Ceritasilat Novel Online

Pendekar Kembar 7

Eps 7 Pendekar Kembar - Gan KL

Baca online Pendekar Kembar - Gan KL

Cersil Pendekar Kembar - Gan KL.

Bahkan, saat tangan kanan pemuda itu mulai menyusup ke balik baju atas Khing-kiok yang entah kapan, ikat pinggang gadis itu sudah luruh dan jatuh ke lantai, mungkin saat ia menarik Khing-kiok dalam pelukan.

Tangan yu Wi meraba-raba dada montok itu dengan lembut dan penuh perasaan kasih-Kembali tubuh gadis itu berkelejat liar saat jemari yu Wi mempermainkan tonjolan dada kanan dari dalam-"oooh---ssshh-"

Khing-kiok hanya bisa mendongakkan kepala ke atas, menikmati lumatan dan remasan yang dilakukan oleh pemuda itu-Di antara hisapan dan gigitan mesra, sukma gadis itu bagai melayang bagai di awan saat tangan kiri pemuda ini mengelus-elus pada bagian paha, melingkar-lingkar membentuk bulatan tak beraturan, sehingga napas gadis itu semakin memburu, pelukan semakin kuat dan ia mulai merasakan bagian gerbang istana kenikamatannya mulai basah-"oooh....

Toako----"

Akhirnya, karena nafsunya yang semakin berkobar, nafsu tak tertahankan lagi, tanpa ingat apapun dia manda diperlakukan sekehendak yu Wi-Khing-kiok hanya pasrah dan membiarkan bibir dan tangan yu Wi menjelajahi setiap lekuk dari tubuh sintalnya, sesukanya, karena memang gadis itu sangat menikmati sentuhan lembut yu Wi-Bahkan tanpa sadar tangan Khing-kiok memegang tangan yu Wi seolah-olah membantunya untuk memuaskan dahaga birahi yang semakin meninggi, semakin menggelinjang kegelian.

Terdengar suara napas yang mulai terengah-engah diseling keluh tertahan, orang yang tak tahu apa yang terjadi tentu mengira didalam gua itu ada orang sakit.....

Apalagi ketika yu Wi menekan senjata tumpulnya yang kini telah menempel kepalanya sedikit kedalam gerbang istana kenikmatan Khing-kiok yang telah basah oleh cairan....

"Aaggggghhi ---sakit"

Yu Wi segera mencium wajah Khing-kiok dan melumat bibirnya dengan lembut.

Tangan kanannya meremas-remas dada kenyal padat dengan harapan bisa mengurangi rasa sakit yang menyengat di bagian bawah-Setelah itu, yu Wi bergerak pelan cepat naik turun, sambil badannya mendekap tubuh indah Khing-kiok dalam pelukan.

Tak selang lama kemudian, badan Khing-kiok bergetar hebat dan mulutnya terdengar keluhan panjang.

"Aaduuh-oooohh-..sssssssshhi ..ssssshhi ..-"

Kedua kaki Khing-kiok bergerak melingkar dengan ketat pinggul yu Wi, menekan dan mengejang, gadis itu mengalami titik puncak asmara yang hebat dan berkepanjangan meski baru beberapa kali yu Wi melakukan aksi naik turun, selang sesaat badan Khing-kiok terkulai lemas dengan kedua kakinya tetap melingkar pada pinggul yu Wi yang masih tetap berayun-ayun itu.

Suatu pemandangan yang sangat erotis sekali, suatu pertarungan yang diam-diam yang diikuti oleh penaklukkan di satu pihak dan penyerahan total di lain pihak.

Khing-kiok kemudian diangkat dan didudukkan pada pangkuan dengan kedua kaki indah Khing-kiok terkangkang di samping paha yu Wi dan tentu saja senjata tunggal saktinya masih tetap di tempat semula-Kedua tangan yu Wi memegang pinggang Khing-kiok dan membantu si gadis menggenjot senjata tunggalnya yang masih tegak perkasa secara teratur, setiap kali tonggak tunggal sakti masuki terlihat gerbang istana kenikmatannya ikut masuk ke dalam dan cairan putih terbentuk di pinggir bibir gerbang.

Khing-kiok pun melakukan hal yang sama untuk mengimbangi permainan dari yu Wi, dengan menggerak-gerakkan pinggulnya.

Kali ini tidak ada desisan dan rintihan kesakitan, yang ada hanyalah lenguhan nikmat yang berulang kali menikam bagian terdalam dari miliknya, srett sett.

Ketika tonggak tunggal ditarik keluar, terlihat gerbang istana mengembang dan menjepit.

Mereka berdua melakukan posisi ini cukup lama.

Khing-kiok benar-benar dalam keadaan yang sangat nikmat, desahan sudah berubah menjadi erangan dan erangan sudah berubah menjadi teriakan.

"oooohhmm..."

Yu Wi melepas pelukan pinggang, lalu meremas-remasnya sepasang bukit kembar yang bergoyang-goyang naik turun.

Tak lama kemudian badan Khing-kiok bergetar, kedua tangannya mencengkeram kuat pundak yu Wi, seakan berusaha menancapkan kuku-kuku tajamnya, dari mulutnya terdengar erangan lirihi "Aahh -aahh -ssssshh ...

sssssshh"

Khing-kiok kembali mencapai titik puncak asmaranya sementara badan Khing-kiok bergetar-getar dalam titik puncak asmaranya, yu Wi tetap menekan tonggak tunggal saktinya ke dalam lubang gerbang istana kenikmatanya.

sambil pinggulnya membuat gerakan memutar sehingga tonggak tunggal yang berada di dalam gerbang istana kenikmatan Khing-kiok ikut berputar-putar, mengebor gerbang istana kenikmatan sampai ke sudut-sudutnya, crepp srett Gerakan pinggul yu Wi bertambah cepat dan cepat.

Terlihat tonggak tunggal saktinya dengan cepat keluar masuk di dalam gerbang istana kenikmatan Khing-kiok, tiba-tiba....

"ooohh ... oohh"

Dengan erangan yang cukup keras dan diikuti oleh badannya yang terlonjak2, yu Wi menekan habis pinggulnya dalam-dalam, sehingga tonggak tunggal saktinya terbenam habis ke dalam lubang gerbang istana kenikmatan, pinggul yu Wi terkedut-kedut sementara senjata tonggak tunggalnya menyemprotkan cairan keperjakaannya di dalam gerbang istana, sambil kedua tangannya mendekap badan Khing-kiok erat-erat.

Dari mulut Khing-kiok terdengar suara keluhan yang sama.

"Aaaaghi . .sssssshi . .sssssshh---hhmm... hhmm"

Setelah berpelukan dengan erat selama beberapa saat, yu Wi kemudian merebahkan tubuh Khing-kiok di atas badannya dengan tanpa melepaskan senjata saktinya dari sarangnya.

Khing-kiok tersenyum, yu Wijuga tersenyum.

Tengah malam, dengan diliputi rasa nikmat dan bahagia yang tak terhingga Khing-kiok tertidur lelap, sebaliknya yu Wi lantas bangun dan mengenakan pakaian, gumamnya sendiri.

"Baru terlambat lima hari kudatang, mengapa seorang pun tidak terlihat, padahal pertandingan antara tokoh kelas tinggi semacam mereka masakah dapat diselesaikan secepat ini?"

Lalu ia meraba tubuh Khing-kiok yang mulus itu sambil tertawa puas, gumamnya pula.

"Tapi perjalanan inipun tidak sia-sia... ."

Dengan senyuman puas dia melangkah keluar gua, ia pikir kalau jit-can-so tak ditemukan, biar saja, umpama diketemukan juga mereka belum pasti mau mengajarkan ilmu pedang kepadanya.

Maka dengan langkah lebar ia lantas meninggalkan puncak gunung itu.

Tertinggal Khing-kiok berada sendirian di puncak gunung sunyi itu, belum lagi diketahuinya sudah ditinggal pergi kekasih, dia sedang mimpi indah dan manis....

siapakah sesungguhnya anak muda yang baru pergi itu?

Apakah betul yu Wi adanya?

.= = =oo oooo oo= = = Esoknya, ketika Khing-kiok bangun tidur, dilihatnya kain putih yang dijadikan alas tempat tidur itu berlepotan warna merah yang sudah kering, terbayang kejadian semalam, tanpa terasa mukanya menjadi merah.

Pada saat itulah mendadak diluar gua ada suara langkah orang, cepat ia menggulung kain putih itu.

yang masuk ternyata yu Wi adanya, melihat sikap Khing-kiok yang agak gugup itu, ia menegur.

"Ada apa?"

"o, tidak apa-apa,"

Jawab Khing-kiok dengan muka merah-"Akan kucuci dulu kain seprei ini-"

Yu Wi merasa heran, hendak mencuci seprei itu disembunyikan dibela kang punggung, seakanakan kuatir dilihat orang. Khing-kiok mengangkat kepala, tapi degera menunduk pula, ucapnya.

"segera kukembali setelah mencuci-"

Bergegas ia berlalu disamping yu Wi-Terheran-heran yu Wi menyaksikan kelakuan nona itu, tanpa terasa ia mengantar bayangan orang, sempat dilihatnya pada seprei yang dibawanya itu ada noda merah.

cepat ia tanya.

"He, apakah kau terluka?"

"Tolol"

Omel Khing-kiok sambil berlari pergi-Tentu saja yu Wi merasa bingung, iapun heran mengapa sekarang si nona tidak lagi marah padanya?

Teringat olehnya kemarin setelah ditampar oleh Khing-kiok, dengan gemes ia turun kebawah gunung, disuatu kota kecil difeaki gunung ia minum arak hingga mabuk.

tengah malam setelah mendusin, ia menyesal dirinya telah marah kepada Khing-kiok-Betapapun nona itu pernah menyelamatkan jiwanya, kalau dirinya tidak dilepaskan secara diam-diam, sudah lama dirinya telah mati ditangan Lim sam-han, budi pertolongan ini sukar untuk membalasnya selama hidup.

Apa yang terjadi siang kemarin juga dirasakan dirinya yang bersalah, sebelumnya dirinya sudah berjanji akan mengantar si nona pulang ke Hek Po apabila pertemuan di Ma-siau-hong sudah selesai waktu Khing-kiok menanyakan kesanggupannya, dia malah menjawab akan pergi dulu ke Tiam-jong-san, sebab yang dipikirkannya saat itu melulu Bok Ya saja, hakikatnya lupa kepada kesanggupannya akan mengantarnya ke Hek Po, pantaslah kalau nona itu menjadi marah.

segera terpikir lagi kesehatan Khing-kiok belum pulih seluruhnya, sekarang ditinggalkannya sendirian dipuncak gunung yang sunyi, keadaannya sungguh berbahaya-Masih teringat olehnya waktu dirinya turun gunung, nona itu seperti menjerit satu kali, bisa jadi kesakitan karena terjatuhi Pembawaan yu Wi memang berbudi luhur, makin dipikir makin tidak enak perasaannya, tengah malam itujuga dia lantas kembali ke Ma-siau-hong, paginya ia sudah berada kembali dipuncak gunung itu.

setiba di gua itu dan melihat Khing-kiok agak gugup dan tidak tenang, ia heran apakah yang terjadi semalam sehingga nona itu berubah menjadi begini?

Dia berdiri didalam gua dan melamun, entah berapa lama kemudian baru terlihat Khing-kiok melangkah kembali, yu Wi menyongsong dan memapahnya sambil bertanya.

"Apakah semalam kau terbanting sakit?"

"o, tidaki tidaki"

Sahut Khing-kiok.

"Kemarin tidak pantas kupukul kau, terbanting sakit juga pantas-"

"Masakah terbanting juga pantas, seperti anak kecil,"

Ujar yu Wi-Mendadak Khing-kiok memandangnya dengan kasih sayang, katanya.

"Toako, katamu ingin belajar siang-sim-kiam, bagaimana kalau sekarang kuajarkannya padamu?"

"Kau tidak takut lagi akan sumpahmu terhadap Tohiso?"

Tanya yu Wi dengan heran. Muka Khing-kiok menjadi merahi ucapnya.

"Ahi untuk apa percaya pada sumpah segala, yang penting kan kita sudah. -"

Sudah apa tidak jadi diteruskan, sejenak kemudian ia bertanya pula.

"Bagaimana, mau belajar tidak?"

Sudah tentu yu Wi mau, jawabnya dengan girang.

"Tentu saja mau" ___ = siapakah pemuda yang telah mengadakan hubungan begituan dengan Khing-kiok? = = Dapatkah yu Wi belajar jurus siang-sim-kiam dari Khing-kiok dan bagaimana usahanya mencari Boks y a? = = = = Bacalah terus

Jilid lanjutannya = = = = = = r Pendekar Kembar Bagian-14. Lantaran cintanya sudah terkabul, hati Khing-kiok sangat gembira. Tapi dia sengaja menggoda anak muda itu.

"Jika mau belajar, harus kau panggil suhu dulu padaku."

"Tidaki mana boleh jadi Aku TOakomu, mana boleh memanggil suhu padamu?"

Jawab yu Wi sambil menggeleng.

"Kalau tidak lekas kau panggil, takkan kuajarkan padamu."

Kata Khing-kiok dengan tertawa genit. yu Wi jadi gelisah dan tak berdaya, ia mondar-mandir didalam gua, gumamnya.

"Jika kupanggil suhu padamu, bukankah tingkatanku lebih rendah satu angkatan dari padamu... Melihat kecemasan anak muda itu, Khing-kiok tidak sampai hati mempersulit lagi, ucapnya dengan tertawa.

"TOlol, begitu saja kelab akan. Baiklah, panggil saja adik Kiok padaku."

Lagi-lagi diomeli "tolol", yu Wi melenggong, diam-diam ia berpikir dalam hal apakah aku berbuat tolol?

Maka Khing-kiok lantas mulai memberi petunjuki dengan gerak tangan sebagai pedang, nona itu mengajarkan jurus siang-sim-kiam padanya-sampai setengah harian barulah selesai diuraikannya dengan jelas-Daya tangkap yu Wi sangat kuat, sedikit diberitahu segera ia menjadi paham intisari jurus pedang itu-Maka iapun mulai berlatih dengan jurus baru ini.

Khing-kiok mengawasi disamping, bilamana ada yang keliru segera diberi petunjuki dia mengajar dengan sungguh-sungguh.

Karena yang satu belajar dengan serius dan yang mengajar juga sungguh-sungguh, pada petang hari kedua hasil latihan yu Wi sudah lumayan.

Malamnya, setelah dahar dan mengaso sejenaki tiba-tiba yu Wi bertanya.

"Adik kiok, semula kau tidak mau mengajarkan padaku, tapi lewat semalam, mengapa kau ganti pikiran dan mau mengajar? sungguh aku tidak mengerti?"

Dengan malu-malu Khing-kiok menjawab.

"Kau berbuat begitu padaku, masakah aku harus menyimpan rahasia lagi? Diantara kita masakah ada perbedaan lagi antara kau dan aku?"

Yu Wi jadi terheran-heran, pikirnya.

"Aku berbuat apakah padamu? Mengapa tidak lagi ada perbedaan antara kau dan aku?"

Didengarnya Khing-kiok menyambung lagi.

"Tahun yang lalu, atas perintah ayah aku dinikahkan dengan Thian-sing, selama setahun ini, meski tubuhku berada ditempat keluarga oh, tapi hatiku tidak pernah melupakan dirimu, meski resminya Thian-sing adalah suamiku, padahal sebenarnya dia bukan suamiku."

"Resminya suamimu, kenapa kau katakan bukan lagi?"

Khing-kiok mengira anak muda itu berlagak bodohi omelnya.

"Masa kau benar-benar tidak tahu?"

"ya, tidak tahu."

Yu Wi menggeleng.

"Meski aku menikah dengan dia, tapi kami tidak pernah tidur bersama-"

Tutur Khing-kiok dengan malu-"oo, kiranya kalian hanya resminya saja suami-isteri, tapi prakteknya tidak pernah melakukan kewajiban sebagai suami-isteri, begitu?"

Khing-kiok mengangguk.

"Aku tidak dapat melupakan dirimu, mana dapat kulakukan hubungan suami-isteri dengannya-"

"Padahal aku berbuat tidak baik padamu, mengapa kau tidak dapat melupakan diriku?"

"Inilah nasib-"

Ujar Khing-kiok.

"Ingin kulupakan dirimu, tapi betapapun sukar melupakan. Malam kemarin dulu kau sedemikian mesra padaku, selama hidupku ini lebih-lebih tak dapat kulupakan dirimu-"

Yu Wi jadi melengaki pikirnya.

"Malam kemarin dulu aku tidak berada disini, mana bisa aku bermesraan dengan kau?"

Dia mengira Khing-kiok salah ingat, ia coba tanya.

"Cara bagaimana aku bermesraan padamu?"

Muka Khing-kiok menjadi merah. apa yang terjadi pada malam itu mana bisa dituturkannya, seketika ia menjadi tersipu-sipu dan tak dapat bersuara.

"He, sesungguhnya terjadi apakah?"

Tanya yu Wipula dengan gelisah. Khing-kiok tidak tahan, dengan mendongkol ia berkata.

"Malam itu aku sudah menyerahkan kesucianku padamu, masa kau masih berlagak bodoh-"

Habis berkata mukanya bertambah merahi ia menunduk dan tidak berani angkat kepala lagi-"Blang", otak yu Wi seperti mendengung dengan keras, dalam hati ia tidak habis mengerti.

"Menyerahkan kesucian padaku?-..-"

Mendadak teringat olehnya ketika malam kemarin dulu ia buru-buru kembali lagi keatas puncak karena menguatirkan Khing-kiok yang ditinggalkan sendirian disini, waktu mendaki puncak ini pagi-pagi, samar-samar dari jauh kelihatan seorang sedang turun kebawah gunung, orang itu memakai baju merah dan berdandan sebagai seorang Kongcu, lamat-lamat dapat dikenalinya sebagai Kan ciau-bu.

Tapi mengingat Kan ciau-bu berada jauh di Kimleng sana, manabisa mendadak datang kesini?

sebab itulah ia sangsi kepada penglihatan sendiri maka hal itu tidak diperhatikannya.

sekarang, bila dipikir lagi, agaknya malam itu, Kan ciau-bu memang betul telah datang ke Masiau-hong ini, karena tidak tahu, Khing-kiok mengira Kan ciau-bu sebagai diriku, segera teringat pula waktu bertemu kembali dengan Khing-kiok pagi kemarin, nona ini memegang kain seprei dengan gugup dan tersipu-sipu....

kain putih itu tampaknya ada percikan darah, jangan-jangan.....

yu Wi sudah tahu Kan ciau-bu adalah seorang pemuda bergajul, maka ia lantas tanya.

"Malam kemarin dulu apakah benar-benar kau lihat diriku?"

Khing-kiok tidak mengawasi air muka yu Wi yang penuh rasa kejut dan gugup, dengan pelahan ia menjawab.

"siapa lagi kalau bukan kau? Biarpun kau hancur menjadi abu juga kukenal kau... ."

Selagi yu Wi hendak memberi penjelasan padanya bahwa malam itu yang dilihatnya itu bukanlah dirinya melainkan Kan Ciau-bu, Toa-kongcu yang terkenal dari Thian-ti-hu, sebab didunia ini hanya mereka berdua saja yang berwajah serupa dan sukar dibedakan.

Tapi mendadak terpikir olehnya akibat yang mungkin timbul setelah dirinya memberi penjelasan.

Dalam keadaan malu dan menyesal, bisa jadi Khing-kiok putus asa dan membunuh diri Ia pikir persoalan ini biarlah dibicarakan saja kelak-Tadinya dia rada sangsi terhadap keterangan Lim Khing-kiok bahwa dia belum pernah tidur bersama oh Thian-sing, kini setelah direnungkan lebih cermat, tampaknya nona itu memang tidak bohing.

Kalau bohong sih mending, bahwa nona itu bohong, maka kisah cinta ini menjadi tidak sederhana..

-Berpikir sampai disini, mata yu Wi menjadi basahi diam-diam ia terharu dan berduka, ucapnya kemudian dengan menyesal.

"Adik kiok, aku bersalah padamu... ."

Ia pikir Kan ciau-bu telah menodai kesucian tubuh si nona, perbuatan ini adalah kesalahannya, coba kalau malam itu dia tidak meninggalkan si nona, tentu peristiwa itu takkan terjadi.

Khing-kiok mengira yu Wi merasa bersalah karena perbuatannya malam itu, kuatir anak muda itu terlalu kikuk.

pelahan ia menjawab.

"sejak kecil aku sudah menganggap diriku ini kelak pasti milikmu, bahwa kau perlakukan diriku cara begitu, sedikitpun aku tidak sedih, asalkan jangan kau lupakan diriku, maka puaslah aku, Toako, apakah aku akan kau lupakan?"

Yu Wi menghela napas panjang, tidak kepalang kusut perasaannya. Didengarnya Khing-kiok berkata pula.

"Kutahu dalam hatimu sudah ada seorang nona Ko, tapi hal inipun tidak menjadi soal, betapapun kau cinta padanya, asalkan tetap ingat sedikit padaku, maka puaslah hatiku."

Sungguh yu Wi tidak tahu apa yang harus dikatakannya, pikirnya.

"Adik Kiok adalah nona yang baik, jangan sekali-kali kuhancurkan hidupnya-Lebih baik kutanggung dosa ini dari pada kujelaskan kejadian yang sebenarnya pada itu-.. ."

Ia tahu apa yang terjadi sekarang adalah suatu salah paham yang amat besar, salah paham ini cukup membuat rusak namanya dan hancur hidupnya.

Tapi demi Lim Khing-kiok, akhirnya ia tetap tidak memberi penjelasan kesalah-pahaman ini, ia pasrah kepada nasib dan perkembangan selanjutnya.

Melihat anak muda itu hanya diam saja, Khing-kiok berkata pula.

"Aku tidak terburu-buru ingin pulang ke Hek Po, betapapun aku adalah perempuan yang sudah dinikahkan, seperti air yang sudah disiramkan keluar rumah-Jadi pulang ke Hek Po atau tidak bukanlah soal, kelak bila kau suka bolehlah kau antar kupulang....."

Dia berhenti dan ragu sebentar, kemudian menyambung lagi.

"Kau hendak pergi ke Tiam-jong-san, biar aku... akupun ikut kesana. Aku ingin bertemu dengan nona Ko dan bersahabat dengan dia, apabila dia tidak suka padaku, betapapun aku takkan marah, sedapatnya aku akan membaiki dia, supaya dia tahu aku tidak bakal mempengaruhi cintakasihnya dengan Toako"

Sampai disini, yu Wi tidak enak untuk menolak lagi kehendak si nona yang ingin ikut pergi ke Tiam-jong-san.

Ia pikir, dari ucapan Khing-kiok ini jelas si nona sudah menganggapnya sebagai suaminya, apabila kehendaknya ditolak tentu akan membuatnya ia berduka.

Maklumlah, yu Wi adalah pemuda yang emosional, segala hal selalu berpikir bagi orang lain, ia tidak tega membikin sedih Khing-kiok, apalagi nona itu sudah sebatang kara sekarang, akan disuruh kemana lagi?

setelah mantap pikirannya, berkatalah dia.

"Baiklahi sekarang juga kita berangkat."

Dengan tertawa gembira Khing-kiok berseru.

"Maksudmu hendak membawaku ke Tiam-jong-san?"

Mendadak terkilas semacam pikiran dalam benak yu Wi, pikirnya.

"Urusan sudah kadung begini, kenapa tidak kujodohkan mereka sekalian?

Meski kelakuan Kan ciau-bu tidak baik, tapi kalau diberi nasihat dan dituntun kejalan yang baik agar dia bertanggung jawab atas perbuatannya dan jangan meninggalkan perempuan yang telah dinodainya-"

Karena pikiran itu, segera ia berkata.

"Baiklahi ikutlah padaku, tidak boleh lagi kutinggalkan kau sendirian, hatiku baru merasa lega apabila kelak aku sudah dapat mengatur secara lebih baik terhadap dirimu."

Mengingat hari depan, Khing-kiok juga berpikir.

"Bila selanjutnya bisa berdiam bersama Toako sampai hari tua, apalagi yang kuharapkan dalam hidup ini?"

Ia tidak tahu bahwa apa yang dipikirkan yu Wi sama sekali bertolak belakang dengan jalan pikirannya.

