Eps 2 Si Rase Hitam - Chin Yung
Baca online Si Rase Hitam - Chin Yung
Cersil Si Rase Hitam - Chin Yung.
"Alangkah senangnya orang menjadi anak kecil, yang belum mengetahui apa2. Entah apa yang dilihatnya dalam mimpinya sehingga dia tersenyum begitu bahagia", pikirnya seorang diri. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, ayah beranak itu telah dikagetkan oleh suara heboh, yang diterbitkan caci maki beberapa orang pelayan rumah penginapan tersebut, kemudian di tambah pula dengan suara yang geram dari kuasa rumah penginapan itu. Entah mengapa mereka dipagi hari seperti itu telah ribut, agaknya mereka tengah saling salah mempersalahkan satu dengan yang lainnya. Hanya anehnya, suara2 itu keluar dari kamar disebelah kamar Ouw Hui. Sedangkan Ouw Hui jadi heran sekali dan Ouw Ho, yang sesungguhnya sudah dapat menerka apa yang telah terjadi, telah ikut pura2 heran juga. Mereka segera keluar uniuk mengetahui sebab musabab keributan itu. Ternyata keempat orang tamu yang menempati kamar disebelah itu, semalam telah pergi dengan diam2 tanpa membayar uang sewa kamar dan kini kuasa dan pelayan2 rumah penginapan itu masing2 tidak mau bertanggung jawab. Tepat sebagai perkiraan Ouw Ho, tidak sampai satu jam kemudian orang2 itu telah tersadar dari totokan. Betapa mendongkol mereka, ket'ka, mendapatkan diri mereka dalam keadaan begitu, dan juga betapa mereka malu Sekali, karena sebagai jagc-2 silat yang tidak lemah mereka telah dirubuhkan tanpa sanggup melakukan perlawanan sama sekali. Lebih penasaran lagi justru tidak diketahuinya siapa lawan yang dirubuhkan mereka. Per-tama2 mereka hendak menduga Ouw Hui, tetapi keempatnya masih ingat bahwa ketika tadi terdengar kedatangan musuh Itu, mereka masih mendengarkan suara dan tertawa Ouw Hui dikamar kuasa rumah penginapan itu, sehingga tidak mungkin Ouw Hui yang mengerjakan mereka, terkecuali jika Ouw Hui memang sanggup memecah tubuhnya menjadi dua. Karena itu, mereka segera menduga bahwa ada seseorang yang telah membantui Ouw Hui secara diam2. Karena belum apa2 mereka sudah harus mengalami peristiwa yang memalukan seperti itu, maka untuk sementara waktu nafsu mereka untuk membalas dendam telah padam. Ingin sekali mereka cepat2 pergi, kalau memang bisa, Tetapi dengan tangan dan taocang diikat menjadi satu walaupun kaki mereka bebas tidak dapat mereka pergi. Lebih dulu mereka harus melepaskan ikatan itu. Dengan mengerahkan seluruh tenaga dan menahan perasaan sakit sedapat mungkin, akhirnya berhasillah mereka memutuskan tali pengikat tangan mereka. Kiai mereka masih harus membuka ikatin taocang mereka. Tetapi dengan diikatan erat2, sehiagga belakang kepala mereka saling menempel satu dengan lainnya, tidak mudah bagi mereka untuk membukanya. Karena ter-gesa2, dalam dan mendongkolnya, mereka jadi semakin tidak bisa membuka ikatan itu. Lama Kelamaan mereka jadi semakin tidak sabar dan delapan tangan masing2 telah saling rebut menggerayangi rambut mereka. Tentu saja usaha kacau seperti itu semakin menipiskan harapan akan berhasilnya dengan saling tarik dan membetot tidak hentinya. Dan juga telah menambah penderitaan untuk mereka berempat belaka. Beberapa kali terdengar salah seorang di antara mereka memekik perlahan karena kesakitan. Akhirnya salah seorang diantara mereka memperoleh akal. Dia merabah sakunya dan mengeluarkan sebilah belati. Setelah meminta kawan2nya menyingkir tangan masing2, dia segera memotong ikatan rambut itu. Kini bebaslah sudah ke-empat2nya, tetapi taocang mereka juga ikut terlepas dari kepala masing2. Untuk saat itu, setiap pria di Tionggoan yang tidak memakai toacang tentu akan dicemooh oleh masyarakat disekelilingnya. Karena itu, dapatlah dimengerti betapa malunya mereka oleh peristiwa seperti itu, waLu pun pada saat itu tidak ada yang melihat atau menyaksikannya, Cepat2 mereka telah masuk kedalam kamar untuk mengambil bungkusan masing2 meninggal kan penginapan itu tanpa pamit dan tanpa membayar sewa kamar. Keesokan harinya Ouw Hui sudah menjual semua kulit binatang dan bulu domba yang dibawanya. Kini dia tinggal berbelanja untuk keperluan dirumah dan setelah itu dapat jalan2 semau hatinya. Untuk menggembirakan puteranya, maka sekali ini dia mengijinkan Ouw Ho untuk ikut ke pasar. Sebagaimana biasanya seorang anak kecil, melihat begitu banyak barang2 yang diperagakan pa Ta pedagangnya, tentu saja banyak sekali yang dimintanya agar dibelikan oleh ayahnya. Sebentar saja sudah penuh kedua tangannya memegang rupa2 bungkusan. Setelah kenyang berkeliling pasar, mereka lalu menuju kerumah makan untuk sekedar mengisi perut sebelum berbelanja lagi. Disaat mereka tengah makan; tiba2 Ouw Hui teringat bahwa dia belum membeli garam, sedangkan para pedagang garam biasanya sudah menutup kedai siang2, Karena itu, dia lalu berpesan kepada anaknya, agar tidak pergi ke-mana2 dan menjaga barang-barang pembelian mereka, dia sendiri segra pergi kepasar lagi. Setelah menanti sekian lama dan ayahnya be lum kembali, Ouw Ho jadi tidak betah menanti didalam kedai itu seorang diri. Barang2 itu dibawanya kepada kasir rumah makan tersebut untuk dititipkan sementara ia ingin me-lihat2 ke adaan diluar. Karena setiap kati berkunjung ke Ui, Ouw Hui selalu makan dirumah makan tersebut, maka kasir juga telah mengenalnya dan diapun tak merasa keberatan menerima titipan barang2 itu. Dengan gembira Ouw Ho lalu berdiri diluar pintu sambil memandang kiri-kanan menikmati pemandangan jalan yang ramai itu. Tiba2 dia melihat ada tiga orang yang berpakaian seperti bangsa Han telah menghampirinya.
"Eng engko kecil, apakah engkau she Ho, anak Ouw Hui?"
Tegur salah seorang diantara mereka sambil disertai tertawanya.
Dengan perasaan heran bukan main Ouw memandang ketiga orang itu bergantian.
Belum pernah bertemu dengan mereka, mengapa mereka bisa mengenalnya?
"Maaf Samwie Toasiok, aku belum mengenal kalian, bagaimana kalian mengenal dan mengetahui namaku ?"
Tanyanya kemudian.
"Aha, jika demikian memang engkau benar putera Ouw Hui. Mari, mari ikut kami. Ayahmu meminta kami mengajakmu menyusulnya ke kedai disana. Katanya, kau akan dibelikan mi inan yang indah sekali". Kalau mereka mempergunakan alasan lain, yang lebih masuk akal, mungkin mereka bisa berhasil membujuknya. Atau jika yang membujuknya itu seorang anak biasa, tentu bujukannya itu juga akan berhasil. Tetapi kini justru yang dihadapi mereka adalah Ouw Ho, seorang anak ysng bukan hanya sukar sekali ditipu, tetapi juga sudah biasa menipu orang2 dewasa. Kata2 mereka itu ternyata hanya membangkitkan perasaan curiga belaka di hati Ouw Ho.
"Kalian pergilah dulu, sebutkan saja kemana aku harus menyusul, nanti setelah memberitahukan kuasa rumah makan ini. bahwa aku akan segera kembali, aku akan pergi kesana"
Jawabnya.
"Baiklah"
Kata juru bicara dari ketiga orang itu.
"Pergilah kau memberitahukan kuasa rumah makan bahwa ayahku memanggil kau kepasar seebun, pintu barat, biarlah kami berangkat dulu, tetapi engkaupun jangan lama2". Dengan wajah girang, Ouw Ho lalu masuk, tetapi seketika itu juga sudah melewati pintu dia berbalik dan mengintai keluar. Ouw Ho telah melihatnya, betapa ketiga orang itu memang hendak menipunya, karena m reka bertiga memperlihatkan sikap yang mendatangkan kesan sangat mencurigakan sekali. Kalau mereka benar2 diminta oleh ayahnya untuk menjemputnya dirumah makan ini, tentu Ia telah dipesan agar menunggu untuk mengantarkan Ouw Ho, karena bukankah Ouw Ho belum mengenal tempat tersebut dan tentu ayahnya tidak akan menbiarkan dia pergi seorang diri. Sesaat kemudian dia telah membuktikan maksud ketiga orang itu yang memang kurang baik. Dari sela2 pintu dia melihat bagaimana mereka berhenti ditikungan kurang lebih sepuluh'Tutnah dari tempat itu dan bersembunyi dibelakang bilik sebuah kedai. Ketiga orang itu sedikitpun tidak menduga bahwa siasat mereka telah diketahui oleh Ouw Ho, Tadi mereka melihat, bahwa anak itu agak ragu2 ketika pertama kali disapa. Untuk melenyapkan kecurigaannya, mereka sengaja tidak mau memaksanya. Pertama kali mereka memang sudah merencanakan untuk mempergunakan paksaan untuk memaksa anak itu. Tetapi berhubung tempat itu sangat ramai, mereka kuatir jika nanti ada yang merintangi maksud mereka, karena siapa yang tahu bahwa di sekitar tempat, itu terdapat orang berkepandaian tinggi yang kebetulan tengah lewat. Dengan pertimbangan itulah, akhirnya mereka tidak ingin mempergunakan paksaan untuk membawa Ouw Ho hanya mempergunakan siasat belaka. Dengan gembira mereka melibat bahwa seketika mereka tidak memaksa, wajah sianak ber -muka hitam itu berobah tidak menaruh kecurigaan lagi, bahkan tampak girang. Keluar dugaan mereka, muka gembira dan Ouw Ho ternyata hanya untuk menipu mereka agar mereka cepat2 pergi. Bukan karena takut Ouw Ho menginginkan kepergian orang2 itu cepat2 hatinya bahkan ingin mengetahui, api sesungguhnya maksud orang2 itu, dan Ouw Ho bermaksud mempermainkan mereka. Tetapi dia tidak berani melanggar larangan ayahnya, yaitu agar dia jangan menerbitkan onar dan huru-hara. Dari tempat mengintainya dia melihat bagaimana tiga orang itu telah melihat kanan kiri dengan sikap yang mencurigakan sekali di tikungan jalan, dan agaknya mereka heran melihat Ouw Ho belum juga muncul. Diam2 Ouw Ho mentertawai mereka.
"Biarlah mereka langak-longok disitu seperti pencuri. Hemm, mereka menduga aku setolol itu,"
Pikirnya dalam hatinya, dan Ouw Ho telah mengintai pula.
Kelakuan orang itu dianggapnya lucu sekali, dan semakin lama hatinya semakin geli.
Kalau sudah mengintai sekali dan dia segera pergi dari pintu itu, mungkin Ouw Ho tidak akan mengalami peristiwa apa2.
Tetapi justru Ouw Ho walaupun sangat cerdas, tetap saja hanya seorang anak kecil juga.
Belum dapat Ouw Ho menguasai perasaannya bahkan sering kali perasaan ingin mempermainkan dan ingin tahunya menguasai diri dan hatinya.
Demikianlah, kali inipun setelah diam2 dia mentertawai ketololan ketiga orang yang masih saja menantinya di sudut jalan, maka akhirnya perasaan ingin tahunya dan juga perasaan ingin mempermainkan ketiga orang tersebut telah membuat Ouw Ho akhirnya mau mencoba2 untuk melihat berapa tinggi sesungguhnya kepandaian keti ga orang itu, yang berani mencoba2 membentur ayahnya dengan jalan seperti ini.
"Biarlah aku mempermainKan mereka sejenak, asal tidak sampai terlalu lama, ayah tidak akan mengetahui bahwa aku baru berkelahi", demikian pikirnya dengan penuh keyakinan, bahwa dengan mudah dia akan dapat mengalahkan mereka. Dia sama sekali tidak mem pertimbangkan bahwa dia mungkin akan kalah dan juga jadi diculik. Dengan muka berseri2, keluarlah dia dan langsung menuju kearah tikungan tadi. Dengan pura-pura tidak melihat, bagaimana ketiga orang penjahat itu menyelinap kedalam sebuah kedai tersebut dia segera berjalan terus dengan sebentar2 menoleh kekiri dan kekanan bagaikan tengah merasa kagum melihat toko2 dan kedai2 yang berbaris disepanjang jalan tersebut. Sesungguhnya, setiap kali menoleh, dia se kalian melirik kebelakang untuk melihat apakah orang2 itu sudah keluar dari persembunyiannya mereka dan sudah mulai mengikutinya dari belakang. Setelah dia berjalan pula sejauh kurang le bin dua puluh langkah melampaui tikungan tadi tampaklah orang2 itu keluar. Dia berusaha men-coba2 memperlambat jalannya dan dia mendapatkan kenyataannya, bahwa ketiga orang itupun memperlambat langkahnya. Jika Ouw Ho berjalan lebih cepat, ketiga orang itupun tentu akan mempercepat langkah kaki mereka. Tiba2 dia telah memutar tubuhnya dan sam bil tertawa menegur untuk mengejutkan ketiga orang itu.
"Eh, Sam Wie Tosiak betapa lambat jalanmu. Tadi kalian telah pergi lebih dahulu, lama sekali aku sebelumnya keluar dari rumah makan, Mengapa kalian bisa berada dibelakangku?"
Gelak tertawanya semakin men-jadi2 ketika dia melihat muka ketiga orang tersebut.
"Akhh, mengapa kalian tampaknya terkejut? Apakah kalian terkejut melihat kepandaian meringankan tubuhku, sehingga bisa melampaui kalian ? Sesungguhnya, bukan aku yang berjalan cepat sekali, tetapi mungkin juga kalian yang berjalan terlampau lambat bagaikan tiga orang kakek yang sudah tidak memiliki tenaga dan hanya (memiliki sebelah kaki, karena kaki kalian yang satu sudah berada diliang kubur. Mungkin kalian memang sudah setua itu ? Apakah kalian mempunyai Hanlam (putera) ? Kalau tidak, biarlah aku nanti yang mengurus jenasah kalian". Ketika tadi Ouw Ho memutar tubuhnya dengan cara yang tiba2 seperti itu, dan menegur mereka disertai tertawanya, untuk beberapa saat ketiga orang itu tidak bisa mengucapkan kata2nya dan mereka jadi bengong heran dan kaget. Tetapi waktu mendengar ejekan anak nakal itu, meluaplah darah mereka. Seorang anak yang belum hilang bau pupuknya berani mengatakan bahwa mereka tidak punya guna, seperti juga kakek2 yang sudah hampir mati. Itulah sebuah ejekan yang sangat kurang ajar dari anak bermuka hitam seperti pantat kuali itu. Dan juga Ouw Ho memang terlalu berani mempermainkan mereka bertiga, yang merupakan jago2 yang di Tionggoan telah memiliki nama yang sangat hebat dan disegani oleh jago2 rimba persilatan. Sambil mengeluarkan serangan, mereka telah menubruk anak itu, tetapi mereka hanya bisa menangkap angin. Dengan satu lompatan yang ringan sekali Ouw Ho telah menyingkir dari tangan mereka. Sekali lagi mereka telah melompat dan terulang pula peristiwa yang seperti tadi, dimana Ouw Ho berhasil menghindarkan diri dari terkaman mereka dengan menyelinap dibawah ketiak mereka. Siku sianak kecil bermuka hitam itu telah bekerja dengan cepat sekali, dan dia telah menyikut ketiak salah seorang diantara ketiga orang lawannya tersebut, sehingga orang itu seketika itu pula merasakan iganya menjadi sakit bukan main karena sikutan yang dilancarkan oleh Ouw Ho. Kini mengertilah mereka, bahwa sianak yang sudah memiliki kepandaian yang tidak dapat diremehkan, bahkan sudah mengerti ilmu menotok jalan darah, tidak boleh dipandang ringan. Untung saja bahwa tenaga Ouw Ho memang belum seberapa. Dengan mengerahkan lwekang-nya, orang yang tertotok tadi berhasil memunahkan pengaruh totokan itu. Ketiga orang itu memang merupakan jago2 yang sudah berpengalaman. Setelah kedua kali nya menelan pil pahit dari Ouw Ho, mereka segera mengganti siasat. Ketiga jago itu kini telah memecah diri, dap mereka tidak serentak melompat dan menubruk Ouw Ho secara ber-sama2 pula. Perobahan cara bertempur ketiga orang itu ternyata tidak sia2, karena lewat lagi beberapa saat, Ouw Ho sudah kewalahan dan sibuk sekali menghadapi ketiga lawannya. Ouw Ho jadi terkejut ketika memperoleh kenyataan bahwa semakin lama ketiga lawannya itu semakin hebat dan dia sulit sekali menghindarkan diri dari samberan tangan orang2 itu. Untuk menyingkir, lebih2 tidak ada harapan. Walaupun sudah demikian terdesak sedikitpun dia tidak takut dan sedapat mungkin dia telah mengadakan perlawanan terus, sambil mencari akal. Tiba2 dia telah memperoleh sebuah pikiran yang baik untuk menipu ketiga lawannya itu. Dia melihat bahwa ditepi jalan sudah banyak sekali orang yang berkerumun, menyaksikan ialanaya pertempuran yang ganjil itu. Dengan jalannya pikirannya yang memang masih kekanak2an, dia yakin bahwa lawan2nya tentu akan ketakutan, jika dia memberitahukan orang2 itu, bahwa mereka ketiga2nya adalah culik jahat, yang ingin menculiknya. Demikianlah, tiba2 sekali Ouw Ho telah ber teriak .
"Culik! Culik! Mereka ini culik! Mere ka ingin menculik aku...... .."
Walaupun cerdas sekali, dalam seusia semuda itu tentu saja dia belum mengerti bahwa tidak semua orang berpendirian sama.
Sejak kecil dia hanya mengenal orang2 yang mengutamakan nama baik.
Dia sendiri juga sangat takut disebut jahat.
Dia memang sering melanggar larangan orang tuanya, tetapi dia melakukannya dengan diam2 agar tidak ketabuan orang.
Perbuatan orang2 yang kini dihadapinya itu juga disamakan dengan perbuatannya sendiri kalau dia mela kukan sesuatu yang terlarang.
Oia percaya bahwa mereka akan segera lari dengan perasaan malu begitu dia membuka kedok ketiga orang itu.
Alangkah terkejutnya dia, ketika gertakannya tidak dihiraukannya, bahkan agaknya membuat ketiga orang lawannya itu jadi semakin bengis dan garang.
Dalam kagetnya, dia jadi lengah dan dia segera sudah terpegang oleh salah seorang itu.
Dengan nekad, dia berusaha meronta, memukul kepala orang itu se-kena2nya.
Tetapi usahanya sia2 belaka.
Sebentar pula sekujur tubuhnya terasa lemas dan habislah sudah perlawanannya.
Jalan darahnya telah berhasil ditotok dan dengan mudah dia kemudian dipanggul dipundak orang itu, yang segera lari se-keras2nya di susul oleh kawan2nya.
Diantara orang banyak, ternyata tidak ada seorangpun yang berani menolonginya, karena agaknya merasa takut terhadap ketiga orang ter sebut.
Dengan keras ketiga penculik itu ber-lari2 kearah utara.
Mereka baru berhenti setelah tiba di muka kedai minuman, dimana terdapat tiga ekor kuda tertambat dimuka pintu.
Salah seorang diantaranya lalu masuk dan tidak lama kemudian telah keluar kembali dengan membawa tiga buah bungkusan kain Agaknya mereka telah menitipkan bekal dan kuda disitu, dan kini kembah untuk mengambil nya.
Ketiganya segera melepaskan tambatan ke tiga ekor kuda itu dan menaikinya.
Tanpa mem-buang2 waktu mereka lalu melarikan kuda2 itu keluar pintu utara.
Walaupun tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya, Ouw Ho ternyata masih sadar.
Dengan jengkel sekali dan kualir, dia melihat bahwa dirinya dibawa keluar kota Ui, sedangkan disepanjang jalan ketiga orang penculiknya itu sama sekali tidak pernah memperlambat larinya kuda tunggangan mereka Entah kemana ketiga orang penculikannya itu ingin menbawa lari Ouw Ho.
Dalam jengkel dan gusarnya, Ouw Ho telah memaki dirinya sendiri yang di-sebut2 sebagai sitolol dan diapun menyesal bahwa di telah melalaikan pesan ayahnya.
Tiba 2 Ouw Ho teringat akan ayahnya, yang tentu akan kuatir sekali memperoleh kenyataan dia tidak berada dirumah makan tadi.
Dia jadi makin menyesal.
Tanpa dikehendaki, air matanya mulai turun mengalir membasahi pipinya.
Dengan kepandaian yang sudah berhasil diyakinkannya, Ouw Ho seharusnya tidak bisa dikalahkan begitu cepat, kalau saja dia bisa berlaku tenang.
Tetapi dia sama sekali tidak memiliki pengalaman bertempur.
Dengan menetap didaerah terpencil selama itu, sejak dilahirkan dia belum pernah berkelahi dengan orang lain.
Karena itu, maka walaupun dia tidak takut menghadapi ketiga penculiknya itu, dia tidak dapat meremehkan ketiga lawannya Setelah terlambat, barulah dia menyadarinya hahwa musuh2nja itu tidak mudah dipermainkannya olehnya, tetapi justru karena dia ceroboh dan gugup, sehingga dengan mudah dia ditawan.
Keadaannya sekarang itu memang tidak menggembirakan sekali, bahkan dapat dibilang bahwa dia tengah menghadapi bahaya.
Tetapi sesuai dengan prinsip Im Yang lam setiap persoalan memang terdapat dua unsur bertentangan yang saling mengimbangi.
Bersama dengan kerugian yang harus dialaminya dalam peristiwa yang pahit itu, Ouw Ho telah berhasil memetik pelajaran yang tidak nilai harganya.
Kini Ouw Ho baru mengetahui bahwa semua orang memiliki pendirian yang sama, cukup banyak orang yang tidak takut kehilangan nama.
Diapun jadi mengerti bahwa orang tidak boleh terlalu meremehkan kesanggupan orang dan bahwa silat memandang rendah itu lebih banyak mendatangkan kerugian.
Disamping itu Ouw Ho juga sekarang mengetahui bahwa dalam penghidupan didunia ini, orang tidak dapat mengharapkan bantuan orang lain, dan terutama bisa mengandalkan kesanggupan dan kemampuan diri sendiri, setelah dilihat dari sikap orang banyak tadi hanya tinggal diam ketika dia dibawa lari.
Sekarang dia juga mengerti bahwa nafsu tidak dapat dituruti begitu saja, bahkan sebaiknya harus dapat dikendalikan sebaik mungkin.
Bukankah kalau tadi dia bisa menguasai nafsunya, dia tidak akan meninggalkan rumah makan itu dan tidak usah menderita menerima hinaan seperti sekarang ini ?
Pengetahuan yang telah diperolehnya dengan jalan tersebut, dengan adanya peristiwa itu, kelak ternyata sangat bermanfaat sekali dalam kehidupan Ouw Ho berkelana didalam rimba persilatan.
Betapa terkejutnya Ouw Hui ketika tidak lama setelah peristiwa itu dia tiba kembali dirumah makan dan tidak berhasil menemui puteranya.
Perasaan kagetnya berobah menjadi kemarahan dan kekuatiran, ketika kemudian dia mendengar cerita para pelayan rumah makan itu, yang, telah ikut menyaksikan betapa Ouw Ho diculik oleh tiga orang yang tidak dikenal, dan sebelum anak itu dilarikan, justru telah terjadi pertempuran antara Ouw Ho dengan ketiga orang itu.
Ouw Hui berusaha mencari keterangan tentang tiga orang penculik itu, tetapi selain tidak ada yang mengenal mereka, dari lukisan2 yang diberikan kepadanya tentang wajah mereka, dia sendiri juga tidak dapat menarik kesimpulan rrengenai siapa mereka sesungguhnya.
Ouw Hui masih berusaha mengikuti jejak mereka berdasarkan petunjuk2 yang diberikan oleh orang2 dijalan, tetapi usahanya itu terputus dipintu kota sebelah utara.
Diluar itu terbentang padang rumput yang sangat luas.
Kemana dia harus mencari mereka dan kepada siapa dia bisa meminta keterangan lebih jauh, didaerah yang hampir tidak berpenduduk itu.
Dengan tertegun dia berdiri diluar pintu gerbang itu cukup lama, rupanya dia digeluti oleh berbagai perasaan, dan ingin sekali Ouw Hui untuk cepat2 menyusul ketiga penjahat itu, untuk menghajar mereka dan menolong puteranya.
Tetapi Ouw Hui tidak mengetahui kemana dia harus mengejarnya.
Kalau dia mengejar sekenanya saja, mungkin juga bukannya berhasil justru hanya akan tersesat dan terpisah senvkin jauh saja.
Tiba2 dia teringat akan peristiwa kemarin hari, kasa-kusuk keempat orang dirumah makan itu.
"Mungkinkah mereka yang telah menculik Hojie? Tetapi mengapa sekarang hanya bertiga dan lukisan tentang muka mereka juga berlainan sekali. Kukira bukan perbuatan mereka atas terculiknya Hojie. Mungkinkah komplotan mereka? Jika memang benar, mereka tentu telah membawanya pergi ...... untuk memaksa aku mengikuti jejak mereka. Ya, untuk memancing aku mema suki sebuah perangkap yang telah dipasang dan dipersiapkan mereka. Akhhh, tentu saja anak sekecil Hojie belum memiliki musuh. Akulah yang tentu tengah diincer oleh mereka, Kalau demikian, tentu mereka akan meninggalkan satu petunjuk agar aku bisa mengikutinya. Tidak berguna aku berdiri disiri terlampau lama, sebaiknya aku kembali dulu kepenginapan. Mungkin mereka sudah meninggalkan surat tantangan disana."
Begitulah Ouw Hui telah berpikir dengan perasa an dan hati yang kalut sekali.
Setibanya dipenginapannya, dia jadi kecewa bukan main, .karena dikamarnya dia tidak menemukan sesuatu apapun juga.
Sedangkan para pelayan dan kuasa belum mengetahui perihal peristiwa penculikan diri Ouw Ho.
Dengan hati yang risau dan rawan dia berpikir keras untuk memecahkan teka-teki mengenai siapa yang telah melakukan penculikan ini, dan kemanakah mereka itu membawa puteranya ?
Setelah berpikir sekian lama, Ouw Hui jadi semakin yakin bahwa yang menjadi tujuan para penculiknya itu ialah pembalasan dendam kepadanya.
Dia juga sudah tidak meragukan pula, bahwa musuh2 itu tentu sudah mempersiapkan sebu ah perangkap untuk menjebak dirinya dia yakin orang2 itu ingin mempergunakau anaknya sebagai unpan belaka, agar memancing Ouw Hui masuk kedalam perangkap itu.
Karena yakin, maka hatinya jadi agak lega.
Tentu saja untuk sementara puteranya itu tidak akan diganggu.
Dia sendiri sedikitpun tidak gentar menghadapi musuh2 yang bagaimana sekalipun juga.
Dengan kepandaian yang dimilikinya sekarang, mungkin sudah tidak ada orang yang bisa mencelakainya dengan jalan bertempur secara berterang.
Tetapi bagaimana kalau mereka nanti memaksa dia untuk msnyerah dengan jiwa puteranya sebagai jaminan ?
0ooo0de0ooo0 Ouw Hui memang bersedia, rela, untuk berkorban demi puteranya tersebut.
Tetapi bagaimana kalau mereka nantinya tidak juga melepaskan puteranya walaupun telah ditukar dengan jiwanya?
Dan Ouw Hui menyadarinya, bahwa seluruh orang2 yang pernah dirubuhkan dan dihajarnya merupakan manusia2 jahat dan kejam tidak memliiki perasaan kemanusiaan.
Walaupun mereka berjanji akan membebaskan puteranya jika Ouw Hui bersedia menyerahkan dirinya maupun jiwa nya, tetapi putera Ouw Hui juga akan di binasakannya.
Ouw Hui jadi menghela napas dalam2, dia jadi demikian bingung memikirkan keselamatan puteranya.
Lebih mungkin menurut dugaannya, bahwa mereka ingin mencelakai anak Ouw Hui, setelah Ouw Hui dibunuhnya.
Jika memang persoalan telah terjadi demikian, lalu apa yang harus dilakukannya?
Kepala Ouw Hui jadi pusing memikiikan semua itu dan hatinya semakin risau saja ketika membayangkan betapa perasaan isterinya kelak jika mengetahui patera mereka, sinakal telah lenyap dan diculik orang.
Ouw Bui juga mengetahui tanggung jawab dalam bentuk bagaimana dia harus mempritanggung jawabkan kelalaiannya dalam mengawasi puteranya tersebut.
Agaknya tidak ada jalan lain lagi yang lebih baik dari segera mengejarnya dan mencaci tempat persembunyian musuh2 itu, sedangkan mereka belum bersiap sedia, mereka belum mengharapkan kedatangannya.
Tetapi kemana dia harus menyusul dan mencarinya?
Inilah yang sulit, karena dia tidak dapat mengetahui kearah masa para penculik itu melarikan Ouw Ho.
Ouw Hui berusaha mencari jejak dari ketiga penculik anaknya itu, namun selalu gagal dan dia tidak berhasil sama sekali.
Tiba2 terkilas didalam benak pikirannya bahwa musuh2nya itu mungkin bersembunyi tidak jauh disekitar Ui.
Kalau memang benar dugaannya itu, masih ada harapan baginya untuk menemukan jejak, dan menyergap ketiga penculiknya itu, sebelum mereka menduga dan ber-siap2 untuk menyambut kedatangannya.
Dan jika dia tak bisa mencarinya, tentu celaka dan sengsaralah Ouw Ho.
Namun kalau saja dia bisa menyusul dengan tiba2 diluar dugaan mereka, rasanya tidaklah terlalu sulit untuk merebut kembali puteranya itu Hanya berapa besarkah kemungkinan seperti itu, yaitu berhasil menemukan jejak dan tempat persembunyian penculik2 anaknya itu ?
Ouw Hui sendiri tidak mengetahui dan dia tidak mau memikirkannya.
Dalam kedudukannya yang demikian terjepit seperti saat itu sekalipun sangat kecil harapannya, namun berusaha memang masih lebih baik dari berdiam diri saja menyerah kepada nasib.
Lagi pula, siapa tahu kalau2 diiengah perjalanan kelak dia bisa menemukan sebuah petunjuk atau memperoleh keterangan berharga lainnya ?
Dengan berpikir demikian, Ouw Hui segera juga meninggalkan kamarnya dan setelah meninggalkan pesan kepada kuasa penginapan, dia segera berangkat dengan berkuda.
Pertama sekali dia telah pergi kepintu gerbang sebelah utara dari kota tersebut dan setelah memperoleh keterangan mengenai arah yang ditempuh ketiga penculik itu, dia meneruskan perjalanannya lagi.
Sampai sejauh sepuluh lie dia melarikan kudanya dan belum berhasil memperoleh keterangan yang bisa dijadikan bahan untuk mencari jejak penculik2 itu.
Dan suatu saat, tibalah Ouw Hui disebuah tempat yang agak jarang sekali ditumbuhi rumput2, dan disitu.
diantera rumput2 dia melihat bekas2 kaki kuda.
Dilihat dati letak jetak itu, yang melalui tempat tersebut, jumlahnya tentu tiga ekor kuda, sesuai dengan jumlah musuh yang menculik puteranya Hanya mengapa begitu aneh bekas tapak2 kaki kuda itu datangnya dari arah barat desa menuju ketimur.
Dia memutuskan untuk mengikuti jejak itu Dibandingkan tidak memiliki pegangan sama sekili, lebih baik dia memang berusaha mengikuti sampai beberapa lie.
Kalau selanjutnya ternyata bahwa ada sesuatu yang mencurigakan, maka dia masih bisa mencarinya lagi kearah lain.
Semakin ke-Timur, semakin jarang pula rumput yang tumbuh didaerah itu dan bekas2 kaki kuda itu menjadi semakin jelas.
Tiba2 arah jejak kaki kuda itu telah berobah pula membelok kearah selatan, seperti juga hendak menuju kekota Ui Jagi.
Ouw Hui sudah hendak meninggalkan jejak kaki kuda itu, karena dianggapnya bahwa dia telah mengikuti jejak yang keliru.
Tetapi tiba2 dia terpikir sesuatu yang membuat hatinya jadi girang bukan main karena dia telah melihat sesuatu, terpisah beberapa langkah dari tempatnya berada, dia melihat sebutir kancing warnanya sama dengan warna kancing puteranya.
Dan ketika dia mendekati, matanya jadi terpentang lebar2.
Didekat kancing itu dia melihat sebuah huruf Ho, nama puteranya.
Hanya huruf itu agak, aneh ditulisnya, entah dengan mempergunakan alat apa.
Tampaknya seperti ditulis dengan mencurahkan air dari poci.
Tetapi Ouw Hui tidak mau pusing2 memikirkannya.
Hatinya sudah girang bukan main melihat petunjuk tersebut.
Dia yakin bahwa itulah perbuatan Ouw Ho, si nakal yang memang memiliki banyak sekali akal bulus.
Cepat2 Ouw Hui menaiki kudanya yang dilarikan keras sekali mengikuti jejak yang tidak perlu diragukan itu lagi.
Kurang lebih satu lie dari tempat tadi, jejak itu kemudian membelok ketimur lagi, untuk kemudian berobah arah lagi kejurusan tenggara.
Yakinlah Ouw Hui kini, bahwa jejak itu pasti akan menuntunnya ketempat persembunyian musuh dan dia sudah mengerti mengapa arah jejak itu ber-obah2 terus, yaitu untuk membuatnya menduga bahwa telah mengikuti jejak yang keliru dan segera melepaskannya.
Siasat orang2 icu benar saja hampir dapat memperoleh hasil gemilang, kalau bukan Ouw Ho telah meninggalkan sebuah petunjuk dan menggagalkan usaha orang2 itu.
Sepuluh lie lagi setelah dilalui, tanpa dijumpainya sesuatu yang baru.
Dipercepatnya lari kuda tunggangannya, tetapi suatu saat dia menjadi terkejut.
Dari depan dia melihat seekor kuda dilarikan keras setali oleh penunggangnya.
Dalam sekejap mata saja kuda itu sudah datang cukup dekat dan segera ,Ouw Hui dapat mengenali siapa penunggang kuda yang lari kuat itu, dan membuat mata Ouw Hui jadi terpentang lebar2, karena segera juga dia mengenalinya bahwa penunggang kuda itu tidak lain Ouw Ho.
Ouw Hui segera berteriak girang, penunggang kuda itu yang memang Ouw Ho, yang sesaat kemudian sudah berhenti di samping ayahnya sambil tertawa girang dan melompat untuk merangkulnya.
Waktu itu sudah mendekati senja, matahari sudah menyilam dari cakrawala barat dan tidak lama pula cuaca sudah akan gelap.
Ouw Hui cepat2 mengajak anaknya kembali kekota Ui dan disepanjang jalan anak nakal itu menceritakan pengalamannya.
0ooo0dw0ooo0 TERNYATA waktu ketiga orang penculik itu membawa Ouw Ho keluar dari Ui, Ouw Ho ingin sekali memaki mereka, tetapi urat gagunya telah ditotok sehingga dia tidak bisa mengucapkan sepatah perkataanpun juga.
Diam2 Ouw Ho telah memperhatikan jalan yang dilaluinya.
Didalam hatinya dia telah bertekad untuk melarikan diri, setiap ada kesempatan.
Walaupun sudah mengetahui bahwa ketiga penculik itu berkepandaiai tinggi semua, sedikitpun dia tidak bimbang bahwa pada suatu waktu dia akan berhasil melarikan diri.
Dengan heran dia melihat bahwa, setelah berjalan lurus keutara sepanjang empat atau lima lie, tiba2 mereka membelok kearah barat untuk kemudian dengan membuat setengah lingkaran yang besar, menuju ketimur.
Mula2 Ouw Ho tidak mengerti mengapa orang2 itu bersikap begitu aneh, tetapi tidak lama kemudian tahulah dia apa sebabnya.
Didaerah sebelah timur dan timur laut Ui tanahnya agak kering.
Juga disamping itu bercampur pasir dan rumputnya jarang sekali.
Kalau mereka tadi langsung menuju ketimur atau ketimur laut, bekas kaki kuda mereka akan terlihat jelas ditanah dan jejak mereka akan mudah diikuti orang.
Agaknya penculik2 itu yakin bahwa lewat tidak berapa lama lagi mereka pasti akan dikejar Untuk menyesatkan pengejarannya, atau se-tidak2nya mempersulit pengejarannya itu, mereka telah menemukan cara yang sengaja menempuh jalan yang lebih panjang itu melalui tanah yang berumput tebal, agar jejak mereka tidak kelihatan.
Setelah mereka terpisah cukup jauh, dari Ui, barulah mereka berjalan ketimur.
Kalau kebetulan sipengejar menemukan juga jejak mereka ditanah kering itu, tentu pengejar itu akan menduga jejak kaki kuda tersebut tentunya jejak kaki kuda orang lain, karena menuju kembali ke Ui dari arah barat laut, jadi bukan dari Ui.
Hanya mereka ternyata tidak menduga, dalam keadaan putus asa seperti itu, Ouw Hui mengikuti juga jejak itu, walaupun dia masih ragu2.
Setelah berjalan kurang lebih satu jam pula, tiba2 mereka membelok kearah selatan, se-akan2 hendak menuju kekota Ui.
Siasat ini memang licik dan cerdik sekali, karena seseorang yang mengejar mereka tentu akan menduga bahwa dia telah keliru mengikuti jejak orang lain dan segera melepaskannya untuk mencari ketempat lain.
Tetapi sekali inipun mereka tak dapat meta wan maunya takdir.
Ketika menotok sianak bermuka hitam itu!
mereka telah menotok agak perlahan, karena mereka hanya bermaksud agar anak itu tidak bisa melawan dan berteriak lagi.
Dengan memiliki maksud untuk mempergunakannya sebagai umpan, tentu saja mereka kuatir jiwa anak itu melayang kalau tertotok terlalu keras.
Hanya mereka tidak mengetahui bahwa anak itu telah memahami hampir seluruh ilmu silat keluarga Ouw, yang juga memiliki suatu pelajaran mengerahkan Iwekang untuk membebaskan diri dari pengaruh totokan yang bagaimana bentuknya.
Karena latihan lwekangnya masih sangat kurang.
Ouw Ho tidak bisa cepat membuka sendiri totokan itu, tetapi setelah berlangsung beberapa saat, lebih dari dua jam, dia sudah bisa bergerak lagi.
Seketika itu juga dia melihat ketiga penculiknya telab merobah arah perjalanan se-akan2 hendak menuju ke-Ui.
Ouw Ho segera mengerti maksud pen-culik2nya itu.
Tiba2 dia telah menoleh dan berkata "Tolong bernenti sebentar aku hendak kencing......Tidak tahan nih......"
Mendengar suaranya dan melihat bahwa dia sudah bisa bergerak, ketiga orang itu tentu saja jadi kaget.
Tetapi mengingat bahwa kepandaian ilmu silat anak ini belum berarti apa2, mereka tidak menjadi kuatir karenanya.
Hanya saja orang yang membawa Ouw Ho dipelananya tentu sajia kuatir kalau2 terkena air kencing Ouw Ho.
Dia segera menghentikan kudanya dan menurunkan anak nakal bermuka hitam itu.
Ouw Ho bukan segera membuka celananya dan kencing disitu juga.
Dia berjalan kembali kearah yang tadi telah dilewati dan dilalui mereka.
Orang2 itu tentu saja ssgera memburu sambil berteriak .
"Kau jangan coba2 melarikan diri". Disaat itu Ouw Ho sudah berhenti, sambil menoleh dia berkata ;
"Siapa yang ingin melarikan diri ? Aku hanya malu kencing dengan dilihat dan ditonton oleh kalian Ayo kesana sedikit, jangan dekat2". Legalah hati orang itu dan mereka segera kembali ketempat kuda mereka. Mereka bahkan telah mentertawakan kekuatiran mereka sendiri, yang tidak beralasan. Bagaimana mungkin seorang anak kecil seperti Ouw Ho ingin melarikan diti, sedangkan dia tidak berkuda ? Memang, dengan kepandaian yang tidak seberapa itu, tidak mungkin sianak bermuka hitam itu melarikan diri, karena mereka merupakan ahli2 silat belas satu yang sangat disegani oleh orang2 rimba persilatan. Setelah ketiga musuhnya itu membatalkan maksudnya mencari dia, bahkan telah menjauh-Ouw Ho segera membuka celananya dan kencing. Tetapi diluar dugaan penculik2 itu. dia bukan hanya sekedar kencing saja. Ketika itu dia sudah memutuskan sebutir kancing bajunya dan menjatuhkannya didekat tempat mereka membelok tadi. Ouw Ho kencing pun bukan kencing asal kencing saja Dari tempat ketiga penculik itu tampaknya dia kencing sambil bermain2, tetapi sebenarnya dengan air kencingnya dia telah menulis huruf Ho ditanah, yaitu huruf yang kemudian dilihat Ouw Hui dan membuatnya yakin bahwa dia tidak keliru mengikut jejak penculik anaknya. Setelah itu, dengan tenang dan sambil ter-tawa2 Ouw Ho kembali menghampiri ketiga orang penculiknya. Sebagai seorang anak yang cerdik, dia menyadari bahwa tiada gunanya dia berusaha melarikan diri. Kini dia puas, karena sudah berhasil meninggalkan satu petunjuk yang pasti tidak akan meragukan ayahnya. Dia juga yakin bahwa ayahnya tidak akan tinggal diam dan akan segera melakukan penyelidikan. Dia sudah memperhitungkan bahwa penyelidikan itu tentu akan dimulai didaerah sekitar Ui, dan sudah tentu ayabnya akan menemukan petunjuk penting yang telah ditinggalkannya itu. Dugaan sinakal yang memiliki seribu satu macam akal itu memang tidak meleset dan tanda2 yang ditinggalkannya itu ditemukan oleh Ouw Hui, sehingga gagallah siasat ketiga penculik itu. Mendengar cerita Ouw Ho sampai disitu, Ouw Hui tidak bisa menahan tertawanya yang keras. Didalam hatinya Ouw Hui telah berpikir.
"Sungguh luar biasa anak ini. Kelak tentu dia akan melebihi ayahnya dan kakek moyangnya, kecuali Sui Thian Ho Li seorang". Sinakal Ouw Ho segera melanjutkan pula ceritanya. Setelah Ouw Ho kembali menghampiri ketiga penculiknya itu, perjalanan segera dilanjutkan pula. Arah yang dituju mereka adalah arah tenggara. Kurang lebih satu jam kemudian tibalah mereka disebuah daerab yang memiliki sumber air. Disekelillng sumber air itu tumbuh beberapa pohon, yang walaupun tidak seberapa tinggi tetapi cukup rindang daunnya. Kuda2 tunggangan mereka tiba2 menjadi sulit dikendalikan dan agak liar, mereka mendekati pohon2 itu, Hal itu tidaklah terlalu mengherankan, karena setelah melakukan perjalanan begitu jauh, binatang tunggangan tersebut tentu sudah letih dan haus dan ketika mencium bau air mereka tidak dapat mengendalikan keinginan mereka, yang membuat ketiga penculik itu sulit mengendalikan kuda tunggangan masing2. Disamping itu, ketiga penunggang itu sendiri juga sudah merasa cukup aman dengan bera darya mereka didaerah tersebut. JUGA bagi mereka tempat berteduh dibawah pohon2 rindang itu bukannya tidak menarik, karena itulah mereka lalu berhenti untuk melepaskan lelah dan mengisi perut. Setelah ber jam2 berada di bawah terik matahari, kesejukan udara dibawah pohon rindangi itu benar2 nikmat sekali rasanya. Mereka juga agak malas untuk cepat2 melakukan perjalanan pula. Sambil ber-malas2an dibawah pohon2 itu, mereka berusaha mengajukan rupa2 pertanyaan kepada Ouw Ho, yang menjawab semua pertanyaan itu secara menyimpang. Kurang lebih setengah jam kemudian, pemimpin rombongan penculik itu merasa bahwa mereka sudah cukup lama beristirahat ditempat itu dan dia telah perintahkan kawan2nya segera bersiap2 untuk segera melakukan perjalanan pula. Ketika itu tiba2 dari arah kota Ui terdengar derap langkah kaki kuda. Dengan terkejut mereka telah menoleh, dan dari jauh tampak empat orang tengah mendatangi kearah mereka. 0ooo0dw0ooo0
Jilid 4 PENDATANG itu tampaknya seperti hwe-shio, pendeta.
Ketiga orang penculik itu jadi merasa kua-tir, jika keempat nweshio itu menjaga hendak mengejar mereka untuk menolong!
Ouw Ho, cepat2 mereka mempersiapkan senjata.
Sementara itu, agaknya keempat pendatang baru itu juga telah melihatnya orang2 yang berada dipohon itu.
Tampaknya mereka memang ingin beristirahat juga dan telah berhenti.
Sesaat mereka kasak-kusuk, setelah itu keempat pendatang baru itu melanjutkan perjalanan mereka menghampiri kearah pohon2 tempat meneduh Ouw Ho dan ketiga penculiknya.
Mungkin msreka juga bercuriga dan sambil menjalankan kuda mereka per-lahan2, tangan mereka sudah siap didekat gagang senjata masing2.
Tidak lama kemudian mereka sudah datang dekat sekali dan segera dapat dikenali.
Ternyata keempat orang itu memang hweshio semuanya.
Ketika itu Ouw Ho jadi terkejut sekali.
Walaupun keempat orang itu kini berkepala gundul licin seperti hweshio, dia masih bisa mengenali keempat orang itu sebagai empat orang tamu dirumah penginapan yang telah pergi tanpa membayar uang sewa kamar.
Dasar Ouw Ho memang masih anak2, peragaan kagetnya hanya sejenak saja sudai lenyap kembali.
Dan setelah teringat bahwa keempat orang itu telah dipermainkannya dan kini terpaksa mereka berkepala gundul seperti itu, Ouw Ho tidak bisa menahan tertawanya yang be-gelak2 memenuhi tempat itu.
Ketiga orang penculik itu terkejut mendengar tertawanya Ouw Ho.
Menurut dugaan mereka, tertawa .
anak itu tentunya disebabkan kegembiraannya sebab telah datang bata bantuan Untuknya.
Salah seorang segera hendak menotok Ouw Ho, tetapi anak itu berhasil menyelamatkan diri dengan menyelinap kedafam batang pohon.
Melihat kekuatiran penculik2nya, didalam otak Ouw Ho seketika timbul sebuah akal yang baik sekali.
Se-keras2nya dia berteriak.
"Benar, benar, inilah mereKa yang hendak mencelakai aku? Turun tanganlah tanpa segan2, biar mereka tahu rasa!"
Kini yakinlah penculik itu bahwa kedata Ugan keempat bweesbio itu memang untuk menolongi Ouw Ho Serentak mereka menghunus senjata dan me lompat kemuka.
menghadang keempat hweshio itu.
Sebaliknya empat pendatang tu itupun terkejut sekali mtndengar teriakan Ouw Ho, yang lalu disusul melompatnya ketiga orang yang tidak dikenalnya itu telah menghadang rnereka dengan senjata terhunus.
Mereka menduga bahwa ketiga orang penghadang itu tentunya kawan Ouw Ho, yang sudah dikenalnya sebagai putera Ouw Huu Didalam hati mereka timbullah dugaan babwa mungkln sekali ketiga orang inilah yang semalam telah mempermainkan mereka.
Karena timbullah dugaan seperti itu, sekeri ka itu pula meluap amarah mereka.
Dan serentak mereka pun telah menghunus senjata masing2.
"Suwie Taisu, apakah talinn datang untuk mengambil anak itu? Kalau benar, lebih baik kalian mengurungkan niat itu, jika memang kalian ingin tidak terjadi sesuatu. Tetapi kalau kalian memaksa, hemmm, kami terpaksa akan berlaku kurang ajar,"
Kata ketiga penculik itu dengan suara hampir berbareng.
Kata2itu mengandung tantangan dan bersifat mengancam.
Keempat orang yang baru datang itu jadi yakin'.batiwafkeliga orang inilah yang telah mem permainkan mereka.
, Dengan, mengeluarkan suara erangan, mereka sudah hendak membuka mulut untuk menjawab dengan makian.
Tetapi Ouw Ho sudah mendahului berseru;
"Tidak guna menghamburkan kata2 Hajar saja, habis perkara."
Ketiga penculik itu melihat bagaimana keempat pendeta itu sudah hendak membuka mulur tetapi telah didahului Ouw Ho.
Mereka kuatir, jika Hweshio2 itu akan mendahului turun tangan sehingga mereka harus bertempur dalam waktu yang lama sedangkan mereka kuatir-sekali, kalau2 dibelakang hweshio2 itu akan menyusul pula kawan2nya yang lain.
Dan yang kuatirkan adalah pengejaran yang dilakukan oleh Ouw Hui sendiri, karena jika Ouw Hui telah tiba ditempat ini, tentu mereka akan celaka.
Karena itu, tanpa mengucapkan sepatah per kataan juga, mereka serentak telah melancarkan, serangan sebelum keempat lawan itu turun dari kuda mereka.
Hweshio2 tersebut ternyata juga hebat sekali, Dengan mudah mereka dapat mematahkan serangan ketiga penculik tersebut dan sesaat kemudian sudah melompat turun dari kuda2 mereka.
Kedua belah pihak ternyata berimbang kepandaiannya dan pertempuran itu memang seru sekali.
Tanpa mereka sadari, ketujuh orang itu telah berhasil ditipu dan dibakar oleh Ouw Ho.
Dengan kecerdikannya anak itu telah melihat kesempatan yang ada untuk mengadu dombakan kedua pihak itu.
Dengan sengaja dia berteriak, menganjurkan untuk turun tangan, tanpa menyebutkan dan tanpa menegaskan kepada pihak mana perkataannya-itu ditujukan.
Dan dia hanya ber-teriak2 menganjurkan turun tangan belaka.
Oleh sebab itu, kedua belab pihak jadi saling curiga mencurigai dan masing2 lalu hendak turun tangan lebih dulu untuk me rebut kemenangan yang cepat sekali, justru ka rena sama2 terlalu bernafsu untuk merubuhkan lawan masing2.
Dan merekapun masing2 yakin bahwa lawan mereka itu merupakan musuh atau se-tidak2nya merupakan kawan dari ayah Ouw Ho.
Keruan saja, akibat adanya dugaan seperti itu, telah membuat mereka jadi menurunkan tangan bengis untuk setiap penyerangan yang mereka lakukan.
Dengan mengeluarkan seluruh kepandaian masing2 kedua belah pihak bertempur dengan di liputi kegusaran, untuk memaksa dan merubuhkan lawannya dengan cepat.
Mereka telah melihat bahwa kepandaian mereka memang berimbang, dan pertempuran itu agaknya akan ber-larut2 dan berlangsung cukup lama.
Sambil mengeluh didalam hati, ketujuh orang itu memperhebat serangan2nya, untuk merubuhkan lawan secepat mungkin.
Seluruh perhatian mereka tercurah kepada pertempuran itu, karena jika mereka berlaku lengah sedikit saja, niscaya mereka akan celaka.
Sementara itu, sambil terus menerus ber-teriak2 memberikan anjurannya untuk membakar kedua belah pihak yang tengah bertempur itu, Ouw Ho sedikit demi sedikit telah mendekati kuda2 ketiga penculiknya.
Selama beberapa saat dia menanti lagi sambil memperhatikan jalannya pertempuran itu.
Setelah memperoleh kenyataan bahwa ketujuh orang yang tengah bertempur itu tidak memperhatikannya lagi, tiba2 dia melompat ke-atas seekor kuda.
Kemudian dicambuknya kedua ekor kuda yang lainnya, sehingga binatang tunggangan itu lari se-keras2nya meninggalkan gerombolan pohon tersebut.
Seketika itu juga Ouw Ho telah melarikan kudanya kearah kuda2 keempat orang2 hweshio itu, yang lalu dicambuknya juga sehingga semua lari serabutan kesegala penjuru.
Setelah itu, Ouw Ho sendiri melarikan kudanya kearah barat laut, kembali mengikuti jejak yang dilaluinya tadi, sambil tertawa nyaring dan mengeluarkan ejekan2 kepada ketujuh orang itu.
Perbuatan Ouw Ho lentu saja sangat mengejutkan ketujuh orang yang tengah bertempur itu.
Dengan bersarra mereka telah menghentikan serangan dan gerakan senjata masing2 dan ber diri tertegun memandang kearah Ouw Ho yang sudah semakin menjauh dan tampaknya semakin kecil.
Entah apa yang mereka tengah pikirkan saat itu, yang pasti adalah perasaan menyesal yang membungkah dihati masing2.
Cerita Ouw Ho tentang pengalamannya itu kemudian ditutupnya dengan suara tertawanya 'yang keras.
Sedangkan Ouw Hui juga tidak bisa menahan tertawanya lagi.
Tanpa merasa mereka sudah tiba dimuka kota IH lagi.
Tetapi ternyata pintu gerbang sudah ditutup, dan mereka tidak dapat masuk.
Dglam girangnya, Ouw Hui tadi telah melupakan hal itu dan kini mereka terpaksa harus me numpang bermalam disalah sebuah rumah penduduk diluar kota.
Bagi Ouw Hui, peristiwa2 selama dua hari di Ilh itu meninggalkan dua kesan.
Seperti umumnya setiap orang yang menjadi ayah, Ouw Hui tentu saja sangat berbesar ha ti dengan kecerdikin puteranya yang telah dibuktikan selama dua hari ini.
Tetapi disamping kegembiraannya itu, dia-pun menjadi berkubur sekali, kini sudah terlihat jelas bahwa musuh2nya masih tetap hendak mencari jejaknya untuk menuntut balas dan beberapa musuhnya itu sekarang sudah dapat di lli Walaupun kini mereka belum dapat mengetahui tempat tinggalnya, tetapi sudah dapat di pastikan bahwa tidak lama lagi mereka akan mengetahui dan datang untuk mencarinya.
Mengenai keselamatan dirinya sendiri, dia sama sekali tidak berkuatir apa2.
Walaupun musuh2 itu tentunya telah mem pelajari kepandaian2 yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya, bahkain kini mereka berani menca rinya membuktikan bahwa mereka memang jauh lebih heoat kepandaiannya dari beberapa waktu yang lalu, dan mereka bermaksud ingin menuntut balas, daa Ouw Hui juga tidak tinggal diam selama sepuluh tahun terakhir ini.
Walaupun hidupnya se-hari2 penuh kesibu kan untuk keperluan rumah tangganya dan untuk mendidik dan puteranya, tidak pernah seharusnya dia melalaikan latihannya sendiri.
Berkat kecerdasannya dan dengan petunjuk berharga dari mertuanya, berdasarkan pengalaman orang tua itu, maka kepandaiannya sekarang ini sudah jauh melampaui kepandaiannya sepuluh tahun sebelumnya, ketika dia telah menghajar dan melabrak kawanan penghianat dan kaki tangan pemerintah penjajah Poen di Swat Hong Sancung, dirumah Touw Sat Kauw.
Kini Ouw Hui sudah berhasil menciptakan semacam ilmu istimewa sebagai hasil dari jerih payahnya ber-tahun2 tekun mengasah otak.
Dengan adanya Kim Bian Hud, yang sudah memperoleh pelajaran langsung dari Ouw It To mengenai ilmu silat keluarga Ouw, banyak bagi-an2 dari ilmu silat pusaka itu, yang tadinya ma sih samar-baginya, kini menjadi jelas sekali, Dan kini dia dapat menjajaki ilmu itu sampai kedasarnya.
Disamping itu, dengan memiliki menantu sebagai Ouw Hui, Biauw Jin Hong tentu saja menjadi girang dan juga puas.
Kepada menantunya itu dia dapat mewaris kan seluruh kepandaiannya agar ilmu pusaka ke luarga Biauw tidak menjadi hilang percuma sa ja, karena tiada yang mewarisinya.
Ilmu istimewa yang diciptakan oleh Ouw Hui baru2 ini, sesungguhnya tidaklah melebihi kedua ilmu keluarga Ouw dan Biauw dalam hal kehebatannya.
Yang istimewa adalah bahwa deng an ilmu itu orang lidak terikat lagi mempergunakan suatu senjata tertentu, dapat memperguna kan senjata, apa saja.
Ouw Ke To Hoat adalah suatu ilmu yang khusus untuk mempergunakan golok, sedangkan Biauw Ke Kiam Hoat hanyalah dapat dipergunakan dengan bersenjatakan pedang.
Berkat ketekunannya itu, Ouw Hui dapat juga menyelami intisari dari kedua macam ilmu silat hebat itu.
Yang luar biasa lagi, Ouw Hui dapat meng gabungkan kedua intisari dari ilmu silat itu dan menciptakan ilmunya yang istimewa sekali.
Kalau orang sudah berhasil menguasai dengari mahir ilmu tersebut, dia tentu akan dapat mem pergunakan setiap senjata pendek dengan sama sempurnanya jika dibardingkan dengan dia mem pergunakan senjata yang panjarg.
Jika dilihat dari lamanya, Biauw Jin Hong sesungguhnya yang sudah lama memahami dasar2 kedua ilmu itu.
Mengapa bukannya Biauw Jin Hong, tetapi justu Ouw Hui yang ternyata berhasil menggabungkan saiu kedua ilmu itu ?
Sebabnya harus lah dicari pada watak mereka.
Menurut adat istiadat dari tradisi keluarga Biauw mengutamakan kemurnian dari.
ilmu silat turunan dan keluarga Biauw, dan umuk selanjut nya akan dipertahankan kemurnian ilmu silat i-tu.
Dan jika terjadi perobahan maupun penambahan terhadap ilmu silat lain didalam Biauw Kee Kiam Hoat, berarti ilmusilat keturun d Biauw itu tidak murni lagi, sehingga lebih tepat jika semua itu hanya disebut sebagai penyempurnaan yang menodai kemurnian ilmu itu sendiri.
Dasar dari palajaran demikian tepat sekali bagi Kim Bian Hud, yang wataknya sungguh2 dan sangat sederhana sekali, sehingga dapatlah dikatakan bahwa ilmu Itu mencapai puncaknya Sebagai salah seorang akhli silat kelas utama, Kim Bian Hud memang telah berhasil memahami ilmu silat keluarga Ouw dalam beberapa hari saja, bahkan dia telah berhasil menguasai intisarinya.
Tetapi untuk dapat mempersatukan unsur2 penting dari kedua macam ilmu silat dari kedua keluarga itu, tentu saja tidak mudah, dan justru ke-dua2nya harus memiliki keistimewaan dan watak serta pendidikan lain.
Dan keduanya dari unsur kedua ilmu itu digabungkan, sehingga akhirnya terciptalah semajcam ilmu yang hebat sekali.
Didalam bidang itulah letak keistimewaan pelajaran keluarga Ouw, sejak Hui Titian Ho Li berhasil mempersatukan unsur seni silat dari berbagai partai pintu perguruan silat diseluruh daratan Tionggoan, setiap keturunan telah memasukkan unsur2 baru yang dipetiknya dari ilmu yang lain.
Setelah bertanding dan bertukar pikiran dengan Kim Bian Hud, kalau bukannya dia mati Ouw It To tentu akan berhasil memper satukan unsur2 keistimewaannya kepandaian Kim Biau Hud untuk membuat ilmunya lebih sempurna lagi.
Keluarga Ouw dapat melakukan semua itu karena dasar pelajaran ilmu mereka lebih mementingkan kecepatan dan perobahan2 yang tidak terduga.
Terutama ;ekali unsur terakhir itulah yang selalu membuka kemungkinan bagi para putera keluarga Ouw untuk memetik sesuatu yang berfaedah dan ilmu lain untuk ditambahkan kepada ilmunya.
Setiap penan.bahan itu dicatat dan dijelas kan dalam kitab pusaka mereka.
Kini Ouw Hui telah berhasil melakukan se suatu yang lebih hebat dalam generasi2 yang terdahulu, kecuali si Hui Thian Ho Li.
Hal itu bukan karena dia lebih cerdas dan para leluhur nya itu.
Sebabnya sederhana saja.
Kesempatannya untuk melakukan itu memang jauh lebih luas.
Sejak mulainya menetap ditempat sunyi itu, dengan tekun dia telah mempelajari seluruh Biauw Kee Kiam Hoat dibawah pimpinan Kim Bian Hud Dengan cepat sekali dia sudah memahami seluruh ilmu itu dan dalam waktu hanya tiga ta hun saja, kepandaiannya ilmu pusaka keluarga Biauw itu sudah berimbang dengan Kim Illan Hud sendiri-Kemudian, dengan tenang dia mulai memi kirkan dan mengolahnya kedua ilmu itu.
Kalau dia tinggal dikota, atau hidup merantau seperti dulu, dia tentu tidak akan bisa ber pikir tenang dan hasilnya tentu juga tidak akan sebesar itu.
Suasana tenang yang ada disekelilingnya, kini terbukti betapa besar manfaatnya.
, Per-tama2 -memang sulit baginya untuk menemukan titik2 pertemuan antara kedua ilmu i-tu.
Tetapi lambat laun semakin lancarlah usaha nya itu dan kurang lebih satu tahun yang lalu dia telab berhasil dengan gemilang.
Dengan ilmunya yang baru diciptakannya i-tu, dia dapat mempergunakan segala macam sen jata pendek seperti pedang, golok, Thicio, gada, tombak pendek dan lain2 senjata pula, dengan sama sempurnanya dan tanpa mengurangi daya tempurnya yang luar biasa.
Dengan memiliki kepandaian begitu tinggi, .Ouw Hui menang tidak perlu kuatir akan keselamatan dirinya sendiri.
Justru yang dikuatirkannya adalah keselamatan isterinya dan anaknya dan keselamatan Peng Ah Sie yang kini sudah berusia lanjut.
Dengan adanya Kim Bian Hud dan sikembar Cie Beng dan Cie Jin, kalau musuh datang menyerang diwaktu mereka semua berada diru-mah, tidaklah sulit untuk melindungi ketiga orang yang dicintainya itu.
Tetapi bagaimana kalau musuh datang diwaktu mereka berada diluar dan datang dengan berkawan banyak?
Bukankah dengan adanya ancaman bahaya seperti itu, dia jadi tidak dapat meninggalkan keluarganya dirumah tanpa perlindungan?
Dan bukankah dia jadi se olah2 seorang tawanan yang dipenjarakan dirumahnya sendiri?
Semakin pikirkan semakin menggelisahkan ancaman bahaya itu, bahkan membuat dia menggidig dan risau sendirinya, dia tidak mengetahui pula apa yang harus dilakukannya.
Kekuatiran itulah yang memenuhi pikirannya disepanjang jalan pulang.
Setibanya dirumah dia segera merundingkan hal itu dengan mertuanya.
Keduanya sependapat bahwa mereka sebaiknya mengatur rencana yang lebih teliti, yaitu menyingkirkan Yok Lan, Ouw Ho dan Perg Ah Sie diungsikan untuk sementara waktu kesebuah tempat yang aman Keputusan itu segera diberitahukan kepada yang bersangkutan, tetapi Yok Lan maupun Peng Ab Sie ternyata tidak menyetujui pendapat mereka.
"Kalau aku menuruti saran kalian dan pergi mengungsi, siapakah yang akan mengurus keper luan kalian se-hari2? Bukankah Kongcu mengajarkan bahwa kewajiban seorang wanita terutama ialah pengabdian kepada suaminya? Dan bu kankah aku sebagai puteramu, ayah harus pula memberikan baktiku? Apakah aku bukan melang gar pelajaran yang telah kita pelajari jika aku meiuruti usul kalian?"
Begitulah bantah Yok Lan sambil menundukan kepala dalam?., wajahnya juga memperlihatkan kesedihan hatinya.
"Jiwaku yang sudah tua, tidaklah begitu berharga pula, dan yang nyata se-tidak2nya nku haaya akan hidup beberapa tahun lagi. Mati lebih cepat atau lebih lambat beberapa tabun tidak banyak bedanya. Kalian tidak usah memusingkan kepala memikirkan jiwaku. Yang terpenting adalah keselamatan isteri dan puteramu, Huijie. Bukankah begitu sebaiknya. Biauw Taihiap? Biarlah aku tetap disini un tuk mengurusi kepentinganmu sehari-hari dan biarlah Ti-tli (keponakan perempuan, Yok Lari maksudnya) dan Hojie menyingkir ketempat yang lebih aman untuk sementara waktu,"
Kata Peng Ah Sie.
Sia2 saja Biauw Jin Hong dan Ouw Hui co ba membujuk mereka.
Keduanya tetap berkeras dengan pendirian masing2 karena tiada keputusan, maka soal itu lalu ditunda untuk dibicarakan lagi esdk Harinya.
Demikianlah ber-turut2 beberapa malam mereka saling desak, tetapi akhirnya, setelah leWat ber turut2 selama seminggu lebih, keputusan belum berhasil diambil.
Walaupun tidak mengerti ilmu silat, Peng Ah Sie dan Yok Lan, keduanya memiliki jiwa satria dan pahlawan.
Istilah takut tidak dikenal mereka.
Sungguh menakjubkan bahwa dalam menghadapi ancaman bahaya yang membuat kedua jago seperti Kim Bian Hud dan Ouw Hui menjadi gelisah demikian hebat memikirkan keselamatan mereka, tetatpi sebaliknya mereka sendiri tetap tenang sekali, Disaat itu, Cie Beng dan Cie Jin diam2 justru jadi gembira dengan tiadanya bahaya seperti itu, Seperti juga biaanya anak2 muda, mereka pun sangat menyukai peristiwa yang penuh kete gangan dan penuh bahaya.
Terlebih lagi memang mereka kini sudah memiliki ilmu yang tinggi se kali dan memperoleh kemajuan yang pesat.
Selama sepuluh tabun meieka tidak pernah' bertem pur sungguhan.
Maka kini mereka ingin sekali membuktikan kemajuan yang telah mereka miliki, tetapi selama sepuluh tahun tinggal ditempai sunyi membuat mereka belum memperoleh kesempatan.
Sejak peristiwa di Swat Hong Sancung, sepuluh tahun yang lalu, belum pernah mereka ber tempur melawan musuh lagi, sedangkan mereka kini yakin bahwa kepandaian mereka sudah maju jauh sekali dan sangat pesat.
Musuh2 yang akan datang itu akan memberikan kesempatan kepada meresa, untuk melatih diri dan membuktikan kemajuan yang telah dipe toleh mereka, sehingga tentu saja berita itu tak aceh kalsu menggembirakan hati mereka.
Dan karena melihat kegelisahan Kim Bian Hud dan UuwHui, maka keduanya hanya menyem bunyikan perasaan gembira itu didasar hati masing2 Sikembar itu mengharapkan agar musub cepat2 datang dan ternyata harapan mereka itu menjadi kenyataan setelah lewat tidak lama kemudian.
Pada hari kesepuluh sejak Ouw Hui kem bali dari Ili, terjadilah suatu peristiwa yang me ngisaratkan bahwa tidak lama lagi pasti musuh akan datang........
x-oo0dw0oo-x HARI itu.
menjelang tengah hari, ketika se pasang pemuda kembar itu bersama Ouw Hui hendak meninggalkan ladang untuk beritirahat dan bersantap tengah hari dari jauh tampak tiga penunggang kuda mendekati tempat mereka.
Anehnya, setelah datang cukup dekat, ketiganya bukan segera langsung datang kepada me reka, justru sebaliknya orang2 itu lalu berhenti dan memandang mereka dari jarak kurang lebih tiga puluh tombak.
Yang berada ditengah, yang agaknya menjadi pemimpinnya, berwajah cukup tampan.
Usianya kurang lebih baru antara empat puluh tahuni dan cara berpakaiannya seperti seorang saudagar kaya.
Samar-Ouw Hui mengenali Wajah orang itu hanya dimana dia pernah berjumpa dengannya, telah lupa sama sekali.' Orang itu agaknya juga sudah mengenalinya.
Dengan sorot mata mengandung kebencian yang sangat, orang itu telah menatap kearah Ouw Hui, dia memandang tanpa berkedip selama bebe rapa saat.
Kemudian tiba2 dia memberikan isyarat kepada kedua kawannya agar segera meninggalkan tempat itu.
Ketiga Orang itu telah kembali dari arah mana tadi mereka mendatangi.
Jelaslah sudah bahwa orang2 itu hanyalah merupakan sebagian dari rombongan musuh Ouw Hui dan datangnya juga hanya untuk menyelidiki belaka tempat kediaman Ouw Hui, Entah berapa banyak kawan2 mereka itu hanya dapatlah dipastikan bahwa musuh itu berkawan tidak sedikit.
Bahwa orang itu mengenali Ouw Hui, yang jika dirumah selalu tidak mengenakan janggut dan kumis palsu seperti jika tengah berpergian, memperlihatkan bahwa dia telah pernah bertemu dengan Ouw Hui dimasa-masa yang lalu sebelum terjadinya pertemuan para Ciangbunjin diistana Hok Kong An.
Sambil berjalan pulang kerumahnya, Ouw Hui berusaha membayangkan kembali wajah2 semua musuh2nya dari saat itu.
Tiba2 dia teringat kepada Hong Jin Eng.
Wajah orang tadi memang sangat mirip se kali dengan musuh besar itu, akan tetapi dia mengetahui bahwa Hong Jin Eng sudah mati dalam pertempuran dipertemuan para Ciangbunjin diistana Hok Kong An.
Apakah orang she Hong itu memang memiliki anak ?
Apakah memang putera Hong Jin Eng, yang bernama Hong it Hoa ?
Dan seketika itu juga Ouw Hui yakin tidak salah lagi bahwa orang itu memang Hong It Hoa.
Ouw Hui yakin bahwa Ong It Hoa kini tentu telah mempelajari ilmu silat yang lebih tinggi dan berkawan banyak sekali diantara orang2 berkepandaian tinggi.
Kalau tidak, tentu musuh itu tidak akan berani datang mencarinya.
Bukankah sembilan belas tahun yang lalu ayah beranak she Hong itu sudah ketakutan se tengah mati jika mendengar namanya.
Kali ini ?
Hong It Hoi tentu sudah bukan Hong It Hoa dulu dan kawan2nya tentu memiliki kepanda ian yang sangat tinggi.
Keyakinan itu telah memperbesar kekuatiran dihari Ouw Hui, keku atiran akan keselamatan anak dan isterinya didamping Peng Ah Sie.
Karena itu, maka Ouw Hui segera menceritakan peristiwa tadi dan hubungannya dengan permusuhannya dimasa lalu dengan Hong Jin Eng.
Sekali lagi dia berusaha mendesak Yok Lan dan Peng Ah Sie agar mecgungsi untuk sementara waktu saja.
Dikatakannya bahwa bahaya kini sudah tiba diambang pintu, tetapi usaha Ouw Hui untuk membujuk isterinya itu sia2 belaka.
Yok Lan dan Peng Ah Sie tetap ingin ber diam disitu, apapun yang kelak terjadi.
Ouw Ho yang mendengar adanya bahaya itu, bahkan telah me-nepuk2 tangan sambil mengata kan bahwa dia senang sekali jika musuh cepat2 datang, agar dia bisa menghajar dan memperma inkan mereka.
Sesuai dengan bunyi pepatah yang mengatakan bahwa "Anak kerbau tidak takut harimau"
Sedikitpun dia tidak merasa takut akan musuh2 itu.
Sebaliknya dari mengecilkan hatinya, penga laman di lli itu ternyata telah menambah keyakinan akan kecerdikannya, dan asal tidak lalai dan ceroboh, dia yakin akan bisa mempermain' kan setiap musuh yang datang.
Tentu saja perkataan sibocah kecil bermuka hitam itu telah membuat Biauw Jin Hong dan Ouw Hui jadi tambah kuatir, sedangkan yang Ia innya, yang tadinya tenang-saja kini jadi kuatir juga.
Mereka mengetahui, bahwa Ouw Ho sangat nakal dan biasa melakukan apa saja yang dikata kannya dan mereka justeru kuatir kalau anak2 ini nanti terjerumus kedalam bahaya karena kece robohannya.
Ramai2 mereka melarangnya dan turut me nasehatkannya agar Ouw Ho tidak keluar disaat musuh datang.
Melihat wajah kedua orang tuanya dan kakek luarnya, yang ber-sungguh2 ketika menaseha tinya, maka diapun tidak berani membantahnya, dan Ouw Ho hanya mengangguk.
Memang sesungguhnya Ouw Ho sedrang anak yang penurut aras nasehatnya orang tuanya kadang2 dia melanggar juga larangan ayahnya maupun larangan ibunya, itu karena diduln u jiwa ke-kanak2annya sering terbawa oleh bayangan khayal belaka.
Dengan sadar Ouw Ho belum pernah melakukan sesuatu yang sudah dilarang kedua orang tuanya atau kakeknya.
Demikianlah, sedangkan Ouw Ho tidak per nah bermain jaub.2 dari rumahnya, sedangkan Ouw Hui sendiri juga tidak berani meninggalkan rumahnya untuk pergi berburu.
Diwaktu malam hari, secara bergiliran, Kim Bian Hud, Ouw Hui, Cie Beng dan Cie Jin melakukan pen jagaan.
Beberapa hari telah lewat dengan demikian Keadaan yang tegang yang meliputi hati jago2 itu, setiap hari kian memuncak saja, karena wa laupun bagaimana dengan lewatnya waktu, tentu kedatangan musuh kian dekat pula.
Mereka jadi kehilangan kebebasan bergerak keadaan mereka kini benar2 bagaikan orang2 ter penjara.
Lama kelamaan Kim Bian Hud dan Ouw Hui jadi tidak sabar lagi dan seperti Cie Beng maupun Cie Jin, mferekapun mulai mengharap2 agar musuh cepat2 muncul, agar mereka tidak perlu hidup dalam kebimbangan terus menerus.
Dan malam keempat sejak munculnya ketiga orang peninjau itu, tibalah saat yang di-nanti2 kan.
Malam itu keluarga Ouw Hui batu saja sele sai bersantap, ketika dari jauh terdengar derap kaki kuda yang cukup ramai, dan kemudian berhenti tidak jauh dari rumah mereka.
Kim Biaa Hud dan Ouw Hui sama2 merasa agak lega, karena mereka tidak perlu hidup dalam kebingbaagan pula dan mereka bersyukur bahwa musuh telah datang disaat mereka semua tengah berada dirumah Dengan demikian, mereka tidak perlu teria lu berkuatir lagi akan keselamatan Yok Lan dan yang lainnya.
Setelah berpesan, agar Yok Lan, Pcng Ah Sie menjaga Ouw Ho didalam rumah, Ouw Hui lalu mengambil goloknya dan melangkah ke luar diikuti Kim Bian Hud dan kedua saudara Cie, yang masing2 juga sudah mempersiapkan senjatanya.
Sementara itu telah terdengar tantangan dari luar.
"Bangsat Ouw Hui! Keluarlah ! Main bersembunyi bukanlah sikap dan kelakuan seorang gagah"
Demikian terdengar seseorang berteriak dengan suara yang lantang.
Tetapi disaat itu Ouw Hui membuka pintu dan memperlihatkan diri.
Dimuka rumahnya, kurang lebih sepuluh tombak dari pintu itu tam paklah dua puluh orang lebih berkumpul.
Diantara kedua puluh orang itu, Ouw Hui mengenali empat orang yang telah dijumpainya di Ili.
Melihat kepala mereka yang telah botak, teringatlah dia akan cerita puteranya tentang peristiwa penginapan itu.
Tanpa disadarinya dia jadi tertawa ter-bahak2.
Disamping empat orang itu, dia juga mengenali tiga orang yang telah datang empat hari sebelumnya.
Setelah memperhatikan wajahnya sebentar dia menjadi yakin bahwa orang itu memang benar Hong It Hoa.
"Aha, sungguh tidak kusangka, bahwa hari ini aku akan mendapat kehormatan begitu besar sehirgf a seekor burung Hong datang mempersembahkan sekuntum bunga kepadaku dengan di antar sekian banyak sahabat2 baik dan empat orang dewa sakti, yang dapat bcrganti2 rupa; yang sesaat bisa menjadi saudagar dan sesaat la gi bisa menjadi hweshio."
Kata Ouw Hui dengan disertai tertawanya.
Panas benar telinga Hong It Hoa ketika mendengar ucapan Ouw Hui itu.
yang bisa juga diberi arti bahwa kedatangannya itu dianggap se bagai mengantarkan jiwa.
Kata Hong (burung cendrawasih) itu berasal dari shenya dan sekuntum bunga adalah namanya "It Hoa."
Darahnya seketika itu juga bergejolak karena amarahnya.
Dalam otaknya seke tika ber kelebat2 pula peristiwa2 dimasa lampau itu, bagaimana Ouw Hui telah mendesak ayahnya begitu rupa, sehingga keluarga Hong harus kehilangan sebagian besar harta bendanya, bahkan harus hidup ter-lunta2, ber pindah2 dari sa tu tempat ketempat lain tanpa berani menetap lama2 disuatu tempat.
Kematian ayahnya juga karena disebabkan desakan Ouw Hui, sehingga baginya Ouw Hui adalah musuh yang nomor satu yang harus diingat sepanjang hidupnya.
Dalam pikiran orang2 seperti Hong It Hoa yang sejak kecil hanya dikelilingi orang-orang yang senang menindas pihak yang lemah, tentu saja tidak ada pertimbangan yang baik bahwa malapetaka yang telah dialami keluarganya dan kematian ayahnya itu sesungguhnya hanyalah bu ah dari perbuatan2 ayahnya sendiri yang sudah menumpuk dosa diatas dosa.
Tidak mau It Hoa mengakui bahwa perbuatan Ouw Hui itu hanya sekedar hukuman yang setimpal bagi dosa2 ayahnya.
Ketika diwaktu itu.
yaitu sembilan belas ta hun yang lalu.
ayahnya menemui ajalnya dige-dung Hok Kong An, dia telah .pergi merantau tanpa ketentuan tujuan, dengan mengandung pe nasaran serta dendam sedalam lautan didalam ha tinya.
Betapa bersedih hatinya dia karena mengetahui bahwa musuhnya terlalu hebat kepandaian nya dan dia sama sekali tidak memiliki harap an untuk membalas dendamnya itu.
Dalam perantauannya itu, dia tidak berani mempergunakan namanya yang sesungguhnya, kua tir jika Ouw Hui belum puas dengan kematian ayahnya dan akan mencarinya.
Pada suatu hari, setelah ber-bulan2 mengala mi banyak penderitaan lahir dan bathin, tibalah dia disebuah desa diperbatasan propinsi Shoasay dan Siamsay.
Disitulah dia bertemu dengan seorang tosu tua, yang sangat tertarik kepadanya.
Setelah memperkenalkan diri, tosu itu lalu menanyakan mengapa It Hoa begitu bersedih?
Tekanan suara pertanyaan tosu itu, yang di dengarnya mengandung perasaan kasihan dan iba melupakan setitik sinar terang baginya.
Ber-bulan2 lamanya dia telah berkeliaran tanpa menemukan seorang juga yang memperlihatkan simpati atas kesedihannya.
Karena itu dia telah menceritakan semua penderitaannya dan apa sebab2nya.
Tentu saja apa yang diceritakannya itu menurut dugaan dan perkiraannya sendiri, dan juga jelas memenangkan pihak ayahnya dan menambahkan kebusukan untuk Ouw Hui.
Si-tosu semakin merasa kasihan kepadanya dan menawarkan jasa untuk mengambilnya seba gai murid, Tosu itu telah menjelaskan bahwa dia sesungguhnya Ciangbunjin dari Ceng-cong Pai, dan dikenal dikalangan Kangouw sebagai Hian Beng Cu.
Dan tosu itu merasa sayang kepada It Roa yang dilihatnya sangat berbakat dan merasa ka sihan terhadap msibnya yang cralarg.
Tosu itu juga telah mengatakan hendak me rolorg she Hong tersebut agar kelak bisa menuntut balas sakit hatinya itu.
Tawaran tosu tersebut diterima Ii Hoa de ngan kegembiraan yang me-luap2.
Dia sudan sering mendengar nama Hian Beng Cu, yang untuk masa itu dianggap sebagai salah seorang tokoh terkemuka dalam rimba per silatan.
Demikianlah dia telah berguru kepada tosu itu dan menjadi salah seorang murid Ceng Cong Pai yang sangat rajin sekali belajar.
Gurunya semakin lama semakin menyayangi nya dan ketika Touw Sat Kauw minta bantuan untuk menghadapi Ouw Hui.
Hian Beng Cu se gera menyanggupi, karena dengan demikian dia akan dapat membalaskan sakit hati muridnya.
Sungguh tak diduga, bahwa akhirnya Hian Beng Cu sendirilah yang kena dihajar dan pulang dengan menderita iuka2 parah.
Sebulan kemudian tosu tua itu menutup mata karena sedih dan malunya.
Dengan demikian, secara tidak langsung Ouw Hui juga jadi penyebab kematian pemimpin Ceng Cong Pai, dan telah dianggap musuh oleh murid2 Geng Cong Pai.
Hian Beng Cu sesungguhnya bukan seorang yang memiliki sifat2 jahat, dan kalau saja dia tidak begitu ceroboh untuk mempercayai begitu saja keterangan yang diberikan oleh Hong It Hoa sepihak, dia tidak usah mengalami nasib seburuk itu.
Menurut pesan Hian Beng Cu menjelang ajal nya, maka kemudian diangkatlah It Ho menjadi ketua Ceng Cong Pai.
Setelah memperoleh kenyataan bahwa sam paipun Hian Beng Cu sendiri masih belum sang gup menandingi Ouw Hui, tentu saja It Hoa ti-tak berani lagi pergi mencari Oaw.Hui dan untuk sementara waktu menyimpan saja penasarannya.
Dengan persetujuan semua saudara seperguruannya, it Hoa lalu pergi merantau pula untuk mengejar ilmu2 yang lebih tinggi agar kelak dapat mencuci bersih malu yang diperoleh Ceng Cong Pai Setelah sekian lama, akhirnya dia berhasil mempelajari ilmu Tok See Ciang, tangan pasir beracun yang diperoleh dsri seorang aneh yang hidup menyendiri digegunungan Kun Lun.
Dengan hasilnya itu, dia merasa sudah memiliki pegangan untuk melawan musuhrya.
dan kembalilah dia ke Sai Hong Kiong.
pusat Ceng Cong Pai, di Siam sai.
Selama beberapa tahun dia menurunkan ilmu Tok See Ciang itu kepada beberapa orang saudara seperguruannya yang memang memiliki bakat Dua tahun yang telah lalu, dia merasa bahwa pihaknya sudeh cukup kuat untuk mencari musuhnya dan melakukan penuntutan balas bagi ayah dan gurunya.
Dengan disertai lima orang saudara seperguruannya, dia lalu berusaha untuk mencari mu suhnya Hu kesana kemari.
Akhirnya setelah dua tahun berkeliaran terus dalam rangka mencari jejak musuhnya itu, tibalah mereka di lli.
Disiniiah secara kebetulan dia -menjumpsi Ouw Hui.
It Hoa sendiri itu tidak mengenali musuhnya.
tetapi salah seorang sutenya yang telah menyertai guru mereka ke Swat Hong Sancung,Segera mengenalinya.
Tiga orang sutenya lalu disuruhnya mengin tai dan mengawasi terus gerak-gerik Ouw Hui dan berusaha menculik puteranya setiap ada ke sempatan.
Kalau usaha itu berhasil, maka ketiga sute nya itu harus cepat2 menyingkir kesuatu tempat, yang terletak kurang lebih empat puluh lie disebelah tenggara kota IH.
Oia sendiri bersama dua orang sutenya akan tetap didalam kota dulu.
untuk mengawasi dan mengirim surat tantangan kepada Ouw Hui.
Diluar dugaan rencananya itu menjadi beran takan karena ketiga sutenya itu telah berhasil di tipu oleh Ouw Ho.
Keesokan harinya dia menjumpai ketiga o-rang sutenya, yang saat itu telah kembali ke Hi dalam keadaan rudin, dan mereka tampaknya sa ngat letih sekali.
Tidak heranlah disaat itu, karena semalam suntuk dan hampir setengah hari mereka telah berjalan tanpa berhenti.
Untung saja bahwa disamping kerugian itu bagi pihaknya juga ada keuntungannya.
Setelah ketiga sutenya dan keempat lawan mereka yang berpakaian sebagai Hheshio itu sama2 sadar bahwa mereka telah menjadi korban dari tipu sianak nakal muka hitam itu, tahulah mereka bahwa mereka sesungguhnya memiliki sa tu tujuan.
Karena itu mereka lalu telah bersekutu untuk bersama dan juga kelak mengadakan kerja sama untuk mencari Ouw Hui.
Sute Hong It Hoa yang telah mengikuti gu runya ke Swat Hong Sancung segera mengenali salah seorang dari keempat hweshio itu sebagai Ie Koanke, pengurus rumah tangga she Ie, pegawai Touw Sat Kau w.
Sungguh sial, bahwa untuk menculik Ouw Ho.
It Hoa bukan meminta sutenya yang seorang ini.
Kalau dia yang meminta memimpin penculi kan itu, tentunya salah paham itu dapat dihindarkan, dan Ouw Ho pasti tidak akan bisa meloloskan diri.
Tetapi nasi sudah menjadi bubur.
Yang sudah terjadi jelas tidak dapat disalahkan lagi.
Kini tidak lebih baik dari melakukan suatu pekerjaan yang memungkinkan mereka bekerja sama untuk melaksanakan pembalasan sakit hati terhadap Ouw Hui.
Ketiga orang kawan Ie Koan Ke itu adalah putera dan kedua sute Touw Sat Kauw.
Sejak diobrak-abrik Swat Hong Sancung oleh Kim Bian Hud dan Ouw Hui, seisi rumah Touw Sat Kauw telah menyingkir ke Pakkhia un tuk mencari perlindungan dengan bekerja dalam pasukan Gie Lim Kun.
Tetapi disini mereka harus mengalami keke ceWaan pula.
Karena kegagalannya dalam usaha menawan Kim Bian Hud dan Ouw Hui, maka dalam mata dan pandangan para pembesar Boan harga mere ka sudah turun.
jauh.
Walaupun diterima juga menjadi pasukan Gie Lim Kun, kedudukan mereka tidak setinggi yang mereka harapkan.
Dengan sangat terpaksa mereka menerima ju ga kedudukan yang diberikan pemerintah Boan itu, karena bagi mereka sudah tidak ada pilihan lain.
Jengkel, malu dan kecewa memenuhi hati Touw Sat Kauw, sehingga tidak sampai setengah tabun kemudian meninggallah dia.
Puteranya vang bernama Peng Liang dan le dua sutenya, Ma Sat Long dan Lie Sat Houw te tap bekerja dalam pasukan Oie Lim Kun.
Diantara pegawai rumah tangga dari keluarga Touw tersebut, hanya In Koanke yang ma sih tetap setia dan karena Touw Sat Kauw sudah tidak kuat membayar gaji mereka, maka pelayan2 yang lainnya telah berhenti untuk men cari pekerjaan ditempat lain.
Selama sepuluh tahun itu, mereka tidak per nah melupakan Kim Bian Hud maupun Ouw Hui, dua orang yang mereka anggap sebagai biang keladi dan sumber kesialan keluarga mereka.
Selama ber-tahun2 pula mereka telah mempelajari bermacam2 ilmu silat lagi tanpa mengenal lelah, karena dorongan nafsu membalas dendam.
Sementara itu, per lahan2 kedudukan mereka didalam pasukan Gie Lim Kun juga menan jak sedikit demi sedikit, sehingga kini mereka sudah menjabat kedudukan sebagai komandan regu.
Hipertengahan tahun yang lalu, pemerintah Ceng telah mendengar berita burung bahwa Kim Bian Hud dan Ouw Hui yang sekian lama tidak terdengar kabar beritanya lagi, sesungguhnya su dah menyingkir dan menyembunyikan diri diwi layah barat laut.
Dalam rapat kerja para perwira Gie Lim Kun.
hal inipun telah dibicarakan, dan Peng Liang serta kedua susioknya itu melihat suatu kesempatan baik untuk membalas dendam sekalian memupuk jasa bagi mereka.
Karena itu, mereka lalu mengajukan diri un tuk pergi melakukan penyelidikan, dan kalau be rita itu memang benar, mereka akan memperta ruhkan jiwa untuk menawan dua pelarian penting itu.
Komandan pasukan Gie Lim Kun mengetahui, bahwa dalam pasukannya memang tak ada yang lebih tepat dari mereka untuk berusaha me laksanakan tugas itu.
Tetapi dengan sengaja dia mengejek mereka dulu, agar hati mereka menja di panas.
Dikatakanlah oleh komandan Gie Lim-Kun bahwa dia masih ragu2 dan meragukan kesanggu pan mereka, mengingat peristiwa di Swat hong Sancuog yang memalukan itu.
Kata2 seperti itu dati komandan pasukan Gie-Lim-Kun tentu saja benar2 berhasil membang kitkan amarah mereka dan semakin keraslah te kad mereka untuk membalas dendam dan mencuci malu.
Mereka telah bersumpah untuk tidak kembali dengan masih bernyawa, kalau tidak berhasil menawan atau membinasakan Kim Bian Hud dan Ouw Hui.
Demikianlah mereka berangkat dua bulan yang lalu bersama dengan lima orang Gie Cian Siewie dari istana kaisar, ditambah pula dengan ada orang rokoh Kun Lun Pai dan sipengurus rumah tangga she Ie.
Orang2 Kun Lun Pai itu adalah orang2 yang telah diminta bantuannya oleh pemerintah Ceng dan segera menyanggupi permintaan itu karena didorong nafsu mereka untuk membalaskan sakit bati guru mereka, Leng Ceng Kiesu yang telah tewas dikaki puncak Giok Pit Hong ber-sama2 dengan Say Congkoan dan beberapa siewie lainnya.
Setibanya mereka didatrah barat laut, rom bongan itu lalu dipecah menjadi tiga kelompok.
Setiap kolompok hanya bertugas melakukan penyelidikan dulu, dan kalau sudah berhasil me nemukan jejak orang2 yang mereka cari itu, me reka harus menghubungi yang lainnya agar dengan bersatu mereka dapat mengeroyok dan menga lahkan lawan.
Agar tidak meninbulkai kecurigaan, dalam perjalanan itu mereka menyamar sebagai saudagar.
Sudah ber-bu!an2 mereda mjiciri kesana ke mari dengan sia2 saja.
Kemudian tibalah saatnya untuk mereka ber kumpul di kota Ili, sebagai telah dijanjikan jika sekiranya mereka sama'2 belum berhasil se'elah lewat setengah tali in.
Kelompok orang2 Swat Hong San Cung ini lah yang telah tiba lebih d ilu dikota Ili, dima-na secara tidak terduga mereka telah berpapasan dengan .Ouw Hui dan puteranya.
Kemudian sambil menanti kedatangan kawan2 yang ditunggu2 itu, mereka sengaja menyewa ka mar disebelah kamar Ouw Hui dirumah penginap an itu, yang kemudian ternyata justru telah mengakibatkan mereka telah dipermainkan oleh Ouw Ho, sehingga mereka mengalami peristiwa yang memalukan itu.
Waktu mereka bertemu dengan rombongan Ceng Cong Pai yang telah berhasil menculik Ouw Ho, mereka sesungguhnya mereka hendak menyongsong kawan2 mereka.
Karena kemudian mereka kehilangan tunggangan dan bekal, maka terpaksa mereka kembali ke lli ber-sama2 dengan tiga orang Cong Pai itu.
Keesokan harinya tibalah kawan2 yang di-nantikan itu.
Rombongan mereka itu seluruhnya jadi ter diri dari dua puluh satu orang.
Dari keterangan yang mereka peroleh dari sana-sini dan terutama sekali dari para pegawai penginapan langganan Ouw Hui, mereka jadi, mengetahui bahwa musuh yang dicari itu tinggal dikaki pegunungan Thiansan, kurang lebih empat ratus lie di sebelah tenggara kota Ili.
Demikianlah, mereka ikalau berangkat kearah tenggara dan berpencar untuk mencari tem pat kediaman Ouw Hui, Achirnya Hong It Hoa yang berhasil menemukannya dan setelah berkumpul pula mereka segera ramai2 menuju kerumah terpencil ditepi padang rumput itu.
Orang2 yang sudah bertekad bulat untuk mempertaruhkan jiwa inilah yang kini dihadapi Ouw Hui dan keluarganya.
Walaupun yakin, bahwa kepandaiannya sendiri tentu masih dapat mengatasi musuh2 itu, te tapi Ouw Hui iuga menyadari bahwa kenekadan musuh2nya itu tidak dapat dianggap sepi, bahkan bisa menimbulkan bahaya yang tidak terduga.
Hal inipun sudah disadari oleh Kim Bian Hud, yang mengenali anggota2 keluarga Touw Sat Kauw.
Seperti juga Ouw Hui, Kim Bian Hud me ngerti bahwa dalam pertempuran yang akan terja di ini, dia tidak boleh berlaku murah bati lagi.
Inilah suatu pertempuran yang tidak akan mengenal kasihan, yang harus menentukan siapa yang akan tetap hidup, pihaknya atau pihak sana.
Dan sebagai umumnya semua makluk hidup Kim Bian Hud juga tidak mau menyerahkan jiwanya dengan cuma2.
Melihat keluarnya musuh, kedua puluh satu orang itu lalu membentuk setengah lingkaran de ngan sikap mengepung.
Hong It Hoa yang per-tama2 ditegur Ouw Hui segera menjawabnya dengan bentakan ;
"Jahanam, jangan membentang mulut seenakmu !"
Salah seorang Gie Cian Siewie itu menyam bungi .
"Pemberontak2 Ouw Hui dan Biauw Jin Hong! Dosamu sudah terlalu besar ! Lebih baik kalian lekas2 menyerah untuk menerima hukuman! Jangan harap kalian bisa mengelakan kematian sekali ini!"
Ouw Hui menyapu matanya kearah orang2 itu, didalam hatinya dia sedang mempertimbang kan siasat yang harus ditempuhnya untuk mem peroleh kemenangan yang cepat lagi mutlak. Kemudian dia telah berkata.
"Dosaku memang sudah berlimpah2, dan aku memang pantas mendapat hukuman. Hanya kukira tidak te patlah jika kalian, manusia hina dina yang akan menghukumku. Lebih tepat jika aku menghukum kalian. Kalian jauh2 telah memerlukan datang kemari, maka biarlah aku tidak akan mengecewa kan kalian. Akan kukirim pulang kalian semua nya ramai2, hanya bukan kembali kerumahmu, tetapi ketempat asalmu, keneraka, menghadap raja akheratl"
Ma Sat Long dan Lie Sat Houw tidak dapat bersabar pula. Dengan ber-sama2 mereka telah berteriak garang sekali.
"Saudara! Untuk apa menghambur kan Kata2 pemberontak ini? Kita bukan datang untuk mengadu lidah dengan bangsat itu! ,Serbu saja, dan kita bereskan mereka, habis perkara!"
Menurut akan kata2nya itu, ber sama2 dengan Touw Peng Liang dan sipengemis rumah tang ga, mereka segera rnenerjang Ouw Hui, yang berdiri terdekat dengan mereka.
Enam belas kawan mereka serentak ikut maju menerjang melancarkan serangan.
Ouw Hui perintahkan sikembar Cie Beng dan Cie Jin agar mundur sampai kesamping pintu untuk menghalangi setiap orang yang berusaha menerjang maju kedalarn.
Dia sendiri segera memutar goloknya untuk melakukan perlawanan.
Kim Bian Had juga telah menggerakan pe dangnya.
"Trang! Trang!"
Terdengar dua kali bunyi logam terbentur dengan logam pula, disusul juga dengan teriakan kaget.
Dalam gebrakan pertama itu ternyata pedang2 Ma Sat Long dan Lie Sat Houw sudah ditabas putus oleh golok Ouw Hui.
Sambil berteriak memperingati kawan2 m reka agar berhati2 terhadap senjata Ouw Hui kedua orang itu segera melompat mundur dan ber-lari2 kearah tempat kuda2 mereka.
Sesaat kemudian mereka sudah kembali dengan memegang pedang baru, ternyata mereka telah membekal cadangan senjata.
Sementara itu pertempuran itu telah berlangsung dengan ramainya.
Pertempuran itu benar2 merupakan pertempuran terberat yang pernah dialami oleh Ouw Hui maupun Kim Bian Hud dalam menghadapi kawanan garuda.
Lawan2 yang kini dihadapinya tidak dapat dipersamakan dengan musuh yang mereka jumpai di Swat Hong Sancung.
Walaupun sebagian besar terdiri dari murid dan keturunan musuh yang lain, tetapi kepandaian mereka sudah jauh melebihi kepandaian guru mereka berkat ketekunan mereka melatih diri hampir sepuluh tahun.
Disamping itu, hampir semua musuh2 itu adalah orang2 yang sudah nekad, yang akan ragu2 mengorbankan jiwanya de ni berhasilnya melak sanakai pembalasan dendam sedalam lautan itu.
Kini terbuktilah bahwa kenekadan bisa me rupakan senjata yang ampuh, apa lagi kalau yang nekad itu seorang akhli silat tingkat tinggi-Setelah mengetahui bahwa golok Ouw Hui sebatang senjata mustika, maka para pengepungnya itu tidak mau mengadu senjata mereka lagi.
Setiap bacokan atau tabasan Ouw Hui selalu banya dielakkannya dengan melompat ke-samping.
sedangkan jika serangan mereka hendak ditangkis oleh Ouw Hui, merekapun cepat sekali menarik senjata masing2.
Cara bertempur demikian, yang selalu menghindarkan benturan senjata, sesungguhnya banyak kerugiannya.
Tetapi berkat jumlah kawan mereka yang jauh lebih besar dan semua benar2 sudah merupakan tokoh2 silat yang jarang ada tandingan nya, maka dengan bekerja sama secara teratur seperti itu, mereka bukan hanya berhasil menambal kelemahan itu, sebaliknya mereka bahkan berhasil menarik keuntungan untuk pihak mereka.
Setiap kali Ouw Hui hendak meneruskan tangkisannya menjadi serangan, hampir selalu dia harus membatalkan niatnya, karena dari arah lain sudah segera tiba serangan lagi.
Dengan melancarkan serangan2 susul menyusul silih bergantian itu, mereka telah dapat memaksa Ouw Hui terus menerus membela diri tanpa berkesempatan melancarkan serangan balasan.
Karena itu maka jika hanya dilihat sepintas lalu, orang bisa mendapatkan kesan bahwa dia sudah jatuh dibawah angin.
Tetapi bagi mata seorang ahli.
keadaan Ouw Hui sama sekali belum menguatirkan.
Disebelah pihak lainnya, Kim Bian Hud ju ga tengah bertempur dengan penuh kewaspadaan melawan para siewie dan orang2 Kun Lun Pai.
Kedudukannya agak lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan kedudukan Ouw Hui.
Diantara musuh2nya tidak ada seorangpun pernah merasakan send ri betapa hebatnya orang tua itu.
Walaupun sudah sering kali mereka mende ngar tentang kepandaian dan kehebatan Kim Bian Hud, tetapi mereka percaya, bahwa dengan berkawan begitu banyak, yang semuanya berimu silat tinggi, tidak nantinya mereka akan ca pai.
Karena itu, mereka jadi lebih berani dalam melakukan serangan.
Sementara itu Cie Beng dan Cie Jin terpaksa hanya menyaksikan saja sambil menjaga di-ambang pintu.
Sesungguhnya tangan mereka sudah gatal se kali, ingin benar mereka menggabungkan diri dalam pertempuran itu.
Tetapi pemerintah guru mereka juga tidak dapat dilanggar oleh mereka.
Tiba2 disamping rumah terdengar suara ber kerotok, bagaikan terbakarnya kayu setengah ke ring, dan sesaat kemudian terdengar suara Peng Ah Sie dari dalam.
"Celaka, mereka membakar rumah "
Kedua saudara Cie itu tentu saja teikejut se kali karenanya dan merekapun agak heran.
Jelas sekali kedua puluh musuh itu tengah asyik bertempur dan seorangpun tidak ada yang meninggalkan medan pertempuran.
Siapakah yang melepas api disamping ?
Apakah ada serombongan musuh lain yang belum memperlihatkan diri dan kini berusaha membokong dan menimbulkan kekacauan dengan membakar rumah ?
Dalam kagetnya dan bingungnya, kedua saudara Cie itu tidak dapat mengambil keputusan yang cepat tindakan apa yang harus mereka laku kan dengan segera disaat itu, Memberitahukan kepada Ouw Hui atau Kim Bian Hnd tentang adanya perkembangan baru i-tu, mereka memaDg tidak berani karena kuatir mengejutkan dan mengacaukan pemusatan perha tian mereka.
Pergi sendiri untuk melihat dan memadamkan api, juga sulit dilakukan, karena mungkin sekali akan ada musuh yang berusaha menerobos masuk kalau mereka meninggalkan pintu itu.
Sekarang api masih kecil dan belum mena rik perhatian mereka yang tengah bertempur, te tapi sebentar pula api itu tentu akan menjadi semakin besar dan Kim Bian Hud maupun Ouw Hui tentu akan melihatnya.
Kalau sampai terjadi begitu, bukankah kedua orang itu akan menjadi terkejut dan perha ttan mereka jadi terpecah ?
Maka perlu sekali mereka bertindak dengan cepat.
Dan Cie Beng maupun Cie Jin telah memu tuskan untuk masing2 melakukan tugas sendiri2.
Cie Jin tetap menjaga pintu, sedangkan Cie Beng akan pergi kesamping untuk berusaha memadamkan kebakaran.
Yang dijumpainya disamping ternyata hanya Seorang.
Legalah hati Cie Beng, disamping dia juga sangat murka sekali.
Orang itu ternyata telah menumpuk sekian banyak rumput dan ranting cabang kering kayu disamping rumah dan telab menyalakannya.
Kini orang itu tengah mengipasi api itu, su paya semakin besar nyalanya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata Cie Beng lalu menyerangnya.
Maksudnya ialah untuk merubuhkan orang itu, agar kemudian dia berusaha dan bekerja leuasa untuk memadamkan api.
Tetapi sayangnya, maksud itu tidak begitu mudah untuk dicapai dan dilaksanakannya.
Walaupun tengah memusatkan perhatiannya kepada api yang tengah dinyatakannya itu, sera iigan Cie Beng yang datang dengan tiba2 dapat pula dielakkan dengan mudah oleh sipembakar rumah.
Sambil membalikkan tubuh, orang itu kemudian membalas serangan Cie Beng.
Tidak berapa gesit gerakannya itu.
tetapi gerakannya ku telah memperlihatkan bahwa serang an yang dilancarkan itu dengan mengerahkan telaga dalam yang dahsyat.
Hal itupun dapat juga dirasakan oleh Cie Beng, yang jadi terkejut sekali.
Dengan melihat kenyataan seperti ini.
Cie Beng tidak berani berlaku ceroboh.
Dia mengetahui bahwa menghadapi musuh yang memiliki Iwekang yang demikian kuat, dengan bertempur tanpa senjata,' dia belum tentu bisa merebut kemenangan.
Dan kalau akhirnya dia bisa menang juga, kemenangannya pasti baru bisa dicapainya setelah lewat seratus jurus lebih.
Dia tidak dapat menanti sekian lama, karena api yang menyala itu semakin besar saja dan sudah mulai mengancam dinding rumah yang ter buat dari kayu.
Dibarengi dengan kesulitannya, Cie Beng te lah mencabut pedangnya dan dengan pedang pan jang di tangan kiri serta pedang pendek dtiangan kanan, dia segera melancarkan serargan tanpa ragu lagi.
Cie Beng juga yakin bahwa pertempuran ini bukan seperti pertempuran yang pernah dialaminya.
Sekali ini dia harus bertempur tanpa mengenal ampun, jika dia tidak mau kehilangan jiwanya sendiri.
Yah, kalau hanya jiwanya sendiri saja masih tidak mengapa, tetapi kalau dia gagal atau terlambat merobohkan lawannya, jiwa selurul keluarga gurunya akan terancam maut.
Karena menyadari akan hal ilu, maka dalam serangan2nya yang pertama dia sudah segera mempergunakan ilmu silat yang liehay dai ganas.
Sipembakar rumah pertama kali agak lega melihat penyerangannya hanya seorang muda.
Sebagai seorang siewie kelas satu, dengan kepandaian dan pengalamannya, dia telah meru buhkannya tidak sedikit tokoh2 Kangouw yang terkenal.
Maka seorang muda belia seperti Cie Beng yang kini tengah dihadapinya tentu saja tidak dipandang sebelah mata.
Dengan tangan kosong, dia hendak merubuhkan sipemuda yang dianggapnya tidak tahu diri.
Tetapi sesaat kemudian ternyatalah bahwa sianak muda yang tak tahu diri, sebaliknya dia lah yang ternyata menganggap kepandaiannya sendiri terlalu.tinggi.
Pedang Cie Beng yaog meluncur kearah teng gorok ann ya dengan tipu Pek Hong Kwan Jit"
Pelangi putih menembus mata bari, dapat dielak kannya dengan memiringkan kepalanya kesam-ping, dan bersamaan dengan itu dia telah mengulurkan tangannya untuk merampas pedang si-pemuda.
Kalau serangannya dengan ilmu Tai-lek-eng-jiauw-kang itu berhasil maka celakalah Cie Beng Se-tidak2nya pergelangan tangannya akan hancur tergencet jari2 siewie itu yang keras bagaikan baja.
Tetapi tidak sia2 Ouw Hui telah mendlidik pemuda itu.
Sebelum tangan siewie itu dapat mencapai sasarannya, dengan sekali membalikan tangannya Cie Beng telah memutarkan pedangnya yang kini terbalik mengancam ketelapak-tangan siewie itu.
Dengan terkejut sekali, siewie itu menarik kembali tangannya yang kiri berusaha menotok Hong Tie Hiat Cie Beng dibelakang telinganya.
Sambil menunduk, Cie Beng mengelakkan totokan itu dan sambil memutar tubuh mengikuti gerakan lawan ....
Halaman 57-58 sobek Walaupun dia melihat sualu kesempatan yang baik untuk dia, tetapi Cie Beng tidak mempergu nakannya sebaik mungkin.
Disamping itu, karena masih sangat kurang pengalaman, pemuda tersebut tidak menyadari bahwa belas kasihan kepada seorang yang berjiwa rendah akhirnya bisa merugikan diri sendlri.
Kebimbangan Cie Beng ini segera terlihat oleh siewie itu dan tahulah siewie itu bahwa Cie Beng bisa dimanfaatkannya.
Secepat kilat dia telah melompat bangun dan kepalan tangannya telah ditujukan kepada si pemuda.
Alangkah kagetnya Cie Beng ketika segalanya sudah terlambat.
Dan Cie Beng menyadari semua itu disebabkan sikap ragu2nya tadi.
Waktu itu Cie Beng sudah tidak mungkin pu la mengelakkan diri dari serangan si siewie yai-g dilancarkannya dengan kuat penuh dan cepat sekali.
Dalam saat2 yang begitu berbahaya seperti itulah ilmu silat keluarga Ouw memperlihatkan faedahnya.
Dengan perobohannya yang luar biasa, seseorang yang mahir dalam ilmu itu dapat menarik suatu keuntungan dari keadaan yang sangat buruk.
Waktu itu Cie Beng agaknya akan terluka berat karena pukulan musuh yang sangat dahsyat itu, akan tetapi secara aneh dan sama sekali tidak terduga, tiba2 pedangnya ditangan kiri berkelebat dan bersama dengan tibanya pukulan musuh didadanya, pedangnya itu telah menancap didada lawan.
Bersama mereka mengeluarkan teriakan tertahan kemudian ke-dua2nya rubuh bersama.
Hanya bedanya, Siewie itu rubuh untuk se lanjutnya tidak bangkit pula.
Sedangkan Cie Beng segera merangkak bangun dengan menahan kesakitan.
Sungguh untung bagi Cie Beng, bahwa disaat yang menentukan itu dia tidak kehilangan a-kal dan bisa mempergunakan pelajaran yang telah diperolehnya dengan baik.
Entah seperseratus atau seperlima puluh detik ujung pedangnya mendahului tinju lawan mencapai sasarannya.
Tetapi perbedaan waktu yang demikian kecil itu cukuplah sudah untuk membebaskan diri dari serangan lawannya itu, bahkan telah berhasil membinasakan lawannya.
Karena tusukannya itu tiba lebih dulu, maka kedahsyatan serangan musuh telah berkurang sangat banyak.
Kini dia hanya menderita kesakitan dan luka ringan didalam.
Dan kalau memang tadi daya serang dari lawannya tidak berkurang, jangan harap Cie Beng dapat hidup terus.
Tanpa ada yang merintangi, kini dia dapat berusaha memadamkan api itu.
Dengan pedangnya dia me-lontar2kan kayu2 kering yang tersusun dan sudah mulai menyala itu, sehingga ke adaan disekeliling rumah itu menjadi terang ben derarg.
"Tetapi sementara itu, api sudah menjilat dinding rumah, yang terbuat dari kayu. Tahulah Cie Beng, bahwa seorang diri dan karena adanya musuh, tidak mungkin dia bisa memadamkan kebakaran itu. Cepat2 dia kembali kepintu depan rumah itu, dimana adiknya masih tetap menjaga dengan senjata terhunus. Diserukannya kepada Yok Lan, Peng Ah Sie dan Ouw Ho agar keluar. Kedua saudara Cie itu diam2 agak bingung juga. Dengan Cie Beng menderita luka didalam walaupun luka itu tidak berapa berat, tentu saja daya tempurnya tidak seperti biasanya. Disamping itu dalam halaman rumah yang terbuka itu tugas mereka untuk menjaga keselamatan tiga orang itu tentu saja menjadi sema kin sulit. Sementara itu pertempuran antara Kim Bian Hud dan Ouw Hui melawan musuh2 itu sedarg memuncak. Kedua pahlawan itu kini telah dapat menyelami cara2 pihak lawan dan dengan itu mereka punsudah dapat menemukan titik2 kelemahan dalam siasat keroyokan itu. Karena pihak sina terdiri dari orang2 berbagai gotongan yang ilmunya masing2 berbeda satu dengan yang lain, dan juga mereka memiliki maksud tersendiri, maka penyatuan tenaga mereka itu tidak sekuat seperti yang dilihat sepintas lalu. Jika pertama kali tampaknya pihak musuh Itu dapat mengambil posisi untuk menguasai dua lawannya itu, justru ini Ouw Hui maupun Kim Bian Hud sudah bisa mengimbangi mereka bahkan sudah mulai bisa lebih sering merugikan siasat pengepungan mereka itu. Berbeda dengan awal pengepungan tersebut kini merekalah yang lebih sering melancarkan serangan2 kepada belasan orang musuh itu. Walaupun demikian, mereka tidak dapat cepat2 memperolah kemenangan, terutama karena kenekadan orang2 Swat Hong Sancung. mereka telah bertempur dengan tidak memperdulikan keselamatan jiwa sendiri, dan begitu pula dengan Bong It Hoa dan sute2nya. Mereka itu sering sekali melancarkan serangan-serangan tanpa menperdulikan keselamatan jiwa sendiri dan khusus melancarkan serangan dengan keseluruhannya dipusatkan untuk mati ber-sama2 dengan pihak lawannya. Tentu saja, dengan keadaan lawan2nya seperti itu, tidak mudah bagi Kim Bian Hud dan Ouw Hui untuk rrembinasakan mereka semuanya Sedangkan pihaknya sudah mulai berada atas angin, saat itulah Kim Bian Hud dan Ouw Hui melihat bahwa rumah mereka sedang terbakar. Peristiwa itu tentu saja sangat mengejutkan hati mereka, sehingga sesaat perhatian mereka jadi terpecah dan mereka jadi lengah. Kesempatan yang baik itu tidak dilewatkan dengan percuma oleh Hong It Hoa, yang berhadapan dengan Ouw Hui; Tangannya melayang kearah kepala musuh besar itu dan agaknya dia sudah akan berhasil melakukan pembalasan dendam itu. Di saat yang sangat berbahaya itu. Ouw Hui tersadar dari tertegunnya. Dan cepat2 Ouw Hui melompat mundur selangkah. Kepalanya terhindar dari serangan It-Hoa. Tetapi sayangnya, bahunya kini yang telah menggantikan untuk menerima pukulan tersebut. --ooo0dw0oo--
Jilid 5 DENGAN menyalurkan tenaga dalam yang kuat Ouw Hui sesungguhnya tidak menderita kerugian apa2 dari benturan serangan yang dilancarkan It Hoa.
Hanya saja, diluar tahunya, tangan It Hoa beracun, dan racun Tok See Ciang yang ganas itu serentak merembas kedalam dagingnya.
Untuk beberapa saat lamanya Ouw Hui belum merasakan apa2 dari serangan itu, tetapi setelah bertempur lagi beberapa jurus, tiba2 dia merasakan bahunya gatal dan agak kaku.
Segera juga Ouw Hui mengetahui bahwa dia telah terkena serangan racun.
Disaat itu gerak geriknya masih tetap lancar dan leluasa, itulah berkat kesempurnaan Iwekangnya.
Dengan tenaga dalam yang kuat itu, dia berhasil mencegah menjalarnya racun, mencegah mengganasnya racun itu kedalam pembuluh2 darahnya, walaupun hanya akan berlangsung dalam batas2 tertentu saja.
Namun Ouw Hui juga merasa menyadari bahwa daya tahan itu tidak dapat dipertahankan terus menerus, Lambat atau cepat tenaganya akan berkurang, dan yang terutama sekali ototnya akan menjadi kaku dan akhirnya dia akan rubuh sendirinya walaupun belum sampai terpukul oleh musuh.
Sesungguhnya dia memiliki obat mustajab yaitu pil yang dibuat dari sari bunga Swatlian (teratai salju) yang hanya terdapat dipegunungan Thiansan.
Cara pembuatan obat itu telah diperolehnya dari kitab Yo Ong Sin Pian, yang juga menyebutkan bahwa obat itu dapat memusnahkan segala jenis racun yang umum.
Selanjutnya kitab itu juga menyebutkan bahwa sayang sekali bunga Swatlian itu tidak mudah diperoleh.
Kebetulan sekali Ouw Hui tinggal dikaki pegunungan Tkiansan.
dan sering pula memburu di sana.
Oleh sebab itu, maka dia telah beberapa kali menemukan bunga yang luar biasa itu dan bisa membuat pil2 manjur mustajab itu' Hanya saja sayangnya, cara pengobatan keracunan Tok See Ciang tidaklah cukup menelan pil2 Swatlian saja, dia harus pula beristirahat sambil mengerahkan pernapasannya dengan cara bersemedi.
Kalau tidak, akan sia2 saja dia menelan pil itu.
Kini dia tengah melakukan pertempuran mati2an dan tidak ada waktu untuk dia menuruti aturan cara pengobatan itu.
Apa dayanya sekarang?
Benar2 Ouw Hui murka sekali, dia menghadapi jalan buntu dan terjepit.
Agaknya kematiannya sudah tidak terelakkan pula dari mati percuma, lebih baik dia membawa serta beberapa orang musuhnya untuk meng hadap raja akherat.
Tetapi kalau dia mati sebelum musuhnya, atau terbasmi semuanya, keadaan keluarganya tentu akan menjadi lebih berbahaya sekali.
Seorang diri Kim Bian Hud tentu akan menghadapi tugas yang jauh lebih berat lagi untuk menghadapi musuh2 mereka yang memang memiliki kepandaian tinggi dan cukup sempurna itu.
Dengan pertimbangan seperti itu, karena putus asa, dia menjadi nekad.
Dalam perhitungannya, dia masih dapat mem pertahankan diri selama kurang lebih lima puluh jurus lagi dan Waktu itu hendak dipergunakan sebaik mungkin.
Kini dia telah merobah cara berkelahinya Tidak lagi dia menghiraukan serangan2 musuh, yang diutamakan adalah menyerang, dan terus saja dia melancarkan serangan2 yang kian lama kian hebat.
Dengan tujuan membinasakan lawan2nya sebanyak mungkin, Ouw Hui telah mengeluarkan ilmu simpanannya dan dalam waktu yang cepat sekali dia berhasil mendesak hebat lawan2nya itu.
Ouw Hui telah memperhitungkannya, kalau saja dia berhasil membinasakan sebagian dari belasan lawannya, maka Kim Bian Hud seorang diri dapat menyelesaikan sisanya dan bolehlah dia mati dengan mata yang meram dan hati rela.
Diluar dugaannya, Kim Bian Hud sendiri sedang menghadapi bahaya yang tidak ringan.
Para Gie Cian Siewie yang tengah dilawannya itu telah memperoleh bekal semacam senjata rahasia yang d'Saat itu benar2 masih merupakan barang baru bagi orang2 di Tionggoan.
Diistana Kaisar Kian Liong, disaat itu ada seorang pendeta Katholik dari sekte Jesuit yang bekerja sebagai akhli ilmu falak.
Di Eropa sendiri sekte Jesuit itu sangat tidak disenangi ke lena terlalu senang mencampuri politik, bahkan seringkalt mempergunakan Cara2 yang bukan semestinya untuk mencapai tujuan mereka.
Disaat itu sekte Jesuit telah menjadi sebiuah organisasi terlarang diseluruh Eropa, Tetapi walaupun demikian, tidaklah dapat disangkal, bahwa banyak sekait diantara tokoh2 kaum itu terdapat orang2 yang sangat pandai dan cerdas.
Dcmiisianpun halnya dengan pendeta yang bekerja sebagai akhli falak itu, Disamping memiliki keakhlian dalam ilmu tersebut, sebagai seorang anggota sekte Jesuit, orang-orang itupun berpengetahuan luas sekali dalam bidang mempergunakan racun dan obat bius.
Dan kini, Senjata rahasia yang dipergunakan oleh salah seorang Gie Cian Siewie itu terhadap Kim Bian Hud adalah semacam obat pembius buatan pendeta itu, yang disimpan dalam sebilah tabung, yang dipergunakannya dengan disemprotkan kepada musuh.
Mungkin sekali itulah zat yang kini umumnya kita kenal dengan nama Chloroform.
Jika dia diserang dengan senjata rahasia a-tau dengan benda cair, bagi Kim Bian Hud ti dak sulit untuk menghindarinya.
Tetapi zit yang disemprotkan itu tidak mungkin dikelit, karena seketika berada diudara bebas, berobahlah zat itu menjadi gas dan memenuhi udara disekitarnya.
Dengan terkejut Biauw Jin Hong merasakan bagaikan disetiap saat dia akan jatuh pingsan seperti dikuasai oleh semacam pengaruh yang tidak tampak olehnya.
Seketika itn juga Biauw Jin Hong menger ti bahwa itulah disebabkan semprotan siewie ta di.
Cepat2 Biauw Jin Hong mengerahkan lwekangnya sambil menutup hidungnya.
Selain itu diapun mengibaskan kedua buah lengan bajunya untuk membersihkan udara di sekelilingnya dari pengaruh gas itu.
Untunglah bagi Biauw Jin Hong, bahwa sie wie itu sendiri juga masih asing akan senjata baru itu dan belum begitu mengerti bagaimana cara mempergunakannya.
Selain itu, diapun agak takut terhadap Kini Bian Hud, sehingga serangannya tadi hanya dilakukannya dari jarak agak jauh.
Oleh sebab itu, maka gas yang tersedot oleh Kmi Bian Hud tidak seberapa dan tidak cukup untuk merubuhkaonya, aehingga Kim Bian Hud berhasil mengerahkan Lwekangnya.
yang sangat kuat sekali.
Kalau saja siewie itu berani mendekati ketika menyemprotkan Zat itu, tentu Kim Bian Hud sudah akan rubuh tidak akan sadarkan diri.
Walaupun demikian, bahaya yang dihadapi Kim Bian Hud tidaklah kecil ketika itu.
Pengaruh gas pembius itu masih terasa juga Pikirannya tidak dapat dipusatkan pula se dangkan kaki dan tangannya menjadi lemah.
Kenyataan ini juga diketahui oleh para pengepungnya.
Mereka ramai2 mendesak maju agar bisa melancarkan pukulan2 dari jarak lebih dekat dan tahu2...
mereka juga menjadi terhuyung seperti Kim Bian Hud.
Itulah suatu kejadian yang tak pernah diduga dan suatu akibat dari kurang pengetahuan mereka tentang zat itu.
' Kibasan lengan baju Kim Bian Hud itu telah membuyarkan gas itu disekelilingnya, keempat penjuru dan para siewie yang saling menerjang maju itu umumnya telah menghirup udara yang mengandung gas itu.
Bagi Kim Bian Hud, peristiwa tersebut merupakan suatu pertolongan yang tidak ternilai harganya.
Musuh2nya yang umumnya memiliki lwe-kang tidak sekuat dia, tentu saja harus menderita akibat yang jauh lebih besar.
Sesaat kemudian Kim Bian Hud sudah dapat bernapas dengan biasa lagi, sedangkan kaki dan tangannya sudah tidak lemas lagi, berhasil digerakan seperti semula.
Benar2 Kim Bian Hud diliputi kemarahan yang tidak terhingga atas terjadinya persoalan tersebut-, dan disaat itu segera juga dia yakin kalau dia tidak bisa cepai2 merebut kemenangan tentu keselamatan keluarganya akan hancur dan terancam.
Disaat itu, terbukalah waktu yang sangat baik baginya.
Sebagian dari musuh2aya itu yang tadi sangat bernafsu maju telah menghirup gas beracun itu dan kini masih terhuyung bagai kan setiap saat akan rubuh sendiri.
Yang berada dibelakang tidak terkena begini berat dan saat itu sudah dapat berdiri dengan tetap pula.
Kesempatan itu tentu saja tidak disa2kan Oleh Kim Bian Hud.
Dengan sekali bergerak secepat kilat, dirubuhkannya enam orang yang terdekat dengannya Kemudian perhatiannya dialihkan kepaJa sisa pengeroyoknya itu, yang berjumlah empat orang.
Disamping itu, pertempuran antara Ouw Hui dengan Hoig It Hoa serta kawannya, juga sudah meperlihatkan perobahan.
Jika tadi karena masih memikirkan keselamatan jiwanya sendiri, Ouw Hui jadi sukar mem peroleh keterangan, kini nekad sebentar saja, dia sudah bisa membuat lawan2nya menjadi sibuk bukan main.
Dengan ilmu goloknya yang tiada taranya didunia ini, dia telah menghujani lawangnya itu dengan serangan2 yang gencar dan ber-tubi2.
Sia2 belaka saja musuh2nya itu berusaha mengambil alih pimpinan jalannya pertempuran itu karena serangan-yang dilancarkan oleh Oiw Hui memang sangat hebat dan gencar sekali, setiap kali mereka tetap sudah didahului lawannya hanya seorang ini Disamplng itu, merela juga sangat rejan sekali terhadap golok Ouw Bui, yang Sudah terbukti ketajamannya.
Mereka tidak berani menangkis serangannya, tetapi dengan demikian golok Ouw Hui jadi dapat bergerak kesegala penjuru dengan bebas sekali, dan serangannya jadi semakin gencar.
Kini tahulah mereka, bahwa harapan mereka satu2nya ialah agar racun Tok See Ciang itu bekerja selekas mungkin.
Tetapi sia2 belaka harapan merela itu.
Berkat Iwekargnya yang memang telah sempurna.
Ouw Hui dapat menghambat menjalarnya racun Itu.
Memang benar bahu kirinya terasa kaku dan lengannya yang kiri hampir tidak dapat digerak kan, tetapi kenekadannya dan amarahnya mem buat gerakan golok ditangan kanan itu menjadi lebih hebat dari yang Sesungguhnya.
Hal itu disebabkan karena Ouw Hui benar2 telah mengeluarkan kepandaiannya yang sesung guhnya dalam melancarkan serangan2 yang me matikan.
Kalau mereka dapat bertahan terus sampai kurang lebih tiga atau empat puluh jurus lagi, akhirnya Ouw Hui tentu akan rubuh juga.
Tidak mungkin Ouw Hui akan sanggup me nahan terus bekerjanya racun itu untuk selama-nya.
Tetapi agaknya lebih tidak mungkin pula, bahwa mereka akan dapat bertahan sampai tiga puluh jurus terhadap serangan2 golok Ouw Hci, karena pada saat itu saja napas mereka sudah mulai memburu keras dan keringat membasahi sekujur tubuh mereka.
Keadaan orang2 Ceng Cong Pai dan orang2 Swat Hong Sancung itu dengan cepat sudah men jadi semakin buruk keadaannya, beberapa orang diantara mereka yang tenaganya paling lemah, sudah hampir tidak kuat untuk mengangkat sen jata mereka lagi.
Dipihak lain, karena harus berlomba dengan sang waktu, maka Ouw Hui mengeluarkan selu ruh kepandaiannya dan serangannya semakin la ma menjadi semakin dahsyat.
Angin goloknya telah men-deru2 menerjang kesegala penjuru, dan membuat lawan2nya itu su lit bernapas.
Ternyata terjangan angin serangan golok Ouw Hui, yang disertai dengan tenaga dalam di tingkat yang tertinggi, membuat dada mereka seperti tertindih oleh benda berat.
Lewat lagi lima jurus, terdengarlah suara jeritan yang mengerikan sekali, disusul rubuhnya tubuh seseorang diantara sute2nya Hong It Hoa.
Benar2 peristiwa itu sangat mengejutkan.
Tadi baru Ouw Hui tengah melancarkan se rangan kearah Touw Peng Liang dengan tipu Hwai Tiong Po Gwat, setelah beberapa kali, belasan tahun yang lalu Ouw Hui berhasil meru buhkan musuhnya dengan serangan yang hebat ini yang bisa juga dipergunakan sebagai serangan gertakan belaka, dengan serangan lanjutannya yang ber sungguh2 dan bernama Geng Bun Po Pit Bun Tiat San, atau langsung dipergunakan sebagai serangan sungguh2, maka tipu serangannya itu sudah menjadi buah bibir kaum kangouw di Tionggoan.
Juga Touw Peng Liang sudah mengetahui perihal ini dan diapun sudah membawa sikap yang ber-hati2 untuk melayaninya atau menghindarkannya.
Semua orang menduga bahwa kalau serangan itu dilakukannya sebagai serangan gertakan, serangan susulannya tentu adalah Geng Bun Po Pit Bun Tiat San.
Tetapi diluar dugaan mereka-sekali ini me reka justru harus menyaksikan sesuatu yang jauh lebih bebat dari serangan susulan yang sudah diketahui itu.
Di waktu Peng Liang bersiap-siap setelah me lompat mundur menghindarkan diri dari serangan Ouw Hui, tiba-tiba Ouw Hui justru memutar tubuhnya sambil melompat tinggi sekali.
Lalu dari atas.
dia melancarkan serangan ke pada adik seperguruan Hong It Hoa yang malang nasibnya itu.
Serangannya yang mirip dengan tipu serang an Hui Liong Tai Thian atau (Naga Terbang Ke langit), salah satu serangan yang terlihay dari Hang Liong Sip Pat Ciang dari kaum Siauw Lim Sie.
Inilah memang suatu keistimewaan dari Ouw Ke To Hoat, yang selalu dapat diberikan penam bahan tipu-tipu serangan istimewa yang dipetiknya dari ilmu perguruan lain.
Belasan tabun yang lalu dalam pengembaraannya, Ouw Hui pernah menolong jiwa beberapa orang murid kesayangan Tai Ho hwcehio pemimpin kaum Siauw Lim Sie disaat itu.
Untuk membalas budinya, Hweshio berilmu tinggi itu telah menurunkan tipu serangan istimewa itu ke padanya.
Hang Liong Sip Pat Cang sesungguhnya ialah ilmu silat tangan kosong, tetapi pukulan2 ilmu itu selalu dilakukan dengan tangan terbuka, dan yang dipukulkan adalah sisi telapak tangan.
Oleh sebab itu, maka serangan2 Hang Liong Sip Pat Ciang memang dasarnya sudah mirip de ngan bacokan2 golok, sehingga setelah dapat me nvelami inti sarinya dan memahaminya, dengan mudah Ouw Hui dapat memasukkannya kedalam ilmu goloknya sendiri.
Serangan yang tidak terduga itu tentu saja tidak keburu dikelit pula oleh adik seperguruan Hong It Hoa.
Dia masih berusaha membela diri dengan mengangkat pedangnya untuk menangkis, tetapi sia-sia saja golok Ouw Hui membelah tubuhnya setelah lebih dulu memutuskan pedang orang itu-Peristiwa tersebut tentu saja mengejutkan hati para pengeroyoknya dan keterkejutan mereka itu ternyata sangat merugikan mereka sendiri Untuk sejenak mereka tertegun dan agak Je ngah.
Sikap lengah reperti itulah, yang hanya ber langsung selama beberapa detik saja, cukup sudah bagi Ouw Hui untuk merubuhkan beberapa orang lagi.
Ilmu meringankan tubuh Pek Pian Kwie Eng, yang sudah dipelijari Ouw Hui dengan sem purna, memberikan kemungkinan kepadanya un tuk bergerak secepat kilat.
Terlebih lagi, setelah bertempur sekian lama dia sudah mengetahui siapa diantara lawan2nya yang terlemah kepandaiannya Dalam sekejap mata dia sudah berhasil memperkecil jumlah lawannnya yang kini hanya ber jumlah lima orang.
Kini jauh lebih ringanlah pekerjaannya.
Semangat Ouw Hui jadi semakin bertambah dan terbangun dan serangan2 nya juga semakin keras.
Kelima orang lawannya itu tentu saja menjadi semakin sibuk, tetapi karena yang masih ke tinggalan itu justru yang terhebat kepandaiannya maka tidak mudah baginya untuk merubuhkan mereka semua.
Demikianlah pertempuran itu berlangsung terus.
Golok Ouw Hui me-layang2 kebelakang, kedepan, kekiri dan kekanan, dan keatas atau dengan cepat berobah kebawah, bagaikan ratusan kilat saling simbar menyambar orang2 itu.
Baru sekali ini mereka melihat ilmu silat yang demikian hebat dan kecepatan bergerak yang begitu menakjubkan sekali.
Mereka memang semua sudah mengerti, bahwa Ojw Hui berkepandaian sangat tinggi, tetapi perkiraan mereka itu ternyata masih jauh dibawah dari kenyataannya.
Diantara mereka itu, yang sangat heran dan juga sangat kuatir aialah Hong It Hoa sendiri.
Dia benar2 tidak mengerti, mengapa racun Tbk See Ciang dari pukulannya itu masih belum bekerja .
Biasanya orang tidak bisa bertahan lebih lama dari dua puluh jurus setelah terkena racun tersebut.
Mengingat bahwa Oaw Hui memiliki Iwe-kang yaig sempurna, dia telah menduga akan lebih lambat ssdikit bekerjanya racun itu.
Tetapi terlambatnya itu tidak akan selambat seperti itu.
Kini sudah hampir lima puluh jurus mereka bertempur sejak pukulannya yang beracun itu mengenai sasarannya, tetapi Ouw Hui masih tetap segar dan dapat bertempur dengan gagah perkasa.
Dalam saat itu jumlah kawan2 Hong It Hoa sudah berkurang pula.
Dari pihak perguruannya kini hanya tinggal dia seorang, sedangkan dari orang2 keluarga Touw sat Kauw itu hanya masih tertinggal Peng Liang dan seorang paman gurunya.
Hati ketiga orang itu sesungguhnya sudah ciut sekali.
Mereka menysdarinya bahwa dengan mengadu senjata mereka tetap bukan tandingan musuh besar itu.
Tetapi mereka mengetahui bahwa musuh itu sudah terkena pukulan beracun, dan pasti akan tiba saatnya bahwa musuh itu akan habis daya perlawanannya dan mudah dibunuh.
Saat itulah yang mereka nantikan dan nafsu membalas dendam yang sudah lama dikandung mereka telah memberikan dorongan untuk bertahan terus sedaoat mungkin, sambil menanti kan saat yang diharapkan itu.
Bukankah kalau mereka melarikan diri.
musuh besar itu akan memiliki kesempatan berobat dan bukankah selanjutnya mereka tidak akan sanggup membalas sakit hati mereka yang sedalam lautan itu.
Hampir sepuluh jurus lagi telah lewat, keadaan musuh2 Ouw Hui sudah semakin menyedihkan sekali.
Napas mereka sudah memburu ksras, pakaian mereka sudah basah kuyup dengan keringat bercampur darah, karena tubuh mereka sudah terlukakan oleh ujung golok Ouw Hui dibeberapa tempat dan bagian ditubuh mereka.
Tenaga mereka sudah benar2 hampir habis, sedangkan Oaw Hui masih tetap tampak gagah sekali.
Hong It Hoa dan kedua kawannya itu menjadi putus asa.
Mereka juga menyesal, bahwa tidak siang2 mereka melarikan diri.
Kini, jika mereka ingin meloloskan diri, jangan harap mereka dapat melarikan diri dari tangan Ouw Hui.
Sudah tidak ada pilihan lain lagi bagi mereka kecuali menyerah kepada penentuan nasib sambil berusaha bertahan sedapat mungkin mem pergunakan sisa2 tenaga yang masih mereka miliki.
Tiba2 mereka jadi lebih terkejut pula, dise belah sana terdengar Kim Bian Hud membentak biberapa kali dan setiap bentakanrya itu selalu disusul oleh suara teriakan kesakitan bercampur ketakutan setengah mati.
Dalam kesibukan mereka sendiri menghadapi golok Ouw Hui, mereka tentu saja tidak ber-m mei.oleh kearah lain.
Tetapi suara2 itupun sudah tidak akan salah lagi, bahwa suara terse-but pasti merupakan suara kawan2 mereka.
Sekarang yakinlah mereka bahwa harapan meresa sudah kandas dan habis sama sekali.
Disaat itu mereka telah melepaskan harapan mereka itu, terjadilah sesuatu yang tidak tef duga, tetapi telah mereka harapkan sejak sekian lama.
Ketika Ouw Hui tengah melancarkan sera ngan dahsyat, yang agaknya tidak akan dapat di hindarkan pula oleh Hong It Hoa, se-konyong2 goloknya itu turun dan terlepas dari tangannya, Ke mudian Ouw Hui terhuyung2 beberapa langkah dan rubuh sambil merintih perlahan.
Akhirnya tidak dapat pula Ouw Hui menahan pengaruh racun yang ganas itu.
Masih untung, bahwa ketiga musuhnya ketika itu sudah hampir kehabisan tenaga, pikiran mereka sudah tidak terang rugi dan penglihatan mereka jaga sudah kabur.
Karena itu rrereka tidak bisa segera menya dari perobahan mendadak itu.
Sesaat mereka telah berdiri bingung mematung.
Memang aneh jiwa manusia.
Kalau kita sudah lama mengharapkan sesu-itu yang tidak Kunjung tiba, dan yang diharapkan itu lalu muncul dengan mendadak, umumnya kita tidak dapat mempercayai mata kita sen diri dan sering pula kita tidak bisa segera mengerti apa yang harus kita lakukan ketika itu.
Demikianlah peristiwa seperti itu telah terjadi didiri ketiga orang itu, tiga musuh besar Ouw Hui, ying karena itu jadi membuang kesem patan sebaik itu.
Lewat beberapa saat lagi mereka baru tersadar, bahwa inilah yang mereka harap2kan sejak tadi.
Hati mereka melompat kegirangan.
Lupalah mereka akan keletihan mereka.
Dengan bernafsu sekali mereka telah saling terjang untuk menghabiskan jiwa musuh besar itu.
Masing2 tidak mau mengalah dan hendak memotong kepala Ouw Hui dengan tangan mereka sendiri.
Tidak seorargpun diantara mereka rela membiarkan yang lain mengecap kepuasan dapat mef laksanakan pembalasan dendam itu.
Touw Peng Liang sudah lebih dulu bisa mendekati Ouw Hui, yang menggelatak ditanah dengan tidak sadarkan diri itu.
Tetapi, ketika dia mengangkat pedangnya untuk menabas batang leber Ojw Hui, tiba2 Hong It Hoa menangkis pedangnya.
Putera Hong Jin Eng ini menganggap dirinya lebih berhak dari yang lain2nya dalam mengambil jiwa Ouw Hui.
Tindakannya itu tentu saja mengejutkan dan membangkitkan amarah rouw Peig Liang dan paman gurunya.
Kedua orang itu berbalik dengan mata yang mendelik dan agaknya kedua orang tersebut akan mencaci -It Hoa.
Sudah pasti akan terjadi pertengkaran diantara mereka sendiri, jika bukan disaat itu tiba2 tampak dua sosok tubuh melayang kearah mereka serta melancarkan serangan.
Peng Liang merasakan angin dingin menyambar kearahnya.
Cepat2 dia telah mengelakkannya kesam-ping dan sebatang pedang melayang disamping tubuhnya, nyaris memutuskan bahunya.
Dengan cepat dia mengangkat pedangnya un tuk membalas serangan itu, tetapi sesaat kemudian dia menjadi terkejut sekali.
Sebatang pedang pendek, atau sebilah pedang panjang, beikelebat cepat sekali seperti kilat.
Dan disaat itu, tahu2 pedangnya suduh ting gal hanya gagangnya saja, dan sebelum kagetnya itu lenyap, tiba2 pedang yang baru lewat disam-ping tubuhnya itu melayang balik, mengarah ke dua kakinya.
Peng Liang berusaha untuk menghindari diri dari serangan itu, dia berusaha melompat ke atas.
Dalam keadaan biasa dia tentu akan dapat berkelit dari serangan itu walaupun datangnya secara tiba2 dan cepat sekali.
Kepandaian Peng Liang menang sudah tinggi sekali, tetapi disaat itu dia barj saja melaku kan pertempuran yang menghabiskan seluruh tenaganya.
Dengan sendirinya kini gerakannya jadi lambat dan dia sudah tidak berdaya sekali.
Lompatannnya jadi lambat dengan mengeluarkan suara teriakan yang menyerupai jerit kematian mengerikan, tubuh Peng Liang rubuh tanpa memi liki kaki pula.
Paman guru Peng Liang telah melibat bahaya yang mengancam diapun sudah berusaha untuk menolongnya.
Teta pi diapun memiliki gerakan yang lambat, karena diapun tengah kehabisan tenaga.
Dan dengan sendirinya Peng Liang harus menerima nasibnya.
Paman guru itu, Lie Sat Hauw, segera mero bah gerakan pedangnya.
Dia telah berusaha men dahului menyerang sebelum musuh baru itu dapat menarik kembali pedangnya.
Juga dia harus mengalami keterkejutan pula, karena begitu tersentuh pedang pendek musuh, pedangnya segera putus terpotong.
Untung baginya bahwa benturan itu terjadi didekat ujung pedang sehingga sisa yang masih berada ditaogannyaitu tetap bisa dipergunakan sebagai senjata.
Setelah adanya pengalaman seperti itu, dia jadi iebih berhati2, tenaganya tidak mengijin-kan pula dalam sekejap mata dia sudah terdesak hebat, bahkan setiap saat bisa rubuh diujung sen jata lawannya.
Didekat mereka, Hong It Hoa juga tengah bertempur dengan seorang lawan baru.
Beda dengan kawannya, dia mendapatkan seorang musuh yang gerak geriknya tidak begitu cepat dan tenaganya juga tidak besar.
Karena itu dia bisa mengimbangi serangan2 lawannya.
Yang datan?
menyerbu ketiga orang itu, calon penbunuh Ouw Hui, memang tidak lain dari si kembar Cie Beng dan Cie Jin.
Dengan tenaganya yang masih segar.
Cie Jin dengan mudah dapat merubuhkan Peng Liang, yang sudah diliputi keletihan, dan bisa pula membuat Lie Sat Houw dengan cepat menjadi terdesak hebat.
Kalau mereka masih sama2 segar, tentu tidak semudah itu hasil yang diperoleh Cie-Jin.
Pertempuran antara Cie Beng dan It Hoa sebaliknya berjalan dengan berimbang.
Memang sesungguhnya kepandaian mereka ku rang lebih setingkat.
Dan keadaan mereka juga memang serupa.
It Hoa sudah hampir kehabisan tenaga, sedangkan Cie Beng telah menderita luka didalam, sehingga tenaganya sudah tidak ada.
Berlangsung beberapa saat lagi, tiba2 Cie Beng terhuyung2 dan jatuh sambil memuntahkan darah, tepat disaat Cie Jin telah berhasil merubuhkan Lie Sat How, yang jatuh dengan berlumuran darah dan kehilangan sebelah tangannya.
Luka Cie Beng karena pukulan siewie pembakar rumah itu seseagguhnya tidak terlalu berat.
Walaupun demikian, seharusnya dia beristirahat dulu dan.tidak boleh mengeluarkan tenaga, terlebih lagi melakukan pertempuran.
Tetapi melihat gurunya terancam maut tentu saja dia tidak dapat berpeluk tangan dan ber sama2 dengan adiknya dia telah memaksakan diri untuk menyerbu musuh.
Pengerahan tenaga untuk melawan musuh i-ta telfh menyebabkan dnahi.ya mengalir lebih deras dan cepat, sehingga luka didalzmnya itu jadi berian bah parah dm berat, maka jatuhlah dia dengan memuntahkan darah.
Alangkah terkejutnya Cie Jin, yang ketika itu sudah siap membantu kakaknya membereskan musuh yang tinggal seorang itu.
Sudah menjadi rahasia umum, bahwa Cinta antara saudara kembar umumnya lebih mendalam dari persaudaraan biasa.
Kitapun sudah mengeta hui bahwa cinta yang terlalu besar seringkali menimbulkan kekuatiran yang ber lebih2an, jika melihat orang yarg dicintai itu merderita sesuatu.
Dalam hal ini Cie Jin juga bukan terkecua li, seketika itu juga dia melupakan keadaan di-sekelilingnya dan dengan perasaan yang tidak dapat dilukiskan, dia telah menubruk kakaknya.
Untuk kedua kalinya Hong It Hoa lolos dari lobang jarum.
Kalauu memang bukan tertolong peristiwa yang sama sekali tidak terduga itu, jiwarya tentu sudah menyusul kawan2nya yang sudah mendahuluinya menghedap kepada Giam Lo Ong.
Sungguh girang It Hoa, karena tidak ada yang merintangi pula baginya uniuk membalas rasa sakit hatinya kepada Ouw Hui.
Ingin sekali dia cepat2 melompat kearah musuhnya itu yang menggeletak ditanah kurang lebih tiga tombak dari tempatnya berdiri.
Tetapi, ka-kinya tidak Sanggup melaksanakan keinginan hatinya, bahkan lari pula sudah tidak kuat.
Berjalanlah dia mendekati tubuh musuhnya itu.
Kini sudah tinggal tiga langkah lagi sebelum dia dapat membacokan pedangnya.
Sementara itu Cie Jin masih memeluki kakaknya yang sudah pingsan sambil me-manggil2 nya dengan suara yang mencerminkan kesedihan yarg tidak terkira.
Seulas senyum puas menghiasi bibir It Hoa.
Tiba2 dibelasangnya terdengar suara bentakan "Bangsat !
Jahanam !
Binatang l Jangan ganggu ayahku !"
Bentakan itu kemudian disusul serangan ke arah punggungnya Dengan terkejut It Hoa berbalik.
It Hoa menduga Cie Jin telah mengetahui maksudnya dan kini datang memburu.
Dalam kegirangannya vang me-luap2 karena melihat kesempatan terakhir itu, otaknya tidak dapat menangkap maksud kata2 yang masuk kedalam te linganya, yaitu bahwa sipenyerang tadi menyebut Ouw Hui sebagai ayahnya.
Sipenyerang bukan lain dari Ouw Ho, bersama dengan ibunya dan Peng Ah Sie, dia telah mengikuti jalannya pertempuran itu dengan hati yang tergoncang.
Tadi, ketika melihat ayahnya rubuh, dia su dah hendak melompat maju untuk menyerbu ke dalam gelanggang pertempuran.
Tetapi kedua saudara Cie telah mendahuluinya.
Hatinya telah jadi lega ketika melihat bahwa kedua suhengnya itu dengan cepat berhasil menguasai keadaan.
Namun kegembiraan itu ternyata hanya berlangsung sebentar, karena lewat beberapa saat lagi dia harus menyaksikan, bagaimana Cie Beng rubuh, Cie Jin juga melupakan segala apa dalam kecemasannya.
Ketika melihat Hong It Hoa setindak demi setindak menghampiri ayahnya, dia tentu saja tidak dapat berdiam diri lagi.
Yok Lan dan Peng Ah Sie berusaha merintanginya.
tetapi sudah terlambat.
Ketika itu Ouw Ho sudah melompat maju kedepan dan sebagai seorang anak yang memiliki kepandaian ilmu silat, jelas Ouw Ho dapat meninggalkan Yok Lan dan Peng Ah Sie yang memang tidak mengerti ilmu silat.
Betitulah Ouw Ho tiba dibelakang Hong It Hoa, yang serta merta telah diserangnya.
Yok Lan tentu saja jadi kuatir sekali, dia mengetahui betapa besar bahaya yang tengah di hadapi Ouw Ho dengan sikapnya itu.
Sebagai seorang ibu yang hanya memiliki seorang anak seperti itu, kasih sayangnya kepada sianak tentu saja besar sekali dan karena cintanya, maka kekuatirannya kalau anaknya akan mengalami bencana dan bahaya itu terlampau berlebihan.
Belum apa2 dia sudah membayangkan bagai mana anaknya rubuh terkulai dengan bermandikan darah, jatuh sebagai korban keganasan tangan musuh yang kejam.
Pikirannya jadi kacau dan dalam gugup dan kebingungan sepertii itu dia hanya dapat berdiri mematung saja tanpa bisa mengeluarkan sepatahkata.
Ketika telah lewat beberapa saat lamanya dia sudah bisa mengatasi goncangan harapannya Untuk melalukan pembalasan Sakit hatinya dan tentu juga akan habis riwayatnya.
Didalam hatinya dia merasa sayang kini dia sudah harus mati sebelum bisa mewujudkan cita ta2nya membalaskan sakit hati ayah dan guru nya.
Kalau saja dia belum kehabisan tenaga, memang tidak sulit baginya untuk melarikan diri untuk kemudian per lahan2 menghimpun sahabat2 nya lagi dan datang pula untuk menggempur musuh2nya tersebut.
Tetapi apa daya, justru semua itu hanya suatu cita2 kosong belaka.
Disaat itu, tiba2 Hong It Hoa merasakan tangannya dijambret sianak kecil muka hitam itu dan seketika itu berkelebatlah suatu akal dalam pikirannya.
Itulah kekeliruan Ouw Ho yang masih tidak merriliki pengalaman.
Setelah tadi dia mendapatkan kenyataan babwa pukulan2nya tidak bisa merubuhkan lawannya, seharusnya dia mengerti bahwa tenaganya belum cukup untuk mengimbangi musuhnya tersebut.
Dengan timbulnya keyakiran itu, timbulah Ingatan untuk merampas senjata musuh, yang segera juga dilakukan oleh Ouw Ho.
Kalau saja tenaga Ouw Ho sudah cukup besar, memang seketika itu dia tentu sudah ber hasil merampas senjata musuh, untuk kemudian dipergunakannya untuk merubuhkan musuh itu sendiri.
Tetapi dengan tenaganya yang masih terbatas seperti itu, percobaannya sia2 belaka, bahkan menguntungkan pihak lawannya.
Memang sungguh lebih berpaedah jika dia terus menyerang dengan tangan kosong saja dan menarik keuntungan dari kelincahannya.
Dengan demikian dia akan dapat terus menerus merinta ngi Hong It Hoa meadekati ayahnya, sambil me nantikan Cie Jin dan Kim Bian Hud datang me nolong kepadanya.
Walaupun sudah sangat letih, sebagai seorang tokoh terkemuka dalam Ceng Cong Pai, It Hoa tentu masih lebih kuat dari Ouw Ho, yang baru berusia sembilan tahun.
Begitu tangannya yang memegang, tangannya yang kiri segera bergerak dengan cepat dan tangan Ouw Ho seketika itu juga sudah tercekal kuat olehnya.
Ditekuk kebelakang lengan Ouw Ho membuat anak itu kesakitan dan tidak berdaya untuk bergerak.
Kemudian pedangnya telah ditempelkan dibelakang leher anak itu sambil mengeluarkan' ancaman .
"Kalau kalian masih sayang jiwa anak ini. cepat kalian minggir !"
Serunya.
Ancaman itu ditujukan kepada Kim Bian Hud dan Cie Jin yang sementara itu sudah tiba didekatnya.
Dalam saat2 dia sudah terjepit sekali tadi.
percobaan Ouw Ho untuk merampas senjatanya justru memberikannya jalan keluar.
Dengan menangkap tangan It Hoa.
justru Ouw Ho telah memberikan kesempatan kepada musuhnya Untuk berbalik menangkap tangannya.
Kekeliruan itu baru disadari oleh Ouw Ho setelah terlambat, dan kini dia dijadikan perisai.
Kim Bian Hud begitu pula Cie Jin, terpaksa mundur oleh ancaman tersebut.
Tetapi mereka berdua tidak mau menyingkir terlalu jauh.
Disaat itu, It Hoa sedang mempertimbangkan, apakah dengan adanya kesempatan ini tidak lebih baik jika dia segera menghampiri Ouw Hui dan melaksanakan maksudnya membalas dendam.
Per-tama2 memang begitu hasratnya, tetapi sesaat kemudian pikirannya telah berobah.
Dia menyadari babwa dalam keadaannya seperti saat itu dia tidak bisa bergerak dengan cepat.
Sebaliknya dia sudah mengetahui betapa tinggi ilmu meringankan tubuh kedua lawan yang masih tetap memperhatikan setiap gerak-geriknya.
Dia mengerti, babwa seketika dia memisahkan pedangnya dari batang leher anak kecil itu untuk menabas batmg leher Ouw Hui.
Kim Bian Hud dan Cie Jin tentu akan bertirdak secepat kilat dan memang akhirnya akan gagal sama sekali usahanya untuk membunuh Ouw Hui sebalik bya jiwanya sendiri tentu sudah tidak akan tertolong lagi.
Setelah berpikir sekian lama, dia memutuskan untuk mempergunakan Ouw Ho sebagai perisai untuk menyingkir.
Setindak demi setindak dia berjalan kearah tambatan kuda2 yang ditunggangi tadi bersama kawar2nya.
Selama itu pedangnya tidak pernah berpisah dari batang leher Ouw Ho dan setibanya disitu, kudanya itu, It Hoa telah mengancam lagi ;
"Janganlah kalian bergerak. Dengan sekali menabas, akan kupotong batang leher anak ini, kalau saja kalian memperlihatkan gerak dan ikap mencurigakan*'. Dengan tetap mengancam belakang leher Ouw Ho, dia perintahkan anak itu naik kekudanya dan rebah menelungkup didepan pelana. Lalu dia sendiri naik dengan per lahan2. Diulangi lagi ancamannya dan sesaat kemudian dia telah memacu kudanya. Ketika It Hoa hendak menaiki kudanya, Cie Jin sudah hendak melompat maju untuk berusaha menolonginya sianak muka hitam itu. Dia menganggap bahwa selekas It Hoa sudah berhasil membawa adik seperguruannya itu pergi dari tempat itu, tentu akan sulitlah untuk menolonginya lasi, dan dapat diduga sama sekali sudah tidak mungkin untuk menolongnya lagi. Rupanya Kim Bian Hud telah menerka isi hati Cie Jin. Cepat2 dia mencegahnya maksud pemuda itu, sambil dibisiknya dengan suara yang perlahan sekali agar tidak terdengar It Hoa.
"Jangan ter-gesa2"
Katanya dengan suara yang perlahan.
Baca Juga: Dewi Ular 4
Baca Juga: Suling Emas Dan Naga Siluman 16