Ceritasilat Novel Online

Si Racun Dari Barat 7

Eps 7 Si Racun Dari Barat - Jin Yong

Baca online Si Racun Dari Barat - Jin Yong

Cersil Si Racun Dari Barat - Jin Yong.

Ketiganya mengaku datang dari perkampungan Liu Yun Cun di daerah utara.

Liu Yun Cun terkenal memiliki nama buruk, maka Hian Ih Taysu ketua Siau Lim Si tidak sudi menemui mereka.

Penolakan itu amat menggusarkan mereka bertiga.

Langsung saja mereka bertiga menyerbu ke dalam.

Akan tetapi, beberapa padri dari ruang Lo Han Tong berhasil mendesak mereka keluar dari kuil Siau Lim Si.

Kejadian itu membuat mereka menjadi amat penasaran.

Malam harinya ketiganya bermalam di luar kuil Siau Lim Si, menunggu kesempatan untuk meracuni Siau Lim Si.

Mereka mencuri tiga ekor ayam, kemudian dibakar.

Saat itulah Cha Ceh Ih tertawa-tawa gembira.

"Walau kalian berdua masih tingkatan muda, namun usia kalian justru lebih tua dariku. Kalian berdua cukup lelah hari ini, baik-baiklah beristirahat. Besok kita akan pergi meracuni para padri kuil Siau Lim Si. Kita harus meracuni mereka semua!"

Cu Kuo Cia yang telah berubah idiot itu, tampaknya kurang sependapat.

"Tidak bisa! Meskipun susiok kecil, tapi ber-kedudukan di atas kami. Maka kami yang harus membakar ayam itu, susiok beristirahat saja!"

Ketika Cu Kuo Cia baru mulai membakar ayam-ayam itu, Su Bun Seng pun mendekati mereka.

"Susiok, Suheng! Biar aku saja yang membakar ayam-ayam itu, kalian berdua beristirahat!"

Ujarnya, lalu segera mengambil ketiga ekor ayam itu. Namun Cha Ceh Ih dan Cu Kuo Cia serentak membentak.

"Taruh kembali!"

Bab 26 Apa boleh buat, Su Bun Seng terpaksa menaruh kembali ketiga ayam itu. Mereka bertiga duduk sambil memandang ayam-ayam itu.

"Susiok, perutmu sudah lapar, terus berbunyi!"

"Bagaimana kau tahu perutku berbunyi? Perutku lebih kecil dari kalian, kalau berbunyi tidak akan sedemikian besar suaranya!"

Cu Kuo Cia manggut-manggut.

"Kalau begitu, pasti perut ji sute yang berbunyi!"

Su Bun Seng berkata perlahan-lahan.

"Tadi sore aku makan kenyang sekali, bagaimana mungkin akan lapar sekarang? Perutku tidak berbunyi, lho!"

Cu Kuo Cia bergumam dengan kening ber-kerut-kerut.

"Sungguh mengherankan! Apakah perutku yang berbunyi?"

Cha Ceh Ih dan Su Bun Seng tertawa, mereka berdua menunjuk perut Cu Kuo Cia.

"Memang perutmu yang berbunyi!"

Usai berkata, perut mereka bertiga pun berbunyi. Mereka bertiga melongo sambil pandang memandang, kemudian tertawa sekaligus bangkit berdiri dan berkata serentak.

"Avoli! Mari kita bakar ayam itu bersama!"

Mereka bertiga segera membakar ayam-ayam itu.

Namun setelah ayam-ayam itu matang, mereka bertiga justru tidak langsung menyantapnya, melainkan saling berpandangan, membisu.

Perlu diketahui, mereka bertiga berasal dari aliran Kiu Sia Tok Ong, yang selalu membunuh orang dengan menggunakan racun.

Tampaknya di antara mereka saling menaruh curiga satu sama lain.

Itulah sebabnya ketiganya tak ada yang berani langsung menyantap ayam bakar itu.

Mereka hanya terus memandang ayam-ayam bakar itu.

Meski begitu harum aromanya, tiada seorang pun berani mulai menyantap.

Mendadak Cu Kuo Cia menyambar ayam yang dibakar Su Bun Seng, sedangkan Su Bun Seng menyambar ayam yang dibakar Cu Kuo Cia.

Bersamaan, Cha Ceh Ih bergerak cepat menyambar ayam yang dibakar Cu Kuo Cia, diganti dengan ayam yang dibakarnya tadi, maka Su Bun Seng menyambar ayam yang dibakar Cha Ceh Ih.

Tangan mereka menggenggam ayam bakar, tetapi mata mereka saling memperhatikan air muka satu sama lain.

Saling mengawasi, penuh curiga!

"Cu Kuo Cia, ayam bakarmu ini sudah dibubuhi racun?"

Yang ditanya diam saja, Cha Ceh Ih terpaksa memperhatikan ayam bakar yang dipegangnya, kemudian bergumam.

"Ayam ini sudah ditaruhi racun, warna dagingnya tidak berubah, harumnya pun tidak hilang! Racun yang dimiliki perkampungan Liu Yun Cun berjumlah tujuh belas jenis, yaitu Hek Si Ih, Li Jin Bi, Siau Ciau Hoan Hun, Kui Wang Si dan ..."

Cha Ceh Ih menyebut semua jenis racun, lalu bertanya.

"Cu Kuo Cia, beritahu-kanlah! Kau menaruh racun apa pada ayam ini?"

"Kalaupun teecu bernyali besar, mana mungkin berani meracuni Susiok!"

Usai menyahut, Cu Kuo Cia juga memperhatikan ayam bakar yang di tangannya, setelah itu berkata perlahan-lahan.

"Susiok, aku akan makan ayam bakar Susiok ini! Kalau aku mati, aku tetap berterimakasih padamu. Namun kini Susiok membutuhkan tenaga kami, tentunya tidak akan meracuni kami! Ya, kan?"

Cha Ceh Ih tertawa.

"Ha ha! Bagaimana mungkin aku meracuni kalian berdua? Kita bertiga masih harus pergi meracuni para padri Siau Lim Si. Ayohlah, kita makan!"

Mereka mengangkat ayam bakar di tangan masing-masing.

Ketika baru mau membuka mulut menyantapnya, mendadak sama berhenti sambil memperhatikan ayam di tangan masing-masing.

Setelah itu, mereka bertiga saling memandang seraya berkata serentak dengan suara lantang.

"Ayoh! Mari kita makan bersama!"

Tetap, tiada seorang pun yang berani lebih dulu menyantap ayam bakar tersebut.

"Karena masing-masing tidak berlega hati, bagaimana kau yang memberi aba-aba? Kalau aku menyebut satu, dua! Kita harus makan serentak, siapa yang tidak makan, harus dibunuh!"

Cu Kuo Cia dan Su Bun Seng mengangguk. Cha Ceh Ih segera berseru.

"Satu! Dua ..."

Mereka langsung menyantap ayam bakar di tangan masing-masing dengan serentak.

Perut mereka memang sudah lapar sekali.

Sekejap ayam bakar di tangan masing-masing tinggal tersisa tulang saja.

Su Bun Seng masih memegang tulang ayam yang tersisa itu, kelihatannya masih merasa enggan untuk membuangnya.

Diperhatikannya sisa tulang ayam itu, tampak putih tidak ternoda warna lain.

Dia bergirang dalam hati, kali ini aku yang menang, walau susiok amat licik, namun tetap terkena siasatku!

Saat Su Bun Seng merasa puas, justru mendadak air mukanya berubah hebat, ternyata sisa tulang ayam yang di tangannya berubah merah perlahan-lahan.

"Susiok, kau ... kau menaruh racun! Kau menaruh racun! Racun ...racun Sam Seng Yan! Racun Sam Seng Yan ..."

Su Bun Seng berteriak-teriak, lalu langsung berlari ke dalam rimba.

Sedangkan Cha Ceh Ih cuma tertawa dingin, tidak pergi mengejarnya, karena tahu Su Bun Seng pasti mati.

Cu Kuo Cia memandang Cha Ceh Ih dengan tertegun, sepasang matanya menyorot ketakutan.

Namun setelah itu mendadak mereka berdua tampak terkejut.

Ternyata sisa tulang ayam di tangan masing-masing sudah berubah warna jadi kehitam-hitaman.

Menyadari apa yang terjadi, wajah Cha Ceh Ih berubah memerah.

"Cu Kuo Cia, kau menaruh racun apa? Cepat heritahukan, apakah racun Hek Si Ih? Cepat beri-tahukan!"

Bentuk Cha Ceh Ih, tak sabaran. Sedangkan Cu Kuo Cia terus mencaci maki Su Bun Seng.

"Bangsat! Su Bun Seng, kau betul-betul bangsat! Dari dulu aku sudah harus meracunimu, agar kau mampus! Susiok, sungguh bagus kau menaruh racun itu! Sungguh bagus!"

Mendadak Cha Ceh Ih menjambak baju Cu Kuo Cia, kemudian mencekik lehernya dengan penuh kegeraman.

"Cu Kuo Cia, apakah kurang bagus kau menaruh racun itu? Cepat beritahukan padaku, racun apa itu? Hek Si Ih atau bukan?"

Cu Kuo Cia tidak menyahut, melainkan tertawa gelak seraya bergumam.

"Istri, anak, menantu, dan cucuku! Aku akan membalaskan dendam kalian!"

Cu Kuo Cia menjulurkan tangannya mencakar muka Cha Ceh Ih.

Namun saat itu nafasnya sudah hampir putus.

Sementara, di langit tiba-tiba tampak awan hitam menutupi sang rembulan, terdengar pula suara halilintar yang seakan membelah bumi, dan hujan pun mulai turun.

Cu Kuo Cia dan Cha Ceh Ih roboh tergeletak di tanah, racun sudah mulai menjalar ke seluruh tubuh ...

Begitulah kejadian yang dituturkan oleh Su Bun Seng.

Orang itu lalu menatap Ouw Yang Hong dengan mata penuh harap.

"Ouw Yang Hong, aku kemari karena ingin memohon padamu .. ."

Mendadak Su Bun Seng menghunus pedangnya.

Dengan hati tersentak kaget Ouw Yang Hong langsung melangkah mundur.

Namun ternyata Su Bun Seng tidak menyerangnya, melainkan menaruh pedang itu pada lehernya sendiri.

Wajahnya tampak berubah memucat, dengan mata menatap Ouw Yang Hong.

"Ouw Yang Hong, aku adalah penjahat dari perkampungan Liu Yun Cun. Kalau aku mati, pasti banyak orang bersorak kegirangan. Tapi apabila aku mati di hadapanmu, kau pasti akan merasa tidak tenang!"

Mendengar itu, Ouw Yang Hong malah tertawa.

"Orang-orang perkampungan Liu Yun Cun memang jahat semua, aku adalah murid Si Racun Tua. Melihat kau mati, aku akan mewakili suhu tertawa tiga kali! Mengapa aku harus merasa tidak tenang?"

"Ouw Yang Hong, orang jahat tetap orang jahat. Namun dia tidak akan bentrok dengan orangnya sendiri. Kau bisa memperoleh kedua macam ilmu silat itu, dan memperoleh Iwee kang dari suhu, karena aku yang membawamu ke perkampungan Liu Yun Cun. Kalau tidak, kurasa percuma meskipun kau menyambung syair yang kuperlihatkan di kota Ciau Liang, karena kau tidak akan punya kesempatan untuk pergi ke perkampungan Liu Yun Cun!"

Ouw Yang Hong merasa ada benarnya juga perkataan Su Bun Seng itu.

Kalau tidak ada Su Bun Seng yang membawanya ke daerah utara, tentu dia tidak akan memperoleh kedua macam ilmu silat itu, bahkan juga tidak akan memperoleh Iwee kang gurunya.

'Baik!

Memang benar apa yang kau katakan.

Tapi aku harap Suheng maju sedikit berbicara denganku!"

Ujarnya kemudian. Namun Su Bun Seng tak bergerak. Ia diam menatap Ouw Yang Hong. Matanya basah dan mulai menangis.

"Ouw Yang Hong, aku memohon padamu untuk membalaskan dendamku! Aku tahu sebelum suhu mati, pasti berpesan padamu agar membunuhku, juga terhadap susiok dan Cu Kuo Cia! Mengingat aku yang membawamu ke perkampungan Liu Yun Cun, maka kumohon padamu membunuh susiok itu demi membalaskan dendamku. Asal aku dapat melihatnya mati, aku pasti akan membunuh diri di hadapanmu. Aku tidak akan ingkar janji."

Mendengar itu, hati Ouw Yang Hong tersentuh. Sebelum mati, Si Racun Tua memang berpesan pada Ouw Yang Hong untuk membunuh mereka.

"Aku harus berbuat apa?"

Tanya Ouw Yang Hong seperti kebingungan.

"Ouw Yang Hong, kau pergi bersamaku! Kita berdua membunuh susiok itu. Dia sudah terkena racun toa suheng, maka gampang sekali untuk membunuhnya!"

Ouw Yang Hong mengangguk.

"Baik, aku ikuti permintaanmu ..."

Ouw Yang Hong mengikuti Su Bun Seng menuju ke sebuah telaga kecil.

Di tengah-tengah telaga kecil itu, tampak sesosok tubuh pendek dan kecil berdiri.

Orang itu tak lain Cha Ceh Ih.

Terperanjat Ouw Yang Hong menyaksikan itu.

Dia mengira Cha Ceh Ih menggunakan ginkang berdiri di permukaan telaga.

Setelah diperhatikan, ternyata Cha Ceh Ih berdiri di atas sebuah batu di tengah-tengah telaga.

Ketika melihat kemunculan Su Bun Seng bersama Ouw Yang Hong, Cha Ceh Ih kelihatan gusar sekali.

Dia menatap mereka berdua tajam.

"Su Bun Seng, kau kira dengan membawa Ouw Yang Hong ke mari, kau bisa lolos dari tanganku?"

Su Bun Seng tersenyum sinis.

"Cha Ceh Ih! Kau mencelakaiku hingga tidak bisa mati dan tidak bisa hidup, lihatlah!"

Su Bun Seng memperlihatkan lengan kirinya, ternyata dagingnya bergumpal jadi satu. Lalu ia melanjutkan dengan sengit.

"Susiok, kita sama-sama orang perkampungan Liu Yun Cun, mengapa kau mencelakaiku? Apa gunanya bagimu?"

Cha Ceh Ih tertawa terkekeh.

"Ha ha! Tiada gunanya bagiku? Orang-orang perkampungan Liu Yun Cun jahat semua. Kalau aku tidak membunuhmu, tentu kau yang akan membunuhku. Kenapa merasa heran ...?"

Su Bun Seng berkata dengan air mata bercucuran.

"Cha Ceh Ih, kau mencelakaiku hingga menderita begini. Mati tidak bisa, hidup pun susah! Setiap hari aku harus bersandar pada pohon, menggunakan hawa pohon untuk mengisi hawa di dalam tubuhku. Kalau aku meninggalkan pohon, aku pasti akan mati. Kau ..."

Cha Ceh Ih tertawa gembira mendengar keluhan Su Bun Seng, lalu mengejeknya.

"Su Bun Seng, kau memang srigala yang bermuka manis! Setiap hari kau tersenyum padaku, bahkan juga tampak amat berbakti padaku. Karena itu, aku akan memberitahukan padamu satu cara. Seandainya kau ingin ke mana, harus membawa sebatang pohon, tidur pun harus memeluk pohon itu. Kalau tidak, kau pasti akan mati ..."

Su Bun Seng menatapnya bengis dan geram bukan main. 'Cha Ceh Ih. Kau lelah terkena racun toako, kini bertemu Ouw Yang Hong, maka kau pasti mampus!"

Cha Ceh Ih hanya tersenyum.

"Ouw Yang Hong? Dia terhitung barang apa? Oh ya! Su Bun Seng, aku lupa memberitahukan padamu, kau tidak boleh tidur bersama kaum wanita, sebab kau akan mati dengan daging mencair. Lebih baik kau jadi hweeshio saja! Ha ha ha ..."

Cha Ceh Ih tertawa gelak, Su Bun Seng menatapnya penuh kegeraman.

"Cha Ceh Ih, kau kira aku tidak tahu racun apa yang bersarang di dalam tubuhmu? Kau terus berdiri di permukaan air, pertanda kau terkena racun Hek Si Ih! Tentunya kau pun amat menderita dan tersiksa seperti diriku, kau juga akan mati dan berubah jadi segumpal cairan darah!"

Mendadak Cha Ceh Ih tertawa gelak seakan merasa puas.

"Cha Ceh Ih! Apa yang kau tertawakan?"

Ca Ceh Ih menunjuk ke arah sebuah pohon di pinggir telaga, lalu berkata.

"Kalian lihat, apa itu?"

Ouw Yang Hong dan Su Bun Seng menengok ke atas pohon itu, tampak seseorang bergantung di sana, sepertinya sudah mati.

Mata orang itu terbeliak lebar, seakan melototi mereka berdua.

Siapa orang itu, tidak lain adalah Cu Kuo Cia.

"Cha Ceh Ih, kau apakan toa suhengku?"

Bentak Su Bun Seng semakin geram.

"Apakah kau tidak bisa melihat? Dia sudah sekarat, kau bilang harus bagaimana?"

Su Bun Seng dan Cu Kuo Cia sudah puluhan tahun menjadi saudara seperguruan. Maka menyaksikan keadaan Cu Kuo Cia yang seperti itu timbullah rasa iba dalam hatinya.

"Toa suheng! Toa suheng! Kau ... kau masih kenal aku? Aku ji sutemu ..."

Cu Kuo Cia tidak menghiraukannya, melainkan terus menatap Ouw Yang Hong sambil berkata dengan suara terputus-putus.

"Cucuku ... cucuku ...! Kau adalah cucuku, kan? Oh ... cucuku .. .!"

Ternyata Cu Kuo Cia sudah tidak mengenali Ouw Yang Hong dan Su Bun Seng, malah mengira Ouw Yang Hong adalah cucunya.

"Dia terkena racun, terkena racunmu! Kau yang meracuninya hingga jadi seperti itu ..."

Ujar Cha Ceh Ih memberitahukan.

"Kalau dia terkena racunku, dia pasti mati, tidak akan berubah begitu!"

Su Bun Seng membantah sengit. Cha Ceh Ih malah tertawa-tawa gembira.

"Tidak salah, tapi aku menambah sedikit racun lain, maka dia jadi begini, lho!"

"Kau menambah racun apa?"

Tanya Su Bun Seng.

"Aku menambah sedikit hawa racun ..."

Sahut Cha Ceh Ih dengan wajah berseri-seri. Su Bun Seng mengerutkan kening.

"Hawa racun apa? Kok aku tidak mendengar dengan jelas?"

"Aku ingin membuatnya cepat-cepat mampus. Namun tak disangka kebetulan mendadak terjadi hujan deras, sehingga nyawanya tertolong ..."

Su Bun Seng menatap Cha Ceh Ih dengan penuh kebencian.

"Susiok, lihatlah! Ouw Yang Hong datang men-carimu,"

Ujar Su Bun Seng sambil tertawa ter-kekeh-kekeh, seakan merasa kegirangan.

"Aku sudah melihat kedatangan Ouw Yang Hong! Hei ... Ouw Yang Hong, mau apa kau kemari? Kau ingin membunuhku?"

Ouw Yang Hong tampak tenang, menatap Cha Ceh Ih.

"Ada perintah dari guruku, kalian semua harus mati satu persatu!"

Sahutnya, perlahan dan datar tanpa tekanan sama sekali. Cha Ceh Ih kembali tertawa.

"Ouw Yang Hong, sungguh besar muka gurumu! Dia menghendakimu membunuhku? Kalau kau mampu membunuhku kenapa tidak mencobanya?"

"Kau kira aku tidak berani mencobanya?"

Tukas Ouw Yang Hong, dingin.

Cha Ceh Ih cuma tertawa.

Dalam hal ilmu ginkang, Ouw Yang Hong memang lebih tinggi dari susioknya itu.

Namun dia yakin susioknya tidak bisa berlaku licik di dalam telaga kecil itu.

Maka tiba-tiba .

"Baik, aku akan ke sana!"

Akan tetapi, mendadak Su Bun Seng berseru.

"Sute! Sute! Tunggu sebentar!"

Ouw Yang Hong memandangnya. Di bawah sinar rembulan, Ouw Yang Hong melihatnya me-ngucurkan air mata.

"Sute, kalau kau ingin membunuhnya, aku akan bersamamu! Begitu aku teringat akan ke-baikan suhu, aku amat menyesal dalam hati! Sute, kalau kau ingin membunuhnya, aku harus mem-bantumu!"

Su Bun Seng terisak-isak menangis. Ouw Yang Hong manggut-manggut.

"Baik, Suheng. Mari kita membunuhnya!"

Ouw Yang Hong tidak menyangka, Su Bun Seng yang terkenal sangat jahat, ternyata masih memiliki nurani.

"Suheng, mari kita lakukan ...! Tapi bagaimana dengan racun di tubuhmu?"

Su Bun Seng menyahut dengan mata membara.

"Sute, aku tidak apa-apa! Setelah membunuhnya, aku pun akan mati untuk menebus dosaku terhadap suhu!"

Ouw Yang Hong menatap dengan perasaan trenyuh.

Tidak pernah menduga kalau orang sejahat Su Bun Seng ternyata masih menyisakan pikiran baik seperti itu.

Mendadak Ouw Yang Hong berseru.

Maka tampak keduanya melesat ke tengah-tengah telaga kecil.

Melihat Ouw Yang Hong dan Su Bun Seng melesat ke arahnya, Cha Ceh Ih tampak jadi gugup dan panik.

"Ouw Yang Hong, kalau kau berani kemari, kau pasti akan menyesal ...!"

Teriak orang pendek itu sekeras-kerasnya. Ouw Yang Hong tertawa gelak.

"Susiok, kau pasti mampus! Kenapa masih berkata begitu?"

Ketika menyahut, Ouw Yang Hong dan Su Bun Seng sudah melesat ke sana.

Namun sebelum keduanya berdiri di tengah-tengah telaga kecil itu, Cha Ceh Ih sudah membentak keras sambil mendorong sepasang telapak tangannya ke arah mereka.

Ouw Yang Hong sama sekali tidak gentar menghadapi serangan itu.

Sebab, ilmu Ha Mo Kang-nya sudah dilatih hingga cukup sempurna, dapat dilancarkan dan ditarik kembali sesuka hatinya.

Oleh karena itu, Ouw Yang Hong cepat meng-hentakkan sepasang telapak tangannya ke arah Cha Ceh Ih.

Namun mendadak saja ...

"Ouw Yang Hong, kau turunlah!"

Seru Su Bun Seng.

Kemudian dengan cepat dia melancarkan serangan, dengan menggunakan tiga batang jarum beracun.

Ternyata serangan itu ditujukan ke arah tiga buah jalan darah di punggung Ouw Yang Hong.

Bagaimana mungkin Ouw Yang Hong dapat berkelit?

Karena sepasang telapak tangannya tengah digunakan untuk menyerang Cha Ceh Ih.

Namun Ouw Yang Hong masih sempat menggeserkan badannya sedikit, maka ketiga batang jarum beracun tidak berhasil mengena pada sasarannya.

Ouw Yang Hong memekik gusar sambil badannya melesat ke atas.

Namun, secepat itu pula kemudian badannya justru meluncur ke arah air telaga.

Ketika Ouw Yang Hong jatuh ke dalam telaga kecil, Cha Ceh Ih dan Su Bun Seng tertawa gembira, ternyata telaga kecil itu amat dangkal, namun telah ditaruh obat beracun.

Kalau Ouw Yang Hong jatuh ke sana, mereka akan memanfaatkan kesempatan itu untuk membunuhnya.

Bukan main menyesalnya hati Ouw Yang Hong.

Karena dia begitu mempercayai Su Bun Seng, akhirnya harus mati di dalam telaga kecil itu.

Saat sepasang kaki Ouw Yang Hong menyentuh permukaan telaga kecil, tiba-tiba terdengar suara seruan.

"Kena!"

Tampak segulung asap meluncur ke arah Cha Ceh Ih dan Su Bun Seng.

"Hati-hati!"

Seru Cha Ceh Ih memperingatkan.

Cha Ceh Ih mencelat ke atas, namun setelah itu badannya merosot kembali meluncur ke dalam telaga.

Sementara itu, Su Bun Seng terkejut bukan main, sebab mencium bau yang amat menusuk hidung.

Dia tahu itu adalah bubuk beracun perguruannya.

Siapa yang menghisap racun bubuk itu, akan merasa mabuk lalu mati perlahan-lahan.

Cha Ceh Ih pun terkejut sekali.

Siapa yang datang?

Apakah kedua bersaudara yang pendiam itu?

Mereka tidak tahu, kedua orang itu sudah mati di tangan Ouw Yang Hong.

Su Bun Seng dan Cha Ceh Ih tercebur ke dalam telaga.

Sungguh celaka!

Mereka yang menaruh racun ke dalam telaga, justru mereka juga yang terkena racun tesehut.

Senjata makan tuan!

Mereka berdua mendongakkan kepala.

Seketika keduanya pun terbelalak, karena Cu Kuo Cia yang tadi bergantung di pohon sudah tidak kelihatan.

Ternyata dia berdiri di sisi Ouw Yang Hong.

Tampak Ouw Yang Hong berhasil berdiri di atas batu di tengah-tengah telaga.

Ouw Yang Hong memandang Cu Kuo Cia.

"Toa suheng, bukankah kau tidak bisa bergerak karena terkena racun?"

"Omong kosong! Bagaimana aku tidak bisa bergerak? Mereka membunuh seluruh keluargaku, sejak itu setiap hari aku terus berpura-pura jadi orang idiot. Aku kuatir mereka tetap waspada terhadapku, maka aku berpura-pura jadi orang idiot! Mereka terkena siasatku! Ha ha ha . .."

Cu Kuo Cia tertawa gelak, kemudian berkata dengan suara lantang.

"Cha Ceh Ih, Su Bun Seng! Kalian berdua terhitung apa? Tahukah kalian, murid pertama Si Racun Tua itu adalah diriku. Aku adalah toa suheng, tak kan kusia-siakan diriku menjadi toa suheng?"

Ouw Yang Hong bingung memandang mereka bertiga. Dia tidak pernah tahu di antara mereka bertiga terjerat urusan apa.

"Kau kira racunmu akan mencelakai diriku? Jangan bermimpi! Lihatlah!"

Cu Kuo Cia membuka mulutnya lebar-lebar dan berkata.

"Kalian sudah melihat secara jelas?"

Cha Ceh Ih dan Su Bun Seng segera memperhatikan mulut Cu Kuo Cia yang terbuka lebar itu, namun tidak melihat sesuatu yang aneh.

"Aku memiliki suatu benda di dalam mulut yang kuciptakan setelah suhu mulai meracuniku. Benda itu kunamai kantong Seratus Racun, benda tersebut bergantung di dalam mulutku. Kalian menghendakiku makan apa, aku pasti makan. Tapi makanan yang beracun kutaruh ke dalam kantong Seratus Racun. Nah, racun apa yang dapat mencelakaiku?"

Mendengar itu, Ouw Yang Hong amat kagum, tidak menyangka Cu Kuo Cia begitu cerdik. Lalu dia menoleh ketika Cu Kuo Cia memanggilnya.

"Kau saksikan saja di sini, aku akan menghabiskan Cha Ceh Ih. Aku juga akan membunuh Su Bun Seng!"

Cu Kuo Cia tertawa terkekeh-kekeh sambil dengan cepat menerjang ke arah Cha Ceh Ih seraya membentak.

"Cha Ceh Ih, kau harus mengganti nyawa seluruh keluargaku!"

Cu Kuo Cia menyerang Cha Ceh Ih dengan sengit.

Kepandaiannya memang tidak jauh di bawah kepandaian susioknya itu.

Untungnya kini susioknya sudah keracunan berat.

Plak!

Plak!

Pukulan yang dilancarkan Cu Kuo Cia bersarang pada tubuh Cha Ceh Ih, membuat Cha Ceh Ih menjerit-jerit.

Cu Kuo Cia berteriak-teriak.

"Tau Ji! Tau Ji! Oh, cucuku! Kakek akan membalas dendammu! Lihatlah, kakek akan menghabisi Cha Ceh Ih! Kakek akan membunuh Su Bun Seng! Kakek menghendaki mereka mati!"

Cu Kuo Cia melancarkan sebuah pukulan lagi ke arah Cha Ceh Ih, kemudian menyerang Su Bun Seng. Setelah itu, dia pun menggigit lehernya seraya berteriak-teriak.

"Cucuku! Kau lihat, aku akan menggigit mati pamanmu! Dia tidak bisa melakukan kejahatan lagi!"

Cu Kuo Cia terus menggigit leher Su Bun Seng hingga putus.

"Su Bun Seng! Bukankah kau berkepandaian tinggi? Kenapa diam saja?"

Bentaknya. Bagaimana mungkin Su Bun Seng menyahut, karena nafasnya sudah putus, lehernya berlumuran darah. Cu Kuo Cia menatap Cha Ceh Ih tajam, kemudian tertawa terkekeh.

"Kau juga harus mati, tapi aku tidak akan membiarkanmu begitu cepat mati. Kau harus mati perlahan-lahan; di dalam rimba itu sudah kubuatkan api unggun, aku akan membakarmu hidup-hidup, lalu menyantap dagingmu! Aku tahu dagingmu tidak enak, namun aku terpaksa harus menyantapnya. Kau membunuh keluargaku berjumlah tiga belas orang, maka aku akan menyantap dagingmu tiga belas potong. Bukankah itu me-rupakan ide yang bagus?"

Usai berkata, Cu Kuo Cia langsung menjambak baju Cha Ceh Ih dan langsung membawanya ke dalam rimba itu.

Ouw Yang Hong mengikutinya perlahan-lahan.

Dia tahu Cu Kuo Cia tidak akan melepaskan Cha Ceh Ih, pasti akan membunuhnya demi membalas dendam keluarganya.

Oleh karena tu, dia tidak perlu turut campur.

Tampak Cu Kuo Cia sedang menambah kayu bakar, agar api yang dinyalakan tadi bertambah nyala, sedangkan Cha Ceh Ih tergeletak.

"Bagaimana rasanya daging manusia? Tentunya aku tidak tahu, namun aku harus mencicipinya!"

Gumam Cu Kuo Cia, menoleh dengan senyum sinis kepada Cha Ceh Ih.

Cu Kuo Cia mengiris sepotong daging Cha Ceh lh dengan pisau tajam, kemudian dibakar.

Setelah matang, dia pun menyantapnya.

Dilihatnya pula Ouw Yang Hong yang sudah berdiri di dekatnya.

"Ouw Yang Hong, kau mau mencicipinya?"

Tanyanya, tertawa mengekeh. Ouw Yang Hong menggeleng.

"Aku tidak mau makan daging manusia!"

Ketika daging Cha Ceh Ih diiris, orang berbadan kecil itu pun menjerit-jerit. Cu Kuo Cia segera membentak.

"Cha Ceh Ih, kau jangan menjerit-jerit! Kalau kau terus menjerit, bagaimana aku tega menyantap dagingmu? Kau membunuh keluargaku berjumpa tiga belas orang, aku akan menyantap dagingmu tiga belas potong, itu adil sekali, kan?"

Karena Cha Ceh Ih terus menjerit, Cu Kuo Cia jadi jengkel, maka langsung menotok jalan darah gagunya, hingga Cha Ceh Ih tidak hisa menjerit lagi.

Cu Kuo Cia memang sadis, dia mengiris daging Cha Ceh Ih sampai tiga belas potong, dibakar, dan disantapnya semua.

"Bagus! Hari ini aku menyantap daging Cah Ceh Ih hingga kenyang sekali! Esok ..."

Mendadak Cu Kuo Cia menundukkan kepala, kemudian muntah. Sementara Cha Ceh Ih masih belum mati, dia menatap Cu Kuo Cia dengan mata berapi-api dan mencacinya.

"Cu Kuo Cia, kau memang anjing yang telah putus turunan! Kalau aku tidak membunuhmu, rasanya hatiku tidak akan merasa puas!"

Cu Kuo Cia tidak gusar karena cacian itu, malah menatap Cha Ceh Ih.

"Kau masih ingin membunuhku? Sudahlah! Jangan bermimpi di siang hari bolong! Aku akan menghabiskanmu, setiap hari mengiris dagingmu untuk dibakar! Kuberitahukan, aku bukan seorang jahat!"

Cha Ceh Ih tidak berani menyahut, takut Cu Kuo Cia akan mengiris daging di kakinya, yang akan membuatnya menderita sekali. Mendadak Cu Kuo Cia memandang Ouw Yang Hong, sambil berkata perlahan-lahan.

"Ouw Yang Hong, kau baik sekali!"

Cu Kuo Cia bangkit berdiri perlahan-lahan, mereka berdua pun saling memandang dengan mata tak berkedip.

Ouw Yang Hong memandang Cu Kuo Cia yang mengiris daging di kaki Cha Ceh Ih.

Dia sama sekali tidak merasa heran atau merasa kasihan, karena suhunya sudah berpesan padanya harus membunuh Cah Ceh Ih.

Lagi pula Cah Ceh Ih pun meracuni Lo Ouw dan Ceh Liau Thou, kedua pelayannya hingga mati secara mengenaskan.

Maka melihat Cu Kuo Cia mengiris daging di kaki Cha Ceh Ih, Ouw Yang Hong tampak hanya tenang memperhatikan-nya.

Kalau Cha Ceh Ih sudah mati, berarti hanya tersisa Cu Kuo Cia, dia akan membunuh orang itu dengan tangannya sendiri.

Setelah mengiris daging di kaki Cha Ceh Ih, Cu Kuo Cia bertanya padanya dengan membentak.

"Mengapa kau membunuh seluruh keluargaku? Mengapa kau membunuh cucu kesayanganku itu?"

Cha Ceh Ih sedang menahan rasa sakit, wajahnya pucat pias, tak mampu membuka mulut.

"Kau membunuh keluargaku berjumlah tiga belas orang, aku harus dengan cara apa membunuhmu?"

Cha Ceh Ih diam saja. Tak mampu menjawab kebringsan Cu Kuo Cia.

"Dengan membunuh istriku, sama juga kau melepaskan pakaianku! Aku pun harus mengupas kulitmu agar dendamku terhitung habis! Kau membunuh anakku, berarti memutuskan tanganku, aku pun harus memutuskan sebelah tanganmu. Dendam itu terhitung habis! Kau membunuh cucu kesayanganku, itu sama seperti mengorek keluar jantung hatiku! Karena itu, aku pun harus mengorek keluar hatimu, agar dendam itu habis!"

Ouw Yang Hong tertawa dingin.

Dalam hati dia berkata, orang perkampungan Liu Yun Cun melakukan sesuatu amat sadis dan sesat, berbeda dengan orang lain!

Cu Kuo Cia ingin membunuh orang dengan membuat orang menderita dulu.

Kini Cha Ceh Ih sudah tidak bisa tertawa me-nyengir lagi, melainkan mengucurkan air mata dan menangis terisak-isak.

Terdengar isakan tangisnya kepada Ouw Yang Hong.

"Kau ... kau harus ingat, aku adalah adik seperguruan gurumu, kau tidak boleh membiarkan Cu Kuo Cia membunuhku!"

Ouw Yang Hong menyahut perlahan-lahan.

"Kalau Cu Kuo Cia tidak membunuhmu, aku pun akan membunuhmu! Kau mati saja habis perkara, tidak usah memohon padaku!"

Mendengar itu, Cha Ceh Ih jadi putus asa, dan memejamkan mata dengan mulut membungkam. Sementara Ouw Yang Hong memandang Cu Kuo Cia.

"Suhu telah berpesan padaku, harus membunuh kalian! Setelah kau membunuh Cha Ceh Ih, aku menunggumu di sana!"

Usai berkata, Ouw Yang Hong lalu melesat pergi.

Ternyata dia kembali ke perkampungan Pek Tho San Cung.

Walaupun cukup banyak penjaga di sana, Ouw Yang Hong tetap mencemaskan Bokyong Cen.

Sementara Bokyong Cen duduk di pinggir tempat tidur, dia tampak termenung sambil memandang lilin-lilin yang menyala.

Ouw Yang Hong juga merasa heran, karena melihat Bokyong Cen duduk termenung di pinggir tempat tidur, apakah dia mendengar sesuatu, sehingga membuatnya terjaga di tengah malam?

Ouw Yang Hong memang amat menyayangi Bokyong Cen.

Perlahan-lahan dia memasuki kamar.

Kemudian dipeluknya erat-erat wanita itu.

"Mengapa kau tidak tidur? Kok malah duduk di sini?"

"Ouw Yang Hong, jangan berbicara!"

Sahut Bokyong Cen dengan suara ringan.

Hati Ouw Yang Hong tersentak.

Dia segera memeriksa seluruh kamar itu, namun tidak tampak ada keanehan.

Ouw Yang Hong kembali duduk di sisi Bokyong Cen.

Dipandangnya wanita itu dengan penuh perhatian.

"Mengapa kau menyalakan begitu banyak lilin?"

Bokyong Cen berpaling, sepasang matanya tiada biji matanya, hanya merupakan dua buah lubang hitam. Dengan sungguh-sungguh dia menyahut.

"Jangan bersuara, dia sudah datang!"

Terperangah Ouw Yang Hong mendengar itu.

Siapa dia?

Manusia atau hantu?

Lelaki atau wanita?

Apakah musuhnya?

Mungkinkah pihak Kay Pang sudah tahu dia yang membunuh kedua Tetua itu, maka datang menuntut balas?

"Siapa dia?

Mau apa dia kemari?"

Tanya Ouw Yang Hong dengan suara rendah.

"Dia adalah orang yang menolongku!"

Sahut Bokyong Cen.

"Siapa yang menolongmu itu?"

Ouw Yang Hong tampak semakin keheranan.

Bokyong Cen menjawab dengan tidak begitu jelas, membuat Ouw Yang Hong tidak mengerti.

Ternyata ketika Bokyong Cen ditaruh ke dalam kotak yang penuh perhiasan di perkampungan ini, dia sama sekali tidak dapat melarikan diri, sebab Si Kerdil Pek Tho San San Kun menjaganya dengan ketat.

Suatu malam, Bokyong Cen merasa kotak tersebut bergerak seakan dibawa pergi.

Dugaannya memang tidak salah, kotak itu dicuri orang.

Siapa pencuri itu Bokyong Cen tidak tahu.

Lelaki atau wanita, tua atau muda, Bokyong Cen sama sekali tidak mengetahuinya.

Dalam sekejap kotak itu telah dibawa pergi sejauh belasan mil.

Orang itu mencuri semua perhiasan yang ada di dalamnya, lalu melesat pergi.

Maka Bokyong Cen tidak tahu siapa orang itu, bahkan hingga kini ia telah melupakan kejadian itu.

Malam ini ketika Ouw Yang Hong pergi menemui Su Bun Seng, mendadak Bokyong Cen terjaga dari tidurnya, ia berseru-seru memanggil Ouw Yang Hong, namun tiada sahutan.

Karena gugup dan cemas akhirnya ia menangis.

Saat itulah ia mendadak terdengar suara orang menegurnya.

"Seharusnya aku tidak menolongmu, tapi aku melihat kau adalah orang baik-baik. Bukankah sayang sekali disekap di dalam kotak itu? Karena itu, aku menolongmu, juga mencuri sedikit benda yang di dalam kotak itu. Sungguh beruntung aku memperoleh mutiara-mutiara yang tak ternilai harganya. Kau pun merupakan orang yang beruntung. Tapi mengapa sekarang kau malah menangis? Apakah ada hal yang membuat hatimu sedih? Beritahu-kanlah padaku ..."

Bokyong Cen hanya bisa mendengar, tanpa bisa melihat orangnya.

Tak aneh kalau ia ketakutan.

Namun kemudian mendadak hatinya tergerak, bukankah orang ini yang pernah menolongnya?

Seketika juga dia berseru.

"Cianpwe, terimakasih atas pertolonganmu hari itu ..."

"jangan sungkan! Jangan sungkan!"

Ujar orang itu.

"Mengapa kau menangis?"

"Sepasang mataku tidak bisa melihat ..."

Jawab Bokyong Cen, memberitahukan. Orang itu tertawa.

"Bolehkah aku melihat sepasang matamu?"

"Di dalam kamar ini pasti amat gelap, bagaimana mungkin kau dapat melihat sepasang mataku?"

Orang itu tertawa lagi. Ramah.

"Kalau begitu, aku akan menyalakan lilin!"

Orang itu segera menyalakan semua lilin yang ada di dalam kamar, sehingga kamar itu berubah terang benderang.

"Apa yang kau lakukan?"

Tanya Bokyong Cen ragu. Orang itu menyahut sambil tertawa.

"Aku sedang menyalakan lilin, agar suamimu merasa gembira begitu dia pulang. Nah, dia pasti memelukmu dengan mesra, tentunya kau akan merasa bahagia! Ya, kau?"

Bokyong Cen diam, namun wajahnya tampak kemerah-merahan, agak tersipu. Orang itu tertawa lagi.

"Nona Bokyong, semua lilin yang menyala berjumlah delapan puluh satu batang. Kuambil dari angka sembilan kali sembilan, itu merupakan angka keberuntungan, khusus kuhadiahkan kepada Nona. Karena pada waktu itu, Nona membiarkan-ku mengambil batu permata dan perhiasan yang di dalam kotak itu, maka aku harus berterimakasih kepada Nona!"

Wajah Bokyong Cen kelihatan berseri. Bukan main gembiranya hati Bokyong Cen mendengar itu. Kemudian, dia pun mendengar suara Plak! Plak! Ternyata bunyi lilin-lilin merah itu.

"Aku menggunakan lilin merah, bukan main indahnya, kau lihat saja!"

Bokyong Cen menyahut sambil menggeleng-geleng kepala.

"Aku yakin indah sekali! Tapi ... aku tidak bisa melihat!"

"Memang indah sekali!"

Ujar orang itu, lalu diam tak berbicara lagi.

"Mengapa kau tidak bicara lagi?"

Tanya Bokyong Cen setelah beberapa lama terdiam. Orang itu menyahut dengan serijs, tidak seperti tadi sambil tertawa-tawa.

"Kamarmu ini jadi indah sekali, di dinding dan di meja tertancap lilin merah yang menyala, membuat kamar ini kemerah-merahan, bukan main indahnya . .."

"Terimakasih! Terimakasih . .. atas pertolong-anmu!"

Orang itu tertawa, tidak berkata apa-apa.

"Sebetulnya siapa kau?"

Orang itu diam, lama sekali haru menyahut.

"Aku akan membuat sebuah teka-teki, kalau kau dapat menerkanya, berarti kau tahu namaku!"

Bokyong Cen mengangguk.

"Baik! Apa teka-tekimu itu?"

"Pejabat bukan pejabat, semua orang menyebutnya pejabat. Ada angin datang dari delapan penjuru, tiada angin rumput dingin sendiri. Nah, terkalah!"

Bokyong Cen langsung menerka.

"Kau bermarga Siangkoan, bernama Wie! Ya, kan?"

Orang itu tertawa gelak.

"Ha ha ha! Nona, kau sungguh pintar! Aku memang bernama Siangkoan Wie. Nona pernah bertemu aku, pada waktu itu diriku amat mengenaskan!"

Tiba-tiba Bokyong Cen teringat ketika berada di sebuah rumah makan.

Dia memang melihat Siangkoan Wie yang bertarung dengan Su Ciau Hwa Cu.

Siangkoan Wie kalah.

Karena seorang anak kecil yang memohon pada Su Ciau Hwa Cu, maka nyawa Siangkoan Wie diampuni.

Teringat akan kejadian itu, Bokyong Cen pun tertawa gembira.

"Betulkah kau Siangkoan Wie ketua Tiat Ciang Pang itu?"

"Tidak salah!"

Sahut orang itu yang tak lain memang Siangkoan Wie.

Bokyong Cen diam, ada senyum di bibirnya.

Merasa gembira sekali.

Namun kemudian senyum itu lenyap, sepertinya ia teringat akan sesuatu.

Mereka bilang Tiat Ciang Pang merupakan perkumpulan para penjahat, apakah benar tentang itu?"

Tanyanya tiba-tiba dengan suara lemah. Air muka Siangkoan Wie agak berubah ketika mendengar itu, lalu menjawab dengan serius.

"Kaum lelaki kalau melakukan sesuatu harus tegas. Orang lain mau bilang apa, itu tidak penting. Asal kau melakukan itu dengan baik, mengapa harus takut orang mentertawakannya?"

Walau berkata demikian, namun dalam hati Siangkoan Wie merasa tidak enak sekali.

Sebab ketua yang dulu merupakan orang gagah, belum pernah membuat nama perkumpulan tercemar, bahkan juga berkepandaian amat tinggi.

Tapi sotelah dirinya jadi ketua, Tiat Ciang Pang justru merosot drastis dan para anggotanya sering melakukan kejahatan.

Padahal sebenarnya kepandaiannya tak dapat menyamai orang lain, sungguh tak pantas dirinya jadi ketua.

Siangkoan Wie tidak melanjutkan, maka Bokyong Cen segera bertanya lagi dengan suara rendah.

"Siangkoan Pangeu, apakah Tiat Ciang Pang begitu ... jahat?"

Siangkoan Wie tidak menyahut, hanya meng-geleng-geleng kepala.

Di saat bersamaan, mendadak Bokyong Cen teringat pada Ouw Yang Hong.

Mengapa begitu lama belum kembali?

Apakah telah terjadi sesuatu?

Wajah Bokyong tampak berubah, itu tidak terlepas dari mata Siangkoan Wie.

"Nona Bokyong, malam ini Ouw Yang Hong akan bertarung sengit. Sebab ada orang dari perkampungan Liu Yun Cun yang mencarinya. Tentunya di antara mereka akan terjadi pertarungan mati-matian 1"

Bukan main terkejutnya Bokyong Cen mendengar pemberitahuan itu.

"Haaah?"

"Ouw Yang Hong berkepandaian tinggi, sudah pasti dapat mengalahkan mereka itu. Aku justru mencemaskanmu, kemungkinan besar mereka akan mencelakaimu di sini!"

Bokyong Cen menghela nafas panjang.

"Aku sudah buta, menjadi orang cacat, tentunya tidak akan terjadi apa-apa lagi. Tapi. .."

Bokyong Cen tidak melanjutkan.

Tak mampu ia memberitahukan tentang kehamilannya pada orang lain.

Akhirnya dia tersenyum, tidak berbicara apa-apa ...

Ketika melihat Bokyong Cen terus termenung dan kadang-kadang tersenyum-senyum, Ouw Yang Hong terheran-heran dan berkata dalam hati.

Dia sudah buta, tidak mungkin menyalakan lilin sebanyak itu, sedangkan orang-orang perkampungan Pek Tho San Cung tidak berani memasuki kamar ini, lalu siapa yang menyalakan lilin-lilin itu?

Ouw Yang Hong baru mau bertanya ketika mendadak pintu kamar terbuka.

Tampak Cu Kuo Cia berjalan masuk perlahan-lahan, wajahnya lesu dan murung, pakaiannya pun bernoda darah.

Dia berdiri di hadapan Ouw Yang Hong bagaikan sosok mayat hidup.

"Suheng, selesai sudah tugasmu .. .?"

Cu Kuo Cia tidak menyahut.

Matanya yang sayu memandang Ouw Yang Hong, kemudian beralih kepada Bokyong Cen.

Setelah itu, harulah dia memberi isyarat dengan tangan pada Ouw Yang Hong.

Meskipun tahu akan maksud kode itu, Ouw Yang Hong diam tak mengeluarkan suara apa pun.

Ternyata Cu Kuo Cia tidak mau bersuara, kuatir Bokyong Cen akan merasa takut mendengar suaranya.

Sesungguhnya Bokyong Cen sudah mendengar suara saat pintu kamar terbuka juga suara langkah yang amat ringan.

Dia tahu ada pesilat tangguh memasuki kamarnya.

"Siapa dia? Mau apa dia kemari?"

Tanyanya dengan tiba-tiba. Ketika Ouw Yang Hong baru mau menyahut, mendadak Cu Kuo Cia menjatuhkan diri berlutut di hadapannya, dengan air mata bercucuran.

"Ouw Yang sute, aku sungguh menyesal. Cha Ceh membunuh anak, istri, dan cucuku! Bagaimana mungkin aku bersama mereka? Tentunya nyawaku akan melayang di tangan mereka. Aku ... aku .. ."

Cu Kuo Cia menangis terisak-isak, air matanya terus berderai-derai.

Menyaksikan keadaan Cu Kuo Cia yang amat mengenaskan, bahkan juga menyatakan penyesalannya, hati Ouw Yang Hong merasa tidak tega untuk turun tangan terhadapnya.

Bokyong Cen tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Ouw Yang Hong.

Dia hanya mendengar ucapan Cu Kuo Cia yang mengibakan hati, sehingga timbul pula rasa kasihannya.

"Ouw Yang Hong, suhengmu sudah merasa menyesal, untuk apa kau mendesaknya lagi?"

Ujarnya, seakan mengingatkan kesabaran Ouw Yang Hong. Ouw Yang Hong diam. Keningnya tampak berkerut-kerut tajam.

"Sute! Apakah kau tidak bersedia mengampuniku?"

Tanya Cu Kuo Cia. Ouw Yang Hong menatapnya tajam. Lama sekali barulah dia membuka mulut.

"Bukan aku tidak mau mengampunimu, tapi suhu menghendakimu mati!"

Ternyata Ouw Yang Hong sudah berpikir panjang.

Su Bun Seng dan Cha Ceh Ih yang begitu licik saja harus terjungkal di tangan Cu Kuo Cia.

Ini membuktikan bahwa orang ini lebih licik, lebih lihai dan hebat.

Kalau tidak membunuhnya sekarang, kelak dia justru akan turun tangan membunuh Ouw Yang Hong.

Akan tetapi, Ouw Yang Hong pun ingat akan kejadian itu, kalau Cu Kuo Cia tidak muncul dan secara tidak langsung menyelamatkan-nya, saat itu dirinya pasti tewas di tangan kedua orang licik.

Karena itu, Ouw Yang Hong belum dapat mengambil keputusan.

"Sungguhkah sute tidak bersedia mengampuniku?"

Tanya Cu Kuo Cia dengan terisak-isak. Ouw Yang Hong masih diam. Sepertinya sulit baginya menjawab pertanyaan itu. Bokyong Cen ingin menasihati Ouw Yang Hong, namun Cu Kuo Cia sudah herkata lagi.

"Siapa suruh aku jadi orang perkampungan Liu Yun Cun? Yang paling jahat di kolong langit adalah perkampungan Liu Yun Cun. Yang terjahat di perkampungan Liu Yun Cun adalah Si Racun Tua dan dia sudah mati. Kini yang terjahat tentunya kau! Kau jahat aku kejam. Itu merupakan hal wajar di kolong langit. Namun siapa yang hisa seperti kau yang sedemikian jahat?"

Cu Kuo Cia bangkit berdiri dan melanjutkan.

"Baik, aku akan membunuh diri saja!"

Cu Kuo Cia langsung menyambar pedang pendek yang bergantung di dinding.

Dihunusnya pedang itu lalu diayunkan ke arah lehernya.

Maka suara tebasan pedang pun merobek keheningan di ruangan bercahaya lilin itu.

Darah muncrat dari leher Cu Kuo Cia yang langsung ambruk di lantai.

Ouw Yang Hong yang tetap berperasaan dingin sempat menatap robohnya orang tua itu.

Sementara Bokyong Cen yang mengetahui juga kejadian me-ngenaskan itu sempat gugup dan panik.

"Ouw Yang Hong! Ouw Yang Hong! Bagaimana dia?"

Serunya dengan gugup sekali. Ouw Yang Hong menyahut dengan dingin.

"Dia sudah mati, membunuh diri dengan pedang pendekmu itu!"

Mendengar itu, Bokyong Cen meraba-raba ke arah Cu Kuo Cia. Teraba juga tubuh tua yang tergeletak di lantai, berlumuran darah.

"Sudah mati? Dia sudah mati? Kau membunuh orang-orang perkampungan Liu Yun Cun? Kau membunuh mereka semua? Tahukah kau aku sudah hamil anakmu, anak dalam kandungan tidak boleh terkena hawa darah, bagaimana dia jadi orang baik kelak?"

Ouw Yang Hong menyahut lantang.

"Jadi orang baik apa? Aku jadi orang baik tiada gunanya sama sekali. Ketika berada di gurun pasir, kau menghina dan bahkan mempermainkan diriku. Mereka pun melukai sepasang matamu hingga buta. Aku jadi orang baik, justru tadi mereka nyaris membunuhku. Aku tidak mau jadi orang baik, aku harus jadi penjahat besar! Begitu anakku lahir, aku akan mengajarnya jadi orang jahat untuk malang melintang di kolong langit! Kalau kau melahirkan anak lelaki, aku akan menamainya Ouw Yang Kek. Apabila anak perempuan, akan kunamai Ouw Yang Giok. Dia pasti merupakan gadis yang tercantik di kolong langit. Aku pun tahu kau tidak gembira, karena kau tidak bersedia kusebut sebagai istri. Tapi kini kau sudah hamil anakku, dia adalah darah dagingku! Mengapa kau masih memandang rendah diriku? Dan mengapa kau juga tampak tidak gembira ...?"

Suara Ouw Yang Hong makin keras, seakan sedang melampiaskan kemarahan. Diam-diam Bokyong Cen menghela nafas panjang, lalu berkata dengan suara ringan.

"Ouw Yang Hong, mengapa kau harus marah-marah? Aku menikah dengan kakakmu secara resmi, kau memanggilku kakak ipar, mengapa harus diubah?"

Begitu Bokyong Cen menyinggung tentang Ouw Yang Coan kakaknya, Ouw Yang Hong pun tidak banyak bicara lagi.

Kalau kakaknya tidak pergi bersama Pek Bin Lo Sat, tentunya Ouw Yang Hong tidak dapat hidup bersama Bokyong Cen.

Bokyong Cen menikah dengan Ouw Yang Coan, namun kini bersama Ouw Yang Hong.

Apabila orang lain mengetahuinya, muka wanita itu mau ditaruh ke mana?

Oleh karena itu, Ouw Yang Hong jadi diam, tak berani bersuara lagi.

Mendadak Bokyong Cen menghela nafas, sambil berkata perlahan-lahan.

"Urusan aneh apa pun terdapat di kolong langit, seperti halnya perkampungan Liu Yun Cun. Guru mengajar murid untuk membunuh murid pula, bahkan sang murid pun ingin membunuh guru. Itu merupakan urusan kejahatan, lebih baik jangan melakukannya ..."

Ketika sedang berbicara seperti itu, mendadak Cu Kuo Cia bangkit berdiri. Dengan cepat dia mencengkeram leher Bokyong Cen, dengan sebelah tangannya memegang pedang pendek.

"Ouw Yang Hong, kali ini habislah kau! Malam ini kau pasti mampus di tanganku! Si Racun Tua yang telah mampus itu, menghendakimu membunuh kami. Tua bangka bangsat itu tidak berpikir sama sekali, aku adalah murid tertua. Bagaimana mungkin kau dapat mengadu kelicikan denganku?"

Cu Kuo Cia tertawa terkekeh merasa puas.

Bukan main terkejutnya Ouw Yang Hong, sebab Bokyong Cen berada di tangan Cu Kuo Cia.

Kalau bertindak ceroboh, Bokyong Cen pasti mati di tangannya.

Ouw Yang Hong betul-betul tidak tahu harus berbuat apa.

Seandainya tahu Cu Kuo Cia begitu licik, sudah pasti dia yang turun tangan membunuhnya tadi.

Ternyata tadi Cu Kuo Cia berpura-pura mati, sehingga Ouw Yang Hong terperangkap oleh kelicikannya.

"Ouw Yang Hong, tahukah kau wanita ini sudah hamil? Kalian berdua berjina hingga menghasilkan anak haram! Kalau kau tidak mendengar perkataanku, wanita ini pasti mampus di tanganku!"

Ancam Cu Kuo Cia bengis dan penuh kemarahan. Setelah berkata, Cu Kuo Cia pun menggores leher Bokyong Cen. Seketika juga leher wanita itu mengucurkan darah.

"Cu Kuo Cia, sebetulnya kau ingin apa?"

Cu Kuo Cia tertawa gelak.

"Aku ingin apa? Hm! Ouw Yang Hong, cepatlah kau berlutut di hadapanku!"

Ouw Yang Hong tahu, apabila membangkang, Bokyong Cen pasti mati. Karena itu, dia berlutut.

"Kau adalah suhengku, memang pantas aku berlutut di hadapanmu."

Cu Kuo Cia mendengus dingin.

"Hm! Kau pun harus memanggutkan kepala di hadapanku!"

Ouw Yang Hong menurut, dia segera me-manggut-mangguIkan.kepalanya di hadapan Cu Kuo Cia. Namun hal itu ternyata membuat Bokyong Cen amat gusar.

"Ouw Yang Hong, dirimu seperti orang yang tak berguna! Dia suruh apa harus kau turuti? Lebih baik kau membiarkannya membunuhku, kemudian harulah kau membunuhnya!"

Ouw Yang Hong tidak menyahut, melainkan memandang ke arah Cu Kuo Cia.

"Suheng, jangan mendengarnya! Dia agak sinting, jangan menghiraukannya!"

"Ouw Yang Hong, pantas suhu memilihmu sebagai pewarisnya, ternyata kau cukup pintar!"

Ouw Yang Hong tersenyum.

"Suheng, pikiranku sudah terbuka! Suhu telah mati, perkampungan Liu Yun Cun ini hanya tersisa kita berdua, mengapa aku harus membunuhmu? Kau lepaskan Bokyong Cen, lalu kau boleh pergi, dan selanjutnya kita mengambil jalan yang sama!"

Cu Kuo Cia berkata dengan dingin sekali.

"Kau akan mengambil jalan yang sama denganku? Kau akan membunuh kami semua, bagaimana mungkin kau akan melepaskanku?"

Ouw Yang Hong menyahut dengan sungguh-sungguh.

"Suheng, percayalah padaku! Kalau tidak, tiada gunanya kau membunuh kakak iparku, sebab aku pun akan membunuhmu ..."

Cu Kuo Cia manggut-manggut.

"Tidak salah! Kau memang akan membunuhku, namun sebelumnya aku pasti membunuh wanita ini, apakah kau tidak sayang padanya?"

Mendadak Ouw Yang Hong tertawa gelak, lalu memandang Bokyong Cen seraya berkata dalam hati.

Mengapa kau harus jadi orang baik?

Apakah kau tidak tahu sulit jadi orang baik di dunia ini?

Kau ingin jadi orang baik, sebaliknya aku malah ingin jadi penjahat besar.

"Cu Kuo Cia, kau telah keliru! Kalau aku berhasil menangkapmu, aku pasti akan menyiksamu hingga menderita sekali!"

Ujarnya kepada orang tua itu. Cu Kuo Cia menyahut dengan dingin.

"Ouw Yang Hong, kau ingin mengancamku? Kau kira aku tidak tahu kau amat menyayangi wanita ini? Kalau kau menghendakinya hidup, maka kau harus segera membunuh diri!"

Cu Kuo Cia langsung mengeluarkan sebungkus racun, kemudian ditaburkan ke bawah kaki Ouw Yang Hong.

"Asal kau sudah mampus, wanita ini pasti selamat, maka keluarga Ouw Yang pun bisa punya keturunan!"

Ouw Yang Hong sadar benar kalau kata-kata Cu Kuo Cia itu tidak boleh dipercaya.

Dia memandang Bokyong Cen.

Wanita itu tampak tidak merasa takut mati.

Wajahnya kelihatan tenang, tidak menyiratkan rasa takut.

Sejak sepasang matanya jadi buta, dia memang ingin cari mati.

Maka meskipun Cu Kuo Cia mengancamnya dia tak merasa takut.

Beda dengan Ouw Yang Hong.

Dia tidak ingin mati hanya demi seorang wanita.

Seandainya pun dirinya mati Bokyong Cen pasti dibunuh juga.

Ouw Yang Hong tersenyum, kemudian menatap Cu Kuo Cia dalam-dalam seraya berkata perlahan-lahan.

"Cu Kuo Cia, kau keliru. Mengapa kau harus terus mencengkeramnya bagaikan sebuah benda mustika? Aku hanya ingin memberi-tahukan, kalau kau membunuhnya, justru akan mengurangi bebanku. Tahukah kau? Dia adalah istri kakakku, dia adalah kakak iparku!"

"Kakak ipar? Kakak ipar yang tidur bersama paman, juga boleh bermesra-mesraan! Ouw Yang Hong, kau jangan membohongiku!"

Ejek Cu Kuo Cia.

"Tidak salah, dia memang kakak iparku. Namun urusan keluargaku, tidak perlu kubeberkan padamu! Hanya asal kau tahu saja, kalau kau berani membunuh kakak iparku, aku pun akan menghabisi nyawamu! Lagi pula apabila kau membunuhnya, masih banyak wanita lain yang cantik jelita. Apabila kau membunuhnya, jelas tiada urusan denganku!"

Ouw Yang Hong tertawa gelak, kemudian melanjutkan dengan suara dalam.

"Aku adalah Ouw Yang Hong, orang yang paling jahat di kolong langit! Maka kalau kau mengancamku, bukankah akan sia-sia?"

Mendengar itu, hati Cu Kuo Cia tampak jadi gugup.

Aku lihat Ouw Yang Hong bersama wanita ini, bahkan wanita ini sudah hamil.

Aku kira dia pasti mencintainya dan juga terhadap anak yang dalam kandungan wanita ini.

I Ih ...

ternyata dia malah tidak memperdulikan wanita ini Kalau begitu, apakah aku akan mati di tangan Ouw Yang Hong?

Ketika mendengar apa yang diucapkan Ouw Yang Hong, hati Bokyong Cen jadi panas bukan main.

Mereka berdua sudah menjalin hubungan suami istri, bahkan kini Bokyong Cen sudah hamil.

Tentu saja ucapan Ouw Yang Hong tadi amat menyakitkannya.

Sementara Cu Kuo Cia mulai panik.

Ingin melarikan diri, namun dia tahu kepandaian Ouw Yang Hong amat tinggi.

Tentu sulit baginya untuk melarikan diri.

Tapi untuk melepaskan Bokyong Cen, rasanya juga tidak rela.

"Ouw Yang Hong!"

Bentak Cu Kuo Cia kemudian.

"Wanita ini cantik jelita. Dia sudah hamil pula. Apa kau tidak takut, keluarga Ouw Yang akan putus turunan?"

Bab 27 Ouw Yang Hong malah tertawa mendengar ancaman itu.

"Cu Kuo Cia! Kalau kau membunuhnya, aku pun akan menghabismu! Namun dengan suatu cara yang paling sadis! Kau pernah mengirim daging Cha Ceh Ih, kau pun pernah meracuni orang! Aku tidak akan melakukan itu terhadapmu, melainkan dengan suatu cara ..."

Ouw Yang Hong tertawa dingin sambil melanjutkannya.

"Aku akan mengambil semacam ulat untuk menyantap daging dan menghisap darahmu, itu akan membuatmu mati perlahan-lahan dengan tersiksa sekali!"

Bukan main takutnya Cu Kuo Cia.

Dia ingin segera melarikan diri, tapi khawatir ilmu ginkang-nya tidak dapat menyamai Ouw Yang Hong.

Sementara itu Bokyong Cen terus berpikir.

Ouw Yang Hong pernah mencetuskan kata-kata yang manis dan mesra terhadapnya, apakah itu cuma perkataan bohong belaka?

Kalau begitu, apa gunanya hidup?

Lebih baik mati, habis perkara!

Ouw Yang Hong terus memperhatikan perubahan air muka Cu Kuo Cia.

Ketika menyaksikan air mukanya tampak panik, dia merasa gembira.

Mungkin apabila ditambah beberapa patah kata lagi, dia pasti akan melepaskan Bokyong Cen.

Ouw Yang Hong cuma memperhatikan Cu Kuo Cia, namun sama sekali tidak memperhatikan air muka Bokyong Cen yang terus berubah.

"Cu Kuo Cia, kukatakan sejujurnya, aku bukan orang yang sudah tua hingga tidak bisa punya anak lagi. Di daerah See Hek ini banyak terdapat wanita cantik, kalau aku mau, mereka pasti kemari menemaniku!"

Ouw Yang Hong berkata dengan wajah berseri-seri, kemudian tertawa gelak. Tentu saja hati Bokyong Cen semakin teriris. Rasa duka dan marahnya membuatnya terisak-isak.

"Ouw Yang Hong! Ouw Yang Hong! Kau ... kau sungguh tak berperasaan ..."

Ujar wanita itu, menangis.

Hati Cu Kuo Cia merasa tersentuh mendengar ucapan Bokyong Cen.

Namun diam-diam dia jadi mengetahui siasat Ouw Yang Hong, sehingga yang semula dia sudah berniat melepas Bokyong Cen, akhirnya dibatalkan.

Cu Kuo Cia tertawa terkekeh.

"Ouw Yang Hong, lebih baik kau bunuh aku saja! Asal kau melancarkan sebuah pukulan, nyawaku pasti melayang! Tapi kau pun akan kehitangan anak dan wanita kesayanganmu ini, bahkan kau pun tidak punya musuh lagi, damai dan aman bagimu! Ya, kan?"

Ujar Cu Kuo Cia sambil terus tertawa mengekeh.

Tadi Ouw Yang Hong mengatakan begitu, sebetulnya hanya sebagai suatu siasat, namun Bokyong Cen menganggapnya bersungguh-sungguh.

Hal itu membuat Ouw Yang Hong berkeluh dalam hati.

Bokyong Cen!

Bokyong Cen!

Mengapa kau begitu bodoh?

Aaakh ...

"Ouw Yang Hong, kau mau segera membunuh diri ataukah ingin menyaksikan kematian wanita ini bersama anak di dalam kandungannya?"

Ouw Yang Hong berdiri diam di tempat, tak bergerak sama sekali. Sementara Bokyong Cen tertawa sedih.

"Cu Kuo Cia, percuma kau berkata begitu, kau kira Ouw Yang Hong akan berkorban demi diriku? Kau jangan bermimpi itu!"

Ujarnya pelan. Cu Kuo Cia tertawa gelak sambil memandang Ouw Yang Hong.

"Kusediakan sebungkus racun, kau harus makan racun itu!"

Ouw Yang Hong tetap berdiri tak bergerak di tempat.

Mana mungkin Ouw Yang Hong mengambil racun itu, sedang dirinya tak ingin mati.

Bokyong Cen tidak mendengar suara apa pun.

Hal itu .semakin membuatnya kecewa, bahkan merasa putus asa pula.

Ouw Yang Hong tidak akan berkorban demi diriku, percuma aku hidup ...

Pikir wanita itu, kesal dan marah.

Saat Bokyong Cen berkata dalam hati, mendadak terdengar suara di belakang Cu Kuo Cia.

"Cu Kuo Cia, ajalmu sudah tiba!"

Terdengar suara bentakan diiringi dengan munculnya sesosok bayangan ke arah Cu Kuo Cia. Orang itu mendorongnya dengan sekuat tenaga, sekaligus mengancam tiga buah jalan darah di punggung Cu Kuo Cia.

"Cu Kuo Cia, cepat lepaskan dia!"

Hentak orang itu lagi dengan suara keras.

Bokyong Cen sedang kecewa dan putus asa, ketika mendengar suara itu.

Seketika muncul rasa tenang, sebab dia tahu siapa orang itu.

Ya, sosok bayangan itu Siangkoan Wie, orang yang pernah menolongnya.

Akan tetapi, mana mungkin Cu Kuo Cia begitu gampang melepaskan Bokyong Cen.

"Kau punya kepandaian apa, keluarkan saja! Aku tidak akan mati sia-sia di tanganmu!"

Sahut Cu Kuo Cia tanpa rasa takut sedikit pun. Orang itu tertawa.

"Cu Kuo Cia, kau tidak mau melepaskannya?"

Mendadak terdengar suara 'Plak!' Ternyata orang itu telah melancarkan sebuah pukulan ke arah punggung Cu Kuo Cia hingga terpental.

Bokyong Cen pun terlepas dari tangannya.

Ouw Yang Hong segera maju, sekaligus menarik Bokyong Cen ke belakangnya.

Setelah itu, dia pun menghentakkan sepasang tangannya ke depan, mengarah pada Cu Kuo Cia.

Dorongan itu mengandung tenaga yang amat dahsyat, membuat Cu Kuo Cia menjerit menyayat hati.

Dia roboh dan nyawanya melayang seketika.

Ouw Yang Hong menoleh ke belakang, memandang orang itu.

"Tuan siapa . ..?"

Siangkoan Wie cuma tersenyum, tidak menghiraukan Ouw Yang Hong, melainkan berkata pada Bokyong Cen.

"Semoga lilin-lilin yang disukai Nona selalu me-nyala, membuat hati Nona terang benderang!"

Usai berkata demikian, Siangkoan Wie pun berjalan pergi, sama sekali tidak menoleh lagi.

Ketika mengetahui badan Bokyong Cen kian hari kian bertambah berat, Ouw Yang Hong amat berhati-hati sekali.

Dia masih ingat akan pesan gurunya, harus membunuh para suheng, susiok, dan semua penghuni perkampungan Liu Yun Cun.

Kini para suheng dan susiok telah mati semua, begitu pula para penghuni perkampungan Liu Yun Cun.

Sudah banyak yang mati dan kabur entah ke mana.

Legalah hatinya, karena pesan mendiang gurunya telah dilaksanakannya dengan baik.

Saat ini dia belum mulai berlatih ilmu Ha Mo Kang, sebab Bokyong Cen dalam keadaan hamil.

Dia harus menjaganya dengan cermat.

Setelah Bokyong melahirkan, kelak dia akan mulai berlatih lagi.

Apabila ilmu Ha Mo Kangnya sudah sempurna, lima tahun kemudian dia pasti akan ke Gunung Hwa San, untuk mengadu kepandaian dengan Ong Tiong Yang, Toan Hong Ya, Ouw Yok Su, dan Ang Cit Kong.

Dia berambisi sekali untuk memperoleh kitab pusaka Kiu Im Cin Keng.

Akan tetapi, dia hanya mahir ilmu tangan kosong, karena belum pernah belajar ilmu pedang atau ilmu tongkat dan lain sebagainya.

Kalau dia bisa menggunakan tongkat ular kakaknya, tentunya amat membantu jika kelak berangkat ke Gunung Hwa San.

Oleh karena itu, dia mengambil keputusan untuk mulai berlatih kungfunya di ruang latihan.

Keluar dari ruang latihan, dia pasti menengok Bokyong Cen.

Sejak kejadian dirinya diancam oleh Cu Kuo Cia, juga mendengar apa yang diucapkan Ouw Yang Hong di waktu itu, hati Bokyong Cen jadi tawar.

Jarang bicara dengan Ouw Yang Hong.

Entah sudah berapa kali Ouw Yang Hong men-jelaskan, bahwa ucapannya itu hanya suatu siasat untuk menghadapi Cu Kuo Cia.

Namun Bokyong Cen cuma tersenyum dingin.

Kali ini seperti biasa, keluar dari ruang latihan, Ouw Yang Hong pergi menengok Bokyong Cen.

Tetapi Bokyong Cen tetap tidak mau bersuara.

"Kau pernah bilang, terlampau berduka dan melihat darah akan mempengaruhi anak di dalam kandungan. Karena itu, kau harus menjaga dirimu baik-baik!"

Bokyong Cen menyahut dengan dingin.

"Kau adalah Ouw Yang Hong, bersama wanita lain sudah pasti akan punya anak, lalu mengapa kau masih menaruh perhatian pada anak di dalam kandunganku?"

Ouw Yang Hong tahu bahwa Bokyong Cen masih marah atas ucapannya tempo hari.

Maka dia tidak banyak bicara lagi, meninggalkan kamar itu perlahan-lahan.

Dia berdiri di halaman menatap angkasa dengan pikiran menerawang.

Sebenarnya Ouw Yang Hong adalah seorang sastrawan.

Namun, tanpa sengaja dia memperoleh ilmu Ha Mo Kang, Hong Hoang Lak, dan sekaligus memperoleh tenaga lwee kang dari Cen Tok Hang gurunya, sehingga membuat dirinya jadi pesilat tangguh.

Akhirnya dia bahkan berhasil membunuh Si Kerdil Pek Tho San San Kun, hingga jadi majikan perkampungan Pek Tho San Cung.

Ketika Ouw Yang Hong sedang berdiri termenung di halaman, mendadak Cong Koan (Kepala Pengurus Rumah Tangga) menghampirinya.

Namun orang itu tak berani bersuara, hanya berdiri di belakang Ouw Yang Hong.

"Apa ada urusan yang harus kau laporkan?"

Tanya Ouw Yang Hong. Cong Koan itu memberi hormat.

"Sejak Majikan datang di perkampungan Pek Tho San Cung, para penghuni perkampungan ini amat menghormati Majikan, juga amat kagum. Semua urusan besar dan urusan kecil telah hamba selesaikan dengan baik. Namun, ada satu urusan yang hamba tidak tahu harus bagaimana, mohon Majikan beri petunjuk!"

"Mengenai urusan apa?"

Tanya Ouw Yang Hong ingin tahu.

"Majikan lama adalah Jen It Thian, kesukaannya mengumpulkan berbagai macam benda mustika, perhiasan dan wanita cantik. Kini Jen It Thian sudah mati, sedangkan Majikan amat sibuk. Apakah sekarang Majikan ingin pergi melihat-lihat benda mustika, perhiasan dan para wanita cantik itu?"

Ouw Yang Hong berpikir sejenak.

"Baik, kau bawa aku ke sana melihat-lihat!"

Sahutnya kemudian.

Cong Koan membawa lentera, berjalan ke dalam melalui beberapa ruang dan koridor.

Ouw Yang Hong mengikutinya dari belakang.

Cong Koan itu mengajak majikannya melalui tujuh buah pintu dimana setiap pintu pasti memiliki jebakan.

Setelah itu, barulah sampai di sebuah rumah yang berbentuk aneh.

Cong Koan mengajak Ouw Yang Hong ke dalam.

Rumah tersebut tiada berjendela, namun dinding dan lantainya dibuat dari semacam batu pualam, memancarkan cahaya yang bergemerlapan.

Sebuah bangunan yang sangat indah.

"Di sini terdapat dua belas benda mustika kolong langit, apakah Majikan ingin menyaksikannya?"

"Baik, aku ingin menyaksikannya!"

Ouw Yang Hong mengangguk. Cong Koan manggut-manggut. Lalu mendadak badannya mencelat ke atas. Dia duduk di atas sebuah batu yang menonjol di dinding.

"Majikan juga harus duduk di atas batu itu!"

Ouw Yang Hong segera mencelat ke atas dengan ringan, dia duduk di atas batu yang ditunjuk Cong Koan.

Mendadak terdengar suara yang hiruk-pikuk.

Ternyata kedua buah batu itu berbalik, membuat Ouw Yang Hong dan Cong Koan itu masuk ke dalam.

Begitu berada di dalam, Ouw Yang Hong langsung terbelalak.

Ternyata ruang itu berbeda dengan ruang tadi yang berbentuk segi empat, melainkan berbentuk bulat.

Di sana terdapat dua belas buah kotak yang amat indah.

"Majikan, kotak itu berisi sebuah mahkota dari Dinasti Tang!"

Ouw Yang Hong tercengang, bagaimana mahkota Dinasti Tang berada di dalam ruang ini? "Apakah majikan ingin melihat?"

Cong Koan itu menawarkan kepada Ouw Yang Hong.

Ouw Yang Hong mengangguk.

Cong Koan mendekati kotak itu, namun dengan langkah-langkah yang tertentu, lalu mengambil kotak itu dan dibawa ke hadapan Ouw Yang Hong.

Mata Ouw Yang Hong jadi silau ketika Cong Koan membuka kotak itu, karena di dalamnya berisi sebuah mahkota yang amat indah, terbuat dari giok dan benang emas.

Bukan main kagumnya Ouw Yang Hong akan keindahan mahkota itu.

"Selain mahkota ini, masih terdapat sebelas macam benda mustika kolong langit, yaitu Han Giok Seng (Bintang Giok Dingin), Kim Giok Pian (Sabuk Emas dan Giok), Li Beng Beng Cu (Mutiara Yang Memancarkan Cahaya Terang), Pit Tok Sui Hwe Siang Tam (Sepasang Batu Air dan Api Pemunah Racun), Yun Ong Cah (Payung Raja Awan) dan lain sebagainya!"

Setelah memberitahukan, Cong Koan itu pun mengambil semua kotak tersebut, kemudian dibukanya satu persatu.

Ouw Yang Hong menyaksikan semua benda mustika itu dengan mata terbelalak dan mulut berdecak-decak kagum.

"Bukan main ..."

Gumamnya. Cong Koan tersenyum sambil menunjuk sebuah pintu yang di atasnya terdapat tulisan 'Rumah Emas'.

"Rumah itu menyimpan kaum wanita cantik, apakah majikan mau ke sana melihat-lihat?"

Ouw Yang Hong mengangguk.

"Baik, bawa aku ke sana melihat-lihat!"

Cong Koan menekan sebuah tombol maka pintu itu langsung terbuka.

Segera diajaknya Ouw Yang Hong masuk ke dalam.

Begitu sampai di dalam, Ouw Yang Hong jadi melongo.

Ternyata di dalam rumah itu terdapat begitu banyak wanita cantik.

Semua memandang Ouw Yang Hong sambil ter-senyum-senyum.

Tampak beberapa wanita setengah tua langsung menghampiri mereka berdua dengan wajah berseri-seri, lalu memberi hormat.

"Selamat datang Cong Koan ..."

Cong Koan tersenyum dan mengangguk.

"Ini adalah majikan baru perkampungan Pek Tho San Cung,"

Ujarnya memberitahukan. Beberapa wanita setengah tua itu segera memberi hormat lagi.

"Kalian adalah pengurus rumah emas ini?"

Tanyanya kepada para wanita itu.

"Ya!"

Sahut ketiga wanita itu bersamaan. Kemudian salah seorang wanita setengah tua itu menjelaskan sambil tersenyum-senyum.

"Rumah emas ini terdiri dari tiga ruangan, yaitu Ruangan Manusia, Ruangan Bumi, dan Ruangan Langit. Di setiap ruangan itu terdapat sembilan wanita cantik jelita. Ruang Manusia terdiri dari wanita muda cantik-cantik, yang jarang terdapat di permukaan bumi ini. Ruangan Bumi terdapat wanita cantik yang amat genit, lelaki mana yang melihat mereka, pasti tidak tahan. Ruang Langit berisi wanita-wanita yang amat cantik lembut, jarang terdapat di kolong langit!"

Cong Koan itu membentak.

"Sudahlah! Jangan terus menyerocos, cepat bawa majikan melihat-lihat di Ruang Manusia!"

Ketiga wanita setengah tua itu mengangguk, lalu mengajak Ouw Yang Hong memasuki sebuah ruangan, yaitu Ruangan Manusia.

Sampai di dalam, Ouw Yang Hong pun terbelalak.

Ternyata ruangan itu dilapisi dengan kaca.

Terlihat sembilan anak gadis berada di dalam, ada yang sedang tidur, menyisir, dan lain sebagainya.

"Apa yang sedap dipandang para gadis itu?"

Wanita setengah tua menyahut sambil tersenyum.

"Majikan lama amat senang memandang mereka, dia pasti tertawa gembira ..,"

Ouw Yang Hong mengerutkan kening.

"Apa yang sedap dipandang dari para gadis itu?"

Wanita setengah tua itu tersenyum lagi.

"Pokoknya sebentar lagi Majikan akan me-ngetahuinya!"

Mendadak wanita setengah tua itu berseru.

"Pelayan, cepat kemari!"

Seketika juga muncul seorang gadis pelayan kecil, membawa sebuah nampan yang berisi sembilan buah cangkir dan sebuah teko.

"Bawa ke dalam untuk mereka minum!"

Perintah wanita setengah tua itu.

Gadis pelayan kecil mengangguk, lalu berjalan ke dalam melalui sebuah pintu kaca.

Nampan itu ditaruh ke atas sebuah meja.

Para anak gadis yang berada di situ segera menuang minuman dari teko ke dalam cangkir.

Mereka lalu mulai minum.

Wanita setengah tua berkata sambil tertawa ringan.

"Sebentar lagi Majikan akan menyaksikan suatu pertunjukan istimewa dari para anak gadis itu!"

Ouw Yang Hong memperhatikan para anak .

gadis itu.

Tak seberapa lama kemudian, tampak para anak gadis itu merintih-rintih seakan menginginkan sesuatu.

Mata mereka merem-melek diiringi suara-suara mendesah lirih.

Ouw Yang Hong tampak memperhatikan mereka.

"Apa yang mereka minum?"

Tanya Ouw Yang Hong kepada wanita setengah tua di sampingnya.

"Itu adalah arak majikan lama, disebut Cun Sim Fou Tong (Kalbu Tergetar-getar)!"

Ouw Yang Hong mengerutkan kening. Dia tahu itu adalah arak perangsang. Wanita setengah tua itu meliriknya, kemudian tersenyum.

"Majikan lama hanya bisa memandang, apakah Tuan Besar ... juga hanya bisa memandang saja?"

Sesungguhnya ketika menyaksikan para anak gadis yang sudah terangsang itu, darah Ouw Yang Hong mulai bergejolak.

Tapi Iwee kangnya amat tinggi, hingga mampu menekan gejolak itu.

Ouw Yang Hong menyahut perlahan-lahan.

"Baik, bawa aku ke dalam melihat-lihat Ruang Bumi saja!"

Wanita setengah tua itu tertawa ringan.

"Tuan Besar dapat mengendalikan diri, itu sungguh hebat ..."

Wanita setengah tua lalu membawa Ouw Yang Hong menuju ke Ruang Bumi. Sampai di ruangan tersebut, Ouw Yang Hong bertanya.

"Apakah para anak gadis dalam Ruang Bumi ini juga harus minum arak Cun Sim Fou Tong?"

"Tidak usah, anak-anak di ruangan ini tidak usah minum arak itu. Tuan Besar akan tahu setelah menyaksikannya!"

Ouw Yang Hong manggut-manggut, lalu menengok ke sana ke mari.

Di dalam ruangan ini terdapat sembilan buah kamar yang pintu masing-masing tertulis nama para penghuni.

Semua kamar juga dibuat dari kaca, maka dapat dipandang jelas dari luar.

Ketika melihat seorang wanita muda yang di dalam kamar kaca, Ouw Yang Hong sudah tahu wanita muda itu amat genit.

"Siapa dia?"

Tanyanya.

"Tuan Besar belum tahu? Dia adalah wanita pelacur yang amat terkenal di daerah Kang Lam, entah sudah berapa banyak kaum lelaki mati karena wanita pelacur itu!"

Ouw Yang Hong sempat heran sebab wanita itu masih muda sekali, namun sudah begitu hebat. Ouw Yang Hong memasuki kamar itu. Ketika dia baru mau membuka mulut, wanita muda itu sudah mendahuluinya.

"Apa hubunganmu dengan makluk aneh itu? Kok dia memperbolehkanmu kemari memandangku?"

"Aku adalah majikan baru perkampungan ini."

Wanita muda itu terbelalak seakan kaget dan tak percaya.

"Kau bilang apa? Dia ... dia sudah mati?"

Ouw Yang Hong mengangguk.

"Tidak salah, dia memang sudah mati."

Mendadak wanita muda itu mengucurkan air mata, namun kemudian tertawa gelak. Ouw Yang Hong terperangah melihat perubahan sikap wanita itu.

"Mengapa kau menangis dan tertawa?"

"Dia sudah mati. Di kolong langit berarti akan berkurang seorang yang mabuk kepayang! Kau tidak tahu itu?"

Ouw Yang Hong diam saja.

"Tahukah kau? Dia adalah Kepala Udang!"

Ouw Yang Hong tertawa dalam hati mendengarnya.

"Apa artinya Kepala Udang?"

Wanita muda itu tertawa seraya menunjuk Ouw Yang Hong.

"Kau kemari, aku ingin lihat apakah kau juga seperti Kepala Udang? Setelah aku melihatmu, aku pasti tahu!"

Wanita muda itu tertawa cekikikan. Kamar lain yang tembus pandang itu dihuni seorang wanita kurus dan seorang wanita gemuk. Kedua wanita itu pun ikut tertawa cekikikan.

"Majikan baru itu kepala udang atau bukan, harus kucoba dulu baru bisa mengetahuinya!"

Wanita kurus menyahut.

"Kau begitu gemuk, bagaimana akan tahu setelah mencobanya?"

Wanita gemuk tertawa.

"He he! Pokoknya beres ..."

Sahutnya sambil terus tertawa-tawa. Wanita kurus tertawa cekikikan.

"Hi hi hi! Karena dia majikan baru, maka kau ingin memikatnya?"

Ouw Yang Hong menggeleng-geleng ketika mendengar pembicaraan mereka.

"Tuan Besar, cepatlah kemari!"

Seru wanita gemuk mendadak.

Ouw Yang Hong melangkah memasuki kamar itu.

Wanita gemuk tersebut terus memperhatikannya, kemudian memeriksa sekujur badan Ouw Yang Hong.

Sikapnya seperti seorang tabib sedang memeriksa pasiennya.

Berselang sesaat, wanita gemuk itu tertawa seraya berseru-seru.

"Kalian semua boleh bergembira, sebab majikan baru kita ini bukan Kepala Udang!"

Semua wanita yang berada di situ pun langsung bersorak-sorai penuh kegembiraan.

"Tuan Besar, bolehkah kami tahu namamu? Apakah kami setiap hari harus memanggilmu tuan besar?"

Sela salah seorang wanita itu. Salah seorang wanita lagi bertanya.

"Tuan Besar, kau suka wanita memanggilmu apa? Dan kau suka wanita yang bagaimana?"

Wanita-wanita itu terus saling menyerocos. Hanya seorang gadis yang tidak ikut menyerocos, gadis itu bernama Sui Cing Cing. Ouw Yang Hong tampaknya tertarik sikap diam wanita itu.

"Mengapa kau tidak ikut bicara?"

"Mengapa aku harus ikut bicara?"

Jawab Sui Cing Cing, balik bertanya. Ouw Yang Hong tersenyum.

"Kalau begitu, kau ingin apa?"

Sui Cing Cing tersenyum manis seraya memandang Ouw Yang Hong.

"Kau adalah majikan baru perkampungan ini?"

Tanyanya, lembut. Ouw Yang Hong manggut-manggut.

"Betul!"

"Katakanlah siapa dirimu? Pendekar dalam rimba persilatan, berasal dari golongan putih atau golongan hitam? Dan apakah kau seorang pesilat tangguh di dunia persilatan?"

"Bagus sekali pertanyaanmu. Aku merupakan orang yang paling jahat di kolong langit, Si Racun Tua Ouw Yang Hong!"

Jawab Ouw Yang Hong menjelaskan. Sui Cing Cing tertawa.

"Kau mau apakan kami? Dilepaskan atau tetap tinggal di sini menye-nangkanmu? Ataukah . .. seperti majikan lama itu, setiap hari terus memandang kami?"

Ouw Yang Hong menyahut, namun Sui Cing Cing sudah keburu tertawa, sehingga membuat Ouw Yang Hong tercengang.

"Mengapa kau tertawa?"

"Jen It Thian itu setiap hari datang memandang kami. Kami semua sudah bersepakat, akan membuatnya mati dengan cara kami! Kau percaya itu?"

Ouw Yang Hong menggelengkan kepala.

"Aku tidak percaya!"

Sui Cing Cing tertawa ringan.

"Kau harus percaya. Kalau kau tidak percaya, silakan coba!"

"Cara bagaimana aku mencobanya?"

Tanya Ouw Yang Hong.

Sui Cing Cing menatapnya, begitu pula wanita-wanita lain, semuanya juga menatap Ouw Yang Hong.

Kini Ouw Yang Hong agak percaya bahwa wanita-wanita itu dapat membuat kaum lelaki mati.

Wanita setengah tua yang membawa Ouw Yang Hong ke dalam juga menatapnya.

"Tuan Besar, mereka bersedia dicoba. Apakah Tuan Besar tidak mau mencobanya di dalam Istana Semi?"

Ouw Yang Hong mengangguk.

"Baiklah!"

Meski Ouw Yang Hong tidak tahu apa itu Istana Semi, tidak menghiraukan itu.

Sedangkan wanita setengah tua itu membuka sebuah pintu.

Ternyata di dalam pintu itu terdapat sebuah ruang bawah tanah yang amat indah.

Terlihat pula sehuah ranjang yang amat besar, cukup untuk tidur dua-tiga puluh orang.

Kesembilan wanita itu mendekati ranjang besar, kemudian duduk di pinggir-pinggirnya.

Mereka terus melirik Ouw Yang Hong dengan genit dan penuh gairah.

Darah Ouw Yang Hong pun mulai bergolak lagi.

Sui Cing Cing bersandar pada seorang wanita.

Dia berkata pada Ouw Yang Hong dengan perlahan-lahan.

"Tuan Besar Ouw Yang, kami adalah kaum wanita. Kalau kaum lelaki dan kaum wanita saling mendekat, itu baru nikmat. Tapi tahukah kau, Jen It Thian itu tidak bisa melakukan apa-apa!"

Ouw Yang Hong manggut-manggut, kemudian menengok wanita-wanita lain, ternyata mereka sedang bercumbu-cumbuan dengan mesra.

Hal itu membuat hati Ouw Yang Hong berdebar-debar.

Sui Cing Cing berkata sambil tersenyum.

"Tuan Besar, mengapa kau tidak mau bersama kami? Apakah kau orang jahat di kolong langit? Tahukah kau, apa yang menjadi kepala orang jahat?"

"Penjahat berhati jalang!"

Sahut Ouw Yang Hong. Sui Cing Cing mengangguk.

"Betul! Tapi tahukah kau, apa yang disebut jalang?"

Ouw Yang Hong menggeleng.

"Aku tidak tahu!"

Sui Cing Cing tersenyum, sambil mendekati Ouw Yang Hong, lalu memegang tangannya.

"Tuan Besar Ouw Yang, kau harus mencobanya ..."

Sementara itu Bokyong Cen sedang menunggu kelahiran anaknya.

Hatinya kini betul-betul telah hampa, dia tidak ingin mati sebelum anaknya lahir.

Namun dia sudah mengambil keputusan untuk mati, maka tidak mau bicara dengan Ouw Yang Hong.

Mendadak dia mendengar suara Yang Khim (Semacam Alat Musik Cina Kuno), yang membuat hatinya tersentak.

Segera ia berkata pada pelayannya.

"Ada suara Yang Khim, kalian mendengar suara Yang Khim itu?"

Pelayan menggelengkan kepala. Bokyong Cen mengerutkan kening.

"Kalian tidak mendengar?"

Pelayan menggeleng lagi.

Berselang beberapa saat, suara Yang Khim itu hilang dari pendengaran Bokyong Cen.

Dia menghela nafas sambil menggeleng-gelengkan kepala, kemudian mengusap perutnya seraya bergumam.

"Oh, anakku! Kau lahir di keluarga Ouw Yang. Tidak tahu kelak kau akan jadi apa, semoga ibumu di alam baka nanti dapat melindungimu!"

Seusai bergumam, Bokyong Cen lalu bertanya pada salah seorang pelayannya yang berdiri di situ.

"Kalian tahu tuan besar pergi berbuat apa?"

Salah seorang pelayan menyahut.

"Kami dengar, di tempat itu tersimpan berbagai macam benda mustika dan wanita cantik, mungkin tuan besar ke sana melihat-lihat!"

Bokyong Cen manggut-manggut.

"Aku sudah tahu, kalian boleh pergi beristirahat!"

Setelah kedua pelayan pergi, Bokyong Cen duduk tercenung dengan mata bersimbah air.

Dia tahu, sesudah Ouw Yang Hong pergi ke tempat itu, tentunya akan terpikat oleh wanita-wanita cantik di sana, tidak akan kemari menengoknya lagi.

Itu membuat air matanya meleleh deras ...

Sementara itu, Ouw Yang Hong merasa puas sekali, karena dikerumuni wanita-wanita cantik.

Ouw Yang Hong merupakan lelaki normal.

Tentu akan membutuhkan kaum wanita menemaninya.

Sementara wanita-wanita cantik itu dapat memuaskannya, membuatnya merasa senang, gembira dan nyaman.

Sui Cing Cing tiduran di kakinya.

Anak gadis itu memang luar biasa, dapat menghangatkan hati Ouw Yang Hong dengan perkataan-perkataan yang menyentuh hati.

"Kau gembira tidak?"

Ouw Yang Hong tidak menyahut. Dia bangkit berdiri perlahan-lahan sambil memandangi para wanita cantik.

"Kalian katakan, apakah aku ini merupakan Kepala Udang?"

Para wanita cantik itu langsung memeluknya erat-erat, wajah mereka tampak berseri-seri.

"Kalian tidak usah tinggal di sini lagi, tinggal bersama saja! Kalian setuju?"

Para wanita cantik itu bersorak girang sambil manggut-manggut.

"Kalian dengar baik-baik, kalau tak ada perintah dariku, kalian jangan melakukan apa-apa! Siapa berani membangkang, pasti kuhukum mati!"

Para wanita cantik itu mengangguk, semua setuju peringatan Ouw Yang Hong itu.

"Aku memang menyukai wanita cantik, juga menyukai warna putih. Maka mulai sekarang, kalian tidak boleh mengenakan pakaian warna lain, harus mengenakan pakaian warna putih, itu agar aku lebih menyukai kalian."

Sui Cing Cing berkata sambil tersenyum.

"Tuan Besar sungguh luar biasa, dapat membuat kami tunduk padamu. Pokoknya mulai sekarang, Tuan Besar bilang apa, kami pasti menurut."

Sui Cing Cing dan wanita cantik lainnya, segera pergi bersalin pakaian dengan wajah beseri-seri penuh kegembiraan.

Ouw Yang Hong duduk di ranjang besar itu termenung.

Tak lama kemudian terdengar suara Sui Cing Cing.

"Tuan Besar, kami masuk! Silakan melihat kami yang telah mengenakan pakaian putih!"

Ouw Yang Hong manggut-manggut.

"Masuklah!"

Sui Cing Cing dan wanita cantik lain berjalan ke dalam, mereka berjalan dengan lemah gemulai. Setelah mengenakan pakaian putih, mereka kelihatan lebih cantik. Sui Cing Cing berkata dengan lembut.

"Tuan Besar, kami sembilan orang sudah mengambil ke-putusan untuk melayanimu selama-lamanya ..."

Ouw Yang Hong manggut-manggut, kemudian berkata pada Cong Koan.

"Sudah cukup aku melihat wanita-wanita ini, kau kumpulkan mereka semua, agar mereka dapat melayaniku secara baik. Kalau mereka bisa menyenangkan hatiku, sudah pasti akan memperoleh manfaatnya. Tapi apabila mereka tidak menurut kepadaku, aku pasti membunuh mereka!"

Cong Koan mengangguk.

"Beritahukan pada mereka, kalau mereka setuju, kau boleh mengatur suatu tempat yang lebih layak untuk mereka dan sewaktu-waktu aku akan berkunjung ke sana."

Cong Koan mengangguk, kemudian memberi hormat dan berjalan pergi meninggalkan tempat itu.

Sejak Ouw Yang Hong menjadi majikan per-kampungan Pek Tho San Cung, kian hari kian bertambah sewenang-wenang, sehingga membuat para penghuni perkampungan itu amat segan dan takut padanya.

Kini Ouw Yang Hong sudah tidak bersama Bokyong Cen, dan Bbkyong Cen pun tidak memper-dulikannya, hanya berharap cepat-cepat melahirkan anaknya.

Pada suatu hari Ouw Yang Hong mendekati Bokyong Cen.

Ternyata Ouw Yang Hong juga berharap anaknya cepat-cepat lahir.

"Kakak ipar, bagaimana keadaanmu? Baik-baik saja?"

Tanyanya. Sesungguhnya Bokyong Cen tidak mau meng-gubrisnya, namun merasa tidak enak, maka segera menyahut.

"Terimakasih atas perhatianmu, aku baik-baik saja."

"Beberapa hari ini aku amat sibuk berlatih, maka tidak datang menengokmu. Aku harap kau tidak mempersalahkanku!"

Kata Ouw Yang Hong sambil memandangnya. Mendadak Bokyong Cen mengucurkan air mata.

"Ouw Yang Hong, mengapa kau membohongi-ku? Mengapa kau kemari membohongiku? Kau pergi ke tempat para wanita cantik itu! Ya, kan?"

Katanya dengan sengit. Ouw Yang Hong tidak menyahut.

"Kau sungguh gembira kan? Aku tahu kau sudah tidak memperdulikan mati hidupku, kau pun tidak memperdulikan anak yang ada di dalam kandunganku! Kuberitahukan padamu, aku masih memandang muka Ouw Yang Coan dan mengingat pula hubungan kita, maka aku akan melahirkan anak ini. Setelah itu, aku akan cari mati, kau tidak perlu berpura-pura menaruh perhatian padaku. Ouw Yang Hong tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya tampak keningnya berkerut-kerut.

"Kau bersama wanita-wanita itu, bukan?"

Tanya Bokyong Cen. Mendengar pertanyaan Bokyong Cen itu, Ouw Yang Hong makin merasa sebal kepadanya.

"Tidak salah, aku memang bersama mereka!"

Sahutnya. Bokyong Cen manggut-manggut.

"Ouw Yang Hong, di sana ada dua puluh tujuh wanita cantik, tentunya kau merasa puas sekali, kan?"

Katanya.

"Betul! Aku adalah seorang lelaki yang membutuhkan wanita. Karena kau tidak bisa bersamaku, maka aku bersama mereka, itu wajar, kan?"

Sahut Ouw Yang Hong.

"Memang wajar! Kini kau adalah majikan per-kampungan ini, siapa berani membangkang perintahmu? Saat ini kau merupakan orang yang beruntung di kolong langit ..."

Kata Bokyong Cen dengan dingin.

Bokyong Cen tidak mampu melanjutkan ucapannya karena tidak tahan menahan rasa kesal dan duka dalam hatinya.

Ouw Yang Hong menatapnya sambil tertawa dingin.

Dulu dia amat mencintai Bokyong Cen, namun kini cintanya sudah sirna entah ke mana.

Semua itu memang sudah merupakan nasib Bokyong Cen.

Seandainya pada waktu itu dia mau mendengar penjelasan Ouw Yang Hong, tentunya sikap Ouw Yang Hong tidak akan berubah menjadi seperti itu.

"Ouw Yang Hong, lebih baik kau jangan kemari lagi! Kalau aku sudah melahirkan, kau pasti ku-beritahu,"

Kata Bokyong Cen. Ouw Yang Hong tampak agak tertegun. Dia menatap wanita itu dengan kening berkerut-kerut, namun tidak berkata sepatah pun.

"Ketika itu aku telah salah melihat, aku telah salah melihat ..."

Kata Bokyong Cen lagi.

Akan tetapi kata-katanya terputus, karena tidak kuat menahan rasa sedih.

Dia terisak-isak dan air matanya mengucur deras.

Sedangkan Ouw Yang Hong jadi serba salah.

Berselang sesaat barulah dia membuka mulut.

"Kakak ipar, aku kemari karena rindu padamu. Kau jangan bersikap demikian padaku!"

"Ouw Yang Hong, sudah kukatakan, kau tidak perlu berkata apa pun lagi di hadapanku. Kalau bayi ini sudah lahir, pasti kuserahkan padamu, karena memang darah dagingmu. Setelah itu, aku akan mati di hadapanmu,"

Sahut Bokyong Cen. Mendadak Ouw Yang Hong teringat sesuatu.

"Kakak ipar, aku memperoleh sebuah Yang Khim di dalam perkampungan ini. Aku ingin memainkannya agar hatimu bisa tenang,"

Katanya segera.

"Tidak perlu! Aku justru tidak tahu apa yang masih kau inginkan dalam hatimu! Namun aku tahu, kau akan tidak memperoleh apa pun!"

Sahut Bokyong Cen dingin. Kening Ouw Yang Hong berkerut-kerut mendengar kata-kata itu.

"Baik! Aku tidak akan kemari lagi!"

Ujarnya dengan tegas.

Ouw Yang Hong membalikkan badannya me-ninggalkan kamar itu.

Dia menuju ruang latihan dengan kepala tertunduk.

Sampai di ruang itu, dia duduk termenung.

Teringat olehnya akan kehebatan kepandaian Ong Tiong Yang, Toan Hong Ya, Oey Yok Su, Su Ciau Hwa Cu dan Ang Cit Kong.

Oleh karena itu, dia mengambil keputusan untuk terus berlatih Ha Mo Kang, Hong Hoang Lak, Tongkat Ular dan Yang Khim besi yang kini telah dijadikan senjata.

Ouw Yang Hong pun berpikir tentang kitab pusaka Kiu Im Cin Keng.

Kitab itu pasti merupakan kitab pelajaran ilmu silat yang amat luar biasa.

Kalau tidak, bagaimana mungkin begitu banyak tokoh persilatan ingin memilikinya?

Karena itu, Ouw Yang Hong bertekad merebut kitab pusaka tersebut di Gunung Hwa San lima tahun kemudian.

Bahkan dia juga ingin merebut gelar Jago Nomor Wahid di Kolong Langit.

Di saat dia sedang berpikir, mendadak terdengar suara langkah yang amat ramai, dan suara teriak-teriakan.

"Maling! Jangan sampai dia lolos!"

Ouw Yang Hong segera berhambur ke luar dan langsung meloncat ke atas atap rumah.

Dilihatnya seseorang terus melesat, justru menuju kamar Bokyong Cen.

Pada hal Ouw Yang Hong tidak ingin bertemu Bokyong Cen lagi.

Namun dia masih ingat bahwa Bokyong Cen sedang hamil.

Anak dalam kandungannya adalah darah dagingnya sendiri.

Maka dia segera melesat ke kamar Bokyong Cen dengan mengerahkan ginkang.

Akan tetapi, mendadak bayangan itu berkelebat laksana kilat, seketika juga lenyap dari pandangannya.

"Sungguh hebat ginkang orang itu!"

Pujinya.

Ouw Yang Hong meloncat turun ke halaman di depan kamar Bokyong Cen.

Dia menengok ke sana ke mari, tapi tidak melihat siapa pun dan juga tidak terdengar suara apa pun.

Mendadak hati Ouw Yang Hong tersentak.

Mungkinkah orang itu masuk ke kamar Bokyong Cen?

Tanyanya dalam hati.

Dia cepat-cepat mendekati jendela kamar Bokyong Cen, lalu mengintip ke dalam.

Tampak lampu kamar itu masih menyala, namun dia tidak tahu Bokyong Cen sudah tidur atau belum.

Ouw Yang Hong ingin menerobos ke dalam, tapi tadi Bokyong Cen sudah melarangnya datang.

Maka dia menjadi termangu-mangu di luar kamar itu.

Di saat dia sedang termangu-mangu, mendadak terdengar suara Bokyong Cen.

"Siapa kau?"

Orang itu menyahut dengan suara rendah, maka Ouw Yang Hong tidak dapat mendengar dengan jelas.

"Aku tidak kenal kau!"

Kata Bokyong Cen.

Orang itu berkata lagi dengan suara rendah.

Maka Ouw Yang Hong tetap tidak mendengarnya.

Hal itu membuatnya amat penasaran, lalu menghimpun hawa murninya untuk mendengar.

Setelah itu barulah dapat mendengar kata-kata orang itu dengan jelas.

"Pangcu (Ketua) mengutusku kemari untuk mengundang Nona. Kalau Nona leluasa, harap segera ke markas! Pangcu juga bilang, kalau Nona kurang enak badan, maka aku harus baik-baik memperlakukan Nona."

Terdengar orang itu berkata.

"Kau bilang pangcumu sakit keras, betulkah itu?"

Tanya Bokyong Cen.

"Agar Nona tahu, pangcu sudah mengatur semua urusan besar di dalam markas, karena pangcu tahu kali ini sulit terhindar dari bahaya,"

Sahut orang itu. Bokyong Cen diam sesaat.

"Seharusnya aku ikut kau pergi menjenguk pangcu. Namun badanku sulit untuk diajak berjalan jauh. Harap kau sudi memberitahukan kepada pangcu!"

Katanya kemudian.

"Pangcu sudah sekarat. Beliau ingin melihat Nona, tapi Nona menolak. Sungguh kami kecewa!"

Bokyong Cen mengangguk.

"Baiklah! Aku akan ikut kau ke sana!"

Betapa girangnya orang itu. Dia langsung mengucapkan terimakasih kepada Bokyong Cen.

"Beritahukan kepada tuan besar bahwa aku sudah pergi! Mengenai anak dalam kandunganku, setelah lahir pasti kuserahkan kepadanya,"

Kata Bokyong Cen kepada pelayannya.

Usai berkata, Bokyong Cen lalu membuka pintu Orang itu berjalan duluan, Bokyong Cen mengikutinya dari belakang.

Ouw Yang Hong ingin menghalangi mereka, namun niatnya itu dibatalkannya.

Kemudian dia berpikir selama ini Bokyong Cen tidak memper-du (ikannya, tapi begitu mendengar pangcu itu ingin menemuinya, dia langsung pergi tanpa memikirkan kandungannya.

Oleh karena itu, Ouw Yang Hong ingin tahu sebetulnya siapa pangcu itu.

Dia menguntit mereka berdua.

Tak lama mereka sampai di sebuah rimba.

Tampak lima enam orang berpakaian hitam berdiri di sana.

Ketika melihat orang itu berhasil membawa Bokyong Cen, mereka langsung bersorak girang.

Salah seorang berpakaian hitam menarik seekor kuda ke hadapan Bokyong Cen, lalu mempersilakannya naik.

Bokyong Cen menurut dan segera meloncat ke punggung kuda.

Kemudian yang lain pun segera meloncat ke punggung kuda masing-masing.

Begitu menyaksikan cara mereka meloncat ke punggung kuda, Ouw Yang Hong tahu bahwa mereka adalah kaum rimba persilatan yang berkepandaian tinggi.

Sementara kuda-kuda itu sudah mulai berlari dengan kencang sekali meninggalkan tempat itu.

Ouw Yang Hong mengerahkan ilmu ginkang Hong Hoang Lak untuk mengikuti mereka.

Tak seberapa lama kemudian, kuda-kuda itu sudah berlari belasan mil, lalu sampai di sebuah rimba Mereka berhenti, sekaligus menambatkan kuda masing-masing di pohon.

Orang itu memapah Bokyong Cen turun dari kuda, kemudian menuntunnya ke dalam rimba itu.

Mendadak terdengar suara bentakan keras.

"Siapa? Cepat berhenti!"

Ternyata suara bentakan itu ditujukan kepada Ouw Yang Hong yang menguntit mereka.

Bahkan terdengar pula suara desiran di belakangnya.

Ouw Yang Hong cepat-cepat membalikkan badannya, sekaligus melancarkan sebuah pukulan.

Seketika terdengar suara teriakan.

Ouw Yang Hong memandang, tampak seseorang berdiri tak bergerak di depan pohon.

Sepasang tangan orang itu berada di depan dada, kelihatannya ingin mengadu nyawa dengan Ouw Yang Hong.

Ouw Yang Hong tercengang, sebab pukulannya tadi mengandung tenaga yang amat kuat, tapi orang itu tak bergeming sedikit pun.

Ouw Yang Hong memperhatikannya.

Ternyata nafas orang itu sudah putus, hanya saja badannya bersandar pada pohon.

Ouw Yang Hong melesat ke depan, tak lama sudah sampai di depan sebuah kuil tua.

di sekitar kuil itu tumbuh rumput ilalang yang amat tinggi.

Ouw Yang Hong berendap-endap mendekati kuil itu.

Tampak begitu banyak orang duduk mengerumuni seseorang yang sedang sekarat.

Orang yang membawa Bokyong Cen memberi hormat, lalu berkata.

"Lapor pada Pangcu, hamba sudah berhasil mengundang Nona Bokyong kemari!"

Bokyong Cen berdiri di belakang orang itu. Setelah orang tersebut melapor kepada sang pangcu, barulah Bokyong Cen memandang pangcu itu lalu membungkukkan badannya meraba sang pangcu.

"Kau ya? Kok tidak bersuara?"

Tanyanya. Sang pangcu menghela nafas perlahan, lalu berkata terputus-putus.

"Seharusnya kau tahu siapa aku. Pertama kali aku menolongmu, kau tidak melihat wajahku. Kita bertemu kedua kalinya, matamu sudah buta, tidak dapat melihat wajahku. Nona Bokyong, kau baik-baik saja?"

"Setelah mendengar suaramu, aku sudah tahu siapa kau. Lain kali kalau kita bertemu aku pasti mengenali suaramu,"

Sahut Bokyong Cen. Sang pangcu itu tertawa getir.

"Aku menyuruhmu kemari karena aku amat mencemaskanmu. Aku sudah hampir mati, bagaimana masih ada lain kali untuk bertemu?"

"Hidup memang harus mati. Manusia mana yang tidak akan mati? Kau hampir mati, aku pun begitu juga. Maka kita tidak akan bertemu kembali,"

Kata Bokyong Cen. Pangcu itu terpaksa tertawa, lalu berkata dengan suara parau.

"Nona Bokyong, kau jangan bergurau! Aku sudah tua, lagi pula menderita sakit keras yang tak bisa diobati. Kau masih muda, kenapa bilang sudah hampir mati?"

Usai berkata, orang itu terbatuk-batuk beberapa kali. Bokyong Cen menjulurkan tangannya untuk meraba mulut sang Pangcu seraya bertanya.

"Kau muntah darah kan?"

"Bukan cuma muntah darah, nafasku pun hampir putus ..."

Sahut sang Pangcu.

"Orang itu memberitahukan padaku, bahwa kau sakit keras. Kini aku sudah berada di sini, apa yang harus kulakukan untukmu?"

Tanya Bokyong Cen. Sang Pangcu tertawa sedih lalu menyahut.

"Fiat Cang Pang turun-temurun sudah hampir sepuluh generasi. Tiap generasi pasti diketuai oleh seorang gagah, namun sampai di tanganku justru mengalami kemerosotan. Dendam perkumpulan sulit dibalas, maka sungguh percuma aku jadi ketua Tiat Ciang Pang ..."

Ketika berkata sampai di situ, pangcu yang bernama Siangkoan Wie itu mengucurkan air mata.

"Bagaimana kau bukan seorang gagah? Menurutku kau adalah seorang yang amat gagah,"

Kata Bokyong Cen.

Siangkoan Wie tersenyum sedih mendengar kata-kata Bokyong Cen itu, sementara semua orang cuma diam.

Yang berbicara hanya sang Pangcu dan Bokyong Cen.

Ouw Yang Hong yang bersembunyi di tempat yang gelap, mendengar semua pembicaraan mereka.

Dia pun sudah tahu bahwa orang tua yang sekarat itu adalah Siangkoan Wie, ketua Tiat Ciang Pang.

Dia berkata dalam hati, walau ketua Tiat Cang Pang itu pernah menyelamatkan Bokyong Cen, tapi masih tidak pantas disebut sebagai seorang gagah, dan juga Bokyong Cen tidak usah merasa berhutang budi padanya, lagi pula tidak perlu bersikap begitu ramah dan lembut terhadapnya.

Ternyata ketika menyaksikan sikap Bokyong Cen terhadap Siangkoan Wie, hati Ouw Yang Hong pun merasa panas sekali.

Kalau bukan karena Siangkoan Wie sudah sekarat, Ouw Yang Hong pasti sudah turun tangan membunuhnya.

Sedangkan Bokyong Cen mana tahu keberadaan Ouw Yang Hong di tempat yang gelap memperhatikan gerak geriknya.

Kemudian Siangkoan Wie berkata lagi.

"Nona Bokyong, aku lihat kau di Perkampungan Pek Tho San Cung,'tidak begitu gembira. Kalau kau merasa bosan tinggal di sana, lebih baik ikut para anggotaku ke markas Tiat Ciang Pang di Gunung Ngo Ci Hong. Apabila Ouw Yang Hong ke sana mencarimu, tentu para anggotaku akan bertanggung jawab tentang itu. Dia pasti tidak bisa berbuat apa-apa. Bagaimana menurutmu?"

Semula Bokyong Cen mengangguk, tapi kemudian menggelengkan kepala.

Dia amat ber-terimakasih atas kebaikan Siangkoan Wie.

Tapi kalau dia ikut ke markas Tiat Ciang Pang, sudah barang tentu akan menyusahkan perkumpulan tersebut, sebab Ouw Yang Hong pasti .ke sana mencarinya, dan itu akan membuat hatinya tidak te-nang.

Sedangkan Ouw Yang Hong yang bersembunyi itu berkertak gigi.

Dia sudah mengambil suatu keputusan, apabila pihak Tiat Ciang Pang berhasil membujuk Bokyong Cen berangkat ke Gunung Ngo Ci Hong, maka dia akan membunuh mereka semua.

Siangkoan Wie mendongakkan kepala.

Kelihatannya pangcu itu sedang mencari seseorang yang berada di tempat itu.

Orang yang membawa Bokyong Cen tadi berlutut di hadapannya.

"Suhu, semua anggota berada di sini. Suhu ingin bicara dengan siapa?"

Katanya dengan hormat.

"Cepat papah aku bangun!"

Perintahnya, tanpa menjawab pertanyaan orang itu. Orang itu segera memapah Siangkoan Wie. Pangcu itu duduk lalu memandang para anggotanya.

"Sejak berdirinya Tiat Ciang Pang di Gunung Ngo Ci Hong, memang pernah melahirkan seorang aneh yang berkepandaian tinggi. Akan tetapi, begitu sampai di tanganku, Tiat Ciang Pang justru mengalami kemerosotan dan juga bernama busuk di dunia persilatan? Siapa yang melakukan kejahatan-kejahatan itu, kalian pasti tahu. Aku tidak akan mengusut tentang itu. Namun setelah kuturunkan kedudukanku kepada generasi baru, kuharap dia dapat mengangkat tinggi partai Tiat Ciang Pang kita, mampu bersaing dengan Kay Pang maupun dengan Siau Lim Pay."

Para anggota Tiat Ciang Pang berlutut serentak di hadapan Siangkoan Wie.

Mereka semua menunggu pesan sang ketua.

Siangkoan Wie mengeluarkan suatu benda dari dalam bajunya.

Warnanya agak kehitam-hitaman.

Ternyata benda itu adalah benda kepercayaan Partai Tiat Ciang Pang, yaittu sebuah Telapak Tangan Besi.

Begitu melihat benda tersebut, mereka semua segera memberi hormat.

Siangkoan Wie mengangkat tinggi Telapak Tangan Besi itu seraya berkata.

"Para anggota Tiat Ciang Pang dengarlah baik-baik! Aku akan menyerahkan benda kepercayaan Tiat Ciang Pang ini kepada Ciu Cian Jen. Dialah yang akan menggantikan kedudukanku sebagai ketua Tiat Ciang Pang."

Bukan main terkejutnya para anggota Tiat Ciang Pang itu.

Mereka semua tidak menduga sebelumnya.

Sebab mereka yang hadir itu rata-rata berkepandaian tinggi dalam Tiat Ciang Pang dan dalam pertemuan itu hadir pula tiga orang paman guru Siangkoan Wie dan saudara seperguruannya.

Usia Ciu Cian Jen paling muda di antara mereka, tapi justru dia yang akan menggantikan kedudukan Siangkoan Wie.

Hal itu membuat mereka terkejut dan kemudian mengajukan protes.

"Tunggu, Siangkoan Wie! Apakah kau sudah pikun?"

Kata seorang tua berjenggot panjang dengan dingin.

"Susiok (Paman Guru), urusan ini amat penting. Bagaimana mungkin aku pikun?"

Sahut Siangkoan Wie sambil menatapnya.

"Kau masih ingat memanggilku susiok? Kedudukan ketua sampai di tanganmu, justru Tiat Ciang Pang mengalami kemerosotan. Ketika berada di rumah makan itu Su Ciau Hwa Cu, ketua Kay Pang telah menghinamu habis-habisan, tapi kau diam saja membiarkannya menghinamu, itu sudah merupakan kesalahanmu. Kini kau malah ingin menyerahkan kedudukanmu kepada murid yang termuda. Lalu bagaimana Tiat Ciang Pang menjejakkan kaki di dunia persilatan lagi?"

Siangkoan Wie memandang orang tua itu, lalu berkata perlahan-lahan.

"Apakah Susiok menganggapku pilih kasih, maka menyerahkan kedudukan ketua kepada Ciu Cian Jen?"

Orang tua itu mengangguk.

"Tidak salah, baru beberapa tahun menjadi anggota Tiat Ciang Pang. Lagi pula usianya masih di bawah dua puluh tahun. Bagaimana mungkin boleh diangkat sebagai ketua? Kepandaiannya masih rendah, tentunya para anggota tidak akan setuju!"

Nafas Siangkoan Wie memburu. Dia memandang para anggota Tiat Ciang Pang, kemudian bertanya terputus-putus.

"Kalian ... kalian juga sependapat dengan susiok?"

Mereka saling memandang sejenak, kemudian menyahut dengan serentak dan tegas.

"Tidak salah! Kami tidak setuju Ciu Cian Jen menjadi pangcu!"

Sementara Ciu Cian Jen diam saja.

"Ciu Cian Jen, kenapa kau diam saja?"

Tanya Siangkoan Wie sambil memandangnya.

"Suhu sedang berbicara dengan thai susiok (Kakek Paman Guru) dan para susiok, teecu tidak berani turut campur,"

Sahut Ciu Cian Jen sambil memberi hormat. Orang tua itu tampak gusar sekali.

"Kau bilang apa? Tidak berani turut campur? Apakah kau ingin menentang kami?"

Bentaknya.

Ouw Yang Hong yang besembunyi di tempat gelap juga merasa heran, sebab Siangkoan Wie cukup terkenal di dunia persilatan, namun mengapa begitu ceroboh memilih seorang ketua baru?

Muridnya itu masih begitu kecil, bagaimana mungkin menjadi ketua?

Akan tetapi, setelah mendengar apa yang dikatakan orang tua itu, kini Ouw Yang Hong sudah ingat siapa anak muda itu.

Ternyata dia anak kecil yang telah menyelamatkan nyawa Siangkoan Wie, ketika Su Ciau Hwa Cu ingin membunuh ketua itu.

Mungkin karena itu Siangkoan Wie memilihnya menjadi ketua.

Namun, para tetua dan para saudara seperguruan Siangkoan Wie, sudah pasti tidak akan menyetujui anak muda itu diangkat menjadi ketua baru Tiat Ciang Pang.

Mendadak badan Siangkoan Wie sempoyongan.

Bokyong Cen cepat-cepat menahannya agar tidak jatuh.

"Susiok, tadi Susiok bilang berdasarkan kungfu yang dimilikinya, Ciu Cian Jen dapat menundukkan para anggota?"

Orang tua itu mengangguk.

"Tidak salah!"

"Nona Bokyong, silakan duduk di sisiku!"

Kata Siangkoan Wie kepada Bokyong Cen.

Bokyong Cen juga tergolong kaum rimba persilatan.

Dia tahu saat ini mereka sedang berdebat.

Kalau emosi tentu akan terjadi gebrakan.

Maka Siangkoan Wie menyuruh Bokyong Cen duduk di sisinya, itu demi keselamatan wanita tersebut.

Bokyong Cen amat gusar dalam hati, sebab keadaan Siangkoan Wie sudah terdesak, tapi Ciu Cian Jen itu cuma diam saja, tidak melakukan suatu apa pun.

Bagaimana dia bisa menggantikan kedudukan Siangkoan Wie?

Sementara Siangkoan Wie sudah duduk.

Mendadak dia menunjuk Hiolou (Tempat Pendupaan) dengan Telapak Tangan Besi seraya berkata.

"Kita adalah Tiat Ciang Pang, malang melintang di rimba persilatan tidak mengandalkan senjata, melainkan mengandalkan sepasang telapak tangan! Kalian bilang Ciu Cian Jen tidak mampu, lalu siapa yang mampu? Nah, siapa yang mampu memukul Hiolou besar ini hingga telapak tangannya berbekas di situ boleh diangkat menjadi ketua Tiat Ciang Pang!» Tampak seseorang berjalan mendekati hiolou besar itu. Dia adalah adik seperguruan Siangkoan Wie.

"Suheng, selama ini aku selalu menuruti per-kataanmu. Tapi kali ini merupakan urusan besar, aku harus melakukannya,"

Ujarnya sambil memberi hormat.

Usai berkata, orang itu langsung memukul ke arah hiolou besar tersebut dan telapak tangannya berbekas di situ.

Ouw Yang Hong merasa kagum akan kehebatan ilmu pukulan telapak besi orang itu.

Sementara yang lain juga sudah ikut melakukannya.

Tampak enam belas bekas telapak tangan di hiolou besar itu, ada yang tampak samar-samar, ada juga yang tampak jelas dan dalam.

Terutama orang tua yang berdebat dengan Siangkoan Wie.

Telapak tangannya berbekas paling jelas dan dalam di hiolou tersebut.

Bab 28 Siangkoan Wie kelihatan tidak mau menyaksikan bekas telapak tangan di hiolou besar itu.

Dia memejamkan matanya seraya berkata kepada Ciu Cian Jen.

"Kau juga harus melakukannya!"

Ciu Cian Jen segera memberi hormat.

"Suhu, kepandaian teecu masih rendah, lebih baik teecu tidak melakukannya."

Siangkoan Wie tersenyum.

"Ciu Cian Jen, tadi kau tidak memapahku, sebaliknya membiarkan Nona Bokyong Cen memapahku duduk. Aku tahu kau ingin menjadi ketua. Siapa tidak paham tentang itu? Aku menghendaki Tiat Ciang Pang berkembang pesat di dunia persilatan dengan dirimu yang penuh akal. Namun kalau kau tidak bersedia menjadi ketua, aku pasti akan membiarkan (hai susiok dan susiokmu mem-bunuhmu! Karena kau tidak mau mengembangkan Tiat Ciang Pang, maka harus dilenyapkan!"

Ketika mendengar apa yang dikatakan Siangkoan Wie, hati Ouw Yang Hong gembira sekali.

Sebab semua orang bilang Ouw Yang Hong merupakan si Racun Tua yang tak berperasaan dan amat sadis.

Namun semua orang di kolong langit justru bersifat demikian.

Seperti halnya dengan Siangkoan Wie, berpura-pura baik terhadap siapa pun, tapi ketika menghadapi urusan besar, malah ingin melenyapkan muridnya sendiri.

Hati semua orang di kolong langit memang serupa.

Kata Ouw Yang Hong dalam hati.

Sedangkan Ciu Cian Jen terkejut bukan main, sehingga berdiri tertegun di tempat.

'Cian Jen, urusan hari ini kalau kau tidak mau jadi ketua, maka harus mati!"

Ciu Cian Jen kelihatan serba salah. Dia memandang thai susiok dan para susioknya, lalu memandang gurunya yang telah kehilangan kekuasaannya itu sampai lama sekali.

"Baik! Karena itu perintah guru, maka teecu akan melaksanakannya,"

Katanya kemudian.

Semua orang tidak memandang Ciu Cian Jen dalam mata, sebab semua telapak tangan yang berbekas di hiolou besar itu, rata-rata memiliki Iwee kang yang amat tinggi, sedangkan Ciu Cian Jen cuma merupakan seorang pemuda, bagaimana mungkin memiliki Iwee kang seperti mereka?

Sementara Ciu Cian Jen sudah mendekati hiolou besar itu.

Mendadak dia membentak keras sambil mendorongkan sepasang tangannya pada hiolou besar tersebut.

Menyaksikan itu, semua orang tertawa dalam hati.

Setelah telapak tangan Ciu Cian Jen menempel pada hiolou besar itu, berselang sesaat, barulah ditarik kembali sambil melangkah mundur dengan wajah murung.

Semua orang tertawa dingin, begitu pula orang tua itu.

"Siangkoan Wie, lihatlah baik-baik! Telapak tangan yang berbekas paling jelas dan dalam adalah telapak tanganku."

Orang tua itu mendekati hiolou besar dengan dada terangkat.

Semua orang yang berada di situ, tak seorang pun berada di dalam matanya.

Ketika dia memandang hiolou besar itu, mendadak air mukanya berubah hebat sepertinya melihat hantu di tengah malam, dan mulutnya bergumam.

"Ini ... ini ..."

Semua orang tidak tahu apa sebabnya air muka orang tua itu berubah.

Oleh karena tu, mereka pun maju mendekati hiolou besar itu.

Setelah memperhatikan hiolou besar itu, mulut mereka pun ternganga lebar.

Ternyata pada bagian atas hiolou besar itu terdapat bekas sepasang telapak tangan yang amat jelas dan dalam, kelihatannya seperti dicetak ke dalam.

Itu adalah bekas sepasang telapak tangan Ciu Cian Jen.

Setelah menyaksikan bekas telapak tangan itu, semua orang membungkam.

Mereka tidak menyangka bahwa Ciu Cian Jen yang masih semuda itu telah memiliki Iwee kang yang amat tinggi.

Kalau mereka tidak menyaksikannya dengan mata kepala sendiri, tentu tidak akan percaya bahwa itu adalah bekas sepasang telapak tangan Ciu Cian Jen.

Siangkoan Wie tidak berbicara dan sepasang matanya tetap terpejam.

Sedangkan yang lain berdiri diam di tempat.

Berselang beberapa saat, barulah orang tua itu berkata.

"Ciu Cian Jen, aku sungguh kagum akan Iwee kangmu yang begitu tinggi! Tapi tidak cukup hanya berdasarkan Iwee kang, harus disertai pula dengan ilmu ginkang yang tinggi, itu merupakan ilmu an-dalan Tiat Ciang Pang."

Tanpa sepatah kata pun Cu Cian Jen berjalan ke hadapan semua orang dengan wajah tidak memperlihatkan ekspresi apa pun.

Dia mengeluarkan belasan uang tembaga, kemudian dilemparkannya ke atas.

Semua orang tidak tahu apa yang sedang di-lakukannya, hanya ikut memandang ke atas.

Belasan uang tembaga itu jatuh dan menancap separuh di lantai.

Ciu Cian Jen mengambil benang yang amat halus, lalu diikatkannya pada lubang salah satu uang tembaga itu, dan kemudian disambungkan pada uang tembaga yang lain.

Semua orang terbelalak, karena tidak tahu apa yang akan dilakukannya.

Ciu Cian Jen memberi hormat kepada gurunya, lalu mendadak mencelat ke atas benang itu, dan berkelebat ke sana ke mari di atas benang tersebut.

Berselang sesaat, barulah dia berhenti di hadapan semua orang.

Semua orang memandang uang tembaga yang menancap di lantai, juga memperhatikan benang yang terikat pada uang tembaga itu.

Mata mereka terbelalak dan mulut ternganga lebar.

Ternyata uang tembaga yang menancap di lantai itu sama sekali tidak berubah dan benang itu pun tidak putus, bahkan di lantai tidak berbekas jejak kaki.

Bukan main!

Siapa pun tidak menyangka bahwa Ciu Cian Jen yang masih muda itu memiliki ginkang yang begitu tinggi.

Semua orang memandang Ciu Cian Jen dengan kagum.

Walau masih muda tapi kepandaiannya sudah hampir menyamai kepandaian Siangkoan Wie.

Ouw Yang Hong juga terkejut menyaksikannya, sebab Ciu Cian Jen baru berusia belasan tahun, namun sudah memiliki kepandaian yang begitu tinggi.

Kelak dia pasti akan menjadi orang aneh dalam rimba persilatan.

Ouw Yang Hong juga berpikir, apabila bertanding dengan Ciu Cian Jen, dalam sepuluh jurus belum tentu dapat mengalahkannya.

Sementara Siangkoan Wie berbicara dengan Bokyong Cen.

Wajah wanita itu tampak berseri.

Akan tetapi, orang lain tidak dapat mendengar pembicaraan mereka sebab Siangkoan Wie menggunakan ilmu penyampai suara.

Hanya tampak bibirnya bergerak-gerak, sedangkan Bokyong Cen manggut-manggut.

Setelah itu, barulah Siangkoan Wie berkata.

"Siapa yang tidak setuju jabatan ketua kuserahkan kepada Ciu Cian Jen?"

Semua orang diam, hanya orang tua itu yang berkata.

"Kau ingin menyerahkan jabatan ketua kepadanya, kami pun tidak akan bilang apa-apa lagi. Kau adalah ketua, urusan besar dalam partai memang ada di tanganmu!"

Para anggota Tiat Ciang Pang amat menghormati orang tua itu.

Kini dia berkata begitu, secara tidak langsung telah mengakui Ciu Cian Jen sebagai ketua baru Tiat Ciang Pang.

Siangkoan Wie berkata dengan suara parau.

"Aku Siangkoan Wie ketua Tiat Ciang Pang generasi kedua puluh, dengan rela menyerahkan jabatan ketua kepada murid pewaris bernama Ciu Cian Jen. Julukannya adalah Tiat Ciang Sui Sang Phiau (Telapak Besi Mengambang Di Permukaan Air). Kuserahkan benda kepercayaan partai kepada Ciu Cian Jen, harap ketua dapat mengembangkan Tiat Ciang Pang hingga sejajar dengan Kay Pang dan Siau Lim Si!"

Ciu Cian Jen segera maju untuk menerima Telapak Besi benda kepercayaan Tiat Ciang Pang. Setelah menerima Telapak Besi itu, dia bersumpah.

"Aku Ciu Cian Jen menerima jabatan ketua. Mulai hari ini aku pasti berjuang demi mengangkat nama Tiat Ciang Pang, agar tidak tersisih oleh partai lain!"

Setelah Ciu Cian Jen mengangkat sumpah, nafas Siangkoan Wie bertambah lemah, namun wajahnya tampak berseri-seri.

"Suruhlah mereka pergi! Aku tidak ingin melihat mereka lagi,"

Perintahnya kepada Ciu Cian Jen dengan suara rendah.

Tapi kini dia adalah ketua Tiat Ciang Pang, maka melakukan sesuatu harus tegas, sesuai dengan kewibawaan seorang ketua.

Dia mengangkat sebelah tangannya, kemudian berkata.

"Kalian semua mundur!"

Semua orang memberi hormat, lalu mengundurkan diri dari tempat itu.

Kini kuil tua itu hanya tinggal Siangkoan Wie, Bokyong Cen dan Ciu Cian Jen.

Siangkoan Wie menyuruh Ciu Cian Jen memapahnya ke dalam, lalu mereka bertiga duduk di ruang dalam kuil tua.

Siangkoan Wie memandang Bokyong Cen, ke-lihatannya seperti ingin berbicara.

Menyaksikan gerak-gerik Siangkoan Wie itu, Ciu Cian Jen segera berkata.

"Suhu mau bicara apa, silakan!"

Bibir Siangkoan Wie bergerak, berkata dengan lemah dan perlahan sekali.

"Lilin ... lilin ..."

Bokyong Cen tertegun mendengar ucapan itu.

Mungkin ajalnya hampir tiba, maka Siangkoan Wie berubah menjadi pikun.

Di ruang dalam itu cukup terang karena tersorot sinar rembulan, maka tidak perlu lilin.

Tapi kenapa Siangkoan Wie mengatakan lilin?

Ciu Cian Jen memandang Bokyong Cen.

"Nona Bokyong, suhuku ingin menyalakan delapan puluh satu batang lilin. Kalau Nona tahu bagaimana cara menyalakan lilin-lilin itu, harap Nona sudi mengajariku!"

Sementara Ouw Yang Hong masih bersembunyi di tempat gelap.

Ketika melihat semua orang berjalan ke luar, dia cepat-cepat melesat ke ruang dalam kuil tua itu, lalu bersembunyi di belakang sebuah patung.

Dia mengintip ke arah mereka bertiga, karena ingin tahu apa yang akan dilakukan Siangkoan Wie dan Ciu Cian Jen terhadap Bokyong Cen.

Kalau mereka berdua berani berlaku kurang hormat pada Bokyong Cen, maka Ouw Yang Hong akan membunuh mereka.

Tampak Ciu Cian Jen mengeluarkan delapan puluh satu batang lilin, yang terdiri dari lilin besar, kecil, panjang dan pendek.

"Nona Bokyong, bagaimana cara memasang lilin ini? Tolong beritahu, sebab aku ingin memasang lilin-lilin ini, agar hati suhuku bisa tenang!"

Bokyong Cen mengangguk.

"Baik!"

Bokyong Cen memberitahu bagaimana cara malam itu Siangkoan Wie menancapkan lilin-lilin di dalam kamarnya.

Ciu Cian Jen manggut-manggut, lalu segera menancapkan lilin-lilin itu.

Setelah semuanya tertancap barulah dinyatakannya.

Setelah itu dia mendekati Siangkoan Wie sambil memanggil.

"Suhu! Suhu! Bangunlah!"

Perlahan-lahan Siangkoan Wie membuka matanya, lalu memandang lilin-lilin itu dengan wajah berseri-seri.

"Nona Bokyong, semua lilin itu telah nyala. Perlukah aku beritahukan padamu betapa indahnya lilin-lilin itu?"

Katanya. Bokyong Cen menundukkan kepala.

"Aku tahu ... indah sekali lilin-lilin itu."

Siangkoan Wie tersenyum, lalu berkata per-lahan-lahan.

"Aku yakin kau akan punya anak. Pernah terpikirkan juga olehku bahwa kelak anakmu harus ikut aku belajar ilmu silat. Aku pun tahu bahwa guru Ouw Yang Hong adalah si Racun Tua yang bermukim di daerah Utara. Walau ilmu silatnya amat tinggi, namun si Racun Tua itu amat jahat dan kejam. Kalau anakmu ikut Ouw Yang Hong, tentu akan berubah jahat dan kejam pula. Akan tetapi, aku sudah tidak dapat bertahan lagi, tidak bisa mengurusi masalah ini ..."

Air mata Bokyong Cen langsung meleleh.

Sejak dia kabur dari Vihara Cin Am, belum ada seseorang yang memperhatikannya bagaikan seorang ayah.

Kini Siangkoan Wie amat memperhatikannya, bahkan juga memperhatikan anak di dalam kandungannya, itu membuat hatinya amat terharu sekali.

"Terimakasih atas perhatian Siangkoan Pang-cu!"

Ucapnya terisak-isak.

Betapa panasnya hati Ouw Yang Hong, sebab Bokyong Cen bersikap acuh tak acuh terhadapnya, namun sebaliknya malah-begitu ramah dan lembut terhadap Siangkoan Wie, bahkan amat sabar pula.

Sudah barang tentu sikap Bokyong Cen itu membuat hati Ouw Yang Hong menjadi panas sekali, rasanya ingin menerjang ke dalam membunuh Siangkoan Wie.

Terdengar Siangkoan Wie berkata pada Bokyong Cen.

"Nona Bokyong, muridku ini meskipun masih muda, tapi amat cerdik dan kepandaiannya cukup lumayan. Bagaimana kalau kau ikut dia ke Gunung Ngo Ci Hong untuk menenangkan hati di sana?"

Bokyong Cen berpikir sejenak.

"Lebih baik Siangkoan Pangcu mengurusi diri sendiri, tidak usah mengurusi diriku,"

Sahutnya kemudian. Siangkoan Wie menghela nafas panjang.

"Nona Bokyong, kau ... kau harus baik-baik membawa diri!"

Katanya perlahan-lahan. Bokyong Cen mengangguk dengan air mata bercucuran.

"Kakak Bokyong, suhu telah memberi pesan, bahwa aku harus membawamu meninggalkan Perkampungan Pek Tho San Cung,"

Kata Ciu Cian Jen mendadak.

"Aku masih ada sedikit urusan pribadi. Setelah menyelesaikan urusan pribadiku itu, barulah aku ikut kau pergi,"

Sahut Bokyong Cen. Sementara nafas Siangkoan Wie semakin lemah. Dia terbatuk-batuk beberapa kali, kemudian menyemburkan darah.

"Baik ... baik ...!"

Katanya dengan lemah lalu terbatuk lagi.

"Nona Bokyong, walau aku mati, tapi hatiku sudah lega sebab sudah menyelesaikan dua masalah ..."

Lanjutnya.

Bukan main ibanya hati Bokyong Cen menyaksikan keadaan Siangkoan Wie.

Dia segera memegang tangannya erat-erat.

Hati Ouw Yang Hong semakin panas menyaksikannya.

Bokyong Cen tinggal di Perkampungan Pek Tho San Cung.

Ada urusan apa dengan Siangkoan Wie dan Ciu Cian Jen?

Mengapa Siangkoan Wie membujuk Bokyong Cen meninggalkan per-kampungan itu?

Ouw Yang Hong sudah tidak dapat bersabar iagi.

Dia langsung meloncat ke luar dari tempat persembunyiannya di belakang patung, lalu berdiri di hadapan Bokyong Cen.

Ketika melihat kemunculan Ouw Yang Hong, Ciu Cian Jen dan Siangkoan Wie langsung diam.

Walau Ciu Cian Jen masih muda, tapi memiliki ketenangan yang luar biasa.

Dia menatap Ouw Yang Hong tanpa ada rasa takut sedikit pun.

Siangkoan Wie menatap Ouw Yang Hong dengan mata terbelalak lebar.

Dia tampak cemas, karena apabila Ouw Yang Hong turun tangan, beberapa jago tangguh Tiat Ciang Pang jangan harap bisa hidup.

Sedangkan susiok dan para saudara seperguruannya telah pergi.

Kini yang dapat diandalkan hanya Ciu Cian Jen, namun juga bukan tandingan Ouw Yang Hong.

Karena tiada suara sedikit pun Bokyong Cen menjadi tercengang.

"Siangkoan Pangcu, ada urusan apa?"

Tanyanya segera. Siangkoan Wie ingin menyahut, namun tak mampu mengeluarkan suara. Maka, Bokyong Cen segera bertanya kepada Ciu Cian Jen.

"Ciu Pangcu! Apakah dia?"

"Kakak Bokyong, Ouw Yang Hong sudah datang. Dia berdiri di sisimu,"

Sahut Ciu Cian Jen.

Bokyong Cen tertegun.

Ternyata ketika Ouw Yang Hong meloncat turun, sama sekali tidak menimbulkan suara, maka Bokyong Cen tidak tahu akan kemunculannya.

Ouw Yang Hong tidak berkata sepatah pun.

Dia menatap Siangkoan Wie dengan bengis.

Kalau bukan karena orang itu sudah sekarat, Ouw Yang Hong pasti sudah turun tangan membunuhnya.

Sementara Ciu Cian Jen tak bergeming dari tempatnya.

Meskipun tahu dirinya bukan tandingan Ouw Yang Hong, tapi dia tidak merasa takut, hanya wajahnya tampak hambar.

Bokyong Cen tahu bahwa kemarahan Ouw Yang Hong sudah memuncak, maka Siangkoan Wie dan Ciu Cian Jen tidak bersuara sama sekali.

Mereka berempat membungkam sampai lama sekali baru kemudian Ouw Yang Hong berkata dengan sengit.

"Siangkoan Wie! Kau sudah hampir mati, namun masih memperlihatkan sikap rasa berat meninggalkan wanita orang, itu sungguh menggelikan!"

Siangkoan Wie menatapnya, namun tak mampu bersuara, kemudian perlahan-lahan menundukkan kepala.

"Ouw Yang Hong, suhuku bilang kau amat jahat. Tapi juga patut dikasihani. Ya, kan?"

Kata Ciu Cian Jen. Ouw Yang Hong menatap Ciu Cian Jen dengan tajam.

"Oh, ya? Apakah suhumu bilang begitu padamu?"

Sahutnya dengan dingin. Ciu Cian Jen mengangguk.

"Tidak salah."

"Suhumu sudah hampir mati, namun masih menyuruhmu menyalakan delapan puluh satu batang lilin dan minta ditemani oleh wanita orang! Itu sungguh menggelikan!"

Kata Ouw Yang Hong dengan sinis. Siangkoan Wie memejamkan matanya.

"Ciu Cian Jen, kau merasa kungfumu sudah tinggi. Tapi dalam mataku tak berarti sama sekali,"

Kata Ouw Yang Hong lagi kepada Ciu Cian Jen.

Usai berkata, Ouw Yang Hong mendorongkan sepasang tangannya ke depan.

Seketika terdengar suara hiruk-pikuk.

Ternyata tembok yang ada di hadapannya telah hancur, bahkan tampak ber-bekas sepasang telapak tangan yang amat dalam.

"Telapak tanganmu berbekas di hiolou besar itu. Seandainya aku yang memukulnya, niscaya hiolou besar itu pasti berlubang! Kau percaya apa tidak?"

Ciu Cian Jen tertawa.

"Aku percaya,"

Sahutnya.

Ketika melihat Ciu Cian Jen begitu tenang, hati Ouw Yang Hong penasaran sekali.

Mendadak badannya bergerak laksana kilat, tahu-tahu semua Ulin yang ada di ruangan itu telah padam, bahkan semuanya sudah ada di tangannya.

Ouw Yang Hong melemparkan semua lilin itu ke lantai.

Ciu Cian Jen sama sekali tidak memandangnya.

Dia berjongkok memungut tiga batang lilin, lalu ditancapkannya di lantai dekat Siangkoan Wie, sekaligus dinyalakannya.

Betapa gusarnya Ouw Yang Hong menyaksikan itu.

Dia langsung mendorongkan sepasang tangannya ke arah Ciu Cian Jen.

Buuuk!

Badan Ciu Cian Jen terpental membentur tembok.

Pakaiannya sobek dan kelihatan terluka ringan.

"Ciu Cian Jen! Kalau kau masih berani memungut lilin-lilin itu, nyawamu pasti melayang!"

Kata Ouw Yang Hong dengan dingin. Ciu Cian Jen tidak menyahut. Mulutnya tampak berdarah dan dia tetap memungut lilin-lilin yang berserakan di lantai.

"Kalau nyawamu kuhabisi sekarang, kau pasti tidak bisa jadi ketua Tiat Ciang Pang! Kepandaian-mu sudah lumayan, tergolong kelas satu di rimba persilatan. Apabila kau mati sekarang, apakah kau tidak akan merasa menyesal?"

Ciu Cian Jen tidak menggubrisnya.

Apa yang diucapkan Ouw Yang Hong dianggapnya sebagai anyn lalu.

Sikap Ciu Cian Jen itu membuat Ouw Yang Hong gusar.

Dia tertawa gelak dan kemudian membungkukkan badannya, mengarah pada Ciu Cian Jen dan lilin-lilin itu sambil mengerahkan lwee kang Ha Mo Kang, sepasang tangannya didorongkan ke depan perlahan-lahan.

Di saat bersamaan, mendadak Bokyong Cen maju ke hadapan Ciu Cian Jen, sekaligus menggenggam lengannya.

"Amat banyak lilin ini, bagaimana kalau aku membantumu memungutnya?"

Katanya.

Suara Bokyong Cen lembut dan tenang, seakan sedang berunding dengan orang, lalu menjongkok-kan badannya membantu Ciu Cian Jen memunguti lilin-lilin yang berserakan di lantai itu.

Mereka berdua sama sekali tidak menghiraukan Ouw Yang Hong.

Sementara lwee kang Ha Mo Kang yang telah dikerahkan Ouw Yang Hong, sudah tidak bisa ditarik kembali.

Kalau lwee kang itu tidak didorong ke luar, niscaya akan melukai dirinya sendiri.

Karena Bokyong Cen maju mendadak ke hadapan Ciu Cian Jen, Ouw Yang Hong terpaksa cepat-cepat memiringkan sepasang tangannya ke arah tembok, yang ada di samping mereka.

Terdengar suara gemuruh.

Ternyata tembok itu telah roboh dan hancur berantakan.

Hancuran tembok itu menimpa badan Ciu Cian Jen dan Bokyong Cen, namun mereka berdua masih kelihatan tenang, seakan tidak terjadi suatu apa pun.

Dapat dibayangkan, betapa gusarnya Ouw Yang Hong, sebab Ciu Cian Jen dan Bokyong Cen terus memunguti lilin-lilin itu, sekaligus menghitungnya sampai berjumlah delapan puluh satu batang.

Mendadak Ouw Yang Hong mendorongkan sepasang tangannya ke arah meja sembahyang yang ada di dekat Siangkoan Wie.

Terdengar suara hiruk-pikuk, ternyata meja sembahyang itu hancur berantakan, bahkan patung yang ada di dalamnya pun ikut terpental.

Ciu Cian Jen berteriak keras seketika.

"Suhu! Suhu ...!"

Dia langsung melesat ke arah Siangkoan Wie.

Ternyata orang tua itu telah tertimbun reruntuhan tembok dan meja sembahyang itu.

Ci Cian Jen segera membongkar reruntuhan tembok itu mengeluarkan Siangkoan Wie.

Orang tua itu berhasil dikeluarkannya, tetapi sudah tak bernyawa.

Kepala dan badannya berlumuran darah.

Ciu Cian Jen menjerit-jerit dengan air mata bercucuran.

"Suhu! Suhu ...!"

Ouw Yang Hong tidak tahu harus berbuat apa Seandainya tidak mati tertimbun reruntuhan itu, berselang beberapa saat, orang tua itu pun pasti mati.

Namun takdir menghendakinya mati lebih awal tertimbun reruntuhan itu.

Apakah Ouw Yang Hong berdosa atas kejadian tersebut?

Akan tetapi, Bokyong Cen dan Ciu Cian Jen justru tidak berpikir demikian.

Wanita yang sedang mengandung itu berkata dalam hati.

Ouw Yang Hong terlampau kejam.

Di saat gusar pasti membunuh orang.

Ketika dia membunuh para suheng-nya, masih dapat dimaklumi.

Sedangkan Siangkoan Wie tidak bermusuhan dengannya, namun Ouw Yang Hong justru membunuhnya.

Bokyong Cen tahu jelas, bahwa kini kepandaian OUAV Yang Hong amat tinggi sekali.

Apabila Ciu Cian Jen melawannya, berarti mencari mati.

Tapi Ciu Cian Jen tetap Ciu Cian Jen.

Dia bukan orang yang takut mati.

Oleh karena itulah Siangkoan Wie memilihnya sebagai murid pewaris, sekaligus menyerahkan jabatan ketua kepadanya.

Dia menatap Ouw Yang Hong dengan tajam, kemudian berkata sepatah demi sepatah.

"Ouw Yang Hong, aku ingin mencoba kepan-daianmu! Apakah kau mampu membunuhku!"

Mendadak Ouw Yang Hong tertawa gelak.

Nada tawanya amat angkuh.

Kemudian dia berpikir.

Kalau Ong Tiong Yang, Oey Yok Su, Toan Hong Ya atau Ang Cit Kong ada di sini, Ouw Yang Hong pasti bergebrak dengan mereka, apalagi Ciu Cian Jen?

Dalam hatinya juga timbul niat jahat untuk menghabisi nyawa Ciu Cian Jen, sebab kini Ciu Cian Jen masih begitu muda, namun sudah memiliki kungfu yang cukup mengejutkan.

Kalau sekarang tidak dibunuh, kelak dia pasti memiliki kungfu yang tak dapat dibayangkan.

"Ciu Cian Jen, kau pasti mati! Silakan menyerang duluan!"

"Semula aku mengira suhu salah menilaimu, ternyata kau memang begitu rendah! Ouw Yang Hong, kau adalah penjahat besar, maka harus mati!"

Sahut Ciu Cian Jen. Ouw Yang Hong menatapnya dengan dingin.

"Oh, ya? Aku yang harus mati atau kau yang akan mati?"

"Kau harus mati!"

Sahut Ciu Cian Jen sengit.

Dia langsung melancarkan sebuah pukulan ke arah Ouw Yang Hong dengan sekuat tenaga.

Ouw Yang Hong tidak membiarkan badannya terpukul, sebab apabila terpukul pasti akan terluka parah.

Oleh karena itu, segera mengerahkan ginkang Hong Hoang Lak untuk mencelat ke atas.

Bukan main terkejutnya Ciu Cian Jen.

Dia tahu ginkangnya masih berada di bawah Ouw Yang Hong, begitu pula lwee kangnya.

Dia menjadi putus asa dan tidak tahu harus berbuat apa.

Sedangkan Ouw Yang Hong sudah meluncur ke bawah, sekaligus menotok jalan darah Ciu Cian Jen, sehingga membuatnya tidak bisa bergerak.

Pemuda itu tidak tampak takut.

Sepasang matanya terus menatap Ouw Yang Hong dengan tajam.

Bokyong Cen yang diam dari tadi, mendadak membuka mulut.

"Ouw Yang Hong! Kalau kau membunuhnya, aku pasti bunuh diri di hadapanmu!"

Ouw Yang Hong langsung diam di tempat. Dia tahu apa yang diucapkan Bokyong Cen, pasti dilaksanakannya.

"Kakak Bokyong, cepatlah kau pergi! Aku tidak bisa memperdulikanmu lagi, sebab aku akan bertarung mati-matian dengan Ouw Yang Hong,"

Kata Ciu Cian Jen.

Ouw Yang Hong tertawa dingin.

Ciu Cian Jen akan bertarung dengannya, sudah pasti pemuda itu akan celaka.

Ketika Bokyong Cen dan Ciu Cian Jen memunguti lilin-lilin itu, boleh dikatakan sama sekali tidak memandang sebelah mata padanya, sehingga menimbulkan kemarahan besar dalam hatinya.

Perlu diketahui, Ouw Yang Hong adalah murid pewaris si Racun Tua!

Siapa berani meremehkannya?

Seandainya Bokyong Cen memandang rendah dirinya, tidak jadi masalah.

Namun kalau Ciu Cian Jen berani memandang h padanya, Ouw Yang Hong tentu amat penasaran.

Ouw Yang Hong memandang Bokyong Cen.

Tampak wanita itu mendongakkan kepala, tangannya menggenggam sebilah pedang pendek.

Begitu melihat pedang pendek itu, Ouw Yang Hong ter-ingat akan kejadian di gurun pasir bersama Bokyong Cen, dan itu mengurangi niat jahatnya.

Baik!

Aku akan melepaskan Ciu Cian Jen, membiarkannya pergi, tidak akan membunuhnya agar hati Bokyong Cen tidak merasa kesal.

Dia akan melahirkan anakku, bagaimana aku tidak gembira?

Begitu kata dalam hatinya.

Setelah berkata dalam hatinya, Ouw Yang Hong berkata kepada Ciu Cian Jen perlahan-lahan.

"Baiklah! Aku memandang muka kakak iparku, maka nyawamu kuampuni!"

Ciu Cian Jen diam. Dia tahu dirinya bukan lawan Ouw Yang Hong. Di saat bersamaan, mendadak Bokyong Cen terkulai, kemudian berteriak-teriak dengan suara gemetar.

"Ouw Yang Hong! Ouw Yang Hong! Kau .. ."

Ouw Yang Hong tidak tahu apa yang terjadi. Dia segera mendekatinya. Tampak wajah Bokyong Cen pucat pias dan terdengar ucapannya terputus-putus.

"Ouw Yang Hong, anakmu ... anakmu sudah mau lahir ..."

Tiba-tiba wajah Bokyong Cen berubah lembut.

Dia hampir mau jadi seorang ibu, maka rasa kesal dalam hatinya sirna entah ke mana.

Yang dipikirkannya hanya bagaimana cara melahirkan anaknya.

Ciu Cian Jen yang masih muda itu, tidak tahu apa yang terjadi.

Dia langsung mendekati Ouw Yang Hong seraya bertanya.

"Ouw Yang Hong! Kakak Bokyong kenapa? Dia kenapa? Apakah tadi kau melukainya?"

"Omong kosong! Siapa yang melukainya? Dia akan melahirkan anakku! Kau tahu tidak?"

Ciu Cian Jen memandang Ouw Yang Hong. Dalam mata penjahat itu justru menyorot sinar yang amat lembut.

"Cepatlah kau pergi sebelum pikiranku berubah! Cepatlah pergi! Kalau tidak, aku pasti akan membunuhmu!"

Kata Ouw Yang Hong.

"Aku tidak akan pergi. Aku telah menerima perintah dari suhu untuk menjaganya, lebih baik kau yang pergi!"

Sahut Ciu Cian Jen. Ouw Yang Hong gusar bukan main, karena Ciu Cian Jen berkeras tidak mau pergi.

"Dia mau melahirkan, mau apa kau di sini?"

Bentaknya keras.

"Kau memanggilnya kakak ipar. Dia mau melahirkan anak tentunya anak itu bukan anakmu! Kau adalah penjahat besar berhati kejam, siapa tahu kau akan mencelakai Nona Bokyong!"

Kata Ciu Cian Jen.

"Bagaimana mungkin aku akan mencelakainya, dia adalah familiku .. ."

Kata Ouw Yang Hong dingin.

"Kau punya nama baik apa, bisa membuatku mempercayaimu? Orang-orang yang kau bunuh itu, apakah bukan familimu? Kau membantai habis para penghuni perkampungan Liu Yun Cun! Nah, bukankah kau adalah orang yang paling jahat di perkampungan itu?"

Sahut Ciu Cian Jen. Ouw Yang Hong menatapnya tajam.

"Kau tidak takut mati?"

"Kau sudah keliru. Orang Tiat Ciang Pang semuanya tidak takut mati!"

Sahut Ciu Cian Jen.

"Baik! Baik! Kau cukup gagah, aku tidak akan membunuhmu, juga tidak membiarkanmu pergi!"

Kata Ouw Yang Hong.

Ouw Yang Hong langsung mendorong Ciu Cian Jen.

Tenaga dorongannya amat kuat, sehingga membuat Ciu Cian Jen terpental dan merasa pusing sekali.

Dia roboh telentang, tapi segera bangkit berdiri lalu menerjang ke arah Ouw Yang Hong.

Ouw Yang Hong mengerutkan kening sambil berpikir.

Kakak ipar hampir melahirkan anak, namun pemuda ini masih begitu gegabah, tentunya akan mengganggu.

Kalau aku tidak membunuhnya, bagaimana mungkin aku bisa merawat Bokyong Cen?

Berpikir sampai di situ, Ouw Yang Hong cepat-cepat menjulurkan tangannya mencengkeram bahu Ciu Cian Jen, maksudnya ingin mengerahkan lwee kang untuk menghancurkan jantung pemuda itu.

Terdengar suara 'Krek!

Krek!

Krek!' Bersamaan itu, Ciu Cian Jen juga merasa ada semacam hawa menerjang ke arah jantungnya.

Ciu Cian Jen tidak kuat menahan hawa itu.

Dia berkata dalam hati.

Kelihatannya kali ini nyawaku pasti melayang.

Aku memang tidak mampu melawannya.

Kalau aku mati di sini, thai susiok dan para susiok pasti girang sekali, sebab mereka tidak setuju jabatan ketua diserahkan padaku.

Tapi aku tidak mau mati, tidak mau mati dengan cara demikian!

Ouw Yang Hong kelihatan seperti tahu akan apa yang dipikirkan Ciu Cian Jen.

Dia tersenyum dingin seraya berkata.

"Aku tidak percaya di dunia ini ada orang yang hanya memikirkan orang lain, sama sekali tidak memperdulikan diri sendiri. Menurutku hanya terdapat dua macam orang. Begitu melihat sudah tahu dia seorang penjahat, yang semacam lagi, justru tidak dapat melihat dan memastikan bahwa dia seorang penjahat. Namun dia malah penjahat, hanya saja orang lain tidak bisa melihat wajah aslinya. Kau adalah ketua baru Tiat Ciang Pang, sebentar lagi kau akan mati. Kau bersusah payah memperoleh jabatan ketua, tapi tidak lama lagi jabatan tersebut akan berpindah pada orang lain. Apakah kau rela?"

Bagaimana mungkin Ciu Cian Jen menyahut?

Saat ini dia sedang berusaha melawan terjangan hawa itu ke jantungnya.

Kalau dia bersuara, pasti akan membuatnya muntah darah dan nyawanya pun sulit diselamatkan.

Ciu Cian Jen berkeluh dalam hati.

Nyawanya akan melayang sehingga menyebabkannya merasa agak menyesal.

Dia memandang Bokyong Cen.

Tampak wanita itu amat menderita sekali.

Keringat terus mengucur di keningnya, bahkan dia juga merintih.

Sementara Ouw Yang Hong terus menatap Ciu Cian Jen.

Apabila dia menambah sedikit tenaga, Ciu Cian Jen pasti mati.

Di saat bersamaan, mendadak Ciu Cian Jen berkata.

"Ouw Yang Hong! Ouw Yang Hong! Cepat lepaskan tanganmu, aku ingin bicara!"

Ouw Yang Hong tertawa dingin, sama sekali tidak mau melepaskan tangannya.

Bahkan dia ingin menambah tenaganya untuk menghancurkan jantung Ciu Cian Jen.

Kelihatannya tidak lama lagi pemuda tersebut akan mati.

Di saat bersamaan, mendadak Bokyong Cen berseru-seru lemah memanggil Ouw Yang Hong meminta bantuan.

Akan tetapi, Ouw Yang Hong tidak menggubrisnya, sebab tidak tahu Bokyong Cen bersungut-sungut atau hanya ingin mencegahnya membunuh Ciu Cian Jen.

Ketika melihat Ouw Yang Hong tidak menggubrisnya, Bokyong Cen berseru-seru lagi dengan suara gemetar.

"Ouw Yang Hong! Ouw Yang Hong ... cepat kemari! Pegang tanganku, cepatlah kau kemari!"

Walau Bokyong Cen berseru dengan suara gemetar, namun Ouw Yang Hong tetap tidak melepaskan tangannya yang mencengkeram bahu Ciu Cian Jen.

Karena di saat ini sudah sulit baginya untuk melepaskan tangannya, lantaran Ciu Cian Jen juga mengerahkan lwee kangnya untuk melawan.

Apabila Ouw Yang Hong menarik kembali lwee kang yang telah dikerahkan, tentu lwee kang Ciu Cian Jen akan menerjangnya.

Justru di saat bersamaan terdengar suara yang amat nyaring menggetarkan kalbu.

Ouw Yang Hong dan Ciu Cian Jen tertegun.

Ternyata suara tangisan bayi.

Bayi dari mana?

Karena mereka berdua tertegun, sehingga masing-masing tidak mengerahkan lwee kang, berhenti serentak lalu mendengarkan suara tangisan bayi tersebut.

Mendadak Ouw Yang Hong tersentak sadar lalu berseru-seru dengan wajah berseri penuh kegembiraan.

"Bokyong Cen yang melahirkan! Bokyong Cen yang melahirkan ..."

Ouw Yang Hong segera melepaskan Ciu Cian Jen dan berlari mendekati Bokyong Cen.

Pakaian wanita itu telah berlumuran darah.

Dalam pelukannya tampak seorang bayi sedang menangis nyaring.

Wajah dan sekujur badan Bokyong Cen penuh keringat, lemah, lesu dan tampak amat lelah sekali.

Namun dia masih berusaha membelai-belai bayi itu dengan tangannya.

Iba juga hati Ouw Yang Hong menyaksikannya.

"Kakak ipar! Kakak ipar! Biar aku yang menggendong bayi itu, aku akan melihat keadaanmu!"

Katanya dengan suara ringan.

Dia juga berkata dalam hati.

Anak sudah dilahirkan, tapi aku belum tahu lelaki atau perempuan.

Alangkah baiknya apabila lelaki.

Kalaupun perempuan, juga tidak apa-apa.

Sebab dia tetap darah dagingku, keluarga Ouw Yang.

Semula Bokyong Cen masih merasa ragu menyerahkan bayi itu kepada Ouw Yang Hong, namun kemudian diserahkannya juga.

"Gendonglah baik-baik! Lihat dia ..."

Katanya perlahan-lahan. Hati Ouw Yang Hong berdebar-debar. Dengan hati-hati sekali dia menggendong bayi itu. Dalam hatinya amat berterimakasih kepada Bokyong Cen.

"Ya! Ya! Aku pasti baik-baik menggendongnya. Kau beristirahatlah!"

Kata Ouw Yang Hong perlahan-lahan sambil manggut-manggut. Digendongnya bayi itu kemudian dirabanya alat kelaminnya. Begitu meraba alat kelamin bayi itu dia tampak gembira sekali.

"Bagus! Bagus! Keluarga Ouw Yang punya turunan, keluarga Ouw Yang punya turunan!"

Serunya. Ouw Yang Hong menggendong bayi itu sambil berjingkrak-jingkrak dan tertawa gelak seperti orang gila saking girangnya. Bokyong Cen juga kelihatan gembira.

"Dia adalah Ouw Yang Kek?"

Tanyanya. Ouw Yang Hong segera mengangkat bayi itu tinggi-tinggi, lalu menyahut sekeras-kerasnya.

"Betul! Dia lelaki, dia Ouw Yang Kek! Ha ha ha! Aku sudah punya anak, dia Ouw Yang Kek!"

Bokyong Cen amat bergirang dalam hati.

"Ouw Yang Kek, dia bernama Ouw Yang Kek ..."

Gumamnya perlahan-lahan dengan suara ringan.

Setelah melahirkah, Bokyong Cen kelihatan lembut sekali.

Mereka bertiga terus memandang bayi yang baru lahir itu, sehingga suasana yang tegang mencekam tadi sirna dengan sendirinya.

Ouw Yang Hong menggendong bayi itu sambil berjalan mondar-mandir.

"Kau pergi saja, jangan berada di sini. Aku ingin baik-baik menggendong anakku. Tahukah kau, aku Ouw Yang Hong sudah punya anak?"

Ciu Cian Jen melihat Ouw Yang Hong begitu gembira dan bersedia melepaskannya, hatinya menjadi terhibur.

"Ouw Yang Hong, kini kau melepaskan diriku tapi kelak aku tetap akan mencarimu membuat perhitungan!"

Katanya. Ouw Yang Hong menatapnya, lalu tertawa gelak. Kini dia tidak tampak seperti orang jahat, melainkan kelihatan penuh kehapak-bapakan yang diliputi kasih sayang.

"Ciu Cian Jen, kalau kelak kau ingin mencariku, itu terserah kau saja. sekarang kau boleh pergi,"

Sahutnya dengan gembira. Ciu Cian Jen menjura kepada Bokyong Cen.

"Kakak Bokyong, aku mohon diri!"

Katanya. Bokyong Cen tidak menahannya, juga tidak menyinggung soal rencana mereka pergi ke markas Tiat Ciang Pang.

"Ciu Pangcu, kau mau pergi?"

Sahutnya dengan ringan dan hambar.

Hati Ciu Cian jen amat kecewa.

Kemudian dia berkata dalam hati.

Kelihatan guru telah salah menilai wanita ini.

Kini dia dan Ouw Yang Hong sudah punya anak dan mereka berdua pun tampak akur kembali.

Mereka berdua adalah pasangan suami istri, maka sia-sia guru mengkhawatirkan wanita itu.

Berselang sesaat, dia berkata kepada Bokyong Cen.

"Kakak Bokyong, aku mau pergi, tidak akan mengganggumu lagi. Tapi aku harus membakar jasad guruku dulu, lalu abunya akan kubawa ke markas Tiat Ciang Pang."

Ketika berkata, Ciu Cian Jen juga bersikap hambar, seakan tidak begitu kenal pada Bokyong Cen.

Bokyong Cen amat cerdas.

Dia sudah tahu apa yang dipikirkan Ciu Cian Jen, namun tidak mau mengungkapnya, melainkan hanya tertawa dingin.

"Ciu Pangcu, aku dengar kau sudah mengabulkan permintaan almarhum ketua lama, bahwa kau akan menjaga diriku."

"Kakak Bokyong, kelihatannya kau sudah tidak perlu kujaga lagi. Kini ada Ouw Yang Hong yang menjaga dan mengurusimu, tentunya kau akan merasa puas sekali,"

Sahut Ciu Cian Jen. Bokyong Cen tertawa dingin lagi lalu berkata.

"Di dunia ini ada berapa kaum lelaki yang seperti almarhum Siangkoan Pangcu, begitu baik terhadap wanita, tapi justru malah jadi seorang bodoh. Aku lihat masa depan Ciu Cian Jen cukup cemerlang, mengapa tidak segera pergi? Kalau kau tetap berada di sini, mungkin nyawamu akan terancam."

Ucapan Bokyong Cen sungguh membuat Ciu Cian Jen jadi serba salah.

Pergi salah, tidak pergi pun salah.

Mendadak di luar terdengar suara derap kaki kuda, yang disusul oleh suara siulan, sehingga kuda-kuda itu pun ikut meringkik-ringkik, tak lama kemudian berhenti di depan kuil tua itu.

Saat itu Ouw Yang Hong sedang tenggelam dalam kegembiraan.

Dia terus menggendong bayi itu.

Di dunia ini memang harus ada yang hidup dan mati, satu pergi satu muncul.

Kalaupun aku Ouw Yang Hong harus mati, tidak apa-apa.

Sebab keluarga Ouw Yang sudah punya keturunan.

Aku dan kakak merupakan kaum rimba persilatan.

Kini kakak dan gurunya entah pergi ke mana.

Aku sudah punya anak.

Apabila kakak tahu, pasti girang sekali.

Begitu kata dalam hatinya.

Di saat Ouw Yang Hong sedang berkata dalam hati, muncullah orang-orang itu memasuki kuil tua, lalu berdiri di hadapan mereka bertiga.

Mereka adalah orang-orang Tiat Ciang Pang.

Mereka semua pergi tapi kembali lagi.

Ketika melihat thai susiok dan para susiok itu, Ciu Cian Jen segera berkata perlahan-lahan.

"Bagus sekali Susiok dan Sucou kembali lagi!"

Orang tua yang dipanggil sucou menatap Ciu Cian Jen dengan tajam, lalu menyahut dengan dingin.

"Ketika kami pergi, terus memikirkan pangcu yang seorang diri di sini. Kami tidak bisa tenang, maka segera kembali untuk menengok pangcu."

Ciu Cian Jen tidak bodoh.

Dia tahu mereka kurang menyetujuinya diangkat menjadi ketua, tidak mungkin menaruh perhatian padanya.

Mereka kembali, sudah pasti punya suatu rencana.

Namun Ciu Cian Jen tidak mengungkapnya, hanya tertawa dingin.

Sementara Ouw Yang Hong terus menggendong bayi itu.

Melihat bayi tersebut tidak memakai baju, hanya dibungkus dengan mantel Bokyong Cen, Ouw Yang Hong segera membuka baju luarnya, digunakan untuk membungkus bayi itu.

Ternyata Ouw Yang Hong khawatir bayi itu akan kedinginan.

Dia mendekati Bokyong Cen, kemudian berlutut di hadapannya seraya berkata dengan lembut.

"Kakak ipar, keadaanmu sudah membaik? Keluarga Ouw Yang sudah punya turunan. Dia adalah Ouw Yang Kek, lihatlah! Dia mirip kau dan mirip aku ..."

Usai berkata demikian, Ouw Yang Hong tertawa gelak. Suara tawanya penun mengandung kegembiraan. Wajah Bokyong Cen juga berseri-seri penuh diliputi kelembutan.

"Ouw Yang Kek! Ouw Yang Kek! Ternyata dia Ouw Yang Kek . .."

Katanya dengan suara rendah.

Ternyata Ouw Yang Hong pernah bilang padanya, kalau melahirkan anak lelaki, akan dinamai Ouw Yang Kek, dan apabila anak perempuan, akan dinamai Ouw Yang Giok.

Ouw Yang Hong terus memandang bayi itu.

Ouw Yang Kek, Ouw Yang Kek!

Kau adalah turunan keluarga Ouw Yang.

Begitu lahir kau sudah merupakan tuan muda Perkampungan Pek Tho San Cung.

Kau akan hidup senang, mewah dan disanjung semua orang.

Sementara Ciu Cian Jen memberi hormat kepada orang tua itu, lalu berkata dengan sungguh-sungguh.

"Hwa sucou, mari kita pergi!"

Orang tua itu tertawa, lalu menyahut dengan suara parau.

"Kau memang harus pergi, namun kau tidak bisa pergi lho!"

Ciu Cian Jen tercengang ketika mendengar ucapan orang tua itu.

"Apa maksud ucapan sucou?"

Tanyanya.

Orang tua itu benama Hwa Sen Tit.

Dia amat angkuh dalam partai Tiat Ciang Pang.

Mengandal pada kedudukannya sebagai tingkatan tua, maka dia tidak memandang sebelah mata pun pada Siangkoan Wie.

Kini Ciu Cian Jen menggantikan ke-dudukan Siangkoan Wie sebagai pangcu, lagi pula usianya masih begitu muda, bagaimana mungkin Ciu Cian Jen berada dalam matanya?

"Ciu Cian Jen, setiap generasi yang diangkat sebagai ketua, rata-rata sudah terkenal dan amat gagah.

Tapi sampai di tangan Siangkoan Wie, Tiat Ciang Pang justru mengalami kemerosotan, dan bahkan memilihmu menggantikan kedudukannya.

Bukankah akan menjadi bahan tertawaan kaum rimba persilatan?

Hari ini, aku dan para susiokmu berada di sini, menghendakimu mengembalikan Telapak Besi itu, lalu kau membunuh diri dan mulai sekarang Tiat Ciang Pang tiada hubungan lagi denganmu."

Ciu Cian Jen tidak tampak gugup dan panik.

Dia menengok kesana kemari, melihat para susiok itu terus menatapnya dengan bengis.

Ciu Cian Jen sudah tahu bahwa mereka semua bersekongkol untuk membunuhnya.

Kemudian dia memandang salah seorang susioknya, yang kebetulan sedang melirik ke arahnya dengan kepala tertunduk.

"Liau susiok, aku pikir kau pun setuju apabila aku meletakkan jabatan ketua. Ya, kau?"

Yang dipanggil Liau susiok itu i ernama Liau Jauw Sing.

Dia amat akrab dengan almarhum Siangkoan Wie.

Saat ini dia bersama susiok dan para sutenya kemari untuk membunuh Ciu Cian Jen, itu membuatnya merasa tidak enak dalam hati.

Maka, dari tadi dia diam saja, sama sekali tidak herani mengeluarkan suara.

Kini ditanya langsung oleh Ciu Cian Jen, dia pun menyahut.

"Ciu Cian Jen, lebih baik kau meletakkan jabatan ketua saja! Biar Hwa susiok yang menggantikanmu!"

Ciu Cian Jen mendongakkan kepala seraya tertawa gelak. Namun kemudian suara tawanya berubah sedih. Setelah itu dia menuding semua orang seraya berkata.

"Kalian semua adalah tingkatan tua, tentunya aku tidak bisa bicara apa-apa pada kalian! Namun mengenai jabatan ketua, adalah guru yang mengangkatku! Kalau kalian tidak setuju, mengapa tidak menentangnya ketika guru masih hidup? Kini guru sudah meninggal, barulah kalian kemari mendesakku! Apakah orang-orang Tiat Ciang Pang yang gagah berani, sudah menjadi begini?"

Hwa Sen Tit segera menyahut dengan dingin.

"Gurumu bisa diangkat menjadi ketua, karena aku mengalah padanya! Kalau tidak, bagaimana mungkin dia bisa menjadi ketua Tiat Ciang Pang? Tapi setelah dia menjadi ketua, Tiat Ciang Pang malah mengalami kemerosotan. Kini kau sebagai penggantinya, tentunya Tiat Ciang Pang tidak punya muka berdiri di dunia persilatan. Ini merupakan urusan besar, mana boleh dibuat main-main?"

"Kalau begitu, mengapa kau mengatakan setuju di hadapan guruku?"

Kata Ciu Cian Jen. Hwa Sen Tit tertawa.

"Siangkoan Wie menjadi ketua Tiat Ciang Pang, boleh dikatakan sudah sembilan belas tahun! Aku lihat dia hampir mati, bagaimana mungkin aku menentang keputusannya itu?"

Sahutnya.

"Maksud Sucou aku harus meletakkan jabatan ketua, lalu meninggalkan Tiat Ciang Pang, selanjutnya tidak boleh memperlihatkan muka di dunia persilatan? Begitu maksud Sucou kan?"

Kata Ciu Cian Jen sambil menatap Hwa Sen Tit. Orang tua itu tertawa lalu menolehkan kepalanya memandang belasan orang yang berdiri di belakangnya. Setelah itu, dia berkata lagi pada Ciu Cian Jen.

"Kau masih ingin pergi hari ini?"

Ciu Cian Jen tidak merasa takut.

"Kalian semua mau apa?"

Tanyanya dengan lantang. Hwa Sen Tit tertawa dingin, lalu berkata dengan tegas dan sepatah demi sepatah.

"Ciu Cian Jen, hanya ada dua jalan bagimu! Kesatu adalah kau harus memutuskan urat nadimu sendiri, agar cacat seumur hidup! Kedua kau harus dibunuh orang, mati di dalam kuil tua ini! Kami akan membawa mayatmu, dimakamkan di Gunung Ngo Ci Hong markas Tiat Ciang Pang!"

Ciu Cian Jen tertawa gelak, lalu dia mengeluarkan benda kepercayaan Tiat Ciang Pang, yaitu sebuah Telapak Besi.

"Hwa Sucou menghendaki aku menyerahkan jabatan ketua padamu, bukan?"

Tanyanya dengan suara dalam.

"Tidak salah! Siangkoan Wie memilihmu sebagai ketua, itu merupakan kebaikannya! Kau menyerahkan jabatan ketua padaku, itu adalah atas kemauan para anggota Tiat Ciang Pang! Kau juga sudah menjadi ketua, namun itu pun sudah berlalu, maka kini kau harus mengundurkan diri!"

Hati Ciu Cian Jen amat berduka.

Dia tahu bahwa kedatangan mereka untuk mencabut nyawanya.

Kalau dia menyerahkan jabatan ketua, seluruh urat nadinya pun akan diputuskan, dan akan menjadi orang cacat selamanya, bahkan kemungkinan besar nyawa juga akan melayang.

Mendadak Ciu Cian Jen menjatuhkan diri di hadapan mayat gurunya.

Sesaat kemudian dia mendongakkan kepalanya sambil tertawa panjang.

Wajahnya kelihatan sedih dan gusar, kemudian mengucurkan air mata.

"Suhu! Suhu! Kau menyerahkan jabatan ketua padaku, justru thai susiok dan para susiok ingin membunuhku. Suhu, katakanlah aku harus bagai-mana?"

Katanya. Setelah berkata dia lalu memandang semua orang.

"Sucou dan susiok, ijinkanlah aku membakar jasad suhu dulu, setelah itu harulah kita bertarung! Tentunya tidak akan terlambat bukan?"

Katanya perlahan-lahan. Orang tua itu kelihatan kurang setuju, namun Liau Jauw Sing segera maju lalu memberi hormat pada Hwa Sen Tit seraya berkata.

"Susiok, menurutku lebih baik membakar jasad Siangkoan Pangcu dulu!"

Hwa Sen Tit mengerutkan kening sambil berpikir. Beberapa saat kemudian barulah orang tua itu manggut-manggut.

"Baiklah!"

Ciu Cian Jen bangkit berdiri. Namun ketika dia ingin berjalan pergi, mendadak beberapa paman gurunya mengurungnya. Ciu Cian Jen tidak berkata apa pun, hanya menatapnya mereka dengan dingin.

"Mau apa pangcu pergi?"

Tanya Hwa Sen Tit.

"Mau mencari kayu untuk membakar jasad suhu,"

Sahut Ciu Cian Jen. Hwa Sen Tit tertawa dingin.

"Itu urusan kecil, tidak perlu Pangcu turun tangan sendiri!"

Kemudian dia berseru;.

"Kalian kemari!"

Tampak beberapa orang berpakaian hitam langsung mendekatinya, sekaligus memberi hormat. Hwa Sen Tit membalas hormat lalu memberi perintah.

"Cepat cari kayu!"

Mereka mengangguk lalu cepat-cepat mencari kayu di sekitar kuil tua itu.

Hasilnya mereka kumpulkan dekat tembok yang telah runtuh terhantam pukulan Ouw Yang Hong tadi.

Setelah itu, mereka menggotong jasad Siangkoan Wie ke atas tumpukan kayu itu.

Ketika mereka baru mau menyalakan api, mendadak terdengar suara bentakan yang mengguntur.

"Tunggu!"

Ternyata yang membentak itu adalah Liau Jauw Sing. Wajah orang itu tampak kelam.

"Ciu Cian Jen, siapa yang membuat jasad su-heng menjadi begini?"

Tanyanya. Pertanyaan orang itu menimbulkan suatu ide dalam hati Ciu Cian Jen. Dia segera menundukkan kepala dengan air mata bercucuran, lalu menyahut perlahan.

"Susiok, tadi suhu belum mati, hanya karena terjadi percekcokan dengan Ouw Yang Hong. Ouw Yang Hong menggunakan Ha Mo Kang merubuhkan tembok, dan reruntuhan tembok itu menimpa suhu hingga mati."

Betapa gusarnya Liau Jauw Sing mendengar itu.

"Ouw Yang Hong! Apa hebatnya Ouw Yang Hong hingga berani menghina orang Tiat Ciang Pang?"

Para susiok dan thai susiok itu memang merasa malu punya rencana untuk membunuh Ciu Cian Jen yang masih muda.

Namun mereka tetap mendongkol karena Ciu Cian Jen terpilih menjadi ke-tua.

Saat ini ada urusan lain, maka masing-masing ingin melampiaskan rasa mendongkolnya.

Namun sasaran mereka justru dialihkan pada Ouw Yang Hong.

Itulah ide dalam hati Ciu Cian Jen.

Salah seorang thai susiok tertawa dingin, kemudian berkata dengan sinis kepada Ouw Yang Hong.

"Ouw Yang Hong? Apakah dia memilih kepandaian hebat hingga berani menghina ketua Tiat Ciang Pang? Berarti dia menghina kita semua! Maka dendam ini harus dibalas!"

Saat itu hati Ouw Yang Hong sedang gembira.

Dia tetap berlutut di hadapan Bokyong Cen sambil memandang bayi yang baru lahir itu, sama sekali tidak memperdulikan orang-orang Tiat Ciang Pang.

Mendadak Ouw Yang Hong tersentak.

Ternyata di hadapannya telah berdiri belasan orang berpakaian hitam.

Mereka tak bersuara.

Kebetulan hati Ouw Yang Hong sedang gembira, maka ketika berbicara juga ramah sambil tertawa-tawa.

"Hei! Hei! Tolong kalian agak menjauh sedikit, jangan menghalangiku yang sedang memandang anak!"

Mereka tidak menggubris, tetap mengepung Ouw Yang Hong dan Bokyong Cen.

Akan tetapi, Ouw Yang Hong kelihatan amat sabar, tidak mem-perdulikan sikap mereka.

Hwa Sen Tit gusar sekali dalam hati, namun dia sudah tahu tentang diri Ouw Yang Hong dan sepak terjangnya.

Oleh karena itu dia tidak berani bertindak sembarangan.

Akan tetapi, Liau Jauw Sing justru tidak dapat mengendalikan diri.

Dia memandang Ouw Yang Hong seraya membentak.

"Ouw Yang Hong, kau telah mencelakai suhengku, maka kau harus mengganti nyawanya!"

Sementara Ouw Yang Hong terus memandang bayi itu.

Hatinya pun berubah lembut sekali.

Aku bersama wanita-wanita cantik itu, memang merasa gembira, tapi tidak sedemikian girang.

Ternyata orang kalau sudah punya anak, pasti sedemikian girang.

Kini aku sudah punya anak, selanjutnya tidak usah menyibukkan diri lagi di dunia persilatan, lebih baik diam di rumah mendidik anak.

Bahkan juga hidup bahagia bersama Bokyong Cen, setiap hari bersenda gurau.

Bukankah itu amat menggembirakan?

Katanya dalam hati.

Wajahnya tidak tampak dingin dan bengis lagi.

"Kalian jangan menggangguku! Selesaikan saja urusan kalian itu! Tadi secara tidak langsung aku membunuh Siangkoan Wie. Aku merasa amat menyesal, namun dia memang sudah sekarat. Kalaupun aku tidak membunuhnya, dia akan mati juga."

Apa yang dikatakan Ouw Yang Hong, sudah pasti tidak dapat diterima oleh para anggota Tiat Ciang Pang.

Sebab Siangkoan Wie akan mati cepat atau lambat, itu urusan Tiat Ciang Pang, tiada sangkut pautnya dengan Ouw Yang Hong.

Yang jelas Siangkoan Wie mati di tangan Ouw Yang Hong.

Apabila tentang kematian itu tersiar di dunia persilatan, di mana Tiat Ciang Pang menaruh muka?

Oleh karena itu pihak partai tersebut bertekad membunuh Ouw Yang Hong.

Mendadak terdengar suara aba-aba, dan seketika belasan orang Tiat Ciang Pang langsung berjalan mengitari Ouw Yang Hong, kecuali Ciu Cian Jen.

Mereka menatap Ouw Yang Hong dengan tajam, siap melancarkan serangan.

Menyaksikan gerak-gerik mereka itu, Ouw Yang Hong tertawa dingin dalam hati.

Namun dia justru malah membelai-belai wajah bayi itu.

Bab 29 TAMAT Orang-orang Tiat Ciang Pang terus mengitari Ouw Yang Hong.

Mereka menunggu kesempatan untuk menyerangnya.

Akan tetapi, Ouw Yang Hong sama sekali tidak bangkit berdiri, kelihatannya tidak berniat bertarung dengan mereka, sehingga membuat mereka menjadi serba salah.

Mendadak terdengar suara bentakan.

Orang yang membentak itu adalah Liau Jauw Sing, susiok Ciu Cian Jen.

"Ouw Yang Hong, lihat pukulan!"

Liau Jauw Sing menyerang punggung Ouw Yang Hong, sedangkan Ouw Yang Hong sama sekali tidak siap, lagi pula tidak menyangka bahwa mereka bersungguh-sungguh ingin mencabut nyawanya.

Saat ini, dia hanya memikirkan keselamatan Bokyong Cen dan bayi itu, tidak menduga bahwa orang-orang Tiat Ciang Pang akan membunuhnya.

Plak!

Sebuah pukulan bersarang di punggungnya, sehingga membuat badannya tersungkur ke depan sedikit.

Sudah barang tentu tangannya yang sedang membelai bayi itu terdorong ke depan pula, dan seketika bayi itu menangis keras.

Orang-orang Tiat Ciang Pang tidak menyangka bahwa pukulan Liau Jauw Sing itu akan berhasil menghantam punggung Ouw Yang Hong.

Maka mereka berdiri tertegun di tempat.

"Uaaakh ...!"

Mulut Ouw Yang Hong menyemburkan darah segar. Namun begitu mendengar suara tangisan bayi itu, dia langsung mendekapnya.

"Anak Kek! Anak Kek! Apakah aku telah membuat sakit badanmu? Aku ... aku tidak sengaja. Aku tidak sengaja ..."

Katanya. Sementara Bokyong Cen langsung memeluk bayi itu erat-erat, kemudian bernyanyi-nyanyi kecil.

"Anak itu baru lahir, langit cerah hari pun indah. Kekelaman hidup manusia akan sirna dengan sendirinya. Mengandung dan melahirkan, di kolong langit baru ada bayi baru ..."

Mendengar nyanyian Bokyong Cen itu, tanpa sadar Ouw Yang Hong mengucurkan air mata, kemudian dia berkata kepada Liau Jauw Sing.

"Kau pergi saja! Sebuah pukulanmu tidak dapat membunuhku. Aku pun tidak akan membuat perhitungan denganmu."

Dia mau melepaskan Liau Jauw Sing karena nuraninya ditimbulkan oleh kelahiran anaknya.

Akan tetapi, Liau Jauw Sing justru keliru akan maksud Ouw Yang Hong.

Dia menyangka Ouw Yang Hong takut, maka menerima pukulan itu.

Kalau sekarang tidak membunuhnya, bagaimana rasa tanggung jawabnya terhadap suhengnya yang telah mati itu?

Karena berpikir begitu, dia langsung menyerang lagi dengan sepasang telapak tangannya.

Apa bila Ouw Yang Hong terpukul kali ini, tentu akan terluka parah, bahkan mungkin akan mati seketika.

Ouw Yang Hong tidak ingin bertarung, maka hanya mengerahkan Iwee kangnya untuk menahan pukulan Liau Jauw Sing.

Badannya terhuyung-huyung ke belakang beberapa langkah, namun kembali berdiri tegak lagi seakan tidak terjadi apa-apa.

Menyaksikan itu, Hwa Sen Tit tertawa dingin.

"Kau punya hubungan akrab dengan Siang-koan Wie, kalau ingin membalas dendamnya, haruslah menggunakan kepandaian asli!"

Katanya membakar hati Liau Jauw Sing. Betapa gusarnya Liau Jauw Sing. Dia tahu bahwa orang tua itu mencurigainya tidak menyerang Ouw Yang Hong dengan sepenuh tenaga.

"Ouw Yang Hong, kubunuh kau!"

Bentaknya.

Liau Jauw Sing menyerangnya dengan sepenuh tenaga.

Sesungguhnya Ouw Yang Hong tidak mau bertarung, namun karena Liau Jauw Sing berulang kali menyerangnya, maka kemarahannya menjadi bangkit.

Wajahnya langsung berubah, kemudian dia mengangkat kedua tangannya dan didorong kannya ke depan.

Serangkum tenaga yang amat dahsyat menerjang ke arah Liau Jauw Sing, membuatnya terpental lalu roboh.

Hwa Sen Tit dan semua orang segera memapah Liau Jauw Sing.

Tampak mulut, hidung dan sepasang matanya mengeluarkan darah, kelihatannya tidak bisa hidup lagi.

Betapa terkejutnya Hwa Sen Tit dan lainnya.

Mereka semua berdiri tertegun di tempat, tidak tahu harus berbuat apa.

Berselang beberapa saat, barulah Hwa Sen Tit membuka mulut.

"Ouw Yang Hong, dalam satu hari kau telah membunuh dua orang Tiat Ciang Pang, maka Tiat Ciang Pang tidak akan menyudahi urusan ini!"

Bimbinglah hati Ouw Yang Hong.

Sesungguhnya dia tidak ingin membunuh orang, karena malam ini dia sudah punya anak.

Akan tetapi, pihak Tiat Ciang Pang terus mendesaknya.

Kelihatannya di dunia ini sulit menjadi orang baik, lebih gampang menjadi orang jahat.

Ouw Yang Hong memandang mereka.

"Lebih baik kalian jangan menggangguku, aku dan kakak ipar akan membawa pulang anak Kek!"

Hwa Sen Tit tertawa sinis.

"Ouw Yang Hong! Kau telah membunuh dua orang Tiat Ciang Pang kami, tapi masih ingin angkat kaki dari sini? Apakah kami akan membiarkanmu pergi?"

Sahutnya dengan penuh dendam. Ouw Yang Hong mulai tidak sabaran.

"Kau mau apa? Apakah kau mampu mem bunuhku?"

Sahutnya sambil tertawa dingin.

Hwa Sen Tit tertawa panjang, kemudian memberi isyarat.

Seketika juga tampak belasan orang mengepung Ouw Yang Hong.

Berselang sesaat, mendadak tiga orang menyerang Ouw Yang Hong, sehingga bahu dan kaki Ouw Yang Hong terpukul dan terasa sakit sekali.

Ouw Yang Hong menatap mereka dengan mata berapi-api.

"Aku tidak ingin membunuh orang, tapi orang justru ingin membunuhku, maka aku tidak boleh membiarkannya! Kalau aku mati, bukankah Ouw Yang Kek akan jadi anak yatim? Oleh karena itu, aku tidak boleh mati!"

Katanya dengan sengit.

Mendadak Ouw Yang Hong berteriak keras.

Sesungguhnya dia tidak mau berteriak keras, karena khawatir akan mengejutkan bayi itu.

Namun dia terpaksa, bahkan sekaligus melancarkan sebuah pukulan ke arah orang yang kebetulan sedang maju.

Orang itu terpental, kemudian roboh tak bernyawa lagi.

"Cepat bentuk formasi Liok Hap Tiat Ciang Tin!"

Seru Hwa Sen Tit.

Seketika orang-orang yang mengepung Ouw Yang Hong itu memecah menjadi enam kelompok, kemudian menyerangnya bergantian sesuai dengan formasi tersebut.

Bukan main dahsyatnya serangan-serangan itu!

Tapi Ouw Yang Hong memiliki Iwee kang yang amat tinggi, maka mampu menahan serangan-serangan itu.

Hanya saja pakaiannya sudah hancur, tinggal pakaian dalamnya.

Keadaannya itu membuat semua orang berhenti menyerangnya.

"Kalau kalian meninggalkan tempat ini, aku akan menyudahi urusan ini! Tapi apabila kalian tidak mau pergi, sehingga memaksaku turun tangan, kalian semua pasti mati!"

Katanya sambil menatap mereka. Hwa Sen Tit tertawa dingin.

"Pesilat tangguh di kolong langit pun sulit membendung formasi Liok Hap Tiat Ciang Tin! Ouw Yang Hong, hari ini kau pasti mampus!"

Sahutnya lantang.

Ouw Yang Hong tidak menyahut, hanya tertawa dingin, kemudian melirik ke arah Bokyong Cen, yang sedang duduk sambil menggendong bayinya.

Ouw Yang Hong berpikir, kalau aku membunuh orang lagi, dia pasti tidak senang dan tidak akan memperdulikan diriku!

Namun tak bisa tidak aku harus membunuh orang, sebab mereka akan membunuhku!

Bagaimana mungkin aku mati sekarang?

Sudahlah!

Yang penting dia merawat anak Kek baikbaik, tidak memperdulikan diriku juga tidak jadi masalah!

Hwa Sen Tit terus memperhatikan Ouw Yang Hong.

Ketika Ouw Yang Hong melirik ke arah Bokyong Cen pun tidak terlepas dari matanya.

Begitu melihat Bokyong Cen duduk di situ, seketika timbul suatu rencana busuknya.

Dia langsung melesat ke arah Bokyong Cen, lalu menjulurkan tangannya mencengkeram wanita itu.

Walau matanya buta,namun Bokyong Cen masih memiliki pendengaran yang amat tajam.

Ketika mendengar desiran angin ke arahnya, dia tahu bahwa ada orang membokongnya.

Dia segera menggeserkan badannya sedikit, sekaligus balas menyerang laksana kilat.

Hati Hwa Sen Tit tersentak.

Dia tidak menyangka bahwa wanita buta itu dapat membalas serangannya dengan begitu cepat.

Kemudian tangan orang tua itu bergerak, ternyata dia melancarkan dua buah pukulan.

Kedua pukulan itu sama sekali tidak mengeluarkan suara, mengarah bagian dada dan kening Bokyong Cen.

Baca Juga: Si Tangan Halilintar 5

Baca Juga: Perintah Maut Buyung Hok

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert