Ceritasilat Novel Online

Hina Kelana Balada Kaum Kelana 14

Eps 14 Hina Kelana Balada Kaum Kelana - Jin Yong

Baca online Hina Kelana Balada Kaum Kelana - Jin Yong

Cersil Hina Kelana Balada Kaum Kelana - Jin Yong.

Dengan demikian, perjalanan mereka menjadi tambah lambat.

Lenghou Tiong terus mengawasi mereka memasuki Kota Hokciu dan sampai di suatu kuil nikoh dan kuil itu jelas tertulis sebagai "Bu-siang-am" , dengan begitu barulah ia merasa lega karena kewajiban yang dipasrahkan Ting-cing kepadanya itu sudah dilaksanakan dengan baik.

Pikirnya.

"Seorang ciangkun memimpin pasukan nikoh, kejadian benar-benar belum pernah ada di dunia ini. Untung bebanku sudah selesai sekarang, kesanggupanku kepada Ting-cing Suthay sudah kupenuhi."

Ia putar haluan menuju ke jalan raya kota yang lain, maksudnya hendak mencari tahu di mana letaknya "Hok-wi-piaukiok".

Mendadak di antara orang berlalu-lalang ramai itu dilihatnya seorang laki-laki berbaju hijau dengan air muka yang aneh buru-buru memalingkan mukanya ke arah lain, lalu menyingkir pergi dengan langkah cepat.

Tergerak hati Lenghou Tiong, ia heran mengapa orang itu buru-buru menyingkir pergi begitu melihatnya?

Sebagai seorang cerdik segera ia paham duduknya perkara.

"Ya, dengan dandananku ini sudah dua kali aku melabrak musuh di luar dan di dalam kota Ji-pek-poh, mungkin sekali kabar tentang diriku sudah tersiar luas, tentang Kaucu Mo-kau yang dulu Yim Ngo-heng sudah muncul kembali di Kangouw dengan dandanan begini-begini. Tampaknya laki-laki ini adalah orang bu-lim, bisa jadi termasuk salah satu orang berkedok pada malam itu sehingga aku dikenal olehnya. Maka aku harus mencari ganti pakaian lain, kalau tidak tentu gerak-gerikku takkan bebas."

Begitulah ia lantas mencari suatu hotel, lalu keluar lagi hendak beli pakaian.

Ia melintasi beberapa jalan kota, tapi tiada menemukan sesuatu toko pakaian bekas.

Sekonyong-konyong suara seorang yang sudah sangat dikenalnya berkumandang ke dalam telinganya.

"Siau-lim-cu, katakan terus terang, kau mau mengawani aku pergi minum arak atau tidak?"

Begitu mendengar suara itu, seketika dada Lenghou Tiong terasa panas, benaknya menjadi kacau pusing.

Jauh-jauh ia datang ke Hokkian tujuannya justru ingin mendengar suara ini, ingin melihat wajah pemilik suara ini.

Sekarang benar-benar dia telah mendengar suara itu, namun dia justru tidak berani menoleh untuk memandangnya.

Padahal dalam keadaan menyamar tentunya siausumoaynya takkan mengenalnya lagi, entah mengapa, seketika ia termangu seperti patung, tanpa terasa air mata memenuhi kelopak matanya hingga pandangannya menjadi samar.

Maklum, hanya dengan satu kalimat saja, dengan panggilan tadi saja segera diketahuinya bahwa sang siausumoay sudah sedemikian mesranya dengan Lim-sute, maka dapat dibayangkan pula entah betapa senangnya dan bahagianya selama dalam perjalanan jauh ini.

Dalam pada itu terdengar Lim Peng-ci sedang menjawab.

"Aku tidak ada tempo. Pelajaran yang diberikan suhu sampai sekarang belum lagi kulatih dengan baik."

"Tiga jurus ilmu pedang itu kan teramat gampang,"

Ujar Leng-sian.

"Sesudah kau mengiringi aku minum arak segera kuajarkan padamu di mana letak rahasia ketiga jurus ilmu pedang itu. Mau tidak?"

"Tapi suhu dan sunio sudah pesan agar dalam beberapa hari ini kita jangan sembarangan berkeliaran di kota agar tidak menimbulkan gara-gara. Maka menurut pendapatku lebih baik kita pulang saja."

Bab 82.

Terbongkarnya Rahasia Kiam-boh "Masakah jalan-jalan saja tidak boleh?

Apalagi sudah sekian lama tiada seseorang tokoh bu-lim yang kulihat.

Seumpama ada jago-jago Kangouw yang berdatangan di kota ini, asalkan kita tidak saling mengganggu, peduli apa?"

Begitulah sembari bicara kedua orang lambat laun sudah pergi jauh.

Mendadak Lenghou Tiong membalik tubuh, dilihatnya bayangan Gak Leng-sian yang langsing itu berada di sisi kiri dan bayangan Lim Peng-ci yang kekar berada di sisi kanan, kedua muda-mudi itu berjalan berendeng.

Si nona memakai baju hijau tua dengan kain warna hijau pupus.

Peng-ci sendiri memakai jubah panjang warna kuning.

Dipandang dari belakang mereka benar-benar merupakan suatu pasangan yang setimpal.

Seketika dada Lenghou Tiong serasa tersumbat oleh sesuatu sehingga bernapas pun rasanya sukar.

Dia sudah berpisah beberapa bulan dengan Gak Leng-sian, walaupun selama ini senantiasa terkenang, tapi baru sekarang ia merasakan dirinya sedemikian mencintai sang sumoay.

Tanpa terasa ia memegang gagang golok, rasanya ingin sekali gorok leher sendiri untuk menghabiskan hidupnya yang merana ini.

Sekonyong-konyong matanya menjadi gelap, langit seperti berputar dan bumi terbalik, seketika ia jatuh terduduk.

Di tengah jalan kota itu ramai sekali orang berlalu-lalang, ketika mendadak melihat seorang perwira jatuh terduduk di tengah jalan, serentak khalayak ramai itu merubungnya dan menanyakan apa sebabnya.

Sebisanya Lenghou Tiong menenangkan diri, lalu berbangkit perlahan-lahan, kepalanya masih terasa pusing, tapi dalam hati ia sudah ambil keputusan.

"Selamanya aku tak dapat bertemu dengan mereka lagi. Hanya mencari susah sendiri saja, apa gunanya bagiku? Malam nanti aku akan meninggalkan sepucuk surat untuk memberitahukan suhu dan sunio, setelah melihat wajah beliau-beliau itu secara diam-diam, lalu aku akan jauh menuju ke negeri asing dan takkan menginjak kembali tanah air."

Cepat ia lantas keluar dari rubungan orang banyak itu, ia tidak jadi membeli baju lagi, tapi terus kembali ke hotel dan pesan arak untuk minum sepuas-puasnya.

Kekuatan minumnya memang hebat, tapi kalau pikiran lagi sedih, arak yang masuk perutnya mengakibatkan dia lekas mabuk.

Maka cuma tiga kati arak saja sudah membuatnya terpulas di tempat tidurnya.

Sampai tengah malam, ketika mendadak ia mendusin, segera ia memanggil pelayan, ia tanya di mana letaknya Hok-wi-piaukiok, lalu minta disediakan alat tulis.

Ia tulis sepucuk surat untuk Gak Put-kun dan istri.

Pada sampul surat hanya ditulisnya.

"Diaturkan kepada ketua Hoa-san-pay Gak-tayhiap dan nyonya" . Isi surat memberitahukan tentang munculnya kembali Yim Ngo-heng di dunia Kangouw dan sengaja hendak memusuhi Hoa-san-pay, diberi tahu bahwa ilmu silat Yim Ngo-heng teramat tinggi, maka diharapkan waspada. Surat itu tidak dibubuhi tanda tangan, hanya ditulis "tanpa nama" . Ia sengaja menulis dengan goresan yang menceng dan miring seperti cakar ayam agar tidak dikenali Gak Put-kun, cuma nada surat yang menghormat itu jelas ditulis oleh seorang angkatan muda. Selesai tulis surat, ia panggil lagi si pelayan hotel. Begitu pelayan itu masuk kamar, segera ia menutuknya roboh, lalu membelejeti pakaiannya. Keruan pelayan itu terbelalak tak bisa berkutik, hanya rasa cemas dan takut yang tertampil pada air mukanya. Sesudah membelejeti pakaian si pelayan dan dikenakan pada badan sendiri, lalu Lenghou Tiong membungkus pakaian kebesaran perwira menjadi suatu buntelan dan dikempit di bawah ketiaknya, ia lemparkan tiga tahil perak di samping si pelayan dan membentaknya.

"Ciangkun datang kemari hendak menangkap penjahat, maka perlu pinjam pakaianmu ini. Jika kau membocorkan rahasia tugasku ini sehingga bandit yang akan kubekuk itu lolos, maka aku akan datang kembali ke sini untuk bikin perhitungan dengan kau. Sebagai ganti kerugianmu kutinggalkan tiga tahil perak ini, tentu jauh daripada cukup."

Si pelayan tak bisa membuka mulut, hanya kepalanya saja manggut-manggut.

Dengan melompati pagar tembok Lenghou Tiong meninggalkan hotel itu terus menuju ke Hok-wi-piaukiok.

Gedung perusahaan pengawalan itu sangat megah dan luas bangunannya, maka sangat mudah dikenali, pula tidak jauh dari hotelnya.

Hanya sebentar saja dua tiang bendera piaukiok yang dicari itu sudah kelihatan menjulang tinggi di depan gedung.

Tiang bendera itu tidak terpancang panji apa-apa, mungkin sejak ayah-bundanya meninggal dunia, perhatian Lim Peng-ci lantas dicurahkan dalam hal belajar silat dan tidak mengurus usaha orang tua lagi.

Lenghou Tiong memutar ke belakang gedung piaukiok, pikirnya.

"Entah suhu dan sunio tinggal di mana? Mungkin saat ini beliau-beliau itu sudah tidur, biarlah malam ini kusampaikan dulu suratku ini, malam besok akan kudatang lagi melihat wajah mereka untuk penghabisan kalinya."

Gedung piaukiok yang megah itu tiada penerangan sama sekali, suasana juga sunyi senyap.

Pada saat itulah tiba-tiba di pojok kiri sana ada berkelebatnya bayangan orang.

Sesosok bayangan hitam melayang ke luar dengan melompati pagar tembok gedung piaukiok.

Dari bangun tubuh bayangan orang itu dapat diketahui adalah seorang perempuan.

Dengan beberapa kali lompatan cepat Lenghou Tiong sudah mengitar lagi ke depan piaukiok, tertampak perempuan itu berlari ke arah tenggara, ginkang yang digunakan jelas adalah dari golongan Hoa-san-pay.

Segera ia mengejar lebih kencang, melihat bayangan belakang orang perempuan itu agaknya bukan lain Gak Leng-sian adanya.

Ia menjadi heran, di tengah malam buta hendak ke manakah siausumoaynya itu?

Dilihatnya Gak Leng-sian berlari dengan menyelisir dinding rumah.

Heran dan ingin tahu pula Lenghou Tiong, segera ia mengintil di belakang sang sumoay.

Kini tenaga dalam Lenghou Tiong entah sudah berapa kali lebih tinggi daripada siausumoay itu, meski Leng-sian tampak berlari secepat terbang, tapi Lenghou Tiong tidak perlu banyak membuang tenaga sudah dapat mempertahankan jaraknya dalam belasan meter di belakang Leng-sian, langkahnya enteng dan gesit, sedikit pun tidak diketahui oleh si nona.

Sesudah berlari-lari sebentar, Leng-sian lantas menoleh untuk melihat di belakangnya ada orang menguntit tidak.

Tapi di kala dia mau berpaling selalu bahunya bergerak lebih dulu, maka sebelumnya Lenghou Tiong sempat sembunyi dulu di lekukan dinding sehingga tidak dilihat si nona.

Jalanan Kota Hokciu simpang-siur cukup banyak dengan rumah penduduk yang tak terhitung banyaknya, Gak Leng-sian terus berlari ke depan, sebentar membelok ke kanan, lain saat menikung ke kiri, seakan-akan jalanan-jalanan itu sudah sangat hafal baginya.

Kira-kira ada dua li jauhnya nona itu berlari-lari, akhirnya ia membelok ke suatu gang yang kecil di samping sebuah jembatan batu.

Lenghou Tiong tidak menguntit dari belakang lagi, ia melompat ke atas rumah dan memburu ke depan.

Dilihatnya setiba di ujung gang itu Leng-sian lantas melompat masuk ke dalam pekarangan sebuah gedung.

Gedung itu berpintu hitam dengan dinding dikapur putih, di atas pagar tembok melingkar tumbuh-tumbuhan sebangsa akar-akaran yang sudah tua sekali.

Dari balik jendela-jendela beberapa sudut rumah itu kelihatan memancarkan sinar lampu.

Dengan hati-hati dan berjengket-jengket Leng-sian tampak menyusur ke bawah jendela di kamar sebelah timur, lalu mengintip ke dalam melalui celah-celah jendela.

Tiba-tiba ia mengeluarkan suara lengking seram seperti bunyi setan.

Tadinya Lenghou Tiong menduga cara si nona mendatangi tempat ini dengan penuh rahasia, tentu rumah ini adalah tempat kediaman musuh.

Tapi sekarang demi mendengar si nona mendadak mengeluarkan suara aneh, ia menjadi melongo heran.

Tapi begitu terdengar suara seorang berbicara di dalam kamar, maka ia pun paham duduknya perkara.

Terdengar orang di bagian dalam sedang berkata.

"Suci, apa kau ingin membikin aku mati kaget? Jika aku mati kaget dan menjadi setan, paling-paling akan serupa dengan kau sekarang."

"Siau-lim-cu busuk, Siau-lim-cu mampus, kau berani memaki aku sebagai setan, awas sebentar kukorek jantung hatimu,"

Omel Leng-sian dengan tertawa.

"Tidak perlu kau korek, akan kukorek sendiri untuk dilihatkan padamu,"

Sahut Peng-ci.

"Bagus, kau berani bicara melantur padaku secara gila-gilaan, sebentar akan kulaporkan kepada ibu,"

Omel Leng-sian lagi.

"Tapi kalau sunio tanya kau bilakah aku bicara demikian dan di mana aku mengatakannya, lalu bagaimana kau akan menjawab?"

Ujar Peng-ci tertawa.

"Akan kukatakan kau bicara demikian pada waktu berlatih pedang di tempat latihan, kau tidak mau latihan sungguh-sungguh, tapi selalu bicara hal-hal yang tidak genah."

"Ya, dan bila sunio marah, tentu aku akan dikerangkeng, selama tiga bulan tidak dapat bertemu dengan kau."

"Cis! Memangnya siapa yang kepingin? Tidak bertemu biarlah tidak bertemu!"

Kata Leng-sian.

"He, Siau-lim-cu busuk, kenapa kau tidak lekas membuka jendela, apa-apaan kau di dalam?"

Di tengah gelak tawa Lim Peng-ci disertai suara berkeriutnya daun jendela dibuka, Peng-ci telah melongok keluar.

Tapi cepat Leng-sian mendekam sembunyi di sebelah sehingga Peng-ci tidak melihatnya.

Terdengar Peng-ci menggumam sendiri.

"He, kenapa tidak ada orang? Kukira Suci yang datang?"

Lalu daun jendela perlahan-lahan dirapatkan kembali.

Namun sebelum daun jendela tertutup, cepat Leng-sian melompat ke dalam.

Lenghou Tiong sampai linglung mendengarkan senda gurau mereka yang mesra itu.

Dari atas rumah melalui jendela yang setengah tertutup itu bayangan Gak Leng-sian dan Lim Peng-ci dapat terlihat dengan jelas, bayangan kepala kedua muda-mudi itu tampak merapat satu sama lain, suara tawa tadi pun perlahan-lahan lenyap.

Dengan rasa pedih mestinya Lenghou Tiong hendak tinggal pergi, tapi mendadak terdengar Leng-sian berkata.

"Sudah jauh malam begini mengapa kau belum tidur?"

Terdengar Peng-ci menjawab dengan tertawa.

"Aku kan sedang menunggu kau."

"Cis, dasar pembohong! Dari mana kau tahu akan kedatanganku ini?"

"Menurut firasatku, menurut perasaanku, jelas suciku yang baik malam ini akan berkunjung kemari."

"Ah, tahulah aku. Melihat keadaan kamarmu yang morat-marit ini, terang kau lagi mencari kiam-boh itu, betul tidak?"

Lenghou Tiong sudah melangkah pergi beberapa tindak, ketika mendadak mendengar lagi kata "kiam-boh", seketika hatinya tergerak lagi dan putar balik. Didengarnya Peng-ci lagi berkata.

"Selama beberapa bulan ini entah sudah berapa kali aku telah memeriksa dan menggeledah seluruh rumah ini, sampai genting rumah juga satu per satu kuteliti, hanya saja ubinnya yang belum kubongkar ... Ah, Suci, toh rumah ini sudah tidak terpakai, apa salahnya jika kita benar-benar membongkar ubinnya untuk diperiksa. Bagaimana pendapatmu?"

"Rumah ini adalah milik keluarga Lim kalian, dibongkar atau tidak adalah urusanmu, buat apa kau tanya padaku?"

Sahut Leng-sian.

"Tidak tanya kau, lalu tanya siapa? Memangnya kelak ... kelak kau bukan anggota keluarga Lim kami ini, heeh?"

Maka terdengarlah omelan Leng-sian dengan tertawa, berbareng terdengar pula suara plak-plok beberapa kali, mungkin tangan si nona sedang menggaploki Lim Peng-ci.

Begitulah kedua muda-mudi itu bersenda-gurau di dalam rumah, sebaliknya perasaan Lenghou Tiong seperti disayat-sayat.

Pikirnya hendak tinggal pergi saja, tapi teringat kepada persoalan Pi-sia-kiam-boh itu, waktu ayah-ibu Peng-ci meninggal dunia hanya dirinya yang menjaga di samping mereka, sialnya karena beberapa kata pesan kedua orang tua itu yang minta disampaikan kepada Peng-ci malahan mendatangkan fitnah.

Lebih-lebih sesudah mendapat ajaran Hong-susiokco, setelah mahir Tokko-kiu-kiam yang hebat, maka setiap orang Hoa-san-pay sendiri juga mengira dirinya telah menggelapkan Pi-sia-kiam-boh, sampai-sampai siausumoay yang biasa paling kenal wataknya itu juga menaruh curiga.

Kalau dipikir secara jujur, soal ini memangnya tak bisa menyalahkan orang lain, sebab pada hari dirinya dihukum menyepi di atas puncak Hoa-san pernah sang ibu-guru menjajal ilmu pedangnya dan sedikit pun tidak mampu menandingi jurus ilmu pedang ibu-gurunya yang tiada bandingannya itu, namun sesudah tinggal beberapa bulan di atas puncak gunung mendadak ilmu pedangnya maju pesat, bahkan ilmu pedang ini berbeda dengan ilmu pedang perguruannya sendiri, padahal di atas puncak gunung itu tidak pernah didatangi orang luar, kalau bukan dirinya mendapat kitab rahasia ilmu pedang dari aliran lain, dari mana ilmu pedang lihai itu diperolehnya.

Dan kitab rahasia ilmu pedang itu kalau bukan Pi-sia-kiam-boh milik keluarga Lim, lalu kitab apa lagi?

Dalam keadaan memang pantas dicurigai, celakanya dirinya telah berjanji kepada Hong-susiokco untuk tidak membocorkan tempat sembunyinya itu, karenanya sukar baginya untuk memberi penjelasan dan membela diri.

Ia merasa sebabnya sang guru begitu tegas memecatnya jelas lebih condong pada alasan karena dirinya telah menggelapkan Pi-sia-kiam-boh daripada alasan pergaulannya dengan orang Mo-kau.

Sekarang demi mendengar Peng-ci dan Leng-sian menyinggung tentang kiam-boh, biarpun hatinya pedih karena suara senda gurau mereka itu sangat menusuk perasaannya, terpaksa ia menahan perasaannya dan ingin mendengarkan terus.

Begitulah terdengar Leng-sian sedang bicara pula.

"Kau sudah mencari selama beberapa bulan dan tetap tidak ketemu, maka jelas kiam-boh itu tidak berada di sini, buat apa kita mesti susah-susah membongkar ubin segala. Hanya satu kata Toa ... Toasuko saja kenapa kau menganggapnya sungguh-sungguh?"

Kembali perasaan Lenghou Tiong merasa pedih, pikirnya.

"Ternyata dia masih mau menyebut aku ‘toasuko’."

Terdengar Peng-ci menjawab.

"Toasuko telah menyampaikan pesan ayahku, katanya barang tinggalan leluhur di rumah kediaman lama di Hiang-yang-kang (Gang Matahari) sini tidak boleh sembarangan diperiksa. Kupikir seumpama kiam-boh itu telah dipinjam oleh Toasuko dan untuk sementara tidak dikembalikan ...."

Lenghou Tiong mendengus di dalam hati.

"Hm, baik hati benar ucapanmu, kalau tidak mengatakan aku menggelapkan barangmu, tapi mengatakan aku pinjam sementara. Hm, buat apa kau bicara sehalus ini?"

Dalam pada itu terdengar Peng-ci lagi menyambung.

"Tapi mengingat kata-kata kediaman lama di Hiang-yang-kang sekali-kali tidak dapat dikarang oleh Toasuko sendiri, maka aku yakin apa yang disampaikan padaku benar-benar adalah pesan ayah-bundaku. Selamanya Toasuko juga tidak kenal keluarga kami, selamanya juga tak pernah datang ke Hokciu sini, sekali-kali dia takkan tahu di kota ini adalah sebuah jalan bernama Hiang-yang-kang, lebih-lebih takkan tahu kediaman lama leluhur kami berada di jalan ini. Malahan orang-orang Hokciu asli juga jarang yang tahu akan hal ini."

"Ya, seumpama betul adalah pesan peninggalan ayah-ibumu, lantas bagaimana?"

Tanya Leng-sian.

"Pesan tinggalan ayahku yang disampaikan Toasuko itu menyebut pula jangan memeriksa atau membaca kitab atau benda apa segala, setelah kupikir sekian lamanya, kuyakin pasti ada sangkut pautnya dengan soal kiam-boh. Siausuci, kupikir jika pesan ayah menyebut jalan dan rumah lama ini, seumpama kiam-boh tidak berada di sini lagi, mungkin di sini akan diperoleh sedikit tanda-tanda tertentu."

"Benar juga uraianmu. Selama beberapa hari ini kulihat semangatmu rada lesu, malam hari juga tidak mau tinggal di piaukiok dan mesti pulang ke sini. Aku menjadi khawatir, maka sengaja datang menjenguk kau. Di waktu siang hari kau berlatih pedang, harus mengawani aku pula, dan kalau malam masih harus membongkar rumah lagi di sini."

Peng-ci tersenyum ewa, lalu menghela napas dan berkata.

"Kupikir kematian ayah-ibuku sangatlah menyedihkan, jika aku dapat menemukan kiam-boh dan dapat membunuh musuh dengan tangan sendiri dengan ilmu pedang warisan leluhur, dengan demikian barulah ayah-ibu akan terhibur di alam baka."

"Entah saat ini Toasuko berada di mana?"

Ujar Leng-sian.

"Jika aku dapat bertemu dia tentu akan memintakan kiam-boh itu bagimu. Ilmu pedangnya sekarang sudah sangat tinggi, sudah seharusnya kiam-boh itu dikembalikan kepada yang empunya. Menurut aku, Siau-lim-cu, sebaiknya akhiri khayalanmu, tidak perlu lagi membongkar seisi rumah ini. Seandainya tidak ada kiam-boh keluargamu, asalkan berhasil meyakinkan Ci-he-sin-kang ayah juga mampu membalas sakit hatimu."

"Sudah tentu,"

Kata Peng-ci.

"Cuma kematian ayah-ibuku sedemikian mengenaskan, sebelum ajal banyak disiksa dan dihina pula, bila aku dapat menuntut balas dengan ilmu pedang keluarga sendiri akan dapat melampiaskan dendam ayah-ibu. Pula, Ci-he-sin-kang perguruan kita selamanya hanya diajarkan kepada seorang murid yang terpilih sebagai ahli waris. Aku sendiri adalah murid buncit, meski suhu dan sunio sangat sayang padaku, tapi para suheng dan suci tentu takkan terima dan menyangka hal-hal yang tidak baik."

"Ah, peduli bagaimana anggapan mereka, asalkan kau berbuat tulus dan sejujurnya sudah cukup,"

Ujar Leng-sian.

"Cara bagaimana kau mengetahui aku akan tulus dan jujur?"

Tanya Peng-ci tertawa. Mendadak terdengar suara gaplokan Leng-sian di atas badan Peng-ci, omelnya.

"Ya, aku tahu kau cuma pura-pura saja, kau adalah manusia berhati serigala."

"Sudahlah, sudah sekian lamanya kita di sini, marilah kita pulang,"

Terdengar Peng-ci berkata dengan tertawa.

"Tapi kalau kuantar kau pulang piaukiok, bila diketahui suhu dan sunio tentu bisa celaka."

"Maksudmu mengusir aku, bukan? Baiklah, kau mengusir aku, segera juga aku akan pergi, tidak perlu kau mengantar,"

Kata Leng-sian.

Nadanya kedengaran tidak senang.

Sejak kecil Lenghou Tiong dibesarkan bersama si nona, ia tahu saat ini Leng-sian tentu menjengkit mulut, anak dara di waktu marah-marah kecil memang mempunyai daya pikat tersendiri.

Ia pikir Lim-sute ini sungguh aneh, kalau siausumoay datang menjenguk aku, biarpun langit ambruk juga aku mengharapkan dia tetap tinggal bersama aku.

Tapi sekarang ia justru ingin perginya siausumoay, seakan-akan siausumoay sedemikian melengket padanya, sebaliknya dia anggap sepi saja.

Sementara itu Peng-ci sedang bicara lagi.

"Menurut kata suhu, ketua Mo-kau yang dulu Yim Ngo-heng telah muncul di Kangouw lagi, kabarnya sudah berada di wilayah Hokkian. Ilmu silat bekas ketua Mo-kau ini sangat tinggi dan sukar dijajaki, tindak tanduknya keji dan ganas pula. Jika tengah malam kau pulang sendiri dan kebetulan kepergok olehnya, lantas ... lantas bagaimana?"

"Hm, andaikan kau mengantar aku pulang, kalau kebetulan kepergok dia, apakah kau lantas mampu membekuk dia atau membunuh dia?"

Sahut Leng-sian.

"Ya, sudah tahu ilmu silatku tidak becus, kau sengaja mengejek aku ya?"

Sahut Peng-ci.

"Sudah tentu aku bukan tandingannya, tapi asal berada bersama kau, biarpun mati juga boleh mati bersama."

Seketika hati Leng-sian menjadi lemas, katanya dengan suara halus.

"Siau-lim-cu, bukan maksudku mengatakan ilmu silatmu tidak becus. Asalkan kau berlatih segiat ini, kelak tentu lebih hebat daripadaku. Padahal selain ilmu pedang yang belum kau kuasai, jika berkelahi sungguh-sungguh mana aku sanggup melayani kau."

Peng-ci tertawa, katanya.

"Ah, dengan sebelah tangan saja kau sudah dapat merobohkan aku."

Rupanya Gak Leng-sian belum mau pergi dan ingin membikin senang Lim Peng-ci, ia berkata pula.

"Siau-lim-cu, marilah kubantu kau mencari lagi. Benda-benda di rumahmu sendiri sudah teramat hafal bagimu sehingga tidak menarik perhatian, mungkin sekali aku dapat menemukan sesuatu benda yang mencolok."

"Baiklah, boleh coba kau mencari sesuatu yang dirasakan aneh,"

Ujar Peng-ci. Menyusul lantas terdengar suara gedubrakan, suara ditariknya laci dan bergesernya meja-kursi. Selang sejenak, terdengar Leng-sian berkata.

"Semuanya biasa saja, tiada apa-apa yang menarik. Apakah rumahmu ini ada tempat-tempat yang luar biasa?"

Peng-ci terdiam sejenak, jawabnya kemudian.

"Tempat yang luar biasa? Tidak ada. Menurut pesan ayahku, di antaranya ada kata-kata jangan memeriksa segala, apa ada tempat luar biasa yang harus diperiksa?"

"Ya, umpamanya kita bisa memeriksanya ke kamar baca,"

Ujar Leng-sian.

"Keluarga kami turun-temurun menjadi jago pengawal, hanya ada ruangan kantor, tidak ada kamar baca. Kantor juga cuma ada di piaukiok sana."

"Jika begitu menjadi sulit untuk mencarinya. Apakah isi rumah ini ada sesuatu yang dapat dibuka dan diperiksa?"

"Dari pesan ayah yang disampaikan Toasuko itu, katanya aku dilarang membongkar dan memeriksa barang-barang tinggalan leluhur. Padahal besar kemungkinan aku justru disuruh membongkar dan memeriksa benda-benda tinggalan leluhurku. Tapi di sini toh tidak ada benda-benda kuno apa? Setelah kupikir-pikir lagi, yang ada cuma sedikit kitab-kitab agama Buddha tinggalan leluhur saja."

Mendadak Leng-sian melonjak girang, serunya.

"Bagus! Kitab Buddha katamu? Sungguh tepat. Tat-mo Cosu adalah cikal bakal ilmu silat, adalah bukan sesuatu yang aneh jika di dalam kitab Buddha tersembunyi kiam-boh segala."

Mendengar kata-kata Leng-sian itu, semangat Lenghou Tiong seketika ikut terbangkit. Katanya di dalam hati.

"Jika Lim-sute dapat menemukan kiam-boh di dalam kitab Buddha yang dikatakan itu, tentu segala urusan akan menjadi beres dan aku takkan dicurigai menggelapkan kiam-bohnya."

Tapi lantas terdengar Peng-ci menjawab.

"Kitab-kitab itu sudah kuperiksa semua, bahkan sudah kuperiksa beberapa kali. Malahan sudah kucocokkan dengan kitab-kitab yang serupa yang kupinjam dari perpustakaan, isi kitab-kitab di sini ternyata tiada sesuatu yang mencurigakan. Jadi kitab-kitab Buddha di sini hanya kitab-kitab biasa."

"Jika demikian apa daya kita?"

Ujar Leng-sian. Setelah termenung sebentar, mendadak ia bertanya.

"Tapi lapisan dalam halaman kitab-kitab itu apa sudah kau periksa juga?"

"Lapisan dalam? Hal ini tak terlintas dalam pikiranku,"

Sahut Peng-ci.

"Marilah sekarang juga kita memeriksanya lagi."

Begitulah masing-masing lantas membawa sebuah tatakan lilin, dengan tangan bergandengan tangan mereka keluar dari kamar itu dan menuju ke ruangan belakang.

Lenghou Tiong mengikuti jurusan mereka dari atas rumah.

Tertampak sinar lampu itu menembus keluar dari balik jendela sebuah kamar, lalu kamar yang lain pula.

Akhirnya sampai di kamar di sudut barat laut sana.

Dengan enteng Lenghou Tiong melompat turun dan mengintip ke dalam melalui celah-celah jendela.

Kiranya kamar itu adalah sebuah ruangan pemujaan Buddha.

Di tengah ruangan itu tergantung sebuah lukisan cat air Tat-mo Cosu (Buddhatama) itu cikal bakal Siau-lim-pay yang terkenal.

Anehnya lukisan Tat-mo Cosu itu dilukis dalam posisi mungkur.

Agaknya melukiskan sewaktu Tat-mo Cosu sedang semadi selama sembilan tahun menurut kisahnya.

Di sebelah kiri ruangan ada sebuah kasuran yang tampaknya sudah sangat tua, di atas meja sembahyang ada bok-hi (kentungan berbentuk ikan laut), genta kecil, dan setumpuk kitab.

Melihat keadaan ruangan itu, Lenghou Tiong menduga leluhur Hok-wi-piaukiok yang pernah menjagoi dunia Kangouw itu tentu dahulunya banyak membinasakan kawanan bandit yang menjadi seterunya, tapi pada akhir hayatnya dia telah bersujud menjadi seorang yang alim.

Tertampak Gak Leng-sian mengambil sebuah kitab dan berkata.

"Kita bongkar kitab ini, coba periksa lapisan dalam tiap-tiap halamannya apa ada terselip sesuatu benda. Jika tidak ada, kitab ini dapat kita

Jilid kembali."

"Baiklah,"

Sahut Peng-ci, ia pun ambil satu

Jilid kitab itu dan memutuskan jahitan benang jilidan, lalu halaman-halaman kitab itu dibentang, begitu pula Leng-sian juga lantas membuka satu

Jilid yang lain serta diangkat di depan lilin untuk menyorotnya kalau-kalau di tengah halaman kitab itu ada tulisan lain.

Lenghou Tiong dapat menyaksikan potongan badan si nona dari belakang, tangan Leng-sian kelihatan putih bersih, pergelangan tangan kiri masih memakai gelang pualam hijau seperti dulu.

Terkadang mukanya miring sedikit dan saling pandang dengan Peng-ci, keduanya lantas tersenyum penuh arti, lalu keduanya memeriksa lagi halaman-halaman kitab itu.

Entah karena sorotan api lilin atau pipi si nona memang bersemu merah, tapi tampaknya wajah si nona memang alangkah moleknya.

Lenghou Tiong sampai kesima di luar jendela.

Satu per satu kitab-kitab di atas meja telah dibongkar oleh Leng-sian dan Peng-ci, ketika kitab-kitab itu hampir habis diperiksa, sekonyong-konyong Lenghou Tiong mendengar di belakangnya ada suara mendesirnya angin yang sangat lirih.

Waktu menoleh, dilihatnya ada dua sosok bayangan melayang ke arahnya dari tembok rumah sebelah kanan, keduanya saling memberi isyarat dengan tangan, lalu melompat ke dalam pekarangan dengan sangat enteng, jelas sekali ginkang mereka sangat tinggi.

Tatkala itu Lenghou Tiong sudah menyelinap ke pojok lain, dilihatnya kedua orang itu mendekati ruangan di mana Peng-ci berdua berada, mereka juga mengintip ke dalam.

Selang tak lama, terdengar Leng-sian berkata di dalam.

"Sudah habis, tiada menemukan sesuatu."

Nadanya kedengaran sangat kecewa. Tapi mendadak ia menyambung lagi.

"Eh, Siau-lim-cu, aku ingat sesuatu, coba kita ambil satu baskom air."

"Untuk apa?"

Terdengar Peng-ci bertanya.

"Sering kali kudengar cerita ayah bahwa orang kuno suka menggunakan semacam obat untuk menulis, sesudah kering huruf yang tertulis akan hilang, tapi kalau kertas tulis dibasahi dengan air, maka hurufnya akan timbul lagi."

Lenghou Tiong juga ingat memang dulu pernah mendengar sang guru bercerita tentang hal ini, tatkala itu Leng-sian baru berumur sepuluhan, sebaliknya dirinya sudah jejaka tanggung.

Terkenang kepada masa silam yang menyenangkan, kembali matanya berkaca-kaca mengembeng air mata.

Terdengar Peng-ci lagi menyahut.

"Benar, kita harus mencobanya."

Begitulah kedua muda-mudi lantas keluar untuk mengambil air.

Dua orang yang mengintip di luar jendela itu tampak menahan napas dan tidak berani bergerak.

Tidak lama kemudian Peng-ci dan Leng-sian masing-masing membawa satu baskom air dan masuk lagi ke ruangan Buddha itu, beberapa halaman kitab yang sudah terbuka itu mereka rendam di dalam air.

Hanya sebentar saja rupanya Peng-ci sudah tidak sabar lagi, segera ia mengambil satu halaman kitab rendaman itu dan disorot di bawah cahaya lilin, namun tidak kelihatan bekas tulisan apa-apa.

Belasan halaman kitab rendaman itu telah mereka periksa dan tetap tidak tampak sesuatu yang aneh.

Maka terdengar Peng-ci menghela napas dan berkata.

"Sudahlah, tidak perlu dicoba lagi, tidak ada tulisan apa-apa yang aneh."

Baru selesai Peng-ci berkata demikian, kedua orang yang mengintip di luar jendela itu sudah lantas memutar ke muka pintu dengan gesit sekali, lalu mendorong pintu dan menerobos ke dalam.

"Siapa?"

Bentak Peng-ci kaget Tapi cepat luar biasa gerakan kedua orang itu, begitu menerobos masuk segera mereka menerjang maju.

Baru saja Peng-ci hendak melawan, tahu-tahu iganya sudah kena tertutuk.

Begitu pula Gak Leng-sian, baru saja pedangnya terlolos setengah, tahu-tahu jari musuh menuju ke arah matanya, terpaksa Leng-sian mengurungkan menarik pedang dan angkat tangannya untuk menangkis.

Berturut-turut lawan itu mencakar tiga kali, semuanya mengarah ke tenggorokan Leng-sian secara keji.

Keruan Leng-sian terperanjat dan mundur dua tindak sehingga punggungnya sudah mepet meja sembahyang dan tidak dapat mundur lagi.

Mendadak sebelah tangan orang itu menggaplok ke batok kepalanya, terpaksa Leng-sian menangkis sekuatnya dengan kedua tangan.

Tak terduga serangan musuh ini hanya pancingan belaka, jari tangan yang lain mendadak menutuk sehingga pinggang Leng-sian tertutuk dengan jitu dan tak bisa berkutik lagi.

Semua itu telah disaksikan oleh Lenghou Tiong, tapi dilihatnya jiwa Peng-ci dan Leng-sian untuk sementara tak terancam, maka ia pikir tidak perlu buru-buru menolong mereka.

Ia ingin tahu apa kehendak dan asal usul kedua orang penyergap itu.

Dilihatnya kedua orang itu celingukan dan melongak-longok di ruangan pemujaan itu, mendadak seorang di antaranya memegang kasuran di lantai terus dirobek menjadi dua, seorang lagi menghantam bok-hi di atas meja sehingga pecah.

Peng-ci dan Leng-sian tak bisa bicara dan juga tak bisa bergerak, tapi melihat tenaga kedua orang itu sedemikian lihai, merusak kasuran dan menghancurkan bok-hi, terang tujuan mereka juga hendak mencari Pi-sia-kiam-boh.

Namun mereka merasa lega juga karena di dalam kasuran serta bok-hi itu tiada tersimpan sesuatu benda.

Usia kedua orang itu sama-sama sudah tua, sedikitnya sudah mendekati 60-an, seorang kepalanya botak, seorang lagi rambutnya ubanan semua.

Gerak-gerik kedua orang sama-sama cepat luar biasa, hanya sebentar saja mereka telah menghancurkan segala benda yang berada di dalam ruangan pemujaan itu, tapi tidak menemukan apa-apa.

Tiba-tiba pandangan kedua orang itu sama-sama terpusat ke arah lukisan Tat-mo Cosu yang tergantung di dinding itu.

Mendadak si botak hendak menjambret lukisan itu, tapi kawannya telah mencegahnya dan berseru.

"Nanti dulu, coba kau lihat jarinya?"

Berbareng pandangan Peng-ci, Leng-sian, dan Lenghou Tiong juga ikut tercurah kepada lukisan itu.

Tertampak Tat-mo Cosu dalam lukisan itu digambarkan dalam keadaan tangan kiri menelikung ke belakang, sebaliknya jari telunjuk tangan kanan teracung ke atas atap rumah.

"Apakah kau maksudkan jarinya yang tidak beres?"

Tanya si botak.

"Aku belum tahu pasti, tapi harus kita coba dulu,"

Sahut si rambut putih.

Mendadak ia meloncat ke atas, kedua tapak tangan memukul sekaligus menuju tempat yang dituding jari Tat-mo Cosu dalam lukisan itu.

Tempat itu adalah atap rumah.

Maka berhamburlah debu pasir.

Kata si botak.

"Mana ada barang ...."

Belum habis ucapannya, sekonyong-konyong segulung benda merah jatuh dari lubang atap rumah yang terpukul tadi.

Kiranya adalah sebuah kasa (jubah) yang biasa dipakai kaum hwesio.

Bab 83.

Orang Ko-san-pay Ternyata Anggota Mo-kau Dengan cepat si rambut putih menangkap kasa itu dan diperiksa di bawah sinar lilin, serunya kemudian dengan kegirangan.

"Ini dia ... ini dia!"

Rupanya saking girangnya sampai suaranya ikut gemetar.

"Apa ... apa itu?"

Tanya si botak.

"Sembilan bagian tentu inilah kiam-bohnya,"

Ujar si rambut putih.

"Haha, hari ini kita berdua benar-benar berjasa besar. Lekas simpan baik-baik kasa itu, Saudaraku."

Si botak juga kegirangan setengah mati, dengan hati-hati ia lipat jubah itu dan disimpan dalam bajunya. Lalu ia tuding Peng-ci dan Leng-sian, katanya.

"Mampuskan mereka tidak?"

Lenghou Tiong sudah siapkan senjatanya, asalkan si rambut putih memperlihatkan niat membunuh Leng-sian berdua, segera ia bermaksud menerjang ke dalam untuk membinasakan kedua kakek itu.

Tak terduga si rambut putih hanya menjawab.

"Kiam-boh sudah kita temukan, tidak perlu kita mengikat permusuhan dengan Hoa-san-pay, biarkan mereka begini saja."

Kedua orang lantas melangkah keluar dan meninggalkan rumah itu.

Dengan enteng Lenghou Tiong juga melompat ke luar pagar tembok dan menguntit di belakang kedua orang itu.

Langkah kedua kakek itu sangat cepat.

Khawatir kehilangan jejak mereka dalam kegelapan malam, segera Lenghou Tiong perkencang langkahnya juga sehingga jaraknya hanya beberapa meter saja.

Setiap kali kedua kakek itu mempercepat langkahnya, maka Lenghou Tiong lantas ikut dengan langkah yang tidak kalah cepatnya.

Tapi mendadak kedua kakek di depan itu berhenti terus membalik tubuh.

Tahu-tahu sinar tajam berkelebat, kontan Lenghou Tiong merasa pangkal lengan kanan menjadi kesakitan, ternyata telah kena ditebas oleh senjata lawan.

Gerakan berhenti mendadak, membalik tubuh mendadak, dan menyerang mendadak benar-benar terjadi secepat kilat.

Lenghou Tiong sendiri hanya kuat dalam hal tenaga dalam dan ilmu pedangnya lihai, tapi pengalaman menghadapi serangan kilat dan perubahan yang aneh itu sesungguhnya masih sangat cetek, masih selisih jauh kalau dibandingkan jago silat kelas wahid.

Maka ia benar-benar tidak berdaya menghadapi serangan kilat lawan, sedikit pun ia tidak sempat menyentuh senjatanya dan tahu-tahu sudah terluka.

Ilmu golok kedua kakek itu sungguh luar biasa, sekali serangan berhasil, segera serangan kedua dilancarkan lagi.

Sungguh kejut Lenghou Tiong tak terkatakan, lekas-lekas ia melompat ke belakang, syukur tenaga dalamnya teramat kuat, lompatan ke belakang itu sudah beberapa meter jauhnya, menyusul sekali lompat lagi kembali beberapa meter jauhnya.

Kedua kakek terkejut juga menyaksikan ketangkasan Lenghou Tiong yang sudah terluka, tapi masih sanggup melompat sedemikian gesit dan cepat.

Tanpa bicara mereka lantas menubruk maju lagi.

Lenghou Tiong putar tubuh terus melarikan diri.

Pundaknya yang terluka itu semula tidak terasa sakit, sekarang sesudah kena angin rasa sakitnya menjadi-jadi, hampir-hampir saja kelengar saking sakitnya.

Pikirnya.

"Kasa yang dirampas kedua orang ini besar kemungkinan bertuliskan Pi-sia-kiam-boh di atasnya. Aku sendiri difitnah karena kiam-boh tersebut, betapa pun harus kurebut kembali untuk diserahkan kepada Lim-sute."

Begitulah ia menahan rasa sakitnya sebisanya dan berusaha mencabut goloknya.

Tapi sudah ditarik-tarik, golok hanya setengahnya saja terlolos dari sarungnya, selanjutnya sukar lagi ditarik.

Kiranya sesudah pangkal lengan kanan terluka, tenaganya sedikit pun sukar dikerahkan.

Tiba-tiba didengarnya angin menyambar dari belakang, golok musuh kembali membacok lagi ke atas kepalanya, cepat ia melompat ke depan sebisanya, berbareng tangan kiri menarik sekuatnya sehingga ikat pinggang terbetot putus, dengan demikian barulah golok dapat dipegang.

Sekuatnya ia menyendal sehingga sarung golok terlempar ke tanah.

Tapi baru saja hendak balik tubuh, mendadak angin tajam menyambar ke mukanya, kedua golok musuh telah menyerang sekaligus.

Lagi-lagi Lenghou Tiong melompat mundur, sementara itu subuh sudah hampir tiba.

Tapi cuaca menjelang subuh biasanya paling gelap.

Selain berkelebatnya sinar golok boleh dikata sukar melihat sesuatu benda lain di depannya.

Padahal Tokko-kiu-kiam yang diyakinkan Lenghou Tiong gunanya untuk mematahkan setiap jurus serangan musuh, di mana ada lubang segera dimasuki.

Kini gerak serangan musuh sama sekali tak kelihatan, dengan sendirinya ilmu pedangnya tak dapat dimainkan.

Tiba-tiba lengan kiri kesakitan lagi, kembali tergores luka oleh golok musuh.

Ia tahu malam ini sukar mengalahkan lawan, kalau tidak lekas lari mungkin jiwanya bisa melayang malah.

Terpaksa ia angkat langkah seribu menuju ke jalan besar sana dengan sebelah tangan memegang golok sembari mendekap luka di pundak agar darah tidak mengucur terlalu banyak dan roboh lemas.

Setelah mengudak sekian lamanya, melihat langkah Lenghou Tiong sedemikian cepatnya, terang sukar menyusulnya, kedua kakek itu pikir kiam-boh yang dicari toh sudah diperoleh, buat apa mencari perkara lain.

Maka mereka lantas berhenti tidak mengejar lagi, mereka putar balik ke arah tadi.

Tapi Lenghou Tiong lantas berteriak-teriak.

"Hei, kawanan bangsat, habis mencuri lantas mau lari ya?"

Habis itu ia lantas mengejar balik malah.

Keruan kedua kakek menjadi gusar, mereka putar balik terus membacok dengan golok.

Lenghou Tiong tidak mau bertempur lagi, ia putar tubuh untuk lari pula sembari berharap-harap ada orang lalu di situ dengan membawa lentera, dengan sedikit cahaya saja ia sudah sanggup melayani ilmu golok lawan-lawannya.

Tiba-tiba hatinya tergerak, cepat ia melompat ke atas rumah, sekilas terlihat di sebelah kiri sana ada sinar lampu, segera ia berlari menuju ke rumah yang berlampu itu.

Tapi kedua kakek itu tidak mau mengejarnya lagi ke atas rumah.

Lenghou Tiong tidak kurang akal, segera ia menghujani kedua lawan dengan genting sambil berteriak.

"He, kalian berdua maling yang telah mencuri Pi-sia-kiam-boh keluarga Lim, yang satu botak, yang lain ubanan, biarpun lari ke ujung langit juga akan dibekuk."

Mendengar nama Pi-sia-kiam-boh disebut dengan tepat, kedua kakek sependapat kalau orang ini tidak dibunuh tentu akan mendatangkan kesukaran di kemudian hari.

Jika orang ini sudah terbunuh, kedua muda-mudi yang masih ketinggalan di ruangan pemujaan itu pun perlu dibinasakan agar tidak membocorkan perbuatan mereka.

Karena pikiran demikian, segera mereka melompat ke atas rumah dan mengejar pula ke arah Lenghou Tiong.

Lenghou Tiong merasa kakinya sudah lemas, tenaganya makin lama makin lemah.

Sekuat sisa tenaganya ia berlari terus ke arah sinar lentera tadi.

Sekonyong-konyong ia terhuyung dan terjungkal dari atas rumah.

Lekas-lekas ia menggunakan gerakan "Le-hi-tah-ting" (Ikan Lele Melejit), sekali jumpalitan dapatlah ia berbangkit, lalu berdiri bersandarkan tembok.

Kedua kakek itu pun melompat turun, lalu mendesak maju dari kanan dan kiri.

"Hehe, telah kuberi jalan hidup padamu, tapi kau justru tidak mau,"

Ejek si botak dengan menyeringai.

Melihat mulut si botak yang menyeringai itu tinggal tiga biji giginya, tampaknya sangat jelek dan seram.

Terkesiap hati Lenghou Tiong, kiranya fajar sudah menyingsing, dapatlah ia melihat benda-benda di hadapannya dengan cukup jelas.

"Sebenarnya kalian berdua berasal dari aliran mana, kenapa kalian ingin membunuh aku?"

Tanya Lenghou Tiong dengan tertawa.

"Tidak perlu banyak omong dengan dia,"

Bisik si rambut putih kepada si botak.

Goloknya diangkat terus menebas ke leher Lenghou Tiong.

Agaknya si botak merasa tidak sepadan untuk main keroyok, maka ia tidak ikut menyerang.

Di luar dugaan, ketika mendadak Lenghou Tiong melolos golok terus ditusukkan ke depan sebagai pedang, hanya tusukan sekenanya saja, tahu-tahu tenggorokan si rambut putih telah tertusuk dengan tepat.

Keruan si botak terkejut, cepat ia putar goloknya menubruk maju.

Kembali golok Lenghou Tiong menebas dan dengan tepat mengenai pergelangan tangan lawan, kontan tangan berikut golok yang masih tergenggam tertebas kutung.

Menyusul ujung golok Lenghou Tiong mengancam di tenggorokan si botak dan membentak.

"Dari mana asal usul kalian berdua ini? Lekas mengaku terus terang dan jiwamu dapat kuampuni!"

"Hehe,"

Si botak mengekek, lalu menjawab dengan putus asa.

"selama kami bersaudara malang melintang di Kangouw jarang sekali ketemu tandingan, tapi hari ini ternyata harus mati di bawah golokmu, sungguh aku sangat kagum. Cuma belum tahu siapakah namamu, sampai mati pun aku ... aku masih penasaran."

Meski sebelah tangan sudah buntung, tapi lagaknya tetap gagah tak mau menyerah, mau tak mau Lenghou Tiong merasa kagum juga terhadap tekad lawan itu. Katanya kemudian.

"Aku terpaksa harus membela diri, sesungguhnya aku tidak pernah kenal kalian berdua, maafkan jika aku mencelakai kalian tanpa sengaja. Asalkan jubah itu kau serahkan padaku, maka bolehlah kita berpisah dengan baik."

Tapi dengan tegas si botak menjawab.

"Biarpun Tut-eng tidak becus juga tidak sudi menyerah kepada musuh."

Mendadak tangan kirinya bergerak, sebilah belati telah menancap di ulu hatinya sendiri.

"Sampai mati pun tidak mau takluk, orang ini benar-benar suatu tokoh pilihan,"

Demikian pikir Lenghou Tiong.

Segera ia bermaksud mengambil jubah di dalam baju orang itu.

Mendadak kepalanya terasa pening, ia tahu darahnya sendiri keluar terlalu banyak.

Lekas-lekas ia merobek kain lengan baju untuk membalut luka di bagian pundak itu, habis itu barulah jubah di baju si botak diambilnya.

"Kletak" , mendadak sepotong kayu jatuh di atas tanah. Waktu ia jemput dan diperiksa, ternyata panjang kayu itu hanya belasan sentimeter saja, sebagian terbakar hangus, di atasnya banyak terukir huruf-huruf dan garis-garis yang aneh. Ia kenal potongan kayu ini adalah leng-pay (lencana kebesaran) ketua Mo-kau yang disebut "Hek-bok-leng-pay" (Lencana Kayu Hitam). Tempo hari waktu di tempat kediaman Ui Ciong-kong, begitu Pau Tay-coh mengeluarkan leng-pay ini, seketika Ui Ciong-kong dan lain-lain tunduk perintah tanpa membangkang sedikit pun. Maka dapat diketahui leng-pay ini mewakili kekuasaan kaucu sepenuhnya. Baru sekarang ia tahu kedua kakek ini kiranya juga orang Mo-kau, jika mereka dibunuh juga setimpal dengan kejahatan yang telah mereka lakukan. Segera ia menyimpan jubah dan leng-pay itu dalam bajunya, ia pikir orang-orang Mo-kau sedang mengacau wilayah Hokkian dan sekitarnya, leng-pay demikian mungkin ada gunanya kelak. Dalam pada itu kepala terasa pening lagi, ia menarik napas panjang-panjang, membedakan arah, lalu melangkah ke rumah Lim Peng-ci di Jalan Hiang-yang-kang itu. Tapi baru belasan meter jauhnya ia sudah merasa payah, pikirnya.

"Jika aku roboh di sini, bukan saja jiwaku akan melayang, bahkan setelah mati masih akan didakwa orang sebagai pencuri Pi-sia-kiam-boh, barang bukti berada padaku, betapa pun aku tak bisa menghindarkan tuduhan demikian."

Ia coba bertahan sekuatnya, akhirnya selangkah demi selangkah ia mendekati Hiang-yang-kang.

Tapi pintu rumah tampak tertutup rapat, Peng-ci dan Leng-sian jelas tak bisa berkutik di dalam karena kena ditutuk kedua kakek tadi, tiada orang lain lagi yang bisa membukakan pintu.

Suruh dia melompat ke dalam dengan melintasi pagar tembok jelas tidak mampu dalam keadaan kehabisan tenaga.

Terpaksa ia menggedor pintu beberapa kali, menyusul sebelah kakinya mendepak sekuatnya.

Tapi bukannya daun pintu terbuka, sebaliknya guncangan keras itu membuatnya roboh sendiri dan tak sadar lagi ....

Ketika siuman kembali, terasa dirinya berbaring di suatu tempat tidur.

Begitu membuka mata lantas melihat Gak Put-kun dan istri berdiri di depan ranjang.

Keruan Lenghou Tiong sangat girang serunya.

"Suhu, Sunio, aku ... aku ...."

Saking terharunya air matanya lantas bercucuran, ia meronta-ronta bangun berduduk. Gak Put-kun tidak menjawabnya, sebaliknya lantas tanya.

"Sebenarnya apa yang terjadi ini?"

"Bagaimana dengan siausumoay? Dia ... dia selamat tak apa-apa bukan?"

Tanya Lenghou Tiong.

"Tidak apa-apa, kenapa kau berada di ... di Hokciu sini?"

Sahut Gak-hujin.

Betapa pun perasaan wanita memang lebih halus dan lemah, dia yang telah membesarkan Lenghou Tiong sejak kecil dan menganggapnya seperti anak kandung sendiri, sekarang berjumpa kembali setelah berpisah sekian lamanya, selain terharu girang juga hatinya.

"Lim-sute punya Pi-sia-kiam-boh telah direbut oleh orang Mo-kau,"

Tutur Lenghou Tiong.

"Aku telah membunuh kedua orang itu dan dapat merebut kembali kiam-bohnya."

Tapi ketika meraba bajunya sendiri dan tidak terdapat lagi jubah yang penuh tulisan kecil-kecil itu, cepat ia bertanya.

"Ke ... ke mana kasa itu?"

"Itu adalah milik Peng-ci, sudah seharusnya diserahkan kembali padanya,"

Kata Gak-hujin.

"Benar,"

Sahut Lenghou Tiong tanpa ragu-ragu. Lalu tanyanya lagi kepada Gak-hujin.

"Sunio, baik-baikkah engkau bersama suhu? Para sute dan sumoay tentunya juga baik-baik."

"Ya, semuanya baik-baik,"

Sahut Gak-hujin dengan mengusap air mata saking terharu.

"Bagaimana aku bisa sampai di sini? Apakah Suhu dan Sunio yang telah menolongku ke sini?"

Tanya Lenghou Tiong.

"Pagi tadi ketika aku pergi ke rumah Peng-ci di Hiang-yang-kang, di luar pintu aku melihat kau menggeletak tak sadarkan diri,"

Kata Gak-hujin.

"O, untung Sunio yang datang, kalau dilihat lebih dulu oleh iblis dari Mo-kau tentu jiwa anak sudah melayang,"

Ujar Lenghou Tiong.

Ia tahu pasti pagi-pagi ibu-gurunya sengaja mencari Leng-sian yang tidak pulang semalaman itu, tempat yang dituju adalah rumah di Hiang-yang-kang.

Hanya saja hal ini tidak enak untuk diceritakan.

Maka ia pun tidak tanya lebih jelas Tiba-tiba Gak Put-kun membuka suara.

"Kau bilang sudah membunuh dua orang Mo-kau, cara bagaimana kau mengetahui mereka adalah anggota Mo-kau?"

"Tecu menemukan sebuah Hek-bok-leng-pay tanda kebesaran Kaucu Mo-kau di dalam baju mereka,"

Tutur Lenghou Tiong.

Diam-diam ia merasa girang karena telah berhasil merebut kembali Pi-sia-kiam-boh, tentu Lim-sute, siausumoay, dan gurunya takkan menaruh curiga lagi padanya.

Malahan dengan membunuh dua iblis dari Mo-kau ini tentu suhu takkan menuduhnya bersekongkol lagi dengan orang-orang Mo-kau.

Tak terduga wajah Gak Put-kun malahan membesi, katanya sambil mendengus.

"Hm, sampai saat ini kau masih berani mengoceh tak keruan, memangnya kau anggap aku ini mudah dibohongi."

Lenghou Tiong terkesiap, serunya cepat.

"Tecu sekali-kali tidak berani membohongi Suhu."

"Siapa mengaku suhumu? Orang she Gak sudah lama tiada hubungan sebagai guru dan murid lagi dengan kau."

Lenghou Tiong menjatuhkan diri ke lantai terus berlutut dan menyembah, katanya.

"Tecu telah banyak berbuat salah dan rela menerima hukuman apa pun dari Suhu. Hanya ... hanya hukuman pemecatan dari perguruan mohon dengan sangat sudilah Suhu menariknya kembali."

Gak Put-kun mengelak ke samping, ia tidak mau menerima penghormatan Lenghou Tiong itu, katanya dengan ketus.

"Alangkah besar perhatiannya putri Yim-kaucu dari Mo-kau itu kepadamu, sudah lama kau berkomplot dengan mereka, untuk apa lagi menginginkan guru semacam aku?"

"Putri Yim-kaucu dari Mo-kau?"

Lenghou Tiong menegas.

"Entah bagaimana maksud ucapan Suhu ini? Walaupun Tecu pernah dengar bahwa Yim ... Yim Ngo-heng itu punya anak perempuan, tapi ... tapi Tecu belum pernah melihatnya."

"Anak Tiong, sampai saat ini kenapa kau masih berdusta lagi?"

Sela Gak-hujin.

"Yim-siocia itu telah mengumpulkan orang-orang Kangouw tak tertentu di atas Ngo-pah-kang di Soatang untuk mengobati penyakitmu, setiap orang bu-lim mengetahui ...."

"Hah, nona di Ngo-pah-kang itu, dia ... dia ... Ing-ing, dia ... dia adalah putrinya Yim-kaucu?"

Seru Lenghou Tiong dengan heran dan tidak habis paham.

"Kau bangun saja,"

Kata Gak-hujin. Perlahan-lahan Lenghou Tiong berdiri, ia menggumam dengan bingung.

"Ing-ing, dia ... dia adalah putrinya Yim-kaucu? Ini ... ini mana bisa jadi?"

"Terhadap Suhu dan Sunio kenapa kau masih berdusta?"

Kata Gak-hujin dengan kurang senang.

"Siapa sudi menjadi suhunya?"

Bentak Gak Put-kun dengan gusar.

"Brak", mendadak telapak tangannya menggebrak meja sehingga ujung meja sempal sebagian.

"Tapi ... tapi Tecu sekali-kali tidak berani berdusta kepada Suhu ...."

"Sekali lagi kau panggil suhu, seketika aku binasakan kau!"

Hardik Gak Put-kun dengan bengis. Terpaksa Lenghou Tiong mengiakan. Dengan pucat ia pegang tepian ranjang, badannya terasa lemas dan sempoyongan. Katanya lemah.

"Mereka ... mereka memang berusaha mengobati penyakitku, tetapi ... tetapi tiada seorang pun yang mengatakan padaku bahwa ... bahwa dia adalah putri Yim-kaucu."

"Biasanya kau sangat pintar dan cerdik, kenapa tidak menduga akan hal demikian? Seorang nona muda belia seperti dia, hanya satu ucapan saja sudah dapat mengerahkan orang-orang Kangouw sebanyak itu, semuanya berebut menyembuhkan penyakitmu. Coba, selain Yim-siocia dari Mo-kau, siapakah yang memiliki kekuasaan sebesar itu?"

Kata Gak-hujin.

"Tatkala itu Te ... aku mengira dia seorang nenek-nenek reyot,"

Ujar Lenghou Tiong.

"Apakah dia telah menyamar dan ganti rupa?"

Tanya Gak-hujin.

"Tidak, cuma ... cuma selama itu aku tidak ... tidak pernah melihat mukanya,"

Sahut Lenghou Tiong.

"Hah!"

Mendadak Gak Put-kun mengakak, tapi tiada sedikit pun rasa tertawa pada air mukanya. Pikiran Lenghou Tiong menjadi kusut tak keruan, pikirnya.

"Apakah benar Ing-ing adalah putrinya Yim Ngo-heng? Bukankah waktu itu Yim Ngo-heng berada dalam penjara Ui Ciong-kong, cara bagaimana putrinya masih memegang kekuasaan sebesar itu?"

Gak-hujin menghela napas, kemudian berkata.

"Anak Tiong, umurmu sudah semakin menanjak, watakmu juga sudah berubah. Apa yang sering kukatakan sudah tidak kau perhatikan lagi."

"Su ... Su ... apa yang pernah engkau katakan sungguh tidak ...."

Mestinya ia hendak menyatakan "tidak berani membangkang terhadap apa yang pernah dikatakan sang sunio" , tapi kenyataannya adalah larangan sang suhu dan sunio agar jangan bergaul dengan orang Mo-kau tidak pernah ditaatinya.

Maka Gak-hujin berkata lagi.

"Seumpama Yim-siocia itu sangat baik padamu, demi menyelamatkan jiwamu terpaksa kau membiarkan dia mengumpulkan orang mengobati kau, hal ini mungkin dapat dimengerti ...."

"Dapat dimengerti apa?"

Sela Put-kun dengan gusar.

"Untuk mencari hidup apakah lantas boleh berbuat sesukanya?"

Biasanya Gak Put-kun sangat ramah terhadap sang sumoay merangkap istri ini, tapi sekarang ia bicara dengan kasar dan bengis, terang gusarnya sudah memuncak.

Gak-hujin dapat memahami perasaan sang suami, maka ia pun tidak marah dan tetap menyambung bicaranya.

"Tapi mengapa kau berkomplot lagi dengan gembong Mo-kau Hiang Bun-thian dan telah banyak membunuh orang-orang cing-pay? Kedua tanganmu telah berlumuran darah kesatria-kesatria cing-pay, maka le ... lekas kau pergi saja!"

Lenghou Tiong merinding sendiri teringat kepada kejadian di gardu sunyi, di mana dia bersama Hiang Bun-thian telah bertempur melawan kerubutan beratus-ratus orang.

Walaupun tangan sendiri tidak pernah membunuh, tapi memang tidak sedikit orang cing-pay yang menjadi korbannya ketika tiba di jurang yang berbahaya itu.

Sekalipun waktu itu dalam keadaan kepepet, hanya ada pilihan antara membunuh atau terbunuh, tapi peristiwa berdarah itu betapa pun dirinya ikut bertanggung jawab.

Gak-hujin menyambung lagi.

"Di atas Ngo-pah-kang juga tidak sedikit orang cing-pay yang telah kau salahi. Anak Tiong, dahulu aku sayang padamu seperti anak kandungku sendiri, tapi urusan sudah begini, i ... ibu-gurumu tidak bisa berbuat apa-apa lagi, tidak sanggup membela kau lagi."

Bicara sampai di sini air matanya lantas berlinang-linang.

"Anak telah berbuat salah, seorang laki-laki berani berbuat berani bertanggung jawab, Anak pasti tidak membiarkan nama baik Hoa-san-pay ikut ternoda,"

Kata Lenghou Tiong.

"Maka silakan kedua orang tua mengadakan sidang dan mengundang berbagai kesatria dari aliran-aliran lain untuk menjatuhkan hukuman atas diri Anak, dengan demikian hukum Hoa-san-pay dapatlah ditegakkan."

Gak Put-kun menghela napas panjang, katanya.

"Lenghou-tayhiap, jika hari ini kau masih murid Hoa-san-pay, tentu saranmu dapat dilaksanakan dan biarpun jiwamu tamat juga nama baik Hoa-san-pay takkan tercemar, pula hubungan guru dan murid antara kita masih terpupuk. Namun kini sudah telanjur kusiarkan pemecatanku padamu, setiap tindak tandukmu sudah lama tiada sangkut pautnya dengan Hoa-san-pay, maka berdasarkan apa aku berhak menghukum kau? Ya, kecuali ... hehe, memang antara cing-pay dan sia-pay tidak pernah ada persesuaian, maka lain kali kalau kau berbuat kejahatan dan kepergok olehku, tentunya aku pun tidak segan-segan untuk membinasakan kau."

Bicara sampai di sini, tiba-tiba di luar ada orang berseru.

"Suhu, Sunio!"

Itulah suaranya Lo Tek-nau, murid Hoa-san-pay yang kedua.

"Ada apa?"

Sahut Gak Put-kun.

"Di luar ada orang mencari Suhu dan Sunio, katanya Ciong Tin dari Ko-san-pay, ada pula dua orang sutenya,"

Lapor Tek-nau.

"Kiu-kiok-kiam Ciong Tin juga datang ke Hokkian sini?"

Kata Put-kun rada heran.

"Baiklah, segera aku keluar."

Lalu ia meninggalkan kamar.

Gak-hujin memandang sekejap kepada Lenghou Tiong dengan penuh rasa kasihan seakan-akan suruh dia menunggu sementara, nanti masih akan bicara lagi.

Habis itu ia pun keluar.

Terhadap ibu gurunya yang membesarkannya sejak kecil, selama ini Lenghou Tiong menganggapnya seperti ibu kandung sendiri.

Melihat betapa kasih sayang ibu gurunya itu, timbul rasa menyesalnya atas perbuatannya sendiri selama ini.

Sudah jelas Hiang-toako bukanlah orang baik-baik dari kalangan sia-pay, tapi tanpa pikir aku lantas membantu dia?

Kematianku tidak menjadi soal, tapi nama baik suhu dan sunio lantas ikut ternoda.

Lalu terpikir pula olehnya.

"Kiranya Ing-ing adalah putrinya Yim Ngo-heng, pantas Lo Thau-cu, Coh Jian-jiu, dan lain-lain sedemikian hormat padanya. Hanya satu ucapannya saja sudah cukup untuk menjatuhkan hukuman berat kepada jago-jago Kangouw yang tidak sedikit jumlahnya. Ai, seharusnya dapat kupikirkan bahwa selain gembong utama Mo-kau, siapa lagi di dunia persilatan yang mempunyai kekuasaan sebesar ini? Tapi sewaktu aku berada bersama Ing-ing, selain perangainya memang rada aneh, sifat-sifat kewanitaannya toh tiada ubahnya dengan anak gadis umumnya."

Tengah terbenam oleh macam-macam pikiran itu, tiba-tiba terdengar suara tindakan orang yang cepat, seorang telah menyelinap ke dalam kamar.

Siapa lagi kalau bukan siausumoay yang dirindukannya siang dan malam selama ini.

Terus saja Lenghou Tiong berseru.

"Siausumoay, kau ...."

Ternyata ucapan selanjutnya tak sanggup dicetuskan lagi.

"Toasuko,"

Kata Leng-sian.

"lekas ... lekas kau meninggalkan tempat ini, orang Ko-san-pay telah datang mencari setori padamu."

Dari suara si nona dapatlah diketahui rasa khawatirnya.

Bagi Lenghou Tiong sendiri, sekali melihat siausumoaynya, maka biarpun langit akan ambruk juga tak dipusingkan olehnya, apalagi soal Ko-san-pay segala, hakikatnya tak terpikir olehnya.

Ia memandang Leng-sian dengan termangu-mangu, segala macam perasaan, manis, kecut, getir, semuanya timbul.

Muka Leng-sian menjadi merah melihat Lenghou Tiong memandangnya dengan mata tak berkedip, katanya pula.

"Ada seorang she Ciong dengan dua orang sutenya, katanya kau telah membunuh orang Ko-san-pay mereka, dengan mengikuti darah yang tercecer sepanjang jalan mereka telah menyusul jejakmu ke sini."

Lenghou Tiong melengak.

"Aku telah membunuh orang Ko-san-pay? Mana bisa jadi?"

"Blang" , sekonyong-konyong pintu kamar didobrak, Gak Put-kun telah melangkah masuk dengan air muka penuh rasa gusar. Katanya dengan bengis.

"Lenghou Tiong, bagus benar perbuatanmu! Tokoh bu-lim angkatan tua dari Ko-san-pay yang telah kau bunuh, tapi kau membohongi aku sebagai kawanan iblis Mo-kau."

"Aku ... aku membunuh orang Ko-san-pay? Bagaimana ... bagaimana hal ini bisa terjadi?"

Sahut Lenghou Tiong dengan bingung. Dilihatnya Gak-hujin sudah ikut masuk di belakang Gak Put-kun, ia lantas tanya.

"Su ... Su ... aku tidak pernah membunuh anak murid Ko-san-pay."

Dengan gusar Gak Put-kun berkata.

"Pek-thau-sian-ong Bok Sim dan Tut-eng Soa Thian-kang, kedua orang ini kau yang membunuh atau bukan?"

"Pek-thau-sian-ong" , Si Dewa Berambut Putih dan "Tut-eng" , Si Elang Gundul, dua julukan ini mengingatkan Lenghou Tiong kepada apa yang diucapkan oleh si kakek botak ketika akan membunuh diri semalam, bahwa biarpun Tut-eng tidak becus juga tidak sudi menyerah kepada musuh. Jadi kakek botak itulah Tut-eng yang dimaksudkan sang guru, dengan sendirinya seorang lagi yang ubanan tentulah "Pek-thau-sian-ong"

Adanya.

"Ya, seorang kakek berambut putih dan seorang kakek kepala botak memang betul aku yang membunuh,"

Kata Lenghou Tiong kemudian.

"Tapi ... tapi aku tidak tahu mereka adalah orang Ko-san-pay, mereka menggunakan golok, jelas bukan ilmu sifat Ko-san-pay."

"Jadi kedua orang itu benar-benar kau yang membunuh?"

Gak Put-kun menegas dengan lebih bengis.

"Benar,"

Diawali Lenghou Tiong. Tiba-tiba Leng-sian menimbrung.

"Ayah, kedua kakek ubanan dan botak itu ...."

"Keluar kau! Siapa suruh kau masuk ke sini? Aku sedang bicara perlu apa kau ikut menyela?"

Bentak Gak Put-kun.

Dengan tunduk kepala Leng-sian lantas keluar kamar.

Hati Lenghou Tiong menjadi pilu dan senang pula, meski sumoay sangat baik kepada Lim-sute toh masih tetap punya perasaan baik padaku.

Ia berani menghadapi omelan sang ayah untuk datang memberi peringatan padaku agar lekas-lekas menyingkiri bahaya.

Dalam pada itu Gak Put-kun telah berkata pula.

"Ilmu silat dari Ko-san-pay apa dapat kau kenal semuanya? Bok Sim dan Soa Thian-kang berasal dari cabang luar Ko-san-pay, entah dengan cara rendah apa kau telah membunuh mereka, tapi bekas darahnya kau cecerkan sehingga sampai di Hok-wi-piaukiok ini. Sekarang Ciong-suheng dari Ko-san-pay berada di luar dan minta kepada tanggung jawabku, apa yang dapat kau katakan lagi?"

"Suko,"

Sela Gak-hujin.

"mereka toh tidak menyaksikan sendiri Anak Tiong yang membunuh kawan-kawannya, hanya bekas-bekas darah itu saja masakah dapat dipakai sebagai bukti? Kita tolak saja tuduhan mereka dan habis perkara."

"Sumoay, sampai sekarang kau masih mau membela bergajul yang jahat ini. Sebagai ketua Hoa-san-pay masakah aku harus berdusta bagi binatang kecil seperti dia? Jika begini tindakan kita, maka akibatnya pasti akan hancur Hoa-san-pay kita."

Selama ini Lenghou Tiong sangat mengagumi kebahagiaan guru dan ibu-gurunya yang berasal dari kakak beradik seperguruan.

Ia pikir kalau dirinya dengan siausumoay juga bisa menjadi suami-istri, maka puaslah hidupnya ini.

Sekarang melihat sang guru bicara secara bengis kepada ibu-guru, tiba-tiba timbul pikirannya, jika siausumoay menjadi istriku, maka segala apa yang hendak diperbuatnya tentu akan kuturuti keinginannya.

Biarpun aku disuruh melakukan apa pun juga takkan kutolak.

Kedua mata Gak Put-kun menatap tajam ke muka Lenghou Tiong, ketika tiba-tiba wajah pemuda itu menampilkan senyuman mesra sambil memandang ke arah anak perempuannya yang masih berdiri di ambang pintu sana, sungguh gusarnya tak terkatakan, bentaknya.

"Binatang, pada saat demikian masih berani timbul pikiranmu yang jahat?"

Bentakan Gak Put-kun membuat Lenghou Tiong sadar dari lamunannya.

Waktu ia berpaling, dilihatnya sang guru sangat murka, sebelah tangannya sudah terangkat dan akan menghantam ke batok kepalanya.

Seketika itu tiba-tiba timbal rasa girangnya, ia merasa teramat getir menjadi manusia di dunia ini, kalau bisa mati di bawah tangan sang guru akan berarti terbebas dari derita sengsara, lebih-lebih siausumoay ikut menyaksikan kematiannya, justru inilah yang sangat diharapkannya.

Karena itu ia malah tersenyum lagi, sorot matanya kembali beralih kepada Gak Leng-sian, ditunggunya pukulan sang guru itu dijatuhkan atas kepalanya.

Terasa angin pukulan menyambar tiba, mendadak Gak-hujin menjerit.

"Jangan!"

Ia terus memburu maju, jarinya lantas menutuk "giok-cim-hiat"

Di belakang kepala sang suami.

Sebagai kakak beradik seperguruan yang berlatih sejak kecil bersama-sama, ia cukup kenal di mana letak ciri sang suheng.

Hiat-to yang ditutuknya itu memaksa Gak Put-kun harus menyelamatkan diri dulu.

Maka ketika Gak Put-kun membalik tangannya untuk menangkis, dengan cepat Gak-hujin lantas menyelip dan mengadang pedang di depan Lenghou Tiong.

Dengan muka merah padam Gak Put-kun membentak.

"Kau ... kau mau apa?"

Tapi Gak-hujin lantas berseru kepada Lenghou Tiong.

"Tiong-ji, lekas ... lekas lari!"

"Tidak, aku takkan lari,"

Sahut Lenghou Tiong menggeleng.

"Suhu mau membunuh aku, biarkan saja aku dibunuh. Memang dosaku setimpal dihukum mati."

"Ada aku di sini, dia takkan membunuh kau,"

Seru Gak-hujin pula.

"Lekas, lekas pergi! Pergilah sejauh-jauhnya dan selamanya jangan pulang lagi."

"Hm, dia boleh pergi dengan enak-enak, tapi tiga orang Ko-san-pay di depan itu cara bagaimana harus kita layani?"

Kata Put-kun. Kiranya suhu merasa khawatir menghadapi Ciong Tin bertiga, biarlah aku membereskan mereka dulu, demikian pikir Lenghou Tiong. Segera ia berseru lantang.

"Baik, aku akan menemui mereka!"

Habis berkata segera ia menuju ke ruang depan dengan langkah lebar.

"Jangan, mereka akan membunuh kau!"

Seru Gak-hujin khawatir.

Namun langkah Lenghou Tiong teramat cepat, sekejap saja ia sudah memasuki ruangan tamu.

Benar juga tampak tiga tokoh Ko-san-pay, yaitu Kiu-kiok-kiam Ciong Tin, Sin-pian Ting Pat-kong, dan Kim-mo-say Ko Kik-sin sedang duduk di sebelah kiri.

Di lain keadaan sudah ganti samaran, yaitu memakai baju pelayan hotel, pula noda darahnya sudah dibersihkan oleh Gak-hujin sehingga polesan mukanya yang kuning-kuning bengkak itu sudah lenyap pula, jadi wajahnya sekarang sudah berubah sama sekali daripada waktu bertemu malam-malam di hotel Ji-pek-poh tempo hari, sebab itulah Ciong Tin bertiga tidak mengenalnya lagi.

Dengan lagak tuan besar Lenghou Tiong terus duduk di kursi besar bagian tengah, lalu berkata dengan nada dingin.

"Untuk urusan apa kalian bertiga datang ke sini?"

Melihat seorang pemuda bermuka pucat dan berpakaian kotor sedemikian kasar terhadap mereka, keruan Ciong Tin bertiga menjadi gusar.

Kim-mo-say Ko Kik-sin, Singa Berbulu Emas, wataknya paling berangasan, segera ia membentak.

"Kurang ajar, kau ini kutu macam apa?"

"Dan kalian bertiga ini macam kutu apa?"

Balas Lenghou Tiong dengan tertawa. Ko Kik-sin melengak karena pertanyaannya dikembalikan dengan terbalik. Dengan gusar ia lantas berteriak.

"Suruh Gak-siansing keluar! Keroco macam kau masakah sesuai untuk bicara dengan kami."

Saat itu Gak Put-kun, Gak-hujin, Leng-sian, dan anak murid Hoa-san-pay yang lain sudah berada di belakang pintu angin dan ikut mendengarkan pembicaraan itu.

Leng-sian merasa geli ketika mendengar Lenghou Tiong menjawab dengan nada yang kocak.

Ia tahu ketiga jago Ko-san-pay itu sangat lihai.

Toasuhengnya sudah membunuh kawan mereka, sekarang bersikap sedemikian kasar, sebentar lagi tentu akan terjadi pertarungan dan besar kemungkinan ayah-ibunya terpaksa tidak dapat ikut campur.

Ia menjadi khawatir sehingga tidak sanggup tertawa walaupun geli.

Bab 84.

Membela Kehormatan Perguruan Dalam pada itu Lenghou Tiong telah menjawab lagi.

"Siapakah Gak-siansing yang kau maksudkan? O, barangkali kau maksudkan ketua Hoa-san-pay bukan? Kebetulan kedatanganku ini hendak mencari perkara padanya. Dua murid keparat dari Ko-san-pay yang bernama Iblis Kepala Putih Bok Sim dan yang satu lagi bernama Kokokbeluk Gundul Soa Thian-kang sudah kubunuh, kabarnya ada tiga orang Ko-san-pay sekarang juga sembunyi di sini, maka aku minta Gak-siansing lekas menyerahkan mereka padaku dan dia justru menolak. Sungguh aku menjadi keki sekali!"

Lalu ia sengaja berteriak-teriak.

"Hai, Gak-siansing, tiga orang Ko-san-pay yang bernama Pedang Rongsokan Ciong Tin, Si Ruyung Setan Ting Pat-kong, dan satu lagi Si Kucing Buduk Ko Kik-sin, lekas kau seret mereka keluar, aku mau bikin perhitungan dengan mereka."

Gak Put-kun saling pandang dengan istrinya.

Mereka tahu teriakan Lenghou Tiong itu dimaksudkan agar Ciong Tin bertiga mendengar sendiri bahwa Hoa-san-pay sama sekali tiada sangkut pautnya dengan terbunuhnya kawan-kawan Ko-san-pay mereka.

Cuma Ciong Tin bertiga adalah tokoh Ko-san-pay yang terkenal, dalam keadaan terluka parah, mungkin berdiri lebih lama lagi Lenghou Tiong akan roboh sendiri, mengapa dia begitu berani mati mengolok-olok dan menantang?

Tapi kalau menurut teriakannya tadi, terang dia sudah kenal asal usul Ciong Tin bertiga.

Gak Put-kun masih ingat pada pertempuran tengah malam di kelenteng bobrok itu, di mana sekaligus Lenghou Tiong telah membutakan mata lima belas lawan, ilmu pedangnya memang luar biasa.

Tapi kemahiran Ciong Tin bertiga terang lebih hebat daripada ke-15 orang itu, apalagi Lenghou Tiong sekarang terluka, cara bagaimana ia sanggup bertempur melawan mereka bertiga?

Dengan gusar saat itu Ko Kik-sin telah melompat bangun, pedang dilolos terus hendak menusuk ke arah Lenghou Tiong.

Tapi Ciong Tin lebih licik dan dapat berpikir panjang, cepat ia mencegah temannya itu, lalu tanya kepada Lenghou Tiong.

"Siapakah Saudara?"

"Haha, aku kenal kau, sebaliknya kau tidak kenal aku,"

Sahut Lenghou Tiong tertawa.

"Kalian Ko-san-pay bermaksud melebur Ngo-gak-kiam-pay menjadi satu, Ko-san-pay kalian berniat makan empat aliran yang lain. Kedatangan kalian bertiga ke Hokkian ini pertama bertujuan merebut Pi-sia-kiam-boh milik keluarga Lim, di samping itu kalian hendak menyergap pula tokoh-tokoh penting Hoa-san-pay, Hing-san-pay, dan lain-lain, macam-macam tipu muslihat kalian itu telah kuketahui semua. Hehe, sungguh menggelikan, sungguh menggelikan!"

Kembali Gak Put-kun saling pandang dengan istrinya, mereka pikir ucapan Lenghou Tiong itu bukannya tidak beralasan.

"Dari aliran manakah Saudara?"

Tanya Ciong Tin pula.

"Kau tanya diriku? Haha, aku sih orang gelandangan biasa, orang yang suka kelayapan secara bebas, sekali-kali aku takkan berebut rezeki dengan Ko-san-pay kalian. Tentu kalian boleh merasa lega bukan sekarang? Hahahaha,"

Gelak tertawa Lenghou Tiong itu penuh perasaan pilu.

"Jika Saudara bukan orang Hoa-san-pay, maka kita tidak boleh mengganggu Gak-siansing, silakan bicara keluar saja,"

Kata Ciong Tin dengan nada sewajarnya.

Tapi sorot matanya memantulkan nafsu membunuh, terang karena Lenghou Tiong mengungkap rahasia muslihatnya, maka tekadnya Lenghou Tiong harus dibunuh.

Kiranya Ciong Tin juga rada segan terhadap Gak Put-kun, maka dia ingin memancing Lenghou Tiong keluar untuk kemudian baru dilabraknya.

Tentu saja hal ini kebetulan bagi Lenghou Tiong, segera ia berseru.

"Gak-siansing, selanjutnya kau harus waspada. Kaucu Mo-kau yang dulu Yim Ngo-heng telah muncul kembali, orang ini memiliki Gip-sing-tay-hoat yang khusus digunakan mengisap tenaga dalam lawan, dia sudah menyatakan akan mencari setori kepada Hoa-san-pay. Selain itu Ko-san-pay ada niat mencaplok Hoa-san-pay-mu. Engkau adalah seorang kesatria berbudi, maka harus hati-hati terhadap pihak lain yang berhati jahat."

Memang kedatangannya ke Hokkian ini bermaksud menyampaikan peringatan demikian kepada sang guru.

Maka habis bicara begitu ia lantas melangkah keluar.

Segera Ciong Tin bertiga menyusul keluar.

Setiba di luar Hok-wi-piaukiok, tiba-tiba Lenghou Tiong melihat serombongan nikoh dan wanita biasa bergerombol di luar situ, itulah anak murid Hing-san-pay.

The Oh dan Gi-ho berdua tampak jalan di depan dengan membawa kotak penghormatan, agaknya mereka datang ke Hok-wi-piaukiok untuk menjumpai Gak Put-kun.

Lenghou Tiong terkesiap dan lekas-lekas melengos ke arah lain agar tidak dilihat anak murid Hing-san-pay itu.

Walaupun begitu toh sudah kepergok oleh The Oh dan lain-lainnya, untung Gi-lim ikut di bagian belakang sehingga tidak melihatnya.

Ketika Ciong Tin bertiga keluar, The Oh lantas mengenali mereka, nona itu terperanjat dan lantas berhenti.

Lenghou Tiong pikir anak murid itu tentu akan dilindungi oleh sang guru dan ibu-gurunya, daripada nanti kepergok Gi-lim, segera ia menyingkir ke samping dan bermaksud mengeluyur pergi.

Tapi Ciong Tin bertiga sudah lantas melolos senjata dan mencegah jalan perginya sambil membentak.

"Apa kau ingin lari?"

Dalam pada itu Gak Put-kun, Gak-hujin, dan anak murid Hoa-san-pay juga sudah ikut keluar hendak mengetahui cara bagaimana Lenghou Tiong melayani tiga lawannya.

"Aku tidak punya senjata, cara bagaimana kita harus berkelahi?"

Ujar Lenghou Tiong dengan tertawa.

"Sret", Leng-sian lantas lolos pedangnya dan berseru.

"Toa ...."

Segera ia bermaksud melemparkan pedangnya kepada Lenghou Tiong. Tapi Gak Put-kun sempat mencegah, dua jarinya menahan di atas batang pedang anak perempuannya itu sambil menggeleng.

"Ayah!"

Seru Leng-sian cemas. Tapi kembali Gak Put-kun menggeleng kepala. Semuanya itu dapat dilihat oleh Lenghou Tiong, sungguh hatinya sangat terhibur. Pikirnya.

"Betapa pun ternyata siausumoay masih mempunyai perasaan baik padaku."

Pada saat itulah sekonyong-konyong beberapa orang bersama menjerit khawatir.

Lenghou Tiong tahu tentu ada orang menyerangnya dari belakang, tanpa menoleh, segera ia melompat ke depan malah.

Karena tenaga dalamnya sangat kuat, lompatannya menjadi tinggi lagi jauh, namun begitu terasa juga angin tajam menyambar di belakang kepalanya, pedang lawan telah menebas rupanya.

Coba kalau lompatannya ke depan itu lambat sedetik saja atau lompatannya kurang kuat, kurang jauh, maka badannya tentu sudah terbelah menjadi dua.

Pada saat yang sama itulah, sekonyong-konyong terdengar suara bentakan nyaring beramai-ramai disertai berkelebatnya sinar pedang, anak murid Hing-san-pay telah bertindak serentak.

Tujuh orang menjadi satu regu, masing-masing terbagi dalam tiga regu, tujuh batang pedang berbareng telah menuding kepada satu sasaran sehingga Ciong Tin bertiga masing-masing dikepung oleh satu regu.

Gerakan melolos senjata dan mengepung musuh dari anak murid Hing-san-pay itu benar-benar sangat lincah dan cepat, ditambah gaya mereka sangat indah, terang barisan pedang mereka ini telah terlatih dengan sangat baik.

Setiap ujung pedang mereka pun mengancam salah satu tempat yang mematikan di tubuh sasarannya.

Dan begitu musuh dalam keadaan terkepung dan terancam, lalu barisan pedang murid-murid Hing-san-pay itu tidak bergerak lebih lanjut.

Yang melakukan serangan gelap kepada Lenghou Tiong tadi adalah Ciong Tin.

Dia punya ilmu pedang sangat keji, gerak serangannya juga aneh-aneh sukar diduga, sebab itulah mendapat julukan "Kiu-kiok-kiam"

Atau Pedang Tekuk Sembilan, bukan karena pedangnya yang bertekuk sembilan, tapi mengiaskan gerak serangannya yang beraneka ragam perubahannya.

Dalam Ko-san-pay boleh dikata Ciong Tin terhitung jago kelas terkemuka, pula punya otak yang encer, cerdik, dan cekatan, maka sangat mendapat kepercayaan ketua Ko-san-pay, yaitu Co Leng-tan.

Tadi karena boroknya tentang muslihat akan mencaplok empat aliran yang lain telah dibongkar oleh Lenghou Tiong, maka timbul niatnya untuk membinasakan pemuda itu dan mendadak ia menyerangnya secara keji.

Tak terduga Lenghou Tiong berhasil menghindarkan serangannya dengan baik, bahkan anak murid Hing-san-pay terus balas mengancamnya dengan barisan pedang sehingga dia tak bisa berkutik, sedikit saja ia bergerak, maka salah satu pedang tentu akan menembus tubuhnya.

Gak Put-kun dan lain-lain sudah tentu tidak mengetahui peristiwa di Ji-pek-poh antara Hing-san-pay dengan Ciong Tin dan kawan-kawannya.

Mereka menjadi heran ketika mendadak melihat kedua pihak yang merupakan kawan sendiri itu saling labrak, lebih-lebih barisan pedang Hing-san-pay yang amat indah itu sungguh membuatnya sangat kagum.

"Bagus, barisan pedang yang indah!"

Lenghou Tiong juga berteriak.

Tokko-kiu-kiam yang dia yakinkan itu intinya justru mengincar titik kelemahan ilmu silat musuh, sebaliknya gerak ilmu pedangnya sendiri tidak ada ketentuan, maka ia menjadi kagum melihat barisan pedang Hing-san-pay yang mempunyai intisari serupa itu.

Cuma saja barisan pedang ini harus digunakan bertujuh orang sekaligus untuk mengatasi musuh, kalau ketemu lawan kelas wahid, sekali barisan menjadi kacau tentu akan mengalami kekalahan.

Melihat keadaan pihaknya sudah tak bisa berkutik dan terang sudah kalah, mendadak Ciong Tin bergelak tertawa, katanya.

"Kita adalah kawan sendiri, buat apa main-main begini? Biarlah aku mengaku kalah saja."

Habis itu ia terus membuang pedangnya ke tanah.

Gi-ho adalah kepala daripada tujuh orang yang mengepung Ciong Tin.

Melihat lawan sudah melempar senjata dan mengaku kalah, segera ia pun menarik kembali pedangnya.

Tak tersangka ujung kaki kiri Ciong Tin mendadak digunakan menjungkit pedangnya yang jatuh itu, begitu pedang mencelat ke atas, secepat kilat disambarnya terus menusuk pula ke depan.

Gi-ho menjerit kaget, lengan kanan tertusuk, pedangnya terlepas dari cekalan.

Di tengah gelak tertawa Ciong Tin pedangnya bekerja dengan gencar.

Para murid Hing-san-pay yang lain berturut-turut terluka juga.

Karena kekacauan ini, serentak Ting Pat-kong dan Ko Kik-sin juga bertindak sehingga pertarungan sengit tampaknya akan terjadi pula.

Segera Lenghou Tiong menjemput pedang Gi-ho yang jatuh itu, sekali pedang menyambar, terdengarlah suara "trang"

Dan jerit kaget beberapa kali.

Tahu-tahu pergelangan tangan Ko Kik-sin terluka, senjatanya jatuh ke tanah.

Ruyung Ting Pat-kong yang lemas itu pun berputar balik dan melibat lehernya sendiri, tangan Ciong Tin juga terketok oleh pedang Lenghou Tiong sehingga tergetar mundur beberapa tindak, hanya pedang tidak sampai terlepas dari pegangan.

Namun begitu seluruh lengannya terasa lemas tak bertenaga lagi.

Pada saat itulah dua nona telah berteriak berbareng, yang satu berseru.

"Go-ciangkun!"

Dan yang lain berseru.

"Lenghou-toako!"

Yang memanggil "Go-ciangkun"

Adalah The Oh, sebab ia mengenali cara Lenghou Tiong menyerang tiga lawannya itu serupa dengan apa yang dilakukannya di Ji-pek-poh tempo hari, begitu juga cara Ciong Tin mengalami kekalahan adalah serupa.

Adapun yang memanggil "Lenghou-toako"

Adalah Gi-lim.

Mestinya bersama Gi-cin dan lain-lain mereka telah mengepung Ting Pat-kong dan mencurahkan seluruh perhatiannya untuk menghadapi musuh.

Ketika Ciong Tin mendadak menyerang secara licik, kesempatan mana digunakan oleh Ting Pat-kong untuk melepaskan diri dari kepungan.

Dan setelah bobolnya barisan pedang mereka barulah Gi-lim sempat melihat Lenghou Tiong.

Seketika seluruh badan Gi-lim tergetar hebat demi melihat pemuda itu setelah berpisah sekian lamanya, hampir-hampir saja ia jatuh kelengar.

Karena keadaan dirinya sudah diketahui dan sukar dirahasiakan lagi, Lenghou Tiong tertawa dan mengomel.

"Nenekmu, kalian bertiga kutu busuk ini benar-benar terlalu kurang ajar, para suthay dari Hing-san-pay ini telah mengampuni jiwa kalian, tapi kalian membalas susu dengan air tuba. Terpaksa aku ... aku ...."

Sampai di sini mendadak kepalanya pusing, matanya berkunang-kunang terus roboh. Cepat Gi-lim memburu maju untuk memayangnya sambil berseru khawatir.

"Lenghou-toako! Lenghou-toako!"

Dilihatnya pundak dan lengan Lenghou Tiong mengucurkan darah, lekas-lekas ia menyingsing lengan baju, ia mengeluarkan obat mujarab perguruannya dan dijejalkan ke dalam mulut pemuda itu.

The Oh dan Gi-cin juga mengeluarkan obat salep "Thian-hiang-toan-siok-ko"

Untuk memolesi luka-luka itu.

Karena sudah kenal siapa Lenghou Tiong, para murid Hing-san-pay sama merasa utang budi padanya, kalau tempo hari tak ditolong olehnya tentu mereka akan mengalami macam-macam hinaan pihak musuh, bahkan besar kemungkinan mereka sudah mati semua.

Sebab itulah mereka menaruh perhatian sangat kepada keselamatan Lenghou Tiong, di tengah jalan kota itulah mereka sibuk memberi obat dan membalut lukanya.

Pada umumnya kaum wanita di dunia ini memang ceriwis, terutama di kala terjadi sesuatu peristiwa, demikian pula tidak terkecuali anak murid Hing-san-pay itu.

Mereka saling bisik-bisik, ada yang gegetun, ada yang gelisah kenapa tuan penolong mereka sampai terluka, siapakah musuh yang keji itu, bahkan di tengah berisik mereka itu terseling pula ucapan "Omitohud".

Melihat keadaan demikian, orang-orang Hoa-san-pay menjadi terheran-heran.

Pikir Gak Put-kun.

"Selamanya tata tertib Hing-san-pay sangat keras, tapi entah mengapa anak murid perempuan ini sampai tergoda sedemikian rupa oleh bergajul macam Lenghou Tiong ini, sampai-sampai di depan umum mereka tidak segan-segan memanggil toako padanya dengan mesra. Anehnya ada pula yang memanggilnya ciangkun, sejak kapan bangsat cilik ini menjadi perwira? Sungguh tidak genah, mengapa pimpinan Hing-san-pay tidak melakukan pengawasan?"

Dalam pada itu Ciong Tin bertiga juga tidak tinggal diam, ia memberi isyarat kepada kedua sutenya, serentak mereka menerjang maju dengan senjata masing-masing.

Mereka tahu bila Lenghou Tiong tidak dibikin tamat tentu kelak akan banyak mendatangkan bahaya.

Sekarang mumpung pemuda itu dalam keadaan tidak sadarkan diri, inilah kesempatan bagus untuk membinasakannya.

Tapi dengan tanda aba-aba Gi-ho, serentak ada empat belas kawannya bergerak maju menjadi satu barisan sehingga Ciong Tin bertiga terkepung.

Ilmu silat tiap-tiap murid Hing-san-pay itu secara perorangan memang tidak tinggi, tapi sekali membentuk barisan pedang, baik menyerang maupun bertahan, kekuatan 14 orang cukup untuk menghadapi empat-lima orang tokoh kelas satu.

Semula Gak Put-kun ada maksud melerai persengketaan kedua pihak itu, cuma macam-macam soal itu sama sekali di luar dugaannya, entah cara bagaimana kedua pihak sampai bermusuhan, apalagi timbul juga rasa kurang senangnya terhadap kelakuan orang-orang Ko-san dan Hing-san itu, ia pikir sementara melihat perkembangan selanjutnya saja.

Ternyata barisan pedang Hing-san-pay bertahan dengan amat rapat, meski Ciong Tin bertiga ganti serangan bermacam-macam tetap tak bisa mendekat.

Malahan sedikit meleng saja Ko Kik-sin tertusuk pahanya oleh pedang Gi-jing.

Meski tidak parah lukanya, namun darah sudah bercucuran, keadaan rada runyam.

Dalam keadaan sadar-tak-sadar Lenghou Tiong dapat mendengar suara mendering beradunya senjata.

Ketika matanya sedikit dipentang, tertampak wajah Gi-lim penuh rasa cemas dan kedengaran sedang membaca doa.

Seketika teringat olehnya kejadian di luar Kota Heng-san dahulu waktu dirinya terluka, juga begitu Gi-lim telah merawat dan berdoa baginya.

Cuma saja waktu itu hanya mereka berdua saja berada di hutan sunyi, sekarang di sekitarnya tidak sedikit pula anak murid Hing-san-pay yang lain, mengapa Gi-lim Siausumoay menjadi begini berani.

Waktu ia memandang pula muka Gi-lim, mendadak ia merasa paham.

"Ya, lantaran dia melulu memikirkan keselamatanku sehingga dia lupa dirinya sendiri, dia sudah lupa akan orang-orang di sekitarnya sehingga sama sekali tak terpikir olehnya tentang pantangan berdekatan antara kaum laki-laki dan perempuan segala."

Dengan rasa terima kasih, ketika mendadak ia mengangkat kepalanya, dilihatnya Gak Leng-sian dan Lim Peng-ci berdiri berjajar di sebelah sana, entah mengapa secara jelas sekali ia dapat melihat tangan kedua muda-mudi itu saling berpegangan dengan erat.

Tiba-tiba Lenghou Tiong tertawa panjang terus berbangkit, katanya perlahan kepada Gi-lim.

"Siausumoay, terima kasih atas pertolonganmu. Berikan pedangmu padaku!"

"Kau ... kau jangan ...."

Gi-lim bermaksud mencegah.

Lenghou Tiong tersenyum, senyuman yang halus dan hangat, ia ambil pedang dari tangan Gi-lim, dengan sebelah tangan menyangga di bahu Gi-lim, dengan langkah sempoyongan ia lantas berjalan ke depan.

Sebenarnya Gi-lim mengkhawatirkan keadaan luka Lenghou Tiong, tapi demi merasa pundak sendiri sedang menahan beban tubuh pemuda itu, seketika timbul keberaniannya, ia kerahkan tenaga sekuatnya untuk menyangga Lenghou Tiong.

Dengan perlahan Lenghou Tiong menerobos ke depan murid-murid Hing-san-pay sehingga berhadapan dengan Ciong Tin bertiga.

Sekali pedangnya menyambar, kontan pedang Ko Kik-sin jatuh ke tanah.

Ketika pedang bergerak untuk kedua kalinya, tanpa ampun ruyung lemas Ting Pat-kong melilit lagi di lehernya sendiri.

Dan gerakan pedang ketiga kalinya dengan tepat senjata Ciong Tin terketok.

Ciong Tin sadar dirinya bukan tandingan ilmu pedang Lenghou Tiong yang aneh itu, cuma ia melihat langkah Lenghou Tiong terhuyung-huyung, ia pikir harus mengadu senjata dan bikin pedang lawan tergetar jatuh.

Sebab itulah ketika kedua pedang beradu ia telah mengerahkan segenap tenaga dalamnya.

Tapi celaka baginya, begitu kedua pedang kebentur, terasa tenaga dalam sendiri sekonyong-konyong merembes ke luar dengan cepat melalui batang pedangnya dan sukar dikekang lagi.

Sebaliknya semangat Lenghou Tiong lantas terbangkit malah.

Kiranya tanpa terasa Gip-sing-tay-hoat yang pernah diyakinkannya itu makin hari makin sempurna, tidak perlu tubuh menyentuh tubuh, asalkan pihak lawan mengerahkan tenaga, maka tenaga dalam itu akan terus mengalir melalui senjatanya.

Ciong Tin terperanjat, cepat ia menarik pedangnya dan menusuk lagi untuk kedua kalinya.

Melihat di bawah ketiak lawan dalam keadaan kosong tak terjaga, asalkan membalas dengan satu tusukan saja tentu akan dapat membereskannya.

Namun tangan sendiri terasa lemas, pikiran ada, tenaga kurang, terpaksa ia hanya menangkis saja serangan Ciong Tin itu.

Pedang masing-masing kebentur lagi dan kembali Ciong Tin merasakan tenaga dalamnya mencurah keluar, jantungnya berdebar dengan hebat.

Di sebelah lain Gi-ho lantas mengolok-olok.

"Huh, tidak tahu malu apa-apaan begitu?"

Ciong Tin menjadi gusar dan nekat.

Kembali ia kerahkan segenap tenaganya untuk menusuk, sampai di tengah jalan tiba-tiba berganti arah, yang ditusuk adalah dada Gi-lim yang berada di samping Lenghou Tiong.

Serangan Ciong Tin ini sangat keji, seperti pura-pura, tapi sungguh-sungguh pula, kalau Lenghou Tiong melintangkan pedang untuk menolong Gi-lim, maka Ciong Tin segera memutar balik pedangnya untuk menusuk perut Lenghou Tiong, jika Lenghou Tiong tidak menolong Gi-lim, maka tusukannya akan benar-benar mengenai Gi-lim, hal ini pasti akan membikin kacau pikiran Lenghou Tiong dan kesempatan lain dapat digunakan untuk menyerang secara lebih ganas.

Di tengah jerit khawatir orang banyak, tampaknya ujung pedang Ciong Tin sudah mengenai baju di dada Gi-lim.

Sekonyong-konyong pedang Lenghou Tiong menyambar tiba dan tepat menindih di atas batang pedang Ciong Tin.

Kontan pedang Ciong Tin terlengket berhenti di tengah jalan dan tak bisa bergerak lagi laksana dijepit oleh beberapa tanggam yang amat kuat.

Sekuatnya Ciong Tin mendorong, tapi sedikit pun ujung pedangnya tidak mampu menggeser lagi ke depan.

Karena itu pedang yang ditolak dan ditahan dari atas itu mulai melengkung berbareng itu Ciong Tin merasakan tenaga dalamnya membanjir ke luar dengan cepat luar biasa.

Untung dia tahu gelagat jelek dan cepat membuang pedangnya terus melompat mundur.

Walaupun begitu karena tenaga yang dikerahkan mendadak lenyap sirna, untuk mengerahkan tenaga cadangan tidak keburu lagi, maka ketika badannya masih terapung di atas rasanya sudah lemas lunglai "bluk" , ia jatuh terbanting dengan keras dengan punggung menyentuh tanah lebih dulu seperti orang yang sama sekali tidak mahir ilmu silat.

Dengan meringis Ciong Tin bermaksud merangkak bangun dengan kedua tangan menyangga tanah, tapi baru saja badannya terangkat mendadak ia terbanting jatuh lagi.

Melihat keadaannya itu orang pasti akan menduga dia terluka parah kalau bukan kehilangan tenaga dalamnya sama sekali Ting Pat-kong dan Ko Kik-sin cepat memburu maju untuk membangunkan dia, tanya mereka.

"Suko, ada apa?"

"Kiranya dia ... dia adalah Yim ... Yim Ngo-heng!"

Seru Ciong Tin terputus-putus, suaranya serak penuh rasa takut Ia menatap Lenghou Tiong dengan perasaan waswas, tapi lantas teringat olehnya umur Lenghou Tiong tidak cocok dengan umur Yim Ngo-heng, itu Kaucu Mo-kau yang malang melintang di dunia persilatan pada masa beberapa puluh tahun yang lalu mustahil berwujud seorang pemuda berusia likuran.

Maka dengan suara tak lancar ia tanya pula.

"Apakah kau mu ... muridnya Yim Ngo-heng? Kau mahir Gip ... Gip-sing-tay-hoat!"

"Suko, jadi kau punya tenaga dalam telah disedot olehnya?"

Tanya Ko Kik-sin kaget.

"Ya,"

Sahut Ciong Tin lesu.

Tapi ketika ia menggerakkan tubuh, tiba-tiba terasa tenaganya sudah mulai pulih.

Rupanya Gip-sing-tay-hoat yang diyakinkan Lenghou Tiong itu belum terlatih sempurna benar, ia hanya memunahkan tenaga dalam yang dikerahkan oleh Ciong Tin melalui batang pedang dan belum sungguh-sungguh mengisap seluruh tenaga murninya.

Hanya Ciong Tin sendiri yang menjadi kaget dan takut ketika merasa tenaganya mendadak mencurah ke luar tanpa bisa dibendung lagi sehingga ia terbanting jatuh dalam keadaan runyam.

"Marilah kita pergi saja, Suko,"

Bisik Ting Pat-kong. Segera Ciong Tin memberi tanda kepada kedua temannya, lalu berseru.

"Iblis Mo-kau, hari ini orang she Ciong mengaku bukan tandingan ilmu silumanmu yang keji ini. Tapi beribu-ribu kesatria gagah kaum cing-pay kami pasti takkan tekuk lutut di bawah ancaman ilmu silumanmu ini. Ting-sute dan Ko-sute, gembong iblis Mo-kau telah muncul kembali, marilah kita pulang melaporkan kepada ciangbunjin."

Habis itu ia memutar ke arah Gak Put-kun, katanya sambil memberi hormat.

"Gak-siansing, adakah iblis Mo-kau ini mempunyai hubungan dengan engkau?"

Gak Put-kun hanya mendengus saja dan tidak menjawab. Sesungguhnya Ciong Tin juga tidak berani mencari perkara kepada Gak Put-kun, ia berkata pula.

"Bagaimana urusan yang sebenarnya kelak pasti akan dibikin terang. Sampai berjumpa pula!"

Segera ia melangkah pergi bersama kedua sutenya. Kemudian Gak Put-kun mendekati Lenghou Tiong, katanya dengan suara kereng.

"Bagus kau, Lenghou Tiong, kiranya kau telah berhasil meyakinkan Gip-sing-tay-hoat dari Yim Ngo-heng."

Memangnya Lenghou Tiong telah meyakinkan ilmu kemahiran Yim Ngo-heng itu walaupun secara tidak sengaja, tapi buktinya memang demikian sehingga tak bisa membantah.

Dengan suara bengis Gak Put-kun lantas membentak pula.

"Betul tidak, jawab pertanyaanku?"

"Benar,"

Jawab Lenghou Tiong.

"Sejak kini kau adalah musuh besar kaum cing-pay,"

Kata Put-kun.

"Sekarang kau terluka parah, aku tidak sudi membunuh orang yang sedang menderita. Tapi kelak jika ketemu lagi, kalau bukan aku membunuh kau biarlah kau yang membunuh aku."

Kemudian ia berpaling kepada anak muridnya dan berkata.

"Mulai sekarang orang ini adalah musuh bebuyutan kalian, siapa-siapa lagi yang menaruh perasaan saudara seperguruan dengan dia berarti mengkhianati kaum cing-pay. Dengar tidak kalian?"

Para muridnya sama mengiakan. Ketika melihat bibir anak perempuannya bergerak seakan-akan omong sesuatu, segera Gak Put-kun menambahkan.

"Anak Sian, biarpun kau adalah putriku juga tidak terkecuali akan laranganku tadi. Dengar tidak?"

Leng-sian menunduk dan menyahut lirih.

"Dengar!"

Lenghou Tiong mestinya sudah lemas sekali, demi mendengar perkataan-perkataan itu ia tambah lemas.

"trang" , pedang jatuh ke tanah, badan juga terkulai lunglai. Gi-ho yang berdiri di sampingnya cepat menyangga bahu kanannya, ia berseru.

"Gak-siansing, di dalam urusan ini tentu ada salah paham, tanpa tanya lebih jelas dan menyelidiki lebih dulu engkau lantas ambil keputusan seketus ini, rasanya terlalu sembrono."

"Salah paham apa?"

Tanya Gak Put-kun.

"Yang jelas ketika orang-orang Hing-san-pay kami mengalami serangan dari iblis-iblis Mo-kau, maka berkat bantuan Lenghou ... Go-ciangkun inilah sehingga kami diselamatkan. Jika dia adalah sekomplotan dengan Mo-kau mana mungkin mau membantu kami dan berbalik menggempur orang Mo-kau?"

Lantaran mendengar Gi-lim memanggil "Lenghou-toako" , Gak Put-kun juga memanggil "Lenghou Tiong" , tapi dirinya sendiri hanya mengenalnya sebagai "Go-ciangkun", agar tidak kepalang tanggung, maka ia telah menyebut dua nama sekaligus.

"Orang Mo-kau memang banyak tipu muslihatnya, hendaklah kalian jangan sampai terjebak olehnya,"

Ujar Gak Put-kun.

"Kunjungan kalian ke selatan ini dipimpin oleh suthay yang manakah?"

Menurut dugaan Put-kun, nikoh-nikoh dan nona-nona muda ini tentu telah terpikat oleh Lenghou Tiong yang pintar putar lidah dengan kata-kata manis itu, hanya suthay dari angkatan tua Hing-san-pay yang berpengalaman luas yang dapat menyelami tipu keji musuh.

Gi-ho lantas menjawab.

"Supek Ting-cing Suthay yang memimpin rombongan kami. Sungguh malang, beliau telah dicelakai oleh iblis Mo-kau."

"Haaah!"

Gak Put-kun dan istrinya berseru kaget. Pada saat itulah dari ujung jalan raya sana sedang berlari mendatang seorang nikoh setengah umur sembari berseru.

"Ada surat merpati dari Pek-in-am!"

Nikoh setengah umur itu mendekati Ih-soh, lalu mengeluarkan sebuah bumbung bambu kecil dan diangsurkan padanya.

Ketika Ih-soh membuka sumbat ujung bumbung itu dan diambil ke luar sepulung kecil kertas, waktu dibentang dan dibaca, tiba-tiba ia berseru khawatir.

"Wah, celaka!"

Ketika mendengar ada kiriman surat dari Pek-in-am tadi, para murid Hing-san-pay sudah lantas merubung maju, demi tampak wajah Ih-soh yang cemas khawatir itu, beramai-ramai mereka lantas tanya.

"Ada apa?"

"Bagaimana bunyi surat suhu itu?"

"Cobalah baca sendiri, Sumoay!"

Sahut Ih-soh sembari mengangsurkan surat itu kepada Gi-jing. Gi-jing menerimanya dan membaca.

"Aku dan Ting-yat Sumoay terkurung di Liong-coan To-kiam-kok."

Lalu ia berkata sendiri.

"Ini adalah surat darah dari ... dari ciangbun-suhu. Beliau mengapa sampai berada di Liong-coan?"

"Hayo, lekas kita pergi ke sana!"

Seru Gi-cin.

"Entah siapakah pihak musuh?"

Kata Gi-jing.

"Peduli apakah dia setan belang, yang penting lekaslah kita berangkat ke sana,"

Ujar Gi-ho.

"Sekalipun harus mati, biarlah mati bersama suhu saja."

Gi-jing mempunyai pikiran panjang dan dapat menimbang sesuatu urusan, ia pikir betapa hebat ilmu silat suhu dan susiok dan mereka toh kena dikurung musuh, andaikan rombongan kita ini memburu ke sana mungkin juga tiada gunanya.

Maka dengan membawa surat berdarah itu ia coba mendekati Gak Put-kun, ia memberi hormat, lalu berkata.

"Gak-supek, menurut surat dari suhu kami, katanya beliau terkurung oleh musuh di Liong-coan To-kiam-kok. Mohon Gak-supek mengingat hubungan kekal sesama Ngo-gak-kiam-pay dan sudilah berdaya untuk menolongnya."

Gak Put-kun coba membaca sekilas surat itu, katanya kemudian setelah merenung sejenak.

"Bagaimana suhumu dan Ting-yat Suthay bisa datang ke Ciatkang Selatan situ? Ilmu silat mereka berdua sangat hebat, mengapa sampai terkurung oleh musuh, inilah sangat aneh. Apakah surat ini adalah tulisan tangan gurumu?"

"Memang betul tulisan tangan suhu kami,"

Sahut Gi-jing.

"Cuma mungkin sekali beliau sudah terluka, dalam keadaan tergesa-gesa surat ini ditulis dengan darah."

"Entah siapakah musuhnya?"

Tanya Put-kun.

"Besar kemungkinan orang-orang Mo-kau, sebab golongan kami tiada banyak mempunyai musuh lain,"

Ujar Gi-jing. Gak Put-kun melirik sekejap ke arah Lenghou Tiong, lalu berkata dengan perlahan.

"Bisa jadi pihak Mo-kau sengaja membuat surat palsu untuk memancing kalian masuk perangkap mereka. Biasanya kaum iblis itu banyak tipu muslihatnya, untuk ini kalian harus waspada."

Watak Gi-ho paling tidak sabaran, segera ia berteriak.

"Suhu dalam bahaya, urusan teramat gawat, marilah kita lekas berangkat untuk membantu beliau. Gi-jing Sumoay, marilah kita lekas pergi ke sana. Gak-supek tidak ada tempo, tiada gunanya kita memohon-mohon padanya."

"Benar, jika kita terlambat mungkin akan menyesal selamanya,"

Seru Gi-cin.

Bab 85.

Rahasia-rahasia di Dalam Hoa-san-pay Karena Gak Put-kun enggan memberi bantuan dan tidak setia kawan sebagai sesama orang Kangouw, apalagi sesama orang Ngo-gak-kiam-pay, maka anak murid Hing-san-pay sama mendongkol.

Kata Gi-lim kemudian.

"Lenghou-toako, harap kau merawat lukamu di hotel kemarin itu. Setelah kami menyelamatkan suhu dan supek tentu kami akan datang lagi menjenguk kau."

Mendadak Lenghou Tiong berteriak.

"Kembali ada kawanan penjahat mengacau lagi, mana boleh ciangkunmu berpeluk tangan? Hayo kita berangkat bersama untuk menolong orang!"

"Tapi ... tapi kau terluka, cara bagaimana kau sanggup menempuh perjalanan jauh?"

Ujar Gi-lim.

"Seorang ciangkun sudah biasa berkecimpung di medan perang, apa artinya cuma luka kecil begini,"

Seru Lenghou Tiong.

"Hayolah berangkat, lekas!"

Sebenarnya anak murid Hing-san-pay tidak yakin akan mampu menyelamatkan guru mereka, sekarang Lenghou Tiong mau pergi bersama, tentu saja menambah keberanian mereka.

"Jika demikian, Wanpwe sekalian mohon diri,"

Kata Gi-jing terhadap Gak Put-kun dan istrinya. Dengan marah-marah Gi-ho mengomel.

"Hm, orang begini buat apa sungkan-sungkan dengan dia? Hanya buang-buang waktu saja. Sama sekali tidak punya rasa setia kawan, hanya bernama kosong belaka!"

"Sumoay, jangan banyak omong!"

Bentak Ih-soh. Gak Put-kun hanya tersenyum saja dan anggap tidak dengar. Sebaliknya Lo Tek-nau lantas melompat maju karena gurunya dihina, bentaknya.

"Mulutmu yang kotor itu bilang apa? Ngo-gak-kiam-pay kita mestinya senapas sehaluan, tapi kalian telah berkomplot dengan iblis Mo-kau seperti Lenghou Tiong ini, perbuatan kalian mencurigakan, sudah tentu setiap tindakan harus dipertimbangkan guruku. Jika kalian mau membunuh dulu iblis Lenghou Tiong itu sebagai tanda kebersihan kalian, kalau tidak Hoa-san-pay kami tidak sudi ikut berkomplot dengan kalian."

Gi-ho menjadi gusar, ia melangkah maju dengan meraba pedang dan berseru.

"Apa maksudmu dengan kata-kata ‘ikut berkomplot’ segala?"

"Kalian bersekongkol dengan Mo-kau, itu berarti berkomplot,"

Sahut Lo Tek-nau.

"Lenghou-tayhiap ini ada seorang kesatria berbudi, seorang pahlawan sejati, mana dia seperti kalian yang menganggap diri sendiri sebagai kesatria, tapi sesungguhnya adalah manusia-manusia palsu yang berjiwa rendah!"

Jawab Gi-ho dengan gusar. Seperti diketahui Gak Put-kun berjuluk "Kun-cu-kiam" (Pedang Laki-laki Sejati), maka anak murid Hoa-san-pay paling sirik jika ada orang mengatakan "laki-laki palsu"

Atau manusia palsu.

Keruan Lo Tek-nau lantas melolos pedang terus menusuk ke leher Gi-ho.

Gi-ho tidak menduga akan diserang secara mendadak, ia tidak sempat melolos pedang buat menangkis, tahu-tahu ujung pedang lawan sudah dekat lehernya.

Ia menjerit kaget.

Tapi berbareng sinar pedang berkelebat, tujuh pedang sekaligus telah menyerang juga ke arah Lo Tek-nau.

Cepat Lo Tek-nau hendak menangkis, namun hanya pedang yang menusuk ke dadanya itu saja yang kena ditangkis, pada saat yang sama terdengar suara robeknya kain, enam pedang murid Hing-san-pay sudah membuat bajunya robek enam tempat, setiap robekan itu ada belasan senti panjangnya.

Untung murid-murid Hing-san-pay itu tidak bermaksud mencabut nyawanya sehingga serangan mereka lantas ditarik kembali ketika menyentuh bajunya.

Hanya kepandaian The Oh yang lebih cetek dan kurang jitu gerakannya sehingga sesudah merobek lengan baju kanan Lo Tek-nau, ujung pedangnya masih melukai lengannya.

Sungguh kaget Lo Tek-nau tak terkatakan, lekas-lekas ia melompat mundur.

Mendadak dari dalam bajunya terjatuh se

Jilid buku.

Di bawah cahaya matahari yang terang semua orang dapat membaca jelas di sampul buku itu tertulis empat huruf "Ci-he-pit-kip".

Seketika air muka Lo Tek-nau tampak berubah hebat, buru-buru ia hendak menjemput kembali bukunya yang jatuh itu.

Tapi Lenghou Tiong sempat berseru.

"Cegah dia!"

Saat itu Gi-ho sudah melolos pedangnya.

"sret-sret-sret" , kontan ia menusuk tiga kali sehingga Lo Tek-nau terpaksa menangkis dan tidak mampu maju lagi.

"Ayah, mengapa kitab pusaka kita itu bisa berada pada jisuko?"

Tanya Gak Leng-sian kepada Gak Put-kun. Lenghou Tiong lantas berteriak.

"Lo Tek-nau, kau yang mencelakai jiwa laksute bukan?"

Seperti diketahui di puncak Hoa-san dahulu, murid keenam.

Hoa-san-pay yaitu Liok Tay-yu terbunuh secara misterius, serta hilangnya "Ci-he-pit-kip", kedua hal itu sampai kini masih menjadi teka-teki yang belum terpecahkan.

Tak terduga sesudah baju Lo Tek-nau dirobek-robek oleh tusukan pedang anak murid Hing-san-pay, mendadak kitab pusaka Hoa-san-pay yang hilang itu bisa jatuh ke luar dari baju Lo Tek-nau.

Terdengar Lo Tek-nau menjawab.

"Ngaco-belo!"

Habis itu mendadak ia berlari ke kiri terus menyusup masuk sebuah jalan kecil dan menghilang.

Dengan murka Lenghou Tiong lantas mengudak, tapi baru beberapa langkah saja sudah tidak tahan, badannya sempoyongan terus roboh.

Cepat Gi-lim dan The Oh memburu maju untuk memayang bangun.

Gak Leng-sian lantas jemput kitab yang jatuh itu dan diserahkan kepada ayahnya.

Katanya.

"Ayah, kiranya jisuko yang mencurinya."

Muka Gak Put-kun tampak membesi, kitab itu dipegangnya dan diperiksa, memang benar adalah kitab pusaka perguruan sendiri, untung halamannya masih baik tanpa kerusakan apa pun. Katanya dengan gemas.

"Gara-garamu, kau mengambilnya buat orang lain!"

Gi-ho yang bermulut tajam segera menggunakan kesempatan itu untuk mengolok-olok.

"Nah, itu namanya berkomplot dan bersekongkol!"

Dalam pada itu Ih-soh telah mendekati Lenghou Tiong dan bertanya.

"Lenghou-tayhiap, bagaimana keada ....?"

"Su ... suteku telah dicelakai olehnya, sayang aku tak bisa mengejar dia,"

Sahut Lenghou Tiong sambil menahan rasa sakit. Tertampak Gak Put-kun dan anak muridnya telah kembali semua ke dalam rumah, pintu depan gedung piaukiok itu lantas ditutup. Kata Lenghou Tiong.

"Gurumu dalam bahaya, urusan tidak boleh tertunda marilah kita lekas pergi menolongnya. Jahanam Lo Tek-nau itu pada suatu ketika pasti akan jatuh di tanganku."

"Tapi ... tapi keadaanmu ...."

Saking terima kasih dan terharunya sehingga Ih-soh tidak tahu apa yang harus dikatakan.

"Kita lekas pergi ke pasar hewan untuk membeli kuda, tidak perlu tawar-tawar, aku punya cukup uang,"

Kata Lenghou Tiong sambil mengeluarkan uang emas perak yang dirampasnya dari Go Thian-tik tempo hari.

Begitulah mereka beramai-ramai lantas menuju ke pasar, asal ada kuda lantas mereka beli tanpa tawar.

Tapi jumlahnya tetap kurang lima ekor.

Terpaksa belasan orang murid yang lebih muda menunggang kuda berduaan dan segera mereka berangkat menuju ke utara.

Kira-kira belasan li di luar Kota Hokciu, tertampak di suatu tanah lapang ada ratusan ekor kuda yang sedang diumbar dengan dijaga oleh beberapa prajurit, agaknya kuda-kuda itu adalah milik tentara.

"Kita rebut saja kuda-kuda itu,"

Kata Lenghou Tiong.

"Tapi kuda-kuda itu milik tentara, rasanya tidak pantas,"

Ujar Ih-soh.

"Paling penting menolong orang, biarpun kuda milik raja juga kita rampas, peduli pantas atau tidak,"

Kata Lenghou Tiong.

Gi-ho yang berwatak lugu itu lantas membenarkan dan segera mendahului maju.

Ketika Lenghou Tiong memberi perintah lagi, para murid Hing-san-pay yang sudah kehilangan pimpinan Ting-cing Suthay secara otomatis lantas menuruti aba-aba Lenghou Tiong.

Beramai-ramai mereka menutuk roboh prajurit-prajurit penjaga itu dan berhasil merampas beberapa ekor kuda.

Dengan tertawa gembira para murid Hing-san-pay yang sebagian besar masih muda belia itu lantas sama tukar kuda militer yang lebih bagus dengan serep pula beberapa ekor.

Menjelang tengah hari sampailah mereka di suatu kota kecil.

Penduduk setempat terheran-heran melihat suatu rombongan nikoh membawa segerombol kuda, di antaranya terdapat pula seorang laki-laki.

Selesai mereka mengisi perut, waktu Gi-jing hendak membayar ternyata uang yang masih ada tidak cukup.

Dengan suara perlahan Gi-jing bicara dengan Lenghou Tiong.

"Lenghou-suheng, uang kita sudah habis."

"Tidak apa-apa,"

Kata Lenghou Tiong.

"The-sumoay, harap kau bersama Ih-soh masing-masing membawa seekor kuda untuk dijual."

The Oh mengiakan, bersama Ih-soh pergilah mereka.

Sudah tentu rada menggelikan bahwa seorang nona jelita menjual kuda di pasar.

Tapi dasar The Oh memang gadis yang cekatan, tidak lama ia berada di Hokkian sudah dapat mempelajari beberapa puluh suku kata daerah Hokkian sehingga tidak sukar baginya untuk menjual kudanya.

Tidak lama kemudian ia sudah kembali dengan membawa uang untuk membayar rekening makan-minum mereka.

Petangnya sampailah mereka di suatu kota pegunungan yang cukup besar.

Selesai makan dan membereskan rekeningnya, sisa uang penjualan kuda siang tadi ternyata tinggal sedikit sekali.

Dengan tertawa The Oh berkata.

"Besok pagi kita menjual kuda lagi."

Tapi Lenghou Tiong lantas membisikinya.

"Tidak perlu. Coba kau jalan-jalan keluar, carilah keterangan siapa hartawan paling kaya dan siapa yang paling jahat di kota ini."

The Oh manggut-manggut tanda mengerti, segera ia ajak Cin Koan pergi bersama. Selang tidak lama ia telah kembali dan memberi laporan.

"Di kota ini hanya ada seorang hartawan kaya raya she Pek, orang memberi julukan ‘Pek-pak-bwe’ padanya, dia membuka gadai dan punya toko beras dan lain-lain. Dari julukannya Pek-pak-bwe (tukang menguliti) dapat dibayangkan pasti bukan manusia baik-baik."

"Ya, malam ini juga kita akan minta derma padanya,"

Kata Lenghou Tiong dengan tertawa.

"Orang demikian pasti sangat pelit, mana bisa dimintai derma?"

Ujar The Oh. Tapi Lenghou Tiong hanya tersenyum saja, katanya.

"Marilah kita berangkat."

Sebenarnya hari sudah mulai gelap, tapi mengingat keselamatan guru mereka anak murid Hing-san-pay itu tidak berani ayal, segera mereka melanjutkan perjalanan.

Beberapa li kemudian, tiba-tiba Lenghou Tiong berkata.

"Cukup di sini saja kita mengaso."

Beramai-ramai mereka lantas berduduk-duduk di tepi sebuah sungai kecil pegunungan.

Selama itu Gi-lim selalu berada di samping Lenghou Tiong, terkadang ia suka tersenyum-senyum sendiri, entah apa yang sudah dipikirkan, tapi selama itu ia tidak pernah bicara dengan Lenghou Tiong.

Baru sekarang tiba-tiba ia membuka mulut.

"Ba ... bagaimana keadaan lukamu?"

"Tidak apa-apa,"

Sahut Lenghou Tiong. Lalu ia pejamkan mata untuk mengumpulkan semangat. Agak lama kemudian barulah ia membuka mata dan berkata kepada Ih-soh dan Gi-ho.

"Kalian masing-masing membawa enam orang sumoay pergi minta derma kepada Pek-pak-bwe. The-sumoay akan menjadi petunjuk jalan bagi kalian."

Ih-soh, Gi-ho, dan lain-lain merasa heran, tapi mereka lantas mengiakan.

"Paling sedikit kalian harus minta sumbangan 500 tahil perak, paling baik kalau bisa 2.000 tahil perak,"

Kata Lenghou Tiong.

"Nanti kita pakai sendiri seribu tahil, selebihnya dapat kita bagi-bagikan kepada orang miskin di kota ini."

"Maksudmu kita harus merampas milik yang kaya untuk disedekahkan kepada orang miskin?"

Tanya Gi-ho.

"Begitulah,"

Sahut Lenghou Tiong.

"Kita sendiri kehabisan sangu dan termasuk kaum rudin, kalau yang kaya tidak memberi sekadar sedekah kepada kaum miskin kita ini, cara bagaimana kita dapat mencapai Liong-coan To-kiam-kok?"

Mendengar tempat tujuan mereka, seketika para murid Hing-san-pay itu tidak ragu-ragu lagi, serentak mereka menyatakan setuju.

"Cuma cara minta derma kalian ini lain daripada yang lain,"

Kata Lenghou Tiong pula.

"Setiba di rumah Pek-pak-bwe, kalian harus memakai kedok, di waktu minta derma juga tidak perlu buka suara. Asal melihat emas perak lantas daulat saja."

"Kalau dia tidak mau memberi?"

Tanya The Oh dengan tertawa.

"Jika demikian berarti Pek-pak-bwe itu terlalu tidak tahu diri,"

Ujar Lenghou Tiong.

"Padahal kesatria-kesatria Hing-san-pay bukanlah orang sembarangan di dunia persilatan. Biasanya biarpun orang memapak kalian dengan joli digotong delapan orang untuk memberi sedekah kepada kalian toh belum tentu kalian mau datang. Sekarang Pek-pak-bwe telah didatangi sekaligus oleh 15 tokoh Hing-san-pay, bukankah ini merupakan suatu kehormatan besar baginya. Tapi, andaikan dia memang kepala batu dan memandang enteng kepada kalian, maka boleh juga kalian jajal-jajal dia, lihat saja apakah Pek-pak-bwe itu tahan sekali tonjok oleh kepalan halus The-sumoay?"

Semua orang sama tertawa oleh banyolan Lenghou Tiong ini.

Walaupun ada di antaranya yang merasa cara minta sedekah seperti dirancangkan ini boleh dikata melanggar peraturan perguruan Hing-san-pay, tapi dalam keadaan kepepet terpaksa mereka tidak dapat berpikir lain lagi.

Gi-ho, The Oh, dan lain-lain segera berangkat pergi.

Waktu menoleh, Lenghou Tiong melihat Gi-lim sedang menatap ke arahnya.

Ia tersenyum dan menegur.

"Siausumoay, apakah kau tidak setuju caraku ini?"

Gi-lim menghindari sorot mata Lenghou Tiong, sahutnya dengan perlahan.

"Entahlah. Kukira apa yang kau lakukan tentulah tidak salah lagi."

"Dahulu ketika aku kepingin makan semangka, bukankah kau pun pernah pergi minta sedekah sebuah?"

Kata Lenghou Tiong.

Wajah Gi-lim menjadi merah, teringat olehnya waktu mereka berduaan di tengah ladang semangka dahulu itu.

Pada saat itu pula di ujung langit sana sebuah bintang meteor berkelebat lewat untuk segera lenyap pula.

"Masih ingatkah kau akan kaul yang pernah kau katakan?"

Tanya Lenghou Tiong.

"Tentu saja masih ingat,"

Sahut Gi-lim sambil berpaling kembali.

"Lenghou-toako, kaul demikian sungguh manjur."

"Apakah kaulmu sudah terkabul?"

Tanya Lenghou Tiong. Gi-lim menunduk tanpa menjawab. Ia membatin.

"Sudah beratus kali aku berkaul semoga dapat bertemu lagi dengan kau, dan akhirnya terkabul juga sekarang."

Pada saat itulah tiba-tiba dari jauh berkumandang suara derapan lari kuda yang cepat, seorang penunggang kuda tampak datang dari selatan, yaitu arah keberangkatan rombongan Ih-soh dan Gi-ho tadi.

Tapi mereka tidak menunggang kuda perginya, apa mungkin terjadi apa-apa dengan mereka?

Serentak semua orang berdiri sambil memandang ke arah datangnya suara derapan kuda itu.

Terdengar suara seorang perempuan sedang berseru.

"Lenghou Tiong! Lenghou Tiong!"

Terguncang hebat hati Lenghou Tiong mendengar suara yang jelas sudah dikenalnya itu, ialah suaranya Gak Leng-sian. Cepat ia menyahut.

"Siausumoay, aku berada di sini!"

Gi-lim tergetar juga, wajahnya pucat dan segera mundur satu-dua langkah ke belakang.

Dalam kegelapan seekor kuda putih tampak dipacu tiba.

Kira-kira beberapa meter di tempat orang banyak itu mendadak kuda itu meringkik sembari berjingkrak berdiri dengan kedua kaki belakang, habis itu baru berhenti.

Hal itu jelas disebabkan Gak Leng-sian menarik tali kekang kudanya.

Melihat datangnya Gak Leng-sian secara tergesa-gesa itu diam-diam Lenghou Tiong merasakan alamat jelek.

Serunya.

"Siausumoay, apakah suhu dan sunio baik-baik saja?"

Di atas kudanya wajah Leng-sian hanya tampak sebelah saja secara samar-samar, tapi jelas mukanya membesi dingin, ia menjawab dengan suara keras.

"Siapa sudi menjadi suhu dan suniomu? Apa hubungannya lagi ayah-ibuku dengan kau?"

Dada Lenghou Tiong serasa digodam orang.

Memang Gak Put-kun sangat kereng kepadanya, tapi biasanya Gak-hujin dan Leng-sian sendiri masih selalu ingat hubungan baik di masa lalu dan cukup ramah padanya.

Sekarang si nona juga bicara secara demikian kasar, hal ini membuat Lenghou Tiong merasa pedih.

Katanya kemudian.

"Ya, aku sudah dipecat dan bukan orang Hoa-san-pay lagi, aku tidak berhak memanggil suhu dan sunio pula."

"Sudah tahu begitu, mengapa mulutmu masih terus mengoceh?"

Omel Leng-sian. Lenghou Tiong menunduk dengan lesu, perasaannya seperti disayat-sayat.

"Mana?"

Mendadak Leng-sian mendengus sambil menyodorkan sebelah tangannya. Keruan Lenghou Tiong bingung.

"Apa?"

Tanyanya lemah.

"Sampai sekarang kau masih berlagak pilon? Apa kau sangka dapat mengelabui aku?"

Kata Leng-sian. Mendadak ia perkeras suaranya dan menambahkan.

"Serahkan!"

"Aku tidak paham, apa yang kau kehendaki?"

Tanya Lenghou Tiong sambil menggeleng.

"Apa yang kuhendaki? Pi-sia-kiam-boh milik keluarga Lim!"

Seru Leng-sian.

"Pi-sia-kiam-boh? Mengapa kau memintanya padaku?"

Sahut Lenghou Tiong heran.

"Tidak minta padamu, habis minta kepada siapa?"

Jengek Leng-sian.

"Ingin kutanya kau, siapakah yang merampas kasa dari tempat kediaman lama keluarga Lim itu?"

"Itu perbuatan dua orang Ko-san-pay yang disebut Pek-thau-sian-ong Bok Sim dan seorang lagi bernama Tut-eng Soa Thian-kang."

"Benar. Dan kedua keparat Ko-san-pay itu dibunuh oleh siapa?"

"Aku, aku yang membunuh mereka,"

Sahut Lenghou Tiong tegas.

"Dan kasa itu kemudian diambil oleh siapa?"

"Aku!"

"Bagus! Sekarang serahkan kasa itu!"

"Tapi se ... sesudah aku terluka dan jatuh pingsan, syukur aku telah ditolong oleh su ... oleh ibumu. Selanjutnya kasa itu tidak berada padaku lagi."

"Haha!"

Tiba-tiba Leng-sian mengakak sambil menengadah, tapi tanpa sedikit pun nada tertawa.

"Ucapanmu ini seakan-akan hendak mengatakan ibu telah makan barangmu itu bukan? Huh, bisa saja kau mengucapkan kata-kata yang demikian kotor dan tidak tahu malu."

"Aku sekali-kali tidak mengatakan ibumu telah menggelapkan kasa itu. Tuhan menjadi saksi, dalam hatiku sedikit pun tiada punya perasaan kurang hormat kepada ibumu. Yang kumaksudkan adalah ... adalah ...."

"Apa?"

Leng-sian menegas.

"Yang kumaksudkan adalah sesudah ibumu melihat kasa itu dan mengetahuinya sebagai milik keluarga Lim, dengan sendirinya barang itu akan dikembalikan kepada Lim-sute."

"Mana mungkin ibu akan menggeledah barang bawaanmu? Seumpama akan dikembalikan kepada Lim-sute juga ibu akan menunggu setelah kau siuman supaya kau mengembalikannya sendiri kepada Lim-sute mengingat barang itu adalah hasil perebutanmu secara mati-matian. Mana bisa ibu tidak memikirkan akan hal demikian?"

"Benar juga ucapannya. Apa barangkali kasa itu telah dicuri orang pula?"

Demikian pikir Lenghou Tiong. Karena khawatirnya, seketika keringat dingin merembes keluar. Katanya kemudian.

"Jika begitu, tentu di dalam hal itu ada kejadian lain lagi."

Lalu ia sengaja mengebas bajunya sendiri dan menambahkan.

"Seluruh barangku adalah di sini semua, jika kau tidak percaya boleh kau menggeledah badanku."

Kembali Leng-sian tertawa dingin, katanya.

"Kau ini licin dan licik, barang yang sudah kau ambil masakan akan kau simpan di badanmu sendiri? Lagi pula di sekitarmu ada sedemikian banyak hwesio dan nikoh serta perempuan yang tidak keruan ini, tentu semuanya akan bantu menyembunyikannya bagimu."

Caranya Gak Leng-sian menanyai Lenghou Tiong seperti hakim tanya terdakwa, memangnya anak murid Hing-san-pay sejak tadi sudah merasa jengkel, sekarang si nona menyinggung mereka dengan kata-kata kasar, keruan mereka serentak membentak-bentak.

"Ngaco-belo!"

"Apa maksudmu dengan perempuan tidak keruan?"

"Di sini mana ada hwesio?"

"Kau sendirilah perempuan tidak genah!"

Leng-sian juga tidak gentar, sambil meraba pedangnya ia menjawab.

"Kalian adalah orang beragama, tapi siang malam selalu mengelilingi seorang laki-laki, apakah kelakuan demikian bukankah tidak keruan? Cis, tidak tahu malu!"

Murid-murid Hing-san-pay itu menjadi gusar, berbareng tujuh-delapan orang di antaranya lantas melolos pedang.

"Sret", Leng-sian juga lantas lolos pedangnya, serunya.

"Bagaimana? Kalian ingin main kerubut bukan? Hayolah maju! Jika Nona Gak gentar bukanlah murid Hoa-san-pay!"

Cepat Lenghou Tiong memberi tanda untuk mencegah tindakan murid-murid Hing-san-pay lebih lanjut. Ia menghela napas, katanya kepada Leng-sian.

"Jika kau telah mencurigai aku, ya, apa yang dapat kukatakan. Tapi bagaimana dengan Lo Tek-nau, mengapa tidak kau tanyakan padanya? Jika dia berani mencuri Ci-he-pit-kip, bisa jadi kasa itu pun dicuri olehnya?"

"O, jadi kau suruh aku pergi tanya kepada Lo Tek-nau?"

Leng-sian menegas dengan suara keras.

"Benar!"

Jawab Lenghou Tiong.

"Baik. Nah silakan kau menghabisi nyawaku. Kau sudah mahir Pi-sia-kiam-hoat keluarga Lim, memangnya aku bukan tandinganmu lagi!"

"Mana ... mana bisa aku membunuh kau?"

Sahut Lenghou Tiong melenggong.

"Habis kau suruh aku pergi menanyai Lo Tek-nau, jika kau tidak membunuh aku, cara bagaimana aku dapat menyusul Lo Tek-nau ke akhirat?"

Kejut dan girang pula Lenghou Tiong. Tanyanya.

"Jadi Lo Tek-nau telah ... telah dibinasakan oleh su ... oleh ayahmu bukan?"

Ia tahu Lo Tek-nau berguru kepada Gak Put-kun sesudah memiliki kepandaian silat yang cukup tinggi, dalam Hoa-san-pay selain dirinya sendiri adalah kepandaian Lo Tek-nau yang paling lihai, maka untuk membunuhnya kecuali Gak Put-kun rasanya tidak mampu dilakukan oleh orang lain lagi.

Lo Tek-nau telah membunuh Liok Tay-yu, jika dia sudah terbunuh pula, hal ini berarti sakit hati Liok-laksute-nya itu sudah terbalas.

Tiba-tiba Gak Leng-sian mendengus lagi.

"Hm, seorang laki-laki sejati harus berani berbuat berani bertanggung jawab. Kau telah membunuh Lo Tek-nau, kenapa kau tidak berani mengaku?"

"Kau bilang aku yang membunuh Lo Tek-nau?"

Lenghou Tiong menegas dengan heran.

"Jika aku yang membunuhnya memangnya aku tidak perlu menyangkal. Dosa Lo Tek-nau lebih daripada dihukum mati, aku memang menyesal tak dapat membunuhnya dengan tanganku sendiri."

"Dan kenapa kau membunuh pula patsuko (kakak perguruan kedelapan)? Apa salahnya kepadamu? Sungguh ... sungguh kejam kau!"

Teriak Leng-sian. Lenghou Tiong terperanjat. Ia menegas dengan suara rada gemetar.

"Jadi patsute juga terbunuh? Patsute sangat licin dan pintar, selamanya sangat baik dengan aku, mana bisa aku mem ... membunuhnya?"

"Hm, sejak kau bergaul dengan iblis Mo-kau, kelakuanmu sudah lain daripada biasanya, siapa tahu apa sebabnya mendadak kau membunuh patsuko. Kau ... kau ...."

Sampai di sini air mata Leng-sian telah menetes. Lenghou Tiong melangkah maju satu tindak, katanya tegas.

"Siausumoay, janganlah kau berpikir tanpa dasar. Usia patsute muda belia, selamanya tiada bermusuhan dengan siapa pun juga. Jangankan aku, orang lain pun tidak mungkin tega membunuhnya."

Mendadak alis Leng-sian menegak, tanyanya pula dengan suara bengis.

"Dan mengapa pula kau tega mencelakai Lim-sute?"

"Hah? Lim-sute ... dia ... dia juga sudah mati?"

Lenghou Tiong menegas dengan terperanjat.

"Saat ini masih belum mati, sekali bacok pedangmu belum membinasakan dia, tetapi siapa ... yang tahu dia akan dapat sembuh atau tidak?"

Sampai di sini suaranya kembali parau dan mulai terguguk-guguk. Lenghou Tiong menghela napas longgar, katanya.

"Apa dia terluka sangat parah? Kuyakin dia pasti mengetahui siapa yang menyerangnya. Bagaimana menurut pengakuannya?"

"Di dunia ini tiada seorang pun yang licin seperti kau. Kau telah membacoknya dari belakang, memangnya punggung Lim-sute punya mata?"

Macam-macam perasaan mencekam hati Lenghou Tiong, saking tak tahan, ia lolos pedangnya, ia kerahkan tenaga terus dilemparkan ke samping sana.

Pedang itu meluncur melintang ke depan dan membentur sebatang pohon cemara yang cukup besar, pedang itu menyambar lewat di tengah batang pohon, kontan pohon itu terpotong putus dan rebah sehingga menimbulkan debu pasir yang berhamburan.

"Bagaimana? Sesudah kau mahir ilmu iblis Mo-kau, sekarang kau sengaja pamer keganasanmu di depanku bukan?"

Jengek Leng-sian. Lenghou Tiong menggeleng, sahutnya.

"Bilamana aku ingin membunuh Lim-sute tidak perlu aku menyerangnya dari belakang, juga tidak mungkin sekali bacok tidak membuatnya binasa."

"Hm, siapa yang tahu akan maksud tujuanmu yang licik?"

Jengek pula Leng-sian.

"Tentunya patsute telah melihat perbuatanmu yang rendah itu, makanya kau membunuhnya sekalian untuk menghilangkan saksi, bahkan kau telah merusak mukanya, sama halnya seperti apa yang kau lakukan terhadap ... terhadap Lo Tek-nau."

Sedapat mungkin Lenghou Tiong menahan gejolak perasaannya.

Ia tahu di balik urusan ini pasti ada suatu intrik, suatu persekongkolan besar, suatu tipu muslihat keji yang saat ini belum dapat dipecahkan olehnya.

"Jadi muka Lo Tek-nau juga telah dirusak orang?"

Tanyanya kemudian.

"Kau sendiri yang berbuat, mengapa malah tanya padaku?"

"Siapa lagi anak murid Hoa-san-pay yang menjadi korban?"

"Kau sudah membunuh dua orang dan melukaparahkan satu orang, memangnya masih belum cukup?"

Sahut Leng-sian. Dari jawaban ini Lenghou Tiong mengetahui tiada orang lain lagi yang menjadi korban, hatinya rada lega. Pikirnya.

"Perbuatan keji siapakah ini?"

Sekonyong-konyong timbul rasa ngerinya, teringat olehnya apa yang dikatakan oleh Yim Ngo-heng di Hangciu dahulu, gembong Mo-kau itu mengancam apabila dirinya tidak mau masuk menjadi anggota Mo-kau, maka orang-orang Hoa-san-pay akan dibunuhnya semua.

Jangan-jangan Yim Ngo-heng sudah berada di Hokciu dan mulai menyikat Hoa-san-pay?

Cepat ia berkata kepada Leng-sian.

"Lekas-lekas kau pulang ke Hokciu dan laporkan kepada ayah-ibumu bahwa mungkin sekali gembong Mo-kau yang telah melakukan pembunuhan secara keji."

"Ya, memang benar gembong iblis Mo-kau yang telah turun tangan keji terhadap Hoa-san-pay kami,"

Sahut Leng-sian dengan nada mengejek.

"Cuma gembong iblis itu dahulu adalah orang Hoa-san-pay. Memang piara macan akan merupakan penyakit, air susu dibalas dengan air tuba."

Lenghou Tiong hanya tersenyum getir saja, ia pikir dirinya sudah menyanggupi akan pergi menolong Ting-sian dan Ting-yat Suthay, tapi sekarang suhu dan sunio menghadapi bahaya pula, ini benar-benar serbasusah.

Jika yang mengganas itu adalah Yim Ngo-heng, maka sukar juga untuk melawannya, namun bagaimanapun juga kesulitan guru dan ibu-guru yang berbudi padanya itu harus diutamakan lebih dulu, urusan Hing-san-pay terpaksa harus ditunda.

Bila nanti Yim Ngo-heng sudah dapat dicegat perbuatannya yang lebih lanjut baru menuju ke Liong-coan untuk membantu Hing-san-pay.

Bab 86.

Hing-san-pay Hampir Musnah Setelah ambil keputusan demikian segera ia berkata.

"Sejak berangkat dari Hokciu, senantiasa aku berada bersama para suci dan sumoay Hing-san-pay ini, cara bagaimana aku dapat pergi membunuh patsute dan Lo Tek-nau? Jika perlu boleh kau tanya keterangan mereka."

"Hm, kau suruh aku tanya mereka?"

Dengan Leng-sian.

"Mereka telah bersekongkol dengan kau, masakah mereka takkan berdusta bagimu?"

Mendengar itu, kembali sebagian murid Hing-san-pay berteriak-teriak marah lagi, beberapa murid preman di antaranya lantas batas memaki dengan tajam. Leng-sian menarik mundur kudanya, katanya.

"Lenghou Tiong, Siau-lim-cu terluka sangat parah, dalam keadaan setengah tak sadar masih terus menyebut kiam-boh, jika kau masih punya hati nurani sebagai manusia seharusnya kau mengembalikan kiam-boh padanya. Kalau tidak ...."

"Apa kau yakin aku benar-benar manusia serendah ini?"

"Jika kau bukan manusia rendah, maka di dunia ini tiada manusia rendah lagi,"

Seru Leng-sian dengan murka. Sejak tadi perasaan Gi-lim sangat terguncang mengikuti percakapan mereka, sekarang ia tidak tahan lagi, selanya.

"Nona Gak, Lenghou-toako teramat baik kepadamu, dengan tulus hati dia benar-benar sangat baik terhadap kau, mengapa kau memakinya secara demikian galak?"

"Dia baik-tidak padaku, sebagai seorang beragama, dari mana kau mendapat tahu?"

Tanya Leng-sian dengan tertawa dingin.

Seketika Gi-lim merasa bangga, ia merasa apa pun akibatnya juga mesti membela Lenghou Tiong yang difitnah orang secara demikian keji, soal kelak akan diomeli oleh gurunya tentang pelanggarannya atas peraturan perguruan sudah tak terpikir lagi.

Dengan suara lantang ia lantas berkata pula.

"Lenghou-toako sendiri yang omong padaku."

"Hm, hal ini pun dia katakan padamu?"

Jengek Leng-sian.

"Justru karena dia ingin membaiki aku, maka Lim-sute telah dicelakai olehnya."

Lenghou Tiong menghela napas, katanya.

"Gi-lim Sumoay, tidak usah bicara panjang lebar lagi. Aku hanya minta sedikit obat luka Hing-san-pay kalian yang sangat mujarab itu untuk Nona Gak."

Namun Leng-sian lantas memutar kudanya ke sana dan berkata.

"Sekali bacok kau tidak jadi membinasakan dia, sekarang kau hendak pakai racun bukan? Mana aku dapat kau tipu? Lenghou Tiong, bila Siau-lim-cu tidak sembuh, tentu aku ... aku ...."

Sembari bicara ia telah mencambuk kudanya dan dilarikan secepat terbang ke selatan.

Mengikuti suara derapan kuda yang makin lama makin menjauh, hati Lenghou Tiong menjadi bimbang seakan-akan kehilangan sesuatu.

"Benar-benar perempuan bawel, biarkan mati saja Siau-lim-cu yang dia sebut-sebut tadi,"

Kata Cin Koan gemas.

"Cin-sumoay, sebagai murid Buddha kita harus mengutamakan welas asih, meski nona tadi sikapnya tidak benar juga kita tidak boleh menyumpahi kematian orang,"

Kata Gi-cin. Tiba-tiba timbul pikiran Lenghou Tiong, katanya.

"Gi-cin Sumoay, aku ingin mohon sesuatu, sudilah kau melelahkan diri sedikit."

"Asal Lenghou-suheng yang memberi perintah pasti akan kuturuti,"

Sahut Gi-cin.

"Mana aku berani memerintah,"

Ujar Lenghou Tiong.

"Soalnya orang she Lim yang disebut tadi adalah suteku, menurut Nona Gak, katanya dia terluka parah. Kupikir obat Hing-san-pay kalian sangat manjur, jika ...."

"Apa kau minta aku mengantar obat untuk dia? Baik, segera aku kembali ke Hokciu sana. Gi-leng Sumoay, harap kau menemani aku ke sana."

"Banyak terima kasih atas kesudian kedua sumoay,"

Kata Lenghou Tiong sambil memberi hormat.

"Selama ini Lenghou-suheng terus berada bersama kami, mana bisa dituduh membunuh orang?"

Ujar Gi-cin.

"Fitnah yang tak berdasar ini perlu juga kujelaskan kepada Gak-siansing."

Lenghou Tiong hanya menggeleng sambil tersenyum getir. Dilihatnya Gi-cin dan Gi-leng telah melarikan kudanya ke arah Hokciu, pikirnya pula.

"Sedemikian simpatik mereka terhadap urusanku, jika aku meninggalkan mereka dan kembali ke Hokciu, rasanya tidaklah pantas. Apalagi Ting-sian Suthay dan orang-orangnya benar-benar terkurung oleh musuh, sedangkan betul-tidak Yim Ngo-heng berada di Hokciu belum lagi diketahui dengan pasti ...."

Perlahan-lahan ia mendekati pohon yang tumbang tadi dan menjemput kembali pedangnya. Tiba-tiba teringat olehnya.

"Aku telah menyatakan bila ingin bunuh Lim Peng-ci, buat apa menyerangnya dari belakang dan mana mungkin sekali tebas tidak membinasakan dia? Tapi kalau yang menyerang itu adalah Yim Ngo-heng, lebih-lebih tidak mungkin sekali tebas tidak membuat matinya Lim Peng-ci? Pasti ada lagi orang lain. Ya, asalkan bukan Yim Ngo-heng saja tentu suhu tidak perlu takut padanya."

Berpikir demikian hatinya lantas merasa lega.

Didengarnya sayup-sayup derapan kuda yang ramai dari jauh, dari suara yang riuh itu ia menduga pasti rombongan Ih-soh yang telah kembali.

Benar juga, tidak lama kemudian 15 penunggang kuda sudah mendekat.

Ih-soh lantas berkata.

"Lenghou-siauhiap, banyak juga hasil ... hasil derma kita, cuma kita tidak akan menghabiskan uang sebanyak ini."

"Tidak habis pakai sendiri boleh kita sumbangkan kepada kaum fakir miskin,"

Sela Gi-ho dengan tertawa. Lalu ia menoleh kepada Gi-jing dan berkata.

"Tadi di tengah jalan kami memergoki seorang perempuan muda, kalian di sini melihat dia tidak? Entah dari mana dia, tapi telah bergebrak dengan kami."

"Telah bergebrak dengan kalian?"

Seru Lenghou Tiong khawatir.

"Benar,"

Sahut Gi-ho.

"Dalam kegelapan kuda perempuan itu telah dipacu begitu cepat, begitu melihat kami lantas mencaci maki, katanya nikoh tidak genah, tidak tahu malu segala."

Diam-diam Lenghou Tiong mengeluh, tanyanya cepat.

"Parah tidak lukanya?"

"Eh, dari mana kau mengetahui dia terluka?"

Sahut Gi-ho heran. Dalam hati Lenghou Tiong berkata, dia memaki kalian demikian, watakmu juga berangasan, dia sendirian mana mampu melawan kalian, tentu saja akan terluka. Ia tanya lagi.

"Bagian mana lukanya itu?"

"Mula-mula aku tanya dia mengapa datang-datang lantas mencaci maki orang, padahal kita belum kenal,"

Tutur Gi-ho.

"Tapi kembali dia memaki lagi sambil mengayun cambuknya ke arahku dan membentak agar kami minggir. Tentu saja kami menjadi gusar, kutangkap cambuknya dan mulailah kami melabraknya."

"Begitu dia melolos pedang kami lantas tahu dia adalah orang Hoa-san-pay, meski dalam kegelapan wajahnya tidak jelas kelihatan, kemudian dapat kami mengenali dia sebagai putrinya Gak-siansing,"

Sambung Ih-soh.

"Cepat kami berteriak mencegah serangan para sumoay, tapi lengannya sudah telanjur terluka dua tempat, hanya tidak begitu parah."

"Sebenarnya aku sudah kenal dia,"

Kata Gi-ho dengan tertawa.

"Cuma Hoa-san-pay mereka terlalu kasar terhadap Lenghou Tiong ketika di Kota Hokciu kemarin, mereka pun tidak mau membantu kesulitan Hing-san-pay kita, maka aku sengaja membikin nona galak itu tahu rasa."

"Sesungguhnya Gi-ho Suci telah bermurah tangan terhadap Nona Gak itu,"

Tutur The Oh.

"Pedangnya hanya menggores perlahan di lengannya lantas ditarik kembali, jika berkelahi sungguh-sungguh, mustahil kalau sebelah lengannya itu tidak berpisah dengan tubuhnya?"

Lenghou Tiong menjadi serbasusah, suatu peristiwa belum diselesaikan, lain peristiwa sudah timbul lagi.

Ia kenal perangai sumoay cilik yang tinggi hati dan tidak mau kalah itu, kejadian malam ini pasti akan dianggapnya sebagai penghinaan besar dan besar kemungkinan akan diperhitungkan atas kesalahan Lenghou Tiong.

Tapi semuanya sudah terjadi, terpaksa ia tak bisa berbuat apa-apa.

Untungnya luka siausumoay itu tidak berat.

Sebagai anak dara yang cerdik, The Oh dapat mengetahui perhatian Lenghou Tiong terhadap nona Gak itu, segera ia berkata.

"Jika sebelumnya kami mengetahui dia adalah sumoaynya Lenghou-suheng, tentu kami akan mengalah biarpun dia mencaci maki kami lebih banyak pula. Soalnya dalam kegelapan, kami tidak tahu jelas siapa dia. Biarlah kelak kalau bertemu lagi akan kami minta maaf padanya."

"Minta maaf apa? Apa salah kita terhadap dia? Sebaliknya begitu bertemu dia lantas memaki kita. Seluruh dunia juga tiada orang macam dia,"

Ujar Gi-ho mendongkol.

"Kalian sudah berhasil mendapatkan sedekah, marilah kita berangkat,"

Kata Lenghou Tiong.

"Bagaimana dengan Pek-pak-bwe yang kalian kunjungi itu?"

Karena sedih hatinya, ia tidak ingin mempersoalkan Gak Leng-sian lagi dan segera membelokkan pokok pembicaraan.

Bicara tentang "minta derma", Gi-ho dan kawan-kawannya menjadi bersemangat.

Segera ia menyerocos menceritakan pengalamannya.

"Haha, sungguh menyenangkan. Biasanya adalah sangat sulit minta derma setahil dua perak kepada hartawan macam begitu, tapi malam ini sekali sedekah dapatlah beberapa ribu tahil."

"Sungguh lucu, Pek-pak-bwe itu merangkak-rangkak sambil menangis, katanya jerih payahnya selama berpuluh tahun telah amblas dalam waktu semalam saja,"

Sambung The Oh dengan tertawa.

"Habis namanya saja Pek-pak-bwe, dia tukang menguliti rakyat kecil, sekarang dia juga harus dikuliti,"

Cin Koan menambahkan.

Setelah tertawa ramai, segera murid-murid Hing-san-pay itu terkenang pula kepada suhu dan supek mereka yang sedang terkurung musuh, kembali perasaan mereka tertekan dan tanpa disuruh lagi mereka lantas memacu kuda secepatnya.

"Lenghou-toako, jangan terlalu cepat, hati-hati dengan lukamu,"

Kata Gi-lim.

"Hanya sedikit luka luar saja tidak menjadi soal, dengan obat pemberianmu tentu tidak lama akan sembuh,"

Sahut Lenghou Tiong. Gi-lim berkata di dalam hati.

"Ya, aku tahu lukamu yang paling parah adalah di dalam batin."

Tiada terjadi apa-apa sepanjang jalan, beberapa hari kemudian sampailah mereka di Liong-coan yang terletak di Ciatkang Selatan.

Luka yang diderita Lenghou Tiong walaupun banyak mengeluarkan darah, tapi luka itu cuma luka luar saja, dengan lwekangnya yang tinggi, ditambah obat mujarab Hing-san-pay, sampai di wilayah Liong-coan lukanya sudah sembuh separuh.

Para murid Hing-san-pay sangat gelisah, baru memasuki wilayah Ciatkang mereka lantas mencari tahu di mana letaknya To-kiam-kok.

Tapi sepanjang jalan tiada orang yang bisa memberi petunjuk.

Sampai di Kota Liong-coan, tertampak banyak sekali toko-toko senjata, tapi tetap tiada satu toko pun yang mengetahui di mana letaknya To-kiam-kok (Lembah Tempa Pedang).

Keruan semua orang tambah cemas.

Ketika mereka tanya adakah terlihat dua nikoh tua atau pernah terjadi pertempuran di sekitar kota situ, para pandai besi dan pemilik toko senjata juga tidak dapat memberi keterangan.

Tentang nikoh hanya ditunjukkan bahwa di barat kota, di Biara Cui-gwe-am memang dihuni oleh kaum padri perempuan, cuma nikoh-nikoh di sana rata-rata belum terlalu tua.

Setelah tanya jelas letak Cui-gwe-am, rombongan mereka lantas dipacu ke sana.

Setiba di depan biara itu, pintu biara tampak tertutup rapat.

The Oh yang menggedor pintu, tapi sampai lama sekali tetap tiada sambutan apa-apa dari dalam.

Gi-ho menjadi tidak sabar menunggu lagi, ia melolos pedang terus melompat ke dalam biara dengan melintasi pagar tembok.

Khawatir sang sumoay mengalami apa-apa, cepat Gi-jing ikut melompat masuk.

"Coba lihat apa ini?"

Kata Gi-ho sambil menunjuk tanah di depannya. Ternyata di pelataran biara itu ada tujuh-delapan potong ujung pedang, jelas bekas ditebas kutung oleh senjata tajam.

"Adakah orang di dalam?"

Teriak Gi-ho sembari mencari ke ruangan belakang.

Gi-jing sendiri lantas membukakan pintu agar Lenghou Tiong dan lain-lain masuk ke dalam.

Ia jemput sepotong ujung pedang yang kutung di atas tanah dan diberikan kepada Lenghou Tiong, katanya.

"Lenghou-suheng, di sini pernah terjadi pertempuran."

Lenghou Tiong terima kutungan pedang itu, dilihatnya bagian yang terkutung itu sangat licin dan mengilap. Tanyanya.

"Apakah Ting-sian dan Ting-yat Suthay menggunakan senjata pedang?"

"Beliau berdua tidak memakai pedang,"

Sahut Gi-jing.

"Suhu menyatakan, asalkan dapat meyakinkan ilmu pedang dengan sempurna, sekalipun yang dipakai adalah pedang kayu atau pedang bambu juga cukup untuk mengalahkan musuh. Beliau menyatakan pula bahwa pedang atau golok terlalu keras, sedikit kurang hati-hati sudah menghabiskan nyawa orang atau mencacatkan badan lawan ...."

"Maksud beliau harus mengutamakan welas asih bukan?"

Sela Lenghou Tiong. Gi-jing manggut. Dalam pada itu tiba-tiba terdengar seruan Gi-ho dari ruangan belakang.

"He, di sini juga ada kutungan ujung pedang."

Beramai-ramai mereka lantas menyusul ke belakang, tertampak lantai maupun meja pada tiap-tiap ruangan biara itu penuh tertimbun debu.

Pada umumnya biara pasti selalu terawat dengan sangat bersih, melihat debu yang memenuhi biara itu dapat diperkirakan sudah sekian lamanya ditinggalkan oleh penghuninya.

Setiba di pekarangan belakang, Lenghou Tiong dan lain-lain dapat menyaksikan beberapa pohon juga telah tumbang oleh tebasan senjata tajam.

Dari bagian yang putus itu dapat diduga waktunya sudah beberapa hari yang lalu.

Pintu belakang biara itu kelihatan terpentang lebar, daun pintu mencelat beberapa meter jauhnya, tampaknya didobrak orang secara paksa.

Di luar pintu belakang ada sebuah jalanan kecil yang menuju ke lereng-lereng bukit, beberapa meter jauhnya ke sana jalan itu lantas bercabang dua arah.

"Kita membagi diri dalam dua kelompok, coba periksa adakah sesuatu yang mencurigakan?"

Seru Gi-jing. Tidak lama kemudian Cin Koan yang ikut mencari ke arah sebelah kanan telah berteriak.

"Di sini adalah sebuah panah kecil!"

"Ya, di sini juga ada sebuah paku!"

Seru pula yang lain.

Jalanan itu menjurus ke arah lereng-lereng bukit, segera mereka berlari cepat ke sana.

Sepanjang jalan banyak pula ditemukan senjata rahasia serta kutungan pedang dan golok.

Sekonyong-konyong Gi-jing berseru kaget.

Dari semak-semak rumput dijemputnya sebatang pedang, katanya terhadap Lenghou Tiong.

"Inilah senjata golongan kami!"

"Tampaknya Ting-sian dan Ting-yat Suthay terlibat dalam pertempuran sengit dan pasti melalui tempat ini,"

Ujar Lenghou Tiong.

Walaupun ucapan Lenghou Tiong ini tidak menyatakan kekalahan di pihak Hing-san-pay, tapi Gi-ho dan lain-lain tahu tentu gurunya dan Ting-yat Suthay tidak mampu melawan musuh dan telah lari melalui jalanan ini.

Dari senjata yang berserakan sepanjang jalan itu dapat diketahui pertarungan itu pasti sangat dahsyat.

Agaknya kejadian sudah lalu beberapa hari, entah masih keburu menolong beliau-beliau atau tidak.

Begitulah semua orang dicekam oleh perasaan khawatir, langkah mereka menjadi tambah cepat.

Jalan pegunungan itu makin menanjak makin curam serta melingkar-lingkar ke belakang gunung.

Beberapa li kemudian, jalanan penuh batu-batu belaka dan tiada berwujud jalan lagi.

Anak murid Hing-san-pay yang ilmu silatnya lebih rendah seperti Gi-lim, Cin Koan, dan lain-lain sudah jauh ketinggalan di belakang.

Jalan lebih jauh keadaan tambah sulit, boleh dikata bukan jalan lagi, juga tiada terdapat tanda-tanda berserakan senjata seperti tadi.

Selagi menghadapi jalan buntu tanpa tanda-tanda arah, mendadak tertampak di sisi kiri di balik gunung sana ada asap tebal menjulang tinggi ke langit.

"Lekas kita periksa ke sebelah sana!"

Seru Lenghou Tiong dan segera mendahului berlari ke depan.

Asap tebal itu makin membubung tinggi.

Sesudah mereka mengitari lereng sana, terlihatlah sebuah lembah luas di depan mereka.

Api sedang berkobar-kobar dengan hebatnya di tengah lembah situ, terdengar suara peletak-peletok terbakarnya rumput dan kayu.

Dengan sembunyi di balik batu padas, Lenghou Tiong memberi tanda ke belakang agar Gi-ho dan lain-lain jangan bersuara.

Pada saat itulah lantas terdengar teriakan seorang laki-laki dengan serak tua.

"Ting-sian, Ting-yat, hari ini kami antar kalian menuju ke nirwana dan mendapatkan kesempurnaan, kalian tidak perlu berterima kasih lagi pada kami."

Lenghou Tiong bergirang, jelas Ting-sian dan Ting-yat Suthay masih hidup, untung kedatangannya ini tidak terlambat. Lalu terdengar pula seruan seorang laki-laki lain.

"Dengan baik-baik kami bujuk kalian meleburkan diri dalam perserikatan kita, tapi kalian justru kepala batu dan membangkang, sejak kini dunia persilatan takkan ada Hing-san-pay lagi."

"Ya, kalian jangan menyalahkan orang lain berlaku kejam, tapi harus menyalahkan kalian sendiri yang bandel sehingga mengakibatkan banyak anak muridmu yang masih muda usia itu ikut mati konyol, sungguh sayang. Hahahahaha!"

Demikian teriak orang pertama tadi dengan tertawa penuh kepuasan.

Suara kedua orang itu yang satu timbul dari sebelah barat daya sana dan yang lain dari timur laut.

Tampaknya api di tengah lembah itu semakin berkobar, jelas Ting-sian dan Ting-yat terkurung di tengah lautan api.

Segera Lenghou Tiong siapkan pedang, ia menarik napas panjang-panjang, lalu berteriak nyaring.

"Kawanan bangsat, berani kalian membikin susah para suthay dari Hing-san-pay, sekarang tokoh-tokoh Ngo-gak-kiam-pay telah datang membantu, lekas kawanan bangsat menyerahkan diri!"

Sembari berseru ia terus menerjang ke bawah sana.

Sampai di dasar lembah ia lantas terhalang oleh tumpukan kayu dan rumput kering yang meninggi sampai beberapa meter.

Tanpa pikir lagi Lenghou Tiong terus meloncat ke tengah gundukan api.

Untung rumput dan kayu di tengah lingkaran api itu belum terbakar.

Ia memburu maju beberapa langkah, terlihat dua buah rumah pembakaran gamping, tapi tidak tampak seorang pun.

"Ting-sian Suthay, Ting-yat Suthay, bala bantuan Hing-san-pay sudah tiba!"

Seru Lenghou Tiong. Dalam pada itu Gi-ho, Gi-jing, dan lain-lain juga berteriak-teriak dari luar lingkaran api.

"Suhu, Supek, Tecu sekalian sudah datang!"

Menyusul terdengarlah suara bentakan musuh dibarengi dengan suara benturan senjata yang ramai.

Dari mulut gua pembakaran tiba-tiba muncul sesosok tubuh orang yang tinggi besar, sekujur badannya berlumuran darah.

Itulah Ting-yat Suthay, pada tangannya menghunus pedang, meski pakaiannya sudah robek, mukanya juga berlepotan darah, tapi sekali berdiri masih kelihatan gagah berwibawa.

Ketika melihat Lenghou Tiong, Ting-yat tercengang, katanya.

"Kau ... kau ...."

"Tecu Lenghou Tiong,"

Sahut Lenghou Tiong.

"Aku memang kenal kau sebagai Lenghou Tiong yang ...."

Tapi Lenghou Tiong lantas memotong.

"Tecu akan membuka jalan, silakan kalian ikut menerjang keluar."

Ia terus menjemput sebatang kayu dan digunakan untuk mengorak-arik gundukan rumput yang terbakar.

"Kau kan sudah masuk Mo-kau ..."

Belum lagi Ting-yat sempat bicara, pada saat itu seorang telah membentak.

"Siapa yang berani mengacau di sini?"

Sinar golok tampak berkelebat di tengah cahaya api.

Melihat api berkobar lebih hebat, sedangkan Ting-yat Suthay menaruh prasangka padanya dan tampaknya tidak sudi ikut menerjang keluar, dalam keadaan demikian Lenghou Tiong pikir mesti ambil tindakan kilat dan terpaksa harus melanggar pantangan membunuh baru dapat menyelamatkan tokoh-tokoh Hing-san-pay itu.

Maka cepat ia melangkah mundur setindak sehingga serangan golok tadi meleset.

Menyusul bacokan golok yang kedua kalinya lantas tiba pula.

Tapi sekali pedang Lenghou Tiong bergerak.

"cret" , kontan golok lawan berikut lengannya sudah tertebas kutung. Pada saat yang sama terdengar jeritan ngeri seorang wanita di luar lingkaran sana, tentu murid Hing-san-pay yang telah dicelakai musuh. Lenghou Tiong menjadi khawatir, cepat ia melompat ke luar lingkaran api, dilihatnya di lereng gunung secara berkelompok-kelompok sudah terjadi pertarungan sengit. Setiap tujuh murid Hing-san-pay terjalin menjadi satu barisan pedang sedang melawan musuh, tapi ada juga beberapa orang yang terpisah sendiri-sendiri dan tidak sempat menggabungkan diri, terpaksa bertempur dengan musuh secara nekat. Barisan pedang yang terbentuk itu meski belum tampak unggul, tapi sementara juga takkan berhalangan, sebaliknya yang bertempur sendiri-sendiri itu kelihatan terdesak, dalam waktu singkat sudah ada dua-tiga murid perempuan yang telah menggeletak binasa. Lenghou Tiong coba mengawasi medan pertempuran, dilihatnya Gi-lim dan Cin Koan dengan punggung adu punggung sedang menempur tiga laki-laki dengan mati-matian. Cepat ia memburu ke sana, mendadak sinar tajam berkelebat, sebatang pedang telah menusuk ke arah dadanya. Sedikit pun langkah Lenghou Tiong tidak menjadi kendur, berbareng pedangnya menyabet ke depan, leher orang itu tertusuk dan tamat seketika. Dengan beberapa lompatan lagi Lenghou Tiong sudah sampai di depan Gi-lim, sekali pedangnya bergerak, kontan punggung seorang laki-laki itu tertembus, gerakan pedang berikutnya telah merobek iga seorang musuh yang lain. Laki-laki yang ketiga sedang angkat ruyung baja hendak mengemplang ke batok kepala Cin Koan, cepat pedang Lenghou Tiong memapak ke atas, kontan sebelah lengan laki-laki itu tertebas sebatas bahu. Wajah Gi-lim tampak pucat pasi, katanya dengan mengulum senyum.

"Omitohud, Lenghou-toako!"

"Kalian berdiri saja di sini, jangan pergi,"

Kata Lenghou Tiong. Dilihatnya Ih-soh di sebelah sana juga sedang kelabakan karena dicecar oleh dua lawan tangguh. Cepat Lenghou Tiong memburu maju.

"sret-sret"

Dua kali, yang satu kena perutnya, yang lain tangan putus sebatas pergelangan.

Kembali dua jago musuh dibereskan.

Waktu dia putar ke sana, di mana pedangnya menyambar, tanpa ampun tiga orang yang sedang menempur Gi-ho dan Gi-jing dengan sengit juga menggeletak didahului dengan jeritan ngeri.

Tiba-tiba terdengar suara seorang tua berseru.

"Kerubut dia, bereskan keparat ini!"

Menyusul tiga sosok bayangan sekaligus menubruk ke arah Lenghou Tiong, tiga pedang menyambar tiba bersama, masing-masing mengarah leher, dada, dan perutnya.

Gerak serangan ketiga pedang musuh ini sangat lihai, sungguh permainan tokoh kelas satu.

Keruan Lenghou Tiong terkejut, katanya di dalam hati.

"Ini kan ilmu pedang Ko-san-pay! Apa mungkin mereka ini memang orang Ko-san-pay? Karena sedikit ayal itulah ujung pedang ketiga lawan sudah lebih dekat mengancam tempat-tempat yang berbahaya itu. Cepat Lenghou Tiong menggunakan "

Boh-kiam-sik "(cara mematahkan serangan pedang) dari Tokko-kiu-kiam yang telah diyakinkan itu, pedangnya berputar, sekaligus serangan tiga musuh telah dipatahkan semua, bahkan demikian hebat daya tekanannya sehingga musuh-musuh itu terdesak mundur dua-tiga langkah.

Sekarang dapat dilihatnya dengan jelas, lawan yang di sebelah kiri adalah laki-laki besar gemuk, usianya sekitar 40-an dan berjenggot pendek.

Yang tengah adalah seorang kakek kurus kering berkulit hitam, kedua matanya bersinar tajam.

Lenghou Tiong tidak sempat memandang orang ketiga, ia terus menggeser ke samping, pedangnya membalik dan "Sret-sret"

Dua kali, kontan dua musuh yang sedang mengerubut The Oh dirobohkan.

Dalam pada itu ketiga orang tadi telah berteriak-teriak dan membentak-bentak terus mengejar tiba.

Namun Lenghou Tiong sudah ambil keputusan untuk tidak terlibat lebih lama dengan mereka mengingat kepandaian mereka sangat lihai, untuk membereskan mereka tentu makan waktu dan sementara itu orang-orang Hing-san-pay pasti akan banyak jatuh korban.

Karena itu ia lantas kerahkan tenaga dalam terus berlari-lari tanpa berhenti, di situ ia menusuk satu kali, di sana ia menebas pula, di mana pedangnya menyambar tentu jatuh seorang musuh dengan terluka parah atau terus binasa.

Ketiga orang tadi masih terus mengejar sambil membentak-bentak, tapi jaraknya dengan Lenghou Tiong selalu terpaut beberapa meter jauhnya dan sukar menyusulnya.

Hanya dalam waktu singkat saja lebih dari 40 orang musuh telah menjadi korban Tokko-kiu-kiam yang dimainkan Lenghou Tiong, tiada seorang pun yang mampu menangkis atau menghindar.

Karena dalam sekejap saja pihak musuh sudah roboh lebih 40 orang, imbangan kekuatan kedua pihak lantas berubah dengan cepat.

Setiap kali ada musuh yang roboh, segera murid Hing-san-pay yang kehilangan lawan itu sempat pergi membantu kawannya.

Tadinya jumlah musuh lebih banyak, tapi lambat laun keadaan menjadi terbalik, makin lama pihak Hing-san-pay makin tambah kuat.

Lenghou Tiong sudah ambil ketetapan bahwa pertempuran hari ini sekali-kali tidak boleh menaruh belas kasihan, jika dalam waktu singkat musuh tidak dihancurkan, tentu Ting-sian Suthay dan kawan-kawannya yang terkurung di dalam gua pembakaran itu akan sukar diselamatkan.

Begitulah Lenghou Tiong terus berlari kian-kemari secepat terbang, di mana dia tiba, dalam radius tiga meter tiada seorang musuh pun yang terhindar dari kematian.

Tidak lama kemudian kembali ada 20 orang lebih dirobohkan lagi.

Sisa musuh masih ada 60-70 orang, mereka menyaksikan kesaktian Lenghou Tiong seperti setan yang sukar dilawan dengan tenaga manusia, sekonyong-konyong orang-orang itu berteriak terus sebagian berlari-lari ke dalam hutan belukar.

Lenghou Tiong membinasakan lagi beberapa orang, sisanya tambah patah semangat, cepat mereka pun lari sipat kuping.

Tinggal ketiga laki-laki tadi masih terus mengudak di belakang Lenghou Tiong, tapi jaraknya makin menjauh, jelas mereka pun mulai jeri.

Tiba-tiba Lenghou Tiong berhenti lari dan putar balik, bentaknya.

"Kalian ini orang Ko-san-pay bukan?"

Ketiga orang itu berbalik melompat mundur, seorang di antaranya yang tinggi besar balas membentak.

"Siapakah kau?"

Lenghou Tiong tidak menjawab, serunya kepada Ih-soh dan lain-lain.

"Lekas kalian membuat jalan untuk menolong teman-teman yang terkurung api itu!"

Segera anak murid Hing-san-pay sama berusaha memadamkan api yang sudah menjilat tumpukan rumput.

Gi-ho dan beberapa kawannya sudah melompat masuk ke tengah lingkaran api.

Rumput dan kayu kering yang sudah berkobar itu sukar dipadamkan lagi, syukur di bawah usaha belasan orang, lingkaran api itu dapat dibobol menjadi suatu luangan jalan, Gi-ho dan lain-lain sama mendukung keluar beberapa nikoh dalam keadaan payah.

"Bagaimana dengan Ting-sian Suthay?"

Tanya Lenghou Tiong.

"Banyak terima kasih atas perhatianmu!"

Tiba-tiba suara seorang tua menanggapi.

Menyusul seorang nikoh tua berbadan sedang tampak melangkah ke luar dari lingkaran api dengan tenang.

Jubahnya yang putih itu tampak bersih, tangannya juga tidak bersenjata, hanya tangan kiri membawa serenceng biji tasbih, wajahnya welas asih, sikapnya tenang dan kalem.

Diam-diam Lenghou Tiong sangat heran dan kagum akan ketenangan nikoh tua itu meski menghadapi bahaya maut.

Segera ia memberi hormat dan berkata.

"Tecu Lenghou Tiong menyampaikan salam hormat kepada Suthay."

Ting-sian Suthay merangkap tangan membalas hormat, tapi ia lantas berkata.

"Awas, ada orang menyerang kau!"

"Ya,"

Sahut Lenghou Tiong, tanpa menoleh pedangnya terus diayun ke belakang. Terdengar "trang"

Satu kali, tusukan pedang laki-laki tinggi besar tadi telah ditangkis pergi. Lalu katanya pula.

"Bantuan Tecu datang terlambat, mohon Suthay memaafkan."

Berbareng terdengar suara nyaring dua kali, kembali serangan kedua orang yang lain ditangkis lagi.

Dalam pada itu ada belasan nikoh lolos keluar lagi dari lingkaran api, bahkan ada yang menggendong mayat.

Ting-yat Suthay juga telah muncul, segera ia memaki dengan geram.

"Kawanan bangsat yang tidak tahu malu, kejam amat melebihi binatang ...."

Saat itu ujung jubahnya tampak terjilat api, tapi ia seperti tidak ambil pusing. Cepat Ih-soh mendekati untuk memadamkan api.

"Kedua Suthay tidak tercedera apa-apa, sungguh menggembirakan sekali,"

Kata Lenghou Tiong.

Pada saat itu pula tiga pedang telah menusuk sekaligus dari belakang.

Tapi sekarang Lenghou Tiong tidak cuma mahir ilmu pedang saja, bahkan kekuatan tenaga dalamnya juga jarang ada bandingannya.

Begitu mendengar sambaran angin tajam, secara cepat ia lantas tahu bagaimana serangan musuh itu, segera pedangnya berputar lagi, sekaligus ia balas menusuk pergelangan tangan lawan.

Ilmu silat ketiga orang itu sangat tinggi, gerak perubahannya juga amat cepat.

Lekas-lekas mereka menghindar, namun demikian punggung tangan laki-laki tinggi besar tadi tetap tergores luka, darah lantas mengucur.

"Kedua Suthay, Ko-san-pay adalah kepala dari Ngo-gak-kiam-pay, bersama Hing-san-pay biasanya adalah senapas dan setanggungan, mengapa mendadak mereka melakukan sergapan licik, sungguh hal ini sukar dimengerti?"

Kata Lenghou Tiong. Mendadak Ting-yat Suthay tanya Gi-ho dan lain-lain.

"Di mana Suci? Kenapa beliau tidak ikut datang?"

"Suhu ... suhu telah dicelakai kaum jahanam, beliau telah gugur dalam per ... pertarungan sengit ...."

Sahut Cin Koan dengan suara tangis.

"Keparat!"

Maki Ting-yat Suthay penuh dendam dan murka sambil melangkah maju.

Tapi baru dua-tiga tindak tubuhnya lantas terhuyung-huyung dan jatuh terduduk, darah segar menyembur dari mulutnya.

Dalam pada itu ketiga jago Ko-san-pay tadi tetap tak bisa mengenai Lenghou Tiong meskipun mereka telah berganti macam-macam tipu serangan.

Padahal pemuda itu melayani mereka dengan mungkur, tangkisannya juga dilakukan dengan membelakangi mereka, namun ilmu pedangnya ternyata demikian hebatnya, apalagi kalau dia berhadapan muka dengan muka, mana mereka bertiga mampu melawannya?

Begitulah ketiga orang sama-sama mengeluh dan gelisah, mereka menyesal mengapa tidak sejak tadi-tadi melarikan diri, tapi malah berkumpul menjadi satu.

Serangan Lenghou Tiong ternyata sangat menarik, terhadap musuh sebelah kiri selalu menyerang sisi kiri, bila menyerang musuh sebelah kanan yang diserang adalah sisi kanan, dengan demikian ketiga orang makin rapat berdesakan sendiri.

Berturut-turut Lenghou Tiong menyerang belasan kali dan ketiga orang terpaksa menangkis belasan kali tanpa sanggup balas menyerang sekali pun.

Ilmu pedang yang dimainkan ketiga orang itu adalah jurus serangan Ko-san-pay yang paling lihai, tapi menghadapi Tokko-kiu-kiam yang ajaib mereka benar-benar tak berdaya.

Lenghou Tiong sengaja hendak memaksa lawan-lawannya mengeluarkan ilmu pedang Ko-san-pay mereka agar tidak dapat menyangkal asal usul mereka pula.

Begitulah makin lama muka ketiga orang sudah makin basah oleh air keringat, sikap mereka juga semakin beringas, ilmu pedang mereka pun belum kacau, nyata mereka memang sangat ulet sebagai jago kawakan.

"Omitohud! Siancay, Siancay!"

Ting-sian Suthay menyebut Buddha.

"Tio-suheng, Ma-suheng, Thio-suheng, selamanya Hing-san-pay dan Ko-san-pay kalian adalah kawan dan bukan lawan, mengapa kalian bertiga terus memaksa sedemikian rupa, sampai-sampai mau membakar kami secara hidup-hidup. Sungguh aku tidak paham apa sebabnya, silakan kalian memberi penjelasan."

Jago-jago Ko-san-pay itu memang betul she Tio, Ma, dan Thio.

Mereka jarang muncul di Kangouw, mereka menyangka asal usul mereka cukup rahasia, memangnya mereka sudah kelabakan dicecar oleh serangan Lenghou Tiong, mereka tambah kaget lagi oleh kata-kata Ting-sian Suthay yang tepat menyebut she mereka.

Tanpa terasa pergelangan tangan dua orang di antaranya tertusuk pedang Lenghou Tiong, pedang mereka jatuh ke tanah.

Bab 87.

Ting-sian Suthay yang Bijaksana Menyusul ujung pedang Lenghou Tiong lantas mengancam di tenggorokan si kakek kurus kering dan membentak.

"Lemparkan pedangmu!"

Kakek itu menghela napas panjang, katanya.

"Di dunia ini ternyata ada ilmu silat dan ilmu pedang sedemikian hebat, biarpun aku orang she Tio terjungkal di bawah pedangmu juga tidak penasaran."

Mendadak tangannya menyendal, dengan tenaga dalamnya ia membikin pedang sendiri tergetar putus menjadi beberapa potong dan jatuh berserakan di atas tanah.

Lenghou Tiong lantas melangkah mundur, sebaliknya Gi-ho bertujuh lantas mengacungkan pedang masing-masing dan mengepung ketiga orang itu di tengah.

Dengan perlahan Ting-sian Suthay berkata.

"Ko-san-pay kalian bermaksud melebur Ngo-gak-kiam-pay menjadi satu aliran yang disebut Ngo-gak-pay. Hing-san-pay sendiri sudah bersejarah ratusan tahun, betapa pun aku tidak berani membuatnya tamat di bawah pimpinanku, maka aku telah menolak saran kalian. Mestinya urusan ini dapat dirundingkan lebih jauh, tapi mengapa kalian lantas main kekerasan dan pakai cara keji ketika aku memperlihatkan maksud tidak setuju? Perbuatan kalian ini bukanlah terlalu kasar?"

"Buat apa banyak omong dengan mereka, Suci,"

Sela Ting-yat Suthay.

"Semuanya dibinasakan saja agar tidak mendatangkan bencana di kemudian hari. Hek ... huk-huk-huk ...."

Tiba-tiba ia terbatuk-batuk dan kembali menumpahkan darah. Laki-laki tinggi besar she Ma itu menjawab.

"Kami hanya melakukan tugas atas perintah, seluk-beluk urusan ini sama sekali kami tidak tahu ...."

"Kenapa kau banyak bicara? Mau bunuh mau potong boleh terserah saja kepada mereka,"

Mendadak si kakek she Tio mendamprat kawannya. Orang she Ma menjadi mengkeret dan tidak berani bicara lagi, wajahnya menampilkan rasa malu.

"Kalian bertiga 30 tahun yang lampau pernah malang melintang di daerah utara, kemudian mendadak menghilang. Tadinya kukira kalian sudah sadar dan mau kembali ke jalan yang benar, siapa duga kalian malah sudah masuk Ko-san-pay dan mempunyai maksud tujuan tertentu,"

Demikian Ting-sian berkata.

"Ai, Co-ciangbun dari Ko-san-pay adalah seorang tokoh sakti, tapi beliau telah menerima sekian banyak kaum ... orang Kangouw yang aneh-aneh untuk mempersulit sesama Ngo-gak-kiam-pay, sungguh sukar dipahami apa maksud tujuannya."

Dasarnya Ting-sian memang padri yang welas asih, meski menghadapi kejadian luar biasa juga tidak mau menggunakan kata-kata kasar terhadap lawan. Sesudah menghela napas panjang, lalu ia bertanya.

"Suci kami Ting-cing Suthay tentunya juga tewas di tangan kawan kalian bukan?"

Rupanya orang she Ma tadi merasa malu, maka sekarang ia ingin memperbaiki pamornya, dengan suara keras ia menjawab.

"Benar, itulah perbuatan Ciong Tin Sute ...."

Tapi si kakek she Tio telah mendengus padanya dengan mata melotot. Baru sekarang orang she Ma menyadari ucapannya yang terlepas, namun ia coba membela diri.

"Urusan sudah begini, apa gunanya berdusta lagi? Co-ciangbun memerintahkan kami menuju ke dua jurusan, masing-masing melaksanakan tugas di Hokkian dan Ciatkang sini."

"Omitohud!"

Kembali Ting-sian menyebut Buddha.

"Sebagai bengcu dari Ngo-gak-kiam-pay, kedudukan Co-ciangbun betapa agung dan terhormat, buat apa beliau bertekad akan melebur kelima aliran kita dan diketuai oleh satu orang? Dia sengaja menggunakan kekerasan dan mencelakai sesama kaum, apakah tindakan demikian takkan ditertawai oleh kesatria seluruh jagat?"

"Suci,"

Ting-yat menyela dengan suara bengis.

"bangsat berhati binatang yang kejam seperti mereka, buat apa ...."

Sampai di sini kembali darah mancur keluar lagi dari mulutnya. Ting-sian Suthay mengebaskan tangannya dan berkata kepada ketiga orang itu.

"Segala apa telah ditakdirkan dengan baik, banyak berbuat jahat akhirnya pasti akan terima ganjaran setimpal. Pergilah kalian sekarang! Harap kalian menyampaikan kepada Co-ciangbun bahwa sejak kini Hing-san-pay tidak di bawah perintah Co-ciangbun lagi. Meski golongan kami adalah kaum wanita seluruhnya juga tidak nanti bertekuk lutut di bawah ancaman kekerasan. Tentang keinginan Co-ciangbun akan melebur Ngo-gak-kiam-pay, sekali-kali tak bisa diterima oleh Hing-san-pay."

"Supek, mereka ...."

Seru Gi-ho. Tapi Ting-sian Suthay lantas memberi perintah.

"Bubarkan barisan pedang!"

Terpaksa Gi-ho mengiakan, pedangnya ditarik kembali diikuti oleh kawan-kawannya.

Ketiga jago Ko-san-pay itu sama sekali tidak menduga mereka akan dibebaskan secara begitu, mau tak mau timbul juga rasa terima kasih mereka kepada Ting-sian.

Mereka memberi hormat, lalu putar tubuh dan lari pergi dengan cepat.

Dalam pada itu api berkobar semakin hebat, banyak orang Ko-san-pay yang bergelimpangan, baik yang sudah mati maupun luka parah.

Belasan orang di antaranya yang lukanya rada ringan berusaha merangkak bangun untuk menghindari terbakar, tapi yang terluka parah dan tidak mampu bergerak terpaksa berteriak-teriak minta tolong ketika api menjalar mendekati mereka.

"Urusan ini bukan salah mereka, tapi adalah tanggung jawab Co-ciangbun,"

Ujar Ting-sian Suthay.

"Ih-soh, Gi-jing, bolehlah kalian menolong mereka."

Para murid Hing-san-pay cukup kenal watak sang ketua yang welas asih, mereka tidak berani membantah, segera mereka berusaha memeriksa orang-orang Ko-san-pay, asal yang masih bernapas lantas mereka angkat ke tempat yang aman dan diberi obat.

Ting-sian Suthay menengadah ke selatan, kedua matanya mengembeng air mata, serunya mengharukan.

"Suci!"

Mendadak tubuhnya sempoyongan terus terbanting jatuh.

Semua orang terkejut, cepat mereka mendukungnya bangun, tertampak darah merembes keluar dari mulut nikoh tua itu.

Kiranya Ting-sian Suthay bersama rombongannya telah dikepung musuh, sembari bertahan Ting-sian dan Ting-yat Suthay mengundurkan diri ke dalam gua pembakaran gamping itu di Lembah To-kiam-kok itu, mereka telah bertahan beberapa hari lamanya, tanpa makan minum dan tidak mengaso pula, memangnya mereka sudah payah lahir batin seperti pelita yang kehabisan minyak, sekarang musuh telah dihalau, hatinya berduka pula atas gugurnya Ting-cing Suthay, saking sedihnya ia tak bisa menguasai diri lagi dan jatuh pingsan.

Keruan anak murid Hing-san-pay menjadi ribut, mereka memanggil suhu dan supek dengan khawatir.

Luka Ting-yat Suthay juga sangat berat sehingga mereka menjadi bingung.

Lenghou Tiong lantas berkata.

"Api berkobar dengan hebat, marilah kita menyingkir ke sebelah sana. The-sumoay, Cin-sumoay, kalian bertujuh boleh pergi mencari buah-buahan atau barang lain yang dapat dimakan. Kukira semua orang sudah sangat kelaparan."

The Oh dan Cin Koan mengiakan dan masing-masing pergi melaksanakan tugasnya.

Tidak lama kemudian mereka sudah kembali dengan membawa kantongan air untuk diminum Ting-sian, Ting-yat Suthay, dan kawan-kawan yang terluka.

Pertempuran dahsyat di Liong-coan ini ternyata memakan korban 37 orang Hing-san-pay.

Teringat pula kepada Ting-cing Suthay serta para suci dan sumoay lain yang juga sudah gugur, para murid Hing-san-pay itu menjadi berduka.

Mendadak ada di antaranya menangis tergerung-gerung sehingga bergemalah suara tangis sedih di lembah pegunungan itu.

Mendadak Ting-yat Suthay membentak bengis.

"Yang mati pun sudah mati, kenapa kalian tak bisa menguasai perasaan?"

Murid-murid Hing-san-pay kenal watak nikoh tua yang keras itu, mereka tidak berani membangkang, serentak suara tangis lantas berhenti, hanya beberapa orang di antaranya masih terguguk-guguk.

Lalu Ting-yat berkata pula.

"Bagaimana Ting-cing Suci mengalami celaka? Oh-ji, bicaramu lebih lancar, coba lapor kepada Ciangbunjin sejelas-jelasnya."

The Oh mengiakan, ia berbangkit, lalu menguraikan apa yang terjadi di Sian-he-nia di Hokkian, di mana mereka masuk perangkap musuh, tapi berkat bantuan Lenghou Tiong mereka dapat selamat.

Kemudian mereka tertawan musuh pula di Ji-pek-poh, di situ Ting-cing Suthay diancam dan dipaksa oleh Ciong Tin dari Ko-san-pay, kemudian dikerubut pula oleh orang-orang berkedok, untung Lenghou Tiong keburu datang membantu lagi, tapi lantaran luka Ting-cing Suthay cukup parah, akhirnya wafat dengan tenang.

"Ya, jelas sudah bahwa kawanan bangsat Ko-san-pay telah menyamar sebagai orang Mo-kau untuk memaksa Suci menyetujui peleburan Ngo-gak-kiam-pay,"

Kata Ting-yat Suthay.

"Hm, sungguh keji dan kejam amat rencana mereka. Jika mereka sudah berada dalam cengkeraman musuh, maka sukarlah bagi Suci untuk menolak ancaman mereka."

Sampai di sini suaranya menjadi lemah, ia terengah-engah sejenak, lalu menyambung.

"Ting-cing Suci dikepung musuh di Sian-he-nia, rupanya beliau mengetahui pihak lawan bukan orang-orang yang mudah dihadapi, maka dia telah mengirim merpati pos untuk minta bantuan kepada kami. Tak terduga ... tak terduga hal ini pun sudah berada dalam perhitungan musuh dan kita telah dicegat di sini."

Melihat keadaan Ting-yat yang sudah lemah itu, murid Ting-sian yang bernama Gi-bun membujuknya.

"Susiok, harap kau mengaso saja, biar Tecu yang menceritakan pengalaman kita ini."

"Pengalaman apa? Sudah terang musuh telah menyerbu Cui-gwe-am di malam buta dan pertempuran terus berjalan sampai hari ini,"

Kata Ting-yat.

Gi-bun mengiakan, namun diuraikan juga secara singkat apa yang sudah terjadi selama beberapa hari akhir-akhir ini.

Kiranya orang-orang Ko-san-pay yang menyerbu Cui-gwe-am di tengah malam buta itu pun pakai kedok dan menyamar sebagai anggota Mo-kau.

Diserang secara besar-besaran dan mendadak, rombongan Hing-san-pay hampir-hampir saja mengalami nasib pemusnahan keseluruhannya.

Untung para nikoh Cui-gwe-am itu pun terhitung suatu aliran persilatan tersendiri selama beberapa angkatan, di dalam biara itu masih tersimpan lima batang Liong-coan-po-kiam, pedang wasiat gemblengan khas Kota Liong-coan.

Ketua Cui-gwe-am, Jing-hiau Suthay, dalam keadaan bahaya telah membagi-bagikan pedang pusakanya kepada Ting-sian dan Ting-yat, dengan pedang pusaka yang sanggup memotong besi seperti merajang sayur itu, banyak sekali senjata pihak musuh telah dikutungi dan tidak sedikit juga melukai pihak lawan.

Dengan demikian rombongan Ting-sian dapat bertempur sambil mengundurkan diri sampai di lembah pegunungan ini.

Lembah gunung ini dahulunya terdapat tambang besi, selama beberapa tahun terkenal sebagai "Lembah Tempat Pedang".

Kemudian simpanan baja di lembah itu habis digali, tempat gembleng pedang berpindah tempat, hanya tinggal sisa-sisa tungku dan rumah pembakaran yang pernah dihuni itu.

Berkat rumah-rumah pembakaran itu pula orang-orang Hing-san-pay dapat bertahan sekian hari dan tidak sampai musnah.

Orang-orang Ko-san-pay sudah mulai mengumpulkan kayu dan rumput kering dan akan membakar hidup-hidup mereka, coba kalau datangnya Lenghou Tiong terlambat setengah hari saja pasti keadaan sudah runyam.

Ting-yat Suthay tidak sabar mendengarkan cerita Gi-bun itu, dia hanya mendelik ke arah Lenghou Tiong.

Mendadak ia berkata.

"Kau ... kau sangat baik. Tapi mengapa kau dipecat oleh gurumu, katanya kau berkomplot dengan pihak Mo-kau?"

"Tecu kurang teliti dalam pergaulan, tatkala itu memang benar berkenalan dengan beberapa tokoh dari Mo-kau,"

Sahut Lenghou Tiong.

"Hm, binatang-binatang seperti kaum Ko-san-pay ini terang lebih jahat daripada orang Mo-kau,"

Jengek Ting-yat Suthay.

"Huh, apakah orang-orang yang menamakan dirinya beng-bun-cing-pay selalu lebih baik daripada Mo-kau?"

Tiba-tiba Gi-ho menyela.

"Lenghou-suheng, bukan maksudku hendak mengolok-olok gurumu, padahal dia mengetahui bahwa Hing-san-pay kami sedang mengalami kesukaran, tapi dia sengaja berpeluk tangan tak mau membantu, di dalam hal ini bukan mustahil ... bukan mustahil dia sudah menyetujui peleburan Ngo-gak-kiam-pay sebagaimana disarankan oleh Ko-san-pay."

Tergerak hati Lenghou Tiong, ia merasa ucapan Gi-ho itu bukannya tidak mungkin.

Tapi sejak kecil ia sudah memuja sang guru, dalam hati sedikit pun tidak pernah timbul rasa kurang hormatnya kepada beliau.

Maka jawabnya.

"Kukira suhu tidak sengaja tinggal diam, besar kemungkinan beliau ada urusan penting lain, maka ... maka ...."

Sejak tadi Ting-sian memejamkan mata buat menghimpun semangat, kini perlahan-lahan ia membuka mata dan berkata.

"Hing-san-pay mengalami bencana, semuanya berkat bantuan Lenghou-siauhiap, budi kebaikan ini ...."

"Ah, Tecu hanya melakukan kewajiban sekadarnya, ucapan Supek tak berani kuterima,"

Cepat Lenghou Tiong menjawab. Ting-sian menggeleng, katanya.

"Lenghou-siauhiap tidak perlu merendah diri. Gak-suheng sendiri tidak sempat, maka murid pertamanya yang dikirim ke sini untuk membantu juga sama saja. Gi-ho, kau jangan sembarang omong dan kurang hormat kepada orang tua."

"Tecu tidak berani,"

Sahut Gi-ho sambil membungkuk tubuh.

"Cuma ... cuma Lenghou-suheng sudah diusir dari Hoa-san-pay, Gak-supek tidak mengakui dia lagi sebagai murid. Kedatangannya juga bukan atas suruhan Gak-supek."

"Kau memang selalu tidak mau kalah dan suka berdebat saja,"

Ujar Ting-sian dengan tersenyum. Dasar wataknya memang halus, selamanya tidak pernah bersuara bengis kepada anak muridnya. Mendadak Gi-ho menghela napas dan berkata pula.

"Ai, kalau Lenghou-suheng adalah wanita tentu segalanya akan menjadi baik."

"Sebab apa?"

Tanya Ting-sian Suthay.

"Dia sudah dipecat oleh Hoa-san-pay dan tidak punya ikatan keluarga lagi, jika dia wanita tentu dapat masuk menjadi anggota Hing-san-pay kita,"

Sahut Gi-ho.

"Dia telah bahu-membahu dengan kita menghadapi segala kesukaran, sudah mirip orang sendiri ...."

"Ngaco-belo! Sudah begini besar, bicaramu masih seperti anak kecil saja,"

Bentak Ting-yat Suthay. Sebaliknya Ting-sian tetap tersenyum, katanya.

"Gak-suheng hanya salah paham saja, kelak bila sudah jelas duduknya perkara tentu Lenghou-siauhiap akan diterima kembali dan justru tenaga Lenghou-siauhiap akan sangat diandalkan. Seumpama dia tidak mau kembali ke Hoa-san-pay lagi, dengan ilmu silatnya yang tinggi dan keluhuran budinya, andaikan dia mau mendirikan aliran tersendiri juga bukan soal sulit."

"Tepat sekali ucapan Supek,"

The Oh menimbrung.

"Lenghou-suheng, begitu jahat orang-orang Hoa-san-pay terhadap kau, kenapa tidak kau dirikan suatu ... suatu Lenghou-pay saja? Hm, apa kau mesti kembali lagi ke Hoa-san-pay, memangnya kau kepingin?"

Lenghou Tiong bersenyum getir, katanya.

"Dorongan Supek benar-benar sangat membesarkan hati Tecu. Tapi semoga kemudian hari suhu sudi memaafkan kesalahan Tecu dan berkenan kembali ke dalam perguruan, selain itu Tecu tidak punya keinginan lain lagi."

"Kau tidak punya keinginan lain? Bagaimana dengan siausumoaymu?"

Tanya Gi-ho yang berwatak lugu dan suka bicara blakblakan itu. Lenghou Tiong menggeleng, katanya ke pokok persoalan lain.

"Marilah kita selesaikan layon para suci dan sumoay yang gugur. Apa mesti dikebumikan atau diperabukan?"

"Ya, kira perabukan saja mereka,"

Ujar Ting-sian Suthay dengan suara rada parau melihat sekian anak muridnya bergelimpangan menjadi korban keganasan orang.

Karena itu beberapa muridnya kembali menangis lagi.

Ada beberapa murid Hing-san-pay sudah tewas beberapa hari yang lalu, ada pula yang menggeletak jauh di sana, beramai-ramai Gi-ho dan lain-lain mengumpulkan jenazah saudara-saudara seperguruan itu sembari mencaci maki kekejaman orang Ko-san-pay.

Selesai mengurusi jenazah hari pun sudah gelap.

Malam itu lantas mereka lewatkan di lembah pegunungan sunyi itu.

Besok paginya para murid Hing-san-pay mengusung Ting-sian dan Ting-yat Suthay serta saudara-saudara seperguruan yang terluka ke Kota Liong-coan.

Dari situ mereka melanjutkan perjalanan melalui sungai, mereka menyewa empat buah perahu berkabin dan menuju ke utara.

Khawatir orang Ko-san-pay menyerang pula di tengah jalan, Lenghou Tiong ikut dalam rombongan Hing-san-pay itu.

Untuk menghindarkan prasangka jelek, Gi-lim sengaja menumpang di perahu lain.

Setiap hari Lenghou Tiong omong-omong dengan Gi-ho, The Oh, Cin Koan, dan lain-lain sehingga tidak begitu kesepian.

Sementara itu keadaan Ting-sian dan Ting-yat Suthay sudah berangsur baik sesudah perahu mereka lewat Ci-tong-kan.

Sampai di muara Sungai Tiangkang, mereka lantas ganti sewa perahu lain dan berlayar ke mudik, ke hulu sungai di sebelah barat.

Perjalanan yang agak lambat itu diperkirakan setiba di Hankau semua orang yang terluka sudah dapat sembuh, di situ mereka dapat mendarat lalu melanjutkan perjalanan ke muara untuk pulang ke Hing-san.

Suatu hari sampailah mereka di muara Danau Hoan-yang-oh, perahu mereka berlabuh di tepi Kota Kiukang.

Perahu yang mereka tumpangi sekarang adalah perahu layar yang amat besar, beberapa puluh orang berkumpul menjadi satu kapal.

Di waktu malam Lenghou Tiong tidur bersama para kelasi dan juru mudi di buritan.

Tengah malam itu, tiba-tiba Lenghou Tiong mendengar di tepi sungai sana ada suara tepukan tangan yang perlahan, berturut-turut bertepuk tiga kali, berhenti sejenak lalu bertepuk tiga kali pula.

Menyusul seorang di atas perahu sebelah barat juga balas tepuk tangan tiga kali berhenti sebentar, lalu bertepuk lagi tiga kali.

Tepuk tangan itu sebenarnya tidak keras, tapi lwekang Lenghou Tiong sekarang sudah amat tinggi, dengan sendirinya daya pendengarannya juga sangat tajam.

Begitu mendengar suara yang aneh segera ia terjaga bangun.

Ia tahu tepukan tangan itu adalah kode di antara orang-orang Kangouw yang saling memberi isyarat.

Selama beberapa hari Lenghou Tiong selalu waspada dan mengawasi gerak-gerik sepanjang sungai kalau-kalau musuh menyerang secara mendadak.

Pikirnya.

"Coba kulihat siapa yang datang. Jika mereka bermaksud jahat kepada Hing-san-pay akan kubereskan saja secara diam-diam supaya tidak mengejutkan Ting-sian Suthay dan lain-lain."

Ia memandang ke perahu di sebelah barat sana, tertampak sesosok bayangan melompat ke daratan.

Cepat Lenghou Tiong ikut melompat ke tepi sungai dengan enteng sekali, lalu mengitar di belakang sederetan keranjang yang berisi guci minyak yang siap di tepi sungai itu, terus menyusur lebih dekat ke sana.

Terdengar suara seorang sedang berkata.

"Nikoh-nikoh di atas kapal itu memang tenar dari Hing-san-pay."

Lenghou Tiong berjongkok dengan diam, terdengar seorang lagi menjawab.

"Lalu bagaimana baiknya? Apakah kita turun tangan malam ini juga atau tunggu sesudah hari terang? Apakah kau mengetahui tokoh-tokoh Hing-san-pay mana yang ikut datang?"

Yang pertama tadi berkata.

"Kudengar para nikoh itu ada yang memanggil suhu dan ada yang memanggil supek, jelas Ting-sian dan Ting-yat kedua nikoh tua itu berada bersama mereka, Ting-cing sudah jelas mati di Hokkian. Menghadapi nikoh-nikoh tua itu kita harus hati-hati. Pernah kusaksikan Ting-cing bertempur dengan orang di Soatang, kedua telapak tangannya yang bekerja naik-turun itu sekaligus pernah merobohkan tiga lawan tangguh terkenal di Soatang. Kabarnya kepandaian Ting-sian lebih tinggi pula daripada Ting-yat."

"Jika begitu kukira lebih baik kita berunding dulu dengan para kawan kita,"

Kata temannya tadi.

"Tapi menurut pendapatku, asalkan kita berusaha merintangi keberangkatan kawanan nikoh ini ke barat kan urusan menjadi beres?"

Kata yang lain.

"Jika kita berunding dengan teman-teman kan menandakan kita berdua terlalu bodoh."

Dalam pada itu Lenghou Tiong telah merunduk lebih dekat, di bawah sinar bulan bintang yang remang-remang dilihatnya seorang berperawakan tegap, muka penuh godek mirip duri landak.

Seorang lagi hanya tertampak dari samping, cuma raut mukanya kelihatan panjang lancip, orang ini kedengaran sedang menjawab.

"Namun melulu kekuatan Pek-kau-pang kita jelas kita tak mampu melawan mereka. Apalagi kalau bertempur secara terang-terangan."

"Siapa bilang bertempur secara terang-terangan?"

Ujar si godek.

"Biarpun ilmu silat kawanan nikoh itu sangat tinggi, kalau sudah kecebur di dalam air apa yang bisa mereka lakukan? Besok kita tunggu saja kalau kapal mereka sudah dilepas ke tengah sungai, kita lantas selulup ke dalam sungai untuk membobol perahu mereka, dengan demikian masakah mereka takkan tertawan satu per satu?"

"Akal ini sangat bagus,"

Seru si muka lancip.

"Dengan jasa besar ini nama Pek-kau-pang (Gerombolan Ular Putih) kita tentu akan tambah gemilang di Kangouw. Cuma aku masih mengkhawatirkan sesuatu."

"Mengkhawatirkan apa?"

Tanya si godek.

"Ngo-gak-kiam-pay mereka telah berserikat, kukhawatir bila Bok-taysiansing dari Heng-san-pay mengetahui perbuatan kita, mungkin sekali dia akan mencari perkara kepada Pek-kau-pang kita."

"Hm, selama ini kita pun sudah kenyang dibuat bulan-bulanan oleh Heng-san-pay. Sebaliknya sekali ini kalau kita tidak berusaha mati-matian, kelak kalau kita ada urusan tentu kawan-kawan lain juga takkan membantu. Padahal kalau usaha besar kali ini berhasil, boleh jadi Heng-san-pay akan ikut dihancurkan pula, perlu apa mesti takut kepada seorang Bok-taysiansing segala?"

"Baik, kuterima usulmu,"

Sahut si muka lancip akhirnya.

"Sekarang juga kita kumpulkan anak buah yang mahir menyelam."

Pada saat itulah Lenghou Tiong lantas melompat ke luar, dengan gagang pedang ia ketok belakang kepala si muka lancip, kontan orang itu jatuh kelengar.

Si godek lantas memukul, tapi tahu-tahu thay-yang-hiat di pelipisnya telah kena ditonjok oleh gagang pedang Lenghou Tiong, seperti gasingan saja si godek berputar-putar dan akhirnya jatuh terduduk.

Pedang Lenghou Tiong menebas, dua buah tutup keranjang guci minyak telah dipotong, lalu kedua orang itu diangkatnya untuk dijebloskan ke dalam guci minyak yang penuh berisi minyak sayur.

Rupanya guci-guci minyak itu disiapkan untuk esok harinya akan dimuat ke dalam perahu.

Begitu kedua orang itu masuk guci minyak, seketika mulut dan hidung mereka terendam, karena kerendam minyak dingin mereka lantas siuman malah dan kontan gelagapan karena tercekok minyak.

Tiba-tiba ada orang berkata di belakang.

"Jangan mengganggu jiwa mereka, Lenghou-siauhiap!"

Itulah suara Ting-sian Suthay.

Lenghou Tiong terperanjat karena datangnya Ting-sian itu ternyata sama sekali tak diketahuinya.

Segera ia mengiakan sembari mengendurkan tangannya yang menahan di atas kepala kedua orang itu.

Begitu merasa tekanan di atas kepala sudah kendur, segera kedua orang itu bermaksud melompat ke luar.

Tapi Lenghou Tiong keburu berkata dengan tertawa.

"Eh, jangan bergerak!"

Berbareng pedangnya mengetok pula batok kepala kedua orang sehingga mereka dipaksa ke dalam guci minyak lagi.

Kedua orang itu meringkuk di dalam guci minyak dan terendam minyak sampai sebatas leher, mata mereka terbelalak bingung karena tidak mengetahui cara bagaimana mereka bisa mengalami nasib demikian.

Dalam pada itu sesosok bayangan tampak melompat dari atas perahu, kiranya Ting-yat Suthay adanya.

Dia bertanya.

"Suci, apakah ada yang tertangkap?"

"Ternyata dua tongcu dari Pek-kau-pang di Lembah Kiukang sini, Lenghou-siauhiap hanya bercanda saja dengan mereka,"

Sahut Ting-sian. Lalu ia berpaling kepada si godek dan bertanya.

"Saudara she Ih atau she Ce? Apakah Su-pangcu baik-baik saja?"

Si godek memang she Ih, sahutnya dengan heran.

"Aku she Ih, dari ... dari mana kau tahu? Su-pangcu kami sangat baik."

Dengan tersenyum Ting-sian berkata.

"Ih-tongcu dan Ce-tongcu dari Pek-kau-pang di dunia Kangouw terkenal sebagai ‘Tiangkang-siang-hui-hi’ (Dua Ikan Terbang di Sungai Tiangkang), nama kebesaran kalian sudah lama seperti bunyi guntur memekak telingaku."

Kiranya Ting-sian Suthay adalah seorang yang sangat teliti dalam segala hal, meski dia jarang berkelana, tapi macam-macam tokoh dari berbagai golongan dan aliran cukup dipahaminya.

Si godek she Ih dan si muka lancip she Ce ini sebenarnya cuma jago kelas tiga atau empat di dunia persilatan, tapi begitu melihat raut mukanya tadi ia lantas dapat menduga asal usulnya.

Si muka lancip tampak sangat senang karena pujian Ting-sian, sahutnya.

"Ah, mana kami berani terima istilah seperti guntur memekak telinga."

Mendadak Lenghou Tiong kerahkan tenaga dan menekan kepala kedua orang itu ke dalam minyak, lalu dikendurkan lagi, katanya dengan tertawa.

"Aku pun sudah lama mendengar nama kebesaran kalian seperti minyak menyusup ke dalam telinga."

Keruan si muka lancip menjadi gusar.

"Kau ... kau ...."

Ia bermaksud memaki, tapi tidak berani.

"Setiap pertanyaanku harus kau jawab dengan sejujurnya, jika dusta sedikit saja segera akan kubikin kalian ‘Ikan Terbang Sungai Tiangkang’ menjadi ‘Belut Mati Terendam Minyak’,"

Habis berkata ia terus tekan pula kepala si godek she Ih ke dalam minyak. Ting-sian dan Ting-yat tersenyum geli, mereka sama pikir.

"Pemuda ini menang nakal. Tapi caranya ini juga cara paling bagus untuk memaksa pengakuan dari tawanan."

Begitulah Lenghou Tiong lantas mulai bertanya.

"Pek-kau-pang kalian mulai kapan berkomplot dengan Ko-san-pay? Siapa yang suruh kalian membikin susah Hing-san-pay?"

"Berkomplot lengan Ko-san-pay inilah aneh?"

Sahut si godek.

"Para kesatria Ko-san-pay tiada satu pun yang kami kenal."

"Haha, pertanyaan pertama saja sudah tidak kau jawab dengan jujur, biar kau minum minyak lebih kenyang,"

Seru Lenghou Tiong. Habis berkata, kembali ia tekan kepala orang itu sehingga kelabakan pula terendam minyak. Lalu katanya terhadap si muka lancip.

"Lekas kau bicara terus terang, apakah kau juga ingin menjadi belut rendaman minyak?"

"Aku tidak ingin menjadi belut,"

Sahut orang she Ce itu.

"Tapi apa yang dikatakan Ih-toako tidaklah dusta, kami benar-benar tidak kenal tokoh Ko-san-pay. Lagi pula Ko-san-pay adalah kawan serikat Hing-san-pay sendiri, hal ini diketahui oleh setiap orang bu-lim, mana mungkin Ko-san-pay menyuruh kami membikin susah Hing-san-pay kalian."

Lenghou Tiong angkat pedangnya untuk melepaskan kepala she Ih itu, lalu bertanya pula.

"Tadi kau mengatakan besok akan menenggelamkan kapal yang ditumpangi Hing-san-pay di tengah sungai, maksud kalian benar-benar keji, sebenarnya apa salahnya Hing-san-pay terhadap kalian?"

Ting-yat Suthay yang datang belakangan belum mengetahui apa sebabnya Lenghou Tiong mengompes kedua orang itu, sekarang demi mendengar keterangan itu, ia menjadi gusar dan membentak.

"Bangsat kurang ajar, jadi kau bermaksud menenggelamkan kami."

Anak murid Hing-san-pay hampir seluruhnya adalah orang utara yang tidak dapat berenang, jika benar kapal mereka tenggelam di tengah sungai, maka sukar untuk menghindarkan diri dari mati tenggelam.

Kalau dibayangkan sungguh mengerikan.

Khawatir kalau dibenamkan lagi ke dalam minyak, lekas-lekas orang she Ih itu mendahului menjawab.

"Selamanya Hing-san-pay tiada permusuhan apa-apa dengan Pek-kau-pang kami yang tiada artinya ini, mana kami berani pula mencari perkara kepada Hing-san-pay kalian. Hanya saja kami ... kami menyangka kalian adalah sesama pemeluk agama Buddha, kepergian kalian ke arah barat besar kemungkinan akan memberikan bantuan, maka ... maka secara sembrono timbul maksud jelek kami. Tapi lain kali kami tidak berani lagi."

Makin mendengar makin bingung Lenghou Tiong, tanyanya.

"Apa maksudmu sesama pemeluk agama dan memberi bantuan segala? Bicaralah yang jelas, bikin bingung saja."

"Ya, ya,"

Sahut orang she Ih.

"Meski Siau-lim-pay bukan satu di antara Ngo-gak-kiam-pay, tapi kami kira hwesio dan nikoh adalah orang satu keluarga ...."

"Kurang ajar!"

Mendadak Ting-yat membentak.

Orang she Ih itu kaget, tanpa disadari terus mengkeretkan tubuhnya sehingga kelabakan karena mulutnya kemasukan minyak.

Dengan menahan tawa Ting-yat menuding si muka lancip.

"Lekas kau yang bicara!"

"Ya, ya,"

Sahut orang she Ce.

"Ada seorang ‘Ban-li-tok-heng’ Dian Pek-kong, entah Suthay kenal baik tidak dengan dia?"

Ting-yat menjadi gusar, pikirnya Dian Pek-kong itu adalah manusia cabul, masakah dirinya seorang padri suci kenal baik dengan dia?

Benar-benar suatu penghinaan besar, segera sebelah tangannya melayang, kontan ia hendak menempeleng orang she Ce.

Tapi Ting-sian Suthay keburu mencegah, katanya.

"Sumoay jangan gusar, mungkin otak mereka sudah beku karena terendam minyak, maka bicara tak keruan."

Lalu ia tanya orang she Ce.

"Ada apa tentang Dian Pek-kong?"

"Dian Pek-kong, Dian-toaya itu adalah sobat baik Su-pangcu kami,"

Sambung orang she Ce.

"Beberapa hari yang lalu Dian-toaya ...."

"Dian-toaya apa? Manusia kotor begitu sudah lama seharusnya dibunuh, tapi kalian malah berkawan dengan dia, ini menandakan Pek-kau-pang kalian juga bukan manusia baik-baik,"

Kata Ting-yat dengar gusar. Orang she Ce menjadi ketakutan, berulang-ulang ia hanya mengiakan saja.

"Kami hanya tanya apa sebabnya Pek-kau-pang kalian memusuhi Hing-san-pay, kenapa kau sebut-sebut pula Dian Pek-kong?"

Ujar Ting-yat pula.

Lantaran dahulu Dian Pek-kong pernah mengganggu muridnya, yaitu Gi-lim, ia pun tidak berhasil membunuhnya, hal ini dianggapnya sebagai kejadian yang memalukan, maka ia merasa risi jika orang menyebut namanya Dian Pek-kong.

Kembali orang she Ce mengiakan, katanya.

"Ya, ya. Soalnya kawan-kawan ingin menolong Yim-siocia, tapi khawatir orang-orang cing-pay membantu kaum hwesio, maka kami berdua yang sembrono ini ikut-ikut timbul pikiran baru ...."

Ting-yat tambah bingung mendengar cerita yang tak keruan juntrungannya itu, ia menghela napas dan berkata.

"Suci, kedua orang dogol ini harus kau yang tanyai saja."

Ting-sian tersenyum, katanya kemudian.

"Yim-siocia katamu, apakah kau maksudkan putri Yim-kaucu dari Tiau-yang-sin-kau yang dulu?"

Lenghou Tiong tergetar.

"Apa yang mereka maksudkan adalah Ing-ing?"

Wajahnya berubah seketika dan tangan mengeluarkan keringat.

"Ini ... inilah kurang jelas,"

Sahut orang she Ce.

"Yang jelas beberapa waktu yang lalu Dian-toaya, eh keliru, Dian Pek-kong telah bertamu kepada Su-pangcu kami, katanya menurut rencana pada tanggal 15 bulan 12 yang akan datang ini para kawan beramai-ramai akan menyerbu Siau-lim-si untuk menyelamatkan Yim-siocia."

"Menyerbu Siau-lim-si? Apa kepandaian kalian sehingga berani menepuk lalat di atas kepala harimau? Kurang ajar benar keparat Dian Pek-kong itu,"

Omel Ting-yat.

"Ya, ya, tentu saja kami tak mampu apa-apa,"

Sahut orang she Ce.

"Kukira Dian Pek-kong itu hanya bertugas sebagai penghubung saja karena kakinya paling cepat,"

Ujar Ting-sian.

"Dalam urusan ini sesungguhnya siapa yang memegang pimpinan?"

Dari tadi orang she Ih diam saja, sekarang ia lantas menyela.

"Ketika para kawan mendengar Yim-siocia dikurung oleh kepala gun ... eh, maksudku hwesio-hwesio dari Siau-lim-si, serentak semua orang menyatakan siap pergi menolong Yim-siocia, maka sukar dikatakan siapa yang pegang pimpinan."

Bab 88. Yim Ing-ing Disekap Dalam Siau-lim-si "Apa kalian tidak takut kepada Tiau-yang-sin-kau (nama Mo-kau yang asli)?"

Tanya Ting-sian.

"Bila teringat kepada budi kebaikan Yim-siocia, betapa pun Tonghong-kaucu akan merintangi juga tak dipikir lagi oleh para kawan,"

Sahut orang she Ih.

"Semua kawan menyatakan, sekalipun badan hancur lebur bagi Yim-siocia juga rela."

Seketika itu timbul macam-macam pertanyaan dalam benak Lenghou Tiong.

"Yim-siocia yang mereka katakan itu apakah benar Ing-ing adanya? Sebab apa dia ditahan oleh padri Siau-lim-si? Jika betul dia orang Mo-kau, mengapa Tonghong-kaucu dari Mo-kau malah akan merintangi orang-orang yang bermaksud menolongnya? Usianya masih muda belia, apa budi kebaikannya terhadap orang-orang lain? Mengapa orang-orang sebanyak ini siap berkorban baginya demi mendengar dia berada dalam bahaya? Melihat gelagatnya Ting-sian Suthay terang mengetahui lebih banyak daripadaku, entah dia akan tinggal diam atau akan pergi membantu pihak Siau-lim-pay?"

Terdengar Ting-sian Suthay berkata.

"Kalian khawatir Hing-san-pay kami pergi membantu Siau-lim-pay, sebab itu kalian bermaksud menenggelamkan kapal kami?"

"Ya,"

Sahut orang she Ce.

"sebab kami pikir hwesio dan nikoh sama-sama itu ... ini ...."

"Sama-sama ini itu apa?"

Damprat Ting-yat dengan gusar.

"Ya, ya, ini ... itu ... hamba tidak berani banyak omong ...."

Kata orang she Ce dengan gelagapan.

"Sebelum tanggal 15 bulan 12 tiba, tentunya Pek-kau-pang kalian juga akan pergi ke Siau-lim-si bukan?"

Tanya Ting-sian.

"Hal ini tergantung perintah Su-pangcu,"

Sahut orang she Ce dan she Ih bersama. Lalu yang she Ce menambahkan.

"Karena kelompok-kelompok teman yang lain beramai-ramai akan pergi, rasanya Pek-kau-pang kami juga takkan ketinggalan."

"Kelompok-kelompok lain? Siapa-siapa saja mereka?"

Tanya Ting-sian.

"Menurut Dian ... Dian Pek-kong, katanya ada Hay-soa-pang dari Ciatkang, Hek-hong-hwe dari Soatang, Thian-ho-pang, Tiang-keng-pang ...."

Begitulah berturut-turut ia menyebut beberapa puluh gerombolan dan perkumpulan Kangouw. Ting-yat mengerut kening, katanya.

"Semuanya orang-orang sesat yang tidak punya pekerjaan yang baik. Biarpun berjumlah sebanyak itu juga belum tentu mampu melawan Siau-lim-pay."

Mendengar nama-nama yang disebut orang she Ce tadi ada sebagian pernah dikenalnya ketika di Ngo-pah-kang dahulu, maka Lenghou Tiong tambah yakin bahwa Yim-siocia yang dimaksudkan itu pastilah Ing-ing.

Cepat ia ikut tanya.

"Sebenarnya apa sebabnya pihak Siau-lim-pay menahan ... menahan Yim-siocia itu?"

"Entahlah, mungkin sekali kawanan hwesio Siau-lim-si itu terlalu kenyang makan dan iseng, maka sengaja cari gara-gara,"

Sahut orang she Ce.

"Baiklah, silakan kalian pulang menyampaikan salam kami kepada Su-pangcu, katakan kami tidak sempat mampir. Perjalanan kami selanjutnya juga diharapkan bantuan kalian, semoga jangan mengirim orang membobol kapal yang kami tumpangi ini."

Berulang-ulang kedua orang Pek-kau-pang itu mengiakan dan menyatakan tidak berani. Lalu Ting-sian berkata pula kepada Lenghou Tiong.

"Malam yang tenang dan permai ini silakan Lenghou-siauhiap menikmati lebih jauh, maafkan kami tidak mengiringi lagi."

Habis berkata bersama Ting-yat mereka lantas melangkah kembali ke kapal.

Lenghou Tiong tahu nikoh tua itu sengaja menyingkir agar dirinya dapat tanya lebih jelas terhadap kedua orang Pek-kau-pang itu.

Tapi seketika pikirannya menjadi kacau sehingga tidak tahu apa yang harus ditanyakan kepada mereka.

Ia berjalan mondar-mandir di tepi sungai, sebentar-sebentar berdiri termenung, lalu mondar-mandir lagi.

Dilihatnya bayangan bulan bergerak-gerak di tengah riak air, mendadak teringat olehnya.

"Hari ini sudah tanggal tua bulan 11. Padahal mereka beramai-ramai akan menuju Siau-lim-si pada tanggal 15 bulan 12, jadi waktunya sudah dekat. Hong-ting dan Hong-sing Taysu dari Siau-lim-pay sangat baik padaku, orang-orang yang bermaksud menolong Ing-ing pasti akan bertempur dengan Siau-lim-pay, tak peduli pihak mana yang menang, yang pasti kedua pihak tentu akan jatuh korban. Ada baik sekali jika sekarang aku mendahului pergi memohon Hong-ting Taysu agar suka membebaskan Ing-ing sehingga pertumpahan darah dapat dihindarkan, cara demikian kan sangat bagus? Sementara ini Ting-sian dan Ting-yat Suthay juga sudah pulih semua kesehatannya, meski tampaknya sudah tua dan sangat alim, tapi sesungguhnya Ting-sian Suthay adalah seorang tokoh bu-lim yang hebat, maka perjalanan pulang ke utara rasanya takkan mengalami sesuatu kesulitan. Cuma cara bagaimana aku harus mohon diri kepada mereka?"

Maklumlah, selama beberapa hari ini ia telah hidup berdampingan dengan para nona dan nikoh Hing-san-pay itu, mereka sangat hormat dan menyukainya, meski mereka memanggilnya "Lenghou-suheng", tapi sebenarnya menganggapnya seperti seorang paman guru mereka.

Sekarang mendadak harus berpisah rasanya sukar untuk dikemukakan.

Tiba-tiba terdengar suara tindakan orang yang halus, dua orang perlahan-lahan mendekat.

Kiranya adalah Gi-lim dan The Oh.

Beberapa meter di hadapan Lenghou Tiong mereka lantas berhenti dan memanggil.

"Lenghou-toako."

Cepat Lenghou Tiong memapak maju, tanyanya.

"Rupanya kalian juga terjaga bangun!"

"Lenghou-toako,"

Kata Gi-lim.

"Ciangbun-supek suruh kami mengatakan padamu ...."

Sampai di sini suaranya menjadi rada tergagap, ia mengutik The Oh dan berkata.

"Kau saja yang katakan padanya."

"Kau yang disuruh ciangbun-susiok untuk mengatakan padanya,"

Ujar The Oh.

"Kau yang bicara juga sama saja,"

Sahut Gi-lim.

"Lenghou-toako,"

The Oh lantas menyambung.

"ciangbun-susiok bilang, budi besar tidak perlu menonjolkan rasa terima kasih, yang pasti selanjutnya segala urusan Hing-san-pay siap di bawah perintahmu. Jika engkau ingin pergi ke Siau-lim-si buat menolong Yim-siocia, maka kami sekalian pasti akan ikut berusaha sepenuh tenaga."

Lenghou Tiong menjadi heran, pikirnya.

"Aku toh tidak menyatakan akan pergi menolong Ing-ing, dari mana Ting-sian Suthay mengetahui? Ai, benarlah! Ketika para pahlawan berkumpul di Ngo-pah-kang, semuanya menyatakan hendak menyembuhkan penyakitku, sudah tentu usaha mereka disebabkan keseganan mereka terhadap Ing-ing. Kejadian itu telah menggegerkan dunia Kangouw dan diketahui setiap orang, sudah tentu Ting-sian Suthay juga mendengar akan peristiwa itu."

Teringat akan hal ini, tanpa terasa mukanya menjadi merah. Dalam pada itu The Oh telah menyambung lagi.

"Ciangbun-susiok bilang, soal ini paling baik jangan pakai kekerasan. Beliau dan Ting-yat Susiok berdua saat ini sudah menyeberangi sungai terus menuju ke Siau-lim-si untuk memohon Hong-ting Taysu sudi membebaskan Yim-siocia, adapun kami di bawah pimpinan Lenghou-toako boleh menyusul ke sana secara perlahan-lahan."

Seketika Lenghou Tiong tertegun mendengar cerita itu, untuk sejenak ia tidak sanggup bicara.

Ketika memandang ke tengah sungai, benar juga tertampak sebuah sampan kecil dengan layar putih sedang laju ke utara.

Tak terkatakan perasaannya saat itu.

Ia berterima kasih dan malu pula.

Katanya di dalam hati.

"Kedua Suthay adalah orang alim di dalam agama, orang kosen pula di dalam bu-lim, jika mereka sudi tampil ke muka untuk mohon kemurahan hati Siau-lim-pay cara ini adalah paling baik memang daripada seorang keroco yang tiada artinya seperti diriku ini. Besar kemungkinan Hong-ting Taysu akan membebaskan Ing-ing atas permohonan Ting-sian dan Ting-yat Suthay."

Berpikir demikian, hatinya menjadi lega pula.

Ia berpaling, dilihatnya orang she Ih dan she Ce tadi masih longak-longok di dalam guci minyak dan tidak berani merangkak ke luar.

Mengingat maksud tujuan kedua orang itu pun hendak menolong Ing-ing, sekarang dirinya memperlakukan mereka secara demikian, timbul rasa tidak enak dalam hati Lenghou Tiong.

Cepat ia mendekati mereka sambil memberi hormat, katanya.

"Lantaran kecerobohanku tadi sehingga membikin susah ‘Tiangkang-siang-hui-hi’ berdua kesatria, soalnya memang aku tidak tahu duduknya perkara, maka diharap kalian sudi memaafkan."

Sudah tentu Sepasang Ikan Terbang dari Tiangkang itu terheran-heran melihat sikap Lenghou Tiong yang aneh itu, mula-mula garang terhadap mereka, tapi sekarang memberi hormat dan minta maaf segala.

Cepat mereka pun merangkap tangan dan membalas hormat.

Karena kelakuan mereka yang sibuk itu, minyak sayur yang merendam mereka lantas muncrat sehingga Lenghou Tiong, Gi-lim, dan The Oh kecipratan tetesan minyak.

Dengan tersenyum Lenghou Tiong manggut-manggut, katanya terhadap Gi-lim dan The Oh.

"Marilah kita kembali saja."

Sampai di atas kapal, para murid Hing-san-pay sama sekali tidak menyinggung lagi urusan itu.

Sampai Gi-ho dan Cin Koan yang biasanya suka usilan juga tidak tanya satu kata pun kepada Lenghou Tiong.

Agaknya sebelum berangkat Ting-sian Suthay telah memberi pesan demikian kepada mereka agar tidak membikin rikuh Lenghou Tiong.

Walaupun dalam hati Lenghou Tiong sangat berterima kasih, tapi demi melihat lagak lagu beberapa murid Hing-san-pay memperlihatkan wajah tersenyum-senyum aneh, mau tak mau ia merasa kikuk juga.

Pikirnya.

"Dari sikap mereka ini jelas kelihatan mereka yakin Ing-ing adalah kekasihku. Padahal hubunganku dengan Ing-ing boleh dikata suci bersih, selamanya tidak pernah bicara satu patah kata mesra yang menyangkut laki-laki dan perempuan. Tapi mereka tidak tanya, cara bagaimana aku memberi penjelasan?"

Ketika berhadapan dengan Cin Koan dan melihat sorot mata si nona berkedip-kedip penuh arti menggoda, tak tahan lagi Lenghou Tiong lantas berkata.

"Sama sekali bukan begitu halnya, kau ... kau jangan menduga sembarangan."

"Aku menduga sembarangan apa?"

Sahut Cin Koan tertawa. Dengan muka merah Lenghou Tiong berkata.

"Aku dapat terka pikiranmu."

"Terka apa?"

Tanya Cin Koan. Belum Lenghou Tiong menanggapi, tiba-tiba Gi-ho menyela.

"Cin-sumoay, jangan banyak bicara lagi, apa kau sudah lupa akan pesan supek?"

"Ya, ya, aku masih ingat,"

Sahut Cin Koan sambil dekap mulut dan menahan tawa.

Waktu Lenghou Tiong berpaling, dilihatnya Gi-lim duduk menyendiri di pojok sana dengan wajah pucat, sikapnya sangat dingin.

Tergerak hati Lenghou Tiong, pikirnya.

"Entah apa yang sedang direnungkannya? Mengapa dia tidak mau bicara dengan aku?"

Dengan termangu-mangu Lenghou Tiong memandanginya, tiba-tiba teringat ketika dirinya terluka di luar Kota Heng-san dan dibawa lari dalam pangkuan Gi-lim, tatkala itu betapa perhatian dan mesranya dia terhadapnya, sama sekali berbeda daripada sikapnya yang dingin dan tak acuh seperti sekarang ini.

Apa sebabnya?

Begitulah ia memandang dengan kesima, sebaliknya Gi-lim tetap diam saja seperti orang sedang semadi.

"Lenghou-suheng!"

Tiba-tiba Gi-ho memanggil. Tapi Lenghou Tiong tidak mendengar, ia tidak menjawab.

"Lenghou-suheng!"

Kembali Gi-ho memanggil dengan lebih keras. Dengan terkejut Lenghou Tiong menoleh, sahutnya.

"O, ada apa?"

"Ciangbun-supek memberi pesan apakah besok kita akan tetap meneruskan perjalanan dengan kapal atau ganti melalui daratan, katanya terserah kepada keinginan Lenghou-suheng."

Sesungguhnya di dalam hati Lenghou Tiong sangat ingin meneruskan perjalanan darat agar bisa lekas-lekas mendapat beritanya Ing-ing, tapi ketika melirik, dilihatnya kelopak mata Gi-lim berlinang air mata dan harus dikasihani, terpikir olehnya.

"Mereka tentu menyangka aku terburu-buru ingin menjumpai Ing-ing, padahal tiada terkandung pikiranku demikian."

Maka katanya kemudian.

"Ciangbun Suthay suruh kita menyusulnya perlahan-lahan, maka biarlah kita tetap menumpang kapal saja. Rasanya kaum Pek-kau-pang takkan berani mengganggu kita lagi."

"Apakah kau tidak khawatir lagi?"

Tanya Cin Koan dengan tertawa. Muka Lenghou Tiong menjadi merah. Belum dia menjawab, tiba-tiba Gi-ho membentak.

"Cin-sumoay, anak perempuan kecil, kenapa selalu usil?"

"Aku sih tidak usil!"

Sahut Cin Koan dengan tertawa.

"Omitohud, aku hanya sedikit khawatir."

Begitulah besoknya kapal mereka terus menempuh arus ke hulu sungai.

Lenghou Tiong memerintahkan juru mudi menjalankan perahu menyusur tepian untuk menjaga kalau-kalau orang Pek-kau-pang mengganggu lagi.

Tapi setiba di wilayah Oupak tidak pernah terjadi apa-apa.

Untuk selanjutnya selama beberapa hari Lenghou Tiong tidak banyak pasang omong dengan anak murid Hing-san-pay itu.

Setiap malam bila perahu berlabuh ia suka mendarat untuk minum arak, kembalinya tentu dalam keadaan mabuk.

Hari itu perahu mereka membelok ke utara menuju ke hulu Han-sui, malamnya perahu mereka berlabuh di suatu kota kecil Keh-bin-to.

Kembali Lenghou Tiong mendarat pula untuk minum arak.

Keh-bin-to itu hanya ada 20-an rumah, dia minum beberapa kati arak di suatu kedai arak yang sepi dan sederhana.

Tiba-tiba timbul pikirannya.

"Entah bagaimana keadaan luka siausumoay? Agaknya obat yang diantar Gi-cin dan Gi-leng itu akan dapat menyembuhkan lukanya. Dan bagaimana pula luka Lim-sute? Jika Lim-sute tak bisa disembuhkan, lantas bagaimana dengan siausumoay?"

Sampai di sini ia menjadi terkesiap sendiri, pikirnya.

"Wahai Lenghou Tiong, kau benar-benar manusia yang rendah. Kau mengharapkan luka siausumoay lekas sembuh, tapi kau menginginkan pula kematian Lim-sute oleh lukanya yang parah. Apa sesudah Lim-sute mati lantas siausumoay akan kawin dengan kau?"

Karena terlalu iseng, berturut-turut ia menghabiskan pula beberapa mangkuk arak. Lalu berpikir lagi.

"Entah siapa yang membunuh Lo Tek-nau dan patsute? Mengapa orang itu menyerang Lim-sute pula? Ai, berturut-turut Hoa-san-pay kehilangan beberapa murid, boleh dikata banyak mematahkan kekuatannya. Entah bagaimana pula keadaan suhu dan sunio sekarang ini?"

Ia angkat mangkuk arak, sekali tenggak kembali dihabiskan isinya.

Kedai kecil itu tiada penganan-penganan teman arak, yang ada cuma kacang goreng.

Maka Lenghou Tiong mencomot beberapa biji kacang goreng ke dalam mulutnya.

Tiba-tiba terdengar suara orang menghela napas di belakangnya sambil berkata.

"Ai, laki-laki di dunia ini sembilan dari sepuluh orang berhati palsu."

Lenghou Tiong menoleh dan memandang ke arah orang yang bicara itu, di bawah cahaya lilin yang rada guram ternyata di dalam kedai arak itu selain dirinya hanya ada seorang lagi yang mendekam di atas meja di pojok sana.

Di atas meja tertaruh poci dan cawan arak, pakaian orang itu compang-camping, melihat keadaannya tidak menyerupai orang yang terpelajar.

Kembali Lenghou Tiong menenggak araknya tanpa ambil pusing kepada orang itu.

Ketika ia hendak mengisi mangkuknya lagi, ternyata isi poci sudah kosong.

Terdengar orang di belakangnya berkata pula.

"Lantaran kau, orang telah dikurung di tempat yang gelap gulita, tapi kau sendiri malah berkecimpung di tengah-tengah pupur dan gincu, baik nona cilik maupun nikoh yang gundul dan nenek-nenek, semuanya jadi. Ai, sungguh kasihan dan harus disesalkan."

Lenghou Tiong tahu yang dimaksudkan orang itu pasti dirinya, ia tidak menoleh, pikirnya.

"Siapakah orang ini? Dia mengatakan ‘lantaran kau orang telah dikurung di tempat gelap gulita’, apa yang dia maksudkan adalah Ing-ing? Mengapa Ing-ing sampai terkurung lantaran diriku?"

Karena sengaja ingin mendengar lebih banyak, maka ia diam saja. Terdengar orang itu berkata pula.

"Justru banyak manusia-manusia yang tidak bersangkutan suka ikut campur urusan, katanya siap pergi menolong orang meski jiwa bakal melayang. Tapi mereka justru ingin berebut menjadi kepala, urusan belum dikerjakan sudah saling baku hantam sendiri. Ai, urusan Kangouw ini membuat aku merasa sebal."

Tanpa menoleh sedikit pun Lenghou Tiong terus melompat ke belakang, dengan tepat ia jatuh ke bawah dan duduk di hadapan orang itu sembari tangan masih memegangi mangkuk arak, katanya.

"Cayhe tidak paham urusan-urusan itu, mohon Lauheng (saudara) sudi memberi petunjuk."

Tapi orang itu tetap berdekap di atas meja tanpa mengangkat kepala, katanya.

"Ai, betapa senangnya tentu sebanyak itu pula dosamu. Para nona dan nikoh Hing-san-pay agaknya malam ini akan tertimpa bencana."

Lenghou Tiong tambah kejut, cepat ia berbangkit dan memberi hormat, katanya.

"Harap Cianpwe terima salam hormat Lenghou Tiong ini dan mohon suka memberi petunjuk-petunjuk yang berguna."

Mendadak dilihatnya di sisi bangku yang diduduki orang itu tertaruh sebuah rebab tua, tiba-tiba hati Lenghou Tiong tergerak, tahulah dia siapa gerangan orang ini. Cepat ia menyembah dan berkata.

"Wanpwe Lenghou Tiong beruntung dapat berjumpa dengan Bok-supek dari Heng-san. Maafkan tadi telah kurang hormat."

Baru sekarang orang itu mengangkat kepalanya, sorot matanya yang tajam menatap sekejap ke arah Lenghou Tiong. Memang betul dia adalah "Siau-siang-ya-uh"

Bok-taysiansing, itu ketua Heng-san-pay. Dia mendengus, lalu menjawab.

"Aku tidak berani terima panggilan supek. Lenghou-tayhiap, selama beberapa hari ini kau benar-benar senang."

"Harap Bok-supek maklum,"

Sahut Lenghou Tiong sambil membungkuk tubuh.

"Tecu diperintahkan Ting-sian Supek agar ikut para suci dan sumoay dari Hing-san-pay menuju ke Siau-lim-si. Walaupun Tecu rada sembrono, tapi sedikit pun tidak berani berbuat kurang sopan terhadap para suci dan sumoay Hing-san-pay itu."

"Ai, sudahlah, silakan duduk saja,"

Kata Bok-taysiansing sambil menghela napas.

"Apakah kau tidak tahu bahwa orang Kangouw telah geger dan ramai membicarakan dirimu."

"Kelakuan Wanpwe memang rada sinting dan kurang prihatin, sampai-sampai perguruan sendiri juga tidak dapat memberi ampun, maka terhadap omongan iseng di kalangan Kangouw tak dapat Wanpwe ambil pusing lagi,"

Sahut Lenghou Tiong dengan tersenyum pahit.

"Hm, jika kau rela dianggap sebagai pemuda bangor, tentu orang lain juga takkan peduli,"

Jengek Bok-taysiansing.

"Tapi nama baik Hing-san-pay selama beberapa ratus tahun itu ikut runtuh di tanganmu, apakah sedikit pun kau tidak punya perasaan. Dunia Kangouw telah geger, katanya kau seorang laki-laki telah bercampur baur di tengah gerombolan nona-nona jelita dan nikoh muda Hing-san-pay. Jangankan nama bersih berpuluh nona yang masih perawan itu ternoda, sampai-sampai suthay-suthay tua yang suci bersih itu pun ikut-ikut dibuat bahan tertawaan. Hal ini benar-benar sudah keterlaluan."

Serentak Lenghou Tiong melompat bangun sambil meraba pedangnya, serunya.

"Entah siapa yang sengaja menyiarkan kabar bohong yang tidak berdasar dan memalukan itu? Mohon Bok-supek memberi tahu."

"Apakah kau bermaksud membunuh mereka?"

Tanya Bok-taysiansing.

"Hm, orang Kangouw yang bicara tentang dirimu sedikitnya beribu-ribu banyaknya, apakah kau sanggup membunuh habis mereka? Padahal semua orang sama kagum atas rezekimu yang nomplok itu, apa sih jeleknya? Lenghou Tiong duduk kembali dengan lesu, katanya di dalam hati.

"Ya, memang perbuatanku suka menuruti jalan pikiranku sendiri tanpa menimbang bahwa nama baik Hing-san-pay akan ikut tercemar. Lantas apa yang harus kulakukan sekarang?"

Terdengar Bok-taysiansing menghela napas, katanya dengan suara ramah.

"Selama lima hari ini, setiap malam aku mengintai ke kapal kalian ...."

"Hah!"

Lenghou Tiong bersuara kaget. Katanya di dalam hati.

"Kiranya berturut-turut lima malam Bok-supek telah mengintai ke atas kapal, tapi sedikit pun aku tidak tahu, sungguh teramat tidak becus aku ini."

Lalu Bok-taysiansing menyambung pula.

"Aku menyaksikan setiap malam kau tidur di buritan kapal tanpa lepas baju, jangankan perbuatan tidak sopan kepada murid-murid Hing-san-pay, bahkan omong-omong iseng juga tidak. Lenghou-laute, kau tidak cuma bukan pemuda bangor, sesungguhnya kau adalah laki-laki yang tahu aturan, sedikit pun hatimu tidak tergoyah oleh nona-nona jelita yang memenuhi kapal itu, bahkan berlangsung sekian lamanya imanmu tetap bertahan, sungguh jarang terdapat laki-laki sejati seperti kau. Aku benar-benar kagum sekali."

Ia mengacungkan jempolnya, lalu mengetok meja dan berkata pula.

"Marilah kusuguh kau satu cawan."

Segera ia angkat poci arak untuk menuangi mangkuk Lenghou Tiong.

"Ucapan Bok-supek sungguh membikin Siautit merasa gugup,"

Sahut Lenghou Tiong.

"Sebenarnya Siautit juga bukan patung, sekali-kali Siautit juga suka iseng, hanya saja kurasa tidak pantas punya pikiran jahat terhadap para suci dan sumoay dari Hing-san-pay."

"Kau benar-benar seorang laki-laki sejati,"

Puji Bok-taysiansing dengan tertawa.

"Jika usiaku lebih muda 20 tahun, mana aku sanggup menjaga diri seperti kau tiap malam bersanding dengan nona-nona sebanyak itu. Kau benar-benar hebat. Mari, habiskan semangkuk ini!"

Begitulah kedua orang lantas mengangkat mangkuk masing-masing, sekali tenggak segera habis isinya.

Lalu kedua orang bergelak tertawa.

Kalau melihat potongan dan dandanan Bok-taysiansing yang jelek, mana bisa mirip seorang ciangbunjin yang namanya disegani di dunia Kangouw.

Tapi terkadang sorot matanya menunjukkan kegagahperwiraannya, hanya saja tanda-tanda demikian itu sekilas saja lantas lenyap dan kembali berwujud seorang yang buruk rupa.

Pikir Lenghou Tiong.

Baca Juga: Kembalinya Sang Pendekar Rajawali 21

Baca Juga: Si Rase Hitam 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert