Eps 15 Hina Kelana Balada Kaum Kelana - Jin Yong
Baca online Hina Kelana Balada Kaum Kelana - Jin Yong
Cersil Hina Kelana Balada Kaum Kelana - Jin Yong.
"Ketua Hing-san-pay Ting-sian Suthay sangat ramah dan welas asih, ketua Thay-san-pay Thian-bun Totiang kereng berwibawa, ketua Ko-san-pay Co Leng-tan suka bicara dan banyak tertawa, guruku adalah seorang kesatria sopan, dan Bok-supek ini luarnya kelihatan jelek, mirip seorang rudin. Tapi ketua-ketua Ngo-gak-kiam-pay sebenarnya adalah tokoh-tokoh yang sukar dijajaki. Sebaliknya aku Lenghou Tiong cuma seorang bodoh, selisih jauh bila dibandingkan dengan mereka."
Dalam pada itu Bok-taysiansing berkata pula.
"Waktu di Oulam sudah kudengar bahwa kau bergalang-gulung bersama kawanan nikoh Hing-san-pay, aku sangat heran, sebab Ting-sian Suthay bukanlah orang sembarangan, mana dia mengizinkan anak muridnya berbuat tidak senonoh. Kemudian kudengar orang Pek-kau-pang membicarakan jejakmu, aku lantas menyusul ke sini. Lenghou-laute, ketika kau membikin rusuh di rumah pelesiran di Heng-san, tatkala mana kuanggap kau adalah seorang pemuda bangor. Sebab itulah waktu kemudian kau membantu Lau Cing-hong, Lau-sute, lantas timbul kesan baikku kepadamu, tujuanku menyusul kemari adalah ingin memberi nasihat kepadamu. Tak terduga kenyataannya sama sekali di luar sangkaanku, ternyata di tengah kesatria muda angkatan kini terdapat seorang laki-laki sejati seperti kau. Sungguh bagus, bagus sekali. Marilah, mari, kita habiskan tiga mangkuk bersama."
Menyusul ia menuang arak dan ajak menenggak lagi dengan Lenghou Tiong.
Beberapa mangkuk arak masuk perut seketika membuat Bok-taysiansing penuh bersemangat, berulang-ulang ia ajak minum.
Cuma kekuatan minumnya jauh dibandingkan Lenghou Tiong, hanya tujuh-delapan mangkuk saja mukanya sudah merah membara.
Ia berkata pula.
"Lenghou-laute, kutahu kau paling gemar minum arak. Aku tidak punya tanda penghormatan apa-apa kepadamu, terpaksa hanya mengiringi kau minum arak. Hehe, selama ini orang bu-lim yang pernah kuajak minum juga dapat dihitung dengan jari. Seperti pertemuan besar di atas Ko-san dulu, di antara hadirin ada seorang yang bernama Ko-yang-jiu Hui Pin. Orang ini banyak tingkah dan tinggi hati, makin pandang makin gemas rasaku padanya, maka waktu itu satu tetes arak pun aku tidak sudi minum. Tapi mulut orang she Hui masih terus mengoceh tak keruan, keparat, coba katakan, menjengkelkan tidak?"
"Ya, orang yang tidak tahu diri seperti dia, pasti tidak punya hari akhir yang baik,"
Ujar Lenghou Tiong dengan tertawa.
"Belakangan kabarnya orang itu mendadak menghilang dan tidak tahu ke mana perginya, sungguh heran juga,"
Kata Bok-taysiansing pula.
Padahal di luar Kota Heng-san dahulu dengan mata sendiri Lenghou Tiong menyaksikan Bok-taysiansing membinasakan Ko-yang-jiu Hui Pin dengan ilmu pedangnya yang hebat.
Sudah terang ketua Heng-san-pay itu pun melihat dia hadir di sana, tapi sekarang sengaja bicara demikian, jelas karena Bok-taysiansing tidak ingin kejadian itu tersiar.
Maka Lenghou Tiong lantas menanggapi.
"Ya, orang Ko-san-pay memang aneh-aneh gerak-geriknya. Orang yang bernama Hui Pin bisa jadi sekarang sedang mengasingkan diri di suatu tempat yang dirahasiakan untuk meyakinkan ilmu lebih sempurna, siapa tahu?"
Sorot mata Bok-taysiansing memantulkan selarik sinar yang licin, ia tersenyum dan berseru.
"O, kiranya demikian. Jika bukan Lenghou-laute yang mengingatkan aku, sekalipun kopyor otakku juga sukar memikirkan seluk-beluk hal ini. Lenghou-laute, sebenarnya mengapa kau berada bersama orang-orang Hing-san-pay? Yim-siocia dari Mo-kau itu benar-benar amat cinta padamu, hendaklah jangan kau mengecewakan maksud baiknya."
Muka Lenghou Tiong menjadi merah, sahutnya.
"Harap Bok-supek maklum, Siautit telah gagal di medan cinta, mengenai soal laki-laki dan perempuan sudah bersikap dingin."
Sampai di sini hatinya menjadi pilu karena teringat akan hubungannya dengan Gak Leng-sian di masa silam, air mata memenuhi kelopak matanya. Mendadak ia bergelak tawa dan berseru lantang.
"Sebenarnya Siautit ada maksud meninggalkan dunia ramai ini dan cukur rambut menjadi hwesio, cuma kukhawatir larangan bagi padri terlalu berat antara lain pantang minum arak segala, makanya urung menjadi hwesio. Hahahahaha!"
Walaupun bergelak tertawa, tapi suaranya penuh rasa sedih.
Selang sejenak baru dia menceritakan pengalamannya bertemu dengan Ting-cing, Ting-sian, dan Ting-yat Suthay, hanya mengenai cara bagaimana dirinya memberi bantuan selalu ia lukiskan secara singkat dan sekadarnya saja.
Bok-taysiansing melototi poci arak dengan termenung-menung, selang sejenak baru berkata.
"Co Leng-tan bermaksud melebur empat pay yang lain untuk menjadi satu pay besar agar menandingi Siau-lim-pay dan Bu-tong-pay secara segitiga. Muslihatnya ini sudah direncanakan cukup lama, cuma selama ini tidak pernah ditonjolkan, namun aku telah dapat mengetahui sedikit tanda-tanda yang mencurigakan. Neneknya, dia melarang Lau-sute cuci tangan mengundurkan diri, lalu membantu sekte pedang Hoa-san-pay untuk berebut kedudukan ciangbun dengan Gak-siansing, semua gara-gara itu termasuk dalam rencananya yang keji itu, hanya aku tidak menduga bahwa dia ternyata begini berani turun tangan secara terang-terangan terhadap Hing-san-pay."
"Sebenarnya juga tidak terang-terangan, mereka menyaru sebagai orang Mo-kau untuk memaksa Hing-san-pay menerima rencana peleburan mereka,"
Kata Lenghou Tiong.
"Benar,"
Kata Bok-taysiansing sambil mengangguk.
"Dan langkah selanjutnya tentu mereka akan menangani Thian-bun Totiang dengan Thay-san-pay-nya. Hm, sekalipun keji orang Mo-kau juga tidak sekeji Co Leng-tan. Lenghou-laute, sekarang kau bukan murid Hoa-san-pay lagi, kau bebas bergerak sesuka hatimu dan tidak peduli apakah dia cing-pay atau Mo-kau, maka aku nasihatkan kau jangan menjadi hwesio, juga tidak perlu berduka, yang penting tolong keluar Yim-siocia yang dikurung Siau-lim-pay itu dan menikahi dia saja. Kalau orang lain tidak mau datang minum arak nikahmu, aku orang she Bok justru akan hadir minum sepuas-puasnya. Neneknya, persetan, takut apa?"
Begitulah terkadang Bok-taysiansing bicara sopan dan ramah, tapi sering diseling pula beberapa kata makian yang kasar.
Bilang dia adalah ketua satu pay terkenal tentu orang tak mau percaya.
Pikir Lenghou Tiong.
"Bok-supek mengira patah hatiku adalah karena Ing-ing, padahal bukan. Tapi urusan siausumoay rikuh juga untuk kuceritakan padanya."
Tanyanya kemudian.
"Bok-supek, sebenarnya apa sebabnya Siau-lim-pay menawan Yim-siocia?"
Bok-taysiansing menatap tajam dengan melongo penuh kejut dan heran. Sahutnya.
"Sebab apa Siau-lim-pay menawan Yim-siocia? Kau benar-benar tidak tahu atau sudah tahu tapi sengaja tanya? Padahal setiap orang Kangouw sama mengetahui, tapi kau ... kau malah tanya pula?"
"Beberapa bulan yang baru lalu Siautit berada dalam kurungan orang sehingga apa-apa yang terjadi di Kangouw sama sekali tidak tahu dan tidak mendengar,"
Sahut Lenghou Tiong.
"Bahwa Yim-siocia pernah membunuh empat murid Siau-lim-pay, hal ini memang disebabkan oleh diri Siautit, hanya entah mengapa kemudian Yim-siocia bisa ditawan oleh padri Siau-lim-pay?"
"Jika demikian, jadi kau memang tidak tahu seluk-beluk urusan ini?"
Ujar Bok-taysiansing.
"Waktu kau menderita penyakit dalam yang aneh dan tidak bisa diobati, konon ada beribu orang gagah dari golongan samping yang berkumpul di Ngo-pah-kang, untuk menyanjung Yim-siocia, mereka semuanya berusaha hendak menyembuhkan kau. Tapi hasilnya nihil, semua orang tak berdaya. Begitu bukan kejadian?"
"Ya, memang begitulah,"
Sahut Lenghou Tiong.
"Peristiwa itu telah menggegerkan Kangouw, semuanya anggap alangkah besar rezekimu sehingga mendapatkan perhatian Yim-siocia dari Hek-bok-keh. Seumpama penyakitmu tetap tak bisa disembuhkan juga hidupmu tidaklah tersia-sia."
"Ah, Bok-supek suka berkelakar saja,"
Kata Lenghou Tiong.
"Dan bagaimana kemudian, penyakitmu bisa sembuh, apakah karena meyakinkan ilmu sakti ‘Ih-kin-keng’ Siau-lim-pay?"
Tanya Bok-taysiansing.
"Bukan,"
Sahut Lenghou Tiong.
"Hong-ting Taysu memang welas asih dan sangat baik padaku, beliau menyanggupi akan mengajarkan ilmu sakti Siau-lim-pay, cuma Siautit tidak ingin masuk Siau-lim-pay, sebaliknya ilmu sakti Siau-lim-pay tak dapat diajarkan kepada orang yang bukan murid Siau-lim-pay, maka terpaksa Siautit telah menyia-nyiakan maksud baik beliau."
"Siau-lim-pay adalah bintang kejora dunia persilatan, tatkala itu kau sudah dipecat Hoa-san-pay, sebenarnya baik sekali jika kau terus masuk Siau-lim-pay. Itulah kesempatan yang benar-benar sukar dicari, tapi mengapa kau tidak mau yang berarti tidak memikirkan pula akan jiwamu?"
"Sejak kecil Siautit dibesarkan oleh suhu dan sunio, budi kebaikan beliau-beliau belum dibalas, Siautit hanya mengharapkan kelak aku akan diberi ampun oleh suhu dan diterima kembali ke dalam Hoa-san-pay, maka sama sekali Siautit tidak takut mati sehingga mesti masuk perguruan lain."
Bab 89.
Beramai-ramai Menolong Ing-ing Lenghou Tiong menjadi teringat kepada kejadian di Ngo-pah-kang tempo hari ketika berbagai golongan orang Kangouw sama menyanjung Ing-ing, lalu teringat pula waktu si nona menjadi marah, kontan tiga orang lantas mencukil biji matanya sendiri.
Sekarang diketahui Ing-ing terkurung di Siau-lim-si, sudah tentu semua orang ingin pergi menolongnya tanpa menghiraukan dirinya sendiri.
"Bok-supek,"
Tanya Lenghou Tiong.
"tadi engkau mengatakan bahwa beramai-ramai mereka berebut menjadi kepala dan bertengkar sendiri, sebenarnya bagaimana duduknya perkara?"
Bok-taysiansing menghela napas, katanya.
"Dasar petualang dan orang-orang tersesat, selain mereka mau tunduk di bawah perintah Yim-taysiocia, biasanya mereka sama sombong dan takabur, suka berkelahi dan ingin menang sendiri, satu sama lain tidak mau saling mengalah. Sekarang yang dihadapi adalah Siau-lim-pay, mereka bersepakat untuk mengumpulkan kawan sebanyak mungkin dan menuju ke sana dengan berserikat. Untuk berserikat dengan sendirinya harus ada seorang pemimpin. Kabarnya lantaran berebut menjadi pemimpin perserikatan, selama beberapa hari ini mereka telah saling bergebrak, banyak yang terluka dan bahkan ada yang mati. Lenghou-laute, kukira kau perlu lekas-lekas ke sana, hanya kau saja yang dapat mengatasi mereka, apa yang kau katakan tentu tiada satu pun yang berani membangkang. Hahaha!"
Lenghou Tiong tahu apa yang dikatakan Bok-taysiansing itu memang tidak salah, tapi ia pun tahu sebabnya gembong-gembong Kangouw itu mau tunduk padanya hanya karena pengaruh Ing-ing saja.
Kelak kalau hal ini diketahui si nona tentu dia akan marah-marah lagi.
Memang diketahuinya si nona sangat mendalam cinta padanya, hanya saja perasaan cinta itu malu untuk ditonjolkan secara terang-terangan, terutama kalau ada orang mengatakan si nona cuma bertepuk sebelah tangan saja karena cintanya tak terbalas.
"Aku harus membalas maksud baik Ing-ing,"
Demikian pikir Lenghou Tiong.
"Aku harus membuat semua orang Kangouw sama mengetahui bahwa aku pun sangat mencintai Yim-siocia dan tidak segan mengorbankan jiwa baginya. Aku harus pergi ke Siau-lim-si seorang diri, paling baik kalau aku dapat menyelamatkan dia, kalau tidak sedikitnya aku harus membikin gempar agar setiap orang tahu akan usahaku untuk menyelamatkan dia ini."
Begitulah kemudian ia berkata kepada Bok-taysiansing.
"Ting-sian dan Ting-yat Supek dari Hing-san-pay sudah menuju ke Siau-lim-si untuk meminta Hongtiang Siau-lim-si sudi melepaskan Yim-siocia agar tidak mengakibatkan banjir darah."
"O, pantas, pantas!"
Ujar Bok-taysiansing.
"Makanya aku sangat heran orang yang begitu prihatin seperti Ting-sian bisa memercayai kau mendampingi anak muridnya yang masih muda belia itu dan dia sendiri berangkat ke lain tempat, kiranya dia hendak menjadi juru damai bagimu."
"Bok-supek, setelah mengetahui hal ini Siautit menjadi sangat gelisah dan ingin terbang ke Siau-lim-si kalau bisa untuk menyaksikan bagaimana hasil usaha kedua suthay yang baik hati itu,"
Kata Lenghou Tiong.
"Cuma para suci dan sumoay Hing-san-pay ini adalah kaum wanita semua, bila di tengah jalan nanti mengalami apa-apa, hal ini menjadi serbasalah bagiku."
"Jangan khawatir, boleh kau pergi saja,"
Kata Bok-taysiansing.
"Siautit boleh berangkat dulu, tidak berhalangan?"
Lenghou Tiong menegas dengan girang.
Bok-taysiansing tidak menjawab lagi, ia ambil rebab yang disandarkan di tepi bangku, lalu mulai memetiknya.
Lenghou Tiong tahu, sekali Bok-taysiansing menyuruhnya berangkat, itu berarti menyanggupi akan menjaga anak murid Hing-san-pay.
Maka cepat ia memberi hormat dan mengucapkan terima kasih.
"Sesama Ngo-gak-kiam-pay adalah layak kalau aku membantu Hing-san-pay, perlu apa kau mengucapkan terima kasih segala?"
Ujar Bok-taysiansing dengan tertawa.
"Kalau kelakuanmu ini diketahui Yim-siocia itu mungkin dia akan cemburu."
Setelah mengucapkan terima kasih lagi, segera Lenghou Tiong melangkah pergi dengan cepat menuju ke utara, suara rebab Bok-taysiansing makin lama makin sayup-sayup, sangat memilukan kedengarannya di malam sunyi.
Tanpa berhenti Lenghou Tiong berjalan cepat sejauh beberapa puluh li, terasa tenaga dalam timbul tak terputus, sedikit pun tidak terasa lelah.
Paginya sampailah dia di suatu kota, ia masuk suatu rumah makan, sekaligus ia menghabiskan tiga mangkuk bakmi.
Keluar dari rumah makan itu, tiba-tiba dilihatnya dari depan datang suatu rombongan orang, seorang di antaranya pendek gemuk, jelas dikenalnya sebagai satu di antara "Hongho Lo-coh", yaitu Lo Thau-cu.
Dengan girang Lenghou Tiong terus berteriak.
"Hei, Lo Thau-cu, apa kabar!"
Melihat Lenghou Tiong, seketika air muka Lo Thau-cu berubah aneh, setelah ragu-ragu sejenak, mendadak ia lolos goloknya. Tanpa curiga Lenghou Tiong mendekati dan bertanya lagi.
"Bagaimana dengan Coh Jian-jiu ...."
Belum habis ucapannya, kontan golok Lo Thau-cu membacok ke arahnya, serangannya sangat kuat, hanya incarannya sangat tidak tepat, sedikitnya selisih satu depa dari bahu Lenghou Tiong.
Tentu saja Lenghou Tiong kaget.
Cepat ia melompat mundur sambil berseru.
"He, Lo-siansing, aku ... aku ini Lenghou Tiong!"
"Sudah tentu aku tahu kau Lenghou Tiong,"
Kata Lo Thau-cu.
"Wahai dengarkan kawan-kawan! Tempo hari Seng-koh pernah memberi perintah, siapa saja yang memergoki Lenghou Tiong harus membunuhnya. Apakah perintah Seng-koh itu masih kalian ingat?"
"Ya, tahu!"
Seru semua orang beramai-ramai.
Walaupun begitu mereka berkata, tapi mereka hanya pandang-memandang saja satu sama lain, air muka mereka sangat aneh, tiada seorang pun yang lolos senjata dan maju menyerang, bahkan ada di antaranya hanya tersenyum-senyum saja, sedikit pun tidak bersikap memusuhi.
Muka Lenghou Tiong menjadi merah, teringat olehnya perintah Ing-ing kepada Lo Thau-cu dahulu itu agar disiarkan ke dunia Kangouw agar setiap orang membunuh Lenghou Tiong bila melihatnya.
Maksud perintah itu pertama-tama agar Lenghou Tiong terpaksa mesti mendampinginya senantiasa, kedua, supaya setiap orang Kangouw mengetahui bahwa Ing-ing tidak kesengsem kepada Lenghou Tiong, sebaliknya sangat benci padanya.
Rupanya perintah yang disiarkan Lo Thau-cu itu agaknya tidak dipercayai oleh orang-orang Kangouw itu.
Kemudian berita tentang dikurungnya Ing-ing di Siau-lim-si dalam usahanya menyelamatkan jiwa Lenghou Tiong dibocorkan pula tanpa disengaja oleh anak murid Siau-lim-pay, seketika dunia Kangouw menjadi gempar.
Setiap orang memuji cinta murni Ing-ing itu, tapi juga tertawa geli akan sifat tinggi hatinya itu, sudah terang jatuh cinta, tapi tidak mau mengaku dan malahan sengaja menutup-nutupi perasaannya.
Hal ini tidak cuma diketahui oleh orang-orang Kangouw yang tunduk di bawah perintah Ing-ing, bahkan orang-orang yang golongan cing-pay juga mendengar berita itu dan sering dibuat bahan percakapan yang menarik.
Sekarang munculnya Lenghou Tiong secara mendadak mau tak mau membikin Lo Thau-cu dan kawan-kawannya itu melengak.
"Lenghou-kongcu,"
Demikian kata Lo Thau-cu pula.
"meski Seng-koh ada perintah agar aku membunuh kau tapi ilmu silatmu teramat tinggi, bacokanku tadi tidak mengenai kau, malahan engkau yang telah mengampuni jiwaku karena tidak balas menyerang, sungguh aku harus berterima kasih padamu. Nah, para kawan telah ikut menyaksikan, bukan kita tidak mau membunuh Lenghou-kongcu, yang benar adalah karena tidak mampu membunuhnya. Aku Lo Thau-cu tidak mampu, tentu saja kalian lebih-lebih tidak mampu, betul tidak?"
"Betul!"
Jawab orang banyak yang gelak tertawa.
"Kita telah bertempur mati-matian dan kehabisan tenaga, tapi siapa pun tidak mampu membunuh Lenghou-kongcu, terpaksa kita akhiri bertempur. Sekarang boleh kita coba bertempur minum arak saja, coba saja siapa yang mampu membinasakan Lenghou-kongcu dengan arak agar kelak dapat dipertanggungjawabkan kepada Seng-koh."
"Bagus, usul yang bagus!"
Teriak orang banyak sambil tertawa terpingkal-pingkal. Sebagian lantas menyambung pula.
"Seng-koh hanya menyuruh kita membunuh Lenghou-kongcu dan tidak menentukan apa harus pakai senjata atau tidak. Kalau kita bikin dia mati mabuk dengan arak kan juga boleh? Ini namanya tidak dapat melawan dengan tenaga harus dilawan dengan akal."
Riuh ramailah sorak-sorai mereka, berbondong-bondong mereka mengiring Lenghou Tiong menuju suatu restoran yang paling besar di kota ini, 40 orang lebih memenuhi empat meja besar.
Belum mereka berduduk semua sudah ada beberapa orang di antaranya berteriak-teriak minta dibawakan arak.
Sejak minum arak enak keluaran Turfan bersama Tan-jing-sing di Hangciu tempo hari, sebegitu jauh Lenghou Tiong tidak sempat minum arak lagi sepuas-puasnya, terkadang ia pun suka minum sendiri, tapi rasanya hampa karena tak berteman.
Sekarang ia benar-benar gembira menghadapi gembong-gembong Kangouw yang berjiwa tulus, begitu ambil tempat duduk segera ia bertanya.
"Sebenarnya bagaimana keadaan Seng-koh? Sungguh aku sangat cemas baginya."
Mendengarkan Lenghou Tiong memerhatikan keselamatan Ing-ing, orang-orang itu menjadi girang, Lo Thau-cu lantas menjawab.
"Kawan-kawan telah menetapkan tanggal 15 bulan 12 yang akan datang ini akan berangkat ke Siau-lim-si untuk menyambut pulangnya Seng-koh. Akhir-akhir ini berhubung berebut menjadi bengcu (pemimpin atau ketua serikat), para kawan telah bertengkar tidak habis-habis. Sekarang semuanya akan menjadi beres dengan datangnya Lenghou-kongcu. Siapa lagi yang cocok menjadi bengcu jika bukan engkau?"
"Tepat,"
Seru seorang tua ubanan.
"Asalkan Lenghou-kongcu yang memimpin, andaikan ada kesulitan dan Seng-koh tak dapat disambut pulang untuk sementara, asal beliau mendapat kabar tentang usaha Lenghou-kongcu ini tentu juga beliau sangat girang. Maka jabatan bengcu ini benar-benar sudah ditakdirkan harus diduduki oleh Lenghou-kongcu."
"Siapa yang menjabat bengcu adalah soal kecil,"
Kata Lenghou Tiong.
"Yang penting adalah Seng-koh harus diselamatkan. Untuk mana sekalipun badanku harus hancur lebur juga aku siap saja."
Ucapan Lenghou Tiong ini bukan bualan belaka.
Ia benar-benar berterima kasih atas pengorbanan Ing-ing, kalau dia diharuskan mati bagi Ing-ing memang tidak perlu disangsikan lagi akan segera dilakukannya.
Sekarang perasaannya ini sengaja diucapkannya di hadapan orang banyak, Ing-ing tidak lagi ditertawai orang karena si nona hanya bertepuk sebelah tangan alias cinta tak terbalas.
Maka senang dan legalah semua orang mendengar pernyataan Lenghou Tiong itu, mereka sama mengakui pandangan Seng-koh ternyata tidak meleset terhadap pemuda pilihannya.
Si orang tua beruban tadi she Jik bernama Ko, dengan tertawa ia berkata lagi.
"Kiranya Lenghou-kongcu memang seorang kesatria yang berbudi luhur dan bukan manusia berhati dingin sebagaimana disiarkan orang dahulu."
"Selama beberapa bulan Cayhe terjebak oleh perangkap orang jahat dan terkurung, maka hampir tidak mengetahui segala sesuatu kejadian di dunia Kangouw. Namun rasa rinduku kepada Seng-koh siang dan malam membikin rambutku hampir ubanan,"
Kota Lenghou Tiong.
"Marilah mari, terimalah rasa terima kasihku atas bantuan dan perjuangan saudara-saudara sekalian atas keselamatan Seng-koh."
Menyusul ia terus berbangkit dan sama menghabiskan satu cawan arak bersama orang banyak. Lalu ia berkata lagi.
"Lo-siansing, kau bilang para kawan sedang bertengkar rebutan jabatan bengcu, rupanya urusan ini tidak boleh ditunda, marilah kita lekas berangkat ke sana untuk menghentikan persengketaan mereka. Entah sekarang mereka berkumpul di mana?"
"Mereka berkumpul di Hong-po-peng,"
Jawab Lo Thau-cu.
"Hong-po-peng? Di mana letak tempat itu?"
Tanya Lenghou Tiong.
"Di lereng pegunungan di barat Kota Siangyang,"
Tutur Lo Thau-cu.
"Jika demikian, marilah kita lekas makan minum, lalu cepat menyusul ke sana."
Begitulah di tengah perjalanan mereka bertemu pula dengan dua rombongan orang-orang gagah yang juga sedang menuju ke Hong-po-peng, gabungan tiga rombongan jumlahnya sudah ada 100 orang lebih.
Lenghou Tiong jalan berendeng dengan Lo Thau-cu, ia tanya orang tua itu.
"Bagaimana keadaan putrimu si Siau Ih? Apakah sudah baik?"
"Banyak terima kasih atas perhatian Kongcu,"
Sahut Lo Thau-cu.
"Dia belum baik sama sekali, tapi juga tidak terlalu buruk."
Ada suatu pertanyaan yang selalu menggoda pikiran Lenghou Tiong selama ini, melihat orang-orang lain rada ketinggalan jauh di belakang, segera ia tanya pula.
"Semua kawan sama mengatakan utang budi kebaikan kepada Seng-koh. Cayhe sungguh-sungguh tidak mengerti, usia Seng-koh masih muda belia, cara bagaimana dia bisa menanam budi kebaikan kepada kawan-kawan Kangouw sebanyak ini?"
"Kongcu benar-benar tidak tahu seluk-beluk soal ini?"
Tanya Lo Thau-cu sambil berpaling ke arahnya.
"Tidak tahu,"
Jawab Lenghou Tiong.
"Kongcu bukan orang luar, mestinya tidak perlu dirahasiakan. Cuma setiap orang sudah pernah bersumpah kepada Seng-koh bahwa rahasia ini takkan dibocorkan. Maka terpaksa mohon Kongcu sudi memaafkan."
"Jika demikian, baiklah jangan kau ceritakan."
"Kelak Seng-koh yang menceritakan sendiri kepada Kongcu kan jauh lebih baik?"
"Ya, semoga selekasnya akan tiba hari yang diharapkan ini,"
Kata Lenghou Tiong.
Ketika rombongan besar mereka sampai di Hong-po-peng, sementara itu sudah jauh malam.
Dari jauh sudah terdengar hiruk-pikuk orang saling caci maki diseling suitan dan teriakan.
Sesudah dekat, di bawah sinar bulan Lenghou Tiong melihat di suatu tanah lapang yang dikelilingi lereng-lereng bukit itu berkumpul orang sedemikian banyaknya, sedikitnya ada ribuan.
"Jabatan bengcu selamanya hanya dipangku oleh satu orang saja,"
Demikian terdengar seorang berteriak dengan marah.
"sekarang kalian berenam ingin menjadi bengcu sekaligus, lalu bengcu macam apakah ini?"
"Kami berenam merupakan satu orang dan satu orang sama dengan enam orang, asal kalian sama tunduk kepada kami berenam saudara, maka berarti kami sudah menjadi bengcu. Nah, jangan kau banyak bacot lagi, kalau rewel lagi bukan mustahil kami akan membeset tubuhmu menjadi empat potong,"
Demikian teriak seorang lain.
Tanpa melihat orangnya segera Lenghou Tiong dapat mengetahui pembicara terakhir itu adalah satu di antara "Tho-kok-lak-sian".
Hanya suara mereka berenam saudara itu satu sama lain hampir mirip, maka sukar dibedakan siapa yang berbicara.
Rupanya pembicara pertama tadi menjadi ketakutan oleh ancaman itu dan tidak berani buka suara lagi.
Tapi orang-orang banyak itu jelas tidak mau tunduk kepada Tho-kok-lak-sian, ada yang berteriak-teriak mengejek dari jauh, ada yang mencaci maki secara sembunyi-sembunyi di pelosok yang gelap.
Bahkan ada melemparkan batu dan menaburkan pasir ke tengah kalangan.
Suasana menjadi kacau.
"Siapa yang melempar batu padaku?"
Teriak Tho-yap-sian.
"Ayahmu!"
Jawab satu orang dari tempat yang tak kelihatan.
"Apa? Kau adalah ayah kakakku?"
Seru Tho-hoa-sian dengan gusar.
"Belum tentu!"
Sahut seorang lagi. Serentak gemuruhlah gelak tertawa beberapa ratus orang.
"Kenapa belum tentu?"
Tanya Tho-hoa-sian bingung.
"Aku pun tidak tahu, sebab aku cuma punya seorang anak,"
Sahut lagi seorang lain.
"Anakmu hanya satu, apa sangkut pautnya dengan aku?"
Kata Tho-hoa-sian.
"Tidak ada sangkut pautnya dengan kau, besar sangkut pautnya dengan saudaramu,"
Seru seorang dengan gelak tertawa.
"Apa barangkali ada sangkut pautnya dengan aku?"
Tanya Tho-kan-sian.
"Mungkin, harus lihat wajahmu mirip tidak!"
Kata orang tadi dengan tertawa.
"Apa maksudmu mirip wajahku?"
Tanya Tho-sit-sian.
"Coba kau maju."
"Buat apa maju, kau sendiri boleh bercermin saja,"
Sahut orang itu tertawa.
Mendadak empat sosok bayangan melayang ke arahnya dengan cepat luar biasa, kontan orang yang bicara itu dicomot dari tempat yang gelap.
Ternyata orang itu tinggi besar, sedikitnya ada 200 kati.
Tapi kaki-tangannya kena dipegang oleh Tho-kok-si-sian, sedikit pun dia tidak bisa berkutik.
Setelah diseret keluar, di bawah sinar bulan dapatlah muka orang itu terlihat jelas.
Tho-sit-sian lantas berkata.
"Tidak mirip, masakah wajahku seburuk ini? Losam, mungkin mirip kau."
"Cis, memangnya kau lebih cakap daripadaku?"
Semprot Tho-ki-sian.
"Sedemikian banyak yang hadir di sini boleh suruh mereka menjadi juri."
Sebenarnya semua orang merasa geli melihat wajah Tho-kok-lak-sian yang lebih buruk daripada siluman itu, tapi mengaku cakap sendiri.
Namun demi melihat laki-laki tinggi besar itu setiap saat dapat dirobek menjadi empat potong oleh Si-sian itu, mereka menjadi kebat-kebit dan tidak dapat tertawa lagi.
Lenghou Tiong kenal watak Tho-kok-lak-sian, bukan mustahil tawanan mereka itu akan dibeset, maka cepat ia berseru.
"Tho-kok-lak-sian, bagaimana kalau aku Lenghou Tiong yang menjadi juri bagi kalian?"
Sembari bicara ia terus muncul dari tempat sembunyinya.
Mendengar nama "Lenghou Tiong", seketika gemparlah semua orang.
Beribu pasang mata terpusat kepadanya.
Tapi Lenghou Tiong tanpa berkedip terus menatap ke arah Tho-kok-lak-sian, katanya pula.
"Silakan kalian lepaskan dulu kawan itu, dengan demikian barulah aku dapat menilai wajah kalian dengan jelas."
Terhadap Lenghou Tiong memang Tho-kok-lak-sian mempunyai kesan baik, segera mereka melepaskan tawanan itu.
Ternyata perawakan laki-laki itu benar-benar sangat kekar.
Namun begitu mukanya tampak pucat seperti mayat, maklum ia pun insaf bahwa jiwanya seakan-akan baru saja lolos dari pintu akhirat, badannya menjadi gemetar meski ia coba tabahkan diri sekuatnya.
Maksudnya hendak mengucapkan terima kasih, tapi giginya sampai ikut gemerutuk dan suaranya terputus-putus.
Melihat laki-laki itu cukup cakap, tapi dalam keadaan ketakutan, segera Lenghou Tiong berkata kepada Tho-kok-lak-sian.
"Keenam Tho-heng, menurut pendapatku, wajah kalian sama sekali berbeda daripada wajah kawan ini, kalian jauh lebih cakap, lebih bagus, lebih gagah, lebih ganteng. Siapa saja yang melihat kalian tentu akan jatuh cinta."
Maka terdengarlah gelak tertawa orang banyak.
"Ya, benar,"
Timbrung Lo Thau-cu.
"Menurut pendapatku, kesatria di seluruh jagat ini, bicara tentang ilmu silat memang banyak yang lihai, tapi bicara kecakapan muka, wah, siapa pun tiada mampu melebihi Tho-kok-lak-sian."
Mendengar diri mereka dipuji oleh Lenghou Tiong dan Lo Thau-cu, keruan Tho-kok-lak-sian sangat senang.
Mereka tidak tahu gelak tertawa orang banyak itu adalah ejekan, sebaliknya mengira mereka benar-benar mengagumi kebagusannya.
Kemudian Lo Thau-cu berseru.
"Wah, nasib kawan-kawan benar-benar sangat mujur. Tadi di tengah jalan kami telah ketemukan Lenghou-kongcu seorang diri sedang menuju ke Siau-lim-si buat menyambut pulangnya Seng-koh, ketika mendengar kita sedang berkumpul di sini, beliau lantas mampir ke sini untuk berundingan dengan kita. Menurut pikiranku, bicara tentang kecakapan muka memang benar Tho-kok-lak-sian nomor satu ..."
Seketika ramai pula gelak tawa orang banyak. Cepat Lo Thau-cu memberi tanda berhenti, lalu sambungnya.
"Tapi kepergian kita ini harus menghadapi Siau-lim-pay, urusan Seng-koh yang mahapenting ini rasanya tidak terlalu erat hubungannya dengan soal kecakapan. Maka menurut pendapatku, marilah kita mendukung Lenghou-kongcu sebagai bengcu kita, mohon beliau mengatur siasat dan memberi perintah kepada kita, entah bagaimana pendapat kawan-kawan sekalian?"
Semua orang mengetahui terkurungnya Seng-koh di Siau-lim-si itu adalah karena ingin menyembuhkan penyakit Lenghou Tiong dahulu, jangankan ilmu silat Lenghou Tiong memang sangat tinggi, hal ini sudah didengar mereka tentang pertarungannya melawan para kesatria di daerah Holam dahulu ketika dia membantu Hiang Bun-thian, sekalipun Lenghou Tiong tidak paham silat, mengingat dia adalah kekasih Seng-koh juga semua orang akan mengangkatnya menjadi bengcu.
Lantaran ini mereka lantas bersorak gembira demi mendengar usul Lo Thau-cu tadi.
Tapi mendadak Tho-hoa-sian berseru dengan suara aneh.
"Kita akan pergi menyambut pulangnya Yim-siocia, jika berhasil, apakah beliau akan dijadikan bini kepada Lenghou Tiong?"
Semua orang sangat hormat dan segan kepada Yim-siocia alias Ing-ing, maka tiada seorang pun yang berani mengiakan meski apa yang dikatakan Tho-hoa-sian tidaklah salah.
Lenghou Tiong sendiri lebih-lebih kikuk, ia pun tidak dapat menyangkal cinta Ing-ing padanya yang bukan rahasia lagi bagi orang-orang Kangouw itu.
Kalau menyangkal tentu juga akan membikin malu Ing-ing, sebaliknya kalau terang-terangan mengaku akan memperistrikan si nona, rasanya kelak masih akan banyak menghadapi rintangan, apalagi juga tidak layak mengaku terang-terangan begitu.
Maka terpaksa ia bungkam saja.
Tiba-tiba Tho-yap-sian menimbrung.
"Wah, dia mendapat bini, menjadi bengcu pula, sungguh terlalu enak baginya. Kalau kita pergi membantu dia menolong bininya, maka jabatan bengcu ini harus diserahkan kepada kami berenam saudara."
"Betul!"
Seru Tho-kin-sian.
"Kecuali kepandaiannya bisa lebih hebat daripada kami, inilah lain soalnya."
Habis itu, sekonyong-konyong empat di antara Lak-sian itu terus menubruk maju, sekali cengkeram, seketika Lenghou Tiong terpegang dan terangkat ke atas.
Begitu cepat gerakan keempat orang itu, sebelumnya juga tiada tanda-tanda akan menyerang.
Keruan Lenghou Tiong tidak sempat menghindar, tahu-tahu kedua tangan dan kedua kaki sudah dipegang erat-erat oleh empat orang.
"He, he, jangan! Lekas lepaskan!"
Teriak orang banyak.
"Jangan khawatir!"
Sahut Tho-yap-sian dengan tertawa.
"Kami pasti takkan mencelakai dia, asalkan dia berjanji akan menyerahkan jabatan bengcu kepada kami ...."
Tapi belum habis ucapannya, sekonyong-konyong Tho-kin-sian, Tho-kan-sian, Tho-ki-sian, dan Tho-sit-sian yang memegangi Lenghou Tiong itu sama menjerit aneh dan terburu-buru melepaskan pemuda itu sambil berteriak-teriak.
"He, he! Kau ... kau memakai ilmu sihir apa?"
Rupanya Lenghou Tiong juga khawatir keempat manusia dogol itu benar-benar melakukan sesuatu di luar dugaan dan benar-benar menyobek badannya, maka cepat ia mengerahkan "Gip-sing-tay-hoat"
Yang telah diyakinkan itu.
Seketika Tho-kok-si-sian itu merasa tenaga dalam mereka bocor keluar, semakin mereka hendak mengerem semakin cepat tenaga mereka mengalir keluar melalui telapak tangan.
Karena itu, saking kagetnya mereka lantas lepaskan Lenghou Tiong yang mereka pegang.
Lenghou Tiong juga lantas menghentikan ilmu saktinya itu, sekali loncat ia berdiri tegak di tengah kalangan.
"Ada apa?"
Tanya Tho-yap-sian.
"Ilmu ... ilmunya benar-benar sangat aneh, kami tidak sanggup memegang dia,"
Seru Tho-ki-sian berempat. Serentak bersoraklah orang banyak, semuanya berseru.
"Nah, Tho-kok-lak-sian, sekarang kalian sudah tunduk bukan?"
"Kami tidak mampu memegang dia, sudah tentu kami tunduk, biarlah Lenghou Tiong yang menjadi bengcu saja,"
Seru Tho-kin-sian berempat. Melihat Tho-kok-lak-sian mau tunduk kepada Lenghou Tiong secara sukarela, meski tidak tahu sebab musababnya, tapi semua orang lantas tertawa gembira.
"Kawan-kawan,"
Kata Lenghou Tiong kemudian.
"keberangkatan kita untuk menyambut pulangnya Seng-koh ini sekalian kita usahakan untuk menyelamatkan saudara-saudara kita yang telah ikut tertawan di sana. Tapi Siau-lim-si adalah puncak tertinggi dari dunia persilatan yang telah diakui oleh siapa pun juga, ke-72 ilmu sakti mereka yang khas selama ini tiada tandingannya. Namun jumlah kita sangat banyak, di sini saja sekarang sudah ada ribuan orang, belum lagi orang-orang gagah yang akan menggabungkan diri pula dalam waktu singkat. Seumpama ilmu silat kita tidak dapat menandingi murid Siau-lim-si, asalkan main kerubut saja sepuluh lawan satu juga akhirnya kita akan menang."
"Benar, benar!"
Seru gemuruh orang banyak.
"Memangnya hwesio-hwesio Siau-lim-si itu punya tiga kepala dan enam tangan sehingga sanggup melawan keroyokan kita?"
"Akan tetapi perlu diingat, meski para taysu Siau-lim-si itu menahan Seng-koh sekian lamanya, namun beliau tidak dibikin susah. Taysu-taysu itu adalah orang alim semua dan mengutamakan welas asih, sungguh harus dikagumi. Maka kalau kita sampai merusak Siau-lim-si, tentu juga teman-teman Kangouw akan mencela perbuatan kita yang menang dengan main kerubut, ini kan bukan perbuatan kaum kesatria sejati? Sebab itulah, menurut pendapatku, kita harus pakai siasat ramah tamah dahulu dan kemudian kekerasan. Jika kita dapat membujuk pihak Siau-lim-si membebaskan Seng-koh serta kawan-kawan yang lain untuk menghindarkan pertempuran berdarah, jalan inilah paling baik."
"Ucapan Lenghou-kongcu cocok dengan pikiranku,"
Seru Coh Jian-jiu.
"Jika benar-benar bertempur, tentu akan banyak jatuh korban dari kedua pihak."
"Tapi ucapan Lenghou-kongcu justru tidak cocok dengan seleraku,"
Tiba-tiba Tho-ki-sian menimbrung.
"Kalau kedua pihak tidak bertempur, tentu takkan jatuh korban, lalu apanya lagi yang menarik?"
"Lenghou-kongcu sudah kita angkat menjadi bengcu, maka segala perintah petunjuknya harus kita turut,"
Seru Coh Jian-jiu.
"Kami hanya menyatakan mengangkat dia sebagai bengcu, tapi tidak pernah mengatakan akan tunduk kepada perintahnya,"
Kata Tho-kin-sian.
"Benar, urusan memberi perintah segala ini biarlah kami Tho-kok-lak-sian yang melaksanakan saja,"
Sambung Tho-kan-sian.
Semua orang menjadi gemas melihat kedogolan Tho-kok-lak-sian itu, banyak yang siap memegang senjata, asalkan Lenghou Tiong memberi isyarat sedikit saja serentak mereka akan menerjang maju untuk mencincang keenam orang itu.
Betapa pun tinggi kepandaian mereka rasanya juga takkan mampu melawan kerubutan orang banyak.
Maka Coh Jian-jiu berkata pula.
"Apa yang harus dilakukan seorang bengcu, dengan sendirinya dia harus memberi perintah dan mengatur sesuatu. Kalau dia tidak dapat memerintah, lalu namanya bukan bengcu lagi."
"Kalau dia mau perintah boleh perintah saja, kenapa mesti ribut!"
Ujar Tho-ki-sian dengan menyengir. Lenghou Tiong tidak ambil pusing lagi pada keenam orang dogol itu, segera ia berseru.
"Dengarkan kawan-kawan, kalau dihitung, masih ada 17 hari lagi dari waktu yang kita rencanakan, yaitu tanggal 15 bulan 12, karena temponya cukup, maka perjalanan kita ke sana tidak perlu tergesa-gesa. Pula gerakan kita ini dilakukan secara terang-terangan, maka segala tindakan kita juga tidak perlu ditutupi. Besok juga kita boleh beli kain untuk dibikin menjadi panji-panji dengan tulisan yang jelas menyatakan tujuan kita ke Siau-lim-si buat menyambut Seng-koh. Boleh pula beli beberapa genderang dan bunyikan sepanjang jalan agar didengar oleh orang-orang Siau-lim-pay, bukan mustahil mereka sudah ketakutan lebih dulu sebelum kita tiba di sana."
Bab 90.
Pat-kwa-kiam-tin Bu-tong-pay Dibikin Kocar-kacir oleh Lenghou Tiong Karena orang-orang yang berkumpul ini terdiri dari berbagai golongan dan lapisan, tapi semuanya adalah manusia-manusia yang suka cari gara-gara.
Mereka menjadi kegirangan dan bersorak-sorai mendengar perintah Lenghou Tiong itu.
Besok paginya, kembali ada beberapa puluh orang Kangouw yang datang menggabungkan diri.
Lenghou Tiong memberi tugas kepada Coh Jian-jiu, Keh Bu-si, dan Lo Thau-cu untuk membikin panji-panji yang diperlukan serta membeli tambur dan sebagainya.
Menjelang tengah hari Coh Jian-jiu bertiga sudah menyelesaikan tugasnya, berpuluh panji putih dengan macam-macam semboyan yang tertulis di atasnya telah disiapkan.
Hanya tambur yang kurang, cuma dua buah saja yang dapat dibeli.
"Marilah kita lantas berangkat, kota-kota yang kita lalui sepanjang perjalanan dapat kita singgahi untuk membeli lagi alat-alat yang kita perlukan,"
Kata Lenghou Tiong.
Semua orang bersorak mengiakan.
Segera ada yang mulai membunyikan tambur, lalu berangkatlah mereka menuju ke utara dengan berbaris.
Lenghou Tiong sudah pernah menyaksikan anak murid Hing-san-pay disergap musuh di atas Sian-he-nia, maka sekarang ia lantas mengatur, tujuh kelompok diberi tugas tertentu.
Dua kelompok di depan sebagai pelopor jalan, dua kelompok menjaga sayap kiri, dan dua kelompok menjaga sayap kanan.
Satu kelompok lagi sebagai bala bantuan di belakang, selebihnya ikut dalam pasukan induk.
Selain itu kelompok Sin-oh-pang dari Hansui diberi tugas sebagai kurir yang kian-kemari menyampaikan berita.
Sin-oh-pang adalah gerombolan orang-orang Kangouw setempat, wilayah pengaruhnya cukup luas, maka segala kabar berita yang penting dapat diketahui mereka dengan cepat.
Begitulah semua orang sama kagum dan tunduk melihat cara mengatur Lenghou Tiong yang rapi itu.
Selama beberapa hari dalam perjalanan, berturut-turut bergabung pula kelompok-kelompok dari berbagai tempat.
Suatu hari sampailah mereka di kaki gunung Bu-tong-san.
"Lenghou-kongcu, kita harus melalui Bu-tong-san, apakah kita harus menghentikan suara tambur dan menggulung panji atau tetap lalu secara terang-terangan begini?"
Coh Jian-jiu minta petunjuk kepada Lenghou Tiong. Jawab Lenghou Tiong.
"Bu-tong-pay adalah aliran persilatan nomor dua di dunia persilatan, pengaruh dan wibawanya cuma di bawah Siau-lim-pay saja. Kepergian kita buat menyambut Seng-koh ini sedapat mungkin menghindari percekcokan dengan Siau-lim-pay, dengan sendirinya lebih baik pula kalau kita pun tidak bersengketa dengan Bu-tong-pay. Maka sebaiknya kita mengitar ke jurusan lain saja sebagai tanda penghormatan dan keseganan kita terhadap Tiong-hi Totiang, itu ketua Bu-tong-pay yang hebat. Demikianlah pendapatku, entah bagaimana pikiran Saudara-saudara?"
"Apa yang dirasakan baik oleh Lenghou-kongcu, sudah tentu kami hanya menurut saja,"
Kata Lo Thau-cu.
"Memangnya tujuan kita hanya menyambut pulang Seng-koh dan tidak ingin menimbulkan perkara lain dan menambah musuh. Apa gunanya kita terhambat oleh urusan yang berlawanan dengan maksud tujuan kita sekalipun Bu-tong-pay dapat kita tumpas umpamanya?"
"Benar, harap siarkan perintahku agar menggulung panji-panji dan menghentikan bunyi tambur, kita membelok dulu ke arah timur untuk kemudian mengitar lagi ke utara,"
Kata Lenghou Tiong. Begitulah rombongan mereka lantas mengarah ke timur. Kira-kira beberapa puluh li jauhnya, tiba-tiba dua anggota Sin-oh-pang datang memberi lapor.
"Di selat gunung belasan li sana telah menunggu beberapa ratus tosu, mereka mengaku dari Bu-tong-pay dan minta bicara dengan Bengcu."
Seketika jago-jago di samping Lenghou Tiong menjadi gusar, mereka sama mengomel.
"Kurang ajar benar kawanan tosu Bu-tong-pay itu! Kita menghargai mereka, sebaliknya mereka mengira kita takut kepada mereka. Kurang ajar, benar-benar minta diajar!"
"Coba kita maju ke sana untuk melihat apa maksud tujuan mereka,"
Ujar Lenghou Tiong.
Segera ia mendahului melarikan kudanya ke depan dan mencapai selat gunung sana.
Ketika melihat datangnya Lenghou Tiong, kedua kelompok yang menjadi pelopor, yaitu Hong-bwe-pang dan Jing-liong-pang, sama bersorak-sorai.
Lenghou Tiong melompat turun dari kudanya, ia berlari maju dengan cepat, dilihatnya di ujung selat gunung situ berbaris beberapa puluh tojin berjubah hijau, semuanya bersenjata pedang, jalan lewat telah dirintangi mereka.
Lebih dulu Lenghou Tiong berpaling kepada kawan-kawannya dan berteriak nyaring.
"Dengarkanlah kawan-kawan, Bu-tong-pay adalah kaum cing-pay terbesar di dunia persilatan, Tiong-hi Tojin malahan adalah orang kosen di zaman ini, maka kawan-kawan jangan sekali-kali bersikap sembrono, ada urusan apa-apa biarlah Cayhe yang menghadapinya sendiri,"
Lenghou Tiong sadar orang-orang yang dipimpinnya itu adalah kumpulan orang-orang Kangouw dari macam-macam lapisan, sudah biasa bertindak sesuka hati dan bebas, kata-kata mereka juga kasar, kalau sebelumnya tidak diperingatkan tentu akan menimbulkan penyakit nanti.
Begitulah para jago-jago itu serentak berseru gemuruh mengiakan.
Barisan mereka itu memanjang sampai hitungan li jauhnya, tapi kata-kata Lenghou Tiong itu diucapkan dengan menggunakan tenaga dalam yang kuat, maka betapa pun jauhnya barisan itu dapatlah mendengar semuanya.
Suara mengiakan yang gemuruh dari beberapa ribu orang itu membikin kawanan tojin itu menjadi gentar juga, hal ini tampak dari air muka mereka yang berubah.
Lalu Lenghou Tiong berpaling kembali, katanya sembari memberi hormat kepada kawanan tojin itu.
"Cayhe bersama rombongan hendak menuju ke Siau-lim-si untuk menjumpai Hong-ting Taysu dan untuk sesuatu urusan penting, kebetulan kami harus melalui Bu-tong-san sini, agar tidak menimbulkan kegaduhan yang bisa mengganggu ketenteraman para Totiang, maka kami sengaja mengitari jalanan ini. Harap maaf bila kami tidak menyampaikan kabar sebelumnya."
"Kau inikah murid murtad Hoa-san-pay yang bernama Lenghou Tiong dan sekarang telah masuk Mo-kau bukan?"
Tegur seorang tojin berjenggot panjang sembari memasukkan pedang ke sarungnya.
Sikap bicaranya sangat angkuh, kata-katanya juga kurang ramah.
Sebenarnya Lenghou Tiong adalah pemuda yang tidak tunduk kepada adat istiadat, juga tidak kenal apa artinya takut, kalau dalam keadaan biasa tentu dia kontan menjawab ucapan tojin itu dengan kata-katanya yang sama kasarnya.
Tapi sejak dia diangkat menjadi bengcu oleh gembong-gembong Kangouw itu, mulai saat mana ia telah memperingatkan dirinya sendiri agar selanjutnya harus bertindak secara hati-hati dan pakai perhitungan, terutama mengingat kewajibannya dan betapa pentingnya tugas menolong Ing-ing yang terkurung di Siau-lim-si itu.
Oleh karena itu walaupun kata-kata tojin jenggot panjang itu sangat menggusarkan hatinya tapi ia tetap menghadapi dengan tersenyum tawar saja, jawabnya.
"Ya, Cayhe memang betul adalah Lenghou Tiong, murid buangan Hoa-san-pay. Tapi tuduhan masuk menjadi anggota Mo-kau adalah tidak betul."
"Jika kau tidak masuk Mo-kau kenapa kau rela menjadi antek Hek-bok-keh dan mau memimpin manusia jahat dan cabul dari Mo-kau ini pergi mencari setori kepada Siau-lim-si?"
Kata pula tojin berjenggot panjang itu. Belum Lenghou Tiong menjawab, mendadak Tho-kin-sian menimbrung.
"Kau bilang kami adalah manusia jahat dan cabul dari Mo-kau, memangnya kau sendiri manusia baik dan terpuji dari Mo-kau? Kulihat jenggotmu terlalu panjang, betapa pun baiknya juga begitu-begitu saja."
Baru kata "saja"
Diucapkan, serentak Tho-kan-sian, Tho-ki-sian, Tho-yap-sian, dan Tho-hoa-sian berempat sudah melompat maju, tahu-tahu tojin jenggot panjang itu telah kena dipegang kedua tangan dan kedua kakinya terus diangkat ke atas.
Pada detik yang hampir sama pula, dalam sekejap itu dari rombongan tojin-tojin itu pun melayang maju delapan sosok bayangan, delapan batang pedang telah menyambar tiba, enam pedang mengancam di punggung Tho-kok-lak-sian dua ujung pedang yang lain masing-masing mengancam tenggorokan dan perut Lenghou Tiong.
Cepat luar biasa menyambar tibanya kedelapan pedang tojin-tojin itu, cara menyerang mereka juga sangat rapat dan saling menutup titik kelemahan masing-masing, delapan orang laksana satu orang saja.
Begitu melihat gerakan pedang mereka segera Lenghou Tiong tahu mereka tidak bermaksud mencelakai lawan, maka Lenghou Tiong juga tidak menangkis dan membiarkan kedua pedang itu mengarah tempat berbahaya di tubuhnya, ia pikir asalkan kedua orang jelas bermaksud mencelakainya, sedikit ujung pedang mereka disodorkan seketika juga dirinya masih sempat melolos pedang dan mematahkan serangan mereka.
Terdengar keempat tosu membentak serentak.
"Lepaskan!"
Karena punggung mereka terancam oleh ujung pedang, Tho-kin-sian berempat sadar tak bisa berbuat apa-apa lagi, terpaksa Tho-hoa-sian berkata dengan tertawa.
"Lepas ya lepas, memangnya kau kira aku sudi memegangi dia lebih lama. Eh, awas, berdiri yang baik!"
Berbareng Tho-kin-sian berempat terus melemparkan tojin jenggot panjang itu ke atas.
Seketika tojin itu merasa tubuhnya melayang ke udara dan entah akan terlempar ke mana, bukan mustahil akan terus melambung ke udara dan kecantol di cabang pohon atau terus terjerumus ke dalam jurang.
Maka baru saja tubuhnya sedikit melambung ke atas, cepat ia mengerahkan tenaga "Jian-kin-tui"
Untuk menekan turun tubuhnya.
Tak terduga tenaga lemparan Tho-kok-si-sian itu ternyata sangat aneh dan nakal, tenaga lemparan semula memang naik ke atas, tapi tenaga pukulannya mendadak berubah menarik turun ke bawah, jadi mirip tenaga empat orang membantingnya ke tanah dengan sekuatnya.
Padahal tenaga gabungan Tho-kok-si-sian sedikitnya sudah ada seribu kati, ditambah lagi tenaga tekanan ke bawah yang dikerahkan sendiri oleh tojin jenggot panjang itu, keruan dia mirip dibanting dengan tenaga gabungan lima orang.
Ketika menyadari gelagat tidak menguntungkan, tojin itu menjerit, hampir berbareng tubuhnya lantas terbanting keras di atas batu padas, ruas tulangnya sampai berbunyi gemerutuk, entah patah entah retak, yang jelas darah lantas tersembur keluar dari mulutnya.
Pada saat itu juga Lenghou Tiong sudah lantas melolos pedang, terdengar suara mendering berulang-ulang, sekaligus ia telah menangkis pergi delapan pedang musuh.
Rupanya begitu melihat si tojin jenggot panjang terbanting begitu hebat dan bisa jadi terus mati, Lenghou Tiong menduga kedelapan tojin yang lain mungkin sekali akan terus menyerang serentak.
Dan benar juga, sekaligus ia telah dapat mematahkan serangan mereka.
Gerak perubahan Tho-kok-si-sian juga sangat cepat, begitu pedang lawan tidak mengenai mereka, seketika mereka lantas lompat menyingkir.
"Wah, untung! Hampir saja celaka!"
Seru Tho-sit-sian.
"Ya, untung Lenghou-kongcu pernah belajar pedang padaku, dengan ilmu pedangku yang lihai itulah dia telah menyelamatkan kita,"
Ujar Tho-ki-sian.
"Ngaco-belo! Bilakah dia belajar pedang padamu?"
Semprot Tho-kin-sian.
Dalam pada itu, sesudah Lenghou Tiong sekaligus dapat menangkis serangan kedelapan pedang mereka, serentak kedelapan tojin itu lantas berputar kian kemari dengan cepat luar biasa, begitu berada di belakang Lenghou Tiong mereka lantas menusuk, kena atau tidak tusukan mereka bukan soal, segera mereka terus menggeser lagi ke tempat lain secara bergilir.
"Hati-hati Bengcu, inilah Pat-kwa-kiam-tin dari Bu-tong-pay!"
Seru Jik Ko.
Ketika di Hoa-san dahulu Lenghou Tiong pernah mendengar cerita gurunya tentang berbagai ilmu pedang terkenal dari macam-macam aliran di zaman ini.
Antara lain dikatakan "Pat-kwa-kiam-hoat"
Bu-tong-pay dan "Chit-sing-kam-hoat"
Hing-san-pay mempunyai kebagusan yang hampir serupa walaupun dasarnya tidak sama.
Begitulah Lenghou Tiong dapat menangkis setiap serangan tojin-tojin itu, dilihatnya gerak pedang kedelapan orang dapat bahu-membahu, bantu-membantu dengan sangat rapat, sedikit pun tidak memperlihatkan lubang kelemahan.
Inti "Tokko-kiu-kiam"
Yang diyakinkan Lenghou Tiong adalah dalam hal kelihaian mengincar titik kelemahan ilmu silat musuh, jadi tanpa ikatan sesuatu jurus tertentu untuk mengalahkan jurus ilmu silat lawan yang tertentu.
Maklum, betapa pun tinggi ilmu silat seorang, betapa bagus jurus serangannya, baik di kala menyerang maupun di waktu mengakhiri serangan biasanya pasti dapat diketemukan lubang kelemahan, sebab itulah tiada sesuatu gerak serangan di dunia ini yang tak dapat dipatahkan.
Cuma sekarang ilmu pedang gabungan kedelapan tojin ini ternyata sangat hebat, ada juga lubang-lubang atau ciri-ciri tertentu pada gerak serangan setiap orang, tapi selalu dapat ditutup oleh bantuan kawan yang lain sehingga sukar dipatahkan.
Untungnya kepandaian kedelapan tojin itu tidak terlalu tinggi.
"Pat-kwa-kiam-hoat"
Itu agaknya baru dipelajari sehingga daya tekanan mereka kurang kuat.
Meski seketika Lenghou Tiong tidak dapat membobolkan barisan pedang mereka, tapi serangan-serangan kedelapan tojin juga tidak mampu melukai Lenghou Tiong.
Kedelapan tojin itu berlari semakin kencang mengitari Lenghou Tiong, sampai orang-orang yang menonton di samping merasa pusing, bahkan ada yang merasa khawatir bagi sang bengcu.
"Mereka berdelapan mengerubut satu orang, hayolah kita pun maju lagi tujuh orang!"
Demikian seru Jik Ko.
"Nanti dulu,"
Sela Keh Bu-si.
"Kedelapan orang itu mengutamakan kecepatan langkah mereka, padahal soal ilmu pedang jelas mereka bukan tandingan Lenghou-kongcu."
Kata-kata ini seketika menyadarkan Lenghou Tiong, pikirnya.
"Benar, ilmu pedang mereka dapat bekerja sama dengan rapat, tapi langkah kaki mereka jelas tak bisa saling membantu."
Segera Lenghou Tiong berseru.
"Setelah berkenalan dengan Pat-kwa-kiam-hoat Bu-tong-pay, ternyata memang benar sangat hebat. Kedelapan Totiang sudah selesai main pedang, sekarang silakan mundur saja."
Akan tetapi tojin-tojin itu mana mau mengundurkan diri, mereka masih terus berlari cepat mengitari dan serangan demi serangan tetap dilancarkan.
Lenghou Tiong tersenyum, ia tanggalkan sarung pedang yang tergantung di pinggangnya, sarung pedang itu disodorkan miring ke atas tanah.
Ketika seorang tojin berlari di sebelah dengan cepat dan tidak keburu mengerem, kakinya lantas kesandung sarung pedang, tubuhnya terhuyung-huyung ke depan, untung kuda-kudanya cukup kuat sehingga tidak sampai jatuh terjerembap.
Namun dengan lepasnya seorang dari barisan pedang, seketika Pat-kwa-kiam-tin itu bobol.
Lenghou Tiong terus menggunakan sarung pedang untuk dipasang pada tempat-tempat yang harus dilintasi oleh kaki ketujuh tojin yang lain, maka terdengarlah suara seru kaget dan teriak kejut berulang-ulang.
Lima dari ketujuh tojin itu sama kesandung oleh sarung pedang itu, ada yang menyelonong ke sana, ada yang sempoyongan ke sini, dalam sekejap saja tinggal dua orang tojin saja yang masih mampu berdiri menghadapi Lenghou Tiong, pedang mereka masih bergaya hendak menusuk, tapi ragu-ragu apakah serangan mereka diteruskan atau lebih baik disudahi.
Melihat adegan demikian, bergemuruhlah tawa orang banyak.
"Para Sute silakan mundur!"
Teriak tojin jenggot panjang tadi.
Ketika ia memberi tanda, kembali ada tiga orang tojin tampil ke muka.
Bersama tojin jenggot panjang mereka ambil tempat empat sudut sehingga Lenghou Tiong terkurung di tengah.
"Namamu akhir-akhir ini mengguncangkan Kangouw, nyatanya memang punya beberapa jurus aneh dari golongan iblis dan sia-pay,"
Kata tojin jenggot panjang.
"Cuma pertandingan tadi telah kau selingi dengan cara main jegal, cara demikian rasanya kurang wajar."
"Numpang tanya siapakah gelaran Totiang dan pernah apa dengan Tiong-hi Totiang?"
Tanya Lenghou Tiong.
"Asalkan kau mampu mengalahkan kami berempat dan boleh segera lalu, buat apa banyak bicara lagi,"
Sahut tojin jenggot panjang.
Begitu ia berseru memberi tanda, serentak empat pedang menusuk dari empat jurusan.
Dari sambaran angin yang dibawa oleh pedang mereka itu terang tenaga keempat tojin itu sangat kuat, jauh lebih lihai daripada kedelapan tojin yang duluan.
Tapi baru bergebrak satu jurus saja Lenghou Tiong lantas merasa heran.
"Menurut cerita suhu dahulu, katanya ilmu silat Bu-tong-pay mengutamakan kelunakan dan kesabaran. Tapi permainan pedang keempat tojin ini jelas lebih banyak memakai kekerasan dan menyerang secara bernafsu, hal ini menandakan berita di luar tentang ilmu silat Bu-tong-pay tidak seluruhnya betul."
Aneh pula bahwa ilmu pedang keempat tojin ini jauh lebih lihai daripada kedelapan tojin yang dahuluan, tapi dalam hal kerja sama ternyata tidak serapi dan sebaik kedelapan tojin itu.
Tidak lama kemudian, dengan gampang Lenghou Tiong lantas melihat titik kelemahan ilmu pedang keempat lawan itu.
"Cret" , seketika pedangnya menusuk robek lengan baju salah seorang tojin. Tojin itu melengak kaget, menyusul serangan Lenghou Tiong telah memapas sepotong kain jubah tojin yang lain. Ketika pedangnya berputar balik.
"sret" , tahu-tahu rambut tojin ketiga telah terkupas putus sehingga rambutnya morat-marit tak keruan. Tinggal lagi si tojin jenggot panjang itu, Lenghou Tiong rada mendongkol karena kata-kata tojin berjenggot ini rada kasar, maka ia sengaja hendak membuat malu padanya.
"Sret-sret"
Dua kali, pedangnya menusuk ke perut lawan, lalu menusuk mukanya.
Lekas-lekas tojin itu hendak menangkis, siapa tahu serangan-serangan Lenghou Tiong itu hanya pura-pura saja, ketika pedang si tojin menangkis ke bawah untuk menjaga perutnya, sekonyong-konyong jenggotnya sudah terpapas sebagian oleh pedang Lenghou Tiong.
Waktu tojin itu kerepotan hendak mengangkat pedangnya buat menjaga mukanya lagi.
"sret" , tahu-tahu pedang Lenghou Tiong sudah menyambar ke bawah, ikat pinggang jubahnya dan bahkan ikat celananya juga ikut terpotong putus. Berturut-turut empat kali serangan Lenghou Tiong itu telah membikin si tojin berjenggot menjadi kelabakan, sudah sadar bahwa celananya telah kedodoran dan merosot ke bawah, tapi dia tidak sempat menggunakan tangannya untuk menarik celana, walaupun sebelah tangan menganggur, namun setiap serangan Lenghou Tiong yang menyusul selalu mengancam tangan kiri yang menganggur itu sehingga dia terpaksa mesti menyelamatkan tangannya dan membiarkan celananya melorot. Keruan semua orang yang menyaksikan itu bergelak tertawa geli. Ketiga tojin yang lain tahu bahwa Lenghou Tiong sengaja mengampuni jiwa mereka, maka mereka tidak berani bertempur lagi dan terus mengundurkan diri. Sementara itu tojin jenggot panjang itu hampir-hampir jatuh terjerembap karena tersangkut oleh celananya sendiri yang melorot ke betis itu, keruan kelakuannya menjadi sangat lucu. Untung jubahnya sangat panjang sehingga bagian bawah badannya masih tertutup, kalau tidak tentu dia sangat malu lantaran tak bercelana lagi.
"Maaf!"
Lenghou Tiong tidak mendesak lebih jauh, ia memasukkan pedang ke sarungnya dan melangkah mundur.
Sebaliknya tojin jenggot panjang menjadi tambah gusar, pedangnya lantas menusuk lagi ke dada Lenghou Tiong.
Namun Lenghou Tiong hanya tersenyum saja tanpa berkelit.
Ketika ujung pedang tojin itu hanya beberapa senti di depan dada sasarannya, sekonyong-konyong ia tertegun dan tidak meneruskan tusukannya, ia pikir ilmu silat lawan selisih sangat jauh di atasnya, jika tusukannya itu diteruskan, bukan mustahil pihak lawan menjadi murka dan tidak memberi ampun lagi, sekali balas menyerang pasti jiwanya sendiri akan melayang.
Maka setelah tertegun sejenak, akhirnya ia melemparkan pedang sendiri dan berjongkok untuk membetulkan celananya.
Keruan suara tertawa para jago bertambah riuh.
Para tosu yang berdiri di sebelah sana ada yang merasa malu, ada yang merasa gusar pula.
Tojin jenggot panjang itu lantas putar tubuh, dengan tangan kiri masih memegangi celana yang putus tali kolornya, ia memberi tanda kepada anak buahnya, lalu mundur teratur bersama kawanan tosu itu.
Di tengah bergelak tertawa para jago-jago itu, beramai-ramai mereka pun memuji kelihaian ilmu pedang Lenghou Tiong.
Tapi Lenghou Tiong sendiri justru lagi menyesal akan kejadian tadi, pikirnya.
"Tindak tandukku selalu terburu nafsu tanpa memikirkan kemungkinan akibatnya. Meski aku mendapat kemenangan, tapi nama baik Bu-tong-pay telah tersapu bersih, ini berarti telah menanam bibit permusuhan, sebenarnya apa gunanya?"
Terdengar Coh Jian-jiu sedang berkata.
"Ilmu pedang Lenghou-kongcu sungguh sakti, baru hari ini kita dapat menyaksikannya. Sayang di sini tidak ada arak, kalau tidak kita harus minum sepuas-puasnya sebagai tanda memberi selamat."
Seketika Lenghou Tiong merasa ketagihan mendengar disebutnya arak, katanya.
"Baiklah, mari kita pergi ke kota di depan sana untuk minum sepuasnya."
Namun jumlah mereka terlalu banyak, kota-kota yang dilalui mereka tiada cukup banyak hotel dan restoran yang sanggup menampung mereka.
Terpaksa mereka harus berkemah di tanah pegunungan yang sunyi di luar kota.
Besoknya mereka melanjutkan perjalanan ke utara, kira-kira belasan li jauhnya, pengintai bagian depan datang melapor bahwa di jalan pegunungan di depan sana diketemukan beberapa puluh sosok mayat kaum tosu, agaknya rombongan tosu yang mencegat mereka kemarin itu.
Lenghou Tiong terkejut oleh laporan itu, cepat ia melarikan kudanya ke depan, benar juga, di suatu simpang jalan bergelimpangan beberapa puluh mayat, di antaranya terdapat pula tojin berjenggot panjang.
"He, lihatlah, Bengcu!"
Seru Keh Bu-si sambil menunjuk sebatang pohon besar. Ternyata di batang pohon itu sebagian kulit pohon terkupas, di situ terukir beberapa huruf dengan ujung senjata, bunyinya.
"Kawanan penjahat memalsukan nama, dosanya tidak boleh diampuni."
"O, kiranya kawanan tojin ini bukan orang Bu-tong-pay,"
Ujar Coh Jian-jiu.
"Tampaknya mereka telah dibunuh oleh pihak Bu-tong-pay."
"Buat apa mereka menyaru sebagai orang Bu-tong-pay? Entah dari mana pula asal usul mereka ini? Sungguh aneh bin heran!"
Kata Lo Thau-cu. Mendadak pikiran Lenghou Tiong tergerak, katanya.
"Cobalah kawan-kawan periksa mereka, apakah kedelapan tojin yang bertempur dengan aku kemarin juga terdapat di antara mereka?"
Segera Keh Bu-si, Coh Jian-jiu, Lo Thau-cu, dan lain-lain memeriksa mayat-mayat kawanan tosu itu, benar juga kedelapan tojin yang main Pat-kwa-kiam-tin kemarin itu tidak diketemukan.
"Mengapa bisa demikian?"
Ujar Coh Jian-jiu dengan heran.
"Lenghou-kongcu tentu tahu duduknya perkara."
"Aku juga cuma menerka secara ngawur saja,"
Sahut Lenghou Tiong.
"Meskipun ilmu pedang kedelapan tojin itu tidak terlalu tinggi, tapi permainan mereka sangat rapi dan teratur, kalau orang yang meniru dan baru belajar tentu takkan mencapai tingkatan seperti mereka itu."
"Jika begitu, jadi kedelapan tojin itulah benar-benar orang dari Bu-tong-pay?"
Tanya Coh Jian-jiu.
"Pengalamanku sendiri sangat cetek dan tidak tahu persis bagaimana sesungguhnya ilmu pedang Bu-tong-pay yang tersohor itu,"
Sahut Lenghou Tiong.
"Cuma dari ilmu pedang keempat tosu yang mati ini, jelas kepandaian mereka tidak sama, mereka masing-masing memiliki kepandaian yang tinggi, tampaknya mereka bukan berasal dari suatu aliran atau perguruan. Kemarin hatiku sudah rada curiga, hanya tidak terpikir olehku bahwa mereka adalah orang Bu-tong-pay gadungan."
"Orang Bu-tong-pay tulen bercampur dengan orang Bu-tong-pay gadungan, hal ini sungguh sukar dimengerti,"
Kata Coh Jian-jiu.
"Menurut pendapatku, besar kemungkinan kedelapan tosu Bu-tong-pay tulen sengaja dipaksa ke sini oleh kawanan pemalsu itu,"
Ujar Keh Bu-si.
"Benar, memang Si Kucing Malam lebih tajam otaknya,"
Seru Lo Thau-cu sambil tepuk paha.
"Rupanya kawanan pemalsu ini khawatir terbongkar rahasianya, maka mereka telah mencari beberapa orang Bu-tong-pay tulen untuk dijadikan tameng, dengan demikian kita akan dikelabui."
"Jangan-jangan kawanan pemalsu ini adalah orang-orang yang dikirim Kaucu dari Hek-bok-keh?"
Ujar Keh Bu-si. Mendengar disebutnya "Kaucu dari Hek-bok-keh", seketika air muka semua orang berubah takut. Dengan tertawa Lenghou Tiong lantas berkata.
"Tak peduli mereka dari mana asalnya, yang jelas bukan kita yang membunuh mereka. Jika benar Bu-tong-pay yang membunuh mereka, itu berarti Bu-tong-pay berada di pihak kita, lalu apa lagi yang kita khawatirkan?"
Beberapa hari kemudian, sudah jauh mereka meninggalkan lereng Bu-tong-san, sepanjang jalan ternyata tiada terjadi apa-apa lagi.
Petang itu, ketika barisan mereka sedang berjalan, tiba-tiba terdengar suara "keteprak-keteprak", suatu telapak kaki binatang tunggangan.
Tertampaklah dari depan mendatangi seorang penunggang keledai, di belakang keledai mengikut pula dua orang, semuanya berdandan sebagai petani, yang satu memikul sayuran, yang lain memikul kayu bakar.
Keledai itu tampak sudah tua lagi kurus, badannya penuh kudisan, rupanya sangat jelek.
Penunggangnya juga seorang tua dengan pakaian rombeng penuh tambalan, badannya membungkuk-bungkuk sambil terbatuk-batuk.
Sepanjang perjalanan rombongan jago-jago Kangouw itu selalu bergembar-gembor riuh ramai, setiap orang di jalanan tentu ketakutan dan lekas-lekas menyingkir bila bertemu dengan barisan besar ini jika tidak ingin menghadapi malapetaka.
Tapi ketiga orang ini ternyata lain daripada yang lain, terang mereka melihat barisan besar itu, tapi mereka anggap seperti tidak tahu dan masih terus menerjang ke depan.
"He, kau cari mampus?"
Bentak Tho-kan-sian sembari mendorong ke depan.
Kontan keledai kurus itu meringkik terus terbanting ke tengah sawah di tepi jalan dengan tulang patah.
Si kakek yang menunggang keledai itu juga ikut terbanting jatuh ke atas tanah, ia merintih kesakitan dan sampai sekian lamanya tidak sanggup berbangkit.
Dari kecil Lenghou Tiong sering mendapat petuah dari sang guru agar membantu yang lemah dan memberantas kezaliman, menolong yang miskin dan membantu orang tua.
Sekarang menyaksikan si kakek didorong jatuh oleh Tho-kan-sian, ia menjadi tidak enak perasaannya, cepat ia melompat untuk membangunkannya dan berkata.
"Apakah kau terbanting sakit, Bapak Tua?"
"Ini ... ini apa-apaan, aku ... aku ...."
Orang tua itu tergagap-gagap sambil meringis. Dalam pada itu kedua petani tadi sudah menaruh pikulan mereka, lalu berdiri tegak di tengah jalan. Laki-laki yang memikul sayur itu berseru.
"Di sini adalah lereng Pegunungan Bu-tong, kalian ini orang-orang macam apa, berani sembarangan mengganggu dan memukul orang di sini?"
"Kalau di lereng Pegunungan Bu-tong, lalu ada apa?"
Sahut Tho-kan-sian tertawa.
"Di kaki Bu-tong-san sini setiap orangnya bisa main silat, kalian orang dari daerah lain berani main gila ke sini, bukankah itu berarti kalian tidak tahu gelagat dan ingin cari penyakit?"
Kata orang itu.
Usia kedua laki-laki petani itu rata-rata sudah 50-an, semuanya telanjang kaki dan cuma memakai sepatu sandal dari rumput kering, muka mereka pucat dan badan kurus, waktu bicara pemikul sayur ini malahan tampak terengah-engah napasnya, tapi ternyata mengaku mahir silat.
Keruan tertawalah orang banyak.
"Apakah kau sendiri mahir ilmu silat?"
Demikian Tho-hoa-sian bertanya dengan tertawa.
"Di kaki Bu-tong-san sini anak umur tiga tahun sudah bisa main pukulan, anak umur lima tahun sudah mahir main pedang, kenapa mesti heran?"
Sahut pemikul sayur.
"Dan dia, apakah dia juga mahir main pukulan?"
Tanya Tho-hoa-sian pula sambil menuding laki-laki pemikul kayu tadi.
"Aku ... aku ... di waktu kecil aku memang pernah belajar beberapa bulan lamanya,"
Kata laki-laki pemikul kayu itu.
"Tapi sudah berpuluh tahun aku tidak pernah berlatih, mungkin ... mungkin sekali sekarang sudah kaku."
Si tukang pikul sayur lantas menyambung.
"Ilmu silat Bu-tong-pay nomor satu di dunia ini, cukup berlatih beberapa bulan saja pasti kau tidak mampu melawannya."
"Bagus, jika begitu cobalah kau pertunjukkan beberapa jurus kepadaku,"
Ujar Tho-hoa-sian dengan tertawa.
"Beberapa jurus bagaimana? Biar kumainkan juga kalian tidak paham,"
Ujar si tukang pikul kayu. Kembali bergemuruhlah gelak tawa orang banyak, sebagian berseru.
"Kami tidak paham, kami hanya ingin tahu!"
"Ai, jika demikian terpaksa akan kumainkan beberapa jurus saja, cuma entah terlupa tidak,"
Kata pemikul kayu itu.
"Eh, tuan besar mana yang sudi meminjamkan pedang padaku."
Segera seorang mengangsurkan pedang kepadanya dan diterima oleh laki-laki itu, ia melangkah ke tengah sawah yang tanahnya sudah kering itu, lalu pedangnya menusuk ke kanan dan menebas ke kiri, begitulah ia mulai main, tapi baru tiga-empat kali, mendadak ia berhenti karena lupa lanjutannya, ia garuk-garuk kepala dan cakar-cakar kuping sembari mengingat-ingat, lalu main lagi beberapa jurus.
Melihat permainannya itu sama sekali tidak keruan, gerak-geriknya juga lamban dan ketolol-tololan, semua orang sama tertawa terpingkal-pingkal.
"Apanya yang lucu, kenapa kalian tertawa?"
Ujar laki-laki pemikul sayur.
"Coba pinjami pedang, aku pun akan main beberapa jurus."
Setelah pegang pedang segera ia pun membacok dan menusuk serabutan, gerakannya sangat cepat dan caranya seperti orang gila, keruan orang banyak tambah geli menertawakannya.
Bab 91.
Tokoh Bu-tong-pay yang Kosen Semula Lenghou Tiong juga cuma tersenyum saja sambil berpangku tangan, tapi hanya melihat beberapa jurus saja ia menjadi terkejut.
Dilihatnya gerak pedang kedua laki-laki itu berbeda, yang satu lamban dan yang lain cepat, tapi dalam permainan pedang mereka itu ternyata tiada sedikit pun diketemukan lubang kelemahan.
Memang gerak-gerik kedua orang itu sangat kaku, bahkan lucu dan menimbulkan tawa penonton, tapi yang satu menjaga dan yang lain menyerang, sukar bagi pihak lawan untuk melayaninya.
Lebih-lebih laki-laki pemikul kayu itu, ilmu pedangnya sederhana saja, tapi daya tekanan pedangnya agaknya baru dilancarkan satu bagian saja, sembilan bagian selebihnya masih tersimpan dan siap untuk dikerahkan.
Di tengah gelak tertawa orang banyak itulah Lenghou Tiong lantas melangkah maju, katanya sambil memberi hormat.
"Sungguh beruntung sekali hari ini dapat menyaksikan ilmu pedang mahahebat dari kedua Cianpwe. Kepandaian sehebat ini sungguh sukar diketemukan sekalipun menjelajahi seluruh dunia."
Kata-kata Lenghou Tiong ini diucapkan dengan nada yang sungguh-sungguh dan setulus hati, sama sekali berbeda daripada kata-kata para jago tadi yang bernada mengejek.
Kedua laki-laki tadi lantas menghentikan permainan mereka.
Si tukang pikul kayu menjawab dengan mata melotot.
"Kau bocah ini, kau paham ilmu pedang kami?"
"Paham sih tidak,"
Sahut Lenghou Tiong.
"Ilmu pedang kedua Cianpwe mahahebat dan sangat luas, untuk ‘memahaminya’ masakah begitu gampang? Yang jelas ilmu pedang Bu-tong-pay yang termasyhur ternyata memang benar sangat mengagumkan."
"Kau bocah ini bernama siapa?"
Tanya si tukang sayur. Belum Lenghou Tiong menjawab, di tengah orang banyak sudah ada yang berteriak.
"Bocah apa segala, mulutmu perlu dicuci dulu. Dia adalah bengcu kami, Lenghou-kongcu adanya."
"Lenghou-kuaci?"
Si tukang kain menegas seperti orang heran.
"Kenapa tidak pakai nama oncom atau keripik, lha kok pakai nama kuaci atau kacang segala?"
Lenghou Tiong tidak menghiraukan olok-olok orang, ia memberi hormat pula dan berkata.
"Hari ini Lenghou Tiong dapat menyaksikan ilmu pedang sakti Bu-tong-pay, sungguh sangat beruntung dan kagum. Lain hari bila sempat tentu akan berkunjung untuk memberi salam hormat kepada Tiong-hi Totiang. Tentang nama kedua Cianpwe yang mulia apakah dapat diberi tahu?"
Kedua orang itu tidak menjawab, sebaliknya si tukang kayu terus meludah ke tanah, katanya.
"Hei, kalian sebanyak ini main berbaris dan membunyikan tambur segala dengan riuh ramai, apakah kalian sedang arak-arakan atau sedang mengantar jenazah?"
Lenghou Tiong tahu kedua orang itu pasti tokoh Bu-tong-pay, dengan penuh hormat dijawabnya.
"Kami ada seorang teman telah ditahan oleh Siau-lim-pay, kami sekarang hendak menuju ke sana untuk mohon kemurahan hati Hong-ting Taysu agar sudi mengampuni teman kami itu dan membebaskannya."
"O, kiranya bukan mengantar jenazah!"
Ujar si tukang sayur.
"Tapi kalian telah memukul mati keledai paman kami, kalian mau ganti atau tidak?"
Segera Lenghou Tiong menuntun maju tiga ekor kuda, katanya.
"Kuda-kuda ini sudah tentu tak bisa dibandingkan dengan keledai Cianpwe itu, terpaksa Cianpwe diharap menerima seadanya. Tentang kecerobohan teman tadi, mohon pula para Cianpwe sudi memaafkan."
Melihat sikap Lenghou Tiong yang makin lama makin hormat dan rendah diri terhadap petani-petani itu, tampaknya bukanlah sengaja pura-pura. Keruan para jago menjadi melongo heran.
"Setelah kau mengetahui kehebatan ilmu pedang kami, apakah kau tidak ingin menjajalnya?"
Tanya si tukang sayur.
"Wanpwe pasti bukan tandingan kedua Cianpwe,"
Sahut Lenghou Tiong.
"Rupanya kau enggan menjajal kami, sebaliknya aku menjadi ingin menjajal kau,"
Kata si tukang kayu. Berbareng pedangnya terus menusuk ke arah Lenghou Tiong dengan rada miring dan menceng.
"Bagus!"
Seru Lenghou Tiong ketika melihat serangan orang mencakup sembilan tempat berbahaya di atas tubuhnya, sungguh suatu jurus serangan yang amat indah.
Cepat ia pun lolos pedang dan balas menusuk.
Ketika laki-laki itu menusuk suatu kali ke tempat yang kosong, Lenghou Tiong juga putar pedangnya dan menebas ke tempat yang kosong.
Berturut-turut kedua orang sama-sama menyerang beberapa kali, tapi yang diarah semuanya tempat yang kosong.
Kedua pedang belum pernah beradu.
Namun begitu laki-laki itu selangkah demi selangkah terus mundur.
"Kuaci kacang ternyata rada aneh juga,"
Ujar laki-laki tukang sayur.
Segera ia pun angkat pedangnya dan menusuk dan menebas serabutan, dalam sekejap saja ia sudah main belasan jurus.
Tapi tiap-tiap jurus tidak ditujukan kepada Lenghou Tiong, di mana ujung pedangnya tiba selalu berselisih satu-dua meter jauhnya dari Lenghou Tiong.
Begitu pula Lenghou Tiong juga terkadang menusuk dari jauh ke arah si tukang kayu, lain saat menusuk si tukang sayur dari jarak jauh.
Anehnya tiap-tiap kali Lenghou Tiong menyerang, seketika kedua laki-laki itu tampak tegang dan cepat putar pedang buat menangkis atau melompat menghindar.
Keruan para penonton terheran-heran, padahal jarak ujung pedang Lenghou Tiong cukup jauh dari sasarannya, sekali menyerang juga tidak terasa sesuatu kekuatan yang menyambar ke depan, tapi mengapa kedua orang itu berusaha menghindar sebisanya?
Sampai di sini barulah para jago itu mengetahui kedua orang petani itu sekali-kali bukan orang desa, tapi adalah tokoh silat yang memiliki kepandaian tinggi.
Di waktu menyerang mereka tetap kelihatan lambat dan yang lain seperti orang gila, tapi ketika menghindar serangan gerak-gerik mereka amat gesit dan lincah, kalau bukan terlatih berpuluh tahun pasti tidak memiliki tingkatan sedemikian tingginya.
Tiba-tiba terdengar kedua orang itu bersuit serentak, ilmu pedang mereka berubah sama sekali, si tukang kayu bergerak secara keras, tenaganya kuat, sebaliknya si tukang sayur meloncat ke sana-sini dengan cepat, ujung pedang mereka bergetar memantulkan titik-titik sinar perak.
Namun pedang di tangan Lenghou Tiong tampak mengacung miring ke atas tanpa bergerak lagi, hanya sorot matanya yang tajam terkadang melotot ke arah si tukang kayu, lain saat melirik si tukang sayur.
Di mana sorot matanya sampai, seketika kedua laki-laki itu berganti gaya, terkadang mereka berteriak dan cepat melompat mundur, tiba-tiba mereka lantas melancarkan serangan, tapi mendadak mereka bertahan lagi seperti kerepotan.
Beberapa jago kelas tinggi seperti Keh Bu-si, Lo Thau-cu, dan lain-lain, setelah mereka mengikuti sekian lamanya pertarungan aneh itu, akhirnya dapatlah mereka melihat apa-apa yang terjadi sebenarnya.
Dilihatnya bagian-bagian yang dihindari oleh kedua laki-laki itu selalu adalah tempat yang disorot oleh tatapan mata Lenghou Tiong, tapi juga hiat-to yang penting di tubuh mereka.
Suatu ketika dilihatnya mata Lenghou Tiong menatap ke "siang-kiok-hiat"
Di bagian perut si tukang kayu, padahal waktu itu si tukang kayu baru hendak membacok dengan pedangnya, mendadak ia urungkan serangannya dan lekas-lekas menarik kembali pedangnya untuk mengadang di depan perut.
Pada saat hampir sama si tukang sayur bergaya hendak menusuk ke arah Lenghou Tiong, tiba-tiba sorot mata Lenghou Tiong mengarah ke "thian-ting-hiat"
Di bagian lehernya, lekas-lekas tukang sayur itu mendak ke bawah sehingga tusukan pedangnya menancap tanah sawah yang sudah mengeras kering itu.
Begitulah untuk sekian lamanya kedua laki-laki itu terus berkutatan sehingga basah kuyup oleh keringat mereka sendiri laksana habis kecebur sungai.
Si kakek penunggang keledai tadi juga terus mengikuti pertandingan aneh itu di samping dan tidak membuka suara, kini mendadak ia berdehem, lalu berkata.
"Hebat, sungguh sangat mengagumkan. Kalian mundur saja!"
Kedua orang itu mengiakan berbareng, tapi sorot mata Lenghou Tiong yang tajam laksana kilat itu masih terus berkisar di bagian hiat-to penting di tubuh mereka.
Meski mereka memutar pedang sembari mundur masih sukar melepaskan diri dari incaran sinar mata Lenghou Tiong.
"Kiam-hoat bagus!"
Seru si kakek.
"Lenghou-kongcu, biarlah aku yang minta petunjuk beberapa jurus padamu."
"Terima kasih!"
Sahut Lenghou Tiong sambit berpaling dan memberi hormat kepada si kakek.
Baru sekarang kedua laki-laki itu dapat membebaskan diri dari incaran sinar mata Lenghou Tiong, berbareng mereka melompat mundur dengan enteng sebagai burung terbang.
Si kakek terbatuk-batuk beberapa kali, lalu berkata pula.
"Lenghou-kongcu telah sengaja bermurah hati kepada kalian, jika bertempur sungguh-sungguh tentu tubuh kalian sudah penuh dengan lubang tusukan, masakan kalian mampu menyelesaikan permainan ilmu pedang. Lekas kalian maju mengucapkan terima kasih."
Segera kedua laki-laki itu melompat maju terus membungkuk tubuh di hadapan Lenghou Tiong. Kata si tukang sayur.
"Hari ini barulah aku mengetahui di luar langit masih ada langit, orang pandai masih ada yang lebih pandai. Kepandaian Kongcu jarang ada bandingannya di dunia ini, harap sudi memaafkan atas ucapan kami yang kurang hormat tadi."
Lenghou Tiong membalas hormat mereka, katanya.
"Bu-tong-kiam-hoat benar-benar mahasakti. Permainan pedang kalian tadi yang satu yang (positif) dan yang lain im (negatif), satu keras satu lunak, apakah itu Thay-kek-kiam-hoat adanya?"
"Hanya membikin malu saja, yang kami mainkan tadi adalah ‘Liang-gi-kiam-hoat’, memang terdiri dari im dan yang, tapi belum dapat terlebur menjadi satu,"
Sahut si tukang sayur.
"Karena Cayhe telah menyaksikan sebelumnya sehingga sedikit dapat mengetahui letak intisari ilmu pedang kalian,"
Ujar Lenghou Tiong.
"Tapi kalau benar-benar bertempur sungguhan jelas tak sanggup aku melawan."
"Lenghou-kongcu teramat rendah hati,"
Ujar si kakek.
"Padahal di mana sorot mata Kongcu menatap, di situ pula terletak titik kelemahan dari setiap jurus Liang-gi-kiam-hoat. Ai, kiam-hoat ini ternyata ..."
Sampai di sini ia geleng-geleng kepala, sejenak kemudian barulah ia menyambung.
"lima puluh tahun yang lalu Bu-tong-pay ada dua totiang yang sengaja mendalami Liang-gi-kiam-hoat ini secara tekun, beliau-beliau itu merasa di dalam ilmu pedang ini ada im ada yang, juga keras juga lunak. Tapi ai!"
Ia menghela napas seakan-akan hendak mengatakan.
"Ternyata ilmu pedang yang dianggap sudah sempurna itu tidak tahan sekali gempur oleh ahli pedang yang diketemukan sekarang."
Kiranya dalam pertandingan pedang tadi, mula-mula Lenghou Tiong menggunakan ujung pedang untuk menyerang tempat-tempat berbahaya di tubuh kedua lawannya dari jarak jauh, tempat yang diarah adalah lubang-lubang kelemahan permainan pedang mereka.
Tapi kemudian ia tidak perlu menggerakkan lagi pedangnya, hanya sorot matanya saja yang mengincar ke titik kelemahan lawan-lawan itu.
Setiap kali salah seorang lawannya menyerang, selalu merasakan titik kelemahan serangannya itu sudah kena diincar oleh Lenghou Tiong sehingga terpaksa ia harus menarik kembali serangan dan begitu seterusnya.
Makin lama mereka semakin gelisah, meski Lenghou Tiong hanya berdiri di tempatnya tanpa bergerak, tapi kedua orang itu sudah kelabakan sendiri dengan mandi keringat dan kehabisan tenaga.
Begitulah Lenghou Tiong lantas berkata dengan penuh hormat.
"Tadi kedua paman ini rasanya tidak terlalu tinggi tingkatannya di dalam Bu-tong-pay, namun ilmu pedang mereka sudah sedemikian bagusnya. Apalagi kepandaian Tiong-hi Totiang serta tokoh-tokoh kelas wahid yang lain, tentu jauh lebih mengagumkan. Wanpwe dan para kawan kebetulan harus lalu di kaki Bu-tong-san sini, soalnya ada urusan penting sehingga tidak sempat berkunjung dan memberi hormat kepada Tiong-hi Totiang, kelak bila urusan sudah selesai tentu Cayhe akan berkunjung ke Cin-bu-koan (nama kuil) untuk sembahyang di hadapan Cin-bu-tayte serta menjura kepada Tiong-hi Totiang."
Sebenarnya watak Lenghou Tiong sangat angkuh, tapi terhadap ilmu pedang kedua lawannya yang luar biasa dan ajaib tadi, meski dia dapat mengalahkan mereka, tapi dia memang benar-benar sangat kagum.
Apalagi ia buru-buru ingin pergi menolong Ing-ing dan sedapat mungkin harus menghindari permusuhan dengan Bu-tong-pay yang sukar dilawan itu, samar-samar dalam perasaannya ia menduga si kakek pasti tokoh terkemuka di dalam Bu-tong-pay, maka apa yang diucapkannya itu benar-benar sangat tulus dan sungguh-sungguh.
Si kakek tampak manggut-manggut, katanya.
"Orang muda memiliki kepandaian tinggi, tapi tidak sombong, sungguh harus dipuji. Lenghou-kongcu, apakah kau pernah mendapat didikan langsung dari Hong Jing-yang Locianpwe dari Hoa-san?"
Lenghou Tiong terkesiap dan mengakui ketajaman mata si kakek yang bisa mengetahui asal usul ilmu pedangnya tadi. Cepat ia membungkuk tubuh dan menjawab.
"Ah, secara beruntung Wanpwe hanya pernah mempelajari sedikit bulu kulit kepandaian Hong-thaysusiokco."
"Bulu kulit saja katamu dan ternyata sudah begitu hebat?"
Kata si kakek dengan tersenyum. Ia berpaling dan mengambil pedang yang dipegang si pemikul kayu. Lalu katanya pula.
"Sekarang aku ingin coba belajar kenal dengan sedikit bulu kulit ilmu pedang ajaran Hong-locianpwe itu."
"Ah, mana Wanpwe berani bergebrak dengan Cianpwe?"
Ujar Lenghou Tiong dengan rendah hati.
Kembali si kakek tersenyum, dengan tetap terbungkuk-bungkuk, tubuhnya memutar ke kanan dengan perlahan-lahan, pedang yang terpegang di tangan kiri itu diangkatnya ke atas terus melintang di depan dada.
Melihat gaya orang tua itu, Lenghou Tiong tidak berani sembrono, ia pun mengikuti gerak-geriknya dengan penuh perhatian.
Tiba-tiba pedang si kakek menggores ke depan dengan perlahan dalam bentuk setengah lingkaran.
Seketika Lenghou Tiong merasa suatu arus hawa dingin menyambar ke arahnya, kalau tidak balas menyerang rasanya sukar ditahan.
Terpaksa ia berkata.
"Maaf!"
Karena tidak melihat titik kelemahan dari jurus pedang si kakek, terpaksa pedangnya menutul sekenanya ke depan.
Sekonyong-konyong si kakek memindahkan pedang ke tangan kanan, sinar dingin berkelebat, mendadak ia menebas ke leher Lenghou Tiong.
Karena gerakan yang teramat cepat ini, para jago yang menonton di samping sampai menjerit kaget dan khawatir.
Tapi karena serangan si kakek yang keras mendadak itu, segera Lenghou Tiong melihat titik kelemahan di bawah ketiak lawan.
Segera pedangnya membarengi menusuk ke yan-ek-hiat di bawah iga si kakek.
Terpaksa si kakek menegakkan pedangnya.
"Trang" , kedua pedang kebentur, kedua orang sama-sama mundur selangkah, Lenghou Tiong merasakan tenaga lawan seakan-akan melengket di atas pedangnya sehingga batang pedang tergetar mendenging. Sebaliknya si kakek juga bersuara heran, air mukanya menunjukkan rasa kejut dan tidak percaya. Setelah satu gebrak, kembali pedang si kakek berpindah ke tangan kiri, ujung pedang menggores pula ke depan menjadi dua lingkaran. Melihat gerakan pedang orang yang bertenaga dan rapat melindungi seluruh tubuhnya tanpa lubang sedikit pun, diam-diam Lenghou Tiong kejut dan heran.
"Sejak menghadapi musuh belum pernah kulihat permainan silat lawan yang begini rapat penjagaannya. Bila dia menyerang cara demikian, lalu cara bagaimana aku harus mematahkannya?"
Lantaran timbul rasa sangsinya, tanpa terasa butiran keringat lantas merembes di dahinya.
Dalam pada itu pedang si kakek lantas bergetar, mendadak menusuk ke depan secara lempeng, ujung pedang bergemetar cepat sehingga tidak diketahui arah mana sebenarnya yang hendak diserang.
Yang pasti beberapa hiat-to penting di tubuh Lenghou Tiong sudah terancam semua oleh gerakan pedangnya.
Tapi karena serangan cepat si kakek itulah Lenghou Tiong dapat melihat tiga lubang kelemahan di tubuh lawannya, asal salah satu lubang kelemahan diserang sudah cukup menamatkan jiwanya.
Segera pedang Lenghou Tiong juga ditusukkan ke depan, ke ujung alis kiri si kakek.
Dalam keadaan demikian bila si kakek tetap mengayun pedangnya ke depan, maka lebih dulu pelipis kirinya pasti akan tertusuk pedang Lenghou Tiong.
Pertarungan di antara jago kelas tinggi kalah-menang memang cuma tergantung pada satu-dua detik itu saja, siapa yang lebih dulu dia yang menang.
Menurut keadaan itu, meski Lenghou Tiong tak bisa menghindarkan diri dari serangan si kakek, tapi kesempatan menyelamatkan diri sedikitnya ada separuh, sebaliknya pihak lawan pasti akan binasa oleh tusukannya.
Ternyata si kakek cukup menyadari hal itu, mendadak ia putar balik pedangnya, sekonyong-konyong pandangan Lenghou Tiong menjadi silau oleh lingkaran-lingkaran sinar perak besar-kecil tak terhitung banyaknya.
Karena matanya silau, terpaksa ia pun menarik kembali pedangnya, lalu menusuk lagi ke tengah lingkaran sinar pedang lawan.
"Trang" , kedua pedang kebentur lagi, lengan Lenghou Tiong terasa kesemutan. Lingkaran sinar yang dipantulkan oleh pedang si kakek makin lama makin banyak, hanya sebentar saja seluruh badannya seakan-akan menghilang di balik lingkaran sinar yang tak terhitung banyaknya itu. Lingkaran sinar itu satu disusul yang lain, yang duluan belum buyar sudah timbul lingkaran lagi. Lenghou Tiong tidak sanggup mengincar lubang kelemahan di tengah ilmu pedang si kakek, hanya dirasakan lawan seakan-akan dibungkus oleh beratus atau beribu batang pedang sehingga sukar ditembus. Jantung Lenghou Tiong mulai berdebar keras. Sejak berhasil meyakinkan "Tokko-kiu-kiam"
Untuk pertama kalinya sekarang ia merasakan takut.
Bahwasanya gerak serangan musuh ternyata tidak diketemukan titik kelemahannya barulah sekarang terjadi.
Selagi Lenghou Tiong merasa bimbang, saat itulah beribu-ribu lingkaran sinar laksana ombak samudra saja telah membanjir ke arahnya.
Karena tidak sanggup bertahan, terpaksa ia melangkah mundur.
Setiap kali ia mundur satu langkah, lingkaran-lingkaran sinar itu lantas mendesak maju selangkah pula.
Dalam sekejap saja, ia sudah mundur hampir sepuluh langkah dan tampaknya masih akan terdesak mundur lagi.
Melihat bengcu mereka terdesak di bawah angin, para jago ikut prihatin dan sama menahan napas mengikuti pertarungan hebat itu.
Mendadak Tho-kin-sian berseru.
"He, ilmu pedang apakah itu, seperti permainan anak kecil saja yang menggores-gores lingkaran, aku pun bisa kalau cuma begitu!"
"Kalau aku yang menggores tanggung akan lebih bulat daripada dia,"
Timbrung Tho-hoa-sian.
"Jangan takut Lenghou-hengte, jika kau kalah, sebentar kami akan membeset si tua bangka itu menjadi empat potong untuk melampiaskan rasa dongkolmu,"
Seru Tho-ki-sian.
"Salah besar ucapanmu itu!"
Debat Tho-yap-sian.
"Pertama dia adalah Lenghou-bengcu dan bukan Lenghou-hengte segala. Kedua, dari mana kau mengetahui dia takut?"
"Meski Lenghou Tiong sudah menjadi bengcu, tapi umurnya lebih muda daripada diriku. Memangnya sudah menjadi bengcu lantas harus dipanggil Lenghou-koko, Lenghou-pepek, atau dipanggil tuan besar segala?"
Sahut Tho-ki-sian.
Saat itu Lenghou Tiong tampak terdesak mundur lagi, para jago menjadi ikut cemas, keruan mereka tambah gusar mendengar Tho-kok-lak-sian mengoceh tak keruan.
Dalam pada itu Lenghou Tiong sedang mundur lagi satu langkah.
"byur" , tiba-tiba sebelah kakinya menginjak air pecomberan. Kejadian ini mendadak menimbulkan pikirannya.
"Dahulu Hong-thaysusiokco telah memberi pesan wanti-wanti bahwa ilmu silat di dunia ini sangat banyak aneka ragamnya, tapi pada dasarnya hanya ada satu patokan, tak peduli bagaimana bagusnya gerak serangan lawan, asalkan ada jurus serangan tentu ada lubang kelemahannya. Sebabnya ilmu pedang yang diturunkan oleh Tokko-tayhiap ini dapat merajai dunia persilatan tanpa tandingan adalah karena dapat mencapai titik kelemahan di antara jurus serangan musuh. Sekarang ilmu pedang si kakek berputar begini cepat, sedikit pun tiada lubang kelemahannya. Hanya saja mungkin aku sendiri yang tidak mampu mencari titik kelemahannya dan bukan ilmu pedangnya benar-benar tanpa titik kelemahan."
Dalam pada itu kembali Lenghou Tiong terdesak mundur beberapa tindak lagi, ia coba memerhatikan lingkaran-lingkaran yang dijangkitkan sinar pedang lawan itu, tiba-tiba terpikir olehnya.
"Jangan-jangan di tengah lingkaran-lingkaran inilah titik kelemahannya. Tapi kalau keliru dan pedangku menusuk ke tengah lingkaran itu, sekali digiling pedangnya seketika tanganku bisa kutung."
Tiba-tiba timbul tekadnya.
"Jelas aku tidak sanggup melawan locianpwe ini, jika aku menyerah kalah, sebagai orang tua mungkin dia takkan mengusik diriku, tapi kekalahanku akan berarti mengguncangkan semangat para kawan, mana mereka berani lagi pergi menyerbu Siau-lim-si dan menolong Ing-ing?"
Teringat kepada budi kebaikan Ing-ing terhadapnya, kalau cuma mengorbankan sebelah lengan saja apa halangannya?
Tiba-tiba dalam lubuk hatinya merasa sangat terhibur dan puas jika dapat mengorbankan sebelah lengan bagi Ing-ing, dirasakan pula dirinya terlalu banyak utang budi kepada si nona, kalau benar-benar mengalami cacat badan secara parah demi si nona barulah sekadar dapat membalas budi kebaikannya itu.
Berpikir begitu, tanpa sangsi lagi ia lantas angkat tangannya, pedang lantas menusuk ke tengah lingkaran sinar pedang si kakek.
"Trang" , terdengar suara nyaring mendering, Lenghou Tiong merasa dadanya tergetar keras, napas sesak dan darah bergolak, tapi lengannya ternyata baik-baik saja tak terluka sedikit pun. Si kakek tampak mundur selangkah, pedang ditarik kembali dan berdiri tegak, air mukanya menampilkan rasa aneh seperti orang terheran-heran, juga ada perasaan malu-malu, malahan menampilkan rasa penuh kesayangan. Selang cukup lama barulah ia membuka suara.
"Ilmu pedang Lenghou-kongcu benar-benar hebat, pengetahuan dan keberanianmu juga melebihi orang biasa, sungguh hebat, sungguh kagum!"
Baru sekarang Lenghou Tiong menyadari gempuran yang penuh risiko tadi sesungguhnya telah menemukan titik kelemahan ilmu pedang lawan, hanya saja ilmu pedang si kakek terlalu tinggi, mungkin di antara sepuluh ribu orang tiada satu orang yang berani mengambil risiko seperti dia untuk menjajal titik kelemahan si kakek yang ternyata disembunyikan di balik titik kekuatannya, yaitu di tengah lingkaran sinar pedangnya yang terus mendesak lawan itu.
Keruan Lenghou Tiong merasa sangat beruntung dan bersyukur, cepat ia membungkuk tubuh dan menjawab.
"Ilmu pedang Locianpwe mahasakti, sungguh Wanpwe banyak memperoleh manfaatnya setelah mendapat petunjuk-petunjuk tadi."
Ucapan Lenghou Tiong ini bukan kata-kata yang sengaja dibuat, tapi timbul dari lubuk hatinya yang tulus, sebab pertandingan ini memang benar banyak memberi ilham kepadanya sehingga dia mengetahui bahwa titik kekuatan serangan musuh justru adalah titik paling lemah pula.
Kalau titik yang paling kuat dapat digempur, maka bagian-bagian lain tidak perlu diterangkan lagi.
Pertandingan di antara jago-jago kelas tinggi cukup ditentukan dalam satu jurus saja.
Melihat Lenghou Tiong berani balas menyerang melalui lingkaran sinar pedangnya, maka si kakek merasa tidak perlu melanjutkan lagi pertarungan itu.
Ia menatap tajam sejenak kepada Lenghou Tiong.
Kemudian menghela napas dan berkata.
"Lenghou-kongcu, aku ingin bicara sebentar padamu."
"Baik, mohon petuah-petuah Locianpwe yang berharga,"
Sahut Lenghou Tiong.
Si kakek mengembalikan pedang kepada si tukang sayur tadi, lalu tangan Lenghou Tiong digandengnya dan diajak menuju ke bawah pohon besar di sebelah timur sana.
Lenghou Tiong lantas melemparkan pula pedangnya dan mengikuti kehendak si kakek.
Sampai di bawah pohon, jarak dengan rombongan orang banyak sudah ada berpuluh meter jauhnya, suara pembicaraan mereka sukar lagi didengar dari jarak sejauh itu.
Lebih dulu si kakek duduk di bawah pohon, lalu katanya.
"Silakan duduk juga untuk bicara."
Sesudah Lenghou Tiong berduduk barulah orang tua itu mulai bicara dengan perlahan.
"Lenghou-kongcu, tokoh muda seangkatan yang memiliki kepandaian seperti kau boleh dikata jarang terdapat."
"Ah, terima kasih atas pujian Locianpwe,"
Sahut Lenghou Tiong.
"Tingkah laku Wanpwe terkenal buruk sehingga tidak diberi tempat oleh perguruan, mana aku berani menerima pujian Locianpwe itu."
"Kaum persilatan kita harus mengutamakan perbuatan yang terang-terangan, asalkan sesuai dengan hati nurani,"
Kata si kakek.
"Tindak tandukmu meski terkadang terlalu berani dan tidak tunduk kepada adat kebiasaan, tapi masih harus diakui adalah perbuatan seorang laki-laki sejati. Secara diam-diam aku telah mengutus orang buat menyelidiki kelakuanmu yang sebenarnya dan ternyata tidak diketemukan sesuatu yang buruk sebagaimana disiarkan secara luas di kalangan Kangouw."
Alangkah terharu dan terima kasih Lenghou Tiong atas pembelaan si kakek terhadap pribadinya itu, setiap katanya benar-benar kena lubuk hatinya.
Ia yakin si kakek pasti tokoh yang amat penting di dalam Bu-tong-pay, kalau tidak masakah diam-diam mengutus orang buat menyelidiki perbuatan dan tingkah lakunya?
Dalam pada itu si kakek telah menyambung lagi.
"Bahwasanya orang muda suka menonjolkan sesuatu adalah lazim. Gak Put-kun sendiri lahirnya tampak ramah, tapi sebenarnya jiwanya sangat sempit ...."
Mendengar kritikan terhadap gurunya, seketika Lenghou Tiong berbangkit dan berkata.
"Wanpwe anggap Insu (guru berbudi) seperti orang tua sendiri, maka Wanpwe tidak berani bicara tentang kekurangannya."
Kakek itu tersenyum, katanya.
"Kau tidak melupakan sumbermu, sungguh sangat baik."
Tiba-tiba air mukanya berubah serius dan menambahkan.
"Sudah berapa lama kau meyakinkan ‘Gip-sing-tay-hoat’ itu?"
"Wanpwe mempelajarinya secara kebetulan kira-kira setengah tahun yang lalu,"
Sahut Lenghou Tiong.
"Mula-mula Wanpwe benar-benar tidak tahu ilmu yang kulatih ini adalah Gip-sing-tay-hoat."
"Benarlah kalau begitu,"
Ujar si kakek.
"Tadi kita telah tiga kali mengadu senjata, tenaga dalamku telah kau sedot, tapi rasanya kau masih belum mahir memanfaatkan ilmu iblis yang celaka itu. Untuk mana aku ingin memberi nasihat, entah Lenghou-siauhiap sudi mendengarkan tidak?"
Lenghou Tiong menjadi gugup, cepat ia menjawab.
"Kata-kata emas Locianpwe sudah tentu akan kuterima dengan segala kerelaan hati."
"Gip-sing-tay-hoat ini walaupun sangat lihai di waktu pertempuran, tapi bagi orang yang melatihnya sendiri akan menimbulkan banyak kerugian, semakin mendalam keyakinannya semakin besar pula bahayanya. Lenghou-siauhiap harus menyadarinya dan sebisanya menghentikan pelajaranmu. Setahuku, akhir dari latihan ilmu iblis itu akan mengubah seluruh watak dan pikiran orang yang meyakinkannya itu, jiwanya tertekan dan akan melakukan macam-macam perbuatan yang bertentangan dengan hati nuraninya tanpa disadari olehnya sendiri. Tatkala mana sukarlah untuk membersihkan diri."
Ketika di Bwe-cheng tempo hari Lenghou Tiong memang pernah mendengar sendiri dari ucapan Yim Ngo-heng bahwa setelah mempelajari "Gip-sing-tay-hoat"
Itu, maka kelak akan banyak mendatangkan bencana, maka dirinya diminta berjanji akan masuk menjadi anggota Mo-kau, bahkan akan diangkat sebagai tangan kiri ketua Mo-kau itu, dengan demikian Yim Ngo-heng baru akan mengajarkan cara memunahkan gangguan penyakit yang ditimbulkan oleh Gip-sing-tay-hoat itu.
Sekarang apa yang dikatakan si kakek ternyata cocok dengan ucapan Yim Ngo-heng dahulu, keruan Lenghou Tiong tambah percaya sehingga keluar keringat dingin.
Katanya kemudian.
"Petunjuk-petunjuk Locianpwe takkan kulupakan selama hidup ini. Wanpwe juga tahu ilmu ini tidak baik, juga pernah bertekad takkan menggunakannya untuk membikin celaka sesamanya. Cuma setelah ilmu ini meresap di dalam tubuh, sekalipun tidak ingin memakainya toh sukar rasanya."
"Ada suatu hal yang mungkin sangat sukar untuk minta Siauhiap melakukannya,"
Kata si kakek.
"Tapi seorang pahlawan, seorang kesatria harus berani berbuat apa yang tak bisa diperbuat orang lain. Siau-lim-pay ada semacam ilmu khas yang disebut ‘Ih-kin-keng’, mungkin Siauhiap sudah pernah mendengarnya."
"Ya, kabarnya itu adalah lwekang tertinggi yang tak diajarkan sembarangan orang sekalipun kepada padri-padri sakti angkatan utama Siau-lim-pay pada saat ini,"
Kata Lenghou Tiong.
"Sekarang Siauhiap memimpin orang banyak ini menuju ke Siau-lim-si, kukira persoalannya tidak mudah untuk diselesaikan. Tak peduli pihak mana yang menang pasti akan banyak menimbulkan korban, hal ini sesungguhnya merupakan malapetaka bagi dunia persilatan kita. Walaupun sudah tua bangka, namun aku bersedia mendamaikan kalian dan akan mohon ketua Siau-lim-pay mengutamakan welas asih dan mengajarkan ‘Ih-kin-keng’ kepada Siauhiap, sebaliknya Siauhiap hendaklah memberi penjelasan kepada orang banyak agar menyudahi urusan ini dan bubar saja, dengan demikian buyar pula bencana yang setiap saat dapat timbul. Entah bagaimana pendapat Siauhiap akan usulku ini?"
"Lalu bagaimana dengan Yim-siocia yang masih terkurung di Siau-lim-si itu?"
Tanya Lenghou Tiong.
"Yim-siocia telah membunuh empat tokoh Siau-lim-pay, banyak menimbulkan huru-hara pula di dunia Kangouw. Kalau Hong-ting Taysu mengurung dia kukira bukan karena ingin membalas dendam Siau-lim-pay sendiri, tapi timbul dari jiwanya yang welas asih demi keselamatan sesama orang Kangouw. Dengan pribadi Siauhiap yang baik ini masakah khawatir tidak mendapatkan jodoh yang setimpal dari keluarga yang baik? Buat apa mesti tergoda oleh perempuan siluman dari Mo-kau itu sehingga merusak nama baikmu dan menghancurkan masa depanmu."
Serentak Lenghou Tiong berbangkit, katanya lantang.
"Lenghou Tiong telah terima budi orang dan sudah pasti akan kubalas. Adapun maksud baik Cianpwe sungguh sayang sekali tak bisa kuterima."
Si kakek menghela napas, katanya pula.
"Orang muda tenggelam oleh kecantikan, terjebak oleh nona ayu, rasanya memang sukar menghindarkan diri."
"Wanpwe mohon diri,"
Kata Lenghou Tiong sambil membungkuk tubuh.
"Nanti dulu!"
Seru si kakek.
"Meski aku jarang berhubungan dengan Hoa-san-pay, tapi sedikit banyak kuyakin Gak-siansing masih menghormati diriku. Jika kau mau terima nasihatku tadi, aku dan ketua Siau-lim-pay berani tepuk dada memberi jaminan akan mengembalikan kau ke Hoa-san-pay, untuk ini apakah kau percaya padaku?"
Tergerak juga hati Lenghou Tiong oleh tawaran menarik itu.
Diterima kembali ke dalam Hoa-san-pay memang cita-citanya yang paling utama.
Kakek ini begini tinggi ilmu silatnya, nada bicaranya juga meyakinkan pasti seorang tokoh terkemuka dari Bu-tong-pay, dia menjanjikan akan menjamin kembalinya Lenghou Tiong ke Hoa-san-pay, maka dapat dipercaya urusan ini pasti akan berhasil.
Selamanya sang guru sangat mementingkan hubungan baik sesama orang cing-pay, apalagi Siau-lim-pay dan Bu-tong-pay adalah dua aliran tertinggi dari dunia persilatan, kalau kedua tokoh utama dari kedua aliran itu tampil ke muka untuk menjaminnya, tentu sang guru akan terpaksa menerimanya kembali.
Tapi sesudah kembali ke Hoa-san, setiap hari ia akan bertemu dengan sumoaynya yang jelita itu, apakah lantas membiarkan Ing-ing terkurung di gua Siau-lim-si yang dingin dan sunyi?
Berpikir sampai di sini, seketika darah bergolak pula di rongga dadanya, serunya segera.
"Percumalah menjadi manusia jika Wanpwe tidak dapat menolong Yim-siocia keluar dari Siau-lim-si. Tak peduli bagaimana hasil dari urusan ini, asalkan Wanpwe masih hidup kelak, Wanpwe pasti akan berkunjung ke Bu-tong-san untuk mengaturkan terima kasih kepada Cianpwe serta Tiong-hi Totiang."
Kembali si kakek menghela napas, katanya.
"Kau tidak mementingkan jiwamu, tidak mementingkan perguruanmu, tidak mementingkan nama baik dan hari depanmu, tapi lebih suka berbuat menuruti bisikan hatimu demi membela seorang perempuan dari Mo-kau, kelak kalau dia mengingkari kau dan berbalik membikin celaka kau, apakah kau takkan menyesal."
"Jiwa Wanpwe ini diselamatkan oleh Yim-siocia, maka akan kukembalikan jiwaku ini untuknya, buat apa mesti merasa sayang dan menyesal?"
Sahut Lenghou Tiong.
"Baiklah, boleh kau pergi,"
Kata si kakek mengangguk. Lenghou Tiong memberi hormat pula, lalu putar kembali ke tempat kawan-kawannya, katanya kepada Lo Thau-cu dan lain-lain.
"Marilah berangkat!"
Bab 92. Terkurung di Siau-lim-si "Lenghou-kongcu,"
Kata Tho-sit-sian.
"tua bangka tadi bertanding pedang dengan kau, kenapa belum jelas kalah atau menang sudah diakhiri?"
Pertandingan tadi sesungguhnya memang belum berakhir dengan kalah dan menang.
Soalnya si kakek menyadari tidak mampu mengalahkan Lenghou Tiong dan segera ia menyudahi pertandingan, sudah tentu orang-orang lain tidak tahu di mana letak seluk-beluk persoalannya.
Maka Lenghou Tiong menjawab.
"Ilmu pedang locianpwe tadi sangat tinggi, kalau pertandingan itu diteruskan rasanya aku pun tak bisa mendapat keuntungan apa-apa, maka lebih baik dihentikan saja."
"Lenghou-kongcu, bodohlah kau kalau begitu,"
Ujar Tho-sit-sian.
"Jika belum dapat ditentukan kalah dan menang, bila pertarungan diteruskan akhirnya kau pasti menang."
"Haha, juga belum tentu,"
Sahut Lenghou Tiong tertawa.
"Kenapa belum tentu?"
Tho-sit-sian ngotot.
"Umur tua bangka itu jauh lebih tua daripadamu, tenaganya dengan sendirinya tidak mampu menandingi kau. Jika pertandingan dilanjutkan, lama-lama pasti kau akan berada di atas angin."
Dalam hati Lenghou Tiong mengakui akan kebenaran ucapan Tho-sit-sian yang kelihatannya ngawur, tapi cukup beralasan. Belum dia menanggapi, tiba-tiba Tho-kin-sian menyela.
"Mengapa usianya lebih tua lantas tenaganya pasti kalah kuat?"
Diam-diam Lenghou Tiong merasa geli.
Ia tahu di antaranya Tho-kok-lak-sian itu, Tho-kin-sian adalah toako, sudah tentu tidak terima dikatakan lebih tua umurnya lebih lemah pula tenaganya.
Tho-kan-sian juga lantas menimbrung.
"Tidak tepat! Jika umur lebih sedikit dan tenaga semakin besar, maka anak umur tiga kan jauh lebih kuat dari kita?"
Begitulah Tho-kok-lak-sian terus mengoceh tak keruan.
Rombongan besar mereka melanjutkan perjalanan menuju ke utara, sampai di wilayah Holam, mendadak dari timur dan barat datang bergabung pula dua rombongan besar sehingga jumlah mereka seluruhnya sudah lebih empat ribu orang.
Sudah tentu semakin besar semakin sukar pula cara pengurusan mereka, terutama dalam hal perbekalan.
Soal tempat tidur sih tidak sukar, tak peduli tanah pegunungan atau hutan belukar mereka dapat merebah dan molor sesukanya, tapi mengenai hal makan minum inilah soal sulit.
Selama beberapa hari mereka benar-benar telah menyapu bersih segala makanan dan minuman restoran atau rumah makan sepanjang jalan yang mereka lalui, bahkan tidak sedikit yang porak-poranda diubrak-abrik mereka.
Maklumlah, mereka adalah orang-orang gabungan dari macam-macam golongan dan lapisan, biasanya mereka suka makan minum sepuasnya, sekarang mereka makan tidak kenyang, minum kepalang tanggung, keruan ada yang naik pitam dan yang sial adalah rumah-rumah makan yang dihancurkan mereka.
Lenghou Tiong menyadari juga akan tingkah laku kawan-kawannya yang banyak menimbulkan kerugian penduduk sepanjang jalan yang mereka lalui itu.
Tapi ia pun memuji akan rasa setia kawan mereka.
Jika Siau-lim-si nanti tidak mau membebaskan Ing-ing, maka pertarungan sengit pasti sukar dihindarkan dan apa yang akan terjadi tentu mengerikan.
Selama beberapa hari ini selalu diharapkan berita dari Ting-sian dan Ting-yat Suthay, bila berkat permohonan kedua suthay itu ketua Siau-lim-si sudi membebaskan Ing-ing, maka bencana banjir darah sekiranya dapat dihindari.
Akan tetapi kini tinggal tiga hari lagi sudah akan tiba tanggal 15 bulan 12, jarak dari Siau-lim-si juga tinggal seratusan li saja dan berita yang diharap-harapkan dari Ting-sian dan Ting-yat itu ternyata belum kunjung datang.
Gerakan mereka ke utara untuk menyerbu Siau-lim-si ini memangnya dilakukan secara terbuka dan secara besar-besaran, maka sudah diketahui secara meluas ke berbagai pelosok, namun pihak lawan ternyata tenang-tenang saja tidak memberi reaksi apa-apa, seakan-akan mereka sudah siap siaga tanpa gentar.
Membicarakan hal ini, Lenghou Tiong, Lo Thau-cu, Coh Jian-jiu, dan lain-lain juga merasa heran dan waswas.
Malam ini rombongan besar mereka berkemah di lapangan terbuka, sekeliling dipasang pos-pos peronda untuk menjaga kalau diserang musuh secara mendadak di waktu malam.
Hawa malam cukup dingin, angin meniup kencang, awan memenuhi angkasa seperti akan turun salju.
Untuk menghangatkan badan, bergunduk-gunduk api unggun telah dinyalakan di sekitar mereka.
Dasar jago-jago Kangouw ini memang tidak punya disiplin, maklum gabungan mereka itu terjadi secara kebetulan dan secara mendadak tanpa teratur, maka di mana mereka berada suasana juga menjadi gaduh, ada yang menyanyi dan bertengkar, ada yang mengasah senjata dan bertanding gulat segala, ributnya tidak kepalang.
Lenghou Tiong berpikir sendiri.
"Paling baik kalau orang-orang banyak ini jangan sampai ikut pergi ke Siau-lim-si. Kenapa aku sendiri tidak mendahului pergi memohon kepada Hong-ting dan Hong-sing Taysu agar sudi membebaskan Ing-ing? Jika hal ini bisa terlaksana kan jauh lebih menggembirakan daripada mesti terjadi huru-hara?"
Tapi lantas terpikir pula.
"Bila padri-padri Siau-lim-si itu meluluskan permintaanku, mungkin aku akan ditawan dan dibunuh. Kematianku tidak perlu disayangkan, namun kawan-kawan ini menjadi kehilangan pimpinan dan pasti akan terjadi kekacauan, bukan mustahil Ing-ing tidak berhasil diselamatkan, sebaliknya beribu kawan ini akan binasa semua di Siau-sit-san. Mana boleh aku bertindak menuruti hawa nafsu sendiri sehingga membikin susah orang banyak?"
Ia berbangkit, dilihatnya bara api unggun berkobar-kobar dikelilingi oleh berpuluh-puluh orang setiap gundukan. Pikirnya kemudian.
"Mereka setia kepada Ing-ing, aku juga harus setia kepada mereka."
Dua hari kemudian, sampailah barisan mereka di luar Siau-lim-si di atas Siau-sit-san, jumlah mereka sekarang sedikitnya ada enam atau tujuh ribu orang sesudah bergabung lagi beberapa rombongan, tokoh-tokoh yang pernah berkumpul di Ngo-pah-kang dahulu seperti Ui Pek-liu, Na Hong-hong, dan lain-lain semuanya juga datang, banyak pula jago-jago yang belum dikenal oleh Lenghou Tiong.
Beribu-ribu tambur dibunyikan serentak, suaranya benar-benar menggetar bumi.
Meski tambur mereka dipukul sedemikian keras dan gemuruh, tapi sampai sekian lamanya masih tidak tampak seorang padri Siau-lim-si yang keluar.
"Berhenti!"
Lenghou Tiong memerintahkan bunyi tambur dihentikan, secara berturut-turut perintah itu diteruskan, suara tambur menjadi makin perlahan dan akhirnya berhenti semuanya.
Segera Lenghou Tiong berseru lantang ke arah Siau-lim-si.
"Wanpwe Lenghou Tiong bersama para kawan Kangouw datang kemari untuk menemui Hongtiang Taysu Siau-lim-si. Mohon sudi menerima kunjungan kami ini."
Suara Lenghou Tiong itu dikumandangkan dengan tenaga yang mahakuat sekali, di tempat beberapa li jauhnya cukup terdengar.
Bila Hong-ting Taysu berada di dalam kuilnya seharusnya dia pun mendengar.
Namun kuil agung itu tetap sunyi senyap tanpa jawaban sedikit pun.
Lenghou Tiong mengulangi teriakannya lagi sekali dan tetap tiada jawaban apa-apa.
"Silakan Coh-heng menyampaikan kartu kehormatan,"
Perintah Lenghou Tiong.
Coh Jian-jiu mengiakan dan melangkah pergi dengan membawa kotak berisi kartu nama Lenghou Tiong beserta gembong-gembong bawahannya itu.
Sampai di depan pintu gerbang, Coh Jian-jiu mengetok beberapa kali, ternyata di dalam kuil tetap sunyi sepi, ia coba tolak daun pintu, ternyata pintu tidak dipalang dari dalam dan terus terbuka.
Waktu Coh Jian-jiu memandang ke dalam, keadaan tetap sunyi seperti rumah kosong saja.
Ia tidak berani sembarangan masuk, segera putar balik memberi lapor kepada Lenghou Tiong.
Mesti tinggi ilmu silatnya, namun dalam hal pengalaman orang hidup boleh dikata masih cetek bagi Lenghou Tiong, lebih-lebih dia pun tidak punya bakat memimpin orang sebanyak itu.
Keruan ia menjadi bingung juga menghadapi keadaan yang sama sekali di luar dugaan itu.
"Hwesio-hwesio di dalam kuil itu agaknya sudah lari semua?"
Kata Tho-kin-sian.
"Marilah kita lekas menyerbu ke dalam, setiap kepala gundul yang kita ketemukan lantas kita bunuh."
"Kau bilang hwesio-hwesio itu sudah lari semua, dari mana ada lagi kepala gundul yang bisa kau bunuh?"
Kata Tho-kan-sian.
"Nikoh kan juga kepala gundul?"
Sahut Tho-kin-sian.
"Di kuil kaum hwesio mana ada nikoh?"
Sela Tho-hoa-sian.
"Marilah kita coba lihat-lihat ke dalam,"
Ajak Keh Bu-si.
"Baik,"
Kata Lenghou Tiong.
"Harap Keh-heng, Lo-heng, Coh-heng, dan Ui-pangcu berempat mengiringi Cayhe masuk ke sana. Harap sampaikan perintah agar anak buah masing-masing diawasi, tanpa perintahku lebih lanjut siapa pun dilarang bertindak sendiri-sendiri, tidak boleh berbuat kasar terhadap padri Siau-lim-si, dilarang juga mengganggu setiap benda di atas Siau-sit-san ini."
"Apakah kentut juga tidak boleh?"
Tanya Tho-ki-sian.
Lenghou Tiong tidak gubris padanya, yang dia khawatirkan justru keadaan Ing-ing yang tidak diketahui itu.
Dengan langkah lebar segera ia menuju ke dalam kuil dengan diikuti oleh Keh Bu-si berempat.
Sesudah masuk pintu gerbang dan menaiki undak-undakan batu, lewat ruangan pendopo depan, sampailah di Tay-hiong-po-tian.
Kelihatan patung Buddha yang angker di tengah ruangan, tapi lantai dan meja tampak penuh berdebu.
"Apakah benar-benar para padri di sini telah lari semua?"
Ujar Coh Jian-jiu.
"Janganlah Coh-heng mengatakan mereka ‘lari’,"
Ujar Lenghou Tiong. Mereka coba berhenti dan menahan napas untuk mendengarkan dengan cermat, tapi yang terdengar hanya suara riuh ramai di luar, di dalam kuil benar-benar tiada suara sedikit pun.
"Kita harus waspada akan kemungkinan dijebak oleh perangkap yang dipasang padri-padri Siau-lim-si ini,"
Bisik Keh Bu-si.
Namun Lenghou Tiong tidak sependapat, ia anggap Hong-ting Taysu adalah padri yang saleh, mana dia mau memakai cara-cara licik.
Cuma menghadapi serangan orang banyak dari macam-macam golongan liar itu bukan mustahil pihak Siau-lim-si sengaja menggunakan akal dan tidak mau mengadu kekuatan.
Menghadapi Siau-lim-si sebesar itu tanpa seorang penghuni, lapat-lapat Lenghou Tiong merasakan kekhawatiran yang tak terkatakan, entah bagaimana nasib Ing-ing pada saat itu.
Dengan penuh waspada mereka berlima terus memeriksa ke bagian dalam.
Sesudah menyusuri pekarangan tengah, sampailah mereka di ruangan belakang.
Sekonyong-konyong Lenghou Tiong dan Keh Bu-si berhenti dan memberi isyarat.
Serentak Lo Thau-cu bertiga juga lantas berhenti.
Lenghou Tiong menuding sebuah kamar samping di sebelah kiri sana, lalu mendekatinya dengan perlahan-lahan.
Lo Thau-cu dan lain-lain ikut maju ke sana.
Maka terdengarlah suara rintihan orang yang amat lirih.
Lebih dulu Lenghou Tiong menyiapkan pedang di tangan, lalu pintu kamar itu ditolak, berbareng ia menggeser ke samping untuk menjaga diserang dari dalam dengan senjata rahasia.
Terdengar suara kerutan daun pintu yang terpentang itu, lalu dari dalam kamar terdengar lagi suara orang merintih perlahan.
Waktu Lenghou Tiong melongok ke dalam, ia menjadi kaget.
Ternyata dua orang nikoh tua menggeletak di lantai, seorang menghadap ke luar dan dikenalnya sebagai Ting-yat Suthay.
Wajah nikoh tua itu tampak pucat pasi, kedua matanya terkatup rapat, agaknya sudah tak bernyawa lagi.
Tanpa pikir Lenghou Tiong terus menerobos ke dalam.
"Awas, Bengcu!"
Seru Coh Jian-jiu.
Menyusul ia pun melangkah ke dalam.
Lenghou Tiong mengitar dua sosok tubuh yang menggeletak di lantai itu, waktu ia periksa lagi nikoh yang lain, memang benar ketua Hing-san-pay Ting-sian Suthay adanya.
"Ting-sian Suthay! Ting-sian Suthay!"
Seru Lenghou Tiong sambil berjongkok.
Perlahan-lahan Ting-sian Suthay membuka matanya, semula sinar matanya guram, tapi lambat laun mulai terang dan terkilas rasa girang, bibirnya tampak bergerak-gerak, namun sukar mengeluarkan suara.
"Wanpwe Lenghou Tiong,"
Demikian Lenghou Tiong berjongkok lebih dekat.
Bibir Ting-sian tampak bergerak-gerak lagi, akhirnya tercetus beberapa kata yang amat lemah dan hampir-hampir tak terdengar, sayup-sayup Lenghou Tiong hanya dengar kata-kata.
"Kau ... kau ...."
Bingung juga Lenghou Tiong, terutama melihat keadaan ketua Hing-san-pay yang sudah sangat payah itu. Sejenak kemudian, sekuat tenaga Ting-sian Suthay mengeluarkan kata-kata.
"Kau ... kau berjanjilah padaku ...."
Cepat Lenghou Tiong menjawab.
"Baik, baik. Apa pun pesan Suthay, sekalipun hancur lebur badanku ini juga akan kulakukan."
Teringat bahwa Ting-sian dan Ting-yat berdua datang ke Siau-lim-si demi untuk kepentingannya dan sekarang keduanya ternyata tewas semua di sini, tanpa terasa air mata Lenghou Tiong ikut berlinang-linang.
"Kau ... kau pasti menyanggupi ... menyanggupi aku?"
Ting-sian berdesis pula dengan lemah.
"Ya, pasti,"
Sahut Lenghou Tiong tanpa ragu-ragu. Sinar mata Ting-sian terkilas rasa girang pula, lalu katanya dengan sangat lirih.
"Kau ... kau menyanggupi menge ... mengetuai Hing-san-pay ...."
Habis bicara ini napasnya sudah hampir-hampir putus. Keruan Lenghou Tiong kaget, cepat ia menjawab.
"Tapi Wanpwe adalah orang lelaki, mana boleh menjadi ketua Hing-san-pay kalian? Cuma Suthay jangan khawatir, tak peduli ada urusan atau kesulitan apa yang menyangkut golongan kalian tentu akan kubela sekuat tenaga."
Perlahan-lahan Ting-sian Suthay menggeleng kepala, katanya.
"Ti ... tidak. Aku ... aku mengangkat kau men ... menjadi ciangbunjin ... Ciangbunjin Hing-san-pay, jika ... jika kau menolak, mati ... mati pun aku tidak rela."
Keruan Lenghou Tiong menjadi bingung dan serbasusah, mustahil dirinya sebagai seorang laki-laki, apalagi pemuda, disuruh menjadi ketua Hing-san-pay yang anak buahnya terdiri dari kaum nikoh dan seluruhnya wanita melulu.
Namun jiwa Ting-sian Suthay jelas tinggal sekejap saja, mendadak darahnya menggelora, tanpa pikir lagi ia menjawab.
"Baik, Wanpwe menerima permintaan Suthay."
Maka tersenyumlah Ting-sian Suthay, katanya lirih.
"Teri ... terima kasih! Nasib beberapa ratus murid Hing ... Hing-san-pay selanjutnya mesti mem ... membikin susah padamu."
"Kenapa pihak Siau-lim-si tidak kenal persahabatan dan tega turun tangan keji terhadap kedua Suthay, Wanpwe ...."
Tapi sampai di sini saja ucapan Lenghou Tiong ketika dilihatnya Ting-sian Suthay telah pejamkan mata, kepalanya miring ke sebelah, lalu tidak bergerak lagi.
Terkejut juga Lenghou Tiong, cepat ia memeriksa napas nikoh tua itu, ternyata sudah meninggal.
Sungguh tak terkatakan rasa dukanya, ia coba pegang pula tangan Ting-yat Suthay, ternyata sudah dingin, terang meninggalnya jauh lebih dulu.
Dasar watak Lenghou Tiong memang keras di luar lunak di dalam, tak tertahan lagi ia menangis sedih.
"Lenghou-kongcu, kita harus membalas sakit hati kedua suthay,"
Kata Lo Thau-cu.
"Kepala gundul Siau-lim-si ini telah lari bersih, marilah kita bakar ludes saja kuil ini."
Terdorong oleh rasa gusar, tanpa pikir Lenghou Tiong lantas menjawab.
"Benar! Bakar saja Siau-lim-si ini menjadi puing!"
"Jangan, jangan!"
Cepat Keh Bu-si mencegah.
"Kita belum menemukan Seng-koh, bila Seng-koh masih terkurung di dalam kuil ini kan beliau akan ikut terbakar?"
Seketika Lenghou Tiong sadar dan mengeluarkan keringat dingin, katanya.
"Ya, aku memang bodoh dan kasar, jika tidak diperingatkan Keh-heng tentu urusan bisa runyam. Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Kompleks Siau-lim-si ini terdiri dari beratus-ratus ruangan, kalau cuma kita berlima saja sukar menyelidikinya secara merata, maka mohon Bengcu memberi perintah untuk memanggil 200 saudara kita masuk ke sini untuk ikut menggeledah."
"Baiklah, silakan Keh-heng menyampaikan perintahku itu,"
Kata Lenghou Tiong. Keh Bu-si mengiakan terus melangkah keluar.
"Jangan sekali-kali mengizinkan Tho-kok-lak-sian ikut masuk,"
Seru Coh Jian-jiu. Segera Lenghou Tiong mengusung jenazah-jenazah kedua suthay dan ditaruh di atas dipan semadi. Ia menjura beberapa kali sambil berdoa di dalam hati.
"Tecu pasti akan berusaha sepenuh tenaga untuk membalas sakit hati kedua Suthay dan mengembangkan Hing-san-pay, semoga arwah kedua Suthay melindungi Tecu."
Lalu ia berbangkit untuk memeriksa bekas-bekas luka di atas jenazah kedua suthay itu, namun tidak tampak sesuatu luka apa pun, juga tiada noda darah.
Hanya ia tidak leluasa membuka baju suthay-suthay itu, ia menduga pasti terkena pukulan musuh yang dahsyat dan meninggal karena luka dalam yang parah.
Dalam pada itu terdengarlah suara ramai orang mendatangi, ke-200 orang telah membanjir masuk ke Siau-lim-si terus menggeledah ke segala pelosok.
Tiba-tiba terdengar orang berseru di luar.
"Lenghou Tiong melarang kita masuk, kita justru mau masuk, coba dia bisa berbuat apa?"
Itulah suaranya Tho-ki-sian. Keruan Lenghou Tiong mengerut dahi, tapi pura-pura tidak mendengar. Terdengar lagi Tho-kan-sian berkata.
"Sampai di Siau-lim-si yang termasyhur, kalau kita tidak melihat-lihatnya ke dalam kan penasaran?"
"Dan kalau sudah masuk, tanpa menemui hwesio Siau-lim-si yang terkenal kan lebih-lebih penasaran?"
Timbrung Tho-hoa-sian.
"Dan kalau sudah bertemu hwesio Siau-lim-si, bila tidak ukur-ukur ilmu silat dengan hwesio yang tersohor di seluruh jagat itu kan lebih-lebih amat penasaran?"
Sambung Tho-ki-sian.
Begitulah terdengar keenam orang dungu itu mengoceh tak keruan sembari menuju ke ruangan belakang.
Lenghou Tiong berlima lantas keluar dari kamar samping itu, pintu kamar itu mereka rapatkan sekalian.
Terlihat para jago berseliweran kian-kemari menggeledahi segenap sudut Siau-lim-si itu.
Tidak lama kemudian susul-menyusul orang-orang itu datang melapor bahwa tidak ditemukan seorang hwesio pun, bahkan tukang kebun, tukang kayu, dan sebagainya juga tidak ditemukan seorang pun.
Lalu ada yang memberi laporan bahwa segala isi di dalam kuil, baik kitab-kitab maupun alat perabot sudah disingkirkan semua, bahkan mangkuk piring juga tiada sebuah pun.
Menyusul laporan datang lagi, katanya di dalam kuil tak tertinggal sebutir beras, garam, dan setetes minyak pun, semuanya kosong melompong, sampai-sampai sayur yang biasanya ditanam di kebun juga sudah dibabat bersih.
Setiap kali dapat laporan, perasaan Lenghou Tiong setiap kali tambah cemas.
Pikirnya.
"Sedemikian rapi cara mengatur padri-padri Siau-lim-si ini, sampai-sampai sayur juga tidak ditinggalkan satu tangkai pun, maka jelas sudah lama mengetahui akan kedatanganku dan tentu Ing-ing telah dipindahkan ke tempat lain. Dunia seluas ini, lalu ke mana harus mencarinya?"
Satu-dua jam kemudian, ke-200 orang tadi sudah memeriksa semua tempat kuil itu, bahkan satu lubang pun tidak luput dari pemeriksaan mereka, namun tetap tidak ditemukan suatu benda apa pun.
Ada juga yang senang dan berkata.
"Siau-lim-pay adalah aliran nomor satu dunia persilatan, tapi demi mendengar akan kedatangan kita mereka lantas lari terbirit-birit dan menghilang tak keruan juntrungannya, ini benar-benar peristiwa yang belum pernah terjadi selama sejarah Siau-lim-pay."
"Sekali bergerak saja kita telah memperlihatkan kekuatan kita yang demikian hebatnya, sampai-sampai Siau-lim-pay juga ketakutan, maka sejak kini orang bu-lim mana pun tidak berani memandang enteng lagi kepada kita,"
Ujar yang lain.
"Memang hebat dan gagah juga kita dapat bikin hwesio Siau-lim-si lari ketakutan, akan tetapi bagaimana dengan Seng-koh? Di mana beliau sekarang? Kedatangan kita ini kan untuk menyambut pulangnya Seng-koh dan bukan untuk mengusir hwesio,"
Demikian kata yang lain lagi. Mendengar ucapan orang ini, semua orang menjadi lesu, beramai-ramai mereka memandang Lenghou Tiong untuk menantikan petunjuknya.
"Hal ini benar-benar di luar dugaan,"
Kata Lenghou Tiong.
"siapa pun tidak tahu bahwa padri-padri Siau-lim-si di sini ternyata rela meninggalkan kuilnya. Cara bagaimana kita harus bertindak sekarang, sesungguhnya aku pun merasa bingung. Pikiran seorang cekak, pikir dua orang panjang, maka diharapkan usul-usul dan pendapat-pendapat dari kalian semua."
"Menurut pendapat Siokhe (hamba), menemukan Seng-koh lebih sukar daripada mencari padri-padri Siau-lim-si,"
Demikian Ui Pek-liu membuka suara pertama.
"Padri-padri Siau-lim-si berjumlah ribuan, orang sebanyak ini tentu tidak dapat bersembunyi selamanya tanpa muncul di depan umum. Asalkan kita dapat menemukan hwesio Siau-lim-si tentu kita dapat memaksa mereka mengakui di mana beradanya Seng-koh."
"Benar juga ucapan Ui-heng,"
Kata Coh Jian-jiu.
"Marilah kita tinggal saja di Siau-lim-si ini, mustahil anak murid Siau-lim-pay rela meninggalkan kuilnya yang sudah bersejarah ribuan tahun ini dan membiarkan orang lain mendudukinya? Asalkan mereka datang buat merebut kembali kuil ini tentu kita dapat mencari tahu kepada mereka di mana Seng-koh berada."
"Mencari tahu di mana beradanya Seng-koh kepada mereka? Mana mereka mau mengatakan?"
Ujar seorang.
"Mencari tahu kepada mereka kan cuma kata-kata halusnya, yang tegas adalah paksa mereka mengaku,"
Sela Lo Thau-cu.
"Sebab itu, bila kita ketemu padri Siau-lim-pay, kita harus menawannya hidup-hidup dan jangan membunuhnya. Jika kita dapat menawan sepuluh atau dua puluh hwesio mereka, memangnya mereka tidak takut mati dan berani tidak mengaku?"
"Tapi kalau hwesio-hwesio itu benar-benar kepala batu dan tidak mau mengaku, lalu bagaimana?"
Tanya seorang lagi.
"Apa susahnya?"
Sahut Lo Thau-cu.
"Kita bisa minta Na-kaucu melepaskan beberapa ekor naga sakti dan makhluk sakti lainnya di atas tubuh mereka, coba saja mereka tahan tidak?"
Semua orang sama mengangguk setuju. Mereka tahu "naga sakti dan makhluk-makhluk sakti lain"
Yang dimaksudkan itu adalah ular berbisa dan serangga-serangga beracun lain yang dipiara Na Hong-hong, itu wanita ketua Ngo-tok-kau yang terkenal.
Gigitan makhluk berbisa itu jauh lebih menderita daripada disiksa dengan alat apa pun juga.
Terlihat Na Hong-hong hanya tersenyum saja, katanya.
"Hwesio-hwesio Siau-lim-pay sudah gemblengan, mungkin sekali mereka sukar ditaklukkan dengan naga sakti dan sebagainya piaraanku."
Di dalam hati Lenghou Tiong menganggap tidaklah perlu cara menyiksa secara keji begitu.
Cukup asalkan dapat menawan padri-padri Siau-lim-si sebanyak mungkin, lalu dipakai sebagai barang tukar, rasanya Ing-ing akhirnya dapat dibebaskan.
Dalam pada itu terdengar teriakan seorang yang bersuara nyaring.
"Wah, sudah hampir seharian tidak makan minum, aku menjadi kelaparan setengah mati. Celakanya di dalam kuil ini tiada hwesio seekor pun, kalau ada, wah, daging hwesio panggang yang gemuk lagi putih itu tentu enak."
Yang bicara ini adalah seorang laki-laki tinggi besar, ialah si gede Pek-him (Beruang Putih), satu di antara "Boh-pak-siang-him" (Dua Beruang dari Gurun Utara).
Para jago kenal Pek-him dan pasangannya si Oh-him (Beruang Hitam) adalah manusia-manusia yang gemar makan daging manusia, meski kedengaran ngeri dan seram, tapi mereka memang juga merasa lapar dan haus setelah beberapa jam berada di Siau-lim-si tanpa makan minum.
"Rupanya Siau-lim-pay sengaja menggunakan politik ‘sapu bersih’, mereka sengaja membikin kita tidak sanggup bercokol terus di sini sehingga terpaksa pergi lagi, tapi di dunia mana ada persoalan yang begini sederhana,"
Ujar Ui Pek-liu.
"Betul,"
Kata Lenghou Tiong.
"Apakah Ui-pangcu ada pendapat-pendapat atau saran-saran yang baik?"
"Kukira kita bisa mengirim saudara-saudara kita ke bawah gunung untuk mencari berita ke mana menghilangnya hwesio-hwesio Siau-lim-si ini,"
Kata Ui Pek-liu.
"Lalu kita dapat mengirim orang pula pergi belanja bahan makanan, kawan-kawan yang lain biarlah ikut berjaga di sini untuk menunggu kawanan hwesio itu masuk perangkap sendiri."
"Boleh juga usul Ui-pangcu,"
Ujar Lenghou Tiong.
"Sekarang juga silakan Ui-pangcu menyampaikan perintah, kirimlah 500 saudara-saudara yang sudah terlatih dan berpengalaman, sebar luaskan di seluruh Kangouw untuk mencari jejak padri-padri Siau-lim-si itu. Tentang persediaan perbekalan dan lain-lain juga kuserahkan Ui-pangcu untuk mengaturnya."
Ui Pek-liu mengiakan dan melangkah ke luar.
"Hendaklah Ui-pangcu bekerja cepat, kalau tidak, saking laparnya, segala apa dapat dimakan oleh kedua saudara kita Pek-him dan Oh-him,"
Kata Na Hong-hong dengan tertawa.
"Jangan khawatir,"
Sahut Ui Pek-liu sambil menoleh.
"Biarpun perut Boh-pak-siang-him sudah berkeroncongan juga tidak nanti berani mengganggu seujung jari Na-kaucu."
Melihat ke-200 orang yang menggeledah Siau-lim-si sudah kumpul kembali, Coh Jian-jiu berkata.
"Kuil ini sudah tiada penghuninya lagi, sekarang diharap Saudara-saudara buang sedikit tenaga lagi, silakan periksa ke segala sudut, coba lihatlah kalau-kalau ada sesuatu tanda yang aneh, bisa jadi nanti akan menemukan sesuatu jejak yang menarik."
Ke-200 orang itu mengiakan serentak dan beramai-ramai pergi memeriksa.
Sekali ini bukan manusia yang mereka cari, tapi mencari sesuatu benda atau tempat yang ada tanda-tanda mencurigakan, maka sibuklah mereka, ada yang gali tanah, ada yang cungkil jubin, hampir saja dinding juga mereka bongkar, hanya patung-patung Buddha saja tidak mereka sentuh.
Lenghou Tiong duduk di atas sebuah kasuran semadi di tengah Tay-hiong-po-tian yang megah itu, dilihatnya patung Buddha dengan wajah yang angker dan menampilkan perasaan penuh welas asih.
Ia berpikir.
"Hong-ting Taysu benar-benar seorang padri saleh, ia mengetahui kedatangan kami secara besar-besaran, ia lebih suka mengorbankan nama baik Siau-lim-pay dan tidak mau menyambut pertempuran dengan kami, akhirnya bencana pembunuhan besar-besaran ini dapat terhindar. Tapi mengapa mereka membunuh Ting-sian dan Ting-yat Suthay? Tampaknya yang membunuh kedua suthay ini adalah padri murtad kuil ini dan bukan kehendak Hong-ting Taysu. Ya, aku harus maklum akan maksud baik Hong-ting Taysu dan tidak mengerahkan orang banyak untuk pergi mencari padri-padri Siau-lim-pay dan mempersulit mereka, tapi harus berdaya dengan jalan lain untuk menyelamatkan Ing-ing."
Sekonyong-konyong angin meniup masuk dengan kencang sehingga debu dupa bertebaran, Lenghou Tiong melangkah ke depan ruangan, dilihatnya awan tebal memenuhi udara, angin utara meniup kencang, ia pikir sebentar lagi tentu akan turun salju lebat.
Baru terkilas pikiran demikian, benar juga dari langit sudah mulai mengambang turun bunga salju, pikirnya pula.
"Hawa sedingin ini, entah Ing-ing memakai baju hangat atau tidak? Siau-lim-pay mempunyai orang yang banyak dan besar kekuatannya, pengaturan mereka pun begini rapi, sebaliknya rombonganku ini adalah kumpulan dari orang-orang pribadi yang gagah melulu, untuk bisa menolong keluar Ing-ing rasanya teramat sukar."
Ia berjalan mondar-mandir di serambi depan, bunga salju yang bertebaran di atas kepalanya, mukanya, dan tangannya dengan cepat lantas cair.
Ia pikir sebelum mengembuskan napas penghabisan, meski lukanya sangat parah, tapi pikiran Ting-sian Suthay masih cukup jernih, sedikit pun tidak kelihatan kurang sadar, tapi mengapa dia mengharuskan aku menjabat ketua Hing-san-paynya?
Padahal Hing-san-pay terdiri dari kaum wanita seluruhnya tanpa seorang laki-laki pun, hal ini sudah turun-temurun sejak dahulu kala, setiap pejabat ketuanya juga nikoh, seorang laki-laki seperti aku mana boleh menjadi ketua Hing-san-pay mereka?
Kalau hal ini tersiar bukanlah akan ditertawai oleh orang-orang Kangouw?
Tapi, ai, aku sudah menyanggupi beliau, aku tidak boleh ingkar janji.
Ya, asalkan aku berbuat menurut aturan yang lurus, peduli apa dengan tertawa orang lain.
Selamanya kaisar juga dijabat oleh kaum lelaki, tapi ketika Bu Cek-thian ingin menjadi kaisar, bukankah juga sudah jadi, padahal dia wanita.
Berpikir sampai di sini, seketika semangat keperwiraannya bergolak.
Pada saat itu pula tiba-tiba dari pinggang gunung sana sayup-sayup terdengar suara orang menjerit-jerit, tidak lama kemudian terdengarlah suara berisik di luar Siau-lim-si.
Dengan perasaan khawatir Lenghou Tiong berlari ke luar, dilihatnya Ui Pek-liu sedang berlari kembali dengan badan berlumuran darah.
Pundaknya tampak menancap sebatang panah.
"Beng ... Bengcu, musuh telah menutup jalan turun ke bawah gunung, sekali ini kita ... kita benar-benar masuk jaring sendiri,"
Seru Ui Pek-liu dengan suara terputus-putus.
"Apakah padri-padri Siau-lim-pay?"
Tanya Lenghou Tiong khawatir.
"Bukan hwesio, tapi orang preman biasa,"
Sahut Ui Pek-liu.
"Neneknya, belum ada satu-dua li kami turun ke sana sudah lantas disambut dengan hujan anak panah, belasan saudara kita tewas, yang terluka sedikitnya ada beberapa puluh orang."
Sementara itu beberapa ratus orang yang diutus turun gunung bersama Ui Pek-liu juga sudah berlari kembali dalam keadaan morat-marit, yang terkena panah memang benar tidak sedikit.
Seketika di luar kuil itu menjadi kacau, para jago yang gusar itu bermaksud menyerbu ke bawah gunung.
"Dari golongan apakah pihak musuh, apakah Ui-pangcu dapat membedakannya?"
Tanya Lenghou Tiong pula.
"Kami tidak sempat mendekati musuh dan sudah dihujani panah sehingga bagaimana corak anak kura-kura itu sama sekali tidak tahu,"
Tutur Ui Pek-liu.
"Agaknya Siau-lim-pay sengaja memasang perangkap untuk menjebak kita, mereka menggunakan tipu ‘menangkap bulus di dalam guci’,"
Kata Coh Jian-jiu.
"Menangkap bulus di dalam guci apa? Kata-katamu ini kan lebih membesarkan kehebatan musuh dan menilai rendah pihak sendiri,"
Bantah Lo Thau-cu.
"Kalau mau katakan tipu musuh itu paling-paling dapat disebut ‘memancing harimau masuk ke sarangnya’."
"Baiklah, anggap benar tipu ‘memancing harimau masuk sarang’, dan sekarang harimau-harimau kita ini pun sudah masuk sarangnya, lalu apa mau dikata? Barangkali kawanan kepala gundul itu hendak membikin kita mati kelaparan di atas Siau-sit-san sini?"
Ujar Coh Jian-jiu.
"Masakah kita terima mati kelaparan di sini?"
Teriak Pek-him, Si Beruang Putih yang gemar daging manusia itu.
"Hayolah, siapa yang berani ikut aku menerjang ke bawah?"
Serentak ada ribuan orang bersorak gemuruh menyokong dia. Bab 93. Setia Kawan Sejati "Nanti dulu!"
Cepat Lenghou Tiong mencegah.
"Panah musuh terlalu lihai, kita harus mencari jalan yang baik untuk menghadapi mereka agar tidak jatuh korban cuma-cuma."
"Cayhe ada suatu usul,"
Sela Keh Bu-si.
"Di dalam kuil ini tiada terdapat benda apa-apa, tapi poh-toan (bantal bundar untuk duduk semadi) ada beberapa ribu biji, kita kan dapat manfaatkan benda ini?"
Kata-kata ini menyadarkan orang banyak, serentak mereka berseru.
"Benar dapat kita gunakan sebagai perisai, memang sangat tepat dijadikan tameng."
Seketika ada beberapa ratus orang menerobos ke dalam Siau-lim-si dan mengusung keluar bantal-bantal itu.
"Gunakan bantal ini sebagai tameng, marilah kita menerjang ke bawah,"
Seru Lenghou Tiong.
"Bengcu, sesudah itu di mana lagi kita harus berkumpul dan bagaimana tindakan kita selanjutnya, terutama cara bagaimana harus berdaya menolong Seng-koh, untuk itu sekarang juga mesti diatur lebih dulu,"
Kata Keh Bu-si.
"Benar,"
Sahut Lenghou Tiong.
"Aku memang bodoh, segala urusan tak bisa mengatur, mana aku bisa menjadi bengcu. Kupikir sesudah menerjang ke luar kepungan musuh, untuk sementara kita pencarkan diri saja ke tempat masing-masing dan berusaha sendiri-sendiri mencari tahu di mana beradanya Seng-koh, lalu saling memberi kabar, kemudian dapat kita atur tindakan selanjutnya."
"Baiklah, terpaksa harus demikian,"
Kata Keh Bu-si. Segera ia meneruskan garis besar keputusan Lenghou Tiong itu.
"Dan cara bagaimana kita harus menyerbu ke bawah, silakan Keh-heng mengatur sekalian,"
Kata Lenghou Tiong lebih jauh.
Melihat Lenghou Tiong benar-benar tidak punya bakat pimpinan, terutama pada saat gawat menghadapi musuh demikian, maka Keh Bu-si juga tidak sungkan-sungkan lagi, segera ia berseru lantang.
"Dengarkan para kawan, Bengcu memerintahkan agar kawan-kawan membagi diri dalam delapan jurusan dan menerjang ke bawah serentak. Yang kita harapkan hanya menerjang ke luar kepungan musuh dan tidak perlu banyak membunuh."
Begitulah pembagian-pembagian kelompok ke delapan jurusan itu lantas dilakukan, sesudah ditentukan pula jurusan masing-masing yang terdiri hampir ribuan orang, lalu Lenghou Tiong berkata.
"Jurusan selatan adalah jalan besar, tentu pula paling banyak dan paling kuat dijaga oleh musuh. Marilah Coh-heng, Lo-heng, Keh-heng, kita mendahului menerjang dari jalan utama ini untuk memengaruhi perhatian musuh, dengan demikian kawan-kawan yang lain akan lebih leluasa menyerbu ke jurusan lain."
Setelah mengatur seperlunya, segera Lenghou Tiong menghunus pedang, tanpa membawa tameng apa-apa ia terus bertindak ke bawah gunung dengan langkah lebar.
Rombongannya diikuti oleh Keh Bu-si, Na Hong-hong, dan lain-lain.
Melihat sang bengcu mendahului menerjang ke bawah, semua orang menjadi berani, mereka berteriak-teriak dan beramai-ramai menerjang ke bawah dari delapan jurusan.
Sudah tentu pegunungan itu tiada delapan jalur jalan, ketika menyerbu maju mula-mula mereka terbagi dalam delapan barisan, tapi setelah bergerak seluruh gunung menjadi penuh dengan orang tanpa teratur lagi.
Lenghou Tiong berlari satu-dua li ke bawah lantas disambut dengan serangan.
Mula-mula terdengar suara gembreng berbunyi, menyusul dari hutan di depan berhamburan anak panah bagai hujan.
Namun ia sudah siap siaga, ia mainkan "Boh-gi-sik"
Dari Tokko-kiu-kiam yang lihai, yaitu cara memunahkan serangan senjata rahasia, pedangnya berputar cepat, semua anak panah yang menyambar tiba kena disampuk atau ditangkis jatuh, kakinya tidak pernah berhenti, ia terus menerjang ke depan.
Sekonyong-konyong terdengar seorang menjerit di belakangnya, rupanya kaki kiri dan dada kanan Na Hong-hong berbareng terkena panah dan roboh.
Lekas-lekas Lenghou Tiong putar balik dan memayangnya bangun, katanya.
"Kulindungi kau ke bawah!"
"Jangan kau urus diriku, kau sen ... diri menerjang ke bawah saja!"
Sahut Na Hong-hong.
Sementara hujan panah masih terus berlangsung, tapi semuanya dapat ditangkis oleh pedang Lenghou Tiong.
Dengan tangan kiri merangkul pinggang Na Hong-hong segera Lenghou Tiong membawanya lari ke bawah gunung pula.
Mendadak terdengar bentakan orang, berbareng macam-macam senjata menyerang dari kanan dan kiri.
Tanpa pikir Lenghou Tiong putar pedangnya, terdengar suara mendering nyaring berulang-ulang, tiga macam senjata musuh jatuh ke tanah, berbareng Lenghou Tiong telah menerjang belasan meter jauhnya ke bawah.
Pada saat itulah terdengar sambaran angin, tiga tombak musuh menusuk lagi dari belakang dan samping.
Karena sebelah tangan merangkul tubuh Na Hong-hong, gerak-gerik Lenghou Tiong menjadi kurang leluasa, terpaksa ia menangkis lagi dengan pedang.
Tiba-tiba terdengar seruan Lo Thau-cu di belakang, agaknya seperti terluka.
Waktu Lenghou Tiong menoleh, dilihatnya Keh Bu-si, Coh Jian-jiu sedang membalik ke atas untuk menolong Lo Thau-cu tentunya.
Seketika Lenghou Tiong menjadi ragu-ragu apakah terus menerjang ke bawah atau kembali ke atas membantu teman-temannya itu.
Saat itulah mendadak suara seorang perempuan membentaknya.
"Lenghou Tiong, makin lama kelakuanmu makin tidak genah!"
Lenghou Tiong terkejut mengenali suara perempuan itu, cepat ia berpaling kembali dan benarlah, yang bersuara itu memang betul siausumoaynya, Gak Leng-sian.
Wajah sumoay itu tampak membesi, di sebelahnya berdiri seorang pemuda cakap, siapa lagi kalau bukan Lim Peng-ci.
Kejut dan girang pula Lenghou Tiong, segera tercetus dari mulutnya.
"Siausumoay, kau sehat-sehat saja bukan? Lim-sute ternyata juga sudah baik."
"Hm, siapa sudi menjadi sute dan sumoaymu?"
Jengek Gak Leng-sian.
"Kau memimpin pasukan siluman ini menyerbu Siau-lim-si yang suci, apakah kau ini terhitung manusia?"
Dada Lenghou Tiong serasa digodam oleh cercaan Leng-sian itu, ia pikir urusan hari ini terang sukar dijelaskan, sebenarnya juga tidak perlu penjelasan, sebab dalam pandangan orang-orang Hoa-san-pay sekarang setiap perbuatannya sudah dianggap pasti salah.
Dalam pada itu Gak Leng-sian telah membentak lagi sambil mengacungkan pedangnya.
"Lenghou Tiong, hari ini kawan-kawan dari aliran-aliran cing-pay sudah mengadakan pengepungan rapat terhadap Siau-sit-san ini, kalian kaum siluman ini satu pun jangan harap bisa lolos dengan hidup. Kau sendiri kalau ingin lari, lalui dulu rintanganku ini."
Ketika Lenghou Tiong menoleh, dilihatnya pengikut-pengikut di belakangnya hanya 50-60 orang saja, seluruh gunung bergemuruh dengan suara-suara pertempuran sengit, pihak lawan berombongan atau berkelompok dalam seragam tertentu, ada warna biru atau warna kuning, ada yang pakai tanda kain merah terbalut di lengan, barisan mereka teratur.
Sebaliknya anak buah pihak sendiri adalah gabungan dari macam-macam gerombolan yang tidak kompak, masing-masing bertempur sendiri-sendiri, menerjang ke sana kemari semaunya, tidak perlu dipikir juga jelas terbayang pihak mana yang bakal menang atau kalah.
Sekilas terpikir dalam benak Lenghou Tiong.
"Ternyata Siau-lim-si sudah menyiapkan pertahanan yang kuat dengan menghimpun tenaga dari berbagai golongan dan aliran, tujuannya tentu hendak mengurung dan menumpas kami di atas Siau-sit-san ini. Jika memang nasib sudah ditakdirkan demikian, biarlah aku mati bersama para kawan saja."
Tapi lantas teringat olehnya.
"Matiku tidak menjadi soal, tapi Ing-ing belum lagi diselamatkan, betapa pun aku harus berusaha menyelamatkan dulu Ing-ing yang belum diketahui di mana beradanya itu."
Dalam pada itu suara pertempuran, suara menderingnya senjata, suara teriakan dan jeritan ngeri terdengar di mana-mana. Sambil mengertak gigi akhirnya Lenghou Tiong berkata.
"Nona Gak, jika kau tetap merintangi aku terpaksa aku tidak sungkan-sungkan lagi."
"Apakah kau benar-benar mau bergebrak dengan aku?"
Tanya Leng-sian dengan gusar.
"Aku hanya mau turun ke bawah dan tidak ingin bergebrak dengan kau,"
Sahut Lenghou Tiong.
"Tokoh-tokoh terkemuka Ko-san, Thay-san, Heng-san, dan Hoa-san-pay sudah datang semua, ditambah lagi jago-jago undangan Siau-lim-pay, sukarlah bagimu untuk lolos,"
Kata Leng-sian.
"Lebih baik kau menyerah saja, nanti akan kumintakan ampun kepada ayah ...."
Pada saat itulah tiba-tiba di belakang Leng-sian sana muncul seorang dan membentak dengan suara bengis.
"Lenghou Tiong, tidak lekas buang senjatamu dan menyerah?"
Siapa lagi dia kalau bukan ketua Hoa-san-pay, Kun-cu-kiam Gak Put-kun.
Tergetar hati Lenghou Tiong melihat sang guru yang berwibawa itu, ia tidak berani bicara lagi.
Sembari tetap merangkul tubuh Na Hong-hong segera ia putar tubuh bermaksud naik ke atas gunung lagi.
Mendadak Gak Put-kun menusuk dengan pedangnya ke punggung Lenghou Tiong.
Tapi pemuda itu keburu mengerahkan tenaga dalam yang kuat dan melompat ke atas.
Berulang-ulang Gak Put-kun menusuk tiga kali, ujung pedangnya selalu berjarak dua-tiga senti di punggung Lenghou Tiong.
Meski sebelah tangannya membawa Na Hong-hong, tapi tenaga dalam Lenghou Tiong sangat kuat sehingga Gak Put-kun tidak mampu mencandaknya.
Keruan Gak Put-kun menjadi gusar, ia menarik napas panjang-panjang dan mengerahkan Ci-he-sin-kang, tubuhnya mengapung ke atas, pedangnya sebagai kelebatan sinar kilat terus menusuk pula ke punggung Lenghou Tiong.
Lenghou Tiong tidak ingin menangkis dengan pedang, ia pun mengerahkan tenaga murni dan meloncat tinggi ke atas, dirasakannya angin dingin sudah menyambar tiba di belakangnya, terkilas pikirannya.
"Entah dapat lolos dari tusukan ini atau tidak? Jika memang harus mati, biarlah mati di bawah pedang suhu daripada dibunuh oleh orang lain."
Pada saat itulah sebelah kakinya telah menginjak tanah, berbareng terdengar suara "trang"
Yang nyaring di belakangnya.
Tanpa menoleh Lenghou Tiong juga lantas mengetahui bahwa Na Hong-hong yang berada di kempitannya itulah yang telah menangkiskan tusukan sang guru itu.
Segera Lenghou Tiong menggenjot tubuh dan meloncat belasan meter lagi ke atas depan, habis itu barulah berpaling.
Tapi Gak Put-kun benar-benar seperti bayangan yang melekat tubuh saja, tahu-tahu sudah menyusul tiba, ujung pedang tinggal sejengkal lagi di depan dada Lenghou Tiong.
Tapi kembali Na Hong-hong memutar senjatanya yang berbentuk bundar seperti roda dengan bulatan tengah 20-an senti, entah senjata apa namanya.
"Trang" , pedang Gak Put-kun tertangkis lagi. Waktu Gak Put-kun bermaksud mengejar dan menggempur lagi, tahu-tahu seorang telah mengejeknya di belakang.
"Taruh saja pedangmu!"
Menyusul punggung Put-kun terasa sakit sedikit, ia insaf punggungnya telah terancam di bawah senjata lawan, keruan ia terkejut dan menyesalnya tak terkatakan.
Hendaklah maklum bahwa tindak tanduk Gak Put-kun selamanya sangat hati-hati, tidak pernah ia berlaku ceroboh, maka selama hidupnya belum pernah ia dijebak musuh.
Sekarang lantaran saking gemasnya menyaksikan murid didiknya yang pernah disayang itu ternyata berkomplot dengan kaum sia-pay, malahan sebelah tangannya merangkul seorang perempuan, maka dengan penuh kebencian sekali tusuk ia ingin membinasakan murid yang dianggapnya murtad itu.
Menurut teori seharusnya tusukan-tusukan pedangnya tadi tak bisa meleset, ia tidak tahu bahwa tenaga dalam Lenghou Tiong sekarang sudah sukar dibayangkan hebatnya, serangannya selalu berselisih beberapa senti saja dari sasarannya, betapa pun sukar mengenainya.
Karena terburu nafsu itulah ia terus mengejar dan akibatnya terjebak di tengah kepungan musuh tanpa sadar.
Waktu ia mengangkat kepalanya, tertampaklah papan kuil Siau-lim-si yang terpampang di depan pintu.
Baru sekarang ia mengetahui telah berada di depan kuil agung yang termasyhur itu.
Selagi ia melenggong itulah di sekitarnya sudah mengepung tujuh-delapan orang, semuanya bersenjata, asal dirinya sedikit bergerak saja bukan mustahil akan dicincang oleh mereka.
Terpaksa ia lepas tangan, pedang dibuangnya ke tanah.
Orang yang mengancamkan senjata di punggung Gak Put-kun itu bukan lain dari "Si Kucing Malam"
Keh Bu-si. Segera ia berseru.
"Bengcu, kita tidak mampu menerjang lagi ke bawah, korban kita sudah banyak, lebih baik suruh kawan-kawan mundur dahulu!"
Sekilas pandang Lenghou Tiong juga mengetahui gelagat pertempuran yang tidak menguntungkan itu, kalau pihak lawan sempat menyerbu ke atas gunung tentu akan lebih runyam lagi.
Maka cepat ia berseru lantang.
"Semuanya mundur kembali ke Siau-lim-si!"
Karena tenaga dalamnya yang mahakuat, beberapa kali teriakannya itu dapat didengar oleh beribu-ribu orang yang sedang bertempur sengit itu.
Keh Bu-si, Coh Jian-jiu, dan lain-lain juga berteriak-teriak.
"Bengcu ada perintah, hendaklah semua kawan mundur kembali ke Siau-lim-si!"
Kemudian Lenghou Tiong mendekati Gak Put-kun, katanya.
"Maaf Suhu, banyak mengganggu. Silakan kembali ke bawah saja!"
Tiba-tiba terdengar suara orang menjerit ngeri, dua-tiga orang tampak roboh terluka.
Ternyata dua tojin Thay-san-pay telah menerjang naik.
Cepat Lenghou Tiong memburu ke sana, sinar pedang berkelebat, hampir berbareng pergelangan kedua tojin itu kena pedang dan senjata terlepas dari cekalan.
Keruan kedua tojin itu ketakutan dan lari kembali ke bawah.
Sementara itu karena seruan mundur tadi, beramai-ramai para jago sudah berlari kembali, orang-orang pihak cing-pay ada yang berusaha mengejar ke atas, tapi mereka menjadi celaka sendiri, tidak dilabrak oleh Lenghou Tiong tentu dikerubut oleh jago-jago lain.
Tidak lama kemudian terdengar pula suara gembreng di bawah gunung, pihak cing-pay juga membunyikan tanda mundur dan mencegah anak buah mengejar ke atas gunung.
Di depan Siau-lim-si tidak menjadi sunyi, sebaliknya masih ramai dengan suara caci maki diseling suara merintih sakit, di mana-mana berceceran darah.
Keh Bu-si memberi perintah 800 orang yang tidak terluka untuk menjaga delapan jurusan agar tidak disergap pihak musuh.
"Bengcu,"
Kata Keh Bu-si kepada Lenghou Tiong.
"sekali ini walaupun kita gagal menerjang ke bawah, untung telah berhasil menawan ketua Hoa-san-pay, sedikitnya kita sudah punya sandera ...."
"Apa katamu?"
Seru Lenghou Tiong kaget.
"Suhuku masih belum pergi?"
Ketika ia mendatangi tempat tadi, ternyata Gak Put-kun malah sedang duduk di atas tanah dengan lemas, agaknya hiat-to tertutuk orang. Cepat Lenghou Tiong berkata.
"Keh-toako, harap kau membuka hiat-to guruku yang tertutuk."
Dengan suara perlahan Keh Bu-si mengisiki Lenghou Tiong.
"Bengcu, keadaan kita sangat berbahaya, padahal Bengcu sekarang bukan lagi murid Hoa-san-pay, kukira tidak perlu memikirkan urusan guru dan murid segala."
Mendadak Lenghou Tiong berseru.
"Satu hari menjadi guru, selama hidup seperti ayah. Harap Keh-toako mengingat diriku, janganlah membikin susah kepada guruku."
"Cis, kalau mau bunuh lekas bunuh, mau gantung boleh lekas gantung, siapa lagi yang sudi menjadi guru manusia cabul semacam kau?"
Jengek Gak Put-kun penuh menghina.
"Coba dengarkan?"
Kata Keh Bu-si.
"Dia tidak sudi mengaku kau sebagai murid, buat apa lagi kau mengakui dia sebagai guru?"
Namun Lenghou Tiong menggeleng, ia menjemput pedang yang terbuang di tanah tadi, dimasukkannya ke sarung pedang yang tergantung di pinggang Gak Put-kun, lalu berkata.
"Dosa murid mahabesar, mohon maaf."
Rasa gusar dan gemas Gak Put-kun sungguh tak terkatakan, sekali tusuk ia ingin menembusi ulu hati Lenghou Tiong.
Tapi ia tahu kepandaian Lenghou Tiong sekarang teramat lihai, serangannya belum tentu bisa membinasakan lawan, andaikan bisa membunuhnya tentu dirinya sendiri juga sukar meloloskan diri dari kepungan musuh yang sedemikian banyak.
Maka dengan mata melotot ia menatap Lenghou Tiong, wajahnya penuh rasa murka.
Melihat sikap sang suhu yang penuh kebencian, jauh lebih benci daripada ketika mereka bertemu di pinggang gunung tadi, mendadak perasaan Lenghou Tiong terguncang, katanya dengan perlahan.
"Suhu, jika engkau mau membunuh aku silakan laksanakan sekarang, sama sekali aku takkan menghindar."
Namun Gak Put-kun lantas mendengus, lalu putar tubuh dan melangkah pergi.
"Lenghou-kongcu,"
Kata Coh-Jian-jiu sambil geleng kepala.
"engkau berbudi padanya, sebaliknya dia tidak tahu kebaikanmu. Kulihat dia bertekad akan membunuh kau, kelak bila bertemu lagi engkau harus waspada."
Lenghou Tiong hanya menghela napas, katanya kemudian.
"Marilah kita menolong dulu saudara-saudara yang terluka."
Dalam kesibukan memberi obat kepada teman-teman yang luka itu, terpikir oleh Lenghou Tiong.
"Sayang anak murid perempuan Hing-san-pay tidak berada di sini sehingga kurang obat luka yang mujarab. Tapi kalau orang-orang Hing-san-pay itu berada di sini, apakah mereka akan membantu aku atau membela pihak cing-pay mereka? Hal ini sukar untuk dipastikan."
Menghadapi kegaduhan orang banyak, mau tak mau bingung juga pikiran Lenghou Tiong.
Kalau dia sendirian tentu sejak tadi sudah menerjang ke bawah, apakah akibatnya akan mati atau tetap hidup bukan soal lagi baginya.
Beratnya sekarang dia telah diangkat menjadi pemimpin orang-orang Kangouw ini, jiwa beribu-ribu orang ini tergantung kepada setiap keputusannya, hal inilah yang membuatnya serbasusah.
Sementara itu subuh sudah tiba, mendadak di bawah bergema suara tambur yang bergemuruh disertai suara teriakan-teriakan gegap gempita.
Cepat Lenghou Tiong melolos pedang dan memburu ke ujung jalan.
Para jago juga siap dengan senjatanya untuk bertempur mati-matian dengan musuh.
Suara tambur itu makin lama makin keras dan gencar, tapi musuh ternyata tidak menyerbu ke atas.
Selang sejenak, mendadak suara tambur berhenti serentak.
Maka timbul macam-macam pendapat.
Ada yang mengatakan.
"Suara tambur sudah berhenti, tentu mereka mulai menyerbu!"
Yang lain menanggapi.
"Kebetulan jika mereka berani menyerbu ke sini, kita akan labrak mereka hingga kocar-kacir daripada tetap bercokol di sini."
"Kurang ajar! Rupanya kawanan kura-kura itu hendak membikin kita mati kehausan dan kelaparan di sini. Andaikan mereka tidak menyerbu ke sini juga kita akan menerjang ke bawah!"
Demikian seru yang lain lagi. Dengan perlahan Keh Bu-si berkata kepada Lenghou Tiong.
"Tampaknya musuh memang sengaja pakai tipu muslihat hendak mengepung kita di sini sehingga mati kutu sendiri. Kalau malam ini kita tidak bisa lolos, bila kelaparan lagi sehari semalam tentu kita tidak kuat bertempur."
"Benar,"
Sahut Lenghou Tiong.
"Marilah kita memilih dua-tiga ratus teman yang berkepandaian tinggi sebagai pembuka jalan, mumpung malam gelap gulita kita serbu ke bawah untuk membikin kacau penjagaan musuh, kemudian kawan-kawan yang lain lantas ikut menerjang ke bawah."
"Ya, terpaksa harus demikian,"
Ujar Keh Bu-si.
Pada saat itu juga suara tambur di bawah gunung mendadak berbunyi lagi, menyusul ada ratusan orang menyerbu ke atas.
Cepat para jago menyambut serbuan itu sambil membentak-bentak.
Tapi serbuan itu ternyata tidak sungguh-sungguh, hanya beberapa kali gebrak saja mereka lantas saling memberi tanda dan mengundurkan diri ke bawah.
Baru saja para jagoan menaruh senjata, belum ada lima menit mengaso, kembali suara tambur bergema, kembali suatu rombongan musuh pakai ikat kepala menyerbu ke atas lagi, setelah bertempur sebentar kembali mereka mundur.
"Bengcu, rupanya musuh sengaja menggunakan ‘Bing-peng-ci-keh’ (tipu melelahkan lawan) untuk mengganggu kita sehingga tidak bisa istirahat,"
Kata Keh Bu-si.
"Benar,"
Sahut Lenghou Tiong.
"Silakan Keh-toako mengatur tipu perlawanan."
Keh Bu-si lantas memberikan perintah bilamana musuh menyerbu lagi ke atas, cukup dilayani saja oleh barisan-barisan penjaga, yang lain-lain boleh tetap mengaso tanpa gubris.
Coh Jian-jiu mengajukan usul.
"Cayhe punya akal begini, dua-tiga ratus orang yang telah kita pilih nanti ikut menyerbu ke bawah apabila musuh datang lagi di tengah malam buta."
"Bagus,"
Ujar Lenghou Tiong.
"Silakan Coh-heng pergi memilih kawan-kawan yang dapat diandalkan. Pesan pula kawan-kawan lain, bila nanti pertahanan musuh sudah kacau lantas ikut menyerbu serentak."
Lenghou Tiong coba mengadakan pemeriksaan keliling gunung, dilihatnya pula keadaan luka teman-temannya.
Luka panah Lo Thau-cu dan Na Hong-hong ternyata tidak ringan, untung tidak membahayakan jiwa.
Tidak lama kemudian Coh Jian-jiu kembali lapor bahwa 300 orang pilihan sudah siap, semuanya terdiri dari jagoan kelas wahid.
Dengan tenaga pilihan ini, sekalipun barisan musuh cukup kuat juga tidak sanggup menahan terjangan hebat 300 ekor harimau lapar.
Semangat Lenghou Tiong terbangkit, ia suruh pasukan penyerbu itu mengaso dulu tunggu perintah untuk bertempur.
Sementara itu salju turun dengan lebatnya, bunga salju bertebaran laksana kapas, di atas tanah sudah tertimbun suatu lapis tipis salju.
Pakaian dan kepala semua orang juga sudah penuh berhias bunga salju.
Karena seharian tidak minum satu tetes air pun, semua orang menjejal salju ke mulut sekadar penawar dahaga.
Cuaca makin gelap, lambat laun tambah gelap gulita, sampai dua orang berhadapan saja tak bisa jelas lagi.
Di tengah kegelapan terdengar Coh Jian-jiu berkata.
"Untung hujan salju malam ini, kalau tidak, malam tanggal 15 ini tentu terang benderang oleh cahaya rembulan."
Sekonyong-konyong suasana menjadi sunyi senyap.
Di atas gunung, di luar, maupun dalam Siau-lim-si berkumpul beberapa ribu orang, di pinggang gunung pihak cing-pay sedikitnya juga ada lebih dari lima ribu orang, tapi kebetulan kedua pihak sama-sama tidak mengeluarkan suara.
Hanya terkadang kadang terdengar suara keresekan perlahan yang aneh, mungkin suara daun pohon atau semak rumput yang kejatuhan bunga salju.
"Saat ini entah apa yang sedang dilakukan oleh siausumoay?"
Demikian Lenghou Tiong teringat kepada Gak Leng-sian.
Tiba-tiba dari pinggang gunung berkumandang suara tiupan trompet, menyusul dari segenap penjuru bergemuruh dengan suara teriakan serbu.
Sekali ini rupanya musuh hendak menyerbu sungguh-sungguh di tengah malam gelap.
"Kita pun serbu ke bawah!"
Kata Lenghou Tiong dengan suara tertahan sambil acungkan pedangnya.
Segera ia mendahului lari ke bawah melalui jalanan yang paling terjal di sebelah barat.
Segera 300 jago pilihan yang telah siap itu ikut menerjang ke bawah di belakang Lenghou Tiong.
Sejauh serbuan Lenghou Tiong dan pasukannya ternyata tidak mendapat rintangan.
Kira-kira satu-dua li jauhnya, Coh Jian-jiu menyulut hwe-ci-bau (mercon roket), dengan semburan cahaya api hwe-ci-bau itu melayang tinggi ke udara, lalu meletus.
Inilah kode kepada jago-jago yang masih menunggu di atas gunung agar segera ikut menerjang ke bawah.
Selagi lari, tiba-tiba Lenghou Tiong merasa tapak kakinya kesakitan, seperti menginjak benda tajam sebangsa paku.
Ia tahu gelagat jelek, cepat ia meloncat ke atas dan hinggap di atas pohon.
Pada saat yang sama terdengar Coh Jian-jiu dan lain-lain juga berteriak kesakitan, tapak kaki mereka juga menginjak paku lancip, bahkan ada yang tapak kakinya tertembus, keruan sakitnya bukan buatan.
Beberapa puluh orang lagi berusaha menerjang ke bawah dengan gagah berani, tapi mendadak mereka pun menjerit, semuanya kejeblos ke dalam lubang jebakan, dari semak-semak pohon di samping lantas menjulur keluar belasan tombak dan menusuk ke dalam liang jebakan itu.
Seketika bergemalah jerit ngeri memenuhi pegunungan itu.
"Lekas Bengcu memberi perintah agar semuanya mundur kembali ke atas!"
Seru Keh Bu-si.
Melihat gelagat jelek, terang pihak cing-pay telah mengatur penjagaan rapi di bawah gunung, kalau sembarangan menerjang ke bawah pasti akan kalah habis-habisan, cepat Lenghou Tiong berseru lantang.
"Semua orang mundur kembali ke Siau-lim-si!"
Berbareng itu Lenghou Tiong melompat dari satu pohon ke pohon yang lain untuk mendekati lubang perangkap, dari atas ia menubruk ke bawah sambil putar pedangnya, kontan ia robohkan tiga orang bertombak.
Ia menancapkan kaki di tempat bekas lawan, ia yakin di situ pasti tiada dipasang paku-paku yang lancip itu.
Menyusul pedangnya bekerja lagi, dalam sekejap belasan orang telah dirobohkan pula.
Keruan yang lain-lain menjadi takut, sambil berteriak-teriak mereka lantas kabur.
Beberapa puluh orang yang kejeblos ke dalam liang itu satu per satu lantas melompat keluar, namun belasan orang sudah tewas.
Dalam keadaan gelap gulita tiada seorang pun yang mengetahui di mana terpasang lubang perangkap lagi, maka mereka tidak berani menerjang pula ke bawah, terpaksa mereka kembali ke atas gunung dengan kaki pincang.
Untung musuh tidak mengejar.
Setiba kembali di Siau-lim-si, di bawah cahaya lampu mereka coba memeriksa luka masing-masing, ternyata sebagian besar tapak kaki berdarah dan ada yang tembus tercocok paku tajam itu.
Banyak yang mencaci maki.
Nyata suara-suara tambur yang dibunyikan serta serbuan-serbuan pancingan tadi hanya untuk menutupi suara galian lubang perangkap serta pemasangan paku di pinggang gunung itu.
Paku-paku itu panjangnya belasan senti, dua pertiga ditanam dan satu pertiga menonjol di permukaan tanah, tajamnya bukan main, kalau seluruh gunung dipasangi paku demikian, sukarlah untuk lolos.
Jelas paku-paku tajam itu sebelumnya sudah disiapkan.
Hal ini membayangkan betapa cermat cara pengaturan pihak musuh.
Bab 94.
Lolos dari Lubang Bumi Keh Bu-si menarik Lenghou Tiong ke samping dan berkata lirih padanya.
"Lenghou-kongcu, betapa pun kita sukar untuk menerjang keluar kepungan. Adapun cita-cita kita yang diharapkan siang dan malam, yaitu menyelamatkan Seng-koh, tugas mahabesar ini terpaksa mohon Lenghou-kongcu memikulnya sendirian kelak."
"Ap ... apa maksud ... maksudmu ini?"
Lenghou Tiong menegas.
"Kutahu Kongcu sangat berbudi dan punya jiwa setia kawan sejati, betapa pun engkau tidak sudi menyelamatkan diri sendiri dengan meninggalkan kawan-kawan di sini,"
Kata Keh Bu-si.
"Tapi kalau semuanya gugur di sini, lalu kelak siapa yang akan menuntut balas bagi kita? Siapa pula yang bertugas menyelamatkan Seng-koh dari kurungan musuh?"
"Hehe, kiranya Keh-heng suruh aku melarikan diri sendiri,"
Lenghou Tiong tertawa ewa.
"Sudahlah, soal ini jangan kau sebut-sebut lagi. Kalau mau mati biarlah kita mati bersama saja. Manusia mana yang takkan mati? Sekarang kita mati semua, nanti Seng-koh juga akan mati di penjara musuh. Orang-orang cing-pay yang mendapat kemenangan sekarang, kelak entah setahun entah sepuluh tahun lagi toh satu per satu juga akan mati? Soal kalah atau menang paling-paling juga cuma soal mati sekarang atau mati kelak saja."
Melihat sukar membujuknya, Keh Bu-si merasa tiada gunanya banyak omong lagi.
Tapi kalau malam gelap ini tidak berusaha lari, besok pagi bila musuh mulai menyerang secara besar-besaran tentu tidak sempat lolos lagi.
Terpikir demikian, ia menghela napas panjang.
Tiba-tiba terdengar suara gelak tertawa beberapa orang, makin lama makin gembira suara tawa mereka itu.
Padahal setelah mengalami kekalahan dan terkurung di dalam Siau-lim-si, setiap orang boleh dikata sedang membayangkan bagaimana mereka akan menerima ajal.
Tapi ternyata ada orang sempat tertawa sedemikian gembira.
Dari suara mereka itu segera Lenghou Tiong dan Keh Bu-si mengenali mereka adalah Tho-kok-lak-sian, pikir mereka.
"Ya, hanya makhluk-makhluk dogol semacam mereka inilah masih bisa tertawa meski kematian sudah di depan mata."
Sementara itu gelak tawa Tho-kok-lak-sian bertambah menjadi, rupanya mereka merasa geli melihat orang-orang yang terluka itu. Terdengar Tho-ki-sian berkata.
"Hahaha, di dunia ini ternyata ada orang bodoh seperti kalian ini! Masakah kaki sendiri diinjakkan pada paku. Hahahaha, sungguh menggelikan!"
"Huhuuh! Mungkin kalian kaum tolol ini sengaja mau coba tapak kaki kalian lebih keras daripada paku barangkali? Hahaha! Enak ya rasanya tapak kaki ditembus paku?"
Demikian Tho-yap-sian menambahkan.
"Kalau mau merasakan enaknya paku, kan lebih baik kalian memukul pakunya dengan palu dari atas tapak kaki saja? Hehehe, benar-benar geli, hahaaah!"
Tho-hoa-sian ikut menggoda.
Begitulah keenam bersaudara itu terus tertawa geli dengan macam-macam ocehan yang mencemoohkan, seakan-akan tiada sesuatu yang lebih jenaka daripada apa yang mereka lihat sekarang.
Padahal orang-orang yang terluka itu sedang merintih kesakitan, sebaliknya Tho-kok-lak-sian malah mencemoohkan.
Keruan mereka menjadi gusar dan mencaci maki, bahkan ada beberapa orang lantas melolos senjata hendak melabrak Tho-kok-lak-sian.
Lenghou Tiong khawatir urusan bisa runyam, mendadak ia berteriak.
"He, he! Apa, itu? Hahaah, sungguh lucu! Sungguh aneh!"
Mendengar teriakan itu, Tho-kok-lak-sian ketarik, beramai-ramai mereka lari mendekat dan bertanya.
"Apa yang lucu?"
"Apa yang aneh?"
"Itu dia! Kulihat enam ekor tikus menyeret seekor kucing dan lari ke sana!"
Sahut Lenghou Tiong. Tho-kok-lak-sian menjadi senang, seru mereka.
"Aha, tikus makan kucing, inilah luar biasa! Ke mana larinya?"
"Ke sana!"
Kata Lenghou Tiong sambil menuding sekenanya.
"Ayo! Mari kita melihatnya ke sana!"
Seru Tho-kin-sian sambil menarik tangan Lenghou Tiong.
Semua orang tahu bahwa apa yang dikatakan Lenghou Tiong itu secara tidak langsung hendak mendamprat Tho-kok-lak-sian sebagai enam ekor tikus, tapi dasar orang dogol, sedikit pun mereka tidak tahu, bahkan percaya penuh.
Keruan semua orang terbahak-bahak geli.
Sebaliknya Tho-kok-lak-sian tetap menyeret Lenghou Tiong berlari ke arah yang ditunjuk tadi untuk melihat "tikus makan kucing".
Setiba di ruang belakang, Lenghou Tiong berseru pula dengan tertawa.
"Nah, nah! Itu dia!"
"Di mana, di mana? Kenapa aku tidak lihat?"
Tho-sit-sian berkaok penasaran.
Lenghou Tiong sengaja hendak memancing Tho-kok-lak-sian berpisah sejauh mungkin dengan orang lain agar tidak menimbulkan cekcok, maka dia sengaja menuding ke sana ke sini, maka makin jauhlah mereka ke belakang.
Mendadak Tho-kan-sian menolak sebuah pintu ruangan samping, di dalamnya ternyata gelap gulita.
Segera Lenghou Tiong berseru dengan tertawa.
"Itu dia! Kucing itu telah diseret tikus-tikus itu ke dalam liang!"
"Mana ada liang? Kau jangan mengapusi orang!"
Ujar Tho-kin-sian.
Ia lantas menyalakan geretan api, ternyata di kamar itu kosong melompong, hanya sebuah patung Buddha tampak bersila menghadap dinding.
Tho-kin-sian menyulut pelita minyak yang menempel di dinding, katanya kemudian.
"Mana ada liang? Hayolah kita gebah tikusnya biar keluar!"
Dengan lampu itu ia coba periksa sekeliling kamar, tapi tiada sebuah liang dinding yang diketemukan.
"Mungkin di belakang patung sana?"
Ujar Tho-ki-sian.
"Di belakang patung adalah kita bertujuh, memangnya kita ini tikus?"
Kata Tho-kan-sian.
"Patung menghadapi dinding, belakang patung adalah depannya sana,"
Sahut Tho-kin-sian tak mau menyerah.
"Sudah salah omong masih ngotot! Masakah belakang sama dengan depan?"
Bantah Tho-kan-sian.
"Peduli depan atau belakang, yang penting kita singkirkan patung ini dan periksa saja sebelah sana,"
Kata Tho-hoa-sian.
"Benar!"
Seru Tho-yap-sian dan Tho-sit-sian berbareng. Segera mereka bertiga memegang patung itu terus ditarik.
"He, jangan! Itulah patung Tat-mo Loco!"
Seru Lenghou Tiong.
Tat-mo Loco (Buddhatama) adalah cikal bakal Siau-lim-si, juga cikal bakal ilmu silat aliran yang termasyhur itu.
Tat-mo Loco dahulu pernah bersemadi menghadap dinding selama sembilan tahun dan mencapai kesempurnaan, makanya patung yang dipuja di dalam kuil agung itu pun menghadapi dinding.
Namun sekali Tho-hoa-sian bertiga sudah bertindak sukar lagi dikendalikan, seruan Lenghou Tiong tidak digubris, mereka masih terus menarik sekuatnya.
Maka terdengarlah suara keriang-keriut yang mengilukan, patung Buddha itu telah ditarik berputar.
Sekonyong-konyong mereka berteriak kaget.
Ternyata sepotong papan besi di depan mereka perlahan-lahan menggeser ke atas dan berwujud sebuah liang lebar.
"Haha, benar ada liang di sini!"
Seru Tho-ki-sian senang.
"Akan kutangkap tikus-tikus itu!"
Kata Tho-kin-sian, segera ia mendahului menerobos ke dalam lubang itu.
Tentu saja Tho-kan-sian berlima juga tidak mau ketinggalan, berturut-turut mereka pun menyusup ke dalam.
Rupanya liang itu sangat luas di dalam, masuknya enam orang itu sekejap lantas lenyap, hanya terdengar suara langkah mereka terus ke depan.
Tapi mendadak mereka berkaok-kaok dan berlari keluar lagi.
"Di dalam teramat gelap, dalamnya sukar dijajaki,"
Kata Tho-ki-sian.
"Katanya gelap, dari mana kau mengetahui dalamnya sukar dijajaki?"
Bantah Tho-yap-sian.
"Bisa jadi beberapa langkah lagi akan mencapai ujungnya."
"Jika kau tahu hampir capai ujungnya, kenapa kau tidak melangkah terus tadi?"
Sahut Tho-ki-sian.
"Aku kan cuma bilang ‘bisa jadi’ dan tidak mengatakan ‘pasti’, bisa jadi dan pasti banyak bedanya,"
Jawab Tho-yap-sian.
"Jika cuma main-main terka ‘bisa jadi’ saja buat apa banyak omong?"
Omel Tho-ki-sian.
"Sudahlah, tak perlu ribut. Lekas menyalakan obor dan coba periksa lagi ke dalam,"
Kata Tho-kin-sian.
Begitulah mereka suka usilan, tapi kerjanya juga cepat.
Beramai-ramai mereka lantas mematahkan empat kaki meja dan dinyalakan sebagai obor.
Seperti anak kecil saja mereka berebut obor yang cuma empat itu, lalu menyusup lagi ke dalam liang tadi.
Lenghou Tiong pikir lubang itu tentulah sebuah jalan rahasia Siau-lim-si seperti dahulu dia juga mengalami hal yang sama ketika terkurung di Bwe-cheng di tepi danau di Hangciu dahulu.
Agaknya di dalam situlah Ing-ing disekap.
Terpikir demikian hatinya lantas berdebar-debar dan cepat ia pun ikut menyusup ke dalam.
Ternyata jalan di bagian dalam lubang itu sangat luas dan tidak lembap, hanya bau apak di dalam gua sangat menyesak napas dan memuakkan.
Dengan langkah lebar sekejap saja ia sudah dapat menyusul Tho-kok-lak-sian.
Terdengar Tho-sit-sian sedang berkata.
"Kenapa tikus-tikus itu tidak tampak? Mungkin tidak lari ke lubang ini."
"Jika begitu marilah kita keluar saja dan mencari ke lain tempat,"
Tukas Tho-ki-sian.
"Kembali nanti saja bila sudah mencapai ujung sana,"
Ujar Tho-kan-sian.
Mereka melanjutkan pula ke depan, sekonyong-konyong sebuah siantheng (tongkat) mengemplang dari atas.
Tho-hoa-sian berjalan paling depan, untung dia sempat melompat mundur sehingga kemplangan tongkat tadi meleset.
Namun begitu ia telah menumbuk Tho-sit-sian yang jalan di belakangnya.
Dilihatnya seorang hwesio dengan memegang tongkat cepat menghilang ke dinding di sebelah kanan sana.
Dengan gusar ia memaki.
"Bangsat gundul, kau berani sembunyi di sini dan menyergap tuanmu?"
Berbareng ia terus menubruk maju dan mencengkeram ke dinding itu.
Tapi mendadak dari dinding sebelah kiri kembali sebuah tongkat mengemplang lagi.
Serangan ini telah menutup rapat jalan mundur Tho-hoa-sian.
Karena tidak bisa menghindar, terpaksa ia melompat maju.
Tapi baru sebelah kakinya menginjak tanah, lagi-lagi sebuah tongkat menyambar dari sisi kanan.
Dalam pada itu Lenghou Tiong sudah melihat jelas bahwa hwesio yang memainkan tongkat itu bukanlah manusia tulen, tapi adalah orang-orangan yang digerakkan dengan pesawat rahasia.
Rupanya cara pemasangannya sangat bagus, asal pesawat yang terpasang di lantai tersentuh orang segera sebuah tongkat memukul, bahkan maju dan mundur bisa bergiliran secara rapi, setiap serangan tongkat adalah gerakan yang sangat lihai.
Begitulah Tho-hoa-sian terpaksa mencabut golok untuk menangkis, terdengar suara "trang"
Yang keras, goloknya menjadi bengkok, kiranya bobot tongkat itu sangat berat, daya kemplangannya lebih-lebih hebat pula.
Keruan Tho-hoa-sian mati kutu, ia menjerit dan menjatuhkan diri ke lantai terus menggelinding minggir.
Tapi sebuah tongkat lain kembali menghantam pula.
Cepat Tho-kin-sian dan Tho-ki-sian melolos senjata dan melompat maju untuk menolong saudaranya, dengan tenaga tangkisan mereka berdua, pula daya kemplang tongkat waktu itu sudah rada kendur, maka dapatlah mereka menahannya sehingga Tho-hoa-sian tidak sampai remuk kepalanya.
Tapi satu kemplangan selesai kembali kemplangan tongkat yang lain tiba pula.
Tho-kan-sian, Tho-yap-sian, dan Tho-sit-sian tidak bisa tinggal diam lagi, mereka pun memburu maju untuk membantu.
Dengan lima golok mereka menandingi serangan-serangan tongkat dari dinding kanan-kiri itu.
Meski hwesio-hwesio besi yang memainkan tongkat itu adalah benda mati, tapi penciptanya ternyata adalah ahli teknik yang mahapintar.
Agaknya kalau bukan ahli itu sendiri mahir ilmu silat Siau-lim-si tentu juga ada hwesio agung Siau-lim-si yang memberi petunjuk-petunjuk waktu orang-orangan besi itu dipasang, makanya setiap gerakan tongkat adalah jurus-jurus serangan yang sangat lihai.
Masih ada lagi sesuatu yang luar biasa, yaitu lengan dan tongkat yang digunakan patung besi itu semuanya terbuat dari baja murni, benda seberat beberapa ratus kati digerakkan dengan pesawat, keruan daya kemplangannya menjadi jauh lebih kuat daripada manusia.
Walaupun ilmu silat Tho-kok-lak-sian cukup tinggi, tapi golok mereka sama sekali tidak berdaya bila kebentur tongkat baja, bahkan terus bengkok.
Keruan mereka mengeluh dan gelisah, pikirnya hendak mundur, namun di belakang mereka sudah tertutup oleh bayangan tongkat yang terus menghantam silih berganti.
Sebaliknya setiap melangkah maju juga mengakibatkan tambahan serangan beberapa hwesio besi yang tadinya belum bergerak.
Melihat keadaan yang gawat itu, cepat Lenghou Tiong bertindak.
Dari jurus-jurus serangan patung-patung besi itu ia sudah melihat adanya titik-titik kelemahan setiap jurus mereka.
Segera pedangnya bekerja.
"sret-sret"
Dua kali, pergelangan kedua patung ditusuknya.
Terdengarlah suara nyaring dua kali, pergelangan patung-patung yang diincar itu kena dengan tepat dan meletakkan lelatu api, tapi pedangnya sendiri berbalik terpental balik.
Pada saat itulah mendadak terdengar jeritan Tho-sit-sian dan roboh terkena pukulan tongkat.
Memangnya Lenghou Tiong sudah gelisah, sekarang tambah cemas.
Pedangnya bergerak lagi, kembali dua patung tertusuk, tapi patung-patung besi itu tetap bergeming, sebaliknya sebuah tongkat tahu-tahu menyambar dari atas.
Dengan khawatir, cepat Lenghou Tiong menghindari sambil melangkah maju, tapi kembali sebuah tongkat mengemplang pula.
Mendadak pandangan menjadi gelap, lalu tidak tampak apa-apa lagi.
Kiranya obor-obor yang dibawa Tho-kok-lak-sian tadi terpaksa dibuang ke lantai karena harus bertempur melawan robot-robot bertongkat, sekarang obor-obor itu telah padam semua.
Padahal keistimewaan Lenghou Tiong adalah mematahkan setiap serangan lawan melalui titik kelemahan yang dilihatnya, sekarang keadaan gelap gulita, keruan ia menjadi mati kutu dan kelabakan.
Menyusul bahu kiri terasa sakit, tubuhnya jatuh terjerembap ke depan.
Berbareng itu terdengar pula suara jeritan dan keluhan berulang-ulang, terang Tho-kok-lak-sian juga telah dihantam roboh satu per satu.
Sambil mendekam di lantai Lenghou Tiong mendengar suara angin menderu-deru menyambar lewat di atasnya, seketika ia merasa dirinya seperti di alam mimpi buruk, tubuh tak bisa berkutik, hatinya merasa ngeri, tapi tak bisa berbuat apa-apa.
Sambaran tongkat yang membawa deruan angin keras itu lambat laun mulai mereda, lalu terdengar suara keriang-keriut ramai, agaknya hwesio-hwesio robot tadi telah kembali ke tempatnya semula dan tidak bergerak lagi.
Tiba-tiba pandangan terbeliak, menyusul ada orang berseru.
"Lenghou-kongcu, apakah engkau di sini?"
Lenghou Tiong sangat girang, sahutnya.
"Aku ... aku di sini ...."
Ia merasa suaranya sendiri teramat lemah, hampir-hampir ia tidak percaya atas telinga sendiri.
Ia tetap mendekam tak berani bergerak.
Terdengar suara langkah beberapa orang memasuki gua itu, lalu terdengar Keh Bu-si berseru kaget dan heran.
"Jang ... jangan maju, pe ... pesawat rahasianya sangat ... sangat lihai,"
Seru Lenghou Tiong.
Rupanya Keh Bu-si dan lain-lain menjadi tidak sabar terlalu lama menunggu Lenghou Tiong dan Tho-kok-lak-sian, kemudian mereka menyusul ke belakang dan di ruang Tat-mo-tong itu menemukan lubang gua di bawah tanah, cepat mereka mencari ke dalam dan menemukan Lenghou Tiong dan Tho-kok-lak-sian menggeletak di situ dalam keadaan berlumuran darah, mereka menjadi kaget dan khawatir.
"Bagaimana kau, Lenghou-kongcu?"
Tanya Coh Jian-jiu.
"Tak apa-apa. Diam saja di situ, jangan maju, nanti menggerakkan pesawat rahasia lagi,"
Seru Lenghou Tiong.
"Baiklah,"
Sahut Coh Jian-jiu.
"Bagaimana kalau aku menyeret keluar kau dengan cambuk panjang."
"Ya, bagus,"
Kata Lenghou Tiong.
Segera Coh Jian-jiu menggunakan cambuk, lebih dulu kaki kiri Tho-hoa-sian dibelitnya dengan ujung cambuk dan diseret keluar.
Maklumlah Tho-hoa-sian menggeletak paling ujung luar, maka habis itu barulah Coh Jian-jiu menyeret keluar Lenghou Tiong dengan cara yang sama.
Berturut-turut Tho-kok-ngo-sian dapat pula ditarik keluar tanpa menyentuh pesawat rahasia.
Dengan cepat Lenghou Tiong lantas berbangkit, ia coba periksa keadaan Tho-kok-lak-sian.
Ternyata pundak keenam orang itu sama terluka kena hantaman tongkat baja, untung mereka punya kulit tebal dan kuat tenaga dalamnya, meski lukanya tidak ringan, namun tidak membahayakan jiwanya.
Tidak lama kemudian satu per satu lantas siuman kembali.
Begitu membuka mata dan tidak tampak hwesio robot lagi, segera Tho-kin-sian mengoceh.
"Lihai amat hwesio besi tadi, tapi toh semuanya dihancurkan oleh Tho-kok-lak-sian."
Rupanya Tho-hoa-sian lebih tahu diri, katanya.
"Lenghou-kongcu juga berjasa, cuma jasa kami berenam saudara lebih besar."
Dengan menahan rasa sakit bahunya Lenghou Tiong berkata dengan tertawa.
"Sudah tentu, siapa mampu menandingi Tho-kok-lak-sian."
"Sebenarnya apa yang terjadi, Lenghou-kongcu?"
Tanya Coh Jian-jiu. Dengan ringkas Lenghou Tiong menuturkan pengalamannya tadi, lalu sambungnya.
"Besar kemungkinan Seng-koh terkurung di dalam situ, kita harus mencari akal untuk memusnahkan kawanan hwesio robot penjaga ini."
Coh Jian-jiu melirik sekejap ke arah Tho-kok-lak-sian, katanya.
"Kiranya hwesio-hwesio robot itu belum dihancurkan."
"Apa sulitnya untuk menghancurkan hwesio-hwesio mati itu? Hanya sementara ini kami tidak mau,"
Sahut Tho-kan-sian.
"Entah bagaimana cara bekerja hwesio-hwesio robot itu, harap Tho-kok-lak-sian maju lagi untuk memancing serangannya, biar kita sama menyaksikan,"
Kata Keh Bu-si. Tapi Tho-kok-lak-sian rupanya sudah kapok, mana mau lagi mereka disuruh rasakan kemplangan tongkat baja. Tho-kan-sian lantas berkata.
"He, kucing makan tikus adalah biasa, tapi tikus makan kucing adakah yang pernah lihat?"
"Baru saja kami bertujuh telah menyaksikan tikus makan kucing, sungguh luar biasa!"
Sambung Tho-yap-sian.
Ternyata Tho-kok-lak-sian masih mempunyai suatu kepandaian simpanan, yaitu bila kepepet dan tak bisa menjawab, lalu mereka menyimpangkan pokok pembicaraan ke hal-hal lain.
Lenghou Tiong lantas berkata.
"Siapakah salah seorang kawan ambilkan beberapa potong batu besar?"
Segera dua-tiga orang berlari keluar dan membawakan tiga potong batu besar, masing-masing sedikitnya ada 100 kati beratnya.
Segera Lenghou Tiong angkat sepotong batu besar itu terus digelindingkan ke sana.
Terdengarlah suara gemuruh, batu besar itu telah menyentuh pesawat dan terdengar suara keriang-keriut, hwesio-hwesio robot yang sembunyi di lekukan dinding lantas bergerak, tongkat baja bersambaran dengan kencang.
Agak lama kemudian barulah hwesio-hwesio robot itu menyelinap kembali ke dalam dinding.
Semua orang sama melongo kesima menyaksikan peristiwa ajaib itu.
"Lenghou-kongcu,"
Kata Keh Bu-si.
"hwesio-hwesio robot itu digerakkan oleh pesawat rahasia. Menurut pendapatku, tenaga pesawat itu adakalanya akan habis, untuk bisa bergerak lagi harus memutar kencang pegasnya. Maka bila kita pancing dengan beberapa potong batu berulang-ulang, kalau tenaga pegas sekarang sudah habis, tentu hwesio-hwesio robot itu takkan bergerak lagi."
Tapi Lenghou Tiong ingin selekasnya menolong Ing-ing, katanya.
"Kulihat gerak tongkat robot-robot ini sedikit pun tidak menjadi kendur, kalau mesti menunggu mungkin bisa sampai besok pagi. Adakah di antara Saudara-saudara yang membawa senjata pusaka, coba pinjamkan sebentar."
Segera ada seorang tampil ke muka dan melolos golok, katanya.
"Bengcu, senjata Cayhe ini rada tajam."
Lenghou Tiong mengangguk dan menyatakan terima kasih, lalu melangkah ke depan.
"Hati-hati!"
Seru Tho-kok-lak-sian.
Ketika Lenghou Tiong melangkah lagi dua-tiga tindak, mendadak sebuah tongkat mengemplang dari atas.
Jurus serangan ini sudah beberapa kali dilihatnya sejak tadi, maka tanpa pikir ia mengayun golok.
"trang", kontan pergelangan tangan robot itu tertebas kutung bersama tongkatnya jatuh ke tanah.
"Golok bagus!"
Puji Lenghou Tiong. Semula ia khawatir golok pinjaman itu kurang tajam, sekarang hasilnya ternyata luar biasa, benar-benar sebuah golok mestika, seketika semangatnya terbangkit.
"sret-sret"
Dua kali, kembali ia mengutungi pergelangan tangan dua hwesio robot yang menyerang lagi.
Ia gunakan golok sebagai pedang, yang dimainkan adalah jurus serangan Tokko-kiu-kiam.
Dari kedua sisi dinding hwesio-hwesio robot itu berturut-turut menyerang lagi, tapi lantaran pergelangan tangan putus, tongkat jatuh, dengan sendirinya kedua tangannya yang bergerak naik-turun dan tidak membahayakan.
Lenghou Tiong terus maju ke depan, dilihatnya jurus serangan hwesio-hwesio robot itu bertambah lihai, diam-diam ia sangat kagum, namun satu per satu kena dipatahkan semua.
Semua orang mengikuti Lenghou Tiong dengan membawa obor, setelah ratusan tangan besi terkutung, dinding-dinding batu itu tidak muncul lagi robot yang lain.
Ada orang menghitungnya, ternyata hwesio-hwesio robot itu seluruhnya ada 108.
Maka bersorak gembiralah para jago di jalanan gua itu.
Karena ingin lekas-lekas menemukan Ing-ing, Lenghou Tiong lantas minta sebuah obor dan mendahului jalan pula ke depan.
Jalanan itu terus menurun ke bawah makin lama makin rendah, namun tiada terdapat perangkap-perangkap lagi walaupun ia berlaku sangat hati-hati.
Panjang jalan di bawah tanah itu ada beberapa li dan menembus beberapa gua alam.
Tiba-tiba di depan tampak cahaya remang-remang.
Lenghou Tiong percepat langkahnya, ketika sebelah kakinya menginjak tanah yang lunak, ternyata sudah berada di atas lapisan salju, berbareng itu hawa dingin terasa merasuk, hawa dingin yang segar.
Nyata dia sudah berada di tempat yang terbuka.
Ia coba memandang sekelilingnya, suasana sunyi di tengah malam gelap, bunga salju masih berhamburan, terdengar pula suara gemerciknya air, kiranya tempat itu terletak di tepi sebuah kali.
Sekejapan itu Lenghou Tiong sangat kecewa karena jalan di bawah tanah itu tidak menembus ke tempat tahanan Ing-ing.
Tiba-tiba terdengar Keh Bu-si berkata di belakangnya.
"Teruskan pesan ini kepada kawan-kawan agar jangan bersuara, besar kemungkinan kita sudah berada di bawah gunung."
"Apakah mungkin kita sudah lolos dari kepungan musuh?"
Pikir Lenghou Tiong. Dalam pada itu Keh Bu-si sedang berkata padanya.
"Kongcu, di musim dingin di atas gunung tidak mungkin ada aliran air. Tampaknya melalui jalan di bawah tanah tadi kita sekarang sudah berada di kaki gunung."
"Benar,"
Tukas Coh Jian-jiu.
"Secara tidak sengaja kita telah menemukan jalan rahasia Siau-lim-si yang menembus ke sini."
"Jika demikian lekas suruh semua kawan keluar dari jalanan rahasia ini,"
Kata Lenghou Tiong.
Keh Bu-si meneruskan perintah itu.
Ia suruh beberapa orang menyelidiki lagi jalan di sekitar situ, beberapa puluh orang diperintahkan menjaga ujung jalan rahasia itu agar tidak diserang musuh sehingga jalan keluar tersumbat.
Tidak lama kemudian datanglah laporan bahwa tempat itu memang betul kaki gunung Siau-sit-san bagian belakang, kalau mendongak dapat tampak bangunan kuil agung di atas gunung.
Karena banyak teman-teman belum keluar, maka semua orang tidak berani bersuara keras.
Sementara itu orang-orang yang keluar dari jalan rahasia itu makin banyak, menyusul yang luka dan yang mati juga sudah digotong keluar.
Bisa lolos dari ancaman elmaut, meski tidak bersorak gembira, namun ramai juga mereka berbisik-bisik dengan penuh kegirangan.
"Bengcu,"
Kata Si Beruang Hitam, satu di antara Boh-pak-siang-him yang gemar makan daging manusia itu.
"tentu kawanan kura-kura itu mengira kita masih terkurung di atas sana. Hayolah kita gempur mereka dari belakang, putuskan ekor kawanan anjing itu untuk melampiaskan rasa dongkol kita."
Akan tetapi Lenghou Tiong tidak setuju, katanya.
"Tujuan kita ke sini adalah untuk menolong Seng-koh, maka tidak perlu saling bunuh lebih banyak. Harap Saudara-saudara meneruskan perintah agar kita memencarkan diri saja, bila ketemukan orang cing-pay sebaiknya menghindari pertarungan. Bilamana ada yang mendapat kabar tentang Seng-koh harus disiarkan secara cepat dan luas. Selama aku masih bernapas, betapa pun sukar dan bahaya juga akan kuselamatkan Seng-koh. Apakah semua teman sudah keluar sekarang?"
Keh Bu-si coba mendekati ujung jalan rahasia itu dan berteriak-teriak beberapa kali ke dalam, namun tiada jawaban seorang pun.
Ia memberi lapor bahwa semua kawan sudah keluar.
Tiba-tiba timbul pikiran Lenghou Tiong yang kekanak-kanakan, katanya.
"Ayo kita berteriak tiga kali biar orang-orang cing-pay di atas itu kaget."
"Bagus!"
Seru Coh Jian-jiu tertawa.
"Marilah kita beramai-ramai ikut Bengcu berteriak."
Segera Lenghou Tiong mulai.
"Hai dengarkan, kami sudah berada di bawah gunung!"
Beberapa ribu orang serentak ikut berteriak.
"Hai dengarkan, kami sudah berada di bawah gunung!"
Lalu Lenghou Tiong berteriak pula.
"Silakan kalian makan angin di atas gunung!"
Beribu-ribu orang menirukan pula teriakan itu. Akhirnya Lenghou Tiong berteriak.
"Selamat tinggal, sampai berjumpa!"
"Marilah kita pergi,"
Kata Lenghou Tiong dengan tertawa. Tapi mendadak ada seorang menggembor sekeras-kerasnya.
"Kalian kawanan anjing, anak kura-kura, persetan dengan nenek moyang delapan belas keturunanmu!"
Serentak beribu-ribu orang itu menirukan teriakan itu. Kata-kata makian yang kasar itu diteriakkan oleh orang sebanyak itu, keruan suaranya menggema ke angkasa dan menggetar lembah.
"Sudahlah, tak perlu berteriak lagi, marilah kita pergi saja,"
Seru Lenghou Tiong.
Setelah berteriak-teriak, dari atas gunung ternyata tiada reaksi apa-apa.
Sementara itu subuh tiba, tapi salju masih turun dengan lebatnya.
Ada beberapa kelompok sudah mulai berangkat pergi.
Lenghou Tiong pikir urusan paling penting sekarang adalah menemukan tempatnya Ing-ing, selanjutnya menyelidiki siapakah yang membunuh Ting-sian dan Ting-yat Suthay.
Untuk menunaikan kedua tugas ini ke mana harus dituju?
Tiba-tiba terkilas suatu pikiran dalam benaknya.
"Bila hwesio-hwesio Siau-lim-pay dan orang-orang cing-pay itu mengetahui kami sudah lolos, tentu mereka akan kembali ke Siau-lim-si. Bisa jadi Ing-ing dibawa di tengah mereka. Untuk menyelesaikan dua soal tadi rasanya aku harus kembali ke Siau-lim-si. Untuk ke sana sebaiknya kulakukan sendirian saja."
Begitulah ia lantas mengembalikan golok mestika kepada pemiliknya. Lalu katanya kepada Keh Bu-si dan lain-lain.
"Marilah kita berusaha mencari Seng-koh menurut kemampuan masing-masing, selekasnya kalau Seng-koh sudah diketemukan barulah kita berkumpul untuk merayakannya."
"Engkau sendiri hendak ke mana, Lenghou-kongcu?"
Tanya Keh Bu-si.
"Maafkan sekarang tak bisa kukatakan, kelak tentu akan kuberi tahu,"
Sahut Lenghou Tiong.
Semua orang tidak berani banyak tanya lagi, terpaksa mereka memberi hormat dan mohon diri.
Lenghou Tiong sendiri lantas menggunakan ginkangnya yang tinggi menyusup ke tengah hutan terus meloncat ke atas pohon agar tidak meninggalkan jejak di tanah bersalju.
Ia sembunyi di situ sekian lamanya, didengarnya suara berisik orang banyak tadi makin berkurang dan akhirnya sunyi senyap.
Ia menduga semua orang tentu sudah pergi, lalu perlahan-lahan ia kembali ke ujung jalan rahasia di bawah tanah itu.
Memang sudah tiada seorang pun yang tertinggal di situ.
Ujung jalan itu teraling-aling oleh dua potong batu besar dan tertutup oleh tumbuhan rumput yang tinggi, kalau tidak tahu seluk-beluknya biarpun berada di depannya juga tidak mengetahui adanya jalan rahasia itu.
Karena tak bersenjata lagi, Lenghou Tiong menjemput sepotong ranting kayu sepanjang satu meteran, lalu ia memasuki lagi jalan di bawah tanah itu.
Dengan jalan cepat ia kembali ke ruangan patung Buddhatama tadi, ia coba pasang kuping, sayup-sayup di ruang depan sudah ada suara orang.
Sekuatnya Lenghou Tiong mendorong patung itu menggeser kembali ke tempatnya semula, dalam hati ia menimbang-nimbang.
"Aku harus sembunyi di mana agar bisa mendengarkan pembicaraan-pembicaraan para pemimpin cing-pay itu? Tapi tak terhitungnya ruangan dan kamar di dalam Siau-lim-si ini, dari mana bisa mengetahui tempat yang akan mereka gunakan untuk bicara?"
Tiba-tiba teringat olehnya kamar semadi Hong-ting Taysu ketika dahulu ia diajak menemuinya oleh Hong-sing Taysu, samar-samar ia masih ingat letak kamar itu.
Segera ia lari ke luar terus menuju ke belakang.
Akan tetapi sudah berlari ke sana ke sini, ruangan dan kamar di Siau-lim-si itu terlalu luas dan banyak, kamar pribadi ketua Siau-lim-pay tak bisa ditemukan.
Dalam pada itu terdengar suara tindakan orang banyak sedang mendatangi.
Waktu itu Lenghou Tiong berada di suatu ruangan samping, di atas ruangan luas itu tergantung sebuah pigura besar.
Karena tiada tempat sembunyi yang cocok, terpaksa ia melompat ke atas dan mendekam di balik pigura itu.
Suara tindakan orang banyak itu terdengar semakin mendekat, lalu masuklah tujuh atau delapan orang.
Seorang di antaranya sedang berkata.
"Kawanan sia-pay itu pun lihai benar, kita telah kepung pegunungan ini dengan rapat, tapi mereka toh masih bisa lolos."
Bab 95. Cara Yim Ngo-heng Menilai Kawan dan Lawan Seorang lagi menanggapi.
"Agaknya di Siau-sit-san ini ada jalan rahasia yang menembus ke bawah gunung, kalau tidak masakan mereka mampu lari?"
"Kukira tiada sesuatu jalan rahasia apa-apa,"
Ujar seorang lagi.
"Sudah berpuluh tahun aku tirakat di sini, tapi belum pernah kudengar tentang jalan rahasia segala yang menembus ke bawah gunung."
"Namanya jalan rahasia, dengan sendirinya tak dapat diketahui oleh setiap orang,"
Kata orang yang pertama tadi.
Dari percakapan mereka itu Lenghou Tiong dapat menduga satu di antaranya tentu hwesio Siau-lim-si dan selebihnya adalah jago-jago yang diundang membantu.
Terdengar hwesio Siau-lim tadi berkata pula.
"Seumpama aku tidak tahu masakah hongtiang kami juga tidak tahu? Bilamana ada jalan rahasia demikian tentu sebelumnya hongtiang kami memberitahukan kepada semua kawan untuk menjaga jalan keluarnya."
Pada saat itulah sekonyong-konyong di antaranya membentak.
"Siapa itu? Keluar sini!"
Keruan Lenghou Tiong terkejut karena mengira tempat sembunyinya telah diketahui.
Baru saja ia bermaksud melompat keluar, tiba-tiba di balik pigura di sebelah sana berkumandang suara gelak tertawa seorang dan berkata.
"Haha, sedikit aku menghela napas dan membikin jatuh beberapa titik debu, ternyata lantas dilihat kalian, tajam juga mata kalian ya!"
Dari suaranya yang lantang itu segera Lenghou Tiong mengenalnya sebagai suaranya Hiang Bun-thian. Keruan ia terkejut dan bergirang, katanya di dalam hati.
"Kiranya sejak tadi Hiang-toako sudah sembunyi di sini, caranya menahan napas sungguh hebat, sekian lamanya aku mendekam di sini toh tidak mengetahuinya. Kalau tiada debu yang jatuh tentu orang-orang di bawah itu pun takkan tahu ...."
Belum rampung pikirnya tiba-tiba terdengar suara berdetak di balik pigura-pigura sebelah kanan dan kiri, menyusul melompat turunlah dua orang.
Berbareng orang-orang di bawah itu lantas membentak-bentak.
Namun belum lagi mereka sempat bersuara lebih banyak, mendadak mereka bungkam lagi.
Tanpa terasa Lenghou Tiong melongok ke bawah, terlihatlah dua sosok bayangan sedang beterbangan kian-kemari, seorang jelas adalah Hiang Bun-thian, seorang lagi bertubuh tinggi besar, ternyata Yim Ngo-heng adanya.
Gerak serangan kedua orang hampir-hampir tak bersuara, tapi setiap pukulan mereka tentu menimbulkan seorang korban yang roboh.
Hanya sekejap saja di ruangan itu sudah menggeletak delapan orang.
Lima orang di antaranya terkapar tengkurap, yang tiga lagi telentang dengan mata melotot menyeramkan.
Nyata semuanya telah dihantam mati oleh Hiang Bun-thian dan Yim Ngo-heng.
Dengan tersenyum tampak Yim Ngo-heng berkata.
"Anak Ing, turunlah sini!"
Dari pigura sebelah kiri lantas melayang turun dengan gaya yang lemah gemulai, siapa lagi kalau bukan Ing-ing yang sedang dicari Lenghou Tiong itu.
Terguncanglah hati Lenghou Tiong, dilihatnya Ing-ing memakai baju kain kasar, wajahnya rada pucat.
Baru saja ia bermaksud melompat turun untuk menemui si nona, tiba-tiba Yim Ngo-heng berpaling ke arahnya dan menggoyangkan tangan.
Lenghou Tiong tidak tahu maksudnya, pikirnya.
"Mereka sembunyi di sini lebih dulu, sudah tentu kedatanganku dilihat jelas oleh mereka. Apa maksudnya Yim-losiansing suruh aku jangan keluar?"
Tapi sekejap saja ia lantas paham apa maksud tujuan Yim Ngo-heng itu, ternyata dari depan sana telah berlari masuk beberapa orang.
Sekilas dilihatnya sang guru dan ibu-guru, yaitu Gak Put-kun dan istrinya beserta ketua Siau-lim-pay, Hong-ting Taysu, selain itu masih ada lagi tokoh-tokoh terkemuka.
Ia tidak berani mengintip, cepat ia sembunyi kembali di tempatnya dengan hati berdebar.
Pikirnya.
"Ing-ing bertiga berada di dalam kepungan musuh, betapa pun aku ... akan menyelamatkan dia sekalipun aku yang harus binasa."
Dalam pada itu terdengar Hong-ting Taysu sedang berkata.
"Omitohud! Lihai amat ilmu pukulan ketiga Sicu. Eh, Lisicu (nona budiman) sudah pergi kenapa kembali lagi?"
"Aku justru ingin minta penjelasan kepada Hongtiang Taysu sebabnya aku sudah pergi kok kembali lagi,"
Sahut Ing-ing.
"Sungguh Lolap tidak paham ucapan ini,"
Kata Hong-ting Taysu.
"Kedua Sicu ini tentulah tokoh dari Hek-bok-keh. Maafkan Lolap tidak sempat berkenalan. Namun setiap orang yang datang ke Siau-lim-si adalah tamuku, silakan duduk buat bicara."
Diam-diam Lenghou Tiong sangat mengagumi kepribadian Hong-ting Taysu, pikirnya.
"Benar-benar seorang padri saleh, walaupun melihat anak muridnya menggeletak tak bernyawa lagi toh sedikit pun tidak terpengaruh dan masih tetap sopan santun terhadap pihak lawan."
Maka terdengar Hiang Bun-thian menjawab.
"Ini adalah Yim-kaucu dari Tiau-yang-sin-kau. Cayhe sendiri Hiang Bun-thian."
Nama mereka berdua di dunia persilatan sungguh gilang-gemilang, cuma mereka sudah lama mengasingkan diri, maka tidak dikenal oleh Hong-ting Taysu, Gak Put-kun, dan lain-lain.
Mereka sama tergetar juga setelah mengetahui siapa-siapa yang berhadapan dengan mereka itu, namun lahirnya mereka berlaku tenang sedapat mungkin.
"Kiranya Yim-kaucu dan Hiang-cosu sudi berkunjung kemari, sungguh Lolap merasa sangat bahagia,"
Kata Hong-ting Taysu.
"Entah adakah sesuatu petunjuk yang hendak kalian kemukakan?"
"Sudah terlalu lama aku tidak berkecimpung di dunia ramai, maka banyak tokoh-tokoh angkatan baru tak kukenal, entah siapa-siapa para sobat-sobat cilik ini?"
Kata Yim Ngo-heng dengan lagak orang tua.
"Jika demikian baiklah Lolap memperkenalkan kalian,"
Ujar Hong-ting Taysu.
"Yang ini adakah ketua Bu-tong-pay, Tiong-hi Totiang adanya."
Maka terdengar suara seorang tua serak berkata.
"Bicara tentang umur bisa jadi aku lebih tua sedikit daripada Yim-siansing, tapi waktu mengetuai Bu-tong-pay memang terjadi sesudah Yim-siansing mengasingkan diri. Angkatan baru memang betul juga bagiku, cuma istilah ‘tokoh’ tak berani kuterima. Haha!"
Lenghou Tiong merasa suara ketua Bu-tong-pay itu seperti sudah dikenalnya. Tiba-tiba tergerak pikirannya.
"Ai, kiranya si kakek penunggang keledai bersama si tukang kayu dan tukang sayur yang kutemukan di kaki Gunung Bu-tong-san itulah ketua Bu-tong-pay."
Seketika timbul rasa bangga dan besar hatinya.
Maklumlah nama Bu-tong-pay sejajar dengan Siau-lim-pay.
Betapa pun termasyhur Ngo-gak-kiam-pay tetap kalah setingkat kalau dibandingkan Siau-lim dan Bu-tong.
Sebabnya Co Leng-tan, itu ketua Ko-san-pay dengan segala tipu dayanya ingin melebur Ngo-gak-kiam-pay menjadi satu aliran besar, tujuannya tak-lain tak-bukan ialah ingin menandingi Siau-lim-pay dan Bu-tong-pay.
Kini setelah mengetahui dirinya pernah mengalahkan Tiong-hi Totiang yang ilmu pedangnya tiada bandingannya itu, sungguh rasa senang Lenghou Tiong tak terperikan.
Sementara itu Yim Ngo-heng lagi berkata.
"Co-tayciangbun ini dahulu kita kan sudah pernah bertemu. Akhir-akhir ini kau punya ilmu pukulan ‘Tay-ko-yang-jiu’ tentu banyak maju bukan, Co-ciangbun?"
Kembali Lenghou Tiong terkesiap.
"Kiranya Co-supek, ketua Ko-san-pay juga hadir."
Maka terdengar suara seorang yang halus sedang menjawab.
"Kabarnya Yim-siansing terkurung oleh anak buah sendiri dan menghilang selama beberapa tahun. Kini muncul kembali sungguh harus diberi selamat. Tentang ‘Tay-ko-yang-jiu’ sudah belasan tahun tidak terpakai, mungkin sebagian besar sudah terlupa."
"Wah, jika begitu dunia Kangouw tentu menjadi sepi,"
Kata Yim Ngo-heng dengan tertawa.
"Begitu aku menghilang lantas tiada orang yang dapat mengukur tenaga dengan Co-heng, sungguh sayang, sungguh gegetun."
"Orang yang sanggup bertanding dengan Yim-siansing sesungguhnya juga tidak sedikit, cuma orang-orang alim seperti Hong-ting Taysu atau Tiong-hi Totiang tentunya tidak sudi sembarangan mengajar Cayhe tanpa alasan,"
Jawab Co Leng-tan.
"Baiklah, kapan-kapan kalau sempat tentu akan kucoba lagi kau punya kepandaian baru,"
Kata Yim Ngo-heng.
"Setiap saat akan kulayani,"
Sahut Co Leng-tan.
Dari tanya-jawab mereka itu jelas dahulu mereka pernah saling gebrak, cuma siapa yang menang dan siapa yang kalah tak bisa dibedakan dari pembicaraan mereka tadi.
Lalu Hong-ting Taysu melanjutkan.
"Yang ini adalah Thian-bun Totiang, ketua Thay-san-pay dan yang itu Gak-siansing, ciangbunjin dari Hoa-san-pay, di sebelahnya adalah Gak-hujin, Ling-lihiap yang termasyhur di masa lampau tentu pula pernah didengar Yim-losiansing."
"Ya, Ling-lihiap sih aku tahu, tapi Gak-siansing apa segala tidak pernah kudengar,"
Sahut Yim Ngo-heng tertawa. Lenghou Tiong menjadi kurang senang, pikirnya.
"Nama suhuku menonjol lebih dulu daripada ibu-guruku, jika dia sama sekali tidak kenal keduanya sih dapat dimengerti, sekarang dia mengatakan cuma tahu Ling-lihiap, tapi tidak tahu Gak-siansing, hal ini tidaklah masuk di akal. Jelas dia sengaja hendak mengolok-olok suhuku."
Gak Put-kun ternyata acuh tak acuh, katanya.
"Namaku yang rendah memangnya tidak ada nilainya untuk dikenal Yim-siansing."
"Eh, Gak-siansing, aku ingin mencari tahu kabar seseorang, entah kau mengetahui jejaknya tidak?"
Tiba-tiba Yim Ngo-heng bertanya kepada Gak Put-kun.
"Entah siapa yang ingin ditanyakan Yim-losiansing?"
Jawab Put-kun.
"Orang ini sangat berbudi, cerdik dan pandai lagi, orangnya juga cakap,"
Kata Yim Ngo-heng.
"Tapi ada manusia-manusia buta yang iri padanya dan ingin memencilkan dia, maka banyak dilontarkan fitnah-fitnah keji kepadanya. Aku orang she Yim ini justru sangat cocok dengan dia, sudah kuputuskan akan kujodohkan anak perempuanku ini kepadanya ...."
Mendengar sampai di sini, seketika jantung Lenghou Tiong berdetak keras. Lapat-lapat ia merasa timbulnya sesuatu soal yang serbasulit. Terdengar Yim Ngo-heng sedang melanjutkan.
"Pemuda itu baik hati lagi berbudi, ketika dia dengar anak perempuanku ini dikurung di dalam Siau-lim-si, ia lantas membawa beribu-ribu kesatria ke sini hendak memapak bakal istrinya ini. Tapi dalam sekejap saja dia entah menghilang ke mana, calon mertua seperti aku ini menjadi gelisah dan kelabakan mencarinya, makanya aku ingin tanya jejaknya padamu."
"Hahaha!"
Gak Put-kun menengadah dan terbahak.
"Kepandaian Yim-losiansing mahasakti, kenapa bakal mantu sendiri sampai lenyap? Kemarin di kaki gunung aku memang memergoki seorang muda dengan sebelah tangan memegang pedang, tangan yang lain mengempit seorang perempuan cantik, kabarnya ialah Na-kaucu dari apa yang disebut Ngo-tok-kau segala. Nah, Yim-losiansing, kukira kau harus hati-hati, janganlah calon mantumu itu sampai dibawa lari oleh perempuan lain."
Lenghou Tiong merasa bingung apa sebabnya sang guru bicara demikian?
Padahal dia mengetahui Na Hong-hong terluka kena panah, sebabnya dia mengempit nona Na itu adalah karena ingin menyelamatkan jiwanya, mengapa aku dituduh berbuat tidak baik?
Ya, tentu disebabkan suhu teramat benci kepada Mo-kau, beliau sengaja berkata demikian agar aku batal dipungut menantu oleh ketua Mo-kau ini.
Sebaliknya Yim Ngo-heng, Hiang Bun-thian, dan Ing-ing sudah tentu tidak percaya kepada cerita Gak Put-kun tadi karena mereka melihat sendiri Lenghou Tiong datang sendiri dan sekarang sembunyi di balik pigura di atas sana.
Maka dengan gelak tertawa Yim Ngo-heng telah menjawab.
"Pemuda ini memang sangat romantis dan gemar main cinta, di mana-mana dia mempunyai kekasih. Sungguh kacang tidak meninggalkan lanjarannya, benar-benar sudah memperoleh ajaran seluruhnya dari sang guru."
Tanpa terasa Gak Put-kun melirik ke arah sang istri.
Tapi Gak-hujin cukup kenal pribadi sang suami yang prihatin dan alim, terhadap anak murid perempuan sendiri saja biasanya juga tidak banyak memandang tanpa perlu, sudah tentu apa yang dikatakan Yim Ngo-heng sekarang hanya ocehan bualan belaka.
Maka ia hanya ganda tersenyum saja terhadap lirikan sang suami.
Gak Put-kun lantas menjawab.
"Apakah pemuda yang dimaksudkan Yim-losiansing adalah si bangsat cilik Lenghou Tiong, murid buangan dari Hoa-san-pay kami itu?"
"Haha, jelas dia adalah emas murni, tapi kau justru anggap loyang, pandanganmu sungguh teramat picik,"
Kata Yim Ngo-heng.
"Ya, pemuda yang kukatakan memang betul Lenghou Tiong adanya. Hehe, kau memaki dia sebagai bangsat cilik, bukankah berarti kau memaki aku sebagai bangsat tua?"
Gak Put-kun menjawab.
"Bangsat cilik itu tergila-gila kepada seorang perempuan, sampai-sampai mengerahkan sedemikian banyak kawanan anjing dan serigala dari dunia Kangouw untuk mengubrak-abrik Siau-lim-si yang merupakan sumbernya ilmu silat sejagat. Coba kalau Co-suheng tidak mengatur tipu daya yang jitu, tentu kuil agung bersejarah ini sudah dihanguskan menjadi puing oleh mereka dan bukankah dosanya tak terampunkan biarpun seribu kali dihukum mati."
"Ucapan Gak-siansing ini kurang tepat,"
Sela Hiang Bun-thian.
"Jangankan tujuan Lenghou-kongcu ke sini hanya ingin memapak nona Yim dan tiada maksud hendak merusak. Seumpama para kawan Kangouw yang dia pimpin kemari ini hendak berbuat sesuatu yang melanggar aturan, masakah jago-jago Siau-lim-pay yang beribu-ribu banyaknya tak mampu membela tempat sendiri? Sekarang boleh kau periksa, selama sehari semalam para kawan tinggal di Siau-lim-si sini adakah suatu genting atau satu piring yang dirusak, bahkan satu butir beras dan setetes air juga tidak mereka makan."
"Ya, memang! Dengan datangnya para kawan Siau-lim-si berbalik bertambah banyak benda karun,"
Demikian tiba-tiba seorang menimbrung.
"Kiranya dia juga hadir!"
Dari suaranya yang melengking tajam segera Lenghou Tiong mengenali pembicara itu adalah Ih Jong-hay, itu ketua Jing-sia-pay.
"Coba Ih-koancu jelaskan, benda karun apa yang bertambah?"
Tanya Hiang Bun-thian.
"Itu, banyak emas kuning dan air raksa berserakan di sembarang tempat,"
Kata Ih Jong-hay. Maka tertawalah beberapa orang yang merasa geli. Mendengar itu, hati Lenghou Tiong rada menyesal. Pikirnya.
"Ya, aku memang telah melarang semua kawan merusak setiap benda di kuil ini, tapi lupa melarang mereka membuang hajat besar-kecil di sembarang tempat. Dasar mereka itu orang-orang kasar, kalau sudah kebelet, setiap tempat bisa buka celana dan buang hajat, bikin kotor saja tempat suci ini."
"Tadinya Lolap memang khawatir menyaksikan kuil bersejarah kami ini terbakar menjadi puing oleh kawan-kawan yang dipimpin Lenghou-kongcu, tapi sekarang ternyata tiada suatu benda pun yang berkurang, hal ini benar-benar berkat jasa pimpinan Lenghou-kongcu yang bijaksana, sungguh kami merasa sangat berterima kasih. Kelak bila bertemu dengan Lenghou-kongcu, Lolap tentu akan mengaturkan terima kasih padanya. Tentang kata-kata kelakar Ih-koancu tadi harap Hiang-siansing jangan anggap sungguh-sungguh."
"Betapa pun padri saleh memang berbeda jauh daripada jiwa kerdil manusia-manusia palsu,"
Kata Hiang Bun-thian. Hong-ting lantas berkata pula.
"Ada suatu hal yang Lolap merasa tidak paham, yakni mengapa kedua suthay dari Hing-san-pay bisa wafat di dalam kuil kami ini?"
"Hah? Ap ... apa katamu?"
Seru Ing-ing kaget.
"Ting-sian dan Ting-yat Suthay telah ... telah meninggal?"
"Ya,"
Sahut Hong-ting Taysu.
"Jenazah mereka ditemukan di dalam kuil sini, ditaksir waktu meninggalnya bersamaan dengan waktu masuknya para kawan Kangouw ke sini. Apa barangkali Lenghou-kongcu tidak keburu mencegah bawahannya sehingga kedua suthay tewas dikerubut mereka?"
"Ini ... ini sungguh aneh,"
Kata Ing-ing.
"Tempo hari waktu aku bertemu di ruangan belakang dengan kedua suthay, atas kemurahan hati Hongtiang berkat permohonan kedua suthay itu, maka aku telah dilepaskan ...."
Terima kasih dan terharu pula Lenghou Tiong mendengar itu, katanya di dalam hati.
"Kiranya atas permohonan kedua suthay itu Hongtiang Taysu benar-benar telah membebaskan Ing-ing. Sebaliknya beliau-beliau itu malah tewas di sini sebagai korban kepentinganku dan Ing-ing. Sebenarnya siapakah pembunuh mereka? Aku ... aku harus menuntut balas bagi mereka."
Dalam pada itu terdengar Ing-ing lagi berkata.
"Sesudah kedua suthay membawa aku meninggalkan pegunungan ini, hari ketiga di tengah jalan lantas mendapat berita bahwa Lenghou ... Lenghou-kongcu memimpin para kawan Kangouw hendak memapak diriku ke Siau-lim-si. Ting-sian Suthay mengajak lekas mencegat Lenghou-kongcu dengan rombongannya agar tidak menimbulkan keonaran lagi terhadap Siau-lim-pay. Tapi malamnya kami ketemu lagi seorang teman Kangouw, katanya para kawan Kangouw terbagi dalam beberapa jurusan dan menentukan tanggal 15 bulan 12 berkumpul di tempat sasaran. Kedua suthay menjadi khawatir Siau-lim-si telanjur diserang, hal ini berarti mengingkari kebaikan Hongtiang Taysu yang telah membebaskan diriku tanpa syarat. Maka Ting-sian Suthay lantas suruh aku berangkat sendiri untuk menemui ... menemui Lenghou-kongcu dan membubarkan rombongannya, kedua suthay lantas balik kembali ke Siau-lim-si untuk bantu menjaga segala kemungkinan dikacaunya tempat suci itu."
Perasaan Lenghou Tiong terguncang lagi mendengarkan cerita Ing-ing yang mengharukan dan terkadang rada malu-malu bila menyebut dirinya. Hong-ting Taysu lantas berkata pula.
"Omitohud! Lolap sangat berterima kasih atas maksud baik kedua suthay. Memang banyak kawan-kawan dari berbagai golongan dan aliran, baik kenal maupun tidak, mereka berbondong-bondong datang kemari hendak membantu, sungguh Lolap tidak tahu cara bagaimana harus membalas budi mereka. Untung berkat lindungan Buddha, kedua pihak tidak sampai bertempur sungguh-sungguh sehingga terhindarlah malapetaka banjir darah. Ai, dengan wafatnya kedua suthay, selanjutnya Hing-san-pay menjadi kehilangan dua pemimpin yang bijaksana dan dunia persilatan juga berkurang dengan dua tokoh ternama. Sungguh sayang dan menyesalkan."
Lalu Ing-ing berkata pula.
"Setelah berpisah dengan kedua suthay, malamnya aku lantas kepergok musuh, di bawah kerubutan musuh yang banyak aku telah tertawan selama beberapa hari, ketika aku diselamatkan ayah dan Hiang-sioksiok, sementara itu para kawan Kangouw sudah masuk Siau-lim-si. Kami bertiga masuk ke sini belum ada setengah jam, maka kami tidak mengetahui cara bagaimana kawan-kawan Kangouw itu lolos dari sini, pula tidak tahu meninggalnya kedua suthay."
"Jika demikian, jadi kedua suthay bukan tewas di tangan Yim-siansing dan Hiang-cosu?"
Hong-ting menegas.
"Kedua suthay telah menyelamatkan diriku, sudah seharusnya aku membalas budi mereka, mana bisa aku tinggal diam apabila ayah dan Hiang-sioksiok bergebrak dengan kedua suthay?"
Ujar Ing-ing.
"Benar juga ucapanmu,"
Kata Hong-ting. Tiba-tiba Ih Jong-hay menimbrung lagi.
"Tapi kelakuan orang Mo-kau sering kali terbalik daripada orang biasa, jika umumnya membalas budi dengan kebaikan, sebaliknya manusia sesat itu justru membalas air susu dengan air tuba!"
"He, aneh, sungguh aneh! Sejak kapankah Ih-koancu masuk Tiau-yang-sin-kau kami?"
Tanya Hiang Bun-thian.
"Apa? Ngaco-belo! Siapa yang mengatakan aku masuk Mo-kau?"
Sahut Ih Jong-hay dengan gusar.
"Habis kau bilang orang Sin-kau kami suka membalas air susu dengan air tuba, padahal Ih-koancu sendiri termasyhur karena ahli membalas susu dengan air tuba. Bukankah Ih-koancu telah menjadi kawan anggota kami? Bagus, bagus sekali. Kusambut dengan segala senang hati."
"Huh, ngaco-belo! Kentut busuk!"
Teriak Ih Jong-hay dengan gusar.
"Nah! Betul tidak kataku? Ucapanku bermaksud baik, sebaliknya Ih-koancu memaki aku, bukankah ini membalas susu dengan air tuba? Ya, dasar memang wataknya demikian, baik kelakuan maupun pada tutur katanya juga kelihatan akan wataknya yang suka membalas susu dengan tuba."
Supaya kedua orang tidak bertengkar soal yang tidak penting, cepat Hong-ting Taysu menyela.
"Sebenarnya siapa yang membunuh kedua suthay, kelak kita tentu akan mengetahui setelah tanya kepada Lenghou-kongcu. Tapi sekarang begitu kalian datang, sekaligus lantas membinasakan delapan orang cing-pay kami, coba katakan apa sebabnya?"
Yim Ngo-heng menjawab.
"Sudah biasa aku pergi-datang sendiri di dunia Kangouw tanpa seorang pun yang berani kurang ajar padaku. Tapi kedelapan orang ini berani membentak-bentak padaku dan suruh aku keluar dari tempat sembunyi, bukankah dosa mereka ini pantas dihukum mati?"
"Omitohud!"
Kata Hong-ting.
"Mereka hanya membentak beberapa kali, Yim-siansing lantas ambil tindakan sekeji ini, apakah caramu ini tidak keterlaluan?"
"Hahaha! Jika Hongtiang Taysu anggap keterlaluan ya bolehlah katakan demikian,"
Sahut Yim Ngo-heng.
"Kau tidak bikin susah anak perempuanku, aku terima kebaikanmu. Maka sekali ini aku tidak ingin banyak berdebat dengan kau, kedua pihak anggap selesai sudah."
"Kau ... kau ...."
Tiba-tiba Ih Jong-hay hendak menyela lagi, tapi demi melihat sorot mata Yim Ngo-heng yang tajam itu, teringatlah kelihaian tokoh Mo-kau di masa lampau itu, seketika timbul rasa jerinya dan urung meneruskan kata-katanya.
Hong-ting lantas menyambung.
"Jika Yim-siansing anggap sudah beres ya bereslah sudah. Cuma kedelapan orang yang kalian bunuh ini cara bagaimana menyelesaikannya?"
"Penyelesaian apa lagi?"
Sahut Yim Ngo-heng.
"Anggota Tiau-yang-sin-kau kami teramat banyak, jika kalian mampu boleh silakan bunuh delapan orang di antara mereka sebagai imbalannya sudah."
"Omitohud! Sembarangan membunuh orang kan cuma menambah dosa saja,"
Kata Hong-ting.
"Eh, Co-sicu, dua di antara delapan orang yang terbunuh ini adalah anak murid kalian, menurut kau cara bagaimana penyelesaiannya?"
Belum sempat Co Leng-tan menanggapi, cepat Yim Ngo-heng mendahului.
"Akulah yang membunuh mereka, kenapa kau tanya cara penyelesaiannya kepada orang lain? Kenapa tidak tanya saja padaku? Dari nadamu ini rupanya kalian hendak main kerubut terhadap kami bertiga bukan?"
"Bukan begitu maksudku,"
Kata Hong-ting.
"Cuma Yim-siansing sekarang muncul kembali, dunia Kangouw selanjutnya tentu akan banyak urusan, mungkin banyak orang yang akan dibinasakan oleh Sicu, maka Lolap ada maksud minta kalian sudi tinggal di kuil ini untuk sembahyang dan baca kitab, dengan demikian barulah dunia Kangouw akan aman sentosa. Entah bagaimana pendapat kalian?"
"Bagus, bagus! Usul ini sangat menarik,"
Seru Yim Ngo-heng sambil bergelak tertawa. Hong-ting menyambung lagi.
Baca Juga: Persekutuan Pedang Sakti 7
Baca Juga: Pendekar Pemanah Rajawali 19