Eps 8 Pendekar Kembar - Gan KL
Baca online Pendekar Kembar - Gan KL
Cersil Pendekar Kembar - Gan KL.
"Toa ... Toako ... racun ... lukamu... ."
Yu Wi memandang telapak tangan sendiri, dilihatnya Hoat su-jin telah mendesak racun kebagian situ, ia tertawa, katanya.
"Adik Kiok. jangan kuatir, lukaku tidak berbahaya."
Khing-kiok mengangkat mukanya yang penuh air mata seperti bunga mawar kehujanan, sambi menggeleng ia berkata.
"Tidak. aku tidak percaya, luka racun sehebat ini masakah tidak berbahaya?"
"Meski racun ini sangat lihay, tapi di dunia ini masih ada satu orang sanggup menyelamatkan diriku,"
Kata Yu Wi.
"Oo? Maksudmu Hoat-su-jin? Tapi di ., . dia sudah pergi ..."
"Toa supek pergi ke mana?"
Tanya Yu Wi.
"He, dia Toa supekmu?"
Khing-kiok menegas. Yu Wi mengangguk, Lalu Khing-kiok menceritakan apa yang terjadi tadi.
"orang yang mencuri tulang jenazah itu pastilah It-teng Sin-ni,"
Kata Yu Wi dengan menyesal. Kembaii Khing-kiok menangis lagi.
"Jangan menangis, jangan menangis,"
Yu Wi menghiburnya.
"Tapi Toa supek sudah pergi, siapa lagi di dunia ini yang mampu menolong Toako?"
"Toa supek juga tidak dapat menyembuhkan lukaku yang beracun ini"
Khing-kiok berhenti menangis dan bertanya.
"Habis siapa yang mampu menolong Toako?"
"Orang ini tidak kau kenal, namanya seng-jiu-ii-lay Yok-ong-ya,"
Tutur Yu Wi.
"Ah, kalau begitu, marilah sekarang juga kita pergi mencarinya."
Ajak Khing-kiok dengan tidak sabar lagi.
Yu Wi mengiakan, segera ia melompat bangun, tiba-tiba badan terasa enteng dan gesit, tidak terpengaruh lagi oleh luka dipunggung itu.
Ia menjadi heran, pikirnya.
"Aneh, mengapa hanya semalam saja luka dalamku sudab sembuh seluruhnya?"
Setelah direnungkan, tahulah dia duduknya perkara.
Kiranya Hoat-su-jin telah mengerahkan tenaga dalam sendiri untuk mendesak racun dalam tubuhnya dan sekaligus juga telah menyembuhkan Lwesiang atau luka dalamnya.
Ia tidak tahu bahwa selain Lwesiang sudah sembuh, berbareng tenaga dalam sendiri juga telah bertambah kuat.
Diam-diam Yu Wi sangat berterima kasih kepada sang Toa supek.
Melihat tutup peti mati sang bibi tersingkir kesamping, cepat ia membetulkannya.
Ia merasa tutup peti mati itu sangat berat, mau-tak-mau ia memuji tenaga It-teng yang luar biasa sehingga dapat membongkar peti mati seberat itu tanpa diketahui oleh Khing kiok.
Yu Wi lantas menggandeng tangan Khing-kiok dan meninggalkan kuburan itu.
"Di manakah Yok song-ya berdiam?"
Tanya Khing kiok. Yu Wi mengeluarkan peta dan diberikan kepada Khing-kiok, katanya.
"Toa supek telah melukiskan tempat tinggal Yok-ong-ya dengan jelas dalampeta ini."
Khing-kiok membentang peta itu dan dibacanya. Tiba-tiba Yu Wi berkata.
"Marilah kita coba menjenguk Ang-locianpwe."
Lamat-lamat timbul firasat tidak enak dalam hati Yu Wi, segera ia mendahului berlari ke arah rumah warna merah itu.
setiba di depan rumah, ternyata pintu rumah merah itu sudah jebol.
segera Yu Wi menerobos ke dalam sambil berseru.
"Locianpwe ... Locianpwe... ."
Khing-kiok juga merasakan geagat tidak enak, sejenak kemudian dilihatnya Yu Wi keluar dengan membawa sesosok mayat yang kepalanya sudah pecah. Cepat nona itu menyongsong sambil berseru.
"Ang-pepek. Ang-pepek... ."
"Dia sudah meninggal,"
Kata Yu Wi dengan pedih.
"Dibunuh oleh It-teng."
Khing-kiok mengertak gigi saking gemasnya ucapnya.
"Sebab apa? Sebab apa dia membunuh Ang-pepek?"
Yu Wi mencucurkan air mata, katanya dengan pelahan.
"seb ... sebab Ang-pepek telah mengajarkan Hui-liong-poh padaku."
Mendadak teringat olehnya akan Lam-si-khek. cepat ia berseru.
"Dan masih ada pula dia"
Segera ia melompat kesana, berlari menuju ke tempat kediaman sijanggut biru.
Dari jauh sudah dilihatnya bangunan biru itupun sudah terbakar roboh, asap tampak masih mengepul.
Mayat si baju biru kelihatan menggeletak di tanah lapang didepan rumah, di sekelilingnya juga bergelimpangan anak murid perempuannya, semuanya kepala pecah dan otak berceceran, kematiannya sangat mengerikan.
Dengan menangis Yu Wi mengangkat jenazah sijanggut biru, dilihatnya di atas tanah tergores beberapa huruf besar yang berbunyi.
"siapa suruh kau memusuhi diriku?"
Yu wi berteriak dengan menengadah.
"Nikoh bangsat it-teng, dalam hal apakah dia memusuhi kau?"
Pelahan ia turunkan jenazah Lam-si-khek. lalu berlutut dan berkata.
"Masakah hanya karena Cianpwe mengajarkan Hoa-sin-ciang padaku, lalu bangsat It-teng membunuh mu?"
Ia mendekap di atas tanah dan menangis tergerung-gerung.
Melihat mayat murid Lam-si-khek yang terkapar di sekitar situ.
Khing-kiok jadi ingat akan kebaikan mereka tempo hari, tak tersangka belum lama berpisah dan kini bertemu lagi sudah dalam keadaan tidak bernyawa, tanpa terasa Khing-kiok juga mencucurkan air mata.
sesudah menangis sekian lama, Yu Wi merangkak bangun, digalinya tiga liang besar di depan rumah, lalu dengan hormat ia mengubur Ang-bau-kong dan Lam-si-khek pada liang pertama dan kedua, kemudian Khing-kiok mengubur mayat murid perempuan Lam-si-khek pada liang ketiga.
setelah mengubur jenazah-jenazah itu, Yu Wi berdiri di depan makam dan berseru dengan tekad bulat.
"Apapun juga aku pasti akan menuntut balas bagi para cianpwe."
Sebenarnya dia terus menganggap Thio Giok-tin sebagai It-teng sin-ni, tapi sekarang dia memandangnya sebagai Nikoh bangsat yang dosanya tak terampunkan.
setelah meninggalkan Tiam-jong-san, Khing-kiok menanggalkan baju kulit dan berkata.
"Marilah kita pergi ke Khay-yang dahulu."
Kota Khay-yang berdekatan dengan Kui ciu, kota propinsi Hunam, sebuah kota yang cukup ramai.
"Untuk apa ke Khay-yang?"
Tanya Yu Wi.
"Mencari Yok-ong-ya, apa lagi?"
Jawab Khing-kiok dengan tertawa.
"Mencari Yak-ong-ya?"
Yu Wi menegas dengan terkejut.
Dia mengira tempat tirakat seng-jin-ji-lay tentu dipuncak pegunungan yang tidak dikenal dan sukar dicari sehingga selama berpuluh tahun jejaknya tidak ditemukan orang, siapa tahu kalau tabib sakti itu justeru tinggal di kota Khay-yang yang ramai.
"Tempat kediaman Yok-ong-ya yang lain ternyata juga berada di kota ramai yang sangat terkenal,"
Tutur Khing-kiok pula.
"Ah, memang betul,"
Seru Yu Wi dengan tertawa.
"Untuk tirakat besar tempatnya adalah kota yang ramai. semula kukira Yok-ong-ya mengasingkan diri dipegunungan sunyi, nyata aku salah besar."
Toko obat paling terkenal di kota Khay-yang berada dipusat kota, merek tokonya ialah "Siausiau-yok-boh"
Atau toko obat "Kecil".
Namanya toko kecil, tapi toko obat ini sama sekali tidak kecil, luas tokonya dan ramainya pembeli boleh dikatakan sukar ditandingi toko obat yang paling besar sekalipun.
pada toko obat itu, suatu hari kedatangan dua muda-mudi yang berpakaian perlente, kedua tangan anak muda itu selalu tersembunyi di dalam lengan baju, waktu turun dari kudanya juga tidak menggunakan tangan.
Yang pemudi berwajah cantik, menunggang kuda yang sama bagusnya seperti kuda si pemuda, dia yang masuk ke toko obat itu dan berseru kepada pegawainya.
"Aku ingin bertemu dengan juragan kalian."
Dari belakang meja kasir keluar seorang tua renta dan menyambut nona cantik itu, katanya "Akulah juragannya."
"o, jika begitu kau inilah pemilik toko obat ini?"
Tanya pula si nona dengan tertawa.
"Ya, boleh dikatakan demikian,"
Ujar si kakek.
"Kalau betul pemilik toko katakan saja betul, kalau bukan ya bilang bukan, masa pakai jawaban demikian?"
Ujar si nona.
"Memangnya ada apa Anda mencari juragan pemilik sendiri?"
Nona itu menuding pemuda di belakangnya dan berkata.
"Kami datang dari kota raja, ada urusan bisnis besar harus berunding dengan juragan besar kalian."
Melihat kedua tangan si pemuda selalu terselubung di dalam lengan baju, sikapnya aneh, diamdiam si kakek menjadi sangsi jangan-jangan orang adalah utusan pihak istana raja, cepat ia menjawab dengan hormat.
"Berapa besarnya bisnis bolehlah dirundingkan bersamaku."
"Apakah kau mampu memberi keputusan?"
Tanya si nona dengan tertawa.
"Kalau cuma berharga sekitar ribuan tahil emas kiranya tidak menjadi soal,"
Ujar si kakek. Mendadak nona itu menjulurkan kesepuluh jarinya tanpa menyebut jumlahnya.
"Maksud Anda apakah bisnis sepuluh ribu tahil emas?"
Tanya si kakek. Nona itu menggeleng, jawabnya.
"Bukan sepuluh ribu, tapi sepuluh laksa tahil."
Si kakek melotot demi mendengar jumlah sebesar itu, ucapnya.
"Masakah benar ada bisnis sebesar itu?"
"Kau tidak percaya?"
Kata si nona sembari meraba tusuk kundai kemala pada sanggulnya.
si kakek dapat melihat tusuk kundai kemala itu mengeluarkan cahaya kemilau, kalau ditaksir sedikitnya bernilai ribuan tahil emas, ia pikir kalau tusuk kundai yang dipakai sehari-hari saja berharga setinggi ini, untuk bisnis sepuluh laksa tahil emas tentu juga urusan biasa.
setelah ragu sejenak.
lalu si kakek berkata.
"Meski akupun terhitung juragan toko obat ini. tapi bisnis sebesar ini tak dapat kuputuskan, harus dirundingkan dulu dengan juragan besar kami."
"Nah, masih ada juragan besar, jadi juragannya juragan, bukan?"
Ujar si nona. si kakek tidak menanggapi, katanya.
"Toko obat Kecil ini seluruhnya ada lima cabang, setiap cabang toko ada seorang kuasa, juragan besar menguasai seluruh lima toko cabang ini, untuk bisnis besar harus minta keputusan beliau."
"Ternyata betul memang juragannya juragan,"
Kata si nona dengan tertawa.
"Eh, apakah juragan besar berada disini."
"Tidak ada,"
Sahut si kakek sambil menggeleng. seketika lenyap wajah riang si nona. Kakek itu berkata pula.
"silakan nona berkunjung saja keempat toko cabang kami yang lain di Tay-tiok. siang-tam, Lam-leng dan Ki-ya, mungkin dapat berjumpa di sana."
"Masa tak dapat kau katakan dengan pasti jurangan besar kalian berada di mana?"
Tanya si nona.
"Toa lopan (juragan besar) memang biasa hilir mudik antara kelima kota yang terdapat toko kami, jadi sukar untuk dikatakan beliau berada dimana saat ini."
Tiba-tiba nona itu berpaling dan berkata kepada pemuda di belakangnya.
"Toako, marilah kita pergi ke Tay-tiok."
Setengah tahun kemudian kedua muda-mudi ini telah menjelajahi Tay-tiok, siang-tam dan Kiya, pada toko obat Kecil di tiga kota itu tetap tidak diketemukan sang juragan besar, tinggal kota Lam-leng saja yang terakhir.
Kota Lam-leng tcrletak dipropinsi Ciat Kang, setiba diwilayah Ciat Kang.
si nona berkata kepada pemuda itu.
"Toako, sekali ini kita pasti dapat menemukan dia."
"Berkat usahamu, adik Kiok,"
Sahut si pemuda dengan lemah.
Pasangan muda-mudi ini memang betul Yu Wi dan Lim Khing-kiok berdua yang sedang mencari pengobatan kepada Yok-ong-ya.
Khing-kiok tahu umumnya orang yang mengasingkan diri di tengah kota ramai paling pantang dikunjungi orang, maka mereka lantas pura-pura menyamar sebagai pedagang dari kota raja yang ingin berunding tentang bisnis.
Tapi sangat tidak kebetulan, berturut mereka sudah mengunjungi empat kota dan tidak menemukan Yok-ong-ya sehingga sudah makan tempo setengah tahun lamanya.
Racun yang semula terdesak dan berkumpul dibagian tangan Yu wi itu sukar dibendung lagi dan mulai menjalar keseluruh badan sehingga tenaga dalam hampir lenyap seluruhnya, bicara saja sukar.
syukur sepanjang jalan ia mendapat perawatan Khing-kiok, kalau tidak.
mana Yu Wi sanggup melanjutkan perjalanan ke Ciat Kang.
setiba di Lam-leng, toko obat Kecil itupun terletak dipusat kota.
setelah turun dari kudanya, Khing-kiok lantas masuk toko obat itu dan berseru.
"Juragan besar ada tidak?"
Waktu itu sang surya belum lama terbit, toko obat itu masih sepi, hanya seorang pegawai kecil berduduk disamping sana sedang main catur sendirian.
ia mengangkat kepala dan memandang Khing-kiok sekejap sambil membatin.
"Masih pagi begini ribut-ribut apa? Persetan"
Segera Khing-kiok mengulangi bertanya.
"Adakah Toalopan kalian?"
Tiba-tiba muncul seorang dan menegurnya.
"Apakah kalian mau beli obat? He, Tikus Kecil, layani mereka?"
Tikus Kecil adalah nama sipegawai kecil tadi, dia mendekati Khing-kiok dan bertanya.
"Ingin beli obat apa?"
Khing-kiok tidak menghiraukan pegawai kecil itu, tapi mencermati orang di sebelahnya, dilihatnya orang itu sudah tua dan pendek kecil, mukanya kurus, pakaiannya sederhana, tadi berduduk di kursi malas didalam sana sambil terkantuk-kantuk, Karena menyangka kakek pendek kecil ini juga cuma pegawai biasa, Khing-kiok tidak memperhatikannya lagi dan menjawab pertanyaan pegawai kecil tadi.
"Kami ingin membeli Ho-siuoh yang paling baik."
Pegawai kecil tadi menjulurkan lidah, katanya.
"Ingin membeli Ho-siu-oh yang paling baik, jika demikian aku tidak berani mengambil keputusan."
Buru-buru ia masuk ke ruangan dalam dan mengundang keluar seorang kuasa yang bermuka gemuk merah dan berpakain perlente.
Maklumlah, Ho-siu-oh termasuk bahan obat-obatan yang bernilai tinggi seperti halnya Jinsom (Ginseng), biasanya jarang ada yang berani beli Ho-siu-oh yang mahal itu.
setelah mengamat-amati Khing-kiok sejenak.
kuasa toko obat itu merasa pengunjung ini cukup mampu membeli Ho-siu-oh, ia lantas berkata.
"Ho siu-oh yang paling baik kebetulan tiada tersedia disini."
"Wah, lantas bagaimana, tujuan kami justeru harus membelinya untuk obat,"
Kata Khing-kiok.
"Meski tidak tersedia di sini, tapi dapat kami ambilkan dari tempat lain, entah nona perlu berapa banyak?"
Tanya kuasa itu dengan tertawa. Khing-kiok memperlihatkan lima jarinya dan berkata.
"Lima kati"
"Ah, jangan nona bergurau,"
Ucap kuasa toko itu.
"untuk obat masa perlu sampai lima kati?"
"Penyakit Toakoku sangat berat, memang perlu lima kati,"
Kata Khing-kiok dengan muka serius. Melihat si nona bicara dengan serius, cepat kuasa toko itu menjawab.
"Tapi, seketika mana dapat mengumpulkan lima kati Ho-siu-oh yang paling baik?"
Menurut perkiraannya, biarpun seluruh toko obat dipropinsi Ciat Kang dikumpulkan juga tiada tersedia lima kati Ho-siu-oh yang bernilai sangat tinggi itu. Khing-kiok lantas berkata.
"Toko obat Kecil sangat termashur ke seluruh negeri, masa tidak dapat mengumpulkan lima kati Ho-siu-oh? Coba pertemukan kami dengan Toalopan kalian-"
Mendadak si kakek kecil tadi menyela.
"Yang duduk di atas kuda itu apakah Toako nona?"
Khing-kiok mengangguk dan berkata pula.
"Toalopan kalian berada di rumah tidak?"
"Ada, ada,"
Cepat si kuasa tadi menjawab. Tiba-tiba si kakek kecil itu berucap dengan gegetun.
"Biarpun sepuluh kati Ho-siu-oh yang paling baik juga tidak dapat menyembuhkan penyakit Toakomu."
Terkejut Khing-kiok, ia pikir Toako duduk di atas kuda dan kakek bermuka jelek ini sudah tahu penyakitnya tidak dapat disembuhkan Ho-siu-oh, jangan-jangan kakek kecil inilah Toalopan toko obat ini, yaitu Yok-ong-ya?
Benar juga, si kuasa toko tadi segera menunjuk kakek kecil itu dan berucap.
"Beliau inilah Toalopan kami."
Sungguh tak tersangka oleh Khing-kiok bahwa kakek yang tidak menarik ini justeru benar Yokong-ya adanya, terbangkit semangat Khing-kiok, katanya dengan hormat.
"Kalau sepuluh kati Hosiu-oh tidak dapat menyembuhkan penyakit Toako, lain obat apa yang dapat menyembuhkannya?"
"Coba bawa dia kedalam,"
Kata si kakek sambil mendahului masuk ke ruangan dalam.
Khing-kiok memapah Yu Wi turun dan kudanya, karena gerak-geriknya tidak leluasa.
sejak tadi Yu Wi tetap berada diatas kudanya, sekarang mereka ikut si kakek ke belakang toko.
Tempat dibelakang toko sangat luas.
ada taman, ada kolam,jarang sekali dipusat kota terdapat halaman seluas ini.
Menyusuri taman bunga, sampailah mereka di depan sebuah kamar yang bersih dan sederhana.
si kakek kecil tadi sudah menunggu disitu, setelah mengantar kedua tamunya kesini si kuasa toko lantas mengundurkan diri Khing-kiok memapah Yu Wi kedalam dan didudukkan dikursi, ia sendiri berdiri di samping.
"Nona pun silakan dUdUk,"
Kata si kakek dengan tertawa. Khing-kiok menggeleng kepala dan berkata.
"Toakoku harus minta per ..."
"Jangan salah wesel, nona,"
Cepat si kakek menukas.
"orang tua tidak dapat menyembuhkan penyakitnya ."
"Habis cara bagaimana kau tahu penyakit Toako tak dapat disembuhkan Ho-siu-oh biarpun sepuluh kati sekaligus?"
Tanya Khing-kiok.
"Hal ini kan sangat sederhana,"
Uiar si kakek "wajah Toakomu kelihatan guram, inilah tandanya keracunan, siapapun tahu, meski Ho-siu-oh adalah bahan obat yang berharga, tapi tidak dapat digunakan menawarkan racun.
ini kan pengetahuan yang sangat sederhana."
"Lantas untuk apa kau undang kami masuk ke sini?"
Tanya Khing-kiok dengan kurang senang.
"Di toko obat kami ini akan segera kedatangan beberapa orang tabib, sebentar bila mereka datang tentu dapat memeriksa penyakit Toakomu dan mungkin akan membuka resep baginya,"
Kata si kakek dengan tertawa.
"Toakoku keracunan hebat, mohon engkau suka membuka resep obat penawarnya,"
Pinta Khing-kiok, si kakek terbahak, ucapnya.
"Aku? .... Mana bisa jadi? Aku sama sekali tidak paham ilmu pengobatan."
"Kau tidak paham? Habis siapa lagi yang paham?"
Jengek Khing-kiok.
"Yok song-ya, janganlah kau berlagak pilon lagi"
Air muka kakek kecil itu berubah, dengusnya.
"siapakah yang menyuruh kalian datang kemari?"
Khing kiok menguatirkan racun dalam tubuh Yu Wi akan segera kumat sehingga cara bicaranya rada kasar, sekarang setelah yakin yang dihadapinya ialah Yok-ong-ya, bintang penolong sang Toako mau-tak-mau ia bersikap tenang dan sopan, jawabnya dengan hormat.
"Toa supek kami yang memberi petunjuk agar kesini mencari Locianpwe."
"siapa kah Toa supek kalian?"
Tanya si kakek.
"Toa supek she Lau bernama Tiong-cu,"
Sambung Yu Wi. Air muka si kakek berubah tenang kembaii. ucapnya dengan tertawa.
"O, kiranya dia. Coba kemari, biar kuperiksa penyakitmu?"
Yu Wi lantas mendekatinya. Kakek itu berkata pula.
"Dia ternyata tidak melupakan diriku dan selalu mencarikan langganan bagiku. Coba ulurkan tanganmu, kuperiksa luka racunmu."
Yu Wi lantas menjulurkan tangannya yang hitam itu, pelahan kakek kecil meremas-remas tangannya sambil berucap.
"Ehm, tidak ringan penyakitmu."
Dari dalam baju lantas dikeluarkannya sebentuk tusuk kundai perak kecil, segera ia cocok telapak tangan Yu Wi, sejenak kemudian barulah dicabutnya tusuk kundai itu, lalu diciumnya hingga sekian lamanya, tiba-tiba air mukanya berubah pula, ucapnya sambil menggeleng.
"Racun inipun tak dapat kupunahkan-"
"Mengapa tidak dapat"
Tanya Khing-kiok dengan kuatir. Kakek kecil itu memandang dinding dengan termenung, katanya.
"Racun didunia ini bermacam ragamnya, mana bisa kuobati seluruhnya?"
"Tapi Toa supek menyebut engkau sebagai seng-jiu-ji-lay,"
Seru Khing-kiok.
"katanya asalkan dapat menemukan engkau penyakit Toako pasti dapat disembuhkan."
Kakek itu tidak menjawab. tapi bergumam sendiri.
"Lau toako, maafkan tak dapat kutolong sutitmu, habis siapa yang suruh dia terkena racun khas suhengku ...."
"Kau pasti dapat menyembuhkan racun Toakoku,"
Seru Khing-kiok dengan tidak sabar.
"engkau berjuluk Yok-ong-ya, pasti dapat mengobatinya, kau tidak boleh menolak dan tidak boleh mengelak...."
Sampai kata-kata terakhir itu, sikapnya berubah menjadi emosi hingga mirip orang kalap.
Maklumlah, jiwa Yu Wi baginya jauh lebih penting dari pada jiwa sendiri, semula ia jakin kalau Yok-ong-ya diketemukan, maka urusan akan menjadi beres.
siapa tahu jauh-jauh ke sini dan sudah bertemu dengan Yok-ong-ya, keterangan yang diperoleh adalah "tak dapat menyembuhkannya", tentu saja hal ini membuatnya hampir gila.
Karena ribut-ribut si nona.
si kakek kecil menjadi tidak tentram, mendadak ia berbangkit dan berkata dengan marah.
"Jelas aku tidak dapat mengobati dia, nah, lekas kalian pergi saja."
"Apakah kau sengaja tidak mau menolong Toakoku?"
Tanya Khing-kiok dengan sedih.
"Ya,"
Jawab si kakek.
"hendaklah kau kata kan kepada Toa supek kalian menurut ucapanku tadi, anggaplah aku telah mengecewakan dia, jika terpaksa dia akan memutuskan persahabatan kami yang sudah berlangsung berpuluh tahun juga tetap tak dapat kutolong Toakomu."
Mendadak Khing-kiok bergelak tertawa dan berkata.
"Hahaha,memangnya kenapa?"
Dengan muka kelam si kakek memberi tanda agar lekas meninggalkan tempatnya, katanya.
"Lekas pergi saja, tiada gunanya bertanya lagi Janganiah membuang waktu yang berharga, Toakomu masih bisa bertahan hidup tiga hari lagi, cepat berusaha mencari jalan lain untuk menyembuhkan dia."
Khing-kiok jadi putus asa, ucapnya.
"Apakah benar Toakoku hanya tahan hidup tiga hari saja?"
"Kuyakin ucapanku tidak akan keliru, nah, lekas pergi mencari akal lain,"
Kata si kakek.
"Hm, hanya tiga hari saja,"
Jengek Khing-kiok.
"Kalau Toako mati, akupun tidak ingin hidup lagi. Boleh sekali pukul kau binasakan diriku saja"
Habis berkata, tanpa berjaga tubuh sendiri, ia terus mendahului menghantam bagian maut si kakek kecil.
Hantaman itu kalau kena dengan tepat jiwa si kakek pasti akan melayang.
Keruan ia menjadi gusar dan berteriak.
"Apakah benar kau tidak ingin hidup lagi?"
Dengan tangan kiri ia menangkis, tangan kanan terus menutuk Hiat-to penting tubuh Khingkiok. Tampaknya hampir kena sasarannya, mendadak ia tarik kembaii tangannya dan berseru.
"Tidak lekas pergi saja?"
Khing-kiok seperti tidak menyadari bahwa baru saja jiwanya hampir melayang, dia masih tetap melancarkan pukulannya tanpa menghiraukan keselamatan sendiri, bahkan berseru pula.
"Yok song-ya . lekas kaupukul mati aku saja dan penuhilah keinginanku."
Si kakek sangat gusar, ia tutuk Hiat-to kelumpuhan Khing-kiok.
"bluk."
Nona itu jatuh terbanting ketanah dan tak bisa berkutik lagi. Melihat itu, sekuatnya Yu Wi mendekati Khing-kiok dan mengangkatnya. Tubuh Khing-kiok tak bisa bergerak, tapi mulut berteriak.
"Toako, tidak boleh kau gunakan tenaga."
Segera si kakek juga membentak.
"Apakah kau cari mampus? Kau ingin mati lebih cepat?"
Tapi sekata pun Yu Wi tidak bersuara.
dengan gagah ia pondong Khing-kiok dan dibawa meninggalkan toko obat itu dengan pelahan.
si kakek terus mengikut di belakangnya dari jarak dekat, katanya berulang-ulang.
"Jangan, jangan menggunakan tenaga, lepaskan dia, turunkan dia". Hendaklah maklum bahwa racun dalam tubuh Yu Wi sekarang sudah menyebar keseluruh tubuh, asalkan dia menggunakan tenaga, bekerjanya racun akan bertambah cepat, dan kalau racun menyerang jantung, seketika pula jiwanya akan tamat. Khing-kiok tahu sang Toako sudah bertekad untuk mati, ia pikir.
"Diriku toh pasti akan mati bersama dia, berapa lama lagi dia akan mati, waktu itupun aku akan mati, kenapa aku mesti banyak berkuatir lagi?"
Karena pikiran ini, hati menjadi lapang, ia mendekap dalam pelukan Yu Wi dengan diam saja. Pelahan Yu Wi berjalan sampai diluar toko obat, sikakek berteriak memperingatkannya.
"Caramu berjalan dengan mengeluarkan tenaga, tidak lebih seratus langkah tentu jiwamu melayang."
Dengan napas terengah Yu Wi menoleh dan menjawab.
"Terima kasih atas perhatian Anda"
Habis bicara, untuk melangkah lagi rasanya sangat sulit. pada saat itulah mendadak terdengar di kejauhan ada orang berteriak.
"Sit-sim-li, sit-sim-li, lihatlah sit-sim-li (perempuan kehilangan hati)...."
Yu Wi merasa heran oleh nama yang aneh itu. masa ada orang bernama sit-sim-li? Dalam pada itu si kakek telah menyusul sampai di belakang Yu Wi dan berkata.
"Meski tidak dapat kusembuhkan racunmu, tapi dapat kubantu mencegah menjalarnya racun sehingga selama sebulan takkan bekerja, dalam tempo sebulan dapat kau cari orang untuk menyembuhkan penyakitmu."
Tapi Yu Wi sama sekali tidak memperhatikan ucapan si kakek yang dipikir adalah nama sit-simli yang aneh itu Dilihatnya didepan sana berkerumun orang banyak, entah siapa yang dikerumuni, hanya terdengar orang-orang itu sama berteriak.
"Lekas kemari melihat sit-sim-li...."
Setelah kerumunan orang banyak itu mendekat. Dapatlah Yu Wi mendengar di tengah gerembolan orang banyak itu suara seorang perempuan lagi berseru.
"Hatiku, hatiku, di mana hatiku?...."
Yu Wi merasa suara orang sudah sangat dikenalnya, diam-diam ia merasa heran.
"siapa kah sitsim-li ini? Rasanya suaranya sudah kukenal."
Dalam pada itu si kakek kecil sedang berkata pula.
"Toa supekmu adalah sahabatku, tidak boleh sama sekali tidak kuhiraukan dirimu, lekas ikut masuk lagi bersamaku"
Mendadak gerombolan orang banyak itu menjerit kaget dan berlari kalang kabut, seorang diantaranya berlari kearah Yu Wi, tapi mendadak ia jatuh terjungkal dan tidak bangun lagi.
Si kakek kuatir orang ini akan menumbuk Yu Wi, cepat ia membangunkannya, tapi mendadak terlihat luka pada lehernya, ia menjerit kaget.
"Hah-Gu-mo-thian-ong-ciam (jarum raja langit sehalus bulu kerbau)."
Mendengar istilah "Gu-mo-thian-ong-ciam"
Itu, hati Yu Wi tergetar.
dilihatnya kerumunan orang banyak telah bubar, tertampak si perempuan sit-sim-li yang dikelilingi tadi berjalan ke sana dengan langkah sempoyongan-terdengar gadis itu berteriak teriak sambil berjalan-"Hatiku...hatiku di mana?"
Waktu Yu Wi mengamatinya lebih seksama, dilihatnya gadis kehilangan hati itu sangat cantik memakai baju sutera putih yang sudah robek.
makin dipandang Yu Wi merasa orang memang sudah dikenalnya.
Mendadak ia dapat mengenali sit-sim-li itu, kaki Yu Wi terasa lemas, jeritnya.
"He, kau....belum lanjut ucapannya.
"bluk."
Ia jatuh terkulai. sekali jatuh Yu Wi tidak sanggup bangun lagi cepat si kakek kecil hendak memayangnya bangun tapi Yu Wi lantas berkata.
"Yok-ong-ya, kumohon sesuatu padamu."
Kakek kecil itu alias Yok-ong-ya menjawab "Tidak perlu kau mohon padaku, pasti akan kucegah menjalarnya racun dalam tubuhmu, di dunia ini orang yang dapat menyembuhkan dirimu tidak cuma aku saja seorang."
Yu Wi menggeleng kepala, katanya.
"Jangan kaupikirkan diriku, kumohon sudilah engkau menolong sit-sim-li itu."
"orang gila seperti itu, untuk apa kutolong dia?"
Ujar Yok-ong-ya.
"Biarpun tidak kau tolong diriku sedikitpun aku tidak menyesal,"
Kata Yu Wi pula dengan pedih.
"tapi sukalah Yok-ong-ya mengingat Toa supek dan sudilah menyelamatkan sit-sim-li itu."
"sedemikian kau perhatikan gadis tidak waras itu, memangnya dia pernah apamu?"
Tanya Yokong-ya.
"Dia adalah adik perempuanku,"jawab Yu Wi. Yok-ong-ya tampak tercengang, segera ia memburu ke sana, ia tutuk Hiat-to si nona kehilangan hati itu, lalu dikempitnya dan dibawa lari kembaii. Caranya memburu kesana, menutuk dan berlari kembaii, serentetan perbuatan ini dilakukannya dalam sekejap saja, boleh dikatakan secepat kilat. hampir tidak ada orang lain yang dapat mengikutinya dengan jelas kecuali Yu Wi. Menyaksikan sit-sim-li itu telah dibawa masuk ke dalam toko obat oleh Yok-ong-ya, legalah hati Yu Wi, tapi pandangannya menjadi gelap. berjongkok saja tidak kuat lagi, ia jatuh terkapar dan tidak sadar lagi. Khing-kiok yang ikut terjatuh di sebelah sana berseru kuatir.
"He, Toako Toako"
Ia mengira sang Toako telah mati, ia menjadi putus asa dan tidak mau hidup sendiri, tapi Hiatto tertutuk dan tak dapat bergerak.
terpaksa ia hanya memandangi Yu Wi yang menggeletak disampingnya dengan air mata berderai.
sesudah mengatur sit-sim-li di ruangan belakang, kemudian Yok-ong-ya keluar lagi kedepan, ketika dilihatnya Yu Wi jatuh pingsan di tepi jalan, hatinya tergetar, cepat ia mendekatinya .
Ia pegang nadi anak muda itu, diketahuinya Yu Wi belum mati, diam-diam ia menghela napas lega.
segera ia berseiu.
"Tikus Kecil, kenapa kau biarkan tamu jatuh pingsan di depan toko. Ayo lekas dibawa masuk kedalam"
Cepat si pegawai kecil tadi berlari keluar, sekuatnya ia memondong Yu Wi ke dalam. Yok-ong-ya berlagak tidak terjadi apa-apa. katanya.
"Jalan pelahan, jangan sampai terbanting jatuh "
Sembari bicara, tanpa menoleh tangannya menutuk ke belakang untuk membuka Hiat-to kelumpuhan Khing-kiok. segera nona itu melompat bangun dan berseru.
"Kembalikan Toakoku."
Ia terus hendak memburu ke dalam untuk merampas kembaii Yu Wi yang dibawa masuk oleh si Tikus Kecil tadi. Tapi Yok-ong-ya lantas menghardiknya dengan suara tertahan.
"jangan sembrono Toakomu belum mati"
"Apa betul?"
Seru Khing-kiok kuatir dan girang.
Yok-ong-ya hanya mengiakan dengan pelahanlalu melangkah masuk ke ruangan belakang.
Hati Khie-kiok merasa lega.
ia mengusap air mata dan ikut di belakang Yak-ong-ya.
setiba didalam rumah tadi, dengan serius Yok-ong-ya berkata kepada Khing-kiok.
"Jika kau ingin menyelamatkan Toakomu. kau harus turut kepada perkataanku."
"Silakan Locianpwe memberi perintah, apapun akan kuturut,"jawab Khing-kiok dengan menahan air mata terharu. Yok-ong-ya menghela napas. katanya.
"Jangan keburu bergirang dulu, nona. Aku hanya dapat menyelamatkan jiwa Toakomu untuk beberapa bulan saja, dalam waktu beberapa bulan ini kalian mencari jalan lain, kalau tidak. apabila racun di tubuhnya bekerja lagi, pasti sukar ditolong."
Seketika wajah Khing-kiok berubah sedih pula, katanya.
"Menolong orang harus sampai tuntas, apakah Cianpwe tidak dapat menawarkan racun Toakoku sekaligus?"
Yok-ong-ya menggeleng, katanya.
"Kalau bisa tolong tentu sejak mula sudah kutolong, jika racun yang mengenai Toako adalah racun jenis lain, tanpa kau minta tentu akan kusembuhkan. Tapi, ai. justeru racun inilah , ..."
Sampai di sini ia menghela napas dan menggeleng pula, lalu menyambung.
"Pendek kata, dahulu aku sudah pernah bersumpah tidak mau menawarkan racun yang diidap Toako itu, maka bagaimana pun kau mohon juga tak kupenuhi."
"sebab apa?"
Tanya Khing-kiok dengan kuatir dan bingung.
"sebabnya ... Ai, untuk apalagi mengungkitnya lagi, apa yang sudah lampau biarlah berlalu. Eh, kenapa si Tikus Kecil belum lagi membawakan peralatan yang diperlukan."
Belum lenyap suaranya tertampak si Tikus Kecil sudah muncul. serunya dengan wajah bersungut.
"Wah, Toalopan, gentong air itu tidak kuat kami gotong bertiga."
Yok-ong-ya menggeleng kepala dan mengomel.
"Sungguh tidak becus, masakah tiga orang tidak mampu menggotong gentong itu."
Buru-buru ia keluar, tidak lama kemudian, dengan satu tangan dia mengangkat sebuah gentong besar masuk kesitu.
Gentong air itu hampir setinggi satu orang, untuk tempat air, mungkin cukup buat diminum belasan hari oleh satu keluarga.
Di belakang Yok-ong-ya mengikut pula tiga pegawai toko obat yang lain, masing-masing membawa dua kaleng cuka, begitu kaleng cuka mereka taruh dilantai, segera Yok-ong-ya mendesak.
"Lekas menimba air, lekas"
Begitulah ketika pegawai itu terus silih berganti keluar masuk mengisi gentong besar itu dengan air jernih, mereka harus bekerja keras hingga mandi keringat dan baru dapat mengisi setengah gentong.
"Lekas usung kayu bakar dan batu bata,"desak pula Yok-ong-ya. setelah kayu bakar dan bata disediakan, Yok-ong-ya sendiri lantas menumpuki bata itu hingga berbentuk sebuah tungku darurat, gentong besar yang berisi air itu lantas ditaruh di atas tungku. kemudian dituangi dengan cuka. Menyaksikan kesibukan Yok-ong-ya itu, Khing kiok coba bertanya.
"Untuk apakah semua ini?"
"Jangan urus, bantu saja menyalakan api, lekas, lekas"
Kata Yok-ong-ya.
Baru saja Khing-kiok menyalakan api tungku, Yok-ong-ya lantas memondong Yu Wi, dengan gerak cepat ia membelejeti pakaian Yu Wi hingga telanjang bulat.
Menyaksikan itu, keruan muka Khing-kiok menjadi merah malu.
selagi nona itu merasa bingung, didengarnya Yok-ong-ya mendesak pula.
"Lekas kipas. besarkan nyala api"
Seperti kena ilmu sihir saja, Khing-kiok menuruti segala perintah kakek kecil itu, segera ia mengipas sekuat dan secepatnya. Tapi segera ia berteriak kuatir.
"HHe, jangan-jangan Toako akan terebus"
Dengan serius Yok-ong-ya berkata.
"Jika ingin menolong Toakomu, semakin besar api yang berkobar semakin baik."
Karena keterangan ini, segera Khing-kiok mengipas secepatnya, hanya sejenak saja api lantas berkobar dengan kerasnya.
"Nah, bagus"
Kata Yok-ong-ya.
"Awas, harus tambah kayu jika api kurang besar, jaga yang betul, api tidak boleh kecil, apa lagi padam."
Waktu Khing-kiok berhenti mengipas, Yok-ong-ya memberinya dua botol obat, katanya.
"sebentar bila air mendidih. cepat keluarkan Toakomu. ..."
Mengingat Toako dalam keadaan telanjang, cara bagaimana dirinya akan menggotongnya keluar dari gentong, tanpa terasa ia menunduk malu sehingga tidak memperhatikan apa yang diucapkan Yok-ong-ya.
orang tua itu lantas berseru pula.
"Hei, dengar tidak ?Jangan sampai Toakomu telanjur terebus oleh air mendidih. bisa runyam nanti."
Akhirnya Khing-kiok mengertak gigi, pikirnya.
"Toako sudah menjadi suamiku kenapa mesti malu segala?"
Ia lantas mengangkat kepala dan mendengarkan pesan Yok-ong-ya. setelah berdehem, kakek itu berkata pula.
"Nah, setelah digotong keLuar nanti, suapi dia dua senduk cairan obat dalam botol hitam itu. obat didalam botol putih digunakan untuk menggosok sekujur badan Toakomu. Jangan lupa, gosok hingga rata, kalau tidak, nanti kalau dimasukkan lagi kedalam gentong, dia benar-benar bisa menjadi manusia rebus."
Bahwa dirinya disuruh menggosok sekujur badan sang Toako dengan obat dalam botol putih itu, hati Khing-kiok lantas berdebar-debar.
Tapi demi kepentingan Toako, sedapatnya ia menahan perasaannya, tanyanya.
"Dengan begitu, Toako harus dgodok berapa kali?"
"satu hari tiga kali, sedikitnya harus digodok selama tiga hari berturut-turut,"
Tutar Yok-ong-ya.
"ingat, setiap hari harus ganti air cuka dalam gentong. tiga hari kemudian jiwa Toakomu dapat bertahan lagi selama beberapa bulan."
Dari pesan orang tua itu Khing-kiok merasa orang sengaja menyuruhnya bekerja sendirian, segera ia tanya.
"Dan cianpwe hendak ke mana?"
"Aku tidak pergi ke mana-mana,"jawab sikakek.
"dalam beberapa hari ini harus kusembuhkan gadis sit-sim-li itu, terpaksa. kau sendiri yang harus merawat Toakomu Pegawaiku mungkin tak dapat bekerja teliti dan tidak dapat banyak membantu, tetapi mengenai pekerjaan ganti air dan sebagainya boleh suruh mereka mengerjakannya."
Khing-kiok mengangguk teringat pada apa yang akan dilakukannya selama tiga hari berturutturut ini, tanpa terasa muka menjadi merah dan jantung berdetak pula.
setelah memberi pesan seperlunya, lalu Yok-ong-ya meninggalkan ruang kerja itu ke kamar lainnya.
sembari menambah kayu bakar Khing-kiok juga memperhatikan keadaan di dalam gentong, satu jam kemudian, tertampaklah uap mulai mengepul dari dalam gentong, ia tahu air sudah hampir mendidih, segera ia menahan perasaan yang berdebur itu dan menyeret Yu Wi keluar dari gentong dalam keadaan telanjang bulat.
Ia baringkan Yu Wi di dipan, dituangnya obat dari botol hitam, dilihatnya anak muda itu dalam keadaan pingsan, ia menjadi bingung cara bagaimana menyuapinya.
Terpikir olehnya tempo hari sang Toako juga pernah merawat sakitnya, seketika timbul kasih sayangnya, segera ia mengumur cairan obat terus diloloh ke dalam mulut Yu Wi.
Selesai melolohi dua senduk obat, kembaii Khing-kiok ragu-ragu lagi, ia pegang botol putih dengan terkesima dan lupa menggosok badan Yu Wi dengan obat itu pada saat itulah terdengar seorang berkata di luar kamar.
"siocia, ini santapannya. ditaruh di mana?"
Khing-kiok menoleh, kiranya si Tikus Kecil mengantarkan makan siang baginya, cepat ia mengambil selimut untuk menutupi tubuh Yu Wi, dengan muka merah ia menjawah.
"Taruh saja di atas, sebentar kumakan sendiri"
Si Tikus membawa makanan untuk dua orang. dia menaruh makanan itu lalu berkata.
"Kalau perlu apa-apa, panggil saja si Tikus."
"Baiklah, sebentar lagi boleh kau datang lagi,"
Kata Khing-kiok.
sesudah si Tikus pergi, Khing-kiok kuatir tertunda terlalu lama, terpaksa ia kesampingkan rasa malunya, cepat ia menuang cairan obat botol putih dan mulai menggosok sekujur badan Yu Wi.
Tidak lama kemudian selesailah dia menggosok tubuh Yu Wi dengan obat, meski bukan pekerjaan berat, tapi Khing-kiok telah mandi keringat, mungkin karena tegangnya perasaan hingga membuatnya berkeringat.
setelah hati mulai tenang, lalu Khing-kiok menaruh Yu Wi lagi kedalam gentong, ia tambahi kayu bakar pada api tungku, lalu berduduk memandangi santapan-santapan yang disediakan, meski perut sudah lapar sejak tadi, tapi tidak ada nafsu makan-ia hanya menyumpit beberapa kali, lalu memperhatikan air godokan dalam gentong.
si Tikus Kecil datang lalu membersihkan mangkuk piring serta bebenah sisa makanan dan dibawa pergi.
sehari tiga kali mengganti air gentong, sampai hari kedua, pada ketiga kalinya waktu Khing-kiok mengeluarkan Yu Wi dari gentong, anak muda itu mulai mengeluarkan suara rintihan-Khing-kiok bergirang, cepat ia membaringkan anak muda itu dan menyuapi cairan obat dan menggosok tubuhnya.
Selesai semua itu, Khing kiok mengusap keringat dan menghela napas lega.
dilihatnya Yu Wi membuka mata dan berkata.
"Adik Khing. bikin repot padamu"
Muka Khing kiok menjadi merah, tadi ia mengira anak muda itu masih pingsan, tak tahunya ketika merintih Yu Wi sudah sadar, cuma dirasakan tubuh sendiri telanjang bulat, ia merasa tidak enak untuk membuka mata, maka membiarkan Khing kiok menggosok tubuhnya habis itu barulah ia membuka mata.
Dengan malu Khing kiok menutupi mukanya dan berseru.
"Ah, Toako busuk. Toako jahat ..."
Diam diam ia pikir Toako sudah siuman, tapi sengaja membiarkan orang menyuapi mulutnya dan menggosok tubuhnya, jelas membuatnya kikuk.
Tertengar Yu Wi berkata dengan gegetun-"Adik Khing meladeni diriku sedemikian baik, selama hidup takkan kulupakan-..."
Khing-kiok membuka mukanya dan berkata dengan sungguh-sungguh.
"Antara kita masa perlu cara tentang melupakan dan tidak? Toako sendiri kan juga pernah meladeni diriku?"
"Di manakah Yoksong-ya?"
Tanya Yu Wi.
"dia mulai mengobati gadis sit-sim-li itu,"
Tutur Khing-kiok. Yu Wi memandangi langit-langit kamar dan berdoa.
"syukur dan terima kasih kepada Thian Maha Pemurah, kalau Yok-ong-ya mau mengobati dia. tentu dia akan sembuh."
Dengan suara pelahan Khing-kiok tanya.
"siapa nona sit-sim-li itu? Apakah benar adik Toako?"
Yu Wi menoleh dan menjawab.
"Apakah kau masih ingat peristiwa di Thian-ti-hu?"
Dahulu Yu Wi pernah menceritakan apa yang dialaminya setelah meninggalkan Hek-po, semua masih diingat dengan jelas oleh Khing-kiok. maka ia mengangguk dan menjawab.
"Urusan Toako mana bisa kulupakan."
"Dan Toakongcu dari Thian-ti-hu yang kuceritakan serupa dengan wajahku itu, apakah kaupun masih ingat?"
Tanya Yu Wi pula.
Kiranya sejak meninggalkan Ma-siau-hong, agar membikin pikiran Khing-kiok seolah-olah sudah kenal Kan Ciau-bu, supaya kelak dapat merangkapkan perjodohan mereka, maka Yu Wi sering bercerita tentang pengalamannya di Thian-ti-hu dahulu, terutama.
dia suka menyebut tentang kebaikan Kan-ciau-bu kepadanya.
Begitulah maka Khing-kiok lantas menjawab.
"Tentu saja masih ingat, kau sering bercerita tentang dia, hanya saja aku tetap tidak percaya di dunia ini ada orang yang mirip benar dengan Toako."
"Bila kelak kau bertemu dengan dia tentu kau akan percaya,"
Kata Yu Wi.
"Dan sit sim-li itu ialah adik perempuannya, namanya Kan Hoay-soan-"
Khing-kiok berseru kaget.
"Hah,jadi dia itu puteri Thian-ti-hu? Tapi mengapa dia berubah menjadi begitu?"
Yu Wi menghela napas, ucapnya dengan sedih.
"Ya, akupun tidak tahu apa sebabnya... ."
Berulang-ulang ia menghela napas, jelas prkirannya sangat kusut. Melihat sang Toako bersedih, Khing-kiok berkata pula.
"Kau bilang kepada Yok-ong-ya bahwa sit-sim-li adalah adik perempuanmu, jangan jangan karena wajahmu mirip kakaknya, maka dalam hati tanpa terasa juga menganggapnya sebagai adik?"
"Ah. karena ditanya Yok-ong-ya, maka kujawab sekenanya, waktu menyamar menjadi Toakongcu di Thian-ti-hu, karena tidak tahu, Hoay-soan selalu memanggil Toako padaku, dengan sendirinya akupun menganggapnya sebagai adik."
"Di dunia inijarang ada yang berwajah sama, Kan ciau-bu benar mirip Toako, sampai anggota keluarganya juga tidak tahu membedakannya, kukira... kukira antara kalian pasti ada... ada hubungan darah."
Yu Wi menggeleng, katanya.
"Tidak, tidak mungkin-Leluhurku berasal dari soasay, sedang kan leluhur Kan ciau-bu berada di Kimleng, jarak kedua tempat ada ribuan li jauhnya, mana bisa terjadi hubungan darah?"
Khing-kiok tertawa, katanya.
"sungguh bodoh Toako ini, jauhnya tempat masa dapat merintangi hubungan perasaan. Betapapun jauh jaraknya kan dapat didatangi orang, asalkan kedua pihak suka sama suka, saling cinta, di manapun dapat bertemu."
"Jika demikian, apakah mungkin Kan ciau-bu adalah anak ayahku sehingga mukanya bisa serupa dengapku?"
Dengan muka merah Khing-kiok berkata.
"Hal ini memang sukar ... sukar dipastikan. Bisa jadi ... bisa jadi kalian adalah saudara kembar, begitu lahir lantas dipisahkan, Kan ciau-hu dibesarkan di Thian-ti-hu ..."
"Tidak mungkin, tidak mungkin terjadi,"
Ujar Yu Wi.
"Usia Kan ciau-bu selisih tiga tahun dari padaku, aku dan dia tidak mungkin saudara kembar. Menurut pendapatmu, mungkinkah dia juga putera ayahku?"
Muka Khing-kiok bertambah merah, dalam hati lamat-lamat timbul perasaan bahwa hal itu bukan mustahil terjadi, tapi mengingat hanya kalau ayah Yu Wi harus bermesraan dengan ibu Kan ciau bu baru dapat melahirkan Toa kongcu Thian ti-hu itu, bila hal ini dibicara kan oleh anak perempuan seperti dia, tentu saja membuat mukanya merah.
Mendadak terlintas dalam benak Yu Wi mengenai perempuan berbaju hitam dengan rambut panjang yang dilihatnya didaerah terlarang Thian-ti-hu itu, bukankah wajah perempuan itupun mirip dengan dirinya?
Jangan-jangan perempuan itupun famili terdekat dirinya?
Bepikir demikian, dada Yu Wi terasa panas.
seperti diketahui, perempuan berbaju hitam sudah dua kali menyelamatkan jiwanya.
satu waktu dia kabur dari kejaran orang Jay-ih-kau dan kedua kalinya waktu dia minta pengobatan pada su Put-ku di siau-ngo-tay-san.
Dua kali pertolongan itu menimbulkan perasaan aneh dalam hati Yu Witerhadap perempuan berbaju hitam itu, diam-diam ia menganggapnya sebagai orang tua yang mencintainya dan melindungi dirinya.
Kalau dipikir lagi sekarang, wajah perempuan itu rasanya memang sangat mungkin ada hubungan kekeluargaan dengan dirinya.
seketika ia jadi kesima merenungkan pengalamannya dahulu.
Melihat sang Toako termenung, Khing-kiok jadi kuatir kalau-kalau anak muda itu akan linglung, cepat ia berseru.
"Toako ... Toako ... ."
Setelah dipanggil beberapa kali barulah Yu Wi sadar dari lamunannya.
"Ada apa?"
Tanyanya.
"Janganlah Toako memikirkan lagi,"
Kata Khing-kiok.
"Di dunia ini memang banyak kejadian yang kebetulan, bintang luncur dilangitpun kadang saling bentur, antara manusia dan manusia itu juga bisa terjadi mirip muka."
Dahulu Yu Wi tidak pernah memikirkan tentang kemiripan si perempuan baju hitam dan Kan ciau-bu dengan dirinya, kini demi teringat hal-hal itu, seketika hati merasa mengganjal dan sukar dihilangkan.
Ia pikir kejadian kebetulan didunia memang banyak, tapi.
kalau ada wajah tiga orang sama sekaligus tanpa sesuatu hubungan apa-apa, rasanya terlalu kebetulan kejadian ini.
Apalagi setiap tahun perempuan baju hitam itu pasti berziarah kemakam ayah Kan ciau-bu, darimana pula ia tahu jalan masuk-keluar daerah terlarang Thian-ti-hu itu, di dalam persoalan ini pasti mengandung sesuatu rahasia maha besar, tapi siapakah yang mengetahui?
Begitulah persoalan aneh itu terus berkecamuk dalam benak Yu Wi.
setelah berpikir lama dan lelah.
tanpa terasa iapun tertidur.
Entah tidur berapa lama lagi, lamat-lamat ia dibangunkan dan terdengar suara Khing-kiok berseru.
"Toako, Toako, bangun makan"
"Waktu apa sekarang?"
Tanya Yu Wi.
"Hari sudah gelap. nyenyak benar tidur Toako, sudah tertidur dua hari masakah belum cukup?"
Ujar Khing-kiok dengaa tertawa.
"Apakah Yok-ong-ya belum kemari?"
Tanya Yu Wi.
"Belum, juga tidak terdengar suaranya,"
Tutur Khing-kiok.
"Aneh, mengapa belum selesai mengobati orang sakit selama dua hari?"
Bagian 19
"Bisa jadi penyakitnya sangat ruwet dan memerlukan waktu pengobatan yang lama, biarlah, jangan kita ganggu dia."
Yu Wi mengiakan. Tiba-tiba Khing-kiok mendengar suara keruyukan dalam perut anak muda itu, ia tertawa geli. Tentu saja Yu Wi merasa kikuk, katanya.
"Lapar benar perutku."
"Pantas juga kalau lapar, sudah dua hari kau tidak makan sebulir nasi pun,"
Kata Khing-kiok dengan tertawa.
"Ayolah. Lekas bangun dan makan."
Yu Wi menggerakkan tubuhnya, tapi tidak dapat bangkit.
"Ayolah lekas bangun,"
Seru Khing-kiok pula.
"Aku tak dapat bangun,"
Yu Wi menggeleng.
"Kenapa tidak dapat?"
Khing-kiok menjadi kuatir.
"Seluruh tubuhku tiada tenaga sedikitpun,"
Kata Yu Wi.
"Ah, benar,"
Kata Khing-kiok.
"Menurut Yok-ong-ya, kau harus digodok selama tiga hari. sebelum genap tiga hari Toako belum dapat bergerakl. Jika demikian, biarlah kusuapi kau, boleh kau tetap berbaring saja."
Semalaman itu berlalu lagi. esok paginya si Tikus telah mengganti air cuka gentong dan menyediakan kayu bakar lagi. Khing-kiok membangunkan Yu Wi, serunya.
"Dapatkah Toako bergerak sekarang?"
"Tetap belum bisa,"
Sahut Yu Wi dengan gegetun. Khing-kiok menggigit bibir, dengan muka merah ia berkata.
"Biarlah kupondong kau kedalam gentong,"
Tubuh Yu Wi hanya ditutupi selimut, cepat ia menahan ujung selimut dan berkata.
"Nanti dulu, tunggu sebentar...."
Terpaksa Khing-kiok duduk termenung ditepi pembaringan.
seketika kedua orang sama-sama merasa canggung.
sekarang pikiran Yu Wi sudah jernih, ia merasa tidak pantas membiarkan tubuhnya yang telanjang bulat itu dipondong oleh si nona.
selang sejenak.
dengan tulus Khing-kiok berkata.
"Aku sudah milik Toako, kenapa merasa malu segala?"
Habis berkata ia lantas mulai mengangkat tubuh Yu Wi.
Karena sudah dua hari dirinya diladeni nona itu, kalau sekarang menolak akan terasa tidak baik malah.
Maka Yu Wi lantas melepaskan selimut dan membiarkan Khing-kiok memondong tubuhnya kedalam gentong.
Pada saat itulah, mendadak terdengar suara seorang perempuan menghela napas pelahan diluar jendela.
Tergetar tubuh Yu Wi, cepat ia berseru.
"siapa itu?"
Meski Khing-kiok sudah melayani Yu Wi selama dua hari dan sudah terbiasa, tapi dasar anak perempuan, betapapun jantungnya tetap berdebar ketika memondong Yu wi dalam keadaan bugil, sebab itulah dia tidak mendengar suara apapun.
Demi mendengar seruan Yu Wi itu, ia berkata dengan suara tertahan.
"Kecuali si Tikus, di sini tidak ada orang lain-"
"Tapi kudengar suara seorang perempuan menghela napas di luar,"
Kata Yu Wi.
"Ah, Toako suka berpikir macam-macam, disini mana ada perempuan lain?"
Ujar Khing-kiok. Tapi dengan pasti Yu Wi menyatakan kebenaran pendengarannya.
"Ada, pasti ada, bahkan suara itu seperti sudah kukenal."
"Ah, Toako mengenangkan nona Ko lagi,"
Ucap Khing-kiok dengan sendu. Karena dianggap lagi merindukan Ko Bok-ya, Yu Wi tidak enak untUk omong lagi, tapi dalam hati ia berpikir.
"Jelas suara itu bukan suara Ya-ji. lantas siapakah dia?"
Selewatnya hari ketiga itu, Khing-kiok terlebih akrab lagi terhadap Yu Wi.
Melihat cara si nona melayani dirinya sedemikian baik.
dengan sendirinya hilanglah rasa kikuk Yu Wi dan tidak canggung-canggung lagi.
Racun yang semula didesak hingga terkumpul pada kedua tangan oleh tenaga dalam Hoat-sujin itu, lantaran digodok selama tiga hari.
ditambah lagi pengobatan lain, maka racun kembali menyebar keseluruh tubuh.
Maka sekarang warna kedua tangan Yu Wi sudah kembali biasa.
meski kadar racun menyebar lagi ke seluruh tubuh, tapi karena juga terhisap oleh air cuka gentong selama tiga hari, kadar racun telah buyar sebagian, racun yang masih mengendap dalam tubuhnya untuk sementara tidak berbahaya lagi.
Maka esok paginya Yu Wi sudah bisa bangun berduduk, meski belum leluasa untuk berjalantapi setelah mendapat perawatan Khing-kiok.
tiga hari kemudian dapatlah dia bergerak dengan bebas.
Pagi hari itu, Yu Wi berkata.
"Hari ini adalah hari ketujuh, kenapa Yok-ong-ya masih juga belum kelihatan?"
"Sudah kutanyakan pada siTikus, katanya sepanjang hari Yok-ong-ya hanya duduk termenung di dalam kamar sana dan tidak mengobati Kan Hoay-soan,"
Tutur Khing-kiok. Yu Wi menjadi heran.
"Jika demikian-apakah Hoay-soan berada di kamar?"
Belum lagi Khing-kiok menjawab, terdengar suara orang berdehem, Yok-ong-ya telah muncul dari kamar bagian dalam. Cepat Yu Wi menyongsongnya dan menyapa.
"Cianpwe tentu capai"
Yok-ong-ya menggeleng, katanya dengan gegetun.
"sudah tujuh hari kurenungkan di dalam kamar dan tetap tidak menemukan cara untuk menyembuhkan adik perempuanmu."
Melihat wajah orang yang tambah kurus dan mata cekung, jelas selama tujuh hari ini telah banyak memakan pikirannya. Maka dengan tenang ia tanya.
"Apakah penyakit gilanya tidak dapat disembuhkan?" .
"Adikmu sekarang tidak gila lagi,"
Jawab Yok-ong-ya.
"Nah. kan sudah sembuh kalau begitu?"
Seru Yu Wi dengan girang. Yok-ong-ya menghela napas, lalu berkata.
"Coba kau ikut kemari."
Yu Wi ikut Yok-ong-ya masuk kekamar belakang sana, ruangan ini terbagi menjadi dua, bagian depan penuh kitab, bagian belakang hanya dipisahkan oleh tabir saja.
Waktu tabir terbuka, kelihatan Kan Hoay-soan tetap memakai baju satin putih dan berduduk di tepi pembaringan menghadapi kearah tabir sini.
Melihat nona itu berduduk tenang disitu seperti orang biasa, kelakuannya yang tidak waras tujuh hari yang lalu kini sudah hilang.
dengan girang ia lantas mendekat dan menegurnya.
"Hoaysoan, masih kenal padaku?"
Biji mata Kan Hoay-soan yang jeli itu tidak bergerak sedikitpun meski jelas dua orang telah masuk ke situ, panggilan Yu wi iuga tidak mendapat reaksi sama sekali.
Yu Wi melangkah kedepan si nona, dengan suara memilukan ia tanya pula.
"Hoay-soan. masih kenal padaku tidak?"
Kan Hoay-soan tetap diam saja, mendadak ia berbangkit dan lewat di samping Yu wi, langsung menuju kearah tabir. Mengira si nona tidak mau menggubrisnya, Yu Wi bertanya pula.
"Apakah Toakomu baik-baik saja?"
Setiba di samping tabir, Hoay-soan berjalan balik. Dengan girang Yu Wi menegur lagi.
"setelah berpisah dahulu, sudah hampir dua tahun kita tidak berjumpa."
Tapi setelah berada didepan pembaringan, kembali Kan Hoay-soan berjalan ke arah tabir lagi dan begitulah ia mondar-mandir belasan kali, lalu berduduk ditepi pembaringan dan tidak berucap sekatapun-Yu Wi memandangi nona itu dengan terkesima, keadaan Kan Hoay-soan ibaratnya mayat hidup.
Wajahnya tiada menampilkan perasaan apapun, tanpa terasa timbul perasaan ngeri dalam hati Yu Wi.
Ia coba memandang Yok-ong-ya.
Tabib sakti itu tersenyum getir, katanya.
"Pada hari pertama juga sudah kusembuhkan sakit gilanya, tapi selama enam hari kemudian, kecuali makan dan tidur, terus menerus dia cuma berjalan mondar-mandir begini, betapapun ditanya tetap tidak menjawab."
"Apakah dia sengaja tidak mau bicara?"
Tanya Yu Wi. Yok-ong-ya menggeleng, katanya.
"Selama tujuh hari kurenungkan penyakitnya, akhirnya dapat kutarik suatu kesimpulan ... yakni, hakikatnya dia tidak dapat bicara."
"Mengapa tidak dapat bicara?"
Yu Wi menegas dengan kuatir.
"Dia tidak punya hati, dengan sendirinya tidak dapat bicara."
Ujar Yok-ong-ya. Yu Wi menggeleng-geleng kepala, ucapnya.
"Dia tampak sehat-sehat saja, kenapa tidak punya hati? Mana Cianpwe bergurau?"
Dengan serius Yok-ong-ya berkata.
"Penyakit gila tidak sukar disembuhkan, tapi dia selain gila juga kehilangan hati, meski sakit gilanya sudah sembuh, tapi hati yang hilang belum lagi diketemukan kembali...."
Sampai di sini, diam-diam Yu Wi merasa geli, tapi dilihatnya Yok-ong-ya bicara dengan sungguh-sungguh dan kereng, ia tidak berani tertawa. Pikirnya.
"Masakah didunia ini ada orang mencari hati segala?"
Tapi Yok-ong-ya telah bicara terus.
"selama tujuh hari tak dapat kuselami sebab musababnya dia tidak mau bicara, akhirnya teringat pada seorang barulah kusadari duduknya perkara. orang itu mahir semacam ilmu sihir yang disebut Mo-sim-gan (mata iblis). Cuma orang itu sudah lama meninggalkan dunia Kangouw, makanya tidak kuingat padanya. Bila kusebutkan orang ini pasti juga kau tahu, apakah kau masih ingat orang-orang yang mengerumuni adik perempuanmu tempo hari sama menyebut sit-sim-li padanya?"
"Ya, karena sepanjang jalan Hoay-soan terus-menerus berteriak, di mana hatiku, makanya orang menyebutnya sit-sim-li,"
Kata Yu Wi.
"Dan tahukah kau sebab apa dia omong begitu?"
"Ucapan orang gila tentu juga aneh dan lucu, mana ada orang yang benar-benar kehilangan hati, orang yang kehilangan hati mana bisa hidup?"
Dengan sikap misterius Yok-ong-ya berkata.
"Tapi barang siapa pernah dipandang oleh Mo-simgan, orang itu akan merasa seperti benar-benar kehilangan hati. Pada waktu menggunakan ilmunya Mo-sim-gan akan berkata kepada korbannya.
"Kau telah kehilangan hati"
Tiba-tiba Yu Wi teringat kepada Goan-si-heng-te, kedua saudara she Goan yang mahir ilmu gaib itu, pada waktu mereka melancarkan ilmu sihirnya juga berkata kepadanya.
"Kau sudah lelah, kau perlu tidur"
Habis berucap begitu dirinya benar-benar merasa kantuk dan ingin tidur sepuasnya Jangankan Hoay-soan juga terkena iimu sihir semacam ini?"
"Apakah Mo-sim-gan itu sama seperti apa yang disebut Jui-bin-sut? Apakah orang yang Cianpwe maksudkan adalah sepasang kakek tinggi kurus yang berbentuk serupa dan terkenal sebagai kedua Goan bersaudara?"
Demikian Yu Wi lantas bertanya. Yok-ong-ya menggeleng, katanya.
"Mo-sim-gan jauh lebih hebat dari pada jui-bin-sut yang kau sebut, apabila adikmu cuma terkena Jui-bin-sut, tentu sejak mula dapat kusembuhkun dia."
Kini Yu Wi percaya kepada setiap keterangan Yok-ong-ya, ia menjadi cemas, katanya.
"Wah, lantas bagaimana baiknya? Hoay-soan tidak boleh hidup tanpa hati?"
"Apakah dia benar-benar adik perempuanmu?"
Tanya Yok ong ya.
"Bukan, dia adalah puteri Thian-ti-hu, namanya Kan Hoay-soan,"
Jawab Yu Wi.
"Tapi kuanggap dia sebagai adik sendiri, maka mohon cianpwe suka berusaha menyelamatkan dia ... ."
Yok-ong-ya menghela napas, katanya.
"Orang sama menyebut diriku sebagai seng-jiu-ji-lay, semua orang mengira aku dapat menyembuhkan penyakit apapun, padahal di dunia ini banyak sekali penyakit yang aneh, mana bisa kusembuhkan seluruhnya."
Ia berhenti sejenak, lalu berkata pula.
"Kukenal Kan Yok-koan ... ."
"Ah, bagus sekali,"
Seru Yu Wi.
"Hoay-soan adalah cucu Kan Yok koan, mengingat leluhurnya yang Cianpwe kenal. sudilah engkau menolong dia."
"Kalau bisa menyembuhkan dia masa tidak kulakukan,"
Ujar Yok-ong-ya dengan kurang senang.
Tiba-tiba teringat olehnya penyakit Yu Wi yang juga pernah ditolaknya sekalipun dirinya mampu mengobatinya, pantas kalau anak muda itu meragukan jawabannya, maka air mukanya berubah tenang kembali dan berkata.
"Racun yang mengeram dalam tubuhmu itu tidak dapat kupunahkan karena aku pernah bersumpah takkan mengobatinya, kalau tidak, tentu sekaligus sudah kusembuhkan dirimu. Tapi mengenai penyakit Kan Hoay-soan yang kehilangan hati ini memang benar-benar tak dapat kusembuhkan-"
Yu Wi menoleh dan melihat Kan Hoay-soan masih duduk ditepi pembaringan, sebenarnya nona itu sangat lincah dan menyenangkan, tapi sekarang seperti anak gendeng, pedih rasa hati Yu Wi, katanya.
"Apakah harus dibiarkan ini ...."
"Untuk melepaskan ikatan diperlukan bantuan orang yang mengikat ...."
"Aha, benar,"
Tukas Yu Wi.
"Akan kucari Goan-si-hengte untuk menghilangkan penyakit Hoaysoan ini."
"Tidak ada gunanya,"
Ujar Yok-ong-ya sambil menggeleng.
"dengan kemampuan Goan-sihengte masih belum sanggup memunahkan Mo-sim-gan."
"sesungguhnya siapakah orang yang melakukan ilmu sihir ini?"
Tanya Yu Wi.
"Dia tidak punya nama, kuingat orang menyebut dia sebagai sam-gan-siusu (si cendekia cakap bermata tiga),"
Tutur Yok ong-ya.
"Konon dia pernah menerima dua murid anak kembar, bisa jadi mereka ialah Goan-si-hengte yang kau katakan itu Untuk menyembuhkan penyakit nona Kan harus kau cari dia sendiri barulah ada harapan."
"setelah menemukan dia, cara bagaimana baru dapat menyembuhknn penyakit kehilangan hati Hoay-soan ini?"
"Asaalkan sam-gan-siusu menggunakan ilmu sihirnya lagi dan bicara kepada nona Kan bahwa hatimu sudah diketemukan kembali, hatimu sudah berada lagi dalam tubuhmu, lalu nona Kan akan melupakan pernyataan dimana hatiku yang selalu terpikir itu, dan penyakitnya segera akan hilang serta pulih seperti sediakala."
"Kecuali itu apakah tiada jalan lain?"
Tanya Yu Wi.
"Mo-im-gan adalah ilmu pembetot sukma paling jahat didunia ini, hakikatnya sukar disembuhkan dengan pengobatan biasa, harus disembuhkan oleh orang yang juga mahir Mo-simgan dan tiada jalan lain."
Yu Wi menghela napas menyesal, katanya.
"Dan maukah sam-gan-siusu menolongnya begitu saja?"
"Ada satu akal yang dapat membuat dia pasti menolongnya,"
Kata Yok-ong-ya.
"Akal apa?"
Tanya Yu Wi.
"sam-gan-siusu itu terkenal keranjingan ilmu silat, asalkan kau ajarkan semacam kungfu padanya, maka dia pasti akan menolong Kan Hoay-soan "
"Jika demikian, sekarang juga ku pergi mencari sam-gan-siusu."
Habis berkata, Yu Wi terus mendekati Kan Hoay-soan dan memegang tangannya, Nona itu tidak melawan, dengan penurut ia berdiri Yu Wi belum lagi putus asa, ia coba tanya pula.
"Hoay-soan, kau kenal aku tidak?"
Kan Hoay-soan hanya memandang kaku ke depan tanpa berkedip dan tidak bersuara, air mukanya seperti patung, sedikitpun tidak memperlihatkan sesuatu emosi. Yu Wi menghela napas panjang, ucapnya.
"Dunia seluas ini, kemana dapat kutemukan samgan-siusu?"
"Asalkan kau temukan Goan-si-hengte, kukira dapat juga menemukan sam-gan-siusu,"
Ujar Yok-ong-ya.
"Cianpwe,"
Tanya Yu Wipula.
"umurku dapat bertahan berapa lama lagi?"
"dalam waktu setengah tahun masih tertolong jika dapat kau peroleh obat penawarnya."
"Dan kalau dalam setengah tahun tidak ada obat penawar?"
Dengan muram Yok-ong-ya menjawab.
"Tatkala mana bila racun mulai bekerja lagi, maka serangannya tambah ganas dan sukar dibendung lagi"
"Jadi tiada harapan buat hidup lagi?"
Yu Wi menegas dengan tersenyum getir.
Yok-ong-ya diam saja tanpa bersuara.
Untuk sejenak Yu Wi merasa bingung, lalu ia gandeng tangan Kan Hoay-soan dan diajak keluar, setiba di samping tabir, ia menoleh dan bertanya pula.
"dalam waktu setengah tahun apabila Wanpwe tidak berhasil menemukan sam-gan-siusu, Wanpwe akan minta bantuan orang lain untuk mengantar pulang Hoay-soan kesini, tatkala mana kuharap cianpwe suka membawanya untuk berusaha lagi mencari sam-gan-siusu, entah Cianpwe suka menerima tidak permintaanku ini?"
"Jelek-jelek aku adalah kenalan kakeknya, urusan ini pasti akan kukerjakan dengan sebisanya,"
Ucap Yok-ong-ya.
"Jika demikian, legalah hatiku,"
Kata Yu Wi. selagi dia hendak melangkah pergi, mendadak Yok-ong-ya berseru.
"Tunggu sebentar."
Ia memburu maju dan mengeluarkan se
Jilid buku berkulit kuning dan diberikan kepada Yu Wi, katanya.
"Kitab ini boleh kau bawa."
Yu Wi menerimanya, terlihat sampul buku itu tertulis.
"Pian sik sinBian", dibagian bawah ada tulisan huruf kecil dan berbunyi.
"simpanan kakek gunung dari Hong-san."
Pian-sik adalah nama seorang tabib sakti dijaman ciankok.
konon ilmu pengobatannya sangat hebat, namanya terkenal turun temurun, tapi ilmu pengobatannya justeru tidak diketahui menurun kepada siapa, sekarang mendadak Yu Wi melihat kitab ini, hatinya tergetar, ia tahu kitab "Pian sik Sin Bian"
Atau catatan Pian sik ini adalah pusaka yang paling berharga bagi pertabiban.
"Kitab ini kupinjamkan selama setengah tahun kepadamu,"
Kata Yok-ong-ya.
"dalam waktu setengah tahun hendaklah kau baca dan pelajari dengan baik isi kitab ini, boleh kau bikin suatu resep pengobatan pribadi untuk menawarkan racun dalam tubuhmu."
Yu Wi sangat girang, ucapnya.
"Terima kasih banyak-banyak kepada Cianpwe atas budi pertolongan jiwaku ini."
Dengan dingin Yok-ong-ya menjawab.
"Jangan keburu bergirang dahulu, dalam waktu setengah tahun apakah kau mampu menyelami isi kitab ini atau tidak masih merupakan tanda tanya besar. Umpama dapat kau pelajari dengan baik dan berhasil membuat satu resep obat untuk menyembuhkan dirimu sendiri, hal ini adalah nasibmu yang mujur dan sekali tidak ada sangkutpautnya dengan diriku."
"Ada suatu hal yang sukar kumengerti, dapatkah Cianpwe memberi penjelasan?"
Kata Yu Wi.
"Hal apa?"
Tanya Yok-ong-ya.
"Hati Cianpwe welas-asih seperti Buddha, mengapa tidak mau memunahkan racun dalam tubuhku?"
Yok ong ya tidak menjawab, ia mendahului melangkah keluar kamar, setiba di kamar tulis barulah dia berkata.
"Duduklah kau, akan kuceritakan suatu kejadian padamu."
Dengan hormat Yu Wi berduduk disamping sana, Kan Hoay soan juga didudukkan disamping meja.
setelah berduduk nona itu lantas diam saja tanpa bergerak lagi.
Yok ong ya hanya berdiri, sampai sekian lamanya barulah mendadak berkata.
"Apa yang terjadi itu sudah lama berselang .... waktu itu ada seorang kosen, karena suasana jaman itu kacau-balau, beliau sengaja mengasingkan diri Pada waktu hendak mengasingkan diri itulah beliau memungut dua anak buangan sebagai murid. Dua puluh tahun kemudian-kedua anak pungut itu sama tumbuh dewasa, keduanya sama-sama mendapatkan ajaran ilmu sakti dari orang kosen itu. Karena sejak kecil keduanya bersama dipegunungan sunyi dengan sang guru, maka kasih sayang antara mereka tiada ubahnya seperti saudara sekandung. waktu si orang kosen menyuruh kedua muridnya turun gunung untuk melakukan tugas bajik dan menolong sesamanya, kedua saudara seperguruan itu lantas berpisah dan berkelana di dunia Kangouw, dengan cepat perpisahan itu telah berlangsung sepuluh tahun lamanya. Pada waktu tahun kesebelas, kedua orang itu taat kepada perintah sang guru dan pulang ke gunung untuk melaporkan pengalaman serta hasil kerja masing-masing. Tak terduga, setiba di gunung, ternyata guru mereka sudah wafat tiga tahun sebelumnya. ..."
Bercerita sampai di sini, air muka Yok-ong-ya memperlihatkan rasa sedih luar biasa.
Diam-diam Yu Wi membatin, entah siapa diantara kedua saudara seperguruan itu adalah Yokong-ya.
Didengarnya Yok-ong-ya menyambung pula ceritanya.
"Tentu saja kedua anak muda itu sangat berduka, mereka menangis didepan makam sang guru dan menuturkan kisah perjalanan mereka selama sepuluh tahun ini. dalam sepuluh tahun ternyata banyak mengalami perubahan, suhengnya telah berumah tangga dan punya perusahaan, namanya cukup gemilang di dunia Kangouw, sebaliknya sang sute tetap tidak punya pekerjaan dan juga belum menikah. selama 20 tahun belajar bersama, kedua suheng dan sute itu masing-masing mempunyai kepandaian khas sendiri dan sebenarnya tiada perbedaan tinggi rendah antara mereka, hanya karena wajah sang sute lebih jelek. kemana-mana tidak di sukai orang, maka lama-lama ia merasa rendah harga diri dan selama sepuluh tahun tidak mendapat hasil apa-apa, padahal usianya sudah 30 lebih, tapi isteri saja tidak punya."
Lamat-lamat Yu Wi dapat merasakan sang sute yang dimaksud pastilah Yok-ong-ya sendiri ia pikir.
"Umumnya orang suka menilai seseorang berdasarkan wajahnya, karena Yok-ong-ya bertampang jelek sehingga tidak disukai orang. Padahal biarpun muka seseorang sangat cakap. tapi kalau otaknya kosong, tidak berisi, apa gunanya?"
Yok-ong-ya memandang Yu Wi dengan kesima katanya kemudian.
"Apabila sang sute itu mempunyai muka secakap kau, tentu hasil yang dicapai selama sepuluh tahun takkan di bawah suhengnya tapi ... ai ..."
Suara helaan napas ini seolah-olah telah merasa penyesalan dan penasarannya. Yu Wi bermaksud menghibumya, tapi tidak tahu apa yang harus diucapkan. Yok ong ya menggeleng kepala, lalu menyambung.
"Setelah sang suheng tahu keadaan sutenya. iapun merasa menyesal bagi nasib sutenya, maka didepan makam sang guru ia menghibur sutenya, selama sepuluh tahun itu sutenya tidak pernah mendapat perhatian orang, sekarang hiburan sang suheng telah menimbulkan rasa persaudaraan semenjak kecil, ia menjadi terharu dan menangis sambil memeluk sang suheng. Karena tangisan itu, rasa sedih dan hampa selama sepuluh tahun itu lantas tersapu habis, ia berbicara sehari semalam dengan sang suheng sehingga kasih sayang antara sesama saudara seperguruan bertambah akrab. suhu mereka itu mempunyai seorang budak tua yang setia, demi menyampaikan pesan tinggalan sang guru kepada kedua saudara seperguruan itu, selama tiga tahun budak tua itu tidak berani meninggalkan gunung. Maka selesai memberi hormat di depan makam sang guru, budak tua itu menyerahkan dua kitab pusaka tinggalan sang majikan kepada dua muridnya itu. Yang satu
Jilid adalah kitab ilmu silat, kitab lainnya adalah kitab pertabiban, yaitu "Pian sik sin Bian".
sang guru juga meninggalkan pesan bahwa Aliran Hong-san selanjutnya menjadi kewajiban murid tertua untuk mengembangkannya.-Melibat sang guru menyerahkan tugas pengembangan perguruan kepada suhengnya, waktu itu si sute tidak memperlihatkan sesuatu perasaan.
tapi didalam hati ia merasa penasaran dan anggap sang guru tidak adil.
Hendaklah diketahui bahwa aliran Hong-san terkenal dengan ilmu silat dan ilmu pengobatannya.
maka menurut pikiran si sute, meski bakat sendiri dalam hal ilmu silat tidak dapat mengungguli sang suheng, tapi kan pantas jika dirinya diberi hak waris mengenai ilmu pengobatan sang guru.
siapa tahu gurunya tidak mewariskan apa-apa padanya, hal ini membuatnya sangat berduka ..."
Diam-diam Yu Wi juga merasa sedih bagi Yok-ong-ya, pikirnya.
"Apabila aku menjadi guru mereka, tentu aku takkan bertindak kurang adil begini."
Tapi lantas terpikir pula olehnya.
"Kalau Yok-ong-ya tidak mewarisi ilmu pengobatan gurunya, mengapa sekarang dia malah mendapatkan gelar seng-jiu-ji-lay dan cara bagaimana kitab Pian sik sin Bian itu berada di tangannya?"
Didengarnya Yok-ong-ya menyambung ceritanya.
"Setelah kedua saudara seperguruan berkabung dengan menjaga makam sang guru selama sebulan diatas gunung waktu turun gunung, sang suheng mengundang agar sutenya ikut tinggal saja dirumahnya.-Karena tiada tempat tujuan tertentu. si sute pikir daripada hidup luntang-lanlung sebatang kara di dunia Kangouw, memang lebih baik kalau boleh mondok ditempat sang suheng. -setiba dirumah sang suheng, dilihatnya harta benda suhengnya itu ternyata sangat besar, para tetangga juga sangat menghormati sang suheng, tentu saja sutenya merasa kagum. Apa lagi suhengnya juga mempunyai seorang isteri yang cantik dan bijaksana, melihat suso (kakak ipar perempuan) yang baik itu, si sute selain kagum juga merasa dengki. Ia pikir kalau dirinya mempunyai isteri demikian, biarpun umurnya dipotong sepuluh tahun juga rela."
Mendengar sampai disini, diam-diam Yu Wi menghela napas, pikirnya.
"Pikiran yang timbul dalam benak Yok-ong-ya ini jelas merupakan bibit sengketa baginya bila dia berdiam di rumah sang suheng."
Yok-ong-ya memandang Yu Wi dengan termangu-mangu, heran sekali Yu Wi melihat sikap orang, pikirnya.
"Memangnya wajahku sedemikian menarik bagimu? Apakah ada sesuatu cacat yang kau lihat?"
Ia coba mengusap muka sendiri sekuatnya. Melihat perbuatan Yu Wi itu, Yok-ong-ya menyadari sikap sendiri yang tidak pantas, cepat ia berkata.
"Tiada sesuatu pada mukamu. Lantaran terkenang kepada suso, maka kupandang kau dengan kesima."
"Apakah aku mirip susomu?"
Tanya Yu Wi.
"Ya, sangat mirip. mirip sekali, makin kupandang makin mirip . ..."
Ucap Yok-ong-ya dengan tercengang. Diam-diam Yu Wi merasa geli, pikirnya.
"Kembali ada lagi seorang yang mirip diriku."
Mendadak terdengar Yok-ong-ya bergumam.
"Aneh, sungguh aneh ... ."
"Aneh apa, Cianpwe?"
Tanya Yu Wi.
"o, tidak apa-apa, tidak apa-apa,"
Jawab Yok-ong-ya dengan tergegap.
"Eh, sampai di mana ceritaku tadi?"
Yu Wi pikir cerita si sute jelas ialah dirimu sendiri, tapi kalau kau berkisah sebagai cerita, terpaksa akupun anggap mendengarkan cerita menarik. Maka dijawabnya.
"Sampai si sute tinggal di rumah sang suheng dan merasa iri ...."
"Ya, sebenarnya si sute tidak ingin berdiam terlalu lama di situ,"
Tutur Yok-ong-ya lebih lanjut, tapi dia baru datang beberapa hari, rasanya tidak enak kalau segera mohon diri Terpaksa ia tinggal terus disitu dengan menahan rasa irinya.
Dan sekali tinggal di situ ternyata hingga tiga tahun lamanya...."
Diam-diam Yu Wi membatin.
"Ah, ternyata salah dugaanku, dia tinggal dirumah suhengnya tanpa menimbulkan perkara, bahkan tinggal sampai tiga tahun lamanya, sungguh hebat. selama tiga tahun ini tentu hilang rasa irinya."
"Sebenarnya si sute sudah lama ingin pergi, tapi suheng dan suso meladeni dia seperti saudara kandung sendiri sehingga membuamya tidak tega untuk tinggal pergi,"
Tutur Yok-ong-ya pula.
"Lebih-lebih susonya sedikitpun tidak memandang rendah padanya. Padahal perempuan lain memandang sekejap padanya saja tidak sudi, tapi suso yang cantik bagai bidadari itu justeru sedemikian baik padanya, apakah dia perlu pergi ke tempat lain? Karena itulah si sute lantas tinggal di termpat sang suheng dengan tenang, setiap hari hidup dilayani dewi kayangan, sebab dalam pandangannya sang suso telah dianggapnya bidadari yang paling cantik dan paling baik.-selama berdiam di rumah sang suheng ia juga mulai berusaha maju, tekun belajar ilmu pengobatan, semua ilmu pengobatan yang pernah didapatnya dari sang guru telah diulang dan dipelajari kembali, selama beberapa tahun tidak sedikit juga hasil yang diperolehnya. sampai tahun ke empat...."
Mendadak Yok-ong-ya berhenti bersuara, wajahnya menampilkan penderitaan yang luar biasa tiba-tiba "plak-plok".
ia gampar mukanya sendiri belasan kali.
Yu Wi ingin mencegahnya, tapi cara turun tangan Yok-ong-ya itu tiada ubahnya seperti pertarungan tokoh kelas satu dan sukar dihentikan, terpaksa ia hanya berteriak saja.
"Locianpwe, Locianpwe ... ."
Yok-ong-ya masih terus menampar sehingga pipi sendiri sama bengkak. setelah puas baru berhenti.
"Kenapa Cianpwe menyiksa diri sedemikian rupa?"
Ujar Yu Wi dengan gegetun. Yok-ong-ya tidak menghiraukannya, ia bercerita pula.
"Pada tahun keempat itu telah terjadi suatu peristiwa, sute yang lebih rendah dari pada binatang itu telah berbuat kotor tatkala sang suheng sedang pergi jauh, sang suso jatuh sakit, waktu dia mengobati penyakit susonya dia telah bertindak tidak semestinya. Ia mengira suso sangat baik padanya dan mudah dibujuk, dia banyak mengucapkan kata-kata yang tidak senonoh, ia pikir dalam sakitnya sang suso tentu perlu dihibur, kesempatan ini digunakan si sute untuk merayunya untuk memenuhi rindu dendamnya selama tiga tahun ini. siapa tahu susonya adalah seorang perempuan yang suci bersih, ia tidak marah kepada si sute tapi diberinya berbagai nasihat dan kata-kata mutiara untuk menyadarkan sute itu. Karena impiannya tidak berhasil terlaksana, si sute merasa malu untuk tetap tinggal lagi di situ. sebelum sang suheng pulang, diam-dlam ia tinggal pergi."
Yok-ong-ya tersenyum getir, lalu melanjutkan.
"sesudah meninggalkan rumah sang suheng, si sute pikir nama suhengnya sangat terpuji di dunia Kang-ouw, kenapa aku tidak dapat berjuang dan mencari nama terlebih besar? Maka ia terus tekun belajar lagi dan menjalankan pertabiban di dunia Kangouw demi mernupuk nama baik, ia berbuat bajik sebisanya, selama beberapa tahun namanya benar-benar menanjak dan sangat terkenal. setiap orang memandangnya sebagai Buddha hidup yang suka menolong orang. Padahal tujuannya bukan uutuk menolong orang melainkan untuk menolong dirinya sendiri. ingin namanya menonjol dan melebihi nama sang suheng, sama sekali tidak bermaksud menolong orang secara jujur."
"Ah, juga belum pasti begitu, orang yang berlagak baik sekali pandang saja lantas kelihatan,"
Ujar Yu wi.
"Justeru si sute itu memang benar ingin berbuat bajik, maka tidak kelihatan kepalsuannya sehingga namanya makin terpuji."
"Apakah benar begitu?"
Jengek Yok-ong-ya. setelah berhenti sejenak, ia bertutur pula.
"Suatu hari, si sute menerima surat panggilan dari sang suheng. katanya ada urusan penting perlu bertemu, diharap si sute lekas pergi ke rumahnya. sute itu mengira sang suheng akan membunuhnya, ia pikir dirinya telah menggoda isterinya, mana suheng mau mengampuni dia. Karena ilmu silatnya selisih jauh dibandingkan sang suheng, maka dia tidak berani pergi ke sana, Tapi setelah berpikir dan menimbang semalam, si sute pikir betapapun suheng benci padanya, tentu takkan membunuh seorang tabib termashur didunia Kangouw sehingga merusak nama baik suheng sendiri Karena itu, dia ambil keputusan akan mengunjungi sang suheng. Padahal hasrat yang mendorong kepergiannya itu adalah karena dia ingin melihat sang suso lagi. -setiba di rumah suhengnya, ternyata sang suheng tidak keluar menyambutnya, kaum budak membawanya ke kamar tidur. Tentu saja hati si sute kebat-kebit, ia pikir jangan-jangan sang suheng akan membunuhnya di depan suso? -Dasar sute itu takut mati dan tamak hidup, ia berdiri di depan kamar dan tidak berani masuk kesitu. Tiba-tiba ia dengar suara keluhan suso didalam kamar dan sedang berkata, 'Untuk apa kita merepotkan sute datang kemari?' Mendengar suara sang suso, semangat si sute terbangkit, ia menjadi tabah. Ia pikir kalau dapat bertemu sekali lagi dengan suso, biarpun mati seketika didepannya juga rela dan tidak perlu menyesal."
Diam-diam Yu Wi menggeleng, pikirnya.
"Cintanya kepada sang suso sungguh mendalam juga."
Kulit daging wajah Yok-ong-ya tampak berkerut-kerut sehingga tampangnya yang memang jelek itu tambah buruk. Dengan suara pedih dia sambung ceritanya.
"Begitu sute itu masuk kamar segera dilihatnya adegan yang memilukan, tapi juga memperlihatkan betapa besar kekuatan cinta. suso kelihatan berbaring tenang dengan wajah pucat seperti kertas, keadaannya sangat lemah dan hanya tinggal napas terakhir saja sedangkan sang suheng merangkul puteri tunggalnya yang baru berumur lima tahun dan berduduk di tepi pembaringan--Mereka tidak terkejut oleh karena kedatangan orang. mereka seperti tidak mendengar ada orang masuk kesitu, mereka tetap pandang memandang, suso memandang suheng dan suheng memandang suso. Nyata mereka ingin saling pandang sepuas-puasnya sebelum berpisah untuk selamanya. segala kejadian lain di dunia ini seolah-olah tiada sangkut-paut lagi dengan mereka. Yang mereka inginkan hanya pandang memandang, pandangan yang terukir dalam-dalam dilubuk hati masing-masing. -Melihat sang suso sudah hampir meninggal hati si sute seperti ditikam satu kali, ia menjadi lupa sang suheng juga berada di situ, cepat la memburu maju dan memeriksa denyut nadi sang suso. -Baru diketahui suhengnya bahwa si sute telah datang. Dengan suara gemetar suhengnya berkata, 'sute, apakah dia masih ... masih dapat ditolong? Masih dapatkah ditolong? si sute sudah berpengalaman sekian tahun dalam hal pengobatan, kini ilmu pertabibannya sudah melebihi sang suheng, meski suhengnya memegang kitab Pian sik Sin Bian, tapi lantaran suhengnya mencurahkan perhatian dalam hal ilmu silat sehingga tidak pernah mempelajari ilmu pengobatan secara mendalam."
"Setelah memegang nadi suso, segera si Sute mengetahui keadaan penyakitnya, dengan tegas ia menjawab, 'Jangan kuatir, pasti dapat tertolong' sang suheng sangat girang dan berseru, 'Adik adik, adik dik, kau dengar tidak? sute bilang sakitmu pasti dapat ditolong, kau takkan mati, takkan mati' Memandangi wajah susonya yang kurus pucat itu, dia berharap suso akan berterima kasih padanya dan mengucapkan kata-kata yang bernada terima kasih, lalu dia akan memberi penolongan padanya. -siapa tahu sang suso seperti tidak melihatnya, dengan suara lemah ia berkata, 'Minggir, menyingkir, jangan menghalangi pandanganku' seketika hati si sute mencelus seperti terperosot kedalam liang es, ia pikir dalam hati suso hakikatnya tidak terdapat diriku, dia lebih suka mati daripada pandangannya terhadap sang suami terhalang. -sungguh tidak kepalang rasa kecewa si sute dan juga iri luar biasa, sekonyong-konyong si sute menyingkir dan menjengek. 'Baiklah, silakan pandang saja, kalau tidak pandang lagi tentu tak sempat melihat untuk selamanya' Habis berkata ia terus membalik tubuh dan tinggal pergi.
"Tentu saja suhengnya menjadi kelabakan, ia berseru, 'sute, sute, lekas kau tolong dia Hendak ke mana kau?' -Dia menoleh dan bergelak tertawa, katanya, 'suhu pilih kasih padamu, suso juga mencintaimu melebihi jiwa sendiri lalu aku ini terhitung apa? Bukankah kau pun punya Pian sik sin Bian? Nah, silahkan kau sendiri saja menolongnya, silakan"
Tanpa menghiraukan permohonan sang suheng yang sangat, tanpa memperdulikan jiwa sang suso yang tinggal setitik harapan saja, akhirnya ia tinggal pergi benar-benar, pergi sejauh-jauhnya, ia tidak mau menolong seorangpun didunia ini, sebab ia anggap tiada seorang pun disunia ini berharga untuk ditolongnya...
Bercerita sampai di sini, karena kulit mukanya terlalu sering berkejang sehingga wajahnya semakin pucat. napasnya juga terengah-engah seperti orang yang habis bertempur seru. Diam-diam Yu Wi berpikir.
"Sesungguhnya di dalam hati ia ingin menolong susonya, tapi rasa cemburu yang hebat telah merintangi maksudnya, dalam perasaannya waktu itu pasti mengalami pertentangan batin yang keras, makanya sampai sekarang bila bercerita masih tetap tidak melupakan kejadian di masa lampau itu."
Entah sejak kapan dilihatya wajah Yok-ong-ya yang kurus itu telah mencucurkan air mata, entah air mata berduka atau air mata penyesalan?
Suara raja obat itu sekarang berubah menjadi tenang, ia berkata pula.
"Dengan hati yang luka, dengan perasaan yang hancur, Sute itu bersembunyi pula di pegunungan sepi, di mana dia dibesarkan, ia mendampingi makam sang guru, disitulah tanpa terasa ia menetap selama lima tahun--Selama lima tahun ini dia bertambah tua, rambut mulai beruban, rasanya seperti sudah lewat lima puluh tahun yang singkat, suatu hari ia bertemu dengan sang Suheng yang sudah berpisah selama lima tahun-Pertemuan yang tak terduga itu menimbulkan rasa waswas dalam hati si Sute, ia merasa dirinya bukan tandingan sang Suheng, kalau sang Suheng hendak membunuhnya terpaksa dia harus pasrah nasib, Tapi sang Suheng ternyata tidak bertindak apapun kepadanya, malah dia berkata kepada seorang anak yang ikut di sampingnya, 'Beri hormat kepada Susiokmu. muridku' Muridnya menurut dan memberi hormat, penghormatan ini rasanya seperii suatu tikaman bagi si Sute, ia berteriak, 'Jika hendak kau bunuh diriku, silakan bicara saja bagaimana caranya, balaslah sakit hati isterimu yang tercinta dan bijaksana itu.' -Sang Suheng menjawab dengan tenang, 'Sute, bicaralah sejujurnya menurut hati nurani. hari itu apakah ada niatmu hendak menolong Suso? Asalkan ada maksudmu hendak menolongnya dan lantaran diriku sehingga kau sengaja tidak mau menolongnya, alasan ini dapat kuterima dan dapat kuampuni kau.' Dengan gelak tertawa si Sute menjawab, 'Hah, masakah kuperiu pengampunanmu? Aku muak padamu, lebih-lebih muak terhadap isterimu yang cintanya palsu itu. Nah, kalau mampu boleh kau bunuh saja diriku.' -Air muka sang suheng berubah pedih, ucapnya, 'Dapat kuterima jika kau benci padaku, tapi apa salahnya suso sehingga kaupun dendam padanya, melihat dia hampir mati dan tidak kau tolong. Dalam hal apa dia salah padamu, dimana dia menunjukkan cinta palsunya? Ayo, kalau tidak kau jelaskan, pasti kubinasakan kau' -sute itu menjawab, 'Apa yang perlu kukatakan lagi? Boleh kau bunuh saja diriku, ayolah bunuh saja Bunuhlah diriku dengan kungfu ajaran suhu' Sang suheng menggeleng kepala, katanya, 'sayang ilmu pertabiban ajaran suhu tidak kupelajari dengan baik, kalau tidak. waktu itu tentu tidak perlu kumohon pertolonganmu dan tentu pula isteriku takkan meninggal' Sutenya menyindir, 'Huh, bukankah kau mempunyai kitab Pian sik sin Bian? Kenapa tidak mampu menyelamatkan isterimu? Hah, sunggah aneh' -Dia sengaja bergelak tertawa sekerasnya untuk menyakiti hati sang suheng, sebab ia merasa iri karena ilmu yang diperoleh sang suheng jauh lebih banyak daripadanya. sang suheng baru menjawab setelah sutenya berhenti tertawa, katanya, 'Memangnya kau kira hanya dengan ilmu silat saja dapat kubunuh kau? Kau anggap ilmu pertabibanmu maha tinggi, huh, sekarang kau justeru harus mati dibawah ilmu pertabibanmu sendiri' Si sute melengak. katanya dengan tertawa, 'Cuma sayang, ilmu pertabibanku hanya dapat kugunakan untuk menolong diri sendiri dan tak dapat untuk membunuh diri Kukira tidaklah mudah jika hendak kau paksa aku membunuh diri' Sang suheng lantas mengeluarkan sebotol obat racun, katanya, 'Inilah racun yang kuracik sendiri silakan kaupun membuat satu botol obat racun, lalu kita bertukar obat racun masingmasing, kau minum racun buatanku dan kuminum racun buatanmu.....' Si sute lantas paham maksud tujuan sang suheng, diam-diam ia bergirang, sebab selama beberapa tahun ini, dalam waktu senggang ia berhasil membuat semacam obat racun yang maha keras, ia pikir kalau bertanding ilmu pengobatan jelas dirinya takkan kalah. segera ia mengeluarkan racun buatannya sendiri untuk menukar racun sang suheng, katanya dengan tak acuh, 'setelah kau minum racunku, bilamana racun sudah bekeria, jangan lagi berharapakan pertolonganku. ' Dengan perasaan pedih sang suheng menjawab, 'Kita saling membunuh, sungguh berdosa terhadap budi kebaikan suhu yang telah mendidik kita. semoga arwah suhu dialam baka sudi memaafkan kesalahan muridmu ini' Sutenya menjengek. 'Kita sendiri yang mengusulkan pertandingan ini, umpama suhu marah terhadap kita, hehe, bila kau mati dan bertemu dengan suhu di dunia halus sana, tentunya kau sendiri yang harus memikul dosa ini.' Sang suheng menjawab, 'Betul, akulah yang pantas memikul dosa ini, sekalipun arwah suhu marah padaku juga akan kuterima segala akibatnya. tidak dapat kulupakan penderitaan adik Pik sebelum meninggal, penderitaannya mestinya dapat dihilangkan. Akupun tidak pernah lupa pada panggilan adik Pik sebelum meninggal, betapapun ia tidak mau berpisah denganku, padahal asalkan kau sudi memberi pertolongan, tentu dia takkan tersiksa dan juga takkan meninggalkan diriku dengan hati remuk rendam. Maka sakit hati ini harus kubalas, akupun ingin menyaksikan penderitaanmu sebelum mati' Uraian sang suheng itu membikin si sute termenung hingga tidak dapat menjawabnya, kemudian mereka lantas saling minum obat racun tukaran masing-masing, mereka muka berhadapan muka dengan perasaan tertekan, sebab mereka sama yakin obat penawar yang terkulum di dalam mulut sendiri pasti mampu menawarkan racun pihak lawan. Sang waktu berlalu sedetik demi sedetik keadaan sunyi senyap. tiada seorang pun buka suara. Murid sang suheng memandangi gurunya dengan cemas, kuatir akan perubahan air muka sang guru, sebab hal ini berarti obat penawar yang dikulumnya kehilangan khasiatnya dan jiwanya seketika akan melayang. -Tapi didengarnya sang guru berkata dengan tersenyum, 'Put-ku, jika aku mati keracunan, bawa pulanglah jenazahku dan kuburlah di samping makam ibu gurumu... ."
Diam-diam Yu Wi terkejut, pikirnya.
"Kiranya sun Put-ku adalah sutitnya, tentu saja dia tidak mau menolong musuh murid keponakannya itu."
Tapi segera terpikir pula olehnya.
"Ah, tidak betul Dia bermusuhan dengan suhengnya, dengan sendirinya sutit juga akan menjadi musuhnya, maka sepantasnya dia menolong diriku dari racun buatan musuhnya."
Sungguh Yu Wi tidak habis mengerti sebab musabab di balik semua kejadian ini. Didengarnya Yok-ong-ya menyambung lagi ceritanya.
"Di luar dugaan, yang berubah air mukanya ternyata adalah si sute, sebentar saja ia lantas jatuh terkapar sambil merintih. Maklumlah, racun buatan mereka jelas sangat jahat dan lihai, sekali racun mulai bekerja tentu sukar ditahan si sute merasa jiwanya sukar tertolong lagi, dengan suara lemah ia memanggil. 'suheng ... suheng...' Sebenarnya dia bertekad tidak sudi memanggil suheng lagi, tapi sebelum ajalnya, teringat hubungan baik pada waktu kecil, akhirnya dia memanggil suheng padanya. -Hati sang suheng pada dasarnya memang welas-asih, cepat ia mendekatinya dan bertanya, 'Ada urusan apa, sute?' Si sute meronta sekuatnya dan berkata, 'Aku tidak paham, berpisah selama lima tahun, mengapa ilmu pertabiban suheng bisa jauh melampaui diriku?' sang suheng menghela napas, jawabnya, 'selama lima tahun ini kutekun mempelajari isi Pian sik Sin Bian-Si sute merasa sangat kagum, sungguh tak terpikir olehnya pelajaran kitab tinggalan sang guru itu memiliki daya guna sehebat itu, dengan suara terputus-putus ia berkata, 'Aku ... aku sudah hampir mati, suheng, ingin kumohon dua ... dua hal padamu ....' "Urusan apa, katakan saja"
Jawab sang suheng. sutenya berkata, 'Pertama, boleh kah kulihat kitab Pian sik Sin Bian itu? ...."
Tanpa ragu sang suheng menyodorkan kitab pusaka yang diminta itu, dengan menahan sakit dalam perut ia membalik-balik kitab itu sehalaman demi sehalaman, sebagai seorang ahli pertabiban, melihat kitab ajaib dalam bidangnya itu, tentu saja timbul perasaan kagum dan minat besar atas isi kitab itu setelah membaca sejenak, ia tahu waktunya tinggal sedikit, sejenak lagi dia akan meninggalkan dunia fana ini.
Maka kitab itu dikembalikannya kepada sang suheng sambil berucap dengan lemah.
' kitab bagus, kitab bagus, setelah membaca kitab ini, mati pun aku tidak menyesal lagi ..."
Lalu sang suheng bertanya.
'Dan apa hal kedua?' Dari dalam mulut si sute sudah mulai mengeluarkan darah beracun, keadaannya sudah payah dan tak kuat bicara lagi, tapi entah darimana datangnya kekuatan.
sebisanya dia menguraikan kejadian waktu dia berusaha merayu sang suso dahulu.
Dengan tulus iklas ia menyatakan penyesalannya kepada sang suheng, katanya, 'sampai matipun aku merasa bersalah terhadap suso, maka kumohon sukalah kau bersembahyang didepan makam suso dan sampaikan rasa penyesalanku kepadanya, dalam hatiku selalu kupandang dia sebagai dewi kahyangan, seharusnya tidak boleh kunista dia, kumohon dia sudi memaafkan diriku yang lebih rendah daripada binatang ini' Habis mengucapkan hal kedua itu, ia tidak tahan lagi dan matilah dia ...
Padahal jelas diketahui Yu Wi bahwa Yok-ong-ya tidak mati, tapi masih hidup segar-bugar dihadapannya sekarang. Tapi mendengar sampai disini, tanpa terasa ia tanya juga.
"Dan benarkah dia mati?"
Yok ong-ya mencucurkan air mata, katanya.
"Dia pantas mati, sebenarnya tiada alasan baginya untuk hidup didunia ini. Akan tetapi kemudian dia siuman, dia menyangka sudah berada di akhirat, sekuatnya dia menggigit lidah dan terasa kesakitan, baru diketahuinya dia tidak mati, tapi sang suheng telah mengampuni jiwanya. Dia berdiri dan mengetahui racun dalam tubuh sendiri sudah punah seluruhnya, ia meraba dalam bajunya ada se
Jilid kitab, setelah diperiksa kiranya itulah kitab Pian sik sin Bian, keruan girangnya tak terkatakan dapat memperoleh kitab ajaib itu.
Ia membalik halaman kitab itu dan menemukan secucuk surat tinggalan sang suheng.
Surat itu mengatakan bahwa sang suheng tak tahu sute juga mencintai isterinya sehingga menimbulkan pertengkaran diantara sesama saudara seperguruan, dia dapat memaafkan kesalahan sute dikatakan pula bahwa suso sudah lama memaafkan kesalahannya, hal ini terbukti sang suso tidak pernah melaporkan apa yang terjadi itu kepada suheng, ini tandanya suso tidak memikirkan lagi kejadian itu.
-Lalu dikatakan pula bahwa sute gemar belajar ilmu pertabiban, maka kitab Pian sik sin Bian itu sengaja ditinggalkan untuk sute, semoga sute dapat mengembangkan ilmu kebanggaan perguruan, suheng menyatakan dirinya tidak cocok belajar ilmu pertabiban, buktinya sudah lima tahun mempelajari isi kitab pusaka itu toh tetap tidak lebih unggul daripada sute.
Pada akhir surat itu sang suheng menyatakan bahwa pertandingan kita ini tidak ada yang kalah atau menang, hal ini menunjukkan bakat sute dalam ilmu pertabiban jauh diatasku, maka Pian sik Sin Bian seharusnya dimiliki olehmu.
dialam baka suhu tentu juga setuju tindakanku ini.
' Bagian20
"Setelah membaca surat sang Suheng, mendadak teringat sesuatu olehnya, secepat terbang ia meningggalkan gunung dan memburu ke rumah Suhengnya, tapi kedatangannya tetap teriambat. sang suheng sudah meninggal akibat racun yang diminumnya. Si Sute mendekap di atas jenazah sang Suheng dan menangis sedih, katanya.
"o, Suheng, pertandingan kita ini jelas dimenangkan olehmu, mengapa kau tidak menolong dirinya sendiri? Kau memiliki Pian Sik Sin Bian, tidak nanti kau mati oleh racun buatanku ini."
Sute itu tahu racun buatannya sendiri itu sangat keras, sesudah diminum, tidak lama kemudian racun akan bekerja, apabila sekian lama racun tidak bekerja, hal itu berarti racun kehilangan khasiatnya.
Bahwa sang Suheng mempunyai obat penawar asalkan meminum obat penawar tiga hari ber-turut2 tentu kadar racun dapat ditawarkan seluruhnya.
Tapi sang Suheng justeru menyerahkan kitab pusaka itu kepadanya, jadi jelaslah Suhengnya memang berniat tidak mau hidup lagi di dunia fana ini...
Murid sang Suheng itu ikut menangis di sampingnya dan berkata.
"Waktu racun mulai mengganas, Titji telah membujuk Suhu agar suka minum obat penawar, tapi Suhu berkeras tidak mau, katanya lebih suka menyusul Sunio (ibu guru) saja ... ."
Sute itu menangis tergerung-gerung, katanya.
"o, Suheng, apakah kau bertahan hidup selama ini adalah karena ingin menuntut balas bagi Suso?Jika demikian, seharusnya kau balas dendam, mengapa kau ampuni diriku. Kenapa pula kau berikan Pian Sik Sin Bian padaku? Padahal ilmu pertabibanmu sangat tinggi, bakatmu juga melebihi diriku, pertandingan kita itu seharusnya dimenangkan olehmu, tugas mengembangkan kejayaan perguruan adalah bagianmu, kenapa kau serahkan kewajiban itu kepadaku, sutemu yang tidak becus ini mana bisa melebihi kau?...."
Dia berlutut dan menangis sehari semalam didepan jenazah sang suheng, ia kehabisan air mata hingga darah yang keluar, namun rasa dukanya tetap tidak berkurang.
sejak itu meski dia masih juga hidup didunia ini, namun sudah patah semangat dan tidak suka berkecimpung di dunia Kangouw lagi, yang diharapkannya adalah menemukan seorang pemuda berbakat dan menurunkan kitab pusaka Pian sik sin Bian kepaaanya agar si murid kelak dapat lebih mengembangkan nama kebesaran perguruan dan memanfaatkan ilmu pertabiban bagi sesamanya, sebab si sute merasa tidak sesuai menjadi anak murid Hong-san lagi....
Akan tetapi, selama berpuluh tahun sudah lalu dan dia belum juga menemukan pemuda yang cocok...."
Sampai di sini, tambah sedihlah tangis Yok-Ong-ya, tangisnya ini seperti air bah yang tak terbendungkan lagi, makin lama makin keras. Tanpa terasa Yu Wi ikut mencucurkan air mata, pikirnya.
"Tangisnya sekarang begini sedih, entah betapa berdukanya waktu dia menangis sambil mendekap jenazah suhengnya berpuluh tahun yang lalu?"
Lalu terpikir lagi olehnya.
"selama berpuluh tahun ini dia masih ingat jelas kejadian dahulu dan dapat menuturkan dengan terperinci, ini menandakan dia tidak pernah melupakan peristiwa itu, tentu senantiasa dia merasa bersalah dan mencerca dirinya sendiri"
Yu Wi pikir Yok Ong-ya sudah cukup lanjut usia, bila menangis lebih lama lagi tentu tidak tahan, maka ia coba menghiburnya.
"Hendaklah Cianpwej angan berduka, urusan sudah belasan tahun lampau, masakah Cianpwe masih begini sedih?"
Yok Ong-ya merasa tidak pantas menangis sedemikian sedih di depan orang luar, maka pelahan ia berhenti menangis, sedapatnya ia menahan perasaannya. Ia mengusap air mata, lalu berkata.
"Aku adalah sahabat baik supekmu, dia menyuruh kau mencari dan minta pertolonganku, mana bisa kutolak permintaannya, namun racun yang kau minum ini adalah racun buatan suheng ku yang dahulu digunakan untuk bertanding denganku, hanya racun ini telah diubah oleh su Putku menjadi racun yang kronis, tapi kadar racunnya tetap sama ."
Mendengar orang secara terus terang mengakui sang suheng dalam ceritanya tadi adalah suhengnya, diam-diam Yu Wi merasa hidup Yok-Ong-ya memang pantas dikasihani.
"Dahulu aku sudah bersumpah takkan menawarkan racun suheng yang kuminum, sebab jelas aku telah dikalahkan oleh suheng dan tidak mampu menawarkan racunnya."
"Ya, apa boleh buat, kuyakin supek pasti takkan menyalahkan kau. akupun sama sekali tidak menyesali dirimu,"
Kata Yu Wi dengan menghela napas.
"Mati atau hidup sudah takdir, tentu akan kumanfaatkan waktu selama setengah tahun untuk mempelajari isi Pian sik sik Bian agar aku sendiri dapat meracik obat penawarnya."
Diam-diam ia percaya Yok Ong-ya yang memegang Pian sik sin Bian pasti dapat menawarkan racun buatan mendiang suhengnya itu, cuma untuk menghormati sang suheng, Ia tidak berani meracik obat penawarnya.
Lalu terpikir lagi olehnya.
"Nasibku sendiri memang tidak baik, kenapa su Put-ku tidak memberikan obat racun lain padaku, tapi justeru racun yang menjadi pantangan bagi Yok Ong-ya, bila racun lain tentu sejak mula Yok Ong-ya sudah menolong diriku."
Dalam pada itu didengarnya Yok Ong-ya berkata pula kepadanya.
"Dalam waktu setengah tahun, bila dapat kau racik obat penawar, maka kitab itupun tidak perlu kau kembalikan padaku, karena kaupun berbakat, maka kitab itu boleh kau gunakan untuk mengembangkan ilmu kebanggaan perguruan kami."
"Dan kalau tidak dapat kubuat obat penawarnya, sebelum kumati. entah kepada siapa harus kukembalikan kitab pusaka ini?"
Yok-ong-ya merasa kurang senang, ucapnya.
"memangnya sedikitpun kau tidak percaya kepada kemampuanmu sendiri?"
Seketika timbul semangat jantan Yu Wi, pikirnya.
"Di dunia ini tidak ada urusan sulit, yang ada cuma orang yang tidak bertekad teguh. Betapa pun akan kuracik obat penawar yang kuperlukan."
Karena pikiran itu, dengan semangat menyala ia menjawab.
"Baik, setelah obat penawar dapat kubuat, selanjutnya pasti kupelajari ilmu dalam kitab pusaka ini untuk menolong sesamanya di dunia ini."
"Asalkan kau mempunyai cita-cita setinggi ini, maka legalah hatiku dan akupun berdoa semoga usahamu berhasil,"
Kata Yok Ong-ya dengan tertawa.
"Masih ada suatu hal ingin kuminta petunjuk kepada Cianpwe,"
Kata Yu Wi pula.
Setelah menceritakan kisah hidupnya tadi, rasa simpatik Yok Ong-ya terhadap Yu Wi telah bertambah banyak.
iapun tidak tahu mengapa dia menceritakan kisah hidupnya kepada anak muda itu, pikirnya.
"Barang kali karena wajahnya mirip suso?"
"Cianpwe ...."
Panggil Yu Wi. Yok Ong-ya tersadar dari lamunannya, jawabnya dengan tertawa.
"Adakah sesuatu yang membingungkan kau?"
"Tempo hari kudengar cianpwe menyebut Gu-mo-thian-ong-ciam, siapakah kiranya yang biasa menggunakan senjata rahasia tersebut?"
Tanya Yu Wi.
"Untuk apa kau tanya soal ini?"
Teringat kepada Lau Yok Ci, si gadis penjinak singa berbaju hitam atau bakal isteri Kan ciau-bu, seketika Yu Wi bersemangat, katanya "Wanpwe pernah ditolong oleh seorang gadis dengan senjata rahasia berbentuk jarum, kupikir mungkin jarum itulah Gu-mo-thian-ong-ciam yang disebut Cianpwe itu.."
"Siapakah gadis itu?"
Tanya Yok Ong-ya.
"Ialah keturunan Toa supek."
Jawab Yu Wi. Yok Ong-ya menggeleng, katanya.
"Gu-mo-thian-ong-ciam bukan senjata rahasia keluarga Lau, tokoh dunia persilatan yang menggunakan Thian-ong-ciam sebagai senjata rahasia di jaman ini hanya aliran Giok-bin-sin-po (si nenek sakti bermuka kemala) dari Thian-san, sebab Thian-ongciam tidak mudah diyakinkan seperti halnya Bwe-hoa-ciam, untuk berlatih Thian-ong-ciam diperlukan keterampilan gerak tangan dan Lwekang yang kuat, sangat sukar cara berlatihnya."
"Jangan-jangan dia murid Giok-bin-sin-po?"
Diam-diam Yu Wi menerka.
"Watak Giok-bin-sin-po sangat nyentrik dan belum terdengar dia menerima murid,"
Ujar Yok ong-ya lebih lanjut.
"Jika demikian, siapakah kiranya yang menghalau keruma nan penonton itu dengan Thian-ong ciam?"
Seru Yu Wi dengan heran.
"Melihat keadaan waktu itu, keterampilannya menggunakan Thian-ong-ciam jelas sudah mencapai tingkatan yang sempurna, kukira hanya Giok-bin-sin-po saja yang memiliki kepandaian setinggi itu."
Meski di dalam hati percaya, namun Yu Wi tetap bertanya.
"Mengapa Giok-bin-sin-po perlu menghalau kawanan penonton dengan Thian-ong-ciam?"
Ia pikir tujuan orang menghalau para penonton itu jelas supaya dirinya dapat mengenali sitsim-li adalah Kan Hoay-soan Jika demikian tentu orang sudah tahu aku kenal Kan Hoay-soan.
Lantas siapakah gerangan orang yang tahu bahwa aku kenal baik pada Kan Hoay-soan?"
Didengarnya Yok Ong-ya lagi berkata.
"Tindak tanduk Giok-bin-sin-po biasanya sangat aneh, bahwa dia menghamburkan jarum untuk menghalau para penonton, sungguh sukar diterka apa maksud tujuannya."
Dengan perlahan Yu Wi bergumam.
"Tidak mungkin dia kenal diriku? juga tidak mungkin dia kenal Kan Hoay-soan."
"sudahlah, jangan berpikir lagi yang bukan2,"
Kata Yok Ong-ya dengan tertawa.
"Isteri kesayanganmu kau tinggal sekian lama di luar, apakah tidak kuatir akan dimarahi dia?"
Diam-diam Yu Wi juga mengomeli dirinya sendiri yang linglung, mana boleh Khing-kiok ditinggal sendirian diluar, cepat ia menjawab dengan muka merah.
"Dia ... dia bukan isteriku ...."
"oo ..."
Yok Ong-ya tampak melengak, tapi lantas berkata pula dengan tertawa.
"Biarpun bukan isterimu, tentunya juga sahabat karibmu, akan kuundang dia ke sini."
Yok Ong-ya lantas melangkah keluar, sejenak kemudian pelahan Khing-kiok sendirian masuk ke dalam kamar.
Yu Wi lantas menyongsongnya dan memegang tangannya.
Khing-kiok meronta pelahan dan tidak terlepas, maka dibiarkan tangannya dipegang anak muda itu, tapi dengan nada kesal ia bertanya.
"Apa saja yang kalian bicarakan sampai setengah harian, masa aku tidak boleh ikut mendengarkan?"
Yu Wi menghela napas, katanya.
"Yok Ong-ya mengisahkan suatu kejadian di masa lampau, kisah mengenai dirinya sendiri selama hidup beliau merasa tertekan dan menyesal, aku menjadi ikut terharu."
"Pantas kudengar suara orang menangis, kiranya Yok Ong-ya, mungkin ketika dia berceritera sampai bagian-bagian yang sedih sehingga menangislah dia,"
Kata Khing-kiok. Yu Wi membenarkan sambil mengangguk.
"Padahal dia sudah lanjut usia dan masih menangis sedih, maka dapat dibayangkan betapa menderita hidupnya ini,"
Kata Khing-kiok pula.
"Eh, Toako, bagaimana kisahnya, dapatkah kau ceritakan padaku?"
"Baik, kalau ada waktu senggang akan kuceritakan padamu,"
Ucap Yu Wi. Melihat Kan Hoay-soan masih duduk termangu-mabgu disamping meja sana, sinar matanya buram dan pandangnya kaku, sama sekali tidak berkedip. Khing-kiok lantas tanya pula.
"Apakah penyakitnya sudah disembuhkan?"
Kembali Yu Wi menghela napas, katanya.
"Hanya dapat dikatakan baru sembuh separoh dan masih ada setengahnya belum dapat disembuhkan."
Lalu secara ringkas tapi jelas ia ceritakan keadaan penyakit Kan Hoay-soan. Selesai mendengar cerita Yu Wi, tanpa terasa, Khing-kiok juga menghela napas terharu, katanya.
"Ai, sungguh dia harus dikasihani. Dalam setengah tahun ini Toako harus mencari orang untuk menyembuhkan racun dalam tubuh sendiri, sekarang harus pula mencari sam-gan-siusu untuk menolong nona Kan, apakah waktunya cukup bagimu?"
"Yok Ong-ya telah meminjamkan se
Jilid kitab pusaka pertabiban padaku, kupikir dalam setengah tahun ini akan kucari suatu tempat yang tenang untuk mempelajari isi kitab, lalu meracik sendiri obat penawar racun, apabila diriku sudah sembuh, segera kujelajahi dunia ini untuk mencari sam-gan-siusu."
"Kitab pusaka macam apakah itu?"
Tanya Khing-kiok.
"Kitab tinggalan tabib sakti Pian sik dijaman ciankok, asalkan dalam setengah tahun dapat kupahami isi kitab ini, pasti dapat kupunahkan rcun dalam tubuhku sendiri"
"Dan kalau tidak dapat memahaminya?"
Tanya Khing-kiok dengan sedih. Dengan pedih Yu Wi menjawab.
"Persoalan ini menyangkut pertaruhan jiwa dua orang. jika menang atau berhasil, jiwaku dan Hoay-soan akan tertolong, kalau gagal, jelas aku akan mati dan Hoay-soan akan hidup terluntang-lantung tanpa sandaran, tiada orang yang dapat menjaganya...."
Sampai di sini, mendadak ia genggam tangan Khing-kiok dengan kencang dan memohon dengan sangat.
"Ada suatu hal ingin kuminta bantuanmu...."
"Apakah kau minta kujaga Hoay-soan?"
Tanya Khing-kiok dengan hampa. Yu Wi mengangguk. ucapnya.
"Hendaklah kau jaga dia dan antarkan dia kembali ke tempat Yok Ong-ya ini agar beliau dapat berusaha menyembuhkannya .Jika Yok Ong-ya juga tidak berhasil menemukan sam-gan-siusu, kuharap sukalah kau bawa dia pulang ke Hek Po dan mohon ayahmu suka memberinya makan...."
Mendadak Khing-kiok mencucurkan air mata, katanya.
"Kalau Toako meninggal. akupun tidak ingin hidup lagi."
Tergerak hati Yu Wi sehingga tidak sanggup bersuara. Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara si Tikus sedang bicara di luar.
"Antar saja ke dalam"
Lalu terlihat seorang pegawai toko obat masuk dengan membawa satu bakul nasi dan satu kotak sayur-mayur, si Tikus mengikut dibelakang dan juga membawa kotak makanan. Dengan tertawa si Tikus berkata.
"Toalopan kami memesan satu meja perjamuan dari restoran didepan sana, kata beliau harus menjamu makan kalian sebaik-baiknya."
Ia lantas menyuruh rekannya mengatur sayur-mayur itu di atas meja, lagak si Tikus seperti tuan rumah saja. Dengan tertawa Yu Wi berkata.
"Undanglah Toa lopan kalian agar ikut makan"
"Sejak pagi-pagi Toalopan sudah pergi, katanya kalian masih harus tinggal setengah tahun disini"
Tutur si Tikus.
"Ah, beliau sudah pergi?"
Seru Yu Wi. saat itulah si kuasa toko tampak masuk, katanya dengan tertawa.
"Toalopan kami sudah berangkat sejak pagi tadi."
"Beliau pergi ke mana?"
Tanya Yu Wi. Kuasa toko itu menggeleng. jawabnya.
"Entah, biasanya Toalopan pergi-datang tidak menentu, siapapun tidak tahu saat ini beliau pergi ke mana, pendek kata ada lima tempat yang selalu didatangi beliau."
Yu Wi pikir Yok Ong-ya sengaja tirakat di kola ramai, dengan sendirinya jejaknya tidak ingin diketahui orang. Ia coba tanya pula.
"Apakah beliau meninggalkan pesan?"
"Waktu mau berangkat Toalopan memberi pesan bahwa kalian masih perlu tinggal disini, kata beliau ketiga tabib toko kami cukup bisa diandalkan, apabila ilmu pertabiban yang anda pelajari ada sesuatu yang kurang jelas, boleh Anda minta petunjuk kepada mereka."
Diam-diam Yu Wi pikir maksud baik Yok Ong-ya itu sangat besar manfaatnya bagiku, sebab kalau dirinya harus pergi dari sini, tempat kediaman yang tenang terang sukar dicari, lalu cara bagiamana dapat mempelajari kitab pusaka itu dengan baik, kalau ada bagian yang tidak dipahami, kepada siapa pula dirinya dapat bertanya?
Karena itulah ia lantas menjawab.
"Baiklah, kuterima dengan senang hati maksud baik Toalopan kalian, cuma kalian yang pasti akan tambah repot bilamana kami tinggal di sini, untuk ini sebelumnya perlu kuminta maaf."
"Ah, tidak menjadi soal,"
Kata si kuasa toko "silakan Anda tinggal saja dengan tenang, ada keperluan apa-apa hendaklah kami diberitahu."
Ooo ooo-ooo Begitulah, sang waktu berlalu dengan cepat, hanya sekejap saja setengah tahun sudah lewat.
selama setengah tahun ini siang dan malam Yu Wi giat mempelajari isi kitab pusaka Pian sik sinBian, sedikitpun tidak kendur.
Lim Khing-kiok juga cukup bijaksana dan tahu aturan, ia mengerti waktu setengah tahun ini sangat besar artinya, maka selain sehari-hari rajin meladeni Yu Wi, tidak lupa iapun melayani Kan Hoay-soan makan minum berpakaian dan tidur.
Nona itu bekerja tekun tanpa mengomel sepatah-katapun, iapun tidak pernah mengganggu pelajaran Yu Wi, selama setengah tahun hampir tidak ada sepuluh kalimat dia berbicara dengan Yu Wi.
Yu Wi belajar dengan cermat.
ditambah ada tiga orang tabib yang siap memberi petunjuk padanya, maka kemajuannya selama setengah tahun boleh dikatakan sangat besar dan pesat.
Isi kitab itu telah dibacanya dengan jelas danpaham, lebih-lebih bagian yang mengenai obat racun, bab ini khusus dipelajarinya dengan lebih teliti.
Bab obat racun ini memuat segala jenis makhluk dan tumbuh-tumbuhan berbisa di dunia ini serta cara meracik obat racun dan sifat bekerjanya racun itu sendiri.
Mengenai cara-cara menawarkan berbagai macam racun itu menyangkut teori pengobatan yang sangat dalam, kalau bab ini sudah dikuasai dengan baik, lalu kepandaian ini digunakan mengobati bermacam-macam racun di dunia ini tentu akan terasa sangat mudah.
Hari ini dia berhasil meracik obat penawar dan diminumnya sendiri, ia pikir apabila dalam tiga hari racun tidak bekerja, maka dia akan minum lagi obat penawar itu, kalau berturut-turut sudah minum obat penawar tiga kali, tentu racun kronis pemberian su Put-ku itu akan dapat dipunahkan seluruhnya.
Melihat hasil Yu Wi boleh dikatakan sudah tercapai setengah bagian, hati Khing-kiok juga sangat girang, tanpa terasa kata-kata yang tersimpan dalam hati selama setengah tahun ini terus dilontarkan keluar seluruhnya.
Dengan tertawa Yu Wi mendengarkan pembicaraan si nona, lama-lama minat bicara Yu Wi sendiripun timbul, maka mereka bercengkrama terlebih asyik, mereka bicara ke timur dan ke barat, segala urusan mereka perbincangkan.
Hanya Kan Hoay-soan saja yang tidak paham dan tidak mengerti apa yang dibicarakan mereka, dia masih tetap linglung, tahunya hanya makan bila lapar, kalau lelah lantas tidur, lebih dari ini dia tidak tahu apa-apa lagi.
Mereka terus mengobrol dari lohor hingga magrib pada saat itulah mendadak terdengar suara gaduh di luar sehingga pembicaraan mereka terputus, mereka terkejut dan berbangkit.
Tapi Kan Hoay-soan seperti tidak merasakan apapun, dia masih tetap berduduk termangu di tempatnya.
Belum lagi Yu Wi keluar pintu untuk melihat yang terjadi, tiba-tiba si Tikus berlari masuk mukanya tampak pucat, serunya.
"Wah, celaka .....ada...."
"Tenanglah, sabar, ada urusan apa. coba katakan?"
Tanya Yu Wi. si Tikus tampak masih ketakutan. katanya dengan gemetar.
"Ada... ada ...."
Yu Wi tidak sabar lagi, ia menerjang keluar setelah menembus halaman tengah, sampailah didepan toko.
Dilihatnya didepan toko berdiri dua kakek tinggi besar, yang sebelah kiri berbaju kain belacu, rambutnya merah kuning dan terikat menjadi satuJung kecil di belakang kepala.
Mukanya seram menakutkan, kalau melihatnya ditengah malam pasti akan disangka setan yang terlepas dari akhirat.
Kakek yang sebelah kanan tidak kurang menakutkannya daripada kakek sebelah kiri, dia memakai baju longgar kain putih, entah mengapa ikat pinggangnya adalah seutas tali rumput yang besar.
hati siapapun merasa tidak enak bila melihat tampang dan dandanannya.
Kedua orang kakek itu berdiri persis di depan pintu toko, meja toko yang panjang itu sudah pecah dan roboh, jelas karena dihantam sekerasnya oleh kedua kakek itu.
Di belakang mereka terdapat sebuah joli atau tandu mewah, empat lelaki kekar peng gotong tandu tampak berdiri disamping, ditepi tandu berdiri pula satu orang, cuma tidak kelihatan wajahnya.
Yu Wi malas untuk melongok siapa yang berdiri didalam tandu itu, setiba di depan toko, didengarnya si kakek berbaju belacu sedang berteriak.
"Kalau tidak lekas suruh Yok-ong-ya keluar, segera kami membongkar toko kalian ini."
Si kakek berbaju putih bergelak tertawa, teriaknya.
"Mengapa Yok-ong-ya malu untuk bertemu dengan orang? Kami mohon bertemu karena ada urusan penting, kenapa main sembunyi saja di dalam?"
Dengan suara lantang Yu Wi lantas bertanya.
"Ada urusan apakah kalian mencari Yok-ong-ya?"
"Tentu saja minta diobati dia,"
Seru si kakek baju putih samhil berpaling.
"Untuk apalagi mencari dia kalau bukan untuk menyembuhkan orang."
"Tapi Yok-ong-ya tidak di sini,"
Jawab Yu Wi dengan tenang.
"Sialan"
Damperat si kakek berbaju belacu.
"Memangnya siapa kau? Untuk apa kau ikut bicara?"
Setelah berpikir sejenak. Yu Wi menjawab.
"Aku ini murid Yok Ong-ya yang tidak resmi."
"Ah, bagus, boleh kau panggil keluar suhumu,"
Seru si kakek baju putih.
"Kan sudah kukatakan, beliau tidak di rumah,"
Kata Yu Wi.
"Kentut"
Si kakek berbaju belacu menjadi gusar.
"Yok-ong-ya hanya sembunyi di lima tempat, sudah empat tempat kami mencarinya dan tidak bertemu, tempat ini adalah tempat kelima dan yang terakhir. kalau dia tidak di sini, lalu di mana?"
Diam-diam Yu Wi merasa heran.
"Siapakah mereka ini? Mengapa tahu lima tempat pengasingan Yok-ong-ya ini?jangan-jangan kedatangan mereka inipun atas petunjuk sahabat Yok Ong ya. jika demikian, tidaklah pantas bertengkar dengan mereka."
Karena pikiran ini, dengan ramah-tamah ia lantas menjawab.
"Tapi beliau benar-benar tidak disini."
Si kakek berbaju putih tampaknya lebih tahu aturan, dengan tertawa ia berkata.
"Jika gurumu tidak berada di rumah, boleh juga silakan kau periksa penyakit siocia kami, coba penyakit apa yang menyerangnya. Perguruan ternama tentu tidak mengeluarkan murid bodoh, silakan kau lakukan tugasmu dan janganlah menolak."
Dengan tulus ikhlas Yu Wi mengangguk.
"Baik, akan kuperiksa sebisanya, kalau dapat kusembuh kan tentu kusembuhkan, kalau tidak dapat, silakan kalian mencari tabib yang lebih mahir."
Si kakek baju putih menjadi girang. serunya.
"Tentu, tentu silakan, lekas"
Yu Wi lantas mendekati tandu itu.
dilihatnya orang didalam tandu adalah seorang nona yang sangat cantik ibaratnya anggrek di tengah lembah gunung yang sunyi, kecantikan nona sakit ini sungguh tidak di bawah Lau Yok Ci.
Hanya kulit badan sinona sakit ini lain dari pada yang lain, kulit badannya yang tertampak dari luar kelihatan bersemu merah seluruhnya seperti bunga merah yang semarak.
Nona sakit ini memejamkan mata dan berbaring di atas dipan berkasur didalam tandu.
"siocia, silakan membuka mata,"
Kata Yu Wi. Pelahan nona sakit itu membuka kelopak matanya, sungguh tak terkatakan betapa indah biji matanya cuma di sekitar biji mata juga penuh bersemu merah tipis. Segera Yu Wi berkata.
"siocia, kau mengidap som-tok (racun Jinsom), tapi masih keburu disembuhkan."
Orang yang sejak tadi berdiri disisi tandu dan tidak kelihatan wajahnya itu mendadak berpaling, berkata.
"Omong kosong aku tidak tahu racun apa yang menyerangnya, tapi kau malah tahu. memangnya siapa dapat kau tipu?"
Waktu Yu Wi menoleh, orang ini ternyata su Put-ku adanya.
"Aha, kiranya kau"
Seru Yu Wi dengan tertawa.
"pantas mereka tahu tempat tinggal Yok-ongya."
"Dimanakah susiokku?"
Tanya su Put-ku dengan menarik muka.
"Setengah tahun yang lalu Yok-ong-ya telah pergi dari sini dan entah berada di mana sekarang,"
Tutur Yu Wi.
"Hm, kau dusta, susiok pasti berada disini"
Ejek su Put-ku.
"Untuk apa kudusta?"
Kata Yu Wi.
"Yok-ong-ya memang betul-betul tidak berada disini."
"Ingatkah kau sudah berapa lama kita berpisah?"
Tanya su Put-ku tiba-tiba.
"sejak perpisahan di siau-ngo-tay-san, sampai sekarang sudah lebih dua tahun"
"Hehe, masakah salah lag"
Jengek su Put-ku sambil terkekeh.
"sudah lebih dua tahun dan kau masih hidup, kalau susiok tidak berada disini. mungkinkah kau bisa hidup sampai sekarang?"
Ia berpaling kearah si cantik sakit didalam tandu dan berkata pula.
"Penyakit siocia hanya dapat disembuhkan oleh susiokku, bocah ini tidak bicara secara jujur, boleh suruh Kau-hun-sucia menghajar adat padanya dan tentu dia akan bicara terus terang."
Su Put-ku merasa bukan tandingan Yu Wi, maka bermaksud meminjam tangan si kakek berbaju belacu yang bergelar "Kau hun-sucia"
Atau si rasul pencabut nyawa, untuk menghadapi anak muda itu.
Kalau si kakek berbaju belacu bergelar Kau-hun-sucia, maka si kakek berbaju putih bergelar Toat-pek-sucia atau si kakek pembetot sukma.
Terdengar si cantik sakit berkata dengan suara lemah.
"Apakah betul guru Kongcu memang tidak berada di sini?", Yu Wi mengangguk. belum sempat menjawab, si cantik berkata pula.
"Kalau gurumu tidak ada, merepotkan kau untuk mengobati sakitku."
Cepat su Put-ku menyela.
"He, siocia,jangan percaya kepada ocehannya, dia paham apa? Kalau dia tidak ditolong oleh sosiokku, sudah lama jiwanya pasti sudah melayang dibawah racun perguruanku mana dia paham ilmu pengobatan segala?"
"Orang she su,"
Jengek si cantik tiba-tiba.
"Apa kau tahu aku mengidap penyakit apa?"
"Penyakit siocia sangat aneh, sayang pengetahuanku terlalu dangkal dan tidak tahu, sebab itulah terpaksa kemari untuk minta bantuan susiok."
Jawab su Put-ku.
"Meski aku tidak tahu penyakit siocia. kuyakin susiokku pasti tahu."
Si cantik menjengek pula.
"Kau bilang dia tidak mahir ilmu pengobatan, kau sendiri mengapa tidak tahu penyakit apa yang kuidap, tapi sekali omong dia telah tepat menyebut penyakitku. Nah, bagaimana penjelasanmu?Jangan-jangan kau sengaja atau pura-pura bilang tidak tahu?"
Su Put-ku tampak gugup, cepat ia menjawab.
"Ah, mana su Put-ku berani pura-pura tidak tahu. Aku memang betul-betul tidak tahu sakit siocia ini, Kalau tahu, sejak mula sudah kuberi obat yang mujarab dan tidak perlu lagi datang kemari."
Si cantik sakit tampak berkerut kening, dengan air muka menghina ia berkata.
"Kalau kau tidak tahu hendaklah berdiri saja di samping sana, apa yang kau rewelkan pula?"
Dengan munduk-munduk su Put-ku mundur beberapa langkah kebelakang dan tidak berani bersuara lagi. Diam-diam Yu Wi merasa heran, pikirnya.
"Katanya su Put-ku sudah bersumpah tak mau menolong orang lagi, mengapa dia tunduk benar kepada si cantik sakit ini, bahkan sikapnya kelihatan sangat takut padanya."
Dalam pada itu si nona cantik sakit itu tersenyum kepada Yu Wi, katanya.
"Sejak kecil badanku lemah dan penyakitan, ayahku sering memberi Jinsom padaku dan entah sudah berapa banyak yang kumakan, kau bilang aku kena racun Jinsom. kukira memang benar. Nah, apakah penyakitku ini dapat disembuhkan?"
"Jinsom sebenarnya adalah obat kuat yang sangat mujarab."
Tutur Yu Wi.
"Tapi ada semacam jinsom daun merah, kalau dimakan bukan saja tidak bermanfaat, sebaliknya malah bisa membikin celaka Jinsom daun merah ini sukar dibedakan daripada Jinsom biasa, jenisnya juga sedikit sehingga jarang diketahui umum, maka kalau Jinsom daun merah itu dipetik oleh pencari Jinsom, karena kurang pengertian, bila dimakan oleh orang yang menggunakannya lambat-laun orang yang makan Jinsom daun merah ini akan keracunan, gejala penyakitnya adalah sekujur badan terasa lemas tak bertenaga. apabila sekujur badan sudah merah seluruhnya, maka tak tertolong lagi... ."
"Wah, lalu bagaimana baiknya, siocia kami... ."
Si kakek baju putih tampak gelisah. Yu Wi menoleh dan berkata kepada kakek baju putih alias Toat-pek-sucia itu.
"Untung kedatangan siocia ini belum kasip. tadi sudah kuperiksa dan belum merah seluruhnya, kuyakin dalam waktu dua-tiga hari tidak berbahaya, asalkan diberi obat penawar tentu akan sembuh."
"Jika begitu, lekas kau beri obatnya, untuk apa berdiri dan omong melulu?"
Teriak si kakek belacu alias Kau-hun-sucia.
"Sacek (paman ketiga),"
Ucap si nona sakit itu tertawa.
"kita minta diobati, hendaklah kau sedikit sopan terhadap orang."
Tapi Kau-hun-sucia tetap bicara dengan garang.
"Memangnya kenapa? Masa dia berani menolak? sopan atau tidak dia tetap harus mengobati siocia. kalau tidak sembuh, segera kucabut jiwanya "
"Samte, kau sembarangan ngaco-belo apa?"
Damperat si kakek bajuputih. Lalu ia berpaling dan berkata kepada Yu Wi dengan tertawa.
"samteku ini memang berwatak keras, janganlah engkau tersinggung."
"Ah. tidak apa-apa,"
Ucap Yu Wi dengan tertawa.
"Tujuanku belajar ilmu pengobatan adalah untuk menolong orang. silakan kalian membawa siocia kedalam, akan kukumpulkan bahan obat untuk membuat obat penawarnya."
Wajah Kau-hun-sucia yang buruk itu menampilkan senyuman jelek, katanya.
"Baik juga hati bocah ini, maaf ya jika tadi aku sembarangan omong.
"Plak", mendadak ia gampar mukanya sendiri. Diam-diam Yu Wi merasa geli, pikirnya.
"Meski muka orang ini sangat buruk. tapi wataknya polos dan jujur."
Maka rasa dongkolnya tadi lantas banyak berkurang. Toat-pek-sucia lantas menyuruh keempat kuli menggotong tandu, selagi Yu Wi hendak mendadak masuk kedalam toko, mendadak su Put-ku berseru.
"Nanti dulu, orang she Yu, aku ingin tanya padamu"
"Ada apa?"
Tanya Yu Wi sambil berpaling.
"Dari mana kau tahu Jinsom daun merah yang jarang diketahui orang di dunia ini?"
Jengek su Put-ku.
"Jangan-jangan dapat kau baca di dalam Pian sik sin Bian?"
Rupanya su Put-ku juga tahu di antara macam-macam Jinsom itu ada sejenis Ang-hio-som atau Jinsom berdaun merah yang mengandung racun hal inipun didengarnya dari sang guru, tapi tidak tahu bagaimana gejala keracunan serta menawarkannya.
Kini didengarnya Yu Wi bicara seperti seorang ahli, seketika timbul rasa curiganya.
Dengan jujur Yu Wi lantas menjawab.
"Betul. dari Pian sik sin Bian kuketahui jenis Jinson berdaun merah ini."
So Put-ku bertambah sangsi, katanya.
"Apa susiok yang memberi kitab itu padamu untuk dibaca."
"Ya, bukan saja Yok-ong-ya memberi baca Pian sik sinBian ini, bahkan kitab pusaka inipun diberikan padaku."
Air muka su Put-ku berubah seketika, makinya.
"Kentut busuk, Masa susiokku bisa memberikan Pian sik sin Bian padamu?"
Yu Wi masih gemas karena orang telah memberi racun padanya, dia sengaja hendak membikin marah padanya, segera ia memperlihatkan kitab pusaka itu dan berkata.
"Lihatlah, bukankah ini pian sik sin Bian?"
Su Put-ku melihat yang dipegang Yu Wi itu memang benar kitab pusaka yang dimaksud, mendadak ia membentak.
"Berikan padaku"
Secepat terbang mendadak ia menubruk maju dan bermaksud merampas kitab itu.
Tapi Yu Wi sudah berjaga-jaga, dengan ringan ia berkelit ke samping.
Sekali tubruk tidak kena, su Put-ku memutar balik, kesepuluh jarinya terpentang, kembali ia mencengkeram ke arah Yu Wi.
Melihat sinar mata orang hanya menatap tajam pada kitab yang dipegangnya, rasanya seperti ingin sekali raih merampasnya.
Yu Wi tahu orang pasti sudah sangat lama ingin mendapatkan kitab ini, betapapun dirinya harus berhati-hati agar kitab itu tidak diserobot.
Tampaknya Su Put-ku sudah hampir kena meraih kitab yang dipegang Yu Wi, mendadak terdengar suara nyaring keras sehingga anak telinga tergetar seakan2 pekak, kontan su Put-ku roboh terjungkal.
Yu Wi berpaling, dilihatnya Kau-hun sucia memegang dua kepeng Poat (sejenis tetabuhan logam tipis, bering-bering), dengan gelak tertawa orang aneh itu sedang berkata.
"Makhluk tua, kau sendiri yang cari penyakit"
Menyusul "creng", ia tabuh pula bering-beringnya dengan keras, seketika su Put-ku bergulingan ditanah sambil menjerit.
"setop. setop Berhenti"
Tapi Kau-hun-sucia masih terus membunyikan dua tiga kali, dengan senang ia berkata.
"Kau minta berhenti? Hah, masakah begitu gampang?"
Terdengar suara nyaring memekak telinga itu terus menerus, setiap kali suaranya membuat su Put-ku tergetar hingga menjerit ngeri, sampai belasan kali alat Kau-hun-sucia dibunyikan.
su Putku telah babak-belur karena bergulingan ditanah, jelas dia tidak tahan dan sangat menderita.
Toat-pek-sucia dan si cantik sakit itu menyaksikan kejadian itu tanpa ambil pusing, Yu Wi tidak tega meski dia sendiri sangat benci terhadap su Put-ku, segera ia berteriak.
"Berhenti"
Tampaknya Kau-hun-sucia tambah semangat membunyikan alat tetabuhannya sehingga tidak menghiraukan seruan Yu Wi itu.
melahan dia terbahak-bahak setiap kali melihat su Put-ku menjerit kesakitan luar biasa.
Karena seruannya tidak dihiraukan, Yu Wi melangkah maju, kedua tangannya terjulur kedepan, langsung ia rampas kedua kepeng Poat tembaga itu dari tangan Kau-hun-sucia, dengan enteng ia lemparkan benda itu ke udara, hanya sekejap saja lenyaplah tanpa bekas.
Kedua alat tetabuhannya direbut secara aneh, lalu dilempar hilang, keruan Kau-hun-sucia jadi melenggong, tanyanya.
"He, kubantu kau merobohkan dia, mengapa kau berbalik menolong dia?"
Si cantik sakit berkata dengan tertawa.
"samcek, masakah kau lupa bahwa mereka adalah saudara seperguruan, kau hajar murid paman gurunya, memangnya dia rela tinggal diam"
Lalu ia berpaling dan berkata kepda Yu Wi.
"Kungfumu ternyata jauh lebih tinggi daripada makhluk aneh itu, lebih-lebih langkahmu yang ajaib tadi, kungfu apakah namanya?"
Dengan muka masam Yu Wi menjawab.
"Apakah su Put-ku telah dicekoki obat bius oleh kalian?"
Mendadak Kau-hun sucia membentak dengan gusar.
"Karang ajar Kau rampas dan melempar hilang senjataku, tidak kumarah padamu, sekarang siocia kami tidak kau jawab, memang ingin diberi hajar adat?"
Yu Wi menjengek.
"Hm, kalau tidak mengingat watakmu yang kasar tapi polos, tentu takkan kuampuni perbuatanmu yang kejam tanpa kenal kasihan tadi."
Kontan Kau-hun-sucia berkaok-kaok,"
Wah Jika demikian, jadi senjataku kau rampas dan lempar hilang termasuk hukuman sekadarnya?"
Dengan kereng Yu Wi menjawab.
"Betul selama hidup orang she Yu paling benci kepada orang yang suka menggunakan obat bius segala, kurampas dan buang senjatamu sudah terhitung hukum paling ringan, kelak bila kulihat kau gunakan suara gembrengmu untuk merobohkan orang, pasti akan kupotong kedua tanganmu."
"Wah, besar amat suaramu"
Tukas si cantik tertawa.
"Hm, apakah kau tidak percaya?"jengek Yu Wi.
"Eh, janganlah kau bersikap segarang ini padaku,"
Ucap si cantik dengan suaranya yang merdu.
"Ingat, aku ini pasienmu. Eh, tentunya persoalan kecil ini takkan mengubah pikiranmu untuk mengobati penyakitku, bukan?"
"Seorang lelaki sejati, sekali sudah omong pasti kutepati,"
Kata Yu Wi dengan gagah.
"Tapi coba jelaskan dulu, obat bius apa yang kau cekokkan kepada Su Put-ku?"
"Itulah obat simpanan keluargaku."
Jawab si cantik.
"Karena kau tidak ingkar janji untuk mengobati penyakitku, biarlah kuberikan juga obat penawar padanya sebagai syarat pertukaran kita."
Lalu ia mengeluarkan satu botol porselen kecil dan berkata.
"Jicek (paman kedua), coba kau beri minum obat ini kepada makhluk tua itu."
Toat-peks-sucia mengiakan dan menerima obat itu. lalu menyingkir kesamping untuk memberi minum obat itu kepada su Put-ku.
"Sekarang jawab lagi, sebab apakah kau beri minum obat bius kepada su Put-ku?"
Tanya Yu Wi pula.
"Kugunakan obat bius, masakan hal inipun tetap akan kau usut?"
Ucap si cantik dengan tertawa.
"Asalkan lain kali tidak kau gunakan lagi obat begituan, aku takkan mencari perkara padamu,"
Kata Yu Wi tegas.
"Suhengmu itu adalah makhluk aneh termashur Kangouw, demi memohon dia menyembuhkan penyakitku, terpaksa harus kurancang suatu mengatasi dia, kalau tidak mana dia mau menuruti kehendak kami dan membawa kami kesini untuk minta kepada susioknya agar suka mengobati penyakitku."
Yu Wi sendiri sudah mengalami kesulitan waktu minta pengobatan pada su Put-ku, maka cerita si cantik tidak mengherankan dia.
Terpikir pula Watak su Put-ku sangat keras, tapi sekarang tunduk di bawah obat bius yang diminumnya, apabila diriku berada dalam keadaan seperti dia, akupun akan tunduk dan menerima segala permintaan nona ini.
Teringat kepada betapa keji dan menakutkannya obat bius, Yu Wi lantas berkata.
"Akan kusembuhkan penyakitmu, tapi kuminta selanjutnya jangan kau gunakan obat bius untuk mencelakai orang,"
"Apakah benar-benar kau benci kepada orang yang suka mengunakan obat bius?"
Tanya si cantik. Yu Wi mengangguk. katanya.
"Menjadi orang harus bertindak secara jujur dan terang-terangan, terhitung ksatria macam apa jika mengatasi orang lain dengan obat bius atau ilmu sihir dan sebagai nya. Untuk membikin orang tunduk lahir-batin harus digunakan kepandaian sejati."
"Baik, baik, aku berjanji selanjutnya takkan menggunakan lagi obat bius,"
Ucap si cantik dengan tertawa. Dalam pada itu su Put-ku sudah minum obat penawar. ia merangkak bangun dalam keadaan lemas.
"Lekas enyahlah kau Kami tidak memerlukan kau lagi"
Bentak Kau-hun-sucia. Tapi bukannya pergi, sebaliknya su Put-ku malah melangkah maju. katanya terhadap Yu Wi.
"Berikan pian sik sin Bian padaku"
"Pian sik sin Bian kuterima dari Yok ong-ya, kenapa harus kuberikan pada mu? "jawab Yu Wi.
"Kitab pusaka itu asalnya adalah barang tinggalan suhuku, beliau memberikannya kepada susiok untuk dipelajari isinya, jika susiok hendak mewariskan lagi kitab itu kepada keturunan perguruan, maka seayaknya dia mewariskannya padaku dan tidak boleh kepadamu"
"Gurumu memberikan kitab ini kepada susiokmu, ini berarti kitab pusaka sudah menjadi milik susiokmu, lalu Yok-ong-ya ingin mewariskan kitab ini kepada siapa adalah haknya, syukur beliau menghargai diriku dan mewariskan kitabnya padaku, sekarang kitab ini adalah milikku, pasti akan kupelajari isi kitab ini untuk menolong orang yang membutuhkannya di dunia ini jika kuberikan padamu, sedangkan kau sudah bersumpah takkan menolong orang, lalu apa gunanya?"
Dengan gusar su Put-ku membentak.
"Darimana kau tahu aku tidak mau menolong orang"
"Jika kau suka menolong orang, masa kau diberi nama su-put-kiu?"
Jengek Yu Wi. Dengan gemas su Put-ku berkata.
"Bocah kurang ajar, apakah kau tahu aku ini pernah hubungan apa denganmu?"
Yu Wi jadi teringat kepada kejadian di siau-ngo-tay-san dahulu, ketika mendengar berita ibunya meninggal, air muka su Put-ku tampak berubah. Hati Yu Wi jadi tergerak. segera ia tanya.
"Memangnya kau ini apa ku?"
Mendadak su Put-ku bergelak tertawa, katanya.
"Bukankah kau sangka aku ini suheng seperguruanmu? suheng seperguruan, hahaha, sungguh lucu, sungguh menggelikan..,."
"Apanya yang lucu dan apa yang menggelikan?"
Tanya Yu Wi dengan marah. Su Put-ku berhenti tertawa, matanya mendelik dan marah seakan-akan menyemburkan api, katanya sambil menatap Yu Wi tajam-tajam.
"Kutertawai kau tidak jelas asal-usulnya sendiri, siapa ibu sendiri pun tidak tahu, malah kau sangka ibumu sudah meninggal dunia."
"Memangnya ibuku belum meninggal?"
Tanya Yu Wi terkejut.
"Tentu saja belum,"
Jeng ek su Put-ku. Yu Wi menggeleng dengan bingung, ucapnya.
"Tidak, aku tidak percaya. sudah lama ibuku meninggal, dengan jelas almarhum ayahku memberitahukan hal ini padaku, tentu tidak salah."
Mendadak su Put-ku mencaci maki.
"Ayahmu adalah telur maha busuk. dia menyumpahi ibumu, untung dia sudah mampus, kalau tidak, pada suatu hari pasti akan kucincang dia hingga hancur lebur."
Melihat su Put-ku sedemikian benci kepada ayahnya, Yu Wi menjadi murka, mendadak ia menghantam dengan Hoa-sin-ciang.
"plak", dengan tepat su Put-ku kena digamparnya. Pelahan su Put-ku meraba pipi sendiri yang tertampar itu, pikirnya.
"Kungfu bocah ini ternyata sudah jauh lebih tinggi daripada waktu di siau-ngo-tay-san tempo hari, kalau ingin merebut Pian sik sin Bian dari tangannya agaknya sangat sukar."
Setelah menempeleng orang yang lebih tua, hati Yu Wi menjadi tidak enak. dengan rasa menyesal ia berkata.
"Ayahku adalah pendekar besar yang termashur di dunia Kangouw, asalkan tidak kau maki dia, tentu takkan sembarangan kupukul kau,"
Tapi su Put-ku lantas bergelak tertawa.
"Ha ha ha. Kau bilang ayahmu adalah pendekar besar? Haha, kentut busuk Yang benar dia adalah manusia yang rendah dan tidak tahu malu"
Segera Yu Wi bermaksud menghantam lagi, tapi demi melihat sikap orang yang sama sekali tidak berjaga-jaga, umpama sekali pukul membinasakannya juga orang takkan menangkis.
mautak mau ia pedang tangan kanan sendiri yang sudah terangkat itu dengan tangan kiri, ia pikir terhitung orang gagah macam apa menyerang seorang yang tidak melawan?
Maka dengan gusar ia hanya membentak.
"Lekas enyah kau. Enyah... ."
Su Put-ku tidak gentar sedikitpun, katanya pula.
"Kau tahu sebab apa orang menyebut aku su Put-kiu? Ha h, justeru lantaran ayahmu yang pantas mampus itulah dia, dia lupa budi dan ingkar janji, sia-sia aku menolong jiwanya, akhirnya hanya mendatangkan kebusukan. Aku kecewa, aku menyesal, memangnya setelah menolong orang hanya mendatangkan kebusukan saja?... ."
Mau-tak mau rasa gusar Yu Wi mereda demi mendengar keluhan orang, ia turunkan tangannya dan bertanya.
"Apakah benar kau pernah menyelamatkan jiwa ayahku?"
Su Put-ku seperti tidak mendengar pertanyaan Yu Wi itu, ia berkata pula.
"Jika sudah begitu, untuk apa lagi aku menolong orang? Huh, peduli sebutan apa yang akan kau berikan padaku, apakah Su Put-kui atau makhluk tua aneh segala, yang pasti aku sudah bersumpah tidak mau lagi sembarangan menolong orang... ."
Diam-diam Yu Wi menghela napas, pikirnya.
"Apabila benar ayah pernah lupa budi dan ingkar janji padanya sehingga membuat dia menyesal dan tidak mau menolong sesamanya lagi, maka keluarga Yu kami memang bersalah padanya."
Didengarnya Su Put-ku berkata pula.
"Seumpama Pian Sik Sin Bian berada padaku juga aku tidak mau lagi menolong orang. Tapi kitab itu ternyata didapatkan orang she Yu, inilah membuatku tidak rela. Nah, Siaucu (bocah), meski kungfuku sekarang bukan tandinganmu dan tidak mampu merebut kitab itu dari tanganmu, pada suatu hari kelak akhirnya pasti akan kudapatkan kitab itu."
Habis berkata, mendadak ia membalik tubuh dan melangkah pergi. Ketika bayangan orang sudah hampir menghilang dalam remang magrib, Yu Wi berteriak.
"Pada suatu hari apabila kau mau menolong lagi sesamanya, Pian Sik Sin Bian akan kupersembahkan padamu dengan kedua tanganku."
Suaranya lantang dan berkumandang hingga jauh, meski dapat didengar dengan jelas oleh Su Put-ku, tapi dia masih terus melangkah pergi tanpa menoleh Jelas ia tetap tidak mau menolong orang lagi biarpun Pian Sik Sin Bian diberikan kepadanya.
Yu Wi berdiri melenggong di tempatnya, tiada hentinya ia berpikir.
"Sesungguhnya dalam urusan apa ayah berbuat salah padanya hingga menimbulkan pandangan negitifnya terhadap ayah? ... ."
Dalam pada itu keempat kuli peng gotong tandu telah membawa tandunya ke samping Yu Wi, si cantik dalam tandu lagi menegur pelahan.
"Yu-kongcu... ."
"Ada apa?"
Sahut Yu Wi sambil berpaling, dilihatnya wajah nona sakit itu merah membara, tapi juga cantik luar biasa, teringat olehnya keadaan penyakit orang yang tidak ringan, cepat ia berkata.
"Oya, lekas bawa masuk ke dalam"
Tandu itu lantas digotong masuk melalui pintu belakang menuju kehalaman tengah, Khing-kiok menyongsong keluar dan bertanya.
"Toako, ada kejadian apakah di luar?"
Dengan tertawa Yu Wi menjawab.
"O, tidak apa-apa, ada seorang pasien minta ditolong oleh Yok-ong-ya."
Mendadak Khing-kiok melihat wajah Toat-pek dan Kau-hun-sucia, ia berjingkat kaget, serunya.
"He, sia ... siapakah mereka?"
"Ha ha, apakah wajah kami menakutkan?"
Seru Toat-pek-sucia dengan tertawa. Khing kiok memegang tangan Yu wi dan tidak berani memandang mereka lagi. sambil menepuk punggung tangan si nona Yu Wi berkata.
"Jangan takut? Hati mereka bajik dan baik,"
"Baik hati? Terima kasih atas pujian Yu-kongcu,"
Ucap Kau-hun-sucia dengan tertawa.
"Silakan siocia kalian masuk ke kamar untuk pemeriksaan penyakitnya,"
Kata Yu Wi. Dengan suara pelahan Khing-kiok bertanya.
"Yok-ong-ya tidak di rumah, siapa yang akan mengobati dia?"
"Biar kucoba,"
Jawab Yu Wi..
"Kau sanggup?"
Tanya Khing-kiok dengan ragu.
"Kalau perlu akan kuminta bantuanmu nanti,"
Ujar Yu wi dengan tertawa.
"Bantuan apa yang dapat kuberikan?"
Jawab Khing-kiok dengan heran.
Dalam pada itu si nona sakit telah melangkah turun dari tandunya dengan pelahan, tampaknya untuk berjalan saja kurang tenaga, hanya dua langkah saja dia tidak sanggup berjalan pula.
Cepat Khing-kiok memburu maju untuk memapahnya dan berkata.
"Akan kubawa kau masuk ke sana."
"Terima kasih,"
Ucap si cantik sakit dengan suara lirih. Setelah melihat jelas wajah orang, diam-diam Khing kiok juga memuji di dalam hati.
"Alangkah cantiknya"
Setiba di dalam kamar, tertampak Kan Hoay-soan masih duduk termangu di situ se-olah2 tidak melihat ada orang masuk ke situ.
"Siapakah dia?"
Tanya si nona sakit.
"Dia adalah adik Toakoku,"
Jawab Khing-Kiok. Si cantik memandang Hoay-soan sekejap dan bertanya pula.
"Apakah dia juga sakit?"
Yu Wi ikut dibelakang dan mendengar ucapan si nona sakit itu, hatinya tergerak. cepat ia bertanya.
"Tahukah siocia penyakit apa yang diidapnya?"
Si nona sakit menoleh, katanya dengan tertawa.
"Kau sendiri adalah murid tabib sakti, kalau kau tidak tahu, masa aku tahu?"
"Maklumlah, akupun tidak tahu dia sakit apa, jangan-jangan siocia tahu, sebab penyakitnya ini sukar diketahui?"
Kata Yu Wi. Si nona sakit tampak melengak, tapi segera tenang kembali, ucapnya dengan tertawa.
"Ah, jangan selalu panggil siocia padaku, kikuk rasanya. Aku ada nama dan ada she, namaku Yap Jing, orang rumah memanggilku Jing ji, maka kaupun boleh panggil Jing ji"
Bagian21 Yu Wi tahu si nona sengaja membelokkan pokok pembicaraan, maka iapun tidak bertanya lagi, katanya terhadap Khing-kiok.
"Adik Kiok, bawalah Yap-siocia istirahat dulu di bagian dalam, aku akan meracik obat baginya."
Melihat Yu Wi masih tetap menyebutnya Siocia dan tidak menyebut Jing-ji padanva, diam-diam Yap Jing kurang senang, pikirnya.
"Pada suatu hari kelak kau pasti akan memanggil Jing-ji dengan suka rela."
Kau-hun dan Toat-pek sucia selalu mendampingi Yap Jing kemanapun si nona pergi.
Sesudah nona itu dibawa masuk kedalam kamar, mereka lantas berjaga di luar pintu, tampaknya sangat setia seperti kaum hamba terhadap sang majikan.
Khing-kiok menguatirkan Kan Hoay-soan, ia keluar lagi keruangan luar dan membawanya kekamar dalam.
Waktu keluar masuk, Khing-kiok sama sekali tidak berani memandang kedua Sucia itu, Maklumlah, pembawaan Khing-kiok memang bernyali kecil, dia tidak berani memandang wajah kedua Sucia yang buruk rupa dan menakutkan itu.
Tidak lama kemudian, hari sudah gelap, datanglah Yu Wi dengan membawa obat penawar racun Jimsom berdaun merah, Khing-kiok diminta meladeni Yap Jing dan diminumkannya.
"Yap siocia,"
Kata Yu Wi.
"silakan istirahat dengan tenang semalam, besok pagi warna merah pada tubuhmu tentu akan hilang dan itu berarti sakitmu sudah sembuh."
"Kalau warna merahnya tidak hilang?"
Tanya Yap Jing. Yu Wi ragu sejenak, jawabnya kemudian.
"jangan kuatir, pasti akan hilang."
Lalu anak muda itu mengundurkan diri. Satu malam berlalu tanpa terjadi sesuatu apapun. Esoknya Khing-kiok meladeni Yu Wi cuci muka, anak muda itu bertanya.
"Apakah Yap-siocia sudah tampak baik?"
"Warna merah pada tubuhnya belum hilang,"
Tutur Khing-kiok sambil menggeleng.
"Wah, repot jadinya"
Ujar Yu Wi.
"Repot bagaimana?"
Tanya Khing-kiok.
"Racun dalam tubuh Yap-siocia sudah terlalu berat dan terlambat ditolong, obat penawar yang kuberikan sukar memunahkan kadar racunnya, harus kugunakan Kim-ciam-ji-hiat-hoat (terapi tusuk jarum) untuk membantu khasiat obat penawarnya."
"Menolong orang harus sampai tuntas. hendaklah Toako lekas melakukan terapi tusuk jarum tersebut,"
Kata Khing-kiok.
"Tapi cara tusuk jarum itu cukup merepotkan, sebab harus ... harus... ."
"Harus bagaimana?"
Tanya Khing-kiok.
"Terbatas oleh adat antara lelaki dan perempuan, aku dan Yap-siocia juga baru kenal, rasanya menjadi kurang leluasa."
Khing-kiok melengak, teringat olehnya waktu dirinya membelejeti anak muda itu untuk direbus di dalam gentong, tanpa terasa mukanya menjadi merah, ia pikir jika pengobatan ini perlu main buka dan copot memang rada merepotkan, Di dengarnya Yu Wi berkata pula.
"Biarlah nanti kutambah kadar obat penawarnya, coba manjur atau tidak."
"Apakah penyakit Yap-siocia cukup berat?"
Tanya Khing-kiok.
"Kalau hari ini tidak dapat kusembuhkan dia barangkali berbahaya bagi jiwanya."
"Wah. kasihan"
Kata Khing-kiok.
"Seorang tabib harus mempunyai perasaan seperti orang tua terhadap anaknya, sekalipun kurang leluasa, terpaksa Toako harus menolongnya dengan tusuk jarum."
"Baik, hendaklah kau suka membantu,"
Kata Yu Wi.
Yap Jing berbaring tenang di tempat tidur, sedangkan Kan Hoay-soan berduduk termangu di tepi pembaringan sambil memandangi Yap Jing.
suasana didalam kamar sunyi senyap tiada suara sedikitpun.
Khing-kiok memegang tangan Hoay-soan dan mendudukkan dia disamping sana.
Melihat Yu Wi masuk ke situ, Yap Jing menyapa sambil tertawa.
"Yu-kongcu, tampaknya tak dapat kau sembuhkan penyakitku ini."
Melihat si nona tetap bergurau meski menghadapi detik antara mati dan hidup, diam-diam Yu Wi memuji akan kekuatan batinnya, ia coba memeriksa denyut nadi Yap Jing dan berpikir sejenak, katanya kemudian.
"sakitmu belum terlalu parah, jika kulakukan terapi tusuk jarum kuyakin pasti masih bisa mengatasinya."
"Dengan tusuk jarum akan kau sembuhkan penyakitku?"
Yap Jing menegas.
"Terapi tusuk jarum yang akan kulakukan ini jauh lebih berbahaya dari pada tusuk jarum biasa, sedikit salah penggunaannya akan berakibat fatal bagimu,"
Kata Yu Wi. Yap Jing tertawa, katanya.
"Sebagai ahli waris Yok-ong-ya, kupercaya kau pasti menguasai benar ilmu penyembuhan ini dan tiada bahayanya, silakan kau sembuhkan diriku dengan Kimciam-ji-hiat-hoatmu."
"Sesungguhnya aku belum mahir menggunakan terapi ini,"
Ucap Yu Wi dengan jujur dan serius.
"Hanya kutahu cara penyembuhannya dari kitab yang kubaca dan belum pernah kupraktekkan. Maka hendaklah Yap-siocia pertimbangkan lagi, sebab masih ada satu cara lain, yaitu menambah berat kadar obat penawar yang kuberikan, cuma kadar obat itu terlalu keras, umpama racun dapat kupunahkan. akibatnya siocia harus menanggung kelumpuhan selama hidup,"
"Waduh, jka aku diharuskan menggeletak ditempat tidur sepanjang tahun, mana aku betah"
Seru Yap Jing.
"sudahlah, mati atau hidup sudab takdir ilahi, janganlah Kongcu ragu lagi, silakan mulai saja."
Yu Wi lantas mengambil sebuah peti kayu kecil, didalam peti banyak terdapat alat pertabiban, peti ini adalah milik Yok-ong-ya, waktu mau pergi peti ini telah ditinggaikan kepada Yu Wi.
Dari dalam peti Yu Wi mengeluarkan 36 batang jarum emas yang berukuran berbeda-beda, yang pendek seperti jarum jahit biasa, yang panjang tidak sampai sejengkal.
Lalu katanya kepada Khing-kiok.
"Adik Kiok. harap bantu membukakan pakaian Yap-siocia."
Kini Yap Jing sudah sukar bergerak, terpaksa dia membiarkan bajunya dibuka Khing-kiok satu persatu, sampai akhirnya hanya tertinggal kutang dan celana dalam saja.
Khing-kiok merasa rikuh untuk membuka lebih lanjut, ia berpaling dan melihat Yu Wi lagi berduduk dengan prihatin, sikapnya itu mengingatkan orang kepada seorang pendeta yang alim.
Tampaknya anak muda itu tidak bermaksud menyuruhnya berhenti membuka baju nona Yap.
ia pikir mau-tak-mau harus kutelanjangi dia.
Ketika ia mulai membuka celana dalam Yap Jing, dengan suara rada gemetar nona itu bertanya.
"Apa ... apakah perlu buka lagi?"
"Kalau tidak dibuka semua, cara bagaimana Toako dapat menemukan Hiat-to yang tepat"
Ujar Khing-kiok.
Meski sedang melakukan tugas sebagai seorang tabib, tapi tabib seperti Yu Wi sesungguhnya terlalu cakap.
Tentu saja Yap Jing merasa risi dalam keadaan telanjang bulat di hadapan tabib ganteng ini.
Tapi apa daya, dirinya sendiri yang minta disembuhkan, untuk menyembuhkan penyakitnya terpaksa dirinya harus tunduk dan menurut segala perintah sang tabib.
Ketika Khing-kiok melepaskan kain terakhir dari tubuh Yap Jing, karena takut dan malu, Yap Jing terus memejamkan mata.
Mendadak ia merasa sebuah tangan yang panas meraba bagian dadanya.
sebagai gadis yang masih suci bersih, kecuali dirinya sendiri, belum pernah tubuhnya diraba orang lain.
Keruan sekujur badannya menggigil dan merinding, ia angkat tangan untuk menolak tangan yang terasa panas itu.
Mandadak terdengar suara bentakan.
"jangan bergerak"
Menyusul ia merasa Hiat-to dekat pinggang kesemutan, jarum yang cukup panjang hampir ambles seluruhnya kedalam Hiat-to tersebut, habis itu tangan yang panas itu terus bergeser, beberapa Hiat-to berikutnya juga dicocok dengan jarum.
Ke-36 Hiat-to penting tersebar di sekujur badan manusia, kepala, dada, punggung, tangan, kaki, bagian kemaluan.
selesai bagian dada ditusuk jarum, lalu bergilir pada bagian lain dan yang terakhir adalah bagian anggota rahasia.
Selesai menusuk kelima bagian tubuh yang lain sisa empat batang jarum lagi hanya dipegang Yu Wi dan tidak segera ditusukkan lagi.
Melihat keraguan anak muda itu, Yap Jing lantas tahu apa sebabnya, kini sekujur badannya boleh dikatakan sudah rata diraba oleh Yu Wi, Jantungnya berdetak keras, ia pikir bila bagian "itu"
Juga diraba, wah, bagaimana nanti?
Sampai sekian lamanya tidak terasa Yu Wi menusuk lagi, jantung Yap Jing berdebur semakin keras, ia heran kenapa anak muda itu diam saja.
sungguh ia ingin membuka mata untuk melihat betapa kikuknya tabib muda ini.
Menurut dugaannya, sebabnya Yu Wi tidak segera menusukkan jarumnya lagi tentu karena takut dan kikuk.
Padahal tidak begitulah persoalannya, Yu Wi melakukan tugas dalam kedudukannya sebagai tabib, sedikitpun dia tidak ragu dan mempunyai pikiran lain.
Malahan Khing-kiok yang menyaksikan disamping juga mengira anak muda itu takut menyentuh anggota rahasia Yap Jing, makanya ragu-ragu dan tidak berani meneruskan tusuk jarumnya.
Yang benar adalah sisa keempat jarum itu sangat penting dan berbahaya, sebab bagian tubuh manusia yang paling lemah dan peka justeru terletak di bagian anggota rahasia itulah.
Kalau tusuk jarumnya kurang hati-hati.
sedikit meleset saja, maka tamatlah hidup Yap Jing.
Diam-diam Yu Wi lagi meyakinkan dirinya sendiri agar keempat jarum yang tersisa itu tidak boleh salah tusuk.
Ia mengerahkan tenaga pada telapak tangan kiri, sebelum jarum menusuk telapak tangan kirinya digunakan meraba bagian Hiat-to yang bersangkutan dan menyalurkan tenaga murni ke situ agar jarum tidak sampai membuat cedera Hiat-to yang akan ditusuk.
sejenak kemudian, setelah yakin bagian Hiat-to itu sudah terlindung oleh hawa murni yang disalurkannya, lain jarum ditusukkan pelahan kedalam empat Hiat-to yang masih tersisa.
Selesai empat tusukan itu, seluruh badan Yap Jing benar-benar dalam keadaan lumpuh total, tapi bukan kelumpuhan badaniah melainkan kelumpuhan batin, seperti seorang yang mabuk arak.
tenaga sedikitpun tidak ada.
Yu Wi juga mandi keringat, karena baru pertama kali dia melakukan terapi tusuk jarum, lantaran tegang kelewat, tenaga murni yang dikeluarkan juga tidak sedikit, maka iapun sangat lelah, katanya kepada Khing-kiok.
"Adik Kiok. harap beri minum lagi satu dosis obat penawar."
Melihat keadaan Yu Wi yang sangat letih tak terkatakan rasa terima kasih Yap Jing, ia pikir jiwa sendiri telah diselamatkan anak muda ini, entah cara bagaimana harus membalasnya nanti.
Yu Wi bersama Toat-pek dan Kau-hun-sucia tinggal dikamar luar, waktu mereka menjenguk Yap Jing keesokannya, warna kulit nona itu sudah pulih seperti biasa, Yu Wi membuatkan pula obat kuat dan menyuruh Khing-kiok menyeduhnya dan diminumkan kepada Jing.
Tiga hari berturut-turut Yu Wi memberi minum obat kuat kepada Yap Jing, maka tenaga nona itupun pulih dengan cepat seperti sediakala.
Yu Wi sendiripun merasa racun yang mengeram dalam tubuhnya tidak bekerja meski sudah lewat setengah tahun, ia tahu tidak sia-sia usahanya selama setengah tahun mempelajari isi kitab Pian sik sin Bian itu, nyata obat penawarnya telah membawa khasiat yang menggembirakan.
Tentu saja dia sangat girang, ia pikir lewat beberapa hari lagi dapatlah dirinya membawa pergi Kan Hoay-soan untuk mencari sum-gan-siusu.
Pagi hari itu, berkatalah Yu Wi kepada Toat-pek-sucia.
"Penyakit Siocia kalian sudah sembuh, sekarang juga kalian boleh pergi."
Kau-hun-sucia bergelak tertawa, katanya.
"Murid Yok-ong-ya memang lain daripada yang lain, apabila Tocu kami mengetahui siocia kau selamatkan, beliau pasti akan sangat berterima kasih dan memberi balas jasa yang besar."
"Ah, soal kecil ini masakah perlu balas jasa segala,"
Ucap Yu Wi.
"Jika tidak ketemu kau, didunia ini tiada orang lain lagi yang mampu menolong siocia,"
Kata Toat-pek-sucia dengan tertawa.
"Jadi ucapanmu terasa agak terlalu rendah hati, balas jasa sebagai tanda terima kasih kami tidak boleh dikesampingkan."
"Lantas cara bagaimana kita harus terima kasih padanya Jiko?"
Tanya Kau-hun-sucia.
Toat-pek-sucia tidak menjawab, ia mengeluarkan sebatang seruling kecil berbentuk aneh, pelahan ia meniup seruling mini itu, seketika bergema suara melingking tajam.
Yu Wi merasa seruling mini itu sudah pernah dilihatnya, cuma entah dimana.
Tidak lama kemudian, empat sosok bayangan orang tampak berlari datang dengan cepat, hanya sekejap saja sudah masuk kekamar.
Kiranya semuanya adalah perempuan muda berbaju putih dan berambut panjang semampir dipundak.
Tangan dan kaki keempat gadis ini memakai gelang emas yang bersinar kemilauan, dandanan Mereka serupa kaum hamba dari keluarga hartawan, namun keempat gadis ini seperti membawa semacam gaya yang misterius, tangan masing-masing membawa sebuah talam emas yang ditutup dengan kain putih, dengan sangat hormat mereka menuju ke depan Toat-pek sucia .
"Singkirkan kain penutup,"
Kata Toat-pek-sucia.
Yu Wi mensa heran darimana datangnya keempat gadis berbaju putih ini, kalau dikatakan datang ikut Yap Jing, mengapa petang tempo hari tidak terlihat.
Bila dilihat dari dandanan mereka yang sama anehnya dengan Kau-hun-sucia berdua, Yu Wi jadi sangsi jangan-jangan Yap Jing adalah pimpinan organisasi rahasia mereka?
Sesudah kawanan budak berbaju putih itu membuka kain putih, terlihatlah talam yang mereka bawa itu penuh terisi emas intan dan batu manikam.
"Keempat talam permata ini mohon Kongcu sudi menerimanya,"
Kata Toat-pek-sucia dengan tertawa. Air muka Yu Wi berubah, katanya terhadap kawanan budak berbaju putih itu.
"Lekas kalian bawa pergi barang-barang ini."
"Batu permata ini tidak sedikit nilainya, apakah Kongcu merasa kurang banyak?"
Tanya Kauhun-sucia . Yu Wi menjadi marah, katanya.
"orang she Yu bukan manusia yang tamak harta. Kalau tidak lekas bawa pergi, segera akan kuusir kalian"
"Barang-barang ini harus Kongcu terima, bahkan keempat budak inipun kami berikan seluruhnya,"
Ujar Toat-pek-sucia dengan tertawa. Dengan gusar Yu Wi membentak.
"Memangnya kalian anggap aku ini orang macam apa?"
"Jika Kongcu tidak mau terima, tentu siocia akan marah kepada kami, apapun juga mohon Kongcu sudi memberi muka dan sudi menerimanya,"
Kata Toat-pek-sucia pula.
"Dan kalau aku berkeras tidak mau terima?"
Jengek Yu Wi.
"Jiwa siocia kami telah kau selamatkan, mau-tak-mau harus kau terima,"
Jawab Kau-hun-sucia . Diam-diam Yu Wi merasa penasaran, masakah didunia ini ada cara memberi hadiah dengan paksa begini, tapi ia lantas tertawa dan berkata.
"Tidak, tidak dapat kuterima. Ingin kulihat cara bagaimana akan kalian suruh kuterima."
Toat-pek-sucia lantas berseru.
"Ayo, antarkan itu kedalam"
Tapi baru saja kawanan budak berbaju putih itu hendak melangkah, mendadak Yu Wi membentak.
"Berhenti"
Kawanan budak itu tidak berhenti, segera Yu Wi hendak memburu maju untuk mencegatnya, pada saat itulah dari dalam kamar muncul seorang, ialah Yap Jing.
"Sudahlah kalau Yu-kongcu berkeras tidak mau terima,"
Kata nona cantik itu Dengan penasaran Kau-hun-sucia berkata.
"Dia tidak mau terima berarti menghina kita."
Tapi Yap Jing lantas memberi tanda kepada kawanan budak berbaju putih itu dan berkata.
"Kalian boleh mundur kesana."
Sesudah memberi hormat, dengan munduk-munduk keempat budak itu lantas mengundurkan diri keluar.
"Yu-kongcu,"
Kata Kau-hun-sucia.
"harta benda tidak mau kau terima. lalu cara bagaimana kami harus berterima kasih padamu."
"Jicek, Yu-kongcu bukanlah orang biasa. Budi besar tidak perlu dengan terima kasih, asal saja selalu kita ingat kebaikannya ini,"
Kata Yap Jing dengan tertawa.
"Siocia,"
Uuap Kun-bun-sucia.
"sudah hampir setengah tahun kita meninggalkan pulau, tentu Pocu sangat menguatirkan keadaanmu , bagaimana kalau sekarang juga kita berangkat pulang?"
Yap Jing mengangguk.
"Akan kusiapkan tandu untuk siocia,"
Kataa pula, bergegas ia melangkah keluar.
Yu Wi merasa heran akan hubungan antara Yap Jing dengan Kau-hun-sucia berdua, tampaknya seperti antara majikan dan hambanya, tapi mengapa Yap Jing menyebut mereka Jicek dan sacek (paman kedua dan ketiga).
Yap Jing tertawa terhadap Yu Wi, katanya.
"Terima kasih atas pelayananmu kepada kami selama beberapa hari ini."
"Ah, tidak apa-apa."
Ujar Yu Wi.
"Toko obat ini adalah milik Yok-ong-ya, bila kalian ingin berterima kasih harus ditujukan kepada beliau."
"Tidakkah kau sebut Yok-ong-ya sebagai suhu?"
Tanya Yap Jing.
"Beliau mengajarkan ilmu pertabiban kepadaku, tapi belum pernah berlangsung upacara pengangkatan guru."
Tutur Yu Wi.
"oo"
Yap Jing bersuara pelahan-Lalu katanya pula.
"Kutahu kau tidak suka menerima tanda terima kasih dariku, maka akupun tidak pelu banyak adat lagi."
"Maksud tujuanku belajar ilmu pertabiban adalah untuk menolong orang dan tidak mengharapkan terima kasih dari orang yang kutolong,"
Kata Yu Wi. Yap Jing termenung sejenak. setelah ambil keputusan sesuatu, tiba-tiba ia pandang Yu Wi dan berkata.
"Akupun ingin membantu sesuatu pada mu."
"Entah dalam hal apa kuperlu bantuanmu?"
Tanya Yu Wi.
"Tempo hari pernah kau tanya padaku apakah sukar untuk mengetahui penyakit yang diidap adik perempuanmu, tatkala mana tidak kujawab, sekarang hendak kukatakan bahwa penyakit adikmu memang benar sukar diketahui orang."
"Kukira tidak,"
Ujar Yu Wi.
"Kutahu penyakit adikku adalah akibat pengaruh semacam ilmu gaib yang disebut Mo-sim-gan." ---------------=siapakah dan tokoh macam apakah sam-gan-siusu dan apa hubungannya dengan Yap Jing? = Dapatkah Yu Wi menemukan sam-gan-siusu dan apa pula yang akan dialaminya? = = Bacalah
Jilid lanjutannya = = --------------Yap Jing tampak melengak, Yu Wi lantas melanjutkan.
"sedangkan di dunia ini orang yang mahir ilmu gaib Mo-sim-gan itu konon ialah sam-gan-siusu."
"Jika sudah tahu, mengapa kau tidak berusaha memohon sam-gan-siusu menyembuhkan penyakit adikmu ini?"
Tanya Yap Jing.
"Justeru segera kami akan pergi mencari sam-gan-siusu,"
Jawab Yu Wi.
"Dan tahukah kau di mana tempat tinggal sam-gan-siusu?"
"saat ini aku tidak tahu, tapi pada suatu hari pasti dapat kutemukan dia."
"Tidak perlu lagi kau cari, kutahu sam-gan-siusu tinggal di Mo-kui-to (pulau hantu)."
"Mo-kui-to?"
Yu Wi menegas.
"Dimana letak Mo-kui-to?"
"Biar kukatakan juga sukar kau temukan, akan lebih baik jika kubawa kau ke sana..."
Mendadak Toat-pek-sucia berteriak.
"He, jangan siocia, tidak boleh kau bawa dia..."
"Tidak menjadi soal Jicek,"
Ujar Yap Jing dengan tertawa. Melihat sang siocia berkeras pada pendiriannya, Toat-pek-sucia tidak bersuara lagi.
"Apakah urusan inikah yang kau maksudkan hendak membantu sesuatu pada ku?"
Tanya Yu Wi.
"Betul, Jika tidak kubawa kau kesana, biarpun kau cari sampai ke ujung langit juga sukar menemukannya. Umpama dapat bertemu dengan sam-gan-siusu juga belum tentu dia mau menyembuhkan adikmu dari pengaruh Mo-sim-gan."
Yu Wi merasa kurang senang, katanya.
"Adikku tidak ada permusuhan apapun dengan samgan-siusu, sekarang adikku telah dibuatnya hingga ling-lung begini, dengan alasan apa dia menolak menolongnya?"
"Akupun tiduk tahu sebab apa ayahku menggunakan ilmu gaibnya terhadap adikmu,"
Jawab Yap Jing.
"Jika benar tidak ada permusuhan apapun, biarlah atas nama ayah kuminta maaf padamu."
"Hah, sam-gan-siusu itu ayahmu?"
Tanya Yu Wi menegas dengan terperanjat.
"Betul,"
Yap Jing mengangguk.
"setiba di Mokui-to, pasti akan kumohon kepada ayah agar menyembuhkan penyakit adikmu."
"Kau sendiri mahir Mo-sim-siit tidak?"
Tanya Yu Wi.
"Tidak."jawab Yap Jing sambil menggeleng.
"diseluruh dunia hanya ayahku saja yang menguasai ilmu gaib ini. Kalau aku bisa, untuk apa jauh2 kuajak Kongcu ke Mo-kui-to?"
Dalam pada itu Kau-hun-sucia telah kembali.
"sacek. apakah tandunya sudah siap?"
Tanya Yap Jing.
"sudah, lagi menunggu siocia untuk berangkat,"
Jawab Kau-hun-sucia.
"Tunggu sebentar, kami akan bebenah apa yang perlu kami bawa,"
Kata Yu Wi.
"Jadi kalian mau ikut?"
Yap Jing tertawa senang.
"Maksudmu kuterima dengan baik, nanti kalau penyakit adikku sudah sembuh barulah kusampaikan terima kasih,"
"jiwaku sudah kau tolong dan tidak menghendaki terima kasih diriku, maka, sedikit urusan ini jangan kau bicara tentang terima kasih segala, asal saja kalian tidak dendam kepada ayahku. jadi?"
"Baiklah"
Kata Yu Wi dengan ikhlas. Lalu buru-buru masuk ke dalam untuk bebenah. Dengan suara pelahan Kau-hun-sucia lantas bertanya.
"siocia, apakah betul hendak kaubawa mereka ke Mo-kui-to?"
"Tocu melarang keras orang luar menginjak pulau kita, hendaknya siocia pertimbangkan lagi,"
Sambung Toat-pek-sucia.
"Kutahu,"
Kata Yap Jing.
"Tapi dia sudah menolong jiwa ku, apakah kita tetap pandang dia sebagai orang luar?"
Toat-pek-sucia tampak kuatir, katanya.
"Tapi tanpa izin Tocu, apapun juga rasanya tidak aman. Bila Tocu marah dan tidak kenal ampun, maksud baik siocia kan berbalik membikin celaka mereka?"
Sesungguhnya Yap Jing memang tidak dapat memastikan apakah ayahnva akan mengizinkan dia membawa orang asing ke Mo-kui-to atau tidak-ia termenung sejenak, akhirnya dengan tegas ia berkata.
"Jika ayah marah kepada mereka, biarlah aku yang bertanggung-jawab, pasti kubela dan takkan mereka terganggu seujung rambutpun. Kuyakin ayah pasti akan ingat hubungan antara ayah dan anak."
Toat-pek-sucia masih tetap kuatir, katanya.
"Ya, semoga Tocu mengingat penyakit siocia telah disembuhkan olehnya dan takkan marah."
Baru habis ucapannya, sekonyong-konyong sesosok bayangan orang melayang tiba, sampai di dalam kamar.
"bluk", pendatang ini terbanting dilantai. Yap Jing berdiri di dekat pintu, dengan jelas dapat dilihatnya siapa orang ini, teriaknya kaget.
"He, Giok-loh"
Kiranya orang yang terbanting jatuh ini adalah salah seorang budak berbaju putih yang baru saja pergi itu.
Cepat Toat-pek-sucia memburu maju dan membangunkannya, dilihatnya tubuh budak ini terluka tiga kali tusukan pedang, darah membasahi bajunya, jiwanya sangat berbahaya.
"Apa yang terjadi?"
Tanya Toat-pek-sucia cepat. Suara budak berbaju putih itu kedengaran lemah dan hampir tidak jelas, katanya.
"Ad ... ada tu ....tujuh orang... ."
"Tujuh orang apa?"
Toat-pek-sucia menegas.
Tapi budak itu tidak sanggup bicara lagi, baru saja mulutnya terbuka, segera napasnya putus, matanya mendelik, kematiannya cukup mengenaskan-"Kemana perginya ketiga budak yang lain"
Teriak Kau-hun-sucia. Tiba-tiba suara seorang menjawab dengan dingin dan ketus.
"Sudah pergi menghadap Giam-loong (raja akhirat)"
"Siapa itu?"
Bentak Toat-pek-sucia.
Maka tertampaklah dari balik pohon dihalaman sana muncul tujuh orang, di antaranya ada tiga orang Hwesio dan tosu, empat orang lagi berdandan orang preman, semuanya menyandang pedang, usia masing-masing yang paling tua baru empat puluhan dan yang muda paling-paling baru likuran (dua puluh lebih).
Suara yang dingin tadi diucapkan oleh satu-satunya tosu di antara rombongan pendatang ini.
Terdengar dia berkata pula.
"Inilah Jit-te-cu (tujuh anak murid) dari Bu-tong, Siau-lim, Kun-lun, Khong-tong, Hoa-san, Go-bi dan Tiam-jong."
Toat-pek-sucia melompat ketengah halaman, serunya dengan tertawa.
"Hahaha, rupanya para tokoh dari apa yang dinamakan Jit-tay-kiam-pay (tujuh aliran pedang) dunia persilatan kini berkumpul seluruhnya di sini"
Menyusul Kau-bun-sucia juga melompat maju, teriaknya dengan gusar.
"Siapakah yang membunuh dayang kami?"
Tosu itu mendengus.
"Hm, kalian berdua ini dari Mo-kui-to?"
Toat-pek-sucia terkejut, ia heran darimana orang ini mengetahui Mo kui-to segala? Belum lagi ia menjawab, dengan pelahan Yap Jing juga telah maju ke tengah halaman, dengan lemah-lembut ia berkata.
"Mengapa kalian membunuh pelayanku?"
Kiranya waktu Yap Jing meninggalkan Mo kui-to, selain kedua sucia yang ikut sebagai pelindungnya.
diam-diam iapun membawa empat pelayan.
Lantaran kuatir rombongan mereka terlalu menyolok.
maka keempat pelayan itu tidak ikut bersama kelompok Yap Jing, hanya bila bermalam di hotel barulah mereka menggabungkan diri untuk melayani si nona.
Baca Juga: Perintah Maut 10
Baca Juga: Legenda Pendekar Ulat Sutera 8