Eps 16 Hina Kelana Balada Kaum Kelana - Jin Yong
Baca online Hina Kelana Balada Kaum Kelana - Jin Yong
Cersil Hina Kelana Balada Kaum Kelana - Jin Yong.
"Ketika putrimu tinggal di belakang gunung ini, setiap anak murid Siau-lim-si sama menghormat padanya, segala pelayanan tidak pernah kurang. Sebabnya Lolap menahan putrimu di sini bukanlah bermaksud menuntut balas bagi anak murid kami yang menjadi korban keganasan putrimu, ai, mungkin kematian anak murid kami itu adalah karma atas perbuatan mereka di jelmaan hidup yang lalu. Sebenarnya balas-membalas tanpa akhir juga bukan kehendak murid Buddha kami. Cuma kemudian persoalan ini telah menimbulkan huru-hara di dunia Kangouw, hal ini adalah di luar dugaanku. Lagi pula dahulu ketika putrimu datang ke sini minta pertolongan bagi Lenghou-kongcu, dengan tegas dikatakan bahwa asalkan Lolap sudi menyelamatkan jiwa Lenghou-kongcu, maka putrimu ini rela mengganti jiwa bagi anak murid kami yang dibunuh olehnya. Lolap menjawab ganti jiwa sih tidak perlu, tetapi dia harus tinggal tirakat di atas Siau-sit-san sini, tanpa izin Lolap tidak boleh sembarangan meninggalkan gunung ini. Dia terus mengiakan tanpa ragu-ragu. Betul tidak kataku ini, Yim-siocia?"
Wajah Ing-ing tampak bersemu merah, sahutnya perlahan.
"Ya, benar."
"Hehe, setia dan berbudi juga,"
Jengek Ih Jong-hay.
"Cuma sayang kelakuan Lenghou Tiong itu tidak senonoh, dahulu pernah kupergoki olehku ketika dia bermalam di rumah pelacuran di Kota Heng-san. Kukira cinta Yim-siocia akan disia-siakan olehnya."
"Ih-koancu sendiri memergoki dia di rumah pelacuran, kau melihatnya dengan mata kepala sendiri? Tidak keliru?"
Hiang Bun-thian menegas.
"Ya, mana bisa aku salah lihat?"
Sahut Ih Jong-hay. Tiba-tiba Hiang Bun-thian dengan suara setengah tertahan.
"He, Ih-koancu, kiranya kau juga suka cari cewek, kau adalah kawan sepahamku. Eh, siapakah anak dara kegemaranmu di rumah ‘P’ itu? Cantik tentunya?"
Keruan muka Ih Jong-hay merah padam dan belingsatan, ia mencaci-maki habis-habisan saking gusar.
Sebaliknya Hiang Bun-thian bergelak tertawa puas.
Dasar pribadi Ih Jong-hay memang tidak disukai oleh kebanyakan orang-orang cing-pay, maka banyak di antaranya ikut tertawa geli dan merasa syukur dia diolok-olok oleh pihak Mo-kau yang tidak pantang omong dalam segala hal.
Lenghou Tiong yang sembunyi di balik pigura itu menjadi sangat berterima kasih kepada Ing-ing setelah mendengar penuturan Hong-ting Taysu tentang kejadian dahulu itu.
Terdengar Hong-ting berkata pula.
"Yim-siansing, silakan kalian tirakat saja di Siau-sit-san sini, selanjutnya kita mengubah lawan menjadi kawan, asalkan kalian bertiga tidak meninggalkan pegunungan ini, Lolap berani tanggung takkan ada orang yang berani mencari perkara kepada kalian bertiga. Seterusnya kita akan sama-sama hidup tenteram sejahtera, semuanya kan sama bahagia."
Melihat Hong-ting Taysu bicara dengan sungguh-sungguh dan setulus hati, diam-diam Co Leng-tan, Gak Put-kun, dan lain-lain merasa padri agung ini terlalu naif cara berpikirnya.
Masakan tiga gembong iblis Mo-kau yang biasanya membunuh orang tanpa kenal ampun mau dikurung begitu saja secara sukarela?
Maka dengan tersenyum Yim Ngo-heng telah menjawab.
"Maksud baik Hong-ting Taysu benar-benar harus dipuji, sebenarnya Cayhe seharusnya menurut."
"Jadi Sicu sudah mau tinggal di Siau-sit-san sini?"
Hong-ting menegas dengan girang.
"Benar,"
Sahut Yim Ngo-heng.
"Cuma paling lama aku hanya akan tinggal dua jam saja di sini, lebih lama lagi aku tidak sanggup."
Hong-ting tampak sangat kecewa, katanya.
"Hanya tiga jam saja? Apa gunanya waktu sesingkat ini?"
"Memangnya Cayhe ingin tinggal beberapa hari lebih lama agar bisa bercengkerama dengan para sobat di sini, cuma sayang nama Cayhe sudah telanjur kurang baik, ya, apa boleh buat?"
"Lolap menjadi tidak paham,"
Kata Hong-ting bingung.
"Apa hubungannya dengan nama Sicu yang terhormat?"
"Ya, she Cayhe kurang baik, namaku juga kurang baik,"
Sahut Yim Ngo-heng.
"Aku she Yim pakai nama Ngo-heng pula (yim-ngo-heng berbuat semaunya). Tahu begini tentu sejak mula aku akan mencari nama yang lebih bagus. Sekarang sudah telanjur pakai nama begini, ya apa boleh buat, terpaksa aku berbuat sesukaku, ke mana aku ingin pergi, di situlah aku tiba."
"O, kiranya Yim-siansing sengaja permainkan Lolap,"
Kata Hong-ting kurang senang.
"Mana aku berani,"
Sahut Yim Ngo-heng.
"Di antara tokoh-tokoh terkemuka pada zaman ini yang kukagumi boleh dikata sangat terbatas, paling-paling cuma tiga setengah saja. Taysu termasuk satu di antaranya. Selain itu masih ada tiga setengah orang yang tidak kusukai."
Ucapan Yim Ngo-heng itu sangat sungguh-sungguh, sedikit pun tiada nada mengolok-olok. Maka dengan merangkap kedua tangan Hong-ting berkata.
"Omitohud! Banyak terima kasih atas pujianmu."
Semua orang, termasuk Lenghou Tiong yang sembunyi di balik pigura, merasa heran dan ingin tahu siapa-siapa tiga setengah orang tokoh zaman ini yang dikatakan dikagumi oleh gembong Mo-kau ini dan siapa-siapa lagi tiga setengah orang yang tak disukainya itu?
Tiba-tiba seorang yang bersuara nyaring berseru.
"Yim-siansing, siapa-siapa lagi yang kau kagumi?"
"Maaf, Saudara tidak termasuk di antaranya,"
Sahut Yim Ngo-heng dengan tertawa.
"Cayhe mana berani disejajarkan dengan Hong-ting Taysu,"
Kata orang itu.
"Sudah tentu aku adalah orang yang tak disukai Yim-siansing."
"Kau pun tidak termasuk di antara tiga setengah orang yang tidak kusukai,"
Kata Yim Ngo-heng.
"Kau boleh berlatih 30 tahun lagi, mungkin kelak akan membikin aku menjadi tidak suka."
Orang itu menjadi bungkam. Semua orang pun berpikir.
"Kiranya juga tidak mudah untuk menjadi orang yang tidak kau sukai."
"Apa yang dikatakan Yim-siansing benar-benar sesuatu yang serbamenarik,"
Kata Hong-ting.
"Hwesio besar, apakah kau ingin tahu siapa-siapa lagi yang kukagumi dan siapa-siapa pula yang tidak kusukai?"
Tanya Yim Ngo-heng.
"Memang ingin minta penjelasan Sicu,"
Sahut Hong-ting.
"Hwesio besar, seperti kukatakan tadi, padri saleh macam kau adalah tokoh utama yang kukagumi. Adapun orang kedua yang kukagumi adalah Tonghong Put-pay, orang yang telah merebut kedudukan kaucu dari tanganku itu."
Semua orang sama bersuara heran karena hal ini sama sekali di luar dugaan.
Semua orang mengetahui Yim Ngo-heng kena dijebak oleh Tonghong Put-pay dan dikerangkeng sekian lamanya, tentu dia akan sangat benci dan dendam kepada seterunya itu.
Siapa tahu Tonghong Put-pay malah termasuk seorang yang dikaguminya.
"Kekagumanku kepada Tonghong Put-pay bukannya tidak beralasan,"
Sambung lagi Yim Ngo-heng.
"Selamanya aku merasa tiada tandingannya di dunia ini baik dalam hal ketinggian ilmu silat maupun dalam hal kecerdasan. Tak terduga, aku bisa masuk perangkapnya Tonghong Put-pay dan hampir-hampir terkubur selamanya di dasar danau. Tokoh selihai Tonghong Put-pay masakah tidak pantas dikagumi?"
Bab 96. Yim Ngo-heng Menang dengan Akal Licik "Betul juga pembahasanmu,"
Ujar Hong-ting sambil mengangguk.
"Dan orang ketiga yang kukagumi adalah tokoh puncak dari Hoa-san-pay pada masa kini,"
Kata lagi Yim Ngo-heng.
Kembali semua orang merasa di luar dugaan.
Padahal tadi dia sengaja mengolok-olok Gak Put-kun, siapa tahu di dalam hati dia mengagumi ketua Hoa-san-pay itu.
Mendadak Gak-hujin buka suara.
"Kau tidak perlu pakai kata-kata demikian untuk menyindir orang."
"Haha, Gak-hujin, apakah kau mengira suamimu yang kumaksudkan?"
Yim Ngo-heng tertawa.
"Huh, dia ... dia masih selisih terlalu jauh. Yang kukagumi adalah Hong Jing-yang Hong-losiansing, ilmu pedangnya mahasakti dan jauh lebih mahir daripadaku. Maka aku mengagumi dia setulus hati tiada tara."
"Apakah Hong-losiansing masih hidup di dunia ini?"
Tanya Hong-ting sambil memandang Yim Ngo-heng, lalu berpaling pula ke arah Gak Put-kun dan istrinya.
"Hong-susiok sudah mengasingkan diri pada beberapa puluh tahun yang lalu, selama ini tiada pernah ada kabar beritanya,"
Kata Gak Put-kun.
"Adalah beruntung sekali bagi Hoa-san-pay kami bilamana beliau masih hidup."
"Hm, Hong-losiansing adalah orang Kiam-cong dan kau sendiri orang pihak Khi-cong, kedua sekte Hoa-san-pay kalian biasanya saling bermusuhan, keuntungan apa bagimu jika Hong-losiansing benar-benar masih hidup?"
Jengek Yim Ngo-heng. Wajah Gak Put-kun sebentar pucat sebentar merah karena olok-olok itu, hatinya menjadi kebat-kebit pula, pikirnya.
"Iblis ini meski terkenal jahat, tapi kabarnya sangat menilai tinggi dirinya dan tidak mau omong kosong. Jangan-jangan Hong Jing-yang memang benar masih hidup di dunia ini?"
Biasanya dia sangat sabar dan tenang menghadapi segala soal, tapi sekarang urusannya menyangkut kepentingan Hoa-san-pay sendiri, perasaannya yang bergolak menjadi sukar ditutupi.
Maka dengan tertawa Yim Ngo-heng berkata pula.
"Kau jangan khawatir. Hong-losiansing adalah tokoh dunia luar, masakah kau menyangka beliau mengincar kedudukan ciangbunmu ini?"
Dengan tegas Gak Put-kun berkata.
"Cayhe tidak punya kepandaian apa-apa, bila Hong-susiok sudi menggantikan diriku sungguh suatu hal yang menggirangkan. Apakah Yim-siansing dapat memberi tahu tempat kediaman Hong-susiok agar Cayhe dapat mengunjungi beliau. Untuk mana segenap orang Hoa-san-pay akan sangat berterima kasih padamu."
"Pertama aku tidak tahu di mana beradanya Hong-losiansing,"
Jawab Yim Ngo-heng sambil goyang kepala.
"Kedua, seumpama tahu juga takkan kukatakan padamu. Tusukan tombak dari depan mudah dielakkan, serangan senjata rahasia dari belakang sukar dijaga. Gampang sekali menghadapi pengecut tulen, tapi laki-laki palsu benar-benar membikin kepala pusing."
Gak Put-kun terdiam atas olok-olok itu.
Sebagai seorang kesatria yang ramah tamah sudah tentu ia tidak dapat bertengkar hanya urusan kata-kata saja.
Kemudian Yim Ngo-heng berpaling kepada ketua Bu-tong-pay, yaitu Tiong-hi Totiang, katanya.
"Orang keempat yang kukagumi adalah tosu tua kau ini. Thay-kek-kiam-hoat Bu-tong-pay kalian mempunyai keistimewaan tersendiri, kau imam tua ini bisa pula menjaga kepribadian sendiri dan tidak suka banyak ikut campur urusan Kangouw. Cuma kau tidak mahir mendidik murid, di antara anak murid Bu-tong-pay tiada sesuatu bibit muda yang menonjol, nanti kalau kau tua bangka ini sudah pulang ke dunia nirwana, mungkin Thay-kek-kiam-hoat kalian akan ikut lenyap. Lagi pula meski kau punya ilmu pedang cukup tinggi, namun belum tentu mampu menangkan diriku. Maka dari itu aku hanya kagum padamu setengah saja, tidak satu penuh."
"Haha, bisa mendapat setengah kagum dari Yim-siansing sudah cukup menaikkan harga diriku, terima kasih ya,"
Seru Tiong-hi Tojin dengan tertawa.
"Tidak perlu sungkan,"
Sahut Yim Ngo-heng. Lalu ia berpaling kepada Co Leng-tan dan berkata pula.
"Co-tayciangbun, kau tidak perlu tertawa di muka, tapi marah di dalam perut. Meski kau tidak termasuk di dalam orang-orang yang kukagumi, tapi di antara tiga setengah orang yang tidak kusukai justru kau menduduki tempat pertama."
"Haha, aku benar-benar kaget tercampur girang,"
Sahut Co Leng-tan.
"Ilmu silatmu hebat, jalan pikiranmu juga mendalam, sangat cocok dengan seleraku,"
Kata Yim Ngo-heng.
"Kau bermaksud melebur Ngo-gak-kiam-pay menjadi satu aliran besar untuk mengimbangi Siau-lim dan Bu-tong-pay, cita-citamu setinggi langit, sungguh harus dipuji. Cuma kau suka main selundap-selundup dengan macam-macam tipu keji, hal ini bukan perbuatan seorang kesatria sejati dan tidak bisa dikagumi."
"Hm, di antara tiga setengah tokoh di zaman ini yang tidak kusukai, kau justru cuma masuk yang setengah saja,"
Jengek Co Leng-tan.
"Hah, bisanya meniru saja, sama sekali tidak punya pendirian sendiri, makanya kau tak bisa dikagumi, lebih-lebih tidak kusukai,"
Kata Yim-Ngo-heng sambil menggeleng.
"Kau sengaja mengobrol ke timur dan ke barat, apakah kau ingin mengulur waktu atau lagi menunggu bala bantuan?"
Jengek Co Leng-tan lagi.
"Apakah kau bermaksud mengerubut kami bertiga dengan jumlah kalian yang jauh lebih banyak?"
Ejek Yim Ngo-heng.
"Kau datang ke Siau-lim-si sini dan main membunuh sesukamu, lalu mau pergi secara aman, memangnya kau anggap kami ini patung semua?"
Kata Co Leng-tan.
"Pendeknya, apa kau akan menuduh kami main kerubut atau bilang kami tidak mengutamakan tata tertib bu-lim, yang pasti kau telah membunuh anak murid Ko-san-pay kami, sekarang aku Co Leng-tan berada di sini, betapa pun aku ingin minta petunjuk beberapa jurus padamu."
Tiba-tiba Yim Ngo-heng berkata kepada Hong-ting Taysu.
"Hongtiang Taysu, di sini ini Siau-lim-si atau cabang Ko-san-pay?"
"Ai, Sicu ini sudah tahu sengaja tanya, sudah tentu di sini adalah Siau-lim-si,"
Sahut Hong-ting.
"Jika demikian, urusan di sini diputuskan oleh ketua Siau-lim-pay atau ketua Ko-san-pay?"
Tanya Yim Ngo-heng.
"Meski Lolap yang menjadi tuan rumah, tapi kalau para kawan ada saran-saran juga akan kuterima,"
Kata Hong-ting.
"Hahaha, memang benar ada saran yang bagus,"
Seru Yim Ngo-heng sambil terbahak.
"Sudah tahu kalau bertempur satu lawan satu pasti akan kalah, maka sekarang ingin main kerubut. Eh, orang she Co, hari ini kalau kau mampu merintangi kepergianku, tidak perlu turun tangan segera aku akan menggorok leher sendiri di depanmu."
"Sekarang kami bersepuluh orang di sini, untuk merintangi kau mungkin tidak sanggup, tapi untuk membunuh anak perempuanmu kukira tidaklah sukar,"
Sahut Co Leng-tan.
"Omitohud! Janganlah main bunuh-membunuh!"
Sela Hong-ting.
Hati Lenghou Tiong juga ikut berdebar.
Ia tahu apa yang dikatakan Co Leng-tan itu memang bukan gertakan belaka.
Di antara kesepuluh orang yang dikatakan itu kalau bukan ketua sesuatu aliran persilatan ternama tentulah jago kelas wahid.
Betapa pun tinggi ilmu silat Yim Ngo-heng paling-paling hanya bisa menyelamatkan diri sendiri saja.
Dapatkah Hiang Bun-thian menyelamatkan diri sudah sukar dikatakan, apalagi Ing-ing, terang tiada harapan.
Tapi Yim Ngo-heng ternyata tidak kurang akal, jawabnya kontan.
"Pikiran Co-tayciangbun memang cerdik. Tapi Co-tayciangbun sendiri punya anak laki-laki, Gak-siansing punya seorang anak perempuan. Ih-koancu seperti punya beberapa gundik kesayangan. Thian-bun Totiang tidak punya anak, tapi banyak murid yang dicintainya. Bok-taysiansing masih punya ayah-bunda di rumah. Kian-kun-it-kiam Cin San-cu dari Kun-lun-pay punya seorang cucu tunggal. Ada pula Kay-taypangcu dari Kay-pang ini, eh, Hiang-cosu, adakah orang kesayangan Kay-pangcu di rumahnya?"
"Kudengar Jing-lian Sucia dan Pek-lian Sucia yang terkenal dari Kay-pang itu sebenarnya adalah anak haram Kay-pangcu,"
Sahut Hiang Bun-thian.
"Apakah kau tidak keliru, janganlah kita salah membunuh orang baik-baik,"
Ujar Yim Ngo-heng.
"Tidak bisa salah, hamba sudah menyelidikinya dengan jelas,"
Sahut Hiang Bun-thian.
"Ya, apa mau dikata, andaikan salah membunuh juga tak bisa dihindarkan,"
Kata Yim Ngo-heng.
"Terpaksa kita bunuh saja beberapa puluh orang Kay-pang, paling tidak dua orang di antaranya adalah sasaran yang tepat."
"Pendapat Kaucu memang benar,"
Ujar Hiang Bun-thian.
Setiap kali Yim Ngo-heng menyebut sanak keluarga masing-masing, baik Co Leng-tan maupun yang lain-lain sama merasa ngeri.
Mereka tahu setiap kata gembong Mo-kau itu bukan bualan belaka, selamanya dia berani berkata dan berani berbuat.
Jika benar-benar anak perempuannya dibunuh, maka dia pasti akan membalas dengan cara yang lebih keji terhadap sanak keluarga mereka.
Kalau dipikir sungguh mendirikan bulu roma orang.
Maka seketika suasana ruangan menjadi sunyi, wajah semua orang berubah pucat.
Selang sejenak barulah Hong-ting berkata.
"Balas-membalas tentu tiada akhirnya. Yim-sicu, kami takkan mengganggu Yim-siocia, cuma kalian bertiga diminta tinggal di sini selama sepuluh tahun saja."
"Tidak bisa, nafsu membunuhku sudah tergerak, sekali mulai ingin kubunuh keempat gundik cantik kesayangan Ih-koancu itu,"
Kata Yim Ngo-heng.
"Begitu pula anak perempuan Gak-siansing tidak boleh dibiarkan hidup di dunia ini."
Keruan Lenghou Tiong terperanjat di tempat sembunyinya, ia tidak tahu ucapan Yim Ngo-heng itu hanya untuk menakut-nakuti saja atau benar-benar akan mengadakan penyembelihan secara besar-besaran.
"Eh, Yim-siansing, bagaimana kalau kita mengadakan taruhan?"
Tiba-tiba Tiong-hi Tojin berkata.
"Tidak, dalam hal taruhan aku lagi sial, tidak punya angin. Tapi membunuh orang aku yakin akan berhasil,"
Kata Ngo-heng.
"Membunuh jago-jago kelas tinggi mungkin juga gagal, tapi membunuh anak istri atau ayah ibu tokoh bersangkutan aku cukup yakin akan terlaksana."
"Membunuh orang-orang yang tidak tahu ilmu silat bukan perbuatan seorang gagah,"
Kata Tiong-hi.
"Biarpun tidak gagah, sedikitnya akan membikin lawanku yang menyesal selama hidup dan aku sendirilah yang senang,"
Kata Ngo-heng.
"Kau pun akan kehilangan anak perempuan, apanya yang menyenangkan?"
Ujar Tiong-hi Tojin.
"Kehilangan anak perempuan berarti takkan punya menantu pula. Dan menantumu tentunya akan dipungut menantu oleh orang lain, untuk mana rasanya kau pun tidak mendapat pamor apa-apa."
"Ya, apa boleh buat,"
Kata Yim Ngo-heng.
"Terpaksa aku pun membunuh mereka seluruhnya. Habis siapa suruh bakal menantuku itu tidak setia kepada anak perempuanku?"
"Begini saja, kami takkan main kerubut dan kau pun jangan sembarangan membunuh,"
Kata Tiong-hi.
"Kita boleh bertanding secara adil. Kalian bertiga boleh bertanding tiga babak dengan tiga orang di antara kami. Dua-satu adalah pihak yang menang."
"Benar, usul Tiong-hi Totiang memang lain daripada yang lain,"
Cepat Hong-ting menyetujui.
"Kita boleh bertanding secara bersahabat, tidak perlu sampai binasa."
"Jika kami bertiga kalah, maka diharuskan tinggal sepuluh tahun lamanya di sini, bukan?"
Tanya Yim Ngo-heng.
"Benar,"
Jawab Tiong-hi Tojin.
"Bila kalian bertiga menangkan dua dari tiga babak, dengan sendirinya kami mengaku kalah dan kalian bebas buat pergi. Kematian kedelapan murid kami ini pun anggap saja sia-sia."
"Aku memang setengah kagum padamu, maka aku pun merasa kata-katamu ada setengahnya masuk di akal,"
Kata Ngo-heng.
"Siapa di antara kalian yang akan maju tiga orang? Bolehkah aku yang memilih?"
"Hong-ting Taysu adalah tuan rumah, sudah pasti dia akan turun kalangan,"
Sela Co Leng-tan.
"Kepandaianku sudah terlena belasan tahun, maka sekarang aku pun ingin coba-coba tenagaku. Mengenai babak ketiga, karena usul ini dikemukakan oleh Tiong-hi Totiang, kan aneh jika dia hanya berpeluk tangan menonton saja, mau tak mau dia harus perlihatkan, juga kelihaian Thay-kek-kiam-hoatnya."
Di antara sepuluh orang di pihak mereka itu memang Co Leng-tan sendiri dan Hong-ting Taysu serta Tiong-hi Tojin merupakan tiga jago paling tinggi, sekaligus dia menonjolkan mereka bertiga boleh dikata pasti akan menang.
Yang jelas Ing-ing yang kepandaiannya masih terbatas itu pasti akan kalah menghadapi salah satu di antara mereka.
Sedangkan Hong-ting, Tiong-hi, dan Co Leng-tan adalah tiga tokoh puncak tertinggi di pihak cing-pay, kepandaian mereka masing-masing rasanya tidak di bawah Yim Ngo-heng, dibandingkan Hiang Bun-thian mungkin lebih tinggi sedikit, jadi untuk menangkan dua dari tiga babak terang 80% sudah dipegang mereka.
Bahkan tiga babak dimenangkan seluruhnya juga ada harapan.
Yang dikhawatirkan pihak cing-pay hanyalah kalau Yim Ngo-heng sampai lolos, maka bukan mustahil segala tipu muslihat keji akan dipakai olehnya untuk mencelakai sanak keluarga mereka.
Ternyata Yim Ngo-heng tak bisa menerima usul Tiong-hi tadi, ia menggeleng dan berkata.
"Pertandingan tiga babak kurasa tidak baik, marilah kita hanya bertanding satu babak saja. Kalian boleh pilih seorang jago, pihak kami juga tampilkan satu orang, dengan demikian urusan menjadi sederhana."
"Yim-heng, hari ini kalian bertiga sudah terpencil di tengah kami, jangankan kami bersepuluh ini sudah tiga kali lebih kuat daripada pihakmu, asalkan Hongtiang Taysu mengeluarkan perintah, melulu jago Siau-lim-si saja seketika akan muncul beberapa puluh orang, belum lagi jago-jago pilihan dari golongan lain."
"Makanya kalian ingin menang dengan mengerubut bukan?"
Jengek Yim Ngo-heng.
"Memang,"
Sahut Co Leng-tan.
"Huh, tidak tahu malu,"
Yim Ngo-heng mengolok-olok lagi.
"Membunuh orang tanpa alasan itulah perbuatan yang tidak tahu malu,"
Balas Co Leng-tan.
"Apakah membunuh orang harus pakai alasan? Coba jawab Co-tayciangbun, alasan apa yang kau pakai untuk membunuh orang-orang yang telah menjadi korban keganasanmu selama ini?"
"Kenapa Yim-heng melantur tak keruan, apakah kau sengaja mengulur waktu dan tidak berani bertempur?"
Jengek Co Leng-tan.
Mendadak Yim Ngo-heng bersuit panjang, suaranya menggetar dinding, api beberapa lilin besar yang menerangi ruangan itu sampai guram, setelah suara suitannya reda barulah cahaya lilin menyala kembali.
Hati semua orang pun berdebar-debar terpengaruh oleh suaranya itu, air muka mereka sama berubah.
"Baiklah,"
Kata Yim Ngo-heng kemudian.
"marilah kita mulai bertanding, orang she Co."
"Seorang laki-laki sejati sekali bicara harus pegang janji,"
Sahut Co Leng-tan.
"Jika dua di antara kalian bertiga kalah, maka kalian harus tinggal sepuluh tahun di Siau-sit-san sini."
"Baik,"
Sahut Yim Ngo-heng.
"Marilah kita mulai, aku lawan kau, nanti Hiang-cosu melawan si cebol she Ih, anak perempuanku mencari lawan perempuan pula, bolehlah dia melayani Gak-hujin, Ling-lihiap."
"Tidak bisa,"
Sahut Co Leng-tan.
"Siapa-siapa di pihak kami yang harus maju adalah kami sendiri yang pilih, mana boleh kau main tunjuk sesukanya."
"Jago masing-masing harus dipilih pihak sendiri, pihak lain tidak boleh pilih?"
Tanya Yim Ngo-heng.
"Ya,"
Jawab Leng-tan.
"Pihak kami yang akan maju adalah kedua ketua Siau-lim dan Bu-tong ditambah lagi Cayhe."
"Dengan kedudukan dan namamu masakah dapat disejajarkan dengan ketua-ketua Siau-lim-pay dan Bu-tong-pay?"
Kembali Yim Ngo-heng mengolok-olok. Muka Co Leng-tan menjadi merah, kata-kata Yim Ngo-heng ini memang tepat mengenai boroknya. Terpaksa ia menjawab.
"Sudah tentu Cayhe tidak berani disejajarkan dengan ketua-ketua Siau-lim dan Bu-tong, tapi untuk melayani kau rasanya masih sanggup."
"Hahaha! Bila aku minta belajar kenal dengan ilmu pukulan Siau-lim-pay kalian boleh tidak, Hong-ting Taysu?"
Kata Yim Ngo-heng terhadap Hong-ting.
"Omitohud! Sudah lama Lolap tidak latihan, terang bukan tandingan Yim-sicu,"
Sahut Hong-ting.
"Cuma Lolap berharap dapat menahan Yim-sicu di sini, terpaksa beberapa kerat tulangku yang sudah lapuk ini kusiapkan buat menerima pukulanmu."
Meski Co Leng-tan menantang Yim Ngo-heng, tapi sesungguhnya ia tidak yakin akan dapat menang, ia cukup kenal "Gip-sing-tay-hoat"
Musuh yang lihai, meski sekarang dia sudah meyakinkan ilmu yang khusus dipakai melawan ilmu musuh itu, kalau tidak terpaksa ia pun tidak berani sembarangan mencobanya.
Sekarang Yim Ngo-heng mengalihkan tantangannya kepada Hong-ting Taysu, sikap ini terang sengaja memandang hina padanya, namun di dalam hati Co Leng-tan berbalik senang.
Pikirnya.
"Memangnya aku khawatir jika kau terima tantanganku, lalu kau ajukan Hiang Bun-thian untuk menghadapi Tiong-hi Totiang, sedangkan anak perempuanmu kau suruh menempur Hong-ting Taysu. Dalam keadaan demikian bila Tiong-hi Totiang mengalami apa-apa, lalu aku tak bisa menangkan kau pula, tentu urusan bisa menjadi runyam."
Hendaklah maklum bahwa tokoh-tokoh puncak seperti Hong-ting Taysu dan Tiong-hi Tojin hanya diketahui sangat hebat kepandaian masing-masing, tapi selama ini kebanyakan orang belum pernah menyaksikan sendiri sampai di mana lihainya mereka.
Sebaliknya dahulu Hiang Bun-thian sudah pernah melabrak orang cing-pay serta anak buah Mo-kau, banyak jago-jago Ko-san-pay, Kun-lun-pay, dan lain-lain menjadi korban keganasannya waktu itu, yang berhasil lari kembali sama melaporkan peristiwa itu kepada perguruan masing-masing dengan gambaran yang menakutkan, maka Co Leng-tan rada kenal kelihaian Hiang Bun-thian.
Bilamana Yim Ngo-heng menggunakan tipu "prajurit diadu dengan jenderal" , dia sengaja suruh putrinya melawan Hong-ting Taysu dan menyerah kalah, kemudian kalau Tiong-hi Tojin yang sudah tua itu juga dikalahkan Hiang Bun-thian yang lebih muda dan tangkas, maka pertarungan antara Co Leng-tan sendiri melawan Yim Ngo-heng menjadi sukar dipastikan.
Sebab itulah Co Leng-tan merasa kebetulan ketika Hong-ting Taysu ditantang oleh Yim Ngo-heng, tanpa bicara lagi ia lantas melangkah ke pinggir.
"Silakan Hongtiang,"
Kata Yim Ngo-heng kemudian sambil soja sebagai tanda pembukaan.
"Yim-sicu silakan buka serangan lebih dulu,"
Sahut Hong-ting sambil rangkap tangan membalas hormat.
"Yang Cayhe mainkan adalah kepandaian ajaran murni Tiau-yang-sin-kau, sebaliknya yang akan Taysu mainkan adalah ilmu silat murni Siau-lim-pay. Babak pertandingan kita ini menjadi murni melawan murni,"
Kata Yim Ngo-heng.
"Huh, ajaran murni apa? Tidak tahu malu!"
Mendadak Ih Jong-hay mengejek.
"Hongtiang Taysu, harap kau tunggu dulu, akan kubunuh dulu si cebol itu, kita bertempur sebentar lagi,"
Kata Yim Ngo-heng kepada Hong-ting.
"Jangan! Terimalah pukulanku ini, Yim-sicu!"
Cepat Hong-ting berseru sambil melancarkan serangan pertama.
Ia tahu watak Yim Ngo-heng yang berani berkata dan berani berbuat, bukan mustahil secepat kilat Ih Jong-hay akan terus dibunuh olehnya.
Maka segera ia mendahului membuka serangan.
Pukulan Hong-ting tampaknya sangat enteng dan biasa, tapi sampai di tengah jalan mendadak pukulannya bergerak-gerak, satu tapak tangan berubah menjadi dua bayangan tangan, dua berubah menjadi empat dan berubah lagi menjadi delapan.
"Jian-jiu-ji-lay-ciang!"
Teriak Yim Ngo-heng mengenali ilmu pukulan "Buddha Seribu Tangan"
Itu.
Ia tahu bila terlambat sekejap saja delapan tangan musuh akan terus berubah menjadi 16 tangan, lalu 32 tangan dan 64 tangan, dan begitu seterusnya.
Maka cepat ia pun balas memukul ke bahu kanan Hong-ting.
Segera Hong-ting menarik kembali pukulannya, tangan lain bergantian menyerang dengan cara yang sama, bergoyang-goyang, satu berubah dua, dua berubah empat, dan seterusnya.
Tapi Yim Ngo-heng lantas melompat ke atas, berturut-turut ia pun balas pukul dua kali.
Dari atas Lenghou Tiong mengikuti pertarungan itu, dilihatnya pukulan Hong-ting sukar diduga perubahannya setiap kali, belum lanjut pukulannya segera berubah beberapa kali.
Sungguh ilmu pukulan mahaaneh yang belum pernah dilihatnya.
Sebaliknya ilmu pukulan Yim Ngo-heng sangat sederhana, tangannya hanya menjulur dan ditarik kembali secara biasa, tampaknya rada kaku.
Tapi biarpun Hong-ting Taysu melancarkan pukulan-pukulan yang sukar dijajaki itu, namun setiap kali Yim Ngo-heng menyambut serangannya itu, tentu Hong-ting cepat ganti serangan lain.
Tampaknya kedua orang sama kuat dan sama lihainya.
Dalam hal ilmu pukulan dan sebagainya Lenghou Tiong tidak begitu mahir, maka ia menjadi bingung menyaksikan ilmu pukulan kedua tokoh puncak dari dunia persilatan sekarang ini.
Yang dia perhatikan hanyalah kalah menang kedua orang itu, maka ia terus mengikutinya dengan asyiknya.
Selang sebentar, tertampak Yim Ngo-heng menyodokkan kedua tangannya ke depan secara mendadak.
Kontan Hong-ting Taysu terdesak mundur dua-tiga tindak berturut-turut.
Lenghou Tiong terkesiap, hatinya menjerit.
"Wah, celaka, tampaknya Hong-ting Taysu bisa kalah."
Tapi segera kelihatan padri tua itu memukulkan kedua tangannya ke kanan dan ke kiri, ke atas dan ke bawah, menyusul Yim Ngo-heng berbalik mundur selangkah dan mundur lagi.
Dalam hati Lenghou Tiong merasa bersyukur dan menghela napas lega.
Tiba-tiba ia berpikir.
"Aneh, kenapa aku menjadi khawatir ketika melihat Hong-ting Taysu mau kalah, sebaliknya merasa senang setelah dia bisa merebut kembali posisinya. Ya, betapa pun Hong-ting Taysu adalah padri saleh, sedangkan Yim-kaucu adalah gembong Mo-kau, hati nuraniku tetap bisa membedakan antara yang baik dan yang buruk."
Tapi lantas terpikir lagi.
"Namun bila Yim-kaucu kalah, Ing-ing tentu akan terkurung lagi selama sepuluh tahun di Siau-sit-san sini, hal ini pun bukan keinginanku."
Seketika ia menjadi bingung.
Hanya dalam hati kecilnya terasa serbasusah.
Karena tidak paham intisari ilmu pukulan Hong-ting Taysu dan Yim Ngo-heng yang luar biasa itu, perlahan-lahan ia alihkan pandangannya ke arah lain.
Dilihatnya Ing-ing berdiri bersandar di sebuah tiang, tampaknya lemah gemulai, alisnya yang lentik rada terkerut seperti sedang sedih mengenai sesuatu urusan.
Serentak rasa kasihan Lenghou Tiong berkobar, ia pikir gadis selemah itu mana boleh terkurung lagi sepuluh tahun di sini, dia mana sanggup menerima penderitaan demikian?
Padahal dia pernah berusaha menolong aku tanpa menghiraukan jiwanya sendiri.
Watak Lenghou Tiong memang penuh perasaan, teringat akan pengorbanan si nona untuk dirinya itu, jangankan Ing-ing hanya putri seorang kaucu dari Mo-kau, sekalipun dia adalah perempuan jahat yang terkutuk juga dirinya tak bisa mengingkari budi kebaikannya.
Dalam pada itu pandangan belasan orang di tengah ruangan itu sama terpusatkan ke tengah kalangan pertempuran yang hebat itu.
Co Leng-tan merasa bersyukur Yim Ngo-heng telah memilih lawan Hong-ting Taysu, kalau babak pertama dirinya yang dipilih rasanya sukar menghadapi ilmu pukulan aneh gembong Mo-kau itu.
Sebaliknya Hiang Bun-thian juga sedang berpikir.
"Ilmu silat Siau-lim-pay yang tersohor selama beratus-ratus tahun ternyata memang bukan omong kosong belaka. Bila aku harus menghadapi jago Siau-lim-pay, terpaksa aku harus mengadu tenaga dalam dengan dia, untuk bertanding ilmu pukulan terang aku tak bisa menang."
Di sebelah lain diam-diam Gak Put-kun, Thian-bun Tojin, dan lain-lain juga sama menilai ilmu pukulan kedua jago yang sedang bertempur itu dengan mengukur kepandaian sendiri-sendiri.
Sesudah sekian lamanya pertempuran sengit itu berlangsung, lambat laun Yim Ngo-heng merasa ilmu pukulan Hong-ting Taysu mulai kendur, diam-diam ia bergirang, pikirnya.
Segera ia pergencar serangannya, setelah beberapa kali memukul lagi, mendadak waktu menarik tangan kanan dirasakan nadi pergelangan rada kaku, tenaga dalam rada macet jalannya, sungguh kejutnya bukan buatan.
Ia tahu itulah gangguan pada tenaga dalamnya sendiri yang disebabkan oleh lwekang lawan.
Sungguh tak terduga olehnya bahwa Ih-kin-keng hwesio tua itu ternyata begini lihai, meski tenaga pukulan masing-masing tidak pernah beradu secara keras lawan keras, tapi tenaga dalam sendiri sudah terkekang olehnya.
Yim Ngo-heng sadar bilamana pertarungan diteruskan, bilamana tenaga dalam lawan mulai dikerahkan dengan hebat tentu dirinya akan kewalahan.
Saat itu pukulan kiri Hong-ting sudah tiba, tanpa pikir Yim Ngo-heng menggertak sambil memapak dengan sebelah tangan pula.
"plak" , kedua tangan beradu, kedua orang sama-sama mundur setindak. Terasa tenaga dalam hwesio tua itu sangat lunak, tapi luar biasa kuatnya. Meski Yim Ngo-heng sudah mengeluarkan "Gip-sing-tay-hoat"
Toh sedikit pun tak bisa menyedot tenaga lawan, keruan ia tambah kaget.
"Siancay, Siancay!"
Hong-ting menyebut Buddha, menyusul tangan kanan menghantam lagi.
Kembali Yim Ngo-heng memapak pukulan lawan.
Kedua tangan beradu lagi dan tubuh masing-masing sama tergeliat.
Yim Ngo-heng merasa darah seluruh badan seakan-akan tersirap.
Cepat ia melangkah mundur dua tindak, mendadak ia putar tubuh sambil mencengkeram dengan tangan kanan, tahu-tahu dada Ih Jong-hay kena terpegang, tangan kiri terus menabok ke batok kepala ketua Jing-sia-pay itu.
Serangan kilat yang amat aneh dan cepat luar biasa ini benar-benar di luar dugaan siapa pun juga.
Sudah jelas Yim Ngo-heng kewalahan menghadapi pukulan-pukulan Hong-ting Taysu tadi, siapa duga mendadak ia ganti sasaran dan menyerang Ih Jong-hay.
Jelek-jelek Ih Jong-hay sebenarnya juga seorang tokoh silat, kalau terang-terangan berhadapan dengan Yim Ngo-heng, sekalipun dia pasti kalah, tapi tidak mungkin hanya satu gebrak saja lantas keok, apalagi tertangkap mentah-mentah.
Begitulah di tengah jerit kaget orang banyak, mendadak Hong-ting Taysu melompat tiba pula, sebagai burung terbang saja ia menubruk sambil memukul belakang kepala Yim Ngo-heng dengan kekuatan dua tangan.
Ini adalah tipu "serang sini buat tolong sana"
Yang terkenal dalam ilmu silat, serangan lihai yang memaksa lawan harus menyelamatkan diri lebih dulu dan melepaskan tawanannya.
Melihat serangan Hong-ting Taysu yang dilancarkan secara kilat itu, semua orang tergerak hatinya dan amat kagum pada tindakannya yang cepat itu.
Mereka tidak sempat bersorak memuji, tapi mereka tahu jiwa Ih Jong-hay dapatlah diselamatkan.
Dan memang betul juga Yim Ngo-heng terpaksa harus urungkan tabokannya ke atas kepala Ih Jong-hay tadi, tapi tidak digunakan menangkis serangan Hong-ting, sebaliknya ia mencengkeram "tan-tiong-hiat"
Di dada Hong-ting, menyusul tangan kanan ikut bekerja pula, dengan tepat ulu hati hwesio tua itu kena tertutuk.
Tanpa ampun lagi tubuh Hong-ting Taysu menjadi lemas dan roboh terkulai.
Keruan semua orang terperanjat, beramai-ramai mereka lantas menerjang maju.
Segera Co Leng-tan mendahului menghantam ke punggung Yim Ngo-heng.
Tapi Yim Ngo-heng sempat menangkis.
Bentaknya.
"Bagus, anggaplah ini babak kedua."
Co Leng-tan melancarkan serangan kilat, kadang-kadang menjotos, lain saat pakai telapak tangan, tiba-tiba menutuk dengan jari, mendadak mencengkeram pula, dalam sekejap saja ia sudah menggunakan belasan macam gelak tipu yang lihai.
Karena serangan kilat lawan ini, seketika Yim Ngo-heng hanya bisa bertahan saja dan tak mampu balas menyerang.
Kiranya beberapa jurus serangannya yang terakhir sehingga dapat mengakali Hong-ting Taysu dan merobohkan padri itu, namun untuk mana terpaksa ia harus mengerahkan segenap tenaganya, kalau tidak masakah ketua Siau-lim-pay yang memiliki lwekang setinggi itu begitu gampang lantas kena dicengkeram "tan-tiong-hiat"
Di dada dan tertutuk roboh?
Serangan-serangan ini boleh dikata merupakan taruhan terakhir bagi Yim Ngo-heng.
Betapa tajam pandangan Co Leng-tan, apa yang dilakukan Yim Ngo-heng itu ternyata tidak terluput dari penglihatannya, ia pikir inilah kesempatan yang susah dicari, maka tanpa pedulikan nanti akan dituduh sebagai pengecut yang menyerang orang secara bergiliran, cepat ia menerjang Yim Ngo-heng.
Hendaklah maklum bahwa kemenangan Yim Ngo-heng atas Hong-ting Taysu itu semata-mata juga karena akal licik saja.
Ia sudah tahu benar bahwa lawannya berhati welas asih, maka ia memperhitungkan jika dirinya mendadak hendak membinasakan Ih Jong-hay, pertama orang-orang lain tidak keburu menolong ketua Jing-sia-pay itu karena jarak mereka agak jauh, kedua, mereka itu sama tidak menyukai pribadi Ih Jong-hay, tentu mereka tak mau ambil risiko buat menolong orang yang tidak disukai.
Dalam keadaan demikian ia yakin hanya Hong-ting Taysu-lah yang akan menolong Ih Jong-hay.
Yim Ngo-heng juga sudah memperhitungkan cara ketua Siau-lim-pay itu menolong Ih Jong-hay tentulah akan menyerang dia, tapi dia justru tidak menangkis serangan Hong-ting itu, tapi berbalik mencengkeram dan menutuk hiat-to penting hwesio tua itu.
Bab 97.
Pertarungan Tiga Babak Cara Yim Ngo-heng ini sesungguhnya teramat berbahaya.
Sebab kedua tangan Hong-ting yang menghantam belakang kepalanya itu tidak perlu kena dengan tepat, cukup angin pukulannya saja sudah bisa membikin otaknya menjadi kopyor.
Namun di waktu Yim Ngo-heng menangkap Ih Jong-hay secara mendadak memang sudah mempertaruhkan jiwanya sendiri sebagai taruhan terakhir, yang dia pertaruhkan adalah hati welas asih padri saleh itu, jika pukulannya yang bisa bikin kepalanya pecah itu ternyata tidak ditangkis tentu dia akan menarik kembali tenaga pukulannya secara mendadak.
Sebaliknya di kala itu tubuh Hong-ting tentu masih terapung di udara, pada saat menarik kembali tenaga pukulannya sebisa mungkin tentu bagian dada dan perut tak terjaga, maka sekali cengkeram dan sekali tusuk Yim Ngo-heng benar-benar berhasil merobohkan Hong-ting Taysu.
Namun demikian betapa dahsyatnya tenaga pukulan Hong-ting yang mendadak ditarik kembali itu toh masih kena menyambar batok kepala Yim Ngo-heng, seketika Yim Ngo-heng merasa kepalanya sakit seakan-akan pecah, napas terasa sesak dan mata berkunang-kunang pula....
Bahwa Yim Ngo-heng menang dengan cara licik telah dapat dilihat dengan jelas oleh orang-orang yang menyaksikan di luar gelanggang.
Cepat Tiong-hi Tojin membangunkan Hong-ting Taysu dan membuka hiat-to yang tertutuk, katanya dengan gegetun.
"Pikiran Hongtiang Suheng yang baik malah kena diakali oleh lawan secara licik."
"Omitohud!"
Ujar Hong-ting.
"Pikiran Yim-sicu memang cerdik, adu akal dan tidak adu tenaga, sungguh Lolap sangat kagum dan mengaku kalah."
"Yim-kaucu memakai akal licik, kemenangannya tidak gemilang, caranya bukan perbuatan seorang laki-laki sejati,"
Seru Gak Put-kun.
"Memangnya orang Tiau-yang-sin-kau kami ada laki-laki sejati?"
Sahut Hiang Bun-thian dengan tertawa.
"Jika Yim-kaucu adalah laki-laki sejati tentunya sedari dulu sudah berkomplot dengan kau, buat apa pakai bertanding lagi sekarang?"
Gak Put-kun menjadi bungkam oleh debatan Hiang Bun-thian.
Dalam pada itu Yim Ngo-heng sedang melancarkan pukulannya dengan perlahan sambil bersandar pada tiang kayu di belakangnya, ia dapat menangkis setiap serangan Co Leng-tan.
Sebagai kepala perserikatan Ngo-gak-kiam-pay, biasanya Co Leng-tan sangat angkuh.
Di waktu biasa tentu dia tidak mau menempur Yim Ngo-heng di kala lawannya itu baru saja bertempur melawan tokoh nomor satu dari Siau-lim-pay, sebab cara demikian tentu akan dianggap licik dan pengecut serta diejek orang.
Tapi tadi caranya Yim Ngo-heng merobohkan Hong-ting Taysu juga memakai cara licik dan membikin marah tokoh-tokoh yang menyaksikan.
Sekarang Co Leng-tan mendadak maju melabrak Yim Ngo-heng, hal ini malahan menimbulkan pujian orang karena setia kawannya.
Begitulah ketika Hiang Bun-thian melihat gerak-gerik Yim Ngo-heng rada lamban dan sukar mengganti napas di bawah berondongan serangan Co Leng-tan, cepat ia mendekati sang kaucu, katanya.
"Co-tayciangbun, kau tahu malu tidak, masakan melawan orang yang habis bertempur? Biarlah aku saja yang melayani kau!"
"Sesudah kurobohkan orang she Yim baru kutempur kau, masakan aku takut padamu bertempur secara bergiliran?"
Sahut Co Leng-tan. Berbareng sebelah tangannya menghantam pula ke arah Yim Ngo-heng. Sambil menangkis, hati Yim Ngo-heng menjadi panas juga oleh kata-kata Co Leng-tan itu. Katanya dengan nada dingin.
"Hm, hanya sedikit kepandaianmu ini saja bisa merobohkan Yim Ngo-heng? Kau minggir saja, Hiang-hiante!"
Hiang Bun-thian kenal watak sang kaucu yang tinggi hati dan suka menang, ia tidak berani membangkang, terpaksa berkata.
"Baiklah, biarlah aku menyingkir sementara. Tapi orang she Co ini terlalu pengecut dan tidak kenal malu, akan kutendang sekali pantatnya!"
Berbareng ia angkat sebelah kakinya buat menendang bokong Co Leng-tan.
"Apa kau akan main kerubut?"
Teriak Co Leng-tan dengan gusar sambil mengelak ke samping.
Tak terduga gerak kaki Hiang Bun-thian itu ternyata cuma pura-pura saja.
Melihat Co Leng-tan tertipu, Hiang Bun-thian terbahak-bahak geli dan menjawab.
"Hm, hanya anak haram yang sudi main kerubut!"
Lalu ia melompat mundur dan berdiri di sebelah Ing-ing.
Lantaran diledek oleh Hiang Bun-thian, serangan Co Leng-tan menjadi terhalang satu jurus.
Kesempatan ini segera digunakan oleh Yim Ngo-heng untuk menarik napas panjang-panjang, seketika semangatnya terbangkit kembali.
Kontan ia lantas balas menghantam tiga kali berturut-turut.
Sekuatnya Co Leng-tan mematahkan serangan Yim Ngo-heng itu, diam-diam ia terkesiap atas tenaga seteru lama yang jauh lebih hebat daripada dulu ini.
Pertarungan Co Leng-tan dan Yim Ngo-heng ini adalah ulangan dari pertandingan di masa dahulu.
Yang satu adalah tokoh terkemuka dari golongan cing-pay, yang lain adalah gembong Mo-kau yang tiada bandingannya.
Pertarungan di hadapan tokoh-tokoh tertinggi dunia persilatan sekarang ini benar-benar pertarungan yang menentukan.
Karena itu mereka sangat mementingkan soal kemenangan, sama sekali berbeda daripada pertandingan Yim Ngo-heng melawan Hong-ting Taysu tadi yang dilangsungkan dengan ramah tamah.
Sekarang keduanya sama-sama melancarkan serangan maut tanpa kenal ampun.
Makin lama semakin cepat pertarungan kedua orang itu, Lenghou Tiong sampai sukar membedakan siapa di antara mereka.
Ia coba melirik ke arah Ing-ing, muka si nona yang putih bersih itu tiada menunjukkan sesuatu perasaan cemas atau khawatir, seakan-akan dia sangat yakin atas kemenangan sang ayah.
Rada lega hati Lenghou Tiong melihat sikap tenang Ing-ing itu.
Ia coba memandang Hiang Bun-thian, tampak air mukanya sebentar lagi kelihatan dongkol dan kesal, seakan-akan jauh lebih gawat daripada dia sendiri yang bertempur.
"Pengalaman dan pengetahuan Hiang-toako dengan sendirinya jauh lebih luas daripada Ing-ing, melihat ketegangannya ini, mungkin sekali pertarungan Yim-siansing ini sukar mendapat kemenangan,"
Demikian pikir Lenghou Tiong.
Waktu pandangannya beralih lagi ke sebelah sana, tertampak sang guru berdiri sejajar dengan ibu-gurunya, di sebelahnya adalah Hong-ting Taysu dan Tiong-hi Tojin.
Di belakang mereka berdiri ketua Thay-san-pay Thian-bun Tojin dan ketua Heng-san-pay Bok-taysiansing.
Sejak datang tadi sama sekali Bok-taysiansing tidak membuka suara sehingga Lenghou Tiong tidak tahu bahwa tokoh utama Heng-san-pay itu pun berada di Siau-lim-si.
Di sebelah lain tampak ketua Jing-sia-pay Ih Jong-hay berdiri sendirian di pojokan dengan memegang gagang pedang dan tampak merasa gusar sekali.
Orang yang berdiri di sebelah lain lagi adalah seorang pengemis tua, tentunya ketua Kay-pang yang bernama Kay Hong.
Di sebelahnya ada pula seorang dengan perawakan yang gagah, tentunya dia adalah ketua Kun-lun-pay Cin-san-cu.
Ketua Kun-lun-pay ini berjuluk "Kian-kun-it-kiam"
Atau Si Pedang Tunggal, tapi di punggungnya memanggul dua batang pedang.
Diam-diam Lenghou Tiong juga merasa tidak sopan dengan sembunyi di situ mendengarkan pembicaraan tokoh-tokoh terhormat itu.
Kalau sampai ketahuan sungguh dirinya akan malu besar.
Maka dia mengharap selekasnya Yim Ngo-heng akan menang satu babak lagi, dengan demikian dapatlah mereka bertiga pergi dengan bebas.
Dan nanti kalau Hong-ting Taysu dan lain-lain sudah mengundurkan diri dari ruangan belakang itu segera dia akan lekas menyusul dan menemui Ing-ing.
Terpikir akan bicara berhadapan dengan Ing-ing, seketika dadanya terasa hangat.
Pikirnya.
"Apakah benar-benar seterusnya aku akan menjadi suami istri dengan Ing-ing? Bahwa dia sangat setia dan cinta padaku sudah tidak perlu disangsikan lagi. Akan tetapi aku... aku...."
Lapat-lapat ia merasa selama ini bilamana dia teringat kepada Ing-ing, maka yang terpikir adalah ingin membalas kebaikannya, akan membantunya lolos dari kurungan Siau-lim-pay, akan menyiarkan di dunia Kangouw bahwa dirinya yang jatuh hati kepada si nona dan bukan sebaliknya agar orang-orang Kangouw tidak mencemoohkan Ing-ing dan membuatnya malu.
Anehnya setiap bayangan Ing-ing yang cantik itu timbul dalam benaknya, hatinya tidak merasakan kebahagiaan dan kemesraan, hal ini sama sekali berbeda bilamana dia terkenang kepada siausumoaynya, yaitu Gak Leng-sian, yang sangat dicintainya itu.
Terhadap Ing-ing pada lubuk hatinya yang dalam seakan-akan ada rasa rada-rada takut.
Ketika dia bertemu dengan Ing-ing semula, senantiasa dia menyangkanya sebagai seorang nenek tua.
Maka yang timbul dalam hatinya adalah rasa hormat.
Kemudian dilihatnya cara si nona yang gapah tangan, membunuh orang dengan gampang, memerintah orang secara tegas, maka dari rasa hormatnya telah meresap pula tiga bagian rasa muak dan tiga bagian pula rasa takut.
Rasa muak itu perlahan-lahan menjadi tawar sesudah mengetahui si nona jatuh hati padanya.
Kemudian diketahui si nona mengorbankan diri dan terkurung di Siau-lim-si, maka timbul rasa terima kasih Lenghou Tiong yang tak terhingga.
Namun rasa terima kasih yang dalam itu tidak menimbulkan pikiran ingin berhubungan lebih akrab, yang diharapkan hanya membalas budi kebaikan si nona saja.
Maka ketika mendengar Yim Ngo-heng mengatakan dia adalah calon menantunya, entah mengapa perasaannya menjadi serbasusah, sedikit pun tidak membuatnya merasa senang.
Padahal bicara soal kecantikan sungguh Ing-ing jauh melebihi Gak Leng-sian, tapi semakin melihat kecantikan Ing-ing itu, semakin dirasakan jarak yang jauh di antara mereka berdua.
Hanya sekejap saja Lenghou Tiong memandang Ing-ing dan tidak berani memandangnya lagi, dilihatnya kedua tangan Hiang Bun-thian mengepal, kedua matanya melotot besar.
Ketika Lenghou Tiong memandang ke sana lagi, ternyata Co Leng-tan sudah terpojok, sebaliknya Yim Ngo-heng masih terus melancarkan pukulan demi pukulan dengan dahsyat.
Tampaknya Co Leng-tan sudah kewalahan, tangkisannya lemah, serangannya selalu gagal, jelas lebih banyak bertahan daripada menyerang.
Sekonyong-konyong terdengar Yim Ngo-heng membentak, kedua tangannya menyodok sekaligus ke dada lawan.
Lekas-lekas Co Leng-tan menyambut, empat tangan beradu.
"blang" , Co Leng-tan terdesak mundur dengan punggung menumbuk tembok sehingga debu pasir jatuh bertebaran dari atap. Lenghou Tiong merasa badannya ikut terguncang, pigura besar yang dibuat sembunyi olehnya seakan-akan rontok ke bawah. Ia terkejut dan berpikir.
"Sekali ini Co-supek tentu celaka. Mereka mengadu tenaga dalam, Yim-siansing menggunakan ‘Gip-sing-tay-hoat’ untuk menyedot tenaga Co-supek, lama-kelamaan tentu beliau akan kalah."
Tapi lantas dilihatnya Co Leng-tan menarik kembali tangan kanan, hanya dengan sebelah tangan saja ia menahan kekuatan musuh, menyusul menggunakan dua jari tangan kanan menusuk ke arah Yim Ngo-heng.
Mendadak Yim Ngo-heng menjerit aneh dan lekas-lekas menghindar dengan melompat mundur.
Segera Co Leng-tan menutuk lagi dengan jari tangan lain, berturut-turut ia menutuk tiga kali dan Yim Ngo-heng pun terdesak mundur tiga langkah.
Menyaksikan tiga kali serangan Co Leng-tan itu, Lenghou Tiong merasa heran.
"Beberapa jurus serangan Co-supek ini sungguh aneh, entah ilmu pukulan apa?"
Tiba-tiba terdengar Hiang Bun-thian berseru lantang.
"Bagus! Kiranya Pi-sia-kiam-boh telah jatuh di tangan Ko-san-pay."
Lenghou Tiong semakin heran.
"Aneh, apakah yang digunakan Co-supek adalah Pi-sia-kiam-hoat? Padahal dia toh tidak pakai pedang?"
Setelah ditunjukkan oleh Hiang Bun-thian, segera Lenghou Tiong dapat mengikuti gerak serangan Co Leng-tan itu memang benar adalah jurus-jurus serangan ilmu pedang.
Hanya saja caranya sama sekali berbeda daripada ilmu pedang umumnya, sebab tangan orang dapat bergerak sesukanya, bisa lempeng, bisa melengkung, karena itu serangannya mirip tusukan pedang, tapi mendadak bisa berubah menjadi pukulan dan sukar diraba.
Sebagai seorang ahli silat, begitu serangan lawan dilontarkan, segera Yim Ngo-heng sudah melihat letak keanehan ilmu silat lawan itu.
Cuma dalam keadaan terdesak seketika sukar baginya untuk menemukan cara mematahkannya.
Bilamana lawan terdiri dari dua orang yang memakai pedang dan yang seorang menyerang dengan tangan kosong akan lebih gampang dilayani, tapi sekarang tangan Co Leng-tan dimanfaatkan secara dwiguna, dipakai menusuk sebagai pedang, digunakan memukul dan menghantam sebagai tangan biasa menurut keinginannya.
Gabungan ilmu silat antara pedang dan pukulan seperti Co Leng-tan sekarang ini, sekalipun Hong-ting Taysu dan Tiong-hi Totiang yang merupakan tokoh top persilatan juga merasa terheran-heran karena selamanya tidak pernah menyaksikan hal demikian.
Mereka terkesiap, padahal Yim Ngo-heng terkenal dengan Gip-sing-tay-hoat yang mampu menyedot tenaga lawan, kenapa ketika empat tangan beradu tadi tampaknya Co Leng-tan tidak berkurang suatu apa pun.
Apa mungkin lwekang pihak Ko-san-pay sudah kebal dan tidak takut kepada Gip-sing-tay-hoat?
Demikian mereka tidak habis heran.
Jika para penonton terkesiap heran, sesungguhnya yang paling heran dan terkejut ialah Yim Ngo-heng.
Teringat olehnya ketika bertarung dengan Co Leng-tan pada belasan tahun yang lalu, sebelum dirinya sempat menggunakan Gip-sing-tay-hoat pihak lawan sudah terdesak di bawah angin.
Waktu itu ia sungkan menggunakan Gip-sing-tay-hoat sebab tanpa memakai ilmu itu pun musuh sudah kewalahan, pula pemakaian ilmu itu berarti sangat merugikan tenaga dalam sendiri yang terbuang, maka sedapat mungkin ia menghindari pemakaian Gip-sing-tay-hoat.
Tapi ketika ratusan jurus kemudian dan tampaknya Co Leng-tan segera bisa dirobohkan, mendadak jantung sendiri terasa sakit dan tenaga sukar dikerahkan.
Ia terkejut, ia tahu hal itu adalah akibat latihan Gip-sing-tay-hoat yang belum sempurna.
Jika di waktu biasa tentu dia bisa lekas duduk semadi dan perlahan-lahan memunahkan rasa sakit itu.
Tapi saat mana sedang menghadapi lawan tangguh, dari mana dia ada kesempatan merawat jantung yang sakit?
Selagi merasa cemas, tiba-tiba dilihatnya di belakang Co Leng-tan muncul dua orang, yang satu adalah sute Co Leng-tan sendiri, seorang lagi ialah ketua Thay-san-pay Thian-bun Tojin.
Dengan cerdik Yim Ngo-heng lantas melompat keluar kalangan dan berseru dengan tertawa.
"Haha, katanya kita satu lawan satu, tapi secara licik kau menyembunyikan pembantu. Hm, seorang laki-laki tidak sudi diakali, biarlah kita bertemu lagi lain kali, sekarang kakekmu tidak mau meladeni kau."
Sebaliknya Co Leng-tan juga sadar akan kepastian kekalahannya, sekarang pihak lawan mendadak mau menyudahi pertandingan, tentu saja hal ini sangat kebetulan.
Maka ia pun tidak berani mengejek dengan kata-kata yang bisa menimbulkan marah lawan dan memancing pertarungan lebih jauh, ia hanya menjawab.
"Salahmu sendiri, kenapa kau pun tidak membawa beberapa orang begundalmu?"
Yim Ngo-heng mendengus, lalu putar tubuh dan tinggal pergi.
Begitulah pertarungan di masa dahulu itu telah diakhiri tanpa ada yang kalah atau menang, tapi dalam batin masing-masing sudah cukup menginsafi kelemahan ilmu silatnya sendiri-sendiri.
Sejak itulah mereka sama-sama meyakinkan ilmu masing-masing dengan lebih tekun.
Lebih-lebih Yim Ngo-heng yang mengetahui penyakit Gip-sing-tay-hoat yang dilatihnya itu, dengan Gip-sing-tay-hoat dia dapat menyedot tenaga lawan, tapi tenaga lawan yang disedot itu berbeda-beda golongan dan tidak sama pula kekuatannya.
Campuran macam-macam tenaga itu kalau tidak segera dipunahkan pada saat yang tepat, akibatnya tentu akan timbul pada saat-saat yang tak terduga dan akan melawan tenaga dalam yang dimilikinya sendiri.
Dengan lwekang Yim Ngo-heng yang tinggi dengan gampang ia dapat mengatasi pengacauan tenaga dalam dari orang lain itu.
Tapi adalah sangat berbahaya bila tenaga liar itu mendadak mengacau pada saat dia sedang menghadapi lawan tangguh sebagaimana waktu dia bertempur melawan Co Leng-tan itu.
Sebabnya dia terjebak oleh Tonghong Put-pay dahulu, pokok utamanya juga lantaran dia terlalu asyik berlatih untuk menemukan sesuatu cara mengatasi pengacauan lwekang liar yang sering bergolak di dalam tubuhnya itu, pada saat memusatkan pikiran itulah, seorang tokoh mahacerdik sebagai dia sampai lengah terhadap perangkap yang diatur oleh Tonghong Put-pay.
Akibatnya dia harus mendekam selama sepuluh tahun di dasar Se-ouw.
Tapi di situ pula dia berhasil menemukan cara memunahkan lwekang liar yang bergolak di dalam tubuh itu sehingga Gip-sing-tay-hoat takkan menimbulkan penyakit "senjata makan tuan"
Lagi.
Sekarang dia ketemu lagi dengan Co Leng-tan, pihak lawan menggunakan tangan sebagai pedang dan melancarkan ilmu silat aneh, ketika dengar teriakan Hiang Bun-thian, ternyata gerak ilmu pedang yang dimainkan Co Leng-tan adalah Pi-sia-kiam-hoat yang sudah lama lenyap dari dunia persilatan, maka sadarlah Yim Ngo-heng sukar mematahkan ilmu silat lawan itu.
Segera ia mengeluarkan Gip-sing-tay-hoat dan mengadu pukulan dengan lawan, tak terduga begitu ia bekerja untuk menyedot tenaga lawan ternyata pihak lawan tidak punya kekuatan apa-apa, sedikit pun tak bertenaga.
Keruan kejutnya tak terkatakan, hal ini benar-benar tak pernah dijumpainya, bahkan tak pernah terpikir olehnya.
Setelah beberapa kali menggunakan Gip-sing-tay-hoat dan tetap tak bisa menyedot tenaga lawan, ia tidak berani menggunakan ilmu itu lagi, segera ia gunakan pukulan silat untuk menghujani pukulan-pukulan dahsyat kepada lawan.
Terpaksa Co Leng-tan ganti siasat dengan bertahan saja.
Setelah berlangsung beberapa puluh jurus lagi, ketika Yim Ngo-heng melancarkan suatu pukulan tapak tangan, cepat Co Leng-tan menangkis dengan tangan kiri, sedang tangan kanan bergaya sebagai pedang terus menusuk ke iga kiri lawan.
Melihat gerak tusukan lawan sangat ganas, Yim Ngo-heng menimbang-nimbang dalam hati, apa mungkin seranganmu ini tidak bertenaga pula?
Maka ia hanya sedikit miringkan tubuh, seperti menghindar, tapi sebenarnya sengaja memberi peluang agar tusukan lawan itu kena sasarannya.
Dengan demikian Yim Ngo-heng sengaja berikan peluang di bagian dadanya, tapi Gip-sing-tay-hoat sudah dikerahkan pada bagian itu dengan perhitungan.
"Bila tusukan jarimu ini tak bertenaga, kan percuma saja seranganmu ini, sebaliknya kalau mengerahkan tenaga, maka sekaligus tenagamu pasti akan kusedot habis."
Pertarungan di antara dua tokoh silat hanya ditentukan dalam gerak sekilas saja, sedikit dadanya memberi peluang.
"cret" , kontan tusukan tapak tangan Co Leng-tan sudah mencapai sasarannya, dua jarinya telah tepat menikam pada thian-ti-hiat di bagian dada Yim Ngo-heng itu. Para penonton sama berseru kaget. Terlihat jari Co Leng-tan rada merandek di atas dada Yim Ngo-heng yang tertutuk itu. Tanpa ayal Yim Ngo-heng telah mengerahkan Gip-sing-tay-hoat. Benar juga tenaga dalam Co Leng-tan lantas bocor, hanya sejenak saja tenaga dalam itu sudah membanjir bagai tanggul yang bobol terus tersedot oleh Yim Ngo-heng melalui thian-ti-hiat. Dalam keadaan demikian ternyata Co Leng-tan tidak menjadi kaget atau khawatir, sebaliknya ia girang di dalam hati, bahkan ia kerahkan tenaganya. Begitu pula Yim Ngo-heng merasa girang, ia menyedot semakin kuat, terasa tenaga dalam lawan makin membanjir, tapi mendadak badan Yim Ngo-heng tergeliat, dari pusarnya tiba-tiba suatu arus hawa dingin menerjang ke atas, seketika kaki dan tangan tak bisa berkutik, seluruh urat nadi serasa mogok dan tak bekerja lagi. Pada saat itulah perlahan-lahan Co Leng-tan menarik kembali tangannya dan selangkah demi selangkah menyingkir ke pinggir sambil menatap Yim Ngo-heng tanpa bicara. Waktu semua orang memandang Yim Ngo-heng, tertampak badannya rada gemetar, tangan dan kakinya kaku tak bergerak, keadaannya mirip orang yang tertutuk hiat-to tertentu.
"Ayah!"
Teriak Ing-ing sambil menubruk maju dan memegang badan sang ayah, terasa lengan ayahnya dingin luar biasa, cepat ia menoleh dan memanggil.
"Hiang-sioksiok!"
Segera Hiang Bun-thian memburu maju, ia urut-urut beberapa kali di bagian dada Yim Ngo-heng, habis itu barulah Yim Ngo-heng bisa bersuara dan lancar kembali pernapasannya.
"Hm, bagus, bagus!"
Kata Yim Ngo-heng dengan muka merah padam.
"Tak terpikir olehku akan langkahmu ini. Marilah kita ulangi lagi!"
Tapi Co Leng-tan tidak menjawab, dia hanya menggeleng perlahan saja.
"Kalah-menang sudah jelas, mau ulangi apa lagi?"
Ujar Gak Put-kun.
"Bukankah thian-ti-hiat Yim-siansing tadi sudah tertutuk oleh Co-ciangbun?"
"Cis!"
Jengek Yim Ngo-heng dengan gusar.
"Ya, memang benar. Aku sendiri yang tertipu, baiklah babak ini anggap aku yang kalah."
Kiranya tipu serangan Co Leng-tan tadi benar-benar sangat berbahaya dan dilakukan dengan untung-untungan.
Ia telah mengerahkan seluruh "Han-giok-cin-gi" (Hawa Murni Mahadingin) yang dilatihnya selama belasan tahun ini dan sengaja dibiarkan disedot oleh Yim Ngo-heng, bahkan sengaja lawan menguras seluruh tenaga mahadingin itu ke dalam hiat-to.
Memangnya lwekang kedua ini selisih tidak terlalu jauh, ketika mendadak tenaga sebanyak itu meresap ke dalam tubuh Yim Ngo-heng, pula tenaga itu mahadingin, maka dalam sekejap sekujur badan Yim Ngo-heng menjadi kaku terbeku.
Pada detik Gip-sing-tay-hoat lawan itu mogok itulah Co Leng-tan lantas kerahkan tenaga dalamnya lagi dan menutup hiat-to lawan.
Namun demikian lwekang Co Leng-tan sendiri juga sudah terkuras habis, untuk memulihkan kekuatannya sedikitnya juga perlu waktu dua-tiga bulan lagi.
Segera Hiang Bun-thian dapat melihat kelemahan Co Leng-tan itu, katanya.
"Tadi Co-ciangbun sudah menyatakan akan melayani aku bila mengalahkan Yim-kaucu. Sekarang silakan mulai saja."
Keadaan Co Leng-tan yang payah itu sudah tentu diketahui pula oleh Hong-ting Taysu, Tiong-hi Tojin, dan lain-lain, mereka tahu bila kedua orang benar-benar bertarung lagi, maka pasti Co Leng-tan akan kalah, bahkan cukup beberapa gebrakan saja Hiang Bun-thian dapat membinasakan Co Leng-tan.
Tapi tadi Co Leng-tan memang pernah mengatakan demikian, kan berarti dia pengecut bila tidak terima tantangan Hiang Bun-thian itu.
Selagi semua orang serbaingin-tahu, tiba-tiba Gak Put-kun menyela.
"Sejak mula kita sudah sepakat mengadakan tiga babak pertandingan, siapa jago-jago yang akan diajukan tergantung kepada pilihan pihak masing-masing dan tidak boleh main tunjuk oleh pihak lawan. Hal ini Yim-kaucu sendiri sudah setuju bukan? Bila Yim-kaucu benar seorang kesatria sejati, apakah mau mengingkari persetujuan ini?"
"Gak-siansing memang pintar bicara dan pandai berdebat, sungguh aku sangat kagum,"
Kata Hiang Bun-thian.
"Tapi kau masih terlalu jauh untuk bisa disebut sebagai ‘laki-laki sejati’. Caramu mendebat seperti pokrol bambu lebih mirip seorang pengecut yang tidak pegang janji."
"Laki-laki sejati atau pengecut kan tergantung kepada orangnya,"
Sahut Gak Put-kun.
"Di mata kaum laki-laki sejati tentunya berbeda cara penilaiannya daripada pandangan kaum pengecut."
Di sini mereka berdebat, tapi di sebelah sana Co Leng-tan bersandar pada tiang dalam keadaan lemah, untuk berdiri saja sukar, jangankan bertempur lagi.
Ketua Bu-tong-pay Tiong-hi Tojin lantas tampil ke muka, katanya.
"Sudah lama Hiang-cosu terkenal dengan julukan ‘Thian-ong-lo-cu’ (Datuk Maharaja), tentunya mempunyai kemahiran yang lain daripada yang lain. Sebelum aku mengasingkan diri pada waktu tidak lama lagi bisa lebih dulu menjadi lawan ‘Thian-ong-lo-cu’, sungguh hal ini merupakan kehormatan terbesar bagiku."
Sebagai ketua Bu-tong-pay yang termasyhur, dengan ucapannya terhadap Hiang Bun-thian ini benar-benar dia telah menunjukkan penghargaan yang tinggi terhadap lawannya itu.
Karena itu menjadi sukar bagi Hiang Bun-thian untuk menolak tantangan halus itu.
Katanya.
"Hormat lebih baik menurut. Sudah lama kukagumi ‘Thay-kek-kiam-hoat’ Bu-tong-pay, terpaksa aku harus mengiringi Tiong-hi Totiang untuk beberapa gebrak."
Habis berkata ia terus mengangkat kepalan sebagai tanda hormat sambil melangkah mundur beberapa tindak.
Tiong-hi Totiang membalas hormat.
Kedua orang berdiri berhadapan dan saling menatap dengan tajam, tapi kedua orang tidak lantas melolos senjata.
Tiba-tiba Yim Ngo-heng berseru.
"Nanti dulu! Silakan mundur dulu, Hiang-hiante!"
Habis itu ia lantas mengeluarkan pedangnya sendiri.
Keruan semua orang terperanjat melihat Yim Ngo-heng menghunus pedangnya.
Mereka sangsi apakah benar Yim Ngo-heng berani menempur Tiong-hi Tojin lagi, padahal dia sudah bertanding dua babak sebelumnya.
Co Leng-tan lebih-lebih terkejut, tadi thian-ti-hiat lawan telah dibanjiri hawa dingin yang dilatihnya selama belasan tahun, untuk itu sekalipun dewa sakti juga perlu waktu beberapa hari baru bisa memulihkan tenaganya.
Tapi mengapa hanya sebentar saja Yim Ngo-heng sudah kuat dan siap bertempur lagi?
Padahal saat itu di dalam perut Yim Ngo-heng terasa sakit seperti ditusuk-tusuk oleh berpuluh-puluh pisau, untuk bicara saja sangat dipaksakan jangankan lagi bertempur.
Tiong-hi Tojin berkata dengan tersenyum.
"Apakah Yim-kaucu bermaksud memberi petunjuk padaku? Cuma, kurasa terlalu tidak adil dan sangat menguntungkan aku jika Yim-kaucu lagi yang maju pada babak ketiga ini."
"Cayhe telah bertempur dua babak, jika bergebrak lagi dengan Totiang kan berarti terlalu memandang rendah kepada ilmu pedang Bu-tong-pay yang termasyhur, betapa pun takabur Cayhe juga tidak sedemikian rupa,"
Kata Yim Ngo-heng.
"Soalnya Tiong-hi Totiang adalah tenaga baru dari pihak kalian, maka di pihak kami juga perlu diajukan seorang tenaga baru. Nah, adik cilik Lenghou Tiong, silakan turun kemari!"
Kata-kata ini benar-benar membikin kaget semua orang dan serentak ikut memandang ke arah yang dituju oleh sinar mata Yim Ngo-heng.
Lenghou Tiong terkejut juga dan serbasusah seketika.
Ia pikir toh tidak bisa menyembunyikan diri lagi, terpaksa ia melompat ke bawah.
Lebih dulu ia menyembah kepada Hong-ting Taysu dan berkata.
"Secara sembrono aku telah menyusup ke kuil agung ini, mohon Taysu memberi maaf."
"Hahahaha, kiranya kau,"
Kata Hong-ting sambil tertawa.
"Kudengar pernapasanmu sangat perlahan dan merata, benar-benar ilmu pernapasan yang hebat, memangnya aku sedang heran tokoh kosen manakah yang telah berkunjung ke sini, tak tahunya adalah kau. Silakan bangun, jangan memakai peradatan setinggi ini."
"Kiranya dia sudah mengetahui aku bersembunyi di balik pigura itu,"
Pikir Lenghou Tiong.
"Lenghou Tiong,"
Tiba-tiba ketua Kay-pang, Kay Hong berseru.
"coba lihat tulisan apakah ini?"
Lenghou Tiong berbangkit dan memandang kepada tiang yang ditunjuk, ternyata di atas tiang kayu itu terukir tiga baris tulisan, baris pertama tertulis.
"Di balik pigura ada orang". Lalu baris kedua tertulis.
"Akan kuseret dia keluar". Baris ketiga tertulis.
"Nanti dulu. Lwekang orang ini seperti cing juga seperti sia, entah lawan atau lawan" . Setiap huruf itu melekuk cukup dalam dan tampaknya masih baru, terang diukir dengan tenaga jari oleh Hong-ting Taysu dan Kay Hong. Kagum dan kejut Lenghou Tiong, pikirnya.
"Dari pernapasanku yang perlahan saja Hong-ting Taysu sudah mampu membedakan asal usul ilmu lwekangku, sungguh seorang tokoh sakti."
Bab 98. Ketua Hoa-san-pay yang Tidak Tahu Malu Segera ia pun bicara lagi.
"Mohon para Cianpwe sudi memberi maaf bilamana aku tidak sejak tadi turun memberi hormat, sebab merasa berdosa."
"Kau merasa berdosa, hendak mencuri apakah kau datang ke Siau-lim-si sini?"
Tanya Kay Hong.
"Lantaran kudengar Yim-siocia ditahan di sini, maka maksudku hendak memapaknya pulang,"
Sahut Lenghou Tiong.
"Haha, kiranya kedatanganmu ini hendak mencuri bini,"
Kata Kay Hong dengan tertawa.
"Aku sudah utang budi kepada Yim-siocia, biarpun hancur lebur badanku juga rela baginya,"
Ujar Lenghou Tiong.
"Sayang, sungguh sayang,"
Kata Kay Hong dengan menghela napas.
"Seorang muda baik-baik dan punya hari depan gemilang ternyata menjadi korban wanita. Bila kau tidak terjerumus, kelak jabatan ketua Hoa-san-pay masakah bisa lari dari tanganmu?"
"Hm, hanya ketua Hoa-san-pay saja kenapa mesti diherankan?"
Tiba-tiba Yim Ngo-heng menyela.
"Kelak kalau aku sudah pulang ke dunia nirwana, jabatan ketua Tiau-yang-sin-kau kami ini masakah bisa lari dari tangan menantu kesayanganku ini?"
Lenghou Tiong terkejut katanya dengan suara gemetar.
"O, ti... tidak... ti...."
"Sudahlah, tidak perlu banyak bicara lagi,"
Kata Yim Ngo-heng dengan tertawa.
"Nah, Anak Tiong, boleh kau coba belajar kenal ilmu pedang sakti ketua Bu-tong-pay ini. Hendaklah kau hati-hati."
Dia menyebut Lenghou Tiong sebagai "Anak Tiong", tampaknya dia benar-benar sudah menganggapnya sebagai menantu.
Keruan Lenghou Tiong serbakikuk.
Lenghou Tiong coba menimbang suasana sekitarnya, masing-masing pihak sementara itu sudah menang satu babak, jadi babak ketiga inilah yang menentukan Ing-ing bisa diselamatkan atau tidak.
Ia sudah pernah bertanding pedang dengan Tiong-hi Totiang dan dapat mengalahkannya, maka untuk menolong Ing-ing mau tak mau dirinya harus maju.
Segera ia putar ke arah Tiong-hi Tojin dan menyembah beberapa kali padanya.
Tiong-hi terkejut dan cepat membangunkannya dan berkata.
"Kenapa Adik cilik memakai kehormatan setinggi ini?"
"Hatiku tidak tenteram karena harus minta pengajaran kepada Totiang yang sangat kuhormati,"
Sahut Lenghou Tiong.
"Ah, kau ini terlalu banyak adat,"
Ujar Tiong-hi sambil tertawa.
Waktu Lenghou Tiong berbangkit, Yim Ngo-heng lantas menyodorkan pedang kepadanya.
Lenghou Tiong menerima pedang itu, lalu siap berdiri di sudut kiri dengan ujung pedang mengarah ke bawah.
Tiong-hi Totiang memandangnya sekejap, lalu berpaling dan memandang jauh ke angkasa luar dan termenung-menung sambil menimbang-nimbang akan ilmu pedang Lenghou Tiong yang telah dikenalnya tempo hari.
Melihat Tiong-hi termenung-menung dan tidak siap bertanding, semua orang menjadi heran, tadi tiada seorang pun yang berani menegur.
Agak lama kemudian, tiba-tiba Tiong-hi menghela napas panjang, lalu berkata.
"Pertandingan babak ini tidak perlu dilangsungkan, kalian berempat boleh turun gunung saja."
Keruan semua orang terperanjat mendengar ucapannya ini.
"Apa artinya ucapanmu ini, Totiang?"
Tanya Kay Hong.
"Aku tidak menemukan cara mematahkan ilmu pedangnya, maka babak ini aku mengaku kalah saja,"
Sahut Tiong-hi.
"Tapi kalian kan belum bertanding?"
Ujar Kay Hong terheran-heran.
"Setengah bulan yang lalu di kaki Bu-tong-san sudah pernah kucoba lebih tiga ratus jurus dengannya, waktu itu aku kalah. Maka kalau bertanding lagi sekarang tetap aku tak bisa menang."
"Benarkah telah terjadi demikian?"
Tanya Hong-ting dan lain-lain.
"Ya, adik cilik Lenghou Tiong sudah mendapat ajaran ilmu pedang Hong Jing-yang, Hong-locianpwe, maka sekali-kali aku bukan tandingannya,"
Sahut Tiong-hi, lalu ia pun mengundurkan diri ke pinggir.
"Jiwa kesatria Tiong-hi Totiang sungguh membikin aku sangat kagum. Mestinya aku cuma kagum separuh saja kepadamu, tapi sekarang telah bertambah menjadi kagum tiga per empat,"
Kata Yim Ngo-heng. Lalu ia memberi hormat kepada Hong-ting dan menyambung.
"Hongtiang Taysu sampai berjumpa pula lain kali."
Lenghou Tiong mendekati Gak Put-kun dan istrinya, ia berlutut dan menyembah.
"Aku tak berani terima,"
Kata Gak Put-kun dengan sikap dingin. Sebaliknya Gak-hujin menjadi pilu, air matanya berlinang-linang.
"Marilah kita pergi,"
Kata Yim Ngo-heng sembari sebelah tangan menggandeng Ing-ing sebelah tangan lain menggandeng Lenghou Tiong.
Kay Hong, Thian-bun Tojin, dan lain-lain menyadari kepandaian mereka tidak lebih tinggi daripada Tiong-hi Tojin, kalau Tiong-hi saja mengaku bukan tandingan Lenghou Tiong, sudah tentu mereka tidak berani mencari penyakit walaupun merasa sangsi.
Saat itu Yim Ngo-heng sudah mau melangkah keluar, tiba-tiba Gak Put-kun membentak.
"Nanti dulu!"
"Ada apa?"
Tanpa Yim Ngo-heng sambil menoleh.
"Tiong-hi Totiang tidak sudi berurusan dengan manusia rendah, maka babak ketiga toh belum pernah terjadi,"
Kata Gak Put-kun.
"Nah, majulah Lenghou Tiong, biar aku yang melayani kau."
Sungguh kejut Lenghou Tiong tak terkatakan sehingga badannya gemetar, sahutnya dengan tergagap-gagap.
"Suhu, aku... aku...."
Namun sikap Gak Put-kun biasa saja, katanya.
"Katanya kau mendapat ajaran tokoh angkatan tua perguruan sendiri, Hong-susiok, ilmu pedangmu sudah mencapai intisari Hoa-san-pay yang tiada taranya, tampaknya aku bukan lagi tandinganmu. Meski kau sudah dipecat dari perguruan, tapi petualanganmu di dunia Kangouw masih tetap menggunakan ilmu pedang perguruan kita. Memangnya aku yang salah mengajar sehingga para sahabat dari cing-pay ikut kepala pusing bagi murid murtad seperti kau ini. Maka kalau sekarang aku tidak turun tangan, masakah mesti minta orang lain yang menanggung tugas berat ini? Pendek kata, bila hari ini aku tidak membinasakan kau, biar kau saja yang membunuh diriku."
Ucapan Gak Put-kun itu makin lama makin bengis, akhirnya ia terus lolos pedang dan membentak.
"Nah, kau dan aku sudah putus hubungan sebagai murid dan guru. Lekas keluarkan pedangmu!"
"Tecu tidak berani!"
Sahut Lenghou Tiong sambil mundur selangkah.
"Sret" , Gak Put-kun terus mendahului menusuk lurus ke depan, itulah jurus "Jong-siong-ging-khik" , itulah salah satu jurus Hoa-san-kiam-hoat yang lihai. Cepat Lenghou Tiong mengelak ke samping dan tetap tidak mengeluarkan pedangnya. Berturut-turut Gak Put-kun menusuk lagi dua kali dan tetap dihindarkan oleh Lenghou Tiong.
"Kau sudah mengalah tiga jurus padaku dan boleh dianggap sebagai menghormati aku sebagai bekas gurumu, sekarang lekas lolos pedangmu!"
Kata Put-kun. Yim Ngo-heng juga berseru.
"Tiong-ji, jika kau tidak balas menyerang, apakah jiwamu sengaja kau korbankan di sini?"
"Baik,"
Sahut Lenghou Tiong sambil melolos pedangnya.
Dengan senjata di tangan pikiran Lenghou Tiong menjadi lebih mantap.
Ia tahu kalau melulu mengandalkan ilmu pedangnya saja sekali-kali sang suhu tidak mampu membunuhnya, sebaliknya dirinya juga tidak nanti mengganggu seujung rambut pun gurunya itu.
Tapi pertandingan ini harus dimenangkan oleh sang suhu saja atau mesti mengalahkan dia?
Bila dirinya mengalah, maka akibatnya Yim Ngo-heng, Hiang Bun-thian, dan Ing-ing harus menderita terkurung sepuluh tahun di Siau-sit-san sini.
Sebaliknya kalau tidak mengalah akan berarti membikin malu gurunya itu di hadapan orang banyak, padahal budi kebaikan sang guru dan ibu-gurunya yang telah mendidik dan membesarkannya selama ini belum pernah dibalasnya.
Persoalan mahasulit ini benar-benar membuatnya bingung dan sukar memilih.
Dalam keadaan bimbang itulah ia sudah diserang beberapa jurus lagi oleh Gak Put-kun.
Tapi Lenghou Tiong hanya menangkis dengan ilmu pedang ajaran sang guru dahulu.
Maklumlah "Tokko-kiu-kiam"
Tidak boleh dibuat main-main, setiap jurusnya selalu mengincar tempat mematikan musuh, sebab itu ia tidak berani sembarangan menggunakan.
Sejak dia meyakinkan Tokko-kiu-kiam, pengetahuannya boleh dikata mencapai puncaknya, biarpun cuma Hoa-san-kiam-hoat yang dimainkan, namun tenaga yang timbul dari pedangnya sudah tentu lain daripada dahulu.
Meski berulang-ulang Gak Put-kun menyerang dengan segala kemahirannya masih tetap tak bisa menembus penjagaan Lenghou Tiong.
Para penonton itu tergolong jago kelas wahid semua, melihat cara bertempur Lenghou Tiong itu mereka lantas tahu anak muda itu sengaja mengalah dan tidak menempur Gak Put-kun dengan sesungguh hati.
Yim Ngo-heng saling pandang dengan Hiang Bun-thian dan sorot matanya memancarkan rasa khawatir.
Sebab mereka sama-sama teringat kepada kejadian di Bwe-cheng di tepi danau Hangciu tempo dulu.
Waktu itu Yim Ngo-heng mengajak Lenghou Tiong masuk Tiau-yang-sin-kau dan menjadikan kedudukan Kong-beng-yusu baginya, kedudukan itu berarti ahli waris kaucu di kemudian hari.
Juga disanggupi akan mengajarkan ilmu caranya memunahkan tenaga balik yang timbul dari Gip-sing-tay-hoat.
Namun semua janji itu ternyata tidak mengguncangkan iman anak muda itu, ini memperlihatkan betapa setianya kepada perguruannya sendiri.
Sekarang dilihatnya lagi betapa sikap menghormat anak muda itu kepada bekas gurunya, hakikatnya biar tertusuk mati oleh bekas sang guru itu pun takkan membuatnya menyesal, apalagi melancarkan serangan balasan, terang tiada harapan buat menang.
Sesungguhnya Yim Ngo-heng dan Hiang Bun-thian adalah tokoh-tokoh yang cerdik pandai, tapi melihat situasi yang berbahaya itu ternyata mati kutu juga dan tak berdaya.
Soalnya sekarang bukan kepandaian Lenghou Tiong lebih rendah daripada lawannya, lagi urusan itu menyangkut kekeluargaan.
Kalau berdasarkan watak Lenghou Tiong pasti dia tak mau mengalahkan sang guru, lebih-lebih tidak mau membikin malu sang guru di hadapan orang lain.
Begitu Yim Ngo-heng dan Hiang Bun-thian kembali saling pandang dengan bingung.
Sorot mata mereka hanya saling bertanya.
"Apa daya?"
Tiba-tiba Yim Ngo-heng berpaling dan membisiki Ing-ing.
"Coba kau berdiri di sebelah depan sana."
Ing-ing tahu maksud sang ayah yang mengkhawatirkan Lenghou Tiong lebih berat kepada budi perguruan dan sengaja mengalah kepada Gak Put-kun, dirinya disuruh berdiri di depan sana maksudnya agar Lenghou Tiong dapat melihatnya, sehingga teringat kepada kebaikannya, lalu bertempur dengan sungguh-sungguh dan mencapai kemenangan.
Maka Ing-ing hanya mengiakan perlahan, tapi tidak melangkah.
Sebentar kemudian Yim Ngo-heng melihat Lenghou Tiong terus main mundur dan tetap tidak mau balas menyerang, keruan ia tambah gelisah dan kembali membisiki Ing-ing.
"Lekas ke depan sana!"
Tapi Ing-ing tetap tidak melangkah ke sana, bahkan menjawab saja tidak. Menurut jalan pikiran si nona.
"Bagaimana perasaanku kepadamu (Lenghou Tiong) tentunya sudah kau (Lenghou Tiong) ketahui. Bila hatimu memberatkan diriku dan bertekad menyelamatkan aku, tentu kau akan mengalahkan lawanmu. Tapi kalau kau lebih berat pada pihak gurumu, sekalipun aku menarik-narik lengan bajumu dan memohon-mohon belas kasihanmu juga tak berguna. Maka buat apa aku mesti berdiri di depanmu sana untuk mengingatkan kau?"
Sifat Ing-ing juga angkuh, tinggi hati, ia merasa tak berharga sama sekali bila untuk menyelamatkan dirinya mesti meminta-minta dan mengingatkan kebaikannya kepada Lenghou Tiong.
Dalam pada itu Lenghou Tiong masih terus menangkis setiap serangan gurunya.
Kalau ia mau balas menyerang sejak tadi Gak Put-kun sudah pasti keok.
Sudah tentu Gak Put-kun juga tahu Lenghou Tiong sengaja tidak mau balas menyerang, maka ia pun tidak perlu pikir buat menjaga diri, sebaliknya terus melancarkan serangan-serangan maut.
Melihat serangan-serangan lihai Gak Put-kun itu tetap tak bisa mengenai sasarannya, sebaliknya Lenghou Tiong hanya menangkis dengan seenaknya saja, setiap serangan lawan selalu dipatahkan secara gampang, makin lama makin kagum semua orang terhadap anak muda itu.
Lama-lama Gak Put-kun menjadi kelabakan sendiri.
Mendadak ia sadar bila pertempuran yang bertele-tele itu diteruskan, nanti yang mendapat nama baik justru adalah bangsat cilik ini, sebab penonton-penonton yang merupakan tokoh-tokoh kelas wahid ini tentu sudah melihat bahwa bangsat cilik ini sengaja mengalah padaku, sebaliknya aku masih terus menyerang dengan ngotot, ketua Hoa-san-pay macam apakah ini?
Jelas bangsat cilik ini sengaja hendak membikin aku kewalahan sendiri dan terpaksa menyerah kalah.
Berpikir sampai di sini Gak Put-kun menjadi nekat.
Ia kumpulkan segenap tenaganya, Ci-he-sin-kang dikerahkan kepada pedangnya, sekuatnya ia terus menebas kepala Lenghou Tiong.
Cepat Lenghou Tiong mengegos ke samping sehingga tebasan Gak Put-kun itu meleset, tapi segera Gak Put-kun putar balik pedangnya terus menyabet ke pinggang lawan.
Sekali loncat dapatlah Lenghou Tiong melangkahi pedang yang menyambar tiba itu.
Mendadak Gak Put-kun putar lagi pedangnya, secepat kilat ia tusuk punggung Lenghou Tiong, perubahan serangan yang cepat luar biasa ini tampaknya sukar dielakkan oleh anak muda itu, apalagi dia masih terapung di atas.
Semua orang sampai menjerit khawatir.
Memang untuk menghindar atau menangkis pun tidak keburu lagi.
Tapi sekonyong-konyong Lenghou Tiong menjulurkan pedangnya ke depan sehingga menempel batang tiang di depannya sana, dengan tenaga loncatan ini dapatlah dia melayang ke belakang tiang sana.
"Cret" , tusukan Gak Put-kun menjadi mengenai tiang kayu itu sampai tembus. Ujung pedang hanya selisih beberapa senti saja dengan badan Lenghou Tiong. Kembali semua orang berteriak riuh. Teriakan ini bernada merasa syukur dan kagum terhadap Lenghou Tiong, kagum atas kepandaiannya dan bersyukur karena dia terhindar dari serangan maut itu. Bahkan Gak-hujin, Thian-bun Tojin, dan lain-lain juga punya perasaan demikian. Betapa dongkol dan gusarnya Gak Put-kun tak terkatakan, berturut-turut ia melancarkan "Tiga Jurus Ilmu Pedang Pencabut Nyawa"
Yang merupakan ilmu pedang sekte Kiam-cong Hoa-san-pay mereka, tapi Lenghou Tiong, sebaliknya para penonton malahan bersimpati pula kepada anak muda itu.
Dahulu setelah perang saudara antara Khi-cong (sekte lwekang) dan Kiam-cong (sekte pedang) dalam Hoa-san-pay mereka berakhir dengan pihak Kiam-cong ditumpas oleh pihak Khi-cong, kemudian Gak Put-kun dan tokoh-tokoh Hoa-san-pay yang lain sama menimbang kembali ilmu pedang sakti yang diyakinkan pihak Kiam-cong, di antaranya adalah "Tiga Jurus Pencabut Nyawa"
Itu. Maka Gak-hujin menjadi terkejut melihat sang suami mendadak mengeluarkan tiga jurus ilmu pedang maut itu. Pikirnya.
"Dia adalah murid pihak Khi-cong, mengapa mendadak menggunakan ilmu pedang pihak Kiam-cong? Kalau hal ini diketahui orang luar tentu akan dihina dan diejek. Ai, sebabnya dia menggunakan tiga jurus itu tentunya juga lantaran terpaksa. Padahal sudah jelas dia bukanlah tandingan Tiong-ji, buat apa mesti ngotot terus?"
Sebenarnya ada maksud Gak-hujin hendak maju memisah, tapi urusannya sekarang tidak sederhana, bukan melulu menyangkut kepentingan Hoa-san-pay sendiri, maka ia menjadi serbasusah dan sedih.
Ketika itu Gak Put-kun telah mencabut kembali pedangnya yang menancap tiang tadi.
Tapi Lenghou Tiong tetap berdiri di balik tiang dan tidak putar keluar.
Gak Put-kun berharap anak muda itu akan terus sembunyi di balik tiang dan tidak menempurnya lagi sebagai tanda takut padanya, dengan demikian kehormatannya dapat ditegakkan.
Begitulah kedua orang saling memandang berhadapan, dengan rendah hati Lenghou Tiong berkata.
"Suhu, Tecu bukan tandinganmu. Kita tak usah meneruskan pertandingan ini."
Gak Put-kun hanya mendengus dan tidak menjawab. Yim Ngo-heng juga lantas bicara.
"Pertarungan mereka berdua sukar ditentukan siapa yang menang dan kalah. Bahwasanya Lenghou Tiong sengaja mengalah kepada gurunya, setiap orang asalkan bukan orang buta tentu dapat melihatnya. Nah, Hongtiang Taysu, maukah pertandingan tiga babak ini kita anggap seri saja. Lohu bersedia minta maaf kepadamu, lalu kita menyudahi pertikaian ini dan kami akan angkat kaki."
Mendengar ucapan Yim Ngo-heng ini, diam-diam Gak-hujin merasa senang dan lega.
Padahal sudah jelas mereka berada di pihak pemenang, namun ucapan Yim-kaucu itu dapat dianggap mau mengalah, cara menyudahi pertarungan ini benar-benar paling baik.
Demikian pikir Gak-hujin.
"Omitohud!"
Kata Hong-ting Taysu.
"Usul Yim-kaucu yang bijaksana itu sudah tentu aku sependa...."
Belum selesai kata-kata "sependapat"
Diucapkan, tiba-tiba Co Leng-tan menyela.
"Lalu keempat orang ini apa mesti kita biarkan mereka pergi begitu saja? Dan selanjutnya Gak-suheng masih terhitung ketua Hoa-san-pay tidak?"
"Hal ini...."
Belum lanjut kata-kata Hong-ting, tiba-tiba "sret", Gak Put-kun memutar ke belakang tiang dan mulai menyerang pula.
Dengan gesit Lenghou Tiong mengegos.
Maka beberapa gebrakan saja kembali mereka sudah berada di tengah kalangan lagi.
Segera Gak Put-kun melancarkan serangan-serangan kilat, tapi selalu dapat dihindar atau ditangkis oleh Lenghou Tiong dengan mudah.
Pertarungan bertele-tele kembali berlangsung pula.
Diam-diam Yim Ngo-heng sangat mendongkol.
Pikirnya.
"Jika tua bangka she Gak ini tetap bermuka tebal dan terus ngotot secara demikian, maka jelas dia takkan kalah, sebaliknya kalau Tiong-ji sedikit meleng saja tentu akan celaka. Kalau pertempuran diteruskan tentu menguntungkan orang she Gak. Maka aku harus mengolok-oloknya dengan kata-kata menusuk, supaya dia tahu malu."
Segera ia berkata kepada Hiang Bun-thian.
"Eh, Hiang-hiante, kedatangan kita ke Siau-lim-si ini benar-benar banyak bertambah pengalaman."
"Benar,"
Jawab Hiang Bun-thian.
"Di sini telah berkumpul tokoh-tokoh bu-lim dari tingkat puncak...."
"Satu di antaranya benar-benar tokoh mahahebat,"
Sambung Yim Ngo-heng.
"Siapakah beliau?"
Tanya Hiang Bun-thian.
"Orang ini telah berhasil meyakinkan sejenis ilmu sakti yang luar biasa,"
Kata Ngo-heng.
"Ilmu sakti apakah itu?"
Tanya Bun-thian.
"Ilmu sakti orang ini disebut Kim-bian-tok, Tiat-bin-bwe-sin-kang (kulit muka besi)!"
Jawab Ngo-heng.
"Wah, sungguh hebat!"
Ujar Bun-thian.
"Selamanya hamba cuma dengar adanya ilmu kebal Kim-ciong-tok dan Tiat-poh-sam, tapi tidak pernah dengar tentang Kim-bian-tok dan Tiat-bin-bwe segala. Entah ilmu sakti demikian ini berasal dari aliran mana?"
"Kim-ciong-tok dan Tiat-poh-sam adalah ilmu kebal yang tidak mempan senjata pada seluruh badan, tapi ilmu sakti Tiat-bin-bwe orang ini khusus kebal pada kulit muka karena memang kulit mukanya setebal badak,"
Kata Yim Ngo-heng.
"Tentang asal usul ilmu sakti ini sungguh luar biasa, dia adalah ciptaan Gak Put-kun, Gak-siansing, itu ketua Hoa-san-pay yang termasyhur di dunia Kangouw pada masa ini."
"Wah, jika demikian, sejak kini Gak-siansing pasti akan lebih terkenal dan lebih termasyhur di seluruh jagat, namanya akan tetap terkumandang abadi sepanjang masa,"
Kata Bun-thian.
"Itu sudah tentu,"
Sambung Yim Ngo-heng.
"Hidup Gak-siansing! Hidup Hoa-san-pay!"
Begitulah seperti dagelan saja mereka terus tanya-jawab untuk mengolok-olok Gak Put-kun.
Keruan muka Gak-hujin merah padam.
Sebaliknya Gak Put-kun seperti tidak tahu dan tidak dengar saja, ia masih terus melancarkan serangan kepada Lenghou Tiong.
Tiba-tiba Gak Put-kun menusuk, ketika Lenghou Tiong mengelak ke kiri, mendadak Gak Put-kun menoleh sambil memutar balik ujung pedangnya terus menusuk pula.
Inilah suatu jurus ilmu pedang Hoa-san-pay yang terkenal dengan nama "Long-cu-hwe-tau" (Si Anak Hilang Berpaling Kembali).
Waktu Lenghou Tiong menangkis, cepat Gak Put-kun putar pedangnya lagi dan menebas dari atas ke bawah, yaitu jurus "Jong-siong-ging-khik" (Pohon Siong Tua Menyambut Tamu).
Jurus ini sudah pernah dilihat Lenghou Tiong pada macam-macam jurus serangan dari berbagai aliran yang terukir di dinding gua di puncak Hoa-san dahulu.
Maka dengan gampang saja pedangnya bergerak, ia menangkis sesuai dengan gaya ukiran di dinding gua itu.
Yim Ngo-heng dan Hiang Bun-thian sama bersuara heran dari mana anak muda itu pun paham menggunakan jurus demikian?
Tiba-tiba Gak Put-kun ganti diurus serangan.
"sret-sret"
Dua tusukan telah membikin Lenghou Tiong terkesiap dan terpaksa mundur dua tindak dengan wajah merah jengah dan berseru.
"Suhu!"
Gak Put-kun mendengus dan kembali menusuk lagi. Kembali Lenghou Tiong mundur satu tindak. Melihat kelakuan Lenghou Tiong yang kikuk dan serbasusah, semua orang menjadi heran.
"Serangan-serangan gurunya itu hanya biasa saja, kenapa pemuda itu berbalik merasa jeri dan tidak mampu menangkis?"
Mereka tidak tahu bahwa ketiga jurus serangan Gak Put-kun terakhir itu adalah ilmu pedang ciptaan Lenghou Tiong dan Gak Leng-sian di waktu latihan bersama dahulu, yaitu yang diberi nama "Tiong-leng-kiam-hoat", singkatan dari nama kedua muda-mudi itu.
Terciptanya ilmu pedang gabungan itu sebenarnya cuma terdorong oleh hubungan baik mereka berdua yang masih kekanak-kanakan, mereka pikir Tiong-leng-kiam-hoat itu kelak hanya mereka berdua saja yang mampu memainkan, maka di kala menggunakan ilmu pedang itu dalam lubuk hati mereka selalu timbul rasa bahagia yang tak terkatakan.
Sudah tentu mereka tidak berani menceritakan rahasia kepada para saudara seperguruan, lebih-lebih tidak berani dikatakan kepada Gak Put-kun.
Siapa duga mendadak Gak Put-kun telah memainkan tiga jurus ilmu pedang itu pada saat demikian, keruan Lenghou Tiong menjadi serbarunyam, merasa malu dan berduka pula.
Padahal hubungannya dengan sumoay sudah putus, sekarang sang guru sengaja mengeluarkan tiga jurus ilmu pedang itu agar dia tersinggung perasaannya dan berduka sehingga pikirannya menjadi kacau.
"Ya, kalau mau bunuh aku biarlah kau bunuh saja!"
Demikian katanya di dalam hati.
Sesaat itu Lenghou Tiong merasa daripada hidup merana di dunia ini ada lebih baik mati saja dan habis perkara.
Menyusul Gak Put-kun menusuk lagi dengan satu jurus Hoa-san-kiam-hoat yang disebut "Long-giok-ji-siau" (Long-giok Meniup Seruling), habis itu satu jurus lagi "Siau-su-seng-liong" (Siau-su Menunggang Naga).
Kedua jurus itu mengungkap suatu dongeng kuno tentang percintaan antara si gadis Long-giok dan jejaka Siau-su.
Si gadis sangat gemar meniup seruling, si jejaka sangat mahir meniup seruling, dia datang dengan menunggang naga dan mengajar seni musik itu kepada si gadis, akhirnya dia dipungut mantu oleh orang tua si gadis dan keduanya sama-sama naik surga.
Kini Gak Put-kun mengeluarkan lagi jurus serangan itu sehingga pikiran Lenghou Tiong menjadi kacau.
Ia menangkis sebisanya sambil berpikir.
"Kenapa suhu menggunakan jurus ini? Apakah dia sengaja hendak membikin kacau pikiranku, kemudian membunuh aku?"
Dilihatnya Gak Put-kun lantas menyerang lagi dengan tiga jurus Tiong-leng-kiam-hoat, lalu sejurus "Long-cu-hwe-tau"
Dan sejurus "Jong-siong-ging-khik" , kemudian tiga jurus Tiong-leng-kiam-hoat lagi, menyusul jurus-jurus "Long-giok-ji-siau"
Dan "Siau-su-seng-liong", dan begitu seterusnya diselang-seling dan berulang kembali.
Semula Lenghou Tiong merasa bingung, tapi kemudian ia menjadi paham, rupanya sang guru sengaja menyadarkan dia dengan ilmu pedangnya itu, maksudnya supaya dia berpaling kembali ke jalan yang benar, maka dia masih akan disambut dengan baik ke dalam Hoa-san-pay.
Bahkan dengan Tiong-leng-kiam-hoat itu jelas sang guru memberi isyarat bahwa beliau akan menjadikan siausumoay sebagai istrinya.
Masuk kembali ke Hoa-san-pay dan memperistrikan siausumoaynya adalah cita-cita yang selalu diharapkannya.
Merasa paham akan maksud yang terkandung dalam jurus-jurus serangan sang guru itu, seketika hati Lenghou Tiong kegirangan dan dengan sendirinya wajahnya lantas berseri-seri.
Tapi kembali Gak Put-kun menyerang lagi dengan jurus-jurus tadi dengan lebih gencar.
Mendadak Lenghou Tiong sadar.
"Suhu suruh aku berpaling kembali ke jalan yang benar, sudah tentu maksudnya suruh aku membuang senjata dan mengaku kalah, dengan demikian aku baru bisa diterima kembali ke dalam Hoa-san-pay. Apa yang kuharapkan lagi bilamana aku bisa kembali ke Hoa-san-pay dan menikah dengan siausumoay? Akan tetapi, lantas bagaimana dengan Ing-ing, Yim-kaucu, dan Hiang-toako? Bila pertandingan ini aku kalah, mereka bertiga harus tinggal di Siau-sit-san sini, bukan mustahil jiwa mereka pun akan melayang. Yang kupikir hanya kesenangan dan kebahagiaanku sendiri dengan mengorbankan orang-orang yang telah berbudi baik kepadaku, apakah perbuatanku ini pantas?"
Terpikir sampai di sini, tanpa terasa keringat dingin membasahi punggungnya, pandangannya terasa kabur juga, sekilas hanya kelihatan pedang Gak Put-kun berkelebat dan kembali menyerangnya pula dengan jurus "Si Gadis Long-giok Meniup Seruling".
Hati Lenghou Tiong terkutik lagi, pikirnya.
"Waktu mula-mula kenal Ing-ing maksudku hendak belajar memetik kecapi padanya. Dia sangat menyukai lagu ‘Hina Kelana’ yang dibawakan dengan seruling dan kecapi. Kemudian dia mengajarkan aku lagu ‘Jing-sim-ciu’. Bila kelak aku sudah mahir memetik kecapi, lalu bersama dia membawakan lagi ‘Hina Kelana’, bukankah dia yang akan meniup serulingnya? Padahal siausumoay tidak pernah memikirkan diriku, sebaliknya aku selalu terkenang padanya, malahan terhadap Ing-ing yang rela berkorban bagiku justru aku tidak memikirkannya, manusia tak berperasaan di dunia ini rasanya tiada yang lebih rendah daripada diriku."
Begitulah seketika yang terpikir olehnya adalah.
"Betapa pun juga aku tidak boleh mengingkari kebaikan Ing-ing."
Dalam keadaan samar-samar itu mendadak terdengar "creng"
Satu kali, sebatang pedang telah jatuh ke tanah, terdengar pula teriakan orang banyak di samping.
Tubuh Lenghou Tiong terhuyung ke belakang, ketika dia pentang mata, dilihatnya Gak Put-kun juga sedang melompat mundur dengan wajah gusar, pergelangan kanannya tampak mengucurkan darah.
Waktu Lenghou Tiong memeriksa pedangnya sendiri, ujung pedang itu memang berlepotan darah segar.
Keruan ia terkejut.
Baru sekarang ia menyadari ketika pikirannya kacau tadi dan menangkis serangan Gak Put-kun sekenanya, tanpa terasa ia telah mengeluarkan "Tokko-kiam-hoat"
Sehingga pergelangan tangan Gak Put-kun tertusuk. Cepat Lenghou Tiong membuang senjatanya, ia mendekat dan berlutut di depan Gak Put-kun, katanya.
"Suhu, dosa Tecu pantas dihukum mati."
Mendadak Gak Put-kun angkat sebelah kakinya, dengan tepat dada Lenghou Tiong kena ditendang.
Betapa hebat tenaga tendangan itu, kontan tubuh Lenghou Tiong mencelat ke atas dengan darah segar menyembur keluar dari mulutnya.
Seketika pandangan Lenghou Tiong menjadi gelap, dengan kaku ia terbanting ke bawah.
Namun ia sudah tidak tahu sakit lagi, ia sudah tidak sadar.
Entah lewat berapa lamanya, ketika merasa badannya rada dingin, perlahan-lahan Lenghou Tiong membuka mata, terasa sinar api menyilaukan, kembali ia pejamkan mata lagi.
Terdengar Ing-ing berseru gembira.
"Ayah, dia... dia sudah siuman."
Tapi tidak terdengar suara jawaban Yim Ngo-heng.
Ketika Lenghou Tiong membuka mata lagi, dilihatnya sepasang mata Ing-ing yang jeli sedang menatap kesima kepadanya, wajahnya penuh rasa girang dan bersyukur.
Segera Lenghou Tiong bermaksud bangun, tapi Ing-ing telah mencegahnya dan berkata.
"Jangan bangun, mengasolah sebentar lagi."
Lenghou Tiong memandang sekitarnya, ternyata dirinya berada di dalam sebuah gua, di luar gua menyala suatu gundukan api unggun.
Baru sekarang ia ingat pertandingannya dengan sang guru dan tertendang satu kali.
Segera ia tanya.
"Di manakah suhu dan sunioku?"
"Masakah kau masih memanggil suhu padanya?"
Ujar Ing-ing.
"Di dunia ini mungkin cuma ada seorang suhu yang tidak tahu malu seperti dia. Kau terus mengalah padanya, tapi dia tetap tidak tahu diri sehingga akhirnya sukar diselesaikan, malahan dia masih tega menendang kau. Syukur juga tulang kakinya tergetar patah."
"Hah, tulang kaki suhuku patah?"
Seru Lenghou Tiong kaget.
"Masih untung dia tidak tergetar mati,"
Sahut Ing-ing tertawa.
"Kata ayah, lantaran kau belum bisa menggunakan Gip-sing-tay-hoat, bila tidak tentu kau takkan terluka."
"Jadi aku telah melukai pergelangan suhu, lalu menggetar patah tulang kakinya, ai, aku ini...."
Demikian Lenghou Tiong menggumam.
"Apakah kau menyesal?"
Tanya Ing-ing.
"Perbuatanku benar-benar tidak pantas,"
Sahut Lenghou Tiong.
"Dahulu kalau suhu dan sunio tidak merawat dan membesarkan aku, bukan mustahil aku sudah mati sejak dulu. Aku telah membalas budi dengan badi, sungguh lebih rendah daripada binatang."
"Berulang kali dia bermaksud membunuh kau, masakah kau tidak tahu? Kau telah mengalah padanya sedemikian rupa dan boleh dikata sudah membalas budi kebaikannya. Orang macam kau ke mana pun takkan mati. Seumpama keluarga Gak tidak memiara kau, biarpun kau menjadi pengemis juga takkan mati kelaparan. Dia sudah mengusir kau dari Hoa-san-pay, hubungan antara guru dan murid sudah lama putus, buat apa lagi kau memikirkan dia?"
Sampai di sini Ing-ing menahan suaranya dan menyambung lagi.
"Engkoh Tiong, demi diriku kau terpaksa berlawanan dengan suhu dan suniomu, sungguh hatiku merasa...."
Tiba-tiba ia tidak meneruskan melainkan terus tertunduk dengan kedua pipi bersemu merah jengah.
Sejak kenal Ing-ing, yang timbul dalam hati Lenghou Tiong melulu rasa hormat dan takut pada wibawa si nona.
Kini melihat Ing-ing menunjukkan sikap kikuk dan malu-malu kucing sebagaimana anak gadis umumnya, wajah si nona yang tersorot oleh sinar api unggun menjadi tambah cantik luar biasa.
Seketika perasaan Lenghou Tiong terguncang, ia mengulur tangan untuk memegangi tangan kiri si nona, tapi sampai sekian lamanya ia hanya bisa menghela napas saja, ia tidak tahu apa yang harus diucapkannya.
"Kenapa kau menghela napas?"
Tanya Ing-ing dengan suara halus.
"Apakah kau menyesal karena berkenalan dengan aku?"
"Tidak, tidak!"
Sahut Lenghou Tiong cepat.
"Mana bisa aku menyesal? Demi diriku kau rela mengorbankan jiwamu di Siau-lim-si, selanjutnya biarpun badanku han... hancur lebur juga tidak cukup untuk membalas budimu."
"Kenapa kau bicara begini?"
Kata Ing-ing sambil menatap tajam.
"Jadi sampai detik ini dalam hatimu masih tetap anggap aku sebagai orang luar."
Terasa malu juga dalam hati kecil Lenghou Tiong, memang selama ini dia merasa masih terpisah oleh sesuatu dengan Ing-ing. Segera ia berkata.
"Ya, akulah yang salah omong. Sejak kini aku akan berbaik kepadamu dengan sesungguh hati."
Sorot mata Ing-ing memancarkan rasa bahagia, katanya.
"Engkoh Tiong, apakah ucapanmu ini sungguh-sungguh atau cuma buat bohongi aku?"
"Jika aku membohongi kau, biarlah aku mati disambar geledek,"
Sahut Lenghou Tiong.
Perlahan-lahan Ing-ing menggenggam tangan Lenghou Tiong dengan kencang, ia merasa sejak lahir sampai sekarang detik inilah paling berharga.
Sekujur badan terasa hangat, ia berharap keadaan demikian akan kekal abadi sepanjang masa.
Selang agak lama barulah ia membuka suara.
"Orang persilatan seperti kita mungkin ditakdirkan akan mati dengan cara kurang baik. Kelak kalau kau ingkar janji padaku, aku pun tidak menginginkan kau mati disambar geledek, tapi aku lebih suka... lebih suka menusuk mati kau dengan pedangku sendiri."
Bab 99. Empat Manusia Salju Tergetar hati Lenghou Tiong, sama sekali tak terpikir olehnya bahwa si nona akan bicara demikian, ia tercengang sejenak, katanya kemudian dengan tertawa.
"Memangnya jiwaku ini diselamatkan oleh kau dan sejak itu sudah menjadi milikmu. Maka setiap saat bila kau mau ambil boleh kau laksanakan saja."
"Semua orang mengatakan kau adalah pemuda bangor, nyatanya kata-katamu memang nakal. Entah mengapa, aku justru menyukai pemuda bangor seperti kau."
"Bilakah aku pernah berbuat bangor padamu? Karena kau berkata demikian, aku menjadi mau berbuat bangor padamu."
Mendadak Ing-ing meloncat mundur, katanya dengan muka cemberut.
"Aku menyukai kau, tapi kita harus pakai aturan. Jika kau anggap aku sebagai perempuan murahan, maka salahlah pandanganmu."
"Mana aku berani anggap kau sebagai perempuan murahan?"
Sahut Lenghou Tiong.
"Kau adalah seorang nenek agung yang melarang aku berpaling memandang padamu."
Ing-ing tertawa, ia teringat pada permulaan berkenalan dengar Lenghou Tiong memang pemuda itu selalu memanggil "nenek"
Padanya dengan penuh hormat. Dengan tertawa geli ia lantas duduk kembali dalam jarak rada jauh.
"Kau melarang aku nakal padamu, biarlah selanjutnya aku tetap memanggil nenek saja padamu,"
Kata Lenghou Tiong dengan tertawa.
"Baik, cucu manis,"
Sahut Ing-ing tertawa geli.
"Nenek, aku...."
"Sudahlah, jangan panggil nenek lagi, nanti saja kalau 60 tahun lagi baru boleh panggil demikian."
"Jika dipanggil mulai sekarang sampai 60 tahun lagi, maka tidak sia-sia hidupku ini,"
Ujar Lenghou Tiong.
Terguncang juga perasaan Ing-ing.
Ia pikir kalau betul bisa hidup bersanding pemuda itu selama 60 tahun, maka bahagialah hidupnya.
Dari sebelah samping Lenghou Tiong melihat hidung si nona yang mancung, alisnya panjang, mukanya sangat halus.
Pikirnya.
"Nona secantik ini kenapa ditakuti dan dihormati oleh tokoh-tokoh Kangouw yang kasar-kasar itu, pula rela berbuat apa pun baginya?"
Mestinya ia bermaksud tanya si nona, tapi urung.
"Kau ingin bicara apa, silakan berkata saja,"
Ujar Ing-ing.
"Selama ini aku tidak habis heran, mengapa Lo Thau-cu, Coh Jian-jiu, dan lain sedemikian takut kepadamu?"
"Ya, aku tahu bila persoalan ini tidak kujelaskan tentu hatimu tetap tidak tenteram. Mungkin dalam batinmu akan mengira aku adalah jin atau siluman."
"Tidak, tidak, aku anggap kau sebagai malaikat dewata yang berilmu mahasakti."
"Dasar mulutmu memang suka omong tak keruan, pantas orang mengatakan kau pemuda nakal."
"Jika kau anggap mulutku nakal, biarlah selamanya kau menanak nasi dan masak sayur yang enak-enak untuk menyumbat mulutku saja."
"Aku tidak pintar masak, panggang kodok saja sampai hangus."
Lenghou Tiong menjadi teringat kepada waktu memanggang kodok di tepi kali tempo dahulu.
Ia merasa saat ini seakan-akan kembali pada suasana masa lampau itu.
Begitulah kedua muda-mudi itu saling pandang penuh arti, sampai agak lama mereka terdiam.
Sejenak pula barulah Ing-ing bicara lagi.
"Ayahku sebenarnya adalah Kaucu Tiau-yang-sin-kau, hal ini sudah diketahui olehmu. Kemudian ayah telah masuk perangkap Tonghong Put-pay yang licik itu dan disekap di tempat yang dirahasiakan. Tonghong Put-pay berdusta, katanya ayah meninggal di tempat yang jauh dan meninggalkan pesan agar dia menjabat kaucu baru.
"Waktu itu usiaku masih terlalu muda, Tonghong Put-pay juga teramat cerdik dan licin, apa yang dia lakukan sama sekali tidak mencurigakan aku. Untuk mengelabui orang luar, Tonghong Put-pay sengaja memperlakukan aku dengan sangat baik, apa yang kukatakan selalu dia laksanakan. Sebab itulah kedudukanku di dalam agama kami sangat diagungkan."
"Apakah orang-orang Kangouw itu semuanya anggota Tiau-yang-sin-kau kalian?"
Tanya Lenghou Tiong.
"Tidak seluruhnya menjadi anggota, hanya mereka selamanya di bawah pengaruh kami, sebagian besar pimpinan mereka pun sudah makan Sam-si-nau-sin-tan (Pil Pengganggu Saraf) kami."
Lenghou Tiong mendengus mendengar nama obat itu.
"Sesudah makan obat itu,"
Sambung Ing-ing.
"setiap tahun satu kali mereka harus makan obat penawarnya, kalau tidak mereka tentu akan mati konyol bila racun yang terkandung dalam obat itu mulai bekerja. Tonghong Put-pay memperlakukan orang-orang Kangouw itu secara sangat bengis, sedikit tidak menyenangkan dia lantas tidak diberinya obat penawar. Selalu aku yang mesti mintakan ampun bagi mereka dan memintakan obat penawarnya."
"O, kiranya demikian, jadi kau adalah penyelamat jiwa mereka,"
Ujar Lenghou Tiong.
"Sebenarnya juga bukan penyelamat apa-apa, soalnya mereka menyembah-nyembah dan minta-minta padaku, terpaksa aku tidak tega dan tak bisa tinggal diam. Lama-lama aku menjadi bosan karena selalu meminta pengampunan kepada Tonghong Put-pay, musim semi tahun lalu aku suruh keponakan Lik-tiok-ong mengiringi aku keluar pesiar, tak terduga aku malah menemui kejadian aneh. Tak peduli ke mana aku pergi selalu jejakku diketahui orang, selalu masih ada orang yang datang minta pertolongan padaku untuk mohon obat penawar. Semula aku sangat heran, sebab ke mana aku pergi tak kukatakan kepada siapa-siapa melainkan Tonghong Put-pay saja yang tahu. Maka, pastilah Tonghong Put-pay sendiri yang telah membocorkan jejakku yang sangat dirahasiakan. Rupanya itu pun akalnya yang licin, dia sengaja membiarkan orang luar mendapat kesan seakan-akan dia sangat menghormati aku dan segan padaku. Dengan demikian tentu tiada seorang pun yang menyangsikan kedudukannya itu adalah hasil ‘kudeta’ secara keji.
"Sudah tentu beribu orang yang datang ke Siau-lim-si ini tidak semua pernah minum obat penawar yang kumintakan. Tapi bila salah seorang pimpinan mereka pernah terima bantuanku, tentu anak buahnya merasa utang budi juga padaku. Pula kedatangan mereka ke Siau-sit-san ini juga belum tentu demi diriku, besar kemungkinan mereka datang atas panggilan Lenghou-tayhiap, mereka tidak berani mangkir."
"Wah, baru setengah hari kau bergaul dengan aku sudah mahir putar lidah,"
Kata Lenghou Tiong.
Ing-ing mengikik tawa riang.
Selama hidupnya di dalam Tiau-yang-sin-kau hanya menghadapi puji sanjung belaka, siapa pun tidak berani membangkang perintahnya, lebih-lebih tiada seorang pun yang berani bergurau padanya.
Sekarang Lenghou Tiong bisa membanyol padanya, tentu saja sangat menggembirakan hatinya.
Selang sejenak Ing-ing berkata lagi dengan tersenyum.
"Kau pimpin orang sebanyak itu datang ke sini memapak aku, sudah tentu aku sangat senang. Tadinya orang-orang Kangouw itu suka merasani diriku, katanya aku jatuh hati padamu, sebaliknya kau adalah pemuda romantis yang suka main cinta di sembarang tempat, hakikatnya tidak menaruh perhatian padaku..."
Sampai di sini suaranya menjadi perlahan, katanya pula dengan perasaan hampa.
"tapi setelah geger-geger ini, sedikitnya kau telah mengembalikan kehormatanku bagi pandangan mereka itu. Seumpama aku mati juga takkan... takkan menanggung sangkaan jelek lagi."
"Kau yang membawa aku ke Siau-lim-si dan minta pengobatan bagiku, waktu itu aku benar-benar tidak mengetahui sama sekali. Kemudian aku terkurung di bawah Danau Se-ouw, setelah lepas dan mengetahui duduknya perkara, lalu datang memapak dikau, namun engkau sudah cukup banyak menderita."
"Sebenarnya aku pun tidak menderita kesukaran apa-apa selama dikurung di belakang gunung Siau-lim-si. Aku disekap sendirian di suatu rumah batu, setiap sepuluh hari tentu datang seorang hwesio tua mengantarkan perbekalan bagiku. Selain itu aku tidak pernah melihat siapa-siapa lagi. Sampai akhirnya Ting-sian dan Ting-yat Suthay datang ke Siau-lim-si, aku telah dikeluarkan untuk menemui mereka, di situ aku baru mengetahui ketua Siau-lim-si itu hakikatnya tidak pernah mengajarkan Ih-kin-keng padamu, juga tidak pernah mengobati penyakitmu. Aku menjadi marah demi mengetahui aku tertipu, aku mencaci maki hwesio tua Siau-lim-si itu. Ting-sian Suthay lantas menghibur aku, katanya kau sehat walafiat, katanya pula engkau yang suruh kedua suthay itu datang ke Siau-lim-si buat memintakan pembebasanku."
"Sesudah mendengar demikian barulah kau tidak mencaci maki dia lagi?"
Tanya Lenghou Tiong.
"Ketua Siau-lim-si itu hanya tersenyum saja meski aku telah mencaci maki dia. Katanya, ‘Lisicu, waktu itu Lolap berjanji akan mengajarkan Ih-kin-keng kepada Lenghou-siauhiap untuk memunahkan macam-macam hawa murni yang mengacau di dalam tubuhnya itu, apabila Lenghou-siauhiap mau masuk Siau-lim-si dan dapat kuterima sebagai muridku. Namun Lenghou-siauhiap menolak anjuranku itu, maka aku pun tidak dapat memaksa dia. Pula waktu kau memanggul dia ke sini, tatkala itu keadaannya sangat payah, tapi ketika dia meninggalkan pegunungan ini, biarpun penyakitnya belum sembuh, namun sudah bisa berjalan seperti biasa, untuk mana sedikit-banyak Siau-lim-si juga berjasa baginya.’ "
Kupikir ucapannya juga benar, aku lantas berkata, ‘Habis kenapa kau menahan aku di sini? Bukankah kau sengaja menipu aku?’ "
"Ya, memangnya dia tidak pantas mendustai kau,"
Ujar Lenghou Tiong.
"Tapi ada juga alasannya yang masuk akal. Hwesio tua itu mengatakan bahwa aku ditahan di Siau-lim-si justru dia berharap akan dapat melenyapkan rasa congkakku. Huh, benar-benar ngaco-belo belaka,"
Aku lantas menjawab, ‘Kau sudah begini tua, tapi suka mengakali anak kecil seperti kami, kau tahu malu tidak?’"
Hwesio tua itu tertawa dan berkata, ‘Waktu itu kau sendiri yang rela berkorban bagi keselamatan Lenghou-siauhiap.
Meski kami tidak jadi menyembuhkan Lenghou-siauhiap, tapi jiwamu juga tidak kami ganggu.
Sekarang mengingat kehormatan Ting-sian dan Ting-yat Suthay, bolehlah kau pergi dari sini.’ "Begitulah aku lantas dibebaskan dan turun gunung bersama kedua tokoh Hing-san-pay itu.
Di bawah gunung kami ketemu Ban-li-tok-heng Dian Pek-kong, dia memberi tahu bahwa kau sedang dalam perjalanan bersama ribuan orang akan memapak aku ke Siau-lim-si.
"Kedua suthay menjadi khawatir dan tak bisa tinggal diam, segera mereka menyusul lagi ke atas gunung dengan maksud mencari kau untuk menghindarkan pertumpahan darah kedua pihak. Tak terduga maksud luhur kedua suthay yang berkepandaian tinggi itu justru bisa tewas di dalam Siau-lim-si."
Habis berkata Ing-ing menghela napas panjang penuh penyesalan.
"Ya, entah siapakah yang menurunkan tangan keji kepada beliau-beliau itu,"
Kata Lenghou Tiong gegetun.
"Pada tubuh kedua suthay itu tiada tanda-tanda luka, cara bagaimana tewasnya juga tidak diketahui."
"Tanda luka jelas ada, siapa yang bilang tidak ada?"
Sahut Ing-ing.
"Ketika ayah, Hiang-sioksiok, dan aku melihat jenazah kedua suthay itu menggeletak di dalam Siau-lim-si, aku telah coba membuka baju mereka dan memeriksa badannya, kulihat bagian ulu hati masing-masing ada suatu titik merah bekas tusukan jarum. Jelas mereka tewas tertusuk oleh jarum berbisa."
"Hahhh!"
Lenghou Tiong melonjak kaget.
"Jarum berbisa? Di dunia persilatan sekarang siapakah yang memakai jarum berbisa?"
"Ayah dan Hiang-sioksiok yang berpengalaman luas juga tidak tahu. Menurut ayah, katanya itu bukan jarum berbisa, tapi adalah sejenis senjata yang ditusukkan kepada bagian fatal sehingga korbannya mati seketika. Cuma tusukan kepada ulu hati Ting-sian Suthay itu rada menceng sedikit."
"Benar. Waktu aku menemukan Ting-sian Suthay, beliau belum meninggal. Jika tusukan jarum itu mengarah ulu hati, maka jelas bukan serangan gelap, tapi pertarungan berhadapan. Tentunya pembunuh kedua suthay itu pasti orang kosen yang mahalihai."
"Ya, ayahku pun berkata demikian. Dengan sedikit data-data itu rasanya takkan sulit menemukan pembunuhnya kelak."
Mendadak Lenghou Tiong menggaplok dinding gua, katanya.
"Ing-ing, selama kita masih bernapas, kita harus menuntut balas bagi kedua suthay yang baik hati itu."
"Benar,"
Sahut Ing-ing mantap. Sambil duduk bersandar dinding gua, Lenghou Tiong merasa kaki dan tangannya dapat bergerak leluasa, dada juga tidak merasa sakit, ia menjadi heran, katanya.
"Aneh, aku telah ditendang begitu keras oleh suhuku, kenapa seperti tidak terluka apa-apa dadaku."
"Kata ayah kau telah mempelajari Gip-sing-tay-hoat-nya, dalam badanmu sudah tidak sedikit menyedot tenaga dalam orang lain. Maka kekuatan lwekangmu sesungguhnya sudah beberapa kali lebih kuat daripada gurumu. Tatkala itu kau sampai muntah darah, soalnya kau tidak mau mengerahkan tenaga untuk melawan tendangan gurumu. Namun lwekangmu yang mahakuat itu telah melindungi tubuhnya sehingga lukamu teramat ringan. Setelah ayah mengurut-urut tubuhmu, sementara ini kesehatanmu sudah pulih kembali. Cuma patahnya tulang kaki gurumu itu sebaliknya adalah kejadian aneh. Sudah setengah hari ayah memikirkan hal itu dan tetap tidak tahu sebab musababnya."
"Kekuatan lwekangku yang menggetar kembali tendangan suhu itu sehingga mematahkan tulang kakinya, kenapa hal ini mesti diherankan?"
Ujar Lenghou Tiong.
"Bukan begitu halnya,"
Sahut Ing-ing.
"Kata ayah, tenaga dalam berasal dari orang lain itu harus bisa digunakan dengan lancar barulah bisa dipakai menyerang lawan. Tapi tetap kalah setingkat bila dibandingkan lwekang yang berhasil diyakinkan oleh dirimu sendiri."
"Kiranya demikian,"
Kata Lenghou Tiong. Karena tidak paham persoalannya, maka ia pun tidak mau banyak pikir lagi. Ia hanya merasa tidak enak karena telah membikin patah tulang kaki sang guru. Pikirnya.
"Lantaran diriku siausumoay sampai dilukai oleh Gi-ho Sumoay. Sekarang bukan saja suhu juga terluka, bahkan aku telah membuatnya malu di depan orang banyak. Dosaku ini betapa pun sukar ditebus lagi."
Untuk sekian lamanya mereka terdiam, suasana sunyi, hanya terkadang terdengar suara letikan kayu api yang terbakar di luar gua itu.
Tertampak salju bertebaran dengan lebatnya, jauh lebih lebat daripada hujan salju di atas Siau-sit-san kemarin.
Dalam keadaan sunyi senyap itu, tiba-tiba Lenghou Tiong mendengar di sebelah barat gua sana ada suara orang bernapas dengan berat.
Segera ia pasang telinga buat mendengarkan lebih cermat.
Lwekang Ing-ing tidak setinggi Lenghou Tiong, ia tidak dapat mendengar suara itu, tapi melihat gerak-gerik pemuda itu ia lantas tanya.
"Kau mendengar suara apa?"
"Seperti orang bernapas, entah siapa yang datang,"
Sahut Lenghou Tiong.
"Di mana ayahmu?"
"Ayah dan Hiang-sioksiok bilang mau jalan-jalan keluar,"
Kata Ing-ing dengan wajah merah.
Ia tahu maksud ayahnya mengatakan begitu adalah sengaja memberi kesempatan padanya agar bisa bicara lebih asyik dan mesra melipur perasaan rindu selama berpisah ini.
Sementara itu Lenghou Tiong mendengar lagi suara orang bernapas, katanya segera.
"Marilah kita keluar melihatnya."
Mereka keluar gua, terlihat bekas kaki Yim Ngo-heng dan Hiang Bun-thian sudah hampir lenyap tertutup oleh salju.
"Dari situlah datangnya suara napas orang itu,"
Kata Lenghou Tiong sambil menunjuk ke arah bekas-bekas kaki.
Segera mereka mengikuti jejak kaki itu, kira-kira satu-dua li jauhnya, setelah membelok suatu lintasan bukit, mendadak di tanah salju sana kelihatan Yim Ngo-heng dan Hiang Bun-thian berdiri sejajar tanpa bergerak.
Mereka terkejut dan cepat memburu ke sana.
"Ayah!"
Seru Ing-ing, segera ia pegang sebelah tangan Yim Ngo-heng.
Tak terduga, begitu menempel tangan sang ayah, seketika seluruh badan Ing-ing tergetar, terasa suatu arus hawa mahadingin menyalur tiba dari tangan ayahnya sehingga dia kedinginan.
"Ayah, kau... kau kenapa...."
Belum habis ucapannya badan sudah gemetar, gigi berkertukan.
Tapi ia lantas paham duduknya perkara, tentu keadaan ayahnya itu adalah akibat tutukan maut Co Leng-tan dan sekarang Hiang Bun-thian sedang membantu sang ayah melawan serangan hawa dingin dengan segenap lwekangnya.
Mula-mula Lenghou Tiong juga tidak paham, dilihatnya wajah Yim Ngo-heng dan Hiang Bun-thian sangat prihatin, menyusul Yim Ngo-heng bernapas lagi beberapa kali dengan berat, baru sekarang ia tahu suara napas yang didengarnya tadi kiranya berasal dari Yim Ngo-heng.
Ketika dilihatnya badan Ing-ing juga menggigil kedinginan, tanpa pikir ia lantas pegang tangan si nona.
Sekejap saja hawa dingin itu pun menyusup ke dalam tubuhnya.
Seketika pahamlah Lenghou Tiong bahwa Yim Ngo-heng telah terserang oleh hawa dingin musuh dan sekarang sedang mengerahkan tenaga untuk membuyarkan hawa dingin itu.
Segera ia menggunakan cara yang pernah dipelajari dari ilmu yang terukir di atas papan besi di penjara bawah Se-ouw dahulu itu, perlahan-lahan ia membuyarkan hawa dingin yang menyusup ke dalam tubuhnya.
Mendapat bantuan Lenghou Tiong itu, seketika hati Yim Ngo-heng merasa lega.
Maklumlah, biarpun lwekang Hiang Bun-thian dan Ing-ing cukup tinggi, tapi tidaklah sama dengan lwekang yang diyakinkan Yim Ngo-heng, mereka hanya bisa membantu lawan hawa dingin dengan lwekang, tapi tak bisa membuyarkan hawa dinginnya.
Dengan bantuan Lenghou Tiong yang tepat itu, sedikit demi sedikit Lenghou Tiong menarik "Han-giok-cin-gi"
Yang dicurahkan Co Leng-tan ke tubuh Yim Ngo-heng itu, lalu dibuyarkan keluar sehingga racun dingin yang mengeram di tubuh Yim Ngo-heng semakin berkurang.
Begitulah mereka berempat tangan bergandengan tangan berdiri kaku di tanah salju itu seperti patung, bunga salju masih terus turun dengan lebatnya sehingga lambat laun dari kepala sampai kaki mereka tertutup semua oleh salju.
Sambil mengerahkan tenaga Lenghou Tiong merasa heran pula kenapa bunga salju yang menimpa mukanya tidak mencair?
Sebaliknya malah terus menempel dan membeku dan makin tebal.
Ia tidak tahu bahwa "Han-giok-cin-gi"
Yang diyakinkan Co Leng-tan itu sangat lihai, hawa dingin yang dipancarkan itu jauh lebih dingin daripada salju.
Kini kulit badan mereka berempat sudah sedingin es, hanya dalam badan saja yang masih hangat.
Sebab itulah bunga salju yang menimpa mereka tidak mencair, sebaliknya makin tertimbun dan makin keras.
Selang agak lama, cuaca mulai terang, tapi salju masih turun dengan lebatnya.
Lenghou Tiong khawatir badan Ing-ing yang lemah itu tidak tahan serangan hawa dingin dalam waktu lama, tapi ia merasa racun dingin di tubuh Yim Ngo-heng itu belum terkuras bersih, meski suara napasnya yang berat sudah tidak terdengar lagi, entah boleh berhenti tidak pertolongannya itu, kalau berhenti apakah akan terjadi akibat lain tidak?
Karena ragu-ragu, terpaksa ia meneruskan bantuan lwekangnya kepada Yim Ngo-heng.
Syukurlah dari tapak tangan Ing-ing yang digenggamnya itu dapat dirasakan badan si nona sudah tidak menggigil lagi, dapat pula dirasakan denyut nadi di tapak si nona.
Dalam keadaan terbungkus oleh salju yang tebal, bagian mata juga terlapis salju beberapa senti tebalnya, lapat-lapat Lenghou Tiong cuma bisa merasakan cuaca sudah terang, tapi tak bisa melihat apa-apa.
Tanpa menghiraukan urusan lain Lenghou Tiong terus mengerahkan tenaganya, ia berharap selekasnya racun dingin di tubuh Yim Ngo-heng akan dapat dipunahkan seluruhnya.
Entah berapa lama lagi, tiba-tiba dari jurusan timur laut yang jauh sana terdengar suara derapan kaki kuda dan makin lama makin mendekat.
Kemudian terdengar jelas yang datang ada dua penunggang kuda, yang satu di depan dan yang lain di belakang.
Menyusul lantas terdengar seruan seorang.
"Sumoay, Sumoay, dengarkan aku dulu!"
Meski kedua telinga juga tertutup oleh salju tebal, tapi dapat didengarnya dengan jelas bahwa suara itu bukan lain adalah suara bekas gurunya, yaitu Gak Put-kun.
Terdengar suara berdetak-detak kaki kuda yang tidak berhenti, lalu suara Gak Put-kun berseru lagi.
"Kau tidak paham seluk-beluknya lantas uring-uringan, hendaklah kau dengarkan ceritaku dulu."
Lalu terdengar Gak-hujin berseru.
"Aku merasa kesal sendiri, peduli apa dengan urusanmu? Apa lagi yang perlu diceritakan?"
Dari suara seruan mereka serta suara kaki kuda, terang Gak-hujin berada di depan dan disusul oleh Gak Put-kun dari belakang. Lenghou Tiong menjadi heran, pikirnya.
"Perangai sunio biasanya sangat halus dan tidak pernah ribut mulut dengan suhu, entah apa sebabnya sekali ini suhu telah membikin marah padanya?"
Terdengar kuda tunggangan Gak-hujin semakin mendekat, mendadak terdengar dia bersuara heran, menyusul kudanya meringkik panjang, mungkin karena mendadak dia menahan tali kendali sehingga kudanya berhenti mendadak dengan kedua kaki depan terangkat.
Selang sejenak Gak Put-kun telah menyusul tiba, katanya.
"Di tanah pegunungan ini ternyata ada orang menimbun empat orang-orangan salju. Sumoay, bagus dan mirip sekali orang-orang salju itu, bukan?"
Gak-hujin hanya mendengus saja tanpa menjawab.
Mungkin rasa marahnya belum reda, tapi jelas ia pun sangat tertarik oleh empat orang-orangan salju yang dikatakan itu.
Baru saja Lenghou Tiong merasa heran dari manakah di tanah pegunungan luas ini ada empat orang-orangan salju, tapi segera ia menjadi paham.
"Ya, kami berempat tertimbun salju sedemikian tebalnya sehingga suhu dan sunio menyangka kami sebagai orang-orangan salju."
Lalu terdengar Gak Put-kun berkata.
"Di sini tiada tanda-tanda bekas kaki, kukira orang-orangan salju ini sudah dibuat beberapa hari yang lalu. Sumoay, bukankah tiga di antaranya seperti lelaki dan satu perempuan?"
"Tampaknya hampir sama saja, masakah ada perbedaannya?"
Ujar Gak-hujin, lalu ia membentak kudanya hendak dilarikan. Cepat Gak Put-kun menahan tali kendali kuda istrinya dan berkata.
"Sumoay, kenapa kau terburu-buru? Di sini tiada orang lain, marilah kita berunding secara panjang."
"Terburu-buru apa, aku hanya mau pulang ke Hoa-san, kau suka mengekor kepada Co Leng-tan boleh pergi sendiri saja ke Ko-san,"
Sahut Gak-hujin.
"Siapa bilang aku mau mengekor Co Leng-tan? Sebagai ketua Hoa-san-pay yang terhormat buat apa aku mesti tunduk kepada Ko-san-pay?"
"Itulah, justru aku tidak paham mengapa sebagai ketua Hoa-san-pay kau justru mau tunduk kepada Co Leng-tan dan terima perintahnya? Sekalipun dia adalah bengcu dari Ngo-gak-kiam-pay, tapi juga tidak boleh mencampuri urusan dalam Hoa-san-pay kita. Bila kelima golongan dilebur menjadi satu, lalu nama Hoa-san-pay dapatkah dipertahankan lagi di dunia persilatan? Dahulu waktu suhu menyerahkan jabatan ciangbun kepadamu, pesan apa saja yang beliau tinggalkan kepadamu?!"
"Suhu menghendaki aku mengembangkan kejayaan Hoa-san-pay,"
Sahut Gak Put-kun.
"Nah, itu dia. Sekarang bila kau menggabungkan Hoa-san-pay ke dalam Ko-san-pay, cara bagaimana kau akan bertanggung jawab kepada mendiang guru kita? Biarpun kecil Hoa-san-pay harus berdiri sendiri daripada bersandar kepada orang lain."
Gak Put-kun menghela napas, katanya.
"Sumoay, menurut pendapatmu, bagaimana kepandaian Ting-sian dan Ting-yat Suthay dari Hing-san-pay jika dibandingkan kita?"
"Tidak pernah bertanding, tapi kukira juga sembabat. Buat apa kau tanya soal ini?"
"Aku pun berpendapat demikian. Kedua suthay itu tewas di Siau-lim-si, jelas Co Leng-tan yang membunuh mereka,"
Kata Put-kun.
Mendengar sampai di sini, hati Lenghou Tiong tergetar.
Memangnya ia pun mencurigai Co Leng-tan yang membunuh pimpinan-pimpinan Hing-san-pay itu, orang lain rasanya juga tidak memiliki kepandaian setinggi itu.
"Lantas bagaimana jika itu perbuatan Co Leng-tan? Bila kau ada bukti nyata, seharusnya kau undang seluruh kesatria sejagat dan sama-sama mendatangi Co Leng-tan untuk membalas sakit hati kedua suthay."
Kembali Gak Put-kun menghela napas, katanya.
"Pertama memang tidak ada bukti. Kedua, kekuatan kita tak bisa melawannya."
"Mengapa tidak bisa melawannya? Kita dapat menampilkan Hong-ting Taysu dari Siau-lim-si dan Tiong-hi dari Bu-tong-pay, apakah Co Leng-tan berani?"
"Tapi sebelum beliau-beliau itu dapat kita undang, kukhawatir kita suami istri sudah mengalami nasib seperti kedua suthay itu,"
Ujar Put-kun menghela napas.
"Kau maksudkan kita akan dibunuh juga oleh Co Leng-tan? Hm, sebagai orang persilatan masakah kita harus takut menghadapi risiko demikian? Kalau takut ini dan takut itu, cara bagaimana kau akan berkecimpung di dunia Kangouw?"
Alangkah kagumnya Lenghou Tiong terhadap sang ibu-guru itu. Pikirnya.
"Biarpun kaum wanita, tapi jiwa kesatria sunio harus dipuji."
"Kita tidak takut mati, tapi apa faedahnya pengorbanan kita?"
Ujar Put-kun.
"Kalau Co Leng-tan membunuh kita secara menggelap, kita mati dengan tidak terang seluk-beluknya, akhirnya dia toh tetap mendirikan Ngo-gak-kiam-pay-nya, bukan mustahil dia malah akan menjatuhkan sesuatu fitnah keji atas diri kita."
Gak-hujin terdiam. Gak Put-kun lantas menyambung pula.
"Bila kita mati, maka anak murid Hoa-san-pay tentu juga akan menjadi mangsa empuk Co Leng-tan, masakah mereka sanggup melawannya? Pendek kata, betapa pun kita harus memikirkan diri Leng-sian."
Gak-hujin berdehem perlahan, agaknya hatinya terpengaruh juga oleh kata-kata sang suami. Selang sejenak baru berkata.
"Seumpama sementara ini kita tidak perlu membongkar tipu muslihat Co Leng-tan, tapi kenapa kau malah memberikan Pi-sia-kiam-boh milik keluarga Peng-ci kepada orang she Co itu? Bukankah itu berarti membantu kejahatannya sehingga mirip harimau tumbuh sayap?"
"Itu pun merupakan rencanaku dalam jangka panjang,"
Kata Gak Put-kun.
"Jika aku tidak memberikan kitab pusaka yang menjadi impian setiap orang bu-lim, tentu sukar membikin dia percaya akan kesungguhan hatiku untuk bekerja sama dengan dia. Semakin dia tidak menaruh curiga padaku, semakin bebaslah tindak tanduk kita. Nanti kalau waktunya sudah masak barulah kita membongkar kedoknya dan bersama para kesatria seluruh jagat membinasakan dia."
Pada saat itulah mendadak Lenghou Tiong merasa kepalanya tergetar seperti ditabok oleh tangan orang, keruan ia terkejut.
"Wah, celaka, mungkin penyamaran kami ini ketahuan mereka. Selagi racun dingin Yim-kaucu belum punah sama sekali, apa yang harus kulakukan jika suhu dan sunio menyerang aku?"
Ia merasa tenaga dalam yang tersalur dari tangan Ing-ing juga tergetar beberapa kali, diduganya tentu perasaan Yim Ngo-heng juga tidak tenteram.
Tapi sesudah kepalanya ditabok orang, lalu tiada sesuatu kejadian lagi.
Terdengar Gak-hujin bicara pula.
"Kemarin waktu kau bertanding dengan Tiong-ji, berulang-ulang kau telah memainkan jurus-jurus Long-cu-hwe-tau, Jong-siong-ging-khik, dan sebagainya, apa artinya itu?"
"Hehe, meski kelakuan bangsat cilik itu tidak senonoh, betapa pun dia adalah anak yang kita piara sejak kecil, rasanya sayang jika melihat dia sampai tersesat, maka bila dia mau berpaling kembali ke jalan yang benar, aku pun bersedia menerima dia kembali ke dalam Hoa-san-pay."
"Bahkan maksudmu akan menjodohkan Anak Sian kepadanya, bukan?"
Tanya Gak-hujin.
"Ya, memang,"
Sahut Gak Put-kun.
"Isyarat yang kau berikan waktu itu hanya sebagai siasat saja atau memang benar-benar berniat begitu?"
Tanya pula Gak-hujin.
Gak Put-kun terdiam.
Segera Lenghou Tiong merasa kepalanya diketok-ketok perlahan lagi oleh orang.
Maka tahulah dia pasti sembari berpikir Gak Put-kun menggunakan tangannya menabok-nabok perlahan di atas kepala orang-orangan salju, jadi penyamaran Lenghou Tiong berempat belum lagi diketahui olehnya.
Sejenak baru terdengar Gak Put-kun menjawab.
"Seorang laki-laki harus pegang janji, sekali aku sudah menyanggupi dia tentu tidak boleh ingkar janji."
"Dia sangat kesengsem kepada perempuan siluman Mo-kau itu, masakah kau tidak tahu?"
Ujar Gak-hujin.
"Tidak, terhadap perempuan siluman Mo-kau itu dia hanya segan dan takut, kesengsem sih belum tentu,"
Ujar Put-kun.
"Masakah kau tidak dapat membedakan bagaimana sikap biasanya terhadap Anak Sian daripada terhadap perempuan siluman itu?"
"Sudah tentu aku dapat melihatnya. Jadi kau yakin dia masih belum melupakan Anak Sian?"
"Bukan saja tidak lupa, bahkan boleh dikata sangat rindu,"
Kata Gak Put-kun.
"Tidakkah kau menyaksikan betapa senangnya dia waktu mengetahui arti dari jurus-jurus seranganku itu?"
"Justru karena itu, maka kau telah menggunakan Anak Sian sebagai umpan untuk memancing dia agar sengaja mengalah padamu, bukan?"
Meski kupingnya tertutup oleh salju, tapi dapat pula Lenghou Tiong mendengar kata-kata sang sunio yang bernada marah dan menyindir itu.
Padahal nada demikian selamanya tak pernah diucapkan oleh sang sunio terhadap suaminya.
Betapa pun ibu guru itu selalu menghormati kedudukan sang suami sebagai ketua suatu aliran persilatan yang disegani.
Tapi sekarang dia sampai mengucapkan kata-kata bernada menyindir, hal ini menandakan betapa tidak senang hatinya terhadap sang suami.
Terdengar Gak Put-kun menghela napas panjang, katanya.
"Sampai kau pun tidak paham maksud tujuanku, apalagi orang luar. Padahal bukan untuk kepentingan diriku pribadi, tapi adalah demi kehormatan Hoa-san-pay kita. Jika aku dapat menyadarkan Lenghou Tiong sehingga dia masuk kembali Hoa-san-pay, maka ini berarti satu usaha empat keuntungan, suatu kejadian yang sangat bagus."
"Satu usaha empat keuntungan apa?"
Tanya Gak-hujin.
"Seperti kau mengetahui, entah dari mana mendadak Lenghou Tiong mendapat ajaran ilmu pedang ajaib dari Hong-susiok. Jika dia kembali ke dalam Hoa-san-pay, itu berarti wibawa Hoa-san-pay kita akan tambah cemerlang, ini adalah keuntungan pertama. Dengan demikian tipu muslihat Co Leng-tan akan mencaplok Hoa-san-pay tentu sukar terlaksana, bahkan Thay-san-pay, Heng-san-pay, dan Hing-san-pay juga bisa diselamatkan, ini adalah keuntungan kedua. Jika dia masuk kembali Hoa-san-pay, itu berarti pihak cing-pay kita bertambah suatu jago kelas wahid, sebaliknya pihak sia-pay akan menjadi lemah kehilangan seorang pembantu yang diandalkan, ini adalah keuntungan ketiga. Betul tidak, Sumoay?"
Agaknya Gak-hujin merasa tertarik juga oleh uraian sang suami itu, lalu ia bertanya.
"Dan keuntungan yang keempat?"
"Keuntungan keempat ini lebih meyakinkan lagi. Tiong-ji adalah kita yang membesarkan, kita sendiri tidak punya putra, selama ini kita anggap dia sebagai putra kandung kira sendiri. Bahwa dia tersesat ke jalan yang tidak baik sesungguhnya aku pun sangat sedih. Usiaku sudah lanjut, apa artinya nama kosong bagiku di dunia fana ini? Asalkan dia bisa kembali ke jalan yang baik, sekeluarga kita dapat berkumpul kembali dengan bahagia, bukankah ini suatu peristiwa yang menggembirakan?"
Mendengar sampai di sini, alangkah terharunya Lenghou Tiong sehingga air matanya berlinang-linang di kelopak matanya, hampir-hampir ia berteriak.
"Suhu, Sunio!"
Syukur terasa olehnya tangan Ing-ing yang digenggamnya itu rada tergetar sehingga seruannya itu urung dikeluarkan.
"Peng-ci dan Anak Sian berdua sangat cocok satu sama lain, masakah kau tega memisahkan mereka dan membikin Anak Sian menyesal selama hidup?"
Tanya Gak-hujin.
"Apa yang kulakukan ini adalah demi kebaikan Anak Sian pula,"
Sahut Put-kun. Bab 100. Isi Hati Ketua Hoa-san-pay "Demi kebaikan Anak Sian? Padahal Peng-ci adalah yang baik dan sopan, apanya yang kurang baik?"
"Meski Peng-ci sangat giat belajar, tapi kalau dibandingkan Lenghou Tiong adalah seperti langit dan bumi, biarpun dia naik kuda selama hidup ini juga sukar menyusulnya."
"Apakah ilmu silatnya tinggi mesti suami yang baik? Aku sih mengharapkan Tiong-ji bisa kembali ke jalan yang baik dan masuk kembali ke perguruan kita. Tapi dia suka yang baru dan bosan yang lama, dia gemar minum (arak) dan tingkah lakunya kurang baik, betapa pun kebahagiaan Anak Sian tidak boleh dikorbankan."
Mendengar ucapan sang ibu-guru itu, seketika Lenghou Tiong berkeringat dingin. Pikirnya.
"Penilaian Sunio atas diriku memang tepat. Tapi... tapi bila aku dapat memperistrikan siausumoay, masakah aku bisa mengecewakan dia? Tidak, sekali-kali tidak."
Terdengar Gak Put-kun menghela napas dan berkata pula.
"Tapi usahaku toh percuma saja, bangsat cilik itu sudah kejeblos terlalu mendalam dan sukar menginsafkan dia, apa yang kita bicarakan ini hanya sia-sia belaka. Sumoay, apakah kau masih marah padaku?"
Gak-hujin tidak menjawab. Selang sebentar kemudian baru berkata.
"Apakah kakimu kesakitan?"
"Hanya luka luar saja, sebulan dua bulan saja tentu akan sembuh,"
Sahut Gak Put-kun.
"Aku dikalahkan bangsat cilik itu, aku tidak punya muka buat bertemu dengan orang lagi. Marilah kita berangkat pulang ke Hoa-san saja."
Terdengar Gak-hujin menghela napas, lalu suara derapan kaki kuda yang makin lama makin menjauh.
Seketika itu pikiran Lenghou Tiong menjadi kacau, ia merenungkan kembali percakapan kedua orang tua tadi sehingga lupa mengerahkan tenaga.
Sekonyong-konyong arus hawa dingin menerjang tiba dari telapak tangan sehingga membuatnya menggigil, seluruh badan terasa kedinginan sampai merasuk tulang, lekas-lekas ia mengerahkan tenaga untuk menahan serangan hawa dingin itu.
Saking tergesa-gesanya, tiba-tiba saluran tenaga di bagian bahu kiri terasa macet, terhalang dan tak bisa lancar.
Ia menjadi gelisah dan mengerahkan tenaga terlebih kuat.
Ia tidak tahu bahwa jalannya tenaga dalam itu harus mengutamakan kewajaran, dia meyakinkan Gip-sing-tay-hoat berdasarkan apa yang terukir di papan besi itu, jadi belajar tanpa guru, tapi titik-titik penting yang terperinci sama sekali tidak mendapat petunjuk dari seorang guru yang mahir, maka caranya menjadi ngawur, semakin dia mengerahkan tenaga, semakin kaku dan macet.
Mula-mula lengan kiri ikut kaku perlahan-lahan, menyusul rasa kaku menurun ke iga kiri, pinggang kiri, terus menurun lagi hingga paha kiri juga terasa kaku.
Keruan dia sangat cemas, segera ia bermaksud berteriak.
"Tolong!"
Tapi begitu bermaksud pentang mulut, terasalah bibirnya juga sudah kaku dan sukar bergerak.
Pada saat itulah terdengar pula suara derapan kaki kuda, kembali ada dua penunggang kuda mendatangi.
Terdengar suara seorang berkata.
"Di sini banyak terdapat bekas-bekas tapak kuda, tentu ayah dan ibu tadi berhenti di sini."
Itulah suaranya Gak Leng-sian. Keruan kejut dan girang pula hati Lenghou Tiong. Katanya di dalam hati.
"Kenapa siausumoay datang juga ke sini?"
Lalu terdengar seorang lagi berkata.
"Kaki Suhu terluka, jangan sampai beliau mengalami apa-apa lagi, lekas kita menyusul ke sana mengikuti jejak kuda."
Jelas ini suaranya Lim Peng-ci. Tiba-tiba Gak Leng-sian berseru.
"He, Siau-lim-cu, coba lihat, bagus sekali keempat orang-orangan salju ini, satu sama lain bergandengan tangan."
"Sekitar sini seperti tiada penduduk, kenapa ada orang main tumpuk orang-orangan salju di sini?"
Ujar Lim Peng-ci.
"Eh, maukah kita pun membangun dua orang-orangan salju?"
Ajak Leng-sian dengan tertawa.
"Bagus, kita membikin satu laki dan satu perempuan, keduanya juga tangan bergandeng tangan,"
Sahut Peng-ci. Segera Leng-sian melompat turun dari kudanya, lalu mulai mengeruk salju dan ditimbun. Tapi Peng-ci berkata pula.
"Lebih baik kita menyusul Suhu dan Sunio saja. Nanti kalau sudah bertemu beliau-beliau barulah kita main orang-orangan salju."
"Kau selalu melenyapkan kesenangan orang,"
Sahut Leng-sian.
"Meski kaki ayah terluka, tapi dia menunggang kuda, apalagi didampingi ibu, masakah khawatir diganggu orang? Tatkala beliau berdua malang melintang di dunia Kangouw dahulu kau sendiri belum lahir."
"Tapi sebelum kita ketemu Suhu dan Sunio, rasanya tidak tenteram untuk main-main di sini,"
Kata Peng-ci.
"Baiklah, aku menurut kau. Tapi sesudah bertemu ayah dan ibu nanti kau harus menemani aku membikin dua orang-orangan salju yang bagus."
"Sudah tentu,"
Sahut Peng-ci. Diam-diam Lenghou Tiong mengakui ketulusan dan kepolosan hati Lim Peng-ci dengan jawaban yang bersahaja itu. Coba kalau dirinya tentu akan menjawab.
"Baiklah, akan kita bikin orang-orangan salju secantik kau."
Terpikir pula olehnya jika dirinya yang diminta menemani sang sumoay untuk membikin orang-orangan salju, tentu tanpa menghiraukan urusan lain akan disetujuinya.
Tapi siausumoay justru menuruti kemauan Lim-sute, sedikit pun tidak main manja, sama sekali berbeda seperti sikapnya padaku.
Agaknya kesehatan Lim-sute sekarang sudah baik, entah siapakah yang telah melukainya tempo hari, tapi siausumoay telah menuduh diriku.
Demikian pikirnya.
Lantaran memusatkan pikiran mendengarkan percakapan Leng-sian dan Peng-ci sehingga melupakan badan sendiri yang kaku tadi.
Siapa tahu dengan demikian justru cocok dengan ajaran Gip-sing-tay-hoat yang mengharuskan pikiran tenang dan tidak gelisah.
Dengan demikian rasa kaku kaki dan pinggangnya lambat laun menjadi berkurang.
Tiba-tiba terdengar Gak Leng-sian berseru.
"Baiklah, tidak jadi membikin orang-orangan salju, tapi aku mau menulis beberapa huruf di atas orang salju ini."
"Sret" , ia terus lolos pedangnya. Kembali Lenghou Tiong terkejut dan khawatir, apa jadinya jika pedangnya menusuk dan menebas serabutan di atas badan kami berempat? Tapi sebelum dia sempat berpikir lagi, mendadak terdengar suara "srat-sret"
Berulang-ulang, Leng-sian telah mengukir beberapa tulisan di atas tubuh Hiang Bun-thian yang berlapis salju tebal itu.
Ujung pedangnya masih terus menggeser dan akhirnya sampai di atas badan Lenghou Tiong.
Untung ukirannya tidak terlalu dalam sehingga tidak sampai tembus dan melukai mereka.
"Entah tulisan apa yang dia ukir di atas badan kami?"
Demikian Lenghou Tiong membatin.
"Cobalah kau pun menulis beberapa huruf,"
Kata Leng-sian dengan suara lembut.
"Baik,"
Jawab Peng-ci.
Ia sambut pedang si nona, lalu ikut mengukir beberapa huruf di atas keempat orang-orang salju.
Ia pun mengukir dari kanan ke kiri, mulai dari badan Hiang Bun-thian dan berakhir pada badan Lenghou Tiong.
Lenghou Tiong tambah heran.
"Entah tulisan apa lagi yang diukir Lim-sute?"
Dalam pada itu terdengar Leng-sian sedang berkata.
"Betul, kita berdua harus demikian adanya."
Lalu mereka terdiam sampai agak lama. Tentu saja Lenghou Tiong semakin heran.
"Harus demikian apa? Biarlah nanti bila mereka sudah pergi dan racun dingin di tubuh Yim-kaucu sudah bersih dipunahkan baru aku dapat meronta keluar dari timbunan salju untuk melihat tulisan apa yang mereka ukir tadi. Tapi, ah tak bisa jadi. Begitu aku bergerak tentu timbunan salju akan rontok dan tak terlihatlah tulisan apa yang mereka ukir. Lebih-lebih kalau kami berempat bergerak sekaligus, tentu satu huruf pun tak bisa tahu lagi."
Selang sejenak pula, terdengar dari jauh ada suara derapan kaki kuda yang ramai, meski jaraknya masih jauh, tapi jelas menuju ke sebelah sini.
Rupanya Peng-ci dan Leng-sian masih belum dengar.
Lenghou Tiong dapat menaksir dari derapan kaki kuda itu sedikitnya adalah belasan orang.
Ia pikir besar kemungkinan adalah anak murid Hoa-san-pay yang menyusul tiba.
Makin mendekatlah suara lari kuda-kuda itu.
Tapi Peng-ci dan Leng-sian agaknya masih tidak menaruh perhatian.
Lenghou Tiong mendengar belasan penunggang kuda itu datang dari arah timur laut, dari jarak satu-dua li mereka lantas memencarkan diri, ada sebagian menuju ke jurusan barat, kemudian membelok dan sama-sama menuju ke sini, jelas mereka telah mengurung jalan lari Peng-ci dan Leng-sian.
Mendadak terdengar Leng-sian berseru kaget.
"He, ada orang datang!"
Menyusul terdengar suara mendesingnya dua anak panah, lalu suara kuda meringkik ngeri dan roboh.
Dalam hati Lenghou Tiong menduga ilmu silat pendatang-pendatang itu tidak lemah, tujuan mereka juga keji.
Dari jauh lebih dulu mereka memanah mati kuda-kuda siausumoay dan Lim-sute agar mereka tak bisa lari jauh.
Sejenak kemudian belasan orang itu sudah mendekat sambil bergelak tertawa.
Terdengar Leng-sian berseru khawatir sambil mundur selangkah.
Lalu terdengar seorang di antara pendatang-pendatang itu bertanya.
"Hehe, seorang adik cilik dan seorang genduk, kalian ini murid siapa dan dari aliran mana?"
"Cayhe murid Hoa-san-pay bernama Lim Peng-ci, suciku ini she Gak,"
Sahut Peng-ci dengan suara lantang.
"Selamanya kita tidak saling kenal, mengapa tanpa sebab kuda kami dipanah mati?"
"Murid Hoa-san-pay?"
Orang itu menegas dengan tertawa.
"Jadi guru kalian adalah Gak-siansing dengan julukan ‘Kun-cu-kiam’ segala dan telah kalah bertanding dengan bekas muridnya itu?"
Peng-ci lantas menjawab.
"Kelakuan Lenghou Tiong tidak baik, berulang-ulang dia melanggar peraturan, maka setahun yang lalu dia sudah dipecat."
Dia ingin mengatakan bahwa kekalahan bertanding sang guru kepada Lenghou Tiong itu dapat dianggap kalah kepada orang luar dan bukan muridnya lagi.
"Genduk cilik ini she Gak, pernah apanya Gak-tayciangbun?"
Tanya orang itu pula.
"Peduli apa dengan aku?"
Damprat Leng-sian dengan gusar.
"Kau telah memanah mati kudaku, lekas ganti."
"Wah, melihat kegalakannya ini, besar kemungkinan dia adalah gundik Gak Put-kun,"
Kata orang itu sambil cengar-cengir.
Serentak belasan orang kawannya ikut tertawa gemuruh.
Mendengar kata-kata orang yang kasar itu, Lenghou Tiong membatin orang-orang itu pasti bukan dari kaum cing-pay dan mungkin sekali akan membahayakan siausumoay.
Dalam pada itu Peng-ci telah berkata.
"Tuan adalah locianpwe dari Kangouw, kenapa bicara sekotor itu? Hendaklah tahu bahwa suciku adalah putri kesayangan guruku."
"O, kiranya adalah putri Gak Put-kun, haha, sama sekali tidak cocok dengan kenyataannya,"
Ujar orang tadi dengan tertawa. Seorang temannya lantas tanya.
"Loh-toako, kenapa tidak cocok dengan kenyataan?"
"Pernah kudengar orang bercerita, katanya putri Gak Put-kun sangat cantik, terhitung nona paling ayu di antara angkatan muda, tapi nyatanya sekarang cuma begini saja,"
Sahut Loh-toako tadi.
"Wajah genduk ini memang biasa saja, tapi kulitnya putih, dagingnya halus. Kalau ditelanjangi mungkin boleh juga. Hahahahaha!"
Begitu belasan orang serentak tertawa riuh pula penuh maksud kotor.
Baik Gak Leng-sian dan Lim Peng-ci maupun Lenghou Tiong menjadi gusar mendengar ucapan-ucapan tidak sopan itu.
Peng-ci lantas cabut pedangnya dan berkata.
"Jika kalian mengeluarkan kata-kata tidak senonoh lagi, biarpun mati juga akan kulayani kalian."
"He, coba kalian lihat, dua sejoli cabul yang main patgulipat ini telah menulis apa di atas orang salju ini?"
Tiba-tiba seorang berseru.
Dikatakan "cabul", Peng-ci tidak tahan lagi "sret", pedangnya lantas menusuk.
Maka terdengarlah suara ramai, ada dua orang telah melompat turun dari kudanya untuk melawan Peng-ci.
Menyusul Leng-sian juga ikut menerjang maju.
Berbareng beberapa laki-laki itu lantas berseru.
"Biar aku yang melayani genduk ini!"
"Jangan ribut, jangan berebut, semuanya akan mendapat gilirannya,"
Ujar seorang dengan tertawa.
Lalu terdengar suara beradunya senjata, Leng-sian juga telah bertempur dengan musuh.
Mendadak seorang laki-laki menggerung gusar karena rasa sakit, agaknya terluka oleh pedang Leng-sian.
Seorang laki-laki lain lantas berkata.
"Ganas juga genduk ayu ini. Su-losam, akan kubalaskan sakit hatimu."
Di tengah suara nyaring beradunya senjata terdengar Gak Leng-sian berseru.
"Awas!"
Lalu terdengar suara "trang"
Yang keras disusul oleh suara Peng-ci yang tertahan.
"Siau-lim-cu!"
Leng-sian berseru pula, mungkin Peng-ci terluka. Kemudian pemimpin rombongan pendatang itu berseru.
"Jangan membunuh dia, tangkap saja hidup-hidup. Kalau putri dan menantu Gak Put-kun sudah kita bekuk masakah jantan palsu she Gak itu takkan tunduk kepada kita?"
Lenghou Tiong coba mendengarkan lagi dengan lebih cermat, terdengar suara menderu sambaran senjata, agaknya Gak Leng-sian memutar pedangnya dengan kencang.
Mendadak terdengar suara "trang", lalu suara "plak"
Lagi sekali. Seorang laki-laki lantas mencaci maki.
"Kurang ajar, lonte cilik!"
Mendadak Lenghou Tiong merasa badannya disandari orang, lalu terdengar napas Gak Leng-sian yang tersengal-sengal, nyata nona itulah yang bersandar pada "orang salju"-nya itu.
Setelah suara senjata beradu lagi beberapa kali, seorang laki-laki di antaranya lantas berseru girang.
"Masakah kau tak bisa kubekuk!"
Terdengar Leng-sian berseru khawatir, lalu tidak terdengar lagi suara beradunya senjata, sebaliknya orang-orang itu sama bergelak tertawa.
Lenghou Tiong merasa Leng-sian yang bersandar pada tubuhnya itu diseret pergi dan terdengar nona itu berteriak.
"Lepaskan aku, lepaskan!"
Seorang di antaranya berkata dengan tertawa.
"Bun-lotoa, tadi kau bilang dia berkulit putih dan berdaging halus, aku justru tidak percaya. Marilah kita belejeti pakaiannya, coba lihat betul tidak dugaanmu."
Semua orang lantas bersorak gembira setuju. Peng-ci memaki dengan gusar.
"Kawanan bangsat...."
Mendadak "plak", ia telah ditendang sekali, lalu terdengar suara "bret"
Suara kain robek.
Dengan jelas Lenghou Tiong mendengar siausumoaynya hendak ditelanjangi orang, mana dia bisa tahan lagi.
Tanpa hiraukan keadaan Yim Ngo-heng, segera ia melepaskan tangan Ing-ing yang dipegangnya itu terus melompat keluar dari timbunan salju.
Tangan kanan dipakai mencabut pedang, tangan kiri lantas digunakan mengupas salju yang masih menutupi matanya.
Tak terduga tangan kiri itu ternyata tidak mau menurut perintah, sukar bergerak.
Di tengah suara teriak kaget rombongan orang tadi, Lenghou Tiong sempat menggunakan pangkal lengan kanan untuk mengusap mukanya, pandangannya menjadi terang, pedang lantas menusuk ke depan, sekaligus tiga laki-laki itu kena dirobohkan.
Cepat Lenghou Tiong memutar tubuh.
"sret-sret"
Dua kali, kembali dua orang dibinasakan lagi.
Dilihatnya seorang laki-laki sedang menelikung kedua tangan Gak Leng-sian, seorang lagi dengan golok terhunus siap melawannya.
Ia menerjang maju, pedang menusuk iga laki-laki bergolok itu hingga tembus, sekali depak ia singkirkan mayat lawan sambil mencabut pedang dari mayat itu.
Dalam pada itu ada suara orang menyergapnya dari belakang.
Tanpa menoleh pedangnya menyabet ke belakang, kontan dua orang jatuh terkapar.
Tanpa berhenti ia terus menubruk maju, pedang berkelebat, kontan tenggorokan orang yang menelikung tangan Gak Leng-sian itu tertembus.
Pegangan orang itu atas Leng-sian menjadi kendur dan terkapar di atas pundak nona itu, darah segar membanjir keluar dari lehernya.
Keruan seluruh badan Leng-sian basah kuyup oleh darah.
Sekaligus Lenghou Tiong membunuh sembilan orang dalam waktu sekejap, sisanya masih delapan orang menjadi kesima ketakutan.
Mendadak pemimpin rombongan itu menjerit terus mendahului menerjang maju sambil memutar senjatanya berbentuk perisai dan mengepruk ke atas kepala Lenghou Tiong.
Tapi cepat luar biasanya Lenghou Tiong mendahului menusuk sehingga tepat mengenai muka orang itu.
Kontan orang itu menjerit dan roboh terguling.
Tidak berhenti sampai di situ saja, kembali Lenghou Tiong menebas dan menusuk berulang-ulang, tiga orang kena dibunuh lagi.
Sisa empat orang yang lain menjadi ketakutan setengah mati, mereka menjerit dan lari terpencar.
"Kalian berani kurang ajar terhadap siausumoayku, satu pun tidak boleh diampuni,"
Seru Lenghou Tiong sambil memburu maju.
"Sret-sret"
Dua kali, kembali dua orang tertebas putus kepalanya.
Tinggal dua orang lagi lari ke dua jurusan, Lenghou Tiong mengincar satu di antaranya, sekuatnya ia menimpukkan pedangnya, satu jalur sinar perak meluncur secepat kilat dan tepat menembus punggung orang sedang lari itu sehingga terpantek di atas tanah.
Habis itu Lenghou Tiong lantas mengejar ke jurusan lain, kira-kira puluhan meter jauhnya orang terakhir itu pun sudah tersusul.
Rupanya orang itu menjadi nekat, mendadak ia memutar tubuh terus membacok dengan goloknya.
Baru sekarang Lenghou Tiong ingat dia sudah tidak bersenjata lagi.
Cepat melompat mundur.
Orang itu menubruk maju dan membabat dengan goloknya, kembali Lenghou Tiong mengelak dan melompat mundur lagi dan begitu seterusnya orang itu menyerang terlebih kalap dan berulang-ulang Lenghou Tiong terdesak mundur.
Tiba-tiba Gak Leng-sian berseru di belakangnya.
"Pakailah pedangku ini, Toasuko!"
Waktu Lenghou Tiong menoleh, Leng-sian sudah melemparkan pedang ke arahnya, cepat Lenghou Tiong menangkap senjata itu terus memutar balik sambil bergelak tertawa.
Saat itu lawannya sedang angkat goloknya hendak membacok, tapi ia menjadi kesima ketika sinar pedang Lenghou Tiong berkelebat, seketika ia terpaku ketakutan malah.
Perlahan-lahan Lenghou Tiong melangkah maju, laki-laki menjadi gemetar, memegang senjata saja tidak kuat lagi, goloknya jatuh ke tanah.
Tanpa terasa ia pun berlutut.
"Kau harus mampus untuk menebus dosamu,"
Kata Lenghou Tiong sambil menyodorkan ujung pedang ke leher orang. Tiba-tiba pikirannya tergerak, tanyanya perlahan.
"Tulisan apa yang terdapat di atas orang-orang salju tadi?"
"Tulisannya berbunyi, ‘Laut kering gunung runtuh, cinta kita tetap teguh’,"
Tutur orang itu dengan suara gemetar.
"O, begitu bunyinya?"
Lenghou Tiong menggumam kesima.
Akhirnya ia dorong juga ujung pedangnya menembus tenggorokan orang itu.
Waktu ia berpaling kembali, dilihatnya Gak Leng-sian sedang membangunkan Lim Peng-ci.
Badan kedua muda-mudi itu sama-sama mandi darah.
Setelah berdiri Peng-ci lantas memberi soja kepada Lenghou Tiong, katanya.
"Banyak terima kasih atas pertolongan Lenghou-heng."
"Tidak jadi soal,"
Sahut Lenghou Tiong.
"Apa lukamu parah?"
"Tidak apa-apa,"
Sahut Peng-ci.
"Suhu dan Sunio menuju ke sana,"
Kata Lenghou Tiong sambil menunjuk bekas tapak kuda. Sementara itu Leng-sian telah mendapatkan dua ekor kuda milik orang-orang tadi, ia mendahului mencemplak ke atas kuda dan berkata.
"Marilah kita menyusul ayah dan ibu."
Dengan susah payah Peng-ci menaiki kudanya.
Ketika Leng-sian melarikan kudanya lewat samping Lenghou Tiong, tiba-tiba ia menahan kudanya dan memandang ke mukanya.
Perlahan Lenghou Tiong mengangkat kepalanya, melihat si nona menatap, ia pun balas memandang.
"Aku... aku ber...."
Leng-sian tidak dapat melanjutkan kata-katanya, segera ia berpaling kembali dan melarikan kudanya ke jurusan Gak Put-kun tadi.
Termangu-mangu Lenghou Tiong mengikuti kepergian Peng-ci dan Leng-sian, sampai bayangan mereka sudah menghilang di balik rimba sana barulah ia menoleh ke arah Yim Ngo-heng bertiga, dilihatnya mereka sudah membersihkan salju yang menempel di atas badan dan sedang memandang tajam arahnya.
"He, Yim-kaucu, aku... aku tidak bikin susah padamu?"
Seru Lenghou Tiong girang.
"Kau tidak bikin susah padaku, tapi kau sendiri yang konyol. Bagaimana lengan kirimu?"
Sahut Yim Ngo-heng.
"Untuk sementara terasa kaku, agaknya jalan darah kurang lancar sehingga tangan tidak mau menurut perintah,"
Kata Lenghou Tiong.
"Urusan ini rada sulit, biarlah kita mencari akal nanti,"
Ujar Yim Ngo-heng.
"Barusan kau telah menyelamatkan putri Gak Put-kun, maka anggaplah kau telah membalas budi kebaikan perguruanmu, selanjutnya siapa pun tidak utang budi lagi. Eh, Hiang-hiante, mengapa Loh-losam makin lama makin tidak senonoh, sampai-sampai perbuatan kotor begini juga dilakukannya?"
"Dari nadanya dapat kuduga mereka seperti ingin membekuk kedua muda-mudi itu,"
Kata Hiang Bun-thian.
"Apa mungkin mereka melaksanakan perintah Tonghong Put-pay? Ada urusan apa lagi dia dan Gak Put-kun?"
Ujar Ngo-heng.
"Apakah orang-orang ini adalah anak buah Tonghong Put-pay?"
Tanya Lenghou Tiong sambil menunjuk mayat-mayat yang bergelimpangan di sekitar situ.
"Anak buahku,"
Sahut Yim Ngo-heng. Lenghou Tiong manggut-manggut dan membatin.
"Ya, kedudukan Tonghong Put-pay sebagai ketua Tiau-yang-sin-kau adalah direbutnya dari Yim-kaucu, sudah tentu orang-orang ini tak bisa dianggap anak buahnya."
Dalam pada itu Ing-ing telah bertanya.
"Bagaimana dengan lengannya, Ayah?"
"Jangan khawatir anak manis,"
Sahut Yim Ngo-heng.
"Anak mantu telah bantu mertua memunahkan racun dinginnya, sudah tentu bapak mertua akan berdaya menyembuhkan lengannya."
Habis berkata ia tertawa terbahak-bahak.
"Lenghou-hiante,"
Kata Hiang Bun-thian.
"keadaan tadi sungguh sangat berbahaya, kalau kau tidak datang menolong tepat waktunya tentu akibatnya akan runyam."
Yim Ngo-heng telah menatap tajam Lenghou Tiong sehingga pemuda itu merasa kikuk.
"Jangan kau bicara begitu, Ayah,"
Tiba-tiba Ing-ing berkata.
"Engkoh Tiong dibesarkan bersama Gak-siocia dari Hoa-san-pay itu, masakah engkau tidak melihat bagaimana sikap Engkoh Tiong terhadap Gak-siocia tadi?"
"Hm, manusia apa Gak Put-kun itu? Masakah anak perempuannya dapat dibandingkan dengan putriku?"
Ujar Yim Ngo-heng dengan tertawa.
"Lagi pula nona Gak itu pun sudah punya tunangan, perempuan yang gampang berubah hatinya seperti dia masakah bisa dipercaya, selanjutnya Tiong-ji tentu akan melupakan dia."
"Demi diriku Engkoh Tiong telah mengacaukan Siau-lim yang termasyhur di seluruh jagat, demi diriku pula dia tidak mau kembali lagi ke dalam Hoa-san-pay, melulu kedua hal ini saja sudah membikin hatiku senang dan puas. Tentang urusan lain tidak perlu lagi diungkat."
Yim Ngo-heng kenal watak putrinya yang angkuh dan suka menang.
Jika Lenghou Tiong tidak mengajukan lamaran, maka putrinya itu pun tidak mau memaksa.
Ia pikir urusan perjodohan ini hanya soal waktu saja, kelak Hiang Bun-thian dapat disuruh menjadi comblang, lalu secara resmi dirundingkan.
Maka dengan bergelak tertawa ia berkata.
"Bagus, bagus. Memang urusan mahapenting yang menyangkut kebahagiaan selama hidupmu boleh dibicarakan nanti. Eh, Anak Tiong, biarlah aku mengajarkan kau dulu tentang melancarkan urat nadi di bagian lengan kiri itu."
Lalu ia tarik Lenghou Tiong ke pinggir sana dan menguraikan cara bagaimana mengerahkan tenaga dan melancarkan jalan darah. Setelah Lenghou Tiong hafal ajarannya, lalu katanya pula.
"Kau telah bantu aku memunahkan racun dingin, sekarang aku mengajarkan kau cara melancarkan jalan darahmu, kita masing-masing tidak saling utang. Untuk menyembuhkan seluruhnya lenganmu yang kaku itu diperlukan waktu tujuh hari, harus bersabar, tidak boleh terburu nafsu."
Lenghou Tiong mengiakan. Lalu Yim Ngo-heng memanggil Hiang Bun-thian dan Ing-ing, setelah empat orang berkumpul Ngo-heng berkata pula.
"Tiong-ji, ketika di Bwe-cheng tempo hari aku pernah mengajak kau masuk Tiau-yang-sin-kau kami, waktu itu dengan tegas kau menolak. Sekarang keadaan sudah berubah, aku mengulangi lagi persoalan lama, sekali ini tentunya kau takkan menolak bukan?"
Selagi Lenghou Tiong ragu-ragu dan belum menjawab, Yim Ngo-heng telah menyambung pula.
"Kau telah meyakinkan Gip-sing-tay-hoat, kelak akan banyak mendatangkan kesukaran, bila macam-macam hawa murni yang berlainan di dalam tubuhmu itu bekerja, maka tak terkatakan derita yang akan kau rasakan. Apa yang telah kukatakan pasti takkan kutarik kembali, kalau kau tidak masuk agama kita, biarpun Ing-ing menjadi istrimu juga aku tak mau mengajarkan cara memunahkan tenaga-tenaga liar di dalam tubuhmu itu. Andaikan putriku akan menyesali aku juga akan kujawab demikian. Nah, urusan penting sekarang ini ialah menuntut balas kepada Tonghong Put-pay, apakah kau akan ikut pergi bersama kami?"
"Maaf Yim-kaucu, selama hidup ini Wanpwe sudah pasti takkan masuk Tiau-yang-sin-kau,"
Sahut Lenghou Tiong tegas tanpa bisa ditawar-tawar lagi. Keruan Yim Ngo-heng bertiga seketika berubah air mukanya, Hiang Bun-thian bertanya.
"Apa sebabnya? Jadi kau memandang hina kepada Tiau-yang-sin-kau?"
"Di dalam Tiau-yang-sin-kau penuh orang-orang macam begini, sejelek-jeleknya Wanpwe juga malu berkumpul dengan mereka,"
Sahut Lenghou Tiong sambil tuding belasan mayat yang menggeletak, di sekitar situ.
"Lagi pula Wanpwe sudah berjanji kepada Ting-sian Suthay untuk menjabat ketua Hing-san-pay mereka."
Tiba-tiba air muka Yim Ngo-heng bertiga berubah penuh keheranan.
Bahwa Lenghou Tiong menolak masuk agama mereka tidaklah mengherankan, tapi ucapan yang terakhir itulah benar-benar luar biasa sampai-sampai mereka tidak percaya kepada telinganya sendiri-sendiri.
Sambil menuding muka Lenghou Tiong, Yim Ngo-heng mendadak terbahak-bahak geli.
Sejenak kemudian baru berkata.
"Jadi kau... kau ingin jadi nikoh? Akan menjadi ciangbunjin kawanan nikoh itu?"
"Bukan menjadi nikoh, hanya akan menjadi Ciangbunjin Hing-san-pay saja,"
Sahut Lenghou Tiong.
"Sebelum mengembuskan napas penghabisan Ting-sian Suthay telah mohon dengan sangat kepadaku, jika Wanpwe tidak menyanggupi, maka mati pun losuthay itu takkan tenteram. Apalagi kematian Ting-sian Suthay adalah karena diriku, Wanpwe juga tahu peristiwa ini pasti akan menggemparkan, tapi tak bisa menolak permintaan losuthay itu."
Tapi Yim Ngo-heng masih terus tertawa geli.
"Ting-sian Suthay mati bagi keselamatan anak,"
Kata Ing-ing. Lenghou Tiong melihat sorot mata si nona penuh mengandung rasa terima kasih yang tak terhingga. Perlahan-lahan Yim Ngo-heng berhenti tertawa, lalu berkata.
"Jadi kau telah menerima pesan orang dan harus dikerjakan secara setia?"
"Benar,"
Sahut Lenghou Tiong.
"Kematian Ting-sian Suthay juga lantaran mau memenuhi janjinya padaku."
"Bagus juga,"
Kata Ngo-heng sambil manggut.
"Aku adalah Lo-koay (si tua aneh) dan kau adalah Siau-koay (si kecil aneh). Kalau tidak membikin sesuatu yang menggemparkan masakan bisa menjadi tokoh yang menggegerkan jagat ini. Baiklah, bolehlah kau pergi menjadi ciangbunjin kaum nikoh itu. Sekarang juga kau akan berangkat ke Hing-san?"
"Tidak, Wanpwe akan pergi lagi ke Siau-lim-si,"
Sahut Lenghou Tiong. Yim Ngo-heng rada heran, tapi lantas paham, katanya.
"Ya, tentunya kau ingin mengusung kedua jenazah nikoh tua itu kembali ke Hing-san."
Lalu ia menoleh kepada Ing-ing dan tanya.
"Apakah kau akan ikut Tiong-ji pergi ke Siau-lim-si?"
"Tidak, aku ikut Ayah,"
Sahut Ing-ing.
"Betul, masakah kau juga akan ikut dia ke Hing-san-pay dan menjadi nikoh di sana?"
Ujar Ngo-heng sambil bergelak tertawa, cuma suara tawanya penuh rasa getir. Lenghou Tiong lantas memberi hormat dan berkata.
"Yim-kaucu, Hiang-toako, Ing-ing, sampai bertemu pula."
Lalu ia putar tubuh dan melangkah pergi. Baru belasan tindak mendadak ia berpaling kembali dan tanya.
"Yim-kaucu, bilakah kalian akan pergi ke Hek-bok-keh?"
"Ini adalah urusan dalam agama kami, tidak perlu orang luar ikut campur,"
Sahut Yim Ngo-heng.
Ia tahu Lenghou Tiong bermaksud membantu menghadapi Tonghong Put-pay bila tiba waktunya, maka dengan tegas ditolaknya.
Lenghou Tiong manggut-manggut saja, ia jemput sebuah pedang yang berserakan di atas salju, digantungkannya di pinggang, lalu melangkah pergi lagi.
Bab 101.
Lenghou Tiong Mengetuai Kaum Nikoh Setelah membedakan arah, Lenghou Tiong terus menuju ke Siau-lim-si lagi.
Menjelang magrib tibalah di tempat tujuan.
Ia menyatakan maksud kedatangannya kepada hwesio penyambut tamu dan mohon dibolehkan mengusung jenazah Ting-sian dan Ting-yat Suthay pulang ke Hing-san.
Setelah dilaporkan, kemudian hwesio penyambut tamu memberitahukan.
"Menurut Hongtiang, jenazah kedua suthay sudah diperabukan dan sekarang sedang dilakukan sembahyangan oleh segenap penghuni biara ini. Tentang abu jenazah kedua suthay selekasnya akan kami antar ke Hing-san."
Lenghou Tiong anggap keterangan itu memang beralasan, ia minta diperbolehkan memberi hormat kepada abu kedua suthay, habis itu baru mohon diri karena Hong-ting Taysu toh tidak mau menemuinya.
Sampai di bawah gunung salju masih belum juga reda, malamnya ia mengendon pada rumah seorang petani.
Besoknya ia terus menuju ke utara.
Di suatu kota kecil ia membeli seekor kuda, sementara itu cuaca sudah terang.
Karena lengan kiri masih terasa kaku, maka perjalanannya rada terganggu, setiap hari hanya ditempuh beberapa puluh li saja lantas mencari tempat penginapan.
Ia menurutkan ajaran Yim Ngo-heng untuk melancarkan jalan darah lengannya.
Sepuluh hari kemudian urat nadi lengannya telah lancar kembali.
Beberapa hari lagi, siangnya ia mampir di suatu restoran untuk minum arak.
Tatkala mana sudah dekat tahun baru, suasana tampak ramai, orang berlalu-lalang berbelanja untuk persiapan perayaan tahun baru.
Sambil minum arak sendirian di atas loteng restoran itu, Lenghou Tiong terkenang kepada masa lampau, bila dekat tahun baru, biasanya ia dan saudara-saudara seperguruan suka membantu ibu-gurunya untuk membersihkan pekarangan, memajang ruangan, dan sebagainya, semuanya dalam suasana riang gembira.
Tapi sekarang seorang diri ia minum arak kesepian di rantau orang.
Selagi kesal, tiba-tiba terdengar suara tangga berbunyi, ada orang banyak sedang naik ke atas.
Malahan seorang sedang berkata.
"Haus benar, marilah kita minum dulu di sini."
"Seumpama tidak haus kan juga boleh minum?"
Ujar yang lain.
"Haus dan minum kan bersangkutpautan satu sama lain, kenapa dipotong-potong,"
Sahut seorang lagi. Mendengar percakapan yang bertele-tele itu segera Lenghou Tiong tahu siapa yang datang, cepat ia berseru.
"Keenam Tho-heng, lekas kemari minum bersama aku!"
Serentak terdengarlah suara gedubrakan, Tho-kok-lak-sian telah melompat ke atas bersama dan mengelilingi Lenghou Tiong, ada yang pegang tangannya, ada yang pegang bahunya, ada pula yang pegang bajunya.
Beramai-ramai mereka berteriak.
"Aku yang ketemukan dia!"
"Aku yang pegang dia paling dulu!"
"Suaraku yang pertama didengar Lenghou-kongcu, maka aku yang ketemukan dia lebih dulu!"
"He, apa-apaan kalian ini?"
Tanya Lenghou Tiong dengan tertawa heran. Tiba-tiba Tho-hoa-sian berlari ke pinggir jendela dan berseru.
"Hei, Nikoh cilik, Nikoh tua, dan dara jelita! Aku telah ketemukan Lenghou-kongcu, lekas serahkan seribu tahil perak!"
Tho-ki-sian ikut lari ke tepi jendela dan berteriak.
"Bukan dia, tapi aku yang pertama memegang Lenghou-kongcu! Lekas serahkan seribu tahil yang kalian janjikan!"
Dalam pada itu Tho-kan-sian dan Tho-sit-sian juga tidak mau kalah, sambil masih memegangi Lenghou Tiong mereka berteriak-teriak.
"Tidak, aku yang lihat dia paling dulu!"
"Aku yang ketemukan dia!"
Maka terdengarlah suara seorang wanita berseru di luar restoran.
"Benarkah kalian telah menemukan Lenghou-tayhiap?"
"Benar! Aku yang menemukan dia! Lekas serahkan uang! Ada uang ada barang!"
Demikian Tho-kok-lak-sian berkaok-kaok.
Di tengah ramai-ramai itu terdengarlah suara orang menaiki tangga loteng, orang pertama yang muncul adalah murid Hing-san-pay, Gi-ho, di belakangnya ikut pula empat nikoh dan dua nona muda, mereka adalah The Oh dan Cin Koan.
Melihat Lenghou Tiong benar-benar berada di situ, ketujuh orang itu sangat girang, ada yang memanggil "Lenghou-tayhiap", ada yang memanggil "Lenghou-toako", ada pula yang memanggil "Lenghou-kongcu".
Tho-kan-sian tiba-tiba mengadang di tengah-tengah mereka dan berkata.
"Mana uangnya? Ada uang ada barang! Tanpa seribu tahil perak takkan kuserahkan orangnya."
"Keenam Tho-heng,"
Kata Lenghou Tiong dengan tertawa.
"sebenarnya bagaimana ada soal seribu tahil perak apa segala?"
"Di tengah jalan tadi mereka bertemu dengan kami,"
Tutur Tho-ki-sian.
"Mereka tanya kepada kami apa melihat kau. Kukatakan sementara tidak. Tidak lama lagi tentu akan ketemu."
"Paman ini bohong!"
Tiba-tiba Cin Koan menyela.
"Tadi dia menjawab, ‘Lenghou Tiong punya kaki sendiri, saat ini mungkin dia berada di ujung langit, ke mana kami bisa menemukan dia?’"
"Tidak, tidak! Kami bisa meramalkan apa pun yang bakal terjadi, sebelumnya kami sudah tahu akan menemukan Lenghou-kongcu di sini!"
Bantah Tho-hoa-sian.
"Sudahlah, aku dapat menerka, tentunya para sumoay ini memang sedang mencari aku dan mereka minta kalian bantu mencarikan, lalu kalian membuka harga dengan upah seribu tahil perak, betul tidak?"
Sela Lenghou Tiong dengan tertawa.
"Salah mereka sendiri tidak pandai tawar-menawar,"
Ujar Tho-kan-sian.
"Mereka begitu royal, dimintai upah seribu tahil perak, tanpa menawar mereka terus terima baik asalkan Lenghou-tayhiap dapat diketemukan. Janji ini kan telah kalian terima?"
"Benar, memang kami telah berjanji akan menghadiahkan seribu tahil perak asalkan kalian dapat menemukan Lenghou-toako,"
Kata Gi-ho.
"Nah, sekarang bayar,"
Kata Tho-kok-lak-sian bersama sambil menjulurkan sebelah tangan masing-masing.
"Orang beragama seperti kami mana bisa membawa sekian banyak,"
Kata Gi-ho.
"Silakan kalian berenam ikut ke Hing-san untuk menerimanya nanti."
Sebenarnya Gi-ho menyangka keenam orang dogol itu mungkin sungkan ikut ke Hing-san yang jauh itu, tak terduga Tho-kok-lak-sian lantas menjawab.
"Baik, kami akan ikut ke Hing-san untuk menerima pembayaran, jangan kalian utang lho!"
"Wah, selamatlah kalian telah tertimpa rezeki nomplok,"
Kata Lenghou Tiong.
"Ah, lumayanlah, terima kasih!"
Sahut Tho-kok-lak-sian. Mendadak Gi-ho bertujuh sama menyembah kepada Lenghou Tiong dengan wajah sedih.
"He, kenapa kalian berbuat demikian?"
Tanya Lenghou Tiong terkejut dan membalas hormat.
"Tecu Gi-ho dan para sumoay menyampaikan sembah bakti kepada Ciangbunjin,"
Kata Gi-ho.
"O, jadi kalian sudah tahu? Silakan bangun untuk bicara,"
Kata Lenghou Tiong.
"Benar, bicara sambil berlutut begitu tentu tidak leluasa,"
Tho-kin-sian menimbrung.
"Keenam Tho-heng,"
Kata Lenghou Tiong.
"sekarang aku sudah termasuk orang Hing-san-pay, kami ada urusan yang mesti dirundingkan, maka kalian silakan minum arak di sebelah sana, kalian tidak boleh mengganggu jika kalian tidak mau kehilangan seribu tahil perak."
Sebenarnya Tho-kok-lak-sian bermaksud mengoceh lagi, tapi demi mendengar kata-kata terakhir itu, mereka lantas bungkam dan terpaksa menyingkir ke meja di pojok sana buat makan-minum sendiri.
Setelah Gi-ho bertujuh bangun, demi teringat kepada kematian Ting-sian dan Ting-yat Suthay, kembali mereka menangis sedih.
"Eh, aneh, bicara baik-baik begitu kenapa mendadak menangis?"
Tiba-tiba Tho-hoa-sian mengoceh. Tapi ketika Lenghou Tiong mendelik padanya, Tho-hoa-sian menjadi ketakutan dan lekas-lekas mendekap mulutnya sendiri.
"Tempo hari waktu Lenghou-toako... O, Ciangbunjin, mendarat dan tidak kembali ke kapal lagi, kemudian datang Bok-susiok dari Heng-san-pay memberi tahu kepada kami bahwa Ciangbunjin telah pergi ke Siau-lim-si untuk mencari Ting-sian dan Ting-yat Susiok. Setelah berunding, kami bermaksud ikut menyusul ke sana. Tak terduga di tengah jalan kami sudah ketemu belasan tokoh Kangouw yang membicarakan cara engkau menyerbu Siau-lim-si bersama para kesatria dan menduduki biara agung itu.
"Seorang tua pendek gemuk di antaranya mengaku she Lo, katanya Ting-sian Susiok berdua telah tewas di Siau-lim-si, sebelum wafat katanya Ciangbun-susiok telah minta engkau mewarisi kedudukan ciangbun kaum kita dan engkau sudah menerimanya dengan baik. Pesan demikian itu katanya telah didengar oleh orang banyak...."
Sampai di sini suara Gi-ho menjadi terputus-putus oleh karena tangisnya yang memilukan. Keenam sumoaynya juga ikut menangis sedih.
"Ya, waktu itu Ting-sian Suthay memang telah minta aku memikul tugas berat ini,"
Kata Lenghou Tiong.
"Tapi mengingat aku adalah seorang lelaki, namaku juga tidak baik, semua orang tahu aku adalah pemuda berandalan, mana pantas untuk menjadi ketua Hing-san-pay? Cuma keadaan pada waktu itu memang sangat mendesak, jika aku tidak menerima, tentu mati pun Ting-sian Suthay tidak tenteram hatinya. Ai, aku menjadi serbasusah."
"Tapi... tapi kami semuanya sangat mengharapkan engkau mengetuai Hing-san-pay kita,"
Kata Gi-ho.
"Ciangbun-suheng,"
Sela The Oh.
"engkau pernah memimpin kami dalam pertempuran, tidak cuma satu kali saja engkau telah menyelamatkan kami. Setiap murid Hing-san-pay cukup kenal engkau sebagai seorang kesatria dan laki-laki sejati. Meski engkau adalah orang lelaki, tapi di dalam peraturan perguruan kita toh tidak pernah melarang diketuai oleh kaum lelaki."
Gi-bun, seorang nikoh setengah tua juga ikut bicara.
"Kami menjadi sangat sedih ketika mendengar wafatnya kedua susiok, tapi demi mengetahui engkau yang bakal menjabat ciangbunjin kita sehingga Hing-san-pay tidak sampai musnah begitu saja, hati kami menjadi lega dan sangat terhibur."
"Suhuku telah dicelakai orang, kedua susiok juga telah tewas di tangan musuh,"
Demikian Gi-ho menyambung.
"dalam waktu beberapa bulan saja tiga tokoh utama Hing-san-pay dari angkatan ‘Ting’ telah wafat susul-menyusul, tapi siapa pembunuhnya sama sekali tidak diketahui. Ciangbun-suheng, sungguh sangat tepat jika engkau menjabat ciangbunjin kita, selain engkau rasanya sukarlah untuk menuntut balas bagi ketiga orang tua kita."
"Benar,"
Sahut Lenghou Tiong sambil mengangguk.
"Tugas berat menuntut balas bagi ketiga losuthay adalah di atas bahuku."
Lalu The Oh bicara lagi.
"Setelah mendengar berita duka wafatnya kedua susiok, segera kami menuju Siau-lim-si. Tapi di tengah jalan ketemu Bok-taysusiok lagi, katanya engkau sudah meninggalkan Siau-sit-san, kami dianjurkan lekas mencari jejakmu."
"Bok-taysusiok mengatakan makin cepat menemukan engkau akan makin baik,"
Sambung Cin Koan.
"Kata beliau, terlambat sedikit menemukan engkau mungkin sekali engkau sudah dibujuk orang masuk Mo-kau. Padahal antara cing-pay dan sia-pay jelas tidak bisa hidup berdampingan, Hing-san-pay akan kehilangan seorang ciangbunjin pula."
"Cin-sumoay memang suka bicara tanpa pikir, masakah Ciangbun-suheng sudi masuk Mo-kau secara begitu mudah?"
Ujar The Oh.
"Ya, tapi memang begitulah kata Bok-taysusiok,"
Sahut Cin Koan.
Dalam hati Lenghou Tiong mengakui akan kebenaran perhitungan Bok-susiok itu, apa yang sudah terjadi memang benar hampir saja ia masuk Tiau-yang-sin-kau.
Waktu itu kalau Yim-kaucu tidak memancingnya dengan alasan akan mengajarkan kunci lwekang padanya, tapi membujuknya dengan hati tulus, karena merasa utang budi dan juga mengingat kebaikan Ing-ing, bukan mustahil dirinya akan terima dengan baik ajakannya dan akan masuk ke Mo-kau bila urusan Hing-san-pay sudah diselesaikan.
"O, dengan demikian maka kalian lantas menyediakan seribu tahil perak sebagai upah kepada siapa saja yang bisa membekuk Lenghou Tiong?"
Katanya kemudian.
"Membekuk Lenghou Tiong? Masakah kami berani berbuat demikian?"
Kata Cin Koan dengan tertawa meski air matanya masih meleleh di pipinya.
"Setelah mendengar pesan Bok-taysusiok waktu itu kami lantas membagi setiap tujuh orang menjadi satu kelompok untuk mencari Ciangbun-suheng,"
Sambung The Oh.
"Untunglah tadi kami telah bertemu dengan Tho-kok-lak-sian, mereka membuka harga seribu tahil perak bagi dirimu. Padahal jangankan cuma seribu tahil, sekalipun sepuluh ribu tahil perak juga akan kami beri asalkan Ciangbun-suheng dapat diketemukan."
"Sebagai ketua kalian, rasanya aku tidak bisa memberi manfaat apa-apa bagi kalian, hanya tentang minta sedekah kepada golongan hartawan kikir dan pembesar korup rasanya banyak yang bisa kuajarkan kepada kalian,"
Ujar Lenghou Tiong dengan tersenyum.
Ketujuh murid Hing-san-pay menjadi tersenyum geli karena teringat kepada kejadian di Hokkian tempo hari, di sana mereka telah diajari cara bagaimana minta sedekah kepada Pek-pak-bwe, itu hartawan kikir yang terkenal.
Lalu Lenghou Tiong berkata pula.
"Baiklah, kalian jangan khawatir lagi. Sekali Lenghou Tiong sudah berjanji kepada Ting-sian Suthay pasti takkan mungkir janji. Ketua Hing-san-pay sudah pasti akan kujabat. Setelah kita makan kenyang segera kita berangkat ke Hing-san."
Di waktu makan Lenghou Tiong bersatu meja bersama Tho-kok-lak-sian. Ia pun tanya keenam orang itu guna apa seribu tahil perak yang mereka minta itu.
"Soalnya Ya-niau-cu (Si Kucing Malam) Keh Bu-si terlalu miskin dan akan bangkrut, dia telah bertaruh seribu tahil perak dengan kami...."
Belum habis Tho-kan-sian bicara, Tho-hoa-sian lantas memotong.
"Mana bisa Si Kucing Malam itu menang taruhan dengan kami."
Dalam hati Lenghou Tiong pikir yang kalah tentunya kalian maka ia pun bertanya.
"Taruhan tentang apa?"
"Yang dipertaruhkan ada sangkut pautnya dengan dirimu,"
Tutur Tho-kin-sian.
"Kami menduga kau pasti tidak mau menjadi ketua Hing-san-pay, tapi...."
"Si Kucing Malam yang menduga kau tidak sudi menjadi ketua Hing-san-pay,"
Sela Tho-sit-sian.
"sebaliknya kami bilang seorang laki-laki harus bisa pegang janji. Kau telah berjanji kepada nikoh tua itu untuk menjadi ketua Hing-san-pay, hal ini telah didengar setiap kesatria di jagat ini, mana bisa lagi orang mungkir janji."
"Menurut Si Kucing Malam, katanya engkau sudah biasa bertualang, tidak lama lagi tentu akan kawin dengan Seng-koh dari Mo-kau, mana mau kasak-kusuk dengan kaum nikoh lagi,"
Sambung Tho-ki-sian. Lenghou Tiong tahu Keh Bu-si sangat hormat kepada Ing-ing, tidak mungkin dia berani menyebut "Mo-kau"
Segala, tentu Tho-kok-lak-sian telah memutar balik persoalannya. Maka ia tanya pula.
"Dan kalian lantas bertaruh seribu tahil perak?"
"Benar,"
Sahut Tho-kin-sian.
"Dan pada pagi tadi kami lantas ketemu nikoh-nikoh yang sedang mencari engkau itu, katanya engkau akan dipapak untuk menjabat ketua Hing-san-pay mereka maka jelaslah kami akan menangkan taruhan seribu tahil perak."
"Dan kalian kasihan kepada Si Kucing Malam yang miskin itu, maka kalian berusaha mendapatkan seribu tahil perak untuk dia agar dia bisa bayar kekalahannya kepadamu?"
Kata Lenghou Tiong.
"Tepat, dugaanmu benar-benar sangat tepat,"
Seru Tho-hoa-sian.
"Sama pandainya seperti aku menduga sesuatu,"
Sambung Tho-sit-sian.
Lenghou Tiong tidak menggubrisnya lagi.
Habis makan rombongan mereka lantas berangkat ke Hing-san.
Suatu hari sampailah mereka di kaki Hing-san.
Rupanya anak murid Hing-san-pay sudah menerima berita lebih dulu dan beramai-ramai sudah memapak kedatangan mereka.
Begitu melihat Lenghou Tiong, segera berlutut memberi hormat dan cepat dibalas oleh Lenghou Tiong.
Semuanya merasa berduka ketika bicara tentang wafatnya Ting-sian dan Ting-yat Suthay.
Lenghou Tiong melihat Gi-lim berada di antara para murid itu dengan wajah pucat dan agak kurus daripada dulu.
Segera ia bertanya.
"Gi-lim Sumoay, apakah akhir-akhir ini kau kurang sehat?"
"Ya, baik-baik saja,"
Sahut Gi-lim dengan mata basah.
Begitulah beramai-ramai mereka lantas menuju ke atas Hing-san.
Kediaman kaum Hing-san-pay itu ternyata sangat sederhana.
Induk biaranya cuma sebuah biara kecil saja dan disebut Bu-sik-am, di sekeliling biara itu ada 20-30 buah rumah genting yang merupakan tempat tinggal para murid.
Seperti si cebol ketemu raksasa bila Bu-sik-am ini dibandingkan dengan Siau-lim-si yang megah itu.
Masuk ke dalam biara itu, Lenghou Tiong melihat yang dipuja adalah Dewi Koan-im berjubah putih, ruangan terawat sangat bersih dengan serbasederhana.
Lebih dulu Lenghou Tiong sembahyang di depan patung Dewi Koan-im, lalu Ih-soh bertindak sebagai penunjuk membawanya ke kamar yang biasa dipakai Ting-sian Suthay untuk semadi, keadaan kamar itu pun bersih tanpa sesuatu pajangan, hanya sebuah kasuran bundar kecil terletak di lantai, di sisinya sebuah bok-hi (kentungan kecil berbentuk ikan) yang sudah tua, selain itu tiada benda lain lagi.
Watak Lenghou Tiong suka bergerak dan biasa hidup di tempat ramai, dia gemar minum arak pula, mana bisa disuruh hidup di tempat sesunyi ini?
Katanya kemudian kepada Ih-soh.
"Meski aku menjabat ketua di sini, tapi aku tidak menjadi nikoh, juga para suci dan sumoay di sini adalah kaum wanita semua, hanya aku saja seorang lelaki, tentu aku menjadi rikuh. Maka sebaiknya kau sediakan sebuah rumah yang agak berjauhan dari sini, biarlah aku tinggal di sana bersama Tho-kok-lak-sian."
Ih-soh mengiakan, katanya.
"Di sebelah barat sana ada empat buah rumah yang biasa digunakan sebagai tempat tamu. Kalau Ciangbunjin setuju bolehlah sementara tinggal di sana saja. Lain hari kita dapat membangun rumah kediaman baru bagi Ciangbunjin."
"Bagus sekali tempat itu, buat apa bangun rumah baru segala?"
Ujar Lenghou Tiong.
Ia pikir memangnya aku mau menjadi ciangbunjin di sini selama hidup?
Asalkan nanti sudah ada calon ketua yang tepat kan dapat kuserahkan kedudukan ini kepadanya dan aku akan kembali hidup berkelana secara bebas gembira di dunia Kangouw.
Rumah tamu yang dimaksud itu ternyata tiada ubahnya seperti rumah kaum petani kaya dengan perlengkapan meja kursi, tempat tidur dengan kasur, walaupun kasar juga, tapi sudah lebih mendingan daripada kamar kediaman Ting-sian Suthay yang kosong itu.
"Eh, ke mana perginya Tho-kok-lak-sian?"
Tanya Lenghou Tiong.
"Sedang minum arak di rumah belakang,"
Sahut Ih-soh.
"He, di sini tersedia arak?"
Tanya Lenghou Tiong dengan girang.
"Tidak cuma arak saja, bahkan arak pilihan,"
Ujar Ih-soh.
"Ketika Gi-lim Sumoay mengetahui Ciangbunjin akan tiba, dia bilang padaku kalau tiada disediakan arak enak, mungkin jabatan ketuamu ini takkan lama dipangku, maka malam-malam kami kirim orang turun gunung untuk membeli belasan guci arak enak sebagai persediaan."
Lenghou Tiong merasa tidak enak, katanya.
"Ai, hidup kaum kita biasanya sangat sederhana, tapi untuk diriku seorang mesti membuang biaya sebanyak ini, sebenarnya tidak perlu."
"Ciangbunjin jangan khawatir,"
Sela Gi-jing.
"Uang sedekah yang diperoleh dari Pek-pak-bwe dahulu masih sisa cukup banyak, untuk uang minum Ciangbunjin rasanya masih cukup untuk sepuluh tahun lamanya."
Begitulah malamnya Lenghou Tiong lantas minum sepuas-puasnya bersama Tho-kok-lak-sian.
Besok paginya dia berunding dengan Gi-jing, Ih-soh, dan lain-lain tentang cara bagaimana memulangkan abu tulang Ting-sian dan Ting-yat Suthay serta cara menuntut balas bagi kematian ketiga suthay tua itu.
Gi-jing berkata.
"Ciangbun-suheng menjadi ketua baru, hal ini harus diumumkan kepada sesama teman dunia persilatan, juga mesti kirim utusan untuk memberitahukan Co-supek selaku Bengcu Ngo-gak-kiam-pay."
"Huh, justru keparat-keparat Ko-san-pay itulah yang mencelakai suhu dan susiok kita, buat apa kita memberitahukan mereka apa segala?"
Dengus Gi-ho dengan gusar.
"Kita tak boleh mengabaikan adat istiadat,"
Ujar Gi-jing.
"Bila kelak kita sudah selidiki dengan jelas, kalau memang betul ketiga guru kita dicelakai oleh pihak Ko-san-pay, tatkala mana beramai-ramai kita di bawah Ciangbun-suheng pasti akan membikin perhitungan dengan mereka."
"Ucapan Gi-jing Suci memang benar,"
Kata Lenghou Tiong.
"Cuma jabatan ketua ini, terang sudah jadi kujabat, buat apa pakai tata adat segala?"
Ia masih ingat ketika dahulu gurunya menjabat ketua Hoa-san-pay, upacara yang diselenggarakan sungguh sangat ramai, kawan-kawan bu-lim yang datang memberi selamat juga tak terhitung banyaknya.
Ia pun teringat kepada peristiwa Lau Cing-hong dari Heng-san-pay ketika mengadakan upacara mengundurkan diri, waktu itu Kota Heng-san juga berjubel dengan orang-orang bu-lim.
Sekarang dirinya diangkat menjadi ketua Hing-san-pay, kalau yang datang memberi selamat hanya sedikit akan berarti kehilangan muka, sebaliknya kalau pengunjung teramat banyak, tentunya akan menertawakan pula melihat seorang laki-laki diangkat menjadi ketua kaum nikoh.
Rupanya Gi-jing paham perasaan Lenghou Tiong, katanya kemudian.
"Kalau Ciangbun-suheng sungkan mengundang teman-teman dunia persilatan, maka tidak perlu kita mengundang para peninjau upacara. Namun kita harus juga menetapkan suatu hari resmi pengangkatanmu sebagai ciangbunjin dan dipermaklumkan kepada semua pihak."
Lenghou Tiong pikir Hing-san-pay adalah satu di antara Ngo-gak-kiam-pay, kalau upacara pengangkatan ketua baru dilaksanakan dengan terlalu sederhana rasanya akan merugikan pamor Hing-san-pay sendiri maka ia terima baik saran Gi-jing itu.
Hanya dia minta agar Gi-jing memilih suatu hari baik dalam waktu tidak lama lagi.
Gi-jing mengambil buku primbon untuk memilih hari baik, setelah diteliti, akhirnya ia mengajukan hari tanggal 16 bulan dua.
Lenghou Tiong pikir makin singkat waktunya tentu makin sedikit pengunjung-pengunjung yang sempat datang.
Maka ia terima baik penetapan hari itu.
Segera beberapa murid ditugaskan pergi ke Siau-lim-si untuk menjemput abu tulang kedua suthay, berbareng menyampaikan surat edaran.
Kepada murid-murid yang diutus itu dia beri pesan agar tidak menyiarkan urusannya secara berlebihan, kepada para ciangbunjin dari berbagai golongan dan aliran yang diberi tahu itu agar dikatakan bahwa sakit hati tewasnya kedua suthay belum terbalas, dalam keadaan berkabung, maka pengangkatan ketua baru tidak dilakukan upacara apa-apa, maka para ciangbunjin itu tidak perlu mengirim peninjau dan sebagainya.
Setelah mengirimkan para murid itu, Lenghou Tiong berpikir pula.
"Sebagai ketua Hing-san-pay, seharusnya aku memahami ilmu pedang Hing-san-pay dengan lebih baik."
Maka anak murid Hing-san-pay lantas dikumpulkan dan suruh setiap orang memainkan ilmu pedang yang telah dipelajari mereka.
Dari ilmu pedang anak murid itu Lenghou Tiong dapat menarik kesimpulan bahwa ilmu pedang Hing-san-pay memang bagus, tapi lebih mengutamakan bertahan hanya pada saat-saat tak terduga mendadak melancarkan serangan maut.
Sejak mempelajari Tokko-kiu-kiam, Lenghou Tiong dapat mengetahui titik kelemahan pada jurus serangan musuh mana pun juga.
Maka menurut pandangannya Hing-san-kiam-hoat boleh dikata ilmu pedang yang mempunyai kelemahan yang sangat sedikit.
Kalau bicara kekuatan bertahan hanya di bawah Thay-kek-kiam-hoat Bu-tong-pay saja, pada serangan maut pada waktu tertentu secara mendadak sebaliknya lebih bagus daripada Thay-kek-kiam-hoat.
Teringat olehnya pada dinding gua di puncak Hoa-san dahulu itu ada sejurus Hing-san-kiam-hoat yang sangat bagus dan jauh lebih lihai daripada ilmu pedang yang diperlihatkan Gi-jing dan kawan-kawannya sekarang.
Walaupun begitu toh Hing-san-kiam-hoat bagus itu telah dibobolkan juga oleh lawan menurut ukiran di dinding gua itu.
Maka untuk perkembangan Hing-san-pay di masa mendatang rasanya perlu perbaikan dasar-dasar ilmu pedangnya yang lebih kuat.
Ia jadi teringat lagi kepada ilmu pedang yang pernah dilihatnya dari Ting-sian, Ting-cing, dan Ting-yat Suthay yang jauh lebih bagus dari Gi-jing dan lain-lain, tampaknya kepandaian ketiga suthay tua itu masih ada sebagian besar belum diajarkan kepada anak muridnya.
Sekarang ketiga suthay itu telah tewas berturut-turut dalam waktu beberapa bulan saja, terang macam-macam ilmu silatnya yang bagus itu akan lenyap juga.
Melihat Lenghou Tiong termenung-menung tak bicara, berkatalah Gi-ho.
"Ciangbun-suheng, kepandaian kami tentu saja masih sangat hijau, maka diharapkan petunjuk-petunjukmu yang berharga."
"Ada suatu jurus Hing-san-kiam-hoat, entah ketiga suthay tua pernah mengajarkan kepada kalian atau belum?"
Kata Lenghou Tiong.
Lalu ia pinjam pedang Gi-ho serta memainkan ilmu pedang Hing-san-pay yang pernah dilihatnya pada dinding gua dahulu itu.
Ia mainkan pedangnya dengan sangat lambat agar dapat diikuti dengan jelas oleh para murid.
Hanya beberapa gerakan saja para murid itu sudah sama bersorak memuji.
Ternyata setiap gerakannya selalu meliputi inti kekuatan ilmu pedang yang hebat dengan perubahan-perubahan yang aneh, entah betapa lebih hebat daripada ilmu pedang yang telah mereka pelajari.
Sungguh ilmu pedang yang baru dan hebat ini membikin semangat mereka terbangkit dan merasa bangga.
Selesai Lenghou Tiong memainkan ilmu pedangnya, serentak para murid menyembah ke hadapannya dengan penuh kekaguman.
Gi-ho berkata.
"Ciangbun-suheng, jelas ilmu pedang ini adalah Hing-san-kiam-hoat kita, mengapa selamanya kami belum pernah melihatnya, entah dari mana engkau mempelajarinya?"
"Aku melihatnya pada ukiran yang berada di suatu gua,"
Sahut Lenghou Tiong.
"Jika kalian ingin belajar bolehlah kuajarkan kepada kalian."
Para murid sangat girang, beramai mereka mengucapkan terima kasih.
Seharian itu Lenghou Tiong lantas mengajarkan tiga jurus kepada mereka dengan memberikan penjelasan di mana letak kehebatan ketiga jurus itu, lalu para murid disuruh berlatih sendiri.
Meski cuma 3 jurus permulaan ilmu pedang itu, namun cukup luas dan dalam untuk dipahami, sekalipun murid-murid terpandai seperti Gi-ho, Gi-jing, dan lain-lain juga memakan waktu lima-enam hari untuk memahaminya, apalagi murid-murid muda seperti The Oh, Cin Koan, dan lain-lain, mereka perlu beberapa hari lebih lama.
Sampai hari kesepuluh, kembali Lenghou Tiong mengajarkan dua jurus pula.
Begitulah meski ilmu pedang itu hanya terdiri dari beberapa jurus saja, tapi diperlukan waktu hampir sebulan barulah anak murid Hing-san-pay itu dapat mempelajarinya dengan baik.
Selama sebulan itu utusan-utusan yang dikirim pergi itu berturut-turut sudah pulang, semuanya memperlihatkan muka yang suram, waktu lapor kepada Lenghou Tiong juga tergagap-gagap bicaranya.
Namun Lenghou Tiong juga tidak tanya secara mendalam.
Ia tahu anak murid itu tentu telah banyak mendapat cemooh dan ejekan, misalnya mengolok-olok kaum nikoh muda sekarang mengangkat seorang laki-laki muda sebagai ketua dan macam-macam lagi.
Tapi Lenghou Tiong telah menghibur mereka dengan kata-kata halus dan suruh mereka belajar ilmu pedang baru kepada teman-teman yang lain, kalau kurang jelas boleh tanya langsung padanya.
Utusan yang dikirim ke Hoa-san adalah Ih-soh dan Gi-bun yang cukup berpengalaman.
Jarak Hoa-san dan Hing-san tidak terlalu jauh, seharusnya mereka dapat pulang lebih dulu daripada utusan yang lain, tapi sekarang utusan-utusan lain sudah pulang, sebaliknya Ih-soh dan Gi-bun malah belum kembali.
Sementara itu tanggal 16 bulan dua sudah makin mendekat dan Ih-soh serta Gi-bun tetap tidak tampak pulang, Lenghou Tiong lantas kirim lagi dua murid yang lain, Gi-kong dan Gi-beng, untuk menyusul ke Hoa-san.
Bab 102.
Lenghou Tiong Dilarang Menjabat Ciangbunjin Hing-san-pay oleh Co Leng-tan Karena menduga takkan kedatangan tamu, maka para murid juga tidak menyiapkan tempat pondokan dan makanan bagi tetamu.
Mereka cuma sibuk menggosok lantai, mengapur dinding, dan bikin pembersihan di mana perlu.
Masing-masing anak murid itu pun membuat baju dan sepatu baru.
The Oh dan lain-lain juga membuatkan suatu setel jubah hijau bagi Lenghou Tiong untuk dipakai pada hari upacara nanti.
Pagi-pagi hari tanggal 16 bulan dua, waktu Lenghou Tiong bangun, dilihatnya suasana puncak Kian-seng-hong di Hing-san itu benar-benar meriah.
Anak murid Hing-san-pay itu ternyata sangat rajin mengatur perayaan yang akan dilangsungkan itu.
Lenghou Tiong merasa terharu.
"Lantaran diriku sehingga kedua suthay tua mengalami nasib malang, tapi anak muridnya tidak menyalahkan aku, sebaliknya malah menghargai diriku sedemikian rupa. Maka kalau tidak dapat membalaskan sakit hati kematian ketiga suthay tua, percumalah aku menjadi manusia."
Selagi melamun sambil memandangi salju yang menyelimuti puncak gunung di kejauhan, tiba-tiba di jalanan yang menuju ke atas itu terdengar hiruk-pikuk serombongan orang.
Padahal Kian-seng-hong biasanya tenang dan sunyi, selamanya tak pernah terdengar suara ribut demikian.
Biarpun Tho-kok-lak-sian yang suka geger itu pun tidak sampai gembar-gembor seramai itu, apalagi kedengarannya jumlahnya jauh lebih banyak daripada enam orang.
Tengah heran, terdengarlah suara langkah orang banyak, beberapa ratus orang telah membanjir ke atas puncak situ.
Seorang paling depan terus berseru.
"Terimalah ucapan selamat kami, Lenghou-kongcu! Bahagialah engkau hari ini!"
Orang itu pendek lagi gemuk, siapa lagi kalau bukan Lo Thau-cu.
Di belakangnya tampak ikut Keh Bu-si, Coh Jian-jiu, Ui Pek-liu, dan lain-lain.
Kejut dan girang pula Lenghou Tiong, cepat ia memapak maju sambil berkata.
"Aku menerima pesan terakhir Ting-sian Suthay dan terpaksa mengetuai Hing-san-pay, sesungguhnya aku tidak berani bikin repot para kawan. Mengapa kalian malah datang semua ke sini?"
Lo Thau-cu dan rombongannya ini pernah ikut Lenghou Tiong menggempur Siau-lim-si, setelah mengalami pertarungan mati-matian itu di antara mereka sudah terjalin persahabatan yang kekal.
Maka beramai-ramai mereka lantas merubung maju sambil mengelu-elukan Lenghou Tiong dengan mesranya.
"Setelah mendengar kabar bahwa Lenghou-kongcu telah berhasil menyelamatkan Seng-koh, semua orang menjadi sangat girang,"
Demikian Lo Thau-cu berkata.
"Tentang Kongcu akan menjabat ketua Hing-san-pay, hal ini sudah tersiar dengan menggemparkan Kangouw, maka siapa pun sudah mengetahuinya. Dari sebab itulah kami datang mengucapkan selamat padamu."
"Kami adalah tamu-tamu yang tidak diundang, maka Hing-san-pay tentu tidak menyediakan ransum bagi orang-orang kasar seperti kami ini, maka soal makanan dan arak kami telah bawa sendiri dan sebentar juga akan tiba,"
Sambung Ui Pek-liu.
"Wah, bagus sekali!"
Kata Lenghou Tiong dengan girang. Ia pikir suasana demikian menjadi mirip sekali dengan pertemuan besar di Ngo-pah-kang dahulu. Tengah bicara kembali ada beberapa ratus orang membanjir ke atas lagi.
"Lenghou-kongcu,"
Kata Keh Bu-si dengan tertawa.
"kita adalah orang sendiri, maka anak murid perempuanmu yang lemah lembut itu tidak perlu meladeni orang-orang kasar seperti kami ini. Biarlah kita pakai acara bebas, kami akan melayani kami sendiri."
Sementara itu suasana di atas Kian-seng-hong sudah ramai sekali, murid Hing-san-pay sama sekali tak menduga akan kedatangan tamu sedemikian banyak, banyak di antara mereka ikut gembira.
Tapi beberapa di antaranya yang lebih tua dan berpengalaman merasa tamu-tamu itu dikenalnya sebagai tokoh-tokoh kalangan sia-pay yang biasanya tidak kenal-mengenal dengan pihak Hing-san-pay, tak terduga hari ini berbondong-bondong telah sama datang, apalagi ciangbunjin baru itu kelihatan sangat akrab menyambut kedatangan mereka, mau tak mau anak murid Hing-san-pay yang lebih tua itu merasa serbabingung.
Siangnya muncul pula beberapa laki-laki yang membawa ayam, itik, kambing, dan kerbau, sayur-mayur dan beras tepung, rupanya itulah perbekalan rombongan Lo Thau-cu yang dikatakan tadi.
Lenghou Tiong pikir Hing-san-pay memuja Dewi Koan-im, sekarang dirinya baru saja menjabat ketua sudah lantas sembelih kambing dan potong kerbau, rasanya terlalu mencolok dan tidak enak terhadap leluhur Hing-san-pay.
Segera ia perintahkan rombongan tukang masak itu memindahkan "dapur umum"
Ke pinggang gunung yang agak jauh.
Walaupun begitu asap dan bau masakan daging itu toh teruar juga ke atas puncak.
Keruan para nikoh sama mengerut kening.
Setelah makan siang, para tamu sama duduk memenuhi pelataran di depan biara induk.
Lenghou Tiong sendiri duduk di ujung barat, para murid Hing-san-pay sama berdiri di belakangnya menurut urut-urutan usia dan tingkatan masing-masing.
Selagi upacara akan dimulai, tiba-tiba terdengar suara seruling, serombongan orang muncul pula ke atas puncak mengiringi dua orang tua berbaju hitam.
Seorang tua yang berada paling depan itu berseru.
"Tonghong-kaucu dari Tiau-yang-sin-kau mengutus kedua Kong-beng-sucia untuk memberi selamat kepada Lenghou-tayhiap yang diangkat menjadi ketua Hing-san-pay. Semoga Hing-san-pay berkembang lebih jaya dan wibawa Lenghou-tayhiap lebih gemilang di dunia persilatan."
Mendengar ucapan itu, semua orang sama berseru gempar.
Sedikit-banyak orang-orang Kangouw seperti Lo Thau-cu dan lain-lain itu ada hubungannya dengan Mo-kau, malahan banyak di antaranya telah minum "Sam-si-nau-sin-tan"
Yang diberi Tonghong Put-pay, yaitu obat racun yang bekerja secara berkala. Maka begitu mendengar "Tonghong-kaucu"
Disebut, mereka menjadi sangat ketakutan.
Kebanyakan di antara mereka pun kenal kedua kakek utusan Tonghong Put-pay itu, yang di sebelah kiri, yaitu yang bicara tadi, bernama Kah Po, bergelar "Wi-bin-cun-cia", Si Duta Agung Muka Kuning.
Sedangkan kakek sebelah kanan bernama Siangkoan In, berjuluk "Tiau-hiap", Si Pendekar Rajawali.
Kah Po dan Siangkoan In adalah pembantu utama dan merupakan tangan kanan-kiri Tonghong Put-pay, tinggi ilmu silat mereka jauh di atas tokoh-tokoh sebangsa pangcu atau congthocu umumnya.
Si Muka Kuning Kah Po asalnya adalah Pangcu Wi-soa-pang di Lembah Hongho, selama berpuluh tahun malang melintang di wilayah kekuasaannya entah sudah jatuhkan betapa banyak kaum kesatria dan jago persilatan.
Kemudian dia ditaklukkan oleh Tonghong Put-pay, lalu masuk Mo-kau dan menjadilah pembantu utama ketua Mo-kau itu.
Sekarang Tonghong Put-pay mengutus kedua pembantu utamanya datang ke Hing-san, hal ini boleh dikata suatu penghargaan tertinggi bagi Lenghou Tiong.
Maka semua orang lantas berdiri demi tampak datangnya Kah Po dan Siangkoan In.
Lenghou Tiong juga lantas memapak ke depan, katanya.
"Selamanya Cayhe belum kenal Tonghong-kaucu, banyak terima kasih atas kunjungan Tuan-tuan berdua."
Ia melihat muka Kah Po kuning seperti malam, kedua pelipisnya menonjol.
Sedangkan sinar mata Siangkoan In tampak berkilat tajam, nyata sekali lwekang kedua orang sangatlah tinggi.
Begitulah Kah Po lantas bicara pula.
"Hari bahagia Lenghou-tayhiap ini mestinya Tonghong-kaucu bermaksud datang sendiri buat memberi selamat, cuma beliau sedang sibuk menghadapi macam-macam pekerjaan sehingga sukar membagi waktu, untuk ini mohon Lenghou-tayhiap sudi memberi maaf."
"Ah, mana aku berani,"
Sahut Lenghou Tiong.
Dalam hati ia pikir kalau melihat lagak utusan Tonghong Put-pay ini, agaknya Yim-kaucu belum berhasil merebut kembali kedudukan kaucunya.
Dan entah bagaimana keadaan Yim-kaucu itu bersama Hiang-toako serta Ing-ing.
Dalam pada itu Kah Po tampak miringkan tubuhnya dan mengacungkan sebelah tangan ke belakang sambil berkata.
"Sedikit oleh-oleh ini adalah tanda mata dari Tonghong-kaucu, mohon Lenghou-ciangbun sudi menerimanya."
Dan di tengah suara tetabuhan dan tiupan seruling terlihatlah ratusan orang menggotong empat puluh buah peti besar ke depan.
Setiap peti itu digotong oleh empat laki-laki kekar, melihat tindakan penggotong-penggotong yang berat itu dapat dibayangkan isi peti tentu juga tidak ringan.
Cepat Lenghou Tiong berkata.
"Ah, kunjungan Tuan-tuan berdua saja bagi Lenghou Tiong sudah merupakan suatu kehormatan besar, masakah Cayhe berani pula menerima hadiah sebesar ini. Harap disampaikan kepada Tonghong-kaucu bahwa Cayhe mengucapkan banyak terima kasih. Pada umumnya anak murid Hing-san-pay hidup secara sederhana sehingga tidak memerlukan barang-barang semewah dan sebanyak ini."
"Jika Lenghou-ciangbun tidak sudi menerima, maka Cayhe dan Siangkoan-heng yang menjadi serbasusah,"
Ujar Kah Po. Lalu ia berpaling kepada Siangkoan In dan bertanya.
"Betul tidak, Saudaraku?"
"Betul!"
Kata Siangkoan In.
Sungguh di luar dugaan, begitu keras dan lantang suaranya sehingga anak telinga orang-orang lain serasa tergetar.
Mungkin dia sendiri pun tahu suaranya teramat keras, maka biasanya dia tidak banyak bicara, sejak datangnya tadi juga baru sekarang ia mengucapkan sebuah kata "betul"
Itu.
Lenghou Tiong menjadi serbaberat menghadapi persoalan ini.
Hing-san-pay adalah golongan cing-pay yang tidak bisa hidup bersama Mo-kau.
Apalagi Yim-kaucu dan Ing-ing selekasnya juga akan meluruk dan bikin perhitungan kepada Tonghong Put-pay, mana boleh aku menerima sumbanganmu pula?
Demikian ia menimbang-nimbang.
Kemudian ia berkata pula.
"Harap Kah-heng berdua suka sampaikan kepada Tonghong-siansing bahwa sumbangannya ini sekali-kali tak berani kuterima. Bila kalian tidak mau membawa pulang barang-barang sumbangan ini, terpaksa Cayhe menyuruh orang mengantar ke sana."
Kah Po tersenyum, jawabnya.
"Apakah Lenghou-ciangbun mengetahui apa isi ke-40 peti ini?"
"Sudah tentu tidak tahu,"
Sahut Lenghou Tiong.
"Bila Lenghou-ciangbun sudah melihat isinya tentu takkan menolak lagi,"
Ujar Kah Po dengan tertawa.
"Sesungguhnya isi ke-40 peti itu juga tidak seluruhnya adalah sumbangan Tonghong-kaucu, tapi sebagian harus diserahkan kepada Lenghou-ciangbun sendiri, antaran kami ini boleh dikata mengembalikan barangnya kepada pemiliknya saja."
Lenghou Tiong menjadi heran.
"Apa, kau bilang barangku? Barang apakah itu?"
Tanyanya bingung. Kah Po maju selangkah dan bicara dengan suara tertahan.
"Sebagian besar di antaranya adalah pakaian, perhiasan, dan barang-barang keperluan sehari-hari yang ditinggalkan Yim-siocia di Hek-bok-keh, sekarang Tonghong-kaucu menyuruh kami antar ke sini agar bisa dipakai oleh Yim-siocia. Sebagian pula di antaranya adalah sumbangan Kaucu kepada Lenghou-ciangbun dan Yim-siocia, oleh karena itu harap Lenghou-ciangbun jangan sungkan-sungkan lagi dan sudi menerimanya. Haha!"
Watak Lenghou Tiong memang suka blakblakan dan tidak suka pelungkar-pelungker, melihat maksud sumbangan Tonghong Put-pay itu memang sungguh-sungguh, apalagi sebagian barang-barang itu adalah milik Ing-ing, maka ia pun tidak menolak lagi, sambil bergelak tertawa ia berkata.
"Haha, baiklah kuterima. Banyak terima kasih."
Pada saat itulah seorang murid perempuan tampak mendekati dan melapor.
"Tiong-hi Totiang dari Bu-tong-pay datang sendiri untuk memberi selamat."
Lenghou Tiong terkejut, cepat ia memburu ke sana untuk menyambut. Dilihatnya Tiong-hi Tojin bersama delapan muridnya sedang naik ke atas. Lenghou Tiong membungkukkan tubuh memberi hormat dan menyapa.
"Atas kunjungan Totiang ini, sungguh Lenghou Tiong merasa sangat berterima kasih."
"Lenghou-laute dengan bahagia diangkat sebagai ketua Hing-san-pay, berita ini sungguh sangat menggirangkan Pinto,"
Sahut Tiong-hi Tojin.
"Kabarnya Hong-ting dan Hong-sing Taysu dari Siau-lim juga akan datang memberi selamat. Entah mereka berdua sudah tiba belum?"
Keruan Lenghou Tiong tambah tercengang, sahutnya.
"Wah, ini... ini...."
Pada saat itulah jalan pegunungan itu tampak muncul pula serombongan hwesio, dua orang paling depan jelas adalah Hong-ting dan Hong-sing Taysu.
"Tiong-hi Toheng, cepat amat langkahmu sehingga mendahului kami,"
Seru Hong-ting Taysu dari jauh. Cepat Lenghou Tiong memapak ke depan dan berseru.
"Kunjungan kedua Taysu sungguh suatu kehormatan besar bagi Lenghou Tiong."
Dengan tertawa Hong-sing Taysu menjawab.
"Lenghou-siauhiap, kau sendiri sudah tiga kali berkunjung ke Siau-lim-si, sekarang kami balas berkunjung satu kali ke Hing-san sini kan cuma sekadar kunjungan timbal balik saja."
Begitulah Lenghou Tiong menyongsong rombongan-rombongan Siau-lim-pay dan Bu-tong-pay itu ke atas.
Melihat ketua-ketua dari Siau-lim-pay dan Bu-tong-pay sendiri yang datang, hal ini sungguh membikin para jagoan Kangouw sama terperanjat.
Kah Po dan Siangkoan In saling pandang sekejap, mereka anggap tidak tahu saja kedatangan Tiong-hi Tojin, Hong-ting Taysu, dan rombongannya.
Lalu Lenghou Tiong menyilakan Hong-ting dan lain-lain ke tempat duduk yang paling terhormat.
Dalam hati ia tidak habis pikir kunjungan tetamunya yang luar biasa itu.
Ia ingat dahulu waktu suhunya menjabat ketua Hoa-san-pay, pihak Siau-lim-pay dan Bu-tong-pay hanya kirim utusan untuk mengucapkan selamat.
Sekarang ketua-ketua kedua aliran teragung di dunia persilatan ini ternyata sudi berkunjung sendiri padanya, apakah mereka benar-benar datang memberi selamat atau masih ada maksud tujuan lain?
Sementara itu tamu-tamu yang berdatangan masih tidak terputus-putus, kebanyakan adalah jago-jago yang pernah ikut menggempur Siau-lim-si tempo hari.
Menyusul utusan-utusan Kun-lun-pay, Tiam-jong-pay, Go-bi-pay, Kong-tong-pay, Kay-pang, dan lain-lain juga tiba dengan membawa sumbangan-sumbangan dan kartu ucapan selamat dari ketua masing-masing.
Begitu banyak tamu-tamu yang datang itu ternyata tiada terdapat utusan-utusan dari Ko-san-pay, Hoa-san-pay, dan Thay-san-pay.
Dalam pada itu terdengarlah suara petasan yang ramai, rupanya sudah tiba waktunya upacara dilangsungkan.
Lenghou Tiong berbangkit dan memberikan hormat kepada para hadirin sambil mengucapkan sepatah dua kata pengantar.
Di tengah suara tetabuhan kecer dan keleningan, anak murid Hing-san-pay mulai berbaris ke tengah pelataran dengan dipimpin oleh keempat murid tertua, yaitu Gi-ho, Gi-jing, Gi-cin, dan Gi-cit.
Keempat murid tertua itu menghadap ke depan Lenghou Tiong dan memberi hormat.
Gi-ho berkata.
"Keempat alat keagamaan ini adalah pusaka warisan dari cikal bakal Hing-san-pay Hiau-hong Suthay, biasanya berada di bawah penguasaan ciangbunjin, maka ciangbunjin baru sekarang, Lenghou-suheng, diharap sudi menerimanya."
Lenghou Tiong mengiakan. Lalu keempat murid tertua itu menyerahkan alat-alat keagamaan yang mereka bawa itu kepada Lenghou Tiong. Yaitu se
Jilid kitab, sebuah bok-hi (kentung kecil berbentuk ikan dari kayu), serenceng tasbih, dan sebatang pedang pendek.
Rada kikuk juga Lenghou Tiong diharuskan menerima bok-hi dan tasbih segala, soalnya dia toh tidak pernah sembahyang dan baca kitab.
Tapi terpaksa diterimanya sambil menunduk.
Lalu Gi-jing membuka sebuah kitab dan berseru.
"Empat pantangan besar Hing-san-pay. Pertama, pantang membunuh yang tak berdosa. Kedua, pantang membikin onar dan melakukan kejahatan. Ketiga, dilarang membangkang atasan dan berkhianat. Keempat, dilarang bergaul dengan golongan sesat dan penjahat. Untuk mana hendaklah Ciangbun-suheng memberi teladan dan memimpin para Tecu dengan bijaksana."
Kembali Lenghou Tiong mengiakan.
Tapi dalam hati ia pikir larangan keempat tentang tidak boleh bergaul dengan golongan sesat dan orang jahat segala rasanya sukar dijalankan.
Yang jelas tetamu yang hadir sekarang ada sebagian besar terdiri dari golongan sia-pay.
Kemudian Gi-cin berkata.
"Sekarang silakan Ciangbun-suheng masuk biara untuk sembahyang kepada arwah para leluhur Hing-san-pay kita."
Lenghou Tiong mengiakan lagi. Tapi sebelum dia melangkah, tiba-tiba dari jalan sana ada orang berteriak.
"Perintah dari Co-bengcu Ngo-gak-kiam-pay bahwa Lenghou Tiong tidak boleh menyerobot kedudukan ketua Hing-san-pay."
Lenyap suara itu, muncul secepat terbang lima orang, di belakangnya menyusul pula beberapa puluh orang.
Kelima orang di depan itu masing-masing membawa sebuah panji sulam.
Itulah panji persekutuan Ngo-gak-kiam-pay.
Kira-kira beberapa meter di depan Lenghou Tiong, kelima orang itu lantas berdiri berjajar.
Yang berdiri di tengah adalah seorang pendek gemuk, berwajah kekuning-kuningan dan berusia 50-an.
Segera Lenghou Tiong mengenal orang itu sebagai Lim Ho yang berjuluk "Tay-im-yang-jiu", yaitu salah seorang tokoh terkemuka Ko-san-pay.
Waktu bertarung di daerah Holam tempo hari kedua tangan Lim Ho pernah ditembus oleh tusukan pedang Lenghou Tiong.
Jadi di antara mereka sudah terikat permusuhan.
"O, kiranya Lim-heng adanya,"
Demikian Lenghou Tiong menyapa. Lim Ho mengebaskan panji yang dipegangnya itu, katanya.
"Hing-san-pay adalah anggota Ngo-gak-kiam-pay, maka harus tunduk kepada perintah Co-bengcu."
"Tapi setelah aku menjabat ketua Hing-san-pay, apakah selanjutnya masih menjadi anggota Ngo-gak-kiam-pay atau tidak masih harus kupikirkan dulu,"
Sahut Lenghou Tiong dengan tersenyum.
Sementara itu, beberapa puluh orang di belakang tadi juga sudah merubung tiba.
Kiranya terdiri dari anak murid Ko-san-pay, Heng-san-pay, Hoa-san-pay, dan Thay-san-pay.
Delapan orang Hoa-san-pay adalah para sute Lenghou Tiong, orang-orang Ko-san-pay dan lain-lain juga sebagian besar sudah dikenalnya.
Beberapa puluh orang itu berbaris menjadi empat kelompok, semuanya siap siaga dan tidak buka suara.
Lim Ho lantas bicara pula.
"Selamanya Hing-san-pay diketuai oleh kaum nikoh. Sebagai orang lelaki mana boleh Lenghou Tiong melanggar peraturan Hing-san-pay yang sudah turun-temurun ratusan tahun ini?"
"Peraturan dibuat oleh manusia dan tentu pula dapat diubah oleh manusia, hal ini adalah urusan dalam Hing-san-pay kami, orang luar tidak perlu ikut campur,"
Sahut Lenghou Tiong. Serentak pula terdengar caci maki Lo Thau-cu dan kawan-kawannya kepada Lim Ho.
"Huh, urusan Hing-san-pay sendiri, peduli apa dengan Ko-san-pay kalian?"
"Hm, bengcu apa segala? Bengcu kentut anjing!"
"Hayolah lekas enyah dari sini saja!"
"Orang-orang yang bermulut kotor ini kerja apakah di sini?"
Tanya Lim Ho kepada Lenghou Tiong.
"Mereka adalah kawan-kawanku yang hadir mengikuti upacara,"
Sahut Lenghou Tiong.
"Itu dia,"
Kata Lim Ho.
"Coba katakan padaku, apa larangan keempat dari peraturan Hing-san-pay kalian?"
"Larangan keempat itu menyatakan dilarang bergaul dengan orang jahat,"
Sahut Lenghou Tiong sengaja.
"Memang, manusia semacam Lim-heng sudah tentu takkan digauli oleh Lenghou Tiong."
Maka gemuruhlah suara tawa orang ramai, banyak di antaranya berteriak-teriak.
"Nah, lekas enyah dari sini manusia jahat!"
Lim Ho terpaksa berpaling dan bicara kepada Hong-ting Taysu dan Tiong-hi Tojin.
"Kedua Tayciangbun adalah tokoh yang diagungkan pada dunia persilatan zaman ini, sekarang mohon memberi penilaian yang adil. Dengan mendatangkan setan iblis sebanyak ini, bukankah Lenghou Tiong sudah melanggar peraturan Hing-san-pay yang melarang bergaul dengan kaum penjahat. Tampaknya Hing-san-pay yang punya nama baik selama beratus-ratus tahun ini akan runtuh begitu saja, masakah Locianpwe berdua dapat tinggal diam?"
"Tentang ini... ini...."
Kata Hong-ting Taysu sambil berdehem, ia pikir ucapan orang she Lim ini memang beralasan, sebagian besar yang hadir ini memang tergolong orang sia-pay, masakah Lenghou Tiong harus disuruh mengusir orang-orang sebanyak itu?
Pada saat itulah tiba-tiba dari jalanan sana berkumandang suara seorang perempuan.
"Yim-siocia dari Tiau-yang-sin-kau tiba!"
Terkejut dan girang Lenghou Tiong tak terkira, tanpa terasa tercetus dari mulutnya.
"He, Ing-ing juga datang!"
Cepat ia menyongsong ke ujung jalan sana, dilihatnya dua lelaki kekar menggotong sebuah tandu sedang mendaki ke atas secepat terbang. Di belakang tandu mengikuti empat dayang berbaju hijau.
"Lihatlah, sampai tokoh terkemuka Mo-kau juga datang, bukankah sudah jelas bergaul dengan kaum jahat?"
Ejek Lim Ho dengan suara keras.
Sementara itu demi mendengar kedatangan Ing-ing, sebagian besar jago-jago yang hadir itu pun sama menyongsong ke jalanan sana sambil bersorak gemuruh.
Diam-diam orang-orang Ko-san-pay dan lain-lain sama kebat-kebit melihat kekuatan lawan yang jauh lebih besar itu, kalau sampai terjadi pertempuran tentu sukar dibayangkan bagaimana jadinya.
Dalam pada itu tandu kecil telah sampai di tengah pelataran dan diturunkan ke tanah, di mana tirai terbuka, keluarlah seorang gadis jelita berbaju hijau muda.
Siapa lagi dia kalau bukan Ing-ing.
"Seng-koh! Hidup Seng-koh!"
Serentak para jago bersorak sembari membungkukkan tubuh. Jelas mereka sangat hormat dan segan kepada Ing-ing, tapi rasa girang mereka pun timbul dari lubuk hati yang setulusnya.
"Kau pun datang, Ing-ing?"
Lenghou Tiong menyapa sambil mendekati dengan tersenyum.
"Hari ini adalah hari bahagiamu, mana boleh aku tidak datang?"
Sahut Ing-ing dengan senyuman manis. Pandangannya menyoroti sekelilingnya melintasi muka setiap hadirin, lalu ia sedikit membungkuk tubuh kepada Hong-ting dan Tiong-hi berdua dan berseru.
"Hongtiang Taysu, Ciangbun Totiang, terimalah salamku!"
Hong-ting dan Tiong-hi sama membalas hormat sambil berpikir.
"Betapa pun akrabnya dengan Lenghou Tiong mestinya jangan datang kemari, sekarang Lenghou Tiong benar-benar dibuatnya serbasusah."
Tiba-tiba Lim Ho berseru pula.
"Nona ini adalah tokoh penting dari Hek-bok-keh, betul tidak, Lenghou Tiong?"
"Benar, mau apa?"
Sahut Lenghou Tiong.
"Larangan keempat Hing-san-pay menetapkan ‘dilarang bergaul dengan kaum jahat’. Bila kau tidak putuskan hubungan dengan manusia-manusia sesat dan jahat ini tidak boleh kau menjadi ketua Hing-san-pay,"
Kata Lim Ho.
"Tidak boleh ya tidak boleh, memangnya kenapa?"
Jawab Lenghou Tiong. Alangkah mesranya perasaan Ing-ing mendengar ucapan itu. Tanyanya kemudian.
"Dari manakah kawan ini? Berdasarkan apa dia mencampuri urusan Hing-san-pay kalian?"
"Dia mengaku diutus oleh Co-ciangbun dari Ko-san-pay, panji yang dia pegang itu adalah panji kebesaran Co-bengcu,"
Kata Lenghou Tiong.
"Hm, janganlah cuma sebuah panji kecil begitu, sekalipun Co-ciangbun datang sendiri juga tidak berhak mencampuri urusan Hing-san-pay kami."
"Tepat,"
Kata Ing-ing sambil mengangguk.
Ia menjadi gemas juga bila teringat kelicikan Co Leng-tan ketika pertandingan di Siau-lim-si tempo hari sehingga membikin ayahnya terluka dan hampir-hampir celaka.
Ia berkata pula.
"Siapa bilang itu panji kebesaran Ngo-gak-kiam-pay? Dia penipu...."
Belum habis ucapannya, sekonyong-konyong tubuhnya melesat ke sana, tahu-tahu sebelah tangannya sudah bertambah sebilah pedang pendek, secepat kilat terus menikam ke dada Lim Ho.
Sama sekali Lim Ho tidak menduga bahwa gadis jelita itu sedemikian gapah, tanpa sesuatu petunjuk apa-apa tahu-tahu lantas menerjangnya.
Baca Juga: Si Racun Dari Barat 6
Baca Juga: Beruang Salju 6