Eps 3 Si Rase Hitam - Chin Yung
Baca online Si Rase Hitam - Chin Yung
Cersil Si Rase Hitam - Chin Yung.
"Kalau kau sekarang melompat kearahnya, dia tentu akan membuktikan ancamannya itu dan si Ho tentu benarr jadi tidak ter tolong lagi. Biarlah kita mengikuti saja, sambil menantikan kesempatan baik untuk bertindak". Halaman 39-40 sobek Berkat lwekangnya yang sudah demikian sem purna, akibatnya memang tidak segera terasa, terutama diwaktu jiwanya sedang bergolak, sehingga dia melupakan segalanya. Tetapi secepat ketegangan hatinya mereda, sedikit demi sedikit akan mulai terasalah gangguan seperti itu. Demikianpun sekali ini. Tadi waktu amarahnya sedang bergolak dan dia harus memusatkan perhatiannya dalam pertempuran, dia tidak merasakan apa2. Juga setelah pertempuran itu selesai dan dia mulai mengikuti It Hoa, masih tiada yang dirasakannya sam pai sekian lama. Lewat lagi kurang lebih setengah jam, setelah hatinya berangsur2 menjadi tenang, mulai terasalah keletihan yang diakibatkan goncangan hatinya tadi. Dia menyadarinya apa artinya gejala itu, tetapi agar tidak mengecilkan hati Cie Jin, dia tidak memberitahukannya dan hanya berusaha mengembalikan tenaganya dengan menjalankan nafas menurut pelajaran ilmu tenaga dalam Keadaannya kini sudah hampir serupa dengan It Hoa Harapan satu2nya kini hanyalah agar bisa bertahan lebih lama dari musuh itu. Dalam perlombaan keuletan itu, dia memperoleh keuntungan dari lwekangnya yang memang jauh lebih sempurna dari lawannya tetapi musuhnya itu memiliki keuntungan lain. Usia mereka yang jauh lebih muda tentu sa ja memberikan keuletan yang jauh lebih kuat dari keuletan Kim Bian Hud yang berusia lanjut. Per lahan2, tetapi pasti, dia menjadi semakin. lelah. Sedapat mungkin dia telah melawan dengan lwekangnya. Tetapi kepandaian manusia mana da pat melawan hukum alam? Sebagai seorang tua, tenaga sejatinya, tena ga pemberian alam, tentu sudah sangat berkurang Pergolakan dihatinya, pengerahan tenaga yaog luar biasa daa disamping itu diapun telah terkena serangan obat beracun yang memabokkan dalam pertempuran tadi. semuanya kini mendatangkan keletihan yang mungkin dilawannya de ngan apapun 'juga. Dan suatu saat, dia merasa sudah tidak kuat untuk melanjutkan perjalanannya untuk mengikuti It Hoa. Dia hendak merintahkan Cie Jin melanjutkannya seorang diri dan hendak pula berpesan bagaimana pemuda itu harus bertindak jika waktunya sudah tiba, atau jika terjadi perkembangan yang tidak terduga, tindakan2 yang harus di lakukannya. Tetapi semuanya itu terlambat. Sebelum dia dapat mengucapkan sepatah kata, matanya sudah ber-kunang2, dadanya terasa sesak, napasnya memburu dan setelah beberapa kali urung jatuh, akhirnya rubuhlah dia dari pe lana. Dia rubuh tidak sadarkan diri. Wajahnya pucat bagaikan kertas dan napasnya juga mem buru keras sekali. Jelaslah kini bahwa keadaan Kiai Bian Hud sangat menguatirkan sekali. Betapa terkejutnya Cie Jin waktu itu. Cepat2 pemuda tersebut melompat turun dari kudanya dan dengan diliputi kekuatiran yang sangat dia telah memeriksa keadaan jago tua tef sebut. Hatinya menjadi agak lega ketika mempero leh kenyataan Kim Bian Hud masih bernapas. Dicobanya menyadarkan orang tua itu, teta pi sampai sekian lama dia masih belum berha nil menyadarkan orang tua itu Perasaan bingungnya disaat itu benar2 tidak terlukiskan. Sulit sekali Cie Jin mengambil keputusan, musuh yang menculik Ouw Ho sudah semakin menjauh, kalau tidak cepat2 dia pergi menyusul lagi, dia tentu akan kehilangan jejak Ouw Ho. Sebaliknya, apakah dia harus meringgalkan Kim Bian Hud disitu dalam keadaan demikian menguatirkan ? Kalau saja didekat tempat itu ada rumah penduduk, dia akan dapat menitipkan Kim Bian Hud ditempat penduduk itu dan dia sendiri bi sa cepat2 melanjutkan pengejarannya. Tetapi mereka berada ditengah padang rum put luas, yang tidak berpenduduk. Disekelilingnya, sejauh mata dapat meman dang, yang tampak hanyalah tanah berumput. Kalau kebetulan ada serombongan pengem-bala didekatnya, dia jvga akan dapat minta per tolongan mereka untuk msrawat Kjm Bian Hud, Selama dia mengejar musuh yang menculik adik seperguruannya. Tetapi jelaslah sudah, bahwa kecuali mere ka tidak ada orang lain lagi di padang rumput itu. Apa yang kini harus kita lakukannya? Akhirnya Cie Jin memutuskan untuk mena ikkan Kim Bian Hud keatas kudanya dan mem bawanya serta mengejar musuh itu. Dia telah teringat akan perhitungan orang tua ini, bahwa dalam keadaan Hong It Hoa tentu tidak akan kuat pergi jauh. Dia percaya bahwa tidak lama pula It Hoa Pasti akau berhenti, dan dia akan bisa turun ta ngan menolong Ouw Ho. Setelah itu dia akan dapat cepat2 menempuh perjalanan pulang dengan membawa ke-dua2nya, yang segera hendak dilaksanakannya. Tetapi alangkah terkejutnya, ketika setelah menaikkan Kim Bian Hud keatas kudanya, dia hendak mulai berjalan lagi. Hong It Hoa sudah tidak terlihat pula Agaknya Cie Jin telah ragu2 terlalu lama, sehingga musuh yang membawa Ouw Ho itu telah sempat meninggalkannya jauh sekali-Musuh itu sedikitnya tentu sudah terpisah sepuluh lie dari tempatnya. Cie Jin mengerti bahwa kini dia tidaklah boleh mem-buang2 waktu lagi. Kalau menuruti kehendak hatinya, ingin sekali Cie Jin melarikan kudanya agar bisa cepat cepat menyusul musuhnya. Tetapi dia kuatir jika goncangan2 yang ditimbulkannya itu terlalu keras dan bisa mendatangkan keadaan yang membahayakan Kim Bian Hud, yang masih tetap belum sadar dari ping sannya. Terpaksa dia membatasi lari kudanya, agar orang tua yang menelungkup didepan pelana itu tidak terlalu menderita karenanya. Sungguh bingung dan gugup hati Cie Jin dan betapa berat dirasakannya tugas yang tengah dihadapinya itu. Diapun bimbang sekali, apikah dia masih akan dapat menyusul musuhnya yang lenyap da ri pandangan matanya. Sudah sekian lama dia melanjutkan pengejaran itu dan jarak yang telah ditempuhnya bu kan dekat lagi. Se tidak2nya dia telah berjalan kurang lebih dua lie, tetapi musuhnya yaag hendak dikejarnya masih tetap belum terlihat mata hidung nya. Kebingungannya yang meliputi hati pemuda ini semakin bertambah, disertai juga oleh ke kuatirannya yang menjadi semakin besar. Kelirukah arah yang telah ditempuhnya ? Tidak mungkin ! Mustahil dia telah menempuh arah yang keliru dari jejak musuh yang memba wa Ouw Ho itu. Dan dirpun mengetahui bahwa jejak semula musuh itu tidak pernah mem-belok2 kearah lain. Apakah perhitungan Kim Bian Hud yang te I-h keliru ? Mungkinkah musuhnya itu belum se letih yang diduganya ? Agasnya itupun tidaK mungkin. Dengan mata kepala sendiri Cie Jin telah melihat keadaan musuh itu diwaktu akhir pertempuran. Jelaslah bahwa musuh itu bahkan sudah ham pir tidak kuat berdiri diatas sepasang kakinya. Tetapi mengapa dia masih tetap belum bisa menyusul, sedangkan sejak semula musuh itu ti dak berani melarikan kudanya terlalu keras kare m kuatir tidak dapat mempertahankan tubuhnya 'ia.as kuda tunggangannya itu ? Sungguh mengherankan sekali, tetapi juga sangat menggelisahkan sekali hati pemuda itu. Cie Jin berhenti sejenak untuk melihat ke sekelilingnya. Hanya rumput hijau bergelombang dihembus angin yang dilihatnya. Bayangan musuh sudah lenyap dan tidak tam pak sama sekali olehnya, lenyap tidak menirg-galkan jejak. Cie Jin berjalan lagi sampai sa'sian lama. Hasil yang diperolehnya tetap nihil, aktif nya dia yakin bahwa dia t-lah mengambil arah yang keliru. Dia membelokkan kudanya dan de ngan membuat sebuah lingkaran besar dia berpu tar mengelilingi daerah itu. Akhirnya dia ke m bali ditempat dia mulai membiluk tadi, sedang kan sepanjang jalai bsrkeliliag itupun dia tidak memperoleh suatu petunjuk apapun juga. Cie Jin jadi putus asa. Disamping itu dia pun kuatir jika keadaan Kim Bian Hud akan menjadi se makin parah dan mengkhawatirkin. Dia mengetahui juga tidak dapat dia membuang-waktu, walau bagaimana tetap saja dia harus cepat2 kembali, agar Kim Bian Hud mem peroleh perawatan yang semestinya. Tetapi dia masih agak ragu2 untuk segera menyudahi pengejaran itu, kenbali dengan hanya membawa sucouwnya ini tanpa sekalian memba wa Ouw Ho. Untuk beberapa waktu dia berusaha untuk mencari jejak Hong It Hoa. Sementara itu hari sudah mendekati pergan tian dari pagi kelohor. Sinar matahari yang terik semakin terasa dan tenggorokannya juga su dah terasa kering sekali-Karena itu dia menyadarinya bahwa dia tidak boleh membuang2 waktu lagi untuk keselamatan Kim Bian Hud. Cie Jin sudah tidak memiliki harapan pula untuk dapat menyusul Hong It Hoa dan meno longi Ouw Ho. Dan dia tidak mau menyebabkan Kim Bian Hud kehilangan jiwa karena keragu2annya itu. Demikianlah, Cie Jin lalu menempuh kembali jalan pulang dengan hati yang sedih, karena dia tidak berhasil menolongi adik seperguruannya itu. Dia berusaha menghibur dirinya dengan membayangkan bahwa keadaan musuhnya itu yang sudah demikian lemah, tentu akan memberikan kesempatan kepada Ouw Ho yang sangat cerdas dan banyak sekali akalnya untuk dapat meloloskan diri dari cengkeraman tangan musuh yang menculiknya iru dan dapat kembali dengan Kiamat. Bukankah anak itu sudah pernah berhasil meloloskan diri dari tangan para penculik2nya dikota I li ? Dan demikianlah, Cie Jin telah menghibur' dirinya sendiri. Tetapi sayangnya, kata2nya sen diri itu tidak dapat meyakinkan hatinya dan ke sedihannya itu tidak juga lenyap karenanya. Han pir saja Cie Jin menitikkan air matanya, tetapi untuk mengurangi kesedihan hatinya itu, dia telah melarikan kudanya untuk menuju pulang untuk memberikan pertolongan kepada Kim Bian Hud. Walaupun bagaimana jiwa Kim Bian Hud harus dituruti. ---oodwoo--SEMENTAPA itu, sesungguhnya kemana Hong It Hoa telah pergi dengan bawa Ouw Ho? Dari semula It Hoa sudah tahu bahwa dibelakangnya memang ada yang mengikuti dari jauh. It Hoa juga mengerti bahwa anak lelaki ke cil yang berada ditangannya masih dibutuhkan nya sebagai perisai keselamatan diri dan jiwanya Itulah yang telah menolong jiwa Ouw Ho. sesuai dengan perhitungan Kim Bian Hud, yang sudah dapat menerka bahwa secepat anak itu sudah tidak dibutuhkan lagi, It Hoa tentu akan membunuhnya. Mengenai keadaan It Hoa, dugaan Kim Bian Hud juga sesungguhnya tidak meleset. Hanya karena timbulnya suatu hal yang tidak diduga, maka rubuhnya It Hoa karena perasaan letihnya itu menjadi tertunda. Sesungguhnya It Hoa memang tidak akan dapat bertahan lebih lama dari yang diperkirakan Kim Bian Hud Tetapi pada saat itu keadaan jiwa It Hoa su dah tidak biasa lagi, tidak wajar. Sebagai kita sering melihat atau mendengar orang bercerita, seseorang yang tengah terancam jiwanya atau juga terancam maut, dan sudah ke hilangan akal, seringkali bisa melakukan hal2 yang tampaknya sangat mustahil. Didalam saat2 demikian orang itu sudah bagaikan bukan dirinya sendiri lagi dan suatu kekuatan gaib yang agaknya seperti bukan tubuh dari suatu sumber dalam tubuhnya sendiri, mem berikan kekuatan yang tidak terhingga dan tidak dapat diterima oleh akal sehat. Berkat telaga gaib semacam itti, maka it Hoa telah dapat bertahan lebih lama lagi dari semestinya. Waktu dia tidak sadar lagi akan apa yang dilakukannya, bagaikan seorang yang kesurupan hanya satu keinginannya yang menguasai seluruh alam pemikirannya bahwa dengan membawa anak musuhnya itu sebagai jaminan untuk keselamatannya dia harus pergi menyingkir dari tempat itu pergi... pergi... pergi sejauh mungkin. Sedikitpun dia tidak menghiraukan lagi ke-mana dia harus pergi, dan kendali kudanya juga sudah lama dilepaskannya. Dengan dibiarkannya berjalan Sekehendak' nya sendiri, lambat laun dan dikit demi sedikit binatang tunggangan itu mulai menyeleweng dari arah yang semula ditempuhnya. Sebelum lewat dari satu lie, arah perjalanan iya sudah jauh berbeda dibandingkan sebelumnya. Perobahan arah perjalanan itu tidak pernah diduga oleh Cie Jin, sehingga tidak mengherankan jika dia tidak berhasl menemui jejak dari it Hoa, walaupun dia telah mencarinya sekian lama, dan karena perhatiannya lebih banyak dicurahkan Untuk menolong keselamatan jiwa Kim Bian Hud. Dipihak lain, kerdaan It Hoa juga sudah semakin memburuk. Kuda yang tidak terkendali kan itu kini sudah mulai membawa kedaerah perbatasan gurun pasir. Rumput yang tumbuh didaerah itu sangat jarang dan sinar matahari yang sangat terik di pantulkan kembali oleh pasir dibawah kaki kuda itu membuat hawa udara jadi panas luar biasa. Hawa yang demikian panasnya itu tentu saja tidak meringankan penderitaan It Hoa, tetapi dia sama sekali tidak ingin untuk mengambil kantong airnya. Ketika itu dia bensr2 sudah tidak sadarkan akan dirinya. Bahkan ingatan untuk menyingkir, yang semula menguasai seluruh pemikirannya itu juga sudah dilupakannya. Dengan pikiran kosong dan berjokol terus bagaikan sebuah patung diatas kudanya. It Hoa masih dapat meneruskan perjalanannya itu sampai beberapa lie lagi. Tetapi pada suatu saat, tiba2 tubuhnya ber-goyang2 dan doyong kedepan rubuhlah dia. Pedang yang selama perjalanan itu tidak per nah terpisah jauh dari leher Ouw Ho, ikut jatuh terlepas dari genggamannya. Malang bagi Ouw Ho, ikut jatuh setelah terlepas dari pegangannya It Hoa. Dan lebih malang lagi bagi Ouw Ho, pedang itu justeru jatuh menyelusupi bahunya, se hingga dibagian atas lengannya terluka. Ouw Ho berteriak, alangkah sakitnya luka itu. Sesungguhnya luka yang diderita oleh Ouw Ho itu tidak terlalu berat, tetapi karena baru pertama kali terluka oleh senjata tajam, dalam kesakitan dan kaget dia jadi tidak ingat untuk memegang pelana kuda itu erat2 dan telah rubuh terbanting dipasir. Pedang It Hoi yang telah melukai lengan Ouw Ho. Dalam jatuhnya telah lebih dulu melukatl iga kuda itu dan gagangnya juga telah memukul nya. Karena kesakitan kuia itu tiba2 melompati untuk kabur dengan pesatnya, itulah sebabnya Ouw Ho terlempar dari punggung binatang tunggang annya itu, jatuh terbanting agak keras juga, Selama beberapa saat dia tidak menyadari apa yang telah terjadi diatas dirinya, dan dia rebah dengan mata ber-kunang2 dan kepalanya juga pusing. Berselang lagi beberapa saat, pikirannya men jadi terang kembali Per-lahan2 dia merangkak bangun dengan menahan perasaan sakit, dia telah menoleh keka nan kiri untuk melihat dimana dia berada dan untuk mencari kuda yang telah kabur dari tem pat itu. Untuk pertama kali kini Ouw Ho merasakan apa artinya takut. Dia yang biasanya tabah luar biasa lagi fa igat berakal budi, pada saat itu benar2 putus asa dan tidak mengetahui apa yang harus dibu at dan dilakukannya Apa yang didapatkannya disaat itu memang tidak dapat berakibat lain dari membuatnya ber putus asa. Binatang tunggangannya itu sudah tidak ke lihatan pula, hilang bersama semua perbekalan air dan makanan yang diikatkan dipelana, sedang kan dia sendiri ternyata berada ditengab2 pa dang pasir. Hanya It Hoa yang berada bersamanya disi tu, tetapi mungkin sekali orang itupun sudah menjadi mayat, sedangkan andaikata masih hidup pun tentu tidak ada gunanya lagi bagi Ouw Ho, bahkan mungkin sekali membahayakan. Sungguh hebat penderitaan anak kecil yang! biasa hidup dalam suasana bahagia itu. Seluruh tubuhnya terasa sakit akibat terpelanting tadi. Disamping itu luka dilengannya itu pun menambah perasaan sakitnya. Dan juga terik cahaya matabaii serta perasaan hausnya tidak membuat dia merasakan ringannya keadaan saat itu. Mau tidak mau, Ouw Ho menyadari bahwa dirinya tengah terancami oleh keadaan dan alam. Segala itu sudah cukup membawa kepatahan semangat seorang dewasa yang bukan pengecut, maka apalagi bagi seorang anak kecil seperti Ouw Ho. Walaupun tidak dapat menduga dimana dia berada, dia menginsafi bahwa dalam keadaannya tidak mungkin dia dapat keluar dari daerah gersang dan kering itu dengan berjalan kaki dani mencapai daerah padang rumput, dimana banyak terdapat sumber air. Dalam usia semuda itu dia sebenarnya bel lum mengerti apa artinya mati, tetapi disaat itu' dia seakan-akan memperoleh firasat bahwa kema tiannya sudah dekat sekali dengannya. Tanpa terasa air matanya mulai menitik tu run, alangkah sedihnya ketika dia teringat akan orang tuanya yang kini tentu tidak akan 'dijum painya lagi. Didepan matanya terbayanglah segala peristiiwa dimasa lampau yang masih dapat diingatnya. Teringatlah dia akan segala cinta kasih ayah ibunya yang dilimpahkan kepadanya dan perawatan serta kekuatiran mereka jika dia sedang sakit. Semuanya itu, yang dimasa lampau tampak biasa saja baginya, kini baru benar2 dapat disadarinya. Dia sungguh menyesal, bahwa dulu dia sering menimbulksn perasaan kurang senang orang tuanya karena kenakalannya. Dengan segala pikiran itu mengaduk dida-lam hatinya, tanpa disadarinya, dia mulai melangkahkan kakinya. Semakin lama semakin jauh dari tempat jatuhnya tadi dan semakin jauh pula dia mema suki gurun pasir. Terik matahari yang se-akan2 membakar tubuhnya dan pasir panas yang membuat kakinya melepuh menginjaknya, sama sekali tidak dirasakannya. Kakinya melangkah terus bagaikan sebuah mesin, dan kemudian mata hari sudah menyentuh kaki langit, lalu menghilang sama sekali......... Senja indah dengan warna-warninya cemerlang, merah membara disebelah barat, berwarna ke-emas2an, kuning, lalu biru yang ketimur semakin tua warnanya, semua itu tidak terlihat olehnya. Ouw Ho berjalan terus, tanpa tujuan dan secara tidak sadar...... Akhirnya jatuhlah dia karena keletihan dan hausnya. Dia jatuh tidak sadarkan diri dan itu lah kemurahan Tuhan yang dilimpahkan kepadanya, agar dia tidak perlu merasakan penderitaan yang lebih hebat didalam saat kesengsaraannya mencapai puncaknya. --oo0dw0oo--CIE JIN telah kembali dengan membawa Biuaw Jin Hong yang masih tetap tidak Sadarkan diri. Kegagalannya menolong Ouw Ho tea tu membuat Yok Lan bersedih hati sekali. Untunglah bahwa nyonya yang bertubuh lemah justeru berhati tabah luar biasa. Pukulan dan gempuran diliatinya tidak melupakan tugasnya. Sedikit dia tidak menyesali Cie Jin, dia menyadari bahwa betapapun usaha manusia tidak akan dapat merobah takdir. Terlebih lagi, bagaimana nasib Ouw Ho sebenarnya juga belum diketahui. Mungkin anak Itu memang sudah menemui ajalnya dibawah sen Jata musuh yang kejam itu. tefapi sama besar ke inungkinan bahwa dia masih hidup', bahkan titak mustahil pula bahwa berkat kecerdikannya dia su dah dapat meloloskan diri dari cengkeraman mu Ruhnya dan dalam keadaan sehat walafiat. Soal-soal yang gawat, yang belum ada keten tuannya bisa berakibat dua macam kemungkinan Dalam keadaau2 tertentu, peristiwa demikian bisa membuat seseorang menjadi gelisah dan risau, menderita karenanya. Dalam keadaan lain, hal itu bisa merupakan hiburan, karena belum lenyapnya semua harapan. Sungguh beruntung bahwa yang tersebut be lakangan inilah yang terjadi dengan Yok Lan, se hingga dia jadi tidak kehilangan akal sehatnya. Dengan demikian dia dapat menyadari bahwa sa a t itu, secara langsung dia tengah menghadapi tugas2 lain, yang tidak kalah pentingnya. Kesembuhan Kim Bian Hud, Ouw Hui dan Cie Beng, haruslah diutamakan dalam keadaan seperti itu. Tanpa mereka, sebagai seorcng wanita le mah, dia tentu tidak akan sanggup melakukan. sesuatu apapun juga untuk menolong anaknya. Sedangkan Cie Jin yang mash kurang pengalami an juga tidak bisa diharapkan untuk dapat me lakukan sesuatu yang banyak. Suatu hal lain yang menguntungkan ialah bahwa rumah mereka tidak terbakar habis. Dengan sendirinya kini mereka masih memiliki tempat untuk berteduh. Dalam musim panas, angin didaerah itu ber tiup dari arah timur laut utara, kearah barat daya. Oleh sebab2 tertentu, maka api yang dilepas musuh itu tidak memusnahkat seluruh rumah ba gian depan yang tetap utuh dan masih dapat di tinggali. Berkat rawatan yang teliti dan kasiat pil Thian San Swat Lian, maka lewat enam hari Ouw Hui dan Cie Beng telah sembuh sehat sekali. Tetapi keadaan Biauw Jin Hong masih tetap lemah, meskipun kesadarannya sudah kembali seluruhnya. Dalam usia lebih dari tujuh puluh tahun tenaga asli Kim Bian Hud tentu sudah ber ku rang sangat banyak. Hanya berkat latihannya yang sudah sem-purna, maka biasanya dia masih tetap gagah dan tampak bersemaagat. Tetapi latihan silat yang betapapun gagah dan tampaknya kuat, tidak akan sanggup menara bah kekurangan karena menurunkan tenaga alami seseorang akibat usia tua. Dalam keadaan^ luar biasa, bilamana orang itu harus memeras keluar seluruh daya tubuh masih ada padanya, akibatnya bisa membahayakan dirinya sendiri. Dan bahaya itu menjadi semakin besar kalau pengerahan tenaga yang melampaui batas da ri kemampuan seorang manusia. Terlebih lagi jika hati orang itu tengah bergolak karena hawa amarah atau kesedihan yang hebat. Lima belas hari yang telah lewat, tetapi keadaan Kim Bian Hud masih tetap begitu saja lemah dan tidak ada kemajuan. Sedikitpun tidak memperlihatkan bahwa dia akan segera sembuh. Dalam hari2 akhir seperti itu, kedua sauda ra kembar Cie Beng dan Cie Jin jadi sangat gelisah sekali. Demikian pun dengan Ouw Hui dan isteri nya mereka semuanya mengerti, bahwa berlalu 'nya setiap hari, berarti semakin besarnya kesu litan bagi mereka untuk mencari jejak musuh yang menculik 0uw Ho. Tetapi keadaan Kim B.an Hud yang masih menguatirkan anak kecil yang menjadi cucunya itu, tidak berbasil untuk berangsur sembuh, karena pikiran orang tua itu sslalu gelisah dan berkuatir, memperlambat kesembuhannya dan juga memang menambah berat penyakitnya. Disamping itu. Ouw Hui dan yang lainnya walaupun memang merasa kuatir akan keselamatan Ouw Ho, namun karena keadaan Kim Bian Hud yang menguatirkan itu, terpaksa mereka menunda dulu maksud untuk melakukan pencariannya jejak It Hoa yang telah menculik anak nya. Akhirnya mereka memutuskan untuk pindah ketempat kediaman pemimpin Ang Hwa Hwe. Setelat sampai disana kelak, Cie Beng dan Cie Jin akan segera bertolak ke Tionggoan un tuk berusaha mencari dan menolong adik seperguruan mereka, sedangkan Ouw Hui untuk sementara waktu akan tetap menemani Yok Lan dan Peng Ah Sie merawat Kim Bian Hud; Kelak kalau memang Kim Bian Hud sudah sembuh, dia baru akan menyusul untuk ikut mencari anaknya. Begitulah, sebulan kemudian Cie Beng dan Cie Jin berdua menempuh perjalanan ke Tiong goan. Mereka telah pergi kemana saja menuruti keyakinan hati mereka yang men duga2 dimana adanya Hong It Hoa. Ketika mereka hendak berangkat, Ouw Hui telah memberikan rupa2 nasehat dan pesan yang berguna. Kedua anak muda itu rupa2nya memang hi jau dalam pergaulan kalangan rimba persilatan, tetapi Ouw Hui percaya bahwa dengan kepandaiah dan ketabahan serta kecerdasan mereka, kedua nya akan dapat mengatasi semua kesulitan. Dengan jarak waktu tertentu mereka harus memberikan berita mengenai hasil mereka melalui anggota2 Ang Hwa Hwe yang sering mundar mandir ke Sinkiang untuk memberikan laporan kepusat organisasi itu. Untuk mempermudah mereka memperoleh bantuan dari cabang2 Ang Hwa Hwe diseluruh Tionggoan, maka Tan Ke Lok telah memberikan mereka sebuah Kim Pai dan surat perkenalan... Dua Pemuda berjalan disepanjang tepi utara sungai Tiangkang. Mereka berpakaian sederhana sekali, disamping itu sebagai dua orang pemuda petani biasa. Tetapi wajah mereka yang sangat tampan dan rupawan, sedikitpun tidak memperlihatkan persamaan dengan wajah petani kebanyakan yang umumnya berkulit kasar. Mau tidak mau, setiap orang yang melihat mereka tentu akan memperoleh kesan, bahwa me reka akan tam pak lebih sesuai dalam pakaian sastrawan, atau juga pakaian2 putera orang kaya yang mewah. Bagi yang memperhatikan perihal itu belumlah merupakan sesuatu yang sangat menyolok. Dan yang lebih menyolok adalah persamaan antara muka kedua pemuda itu, yang sekali dllihat tentu akan menimbulkan kecenderungan untuk menarik kesimpulan, bahwa mereka adalah sepasang saudara kembar. --oo0dw0oo--
Jilid 6 WALAUPUN keduanya berpakaian sebagai petani biasa, tetapi nyatanya pakaian me reka itu masih berbeda jauh dengan paKaian para petani yang tampak di-jalan2 dan diladang2 yang dilaluinya.
Perbedaannya ialah bahwa keduanya berpakaian utuh dan juga sangat bersih, sedangkan para petani diladang itu hanya mengenakan pakaian yang compang-camping.
Disaat itu adalah tahun terakhir dari pemerintahan Kian Liong ( masehi tahun 1795 ), masa yang dapat disebutkan sebagai awal kemerosotan pamor pemerintah Boanceng, yang ketika itu menjajah Tionggoan dan masih akan te rus menjajah sampai seratus dua puluh tahun lagi.
Karena sikap tamak raja2 Boan untuk memperluas daerah kekuasaannya, ketamakan akan kekuasaan yang tidak pernah surut selama empat turunan, dari Sun Tie sampai Kian Liong, maka terus menerus mereka telah melakukan peperangan yang menelan biaya tidak sedikit Dan sumber satu2nya yang harus memenuhi kebutuhan pembiayaan itu, tentulah tidak lain dari rakyat, yang sebagian besar terdiri dari petani.
Pajak2 yang sangat berat mengikat dibebankan kepada golongan tersebut.
Pertama kali pajak2 berat itu tidak terlalu mencekik hidup rakyat jelata.
Walaupun berat masih terbayarkan juga, sedangkan hidup rakyat masih tidak sampai terla lu sengsara.
Raja2 kuat lagi cakap seperti Kong Hie dani Kian Liong dapat memilih menteri2 yang jujur dan tidak ragu2 menghukum setiap penyalahgunaan kekuasaan.
Karena pimpinan yang kuat itu, sepak terjang para pegawai pemerintah selalu berada di bawah pengawasan yang keras, sehingga mereka tidak berani berlaku curang atau melampaui ba tas kekuasaannya.
Seperti juga halnya dengan Kong Hie, Kian, Liong juga mengetahui dengan baik sampai berapa jauh dia bisa mengambil pajak rakyatnya itu tanpa perlu membahayakan ekonomi negaranya.
Dimasa mudanya Kian Liong dapat melakukan pengawasan yang sangat keras seperti itu, tapi setelan usianya lanjut dan semangatnya sudah ber kurang kewaspadaannya jadi merosot.
Beberapa orang menteri yang sangat dipercayanya kini mulai berani berbuat curang.
Con toh yang bersumber dari penjabat didaerah.
Dari secara sembunyi2 dan secara diam2, lambat laun para pembesar tinggi rendah semakin berani secara terang2an menerima suapan dan melakukan penghisapan kepada rakyat.
Korupsi meraja-lela dan rakyat yang sejak tadi tidak pernah hidup dalam kecukupan, kini benar2 harus menderita kemiskinan dan kelapar an yang sangat.
Disamping para pegawai negeri itu, kaum tuan tanah juga melihat kesempatan baik itu dengan tidak kurang kejamnya merekapun turut dan ikut2 menghisap para petani.
Untuk mengisi kantongnya sendiri para pem besar mengharuskan petani2 itu membayar pajak yang lebih besar dari yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat.
Hasil para petani, yang memang sudah tidak seberapa itu, selalu habis untuk membayar pajak.
Dan terkadang juga, jika masa panen mengalami paceklik, mereka bahkan sampai tidak dapat melunaskan pajak itu.
Dalam kesempatan seperti itulah para tuan tanah selalu memaksa kaum tani menjual tanah nya dengan harga se murah2nya.
Bagi tuan2 tanah itu, kelaliman pembesar2 negeri bahkan menguntungkan, dan dengan rupa2 cara mereka malah menganjurkan dipungutnya pajak2 yang jauh lebih berat lagi dari para petani.
Oleh karena itu maka tidaklah heran, bab wa banyak diantara petani kecil jadi kehilangan sawah ladangnya dan karenanya telah kehilangan mata pencariannya pula.
Banyak diantara mereka itu terpaksa menja di pengemis, ada juga yang tidak melibat jalan lain dari menjadi perampok dan tidak sedikit pula yang dalam keadaan nekadnya itu melakukan pemberontakan secara kecil2an itu tentu tidak dapat berakibat lain dari mengalami kegagalan dan kehancuran.
Hanya gejala2 itu adalah tanda buruk bagi pemerintahan, bahwa di-waktu2 mendatang rakyat yahg sudah matang Untuk melakukan pemberontakan dan hanya menantikan saja adanya pimpinan yang dapat mempersatukan mereka.
Daerah lembah sungai Tiangkang (Yangtze) merupakan salah satu daerah yang sangat subur dan makmur di Tionggoan dan biasanya dapat memberikan hidup yang layak bagi penduduknya Tetapi sekali ini daerah tersebut tidak men jadi terkeetialian dalam penderitaan yang dialami para petani diseluruh Tionggoan.
Disepanjang jalan yang dilalui dua pemuda itu, tiada lain dari kesengsaraan dan kemiskinan yang tampak.
Semakin lama mereka semakin sedih menyaksikan itu dan sambil berjalan tidak jarang terdengar mereka mengutuk pemerintah penjajah yang lalim itu.
"Koko, sudah enam tahun kita menjelajah seluruh negeri tetapi jerih payah kita itu sedi-kitpun tidak ada hasilnya. Sebaliknya, setiap ha ri kita harus menyaksikan penderitaan rakyat, semakin lama semakin banyak kita melihatnya, sehingga hatiku kini tidak tertahan pula',"
Kata salah seorang diantara kedua pemuda itu, setelah berdiam sejenak kemudian melanjutkan pula perkataannya "Urusan kita Sendiri sesungguhnya disebabkan penjajah itu pula, maka kupikir apakah tidak lebih baik jika kita menggabungkan diri dalam suaru gerakan orang2 gagah pencinta negara, untuk bantu mengusir penjajah ?
Terlebih lagi.
mungkin tugas yang suhu bebankan kepada kita akan menjadi lebih mudah terlaksana dengan bantuan sebuah organisasi yang luas pengaruhnya".
"Benar adikku, akupun setuju, bahkan kuki ra suhu tentu juga akan senang jika kita turut menyumbangkan tenaga bagi tanah air. Hanya, sebaiknya kita berhati-hati sebelum memutuskan untuk melibatkan diri dalam suatu gerakan. Tidak semua penggerakan2 yang kini banyak bertumbuhan dimana2, sesungguhnya memiliki tujuan murni. Dalam masa sesulit seperti ini, mu dahlab bagi petualang-petualang jahat yang pandai memutar lidah, untuk menghasut rakyat ikuti dengan mereka membentuk organisasi ini atau tu, dengan berkedok menjadi patriot bangsa. Gedangkan tujuan mereka yang sesungguhnya ha myalah untuk mencari keuntungan diri sendiri Dan rakyat yang diajaknya dalam penggerakan dalam penggerakan semacam itu hanya dipandang sebagai alat untuk mencapai maksud2 buruk mereka. Sungguh kasihan rakyat jelata, mereka haoya yang dikambing hitamkan juga* "Tidak salah. Kita memang harus ber-hati2 agar tidak diperalat orang2 untuk maksud yang tidak baik. Sejauh yang kudengar, agaknya gerakan Pek Lian Kauw (gerakan teratai putih) benar2 bertujuan mengusir penjajah dan menegak kan kembali keraj^sn bangsa kita sendiri. Entah bagaimana pendapatmu tentang penggerakan itu?"
"Ya, akupun mendengar bahwa gerakan Pek Lian Kauw memang yang sangat teratur dan berdisiplin keras. Bahkan menurut cerita orang banyak, seringkali bekas anggota2 An Hwa Hwe yang telah ikut menggabungkan diri dengan mereka, atau se-tidak2nya menyatakan kesediaannya mereka untuk bekerja sama. Tetapi dalam bal ini pun kita sebaiknya ber hati2. Lebih baik kita melakukan penyelidikan dulu dari dekat sebelum kita mengambil keputusan". Percakapan mereka itu jelas memperlihatkan kebencian mereka terhadap penjajah2 Boan yang dengan lainnya menindas rakyat di Tiong-goan disaat itu. Diluar tahu mereka sendiri, kedua pemuda itupun sesungguhnya memiliki darah Boan didalam tubuh masing2, karena mereka tidak lain dari Cie Beng dan Cie Jin, yang sesungguhnya sepasang putera kembar Hok Kong An. Hanya, yang diketahui oleh mereka, bahwa mereka adalah putera kembar Cie Ceng, dan ber darah Han secara mutlak. Mengingat bahwa Cie Ceng telah tewas karena kekejaman budak2nya pemerintah penjajah dan karena sejak mengikuti Ouw Hui berkelana sudah seringkali melihat dan mengalami sendiri betapa kejamnya kaum penjajah itu menjalankan pemerintahan, maka tidak aneh mereka demikian membenci pemerintah Boan. --oo0dw0oo--PERSEKUTUAN Pek Lian Kauw bukanlah suatu penggerakan baru dimasa itu. Penggerakan itu telah didirikan sejak masa kerajaan Beng dan pernah meniililiki pengaruh yang besar sekali, yang disegani oleh orang2 gagah rimba persi latan. Yang mendirikannya dan menjadi Kauwcu (pemimpin besar)nya yang pertama kali adalah Han San Tong. Diakhir masa kerajaan Beng, pengaruh gerakan itu telah merosot banyak. Selama kurang lebih seratus tahun sejak Tionggoan dijajah oleh bangsa Boan, hampir tidak pernah terdengar pula kegiatannya, sampai dipertengahan masa pemerintahan Kian Liong, se orang yang cakap dan cerdik yang bernama Lauw Siong, berhasil mempersatukan kembali gerakan yang sudah terpecah belah itu. Maksud dan tujuan Pek Lian Kauw sebenar nya sangat baik, yaitu untuk mempersatukan rakyat agar dapat melawan penindasan kaum feodal dahulunya dan belakangan untuk melawan dan mengusir kaum penjajah. Hanya harus dibuat sayang bahwa tata cara nya terlalu banyak didasarkan atas ketakhayulan sehingga akhirnya menimbulkan perpecahan dalam tubuh organisasi itu sendiri. Dimasa pemerintahan Kian Liong, dapatlah disebut sebagai masa keemasan kerajaan penjajah Boanceng, tetapi juga dapat disebut sebagai awal kemerosotan pamor dari kejayaan dan kemunduran pemerintahan Boan itu terjadi ditahun Kian Liong ke 35 ( masebi 1771). Waktu itu pemerintah Boan sudah mulai kekurangan pembiayaan untuk tentaranya yang terus menerus berperang kesana kemari. Untuk menutupi kekurangan itu, rakyat jelata terutama sekali adalah kaum petani, mulailah diperas dan perasaan tidak puas dengan cepat meluas dikalangan rakyat cepat sekali. Karena itu, maka gerakan Pek Llan Kauw yang baru dibangkitkan kembali oleh Lauw Siong mudah memperoleh pengikut, dan dengat cepat sudah menjadi kuat. Pada tabun Kian Liong 39 (masehi 1775), kaum Pek Lian Kauw telah melancarkan pembe rontakan di Holam. Waktu itu Lauw Siong sebenarnya masih hendak menanti sampai beberapa tahun lagi sambil memperkuat organisasi dani tentaranya. Tetapi keadaan telah memaksanya bertindak tahun itu juga. Sebagai juga seringkali terjali gerakan2 lain nya Pek Lian Kauw telah kena diselundupkan kaki tangan pemerintah. Rahasia penting mereka menjadi bocor dan pemerintah dengan mudah mendatangkan puluhan ribu tentara untuk menumpas mereka. Disamping itu beberapa mata2 pemerintah yang bertugas untuk mengacaukan gerakan terse but, telah berhasil menghasut anggota2 Pek Liati Kauw untuk menuntut Kauwcu mereka segera mengangkat senjata. Inilah siasat kaum penjajah, agar pekerjaan menumpas gerakan itu menjadi lebih mudah. Dengan bergerak "dibawah tanah"
Sebagai sebuah perkumpulan rahasia, markas pusat Pek Lian Kauw yang berpindah2 terus, tidak mudah diketahui pemerintah Ceng.
Tetapi, secepat mereka memberontak secara terang2an, pusat gerakan mereka itu menjadi terang dan jelas, dan pemerintah dapat mengirimkan tentara dengan serentak.
Pemberontakan ter-gesa2 itu tentu melihat kegagalan, bahkan Lauw Siong telah tertangkap dan dibuang kedaerah perbatasan.
Tetapi kegagalan itu bukan berarti berakhir nya gerakan tersebut Anggota2 pimpinan yang berhasil menyelamatkan diri, lambai laun dapat menghimpun kekuatan baru lagi, bahkan berhasil pula meluas kan kegiatan mereka keberbagai propinsi.
Yang terutama sekali adalah dikeenarn propinsi, yaitu Kam Siok, Siamsay, Kolam, Anhu Ouwpak dan Sucwan, dimana Pek Lian Kau telah memperoleh jumlah pengikut yang besar sekali.
Pemerintah Boan tentu saja tidak berpeluk tangan.
Berulang kali mereka telah berusaha membasmi gerakan itu dan sejak tahun Kia Liong ke 57 ( masehi 1793 ) seringkali tentara Boan melakukan penyelidikan besar2an.
Sebagai akibatnya, pertempuran2 sengit antara kesatuan2 pasukan pemerintah dengan cabang cabang Pek Lian Kauw setempat sudah sering terjadi.
Demikianlah, penindasan terhadap rakyat yang dimaksud untuk menutup kekurangan anggaran belanja ketentaraan pemerintah Boan, ternyata telah berakibat harus dikeluarkannya biaya lebih besar lagi seiring dengan dibutuhkannya lebih banyak pula tentara untuk mempertahankan kekuasaannya.
--oodwoo--Sekian lama pemuda itu berjalan tanpa bercakap2 lagi.
Waktu itu adalah awal musim se-mi.
Pucuk daun muda yang segar dan menambah keindahan disepanjang lembah sungai Tiang kang mulai terlibat cerah.
Biasanya, kesibukan2 para petani dimulai pada minggu2 pertama setiap musim semi, tetapi di waktu itu Cie Beng dan Cie Jin hanya me lihat sedikit sekali kegiatan di-ladang2 yang di laluinya, di-mana2 tampak kelesuan, tedikitpun juga tidak tampak semangat bekerja diantara mereka.
Pemandangan seperti itu semakin menyedihkan bati Cie Beng dan Cie Jin.
Kurang lebih tengah hari mereka tiba dise buah kota kecil atau lebih tepatnya sebuah desa besar, Juga dalam desa tersebut ternyata tampak kelesuan diantara penduduknya.
Pasar2 tampak sepi, sedikit sekali pedagang yang membuka kedainya, sedangkan pembelipun hanya tampak seorang dua orang.
Sebaliknya di sana sini tampak orang ber-kelompok2, asyik membicarakan sesuatu dengan berbisik2.
Cie Ceng dan Cie Jin ingin sekali mengetahui apa yang mereka bicarakan itu tetapi setiap kelompok yarg mereka dekati segera menghentikan percakapan mereka dan cepat2 bubar.
Anehnya, sebentar pula, orang2 itu sudah berkumpul lagi, tidak jauh dari tempat semula.
Jelaslah sudah, bahwa orang2 itu membicarakan sesuatu yang bisa mendatangkan bahaya ji ka terdengar oleh orang lain.
Kedua pemuda yang masih asing bagi mereka itu, tentu saja dicurigai dan tidak boleh ikut mendengar percakapan mereka.
Setelah berjalan sepanjang pagi, perut Cie Beng dan Cie Jin sudah lapar, maka tanpa menghiraukan lagi orang2 yang ber kelompok2 itu pergilah mereka mencari rumah makan.
Tetapi dengan kecewa mereka mendapatkan kenyataan bahwa sebuah rumah makanpun tidak ada yang dibuka hari itu.
Kenyataan seperti itu semakin membangkitkan perasaan ingin tahunya kedua saudara she Cie itu.
Sementara itu, suasana tegang didalam desa itu menjadi semakin terlihat jelas.
Agaknya akan terjadi sssuatu yang luar biasa hari itu.
Kareanya maka mereka terpaksa menahan lapar dengan hati agak jengkel, walaupun pertama sekali mereka sudah hendak meninggalkan desa tersebut untuk mencari rumah makan didesaa lain.
Tanpa tujuan mereka lalu ber jalan2 kesana kemari, terdorong perasaan lapar dan juga memang perasaan ingin mengetahui sebab musabab dari ketegangan yang meliputi desa itu.
Dan sambil menantikan terjadinya perkembangan lebih lanjut, sudah jelaslah bagi mereka bahwa sesuatu yang luar biasa itu akan terjadi di hari itu juga.
Benar saja.
tidak perlu terlalu lama mereka harus me nanti2, jawaban atas perasaan herannya menghadapi suasana yang luar biasa itu, Kurang lebih setengah jam kemudian, sepasukan d utara Boan yang mengawal kurang lebih dua gerobak, tampak memasuki desa tersebut.
Seketika itu siraplah bisik2 kelompok rakyat disepanjang jalan desa itu, bahkan sebagian besar dari mereka segera lari masuk kedalam rumah masing2.
Gerobak2 yang dikawal pasukan tentara itu tampaknya berat2 semua.
Agaknya itulah iringan2 bahan makanan untuk perbekalan tentara.
Pasukan pengawal itu terdiri kurang lebih seratus orang peiajurit dibawah pimpinan tiga orang perwira.
Datangnya rombongan pemerintah Boan itu dari utara dan agaknya mereka ter gesa2 sekali Tanpa berhenti sejenak untuk beristirahat, mereka langsung keluar lagi dari desa itu dan menuju ketempat penyeberangan disebelah desa itu.
Secepat iring2an itu sudah lewat, orang2 desa yang tadi masuk kedalam rumah, lalu keluar lagi dan mengikuti rombongan tentara negeri itu dari jarak jauh sambil ber bisik2 lagi.
Cie Beng dan Cie Jin mengerti bahwi rombongan tentara itu tentu yang sejak tadi te lah ramai dibicarakan para peiduduk desa tersebut.
Keduanya lalu juga mengikuti orang2 desa itu untuk menyaksikan apa yang akan terjadi Rombongan tentara itu sudah sampai ditempat penyeberangan tetapi sebuah perahupun tidak tampak, sedangkan didermaga kayu di tepi sungai itu tidak ada seorangpun juga.
Rombongan tentara itu terpaksa berhenti ketiga perwira yang memimpinnya lalu berunding.
Ketika itu mereka sesungguhnya tengah menghadapi kesulitan yang besar.
Tempat penyebrangan lain yang terdekat dari tempat itu masih terpisah kurang lebih sepuluh lie.
Berjalan memutar kesana dan kembali lagi kejalan yang sudah direncanakan setelah menyebrang, tentu akan berarti keterlambatan barang lebih satu hari, sedangkan jika dilihat dari sikap ter-gesa2nya mereka melakukan perjalanan, mereka agaknya harus tiba secepat mungkin ditempat tujuan mereka.
Disaat itu tiba2 munculah kurang lebih lima ratus petani dari gerombolan pohon2 Yan Liu dan rumput sungai yang tinggi2 disebelahan tempat penyebrangan itu.
Semua petani itu bersenjata golok, tongkat, cangkul dan segala macam alat yang biasanya dipergunakan sebagai alat pertanian.
pakaian mereka compang camping, wajah dan tubuh mereka kurus2, lukisan jelas menggambarkan kemiskinan dan penderitaan yang sudah terlalu ber-larut2.
Tetapi diwajah mereka justru memperlihatkan perasaan benci yang sangat dan mendidih tanpa mengucapkan sepahat kata mereka bergerak untuk mengurung iring2an tentara itu.
Melihat sikap mereka yang sangat mengancam, ketiga perwira itu segera mengeluarkan perintah2.
Gerobak2 barang itu segera dikumpulkan ber jajar menjadi satu rapat sekali dan tentara pengawal itu dengan cepat sudah mengatur diri di sekitar dengan senjata terhunus Disaat itu, baru saja mereka selesai mengatur diri, para petani itu sudah melancarkan serangan.
Maka segera berkobarlah sadah pertempuran sengit.
Dengan nekad dan berani sekali petani itu merangsang maju kedepan melancarkan serangan untuk mengadu jiwa.
Tetapi tanpa pengalaman bertempur dan hanya bersenjatakan alat2 yang sebenarnya bukan untuk bertempur, sedangkan sebaliknya musuh mereka itu merupakan pasukan tentara yang ter atur dan sudah memiliki pengalaman luas dalam pertempuran2 yang sudah bukan sedikit mereka alami, para petani tentu saja tidak dapat berbuat banyak.
Serbuan mereka itu hanyalah ibarat serombongan rusa yang menerjang sekelompok harimau.
Dalam waktu yang singkat sekali, sudah banyaklah korban yang jatuh dalam pertempuran itu korban2 itu hampir seluruhnya dari petani2.
Tetapi semula itu tidak dihiraukan, mereka menyerbu terus dengan berani dan nekad.
Cie Beng dan Cie Jin tidak tega melihat ke jadian yang menyedihkan itu mereka teringat la gi akan peristiwa dimasa lampau, yang telah me reka saksikan dan alami sendiri.
Tidak dapat mereka mendiamkan saja tentara penjajah itu mengganas dan membunuh bunuhi petani2 yang sudah nekad itu.
Serentak mereka mencabut senjata masing2, dan melompatlah mereka ke tengah2 pergumulan tersebut.
Setelah mengikuti jalannya pertempuran itu selama beberapa saat, kedua pemuda itu sudah mengetahui bahwa diantara pasukan tentara itu tidak seoraagpun yang memiliki kepandaian berarti.
Kekuatan pertahanan mereka itu hanya terletak dalam sikap disiplin dan kesigapan mereka melakukan komando2 pemimpinnya sebagai tentara yang sudah terlatih.
Dengan pimpinan yang cakap, tentara demikian memang kokoh, kuat sekali.
Tetapi bila pemimpinnya dapat dijadikan tidak berdaya sama sekali, maka pertahanan mereka akan kacau dengan sendirinya.
Karena menarik kesimpulan seperti itu, Cie Beng dan Cie Jin segera juga hendak menorobos masuk kedalam lingkaran tentara itu.
Perbuatan kedua saudara she Cie itu tentu saja tidak ada yang dapat merintangi Tetapi meng hadapi kedua orang murid2 jago silat yang luar biasa ini, memang seperti juga menghadapi deng an akhli silat yang tidak bisa dipersamakan deng an petani-biasa, sehingga walaupun banyak juga tentara negeri yang telah maju menghadangi Cie Beng dan Cie Jin, kenyataannya mereka itu sudah dapat dirubuhkannya dengan mudah olen kedua pemuda itu.
Alangkah terkejutnya kawan2 pasukan tentara yang menjaga garis pertahanan didepan itu.
Sungguh tidak pernah mereka menduga bahwa diantara kaum tamu itu bisa ada dua orang yang demikian gagah perkasa.
Sebaliknya, Cie Beng dan Cie Jin tidak menghiraukan lagi pasukan2 itu, secepat kilat mereka sudah berhasil menerobos masuk, mereka serentak melompat kearah sebuah gerobak besar yang berada di-tengah2.
Diatas gerobak yang dituju oleh Cie Beng dan Cie Jin itu, merupakan tempat berdirinya ketiga orang perwira itu Dengan masing2 memimpia satu sektor dari aaris pertahanan, mereka bertiga dapat memimpin pasukan itu bertempur secara, teratur, dan dengan hasil yang baik.
Yang lebih dulu mengetahui kedatangan kedua pemuda she Cie itu, tentu saja yang pemim pin sektor yang dibobolkan pemuda Cie itu-Dia-pun tidak kalah terkejutnya dari pasukannya sen diri ketika melihat kegagahan kedua pemuda petani itu Cepat2 dia memberitahukan rekan2nya dan menghunus goloknya masing2.
Disaat itu Cie Beng dan Cie Jin sudah melompat kearah gerobak tersebut dan sebelum kaki mereka menginjak atas gerobak itu, keduanya telah melancarkan serangan.
Masing2 telah mengincer seorang perwira.
Kedaa perwira itu yarjg diserang hebat tidak tinggal berpeluk tangan saja.
Dengan cepat mereka telah melancarkan serangan dengan golok masing2.
Sebagai umumnya orang2 Boan, kedua perwira itupun sangat mengandalkan tenaga gwa-kang (tenaga kasar), yang dalam medan peperangan memang sudah dapat diandalkan Tetapi mereka sesungguhnya memang memiliki tenaga yang besar, hanya untuk menghadapi pertempuran yang harus mempergunakan keulet an belaka-Namun jika menghadapi jago2 silat yang memiliki tenaga lwekeh, berarti mereka a-kan cepat sekali dirubuhkan.
Mereka melancarkan serangan disaat Cie Beng dan Cie Jin masih berada diteogah udara, maka ketiga perwira itu yakin mereka akan ber hasil melontarkan kedua pemuda itu kebawah.
Namun, alangkah terkejutnya mereka, keti ka senjata2 mereka saling bentur dengan senja ta kedua pemuda itu dan seketika itu juga mere ka merasakan tangan mereka tergtar dan linu.
Sesaat kemudian mereka harus mengalami kekagetan lebih hebat lagi Entah dengan gerakan macam apa, sepasang pedang kedua pemuda yang baru tertangkis itu, tahu2 sudah meluncur pula kearah tenggorokan nya perwira2 tersebut.
Mau atau tidak mereka terpaksa berkelit memiringkan tubuh, sambil berusaha menangkis.
Dua perwira Boan itu berhasil membebaskan diri dari bahaya, tetapi lagi2 pedang kedua saudara Cie sudah melayang kearah mereka.
Kini kedua perwira itu sudah mengetahui kekuatan lawan.
Tidak berani mereka memandang rendah lagi dan dengan mengerahkan seluruh tenaganya, masing2 menangkis serangan lawan.
bunyi bentrokan senjata yang dahsyat sekali terdengar seketika itu juga, disaat terjadinya benturan antara senjata2 itu.
Sekali ini kedua perwira tersebut bukan hanya merasakan tangannya linu, juga kuda2 mereka ikut tergempur karenanya dan terpentallah kedua perwira itu kebawah gerobak.
Tetapi dengan suatu gerakan yang indah mereka dapat menguasai jatuhnya mereka ditahan, sehingga tidak sampai terbanting dan jatuh dengan kedua kaki terlebih dulu.
Di pihak lain.
Cie Beng dan Cie Jin juga terkejut sekali.
Tenaga kedua perwira itu ternyata tidak dapat diremehkan.
Sepengetahuan mereka, kecuali dalam pasukan pengawal raja dan tentara keamananan kota raja, dalam pasukan2 lain dari ang katan bersenjata bangsa Boan, biasanya tidak ter dapat orang2 yang memiliki kepandaian silat tinggi.
Tetapi kedua perwira itu agaknya adalah pengecualiannya.
Didalam bentrokan senjata yang terakhir itu mereka memang telah berahsil menggempur kedua perwira itu, sehingga jatuh dari atas gerobak, terapi sebaliknya sendiri juga terhuyung mundur dan harus melompat mundur dan harus melompat turun agar tidak jatuh terperosok.
Setibanya diatas tanah, kedua saudara Cie segera melompat pula kearah kedua musuh itu yang juga sudah meoggerakkan golok masing2 Dengan ber sama2 berada ditanah.
kedua belah pihak jadi berhasil mengerahkan seluruh tenaganya, sehingga benturan2 senjata yang se ring terjadi sekarang sudah tentu jauh lebih hebat dari tadi.
Jurus demi jurus telah dilewatkan dengan cepat dan semakin lama Cie Beng dan Cie Jin Semakin menjadi heran dibuat Oleh kepandaian yang dimiliki kedua perwira ltu Itulah tipu silat dari kaum Siauw Lim Sie yang dipergunakan kedua perwira tersebut, Mengapa perwira2 Boan itu dapat bersilat dengan ilmu Siauw Lim Sie?
Siapakah yang telah menurunkan kepandaian Siauw Lim Sie itu kepada mereka Bukankah dalam Siauw Lim Pai terdapat aturan yang yang keras sekali, yang melarang diajarkannya ilmu silat partai itu ke pada sembararg n orang?
Dan bukankah orang2 Siauw Lim bermusuhan keras dengan pe nerintah Boanceog atau se -tidak2nya tidak sudi membantunya?
Memang, memang aneh bahwa kedua perwira Boan itu dapat bersilat dengan ilmu silat Siauw Lim.
Tetapi disaat itu Cie Beng dan Cie Jin tidak memiliki waktu untuk memikirkannya.
Mereka menyadari bahwa untuk menghindarkan petani2 itu dari kerusuhan lebih hebat, mereka harus cepat2 merubuhkan perwira tersebut.
Disaat itu"
Mereka sudah bertempur lebih dari sepuluh jurus, dan perwira2 itu agaknya masih akan dapat mempertahankan diri sampai dua atau tiga puluh Jurus lagi ?
Cie Beng jadi tidak sabar.
Dicabutnya pisau mustikanya dan dia menganjurkan adiknya melakukan hal yang serupa agar secepatnya mereka dapat menyudahi pertempuran itu.
Benar saja, didalam sekejap mata sudah terjadi perolahan.
Seketika terjadi benturan senjata sekali lagi serentak pucatlah wajah kedua perwira itu.
Disaat bertempur dengan senjata utuh tadi mereka sudah kewalahan dan terdesak bebat, tentu saja kini semangat mereka jadi runtuh, setelah memperoleh kenyataan bahawa golok mereka tinggal .sepotong akibat terbentur pisau pendek kedua pemuda itu.
Kalau dapat mereka sudah hendak rnembalikkan tubuh dan lari tunggang langgang untuk menyelamatkan diri.
Tetapi Cie Beng dan Cie Jin tentu saja tidak mau memberikan kesempatan waktu kepada mereka.
Terdorong oleh perasaan ingin mengetahui dari siapa perwira2 itu telah memperoleh ilmu silat Sauw Lim Sie, maka besar sekali hasrat mereka untuk menawan keduanya hidup2.
Dan mereka bermaksud akan rremaksa kedua perwira itu untuk memberikan keterangan.
Dengan buntungnya senjata2 musuh, maka kedua pemuda she Cie itu sudah tidak membutuhkan lagi2 pisau pendek mereka, yang lalu di sarungkan kembali, Serangan2 mereka kini dilanjutkan dengan sebelah tangan memegang pedang untuk mencegah musuh melarikan diri, sedangkan tangan yang satu lagi, yang tidak bersenjata itu.
terus mene rus mencari sasaran dijalan darah kedua musuh itu.
Dapat dibayangkan betapa sibuknya kedua perwira itu, yang kini harus mengandalkan kelincahannya untuk menyelamatkan jiwa dan di rl dari pedang dan jari tangan lawannya yang tiada hentinya mengancam disekeliling dirinya.
Terpaksa mereka main kelit terus menerus krsana kemari, tetapi senjata dan tangan lawan nya terus mengikutinya kemana saja mereka me lompat.
Tidak berselang beberapa lama lagi, napas mereka sudah memburu keras dan sekujur tubuh mereka sudah basah kuyup oleh keringat.
Kelincahan mereka juga surut dengan cepatnya dan sebelum lewat lima jurus pula, rubuhlah mereka sudh, terkena totokan di HongTie Hiat dibelakang kepala masing2.
Cie Beng segera melompat kembali kearah gerobak tadi untuk menghadapi perwira ketiga!
itu, yang kini tinggal seorang diri memimpin perlawanan pasukannya.
Sebaliknya Cie Jin cepat2 kembali kegelangang pertempuran, dengan kepandaiannya, dalam seke jap mata dia sudah berhasil merubuhkan kurang lebih Sepuluh pasukan tentara negeri.
Tentara Ceng itu menjadi kacau balau.
Dari kereta komando sudah tidak terdengar perintah2 dan petunjuk2nya lagi.
Disamping itu, lewat lobang dalam garis2 pertahanan mereka yang disebabkan terjangan!
Cie Jin, para petani sudah ber-bondong2 menyefrbu masuk, untuk kemudian menggempur mereka!
dari belakang.
Garis pertahanan mereka tidak dapat dipertahankan lagi.
Pasukan itu kini sudah tidak dapat bertempur bahu membahu lagi dengan teratur dan lenyap lah sudah keunggulan mereka.
Para petani itu memang sudah membercl pemerintahan Boanceng.
Namun selama itu kebencian tersebut terpaksa mereka timbun dihatl belaka.
Kini mereka memperoleh kesempatan uutuk memuaskan hati mereka, dan mereka telah menumpahkan seluruh amarah mereka diatas kepala tentara yang mengawal kereta perbekalan rangsum itu.
Terlebih lagi, diawal pertempuran tadi mereka sudah harus kehilangan begitu banynk kawan.
Hal itu tentu saja memperbesar dendam mereka .
Dengan darah mendidih sekarang mereka menyerang tanpa mengenal ampun.
Setiap pasukan Boan yang sudah rubuh segera dihabiskan jiwanya.
Dengan nekad tentara Boan itu melakukan perlawanannya.
Tetapi mereka tidak dapat melakukan banyak.
Dengan terjepit diantara serangan2 dari muka dan dari belakang dengan cepat berkuranglah jumlah mereka.
Terjangan2 rakyat yang sudah kalap itu benar2 sulit dibendung lagi.
Jika salah seorang diantara petani2 itu rubuh.
maka segera sudah datang pula dua atau orang penggantinya.
Disamping itu.
pasukan tentara tersebut te lah melakukan perjalanan sepanjang pagi, sehingga waktu itu mereka sudah agak letih dan tidak dapat bertempur dengan semangat penuh.
Dipihak lain, waktu melihat kemenangan sudah berada dalam jangkauan tangan, petani2 itu menjadi semakin bersemangat saja.
Sambil ber-teriak2 mencari hebat, mereka menghujani musuh mereka itu dengan perkataan, yang terpecah menjadi kelompok2 dan melancarkan serangan2 yang kian hebat.
Petani2 itu sudah mabok pertempuran, setiap melihat seragam tentara Boan didepan mata serta merta mereka dihujani bacokan atau pu-kulan2 hebat, tidak perduli apakah pemakai seragam itu masih berdiri atau sudah terlentang ditanah.
Ratap mengibakan dari para pasukan itu sudah tidak bisa bertempur lagi, yang minta dikasihani, malah mendatangkan ejekan dari para petani yang melancarkan serangan dan mengirimi mereka kedunia abadi.
Begitulah, mereka tanpa ampun lagi telah melancarkan serangan2 yang mematikan kepada pasukan tentara negeri tersebut.
Sementara itu Cie Beng sudah berhadapan dengan perwira yang ketiga itu.
Melihat tanda pangkat yang dipakainya Cie lieng mengetahui bahwa perwira iiu memiliki kedudukan lebih tinggi dari kedua perwita yang lelah dirubuhkan.
Dan dengan berdasarkan pertimbangan atas kepandaian kedua perwira yang telah dirubuhkan tadi.
Cie Beng memperhitungkan bahwa dia akan menjumpai lawan yang lebih hebat kepandaiannya.
Sebagai atasan dari kedua perwira yang telah dirubuhkan itu, teutunya perwira itu berkepandaian jauh lebih tinggi, begitulah yang dipikirkan oleh Cie Beng.
Begitulah, karena dia mengharapkan akan dapat memperoleh kemenangan yang cepat dia jadi melancarkan serangan dengan hati2 dan bersungguh2.
Tidak mau Cie Beng berlaku ceroboh se-hingga memperoleh kegagalan untuknya.
Tetapi sesaat kemudian dia jadi heran bukan main ketika melihat cara musuh menggerakan goloknya untuk menangkis Cie Beng jadi curiga.
Siasat apa yang hendak dijalankan lawannya tersebut?
Sudah tentu dia tidak bersedia menjadi korban, maka serangan yang kedua Cie Beng bersikap jauh lebih hati2.
Sekali ini dia bahkan jadi lebih heran pula Sungguh aneh sikap lawan itu, yang hanya berdiri mematung tanpa berusaha berkelit atau menangkis serangannya yang begitu hebat.
Lebih heran lagi, jusreru serangan kedua ini jauh lebih dahsyat dari serangan yang pertama.
Cie Beng sendiri jadi kuatir.
Dari gurunya dia pernah mendengar bagaimana jago2 silat yang berkepandaian tinggi sekali, seringkali membiarkan musuh melancarkan serangar lebih dulu dan baru bertindak untuk berkelit, menangkis ateu bahkan merampas sen jata musuh itu, kalau sudah dekat sekali ditubuhnya.
Dengan cara begitu jago2 yang telah memiliki kepandaian sempurna menghendaki agar, pihak musuhnya tidak sempat menarik pulang serangannya lagi.
Dalam kekuatirannya, Cie Beng cepat2 membatalkan maksudnya untuk menyerang.
Ditariknya kembali pedangnya, lalu sambil menghunus pedang pendeknya yang Sangat diandalkan.
Setelah itu dia baru melancarkan serangan lagi.
Sekarang Cie Beng tidak takut lagi akan siasat musuh Tangannya yang kanan kini sudah memegang senjata mustika itu dan sudah ber siap2 untuk menghalau setiap serangan licik yang mendesak dari lawannya.
Sesaat kemudian, dia menjadi kecewa, tetapi juga lega.
Serangannya yang ketiga itu telah dilakukan dengan tipu Tai San Ap Teng (Gu tiung Tai San rubuh diatas lentera).
Hebat seka li Tangan untuk membelah kepala itu, dan musuhnya juga berusaha berkelit sambil melintangkan goloknya keatas kepala.
Tetapi musuh itu ternyata hanya paham ilmu silat pasaran dan tenaganya juga lemah.
Golok yang dilintas kan untuk menangkis itu ternyata tidak dapat menahan pedang Cie Beng yang se akan2 tidak meneima rintangan meluncur terus kearah kepalanya.
Gerakannya menyamping juga Sangat lambt sehingga perwira itu tidak sempat berkelit dari pedang pemuda itu, walaupun kepalanya lolos dari serangan tersebut.
Rubuhlah perwira itu yang tadi diduga oleh Cie Bing memiliki kepandaian tinggi, dengan kehilangan sebelah tangannya.
Kekecewaan Cie Beng disebabkan kenyataan bahwa dia ternyata belum dapat membedakan an tara yang sungguh2 berisi dengan yang kosong.
Tetapi disamping itu dia jadi puas dan terhibur, karena dengan merubuhkan ketiga perwira itu, yang berarti pula terhindarnya ber puluh2 petari dari kematian.
Dengan demikian, dia telah tidak men-sia2kan pesan gurunya agar rrereka berdua bersaudara selalu membantu meringankan penderitaan rakyat yang tertindas oleh penjajah.
Sesaat kemudian dia bahkan bisa tertawa, rrentertawakan dirinya sendiri yang tadi telah ketakutan tanpa alasan.
Dia menoleh kemedan pertempuran itu dan seketika itu lenyaplah terta wanya, bahkan dia jadi menggigil.
Walaupun dia telah sering mengalam pertempuran2 hebat dimana juga tidak sedikit darah mengalir, tetapi pemandangan yang kini nyambut pandangan matanya, tidak dapat tidakmembuatnya merasa seram Itulah benar2 pembasmian besar2an tanpa mengenal ampun lagi, suaru ledakan dari I keben cian yang telah dapat tertimbun dldalam hati rakyat terhadap penindas2nya.
Dia sendiri juga sangat membenci pemerintah Boan dengan semua pengikutnya Tetapi disaat itu dia merasa kuatir juga terhadap pasukan yang kini sedang menghadapi pembalasan atas keganasan mereka dimasa yang lampau.
Ingin sekali dia mencegah petani2 Itu melakukan kekejaman lebih banyak lagi, tetapi iapun menginsafi, bahwa disaat demikian tidak ada gunanya untuk berusaha menyabarkan petani2 itu.
Jika dia bertindak, malah besar sekali kemungkinannya bahwa diduga berpihak kepada penjajah, dan mengalami peristiwa yang tidak menggembirakan Dengan kepandaiannya dia memang tidak perlu takut dikeroyok petani2 itu, yang tidak memiliki kepandaian apa2, tetapi juga dia memang tidak mau jika harus saling bentrok dengan para petani itu Tiba2 disaat itu terdengar teriakan Cie Jin.
Jangan!"
Serunya "Jangan dibunuh, orang2 itu masih kubutuhkan mengorek keterangan !
Cie Beng menoleh dengan terkejut dan dia jadi semakin kaget ketika melibat kurang lebih sepuluh orang petani dengan kalap tengah menghujani kedua perwira itu yang dalam keadaan tertotok olehnya dan adiknya, dengan bacokan2 dan pukulan2.
Cepat2 dia hendak mencegahnya perbuatan petani-itu, tetapi ternyata sudah terlambat, begitupun juga dengan Cie Jin.
Baru saja Cie Jien dan Cie Beng menggerakkan kaki, petani2 itu sudah memotong kepala kedua perwira yang tidak berdaya itu.
Selesailah sudah pertempuran itu, dengan terbasminya seluruh pasukan Boan yang berjumlah kurang lebih seratus orang itu.
Tetapi rom bongan petani itu sendiripun bukannya keluar sebagai pemenang dengan mudah.
Sebagai terlihat oleh banyaknya kawan2 me reka yang rebah ditanah tanpa dapat bangkit kembali.
Lebih kurang separuh dari petani2 itu telah tiiati atau menderita luka2 parah.
Dengan selesainya pertempuran itu, segera, redalah amarah mereka.
Kini mereka berbalik jadi sedih melihat begitu banyak kawan2 yang telah menjadi korban pertempuran bahkan tidak sedikit yang mengucurkan air mata tanpa malu2.
Sekian lama mereka berdiri tertegun, terpaku ditempct mereka masing2, terpengaruh oleh perasaan yang tengah bergolak dihati mereka.
Sesaat kemudian mereka telah disadarkan oleh suara Cie Beng ;
"Saudara2, janganlah membiarkan dirimu tersesat arus kesedihan. Sebaiknya kita cepat2 mengurus jenasah kawan2 yang telah gugur dan berusaha menolong kawan2 yang terluka."
Pemuda itu sendiri, bersama dengan adiknya, sebenarnya juga baru dapat menguasai perasaannya.
Tetapi sebagai orang2 yang sudah lebih sering menghadapi peristiwa -hebat, mereka bisa lebih dulu memenangkan hati yang tergoncang itu.
Dengan kembalinya pikiran tenang itu mereka segera mengerti bahwa petani2 itu kini menghadapi bahaya lain.
Pemerintah Boan tentu tidak akan berpeluk tangan, jika sudah mendengar tentang peristiwa Itu.
Mereka tentu akan melakukan pembalasan yang jauh lebih kejam.
Kedua saudara kembar Cie dapat membayangi kan nasib apa yang akan menimpa petani' dise kelilingnya itu kelak.
Karena itu, mereka memutuskan untuk berusaha membantu menyelamatkan petani2 itu.
Setelah disadarkan kata2 sipemuda, petani2 itu cepat2 mengumpulkan kawan2 mereka yang terluka.
sebagian dari mereka segera pergi ketepi sungai, menebang cabang2 pohon yangliu untuk di buat usungan darurat.
Yang lainnya menggali lobang ditanah untuk mengubur mereka yang telah gugur.
Setelah menantikao selesainya semua pekerjaan itu, Cie Beng dan Cie Jin menghampiri berapa petani tertua dari rombongan itu, yang agaknya bertindak sebagai pemimpin.
Mereka menanyakan mengapa petani2 itu m lakukan penghadangan seper ti itu terhadap irin_ an kereta pemerintah Boan, sebuah penghadan an yang berbahaya sekali.
Petani2 itu memandang mereka dengan heran beberapa saat.
Melihat cara berpakaian kedua pemuda itu yang bersih dan rapih, walaupun pakaiannya menyerupai mereka, namun berbeda sekali keadaannya.
Karena mereka kotor dan banyak yang telah pecah2 pakaiannya tidak karuan.
Semula mereka menduga bahwa Cie Beng dan Cie Jin berasal dari petani desa tetangga yjng datang untuk membantui mereka.
Tetapi setelah mendengar pertanyaan Cie Beng dan Cie Jin, maka tabulah mereka bahwa kedua pen-uda tersebut hanya kebetulan tiba di tempat tersebut dan secara sukarela membantui mereka.
Tegasnya kedua pemuda itu bukan berasal dari daerah sekitar tempat itu.
Walaupun sudah mengetahui bahwa kedua pemuda itu bukan penduduk daerah mereka, sikap petani2 itu tidak berobah, bahkan menjadi hormat sekali, mengingat budi dari kedua pemu da itu, yang sebagai orang2 tidak dikenal tetapi telah mau memberikan bantuan mereka walaupun mereka berdua tidak memiliki kepentingan apa2 didalam peristiwa tersebut.
Mereka menginsafi bahwa tanpa pertolongan kedua pemuda gagah ini, mereka tentu sudah mengalami malapetaka yang tidak kecil dan maksud mereka pasti akan gagal sama sekali.
Saat itu, mereka ingat bahwa atas pertolongan yang tidak ternilai harganya itu, mereka belum menghaturkan terima kasihnya.
Bagaikan sudah berjanji lebih dulu, mereka serentak menjatuhkan diri, berlutut menghatur kan terima kasih, sehingga Cie Beng dan Cie Jin jadi sibuk membangunkan mereka.
"Cuwie Sioksiok (paman2 semua), jangan berbuat begitu. kami yang masih muda, tidak berani menerima penghormatan demikian"
Kata keduanya berbareng. Setelah itu salah seorang petani, yang bertindak sebagai juru bicara, mecceritakan duduk nya persoalan.
"Sejak dulu kami petani2 memang tidak pernah hidup makmur, walaupun demikian, kami masih dapat menuntut hidup yang layak, tidak perlu kelaparan dan dapat berpakaian utuh, walaupun segalanya serba sederhana. Tetapi sejak kurang lebih dua puluh tahun yang lalu, hidup kami semakin lama semakin sengsara dan menderita, dan empat tahun terakhir ini keadaan kami sudah hampir tidak tertahankan lagi*.
"Semua itu tidak lain hanyalah karea pajak2 yang dipungut atas hasil pertanian kami Setiap tahun terus dinaikkan. Tahun yang baru lalu itu, kami harus menyerahkan hampir dela pan sepersepuluh bagian dari hasil jerih payah kami, Jiewie Hohan tentu dapat memahami a-kibatnya bagi kami. Perbekalan bahan makan de mi Kian sedikit itu bagaimana bisa cukup untuk kami hidup setahun, Tetapi itu masih belum puncaknya.' "Mungkin karena mengalami nasib sebagai kami, diawal bulan lalu. petani2 suku bangsa Biauw dipropinsi Kwiciu telah bangkit dan ber hasil mengusir kaum penjajah itu dari beberapa daerah. Contoh mereka itu segera memperoleh sambutan dari para petani di Ouwlam barat-yang dalam waktu beberapa hari saja sudah dapat menguasai berbagai kota dan kabupaten Ke dua peristiwa itu telah membuat pemerintah Boan kelabakan"
"Dari berbagai propinsi segera dikirimkan lah bantuan tentara untuk menindas pemberon-takan itu. Tetapi mereka menghadapi suatu kesulitan. Mendatangkan tentara itu tidak sulit, tetapi memberi makan tidaklah mudah."
Gudang bahan makanan pemerintah dipropinsi yang bergolak itu hampir seluruhnya sudah jatuh kedalam tangan pemberontak Sehingga untuk memberi makan kepada tentara yang baru didatangi itu, harus didatangkan bahan makanan dari daerah2 lain."
"Hanya sulitnya sebagian besar dari persediaan yang diperoleh dari hasil pemungutan pajak itu sudah dikirim ke daerah2 perbatasan untuk mengisi perut tentara yang bertugas disana. Mengenai kesulitan ini si tua bangka Kian Liong maupun menteri2nya tidak mau memusingkan kepala, Sun Bu-Sun Bu (gubernur) yang ada di Ciatkang, Anhui, Ouwpak dan Sucwan telah diperintahkan selekasnya mengirimkan bahan makanan kepada tentara yang sudah berada didaerah pemberontak itu' "Kukira Skobu Sunbu itu per-tama2 tentu bingungan setengah mati. Apa yang dapat mereka kirimkan, sedangkan gedung2 dipusat pengu pulan padi pajak itu sudah kosong?"
"Kemudian entah dari siluman siapa lagi Sunbu di Ouwpak memperoleh nasehat untuk mengalihkan kesulitannya kebahu rakyat jelata. Persediaan bekas kami, yang sudah jelas tidak cukup untuk keperluan kami sendiri tiba2 kami serahkan pula sebagaian besar. Dari berbagai kabupaten telah ramai2 dikirim utusan untuk menjelaskan betapa tidak mungkin hal itu. Tetapi jawab si Sunbu, yang biasanya menginjak yang bawah dan menjilat yang diatas itu, ternyata hanyalah ancaman belaka, bahwa dia akan me ngambil tindakan keras kalau kami belum menja lankan perintahnya dalam waktu tiga hari".
"Tentu saja kami jadi bingung bukan main. Kalau kami mentaati perintah Sunbu, kami tentu akno menderita kelaparan. Sebaliknya, kalau tidak dituruti, Sunbu kejam itu tentu akan mem buktikan ancamannya. Beberapa orang diantara kami, yang berdarah panas, menganjurkan agar kami segera mencontoh saja saudara2 di Kwiciu dan Ouwlam barat itu".
"Tetapi yang dapat berpikir panjang tidak setuju dengan usul itu. Memang letak daerah ka mi tidaklah sama dengan daerah saudara2 bangsa Biauw dan saudara2 di Ouwlam barat itu. Dae rah mereka ialah daerah pegunungan yang lebihsuilit dicapai, sedangkan kami berada dipusat perhubungan lalu lintas seluruh negeri. Kalau ka mi angkat senjata, pemerintah Boan dengan cepat akan mengirimkan tentaranya untuk menumpas kami".
"Sedangkan kami masih belum dapat memutuskan tindakan apa yang akan kami ambil. tiba2 datanglah pegawai2 Sunbu dengan dikawal oleh bebeiapa puluh pengawal tentara propinsi, Sunbu itu rupanya kuatir kami akan berusaha menyembunyiKan persediaan beras kami, maka sebelum lewat batas waktu yang telah ditentukan sendiri, dia sudah buru2 mengirimkan orang untuk mengambil beras kami tanpa menanti kami datang menyerahkan sendiri."
"Karena kedatangan mereka yang begitu mendadak, dan juga kami sedang pemikiran akal untuk mengatasi kesulitan itu, maka kami tidak dapat berbuat lain dari diam saja mereka! mengangkut pergi beras kami, walaupan hati kami pedih sekali ."
"Yang lebih menyedihkan, bahwa kaki tangannya Sunbu itu telah melampaui perintahi Sunbu, yang mereka ambil lebih banyak dari yang ditetapkan semula, yang ditinggalkan untuk kami makan hanya beberapa gantang saja."
Peristiwa itu telah terjadi seminggu yang lalu dan beras yang mereka tinggalkan kini hanya tinggal cukup untuk kami makan sampai lusa, karena kami disini umumnya memiliki keluarga yang besar".
Kini kami semua sudah yakin, bahwa tidak ada jalan yang lebih baik dari mengikuti contoh saudara2 di Kwiciu dan Ouwlam itu apapun akibatnya kelak, Tidak melawan kami akhirnya tetap akan mati juga, mati kelaparan dan dari mati secara demikian, lebib baik kami mati dibawah senjata yang lebih cepat dan kalau dibandingkan jadi lebih sedikit penderitaan kami".
"Kemarin ada beberapa saudara dari desa Ini yang pergi kekota kabupaten, dibalik bukit2 disebelah utara itu. Mereka kembali dengan mem bawa berita bahwa sepasukan tentara Boan yang berkekuasaan kurang lebih seratus orang telah tiba disana untuk mengambil bahan makanan yang baru terkumpul itu dan pagi ini akan berangkat".
"Jalan satu2nya yang terdekat dan tercepat jika hendak menuju propinsi Kwiciu ialah melalui desa kami ini, maka kami telah memperhitungkan bahwa lebih kurang tengah hari iring2an itu tentu akan lewat disini".
"Dalam keadaan sudah demikian terjepit, kami segera bersepakat untuk menghadang dan merampas kembali beras kami itu.
"Hampir seluruh laki2 didesa ini menyedia kan dirinya untuk maksud nekad itu, dengan ke simpulan babwa pemerintah penjajah yang lalim telah memaksa kami mengangkat senjata".
"Hanya beberapa puluh orang yang sangat pengecut dan tidak mau ikut serta".
"Demikianlah, kami sudah sejak beberapa jam yang lalu menantikan kedatangan iring2anl itu ditepi sungai, diluar desa. Tukang2 perahu di tempat penyeberangan itupun semuanya orang2 desa ini dan mereka semua sudah menggabungi kan diri dengan kami. Perahu2 mereka telah di sembunyikan disuatu tempat yang sunyi, beberapa lie dari tempat ini".
"Maksud kami melakukan penghadangan itu diluar desa ialah agar kelak kami dapat menyangkal bahwa kami telah campur tangan dalam rampasan rangsum itu. Apa yang terjadi selanjutnya, jiewie telah mengetahui sendiri". Setelah mendengar keterangan panjang lebar itu, Qe Beng dan Cie Jin hanya berdiam diri selama beberapa saat. Kisah menyedihkan itu benar2 mempengaruhi pikiran dan jiwa mereka. Mereka kini dapat memahami amarah petani2 itu yang begitu me-luap2 tadi. Tidak dapat mereka mempersalahkan rakyat yang telah ditindas habis2an itu jika sampai me reka melakukan perbuatan begitu kejam ketika memperoleh kesempatan untuk membalas dendam. Sebaliknya, mereka kini kuatir sekali akan nasib penduduk desa itu. Walaupun petani tua itu telah menjelaskan bahwa perampasan itu sengaja dilakukan diluar desa, agar kelak mereka dapat menyangkal tuduhan ikut sertanya mere ka dalam peristiwa tersebut, tetapi kedua saudara she Cie itu yakin, bahwa desa itu tentu akan menderita akibatnya kelak. Berdasarkan pengalaman2 dimasa lampau, ke dua pemuda she Cie itu sudah mengetahui bahwa pemerintah Boan tidak biasa menanti sampai diperolehnya bukti dulu untuk menjatuhkan hukuman. Karena peristiwa itu terjadi didekat desa teraebut, maka tentu desa itulah yang akan menanggung akibatnya. Kekuatirannya itu segera mereka kemukakan kepada pemimpin petani2 itu.
"Jiewie tidak usah kualir"
Kata orang tua itu sambil tertawa.
"Kecuali jika ada yang memberitahukari pemerintah bahwa peristiwa ini adalah pekerjaan kami, mereka tentu tidak akan rrenuduh kami Rakyat jelata yarg biasa sangat penurut dan tidak berani melawan perintah para pembesar bagaimana bisa melakukan, tindakan sebebat ini ? Diantara kami sendiri tentu tidak akan ada yang mau membocorkan rahasia ini, jiewiepun tentu demikian. Kalau di antara tentara pengawal rangsum itu ada yang tertinggal hidup, mereka tentu akan memberi-kan laporan kepada pemerintah. Tetapi, seorang, pun diantara mereka tidak kami tinggalkan hidup, sehingga siapakah yang akan dapat memberitahukannya kepada pemerintah ?"
"Tetapi pemerintah lalim itu tidak pernah menunggu adanya bukti. Mereka selalu menghukum saja para penduduk didaerah terjadinya setiap peristiwa."
Bantah Cie Beng.
"Akhhh, kukira terhadap kami mereka tidak akan berani bertindak demikian, kami kaum petani, adalah golongan yang memberi mereka makan. Kalau tidak ada kami. siapakah yang dapat menghasilkan beras bagi mereka ? Dikota kota. dimana penduduknya sebagian besar bukan kaum tani, mereka memang' bisa bertindak membuta tuli tanpa kuatir akan terjadinya kemunduran hasil pertanian. Tetapi terhadip ka mi, kukira mereka akan berpikir masak2 lebih dulu."
Kedua saudara itu kini mengerti bahwa apapun yang mereka katakan, petani2 itu tetap tidak akan mau mengerti dan yakin akan kebenaran keterangan mereka itu, berarti hanya sia2 belaka Dan Cie Beng maupun Bie Jin memang tidak bisa memberikan keyakinan akan ancaman bahaya untuk petani2 itu.
Karena itu, mereka hanya menganjurkan agar mereka membentuk suatu badan pertahanan yang teratur, untuk ber Siap2 terhadap segada kemungkinan dan kalau mungkin mengajak desa2 tetangga untuk bekerja sama.
Sementara itu.
pekerjaan penguburan mayat yang berserakan itu telah selesai.
Disaat setiap kuburan kawan mereka ditancapkan tanda2 yaag menyolok, Sekedar untuk dapat dikenali kelak, diwaktu korban itu akan di buatkan kuburan yang layak setelah pemerintah melupakan peristiwa itu Kini untuk sementara waktu, masing2 sebaiknya jangan ada sesuatu yang dapat memberikan petunjuk mengenai ransum itu.
Para pasukan Boan telah pula selesai dikuburkan dalam sebuah liang besar untuk semuanya menjadi satu.
Petani2 yang bertindak sebagai pemimpin itu lalu mengundang Cie Beng dsn Cie Jin untuk beristirahat dan sekedar mengisi perut di rumahnya.
Demikianlah mereka ramai-kembali kedesa dengan membawa beras rampasan itu, yang secepatnya tiba didesa lalu di bagi2kan keseluruh rakyat.
Keluarga2 mereka yang telah gugur diberi kan lebih banyak dari yang lain disertai janji bahwa selanjutnya kebutuhan mereka akan di-pikul bersama oleh seluruh desa.
Kedua saudara Cie sangat terharu melihat cara2 orang desa itu bergotong royong.
Didalam kehidupan yang demikian sulit, mereka masih bisa hidup akur dan ada kekompakan satu dengan yang lainnya.
Dan didalam pikiran mereka sederhana agaknya seperti tidak ada perasaan iri mengiri.
Sungguh kagum Cie Beng dan Cie Jin melihat bagaimana mereka semua rela memberikan bantuan kepada keluarga kawan2 mereka yang telah gugur itu.
Kalau saja semangat persaudaraan dan kegotong royongan itu dapat dipupuk terus dan diperluas, tentu tidaklah sukar untuk mengalahkan penjajah, hanya harus dibuat sayang bahwa unsur2 yang merupakan sumber kekuatan tiada batasnya itu saigat diperluas, sehingga meliputi seluruh negeri.
Makanan yang disuguhkan kepada Cie Ben dan Cie Jin itu oleh para penduduk desa hanya lah makanan sederhana, tetapi kedua saudara she Cie itu sangat menghargai, karena disuguhkan dengan hati rela.
Dalam perjamuan itu sipemimpin rombongan petani sekali lagi menghaturkan terima kasihnya sambil memuji kedua pemuda she Cie itu se tinggi2nya.
Kedua pemuda s'ie Cie itu dipersamakan dengan seorang pendekar lain yang berusia sangat muda dan telah banyak memberikan penaungan kepada rakyat jelata dikabupaten mereka.
Dari nada suaranya, ketika menyebut pendekar muda itu, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa para petani itu menghargai benar pendekar Itu.
dihargai tinggi2 dan menghormati.
Cie Biog dan Cie Jin jadi sangat tertarik sekali dan menanyakan siapakah pendekar itu dan dimana tinggalnya.
"Sungguh menyesal sekali, jiewie, tidak seorangpun diantara kami yang mengetahui nama pendekar itu, sedangkan tempat tinggalnya juga entah dimana. Beliau itu tidak mau memberitahukannya. Tetapi kami, seluruh penduduk kabupaten ini mengenalnya sebagai "Hek Sin Ho" (Si Rase Hitam yang sakti), sesuai dengan kecerdasannya yang luar biasa dan kepandaiannya yang bagaikan malaikat. Dia baru muncul tahun yang lalu. Entah siapa yang pertama sekali memberikannya julukan itu, tetapi dengan cepat namanya sudah menjadi sangat terkenal, bukan hanya dalam kabupaten ini saja, karena perbuatan2 nya itu sangat mulia sekali......", memuji petani itu. Hati kedua saudara Cie jadi semakin tertarik setelah mendengar keterangan itu. Inilah bukan untuk pertama kali mereka mendengar tentang "Hek Sin Ho", Beberapa hari sebelumnya, ditempait lain, mereka telah mendengar orang me-nyebut2 julukan itu. Waktu itu Cie Berig dan Cie Jin baru saja tiba disebuah kota kecil didekat perbatasan An-hui dan Ouw Pek, karena sudah berjalan hampir setengah hari, dan perut sudah agak lapar, mereka telah berhenti disebuah rumah makan. DALAM rumah makan tersebut yang kebetulan sedang ramainya dikunjungi orang, mereka pertama kali mendengar tentang si Rase Hitam yang sakti. Tetapi apa yang mereka dengar itu ternyata lain sekali dengan pendapat para petani di tempat tersebut, karena mereka mendengar justru diwaktu itu si Rase Hitam yang sakti telah melakukan perbuatan terkutuk. Hari itu dikota tersebut tengah gempar karena malamnya telah terjadi pembunuhan atas ketua Cie Liong Pang (Perhimpunan Naga Ungu) yang berpengaruh didaerah perbatasan itu. Menurut keterangan yang kemudian diperoleh oleh kedua saudara Cie itu, ketua Cie Liong Pang itu bernama Ong Kee Cie, bergelar Hui liong Kiam (si Pedang Terbang), adalah seorang wanggwe (hartawan) yang budiman. Tangan Ong Kee Cie terbuka dan setiap Kangouw yang sulit keuangan dalam daerah pengaruhnya tidak pernah tidak diberikan pertolongan olehnya. Tetapi apa sebabnya malam itu, tiba2 si Rase Hitam telah mendatangi rumah Hui Liong Kiam. Ong Wanggwe itu tinggal disebuah gedung besar beisama murid2nya, dan murid2nya itu di kagetkan oleh bunyi gemerincing senjata yang saling bentur ditengah hari. Dan murid2 Ong Wanggwe telah pergi kekamar buku untuk melihat apa yang telah terjadi Ketika murid2 Cie Liong Pang tiba. mereka melihat sesosok tubuh hitam yang melompati keluar, dan mereka cepat menghadangnya. Tetapi dari saat yang sama jendela kamar tidur guru mereka yang terletak disebelah kamar buku, tiba2 terbuka dengan bersuara keras sekali. Menyusul itu Hui Liong Kiam Ong Keel Cie sendiri melayang keluar dengan pedang terhunus.
"Sahabat dari manakah itu yang malam2 berkunjung kemari ?"
Tegurnya dengan suara yang nyaring. Suara itu menusuk telinga dan getarannya! menggoncangkan hati orang yang mendengarnya "Aha!"
Menyahuti tamu tidak diundang itu.
"Kebetulan sekali kau sudah keluar sendiri tua bangkai Aku tidak perlu mencarimu dan dapat menghemat waktu. Dosamu telah melewati takaran, sehingga malam ini kau ditakdirkan datang sendiri menghadap kepadaku untuk menerima hukuman. Namaku tidak perlu kau ketahui sekarang, kalau kau sudah bertolak keneraka tentu kau mengetahuinya sendiri Lihat golokku"
Golok orang itu berkelebat cepat, ditangkis oleh Ong Kee Cie.
Benturan yang terjadi dikedua senjata itu kuat kekali, karena memercikkan api' Sungguh dahsyat bentrokan itu, golok orang tidak dikenal itu tampak menyambar lagi dan hampir mengena dahi Ong Kee Cie.
Dengan gerakan yang indah lawan tidak dikenal itu dapat melancarkan seraigan yang beruntun, dan kini mereka terlibat dalam pertempuran yang seru.
Murid2 Ong Kee Cie jadi hanya memandang belaka dengan mata terpentang lebar2.
Dan selama itu pedang terbang Ong Kee Cie terdesak sekali.
Untuk menyambut serangan ketiga orang itu ia berlaku lebih hati2 dan sikap Ong Kee Cie yang demikian membuat murid2nya mengetahui bahwa lawan Ong Kee Cie memiliki kepandaian yang tinggi sekali.
Suatu peristiwa yang sulit dipercaya telah terjadi.
Dengan gerakan It Ho Ciong Thian (Bu rung Ho terbang kelangit), musuh itu melompat, keudara, menyusul goloknya menyambar tubuh lawannya.
Kelincahannya itu bukan hanya menge jutkan Ong Kee Cie.
tetapi murid2 orang she Ong itu juga jadi takjub.
Sesunggauhnya Ong Kee Cie tidak takut oleh kepandaian lawan, karena dengan mengandalkan tenaga dan pengalamannya.
Namun yang membuat Ong Kee Cie jadi heran, setelah beberapa jurus, ilmu golok lawan nya benar2 membingungkannya.
Dengan pengalamannya yang luas sulit sekali dia mengetahui dari perguruan mana lawannya ini.
Dan walaupun dia mempergunakan se luruh tenaga, sulit baginya untuk merubuhkan lawannya.
Sejurus demi sejurus keadaan Ong Kee Cie jadi semakin buruk dan terdesak.
Saat itu ketika guru mereka sudah hampir tidak bisa bernapas oleh desakan senjata lawan.
murid2 Ong Kee Cie baru menyadari bahwa tadi mereka datang ketempat itu dengan membekal senjata, bukan unluk sekedar menyaksikan jalan nya pertempuran itu.
"Mundur ! Apakah kalian mencari mati "
Teriak Ong Kee Cie kearah muridnya, karena walaupun bagaimana kepandaian lawan terlalu hebat, mungkin muridnya itu satu persatu akan binasa jika maju, sebab dia sendiri yang berkepandaian tinggi tidak sanggup berbuat sesuatu opapun terhadap lawannya, bahkan telah terdesak begitu hebat.
Sambil tertawa, musuh itu ielah menerjang kearah penyerang2 barunya.
Segera terdengar jerit2 kesakitan dan rubuhnya beberapa tubuh yang saling tindih.
' Hujan senjata segera menyambar kearah Ong Kee Cie karena senjata murid2 Ong Kee Cie telah dirampas oleh musuh dan dilontarkan kearahnya.
Ong Kee Cie benar2 ulet sekali.
Walaupun sudah terluka oleh sanberan salah satu senjata yang melanggar bahunya, disusul oleh hantaman tangan lawanoya, namun dia dapat bangkit dan melancarkan serangan lagi.
Tetapi dia belum berhasil befdifi tegak, lawannya telah menghajar dan menekan jalan darah To Tui hiat ditengkuknya, seperti juga menghisap seluruh tenaganya.
"Bangsat tua she Ong, kau tidak mengenal aku, tetapi sebaliknya aku tidak dapat melupakanmu."
Kata orang tidak dikenal itu.
"Masih ingatkah kau akan peristiwa ditempat penyebrangan Kie Hong Ouwlam, empat tahun yang lalu ? Bagi umum kau terhormat, seorang dermawan dan seorang tokoh Bulim yang disegani Tetapi aku mengetahui lebih banyak dari itu Kau tentu tidak menduga rahasiamu akan diketahui olehku, kau manusia serigala-Kau dani murid2mu tentu pernah merdengar Hek Sin Ho itulah julukan yang diberikan sahabat2 kepadaku. Dan kedatanganku untuk meminta pertanggungan jawabmu terhadap perbuatanmu yang, lalu itu, yang sempat kusaksikan sendiri."
Sekilas sinar golok telah berkelebat disusul dengan melayangnya sesosok bayangan hitam ke atas dinding pekarangan.
Ditempat yang baru ditinggalkan Hek Si Ho hanya tertinggal sesosok tubuh orang yang terlentang diam.
Gemparlah murid2 Ong Kee Cie.
Tetapi murid2 Ong Kee Cie tidak berdaya untuk melaku kan sesuatu terhadap lawannya tersebut, yang pergi dengan gesit sekali.
Keesokan peristiwa yang menggemparkan Itu telah melanda kota tersebut, dan murid kepala Ong Kee Cie telah mengirim saudara2 seperguruannya keselutuh pelosok kota untuk, memanggil semua murid Cie Liong Pang.
mengadakan rapat kilat atas kematian guru mereka.
Tetapi perundingan itu tidak menghasilkan apa2.
karena mereka 'menyadari musuh terlalu hebat.
Siapa Sesungguhnya Hek Sin Ho?
Mengapa dia bermusuhan dan membinasakan Ong Kee Cie Peristiwa apakah di Kie Hong yang di-sebut2 oleh Hek Sin Ho?
Tidak seorangpun diantara mereka yang berhasil menjelaskannya.
Itulah cerita yang dldengar oleh Cie Beng dan Cie Jin.
Cie Beng dan Cie Jio juga jadi tertarik dan heran karena si Rase Hitam seperti segan menyebutkan she dan namanya yang sesungguhnya, hati mereka benar2 jadi tertarik untuk menyelidiki hal ikhwal tokoh baru dalam kalangan Kangouw ini, yang kelakuannya penuh rahasia Tetapi karena mereka masih memikul beban dan tugas berat mencari adik seperguruan mere ka yaitu Ouw Ho.
maksud untuk menyelidiki si Rase Hitam ditangguhkan dulu.
Sudah enam tahun mereka mencari Ouw Ho, tetapi hasilnya tetap nihil.
Selesai makan Cie Beng dan Cie Jin telah berpamitan kepada petani2 itu.
Tidak lama kemudian mereka telah tiba dikota kecil, untuk mengisi perut, dan kemudian tidur dengan nyenyak, karena bermaksud besok menanyakan perihal Ouw Ho atau setidaknya Hong It Hoa kepada anggota2 cabang Ang Hwa Hwe dikota tersebut.
Perbuatan seperti itu memang telah ratusan kali dilakukan mereka diratusan kota dan kampung, tetapi hasilnya tetap nihil.....
Disamping itu, besok siang merekapun ingin menanyakan perihal Hek Sin Ho jago yang baru muncul dalam rimba persilatan, tentu anggota Ang Hwa Hwe ditempat tersebut telah men dengar sepak terjangnya Hek Sin Ho........---oodwoo--DESA Pek Houw Cun merupakan desa kecil Letaknya dibalik bukit2 kurang lebih empat puluh lie dari kota kecil itu, dimana Cie Beng dan Cie Jin sedang tidur.
Desa itu benar2 desa tidak berarti, karena disamping tidak penting juga penduduknya hanya sekitar lima ratus jiwa.
Sejak matahari terbenam dikaki langit barat, ber-turut2 telah datang kelompok2 orang asing yang terdiri lima atau sepuluh orang.
Itu lah suatu kejadian yang agak luar biasa.
Mereka yang tiba disambut oleh seseorang yang bersembunyi di-semak2 dipinggir jalan dengan kata2 .
"Berkah Tuhan !"
"Dunia Aman !"
Sabut tiap kelompok.
Jelas itulah kata2 sandi.
Mereka adalah anggota2 Pek Lian Kauw dan kata2 sandi tadi memang merupakan semboyan perhimpunan rahasia tersebut.
Desa terpencil dan sunyi itu telah cukup lama menjadi markas cabang Pek Lian Kauw.
Malam itu akan diadakan rapat penting.
Pimpinan di Anhui telah mengirim beberapa orang untuk memberikan keterangan mengenai rencana persiapan untuk melancarkan pemberontakan besar2an.
Rapat itu diadakan disebuah rumah yang sangat besar didesa tersebut.
Rumah itu milik seorang anggota pimpinan setempat, yaitu Tong Keng Hok.
Orang she Tong tersebut memiliki kepandaian silat yang tinggi.
Dengan memiliki kekayaan dan juga menjalankan beberapa pekerjaan untuk perkumpulannya, cepat sekali dia memperolah kedudukan penting Kurang lebib satu jam sejak tibanya rombongan pertama, telah tiba semua anggota yang diundang.
Ruang besar dirumah itu telah penuh.
Kurang lebih tiga ratus orang.
Seorang wakil pusat segera naik kemimbar.Dengan panjang lebar dia membentangkan maksud tujuan pergerakan mereka.
Dikatakan nya, setiap anggota harus berusaha memperoleh kepercayaan rakyat.
---oo0dw0oo--
Jilid 7 SELANJUTNYA dikatakan bahwa Pek Lian Kauw telah melakukan tugas suci yang telah diperintahkan Thian (Tuhan) mengusir penjajah boan dan mendirikan kembali kerajaan bangsa sendiri.
Tetapi kalau mereka bekerja tanpa rencana akan sia2 saja usaha mereka.
Demi untuk terlaksananya maksud mereka, maka mereka harus sudah memiliki gambaran yang jelas mengenai kerajaan yang akan mereka bentuk kepada siapa mereka memberikan kesetiaan.
Pimpinan pusat di Anhui telah membuat beberapa keputusan penting.
Mereka menetapkan untuk mendirikan kembali kerajaan Taibeng tiauw.
Dan pimpinan pusat telah berhasil menemukan seseorang yang masih memiliki sangkutan darah dengan keluarga raja Tai-Beng-lauw Ditetapkan orang itu akan menduduki tahta.
Orang itu bernama Ong Kwat Seng dan kini sudah berada dimarkas pusat dikeresidenan Hong Yang Hu, dipropinsi Anhui.
Tepuk tangan riuh mengiringi wakil dari pusat itu.
turunlah dia dari mimbar.
Tiba2 dari sudut ruangan terdengar seseorang minta diberi kesempatan mengutarakan pendapatnya.
Seorang pemuda tinggi kurus tampak bangkit dari tempat duduknya.
Orang itu tampak masih muda sekali mungkin belum dua puluh tahun, Kulitnya hitam kelam, wajahnya buruk dan tidak sesuai dengan pakaiannya sebagai siucai, pelajar.
Orani2 yang belum mengenalnya hanya heran melihat usianya masih begitu muda.
"Tuan2 dan saudara8 sekalian, uraian tua wakil dari pusat sebagian memang tidak dapat di sangkal kebenarannya, tetapi sebagian pula kurang tepat"
Katanya "Yang tidak salah, memang kita berjuang untuk rakyat, untuk membebaskan tanah air dari penjajah dan membela rakyat yang tertindas, Setiap orang yang berjiwa patriot sejati tentu setuju.
Keputusan yang diambil pusat untuk mendirikan kerajaan Beng justru yang tidak tepat.
Mengapa kita harus membangun kembali kerajaan Beng?
Apakah kita tidak dapat mendirikan dan membangun kerajaan lain?
Bukti yang ada, sampai tanah air kita ditelan penjajah karena salah urus dari raja2 Beng, setelah dari Cu Goan Ciang dan Eng Lok Kun."
Seketika gemparlah orang2 yang berkumpul di ruang tersebut.
Beberapa orang wakil pusat tidak puas, mereka tersinggung oleh bantahan pemuda itu.
Segera salah seorang berbisik kepada Hian Seng Cu.
menanyakan siapa pemuda itu, dan apa kedudukannya dalam lingkungan Pek lian Kau setempat.
Hian Seng Cu sendiri tidak mengenal siapa pemuda itu.
Dan mereka tambah heran karena tidak seorangpun diantara anggota Pek Lian Kauw mengenal pemuda itu.
Hian Seng Cu seeera bangkit.
"Siangkong, sebelum kau bicara lebih jauh, aku ingin sekali mengetahui siapakah kau dan apa kedudukanmu dalam lingkungan kita? Mengapa kita belum pernah berjumpa?".
"Kedatanganku hanyalah disebabkan aku seorang Han, dan berkepentingan dalam urusan besar seperti ini. Aku bisa disebut Hek Sin Ho."
Sudah tentu jawaban pemuda itu menggemparkan orang2 disitu.
Peraturan dalam perkumpulan rahasia seperti Pek Lian Kauw itu biasanya sangat keras dan setiap orang yang bukan anggota yang berani menyelundup masuk, tentu akan ditangkap dan dihukum sebagai mata2.
Tetapi menghadapi si Rase Terbang yang Sakti mereka jadi ragu2.
Oieh karena pemuda itu, Hck Sin Ho telah dipuja oleh seluruh rakyat Ouwpak sebagai malaikat dan sangat dikagumi.
Hian Seng Cu tersadar disaat keadaan jadi kacau berisik, dia mengetuk2 meja dengan keras untuk menenangkan keadaan.
"Siangkong, menurut pengakuanmu kau bukan anggota Hek Lian Kauw. Kami memiliki larangan jika bukan anggota tidak dapat hadir dalam rapat kami dengan diam2,"
Kata Hian seng Cu.
"Tetapi perjuangan yang tuan2 tengah lakukan untuk kepentingan membebaskan tanah air dari penindasan penjajah. Kukira itu sudah menjadi tugas seluruh rakyat. Dan sebagai rakyat Han, tentu akupun memiliki hak untuk ikut memikirkan dan menyumbangkan teraga. Perjuangan yang kalian lakukan adalah untuk kepentingan rakyat, tetapi sudahkah tuan2 mengambil keputusan dengan memintai pendapat rakyat dulu? Dan tuan2 bisakah menganggap aku sebagai wakil dari rakyat jelata...."
Kata2 Hek Sin Ho dipotong wakil dari pusat yang kuatir bahwa Hek Sin Ho bisa merobah pendapat para anggota Pek Lian Kauw yang hadir "Saudara2, jangan mendengarkan perkataannya, orang ini tentu mata2 pemerintah yang sengaja datang untuk mengacau rapat yang kita adakan.
Tangkap dia dan hukumlah sebagaimana mestinya".
Wakil pusat belum pernah mendengar perihal Hek Sin Ho tetapi anggotd Pek Lian Kauw setempat telah mendengarnya.
Mereka takut dan jeri untuk nama besar Hek Sin Ho, sehingga mereka diam saja.
Wakil pusat itu mengisyaratkan kepada rekan2nya yang bersama2 datang dari pusat, melompat menghampiri Hek Sin Ho.
Hek Sin Ho ketawa "Memang sudah kuduga bahwa disini tentu terdapat pengkhianat, seorang mata2 pemerintah Boan yang telah berhasil merampas kedalam perkumpulan ini.
Tetapi sungguh tidak kusangka bahwa yang kujumpai adalah Song Siewie Taijin, yang juga telah berhasil mencapai kedudukan begitu penting dipusat Pek Lian Kauw."
Katanya sambil menunjuk kesalah seorang dari keempat wakil pusat itu.
Orang itu bertubuh kurus kecil, mukanya licik sekali dan matanya yang tajam menunjukkan dia hebat sekali kepandaiannya.
Ucapan terakhir Hek Sin Ho tentu saja mengejutkan dan menggemparkan semua anggota Pek Lian Kauw.
Mereka sudah lama mendengar cerita dari rakyat perihal tindakan2 Hek Sin Ho yang membela kebenaran dan keadilan, maka mereka percaya kata2 pemuda itu bukan sekedar tuduhan belaka.
Tidak demikian dengan keempat wakil dari pusat itu.
Tuduhan itu telah membuat keempat!
wakil pusat jadi murka.
Mereka telah serentak bergerak untuk mengeroyok sipemuda tanpa memperdulikan nama besar dan kehormatan mereka lagi.
Hek Sin Ho benar-bukan pemuda sembarangan.
Mudah sekali dia mengelakkan serangan itu dan berhasil membebaskan diri.
Dalam sekejap mata dia telah berdiri dibelakang orang yang dituduhnya tadi dan tangannya meluncur kearah Hong Tie Hiat dibelakang telinga orang itu.
Orang she Song itu memiliki kepandaian hebat, bagaikan memiliki mata dibelakang.
serangan pemuda itu telah berhasil dihindarkan.
Dalam sekali gebrakan seperti itu Hek Sin Ho mengetahui diantara keempat wakil, justru orang she Song itu yang terhebat kepandaiannya.
Hek Sin Ho mengerti bahwa dalam pertempuran itu dia tidak boleh membuang2 waktu.
Dan karena itu Hek Sin Ho telah melancarkan serangan2 ke bagian2 yang berbahaya dari lawan2nya.
Salah seorang wakil dari pusat telah melancarkan serangan, namun kesempatan itu dipergunakan Hek Sin Ho untuk menotok ulu hati orang itu, yang segera rubuh terjungkal.
Rekan2 orang yang rubuh itu tentu saja murka.
Mereka melancarkan serangan yang sangat berbahaya dan tanpa segan2 lagi.
Tetapi amarah dan wakil2 pusat Pek Lian Kauw justru merugikan mereka sendiri.
Mereka jadi kurang waspada dan menyerang bertubi2 tanpa memikirkan pembelaan diri.
Bagaikan kilat tubuh Hek Sin Ho berkelebat diantara ketiga lawannya.
Mata dari kedua lawannya yang kurang gesit segera berkunang2.
Segera terdengar dua teriakan lemah, disusul rubuhnya kedua lawan itu.
Kini Hek Sin Ho hanya menghadapi orang she Song itu, yang menjadi cemas melihat ketangkasan pemuda bermuka hitam itu.
Dalam beberapa jurus saja orang she song itu sudah panik menghadapi serangan Hek Sin Ho.
Hian Seng Cu menyadari tidak bisa mendiamkan saja sepak terjang Hek Sin Ho, yang bisa menimbulkan perpecahan dalam tubuh pergerakkan Pek Lian Kauw.
Dia mengisyaratkan kepada Tong Keng Hok dan kawan2nya yang lain, untuk maju.
Tetapi agaknya Hek Sin Ho sudah lebih dulu menduga apa yang akan terjadi.
Dia segera berseru .
"Saudara2 jangan merugikan diri sendiri, aku bermaksud baik terhadap kalian, orang she Song ini pengkhianat, pengikut Kian Tong yang datang kemari dengan belasan siewie dari istana raja, yang telah berada diluar desa atau kini telah mengurung gedung ini. Maka dari itu, persiapkan diri kalian untuk menghadapi mereka. Setelah kurubuhkan orang she Song ini, akan kubantu kalian untuk menghadapi mereka. Hian Seng Cu dan kawan2aya tentu tidak akan percaya perkataan Hek Sin Ho, kalau saja disaat itu mereka sudah mendengar suara ribut dan beradunya senjata diluar gedung. Untuk sejenak lamanya Hian Seng Cu dan kawan2nya jadi tidak mengetahui apa yang harus mereka lakukan. Kemudian mereka disadarkan oleh teriakan kawan2 mereka yang tengah berjaga diluar, rupanya penjaga diluar sudah tidak sanggup menghadapi terjangan lawan dan berteriak minta pertolongan. Kini mereka percaya penuh kata2 Hek Sin Ho. Seluruh orang termasuk Hian Seng Cu telah keluar. Dan disaat itulah Hek Sin Ho memusatkan seluruh tenaganya, untuk merubuhkan lawannya secepat mungkin. tetapi orang she Song itu licin seperti belut, tidak mudah cepat2 dirubuhkan, karena berhasil berkelit kesana-kemari. Namun Hek Sin Ho telah melancarkan serangan dengan hebat untuk mencegah orang she Song itu keluar menggabungkan diri dengan siewie2 diluar. Sementara itu diluar sudah berkali2 terdengar teriakan kesakitan dan rubuhnya beberapa orang. Umumnya anggota Pek Lian Kauw memiliki kepandaian yang sedang2 saja, maka Hek Sin Ho menyimpulkan yang rubuh itu tentu anggota Pek Lian Kauw. Dia jadi gelisah sendiri. Orang she Song itu menyadari kegelisahan lawannya, dia jadi girarg dan telah melancarkan serangan yang bertubi2, sehingga Hek Sin Ho tambah gelisah. Tetapi dalam girangnya, dia jadi lupa daratan. Pemusatan tenaganya juga tidak sepenuh lagi dan serangannya membabi buta. Pertempuran telah berjalan sepuluh jurus lagi, suatu saat orang she Song telah menyerang tepat bahu Hek Sin Ho, sehingga terhuyung mundur beberapa langkah. Kegembiraan orang she Song itu memuncak. Inilah kesempatan terbaik baginya, tidak boleh disia2kan. Dengan bernafsu dia telah menubruk, Tangannya diulurkan untuk menerkam jalan darah Kie Kut Hiat dibahu musuhnya. Dengan demikian dia akan dapat membuat musuh itu tidak berdaya dan akan menangkap hidup2. Tetapi disaat itulah Hek Sin Ho merebahkan tubuhnya dilantai dengan kedua tangannya menekan lantai. Kakinya saling susul menerjang kearah dada, perut dan pinggang musuhnya yang tengah menubruknya. Itulah tipu terhebat dari Kim Coa Hoan Sin (Ular emas Membalikkan tubuh) salah satu ilmu yarg hebat dari Lian Hoan Tui. Jitu sekali dada dan perut orang she Song terkena tendangan luar biasa itu. Disertai teriakan kesakitan, terlemparlah dia sampai beberapa tombak. Dan tidak dapat bangkit lagi. Hek Sin Ho telah melompat bangkit dan menuju keluar. Memang cukup besar kerugian dipihak Pek Lian Kauw. Hampir lima puluh orang anggota perkumpulan itu menggeletak ditanah terluka parah. Siewie2 yang tengah bertempur itu adalah pahlawan kelas satu diistana raja. Hanya Hian Seng Cu dan Tong Keng Hok yang masih bisa mengimbangi. Dengan mengandalkan jumlah yang banyak mereka memang dapat mempersibuk siewie2 itu, tetapi Urtuk merubuhkan pengawal istana itu di butuhkan kepandaian. Siewie itu berjumlah lima belas orang, dan dengan datangnya Hek Sin Ho dia bisa mengikat empat orang siewie, sehingga tinggal sebelas orang yang dihadapi orang Pek Lian Kauw. Dengan kepandaian Kong Ciu Jip Pek Io (Tangan kanan kosong menerobos ratusan golok) dia telah membuat siewie2 itu sibuk bukan main. Siewie2 itu terkejut sekali melihat datangnya lawan tangguh dan hebat ini. Dengan cepat pula Hek Sin Ho berhasil merubuhkan seorang siewie dengan kibasan tangan bajunya yang menghantam telak sekali mata siewie itu. Sambil mengeluarkan suara anjuran kepada beberapa kawannya siewie2 yang lainnya telah menerjang maju. Hek Sin Ho mudah sekali melayani siewie2 itu, yang umumnya bersenjata golok. Dan secara beruotun dia telah berhasil merubuhkan beberapa orang siewie lagi. Sementara itu disekeliling Hek Sin Ho masih berlangsung terus pertempuran kacau antara dua ratus orang lebih anggota Pek Lian Kauw melawan sepuluh orang siewie. Korban yang jatuh telah semakin banyak. Pertempuran tersebut tampaknya akan berlarut2 tanpa adanya penyelesaiannya Tetapi tiba2 sekali dari arah bukit tidak jauh dari tempat itu terdengar hentakan2 marah, disusul muncul tiga sosok bayangan hitam berlari2 saling susul. Yang dua dibelakang rupanya menjajar yang seorang didepan. Mereka memiliki kepandaian ilmu meringankan tubuh yang sempurna. Dalam sekejap mata saja sudah didekat tempat tersebut. Setelah terpisah hanya beberapa puluh tombak dari gelanggang pertempuran, mereka ketiga orang itu rupanya terkejut melihat pertempuran yang tengah berlangsung. Tetapi yang berdiri dimaka itu sudah segera mengerti apa yang tengah terjadi. Sambil mengeluarkan seruan nyaring dia telah melonpat kedepan, langsung kearah gelanggang pertempuran. Dengan pedangnya yang berkilauan dibawah sinar bulan yang baru memperlihatkan diri, tanpa ragu2 dia telah menyerbu ketengah pertempuran dan melancarkan serangan hebat kearah siewie yang terdekat. Beberapa anggota Pek Lian Kauw yang datang melihat orang itu jadi girang. Sjewie yang diserang itu segera menangkisnya, tetapi dia jadi kaget bukan main karena seketika itu juga goloknya putus tertabas pedang, rupanya pedang lawan sebatang pedang mustika. Sementara Itu kedua pengejar orang yang haru datang itu telah berdiri sejenak dalam perasaan heran. Namun akhirnya merekapun melompat ketengah gelanggang pertempuran dengan gerakan yang sengat gesit sekali. Tanpa menantikan sampai kaki mereka menginjak tanah, serta merta keduanya sudah melancarkan serangan kepada siewie itu dengan mempergunakan pedang mereka. Anggota Pek Lian Kauw bersorak girang. Kini mereka yakin bahwa kedua orang terakhir itupun bukan musuh. Tidak mengherankan bahwa mereka tidak mengetahui bahwa kedua pemuda yang baru datang memiliki kepandaian bsgitu tinggi adalah dua jago muda yang kebetulan tiba ditempat itu karena mengejar seseorang dan mereka tidak lain dari Cie Beng dan Cie Jien..... MALAM iiu Cie Beng dan Cie Jin telah tidur siang2. namun ditengah malam dia mendengar seseorang berjalan diatas rumah penginapan dengan langkah ringan. Orang biasa mungkin tidak akan mendengarnya, tetapi Cie Beng dan Cie Jin telah mendengar jelas dan telah cepat melompat turun dari pembaringan dengan ringan. Merekapun telah cepat2 mempersiapkan senjata mereka. Samar2 mereka masih melihat sesosok tubuh ketika keduanya telah melompat keatas genting rumah penginapan dan segera mengejarnya. Didalam rimba persilatan memang banyak sekali peristiwaaneh. Oleh karena itu Cie Beng dan Cie Jin tidak mau segera menarik kesimpulan apakah orang itu seorang jahat atau baik. Mereka terus juga mengikutinya. Dengan cepat bayangan itu telah berjalan cukup jauh, karena belum memastikan maksud orang itu, maka merekapun berlaku hati2 agar tidak terlihat Setelah melewati dua puluh rumah lebih, sosok bayangan itu tampak telah melompat turun dan mendekati sebuah jendela yang masih tampak terang. Bayangan itu mengintai kedalam ruangan tersebut, agaknya dia bimbang untuk melompat masuk. Tentu saja hal itu membuat Cie Beng dan Cie Jin jadi heran. Apa maksud orang itu. Tidak lama kemudian tampak pintu kamar! terbuka, dan masuklah seorang gadis yang jika dipandang sepintas lalu dari kejauhan tidak Cantik. Tetapi gerak geriknya dan potongan tubuhnya sangat menarik. Sosok bayangan yang berada diluar jendela sudah hendak bergerak, tetapi kemudian dia membatalkan maksudnya, kerena dibelakang gadis itu! masih terdapat seorang tua kurang lebih lima puluh tabun. Agaknya ayah sigadis. Dari tempat persembunyiannya, kedua saudara Cie itu dapat melihat orang tua dan gadis itu bukan sembarangan orang. Sikap mereka agung walaupun tubuh mereka tampaknya lemah. Tentunya ayah puteri itu adalah keluaaga terpelajar. Ayah dan puteri itu telah bercakap2 dengan suara yang perlahan, dan orang yang bersembunyi diluar jendela ketika mendengar percakapan anak dan ayah itu tampaknya terkejut, sehingga dia memperlihatkan diri dijendela. Ayah itu terkejut, menoleh dengan ketakutan sedangkan sigadis telah berteriak tertahan. Namun sesaat kemudian orcng tua itu lenyap kagetnya, kini wajahnya memperlihatkan kemarahan yang saagat. Dalam marahnya itu, orang tua tersebut tidak dapat berkata2. Sedangkan orang diluar jendela itu hanya menatapnya dengan tertegun.
"Bangsat! Sungguh berani kau datang mengganggu lagi!"
Caci orang tua itu setelah berhasil menindih goncangan hatinya. Lalu dengan suara yang keras dia telah berteriak;
"Maling! Ada maling! Tangkap! Tangkap!"
Seketika, terdengar teriakan seperti itu, tamu tidak diundang jadi terkejut.
Tubuhnya melompat dan sesaat kemudian dia telah berada dalam kamar.
Dengan wajah ketakutan, erang tua itu mundur sambil menarik tangan sigadis.
Tetapi sudah jelas bahwa mereka tidak akan dapat meloloskan diri lagi dari orang yang berkepandaian memang tinggi itu.
Cie Beng dan Cie Jin, yang sejak semula sudah bersiap sedia, untuk turun tangan, tentu saja tidak tinggal berpeluk tangan.
Seketika itu juga, mereka telah melompat bagaikan dua ekor garuda.
Dan mereka telah melompat masuk kedalam kamar berada dibelakang tamu tidak diundang itu.
"Jahanam kotor, rasakan pedangku ini."
Bentak Cie Beng sambil menyerang dengan gerakan "Im Yang Po San" (Kipas mustika Im Yang).
Tetapi kepandaian orang itu ternyata berimbang dengan kepandaian Cie Beng, dia berhasil mengelakkannya dengan mudah dan lalu menangkis.
Dan Cie Beng tidak berani berayal lagi, dengan tenaga yang lebih besar telah melancarkan serangan lagi.
Cara serangan Cie Beng hebat sekali hampir hampir orang itu kehilangan senjata karena benturan itu.
Penjahat itu merasakan bahwa dia sudah tidak memiliki harapan lagi, terlebih lagi kalau Cie Jin sesaat lagi turun tangan mengeroyoknya.
Karena ayah sigadis juga berteriak2 minta tolong, maka tamu tidak diundang itu akhirnya telah memutuskan untuk berlalu.
Setelah itu, dengan kecepatan seperti terbang dia melarikan diri dengan mengambil arah utara.
Cie Beng dan Cie Jin tidak mau membiarkannya lari dengan begitu saja Disamping menbeici perbuatannya, mereka pun ingin sekali mengetahui siapakah sesungguh nya orang itu, yang ilmu silatnya berasal dari perguruan Bu Tong Pai.
Cie Beng dan Cie Jin mengetahui itu, karena dia telah mempelajari berbagai sarinya ilmu silat.
Cepat2 mereka telah mengejarnya.
Dan dalam waktu yang singkat mereka telah berada di luar kota.
Sementara itu, agaknya sipenjahat menjadi jengkel, dia melihat kedua saudara Cie itu tidak mau melepaskan dirinya.
Dan dia mempercepat larinya.
Itulah sebabnya Cie Jin dan Cie Beng bisa tiba ditempat yang tengah berlangsung pertempuran itu.
Dan Cie Jin maupun Cie Beng tidak bisa berpeluk tengan, melihat rakyat kampung itu yang tengah bertempur melawan orang2nya peme rintah Boan.
Tidak bersusah ppyah, akhirnya semua musuh2 itu telah berhasil dirubuhkan mereka, ada siewie yang terluka dan ada yang segera terbinasa disaat itu juga, Enam tahun yang lalu.
dirumah guru mereka di Sinkiang, ketika orang2 yang hendak mencari balas kepada gurunya, mereka melihat betapa semua lawan itu telah dibinasakan.
Dan kini Cte Jin dan Cie Beng melihat anggota Pek Lian Kauw juga membinasakan siewie2 yang terluka walaupun siewie2 itu memohon2 pengampunan.
"Mereka sudah mengetahui siapa pemimpin kami dan dimana kami mengadakan pertemuan, maka jika dibiartan hidup, bisa mendatangkan bencana untuk kami."
Berkata beberapa orang Pek Lian Kauw.
Cie Beng dan Cie Jin menoleh kepada Hek Sin Ho.
Tetapi ternyata pemuda itu sudah tidak berada ditempat itu.
Sementara Hian Seng Cu, Tong Keng Hok dan pemimpin Pek Lian Kauw setempat yang telah menghampiri mereka untuk menyatakan terima kasih, Cie Beng hendak mempergunakan kesempatan tersebut menanyakan perihal Hek Sin Ho, tetapi sebelum mereka sempat mengucapkan sepatah kata, tiba2 dari bagian belakang rumah itu terdengar teriakan minta tolong, disusul bentrokan senjata dan caci maki sengit.
Semua orang terkejut.
Cie Jin dan Cie Beng cepat2 melompat kedalam ruangan rumah diikuti yang lain.
Mereka berpapasan dengan seorang lelaki kurus tinggi berpakaian serba putih, yang melihat masuknya rombongan itu telah merobah haluan dan melompat keatas genting.
Didalam terdengar teriakan ; Kongcu diculik !
Kongcu diculik I Kongcu dibawa orang !
Tolong l Tolong !"
Semua orang jadi terkejut, karena mereka melihat lelaki kurus berpakaian putih itu memang memanggul tubuh seseorang yang terkulai yang tidak lain dari putera Tong Keng Hok.
Kecuali Cie Beng dan Cie Jin, yang lainnya mengejar.
Dan dari pelayan2 rumah itu, kedua saudara Cie mendengar cerita penculikan itu, dimana ternyata yang mencelik adalah orang she Song yang berhasil membebaskan dirinya dari totokannya Dan disaat pelayan itu tengah berteriak, justru Hek Sin Ho telah tiba dan mengejarnya.
Semua orang Pek Lian Kauw telah menghela napas dalam2 dan mereka berduka, karena mereka nihil melakukan pengejaran.
Dan Tong Keng Hok maupun yang lain hanya mengharapkan agar Hek Sin Ho berhasil mengejar orang she Song itu dan berhasil membawa pulang putera Tong Keng Hok.
Saat itu Hek Sin Ho yang tengah melakukan pengejaran kepada orarg she Song itu jadi penasaran, karena walaupun dia telah mengejar lima belas lie lebih, tetap saja tidak berhasil sedikit demi sedikit memperpendek jarak pisah me reka.
Lewat pula lima lie, agaknya sudah tidak perlu ditunggu terlalu lama lagi untuk menyusul she Song itu.
Setelah lewat lagi tujuh lie, jarak antara1 mereka sudah tinggal setombak lagi.
Kini setiap waktu sudah dapat diharapkan bahwa Hek Sin Ho akan menyerang orang she song itu dan orang she Song sudah putus asa karena dia memang tidak sanggup untuk melawan Hek Sin Ho terlebih lagi kini tengah membawa puteranya Tong Keng Hok, Memang bisa saja dia melepaskan tawanannya dan melarikan diri sekerasnya untuk meloloskan jiwanya.
Tetapi tanpa putera Tong Keng Hok sebagai tanggungan, tidak dapat dia memaksa tokoh Pek Lian Kauw menyerahkan diri kepada pemerintah.
Tetapi jiwanya sendiri tentu saja dianggapnya jauh lebih berharga dari putera Tong Keng Hok.
Dengan pertimbangan begitu, dia hendak melontarkan tubuh puteranya Tong Keng Hok kearah pengejarnya.
Disaat itu mereka sudah mendekati suatu gerombolan pohon2.
Tetapi diluar dugaan segera muncul serombongan orang yang masing2 memegang senjata terhunus dan sudah bersiap pula untuk menyerang dengan senjata rahasia.
Sebagai seorang yang merasa dirinya berdosa, orang she Song itu tentu saja tambah ketakutan, karena menduga orang itu segaja hendak menghadangnya orang2nya Pek Lian Kauw.
Tetapi sesaat kemudian dia jadi girang, langkah lega hatinya ketika tanpa menghiraukan orang she Song itu sama sekali, semua penghadangnya itu telah menghujani Hek Sin Ho dengan senjata rahasia.
Itulah berar2 suatu pertolongan yang tidak terduga, Tanpa menoleh lagi dia segera lari sekuat tenaganya.
Sebaliknya Hek Sin Ho terkejut sekali diserang tiba2 begitu.
Untung saja Hek Sin Ho memiliki kepandaian yang tinggi dia tidak menjadi gugup dan telah berhasil mengelakkan diri dari serangan tersebut.
Dan dari kaget, Hek Sin Ho jadi marah.
Segera juga dia menduga bahwa Oraog2 yang menjadi penghadang itu adalah kawan2nya orang she Song, maka segera dia telah melancarkan serarjgan dengan kuat sekali.
Jumlah orang itu enam orang, dua diantaranya adalah hweshio, sedangkan keempat orang yang lainnya berpakaian sebagai guru silat.
Waktu itu sudab menjelang fajar, dan cuaca sudah agak terang, sehingga dia dapat melihat wajah mereka.
Dia memperoleh kenyataan bahwa tidak seorangpun diantaranya yang dikenalnya.
Tetapi orang2 itu ternyata tidak menyerang lagi.
Dengan menggenggam senjata terhunus, telah mengurung Hek Sin Ho.
"Sicu, kau tentu heran dan penasaran, bahwa kami telah menyerangmu secara menggelap dan tiba2,"
Kata salah seorang diantara hweshio itu dengan sikap yang congkak.
"Kami sedikitpun tidak memiliki maksud tidak baik, dan kami hanya ingin meminta kau melayani kami dan kami adalah kaum jantan, walaupun kami harus melakukan perhitungan denganmu mengenai sesuatu urusan, kami ingin menyelesaikannya sebagai lelaki sejati".
"Taisu, aku sama sekali belum mengenalmu dan teman2mu itu, kecuali jika kalian kawan sipengkhtanat she Song itu."
Menyahuti Hek Sio Ho. Tetapi perkataan Hek Sin Ho justru telah metafsirkan lain oleh orang2 itu. Mereka menduga bahwa Hek Sin Ho takut.
"Kata2 sicu memang benar, kita tidak pernah bertemu. Dan secara langsung juga sicu tidak pernah bentrok dengan kami. Tetapi kami lelaki sejati, juga tidak pernah berpeluk tangan jika melihat perbuatan sewenang2, mengandalkan kepandaian sendiri, lalu membunuh orang tidak berdosa dan terkenal berhati mulia".
"Taisu, aku selalu berusaha melakukan perbuatan2 yang tidak tercela dan juga memang aku benar2 tidak mengerti maksud perkataan Taysu".
"Pineeng (aku) dan saudara2 seperguruan Pinceng tidak mudah dihasut orang. Kami selalu berihati-hati dan sebelum menentukan sikap, kami selalu mencari keterangan Tetapi kali ini, kami telah berhasil mengumpulkan keterangan bahwa yang harus bertanggung jawab atas peristiwa penasaran itu justru sicu adanya."
Walaupun Hek Sin Ho sedapat mungkin menindih kemarahan di hatinya, untuk menghindarkan suatu pertempuran, kini dia tidak dapat menguasai lagi amarahnya.
Kata2 si Hweshio yang terakhir itu benar2 keterlaluan sekali.
Tidak dapat dia melayani begitu saja Terlebih lagi dia mengerti bahwa rombongan si Hweshio tidak akan mau melepaskannya.
"Baiklah kalau begitu", katanya kemudian.
"Karena Taisu memang memaksa, akupun tidak bisa lain dari menuruti saja memperlihatkan kebodohanku". Walaupun berkata begitu. Hek Sin Ho yakin bahwa didalam persoalan ini pasti terdapat salah paham. Dan juga disaat itu, keempat murid Siauw Lim sie yang bukan Hweshio itu telah maju semuanya. Sikap yang terlalu memandang rendah tentu saja membuat Hek Sin Ho jadi mendongkol. Dengan bersenjata atau bertangan kosong dia telah dapat menjalankan ilmu Taikek yaitu ilmu Taikek bun yarg selalu tidak mempergunakan kekerasan. Inti sari Taikek pada umumnya hanya setu yaitu Wan Cwan Put Toan, berputar tidak ada putusnya, tetapi dari unsur itu, yang dipergunakan Hek Sin Ho agak lain. Serangan2 itu terdapat banyak sekali sifat yang mengandung kekerasan dalam serangannya. Mereka segera bertempur, keempat murid Siauw Lim Sie yang tidak mencukur kepala itu telah melancarkan serangan hebat sekali kepada Hek Sin Ho. Cara2 Hek Sin Ho yang aneh dan bertentangan dengan ketentuan2 ilmu silat lainnya, bukan hanya membingungkan keempat tawannya justru kedua hweshio itu jadi tertegun. Sementara itu keempat lawannya Si Rase Hitam Yang Sakti itu telah agak menguatirkan. Si hweshio yang sejak semula bertindak sebagai pemimpin segera melompat ketengah gelanggang, karena melihat keempat kawannya telah terdesak.
"Tahan!"
Dia telah berseru dengan keras.
Pertarungan segera berhenti.
Keempat kawannya diminta mundur, sedangkan dia sendiri lalu memandang Hek Sin Ho dengan pandangan mata yang tajam.
Setelah memandang selama beberapa saat kemudian dia telah berkata ;
"Pantas sicu jadi demikian berati berlaku sewenang2, rupanya kau memang memiliki kepandaian yang lumayan."
Sambil menyisipkan ujung jubahnya yang agak longgar, keikat pinggangnya, hweshio itu segera mendekati Hek Sin Ho.
Tetapi pada saat itu hweshio yang seorang telah berkata "Goan Seng Suheng, kukira tidak perlu kau sendiri yang maju melayaninya, biarlah aku saja yang maju lebih dulu."
Tanpa menantikan jawaban Goan Seng lagi dia langsung melompat kedepan Hek Sio Ho sambil berkata.
"Tadi aku sudah melihat kepandaianmu sicu. Karena kagum, aku Goan Sim, hendak mcminta petunjukmu untuk beberapa jurus. Sebagai seorang murid sang Buddha, aku tidak senang mempergunakan senjata Aku akan melayanimu dengan tangan kosong. Tetapi ini bukan berani hendak memaksamu menyimpan senjata juga. Kalau kau lebih senang bertempur dengan mempergunakan senjata, gunakanlah tanpa segan dan ragu2. Dengan kecerdasannya yang dimilikinya Hek Sin Ho sudah dapat menerkam Goan Sim. Tetapi diapun sangat percaya akan kepandaiannya sendiri. Walaupun menyadari bahwa kesombongan hweshio itu bukan omong kosong belaka, dia sedikitpun tidak menjadi gentar. Setelah berdiri saling diam memanjang beberapa saat. Hek Sin Ho telah melompat sambil melancarkan serangannya mempergunakan kepalan tangan karena senjatanya memang telah dimasukkan kedalam sarungnya. Dan dia telah melancarkan serangannya itu dengan mempergunakan tenaga yang kuat sekali, disertai juga oleh bentakannya;
"Taisu, terimalah!"
Sedangkan hweshio itu, Goan Sim, telah melihat datangnya serangan, jadi dia heran, juga girang.
Itulah serangan yang biasa disebut Jie Liong Co Cu, sepasang naga memperebutkan mitiara, salah satu tipu dari Liong Jiauw Kun, ilmu silat naga, dari Siauw Lim Sie.
Dan pukulan seperti itu telah dikenalnya.
"Terhadap orang lain serangan itu memang berbahaya, tetapi bagiku hanya permainan anak-anak."
Pikir sihweshio.
Hweshio itu mengangkat tangan kirinya untuk menangkis, kemudian dengan cepat dia menerkam pangkal lengannya.
Sungguh cepat gerakannya itu, tetapi sipemuda ternyata juga tidak kalah gesitnya.
Sambil berseru tiba2 Hek Sin Ho menurunkan tubuhnya dan dengan setengah berjongkok tangannya meluncur terus.
Tetapi kini yang -diincer jadi bukan mata sihweehio, tetapi perut Goan Sim yang hendak dijadikan sasaran.
Tentu saja hal itu telah membuat Goan Sim jadi kaget setengah mati, karena lawannya dapat merobah arah serangan dalam waktu yang begitu cepat.
Cepat sekali si hweshio telah berkelit dan dia membalas melancarkan serangan.
Tetapi Hek Sin Ho benar2 hebat dan ilmunya lain dari yang lain.
Kenyataan seperti inilah yang telah membuat Goan Sim seringkali terperangkap oleh keanehan dalam gerakan silat Hek Sin Ho yang lain dari biasanya ilmu silat didunia persilatan, Dengan tidak sabar Goan Sim mengerahkan seluruh tenaganya, dan memperhebat serangannya, agar dapat mempercepat waktu merubuhkan lawannya.
Sesuai dengan ilmu Su Siang Po, waktu serangan Goan Sim suatu saat hampir mengenai dirinya.
Hek Sin Ho telah mengelakkan diri, lututnya tiba2 telah berada didekat iga Goan Sim.
Hweshio itu terkejut sekali, untuk kesekian kalinya dia menghadapi kesulitan dari serangan2 aneh dari sipemuda.
Berkat kepandaiannya memang sempurna, Goan Sim masih berhasil menyelamatkan iganya.
Goan Seng dan murid2 Sjauw Lim yang lain jadi gelisah sendirinya.
Waktu itu pikiran Goan Sim sudah agak kacau.
Tiba2 datanglah serangan Hek Sin Ho yang dilakukan berbareng dengan tangan kiri dan kaki kanan.
Itulah suatu serangan biasa, dan Goan Sim telah menangkisnya dengan mempergunakan jurus Pa Ong Gie Ka.
Tetapi tidak diduga, ketika tangan mereka saling bentur, tiba2 Hek Sin Ho menangkap tangan Goan Sim, dengan meminjam tenaga dikerahkan sipendeta, Hek Sin Ho tiba2 melompat melayang kemuka lawannya.
Goan Sim gugup sekali, agaknya kali ini dia tidak bisa mengelakkan diri lagi.
Goan Seng tidak bisa berdiam diri lagi, dia telah menerjang maju.
Hek Sio Ho tidak takut, dengan mengandalkan kegesitannya dia telah melayani terus.
Begitu pula keempat murid SiauwLim yang tidak mencukur rambut itu ikut menerjang.
Goan Seng mempergunakan pedang, Goan Sim mempergunakan kedua tangannya dan keempat murid Siauw Lim bersenjata golok dan pedang.
Hek Sin Ho jadi sibuk juga melayaninya.
Dan suatu kali, Hek Sin Ho diserang dengan serentak, keenam orang Siauw Lim itu yakin akan berhasil menundukkan Hek Sin Ho, yang akan dapat dirubuhkan.
Dengan gerakan It Ho Ciong Tian yang sangat indah, tubuh Hek Sin Ho tiba2 melompat lurus keatas dan bersama dengan itu diapun sudah menghunus senjatanya.
Mereka bertempur semakin seru.
Keenam murid Siauw Lim Sie benar2 heran melihat ketangguhan pemuda itu.
Hek Sin Ho tidak mengerti mengapa sihweshio menuduh dia berbuat sewenang2, entah apa sebabnya.
Dan akhirnya sambil bertempur Hek Sin Ho telah bertanya2 sebenarnya urusan apakah yang membuat keenam orang Siauw Lim Sie itu memusuhinya.
Mengetahui itu Hek Sin Ho tertawa gelak.
"Sebagai pengkhianat bangsa tentu saja Ong Kee Cie harus dibasmi bukan?"
Teriaknya kemudian. Keenam orang Siauw Kim Sie tentu saja jadi tambah murka, Mereka menyerang semakin hebat saja.
"Dengarlah!"
Kata Hek Sin Ho sambil berkelit, Aku tidak bicara dusta, Ong Kee Cie sebagai putera Han ternyata ingin mengkhianat menjual negara. Aku bisa membuktikannya dan bukti2 itu ada padaku."
"Jangan membual."
Teriak Goan Sim murka.
"Bukankah empat tahun yang lalu salah seorang saudara seperguruanmu yang bernama Goan Kong Suhu telah mendadak lenyap? Tahukah kalian mengapa dia menghilang? Dia telah tewas dibinasakan oleh Ong Kee Cie sendiri! Jiwanya dihabiskan didekat penyebrangan Kie Hong secara pengecut sekali oleh Ong Kee Cie. karena kebetulan Goan Kong Suhu mengetahui kebusukannya."
Keterangan Hek Sin Ho seperti juga petir ditelinga keenam orang Siauw Liem Sie.
Muka Goan Seng jadi berobah pucat.
Memang benar waktu Goan Kong dalam perjalanannya ke Ouwlam kebetulan telah mendengar tentang suatu rahasia yang dapat menghancurkan nama Siauw Lim Sie.
Ketika itu Goan Kong telab perintahkan muridnya menemani dalam perjalanannya itu untuk kembali ke Hokkian untuk memberikan laporan dan meminta bantuan dari saudara2 seperguruannya.
Dari laporan Goan Kong murid Siauw-Lim Sie sendiri telah menduga bahwa yang melakukan pengkhianatan itu tentu salah seorang murid Siauw Lim Sie, hanya sayangnya Goan Kong belum menyebutkan nama murid pengkhianat itu.
Dengan disertai beberapa orang sutenya atas perintah Hongtio.
Goan Seng telah berangkat ke Ouwlam.
Tetapi Goan Kong tidak dapat mereka jumpai.
Hweshio itu telah hilang tanpa meninggalkan jejak.
Peristiwa itu telah ditutup rapat2 dan kecuali beberapa orang yang menyertai Goan Seng murid2 Siauw Lim lainnya tidak ada yang mengetahui.
Itulah sebabnya Goan Seng jadi terkejut sekali Hek Sin Ho bisa menyebut2 persoalan Goan Kong Taisu.
Tetapi sebagai hweshio ysng memiliki pandangan sempit dan juga jarang bergaul, Goan Seng dan saudara seperguruannya berpandangan lain, yaitu persoalan pengkhianatan murid Siauw Lim harus dirahasiakan rapat2, dan juga karena Hek Sin Ho mengetahui peristiwa itu, dia akan ditangkap untuk dibawa menghadap ke Hongtio mereka.
Keenam orang itu semakin mempercepat serangan mereka menambah tenaga serangan juga.
Hek Sin Ho jadi kewalahan, karena kerjasama keenam orang itu memang kokoh dan dia terkepung rapat.
Dengan mengeluarkan suara jeritan kecil, suatu kali mata pedang Goan Seng berhasil menusuk iga Hek Sin Ho sedalam satu inci dan mempergunakan kesempatan itu dengan nekad Hek Sin Ho menotok Kie Kut niatnya sihweshio sehingga Goan Seng terjungkal.
Tanpa membuang Waktu Hek Sin Ho menerobos keluar dari kepungan itu dan berlari masuk berlari hutan, karena dia menyadari jika bertempur terus dengan cara dikepung btgitu, dirinya bisa kehabisan napas dan tenaga Saudara seperguruan Goan Seng jadi tertegun sementara waktu, dan ketika mereka tersadar, mereka cepat2 menolongi Goan Seng, lalu Cepat2 masuki hutan untuk mengejar Hek Sin Ho ...
SEMENTARA itu setelah lolos dari orang?
Siauw Lim Sie.
Hek Sin Ho berlari terus cepat sekali dengan menderita beberapa luka ditubuhnya.
Tetapi luka itu bukan ditempat yang berbahaya.
Dengan menahan lapar dia telah pergi dari desa itu, dia mengerti bahwa penderitaan didesa lebih hebat lagi, karena pasukan tentara Boan telah merampasi semua milik rakyat?
Setelah berjalan setengah hari, dia menjumpai Sebuah rumah petani.
Petani itu terkejut sekali, memang waktu itu dia belum mengganti pakaian.
Sementara itu setelah lolos dari orang2 Siauw Lim Sie, Hek Sin Ho berlari terus cepat sekali dengan menderita beberapa luka ditubuhnya.
Karena sudah letih sekali, dia minta tolong menginap kedalam rumah petani itu, yang diluluskan.
Hek Sin Ho telah tidur dengan nyenyak sekali, walaupun masih sore, Esok paginya dia merasakan tubuhnya segar kembali.
Lukanya juga sebagian besar telah kering.
Rencana Hek Sin Ho yang pertama2 adalah orang she Song, yang akan dicarinya untuk mengorek Keterangan mengenai rencana pemerintah menghadapi Pek Lian Kauw.
Menurut yang diketahui, seluruh pasukan siewie yang dikerahkan kaisar telah dikumpulkan menjadi satu dikantor Sumbu Ouwpak.
Dan menurut dugaannya pula, orang she Song pasti pergi ke Sumbu Ouwpak, untuk menyerahkan putera Tong Keng Hok, sambil mengatur rencana untuk menggerebek markas Pek Lian Kauw, yang terletak di Pen Houw Cun.
Hek Sin Ho jadi memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Ouwpak.
Seharian suntuk dia berjalan terus, menjelang malam cuaca berobah dengan mendung menutupi seluruh langit.
Untung saja tidak lama kemudian dia melihat kuil tua yang kosong, disaat mana rupanya hampir turun hujan dengan guntur sering terdengar.
Dengan segenggam rumput Hek Sin Ho membersihkan meja pemujaan dan setelah mengisi perut dengan makanan kering yang dibekalnya, dia merebahkan diri dimeja pemujaan yang terbuat dari batu itu, tidur nyenyak.
Tidur tidak lama, tiba2 dia dibangunkan dari tidurnya oleh suara depan kaki kuda yang akhirnya berhenti didepan pintu kuil Disaat itu, Hek Sin Ho gesit sekali melompat keatas wuwungan, untuk mengawasi kearah pintu.
Seorang pemuda bertubuh sedang, tampak gagah dengan memakaian pakaian sederhana melangkah masuk.
Wajahnya tampan, tetapi waktu itu tengah diliputi kesedihan.
Hati Hek ain Ho tertarik, melihat muka orang itu tidak jahat, timbul simpatinya.
Diantara bunyi hujan rintik2, yang sementara itu sudah mulai turun cukup deras, terdengar beberapa orang berlari2 kearah kuil.
Tampak tujuh orang memasuki ruang pemujaan.
Hek Sin Ho jadi terkejut.
Enam diantara ketujuh orang itu adalah kedua hweshio dan ke empat orang Siauw Lim Sie, yaitu Goan Seng dan yang lainnya.
Begitu masuk, dan melihat seorang pemuda sedang duduk seorang diri disudut dinding, orang2 Siauw Lim Sie memandang tajam.
Rupanya pemuda itu jadi tidak senang.
Pemuda itu sesungguhnya orang yang di kejar2 oleh kedua srudara Cie di Pek Houw Cun, shenya Kwan dan bernama Hiong.
Dia memang murid Butong, setelah di Pek Houw Cun melawan siewie2 istana, atas pertanyaan Cie Beng dan Cie Jin dia menjelaskan mengapa telah datang kerumah gadis itu dengan cara mencurigakan.
Gadis itu kawan bermain diwaktu kecil.
Ayah Kwan Hong seorang guru sekolah, telah ditangkap pemerintah Boan karena difitnah.
Ibunya meninggal tidak lama kemudian, dan Kwan Hiong telah menghilang menyelamatkan diri.
Dan kemudian berhasil ditolong oleh Liok Hwe Ceng, yang mendidiknya menjadi muridnya yang kedua.
Setelah belajar tujuh tahun, Kwan Hiong kembali kekampungnya dan bertemu sekali dengan sigadis didesa itu, yang bernama Hwee Swat Hong Namun ayah sigadis yang takut dianggap bersahabat dengan keluarga Kwan.
telah melarang keras pergaulan mereka.
Secara diam2 mereka mengadakan hubungan gelap, namun tetap saja ditentang ayah si Swat Hong.
Tetapi hubungan itu tidak bisa disembunyikan dari mata ayah Hee Swat Hong, yang lalu mencarikan jodoh untuk putertnya untuk memutuskan bubungan itu.
Calon suami Hee Swat Hong putera seorang bekas pembesar tinggi yang mengundurkan diri.
Kwan Hiong tentu saja berduka mendengar keputusan ayah kekasihnya itu, dan malam ini dia telah sengaja ingin menemui kekasihnya itu, dan telah kepergok oleh ayah sigadis dan juga kedua saudara Cie itu.
Goan Seng dan kawan2nya heran melihat sikap Kwan Hiong yang seperti tidak menyukai kehadiran mereka.
Sesungguhnya Kwan Hiong yang tengah kusut pikiranrya memang tengah ingin menyendiri.
Ketujuh orang itu pergi kesudut lain, tidak memperdulikan Kwan Hiong lagi.
Dalam percakapan itu Hek Sin Ho mengetahui orang yang ketujuh bersama Goan Seng tidak lain murid Ong Kie Cie.
Mereka rupanya penasaran dan tengah menyelidiki dimana adanya Hek Sin Ho untuk ditangkap hidup2.
Tentu saja Hek Sin Ho jadi mendongkol.
Sementara itu Kwan Hiong terganggu sekali oleh suara percakapan ketujuh orang itu.
Dan samar2 dia mendengar perkataan "Pemuda bangsat".
"pemuda kurang ajar"
Secara tidak jelas, terlebih hatinya tengah uring2an, keruan saja dia menduga orang2 itu tengah mencaci dia Akhirnya Kwan Hiong tidak bisa menahan kemendongkolan hatinya, dia berdiri .
"Toasuhu siapa yang pemuda bangsat, siapa pemuda yang kurang ajar ? Kalau memang kalian laki2 Sejati, bicara terang2an, jangan kasak-kusuk begitu mengganggu ketenteramanku. Jika kalian masih ingin bercakap terus, silahkan diluar saja". Goan Seng dan kawan2nya menganggap teguran itu tanpa alasan dan mereka tercengang. Tetapi karena mereka menganggap Kwan Hiong seorang pemuda yang kurang waras, Goan Seng telah mengeluarkan kata2 manis, meminta maaf jika sekiranya mereka mengganggu ketentraman si pemuda. Sebaliknya murid Ong Hee Cie, dia tidak terima teguran itu. lebih2 mengingat dia berada bersama pentelan2 Siauw Lim Sie.
"Hei, ini bukan kuil milikmu, bukan milik siapa juga, siapa yang mau berteduh disini tentu saja bebas tidak ada larangan. Jika kau merasa terganggu, silahkan kau yang keluar dari kuil ini."
Katanya dengan suara yang diliputi kemendongkolan. Mendengar perkataan murid Ong Kee Cie, Kwan Hiong jadi sadar dari kekeliruannya.
"Baiklah, ya, memang akulah yang keliru dan berbuat tidak pantas. Harap agar dimaafkan"
Katanya dan dia kembali kesudut dimana tempatnya tadi. Pihak lain, murid Ong Kee Cie rupanya menganggap pemuda itu takut."
Dia jadi semakin congkak.
Dengan suara memandang rendah dia telah berkata "Baiklah kalau kau telah menyadari kesalahanmu, apakah kau kira cukup meminta maaf saja?
Kau harus menjura tiga kali, baru tuan besarmu ini puas".
Goan Seng dan sute2nya terkejut mendengar keponakan murid mereka, tetapi sudah terlambat untuk dicegah.
Kwan Hiong diam saja, dan murid Ong Kee Cie telah melompat sambil membentak.
"Enak saja kau tadi menggoyang lidah, harus menjura meminta maaf, kalau tidak kuhajar kau"
Bentaknya.
Ayo cspat menjura...cepat aduuh".
Beberapa patah terakhir diucapkan sambil mengangkat tangannya.
Tetapi tahu2 tubuhnya telah terpental terbanting dilantai.
Mulut murid Ong Kee Cie juga terasa asin rupanya telah berdarah.
Goan Seng dan yang lainnya terkejut, mereka bangkit.
Dengan cepat Goan Seng menarik keponakan muridnya itu untuk merendahkan.
Dan setelah dibentak Goan Seng, murid Ong Kee Cie tidak berani membantah lagi dan berdiam diri, Setelah kembali ketempat mereka.
murid2 Siauw Lim Sie itu tidak melanjutkan percakapan mereka lagi.
Dan mereka juga telah merebahkan diri untuk tidur.
Kwan Hiong juga telah merebahkan tubuhnya untuk tidur.
Hanya bunyi hujan yang masih terdengar.
Hek Sin Ho dapat menyaksikan semua itu dia merasa kagum akan sifat kesatria pemuda she Kwan yang mengakui kekeliruannya dan mau meminta maaf.
Tidak lama kemudian, Hek Sin Ho terkejut karena melihat murid Kee Cie perlahan2 bang kit sambil meloloskan pedangnya dan menghampiri Kwan Hiong.
Jelaskan bahwa murid Ong Kee Cie tidak bermaksud baik.
Ccpat2 Hek Sin Ho mengambil debu diwuwungsn itu, dia mempergunakan ludah untuk memulungnya menjadi tiga butir bola kecil.
Saat itu murid Ong Kee Cie telah tiba di belakang Kwan Hiong yang tidur membelakangi dan disaat pedangnya ingin diayunkan, tiba2 Hek Sin Ho menimpuknya.
Dua butir bola itu mengejai sepasang Kie Kut Hiat dibahu kiri dan kanan, bola ketiga menghajar Sio To Hiat tulang punggungnya.
Seketika itu juga murid Ong Kee Cie merasakan kaki tangannya kaku dan tak dapat digerakkan lagi Dia berdiri bagaikan patung berdiri dengan sikap ingin membacok.
Dengan mempergunakan sehelai tirai, dia turun perlahan2 dan mengambil bekal murid Siauw Lim Sie, lalu berayun dengan tirai, itu mengingatkan bekal2 itu dipunggung murid Ong Kee Cie.
Dengan sebatang jarum dia menulis di dahi orang itu;
"Inilah hadiah Hek Sin Ho untuk seorang busuk". Setelah melakukan semua itu dia pergi meninggalkan kuil. Setelah berjalan kurang lebih lima lie, mulailah hujan mereda. Samar2 dikejauhan, kurang lebih tiga atau empat lie dari tempatnya, tampak beberapa bangunan diatas sebuah bukit rendah. Dalam sekejap dia sudah tiba dikaki bukit itu. Tiba2 dia mendengar suara gemerincingnya suara saling benturnya senjata, ternyata suara itu datang dari balik kaki bukit. Dia jadi ragu2. yang dicarinya adalah tempat yang tenang untuk melanjutkan tidurnya. Baru saja Hek Sin Ho ingin meninggalkan tempat itu tiba2 dia melihat sepasang kaki yang menonjol keluar dari semak2 disisi kirinya, dan tidak jauh tampak menggeletak sebatang golok, Pemandangan itu menimbulkan perasaan ingin tahunya, Ketika itu Hek Sin Ho telah melihat milik kedua kaki itu tidak lain dari sesosok mayat, yang mukanya telah rusak sekali dan menyeramkan. Dan juga, seluruh sakunya telah dikosongkan; Ketika Hek Sin Ho berjalan beberapa saat lagi, dibalik bukit itu ternyata terdapat sebuah perkampungan yang bernama Cie Kecung (perkampungan Cie semuanya kosong dan htnya tampak mayat2 belaka yang menggeletak tanpa terlihat seorang manusiapun juga. Tidak jauh dari tempat itu tampak seorang gadis tengah bertempur melawan empat Orang yang memakai seragam Gie lim kun, tentara pengawal kota raja. Dengan gusar Hek Sin Ho menyerang hebat sekali kearah keempat Gie lim kun itu, dan dia telah berhasil mematahkan tangan dari salah seorang Gie lim kun. berhasil memotong putus tangan yang lainnya dan menghajar yang seorang lainnya jadi muntah darah. Dan yang seorang lagi telah dipukulnya di dekat kepalanya sehingga pingsan disaat itu jua, Tetapi si gadis tiba2 berteriak, karena saat itu telah menyambar tiga golok terbang kearahnya. Hek Sin Ho terkejut jarak mereka terlalu dekat, karena Gielimkun yang seorang, yang terluka tangannya yang kiri, telah melancarkan serangan menggelap itu, dan disaat itulah Hek Sin Ho mengibaskan tangannya, golok terbang itu menyambar kearah pemiliknya sehingga Gielimkun yang seorang itu kontan binasa. Setelah itu Hek Sin Ho merangkapkan tangannya memberi hormat.
"Terima kasih atas seruan nona tadi. Sehingga jiwaku tidak perlu terbang meninggalkan ragaku."
Katanya kemudian. Tetapi jawaban sigadis membikin dia heran bukan main.
"Hemm."
Mendengus sigadis.
"Apakah kau hendak menonjolkan jasamu, bahwa tadi kau telah menolong aku dan aku belum menyatakan terima kasih? Dan aku kira kita telah sama2 tidak menanggung budi, bukankah tadipun aku telah meneriakimu sehingga golok2 terbang itu tidak mengenai dirimu?"
Hek Sin Ho tertegun. Dia memperhatikan gadis itu yang sesungguhnya tidak terlalu cantik dan sepasang kakinya tidak kecil.
"Nona tentunya kau Cie Siocia, bukan? Mengapa kau begitu gembira? Mungkinkah kau belum mengetahui bahwa rumah tanggamu telah di obrak-abrik musuh dan keluargamu telah dicelakai orang?"
Tetapi dugaan Hek Sin Ho meleset, sigadis bukan menangis terisak2 atau terkejut, justeru tertawa tergelak2.
"Apa katamu? Kurang ajari Keluargaku dicelakai orang? Jangan mimpi kau? Orang yang dapat mencelakai keluargaku belum ada dan tidak akan pernah ada? Jangan sembarangan menggoyangkan lidah!"
"Nona Cie......"
"Siapa nona Cie?"
Bentak sigadis.
"Aku bukan she Cie dan apakah yang telah terjadi diperkampungan ini ?"
Untuk sekian kalinya Hek Sin Ho jadi terkejut.
"Ohhh. jadi nona bukan puteri Cungcu perkampungan ini ? Tadi kukira kau tentu Cie 5iocia. Bolehkah aku mengetahui siapa orang tuamu ?"
"Kau benar2 banyak lagak. Kalau bertanya, lebih baik jangan mutar2 begitu "
Hek Sin Ho benar2 kewalahan menghadapi gadis itu. Tetapi sebaliknya dari marah karena berulang kali dimaki, dia justru merasa tertarik oleh sikap sigadis.
"Baiklah, Bolehkah aku mengetahui namamu?"
Tanyanya tertawa.
"Aku tidak mau memberitahukan namaku,"
Kata sigadis kemudian.
"Engkau jangan curang, seharusnya kau memberitahukan namamu dulu."
"Namaku sudah sejak enam tahun sudah tidak pernah kupergunakan lagi. Pertama-tama karena kuatir dicelakai orang, dan akhirnya karena aku kuatir jika dengan kepandaianku yang belum sempurna ini aku hanya akan mendatangkan malu keluarga."
Hek Sin Ho diam sejenak, sampai akhirnya dia berkata lagi .
"Orang-biasi memanggilku dengan Hek Sin Ho."
Sigadis telah tertawa bergelak2.
"Hek Sin Ho ?"
Katanya tertawa.
"Sungguh tepat dengan mukamu yang tidak putih itu.... hahahahaha"
Biasanya Hek Sio Ho memang tidak senang disebut2 mukanya yang hitam itu, tetapi dia mengerti sigadis polos dan tidak mengandung maksud menghinanya, justru membuat dia tertawa juga.
Terlebih lagi dia melihat sikap sigadis yang bebas sedikitpun tidak canggung."
"Karena engkau hanya menyebutkan gelaranmu, maka cukup akupun memperkenalkan gelar anku yang diberikan kawan2, yaitu Pek Bin Ho Lie."
Pek Bin Ho Lie berarti Si Rase bermuka putih, Dan Hek Sin Ho mengerti bahwa Pek Bin Ho Lie bukan gelaran sigadis.
melainkan gadis itu memang ingin mengejeknya bergelar Hek Sin Ho.
Sungguh kebetulan, engkau si Rase putih dan aku si Rase hitam.
Kau Rase akupun Rase biarpun kau putih dan aku hitam, kita masih sebangsa dan sebagai Rase.
tidak heranlah kau senang berkawan dengan Rase."
Kata Hek Sin Ho tertawa.
Sigadis jadi tersadar bahwa dia telah melakukan kekeliruan.
Dengan menyebut dirinya Rase juga, berarti dia memang merupakan sebangsa dengan pemuda hitam itu.
Sebaliknya, dari marah dia telah tertawa.
"Uhhh, siapa yang sudi berkawan denganmu. Melihat kulitmu yang hitam itu, aku jadi takut kalau2 nanti kena lumuran hitamnya."
Hek Sin Ho tertawa dia tidak marah.
"Memang aku tahu bahwa kau takut melihatku, sebab sejak tadi aku melihat wajahmu yang terus menerus pucat."
Katanya membalas ejekan sigadis. Wajah sigadis berekah, namun disaat dia hendak berkata2, telah terdengar suara "cit, cit cit"
Segera tampak seekor tikus kecil berlari dengan cepat sekali dikejar seekor kucing.
Sigadis jadi menubruk Hek Sin Ho dan memegang kedua lengan Hek Sin Ho sambil menjerit ketakutan.
Dalam sekejap saja tikus itu sudah lenyap dibalik rerumputan.
Dia jadi malu sendirinya dan tidak mengucapkan kata2 lagi sambil melepaskan cekalan tangannya dilengan Hek Sin Ho, Sebaliknya Hek Sin Ho tertawa bergelak2.
"Ternyata lunturan hitam dari kulitku berwarna merah, lihat mukamu menjadi merah."
Ejeknya. Gadis itu benar2 mati kutunya. Dan tidak menjawab ejekan Hek Sin Ho, dan karena jengkelnya dia telah menangis Hek Sin Ho jadi kaget bukan main.
"Sudahlah nona"
Katanya menyesal.
"Aku sungguh menyesal. Harap kau mau memaafkan kesalahanku. Sudahlah, jangan menangis". Tiba2 terdengar suara rintihan salah seorang Gielimkun, menyadari mereka.Cepat2 Hek Sin Ho menghampiri Gielimkun yang baru tersadar dari pingsannya. Dia mendesak Gielimkun itu, mengorek keterangannya. Ternyata pemilik perkampungan itu Cie Hwan telah masuk dalam daftar hitam Dan keempat Gielimkun itu telah merampoknya. Hek Sin Ho menanyakan dimana Gielimkun itu menyembunyikan harta rampokannya itu, maka diberitahukan oleh Gielimkun yang sudah tidak berdaya dan ketakutan itu, harta rampokan disimpan dibawah kotoran kuda diistal kuda belakang perkampungan itu. Hek Sin Ho bekerja dengan cepat, harta itu telah dibuntalnya menjadi dua dan kemudian dia menghantam selangkangan Gielimkun itu, menotok beberapa jalan darahnya, memusnakan seluruh kepandaiannya dan baru kemudian berangkat dengan sigadis Dalam perjalanan, sigadis memperkenalkan dirinya sebagai anggota muda Ang Hwa Hwe yang akan menghadiri pertemuan orang2 gagah di Ho Ke Cung, milik bekas ketua Ang Hwa Hwe didaerah Ouwpak barat laut yang bernama Ho Keng Thian. Salah seorang yang diundang adalah Cie Hwan, tetapi ternyata kedatangan sigadis terlambat. Hek Sin Ho memeriksa keadaan korban2 dari keganasan pasukan pemerintah itu, ternyata sudah tidak ada yang bernapas. Maka mereka segera dikuburnya. Walaupun baru berjumpa, namun mereka merasa cocok dan banyak persamaan watak dari sifat, bergaul bebas.
"Eh hitam", kata sigadis tiba2.
"Karena telah bertemu dengan kau disini, walaupun tidak terdapat didalam daftar, aku lancang mengundangmu untuk hadir juga.".
"Mana berani aku menghadiri pertemuan orang2 gagah? Aku mana termasuk hitungan Enghiong?"
Kata Hak Sin Ho.
"Siapa yang menganggap Kau Enghiong? Aku sudah tahu, kau memang bukan Enghiong, hanya si hitam yang mukanya seperti setan, sangat menyeramkan sekali. Aku mengundangmu hanya menguji mereka yang hadir nanti, untuk menakuti saja, untuk melihat siapa yang penakut."
"Baiklah pucat......"
Kata Hek Sin Ho.
"Eh, apa kau bilang ? Kau memanggil aku si Pucat ? Ku tampar mulutmu."
Teriak sigadis.
Hek Sin Ho tertawa, dia lari dikejar sigadis yang tidak dipanggilnya dengan sebutan nona lagi, tetapi Pucat.
Tiba2 disaat mereka tengah saling kejar begitu.
Hek Sin Ho telah menunjuk kebawah lembah sambi1 mendengarkan teruan tertahan sigadis juga melihat, dibawah lembah empat orang penunggang kuda menuju keatas bukit.
Hek Sin Ho mengajak sigadis bersembunyi.
Mereka tidak menanti lama keempat penunggang kuda ini tiba, Maka mereka mirip satu dengan yang lainnya dan juga tampaknya mereka bengis2 dengan dahi yang sempit menonjol keluar kedepan.
Mereka juga masing2 membawa sebatang golok dengan bentuk tubuh yang kasar.
"Toako, janganlah kita bekerja tanggung? Sebaiknya kita tangkap saja seluruh keluarga Cie untuk diserahkan kepada sumbu sebagai hadiah. Setelah kita memperoleh undangannya untuk membantu pihak pemerintah untuk membasmi pemberontak didaerah ini, maka kedatangan kita sambil membawa hadiah berharga, tentu Sumbu akan gembira sekali".
"Jangan, lebih baik kita mempergunakan lidah kita saja, jika memang gagal, barulah mempergunakan lidah kita saja, jika memang gagal, barulah mempergunakan kekerasan. Disaat itu orang2 didaerah Ouwpak baru mengetahui siapa Hui-ho Susai (Empat Singa dari sungai Hui)". Hek Sin Ho terkejut, karena Huiho Susay merupakan empat penjahat yang terkenal memiliki kepandaian tinggi dan jahat sekali.
"Engkau dengar apa yang mereka bilang tadi, Pucat? Kini jelas bahwa pihak pemerintah juga telah mengumpulkan jago2 untuk meramaikan pertemuan orang2 gagah Ang Hwa Hwe Sigadis hanya tertawa mendengus. Ketika sampai di muka Cie Ke Cung, keempat Singa itu terkejut sekali. Mereka telah menghunus senjata masing2 dan memeriksa kedalam perkampungan. Dan tidak lama kemudian mereka keluar lagi dengan menggerutu, karena tidak menjumpai sesuatu dan telah didahului orang. Mereka penasaran dan berpencaran untuk mencari kalau2 masih ada keluarga Cie yang hidup. Disaat itu, Hek Sin Ho memperoleh serupa pikiran, setelah keempat singa itu berlalu ke tempat yang cukup jauh, Bek Sin Ho keluar dari tempat persembunyiannya dan melepaskan tali tambatan kuda, dan mengukir beberapa huruf dibatang pohon itu. Dan lalu dia mengajak sigadis menaiki salah seekor kuda itu. Sigadis ragu2, tetapi Hek Sin Ho sudah menarik tangan sigadis. Setelah lari cukup jauh dan aman, Hek Sin Ho baru memperlambat larinya kuda itu. Tidak lama kemudian mereka telah tiba ditepi sungai Tiangkang. Waktu itu sudah jauh lewat lohor, maka jika mereka hendak mencapai kota Bu Ciang sebelum datang senja, mereka harus cepat menyeberang. Waktu itu ditempat penyerangan kebetulan agak sunyi dan mudahlah mereka menyewa perahu. Akhirnya mereka tiba dimuka kota Bu Ciang. Sigadis hendak langsung mencari rumah Ciu Kian Bin untuk menyampaikan undangan Tan Kee Lok dan baru setelah itu mencari rumah penginapan. Rumah Ciu Kian Bin tidak sulit untuk dicari, walaupun hampir tidak ada yang mengetahui bahwa dia seorang jago silat yang harus disegani, namun sebagai saudagar barang2 dari besi dan sebagai hartawan yang banyak mengenal, namanya dikenal diseluruh kota. Ciu Loen ini berusia kurang lebih lima puluh tahun, ternyata sangat ramai. Tuan rumah telah mengundang mereka bersantap malam dan memaksa untuk bermalam di rumahnya. Tengah malam tiba, tiba2 Hek Sin Ho melompat bangun dan lari keluar, tetapi setibanya diluar pintu dia berhenti. Dia menengok kekanan dan kiri bagaikan tengah mencari sesuatu. Dan tidak lama kemudian dia kembali dengan wajah yang tidak puas, sehingga sigadis heran ;
"Apa yang kau cari?"
Tanyanya.
Baca Juga: Kisah Para Pendekar Pulau Es 8
Baca Juga: Pedang Sinar Emas 13