Begitulah mereka lantas meninggalkan Ma-siau-hong, mereka melarikan kuda dengan cepat menuju ke propinsi Huniam..-ooo00000ooo-Tayli, pada jaman dahulu adalah sebuah kerajaan kecil, negeri ini terletak di barat propinsi Huniam, negeri yang subur dan makmur, kini hanya berbentuk.

Koan atau kabupaten saja.

Kota Tayli terletak dikaki pegunungan Tiam-jong, didepan kota adalah Ni-hay, sebuah danau yang indah permai, hawa di negeri inipun sejuki empat musim serupa pada musim semi-Karena keindahan alamnya, maka di negeri Tayli terkenal nama Tiam-jong-soat (salju pegunungan Tiamjong) dan Ni-hay-goat (bulan didanau Ni-hay).

Bahwa Tiam-jong terkenal juga saljunya, maka dapat dibayangkan ketinggian pegunungan ini.

Diatas gunung juga banyak terdapat bahan batu marmar yang terkenal sebagai marmar Tayli.

Tanpa berhenti di kota Tayli, langsung yu Wi mendekati Tiam-jong-san.

Kini dia sudah menguasai enam jurus Hai-yan-kiam-hoat dengan baiki maka soal menemui It-teng sin-ni dia cukup yakin pasti akan berhasil.

yang dikuatirkan adalah kesehatan Lim Khing-kiok, nona itu baru sembuh, mestinya yu Wi melarang dia ikut mendaki Tiam-jong-san dan menyuruh dia istirahat saja di kota Tayli, tapi nona itu berkeras mau ikut untuk bertemu dengan Ko Bok Yayu Wi menjadi serba salah, jika Khing-kiok dibawa serta, bisa jadi akan menimbulkan salah paham Bok Ya, tapi lantas terpikir pula olehnya, asalkan tindak-tanduk dirinya suci murni dan dapat dipertanggungjawabkan, apapula yang mesti ditakuti?

Begitulah setelah membawa bekal seperlunya dan mencari tahu dimana letak biara diatas gunung yang jarang didatangi orang, yu Wi yakin besar kemungkinan biara itulah tempat kediaman It-teng sin-ni.

segera mereka menuju kesana.

Pegunungan Tiam-jong sangat terjal dan sukar dilalui, tidaklah mudah bagi orang biasa yang ingin berpesiar keatas gunung.

Tapi bagi yu Wi, betapa curamnya lereng gunung dipandangnya seperti tanah datar saja.

Namun badan Khing-kiok sekarang tiada ubahnya seperti orang biasa, tentunya tidak dapat bebas bergerak seperti yu Wi-Baru saja mendaki beberapa ratus kaki tingginya, napas si nona sudah menggeh-menggeh dan muka pucat.

Pedih hati yu Wi, teringat waktu kecil mereka selalu bermain bersama, keduanya sama-sama lincah dan suka bergerak, setiap kali berlomba sesuatu, dirinya selalu dimenangkan oleh si nona-Tapi sekarang nona itu kelihatan sangat lemahi sama sekali berbeda daripada masa dahulu.

Terkenang pada masa lampau, timbul rasa kasih sayang yu Wi, segera ia pondong Khing-kiok dan berkata.

"Biarlah kupondong kau keatas agar bisa berjalan lebih cepat-"

Khing-kiok tidak menolak, ia terus merebahkan diri dalam pelukan yu Wi dengan santai.

Terdengar angin berkesiur, nyata lari yu Wi teramat cepat.

Hawa udara diatas gunung semakin tinggi semakin dingin, dibawah gunung hawa sejuk seperti musim semi, tapi setiba diatas gunung, terlihat salju menyelimuti lereng pegunungan sehingga sejauh mata memandang hanya warna putih belaka, biarpun ada juga pepohonan, tapi dahan pohon juga tertutup oleh lapisan salju sehingga menambah indahnya pemandangan.

setiba diatas gunung, muka Khing-kiok sudah pucat biru karena kedinginan, badan menggigil.

Cepat yu Wi mengeluarkan baju kulit dari rangselnya dan dipakai oleh Khing-kiok sehingga keadaannya agak mendingan.

Tapi yu Wi sendiri lantas membusungkan dada dan memandang jauh kesana, sedikitpun tidak kelihatan merasa dingin-Alangkah kagumnya Khing-kiok, diam-diam ia mengakui kehebatan Iwekang anak muda itu mungkin tidak dibawah ayahnya-Dari jauh yu Wi melihat disebelah timur sana, ditengah lapisan salju yang membentang luas itu menongol sederet tembok warna merahi dengan girang ia berseru.

"Aha, disana itulah"

Segera ia bawa Khing-kiok dan berlari kesana secepat terbang.

Hanya sebentar saja sudah sampai ditempat tujuan.

Tertampak sebuah rumah kecil berwarna merah, bentuknya tidak mirip biara.

saking girangnya yu Wi tidak pikir panjang lagi, segera ia berteriaki "Wanpwe mohon bertemu dengan sin-ni...."

Baru habis seruannya itu segera terdengar didalam rumah ada orang menyahut.

"siapa itu?"

Jilid 15 Yu Wi dengar suara orang lelaki, selagi heran, pintu rumah itu terbuka dan melangkah keluar seorang lelaki setengah umur dengan wajah putih bersih, memakai jubah longgar warna merah.

Jelas orang ini bukan It-teng Sin-ni, Yu Wi lantas memberi hormat dan menyapa.

"Ah, rupanya salah cari, Maaf, mengganggu"

Segera ia gandengan tangan Khing-kiok dan putar tubuh hendak pergi.

"He, apakah kau she Yu?"

Tiba-tiba orang ber jubah merah itu bertanya. Yu Wi melengak, cepat ia berpaling dan menjawab.

"Betul, Wanpwee Yu Wi adanya."

"Apakah kedelapan jurus pedangmu sudah lengkap kau pelajari?"

Tanya si jubah merah dengan tertawa. Yu Wi tambah terkejut, cepat ia mendekat dan memberi hormat pula, jawabnya.

"Darimana cianpwe mengetahui Wanpwe she Yu dan darimana pula tahu... ."

Si jubah merah menggoyang tangan dan berkata.

"Jangan tanya, jangan tanya, tapi lebih penting jawablah pertanyaanku."

"Hanya enam jurus saja dari kedelapan jurus itu yang berhasil kupelajari, dua jurus yang lain-..."

Belum habis keterangan Yu Wi, si jubah merah lantas menyela.

"Wah, tidak boleh kalau begitu"

Yu Wi berkerut kening, ia menoleh dan memandang sekejap Khing-kiok yang berada di belakang.

"Lebih-lebih tidak boleh kau datang dengan membawa dia"

Kata pula si jubah merah. Mendadak Khing-kiok mendapat akal, katanya dengan tertawa.

"Aku ini adik perempuannya, mengapa tidak boleh?"

"Omong kosong, dusta"

Si jubah merah menjadi marah.

"Kau adik perempuannya atau bukan masakah aku tidak dapat melihatnya?Jelas kau bukan adiknya, tapi. ..."

Muka Khing-kiok menjadi merah, cepat ia menambahkan dengan tunduk kepala.

"Jangan kau sembarangan omong, kami belum lagi menikah."

"Hahahaha"si jubah merah bergelak tertawa.

"Nona cilik sungguh lucu... ."

Karena ingin cepat-cepat bertemu dengan it-teng sin-ni agar bisa segera mengetahui keadaan Bok-ya, Yu Wi lantas memberi hormat pula dia berucap.

"cianpwe, kami mohon diri saja."

Segara ia gandeng tangan Khing-kiok pula terus hendak melangkah pergi. si jubah merah menghela napas dan berkata.

"Kalian berdua ini baik-baik saja, untuk apa harus menemui Thio-kohnio (nona Thio)?"

Teringat oleh Yu Wi sebelum menjadi Nikoh, nama keluarga it-teng sin-ni ialah Thio Giok-tin.

Kalau si jubah merah menyebut sin-ni sebagai nona Thio, tentu antara mereka ada hubungan karib, agaknya maksud kedatangannya ingin menemui sin-ni oleh sin-ni telah diberitahukan kepadanya, maka orang ahu dia she apa.

Menurut pesan it-teng sin-ni yang disampaikan melalui Un siau, sebelum kedelapan jurus Haiyan-kiam-hoat dipelajari secara lengkap.

dia dilarang datang ke Tiam-jong-san dan tidak boleh bertemu dengan Ko Bok ya, bahkan kalau dirinya berani datang, terhadapnya akan diambil tindakan keras.

Jadi pertanyaan si jubah merah tadi tampaknya justeru demi kebaikannya, maka Yu Wi lantas berpaling pula dan mengucapkan terima kasih.

"Terima kasih atas pehatian cianpwe, tapi kedatangan Wanpwe ini bertekad harus menemui sin-ni, sekalipun harus menyerempet bahaya juga tidak kupikirkan lagi."

Habis berkata ia tarik Khing-kiok dan melangkah pergi dengan cepat. Tapi baru belasan langkah, kembali si jubah merah berseru.

"He, tunggu, tunggu sebentar tidak boleh kusaksikan nona cilik mengantarkan kematiannya,"

Yu Wi berhenti lagi, pikirnya, Jika it-teng sin-ni marah, mendingan kalau aku saja yang menjadi korban, apabila Khing-kiok juga dianiaya, sungguh hatiku merasa tidak tenteram.

Untuk ini perlu mencari akal yang baik."

Maka ia lantas memutar balik. sedang Khing-kiok lantas berkata dengan tertawa.

"Siapa bilang aku akan mengantarkan kematian?"

Dengan sungguh-sungguh si jubah merah berkata.

"Selama hidupku hatiku paling lemah terhadap anak perempuan, tapi untuk membunuh orang biasanya Thio-kohnio tidak pandang sasarannya lelaki atau perempuan-Tampaknya kau si nona cilik ini sangat baik, aku harus mencari satu akal untuk menolong kau."

Hati Khing-kiok sangat gembia karena didampingi kekasih, dengan tertawa ia berkata pula.

"Akal apakah? Kalau hanya Toako saja yang dibiarkan pergi sendiri, sungguh akupun keberatan-"

Ang-bau-jin atau orang ber jubah merah menghela napa gegetun, ucapnya sambil memandang Yu Wi.

"Ai, nona ini sungguh baik padamu, kau benar-benar hokkhi... ."

Ia berhenti sejenak. lalu menambahkan dengan nekat.

"Tampaknya terpaksa harus kukeluarkan segenap kepandaianku."

"segenap kepandaian apa?"

Tanya Khing-kiok dengan tertawa. Ang Bau-jin memandangnya dan berkata.

"sebenarnya hendak kuajarkan padamu, tapi dasar ilmu silatmu kurang kuat, terpaksa kuajarkan kepada suamimu. ..."

"Omong kosong Kami belum menikah, kan sudah kuberi tahu?"

Ujar Khing-kiok dengan wajah merah. Kembali si jubah merah terbahak-bahak, ucapnya.

"Hahahaha lucu... ."

Setelah tertawa, lalu katanya kepada Yu Wi dengan koreng.

"Apabila Thio-kohnio bertindak keras terhadap nona cilik ini, hendaklah kau gunakan ilmu langkah ajaib ajaranku untuk membawanya lari, jangan sekali-kali ragu, Kalau jiwa nona cilik ini sampai celaka, nanti kuminta tanggung jawabmu."

Mengingat akibat yang mungkin timbul. Yu Wi merasa ngeri, dengan kuatir ia menjawab.

"Leng-po-wi-poh, ilomu langkah andalan it-teng sin-ni ini terkenal tiada bandingannya di dunia, cara bagaimana Wanpwe mampu lolos dari kejaran sin-ni nanti?"

"Kaupun pernah melihat Leng-po-wi-poh?"

Tanya Ang-bau-jin dengan tertawa.

"Pernah,"

Jawab Yu Wi.

"Leng-po-wi-poh memang tergolong tiada bandingannya di dunia, tapi ilmu langkah ajaib Huiliong-poh yang akan kuajarkan ini lebih-lebih tidak ada tandingannya di dunia ini,"

Ucap Ang-baujin denan bangga. Nyata dia langsung menyatakan Hui-liong-poh jauh diatas Leng-po-wi-poh. Tentu saja Yu Wi tidak percaya, pikirnya.

"Masa di dunia ini masih ada ilmu langkah ajaib lain yang terlebih hebat dapipada Leng-po-wi-poh?"

"Agaknya kau tidak percaya bukan?"

Tanya Ang-bau-jin. Yu Wi tidak menjawab, dan biasanya diam berarti membenarkan. segara Ang-bau-jin berseru pula.

"Nah, boleh kau lihat saja nanti"

Sekali ia melangkah, tahu-tahu dia sudah mengapung ke udara, bahkan dapat bergerak dengan bebas diatas sehingga meluncur seperti ular naga, waktu turun lagi kebawah, kembali ia melangkah satu kali dan orangnya mengapung pula ke atas.

Tapi gerakannya di uadara sekali ini meski masih serupa yang pertama, namun gayanya sudah berbeda sama sekali.

Begitulah berturut-turut ia naik turun delapan kali dan setiap langkah bergaya sangat bagus, lebih-lebih ketika bergerak di udara, keajaibannya sungguh sukar untuk dipahami.

selesai memainkan delapan langkah ajaib, Ang-bau-jin berhenti, lalu bertanya.

"Bagaimana?"

"Menurut pandangan Wanpwe, Hui-liong-poh ini tidak melebihi Leng-poh-wi-poh,"

Jawab Yu Wi. seketika Ang-bau-jin mendelik, teriaknya dengan mendongkol.

"Omong kosong Ngaco-belo... ."

"cianpwe belum lagi melihat Leng-po-wi-poh, tentunya tidak tahu betapa hebatnya,"

Ujar Yu wi.

"Hahahaha"

Ang-bau-jin bergelak tertawa sampai sekian lama, lalu berucap.

"Masakah aku tidak pernah melihat Leng-po-wi-poh?"

"Kalau Cianpwe pernah melihatnya, kenapa berani menyatakan Leng-po-wi-poh tidak dapat menandingi Hui-liong-poh?"

Tanya Yu Wi.

"sudah tentu berani kukatakan demikian."

Jawab Ang-bau-jin.

"Sebab Leng-po-wi-poh adalah ilmu kebanggaanku selagi namaku selangit, tapi kehebatannya tidak melebihi Hui-liong-poh, tentunya akulah yang paling jelas dalam hal ini."

Yu Wi jadi melengak. ia tidak percaya terhadap keterangan Ang-bau-jin itu, katanya sambil menggeleng.

"Janganlah Cianpwe mendustai diriku, sudah lama kukenal Leng-po-wi-poh adalah ilmu ajaib kebanggaan^ it-teng sin-ni, mengapa bisa dikatakan..."

"sebab Leng-po-wi-poh andalan Thlo-kohnio itu adalah ajaranku."

Tukas Ang-bau-jin dengan suara keras. sekali ini Yu Wi benar-benar melongo dan tidak dapat bersuara lagi. Ang-bau-jin lantas berucap pula.

"selama dua puluh tahun ini kuperas otak untuk menciptakan Hui-liong-pat-poh (delapan langkah ajaib naga terbang), yang khusus kutujukan terhadap titik kelemahan Leng-po-wi-poh (langkah ajaib dewi kahyangan). Apabila Hui-liong-pat-poh sudah kau kuasai, apa artinya lagi Leng-po-wi-poh andalan Thi-kohnio itu?"

Girang sekali Yu Wi, pikirnya.

"setelah mahir ilmu langkah ini, bila sin-ni hendak bertindak keras terhadap adik Khing-kiok. tentu dapat kubawa lari dia."

Maka cepat ia memberi hormat kepada Ang-bau-jin dan memohon.

"Jika demikian mohon cianpwesuka memberi petunjuk."

"Ah, kenapa sungkan,"

Ujar si jubah merah.

"Tampaknya kesehatan nona cilik ini kurang baik, silahkan mengaso dulu kedalam rumah merah dan kita berdua boleh latihan diluar sini."

Yu Wi pikir latihan ini tentu makan waktu, sedangkan kesehatan Khing-kiok memang masih lemah, sedapatnya jangan sampai kedinginan pula, maka ia berpaling dan berkata.

"Adik kiok. boleh kau istirahat didalam rumah saja, sebentar nanti baru kita berangkat."

Khing-kiok mengangguk dan melangkah kedalam rumah merah.

"Harus belajar baik-baik, supaya si nona cilik tidak menunggu terlalu lama,"

Kata Ang-bau-jin dengan tertawa.

Habis berkata, ia mulai berjalan satu lingkaran di depan rumah, terlihat tanah bersalju yang cukup keras itu lantas mendekuk meninggalkan delapan buah tapak kaki.

sekali pandang saja Yu Wi lantas tahu letak kedelapan tapak kaki itu menandakan delapan arah dari kedelapan langkah yang dipertunjukan si jubah merah tadi.

Tidak kurang dari dua jam barulah Ang-bau-jin alias si jubah merah menjelaskan inti kedelapan langkah ajaib naga terbang itu.

Namun Yu Wi masih setengah paham dan setengah bingung, lebih-lebih gerakan mengapung di udara itu terasa belum cukup dikuasainya.

Melihat anak muda itu masih belum apal, segera Ang-bau-jin mengulangi lagi penjelasannya.

sekali ini Yu Wi sudah paham lebih banyak, tapi tetap belum cukup dikuasai seluruhnya.

Dengan sabar dan teliti Ang-bau-jin terus mengulangi pelajarannya hingga lima kali, akhirnya barulah Yu Wi paham benar-benar.

sementara itu hari sudah gelap, ingin berlatih terus juga tidak dapat dilaksanakan oleh Ang-bau-jin.

Namun maTa yu Wi sudah terlatih melihat dalam kegelapan, kedelapan sudut langkah si jubah merah dapat dilihatnya dengan jelas, maka dilatihnya sendiri menurut kedelapan bekas tapak kaki itu.

setelah mengajar sekian lama, perut Ang-bau-jin sudah lapar, kebetlan Khing-kiok keluar dengan membawa semampan makanan yang masih panas.

Keruan Ang-bau-jin sangat girang, serunya.

"Wah, sungguh nona yang baik"

Segera ia sambut makanan itu dan dilahapnya. Yu Wi masih giat berlatih tanpa memikirkan urusan lain. Sehabis makan kenyang, Ang-bau-jin memuji pula.

"Nona pintar masak. makanan lezat begini sudah lebih dua puluh tahun tidak pernah kunikmati."

Tiba-tiba teringat olehnya Yu Wi belum lagi makan, tapi hidangan yang tersedia sudah disiksanya habis, Ang-bau-jin menjadi kikuki ucapnya.

"Wah, celaka... .celaka... ."

Hidangan yang disediakan Khing-kiok sebenarnya jatah untuk dua orang, siapa tahu karena laparnya, sekaligus Ang-bau-jin telah menghabiskannya, cepat dia menanggapi dengan tertawa.

"Tidak apa, tidak apa, akan kubuatkan lagi."

Waktu Khing-kiok keluar lagi dengan membawa makanan, sementara itu hari semakin gelap hingga jari sendiri saja tidak kelihatan-"Toako... Toako ..."

Khing-kiok memanggil. sambil belasan kali dia memanggil, mendadak disebelahnya seorang menjawab "Eh kau belum tidur?"

Khing-kiok melonjak kaget. Padahal daya pendengarannya cukup tajam, tapi ia tidak tahu meski Yu Wi mendekat kesampingnya, diam-diam ia terkejut dan berkata.

"Wah, mengapa Ginkang Toako maju secepat ini?"

Teringat olehnya ketika di Hek-po dahulu, Ginkang anak muda itu jauh dibawah dirinya, sekarang ternyata jauh melampauinya, entah mengapa akhir-akhir ini Ginkang sang Toako dapat terlatih setinggi ini.

Padahal kemajuan Ginkang Yu Wi tidak banyak sejak meninggalkan Hek-po, yang digunakannya untuk mendekati Khing-kiok tadi adalah Hui-liong-pat-poh yang baru saja dipelajarinya dari Ang-bau-jin.

"Toako, hari ini kau belum makan,"

Kata si nona. saking asyiknya berlatih Hui-liong-pat-poh sehingga Yu Wi lupa lapar, sekarang setelah disinggung oleh Khing-kiok. seketika perutnya berkeruyukan.

"Lekaslah Toako makan,"

Ucap Khing-kiok dengan tertawa.

Yu Wi terima makanan itu, kuatir cara makannya yang rakus dilihat Khing-kiok.

Yu Wi menyingkir agak jauh kesana dan berjongkok disitu untuk menyikat makanannya.

Ia tidak tahu dalam kegelapan sepekat itu mana bisa Khing-kiok melihatnya, namun nona itu dapat membayangkan betapa rakusnya cara Yu Wi menyabet santapan itu, tanpa terasa ia mengikik tawa pelahan.

sejenak kemudian setelah Yu Wi makan kenyang, ia kembalikan mangkuk kepada Khing-kiok.

"Apakah Toako belum mau tidur?"

Tanya Khing-kiok.

"Tidak, Hui-liong-pat-poh harus kulatih hingga apal benar, boleh kau kembali kedalam rumah dan tidur saja,"

Jawab Yu Wi.

"Akupun takkan tidur,"

Kata si nona.

"Tidak. jangan, kesehatanmu belum pulih, kau harus tidur."

"Rumah merah ini cuma satu dan menjadi tempat tinggal Ang-locianpwe, jika kutidur di dalam mungkin kurang baik... ."

"Cianpwe sudah tidur, tidak menjadi soal kau tidur di dalam."

"He, Ang-locianpwe tidur dimana?"

Tanya Khing-kiok dengan heran.

"cianpwe duduk semadi di tanah salju, mungkin beliau sengaja membiarkan kau tidur di dalam rumah."

Hati Khing-kiok merasa tidak enak.

"Wah, jika...jika demikian, tidak boleh... ."

"Tidak apa-apa."

Tiba-tiba terdengar Ang-bau-jin menukas.

"Adik cilik, jika kau lelah, silahkan kaupun istirahat didalam rumah, aku sudah biasa duduk diatas tanah bersalju, biarpun berduduk selama beberapa bulan juga sudah biasa bagiku."

"Terima kasih."

Ucap Yu Wi. Ia lantas mengantar Khing-kiok kedalam rumah, lalu ditinggal keluar lagi.

"Jika Toako merasa lelah hendaklah lantas masuk tidur."

Pesan Khing-kiok ketika hendak menutup pintu.

Yu Wi mengiakan.

ia terus berlatih hingga fajar menyingsing dan kedelapan langkah ajaib itu baru dapat diapalkan benar-benar, ia merasakan lelah juga dan berhenti berlatih, segera iapun duduk diatas tanah bersalju dan memejamkan mata.

Untuk menghindarkan salah paham orang lain, Yu Wi tidak berani mengaso didalam rumah, ia pikir kalau Ang-bau-jin dapat duduk semadi diatas tanah bersalju, biarlah akupun menirukannya.

Tak terduga, baru sebentar ia duduk, segera ia menggigil kedinginan.

Waktu berlatih Hui-liong-pat-poh tadi, karena berlari kian kemari dan gerak badan terus menerus sehingga tidak merasa dingin-sekarang setelah berhenti olah raga barulah dirasakan suhu Tiam-jong-san yang dingin luar biasa.

Terpaksa ia mengerahkan Ku-sit-tay-kang sehingga berulang beberapa kali barulah badan terasa hangat, lalu dapatlah terpulas.

Ketika terang tanah, sang surya sudah terbit, lamat-lamat Yu Wi terjaga bangun, waktu membuka mata, dilihatnya Ang-bau-jin berdiri di depannya dengan mengulum senyum, cepat ia berbangkit dan menyapa.

"selamatpagi. Cianpwe."

Ang-bau-jin mengangguk. katanya.

"Hebat benar kau, adik cilik, kau dapat duduk satu-dua jam disinL Lwekangmu ternyata tidak lemah."

Waktu Yu Wi memandang tubuh sendiri, ternyata diatas baju ada selapis salju yang tipis, ia pikir kalau dirinya tidak mengerahkan Ku-sit-tay-kang bisa jadi saat ini sudah terbeku menjadi patung salju.

Didengarnya Ang-bau-jin berkata pula.

"dengan maksud baik aku mengalah supaya kalian berdua tidur didalam rumah, mengapa kau malah ikut duduk semadi disini?"

Dari nada bicaranya Yu Wi merasa orang menganggap dirinya dan Khing-kiok adalah suamiisteri, maka cepat ia menjawab dengan tersipu-sipu.

"Ah, Wanpwe juga sudah biasa tidur berduduk di tanah bersalju... ."

Ang-bau-jin terbahak-bahak.

"Hahahaha Kebiasaan bagus, kebiasaan bagus... ."

Yu Wi tidak biasa berbohong, tidur dengan berduduk diatas tanah bersalju seperti ini baru pertama kali dilakukannya tadi, mana dapat dikatakan sudah biasa.

Karena itulah mukanya menjadi merah sehabis menjawab, ia menunduk malu.

segera si jubah merah berucap pula.

"sudah lebih 20 tahun kutidur berduduk begini barulah mulai terbiasa, kau baru satu malam saja lantas terbiasa, sungguh hebat"

Karena kebohongannya terbongkar, semakin rendah kepala Yu Wi tertunduk dan tidak berani memandang orang.

sebabnya sekali pandang Ang-bau-jin dapat mengetahui kebohongan Yu Wi adalah karena dilihatnya lapisan salju pada tubuh anak muda itu.

Bilamana seorang sudah biasa duduk semadi diatas tanah bersalju, tentu dari dalam badan akan mengeluarkan suhu panas sehingga tidak mungkin bunga salju membeku diatas tubuhnya.

Ia tahu Yu Wi hanya berkat ketinggian Lwekangnya saja sehingga sanggup berduduk disitu, kalau tidak.

dipuncak Tiam-jong-san yang dingin ini, mungkin cuma duduk sejenak saja orang akan mati beku.

Agar anak muda itu tidak kikuk, Ang-bau-jin bertanya.

"Bagaimana latihanmu semalam?"

"Wanpwe berlatih secara ngawur, entah bagaimana kemajuannya, mohon cianpwe sudi memberi petunjuk."

KaTayu Wi.

Lalu iapun mempertunjukkan Hul-liong-pat-poh yang telah dilatihnya itu.

selesai melakukan kedelapan langkah ajaib itu, ia pikir latihannya yang sudah cukup baik ini tentu akan menimbulkan rasa heran dan dipuji Ang-bau-jin.

siapa tahu si jubah merah justeru menggeleng dan menyatakan.

"wah, tidak. tidak pakai selisih terlalu jauh. Coba lihat yang benar, biar kumainkan sekali lagi bagimu."

Yu Wi lantas mengikutinya dengan seksama, dilihatnya langkah Ang-bau-jin itu meski serupa langkah yang dilakukannya, tapi gerak perubahan di udara dan kelincahannya jelas jauh berbeda.

Karena Yu Wi memang ingin maju, maka begitu Ang-bau-jin selesai memberi petunjuk, segera ia berlatih lagi dan si jubah merah memberi petunjuk bilamana ada yang kurang sempurna, dengan demikian barulah Yu Wi mendapat kemajuan pesat.

Tanpa terasa tujuh hari sudah berlalu, Yu Wi terus berlatih siangan malam tanpa kenal lelah sehingga tidak sedikit kemajuan yang diperolehnya.

selama beberapa hari ini, kesehatan Khingkiok juga banyak lebih baik, hal ini menimbulkan rasa heran Yu Wi, ia tidak tahu bahwa diam-diam Ang-bau-jin telah mengajarkan Lwekang penyembuhan luka dalam bagi nona itu.

Pagi hari kedelapan, berkatalah Ang-bau-jin kepada Yu Wi.

"Hui=liong-pat-poh sudah cukup kau latih dan dapat dipergunakan bilamana perlu, lebih dari itu sudah tida dapat kuberi petunjuk lagi, selanjutnya asalkan kau latih terlebih giat, tentu hasilnya tak terbatas. sekarang bolehlah kau berangkat"

Yu Wu merasa hutang budi kepada Ang-bau-jin, ia merasa orang seperti juga gurunya, maka sebelum berpisah sekarang sepantasnya memanggilnya dengan sebutan lain, segera ia berkata.

"suhu, hendaklah engkau sudi memberitahukan nama aslimu kepada murid... ."

Belum habis ucapannya, mendadak Ang-bau-jin menarik mka, katanya dengan gusar.

"siapa mengaku suhumu?Jika kuterima kau sebagai muridku kan sudah sejak mula kuberitahukan namaku."

Kiranya sudah beberapa kali Yu Wi pernah tanya she dan nama si jubah merah, tapi orang itu tidak mau menerangkan-sekarang sebelum berpisah ia ingin tanya pula dengan jelas, ia pikir tidaklah pastas jika sudah belajar kepandaian orang, tapi siapa namanya saja tidak tahu.

siapa tahu panggilan suhu justeru menimbulkan rasa gusar Ang-bau-jin, Yu wi menjadi cemas, ucapnya sambil mencucurkan air mata.

"Tapi, aku... .Wanpwe... ."

Mestinya ia hendak tanya apakah dirinya tidak berharga untuk menjadi murid orang, tapi karena gugupnya sukar baginya untuk bicara. segera Ang-bau-jin berteriak.

"Ingat, sama sekali aku bukan gurumu, terhadap siapapun tidak boleh kau sebut diriku, kuajarkan Hui-liong-pat-poh padamu adalah karena nona cilik itu."

Tidak kepalang pedih hati Yu Wi, sudah tujuh hari dia tinggal bersama Ang-bau-jin, cukup diketahuinya hati orang ini sangat baik, ucapannya itu pasti tidak timbul dari lubuk hatinya yang murni, tapi entah mengapa dirinya dilarang menyebut suhu padanya, bahkan tidak boleh menyinggung kejadian ini?

Mendengar suara ribut itu, Khing-kiok melangkah keluar, melihat Ang-bau-jin lagi marahmarah, dengan tertawa ia tanya.

"Eh, Ang pepek (paman merah), siapakah yang membikin engkau marah?"

Karena Ang-bau-jin tidak mau menjelaskan siapa namanya, maka selama ini Khing-kiok selalu memanggilnya sebagai Ang-pepek.

anggap dia she Ang.

sebaliknya si jubah merah juga sayang kepada Khing-kiok seperti puteri kesayangannya sendiri, selama beberapa hari ini mandah saja dipanggil sebagai paman Ang.

Kini air mukanya masih juga marah, dengan beringas ia berkata.

"Nona Lim, selanjutnya kau dilarang menyinggung diriku di depan orang lain. sebutan Ang-pepek juga tidak boleh kau panggil lagi, Nah, sekarang lekas kalian pergi saja, lekas"

Habis berkata ia lantas masuk kedalam rumah merah, dengan keras ia gabrukan pintu, didalam rumah dia masih juga berteriak.

"Lekas pergi, lekas"

"Toako, sebab apakah Ang-pepek marah kepada kita?"

Anya Khing-kiok dengan gegetun-Yu Wi menggeleng, katanya.

"Aklah yang salah Aku memanggilnya suhu dan membuatnya marah. sungguh aku pantas mampus"

Khing-kiok pegang tangan Yu Wi dan menghiburnya.

"Janganlah kau menyesal, Ang-pepek pasti mempunyai alasannya, tidak nanti marah hanya karena panggilan suhu. Marilah kita perg saja dan jangan terpaku disini."

Yu Wi pikir kalau tidak pergi mungkin akan menambah gusar Ang-bau-jin, maka pelahan ia ikut Khing-kiok meninggalkan tempat itu.

Kira-kira beberapa puluh tindak jauhnya, ia tidak tahan, ia berpaling dan berteriak.

"Budi kebaikan cianpwe yang telah mengajarkan kepandaian ini, selama hidup Wanpwe takkan melupakannya"

Begitulah mereka terus melangkah pergi, makin lama makin jauh dan menghilang ditengah remang lautan salju.

Pada saat itulah pintu rumah merah itu terbuka pula, memanangi kepergian Yu wi berdua, dengan mengulum senyum Ang-bau-jin bergumam.

"Bagus sekali kedua sejoli itu, disini aku Angbau-kong (si kakek jubah merah) berdoa bagi kalian, semoga tahun depan lahir seorang bayi montok"

O-ooo-oo-ooo-o Lereng gunung Tiam-jong membentang beratus lijauhnya, untuk mencari sebuah biara tentunya tidak mudah, sudah dua tiga jam Yu Wi dan Khing-kiok berjalan dan tetap tidak kelihatan sebuah biara apapun-Kuatir Khing-kiok terlalu lelah, selagi Tu Wi bermaksud berhenti mengaso, tiba-tiba nona itu menuding kejauhan dan berkata.

"Lihat, Toako, disana ada sebah rumah."

Yu Wi memandang kearah yang ditunjuk.

benarlah dilihatnya ada sebuah bangunan di depan sana, tapi lantaran tertutup oleh timbunan salju, tidak jelas apakah bangunan itu biara atau bukan-Maka cepat mereka menuju kesana.

sesudah dekat, tertampak denganjelas ada sebuah rumah berhalaman yang berdinding biru dan juga bergenteng biru, melihat bentknya yang megah memang mirip sebuah biara besar, tapi biara Nikoh masa dibangun dengan dinding warna biru dan genteng biru pula?

Yu Wi merasa sangsi, katanya.

"Mungkin bukan tempat kediaman it-teng sin-ni, kita kesasar lagi."

"Tidak bisa."

Kata Khing-kiok.

"Dipuncak Tiam yong-san ini sepanjang tahun selalu turun salju, siapa yang mau membangun sebuah rumah sebesar ini disini? Besar kemungkinan adalah tempat tirakat sin-ni."

Yu Wi menggeleng, katanya.

"Tidak, pasti bukan"

Baru habis ucapannya, mendadak pintu rumah itu terbuka dan muncul dua Nikoh muda jelita, mereka lantas menegur.

"Tetamu agung darimanakah yang berkunjung kesini?"

"Tampaknya adik Kiok yang benar,"

KaTayu Wi dengan tertawa. Ia pikir kalau tempat ini ada Nikoh, tentunya tempat tirakat sin-ni, cuma tidak diketahui Ya-ji berada dimana? Maka sengaja ia menjawab teguran kedua Nikoh jelita itu.

"Cayhe Yu Wi, ingin mohon bertemu dengan it-teng sin-ni."

Salah seorang Nikoh jeliTa yang bertubuh lebih pendek lantas mendekati mereka, jawabnya dengan tertawa.

"Ah, kiranya Yu-kongcu adanya. sudah lama kukagumi nama kebesaran Kongcu, mengapa kini sempat berkunjung kemari?"

Yu Wi melengak, ia merasa ucapan itu bukan cara bicara orang beragama, seharusnya menyebut tetamunya sebagai sicu (dermawan), mengapa dirinya disebut sebagai Kongcu?

Nikoh jeliTa yang lain lantas menyambung.

"Wah, cakap benar Yu-kongcu, marilah mampir kedalam rumah dan minum teh dulu."

Melihat kedua Nikoh itu teus menerus main mata terhadap sang Toako, cara bicara mereka juga rada-rada merayu, diam-diam Khing-kiok mendongkol, segera ia menyela.

"Siapa yang ingin minum teh? Tujuan kami hanya ingin menemui sin-ni dan bukan ingin minum teh"

Si Nikoh agak pendek berucap dengan tertawa.

"Ai, alangkah galaknya Eh, pernah apakah Yukongcu dengan kau?"

Yu Wi berkerut kening, katanya dengan kurang senang.

"Tolong sampaikan kepada guru kalian bahwa Yu Wi mohon bertemu."

Nikoh yang agak tinggi menjawab dengan tertawa.

"o, kau hendak menemui suhu kami? Kebetulan, memangnya suhu juga ingin bertemu dengan kau."

"Jika demikian mohon disampaikan kepada beliau."

KaTayu Wi.

"Tapi ingin kukatakan dimuka, suhu kami bukanlah Nikoh,"

Kata si Nikoh pendek. Yu Wi mengira mereka sengaja menggoda, dengan mendongkol ia berucap.

"Jika demikian, jadi kalian juga bukan Nikoh?"

"Memangnya siapa bilang kami Nikoh?"

Sahut kedua Nikoh jelita itu berbareng.

"Bukan Nikoh? Wah, tentunya puteri bangsawan?"

Ejek Khing-kiok.

"Bangsawan sih tidak. ayahku cuma seorang asisten residen saja."

Jawab Nikoh yang tinggi. Khing-kiok tambah gemas, katanya terhadap si Nikoh pendek.

"Dan kau?"

Nikoh itu tertawa, jawabnya.

"Coba, silahkan Yu-kongcu menerkanya?"

Yu Wi tidak biasa melihat sikap "Menantang"

Mereka itu, dia melengos kearah lain tanpa menjawab. Khing-kiok lantas menanggapi.

"Siapa yang berminat main teka-teki dengan kalian? sudahlah, lekas bawa kami menemui sin-ni."

"Jangan buru-buru,"

Ujar Nikoh yang pendek.

"Biarlah kita mengobrol lagi sebentar, nanti setelah kalian bertemu dengan suhu tentu kalian akan segera pergi pula, lalu hilanglah kesempatan kami untuk mengobrol."

Cara bicaranya ini seperti sudah sekian tahun mereka tinggal di Tiam-jong-san dan tidak pernah bertemu dengan orang luar, sekarang mumpung bisa bertemu, maka harus mengobrol sepuasnya.

Tentu saja Khing-kiok sangat mendongkol, selagi dia hendak mendamprat, mendadak terdengar seorang bicara dengan suara lantang.

"Ci-hong, Giok-hong, suruh kalian melongok siapa yang datang, mengapa kalian malah mengobrol disini?"

Tertampak dari dalam rumah biru itu keluar seorang lelaki tegap berbaju biru, mukanya penuh cambang biru, tubuhnya tinggi besar, sikapnya gagah perkasa, mirip seoran panglima perang dijaman kuno.

segera kedua Nikoh jelita itu mundur kesamping sambil berbisik kepada Yu Wi.

"Itu dia guru kami, lekas kau beri hormat"

Melihat guru kedua Nikoh ini memang benar bukan kaum beragama, dari kelakuan muridnya tadi, Yu Wi menilai gurunya pasti juga bukan manusia baik-baik, maka ia malas untuk berkenalan dengan orang demikian-segera ia tarik tangan khing-kiok dan diajak pergi.

Cepat si lelaki baju biru membentak.

"He, bocah itu, berani kau bersikap tidak sopan padaku? Berhenti"

Mendengar suara orang yang bengis itu, marah juga Yu Wi, segera ia berpaling dan menjawab.

"Memangnya mau apa kalau tidak sopan?"

Melihat Yu Wi benar-benar bersikap tidak sopan pada dirinya, lelaki baju biru jadi melengak dan lupa menjawab. Yu Wi lantas mendengus.

"Hm, dikolong langit ini mana ada lelaki menjadi guru kaum Nikoh, kuyakin kalian pasti bukan manusia baik-baik."

Mendadak si baju biru bergelak tertawa, tanpa bicara ia terus menghantam.

Pukulannya langsung menuju kedada Yu Wi, gerak pukulan yang sangat umum.

Tapi sekali pandang saja Yu wi lantas tahu pukulan ini membawa gerak perubahan yang mematikan, ia tidak berani gegabah, segera ia menangkis.

Tapi sebelum pukulan mengenai sasarannya, mendadak tangan si baju biru ditarik kebawah, entah cara bagaimana tangan kirinya mendadak menyambar tiba dan "plak", dengan tepat pipi Yu Wi tertampar.

Tangkisan Yu wi itu sebenarnya juga membawa gerak perubahan yang lihay, tapi sebelum dia berbuat, tahu-tahu sudah didahului oleh gamparan si baju biru.

Malahan cara bagaimana orang menamparnya tidak jelas dilihatnya.

Karuan Yu wi terkejut, ia tahan rasa gusarnya dan coba balas menyerang.

Tapi si baju biru juga lantas menghantam pula, tepat diarahkan kepada serangan Yu wi.

Yu Wi merasa heran, pikirnya.

"dengan pukulanmu yang sederhana ini untuk menahan seranganku, kan berarti kau cari susah sendiri?"

Diam-diam ia mengira si lelaki baju biru pasti akan terkena serangan balasannya.

Tampaknya serangannya sudah hampir kena, bila pukulannya dapat mengenai muka orang, berarti terbalaslah gamparan mukanya tadi.

Tak terduga, mendadak tenaga pukulannya terpatahkan, pukulannya dapat mengenai tempat kosong, waktu ia pandang kedepan, kiranya si lelaki baju biru telah mematahkan serangannya dengan tangan kiri pula.

Yu Wi sangat kecewa, sungguh ia tidak tahu cara bagaimana Lam-san-tay-han (lelaki kekar berbaju biru) menggunakan tangan kirinya.

selagi ia hendak ganti serangan, mendadak kepalan kanan si baju biru telah berubah pula menjadi telapak tangan dan menggampar lagi.

"plok", kembali pipinya yang sebelah tergampar pula. Dua kali gamparan itu benar-benar telah menghanyutkan rasa gusar Yu Wi, sebagai gantnya adalah rasa berduka, diam-diam ia membatin.

"Lahirnya orang ini kelihatan kasar, tapi kehebatan ilmu pukulannya jelas jauh diatas diriku ,"

Karena menyadari bertangan kosong pasti bukan tandingan orang, bahkan pasti tergampar pula.

Cepat Yu Wi melompat mundur, peang kayu segera dilolosnya.

Melihat anak muda itu melolos pedang kayu, si baj biru tidak mendesak lagi, ia terbahak-bahak dan berkata.

"Hahaha, memang sejak tadi seharusnya kau gunakan pedangmu"

Kontan pedang Yu Wi menusuk. tapi dengan tenaga pukulannya si baju biru menggetar pedang Yu Wi kesamping, berbareng ia berucap sambil menggeleng.

"Tidak. percuma Lekas kau mainkan Hai-yan-kiam-hoat"

Mendengar orang dapat menyebut nama Hai-yan-kiam-hoat, teringat pula kedua Nikoh jelita tadi segera mengenalnya ketika mendengar namanya disebut, Yu Wi pikir mungkin It-teng sin-ni yang memberitahukan kepada mereka akan kedatangannya ini, dari sini dapat diketahui antara Itteng sin-ni dan si baju biru pasti ada hubungan yang akrab.

Bahwa lelaki baju biru ini dapat bermukim di puncak Tiam-jong-san bersama It-teng sin-ni, pantaslah kalau ilmu pukulannya sangat lihay, tampaknya kungfunya tidak dibawah Ang-bau-jin alias si jubah merah.

Berpikir sampai disini, segera ia berseru.

"Baik Awas, inilah Hai-yan-kiam-hoat" -Berbareng pedang kayu terus menusuk. Menghadapi lawan tangguh, serangan Yu Wi tidak kenal ampun lagi, ia pikir orang harus diberitahu rasanya Hai-yan-kiam-hoat, maka serangan pertama yang digunakan adalah jurus Butek-kiam ajaran Ji Pek liong. Agaknya si baju biru juga tahu kelihaian Hai-yan-kiam-hoat, ia tidak berani ayal, segera iapun memainkan ilmu pukulan andalannya yang diciptakannya berdasarkan hasil pemikirannya selama beberapa puluh tahun-Jurus Bu-tek-kiam sudah terlalu apal bagi Yu Wi, berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, ia pikir andaikan serangan ini tidak dapat melukai kau, sedikitnya juga akan membikin kelabakan padamu. Tapi segera terlihat si baju biru menghantam sekaligus dengan kedua tangannya, sampai setengah jalan, tampaknya tangannya akan terketuk oleh pedang kayu, saat itu cahaya pedang yang ditaburkan oleh Yu Wi jelas sukar diterobos oleh si baju biru. Di luar dugaan, mendadak telapak tangan kiri si baju biru menepuk tangan kanan.

"plak", kedua telapak tangan bertepuk. belum lenyap suaranya, kedua tangan terus terpencar dan menimbulkan bayangan telapak tangan yang sukar dihitung. Yang terlihat oleh Yu Wi menjadi cuma bayangan telapak tangan dan tidak tertampak bayangan orang, seketika jurus Bu-tek-kiam mengenai tempat kosong. Terkejut Yu Wi, namun gerakannya tidak pernah lamban, menyusul ia menyerang pula, sekali ini adalah jurus Tay-gu-kiam ajaran can-pi-so, si kakek buntung tangan. Daya serang Tay-gu-kiam ini tidak dibawah Bu-tek-kiam. Tapi lagi-lagi kedua telapak tangan sibaju biru saling bertepuk.

"plaks, kembali kedua tangan terentang dan menimbulkan bayangan telapak tangan yang berhamburan-Tay-gu-kiam menusuk masuk ketengah-tengah bayangan telapak tangan dan tidak berhasil mencapai sasarannya. Karuan Yu Wi menjadi gugup, berturut-turut ia melancarkan jurus Hong-sui-kiam, Tay-liongkiam dan siang-sim-kiam. Tapi gerakan telapak tangan si baju biru juga bertambah cepat, tiga kali Yu Wi menyerang, setiap kali terdengar tangan menepuk tangan atau tangan menepuk lengan, juga tangan menepuk siku, setiap tepukan menerbitkan suara nyaring dan berubah menjadi gerak tangan yang ajaib. selesai Yu Wi menyerang tiga kali, semuanya mengenai tempat kosong, si baju biru sedikitpun tidak terluka. sampai disini, Yu Wi lantas menarik kembali pedangnya dan berhenti menyerang, ia menghela napas panjang, ia pikir Hai-yan-kiam-hoat terkenal sebagai ilm pedang nomor satu di dunia, tapi dalam permainannya ternyata tidak berdaya guna sama sekali, apa mau dikatakan lagi? Terpaksa ia terima digampar dua kali secara sia-sia oleh si baju biru. Melihat anak muda itu berhenti menyerang, si baju biru tertawa, katanya.

"Bagaimana, tidak bertempur lagi? Apakah sudah kau sadari bukan tandinganku?"

Yu Wi mengangguk. ucapnya dengan ikhlas.

"Ya, ilmu pukulanmu maha ajaib, aku bukan tandinganmu, sikapku yang kasar tadi terserah padamu cara bagaimana akan kau tindak?"

S baju biru mengulapka n tangannya dan berkata.

"sudahlah, boleh kau pergi saja, asalkan kau mengaku kalah, kan sudah, bertindak apalagi?"

Yu Wi memberi hormat sebagai tanda terima kasih, lalu tangan Khing-kiok digandengnya.

"Toako"

Khing-kiok memanggil pelahan sambil memandang anak muda itu. Panggilan ini menunjukkan betapa besar perhatian dan kasih sayangnya, tanpa tambahan kata lainpun sudah cukup memperlihatkan perasaannya.

"Kita pergi saja"

KaTa yu Wi. Baru saja ia melangkah beberapa tindak, didengarnya si baju biru lagi berkata dengan tertawa gembira.

"Haha, budak Thio mengatakan Hai-Yan-kiam-hoat tidak ada tandingannya di dunia ini, jelas cuma omong kosong belaka"

Jelas sekali dia sangat meremehkan Hai-yan-kiam-hoat. Tentu saja Yu Wi tidak terima, segera ia berpaling dan menyatakan.

"Hai-yan-pat-kiam memang betul ilmu pedang tidak ada tandingannya di dunia ini."

"Hahahaha"

Kembali si baju biru bergelak tertawa.

"Jika benar tidak ada tandingannya di dunia ini, mengapa baru kau mainkan lima jurus lantas kau sadari bukan tandinganku dan tidak berani menyerang lebih lanjut?"

"Hanya lima jurus serangan itu saja yang kukuasai, andaikan kumainkan lagi juga tidak ada gunanya,"

Ujar Yu wi. Air muka si baju biru mendadak berubah, ia menegas.

"Habis bagaimana dengan dua jurus yang lain?"

"Kedua jurus itu tidak kupelajari,"

Sahut Yu Wi. seketika si baju biru menjadi heran dan bingung, pikirnya.

"Melulu lima jurus saja sudah dapat memaksa kukeluarkan Hoa-san-ciang, bahkan aku cuma sanggup bertahan dan tidak mampu menyerang, jika kedelapan jurus Hai-yan-kiam-hoat lengkap dikuasainya, jelas aku pasti akan kalah. Tampaknya ucapan si budak Thio bahwa Hai-yan-pat-kiam adalah ilmu pedang nomor satu di dunia ini memang bukan bualan belaka."

Melihat si baju biru diam saja, segera Yu Wi hendak melangkah pergi pula.

"He, kau hendak kemana?"

Tanya si baju biru tiba-tiba.

"Menemui It-teng sin-ni."

Jawab Yu Wi.

"Kedelapan jurus itu belum lengkap kau pelajari, untuk apa menemui dia?"

"Betapapun kedatanganku ini harus bertemu dengan beliau."

Si baju biru menggeleng kepala, katanya.

"ingat, apa yang pernah dikatakan budak Thio kepadamu?"

Yu Wi tahu budak Thio yang dimaksudkan ialah Thio Giok-tin alias It-teng sin-ni, maka jawabnya.

"IT-teng sin-ni pernah memberi pesan, sebelum lengkap mempelajari kedelapan jurus Hai-yan-kiam-hoat dilarang datang ke Tiam-jong-san, bila datang juga cayhe akan ditindak keras."

"Masakah cuma ditindak keras saja, kukira janganlah kau pergi menemuinya,"

Ujar si baju biru. Yu Wi tahu orang bermaksud baik, ucapnya.

"Terima kasih atas nasihatmu, tapi jiwaku hanya satu, masakah It-teng sin-ni tega mencabut nyawaku?"

Habis berkata, dengan berani ia melangkah pergi, Khing-kiok ikut disebelahnya, juga tidak gentar sedikitpun.

"Nanti dulu"

Seru si lelaki baju biru tiba-tiba.

Baru saja Yu Wi behenti, mendadak tangan terasa kesemutan, tangan yang menggandeng Khing-kiok itu tanpa kuasa terus terlepas, waktu ia membalik tubuh, ternyata nona itu sudah berada dalam cengkeraman si baju biru.

"He, apa artinya ini?"

Teriak Yu Wi dengan gusar.

"Lepaskan, lepaskan diriku"

Teriak Khing-kiok. -api apa daya, badan tidak dapat bergerak sama sekali, jelas Hiat-tonya tertutuk. Dengan tertawa si baju biru berkata.

"Jika kau ingin mengantar kematian, janganlah menyuruh nona ini ikut mati bersamamu"

"Peduli apa dengan kau?"

Teriak Khing-kiok.

"Lekas lepaskan aku Toako, tolong, Toako"

Melihat nona itu dikempit dibawah ketiak oleh si baju biru, entah apa maksud tujuan orang, Yu Wi tidak sembarangan menolongnya, sebab kuatir menimbulkan rasa murka orang dan bisa jadi membikin celaka Khing-kiok malah.

Maka ia bertanya.

"Sesungguhnya apa kehendakmu?"

"Ingin kuselamatkan jiwanya, masa kau tidak suka?"

Jawab si baju biru.

"Kubawa serta dia, dengan sendirinya ada akal untuk menyelamatkannya, hendaklah kau bebaskan dia."

PinTa yu Wi.

"Huh, aku saja tak dapat kau kalahkan, jangan harap akan kau tandingi si budak Thio."

Kata si baju biru.

"Dirimu sendiri saja belum tentu bisa selamat, masakah berani menyatakan akan melindungi dia. Hendaklah diketahui, bilamana budak Thio sudah mau membunuh orang, caranya lihay sekali."

Saking gemasnya Khing-kiok menangis karena dikempit oleh lelaki baju biru itu, serunya dengan air mata berlinang.

"Toako, lekas tolong diriku dan hajar dia... ."

Segera Yu Wi melangkah maju dan menegur.

"Mau kau lepaskan dia tidak?"

"Tidak,"juwab si baju biru dengan tertawa.

"Eh, kau budak cilik ini menangisi apa? Lebih bak ikut dan jadilah muridku,"

"Tidak, siapa ingin jadi muridmu"

Teriak Khing-kiok sambil menangis.

"Kalau tidak kau lepaskan diriku, segera akan kugigit kau"

"Biasanya selalu kutolak orang yang minta menjadi muridku, sekarang aku yang penujui kau, inilah kemujuranmu... ."

Belum habis ucapan si baju biru, mendadak Khing-kiok menggigit punggung tangan orang.

Tapi si baju biru tidak menjerit sakit, bahkan bergerak pun tidak.

gigitan Khing-kiok itu seperti menggigit kulit kerbau yang kering.

"Nah, gigitlah yang keras, gigitlah lebih keras"

Kata si baju biru dengan tertawa.

"sudah menjadi watakku, semakin kau tolak menjadi muridku, semakin harus kuterima kau, hari ini sudah pasti kuterima kau sebagai murid"

Yu Wi tidak tahan lagi, mendadak ia melayang maju, tangan kanan memotong kemuka si baju biru, tangan lain terus meraih Khing-kiok.

Tapi si baju biru sempat mengengos kesamping sehingga kedua gerakan Yu wi itu mengenai tempat kosong.

selagi hendak bertindak lagi, mendadak telapak tangan si baju biru memegang kepala Khingkiok dan mengancam.

"Jangan kau bergerak lagi"

Melihat keselamatan Khing-kiok terancam, Yu Wi tidak berani sembarangan bertindak lagi.

"Hah, ingin kau rebut dia dari tanganku, sama seperti mimpi di siang bolong, tidak mungkin terjadi,"

Seru si baju dengan terbahak.

"Huh, masakah di dunia ini ada orang dipaksa menjadi muridnya secara begini?"

"sudah tent ada,"

Ujar si baju biru.

"Wah, jangan-jangan semua muridmu adalah hasil paksaanmu juga?"

Jengek Yu Wi.

"Ngaco-belo"

Teriak si baju biru. Lalu ia memanggil.

"Ci-hong dan Giok-hong, coba kalian kemari"

Kedua Nikoh jelita tadi lantas mendekatinya. Lalu si baju biru berkata pula kepada mereka.

"Coba kalian jelaskan kepada bocah ini, apakah aku yang memaksa kalian menjadi muridku?"

Nikoh yang agak tinggi itu bernama Ci-hong, dia menggeleng dan berkata.

"Tidak, tidak ada yang memaksa, matipun aku tidak mau dipaksa."

Nikoh yang lain bernama Giok-hong, ia menyambung.

"Menurut pendapatku, hendaklah nona lekas menerima dijadikan murid oleh suhu, kepandaian beliau maha sakti, apa yang ingin kau pelajari tentu akan diajarkan oleh beliau."

Tapi Khing-kiok lantas mencibir.

"Cis, siapa ingin meniru cara kalian yang tidak tahu malu ini, sudah menjadi Nikoh, tapi berkelakuan tidak bersih?"

"siapa yang tidak tahu malu,"

Tanya Ci-hong.

"Kalian, kalian yang tidak tahu malu."

Seru Khing-kiok.

"Coba jawab, masakah biara Nikoh juga ditinggali oleh lelaki?"

"He, budak cilik jangan salah wesel, rumah ini bukan biara Nikoh."

Tukas si baju biru.

"Bukan biara kenapa didiami oleh Nikoh?"

Ujar Khing-kiok.

"sudah kukatakan kami bukan Nikoh, kenapa kau sembarang omong lagi."

Kata Giok-hong. si baju biru lantas menyambung.

"setiap muridku memang selalu berdandan sebagai Nikoh Jika kau jadi muridku, kaupun harus berdandan sebagai Nikoh."

"siapa sudi menjadi muridmu"

Teriak Khing-kiok.

"Lepaskan diriku, lepaskan-"

"Jangan ribut, adik Kiok."

KaTa yu Wi.

"cianpwe ini seorang yang tahu aturan, setiap muridnya diterima denang suka rela, kalau kau tidak suka, dia pasti akan melepaskan kau."

Yu Wi menyadari kungfu sendiri tidak mampu merampas Khing-kiok dari tangan orang, maka sengaja digunakan kata-kata pujian untuk memancingnya.

siapa tahu si baju biru lantas bergelak tertawa dan berkata.

"Tapi apapun juga hari ini harus kuambil budak cilik ini sebagai muridku."

Dia lantas menurunkan Khing-kiok.

tapi dengan tangan kiri ia jambak rambut nona itu, telapak tangan kanan bergaya seperti pisau terus menabas.

Kontan rambut Khing-kiok yang panjang dan pekat itu terpotong putus dan berhamburan tertiup angin-Tertampak rambut diatas kepala Khing-kiok sekarang hanya sepanjang beberapa inci saja, seketika ia jadi melenggong oleh tindakan si baju biru yang mendadak itu.

Melihat rambut putus yang bertebaran ditanah, untuk sekian lamanya ia tak dapat bersuara.

Yu Wi juga tidak mengira gerak tangan si baju biru bisa secepat ini, tahu-tahu rambut sudah ditabas putus, ingin menolong sudah tidak keburu lagi.

Waktu Khing-kiok menyadari apa yang terjadi, mengingat rambutnya telah dipotong, keadaannya sekarang tentu tidak lelaki dan bukan perempuan, sungguh tidak kepalang rasa sedihnya.

sayang kepada kecantikan adalah sifat pembawaan orang perempuan, saking sedihnya ia menangis tergerung-gerung.

Tindakan si baju biru ternyata tidak tanggung-tanggung, segera ia mengeluarkan pula sebilah belati, sambil bergelak ia terus menyayat keatas kepala Khing-kiok.

Karena menangis sambil mendekap mukanya, Khing-kiok tidak tahu tindakan si baju biru itu.

Tapi Yu Wi menjadi gusar, tanpa pikir ia melangkah maju, secara otomatis yang digunakan adalah langkah ajaib Hui-liong-pat-poh.

sekali melangkah tubuh Yu Wi segera melaang pula ke udara, pandangan si baju biru menjadi kabur, tabasan belatinya mengenai tempat kosong, segera ia tahu gelagat jelek, cepat belatinya menimpuk ke udara.

Dengan satu gerakan saja Yu Wi berhasil merampas Khing-kiok.

girangnya tak terkatakan, sungguh tidak terduga bahwa Hul-liong-pat-poh mempunyai daya guna sehebat ini, sampai tokoh maha sakti semacam si baju biru juga tidak mampu menahannya.

selagi mengapung di udara, tertampak belati lawan menyambar tiba, segera ia menggunakan gaya ajaran si jubah merah, pinggang menggeliat, kaki menendang, kontan belati itu tertendang mencelat.

Melihat gerak tubuh Yu Wi di udara yang hebat itu, bahkan belatinya dapat ditendang hingga mencelat, mau-tak-mau si baju biru berseru memuji.

"Bagus"

Waktu Yu Wi turun ketanah, segera ia menubruk maju, kedua tangannya menghantam secepatnya, maksudnya hendak mengurung Yu Wi di bawah pukulannya dan Khing-kiok akan direbutnya kembali.

Melihat bayangan telapak tanan lawan yang tak terhitung jumlahnya mengurung tiba, Yu Wi tidak berani menyambutnya, kembali kakinya melangkah maju, dikeluarkannya langkah kedua Huiliong-poh.

setiap langkah ajaib ini tidak sama, setiap langkahnya sangat hebat.

Begitu melangkah, menyusul tubuhnya lantas mengapung keatas, bukan saja pukulan sibaju biru dapat dielakkan, bahkan terus melayang lewat diatas kepala orang, kakinya sempat mendepak sehingga ikat rambut si baju biru terdepak jatuh.

Untung si baju biru sempat berkelit dengan cepat, kalau tidak, depakan kaki Yu Wi dapat membuat kepalanya pecah.

Waktu turun lagi kebawah, sekali ini Yu Wi sudah berada belasan tombak jauhnya dari lawansi baju biru menyadari tidak mudah lagi untuk mengejar Yu Wi, ia lantas berseru.

"Ilmu lankah bagus Dengan langkah ajaibmu ini cukup mampu kau lindungi budak cilik itu dan boleh kau temui si budah Thio, agaknya semula aku cuma berkuatir tanpa alasan bagimu."

Yu Wi lantas membuka Hiat-to Khing-kiok yang tertutuk dan membawanya pergi dengan pelahan.

Jilid 16 Tiba-tiba si baju biru ingat sesuatu, cepat ia berseru pula.

"He, bocah she Yu, ilmu langkahmu itu belajar dari siapa?"

Terdengar Khing-kiok berkata kepada anak muda itu.

"Toako, orang ini terlalu busuk, jangan kau gubris dia."

Rupanya ia menjadi benci sekali terhadap si baju biru karena rambut kesayangannya tertabas putus.

Apabila kungfu Yu Wi diatas orang itu, tentu dia akan memohon anak muda itu membalaskan dendamnya.

Tapi ia tahu Yu Wi bukan tandingan orang, maka tidak berani minta dendamnya dibalaskan-Begitulah semakin jauh jedua orang itu melangkah pergi.

Dengan suara keras si baju biru berteriak.

"langkahmu itu ajaran Ang-bau-kong Yim Yu-ging, bukan?"

Hati Yu Wi tergerak mendengar nama "Ang-bau-kong", ia berpaling dan bermaksud tanya asalusul sijubah merah itu kepada orang berbaju biru ini, tapi sebelum dia bersuara, Khing-kiok keburu mencegahnya.

"Toako, pesan Ang-pepek itu janganlah kau lupakan-"

Yu Wi menelan mentah-mentah kata-kata yang sudah hampir diucapkannya, ia menjawab pertanyaan si baju biru dengan kata lain.

"Ang-bau-kong apa? Entah aku tidak kenal. Yang pasti ilmu langkah ajaib ini adalah ajaran keluargaku sendiri."

Tapi telinga si baju biru sangat tajam, misalnya di dalam rumah saja dia dapat mendengar suara kedatangan Yu Wi berdua sehingga ci-hong din Glok-hong disuruh menjenguk keluar.

Sekarang meski Khing-kiok bicara kepada Yu Wi dengan suara pelahan juga dapat didengarnya dengan cukup jelas.

Maka tertawalah.

si baju biru, serunya.

"Haha. jangan kaubohong padaku. Kalau Ang-bau-kong sudah mengajarkan ilmu langkahnya padamu, biarlah akupun mengajarkan semacam ilmu khas padamu..."

"Terima kasih atas maksud baikmu, Cayhe tidak ingin belajar,"

Jawab Yu Wi dari kejauhan

KANG ZUSI website

http.//kangzusi.com/ "Kau harus belajar, akan kuajarkan Hoa-sin ciang-hoat yang tak dapat dikalahkan oleh lima jurus Hai-yan-kiam-hoat tadi,"

Kata si baju biru.

Yu Wi pikir ilmu pa kulan Hoa-sin-ciang tadi memang sangat hebat dan bernilai untuk dipelajari, diam-diam ia tertarik.

Maklumlah, bagi orang yang gemar ilmu silat, apabila melihat sesuatu ilmu silat yang hebat, tentu ingin diselaminya di mana letak keajaibannya.

"Meski ilmu pukulan orang ini sangat hebat tapi pekertinya jelek. janganlah Toako belajar padanya,"

Kata Khiog-kiok, Yu Wi mengangguk. katanya.

"Baiklah, aku tidak belajar."

Segera mereka melangkah pergi pula.

si baju biru dapat mendengar percakapan mereka, ia menjadi marah, sekonyong-konyong.

ia melompat ke atas, secepat anak panah tubuhnya terus melintir ke depan, mengejar ke arah Yu Wi.

Ketika anak muda itu merasakan angin berkesiur dari belakang dan selagi hendak bertindak, namun sudah terlambat selangkah, tahu-tahu punggung tangan kesemutan, Khing-kiok kembali kena diserobotnya pula.

Dua kali nona itu diserobot dan dua kali Yu wi tidak dapat berbuat apa-apa, hal ini menandakan betapa tinggi Ginkang si baju biru serta kecepatan tangannya sungguh luar biasa.

setelah berhasil menyerobot Khing-kiok, si baju biru bergolak tertawa, teriaknya pula.

"Nah, kau mau belajar atau tidak?"

Di luar kekuasaannya Hiat-to kelumpuhan Khing-kiok telah tertutuk dan terkempit di bawah ketiak si baju biru, saking kalap akan Khing-kiok terus berteriak pula.

"Toako, sekali tidak belajar tetap jangan belajar padanya"

Si baju biru menjadi gusar, damperatnya.

"Untuk apa kau ikut cerewet?"

Mendadak ia melemparkan Khing-kiok ke belakang sana sambil berseru.

"Ci-hong. tangkap dia ini"

Lemparannya dengan tepat sampai di tangan ci-hong, padahal Nikoh jelita itu berada jauh di belakang sana, untuk menolong Khing-klok lebih dulu Yu Wi harus melalui rintangan si baju biru.

terpaksa ia tidak dapat bertindak apapun-"sekali ini jangan harap akan kau tolong dia lagi,"

Kata si baju biru. Lalu ia berseru pula.

"cihong. kurung budak itu, biarkan dia kelaparan beberapa hari, ingin kutahu apakah dia sanggup berkaok-kaok lagi atau tidak?"

Ci-hong mengiakan, bersama Giok-hong mereka membawa Khing-kiok ke dalam rumah biru.

"He, nanti dulu, kalian tidak boleh mengurungnya"

Teriak Yu Wi.

"Tidak mengurungnya juga boleh, asalkan kau-belajar Hoa-sin-ciang dengan baik,"

Kata si baju biru dengan tertawa.

"Huh, di dunia ini masakah ada orang dipaksa belajar cara begini?"

"Kan sudah kukatakan, adalah menjadi watakku, semakin orang menolak belajar pada semakin kupaksa dia harus belajar."

Kata si baju biru.

"Ci-hong, dengarkan, sehari bocah she Yu ini tidak mau belajar Hoa-sin-ciang padaku, satu hari pula budak itu tidak diberi makan. bahkan hajar dia hingga babak-belur."

"Baik, suhu"

Jawab Ci-hong di dalam rumah. Yu Wi tahu badan Khing-kiok masih lemah dan tidak sanggup menerima siksaan bada terpaksa ia berseru.

"Baiklah, jangan kalian mengurung dia, aku bersedia belajar."

"Kalau mau belajar, sekarang juga kita mulai"

Kata si baju biru dengan tertawa.

Yu Wi tidak yakin, berapa lama dirinya akan berhasil menguasai Hoa-sin-ciang, seperti waktu belajar Hui-liong-poh tempo hari, semula ia menerima dalam waktu singkat pasti paham, siapa tahu sampai tujuh hari barulah ilmu langkah itu dikuasainya dengun baik.

sedangkan Hoa-sinciang ini tidak kalah hebatnya daripada Hui-liong-poh, entah berapa hari pula untuk bisa memahaminya.

segera ia berseru kepada Khing-kiok.

"Adik Kiok. kau tinggal saja bersama kedua Cici itu di dalam rumah, setelah Toako mahir Hoa-sin-ciang segera kupapak kau keluar."

Terdengar Giok-hong mengikik tawa dan berkata.

"Jangan kuatir Yu-kongcu, disini masih banyak Cici yang lain, tanggung tidak membikin susah dia."

Begitulah, dengan cepat tujuh hari telah berlalu pula, selama tujuh hari Yu Wi dan si baju biru terus berlatih di luar dan tiada seorang pun masuk ke rumah.

setiap waktu makan Giok-hong lantas mengantar santapan kepada mereka.

Kalau semula Yu Wi tidak rela belajar Hoa-sin-ciang, tapi akhirnya ia jadi ketarik oleh kehebatan ilmu pukulan itu, diam-diam ia mengakui ilmu pukulan itu memang sangat lihai, kecuali Hai-yan-kiam-hoat, mungkin di dunia ini tidak ada kung-fu lain yang mampu menandinginya.

Mautidak-mau timbul rasa hormat dan kagumnya terhadap si baju biru.

Cara mengajar si baju biru juga sungguh2, sedikitpun tidak "asal"

Saja, bila ada kesalahan, kontan dia marah dan mendamperat Yu Wi.

Tapi anak muda inipun tidak menyesal, dia benarbenar ingin belajar Hanya saja sering ia bertanya-tanya dalam hati, sebab apakah si baju biru mengajarkan ilmu pukulan maha sakti ini kepadanya tanpa syarat?

sampai hari kedelapan Hoa-sin-ciang sudah dapat dikuasai seluruhnya oleh Yu Wi, kalau dihitung, waktu yang diperlukan ternyata sama dengan belajar Hul-liong-pat-poh.

Hanya dalam waktu setengah bulan saja berhasil memahami dua macam kungfu maha sakti, tentu saja hati Yu Wi sangat girang.

Hari ini si baju biru berkata padanya.

"Nak, sekarang bolehlah kau pergi menemui si budak Thio."

Kini sikap Yu Wi terhadap si baju biru sudah sangat menghormat, jawabnya.

"sungguh Wanpwe merasa terima kasih tak terhingga atas kesudian cianpwe mengajarkan Hoa-sin-ciang yang hebat ini."

"Tidak perlu kau terima kasih padaku, sudah tentu ada tujuannya kuajarkan Hoa-sin-ciang padamu, kalau dipikir tetap demi kepentinganku sendiri jadi rugilah jika kau berterima kasih padaku."

Yu Wi menggeleng, katanya pula.

"Apapun maksud tujuan cianpwe, yang jelas Wanpwe telah mendapatkan ajaran ilmu sakti, selama hidup ini Wanpwe takkan melupakan budi baik ini"

Si baju biru bergelak tertawa, katanya.

"Tapi jangan kau lupa, semula kau tidak mau belajar. akulah yang paksa kau."

Teringat kepada sikap sendiri yang ngotot tempo hari, muka Yu Wi menjadi merah.

Waktu itu dirinya seperti ditagih hutang tatkala orang memaksa dia belajar, tapi sekarang setelah belajar mau-tak mau timbul juga rasa terima kasihnya.

si baju biru lantas berkata pula.

"Jika kau tetap berterima kasih padaku, tentu juga aku tidak dapat merintanginya. Cuma ada satu hal harus tetap kauingat, tentang kuajarkan Hoa-sin-ciang padamu ini dilarang kau katakan kepada siapapun, juga tidak boleh mengatakan kau pernah berjumpa denganku."

Yu Wi jadi melengak.

mengapa orangpun berpesan serupa si jubah merah?

Mestinya dia ingin tanya siapa namanya, tapi tidak jadi, sebab kuatir akan menimbulkan marahnya.

Tak terduga si baju biru sendiri lantas berkata kepada Yu Wi.

"setelah berkumpul selama beberapa hari, adalah layak kau kenal siapa diriku yang sebenarnya. sebelum berpisah, biarlah kuberitahukan padamu, aku she Loh bernama Ting-hoa. orang memberi julukan Lam-si-khek padaku."

Diam-diam Yu Wi memuji nama orang yang halus dan indah itu, tapi tidak sesuai dengan orangnya yang kelihatan besar dan kasar, hanya julukan "Lam-si-khek"

Atau sijanggut biru memang cocok sekali dengan orangnya. Mendadak si baju biru berseru.

"Bawa keluar nona Lim"

Sudan beberapa hari tidak bertemu, Yu Wi rada sangsi, ia pikir Khing-kiok tentu tambah kurus karena kurang makan dan menanggung pikiran.

Dilihatnya pintu rumah biru terbuka, Khing kiok mendahului melangkah keluar diikuti Ci-hong, Giok-hong dan disusul pula oleh tujuh atau delapan Nikoh muda lagi.

setiba di luar, beberapa Nikoh itu terus mengerumuni Khing kiok.

semuanya mengucapkan selamat berpisah padanya, jelas tampak perasaan berat atas perpisahan mereka itu.

Waktu Yu Wi memandang khing kiok.

dilihatnya nona itu sangat terharu dan hampir mencucurkan air mata, jelas dia juga merasa berat untuk berpisah.

Malah muka si nona kelihatan lebih gemuk daripada waktu masuk ke rumah biru tempo hari, cahaya mukanya juga kelihatan merah.

Jadi sama sekali meleset dugaan dan kekuatiran sendiri tadi.

"Nah, bolehlah mereka berangkat"

Seru si janggut biru dengan tertawa.

Begitulah Yu Wi dengan menggandeng tangan Khing kiok menerus kau perjalanan di lereng gunung bersalju.

sepanjang jalan, dari cerita Khing-kiok dapatlah Yu Wi mengetahui selama beberapa hari ini si nona berkumpul dengan akrab bersama beberapa murid perempuan si janggut biru.

"Mereka semuanya memiliki kepandaian khas, ada yang mahir memetik kecapi, ada yang pandai meniup seruling. ada yang pintar melukis dan bersyair, bahkan juga banyak yang pandai menyulam dan menjahit. Mengenai ilmu silat mereka tidak perlu lagi disangsikan, semuanya lihai. Mereka berebut mengajarkan kepandaian masing-masing padaku, tapi sekaligus mana dapat kubelajar sebanyak itu."

"Apakah kepandaian mereka itu semuanya ajaran Lam-si khek?"

Tanya Yu Wi. Khing-kiok mengangguk.

"sangguh sukar kubayangkan si janggut biru itu bisa mempunyai kepandaian sebanyak itu, pantas murid-muridnya sama rela belajar padanya di pegunungan penuh salju ini."

"Jika kau kagum kepada kepandaian si janggut biru. bolehlah kau tinggal dan belajar padanya di sini,"

Ujar Yu Wi. Tapi Khing-kiok menggeleng dan tidak menjawab. setelah berjalan sekian lamanya barulah Khing-kiok berkata.

"Toako, jika aku diharuskan berpisah dengan kau, tidak ada urusan apapun di dunia ini yang menarik bagiku."

Yu Wi melengak.

diam-diam ia merasa serba susah ia menjadi bingung bagaimana mereka harus berpisah kelak.

dan cara bagaimana nanti harus membujuknya agar baik dengan Kan Ciaubu?

Tiba-tiba terpikir olehnya.

"Ah, mulai sekarang harus kujauhi dia, jangan sampai berlanjut seperti ulat sutera yang mengikat diri sendiri dengan membuat kepompong, tentu akan banyak menimbulkan kekesalan."

Maka sedapatnya Yu Wi menghindar bicara dengan Khing-kiok.

dengan membungkam terus menuju ke sebelah barat.

Rupanya tempat kediaman it-teng sin-ni sudah diketahui Yu Wi dari keterangan Lim-si-khek alias sijinggut biru.

Tidak lama kemudian, sampailah mereka di depan sebuah biara yang dibangun dengan batu kuning-merah.

cukup megah dan angker, pada sebuah papan gapura tertulis empat huruf emas besar "siang-hui-sin-ni".

Di depan biara ada beberapa pohon cemara tua, tanah lapang bersalju di depan tersapu dengan lesik.

segera Yu Wi berseru.

"Wanpwe Yu Wi mehon bertemu dengan sin-ni" ...."

Sampai beberapa kali ia beneru dan tidak ada jawaban orang. selagi dia hendak mengetuk pintu. tiba-tiba dari dalam berkumandang suara orang perempuan yang halus.

"Kedelapan jurus pedang itu sudah lengkap kaupelajari belum?"

Yu Wi tahu itulah suara It-teng sin-ni, maka dengan sejujurnya ia menjawab.

"Atas pesan sinni itu, Wanpwe tidak dapat melaksanakannya seluruhnya, antara kedelapan jurus hanya enam jurus saja yang berhasil kupelajari, sebab ...."

Baru saja dia hendak menjelaskan tentang meninggalkan kedua kakek tuli dan bisu sehingga dua jurus di antaranya tidak mungkin dapat dipelajari dengan lengkap.

mendadak suara perempuan itu memotong ucapannya.

"Untuk apa datang ke sini kalau tidak lengkap belajar? Kuberi waktu seminuman teh untuk meninggalkan tempat ini."

Dengan sendirinya Yu Wi tidak mau pergi, segera ia menuturkan seluk-beluk pengalamannya dan apa yang terjadi atas para kakek cacat itu.

Dia bercerita dengan teratur dan penuh hormat.

Diam-diam Khing-kiok merasa penjelasan Yu Wi itu cukup memelas, ia yakin dengan keterangan itu tentu It-teng sin-ni dapat memaklumi kesulitan anak muda itu yang tidak dapat belajar lengkap kedelapan jurus Hai-yan-kiam-hoat.

selesai Yu Wi menutur, batas waktu yang diberikan pun habis.

Mendadak pintu biara terbuka dan melangkah keluar delapan Nikoh yang terus berdiri di sekeliling situ, menyusul muncul seorang Nikoh setengah tua, di depan dadanya tergantung kalung tasbih, wajahnya kelihatan sudah sangat tua namun garis-garis kecantikannya di masa muda masih jelas kelihatan.

Nikoh tua ini memandang sekejap Khing-kiok yang berdiri di samping Yu Wi, lalu menegur dengan wajah masam.

"Yu Wi, kenapa kau belum pergi?"

"Apakah Locianpwe inilah It-teng sin-ni?"

Jawab Yu Wi sambil memberi hormat. Tambah masam air muka Nikoh tua itu, dengan koreng ia berkata.

"Siapa Locianpwe? Kalau Cianpwe ya Cianpwe, kenapa ditambah Lo (tua) segala? Apakah sengaja kau bikin marah padaku?"

Yu Wi tidak menduga hanya satu kata saja bisa menimbulkan rasa gusar sin-ni, padahal tambahan sebutan itu hanya sebagai tanda hormat saja, ia tidak tahu bahwa It-teng sin-ni paling takut orang menyebut kata "Lo"

Atau tua di depannya. Maka cepat Yu Wi berganti haluan, ucapnya.

"Cianpwe. wanpwe ingin bertemu dengan Ya-ji, keadaannya baik-baik bukan?"

"Peduli apa dengan kau keadaannya baik atau tidak?"

Jengek sin-ni.

"Kau berani membangkang pada apa yang telah kukatakan?"

"Pesan cianpwe melalui Jit-ceng-me masih kuingat dengan baik, Wanpwe hanya ingin bertemu sejenak saja dengan Ya-ji dan tidak ada permohonan lain."

It-teng mendengus pula, katanya.

"Lantaran mengingat kau telah menyembuhkan cacat kaki Ya-ji dengan Thian-liong-cu, maka kuberi batas waktu untuk pergi. Tapi kau berani tetap tinggal di sini, tak dapat lagi kuberi ampun, lekas kau buntungi sebelah kaki sendiri, jangan sampai memaksa aku turun tangan sendiri,"

Khing-kiok tidak tahu kelihaian si Nikoh tua, mendadak ia menyela.

"He. Nikoh tua ini kenapa tidak pakai aturan?"

Sejak tadi dia sudah mendongkol karena di-ihatnya It-teng mempersulit pertemuan Yu Wi dengan Ko Bok ya, ia pikir anak muda itu datang ke sini darijauh tanpa kenal lelah, seharusnya Nikoh itu menaruh simpati dan ikut terharu padanya, tapi sekarang bukannya memberi kesempatan bertemu bagi Yu Wi, sebaliknya malah menyuruh anak muda itu membuntungi kaki sendiri, saking tidak tahan sebera tercetus ucapannya tadi tanpa pikir.

-siapakah tokoh-tokoh Ang-bau-jin atau sijubah merah dan sijanggut biru yang kosen ini?

-Dapatkah Yu Wi bertemu dengan KokBok-ya dan tokoh macam apa pula It-teng sin-ni?" = Bacalah

Jilid selanjutnya = = --^ --^ --^ sebaliknya It-teng mengira Khing-kiok sengaja menyebutnya Nikoh tua, seketika ia menjadi gusar, kalung tasbih itu langsung menyambar ke dada Khing-kiok.

Yu Wi terkejut, ia tahu tenaga sambitan it-teng itu tidak boleh diremehkan, apabila terkena, dada Khing-kiok pasti akan berlubaug.

Cepat ia melolos pedang untuk menangkis.

"Trang",-kalung tasbih itu terjerat ke batang pedang Yu Wi, jurus yang digunakannya ini adalah Bu-tek kiam, kalau tidak sukarlah baginya untuk menahan sambaran kalung tasbih ilu.

"Bagus"

Jengek It-teng.

"Kau berani menangkis tasbihku dengan Hai-yan-kiam-hoat dan merintangi aku membunuh budak itu, agaknya kau sendiri yang hendak membunuh dia. Boleh juga, nah, lekas kerjakan"

Tapi Yu Wi lantas masukkan pedang kayunya ke dalam sarungnya. lalu berseru.

"Tanpa sebab tiada alasan, mengapa Cianpwe hendak membunuhnya?"

Itteng menjadi murka, damperatnya.

"Kau hendak memberi petuah padaku?"

"Ah, tidak berani"

Jawab Yu Wi dengan hormat. It-teng menjengek.

"memangnya kau berani?"

Mendadak ia berjongkok dan meraup segenggam lidi cemara terus dihamburkan ke arah Khing-kiok.

tertampak berpuluh lidi cemara itu menyambar ke bagian mematikan di lubuh Khingkiok dengan angin tajam.

Melihat lidi cemara sekecil itu sedemikian lihai cukup terkena satu batang lidi itu saja jiwa bisa melayang, Khing-kiok menjerit ketakutan.

Tapi Yu Wi sudah siap sedia disamping, tanpa pikir la lolos pedang dan menghadang di depan si nona, serentak hujan lidi cemara itu tertahan oleh tabir pedang yang dipasangnya dan jatuh bertebaran.

Dua kali serangannya ditangkis, tidak kepalang gusar it-teng, bentaknya.

"Yu Wi, tampaknya kau sudah bosan hidup?"

Yu Wi tidak gentar sedikitpun. jawabnya.

"sekalipun dia bersikap kurang hormat terhadap Cianpwe dosanya juga tidak perlu dihukum mati."

"Hm, jika kau ingin bertemu dengan Ya-ji dan berhubungan baik lagi, kau harus membunuh dia bagiku,"

Jengek It-teng. Tapi Yu Wi menggeleng, katanya.

"Membunuh dia dan baru dapat bertemu dengan Ya-ji, andaikan Ya-ji tahu juga pasti tidak setuju."

"Jika kau tidak mau membunuhnya, biarlah aku yang membunuhnya,"

Kata It-teng.

"Bila kau berani merintangi lagi, nanti kubunuh kau sekalian."

"cut-keh-lang (orang yang sudah keluar rumah, artinya orang sudah memeluk agama) kenapa bicara tentang bunuh melulu?"

Ujar Yu Wi dengan menyesal. Merasa ucapan anak muda itu kembali bernada memberi petuah padanya, It-teng tambah murka teriaknya dengan suara melengking.

"selama berpuluh tahun tidak ada orang yang berani melawan kehendakku, sekarang ternyata ada bocah ingusan yang berulang-ulang menentang pendirianku. Tampaknya terpaksa aku harus melanggar pantangan membunuh."

Dia melangkah maju sambil mencabut Hudtun (kebut) dari punggungnya, kontan kebutnya menyabat kepala Khing-kiok. Demi menyelamatkan nona itu, cepat Yu Wi menangkis pedangnya.

"Baik, asalkan dapat kau kalahkan kebutku ini, bukan saja jiwa budak ini akan kuampuni, bahkan Ya-ji boleh kau temui sesukamu,"

Seru It-teng. seketika timbul semangat jantan Yu Wi. dengan lantang ia menjawab.

"Jadi"

Segera ia mainkan HHui-yan-kiam-hoat, jurus pertama yang dilancarkan adalah Bu-tek kiam.

Tapi It-teng tidak gentar sedikit pun terhadap jurus Bu-tek kiam, kebutnya berputar melingkar baru setengah jalan tusukan Yu Wi, tahu-tahu daya serangannya sudah terpatahkan-Berturut-turut Yu Wi mengeluarkan jurus Tay gu-kiam, Hong-sui-kiam, Tay-liong-kiam dan siang-sim-kiaim, tapi setiap kali hanya mencapai setengah jalan saja segera dipatahkan oleh kebasan kebut It-teng.

sama sekali Yu Wi tidak menyangka Hai-yan-kiam-hoat begini konyol, ia mengira ilmu silat Itteng sudah mencapai tingkatan maha sempurna dan jauh di atas si jubah merah dan sijanggut biru.

Bahkan Jit-can-so sama sekali tidak ada artinya lagi jika dibandingkan Nikoh ini.

Yu Wi tidak menyadari bahwa Hai-yan-kiam-hoat yang dikuasainya hanya enam jurus saja, jadi kepalang canggung, kalau kedelapan jurus Hai-yan-kiam-hoat dapat dipahami seluruhnya, bukan saja takkan dikalahkan It-teng, sebaliknya malah dapat mengalahkannya.

Mengenai sebab apa It-teng dapat mematahkan jurus serangan Yu Wi itu dengan mudah, hal ini memang ada alasannya.

Rupanya sejak It-teng berhasil memperoleh kitab pusaka Hai-yan-pat-to dari oh It-to, dari ilmu permainan golok itu telah diubahnya menjadi ilmu permainan pedang.

Tapi meski sudah dilatihnya hingga belasan tahun dan merasa sudah dapat dikuasainya dengan baik, ketika dia bertanding dengan jago kelas satu, hasilnya ternyata sangat mengecewakan.

semula ia mengira latihan sendiri yang belum sempurna, maka dia berlatih lebih tekun lagi.

Di sini barulah dirasakan, bilamana latihan sudah mencapai titik tertinggi, segera darah bergoiak dalam tubuh sendiri, Lwekang lantas menyurut malah.

Teringatlah olehnya keterangan oh It-to dahulu bahwa tidak ada gunanya ilmu golok yang diajarkan padanya itu, sebaliknya malah akan membikin celaka padanya.

Keterangan ini baru sekarang dipercayanya.

Kemudian setelah direnungkan lagi barulah diketahui bahwa Hai-yan-kiam-hoat itu hanya dapat dilatih oleh orang lelaki, meski perempuan juga boleh melatihnya, tapi bila mencapai titik yang paling mendalam, segera akan timbul pergolakan darah panas dalam tubuh sendiri dan akan merusak kesehatan.

setelah tahu sebab musabab ini, it-teng tidak berani berlatih lagi, tapi untuk menghadapi orang yang mahir Hai-yan-kiam-hoat kelak, dengan tekun ia mempelajari setiap gerak jurus pedang itu, lalu satu persatu diciptakan jurus lawannya.

selama belasan tahun ia memeras otak dan akhirnya ia merasa yakin usahanya telah berhasil, ia pikir selanjutnya tidak perlu takut lagi kepada orang yang mahir Hai-yan-kiam-hoat.

Dan benar juga, setelah diuji sekarang, kelima jurus serangan Yu wi ternyata dapat dipatahkan seluruhnya.

Tentu saja It-teng bergirang, katanya.

"Masih ada jurus pertahanan. Yu wi, coba dapatkah kau bertahan?"

Habis berkata kebutnya terus bekerja terlebih gencar, ia serang bagian maut di tubuh Yu Wi.

segera Yu Wi memainkan jurus Put-boh-kiam tapi baru saja tabir sinar pedang terpasang tiga lapis, tahu-tahu kebut lawan telah menerobos masuk dan mengancam dadanya.

Keruan Yu Wi terkejut, cepat ia buang pedang dan melangkah ke samping.

Langkah yang digunakan adalah Hul-liong-Soh ajaran Ang-bau-kong.

Pandangan it-teng terasa kabur dan kehilangan jejak Yu Wi, kebutnya hanya berhasil menggulung pedang kayu anak muda itu.

Waktu berpaling, dilihatnya Yu Wi sudah berdiri dengan tenang di belakangnya.

Rengeknya.

"Bagus, kiranya kau masih ada kepandaian simpanan"

Segera iapun melangkah maju, ia keluarkan langkah ajaib Leng-po-wi-poh, berbareng dengan langkahnya itu kebut terus melilit ke leher Yu Wi.

Tapi Yu Wi menunduk kebawah sambil menggunakan langkah naga terbang.

waktu tubuh mengapung ke atas, kedua telapak tangan bertepuk.

"plak". ia mainkan satu jurus Hoa-sin-ciang ajaran si janggut biru. Ketika kebut It-teng mengenai tempat kosong, segera dirasakannya angin berkesiur di atas kepalanya, ia mendongak dan melihat bayangan telapak tangan yang tak terhitung jumlahnya sedang memburu ke arahnya. Ia tidak sempat menyingkir, terpaksa kebutnya berputar untuk menangkis. Tapi lantaran kebut ini digunakan secara tergesa-gesa sehingga tidak banyak membawa daya serangan yang kuat, sukar baginya untuk menahan pukulan Yu wi, agar bisa menyelamatkan diri terpaksa harus melepaskan kebutnya. Dalam sekejap itu dia sempat menerobos keluar dari jaraK serangan pukulan Yu wi. Dilihatnya kebut yang terlepas itu mencelat kesana dan hampir jatuh ke tanah, segera It-teng menggunakan Ginkangnya yang tinggi untuk melayang kesana. kebut itu disambar kembali. Meski kebut dapat dirampas kembali, tapi apa pun-juga dia sudah kehilangan senjatanya, tadi Yu Wi juga kehilangan pedangnya dan kontan membalas, betapapun it-teng merasa malu, dengan gusar kebutnya berputar, kembali ia menyerang lagi dengan lebih ganas. Melihat orang bersenjata, Yu Wi tidak lagi memungut pedang kayunya, ia tahu lebih baik menghadapi lawan dengan bertangan kosong daripada memakai pedang kayu. sekarang ia tidak berani gegabah lagi, ia pikir pertarungan ini tidak boleh kalah, segera ia melancarkan serangan maut. Kebut It teng itu entah sudah mengalahkan berapa banyak tokoh Bu-lim. tapi hari ini sama sekali tidak berhasil. Kiranya Yu Wi telah menggunakan Ih-Hui-liong-poh yang teramat ajaib, setiap serangan it-teng selalu dihindarkannya dengan cepat dan mudah. sebaliknya Hoa-sin-ciang yang dilontarkan Yu wi justeru sukar dielakkan oleh It-teng, meski dia sudah mengeluarkan Lengpo-wi-poh tetap tidak ada gunanya. Maklumlah, Leng-po-wi-poh dan HHui-llong-pat-poh sama-sama langkah ajaib ciptaan Angbau-kong. sedangkan HHui-liong-pat-poh khusus diciptakan untuk mengatasi Leng-po-wi-poh. Hanya sayang latihan Yu wi belum sempurna benar, kalau tidak It-teng pasti akan terkena oleh pukulan Hoa sin-ciang. Begitulah pertarungan berlangsung hingga hampir ratusan jurus dan it-teng selalu di pihak yang terserang, dia terus terdesak hingga selalu melompat mundur. setelah lewat ratusan jurus, It-teng menjadi kalap, bentaknya bengis.

"Kau terlalu menghina padaku, anak keparat"

Segera kebutnya menyabet dari samping. Tapi mendadak Yu Wi mengapung ke atas "Jika kubunuh kau sekarang, jangan kau salahkan diriku"

Teriak It-teng pula.

mendadak iapun melompat ke atas dan kebutnya menyabet ke belakang.

Tentu saja Yu Wi sangat heran, lawan berada di depan, mengapa kabut orang menyabet ke belakang.

Tanpa menyelami apa maksud tujuan it teng, segera ia melancarkan suacu pukulan Hoa-sin-ciang, Yang dikehendaki Yu Wi adalah cepat mengalahkan musuh sehingga tidak terpikir kemungkinan lain, mendadak dirasakan punggung sendiri dingin seperti tertusuk pedang, seketika tenaga murni gembos dan terbanting jatuh ke bawah.

It-teng terus melangkah maju, sebelah tangannya terangkat dan menghantam kepala Yu Wi.

Yang dirasakan Yu Wi sekarang adalah punggung sangat kesakitan, mana dia sempat menangkis lagi, tampaknya pukulan orang sudah berada di atas kepalanya.

terpaksa ia pejamkan masa dan pasrah nasib.

syukur pada detik berbabaya itu mendadak terdengar seorang bersuara dengan welas-asih.

"A Giok. kenapa kau bunuh orang lagi?"

Sampai sekian lama Yu Wi tidak merasakan pukulan it-teng, waktu ia membuka mata, dilihatnya It-teng telah mundur dan berdiri di sebelah sana, di sebelah lain berdiri seorang tua tinggi dan berwajah simpati.

orang tua ini dikatakan tua, tapi kelihataanya juga tidak terlalu tua, yang pasti usianya tentu sudah sangat lanjut, jadi serupa malaikat dewata, jelas kelihatan berusia lanjut, tapi tidak kelihatan di mana tanda-tanda ketuaannya.

Yu Wi tahu orang tua inilah yang telah menyelamatkan dirinya dan memaksa It-teng menarik pukulannya serta mundur ke samping.

Cepat ia melompat bangun, maksudnya hendak mengucapkan terima kasih.

Tak terduga, mendadak punggung kesakitan luar biasa, berdirinya tak bisa tegak lagi.

kembali ia jatuh terkulai.

Baru sekarang Khing-kiok menjerit kuatir, rupanya semua kejadian tadi berlanggsung terlalu cepat, ketika Yu Wi dirobohkan It-teng, saking takutnya ia tidak sanggup bersuara.

setelah menenangkan diri dan menjerit, Khing-kiok terus memburu maju untuk membangurkan Yu Wi, dari punggung anak muda itu ditariknya semacam benda, waktu Yu Wi menoleh, kiranya benda itu adalah kebut It-teng.

Agaknya sabatan kebut It-teng menuju ke belakang tadi adalah jurus serangan istimewa yang sukar diduga oleh siapa pun, kebut itu seperti menyabet, yang benar terus disambitkan, punggung Yu Wi jadi seperti tertusuk oleh pedang yang tajam, untung dia berlatih Thian-ih-sin-kang sehingga lukanya tidak terlalu bahaya.

setelah kebut itu ditarik, darah segar lantas mengucur keluar.

"Cepat tahan napas dan tutup lukanya,"

Desis si orang tua sambil mendekat.

Maklumlah, Hiat-to di bagian punggung sangat banyak dan termasuk salah satu bagian yang mematikan di tubuh manusia.

Meski luka Yu Wi tidak mengenai bagian yang mematikan, tapi lukanya juga tidak ringan, kalau tidak ditolong pada saat yang tepat, akhirnya juga fatal.

Begitulah Yu Wi lantas menurut, ia tahan napas dan tidak bergerak, hanya sekejap saja muka Yu Wi sudah pucat karena darah yang mengalir keluar terlalu banyak.

Khing-kiok hanya mencucurkan air mata dan tak bisa bersuara saking kuatirnya.

Cepat orang tua tadi menutuk beberapa Hiat-to penting di punggung Yu wi, lain ia mengeluarkan obat dan dibubuhkan pada lukanya.

obat luka itu sangat manjur, hanya sebentar saja darah sudah berhenti dan bagian luka lantas membeku menjadi warna kuning.

"Jangan kuatir. nona cilik, dia tidak berhalangan lagi,"

Kata si orang tua. ^"Cuma dia perlu istirahat dan tidak boleh bergerak, sebulan lagi dia akan sembuh."

Sejak tadi It-teng hanya memandang saja di samping dengan tenang, baru sekarang ia menegur.

"Hoat-su-jin (orang mati hidup). lagi lagi kau recoki diriku."

Yu Wi merasa heran, pikirnya.

"Aneh, mengapa It-teng menyebut tuan penolong dengan nama aneh ini?"

Dia mengira It-teng sengaja memaki penolongnya itu dan tentu penolong itu takkan tinggal diam. Tak terduga, orang tua itu lantas berkata dengan tertawa.

"A Giok, kau sudah berjanji takkan membunuh orang lagi, asalkan kau tepati janji, tentu aku tidak akan ikut campur urusanmu."

It-teng kelihatan tak berdaya, agaknya dia memang pernah berjanji kepada si orang tua. Katanya kemudian.

"Takkan kubunuh mereka, Hoat-sujin, bolehlah kau pergi saja."

Hoat-su-jin menggeleng, katanya.

"Kalau aku sudah ikut campur urusan ini, maka harus kuselesaikan secara tuntas dan tidak boleh tinggal pergi begitu saja."

"Apa pula yang headak kau kerjakan?"

Tanya It-teng dengan gusar.

"A Giok."

Kata Hoat-su-jin dengan tertawa, -"jangan kau marah, sejak tadi kusaksikan kejadian ini di atas pohon cemara, waktu kau lukai dia dengan kebutmu, belum lagi timbul maksudku untuk ikut campur, tapi setelah orang kau lukai dan hendak kau bunuh pula, mau-tak-mau aku harus ikut campur."

"Masakah aku marah padamu,"

Jawab It-teng, sikapnya ramah kembali.

"sesungguhnya apa kehendakmu, lekas katakan. sekali ini tetap kuturut pada keinginanmu."

"Pertama, kau harus mengaku kalah kepada anak muda ini,"

Kata Hoat-sj-iin.

"Ya, aku pakai kebut dan dia bertangan kosong, sampai lebih seratus jurus tetap tak dapat kukalahkan dia, pertarungan ini memang harus dianggap dimenangkan oleh dia, tidak menjadi soal bagiku untuk mengaku kalah."

"Dan kedua."

"Tidak ada kedua,"

Sela it-teng.

"kita sudah sepakat, setiap kali kau hanya boleh ikut campur satu urusan, betapapun janji harus dipatuhi."

"Aku kan tidak ikut campur urusan kedua?"

Ujar Hoat-su-jin.

"yang kedua ini hanya mengenai ucapanmu sendiri, kau pun harus patuh pada ucapanmu sendiri Kalau kau sudah mengaku kalah, seharusnya kau beri kesempatan kepada anak muda ini untuk bertemu dengan muridmu."

It-teng menghela napas, katanya.

"Ya, ya, anggaplah kau memang lihay, setiap kali berhadapan dengan kau, selalu tidak dapat berbuat apa-apa. bicara pun tidak dapat melebihi kau. Nah, Yu Wi, tidak perlu pura-pura mati lagi, lekas bangun dan ikut padaku untuk menemui Ya-ji."

It-teng terus membalik tubuh, tapi tidak masuk kebiara melainkan menuju ke sisi kanan sana, Yu Wi merangkak bangun, dengan hati-hati Khing-kiok memapahnyn dan ikut dari belakang.

Hoat-su-jin juga ikut ke sana.

setiba di depan sebuah puncak salju, tertampaklah sebuah pintu besi, It-teng mengambil kunci untuk membuka gembok.

tapi baru saja tangannya menyentuh pintu besi mendadak pintu besi roboh sendiri.

Kiranya pintu besi ini sudab rusak dan hanya dirapatkan begitu saja.

Keruan It-teng terkejut, jeritnya.

"Ya-ji, Ya ji"

Dengin gusar Yu Wi berterjak.

"Jadi kau ... kau kurung Ya-ji di sini? ...."

It-teng menoleh, jawabnya dengan beringas.

"Muridku sendiri kanapa tidak boleh kukurung dia? Dia tidak tunduk kepada pesanku dan bergaul dengan murid Ji Pek liong, maka dia pantas dikurung di sini."

"Aku adalah murid guruku, aku tidak pernah berbuat jahat, kenapa Ya-ji tidak bolek bergaul denganku?"

Teriak Yu Wi pula. It-teng menjadi gusar.

"sekali kukatakan tidak boleh ya tetap tidak boleh"

Sambil berteriak ia terus masuk ke dalam gua.

Terlihat gua ini sudah kosong melompong.

mana ada bayangan Ko Bok ya segala?

It-teng memaki dengan suara tertahan-"Budak kurang ajar, berani kau kabur diluar tahuku."

Mendadak Khing-kiok melihat sesuatu, serunya.

"Di situ ada secarik kertas"

Cepat It-teng memungut kertas itu, dengan gusar ia membaca isi surat itu.

"Maaf, suhu, murid telah pergi Ke ujung langit atau mana saja tidak ada tempat tujuan, mehon suhu jangan mencari diriku lagi. Apabila Yu Wi datang, katakan saja Kalau jodoh tentu kami akan berjumpa pula ... ."

Sampai di sini it-teng membaca.

"Bluks, mendadak robohlah sesosok tubuh.

"Toako, Toako"

Khing-kiok menjerit.

Kiranya Yu Wi teiah roboh pingsan, luka pada punggungnya pecah lagi dan darah mengucur dengan derasnya .Jelas keadaan Yu Wi cukup gawat, Khing-kiok tidak tahu apa yang harus diperbuatnya, ia hanya menangis belaka.

Hoat-su-jin menghela napas, katanya.

"Jangan menangis, nona, lebih penting tolong dia dulu."

Ia berjongkok dan cepat menutukpula beberapa tempat Hiat-to di tubuh Yu Wi untuk menghentikan darahnya. lain diperiksanya denyut nadi anak muda itu.

"Bagaimana? Apakah Keadaan Toako cukup gawat?"

Tanya Khing kiok sambil menangis. Hoat-su-jin menggeleng, tapi air mukanya jelas kelihatan prihatin. saking cemasnya Khing-kiok terus berseru.

"Cianpwe, lekaslah engkau menolong dia"

"Apa yang kaukuatirkan budak cilik? Dia takkan mampus"

Jeng ek It-teng. Khing-kiok berpaling, ucapnya dengan gusar.

"Jika terjadi apa-apa atas diri Toako, kaulah yang membikin celaka dia."

"Memang aku yang mencelakai dia, kau mau apa?"

Jawab It-teng. Dengan gregetan Khing-kiok berkata.

"Meski sekarang aku bukan tandinganmu. kelak aku harus membalas dendam ini."

Air muka It-teng berubah.

kebutnya terus menyabet kepala Khing-kiok.

Akan tetapi Hoat-su-jin tidak tinggal diam.

dia tidak terpaling juga tidak bergeser, hanya sebelah tangannya terus menyampuk sehingga kebut It-teng terpukul ke samping.

"A Giok. kau berani membunuh orang di depanku?"

Tegur Hoat-su-jin, dtngan kurang senang. Dengan menahan rasa gusarnya It-teng berkata kepada Hoat-su-jin.

"Baik, urusan di sini terserah pada mu, bila bocah itu siuman, hendaklah kau katakan padanya, jika dia berani lagi mencari Ya-ji dan kepergok olehku, bukan mustahil akan kubunuh mereka kedua-duanya."

Habis berkata It-teng terus melangkah pergi. Hoat-su-jin menghela napas, dipondongnya Yu Wi, katanya.

"Nona cilik, ikutlah padaku."

Dengan langkah cepat ia terus berlari ke sebelah kiri biara.

Kira-kira sepuluh li jauhnya, tertampak sebuah puncak menghadang di depan.

Puncak ini tertutup oleh salju sehingga cuma kelihatan lapisan salju melulu.

"Di situlah tempat tinggalku,"

Kata Hoat-su-jin sambil menunjuk sepotong batu karang.

Batu karang itu tidak tertutup oleh salju, jelas karena sering dibersihkan, bentuk batu karang itu serupa Bongpai, yaitu batu nisan, di situ tertulis.

"Kuburan Hoat-su-jin-."

Kelima huruf itu bukan ukiran ataupahatan.

tapi lebih mirip ditulis dengan pit yang mendekuk ke dalam batu, setiap hurufnya kelihatan indah dan kuat, biarpun diukir oleh ahli pahat nomer satu juga sukar terukir huruf sebagus ini.

Tapi kalau dibilang huruf itu ditulis dengan mopit, jelas hal inipun tidak mungkin.

Jangan-jangan ditulis dengan jari tangan?"

Demikian pikir Khing-kiok.

Batu nisan besar itu terbuat dari batu pilihan yang sangat keras dan menegak di depan puncak itu, Khing-kiok hanya melihat nisan dan tidak nampak kuburannya, diam-diam ia merasa heran, pikirnya.

"Di dunia ini memang banyak orang kosen dan tokoh aneh yang sering bertempat di dalam kuburan, tapi di sini tidak kelihatan ada kuburan di manakah dia bertempat tinggal?"

Hoat-su-jin terus mendekati batu nisan itu, setiba di depan meja batu yang biasanya digunakan untuk sesaji, kakinya menginjak meja batu itu.

segera batu itu ambles ke bawah dengan pelahan, berbareng itu puncak gunung di belakang nisan itu lantas merekah sebuah celah yang cukup dimasuki satu orang.

segera Hoat-su-jin mendahului masuk ke sana, Khing-kiok ragu sejenak.

akhirnya ia masuk juga ke situ.

setiba di dalam puncak gunung, Hoat-su-jin meraba dinding dan celah2 tadi lantas rapat kembali.

Meja batu di depan nisan juga lantas mumbul ke atas.

Tapi di mana letak pesawat rahasia itu tidak terlihat oleh Khing-kiok.

diam-diam ia memuji kehebatan alat rahasia ini.

Di dalam puncak gunung itu ada sebuah lorong panjang, seyogianya apabila dinding gua sudah rapat, keadaan di dalam seharusnya gelap-gulita, tapi sekarang lorong ini masih terdapat cahaya yang agak lemah, entah menembus melalui mana cahaya ini?

Makin ke dalam cahaya itupun makin terang, tibalah mereka di sebuah ruangan batu seluas beberapa tombak persegi, cahaya di dalam ruangan terang benderang, di tengah ruangan terdapat dua peti mati terbuat dari batu kemala putih, Hoat-su-jin membuka peti mati sebelah kiri Khing-kiok merasa takut ketika melihat orang membuka peti mati, ia membayangkan di dalam peti mati tentu ada tengkorak orang mati.

Iapun heran, orang mati yang sudah dikuburkan, kenapa masih diganggu lagi dengan membongkar petinya?

Mendadak dilihatnya Hoat-su-jin membaringkan Yu wi di dalam peti mati, keruan Khingkiok terkejut, cepat ia memburu maju dan menarik tangan orang sambil berteriak.

"Toako belum mati, kenapa... ."

"Coba kaupandang yang jelas,"

Kata Hoat-su-jin dengan tertawa.

Rupanya Khing-kiok tidak berani melihat mayat, meski sudah dekat.

dia tidak berani memandang ke dalam peti mati.

Meski dia telah mengerahkan sepenuh tenaga, tapi sedikitpun tidak sanggup menarik tangan Hoat-su-jin, diam-diam ia harus mengakui kelihaian tenaga dalam orang itu.

Lalu berpalinglah dia, dilihatnya peti mati kemala itu kosong melompong, mana ada mayat yang menakutkan?

Malahan di dalam peti ada bantal dan selimut, justeru peti mati inilah merupakan sebuah tempat tidur yang empuk.

setelah Hoat-su-jin membaringkan Yu wi didalam peti mati, lalu menoleh dan berkata.

"sekarang tentunya tidak perlu kuatir akan kukubur Toakomu hidup, hidup, bukan?"

Tadi Khing-kiok memang kuatir, sebab disangkanya Hoat-su-jin akan mengubur Yu Wi, baru sekarang hatinya merasa tenteram, segera ia tanya.

"Apakah disini biasanya Cianpwe tidur?"

Hoat-su-jin mengangguk tanpa menjawab.

Khing-kiok pikir, Jika dia berjuluk Hoat-su-jin, sesuai juga dengan faktanya bila dia tidur di dalam peti mati.

Dan entah peti mati di sebelah ini apakah juga kosong?

Kalau berisi, wah ...."

Berpikir sampai di sini, mau-tak-mau ia jadi merinding dan tidak berani membayangkan lagi.

Hoat-su-jin duduk di tepi peti mati dan sedang mengurut Hiat-to di sekujur badan Yu Wi, kirakira setanakan nasi, pelahan Yu Wi siuman dan begitu membuka mata lantas berteriak.

"Tidak boleh kau bunuh Ya-ji"

Cepat Khing-kiok memburu maju dan memegang tangan anak muda itu, tanyanya.

"Toako, siapa yang hendak membunuh Ya-ji?"

Baru sekarang Yu Wi melihat jelas Khing kiok dan Hoat-su-jin, segera teringat olehnya apa yang telah terjadi, segera ia meronta bangun dan ingin mengucapkan terima kasih.

Tapi Hoat-su-jin lantas mencegahnya agar tetap berbaring, katanya.

"Kau harus istirahat beberapa hari lagi dan jangan bergerak. supaya lukamu mengering dulu,"

"Terima kasih atas pertolongan cianpwe,"

Kata Yu Wi. Hoat-su-jin menggeleng, ucapnya.

"Jangan kau berterima kasih padaku, aku hanya ...."

Sampai di sini ia pandang si nona sekejap dan tidak melanjutkan. Yu Wi tampak melengak. tiba-tiba ia berpaling dan berkata kepada Khing-kiok.

"Adik Kiok. tadi aku bermimpi burukk."

"Mimpi buruk apa? Apakah Toako mimpi ada orang hendak membunuh nona Ko?"

Tanya Khing-kiok cepat.

"Kumimpi bertemu dengan Ya-ji...."

"Ah, baik sekali"

Seru Khing-kiok dengan tertawa.

"Tapi gurunya lantas muncul dan menangkapnya serta hendak.... hendak membunuhnya...."

Khing kiok lantas teringat kepada ucapau It-teng kepada Hoat-sujin sebelum tinggal pergi tadi, kata-katanya ternyata cocok dengan mimpi sang Toako, seketika ia merinding dan membatin.

"Jangan-jangan kalau Toako tetap berusaha menemui nona Ko, mungkin sekali si Nikoh tua bangka It teng benar2 akan membunuh mereka berdua?"

Dalam pada itu cuaca sudah mulai gelap.

cahaya terang yang menembus masuk dari atas itupelahan mulai lenyap.

Hoat-su-jin menyalakan empat pelita minyak untuk penerangan-Di dalam ruangan itu ternyata cukup tersedia rangsum kering dan air minum, orang tua itu membagikan makanan dan air seperlunya kepada Yu Wi dan Khing-kiok.

Meski luka Yu Wi cukup parah, tapi nafsu makannya sangat kuat, Khing kiok terus menyuapi sehingga kenyang.

Waktu nona itu memberi minum kepada Yu Wi, ia tanya.

"Toako mengapa mendadak kau jatuh pingsan?"

Yu Wi menjawab.

"Akupun tidak tahu apa sebabnya, ketika mendengar it-teng membaca surat yang ditinggalkan Ya-ji itu. benakku terasa sakit sehingga terbanting ke tanah, lalu tidak ingat apa-apa lagi."

Khing-kiok menghela napas, tanyanya,"

Apakah Toako jatuh pingsan karena cemas oleh lenyapnya nona Ko?"

Yu Wi hanya bersuara samar-samar dan tidak menjawab. Betapapun hati Khing-kiok merasa kecut setelah mengetahui anak muda itu jatuh pingsan demi memikirkan Ko Bok ya, pikirnya.

"Bila pada suatu hari aku mengalami petaka, apakah Toako juga akan berduka bagiku seperti ini?"

Sepanjang hari Khing-kiok berkuatir dan cemas bagi keadaan Yu Wi, tentu saja dia sangat lelah lahir dan batin-kini timbul rasa kantuknya.

Melihat itu, Hoat-su-jin mengebaskan lengan bajunva untuk mengusap Hiat-to tidur anak dara itu dan membuatnya terpulas.

Yu Wi tidur di dalam peti mati sehingga tidak dapat melihat keadaan di luarnya, tapi dari suaranya ia tahu Hiat-to tidur Khing-kiok tertutuk, ia lantas tanya.

"Apakah ia sudah tidur?"

"Ya, sudah tidur,"

Hoat-su-jin mengangguk.

"Cianpwe juga tahu aku terkena racun jahut?"

Tanya Yu Wi.

"Ya, setelah kuperiksa denyut nadimu yang tak teratur, mula-mula aku tidak tahu apa sebabnya, kututuk Jin-tiong-hiat di atas bibirmu, tetap sukar menyadarkan kau. Maka kutahu tentu pingsanmu bukan disebabkan oleh rasa cemas mendadak, tapi pasti akibat penyakit lain yang kumat mendadak dalam tubuhmu Ilmu pertabibanku tidak tinggi, aku tidak mampu mengobati penyakit aneh dalam badanmu, sebab itulah kukatakan jangan kau berterima kasih padaku, sebab aku memang tidak sanggup menolong kau."

"Menurut perkiraan cianpwe, masih berapa lamakah Wanpwe sanggup bertahan hidup?"

Tanya Yu Wi.

"Coba kau ceritakan dulu seluk-beluk mengenai penyakit keracunan yang kau idap ini?"

Kata Hoat-su-jin-Maka berceritalah Yu Wi, dimulai dari perkenalannya dengan Ko Bok ya, dan cara bagaimana Bok-ya terluka, lalu dibawanya ke siau-ngo-tay untuk minta pengobatan kepada su Put-ku dan seterusnya.

Bercerita sampai jatuh pingsan mendadak tadi, dengan menghela napas ia berucap.

"Sejak Wanpwe minum pil racun pemberian su Put ku, sampai sekarang baru setahun setengah, menurut su Put-ku, racun baru akan bekerja setelah dua tahun, entah sebab apa sekarang sudah bekerja setengah tahun lebih cepat,"

"Urusan racun sama sekali tidak kupahami,"

Kata Hoat-sujin.

"tapi menurut pikiranku, jika kau dan nona Ko saling menyintai dan senantiasa merindukannya. karena terlalu banyak pikiran, bisa jadi akan mengakibatkan racun yang mengeram dalam tubuhmu itu bekerja terlebih cepat,"

Yu Wi mengangguk, katanya.

"Dan kalau racun sudah mulai bekerja, jelas jiwaku takkan panjang lagi. budi pertolongan cianpwe terpaksa baru dapat kubalas pada titisan yang akan datang. Ya-ji sudah tahu racun yang mengeram dalam tubuhku, bila lewat dua tahun tidak berjumpa, tentu dia tahu aku sudah meninggal, hanya saja ...

"Dia berpaling ke arah Khing-kiok, tapi nona itu tidur di sisi peti mati sehingga tidak kelihatan, lalu ia menyambung.

"Adik angkatku ini harus dikasihani kisah hidupnya, maka diharap cianpwee sudi menjaganya sekadarnya.

Jilid 17

"Meski aku tidak paham soal racun meracun, tapi dapat kudesak kadar racun dalam tubuhmu menjadi satu tempat agar tidak menyebar untuk sementara, dalam keadaan demikian bolehlah kau pergi mencari Yok-ong-ya dan minta pengobatan padanya,"

Kata Hoat-su-jin-"Yok-ong-ya? Siapakah dia? Tinggal di mana?"

Tanya Yu Wi cepat.

"Watak Yok-ong-ya (raja obat) sama sekali berbeda daripada Su Put-ku,"

Tutur Hoat-su-jin-"Malahan orang memberi gelar Seng jiu-ji-lay kepadanya, dengan nama Budha Ji-lay.

artinya dia berhati welas-asih seperti Buddha.

Asalkan ada orang minta tolong padanya pasti akan ditolongnya dan biasanya pengobatannya sangat mustajab, obat diminum, penyakii hilang.

Hanya saja sudah lama dia mengasingkin diri."

"Tokoh sakti demikian lebih suka mengasingkan diri, sungguh suatu kerugian besar bagi kemanusiaan umumnya,"

Ucap Yu Wi.

"Waktu dia mengasingkan diri, sebelumnya pernah kunasihati dia agar mengurungkan niatnya itu, tapi dia sudah putus asa, bagaimanapun tidak mau lagi bekerja bagi kemanusiaan, waktu itu kuanggap dia terlalu cupet pikiran. Tapi kalau dipikirkan sekarang, ai, kehidupan ini memang sukar untuk diomong ...."

Yu Wi tahu kisah hidup Hoat-su-jin sendiri pasti juga ada sesuatu yang membuatnya berduka.

makanya sekarang dia tinggal di dalam peti mati dan menyebut dirinya "orang mati yang masih hidup" (Hoat-su-jin) atau "orang hidup yang sudah mati", sekarang bicara tentang Yok-ong-ya, hal ini telah menimbulkan kenangan dukanya di masa lampau.

Maka cepat Yu Wi menyela.

"Cianpwe, di manakah Yok-ong-ya bertirakat sekarang? Kenapa selama berpuluh tahun dia tidak diketahui khalayak ramai?"

Hoat-su-jin sadar dari kenangannya yang menyedihkan itu, katanya.

"Kecuali beberapa sahabat lama, tiada orang lain yang tahu tempat kediaman Yok-ong-ya. Akan kuberitahukan padamu tempat tinggalnya, apabila dapat kau temukan dia, kuyakin dia pasti mau menyembuhkan racun dalam tubuhmu ini."

"Di manakah beliau tinggal?"

Tanya Yu Wi tidak sabar. Ia heran Yok-ong-ya itu mengasingkan diri di tempat macam apakah sehingga tidak dapat ditemukan orang. Hoat-su-jin lantas berkata.

"Tempat tinggalnya seluruhnya ada lima tempat, biar kukatakan seluruhnya juga sukar kau ingat. Ada sebuah peta, boleh kau simpan sebaik-baiknya, dalam peta ini tercatat segala sesuatu dengan jelas dan dapat kau gunakan untuk mencari dia."

Hoat-su-jin lantas mengeluarkan sehelai peta dan dimasukkan ke dalam baju Yu Wi.

Ingin sekali Yu Wi melihat peta itu.

tapi apa daya, sekujur badan terasa lemas, bergerak saja rasanya malas.

Lalu Hoat-su-jin berkala pula.

"Sekarang dengan tenaga dalamku akan kudesak racun dalam tubuhmu itu ke telapak tanganmu. Nah, awas ... ."

Selagi tangannya terjulur ke dalam peti mati dan mulai mengerahkan tenaga murni, mendadak terdengar suara "duks satu kali.

suara "duks itu kedengaran sangat jelas dalam malam yang sunyi.

Yu Wi dapat merasakan suara itu datang dari atap kuburan.

Dilihatnya air muka Hoat-sujin rada berubah dan berbisik padanya.

"ssst, jangan bersuara"

Lalu "orang hidup mati"

Ini mendengarkan dengan cermat dengan air muka sangat prihatin seperti kedatangan musuh tangguh. Menyusul lantas terdengar pula suara "duk-duk."

Beberapa kali, itulah suara ketukan dari pada dinding atap. tujuannya jelas, yaitu ingin mencari kuburan dalam gua ini. dalam waktu singkat suara "duk-duk."

Itu makin jelas dan makin kerap. Hoat-su-jin bergumam sendiri.

"Bila lubang cahaya sampai ditemukan dia, tentu bisa runyam...."

Dengan heran Yu Wi tanya.

"Dia? Dia siapa?"

"A Giok."

Jawab Hoat-su-jin.

"Apakah It-teng sin-ni ingin mencari jalan masuk kuburan ini?"

Tanya Yu Wi pula. Hoat-su-jin mengiakan pelahan, didengarnya suara "duk-duk"

Tadi makin lama makin pelahan-Hoat-su-jin menghela napas lega, ucapnya.

"Untung lubang cahaya tidak sampai diketemukannya."

"Mengapa It-teng sin-ni mencari lubang masuk kekuburan ini?"

Tanya pula Yu Wi deng heran-Hoat-su-jin mendengus.

"Untuk apa lagi? Ya ingin mencuri jenazah isteriku."

Heran luar biasa Yu Wi oleh keterangan ini. pikirnya.

"Sungguh aneh, betapapun It-teng sin-ni adalah seorang tokoh terkemuka. seorang maha guru ilmu silat, bahkan seorang beragama dan bergelar sin-ni, masakah dia ingin mencuri jenazah Hoat-sujin? Terlalu mustahil"

Terdengar Hoat-su-jin menghela napas, katanya pula.

"Jika tidak kujelaskan, tentu kau tidak percaya bahwa A Giok ingin mencuri jenazah isteriku."

Dalam hati memang Yu Wi berpikir demikian, maka ia hanya mengangguk sebagai tanda membenarkan. Hoat-su-jin lantas bertanya.

"Kau mengakui sebagai murid Ji Pek-liong. apakah pernah kau dengar kisah hidup gurumu itu?"

Yu Wi masih ingat benar cerita Ji Pek-liong dahulu tentang tiga saudara seperguruannya, maka jawabnya.

"Ya, tahu, malahan suhu juga bercerita tentang ikatan jodoh antara putera puteri Toa supek dan Ji supek ketika isteri masing-masing sedang mengandung ."

Menyinggung urusan perjodohan orok dalam perut isteri masing-masing itu, mendadak air muka Hoat-su-jin berubah kelam dan menghela napas panjang.

"Apakah Cianpwe kenal Toa supekku?"

Tanya Yu Wi tiba tiba.

"Akulah Toa supekmu,"

Jawab Hoat-su-jin-Kejut dan heran sekali Yu Wi, serunya.

"Hah, Cianmwe.... Cianpwe inilah Toa supekku? Bukan.... bukankah beliau sudah.... sudah meninggal?...."

"Benar, Toa supekmu memang sudah meninggal dunia, yang masih tertinggal ini hanya raganya saja tanpa jiwa...."

Hoat-su-jin menghela napas.

"Hoat-sujin, orang hidup yang sudah mati memang tertinggal raganya saja,"

Demikian Yu Wi membatin.

"Entah mengapa Toa supek menganggap dirinya sendiri sudah meninggal?"

Didengarnya Hoat-su-jin bertutur pula.

"Meski supekmu menjabat pangkat Perdana Menteri, tapi wataknya suka berkelana dan berbuat hal-hal mulia. Waktu pertama kali kami bertemu, rasanya sudah seperti kenalan lama. Pada tahun itu isteri kami sama-sama hamil, karena dorongan rasa ikatan yang akrab, kami saling berjanji mengikat jodoh bagi orok yang masih berada dalam Padahal urusan anak-anak mestinya tidak dipikirkan tergesa-gesa. Kemudian isteri Jite melahirkan seorang putera dengan selamat, sedang-isteriku.... isteriku melahirkan anak perempuan, tapi... tapi sungguh malang...."

Sampai di sini berderailah air matanya dan tidak sanggup melanjutkan lagi.

Diam-diam Yu Wi terharu dan merasa sang Toa supek memang harus dikasihani, punya anak eharusnya peristiwa yang menggembirakan, siapa tahu kelahiran itu mengalami kesukaran sehingga ibu maupun oroknya sama meninggal.

Bila membayangkan kejadian pada waktu itu, iapapun dapat merasakan betapa hebat pukulan batin yang dirasakan oleh paman gurunya itu.

Mendadak Hoat-su-jin menengadah dan berseru.

"o, Thian Dosa apakah aku Lau Tiong-cu sehingga mengakibatkan isteriku meninggalkan dan aku dihukum sebatangkara di dunia ini seperti setan gentayangan ...."

Sembari menangis Hoat-su-jin mendekati peti mati disebelah sana, ia mendekap di ataspeti mati dan sesambatan pula.

"o, Hui, Hui ku sayang, benarkah kau sudah mati? Tidak. tidak. kau tidak mati Jika benar kau sudah mati, lalu apa artinya hidup ini bagiku? ..."

Sekuatnya Yu Wi meronta bangun, dilihatnya peti batu di sebelah itu tertutup dengan rapat tanpa kelihatan celahnya, jelas memang sebuah peti mati sungguhan. Diam-diam ia berpikir.

"Isteri Toa supek terisi di dalam peti mati itu, jelas sudah meninggal berpuluh tahun, jangan-jangan cinta Toa supek dengan isterinya sangat suci dan mendalam sehingga meski sudah mati sekian lamanya, senantiasa Toa supek mendampingi di sisi peti matinya dan tetap menganggapnya masih hidup?"

Hoat-su-jin masih terus menangis, suaranya makin perlahan, keluhnya lagi dengan suara parau.

"o, Hui, jika kau tahu dialam baka, bicaralah satu saja padaku, cukup satu Kata saja untuk menghilangkan rasa rinduku ...."

Yu Wi menggeleng terharu, pikirnya.

"Toasu-hampir gila merindukan isterinya, orang mati mana bisa bicara? Tampaknya di dunia ini memang ada suami-isteri yang saling mencintai sedalam ini, selama berpuluh tahun ini entah cara bagaimana Toa supek lewatkan hari dengan kesepian?"

Sekuatnya Yu Wi merangkak keluar dari peti itu dan mendekati Hoat-su-jin dengan langkah terhuyung, ia coba menghiburnya.

"Toa supek. harap jangan berduka, jika engkau sedemikian berduka, dialam baka juga bibi akan merasa tidak tenteram."

Hoat-su-jin berdiri dan mengusap air matanyanya.

"He, Wi-ji, mana boleh kau bangun, lekas berbaring lagi"

Yu Wi lantas berbaring kembali di dalam peti itu.

"Dalam hati mungkin akan kau tertawakan diri paman guru yang baru dikenalpertama kali lantas menangis seperti orang gila,"

Kata Hoat-su-jin. Yu Wi menggeleng, katanya.

"Cinta adalah sesuatu yang paling berharga di dunia ini. Toa supek menangis bagi cinta, sungguh Wanpwe merasa sangat terharu, mana bisa mentertawakan dirimu."

Hoat-su-jin meraba Yu Wi yang berbaring itu, ucapnya.

"Anak Wi yang baik, terima kasih atas nasihatmu tadi. Kalau tidak. entah sampai kapan aku akan berduka dan mungkin benar akan membikin tidak tenteram isteriku tersayang dialam baka."

Ia menghela napas panjang, lalu menyambung.

"selanjutnya sedapatnya akan kubatasi rasa dukaku."

"Kenapa menurut cerita suhu, katanya Toa supek sudah meninggal?"

Tanya Yu Wi kemudian.

"sesudah isteriku meninggal, kubawa jenazahnya dan menghilang dipegunungan Tiam-jongsan ini, sebelum berangkat kutinggalkan pesan kepada kedua saudara-angkatku bahwa akupun sudah bosan hidup, Habis ituselama bertahun-tahun dunia Kangouwpun kehilangan jejakku, maka mereka mengira aku sudah membunuh diri mengikuti isteriku.

"Mereka tidak tahu, setiba di sini, aku lantas membangun kuburan ini dan senantiasa berdiam di sisi isteriku. Kupikir hidupku akan kuakhiri cara begini dan takkan muncul lagi di dunia ramai. Tak diduga. setahun kemudian, teringat kepada adik Yok-koan, tetap juga kuturun gunung satu kali. Tapi aku tidak berhasil bertemu dengan adik Yok-koan, malahan kuketahui dia telah mendahului mangkat daripadaku. Aku menangis di depan makamnya dan mengambil keputusan pulang ke Tiam-jong-san sini untuk seterusnya tidak akan turun gunung lagi. Tapi waktu na ik kembali ke sini, tengah jalan kupergoki enam kakek cacat sedang berkumpul dan berunding, mereka menyinggung nama Ji Pek-liong. yaitu sam suteku. Meski hubunganku dengan samte tidak serapat Jite. namun tetap kuperhatikan dia."

"Keenam kakek cacat tentunya anggota Jit can-so yang terkenal di dunia Kangouw itu?"

Tanya Yu Wi.

"Betul,"

Hoat-su-jin mengangguk.

"Waktu itu nama Jit-can-so juga sudah kudengar, cuma tidak kutahui bahwa salah seorang diantaranya adalah saudara-angkatku sendiri, Kudengar pembicara an mereka bahwa mereka telah menjadi cacat selama hidup akibat ingin belajar Haiyan-kiam-hoat, namun mereka masing-masing hanya berhasil meyakinkan satu jurus saja, sedangkan Ji Pek-liong juga sama-sama cacat badan, entah mengapa bisa menguasai dua jurus Hai-yan-kiam-hoat?

selagi mereka saling berdebat mengenai ketidak-adilan itu, kulihat si kakek bisu memberi tanda dengan isyarat tangan untuk menjelaskan cacat Ji Pek-Iiong, kiranya samte mengalami kebiri anggota rahasianya, cacat ini jelas beribu kali lebih tersiksa daripada mereka berenam, maka hanya dia saja yang mendapatkan ajaran dua jurus Hai-yan-kiam-hoat."

"Kebiri?...."

Seru Yu Wi kaget.

"Pantas wajah suhu putih bersih, kelimis tanpa janggut, kiranya beliau pernah dikebiri Entah siapakah yang melakukan tindakan keji itu terhadap suhu?"

"Waktu kudengar hal ini, hatiku juga sedih bagi samte,"

Kata Hoat-su-jin dengan menyesal.

"selama hidup samte sangat tinggi hati, setelah mengalami siksaan badaniah keji ini, cara bagaimana dia akan bertanggung jawab terhadap ayah-bunda dan leluhur? Maka diam-diam timbul hasratku untuk menuntut balas baginya, Lalu kudengar mereka sa berdebat lagi. ada yang menuduh siperempuan kotor Thio Giok-tin itu tidak adil. Mendengar nama Thio Gok-tin, benakku serasa mendengung, kupikir sakit hati samte ini rasanya tidak dapat lagi kubalaskan...."

Yu Wi merasa tidak mengerti, tanyanya.

"Mengapa Toa supek tidak dapat... ."

Tapi ia tidak meneruskan ucapannya, ia merasa pertanyaan yang bernada menegur ini tidak sopan terhadap sang paman guru, walaupun begitu air mukanya kelihatan merasa kurang senang.

Hoat-su-jin lantas menyambung ceritanya.

"Tapi setelah kupikir lagi, biarpun Thio Giok-tin adalah anak perempuan guruku, kalau salah juga harus dihukum, kalau tidak, kan sia-sia samte bersaudara denganku?"

"Ah, kusalah sangka padamu. Toa supek"

Seru Yu Wi.

"Memangnya salah sangka apa?"

Tanya Hoat-su-jin.

"Kukira Toa supek melihat kecantikan it-teng sin-ni, lalu lupa menuntut balas bagi saudara angkat sendiri, tak tersangka It-teng sin-ni adalah anak guru Toa supek."

Hoat-su-jin menggeleng-geleng kepala, katanya.

"Ai . kenapa kaupikir begitu atas diriku? Hendaklah kautahu, di dunia ini, kecuali isteriku, biarpun ada perempuan lain secantik bidadari juga takkan kupandang sekejap."

Wajah Yu Wi kelihatan malu, ucapnya dengan gagap.

"Kusalah sangka, kukira Toa supek serupa... serupa oh It-to... ."

"o, kiranya kaupun tahu oh It-to?"

Tanya Hoat-su-jin dengan gegetun-Yu Wi mengangguk. katanya.

"Pek-po-pocu oh Ih-hoan pernah bercerita tentang hubungan kakeknya itu dengan it-teng sin-ni, ceritanya sangat jelas dan Wanpwe telah mengetahuinya ."

"Waktu Sumoay berusaha memikat oh It-to, aku baru saja meninggalkan rumah perguruan, tapi tindakan kotornya sudah menggemparkan dunia Kang-ouw, setiap tokoh dunia persilatan sama mengetahui sumoay ku adalah seorang perempuan rendah dan cabul.

suhu sendiri sangat berduka atas tindak-tanduk puterinya.

meski dia sudah diusir sewaktu aku masih berada di rumah perguruan, tapi apa pun juga dia tetap darah-daging suhu, setiap kali suhu mendengar anak perempuannya berbuat sesuatu kejelekan, beliau lantas mengurung diri dikamarnya dan selama belasan hari tidak suka bicara."

Teringat kepada kasih seorang ayah, Yu Wi ikut merasa pedih, ucapnya dengan menyesal.

"Pohon ingin tenang tapi angin meniup terus, anak ingin berbakti namun ayah sudah tiada"

"Apakah ayahmu sudah meninggal?"

Tanya Hoat-su-jin. Dengan menahan air mata Yu Wi mengangguk.

"Ya, beliau sudah waIat cukup lama."

"o, anak Wi yang baik,"

Kata Hoat-su-jin dengan terharu.

"ayahmu sudah meninggal dan kau masih juga berduka baginya bilamana terkenang, kau pantas dipuji sebagai anak yang berbakti. Tapi, sumoay ku itu bahkan pulang menjenguk saja tidak mau ketika guruku meninggal."

"It-teng sin-ni masakah puteri durhaka begitu?"

Seru Yu Wi dengan gusar.

"Meski dia tidak berbakti, akupun tidak berani menghukum berat padanya,"

Tutur Hoat-su-jin pula.

"setelah kutemukan dia tahun ini, kunasihati dia agar kembali kejalan yang baik. Kupikir asalkan dia maujadi orang baik, sakit hati adik angkat bolehlah kukesampingkan."

"Apakah It-teng Sin-ni benar-benar tunduk kepada nasihat Toa supek. lalu memeluk agama dan akhirnya mendapatkan gelar pujian sebagai sin-ni?"

Tanya Yu Wi.

"Masakah dia mau menurut begitu saja kepada nasihatku?"

Kata Hoat-su-jin.

"Dia bilang, salah saudara-angkatmu sendiri yang serakah ingin mendapatkan Hai-yan-to-hoat yang nomor satu di dunia itu. Rupanya tentang oh It-to mati diracun sumoay itu telah diketahui orang Kangouw, tatkala mana oh It-to memang diakui secara umum sebagai tokoh nomor satu di dunia, dengan sendirinya ilmu goloknya diincar oleh setiap orang. Asalkan berhasil meyakinkan ilmu golok tinggalan oh It-to jelas orang itupula akan mewarisi gelar sebagai jago nomor satu di dunia ...."

Yu Wi tidak percaya, ia menggeleng dan berucap.

"Ah, kukira belum tentu benar."

"sumoay telah mengubah ilmu golok menjadi ilmu pedang dan tetap sangat lihay, apabila kau berhasil meyakinkan Hai-yan-kiam-hoat dengan lengkap. jangankan sumoay bukan tandinganmu, sekalipun aku juga kalah. Cuma sayang, hanya enam jurus Hai-yan-kiam-hoat yang kau kuasai, sebab itulah kau tidak tahu betapa daya serang Hai-yan-kiam-hoat yang sesungguhnya,"

Muka Yu Wi menjadi merah, ia menunduk dan tidak bersuara lagi. Hoat-su-jin meneruskan lagi ceritanya.

"Kataku waktu itu kepada sumoay, meski samte serakah, tidaklah pantas hanya kau ajarkan dua jurus Hai-yan-kiam-hoat, sudah itu kau bikin cacat dia selama hidup, sumoay mendengus, dia menjelaskan bahwa sebelumnya dia sudah menyatakan, barang siapa ingin belajar Hai-yan-kiam-hoat harus tunduk kepada segala kehendaknya. Lantaran kepandaian samte tidak lebih tinggi daripada sumoay, terpaksa dia menurut saja syarat yang dikemukakan itu. Aku sangat gusar oleh keterangan sumoay itu, kucela dia, apapun juga tidak seharusnya dia perlakukan samte sekejam itu. Aku menyatakan rasa curigaku bahwa samte pasti tidak sukarela diperlakukan cara begitu. Hal ini dibantah oleh sumoay, katanya samte justeru sukarela ditindak begitu olehnya. Tentu saja aku tidak percaya dan kudesak lagi agar sumoay memberi keterangan lebih jelas. Akhirnya baru kutahu duduknya perkara. Kiranya waktu samte datang minta belajar ilmu pedang kepada sumoay, pada pandangan pertama saja sumoay lantas penujui simte. setelah berkumpul beberapa hari, sumoay lantas merayu samte dan ingin main cinta. Tapi samte adalah seorang lelaki gilang gemilang, maksud tujuannya hanya ingin belajar ilmu pedang nomor satu di dunia dan tidak sudi main begituan dengan sumoay. Apalagi waktu itu samte juga sudah mempunyai kekasih, mana bisa dia menyukai seorang perempuan yang terkenal busuk di dunia Kangouw? Tentu saja penolakan cinta samte membuat sumoay sangat gemas dan dendam, dia menyatakan bila samte ingin belajar Hai-yan-kiam-hoat, syarat utamanya harus dikebiri. saking tergila-gila kepada ilmu pedang itu, entah mengapa samte lantas menerima syarat itu. Cara bicara sumoay itu seperti cukup beralasan dan cacat samte itu seolah-olah memang pantas, tentu saja aku menjadi murka, kubilang, kalau samte sudah dikebiri, seharusnya Hai-yan-kiam-hoat diajarkan secara lengkap padanya. Tapi sumoay tertawa dan menganggap salah samte sendiri, sumoay bilang dirinya tidak bodoh dan tidak nanti mengajarkan ilmu pedang maha sakti semudah itu kepada samte sehingga ada ilmu silat orang di dunia ini melebihi dia? Tidak kepalang rasa gusarku, kunyatakan bahwa orang yang bisa mengalahkan sumoay masih banyak di dunia ini. sumoay tidak percaya, ia tanya siapa-siapa saja yang kumaksudkan? Kuyakin kungfuku pasti jauh di atasnya, sebab suhu tahu kelakuan sumoay tidak baik, tidak banyak kungfu beliau yang diajarkan kepadanya, sebaliknya seluruh kepandaian suhu telah diajarkan kepadaku, maka aku lantas menyatakan.

"akulah dapat mengalahkan kau". Dia tertawa dan menyatakan apabila benar dapat kukalahkan dia, maka dia akan menyerah takluk kuperlakukan sesukaku dan membalas dendam bagi samte. Diam-diam aku mendongkol karena dia meremehkan kepandaian ajaran suhu, tak kupikirkan lagi apakah ilmu pedangnya nomor satu di dunia segala, begitu mulai bergebrak segera kulancarkan serangan maut, kupikir dalam sepuluh jurus juga akan kukalahkan kau. siapa tahu, meski sudah berlangsung sampai tiga ratusan jurus, keadaan masih sama kuat. sungguh tidak kuduga, beberapa tahun tidak bertemu, dia berhasil mempelajari macam-macam kungfu dari berbagai golongan dan aliran-Melihat ini, semakin gemas hatiku, kutahu pasti banyak perbuatan kotor yang dilakukannya sehingga berhasil menipu kungfu sebanyak itu dari orang yang tergilagila padanya. Diam-diam aku berduka bagi suhu, maka seranganku segera bertambah ganas tanpa kenal ampun-Meski ilmu silatnya mencakup kungfu berbagaialiran, tapi dia tidak berhasil mempelajari inti sari kungfu ajaran suhu, akhirnya kugunakan satu jurus maut dan berhasil mengatasi dia. Kupikir suhu meninggal oleh karena makan hati atas tingkah-lakunya, entah berapa banyak pula tokoh dunia persilatan yang telah menjadi korbannya, bahkan teringat pada cacat samte. sungguh sekaii tusuk ingin kubinasakan dia. Pada detik yang menentukan itulah, mendadak ia berteriak. katanya dia telah mengajarkan Thian-ih-sin-kang kepada samte, masakah aku sampai hati membunuhnya?"

"Thian-ih-sin-kang?"

Yu Wi menegas.

"o, kaupun tahu Thian-ih-sin-kang?"

Tanya Hoat-sujin-"suhu memang benar mengajarkan Thian-ih-sin-kang padaku,"

Tutur Yu Wi.

"tapi beliau sendiri tidak mahir Thian-ih-sin-kang, beliau cuma pesan padaku bahwa Thian ih-sin-kang diperolehnya dari seorang perempuan kosen dunia persilatan-"

"Ehm, dasar Lwekang yang dilatih samte memang dari golongan sia-pay, dengan sendirinya tidak dapat meyakinkan Thian-ih-sin-kang,"

Kata Hoat-su-jin-Ia menghela napas, lalu melanjutkan.

"Thian-ih-sin-kang ini adalah inti ilmu silat suhu, waktu suhu mengajarkannya kepada sumoay dahulu pernah memberi pes an agar kelak Thian-ih-sin-kang diajarkan kepada pemuda pilihan sumoay sekadar sebagai emas kawin dari orang tua. Maka setelah kudengar bahwa sumoay telah mengajarkan Thian-ih-sin-kang kepada samte, aku menjadi tidak tega membunuhnya. Tapi akupun tidak melepaskan dia lagi, segera kubawa dia ke Tiam-jong-san sini, kupaksa dia bersumpah bahwa selain mendapat izinku, satu langkahpun dia tidak boleh turun gunung. dan seterusnya dia harus cukur rambut dan menjadi Nikoh di atas gunung ini. Kukuatir pula jiwa jahatnya sukar berubah dan mungkin dia akan mengganas lagi terhadap orang yang kebetulan datang ke sini, maka kularang pula dia membunuh orang. Kalau larangan ini dilanggar dan kuketahui, maka dia akan kujatuhi hukuman berat."

"Pantas setelah Toa supek bicara, It-teng lantas menurut pada perintahnya dan membawaku menemui Ya-ji, sayang Ya ji sudah kabur. Ai, entah sekarang Ya-ji berada di mana?"

Pikir Yu Wi. Melihat anak muda itu hanya menghela napas dan diam saja. Hoat-su-jin coba menghiburnya.

"Anak muda janganlah suka berduka, meski dunia ini sangat luas, asalkan punya kemauan, masakah tak dapat menemukan seorang. Apalagi tujuan kepergiannya ini juga untuk mencari kau, tentu banyak petunjuk dapat kau gunakan untuk mencari jejaknya."

Mengingat jiwa sendiri bakal tertolong, Yu Wi berpikir.

"Ucapan Toa supek memang tepat, kenapa aku mesti berduka."

Segera ia menengadah dan berkata.

"Tadi Wanpwe menghibur Toa supek agar jangan berduka, tapi sekarang aku sendiri berduka, sungguh harus dipukul."

Sembari bicara ia teres menepuk kepalanya sendiri "Ai. seperti anak kecil saja, kenapa kaupukul dirinya sendiri?"

Kata Hoat-su-jin dengan tertawa. Lalu sambungnya.

"selama beberapa tahun selanjutnya sumoay lantas tirakat dengan prihatin di atas gunung ini, kulihat dia memang bersujud dan ada kemauan memperbaiki diri, kemudian kuizinkan dia turun gunung satu-dua kali setiap tahun-Waktu dia pulang pada pertama kali turun gunung, dengan heran ia berkata padaku bahwa di dunia Kangouw ternyata namanya sudah sangat terkenal, orang menyebutnya sebagai It-teng sin-ni, kemanapun dia datang, setiap orang memujanya seperti malaikat dewata, Aku tidak menjawab pertanyaannya itu, tapi kutahu setelah turun gunung, berhubung dimana2 dia dihormat dan dipuja. maka dia tidak berbuat kejahatan lagi, sebaliknya banyak kebajikan yang telah dilakukannya. sampai sekarang di dunia Kangouw nama It-teng sin-ni masih sangat dihormati, sebab tiada yang tahu bahwa It-teng adalah Thio Giok-tin yang jahat di masa lampau itu, sekalipun kemud ian ada tersiar berita tentang It-teng sama dengan Thio Giok tin juga tidak ada lagi yang mau percaya. Padahal, yang terjadi sesungguhnya adalah karena mengingat budi kebaikan suhu, aku tidak tega menyaksikan anak perempuannya dikutuk. maka pada waktu sumoay mulai menjadi Nikoh, sering kuturun gunung untuk melakukan hal-hal yang baik, menolong sesamanya, lalu kutinggalkan tanda kepala Nikoh yang serupa sumoay dengan memberi nama It-teng. Lama kelamaan di dunia Kangouw lantas tersiar berita keluhuran budi It-teng sin-ni yang suka menoiong kaum lemah dan miskin, siapapun tidak ada yang menyelidiki asal-usulnya lagi. Meski kemudian keturunan oh It-to mengetahui Itteng sin-ni tidak lain adalah Thio Giok-tin di masa lampau, mereka terus menyebarkan desasdesus yang mencerca nama baik sumoay, nama It-teng sin-ni sudah kadung berakar dalam hati khalayak ramai dan sukar lagi digoyahkan-Tapi tatkala mana di duaia Kangouw juga muncul dua orang kosen, yang seorang suka pada warna merah dan yang seorang lagi gemar pada warna biru, baik pakaian maupun tempat tinggal mereka, semuanya mengenakan warna yang disukainya."

"Ah, itulah Ang-locianpwe dan ...."

Tanpa terasa Yu Wi berseru, tapi segera teringat olehnya pesan kedua Cianpwe itu agar jangan membocorkan urusan mereka.

maka cepat ia berhenti bicara, namun dia sudah telanjur menyebut Ang-bau-kong Dengan tertawa Hoat-su-jin berkata.

"Langkahmu yang ajaib itu adalah ajaran Ang-bau-kong dan Hoa sin-ciangmu adalah ajaran Lam-si-khek. tidak salah bukan?"

Yu Wi terkejut. jawabnya dengan gelapan.

"Dari ... darimana Toa supek mengetahuinya? "

"Waktu kau belajar pada mereka, semuanya dapat kulihat dari samping, hanya saja kalian tidak mengetahui akan jejakku,"

Ujar Hoat-su-jin.

Baru sekarang Yu Wi menyadari kejadian dahulu, beberapa kali pada waktu Ag-bau-kong dan Lam-si-khek mengajar kungfu padanya, kedua tokoh itu selalu sangsi ada orang sedang mengintip disamping, tapi tidak diketahui di mnna pengintip itu bersembunyi.

Rupanya yang mengintip itu ialah Toa supek.

Hoat-su-jin bertutur pula.

"Masa itu, Ang-bau-kong dan Lam-si-khek malang melintang di dunia Kangouw dan terkenal sebagai dua tokoh top. Meski watak sumoay sudah jauh berubah alim setelah tirakat sekian tahun, tapi hasratnya ingin unggul ternyata belum berkurang. Tahun itu ia turun gunung lagi dan mendengar nama kebesaran kedua orang itu, ia merasa penasaran, satu persatu didatanginya. Meski tinggi juga ilmu silat Ang-bau-kong dan Lam-si-khek. ternyata kalah setingkat dibandingkan sumoay, mereka telah dikalahkan sehingga terpaksa mengajarkan kungfu andalan mereka kepada sumoay, sebab sebelumnya mereka sudah berjanji,jika sumoay kalah, sumoay juga akan mengajarkan Hai-yan-kiam-hoat kepada mereka. Maka seterusnya Ang-baukong dan Lam-si-khek lantas menghilang dari dunia Kangouw, kiranya mereka telah dipaksa ikut sumoay mengasingkan diri ke Tiam-jong-san sini. sumoay berkata padaku, lantaran aku jarang bicara dengan dia, daripada kesepian, maka dia sengaja mengundang dua tokoh terkemuka untuk menemani dia mengobrol dan aku diminta menyetujuinya. Waktu itu kungfu sumoay sudah semakin lihay dan selisih tidak jauh lagi daripadaku, andaikan kutolak juga tiada gunanya, malahan mungkin akan menimbulkan kerewelan, maka kujawab asalkan dia tidak melanggar tata susila, apapun boleh dilakukannya. Dan mendingan juga, sumoay dapat hidup dengan prihatin, kupikir apapun-juga dia sudah beragama, tentu sudah melupakan segala perbuatannya yang kotor di masalampau. selang beberapa tahun pula, dia turun gunung lagi dan pulangnya membawa seorang anak perempuan yang sakit-sakitan ..."

"Ah, anakperemnuan itu tentu Ya-ji,"

Seru Yu Wi.

"Betul, memang nona Ko,"

Kata Hoat-su-jin dengan mengangguk.

"Tapi anak itu sangat lemah. setiap saat ada kemungkinan akan mati. Demi anak itu, jauh-jauh sumoay membawanya ke siaungo-tay-san dan minta pengobatan kepada su Put-ku."

Peristiwa ini sudah pernah didengar Yu Wi dari Ko Bok ya, demi menyembuhkan Bok ya itulah maka sebagai imbalannya It-teng sin-ni mengajarkan Leng-po-wi-poh kepada su Put-ku.

Hoat-su-jin menyambung pula.

"semakin besar Lwekang nona Ko dapat terpupuk dengan kuat, lalu sumoay mengantarnya pulang, selanjutnya setiap bulan sekali sumoay tentu berkunjung ke rumahnya untuk mengajar kungfu kepada nona Ko. Karena sering turun gunung, lambat-laun sumoay mulai tidak betah tinggal lagi di atas gunung. Meski ilmu siiatnya sekarang sudah tidak lebih rendah dari padaku, tapi berhubung terikat oleh sumpahnya, sumoay belum berani sembarangan meninggalkan Tiam jong-san. Entah darimana dia dapat dengar bahwa aku berdiam dalam kuburan ini adalah untuk mendampingi mendiang isteriku. satu hari, ketika bertemu dia berkata kepadaku bahwa dia sudah bosan tinggal di pegunungan ini dan mengajak aku pindah ke tempat lain-Tentu saja kutolak permintaannya, mana bisa kutinggalkan jasad isteriku. Karena maksudnya tak tercapai, mulailah sumoay mengganggu diriku, asalkan bertemu selalu mendesak agar berpindah dari Tiam-jong-san. suatu hari, aku merasa sebal karena direcoki terus oleh sumoay, aku menjawab dengan setengah membentak bahwa tidak mungkin kutinggal kau Tiam-jong-san, sepanjang hidupku ini akan terus tinggal disini. Dengan tertawa ia tanya padaku bagaimana sekiranya dia mampu membujuk kupindah dari sini? Aku sangat mendongkol, kupikir tidak ada kekuatan apapun didunia ini yang mampu membuat kupindah dari sisi isteriku. Maka aku lantas menyatakan apabila sumoay mampu membikin kutinggalkan Tiam-jong-san, maka aku akan memberikan kebebasan padanya. Dia mendengus dan menerima baik pernyataanku itu Diam-diam aku merasa menyesal malah, apa yang kukatakan itu adalah karena terdoroog oleh rasa gusarku, setelah kurenungkan kembali, tahulah aku bahwa sumoay pasti akan berusaha mencuri jenazah isteriku untuk memaksa aku meninggalkan pergunungan ini. Dugaanku ternyata tidak salah, selama beberapa tahun ini beberapa kali kupergoki dia sedang mencari jalan masuk ke kuburan ini, bilamana diketemukannya, pada waktu aku lengah tentu jenazah isteriku akan dibawanya lari, dalam keadaan begitu mau-tak-mau aku harus ikut pergi dari sini untuk mencarinya. Dengan demikian pertaruhan kami akan dimenangkan oleh dia dan kebebasannya juga takkan terikat lagi oleh sumpahnya."

Sekali pandang saja Yu Wi lantas tahu sang Toa supek lagi terkenang kepada isterinya yang sudah meninggal itu, cepat ia bertanya.

"Dan Ang dan Lam berdua Cianpwe mengapa juga tidak meninggalkan Tiam-jong-san?"

"sialnya sebelum mereka bertanding dengan sumoay sudah berjanji akan mengajarkan kungfu andalan masing-masing kepada sumoay apabila mereka kalah, bahkan selama hidup akan ikut tinggal di atas Tiam-jong-san-mereka baru boleh meninggalkan pegunugan ini apabila pada suatu ketika mereka yakin ilmu silat mereka dapat mengalahkan sumoay."

"Dan selama belasan tahun ini apakah ilmu silat kedua Cianpwe itu tetap tidak dapat melebihi It-teng sin-ni?"

Tanya Yu Wi. Hoat-su-jin menggeleng.

"Aku tidak tahu,sebab sejak mengasingkan diri dipegunungan ini mereka belum pernah menantang bertanding dengan sumoay."

"Mengapa mereka tidak mau mencobanya, memangnya mereka ingin tinggal di sini sampai akhir hayatnya?"

Ucap Yu Wi dengan heran-"Ya, akupun merasa heran,"

Kata Hoat-su-jin "Tapi kemudian baru kuketahui memang ada sebabnya sehingga mereka tidak berani menantang sumoay.

Kiranya waktu mereka dikalahkan, sumoay belum sampai menggunakan Hai-yan-kiam-hoat.

Setiba di Tiam-jong-san, sumoay kuatir pada suatu ketika kedua orang itu akan berhasil menciptakan kungfu istimewa dan mengalahkan dia, maka dia sengaja pamerkan Hai-yan-kiam-hoat di depan mereka.

Padahal kutahu sumoay belum berhasil meyakinkan Hanyan-kiam-hoat dengan sempurna, hanya saja setiap jurus ilmu pedang itu memang sangat lihai sehingga kedua lawan dapat digertak.

Bahkan sumoay menambahkan gertakannya apabila kedua orang itu merasa mampu mengalahkan ilmu pedang itu baru boleh coba-coba menantangnya bertanding pula, kalau tidak.

bila berani sembarangan menantang bertanding, akibatnya segenap anggota keluarga kedua orang itu akan dibunuhnya habis.

Ang-bau-kong dan Lam-si-khek adalah lelaki yang patuh pada ucapannya sendiri, setelah mereka kalah, mereka lantas meninggalkan keluarga dan ikut tinggal di Tiam-jong-san-setelah mengetahui It-teng adalah Thio Giok-tin yang terkenal kejam di masalampaU, tentu saja mereka tidak berani mempertaruhkanjiwa anggota keluarganya dan menantang bertanding lagi pada sumoay."

Yu Wi menghela napas gegetun, ucapnya.

"Pantas setelah kedua Cianpwe itu mengajarkan kungfunya padaku, mereka melarang kukatakan kepada siapapun, kiranya takut diketahui It-teng sin-ni."

"Apabila sumoay mengetahui kedua orang itu mengajar kungfunya padamu, dalam gusarnya bisa jadi sumoay akan benar-benar turun gunung untuk membunuh anggota keluarga kedua orang ini, dan tentu sukar bagiku untuk mencegahnya."

Yu Wi merasa tidak enak hati, katanya.

"Jika begitu, untuk apa mereka mengajarkan kepandaian padaku dengan menanggung bahaya besar begini?"

"Soalnya sudah belasan tahun mereka meyakinkan ilmu langkah ajaib dan ilmu pukulan sakti, mereka sendiri tidak tahu apakah kungfu baru mereka dapat mengalahkan sumoay atau tidak. untuk mencobanya sendiri mereka tidak berani, kebetulan mereka menemukan kau yang sedang mencari sumoay. mereka menduga antara kalian pasti akan bertempur, maka mereka sengaja mengajarkan hasil jerih-payah mereka padamu dengan tujuan menggunakan dirimu sebagai batu uji. Boleh dikatakan juga beruntung bagimu, sekaligus mendapat dua macam ilmu sakti."

"Tapi darimana kedua Cianpwe itu akan mengetahui kepandaian mereka dapat mengalahkan It-teng sin-ni atau tidak? Mereka kan tidak ikut menyaksikan sendiri?"

"Kau tidak tahu bahwa pada waktu kau bertempur dengan sumoay, kami bertiga sama-sama menongkrong diatas pohon cemara untuk mengintip. sungguh lucu, sumoay tidak tahu sama sekali, benar-benar terlalu gegabah dia."

Yu Wi berkuatir bagi Ang-bau-kong dan Lam-si-khek. tanyanya.

"Dan kungfu mereka sekarang apakah dapat mengalahkan It-teng sin-ni?"

"Tidak dapat kupastikan, tapi kupikir mereka tetap belum berani menantang bertanding pada sumoay."

"oo, sebab apa?"

Tanya Yu Wi.

"Dengan kungfu ajaran mereka berdua memang kau kelihatan lebih unggul, tapi mereka tetap belum melihat sumoay memainkan Hai-yan-kiam-hoat, betapapun tetap tidak berani mencobanya,"

Tutur Hoat-su-jin.

"Maklumlah, sebelum menyaksikan sendiri betapa hebatnya Haiyan-kiam-hoat, sukar bagi seseorang untuk merasa yakin dapat mengalahkannya,"

Sementara itu Iajar sudah menyingsing, di dalam kuburan sudah ada cahaya, nyata mereka telah mengobrol sepanjang malam.

setelah tidur semalaman, Hiat-to Khing-kiok telah terbuka dengan sendirinya, ia telah mendusin-Mendengar suara si nona, Yu Wi bertanya.

"Kau sudah bangun, adik Kiok?"

Baru habis ucapannya, mendadak ia merintih kesakitan-Cepat Khing-kiok mendekatinya dan memegangi tepi peti mati sambil bertanya.

"Kenapa kau, Toako?"

"o, kep ... kepalaku sangat sakit"

Keluh Yu Wi dengan suara terputus-putus. Hoat-su-jin menghela napas, ia tutuk Hiat-to anak muda itu agar tertidur. lalu ia memijat dan mengurutpelahan bagian dadanya.

"Cianpwe, bagaimana Toako?"

Tanya Khing-kiok kuatir.

Hoat-su-jin tidak menjawabnya, ia terus mengurut bagian penting disekujur Yu Wi, namun arah urutannya itu ditunjukan ke bagian tangan-Khing-kiok tahu gelagat cukup gawat, maka tidak berani bertanya lagi.

setelah sekian lamanya mengurut, ubun-ubun Hoat-su-jin tampak mengepulkan hawa, dalam sekejap seluruh tubuhnya seolah-olah terbungkus oleh selapis kabut.

Kini Khing-kiok tidak dapat melihat keadaan didalam peti mati, uap panas itu telah membuatnya berkeringat juga, tanpa terasa ia menyurut mundur, diam-diam ia berdoa.

Dilihatnya uap putih itu makin banyak.

hawa panas juga makin terasa, kembali Khing-kiok menyurut mundur lagi dua tindak.

tiba-tiba dirasakan tertahan oleh sesuatu benda dibelakang.

Ia tahu itulah peti mati yang lain-Kini cuaca sudah terang, ia tidak merasa takut, tapi karena uap yang tebal itu, ia merasa sesak napas, berdiri saja tidak tegak.

la menjulurkan tangannya untuk memegang tutup peti mati.

sebelum ini peti mati itu terlihat jelas tertutup rapat, tapi ketika tangannya meraba ke situ, ternyata memegang tempat kosong, karena hal ini tidak didugaannya, pegangan tangannya jadi telanjur menahan ke bawah sehingga mencapai dasar peti mati barulah tubuhnya yang condong itu tertahan-Keruan nona itu terkejut, ia pikir bilakah peti ini dibuka?Jangan-jangan peti mati ini juga kosong.

Waktu ia berpaling, dilihatnya tutup peti mati sudah terbuka dan tersingkir ke samping, bagian dalam peti mati rada gelap.

samar-samar cuma kelihatan seperangkat baju orang mati masih terletak disitu, nyata peti mati ini tadinya tidak kosong.

Segera Khing-kiok mengendus bau apek di dalam peti mati, bau itu jelas adalah bau orang mati, baru sekarang Khing kiok menjerit tertahan karena kejutnya.

Jeritannya ternyata tidak mengejutkan Hoat-su-jin, sebab waktu itu Hoat-su-jin sedang mengerahkan segenap tenaga dan perhatian untuk menyembuhkan Yu Wi, sekalipun gunung ambruk di depannya juga takkan membuat dia terkejut.

sedapatnya Khing-kiok menahan perasaannya yang berdebar, ia coba menenangkan pikirannya.

ia berusaha merenungkan apa yang terjadi, peti mati ini tidak mungkin terbuka malam tadi, Hoat-su-jin menaruh peti mati ini di sampingnya, jelas isi peti mati ini adalah seorang yang paling berdekatan dengan dia, jangan-jangan isterinya?

Kalau isterinya, kenapa peti mati ini dibuka orang, lebih-lebih tidak mungkin terbuka sendiri, Hoat-sujin sendiri juga tidak mungkin membongkar peti mati ini?

lalu siapakah yang membukanya?

Isi peti mati tinggal pakaian mayat saja, tulang belakang jenazah sudah hilang, jelas tujuan orang yang membongkar peti mati ini adalah untuk mencuri tulang jenazah, lantas siapakah yang sengaja mencuri tulang jenazah isteri Hoat-su-jin ini?

Khing-kiok tidak dapat menemukan jawabannya, dalam keadaan demikian iapun tidak berani tanya Hoat-su-jin, ia tahu Hoat-su-jin lagi asyik menyembuhkan Yu Wi dan tidak boleh digunggu.

Lalu terpikir lagi olehnya.

"sudah berapa lamakah peti mati ini dibongkar orang? Pada waktu Hoat-su-jin berjaga di sini, pencuri itu pasti tidak berani membuka peti mati ini, sekalipun Hoat-sujin sedang tidur juga takkan dilakukannya, kecuali Hoat su-jin mati di dalam kuburan inilah baru pencuri itu berani masuk ke sini. Kalau tidak. dengan ilmu silat Hoat-su-jin yang maha tinggi, siapakah yang berani masuk ke kuburan ini? Pelahan uap panas tadi mulai buyar, terdengar napas Hoat-su-jin yang rada terengah. waktu Khing-kiok berpaling. dilihatnya Hoat-su-jin sedang memegangi kedua lengan Yu Wi dan lagi mengerahkan tenaga dengan mata terpejam. Tanpa terasa Khing-kiok menjerit tertahan pula demi melihat lengan Yu Wi, sebab lengan Yu Wi sekarang berwarna hitam menakutkan. Dilihatnya tangan Hoat-su-jin yang memegangi lengan Yu Wi itu pelahan mengurut kebawah, dan setiap bagian yang tergeser itu, bagian lengan Yu Wi itu lantas berubah menjadi putih, sebaliknya bagian siku ke bawah bertambah hitam, Baru sekarang Khing-kiok tahu Yu Wi terkena racun jahat dan Hoat-su-jin sedang mengerahkan Lwekangnya untuk mengusir racun dalam tubuh sang Toako, apabila hawa hitam sudah seluruhnya terdesak ketelapak tangan, dari darah racun dikeluarkan-dengan sendirinya sang Toako akan sembuh. Dua kali jeritannya ternyata tidak mengejutkan Hoat-su-jin, nyata orang sedang mencurahkan segenap tenaga dan pikirannya untuk menyembuhkan Yu Wis ehingga tidak menghiraukan segala apa yang terjadi di sekitarnya, jangan-jangan pada saat demikianiah si pencuri tulang jenazah tadi menyusup masuk dan membongkar peti mati? Khing-kiok coba merenungkan suasana beberapa waktu yang lalu, rasanya tadi seperti mendengar sesuatu suara pelahan di belakang, tapi lantaran dirinya juga sedang memperhatikan cara Hoat-su-jin mengadakan penyembuhan terhadap Yu wi, maka suara itu tidak diperhatikannya. Sejenak kemud ian, Hoat-su-jin menghela napas panjang, lalu berucap sambil mengusap keringatnya.

"Akhirnya berhasil juga."

Ia berpaling dan memanggil.

"Nona cilik... ."

Pada saat itulah mendadak dilihatnya tutup peti mati terbuka, keruan air mukanya berubah pucat, serentak ia memburu maju dan mendekap tepi peti mati, teriaknya dengan suara memilukan.

"o. isteri ...isteriku... ."

Dia merangkul pakaian mayat di dalam peti, serupa kalau dia memeluk jasad isterinya.

lalu ia berpaling dan memandang Khing-kiok.

Khing-kiok melihat air mata Hoat-su-jin bercucuran bagai hujan-sungguh tidak kepalang sedihnya, tapi didalam kesedihannya juga mengandung rasa gemas yang tak terkatakan, diamdiam Khing-kiok merasa takut melihat sikap Hoat-su-jin

KANG ZUSI website

http.//kangzusi.com/ Dari tatapan Hoat-su-jin itu, Khing-kiok tahu maksud orang hendak tanya padanya apa yang terjadi. Dengan suara tergegap ia berkata.

"Pada ...pada waktu Cianpwe mengerahkan tenaga tadi. orang .... orang itu masuk kemari... ."

"siapa orang itu?"

Hoat-su-jin meraung murka. Khing-kiok ketakutan dan menggigil karena raungan keras itu, jawabnya dengan suara gemetar.

"En... entah, aku tidak .... tidak tahu ..."

Dengan gusar Haot-su-jin mendamperatnya ""Apakah kau orang mampus? Mengapa tidak tahu Lekas kata kan siapa yang mencuri isteriku?"

Matanya nampak merah seakan-akan menyemburkan api.

sikapnya beringas, tidak kepalang murkanya, kalau bisa sipencuri mayat itu akan dicincangnya hingga luluh.

Karena ketakutan didamperat lagi dengan bengis, Khing-kiok merasa penasaran dan menangis dan sekali menangis sukar lagi dibendung.

Mendadak Hoat-su-jin menengadah dan berteriak.

"Thio Giok-tin Thio Giok-tin Kutahu pasti kau, ya, pasti perbuatanmu... ."

Sambil memeluk pakaian mayat itu dia terus menerjang keluar kuburan, sudah jauh suaranya masih berkumandang di udara.

"Thio Giak-tin, kutahu pasti kau, pasti perbuatanmu"

"Memang betul, si pencuri tulung mayat itu ialah It-teng sin-ni.

sudah lama dia menemukan pesawat rahasia kuburan itu, hanya saja setiap hari Hoat-su-jin berjaga disitu hingga sukar baginya untuk mencuri tulang jenazah.

semalam dia sengaja berlagak mencari lubang masuk ke kuburan itu, maksudnya supaya Hoatsu-jin tidak berjaga-jaga lagi.

Padahal percakapan antara Hoat-su-jin dan Yu Wi semalam telah dapat didengar seluruhnya oleh It-teng sin-ni yang bersembunyi di dekat lubang cahaya.

Hoat-sujin mengira It-teng sudah pergi, tapi sesudah pergi dia datang lagi dan tidak diketahui oleh Hoatsu-jin.

Pada waktu Hoat-su-jin asyik mengadakan penyembuhan kepada Yu Wi, kesempatan baik itu telah digunakan oleh It-teng sin-ni untuk membuka pesawat rahasia kuburan itu dan masuk ke dalam, peti mati dibukanya dan tulang jenazah isferi Hoat-su-jin dicurinya.

segala sesuatu dilakukannya dengan ringan dan cepat serta berjalan dengan lancar.

Waktu itu biarpun diketahui Khing-kiok umpamanya, paling-paling nona ini hanya akan mengantar nyawa percuma, sebab dengan sekali hantam It-teng dapat membunuhnya untuk menutup mulutnya.

sedang kan Hoat-su-jin lagi mencurahkan segenap pikirannya menyembuhkan Yu Wi, apapun yang terjadi di sekitarnya sama sekali tidak diketahuinya.

Begitulah tangisan Khing-kiok itu telah membersihkan semua perasaan sedih yang mengeram dalam hatinya selama ini, sampai sekian lama barulah ia berhenti menangis.

Ia mengusap air mata, tapi tidak dilihatnya lagi Hoat-su-jin-Ia tidak tahu bagaimana keadaan sang Toako sekarang.

cepat ia mendekati peti mati, dilihatnya Yu Wi masih tertidur lelap.

kedua telapak tangannya hitam gilap.

Ia tahu racun dalam tubuh sang Toako telah didesak seluruhnya ke bagian telapak tangan oleh tenaga dalam Hoat-su jin tadi, sejera Khing-kiok mencabut tusuk kundainya, dengan ujung tusuk kundai ia cocok ujung kesepuluh jari Yu Wi, seketika darah mengalir keluar, darah hitam pekat seperti tinta hitam.

Pelahan telapak tangan Yu Wi dari hitam berubah menjadi putih, darah pun berhenti pelahan sebab luka ujung jari mulai mengering.

maka darah tidak dapat mancur lagi.

Legalah hati Khing-kiok, ia mengira darah berbisa anak muda itu sudah habis dikeluarkan.

Tak terduga, sejenak kemudian telapak tangan Yu Wi mulai bertambah hitam lagi.

Keruan Khing-klok terkejut, cepat ia mengulangi lagi mencocok ujung jari Yu Wi dan mengeluarkan darah berbisa seperti tinta hitam itu setelah darah berbisa mengalir keluar, tangan berubah menjadi putih.

siapa tahu sebentar tangan Yu Wi kembali berubah hitam pula, sekali ini Khing-kiok tidak berani mencocok ujung jari Yu Wi, ia tahu racun dalam tubuh anak muda itu terlalu aneh dan sukar disembuhkan Jika ujung jari ditusuk dan darah keluar lagi, bisa jadi akan terlalu banyak mengalirkan darah dan akan mengganggu kesehatan sang Toako.

Nona itu tak berdaya lagi, ia pikir bila Hoat-su-jin masih berada di sini tentu bisa menolong Yu Wi, tapi sekarang Hoat-su-jin sudah pergi.

Diam-diam ia menyesali diri sendiri yang kurang waspada sehingga memberi kesempatan kepada pencuri untuk masuk dan membawa lari tulang jenazah.

Kalau saja kejadian itu diketahuinya dan sipencuri dapat dihalau, tentu juga Hoat-su-jin takkan pergi.

Bagian 18 Karena kuatirnya, kegagalan menyembuhkan Yu Wi itu dia anggap sebagai kesalahannya sendiri.

Makin berpikir makin benci pada diri sendiri sehingga tanpa terasa ia menangis lagi.

Entah berapa lama ia mendekap kepalanya dan menangis sedih di samping peti mati, akhirnya Hiat-to Yu Wi yang tertutuk itu terbuka dengan sendirinya, ia mendusin, lalu bertanya.

"He, adik Kiok, apa yang kau tangisi?"

Baca Juga: Sepasang Pendekar Daerah Perbatasan 4

Baca Juga: Pedang Darah Bunga Iblis 9

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert