Eps 5 Iblis Sungai Telaga - Khu Lung
Baca online Iblis Sungai Telaga - Khu Lung
Cersil Iblis Sungai Telaga - Khu Lung.
"Aku pikir totiang,"
Katanya sabar.
"baiklah tak usah kita sampai mengadu kepandaian. Kami cuma memohon kebaikan kalian buat melaporkan kepada ketua totiang tentang kedatangan kami ini guna mencari Hian Ho Cinjin dari Kim Hee Kiong guna kami meminta pulang kitab ilmu pedang kami habis itu segera kami akan turun gunung buat terus pulang. Diantara kita toh tidak ada dendam atau permusuhan, buat apa kita sampai mengadu tenaga ?"
"Anak perempuan, banyak bacot ya ?"
Bentak imam itu.
"Apakah itu ada karena ajarannya si imam tua Tek Cio ?"
Sampai disitu meluap sudah hawa amarahnya It Hiong. Gurunya telah diperhina.
"Eh, imam, berapa tinggi kepandaianmu maka kau berani menghina guru kami ?"
Tegurnya.
Dan lantas ia menghunus pedang Keng Hong Kiam dan tanpa mengatakan apa-apa lagi, segera ia menikam !
Imam itu bukan sembarangan imam, matanya juga sangat awas.
Dengan melihat cahaya berkelebatnya pedang, tahulah ia yang pedang si anak muda pedang mustika.
Maka itu tak sudi ia mengadu senjata.
Begitu ditikam, begitu ia lompat mundur, begitu juga ia menghunus pedangnya, buat meneruskan membalas menebas pinggangnya si anak muda.
Hebat imam itu, habis menebas dan gagal karena It Hiong berkelit, ia melanjuti menebas dan menikam pula, bergantian dengan berulang-ulang.
Sama sekali ia tak sudi mengasi ketika pada si anak muda.
It Hiong dapat membalas tetapi lawan terus berkeliat.
Dalam hal itu, imam itu lincah dan awas sekali matanya.
Maka, seperti tanpa merasa mereka lekas juga telah bertempur sampai tiga puluh jurus !
Setelah itu barulah si imam seperti kehilangan kesempatan yang baik, menggerakkan pedangnya, terpaksa dia malah mundur.
Maka dengan demikian juga, dia mulai terancam bahaya.
Lagi satu jurus, mendadak It Hiong berseru, pedang menyambar membarengi seruannya itu.
Serangan itu dilakukan dengan si penyerang berlompat maju, sinar pedangnya berkilauan.
Yang menjadi sasarannya ialah kepalanya si imam sebab tipu pedang yang digunakan yaitu "Burung Air Mematuk Ikan."
Bukan main kagetnya si imam, tak sempat dia berkelit, terpaksa dia menangkis.
Kesudahannya dia menjadi kaget pula.
Pedangnya kena dibuat buntung !
Maka syukurlah buat dianya selagi terancam maut itu, ketiga orang kawannya meluruk bersama, menyerang si anak muda guna membantu padanya agar dia tak terdesak lebih jauh.
Gerakannya ketiga imam itu ialah yang dinamakan "Mengurung Negara Wee Untuk Menolong Negara Tio."
It Hiong memutar pedangnya untuk sekaligus menyampok ketiga pedang lawan ! "Apakah janji kamu janji belaka ?"
Ia menegur.
"Kamu sudah kalah, apakah kamu belum mau melaporkan kepada koancu kamu ?"
"Koan Cu"
Ialah ketua kuil atau imam kepala.
"Apakah kau tidak dapat melihat ?"
Seorang imam balik menegur.
"Di sana kakak seperguruanku telah pergi untuk memberi laporan !"
Tapi dia penasaran, sembari berkata itu, dia maju dengan serangannya ! Dia menebas dengan hebat ! It Hiong tidak menangkis, ia hanya lompat berkelit.
"Masihkah kamu tidak mau berhenti menyerang ?"
Tegurnya.
"Apakah kamu menghendaki supaya darah kamu muncrat berhamburan ?"
Imam itu penasaran, dia berkepala besar.
"Jika kau benar laki-laki, mari kau tempur pula Toya kamu bertiga !"
Demikian tantangannya, suaranya dingin.
"Kau nanti lihat siapa yang nanti roboh numprah dengan darahnya muncrat berhamburan !"
Lalu tanpa menanti jawaban lagi, imam itu maju menyerang pula dibarengi kedua kawannya, hingga bertiga mereka meluruk pula dari tiga arah dengan cara teratur dan pedang-pedang mereka meluncur berbareng.
Dengan demikian It Hiong terus kena dikurung.
Bahkan habis tikaman yang pertama itu menyusul yang lainnya tikaman dan tebasan atau bacokan !
Tidak ada si anak muda akan melayani ketiga imam itu tetapi sekarang terpaksa ia melayani juga karena orang memaksanya dan hatinya menjadi panas dibuatnya.
Bagus untuk ketiga imam itu lawannya tidak memikir menanam permusuhan jadi tidak dilawan secara telengas.
Oleh karena ketiga imam menyerang hebat sekali kesudahannya mereka sendiri yang menjadi lelah terlebih dahulu, napas mereka lantas memburu keras, peluh mereka mulai mengucur.
Dengan begitu juga gerak gerik mereka menjadi kendor sendirinya.
Sebaliknya adalah lawan mereka yang berkelahi keras tetapi tetap tenang.
Akhirnya It Hiong kata mengancam .
"Jika kamu masih tetap tak mau berhenti menyerang aku, awas, jangan kamu nanti mengatakan aku tidak mengenal kasihan !"
Lalu ia putar pedangnya buat mengurung diri. Itulah tipu pedang "Badai Menyapu Salju"
Hingga sinar pedang merupakan mirip kurungan berkeredepan.
Barulah sekarang ketiga imam itu kaget sekali, tanpa berkata apa-apa mereka berlalu dengan berbareng, mereka melompat mundur untuk lari kabur kedalam kuil mereka !
It Hiong berhasil bersilat, pedangnya dimasuki kedalam sarungnya.
Ia mengawasi dengan sabar kaburnya ketiga lawan itu, sesudah lenyap dibalik pintu atau tembok Pekarangan baru ia bertindak perlahan menghampiri Kiauw In yang semenjak tadi berdiam saja menonton pertempuran itu.
"Kakak"
Tanyanya.
"apakah baik kita susul mereka itu atau bagaimana ?"
"Baiklah kau beristirahat dahulu, adikku"
Menjawab si nona sabar dan prihatin.
"Kita lihat dulu ada apa lagi gerak gerik sesudah itu..."
It Hiong suka mendengar pikirannya sang kakak, ia mengangguk.
Tak usah lama muda mudi ini menantikan, dari arah sebelah dalam pintu gerbang kuil sudah terdengar tawa yang nyaring beberapa kali, tatkala daun pintu terpentang dengan menerbitkan suara keras, maka diambang pintu gerbang itu tampaklah munculnya enam orang Tosu atau imam yang jalannya saling susul diantara siapa ada seorang To-kouw ialah imam wanita, sedangkan yang jalan paling depan adalah Tiang Heng Hojin, imam tua usia lebih kurang enam puluh tahun.
Dia bertubuh kasar dan kekar, lebar mukanya, putih kumisnya, janggutnya jarang.
Yang hebat adalah sepasang matanya--mata kecil seperti mata tikus tetapi tajam dan cahayanya mengundang kekejaman.
Dia pula mengenakan jubah merah api dan bahannya dari bahan yang mahal serta sulamannya ialah lambang Patkwa yang terbuat dari sutra emas.
Ditangannya dia mencekal sebatang Giok jit ie, semacam tongkat lambang kesucian yang terbuat dari batu kemala, warnanya kehijau-hijauan mengkilat.
Dan suara tawa tadi adalah suara tawanya yang disalurkan dengan bantuan tenaga dalamnya.
Imam yang kedua berusia kira lima puluh tahun, jubah kuning, punggungnya menggendol pedang panjang.
Dia berwajah halus berbayang otot-ototnya yang merah, sedang sepasang matanya tajam galak, membuat siapa yang melihatnya menjadi jeri.
Dialah Kim Leng Tojin.
Di belakang Kim Leng ini ialah si To-kouw, yang usianya baru empat puluh lebih.
Nama suci dia ialah Gouw Ceng yang berarti "Imam putih bersih".
Tubuh dia ramping dan mukanya bundar dan elok mirip bulan purnama, hanya pipinya montok, pupurnya tebal serta sepasang alisnya bersikap tegas.
Kalau imam yang pertama bermata bengis, maka mata dia ini bersinar tajam galak karena kegenitan seperti juga seluruh tampang wajahnya.
Senjatanya ialah sebatang kebutan.
Tiga orang imam lainnya ialah ketiga koancu dari Kim Hee Kiong yaitu Hian Siu, Hian Ho dan Hian Ciu.
Mereka mengintil di belakangnya ketiga imam tuan rumah itu.
Mereka berdiam di Siang Ceng Koan semenjak Kim Hee Kiong, kuil yang menjadi sarangnya, diobrak abrik It Hiong.
Tiang Heng Tojin bertindak dengan perlahan, setiap tindakannya berat.
Ia turun diundakan tangga, sampai diundakan yang terakhir, berdiri di tanah yang berumput.
Dengan lantas ia mengawasi tajam It Hiong dan Kiauw In.
Terang wajahnya menunjuki ia merasa heran.
"Eh, kedua bocah, apakah kau datang ke gunung ini dengan mendaki dan melintasi lembah Huyong ciang yang sempit ?"
Demikian tanyanya.
Ia heran sebab sesudah orang berada disitu satu jam atau lebih, kedua-duanya masih sehat tak kurang suatu apa, tak ada tanda-tandanya terkena hawa gunung yang beracun.
It Hiong sementara itu diam-diam memasang mata terhadap Hian ho Cinjin si imam yang hilang mata kirinya, ia mencoba menyabarkan diri sebab hatinya merasa panas.
Ia ingin lantas mendapat pulang kitab ilmu pedangnya tetapi iapun menerka Hian Ho akan tak secara mudah sudi menyerahkannya karena itu kata-katanya Tiang Heng itu tak ada dalam perhatiannya.
Ia mendengar tetapi bagaikan tidak.
Tiang Heng menjadi tidak puas.
Inilah kentara pada perubahan parasnya.
"Hei, bocah cilik !"
Dia membentak.
"To ya kamu menanyakan kau, kau dengar atau tidak ? Kenapa kau tidak terpaksa berani menjawab pertanyaanku ?"
Kali ini suara itu keras dan tajam, keras mirip guntur.
It Hiong terperanjat, ia bagaikan orang terasadar, maka ia berpaling kepada imam itu.
Hendak ia memberikan jawabannya atau Kiauw In sudah mendahuluinya.
Nona Cio maju satu tindak.
"Kami mendaki Huyong ciang sejak kemarin."
Sahutnya sabar.
"Maksud kami adalah membuat kunjungan, akan tetapi..."
"Tutup mulutmu !"
Gouw Ceng Tokouw menyela, hingga kata-kata orang menjadi terputus.
"Bukankah kamu sudah memperdayai murid kami yang merondia gunung, yang kamu telah bujuk menyerahkan obat pemunah racun, setelah mana kamu menggunakan tangan jahat melukai para murid kami itu ?"
Kiauw In tidak gusar. Sebaliknya ia tertawa manis.
"Akulah Cio Kiauw In !"
Sahutnya sabar.
"Tidak nanti aku melakukan perbuatan yang tidak pantas itu yang dapat memalukan perguruan kami !"
"Oh !"
Si imam wanita mengasi suara dengar suara tertahan perlahan. Ia seperti ingat sesuatu.
"Eh, bocah !"
Kemudian ia tanya.
"Kau she Cio, apakah kau ada hubungannya dengan Cio Hay Auw ?"
Kiauw In heran ditanya begitu. Sebagai seorang jujur yang pertama ia ingat ialah mungkin imam ini kenalan atau sahabat ayahnya. Maka ia lantas merubah sikapnya.
"Cio Hay Auw itu adalah nama ayahku almarhum."
Sahutnya hormat.
"Mohon tanya cianpwe, apakah nama atau gelaran cianpwe ?"
"Cianpwe"
Ialah orang atau panggilan buat orang dari angkatan lebih tua.
Selagi nona Cio berlaku hormat itu mendadak si imam wanita memperlihatkan wajah suaram atau muram mendongkol karena penasaran, ketika ia membuka mulut pula ia membentak dengan bengis sekali.
"Hai budak bau !"
Demikian suaranya yang kasar.
"Kiranya kaulah anak perempuan dari si orang she Cio, manusia yang tak berbudi itu ! Baiklah, nanti nyonyamu memberi pelajaran kepadamu, supaya sekalian aku dapat melampiaskan penasaranku selama belasan tahun !"
Kata-kata itu ditutup dengan orangnya berlompatan maju kepada nona kita, jangankan dia lantas hajar dengan satu cambukan kebutannya !
Kiauw In waspada dan bermata jeli.
Selekasnya mendengar suara orang yang kasar itu sudah bercuriga, apa pula ia melihat si imam menjejak tanah untuk berlompat kepadanya.
Belum lagi ujung kebutan mengenakan padanya, ia sudah mencelat mundur satu tindak.
Walaupun ia diperlakukan kasar itu ia tidak lantas menjadi gusar.
Tetapi ia berlaku sabar dan tak mau ia membalas menyerang.
"Cianpwe"
Katanya.
"kalau dahulu hari ayahku almarhum ada melakukan sesuatu yang tidak selayaknya terhadap cianpwe, aku mohon sudilah cianpwe menjelaskan padaku apabila ternyata benar ayahku itu keliru, dengan segala senang hati suka aku menghaturkan maaf untuknya..."
Mendengar suara orang itu, maka Gouw Ceng menjadi merah dan pucat bergantian.
Agaknya dia jengah berbareng mendongkol atau bergusar.
Tak sudi dia memberikan keterangan, karena dia merasa malu akhirnya.
"Hei, budak bau !"
Dia membentak pula.
"Pergilah kau pulang dan tanyakan sendiri pada orang she Cio yang harus dibacok beribu kali itu. Kau tanya dia apa yang dia lakukan pada delapan belas tahun yang lampau di kota Kayhong ! Jika kau tanyakan nanti ketahui jelas perbuatan tak berbudi apa yang dia telah perbuat."
Kembali si imam wanita menunjukan tampang gusar, kembali dia maju sambil dia menyabet pula dengan kebutannya itu yang merupakan genggamannya.
Buat kedua kalinya Kiauw In melompat mundur, hanya kali ini, hatinya menjadi panas juga.
Orang terlalu menghina padanya sedangkan ia telah berlaku sabar dan mengalah.
"Ayahku almarhum adalah seorang lelaki Kang Ouw sejati !"
Demikian ia kata, suaranya tegas.
"Manakah ayahku mau memandang mata kepada seorang wanita semacam kau ? Jangan kau lancang menyebut orang darah ! Jangan kau mengoceh tidak karuan !"
"Kang Ouw"
Ialah Sungai Telaga sebagaimana "Lok Lim"
Rimba Hijau dan "Bu Lim"
Rimba Persahabatan. Sepasang alis si Tokouw bangkit bangun, matanya bersinar sangat tajam dan galak, itulah tanda bahwa dia sangat penasaran dan gusar. Lantas terdengar tawa dinginnya berulang kali.
"Budak kurang ajar !"
Bentaknya pula.
Dan dia maju pula dengan serangan kebutannya tu, yang lemas-lemas kaku, bahkan kali ini dia turut menyerang sampai dua belas kali, sebab setiap kali si nona menyingkirkan diri !
Sekarang tibalah serangan terakhir dari Gouw Ceng yang mengumbar nafsu amarahnya, sekarang tidak lagi Kiauw In sudi mengalah terus, terpaksa ia menangkis dan membalas menyerang.
Dengan segera ia menggunakan tiga puluh enam jurus Khie bun Pat Kwa Kiam, jurus-jurus pilihan untuk mengimbangi serangan kebutan.
Saking sengitnya pertempuran, kedua wanita itu seperti nampak hanya bayangannya saja, mereka membuat mata orang bagaikan kabur.
It Hiong menonton sekian lama.
Tahulah ia sebabnya pertempuran itu.
Itulah pasti soal lama, yang hanya diketahui Gouw Ceng sendiri, sebab segalanya gelap bagi Kiauw In.
Si nona bertempur saking terpaksa, sebab ia harus bela diri.
Tentu sekali, It Hiong tidak dapat berdiam saja.
Mereka berdua datang guna meminta pulang kitab ilmu pedang dan sekarang Hian Ho berada dihadapannya.
Karena ia melihat bahwa ia tak usah berkuatir bagi Nona Cio, ia lantas maju ke hadapannya Hian Ho, tangannya diulur dengan satu gerakan "Chong Hay Na Liong"
Atau "Didalam Laut Menangkap Naga"
Suatu jurus dari "Hang Liong Hok Houw".
Ia menyambar bahunya si imam untuk menjambret jalan darah hang hu !
Hian Ho terkejut, dia terdesak sekali.
Tidak sempat dia menangkis, maka terpaksa dia berkelit sambil mendak, mengasi lewat tangan penyerangnya.
Sementara itu Tiang Heng Tojin tidak dapat berdiam saja.
Rupanya keadaan membuatnya bertangan gatal.
Bukannya dia berbicara dahulu, dia justru berlompat maju dengan senjatanya yang istimewa itu, ia sampok tangannya It Hiong !
"Bocah, tanganmu telengas !"
Dia membentak.
"Tidak kusangka, seorang guru yang tersohor dapat mewariskan seorang murid rendah begini."
It Hiong mengelit tangannya sambil tubuhnya berkisar.
Ia tidak melayani si imam tua itu, ia juga tidak terus menyerang kepada Hian Ho.
Memang barusan ia sudah menyerang separuh membokong, atas itu ia merasa jengah sendirinya.
Di lain pihak, kata-katanya si imam menyakiti telinganya.
Ia percaya pasti si imam tak tahu sebabnya ia bersikap keras demikian sebab keinginannya yang keras agar lekas mendapat pulang kitab ilmu pedang gurunya.
"Totiang, terima kasih"
Kata ia kepada si imam. Ia berlaku sabar dan memberi hormat pula.
"Tapi ada sebabnya kenapa barusan aku mengambil sikapku itu. Totiang ketahui, Hian Ho sudah mencuri kitab ilmu pedang guru kami dan sekarang kami datang untuk memintanya pula. Sekarang aku minta totiang tolong memberikan pertimbangan mereka kami bisa memiliki pula kitab ilmu pedang kami itu !"
Sementara itu kitab pedang itu sudah berada ditangannya si imam dari Siang Ceng Koan itu maka juga mendengar pemintaannya si anak muda Tiang Heng menjadi berdiam.
Ia malah merasa likat.
Sejenak itu, tak dapat dia membuka mulutnya.
Sebenarnya ketiga koancu dari Siang Ceng Koan itu ialah Tiang Heng, Kim Leng dan Gouw Ceng bukannya saudara seperguruan satu dengan lain, mereka berkenalan dan bersahabat disebabkan dengan asmara dan satu tujuan.
Tiang Heng Tojin bertubuh tinggi dan besar dan kekar tetapi dia ada kekurangan dalam hidupnya ialah ia telah kehilangan tenaga kelaminnya.
Maka sia-sia saja dia menjadi seorang laki-laki.
Itu pula yang menyebabkan dia memilih nama suCinya itu.
Tiang Heng berarti penyesalan atau penasaran seumur hidup.
Sedang begitu nafsu birahinya berkobar-kobar.
Maka itu kebetulan sekali ia berkenalan dengan Gouw Ceng si wanita nakal maka juga berdua mereka nama dan tampangya suci, hatinya lain.
Gouw Ceng itu pada delapan belas tahun yang lampau menjadi seorang nona usia dua puluh lima atau dua puluh enam tahun, dia cantik dan ilmu silatnya baik demi kesenangan dirinya itu waktu dia repot mencari seorang pria yang sudi menjadi kekasihnya, ia ingin seseorang yang gagah perkasa.
Terjadilah suatu hari selagi berada di dalam kota Kayhong, Gouw Ceng bertemu dengan Cio Hay Auw ayah almarhum dari nona Cio.
Cio Hay Auw tidak tahu siapa Gouw Ceng.
Berdua mereka bermain api asmara.
Baru belakangan ia ketahui sifatnya wanita itu yang hatinya mudah berubah yang cintanya tidak untuk satu.
Lantas ia memisahkan diri.
Gouw Ceng penasaran, dia pergi mencari.
Dia berhasil menemukannya.
Lantas dia menggerembengi Hay Auw hingga Hay Auw menjadi kewalahan dan habis sabar lantas dia diserang sehingga luka tangannya.
Hal itu membuat dia sakit hati, dia gilai Hay Auw tetapi bukan sesuci suci hatinya, melulu untuk memuaskan nafsu birahinya saja.
Berpisah dari Hay Auw selama belasan tahun dia terus hidup berfoya-foya dengan siapa saja yang ia sukai atau siapa saja yang menyukainya.
Sekarang didalam usia empat puluh tahun lebih kurang dia justru bersahabat dengan Tiang Heng Tojin dan Kim Leng Tojin.
Inilah kebetulan sebab mereka sama-sama orang yang beragama walaupun cuma namanya saja.
Disamping kedua imam itu ia juga main gila dengan Hian Ho Cinjin.
Inilah perhubungan mereka berdua yang membikin Hian Ho dapat berdiam di Siang ceng Koan.
Habis memperoleh kitab pedang Sam Cay Kiam, Hian Ho lantas kembali ke Siang Ceng Koan.
Ia berlaku cerdik sekali.
Kitab itu ia persembahkan kepada Tiang Heng Tojin.
Katanya buat menghunjuk penghargaan serta membalas budi.
Bukankah ia telah diberi menumpang tinggal di dalam kuil orang ?
Sebenarnya dengan begitu hendak ia melindungi diri dengan mengajukan Tiang Heng andia kata Tio It Hiong datang mencarinya.
Kalau It Hiong dan Tiang Heng bertempur dan It Hiong kalah dan terbinasa ia selamat dan tetap tenanglah kedudukannya.
Tiang Heng Tojin senang menerima kitab ilmu pedang Sam Cay Kiam itu.
Dia memang gemar mengumpulkan barangbarang berharga umpama batu permata.
Hanya ada satu hal yang memberatkan padanya, ia menganggap diri sebagai seorang koancu maka ia harus menghargai diri.
Sekarang sekali ini It Hiong datang meminta pulang kitab Sam Cay Kiam, ia jadi merasa sulit.
Tak dapat ia menyangkal tapi juga tak sudi mengembalikan kita itu !
Habis, bagaimanakah ?
Lalu ia batuk-batuk, terus ia menyerukan Gouw Ceng untuk menghentikan pertempuran.
Gouw Ceng mendengar kata, selekasnya dia mendengar suaranya ketua itu, dia menangkis satu serangan, terus lompat keluar dari kalangan pertempuran.
Kiauw In pun berhenti menyerang, bahkan ia terus bertindak ke sisinya It Hiong.
Dari sini, bersama-sama adik seperguruannya itu, ia mengawasi para lawan, guna mendengari apa katanya mereka itu.
Sekian lama sudah lewat.
Tiang Heng masih berdiam saja.
It Hiong menjadi tidak sabaran, maka ia kata kepada imam itu .
"Totiang, jika totiang tidak dapat berlaku adil dalam urusan kitab pedang kami itu, harap totiang jangan persalahkan aku apabila aku terpaksa mesti menggunakan kekerasan guna turun tangan sendiri !"
Dan benar-benar anak muda ini maju satu tindak ke arah Hian Ho sedangkan pedangnya sudah lantas dihunus.
Ketiga imam dari Kim Hee Kiong pernah dikalahkan pemuda itu, mereka sudah jeri sendirinya.
Hanya kali ini mereka berada ditempat terbuka, disarang kawannya sendiri, terutama di muka umum, mereka bersitegang.
Hian Siu melihat kakaknya berayal-ayalan ia tidak puas ia pun menjadi gusar sekali.
"Eh, bocah, jangan jumawa !"
Bentaknya.
"Sakit hati dari tangan buntung justru harus diminta pertanggung jawabnya dari kau ! Itulah hutang darah yang harus ditagih dan dibayar !"
Imam ini berlompat maju selekasnya dia habis berkata, tangan kanannya menghunus pedang.
"Hm !"
It Hiong memperdengarkan suara menghinanya. Ia sebal menyaksikan lagak orang.
"Bagaimana kalau kau kalah pula ? Kau hendak mengembalikan kita pedang atau tidak ? Kau ajukanlah caramu !"
Gusar tinggal gusar. Hian Siu tahu dia bukanlah lawan dari si anak muda. Tapi dia menebalkan muka. Dia sudah mencabut pedangnya tetapi tak mau dia lantas maju menyerang. Dia kata .
"Kitab ilmu pedangmu yang tak berarti itu berada ditangan Tiang Heng Toheng ! Jika kau mempunyai kepandaian bocah, kau mintalah sendiri !"
Kata-kata kawan itu membuat mukanya Tiang Heng merah. Itulah justru hal yang dia tak sukai. Tapi dia mesti membuka suaranya. Maka dengan dingin dia berkata .
"Tentang kitab pedang itu harus dicari tahu terlebih dahulu siapa benar siapa salah. Tentang itu Toya kamu tidak mau mengambil peduli ! Baik kalian memutuskannya dengan tenaga kalian sendiri !"
Imam ini tidak mau merendahkan diri maka ia membahasakan dirinya "Toya kamu".
"Sudah jangan bicara saja dari hal tidak karuan !"
Bentak It Hiong yang habis sabarnya, maka ia menjadi menuruti hawa amarahnya dan telah bicara besar. Ia menambahkan .
"Kalian dari Kim Hee Kiong, kalian adalah arwah-arwah bergelandangan yang baru lolos dari ujung pedang, maka itu, baik kalian semua majulah dengan berbareng !"
Hian Siu, Hian Ho dan Hian Ciu bertiga menjadi sangat terdesak.
Mereka lantas saling melirik.
Di dalam keadaan seperti itu mereka jadi buntu jalan, mereka menjadi nekad.
Terpaksa mereka memikir akan kalah atau berbicara bersama musuh....
Dengan satu siulan berbareng, ketiga imam dari Kim Hee Kiong berlompat maju dengan berbareng juga serentak mereka menyerang si anak muda, maka juga sinar pedang mereka seperti menjadi satu berkelebat ke arah si anak muda, semua mencari sasarannya masing-masing.
It Hiong dengan bersiap sedia atas tibanya serangan itu, ia menggerakkan pedangnya untuk menghalau ancaman bencana.
Pedangnya pun berkelebat berkilauan.
Karena sangat mendongkol, ia ingin menjauhi pertempuran secepat mungkin.
Maka juga, habis diserang itu ia segera membuat pembalasan.
Dengan satu emposan semangat maka tenaganya telah dikerahkan pada kedua belah tangannya terutama tangan kanan dan tubuhnya bergerak dengan lincah.
Ketiga koancu termasuk orang-orang kelas satu tetapi hati mereka telah diciutkan pedang Keng Hong Kiam dari lawannya.
Biar bagaimana mereka merasa jeri juga.
Saking terpaksa sekarang mereka melawan dengan mati-matian, dengan begitu merekapun menjadi tangguh.
Hian Siu kehilangan tangan kirinya, dengan hanya menggunakan tangan kanan, tak mereka ia menggunakan ilmu silat pedang simpanannya, Im sat-ciang.
Hian Ho lenyap sebelah matanya, dalam hal penglihatan, dia pula kurang leluasa.
Hian Ciu sebaliknya, ilmu silatnya masih kalau jauh dari kedua kakak seperguruannya itu, ia juga turut bergerak tetapi sangat terbatas.
Adalah kenekatan mereka bertiga yang menyebabkan mereka dapat bertahan.
Oleh karena kedua belah pihak berkelahi dengan keras, jurus-jurus juga dilewatkan sama cepatnya.
Hanya sebentar, dua puluh jurus telah berlalu.
Habis itu, It Hiong lantas dapat memperhatikan setiap lawannya, satu demi satu, kemudian ia terutama perhatikan Hian Siu, si mulut kasar itu.
Dalam murka, Hian Ciu melihat lowongan pada tubuh lawan.
Tak ayal lagi, ia maju menikam, ia memang tidak mau memberi ketika kepada musuh yang ia benci itu.
It Hiong lihat bahaya mengancamnya, dengan cepat ia mengegos ke sisi, selekasnya ujung pedang lawan ia meluncurkan tangan kirinya dengan apa ia menangkap lengan lawan.
Itulah jurus silat "Tangan Menawan Naga".
Tepat ia berhasil dengan sambaran atas cekalannya itu !
Bukan kepalang kagetnya Hian Siu.
Itulah berbahaya untuk saudaranya.
Ia berlaku cepat, tangannya ditarik terus pedangnya diayun guna menikam iga kiri lawan.
It Hiong tidak menjadi bingung, ia bahkan berlaku sangat cepat.
Guna menghindarkan diri dari ujung pedang, ia menggeser tubuh sambil menyempar tubuhnya Hian Ciu menyusul mana kaki kanannya dikasih melayang naik !
Sedangkan pedangnya, berbareng digerakkan !
Benar-benar darah sudah lantas berhamburan, muncrat dari tubuh yang terluka sebab pedang It Hiong tidak kepalang tanggung menyambar yang satu diteruskan kepada yang lain.
Hian Siu dan Hian Ciu roboh tak berdaya lagi, selagi kena terhajar berteriakpun mereka hampir tak sempat !
Kedua imam itu mau saling tolong tetapi mereka justru menjadi korbannya si anak muda yang menjadi lawannya itu.
Hian Ho adalah korban yang paling hebat, dia merangsak maju justru keduanya sudah roboh terkulai, justru dia datang dekat, dia disambut It Hiong dengan satu bacokan hebat, maka juga pecahlah kepalanya, tubuhnya rebah disisi Hian Siu.
Hian Ciu tapinya beruntung.
Dia cuma kena tertendang hingga muntah darah, selekasnya dia roboh dan berlompat bangun untuk lari pergi, ketika It Hiong membebat padanya ia menangkis maka dengan beradunya kedua pedang, Keng Hong Kiam membabat kutung pedang lawan.
Dalam kaget dan takutnya, Hian Ciu terus kabur, menghilang di belakang kuil Siang Ceng Koan.
Ia sipat kuping tanpa berani menoleh pula, tanpa menghiraukan pula dua saudaranya !
Tiang Heng Tojin bertiga Kim Leng dan Gouw Ceng berubah pucat parasnya, mereka berdiri melengak menyaksikan It Hiong dalam satu rintasan itu telah merobohkan ketiga lawannya.
Itulah hebat sekali.
It Hiong tidak mengejar Hian Ciu, hanya ia bertindak ke depannya Tiang Heng Tojin, koancu utama dari Siang Ceng Koan.
"Totiang, aku minta suka apalah totiang memegang janji !"
Demikian katanya, halus tetapi berwibawa.
"Sekarang aku yang rendah minta supaya kitab ilmu pedang kami dibayar pulang, seterimanya itu kami berdua segera akan turun gunung dan berlalu dari sini !"
Ketika itu Kim Leng Tojin yang sadar paling dahulu, dia memandang si anak muda dan juga Kiauw In, terus dia tertawa dengan menunjuki wajahnya yang licik. Kata dia .
"Untuk mengembalikan kitab ilmu pedang mesti ada syaratnya !"
"Apakah janji kalian tak masuk hitungan ?"
It Hiong menanya menegaskan.
"Masih ada syarat apakah lagi ?"
Kembali Kim Leng memperdengarkan tawanya yang tak sedap terus dia menunjuk Nona Cio.
"Syarat itu mudah sekali !"
Jawabnya.
"Ialah ini nona harus ditinggalkan disini ! Kitab ilmu pedang harus ditukar dengan dia !"
Sepasang alisnya It Hiong berdiri, ia gusar bukan main.
"Kau gila !"
Bentaknya.
"Lekas serahkan kitab kami itu !"
Menutup kata-katanya, anak muda ini berlompat maju ke depan orang, pedangnya ditebaskan !
Kim Leng Tojin terkejut, tetapi dia tak menjadi gugup.
Karena dia tak sempat menghunus pedangnya buat menangkis terpaksa dia lompat mundur.
Dia cuma lompat sambil mengibaskan tangan kirinya.
Tapi disisi dia, Tiang Heng Tojin membantu saudaranya itu dengan ia melakukan satu serangan tangan kosong yang hebat ke arah tubuh si anak muda, sedangkan Gouw Ceng juga tak berdiam saja.
Dia ini turut menyerang dengan kebutannya, menghadang di depannya Kim Leng Tojin hingga imam pria itu terhindar dari ancaman maut !
It Hiong merasai terjangan angin yang dahsyat, cepat sekali ia berlompat mundur.
Tiba-tiba saja insaf bahwa tak ada gunanya untuk melayani imam itu secara mati-matian.
Kim Leng Tojing tidak kabur terus, setelah lolos dari bahaya, ia kembali, ia hanya sekarang tangannya sudah lantas menggenggam dua buah senjata rahasianya ia ia beri nama "jie ie"
Menuruti kehendak hati"
Senjata mana biasa ia simpan didalam sakunya.
Inilah semacam peluru yang dapat menyiarkan hawa beracun yang bisa membuat orang tak sadarkan diri maka lengkapnya ialah hia hun hio atau peluru asap yang mempingsankan.
Segera ia menimpuk ke arah Kiauw In.
Dalam hal menimpuk itu, ia sudah melatih diri dengan sempurna.
Kedua peluru dibikin bentrok satu dengan lain terus meledak dengan berbunyi cukup nyaring.
Jie ie tan meledak tepat diatas kepala Nona Cio, lantas menghembuskan asapnya warna ungu, buyar ke pelbagai arah mengikuti tiupannya angin, baunya harum sangat menusuk hidung dan memusingkan kepala.
Kiauw In kena mencium bau asap itu, kontan dia limbung dua tindak terus roboh tak sadarkan diri.
Gouw Ceng tahu maksudnya Kim Leng merobohkan si nona, ia tidak sudi mengalah, maka juga tanpa menghiraukan halnya mereka lagi menghadapi lawan tangguh ia justru menegur kaka seperguruannya yang nomor dua itu Jie suheng.
"Eh, kakak bagaimana eh ?"
Demikian tanyanya.
"Kau.."
Kim Leng tidak menghiraukan pertanyaan itu menyusuli robohnya Kiauw In, ia lompat melesat kepada nona itu, kedua tangannya diulur maksudnya guna menjambret tubuh si nona guna digampit buat dibawa lari.
Berbareng dengan gerakan gesit imam itu, dia juga telah memperdengarkan jeritan dari kesakitan yang menyayatkan hati, tubuhnya telah terpental dan roboh terkulai dengan mandi darah, darahnya berhamburan disekitarnya.
Sebab justru dia lompat kepada Kiauw In justru orang menyambut kepadanya, tubuhnya dipapaki dihajar dengan tinju tangan berbareng tubuhnya itu tertolak mundur.
Tapi yang paling celaka ialah waktu ada sesosok tubuh lain yang mencelat ke arahnya sambil memperlihatkan sinar pedang berkelebatan dan sinar pedang itulah yang merampas rohnya dan membuatnya mandi darah.
Apakah yang sebenarnya terjadi ?
Kiauw In terkena asap beracun, kepalanya pusing dan tubuhnya limbung terus dia roboh tetapi itu bukannya berarti ia pingsan.
Obat pemunah racun kuat melindungi kesadarannya bahkan setelah merasai kepalanya pusing, insaf ia akan jahatnya asap ungu itu maka dengan kecerdikannya terus ia menggunakan akal berpura roboh lalu diwaktu rebah diam-diam ia memasang mata, selekasnya Kim Leng tiba ia menghajar dengan satu tinju dari lima "Heng Liong Hok Mo Ciang"
Membuat si imam terhajar hebat hingga muntah darah dan tubuhnya terpental balik, justru itu tiba juga tubuhnya It Hiong !
Si anak muda melihat segala apa ia terkejut, ia menyangka kakak seperguruannya roboh di tangan musuh, maka itu, agar dapat membantu ia lompat menghampiri Kim Leng Tojin, tanpa banyak pikir lagi ia sambut imam itu dengan pedangnya yang tajam.
Kemudian maka sampailah Kim Leng Tojin yang ceriwis dan cabel itu pada ajalnya hingga tamat sudah lakon hidupnya yang mesum !
Dua-dua Tiang Heng Tojing dan Gouw Ceng Tokouw menjadi kaget sekali.
Sudah menyaksikan kebinasaannya Hian Siu dan Hian Ho sekarang mereka mesti melihat tanpa berdaya kematian saudara seperguruannya itu sedangkan tadinya hati mereka sudah girang sebab nona lawannya itu kena dibikin roboh.
Bedanya cuma mereka kalau Tiang Heng girang sesungguhnya, Gouw Ceng hanya sesaat dan segera timbul jelus dan cemburunya terhadap sang Jie suheng.
Tapi setelah jie suheng itu terbinasa, kembali dia kaget dan hatinya mencelos.
Habis kaget, dua-duanya menjadi gusar, maka itu dengan muka merah dan mata mendelik mereka maju menyerang It Hiong.
"Bocah, serahkan jiwamu !"
Bentak Gouw Ceng yang menyerang dengan kebutannya.
Sementara itu It Hiong sudah lompat kepada Kiauw In dengan berniat mengasi bangun kakak seperguruan itu.
Ia girang akan mendapat kenyataan si kakak tak kurang suatu apa.
Karena mau menolong Nona Ciu, ia tidak menyangka jelek kepada Tiang Heng dan Gouw Ceng hingga tahu-tahu si imam wanita sudah menerjang ke arahnya.
"Kakak.."
Ia memanggil Kiauw In atau segera ia merasai serbuan anginnya serangan gelap.
Ia mengerti bahwa itulah ancaman bahaya, tanpa ragu pula ia menjatuhkan diri dengan jurus silat "Harimau lapar Menerkam Kambing"
Menyusul mana kakinya menyapu dengan jurus silat "Kaki Ekor Harimau"
Hingga dengan demikian selamatlah ia dari kebutannya si imam wanita. Di pihak lain, Gouw Ceng juga menjerit kaget. Inilah sebab geraka kaki dari jurus silat "Kaki Ekor Harimau"
Dari si anak muda yang hampir mengenai perutnya. Syukur ia gesit sekali dan dapat mengegos diri. It Hiong berlompat bangun, ia menuding si imam wanita sambil berkata keras .
"Jika kau benar mempunyai kepandaian, kau bertempurlah secara terang-terangan ! Kau main menyerang secara menggelap, tidakkah itu membuat orang memandang hina kepadamu ?"
Gouw Ceng berdiri diam, ia melengak sejak ia bebas dari ancama petaka.
Tegurannya si anak muda juga membuatnya bungkam, sebab tidak ada alasan untuk menyangkal atau membantah.
Disamping itu ia jeri terhadap pedang mustika si anak muda serta kegagahannya yang ia telah saksikan sendiri.
Ketika itu Teng Hiang Tojin telah lantas menunjuki kecerdikannya.
Ia memangnya beraninya cuma terhadap yang lemah dan takut kepada yang kuat, ia pula merasa lega sebab Gouw Ceng tidak kurang suatu apa.
Sebenarnya ia mempunyai latihan dari beberapa puluh tahun serta juga mengerti ilmu silat sesat yang disebut "Pan Bun To To", tetapi terhadap It Hiong ia ragu-ragu atau kurang gunakan.
Maka itu sampai itu waktu segera ia merogoh sakunya mengeluarkan kitab Sam Cay Kiam, yang mana terus ia angsurkan kepada si anak muda.
Tetapi supaya ia tidak kalah gertak, ia tertawa dingin dan kata .
"Ini kitabmu, ambillah ! Toya kamu tak membutuhkan kitab semacam ini !"
It Hiong menyambut, tangannya sampai bergemetar saking girangnya.
Karena orang menyerahkan kitab itu, ingin ia mengucapkan kata-kata sungkan, baru ia mau mengajak Kiauw In turun gunung.
Atau si imam telah mendahuluinya.
"Di dalam peristiwa hari ini, itulah bukan karena Toya kamu jeri terhadap kamu !"
Kata koancu dari Siang Ceng Koan jumawa.
"Yang benar ialah aku tidak mau turun tangan terhadap kamu, kawanan anak kecil ! Taruhlah aku menang, kemenangan bukanlah kemenangan kegagahan ! Mampusnya mereka itu juga menyenangkan hatiku, sebab dengan demikian maka adik seperguruanku bakal dengan setulusnya hati mencintai aku ! Kau telah ketahui, cukup sudah !"
Dengan adik seperguruan itu Tiang Heng maksudnya su moay, adik seperguruan yang wanita ialah Gouw Ceng Tokauw si imam wanita yang berbareng menjadi kekasih atau gula-gulanya.
It Hiong dan Kiauw In melengak mendengar perkataannya imam tua itu.
Itulah kata-kata atau sikap yang mereka tak sangka sama sekali hingga mereka dibuat heran karenanya.
Sesadarnya mereka, tanpa mengatakan sesuatu lagi, berdua mereka mengangkat kaki meninggalkan Kiu Kiong San.
Waktu sudah tengah hari selagi mereka berlari-lari.
Seluruh gunung sunyi kecuali oleh deru angin diantara pepohonan.
Mereka terus berlari keras sampai mereka tiba di jalan yang memasuki lembah Huyong ciang yang sempit itu.
"Kakak"
Berkata si anak muda yang menghentikan larinya.
"kakak, mari kita beristirahat disini sambil mengisi perut...' "Aku kuatir kakak sudah letih."
Memang anak muda ini menyayangi kakak itu, rasa bersatunya telah menjadi sangat erat.
Sekarang mereka bukan kakak beradik lagi, bukan su cie dan sute, hanya tunangan satu dengan lain.
Kiauw In sudah lantas turut menghentikan larinya, ia berbalik melirik adik seperguruan itu, senyumannya berpeta, lalu sambil mengangguk, ia pergi ke sebuah batu untuk berduduk disitu.
It Hiong menghampiri, keduanya terus duduk berendeng.
Si nona mengeluarkan bekalan rangsum keringnya, ia membagi kepada si anak muda, maka dengan begitu berdua mereka mulailah bersantap.
Beberapa kali Kiauw In menyingkap rambutnya yang dibuat main sang angin.
"Adik, apakah kau telah simpan baik-baik kitab pedang itu ?"
Kemudian si Nona Tanya sembari ia tertawa. It Hiong meraba ke dadanya.
"Jangan kuatir, kakak"
Sahutnya.
"Akan aku jaga baik-baik kitab ini, yang akan aku hargai melebihi jiwaku !"
"Sebenarnya"
Kata pula si nona.
"dengan berhasilnya perjalanan kita ke Huyong cian ini harus kita berterima kasih kepada bapak pendeta dari vihara Bie Lek Sin. Bapak pendeta itu telah memberikan kita obat pemunah racun hingga kita bebas dari gangguan racun itu."
"Dan juga..."
Berkata ItHiong yang tiba-tiba terhenti katakatanya.
Si nona heran, dia menatap muka orang.
Kiauw In cantik manis, halus kulit mukanya, dia luwes sekali.
Ketika itu, disaat hatinya terbuka, dia pula tampak ramah sekali.
"Dan.."
Katanya bersenyum.
"kita harus bersyukur juga pada malam dari muara Giok Poan Tha itu disaat Siang Goat Kouw Hui, Sepasang si putri malam saling memancarkan cahayanya yang indah permai. Itulah saat yang menyempurnakan cita-cita kita, kakak. Benar bukan kakak ?"
Kiauw In melirik.
"Cis !"
Ia kasih dengar suaranya.
"Adik, kapannya kau belajar jail begitu rupa ? Kau mulai nakal ya ? Ah, kau begini gembira, apakah kau telah melupai Paman Beng mu serta adik Peng atau kakak Peng mu itu ?"
Ditanya begitu It Hiong berdiam, wajahnya tak lagi tersungging senyuman seperti barusan.
Ya, ia lantas ingat Paman Beng nya, orang yang telah melepas sangat banyak budi terhadapnya, juga kakak Giok Peng nya itu terutama si Paman Beng yang lagi terkurung di Ay Lao San, yang perlu segera ditolongi.
Di lain pihak, ia juga ingat keruwetan diantara si kakak Giok Peng dengan Gan Hong Kun, hingga didalam sekejap ia dapat membayangi pula semua peristiwa di Lek Tiok Po dahulu hari.
Bagaimanakah semua itu harus dipecahkan ?
Selagi It Hiong memikirkan kakak Giok Peng itu sebab ia diingatkan oleh si kakak Kiauw In, maka Giok Peng sendiri sementara itu bersama dua orangnya telah kembali ke Lek Tiok Po, ke rumahnya.
Di ruang besar, ia menemui ayahnya serta dua orang kakaknya, begitupun sang paman emPek, yaitu paman tua Tong Wie Lam.
Paling dahulu ia memberi hormat dan menanyakan kesehatan ayah serta sekaliannya itu, baru pembicaraan beralih ke lain-lain urusan sampai akhirnya tiba kepada halnya Gak Hong Kun.
"Bocah she Gak itu nampak seperti orang gila hingga dia sangat memuakkan."
Berkata Pek Kiu Jie, sang ayah.
"Bahwa dia telah pergi kabur siang-siang itu adalah hal yang baik sekali. Anak Peng kalau nanti kau bertemu pula dengannya, jangan kau memandang-mandang lagi, jangan kasih hati, supaya tak usahlah dia nanti mengerocoki pula kita disini !"
"Hm !"
Tong Wie Lam memperdengarkan suara dihidung.
"Seumurku aku menjelajah dunia Kang Ouw, belum pernah aku bertemu dengan bocah bermuka tebal tak kenal malu seperti dianya ! Keponakan Peng, jika nanti kau bertemu dengannya, kau berhati-hatilah terhadap akal muslihatnya yang licik, supaya kau tak usah sampai kena terjebak !"
"Ayah, paman, terima kasih buat nasihat ini."
Berkata sang anak atau keponakan.
"aku dapat membawa diriku baik-baik. Andia kata dia berani main gila terhadapku, tak nanti aku beri hati padanya, aku akan menghajarnya !"
Kemudian nona menghampiri Pek Siauw Hoaw, kakaknya yang nomor dua.
"Kakak"
Tanyanya.
"apakah kesehatan kakak sudah pulih kembali ?"
"Sudah, adik"
Sahut kakak itu.
"tak usah kau mengkhawatirkan aku."
"Kakakmu malu pada dirinya sendiri"
Thian Liong, si kakak tertua berkata.
"Karena ilmu silatku tidak berarti maka telah terjadi peristiwa mengecewakan ini, hingga nama baiknya Lek Tiok Po turut tercemarkan oleh anak edan she Gak itu ! Eh, adik. mengapakah kau tidak pulang bersama-sama adik Tio ?"
Dengan "adik Tio"
Itu, Thiang Liong menyebutnya "moay hu"
Yaitu "suami dari si adik", suaminya Giok Peng.
Ia memanggil demikian karena menuruti aturan kekeluargaan walaupun pernikahan Giok Peng dan It Hiong itu secara luar biasa sekali.
Giok Peng tidak menjawab kakaknya yang tua itu, sebaliknya tanpa merasa ia mengucurkan airmata, ia berduka kalau ia ingat terlukanya kakaknya nomor dua itu serta "suasana"
Di ruang itu tatkala Hong Kun mengacau, ia seperti dapat membayanginya.
Jilid 18
"Semua ini salahku"
Katanya menyesal dan masgul sekali.
"Tak selayaknya aku bersahabat dengan bocah edan she Gak itu! Kau kakak, kau sampai terluka, sedang ayah ibu dan paman Tong menjadi pusing karenanya."
Kakak yang dimaksud si nona adalah kakaknya yang kedua, Siauw Houw, sedang mengenai Tong Wie Lam, ia menyebutnya paman yang telah dirobohkan oleh Hong Kun.
Selagi menyebut itu, saking gusarnya, tubuhnya sampai gemetar sendirinya, sebab ia mesti menguasai hawa marahnya.
Thian Long bangkit da mengusap-ngusap rambut adiknya itu.
"Sudah adikku."
Dia menghibur.
"Sudah jangan kita pikirkan pula bocah edan itu! Cuma kalau adik Tio pulang bersama, pastilah bocah edan itu jeri terhadapnya...."
Giok Peng mengeluarkan sapu tangannya guna menghapus airmatanya.
"Tatkala kami mendengarkan peristiwa ini, ketika itu kami lagi berada dirumah paman Liok Cim,"
Kata Giok Peng.
"Ketika itu adik Hiong gusar tak terkirakan segera dia mengajakku pulang supaya orang edan she Gak itu dapat dihajar! Aku kuatir urusan menjadi besar dan dapat mengguncangkan dunia Kang Ouw. Bukankah karena itu bisa bentrok dengan pihaknya dia itu? Bukankah sekarang justru sedang banyak urusan? Ketika itupun kitab ilmu pedang Sam Cay Kiam dari gurunya adik Hiong telah dicuri Hong Kun yang membuatnya jatuh kedalam tangannya Hian Ho si imam siluman dari Kim Hee Kiong. Hebat akibatnya andiakata imam itu dapat kesempatan mempelajari ilmu pedang itu, maka itu perlu adik Hiong lekas mencari dan merampasnya kembali. Kitab itu seterusnya jatuh ketangan imam-imam dari Kiauw Kiong San, supaya kitab itu dapat dirampas pulang, adik Hiong telah pergi bersama kakak Kiauw In. Kitab itu sangat penting, karena itu aku tak berani mengganggu waktu yang sangat berharga buat adik Hiong, maka juga sekarang aku pulang seorang diri. Kalau urusan disini sudah beres, aku memikir untuk pergi menyusul adik Hiong dan kakak In itu."
"Oh, begitu?"
Kata Thian Liong yang melengak sebentar, terus dia tertawa.
"Maaf aku keliru menyesali adik Hiong!"
Wie Lam gusar mendengar halnya Hong Kun mencuri kitab ilmu pedangnya Tek Cio Siangjin, sampai ia menggebrak meja.
"Bangsat cilik itu benar-benar manusia yang berwajah binatang!"
Katanya sengit.
"Tidaklah keterlaluan kalau kalian bikin dia mampus!"
"Anak Peng"
Berkata Kiu Jie sabar.
"Kau habis melakukan perjalanan jauh, pergilah kau beristirahat. Pergi kau menemui ibumu dahulu! Jangan kau pergi ke Ciat Yan Siaw, sigila itu!"
Giok Peng menurut, ia memohon perkenan terus ia mengundurkan diri.
Ketika ia bertindak kedalam, hatinya berat, pikirannya kacau.
Ia berjalan dengan perlahan dengan demikian ia bisa melihat segala sesuatu didalam rumahnya itu, yang mengingatkan segala apa, dari segala perabotan sampai pohon-pohon kembang.
Hanya saat itu ia tak sempat memperhatikannya, ia menuju kedalam dimana ia menemui ibunya, Ban Kim Hong.
"Mama!"
Ia berseru memanggilnya seraya terus menubruk merangkul ibunya itu, selekasnya ia mengngkat kedua belah tangannya memberi hormat, kemudian ia lantas menangis tersedu-sedu.
"Ah,anak..."
Berkata sang ibu yang terus mengelus elus rambut putrinya itu.
"Kau baru pulang anak? Kenapa kau berduka begini rupa? Apakah kau merasai sesuatu penasaran...?"
Dengan air mata berlinangkat mukanya, mengawasi ibunya.
"Aku menyesal buat urusan Gak Hong Kun, ibu"
Sahutnya berduka.
"Dialah si iblis pengganggu jiwa ragaku! Kenapa dia selalu menyusahkanku, membuatku taka man?"
Diapun sekalian menuturkan halnya pemuda she Gak itu sudah mencuri kitab ilmu pedang.
"Sudahlah anak, sudah"
Ibu yang baik hati itu menghibur.
"Kau jangan pikirkan pula orang edan itu. Yang paling perlu adalah memperhatikan suami dan anakmu. Anakmu baik-baik saja. Kau justru harus melewatkan hari-harimu yang menggembirakan! Jangan pedulikan soal kecil, hanya utamakan saja kesehatamu. Mengenai Gak Hong Kun, setelah kau pulang ini, ibu da ayahmu tahu bagaimana harus mengambil tindakan...."
Justru waktu itu seorang budak perempuan mendatangi bersama Hauw Yan. Si anak yang baru saja disebut dan baru mulai belajar, bahkan dengan caranya yang lucu anak itu berkata pada neneknya.
"Nenek -nenek, kakak ini tak mau mengajak aku main-main...dia...dia...dia mengajak pulang."
Sang nenek tertawa.
"Dia tak mau bermain dengan mu tidak mengapa", katanya.
"Kau boleh bermain-main dengan nenek! Nah, kau lihat ini! Siapakah ini?"
Nyonya tua itu menunjuk puterinya. Hauw Yan mengawasi ibunya, matanya dibuka lebar-lebar.
"Ma...mama...!"
Segera ia memanggil. Bukan main girangnya Giok Peng, ia lompat pada anaknya itu untuk lantas menyambarnya buat diangkat dan dipeluk.
"Anak manis!"
Serunya sambil terus menghujani ciuman.
"Anakku!"
Maka sekejap itu buyarlah kesusahan hati ibu ini. Ban Kim Hong sementara itu memerintahkan budaknya yang barusan memomomg Hauw Yan.
"Kau beritahukan semua budak lainnya tentang pulangnya nonamu ini, jangan sampai beritahukan pada orang she Gak itu! Mengertikah kau?"
"Mengerti, nyonya!"
Sahutnya sang budak, yang terus memberi hormat dan mengundurkan diri.
Giok Peng terus melayani anaknya yang manis itu.
Besok siangnya, nona Peng memberitahukan ayah ibunya bahwa ia hendakmenemui Gak Hong Kun.
Orangtuanya setuju, namun harus ditemani ibunya serta kakak tertuanya, Thian Long.
Tiba di muka loteng Ciat Yan Lauw, Giok Peng berkata pada ibu dan kakaknya.
"Ibu dan kakak jangan turut masuk dahulu, tunggu saja disini dahulu, biar aku yang menemuinya, hendak aku lihat tingkahnya. Kalau sampai terjadi pertempuran barulah ibu dan kakak masuk membantu."
Ibu dan kakak itu mengangguk, maka menantila mereka diluar.
"Asal kau berhati-hati, anak!"
Pesan ibunya.
Giok Peng lantas bertindak memasuki ruang depan.
Ia melihat sebuah ruang yang kosong.
Tak ada kursi, meja dan perabot lainnya.
Ditembok juga tak tergantung barang apapun juga.
Hal ini membuat ia jadi mendongkol.
Ruang itupun sangat sunyi, Hong Kun tak tampak sekalipun bayangannya.
"Gak Hong Kun!"
Ia lantas memanggil.
"Gak Hong Kun!"
Dari dalam kamar-kamar tidur terdengar suara bagaikan orang terasadar, terus itu disusul suara cacian "Ah, budak mana yang begini kurangajar, berani memanggil-manggil aku dengan namaku saja.
Dia harus dihajar...!"
"Manusia bermuka tebal, kau keluarlah!"
Giok Peng membentak gusar.
"Mari keluar, beranikah kau menemui aku Pek Giok Peng!"
Hong Kun memperdengarkan suara kaget dan heran, lantas orangnya melompat keluar.
"Oh adik Peng, adik Peng, kau pulang?"
Serunya.
"Maafkan buat kata-kataku barusan..."
Ia berlari menghampiri si nona yang ia sambar kedua tangannya untuk ditatap mukanya! Giok Peng menepis tangan orang hingga anak muda itu terpelanting.
"Kau pakailah aturan!"
Bentaknya.
"Mari kita bicara, buat apa kau minta maaf, kalau kau berlaku sangat kejam terhadapku?"
Nona itu melangkah kekursi dipojok di sana ia terus menjatuhkan diri untuk duduk.
Ia masih dapat menguasai dirinya.
Dari situ ia mengawasi si anak muda.
Pakaian Hong Kun tidak rapi, rambutnya juga kusut kecuali ia tampak bengong saja, kesehatannya tidak terganggu.
Dia berdiri diam dengan mata mengawasi si nona, nyata dia tak wajar lagi.
Dia menjadi tenang setelah Kiu Jie menjanjikan akan mengirim orang pergi menyusul dan mengajak Giok Peng pulang.
Agaknya dia memperoleh harapan.
Cuma selain pendiam ia juga tidak menghiraukan pula perawatan dirinya.
Habis menatap si nona, Hong Kun pergi duduk, kedua tangannya dipakai membuat main rambutnya.
Beberapa kali ia tunduk, lalu kembali mengawasi nona di depannya itu.
Sekian lama itu ia tetap membungkam.
Giok Peng pun mengawasi tanpa mengucap sepatah kata, menyaksikan kondisi sipemuda, timbullah rasa kasihannya.
Sebab anak muda itu menjadi kacau pikirannya disebabkan gagal dalam soal asmara dengannya.
Tapi kapan ia ingat orang telah berlaku kurang ajar dan mengacau, timbul pula hawa marahnya.
Bukankah ayah bundanya telah diperhina dan kakaknya dilukai pemuda edan itu?
Cinta itu pikirnya kemudian, cinta ialah taman firdaus muda mudi, tetapi itupun tempat makamnya si anak-anak muda.Memikir demikian nona ini menghela napas panjang.
Demikian muda mudi ini sampai sekian lama saling berdiam saja, Cuma kadang-kadang terdengar helaan napas mereka.
Akhirnya Giok Peng disadarkan oleh batuk-batuk ibunya diluar jendela.
"Gak Hong Kun!"
Demikian sapanya.
"Gak Hong Kun kau telah datang kemari katanya mencari aku, lagakmu seperti orang gila, mau apakah kau? Sekarang aku berada disini dan kita sudah bertemu muka, kenapa kau berdiam saja? Bicaralah!"
Suara nona itu keras dan tandas. Hong Kun tetap membungkam, kedua tangannya memegangi kepalanya, wajahnya diam tak berubah.
"Apakah yang kau pikir tentang perbuatanmu disini?"
Giok Peng berkata pula.
"Mengertikah kau bahwa itulah perbuatan buruk sekali? Jika kau insyaf dan tidak dapat mengatakan sesuatu, terserah kepada kau, aku tidak mau bila ada apa-apa lagi! Supaya aku tak usah bertemu pula denganmu!"
Tiba-tiba saja Hong Kun mengangkat kepalanya, dengan kedua mata dipentang lebar ia mengawasi tajam kepada nona di depannya itu.
"Jadi kau begini tega hati terhadap aku?"
Demikia tanyanya.
"Kau tahu sendiri aku Gak Hong Kun, apa yang aku lakukan seua buat kebaikanm! Kau lihat sekarang, orang sampai menganggap aku seorang gila! Aku dianggap tak tahu malu! Sekarang kau datang, kau juga tak mau mengingat persahabatan kita dahulu, kau mengusirku! Kenapa kau tidak mau menghiburku? Kalau demikian baiklah kau bunuh saja aku, supaya tak usah setiap pagi dan sore aku memikirkan dirimu! Kau tahu hatiku terasa ditusuk-tusuk saja!"
Nona Pek menghela napas.
"Gak Hong Kun,"
Katanya.
"Kau bukan lagi seorang anak kecil, kau pintar dan cerdas, kenapa sekarang pikiranmu gelap begini rupa? Kau toh tahu cinta tidak dapat dipaksakan?"
Pemuda itu mengangguk.
"Adik Peng"
Katanya sabar.
"Walaupun Gak Hong Kun bodoh, diapun tahu cinta tak dapat dipaksakan, akan tetapi harus ingat saat sebelum kau bertemu dengan saudara Tio itu! Bukankah kita sering berpesiar bersama, mendayung perahu dan menunggang kuda dan berbincang dibawah sinar puteri malam? Atau kita berkumpul diantara terangnya sinar api? Ketika itu , kau memanggilku kakak dan aku memanggil kau adik, hati kita bagaikan bersatu. Apakah ketika itu Gak Hong Kun telah berbuat salah? Adik dengar! Hari ini tak peduli bagaimana sikapmu terhadapku, aku tetap mencintai kau! Justru demimu aku telah datang kemari! Kau bialng tentang hubunganmu dengan adik Tio? Itu adakah karena anjuran orang atau karena kerelaanmu? Jawablah!"
Dan dia menatap tajam dan bengis, matanya tak pernah berkedip!
Giok Peng diam berpikir.
Pertanyaannya pemuda itu tepat sekali, maka ia jadi membayangkan hubungan mereka dahulu.
Gak Hong Kun menantikan, lalu dia tertawa dingin .
"Aku tahu bahwa rejekiku tipis sekali,"
Katanya pula.
"Dimasa ini selama hidup kita tak ada harapanku lagi untuk hidup bersama denganmu adik Peng. Inilah yang dibilang air mengalir ketimur tanpa kembali."
"Apalagi yang dapat kubilang? Aku Cuma merasa menyesal telah terlalu percaya bahwa cinta itu putih bersih bahwa Cinta tak dapat diminta dengan paksa! Inilah yang membuatku menyesal dan penasaran seumur hidupku! Coba dahulu hari aku mencontoh perbuatan saudara Tio di loteng Ciat Yan Lauw ini, tak nanti terjadi urusan kita sekarang ini."
Pikiran Giok Peng kacau, kata-kata Hong Kun membuat otaknya bekerja keras, tapi mendengar kata-katanya itu hatinya menjadi panas. Orang telah mencela It Hiong! Iapun turut terembet! "Tutup mulutmu!"
Mendadak ia membentak.
"Adik Tio adalah seorang laki-laki sejati, dia tak berhati kotor sepertimu! Aku justru telah melihat kelicikanmu, maka aku menjauhkan diri darimu! Tentang hubunganku dengan adik Hiong, kau tanyakan Teng Hiang, kau nanti tahu dengan jelas sekali! Kenapa kau menuduh yang tidak-tidak? Kenapa kau memfitnah adik Hiong?"
Hong Kun menghela napas panjang.
"Semua hal sudah lewat, tak mau aku menimbulkannya pula,"
Katanya perlahan.
"Cuma hendak aku bertanya, adik Peng bagaimanakah perasaanmu pada saat pertama kita bertemu? Kenapa kau menjauhkan diri? Apakah aku pernah melakukan kesalahan terhadapmu? Hari ini adik, aku bilang terus terang tak peduli apa sikapmu terhadapku aku tetap mencintaimu dan untuk kebaikan kita, maka aku telah datang kemari, bukan anjuran dan tipu muslihat orang? Apakah sebab memang kau rela?"
Kembali si anak mda menatap tajam. Ia bilang urusan dapat dilewati namun dia masih menegasi! Giok Peng tertawa tawar.
"Aku terima kebaikan hatimu!"
Katanya sama tawarnya.
"Urusanku dengan adik Hiong tidak ada sangkut pautnya dengan kau!"
Mata Hong Kun terbuka lebar.
"Kau tidak bicara menurut suara hatimu!"
Bentaknya.
"Selama aku masih hidup, kau nanti lihat!"
Giok Peng mencelat bangun.
"Kau berani berbuat kurang ajar!"
Bentaknya. Hong Kun tunduk, dia terdiam. Rupanya dia tengah berpikir, karena kemudian sambil mengangkat kepalanya dia bertanya .
"Saat ayahmu membuat persiapan tentang persiapan pernikahan kita, kenapa kau tidak menentangnya? Kenapa setelah tiba hari pernikahan kau berpura sakit dan menunda harinya? Kenapa keu menyuruh Teng Hiang menemui aku untuk kita membuat pertemuan diluar desa? Dengan begitu, bukankah kau mempermainkan cintaku, kau menjual aku Gak Hong Kun? Kalau tidak, kau pastilah sudah kena didesak Tong Wie Lam si tua bangka....!"
Mau tak mau Giok Peng tertawa.
"Gak Hong Kun, kau berpikir berlebihan!"
Tegurnya.
"Mana dapat kau main menerka-nerka dan menuduh saja? Baiklah aku teus terang, Jodohku dan adik Hiong sudah terangkap selama berada dikota Hap Hui, disebabkan satu tusukan pedang! Pada bahuku masih ada tandanya! Apakah kau hendak melihatnya, baru hatimu puas?"
Tubuh Hong Kun menggigil mendengar keterangan Giok Peng itu, mukanyapun pucat.
Ia berdiri diam bagaikan boneka kayu.
Pada saat itu, dari luar ruangan terdengar tindakan kaki perlahan dibarengi tawanya seorang anak kecil, lalu meyusul masuk seorang budak perempuan yang masih kecil dengan Hauw Yan dalam rangkulannya.
"Nona!"
Memanggil sibudak yang bernama Kui Hoa.
"Tuan kecil ini ribut mencari nona!"
Hauw Yan sibocahpun sudah lantas memanggil.
"Mama! Mama!"
Dan lantas dia mengulurkan kedua belah tangannya untuk minta dirangkul ibunya itu, kemudian didalam rangkulan sang ibu dia masih mengoceh saja....
Sambil memeluk anaknya itu, Giok Peng melirik Hong Kun.
"Hong Kun!"
Tanyanya.
"Kau hendak bicara apalagi? Aku akan pergi!"
Orang yang ditanya itu berdiam, Cuma kepalanya digelengkan.
Dia tampak sangat putus asa.
Giok Peng membawa anaknya bertindak ketangga loteng, tiba di muka tangga ia memutar tubuh, lalu berkata pada si anak muda ."Peristiwa kita yang lampau sekarang sudah elas dapat dimengerti!
Kaulah seorang cerdas, pasti kau dapat mengenali salah paham diantara kita itu!
Karena itu janganlah karena kecewa dan bersusah hati kau terjerumus kedalam laut penasaran yang luas.
Dengan wajah dan ilmu silat yang kau miliki, tak usah kau kuatir dalam dunia ini tidak ada seorang nona yang akan mencocoki hatimu!
Aku bilang terus terang padamu, Giok Peng tidak ada kelebihannya, bahkan sekarang dia adalah seorang ibu yang telah mempunyai anak, karena itu tidak ada harganya lagi untuk kau menggilainya...."
Tiba-tiba Hong Kun mengangkat mukanya menatap si nona atau lebih tepat nyonya! Dia menatap sebentar saja, lantas dia merangkapkan kedua tangannya untuk memberi hormat dan berkata.
"Adik Peng, kata-katamu ini mengenai hatiku yang cupat dan pepat, jangan kau sangka Gak Hong Kun adalah seorang yang hina dina, yang Cuma menggemari muka yang berpupur! Sebenarnya wajahmu adik, sudah tertera didalam hatiku dan tak mudah dihapus! Bicara tentang kecantikan, kau kalah setingkat dari Pek Lah Hoa, sedang dalam kecerdikan dan pandai melayani kau kalah dua kali lipat dari Teng Hiang sibudak, tetapi.... Ah, sudahlah aku Gak Hong Kun, aku telah kehilangan landasan asmaraku, maka tidak ada jalan lain lagi daripada pergi menjadi pendeta...."
Giok Peng terharu mendengar kata-kata itu. Hatinya guncang, tanpa terasa air matanyapun mengembang, maka ia lantas berkata perlahan.
"Beginilah hidup manusia....kita menjadi permainan cinta..... Baiknya kau jangan menyulitkan dirimu sendiri, jangan menjadi tawar hati, jangan karena aku seorang wanita biasa, kau merusak hari depanmu yang penuh pengharapan!...."
Hong Kun gelak tertawa.
"Ya, kita hidup sebagai permainan cinta!"
Serunya, lalu ia menghela napas dan menambahkan.
"Bagaimana adik Peng? Dapatkah kau menemani aku minum arak barang satu cawan saja buat melewati detik malam ini, sebagai kata selamat jalan? Dapatkah?"
Giok Peng berpikir keras, ia mengangguk.
"Baik, akan aku temani kau minum satu cawan arak,"
Sahutnya.
"Aku harap dengan secawan arak itu nanti kau cuci bersih semua lakon yang telah lau, supaya selanjutnya kita menjadi sahabat-sahabat orang Kang Ouw yang baru!"
Terus si nona berpaling kepada budaknya buat menyuruh dia lekas membawakan arak berikut barang hidangannya.
Tatkala itu sudah mendekati magrib.
Diatas meja loteng itu sudah tersedia perjamuan lengkap.
Hauw Yan mengiler melihat barang hidangan yang masih mengepul itu.
Giok Peng menjepit sepotong daging ayam terus disuapi kemulut anaknya, kemudian sambil menyerahkan si anak kepada Kui Hoa, ia berkata.
"Anak yang baik, pergi kau ikut Kui Hoa untuk menemui nenekmu, sebentar mama akan menemani kau bersantap!"
Sedangkan kepada sibudak ia menambahkan.
"Bawalah tuan kecilmu ini turun..."
Kiu Hoa menurut, ia lantas berlalu bersama Hauw Yan.
Dilain saat kedua muda mudi itu duduk berhadapan menghadapi barang hidangan.
Hong Kun mengisikan cangkir si nona dan cangkirnya sendiri, lalu ia mengangkat cangkirnya itu sambil berkata .
"Adik Peng, aku bersyukur karena kau begini baik hati terhadapku, maka dengan jalan ini juga aku mohon pamitan dari kau! Mari minum!"
Giok Peng mengangkat cawannya, dia tertawa da berkata.
"Akupun mau memberi selamat jalan padamu! Kakak Hong Kun semoga kau berhasil dan bahagia!"
Bukan main senangnya Hong Kun mendengar ucapan "Kakak Hong Kun"
Hatinya nyeri sekali.
Segera ia mengangkat kepala dan cawannya untuk menegak dan mengeringkan isinya, sesudah mana ia cepat mengisikannya pula.
Giok Peng mengawasi pemuda itu, ia melihat wajah orang bercahaya lalu suaram pula.
Lantas ia sadar akan kekeliruannya sudah memanggil "Kakak Hong Kun"
Itu. Karena itu ia lekas-lekas berkata nyaring.
"Seorang laki-laki dia harus memandang jauh ke depan, jika Cuma berkecimpung didalam asmara dia akan kehilangan sifat jantannya! Itulah yang dibilang pinter keblinger! Benar , bukan?"
Hong Kun mmenyeringai sedih.
"Adik Peng kau membawa tingkahnya siguru sekolah yang lagi memberikan kuliahnya...."
Katanya lesu.
"Tak berani Hong Kun menerima itu, usaha itu kosong melompong! Harta bagaikan mega yang melayang-layang! Mana dapat dibandingkan dengan seseorang yang rindu akan cinta dan selalu didampingi kekasihnya? Siapa menyayangi cinta kasihku itu, barulah namanya bahagia!"
"Telah aku bilang!"
Kata Giok Peng.
"Aku hanya itu seorang ibu yang telah mempunyai anakku, Hauw Yan! Bagiku soal asmara ialah masa lalu, maka itu baiknya jangan kita bicarakan lagi. Itu Cuma menambah keruwetan pikiran saja!"
Hong Kun menghela napas.
"Tak apa untuk tidak membicarakannya,"
Katanya berduka.
"Hanya itu....."
Sang gunting tak sanggup mengguntingnya putus....Gak Hong Kun harus merasa malu karena dia tak mempunyai kemampuan untuk mengatasinya..... Ia lantas mengangkat cawannya untuk terus berkata.
"Malam ini mari kita minum sampai habis kegembiraan kita! Bukankah menghadapi arak orang harus mabuk? Peduli apa kita akan soal esok hari!"
Anak muda ini menghirup pula cawanya itu, diisi lagi dan dihirup lagi beruntun sampai lima cawan!
Giok Peng melihat poci arak sudah kosong, tapi ia berpikir untuk meloloh orang dan membuatnya rebah tak berdaya, maka ia tertawa.
"Ya, kalau kau begini gembira baiklah akan aku panasi arak Pek Lo Cun untukmu, sekalian buat mengucap selamat jalan padamu!"
Segera si nona memanggil seorang kacung yang menanti dibawah loteng buat menyuruhnya lekas memanaskan arak yang ia sebutkan itu dan dibawa kepada mereka.
Ketika itu lilin telah dinyalakan hingga ruang mungil dari loteng dimana mereka duduk berhadapan tampak terang sekali.
Hatinya Giok Peng tidak tenang, tetapi pada wajahnya ia menunjukkan tampang sabar sekali.
Sebisa-bisa ia berlaku tentram.
Hong Kun sebaliknya, dia tampak bergembira.
Giok Peng mengangkat poci arak untuk mengisi cawannya pemuda itu.
"Kau cobailah arak Pek Lo Cun ini,"
Katanya tertawa.
"Bagaimana tentang harum dan lezatnya?...."
Hong Kun menghirup arak itu, tiba-tiba dia tertawa bergelak da matanya bersinar tajam galak, terus dia menatap si nona di depannya. Matanya itu bersinar dingin menakutkan...
"Kau kenapa ah?"
Tanyanya.
"Apakah arak itu kurang keras?"
Hong Kun menyeringai.
"Araknya baik sekali"
Sahutnya.
"Itu hanya membangkitkan aku...."
Nona Pek mengawasi.
"Apakah itu?"
Tanyanya.
"Dapatkah kau menuturkannya? Barangkali dapat aku membantu kau untuk memecahkannya..."
Hong Kun mengawasi nyalanya licin.
"Itulah aneh!"
Katanya menjawab si nona.
"Kita bersamasama berada diatas loteng Ciat Yan Lauw ini, kau menemani aku bersantap dan minum arak, adik tetapi dengan kau terpisah bagaikan langit dan bumi!"
Demikian katanya. Giok Peng mendelong.
"Ah!.....apa katamu?"
Tanyanya. Hong Kun tertawa pula, tertawa sedih.
"Buat apa mengatakannya?"
Katanya.
"Beberapa tahun lalu, saudara Tio bersama adik Peng makan dan minum arak bersama disini, dan dia telah berhasil seperti seorang calon yang telah lulus memenangkan ujian tertinggi! Tapi sekarang kau dan aku bersama minum disini, tapi arak sekarang berlainan dengan arak yang dulu itu! Kalau dulu orang berbahagia, kita sekarang justru bersusah hati soalnya kita bakal segera berpisah! Oh, sungguh kejam Tuhan mengatur jalan hidup Gak Hong Kun!"
Walaupun mengatakan hal demikian, si anak muda tetap tertawa bergelak, hanya berbareng dengan itu air matanya keluar dua tetes dari matanya.... Giok Peng mengawasinya dan tertawa.
"Kau sudah mabuk!"
Katanya nyaring.
"Sudah jangan minum lebih banyak lagi! Pergilah masuk kedalam kamar!"
Biar bagaimana tak tega hatinya menyaksikan penderitaan sipemuda. Tubuh Giok Kum menggigil.
"Semoga aku mabuk tak sadarkan diri!"
Katanya.
Dan kembali ia minum araknya, hanya kali ini lantas kepalanya mendekam diatas meja hingga sumpit dan cawannya berserakan jatuh kelantai.
Giok Peng lantas berbangkit hendak menghampiri si anak muda buat mengangkat tubuhnya, buat dibantui pindah kekamarnya, mendadak Thian Liong muncul diambang pintu.
"Adik kau pulanglah!"
Demikian kakak itu berkata.
"Nanti aku yang membantunya naik keatas pembaringannya!"
Si adik melengak tapi dia menurut tanpa berkata suatu apa.
Ia keluar dari ruang itu dan turun dari tangga yang disambut oleh ibunya yang mengajaknya pulang kerumah besar.
Thian Liong dengan dibantu seorang kacung memondong tubuhnya Hong Kun kedalam kamar dimana dia direbahin setelah mana dia ditinggalin seorang diri.
Paginya Hong Kun tampak duduk simpruh diatas pembaringan memikirkan apa yang terjadi tadi malam.
Arak membuatnya tidur lupa daratan tapi setelah sadar, dapat ia mengingat-ingatnya.
Ia merasa pikirannya makin kacau.
"Apakah setelah sadar begini aku lantas pergi angkat kaki?"
Kemudian dia Tanya pada dirinya sediri.
Lantas dia berpikir keras.
Angin pagi berhembus kedalam kamar, meniup dan mengerak-gerakkan gambar lukisan yang tergantung didinding kamar.
Mendengar suara bergerak-gerak si anak muda terkejut, segera ia menoleh maka ia melihat perihalnya gambar lukisan itu.
"Co Beng Tek Melintangkan Tombak"
Yang diikuti syairnya, lukisan itu bagaikan hidup dan tulisan hurufnya bagus sekali, entah siapa pelukisnya.
Hong Kun terpelajar, tahulah ia siapa Co Beng Tek itu, yaitu Co Coh si perdana menteri dorna jaman kerajaan Han, bahkan ia ingat juga kata-katanya dorna itu.
"Biarlah aku mengecewakan orang dikolong langit, jangan orang dikolong langit yang mengecewakan aku."
Mengingat itu tiba-tiba tergeraklah hatinya, maka katanya seorang diri.
"Apakah aku Gak Hong Kun dapat bersabar menerima perbuatan orang yang mengecewakanku? Dapatkah aku menerima hinaan dari Tio It Hiong yang telah merampas kekasihku? Dapatkah aku menerimanya semua itu dengan tunduk kepala saja! Tak peduli apa juga aku mesti membikin adik Peng berada kembali dalam rangkulanku! Biarlah aku turut kata-katanya Co Coh, biarlah aku mengecewakan orang dikolong langit! Aku harus lakukan itu sekehendak hatiku! Sepuasku!. Adalah biasa bahwa seseorang suka berbuat keliru, karena kekeliruannya disatu saat hingga tertutuplah kesadaran hati sanubarinya yang putih bersih hingga akhirnya celakalah tubuh raganya, hingga berakhir dengan kesudahan yang menyedihkan. Demikian dengan Gak Hong Kun ini. Dia telah terjerat dengan kata-katanya Co Coh itu karena kalah bersaing asmara, dia hendak melakukan pembalasan dan tak memikirkan akibatnya nanti. Segera setelah mengambil keputusan, maka Hong Kun lantas memikirkan cara atau jalannya pembalasan yang hendak diperbuatnya itu. Ia memikirkan diri Giok Peng sampai ia ingat kepada Hauw Yan, anaknya yang masih kecil itu. Pikirnya.
"Lenyapnya Sam Kiam tidak membuatmu sibuk, hanya si orang she Tio yang repot mencarinya kembali, tapi Hauw Yan adalah buah hatinya, kalau dia terjatuh kedalam tanganku mustahil kau tak bakal tunduk dan menurut saja segala kehendakku?"
Memikir demikian, maka bersemangatlah anak muda itu, mendadak ia lompat turun dari pembaringannya, dengan cepat merapikan pakaiannya dan mengambil pedangnya.
Dan bergerak turun dari loteng Ciat Yan Lauw.
Sudah banyak hari Hong Kun tinggal di Lek Tiok Po, maka ia kenal baik rumah itu dan sekitarnya.
Maka itu seturunnya dari loteng, ia berjalan diantara pohon-pohon bunga dengan hati-hati.
Ia menyingkir dari pandangan siapapun penghuni rumahnya Giok Peng dengan begitu dia berhasil lompat naik ketembok halaman dalam dimana dia lantas mendekam untuk menyembunyikan diri.
Diwaktu demikian semua pegawai pria dan wanita tengah berdiam didalam rumah.
Itulah sebabnya kenapa Hong Kun tak terpergoki.
Dengan sendirinya diapun jadi bebas bergerak.
Sambil mendekam anak muda ini melihat kesekitarnya.
Tatkala itu seluruh Lek Tiok Po sunyi sekali, maka juga orang lantas dapat mendengar nyata ketika tiba-tiba ada suara anak kecil bernyanyi-nyanyi.
"Matahari muncul ditimur, bunga harum, kupu-kupu repot beterbangan...."
Nyanyian itu kadang-kadang terhenti sebentar.
Hong Kun lantas melompat kesebuah pohon da bersembunyi diantara dahan-dahan dan daun.
Dia melihat kebawah, ke arah darimana suara nyanyian itu datang.
Segera tampak Hauw Yan lari mendatangi dengan tindakan perlahan, tangannya dituntun seorang budak perempuan kecil.
Sibudak yang bernyanyi mengajari sibocah cilik itu....
Bukan main girangnya Hong Kun ketika ia melihat Hauw Yan dan budaknya itu, Kui Hoa.
Disaat mereka itu menikung disebuah jalan kecil, ia berlompat turun diatas sebuah pohon.
Tubuhnya yang ringan dan lincah membuatnya menginjak tanah tanpa bersuara.
Lalu ia menguntit dengan hati-hati.
Belum jauh, maka Hong Kun memungut sebuah batu kecil, terus ia timpukkan ke depan Hauw Yan bedua sejarak tiga kaki di muka mereka itu.
Karena caranya ia menimpuk, ia membuat batu berkisar seperti berputar.
"Bagus sekali!"
Hauw Yan berseru sambil bertepuk tangan.
"Kakak Kui Hoa, lihat, katak hijau itu bagus sekali...!"
Dia mengatakan katak, sebab ia tak dapat segera mengenalinya.
Kui Hoa hendak menjawab anak asuhannya itu namun mendadak mulutnya dibekap dari belakang, hingga ia tak dapat membuka mulutnya.
Sedangkan satu totokan pada jalan darah hek tiam di belakang kepalanya membuat ia tak sadarkan diri.
Itulah Hong Kun yang telah menurunkan tangannya yang lihai sebelum sibudak memergokinya.
Sesudah itu ia lompat kepada Hauw Yan untuk merangkulnya sambil menutup mulut si anak.
Segera anak itu dibawa lari ketembok Pekarangan dan berkat larinya yang gesit dan pesat ia sudah berada diluar wilayah Lek Tiok Po.
Giok Peng dan ibunya yang duduk bersantap, waktu itu mereka mendengar laporan dari kacungnya yang membawa makanan buat Hong Kun bahwa loteng itu sudah kosong.
Giok Peng mengangguk dan tertawa.
"Kau boleh mengundurkan diri!"
Katanya pada sikacung, setelah mana ia meneruskan pada ibunya.
"Mama, selanjutnya kita tak usah pusing-pusing lagi! Rupanya Gak Hong Kun tidak mempunyai muka untuk bertemu dengan kita, maka dia pergi tanpa pamitan lagi, benarkah itu?"
"Selama beberapa hari kita telah diganggnya hingga kita menjadi merasa tidak aman,"
Berkata sang ibu.
"Maka itu lebih cepat dia berlalu lebih baik pula!"
Sang putri tersenyum.
Habis bersantap, Giok Peng ingat anaknya.
Biasanya setelah bangun pagi, Hauw Yan diajak Kui Hoa kedalam taman untuk bermain atau jalan-jalan sebentar.
Setelah itu barulah anak itu sarapan.
Tapi sampai sekarang, lebih siang dari biasanya, si anak dan sibudak belum juga muncul, sang ibu berpikir.
"Mungkin mereka terlalu gembira bermain-main maka mereka terlambat pulang..."
Tapi ia teap berkata pada ibunya.
"Ah, si Kui Hoa dia main entah apa! Sampai begini hari belum juga mengajak Hauw Yan pulang untuk bersantap..."
Berkata begitu, ibu ini lantas bertindak keluar.
Ia tak mau menyuruh orang mencarinya, ia mau pergi melihat sendiri.
Ia berjalan perlahan-lahan.
Lantas ia menjadi heran karena tidak melihat siapa-siapa dan juga tak terdengar suaranya Hauw Yan atau Kui Hoa.
"Ah, kemanakah mereka?"
Pikirnya, setelah mana ia berteriak nyaring memanggil.
"Hauw Yan, Hauw Ya anak manis, mari pulang, anak kau belum bersantap! Kau bermain dimana?"
Pertanyaan atau panggilan itu juga tiada jawabannya.
"Aduh!"
Pikir ibu itu yang lantas tercekat hatinya, karena ia mulai berkuatir sebab ia lantas menduga jelek.
Dengan sendirinya ia lantas bertindak cepat memasuki taman bunga.
Taman sunyi disitu, tak nampak siapapun juga.
"Ku Hoa! Kui Hoa!"
Giok Peng memanggil-manggil. Kembali tiada jawaban, taman tetap sunyi senyap.
"Mungkinkah Kui Hoa membawa Hauw Yan keruang besar untuk bermain dengan kakeknya?"
Pikirnya pula.
"Hanya biasanya diwaktu pagi begini, mereka tak suka pergi ke depan....."
Maka ibu ini berjalan terus dengan langkah dipercepat. Baru setelah menikung dipengkolan ia melihat punggungnya Kui Hoa yang lagi berdiri diam saja."
"Kui Hoa! Kui Hoa!"
Ia memanggil manggil pula sambil berlari menghampiri.
Kekuatirannya timbul sebab Hauw Yan tak nampak dan cara berdirinya sibudak tampak aneh.
Segera setelah datang dekat, Giok Peng menjadi kaget sekali, sebab Kui Hoa itu berdiri bagaikan patung sebab terkena totokan.
Maka kekuatirannyapun mencapai puncaknya, sebab ia mengkuatirkan keselamatan Hauw Yan.
Tanpa ayal lagi ia membuka totokan Kui Hoa.
Hanya sedetik, Kui Hoa terasadar, bingung mirip orang yang mendusin dari mimpinya.
Dan selekasnya ketika tidak melihat Hauw Yan, ia lantas menjerit menangis!
"Kui Hoa, jangan menangis!"
Giok Peng lantas menghibur.
"Mana Hauw Yan?"
Kui Hoa takut bukan main, dia menangis terus, ditanya begitu dia hanya menggelengkan kepalanya. Giok Peng dapat menenangkan diri, ia mengusap rambut bocah itu dan berkata.
"Kui Hoa jangan takut,"
Katanya perlahan.
"Tak nanti aku persalahkan kau, kau bilanglah apa yang terjadi?"
Lama-lama bisa juga budak itu menenangkan diri, ia menepis air matanya. Rupanya sikap manis dari majikannya itu membuat hatinya tentram.
"Barusan aku mengajak tuan kecil Hauw Yan bermain-main disini,"
Sahutnya perlahan.
"Tiba-tiba aku melihat....."
"Kau lihat apa Kui Hoa?"
Tanya Giok Peng tetap sabar.
"Apakah kau melihat orang? Dia laki-laki atau wanita? Lekas bilang!"
Kata-kata yang terakhir itu ditanyakannya dengan cepat. Kui Hoa menangis pula.
"Aku melihat katak hijau...."
Katanya sukar.
"Katak itu bergerak-gerak.....kiranya hanya baru kecil...."
Dan ia menunjuk batu yang dilihatnya seperti katak hijau itu. Giok Peng bertindak ke arah batu kecil itu dan memeriksanya.
"Apa katamu barusan?"
Ia menegaskan.
"Kenapakah batu ini?"
"Batu itu bergerak berlompatan seperti katak hijau..."
Sahut sang budak.
"Aku dan tuan kecil mengawasinya, bahkan tuan kecil bertepuk tangan saking girangnya. Tapi belum lama, tiba-tiba aku tidak melihat lagi tuan kecil dan batu itu...."
Giok Peng mengasah otaknya dan menerka-nerka.
"Kui Hoa coba bilang,"
Katanya kemudian.
"Cobalah kau pikir benar-benar. Apakah kau melihat atau mendengar ada suara orang atau tindak kakinya di belakangmu?"
Kui Hoa menggeleng kepala.
"Tidak!...."
Sahutnya.
Giok Peng menatap budaknya itu, budak masih kecil yang tak ia sangsikan kejujurannya.
Melihat sibudak ditotok orang dia sudah menduga, bahkan ia segera ingat Hong Kun.
Bukankah pemuda itu lenyap tak keruan pula.
Dalam bingungnya ia lantas lari pulang dan mencari ibunya untuk menuturkan lenyapnya Hauw Yan.
Kali ini nona ini tak dapat menahan perasaannya.
Ia lantas menangis dan air matanya meleleh keluar dengan deras....
Nyonya Pek tua pun kaget.
"Kui Hoa yang mengajak Hauw Yan, kau lekas tanyakan dia!"
Katanya.
"Dia tak dapat menerankan apa juga."
Kata Giok Peng.
"Dia kutemukan dalam keadaan menjublak seperti patung disebabkan totokan hingga tak dapat ia bergerak, berbicara atau melihat .....dia tak tahu apa-apa!"
Kembali nyonya tua itu kaget sekali, hanya kali ini berbareng dia gusar.
Segera dia memerintah mengumpulkan semua bujang laki-laki dan perempuan, guna didengar keterangannya.
Maka dilain saat berkumpullah semua hamba dari Lek Tiok Po.
Giok Peng menangis tapi tidak lama.
Sebagai orang Kang Ouw dia cepat menguasai dirinya.
Dia menghapus air matanya, sekarang dia justru bergusar.
"Menurut dugaan anakmu, ini tentu perbuatan Gak Hong Kun!"
Katanya mengutarakn terkaannya.
"Benarkah binatang itu berani berbuat gila semacam ini terhadap Lek Tiok Po?"
Tanya sinyonya tua heran.
Ketika itu semua sudah berkumpul dan atas pertanyaan Nyonya Pek itu mereka menerangkan tidak melihat siapa juga, tak ada orang asing yang datang atau melintas.
Di Toa-thia ruang besar, diapit kedua putranya Thian Liong dan Siauw Houw.
Giok Peng duduk disisi ibunya.
Pada saat itu datang laporan dari pegawainya yang bertugas menjaga pintu gerbang.
"Tadi aku melihat tuan Gak Hong Kun bersama tuan kecil Hauw Yan keluar dari Lek Tiok Po. Atas pertanyaanku Tuan Gak kata dia mau pesiar bersama tuan kecil. Aku memberitahukan bahwa menurut aturan kita disini, siapa mau keluar dari wilayah rumah kita, dia membutuhkan perkenan, tapi disaat aku bicara itu tuan Gak lantas omong besar dan menyerang kami hingga kena dirobohkan. Lantas dengan membawa tuan kecil dia segera pergi dan aku segera datang kesini untuk memberi laporan ini...."
Kiu Jie gusar sekali, hingga tubuhnya menggigil dan giginya berkerutukan, tanpa disengaja dia menggebrak meja hingga pingiran meja itu pecah rusak, sebab dia pandai Tiat See Ciang, ilmu kekuatan tangan pasir besi.
Dia terlebih gusar daripada saat diganggu kelima "bajingan"
Untuk mengacaukannya. Giok Peng bergusar berbareng bersusah hati. Inilah sebab ia menyaksikan kegusaran luar biasa dari ayahnya itu. Tanpa merasa ia melinangkan air mata.
"Sudah, ayah jangan gusar."
Ia mencoba menghibur.
"Sekarang hendak aku menyusul dia, tak perduli sampai diujung langit akan aku binasakan manusia tak berprikemanusiaan itu!"
"Akupun mau sekarang juga pergi ke Heng San!"
Berkata Kiu Jie dalam sengitnya.
"Hendak aku menemui It Yap Tojin guna minta keadilan, kalau perlu akan aku korbankan jiwa tuaku ini, supaya aku bisa mendapatkan pulang cucuku!"
"Sabar, saudara Pek...."
Berkata Wie Lam menghela napas.
"Urusan ini masih harus dipikirkan dahulu dengan tenang, jangan kita menuruti saja bujukan hawa amarah..."
"Tong Loyacu,"
Nyonya Pek turut bicara.
"Cobalah tolong pikirkan data apakah yang rasanya paling baik?"
Nyonya Pek Kiu Jie tidak memanggil paman kepada sahabat suaminya itu, hanya "loyacu", suatu ucapan yang penuh kehormatan.
Paman hanya ucapan biasa saja.
Wie Lam pun berusia terlebih tua daripada Kiu Jie.
Wie Lam menatap semua hadirin.
"Menurut pendapatku sekarang ini,"
Berkata ia kemudian.
"Sekarang juga baiklah kedua keponakan thian Liong dan Siauw Houw segera pergi menyusul secara berpisahan kepada orang she Gak itu! Demikian juga kau keponakanku. Disamping itu kita juga segera mengirim kepelbagai sahabat rimba persilatan guna memberitahukan peristiwa ini seraya memohon bantuan mereka mencari tahu kemana perginya anak celaka she Gak itu!"
Giok Peng mengangguk.
"Paman benar,"
Katanya.
"Baik, mari kita lekas berangkat!"
Belum sampai nona ini berbangkit namun ia berseru tertahan.
"Oh! Aku lupa! Akupun mesti mengrim orang ke Kiu Kiong San guna menyampaikan kabar ini kepada adik Hiong dan kakak In, supaya mereka itu turut membantu mencari Hauw Yan!"
Berkata begitu, nona ini lantas menyuruh kacungnya segera menyiapkan pedang dan buntalannya yang berisikan uang dan pakaian seperlunya.
Sementara itu Nyonya Pek melarang suaminya pergi ke Heng San, buat mencari It Yap Tojin, katanya suaminya perlu berdiam didalam rumah untuk mengurus sesuatu.
Bukankah anak mereka telah pergi semua dan rumah menadi kosong.
Kiu Jie dapat dikasih mengerti, ia suka membatalkan kepergiannya ke Heng San.
Ketika itu Thian Liong yang telah berpikir turut bicara, kata dia.
"Menurut terkaanku, Gak Hong Kun berbuat begini untuk memancing adik Peng pergi menyusulnya seorang diri. Kalau adik Peng menyusul dia, ia pasti bakal kena terpancing dan terjebak. Karena itu aku pikir baik aku pergi berdua adik Peng, sedangkan adik Houw pergi bersama beberapa orang kita. Asal Hong Kun ketahuan jejaknya, salah seorang mesti lekas pulang memberi kabar"
Kiu Jie mengangguk.
"Begitupun baik"
Bilangnya.
"Cuma kalian semua harus berhati-hati!"
Lantas ayah ini mengatur orangnya ."Empat pegawai ditegaskan turut bersama Giok Peng dan Thian Long dan delapan orang ikut Siauw Houw, segera mereka dititahkan berangkat"
Wie Lam dan nyonya Pek menyetujui cara bekerja seperti itu.
Sementara itu Gak Hong Kun yang menculik Hauw Yan sekeluarnya dari wilayah Lek Tiok Po dia lalu tiba dipelabuhan sungai Tiang Kang dan lantas membeli seekor kuda untuk melanjutkan perjalanannya.
Dia tak mau menyingkir secara cepat-cepat, tapi dengan menunggang kuda dia merasa lebih leluasa.
Ini disebabkan dia mesti mengasuh Hauw Yan, sedangkan dia adala seorang laki-laki, dia nanti kuatir orang mencurigainya.
Dengan bercokol diatas kuda sehingga seolaholah mereka tengah berpesiar...
Disepanjang jalan Hauw Yan dibujuki, diajak bicara sambil tertawa-tawa, hingga anak itu tidak ingat apa-apa.
Dilain pihak diam-diam dia memasang mata, kuatir Giok Peng atau lainnya menyusul....
Biar bagaimanapun hati pemuda ini tidak tenang.
Kalau dia sedang sadar, dia malu sendiri, sebab dia sebagai seorang laki-laki sejati telah melakukan perbuatan hina dina itu.
Diapun kuatir Giok Peng menyusulnya.
Dilain pihak lagi dia sangat ingin bertemu nona itu...
"Dengan Hauw Yan ditanganku, mesti dia akan turuti segala kehendakku...."
Demikian dia melamun.
Selang dua hari Hong Kun sudah sampai dikecamaTan Hong Bwe, dia singgah semalam.
Tidak juga dia melihat Giok Peng yang dia harapkan datang menyusul.
Karena dia sengaja mengambil jalan memutar guna memperlambat perjalanannya untuk menantikan nona Pek.....
Hari itu diwaktu lohor, Hong Kun tiba di Thian Kee Tiu.
Itulah sebuah kota perdagangan yang tak besar tapipun tak kecil.
Perumahannya Cuma enam tujuh puluh pintu.
Tapi sebagai kota perdagangan lalu lintasnya ramai sekali.
Diluar itu adalah segundukan rimba pohon yangliu dan bunga toh hoa yang indah pemandangannya.
Didalam rimba itu diantara sinar sang surya, Hong Kun menjalankan kudanya perlahan.
Keindahan sang alam hendak dinikmati supaya hatinya tenang dan lega.
Tiba-tiba saja kesunyian sang rimba diganggu oleh bentakan berulang ulang serta bentrokan nyaring diantara senjata tajam yang datangnya dari sebelah dalam rimba itu.
Hong Kun terkejut, apalagi ketika dia lantas mendengar suara seorang wanita yang mirip dengan suaranya Giok Peng.
Dia lantas memasang telinganya, tapi tak dapat dia mendengar lagi suara wanita itu.
Lalu dengan ragu-ragu dia melarikan kudanya kedalam rimba, ke arah dimana suara pertempuran terdengar.
Setelah memasuki rimba sejauh sepuluh tombak lebih, kembali Hong Kun mendengar beradunya senjata, hanya kali ini dia lantas mendengar juga suara orang bertanya.
"Nona, apakah nona datang dari Lek Tiok Po!"
Sejenak itu bergetarlah hatinya si orang she Gak.
"Dia pasti Giok Peng!"
Pikirnya.
Dia ragu-ragu, toh dia mencambuk kudanya untuk disuruh lari.
Meskipun kuda dilarikan keras, Hauw Yan dalam usia lima tahun tidak takut sama sekali, sebaliknya dia tertawa.
Dia menjadi sangat girang.
Ini disebabkan dia bertubuh kekar dan bernyali besar dan selama di Pay In Nia dia sering mengikuti Giok Noaw berlari-lari ditanah pegunungan.
Setelah menikung beberapa kali, Hong Kun tiba disebuah tempat terbuka kecil yang tanahnya penuh berumput, di sana dia melihat dua orang lagi bertarung, yang satu pria dan satu wanita.
Yang pria berumur lima puluh tahun lebih, bajunya panjang senjatanya tongkat bambu, sepatunya sepatu ringan.
Dia adalah Ngay Eng Eng dari lembah Kian kok Wan di Lokyang.
Sementara yang wanita dandanannya ringkas dan rambutnya berponi, senjatanya sepasang ruyung Sae ho pang, dialah Tan Hong dari Hek Keng To, pulau ikan lodan.
Hanya terhadap nona itu, Hong Kun tidak kenal.
Dia cuma heran suara orang sama dengan suaranya Giok Peng.
Selagi si orang she Gak menjublak menyaksikan pertempuran itu, Hauw Yan justru bersorak-sorak tangannya ditepuk-tepuk dengan sangat kegirangan.
Tatkala itu Ngay Eng Eng sebenarnya sedang repot.
Setelah membantu pihak Siauw Lim Pay mengusir kawanan bajingan yang menyerbu kesana lalu disebabkan ada janji pertempuran digunung Tay san, dia repot mondar mandir mengundang sahabat-sahabat guna membantu pihak Siauw Lim Pay.
Kebetulan saja lohor itu selagi ia lewat dirimba itu, dia bertemu dengan Tan Hong, segera dia menghadang nona itu.
Sebabnya ialah dia telah mendengar berita halnya Tan Hong sudah mencuri kitab ilmu pedangnya It Hiong.
Jadi dia mau merampas pulang kitab itu untuk dikembalkan kepada si anak muda.
Tan Hong sebaliknya panas hati, sebab meski ia sudah memberi keterangan berulang-ulang, si jago tua ngotot tak mau mengerti.
Maka habislah sabarnya dan bertempurlah mereka berdua.
Selagi bertempur itu masih dapat Nona Tan menguasai dirinya, maka sambil melayani berkelahi dalam hal mana ia lebih banyak bertahan sambil menjelaskan perihalnya ia kenal Giok Peng dan lainnya dan baru belum lama ini ia berpisah dari nona Pek itu.
Karena ia menyebut kenal Giok Peng, Eng Eng menyangka ia datang dari Lek Tiong Po.
Jilid 19 Tan Hong mempunyai telinga yang Peka dan mata yang awas, sedangnya bertempur itu telinganya lantas mendengar suara kuda berlari-lari disusul dengan tawa riang dari anak kecil.
Segera ia menangkis satu serangan dari Eng Eng, lantas ia lompat mundur beberapa tindak, untuk menoleh ke arah darimana datangnya suara kuda dan tawa, hingga ia lantas mendapat lihat Hong Kun diatas kudanya lagi memeluki si bocah riang gembira itu.
Ia heran hingga ia terus mengawasi saja.
Selama It Hiong dan Hong Kun mengadu kepandaian di kuil Go In Ih di Heng San, Nona Tan Hong telah mencintainya maka itu ia tahu dan mengenali Gok Hong Kun, sekarang ia melihat pemuda itu bersama seorang bocah, mengawasi siapa ia merasa bahwa ia rada-rada mengenalnya.
"Ah, siapakah bocah itu ?"
Pikirnya. Karena orang berlompat mundur, karena datangnya si anak muda dan si bocah, Ngay Eng Eng juga menunda penyerangannya. Bahkan ia lantas menghadapi Gak Hong Kun untuk bertanya .
"Saudara, apakah kaulah murid pandai dari It Yap Totiang dari Heng San ?"
Hong Kun merangkapkan kedua belah tangannya.
"Tenaga ingatan dari Ngay Locianpwe kuat sekali."
Sahutnya sambil memberi hormat itu.
"Kita sudah berpisah beberapa tahun tetapi locianpwe tetap masih ingat kepadaku, Gak Hong Kun, murid dari Heng San Pay."
Jago tua itu tertawa.
"Bagaimana dengan gurumu, saudara, adakah ia baik-baik saja ?"
Tanyanya.
"Sudah beberapa tahun aku tidak bertemu dengannya."
"Terima kasih, locianpwe, guruku sehat-sehat saja."
Sahut si pemuda. Eng Eng menunjuk Hauw Yan.
"Saudara Gak, adakah anak itu puteramu ?"
Ia tanya pula.
"Sungguh seorang anak yang tampan sekali !"
Ditanya begitu, Hong Kun tergugu. Tak dapat ia menjawab "ya"
Tapi juga tak boleh ia menyebut anaknya Giok Peng atau It Hiong. Terpaksa, ia berpura-pura batuk. Eng Eng menghela nafas. Kata ia perlahan.
"Ketika beberapa tahun yang lampau itu, aku si orang tua berkunjung ke Go In Ih, saudara Gak, kau masih seperti seorang bocah, maka tidaklah disangka sang waktu mengalir lewat cepat sekali. Sebentar saja beberapa tahun sudah berlalu, atau sekarang saudara adalah ayah dari seorang anak ! Haa !"
Tak ada maksudnya Eng Eng akan menggodia orang atau mengejek, tetapi kata-kata dan tawanya itu membuat merah muka dan telinga Hong Kun.
Dia ini malu sendirinya hingga dia mencari alasan untuk menoleh ke lain arah.
Ketika Hauw Yan telah melihat Tan Hong, tiba-tiba dia memanggil .
"Mama ! Mama !"
Eng Eng mendengar suara bocah itu, ia heran.
Ia ingat sikapnya Hong Kun barusan yang agak jengah.
Maka mau ia menerka yang wanita itu adalah istrinya si anak muda.
Hal ini membuatnya likat sendirinya.
Sebab sebagai seorang dari angkatan tua, ia sudah menghadang istrinya seorang dari angkatan muda.
"Oh, saudara Gak, harap sudi apalah kau memaafkan aku"
Katanya kemudian.
"Aku hendak membantu mencari kitab ilmu pedangnya Tio It Hiong, maka barusan aku telah berlaku keliru, sudah bertempur dengan Nyonya Gak.."
Tan Hong pun melengak karena bocah itu memanggil mama kepadanya.
Ia mengingat-ingat kapannya dan dimana pernah ia melihat si bocah.
Sekarang ia mendengar suaranya si jago tua, ia menjadi tidak senang.
Ia bukan istrinya Hong Kun !
Maka berbangkitlah sepasang alisnya melentik!
"Orang she Ngay, jangan kau mengaco tidak karuan !"
Bentaknya.
"Jangan kau beragak dengan ketuabangkaanmu ! Siapa bilang aku istrinya dia ? Kau tahu, dia justru lagi kebingungan sebab dia gagal dalam urusan asmaranya dengan Pek Giok Peng !"
Mendengar suaranya si nona, Hong Kun segera memutar kudanya untuk terus dikasih lari kembali ke arah dari mana dia datang tadi, dia merasakan suasana tidak baik bagi dirinya.
Dalam bingungnya dia berlalu tanpa menyapa lagi Ngay Eng Eng !
Sementara itu Tan Hong selekasnya ia menyebut namanya Giok Peng, sekonyong-konyong ia ingat tampangnya bocah tadi, bocah mana pernah ia lihat di gunung Siauw Sit San ketika di sana ia bertemu dengan Giok Peng.
Selagi ia menempur Nona Pek, nona itu telah mengempo seorang anak kecil dan anak itu mirip dengan anak ini.
Mengingat ini lantas ia ingat juga bahwa anaknya Pek Giok Peng adalah anaknya Tio It Hiong !
"Oh !"
Kenapa anaknya It Hiong berada di tangannya Gak Hong Kun ?"
Demikian pikirnya atau kecurigaan berkelebat di benak otaknya nona ini. Inilah heran ! Inilah aneh ! Maka berpikirlah ia dengan keras.
"Gak Hong Kun aneh ! Mungkinkah dia tengah main gila ?"
Demikian Tan Hong pikir pula.
"Hatiku telah aku serahkan pada adik Hiong. maka itu perlu aku ketahui urusan ini !"
"Aku mesti susul Hong Kun guna memperoleh kepastian tentang anak itu !"
Maka itu segera setelah mengambil keputusan ia memberi hormat pada Ngay Eng Eng seraya berkata .
"Locianpwe"
Katanya.
"Locianpwe hendak membantu Tio It Hiong mencari kitab ilmu pedangnya yang hilang, karena itu hendak aku menanya, tahukah locianpwe anaknya It Hiong itu siapa namanya ?"
Itulah pertanyaan diluar sangkaan, Eng Eng heran hingga ia menunduki kepalanya untuk berpikir.
"Kalau tidak keliru, anak itu bernama Hauw Yan"
Sahutnya kemudian.
"Mau apakah kau menanyakan tentang anaknya It Hiong itu ?"
Setelah memperoleh keterangan itu, Tan Hong berkata diluar jawaban yang ia harus berikan kepada si jago tua. Katanya singkat.
"Demi urusannya adik Hiong mesti aku ludas menyusul Gak Hong Kun ! Maka itu maafkan aku tak dapat menemani locianpwe lebih lama pula !"
Dan berhenti kata-kata itu, si nona sudah berlompat lari hingga dilain detik ia sudah lenyap ditelan sang rimba.
Lagi-lagi Eng Eng melengak.
Dialah seorang jago tua tetapi dia kena dibikin bingung tindak tanduknya Tan Hong dan Hong Kun itu.
Karena dia tidak dapat menyusul pemuda dan pemudi itu, terpaksa dengan lega dia pun pergi melanjuti perjalanannya.
Tan Hong kabur ke Thian-keetin, ia sampai di pasar sesudah cuaca gelap.
Di sana sini, rumah-rumah sudah menyalakan api terutama rumah-rumah makan.
Sekalipun malam, keadaan ramai sekali.
Ada banyak orang masih mondar mandir.
Ia melalui beberapa jalan besar tidak juga ia menemukan Hong Kun.
"Mungkinkah dia melewati tempat ini ?"
Pikirnya kecewa berbareng penasaran.
Di depan situ justru seorang jongos lagi memelihara seekor kuda.
Ia masih mengenali itulah kudanya Hong Kun tadi.
Sekarang si nona mendapat kenyataan itulah penginapan merangkap rumah makan.
Dengan tindakan perlahan, ia memasuki ruang restoran.
Matanya diam-diam dialihkan ke seluruh penjuru.
Maka legalah hatinya waktu di satu pojok terlihat Hong Kun ada bersama Hauw Yan tengah menghadapi barang santapan.
Meja itu berada di dekat jendela.
Untuk memperoleh kepastian anak itu Hauw Yan atau bukan kalau benar Hauw Yan dialah putranya It Hiong atau Giok Peng lantas ia bertindak menghampiri terus secara tibatiba ia memanggil .
"Hauw Yan ! Hauw Yan ! Mama datang !"
Anak itu tengah dibujuki Hong Kun untuk menmakan nasinya, ia mendapat dengar panggilan itu secara mendadak ia mengangkat kepalanya dan menoleh.
"Mama !"
Ia lantas memanggil.
"Mama !"
Dan lantas tanpa menghiraukan nasinya, hendak ia berlompat turun dari kursinya !
Hong Kun terkejut, dia heran.
Dia menahan bocah itu dan membujukinya.
Ketika dia menoleh, dia mengenali nona yang tadi bertarung dengan Ngay Eng Eng di dalam hutan.
Dia tidak kenal nona itu, dia makin heran.
Kenapa nona itu memanggil Hauw Yan ?
Tadi didalam rimba juga heran yang Hauw Yan memanggil mama kepada wanita itu.
"Itulah bukan mamamu"
Kata ia kepada si anak.
"Dialah seorang moler ! Hauw Yan anak manis, makanlah. Mari ! Lekas makan !"
Kata-kata Hong Kun tidak keras, tetapi karena jarak antara ia dan Tan Hong dekat, si nona mendapat dengar dengan nyata.
Seketika juga merahlah mukanya.
Ia dikatakan "moler".
Bukan main gusarnya ia.
Di pihak lain, sekarang ia memperoleh kepastian anak itu ialah anaknya It Hiong dan Giok Peng, maka hendak ia merampas si anak dari tangannya pemuda itu.
Tapi ia adalah seorang nona Kang Ouw yang berpengalaman, tak peduli usianya masih muda.
Ia tidak mau segera menunjuki kemurkaannya.
Maka ia menghampiri meja yang dekat dengan mejanya Hong Kun.
Ia kata pada jongos yang menghampirinya.
Ia menyebut beberapa rupa sayuran.
Hong Kun terus membujuki Hauw Yan yang ia layani dengan telaten.
Ia mengeluarkan sapu tangan guna menyusuti mulut si anak dan menyeka kedua tangannya.
Sembari berbuat begitu, ia pun menggunakan ketika untuk makan dan minum.
Sembari menantikan barang hidangan, Tan Hong mengasah otaknya.
Mulanya dia berniat berlompat kepada Hauw Yan untuk memeluknya dan terus melompat pergi guna mengangkat kaki.
Hanya sesaat ia merobah pikirannya itu.
Ia kuatir percobaan itu gagal.
Ia percaya Hong Kun bukan sembarangan orang.
Pasti tak mudah baginya bertempur sambil mendukung Hauw Yan.
Ia tentu tidak dapat lari pesat dan bakal tersusul kalau Hong Kun mengejarnya.
Pula masih ada satu soal lain .
Bagaimana kalau Hauw Yan kaget dan menangis ?
Maka ia menyabarkan diri seraya terus memutar otaknya, mencari pikiran dan kesempatan yang baik.
Hong Kun sendiri, berat dia merasai pikirannya.
Karena si nona tidak bertindak terlebih jauh dan Hauw Yan pun diam saja, tak dapat dia berbuat apa-apa terhadap nona yang tidak dikenal itu.
Dia berdiam tetapi otaknya bekerja terus.
Biar bagaimana, dia mencurigai nona itu.
Hauw Yan sendiri tak dapat duduk berdiam saja.
Entah apa yang dipikirkannya.
Dia mengawasi Hong Kun, yang matanya mendelong ke satu arah, kedua tangannya ada pada pipi dan telinganya yang dia garuk-garuk tanpa dia merasa gatal.
Tan Hong terus memasang mata secara diam-diam.
Tak lama datanglah jongos dengan barang hidangan yang dipesannya.
Justru itu si nona mendapat satu pikiran.
Tidak ayal pula, ia mencoba mewujudkan itu.
Secara diam-diam ia mengisyaratkan jongos itu membawa semangkok daging ayam ke mejanya Hong Kun, ia sendiri secara diam-diam berbangkit bangun, bertindak mengintil di belakang jongos itu yang kebetulan bertubuh besar dan gemuk.
Selekasnya ia sudah datang dekat Hauw Yan, dengan kecepatannya yang luar biasa, ia mengulur tangannya dan menyambar bocah itu, terus ia berlompat lari keluar !
Hauw Yan menyangka orang bermain-main dengannya, ia bukan takut atau kaget, ia justru tertawa, maka Tan Hong lekas-lekas membekap mulutnya.
Setibanya di luar, nona itu berlompat naik ke atas genteng.
"Tuan, mari cobai daging masakan kami ini !"
Berkata si jongos kepada Hong Kun sambil ia meletakkan mangkuk ayam di depannya pemuda itu.
Dia bicara sambil bersenyum.
Dia menuruti kehendaknya si nona sebab menuruti kebiasaannya menyangka tentulah muda mudi itu mau main pacar-pacaran hingga ia bakal mendapat hadiah berarti.
"mari cobai, tuan, itulah si nona di sana yang memesannya untuk tuan..."
Hong Kun tengah berpikir hingga pikirannya itu terintang, ia mengawasi jongos itu yang kembali berkata padanya .
"Lekas cobai, tuan ! Jangan tuan sia-siakan kebaikan nona itu..."
Kali ini si jongos menoleh, akan menunjuk kepada Tan Hong, atau dia lantas berdiri menjublak sebab si nona tak nampak sekali pun bayangannya !
Hong Kun juga terperanjat.
Ia tidak melihat nona yang ditunjuk itu.
Yang hebat ialah ketika ia menoleh ke kirinya Hauw Yan, bocah itu tidak ada di tempatnya !
"Celaka !"
Serunya.
Lantas ia menolak tubuh si jongos buat terus berlompat keluar.
Dia tahu yang dia telah kena orang akali.
Dia menyesal sekali yang dia seperti buta mata dan pikiran sebab dia terlalu keras mengasah otaknya hingga dia tidak melihat Hauw Yan telah orang sambar !
Tepat diambang pintu, Hong Kun berhadapan dengan seorang tua.
"Eh, eh, saudara Gak, kau tergesa-gesa kenapakah ?"
Tanya si orang tua ialah Ngay Eng Eng yang baru saja tiba. Mulanya Hong Kun melengak atau segera dia menanya .
"Locianpwe, apakah barusan locianpwe mendapat lihat nona yang kita ada urusan di dalam rimba tadi ?"
Eng Eng menggeleng kepala.
"Tidak"
Sahutnya.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Hong Kun lompat ke samping orang tua itu, buat terus lari keluar guna menyusul Tang Hong.
Maka dilain saat, lenyap sudah ia di jalan besar yang gelap, yang tak disampaikan cahaya api.
Tan Hong berlaku cerdik sekali.
Sengaja ia lompat naik ke atas genteng.
Ia percaya Hong Kun pasti menerkanya sudah kabur terus.
Ia pula tidak lari terus, hanya sambil mendekam diatas wuwungan, ia mengintai ke arah pintu penginapan hingga ia melihat si anak muda lari keluar itu, mungkin untuk terus meninggalkan Thian-keetin !
Sampai sekian lama, jago wanita dari Hek Keng To itu masih mendekam saja dan Hauw Yan ia peluki terus.
Setelah mendapatkan Hong Kun belum juga kembali, legalah hatinya.
Tapi yang paling membuatnya lega ialah waktu ia mendapat kenyataan bocah di dalam pelukan atau empoannya itu sudah tidur pulas !
Rupanya bocah itu senang sekali dipeluki seorang wanita yang membuatnya merasa hangat, apa pula itulah wanita yang dia panggil mama !
Dengan berhati-hati Tan Hong berjalan di atas wuwungan menuju ke ujung genteng dimana terdapat sebuah gang yang gelap.
Di situ dia berlompat turun.
Ia tidak terpergoki siapa juga.
Di dalam gang itu ia berjalan cepat melalui tiga tikungan baru ia muncul di jalan besar.
Selama si nona berdiam di atas genteng sang waktu berlalu dengan cepat.
Maka itu waktu mungkin sudah jam dua.
Di jalanan umum itu sangat sedikit orang yang masih berlalu lalang.
Dengan cepat ia kembali ke rumah makan tadi, kali ini untuk meminta kamar, maka selanjutnya ia tidur pulas bersama-sama puteranya It Hiong itu.
Selama itu Nona Tan ini sudah memikirkan tentang Hong Kun.
Ia berpengalaman dan teliti.
Ia dapat menerka apa yang Hong Kun bakal lakukan sesudah anak muda itu gagal menyusulnya.
Ia menerka mesti Hong Kun menyusul keluar kota.
Maka itu dengan berani ia ke hotel bahkan untuk tidur nyenyak.
Itulah yang dinamakan tipunya "Kakak tua pulang ke sarangnya".
Dan dengan demikian Hong Kun kena diperdayakan !
Besok paginya Tan Hong mendusin dari tidurnya, buat seterusnya membawa sikap tenang-tenang saja.
Dapat ia membuat Hauw Yan tidak banyak rewel, sebab anak itu memangnya anak baik.
Paling dahulu ia ajak si bocah bersantap lantas ia membayar uang penginapan dan santapan baru ia bawa Hauw Yan meninggalkan rumah penginapan itu.
Sekarang ini Tan Hong sudah memikirkan masak-masak.
Hendak ia menyerahkan Hauw Yan kepada It Hiong sendiri supaya senang dan puaslah hatinya pemuda yang ia gilai itu.
Ia percaya kapan Giok Peng ketahui ialah yang membantu anak mereka, nona itu tentulah berkesan baik terhadap dirinya.
Ia tidak jelas bersedia ia bersuamikan It Hiong tak perduli pemuda itu telah mempunyai istri.
Asal It Hiong menerimanya puas sudah hatinya.
Dengan membawa Hauw Yan, nona cantik dari pulau Ikan Lodan Hitam itu menuju Kiu Kiong San.
Selagi Nona Tan melakukan perjalana itu, baiklah kita menoleh dahulu kepada Gak Hong Kun.
Benar seperti terkaan Tan Hong, dia lari terus keluar kota.
Inilah sebab didalam kota sendiri semua jalan besar dan gang sudah ia jelajahi dan nona itu bersama Hauw Yan sudah tak tampak.
Dia masgul dan mendongkol sekali.
Di luar kota, dia menghampiri rimba yang gelap.
Disini siuran angin malam membuatnya bagaikan terasadar.
Dia menggigil lantas sirna pengaruh alkohol yang membutakan pikirannya.
Lantas dia berdiri diam dan berpikir.
Ia memperhatikan keadaan di sekitarnya.
Ia melihat jalanan.
Ia juga menduga-duga kemana si nona telah mengambil jalan.
Di luar kota itu sama ada sebuah jalan besar yang jalanannya berliku-liku sampai ke rimba itu.
Tak ada jalan lainnya.
Di waktu malam seperti itu rimba gelap.
Itulah saatnya untuk orang bersembunyi dengan aman.
Lantas Hong Kun menggunakan akal liciknya.
Berkatalah ia seorang diri dengan perlahan.
"Eh, budak bau berapa tinggikah kepandaianmu ? Mana dapat kau lolos dari mata dan telingaku ? Lihat, akan aku bekuk kau."
Habis berkata, ia berdiam sebentar.
Itulah tipu menakut-nakuti orang yang bersembunyi andiakata dia benar mengumpatkan diri disitu.
Lewat sesaat karena tidak ada hasil dari gerakannya itu, ia lari memasuki rimba buat mulai menggeledah rimba itu !
Sampai kepalanya bermandikan keringat tak juga Hong Kun berhasil dengan usahanya itu.
Ia mendongkol berbareng bingung.
Mendesak Giok Peng ia tidak berhasil, mencuri kitab Sam Cay Kiam gagal dan kali ini menculik Hauw Yan bocah itu kena orang bawa kabur di depan matanya, sia-sialah segala dayanya maka sekarang ia menjadi uring-uringan sendiri sampai tubuhnya bergemetaran...
Masih anak muda ini berjalan mundar mandir, masih dia mencoba mencari Tan Hong.
Ia mirip orang yang otaknya terganggu.
Satu kali dia bersiul nyaring sekali hingga burungburung kaget dan terbang.
Tidak lama rasanya terdengar sudah suara turun burung kucica bernyanyi dan itulah tanda dari tibanya sang fajar.
Anak muda ini kantuk, letih dan pening kepalanya, pikirannya kacau, napasnya memburu.
Ia menembusi hutan menuju ke jalan umum, jalan tanpa tujuan.
Tengah hari itu, ia tiba kembali di kecamaTan Hong bwe.
Dengan surat cekat, terdengar dari mulutnya .
"Anak Hauw Yan ! Adik Peng !"
Ia berjalan dengan kepala tunduk. Maka itu, diwaktu ia membelok disebuah pengkolan, hampir ia bertabrakan dengan seorang wanita, sampai telinganya mendengar cicitan .
"Orang buta ! Kau main gila, ya ?"
Dan tangannya wanita itu melayang !
Hong Kun terperanjat, ia mengangkat kepalanya, melihat datang serangan, ia berkelit.
Lantas ia berdiri mengawasi.
Maka ia melihat seorang nona dengan baju merah serta pedang di punggung, rambutnya yang panjang tergerai di punggungnya dan matanya mendelik terhadapnya !
Di dalam keadaan seperti itu, matanya Hong Kun bagaikan kabur, maka juga ia melihat si nona seperti Tan Hong.
Ia menjadi gusar.
"Budak bau !"
Bentaknya.
"Apakah kau sangka kau dapat lolos dari tangannya Tuan Gak mu ini? Ha !"
Dia lantas maju satu tindak, kedua tangan berbareng diluncurkan.
Nona itu bukannya Tan Hong, ialah Cit Mo Siauw Wan Goat, bajingan wanita nomor tujuh dari pulau To Liong To.
Dia sebenarnya tengah dalam perjalanan bersama kedua orang kakaknya yaitu Lie Mo Lam Hong Hoan, bajingan nomor lima.
Mereka bertiga mau pergi ke Heng San buat mengundang It Yap Tojin guna sudi membantui mereka.
Di tengah jalan pengunungan Heng San, Wau Goat kebetulan bertemu dengan Tio It Hiong kontan di jatuh cinta terhadap pemuda tampan dan gagah itu.
It Hiong mirip pulau suci di tengah lautan, mudah dipandangi sukar dijamah, hingga ia menjadi bersusah hati dan kesusahan hatinya itu cuma dapat disimpan di dalam dada.
Dengan hati tidak karuan rasa dia mengajak kakak seperguruannya berpesiar kemana dia suka.
Dia berniat melegakan hati, siapa tahu justru dia berpapasan dengan Hong Kun, Dia tidak kenal si anak muda yang justru adalah muridnya It Yap Tojin karena ia menyangka pemuda itu ceriwis, dia lantas mendamprat dan menyerang !
Lantas Nona Siauw menjadi marah sekali.
Orang bukan minta maaf tapi justru menyerangnya.
Dengan gerakan jurus silat "Bajingan berkelebat", ia berkelit terus ke belakang orang guna dari situ balik menghajar.
Hong Kun bukan sembarang orang, tak kena ia diserang secara begitu.
Cepat luar biasa ia membalik tubuh guna menghajar balik pada nona itu.
Maka beradulah tangan mereka berdua hingga keduanya sama tertolak mundur separoh terpelanting.
Justru itu tibalah Lam Hong Hoan dan Bok Cee Lauw yang berjalan belakangan.
Mereka itu terkejut sebab mereka mengerti muridnya It Yap Tojin, sedangkan imam itu adalah orang yang bantuannya mereka harapkan.
Sambil lari menghampiri mereka berseru .
"Su-moay tahan !"
Su-moay ialah panggilan yang berarti adik seperguruan wanita.
Siauw Wan Goat mengangkat mukanya mengawasi anak muda itu atau si anak muda mendahului berlompat pula, menyerang lagi padanya.
Itu pula serangan dahsyat sekali .
Ia berniat berkelit atau rambut kepalanya kena terasampok hingga jepitan rambutnya yang berkepala burung pong kena terasampok jatuh.
Ia menjadi sangat gusar, ia lantas menghunus pedangnya.
Justru itu waktu ia mendengar cegahan kedua saudara seperguruannya itu, terpaksa ia menyimpan pedangnya dan mundur setindak akan menoleh kepada kedua saudara itu.
Hong Hoan dan Cee Lauw sudah lantas tiba.
Mereka itu menggoyang -goyangi tangannya.
"Jangan bertempur !"
Mereka kata.
"Kita ada orang sendiri !"
Hong Kun mendelong mengawasi dua orang yang baru tiba itu mulutnya bungkam.
Hong Hoan mengawasi anak muda itu dan memandang adiknya, ia menyangka diantara dua orang itu ada suatu perselisihan untuk dapat mendamaikan ia terus bersenyum kepada mereka kemudian sembari tertawa ia kata kepada si anak muda.
"Gak Laote dengan memandang muka tipis dari aku yang mengenal gurumu yang terhormat dan kau sendiri, aku minta sukalah kau memaafkan adikku ini andiakata dia telah melakukan sesuatu yang tak menyenangimu..."
Kemudian kepada Wan Goat ia lantas menerangkan.
"Su moay, inilah saudara Gak murid pandai dari It Yap Totiang ! Hahahaha ! Kalau tidak bertempur kalian tentulah tak kenal satu dengan yang lain."
Suara tawa orang membuat Hong Kun dapat berpikir hingga ia tak lagi seperti orang lupa ingatan. Ia lantas mengawasi Hong Hoan bertiga terutama Hong Hoan, terus ia berkata .
"Oh, kakak Lam sudah lama kita tak berjumpa !"
Meski ia mengucap demikian pemuda ini belum sadar seluruhnya. Maka itu ia lantas nampak keheran-heranan. Bok Cee Lauw melihat gerak gerik orang ia menarik ujung bajunya Wan Goat dan bertanya perlahan.
"Sumoay, kenapa kau bentrok dengannya ?"
Ditanya kakaknya merah mukanya si nona.
"Cis !"
Katanya sengit.
"Dia nampak sopan tetapi dia ceriwis sekali !"
Cee Lauw bersenyum, ia menggodia adik seperguruannya itu.
"Kau cantik bagaikan bunga, jangan heran kalau kupukupu beterbangan mengitari ataupun menowelmu. Hahahaha."
Nona itu merasa likat, dia menoleh kelain arah.
Dengan begitu dia tidak mengambil kata-kata kakaknya yang nomor dua.
Lam Hong Hoan melihat suasana masih keruh itu, lantas ia memberi hormat pada Hong Kun untuk berkata pula.
"Gak Laote, sampai jumpa pula !"
Lantas ia menoleh kepada dua kawannya untuk mengedipi mata setelah mana ia bertindak mengajak dua saudara itu melanjuti perjalanan mereka.
Siauw Wan Goat berlalu dengan ogah-ogahan bahkan ia menjebih terhadap si anak muda yang dianggapnya ceriwis itu.
Gak Hong Kun melengak sebentar lalu mendadak ia berseru.
"Saudara Lam tunggu dulu !"
Hong Hoan membalik tubuh. Ia berdiri menanti.
"Ada apakah Gak Laote ?"
Tanyanya. Hong Kun masih berpikir sejenak sebelumnya ia tanya.
"Saudara Lam, apakah tadi ditengah jalan kau bertemu dengan seorang nona dengan baju hitam ?"
Pertanyaan itu membikin Hong Hoan lantas menerka bahwa si nona berpakaian hitam itu adalah pacarnya anak muda ini yang nampak lagi bingung sekali, bahwa mungkin mereka itu berdua tengah bertengkar maka ia tertawa dan menjawab.
"Tidak, saudara, aku tidak menemui nona seperti yang kau tanyakan itu. Baiklah saudara jangan bingung. Kau harus ketahui sifatnya wanita ! Mungkin dia sedang bergurau dengan saudara ! Baiklah saudara lekas susul, barangkali kau akan lekas dapat menyandaknya."
Habis berkata Hong Hoan membalik pula tubuhnya buat melanjuti perjalanannya, dengan cepat menyusul kedua saudaranya.
Hong Kun sebaliknya menganggap kata-kata orang benar adanya tanpa berpikir lagi ia pun melanjuti perjalanannya sekarang dengan cepat.
Segala sesuatu bisa terjadi, demikian dengan Hong Kun ini, disaat ia mendekat Hong bwe koan ditangah jalan besar ia justru berpapasan dengan rombongannya Pek Giok Peng dan Pek Thian Liong, dan selekasnya Nona Pek melihat si anak muda, naiklah darahnya.
Dengan mata merah dibuka lebar ia menghunus pedangnya.
"Mana Hauw Yan ?"
Ia menegur dengan tebasan pedangnya itu.
Hong Kun terkejut, dia tak sempat berlompat mundur maka dia melengak dengan jurus silat Thia Poan Kio, Jembatan Besi.
Masih dia terlambat sedikit, baju didadanya kena terpapas hingga ke kulitnya hingga kulitnya itu terluka dan mengeluarkan darah.
Mulanya dia terkejut akhirnya dia tertawa.
Sekarang dikenali nona di depannya justrulah si adik Giok Peng, yang ia buat pikiran siang dan malam !
Lupa dia pada bajunya yang robek dan kulitnya yang terluka itu, dia kata sambil tertawa.
"Oo, adikku ! Kenapa baru saja bertemu denganku kau menyerang secara begini telengas."
Habis menyerang itu, Giok Peng menatap.
Ia tidak lihat Hauw Yan ditangannya pria itu.
Ia melihat ke kiri dan kanan, tak juga ada puteranya itu.
tiba-tiba ia menjadi sangat berkuatir, hingga ia lantas menangis !
"Mana Hauw Yan ?"
Teriaknya.
"Lekas kembalikan anakku !"
Mendengar disebutnya nama anak itu, Hong Kun bingung bukan main, dia kaget dan malu tanpa merasa tubuhnya menggigil, peluhnya membasahi tubuhnya, dia berdiri diam saja, matanya mendelong terhadap si nona.
Memang selagi pikirannya kacau itu, tak dapat berbicara.
Pek Thian Liong tidak turut berbicara tetapi ia sudah lantas memencar semua pengikutnya akan mencari Hauw Yan disekitar tempat itu.
Ia menyangka Hong Kun menyembunyikan keponakannya itu.
Giok Peng berhenti menangis.
Ia insyaf bahwa itulah bukan waktunya.
Ia menghadapi pula si anak muda.
"Hong Kun !"
Bentaknya.
"Kalau kau tidak kembalikan Hauw Yan kepadaku, akan aku adu jiwaku denganmu !"
Meski begitu ia maju lebih jauh untuk menikam. Kali ini dengan jurus pedang "Anak panah menyerang sasarannya."
Hong Kun berkelit pula. Tak berani ia menangkis atau balas menyerang.
"Aku tengah mencari Hauw Yan !"
Sahutnya kemudian.
"Sudah satu malam dan setengah harian aku mencarinya !"
OooOooo Giok Peng mengawasi.
Ia mendapat kenyataan anak muda itu mirip orang linglung hingga timbul kekuatirannya, janganjangan ditengah jalan pemuda telah membinasakan puteranya.
Ia bingung dan berkuatir sekali.
"Kakak"
Kata ia kepada Thian Liong.
"Jangan-jangan Hauw Yan sudah mendapat kecelakaannya di tangan manusia busuk ini ! Mari kita bereskan dia !"
Kembali si nona menyerang, dalam kuatir dan bingung, tangannya bergemetar.
Hong Kun berkelit lagi.
Kali ini ikat kepalanya kena ditebas ujung pedang, hingga rambutnya terlepas dan awut-awutan.
Masih ia tidak berani melakukan perlawanan.
Dia merangkap kedua tangannya memberi hormat seraya berkata .
"Adik Peng, jangan berduka ! Hauw Yan tidak kurang suatu apa, dia cuma... dia cuma..."
Ketika itu semua pengikut sudah kembali, laporannya ialah kosong. Thian Liong bingung juga dari bingung ia menjadi gusar. Maka ia menghunus pedangnya menuding anak muda itu.
"Hong Kun, dimanakah kau sembunyikan Hauw Yan ?"
Tanyanya bengis.
"Jangan kau tidak memberikan keteranganmu, jangan harap kau bisa berlalu dari sini dengan masih hidup."
Kata-kata itu diikuti dengan satu loncatan untuk datang dekat pada si anak muda, untuk mengancam hendak menyerang. Empat orang pengikut turut bergerak juga, mereka maju mengurung.
"Cuma... cuma apa ?"
Tanya Giok Peng.
"Kau mau katakan atau tidak ?"
Muka Hong Kun pucat, lalu menjadi merah. Ia berkuatir dan menyesal, dia mulai mendongkol. Dia merasa orang memaksanya, hal itu membuatnya tidak puas.
"Menyesal adik, aku lalai."
Katanya kemudian.
"Lantas lalai, selagi berada diatas loteng rumah makan di Thian kee tin, aku telah membuat Hauw Yan lenyap.."
Berkata begitu, si anak muda lantas menangis mengerunggerung dan memukul juga dadanya.
"Aku menyesal, adik "
Katanya pelan.
"Aku telah membikin anakmu itu hilang ! Memang Gak Hong Kun harus mati ! Nah, kau bunuh !"
Pek Thian Liong heran.
"Benarkah katamu ini ?"
Tanyanya. Ia mau cari keponakannya bukan buat membunuh orang.
"Kakak, jangan percaya dia !"
Teriak Giok Peng.
"Jangan kita percaya ocehannya !"
Lagi-lagi si nona menyerang ! Hong Kun tidak berkelit atau menangkis, dia berdiri tegak. Dia cuma mengawasi si nona dan selanjutnya berkata .
"Aku puas mati ditangannya orang yang aku cintai.."
Thian Liong menangkis pedang adiknya.
"Tenang, adik !"
Ia kata.
"Kalau dia dibunuh mati, mana mungkin kita mencari Hauw Yan ?"
Terus ia menoleh kepada Hong Kun untuk menanya.
"kalau kau benar mencintai adikku, lekas bilang Hauw Yan terjatuh ke dalam tangan siapa ? Lekas !"
Hong Kun mengangkat kepalanya, dia berpikir keras. Sekian lama dia membungkam, kemudian baru dia berkata .
"Ke dalam tangannya si nona berbaju hitam..."
"Apakah kau bilang ?"
Giok Peng tegaskan.
"Seorang wanita muda berpakaian baju hitam."
Sahut Hong Kun pelan.
"Siapa wanita itu ?"
Thian Liong tanya menegaskan.
"Apakah kau kenal dia ? Habis merampas Yan, dia lari kemana ?"
Selagi kakaknya menanya itu, Giok Peng menatap si anak muda. Ia mendapat kenyataan orang seperti sadar dan tidak.
"Ambil air !"
Ia memerintahkan orang, maka dilain saat ia telah membanjur pemuda yang bicaranya selalu tak tegas dan sikapnya seperti orang linglung.
Basahlah pakaiannya Hong Kun karena banjuran dia, tetapi justru karena disiram itu dia sadar seketika.
Dia terus menatap si nona, habis menarik napas panjang diapun lantas berkata .
"Adik, lantaran aku terlalu mencintaimu hingga aku putus asa dan menderita karenanya, dua kali sudah aku melakukan perbuatan-perbuatannya yang memalukan itu, hingga aku membikin kau turut bercapek lelah dan bersusah hati karenanya..."
"Kalau sampai terjadi sesuatu atas diri Hauw Yan, kau harus mengganti jiwa !"
"Hong Kun !"
Thian Liong turut bicara.
"lekas kau jelaskan bagaimana caranya kau membuat Hauw Yan hilang !"
Hong Kun mengusap mukanya yang masih basah.
"Aku membuat Hauw Yan hilang di dalam rumah makan di Thian kee tin."
Sahutnya.
"Aku membujuki Hauw Yan makan, aku sendiri minum arak buat melegakan hati yang pepat dan kacau...."
Ia berhenti akan mengawasi si nona baru ia melanjuti .
"Tengah aku minum itu jongos datang membawakan makanan katanya itulah makanan yang disuruh si nona baju hitam untukku. Bertepatan dengan itu, Hauw Yan hilang, waktu aku menoleh nona itu juga sudah tidak ada. Aku lantas pergi keluar akan mencari dan satu malam suntuk aku mencarinya secara sia-sia. Demikian aku mencari terus sampai sekarang aku berada disini, tengah mencari terlebih jauh. Tidak kusangka disini aku bertemu dengan kalian..."
"Nona berbaju hitam itu berusia berapa kira-kira dan dia membekal senjata apa ?"
Giok Peng tanya. Hong Kun berpikir sebelumnya dia menjawab.
"Kira-kira dua puluh empat atau dua puluh lima tahun"
Sahutnya sejenak kemudian.
"Dia membawa senjata atau tidak itulah aku tidak perhatikan.."
Giok Peng dan Thian Liong saling mengawasi.
Mereka pun tunduk untuk berpikir guna menduga-duga.
Siapakah nona berbaju hitam itu ?
Dia golongan mana ?
Kenapa dia merampas Hauw Yan ?
Mendadak Giok Peng bagaikan terasadar.
Ia mengangkat kepalanya dengan cepat dan mengawasi si anak muda dengan tajam.
"Hong Kun !"
Katanya keras.
"Kau mengarang cerita ! Apakah kau sangka dengan demikian dapat kau mengelabui aku ? Sebenarnya kau perbuat apakah atas diri Hauw Yan. Bilang secara terus terang ! Ingat, akan aku bikin darahmu muncrat !"
Masih si nona mengawasi dengan tajam, matanya berkilauan karena air matanya mulai mengembang pula. Ia pun mengancam dengan pedangnya. Hong Kun menarik nafas panjang, ia tunduk.
"Karena asmara Hong Kun sudah roboh"
Sahutnya perlahan.
"Karena itu dimata kau adik, dia menjadi seorang yang tak tahu malu ! Apa yang aku bisa bilang lagi ? Tapi buat melakukan pemeriksaan bagaimana kalau kita pergi bersama ke Thian kee-tin ?"
"Gak Hong Kun !"
Menegur Thian Liong.
"Kau bisa mengungguli diri cerdas kenapa sekarang karena seorang wanita kau menjadi begini roboh tak berdaya ? Ya, kanapakah ?"
Hong Kun berdiam, terus ia tunduk, mukanya merah.
"Adik."
Tanya Thian Liong pada saudaranya.
"Kau banyak mengembara, ingatkah kau di dalam dunia Kang Ouw, wanita siapakah yang gemar mengenakan pakaian hitam ?"
"Mereka yang gemar pakaian hitam banyak jumlahnya."
Sahut si adik.
"jadi untuk mengenalinya lebih penting andiakata kita tahu senjata yang dipakainya..."
Thian Liong berpikir.
"Apakah dia bukannya Teng Hiang ?"
Tanyanya.
"Cuma Teng Hiang yang kenal Hauw Yan..."
"Tak mungkin !"
Berkata Giok Peng.
"Mustahil Hong Kun tak kenal dia."
Karena terkaan buntu, rombongan ini jadi saling berdiam di tengah jalan itu.
Tak dapat mereka menerka siapa perampas atau penculiknya Hauw Yan itu.
Ketika itu sudah mendekati magrib, burung-burung mulai pulang kesarangnya, beberapa orang Thian Liong menjadi tidak sabaran maka yang satu kata pada majikan mudanya itu .
"Tuan muda, kita berdiri diam saja disini buat apakah ? Buat apa kita membiarkan saja orang she Gak yang setengah gila itu ? Lebih baik kita bereskan dahulu dia kemudian baru kita pergi mencari tuan kecil Hauw Yan ! Sekarang ini langit sudah mulai gelap...."
Thian Liong mengawasi orang itu, ia melihat langit.
"Adik"
Katanya kemudian pada saudaranya.
"baik kita kembali dahulu ke Hong bwe atau terus ke Thian kee tin ?"
Giok Peng berpaling, ia berpikir. Kemudian dia menuding dengan pedangnya kepada Hong Kun seraya berkata bengis .
"Sebelum Hauw Yan dapat kutemukan, jangan kau lari dari kami walaupun sejauh setengah tindak !"
Kemudian ia berpaling kepada kakaknya untuk meneruskan .
"Kakak, aku pikir kita pergi dahulu ke Tian kee tin, akan minta keterangannya jongos rumah makan di sana."
Mendengar itu, Hong Kun turut bicara.
"Pikiranku sudah kacau sekali."
Berkata ia.
"tetapi buat pergi ke Tiankee tin, itulah paling baik ! Di sana adik bersama kakakmu, kau minta keterangannya jongos hotel, mungkin dia dapat memberi keterangan penting. Di sanapun kau akan dapat bukti bahwa aku tidak bicara dusta ! Nah, marilah !"
Lantas pemuda ini mendahului bertindak pergi, dia terus lari.
Giok Peng terkejut.
Ia mengira orang mau kabur, lantas ia berlompat mengejar sampai ia menggunakan lari ringan tubuh Tangga Mega.
Selekasnya ia menyandak, ia samber leher baju anak muda sambil berkata keras ."
Kau hendak menggunakan akal bulus ya ? Apakah dengan begini kau dapat lolos dari aku ?"
Thian Liong sekalianpun dapat menyusul, lantas dua orang ditugaskan mengiringi pemuda yang nampaknya sudah habis daya itu.
Mereka berjalan terus.
Pada jam dua lewat, mereka sudah duduk bersantap di rumah makan yang ditunjuki Hong Kun, dimana Hong Kun kehilangan Hauw Yan.
Menurut keterangan si jongos itu, senjatanya si nona yang dia layani berupa semacam ruyung mengkilat seperti berbahan beling.
Pakaian dan potongannya nona itu, cocok dengan lukisannya Hong Kun.
Giok Peng berpikir keras akan ketahui senjata itu senjata apa.
Ia menerka pada sanho pang.
Masih lama ia mengasah otaknya, lantas ia menduga pada Tan Hong dari Hek Keng To, pulau Ikan Lodan Hitam.
"Kalau benar dia, Hauw Yan tidak dalam bahaya jiwa."
Pikir ibu yang muda itu.
"Hanya aneh, apa perlunya Tan Hong merampas anakku itu dari tangannya Hong Kun ? Oh, bukankah inipun soal asmara ? Kalau benar, di jurusan itu, penghidupanku masih ada kesulitannya..."
Nona ini tidak mau memberitahukan Hong Kun tentang nona yang ia terka itu.
Ia kuatir si anak muda juga terasangkut soal asmara.
Buat ia ialah, selama ia belum menemukan Hauw Yan, Hong Kun ini tak akan dibiarkan bebas...
Malam itu Giok Peng semua bermalam di rumah makan merangkap hotel itu.
Besoknya pagi habis bersantap mereka berangkat.
Hong Kun dipaksa turut bersama.
Maka bersamasama juga mereka pergi mencari Hauw Yan ke segala tempat atau arah.
Sementera itu Tan Hong seperti yang telah dipikirnya sudah membawa Hauw Yan langsung ke Kiu Kiong San.
Karena ada bersama bocah, ia tidak dapat berjalan cepat, bahkan terpaksa diperlahankan.
Begitulah di Kay Pay, mereka dapat dilihat rombongannya Siauw Houw.
Paman itu sudah lantas mengenali keponakannya.
Tapi Tan Hong lihai, dia melihat gerak gerik orang, sebelum sempat Siauw Houw menegurnya atau menegur Hauw Yan, ia mendahului kabur.
Siauw Houw penasaran, dia menyusul.
Selang dua puluh lie, ia telah bermandikan peluh dan nafasnya tersengal-sengal, sedangkan delapan pengikutnya ketinggalan jauh di belakang.
"Hebat ilmu ringan tubuh wanita ini"
Pikir pemuda she Pek ini yang memaksakan diri mengejar terus.
Dari Kay pay, Siauw Houw menyusul terus sampai di Sintan Po.
Di sini Tan Hong memasuki sebuah rumah makan.
Siauw Houw menyusul ke rumah makan itu, sesudah ditengah jalan ia meninggalkan tanda untuk orang-orangnya.
Rumah makan itu tidak besar, tetamunya cuma beberapa orang.
Hauw Yan lagi dibujuki Tan Hong untuk bersantap.
Dengan lantas bocah itu melihat pamannya, lantas juga ia memanggil "Paman !
Paman !"
"Hauw Yan !"
Menyambut sang paman yang terus menghampiri bahkan dia mengulur tangannya guna memegang keponakan itu. Tan Hong menghadang. Ia menolak orang hingga terpelanting.
"Siapakah kau ?"
Tegurnya.
"Kenapa kau hendak merampas anak orang ?"
Alis Siauw Hoaw terbangun.
"Bagus benar ya !"
Ia balik menegur.
"Bagaimana dan berani mengakui anak orang sebagai anakmu ? Apakah kau seorang nona tak tahu malu ?"
Muka Tan Hong menjadi merah. Dia memang keliru omong, Tapi dia pun tidak senang.
"Kau jangan usil !"
Bentaknya.
"Hm !"
Siauw Houw mengasi suara dinginnya. Suaranya pun keras.
"Aku tak dapat usil ? Kau tahu siapakah aku ? Akulah Pek Siauw Houw, pamannya anak ini ! Dialah Hauw Yan keponakanku yang lagi cari. Aku justru mau membekuk penculiknya !"
Tan Hong tidak mau mengalah. Diapun tertawa dingin.
"Penculik itu adalah kau bukannya aku"
Teriaknya.
"Kau memalsukan diri sebagai paman. Dapatkah kau mengelabui nonamu ?"
Tepat itu waktu kedelapan orangnya Houw tiba, mereka lantas mengurung. Siauw Houw mengambil keputusan. Dia maju dekat.
"Budak, tak sudi tuanmu mengadu lidah denganmu !"
Katanya keras.
Terus dia bertindak.
Dengan tangan kanan, dia menyampok muka si nona, dengan tangan kiri dia menyambar keponakannya.
Tapi dia tidak berhasil.
Di dalam sekejap dia kehilangan si nona dan si anak.
Luar biasa cepat Tan Hong berkelit, sambil menyambar Hauw Yan.
Dia pindah ke meja yang lain.
Tak sudi dia berkelahi.
Dia tahu sekarang Pek Siauw Houw ialah saudaranya Pek Giok Peng.
Hanya dia tak ingin menyerahkan keponakan itu kepada lain orang kecuali kepada Tio It Hiong.
Maka ia memutar otak memikirkan jalan untuk dapat menyingkirkan diri.
"Eh, orang tak tahu malu !"
Kata dia pula.
"Dengan mengandalkan jumlah yang banyak kau hendak memperhina seorang perempuan ! Tak takutkah orang nanti tertawakanmu ?"
Berkata begitu dia maju menerobos. Tapi dua orang Lek Tiok Po menghadang. Dia batal.
"Hai, budak bau !"
Seru Siauw Houw.
"jika kau tidak serahkan Hauw Yan keponakanku itu, jangan harap kau bisa meninggalkan tempat ini !"
Parasnya Tan Hong merah, dia gusar sekali.
"Hm !"
Ia kasih dengar suara dingin.
"Karena aku memandang adikmu, Nona Pek Giok Peng, suka aku mengalah. Tapi kau mendesak aku ! Apakah kepandaianmu hingga kau berani menghadang nonamu ini ?"
"Kau coba saja Tiat See Ciang dari Lek Tiok Po !"
Kata Siauw Houw singkat.
"Tiat See Ciang"
Yaitu pukulan tangan pasir besi. Habis berkata dia maju pula niat menyerang. Justru itu dari pojok kamar terdengar satu suara nyaring.
"Kalian dari Lek Tiok Po, kalian pernah apakah dengan Nona Pek Giok Peng ?"
Menyusul itu orangnya berlompat maju menghalang diantara si anak muda dan si pemudi.
Dia bertubuh besar, alisnya tebal, matanya gace.
Dipunggunggnya dia menggendol sebatang golok.
Menghadapi muda mudi itu dia memberi hormat.
Tan Hong mengawasi orang itu, ia berkemak kemik tetapi tidak mengatakan sesuatu.
Tidaklah demikian dengan Siauw Houw.
"Aku yang rendah adalah Pek Siauw Houw dari Lek Tiok Po."
Dia berkenalan.
"Mohon tanya tuan adakah kau sahabat kaum Kang Ouw dari adikku Giok Peng itu ?"
Orang bertubuh besar itu nampak terkejut.
"Aku yang rendah ialah Whie Hoay Giok"
Dia memperkenalkan diri.
"Aku sekarang singgah disini sebab aku ini mewakilkan adik seperguruanku Tio It Hiong menantikan tibanya Nona Pek Giok Peng, supaya kita berangkat bersamasama ke Kiu Kiong San. Tuan apakah adikmu itu turut tiba disini ?"
Siauw Houw tidak lantas menjawab pertanyaan orang itu, ia hanya menunjuk Hauw Yan ditangannya Tan Hong sambil berkata .
"Anak ini adalah anaknya adik seperguruanmu itu, dia dibawa lari oleh budak ini ! Kakak Whie, maukah kau bekerja sama denganku merampas pulang anak ini ?"
Hoay Giok memperlihatkan tampang heran. Ia mengawasi Tan Hong dan Hauw Yan dan Siauw Houw juga otaknya bekerja .
"Apa yang aku lihat tunangannya Tio sute ialah nona Cio dan mereka belum lagi menikah ! Kenapa anak ini bolehnya anak sute ? Dan kenapa anak ini didapatnya dari Nona Pek Giok Peng ? Kalau tidak demikian kenapa Pek Siauw Houw mengaku dirinya sebagai paman dari anak itu ?"
Lagi-lagi ia mengawasi ketiga orang itu bergantian. Tan Hong tertawa dingin. Kata dia berani .
"Di dalam dunia Kang Ouw kalau ada manusia-manusia yang tak menghendaki lagi mukanya itulah kalian berdua ! Yang satu mengaku diri sebagai kakak seperguruannya Tio It Hiong dan yang lain sebagai pamannya Hauw Yan ! Tak lain tak bukan kalian cuma memikir menculik anak ini ! Kepandaian semacam ini mana dapat dipakai menipu nonamu ini ?"
Hoay Giok jujur dan keras hati, tak dapat dia perhina secara demikian. Lantas saja ia menunjuki kegusarannya.
"Budak hina, jangan sembarangan ngoceh !"
Bentaknya. Tan Hong tertawa dingin.
"Apa yang nonamu bilang ada buktinya !"
Katanya berani.
"Kau tidak dapat menipuku lantas kau buka suara keras-keras ! Apakah dengan begitu kau hendak membikin kaget dan takut nonamu ini !"
Hoay Giok makin gusar.
"Budak berlidah tajam !"
Teriaknya.
"Apakah kau hendak mencari usahamu sendiri ?"
Menuruti hawa amarahnya Hoay Giok berlompat maju sambil melancarkan sebelah tangannya yang terbuka menyampok tangannya si nona !
Tan Hong mundur setengah tindak dengan begitu amanlah pipinya.
Ia tidak gusar hanya tertawa dan kata .
"Lihat, lihat ! Sang rase telah memperlihatkan ekornya !"
Hoay Giok menahan tubuhnya sebab ia melihat orang berkelit itu, ia heran. Tan Hong melirik, dia tertawa dan kata .
"Barusan kau menyerang aku dengan satu jurus dari Lohan Ciang hoat dari Siauw Lim Pay ! Kau pula menggendol golok pada punggungmu ! Toh kau menyebut dirimu sebagai kakak seperguruan dari Tio It Hiong ! Tek Cio Totiang dari Pay In Nia mana dapat mengajari murid dengan ilmu silat semacam yang dimilikimu ini ? Maka juga aku kata ekormu tampak ! Benar atau tidak ?"
Hoay Giok melengak, memang ilmu silatnya ilmu silat Siauw Lim Pay.
Gurunya ialah Tiat Pit Tin Pat Hong Beng Kauw dan kakek gurunya adalah Siauw In, adik seperguruan dari Siauw Lim Pay itu.
Memang ilmu silatnya beda daripada ilmu silatnya Tek Cio Siangjin.
Kalau ia dan It Hiong menjadi saudara seperguruan satu dengan lain, itu ada sebab lainnya.
Tentu saja hubungan itu tak dapat dan tak perlu ia beritahukan Tan Hong.
Karenanya ia cuma bisa mendongkol sekali.
Siauw Houw mengawasi orang she Whie itu.
Dia pun heran mengetahui orang adalah kakak seperguruannya It Hiong.
Tapi dia mempunyai urusannya sendiri, tak dapat dia usil urusan lain orang.
Maka selagi Hoay Giok berdiam saja, dia menuding Tan Hong sambil kata bengis .
"Budak bau, lidahmu tajam ! Tapi aku tak perduli itu ! Lekas kau serahkan Hauw Yan padaku ! Kalau tidak..."
Tan Hong tertawa geli.
"Kau juga orang Kang Ouw,"
Katanya.
"sekarang aku minta kau tenangkan dirimu. Kau tahu, bukankah banyak orang berbahaya dalam dunia Kang Ouw ? Kau menyebut diri sebagai pamannya Hauw Yan, lantas aku dengan mudah saja harus menyerahkan darah dagingnya Tio It Hiong kepadamu ? Nonamu tak setolol kau, mengerti ?"
Siauw Houw bungkam, hingga dia berdiam bersama Hoay Giok.
Karena mereka berdiam itu, yang lain-lain berdiam juga.
Dengan demikian sejenak itu sunyilah ruang rumah makan itu yang barusan ramai berisik.
Walaupun demikian, Nona Tan telah terkurung.
Sampai sebegitu jauh, Hauw Yan tidak berdiam saja sebagaimana biasanya.
Dia mencoba meronta dari pelukannya Tan Hong.
"Mama ! Mama !"
Katanya berulang-ulang.
"Hauw Yan anak baik !"
Berkata Tan Hong membujuki.
"anak baik dengar aku ! Mari kita pergi bersama kepada ibumu ! Kau mau bukan ?"
Berkata begitu si nona memikir buat berlompat melawan para pengurung, tetapi baru ia bergerak, kedelapan orang Lek Tiok Po lantas maju merangsak.
Kembali ia membatalkan niatnya.
Bukannya ia takut, ia hanya kuatir Hauw Yan nanti terluka atau lolos...
Dengan hati panas, Tan Hong mengawasi sekalian penghadang itu.
Ia memegang Hauw Yan ditangan kiri dan menyediakan sanho pang di tangan kanan.
Lantas ia mengancam.
"Diantara kalian semua, siapa berani merintangi nonamu, jangan menyesal ! Asal kamu bergerak pula, jangan salahkan nonamu tak mengenal kasihan ! Awas dapatkah kamu bertanggung jawab kalau Hauw Yan sampai terluka ?"
Setelah berdiam sekian lama itu, Hoay Giok dapat menenangi diri.
Ia memang telah banyak pengalamannya walaupun ia masih muda.
Ia insaf sungguh berbahaya kalau kedua pihak berlaku keras sama keras.
Lantas ia maju satu tindak akan memberi hormat kepada Tan Hong sambil berkata .
"Nona sabar, kita dapat bicara dengan baik-baik !"
Tan Hong mengawasi anak muda itu. Ia tak membiarkan orang bicara. Kata ia .
"Kamulah yang tidak pakai aturan ! Kenapa kamu hendak merampas anak orang ?' "Nona"
Berkata pula Hoay Giok.
"kalau benar kau mempunyai hubungan persahabatan dengan Tio sute, adik seperguruanku itu, maka ingin aku minta kau dengan memandang dia untuk berbicara dengan jelas tentang duduknya urusan ini. Maukah kau ? Andiakata nona berselisih dengan adik seperguruanku itu, baiklah urusan diselesaikan dengan dia sendiri, janganlah nona hubungan itu dengan anaknya ini ! Bukankah anak ini masih belum tahu apa-apa ?"
Anak muda itu bicara beralasan, tidak ada jalan buat Tan Hong bersikap keras lebih jauh tetapi mana dapat ia membuka rahasia hatinya kepada lain orang ?
Mana ada muka buat ia berkatai bahwa ia mencintai It Hiong ?
Maka terpaksa, ia mesti terus bersikap keras.
Maka berkatalah ia .
"Inilah mestikaku ! Dapatkah kalian merawat mestikaku ini ?"
Jilid 20 Siauw Houw menganggap lucu bahwa orang ngotot mengakui Hauw Yan sebagai anaknya. Dari mendongkol dia menjadi tertawa lebar. Maka dia Tanya.
"Baik! Kau mengakui anak ini sebagai anakmu! Nah bilanglah, siapakah namanya ayah dari anak ini? Siapakah dia?"
Parasnya si nona menjadi merah, ia telah salah bicara hingga orang menanya dia sedemikian rupa. Justru itu Hoay Giok turut bicara pula.
"Saudara Pek, buat apa melayani dia bicara?"
Katanya.
"Kaum laki-laki bukankah dapat mempunyai satu atau dua istri? Ini toh tidak aneh! Lagipula adik seperguruanku itu gagah da tampan!"
Berkata begitu dia tertawa. Tan Hong melirik anak muda itu..
"Cis!"
Ia perdengarkan suara perlahan sedangkan didalam hati ia merasa manis. Kata-kata Hoay Giok cocok dengan rasa hatinya....
"Mama!Mama!"
Kembali Hauw Yan memanggil. Siauw Houw terkejut mendengar suara keponakannya itu, mendadak dia melompat maju, goloknya diputar. Hoay Giok turut maju, tapi dia menghadang di depan anak muda itu.
"Urusan si anak baiknya diserahkan padaku?"
Katanya.
"Kau setuju bukan? Urusan ini tak dapat dipecahkan dengan kekerasan!"
Siauw Houw heran, dia mengawasi orang she Wie itu.
"Apakah artinya kata-katamu ini, saudara Wie?"
Tanyanya. Hoay Giok tertawa.
"Menurut penglihatanku, kalian berdua bukanlah orang asing satu dengan lain"
Katanya.
"Bahkan sebaliknya kalian mirip orang dalam, karena itu baiklah kita bicara dengan hati yang tenang. Dengan ketenangan tidak ada soal yang tidak dapat dibereskan. Sekarang begini saudara Pek. Silahkan kau lekas pulang ke Pek Tiok Po. Kau beritahukan hal ini kepada adikmu itu, lantas kau minta dia segera datang kemari menyusul kami! Aku sendiri akan temani Nona ini pergi ke Kui Kiong San buat mencari adik seperguruanku itu. Andiakata anak ini hilang, aku yang akan bertanggung jawab! Nah, bagaimana pikiran saudara? Akur tidak?"
Pek Siauw Houw berdiam untuk berpikir. Sebaliknya Tan Hong, dia lantas berkata pada Hoay Giok.
"Kau baik sekali saudara Wie, dengan begini kau dapat memecahkan urursan ini, terlebih dahulu terimalah ucapan terima kasihku!"
Dia lantas memberi hormat, terus menambahkan.
"Cuma ada satu hal yang memberatkan aku. Aku adalah seorang perempuan, tak leluasa buatku berjalan bersama-sama kau. Maka itu mengenai Hauw Yan, baiknya kau percayakan dia padaku. Pasti aku akan antarkan dan menyerahkannya pada adik It Hiong! Kitalah orang-orang Kang Ouw, apa yang kita satu dibilang satu tidak dua! Kalian percayakan padaku?"
"Baiklah!"
Menjawab Hoay Giok.
Dia jujur, dia mudah menaruh kepercayaan.
Tan Hong menggunakan kesempatan itu untuk bertindak keluar dengan cepat.
Beberapa orang Lek Tiok Po mau mencegahnya, tapi Siauw Houw melarang mereka.
Dengan demikian dapatlah dia berlalu tanpa rintangan.
"Sampai berjumpa pula!"
Kemudian Siauw Houw berkatakata pada Hoay Giok, kepada siapa ia memberi hormat terus dia mengajak delapan orang pengikutnya meninggalkan rumah makan itu..
Hoay Giok membalas hormat.
Ia mengawasi orang pergi.
Ia bernapas lega.
Habis itu ia membayar uang makan, terus ia juga berlalu menuju kegunung Kiu Kiong San...
Tio It Hiong bersama Cio Kiauw In sementara itu sudah turun dari gunung Kiu Kiong San bagian selatan, mengambil jalan besar dimana dahulu ia bertemu dengan Wie Hoay Giok, maksudnya ialah setelah bertemu dengan kakak seperguruan itu, hendak mereka bersama-sama pergi ke Ay Kao San guna menolong Beng Kee Eng sang paman.
Setelah mendapatkan kembali kitab Sam Cay Kiam, hatinya It Hiong lega sebagian besar.
Ia berkata pada Kiauw In.
"Kakak, aku kuatir terhadap paman Beng, maka itu mari kita lekas menemukan kakak Wie serta kakak Peng, setelah itu baru kita singgah untuk bersantap. Setujukah kakak?"
Kiauw In tertawa, ia mengangguk.
Ia sangat sabar, ia taidak banyak pikir, mudah saja ia menyatakan persetujuannya.
Ketika itu jalanan sepi, lantas mereka lari dengan menggunakan Te In Ciong, ilmu lari ringan tubuh Tangga Mega.
Belum lama mereka berlari, mereka lantas melihat disebelah depan mereka ada dua orang penunggang kuda lagi mendatangi dengan cepat.
Hingga tidak heran apabila lekas sekali kedua pihak sudah tiba satu pada yang lain.
Dengan matanya yang tajam, It Hiong melihat kedua penunggang itu berseragam hitam ringkas, dipunggung mereka tergantung golok tunggal.
Mereka itu selalu mengawasi ke kiri dan ke kanan, beberapa kali mereka terlihat berhenti untuk bertanya kepada orang di pinggir jalan.
"Kakak aku rasanya mengenali seragam mereka,"
Kata It Hiong selagi orang masih mendatangi.
"Dapatkah kakak menerka siapa mereka itu?"
Belum si nona menjawab, kedua penunggang kuda itu sudah tiba, bahkan keduanya lantas lompat turun dari kudanya masing-masing untuk memapaki muda mudi itu.
Sambil memberi hormat, yang satu segera bertanya.
"Mohon bertanya saudara, apakah saudara ini Tio It Hiong?"
It Hiong menarik bajunya Kiauw In, ia lekas-lekas membalas hormat.
"Aku yang rendah benar Tio It Hiong,"
Sahutnya terus terang.
"Dapatkah aku ketahui saudara berdua dari pihak mana dan ada petunjuk apa dari saudara untukku?"
"Kami yang rendah lagi melakukan perintahnya Pek Pocu dari Lek Tiok Po, sahut seorang diantaranya.
"Kami mau pergi ke Kiu Kiong San buat mencari tuan Tio untuk menyampaikan suatu berita penting tidak disangka kita dapat bertemu disini."
Orang agaknya mau bicara lebih jauh, tetapi dia melirik ke arah Kiauw In.
Beberapa kali dia melirik si nona.
Bercekat hatinya It Hiong, ia mau menerka tentu ada terjadi sesuatu atas dirinya Giok Peng, maka lekas-lekas ia berkata.
"Nona ini... nona ini ialah nona Cio Kiauw In, ia kakak seperguruanku. Kakakku ini pernah bersama kakak Peng datang ke Lek Tiok Po. Apakah saudara-saudara ini telah melupakan nona ini? Nah, kalau ada urusan silahkan bicara terus terang!"
Kedua orang itu memberi hormat kepada Kiauw In.
"Maaf nona, buat mata kami yang kurang awas!"
Kata mereka dengan hormat. Kiauw In tersenyum, ia memandang mereka itu.
"Apakah berita dari Pek Pocu itu?"
Tanyanya.
"Silahkan tuan-tuan menyebutkannya, tak usah kalian mengunakan adat peradatan."
Orang Lek Tiok Po itu lantas bicara, mulanya ia menutur tentang pulangnya Giok Peng yang lantas menemui Hong Kun.
Bahwa pertemuan keduanya berjalan baik dan Hong Kun mengutarakan niatnya untuk meninggalkan Pek Tiok Po.
Namun ternyata pemuda she Gak itu berhati tidak baik, besok paginya dia menghilang dengan membawa lari tuan kecil Hauw Yan.
Sehingga Giok Peng bersama Thian Liong dan Siauw Houw serta orang-orangnya telah pergi menyusul dan mencari dengan berpencaran, sedangkan mereka berdua ditugaskan untuk menyusul ke Kiu Kiong San sekaligus turut menyelidiki perihal anak yang hilang itu."
Mendengar keterangan itu, It Hiong kaget sekali.
Anaknya diculik orang!
Tentu saja ia menjadi kuatir dan bingung serta gusar.
Sejenak itu ia berdiri menjublak saja.
Kiauw In juga terperanjat dan gusar, sepasang alisnya yang lentik sampai bangun berdiri, tapi ia sabar dan cerdas.
Cepat ia mendapatkan ketenangannya dan lantas berpikir.
"Sekarang ini dimanakah adanya adik Peng?"
Tanyanya.
"Tahukah kalian?"
"Segera setelah ketahuan lenyapnya tuan kecil, tindakan sudah lantas diambil. Nona Peng berangkat bersama tuan muda Thian Liong menyusul ke Hong Bwe koan sedang tuan muda Siauw Houw kelain arah, karena itu sekarang kami tidak tahu dimana mereka itu....."
It Hiong menganggap sudah tidak perlu bicara lagi, maka ia menghadapi kedua orang itu dan memberi hormat sambil berkata.
"Terima kasih telah merepotkan kalian! Tolong sampaikan kepada Pocu tua, bahwa Tio It Hiong telah mengetahui urusan cucunya terculik itu. Bahwa sekalipun Gak Hong Kun jahat, dia tidak akan dapat berbuat terhadap anakku, dari itu tolong minta supaya pocu tua jangan kuatir! Nah silahkan kalian pulang!"
Dua orang itu memberi hormat.
"Baiklah!"
Katanya.
"Cuma, tuan Tio, Nona Peng ada memesan dalam hal ini urusan apa juga lainnya diminta tuan menundanya, supaya urusan tuan kecil Hauw Yan didahulukan!"
"Aku tahu!"
Jawab si anak muda. Seberlalunya dua orang itu, Kiauw In menoleh kepada It Hiong, ia mendapati anak muda itu berdiam saja, matanya memandang langit. Ia segera menarik ujung baju orang.
"Adik Hiong, mari!"
Ajaknya.
Tanpa mengucap sepatah kata, It Hiong turuti kakak itu, hingga mereka dapat lari berbareng.
Selang kira-kira dua jam, sampai sudah mereka disebuah desa, terpisah dari Kiu Kiong San kira-kira lima puluh lie.
Mereka lantas mendatangi rumah makan dimana It Hiong dan Wie Hoay Giok membuat janji.
Si anak muda memikir akan mendengar kata-kata dari saudara seperguruannya itu.
Sebenarnya It Hiong sudah lapar, akan tetapiriknya, dia menunda sumpitnya dan sambil tertawa ia berkata.
"Adik, lupakah kau akan peribahasa "bahwa urusan yang harus dibereskan tapi tak dibereskan, itu berarti perbuatan orang bodoh!" , maka itu apalagi yang kau pikirkan? Mari makan!"
It Hiong menoleh, mengawasi istrinya itu, lalu ia menghela napas.
"Rupanya adikmu ini ditakdirkan menjadi barang mainan segala bajingan!"
Katanya masgul.
"Lihat, segala peristiwa tak disangka-sangka datang susul menyusul! Ombak yang satu belum reda, sudah tiba gelombang lainnya, membuat aku repot sekali!"
Kiauw In memandang tajam pemuda itu. Lalu ia berkata dengan sungguh-sungguh.
"Kalau kita menghadapi berlaksa urusan, kita menyambutnya pula dengan berlaksa perubahan dan itulah perbuatan seorang laki-laki sejati! Baru dua urusan seperti ini, mengapa kau biarkan dirimu dipengaruhi begini rupa?"
Mendengar ucapan si nona, tubuh It Hiong menggigil, mendadak saja ia sadar.
"Kau benar, kakak!"
Katanya lantas.
"Kata-kata kakak mirip lonceng diwaktu fajar! Aku tolol, urusan ini membuatku bagaikan kehilangan ingatan!"
Lantas pemuda ini makan dengan cepat. Kiauw In senang, ia tertawa.
"Nah adikku,"
Katanya habis bersantap.
"Bagaimana sekarang hendak kau bertindak?"
It Hiong minum tehnya.
"Justru aku hendak menanyakan pikiran kakak,"
Sahutnya.
"Baik adik dulu mengutarakan pikiranmu untuk kita rundingkan,"
Katanya kemudian. It Hiong dapat berpikir cepat.
"Menurut pikiranku, urusan, urusan Hauw Yan dapat ditunda,"
Jawabnya.
"Paling dulu kita pergi ke Ay Lao San untuk menolong paman Beng!"
Nona Cio heran, ia melengak.
"Bagaimana kau berpikir demikian, adik?"
Tanyanya.
"Kau jelaskan!"
It Hiong mengawasi nona cantik di depannya itu.
"Didalam segala hal kita harus mengambil keputusan cepat. Kitapun harus dapat membedakan kalau urusan bukan Cuma satu, terutama kita harus mengambil keputusan sendiri! Dalam hal ini, tak usah aku menjelaskan sebab sebabnya keputusanku ini!"
Mendengar demikian Kiauw In tertawa.
"Kalau begitu, adik bertindak sesukamu saja, kau tak memikir banyak lagi! Itulah tindakan yang tidak tepat. Didalam urusan yang penting pada saat kita menyesal sudah kasip. Aku meminta penjelasanmu justru karena aku ingin melihat jalan pikiranmu."
"Memang aku tidak memikir panjang, kakak,"
Sahut si anak muda.
"Aku Cuma pikir ada budi mesti dibalas, dan budinya paman Beng besar sekali, maka itu aku ingin pergi membantu dia terlebih dahulu baru kita urus urusa anak kita. Paling utama aku tidak mau mendapat sebutan "Melupakan budi, menyia-nyiakan kebijaksanaan"!"
Kiauw In menatap tajam suaminya itu. Ia melihat bagaimana orang sangat bersemangat! Diam-diam dia sangat girang, tapi ia ingin mencoba hati orang.
"Bagaimana kau dapat membiarkan urusan puteramu itu?"
Demikian tanyanya.
"Bagaimana kalau anakmu itu menghadapi ancaman bahaya jiwa? Sekarang kau hendak pergi dulu ke Ay Lao San! Bagaimana nanti kau bicara terhadap adik Peng?"
Kembali It Hiong menatap si nona, lalu ia tertawa.
"Anak Hauw Yan tidak terancam bahaya jiwa."
Katanya. Kiauw In tersenyum, ia menyingkap rambutnya.
"Keputusanmu ini terlalu cepat, adik. Kau tahu kejamnya Hong Kun. Bukankah ia gagal dalam urusan cinta? Bagaimana dia dapat membiarkan pikirkan dulu dalam-dalam."
It Hiong tetap bersemangat.
"Prak!"
Ia menepuk meja.
"Tio It Hiong bukannya seorang hina dina!"
Katanya keras.
"Aku bukannya orang yang mengutamakan urusan pribadi! Aku tak sudi menjadi manusia tak berbudi. Biarpun Hauw Yan bakal hilang jiwanya, aku tetap hendak menolong dahulu paman Beng! Lagipula aku masih muda, ada kemungkinan lagi beberapa tahun aku akan dapat anak pula! Kakak, kenapa kakak demikian sibuk memikirkan Hauw Yan?"
Diam-diam hati nona Cio girang luar biasa, itulah yang ingin ia dengar dari suaminya yang tampan dan gagah itu. Ia puas, maka ia tertawa dan berkata.
"Ah adik, bagaimanakah kau ini? Kakakmu Cuma ingin mengetahui kecerdasanmu."
It Hiong pun dapat lekas menenangkan diri, ia turut tersenyum.
"Dalam kecerdasan, aku tak dapat menyusuli kakak!"
Katanya. Kiauw In tersenyum pula.
"Nah, mari kita berangkat!"
Ia mengajak.
It Hiong berbangkit, ia membayar uang lalu ia turut kakak itu keluar dari rumah makan untuk melanjutkan perjalanan mereka.
Tepat mereka tiba diuung jalan besar, mata jeli dari Kiauw In melihat Tan Hong lagi berdiri sedang dalam gendongannya terdapat Hauw Yan.
Ia segera menarik ujung bajunya It Hiong yang lalu bersama-sama mereka berlompat lari.
Hingga dilain detik mereka sudah berada di depan nona dari Hek Keng To itu!
"Nona Tan hendak pergi kemanakah kau?"
Kiauw In menanya.
"Oh, kau?"
Seru Tan Hong terperanjat.
"Kau, kakak Cio, mana adik...."
Kata-kata itu tak diteruskan, dia mau menanyakan "adik Hiong"
Tapi si adik justru berdiri di belakangnya Kiauw In.
Bukan main girangnya ia melihat pemuda yang ia buat pikiran siang dan malam itu.
Tanpa terasa merahlah mukanya, karena itu kata-katanya pun turut tertahan.
Hauw Yan melihat Kiauw In, ia segera memanggil .
"Mama! Mama!"
Diapun tertawa.
Nona Cio tidak menjawab Tan Hong, hanya ia lantas menghampirinya, untuk merangkul bocah manis itu, yang terus ia hujani dengan ciuman.
Setelah mana ia menoleh kepada It Hiong dan berkata sambil tersenyum.
"Adik Hiong, kau harus mengucapkan terima kasih kepada Nona Tan ini , yang telah melepas budi membantu anakmu!"
"Ah, kakak malu-malu saja!"
Berkata Tan Hong cepat tetapi rada likat.
"Ini tidak berarti apa-apa!"
Walaupun demikian, ia melirik si anak muda. It Hiong menghampiri nona dari Hek Keng To itu, dengan sungguh-sungguh ia menjura memberi hormat seraya berkata.
"Nona Tan, terlebih dahulu aku menghaturkan banyak-banyak terima kasih padamu yang telah menolong Hauw Yan. Tentang budimu ini, It Hiong akan ingat didalam hatinya, nanti kelak di belakang hari anak ini berdaya membalasnya!"
Wajah berseri-seri dari Tan Hong lenyap, matanya sebaliknya tergenang air, ia mengangkat kepalanya guna mencegah mengalirnya airmata itu. Toh ia tak dapat menahan hatinya.
"Adik Hiong, begini asingkah kau terhadapku?"
Katanya.
"Ah....."
Tak dapat ia mencegah lagi air matanya yang terus bercucuran mengalir dikedua belah pipinya yang putih halus.
Hingga ia mirip dengan bunga per yang ada air hujannya.
Tampangnya sangat mendatangkan rasa kasihan orang.
Lekas-lekas ia menoleh kesamping sambil berkata.
"Tan Hong adalah seorang budak keluaran kaum sesat, walaupun ia mencoba dengan sesungguh hatinya bersahabat dengan murid yang pandai dari Pay In Nia, pada akhirnya dia Cuma mendapat malu saja...."
Kiauw In yang menggendong Hauw Yan dengan tangan kiri, menggunakan tangan kanannya mengeluarkan saputangan lalu menghapusi air matanya nona dari pulau ikan lodan hitam itu.
Sambil berbuat begitu, ia berkata sambil tertawa.
"Eh, Nona Tan kau kenapakah? Kita adalah orangorang wanita Kang Ouw, kalau ada hal-hal keliru yang kami lakukan, tolong jelaskan secara terus terang. Kenapakah kau agaknya begini berduka?"
Tan Hong terus tunduk, ia menangis sesegukan. Kiauw In menoleh kepada It Hiong yang ia kedipi mata, maksudnya menganjurkan si anak muda. Sedang anak muda "berkepala batu"
Itu tak biasa ia mengalah.
Dilain pihak berat ia menolak kehendak Kiauw In, kakak seperguruannya yang baik hati.
Dalam keadaan sulit itu, ia berdiri diam sambil tunduk saja...
Maka sejenak itu bertiga mereka berdiri melintang ditengah jalan itu.
Syukurlah Kiauw In lekas dapat memecahkan kesunyian itu.
"Anak, kau ciumlah bibimu,"
Katanya pada Hauw Yan.
"Lekas kau menghaturkan terima kasih dan minta supaya Bibimu jangan bersusah hati..."
Iapun mengembalikan sibocah kedalam rangkulan Tan Hong. Hauw Yan menurut, dengan kedua tangannya yang halus, dia memegangi pipinya Tan Hong dan menciumnya, lalu dengan kata-kata terputus, ia berkata.
"Mama...jangan bersusah hati...."
Dan jenakanya, kata-kata "bibi"
Ia tukar dengan "mama", seperti biasanya ia memanggil... Mau tidak mau Tan Hong jadi tertawa.
"Ah, Hauw Yan anak yang baik..."
Katanya girang.
Meski begitu ia rada jengah, mukanya menjadi merah.
Cuma didalam hati ia merasa sangat bahagia....
Kembali Kiauw In mengawasi It Hiong, mulutnya dibuat main untuk menganjurkan pula, kali ini sambil ia terus berkata.
"Hauw Yan, anak yag baik. Bibi Tan ini adalah penolong jiwamu, tak apa kau memanggilnya mama, Cuma ingat jangan kau memanggil mama kepada setiap orang! Tahukah kau?"
Ada artinya kenapa nona Cio mengucap demikian.
Dialah seorang yang polos dan ada minatnya menyempurnakan keinginannya Tan Hong itu, terutama untuk membuat hati orang terbuka....
It Hiong terdesak oleh kakak seperguruannya itu, yang hatinya demikian suci murni, tanpa terasa ia mendekati Tan Hong dua tindak untuk berkata perlahan.
"Nona Tan, kalau adikmu ini ada mengatakan sesuatu yang keliru, aku mohon supaya kau memaafkannya....."
Tan Hong mengawasi anak muda itu. Kembali wajahnya menjadi ramai dengan senyuman. Ia tertawa dan berkata.
"Adik Hiong, tak usah kau pakai banyak peraturan, sudah cukup asal kau ingat kepada kakakmu ini!"
Kali ini si nona lantas mengangsurkan Hauw Yan kepada pemuda itu, hingga ia berada dekat sekali dengannya, lalu berkata.
"Adik, ini aku kembalikan anakmu. Semoga tidaklah sia-sia belaka apa yang telah aku lakukan ini..."
Belum sempat It Hiong berkata apa-apa, ia sudah dikejutkan dengan suara tindakan kaki yang cepat yang mendatangi, ketika ia menoleh, ia terkejut saking herannya.
"Wie suheng!"
Serunya. Belum berhenti suara itu, Wie Hoay Giok sudah berdiri di depannya ketiga muda-mudi itu. Dengan kegirangan luar biasa ia berkata nyaring.
"Tidak kusangka disini aku dapat menemukan kalian!"
Ia melihat It Hiong lagi menggendong Hauw Yan, sedangkan Kiauw In dan Tan Hong berdiri berendeng mengawasi dirinya.
Sebagai orang jujur ia lantas menghadapi Nona Tan untuk memberi hormat sambil berkata gembira.
"Nona, sungguhlah kau seorang yang dapat dipercaya! Sekarang sudah terbukti kau sampai dengan mendahului aku, kau sudah lantas menyerahkan anak ini kepada ayahnya! Nona, aku sangat berterimakasih dan sangat mengagumimu!"
Heran It Hiong mendengar kata-kata kakak seperguruannya itu.
"Suheng,"
Katanya.
"Apakah terlebih dahulu daripada ini, kau sudah bertemu Nona Tan ditengah jalan?"
Hoay Giok tertawa bergelak.
"Kita kaum Kang Ouw, dimana saja kita dapat bertemu!"
Sahutnya.
"Kalau mau dibicarakan ceritanya panjang! Aku sudah berlari-lari hingga perutku kosong sekali, maka itu mari kita cari rumah makan dahulu, habis bersantap baru kita bicara pula!"
Dan tanpa menanti jawaban orang, ia menarik tangannya It Hiong buat diajak pergi kesebuah rumah makan!
Dengan terpaksa tapipun dengan gembira, It Hiong menerima baik ajakan kakak seperguruannya itu.
Maka itu Kiauw In dan Tan Hong lantas mengikuti mereka sampai mereka duduk bersama menghadapi sebuah meja makanan.
"Nona mari minum!"
Hoay Giok mengajak Tan Hong.
Dia sangat menghargai nona itu yang dapat memegang janji.
Sebagai seorang jujur, ia girang sekali berhadapan dengan seorang yang dapat dipercaya.
Ia berkesan sangat baik, hingga ia tidak merasa likat.
Ia tidak tahu bahwa Tan Hong berlaku demikian sebab si nona ada maksudnya...
Habis menegak beberapa cawan arak, barulah Hoay Giok dapat bicara dengan gembira, maka menuturlah ia tentang pertemuannya dengan Tan Hong dan Siauw Houw, ia menceritakan segalanya dengan jelas.
It Hiong menghela napas lega.
"Jika bukannya aku disibukkan urusan kitab pedang guruku dan lekas-lekas pergi ke Kiu Kiong San,"
Berkata dia.
"Pasti waktu itu aku menemani kakak Peng pulang ke Lek Tiok Po dan pastilah Hong Kun tak dapat melakukan segala perbuatannya! Kasihan kakak Peng, dia menjadi mendapat banyak pusing dan bercapek lelah..."
"Tidak Cuma menyusahkan adik Peng tapi juga nona Hong..."
Kiauw In menambahkan. Tan Hong tertawa, senang ia mendengar kata-katanya nona Cio itu.
"Jika kau tidak mengasihani aku, kakak panggillah aku adik,"
Pintanya pada Kiauw In.
"Dan aku minta supaya aku tak usah diangkat-angkat saja...."
Berkata begitu dia melirik kepada It Hiong.
Justru itu si anak muda lagi mengawasi nona itu, maka bentroklah sinar mata mereka hingga hatinya jadi tergetar, ia masgul sekali mendapat kenyataan Nona Tan demikian tergilagila terhadap dirinya.
Kali ini nona itu telah melepas budi demikian besar terhadapnya.
Ingin ia berbicara tapi ia malu hati.
Disitu ada Hoay Giok si suheng yang berhati terbuka dan Kiauw In yang berhati emas.
Maka ia menyimpang soal.
"Suheng,"
Katanya.
"Kejadian atas dirinya Paman Beng membuatku tak enak makan dan tidur, maka itu ingin aku Tanya kau kapan kita pergi ke Ay Lao San dan bagaimana cara kita menolongnya? Coba suheng memberikan aku petunjuk!"
Mendengar disebut tentang gurunya, Hoay Giok menunda cawan araknya, tangannya gemetar, segera cawan itu diletaki diatas meja. Wajah gembiranya pun berubah menjadi lesu.
"Celaka kakakmu ini!"
Katanya menyesalkan diri.
"Kenapa disini aku gila arak sedangkan guru kita didalam bahaya? Kau benar adikku, mari kita berangkat!"
Dan ia berjingkrak bangun. Tan Hong tidak tahu duduknya hal ini, ia heran Hoay Giok bersikap begini aneh, begitu bergirang dan lekas menjadi berduka! Sampai-sampai ia tertawa.
"Saudara wie, kau kenapa?"
Tanyanya.
"Kenapa kata-kata adik Hiong membuat kau melupakan perut laparmu dalam sejenak?"
It Hiong pun memegang tangan orang untuk ditarik.
"Duduk dulu saudara,"
Katanya.
"Kita tidak boleh tergesagesa, sebaliknya kita harus memikir dan bicara dahulu! Dengan tergesa-gesa tidak keruan mana kita akan memperoleh hasil? Kau makan dulu baru kita berunding!"
Hoay Giok dapat dikasihh mengerti, maka ia duduk lagi untuk terus makan hingga ia merasa cukup, hanya tak lagi ia minum puas-puasan. Baru setelah itu, It Hiong bicara.
"Tentang berbahayanya gunung Ay Lao San, pernah suheng memberitahukan aku. Sekarang aku ingin bertanya, kecuali Cie Ciu Koan Im Lee Hong Hui dan Kiu Cie Hoan Keng Su, ada siapakah lagi jagoan lihai di sana? Apakah suheng dapat menjelaskan perihal alatalat rahasianya?"
Ditanya begitu Hoay Giok memperdengarkan suara "Oh...". Agaknya ia merasa kecewa, lalu ia menambahkan.
"Ketika aku pergi kepintu goa Lo Sat Tong dari pihak Lo Sat Bun, aku cuma menuruti hawa amarahku saja, sama sekali aku tidak memikir buat melakukan penyelidikan. Aku pikir asal Kiu Cie Hoan Keng Su dapat dibekuk, guru kita bakal segera dapat ditolong...."
Saat itu Hauw Yan tidur pulas dalam rangkulan Kiauw In, si nona mendengar suaranya orang she Wie itu, lantas turut bicara.
"Suheng pikiranmu itu terlalu sederhana, rombongan Lo Sat Bun menjagoi di Ay Lao San sudah belasan tahun. Jika mereka tidak memiliki kepandaian tinggi, mana dapat mereka bertahan begitu lama? Bukankah mereka sangat terkenal sebagai jago-jago yang jahat? Mereka jadi sangat berani sebab kedudukan tempat mereka yang bagus serta jumlah pengikutnya yang banyak! Kita sebaliknya, jumlah kita kecil sekali. Maka itu kita harus dapat menggunakan akal."
Baru sekarang Tan Hong mengerti duduk persoalannya. Pamam It Hiong atau gurunya Wie Hoay Giok terkurung dalam gunung Ay Lao San dan mereka ini mau membantu, maka tertawalah dia.
"Jika kalian hendak menggunakan akal, aku bersedia membantu sebisaku!"
Katannya.
"Kebetulan aku kenal dengan rombongan Lo Sat Bun itu...."
Hoay Giok memberi hormat pada nona itu.
"Jika Nona Tan sudi membantu kami, aku sangat bersyukur!"
Katanya yang terus menghaturkan terima kasih.
Tan Hong sebenarnya hendak merapatkan diri pada It Hiong, maka ia bersedia memberikan tenaganya.
Dari itu ia girang sekali Hoay Giok segera menerima bantuan tenaganya itu.
Diam-diam ia melirik kepada si anak muda dan juga kepada Kiauw In.
It Hiong masih mengukuhi nama perguruannya yang putih bersih, tak ingin ia bersama dengan Tan Hong, tapi Hoay Giok sudah mendahului menerima baik tawaran si nona.
Ia tidak bisa berbuat lain daripada turut menerimanya.
Karenanya hatinya menjadi tidak tenteram.
Dengan tampang likat ia mengawasi Kiauw In, ia ingin mendengar pandangan kakak seperguruannya itu.
Nona Cio sangat cerdas, ia mengerti maksudnya It Hiong.
Ia pun dapat menerka hatinya Tan Hong.
Ia bersimpati pada Nona Tan, tak perduli nona itu dari rombongan Hek Keng To.
Bahkan ia ingin si nona mencapai angan-angannya.
Maka ia lantas berkata dengan sungguh-sungguh.
"Didalam suatu usaha besar kita jangan menggubris segala urusan kecil, jadi walaupun adik Tan Hong asal dari Hek Keng To, ia tetaplah sahabat-sahabat kita. Karena ia suka membantu kita, itulah hal yang kita mintapun sebenarnya sukar terjadi. Adik Hiong, janganlah kau menyia-nyiakan kebaikan hatinya adik Tan Hong!"
Bukan main girangnya Tan Hong mendengar perkataan Kiauw In, namun ia menyembunyikan kegirangannya itu, lekas-lekas ia mengangkat tangannya berpura menyingkap rambutnya, hingga mukanya teraling tangannya itu.
Hatinya It Hiong pun berubah setelah ia mendengar suara Kiauw In itu.
Maka berkatalah ia.
"Kakak benar! Baiklah mari kita mengharapkan tenaga bantuannya Nona Tan! Sekarang bagaimana dengan Hauw Yan? Dapatkah ia dibawa bersama ketempat yang berbahaya itu?"
Kiauw In tertawa.
"Mengenai Hauw Yan telah aku pikirkan, kalian bertiga berangkat lebih dulu, aku sendiri akan pergi ke Lek Tiok Po dengan membawa anak ini untuk menemui adik Peng sekalian memulangkan Hauw Yan, kemudian bersama adik Peng itu, aku akan menyusul kalian, bukankah itu baik?"
"Kau benar sekali nona Cio!"
Hoay Giok memuji girang.
"Tidak ada jalan yang lebih baik daripada itu! Aku sangat memuji pada nona! Nah adik Tio, sebelum malam tiba, mari kita berangkat!"
Begitulah keputusan mereka, maka lantas mereka berangkat pergi.
Cuma nona Cio sendiri yang mengambil lain arah karena ia mengajak Hauw Yan bersamanya.
It Hiong bersama Hoay Giok dan Tan Hong mengambil jalan dipropnsi Secuan untuk memasuki propinsi inlam.
Mereka melakukan perjalanan cepat, sehingga dalam sembilan hari mereka sudah tiba dikaki gunung Ay Lao San.
Selama didalam perjalanan itu, hatinya Tan Hong terbuka bukan main.
Ia gembira sekali karena dapat berdekatan dengan pemuda yang diidam-idamkannya.
Tiada waktu yang tidak ia bersuka ria, tersenyum atau tertawa.
Kegembiraannya itu diam-diam seperti membantu membangun semangatnya kedua anak muda.
Tiba dikaki gunung, hatinya It Hiong terutama Hoay Giok menjadi tegang sekali.
Buat Hoay Giok ini berarti ia telah kembali ketempat yang ia kenal baik, tetapi yang sangat berbahaya dan mengancamnya.
Toh ia maju terus tanpa rintangan, berkat tempat yang pernah ia kenal itu.
Tidak ada tempat perangkap maupun cegatan lawan.
Sesudah mengikuti jalanan yang berliku-liku, tibalah mereka di depan Lo Sat Tong atau pintu gua raksasa.
Disitu Hoay Giok memberi tanda kepada kedua kawannya untuk duduk istirahat disebuah batu karang.
"Lembah di depan itu, yang tak jauh dari sini, itulah Lo Sat Tong,"
Ia memberi keterangan.
It Hiong mengangkat kepalanya menatap ke depan, ketempat yang ditunjuk kakak seperguruannya itu.
Ia melihat mulut lembah dikaki puncak, kecuali batu-batu aneh, disitupun ada tedapat rumput yang hijau.
Hanya sepi saja, tak tampak seorang juga.
"Kenapa di muka gua tidak ada orang yang menjaga?"
Tanya It Hiong. Tan Hong juga heran.
"Kakak Wie, apakah kau tidak keliru?"
Tanya dia.
"Tidak, aku tidak akan salah mata!"
Jawab Hoay Giok dengan segala kepastian.
"Sebentar, kalau kita maju lebih jauh, pasti akan muncul orang yang bakal menghadang kita!"
"Jika begitu, biarlah aku yang maju dahulu seorang diri,"
Tan Hong berkata.
"Aku akan berpura-pura membuat kunjungan kepada ketua dari Lo Sat Bun! Kalian setuju bukan?"
It Hiong memikir lain, dengan sungguh-sungguh ia berkata.
"Baiklah kita berkunjung secara terus terang menuruti aturan kaum Kang Ouw dan berterus terang juga kita memberitahukan bahwa kita datang memenuhi janji untuk membereskan urusan kita. Buat apa kita takuti, sekalipun Lo Sat Tong merupakan sarang naga atau harimau!"
Lalu tanpa menanti persetujuan kedua kawannya, anak muda ini lantas bertindak maju, guna berjalan di muka.
Maka terpaksa Hoay Giok dan Tan Hong menyusul, mengikutinya.
Benar seperti dugaan Hoay Giok tadi, mendekati pintu belum ada belasan tindak, mereka sudah dirintangi oleh dua orang yang muncul secara tiba-tiba.
"Tahan!"
Mereka itu berseru. It Hiong mengawasi tajam, ia melihat dua orang berdiri berendeng, baju mereka itu seragam berkembanng, juga kopiahnya sedang punggungnya menggembol golok.
"Kamilah Wie Hoay Giok bersama sute Tio It Hiong!"
Si orang she Wie segera memperkenalkan diri. Suaranya nyaring, sikapnya gagah.
"Kami datang kemari memenuhi undangannya Keng Su buat membereskan perhitungan kita, maka itu tolong tuan-tuan berdua mengabarkan perihal datangnya kami ini!"
Kedua orang itu mengawasi ketiga tamunya itu, lantas mereka merogoh saku mereka dan mengeluarkan semacam pluit, lalu mereka meniupnya maka segera terdengar suaranya yang nyaring.
Hingga dilain saat dari dalam lembah muncul juga serombongan orang bertubuh besar yang seragamnya serupa dan dipaling belakang tampak seorang wanita yang dandanannya sangat perlente dan tampangnya sangat centil.
Hoay Giok segera mengenali wanita itu ialah Cia Ciu Koan Im atau Dewi Koan Im yang telengas dan namanya Lou Hong Hui.
Dengan sikap dingin Lou Hong Hui mengawasi ketiga tetamunya itu, lantas dia menegur takabur.
"Apakah kamu bertiga murid-muridnya Beng Kee Eng? Kamu mempunyai nyali datang kemari membuat perhitungan, kamu sungguh berani! Tapi kepandaian kalian, bagaimanakah itu? Dapatkah kalian melintasi lembah kami yang dinamakan Lok Hun Kok, Lembah Roh Berjatuhan? Kalian harus berpikir masak-masak! Siapa memasuki lembah kami biasanya belum pernah ada yang bisa keluar pula dengan masih bernyawa!"
Sudah suaranya jumawa, skapnyapun sangat temberang.
Sungguh tak sedap untuk mengawasi tingkah pola semacam itu.
Tan Hong berlompat maju ke depan, lantas ia meluncurkan sebelah tangannya.
Segera ia menggunakan ilmu lunak Mo Teng Ka dari Hek Keng To.
Sambil menyerang ia membentak.
"Bagaimanapun lihainya Lok Han Kok, nonamu hendak mencobanya!"
Lou Hong Hui memandang ringan terhadap serangan itu, ia tidak merasakan hembusan angin yang keras seperti biasanya suatu serangan yang hebat.
Ia menyambut secara sembarangan saja.
Kedua tanganpun beradu tanpa terdengar suara nyaring, hanya setelah kedua tangan menyampok satu dengan lain, barulah Hong Hui menjadi kaget sekali..
Dia tertolak keras hingga dia mundur enam tujuh tindak, namun dia dapat mempertahankan diri tak sampai roboh terguling.
Baru sekarang dia kaget berbareng gusar, maka matanya mengawasi dengan sorot bengis.
Sambil mengawasi dengan jengekan "Hm!"
Mendadak dia mau menyerang Nona Tan!
Jago wanita dari Hek Keng To itu mendapat angin, justru ia mau maju terus, begitu diserang ia lantas menyambut, malah ia menggunakan kedua belah tangannya dengan jurus silat "Siang Hee Kauw Tay"
Atau atas dan bawah saling menyambut.
Tangan yang satu mencari jalan darah hoakay didada, sedang yang lain meluncur kejalan darah tantian diperut lawannya itu.
Ia berpendirian untuk mempercepat pertempuran, semua itu cuma buat "adik Hiong".
Hong Hui menjadi salah satu tongcu dari Losat Bun, dia bukan sembarang orang.
Begitu bentrokan pertama itu lantas dia insyaf bahwa lawannya bukan sembarang lawan.
Segera dia berlaku waspada.
Dia melihat si nona mengeluarkan dua buah tangannya dia dapat menerka maksudnya itu.
Maka dia menyambut dengan kedua tangannya juga dengan ilmu Im Yang Ciang, tangan Im Yang.
Itulah semacam khiekang, ilmu tenaga dalam dari Losat Bun.
Tan Hong bisa melihat gelagat, matanya jeli, tangannya lincah.
Ia tidak menyingkir dari sambutan yang sekalian merupakan serangan balasan dari lawan itu, ia justru menyambutnya hingga mereka menjadi mengadu kekuatan tenaga dalam mereka.
Lou Hong Hui cerdik.
Tak sudi dia mengadu tenaga, cepat luar biasa ia merubah gerakan tangannya dan memotong tangan lawannya itu!
Tan Hong pun bermata jeli dan gesit, ia membarengi menyerang pula menolak dengan tenaga dalam Mo Teng Ka.
Tenaga dalam itu lunak dan ringan nampaknya, anginnyapun bersiur halus, tapi sekali menemui perlawanan lantas jadi keras luar biasa.
Hong Hui kenal baik tenaga dalam itu, ia tak sudi melayaninya.
Ia lompat satu tombak, sesudah tenaga itu hilang ia menyerang kebawah, kembali ia menggunakan tangan Im Yang Ciang.
Tan Hong melihat tubuh lawan turun kepala dibawah dan kaki diatas, ia ingin mencoba pula tenaga dalam lawan itu.
Maka ia menyambut dengan jurus silat "Dengan Tangan Mengelilingi Langit"
Kembali bentroklah kedua tangan hingga terdengar suara nyaring.
Kali ini Hong Hui tak sempat menyingkir lagi, bahkan telapak tangannya bagai tersedot hawa lawan.
Untuk membebaskan diri ia menyerang dengan tangan kanannya.
Kedua wanita itu belum kenal satu dengan lain, mereka juga tidak bermusuhan.
Kalau mereka bentrok, yang satu mau membela kaumnya sedang yang lain bekerja untuk pemuda yang dicintainya....
Tan Hong nampaknya terdesak, tapi sebenarnya dialah yan menolak lawan membikin tenaga lawan berkurang, asal lawan kalah tenaga maka lawan bakal celaka.
Ternyata mereka seimbang, maka itu kelihatannya mereka seperti tengah melakukan pertunjukkan, hingga menarik hati untuk ditonton.
Tan Hong berjalan berputar, mukanya diangkat, nampak ia bersungguh-sungguh.
Mulanya Hong Hui bersikap biasa saja, mungkin ia memandang ringan kepada lawannya itu, namun sekarang mukanya menjadi merah dan dahinya dibasahi peluh.
It Hiong bersama Hoay Giok dan orang-orang Losat Bun tercengang menyaksikan pertempuran tersebut.
Syukur Hoay Giok sadar terlebih dahulu.
"Sute mari kita maju!"
Ia mengajak It Hiong, suara mana mengejutkan Tan Hong.
Hingga si nonapun menyadari dirinya, demikian juga dengan Hong Hui, serentak mereka sama-sama mundur lima tindak.
It Hiong sudah melompat maju ketika melihat Tan Hong mundur dengan tubuh limbung ia lantas menahan tubuh nona itu.
"Kau terluka kakak?"
Tanyanya.
"Tidak,"
Sahut si nona, ia memang tidak terluka, ia menjadi limbung sebab undurnya secara mendadak.
Ia merasa sangat bahagia mendengar si adik Hiong memanggilnya kakak.
Justru saat dia disangga itu sengaja ia menyenderi tubuhnya dilengan yang kuat si anak muda.
Iapun memejamkan mata.
Habis menjawab baru ia buka matanya untuk menambahkan kata-kata .
"Adik, aku sebenarnya membela mengadu jiwa ini untukmu...."
Dan ia menatap si anak muda, parasnya menunjukkan bagaimana ia sangat memperhatikan anak muda itu. Hatinya It Hiong memukul.
"Kau duduklah kakak,"
Katanya cepat.
"kau istirahatlah."
Ia masih memegangi, membantui orang duduk, kemudian ia mengeluarkan saputangan untuk menyusuti peluh didahi si nona.
Dipihak sana, Lou Hong Hui pun mundur dengan limbung, bahkan ia segera jatuh terduduk karena tidak sanggup mempertahankan diri, lekas-lekas ia menyalurkan pernapasannya.
Hoay Giok menyaksikan keadaan nona Lou itu, ia berseru sambil melompat maju kepada nona, hingga ia membuat kaget pada orang-orang Losat Bun.
Serentak mereka itu melompat maju untuk menghadang.
Melihat itu, ia lantas mundur pula, ia telah berhasil memisahkan dua jago wanita itu.
Ia kembali kepada kawannya seraya terus menanya It Hiong apa Tan Hong terluka parah.
Ia prihatin terhadap nona itu dan mengawasi mukanya yang elok.
It Hiong menggeleng kepala.
"Ia tidak terluka, ia cuma terlalu banyak mengeluarkan tenaga,"
Sahutnya yang terus memandang Tan Hong untuk melanjuti ."Kakak baik sekali, entah bagaimana aku membalasnya nanti......"
Kata-kata itu ditujukan seperti terhadap si nona dan juga terhadap Hoay Giok. Hoay Giok diam melengak, tak mengerti ia akan arti katakatanya anak muda itu. Ia Cuma pikir.
"Sungguh beruntung adik Hiong, orang sudah mempunyai dua enso(ipar) dan sekarang akan tambah dengan satu Tan Hong ini. Ia Tanya dirinya.
"Bagaimana meeka diaturnya nanti?"
Tak lama maka Hong Hui bangkit berdiri. Dengan cepat tenaganya telah pulih kembali. Terus ia melihat cuaca dan mengawasi rombongannya It Hiong dan berkata jumawa.
"Lo Han Kok bukannya tempat yang dapat kalian masuki sembarangan! Masihkah kalian tak mau lekas pergi dari sini?"
Mendengar itu, alisnya It Hiong terbangun, Dia justru melompat maju.
"Lou Tongcu!"
Katanya nyaring.
"Jika benar kau menghendaki kami pergi, silahkan kau bebaskan dahulu Beng Bee Kee pamanku itu!"
Nona itu memperlihatkan tampang menghina.
"Bocah kau tidak menerima kebaikan hati orang!"
Bilangnya.
"Orang she Beng itu berada didalam penjara Losat Bun yang berada disebelah kanan pendopo pusat kami, jika kalian berani kalian majulah kependopo kami itu."
It Hiong mendongkol.
"Kau tidak tahu diri!"
Bentaknya.
Barusan selagi kau beristirahat, kami tidak menyerbumu!
Kami tahu aturan Kang Ouw dan mematuhinya!
Kenapa sekarang sikapmu begini, jika kau tak sudi membiarkan kami masuk, baiklah mari coba rasakan pedangku!"
Lantas si anak muda menghunus Keng Hong Kiam, hingga terdengar suaranya yang berisik disertai sinar berkilauan. Hong Hui terkejut oleh suara dan sinar itu.
"Pasti bocah ini bukan sembarang orang,"
Pikirnya.
"Aku baru saja beristirahat, mana tepat aku melayani tenaga baru?..."
Maka berputarlah matanya dan bekerja pula otaknya. Terus dia mengejek.
"Apakah kau hendak menempur aku bergantian? Apakah itu cara orang Kang Ouw sejati?"
It Hiong tahu orang licik dan sengaja mengatakan demikian, hendak ia menjawabnya namun Tan Hong sudah mendahuluinya. Nona Tan melompat maju ke depan si anak muda sambil terus berkata pada lawan.
"Kalau Lou Tongcu takut nanti dilawan dengan bergilir, baiklah nonamu yang melayani pula padamu!"
Lantas ia maju lebih jauh sambil mengangkat sanhopang senjatanya itu.
Hong Hui segera meloloskan senjatanya, yaitu sabuk sulam emas yang melibat pinggangnya.
Selekasnya ia kibaskan itu sabuk menjadi panjang satu tombak lebih, kaku mirip sebatang tombak.
Sebab ujungnya mempunyai ujung tombak yang tajam.
Diapun terus berkata menantang.
"Budak bau! Kalau kau mempunyai kepandaian buat melayani aku sepuluh jurus, aku akan ijinkan kau memasuki lembah kami ini."
Tan Hong berpengalaman, tahu ia bagaimana harus melayani senjata lawan itu.
Ia menyambut tantangan sambil terus melompat maju dengan loncatan Walet Menyambar Air, sedang setibanya di depan lawan, ia segera menyerang dengan jurus silat Guntur dan Kilat saing berbunyi, senjatanya ruyung Sanho pang segera menyerang ditiga arah, atas, tengah dan bawah.
Hong Hui terkejut buat serangan mendadak itu, hingga ia mundur dengan mencelat, menyusul mana sebelah tangannya menyambar ujung sabuknya yang terlepas, hingga tangannya mencekal kedua ujung sabuknya, niatnya guna dipakai mengekang ruyung lawan.
Tan Hong mendak, selekasnya ruyung menyambar kekaki lawan...
Itulah serangan hebat, merupakan Loh bwe atau kuda runtuh.
"Tipu daya seperti menjatuhkan diri"
Hong Hui terkejut ia lompat mundur.
Segera ia insyaf lihainya sang lawan.
Maka lekas-lekas ia memutar tangannya mencoba melibat tubuh lawan.
Ia bisa bergerak dengan bebas.
Lantas juga Tan Hong yang terancam bahaya, sabuk lawan membuatnya repot.
Asal ruyungnya terlibat, ia bisa mendapat susah.
Maka kembali ia menggunakan tipu, ia menjatuhkan diri dalam jurus silat, CaCing Menggulung Pasir, dengan tubuh bergulingan ia menghampiri lawannya kemudian mendadak ia berjingkrak bangun sambil membarengi menyerang iga lawan, itulah jurus silat "Guntur Berbunyi ditanah datar"
Buat membantu si adik Hiong, Tan Hong dengan lantas mengeluarkan kepandaiannya, cara berkelahinya itu mengagumkan siapa yang manyaksikannya.
Dilain pihak Hong Hui bukan sembarang nona, ia insyaf akan lihainya lawan itu yang malah ia katakan telengas.
Ia tidak melompat mundur, sebaliknya ia terus memasang kuda-kuda rendah dengan kaki kiri bertahan dan kaki kanan mendahului menyambar, itulah tendangan Kaki Menyapu Awan.
Tan Hong menyelamatkan diri dengan lompat jumpalitan sebanyak tujuh atau delapan kali.
Itulah Lompatan Bayangan Burung Yang Menyerbu Langit.
Setelah berjumpalitan itu, tubuhnya turun ketanah.
Namun sabuk lawan memapaki tubuhnya itu.
Ujung tombak bagaikan kepala ular menyambar bau orang, mirip gerakan ular menyemburkan racun....
Tan Hong terperanjat.
Nyata lawan lihai dan telengas juga.
Disaat sangat mengancam tadi, ia sampai membela diri dengan jalan mengelit bahaya itu.
Ia mengira sudah lolos dan lawannya tidak akan sempat berdaya lebih jauh, siapa tahu tobak diujung sabuk lawan terus mencari sasarannya, kali ini punggung orang!
Tan Hong dapat berjumpalitan dengan waktu lebih lama dari biasanya, itulah disebabkan mahirnya ia dengan ilmu tenaga dalam dari Hek Keng To.
Sesudah lewat ancaman bahaya itu, ia meneruskan turun dengan cepat tangan kirinya menyerang, sedang tangan kanannya melindungi diri.
Lou Hong Hui sudah berkecimpung dalam dunia Kang Ouw selama sepuluh tahun lebih, sampai ia memperoleh julukan "Cia Ciu Koan Im"
Belum pernah ia menemukan lawan seperti nona ini.
Ia tidak menyangka bahwa serangannya barusan bisa gagal, hingga sekarang ialah yang berbalik terancam.
Ia menjadi repot.
Dalam tergesa-gesa, ia menolak dengan tangan kiri, ia berhasil.
Tapi setelah itu datang pula tangan kanan lawannya mengancam dada!
Kembali ia menjadi repot, secara tergesa-gesa ia menangkis dengan sabuknya, menyusul mana kakinya menendang.
Kedua pihak sama-sama terancam bahaya bergantian.
Disaat itulah Tan Hong yang terancam bahaya, kaki kirinya baru saja menginjak tanah ketika serangan lawan datang.
Ia berkelit miring, berbareng dengan itu lagi-lagi iapun menendang dengan kaki kanannya.
Sebagai orang Kang Ouw ulung, masih bisa Hong Hui menyelamatkan diri.
Ia mundur sejauh lima kaki.
Hanya dala tergesa-gesanya itu, ia membuat senjatanya terlepas dari tangannya.
Tan Hong tidak menyerang terus, ia hanya mengawasi.
Ia melihat sabuk lawan menggeletak ditanah, ia lantas tertawa dan berkata.
"Terima kasih Lou Tongcu, karena kau sudi mengalah! Sepuluh jurus sudah lewat...."
"Budak jangan menghina orang!"
Hong hui membentak.
"Kapan kau menang?"
Tan Hong tertawa pula. Dia menunjuk kepada sabuk ditanah itu.
"Bukankah sabukmu itu senjatamu?"
Tanyanya.
"Kau lihat! Apakah itu bukan berarti bahwa kau sudah kalah?"
Merah mukanya Hong Hui, ia malu sekali.
"Baik!"
Serunya mendongkol.
"Kau sungguh beruntung! Sekarang aku ijinkan kamu bertiga melintasi lembah Lok Han Kok, Ular Melingkar, kita nanti bertempur pula!"
Habis berkata, nona Lou memberi isyarat dengan tangannya, terus ia mengundurkan diri diikuti orang-orangnya.
It Hiong bertiga mengawasi lawan itu masuk kedalam lembah dan lenyap didalam waktu singkat.
Tatkala itu sudah jam satu kira-kira dan rembulan sedang bersinar terang, sunyi sekitar mereka.
"Kakak, kau capek,"
Kata It Hiong menghampiri si nona. Senang Tan Hong mendengar si anak muda memanggilnya kakak, tidak nona lagi. Itulah hasil usahanya menempur Lou Hong Hui tadi. Ia tertawa dan berkata.
"Ah tidak! Demi kau adik Hiong, tak apa aku mesti mengeluarkan sedikit tenagaku atau mengucurkan beberapa tetes peluh."
Jilid 21 Kami sangat berterima kasih kepadamu, Nona Tan"
Hoay Giok terus bicara.
"Sungguh besar bantuanmu ini ! Nanti setelah guru kami dapat dibebaskan dari tangan kaum Losat Bun, akan aku menghaturkan pula terima kasihku...."
"Kakak Wie, aku minta janganlah kau memandang aku sebagai orang luar !"
Berkata si nona.
"Bahkan menjadi satu kehormatan yang Tan Hong dapat membantu dalam usaha menolong Beng Locianpwe !"
It Hiong melihat langit.
"Selekasnya kakak sudah beristirahat, kita akan segera memasuki Poan Coa Kok"
Katanya.
"Setujukah kakak ?"
Tan Hong melirik pemuda itu.
"Kakakmu tidak terlalu letih."
Katanya tertawa.
"Tak ada halangannya buatku ! Aku selalu mengiringi kau, adik !"
Tetapi It Hiong lantas duduk diatas rumput.
"Kita beristirahat sebentar"
Bilangnya. Malah mereka lantas mengisi perut mereka dengan rangsum kering yang dibekalnya. Kira jam dua, rembulan nampak makin terang. It Hiong berlompat bangun, tangannya pada gagang pedangnya.
"Malam ini juga kita mesti sampai di pendopo pusat Losat Bun !"
Kata ia.
"Mari !"
Tan Hong tapinya tunduk. Dia berpikir.
"Kakak Whie", tanya ia pada Hoay Giok.
"sebelumnya ini pernahkah kau masuk kemari ? Pernahkah kau tiba di Poan Coa Kok ?"
Orang yang ditanya menggeleng kepala.
"Malu untuk mengakuinya,"
Sahutnya.
"Bahkan sebelum melintasi Lok Hun Kok telah aku dirobohkan jurus silat Imyang ciang dari Cie Cia Koan Im..."
"Peduli apa mereka mempunyai banyak lembah atau perangkap !"
Berkata It Hiong.
"Peduli apa disarang gua harimau atau sarang naga ! Mari kita maju guna membantu paman Beng ! Sebelum maksudku berhasil, aku sumpah tak akan keluar dengan masih hidup dari gunung Ay Lao San !"
Gagah bicaranya anak muda ini yang demi pamannya menjadi tidak kenal takut. Tan Hong tertawa. Ia menepuk bahu orang.
"Sungguh kau gagah, adik !"
Pujinya.
"Nah, mari kita maju ! Asal kita berhati-hati buat segala tipu daya musuh... !"
Hoay Giok pun tertawa.
"Kamu begini gagah, kamu membuat malu !"
Katanya yang terus berlompat maju, untuk mendahului berjalan di muka.
Dengan beriringan, ketiga muda mudi ini berjalan memasuki lembah.
Cahaya rembulan membuat mereka melihat banyaknya batu disepanjang tempat yang dilalui mereka.
Di kiri dan kanan sebaliknya tampak dinding tembok gunung yang tinggi.
Jalanan menuju mendaki.
Satu jam sudah mereka bertiga berjalan cepat, telah melalui kira sepuluh lie.
Kiranya lembah itu panjang.
Sunyi disekitar mereka.
Yang berisik melainkan suara angin gunung.
Tanpa merasa mereka telah tiba di pinggang gunung !
Disitu mereka menikung disebuah pengkolan.
Lantas mereka menyaksikan sebuah jurang, kedua tepinya dihubungi satu dengan yang lain dengan sebuah batu besar dan panjang yang melintang mirip penglari.
Di bawah itu tak tampak batu atau lain macam barang.
Seluruhnya gelap.
Dinding juga tak berpohon apa jua.
It Hiong menghampiri tepi jurang.
Ia melihat jembatan mirip penglari itu.
Tak bersangsi pula, ia lompat ke batu itu untuk jalan diatasnya.
Ia mendahului kedua kawannya.
Tan Hong dan Hoay Giok mengikuti.
Di lain tepi, pada dinding gunung terdapat banyak lubang gua kecil dan besar hingga mirip sarang tawon.
Dari gua yang besar terlihat molosnya sinar api mirip dengan cahanya kunang-kunang.
"Mari kita memasuki gua dan melihatnya."
It Hiong mengajak.
Ia berani sekali.
Ia pula kembali jalan disebelah depan.
Gua yang dimasuki itu, ditempat dalam belum sepuluh tombak sudah terhadang sebuat batu besar sekira seperdirian orang.
Pada dinding sisinya dengan huruf-huruf yang bersinar mirip terangnya kunang-kunang terlihat ukiran dari tiga huruf besar "Poan Coa Kok"
Artinya Lembah Ular Melingkar. Melihat pertanda itu Tan Hong berlari ke depan, menghampiri It Hiong, ujung baju siapa ia lantas tarik terus dengan perlahan ia kata .
"Lekas menempel di dinding ! Kitapun harus sering mendekam ! Kita mesti bersiaga dari serangan senjata gelap dari musuh !"
It Hiong bersyukur, ia bagaikan disadarkan si nona.
Lantas ia mepet pada dinding berjalan dengan merapatkan diri terus menerus.
Demikian pun dengan kedua kawannya itu.
Tepat mereka datang dekat pada batu besar dan tinggi penghadang, mereka lantas mendengar suara melesatnya panah api tiga kali, panah itu bukan melesat ke depan hanya ke belakang mereka sejauh satu tombah dan nancap di dinding, hingga ketiganya mirip obor !
Menyusul itu maka dari balik sebelah batu besar terdengar suara dingin bagaikan es ini .
"Bocah yang baik ! Masihkah kau hendak menyembunyikan dirimu ? Kalau kau benar pandai mari sambut golokku ini !"
Dengan golok, orang itu maksudkan "Liu kio-to"
Yaitu golok tipis dan ringan.
Nama itu berarti "golok daun Yang-liu".
Dan menyusul itu sembilan buah golok tersebut menyambar kepada It Hiong bertiga, seorang menjadi sasarannya tiga batang golok yang suara menyambarnya terdengar nyata dan goloknya sendiri berujung berkilauan Diantara ketiga orang itu yang kepandaiannya paling lemah ialah Whie Hoay Giok tetapi dia menang pengalaman, dengan mudah saja dia dapat menyelamatkan dirinya yaitu dengan maju ke depan sambil mendekam, hingga ketiga golok lewat di belakang penggungnya dan nancap pada dinding.
It Hiong lain lagi.
Dia mengandal kepada tenaga "Hang Liong Hok Houw Ciang"
Dengan satu tolakan jurus silat itu ia membuat ketiga golok runtuh berjatuhan ke tanah.
Tan Hong sebaliknya keras lawan keras.
Dengan sanho pang ia menangkis meruntuhkan ketiga golok yang mengancamnya itu, hingga tiga kali terdengar suara bentrokan nyaring.
It Hiong berlaku cepat.
Ia bermata sangat celi.
Ia berlompat ke arah belakang batu sambil membarengi menyerang dengan pukulan "Now Sie Toat Hian"
Yang roboh dengan muntah darah.
Tan Hong lompat menyusul, ia terus mendengar satu suara menjerit sesudah waktu ia tiba dibalik batu.
Ia melihat It Hiong sedang memegangi tangan seorang berseragam lain, yang mukanya meringis kesakitan.
Orang itu berlutut, tubuhnya bergemetar, peluhnya membasahi dahinya.
"Ampun"
Masih terdengar ratapannya.
"Bilang, kau jadi apa di Poan Coa Kok ini ?"
Tan Hong tanyanya. Tak dapat orang itu menjawab. Maka It Hiong menamparnya jatuh sambil terus berkata bengis .
"Lekas kau bicara kalau kau masih menyayangi jiwamu !"
Masih orang itu tidak dapat membuka mulutnya. Dia rebah telentang mata mengawasi si anak muda dan mudi.
"Mana lagi anggota kalian yang lain ?"
It Hiong tanya.
"Siapakah yang menjadi tongcu kamu ?"
"Aku cuma dapat menjawab satu kali !"
Cibirnya, orang itu membuka juga suaranya dingin.
"Tong cu dari Pan Coa Kok bernama Sioaw Kit gelar Cian Ciu Longkun, si Tangan Seribu Yang, lainnya sebab aturan kami sangat keras, tak dapat aku bocorkan !"
"Beranikah kau tidak bicara ?"
Bentak Tan Hong.
"Kau tahu ruyung nonamu in biasa tak mengasihani orang yang bacotnya keras !"
Orang itu tertawa sedih.
"Nyawaku sudah hilang!"
Sahutnya.
"Kalau aku membuka rahasia disini, maka tubuh tak dapat bertahan dari siksaan besi panas. Kalau aku tidak bicara, aku tak akan lolos dari tangan kalian ! Maka itu lebih baik aku menutup mulut dan terima binasa ditanganmu !"
It Hiong kagum buat sikapnya orang itu.
"Nah, kau pergilah !"
Kata dia akhirnya.
"Aku beri ampun padamu !"
"Segala manusia jahat buat apa dikasihh tinggal hidup ?"
Berkata Tan Hong.
"Kita bukannya penggemar melakukan pembunuhan terhadap sesamanya !"
Kata It Hiong tertawa.
"Membunuh lebih satu jiwa bagi kita tidak ada faedahnya. Dimana bisa harus kita mengampuni orang...Kakak, mari !"
Berkata begitu si anak muda lantas mengikuti orang tawanannya yang telah dibebaskan itu yang terus berlari pergi.
Hoay Giok menyusul, begitu pun Tan Hong.
Mereka keluar dari dalam gua itu dan tiba disebuah lembah sempit dengan dinding batu gunung dikiri dan kanam, luasnya cuma satu tombak.
Menengadah ke langit, orang melihat si putri malam.
Karena suasananya sangat sunyi mereka mendapat dengar tindakan dari kaki tawanan yang dibebaskan itu.
Sempit dan berliku-liku, nama lembah itu mirip sekali, Pan Coa Kek atau lembah ular melingkar.
Tikungannya ada yang besar dan kecil.
Sampai kira tiga jam, tetap mereka masih berada di lembah itu.
Disini lembah gelap sebab cahaya rembulan tak tembus.
It Hiong sementara itu heran.
Bukankah mereka berjalan cepat ?
Kenapa lembah seperti tak ada akhirnya ?
Pula kenapa sampai sebegitu jauh mereka tak menemukan lain rintangan pula ?
Kenapakah ?
Sebenarnya mereka telah kehilangan tawanan mereka pun berlari-lariputar balik disitu-situ juga.
"Tahan !"
Berseru Tan Hong yang heran seperti si anak muda, hingga dia lantas menggunakan otaknya. It Hiong berhenti berlari dan menoleh.
"Kau melihat musuh kakak ?"
Tanyanya.
"Mari adik !"
Kata si nona.
"Mari kita bicara !"
It Hiong segera menghampiri nona itu.
"Ada apakah ?"
Tanyanya. Tan Hong menyalakan api sumbunya untuk menyuluhi batu yang ia injak, sembari menunjuk batu itu, ia menjawab .
"Lagi berlari-lari beberapa kali aku telah kena injak ini batu koral sebesar telor gangga. Batu ini besar dan licin, setiap kena menginjaknya hampir aku terpeleset jatuh. Karena aku menginjaknya beberapa kali, apakah itu bukan berarti kita berlari-lari sia-sia saja ?"
It Hiong berdiam, otaknya bekerja. Ia ingat bahwa iapun tadi pernah menginjak batu itu. Pula aneh batu serupa berada hanya disitu. Akhirnya ia bagaikan terasadar.
"Kau benar kakak !"
Kata ia.
"Mestinya lembah ini mempunyai jalan keluar lainnya. Bukankah orang tadi telah hilang dan tak terdengar juga suara larinya ?"
Ketika itu Hoay Giok pun datang menghampiri. Dia bernafas memburu.
"Ada apakah ?"
Tanya dia yang terus menyampok memadamkan api ditangannya si nona. Nona Tan memberi keterangan perihal kecurigaan itu.
"Lembah begini gelap, inilah sulit !"
Kata Hoay Giok kemudian.
"Kalau kita terus menyalakan api itulah berbahaya. Adalah satu pantangan kalau musuh gelap dan kita terang."
It Hiong mengangkat kepalanya. Tinggi dinding mungkin seratus tombak. Dari sinar rembulan, dapat diduga mungkin itu waktu sudah jam empat kira-kira.
"Baik kita duduk beristirahat disini"
Katanya kemudian.
"Kita menanti sampai terang tanah baru kita lihat bagaimana baiknya."
Tan Hong tertawa.
"Bukannya tak dapat kita melewati waktu sambil beristirahat disini !"
Kata ia.
"Cuma apakah orang tak akan menertawakan kita kalau murid utama dari Tek Cio Siangjin dari Pay In Nia menunjuki kelemahannya terhadap kaum Losat Bun ?"
Kata-kata itu membangunkan semangatnya si anak muda she Tio, sampai ia lupa kepada pantangan "Pria dan wanita tak dapat berpegangan tangan".
Ia telah memegang erat-erat tangannya si nona seraya berkata .
"Kakak benar ! Terima kasih untuk kebaikan kau ini !"
Tan Hong bersenyum.
Ia merasakan telapak tangan si anak muda berhawa panas hingga bagaikan terkena tenaga listrik, tubuhnya menggigil sendirinya.
Tidak tahu ia, ia kaget atau girang.
Ia mendekati telinganya si anak muda dan berkata perlahan .
"Asal saja kau tidak menyia-nyiakan kakakmu ini, adik...."
It Hiong terkejut. Ia insyaf bahwa ia telah berbuat berlebihan terlalu terpengaruhkan rasa hatinya yang polos. Sebenarnya ia justru hendak menyingkir dari urusan asmara.
"Kakak Whie"
Ia lekas menyimpangi pembicaraan.
"apakah pendapat kakak ?"
Berkata begitu, ia lekas-lekas menarik pulang tangannya.
"Mari kita pikir bersama !"
Sahut Hoay giok yang tengah menyusuti peluhnya. Memangnya ia belum memikir sesuatu. Tan Hong tertawa. kata ia.
"Orang tawanan kita barusan bisa menghilang. Itulah pertanda bahwa disini mesti ada satu jalan keluar, sebuah jalan rahasia. Bagaimana kalau kita mencari berbareng kita maju sambil kita terus berpegangan tangan ? Mungkin pada dinding ada jalan rahasia itu ! Dan ini batu koral kita jadikan tanda, apabila kita menemuinya pula, itu bukti bahwa kita sudah jalan satu putaran. Bukankah baik kalau kita jalan dahulu disebelah kanan ?"
"Nona benar.
"Hoay Giok menyatakan setuju.
"Cuma, apakah tak baik kita jalan berbareng tetapi misah dikiri dan kanan ? Bukankah itu berarti menghemat waktu ?"
"Aku hanya menguatirkan apabila kita menemuinya jalan keluar terjaga musuh atau ada pesawat perangkapnya"
Kata Nona Tan.
"Aku kuatir kalau kita berpisahan selagi ada ancaman bahaya kita sukar saling tolong. Baik kita jalan disebelah kanan saja. Aku percaya jalan keluar itu berada dikanan kita !"
Nona ini melihat tak mungkin jalan rahasia berada di sebelah kiri.
Diam-diam mengagumi nona itu yang gagah dan cerdas.
Ia tidak berkata apa-apa lagi hanya harus ia membungkuk akan mengumpuli batu koral agar menjadi tanda yang mudah dikenali.
"Nah, mari kita mulai"
Ia mengajak.
"Kita ambil jalan kanan."
Lantas bertiga mereka mulai bekerja, masih sambil merabaraba, maju dengan perlahan.
Sampai sebegitu jauh apa yang tangan mereka sentuh adalah batu atau batu karang yang keras-keras.
Belum ada sesuatu yang membuat mereka curiga.
Maka mereka maju terus dengan sabar.
Mungkin sudah melampaui selama satu jam atau mendadak It Hiong berseru .
"Ah ! Aku telah menemukannya !"
Tan Hong sudah lantas menyalakan sumbunya dan Hoay Giok dengan tangan bajunya mengalinginya !
Sama-sama mereka memasang mata ke arah tangannya si anak muda yang bersuara itu.
Pada dinding itu terdapat beberapa buah batu besar, yang diatur mirip gigi anjing yang merupakan sebuah lubang yang besarnya cukup buat tubuh seorang.
Terang itulah batu buatan manusia.
It Hiong menyambuti api dari tangannya Tan Hong.
"Nanti aku yang merayap masuk !"
Katanya.
"Kalian menantikan pertanda dari aku, baru kalian menyusul !"
Tan Hong dan Hoay Giok bersiap menantikan.
Dilain saat, begitu mereka sudah melintasi jalan rahasia itu hingga mereka menghadapi pula sebuah lembah lainnya.
Mulai lembah-lembah belasan tombak dan penuh dengan rumput tinggi-tinggi.
Teranglah itu sebuah lembah yang sudah bertahun-tahun jarang di sana manusia.
It Hiong menyingkap rumput tebal itu, sampai ia menemukan sebuah jalan yang tak berumput dimana terdapat banyak tapak kaki orang.
Sembari tertawa dan menunjuk jalanan itu, ia kata kepada kedua kawannya "Lihat !
Bagaimana cerdiknya kawanan Losat Bun !
Bukankah kita tak usah takut ?
Mari kita ikuti jalan ini !"
Pemuda ini maju dengan diikuti kedua kawannya. Lewat sejauh empat puluh tombak, tiba-tiba mereka mendengar bentakan .
"Anak-anak bernyali besar yang sembrono ! Kalian pendamlah tulang-tulang kalian di lembah Holouw Kok ini ! Ha ha ha !"
Nyata itulah Lembah Buli-buli atau Holouw Kok, seperti bentakan itu.
Menyusul itu sebatang panah api menyambar ke dasar lembah mengenai rumput terus menyala dan apinya lantas merembet perlahan, mendekati ke belakang It Hiong bertiga.
Api itu pun menutup mulut lemah.
Dengan menyalanya api, lembah bisa tertampak jelas mirip siang hari.
Dasar lembah itu makin lama makin lebar dan dalam seratus tombak lebih, macamnya mirip dengan buli-buli (ho louw), penuh rumput, tiada pohonnya.
Disekitarnya tidak ada jalanan, jadi itulah lembah mati....
Makin lama api merembet makin mendekati.
Banyak tikus dan ular lari serabutan sebab panasnya hawa api.
Tan Hong berpengalaman, tetapi toh ia jeri, sendirinya ia menyender pada It Hiong.
"Bagaimana sekarang, adik ?"
Tanyanya.
"Celaka !"
Berseru Hoay Giok sebelum It Hiong menjawab si nna.
"Hai begini mengancam, jalan tidak ada---Bukankah ini berarti kita terancam kematian ?"
It Hiong mengangkat kepalanya, dia bersiul nyaring, hingga dia mirip harimau menderung. Kumandangnya itu bagaikan menggetarkan seluruh lembah, mengalunnya lama.
"Seorang laki-laki sejati, mati atau hidup itulah takdir !"
Berkata dia, gagah dan sungguh-sungguh.
"Dihadapan lawan, tak dapat kita menunjuk kelemahan ! Biarnya api hebat, belum tentu dia mengancam jiwa kita. Selama kita masih bernapas, kita mempunyai harapan ! Mari tenangkan diri, untuk kita dapat berpikir !"
Habis berkata, pemuda ini menjatuhkan diri, untuk duduk numprah, matanya mengawai api.
Ia seperti tak menghadapi bencana apa jua, saking tenangnya.
Tan Hong dan Hoay Giok mendapat emposan semangat, lantas mereka turut duduk berdiam seperti kawannya yang gagah berani itu, terus mereka mengasah otak mereka.
Selama itu, mereka tidak mendengar suara bentakan orang tadi.
Cuma suara api yang membakar rumput, terdengarnya meretak dan terus mendatangi makim lama makin dekat sampai lagi hampir lima tombak jauhnya hingga bisa dimengerti apabila hawa panasnya mulai terasa ketiga muda mudi itu.
Tan Hong dapat berduduk dengan tenang.
Dia tak takut mati bahkan dia senang berada bersama It Hiong kepada siapa didalam hatinya dia telah menyerahkan seluruh tubuh nyawanya.
Dia memejamkan mata.
Dia percaya habis pada si anak muda.
Disamping berdiam diapun berpikir keras mencari daya.
Hoay Giok terganggu hawa api, hatinya menjadi tidak tenteram.
Ia membuka matanya melirik It Hiong dan Tan Hong.
Ia mendapati orang berduduk tak bergeming maka iapun mencoba menentramkan hatinya itu.
Api merembet terus, sekarang tinggal lagi kira tiga tombak dan hawanya sudah terasa panas bukan main.
Tepat itu waktu It Hiong berjingkrak bangun.
"Kalian turut aku !"
Serunya.
Dan terus ia membuka langkahnya.
Tan Hong berlompat bangun, juga Hoay Giok.
Tanpa menanya mereka lantas mengikut berjalan pergi.
It Hiong berlari-lari ke tempat kemana api jauh belum sampai sejauh sepuluh tombak.
Disitulah dia berhenti.
"Disini kita melepas api !"
Berkata dia.
"Inilah buat mempercepat habisnya rumput ini !"
Dan terus ia bekerja.
Rumput di dekatnya dibakar setelah itu dia membuat beberapa gulungan rumput buat menyulut itu buat dipakai membakar dilain-lain bagian.
Habis itu ia menyingkir ke tempat dimana tidak ada api.
Tan Hong menurut buat ia bekerja seperti si anak muda walaupun ia belum mengerti jelas akan maksud orang.
Tinggallah Hoay Giok yang berdiri menjublak saking heran....
Ia melihat It Hiong dan Tan Hong melakukan pentebaran melintangi lembah itu membuat api menuju ke arah dasar atau tengah-tengahnya lembah.
Segera juga ketiga orang itu berdiri diam ditempat yang bagian depan dan belakangnya penuh dengan api berkobarkobar, jauhnya api sekira sepuluh tombak.
Hoay Giok jeri menyaksikan api mengancam akan menembus mereka.
"Sute", akhirnya dia tanya adik seperguruannya itu.
"Kita melepas api ini buat menolong atau membunuh diri ? Kakakmu ini masih belum mengerti maksudmu."
It Hiong tertawa lebar.
"Jangan kuatir suheng !"
Sahutnya sambil bersenyum. Inilah daya untuk menyelamatkan diri sendiri ! Jika kita bertiga tidak dapat memikir jalan keluar dari lembah ini, maka kita bertiga bakal mati tertambun disini !"
Justru pemuda ini menjawab kakak seperguruannya, justru pikirannya Tan Hong terbuka, hingga ia dapat menangkap mukanya It Hiong. Dengan lantas ia pun tertawa. Bahkan ia segera berkata .
"Oh, adik Hiong yang baik ! Sungguh kau cerdas ! Di saat menghadapi bahaya kematian seperti ini kau dapat menggunakan otakmu begini sempurna !"
Hoay Giok mendelong. Dia tetap bingung.
"Bukankah kita lagi menghadapi lantas apa ?"
Katanya.
"Bukankah masih ada soal kita akan dapat lolos atau tidak ? Kenapa kau berkata begini, nona ? Aku minta sukalah kau memberikan penjelasan !"
Tan Hong bersenyum mengawasi It Hiong.
"Adik Hiong, tolong kau jelaskan kepada kakak Whie tentang ilmu hitunganmu itu !"
Kata dia. It Hiong mengangguk.
"Inilah soal mudah suheng.
"kata dia pada Hoay Giok.
"Cuma baru-baru saja ancaman api membuat kita bingung hingga pikiran kita menjadi tertutup rapat. Kita terancam api, habis dimana kita harus menaruh kaki kita di tempat yang aman ? Tak ada jalan lain daripada kitapun membakar rumput ini, guna mempercepat musnahnya rumput disekitar kita. Dimana tidak ada rumput disitu tidak ada api atau api akan padam sendirinya. Lihat di sana itu, tempat mulainya api ! Bukankah setibanya ditempat tidak ada rumput, api lantas berhenti dan mati sebab dia tak dapat merambar lebih jauh ? Kesana kita pergi ! Mari !"
Dan si anak muda bertindak jalan sambil tertawa.
Hoay Giok mendelong setibanya ia ditempat tidak ada api sebab rumputnya sudah padam dan hawa panas api pun lenyap.
Baru sekarang ia mengerti.
Sebaliknya, api yang dilepas si anak muda masih merambat terus ke tengah atau dasarnya lembah itu, menghabiskan tempat yang dilandanya....
Sementara itu dengan selewatnya sang waktu, fajar mulai tiba.
Perlahan-lahan tampak udara terang.
Kalau tadi It Hiong bertiga mengandalkan sinar api untuk melihat tegas ke sekitarnya, sekarang mereka ditolong matahari.
Lantas mereka bertindak ke mulut lembah.
Di sana dinding tinggi seratus tombak !
Mana mereka dapat memanjatnya ?
Maka mereka jalan kembali.
Baca Juga: Pendekar Pemanah Rajawali 5
Baca Juga: Gelang Perasa Gu Long