Ceritasilat Novel Online

Pendekar Kembar 9

Eps 9 Pendekar Kembar - Gan KL

Baca online Pendekar Kembar - Gan KL

Cersil Pendekar Kembar - Gan KL.

Salah seorang tokoh dari tujuh aliran besar itu adalah seorang HHwesio siau-lim-si, Hwesio ini besar lagi gemuk-dengan tertawa ia melototi Yap Jing yang cantik molek itu, katanya.

"Apakah kau ini sang Kuncu yang disebut-sebut oleh budak baju putih itu?"

Tokoh Khong tong-pay juga seorang HHwesio, cuma perawakannya tinggi kurus dan hitam lagi, dengan tidak sabar ia membentak.

"Budak cilik orang macam apa kau di Mo-kui-to?"

Dengan aseran Yap Jing menjawab.

"Kutanyai kalian, sebab apa kalian membunuh pelayanku?"

"Hm, memangnya kau bicara dengan siapa?"

Jengek si tosu dari Bu-tong-pay.

"Di Mo kui-to kau disanjung sebagai Kuncu, di daratan sini kau tidak termasuk hitungan, selama hidupmu ini jangan harap akan pulang lagi ke Mo-kui-to."

Yap Jing berkerut kening, mendadak ia melangkah maju.

"plak", kontan tosu itu ditamparnya sekali. Belum lagi Tosu itu sempat berbuat apa-apa tahu-tahu Yap Jing sudah mundur lagi ke tempatnya semula, jengeknya.

"Nah, kutanya lagi. sebab apa kalian membunuh pelayanku?"

Ketujuh tokoh dari tujuh aliran besar itu sama melenggong oleh langkah ajaib Yap Jing itu sehingga sampai sekian lama tiada seorang pun memberi jawaban.

Maklumlah, langkah ajaib yang digunakan Yap Jing itu tiada lain adalah Hui-liong-poh yang digunakan Yu Wi untuk merampas senjata Kan-hun-sucia tempo hari.

Rupanya Yap Jing seorang gadis sangat cerdas, sekali pandang saja langkah Yu Wi itu lantas diingatnya dengan baik.

Meski langkahnya tadi belum cukup sempurna, tapi disertai Ginkangnya sendiri yang tinggi, serangannya ternyata berhasil dengan baik dan membuat lawan terkejut.

Habis itu barulah seorang murid Hoa-san-pay yang masih muda berseru.

"Setiap orang yang berasal dari Mo-kui-to harus dibunuh?"

"Mengapa harus dibunuh?"

Tanya Yap Jing. Murid Hoa-san-pay itu mendelik, dengan mengertak gigi ia berkata.

"Guruku telah dibunuh oleh Mo-kui-to kalian, biarpun orang Mo-kui-to kalian kubunuh habis juga belum cukup untuk membalas sakit hati kematian guru."

Dengan tenang Yap Jing tanya pula.

"siapa bilang gurumu mati di Mo-kui to?"

"Jika ingin orang lain tidak tahu, kecuali diri sendiri tidak berbuat,"

Kata murid Hoa-san itu dengan mengembeng air mata.

"Dengan sendirinya ada orang mengetahui kematian guruku di Mo-kui-to, maka sekarang jangan harap kalian akan pergi dari sini dengan hidup,"

"Kalian salah sasaran tampaknya,"

Kata Yap Jing dengan tertawa.

"siapa bilang aku ini datang dari Mo-kui-to? Keempat budak ini kubeli dengan uang, maka kalian harus ganti rugi uang jika tidak mau ganti nyawa."

Tokoh Kun-lun-pay adalah seorang lelaki kekar berpakaian preman, ia tertawa keras dan berkata.

"Haha, tidak nanti kami salah sasaran-Asal orang datang dari Mo-kui-to, sekali selidik pasti akan ketahuan. ah, Kuncu yang manis, jika kau takut mati, hendaklah kau bicara terus terang. Mengingat kau cuma seorang anak perempuan, bisa jadi jiwamu akan kami ampuni."

Air muka Yap Jing rada berubah, pikirnya.

"Mengapa sekali selidik lantas tahu orang berasal dari Mo-kui-to atau bukan? Darimana pula mereka tahu nama Mo-kui-to? Di balik urusan ini pasti ada rahasia yang perlu dikorek."

Murid Tiam-jong-pay juga seorang pemuda keras, dengan gusar ia membentak.

"Dari ketujuh aliran besar seluruhnya ada anggotanya yang mati di Mo-kui-to, permusuhan kita dengan pihak Mo-kui-to sedalam lautan, peduli dia lelaki atau perempuan, bunuh saja dan habis perkara."

Kembali Yap Jing terkesiap.

ia heran darimana orang-orang ini mengetahui anggota ketujuh aliran besar sama mati di Mo-kui-to?

siapakah yang menyiarkan kejadian di Mo-kui-to kepada mereka?

Dalam pada itu Kau-hun-siocia menjadi gusar.

dengan bengis ia berteriak.

"Kalian bilang setiap orang dari Mo-kui-to harus dibunuh. Nah, sekarang aku berdiri di sini, siapa yang berani membunuhku?"

Ucapan Kau hun-sucia ini secara tidak langsung sama dengan mengakui dirinya memang berasal dari Mo-kui-to, malahan Toat-pek-sucia segera menyambung.

"Mungkin tidak mampu membunuh orang, sebaliknya jiwa sendiri malah melayang."

Baru habis berucap.

segera ia lepaskan tambang yang melilit di pinggangnya, sekali sabet, segera kaki ketujuh orang itu hendak digulungnya.

Melihat senjata lawan hanya seutas tali rumput ketujuh tokoh itu memandang remeh.

Mereka tidak tahu bahwa tali itu kelihatannya seperti untiran rumput kering, padahal terbuat dari bulu kera dan serigala, bila tenaga dalam disalurkan kepada tali itu, kerasnya seperti baja.

Ketika tali itu menyambar tiba dan terasa gelagat tidak enak, namun sudab kasip.

kontan ketujuh orang itu tersapu jatuh tanpa kecuali.

Melihat saudaranya sudah turun tangan, Kau-hun-sucia tidak mau ketinggalan, dia tidak bersenjata, namun dia bertenaga raksasa pembawaan, tanpa pikir ia cabut sebatang pohon tanggung, segera iapun menyapu dengan toya raksasa itu.

Kungfu Tosu Bu-tong-pay paling tinggi di antara rekan-rekannya, cepat ia menarik murid Tiamjong-pay yang berada disampingnya dan meloncat keatas sehingga sabatan batang pohon terhindar.

Kelima orang lain juga sudah berjaga-jaga, merekapun sempat mengelak, berturut-turut mereka melolos pedang untuk menghadapi serangan lebih lanjut, tapi mereka sudah kehilangan kesempatan pertama, apalagi lawan mereka adalah tokoh kelas tinggi semacam Kau-hun dan Toat-pek-sucia, posisi mereka yang terdesak sukar dipulihkan lagi.

Di tengah gelak tertawa Toat-pek-sucia, tambangnya berulang-ulang menyabet tiga orang lawan.

Untung anak murid ketujuh aliran besar itu berlatih tekun sejak kecil, kekuatan mereka tidak lemah, meski babak belur tersabat oleh senjata musuh dan darah berceceran, namun tiada seorang pun yang jeri dan pantang mundur.

Lantaran senjata yang digunakan tidak cocok, Kau-hun-sucia tidak dapat memperlihatkan kelihayannya, tapi batang pohonnya yang menyapu dengan dahsyat itu telah membuat ketujuh lawan terdesak kalang kabut, hanya sanggup menghindar dan tidak mampu balas menyerang.

Setelah berlangsung lagi belasan jurus, setiap orang sama kena disabat oleh tali Toat-peksucia, juga tidak terkecuali si tosu dari Bu-tong-pay, diam-diam ia berpikir.

"Kungfu kedua orang ini jauh di atas kami bertujuh, kalau bertempur secara terpisah jelas terlebih bukan tandingan mereka."

Karena itulah mendadak si tosu berteriak.

"Jit-sing-tin Pasang jit-sing-tin"

Segera ia mendahului berdiri di tengah sebagai poros, lalu keenam rekannya cepat bertempur sambil menempati posisinya masing2.

Jelas sebelum ini mereka sudah berlatih dengan baik Jit-sing-tin yang dimaksudkan.

Begitu Jitsing-tin atau barisan bintang tujuh selesai diatur, serentak di sekeliling mereka seperti bertambah dengan selapis dinding baja.

Tali Toat-pek-sucia sukar lagi menembus barisan pertahanan mereka, batang pohon Kau-hun-sucia juga tidak berguna.

Setelah barisan bintang tujuh selesai dipasang.

kembali si Tosu berteriak.

"Balas serang"

Begitu perintah diberikan, tujuh larik sinar pedang dengan tujuh macam ilmu pedang segera menusuk Toat pek dan Kau-hun-sucia.

Karena kedua orang ini sudah tidak mampu menyerang ketengah barisan lawan, kini mereka terpaksa harus menangkis sinar pedang yang menyambar tiba itu.

Maklumlah, ilmu pedang dari ketujuh aliran besar itu adalah kungfu andalan masing-masing, kini tujuh macam ilmu pedang bergabung, tentu saja daya serangnya bertambah lipat.

Tertampaklah sinar pedang berhamburan kian kemari di sekeliling Kau-hun-sucia berdua.

Toat-pek sucia bermaksud melilit pedang lawan dengan talinya, tapi sukar untuk menemukan sasarannya, sebaliknya kalau penjagaan sendiri sedikit kendur, secepat kilat sinar pedang lantas menyambar tiba, bila meleng sedikit saja, kalau tidak mati pasti juga akan terluka parah.

Kau-hun-sucia bertahan dengan batang pohon, tapi senjata kasar dan berat begini tentu saja sukar menahan tusukan dan tabasan pedang, hanya sebentar saja batang pohonnya yang banyak ranting dan daun itu telah terbabat hingga gundul, tertingga batang pohon saja, Begini lebih baik bagi Kau-hun-sucia, Ia dapat menggunakan batang pohon itu dengan lebih lincah, segera ia memainkan sejurus ilmu toya.

Walaupun hebat juga permainan toya ini, tapi tidak berani digunakan untuk menangkis pedang, kuatir terpenggal.

Dengan demikian daya serangnya banyak berkurang.

Lama-lama, semakin hebat barisan pedang para tokoh ketujuh aliran besar itu Kini Kau-hunsucia berdua sudah terkurung rapat di bawah sinar pedang mereka, untuk mundur dengan selamat terasa tidak mudah.

sejak tadi Yap Jing hanya menyaksikan dengan tenang, sejauh ini tidak dilihatnya ada sesuatu yang hebat pada barisan pedang lawan.

Nyata, biarpun dia cukup cerdas, tapi gerak perubahan barisan pedang yang ruwet dan ajaib itu sukar diselami dalam waktu singkat.

Makin dipandang Yap Jing merasakan keadaan bertambah gawat, kalau dirinya tidak turun tangan membantu, kedua sucia ada kemungkinan akan binasa Terpaksa ia nekat, dengan bertangan kosong ia menerjang ke tengah barisan pedang musuh.

Sejak kecil nona ini sudah banyak belajar macam-macam kungfu dan berbagai tokoh yang tinggal di Mo kui-to.

seperti Toat-pek dan Kau-hun-sucia, merekapun pernah mengajari nona itu, sebab itulah Yap Jing memanggil mereka paman, padahal mereka tidak lebih adalah anak buah ayahnya.

Begitu Yap Jing masuk kalangan pertempuran, seketika kedua sucia merasa longgar.

daya tekan musuh banyak berkurang.

Meski Yap Jing pernah belajar kungfu kepada mereka, tapi secara keseluruhan, kungfu si nona lebih tinggi daripada mereka.

Baik pukulan maupun tendangan, semuanya gesit dan lihai.

Akan tetapi pukulan dan tendangannya tetap tidak dapat membobol barisan pedang musuh, sebaliknya tambah lama tambah kuat barisan pedang bintang tujuh itu, daya serang barisan itupun semakin dahsyat.

Tidak lama, kedua sucia merasakan tekanan musuh bertambah berat lagi.

Belasan jurus kemudian, akhirnya Yap Jing sendiri juga terkepung.

bahayanya tidak berkurang daripada Kau-hun berdua.

Melihat gelagat jelek.

cepat Toat-pek-sucia berteriak.

"Lekas mundur siocia, biar kami menahan musuh bagimu"

Kau-hun-sucia iuga berkaok-kaok.

"Dirodok Barisan apa ini, begini lihai Lekas lari siocia, biar kami mengadu jiwa dengan mereka, cepat kau pulang ke Mo-kui-to untuk minta bala bantuan-"

"Bila bantuan siocia datang, tentu riwayat kita sudah tamat lebih dulu, masakah kau sanggup menunggu?"

Omel Toat-pek-sucia dengan tertawa. Dengan penasaran Kau-hun sucia berteriak.

"Akan kuhantam mereka hingga sebulan lamanya."

"Hahaha, sebulan?"

Toat-pek-sucia bergelak tertawa.

"Mungkin sebentar lagi kita akan pulang ke rumah nenek"

Beberapa gebrakan lagi. Kau-hun-sucia tertusuk dua kali dan Toat-pek sucia juga tertusuk satu kali, melihat sang Siocia masih bertempur dengan nekat dan pantang mundur, cepat Toat-peksucia berteriak.

"Jangan urus kami, siocia, lekas mundur. balas saja sakit hati kami kelak"

Tapi Yap Jing seperti tidak mendengar seruannya dan masih bertempur sepenuh tenaga, sesungguhnya bukan dia tidak mau mundur, soalnya sekarang kepungan Jit-sing tin sudah tambah ketat dan sukar lagi untuk lolos.

Mestinya dia ingin lapor kepada ayahnya bahwa di Mo-kui-to ada mata-mata musuh yang telah menjual berita rahasia kepada ketujuh aliran besar didaerah Tionggoan sehingga ketujuh ajiran besar yang sama sekali tidak akur satu sama lain ini, kini bersatu padu hendak menghadapi Mo-kui-to.

Sekonyong-konyong tujuh larik sinar pedang serentak menyambar ke arah Yap Jing.

serangan ini jelas akan membinasakan nona itu.

sebab kalau Yap Jing sudah mati, untuk membunuh kedua sucia tentu bukan persoalan lagi.

Terkesiap hati Yap Jing, diam-diam ia mengeluh.

"Matilah aku"

Syukurlah pada detik berbahaya itu, setitik sinar hitam mendadak menyambar tiba.

"trang", ujung ketujuh pedang yang menusuk kearah Yap Jing itu sama patah. Waktu Yap Jing berpaling, tidak kepalang rasa girangnya, diam-diam ia berkata dalam hati.

"Memang sejak tadi seharusnya kau turun tangan"

Sinar hitam itu kiranya adalah pedang kayu besi Yu Wi, dia memainkan Hai-yan-kiam-hoat dengan langkah ajaib Hui liong-poh, keruan Jit-sing-kiam-tin tidak dapat menahan kedua macam kungfu yang hebat ini.

Ketujuh orang itu tidak keburu menahan serangan masing-masing sehingga ujung pedang mereka tertabas patah oleh gedang kayu dengan tenaga dalam Yu Wi yang kuat itu.

Sekali serang berhasil dan membikin keder lawan, segera Yu Wi melontarkan lagi serangan kedua.

seketika menjerit kaget dan sakit ketujuh orang itu, pedang mereka sama mencelat, tulang pergelangan tangan mereka sama patah.

"Lekas lari"

Teriak si tosu Bu-tong-pay.

"Hahaha Lari ke mana?"

Kau-hun-sucia terbahak-bahak. dengan batang pohon ia menghantam pula. Tapi Yu Wi sempat menangkisnya dan menghadang di depan Yap Jing bertiga, ucapnya dengan suara tertahan.

"Biarkan mereka pergi"

Hanya sekejap saja ketujuh orang itupun sudah lari dan menghilang.

"Barisan pedang yang dibentuk oleh Jit-kiam-pay (tujuh aliran pedang) pasti tidak cuma kelompok ini saja,"

Kata Yu Wi.

"Jelas mereka sengaja hendak memusuhi Mo-kui-to, maka lekas kalian pergi dari sini, kalau terlambat, mungkin akan datang lagi rombongan lain yang lebih tangguh dan sukar untuk melawannya."

"Jika begitu, mengapa kau lepaskan mereka, bunuh saja semuanya kan beres dan mereka pun tak dapat menyampaikan berita kepada kawan-kawannya,"

Kata Yap Jing dengan mendongkol.

"Banyak membunuh orang tidak ada gunanya,"

Kata Yu Wi.

"Kau tidak mau membunuh mereka, kita yang akan dibunuh mereka "

Kata Yap Jing.

"seorang nona seperti dirimu masakah suka membunuh?"

Ujar Yu Wi dengan kurang senang. Yap Jing tidak dapat menjawab, dengan mendongkol ia berkata.

"Jika begitu, lekas lari saja"

"Adik Kiok, mari lekas pergi"

Seru Yu Wi. Lim Khing-kiok muncul dengan memanggul rangsel dan tangan lain menggandeng Kan Hoaysoan.

"Akan kemana dia?"

Tanya Yap Jing dengan bingung.

"Kemana kupergi, kesana pula dia ikut,"

Jawab Yu Wi. Ucapan ini cukup tegas dan halus, hati Khing-kiok merasa sangat terhibur, pikirnya.

"Selamanya Toako pasti takkan berpisah dengan diriku."

Tanpa bicara lagi Yap Jing mendahului keluar, tandu pun tidak ditumpangi lagi, langsung mereka keluar kota.

sementara itu Toatpek sucia telah disuruh membeli enam ekor kuda, masingmasing menunggang seekor kuda terus dibedal kearah timur.

Setelah menempuh perjalanan sehari semalam, akhirnya mereka sampai di suatu pelabuhan yang tidak terkenal, mereka turun dari kuda dan berduduk di pesisir.

"Jicek, carilah kapal,"

Kata Yap Jing. Tanpa istirahat Toat-pek sucia terus berlari pergi menyusur pantai.

"Adakah kapal di sini?"

Tanya Yi Wi heran-"Pasti ada, sebentar Jicek akan kembali dengan kapal,"

Kata Yap Jing. Yu Wi merasa tidak percaya, ia pikir sepanjang pantai itu tiada kelihatan bayangan sebuah kapal pun, darimana bisa diperoleh kapal? "Yu-kongcu,"

Kata Yap Jing kemudian.

"semalam berkat pertologanmu, kalau tidak, selama hidup ini tiada harapanku lagi buat pulang ke Mo-kui-to."

"Membantu orang yang terancam bahaya adalah kewajiban kaum kita, tidak perlu kau pikirkan,"

Kata Yu Wi. Diam-diam Kau-hun-sucia berpikir.

"Karena kau ingin pergi ke Mo-kui-to, tentu saja kau perlu menolong kami. Hm, kalau tidak ikut kami, selama hidup jangan kau harap akan menemukan Mokui-to."

Padahal masih ada suatu sebab lagi yang menjadi alasan Yu wi menolong mereka.

Yaitu lantaran dalam daftar nama pembunuh yang diterimanya dari Ko siu itu terdapat juga anak murid Jit-tay-kiam-pay, hal ini menunjukkan dahulu pasti ada anak murid ketujuh aliran besar itu yang ikut mengerubuti ayahnya.

Soalnya setiap nama yang tercantum dalam daftar nama pembunuh itu pasti dipandang hina dan dibenci oleh Yu Wi.

Menurut anggapannya, tokoh persilatan yang dapat dibeli dengan uang untuk melakukan pembunuhan terhadap Kosiu, jelas mencemarkan nama baik dan semangat orang persilatan.

Padahal ketujuh aliran besar itu terkenal sebagai aliran terhormat, tapi ada anak muridnya yang dapal dibeli, ini pertanda bahwa diantara anak murid berbagai perguruan itu tercampur juga oknum-oknum yang tidak baik.

Teringat kepada kematian ayahnya, dalam gemasnya cara turun tangan Yu wi tadi tanpa ampun lagi, sekali pedangnya bekerja serentak barisan pedang lawan diboboinya, dua kali menyerang semua musuh dilukainya.

Apabila dalam daftar nama pembunuh tidak terdapat anak murid ketujuh aliran besar, tentu serangan kedua takkan dipatahkan tulang pergelangan tangan mereka, paling-paling hanya digempur mundur saja.

Begitulah, tidak lama kemudian, di ujung laut sana timbul setitik warna putih.

"Aha, itu dia kapalnya"

Seru Yu Wi.

"Ya, memang sudah waktunya datang,"

Ujar Yap Jing dengan tak acuh.

Lambat-laun titik putih itu tambah jelas, itu adalah sebuah kapal cepat berlayar putih.

Hanya sebentar saja kapal itu sudah mendekati pelabuhan.

Entah kapan Toat-pek-sucia juga sudah berlari kembali.

"Siapa nakhodanya?"

Tanya Yap Jing.

"Toako"

Jawab Toat-pek-sucia.

Tengah bicara, kapal cepat itu sudah berlabuh di tepi pantai, dari atas kapal diturunkan papan jembatan, yang muncul paling depan adalah seorang lelaki tua tinggi besar, wajahnya tidak sejelek Kau-hun dan Toat-pek-sucia.

sambil melintasi papan loncatan dia berseru.

"Apakah siocia di situ?"

Toat-pek sucia berlari menyongsong kesana dan berteriak menjawab.

"Betul, Toako, siocia telah pulang"

Kakek gagah itu menuruni papan jembatan dan berlari kesini dengan langkah cepat, serunya dengan wajah berseri-seri.

"siocia, syukurlah penyakitmu sudah sembuh, siang dan malam Tocu selalu terkenang padamu."

Ketika mendadak dilihatnya Yu Wi, Lim Khing-kiok dan Kan Hoay-soan berbaring di pesisir, segera ia tuding mereka dan bertanya kepada Toat-pek-sucia yang sudah berada di sampingnya.

"siapa mereka?"

Dengan lelah Yap Jing berbangkit, katanya dengan tertawa.

"Toacek, mereka adalah tamuku"

Air muka kakek gagah itu rada berubah, tanyanya kepada Toat-pek-sucia.

"Apakah sudah mendapat izin Tocu?"

"Hakikatnya Tocu belum tahu,"

Jawab Toat-pek-sucia sambil menggeleng. Ketika Yap Jing mendekatinya, kakek gagah itu memberi hormat, lalu berkata dengan suara tertahan.

"siocia, tamumu tidak boleh naik kapal."

"Mereka telah menolong jiwaku, kedatangan mereka ke Mo-kui-to karena ada urusan penting perlu minta pertolongan kepada ayah, maka kuberi izin kepada mereka untuk menumpang kapal kita, harap Toacek jangan merintangi."

Si kakek gagah merasa serba susah, ucapnya.

"Tapi Tocu... ."

"Biarlah aku yang bertanggung jawab terhadap ayah,"

Kata Yap Jing dengan menarik muka. Karena tak berdaya. terpaksa si kakek gagah berkata.

"Jika begitu, silakan naik"

Dalam pada itu Yu Wi bertiga juga sudah berbangkit. Khing-kiok bertanya kepada Yu Wi.

"Toako, apa yang mereka bicarakan?"

"Kakek gagah itu tidak memperkenankan kita naik kapal, tapi Yap-siocia memutuskan kita boleh ikut naik,"

Tutur Yu Wi.

Kau-hun-sucia berdiri dibelakang mereka, diam-diam ia terkejut mendengar keterangan Yu Wi itu, ia pikir tajam benar telinga bocah ini, padahal jaraknya cukup jauh, sedangkan dirinya tidak mendengar apapun pembicaraan sang siocia, tapi anak muda ini dapat mendengarnya dengan jelas, sungguh luar biasa.

Terdengar Yu wi berkata pula.

"Tampaknya kakek gagah itu terpaksa mengizinkan, mari kita kesana dan naik kapal."

Segera Khing-kiok menggandeng tangan Kai Hoay-soan dan ikut Yu Wi menuju ke sana. sambil berjalan Khing-kiok berkata pula.

"Toako, cara bagaimana paman Yap-siocia itu memanggil kapal ini?"

"Entah, akupun tidak tahu,"

Jawab Yu Wi pelahan.

Dalam hati ia juga heran bahwa secara aneh kapal kakek gagah itu dapat dipanggil datang, malahan diketahuinya yang menunggu disini adalah Yap siocia, bahkan Toat-pek-sucia juga tahu nakhoda kapal ini adalah Toako atau kakaknya yang tertua, hal ini-jauh lebih mengherankan daripada datangnya kapal, entah cara bagaimana mereka saling memberi isyarat.

Lalu terpikir pula olehnya.

"Dari tanya-jawab tadi, agaknya semula Yap-siocia tidak tahu siapa nakhoda kapal ini, jangan-jangan kapal mereka yang operasi dilautan sini tidak cuma sebuah saja?"

Semula kakek gagah itu tidak melihat jelas wajah Yu Wi, kini sesudah dekat dan melihatnya, tiba-tiba ia berseru kaget.

"He, Kan-kongcu?"

Lalu dilihatnya nona di samping Lim Khing-kiok, dengan tertawa ia menyambung pula.

"Wah, Kan-kongcu juga membawa adik perempuannya ke Mo-kui-to?"

Yap Jing merasa heran, tanyanya.

"Toacek, siapakah Kan-kongcu yang kau maksudkan?"

Kakek gagah itu menuding Yu Wi, jawabnya dengan tertawa.

"siapa lagi kalau bukan dia. Bila tahu tamu siocia adalah Kan-kongcu, tentu tidak kurintangi."

"Dia tidak she Kan, tapi she Yu,"

Kata Yap Jing. Mendengar she Yu, sikap kakek gagah itu tampak terkesiap dan tidak bicara lagi.

"Anda kenal Kan-kongcu?"

Tanya Yu Wi. Bagian22 Dengan singkat kakek gagah itu menjawab.

"Ya, pernah bertemu satu kali."

"Toacek,"

Kata Yap Jing dengan tertawa.

"adik Yu-kongcu ini sakit dan perlu minta pertolongan kepada ayah, maka lekas kita berangkat pulang."

"Masakah kau pun punya adik perempuan, Yu kongcu?"

Jengek si kakek gagah.

"Betul, kedua nona inilah adik perempuanku"

Jawab Yu Wi dengan tersenyum.

"Nona Lim itu tidak sama she dengan kau, masa dia adik perempuanmu?"

Ujar Yap Jing. Yu Wi menuding Kan Hoay-soan dan menjawab.

"Dia she Kan, dia juga tidak sama she dengan diriku."

Yap Jing seperti menyadari duduknya perkara katanya.

"Ah, rupanya setiap gadis yang lebih muda daripadamu tentu kau akui sebagai adik perempuan"

"Juga belum tentu, perlu lihat dulu apakah dia memenuhi syarat menjadi adik perempuanku atau tidak,"

Ujar Yu Wi.

"Akupun lebih muda daripadamu, apakah kau sudi menerima diriku sebagai adikmu?"

Tanya Yap Jing dengan tertawa. Yu Wi diam saja tanpa menjawab. Yap Jing menjadi kikuk karena tidak mendapat tanggapan yang memuaskan, berduka hatinya.

"Yu-kongca,"

Kata si kakek gagah.

"apakah engkau yang menolong Siocia kami?"

Yu Wi mengangguk.

"Juga kau yang hendak memohon ayah Siocia kami untuk menyembuhkan penyakit nona Kan?"

Tanya si kakek.

"siocia kalian yang secara sukarela mau membantuku,"

Kata Yu Wi.

"o, jika siocia tidak membantumu. lalu bagaimana?"

"Biarpun sampai kakiku patah juga akan kucari sam gan-siusu agar dapat menghilangkan penyakit adikku akibat pengaruh ilmu gaib yang dilakukannya,"

Jawab Yu Wi tegas.

"Hm, nona Kan bukan adik kandungmu, apakah Yu-kongcu tidak merasa terlalu banyak ikut Campur urusan orang lain?"

Jengek si kakek.

"Urusan didunia ini diurus oleh manusia dunia, kenapa diharuskan adik kandung sendiri baru boleh ikut urus?"

Kata Yu Wi dengan tertawa.

"Nona Kan mempunyai kakak kandung sendiri, perlu apa Anda bersusah payah ikut campur?"

"Jika kakaknyaa da, tentu sajaa ku tidak perlu ikut campur."

"Tentu saja kakaknya ada,"

Ucap si kakek tanpa terasa.

"Di mana?"

Tanya Yu Wi. Si kakek merasa telanjur omong, cepat ia menjawab.

"Mana kutahu?"

"jika kau tidak tahu, tampaknya aku tetap harus ikut campur urusan ini,"

Ujar Yu Wi dengan tertawa. Yap Jing merasa bingung oleh percakapan mereka. selanya.

"He, apa yang kalian bicarakan? Naik kapal tidak?"

Sekilas wajah si kakek tampak menampilkan rasa benci, jengeknya.

"Baiklah, boleh naik sekarang"

Segera kakek itu mendahului naik keatas kapal disusul yang lain.

setiap kelasi di atas kapal berseragam putih ringkas dengan ikat kepala putih pula.

Melihat Yap Jing, semua kelasi itu berlutut dan menyembah padanya.

Melihat penghormatan besar itu, diam-diarn Yu Wi membatin.

"ini kan penghormatan cara kerajaan."

Tanpa memandang para kelasi yang menjembahnya itu, langsung Yap Jing melangkah kedepan.

Dari kabin kapal lantas muncul dua barisan gadis berbaju putih dan bergelang emas, semuanya memberi hormat sambil menyapa.

"Kuncu sudah pulang"

Yu Wi merasa heran.

"Kalau ada Kuncu, tentu ada Kongcu, entah macam apa sang Kongcu."

Kongcu atau Tuan puteri adalah sebutan puteri raja tertua, puteri raja lainnya disebut Kuncu.

Kabin kapal sangat mewah, alat perabotnya serba indah.

Setelah perjalanan sehari semalam, tentu saja Yu Wi dan lain2 sangat lapar.

Baru saja mereka berduduk.

segera pelayan berseragam mengaturkan santapan.

semua tempat makanan terbuat dari emas.

sekalipun bajak laut paling besar juga tidak semewah ini hidupnya.

Makanan yang dihidangkan tergolong kelas tinggi.

namun Khing kiok dan Hoay-soan tidak nafsu makan, soalnya mereka berdua tidak pernah berlayar, begitu naik diatas kapal lantas tidak enak rasanya.

Setelah kapal berlayar.

kepala mereka menjadi pusing dan jantung berdebar sambil tumpahtumpah, mana bisa lagi makan.

Hanya Yu Wi tidak berhalangan, tapi lantaran melihat Khing kiok tidak enak badan, iapun tidak nafsu makan.

la hanya makan ala kadarnya, lalu masuk kamar kabin untuk menjaganya.

Yu Wi mendampingi Khing-kiok dan Hoay-soan di satu kamar, sepanjang hari jarang keluar.

Kalau tiba waktunya, pelayan mengantarkan makanan dan keperluan lain.

Antaran itu ada juga buah-buahan dan makanan kecil, yaitu untuk Khing-kiok dan Hoay-soan, sedangkan santapan lain untuk Yu Wi.

Selama tiga hari, kecuali pelayan yang mengantarkan makanan itu, tidak ada orang lain lagi yang mengganggu mereka.

Ssi kakek gagah memang kuatir kalau arah pelayaran mereka diketahui Yu Wi, jika pemuda itu hanya mengeram di kamar saja, hal ini kebetulan malah baginya.

Yap Jing juga tidak datang menjenguknya.

agaknya nona ini masih sirik padanya.

Tapi apa yang membuatnya kurang senang sukar untuk diketahui.

Pada hari keempat, datanglah Kau-hun-sucia mengetuk pintu dan berteriak.

"Yu kongcu, sudah hampir sampai di Mo-kui-to."

Hari ini keadaan Khing-kiok dan Hoay-soan sudah jauh lebih sehat. Yu Wi mengajak mereka.

"Marilah kita melihat keatas kapal."

Geladak kapal setiap hari disikat dan dicuci sehingga sangat bersih, berdiri di atas geladak kapal dan memandang langit nan luas tanpa bisa membedakan timur dan barat atau utara dan selatan, lebih-lebih tak tertampak bayangan daratan sama sekali.

Memandangi gelombang laut yang mendampar-dampar itu, hati Yu Wi melayang jauh memikirkan kehidupan manusia yang serba kosong seperti mimpi ini.

Tiba-tiba Yap Jing muncul di atas kapal, melihat Yu Wi lagi ngelamun dan Lim Khing-kiok tidak berada disampingnya, setelah ragu sejenak.

akhirnya ia mendekati anak muda itu dan menegur dengan suara pelahan.

"Di manakah adik perempuanmu?"

Yu Wi berpaling, sapanya dengan tertawa.

"o, Yap-siocia"

"He, apakah tidak dapat kau panggil Jing-ji padaku?"

Teriak Yap Jing. Yu Wi tertawa, katanya.

"Adik Kiok berdua kepala pusing dan tidak berani naik kesini."

Dengan rada iri Yap Jing berkata.

"Baik benar kau terhadap kedua adikmu. satu langkah saja tidak mau berpisah."

Yu Wi menghela napas, katanya.

"selama empat hari ini mereka benar-benar tersiksa, apabila kau lihat mereka tentu akan merasakan mereka jauh lebih kurus."

"Peduli mereka kurus atau tidak."

Jawab Yap Jing dengan mendongkol. Yu Wi jadi melengak dan tidak tahu apa pula yang harus diucapkan. Tiba-tiba ia melihat titik hitam didepan sana, dengan girang ia berteriak.

"Aha, itu dia Mo-kui-to. sudah sampai Bagus sekali"

"Bagus apa?"

Tanya Yap Jing.

"Ya, sedikitnya kedua adik tidak perlu menderita lagi dalam pelayaran ini,"

Kata Yu Wi.

"Dan adikmu yang sinting itupun dapatlah disembuhkan."

Tukas Yap Jing dengan gemas.

"Hoay-soan tidak sinting, Siocia jangan keliru."

Ujar Yu Wi dengan kurang senang.

Lalu ia pandang Mo-kui-to yang semakin dekat dan tidak menghiraukan Yap Jing lagi.

Bantahan Yu Wi menyakitkan hati Yap Jing, sampai hampir saja ia mencucurkan air mata.

Pulau Hantu itu ternyata tidak kecil, dibagian tengah pulau tampak lereng gunung membentang panjang, bentuk lereng gnnung itu serupa seorang raksasa bertanduk yang bertiarap di atas pulau.

Mungkin dari sinilah pulau ini mendapatkan julukan sebagai Pulau Hantu.

Pelahan kapal mulai merapat kepantai, pantai pulau ini hanya batu karang belaka, dermaganya cukup ramai, disebelah sana tampak berlabuh sebuah kapal lain, kawanan kelasi berseragam putih sedang naik ke atas kapal.

Yu Wi pikir.

"Entah kapal ini hendak berlayar ke mana?"

Pada saat itulah, terdengar suara benturan, kapal yang ditumpangi telah membentur batu pantai, kapal sudah merapat, papan jembatan diturunkan pelahan dirisi kakek gagah mendahului menuju ketepi geladak dan berkata dengan hormat.

"silakan turun, siocia"

Khing-kiok dan Hoay-soan juga sudah dibawa keatas geladak.

"Para tamu juga dipersilakan turun,"

Seru Yap Jing. Tanpa memandang Yu Wi lagi, ia mendahului turun melalui papan jembatan. setiba di pantai, terdengar orang banyak bersorak-sorai.

"Kuncu sudah pulang"

Menyusul Yu Wi bersama Khing-kiok dan Hoay-soan juga ikut turun, tapi baru sampai di tengah jembatan, tiba-tiba Yu Wi melihat seorang sedang naik keatas kapal yang hampir berangkat itu, segara ia berteriak.

"Kan ciau-bu"

Memang betul, orang yang sedang naik kapal itu memang Kan ciau-bu adanya.

Demi melihat Yu Wi dan Lim Khing-kiok serta Kan Hoay-soan mengikut dibelakangnya, seketika air muka Kan ciau-bu berubah hebat, mendadak ia tidak jadi naik keatas kapal, tapi terus melompat turun kedaratan dan berlari kembali ketengah pulau.

Melihat Kan ciau-bu juga berada disini, tentu saja kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Yu Wi.

Ada banyak urusan yang tidak jelas perlu ditanyakannya kepada Kan ciau-bu.

Pertama yang ingin ditahuinya adalah tentang keadaan Thian-ti-hu, selain itu iapun ingin tanya cara bagaimana Ciau-bu akan menyelesaikan akibat yang ditimbulnnya atas perbuatannya di Ma-siau-hong, yakni menyangkut diri Lim Khing-kiok.

Akan tetapi begitu melihat dia segera Kan ciau-bu kabur secepatnya.

hal ini sungguh membuatnya tidak habis mengerti.

Yu Wi heran mengapa Cia u-bu lari terbirit-birit seperti melihat setan, padahal dirinya tidak bermaksud berkelahi dengannya tapi ingin berunding dengan baik, segera Yu Wi melayang turun dari papan jembatan sambil berteriak.

"Jangan lari, ingin kutanya padamu"

Tapi bukannya berhenti, sebaliknya lari Kan ciau-bu terlebih kencang, hanya sebentar saja ia sudah sampai di ujung barat laut pulau. Tanpa pikir Yu Wi terus mengejar ke sana.

"Toako, Toako..."

Khing-kiok berteriak-teriak. segera iapun hendak menyusul, tapi teringat kepada Kan Hoay-soan yang digandengnya, mana dia tega meninggalkan nona yang ling lung ini.

"Yu-kongcu, Yu kongcu...."

Yap Jing juga berteriak. Ia tidak tahu siapa orang yang dikejar Yu Wi itu, terpaksa ia menyusul kesana sambil berteriak.

"Kembali. hai, kembali Tidak boleh kesana"

Kiranya di sebelah barat laut pulau itu ada suatu daerah terlarang, siapa pun tidak berani masuk kedaerah terlarang tersebut.

Maka Yap Jing menjadi kuatir kalau Yu Wi menerjang masuk kedaerah terlarang itu.

Ginkang Kan ciau-ba cukup tinggi dan tidak dibawah Yu Wi, apa lagi dia lari lebih dulu.

seketika Yu Wi tidak dapat menyusulnya.

Jarak kedua orang ada belasan tombak jauhnya, keduanya samasama lari secepat terbang.

Ginkang Yap Jing lebih rendah, ia ketinggalan belasan tombak dibelakang dan berteriak-teriak.

"Hai, kembali, kembali, tidak boleh ke sana...."

Meski dengar seruan Yap Jing itu, tapi Yu Wi tidak berani berhenti, sebab kalau berhenti tentu sukar lagi menyusul Kan ciau-bu.

Kejar mengejar itu berlangsung lagi sekian lamanya, mendadak Yu Wi melihat seonggok tulang putih, maju lagi kembali dilihatnya seonggok.

lebih maju lagi bahkan onggokan tulang berserakan dimana, sedikitnya ada tulang-belulang ratusan mayat manusia.

Mayat itu bergelimpangan disebuah selat yang memang sempit, Kan ciau-bu terus berlari kedalam selat itu tanpa berhenti.

Selagi Yu Wi hendak ikut terjang ke sana, tiba-tiba dilihatnya pada dinding karang dimulut selat itu terukir tiga huruf besar.

"Put-kui-kok"

Atau "Lembah tidak kembali". Ia terkejut, diam-diam ia mengulang nama itu.

"Put-ku-kok. Put-kui-kok... ."

Hanya sejenak ia ragu-ragu, tapi lantas tidak hiraukan lagi dan berlari masuk kedalam lembah.

Sudah terlambat waktu Yap Jing menyusul tiba, Yu Wi sudah menghilang.

Ia berdiri termenung diluar lembah itu sambil berdoa.

"semoga kau dapat keluar lagi dengan selamat."

Tapi dia hanya dapat berdoa saja dan tidak berani yakin anak muda itu dapat keluar lagi dengan selamat, sebab untuk keluar lagi dengan selamat boleh dikatakan tidak mungkin.

-0O.O0-O -OO^OO-0 -0O.O0-Begitu mengejar kedalam lembah segera Yu Wi kehilangan jejak Kan ciau-bu, ia pikir mungkin karena berhentinya di mulut lembah tadi sehingga Kan ciau-bu sempat lari, tapi pasti berada di depan sana.

Segera ia percepat langkahnya dan mengejar lebih jauh.

Jalan di selat yang sempit itu semakin gelap dengan angin semilir dingin merasuk tulang.

sembari berjalan Yu wi juga berteriak.

"Kan ciau-bu, Kan ciau-bu... ."

Suaranya bergema nyaring, dilembah yang sunyi ini, selain gema suara teriakan hanya ada suara langkah Yu Wi sendiri.

Mendadak ia berhenti berteriak, lalu mendengarkan dengan cermat.

Kini yang tertinggal hanya suara langkah Yu Wi saja, sejenak kemudian, dari arah sana juga bergema suara orang berjalansuara ini terdengar dengan jelas dan pasti.

Yu Wi tidak berjalan lagi, maka suara "srak-srek"

Di depan dapat terdengar dngan lebih nyata.

"Jangan-jangan Kan ciau-bu berlari balik kemari?"

Demikian pikir Yu wi.

Jalan selat yang sempit itu berliku-liku sehingga tidak kelihatan keadaan di depan sana, tapi arah langkah orang itu semakin mendekat.

sekonyong-konyong sesosok bayangan orang muncul dari pengkolan sana, terlihat orang itu berjalan dengan langkah sempoyongan, seperti terluka parah dan sukar untuk berjalan.

Mata Yu Wi sangat tajam, meski di tempat yang remang-remang tetapi dari jarak puluhan tindak jauhnya dapat dilihatnya pendatang ini bukan Kan ciau-bu melainkan seorang Hwesio.

Dilihatnya si Hwesio berjalan lagi beberapa langkah dengan terhuyung-huyung.

mendadak ia jatuh terkapar sambil merintih pelahan-Cepat Yu Wi berlari maju, ia tidak berani membangunkannya dengan segera, tapi ditanyainya lebih dulu.

"siapa kau? Apakah terluka?"

Hwesio itu terkapar di atas batu kerikil yang berserakan, punggungnya tampak berjumbul naikturun, jelas bernapas saja sangat sulit. Segera Yu Wi berkata pula.

"Lekas katakan, siapa kau? Aku dapat menolong lukamu."

Sakuatnya Hwesio itu meronta dan berkata "Aku Hoat-hai ...."

"Hoat-hai?"

Seru Yu Wi terkejut.

Kiranya pimpinan siau-lim-pay sekarang adalah angkatan yang memakai nama Hoat, kecuali pejabat ketuanya yang bergelar Hoat-pun, tokoh lainnya yang seangkatan dengan dia adalah Hoat-hai dan Hoat-ih.

Ketiga orang itu terkenal sebagai siau-lim-sam-lo atau tiga tertua siau-lim-si.

Nama mereka terkenal dan disegani.

Sungguh tak terduga oleh Yu Wi bahwa Hwesio yang terluka ini ialah Hoat-hai, pikirnya.

"Mengapa paderi siau-lim-si ini bisa berada di sini dan kenapa pula sampai terluka? siapa kah yang mampu melukainya?"

Cepat ia membangunkannya dan dibaringkannya pada pangkuannya sendiri, dilihatnya bagian tubuh depan Hoat-hai berlumuran darah, lukanya silang melintang tak terhitung banyaknya, melulu bagian muka saja ada lebih 20 luka sehingga sukar dibedakan mata-telinga dan hidung atau mulutnya.

Yu Wi coba memeriksa lebih teliti luka yang mumur itu, dilihatnya semua luka itu adalah bekas tebasan pedang, bahkan setiap luka itu dalamnya atau panjangnya serupa, seolah-oloh setiap kali sudah diukur lebih dulu, habis itu baru muka Hoat-hai disayat.

Terdengar Hoat-hai berucap pula dengan suara lemah dan terputus-putus.

"sia ... .sia-kiam, sia-kiam muncul lagi....."

"Sia-kiam (Pedang Jahat)? Apa artinya sia kiam?"

Tanya Yu Wi dengan bingung.

Mendadak tubuh Hoat-hai kejang dengan hebat.

Yu Wi menggeleng kepala, ia tahu luka Hoa-hai terlalu parah, pada tubuhnya itu sedikitnya ada belasan luka tebasan pedang, untuk menyembuhkan jelas maha sulit.

Tampaknya jiwanya hampir tamat, bila dia kejang lagi dan kehabisan darah itu akan meninggalkan dunia-fana ini.

Dengan menyesal berkatalah Yu Wi.

"Locianpwe, bicaralah jika engkau ada pesan apa-apa lagi, sekuatnya Wanpwe pasti akan melaksanakan pesanmu."

Mata Hoat-hai sudah buta tertusuk pedang, la tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa, lebih-lebih tidak tahu Yu Wi ini kawan atau lawan, dari ucapan Yu Wi yang tulus ikhlas itu, ia coba mengerahkan segenap sisa tenaga yang masih ada dan berseru sekuatnya dengan parau.

"Antarkan Ji... Ji-ih-leng ini ke ...ke siau-lim-si dan .... dan katakan sia-kiam telah .... telah muncul lagi... ."

Bicara sampai di sini, kedua tangannya menarik baju Yu Wi sekuatnya sambil berteriak.

"Lihai ... lihai benar sia-kiam itu... ."

Setelah berkelojotan beberapa kali, lalu Hwesio itu tidak bergerak lagi, tapi kedua tangannya masih mencengkeram erat leher baju Yu Wi, seolah-olah musuh yang dicengkeramnya dan hendak diajaknya gugur bersama.

Melihat kematian Hoat-hai yang mengenaskan itu, basah juga mata Yu Wi.

Ia buka kedua tangan Hoat-hai yang juga penuh luka itu dan membaringkan Hwesio itu di tanah.

Rupanya kematian Hoat-hai benar-benar sangat penasaran sehingga matanya masih mendelik, pelahan Yu Wi merapatkan kelopak mata Hwesio itu dan berkata.

"Tidurlah dengan tenang. Cianpwe, pasti akan kuantar Ji-ih-leng ini ke siau-lim-si."

Di dekat situ ada sebuah gua karang, Yu Wi membawa jenazah Hoat-hai ke dalam gua, dengan hormat ia membaringkan Hwesio yang sudah tak bernyawa itu, lebih dulu ia minta maaf, lalu memeriksa sakunya, ditemukannya sepotong Giok-ji-ih (semacam benda mainan terbuat dari batu kemala) sebesar telapak tangan berwarna putih mulus.

Yu Wi tahu Giok-ji-ih ini adalah tanda pengenal paling terhormat di siau-lim-si, dengan hati-hati ia menyimpannya dalam baju.

Dengan tanda pengenal Giok-ji-ih itu barulah berita yang akan di sampaikannya nanti dapat dipercaya oleh paderi siau-lim-si, cuma entah mengapa dirinya hanya disuruh menyampaikan berita sia-kiam muncul lagi"

Ia pikir "Sia-kiam"

Mungkin dimaksudkannya seorang tokoh ahli pedang, yang melukai Hoat-hai dengan ratusan tebasan pedang itu. Padahal tokoh siau-lim-si yang memakai nama "Hoat"

Adalah paderi yang disegani orang persilatan, tapi sekarang musuh mampu melukainya beratus kali, kejadian ini sungguh sangat mengejutkan dan juga sangat mengerikan, seumpaa hendak menggores pada tubuh seorang mati dengan luka yang panjang dan dalamnya sama juga sulit, apalagi tokoh kelas tinggi seperti Hoathai ini.

Membayangkan betapa lihainya "sia-kiam"

Dimaksudkan itu, Yu Wi menjadi ngeri juga, kiranya.

"Tokoh sia kiam ini sungguh terlalu menakutkan."

Ia menyumbat mulut gua dengan batu, habis itu ia memberi hormat dari luar gua dan berucap.

"Harap cianpwe istirahat tenang di sini, bila Wanpwe ke siau-lim-si, tentu akan kuminta layon Locianpwe dipindah."

Sekarang tidak mungkin lagi baginya untuk menyusul Kan ciau-bu, tapi lembah ini hanya ada satu jalan saja, betapapun Yu Wi tidak rela, selangkah demi selangkah ia masuk lagi lembah itu lebih jauh, pikirnya.

"sekalipun tidak menemukan Kan ciau-bu, tiada jeleknya kalau bisa bertemu dengan tokoh sia-kiam itu."

Sama sekali tak terbayang olehnya bahwa dilembah ini mungkin berdiam seorang iblis yang ganas dan gemar membunuh orang, bisa jadi dirinya juga akan dicelakainya.

Jalan lembah itu ada beberapa ratus kaki panjangnya, pada ujung sana keadaan lantas terang benderang, tertampak di tengah lembah adalah tanah datar, sawah berpetak-petak dengan tanaman padi yang menghijau, gili-gili sawah teratur dengan baik dengan irigasi yang lancar.

Di kejauhan, dipematang sana, kelihatan ada beberapa lelaki berdandan sebagai petani, mereka tidak tahu lembah ini telah kedatangan orang asing, masih asyik memandangi sawah dengan termangu.

Yu Wi menuju kesana, ia memberi hormat keseorang petani yang ditemuinya dan bertanya.

"Numpang tanya, apakah Toako ini melihat seorang berlari kemari?"

Petani itu menoleh dan memandang Yu Wi dengan kaku, tidak memperlihatkan rasa kejut, juga tanya cara bagaimana Yu Wi masuk ke lembah ini, dia hanya menggeleng kepala.

"Apakah boleh kumaju ke depan sana?"

Tanya Yu Wi. Tapi petani itu tetap goyang kepala tanpa suara.

"Jangan-jangan seorang dungu atau tuli?"

Pikir Yu Wi dengan mendongkol.

Pada saat itulah, tiba-tiba petani itu turun kesawah, sekali meraih, seekor ular dicengkeramnya.

karena yang dipegang bukan leher ular di bawah kepala.

ular itu sempat memagut tangan si petani yang kasar dan kuat itu.

"Wah, celaka"

Teriak Yu Wi kaget.

Tapi dilihatnya si petani seperti tidak tahu apa2 sebaliknya malah tertawa.

Diam-diam Yu Wi merasa heran mengapa orang ini sedemikian bodoh dan membiarkan tangannya digigit ular, untung cuma seekor ular air biasa, kalau ular berbisa, kan bisa celaka?

Tengah berpikir, tiba-tiba dilihatnya petani itu mengangkat tangannya, kepala ular itu terus dimasukkan ke dalam mulut lalu sekali gigit, kepala ular lantas perotol, lalu dikunyah seperti orang makan ketela dan ditelan kedalam perut.

Habis itu ia gigit lagi badan ular yang dipegangnya dan diganyangnya mentah-mentah.

Hanya sebentar saja ular hidup itu telah dilalapnya habis.

Merinding Yu Wi menyaksikan orang makan ular hidup cara begitu.

Dilihatnya dipemantang sawah sana seorang petani lain juga turun ke sawah, cepat Yu Wi mendekatinya, ia sangka petani itu tentu juga akan menangkap ular untuk dimakan, lantas terlihat yang ditangkap petani ini bukanlah ular melainkan seekor katak buduk, katak inipun diganyangnya mentah-mentah seperti rekannya tadi.

Hampir saja Yu Wi tumpah, serunya.

"Hei. hei, itu tidak boleh dimakan"

Petani itu berpaling dan menyengir terhadap Yu Wi tanpa bicara.

lalu makan lagi dengan nikmatnya.

Mestinya Yu Wi ingin tanya padanya, tapi melihat keadaannya yang seram itu, ia gleng-geleng kepala dan meninggalkannya dengan cepat.

Di dekat situ masih ada beberapa petani lain, melihat Yu Wi lalu di situ, mereka tidak gubris dan tidak ambil pusing.

Yu Wi tahu semua petani itu pasti orang sinting, tapi pasti bukan sinting pembawaan melainkan terkena pengaruh ilmu gaib.

Jiwa Yu Wi memang luhur dan mulia, ia pikir Kokcu (penguasa lembah) ini sungguh terlalu jahat.

petani yang berada disini pasti ditangkapnya dari tempat lain, lalu disihir kemudian diperbudak.

Kasihan orang orang ini, karena ling lung, bila lapar mereka lantas makan segala apa yang dilihatnya.

Diam diam Yu Wi bertekad akan mencari sang Kokcu unluk memprotesnya caranya yang tidak berprikemanusiaan ini.

Setelah melintasi pematang sawah yang berpetak-petak itu, akhirnya kelihatan sederetan rumah gubuk didepan sana.

Sekeliling rumah gubuk itu penuh tumbuh pohon bambu yang tinggi, didepan rumah ada lapangan jemuran padi, tapi saat itu tidak ada jemuran, hanya ada seorang kakek sedang berjemur sinar matahari dengan bersandar di sebuah kursi malas.

Suasana ini melukiskan ketenangan hidup dipedusunan dengan sawah ladangnya yang subur, apabila sudah lelah bakerja lantas istirahat, hidup aman tenteram tanpa gangguan apapun.

Yu Wi menyeberangi sebuah jembatan kayu yang sederhana yang melintang diatas sebuah sungai kecil dengan airnya yang jernih, dan tiba dilapangan jemuran itu Dilihatnya si kakek lagi tidur.

Maka ia berhenti melangkah, tidak berani mengganggu kenyenyakan tidur si kakek.

Ia coba mengamat-amati kakek itu, perawakannya sedang, berbaju warna kelabu dari kain kasar.

wajahya yang kelihatan welas asih penuh dihiasi keriput itu tepat adalah model petani tua didesa.

Di samping kursi malas tempat berbaring kakek itu ada sebuah keranjang, mulut keranjang itu bundar kecil bertutup.

tapi bagian bawah besar, entah apa isinya.

Sejenak Yu Wi berdiri di situ, ia pikir hanya berdiri saja bukan cara yang baik, Padahal di sekitar situ tidak ada orang lain, untuk tanya tempat kediaman sang Kokcu terpaksa harus membangunkan petani tua ini.

Selagi ragu apakah perlu mengganggu orang atau tidak.

tiba-tiba si petani tua menguap.

lalu membuka mata, ia tertawa demi melihat Yu Wi berdiri di depannya.

Yu Wi melihat mata orang yang terpentang itu hanya sebelah saja, yang sebelah tetap terpejam, seketika ia tertegun sehingga lupa bertanya.

Petani tua itupun tidak tanya darimana dan untuk apa Yu Wi datang kesitu, ia lantas membuka keranjang, satu-satunya mata yang terpentang itu mengincar isi keranjang.

"Apa isi keranjang itu?"

Pikir Yu Wi dengan heran-Tampaknya petani tua itu mengincar baik sesuatu didalam keranjang, habis itu mendadak tangannya terjulur kedalam keranjang, lalu ditariknya keluar seekor ular belang berekor merah dengan kepala berbentuk segi tiga.

"Hah,Jiak bwe-coa...."

Diam-diam Yu Wi berteriak kaget.

Jiak-bwe-coa atau ular berekor merah adalah satu diantara kesepuluh jenis ular berbisa yang paling jahat di dunia ini, bila orang tergigit, dalam waktu singkat orang akan mati.

Dilihatnya bagian yang terpegang si petani tua tepat di bawah leher ular, maka ular ekor merah itu tidak dapat memagut, terpaksa hanya ekornya saja melingkar-lingkar.

Petani tua itu tertawa terkekeh memandangi kepala ular, Melihat wajah tertawa orang, terkesiap Yu Wi, sebab tertawa nya yang dingin dan kejam ini tidak cocok dengan wajahnya yang semula kelihatan welas-asih itu, dalam waktu sekejap itu si petani tua seolah olah telah berubah menjadi seorang lain.

Begitu lenyap tertawanya, segera petani tua itu membuka mulut dan menggigit putus kepala ular itu Ketika si petani tua memegang ular, segera Yu Wi berpikir orang tentu akan makan ular itu.

Tapi juga terpikir olehnya mungkin orang takkan makan ular berbisa jahat ini.

siapa tahu petani tua ini tetap mengganyangnya mentah-mentah.

Keruan Yu Wi terkesiap.

ia heran apakah orang ini tidak tahu ular yang di ganyangnya itu berbisa?

Tapi setelah berpikir lagi, ia merasa tidak begitu halnya.

sebab kalau melihat caranya si petani tua menangkap ular, bagian bawah kepala yang dipencet sehingga ular berbisa itu tidak mampu memagut, jelas petani tua ini sudah berpengalaman dan tahu di mana letak kelemahan ular ekor merah itu.

Selain itu juga cara makan petani tua ini berbeda dengan petani-petani tadi, cara makannya Jelas ada maksud tertentu dan tidak asal makan saja untuk tangsal perut yang lapar.

Apa yang diduga Yu Wi itu ternyata betul, maksud tujuan petani tua ini makan ular memang bukan untuk tangsal perut lapar, sebab setelah kepala ular digigit perotol, badan ular lantas dibuangnya, hanya kepala ular saja yang diganyang.

Selesai lalap kepala ular itu, si petani tua mengusap mulutnya, lalu mengulet kemalas-malasan.

Diam-diam Yu Wi berpikir.

"sudah tahu ular berbisa dan tetap d makan, jelas nyawamu tidak panjang lagi."

Mendadak petani tua itu berdiri, lalu djemputnya lagi badan ular tanpa kepala itu, didekatinya Yu Wi dan disodorkannya bangkai ular itu. katanya singkat.

"Boleh kau makan"

Nadanya memerintah seperti sudah biasa terjadi hal demikian ini. Keruan air muka Yu Wi berubah. jawabnya dengan kurang senang.

"Makanlah sendiri, aku bukan manusia liar"

Petani tua itu tampak kaget.

"Kau bisa bicara?"

Tanyanya.

"Aku ada mulut, ada lidah, dengan sendiriannya bisa bicara,"

Sahut Yu Wi dengan mendongkol.

"Kulihat kau datang dan berdiri diam saja, kukira kaupun seorang sinting,"

Kata petani tua dengan tertawa.

"Kau sendiri yang sinting, masakah kedatanganku tidak kau tanya dan tidak kau tegur,"

Kata Yu Wi dalam hati.

Dengan sendirinya kata-kata demikian tidak enak diutarakannya, diam-diam ia bertambah heran bahwa orang tua yang waras ini kenapa berani mengganyang ular berbisa?

Didengarnya petani tua itu lagi bertanya.

"Untuk urusan apa kau datang kemari?"

"Numpang tanya, dimanakah kediaman Kokcu Put-kui-kok ini?"

"Untuk apa kau cari dia?"

Tanya si orang tua."

"Ada urusan ingin kuminta penjelasan padanya."

"Urusan apa?"

Tanya pula si petani tua. Yu Wi merasa orang terlalu banyak bertanya meski kurang senang, tetap ia jawab dengan ramah-tamah.

"Jika Lotiang (bapak) tahu harap suka memberitahu, kalau tidak mau memberitahu, biarlah kupergi mencarinya sendiri"

"Apakah kau tahu apa artinya Put-kui-kok?"

Tanya si petani tua tiba-tiba.

Dari nada pertanyaan orang, segera Yu Wi menduga tentu orang tua inilah sang Kokcu.

Diam2 ia membatin lahiriah orang ini kelihatan welas-asih, tapi sesungguhnya hatinya berbisa seperti ular, jiwa manusia dipandang tidak berharga sama sekali, betapapun harus menghadapinya dengan hati-hati.

Maka ia berlagak tidak tahu dan menjawab.

"Put-kui-kiok. nama ini memang bagus. tapi juga biasa-biasa saja."

"Biasa? Hm"

Jengek si petani tua.

"Put-kui-kok artinya barang siapa masuk ke lembah ini, maka jangan harap lagi dapat keluar dengan hidup."

"Kukira belum pasti begitu,"

Ujar Yu Wi dengan tertawa. Orang tua itu menarik muka, tanyanya dengan gusar.

"siapa yang suruh kau kesini? Apakah Yap su-boh?"

"Yap su-boh? siapa dia? Entah, aku tidak tahu,"

Sahut Yu Wi sambil menggeleng.

"Tapi ada kukenal seorang nona di pulau ini, namanya Yap Jing."

"oo,"

Petani tua itu bersuara heran.

"kenal anak perempuannya dan tidak kenal ayahnya, apakah Yap Jing yang membawa kau ke sini?"

Baru sekarang Yu Wi tahu sam-gan-siusu bernama Yap su-boh.

Ia pikir Yap su-boh pasti kenal kakek aneh pemakan ular ini, bahkan hubungan mereka pasti sangat akrab.

makanya nama Yap Jing juga dikenalnya.

Ia lantas menjawab.

"Bukan, Yap Jing tidak membawaku kesini. sebaliknya dia malah mencegah kedatanganku ini."

"Budak itu tahu larangan di lembah ini, dengan sendirinya dia merintangi kau masuk ke sini,"

Jengek si orang tua.

"Tapi kau sengaja menerjang tanpa menghiraukan peringatan Yap Jing. jelas kau memandang remeh diriku ya?"

"Aku tidak kenal Lotiang, mana bisa meremehkan dirimu?"

Sahut Yu Wi tertawa.

"Nah, aku inilah Kokcunya. untuk apa kau cari diriku?"

"semula maksud kedatanganku kesini bukan untuk mencari Lotiang ... ."

"Hm, rupanya apa yang kau lihat dilembah ini tidak cocok dengan seleramu, lalu kau cari diriku untuk protes, begitu?"

Jengek si kakek.

"Tahu juga kau,"

Pikir Yu Wi. Lalu ia meneruskan ucapannya tadi.

"Ada seorang kenalanku, sudah lama tidak bertemu, tahutahu kulihat dia lari masuk ke lembah ini, demi mengejar dia untuk bicara sesuatu urusan, maka secara lancang kumasuk ke sini."

"Di sini tidak ada orang luar, biasanya juga tidak ada orang luar yang berani masuk kesini,"

Kata petani tua.

"Jika betul tidak ada, biarlah Wanpwe mohon diri saja,"

Kata Yu Wi.

"Kau tidak perlu mohon diri, selama hidupmu ini harus berdiam dilembah ini,"

Kata si orang tua. Yu Wi tidak gentar oleh ucapan itu, katanya dengan tertawa.

"Sementara ini memang aku belum maupergi, setelah urusanku selesai, kalau aku mau pergi dengan segera dapat kupergi."

"Huh, masa semudah itu? Jangan kau mimpi,"

Jengek orang tua itu. segera terpikir sesuatu olehnya, ia tanya.

"Kau ada urusan apa?"

"seperti sudah dikatakan Lotiang tadi, kucari Lotiang untuk memprotes sesuatu, sebab kejadian ini sungguh tidak dapat kubenarkan, mau-tak-mau aku harus ikut campur."

Orang tua itu menjadi gusar.

"Kurang ajar Bsrangkali kau sudah telan hati harimau, maka kau berani main gila kesini?"

"E-eh, Lotiang sudah tua. jangan suka marah."

Ucap Yu Wi dengan tertawa.

"Marilah kita bicara secara baik-baik saja."

Saking gusarnya orang tua itu berbalik tertawa, sungguh tidak pernah dilihatnya ada orang bersikap sedemikian santai dihadapannya, padahal Yap su-boh saja gemetar bila bicara berhadapan dengan dia.

"Mau bicara apa?"

Katanya kemudian dengan gemas. Diam-diam ia pikir "sebentar baru kau tahu rasa akan kelihaianku."

Yu Wi mendapatkan sebuah bangku batu dan berduduk, ia tuding bangku batu lain dan berkata.

"Duduk, duduklah dulu tangan sungkan"

Dengan kheki petani tua ikut berduduk, dalam hati ia memaki.

"Dirodok Tamu bersikap seperti tuan rumah. sungkan, sungkan kepada mak mu"

Yu Wi pandai melihat perubahan air muka orang, dengan tersenyum ia berkata pula.

"Lotiang seorang berbudi luhur, tentu juga seorang yang sabar dan takkan memaki orang di dalam hati."

Petani tua itu tambah mendongkol, pikirnya.

"Kurang ajar Bukankah terbalik ucapannya dan sengaja hendak menyindir diriku? Keparat, boleh kau mengoceh sesukamu, sebentar lagi masakah tidak kupotong tubuhmu menjadi belasan potong."

Didengarnya Yu Wi berkata lagi.

"Tuhan menciptakan manusia tentu ada gunanya, semut saja sayang nyawa. Tapi Lotiang main bunuh tanpa pandang bulu, tindakanmu ini jelas tidak berperikemanusiaan-Bagaimana pendapat Lotiang akan uraianku ini?"

Siorang tua pikir "kalau kubantah semuanya, coba apa yang akan kau lakukan?"

Maka ia sengaja menggeleng kepala lalu berkata.

"Sembarangan omong, fitnah orang, dosa besar. Kalau bicara hendaklah pikirkan akibatnya."

Tapi dengan tegas Yu Wi berkata.

"Tulang berserakan dimulut lembah Put-kui-kok, semua ini bukti nyata."

"Kalau ingin menyalahkan orang, apa sukarnya mencari alasan?"

Ujar si petani tua dengan tertawa.

"jika kau bilang setiap orang mati itu adalah karena korban pembunuhanku, lalu cara bagaimana dapat kubantah?"

"Memangnya tulang belulang yang memenuhi mulut lembah itu bukan orang-orang yang kau bunuh?"

"Dengan sendirinya bukan,"

Sahut si orang tua dengan sengaja.

"Siaucu, hukuman apa yang pantas bagimu karena kau nista diriku?"

"Bila benar cayhe menista Lotiang tanpa bukti dan tak berdasar, cayhe rela menerima hukuman apapun,"

Jawab Yu Wi dengan serius.

"Lalu apa yang perlu kau katakan lagi?"

Jengek orang tua itu "Lotiang kenal Hoat-hai tidak?"

Tanya Yu Wi.

Tergetar hati orang tua itu, ia heran mengapa bocah ini tiba-tiba tanya Hoat-hai, untung Hwesio itu sudah terlempar kedalam jurang dan sukar dicari lagi mayatnya.

Maka dengan tabah ia menjawab.

"Tentu saja kenal Tapi sudah berpuluh tahun tidak bertemu, entah akhir-akhir ini ilmu pedangnya banyak maju atau tidak?"

Diam-diam Yu Wi menjengek karena sikap orang yang berlagak pilon itu, pelahan ia berkata pula.

"sudah belasan tahun Lotiang tidak berjumpa dengan Hoat-hai, tapi Cayhe baru saja bertemu dengan dia, kau percaya tidak?"

Dengan cepat orang tua itu menggeleng, katanya.

"Tidak. tidak percaya."

Ia pikir Hoat-hai sudah terluka parah oleh beratus kali tabasan pedangku, dan terlempar pula ke dalam jurang, sekalipun bertubuh baja juga akan bancur lebur, jelas tidak mungkin hidup lagi.

Tak terduga olehnya bahwa meski Hoat-hai terlempar ke dalam jurang, tapi secara kebetulan tersangkut pada dahan pohon sehingga tidak tebanting mati.

Karena tenaga dalam Hoat-hai sangat kuat, dengan segenap sisa tenaganya.

ia merambat lagi ke atas, setiba dijalan masuk lembah yang sempit itu dan bertemu dengan Yu Wi barulah ia mati kehabisan darah.

Begitulah Yu Wi lantas menjengek.

"Kau berani menjawab tegas tidak percaya, jangan-jangan sebelum ini sudah kau ketahui Hoat-hai telah meninggal dunia?"

Air muka si petani tua rada berubah, diam-diam ia mengakui kelihaian bocah ini, maka timbul hasratnya untuk mengadu mulut, dengan tertawa ia menjawab.

"Dalam hal ini, karena kutahu jelas Hwesio siau-lim-si tidak mungkin datang kesini, dengan sendirinya berani kukatakan tidak percaya ."

Yu Wi manggut-manggut, seperti memuji jawaban orang yang tepat itu.

Tapi ia lantas mengeluarkan Ji-ih-leng tinggalan Hoat-hai.

Orang tua itu lagi senang karena jawabannya membuat Yu Wi tak dapat bicara lagi, ia jadi kaget demi nampak Ji-ih-leng, serunya.

"He, dari mana kau dapatkan barang ini?"

"Lotiang kenal benda ini?"

Tanya Yu Wi.

"Tentu saja kenal,"

Jawab si orang tua.

"ji-ih leng dari siauw-lim-si, setiap orang persilatan pasti tahu. Tokoh siau-lim-pay yang memegang Ji-ih-leng saat ini hanya ada dua orang."

"oo, siapa saja kedua orang itu?"

Tanya Yu Wi. Orang tua itu merasa bangga karena pengetahuannya sangat luas, dengan suara lantang ia menjawab.

"Yaitu kedua adik seperguruan Hoat-hai pun yang menjabat ketua siau-lim-pay sekarang, Hoat-hai dan Hoat-ih."

"Diatas Ji-ih-leng ini tcrukir satu huruf 'Hai',"

Kata Yu Wi.

"Itulah milik Hoat-hai"

Seru si orang tua dengan terkejut. Tapi lantas terpikir hal ini tidak mungkin terjadi. segera ia berkata pula.

"Coba kupinjam lihat."

Tanpa ragu atau sangsi Yu Wi menyodorkan Ji-ih-leng itu. Orang tua itu tidak menyangka Yu Wi akan begitu baik, dengan tertawa ia memuji.

"Boleh juga kau."

Setelah Ji-ih leng diterima dan diperiksanya.

memang benar di atasnya terukir satu huruf kecil "Hai".

Keruan ia heran cara bagaimana benda ini bisa berada pada Yu Wi.

Mungkinkah Hoat-hai tidak mati dan memberikan batu kemala ini kepadanya.

sebab kalau Hoat-hai sudah mati di dalam jurang, tidak nanti benda tanda pengenalnya bisa berada pada anak muda ini.

"Nah, apakah Lotiang tetap tidak percaya pernah kulihat Hoat-hai?"

Kata Yu Wi. Dengan sangsi orang tua itu menjawab.

"sebab apa Hoat-hai memberikan Ji-ih-leng ini padamu? sekarang dia berada dimana?"

Yu Wi tidak mau berdusta, tuturnya.

"Hoat-hai sudah wafat, sebelum ajalnya dia menyerahkan Ji-ih-leng ini pada ku."

Si orang tua melengak. tanyanya.

"Apa pesannya ketika memberikan Ji ih leng ini?"

"Hoat-hai Locianpwe minta kuantarkan Ji-ih leng ini ke siau-lim-si dan menyampaikan empat kata berita saja."

"Empat kata apa?"

Si orang tua menegas "sia-kiam muncul lagi,"

Ucap Yu Wi dengan prihatin-"Bahaya, bahaya"

Demikian orang tua itu bergumam sendiri "Apakah Lotiang takut kepada para Hwesio siau-lim-si?"

Tanya Yu Wi.

"Huh, masakah kutakut kepada kawanan kepala gundul siau-lim? ...."

Jengek si orang tua dengan gemas. Sejenak kemudian, ia menyambung pula.

"Bicara terus terang, sekalipun ketua siau-lim-si juga tidak kupandang sebelah mata. soalnya, jika berita mengenai diriku tersiar sampai di siau-lim-si bahwa aku ini masih hidup lalu berbondong-bondong mereka mencari diriku. inilah yang akan merepotkan."

"Lotiang,"

Kata Yu Wi.

"Ji-ih-leng itu sudah kau lihat, mohon dikembalikan padaku."

"Untuk apa pula kau pegang benda ini?"

Tanya si orang tua dengan tertawa. Yu Wi menarik muka, jawabnya dengan tegas.

"Cayhe menerima pesan orang, maka Ji-ih-leng ini harus kusampaikan ke siau-lim-si."

"Huh, apa artinya cuma sepotong ji-ih-leng ini? Nah, ambil"

Ujar orang tua itu dengan tertawa. Sesudah ji-ih-leng itu diterima Yu Wi, lalu petani tua itu berkata pula.

"sudah lebih 20 tahun jarang kubicara dengan orang, andaikan pernah juga tidak lebih dari tiga kalimat. Tapi sekarang aku telah bicara sekian lamanya dengan anak yang menarik seperti kau ini, hitung-hitung kita memang ada jodoh."

"Dan sekarang Lotiang masih tetap menyangkal tidak pernah membunuh orang yang tak berdosa?"

Tanya Yu Wi.

"Baik, anggaplah aku kalah,"

Jawab si orang tua dengan tertawa.

"sungguh tak kusangka Hoathai belum mati. Biarlah kukatakan terus terang padamu. Memang betul, tulang belulang yang berserakan dimulut lembah itu, semuanya adalah orang yang kubunuh."

Seketika timbul kemarahan Yu Wi, teriaknya.

"Mengapa kau bunuh orang sebanyak itu? Memangnya ada permusuhan atau dendam apa antara mereka dengan kau?"

"E-eh, anak muda, jangan marah, bisa lekas tua."

Kata si orang tua sambil menggoyangkan tangannya.

Kata-kata ini menirukan cara bicara Yu Wi tadi, sekarang berbalik digunakan oleh orang tua ini untuk membujuk Yu Wi Ia percaya anak muda ini akan tertawa geli Siapa tahu, Yu Wi benar-benar sangat marah, namun air mukanya tetap tenang, katanya dengan pelahan.

"Baik, akan kubicarakan dengan baik-baik padamu. Nah, coba jawab, dengan alasan apa kau bunuh orang secara tidak semena-mena."

"Sudah lebih 20 tahun kutinggal di lembah ini dan tak pernah keluar barang selangkah pun,"

Tutur si orang tua.

"orang-orang ini adalah kiriman Yap su-boh untuk kubunuh. Karena aku memang lagi iseng, maka kubunuh mereka untuk main-main."

Yu Wi tambah murka, bentaknya.

"Membunuh orang untuk main-main, di dunia ini masa ada kejadian begini."

"E-eh, jangan marah lagi"

Ujar si orang tua dengan tertawa.

"Seorang lelaki sejati, kalau sudah berjanji harus ditepati. Tadi sudah berjanji akan bicara dengan baik-baik, mengapa sekarang marah-marah lagi?"

Sedapatnya Yu Wi menahan rasa gusarnya, katanya sekata demi sekata.

"Kau membunuh orang secara tidak semena-mena, sungguh ingin kutusuk mampus kau"

Orang tua itu memandang sekejap pedang kayu yang tersandang dipunggung Yu Wi, Katanya dengan tertawa.

"Dapat kuduga ilmu pedangmu pasti tidak lemah. Nyata, orang berkepandaian tinggi tentu juga bernyali besar. Tapi jangan terburu-buru, cepat atau lambat kita tetap akan bertempur, sekarang kita perlu mengobrol sepuasnya."

Agaknya petani tua ini sudah terlalu lama tidak bicara dengan orang sekarang mendapatkan lawan mengobrol, seketika hobinya bertanding ilmu pedang dikesampingkan untuk sementara.

Tapi Yu Wi enggan banyak omong lagi, ia tutup mulut rapat-rapat dan tidak menggubris orang.

Si orang tua menjadi tidak tahan, katanya.

"sebenarnya tidak perlu disayangkan meski orangorang ini kubunuh."

"Jiwa manusia tidak perlu disayang, lalu apa yang pantas disayangi?"

Tanya Yu Wi.

"Orang yang dibuang Yap su-boh ke sini semuanya adalah orang ling lung, kalau tidak kubunuh mereka, biarpun hidup juga tidak ada artinya bagi mereka."

"Jangan-jangan setelah mempengaruhi mereka dengan ilmu sihirnya, lalu Yap su-boh mengirim mereka kelembah ini?"

"Hah, tahu juga kau,"

Orang tua itu tertawa.

Hampir meledak dada Yu Wi saking gusarnya setelah tahu duduknya perkara.

Ia pikir Yap Jing adalah gadis baik, tapi ayahnya ternyata sekejam ini.

segera ia tanya dengan suara keras.

"sebab apa dia bertindak begini? Memangnya apa manfaatnya dengnn berbuat demikian?"

Dengan tak acuh petani tua itu menjawab.

"Yap su-boh tahu setiap hari aku tekun berlatih pedang, demi menyenangkan hatiku, dia sengaja mengirim jago-jago pedang dari ketujuh aliran besar untuk menjadi partner latihanku. Hanya inilah yang dianggapnya bermanfaat."

"Jika demikian, meski Yap su-boh itu kejam dan tidak berbudi, tapi pokok pangkalnya tetap terletak pada dirimu dia cuma seorang pembantu kejahatan, sebaliknya kau inilah biang keladi daripada semua perbuatan jahat ini."

Orang tua itupun tidak marah, jawabnva dengan tertawa.

"Aku memang bukan orang baik, membunuh orang bagiku adalah soal kecil."

"Hobimu tidak cuma membunuh orang saja, bahkan kejam luar biasa,"

Kata Yu Wi.

"Ingin kutanya padamu, para petani yang bekerja bagimu dengan susah payah itu, mengapa tidak kau beri makan nasi?"

"Apa artinya pertanyaanmu ini?"

Orang tua itu merasa heran. Yu Wi pikir harus kubeberkan semua dosamu habis itu baru kulabrak kau, katanya.

"Waktu masuk ke lembah ini, kulihat beberapa petani di sana saking laparnya, lalu ular dan katak ditangkapnya terus diganyang, bukankah ini membuktikan mereka tidak kau beri makan nasi? Ken . .. kenapa kau tidak berperasaan dan begini kejam? Ketahuilah, mereka bercocok tanam bagimu?"

"Hahahaha Kiranya urusan ini,"

Seru si orang tua dengan terbahak.

"Kau salah paham, saudara cilik"

"siapa mengaku sebagai saudara cilikmu?"

Teriak Yu Wi dengan gusar. Jelas petani tua itu berkesan baik terhadap Yu Wi, maka ia tidak menjadi marah atas sikap kasar Yu Wi itu, dengan tertawa ia berkata.

"Baik, takkan kupanggil saudara cilik padamu. Maklumlah, para petani itu sengaja dikirim oleh Yap su-boh untuk bekerja bagiku, dengan sendirinya kuberi makan nasi kepada mereka, kalau tidak. kan aku bisa susah sendiri cuma mereka memang bodoh, lantaran melihat aku setiap hari ganyang ular hidup. mereka lantas meniru."

Mestinya Yu Wi ingin tanya orang tua itu sebab apa gemar makan kepala ular berbisa, bahkan tidak takut keracunan-Tapi dia kadung kheki dan tidak mau lagi bicara tetek bengek dengan orang.

ia lantas tanya.

"Apakah para petani itupun telah disihir oleh Yap su boh?"

"Tentu saja, kalau tidak masikah mereka mau tinggal disini dengan tenang,"

Kata orang tua itu Segera Yu Wi meraba pedangnya dan berkata.

"Lotiang, tiada sesuatu lagi yang dapat kita bicara kan. Hoat-hai telah kau bunuh, tidak sedikit pula orang yang tak berdosa telah menjadi korban keganasanmu, dosamu pantas di hukum mati, sekarang hendak kutuntut balas bagi mereka. Nah, keluarkan pedangmu dan kita mulai bertanding"

"Ai, tampaknya tidak sudi kau bicara denganku, selanjutnya aku akan sebatang kara lagi,"

Kata sipetani tua dengan menyesal.

"Baiklah, kau tunggu sebentar, akan kuambil pedangku."

Habis berkata, dengan terbungkuk-bungkuk ia masuk kerumah gubuk dengan pelahan.

Melihat orang sudah tua renta, diam-diam Yu Wi merasa gegetun.

ia pikir orang tua ini benarbenar kesepian dan harus dikasihani.

entah mengapa dia mengasingkan diri dilembah ini, apakah mungkin ada kisah hidupnya yang menyedihkan?

Tidak lama kemudian, dari dalam rumah gubuk muncul seorang lebih dulu dan petani tua tadi mengikut dibelakangnya.

orang pertama ini berjubab merah, jelas dia seorang Tosu.

Umur Tosu ini antara 40-an, wajahnya putih bersih.

jelas bukan orang jahat.

Dengan pedang terhunus Tosu itu menuju kelapangan jemuran dengan ling lung.

Yu Wi menggeleng kepala, pikirnya.

"Dia pasti juga terpengaruh oleh ilmu sihir Yap su-boh. Tampaknya Tosu ini dari Bu-tong-pay, entah apa kedudukannya diBu-tong-pay."

Dilihatnya sipetani tua tadi juga memegang pedang, tapi bukan pedang saja melainkan pedang bambu. Segera Yu Wi menegur.

"Kenapa kau pakai pedang bambu? Hendaknya kau tahu pedang kayu ini bukan kayu biasa, tapi terbuat dari kayu besi bahkan lebih tajam dan berat daripada pedang baja."

"Baik juga hatimu, siaucu, sungguh rasanya aku tidak tega bertanding dengan kau,"

Kata petani tua itu dengan tertawa. Bagian 23 Yu Wi lantas melolos pedangnya dan berdiri siap tempur.

"Nanti dulu jangan terburu-buru,"

Kata si petani tua.

"Usiaku sudah laniut, dalam hal keuletan jelas aku lebih tahan, kita harus bertanding secara adil, aku harus mengalah sedikit padamu."

"Ini pertarungan yang menentukan hidup dan mati, tidak periu saling mengalah,"

Jawab Yu Wi tegas.

"Umpama tidak perlu mengalah juga perlu kuberitahu sedikit seluk-beluk ilmu pedangku agar kau tahu garis besarnya, kalau tidak, begitu gebrak kau lantas tidak tahan, kan terialu rugi kau? Nah. lihatlah yang jelas"

Habis berkata, pedang bambu si orang tua bergetar sehingga menimbulkan suara mendengung, mau-tak-mau Yu Wi harus mengakui kekuatan latihan sendiri memang tidak dapat menandingi orang.

Dalam sekejap pedang bambu itu serupa ular berbisa yang baru keluar dari liangnya, di tengah suara "srat-sret"

Berulang-ulang, pedang bambu telah menyambar kedepan dada si Tosu.

Meski tangan Tosu itupun memegang pedang, tapi tidak dapat menangkisnya, begitu pedang menyambar kesana, secepat itu pula sipetani tua menarik kembali pedangnya, tahu-tahu dada si Tosu sudah tersayat tujuh atau delapan garis luka darah segar pun mengucur.

Setelah luka oleh tusukan pedang, sinar mata si Tosu yang buram itu mulai gemerdep.

seperti timbul sedikit perasaan kemanusiaan.

Tiba-tiba sipetani tua meraung tertahan.

"Awas pedang, Kuicin"

Segera pedang bambunya bergetar dan menusuk pula.

setiap jurus serangan yang aneh ini seketika menimbulkan beberapa jalur luka pada sasarannya, nyata lihay luar biasa ilmu pedangnya dan berbeda jauh daripada ilmu pedang umumnya.

Sekarang si Tosu tidak lagi kaku dan ling lung seperti semula, dengan rada terkejut ia angkat pedang untuk menangkis.

"plak", kedua pedang beradu, tapi pedang bambu si petani tua tidak rusak sedikitpun, sebaliknya pedang baja si Tosu tidak meletikkan lelatu api. lalu mendadak ikut bergetar bersama pedang bambu lawan. Sedikit petani tua itu memutar pergelangan tangannya, si Tosu tidak sanggup lagi memegang pedangnya, seketika ikut berputar dua-tiga kali, waktu sipetani tua menarik dengan kuat, pedang bambunya seperti timbul daya isap yang kuat sehingga pedang baja si Tosu tertarik.

"trang", pedang jatuh ke tanah. Si Tosu melenggong kehilangan pedang, sedangkan petani tua itu bergelak tertawa, pedangnya menyambar cepat, kembali didada si Tosu ditambahi belasan jalur luka lagi, setiap garis luka itu sama panjangnya. Sudah ada likuran luka yang menghiasi dada si Tosu, meski luka itu tidak dalam, tapi juga tidak ringan, saking kesakitan si Tosu menjadi kalap. dengan nekat ia jemput pedangnya yang jatuh itu. Petani tua tidak merintanginya dan membiarkan orang mengambil kembali pedangnya, begitu pedang sudah terpegang di tangan, segera petani tua membentak pula.

"Awas, pedang"

Meski bersuara, tapi sekali ini pedang sipetani tua tidak bergerak.

Namun si Tosu tidak tahu, secara naluri ia angkat pedang dan menyerang.

Pedang bambu petani tua tetap terjulur ke bawah tanpa menangkis, ia hanya mengelak saja dengan enteng.

Karena serangan meleset, si Tosu meraung murka.

suaranya serupa binatang buas yang terluka.

sebaliknya sipetani tua malah bergelak tertawa.

jelas tujuannya sengaja memancing kemurkaan si Tosu.

Mata Tosu itu penuh garis-garis merah, benar-benar sudah kalap, ia putar pedangnya lagi dan menebarkan selapis tabir sinar pedang, dalam sekejap dari balik tabir sinar pedang itu ia menyerang tiga kali dari sebelah kiri dan tiga kali dari sebelah kanan, lalu dari atas dan dari bawah juga tiga kali, seluruhnya empat kali tiga menjadi dua belas kali.

Nyata ilmu pedang Tosu ini tidak lemah.

sipetani tua sangat senang melihat ilmu pedang yang hebat itu, teriaknya.

"Bagus sekali jurus Thi-jiu-khay-hoa ini."

Hendaknya diketahui,jurus "Thi-jiu-khay-hoa"

Atau pohon besi berbunga ini adalah salah satu jurus ilmu pedang Bu-tong pay yang paling ampuh.

Tosu ini tergolong tokoh Bu-tong pay dari angkatan yang memakai nama Kui, tingkatannya cuma satu angkatan di bawah ketua Bu-tong-pay sekarang, nama agamanya Kui-cin.

Maka ilmu pedang Bu-tong-pay yang dimainkannya, baik keCepatan, ketepatan dan keuletannya, semuanya tergolong kelas tinggi.

Dengan susah payah sipetani tua berhasil memancing permainan pedang si Tosu, tentu saja ia sangat girang.

Hendaklah maklum, setiap jago pedang yang dikirim Yap su-boh semuanya telah kena disihir olehnya sehingga pikirannya linglung dan tidak tahu bertempur.

Hanya kalau badannya disakiti untuk memancing nalurinya yang secara otomatis memberi perlawanan, dengan sendirinya ilmu pedang yang pernah dikuasainya dengan baik akan dikeluarkannya.

Begitulah sipetani tua juga tidak berani meremehkan ilmu pedang lawan.

mendadak ia angkat pedang bambu dan menyayat dari kiri ke kanan, serangan ini tampaknya tiada sesuatu yang istimewa tapi sebenarnya sangat hebat, namun dimana terletak kehebatan serangan ini juga sukar diketahui oleh Yu Wi, hanya dalam hati ia tahu jurus serangan "Thi-jiu-khay-hoa"

Si Tosu tadi pasti akan dipatahkan.

Benar juga, ke-12 tusukan Kui-cin tadi, hanya ditangkis oleh sekali tabasan melintang oleh sipetani tua, kontan semua serangan itu sirna seperti batu kecemplung laut, sedikitpun tidak berguna lagi.

Tanpa menunggu lawan menarik kembali pedangnya dan menyerang lagi, mendadak pedang bambu bergetar pula dan menyambar ke muka Kui-cin.

Pedang bambu yang sempit dan tipis itu setajam pisau, seketika muka Kui-cin tersayat malang melintang sejumlah enam garis luka yang rata-rata tiga dim panjangnya.

Keruan Kui-cin berteriak kesakltan, seketika ia balas menyerang dengan ilmu pedangnya yang hebat.

Sipetani tua ternyata tidak menyerang bagian mematikan di tubuh lawan sehingga Kui-cin masih kuat melancarkan serangan balasan.

Petani tua itu melayani dengan seenaknya saja, apabila Kui-cin mengeluarkan jurus serangan Bu-tong-pay yang ampuh, lalu petani tua tidak sungkan lagi, iapun balas menyerang dengan jurus aneh, bahkan pasti mengalihkan jurus ampuh lawan dan menambahkan beberapa jalur luka lagi pada tubuhnya.

Hanya dalam waktu singkat saja ratusan jurus sudah berlangsung, kini Kui-cin telah mandi darah, sedikitnya menanggung ratusan garis luka.

Yu Wi tidak sampai hati menyaksikan kekejaman yang berlangsung di depan matanya ini.

ia merasa ilmu pedang Kui-cin Tojin selisih terlalu jauh dibandingkan sipetani tua.

Mestinya dalam dua-tiga jurus saja petani tua itu dapat membunuh Kui-cin, tapi dia justeru tidak membunuhnya melainkan menyiksanya secara pelahan, jadi Kui-cin serupa dijadikan umpan latihan pedang sipetani tua.

Beberapa kali Yu Wi bermaksud turun tangan untuk membantu Kui-cin, tapi dia harus menjaga semangat seorang ksatria pedang, ia pikir Kui-cin belum lagi kalah meski sudah terluka.

jika dirinya ikut turun tangan akan berarti dua lawan satu dan hal ini tidak dapat dibenarkan menurut etik dunia persiiatan.

Ia pikir kalau man bertempur harus bertempur secara ksatria, setelah Kui-cin kalah barulah dirinya coba-coba menandingi sipetani tua.

Namun keadaan Kui-cin tampaknya sudah kalap dan tidak jernih lagi pikirannya sehingga tidak tahu mengaku kalah segala.

Makin bertempur makin kalap.

jurus serangannya juga bertambah lihay sehingga sipetani tua malah terdesak dan lebih banyak bertahan daripada balas menyerang.

Padahal cara ini memang tipu daya sipetani tua, dia sengaja memberi kesempatan menyerang bagi Kui-cin, diam-diam ia menyelami intisari ilmu pedang lawan.

Tapi sekali dia balas menyerang, tentu luka ditubuh Kui-cin bertambah banyak.

Sejenak kemudian, tubuh dan muka Kui-cin sudah terkoyak-koyak.

sedikitnya bertambah ratusan garis luka lagi, keadaannya tidak berupa manusia lagi dan sangat mengerikan.

Pemandangan ini mengingatkan Yu Wi kepada Hoat-hai Hwesio, keadaan luka ditubuh tokoh siau-lim-pay itupun terjadi seperti sekarang ini.

Teringat pada kematian Hoat-hai yang mengenaskan itu, tanpa terasa air mata Yu Wi berlinang.

Sementara itu Kui-cin sudah terlalu banyak.

mengeluarkan darah, tangannya menjadi lemas.

"trang", pedang jatuh ketanah. Rupanya semangat tempur sipetani tua tambah menyala, meski lawan sudah tidak berdaya, pedangnya masih terus berputar dan menambahkan belasan jalur luka di tubuh Kui-cin. Yu Wi menjadi gusar, ia pikir pedang Kui-cin sudah jatuh, hal ini berarti sudah kalah, kenapa sipetani tua tega melukainya lagi. Cepat ia membentak.

"Berhenti"

Mendadak pedang kayu menyampuk kedepan.

"trak", dengan tepat pedang bambu sipetani tua terpukul, pedang bambu mendengung dan bergetar, tapi pedang kayu Yu Wi tetap tidak bergeser, bahkan Yu Wi lantas mengerahkan tenaga sakti Thian-ih-sin-kang dan membentak.

"Pergi"

Paling keras dan kebetulan merupakan lawan ilmu jahat petani tua itu, meski petani tua itu lebih ulet daripada Yu Wi, seketika iapun tergetar mundur dua-tiga tindak oleh tenaga sakti anak muda itu.

Dengan pedang terjulur kebawah, petani tua itu berdiri menatap Yu Wi dengan muka rada pucat, ia heran dari manakah anak muda ini mempelajari ilmu pedang yang merupakan lawan mematikan ilmu pedang sendiri?

Yu Wi lantas tanya.

"Kau perlu istirahat dulu atau sekarang juga kita mulai bertanding?"

"Tentu saja bertanding sekarang juga,"

Jawab si petani tua dengan gusar. Melihat air muka orang belum lagi pulih kembali, Yu Wi menggeleng kepala dan berkata.

"Tidak, kukira bertanding sebentar lagi."

Habis berkata, ia tarik pedangnya dan melangkah mundur.

"Kau berani menghina orang tua, anak muda?"

Bentak si petani tua dengan gusar.

"Aku tidak menghina, tapi kita harus bertempur secara adil,"

Kata Yu Wi dengan tenang.

Hampir meledak dada si petani tua saking gusarnya, ia pikir bocah ini benar-benar tidak tahu diri, masa ingin bertempur secara adil segala dan tidak gentar sedikit terhadap dirinya.

Padahal dahulu dirinya pernah malang melintang di dunia Kangouw tanpa tandingan, siapa pun takut bila mendengar namanya.

setiap kali bertempur, sedikitnya dirinya akan mengalah tiga jurus kepada lawan.

sekarang bocah ini tidak mau diberi kelonggaran, sebaliknya juga tidak mau menarik keuntungan meski diberi keleluasan secukupnya.

sungguh menggemaskan, tapi juga mengagumkan.

Yu Wi mendekati Kui-cin dan membangunkan dia, dilihatnya luka Kui cin sangat parah dan sukar tertolong lagi Mendadak Kui-cin buka kelopak matanya yang berlumuran darah dan berkata.

"sia kiam .... sia kiam .... su-kiam yang lihai..."

Melihat Kui-cin dapat bicara, si petani tua jadi terkejut, pikirnya.

"Aneh. dia telah disihir oleh ilmu Mo sim-gan Yap su-boh, mengapa bisa bicara?"

Kiranya umumnya kalau orang terkena ilmu sihir, bila mengalami sesuatu goncangan yang mengagetkan, pengaruh ilmu sihir itu akan buyar dengan sendirinya dan pulihlah seperti biasa.

setelah terluka oleh ratusan garis pedang, sejak tadi keadaan Kui-cin sudah pulih seperti biasa, keadaannya memang kempas-kempis, namun pikiranya cukup jernih.

Setiap tokoh Bu-lim yang berusia agak lanjut tentu kenal nama sia-kiam atau pedang jahat, sebab sia-kiam ini sangat istimewa, sama sekali berbeda daripada ilmu pedang biasa.

Meski dahulu Kui-cin belum pernah merasakan lihainya sia-kiam, tapi setelah pikirannya jernih, segera ia dapat mengenali ilmu pedang si petani tua.

"Lukamu sangat parah, Cianpwe,"

Kata Yu Wi dengan suara tertahan.

"mengasolah dan jangan banyak bicara."

Kui-cin menggeleng kepala, ucapnya dengan lemah.

"Aku sudah hampir... hampir mati. ternyata sekarang... sia-kam muncul lagi... Harap kau siarkan ke dunia Kangouw agar mereka was... waspada...."

Hanya sampai di sini, napasnya lantas putus dan tutup mata untuk selamanya. Pelahan Yu Wi membaringkan Kui-cin, dalam benaknya terus mengiang pesan Kui cin tentang "sia-kiam muncul lagi"

Tadi, pesan ini sama dengan pesan Hoat-hai, suatu tanda bahwa di masa lampau orang menyangka sia kiam sudah mati, tapi kenyataannya tidak mati melainkan hidup terasing di Put-kui-kok ini.

Yu Wi lantas berdiri dan bertanya kepada si petani tua.

"Mengapa sebelum ajal mereka minta kusiarkan berita tentang dirimu yang belum mati ini?"

"Dari mana kutahu apa maksudnya?"

Jawab si petani tua dengan muka masam.

"Lotiang, jangan-jangan dahulu engkau terlalu banyak membunuh, maka siapa pun takut bila kau masih hidup di dunia ini?"

"Memangnya kenapa kalau betul?"

Sahut si kakek dengan gusar.

"Lotiang,"

Kata Yu Wipula.

"Ketahuilah, di dunia ini tidak ada manusia yang mempunyai hobi membunuh orang, hanya ilmu pedangmu yang telah menjurus kejalan sesat sehingga setiap kali ada orang bertanding denganmu pasti kau bunuh."

"Hm, memangnya kau lagi bicara dengan siapa?"

Jengek si pak tani dengan mendongkol.

Yu Wi menguasai Hai-yan-kiam-hoat, maka pengetahuannya juga lebih tinggi daripada orang biasa, pandangannya memang betul, sebab si pak tani ini suka membunuh orang karena jahatnya ilmu pedangnya, maka dia bermaksud memberi nasihat padanya.

"Disini tidak ada orang lain lagi, dengan sendirinya kubicara dengan kau,"

Kata Yu Wi.

"Kuharap selanjutnya jangan kau bunuh orang lagi. Hendaklah maklum akan hukum karma, sekarang kau bunuh orang, kelak kau pun akan dibunuh orang."

"Hm, memangnya kau hendak mengajar diriku?"

Semprot si kakek dengan gusar.

"Cayhe tidak berani,"

Jawab Yu Wi.

"Seumpama kau berani, paling-paling hanya kata-kata terakhir ini saja yang dapat kau katakan,"

Seru petani itu dengan tertawa.

"Awas pedang"

Segera pedangnya menusuk. tapi sampai di tengah jalan mendadak ditarik kambali. Yu Wi menyangka tenaga orang tua itu belum pulih, maka tak berani bertanding dengan segera. Katanya.

"Pertarungan kita ini sukar terhindar dari mengadu jiwa, Cayhe tahu sedikit ilmu pedang, maka merasa tidak mampu mengalahkan Lotiang. Jika kumati di bawah pedangmu, anggaplah aku ini cekak umur, tapi tetap hendak kunasihati dirimu, setelah kau bunuh diriku, semoga untuk terakhir kalinya kau membunuh orang, selanjutnya asalkan tidak timbul hasratmu untuk bertanding pedang dengan orang tentu pula kau takkan membunuh."

Petani tua itu diam saja, mendadak ia meraung tertahan.

"Menyingkir"

Yu Wi heran oleh ucapan orang, tanpa terasa ia menuruti permintaannya dan menyingkir ke samping.

Ternyata di belakangnya tertaruh keranjang yang berisi ular berbisa tadi.

Dengan badan tampak gemetar petani tua itu melangkah maju, sampai di depan keranjang itu, mendadak ia berlutut dan membuka tutup keranjang, dengan matanya yang tinggal satu ia incar dasar keranjang, sekali meraih segera dicengkeramnya seekor ular welang yang berbisa jahat.

Cara menangkap ular si petani tua tampaknya sudah sangat biasa, gerakannya cepat dan jitu, dengan tepat leher ular tercengkeram sehingga kepala ular tak bisa berkutik.

Gigi si kakek kedengaran gemertuk.

jelas kelihatan orang tua ini mengidap semacam penyakit aneh.

Diam-diam Yu Wi berpikir, Jangan jangan dia harus makan ular berbisa itu barulah penyakit yang diidapnya itu dapat ditahan?"

Dalam keadaan demikian bila Yu Wi mau membunuh kakek itu boleh dikatakan sangat mudah sekali, namun Yu Wi tidak mau menyerang orang yang lagi susah.

Benarlah, segera dilihatnya petani tua itu menggigit kepala ular, lalu diganyang mentah-mentah setelah makan kepala ular barulah menghela napas lalu gemetar tubuhnya tadi lantas berhenti, keadaannya pulih seperti semula dan dapat berdiri Yu Wi sudah apal membaca kitab pertabiban pian sik sin Bian, kini ilmu pertabibannya sudah sangat tinggi.

ia menggeleng kepala dan berkata kepada pak tani itu.

"Caramu ini bukan cara yang tepat. Penyakitmu harus disembuhkan sampai akarnya kalau cuma mengobati akibatnya saja hanya akan menambah sengsaramu saja."

Kini rasa permusuhan petani tua itu terhadap Yu Wi sudah banyak berkurang, ia menyadari bilamana anak muda itu mau membunuhnya tadi tentu semudah merogoh barang dalam sakunya sendiri.

"Apa daya?"

Katanya kemudian dengan sedih "hanya dengan cara demikian barulah umurku dapat diperpanjang, masih untung kudapat menggunakan cara menyerang racun dengan racun, kalau tidak.

sudah 20 tahun yang lalu kupergi menghadap Giam-lo-ong."

"Setiap hari kau makan ular?"

Tanya Yu Wi.

"Ya, terpaksa,"

Jawab si kakek dengan menyesal.

"Sehari tidak makan rasanya tidak tahan. Tadi karena banyak mengeluarkan tenaga, maka telah kumakan seekor ular berbuntut merah, tapi racun dalam tubuh kumat lagi, untung di dalam keranjang masih tersisa seekor ular welang, kalau tidak. ...."

Sampai disini petani ini menghela napas denngan sangat berduka.

Yu Wi pikir cara hidupnya ini sungguh harus dikasihani, segera ia tanya,"Racun apakah yang diidap Lotiang sehingga setiap hari harus makan ular berbisa?"

Petani tua itu menengadah, memandang langit lalu menjawab.

"Racun nomor satu di dunia. Kim-kiok hoa"

"Apa, Kim-kiok hoa?"

Seru Yu Wi kaget.

"Kau pun tahu Kim-kiok hoa?"

Tanya si kakek.

Yu Wi mengangguk, teringat olehnya cerita oh Ih-hoan, pemilik Pek po, yaitu tentang kakeknya, Oh It-to, yang mati karena makan Kim-kiok hoa atau bunga seruni emas.

Ia menjadi sangsi jangan-jangan Kim-kiok hoa yang dimakan petani tua ini juga ada sangkutpautnya dengan iblis bangsat It-teng alias Thio Giok-tin?

Maka dengan suara keras ia tanya.

"Siapa yang meracuni Lotiang?"

"Thio Giok-tin"

Jawab sipetani tua dengan pedih dan gemas.

"Ternyata betul dia"

Gumam Yu Wi.

"Apakah kau kenal dia?"

Tanya si kakek.

"Kenal,"

Jawab Yu Wi.

"Kudengar dia pernah meracun mati jago nomor satu di dunia yang bernama Oh It-to , ..."

"Betul, tak tersangka anak muda seperti kau ini juga tahu peristiwa menarik di dunia persilatan masa lampau. setelah Oh It-to diracun mati oleh Thio Giok-tin, beberapa tahun kemudian akulah yang menjadi sasarannya ...."

"O, dia juga penujui ilmu pedangmu yang terkenal sebagai sia-kiam ini?"

Tanya Yu Wi. Petani tua itu memandang Yu Wi sekejap. lalu berkata.

"Dia memancing diriku dengan kecantikannya, tapi ia tidak tahu bahwa aku Kwe siau-hong meski gemar membunuh orang. tapi terhadap perempuan, biasanya tidak tertarik, beberapa kali dia menjebak diriku dan tidak berhasil, maka timbul pikiran jahatnya untuk membunuh diriku. suatu hari, waktu dia menggoda diriku, dia berkata padaku, 'siau-hong, aku sedemikian baik padamu, maukah kau mengajarkan ilmu pedangmu padaku?' "Aku bergelak tertawa dan menjawab Nona Thio, kau pancing diriku dengan kecantikanmu, memangnya kau kira aku tidak tahu? Tapi selama ini seujung bulu romamu saja tidak kusentuh, maka pikiranmu ingin belajar ilmu pedangku lekas dihapus saja. Seketika air mukanya berubah, dengan genit dia mengancam. 'Jika tidak kau ajarkan ilmu pedangmu padaku, biarlah sekarang juga boleh kau bunuh diriku.' "Tentu saja aku sangat gusar terhadap perempuan yang tidak tahu malu itu, kesucian perempuan sama sekali tidak dihargai olehnya sendiri segera kulolos pedang dan berkata, sekalipun kubunuh perempuan hina macam kau juga tidak menjadi soal."

"Siapa tahu, dia sama sekali tidak mengelak atau menghindar sehingga dadanya tersayat duatiga garis oleh pedang ku. Padahal selama hidupku tidak pernah membunuh orang perempuan, tentu saja aku sangat menyesal."

"Dengan alasan kejadian itu, dia tambah garang, katanya, Bagus, sudah menolak permintaanku, malahan aku hendak kau bunuh pula. Tidak. pokoknya hari ini harus kau ajarkan ilmu pedangmu padaku."

"Dengan menyesal kujawab, 'soal belajar ilmu pedangku hendaklah selanjutnya jangan kau pikirkan lagi. Biarlah kuajarkan semacam kungfu lain saja."

"Dia tahu kungfuku yang paling lihai adalah ilmu pedang, kungfu lain boleh dikatakan tidak ada artinya baginya. Maka dia berlagak ngambek dan berkata, Tidak. kuingin belajar ilmu pedangmu, kalau tidak. harus kau bayar utangmu, harus kugores juga dua luka pada dadamu dan selanjutnya akupun takkan merecoki kau lagi."

"Kupikir permintaannva itu cukup adil, biarlah dadaku digores dua kali olehnya agar selanjutnya aku tak direcoki lagi. segera kubuka bajuku dan berkata, Baiklah, boleh kau gores dadaku"

"Kuyakin kungfuku jauh lebih tinggi daripada dia, maka tidak takut akan terbunuh olehnva. Dia tertawa genit dan berkata, 'Ai, kau begini cakap dan begini gagah. sungguh aku tidak tega melukai kau., Habis berkata, sret-sret dua kali, dengan pelahan saja pedangnya menyayat dadaku."

"Wah, celaka"

Seru Yu Wi tanpa terasa.

"Celaka bagaimana?"

Tanya si kakek alias Kwe-siau-hong.

"Pedangnya beracun,"

Kata Yu Wi.

"Racun Kim kiok-hoa luar biasa jahatnya, sedikit terluka saja racun segera meresap masuk dan membinasakan orang."

"Nyata kau lebih cerdik daripadaku,"

Kata Kwe siau-hong dengan gegetun.

"waktu itu tidak terpikir olehku bahwa pedangnya beracun, malah kusangka dia sayang kepada kecakapanku, maka hanya menyayat dadaku dengan pelahan saja."

"Hm, perempuan keji dan cabul seperti itu, sungguh hatinya terlebih berbisa dari pada ular,"

Ucap Yu Wi dengan gemas. Ia lantas teringat kepada kematian Ang-bau-kong dan Lam-si-khek yang mengenaskan itu, tanpa terasa air matanya bercucuran.

"Kaupun bermusuhan dengan dia?"

Tanya Kwe siau-hong. Dengan suara penuh dendam Yu Wi berteriak "Ya, permusuhanku dengan dia setinggi langit, biarpun dicuci dengan air empat samudera juga tidak bisa bersih."

"Sudah lebih 20 tahun tidak kulihat dia, kukira ilmu silatnya pasti jauh lebih tinggi daripada dahulu,"

Kata Kwe siau-hong.

"Kau harus hati-hati jika ingin menuntut balas padanya. sayang tak dapat kubantu kau, kalau dapat pasti kubantu kau "

"Masakah kau tidak ingin menuntut balas?"

Tanya Yu Wi heran-"Aku mempunyai musuh lain yang lebih hebat melulu dia seorang saja sukar kuhadapi,"

Tutur Kwe siau-hong dengan gegetun.

"Maka soal dendam kepada Thio Giok-tin terpaksa kusingkirkan dulu ke samping."

"Memangnya siapa musuh mu yang lebih hebat itu?"

Tanya Yu Wi. Kwe siau-hong menghela napas panjang, selang sejenak baru menjawab.

"Coba dengarkan lebih lanjut kisahku. setelah terjebak oleh muslihat keji Thio Giok-tin, dengan cepat racun pada lukaku lantas bekerja, sungguh rasanya sangat menderita serupa digigit oleh beribu-ribu semut. Aku terkejut dan berteriak. 'Hei, nona Thio, kau... .' "Maka tertawalah Thio Giok-tin yang keji itu sembari terkekeh ia berucap. 'Nah, boleh kaurasakan sekarang, apakah orang she Thio ini boleh sembarangan dibuat main-main? setiap apa yang tidak dapat kuperoleh harus kumusnakan, pedangku beracun Kim-kiok hoa, maka boleh kau tunggu kematianmu dengan pelahan-' "Mukaku pucat demi mendengar istilah Kim kiok hoa, kutahu racun ini sangat jahat dan tidak ada orang yang mampu menawarkannya, tapi aku tidak mau mati sia-sia, harus mati bersama dia, tidak boleh terkabulkan keinginannya. Maka kulolos pedang dan melancarkan serangan kilat. ia tidak menyangka setelah kukena racun jahat masih dapat membunuhnya, dengan gugup ia menangkis, tapi waktu itu ia mana bisa menandingi diriku, apalagi kuserang dia dengan kalap. hanya beberapa kali serangan sudah membuat dia kelabakan."

"Kutahu jiwaku akan tamat selekasnya, tapi aku malah bergelak tertawa dan berseru, 'Hahaha,Thio Giok-tin, satu jiwa dibayar satu jiwa, aku tidak rugi Yang kupikirkan waktu itu hanya membunuh dia untuk melampiaskan sakit hatiku, sama sekali tidak kurasakan kesakitan lukaku.' Tampaknya usahaku membunuhnya hampir berhasiL siapa tahu mendadak muncul seorang penolongnya...."

"Siapa dia?"

Tanya Yu Wi. Lamat-lamat ia dapat menerka siapa gerangan yang dimaksudkan.

"Siapa lagi, ialah musuh ku yang terlebih lihai itu,"

Jawab Kwe siau-hong dengan menggreget. Sebenarnya Yu Wi ingin tahu lebih jelas, tapi Kwe siau-hong tidak menjelaskan pula, ia menyambung.

"Begitu muncul orang itu lantas berseru, Berhenti, berhenti Ada urusan apa boleh dibicarakan saja dengan baik-baik, Kutahu ajalku sudah dekat, kesempatan yang singkat dan terakhir ini mana boleh kubuang percuma, seranganku tambah gencar, mendadak rambut Thio Giok-tin kutabas putus, saking kejut dan takutnya Thio Giok-tin menjerit, 'Tolong'. Jeritan minta tolong ini ternyata sangat manjur, semula orang itu hanya ingin melerai kami, sekarang dia tidak ragu lagi, mendadak aku diserangnya. Tusukan pedangnya sungguh maha lihai, juga salahku sendiri, lantaran terburu-buru ingin membalas dendam sehingga lupa menjaga diri, dalam sekejap itu kurasakan mata kiriku kesakitan luar biasa...."

"Hahh"

Tanpa terasa Yu Wi berseru kaget. ia pikir, pantas hanya sebelah matanya yang terbuka. kiranya mata kirinya buta tertusuk pedang Jelas permusuhan antara keduanya sukar dihindarkan lagi.

"Kutahu lawan terlalu lihai, kupegang mata kiri yang terluka dan berlari sekuatnya dengan menahan rasa sakit,"

Demikian Kwe siau-hong menyambung ceritanya "Lari dan lari terus.

akhirnya aku kehabisan tenaga dan jatuh kelengar.

Kupikir tamatlah riwayatku, sakit hati tak terbalas, dendam tak terlampias, matipun penasaran"

"Tak terduga racun Kim-kiok hoa itu ternyata tidak menewaskan diriku, tahu-tahu aku sadar kembali. begitu membuka mata segera kulihat seekor Pek poh-coa (ular seratus langkah) lagi mengisap darah lukaku. seketika timbul kegeramanku, kupikir dasar binatang, aku sudah hampir mati. tapi masih kau sakiti. Dengan gregetan kucengkeram leher ular itu, sekali gigit kuputuskan kepala ular. Kupikir sebentar toh akan mati, boleh juga sekedar melampiaskan gemasku terhadap seekor ular. Maka hanya beberapa kali kunyah saja kepala ular berbisa itu kulahap mentahmentah. sungguh aneh bin ajaib, habis mengganyang kepala ular, bukannya tambah parah lukaku, sebalknya racun Kim-kiok hoa malah terpunahkan mendadak. Hanya luka mata yang kesakitan luar biasa. Diam-diam aku sangat girang, kukira kepala ular berbisa itulah obat penawar Kim-kiok hoa yang paling mustajab. segera kumerangkak bangun dan membubuhi mataku dengan obat luka, lalu kulari kembali kesana, ingin kutuntut balas kepada orang yang menusuk buta mataku itu. sakit hatiku terhadap Thio Giok tin jadi terlupa malah, kupikir jika orang itu tidak ikut campur, tentu sakit hatiku sudah terbalas. sekarang mataku buta, sakit hati tak terbalas, semua ini garagara orang itu. Maka yang kupikir hanya dendamku kepada orang itu, kucari ke tempat semula, tapi mereka sudah menghilang, sampai hari kedua, saking lelahnya kurasakan racun Kim-kiok hoa mulai kumat lagi. Keparat. siksaan racun itu sungguh sulit ditahan, seketika aku merasa pintar, dengan menahan sakit kucari dan berhasil lagi menangkap seekor ular kobra, hanya beberapa kali gigit saja mengganyang pula kepala ular berbisa itu. Dengan demikian dapatlah kutemukan satu cara menyerang racun dengan racun, tapi seterusnya setiap hari aku tidak boleh kekurangan seekor ular berbisa. Meski setiap hari aku harus mencari ular berbisa sebagai obat, tapi hasratku mencari musuh yang menusuk buta mataku itu tidak berkurang pada suatu hari dapat kudengar bahwa orang itu bernama Lau Tiong-cu, terkenal sebagai tokoh top dunia persilatan jaman itu."

"oo"

Mendadak Yu Wi bersuara. Dalam hati pikir ternyata benar Toa suheng yang telah menyelamatkan jiwa si Nikoh bangsat itu. Kwe siau-hong menghela napas, lalu menutur pula.

"Setelah kutahu siapa dia, hatiku menjadi ngeri, kutahu sukar untuk menandingi Lau Tiong-cu, apalagi setelah keracunan, betapapun kungfuku sudah terpengaruh dan tenaga berkurang. Kupikir membalas dendam bagi seorang lelaki sejati tidak terbatas oleh waktu, biarlah sementara kukesampingkan dulu urusan balas dendam, yang penting kucari suatu tempat yang sepi dan tenang untuk meyakinkan ilmu pedangku lebih tinggi sekaligus memunahkan racun Kim-kiok hoa dalam tubuhku."

"Pada suatu hari tiba-tiba kudengar berita yang tersiar luas, katanya aku telah terbunuh oleh perempuan cabul Thio Giok-tin, kejadian ini sangat menyenangkan orang persilatan baik dari kalangan Hok-to (hitam) maupun golongan Pek-to (putih). Tentu saja hampir meledak dadaku saking gusarnya mendengar berita itu Kupikir perempuan she Thio itu sungguh tidak tahu malu, dia anggap dapat membunuh diriku adalah suatu kejadian yang gemilang dan membanggakan, maka disebarkanlah berita itu secara luas. makin kupikir makin sakit hatiku. sialnya, pada hari itu juga terjadi pula kemalangan, ketika racun Kim-kiok hoa kumat. seekor ular saja sukar kucari, saking gelisah aku jatuh tersungkur di tepi jalan dan pingsan. Untung jiwaku belum ditakdirkan tamat. waktu siuman, kebetulan kutemukan Yap su-boh yang gemar piara ular berbisa itu lalu disitu, maka kuminta diberi seekor ular kobra dan kulahap kepalanya sehingga jiwaku tertolong pula."

"Yap su boh tanya padaku sebab-musababnya kugemar makan kepala ular, sudah lama juga dia kagum kepada namaku. Hendaklah maklum, waktu itu nama Yap su-boh belum menonjol seperti sekarang dan jauh di bawahku. Maka sedapatnya dia membaiki diriku dan mengundang aku kepulaunya untuk merawat luka dan meyakinkan ilmu pedang lebih tinggi, juga berjanji akan memberi jatah ular berbisa secara gratis kepadaku. Kebetulan aku memang tidak mempunyal tempat tujuan, maka kuikut dia ke pulau ini."

"Sang waktu berlalu dengan cepat, sekejap saja sudah kutinggal di pulau ini hingga sekarang. sejak mula sudah kutetapkan suatu peraturan keras, siapapun dilarang masuk ke lembah ini kecuali pengantar ular berbisa bagiku. Beberapa tahun yang lalu, waktu Yap su-boh mengutus orang mengantar ular, sekalian dia mengantarkan pula tiga jago pedang, katanya untuk dijadikan lawan latihanku. Kau tahu hobiku adalah membunuh orang. sekarang ada orang sengaja mengantarkan jago pedang untuk kubunuh, tentu saja kuterima dengan senang hati, maka selama beberapa tahun ini sudah ada beberapa ratus orang menjadi korban pedangku,"

"Ai, jelas kau telah diperalat oleh Yap su-boh."

Ucap Yu Wi dengan gegetun.

"Memangnya kau kira aku tidak tahu?"

Sahut Kwe siau-hong dengan tertawa.

"Ambisi Yap suboh memang besar. ia ingin merajai dunia persilatan maka lebih dulu hendak dibabatnya Jit-taykiam-pay, tokoh-tokoh ketujuh aliran besar itu harus dibunuhnya dengan cara bagaimana pun, untuk itu dia sengaja mengalihkan dosanva padaku, tokoh-tokoh Jit-tay-kiam-pay yang terpancing ke pulau ini dikirimnya kesini untuk kubunuh. Hah, masa aku takut? suruh bunuh lantas kubunuh, peduli amat."

Yu Wi menggeleng, katanya.

"Dapatkah kau tidak membunuh?"

Dengan serius Kwe siau-hong bertanya.

"Aku hanya tahu kau she Yu, entah siapa namamu, bolehkah kau beritahukan padaku?"

"Cayhe bernama Wi,"

Sahut si anak muda.

"Bolehkah kupanggil adik cilik padamu?"

Yu Wi mengangguk.

"Adik cilik."

Ucap Kwe siau-hong dengan gembira.

"Antara kau dan aku ada kecocokan, pula... pula kau sangat baik padaku."

"Mana aku berbuat baik padamu?"

Ujar Yu Wi.

"Hal ini, memang sukar kujelaskan."

"Kuminta padamu. dapatkah selanjutnya kau tidak membunuh orang lagi?"

Dengan tegas Kwe siau-hong menjawab.

"Sedapatnya akan kusanggupi permintaanmu ini, tapi tusukan pedang yang membutakan mataku, sakit hati ini tidak dapat tidak harus kubalas."

Melengak Yu Wi, segera ia berkata pula.

"Racun yang mengeram dalam tubuhmu dapat kubantu memunahkannya,"

Girang sekali Kwe siau hong, serunya.

"Benar dapat kau bantu melenyapkan penderitaan yang telah membelenggu diriku selama lebih 20 tahun ini?"

"Siaute mahir mengobati berbagai luka dan racun. tidak sulit untuk menawarkan racun jahat dalam tubuhmu."

Saking kegirangan sampai Kwe siau-hong menitikkan air mata, dengan suara gemetar ia berkata.

"Terima kasih kepada Thian dan Te (langit dan bumi), tak tersangka pada suatu hari siauhong bisa terhindar dari siksa derita ...."

Diam-diam Yu Wi menghela napas, ia pikir selama 20-an tahun ini si kakek tentu sudah kenyang disiksa oleh racun, setiap hari tak dapat hidup tenang, penderitaannya dapat dibayangkan.

"Bilakah kita mulai pengobatan ini?"

Tanya siau-hong.

"Urusan jangan ditunda lagi, sekarang juga kumulai menawarkan racunmu "

"Biar kukubur dulu jenazah Kui-cin,"

Kata siau-hong.

Dengan sujud ia mengangkat jenazah Kui-cin dan dicarikan suatu tempat yang baik, ia menggali sebuah liang besar, lalu dengan hormat dibaringkannya Kui-cin di dalam liang kubur itu, setelah sibuk dua-tiga jam barulah selesai pemakaman itu Yu Wi hanya menonton saja di samping tanpa membantu, ia pikir kakek sudah membunuh orang sekian banyak dilembah ini, mungkin baru pertama kali ini dia mengubur korbannya.

Perubahan ini menandakan pada dasarnya dia toh berhati bajik, Yu Wi membiarkan orang sibuk sendirian, tujuannya supaya perasaan kakek itu bisa tenteram dan merasa telah mengerjakan sesuatu yang baik, Karena hari sudah mulai gelap.

tidak leluasa untuk mengadakan penyembuhan, maka malam itu dilewatkan tanpa terjadi apa pun.

Esok paginya Yu Wi memberi penyembuhan racun Kwe siau-hong dengan tusuk jarum emas, terapi tusuk jarum emas cara Yu Wi ini paling mujarab untuk memunahkan racun dalam tubuh.

Boleh dikatakan jarang ada tabib yang mahir ilmu penyembuhan ini.

Lalu Yu Wi memberi minum pil penawar racun yang sudah tersedia, sampai hari ketiga, racun yang mengidap dalam tubuh Kwe siau-hong telah dapat dipunahkan dan sembuhlah seluruhnya.

Hari ini semangat Kwe siau-hong tampak sangat segar, dengan berseri-seri ia berkata.

"Adik cilik. bahwa aku masih dapat sehat seperti sekarang. itu tanda Thian (Tuhan) Maha Pengasih. selanjutnya Lokoko (kakak tua) berjanji takkan sembarang membunuh orang lagi."

Senang sekali dan terhibur hati Yu Wi, ia pikir daripada menghukum seorang jahat, akan lebih baik jika dapat menyadarkannya.

selanjutnya sia-kiam yang sangat ditakuti dalam Bu-lim sudah hilang.

sebaliknya telah bertambah dengan sebatang pedanng pembela keadilan.

"Adik cilik,"

Kata siau hong pula.

"kau telah menolong diriku dari neraka, budi kebaikanmu ini cara bagaimana harus kubalas?"

"Cukup asalkan selanjutnya kau tidak membunuh orang baik, menumpas kejahatan dan menolong kaum lemah, semua ini jauh lebih baik daripada membalas budi padaku."

Habis berkata, tiba-tiba Yu Wi mengeluarkan sebilah belati dan disodorkan kepada Kwe siauhong. Tentu saja kakek itu merasa bingung, tanyanya.

"Untuk apa pisau ini?"

"Siaute ingin mohon sesuatu padamu."

Kata Yu Wi.

"Jangankan satu. biarpun sepuluh urusan juga akan kuturut,"

Jawab siau-hong tegas.

"Tapi, urusan ini mungkin sukar dilaksanakan olehmu,"

Kata Yu Wi sambil menghela napas.

"Urusan apa? Apakah perlu membunuh orang? siapa yang harus dibunuh?"

Tanya Kwe siauhong.

"Asalkan adik cilik menganggap orang itu pantas dibunuh, kukira dosanya pasti tak terampunkan Jika aku tidak berani turun tangan, biarlah aku bunuh diri saja."

"Untuk apa bersumpah, lekas tarik kembali,"

Kata Yu Wi.

"Baik."

Jawab Kwe siau hong.

"sekarang katakan, membunuh siapa?"

"Tidak membunuh siapa-siapa,"

Kata Yu Wi sambil menuding mata kiri sendiri.

"sekarang kau gunakan pisau itu dan tusuk buta mataku ini. Cepat, takkan kusalahkan kau."

Saking kagetnya belati itu terlepas dari tangan Kwe siau-hong, air mukanya pucat, serunya dengan tergegap.

"He, ken ... kenapa ... ."

"Karena tidak tahu duduknya perkara, tanpa sengaja Toa supek telah merusak sebelah matamu sehingga kau tersiksa selama 20 tahun ini, jelas sakit hatimu ini tidak bisa tidak harus dibalas,"

Ucap Yu Wi dengan pedih.

"Tapi usia Toasupek sekarang sudah sangat lanjut, isteri kesayangannya juga sudah mati, dia tirakat didalam kuburan dan mendampingi jenazah isterinya selama ini, maka janganlah kau tuntut balas padanya. Aku masih muda dan kuat, buta sebelah tidak menjadi soal. supek ada kesusahan biarlah kutanggUng baginya. Nah, harap kau engkau memenuhi permintuanku ini."

Kwe siau-hong jadi ingat si adik cilik telah memintanya jangan membunuh orang lagi, permintaan ini sudah disanggupinya, tapi sakit hati tusukan yang membutakan matanya itu dengan tegas telah dinyatakan tetap akan dibalas, sebab itulah adik cilik ini bertindak seperti sekarang.

Padahal adik cilik seolah-olah orang yang telah membuatnya hidup kembali dari neraka, apakah dendam mata dibutakan ini masih tetap harus dituntut balas?

Tapi kalau tidak menuntut balas, untuk apa dia menahan siksa derita selama 20 tahun ini, bukankah lantaran ingin muncul kembali di dunia Kangouw untuk menuntut balas?

Begitulah terjadi pertentangan batin antara budi dan dendam dalam hatinya, karena merasa serba susah dan sukar dipecahkan, tak tahan lagi kakek itu menangis tergerung.

Dengan air mata bercucuran Yu Wi berkata.

"Thio Giok-tin adalah sumoay Toasupek, sebelum kejadian itu dia tidak tahu engkau keracunan, lebih-lebih tidak tahu Thio Giok-tin yang meracuni dirimu. soalnya, kebetulan dia lewat di situ dan mempergoki kau hendak membunuh sumoay, terpaksa dia ikut campur."

Yu Wi tidak menyaksikan kejadian itu, juga tidak didengar dari siapa-siapa, hanya dari penuturan Kwa siau-hong tadi ia dapat meraba apa yang terjadi waktu itu, ia pikir Toasupek adalah seorang yang berhati welas-asih, tidak mungkin dia membantu kejahatan, sebab Toasupek lebih dulu sudah tahu Thio Giok-tin bukanlah orang baik.

Kejadian yang sesungguhnya memang juga begitu, jadi perkiraan Yu wi itu tidak salah sedikitpun.

Begitulah anak muda itu berkata pula.

"Tapi kesalahan itu sudah telanjur terjadi dan sukar dikembali lagi, setelah Toasupek tahu duduknya perkara, menyesal pun sudah terlambat. Maka sekarang biarlah aku yang menanggung kesalahan, tidak perlu kau ragu, tuntutlah sakit hatimu."

Kwe siau-hong mengangkat kepalanya, ia meraung kalap.

"Tidak. Tidak. Mana boleh kutuntut terhadap adik cilik yang berbudi kepadaku? jangan kau bicara lagi, aku akan mencari Lau Tiong-cu untuk membikin perhitungan sendiri, aku tidak dapat mengalahkan dia, biarlah kumati saja dibawah pedangnya."

Yu Wi mengusap air matanya dan berkata.

"tidak dapat kau penuhi permintaanku ini?"

"Tidak. tidak boleh"

Seru Kwe siau-hong sambil menggeleng.

"siapa yang hutang, dia yang bayar..."

Mendadak Yu Wi menjemput pisau yang jatuh tadi dia melompat mundur, lalu berkata.

"Jika kau tidak tega turun tangan, biarlah kulakukan sendiri"

Habis berkata, mendadak ia angkat belati itu terus menikam mata kiri sendiri Keruan Kwe siau-hong kaget. sekuat tenaga ia berteriak.

"Berhenti"

Begitu keras suaranya sehingga menggetar lembah pegunungan itu, tanpa terasa Yu Wi menghentikan gerak tangannya.

Kwe siau-hong tahu sukar mencegah tindakan nekat Yu Wi itu, segera ia bicara tegas dan pasti.

"Jika kau butakan mata sendiri, segera juga kumati di depanmu."

Yu Wi jadi melengak. untuk meredakan suasana, pelahan ia menurunkan belatinya.

"Sudahlah, boleh kau pergi saja,"

Kata Kwe siau-hong kemudian dengan gegetun.

"Kujanji menghapuskan seluruh dendamku terhadap Lau Tiong-cu."

Sungguh terima kasih Yu Wi tak terhingga, dengan emosi ia berkata.

"Atas nama Toasupek aku mengucapkan terima kasih atas kemurahan hatimu, entah apa pula yang akan kau lakukan selanjutnya?"

"Tidak lama lagi akupun akan meninggalkan lembah ini, biarlah kita bertemu lagi kelak di dunia Kangouw,"

Kata si kakek. Yu Wi sangat menguatirkan keadaan Lim Khing-kiok dan Kan Hoay-soan, ia memberi hormat dan mohon diri Dengan tulus hati Kwe siau-hong berpesan pula.

"Mo-kui-to bukanlah tempat yang baik, jika urusanmu selesai hendaklah lekas pergi saja."

"Kutahu"

Jawab Yu Wi.

"setelah sesuatu urusanku selesai segera kutinggalkan pulau ini."

Habis berkata ia terus melangkah pergi. Belum jauh, mendadak Kwe Siau-hong berteriak padanya.

"Adik cilik"

"Ada apa?"

Tanya Yu Wi sambil menoleh. Tapi Kwe siau-hong lantas menggoyang tangan dan berkata.

"o, tidak apa-apa, semoga kelak bila bertemu lagi janganlah kita melupakan hubungan hari ini"

Melengak Yu Wi, lamat-lamat ia merasa ada kata yang tidak enak, tapi mengenai urusan apa sukar untuk dikatakan.

setelah merandek sejenak.

segera ia melangkah pergi pula dengan cepat.

Ia keluar lembah mengikuti jalan semula.

Pertama kali yang dilihatnya adalah dimulut lembah sudah berdiri dua orang, keduanya sama berbaju putih dengau rambut panjang berkibar tertiup angin, keduanya sedang menatap kearah lembah dengan penuh rasa cemas.

Satu di antaranya melihat Yu Wi lebih dulu, serentak ia berteriak.

"Itu dia, sudah keluar, sudah keluar....."

Segera Yu Wi dapat mehhatnya yang berseru itu ialah Yap Jing, yang berdiri di sampingnya ialah Kan Hoay-soan.

"Toako, Toako"... ."

Kan Hoay-soan juga berteriak-teriak.

Mendengar suara Kan Hoay-soan yang sehat itu, Yu Wi sangat girang, ia berlari mendekati dan menggenggam erat tangannya yang putih mulus itu, dengan gembira ia menyapa.

"Moaymoay. sudah sembuh panyakitmu?"

"Sudah,"

Jawab Kan Hoay-soan dengan menunduk malu. Melihat itu, Yu Wi melepaskan tangannya dan berkata.

"Betapapun aku ini Toako palsu dan tidak leluasa bertindak."

"Kau ...kau masih... masih tetap Toakoku ... ."

Ucap Kan Hoay-soan dengan tetap menunduk.

"Untuk apa kau berdiri disini?"

Tanya Yu Wi.

"Enci Jing yang membawaku kesini... ."

Pelahan Kan Hoay-soan mengangkat kepalanya dan memandang Yap Jing sekejap. Baru sekarang Yu Wi memandang kearah Yap Jing dan menegur dengan tertawa.

"Yap-siocia, baik-baikkah kau?"

"Baik, kau pun baik,"

Jawab Yap Jing, mendadak air matanya bercucuran-Yu Wi jadi melengak. Didengarnya Kan Hoay-soan berkata.

"Enci bilang dapat menunggu Toako disini, katanya sudah dua hari kau masuk kelembah sana dan tidak diketahui mati atau hidupmu. Karena kuatir, maka kami menunggu di sini, sudah dua hari dua malam kami menunggu ..."

Dengan senyuman yang dipaksakan Yap Jing berkata.

"Dan sekarang sudah tidak perlu tunggu akupun boleh pergi, silakan kalian bicaralah."

Habis berkata ia lantas membalik tubuh dan melangkah pergi dengan gemulai.

Yu Wi sangat terharu, ia tahu hanya Yap Jing saja yang mengetahui dirinya masuk ke Put-kuikok.

sekarang dia menunggu disini dengan penuh perhatian atas keselamatannya, tapi setelah dia keluar, menyapa saja tidak lantas bicara melulu dengan Kan Hoay-soan, pantaslah kalau nona berduka.

Tanpa terasa Yu Wi lantas mempercepat langkahnya dan menyusul kesana, serunya.

"Yapsiocia aku harus berterima kasih padamu. ..."

Dengan air mata masih meleleh dipipinya Yap Jing berkata.

"Maukah kau tidak menyebut siocia padaku?"

"Jing-ji ..."

Cepat Yu Wi ganti sebutan. Maka tertawalah Yap Jing, ucapnya.

"Toako Boleh kah kupanggil demikian padamu?"

"Boleh, tentu saja boleh, asalkan kau suka,"

Jawab Yu Wi cepat. Dengan wajah cerah Yap Jing lantas bertutur.

"Begitu kumohon kepada ayah, segera ayah menyembuhkan penyakit adik soan"

Kan Hoay-soan mendekati mereka, katanya.

"Aku seperti mengalami mimpi panjang, begitu sadar, keadaan sudah berubah sama sekali...."

"Bagaimana keadaan Thian-ti-hu sekarang?"

Tanya Yu Wi.

"Thian-ti-hu sudah bubar, ibu meninggal Jiko (kakak kedua) juga tewas ...."

"Siapa yang membunuh mereka?"

Tanya Yu Wi dengan gemas. Dengan pedih Kan Hoay-soan menggeleng kepala, tuturnya.

"Toako yang membunuh mereka. Toako yang membunuhnya, kusaksikan dengan mataku sendiri ... ."

"Keji amat"

Desis Yu Wi dengan penuh benci.

"Meski ibu kurang baik terhadap Toako, seharusnya Toako tidak pantas sekejam itu,"

Kata Hoay-soan dengan menangis.

"Tidak. seterusnya tidak kuakui dia lagi sebagai Toako. Jiko yang tidak berdosa juga dibunuhnya."

"Dan bagaimana dengan calon isterinya?"

Tanya Yu Wi.

"Entah, aku tidak tahu,"

Jawab Hoay-soan.

"Tapi kepandaian Lau-cici sangat tinggi, tentu tidak berhalangan. Hari itu kusaksikan sendiri ibu dan Jiko dibunuh olehnya tanpa bisa melawan ...."

Diam-diam Yu Wi menghela napas gegetun, pikirnya.

"Sebelumnya mereka sudah disihir oleh Yap su-boh mana bisa melakukan perlawanan."

Didengarnya Kan Hoay-soan menyambung ceritanya.

"Waktu itu aku jadi melenggong kaget, samar-samar kulihat seorang siucai mendekati diriku, menatap padaku sambil menyapa, 'Nona Hoay-soan, dimanakah hatimu?' Tanpa terasa kujawab, 'Hatiku? Ya, dimanakah hatiku?' siucai itu berkata 'Hatimu sudah hilang ....' Mendengar ucapan ini, benakku serasa mendengung, lalu kehilangan ingatan dan baru sadar kembali dua hari yang lalu."

"Siucai itu ialah ayahku,"

Kata Yap Jing dengan menyesal.

"Sekarang dia telah menyadarkan kau lagi, maukah kau maafkan dia?"

Hoay-soan menjawab dengan sendu.

"Aku tidak tahu apakah mesti memaafkan dia atau tidak. Yang pasti enci Jing sangat baik padaku, aku sangat berterima kasih padamu."

Bagian 23 Yu Wi tidak melihat Khing-kiok ikut datang. cepat ia tanya.

"Dan di manakah Khing-kiok?"

Yap Jing menunduk dan tidak menjawab.

"Katakan padaku, di manakah dia?"

Desak Yu Wi dengan suara keras. Dengan ragu Yap Jing menjawab.

"Waktu kumohon agar ayah mau menyembuhkan adik Soan. ayah bilang satu jiwa ganti satu jiwa, Yu-kongcu telah menyelamatkan jiwamu, maka ayah juga cuma menolong adik perempuannya sebagai balas budinya. mengenai perempuan satunya lagi, tanpa alasan dia ikut torobosan ke Mo-kui-to sini, dia harus dihukum mati. Kukuatir bila kau keluar dari Put-kui-kok dan kupergok ayah, maka kutunggu di sini. Sekarang lekas ... lekas kau bawa adik Soan dan berangkat saja, sudah kusediakan kapal... ."

"Dan adik Kiok sudah mati atau tidak?"

Tanya Yu Wi dengan berduka.

"Entah, sejak kemarin dulu tidak kulihat dia lagi,"

Jawab Yap Jing. Mendadak Yu Wi berlari pergi secepat terbang.

"He, Toako hendak ke mana?"

Teriak Yap Jing kaget.

"Cari ayahmu, akan kutanyai dia,"

Sahut Yu Wi sambil menoleh. Dan hanya sekejap saja sudah menghilang dikejauhan. Saking cemasnya hampir saja Yap Jing jatuh kelengar. Yu Wi terus lari kedepan tanpa arah tujuan, dalam hati ia menierit.

"Yap Su-boh, kau berani membunuh adik Kiok. pasti akan kubeset kulitmu dan kumakan dagingmu ..."

Dia lari secepat terbang, waktu penjaga pulau melihatnya dan bermaksud menghalanginya, tapi cepat Yu Wi pukul dan tendang, siapapun tak dapat menahannya.

Tidak lama kemudian, dilihatnya di depan sana ada sederetan bangunan megah, Yu Wi pikir pasti disitulah Yap su-boh bertempat tinggal.

Tanpa peduli betul atau tidak tempat yang dituju, segera ia menerjang ke dalam.

Setelah masuk kedalam gedung megah itu, ia mencari kamar yang paling besar, terus menerjang masuk.

di dalam masih ada sebuah pintu yang tertutup rapat, sekali hantam ia bikin pintu terpentang, lalu melangkah masuk sambil berteriak.

"YapSu-boh ... Yap su-boh..Mendadak dirasakannya kamar bagian dalam ini adalah kamar orang perempuan, sebuah meja rias tepat berada diujung sana menghadap pintu. Di depan meja rias berduduk seorang gadis berbaju kembang dan sedang bercermin. Yu Wi tahu telah kesasar, segera ia hendak putar balik dan keluar. Gadis berbaju kembang itu dapat melihatnya melalui cermin, cepat ia membalik tubuh dan berteriak.

"Aha. akhirnya kau datang juga"

Gadis ini ternyata sangat cantik, bahkan lebih cantik dari pada Yap Jing, tapi tidak dikenalnya, cepat Yu Wi berkata.

"O, maaf"

Waktu ia putar tubuh hendak melangkah pergi, tahu-tahu di depan pintu sudah berdiri dua orang berjajar dan merintangi jalannya. Mendadak gadis berbaju kembang di belakangnya menangis dan menjerit.

"O, kau tega meninggalkan diriku lagi?"

Yu Wi kenal kedua orang yang mencegatnya ini, mereka adalah kedua Koksu atau imam negara kerajaan Iwu, yaitu kedua Goan bersaudara yang mahir ilmu sihir itu.

Goan su-cong menjengek "Hm, jalan menuju surga tidak kau tempuh, neraka tak berpintu justeru kau masuki.

Kita bertemu lagi di sini, anak muda"

"Lantaran sok ikut campur urusan, akhirnya mendatangkan bencana bagi diri sendiri ..."

Sambung Goan su-bin seperti bertembang.

Kata-kata ini dahulu pernah diucapkan mereka ketika Yu Wi menyelamatkan Jit-ceng-mo di negeri Turki, mendengar kata-kata ini, timbul semacam perasaan tidak enak dalam hati Yu Wi, diam-diam ia membatin antara kedua orang ini tentu ada dendam kesumat yang sangat dalam dengan Jit ceng-mo.

Didengarnya Goan su cang berkata pula.

"siau-cu. coba kau berpaling"

Yu Wi mundur ke samping, dapatlah dilihatnya si gadis berbaju kembang tadi sedang menangis dengan sedih, keadaannya seperti kurang waras. Ia menjadi heran, pikirnya.

"Aneh, sungguh aneh Hakikatnya aku tidak kenal dia, mengapa dia menangis sesedih ini karena hendak kutingggal pergi?"

Terdengar gadis baju kembang itu menangis sambil berseru.

"Kau telah menipu perasaaaku, telah tipu tubuhku, dan sumpah setia sehidup semati di masa lampau itu sudah kau lupakan begitu saja?.... sekarang kau mau pergi lagi begitu saja? Tidak. tidak boleh jadi. hari ini pasti tidak kubiarkan kau pergi...."

Tentu saja Yu Wi merasa bingung oleh kata-kata itu.

"Nah, sudah lihat jelas tidak?"

Jengek Goan su-cong. Yu Wi menggeleng kepala dan berkata.

"selama ini belum pernah kulihat nona ini, dia mengoceh tidak keruan, jangan-jangan dia tidak waras?"

"Asalkan kau tahu saja bahwa dia tidak waras,"

Ucap Goan su-cong.

"Apa artinya ini?"

Yu wi merasa bingung.

"Kau tidak kenal Kongcu (Tuan puteri) kami, begitu bukan?"

Tanya Goan su-cong.

"Oo, jadi dia inilah Kongcu, kakak Yap Jing?"

Tanya Yu Wi terkesiap.

"Kau tidak kenal Kongcu kami, tapi dahulu Jit ceng-mo yang kau selamatkan cukup kenal padanya, bahkan sangat intim."

Maka pahamlah Yu Wi akan duduknya perkara, pikirnya, Jangan-jangan orang yang bersumpah setia dengan nona ini adalah salah seorang diantara jit-ceng-mo itu.

Padahal watak Jit-ceng-mo itu masing-masing berlainan dan sangat aneh, mana bisa menyukai nona ini dengan sepenuh hati, tanpa sengaja kumasuk ke sini dan disangkanya aku ini kekasihnya di masa lalu telah kembali."

Berpikir sampai disini, ia menghela napas dan berkata.

"Jit-ceng-mo sudah mati lima orang, apabila di masa lampau ada perbuatan mereka yang tidak pantas terhadap nona ini, anggaplah sudah selesai. Ai, di dunia ini, soal cinta memang tidak dapat dipaksakan."

"Hm, dianggap selesai?"

Jengek Goan su-cong.

"Masakah ada urusan seenak itu? Memangnya puteri Tocu kami boleh dipermainkan sesuka hati orang? Biarpun Jit-ceng-mo sudah mati lima, masih tersisa dua orang, siapakah mereka?"

"Hubungan ketujuh orang itu sebaik saudara sekandung, rasa duka mereka dapat dibayangkan setelah kematian lima orang saudaranya, masakah kalian tetap tidak mau mengampuni kedua orang yang masih hidup itu."

"Kau menaruh simpati kepada mereka, tapi tidak bersimpati terhadap Kongcu kami?"

Kata Goan su-cong sambil menuding gadis berbaju kembang itu, lalu sambungnya.

"Coba lihat, anak perempuan secantik ini, sekarang dia berubah menjadi tidak waras begini. Dahulu adalah kami juga yang mengiringi Kongcu pesiar kedunia Kangouw, tak tersangka dapat bertemu dengan ciang Ti yang pintar mengoceh itu sehingga hati Kongcu tercuri...."

Yu Wi pikir pantaslah jika Ciang Ti yang membuat nona cantik ini sampai tergila-gila dan akhirnya kurang waras.

Ciang Ti berjuluk "Ai-mo", iblis cinta, wataknya memang pencinta, setiap anak perempuan yang ditemuinya pasti disukainya.

Apalagi anak perempuan secantik bidadari seperti kakak Yap Jing ini, tentu saja dikejarnya.

Begitulah dengan suara penuh emosi Goan su-cong berkata pula.

"Sejak kecil Kongcu kami jarang keluar rumah, untuk pertama kali pula dia meninggalkan Mo-kui-to dan pesiar kedunia Kangouw, tentu saja dia masih hijau dan tidak tahu betapa kejam dan jahatnya dunia ini. Bahwa Ciang Ti jatuh cinta kepada Kongcu dan mengubernya, hal ini menyangkut urusan pribadi, tentu saja kami tidak berani merintangi kehendak Kongcu. Akan tetapi Ciang Ti ternyata tega menipu cinta seorang anak perempuan yang suci bersih, setelah tubuh Kongcu yang suci tertipu, lalu ditinggal pergi, padahal betapa artinya kesucian seorang gadis, setelah cukup mempermainkannya, lalu kabur begitu saja ... ."

Diam-diam Yu Wi piklr Ciang Ti bukanlah manusia demikian, meski wataknya suka kepada gadis cantik, tapi bukanlah manusia rendah yang suka merusak kesucian gadis.

"Kongcu tidak dapat melupakan orang yang dicintainya untuk pertama kali, dia masih terus mencarinya, akhirnya dapatlah diketemukan, tapi tahukah kau apa yang diucapkan Jit-ceng-mo terhadap Kongcu?"

Yu Wi diam saja, ia pikir apa yang diucapkan Jit-ceng-mo pasti kata-kata yang tidak senonoh. Didengarnya Goan su-cong menyambung pula dengan gemas.

"Masih kuingat dengan jelas, bangsat Kat Hin itu mengejek Kongcu kami, katanya Bu-dak yang tidak tahu malu, untuk apa kau cari kami? Mau mencari laki kan tidak perlu nekat seperti ini, ditengah jalan tidak kekurangan lelaki, seretlah satu kan beres Kami sudah biasa pergi datang dengan bebas, siapa pun tidak dapat mengikat kami. Untuk apa kau budak busuk ini mengikuti kami? Lekas pergi, lekas enyah. Coba kaupikir, kata-kata begitu apakah pantas, tentu saja Kongcu sangat gusar, ia tertawa keras, sejak itu pikirannya lantas abnormal. Kasihan sampai sekarang penyakitnya belum lagi sembuh, setiap kali melihat orang asing lantas disangka kekasihnya telah kembali... ."

Diam-diam Yu Wi menggeleng kepala, ia tahu "ok-mo"

Kat Hin si iblis jahat, memang paling anti orang perempuan, hanya dia saja yang tega mengucapkan kata-kata yang menusuk perasaan begitu Ia jadi teringat kepada kejadian di Kim-san dahulu, di mana dia telah menyusup ke dalam kemah Puteri Hana dari kerajaan wu untuk menghindari pencarian musuh, kebetulan Ciang Ti menaksir kecantikan Hana dan menggodanya ke kemah sang Puteri.

Tapi Kat Hin menyusul ke situ serta mengucapkan kata-kata kotor terhadap Hana sehingga membuat hati sang Puteri tertusuk dan berduka.

"Sebenarnya waktu itu kami hanya minta Ciang Ti mau mengubah pendiriannya, lalu kamipun takkan mengusut lebih lanjut persoalannya,"

Tutur pula Goansu cong.

"Biar kami laporkan kepada Tocu agar mengawinkan Kongcu dengan ciang Ti, maka segala urusan pun akan beres. Namun kata-kata Kat Hin itu terlalu menusuk perasaan, kami harus menghajar adat padanya .Jit-ceng-mo ternyata cuma bernama kosong, harya beberepa gebrak saja mereka sudah roboh oleh ilmu tidur kami, kami patahkan tulang kaki mereka satu persatu, kemudian baru disadarkan. Kami tidak berani melukai mereka terlalu parah mengingat Kongcu, maka sesudah membikin sadar mereka, kami membujuk lagi agar Ciang Ti mau mendampingi Kongcu sebagai pertanggungan jawab terhadap apa yang telah dilakukannya. Tak terduga. mungkin juga nasib mereka memang lagi mujur, kebetulan ada angkatan tua perguruan mereka lewat di situ sehingga mereka ditolong pergi. Tiada jalan lain, terpaksa kami membawa pulang Kongcu yang sudah linglung ini. Untung Tocu tidak marah besar, kami hanya diperingatkan saja agar selanjutnya harus lebih hati-hati. Tapi meski tidak mendapat hukuman apapun, hati kami merasa tidak tenteram melihat keadaan Kongcu yang setiap hari hanya menangis dan ribut belaka. Maka kami lantas meninggalkan pulau ini dan menyingkir jauh ke negeri Iwu. Berkat maksud baik raja Iwu, kami diangat sebagai Koksu, lambat-laun urusan Kongcu pun terlupakan, siapa tahu, kami tidak menuntut balas lagi kepada Jitceng-mo yang membikin susah Kongcu, mereka berbalik mencari kami hendak membalas dendam dipatahkannya kaki mereka. Mereka mengira sudah berhasil meyakinkan semacam barisan sehingga tidak gentar lagi kepada ilmu sihir kami, tapi akhirnya mereka tetap kami tundukkan, tatkala mana kami mengira sakit hati Kongcu pasti akan terbalas ."

Hanya sedikit ucapan Goan su-cong merandek. segera Goan su-bin menyambung.

"Tapi mendadak muncul seorang bocah macam kau ini yang ingin membela ketidak adilan segala, sudah kami katakan, kau tetap tidak mau menurut dan ingin tahu ada permusuhan apa antara kami, memangnya kau kira dengan leluasa dapat kami ceritakan kejadian yang mencemarkan nama baik Kongcu itu? Makanya sebelum kita berpisah dahulu pernah kukatakan bahwa barang siapa suka ikut campur urus an, akhirnya pasti akan celaka sendiri, dan sekarang bolehlah kau terima ganjaranmu akibat tindakanmu,"

Kata Goan su-cong. Yu Wi terburu-buru ingin mencari tahu di mana beradanya lim Khing kiok. maka ia pegang gagang pedang dan bertanya.

"Habis kalian mau apa?"

Suaranya tegas dan gagah, sikapnya menantang. Kedua Goan bersaudara itu sudah merasa kan lihaynya Yu Wi, mereka merasa bukan tandingan anak muda itu, maka mereka rada gentar dan menyurut mundur.

"Lekas menyingkir"

Bentak Yu Wi segera.

"Aku ada urusan penting, bila berani merintangi jalanku, pedangku tidak kenal ampun."

Pada saat itulah mendadak nona berbaju kembang tadi berhenti menangis dan mendakati Yu Wi. katanya dengaa air mata meleleh.

"Jangan kau pergi Tidak boleh kau tinggalkan lagi diriku . ."

Bicara sampai di sini, mendadak ia mengeluarkan sepotong sapu tangan terus dilemparkan kearah Yu Wi.

Semula Yu Wi mengira si nona mengambil sapu tangan untuk mengusap air mata, sama sekali tak terduga bahwa seorang gadis linglung bisa main tipu.

Ketika ia menyadari gelagat tidak enak tiba-tiba sudah terendus bau harum aneh menyambar tiba bersama sapu tangan itu seketika kepala terasa pusing, langit seperti berputar dan bumi terbalik.

"bluk", ia jatuh terkapar. Segera nona baju kembang itu memondong Yu Wi yang sudah tidak sadar itu, katanya dengan tertawa.

"Hihi, selaanjutnya kau takkan meninggalkan diriku lagi."

Sama sekali ia tidak menghiraukan kedua Goan bersaudara yang masih berada di situ, dengan mesra ia taruh Yu Wi di tempat tidurnya, lalu dikeluarkannya seutas tali yang halus dan panjang.

Dengan cara yang trampil dan apal sekali ia ikat kaki dan tangan Yu Wi dan diberi ikatan mati di sana sini.

Dengan demikian biarpun nanti Yu Wi siuman juga sukar bergerak kalau tali yang hitam gilap itu tidak diputus lebih dulu.

Tiba-tiba Goan su-cong melangkah maju dan berkata.

"Kongcu, orang ini bukan ciang Ti, serahkan saja kepada hamba untuk diselesaikan."

"Siapa bilang dia bukan ciang Ti?"

Jawab sang Puteri.

"sekalipun dia menjadi abu juga kukenal dia. Hm, siapa kau, lekas pergi, jangan mengganggu kami."

Diam-diam Goausu-cong menghela napas, ia pikir penyakit sang Puteri sungguh sudah terlalu parah, benar-benar tidak waras lagi.

Nona baju kembang lantas membentang selimut dan ditutupkan pada badan Yu Wi, lalu ia sendiri membuka baju luar terus menyusup ke dalam selimut, tidur di samping Yu Wi.

Meski dia menyuruh enyah Goan su-cong, tapi kedua Goan bersaudara tidak pergi dan masih berdiri disitu.

Mereka lagi mencari akal cara membikin sang Kongcu mau percaya bahwa Yu Wi itu bukanlah Ciang Ti yang dirindukannya itu.

Dilihatnya sang Puteri setengah berbaring dan bertopang dagu dengan tangan kanan, dengan penuh kasih mesra ia pandang Yu Wi seolah-olah didalam kamar tiada orang lain kecuali mereka berdua saja.

Setelah dipandang sejenak.

tiba-tiba ia tertawa katanya.

"Eh, kenapa kau hanya tidur melulu, masa tidak mengajak bicara padaku?"

Karena terbius oleh bau harum sapu tangan si nona, seketika Yu Wi tidak dapat sadar.

Tapi nona itu agaknya lupa pada kejadian itu, disangkanya Yu Wi sudah tidur dan tidak mau bicara padanya.

Maka nona itu mengguncang-guncangkan pundak Yu Wi dan berseru pula.

"He, bangun, bangun, bicaralah denganku"

Sampai sekian lama ia goyang-goyangkan tubuh Yu Wi dan anak muda itu tetep diam saja kelopak matanya bergerak sedikit saja tidak. Mendadak si nona menangis pula, katanya dengan tersendat.

"o, tampaknya kau tidak cinta lagi padaku, maka tidak sudi bicara denganku. Padahal dahulu setiap hari kau bilang mencintai diriku dengan segenap jiwa raga mu, kau puji kecantikanku yang lebih molek daripada bidadari. Tapi kenapa sekarang kau tidak bicara sepatah pun."

Makin menangis makin berduka, dia masih terus menggoyangi pundak Yu Wi, katanya pula.

"Ayolah, katakanlah bahwa kau tetap cinta padaku. mau?"

Tiba-tiba Goan su-cong menyela.

"Kongcu, dia bukan ciang Ti. makanya tak dapat menyatakan cintanya padamu. Apabila dia Ciang Ti, tentu sudah dikatakannya sejak tadi."

Sang puteri berhenti menangis dan termangu-mangu memandangi Yu Wi, mendadak ia menjerit "Haya"

Yu Wi terus didorongnya kebawah tempat tidur, serunya dengan sedih.

"Betul, betul, kau bukan dia... bukan dia,..."

Lalu ia menjatuhkan diri ditempat tidur sambil mendekap mukanya, ratapnya dengan sedih.

"o, dia takkan kembali lagi, takkan kembali lagi Dia telah meninggalkan diriku."

Ia menangis terus dan akhirnya, mungkin terlalu lelah, tertidurlah dia.

Malahan dalam tidurnya air matanya masih terus bercucuran.

Melihat keadaan sang Kongcu yang sebentar tertawa dan lain saat menangis, Goan su-cong tahu peyakit gilanya tidaklah ringan.

Ia pikir apabila dulu dia membawa pulang kepala Jit-ceng mo dan diperlihatkan kepada sang puteri, mungkin sakit rindunya akan sembuh dan tidak perlu tergila-gila lagi kepada orang yang sudah mati.

Hal itu mestinya dapat dilaksanakannya apabila dahulu Yu Wi tidak ikut campur, dan sekarang sakit hati sang Kongcu tidak terbalas, sebaliknya penyakit gilanya bertambah parah.

makin dipikir makin gemas, mendadak ia depak Yu Wi satu kali.

"Untuk melampiaskan dendam kita, biarlah kita buang dia kelaut saja untuk umpan ikan,"

Kata Coan su-bin Goan su-cong pikir usul saudaranya itu cukup bagus, segera ia menjawab.

"Baik, marilah kita buang dia kelaut,"

Segera Goan su-bin mendahului menyeret tubuh Yu Wi dan dibawa pergi.

Tapi baru sampai diambang pintu, kebetulan kapergok Yap Jing yang baru menyusul tiba.

Lantaran lari nona itu lebih lambat, ditengah jalan dia harus mencari keterangan pula, maka baru sekarang dia menyusul kesini.

Sekali pandang Yap Jing lantas melihat Yu Wi dalam keadaan tak sadar, dengan kuatir ia tanya.

"Bagaimana dia?"

"Apakah Kuncu tanya orang ini?"

Jawab Goan su-bin sambil menuding Yu Wi, Dengan maka masam Yap Jing mendamperat.

"Dengan sendirinya dia, memangnya masih ada orang lain?"

Cepat Goan su-cong mendekat dan memberi hormat, katanya.

"Orang ini adalah musuh besar Kongcu, tadi Kongcu merobohkan dia dengan Bi-hun-kin (sapu tangan berobat bius) dan meringkusnya, sekarang kami disuruh membuangnya kelaut,"

"Hm, memangnya kalian anggap diriku ini anak kecil yang dapat ditipu?"

Jengek Yap Jing.

"Pikiran cici tidak jernih, mana bisa dia menyuruh kalian membuangnya kelaut? Apalagi, apakah kalian tahu siapa orang ini?"

Goan su-cong sangat licin, melihat gelagat jelek. sedapatnya ia mengelakkan tanggung jawab, sahutnya.

"Meski pikiran Kongcu tidak jernih, tapi beliau benar-benar menyuruh kami membuangnya ke laut. soal siapa dia, yang jelas kami tahu dia adalah musuh Kongcu."

"Masakah kalian tidak tahu dia adalah tamu agung ayah, penolong jiwaku?"

Kata Yap Jing. Cepat Goan Su-cong menggeleng kepala dan berkata.

"Tidak tahu, hamba tidak tahu. Kami baru pulang kemarin, keadaan disini tidak terlalu jelas."

"Kalau tidak tahu tidaklah bersalah,"

Ujar Yap Jing. Lalu ia pelototi Goan su-bin dan mengomel.

"Untuk apa lagi kau pegang dia?"

Cepat Goan su-bin menurunkan Yu Wi.

Maklumlah, Yap su-boh hanya mempunyai dua anak perempuan dan dimanjakan sejak kecil, tiada seorang penghuni pulau ini berani membangkang perintah mereka.

Yap Jing lantas menjengek lagi.

"Baiklah, tidak ada urusan kalian lagi, lekas pergi"

Kedua Goan bersaudara tidak berani tanya pula, cepat mereka mengundurkan diri Segera Kan Hoay-soan memburu maju dan mengangkat Yu Wi, dilihatnya anak muda itu tidak sadarkan diri, kaki dan tangannya juga terikat tali.

Dengan kuatir ia berkata.

"Enci Jing, coba kau periksa dia."

"Dia tak sadar karena terbius Bi-hun-hiang, tidak berhalangan, sebentar lagi akan siuman sendiri,"

Kata Yap Jing.

"Hanya saja... ."

"Hanya apa?"

Tanya Hoay-soan dengan cemas.

"Tali yang mengikat kaki dan tangannya itulah tidak dapat dibuka,"

Kata Yap Jing.

Kan Hoay-soan tidak percaya, ia mengeluarkan pisau kecil dan coba memotong tali itu.

Tapi meski sudah disayat-sayat tetap tidak putus.

Ia pikir tali sekecil ini mustahil tak bisa dipotong putus?

Ia coba memotong dengan lebih keras.

"krek", bukannya tali itu putus, sebaliknya pisaunya yang patah. Tali kecil itu sedikitpun tidak tergurat. Kan Hoay-soan memandang kian kemari, lalu tanya.

"Adakah gunting?"

"Sudahlah, tidak perlu repot, percuma,"

Kata Yap Jing.

"Sekalipun golok pusaka atau pedang wasiat juga sukar memutusnya."

Hoay-soan membuang pisau patah dan berusaha membuka tali itu menurut ikatannya, sampai mandi keringat dia sibuk mencari jalan ikatan tali, tapi satu saja tidak mau terlepas.

"Sudahlah, ikatan tali ini hanya ayahku saja yang dapat membukanya di dunia ini, meski cici pernah belajar juga dari ayah, tapi sekarang pikirannya tidak jernih, mungkin iapun tidak sanggup membukanya,"

Kata Yap Jing dengan gegetun.

"Jika demikian, lekas kau cari dan minta tolong ayahmu"

Seru Hoay-soan cemas.

"Mana boleh kucari ayah? Ayah sudah menyatakan akan membunuhnya, jika mengantar dia ketempat ayah, sama halnya mengantarkan kematiannya."

"Habis bagaimana?"

Seru Hoay soan dengan gelisah.

"Yang paling penting sekarang adalah menyelamatkan dia dengan meningalkan pulau ini,"

Kata Yap Jing.

"Adik soan, angkatlah dia dan ikut padaku."

Tapi mendadak suara seorang menanggapi.

"Mau dibawa ke mana?"

Yap Jing berteriak kaget dengan suara rada gemetar.

"Hah, ay... ayah... untuk apa ayah datang kemari?...."

Di depan pintu kamar itu muncul seorang lelaki setengah umur dengan wajah putih dan berdandan sebagai seorang siucai (cendekia), katanya.

"Untuk apa kau datang ke sini, untuk itu pula ayahmu datang kemari,"

Yap Jing lantas menghadang didepan Hoay-soan, ia kuatir ayahnya menyerobot Yu Wi untuk dibunuh. Dengan polos Hoay-soan menimpali ucapan mereka.

"Kami datang kesini untuk menolong Toako, apakah engkau juga hendak menolongnya?"

Siucai itu memang penguasa Mo-kui-to atau Pulau Hantu, Yap su-boh, dengan tertawa ia berkata.

"Lekas serah kan Toakomu kepadaku."

Memandangi sorot mata Yap su-boh, seketika pikiran Hoay-soan seperti kabur, rasanya mengantuk dan segera bermaksud menyodorkan Yu Wi, Cepat Yap Jing mendahului memegang tubuh Yu Wi dan menyurut mundur, pintanya dengan sangat.

"Ayah,jangan kau bunuh dia, apapun juga dia adalah tuan penolong jiwa puterimu. jika ayah mau bunuh boleh bunuh diriku saja."

Yap su-boh tampak marah.

"Memangnya dia begitu penting bagimu?"

"Utang budi harus tahu balas,"

Jawab Yap Jing "Jika ayah membunuhnya, anak yang berdosa."

"Siapa bilang hendak kubunuh dia?"

"Kata ayah sendiri,"

Jawab Yap Jing.

"Ayah menyatakan pulau ini dilarang didatangi siapa pun tanpa izin ayah. Padahal kedatangannya ini adalah atas prakarsa anak."

"Takkan kubunuh dia, lekas kau serahkan dia padaku,"

Kata Yap su-boh.

"Apakah pantas seorang gadis memondong tubuh seorang lelaki yang baru dikenal?"

Yap Jing kenal watak sang ayah yang menganggap kecil soal membunuh orang, maka dia tetap kuatir, ia menyurut mundur lagi dua tindak dan berkata.

"Tidak. tidak Ayah menipuku, tak dapat kuberikan."

Yap su-boh menjadi gusar karena anak perempuannya tidak menurut perintahnya, bentaknya "Ayo serahkan, apakah kaupun minta dihajar?"

Mendadak Yap Jing berlutut dan menangis.

"Boleh ayah bunuh saja diriku ini, sejak kecil anak tidak beribu, tidak pernah disayang orang, hidup bagiku juga tidak ada artinya... ."

Mendengar anak perempuannya menyinggung ibunya yang sudah meninggal, Yap su-boh jad. berduka, katanya.

"Ai, watakmu yang keras serupa dengan ibumu. sudahlah, nak. aku tidak akan membunuh dia. Coba kaupikir, dia dapat keluar lagi dari Put-kui-kok dengan selamat, mungkinkah kubunuh dia?"

Yap Jing berhenti menangis, katanya dengan tersenyum girang.

"Ah. memang betul, kenapa aku lupa. Dia dapat kembali dari Put-kui-kok. tentu ayah takkan membunuhnya."

Habis berkata ia lantas menyerahkan Yu Wi kepada sang ayah.

Kiranya Yap su-boh sangat gemar meyakinkan ilmu silat, boleh dikatakan keranjingan terhadap setiap macam kungfu.

Apabila dia mengetahui kungfu seseorang sangat tinggi, dia lantas berlaku sangat hormat padanya.

seperti halnya Kwe siau-hong, lantaran ilmu pedangnya sangat lihai, maka tanpa syarat ia memberi tempat tinggal di Put ku-kok dan dipenuhi segala kebutuhannya.

padahal Kwe siau-hong terkenal suka membunuh orang, tapi sekarang sudah tiga hari Yu Wi masuk ke lembah sana dan dapat keluar lagi dengan selamat, hal ini menandakan kungfu anak muda ini lebih kuat daripada Kwe siau-hong sehingga tidak sampai terbunuh.

Seorang yang berilmu silat lebih tinggi daripada Kwe siau-hong, terang akan diperlakukan sebagai tamu terhormat oleh sang ayah, mana mungkin akan dibunuhnya?

Terpikir hal ini, Yap Jing lantas tidak kuatir lagi.

Setelah Yap su-boh memegang tubuh Yu Wi dan terlihat jelas wajahnya, iapun terkejut dan berguman.

"Ehm, ternyata benar sangat mirip. mirip sekali"

"Kau bilang apa, Ayah? Apa yang mirip?"

Tanya Yap Jing. Dengan terheran-heran Yap su-boh berkata.

"Kan ciau-bu bilang muka anak muda ini sangat mirip dengan dia, Liok Ban-lan juga melaporkan padaku akan kemiripan mereka. Tadinya aku tidak percaya, setelah melihatnya sekarang barulah kupercaya didunia ini memang ada manusia yang berwajah semirip ini."

Liok Ban-lan adalah si kakek gagah, kapten kapal yang membawa mereka ke pulau ini, yaitu sang Toako dari ke-12 tokoh terkemuka Mo-kui-to.

Tatkala Yap Jing meninggalkan Mo-kui-to untuk mencari pengobatan pada su Put-ku, pada waktu itulah Kan ciau-bu berkunjung ke Pulau Hantu ini, sebab itulah si nona tidak tahu di dunia ini ada seorang lain yang berwajah sama dengan Yu Wi.

maka ia lantas tanya lagi.

"Mirip siapa. ayah? siapa yang serupa dengan dia?"

"Kau tidak kenal dia,"

Tutur Yap su-boh.

"orang itu adalah majikan Thian-ti-hu, namanya Kan Ciau-bu."

Mendadak Hoay-soan berteriak.

"Tidak. dia bukan majikan Thian-ti-hu, dia bukan lagi pemilik Thian-ti-hu "

Suaranya sangat memilukan dan juga sangat gemas seperti bara membakar dadanya dan hendak meledak. Yap su-boh mendengus.

"Hm, Kan Cia u-bu adalah Toakomu, ahli-waris satu-satunya, sebagai adiknya masakah tidak kau akui?"

Dengan menangis Kan Hoay-soau menjawab.

"Dia membunuh ibuku, membunuh Jikoku, aku tidak .... tidak lagi mengakui dia ... ."

"Sungguh budak yang tidak tahu diri,"

Damperat Yap su-boh.

"Percuma Kan Ciau bu sayang padamu. Tempo hari Ciau-bu hanya membunuh ibu tirinya yang juga bermaksud membunuhnya, lalu membinasakan saudaranya yang ingin merebut harta kekayaan Thian-ti-hu, hanya kau saja dikecualikan lantaran sehari-hari dia memang sayang padamu. Masakah kau sendiri tidak tahu hal ini?"

"Siapa minta disayang olehnya?"

Teriak Hoay soan dengan gusar.

"Tidak nanti kumaafkan perbuatannya itu juga kau, ya kau. kaulah yang membantunya membunuh seluruh anggota keluargaku."

Dari malu Yap su-boh menjadi gusar, damperatnya pula.

"Budak busuk. berani kau bersikap kasar padaku, harus kuberitahu rasa padamu."

Segera ia melangkah maju dan hendak menggampar muka Kan Hoay-soan.

Tapi Yap Jing segera memburu maju sehingga tamparan Yap su-boh tidak mengenai Kan Hoaysoan.

sebaliknya mengenai pipi Yap Jing, seketika muka nona itu timbul lima jalur merah bekas jari.

"Siapa suruh kau menghadangnya, lekas menyingkir"

Bentak Yap su-boh dengan gusar.

"Tia (ayah), jangan lupa, engkau sudah menyatakan takkan membikin susah dia,"

Kata Yap Jing.

Kiranya Yap su-boh sudah berjanji akan mengendalikan kejernihan pikiran Kan Hoan-soan dan menyatakan pasti takkan mengganggu seujung rambut nona itu sebagai balas budinya kepada Yu Wi yang telah menolong Yap Jing.

Apa yang pernah dikatakannya tentu saja tak bisa lupa, maka Yap su-boh menjadi rikuh, ia tarik kembali tangannya dan bertanya.

"Anak Jing, tanpa sengaja ayah salah memukul kau, sakit tidak?"

"Tidak. tidak sakit,"

Jawab Yap Jing sambil menggeleng.

"Sekalipun terpukul sakit juga pantas seorang ayah memukul anaknya."

Yap su-boh memandangi kaki dan tangan Yu Wi yang terikat tali itu, tanyanya.

"Apakah ikatan tali ini dilakukan oleh Cicimu?"

"Poh-liong-soh (tali pengikat naga) adalah semacamm kepandaian khas di dunia ini, ayah hanya mengajarkan kungfu ini kepada Cici, kecuali dia siapa lagi yang mampu mengikatnya?"

Jawab Yap Jing.

"Ai, anak Pek tidak waras pikirannya, tapi tidak lupa pada ilmu mengikat tali ini, sungguh harus dipuji."

Ujar Yap su-boh dengan gegetun.

"Sakit Cici sudah sekian lama dan tidak kelihatan ada perbaikan, apakah ayah akan membiarkan keadaan cici seterusnya?"

Kata Yap Jing. Yap su-boh menggeleng dengan menyesal.

"Selama hidup ayahmu mempelajari ilmu pembetot sukma, akibatnya sakit gila anak perempuan sendiri toh tidak mampu menyembuhkannya.Janganjangan inilah hukuman Tuhan sebagai pembalasanku?"

"Penyakit gila Cici bukanlah karena ilmu sihir segala, sebab itulah ayah tidak dapat menyembuhkan dia,"

Kata Yap Jing.

"Penyakit ini harus diobati oleh orang yang mahir ilmu pertabiban. Anak kenal satu orang yang pasti dapat menyembuhkan penyakit Cici."

"Siapa yang kau masudkan?"

Tanya Yap Su-boh.

"Jika dia dapat menyembuhkan anak Pek. tentu aku akan memberi hadiah besar padanya."

Yap Jing menuding Yu Wi dan berkata.

"Ialah dia ini. Bahwa dia dapat menyembuhkan penyakit anak yang sudah parah, ilmu pertabibannya sungguh tiada bandingannya didunia ini. Lekas ayah menyadarkan dia dan membuka tali pengikatnya, lalu minta dia mengobati Cici."

Yap Su-boh tampak ragu, katanya kemudian.

"Dia pingsan oleh Bi-hun-hiang kakakmu sehingga tidak sulit untuk menyadarkan dia. Tapi tali ini sementara ini tidak boleh dibuka."

"Memangnya kenapa?"

Tanya Yap Jing gelisah.

---------------------= Bagaimana nasib Yu Wi?

Dapatkah Yap Jing membujuk sang ayah membebaskan anak muda itu.

= Kemana perginya Lim Khing-kiok, apakah dibawa lari Kan Ciau-bu?

Baca lah

Jilid selanjutnya -----------------"Kan Ciau-bu bilang ilmu silatnya sangat tinggi, wataknya juga tidak cocok dengan kaum kita, bila kulepaskan dia mungkin akan merugikan kita sendiri, maka untuk sementara ini harus dipertimbangkan tentang kebebasannya dan tidak boleh sembarangan bertindak."

"Masa ayah sedemikian percaya kepada ocehan Kan Ciau-bu?"

Tanya Yap Jing sedih.

"Aku cukup kenal Kan Ciau-bu yang pintar dan cekatan itu, keterangannya tidak boleh tidak dipercaya,"

Tutur Yap su-boh.

"Bila bocah she Yu ini kita lepaskan, kalau harimau sudah pulang kegunung, hendak menangkapnya agi tentu amat sukar."

"Ayah,"

Tanya Yap Jing tiba-tiba.

"sudahkah engkau menyelidiki siapa kah yang membocorkan rahasia letak pulau kita sehingga menimbulkan gabungan Jit-tay-kiam-pay beramai-ramai hendak menghadapi kita?"

Yap su-boh berkerut kening, katanya.

"Banyak anggota jit-tay-kiam-pay dipancing ke sini, hal ini hanya diketahui oleh ke-12 tokoh pengawal kita. Padahal mereka semua sangat setia padaku, sungguh akupun tidak habis mengerti siapakah yang telah berkhianat."

"Apakah Kan Ciau-bu tahu kejadian ini?"

Tanya Yap Jing.

"Pernah kuceritakan padanya apa yang terjadi ini,"

Tutur Yap su-boh.

"Dia mempunyai hasrat yang sama seperti diriku untuk merajai dunia persilatan. maka tidak kututupi kejadian ini. Thian-tihu masih mempunyai pengaruh cukup besar di dunia persilatan, ayah bermaksud memperalat dia, agar dapat digunakan sebagai batu loncatan untuk memperluas pengaruh kita."

"Hm, ayah ingin memperalat dia, memangnya dia tak dapat memperalat ayah?"

Jengek Yap jing.

"Menurut pendapatku, yang membocorkan rahasia letak pulau kita ini pasti dia. Inilah tipu 'nongkrong di atas gunung menonton pertarungan harimau', kemudian dia yang akan menarik keuntungannya...."

"Hus, jangan sembarangan omong,"

Bentak Yap su-boh "dia bukan orang macam demikian."

Yap Jing tidak peduli peringatan sang ayah, ia menyambung pula.

"Dia juga ingin merajai dunia persilaian, mana mungkin dia memberi tempat kepada ayah. Apabila nanti antara jit-tay-kiam-pay dan pihak Mo-kui-to sudah saling gempur hingga hancur lebur bersama, lalu jadilah dunia ini miliknya ... ."

"Suruh kau jangan sembarangan omong, kenapa omong lagi?"

Bentak Yap su-boh pula dengan gusar. Walaupun demikian. dalam hati lamat-lamat iapun merasakan ucapan anak perempuannya itu cukup beralasan.

"Dari pada ayah percaya padanya, kan lebih baik percaya saja kepada Yu-toako,"

Ucap Yap Jing dengan sendu.

"Betapapun dia jauh lebih polos dan jujur dari pada Kan ciau-bu."

"Tidak."

Bela Yap su-boh.

"tidak nanti kusalah menilai orang, Kan ciau-bu pasti takkan menjual diriku. Apa lagi sudah kubantu dia mengangkangi seluruh harta milik Thian-ti-hu, selama hidupnya pasti berterima kasih padaku."

Yap Jing pikir biasanya sang ayah banyak tipu akalnya, mengapa dapat mempercayai manusia semacam Kan ciau-bu, jangan-jangan orang she Kan itu pintar putar lidah sehingga ayah dapat dikelabui dan percaya penuh padanya.

Setelah berpikir, kemudian nona itu berkata pula.

"Tapi jelas Kan ciau-bu itu manusia tak berbudi, demi mendapatkan warisan, dia tidak segan membunuh ibu dan saudara tirinya. Manusia kotor dan keji begini, segala tindakan busuk dapat diperbuatnya, maka ayah perlu hati-hati menghadapi dia."

Hati Yap su-boh semakin kacau, ia mengomel.

"Sudahlah, budak mampus, jangan banyak bicara lagi." . Mendadak Yap Jing mendapat suatu firasat, katanya pula.

"Tapi, ayah, menurut dugaan anak. kepergian Kan ciau-bu sekali ini pasti akan datang lagi dengan membawa tokoh ketujuh aliran besar untuk menggempur pulau kita ... ."

Hati Yap su-boh terkesiap. diam-diam ia membatin.

"Ya, sudah tiga hari Kan ciau-bu pergi dari sini, jangan-jangan benar dia akan mengajak ketujuh aliran besar untuk menyerbu ke sini, betapapun hal ini harus kupikirkan."

Tapi ia lantas menghibur dirinya sendiri.

"Ah, kukira tidak mungkin dia berbuat begitu, dia hutang budi padaku, tidak nanti membalas air susu dengan air tuba."

Baru bicara sampai disini, mendadak kedua Goan bersaudara berlari masuk dan memberi lapor.

"Wah, Tocu, ada tiga buah kapal cepat sedang meluncur ke tempat kita"

Air muka Yap su-boh berubah seketika, cepat ia tanya.

"Apakah kapal dagang?"

"Bukan,"

Tutur Goan su-cong.

"Badan kapal tidak banyak terbenam kedalam air, jelas bukan kapal dagang yang memuat barang."

"Bagaimana keadaan di atas kapal?"

Tanya Yap Jing.

"Pada haluan setiap kapal itu berdiri tujuh lelaki kekar dengan pakaian ringkas, terdiri dari macam-macam orang, ada yang berdandan sebagai Tosu, ada juga Hwesio ... ."

"Nah, apa kataku, ayah, sekarang sudah terbukti bukan?"

Kata Yap Jing dengan gegetun.

"Jelas Kan Ciau-bu yang mengundang datang jago ketujuh aliran besar, setiap kelompok itu terdiri dari tujuh orang, itulah Jit-sing-tin yang telah mereka latih dengan baik untuk menghadapi kita."

Saking gusar Yap su-boh lantas tertawa malah, serunya.

"Ha ha, bagus Bocah itu benar-benar telah menjual diriku."

Sembari bicara ia sodorkan Yu Wi kepada Goan su-cong, lalu berkata pula.

"Kurung dulu dia, setelah musuh kita halau baru kita tanyai dia."

"Ayah,"

Seru Yap Jing dengan kuatir.

"jit-sing-tin mereka sangat lihai, akan lebih baik jika Yutoako disadarkan dan minta bantuannya."

Yap su-boh melenggong sejenak. katanya kemudian sambil menggeleng.

"Tidak. orang ini pasti tidak mau membantuku, apalagi Jit-sing-tin juga belum pasti dapat membikin susah diriku"

Habis berkata ia terus berlari pergi secepat terbang.

Yap Jing merasa kuatir, cepat ia menyusul sang ayah.

Kedua Goan bersaudara saling memberi tanda.

mendadak mereka melompat keluar kamar, berbareng pintu yang besar dan berat itu ditutup.

Kan Hoay-soan agak terlambat, dengan gelisah ia berteriak.

"Buka pintu, buka pintu"

"Setelah musuh kami halau tentu akan kami bebaskan kau,"

Seru Goan su-cong sambil bergelak tertawa diluar.

"Kemana Toakoku akan kalian bawa?"

Teriak Hoay-soan sambil meng gedor pintu.

Namun tidak ada jawaban diluar.

kedua Goan bersaudara sudah pergi.

Beberapa jam kemudian, kekuatan obat bius buyar sendiri dan Yu Wi telah sadar, ia melihat dirinya berbaring di suatu tempat tidur dekat dinding, cepat ia meronta bangun, tapi diketahuinya tangan dan kaki sendiri terikat dengan erat.

Sekuatnya ia meronta, sekarang tenaga kedua lengan Yu Wi sudah luar biasa, akan tetapi tali warna hitam gilap yang mengikat kaki dan tangannya tidak kendur sedikitpun, waktu ia pentang sekuatnya, tali kecil sebesar sumpit itu sampai ambles kedalam kulit dagingnya dan tali itu tetap tidak mau putus.

Yu Wi tidak berani meronta lagi, kuatir otot tulang sendiri mengalami cedera.

ia heran.

"Terbuat dari bahan apakah tali kecil ini, mengapa begini ulet? Kalau aku punya pisau tentu urusan akan beres."

Tapi setelah dipikir lagi, diam-diam ia menggeleng dan membatin "Tapi percuma juga meski ada pisau, jelas tali ini tidak mempan dipotong dengan pisau."

Hendaklah diketahui bahwa tenaga kedua lengan Yu Wi jauh lebih kuat daripada cara memotong tali dengan pisau, kalau rontakkannya tidak dapat membikin tali itu putus, jelas pisau juga tiada gunanya.

Waktu ia periksa ikatan tali itu, dilihatnya tali yang diikat mati itu sangat rajin dan rapat sehingga sukar dimengerti cara bagaimana mengikatnya.

Teringat kepada keselamatan Lim Khing-kiok.

tanpa terasa Yu Wi berguman sendiri.

"Ai, bagaimana baiknya sekarang. Apabila terjadi apa-apa atas diri adik Kiok. siapa yang akan menolongnya?"

Tiba-tiba dari kamar sebelah ada suara seorang perempuan menegurnya.

"He, siapa itu yang dikamar sebelah? Rasanya sudah kukenal suaranya?"

Yu Wi sendiri juga merasakan kenal suara orang perempuan ini, segera ia balas bertanya.

"Engkau sendiri siapa?"

Agaknya perempuan itu merasa kurang senang,jawabnya.

"Tidak perlu kubicara dengan kau."

Yu Wi merasa geli, ia pikir.

"Kau sendiri yang tegur diriku lebih dulu, tidak mau bicara juga tidak menjadi soal."

Ia coba memejamkan mata untuk mengumpulkan tenaga lebih kuat serta memikirkan cara untuk membuka ikatan tali itu.

setelah direnungkan, akhirnya ia menarik kesimpulan kalau tidak menemukan senjata pusaka jelas tidak dapat memotong tali ini, dan kalau tali ini tidak putus, jelas dirinya tidak mampu meninggalkan kamar tahanan yang tidak ada benda lain kecuali sebuah tempat tidur doang.

Setelah tepekur sejenak pula, mau-tak-mau teringat lagi olehnya akan keselamatan Lim Khingkiok.

gumamnya pula.

"Apabila adik Kiok jadi dicelakai, pasti akan kubunuh Yap su-boh untuk membalas sakit hatinya ... ."

Tiba-tiba perempuan di sebelah bertanya pula.

"He, ada permusuhan apa antara kau dengan Yap su-boh?"

Yu Wi tidak mau bicara dengan penghuni Mo-kui-to, maka dia tidak menjawabnya, ia hanya duduk termenung. Selang sejenak, perempuan itu menghela napas dan bertanya lagi.

"He, jangan-jangan kau pun orang tawanan didalam penjara ini?"

"Masa tempat ini penjara?"

Tanya Yu wi.

"Jika kau tidak percaya, boleh coba kau raba dindingnya,"

Kata perempuan itu.

Segera Yu Wi meraba dinding dan merasa keras dingin, baru sekarang diketahuinya kamar ini bukanlah kamar biasa melainkan terbuat dari dinding besi.

Ia pikir, sekalipun dinding baja juga tidak dapat mengurung diriku asalkan tali pengikat tangan dan kakiku ini dapat kubuka.

Didengarnya perempuan tadi berkata pula.

"Tadi kusangka kau ini penjaga penjara, maka tidak sudi kusebutkan namaku, tak terduga kita adalah tawanan yang senasib."

"Mengapa Yap su-boh mengurung seorang perempuan semacam kau di penjara berdinding besi seperti ini?"

Tanya Yu Wi. Perempuan itu menghela napas, katanya.

"Dia menahan diriku sebagai sandera untuk memeras uang tebusan dari ayahku."

Yu Wi merasa ragu, sebagai penguasa pulau, jelas Yap su-boh tidak terlalu memandang soal keuangan, ia coba tanya pula.

"Apakah ayahmu sangat kaya?"

"Sebagai seorang raja, sudah barang tentu ayahku kaya raya,"

Jawab perempuan itu.

"Raja?"

Seru Yu Wi terkejut. seketika teringatlah olehnya siapa perempuan ini, cepat ia berteriak.

"He, engkau adalah Hana, puteri kerajaan Iwu. Pantas rasanya sudah kukenal betul suaramu."

Selagi Yu Wi hendak memberitahukan siapa dirinya, tiba-tiba pintu kamar terbuka dan masuklah seorang siucai setengah baya, melihat sikapnya yang gagah itu secara naluri Yu Wi lantas tahu orang pasti Yap su-boh adanya.

Yap su-boh mendekatinya dan duduk ditepi pembaringan, katanya.

"Yu kongcu, tahukah kau siapa diriku?"

Yu Wi tidak menjawab, tapi lantas balas bertanya.

"Tocu, di manakah adik Kiok. Lim Khingkiok?"

"Dia sudah ikut pergi bersama Kan ciau-bu.

"jawab Yap su-boh.

"Waktu dia melihat Ciau-bu, disangkanya Ciau-bu adalah dirimu, maka tanpa sangsi dia ikut pergi bersamanya."

Seketika Yu Wi melenggong, timbul macam-macam perasaan yang sukar dilukiskan. Yap su-boh berkata pula.

"Jika sebelumnya kutahu bagaimana kepribadian Kan ciau-bu, tentu tidak kubiarkan nona itu dibawa pergi olehnya."

"O, memangnya ada apa? Dalam hal apa Kan ciau-bu kurang benar?"

Tanya Yu Wi.

"Tadi baru saja terjadi pertempuran sengit dipulau ini... ."

Belum habis Yap su-boh menutur, otak Yu Wi yang cerdik itu segera tahu apa yang terjadi, selanya.

"Yang menyerbu kemari itu apakah orang. ketujuh aliran besar?"

Yap su-boh terkejut, ia heran anak muda yang terkurung di dalam penjara ini mengapa tahu apa yang terjadi di luar, apakah mungkin sebelumnya orang sudah tahu pihak Jit-tay-kiam-pay akan menyerbu Mo-kui-to?

"Dari mana kau tahu?"

Demikian ia tanya. Dengan dingin Yu Wi menjawab.

"Bukan saja kutahu, bahkan dapat kupastikan bahwa kedatangan mereka adalah atas petunjuk Kan ciau-bu."

Yap su-boh menggeleng, katanya.

"Tapi Kan ciau-bu itu tidak termasuk di antara para penyerbu itu."

"Masakah dia begitu bodoh?"

Kata Yu Wi.

"Cukup baginya memberitahukan arah berlayar kepada pihak ketujuh aliran besar itu Apabila dia ikut kemari berarti dia kurang cerdik. Dia justeru tinggal jauh disana dan menunggu berita tentang babak-belurnya kedua pihak."

Dengan gegetun Yap su-boh berkata.

"Pandanganmu ternyata sama dengan anak Jing, kalian sama tahu ambisi Kan ciau-bu yang besar itu, hanya akulah yang sudah lamur sehingga tidak menyadari permainan kotornya. Ai, sungguh tidak punya perasaan orang she Kan itu, sudah kubantu dia menguasai Thian-ti-hu, tidak pantas dia bertindak demikian padaku."

Tanpa sungkan Yu Wi mendengus.

"Hm, ini namanya senjata makan tuan. merasakan akibat perbuatannya sendiri Memangnya kau kira dengan membantu dia dengan membunuh ibu dan adik tirinya sendiri, lalu dia akan berterima kasih padamu untuk selamanya. Tak kau pikir bagaimna bila dosanya membunuh ibu dan adik sendiri itu sampai diketahui orang luar, jika sehari dia tidak membunuh kau, jelas sehari pula hatinya takkan tenteram."

Yap su-boh terbahak-bahak. katanya.

"Bagus sekali caci-makimu, senjata makan tuan, memang betul senjata makan tuan dan merasakan akibat perbuatan sendiri"

Ia merandek sejenak. lalu berkata pula.

"Tapi intriknya telah gagal total, meski pihak Jit-tay-kiam-pay telah datang tujuh kali sembilan atau 63 orang, namun semuanya musnah kalau tidak tertawan ya terbunuh, pulau ini tidak terganggu sedikitpun."

"Tapi setelah kelompok ini akan menyusul lagi kelompok yang lain, anak Jit-tay-kiam-pay tersebar disegenap pelosok dunia ini, selanjutnya Mo-kui-to pasti tidak pernah aman lagi,"jengek Yu Wi.

"Hm, kepulauan ini sangat strategis, jika pihak Jit-tay-kiam-pay berani datang lagi, muncul satu bunuh satu, datang dua bunuh sepasang"

Teriak Yap su-boh.

"Ah, kukira tidak semudah itu,"

Kata Yu Wi.

"Jit-kiam-pay sudah berhasil menciptakan Jit-singtin, tidaklah gampang hendak kau bunuh habis mereka."

Yap su-boh terbahak, katanya.

"Huh, apa artinya Jit-sing-tin bagiku? sekali ini mereka datang sembilan barisan Jit-sing-tin dan seluruhnya ada 63 orang, tapi semuanya diluncurkan dalam waktu satu-dua jam saja."

Yu Wi sendiri sudah menyaksikan Jit-sing-tin, ia tahu barisan bintang tujuh itu sangat lihay dan berbeda dari pada barisan tempur umumnya, diam-diam ia menduga sekalipun pihak Mo kui-to berhasil menghancurkan para penyerbu, tentu dipihak sendiri juga mengalami banyak kerugian."

"Dan bagaimana dengan kerugian pihak kalian dalam pertempuran tadi?"

Demikian ia tanya. Seketika Yap su-boh tidak menjawab,"Jelas tidak sedikit anak buahnya yang menjadi korban"

Kesan Yu Wi terhadap Yap su-boh sangat buruk, maka dia sengaja berkata lagi.

"Untung yang datang cuma 63 orang, jika beberapa ratus orang apakah Tocu merasa mampu menghalau mereka?"

Yap su-boh berdiri termenung dengan pikiran kacau. Bagian 25 Yu Wi lantas berkata lagi.

Baca Juga: Tamu Aneh Bingkisan Unik Qing Hong

Baca Juga: Rahasia Si Badju Perak 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert