Eps 6 Si Racun Dari Barat - Jin Yong
Baca online Si Racun Dari Barat - Jin Yong
Cersil Si Racun Dari Barat - Jin Yong.
"Maafkan aku tidak bisa menemani kalian di sini, aku harus pergi menjenguk temanku itu, sampai jumpa kelak!"
Usai berkata kepada semua orang, Ong Tiong Yang lalu berkata kepada anak gadis itu.
"Kau ikut aku ke sana?"
Anak gadis itu menghentikan tangisnya. Matanya melotot sambil menyahut dengan sengit.
"Ong Tiong Yang! Kau kira aku ke sini mencarimu agar kau mau pergi menengok jenazah guruku? Kau sungguh bodoh menganggap begitu!"
Semula semua orang memang mengira anak gadis itu datang untuk menyampaikan kabar duka agar Ong Tiong Yang pergi untuk melawat.
Tak disangka, ia malah melarang Ong Tiong Yang pergi melawat.
Mereka bahkan terkejut ketika kemudian gadis itu menuding Ong Tiong Yang sambil mencari maki.
"Ong Tiong Yang! Coan Cin Kauw semuanya adalah telor busuk, semuanya tidak tahu aturan! Ong Tiong Yang, tahukah kau apa yang dipikirkan guruku? Kau selalu pura-pura sibuk, sama sekali tidak memperhatikan urusan di benak guruku. Maka karena beliau mati di tanganmu, aku akari mengadu nyawa denganmu demi guruku!"
Usai berkata begitu, gadis itu langsung saja menerjang Ong Tiong Yang.
Tampaknya hati Ong Tiong Yang masih kacau.
Dia hanya menatap ketika gadis itu tahu-tahu saja menerjang ke arahnya.
Mulutnya bahkan masih menggumamkan kata-kata.
"Tiau Eng, bukankah kau ada perkataan yang belum disampaikan padaku? Ya kan?"
Semua orang sempat tertegun melihat Ong Tiong Yang yang masih termangu, tak mengherankan serangan gadis itu.
Hanya Oey Yok Su dan Toan Hong Ya tahu jelas, anak gadis itu menyerang Ong Tiong Yang karena sangat marah dan emosi.
Plak!
Sebuah pukulan yang dilancarkan anak gadis itu mendarat telak di badan Ong Tiong Yang, membuat badannya tergetar keras, kemudian terdorong mundur beberapa langkah.
"Ong Tiong Yang, guruku amat membencimu, membenci Coan Cin Kauw! Membencimu sampai ke dalam tulang sumsum! Kau tidak usah pergi melihat guruku. Guruku sampai di alam baka juga tidak akan melepaskanmu."
"Gurumu menghendaki bagaimana?"
Tanya Ong Tiong Yang. Anak gadis itu menyahut dengan sengit.
"Guruku menghendakimu tidak pergi melihatnya, tidak usah mengurusinya! Aku kemari hanya untuk membunuhmu! Demi membalaskan dendam guruku!"
Ong Tiong Yang menatap anak gadis itu sambil berkata dengan sungguh-sungguh.
"Baik! Kau sudi membunuhku, itu memang baik sekali. Aku pun rela membiarkanmu membunuhku."
Ong Tiong Yang berpaling memandang para muridnya, kemudian berkata kepada Ma Cing dan Seh Gwa Kie.
"Aku ingin mati di tangan anak gadis ini. Kalian tidak boleh menuntut balas terhadapnya, biar dia kembali ke kuburan kuno! Mulai saat ini, para murid Coan Cin Kauw tidak boleh mendekati ku-buran kuno itu! Siapa yang melanggar, harus dihukum berat!"
Ma Cing dan Seh Gwa Kie mengangguk. Ong Tiong Yang berkata lagi kepada anak gadis itu.
"Kau boleh turun tangan!"
Ong Tiong Yang duduk, tidak melihat siapa pun dan tidak berkata apa pun.
Hanya duduk me-nunggu anak gadis itu turun tangan membunuhnya.
Anak gadis itu menengok ke sekelilingnya.
Kalau sekarang dia turun tangan, pasti berhasil membunuh Ong Tiong Yang.
Ditatapnya Ong Tiong Yang sambil dengan perlahan menghunus pedangnya.
Lalu mendadak saja ditusuknya dada lelaki itu.
Namun bersamaan dengan itu pula, sekonyong-konyong muncul dua orang di hadapannya.
Salah seorang menangkis pedang, seorang lagi memegang pangkal pedang anak gadis itu, sehingga tak dapat bergerak sama sekali.
Siapa kedua orang itu?
Tidak lain adalah Oey Yok Su dan Toan Hong Ya.
"Apakah dengan tusukan pedangmu kau dapat mengakhiri semua dendam dan kebencian? Bukankah sederhana sekali jalan pikiranmu itu?"
Ujar Oey Yok Su. Sementara Toan Hong Ya menyebut, memuji Sang Buddha.
"Omitohud! Masih kecil sudah bertindak demikian. Ini tiada gunanya terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain."
Anak gadis itu menyahut dengan wajah bengis.
"Kalian semua bukan orang baik. Kalian tak lebih dari telor busuk! Suka berpura-pura. Bertahun-tahun aku tinggal di dalam kuburan kuno, tidak pernah bertemu telor busuk seperti kalian!"
Karena saking gusarnya gadis itu melepaskan pedangnya, lalu berlari meninggalkan tempat itu.
Semua orang memandang Ong Tiong Yang.
Tiada seorang pun yang bersuara, terus membungkam.
Tak mungkin mereka berbicara dengan Ong Tiong Yang yang sedang dilanda duka seperti itu.
Akhirnya semua orang berpamit pada Ong Tiong Yang meninggalkan tempat itu.
Ong Tiong Yang cuma diam saja.
Hanya Su Ciau Hwa Cu dan Ang Cit Kong yang masih duduk di situ.
Ang Cit Kong tampak mulai mengobati luka gurunya dengan lwee kangnya.
Tak lama kemudian Ong Tiong Yang bangkit berdiri, berjalan perlahan-lahan meninggalkan tempat itu, diikuti para muridnya.
Sementara Ang Cit Kong terus mengobati gurunya.
Tak lama keduanya pun bangkit berdiri.
"Suhu, mari kita pergi!"
Ajak Ang Cit Kong kepada Su Ciau Hwa Cu. Su Ciau Hwa Cu menyahut.
"Lukaku tidak akan sedemikian cepat sembuh, Ang Cit. Kelihatan-nya aku sudah tidak dapat bertahan lagi. Cepat bawa aku ke cabang Kay Pang yang terdekat, kita berdua harus baik-baik menyelesaikan urusan pen ting."
"Suhu, bolehkah aku memapahmu pergi?"
Ang Cit Kong menawarkan.
Su Ciau Hwa Cu mengangguk, maka Ang Cit Kong segera memapah gurunya meninggalkan tempat itu.
Sementara itu Ouw Yang Hong terus bersembunyi hingga malam.
Ketika hari mulai terang, dia berkata dalam hati.
Kini aku sudah tahu urusan Ong Tiong Yang, juga tentang kitab pusaka Kiu Im Cin Keng.
Kitab itu memang ada.
Namun harus menunggu lima tahun, barulah aku bisa merebut kitab pusaka tesebut.
Aku harus pulang ke See Hek mencari kakakku.
Berhasil mencari kakakku sama juga berhasil mencari Bokyong Cen.
Begitu teringat pada gadis itu, hati Ouw Yang Hong jadi berdebar-debar.
Bagaimana keadaan Bokyong Cen?
Apakah dia semakin akrab dengan kakakku?
Mereka berdua selalu bersama, tentunya bisa akrab.
Berpikir sampai di situ, hatinya jadi kebat kebit.
Kalau bertemu kakaknya, dia akan memberitahukan tentang Kiu Im Cin Keng.
Kakaknya pasti terkejut sekali.
Ouw Yang Hong mulai melakukan perjalanan menuju gurun pasir See Hek.
Belasan hari ke-mudian, dia sudah tiba di darah itu.
Hari itu dia tiba di sebuah kota kecil, yang tenang dan sepi.
Ouw Yang Hong berpikir, mengapa harus terburu-buru mencari kakaknya?
Kalau kakaknya sudah sampai di daerah See Hek, sudah pasti selamat.
Lebih baik aku beristirahat di kota kecil ini, setelah itu baru melanjutkan perjalanan.
Malam harinya, Ouw Yang Hong kembali ke penginapan.
Dia melihat dua pengemis sedang minum arak.
Di pakaian mereka terdapat delapan buah kantong kecil, tidak berisi apa pun.
Hanya tampak kepala mereka diikat dengan kain putih, itu pertanda sedang berduka cita.
Mereka minum sambil bercakap-cakap.
"Kalau sudah malam, aku akan pergi bersamamu. Aku pikir mereka juga sudah datang. Kalau mereka sudah datang, urusan besar kita bisa diselesaikan dengan baik!"
Pengemis lain manggut-manggut.
Orang ini berkepala botak dan urat di tangannya tampak semua.
Dapat diketahui bahwa pengemis botak itu ahli gwa kang.
Mereka berdua sama sekali tidak memperhatikan Ouw Yang Hong.
Sementara Ouw Yang Hong sendiri memang mirip orang See Hek.
Pakaian kumal dan rambut panjang tak diurus, sehingga mirip seorang pengemis.
Namun dia bukan anggota Kay Pang.
Sampai di mana dia pasti dihina orang.
Ouw Yang Hong sudah terbiasa akan hal tersebut, maka tidak diambil hati.
Akan tetapi, setiap hari dia pasti berlatih ilmu Ha Mo Kang, sehingga kepandaiannya bertambah terus.
Kedua pengemis itu memandang Ouw Yang Hong, mengira dia adalah pengemis setempat, maka menegurnya.
"Hei! Sobat, tolong tanya mana jalan yang menuju Ngo Koan Keng?"
Ouw Yang Hong tampak kaget.
Dia ingin mengatakan tidak tahu, tapi kedua pengemis itu pasti mengira kalau dirinya pengemis setempat.
Bagaimana dia tidak tahu tempat tersebut?
Kebetulan Ouw Yang Hong sudah berkeliling di kota kecil itu, tahu di mana Ngo Koan Keng.
"Kalian berdua harus menuju ke barat, tak lama akan melihat sebuah sungai, di situ adalah tempat Ngo Koan Keng!"
Jawab Ouw Yang Hong kemudian. Ouw Yang Hong lalu meneguk araknya, tidak menghiraukan mereka. Kedua pengemis itu me-natapnya, kemudian salah satu pengemis itu berkata pada temannya.
"Daerah See Hek ini terlampau tiada tata krama. Para murid Pik Lo Cit juga demikian, bertemu Tetua tidak memberi hormat. Kau tunggu di sini, aku akan pergi menghajar mereka!"
Pengemis lain segera mencegahnya.
"Jangan emosi, saudara! Di sini bukan daerah kekuasaanmu. Lagi pula Pik Lo Cit tidak suka orang lain turut campur, maka punya murid yang tak tahu kesopanan. Kau harus membuat perhi-tungan dengannya, untuk apa mencari para muridnya? Pengemis botak itu kelihatan tidak senang. Melihat hal itu Ouw Yang Hong hanya tertawa dalam hati sambil membatin, apa itu Pik Lo Cit, kalau aku senang, kalian semua pasti mati satu persatu di tanganku. Apa itu Kay Pang? Aku sama sekali tidak memandang kalian! Ketika masih kecil, Ouw Yang Hong hidup bersama kakaknya. Dia banyak mengalami pen-deritaan, bahkan juga pernah dihina oleh kaum pengemis pula. Maka hingga saat ini dia tidak terkesan baik terhadap para pengemis. Yang dia tahu orang baik di kolong langit ini hanyalah kakaknya dan gurunya. Karena itu dia bertekad membalaskan dendam gurunya, agar gurunya bisa tenang di alam baka. Ouw Yang Hong berkata dalam hati, aku ingin lihat kalian Kay Pang sedang berbuat apa, kalau punya waktu, aku pasti bermain-main dengan kalian. Setelah mengambil keputusan tersebut, Ouw Yang Hong mulai minum lagi, tanpa menghiraukan kedua pengemis itu. Begitu pula pengemis, anggota Kay Pang itu tidak memperhatikan Ouw Yang Hong, mereka terus minum sambil bercakap-cakap. Setelah hari menjelang malam, barulah mereka menaruh sekeping uang perak ke atas meja, dan meninggalkan penginapan itu. Sampai di luar, kedua pengemis mengerahkan ginkang melesat pergi. Tak lama sudah mereka tiba di tempat yang disebut Ngo Koan Keng. Di tempat tersebut terdapat sebuah bangunan yang di depannya tampak begitu banyak pengemis sedang bermain judi. Di dalam bangunan itu, juga terdapat begitu banyak pengemis, semuanya duduk sepertinya tidak akan tidur malam ini. Kedua pengemis tadi, menuju bangunan itu. Para pengemis yang sedang bermain judi tidak menggubris kehadiran mereka berdua, terus asyik dengan permainan mereka. Sementara Ouw Yang Hong terus mengikuti kedua pengemis tadi yang sudah masuk. Ouw Yang Hong berpikir, ada apa di dalam bangunan itu, lebih baik aku ke dalam melihat-lihat. Ouw Yang Hong berjalan ke pintu masuk. Tampak para pengemis menatapnya curiga. Namun Ouw Yang Hong berlenggang ke dalam. Tentu saja mereka heran melihat pemuda mirip pengemis itu, karena pakaian Ouw Yang Hong tiada kantongnya seperti Tetua yang masuk tadi. Mungkin pengemis itu lain dari yang lain, pikir para pengemis di depan bangunan itu. Untuk apa menghiraukannya? Ouw Yang Hong terus masuk. Di dalam ada sebuah aula besar. Tampak begitu banyak pengemis duduk di situ, kelihatannya ada suatu urusan besar yang harus dilaksanakan. Ketika Ouw Yang Hong melangkah ke dalam aula besar itu, muncul pengemis menegurnya.
"Saudara, apakah kau adalah Tetua?"
Ouw Yang Hong tidak berani mengaku dirinya Tetua, maka menyahut dengan suara rendah.
"Aku bukan Tetua!"
Pengemis itu tertawa. Bab 23
"Kau bukan Tetua, berdasarkan apa kau masuk ke mari? Lebih baik kau duduk bersama kami di sini saja!"
Ouw Yang Hong tersenyum.
"Mereka yang di dalam sedang berunding apa? Kau tahu tidak?"
Pengemis itu tidak menyahut, hanya memandangnya dengan mata terbelalak. Ouw Yang Hong segera menambahkan.
"Sobat! Aku pergi beberapa lama untuk mengurusi sesuatu, jadi tidak tahu apa yang telah terjadi di sini! Bolehkah kau memberitahukan padaku?"
Pengemis itu menyahut dengan suara rendah.
'Baik-baik!
Tapi suaramu jangan keras-keras!
Aku beritahukan, Su Ciau Hwa Cu ketua kita meninggal, kini semua yang di dalam sedang memilih ketua baru, maka amat sibuk!"
"Kenapa harus sibuk? Pilih saja Ang Cit Kong sebagai ketua baru, bukankah beres?"
Pengemis itu manggut-manggut.
"Tidak salah! Kau juga ingin memilihnya? Tapi sayang sekali, dia tidak bersedia jadi ketua baru!"
Sahut pengemis itu, setuju dengan ucapan Ouw Yang Hong. Ouw Yang Hong tertegun. Su Ciau Hwa Cu sudah meninggal, mengapa Ang Cit Kong tidak bersedia jadi ketua baru? Pikir Ouw Yang Hong lalu berkata.
"Sobat, tahukah kau mengapa Ang Cit Kong tidak mau jadi ketua baru?"
"Karena ... dia bilang ... dia bilang tidak leluasa jadi ketua!"
Jawab pengemis itu dengan suara terputus-putus. Ouw Yang Hong mengerutkan kening seolah sedang berpikir.
"Ini amat mengherankan! Mengapa tidak leluasa?"
Gumamnya, heran.
Pengemis itu tidak menyahut, hanya menatap Ouw Yang Hong.
Kelihatannya dia tidak berani mengatakan apa pun.
Ouw Yang Hong berpikir sejenak, kemudian menepuk paha sendiri seraya berkata.
"Betul, betul! Dia pasti tidak sudi jadi ketua!"
"Kau tahu apa sebab-musababnya?"
Pengemis itu malah balik bertanya.
"Ang Cit Kong, dia ... tentunya tidak leluasa!"
Pengemis itu manggut-manggut sambil tertawa.
"Betul! Kelihatannya kau amat mengenalinya!"
Ouw Yang Hong juga tertawa, dia memang kenal baik Ang Cit Kong, bahkan pernah ber-samanya menyelinap ke dalam dapur istana untuk mencuri makan hidangan kaisar. Berselang sesaat, Ouw Yang Hong berkata.
"Bolehkah aku kedalam melihat-lihat?"
Pengemis itu sudah tahu Ouw Yang Hong kenal baik dengan Ang Cit Kong, maka mengangguk memperbolehkan.
"Kenapa tidak? Lihatlah! Yang duduk dekat pintu aula, semuanya merupakan murid Kay Pang yang handal, berkepandaian lumayan. Aku akan memberitahukan pada mereka, agar membiarkan-mu duduk di sana. Tapi kau harus ingat! Jangan bersuara, apabila kau bersuara, Tetua Penghukum pasti tidak akan melepaskanmu!"
Ouw Yang Hong manggut-manggut.
Pengemis itu berseru pada teman-temannya, lalu mempersilakan Ouw Yang Hong masuk.
Ouw Yang Hong berjalan ke dalam, lalu duduk bersama para pengemis dekat pintu aula sambil memandang ke dalam.
Di dalam tampak duduk dua belas orang.
Yang duduk di tengah adalah Ang Cit Kong.
Dia duduk dengan kepala tertunduk, seperti padri yang sedang bersamedi, sama sekali tidak bersuara.
Salah seorang pengemis yang paling muda menoleh ke arah Ang Cit Kong.
"Cit Kong sudah berpikir dengan baik? Kalau sudah, harus segera mengadakan upacara!"
Ang Cit Kong menyahut lantang.
"Bukankah aku sudah bilang pada kalian, aku tidak biasa melewati hari-hari seperti itu. Aku sudah terbiasa berkeliaran, bagaimana mungkin jadi ketua? Kalian memilihku, orang yang tidak bersedia jadi ketua!"
Salah seorang berkata.
"Lu Yu Kha, kau adalah Tetua yang paling muda, mengerjakan sesuatu tanpa berpikir panjang dulu! Cit Kong tidak bersedia jadi ketua, sudah pasti punya sebab tertentu. Tapi Cit Kong, katakan olehmu siapa yang berderajat diangkat jadi ketua Kay Pang?"
Ditanya demikian, Ang Cit Kong justru tidak bisa menjawab.
Dia memandang semua pengemis yang duduk di situ, tapi tidak bersuara sama sekali.
Berselang sesaat, barulah Ang Cit Kong mengatakan, bahwa salah seorang pengemis yang du-duk di situ pantas diangkat sebagai ketua.
Seorang Tetua yang agak tua berkata.
"Menurut aku Teng Cong, alangkah baiknya Cit Kong saja yang menggantikan Su Pangcu. Ka-lau Ang Cit tidak bersedia jadi ketua, lalu bagaimana dengan kami semua? Lagi pula sebelum me-ninggal, Su Pangcu sudah berpesan, bahwa Ang Cit Kong yang harus menggantikannya. Akan tetapi, Ang Cit Kong diam saja!"
Begitu Teng Cong menyinggung tentang pesan Su Ciau Hwa Cu, hati Ang Cit Kong pun berduka sekali.
"Tidak salah, mendiang guru memang berpesan begitu ..."
Ujar Ang Cit Kong.
"Su Pangcu tidak memaksamu, beliau cuma tersenyum di waktu itu, tapi langsung menyerahkan padamu .Tongkat Penggebuk Anjing! Ya, kan?"
Singgung Teng Cong lagi. Ang Cit Kong mengangguk.
"Betul!"
"Nah, itulah! Begitu kau menerima Tongkat Penggebuk Anjing, Su Pangcu menghembus nafas terakhir!"
Ang Cit Kong manggut-manggut dengan wajah murung.
"Ya!"
Gumamnya, semakin sedih. Teng Cong dan para Tetua lain segera berkata.
"Kau sudah menerima Tongkat Penggebuk Anjing, lalu mengapa tidak bersedia jadi ketua? Apakah kau takut pada Ong Tiong Yang di Hwa San Lun Kiam kelak? juga takut pada Oey Yok Su dan Toan Hong Ya itu?"
Ang Cit Kong membungkam, betul-betul tak mampu bersuara sedikit pun. Akan tetapi berselang beberapa saat, mendadak Ang Cit Kong tertawa dingin.
"Aku takut apa? Aku justru ingin bertarung dengan mereka lima tahun kemudian. Kepandaian suhuku amat tinggi, namun beliau memberitahukan padaku, bahwa ilmu Hang Liong Cap Pwe Ciang-nya masih memiliki kekurangan. Aku disuruh menyempurnakan ilmu tersebut. Maka aku harus berlatih baik-baik dan tenang dalam lima tahun ini, bahkan harus terus berlatih ilmu Tongkat Penggebuk Anjing. Lima tahun kemudian, aku harus meraih gelar jago nomor wahid di kolong langit, sekaligus memperoleh kitab pusaka Kiu Im Cin Keng, agar Kay Pang bertambah cemerlang!"
Mendengar tekad Ang Cit Kong itu para Tetua yang berkumpul di tempat tersebut merasa gembira.
"Cit Kong, apabila kau berhasil meraih gelar jago nomor wahid di kolong langit, itu sungguh menguntungkan Kay Pang kita. Karena itu, biar bagaimana pun kau harus jadi ketua Kay Pang, hanya saja kau tidak usah mengurusi kegiatan Kay Pang. Bagaimana menurutmu?"
Tanya Tetua Teng Cong.
Ang Cit Kong berpikir sejenak, kemudian menyahut.
'Baik, namun kalian harus memberitahukan pada para anggota, agar tidak mengikutiku!
Kalau ada urusan, aku pasti pergi mencari kalian.
Tapi kalian jangan mencariku!"
Para Tetua mengangguk, semua setuju permintaan Ang Cit Kong itu.
"Aku tidak perduli pakaian indah atau pakaian kumal. Aku suka mengenakan pakaian apa, itu adalah urusanku! Bagaimana?"
Tanya Ang Cit Kong lagi.
Para Tetua mengangguk lagi, bagi mereka yang penting Ang Cit Kong bersedia jadi ketua, tidak perduli Ang Cit Kong mau berpakaian apa pun.
Sementara Ouw Yang Hong terus memperhatikan pertemuan itu.
Namun mendadak saja ma-tanya membelalak terkejut.
Ternyata dia melihat dua orang di antara para Tetua itu adalah su-hengnya yang jarang berbicara, yaitu yang menyertai Cu Kuo Cia, Su Bun Seng, dan Ciok Cuang Cak saat membawanya dari kota Ciau Liang ke daerah utara.
Ouw Yang Hong tidak tahu mereka berdua bermarga apa.
Melihat mereka duduk bersama Ang Cit Kong, sudah jelas mereka berdua merupakan Tetua Kay Pang.
Itu membuat Ouw Yang Hong tersentak.
Dia tidak pernah tahu sejak kapan mereka berdua bergabung dengan Kay Pang, yang jelas sudah lama mereka berdua bergabung perkumpulan ini.
Kalau tidak, bagaimana mungkin mereka berdua jadi Tetua Kay Pang?
Ouw Yang Hong berkata dalam hati.
Bagus!
Aku melihat kalian berdua di sini, berarti ajal kalian berdua sudah tiba.
Hari ini aku harus membunuh kalian demi membalaskan dendam guruku.
Darah Ouw Yang Hong serasa mendidih ingin menuntut balas.
Namun tiba-tiba salah seorang Tetua bangkit berdiri, lalu mengumumkan bahwa Ang Cit Kong bersedia jadi ketua.
Terdengar tepuk sorak di dalam aula itu.
Para Tetua tampak gembira sekali.
Setelah itu, mulailah upacara pengangkatan ketua.
Ang Cit Kong duduk di tengah-tengah dengan wajah tampak serius sekali.
Tetua Penghukum berseru lantang.
"Hari ini Ang Cit Kong diangkat secara sah sebagai ketua Kay Pang. Para anggota Kay Pang harus memberi hormat kepadanya!"
Para anggota Kay Pang maju satu persatu mendekati Ang Cit Kong, kemudian meludahinya, sehingga membuat pakaian Ang Cit Kong penuh ludah.
Menyaksikan itu, Ouw Yang Hong berkata dalam hati.
Tidak gampang jadi ketua Kay Pang, harus menerima ludahan itu.
Pengemis yang berbicara dengan Ouw Yang Hong mendekat.
"Saudara, kau kenal baik dengan ketua, kau juga harus maju meludahnya!"
Usai berbisik, pengemis itu langsungg menarik Ouw Yang Hong untuk maju ke depan.
Guguplah Ouw Yang Hong seketika itu juga.
Namun ingat akan dirinya yang seorang pengemis Kay Pang, tentunya Ang Cit Kong tidak akan mengenalinya lagi.
Siang hari saja Ouw Yang Hong yakin Ang Cit Kong tidak akan mengenalinya, apa lagi saat ini malam hari, bagaimana mungkin Ang Cit Kong mengenalinya?
Karena itu, Ouw Yang Hong memberanikan diri untuk mendekati Ang Cit Kong.
"Hamba Ouw Yang Peng menghaturkan hormat kepada ketua, semoga ketua sukses selalu!"
Ang Cit Kong manggut-manggut, sedangkan Ouw Yang Hong menundukkan kepala. Namun ketika melewatinya, mendadak Ang Cit Kong berseru.
"Berhenti!"
Ouw Yang Hong langsung berhenti.
Hatinya jadi gugup dan panik.
Rupanya Ang Cit Kong mengenaliku.
Hh ...
padahal wajahku sudah berubah banyak.
Bagaimana dia bisa mengenaliku?
Apabila dia tahu aku bukan anggota Kay Pang, aku pasti celaka!
Ouw Yang Hong berdiri diam, menunggu Ang Cit Kong berbicara.
"Siapa kau?"
"Hamba adalah anggota Kay Pang cabang ..."
Ang Cit Kong tidak banyak bicara lagi. Namun Tetua Penghukum yang melihat Ouw Yang Hong begitu gugup, segera bertanya.
"Kau murid siapa dan ikut siapa kemari?"
Ouw Yang Hong bukan murid Kay Pang cabang dan tidak ikut siapa-siapa kemari, maka tidak bisa menjawab.
Akan tetapi ketika melihat kedua su-hengnya, dia langsung menunjuk mereka berdua seraya berkata dengan lantang.
"Aku ikut mereka berdua kemari!"
Ang Cit Kong menatapnya tanpa bersuara, sedangkan Ouw Yang Hong mendekati kedua orang itu.
"Aku adalah Ouw Yang Hong!"
Bisiknya kepada kedua orang itu.
Walau suara Ouw Yang Hong amat perlahan dan rendah, namun seperti geledek di telinga ketua orang itu.
Mereka berdua tertegun, tak mampu bersuara sedikit pun.
Sesaat kemudian kedua orang itu berbicara pada Ang Cit Kong.
"Ketua, orang itu adalah anggota Kay Pang, kami berdua yang membawanya kemari. Dia masih belum tahu aturan Kay Pang, nanti kami akan memberitahukan padanya!"
Kedua orang itu tidak tahu untuk apa Ouw Yang Hong datang ke tempat itu.
Namun mereka tahu pemuda ini telah membunuh Ciok (uang Cak.
Khawatir dia juga akan memhunuh mereka, maka mengakuinya sebagai anggota Kay Pang.
Ang Cit Kong tertawa setelah mendengar penjelasan kedua orang itu.
"Kay Pang berkumpul di sini, bukan merupakan urusan besar. Lagi pula di sini bukanlah tempat terlarang, tidak akan terjadi apa-apa. Kalian semua boleh beristirahat. Setelah itu, barulah pulang untuk melaksanakan tugas masing-masing!"
Para anggota Kay Pang mengangguk, memberi hormat lalu mengundurkan diri dari aula itu.
Sedangkan hati kedua bersaudara itu berdebar-debar.
Mereka memandang Ouw Yang Hong lekat-lekat.
Mereka sadar benar bahwa Ouw Yang Hong amat lihay, sudah memhunuh Ciok Cuang Cak suheng mereka.
Lagi pula mereka berdua pernah berguru pada Si Racun Tua di daerah See Hek.
Tentang ini tidak begitu banyak orang Kay Pang mengetahuinya.
Mereka berdua tidak mau para aggota Kay Pang tahu tentang itu, karena akan menghancurkan nama baik mereka.
"Ayoh! Ikut aku pergi!"
Ajak Ouw Yang Hong tiba-tiba. Kedua orang itu tidak menyahut, hanya berjalan pergi. Tak lama sudah sampai di suatu tanah kosong. Oi.w Yang Hong menatap mereka seraya berkata dingin.
"Aku beritahukan, ajal kalian sudah tiba! Sebelum guru mati, mengharuskanku bersumpah di hadapannya, agar membunuh kalian semua ..."
Kedua orang itu memang jarang bicara.
Saat itu pun keduanya tampak hanya saling meman-dang.
Kemudian, mendadak menyerang Ouw Yang Hong.
Kepandaian mereka berdua lebih tinggi dari Ciok Cuang Cak, tentunya serangan mereka amat dahsyat.
Lagi pula kedua orang itu melancarkan serangan dengan suatu siasat.
Satu menyerang yang lain bertahan secara bergantian dan cepat.
Dalam pertarungan yang berlangsung lebih dari dua puluh jurus, tampak belum ada yang kalah dan menang.
Hal itu tentu saja membuat hati Ouw Yang Hong amat gusar dan penasaran.
Aku memiliki lwee kang dari guru, juga memiliki ilmu Ha Mo Kang, kenapa aku bertarung seimbang dengan mereka berdua?
Pikir Ouw Yang Hong.
Berpikir sampai di sini, mendadak Ouw Yang menjongkokkan badannya.
Mulutnya mengeluarkan 'Krok!
K rok!
Krok!' mirip suara kodok.
Karena kedua orang itu juga murid Si Racun Tua, begitu mendengar suara tersebut, wajah mereka langsung berubah hebat.
Mereka tahu Ouw Yang Hong akan mengeluarkan ilmu Ha Mo Kang.
Betapa gugup dan panik hati keduanya.
Ingin mereka melarikan diri, tapi mana mungkin Ouw Yang Hong memberi kesempatan.
Ouw Yang Hong membentak keras, sambil kedua tangannya dihentakkan ke arah kedua orang itu.
Maka seketika terdengar suara jeritan menyayat.
Kedua orang itu langsung roboh dan tak bergerak lagi.
Ouw Yang Hong menatap keduanya.
Ternyata mereka sudah tidak bernafas.
Walau demikian, dia masih maju mendekati mereka, dan melancarkan sebuah pukulan lagi.
Plak!
Plaaak!
Kepala kedua orang itu hancur berantukan, dengan berhamburan ke mana-mana.
Barulah Ouw Yang Hong menarik nafas lega.
Ouw Yang Hong sendiri pun merasa terkejut, karena tidak tahu tenaga lwee kangnya begitu dahsyat.
Dalam satu pukulan saja dapat membunuh kedua orang itu.
Sejenak ditatapnya kedua sosok mayat itu.
dan ketika berniat meninggalkannya, mendadak terdengar suara orang.
"Ketua suruh kita melihat kedua saudara pendiam itu ke mana. Tadi masih terlihat mereka, namun tiba-tiba menghilang, entah kemana?"
"Mereka berdua tidak akan terjadi apa-apa, kan?"
Sahut suara yang lain.
"Sulit dikatakan! Aku justru merasa heran, orang tadi sungguh luar biasa. Hanya berbisik saja, kedua saudara pendiam itu langsung mengikutinya. Sebetulnya siapa dia, katanya bawahan kedua saudara pendiam itu, namun kelihatannya tidak seperti itu!"
"Mungkin ketua sudah melihat ada sesuatu yang tak beres, maka suruh kita mencari kedua saudara pendiam itu!"
Ouw Yang Hong mendengar suara pembicar an itu semakin mendekat ke arahnya.
Maka buru-buru dia bersembunyi.
Kedua orang yang berbicara tadi sudah sampai di tempat itu.
Ketika melihat dua mayat, merek berdua terkejut.
Namun kemudian keduanya melesat pergi untuk melapor kepada ketua, bahwa kedua Tetua itu telah mati.
Ouw Yang Hong meninggalkan kota kecil itu melewati gurun pasir dan tiba di rumah.
Namun, sampai di rumah dia kaget melihat rumahnya sudah berubah.
Di dalam ada perabotan baru dan amat bersih.
Bahkan ada sebuah rak buku, berisi kitab-kitab syair dan kitab-kitab suci Buddha.
Mendadak muncul seorang gadis, dia adalah pelayan bernama Ceh Liau Thou.
Gadis pelayan itu tersenyum-senyum menyambut kedatangannya.
"Tuan siapa? Tuan kemari ingin menemui majikanku?"
Ouw Yang Hong menyahut dengan lantang.
"Ceh Liau Thou, kau sudah tidak mengenaliku lagi? Aku adalah tuan muda kedua!"
Gadis pelayan itu tampak tersentak, menatap Ouw Yang Hong dengan penuh perhatian.
Rambut Ouw Yang Hong panjang awut-awutan dan pakaiannya pun amat kumal.
Hanya sepasang matanya bersinar terang.
Sesaat kemudian barulah Ceh Liau Thou berseru girang, kemudian berlari ke dalam seraya berteriak-teriak.
"Cepat kemari! Kalian lihat! Tuan muda kedua ... sudah pulang! Tuan muda kedua sudah pu-lang!"
Berhambur keluar beberapa orang dari dalam rumah.
Mereka adalah Ouw Yang Coan.
Bokyong Cen, dan Lo Ouw, budak tua yang amat setia itu.
Ouw Yang Coan tampak menatap Ouw Yang Hong.
Kemudian digenggamnya tangan Ouw Yang Hong erat-erat.
"Adik! Kau ... kau tidak mati? Sungguhkah kau tidak mati? Aku mengira kau ..."
Ujar Ouw Yang Coan merasa gembira dan haru. Air matanya tampak bercucuran membasahi pipinya.
"Aku tidak mati, bagaimana aku akan mati?"
Bukan main girangnya Ouw Yang Coan saat itu. Terus ditatapnya Ouw Yang Hong sambil berkata dengan suara bergemetar.
"Bagus kau masih hidup! Bagus kau masih hidup!"
Ouw Yang Coan berpaling seraya bertanya pada Ouw Yang Hong» "Kau masih kenal dia?"
Yang berdiri di belakang Ouw Yang Coan adillah Bokyong Cen.
Begitu melihatnya, barulah Ouw Yang Hong tersadar apa sebabnya rumah itu telah berubah.
Tampaknya wanita inilah yang membersihkan rumah tersebut.
Bokyong Cen tampak lebih cantik, hanya wajahnya yang menyiratkan kedukaan.
Ketika Ouw Yang Hong memandangnya, dia cuma tertawa ringan, tidak mengucapkan apa pun.
Ouw Yang Hong juga tidak mengatakan apa-apa, hanya memandang Ouw Yang Coan sambil menunggunya membuka mulut.
Ouw Yang Coan memandang adiknya dengan wajah berseri-seri merasa gembira, melihat kembalinya Ouw Yang Hong.
"Adik, bagus sekali kini kau sudah kembali! Selama ini aku mengira kau sudah mati, aku dan guru pergi ke utara mencarimu. Namun perkampungan Liu Yun Cun hanya tersisa puing-puing, tiada seorang pun di sana. Kami tidak berhasil menemukanmu, maka mengiramu sudah mati. Akan tetapi, kau ternyata belum mati, sungguh beruntung bagi keluarga Ouw Yang!"
Usai berkata, Ouw Yang Coan pun tertawa gembira ...
Malam harinya, Ouw Yang Hong duduk seorang diri di dalam rumah.
Dia berpikir mengenai perubahan baru-baru ini.
Sepertinya belum lama dia bersama Bokyong Cen di gurun pasir, bertengkar tidak habis-habisnya.
Kini, gadis itu sudah menjadi kakak iparnya, dan satu hal sungguh di luar dugaannya, yaitu kini dia telah berhasil menguasai ilmu Ha Mo Kang dan Hong Hoang Lak yang amat tinggi serta dahsyat itu.
Baru disadari kini telah terjadi banyak perubahan.
Hingga malamnya dalam tidur pun dia tak dapat nyenyak.
Maka ketika terdengar suara ketukan di pintu dan disusul suara orang, dia masih mendengarnya.
"Adik, kau sudah tidur belum?"
Ternyata suara Bokyong Cen, yang tentu saja membuat Ouw Yang Hong tersentak. Sudah larut malam, mau apa dia kemari? Karena Bokyong Cen bertanya begitu, dia merasa tidak enak apabila tidak menyahut.
"Kak ipar, ya? Aku belum tidur!"
Pintu kamar itu terbuka, Bokyong Cen berjalan masuk, lalu duduk di depan meja.
"Adik. apa yang kau lakukan di perkampungan Liu Yun Cim itu?"
Ouw Yang Hong pun menceritakan segala kejadian itu.
Bokyong Cen mendengar penuturan itu dengan mata terbelalak, tak terasa malam pun semakin larut, sedangkan Bokyong Cen terus bertanya ini dan itu.
Di saat itulah mendadak terdengar suara di luar.
"Adik, kau sudah tidur?"
Begitu mendengar suara itu, wajah Bokyong Cen langsung berubah merah.
Dia dan Ouw Yang Hong merupakan kakak ipar dan paman, namun duduk berduaan bercakap-cakap di tengah malam di dalam kamar.
Tentunya itu akan menimbulkan kecurigaan orang lain.
Ouw Yang Hong menyahut.
"Kakak, aku masih belum tidur, sedang bercakap-cakap dengan kakak ipar, kebetulan kakak kemari!"
Ouw Yang Coan membuka pintu kamar, dan berjalan ke dalam. Ketika melihat Bokyong Cen, terkesiap hatinya.
"Tadi siang belum sempat bertanya tentang pengalamanmu, malam ini aku ingin mengobrol denganmu!"
Ouw Yang Coan duduk sambil menambah beberapa patah kata, sementara Bokyong Cen bangkit berdiri.
"Kalian kakak beradik mengobrollah! Aku mau pergi tidur!"
Bokyong Cen tidak menunggu mereka membuka mulut, langsung berjalan pergi meninggalkan kamar itu.
Setelah Bokyong Cen pergi, Ouw Yang Coan dan adiknya saling membisu sesaat, tiada seorang pun membuka mulut.
Sesungguhnya Ouw Yang Hong ingin memberitahukan pada kakaknya, bahwa tadi dia sudah bercerita tentang pengalaman pada Bokyong Cen.
Namun dia tak dapat mencetuskannya.
Begitu pula Ouw Yang Coan, dia ingin memberitahukan pada adiknya mengenai perjodohannya dengan Bokyong Cen, tapi juga tak dapat membuka mulut.
Berselang beberapa saat, barulah mereka berdua mulai bercakap-cakap, namun sesingkat-singkatnya ...
Tengah malam gelap gulita, Ouw Yang Coan melesat keluar dari rumahnya.
Saat itu Bokyong Cen tengah tidur pulas.
Sampai di luar, Ouw Yang Coan mengerahkan ginkangnya menuju ke suatu tempat, ternyata menuju goa es.
Tiba di tempat tujuan, dia meloncat ke dalam sebuah lubang besar yang menuju ke dalam goa es.
"Suhu! Suhu!"
Suara seruan Ouw Yang Coan bergema-gema, namun tiada sahutan sama sekali. Hati Ouw Yang Coan gelisah, maka segera meloncat ke atas batu es yang biasa diduduki oleh gurunya.
"Suhu! Suhu .. .!"
Ouw Yang Coan terus berseru, namun tetap tiada sahutan. Dia mengira gurunya sudah meninggalkan gua es itu. Air mata Ouw Yang Coan bercucuran. Hatinya merasa sedih, dan menangislah dia.
"Suhu! Suhu! Kau ke mana? Mengapa tidak memberitahukan padaku?"
Mendadak tangannya menyentuh sesuatu yang ternyata pakaian gurunya. Ouw Yang Coan meraba lagi. Ternyata benar itu tubuh seseorang, tubuh gurunya! Ouw Yang Coan berteriak-teriak.
"Suhu! Suhu ...!"
Akan tetapi, gurunya tidak menyahut sama sekali.
Ouw Yang Coan segera memeluk gurunya erat-erat.
Tubuh gurunya saat itu sudah dingin me-rupakan sosok mayat.
Ouw Yang Coan terus menangis gerung-gerungan.
Mendadak dia teringat olehnya, bahwa gurunya duduk di atas batu es itu belasan tahun lamanya, tidak pernah terjadi apa-apa, mengapa kini bisa mati?
Guru pasti belum mati!
Guru pasti belum mati!
Ouw Yang Coan segera memeriksa nadi gurunya, namun tak berdenyut sama sekali.
Ouw Yang Coan putus asa, namun cepat-cepat menyalurkan lwee kangnya ke dalam tubuh gurunya.
Beberapa saat kemudian, sepasang mata gur u nyi» terbuka perlahan-lahan, kepalanya mendongak memandang Ouw Yang Coan.
"Anak Coan, anak Coan ... apakah kita berada dalam mimpi?"
"Suhu, bagaimana keadaanmu?"
Ouw Yang Coan balik bertanya.
"Anak Coan, aku ... aku baik-baik saja,"
Sahut Pek Bin Lo Sat perlahan-lahan. Air mata Ouw Yang Coan berlinang-linang.
"Suhu, jangan tinggalkan anak Coan!"
Katanya dengan suara gemetar. Pek Bin Lo Sat tersenyum getir.
"Anak Coan yang baik ..."
Wanita itu ingin mengatakan sesuatu, namun kelihatannya sudah tak bertenaga.
Ouw Yang Coan terus memeluknya erat-erat.
Walau wajah gurunya itu amat buruk dan sepasang tangannya kurus kering, namun tubuhnya sungguh indah sekali!
Maka tak mengherankan kalau Ouw Yang Coan terpukau menyaksikannya.
Berselang sesaat, Ouw Yang Coan bertanya dengan suara ringan.
"Suhu, bagaimana keadaanmu?"
Pek Bin Lo Sat tidak menyahut, hanya meraba-raba wajah Ouw Yang Coan, setelah itu barulah berkata.
"Anak Coan, wajahmu agak kurus, apakah hidupmu kurang bahagia?"
Ouw Yang Coan tersenyum sedih, terus memeluk Pek Bin Lo Sat erat-erat.
"Anak Coan, aku ... aku akan bernyanyi untukmu, dengarkanlah baik-baik!"
Kata Pek Bin Lo Sat. Wanita itu mulai bernyanyi dengan suara gemetar, dan Ouw Yang Coan mendengarkannya dengan penuh perhatian.
"Ini dalam malam, merupakan waktu yang paling baik untukmu. Orang baru seperti mimpi, senyumannya semanis madu. Hati gugup, wajah terasa panas ..."
Ouw Yang Coan menutup mulut Pek Bin Lo Sat dengan tangannya, agar gurunya itu tidak ber-nyanyi lagi. Pek Bin Lo Sat memandangnya sayu, kemudian berkata dengan perlahan-lahan.
"Anak Coan, ketika aku masih kecil, pernah bersembunyi di kolong ranjang pengantin baru. Namun aku tertidur di situ. Entah berapa lama kemudian, aku terjaga karena suara berisik di ranjang. Ternyata kedua pengantin itu sedang bermesra-mesraan. Aku ketakutan dan menangis. Untung kedua pengantin itu amat haik. Aku digendong ke tempat tidur. Mereka berdua membiarkan tidur di tempat tidur itu. Aku hanya menemani mereka tidur. Nasibku memang begitu, hingga kini hidup merana seorang diri ..."
"Suhu tidak mau hidup lagi? Bagaimana aku mati bersamamu?"
Kata Ouw Yang Coan. Pek Bin Lo Sat tersenyum getir.
"Anak Coan, kau sudah punya istri, bagaimana mungkin kau meninggalkannya? Lagi pula kau harus punya keturunan ..."
Ouw Yang Coan menaruh Pek Bin Lo Sat ke bawah.
"Suhu, mengapa Suhu membohongiku?"
Tanyanya dengan sungguh-sungguh. Pek Bin Lo Sat tersenyum hambar.
"Anak Coan, aku pernah membohongi dan membunuh orang pula. Namun selama ini aku tidak pernah membohongimu."
"Suhu justru membohongiku, membohongiku! Suhu bilang, setelah aku memperistri Bokyong Cen, lalu bisa punya keturunan! Suhu membohongiku, mengapa Suhu membohongiku?"
Air mata Ouw Yang Coan bercucuran.
Dia menikah dengan Bokyong Cen, justru tidak bisa menceritakan pada orang lain.
Bagaimana mungkin menceritakan pada orang lain?
Bagaimana mungkin?
Sejak dia belajar ilmu silat pada Pek Bin Lo Sat di batu es yang amat dingin itu, dia sudah kehilangan hawa kejantanannya, tidak bisa berhubungan intim dengan kaum wanita.
Pek Bin Lo Sat menjodohkannya dengan Bokyong Cen dengan alasan agar keluarga Ouw Yang punya keturunan, bahkan dapat menolong Bokyong Cen.
Karena itu, Ouw Yang Coan terpaksa setuju.
Akan tetapi, setelah menikah dengan Bokyong Cen, justru membuat mereka berdua amat sengsara.
Sebelumnya Ouw Yang Coan sudah menduga akan hal tersebut, sebab dirinya tidak mampu melakukan itu.
Berpikir sampai di situ, Ouw Yang Coan amat gusar.
Dia langsung menjambak rambut Pek Bin Lo Sat seraya berkata.
"Kau membohongiku! Kau membohongiku! Kau menjodohkan kami agar aku melupakanmu! Kau ingin mati seorang diri! Kau memiliki lwee kang dingin, tidak mungkin akan mati di atas batu es ini! Kau menotok jalan darah sendiri, ingin mati di sini, aku justru tidak menghendakimu mati!"
Air mata Pek Bin Lo Sat bercucuran. Dia menahan sakit karena rambutnya ditarik Ouw Yang Coan.
"Aku mau mati, tapi tidak bisa mati bersama Beng Lui, juga tidak bisa hidup bersamamu, lalu apa artinya aku hidup? Anak Coan, aku sama sekali tidak pernah memhohongimu, hanya saja aku berpikir, kau dan Bokyong Cen bisa bermesraan, tidak punya anak juga tidak jadi masalah. Siapa tahu kau justru begitu bodoh. Lagi pula aku sudah punya rencana, agar keluarga Ouw Yang punya keturunan. Anak Coan, apabila keluarga Ouw Yang tidak punya keturunan, itu adalah dosaku. Kau tahu itu?"
"Suhu, kalau kau ingin mati, biar aku mati bersamamu. Kini aku sudah tidak takut keluarga Ouw Yang tidak punya keturunan lagi, sebab adikku sudah kembali dari daerah Utara."
Begitu mendengar itu, Pek Bin Lo Sat kelihatan gembira sekali. Dia segera bertanya lantaran kurang percaya.
"Anak Coan! Sungguhkah itu? Kau tidak membohongiku?"
Ouw Yang Coan menutur tentang adiknya yang baru kembali dari daerah Uara. Pek Bin Lo Sat mendengarkan dengan mulut ternganga lebar.
"Anak Coan, kalau begitu bagus sekali. Sekarang kau pulang dulu, esok pagi aku akan ke rumahmu menemui adikmu!"
Ouw Yang Coan berpikir.
Pek Bin Lo Sat ingin membunuh diri, itu pasti karena dirinya telah menikah dengan Bokyong Cen.
Maka malam ini biar bagaimana pun aku tidak akan pulang.
Aku harus menemani guru di goa es ini!
"Suhu, aku akan menemanimu malam ini!"
Pek Bin Lo Sat menghela nafas panjang.
Sesungguhnya dia pun tidak menghendaki Ouw Yang Coan pulang.
Mereka berdua saling memeluk dalam bercakap-cakap dengan penuh kegembiraan hingga pagi.
Sementara itu, Ouw Yang Hong sudah pulas di dalam kamarnya.
Namun mendadak dia terjaga dari tidurnya, karena mendengar suara ketukan pintu.
"Siapa?"
Tanyanya. Terdengar suara sahutan.
"Adik, aku ..."
Begitu mendengar suara Bokyong Cen, tersentaklah hati Ouw Yang Hong.
Mengapa dia kemari lagi?
Tadi ketika bercakap-cakap dengan Ouw Yang Coan, Bokyong Cen langsung pergi tanpa menoleh.
Setelah kakaknya pergi, Bokyong Cen justru kembali lagi, mau apa dia kemari?
"Kak ipar, ada urusan apa kau kemari lagi?
Lebih baik tunggu esok pagi saja!"
Tanya Ouw Yang Hong.
"Adik, apakah kakakmu ada di dalam?"
Bokyong Cen balik bertanya dengan nada sedih.
"Dia tidak ada, sudah kembali ke kamarnya,"
Jawab Ouw Yang Hong.
"Dia memang sudah kembali ke kamar, namun setelah aku pulas, dia pergi lagi, entah kemana. Mungkin dia pergi... ke goa es menemui gurunya,"
Ujar Bokyong Cen. Ouw Yang Hong amat cerdas, tentunya tahu hubungan kakaknya dengan Pek Bin Lo Sat amat istimewa, namun saat ini dia harus mengatakan apa? "Aku menghendakimu menemaniku ke goa es itu,"
Kata Bokyong Cen. Ouw Yang Hong serba salah.
"Kak ipar, kalau kau takut seorang diri, aku akan membangunkan Ceh Liau Thou, lalu kita duduk di depan mengobrol,"
Katanya.
Ouw Yang Hong bangun, lalu mengenakan pakaian.
Setelah itu dia keluar membangunkan Ceh Liau Thou.
Kemudian mereka bertiga duduk di luar sambil mengobrol.
Di saat bersamaan, mendadak terdengar suara tawa dingin yang menusuk telinga.
Kini kepandaian Ouw Yang Hong sudah amat tinggi.
Dari tadi dia sudah mendengar suara langkah beberapa orang.
Namun dia pura-pura tidak tahu, ketika mendengar suara tawa dingin itu.
Padahal dia tahu bahwa yang tertawa dingin itu adalah Pek Tho San San Kun Jen It Thian.
Ouw Yang Hong mendongakkan kepala.
Dilihatnya seorang kerdil duduk di dahan pohon.
Tidak salah, orang kerdil itu adalah Pek Tho San San Kun.
Dia tertawa cengar-cengir seraya berkata pada Bokyong Cen.
"Nona Bokyong, aku dengar kau sudah menikah dengan Ouw Yang Coan, jago nomor satu Daerah See Hek. Itu tidak baik, tidak baik sama sekali. Ketika kau belum menikah, kau merupakan sebuah giok yang amat indah. Tapi setelah menikah, kau akan berubah menjadi sebuah batu biasa. Itu sungguh tidak baik."
Bokyong Cen diam, namun amat gusar dalam hati, sebab teringat akan semua penghinaan yang dilakukan Pek Tho San San Kun terhadapnya.
Kini Ouw Yang Hong bukan seorang sastrawan lemah lagi.
Begitu melihat kemunculan Pek Tho San San Kun, timbullah kegusarannya.
Kebetulan sekali kau kemari.
Saat ini aku sedang kesal dan tidak dapat melampiaskannya, kebetulan kau muncul, akan kulampiaskan pada dirimu!
Oleh karena itu, Ouw Yang Hong tertawa dingin.
"Jen It Thian, aku sudah menikah! Kalau kau kemari cari gara-gara, aku tidak akan berlaku sungkan-sungkan terhadapmu!"
Kata Bokyong Cen. Pek Tho San San Kun tertawa dingin.
"Kuberitahukan padamu, aku sudah membuat sebuah peti baru, khusus untukmu tinggal di dalam. Kau ikut aku pulang, coba tidur di dalam peti itu, apakah cocok untukmu?"
Pek Tho San San Kun terus menatap Bokyong Cen, sepertinya ingin menelannya bulat-bulat.
Kemudian mendadak dia bersiul panjang.
Seketika juga muncul beberapa orang.
Mereka adalah Tay Mok Sin Seng Teng Khie Hong, Sang Pwe Jeh Nuh, Wan To Ma Sih dan Bie Li Sang Seng Kiani Giok Shia.
Begitu keempat orang itu muncul, suasana di tempat itu langsung berubah menjadi tegang.
Apabila Pek Tho San San Kun memberi perintah, keempat orang itu pasti turun tangan terhadap Ouw Yang Hong dan Bokyong Cen.
Namun Pek Tho San San Kun tidak memberi perintah pada mereka, melainkan mengeluarkan sebuah alat tiup yang amat kecil, lalu ditaruhnya di mulut dan ditiupnya.
Maka terdengarlah suara aneh yang melengking-lengking.
Berselang beberapa saat, tampak entah berapa banyak ular beracun merayap ke tempat itu, menuju ke arah Ouw Yang Hong dan Bokyong Cen sambil menjulurkan lidah, sekaligus menyemburkan racun.
Ketika meilhat ular-ular beracun itu, Ouw Yang Hong mengerutkan kening.
Dia tahu akan kelihayan ular-ular beracun itu, tapi tidak merasa takut, sebab dirinya sudah kebal terhadap racun apa pun.
Ouw Yang Hong menoleh memandang Bokyong Cen.
Dilihatnya tangan Bokyong Cen memegang pedang pendek, namun wajahnya tampak pucat pias.
Mendadak Ouw Yang Hong melesat ke arahnya, sekaligus membawanya ke dalam kamarnya, lalu ditaruhnya di tempat tidur.
Ouw Yang Hong juga duduk di tempat tidur itu, agar dapat melihat ular-ular beracun yang merayap ke dalam kamarnya.
Tak lama kemudian, tampak ratusan ular beracun merayap ke dalam kamar.
Ouw Yang Hong segera menarik Bokyong Cen ke dalam pelukannya, lalu menjulurkan sepasang tangannya ke arah ular-ular beracun itu.
"Jen It Thian! Kau kira dengan mengandalkan ular-ular beracun ini kau akan berhasil?"
Ben-taknya gusar. Dia kelihatan tidak takut terhadap Pek Tho San San Kun maupun terhadap ular-ular beracun itu.
"Jen It Thian! Kalau kau tahu gelagat, cepatlah pergi bersama ular-ular beracunmu, agar kau tidak menyesal nanti!"
Hetaknya lagi. Jen It Thian tertawa.
"Ouw Yang Hong, aku dengar wanita itu adalah kakak iparmu! Tapi mengapa kau menariknya ke dalam pelukanmu? Itu tidak baik! Itu tidak haik! Bokyong Cen, kau ingin bersama berapa lelaki haru merasa puas? Celaka! Aku sama sekali tidak tahu kau punya begitu banyak lelaki! Sungguh penasaran! Aku sungguh penasaran!"
Mendadak nada suara alat yang di mulutnya berubah meninggi, membuat ular-ular beracun itu merayap lebih cepat, bahkan di antaranya sudah ada yang merayap di atas ranjang.
Ketika mendengar kata-kata Pek Tho San San Kun itu, wajah Bokyong Cen langsung berubah memerah.
Dia ingin bangkit berdiri meninggalkan Ouw Yang Hong.
Akan tetapi, Ouw Yang Hong bergerak cepat menotok jalan darahnya hingga membuatnya tidak bisa bergerak.
Ouw Yang Hong berkata kepadanya.
"Maafkanlah aku!"
Setelah itu, dia pun berseru.
"Jen It Thian, hati-hatilah kau, aku ingin membunuhmu! Dan itu merupakan hal yang wajar karena aku ingin menyelamatkan kakak iparku!"
"Ouw Yang Hong, benarkah kau ingin menyelamatkan kakak iparmu? Wanita cantik berada di dalam pelukan, kau mau berbuat yang bukan-bukan pun bisa! Sungguh kau tak tahu malu!"
Sahut Tay Mok Sin Seng Teng Khie Hong dengan lantang.
"Keluarga Ouw Yang memang begitu! Apalagi ditambah wanita itu!"
Sambung Sang Seng Kiam Giok Shia dengan dingin.
Bokyong Cen tersindir.
Pada hal dia hidup dengan bersih, namun selalu dipermalukan orang, itu membuatnya amat gusar.
Namun jalan darahnya dalam keadaan terto-tok, dia tidak bisa bergerak sama sekali.
Maka, walau amat gusar, dia tidak bisa berbuat apa pun.
Sementara ular-ular beracun itu semakin mendekat.
Ouw Yang Hong menjulurkan kedua jarinya untuk menjepit salah seekor ular beracun itu.
Dia hanya mengerahkan sedikit tenaganya, namun kepala ular itu hancur.
Akan tetapi, ular-ular beracun itu amat banyak, bagaimana mungkin dapat dihadapi seorang diri?
Lagi pula dia harus melindungi Bokyong Cen, maka hatinya menjadi gugup dan cemas.
Di saat bersamaan, mendadak dia teringat akan kejadian di Gunung Cong Lam San.
Ong Tiong Yang menepuk-nepukkan sepasang sepatunya hingga mengeluarkan suara dan Toan Hong Ya membaca doa untuk melawan suara suling Oey Yok Su.
Teringat akan kejadian itu, Ouw Yang Hong segera bersiul.
Suara siulannya amat aneh, ba-gaikan lengkingan burung elang yang menembus angkasa nan gelap itu.
Ular-ular beracun itu merayap ke arah mereka berdua mendengar suara alat tiup di mulut Pek Tho San San Kun.
Kini begitu mendengar suara siulan Ouw Yang Hong, ular-ular itu menjadi gugup dan ketakutan, bahkan mulai kabur.
Semula Pek Tho San San Kun amat puas, sebab yakin tidak lama lagi Ouw Yang Hong akan di-mangsa ular-ular beracunnya.
Akan tetapi, ketika mendengar suara siulan, tersentaklah hatinya, apalagi setelah melihat semua ular beracunnya kabur ketakutan.
"Bunuh dia!"
Serunya. Seketika juga tampak empat sosok bayangan menerobos ke dalam kamar melalui jendela. Ke-empat orang itu adalah murid-murid kesayangannya.
"Kau berani menghina San Kun, maka harus mati!"
Bentak Tay Mok Sin Seng Teng KhieHong.
Dia menjulurkan tangannya, jari tangannya bagaikan cakar elang, langsung menyerang Ouw Yang Hong.
Di saat bersamaan, Sanj» Seng Kiam Giok Shia juga membentak sambil mengayunkan sepasang pedangnya menyerang punggung Ouw Yang Hong, Wan To Ma Sih dan Sang IPwe Jeh Nuh menyerang dari kiri serta kanan.
Mereka berempat betul-betul ingin membunuh Ouw Yang Hong.
Bokyong Cen yang berada di dalam pelukan Ouw Yang Hong, justru malah tenang-tenang saja.
Sejak menikah dengan Ouw Yang Coan, Bokyong Cen sering memikirkan Ouw Yang Hong.
Ternyata dia amat membenci Pek Bin Lo Sat yang menjodohkannya dengan Ouw Yang Coan, karena dia tahu bahwa mereka guru dan murid mempunyai hubungan yang luair biasa.
Lagi pula selama menjadi istri Ouw Yang Coan, suaminya itu tidak pernah menjamahnya.
Kini ketika melihat keempat orang itu menyerang Ouw Yang Hong, hati Bokyong Cen amat berduka.
Namun dia sudah mengambil keputusan, apabila Ouw Yang Hong mati, dia pun ikut mati.
Oleh karena itu, hatinya menjadi tenang.
Ouw Yang Hong mengerutkan kening ketika melihat serangan-serangan itu, dan langsung menggerakkan sepasang tangannya yang penuh mengandung lwee kang.
Itu membuat senjata di tangan Sang Pwe Jeh Nuh terpental.
Sementara itu badan Ouw Yang Hong bergerak ke samping, sehingga golok Wan To Ma Sih menyerang tempat kosong.
Mendadak Ouw Yang Hong meloncat turun dari ranjang, tetap merangkul Bokyong Cen erat-erat, kemudian menuding mereka berempat dengan sebelah tangannya seraya berkata.
"Lebih baik kalian jangan bergerak! Kalau kalian bergerak, dengan sebelah tanganku ini aku masih dapat membunuh kalian!"
Tay M ok Sin Seng Teng Khie Hong tertawa dingin.
"Ouw Yang Hong! Kalau Ouw Yang Coan berada di sini, nyawanya pun akan melayang malam ini! Apalagi kau? Agar kau tidak mati secara mengenaskan, lebih baik serahkan Nona Bokyong pada kami, lalu kau membunuh diri!"
Ouw Yang Hong tidak menyahut, hanya tersenyum dingin sambil berpikir.
Guru mengajariku harus menjadii penjahat besar di kolong langit.
Selama ini aku tidak menganggap serius akan hal itu.
Kini melihat mereka itu, semuanya merupakan penjahat besar.
Untuk apa aku membiarkan mereka hidup?
Alangkah baiknya aku membunuh mereka, agar mengurangi penjahat di kolong langit.
Setelah mengambil keputusan itu, dalam hatinya timbul nafsu membunuh.
"Jen It Thian, kau terlampau mendesak orang! Dulu kau menghina Nona Bokyong lalu aku dan kakakku menolongnya! Kini kau mendesakku, aku tidak akan berlaku sungkan lagi terhadapmu! Kalau kalian herani bergerak, semuanya pasti mati!"
Katanya sengit.
Si Kerdil Pek Tho San San Kun tertawa dingin.
Dia tahu Ouw Yang Hong memiliki kungfu, namun tidak memperdulikannya.
Sebab siapa yang belajar kungfu tinggi, paling sedikit harus berlatih sepuluh tahun.
Kalau tidak, pasti tiada hasilnya.
Ouw Yang Hong yang begitu macam, paling juga belajar beberapa jurus kepada kakaknya, maka apa yang perlu ditakuti?
Pikir si Kerdil Pek Tho San San Kun, lalu tertawa dingin lagi.
"Habiskan dia! Cepat bunuh dia!"
Bentaknya kemudian.
Sang Seng Kiam Giok Shia ingin mengambil hati gurunya.
Maka ketika mendengar suara ben-takan gurunya, gadis itu langsung menyerang Ouw Yang Hong.
Pedang berikut orangnya menerjang ke arah Ouw Yang Hong secepat kilat.
Saat ini Ouw Yang Hong bersandar pada dinding.
Matanya terus menatap pihak musuh sambil menaruh Bokyong Cen ke bawah.
Setelah itu, dia memasang kuda-kuda seperti orang yang baru belajar kungfu.
Menyaksikan sikapnya itu, Sang Seng Kiam Giok Shia tertawa dalam hati.
Dengan kuda-kuda itu, apakah dapat menangkis sepasang pedangku?
Sementara Ouw Yang Hong mulai mengangkat sepasang tangannya, untuk menarik nafas dalam-dalam.
Ternyata dia sedang mengerahkan lwee kang Ha Mo Kang.
Akan tetapi, Sang Seng Kiam Giok Shia masih menerjang ke arahnya.
Kelihatannya wanita itu tidak takut terhadap ilmu Ha Mo Kang yang dimiliki Ouw Yang Hong.
Sikapnya itu justru membuat Ouw Yang Hong tercengang.
Mungkin dia tidak kenal akan ilmu Ha Mo Kangku ini, pikirnya sambil tertawa dalam hati.
Sedangkan Sang Seng Kiam Giok Shia ber-girang dalam hati.
Dia yakin pasti dapat membunuh Ouw Yang Hong.
Sepasang pedangnya mengarah dada Ouw Yang Hong yang memasang kuda-kuda setengah jongkok.
Betapa cemasnya hati Bokyong Cen.
"Cepat menyingkir, bodoh!"
Serunya.
Ouw Yang Hong sama sekali tidak menghiraukan seman itu.
Sepasang matanya melotot menatap Sang Seng Kiam Giok Shia, dan mulutnya mengeluarkan suara seperti kodok.
Di saat bersamaan, terdengar suara seruan si Kerdil Pek Tho San San Kun Jen It Thian.
"Celaka!"
Tampak si Kerdil itu melesat ke arah Sang Seng Kiam Giok Shia, Tay Mo k Sin Seng Teng Khie Hong berseru kaget, sedangkan Wan To Ma Sih memandang Ouw Yang Hong dengan mata ter-belalak.
Sebab di saat itu terdengar seperti suara ledakan, yang disusul oleh suara jeritan Sang Seng Kiam Giok Shia.
Badan wanita itu terpental ke luar membentur dinding hingga dinding itu berlubang, orangnya terbang ke luar entah ke mana.
Ketika melihat Ouw Yang Hong mendorongkan sepasang tangannya ke depan, si Kerdil Pek Tho San San Kun sudah tahu tidak beres, maka dia segera melesat ke arah Sang Seng Kiam Giok Shia dengan maksud ingin menyelamatkannya, namun terlambat, karena murid perempuan itu sudah terbang ke luar entah ke mana.
Mereka berempat berhambur ke luar.
Tampak Sang Seng Kiam Giok Shia tergeletak di tanah, nafasnya sudah putus.
Tay Mok Sin Seng Teng Khie Hong memandang Sang Seng Kiam Giok Shia.
Wajahnya pucat pias.
"Sumoi! Sumoi! Bangun, bangunlah!"
Serunya dengan suara gemetar. Sedangkan Wan To Ma Sih segera memegang badan Sang Seng Kiam Giok Shia.
"Sumoi! Sumoi!"
Panggilnya dengan mata bersimbah air. Sementara Sang Pwe Jeh Nuh hanya berdiri mematung di tempat.
"Kalian berseru apa? Sumoi sudah mati! Sumoi sudah mati! Ouw Yang Hong! Kau harus membayar nyawa sumoiku!"
Pekiknya.
Sang Pwe Jeh Nuh menerjang ke dalam rumah.
Ternyata mereka bertiga mencintai Sang Seng Kiam Giok Shia secara diam-diam.
Kini sang sumoi itu telah mati.
Sudah barang tentu kematiannya itu membuat mereka bertiga berduka.
Maka Sang Pwe Jeh Nuh langsung menyerang Ouw Yang Hong.
Ouw Yang Hong berdiri tak bergerak di dalam rumah.
Di saat Sang Pwe Jeh Nuh menerjang ke dalam, si Kerdil Pek Tho San San Kun berteriak.
"Jeh Nuh, cepat berhenti!"
Sang Pwe Jeh Nuh berhenti.
"Kau harus membayar nyawa sumoiku! Kau harus membayar nyawa sumoiku ..."
Gumamnya.
"Ouw Yang Hong, tadi kau menggunakan ilmu apa?"
Tanya si Kerdil. Ouw Yang Hong tertawa gelak. Dia amat gembira telah membunuh Sang Seng Kiam Giok Shia.
"Jen It Thian, katakanlah! Kau ganas atau aku yang ganas? Kau jahat atau aku yang jahat?"
Sahutnya.
Si Kerdil Pek Tho San San Kun memandang wajah Ouw Yang Hong yang begitu dingin tak berperasaan, betul-betul nyalinya menjadi ciut.
Dia ingin melarikan diri, namun ketiga muridnya tidak sepertinya.
Kelihatannya mereka ingin mengadu nyawa dengan Ouw Yang Hong.
Sang Pwe Jeh Nuh mendekati Ouw Yang Hong perlahan-lahan, lalu berdiri di sebelah kirinya.
Mereka bertiga sudah siap mengadu nyawa dengan Ouw Yang Hong.
"Kalau kalian bertiga berani bergerak, aku pasti membunuh kalian bertiga!"
Ancamnya sepatah demi sepatah sambil menatap mereka bertiga.
Tay Mok Sin Seng Teng Khie Hong, Sang Pwe jeh Nuh dan Wan To Ma Sih saling memandang.
Mereka bertiga telah menyaksikan bagaimana cara Ouw Yang Hong membunuh Sang Seng Kiam Giok Shia, maka mereka bertiga ingin menyerangnya dengan cara serentak, agar Ouw Yang Hong tiada kesempatan untuk membalas.
Mendadak mereka bertiga membentak keras, dan dengan serentak menyerang Ouw Yang Hong dengan senjata.
Pertarungan kali ini sungguh seru, sebab ketiga orang itu sruSah siap mati hesama Ouw Yang Hong, maka serangan-serangan mereka amat dahsyat.
Ouw Yang Hong tidak dapat menggunakan ilmu Ha Mo Kang, karena diserang secara bertubi-tubi.
Maka dia terpaksa menggunakan ilmu Hong Hoang Lak untuk berkelit kesana kemari.
Walau demikian, badan Ouw Yang Hong tidak terluput dari sambaran senjata Sang Pwe Jeh Nuh dan Wan To Ma Sih, sehingga pakaiannya tersobek sana sini.
Betapa gusarnya Ouw Yang Hong.
Mendadak mulutnya mengeluarkan suara seperti kodok dan badannya dijongkokkan sedikit.
Kemudian dia mencelat ke atas dan berjungkir balik sambil mendorongkan sepasang tangannya ke arah Wan To Ma Sih.
Seketika terdengar suara jeritan.
"Aaaakh ..."
Wan To Ma Sih terpental, lalu roboh tak bernyawa lagi.
Tay Mok Sin Seng Teng Khie Hong dan Sang Pwe Jeh Nuh bertambah dendam terhadap Ouw Yang Hong.
Mereka berdua menyerangnya tanpa menghiraukan nyawa sendiri.
Sementara Ouw Yang Hong bertarung dengan mata memerah.
Dalam hatinya hanya berniat membunuh mereka.
Sang Pwe Jeh Nuh menyerang Ouw Yang Hong secara membabi buta.
Ouw Yang Hong berkelit dan mendadak menangkap sebelah tangan Sang Pwe Jeh Nuh lalu dihetotnya sekuat tenaga, sehingga tangan orang itu putus seketika.
Ouw Yang Hong tidak berhenti sampai di situ.
Ditangkapnya lagi lengan Sang Pwe Jeh Nuh yang tinggal sebelah itu lalu dihetotnya pula.
Sang Pwe Jeh Nuh menjerit, lalu roboh dan pingsan seketika dengan darah bercucuran di kedua bahunya.
Tay Mok Sin Seng Teng Khie Hong berdiri mematung di tempat.
Orang macam apa pun per-nah dijumpainya, dan dia tidak pernah merasa gentar.
Tapi kini melihat Ouw Yang Hong, nyalinya menjadi ciut.
"Aku mau memhunuh orang! Aku mau membunuhmu!"
Seru Ouw Yang Hong sengit.
Dia langsung menyerang Tay Mok Sin Seng Teng Khie Hong.
Sedangkan Tay Mok Sin Seng Teng Khie Hong sudah tidak bisa menangkis, maka pukulan yang dilancarkan Ouw Yang Hong tepat mendarat di dadanya.
Buuuk!
Tay Mok Sin Seng Teng Khie Hong menjerit.
"Aaaakh!"
Dia roboh seketika dan nyawanya pun melayang.
Sungguh kasihan nasib mereka berempat malang melintang belasan tahun di daerah Gurun Pasir See Hek, namun kini harus mati secara mengenaskan di tangan Ouw Yang Hong.
Setelah memhunuh keempat murid Pek Tho San San Kun, Ouw Yang Hong berdiri termangu-mangu.
Sepasang tangannya berlumuran darah.
Berselang sesaat, dia menengok kesana kemari mencari si Kerdil Pek Tho San San Kun.
Namun m Kerdil itu sudah tidak kelihatan, entah menghilang ke mana.
Karena tidak melihat si Kerdil Pek Tho San Sais Kun, maka Ouw Yang Hong mengira si Kerdil ity sudah melarikan diri.
Dia menarik nafas dalam-dalam, lalu masuk ke rumah.
Ketika dia ingin memapah Bokyong Cen bangun, justru melihat si kerdil Pek Tho San San Kun bersembunyi di belakang Bokyong Cen, tangannya ditaruh di atas kepala Bokyong Cen.
"Ouw Yang Hong, kau jangan coba-coba kemari! Kalau kau kemari, aku pasti membunuhnya!"
Katanya dengan lantang.
"Kau berani menyentuhnya, aku pasti membunuhmu!"
Sahut Ouw Yang Hong dingin. Si Kerdil Pek Tho San San Kun memandang Ouw Yang Hong dengan rasa takut.
"Kau jangan bergerak! Kau jangan bergerak! Kalau kau bergerak, aku pasti menir "Ouhnya!"
Katanya dengan suara gemetar.
"Bukankah kau ingin membawanya pulang untuk ditaruh di dalam peti? Bagaimana mungkin kau membunuhnya?"
Sahut Ouw Yang Hong.
"Tidak, tidak! Kau jangan kemari, kau kemari, wanita ini pasti mati!"
Kata si Kerdil.
"Jen It Thian, kalau kau melepaskannya, aku pun akan melepaskanmu!"
Kata Ouw Yang Hong dengan suara ringan.
Si Kerdil Pek Tho San San Kun tidak mempercayainya.
Dia malah mendorong Bokyong Cen berjalan ke luar.
Di saat bersamaan, mendadak muncul Ceh Liau Thou.
Si Kerdil Pek Tho San San Kun segera membentak.
Bab 24
"Jangan bergerak! Siapa berani bergerak, aku pasti membunuh wanita ini!"
Ouw Yang Hong tidak berani turun tangan terhadap si Kerdil Pek Tho San San Kun, hanya menatapnya dengan dingin. Setelah sampai di luar, si Kerdil Pek Tho San San Kun berseru lantang.
"Ouw Yang Hong, kalau kau berkepandaian, datanglah ke tempatku! Aku pasti menunggumu! Kau datang tidak?"
Dia lalu membawa Bokyong Cen pergi sambil tertawa-tawa.
Hari sudah terang.
Sementara itu Ouw Yang Coan terus memandang Pek Bin Lo Sat yang sedang tidur pulas di pangkuannya.
Wajah Pek Bin Lo Sat tampak berseri.
Ouw Yang Coan memandangnya seraya berpikir.
Suhu, aku tetap bersamamu.
Kalau adikku bisa mempunyai keturunan, apa yang perlu kuresahkan lagi?
Aku bersamamu, kalau kau ingin mati, mari kita mati bersama!
Berpikir sampai di situ, Ouw Yang Coan pun tersenyum.
Hari semakin terang.
Tampak cahaya sang Surya menerobos ke dalam goa es, sehingga goa es itu menjadi gemerlapan.
Tak seberapa lama kemudian Pek Bin Lo Sat terjaga dari tidurnya.
"Anak Coan, kau tidak tidur semalaman kan?"
Tanyanya sambil memandang Ouw Yang Coan.
"Suhu, aku hanya melihatmu ..."
Sahut Ouw Yang Coan. Pek Bin Lo Sat tertawa ringan.
"Anak Coan, kau terus memanggilku, suaramu amat menggetarkan kalbu ..."
Ouw Yang Coan tersenyum.
"Kalau begitu, saat ini Suhu pasti amat menyukaiku!"
Pek Bin Lo Sat cemberut.
"Omong kosong!"
Wanita itu membelai Ouw Yang Coan perlahan-lahan.
"Suhu, kini adikku sudah pulang. Aku ingin memberitahukan kepadanya tentang masalah kita. Biar dia yang mengurusi rumah itu. Aku tidak akan meninggalkan goa es ini, selamanya bersamamu . ."
Bukan main girangnya hati Pek Bin Lo Sat.
"Anak Coan, jangan begini! Itu ... itu akan membuatmu sengsara ..."
Katanya dengan suara ringan. Ouw Yang Coan memeluknya erat-erat.
"Suhu, aku merasa bahagia sekali bersamamu,"
Katanya berbisik. Pek Bin l^o Sat menghela nafas panjang, sedang Ouw Yang Coan melanjutkan ucapannya.
"Suhu, aku akan memberitahukan kepada Bokyong Cen, biar dia pergi saja."
"Oh ya! Bukankah kau pernah bilang, sesungguhnya Bokyong Cen menyukai adikmu?"
Ouw Yang Coan mengangguk.
"Tidak salah!"
Pek Bin Lo Sat manggut-manggut..
"Anak Coan, bagaimana kalau kau berpisah dengannya lalu tetap bersamaku di dalam goa es ini? Kalau tidak, aku amat kesepian di sini."
Ouw Yang Coan mengangguk.
Apa yang dikatakan Pek Bin Lo Sat, Ouw Yang Coan pasti menurut.
Pek Bin Lo Sat memandangnya.
Dalam hatinya dia sudah punya suatu ide, hanya merasa tidak enak mengatakannya.
Dia membelai-belai rambut Ouw Yang Coan sambil berkata dengan lembut.
"Anak Coan, maafkan aku! Tidak seharusnya aku menyuruhmu memperistrinya ..."
"Suhu, katakanlah! Aku harus bagaimana? Harus bagaimana?"
"Anak Coan, aku punya suatu rencana ..."
"Suhu, rencana apa?"
"Rencanaku ... kau harus membiarkan adikmu bersama Bokyong Cen lagi."
Ouw Yang Coan menggeleng-geleng kepala.
"Suhu, dia ... dia tidak akan mau ..."
Pek Bin Lo Sat memandangnya seraya berkata perlahan.
"Anak Coan, kau bukan seorang lelaki, kau adalah anak Coanku. Kau bukan seorang lelaki, kau hanya merupakan anak Coanku. Kau sendiri juga tahu itu ..."
Wajah Ouw Yang Coan berubah menjadi murung.
"Suhu, kalau begitu aku harus bagaimana?"
Tanyanya sambil menghela napas panjang.
"Anak Coan, kau sulit melakukan itu, biar aku saja yang pergi melakukannya. Bagaimana?"
Sahut Pek Bin Lo Sat.
Ouw Yang Coan manggut-manggut.
Mereka berdua lalu berangkat ke rumah.
Akan tetapi, ketika sampai di rumah tersebut, mereka berdua terbelalak karena Lo Ouw dan Ceh Liau Thou sedang memberesi barang-barang yang ada di dalam rumah, sedangkan rumah itu sudah beran-takan tidak karuan.
Ouw Yang Coan segera berlari ke dalam, sambil berseru-seru.
"Adik! Adik! Kau baik-baik saja?"
Terdengar sahutan dari dalam, yaitu suara Ouw Yang Hong.
"Kakak, aku baik-baik saja! Kau pergi ke mana?"
Ketika Ouw Yang Coan baru mau menjawab, seseorang telah mendahuluinya.
"Dia pergi ke tempatku!"
Sahut orang itu. Ouw Yang Hong mendongakkan kepala. Dilihatnya Pek Bin Lo Sat berdiri di belakang kakaknya.
"Bagus, Ouw Yang Hong! Kini kau sudah kembali!"
Kata Pek Bin Lo Sat. Ouw Yang Hong tidak mengerti maksud ucapan Pek Bin Lo Sat. Apakah guru kakaknya juga amat merindukannya? Ouw Yang Hong segera memberi hormat.
"Terimakasih atas kebaikan Cianpwe, yang telah pergi ke daerah Utara mencariku! Aku amat berterimakasih pada Cianpwe."
Pek Bin Lo Sat tertawa ringan.
"Ouw Yang Hong, semoga kau tidak membenciku!"
Usai berkata begitu, Pek Bin Lo Sat menengok kesana kemari.
"Anak Coan, bagaimana kalau kita pergi mencarinya?"
Hati Ouw Yang Coan amat kacau.
Dia mengangguk dan berjalan ke luar.
Menyaksikan sikap kakaknya itu, Ouw Yang Hong lalu berkata dalam hati.
Kakak dan gurunya tidak memperdulikanku.
Apakah mereka berdua belum tahu bahwa aku sudah berkepandaian tinggi, sudah merupakan seorang jago tangguh?
Mereka mau pergi mencari kakak ipar, mengapa tidak memberitahukan padaku?
Apakah mereka tidak membutuhkan hantuanku?
Kemudian dia berseru.
"Kakak, aku ikut!"
"Baiklah!"
Sahut Ouw Yang Coan.
Mereka bertiga melesat ke arah Pek Tho San Cun.
Tak lama kemudian sudah tiba di perkampungan tersebut.
Di pintu perkampungan itu tampak beberapa penjaga.
Masing-masing memegang senjata tajam.
Mereka bertiga terus berjalan, tanpa menggubris para penjaga itu.
"Si Kerdil menculik kakak ipar. Aku tidak bisa turun tangan, karena si Kerdil itu mengancam kakak ipar. Tangannya ditaruh di atas kepala kakak ipar, kalau aku bergerak, dia pasti membunuhnya,"
Kata Ouw Yang Hong. Ouw Yang Coan manggut-manggut, tapi tidak mengatakan apa pun. Mereka bertiga sudah sampai di depan pintu perkampungan.
"Cepat buka pintu! Aku ingin bicara dengan majikan kalian!"
Seru Ouw Yang Coan.
"Kau Ouw Yang Coan, kan? Majikan kami sudah berpesan, kalau kau kemari harus disambut dengan panah, agar kau mati tertembus panah! Lebih baik kau pergi, jadi kami tidak usah turun tangan!"
Sahut para penjaga.
Kemudian tampak para penjaga itu mengeluarkan busur, siap memanah mereka bertiga.
Para penjaga itu berada di atas benteng.
Mereka mulai melepaskan panah, namun tidak ada satu pun anak panah yang mengenai sasarannya, karena jarak mereka begitu jauh.
Ouw Yang Coan gusar sekali.
"Suhu, bagaimana kalau kita ke atas?"
Tanyanya kepada Pek Bin Lo Sat.
Pek Bin Lo Sat tidak menyahut, hanya manggut-manggut.
Mereka berdua lalu mengerahkan ginkang melesat ke atas.
Betapa terkejutnya para penjaga yang di atas.
Mereka langsung melepaskan panah ke arah Pek Bin Lo Sat dan Ouw Yang Coan.
Ouw Yang Coan dan Pek Bin Lo, Sat berjungkir balik menghindari serangan panah-panah itu.
Akan tetapi, mendadak Ouw Yang Coan menjerit.
"Aduh!"
Ternyata Ouw Yang Coan terpanah, dan badannya langsung merosot ke bawah.
Bukan main terperanjatnya Ouw Yang Hong.
Dia cepat-cepat dengan maksud ingin menyambut kakaknya.
Tapi mendadak Ouw Yang Coan justru berhenti merosot.
Ternyata sebelah tangannya memegang dinding benteng yang agak menonjol ke luar.
Ouw Yang Hong cemas sekali, karena tahu para penjaga di atas pasti memanah lagi.
Tiba-tiba dia melihat beberapa batang anak panah tergeletak di tanah.
Dia segera memungut panah-panah itu, lalu disamhitkannya ke atas.
Salah seorang penjaga sudah siap memanah Ouw Yang Coan yang bergantung di dinding ben-teng.
Akan tetapi, secara mendadak sebuah panah meluncur ke arahnya.
Penjaga itu ingin berkelit, namun terlambat, maka panah itu menembus tenggorokannya.
"Aaaakh ...!"
Penjaga itu terjatuh.
Keberhasilannya itu membuat Ouw Yang Hong bertambah semangat.
Dia terus menyamhitkan panah-panah yang di tangannya ke atas dan berhasil membuat tiga orang lagi jatuh dari atas.
Menyaksikan kejadian itu, penjaga lain sudah tidak berani lagi memanah Ouw Yang Coan dan Pek Bin Lo Sat.
Ouw Yang Coan dan Pek Bin Lo Sat memanfaatkan kesempatan itu untuk melesat ke atas, dan kali ini mereka berdua berhasil.
Begitu sampai di atas, Pek Bin Lo Sat langsung melancarkan beberapa pukulan ke arah para penjaga, sehingga membuat penjaga-penjaga itu lari terbirit-birit.
Ketika melihat badan Ouw Yang Coan terkena panah, Pek B'm Lo Sat segera bertanya.
"Anak Coan, kau tidak apa-apa?"
"Suhu, aku tidak apa-apa. Panah ini cuma menancap di bahuku."
Kemudian Ouw Yang Coan mencabut panah yang menancap di bahunya.
Setelah itu mereka berdua menengok kesana kemari, namun tidak ada seorang pun di sekitar mereka.
Sementara Ouw Yang Hong sudah melesat ke atas dengan menggunakan ilmu ginkang Hong Hoang Lak.
Bukan main!
Hanya sekali melesai dia sudah mencapai belasan depa.
Kemudian dia berjungkir balik, sepasang kakinya menendang dinding benteng, sehingga badannya melayang ke atas.
Pek Bin Lo Sat dan Ouw Yang Coan ingin membantunya, namun ketika menyaksikan gin-kangnya, mereka berdua malah terbelalak dan tahu bahwa ginkang Ouw Yang Hong lebih tinggi dari mereka.
Ouw Yang Hong sudah sampai di atas.
Dan tahu bahwa Pek Bin Lo Sat dan Ouw Yang Coan terheran-heran padanya, lapi dia pura-pura tidak tahu.
"Kita ke dalam?"
Tanyanya. Pek Bin Lo Sat dan Ouw Yang Coan mengangguk, kemudian mereka bertiga berjalan ke da-lam. Ada sebuah jembatan kecil yang tampaknya agak licin.
"Hati-hati!"
Kata Pek Bin Lo Sat. Ouw Yang Coan mengangguk.
"Ya!"
Ouw Yang Coan langsung melesat ke arah jembatan itu. Mendadak terdengar suara 'Kreeeek!' Ouw Yang Hong segera berseru.
"Hati-hati, kak!"
Di bawah jembatan itu terdapat jurang yang amat dalam.
Ketika diinjak oleh Ouw Yang Coan jembatan itu nyaris putus.
Pek Bin Lo Sat tidak berlaku ayal lagi.
Secepat kitat dia melesat ke sana, lalu menyambut Ouw Yang Coan sekaligus membawanya ke seberang.
Melihat Pek Bin Lo Sat dan kakaknya sudah berada di seberang, Ouw Yang Hong segera melesat ke sana menggunakan ilmu Hong Hoang Lak.
Badannya tampak ringan melayang-layang ke seberang.
Bukan main kagumnya Pek Bin Lo Sat dan Ouw Yang Coan menyaksikannya.
Mereka bertiga lalu memasuki perkampungan itu.
Tampak sebuah rumah yang amat besar, namun tiada seorang pun di sekitar rumah itu.
Mereka hertiga berendap-endap mendekati rumah besar itu.
Mendadak terdengar suara di dalamnya, sepertinya seseorang sedang bergumam.
Mereka bertiga saling memandang sejenak, setelah itu menerjang ke dalam.
Tampak si Kerdil Pek Tho San San Kun sedang duduk di kursi.
Dia bertepuk-tepuk tangan sambil tertawa, kelihatannya gembira sekali.
Di hadapannya terdapat sebuah peti besar.
Peti itu berlubang-lubang.
Terlihat pula cahaya gemerlapan menyorot ke luar.
Si Kerdil Pek Tho San San Kun memandang Pek Bin Lo Sat, Ouw Yang Coan dan Ouw Yang Hong.
"Kalian sudah datang?"
Katanya acuh tak acuh. Kemudian dia memandang peti itu lagi seraya berkata dengan lembut.
"Katakanlah! Aku cuma ingin main-main denganmu, tapi mereka justru memusuhiku! Katakan! Apakah aku perlu membunuh mereka?"
Dia tertawa.
"Dulu aku tahu kau merupakan sebuah giok yang amat indah, tiada cacat sama sekali. Tetapi setelah kau menikah dengan Ouw Yang Coan, kau pun tidak cacat sedikit pun, bukan? Dia bukan seorang lelaki, bukan? Kau masih ..."
Betapa gusarnya Ouw Yang Coan, ketika mendengar kata-kata si Kerdil itu.
"Jen It Thian, tutup mulutmu!"
Hentaknya. Si Kerdil Pek Tho San San Kun menatapnya seraya herkata.
"Mengapa aku harus tutup mulut? Pernahkah kau memberikan kebaikan padaku, maka aku harus tutup mulut? Kau bukan seorang lelaki, kau mau apa kemari?"
Ouw Yang Coan sudah tidak dapat menahan diri.
Dia ingin menerjang ke arah si Kerdil, tapi Pek Bin Lo Sat segera mencegahnya.
Pek Bin Lo Sal sudah berpengalaman di dunia persilatan, maka ketika melihat si Kerdil begitu tenang, timbul kecurigaannya, jangan-jangan si Kerdil itu sudah memasang perangkap, maka mencegah Ouw Yang Coan bertindak ceroboh.
Si Kerdil Pek Tho San San Kun tersenyum, lalu menatap Ouw Yang Hong.
"Ouw Yang Hong, aku pun ingin membuat perhitungan denganmu! Kau telah membunuh keempat muridku. Kalau kau membunuh Tay Mok Sin Seng Teng Khie Hong, Sang Pwe jeh Nuh dan Wan To Ma Sih, tidak jadi masalah. Tapi kau telah menimbulkan masalah besar karena membunuh Sang Seng Kiam Giok Shia! Aku mendapatkannya dari Tionggoan, bahkan aku pun amat menyukai-nya! Pek Bin Lo Sat merusak wajahnya, kau membunuhnya! Kau harus membayar nyawanya!"
"Kau pun harus mati, lalu siapa yang harus membayar nyawamu?"
Sahut Ouw Yang liong dengan dingin.
"Ouw Yang Hong, kau kira begitu gampang membunuhku? Coba saja! Kalau hari ini kau tidak dapat membunuhku, aku pasti akan membunuhmu! Kalian bertiga pasti akan mati satu persatu! Aku punya sebuah ide baru, Nona Bokyong ini akan kujadikan mummi, agar tidak rusak selamanya! Bagaimana menurut kalian?"
Dia tertawa gembira lalu memandang peti besar itu.
"Di dalam peti besar ini berisi Nona Bokyong yang sedang kalian cari. Kalian tidak usah mencarinya lagi, sebab aku akan menjadikannya sebuah mummi! Jadi aku bisa melihatnya selama-lamanya!"
Betapa gusarnya Ouw Yang Coan dan Ouw Yang Hong mendengar itu. Tanpa berjanji mereka berdua melangkah maju. Si Kerdil Pek Tho San San Kun segera membentak.
"Jangan bergerak! Kalau kalian bergerak lagi, dia pasti mati! Kalian mau melihat, apa yang dilakukannya di dalam?"
Mendadak Si Kerdil Pek Tho San San Kun bertepuk tangan.
Seketika itu juga pintu peti besar itu terbuka.
Ternyata di dalamnya memang ada Bokyong Cen, duduk dengan mata terpejam dan tak bergerak.
Kelihatannya seperti tidur pulas, tapi juga mirip sudah mati.
Ouw Yang Coan dan Ouw Yang Hong ingin menerjang ke sana, namun Si Kerdil Pek Tho San San Kun pun membentak.
"Kalian lihat baik-baik, kalau kalian berani menerjang ke sana, dia pasti mati."
Ouw Yang Hong segera mencegah kakaknya maju, sebab dia sudah melihat ada ketidakberesan pada tubuh Bokyong Cen.
Ternyata tubuh Bokyong Cen ditutupi dengan sehelai kain tipis.
Sekujur badannya mengkilap, karena sudah dipolesi semacam minyak.
Si Kerdil Pek Tho San San Kun tertawa terkekeh.
"Ouw Yang Hong, kau memeluk kakak iparmu! Kalau terlihat kakakmu, apa pula yang akan terjadi? Ouw Yang Coan, adikmu menyukai istrimu, bagaimana kalau kau berikan padanya? Kalian berdua menyukai seorang wanita, itu tidak baik! Menurutku, lebih haik diberikan padaku saja! Jadi kalian berdua tidak perlu berebut lagi, agar tidak merusak hubungan kalian sebagai saudara!"
Ouw Yang Coan dan Ouw Yang Hong terus menatap Si Kerdil itu. Sepertinya mereka ingin menelannya bulat-bulat.
"Kalian lihat! Bukankah dia amat sedap dipandang? Tubuh, rambut, tangan, dan kakinya amat indah! Sulit lagi mencari wanita seperti nona Bokyong ini, pantas kalian berdua begitu menyukainya!"
Ouw Yang Hong terus menatap Si Kerdil Pek Tho San San Kun, dia sedang mempertimbangkan, apabila dia menerjang ke sana, apakah Si Kerdil dapat membunuh Bokyong Cen secepat itu?
Dia tidak berani memandang Bokyong Cen, sebab tubuhnya yang mulus indah itu memang merangsang.
Terdengar lagi suara Si Kerdil Pek Tho San San Kun.
Kali ini kepada Ouw Yang Hong.
"Ouw Yang Hong, kuberitahukan padamu! Kalau kau berani bergerak, aku pasti melancarkan sebuah pukulan ke arahnya! Minyak yang kupoles-kan pada tubuhnya itu akan segera lumer, dia pasti mati!"
Ouw Yang Hong dan Ouw Yang Coan tidak tahu harus herbuat apa, mereka berdua hanya saling memandang. Bersamaan dengan itu pula, mendadak Pek Bin Lo Sat tertawa ringan, ke-mudian berkata pada Si Kerdil.
"Jen It Thian, kau salah! Kau sudah salah besar ...."
Si Kerdil Pek Tho San San Kun nampak tertegun mendengar kata-kata Pek Bin Lo Sat itu.
"Pek Bin Lo Sat, di mana letak kesalahanku? Bagaimana aku bisa salah?"
"Jen It Thian, kau adalah orang aneh di kolong langit, aku salut padamu! Kau tidak cuma aneh, tapi juga memiliki berbagai macam benda mustika yang tak ternilai harganya, bahkan juga mengumpulkan manusia hidup, menganggapnya sebagai benda mustika. Karena itu, apabila kau membunuh nona Bokyong, bagaimana mungkin kau menyak-sikannya lagi? Kalau dia dijadikan mummi, sudah pasti tidak bisa tertawa maupun menangis! Tidak mungkin jadi wanita tercantik di kolong langit! Ya, kan?"
Ouw Yang Hong mengerti akan maksud ucapan Pek Bin Lo Sat, maksudnya agar Si Kerdil Pek Tho San San Kun tidak membunuh Bokyong Cen.
Mendengar apa yang dikatakan Pek Bin Lo Sat, Si Kerdil Pek Tho San San Kun jadi tertegun.
"Kau bilang orang mati tidak seperti orang hidup? Kau kira aku tidak tahu itu? Kalau dia sudah mati, apa yang tidak baik? Dia tidak bisa bicara, tapi aku akan bicara padanya! Walaupun dia tidak bisa tertawa dan menangis, aku tetap akan merasa puas dan gembira memandangnya!"
"Jen It Thian, lebih baik kau melepaskannya! Kami pasti mengampuni nyawamu, kau pun boleh pergi!"
Ancam Ouw Yang Hong, tegas. Si Kerdil Pek Tho San San Kun tertawa.
"Kau mengampuni nyawaku, aku harus mengampuni nyawa siapa? Kau memperbolehkanku pergi, lalu semua benda mustika ini akan diberikan kepada siapa? Juga perkampunganku ini harus diserahkan kepada siapa? Kau menghendakiku pergi, itu jangan harap!"
Ouw Yang Hong mengerutkan kening, kemu-dian mendekati Si Kerdil Pek Tho San San Kun dengan langkah perlahan.
"Berhenti!"
Bentak Si Kerdil Pek Tho San San Kun begitu melihat Ouw Yang Hong maju. Ouw Yang Hong tidak berhenti.
"Kau memiliki kepandaian tinggi, boleh be-tarung denganku!"
Tantangnya.
"Kalaupun harus bertarung, aku akan bertarung dengan Pek Bin Lo Sat, sebab dia telah merusak wajah Sang Seng Kiam Giok Shia. Aku punya dendam dengannya!"
Sahut Pek Tho San San Kun.
Tercengang Ouw Yang Hong mendengarnya.
Aku yang membunuh muridnya itu, tapi dia tidak mau bertarung denganku, malah ingin bertarung dengan Pek Bin Lo Sat, bukankah itu amat mengherankan?
Pikir Ouw Yang Hong.
Mendadak dalam hati Ouw Yang Hong timbul suatu ide aneh.
"Jen It Thian, menurutku lebih baik ... kau bertarung denganku! Kalau kau menang, dia tetap bersamamu! Apabila kau kalah, aku akan mem-bawanya pergi. Bagaimana?"
Si Kerdil Pek Tho San San Kun tertawa.
"Mengapa aku harus bertarung denganmu? Kungfumu amat mengejutkan, aku tidak mampu melawanmu!"
Sahut Si Kerdil itu.
"Bagaimana kalau aku melawan barisan ular beracunmu? Kalau aku menang, kau harus mem-perbolehkannya ikut kami pergi. Seandainya aku kalah, kami akan segera meninggalkan tempat ini. Tidak akan datang mengganggumu lagi!"
"Cara bagaimana kau bertarung dengan barisan ular beracunku?"
Tanya Si Kerdil.
"Itu terserah kau saja!"
Mendengar itu, Si Kerdil Pek Tho San San Kun bergirang dalam hati.
Ouw Yang Hong, kau pasti mampus!
Kau kira enak bertarung dengan barisan ular beracunku?
Kalau kau sudah terkepung oleh barisan ular beracunku, kau pasti tinggal tulang belulang saja!
Karena berpikir begitu, Si Kerdil Pek Tho San San Kun pun tertawa terkekeh.
"Ouw Yang Hong, lebih baik kau jangan memaksa diri! Apabila kau terkepung oleh barisan ular beracunku, kau pasti mampus! Sementara Ouw Yang Coan berkeluh dalam hati. Adik! Kau sama sekali tidak berpengalaman, kalau kau bertarung dengan barisan ular beracun itu, kau pasti mati! Lalu tiba-tiba Ouw Yang Coan membentak.
"Jen It Thian! Lepaskan istriku, aku akan bertarung denganmu!"
Si Kerdil Pek Tho San San Kun tidak menggubris Ouw Yang Coan, hanya menatap Ouw Yang Hong.
"Bagaimana? Apa yang kau katakan tadi tidak masuk hitungan lagi?"
"Bagaimana perkataanku tidak masuk hitungan? Asal kau setuju, aku pasti bertarung dengan barisan ular beracunmu itu!"
Sergah Ouw Yang Hong, tampak kesal. Si Kerdil Pek Tho San San Kun tertawa gembira.
"Baik! Baik! Aku setuju kau bertarung dengan barisan ular beracunku!"
Dia tertawa lagi, kemudian bertepuk tangan.
Terdengar suara 'Kreek!' Di lantai muncul sebuah lubang.
Kalau tadi Ouw Yang Coan dan Ouw Yang Hong menerjang ke sana, mereka berdua pasti akan terjatuh ke dalam lubang itu.
Ternyata di situ terdapat sebuah perangkap.
Oleh karena itu, Ouw Yang Hong mengambil Keputusan dalam hati, biar bagaimana pun hari ini harus membunuh Si Kerdil itu.
Setelah mengambil keputusan tersebut, dia pun berkata kepada Si Kerdil Pek Tho San San Kun.
"Jen It Thian, kau boleh turun tangan!"
"Kau lihat, itu adalah lubang ular beracun! Aku menghendakimu melihat baik-baik! Itu agar kau tidak menyesal!"
Ouw Yang Hong memandang ke dalam lubang ular beracun itu. Gelap gulita di dalam, tidak terlihat apa pun, hanya terdengar suara mendesis-desis.
"Ada orang menyukai kegelapan, tapi aku justru tidak suka! Karena sulit memandang wanita cantik dalam kegelapan!"
Ouw Yang Hong tidak mau banyak bicara dengannya, diam saja tanpa bersuara sedikit pun.
"Kalau aku menaruh seseorang ke dalam lubang itu, pasti sedap sekali dipandang! Kalian tidak pernah menyaksikannya, kan? Nah, kalian harus menyaksikannya!"
Si Kerdil Pek Tho San San Kun menggerakkan tangannya, maka terdengar suara hiruk-pikuk di dalam lubang itu.
Tak lama tampak sebuah keran-jang besar terangkat ke atas.
Di dalam keranjang besar itu berisi entah berapa banyak ular beracun.
Akan tetapi, ular-ular beracun itu tak bergerak sama sekali.
"Ouw Yang Hong, kalau kau berani duduk di dalam keranjang besar itu selama sepasang hio, aku pasti melepaskan nona Bokyong!"
Ouw Yang Coan segera berkata pada Ouw Yang Hong.
"Adik, itu tidak boleh!"
Ouw Yang Hong tidak menyahut, hanya bertanya kepada Si Kerdil Pek Tho San San Kun.
"Jen It Thian, bolehkah aku membunuh ular-ular bera-cunmu itu?"
Si Kerdil Pek Tho San San Kun melihat Ouw Yang Hong tidak takut, hatinya jadi tersentak.
Apakah orang itu tidak takut pada ular beracun?
Itu tidak mungkin!Dia cuma berlagak gagah saja!
Setelah berpikir demikian, si Kerdil Pek Tho San San Kun tertawa ringan, lalu berkata sungguh-sungguh.
"Ouw Yang Hong, kalau kau berkepandaian, duduklah di dalam keranjang besar itu, agar ular-ular beracun itu menggigitmu! Apabila kau membunuh mereka, itu bukan terhitung kepandaian, siapa pun bisa membunuh ular beracun! Ya, kan?"
Ouw Yang Hong diam.
Sementara ular-ular beracun itu tetap tidak bergerak.
Si Kerdil Pek Tho San San Kun mengeluarkan sebuah alat tiup, lalu ditaruh ke mulutnya.
Dia mulai meniup perlahan-lahan.
Seketika ular-ular beracun itu mendongakkan kepala, bahkan tampak saling menjulurkan lidah, mengerikan.
Menyaksikan itu, hati Pek Bin Lo Sat dan Ouw Yang Coan jadi dingin.
Mereka berdua pun ber-pikir, kalau mereka yang duduk di dalam keran-jang besar penuh berisi ular-ular beracun itu, sudah jelas akan mati keracunan.
Ouw Yang Coan segera berkata dengan penuh kecemasan.
"Adik ..."
Akan tetapi, Ouw Yang Hong malah tertawa, lalu berkata pada Si Kerdil Pek Tho San San Kun.
"Baiklah! Jen It Thian, aku akan menurutimu!"
Si Kerdil Pek Tho San San Kun manggut-manggut.
Mendadak tangannya bergerak, maka tutupan keranjang besar itu terbuka.
Ouw Yang Hong langsung meloncat ke dalam keranjang besar itu.
Beberapa ekor ular beracun ingin menggigitnya.
Namun Ouw Yang Hong menggeserkan ular-ular dengan tangannya, kemudian duduk di dalam keranjang besar itu.
Si Kerdil Pek Tho San San Kun langsung meniup alat suara di mulutnya.
Seketika ular-ular beracun itu mulai menggigiti badan Ouw Yang Hong.
Menyaksikan itu, air mata Bokyong Cen bercucuran.
Ia tak pernah menyangka Ouw Yang Hong herani berkorban demi dirinya.
Sementara ular-ular beracun terus melilit badan Ouw Yang Hong, sehingga badannya penuh ular beracun.
Bukan main terkejutnya Pek Bin Lo Sat dan Ouw Yang Coan, melihat kejadian itu.
Wajah me-reka berubah pias, khawatir dan takut.
Ouw Yang Coan berseru-seru dengan suara bergemetar.
"Adik! Adik ...!"
Ouw Yang Hong tidak menyahut.
Sepasang matanya dipejamkan, mulai menghimpun Iwee kang Ha Mo Kang.
Ouw Yang Coan dan Pek Bin Lo Sat terus menyaksikan itu dengan mata tak berkedip, namun hati mereka amat tegang dan tercekam.
Sedangkan Ouw Yang Hong terus duduk diam di dalam keranjang besar itu.
Beberapa lama ke-mudian Ouw Yang Hong masih tetap duduk diam.
Pek Bin Lo Sat tertawa melihat keberanian Ouw Yang Hong itu.
"Anak Coan, tak kusangka adikmu memiliki kepandaian itu ..."
Ujarnya, kagum.
Si Kerdil Pek Tho San San Kun terus meman-dang Ouw Yang Hong.
Dia yakin Ouw Yang Hong pasti mati digigiti ular-ular beracun itu.
Maka terus meniup dengan nada tinggi, sehingga ular-ular beracun itu terus menggigiti Ouw Yang Hong.
Akan tetapi, sungguh mengherankan, Ouw Yang Hong tidak berubah jadi manusia darah, sebaliknya dia masih tetap duduk diam, persis seperti padri sedang bersamedi.
Sementaa hio yang dipasang Si Kerdil Pek Tho San San Kun sudah habis terbakar.
Mendadak Ouw Yang Hong membuka matanya, memandang Si Kerdil Pek Tho San San Kun.
"Jen It Thian, apakah aku sudah boleh keluar?"
Tanyanya kemudian.
Bukan main terkejutnya Si Kerdil Pek Tho San San Kun.
Dia sama sekali tidak menduga, Ouw Yang Hong bisa selamat dari gigitan ular-ular beracun itu.
Dia melongo hingga mulutnya ternganga lebar.
Ouw Yang Hong meloncat ke luar dari keranjung besar itu, dan berdiri di hadapan si Kerdil Pek Tho San San Kun.
Itu membuat si Kerdil Pek Tho San San Kun mundur selangkah.
"Bagus! Kau memang luar biasa! Aku serahkan nona Bokyong padamu, kau sudah mempertaruh-kan nyawamu demi memperoleh wanita cantik itu, maka jangan diberikan kepada siapa pun!"
Mendadak Si Kerdil Pek Tho San San Kun bertepuk tangan, maka terdengar suara 'Kreeek!' Peti besar itu terbuka.
Dia lalu mendorong Bokyong Cen ke arah Ouw Yang Hong.
Apa boleh buat!
Ouw Yang Hong harus menyambutnya, tapi tidak berani memandang Bokyong Cen.
"Kakak! Kakak ...!"
Serunya kepada Ouw Yang Coan. OuwYang Hong melempar Bokyong Cen ke arah Ouw Yang Coan. Namun Pek Bin Lo Sat yang bergerak cepat menyambut Bokyong Cen.
"Pakaian!"
Teriak Pek Bin Lo Sat kepada Ouw Yang Coan. Ouw Yang Coan segera mencari pakaian, dia mengambil pakaian wanita dari sebuah lemari, kemudian diberikan pada Pek Bin Lo Sat, namun Pek Bin Lo Sat berkata.
"Pakaikanlah!"
Ouw Yang Coan segera memakaikan pakaian itu pada Bokyong Cen.
Setelah itu dia pn mem-bebaskan totokannya, sedangkan Bokyong Cen diam saja.
Namun saat itu rupanya Si Kerdil Pek Tho San San Kun sudah menghilang entah ke mana.
Karena tidak berhasil menemukannya, akhirnya mereka membakar rumah besar itu.
Dalam sekejap, api sudah menjalar ke mana-mana.
Ketika mereka berada di luar perkampungan Pek Tho San Cung, api itu sudah membesar, tam-pak para penghuni berlari tunggang-langgang me-nyelamatkan diri.
Sedangkan mereka bertiga, se-gera membawa Bokyong Cen meninggalkan per-kampungan itu.
Pek Bin Lo Sat, Ouw Yang Hong, dan Bokyong Cen sudah sampai di rumah.
Namun mereka tahu tidak bisa tinggal di situ lagi, maka segera me-nyuruh Lo Ouw dan Ceh Liau Thou berkemas.
Setelah itu mereka semua pindah ke tempat lain tak jauh dari goa es.
Kebetulan di situ terdapat be-berapa rumah batu, untuk dijadikan sebagai tempat tinggal oleh mereka.
Bokyong Cen jarang bersama mereka.
Setiap hari dia memandang ke bawah gunung.
Di tempat itu terdapat beberapa rumah batu, Bokyong Cen memilih sebuah rumah batu yang paling kecil.
Jika malam tiba gadis itu selalu mengunci pintu.
Siapa pun yang memanggilnya tak pernah ia membu-kakan pintu.
Ouw Yang Coan tidak pernah pergi mencarinya ke rumah itu.
Setiap malam dia duduk di atas sebuah batu, entah apa yang dipikirkannya.
Setelah semua lampu di rumah-rumah batu itu dipadamkan, harulah Ouw Yang Coan pulang.
Sebelum tertidur selalu saja Ouw Yang Hong ber-tanya dari mana saja Ouw Yang Coan.
Namun kakaknya tak pernah menjawab, hanya duduk diam atau langsung saja tidur.
Malam itu Ouw Yang Coan duduk di atas batu, matanya terus memandang rumah-rumah batu.
Kemudian dia juga memandang ke arah Pek Tho San Cung.
Hatinya merasa heran, mengapa Si Kerdil Pek Tho San San Kun menganggap wanita cantik sebagai suatu benda mustika, itu apa artinya?
Di saat Ouw Yang Coan berpikir seperti itu mendadak terdengar suara langkah yang amat di-kenalnya, lalu disusul suara yang amat lembut.
"Anak Coan, kau berbuat apa di sini? Apakah kau tidak mau pulang menemaninya?"
Ouw Yang Coan mendongakkan kepala perlahan-lahan, memandang Pek Bin Lo Sat seraya menyahut.
"Dia tidak akan memperdulikanku lagi, dia anggap diriku telah berdosa terhadapnya, maka dia tidak memperdulikanku ..."
"Anak Coan, apakah kau merasa rendah diri?"
Ouw Yang Coan tidak menyahut, namun air matanya berlinang-linang. Pek Bin Lo Sat segera memeluknya, kemudian berkata dengan lembut.
"Anak Coan, yang berdosa bukanlah kau, melainkan aku. Tahukah kau, kalau malam itu aku tidak berbuat seperti itu, sudah pasti kau akan pulang menengok istrimu. Begitu kau dapat membantu adikmu, dia juga tidak akan ..."
Maksud Pek Bin Lo Sat, Bokyong Cen tidak akan jatuh ke tangan Si Kerdil Pek Tho San San Kun, tidak akan terjadi apa pun. Berselang sesaat, Pek Bin Lo Sat melanjutkan.
"Anak Coan, hatimu resah sekali, kan?"
Sesungguhnya Ouw Yang Coan memang amat berduka dalam hati.
Dia tidak tahu harus bagai-mana, sebab Bokyong Cen tidak mau berbicara dengannya, bahkan tak ingin berada bersamanya.
Inilah yang membuatnya merasa malu sekali.
Pek Bin Lo Sat memandang muridnya itu.
"Anak Coan, menurutku kau harus meninggalkannya. Apakah kau merasa berkeberatan me-ninggalkannya?"
Ouw Yang Coan menggelengkan kepala, tidak menyahut.
"Kau harus membiarkan adikmu bersamanya, perlukah aku pergi mengatakannya?"
Ouw Yang Coan memandang Pek Bin Lo Sat.
Dia tahu kalau dirinya yang mengatakan kepada Ouw Yang Hong sungguh tidak pantas.
Memang lebih baik gurunya yang menyampaikan.
Namun, apakah gurunya dapat mengatakan hal itu?
Sebab Pek Bin Lo Sat sendiri seorang wanita.
Dia tak yakin gurunya bisa melakukan hal itu, menyam-paikan tentang perasaannya kepada orang lain.
"Anak Coan, hanya dengan cara ini, aku akan mengatakan pada Ouw Yang Hong, sekarang aku ke sana!"
Ouw Yang Coan manggut-manggut.
Pek Bin Lo Sat pun segera melesat pergi.
Sementara Ouw Yang Hong sedang berlatih Iwee kang di dalam rumah batu.
Kini lwee kangnya bertambah maju.
Dia juga tahu ilmu Ha Mo Kang-nya jauh lebih hebat dari gurunya.
Mendadak dia mendengar suara langkah ringan menuju ke rumah batunya.
Dia sudah menduga itu suara langkah kakaknya atau Pek Bin Lo Sat.
Pintu rumah terbuka, lalu tampak seseorang berjalan ke dalam.
Orang itu tak lain Pek Bin Lo Sat, guru kakaknya.
Pek Bin Lo Sat melangkah ringan ke hadapan Ouw Yang Hong.
"Ouw Yang Hong, aku ingin bicara denganmu!"
Ujarnya, memandang pemuda itu. Ouw Yang Hong tercengang, namun manggut-manggut.
"Cianpwe, mau bicara apa, bicaralah!"
"Ouw Yang Hong, apa yang ingin kubicarakan, punya hubungan besar dengan keluarga Ouw Yang. Kau sudi mendengarnya?"
Tanya Pek Bin Lo Sat yang tampak ragu.
"Cianpwe adalah guru kakakku, bagaimana aku berani tidak mendengarnya?"
Air muka Pek Bin Lo Sat berubah aneh, membuat Ouw Yang Hong terheran-heran.
Namun yakin Pek Bin Lo Sat akan membicarakan hal yang amat penting, entah hal penting apa.
Pek Bin Lo Sat menarik nafas dalam-dalam, kemudian berkata perlahan-lahan.
"Ouw Yang Hong, aku pernah bilang pada kakakmu, bahwa kau berbakat belajar ilmu silat dan kau pun akan menjadi seorang pesilat tangguh. Namun ketika itu, aku tidak mau menerimamu sebagai murid. Tentunya kau merasa heran mengapa aku menolakmu, mungkin kau kira aku pilih kasih. Sesungguhnya tidak. Kini aku akan memberitahukan padamu, aku dan kakakmu berada di dalam goa es belajar ilmu yang mengandung Iwee kang dingin. Kaum lelaki yang belajar ilmu itu akan kehilangan kejantanannya. Sedangkan kaum waniCa, akan menjadi mandul, tidak bisa punya anak selamanya. Oleh karena itu, aku menolakmu. Pada waktu itu, aku tidak herani memberitahukan padamu ..."
Tersentak hati Ouw Yang Hong mendengar itu.
Namun mengapa kakaknya tidak pernah mem-beritahukan padanya?
Tiba-tiba Ouw Yang Hong teringat sesuatu, yaitu Bokyong Cen.
Bokyong Cen adalah kakak iparnya, sedangkan kakaknya tidak dapat berbuat sebagai seorang suami.
Lalu bagaimana dengan kakak iparnya?
Tidak heran, malam itu Bokyong Cen ke kamarnya dua kali.
Lagi pula setiap hari dia memandang ke ujung langit, terus memikirkan daerah Kang Lam dan vihara Cin Am.
Mungkin ada kaitannya dengan ini.
Setelah diam sejenak, Pek Bin Lo Sat melanjutkan.
"Aku akan memberitahukan padamu, bahwa aku dan kakakmu amat intim!"
Mendengar kata-kata itu Ouw Yang Hong jadi tertegun.
Dia tak tahu harus bagaimana.
Bahkan hatinya jadi risau.
Guru kakak sedang bicara apa?
Dia berbuat intim dengan kakak?
Mungkin itu dulu.
Kini kakak sudah punya istri.
Mendadak Ouw Yang Hong tersadar akan satu hal.
Dia menoleh, memandang Pek Bin Lo Sat, tapi tidak tahu harus bicara apa.
Pek Bin Lo Sat tersenyum, namun senyumannya kelihatan berduka, kemudian berkata dengan suara ringan.
"Kau adalah seorang sastrawan, tentunya tidak tahu kesulitan orang yang belajar ilmu silat. Aku datang ke daerah See Hek ini, karena punya seorang musuh. Dia melukaiku, tiada seorang pun mampu menyembuhkan lukaku. Maka aku terpaksa mengobati lukaku dengan batu es yang amat dingin itu. Pada suatu hari, kakakmu terjatuh ke dalam goa es. Aku yang menyelamatkannya, sekaligus mengajarnya ilmu silat. Sejak itu hubungan kami amat baik, kami berkumpul belasan tahun, hingga tanpa sadar terlahir rasa cinta kasih. Dia tidak bisa berpisah denganku, aku pun tidak bisa berpisah dengannya. Kami berdua saling mengasihi. Aku yakin kini kau sudah paham ..."
Tertegun dan tersentak hati Ouw Yang Hong mendengar itu. Namun tetap saja dia tidak tahu harus mengatakan apa. Belum sempat dia menemukan kata-kata, Pek Bin Lo Sat telah melanjutkan.
"Padahal, sesungguhnya kakakmu menyelamatkan Bokyong Cen, itu demi dirimu . ."
"Mengapa demi diriku?"
Tanya Ouw Yang Hong menyelak.
"Kakakmu bilang padaku, bahwa Bokyong Cen tertarik padamu. Ia amat menyukaimu. Aku memperbolehkan kakakmu menolong Bokyong Cen, juga karena hal ini. Siapa yang mengira saat kalian berangkat ke Tionggoan, kau justru jatuh ke tangan Si Racun Tua. Aku dan anak Coan pergi mencarimu, namun perkampungan Liu Yun Cun itu telah berubah puing-puing, tiada seorang hidup di sana. Kami jadi putus asa dan segera pulang ke See Hek, anak Coan tidak tahu harus bagaimana baik-nya, aku yang mendorongnya untuk memperistri Bokyong Cen ..."
Ouw Yang Hong yang mendengar semua itu tampak tercenung diam. Sementara Pek Bin Lo Sat yang tidak tahu keraguan hati Ouw Yang Hong terus saja melanjutkan.
"Ouw Yang Hong, karena kau tidak ketahuan rimbanya, maka aku pun mengatur suatu siasat. Apabila punya kesempatan, aku akan mencari se-orang lelaki, agar membuat Bokyong Cen hamil."
"Apakah kakakku tahu semua itu adalah ide Cianpwe?"
Tanya Ouw Yang Hong dengan mata membelalak, heran. Pek Bin Lo Sat tertawa getir.
"Aku tahu jelas bagaimana sifat kakak Coan-mu. Kalau dia tahu semua itu adalah ideku, bagaimana dia akan mengabulkannya?"
Ouw Yang Hong diam. Kini dia sudah dapat meraba apa tujuan Pek Bin Lo Sat mencarinya. Ditatapnya Pek Bin Lo Sat dengan dingin.
"Cianpwe ingin mencari seorang lelaki, tentunya bukan diriku. Ya, kan?"
Pek Bin Lo Sat tertawa terkekeh, sambil memandang Ouw Yang Hong.
"Mengapa bukan kau? Ouw Yang Hong dan Ouw Yang Coan saudara kandung. Kakakmu boleh dikatakan adalah kau. Kau adalah kakakmu! Apa bedanya kalian berdua?"
Ouw Yang Hong terdiam.
Baginya urusan ini tidak terjangkau dengan akal sehat, bahkan juga membuatnya aneh dan tak habis pikir.
Di saat Ouw Yang Hong tercenung, mendadak Pek Bin Lo Sat tertawa besar, namun tawanya mengandung kedukaan, juga agak menyeramkan.
"Cianpwe menertawakan apa?"
"Ouw Yang Hong, kau bilang ketika berada di perkampungan Liu Yun Cun, Si Racun Tua Cen Tok Hang telah mengangkatmu sebagai murid. Betulkah itu?"
Ouw Yang Hong mengangguk.
"Betul!"
Pek Bin Lo Sat tertawa dingin.
"Setahuku Si Racun Tua Cen Tok Hang banyak melakukan kejahatan, dia paling senang jadi penjahat. Kau jadi muridnya, bukan penjahat besar juga bukan penjahat kecil. Jiwamu seperti itu, bagaimana mungkin jadi penjahat besar?"
Ouw Yang Hong mengerutkan kening sambil berpikir.
Kakak adalah kakak, bagaimana mungkin berbuat yang tidak-tidak dengan kakak ipar?
Boleh menjadi penjahat di dunia persilatan, namun tidak boleh berbuat seperti itu.
"Ouw Yang Hong, kau adalah orang pintar. Kau bersedia atau tidak dengan Bokyong Cen? Mau atau tidak kau membahagiakannya? Kalau kau menghendaki keluarga Ouw Yang punya turunan, kau harus bersamanya. Racun ulat salju yang ber-sarang dalam tubuhnya masih belum punah semua. Kau memiliki tenaga sakti, tentunya dapat mem-bantunya. Kalau kau sungguh-sungguh menyukai-nya, jika tak berbuat demikian, lalu harus berbuat apa?"
Ouw Yang Hong menundukkan kepala, terus berpikir, tapi tidak menemukan jalannya.
Dia adalah seseorang penjahat, telah membunuh Ciok Cuang Cak dan lainnya dengan ilmu Ha Mo Kang.
Bahkan juga telah membunuh keempat murid Pek Tho San San Kun.
Kini dia sudah merupakan penjahat besar, perduli apa dengan pergunjingan orang.
Namun urusan ini menyangkut kakaknya, bagaimana mungkin dia melakukan itu?
Apakah istri kakaknya harus dijadikan wanitanya?
Padahal hatinya memang menyukai Bokyong Cen ...
Bokyong Cen duduk seorang diri di dalam ru-mah batu.
Ia terus duduk tercenung, entah apa yang sedang dipikirkannya.
Ouw Yang Coan mendorong pintu dan masuk ke dalam.
Bokyong Cen sama sekali tidak menengoknya, juga tidak berbicara.
Ouw Yang Coan berdiri termangu-mangu.
Lama kemudian barulah membuka mulut.
"Malam itu aku ke tempat guru ..."
Bokyong Cen tetap diam. Ouw Yang Coan memandangnya seraya melanjutkan.
"Aku ke sana menengoknya. Kita sudah menikah lima enam bulan. Aku tidak ke sana menengoknya, takut dia akan kesepian ..."
Bokyong Cen masih juga diam, namun keningnya berkerut-kerut. Bibirnya tampak bergerak seakan ingin bicara, tapi tidak mengeluarkan suara.
"Dugaanku memang tidak meleset, malam itu jantungku berdetak lebih cepat. Aku tahu pasti terjadi sesuatu atas diri guruku, aku segera kegoa es itu. Guru sudah dalam keadaan pingsan. Kalau aku terlambat ke sana, guru pasti sudah mati ..."
Mendadak Bokyong Cen membentak keras.
"Gurumu! Gurumu! Setiap hari gurumu! Dalam tidur pun mengigau gurumu! Kalau kau menyukai gurumu, kawin saja dengannya! Kau tidak bisa meninggalkan gurumu, lalu mengapa harus memperistriku? Kau bukan seorang lelaki, bagai-mana boleh punya istri?"
Usai berkata begitu, Bokyong Cen menangis sedih dengan air mata bercucuran.
Urusan sudah jadi begini, Ouw Yang Coan bingung, harus berkata apa lagi.
Matanya memandang Bokyong Cen dengan iba, sambil menjulurkan tangannya ingin membelai istrinya itu.
Namun Bokyong Cen membentak.
"Jangan sentuh aku! Jangan sentuh aku!"
Ouw Yang Coan langsung menarik kembali tangannya, lalu berdiri diam di tempat dengan wajah murung. Berselang beberapa saat, barulah Ouw Yang Coan berkata.
"Aku memberitahukan padamu, sejak kecil aku sudah tidak punya ayah dan ibu. Aku terjatuh ke dalam goa es, guru yang menyelamatkanku. Sejak itu kami hidup bersama, dia adalah guruku juga adalah wanitaku. Aku adalah muridnya tapi juga merupakan lelakinya. Ini memang rumit dan berliku-liku. Sulit sekali kujelaskan padamu ..."
Apa yang diucapkan Ouw Yang Coan, Bokyong Cen sudah menduganya, namun masih tidak begitu yakin.
Kini Ouw Yang Coan mencetuskannya, membuat hati Bokyong Cen tersentak dan terguncang.
Ouw Yang Coan melanjutkan sambil meman-dang Bokyong Cen.
Diam-diam dia menarik nafas dalam.
"Aku tahu, kau menyukai adikku! Kalau kau sungguh-sungguh menyukainya, kau boleh bersamanya ..."
Bokyong Cen gusar sekali, lalu membentak dengan sengit.
"Kau bukan seorang lelaki, mengapa ingin punya istri? Kau menyukai gurumu, mengapa tidak bersama gurunya saja? Kau tidak gila, kau tidak berniat mencelakaiku, namun mengapa berbuat begini?"
Ouw Yang Coan menghela nafas panjang dan menatap ibu pada Bokyong Cen.
"Aku dibandingkan dengan dirimu sungguh merupakan langit dan bumi! Tapi aku memang menyukaimu. Kalau tidak, bagaimana aku akan menikah denganmu? Aku mohon kau sudi memaafkanku ..."
Bokyong Cen hanya mengucurkan air mata, tidak bicara lagi padanya.
Sedangkan Ouw Yang Coan terus termenung, dan akhirnya berjalan perlahan-lahan meninggalkan rumah batu itu.
Ouw Yang Coan kembali ke rumah batunya, melihat Pek Bin Lo Sat sedang menambal selimutnya.
Tak lama, Pek Bin Lo Sat sudah menyelesaikan pekerjaan itu.
"Beres, selimut ini akan membuat anak Coan jadi hangat!"
Ouw Yang Coan terus memandang Pek Bin Lo Sat, matanya bersimbah air dan berkata dalam hati.
Di kolong langit ini, hanya guru yang paling menyayangi diriku.
Sementara Pek Bin Lo Sat duduk dipinggir ranjang, kemudian berkata lagi dengan suara ringan.
"Anak Coan, anak Coan, apakah aku telah menyusahkan diri sendiri, sudah delapan belas tahun aku tidak tidur dengan selimut!"
Ketika berkata, air mata Pek Bin Lo Sat bercucuran. Ouw Yang Coan berjalan ke dalam. Pek Bin Lo Sat tahu yang masuk ke dalam itu adalah Ouw Yang Coan, dia bertanya tanpa menoleh.
"Kau, ya? Anak Coan!"
"Benar, Suhu!"
"Anak Coan, aku bertemu Beng Lui, cinta kasih hanya bersemi tidak begitu lama. Bertemu kau, cinta kasih justru bersemi selamanya. Anak Coan, apakah kau akan memberikanku kesempatan un-tuk menjadi seorang wanita lagi? Sudah lama aku tidak tidur di ranjang!"
Ouw Yang Coan mendekatinya, dan memeluknya erat-erat.
"Suhu, aku memanggilmu suhu, kau memanggilku anak Coan, itu sungguh tidak adil . ."
Suara Ouw Yang Coan terdengar perlahan.
"Katakanlah harus panggil aku apa agar adil?"
Ouw Yang Coan cuma tersenyum, tidak menyahut.
"Suhu, apakah suhu sudah herkata padanya?"
Pek Bin Lo Sat mengangguk.
"Betul! Aku sudah herkata padanya."
Ouw Yang Coan tampak gugup.
"Dia bilang apa?"
Pek Bin Lo Sat memegang bahu murid sekaligus kekasihnya itu.
"Anak Coan, janganlah kau menyusahkan diri sendiri! Kau punya Bokyong Cen yang begitu cantik jelita, sedangkan diriku sudah tua dan amat buruk, kau mau diriku untuk apa? Kalau terus bersamaku, suatu hari nanti kau pasti akan menyesal!"
"Suhu, aku sudah bicara padanya, dia ..."
Ujar Ouw Yang Coan terbata-bata. Pek Bin Lo Sat menjulurkan tangannya me-nutup mulut Ouw Yang Coan.
"Anak Coan, aku mohon padamu, jangan membicarakan ini padanya!"
Hening dan dingin di dalam rumah batu itu.
Sementara Bokyong Cen terus menangis.
Tak lama kemudian, dia berjalan keluar.
Berdiri di luar sambil memandang bintang-bintang di langit, lalu berpikir.
Apakah aku harus kembali ke daerah Kang Lam, kembali ke vihara Cin Am?
Namun di dalam vihara Cin Am amat sunyi, yang terdengar hanya suara doa.
Tiba-tiba dia teringat pada Ouw Yang Hong,ketika mereka berdua berada di gurun pasir.
Tak tertahan Bokyong Cen tertawa ringan.
Bokyong Cen berpikir, malam ini Ouw Yang Coan pasti bersama Pek Bin Lo Sat, lalu mengapa malam ini dia tidak pergi menemui Ouw Yang Hong?
Karena berpikir begitu, dia langsung me-nuju ke rumah Ouw Yang Hong.
Dia mendorong daun pintu dan langsung ma-suk.
Walau Ouw Yang Hong sudah pulas, namun kini kepandaiannya sudah tinggi sekali.
Begitu Bokyong Cen berjalan ke dalam, dia merasa ada orang masuk ke rumahnya.
Segera meloncat bangun, duduk di tempat tidur.
"Siapa?"
Bokyong Cen berdehem, kemudian duduk di pinggir ranjang. Sepasang matanya menatap Ouw Yang Hong lekat-lekat.
"Ouw Yang Hong, nyenyakkah tidurmu?"
"Aku baru pulas!"
Sahut Ouw Yang Hong pelan.
Mereka berdua saling memandang, namun tidak berbicara apa-apa.
Ouw Yang Hong amat cerdas.
Setelah mendengar perkataan Pek Bin Lo Sat, dia sudah tahu Pek Bin Lo Sat amat menyukai kakaknya.
Begitu pula kakaknya, juga amat me-nyukai gurunya itu, tentu dia bersedia berpisah dengan Bokyong Cen.
Tapi bagaimana perasaan hati Bokong Cen, sudah pasti Ouw Yang Hong tidak mengetahuinya.
Sesungguhnya Ouw Yang Hong ingin tahu perasaan Bokyong Cen, namun tidak tahu harus bagaimana bertanya padanya.
Bokyong Cen menyingkap rambutnya ke atas, kemudian bertanya dengan suara rendah.
"Ouw Yang Hong, kau membenciku?"
Ouw Yang Hong tersentak ditanya demikian.
Sebab tak pernah sedikit pun perasaan benci menyelinap di dalam hatinya.
Maka sambil tersenyum dia menggeleng perlahan.
Bokyong Cen menatapnya dengan sinar mata lembut.
"Ouw Yang Hong, kau menerjang ke dalam perkampungan Pek Tho San Cun, masuk ke dalam keranjang besar yang berisi ular-ular, beracun, itu demi menolong diriku. Kau tidak menghiraukan diri sendiri, itu membuatku ... terkesan baik padamu!"
Usai berkata begitu, Bokyong Cen menundukkan kepala, kelihatannya agak merasa malu. Sedangkan Ouw Yang Hong cuma tersenyum.
"Ouw Yang Hong, ketika berada di kota Ciau Liang, orang mendesakmu, maka aku mengatakan kau adalah lakiku, kau masih ingat itu?"
Ouw Yang Hong mengangguk.
"Masih ingat. Kakak ipar, aku amat berterimakasih padamu ..."
Mendadak air mata Bokyong Cen menetes. Saat ini dia tidak seperti biasa, kelihatan amat lembut.
"Ouw Yang Hong! Ouw Yang Hong! Kau panggil aku apa? Siapa kakak iparmu?"
Bokyong Cen tertawa sedih, tertawa putus asa. Setelah itu, berkata lagi dengan air mata berderai-derai.
"Siapa kakak iparmu? Kakakmu itu orang macam apa? Apa masih termasuk sebagai seorang lelaki? Kalau kakakmu seorang lelaki, aku memang pantas jadi kakak iparmu. Namun kakakmu orang macam itu. Bagaimana aku pantas dipanggil kakak ipar?"
Mendadak saja Ouw Yang Hong melancarkan sebuah pukulan ke arah Bokyong Cen.
Sejak kecil dia tidak punya orang tua, Ouw Yang Coan yang membesarkannya, bahkan selalu melindunginya.
Kini Bokyong Cen mencela Ouw Yang Coan, itu membuat Ouw Yang Hong merasa tidak senang, maka langsung memukulnya.
Bokyong Cen terjatuh, duduk di lantai samhil memandang Ouw Yang Hong dengan tertegun, dengan bibir mengucurkan darah.
Namun ada derai tawa sedih dari bibirnya.
"Ouw Yang Hong! Kau pukul aku? Sungguhkah kau pukul aku?"
Ouw Yang Hong diam saja, meskipun Bokyong Cen menudingnya seraya membentak.
"Kau amat membenciku? Aku pernah mempermainkanmu di gurun pasir, bukankah kau ingin membunuhku? Kau ingin membunuhku? Setelah itu, aku menikah dengan kakakmu, maka kau bertambah membenciku! Ouw Yang Hong, kau hanya telor busuk! Kau boleh membunuhku, tapi jangan menghinaku!"
Tiba-tiba Bokyong Cen meloncat bangun dan langsung menerjang ke arah Ouw Yang Hong, menjambak rambut sekuat tenaga seraya berteriak-teriak.
"Ouw Yang Hong! Cepat bunuh aku! Cepat bunuh aku!"
Bokyong Cen menatap Ouw Yang Hong dengan sengit, dan terus menjambak rambutnya sekuat tenaga, hingga beberapa helai rambut terjambak rontok.
"Ouw Yang Hong! Bunuhlah aku! Aku pasti gembira sekali ..."
Teriak Bokyong Cen sambil terus menjambaki rambut Ouw Yang Hong. Kemudian ia pejamkan mata seakan menunggu Ouw Yang Hong membunuhnya. Akan tetapi, Ouw Yang Hong diam saja.
"Ouw Yang Hong, aku mati pun tidak akan melepaskanmu!"
Dengus Bokyong Cen. Kening Ouw Yang Hong terus berkerut. Belum pernah dia menyaksikan wanita yang bersikap seperti itu.
"Bokyong Cen, lepaskan ...!"
Pintanya dengan suara parau. Bab 25
"Kalau kau berkepandaian tinggi, bunuhlah aku! Bukankah kau penjahat besar di kolong langit? Nah, bunuhlah aku! Kalau kau tidak menyelamatkan diriku di gurun pasir itu, bukankah aku sudah mati? Kalau aku mati bukankah kau merasa gembira sekali?"
Ouw Yang Hong diam.
Hanya hatinya yang berkata.
Bokyong Cen!
Bokyong Cen!
Cepatlah kau pergi, jangan menyulitkanku di sini!
Kalau kau tidak mau pergi, aku tidak tahu harus berbuat apa?
Sementara Bokyong Cen terus menjambak rambutnya.
Walau merasa sakit, Ouw Yang Hong tidak herani bergerak, Ouw Yang Hong terus bertahan dan bertahan.
Namun sesaat kemudian, mendadak Ouw Yang Hong bersiul panjang, melampiaskan semua kekesalannya dalam hati.
Dijulurkan tangannya perlahan-lahan ke arah Bokyong Cen, hingga tubuh wanita itu terangkat ke atas.
Ouw Yang Hong menatapnya dengan mata memerah penuh kegeraman.
"Bokyong Cen, cepatlah kau pergi! Cepat pergi ...!"
Badan Bokyong Cen terangkat ke atas.
Tak bisa dia bergerak, kecuali memandang Ouw Yang Hong dengan tertegun.
Sekonyong-konyong Ouw Yang Hong menggendongnya, lalu berputar-putar di dalam rumah batu itu, kemudian menuju ke pintu sambil melongok ke luar.
Begitu tak melihat siapa pun dia segera mengunci pintu, lalu menggendong Bokyong Cen ke tempat tidur.
Dengan cepat diletakkan tubuh kakak iparnya di tempat tidur lalu ditotoknya jalan darahnya.
"Si Kerdil Pek Tho San San Kun menotok jalan darahku, kau juga menotok jalan darahku! Mengapa kau harus menotok jalan darahku?"
Dengus Bokyong Cen. Mendengar hal itu Ouw Yang Hong tersentak dan langsung membatalkan totokannya.
"Ouw Yang Hong! Kau suka aku, kau suka aku, kan?"
Ouw Yang Hong mengangguk. Bokyong Cen tersenyum malu-malu, sambil berkata dengan suara rendah.
"Kau harus perlahan-lahan, jangan terlampau kasar! Aku tunggu kau ..."
Ouw Yang Hong terus memandang tubuh Bokyong Cen yang memang indah sekali.
Setelah itu, dia pun menanggalkan pakaian Bokyong Cen, menatapnya dengan mata terbelalak.
Bokyong Cen menegurnya dengan suara rendah.
"Ouw Yang Hong! Kau lihat apa? Apakah kau juga tergolong lelaki yang cuma memandang, tidak mau menyantapnya?"
Ucapan itu membuat Ouw Yang Hong berubah seperti macan kelaparan, langsung meloncat ke tempat tidur. Di bawah sinar rembulan yang remang-remang, Ouw Yang Coan sedang membelai Pek Bin Lo Sat.
"Mereka berdua apakah akan ..."
Ujar Ouw Yang Coan bernada tanya.
"Entahlah! Aku sungguh tidak tahu, aku hanya tahu hatinya mulai tergerak, ketika aku bicara padanya,"
Sahut Pek Bin Lo Sat.
Ouw Yang Coan diam.
Istrinya akan bersama adiknya.
Bagaimana dia akan mengutarakan pemikiran ini dan kepada siapa?
Namun Pek Bin Lo Sat seakan menangkap kegalauan pikiran murid dan kekasihnya itu.
"Anak Coan, katakanlah! Kau suka atau tidak padaku?"
Ouw Yang Coan mengangguk.
"Anak Coan, aku ingin menikah denganmu, kau memperistriku saja! Bagaimana? Kau mau, kan? Kalau kau bersedia menikahiku, aku pun mau terus hidup. Kita bersama ke daerah selatan, cari tempat yang sunyi untuk hidup bersama. Kalau setuju, itu baik sekali. Kalau tidak, aku akan membunuhmu, lalu membawamu kegoa es! Setelah itu, aku juga mati! Kita berdua berada di dalam goa es itu selama-lamanya!"
Ouw Yang Coan tertawa.
"Baik, pokoknya aku menurutimu saja."
Bukan main girangnya Pek Bin Lo Sat, hingga langsung memeluknya erat-erat, kemudian membelainya dengan penuh cinta kasih ...
Sementara, di rumah batu yang lain, tampak Ouw Yang Hong dan Bokyong Cen sudah pulas di atas ranjang.
Entah berapa lama kemudian, mereka berdua mulai terjaga.
Mereka tahu, harus segera pergi menengok Ouw Yang Coan dan gurunya.
Saat ini, Bokyong Cen kelihatan lelah.
Walau demikian, wajahnya tampak berseri-seri.
Kini Bokyong Cen baru tahu apa yang disebut lelaki, dia memandang Ouw Yang Hong dengan penuh rasa kagum.
"Dia memheritahukanku agar mencarimu. Kita harus pergi menengok mereka, menengok mereka bersama. Setelah hari terang, kita baru ke sana, tidak akan terlambat. Sekarang ... kau peluk aku lagi, baik-baik peluk aku ..."
Ouw Yang Hong tampak tidak memeluknya lagi, melainkan bangun dari tempat tidur dan segera berpakaian.
Apa boleh buat!
Bokyong Cen juga harus ikut bangun dan berpakaian dengan wajah cemberut.
Ouw Yang Hong berjalan ke luar menuju ke rumah Ouw Yang Coan, ingin bicara baik-baik dengan kakaknya.
Akan tetapi, tiada seorang pun berada di dalam rumah batu itu.
Dengan heran Ouw Yang Hong, segera berseru memanggil Bokyong Cen, mereka berdua lalu menuju ke goa es.
Sampai di dalam goa es, Ouw Yang Hong berseru.
"Kakak! Kakak! Cianpwe! Cianpwe ...!"
Namun tak ada yang menyahut.
Sunyi dan sepi, tak terdengar suara pembicaraan.
Ouw Yang Hong segera menyadari bahwa kakaknya telah pergi, bersama gurunya.
Mulai saat ini kedua orang itu tidak akan muncul di hadapannya lagi.
Mereka tentu akan mencari suatu tempat yang sunyi untuk hidup bersama.
Sementara Bokyong Cen terus menggigil kedinginan.
Ketika bermesra-mesraan dengan Ouw Yang Hong di dalam rumah batu, dia sama sekali tidak merasa dingin, sebaliknya malah merasa hangat.
Namun di dalam goa es ini, tubuhnya merasa kedinginan sekali.
Bahkan lama-kelamaan ia tak mampu menahankannya.
Dengan suara menggigil kedinginan ia meminta Ouw Yang Hong meninggalkan tempat itu.
"Ouw ... Ouw Yang Hong, mari kita tinggaikan goa es ini! Aku ... aku sudah tidak tahan! Aku kedinginan ..."
Ouw Yang Hong segera menggendongnya, lalu melesat pergi meninggalkan goa es itu.
Ouw Yang Hong dan Bokyong Cen kembali ke rumah batu.
Kini di tempat itu sudah berkurang Ouw Yang Coan dan Pek Bin Lo Sat, sehingga suasana terasa kian sunyi.
Ouw Yang Hong berkata dalam hati.
Kalau Si Kerdil Pek Tho San San Kun berani ke mari, aku pasti akan membunuhnya.
Dia tidak ke mari, berarti dia masih bisa hidup.
Kini perkampungan Pek Tho San Cun telah musnah sebagian dilalap api, namun para penghuninya tidak meninggalkan perkampungan tersebut.
Sedangkan Si Kerdil Pek Tho San San Kun Jen It Thian, sama sekali tidak pernah pergi mengganggu Ouw Yang Hong.
Malam itu, setelah pulang dari goa es, Ouw Yang Hong bertanya kepada Lo Ouw dan Ceh Liau Thou tentang kakaknya.
Keduanya tidak memberikan jawaban yang jelas, hanya memberitahukan bahwa Ouw Yang Coan berpesan pada mereka, harus baik-baik melayani Ouw Yang Hong dan Bokyong Cen.
Ouw Yang Coan dan Pek Bin Lo Sat pergi pesiar, tidak akan bertemu Ouw Yang Hong dan Bokyong Cen lagi.
Bahkan Ouw Yang Coan menitip pesan pada Ouw Yang Hong, harus baik-baik menjaga Bokyong Cen.
Akan tetapi, Lo Ouw dan Ceh Liau Thou sama sekali tidak tahu, Ouw Yang Coan dan Pek Bin Lo Sat pergi ke mana.
Ouw Yang Hong tidak banyak bertanya lagi, dia tahu mulai sekarang sudah sulit bertemu kakaknya.
Dan seandainya bertemu pun justru akan menimbulkan rasa tidak enak dalam bati.
Sejak malam itu, setiap malam Ouw Yang Hong dan Bokyong Cen terus hidup dalam kehangatan dan kemesraan seperti layaknya suami istri.
Sore ini, Lo Ouw menimba air di sumur, sedangkan Ceh Liau Thou memasak di dapur.
Terdengar percakapan di dalam rumah batu, suara Ouw Yang Hong dan Bokyong Cen, mereka berdua duduk berhadapan sambil membicarakan kejadian di gurun pasir.
Mereka sama tertawa terpingkal-pingkal merasa geli akan kejadian itu.
"Kalau dulu aku tahu kau adalah suamiku, bagaimana mungkin aku mengikatmu dan menaburkan pasir ke matamu?"
Tawa Bokyong Cen cekikikan.
"Justru karena itu, aku pun jadi suamimu. Kalau tidak, bagaimana mungkin kita punya perjodohan ini?"
Sahut Ouw Yang Hong juga sambil tertawa bahagia.
Di saat mereka sedang asyik bercakap-cakap, mendadak terdengar suara jeritan di dapur.
Ternyata suara jeritan Ceh Liau Thou.
Mendengar suara jeritan itu, air muka Ouw Yang Hong langsung berubah.
Segera dia berlari ke dapur.
Terlihat Lo Ouw dan Ceh Liau Thou berada di situ, membuat Ouw Yang Hong terkejut sekali.
Ternyata sepasang lengan mereka seperti baru saja ditarik ke luar dari lumpur, sebab sepasang lengan sampai jemarinya penuh melekat lumpur hitam.
Lo Ouw berusaha membersihkan lumpur yang melekat di sepasang lengannya, namun tidak berhasil.
Wajah Lo Ouw meringis-ringis, tampak tersiksa sekali dan mulutnya mengeluarkan suara rintihan, kemudian lidahnya terjulur keluar.
Begitu melihat Ouw Yang Hong muncul, Lo Ouw segera berlari ke arahnya, kemudian mencakarnya hingga pakaian Ouw Yang Hong tersobek.
Bukan main terkejutnya Ouw Yang Hong mendapat serangan itu.
"Lo Ouw! Lo Ouw! Aku adalah tuan muda kedua!"
Seru Ouw Yang Hong yang begitu terkejut.
Akan tetapi, Lo Ouw sama sekali tidak mendengar seruan itu.
Dia menggenggam bahu Ouw Yang Hong erat-erat, tidak mau melepaskannya.
Ouw Yang Hong ingin mengerahkan lwee kang-nya, tapi mendadak melihat daging di lengan Lo Ouw mulai rontok mengelupas.
Hanya dalam se-kejap yang tinggal tampak tulang.
Menyaksikan itu, Ceh Liau Thou langsung jatuh pingsan.
Ketika Ouw Yang Hong ingin memegang Lo Ouw, mendadak Lo Ouw itu roboh, tak bergerak di lantai.
Kebetulan Bokyong Cen muncul.
Begitu menyaksikan kejadian itu, dia langsung berteriak karena takut.
"Ouw Yang Hong, tanganmu ...?"
Serunya, diliputi rasa ngeri.
Ternyata tadi Lo Ouw menggenggam bahunya, kini tampak garis-garis hitam bekas cakaran.
Ouw Yang Hong belum pernah menyaksikan racun yang sedemikian hebat, jauh lebih hebat dari ular-ular beracun piaraan Si Kerdil Pek Tho San San Kun.
Bokyong Cen berseru cemas, karena melihat ada bekas hitam di bahu Ouw Yang Hong.
"Hati-hati, kau sudah terkena racun itu!"
Timbul keraguan dalam hati Ouw Yang Hong, tidak tahu Ha Mo Kang-nya dapat melawan racun ini atau tidak. Ouw Yang Hong berupaya menenangkan Bokyong Cen, agar tidak merasa takut.
"Kau jangan ke mari, rumah ini terdapat keganjilan ..."
Bersamaan dengan itu Ceh Liau Thou mendadak tertawa cekikikan. Gadis pelayan itu bangkit berdiri, kemudian berjalan mondar-mandir sambil berbicara.
"Tuan muda kedua, nyonya besar! Kalian lihat aku, lihat aku ...!"
Ceh Liau Thou menatap Ouw Yang Hong.
"Tuan muda kedua, apakah kau dan kakakmu menyukaiku? Hanya saat makan kalian memandangku! Apakah jika merasa lapar baru teringat padaku? Setelah kenyang lantas melupakannya? Tuan muda kedua, lihatlah aku, tubuhku juga indah ..."
Ceh Liau Thou tersenyum-senyum, kemudian mulai melepaskan pakaiannya. Hal itu dilakukan di hadapan Ouw Yang Hong. Bokyong Cen mengerutkan kening, merasa heran dan bingung.
"Ouw Yang Hong, cepat cegah dia jangan melepaskan pakaiannya lagi!"
Teriaknya.
Ouw Yang Hong mengangguk, lalu segera me-notok jalan darah Khie Hay I liat gadis itu.
Akan tetapi, totokan itu ternyata tiada gunanya sama sekali.
Ceh Liau Thou tidak terpengaruh, masih terus melepaskan pakaiannya, lalu mendekati Ouw Yang Hong.
Merasa heran, Ouw Yang Hong langsung melancarkan sebuah pukulan, dengan hanya menggunakan satu dua bagian tenaga Ha Mo Kang.
Pukulan itu membuat Ceh Liau Thou terdorong mundur.
Saat itulah tampak sepasang mata Ceh Liau Thou bersimbah air.
Bukan air mata, melainkan darah.
Setelah itu, hidung, telinga, dan mulutnya pun mengeluarkan darah.
Tak lama, sekujur badannya juga mengeluarkan darah.
Memang sebuah pemandangan yang amat menyeramkan.
Betapa tidak.
Sebab setelah sekujur badan mengeluarkan darah, tubuh pelayan itu berikut tulangnya pun tidak kelihatan, yang terlihat hanya cairan darah di lantai.
Menyaksikan itu Bokyong Cen terus menjerit dan nyaris pingsan seketika.
Mendadak dia berlari ke arah Ouw Yang Hong.
Namun Ouw Yang Hong cepat-cepat mengerahkan Lwee kangnya, mendorong Bokyong Cen keluar, sambil berteriak sekeras-kerasnya.
"Jangan bergerak!"
Bokyong Cen langsung diam di tempat, tidak berani maju maupun mundur. Tiba-tiba Ouw Yang Hong berseru keras dengan suara mengguntur.
"Cha Ceh Ih, cepat keluar!"
Terdengar lagi sahutan yang seperti anak kecil.
"Hei! Bagaimana kau tahu aku orang tua yang ke mari? Ouw Yang Hong, sejak Si Racun Tua itu mampus, tahukah kau siapa majikan perkampungan Liu Yun Cun?"
Ouw Yang Hong tidak menyahut, hanya membentak sengit.
"Cha Ceh Ih, cepat keluar! Kau menggunakan racun di tempat gelap! Kepandaian macam apa itu!"
Terdengar lagi suara seperti anak kecil.
"Ouw Yang Hong, kau sudah habis! Tahukah kau, aku menaruh racun di dalam rumahmu?"
Ouw Yang Hong mendengus dingin.
"Hmm! Kau menggunakan racun Hek Sih Ih (Gerimis Hitam). Siapa yang terkena racun itu, kulitnya akan berubah hitam, sepasang mata membara, dan ingin menelan apa pun! Kemudian juga akan menggigit putus lidahnya sendiri, dan semua daging akan rontok! Sedangkan Ceh Liau Thou terkena racun Li Jin Bi (Wanita Genit). Wanita mana pun yang terkena racun itu, akan berubah genit dan memburu lelaki. Dan lelaki yang berhubungan intim dengannya, juga pasti mati! Karena Ceh Liau Thou tidak berhubungan intim dengan lelaki, maka dia mati secara mengenaskan, tubuhnya mencair jadi darah!"
Terdengar suara Cha Ceh Ih bernada duka.
"Ouw Yang Hong, tak kusangka kau betul-betul telah mewarisi kepandaian Si Racun Tua itu! Tapi kau sudah terkena racun IIok Sih Ih. Meskipun kau memiliki ilmu Ha Mo Kang, akan cukup repot ... Kau harus segera mencari tempat yang sepi untuk memunahkan racun itu, bagaimana kau bisa bertarung denganku?"
Terdengar suara tawa, kemudian mendadak terdengar lagi suara jendela hancur. Tampak sosok bayangan kecil melesat ke dalam. Tidak salah, dia memang C ha Ceh Ih. Ouw Yang Hong menatapnya dingin.
"Susiok! Di mana orang-orangmu? Toa suheng dan lainnya pergi ke mana?"
Jawaban Cha Ceh Ih sengaja menyimpang dari pertanyaan Ouw Yang Hong.
"Tahukah kau, siapa yang paling jahat di perkampungan Liu Yun Cun? Kalau kau tidak tahu, akan kuberitahukan! Cu Kuo Cia paling jahat. Apabila dia ingin membunuh orang, dia akan menyuruh keluarga orang itu menyediakan peti mati dulu! Tapi Su Bun Seng itu jauh lebih jahat, dia tertawa di hadapanmu, tapi turun tangan di belakangmu! Oleh karena itu, bagaimana aku akan bekerja sama dengan mereka berdua? Itu sama juga mencari penyakit, kan?"
Merasa heran Ouw Yang Hong setelah mendengar apa yang dikatakan Cha Ceh Ih.
Apa maksud perkataannya?
Mungkinkah Cha Ceh Ih sudah membunuh Cu Kuo Cia dan Su Bun Seng?
Sementara Cha Ceh Ih terus tertawa.
Dia memang mirip anak kecil.
Pakaiannya pun mirip anak kecil.
Sambil tersenyum dia memandang Bokyong Cen.
"Lumayan! Parasmu yang begini memang boleh menjadi nyonya majikan perkampungan Liu Yun Cun. Kau cukup cantik, sedangkan Ouw Yang Hong ini bukan orang baik! Mengapa kau harus ikut dia menderita? Dia sudah hampir mati, karena terkena racunku. Seandainya tidak mati, dia pun akan berubah jadi tengkorak. Nah, apa gunanya kau memiliki tengkorak itu, lebih baik cari lelaki lain, bermesra-mesraan dengannya."
Bokyong Cen diam. Namun tampak kegeraman di wajahnya mendengar ocehan Cha Ceh Ih itu.
"Kau cantik tapi bodoh, biar aku orang tua yang memberitahukan padamu! Kalau Ouw Yang Hong sudah berubah jadi tengkorak, apakah dia masih bisa dipakai? Oleh karena itu, lebih baik kau ikut aku orang tua!"
Bokyong Cen menatapnya, diam-diam tertawa geli. Orang ini masih anak-anak, pikirnya. Usianya mungkin belasan tahun. Aneh, sudah bisa menyukai wanita! Cha Ceh Ih berkata pada Ouw Yang Hong.
"Kau harus membiarkanku menotok tiga jalan darahmu, lalu aku berikan kau obat penawar. Kalau kau tidak mau, hari ini aku akan memhunuhmu!"
Ouw Yang Hong menengok bahunya.
Bekas hitam itu masih ada, membuatnya terkejut dan berkata dalam hati.
asai aku punya sedikit waktu, racun ini tak berarti bagiku!
Tapi Susiok pasti tidak akan memberiku waktu.
Bagaimana aku bisa mengerahkan lwee kang Ha Mo Kang untuk memunahkan racun Hek Sih Ih?
Kalau aku bergebrak dengannya, sudah pasti dia akan mengulur waktu.
Setelah racun Hek Sih Ih mulai bereaksi, barulah dia turun tangan membunuhku!
Cha Ceh Ih tertawa sambil menuding Ouw Yang Hong.
"Kau sedang berpikir, cara bagaimana menghadapiku! Ya, kan? Lebih baik kuberitahukan saja. Begitu kau menyerang, aku pasti kabur. Setelah kau tidak menyerang lagi, harulah aku kembali. Aku harus menyelesaikan dua hal, pertama menunggumu mati, aku ingin menyedot Lwee kang Si Racun Tua dari tubuhmu. Kedua, aku akan membawa pergi wanita cantik ini, malam harinya dia akan mencuci kakiku!"
Betapa gusarnya hati Ouw Yang Hong mendengar ejekan Cha Ceh Ih.
Apalagi ejekan itu juga ditujukan kepada Bokyong Cen, hingga memuncak kemarahannya.
Dia berpikir, aku tidak mau jadi penjahat, tapi orang ingin membunuhku, bahkan harus mende ngar perkataannya.
Aku harus membunuhnya ...!
Ouw Yang Hong maju selangkah.
Cha Ceh lh segera mundur tiga langkah seraya berseru.
"Ouw Yang Hong, kau jangan mendekat! Kalau kau mendekat lagi, aku pasti kabur. Apabila aku kabur, siapa yang akan memberimu obat penawar?"
Apa boleh buat!
Ouw Yang Hong terpaksa berhenti, tidak tahu harus berbuat apa.
Bokyong Cen melihat Ouw Yang Hong kehabisan akal, segera mengambil pedang pendeknya, ingin menyerang Cha Ceh Ih.
Akan tetapi, mendadak Ouw Yang Hong membentak.
"Jangan bergerak, sekujur badannya penuh racun! Kalau kau bergerak, nyawamu pasti melayang!"
Bokyong Cen langsung diam tak berani bergerak. Melihat hal itu tampak Cha Ceh Ih tertawa gembira.
"Wah! Kalian berdua sungguh merupakan suami istri yang saling mencinta. Tapi kau semakin baik terhadapnya, aku semakin gusar! Aku harus membunuhmu, agar dapat memperoleh wanita ini!"
Sementara bahu Ouw Yang Hong semakin menghitam, bahkan mulai melebar.
Kelihatannya akan menjalar ke seluruh badannya.
Ouw Yang Hong menggeram kesal.
Cha Ceh Ih, kalau kau berkepandaian, bunuhlah aku di tempat ini!
A pabila kau tidak bisa membunuhku, kelak aku pasti membunuhmu!
Setelah berpikir demikian, Ouw Yang Hong lalu duduk.
"Susiok, aku akan mengerahkan lwee kangku untuk memunahkan racun. Kau jangan mencelakaiku!"
Pintanya kepada Cha Ceh Ih.
Setelah itu dia mengangkat sepasang tangannya ke atas, dengan mata dipejamkan.
Biji mata Cha Ceh Ih terus berputar mengawasi.
Ha Mo Kang memang merupakan ilmu aneh, pikir Cha Ceh Ih.
Ia tak pernah dengar, dengan mata dipejamkan dapat melihat, juga tidak menghiraukan keadaan di sekitarnya.
Kalau ada orang luar berada di sini, bukankah dia mencari mati?
Walau berpikir demikian, Cha Ceh Ih tampak berhati-hati.
"Aku akan membunuhmu, betulkah kau tidak ingin bergerak? Aku mau membunuhmu, lho!"
Ujarnya sambil tertawa-tawa.
Ouw Yang Hong tetap diam, seakan-akan tidak mendengar suara apa pun.
Cha Ceh Ih berjalan mondar-mandir di hadapan Ouw Yang Hong, persis seperti seekor srigala mendekati mangsanya.
Ingin menyantapnya tapi tidak berani.
Ingin pergi hatinya merasa tidak rela.
Akhirnya dia berhenti di hadapan Ouw Yang Hong.
Terus memandangnya dengan penuh perhatian, kemudian berjalan mengitarinya lagi.
"Ouw Yang Hong, aku akan menyerangmu dengan jurus Yam Mau Khua Ceh (Kucing Menangkap Tikus). Sudahkah kau selesai memunahkan racun itu? Aku akan segera menyerangmu, lho! Nah, aku akan membokongmu! Kau pasti mampus!"
Cha Ceh Ih menjulurkan tangannya menyerang punggung Ouw Yang Hong.
Apabila dia turun tangan menotok jalan darah di punggung itu, Ouw Yang Hong pasti mati.
Namun Cha Ceh Ih terlampau banyak curiga, sehingga tidak berani turun tangan.
Dia pikir Ouw Yang Hong adalah murid Si Racun Tua, tentunya punya banyak akal busuk seperti gurunya itu.
Hal ini membuatnya tidak berani sembarangan menempuh bahaya.
Sementara Ouw Yang Hong yang tetap duduk diam mengerahkan lwee kang Ha Mo Kang untuk memunahkan racun Hek Sih Ih, mendadak saja mendongakkan kepala.
Dia membuka matanya, dan melotot, sambil mulutnya mengeluarkan suara 'Krok!' seperti kodok.
Cha Ceh Ih terkejut bukan main, dan langsung melesat mundur menggunakan ilmu Hong Hoang Lak.
Setelah cukup jauh Cha Ceh Ih menarik nafas lega dan berkata dalam hati.
Untung tadi aku tidak turun tangan terhadapnya, kalau turun tangan, aku pasti sudah jadi mayat!
Ouw Yang Hong bangkit berdiri, ketika melihat Cha Ceh Ih di tempat yang agak jauh, lalu tertawa gelak.
"Ha ha ha!"
Cha Ceh Ih terbengang-bengong menatap dengan rasa penasaran.
"Apa yang kau tertawakan?!"
"Aku mentertawakanmu yang amat bodoh! Pantas kau tidak bisa tumbuh besar, ternyata kau orang yang amat bodoh! Kau lihat ..."
Ouw Yang Hong menjulurkan tangannya ke depan, kemudian diturunkan ke bawah.
Seketika tampak darah hitam mengalir keluar dari jari tangannya.
Cha Ceh Ih terbelalak, seakan tidak percaya akan apa yang disaksikannya.
Tiba-tiba dia menggigit jari tangannya sendiri.
"Aduh!"
Cha Ceh Ih menjerit kesakitan, kemudian mencak-mencak sambil menggerutu tak henti-hentinya.
"Cha Ceh Ih, kau memang bodoh! Kau memang goblok! Mengapa tadi kau tidak melihat? Asal kau mendorongnya tadi, dia pasti terjengkang mampus! Kau sungguh goblok! Goblok sekali! Kalau tadi kau menotok jalan darah dipunggungnya, dia pasti muntah darah dan nyawanya melayang seketika Mendadak Cah Ceh Ih membanting-banting kaki, lalu menangis terisak-isak seperti anak kecil.
"Huk huk huk! Cha Ceh Ih, kau betul-betul goblok! Kau memperoleh kesempatan itu, tapi tidak dipergunakan! Habislah! Habislah ..."
Ouw Yang Hong menatap Cha Ceh Ih yang terus menangis meraung-raung. Cha Ceh Ih langsung berhenti menangis, matanya melototi Ouw Yang Hong.
"Kau bilang aku tidak usah menangis meraung-raung?"
"Betul! Sebab aku akan membunuhmu demi membalas dendam suhu, maka kau tidak usah menangis!"
Cha Ceh Ih tampak menjadi gugup mendengar ucapan Ouw Yang Hong.
"Bangsat! Lebih baik kau jangan datang ke mari!"
Mendadak saja Cah Ceh Ih melarikan diri.
Dengan cepat Ouw Yang Hong segera memburu dan berhasil menghadangnya.
Akan tetapi, mendadak pula muncul seorang kerdil yang tidak lain Si Kerdil Pek Tho San San Kun.
Si Kerdil itu tidak tahu apa yang telah terjadi.
Dilihatnya Ouw Yang Hong sudah berdiri di hadapannya juga.
Si Kerdil Pek Tho San San Kun yang berdiri di dalam tandu langsung menyapa.
"Ouw Yang Hong, kau terlampau mendesakku! Seandainya kau merampok semua harta bendaku, tidak jadi masalah! Tapi ... kau telah membakar perkampunganku, maka aku harus membunuhmu!"
Begitu melihat kemunculan Si Kerdil Pek Tho San San Kun, timbullah niat membunuh di hati Ouw Yang Hong.
Kalau aku tidak membunuhnya hari ini, untuk apa aku masih bisa menjejakkan kakiku di daerah See Hek ini?
Ouw Yang Hong berkata dalam hati.
Tampak sepasang matanya jadi berapi-api.
Si Kerdil Pek Tho San San Kun berkata.
"Ouw Yang Hong, aku datang untuk mencarimu, ingin menantangmu bertaruh, apakah kau berani?"
"Kau ingin bertaruh apa? Katakan saja!"
Dengus Ouw Yang Hong.
"Aku ada barisan ular beracun ..."
Sahut Si Kerdil Pek Tho San San Kun. Ouw Yang Hong segera terdiam. Namun kemudian menyahut dengan geram.
"Barisan ular beracun tak bisa berbuat apa-apa terhadapku, mengapa kau masih ingin bertaruh denganku?"
Si Kerdil Pek Tho San San Kun tertawa.
"Kau lihat ...!"
Ujarnya seraya memperlihatkan tangannya.
Ternyata ada dua ekor ular di tangannya, kecil berwarna hitam mengkilap.
Begitu melihat kedua ekor ular itu, hati Ouw Yang Hong tersentak karena tahu ular itu ular aneh yang amat beracun, di samping itu ular tersebut tak mempan dibacok dengan senjata tajam.
Siapa yang tergigit, hanya sesaat pasti mati.
Tidak heran hati Ouw Yang Hong tersentak ketika melihat kedua ekor ular tersebut berada di tangan Si Kerdil Pek Tho San San Kun.
Si Kerdil itu tertawa.
"Ha ha ha! Kalau sekali saja digigit ular ini kau tidak mati, maka aku akan mati di hadapanmu! Bahkan ... perkampungan Pek Tho San Cung akan kuserahkan kepadamu, kau akan menjadi majikan daerah See Hek ini! Apabila tidak berani bertaruh denganku, maka kau harus meninggalkan daerah See Hek ke Tionggoan, selamanya kau tidak boleh kembali! Bagaimana? Kau berani bertaruh denganku?"
Ouw Yang Hong berpikir sejenak, kemudian mengangguk.
"Baik! Jen It Thian, aku akan bertaruh denganmu!"
Si Kerdil Pek Tho San San Kun segera bersiul panjang.
Suaranya amat aneh.
Sesaat kemudian salah seekor ular di tangannya langsung menjulurkan kepalanya, lalu meluncur bagaikan panah terlepas dari busur ke arah Ouw Yang Hong.
Walau ular itu melesat laksana kilat, Ouw Yang Hong bergerak lebih cepat.
Dia langsung menjepit kepala ular itu dengan dua jari, tapi ekor ular itu masih sempat mengibas ke muka Ouw Yang Hong.
Plak!
Ouw Yang Hong terpekik kaget.
Namun dengan cepat dikerahkan tenaga dalamnya pada kedua jarinya, menjepit kepala ular itu, sehingga tak dapat bergerak lagi.
Ouw Yang Hong menatap Si Kerdil Pek Tho San San Kun, kemudian bertanya dengan dingin.
"Katakan apa yang harus kulakukan?"
"Taruh ular itu di atas bahumu, biar ular itu menggigitmu! Setelah itu, kau boleh duduk. Dalam waktu beberapa saat, lihat siapa yang terkena racun lebih dalam! Kalau kau lebih kuat dariku, aku pasti akan menuruti kehendakmu!"
"Baik!"
Sahut Ouw Yang Hong. Keduanya pun saling bertatapan.
"Ouw Yang Hong, kalau kau menyesal, sekarang masih belum terlambat. Kau harus tahu, kedua ular ini amat beracun ..."
Ouw Yang Hong tertawa, lalu menaruh ular itu di atas bahunya.
Seketika juga ular itu menggigit bahunya.
Bukan main terkejutnya Ouw Yang Hong, sebab bahunya langsung berkesemutan.
Sungguh hebat ular ini, entah aku dapat bertahan atau tidak?
Tanya Ouw Yang Hong dalam hati.
"Aku suduh membiarkan ular itu menggigit bahuku, apakah kau juga akan melakukannya?"
"Baik! Aku akan melakukannya sepertimu!"
Sahut Si Kerdil Pek Tho San San Kun, lalu segera saja menaruh ular yang di tangannya ke atas bahunya. Ular itu pun menggigit bahunya.
"Nah, Ouw Yang Hong, kau tunggu saja!"
Mereka berdua duduk.
Namun Si Kerdil Pek Tho San San Kun memiliki obat penawar.
Begitu duduk, dia segera menelan sebutir obat penawar.
Di saat bersamaan, tampak Bokyong Cen berjalan ke luar, Si Kerdil Pek Tho San San Kun menatapnya sambil tertawa.
"Bokyong Cen, kali ini kau harus ikut aku. Kau tidak perlu mendampingi Ouw Yang Hong lagi, sebab kau pasti menderita!"
Bokyong Cen tidak menyahut, melainkan langsung menyerangnya dengan pedang pendek di tangannya. Akan tetapi, Si Kerdil Pek Tho San San Kun segera membentak.
"Bokyong Cen, kau jangan bergerak! Kalau kau herani bergerak, aku akan turun tangan membunuh Ouw Yang Hong. Jangan sampai nanti kau menyesal!"
Bokyong Cen menengok ke arah Ouw Yang Hong.
Tampak ubun-ubun Ouw Yang Hong mengeluarkan uap putih.
Sepasang matanya dipejamkan.
Ternyata Ouw Yang Hong sedang mengerahkan lwee kang Ha Mo Kang untuk melawan racun ular itu.
Kalau dirinya menyerang Si Kerdil tapi tak berhasil, tentunya Ouw Yang Hong akan mati di tangan Si Kerdil itu.
Oleh karena itu, Bokyong Cen halal menyerang Si Kerdil Pek Tho San San Kun.
Sementara itu Cha Ceh Ih sudah tidak kelihatan batang hidungnya, entah kabur ke mana?
Tampak Si Kerdil Pek Tho San San Kun bangkit berdiri sambil tertawa.
Dia menatap Ouw Yang Hong dengan penuh perhatian, setelah itu berkata dengan wajah berseri-seri.
"Habis! Kali ini kau pasti habis! Bokyong Cen, lakimu ini sudah hampir mampus, kau masih tidak mau turun tangan?"
Betapa gusarnya Bokyong Cen, rasanya ingin sekali menusuk mati Si Kerdil Pek Tho San San Kun itu. Namun Jen It Thian itu malah tertawa dingin.
"Ouw Yang Hong sudah hampir mampus. Kau cuma seorang diri, bisa berbuat apa terhadap diriku? Kalau kau berani turun tangan terhadapku, aku pasti membunuhmu!"
Mendadak Ouw Yang Hong membentak.
"Bokyong Cen, jangan bergerak!"
Wanita itu langsung diam, hanya menggertak gigi karena begitu gusar terhadap Si Kerdil Pek Tho San San Kun. Si Kerdil kembali tertawa.
"Ha ha! Ouw Yang Hong, aku ingin membunuhmu! Namun kau sedang mengobati luka gigitan ularku, aku harus membunuhmu atau tidak? Kalau aku tidak membunuhmu, bagaimana hatiku akan merasa puas? Apabila aku membunuhmu, maka aku yang akan menguasai daerah See Hek ini!"
Si Kerdil Pek Tho San San Kun tahu, ini merupakan kesempatan haik baginya untuk membunuh Ouw Yang Hong yang sedang mengobati luka gigitan ular, itu agar tidak meninggalkan penyakit di kemudian hari.
"Aku harus membunuhmu, agar aku tidak menyesal kelak!"
Hentak Si Kerdil.
Mendadak badannya melesat sambil mengeluarkan dua batang jarum tulang.
Kedua batang jarum tulang itu amat halus, namun berkilat-kilat memancarkan cahaya, seketika dilemparkan ke arah Ouw Yang Hong.
Apa boleh buat!
Ouw Yang Hong terpaksa meloncat mundur untuk mengelak.
Si Kerdil Pek Tho San San Kun tertawa gelak.
"Ouw Yang Hong, kau pasti mampus! Kalau kau masih berani bergerak, nyawamu pasti melayang!"
Ejek Si Kerdil itu.
"Jen It Thian, kalau kau tidak mentaati peraturan, jangan bilang aku tidak berlaku sungkan!"
Si Kerdil Pek Tho San San Kun tidak menggubrisnya, malah menyerang Ouw Yang Hong bertubi-tubi dengan jarum tulang.
Hal itu tentu saja sempat membuat Ouw Yang Hong terdesak.
Sementara Bokyong Cen yang cemas langsung meng-gerakkan pedangnya menyerang Si Kerdil.
Melihat Bokyong Cen menyerang Si Kerdil Pek Tho San San Kun, Ouw Yang Hong berseru.
"Bokyong Cen, hati-hati!"
Namun di saat bersamaan, tampak dua batang jarum tulang meluncur ke arah Bokyong Cen. Wanita itu cepat-cepat menundukkan kepala, tapi salah satu batang jarum tulang itu berhasil menancap di mukanya.
"Auukh ...!"
Bokyong Cen menjerit, lalu menutup wajahnya dengan sepasang tangan. Darah pun tampak mengucur dari wajah wanita itu.
"Bokyong Cen! Bagaimana keadaanmu?"
Teriak Ouw Yang Hong yang cemas dan penasaran.
Bokyong Cen tidak menyahut, hanya merintih-rintih kesakitan.
Ouw Yang Hong tahu Bokyong Cen sudah ter-luka.
Hal itu membuatnya gusar bukan main.
Maka seketika timbullah niatnya untuk membunuh Si Kerdil Pek Tho San San Kun.
Segera dicepitnya ular yang di bahunya dengan dua jari, kemudian dihempaskannya ke arah sebuah pohon, sehingga ular itu menembus ke dalam pohon dan tidak dapat bergerak lagi.
Tewas di dalam pohon.
Wajah Si Kerdil Pek Tho San San Kun berubah pucat seketika.
Ketika dia ingin melarikan diri, mendadak Ouw Yang Hong melesat ke arahnya, dan langsung mencengkeramnya.
"Kau berani melukai Bokyong Cen? Kau harus mampus!"
Si Kerdil Pek Tho San San Kun tidak menyangka Ouw Yang Hong akan bergerak begitu cepat, sehingga membuatnya tertegun.
Namun dia masih juga sempat menusuk jalan darah Ouw Yang Hong dengan jarum tulang.
Ouw Yang Hong berhasil berkelit, bahkan men-jinjing Si Kerdil Pek Tho San San Kun ke atas.
Di saat bersamaan, terdengar suara rintihan Bokyong Cen.
"Ouw Yang Hong, mataku ... mataku ..."
"Cepat lepaskan tanganmu, biar aku lihat matamu!"
Dia menotok beberapa jalan darah Si Kerdil Pek Tho San San Kun, lalu menaruhnya ke bawah. Setelah itu segera dia mendekati Bokyong Cen, berkata dengan lembut.
"Biar aku lihat matamu, apakah sudah rusak?"
Bokyong Cen menyahut dengan suara rintihan.
"Mataku ... mataku pasti sudah buta!"
Bokyong Cea menangis sedih.
"Ouw Yang Hong, mataku ... mataku sudah buta, aku ... aku tidak melihatmu lagi ..."
Ouw Yang Hong menurunkan tangan Bokyong Cen perlahan-laan. Tampak sepasang mata Bokyong Cen mengucurkan darah. Hai ini sungguh mengejutkan Ouw Yang Hong.
"Buka matamu melihatku, apakah kau bisa melihatku?"
Bokyong Cen menggelengkan kepala. Ouw Yang Hong segera memeluknya erat-erat dan berkata dengan rasa iba.
"Bokyong Cen, kau diam di sini, aku akan membunuh Si Kerdil itu!"
Ouw Yang Hong menerjang ke arah Si Kerdil Pek Tho San San Kun, kemudian menjinjingnya ke atas, sambil tertawa dingin.
"Kerdil! Kau mencelakai Bokyong Cen, maka aku harus menghabiskan mu! Aku akan membuatmu tidak bisa hidup dan tidak bisa mati ..."
Bukan main takutnya Si Kerdil Pek Tho San San Kun. Dia melihat sepasang mata Ouw Yang Hong merah berapi-api.
"Ouw Yang Hong, lepaskan aku! Aku ... aku akan mengobati matanya!"
Teriaknya ketakutan melihat kemarahan Ouw Yang Hong yang sudah memuncak.
"Kalau melukaiku saja tidak apa-apa, tapi kau telah melukai Bokyong Cen, aku harus menghahis-kanmu!"
Si Kerdil Pek Tho San San Kun kelihatan masih ingin bicara. Namun Ouw Yang Hong tidak memberi kesempatan padanya, kedua jari tangannya dijulurkan ke arah Si Kerdil itu seraya berkata dengan sengit.
"Kau melukai sepasang mata Bokyong Cen, aku pun akan melukai sepasang matamu untuk menggantikan matanya!"
Kedua jari tangan Ouw Yang Hong menusuk sepasang mata Si Kerdil Pek Tho San San Kun. Maka seketika Si Kerdil itu menjerit kesakitan.
"Aduuuh ...!"
Darah pun mengucur. Melihat hal itu Ouw Yang Hong tertawa dingin dan berkata sepatah demi sepatah.
"Kini kau telah mengganti sepasang mata Bokyong Cen, tapi kau tetap harus mampus!"
"Ouw Yang Hong, kau apakan dia?"
Seru Bokyong Cen yang mendengar jeritan memilukan Si Kerdil.
"Aku telah mencungkil keluar sepasang matanya!"
Sahut Ouw Yang Hong dengan suara lembut. Mendengar itu Bokyong Cen terdiam.
"Bokyong Cen, guruku mengajariku bahwa terhadap orang di kolong langit jangan berhati bajik, selama ini aku tidak membenarkan perkataan guruku. Kalau dari tempo hari aku membunuh Si Kerdil ini, tak mungkin ada kejadian ini?"
Beberapa orang yang menggotong tandu, ketika melihat Ouw Yang Hong sedang berbicara dengan Bokyong Cen, segera melarikan diri. Namun mendadak Ouw Yang Hong membentak.
"Mau melarikan diri? Siapa yang berani pergi akan mati!"
Beberapa orang itu sudah lari hampir seratus depa.
Mereka yakin Ouw Yang Hong tidak dapat mengejar, maka terus berlari menuju rimba, agar tidak terlihat oleh Ouw Yang Hong.
Ouw Yang Hong memungut sebuah batu kecil, lalu dilemparkannya ke arah salah seorang itu.
Terdengar suara 'pletak', batu kecil itu menghantam kepalanya hingga pecah.
Orang itu roboh dan tewas seketika.
"Yang lain jangan bergerak, siapa berani bergerak pasti mati!"
Teriak Ouw Yang Hong mengancam.
Beberapa orang itu tidak berani kabur lagi, berdiri diam di depan rimba dengan tubuh bergemetar.
Mereka berpaling memandang Si Kerdil yang sepasang matanya berlumuran darah.
"Bokyong Cen, bagaimana kalau kita membunuh Si Kerdil itu, lalu kita pergi?"
Bokyong Cen mengangguk. Si Kerdil Pek Tho San San Kun yang sadar kalau nyawanya terancam bahaya, segera berteriak-teriak.
"Ouw Yang Hong, kau tidak menepati janji! Kau ... kau ingin membunuhku?"
Ucapan Si Kerdil itu membuat Ouw Yang Hong bertambah gusar.
"Bangsat! Siapa yang lebih dulu tak menepati janji?! Hm! Kau betul-betul binatang! Kau kira di kolong langit ini banyak orang baik? Hanya Bokyong Cen dan kakakku orang baik, yang lain jahanam semua! Kalau aku melepaskanmu, itu berarti aku akan membuat kesalahan besar!"
Si Kerdil Pek Tho San San Kun betul-betul ketakutan, apa lagi Ouw Yang Hong sudah meng-angkatnya ke atas. Ouw Yang Hong menatapnya dengan mata berapi-api dan membentak lagi dengan penuh kegusaran.
"Kau pernah membunuh orang tidak?"
Tentunya Si Kerdil Pek Tho San San Kun pernah membunuh orang, namun saat ini dia sudah tak mampu mengeluarkan suara, karena begitu ketakutan.
"Kau tidak menepati janji, bahkan melukai mata Bokyong Cen! Karena itu, aku membunuhmu dengan tubuh tidak utuh, agar kau jadi setan ca-cat!"
Ouw Yang Hong menurunkan Si Kerdil.
"Aaaakh ...!"
Si Kerdil Pek Tho San San Kun menjerit kesakitan, juga kedengaran amat menyeramkan. Ternyata Ouw Yang Hong telah mematahkan sepasang lengannya.
"Kau pasti pernah mematahkan lengan orang, kini telah kupatahkan sepasang lenganmu! Tentu rasanya enak sekali, kan? Kau pernah membunuh orang, kini kau akan dibunuh! Bagaimana rasanya, saat ini kau pasti tahu!"
Si Kerdil Pek Tho San San Kun tidak sanggup lagi mengeluarkan suara.
Tubuhnya tergeletak di tanah.
Ouw Yang Hong memandangnya seraya tertawa gelak.
Suara tawa itu bergema.
Dia berdiri dengan wajah dingin dan kelihatan menyeramkan.
Sungguh dia memang manusia jahat yang tak berperasaan.
Beberapa orang yang berdiri dekat rimba, sudah terkencing-kencing karena ketakutan.
Ouw Yang Hong menjinjing Si Kerdil Pek Tho San San Kun, kemudian berteriak dengan lantang.
"Masih ada, siapa yang ingin bergebrak denganku? Masih ada yang berani bergebrak denganku?"
Beberapa orang penggotong tandu itu menggigil ketakutan, bahkan dua di antaranya sudah roboh pingsan.
Mendadak tangan Ouw Yang Hong bergerak.
Tahu-tahu kepala Si Kerdil itu sudah putus dengan darah segar langsung mengucur deras dari lehernya.
"Ha ha ha! Ha ha ha .!"
Ouw Yang Hong tertawa gelak, lalu membentak para penggotong tandu.
"Kalian cepat kemari, papah kakak iparku ke dalam tandu!"
Para penggotong tandu itu mengangguk.
Dengan langkah gemetar dan wajah pucat mereka mendekati Bokyong Cen.
Segera mereka memapah Bokyong Cen ke dalam tandu dengan hati-hati sekali.
Setelah itu, mereka diam berdiri di tempat, tak ada yang berani bertanya pada Ouw Yang Hong mau ke mana.
"Kenapa diam saja? Cepat gotong ke perkampungan Pek Tho San Cung kalian!"
Hentak Ouw Yang Hong.
Apa yang diucapkan Ouw Yang Hong, kini sudah merupakan suatu perintah.
Tidak heran kalau para penggotong tandu langsung bergerak, menggotong tandu itu menuju perkampungan Pek Tho San Cung.
Tak lama kemudian mereka sudah sampai di depan pintu benteng perkampungan Pek Tho San Cung.
Karena melihat tandu Si Kerdil, para penjaga langsung membuka pintu.
Tandu digotong ke dalam.
Ouw Yang Hong juga ikut.
Sampai di dalam perkampungan, Ouw Yang Hong memapah Bokyong Cen keluar dari tandu, kemudian menyuruh seseorang memanggil para penghuni perkampungan itu.
Tak seberapa lama, di halaman sudah berkumpul para penghuni perkampungan tersebut.
Ouw Yang Hong memandang orang-orang yang berdatangan.
Diperlihatkan sepasang tangannya yang berlumuran darah.
"Sebenarnya aku tidak mau berseteru dengan kalian. Namun majikan kalian justru pergi ke tempatku mencari gara-gara. Maka kubunuh dia dengan badan tidak utuh!"
Para penghuni perkampungan Pek Tho San Cung tidak herani bersuara. Ouw Yang Hong memandang mereka satu persatu.
"Majikan kalian sudah mati. Mulai saat ini aku menjadi majikan kalian! Siapa berani membangkang perintahku, akan kubunuh!"
Semua orang menundukkan kepala, tiada seorang pun berani memprotes.
Ouw Yang Hong tertawa gelak, setelah mengucapkan kata-katanya.
Kini Ouw Yang Hong sudah menjadi majikan perkampungan Pek Tho San Cung.
Para penghuni perkampungan tersebut amat segan dan takut padanya.
Mereka semua mantan anak 'wah Si Kerdil Jen It Thian, namun Si Kerdil itu tidak pernah memandang mereka sebagai manusia.
Kini setelah Si Kerdil Jen It Thian dibunuh oleh Ouw Yang Hong, mereka justru merasa gembira dalam hati dan mulai menerima Ouw Yang Hong.
Tentunya Ouw Yang Hong pun merasa senang.
Dia menyuruh mereka merenovasi perkampungan tersebut, bahkan di pintu perkampungan juga digantung sepasang syair berbunyi demikian.
"Cahaya terang datang dari barat, tenaga sakti pergi ke timur! "
Ouw Yang Hong menulis sepasang syair itu karena berharap suatu hari nanti, ilmu Ha Mo Kangnya akan menjagoi seluruh daratan Tiong-goan.
Dengan menjadi majikan perkampungan Pek Tho San Cung, Ouw Yang Hong pun memiliki semua harta benda di sana.
Karena itu, para kaum rimba persilatan daerah See Hek, mulai bergabung dengannya.
Ouw Yang Hong memang amat berambisi.
Dia selalu teringat pada Ong Tiong Yang, Oey Yok Su, raja Tayli Toan Hong Ya, Su Ciau Hwa Cu, dan Ang Cit Kong yang telah bersepakat untuk bertanding di Gunung Hwa San lima tahun kemudian.
Karena itu Ouw Yang Hong berharap, lima tahun kemudian, ilmu Ha Mo Kangnya akan sudah sempurna, antuk pergi ke Gunung Hwa San pula guna merebut kitab pusaka Kiu Im Cin Keng.
Kini Ouw Yang Hong tidak usah hidup terlunta-lunta lagi, sebab dirinya sudah menjadi majikan perkampungan Pek Tho San Cung.
Mulai saat itu dia bisa berlatih ilmu Ha Mo Kang dengan tenang di ruang bawah tanah.
Suatu saat ketika dirinya tengah berlatih, tiba-tiba terdengar suara seruan memanggilnya.
"Ouw Yang Hong! Ouw Yang Hong ..."
Dia mendengar dengan penuh perhatian.
Suara itu amat lirih, namun terdengar jelas.
Dia yakin tamu tak diundang itu berkepandaian amat tinggi.
Ouw Yang Hong juga percaya, yang datang pasti musuhnya.
Siapa dia?
Apakah Cha Ceh Ih susioknya itu?
Dia amat mengkhawatirkan keselamatan Bokyong Cen, sebab kini wanita itu sedang hamil.
Dia cepat-cepat meninggalkan ruang bawah tanah, langsung menuju ke kamarnya Perlahan-lahan menyingkap kelambu, tampak Bokyong Cen sedang tidur pulas di situ.
Sepertinya wanita itu tak mendengar suara seruan tadi.
Ketika Ouw Yang Hong hendak menjulurkan tangannya membelai Bokyong Cen, terdengar lagi suara seruan lirih itu.
Ouw Yang Hong yakin orang yang berseru itu berada di luar perkampungan.
Karena itu, dia pun menarik nafas dalam-dalam mengerahkan Iwee kangnya untuk menyahut.
"Siapa kau?"
Sesaat tak terdengar jawaban, hanya suara seruan lirih itu kembali terdengar.
"Ouw Yang Hong! Ouw Yang Hong ..."
Ouw Yang Hong semakin merasa penasaran.
Siapa sebetulnya orang itu?
Mengapa terus-menerus memanggilnya?
"Apakah kau kawan Si Kerdil?
Kau datang untuk menuntut balas?
Kalau benar begitu, aku akan melayanimu!"
Tiada sahutan, kecuali suara tawa dingin.
"Apakah kau orang perkampungan Pek Tho San Cung?"
Sesaat pemilik suara itu diam. Suasana jadi hening dan mencekam. Namun sesaat kemudian dia kembali mengirimkan suaranya.
"Bagaimana kau tahu aku orang perkampungan Pek Tho San Cung?"
Karena tidak kenal orang pemilik suara itu, Ouw Yang Hong diam saja.
Sementara suara yang dikirim orang itu kadang-kadang lirih dan kadang-kadang agak besar.
Tampaknya dia menggunakan ilmu ginkang, berlari ke sana ke mari, agar arah suaranya tidak diketahui.
Ouw Yang Hong terkejut juga begitu mengetahui bahwa ilmu ginkang orang itu amat tinggi.
Akhirnya dia mengambil keputusan, untuk tidak akan meninggalkan Bokyong Cen seorang diri malam ini.
Sementara terdengar lagi suara seruan itu.
Tampak Ouw Yang Hong mengerutkan kening.
Kemudian menggunakan ilmu Cian Li Coan Im (Menyampaikan Suara Ribuan Mil) dia bertanya pada orang itu.
"Siapa kau? Ada urusan apa kau mencariku?"
"Ouw Yang Hong, kita boleh dikatakan saling tidak kenal, tapi juga saling kenal! Aku datang mencarimu tidak berniat jahat. Harap kau sudi keluar untuk menemuiku di rimba sebelah selatan di luar perkampungan!"
Ouw Yang Hong semakin mengernyitkan kening tajam.
"Kalau kau ada urusan penting, silakan masuk ke perkampungan! Mengapa menghendakiku keluar untuk menenunmu?"
"Ouw Yang Hong, aku tidak akan mencelakai orang di rumahmu, legakanlah hatimu! Kalau aku berniat jahat, percuma kau berlaku hati-hati. Bagaimana? Kau bersedia keluar menemuiku?"
Tantang orang tak dikenal itu. Ouw Yang Hong tampak berpikir keras.
"Baik! Aku akan segera ke rimba itu!"
Jawabnya kemudian memutuskan.
Ouw Yang Hong memandang Bokyong Cen yang tampak masih tidur pulas.
Hatinya merasa tidak tega membangunkannya.
Kembali dia mengerutkan kening seperti berpikir.
Siapa orang itu?
Aku sama sekali tidak tahu, kawan atau lawan sulit dipastikan.
Kalau aku membangunkan Bokyong Cen, justru tiada gunanya.
Lebih baik aku pergi sekarang dan cepat-cepat kembali.
Ouw Yang Hong berjalan ke luar.
Dia segera menyuruh beberapa orang untuk menjaga kamarnya, lalu menuju ke rimba itu menggunakan ilmu ginkang Hong Hoang Lak.
Tak terlalu lama sampailah dia di rimba itu.
Di bawah sinar rembulan, hanya tampak bayangan pohon, tidak ada orang menunggu di situ.
Hal itu memuat hati Ouw Yang Hong bingung.
Apakah orang itu memancingnya keluar?
Berpikir curiga seperti itu, dia cepat membalikkan tubuhnya.
Namun haru saja dia hendak melesat pergi, mendadak telinganya mendengar suara yang mengejutkan.
Suara orang memanggilnya.
"Ouw Yang Hong! Ouw Yang Hong ...!"
Dia segera menoleh, namun tidak melihat seorang pun.
Hatinya semakin heran dan penasaran.
Dengan memasang mata tajam dia terus mengamati sekitar tempatnya berada.
Seketika dia tersentak ketika matanya menangkap sesosok bayangan orang berdiri di bawah sebuah pohon besar.
Berbadan kurus mengenakan jubah abu-abu panjang.
Ouw Yang Hong segera mendekatinya.
Matanya membelalak ketika melihat orang itu ternyata Su Bun Seng,suhengnya.
"Suheng, kau baik-baik saja selama ini?"
Sapanya dengan nada dingin. Su Bun Seng mendengus.
"Hm! Baik atau tidak diriku, tentunya tidak sebaik kau. Kau memiliki ilmu Ha Mo Kang, dan kini telah menjadi majikan perkampungan Pek Tho San Cung. Sedangkan diriku boleh dikatakan semakin parah .. ."
Ternyata Su Bun Seng dan Cu Kuo Cia mengikuti Cha Ceh Ih.
Semua ini memang rencana Su Bun Seng.
Cha Ceh Ih akan mengajak mereka malang melintang di dunia persilatan.
Para murid Si Racun Tua rata-rata amat licik, begitu pula Su Bun Seng, dia kelihatan menghormat Cha Ceh Ih susioknya itu, namun justru sedang menunggu kesempatan untuk membunuhnya.
Cu Kuo Cia mengalami pukulan batin yang amat hebat, karena sekeluarganya telah mati keracunan.
Cucu kesayangannya juga mati keracunan, membuatnya seperti kehilangan kesadaran.
Maka apa pun yang dikatakan Su Bun Seng, pasti akan diturutinya.
Karena itu, keduanya ikut Cha Ceh Ih mengembara di dunia persilatan.
Mereka bertiga menuju ke Tionggoan.
Sampai di Tionggoan, ketiganya melakukan sesuatu tanpa tujuan sama sekali.
Kemudian mereka menuju ke Tiong C i u.
Di 'liong Ciu terdapat kuil Siau Lini Si, penganut ilmu silat yang lurus bersih.
Siapa yang berani mencari gara-gara dengan Siau Lim Si.
Karena itu, mereka bertiga menuju ke kuil Siau Lim Si.
Sampai di depan kuil itu, mereka minta bertemu dengan Hong Tio (Ketua).
Baca Juga: Dendam Sembilan Iblis Tua Kho Ping Hoo
Baca Juga: Kidung Senja Di Mataram Kho Ping Hoo