh mereka tampak mirip bayangan saja, membuat mata kabur melihatnya.

Adalah di saat itu sekonyong-konyong ke empat nona berseru dengan berbareng dan berbareng juga pedang mereka berkelebat menyerang orang yang dikurungnya !

It Hiong sudah siap sedia, ia tidak menjadi bingung, dengan tak kurang cepatnya ia memutar pedangnya sambil tubuhnya ikut berputar juga, membela diri dari pelbagai tikaman itu.

Oleh karena ke empat nona berputaran terus, tikamannya juga datang bertubi-tubi tak hentinya.

Hebatnya ialah pedang mereka itu sukar dapat diatas pedang mustika kalau tidak pastilah semua sudah kena dikutungkan.

Pertempuran berlangsung terus.

Tetap si anak muda dikurung, saban-saban ia ditikam, selalu ia menangkis menghindar diri dari bahaya.

Belum berapa kali ia mencoba membalas menyerang, senantiasa ia gagal.

Nona-nona itu sangat lincah.

Maka berlarut-larut pertempuran itu, tampak saja orang berputaran dan sinar-sinar pedang berkelebatan.

Rupanya si anak muda mau dibikin letih.

Tapi percobaan lawan gagal.

Si anak muda, berkat darah belut emas menjadi luar biasa.

Lewat sekian lama maka terlihatlah suatu perubahan.

Gerak geriknya nona-nona itu mulai menjadi kendor.

Teranglah bahwa mereka kalah kekuatan.

Hal ini dapat dihati si anak muda.

Ia lantas menggunakan kesempatan.

Maka lewat pula beberapa waktu, keadaan lantas menjadi berbalik.

Dari pihak penyerang nona-nona itu menjadi pihak yang diserang.

Hingga mereka harus membela diri saja.

Selain kalah giat, nona itu juga kalah lihai dalam ilmu pedang.

Kalau tadi mereka menang diatas angin, itulah sebab mereka mengandalkan kedudukan tiu serta tenaga kurungan, mereka dapat bekerja sama dengan sempuna.

"Aduh !"

Mendadak ke empat nona-nona itu menjerit dengan berbareng.

Itulah sebab It Hiong menyerang dengan tiba-tiba, membabat kutung ujung pedang mereka itu disaat mereka repot mengurung diri.

Dengan terpaksa mereka melompat mundur empat tindak, kalaupun tidak, mereka bisa menjadi korban ujunnya Keng Hong Kiam.

Selekasnya ke empat nona itu mundur maka delapan nona dianara Pat Kwa Tiu lantas menggantikan tempatnya, terus saja mereka itu maju mengurung sambil menyerang.

Penyerangan teratur sama-sama seperti Su Ciang Tiu tadi.

Bahkan mereka berdelapan orang !

Menyusul pengepungan Pat Kwa Tiu itu suara bangsi terdengar pula.

Kembali Kwie Tiok Giam Po memperdengarkan lagunya yang menggoncangkan hari itu, bahkan kali ini nadanya berlainan dari tinggi dan keras menjadi halus dan sedih, bagaikan kera-kera sesamputan di dalam lembah.

It Hiong telah mengerahkan tenaga dalamnya ia dapat berlatih Hian Bun Sian Thian Khie kang dengan sempurna.

Ia tidak menghiraukan lagu yang hebat itu, ia hanya melayani dengan seksama kedelapan lawannya.

Mereka itu tenaga-tenaga baru, mereka terlebih hebat dari Su Ciang Tiu tadi.Kembali tak ada pedang yang bentrok satu sama lain saking pandainya si nona menggunakan masingmasing genggamannya.

Kembali yang tampak hanya bayang-bayangan yang berkelebatan dan sinar-sinar pedang yang berkeredepan.

It Hiong dapat bertahan walaupun ia dikepung hebat.

Pedangnya lihai dan tenaganya cukup.

Ia melayani dengan tak kalah gesitnya.

Disamping itu suara bangsi masih tetap mengalun.

Rupanya Kwie Tiok Giam Po penasaran, dan mencoba terus lagunya itu guna meruntuhkan semangat orang.

Belum terlalu lama atau seruan nyaring, merdu terdengar riuh, lantas ke empat nona dari Su Ciang Tiu yang tadi beristirahat maju pula guna membantui kawan-kawannya dari Pat Kwa Tiu.

Dengan demikian It Hiong menjadi dikepung selusin nona-nona itu.

Pertempuran dahsyat itu membikin heran dan kagum orang-orang Losat Bun yang berkumpul diluar tiu.

Bahkan Kwie Tiok Giam Po sendiri tidak menjadi kecuali hingga wajah berkeriputannya menjadi semakin menjadi-jadi.

Disatu pihak dia ingin menjatuhkan si anak muda, di lain pihak dia menyayangi kepandaian orang yang luar biasa itu tetapi disebelah itu, dia pula sangat penasaran, sebab dia tidak dapat segera merobohkan lawan itu.

Dan sang penasaran membuat hatinya panas.

Hingga dia memikir buat menggunakan lain macam ilmu kepandaiannya yaitu "Siu lo It Khie kang"

Atau "Kekuatan Bajingan Asmara"

Itulah suatu lagu lain daripada "Bie Ciu Toan Hua"

Yang lihai tadi.

Ketika itu sang putri malam sudah bergeser ke tengahtengah langit, cahaya putih peraknya memenuhi jagad hingga segala apa di medan pertempuran dan sekitarnya itu tampak terang sekali.

Sudah begitu dari segala penjuru ada sinarnya banyak obor.

Lagi-lagi It Hiong menghadapi kesukaran yang membuatnya pening dan penasaran.

Buat melindungi keselamatan dirinya ia telah keluarkan kepandaian ajaran gurunya dan juga yang dari kitab pusaka.

Buat sementara ia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali membela diri dengan waspada.

Si nyonya tua agak bingung ketika dia memperoleh kenyataan pengepungan kali ini jika tidak lantas memberikan hasil bahkan ia kuatir kedua belas muridnya itu nanti keburu kehabisan tenaga seperti empat muridnya yang pertama.

Kalau mereka itu gagal, itu semuanya sia-sia, berarti kedua tiunya itu tak dapat ditambal lagi, bahkan akan musnah karenanya hingga namanya bakal turut runtuh....

Dengan tiba-tiba saja suara bangsi dihentikan, diakhirkan dengan dua tekukan suara seperti suaranya burung bajingan.

Menyusul itu kedua belas nona-nona juga sudah lantas berhenti bersilat secara berbareng, semua lantas berdiri diam dalam kedudukannya masing-masing, tak bergerak, tak bersuara.

It Hiong heran hingga ia pun berdiri diam bahkan tercengang.

Tak tahu ia lawan mau menggunakan cara apa lagi.

Sebenarnya ada niatnya akan menerobos tetapi ia raguragu karena kuatir musuh nanti mempunyai perangkap lainnya.

Ia pula ingat walaupun ia tangguh, ia merasa letih juga.

Ia sudah berkelahi terlalu lama dan telah menggunakan banyak sekali tenaga.

Ia pula segera ingat pepatah yang berupa pantangan kaum rimba persilatan .

"Musuh tidak bergerak, kita tidak bergerak. Kalau musuh mau bergerak, kita harus mendahului". Maka tidak ayal lagi ia menjatuhkan diri untuk duduk bersila guna meluruskan jalan nafasnya buat beristirahat sambil mengumpulkan tenaganya, ia berwaspada supaya ia tidak sampai dibokong lawan. Begitulah, karena kedua belah pihak berdiam, sunyilah medan pertempuran itu, kecuali siurannya sang angin malam. Sinar rembulan membuat semua pedang kadang-kadang berkilauan. Lewat waktu sesantapan lamanya, tiba-tiba suara bangsi terdengar pula. Kali ini suara itu tinggi dan tajam, tajam seumpama kata dapat "Menjeblos mega dan memecah batu", suara itu bagaikan mengalun naik ke langit. Siapa mendengar lagu itu, telinganya terasa nyeri. Sebagai susulan dari suara bangsi, pihak Losat Bun tidak menggerakkan tiu-nya seperti semula tadi. Orang-orang Losat Bun itu benar pada bergerak hanya bukan buat maju menyerang tetapi justru buat berbaris kembali ke sarang mereka, bahkan Cie Ciu Koan In Lau Hong Hui turut mundur bersama. Hingga di dalam waktu yang pendek semua mereka tak nampak lagi bayangannya. Kecuali kedua belas nona-nona dari Su Ciang Tiu dan pat Kwa Tiu serta pemimpinnya si nenek keriputan yang lihai itu. Tapi kedua belas nona itu pun tidak berdiri seperti patung hanya mereka telah melepaskan ikat rambut di dahi mereka akan memakai pengikat itu buat membungkus kepala mereka berikut telinganya masing-masing rupanya guna mencegah gangguan lagu aneh itu. Sebab mereka menutup juga muka mereka, sekarang mereka nampak mirip bangsa iblis. Selagi kawanan Losat Bun membuat gerak gerik yang aneh itu, It Hiong juga sudah selesai beristirahat, hingga pulihlah kesegarannya. Ia mendapat lihat gerak gerik orang, ia heran. Ia menerka mungkin bakal terjadi lagi sesuatu. Maka ia bersiap sedia. Hanya ia tidak bangun berdiri. Ia tetap duduk bersila. Diam-diam saja ia memasang mata dan telinganya. Lagu Siulo I Khie kang dari Kwie Tiok Giam Po jahat sekali. Itu bukan lagu belaka, hanya racunnya dia telah sebar dengan jalan lagunya itu. Siapa mendengar lagu itu, sendirinya ia telah kemasukan racun tanpa ia merasa, riangnya orang bisa menjadi kalap, hebatnya mati dalam waktu beberapa jam kemudian, tanpa ada obatnya... Mulanya lagu itu tak keras tak lemah, lembut bagaikan nyanyian burung, mirip seumpama air mengalir atau mega melayan-layang. lagu itu beda pula disambutnya oleh kedua belas nona-nona tadi. Tiba-tiba mereka bergerak-gerak menurut lagu, mirip orang lagi menari sambil berlompatan, untuk saling menukar kedudukan, seperti lawan kupu-kupu terbang berpindahan, hanya setelah itu barulah mereka berputaran memutari si anak muda. Pedang mereka berkilauan tetapi mereka tidak menyerang si anak muda itu. It Hiong menggunakan tenaga dari Hian Bun SIna Thina Khie kang guna menentang lagunya si nenek keriput. Ia berhasil menyelamatkan diri dari lagu beracun itu. Hanya ia tidak tahu tentang bahanya itu sebab ia tak kenal akan ilmu jahat si nenek bajingan. Terus ia berdiam, terus memasang mata. Si nenek sebaliknya penasaran. Tiba-tiba dia telah merubah nada lagunya itu menjadi keras sekali bagaikan badai, bagaikan gelombang dahsyat seperti bergeraknya tentara dari berlaksa jiwa. Kali ini It Hiong terkejut. Hien Bun Sian Thian Khie kang tangguh tetapi dalam halnya latihan, ia kalah lama daripada si nenek. Lama-lama ada juga racun yang menyerang masuk ke antara tiga puluh enam jalan darahnya. Tiba-tiba saja ia merasakan kesehatannya terganggu dan jalan darahnya tak lurus lagi, lalu sebelum ia tahu apa-apa, tubuhnya roboh tak sadarkan diri ! Kwie Tiok Giam Po melihat lawan roboh, ia bersenyum iblis. Sementara itu tapi juga kedua belas nona-nona muridnya pada roboh sendirinya, semua pingsan seperti si anak muda. Kapan dia melihat murid-muridnya itu, dia terperanjat.

"Ah !"

Sesalnya.

"Karena aku hendak menempur bocah ini, aku sampai melupakan semua muridku. Mana mereka dapat bertahan dari laguku yang istimewa ?"

Lalu ia meninggalkan It Hiong, ia bertindak kepada sekalian muridnya, ingin ia membantu mereka.

Dengan menghampiri murid itu si nenek mesti datang dekat kepada It Hiong yang seperti terkurung para muridnya itu.

Perlahan-lahan majunya Kwie Tiok Giam Po justru ia baru sampai pada murid-muridnya mendadak It Hiong berlompat bangun, mukanya merah, matanya menyala, bersiul nyaring, dia lompat menyerang musuh itu !

Si nenek terkejut, ia tidak tahu bahwa si anak muda sudah terpengaruhkan lagunya.

Berkat ketangguhannya Hian Bun Sian Thian Khie kang serta khasiatnya darah belut emas, It Hiong tidak lantas roboh terbinasa.

Toh, dia itu semuanya berada dalam keadaan separuh sadar separuh kalap.

Justru ia sedang sadar itu, ia menyerang musuhnya.

Kwie Tiok Giam Po terkejut tetapi ia masih mempunyai kesehatan untuk berkelit, ia menggunakan tipu "Bayangan setan", tubuhnya melejit babas dari ujung pedang mustika.

Ia berkelit sambil lekas-lekas menoleh akan melihat lawan itu atau mendadak ia menjadi heran sekali.

Habis menyerang itu It Hiong bukan mengulangi serangannya yang gagal, ia justru berlompat lari ke arah dinding gunung !

"Kurang ajar"

Teriak si nenek saking gusar.

Maka lupalah ia pada murid-muridnya itu, terus ia lompat untuk lari menyusul anak muda.

It Hiong kabur dengan merasakan tubuhnya panas seperti bara, tetapi jantung dan nadinya belum kemasukan racun, ia tetap sebentar sadar, sebentar kalap.

Adalah diwaktu sadar ia mengerti akan keadaan dirinya itu, maka ingat yang utama ialah selekasnya bisa lari turun dari Ay Lao San, sebaliknya disaat kalap dia lari terus ke dinding gunung diluar tahunya.

Demikian tanpa merasa ia sampai ditepinya jurang, didalam mana terdengar suara air mengerocok keras.

Lantas ia ingat untuk mandi guna menghilangi rasa panas hebat itu.

Tanpa berpikir lagi ia loncat ke dalam jurang itu sebab ia percaya itulah tentu sebuah kali !

Kwie Tiok Giam Po dapat lari keras tetapi dia tidak sanggup menyusul si anak muda, segera setelah satu tikungan ia kehilangan si anak muda itu.

terpaksa ia tidak bisa lari dan mesti berjalan dengan perlahan-lahan guna mencari musuhnya.

Ia mengikuti tepian puncak, memasuki rimba dan setiap gua besar atau kecil.

Sia-sia saja ia mencari sampai fajar tiba, hingga dengan mudah ia bisa melihat segala apa dengan nyata disekitarnya itu.

"Hei, bocah !"

Katanya sengit.

"Kau dapat lolos dari tanganku tetapi tidak nanti dari racunku ! Apakah kau menyangka kau masih dapat berlalu dengan masih hidup dari gunungku ini ? Hm !"

Lalu dia tertawa berkakakan. Setelah itu dia ngeloyor pergi untuk pulang ke sarangnya, markas Losat Bun. Sekarang kita kembali dahulu pada Pek Giok Peng, habis ia "membujuki"

Gak Hong Kun agar pemuda she Gak itu mau mencari Hauw Yan, anaknya yang diculiknya itu.

Hong Kun agak tenang, tetapi dia selalu mencari ketika akan terus mendekati bekas kekasihnya itu.

Sebaliknya ia mencoba selalu menghindar diri dari Pek Thian Liong dan orangnya.

Pada suatu hari, waktu tiba disebuah tempat yang dipanggil Liong poat diperbatasan kedua propinsi Ouwlam dan Ouwpak.

Mereka bertemu seorang setengah tua yang punggungnya menggendol sepasang pukang, orang mana bukan lain daripada Teng It Beng, saudara angkatnya Hong Kun.

Dia baru kembali dari daerah perbatasan dan tengah mencari saudara angkatnya ini.

Dari jauh-jauh, It Beng sudah dapat melihat rombongannya Hong Kun itu.

Hong Kun berdampingan dengan Giok Peng, di belakang mereka turut pula seorang muda serta beberapa pengiringnya yang berseragam hitam serta membekal golok.

Mereka ini ialah Thian Liong dan orang-orangnya itu.

"Adik Hong Kun ! Adik Hong Kun !"

It Beng lantas memanggil-manggi sambil dia berdiri ditepi jalan. Hong Kun segera mengangkat kepalanya.

"Oo... Kakak It Beng !"

Serunya keras.

"Kakak, kapan kau kembali ?"

It Beng menjawab .

"Sepulang dari daerah perbatasan aku menuju langsung ke Heng San. Di sana aku menemukan tempat kosong, adikku. Gurumu, It Yap Totiang telah turun gunung. Tak kusangka disini aku bertemu denganmu "

Kemudian dia mengawasi Giok Peng, nampaknya dia heran, terus dia tanya .

"Adik, kau berdua bersama Nona Pek sekalian, kemanakah kalian hendak pergi ?"

Hong Kun menghela nafas.

"Peruntunganku buruk."

Katanya masgul.

"Aku gagal dalam urusan asmara."

It Beng tertawa.

"Bukankah sekarang kau ada bersama Nona Pek ?"

Tanyanya heran. Ada apakah diantara kalian berdua ?"

Terus ia menatap si nona. Alisnya Giok Peng terbangun. Tak puas ia dengan katakatanya pemuda she Gak itu. Ia pula tak senang terhadap gerak geriknya It Beng. Maka ia kata gusar .

"Orang she Tang, kalau kau bicara hargailah derajatmu. Kenapa kau bicara sembarangan begini ? Apa kau tak takut nanti turun derajatmu sebagai pahlawan istana ?"

It Beng heran, ia menerka kepada sesuatu yagn tak beres. Maka lenyaplah tawa atau senyumnya itu. Ia pun segera kata pada adik angkatnya itu .

"Adik, mari turut aku mencari satu tempat dimana kita bisa memasang omong semalam suntuk !"

Terus saja dia menarik tangan orang buat diajak pergi. Giok Peng berlompat maju guna menghadang.

"Tahan !"

Bentaknya. Ia pun menghunus pedangnya. It Beng menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.

"Apa ?"

Dia tanya.

"Tak dapat aku membiarkan Hong Kun pergi !"

Berkata si nona keras.

"Dia telah menculik anakku ! Tak boleh dia kabur !"

Thian Liong dan orang-orangnya sudah lantas menghampiri.

It Beng heran hingga ia melengak.

Lantas dia mengawasi Hong Kun.

Adik angkat itu tunduk dan bungkam, tampangnya likat.

Dia lantas menerka pada sesuatu.

Maka dia memberi hormat pada Giok Peng seraya berkata .

"Nona, aku minta sukalah kau memberi muka padaku ! Bagaimana kalau urusan anakmu itu kau serahkan tanggung jawab padaku ?"

"Nonamu tidak berurusan dengan siapa juga"

Sahut Giok Peng kaku.

"Selama dia belum mengembalikan anakku, Hong Kun tidak dapat meninggalkan aku !"

Panas hatinya It Beng hingga ia menghunus pedangnya.

"Pek Giok Peng !"

Katanya sengit.

"kau tanyaitu dirimu, sanggupkah kau menentang pedangku yang panjang ini ?"

Giok Peng gusar hingga ia lantas menikam bekas pengawal kaisar itu. It Beng menangkis dengan keras, niatnya buat membikin pedang si nona terpental guna memperlihatkan ilmu pedangnya yang lihai.

"Trang !"

Demikian suara pedang beradu keras.

Lantas It Beng terperanjat.

Ia melihat si nona mundur satu tindak tetapi ia sendiri mundur satu tindak juga.

Itulah bukti berimbangnya tenaga mereka berdua.

Sudah begitu, si nona sudah lantas menikam pula !

"Tahan adik Peng !"

Hong Kun berseru mencegah.

"Baik kau bunuh Hong Kun saja. Buat apa kau menjadi gusar begini ?"

Dan ia lompat maju untuk menghadang pedang ! Tidak ada niatnya Giok Peng membinasakan pemuda itu. Ia cuma ingin anaknya didapat pulang. Melihat orang mengajukan tubuhnya, ia menarik pulang pedangnya.

"Tak kusangka kau begini hina dina !"

Bentaknya.

"Kau berani melindungi orang dengan jiwamu ! Hm !"

Tanpa merasa si nona meneteskan airmatanya saking jengkelnya.

Teng It Beng berdiri menjublak, ia heran sekali menyaksikan pemandangan di depan matanya itu.

Pek Thian Liong dan rombongannya pun terdiam.

Tak ada perlunya buat mereka campur bicara.

Justru itu dari kejauhan dari arah belakang mereka terlihat datangnya serombongan penunggang kuda yang mendatangi secara cepat sekali.

Ketika Pek Thiang Liong mengawasi, ia mengenali adiknya Siauw Houw datang bersama delapan orangnya yang semua membekal golok.

Segera ia lari menyambut.

"Ada kabar tentang Hauw Yan ?"

Kakak ini mendahului menegur. Siauw Houw mengawasi kepada Hong Kun, ia lantas menarik tangan kakaknya itu, untuk dibisiki atas mana si kakak memperlihatkan tampang senang.

"Adik !"

Ia lantas berkata pada Giok Peng.

"Karena saudara Teng ini suka bertanggung jawab terhadap anak Hauw Yan, kau terimalah tawarannya ! Buat orang Kang Ouw sejati, sepatah katanya berarti seribu kati emas ! Biarkan saudara Gak turut padanya. Tak usah kita berbuat kerukunan kita terganggu karenanya......"

Kemudian mengawasi It Beng, ia meneruskan .

"Saudara Teng, kaulah seoarang yang dapat dipercaya, aku percaya kau tak bakal membuat adikku kecewa dan menyesal ! Nah, saudara Teng silakan !"

It Beng tidak dapat menerka kabarnya Siuaw Houw kabar apa itu, tetapi ia lantas menjawab .

"Akan aku membuat penyelidikan, nanti pastilah aku akan datang memberi kabar. Nah, maaf tak dapat aku menemani kalian terlebih lama pula !"

Berkata begitu It Beng menarik tangannya Hong Kun buat diajak berjalan dengan cepat.

Pemuda she Gak itu berpaling kepada Giok Peng, mau ia bicara tetapi batal.

Cuma wajahnya menunjukkan dia likat, jengah sendirinya.

Giok Peng mengawasi orang berlalu.

Ia membiarkan orang pergi karena ia percaya Siauw Houw si kakak nomor dua membawa berita baik.

Bukankah Thian Liong nampak girang ?

Selekasnya It Beng dan Hong Kun sudah pergi jauh, Siauw Houw mengajak kakaknya menghampiri Giok Peng si adik buat menyampaikan beritanya.

Itulah halnya ia yang mencari Houw Yan si keponakan cilik setibanya di Siulam telah bertemu dengan Tan Hong si nona yang bersenjatakan sanho pang serta di rumah makan dan penginapan bertemu dengan Whie Hoay Giok, kakak seperguruannya It Hiong.

Dia akhirnya ia kasih tahu juga halnya Tan Hong mau menyerahkan Hauw Yan pada It Hiong sendiri.

"Maka itu adik, perlu kau lekas menyusul mereka itu !"

Kata Siauw Houw.

Sementara itu Giok Peng telah menerka bahwa orang yang telah menculik Hauw Yan dari tangannya Hong Kun di rumah makan adalah Tan Hong cuma ia belum mendapat kepastian.

Sekarang ia mendengar keterangannya Siauw Houw, ia menjadi girang berbareng terkejut.

Terkejut karena kekuatiran......

Girang sebab berada ditangannya Tan Hong, Houw Yan pasti tak kurang suatu apa.

Yang ia kuatirkan ialah Tan Hong nanti "merampas"

It Hiong, sebab nona she Tan itu pastilah demikian baik hati melulu guna mengambil hatinya si pemuda.

Maka itu, dengan rupa perasaan itu bercampur menjadi satu, ia sampai tak dapat berkatai apa-apa atas wartanya Siauw Houw itu....

"Adik"

Kata Thian Liong kemudian.

"Nona Tan Hong itu orang kaum sesat, dia baik dengan kau dan saudara It Hiong, dapatkah kau menerka kalau-kalau tindakannya itu disebabkan sesuatu maksud ?"

Ditanya kakaknya itu, Giok Peng bagaikan terasadar.

"Kakak, Hauw Yan tak akan kurang suatu apa"

Kata ia yang tak mau menjawab pertanyaan orang.

"meski demikian hendak aku menemukan adik Hiong supaya hatiku menjadi tenang. Baiklah kakak berdua pulang saja."

"Aku ingin menemani kau, adik"

Berkata Siauw Houw.

"supaya dimana yang perlu dapat aku membantumu. Aku pula telah berjanji dengan saudara Whie Hoay Giok untuk bertemu dikaki gunung Kiu Kiong San. Lebih daripada itu, hatiku baru lega benar-benar, sesudahnya Hauw Yan kembali dalam pelukanmu !"

Giok Peng tidak dapat menolak kakaknya itu, maka lantas Thian Liong memberikan dua orang pengiring buat kedua adik itu, ia sendiri terus pulang, bersama sekalian pengiringnya adik.

Di hari besoknya Giok Peng dan rombongannya sudah dalam perjalanannya ke Kiu Kiong San.

Untuk girangnya ibu ini telah bertemu dengan putranya yang ada bersama Kiauw In.

Cuma walaupun girang hatinya toh belum lega seluruhnya.

Sebab ia masih pikirkan urusannya Tan Hong.

Karena bujukan hatinya sangat keras dengan mesti ia tanyakan Kiauw In tentang Nona Tan dari golongan sesat itu....

Kiauw In tertawa.

"Adik Peng"

Katanya manis.

"Kita kaum wanita, mata kita harus dibuka sedikit lebih lebar, dengan cara demikian barulah kita akan mendapati atau menikmati kebahagiaan yang sejati. Kau sekarang berpikir begini rupa bukankah itu berarti kau mencari keruwetan pikiranmu sendiri ? Kau kenal baik adik Hiong, dia bukan pria yang kemaruk dengan bunga-bunga. Kenapakah kau berpikir tidak karuan ?"

Giok Peng jujur, ia memiliki sifat laki-laki, mendengar suaranya Nona Cio yang begitu sabar dan halus, ia jengah sendirinya.

Ia merasa bahwa ia sangat cupet kalau dipadu dengan nona itu.

Kiauw In polos dan hatinya lapang, ia sebaliknya, ia suka merasa jelus hingga ia sudah bercemburu....

"Kakak benar !' katanya kemudian tertawa sambil mengawasi nona yang cantik luwes itu.

"Kakak, kata-katamu adalah kata-kata emas. Sungguh kaulah guruku yang pandai !"

Kiauw In bersenyum.

"Adik, apakah kau ada menerima petunjuk dari Paman In ?"

Tanyanya.

"Tidak"

Sahut Giok Peng cepat.

"Apa kabar dari Paman In ?"

"Di tengah jalan, aku bertemu dengan pendeta murid Siauw Lim Pay"

Kata Kiauw In.

"Dia menyampaikan pesan lisan dari Paman In, katanya karena saat pertemuan besar di Tay San sudah mendatangi semakin dekat, maka kita bertiga dianjurkan untuk lekas kembali ke Siauw Sit san. Tinggal halnya adik Hiong. Ia pergi ke Ay Lao San, guna membantu pamannya, entah bagaimana hasilnya, tak tahu ia bakal lekas kembali atau tidak...."

Giok Peng berdiam, untuk berpikir, kemudian ia berkata .

"Kalau begitu, sekarang terserah kepada kau, kakak. Kita berdua pulang dahulu ke Liok Tiok Po atau kita berangkat langsung ke Siauw Sit San, atau kita menyusul ke Ay Lao San ! Bagaimana pendapat kakak ?"

Kiauw In berpikir keras.

"Sudah lama adik Hiong pergi ke Ay Lao San, kalau kita menyusul ke sana, mungkin kita menyia-nyiakan waktu saja"

Sahutnya kemudian.

"Bagaimana kalau kita pergi dahulu ke Siauw Sit San, untuk di sana kita mendengar apa katanya Paman In ? Kitapun jadi tak usah membuat paman mengharap-harap kita...."

"Mama !"

Hauw Yan menyela, selagi ia dipeluk ibunya.

"Mama, mana nenek ? Aku pun ingin main-main bersama kakak Kuil..."

Mendengar suaranya sang keponakan, Siauw Houw mendapat pikiran.

"Adik"

Berkata dia.

"saat ini saat banyaknya urusan kaum Kang Ouw, dengan kau membawa-bawa Hauw Yan, mana dapat kau menghadiri pertemuan di gunung Tay San itu ? Aku pikir baiklah aku yang ajak Hauw Yan pulang, supaya ibu yang merawatinya. Bukankah itu lebih sempurna ?"

"Begitu pun baik."

Sahut Giok Peng. Memang berasa akan ia membawa-bawa anaknya itu, yang belum tahu apa-apa tetapi waktu ia menyerahkan anaknya itu, ia merasa berat. Kata ia pada anaknya .

"Hauw Yan, anak baik, pergilah kau pulang bersama pamanmu ini, untuk menemui nenekmu dan kakak Kuil..."

Hauw Yan membuka matanya lebar-lebar. Ia mengasi ibunya dan juga Kiauw In.

"Mama !"

Panggilnya.

"Mama !"

Siauw Houw lantas menyambuti keponakannya itu, ia mengucapkan selamat berpisah dari adiknya itu dan Nona Cio, terus bersama dua orang pengiringnya, ia berangkat pulang.

Syukur keponakan itu mendengar kata dan tak ribut memanggil ibunya.

Giok Peng berdua Kiauw In mengawasi sampai orang sudah pergi jauh, baru mereka pun melanjuti perjalanan mereka dengan tujuan Siauw Sit San.

Sementara itu Hong Kun, yang diajak It Beng, hari itu setelah melakukan perjalanan belasan lie, baru mereka mampir disebuah dusun, untuk mencari penginapan, buat mandi, bersantap didalam kamar mereka, sembari mengisi perut, mereka bicara banyak tentang masing-masing selama perpisahan mereka berdua.

"Kita berpisah baru beberapa bulan, adik"

Berkata It Beng.

"sekarang aku melihat kesehatanmu seperti sangat terganggu. Kau tak segagah dahulu ! Adik, itulah hebat asmara. Karena itu, baiklah kau singkirkan itu dari hatimu ! Kau tahu sendiri, sangat banyak nona-nona yang cantik !"

Hong Kun meletakkan cawan araknya. Dia menghela nafas.

"Aku bukannya setan paras elok, kakak !"

Katanya.

"Cuma cinta itu ada yang tunggal ! Sulit buat aku membebaskan diri dari itu ! Aku pula tidak puas Tio It Hiong telah merampas pacarku ! Inilah sebab yang membuat kesehatanku, lahir dan batin menjadi begini rupa...."

"Tio It Hiong dan Pek Giok Peng telah menjadi suami isteri, umum mengetahuinya"

Kata It Beng pelan.

"Taruh kata karena Giok Peng mengingatmu dan dia meninggalkan It Hiong, masih tidak dapat kau menikah dengannya ! Itulah tak dapat terjadi, saudaraku, Kalaupun berbuat demikian, nama baikmu bakal menjadi runtuh ! Kenapa mesti menyiksa diri sendiri ?"

Hong Kun berdiam. Dia mengangkat kepalanya, dia meneguk araknya. Nampak dia jengah, malu sendirinya.

"Habis, kakak, kau ingin aku berbuat apakah ?"

Tanya dia. Ditanya begitu It Beng melengak.

"Sekarang ini, adikku, kau lupakan dahulu soal asmaramu ini."

Katanya kemudian.

"Mari kita lakukan sesuatu, supaya tak kecewa kepandaian kita ini !"

"Kau benar, kakak, ingin aku menuruti nasehatmu. Cuma aku, Gak Hong Kun, aku dapat membedakan budi dan penasaran ! Biar bagaimana, tak dapat aku lupakan halnya pacarku telah dirampas orang !"

"Mari minum, adik !"

Kata It Beng yang mengangkat cawannya.

"Adik, asal kau dapat melupakan Pek Giok Peng, aku mempunyai jalan buat kau melampiaskan penasaranmu ini !"

Hong Kun agak tertarik hatinya.

"Benarkah itu, kakak ?"

Tanyanya.

It Beng tertawa.

Hong Kun melengak sejenak, lekas-lekas ia mengiringi cawannya.

Ia merasa sudah ketelepasan bicara.

It Beng lakilaki sejati, tidak nanti dia mendusta, apapula terhadap ia sendiri.

It Beng mengawasi orang dengan tampang sungguhsungguh.

"Kita bagaikan saudara kandung satu dengan lain, tak nanti bergurau denganmu, adik !"

Katanya kemudian.

"Kau tahu, dalam perjalananku kali ini aku berhasil mendapatkan serupa ilmu untuk merubah wajah orang. Aku anggap ilmuku ini ada faedahnya untukmu adik !"

Hong Kun nampak girang.

"Coba kau jelaskan, kakak"

Pintanya.

"Apakah faedahnya itu ?"

"Kau tahu saudaraku, kepandaianku ini jika kau gunakan, faedahnya itu merupakan sebuah batu mendapatkan dua ekor burung !"

Kata sang kakak angkat menjelaskan.

"Percaya aku, faedahnya akan bukan main besarnya !"

Lantas kakak angkat ini berbisik ditelinga adiknya itu. Hong Kun bertepuk-tepuk tangan.

"Bagus ! Bagus sekali !"

Dia berseru kegirangan.

"Sungguh bagus akalmu ini, kakak. Hahaha !"

"Hanya adikku"

Berkata pula It Beng.

"Jika kau hendak melakukan itu, kau harus dengan tekad bulat, dengan rada kejam ! Di sini bakal diadakannya pertemuan besar di gunung Tay San itu, kau membuat kacau dunia rimba persilatan, kaum sadar dan lurus setelah itu maka lantaslah Tio It Hiong, lawanmu dalam laut asmara itu, bakal menjadi manusia yang paling dibenci dan dikutuk laksaan orang selama ribuan tahun, dia bakal menjadi orang berdosa besar kaum rimba persilatan ! Inilah pasti akan lebih memuaskan daripada turun tangan sendiri menyingkirkan jiwanya...."

"Kakak"

Tanya Hong Kun setelah mengangguk-angguk.

"Berapa lamakah waktu yang dibutuhkan olehmu guna kau membuat obatmu itu hingga dapat aku gunakan ?"

It Beng tertawa.

"Jangan tak sabaran, adikku !"

Katanya.

"Kedua rupa bahan obatnya telah aku sedia dan membuatnya pun mudah sekali."

Hong Kun girang tetapi toh ia mengerenyitkan sepasang alisnya.

"Wajahku dapat aku rubah, tetapi bagaimana dengan pedangku ?"

Tanya perlahan.

"Pedangku tak dapat disamakan pedang Keng Hong Kiam...."

It Beng menghirup araknya, alisnya terbangun.

"Itupun mudah, saudaraku"

Katanya tertawa.

"Dari daerah perbatasan, aku telah memperoleh pedang Kia Koat, dapat aku pinjamkan. Itu pedangmu. Pedang itu pedang tua dan tajamnya luar biasa, pasti dapat dibandingkan dengan Keng Hong Kiam. Melihat sinarnya saja orang sudah terkejut hingga aku percaya tak mudah orang mengenalinya."

It Beng mengeluarkan pedangnya itu dan menghunusnya. Benar-benar cahaya berkilau menyilaukan mata. Setelah memasuki pedang kembali ke dalam sarungnya, ia serahkan itu pada kawannya sambil bertanya.

"Nah, saudara, apa lagi yang kau kuatirkan ?"

Hong Kun menyambuti pedang, girangnya bukan buatan hingga ia menjura dalam pada kakak angkat itu sambil berkata .

"Kalau nanti aku berhasil melampiaskan penasaranku, itulah pemberian kau, kakak ! Aku tidak dapat mengucap terima kasih padamu, maka kau terima saja hormatku itu !"

It Beng tertawa, kedua tangannya dipakai mengasi tangan adik angkat itu.

"Kau sungkan, adik ! Sudah lama kita berpisah, mari kita minum dahulu hingga puas !"

Hong Kun menerima baik undangan itu, maka mereka mulai duduk pula, akan bersantap sambil minum sepuasnya.

Dalam girangnya, pemuda she Gak itu sampai bicara seenaknya saja, hingga ia lupa bahwa mereka berada di tempat minum.

Mereka tidak ingat bahwa tembok pun ada telinganya.

Tiba-tiba sesosok tubuh langsing dan lincah berkelebat mengintai diluar jendela, dengan begitu dia dapat mendengar semua pembicaraan diantara kedua saudara angkat itu.

Setelah merasa sudah mendengar cukup, orang itu lantas mengangkat kaki !

Siapakah orang itu ?

Baiklah kita meninggalkannya lebih dahulu, buat mendahului menengok kepada Whie Hoay Giok yang membawa pergi gurunya yang menjadi korban racun itu.

Bersama atau dibawah perlindungannya Tan Hong berhasil, berhasil ia turun dari Ay Lao San.

Rencana mereka adalah dari propinsi Ouwlam baru ke Holam, akan pergi ke kuil Siauw Lim Sie di gunung Siong San, guna mencari Liauw In, kakak gurunya buat minta tolong agar gurunya diobati.

Justru baru mereka tiba didekat perbatasan propinsi soecoan, mereka mendengar berita yang mengherankan dan mengejutkan mereka.

Itulah kabar hebat sekali !

Bunyinya berita itulah begini .

Tio It Hiong, muridnya Tek Cio Siangjin sudah menyatroni gunung Bu Tong San.

Di sana Tio It Hiong sudah menyerang dan membinasakan belasan murid Bu Tong pay serta membakar vihara Sam Goan Kiong, sedangkan di Ouwpak selatan, Tio It Hiong sudah membinasakan secara kejam empat orang Siauw Lim Pay !

Jilid 25 Hebat pula peristiwa terhadap keluarga Liok diwilayah sungai Siang Kang.

Dan Beng Theng Liok Cim, orang Kang Ouw kenamaan, yang sudah lama mengasingkan diri didalam satu malam habis seluruh keluarganya yang terdiri dari beberapa puluh jiwa!

Penyerangnya menggunakan pedang mestika dan piauw beracun.

Cuma Liok Cim sendiri yang selamat jiwanya tetapi sebelah lengannya terluka.

Berita itu sudah menggoncangkan dunia Kang Ouw.

Ketua Bu Tong Pay, Gouw Hian Tojin sudah lantas pulang dari kuil Siauw Lim Sie di Siong San, guna mengurus pembunuhan para murid-muridnya itu.

Sedangkan ketua Siauw Lim Sie sendiri, Pek Cut Taysu telah mengutus Ang Sian Taysu, adik seperguruannya yang berkedudukan sebagai Ciang Ih, untuk pergi merantau mencari Tio It Hiong untuk menyampaikan surat yang ditulis oleh Pat Pie Sin Kit, In Gwa Sian.

Hubungan diantara Hoay Giok dan It Hiong luar biasa kekalnya, maka juga ia mendengar berita tersebut.

Anak muda ini bingung bukan main.

Itulah sangat aneh dan sukar dipercaya!

Toh berita ini agaknya sangat pasti.

Tan Hong juga goncang hatinya.

Ia sangat menghargai dan mencintai It Hiong.

Dan ia kenal baik kegagahannya anak muda itu.

Sekarang tersiar berita hebat itu!

Benarkah itu?

Karena ini, keduanya sambil melakukan perjalanannya itu lantas mencoba melakukan penyelidikan.

Mereka menghendaki bukti yang nyata.

Pada suatu hari Hoay Giok tiba didusun Keng Liong tin ditepian propinsi Sucoan.

Tiba-tiba ia dan Tan Hong mendengar suara sangat berisik, terus mereka menyaksikan orang lari serabutan, berebut saling mendahului.

Agaknya seperti ada bencana besar mengancam mereka itu.

Tan Hong heran dia mencegat beberapa orang untuk diminta keterangan.

Ia mendapat jawaban berupa semua orang yang ditanya bungkam, mereka cuma mengeluarkan lidah dan menggeleng-gelengkan kepala!

"Gila!"

Teriak Tan Hong penasaran.

"Kakak Whie tunggu sebentar, aku akan pergi sebentar buat melihat apa yang sebenarnya terjadi!". Hoay Giok memikir lain.

"Baik kita pergi kepasar untuk terus mencari tempat istirahat,"

Katanya, Buat apa kita usil dengan orang lain?"

Belum lagi Tan Hong memberi jawaban, tampak seorang pemuda yang punggungnya terikat pedang tampak lari cepat sekali, bahkan dia lari disisinya si nona, sehingga nona itu harus menyampingkan tubuhnya supaya tidak terlanggar dan ketika ia melihat muka orang tersebut, iapun berpaling da memanggil .

"Adik Hiong! Adik Hiong!"

Anak muda itu terus lari bagaikan terbang, lekas sekali dia menghilang disebuah gang. Tan Hong melengak hingga tak ingat ia untuk menyusul, baru kemudian ia berkata .

"Orang itu mempunyai wajah sangat sama dengan adik Hiong! Hanya, kalau dia benar adik Hiong, kenapa dia melihat kita bertiga tapi dia kabur terus? Aneh!"

Hoay Giok tengah berjalan terus, ia tak sempat melihat wajah orang, ia cuma melihat sesudah orang lari lewat. Maka ia menjawab si nona.

"Didalam dunia memang ada orang yang segalanya mirip satu dengan lain Nona Tan, kau melihat hanya sekelebatan, mana dapat kau mengenalinya dengan baik?"

Beng Kee Eng dipunggungnya Hoay Giok mendengar pembicaraan muda-mudi itu.

"Kau benar anak Giok, tapi Nona Tan benar juga,"

Katanya.

"Mari lekas kita cari tempat beristirahat, di sana baru kita mencari keterangan...."

Tan Hong terdiam, ia hanya mempercepat langkah kakinya.

Setibanya dipasar maka di depan sebuah restoran ia melihat seorang pria setengah tua sedang duduk ditanah sambil memejamkan mata.

Dia tengah mengatur pernapasannya, baju didekat dadanya tampak berlumuran darah, tanda dari sebuah luka.

Di belakang dia terpisah kira-kira setombak lebih, tiga orang roboh sebagai mayat....

Ketika Whie Hoay Giok sudah dapat menyusul Tan Hong, hingga mereka datang dekat pada sekalian mayat itu, si anak muda mengenali orang yang terluka itu ialah Go Tauw Kong, murid ahli warisnya Pauw Pok Tojin dari partai Ceng Shia Pay.

Ia terkejut.

"Eh, cianpwe Go Tauw Kong!"

Sapanya.

"Kau kenapakah?"

Pertanyaan itu tidak mendapat jawaban, maka ia mengulanginya namun orang masih berdiam saja, hingga saking herannya, ia bertanya dan bertanya lagi.

Akhirnya orang itu membuka matanya, setelah melihat Hoay Giok dia lantas berkata kasar dan sengit .

"Tidak kusangka, muridnya sebuah partai persilatan yang sangat kenamaan tapi berprilaku kejam bukan main! Sudah dia mencuri pedang pusaka Ceng Shia Pay, diapun membunuh tiga orang adik seperguruan kami! Kau adalah manusia sebangsa ular dan tikus, bagaimana kau masih dapat berpurapura merasa kasihan dan menanyakan aku begini macam? Hm!"

Whie Hoay Giok melengak, terang itulah cacian atau teguran untuk partainya, ia jadi berpikir.

"Benarkah semua perbuatan busuk dan kejam itu perbuatannya adik Hiong, ditengah jalan baru aku mendengar berita saja, tapi sekarang aku mendapat buktinya.

Mustahil Go Tauw Kong memfitnah?

Tak mungkin!

Ah!....."

Ia menghela napas. Tapi iapun penasaran, ia berkata pula pada orang she Go itu.

"Cianpwe aku harap cianpwe jangan salah paham! Aku mohon sukalah cianpwe membuat penyelidikan dahulu.....menurut aku tak mungkin perbuatan ini perbuatannya Tio It Hiong, adik perguruanku itu...."

Matanya Go Tauw Kong mendelik.

"Tutup bacotmu!"

Bentaknya gusar bukan kepalang.

"Tak dapat kau berpura-pura untuk mengibul orang! Apakah katakatamu ini hanya untuk menutupi kejahatannya Tio It Hiong? Apa yang telah dia lakukan atas kami ini telah didahului dengan segala perbuatan keji dia yang lainnya! Dia sudah membakar kuil Sam Goan Kiong! Dia telah membunuh murid Siauw Lim Pay! Diapun telah membunuh keluarga Liok! Sekarang mencuri pusaka kami, membunuh saudarasaudaraku ini, juga melukai bahuku! Tak sempat aku bicara denganmu, maka pergilah kau!"

Habis berkata begitu, dengan menahan nyerinya.

Tauw Kiong berjingkrak bangun terus dengan tubuh masih limbung ia berjalan pergi dari situ!

Kembali Hoay Giok melongo, tak sempat ia bicara pula.

Lagipula apa yang dapat ia ucapkan?

Ia Cuma bisa merasa heran dan bingung.

Ia hanya berjalan menggendong gurunya menghampiri rumah penginapan.

Di sana ia mendapati Tan Hong sedang menangis dengan sangat sedih, mukanya penuh air mata....

Kee Eng dipunggung muridnya batuk-batuk perlahan.

"Kalian anak-anak muda, kalian tak dapat menguasai hati kalian."

Katanya perlahan.

"Hati kalian mudah sekali tergoncang! Dengan kurangnya ketenangan, mana dapat kalian hidup dalam dunia Kang Ouw? Untuk menghadapi mereka yang licik dan jahat, orang membutuhkan kesabaran...."

Kata-kata jago tua ini menyadarkan Hoay Giok dan Tan Hong, bahkan si nona sudah lantas berhenti menangis. Wajahnya Hoay Giok pun tak seseram semula.

"Locianpwe,"

Si nona lantas bertanya .

"Bagaimanakah pendapat locianpwe tentang peristiwa ini?"

"Jangan bingung nona,"

Berkata Kee Eng.

"Kita bicara sebentar didalam kamar."

Tan Hong suka menyabarkan diri, aka Hoay Giok segera memesan kamar.

Mereka pun membersihkan tubuh, habis itu duduk bersantap.

Dengan cepat sang waktu lewat, meeka baru dapat kesempatan bicara setelah tengah malam.

Tan Hong hampir hilang sabarnya.

Ia sangat mengkuatirkan keselamatan It Hiong.

Kalau benar pacarnya itu tersesat, sungguh hebat akibatnya nanti....

"Anak-anak mari kita bicara tenang,"

Kata Kee Eng sabar.

"Bukankah kita berpisah baru sepuluh hari lebih, bahkan sekarang mungkin dia sedang melayani pihak Losat Bun dengan Barisannya yang hebat! Dapatkah dia turun dari gunung musuh itu? Kalau toh dia berhasil apa mungkin dalam waktu sependek itu dia dapat melakukan semua perbuatannya itu seperti berita yang tersiar diluaran. Menyerbu, merampas dan membunuh orang? Lagi pula aku tahu baik sekali sifatnya anak Hiong. Dia tulus dan jujur, dia sangat menghormati gurunya, jadi aku tidak percaya dia dapat melakukan semua perbuatan yang merusak namanya sendiri serta perguruannya! Bukankah semua pihak yang bersangkutan itu . Siauw lim Pay, Bu tong Pay, keluarga Liok dan lainnya semua adalah kawan dan sahabat gurunya? Barusan kita melihat dia, katanya dia merampas barang pusakanya Ceng Shia Pay serta membunuh murid-muridnya. Walaupun demikian aku tetap bersangsi! Kalau toh kita harus kuatir, kita justru mengkuatirkan keselamatannya di Ay Lao san! Bagaimana dengan pertempuran itu? Dia selama bertempur berhari-hari menang atau kalah? Kalau dia menang dimana adanya dia sekarang? Kalau dia kalah bagaimana dengan nasibnya? Maka itu, kita baik kesampingkan soal lainnya...."

Hoay Giok membenarkan pandangan itu.

"Hanya suhu,"

Tanyanya.

"Habis siapakah orang yang mirip adik Hiong itu? Kenapa dua orang demikian mirip segalanya?"

"Jangan-jangan dialah musuhnya adik Hiong"

Berkata Tan Hong.

"Kalau orang tadi benar adik Hiong, kenapa bertemu dengan kita dia kabur terus? Ah, kalau saja aku sempat bertemu pula dengan orang itu, pasti menanya tegas-tegas kepadanya!"

Beng Kee Eng menarik napas dalam-dalam.

"Kau baik sekali teradap anak Hiong, Nona Tan,"

katanya.

"Disamping itu aku minta sukalah kau bersabar dan berhati-hati menghadapi manusia licik kita harus waspada.

Menurut perkiraanku, orang tadi bukan sembarang orang, dia pasti lihai sekali.

Sayang aku lagi keracunan hingga aku menjadi tak punya guna apa-apa, jika tidak demikian akan kucari sampai keujung langit guna menyingkirkannya!"

Tan Hong berdiam, begitupun Hoay Giok. Ketika itu mungkin sudah jam tiga. Dari luar jendela, sinarnya sang puteri malam tampak indah sekali, seluruh penginapan sangat tenang. Kee Eng menguap.

"Sudah jauh malam nona, silahkan kau kembali kekamarmu dan beristirahat,"

Katanya. Tan Hong berpaling ke arah jendela, ia melihat cahaya rembulan. Justru itu, ia melihat bayangan orang berkelebat hitam.

"Siapa?"

Tegurnya segera, sedangkan sebelah tangannya dikebutkan pada lilin untuk memadamkannya.

Dilain pihak ia segera menyiapkan senjatanya dan tubuhnya bergerak gesit untuk munduk dibawah jendela.

Hoay Giok dapat menerka apa artinya itu, dengan golok ditangan ia menempatkan diri di depan pembaringan guna melindungi gurunya.

Tiba-tiba berkilauan satu sinar pedang yang melesat kedalam kamar dengan melintasi mulut jendela.

Itulah sinar pedang yang bergerak kedalam mendahului tubuh pemiliknya, siapa telah berlompatan langsung ke arah Beng Kee Eng.

Hoay Giok telah memasang mata, ia sudah siap sedia, selekasnya ujung pedang meluncur ia menangkis dengan goloknya.

Tapi pedang itu mendadak ditarik pulang guna menangkis ke belakang untuk menyelamatkan dirinya.

Sebab sama cepatnya seperti dia sendiri, Tan Hong berdiri dan menyerang padanya!

Kedua senjata beradu keras tapi Sanho pang tak tertabas kutung.

Senjata itu licin dan pedangpun meleset karenanya.

Tapi sipemilik pedang menjadi sangat gusar.

Dia merasa bahwa dirinya dibokong, tanpa menyadari dialah yang lancang masuk kedalam kamar orang serta terus menyerang ke arah Kee Eng!

Dia lantas menyerang kepada si nona.

Sudah tentu Tan Hong bersiap melayani karena ia hendak melindungi Kee Eng.

Disamping itu iapun merasa gusar karena orang menyerang secara tiba-tiba dengan cara licik.

Penyerang itu tampaknya gusar sekali.

Dia menyerang dengan hebat, rupanya dia penasaran sebab maksudnya terhalang.

Sementara Hoay Giok masih tetap berjaga, dia tidak berani menjauhkan diri dari pembaringan.

Didalam kamar demikian sempit, ada kursi dan meja sehingga sipenyerang merasa tidak leluasa bergerak.

Lagipula lawannya pun dua orang.

Setelah ia gagal menusuk senjatanya ke arah Tan Hong, ia terus meloncat kejendela untuk melarikan diri.

Selama itu ia tak pernah membuka mulutnya, sedang kamar gelap gulita karena lilin sudah dipadamkan hingga mukanya tidak kelihatan.

Apa yang bisa diduga hanya itu potongan tubuhnya sama seperti potongan tubuh It Hiong!

Tan Hong melompat keluar kamar untuk mengejar orang itu.

Ia penasaran sekali siapa penyerang gelap itu?

Kalau benar itu It Hiong, iapun ingin mengetahui apa sebabnya dia menjadi berubah seperti itu.

Kedua orang berlari-lari dengan pesat, ilmu ringan tubuh mereka tampaknya seimbang.

Sesudah lari tujuh delapan lie, mereka tiba disebuah bukit kecil.

Disitu penyerang gelap itu memperlambat larinya, dia lari keatas bukit itu.

Tan Hong mempunyai nyali yang besar, ia terus mengejar.

Ia pun mendaki bukit itu.

Rembulan masih bersinar sehingga ia bisa melihat orang itu berhenti berlari dan duduk dibawah sebatang pohon cemara yang akarnya menonjol keluar.

Dia duduk dengan sebelah tangan dilututnya dan sebelah yang lain pada dagunya, dilihat dari samping dia mirip It Hiong.

Selagi lari menghampiri, hatinya Tan Hong goncang, ia menerka-nerka apa benar orang itu si adik It Hiong.

Selagi mendekati, ia berjalan perlahan matanya terus mengawasi dengan tajam.

Siapakah orang itu kalau bukannya Tio It Hiong, pacar idamannya yang tampan dan gagah?

Iapun percaya akan kilauan pedangnya si pemuda yang merupakan pedang mestika.

Ia maju sampai tinggal lima kaki dari orang tersebut, dia masih duduk diam seperti tengah berpikir keras.

"Siapakah kau?"

Tanya Tan Hong kemudian.

"Kenapa kau berdiam saja?"

Baru setelah ditegur orang itu mengangkat kepalanya untuk memandang si nona, ia lantas menghela napas.

"Habis aku harus bilang apa?"

Sahutnya balik bertanya. Tan Hong maju lagi dua tindak, ia menatap.

"Ah......"

Serunya tertahan, orang itu It Hiong adanya. Maka ia lantas bertanya pula .

"Eh, kau kenapakah? Kau memikirkan apa? Coba kau ceritakan itu padaku, maukah kau?"

Mendengar suara lebih jauh dari si nona, orang itu berkata .

"Kakak, apakah kakak belum tahu bahwa aku telah melakukan sesuatu yang merusak nama, yang aku lakukan selama hatiku kacau?"

Tan Hong melengak, ia tampak sangat berduka.

"Kenapa kau lakukan perbuatan itu?"

Tanyanya pula.

"Apakah itu disebabkan kesadaranmu telah dikacaukan oleh Kwie Tiok Giam Po?"

Tan Hong bertanya demikian karena goncangan hatinya itu, tapi ia justru terperangkap.

Sebab pemuda dihadapannya itu bukannya It Hiong melainkan Hong Kun yang menyamar dengan sempurna sekali.

Pantas It Beng memuji tinggi kepandaiannya menyamar itu, sampai Tan Hong sendiri kena disesatkan.

Hong Kun tidak kenal nona ini, maka juga dia tak mau sembarangan bicara karena si nona membahasakan diri kakak, dia dapat menerka sedikit hubungan diantara It Hiong dan nona ini, maka ia juga lantas mengikuti arah angina.

"Aku Tio It Hiong, sejak aku memasuki dunia Kang Ouw belum pernah aku melakukan sesuatu yang buruk, tapi setelah aku terkena racunnya Kwie Tiok Giam Po, pikiranku menjadi kacau, diwaktu begitu asal aku melihat orang, hendak aku menyerang dan membunuhnya dan hatiku baru puas sesudah aku melihat darah orang.

Kakak kau tolonglah aku....."

Tan Hong mengawasi, ia heran.

"Adik Hiong,"

Tanyanya.

"Bukankah kau membawa obat hosing ouw serta pil mujarab dari pendeta tua dari Bie Lek Sie? Kenapa kau tidak mau makan obat itu guna menghilangkan pengaruh racun tersebut?"

Ditanya begitu Hong Kun melengak, tapi hanya sebentar, dia lantas menjawab .

"Selama aku tak sadar disebabkan terkena racun, semua barangku telah dirampas, waktu sadar hendak aku bunuh diri tapi aku batal Karena aku ingat kau kakak. Sebenarnya aku mau denganmu menjadi sepasang burung yang dapat terbang bersama untuk hidup didunia yang bebas dan damai... Hebat niatnya Hong Kun, ia tertarik dengan nona ini dan ingin merampas milik orang yang paling berharga karena dengan begitu iapun dapat membalas dendam terhadap It Hiong. Sebenarnya ia juga membenci nona ini yang telah mengerjainya itu. Kalau sudah kehormatan si nona diambil, ia juga hendak merampas jiwanya. Bagaikan orang buta Tan Hong percaya benar pemuda di depannya adalah It Hiong yang asli. Hingga tak ada kecurigaannya kepada si anak muda. Ia seperti lupa segala, sambil tertawa ia bertanya .

"Dapatkah kau melupai kedua kakakmu Kiauw In dan Giok Peng?"

Orang yang ditanya tidak menjawab, hanya dia bangkit mendatangi, kedua tangannya lantas meraba ketubuh orang.

"Kakak!"

Katanya manis.

Tan Hong terkejut, biar bagaimana ia adalah seorang nona, ia mencintai It Hiong bukan Cuma disebabkan It Hiong tampan dan gagah, terutama gerak geriknya yang sopan santun.

Selama ia berkenalan dengan It Hiong, belum pernah It Hiong berlaku kurang ajar atau ceriwis, tapi sekarang ini.

Mendadak Tan Hong ingat pesannya Beng Kee Eng utnuk waspada.

Mendadak saja ia sadar, maka segera ia mengeluarkan senjatanya.

"Kau siapa?"

Tanyanya membentak.

"Kenapa kau berlaku begini kurang ajar?"

Sanho pang segera dilayangan ketubuh orang! Hong Kun lihai, mudah saja ia berkelit, ia tidak marah malah sebaliknya ia tertawa ceriwis.

"Eh kakak, apakah kau sudah menjadi gila?"

Tanyanya.

"Kau begini manis, kenapa kau tidak mengerti tentang kelembutan dan kenikmatannya? Ah, jangan nanti kau menyesal...."

Tan Hong mengawasi tajam.

Sekarang ia percaya benar bahwa orang ini It Hiong palsu.

Pasti dialah yang merusak namanya It Hiong, sang adik yang dicintai.

Ia menjadi sengit, ia hampir diperdayakan.

Hampir ia mengulangi serangannya, namun tiba-tiba ia ingat untuk membuka kedok orang dahulu.

Hong Kun mengawasi nona itu, menerka-nerka apa yang lagi dipikirkannya.

Hampir ia berkata pula namun ia pun ingat nona di depannya ini adalah si nona yang dirumah makan di Tiancu tiu yang sudah merampas Hauw Yan dari tangannya.

Ia tidak kenal Tan Hong namun pernah mendengar tentang Nona Tan Hong dari Hek Keng To, bagaimana cantiknya dan apa senjatanya.

Maka itu mendadak timbullah rasa bencinya serta keinginannya membalas sakit hati nya dahulu itu!

Buat sesaat mata tajam Hong Kun meyala mengawasi nona di depannya itu, tapi dasar cerdik dan licik masih dapat ia menguasai dirinya.

Begitulah dengan suara sabar ia berkata .

"Kakak, adikmu sungguh sangat bersyukur kepadamu sebab dengan susah payah kau telah berhasil menolong Hauw Yan dari tangan orang jahat. Kakak, dengan begitu kau membuat aku bertambah cinta kepadamu. Itulah sebabnya kenapa barusan aku berlaku sembrono, kakak kau maafkanlah aku....."

Didalam sekejap Hong Kun nampak lesu dan menyesal.

"Aneh!"

Pikir Tan Hong.

"Dia benar-benar adik It Hiong atau bukan? Kalau bukan, kenapa dia dapat bicara tentang Hauw Yan?"

"Itulah tidak berarti...."

Katanya, namun mendadak ia ingat satu orang ."Ah! Apa bukannya Gak Hong Kun?"

Maka ia segera membentak .

"Gak Hong Kun! Jangan kau main gila! Apa kau kira dapat mengelabuiku!"

Dan ia menatap tajam sekali.

Hong Kun terperanjat, parasnya berubah dengan tiba-tiba.

Akan tetapi dia tabah dan cerdik, lantas dia mendapat akal.

Maka dia mengangkat kepalanya, menatap puteri rembulan, habis itu ia berkata perlahan .

"Gak Hong Kun adalah musuhku dalam urusan asmara.....aku justru mau cari dia guna membuat perhitungan, maka menyebut nama dia, apakah dia muncul disini?"

Tan Hong tetap mengawasi, ia menjadi waswas .

Hong Kun atau It Hiong?

Gak Hong Kun juga mengawasi tajam, dia mengerti bahwa orang telah mencurigainya, maka ia hendak mendahului turun tangan, ia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah botol kecil, terus dibuka dan dikibaskannya, membuat isinya tersebar sambil ia berkata nyaring .

"Kakak, kau lihat harum bau apa! Dapatkah kau menciumnya?"

Tan Hong terperanjat karena orang memanggilnya itu , ketika ia terperanjat justru hidungnya telah mencium bau bubuk harum itu, terus ia berseru tertahan dan tubuhnya roboh tidak sadar lagi! "Hm!"

Hong Kun tertawa iblis.

"Sekarang baru kau tahu rasa budak bau! Berapa kali sudah kau menjual jiwamu untuk It Hiong, selalu menggagalkan usahaku maka sekarang hendak aku memuaskan hatiku atas dirimu! "

Tanpa ayal pula si anak muda berjongkok untukmengangkat tubuh orang, buat dipondong dan dibawa lari ke arah bukit yang penuh dengan pepohonan dan terdapat sebuah kali kecil.

Dahan-dahan dan daun pohon membuat tempat itu tak tembus oleh sinar rembulan.

Untuk girangnya si anak muda, dia justru melihat beberapa buah gubuk ditepi kali itu.

Tidak ada cahaya api didalam gubuk tentu penghuninya sedang tidur pikirnya.

Itulah yang ia kehendaki, dia pikir, asal tuan rumah dapat dikekang dia pasti bebas melakukan apa yang dia sukai.

Melihat cahaya rembulan, Hong Kun menerka waktu sudah mendekati jam empat, ia menghampiri sebuah gubuk terus menolak daun pntunya.

Ia mendapat kenyataan pintu itu tak terkunci.

Tanpa pikir panjang lagi ia masuk kedalam rumah.

Lebih dahulu ia menyalakan api, hingga ia melihat sebuah ruangan dengan segala perabotannya, kursi, meja dan lainnya yang terbuat dari kayu dan bamboo dan semuanyapun bersih.

Terus ia menyulut lilin yang berada diatas meja, setelah itu ia letaki tubuh si nona diatas kursi bambu, ia sendiri duduk dikursi satunya untuk beristirahat.

Sambil beristirahat itu, Hong Kun memandang kedinding, maka ia melihat sebuah holouw atau buli-buli tergantung didinding di depannya.

Ia bangkit untuk menurunkan buli-buli itu, waktu ia membukanya ia membaui arak yang harum.

"Sungguh menarik hati!"

Katanya dalam hati.

"Sudah ada wanita cantik, ada juga arak harum! Tak disangka Gak Hong Kun , didalam rumah gubuk ini , kau bakal mendapat sesuatu yang sangat nikmat!"

Mulut holouw lantas dibawa kemulutnya untuk ditegak isinya dalam beberapa teguk.

Terus Hong Kun duduk lagi, tangan kirinya tetap memegang tempat arak, matanya mengawasi si nona manis diatas kursi.

Tanpa terasa pengaruh arak membuat napsu birahinya tambah menyala....

"Inilah saatku....."

Pikirnya.

Maka ia bangun untuk memondong nona guna dibaa masuk kedalam kamar di depannya tanpa ia mau memeriksa terlebih dahulu kamar itu!

Saat si anak muda melewati ambang pintu, tiba-tiba kepalanya terasa pusing, terus tubuhnya terhuyung-huyung kemudian dia roboh bersama-sama nona yang dipondongnya1 Dia roboh tanpa ingat apa juga....

Berbareng dengan itu dari kamar terdengar suara tawa nyaring yang sangat gembira, terus terlihat munculnya seorang dengan sabuk hijau dan baju panjang hijau juga.

Dia beralis gomblok dan bermata bundar dan mukanya brewokan tebal.

Melihat tampangnya dia tentu berusia kira-kira lima puluh tahun.

"Hai tikus!"

Katanya sambil menunding tubuh Hong Kun.

"Dasar tikus rakus, tidak kuat minum, kau mencuri arak orang!"

Lalu orang itu mengambil lilin dari atas meja buat dipakai menerangi dua tubuh yang tak bergerak itu, hingga ia melihat tegas sepasang muda-mudi tapi yang membuatnya terkejut sampai ia berseru tertahan, ialah waktu ia mengenali si anak muda Tio It Hiong adanya, ia melongo mengawasinya.

Ketika itu dari sebuah kamar lain, lari keluar seorang perempuan muda dengan pakaian merah tua yang singsat, rambutnya panjang turun kebahu dan punggungnya, rambut dikepalanya dijepit dengan jepitan emas dengan gambar burung hong terbang.

Dia seorang nona yang manis.

Dia menghampiri si orang tua untuk terus mengawasi muda mudi itu, ketika ia menatap si anak muda ia tampak girang, ia menggertak gigi perlahan, setelah itu sambil menepuk bahu si orang tua dia bertanya .

"Jie Suheng, kau kenalkah pemuda ini?"

Orang tua itu terkejut mendengar suara orang yang dibarengi dengan tepukan tangan kepada bahunya itu.

Ia justru lagi meneliti sepasang muda mudi yang seperti lagi tidur nyenyak itu.

Si nona datang dengan cepat tapi hati-hati hingga tak tahu orang sudah ada disisinya.

Dan si nona yang menjadi adik seperguruannya ini memang jail sekali.

"Ah, budak setan!"

Tegurnya sambil menoleh.

Kiranya orang tua itu adalah Jie Koay atau Jie Mo Lam Hong Hoan si siluman atau bajingan nomor dua diantara Cit Me tujuh bajingan dari To Liong To, pulau naga melengkung.

Sedangkan si nona adalah Cit Mo Siauw Wan Goat, bajingan nomor tujuh atau sibungsu dari tujuh bajingan itu.

Bersama kedua saudara seperguruan itu masih ada Ngo Mo Bok Cou Lauw, bajingan nomor lima, sebab mereka bertiga sedang menerima tugas dari pimpinannya, kakak seperguruannya yang tertua, guna pergi keberbagai tempat dan mengundang orang-orang kosen kaum sesat, agar mereka itu nanti sama-sama menghadiri pertemuan besar dunia persilatan digunung Tay san untuk membantu pihaknya.

Kebetulan saja mereka lewat ditempat itu.

Siauw Wan Goat tertarik dengan ketenangan tempat itu, dia mengajak kedua saudaranya singgah disitu dengan menempati rumah gubuk tersebut.

Tidak tahunya yang punya rumah gubuk itu justru Beng Leng Cinjin, ketua dari Hek Keng To.

Karena mereka sama-sama kaum sesat, Beng Leng Cinjin suka menerima ketiga tamunya itu.

Sebenarnya ketika itu, Beng Leng Cinjin sudah berpikir untuk mengundurkan diri dari dunia Kang Ouw akibat serbuannya ke Siauw Lim Sie dimana diruang Lohan Tiong dia kena dirobohkan Pek Cut Taysu yang mengalahkannya dengan ilmu Tay Poan jiak atau Prajana Luhur yang membuatnya sadar, begitulah akhirnya dia pilih tempat terpencil itu, sunyi damai hingga dia menerima Lam Hong Hoan bertiga.

Dia mengalah dan pindah kegubuk paling belakang, disitu tetap dia hidup menyendiri tak bergaul dengan bajingan-bajingan dari To Liong To itu.

"Kakak,"

Kata Wan Goat sambil melirik It Hiong palsu.

"Pemuda ini apa bukannya Tio It Hiong murid dari Pay In Nia yang kita temukan dibawah puncak Heng San?"

Dimulut si nona bertanya, dihati ia girang bukan main. Ia menganggap barang makanan mengantarkan diri....

"Bocah ini malang!"

Kata Lam Hong Hoan tertawa.

"Dia roboh oleh arak buatanku ini dengan begitu dengan sendirinya berkurang musuh kita di Tay San nanti...."

Wan Goat tertawa dan berkata .

"Sebenarnya aku matangi arakmu ini buat membikin kau sinting lupa daratan, siapa tahu bocah itu datang menggantikanmu. Dasar untungmu bagus, sekarang kakak, apakah kau ingin menyingkirkan jiwanya ini?"

"Tentu saja!"

Sahut sikakak.

"Cuma wanita ini kalau melihat dari senjatanya, mestinya dia dari Hek Keng To, mengenai dia kita harus teliti dahulu...."

Timbul segera rasa cemburu si nona.

"Seorang nona malam-malam berada bersama seorang pria, apakah dia masih mempunyai muka?"

Tanyanya.

"Perempuan busuk ini buat apa kita pedulikan siapa adanya dia? Baik sekalian saja kita bereskan!"

Berkata begitu nona siauw mengayun tangannya kekepala Tan Hong.

Lam Hong Hoan terkejut, dia menyampok tangannya si nona, dengan begitu serangan itu menukar arah mengenai pinggiran kursi hingga Cuma rambutnya Tan Hong yang terkena anginnya.

Ketika Tan Hong terkena racun, ia hanya membaui sedikit.

Disamping itu dengan ilmu Mo Tang ka telah sempurna sekali maka selang sekian lama tenaga dalamnya sendiri berhasil mengusir racunnya Hong Kun.

Selagi kesadarannya mau pulih itu, ia justru tersampok angin pukulan Wan Goat hingga kesadarannya dipercepat.

Sekejap saja ia sudah melompat bangun, matanya terus mengawasi Kam Hong Hoan dan Wan Goat untuk sejenak rupanya ia merasa heran.

Hong Hoan membawa lilin mendekati Nona Tan untuk menatapnya.

"Nona?"

Tanyanya kemudian.

"Bukankah kau Nona Tan Hong dari Hek Keng To?"

Tan Hong mengawasi tajam, ia segera mengenali Hong Hoan.

"Oh, Lam Cianpwe, sudah lama kita tak bertemu!"

Sahutnya.

"Memang aku yang muda Tan Hong adanya."

Hong hoan trus menatap, tampak dia merasa heran sekali.

"Nona,"

Tanyanya pula sambil menunjuk Hong Kun.

"Kenapa nona ada bersama bocah ini?"

Tan Hong memandang ke arah yan ditunjuk itu. Ia melihat pemuda yang lagi rebah itu mirip It Hiong. Ia bersangsi hingga ia berdiri menjublak saja. Ia terus menggunakan pikirannya untukmengingat-ingat.

"Dasar Jie Suheng tolol!"

Berkata Wan Goat menyelak.

"Orang toh berpasangan tengah malam buta, mereka lancang memasuki tempat kita, apalagi maksudnya? Buat apa banyak bicara? Mari aku mewakili kau menajwab . Pasti untuk berpelesiran semalam suntuk1"

Tak cukup dengan ejekan itu, nona Siauw pun memperdengarkan suara tawa dinginnya. Tan Hong membuka lebar matanya, hatinya panas.

"Siauw Wan Goat mulutmu tidak bersih!"

Tegurnya.

"Jangan menghina orang lain jika kau tidak ingin dirimu dihina! Bukankah kau juga seorang gadis remaja. Apa kau benar tak tahu malu?"

Hong Hoan tertawa dan menyela .

"Harap jangan gusar nona! Sudah biasanya adikku ini suka berjumawa dan bergurau menjaili orang! Eh nona, apakah kau datang kemari buat mencari kakak seperguruanmu Beng Leng Cinjin?"

Sebagai orang cerdik bahkan licin, Hong Hoan tahu bagaimana harus mengalihkan pembicaraan supaya kedua nona itu tidak bentrok. Benar, akhirnya Tan Hong menjadi sabar.

"Apakah kakak seperguruanku yang tertua berada disini?"

Tanyanya.

"Beberapa buah gubuk ini semua milik kakak seperguruanmu itu nona,"

Sahut Hong Hoan.

"Inilah tempat dimana dia tengah mengasingkan diri. Ketika kami kemarin lewat disini, kami bertemu dengannya, maka kami lalu singgah disini beberapa hari. Tan Hong heran berbareng girang.

"Aku memang ingin menemui kakak seperguruanku itu,"

Katanya.

"Dimanakah adanya ia sekarang?"

"Kakak nona itu berada digubuk belakang."

Sahut Hong Hoan,"

Mari nona, mari aku yang tua memimpinmu kepada kakakmu itu."

Berkata begitu, orang she Lam itu melirik Hong Kun, terus ia memesan Wan Goat setelah itu ia bertindak pergi mengajak Nona Tan Hong.

Ia membawa terus lilinnya.

Wam Goat menanti orang sudah berlalu, lantas ia mengambil air dengan apa ia menyembur mukanya Hong Kun hingga ia membuat It Hiong palsu lantas mendusin dari pingsannya akibat keracunan arak istimewa itu.

Ia mengawasi heran kepada nona di depannya itu, sebab orang bukannya Tan Hong, tapi ia cerdik sekali, tahu ia bagaimana menghadapi seorang wanita.

"Kakak!"

Lantas ia memanggil dengan suara perlahan.

Luar biasa dua orang ini, Wan Goat mengenali It Hiong , maka ia menyangka pemuda di depannya ini It Hiong tulen adanya.

Hong Kun sebaliknya mengenali nona itu, Siauw Wan Goat dari To liong To.

Sewaktu berada ditengah jalan dikecamaTan Hongbwe mereka pernah bertemu dan dia dicaci maki nona itu.

Dan itulah peristiwa yang masih diingatnya dengan baik.

Wan Goat merasa manis dipanggil kakak, mukanya menjadi merah.

"Kakak It Hiong1"

Berkata dia.

"Apakah kau masih belum mau berangkat pergi dari sini? Kalau sebentar kakakku yang nomor dua keburu datang, pasti akan berabelah kau."

Hong Kun bangkit untuk bangun.

"Tak dapat aku meninggalkan kau kakak,"

Katanya perlahan. Mendadak ia menyambar tangan si nona. Hatinya Wan Goat memukul, parasnya merah. Biarpun ia centil,ia toh likat, ia melirik terus tunduk.

"Kakak Hiong,"

Tanyanya perlahan.

"Kau berniat berbuat apa?"

Hong Kun mengawasi muka orang.

Nona itu sedang mengangkat mukanya, ia memberi isyarat supaya nona itu mengikutinya.

Nona itu kalah cerdik, iapun telah diganggu ditarik, iapun turut berjalan keluar.....

Dibawah sinar rembulana mudi itu berjalan bagaikan bayangan dibawah pepohonan.

Mereka melangkah disepanjang tepian kali, sampai mendekati sebuah desa.

Mereka mendengar ayam-ayam mulai berkokok membangunkan orang tidur.

Hanya Wan Goat yang belum sadar dari mabuk asmaranya.....

Hong Kun mengajak orang berlari, ia tahu selekasnya terang tanah, tak dapat ia mempuasi hatinya terhadap nona siauw ini.

Ia harus merebut waktu.

Tegasnya ia mesti memisahkan diri biar jauh dari gubuk si nona.

Tak berani ia kembali ke Liong peng, takut Tan Hong nanti menjadi rintangan baginya.

Di depan mereka ada jalan pegunungan yang berliku-liku, tanpa pikir panjang Hong Kun mengajakl Wan Goat lari kesana.

Wan Goat berlari-lari disamping si anak muda, hatinya tidak berpikir lainlagi kecuali tentang anak muda itu.

Beberapa kali ia meliriknya.

Ia Cuma ingat Tio It Hiong.

Segera juga sang surya muncul dengan sinar paginya yang indah.

Masih Wan Goat mendampingi pemuda yang diidamkannya itu.

Ia tidak tahu bahkan tidak memikirkan kemana ia sudah dibawa pergi.

Kali ini karena sudah terpisah cukup jauh, Hong Kun tidak berlari lagi, ia hanya mengajak nona disisinya berjalan berputaran ditanah pegunungan itu, bagaikan orang tengah berpesiar.

Ia pandai membawakan dirinya membuat si nona senantiasa merasa tenang dan tak curiga apa-apa.

Baru setelah magrib mulai tiba, ia mengajak nona itu turun dari gunung yang tidak dikenal itu.

Hong Kun membawa orang kekecamatan Na Kue, ia memasuki kota dan lantas mencari rumah penginapan.

Ia memesan barang hidangan dan arak untuk bersama Wan Goat bersantap didalam kamar yang disewa itu.

Bukan main puasnya Hong Kun, kalau ia berhasil mengganggu Wan Goat itu, berarti ia telah melampiaskan kebenciannya terhadap kaum wanita.

Wan Goat tidak mencurigainya dan tidak menyangka apa-apa, bahkan ia senang sekali berjamu bersama "kekasihnya"

Itu....

Sang waktu lewat dengan cepat tanpa terasa.

Ketika kentongan terdengar tiga kali, mukanya Wan Goat sudah merah pengaruh air kata-kata.

Ia justru semakin cantik dan menggiurkan, saban-saban ia melirik "To It Hiong"

Dan tersenyum manis.

"Kakak Hiong"

Katanya perlahan.

"Sudah jauh malam, pergi kau kekamarmu untuk beristirahat, aku sudah minum banyak, kepalaku terasa pusing, akupun mau tidur..."

Berkata begitu lantas si nona bangun untuk pergi kepembaringan dimana ia duduk disisinya, terus kepalanya diletaki diatas bantal.

Hong Kun tahu itulah kesempatan baik, ia lantas berpura mulai mabuk dengan berjalan tak tetap ia menghampiri pembaringan terus memegangi paha si nona.

"Adik Wan Goat, apakah kau sudah mabuk?"

Tanyanya sengaja.

"Ah!"

Berkata si nona yang menolak tangan orang.

"Kakak Hiong jangan nakal!..."

Hong Kun menatap.

"Aku mau.....aku mau menungui kau, adik...."

Katanya.

"Sesudah kau pulas barulah hatiku lega...."

Wan Goat tertawa, hatinya berdenyut kencang, ketika sinar matanya beradu dengan si anak muda, ia lantas menoleh kelain arah. Justru itu tiba-tiba ia ingat sesuatu.

"Apakah artinya ini?"

Demikian katanya dalam hati. Ia melihat api lilin yang menyala.

"Apakah artinya perbuatanku ini? Bukankah adik Hiong bakal menganggap aku serupa dengan bunga ditengah jalan? Oh, tidak, tidak!"

Tiba-tiba si nona turun dari pembaringannya, ia berbalik memegang lengannya It Hiong tiruan.

"Kakak Hiong, kau juga sudah mabuk!"

Katanya.

"Lekas pergi kekamarmu! Kalau mau bicara, besok dapat kita lanjutkan lagi."

Terus ia menarik orang kepintu dan menolak tubuhnya hingga dilain saat ia sudah menutup pintu dan memalangnya. It Hiong palsu berdiri menjublak dibalik pintu, ia tersenyum iblis.

"Hm!"

Terdengar suaranya yang tawar dan perlahan.

"Ah budak bau, apa kau kira dapat mempermainkan tuan besarmu? Tidak! Kau lihat saja nanti!"

Maka ia lantas berkata agak keras "Adik, kau tidurlah! Aku kekamarku!"

Lalu ia sengaja memperdengarkan suara langkah yang berat.

Wan Goat menyahuti, terus ia padamkan api, habis membuka bajunya ia naik pula keatas pembaringannya.

Sebenarnya ia sangat mencintai It Hiong.

Rasa cinta itu muncul semenjak pertemuan mereka berdua dikaki gunung Heng San.

Hanya sejak itu tak ada kesempatan buat ia menemui pemuda yang cakap ganteng itu.

Tapi sekarang mereka dapat berkumpul bersama....

"Ah, mengapa aku menyuruhnya keluar?"

Pikir Wan Goat sebelum ia pulas.

"Ini adalah saat yang paling baik, kenapa aku menyia-nyiakannya? Bagaimana kalau dia keliru menyangka aku tidak mencintainya?..."

Letih si nona berpikir panjang, arak pun membuatnya pusing.

Diakhirnya tanpa terasa ia toh tidur pulas juga.

Ia tidur nyenyak sekali.

Tak tahu ia telah tidur berapa lama.

Bahkan samara-samar ia bermimpi suatu kejadian yang belum pernah ia mimpikan.

Ia merasa sangat bahagia.

Hanya itu ketika kemudian ia mendusin dari tidurnya, ia telah berubah menjadi bukan gadis lagi.

Dari seorang nona ia menjadi nyonya.

Segera ia merasakan sesuatu yang tak biasanya.

Ketika ia melihat sinar matahari di jendela, ia bangkit untuk bangun, namun ia heran karena tangannya merasa memegang sesuatu.

Ia membuka matanya, dari kedap kedip menjadi lebar, lantas iapun terperanjat.

Disisinya, diatas pembaringannya, ia melihat sesosok tubuh pria tengah rebah dan tidur menggeros.

Ia pun kaget ketika mengenali orang itu ialah si "Kakak Hiong".

Maka sadarlah bahwa ia bukannya bermimpi, namun itulah kenyataan!

Ia kaget berbareng girang.

"Bangun!"

Katanya sambil meraba tubuh orang untuk digoyang-goyang, ia terus menatap muka orang itu, airmatanya sendiri berlinang karena bahagianya.

"Telah aku serahkan tubuhku yang putih bersih terhadapmu, maka sekarang selanjutnya bagaimana kau hendak perlakukan diriku?"

It Hiong palsu mengawasi nona itu. Si nona lembut dan agak mendatangkan rasa kasihan. Tapi ia berpikir lain.

"Hm!"

Ia mengeluarkan suara dinginnya.

"Hm, apa yang ditangisi? Apakah kau tidak bunyi pepatah yang mengharuskan wanita itu menurut dan bijaksana?"

Baca Juga: Pendekar Kembar 9

Baca Juga: Hina Kelana Balada Kaum Kelana 14

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert