Eps 6 Pedang Hati Suci - Jin Yong
Baca online Pedang Hati Suci - Jin Yong
Cersil Pedang Hati Suci - Jin Yong.
Dasarnja dia memang seorang pemuda tjerdik dan pintar, segera terpikir olehnja mengapa Tjui Sing tadi tidak mau bertemu dengan orang2 ini dan sekarang orang2 inipun bersikap memusuhi sang Piauwmoay, pasti dibalik kesemuanja ini terdapat rahasia apa2.
Segera Siau-hong berkata.
"Piaumoay, marilah kita menurut maksud Hoa-pepek, lebih dulu kita tangkap Siau-ok-tjeng itu untuk mentjatjahnja hingga hantjur lebur untuk menjembajangi arwah Kuku. Dan djika masih ada urusan lain lagi, biarlah kita kesampingkan untuk sementara ini."
"Dia …… dia bukan Siau-ok-tjeng,"
Kata Tjui Sing pula.
Siau-hong melengak dan bingung.
Dan ketika dilihatnja pula sikap semua orang mengundjuk djidjik dan menghina pada sang Piauwmoay, kembali ia terkesiap, lapat2 ia merasa ada sesuatu jang tidak beres didalamnja.
Tapi ia tidak ingin lantas mengusut rahasia apa jang disembunjikan itu, segera katanja pula dengan suara keras.
"Para paman, para saudara dan sobat2 baik, marilah sekali lagi mohon kalian suka mentjurahkan sedikit tenaga untuk menjelesaikan urusan ini. Habis Siau-ok-tjeng itu tertangkap, satu-persatu pasti aku orang she Ong akan menghaturkan terima kasih atas budi kebaikan kalian." ~ Habis berkata, lebih dulu ia lantas membungkuk untuk memberi hormat.
"Ja, marilah kita mentjari Siau-ok-tjeng itu, kita harus bergerak setjepatnja agar paderi djahanam itu tidak keburu melarikan diri lebih dulu!"
Seru semua orang be-ramai2.
Berbareng mereka lantas menerdjang keluar gua dengan ber-bondong2.
Maka hanja dalam sekedjap sadja didalam gua itu mendjadi sepi tertinggal Tjui Sing dan Ong Siau-hong berdua.
Entah siapa jang membuang obornja didepan gua, sinar api obor jang sebentar terang sebentar gelap itu membikin suasana didalam gua itu djadi seram.
Wadjah "Leng-kiam-siang-hiap"
Djuga sebentar terang sebentar gelap, kedua muda-mudi berhadapan sambil tangan bergandeng tangan, banjak sekali isi hati masing2, tapi entah tjara bagaimana mereka harus mulai bitjara.
Diam2 Tik Hun membantin.
"Kedua saudara misan telah bertemu kembali sesudah terpisah sekian lamanja, tentu banjak kata-kata mesra jang ingin mereka utarakan, kalau aku ikut mendengarkan disini rasanja tidaklah pantas."
Dan selagi Tik Hun bermaksud merajap pergi, tiba2 didengarnja suara tindakan dan dua orang sedang menudju ketempat sembunyinja itu. Terdengar seorang diantaranja sedang berkata.
"Tjoba kau mentjari kearah sana, aku akan mentjari dari sebelah sini, sesudah satu keliling, nanti kita bertemu kembali disini."
"Baik,"
Sahut seorang lain "Eh, disekitar sini banjak bekas tapak kaki, mungkin Siau-ok-tjeng itu bersembunji disekitar sini, kita harus hati2 mentjarinja!"
"He, Lau Song,"
Tiba2 orang jang pertama berkata pula dengan menahan suara.
"Nona Tjui itu tjantik molek, selama setengah tahun ini, sungguh redjeki Siau-ok-tjeng itu bukan main besarnja setiap hari dilajani seorang gadis djelita seperti nona Tjui!"
"Hahaha! Memang benar!"
Demikian sahut kawannja dengan ter-bahak2.
"Pantas orang she Ong itu tidak pikirkan hal itu dan rela menerima ‘barang bekas’. Habis susah sih mentjari gadis setjantik itu."
Begitulah kedua orang itu sambil berkelakar dan ter-bahak2 lalu terpentjar untuk mentjari "Siau-ok-tjeng"
Alias Tik Hun.
Rupanja mereka tidak tahu bahwa Ong Siau-hong dan Tjui Sing masih berada didalam gua, mereka mengira bahwa muda-mudi itu tentu sudah ikut keluar gua untuk mentjari musuh, maka tjara bitjara mereka mendjadi tidak tedeng aling2 hingga pembitjaraan jang tidak sedap itu dapat didengar semua oleh Siau-hong dan Tjui Sing.
Sudah tentu Tik Hun ikut mendengar semua pembitjaraan kedua orang tadi, diam2 ia merasa pedih bagi kedua muda-mudi jang didjadikan bulan2an itu, pikirnja.
"Hoa Tiat-kan itu benar2 maha djahanam, dia sengadja mengarang tjerita2 kotor jang tidak benar itu untuk merusak nama baik nona Tjui, apa paedahnja sih baginja?"
Ketika ia mengintip lagi kedalam gua, ia melihat Tjui Sing sedang mundur2 kebelakang dengan wadjah putjat dan badan gemetar, katanja dengan suara ter-putus2.
"Piau …… Piauko, djangan kau pertjaja pada ……pada omongan mereka jang ngatjo-belo!"
Siau-hong tidak mendjawab, tapi mukanja tampak ber-kerut2 menahan perasaan.
Terang utjapan kedua orang tadi se-akan2 ular berbisa jang telah memagut lubuk hatinja.
Selama setengah tahun ini dia menanti diluar lembah bersaldju itu, siang-malam selalu terpikir djuga olehnja.
"Piauwmoay berada ditjengkeram kedua paderi tjabul itu, rasanja sulitlah baginja untuk mempertahankan kesutjian badannja. Asal djiwanja tidak terganggu, rasaku sudah puas dan berterima kasih kepada langit dan bumi."
Akan tetapi tiada manusiapun jang mempunjai batas rasa puas.
Djika dulu ia berpikir begitu, adalah sekarang sesudah bertemu kembali dengan Tjui Sing, ia berharap pula agar gadis itu dapat mendjaga diri tetap dalam keadaan sutji bersih.
Dan demi mendengar pertjakapan kedua orang tadi, diam2 ia memikir.
"setiap orang Kangouw sudah mengetahui peristiwa ini, sebagai seorang laki2 sedjati, aku Ong Siau-hong masakah terima dibuat tertawaan orang?"
Tapi demi nampak keadaan Tjui Sing jang harus dikasihani itu, kembali hatinja lemas lagi, ia menghela napas sambil menggeleng kepala, katanja kemudian.
"Sudahlah, mari kita pergi, Piauwmoay!"
"Tapi kau pertjaja tidak kepada utjapan orang2 itu?"
Tanja Tjui Sing.
"Kata2 iseng orang luar jang tak keruan itu buat apa mesti digubris?"
Sahut Siau-hong.
"Tapi, kau pertjaja tidak?"
Tjui Sing menegas pula sembari gigit bibir sendiri. Siau-hong ter-mangu2 sedjenak, kemudian ia menjahut.
"Baiklah, aku takkan pertjaja!"
"Tapi didalam hati kau masih ragu2, bukan? Kau pertjaja penuh omongan mereka, bukan?"
Kata Tjui Sing. Dan sesudah merandek sedjenak, kemudian sambungnja pula.
"Sudahlah, selandjutnja kau tidak perlu bertemu dengan aku lagi, anggaplah aku sudah mati didalam lembah bersaldju ini."
"Ai, Piauwmoay, kenapa kau berkata demikian,"
Sahut Siau-hong.
Sungguh pedih sekali rasa hati Tjui Sing, air matanja lantas bertjutjuran.
Jang dipikirnja sekarang hanja selekasnja dapat meninggalkan lembah saldju itu dan meninggalkan orang banjak, ia ingin menjingkir kesuatu tempat jang tak dikenalnja, suatu tempat jang djauh dari manusia.
Segera ia angkat kaki dan berlari keluar gua, tapi baru ia melangkah keluar gua, tanpa merasa ia menoleh kepodjok dalam gua itu.
Selama setengah tahun ini dipodjok gua itu dia berteduh siang dan malam, meski tiada suatu alat perabot apa2, tapi dasarnja gadis itu memang radjin dan suka akan kebersihan, maka banjak djuga barang keradjinan tangan jang telah dibuatnja dari bulu burung seperti tikar, kasur dan sebagainja.
Kini mendekati detik akan berpisah dengan barang2 jang berdampingan selama setengah tahun dengan dirinja itu, betapapun ia merasa berat djuga.
Tiba2 terlihat olehnja mantel bulu jang pernah dihadiahkannja kepada Tik Hun dahulu itu.
Hatinja tergerak segera dan teringat kepada pemuda itu.
"Orang itu bergembar-gembor katanja dia adalah paderi tjabul dan bertekad akan membunuhnja. Pabila dia diketemukan mereka, dalam keadaan satu lawan musuh sebanjak itu, apakah dia sanggup menjelamatkan diri?"
Tanpa merasa ia putar balik ketempat tidurnja itu, ia ambil mantel bulu itu dan dipandangnja dengan ter-mangu2 hingga sekian lamanja.
Melihat badju bulu itu terletak ditempat Tjiu Sing, sedangkan badju itu tampak tjukup longgar dan besar, bentuknja adalah mantel orang laki2, mau-tak-mau Siau-hong mendjadi tjuriga.
Segera ia menanja.
"Badju apakah itu?"
"Badju bulu jang kubuat sendiri,"
Sahut Tjui Sing.
"Apakah untuk kau pakai sendiri?"
Siau-hong menegas. Hampir2 Tjui Sing ketelandjur mendjawab bukan, tapi segera ia merasa tidak tepat djawaban itu, ia mendjadi ragu2 hingga tidak menjahut.
"Bentuknja seperti badju lelaki?"
Tanja Siau-hong pula, suaranja bertambah kaku, suatu tanda hatinja dirangsang rasa gusar. Tjui Sing mengangguk tanpa mendjawab.
"Kau jang bikin untuk dia?"
Tanja Siau-hong lagi. Kembali Tjui Sing mengangguk. Siau-hong mengambil badju bulu itu dan memeriksanja sedjenak, lalu katanja.
"Ehm, bagus sekali buatanmu ini."
"Piauko,"
Tiba2 Tjui Sing membuka suara.
"djanganlah kau memikir jang tidak2, dia dan aku tiada ……. tiada ………." ~ ia tidak melandjutkan utjapannja demi melihat sorot mata Siau-hong mengundjuk sesuatu sikap jang aneh. Mendadak Siau-hong membanting badju bulu itu ketempat tidur Tjui Sing sambil berkata dengan nada mengedjek.
"Hm, badjunja mengapa berada ditempat tidurmu?"
Seketika Tjui Sing merasa hampa, sungguh tak tersangka olehnja sang Piauko jang biasanja menjandjung pudja padanja itu kini mendadak bisa berubah begitu kasar dan mendjemukan.
Dalam dongkolnja iapun tidak sudi banjak memberi pendjelasan lagi, pikirnja.
"Ja, sudahlah, djika kau bertjuriga dan menuduh aku berbuat serong, bolehlah kau bertjuriga dan menuduh sesukamu, buat apa aku mesti memohon belas kasihanmu untuk memahami penasaranku?"
Dari tempat sembunjinja Tik Hun dapat mengikuti keadaan didalam gua itu dengan djelas, ia melihat Tjui Sing menanggung penasaran karena disangka menjeleweng dari garis2 kesusilaan, air muka gadis itu tampak sangat tjemas dan sedih, diam2 Tik Hun ikut merasa tidak enak, pikirnja.
"Aku Tik Hun sudah biasa didakwa dan dipitenah orang setjara se-mena2, bagiku hal2 itu tidak mendjadi soal. Tapi nona Tjui, seorang lemah lembut jang tak berdosa, mana boleh dia dibiarkan menanggung tuduhan jang tak benar itu?"
Berpikir begitu, djiwa kesatria Tik Hun seketika terbangkit, meski dia tjukup tahu dirinja sedang ditjari ber-puluh2 djago silat Tionggoan diluar gua sana, kalau kepergok mereka, pasti djiwanja tak mungkin diampuni.
Tapi ia tidak dapat berpikir pandjang lagi, Hlm.
15 Gambar.
"Ehm, bagus djuga badju bulu ini. Apa kau sendiri jang membuatnja untuk dia?"
Demikian Tik Hun mendengar Ong Siau-hong sedang menanja Tjui Sing dengan penuh tjuriga. sekali lompat segera ia menjusup kedalam gua lagi dan berseru.
"Ong Siau-hong, salah besar apa jang telah kau pikir itu!"
Tjui Sing dan Siau-hong terkedjut semua ketika mendadak nampak seorang menerobos kedalam gua.
Kini Tik Hun tidak gundul lagi seperti dulu, rambutnja sudah panjang kembali, sesudah memperhatikan sedjenak barulah Ong Siau-hong dapat mengenalnja.
Tjepat ia lolos pedangnja, tangan lain lantas dorong mundur Tjui Sing, dengan pedang siap melintang didepan dada, sedapat mungkin ia tenangkan diri untuk menghadapi musuh.
"Kedatanganku ini bukan untuk mengadjak berkelahi padamu,"
Kata Tik Hun.
"Aku ingin mengatakan padamu, nona Tjui adalah seorang gadis jang sutji bersih, seorang perawan ‘ting-ting’, djika kau memperisterikan dia, sungguh redjekimu tak terperikan besarnja. Maka djangan kau sembarangan berprasangka atas dirinja."
Sungguh sama sekali Tjui Sing tidak menjangka bahwa didalam saat demikian itu mendadak Tik Hun bisa tampil kemuka tanpa mengenal bahaja jang akan mengantjam padanja, hanja demi untuk membuktikan kebersihan Tjui Sing jang dituduh setjara kotor oleh orang banjak itu.
Sungguh rasa terima kasih Tjui Sing tak terhingga dan berkuatir pula, maka segera katanja.
"Lekas ……. lekas kau pergi sadja dari sini, semua orang ingin membunuh kau, disini terlalu bahaja bagimu."
"Aku tahu, tapi aku harus mendjelaskan urusan ini kepada Ong-siauhiap, pertjajalah padaku, nona Tjui adalah seorang gadis sutji bersih, djangan ……. djangan kau sembarangan mempitenah dia."
Dasarnja Tik Hun memang tidak pandai bitjara, biarpun sesuatu urusan biasa sadja djuga susah berbitjara setjara terang, apalagi urusan sekarang ini adalah sesuatu jang rumit dan penting hingga apa jang dikatakan itu ternjata belum melenjapkan rasa tjuriganja Ong Siau-hong.
Sudahlah, lekas kau pergi sadja!
Terima kasih atas maksud baikmu, biarlah kubalas padamu didjelmaan hidup jang akan datang,"
Demikian kata Tjui Sing dengan terharu.
"Nah, lekaslah kau pergi dari sini, mereka ingin membunuh kau …….."
Mendengar utjapan Tjui Sing jang penuh memperhatikan keselamatan "Siau-ok-tjeng"
Itu, rasa tjemburu Siau-hong mendjadi ber-kobar2. Bentaknja mendadak.
"Rasakan pedangku!" ~ Berbareng itu pedangnja terus menusuk kedada Tik Hun. Meski serangan itu dilakukan dengan sangat tjepat dan teramat lihay, tapi Tik Hun sekarang sudah bukan Tik Hun dulu lagi. Kini Tik Hun telah memiliki ilmu2 silat kelas wahid "Sin-tjiau-kang"
Dan "Hiat-to-bun"
Sekaligus, dengan kedua matjam ilmu sakti dari dua aliran jang berbeda itu, biarpun sekarang Ting Tian dan Hiat-to Lotjo hidup kembali djuga belum tentu mampu menandinginja.
Ketika melihat serangan Ong Siau-hong tiba, sedikit Tik Hun mengegos sadja dapatlah ia menghindarkan tusukan itu.
Katanja.
"Aku tidak ingin bergebrak dengan kau. Tapi aku mengharap engkau suka mengambil nona Tjui sebagai isteri, djanganlah bertjuriga sedikitpun atas kesutjiannja, dia …. dia adalah seorang nona jang baik."
Diwaktu Tik Hun bitjara, susul-menjusul Ong Siau-hong sudah melantjarkan serangan2 pula setjara gentjar.
Tapi seperti tidak terdjadi apa2 sadja Tik Hun dapat berkelit kian kemari dengan mudah.
Diam2 Tik Hun heran.
"Aneh, ilmu silat orang ini dahulu sangat bagus, mengapa selama setengah tahun ini dia tiada kemadjuan, sebaliknja mundur malah?"
Rupanja ia salah sangka, bukanlah ilmu pedang Ong Siau-hong tiada kemadjuan, tapi dia sendirilah jang selama ini ilmu silatnja telah madju pesat.
Padahal Ong Siau-hong tjuma tergolong djago kelas dua atau tiga dikalangan Bu-lim, sebaliknja Tik Hun sekarang sudah memiliki dua matjam ilmu silat dari dua aliran Tjing dan Sia jang hebat, ketjuali pengalaman kurang dan praktek menghadapi musuh masih harus ditambah, tapi dalam hal ilmu silat sedjati kini dia boleh dikata sudah tergolong kelas tertinggi jang djarang ada tandingannja.
Maka sia2 sadja Ong Siau-hong menjerang ber-ulang2, setiap tusukannja selalu dapat dihindarkan Tik Hun seperti tiada terdjadi apa2 sadja.
Keruan Siau-hong bertambah murka, ia menjerang makin gentjar dan tjepat.
"Ong-siauhiap,"
Kata Tik Hun.
"asal kau berdjandji takkan mentjurigai nona Tjui dan aku segera akan pergi dari sini. Kawan2mu itu akan membunuh diriku, aku tidak boleh tinggal terlalu lama disini." ~ Sembari bitjara, tetap ia menghindarkan serangan2 Siau-hong dengan seenaknja sadja. Dalam murkanja, permainan Kiam-hoat Ong Siau-hong semakin lama semakin tjepat. Dalam hal Ginkang Tik Hun memang belum mentjapai tingkatan jang sempurna, maka lambat-laun ia mendjadi kewalahan djuga menghadapi serangan pedang jang terlalu gentjar itu. Mendadak ia intjar batang pedang lawan, sekali djarinja menjentil.
"trang" , kontan Ong Siau-hong merasa genggamannja kesakitan, pegangannja mendjadi kendur, pedang terlepas dari tangan dan djatuh ketanah. Segera Siau-hong bermaksud mendjemput kembali sendjatanja itu, diluar dugaan Tik Hun terus melangkah madju dan mendorong pundaknja. Dorongan itu sebenarnja tidak keras, tak terduga Siau-hong tak sanggup lagi bertahan ia terdorong djatuh hingga terguling2 kebelakang.
"bluk" , tubuhnja tertumbuk didinding gua dengan keras. Dasar hati Tjui Sing memang badjik, apalagi sedjak ketjil sudah bergaul dengan baik dengan sang Piauko, kini melihat Siau-hong terdjungkal sedemikian berat, lekas2 ia memburu madju untuk membangunkannja. Sebaliknja Tik Hun mendjadi melongo dan terpatung ditempatnja, sungguh bukan maksudnja hendak mendorong djatuh Ong Siau-hong, sebenarnja ia tjuma bertudjuan mentjegah agar pemuda itu tidak djemput kembali pedangnja, siapa duga begitu Ong Siau-hong terbentur oleh tenaganja, kontan sadja terpental begitu berat seperti anak ketjil bertabrakan dengan manusia raksasa.
"Ma …… maaf, aku tidak sengadja!"
Kata Tik Hun kemudian sambil melangkah madju. Sementara itu Tjui Sing sedang menarik lengan kanan Siau-hong sambil bertanja.
"Piauko, tidak apa2, bukan?"
Gusar dan tjemburu Ong Siau-hong tak tertahankan lagi, ia anggap Tjui Sing telah tjondong kepihak Tik Hun, sesudah dirinja dihadjar kini sengadja hendak menjindir padanja.
Maka tanpa mendjawab terus sadja tangan kirinja menampar.
"plok", tepat pipi Tjui Sing kena digampar sekali.
"Enjahlah!"
Bentak Siau-hong.
Keruan Tjui Sing terkedjut, sungguh tak tersangka olehnja bahwa sang Piauko jang biasanja ramah-tamah dan suka merendah padanja itu kini bisa memukul padanja.
Seketika Tjui Sing mendjadi ter-longong2 malah sambil me-raba2 pipi jang digampar itu.
Sebaliknja Tik Hun mendjadi gusar, bentaknja.
"Tanpa sebab apa2, mengapa kau memukul orang?"
Pada saat itulah dari luar gua lantas terdengar suara orang ber-lari2 mendatangi dan beberapa diantaranja lantas ber-teriak2.
"He, didalam gua ada suara orang bertengkar, lekas periksa kedalam situ, djangan2 Siau-ok-tjeng itu bersembunji didalam gua?"
Tjepat Tjui Sing berkata kepada Tik Hun.
"Lekas kau pergi sadja, aku … sangat berterima kasih kepada maksud baikmu."
Untuk sedjenak Tik Hun memandang Tjui Sing, lalu pandang Ong Siau-hong pula, kemudian djawabnja.
"Baiklah, aku akan pergi sadja!" ~ segera ia putar tubuh dan bertindak keluar gua. Se-konjong2 Ong Siau-hong terus ber-teriak2"
"Siau-ok-tjeng itu berada disini! Paderi tjabul itu berada disini! Lekas tjegat pintu gua, djangan sampai dia lolos!"
"Piauko,"
Seru Tjui Sing dengan kuatir.
"tjaramu ini bukankah akan bikin susah pada orang baik?"
Tapi bukannja berhenti, sebaliknja Ong Siau-hong berteriak lebih keras lagi.
"Lekas tjegat pintu gua, lekas! Siau-ok-tjeng akan lari!"
Mendengar suara itu, segera beberapa orang diluar gua sana terus memburu madju untuk menghadang dimulut gua agar Tik Hun tidak dapat lolos.
Dan begitu melihat Tik Hun sedang mendatangi dengan langkah lebar, salah seorang pentjegat itu lantas menggertak.
"Hendak lari kemana!" ~ berbareng goloknja terus membatjok keatas kepala Tik Hun. Namun sedikit Tik Hun mengegos, luputlah serangan itu, bahkan ketika Tik Hun tolak kedada orang itu terus didorong pergi, kontan orang itu terpental keluar hingga tiga orang kawannja jang berdiri dibelakangnja ikut terseruduk, sekaligus empat orang itu terdjungkal bersama dengan kepala dan muka bendjut karena saling bentur. Dan ditengah bentakan dan makian orang2 itulah dengan tjepat Tik Hun lantas menerobos keluar gua. Rupanja suara ribut2 itu telah didengar djuga oleh djago2 Tionggoan jang lain hingga be-ramai2 mereka memburu datang dari berbagai djurusan. Namun Tik Hun sudah melarikan diri tjukup djauh. Segera ada tudjuh-delapan djago kelas tinggi menguber kearahnja. Tapi Tik Hun tidak ingin bertempur dengan mereka, ia pilih termpat semak2 rumput jang lebat untuk bersembunji, ditengah malam buta, djedjaknja takbisa diketemukan lagi oleh pengedjar2 itu. Karena mengira Tik Hun telah lari keluar lembah saldju itu, ber-bondong2 para djago Tionggoan itu lantas ikut mengedjar keluar lembah. Dari tempat sembunjinja Tik Hun dapat menjaksikan kepergian orang2 itu, ia melihat Ong Siau-hong dan Tjui Sing berdjalan paling belakang, meski djarak kedua muda-mudi itu terpisah agak djauh, tapi arah jang mereka tudju adalah sama, makin djauh hingga achirnja bajangan merekapun lenjap dibalik bukit. Hanja sebentar sadja lembah saldju jang tadinja riuh ramai oleh berisik manusia itu kini telah berubah mendjadi sunji senjap. Para djago Tionggoan itu sudah pergi semua, Hoa Tiat-kan djuga tiada lagi, Tjui Sing pun sudah berangkat, hanja tinggal Tik Hun seorang diri. Ia tjoba mendongak, sampai elang pemakan bangkai jang biasanja suka ber-putar2 diangkasa itupun sekarang tak tertampak lagi. Suasana benar2 hening sepi, sekarang Tik Hun benar2 merasakan keadaan jang sebatangkara …………. *** Tik Hun tinggal pula setengah bulan dilembah saldju itu. Lwekang dan To-hoat jang diperolehnja dari "Hiat-to-keng"
Itu telah dilatihnja hingga masak dan sempurna betul, rasanja sudah tak mungkin akan lupa, lalu ia membakar "Hiat-to-keng"
Itu, ia taburkan abu kitab pusaka Hiat-to-bun itu diatas kuburan Hiat-to Lotjo.
"Sudah saatnja kini aku harus berangkat!"
Demikian pikirnja.
"Ehm, badju bulu burung ini tidak perlu kubawa, biarlah kalau segala urusan sudah kubereskan, segera aku akan kembali kelembah bersaldju jang selamanja tiada ditinggali manusia ini, selama hidupku biarlah kulewatkan disini. Hati manusia didjagat ini terlalu kedjam dan tjulas, aku tidak sanggup menghadapinja!"
Begitulah Tik Hun lantas meninggalkan lembah itu dan menudju kearah timur.
Tudjuannja jang pertama jalah pulang kekampung halaman sang guru ~ Djik Tiang-hoat ~ jang berada di Oulam itu.
Ia ingin tahu bagaimana keadaan orang tua jang sudah berpisah sekian lamanja itu.
Sedjak ketjil Tik Hun sudah jatim-piatu, ia dibesarkan oleh gurunja itu, maka melulu sang guru itulah merupakan pamili satu2nja didunia ini.
Walaupun perasaannja kepada Suhunja sekarang sudah djauh berbeda daripada waktu dahulu, tapi ia harus mentjari tahu dan menjelidikinja hingga djelas.
Dari wilajah Tibet menudju ke Oulam harus melalui Sutjwan.
Tik Hun pikir bila ditengah djalan kepergok pula dengan djago2 Tionggoan itu, tentu tak terhindar dari suatu pertarungan sengit, padahal dirinja dengan mereka toh tiada punja permusuhan dan sakit hati apa2, kenapa mesti terdjadi pula pertarungan jang tidak bermanfaat itu?
Adapun sebab-musabab daripada apa jang terdjadi dahulu hakikatnja tjuma salah paham belaka, jaitu gara2 ia mebubut rambutnja sendiri hingga pelontos, lalu disangka sebagai Siau-ok-tjeng dari Hiat-to-bun jang djahat itu.
Karena itulah, untuk menghindari kesulitan2 ditengah djalan, ia lantas menjamar sedikit, ia gosok muka sendiri dengan hangus kuali hingga kelihatan kotor dan hitam mirip seorang pengemis dekil, lalu melandjutkan perdjalanan ketimur.
Benar djuga ditengah djalan terkadang bertemu dengan djago2 jang pernah ikut menguber dirinja itu, tapi mereka tiada jang dapat mengenalnja, bahkan tidak memperhatikannja.
Kira2 lebih 20 hari, achirnja sampailah Tik Hun dikampung halamannja, jaitu di Moa-keh-po dipropinsi Oulam barat.
Tatkala itu hawa udara sudah sangat panas, ia melihat tanaman sawah-ladang menghidjau permai.
Semakin dekat dengan kampung halamannja, semakin banjak perasaan2 jang berketjamuk dalam benaknja, pelahan2 mukanja terasa panas, debaran hatinja djuga makin keras.
Ia terus menjusuri djalan pegunungan jang sudah biasa dilaluinja diwaktu muda dahulu, achirnja tibalah dia dirumah tinggalnja jang lama.
Ketika ia memandang, mau-tak-mau ia mendjadi kaget, hampir2 ia tidak pertjaja pada matanja sendiri.
Ternjata ditepi kali dibawah pohon Liu jang rindang, dimana dulu berdiri tiga petak rumah ketjil gurunja itu kini telah berubah mendjadi sebuah gedung jang megah, gedung itu berdinding putih dan bergenting hitam mengkilap.
Gedung itu sedikitnja tiga kali lebih besar daripada rumah2 ketjil semula itu.
Kalau dipandang lebih tjermat, bangunan gedung itu walaupun tidak terlalu indah, bahkan seperti dibangun setjara ter-gesa2, tapi kemegahannja sudah bolehlah.
Sungguh kedjut dan girang sekali Tik Hun, ia tjoba memeriksa sekeliling situ, ia memang tidak salah lagi, itulah kampung halamannja dimana ia telah dibesarkan.
Pikirnja.
"Sungguh sangat hebat, rupanja Suhu telah mendjadi orang kaja mendadak, makanja pulang kampung dan bangun gedung."
Saking girangnja, tanpa pikir lagi Tik Hun terus berteriak.
"Suhu!"
Tapi baru memanggil sekali, segera ia tutup mulut pula. Pikirnja.
"Keadaanku jang mirip pengemis ini mungkin akan membikin Suhu kurang senang, biarlah aku tidak bersuara dulu untuk melihat gelagat sadja."
Tengah ia memikir, tertampaklah dari dalam gedung itu muntjul seorang, dengan melirik orang itu mengamat-amati Tik Hun, sikapnja penuh menghina dan memandang djidjik. Tegurnja kemudian.
"Kau mau apa?"
Tik Hun melihat orang itu memakai kopiah miring, badannja kotor penuh debu pasir, sangat tidak sesuai dengan gedung jang megah itu.
Dari sikapnja jang garang itu, Tik Hun menduga orang mungkin adalah mandor tukang batu dan sebagainja.
Maka djawabnja.
"Tolong tanja, Pak Mandor, apakah Djik-suhu ada dirumah?"
"Djik-suhu atau Djak-suhu apa? Entah, tidak kenal!"
Sahut orang itu sambil melirik. Keruan Tik Hun melengak, tanjanja pula.
"Bukankah tuan rumah disini she Djik?"
"Untuk apa kau tanja tuan rumah segala?"
Demikian orang itu berbalik menanja.
"Apa kau ingin minta sedekah padanja? Kalau mau mengemis sadja kau tidak perlu tjari tahu siapa tuan rumah segala. Sekali kukatakan tidak ada ja tetap tidak ada. Hajo, pengemis bau, lekas enjah, lekas!"
Djauh2 Tik Hun sengadja datang buat mentjari Suhu jang sudah berpisah sekian lamanja itu, sudah tentu ia tidak rela pergi begitu sadja hanja mendapat djawaban jang tidak memuaskan itu.
Maka ia berkata pula.
"Kedatanganku bukan untuk minta2, aku ingin mentjari keterangan padamu, dahulu jang tinggal disini adalah orang she Djik, entah sekarang beliau apakah masih tinggal disini atau tidak!"
"Dasar pengemis jang tjerewet, sudah kukatakan Tauke disini bukan orang she Djik atau she Djok segala, hajolah lekas pergi kelain tempat sadja!"
Sahut orang itu dengan mendjengek.
Tengah mereka bitjara, sementara itu keluar lagi seorang dari dalam gedung itu.
Orang ini memakai kopiah tile, pakaiannja bersih dan radjin, dandanannja mirip seorang Koan-keh (pengurus rumah tangga) keluarga hartawan.
Dengan lenggang kangkung Koan-keh itu berdjalan keluar, segera ia menegur dengan tertawa.
"He, Lau Peng, kau bergembar-gembor lagi ribut mutut dengan siapa?"
"Itu dia, pengemis dekil seperti itu sedjak tadi tjerewet sadja disini, kalau mau minta sedekah mestinja bitjara terus terang sadja, tapi dia mentjari tahu siapa nama Tauke kita segala,"
Demikian simandor jang dipanggil Lau Peng itu mendjawab. Mendengar keterangan itu, air muka Koan-keh itu rada berubah, ia mengamat-amati Tik Hun sedjenak, lalu berkata.
"Eh, sobat, ada apakah kau mentjari tahu nama Tauke disini?"
Djika Tik Hun beberapa tahun jang lalu tentu akan terus terang mendjawab maksud tudjuannja.
Akan tetapi lain-dulu-lain-sekarang, Tik Hun sekarang sudah bertambah tjerdik, sudah kenjang pahit getir jang dialaminja didunia Kangouw, kepalsuan manusia umumnja sudah tjukup dikenalnja.
Kini melihat si Koan-keh itu bertanja dengan sorot mata jang penuh sangsi dan tjuriga, diam2 Tik Hun membatin.
"Biarlah djangan kukatakan terus terang, aku harus mentjari keterangan lebih djauh dengan sabar, bukan mustahil dibalik urusan ini ada sesuatu jang gandjil."
Karena pikiran itu, maka ia mendjawab.
"Ah, tiada apa2, aku ingin tahu she Tauke disini, perlunja agar aku dapat berseru memanggilnja agar sudi memberi sedekah padaku. Ap....... apakah engkau ini adalah Tauke sendiri?"
Begitulah Tik Hun sengadja berlagak pilon dan pura2 bodoh supaja tidak menimbulkan tjuriga orang.
Benar djuga Koan-keh itu lantas ter-bahak2.
Meski ia merasa Tik Hun itu terlalu tolol, tapi ia disangka sebagai Taukenja, mau-tak-mau ia merasa senang djuga hingga timbul rasa sukanja kepada sibotjah tolol itu.
Segera katanja.
"Aku bukan Tauke disini. He, botjah tolol, mengapa kau sangka aku sebagai Tauke?"
"Habis, engkau........ engkau sangat gagah dan berwibawa, engkau mempunjai potongan Tauke besar,"
Sahut Tik Hun sengadja mengumpak. Keruan Koan-keh itu bertambah senang, katanja dengan tertawa.
"Botjah tolol, djika kelak aku Lau Ko benar2 mendjadi Tauke, pasti aku akan memberi persen padamu. He, anak tolol, kulihat badanmu kekar dan tenagamu kuat, mengapa tidak tjari kerdja jang benar, tapi malah mendjadi pengemis."
"Habis tiada jang suka memberi pekerdjaan padaku,"
Sahut Tik Hun.
"Eh, Tauke, sukalah kau memberi sedekah sesuap nasi padaku?"
Koan-keh itu ter-pingkal2 saking geli, mendadak ia gablok pundak simandor Peng tadi dan berkata.
"Tjoba kau dengar, ber-ulang2 ia memanggil aku sebagai Tauke. Kalau aku tidak memberi persen sesuap nasi djuga tidak pantas rasanja. Lau Peng, bolehlah kau suruh dia ikut gali tanah dan memikul, berikan upah sekedar padanja."
"Baiklah, apa jang kau orang tua kehendaki tentu kulaksanakan,"
Sahut simandor she Peng itu.
Dari logat bitjara mereka itu Tik Hun dapat mengenali mandor she Peng itu adalah penduduk setempat, sebaliknja Koan-keh she Ko itu berlogat orang utara.
Tapi ia pura2 tidak tahu, dengan penuh hormat ia berkata.
"Terima kasih, Tauke besar dan Tauke ketjil!"
"Kurangadjar, sembarangan omong!"
Maki simandor Peng dengan tertawa. Sedang si Koan-keh she Ko itu semakin ter-pingkal2.
"Hahaha, aku dipanggil sebagai Tauke besar dan kau adalah Tauke ketjil, bukankah......... bukankah kau disangka sebagai puteraku?"
Katanja dengan ter-engah2. Mandor Peng geli2 dongkol, segera ia djewer telinga Tik Hun, katanja dengan tertawa.
"Sudahlah, masuk kesana! Makan dulu jang kenjang, nanti malam mulai melembur."
Tanpa membangkang sedikit Tik Hun ikut masuk kedalam gedung itu, dalam hati ia merasa heran.
"Aneh, mengapa kerdja lembur diwaktu malam?"
Sesudah masuk kedalam dan menjusur suatu serambi samping, tiba2 Tik Hun terkedjut, hampir2 ia tidak pertjaja pada matanja sendiri.
Ternjata ditengah gedung itu sedang digali suatu lubang jang sangat dalam dan lebar, begitu lebar lubang itu hingga pinggir lubang itu hampir mepet dengan dinding disekelilingnja, hanja tertinggal satu djalan jang sempit untuk orang berlalu.
Didalam lubang tanah itu tertampak penuh menggeletak alat2 gali sebangsa patjul, sekop, kerandjang, pikulan dan sebagainja.
Terang bahwa lubang itu belum selesai digali dan masih dikerdjakan.
Kalau melihat gedung semegah itu dari luar, sungguh siapapun tiada jang menjangka bahwa didalam rumah terdapat suatu lubang galian jang begitu besar.
"He, botjah tolol, apa jang kau lihat disini dilarang kau tjeritakan pada orang luar, tahu?"
Kata simandor Peng tiba2.
"Ja, ja! Aku tahu,"
Demikian sahut Tik Hun tjepat.
"Tentu disini Hongsui-nja sangat bagus, tuan rumah ingin mengubur disini, maka orang luar tidak boleh mengetahuinja."
"Benar, ha, sitolol ternjata pintar djuga,"
Demikian kata simandor.
"Marilah ikut aku kebelakang untuk makan."
Sesudah makan se-kenjang2nja didapur, simandor suruh Tik Hun mengaso dan menunggu diserambi belakang itu dan dipesan djangan sembarangan kelujuran.
Tik Hun mengiakan perintah itu, tapi didalam hati ia semakin tjuriga.
Ia melihat didalam rumah itu tiada sesuatu perabotan jang baik, segala perlengkapan sangat sederhana, bahkan dapur itu tiada dibuat tungku permanen, tapi tjuma sebuah tungku darurat jang ditumpuk dengan batu bata sadja dan diatas tungku darurat itu tertaruh sebuah kuali besi.
Medja kursi jang ada djuga sangat kasar, sama sekali tidak sesuai dengan gedung jang megah itu.
Waktu magrib, didapur umum itu penuh ber-djubel2 orang, semuanja adalah orang desa setempat jang masih muda dan kuat.
Be-ramai2 mereka asjik makan-minum dengan gembira.
Tanpa sungkan2 Tik Hun ikut makan bersama orang banjak itu, ia bitjara dengan logat daerah setempat jang tulen, dengan sendirinja si Koan-keh she Ko dan mandor Peng tidak menaruh tjuriga apa2, mereka menjangka Tik Hun adalah satu pemuda gelandangan setempat jang tidak punja pekerdjaan apa2.
Selesai makan, mandor Peng lantas membawa orang2 itu keruangan tengah jang terdapat lubang galian itu, segera ia mengutjapkan kata permbukaan.
"Saudara2 sekalian, hendaklah kalian menggali sepenuh tenaga, mudah2an malam ini ada redjeki, pabila ada jang berhasil menggali sesuatu benda, baik berupa buku, kertas, maupun sebangsa mangkok-piring dan sebagainja, tentu kalian akan mendapat hadiah jang pantas."
Maka be-ramai2 para kuli itu telah mengiakan, segera terdengarlah suara riuh dari bekerdjanja patjul dan sekop jang menggali tanah.
"Huh, sudah menggali selama dua bulan, tapi ada benda mestika apa jang diketemukan? Benar2 orang jang menjuruh kita ini sudah gila harta dan lupa daratan,"
Demikian seorang penggali jang tidak djauh disebelah Tik Hun itu mendadak menggerutu sendiri.
Hlm.
25 Gambar.
Segera Tik Hun menggeser kedekat kuli penggali jang sedang mengomel itu, ia bertanja dengan suara pelahan.
"Sebenarnja barang apakah jang mereka hendak tjari?"
"Menurut Pak Mandor, katanja mereka ingin tjari sebuah baskom wasiat,"
Sahut orang itu. Sudah tentu Tik Hun tertarik oleh gerundelan kuli kampung itu.
"Mestika apakah jang hendak mereka gali? Masakah disini terdapat sesuatu harta apa segala?"
Demikian pikirnja. Ia menunggu simandor agak meleng, segera ia menggeser kedekat kuli jang mengomel tadi, dengan suara tertahan ia menanja.
"Toatjek, sebenarnja mereka ingin mentjari benda mestika apakah?"
"O, benda mestika jang mereka tjari ini benar2 sangat berharga,"
Sahut orang itu dengan suara berbisik.
"Katanja Tauke disini mahir ilmu gaib. Ia bukan orang daerah sini, tapi berasal dari lain tempat. Dari djauh katanja ia melihat ditempat penggalian ini ada tjahaja mestika jang menjorong kelangit, ia tahu ditempat ini terdapat benda mestika, maka tanah ini telah dibelinja, agaknja kuatir kalau rahasianja botjor, maka lebih dulu gedung ini telah dibangun, lalu mengumpulkan orang, siang hari kami disuruh tidur dan malam hari disuruh kerdja."
"O, kiranja begitu. Apakah Toatjek tahu benda mestika apa jang dia tjari?"
Tanja Tik Hun pula.
"Sudah tentu aku tahu,"
Sahut kuli itu dengan lagak sok tahu.
"Menurut simandor, katanja jang ditjari adalah sebuah ‘Tjip-po-bun’ (baskom wasiat). Djika kau masukan satu mata uang kedalam baskom itu, maka lewat semalam, besok paginja mata uang itu akan berubah mendjadi satu baskom penuh. Kalau dimasuki satu tahil emas, besoknja akan berubah mendjadi satu baskom emas, pendek kata segala matjam barang jang kau masukan kedalam baskom, maka dalam semalam sadja barang sedikit ini akan melahirkan barang banjak. Wah, bukankah itu suatu benda mestika adjaib?"
"Wah, benar2 mestika adjaib!"
Pudji Tik Hun sambil tiada ber-henti2 mulutnja ber-ketjek2. Lalu orang itu mengotjeh pula.
"Mandor sengadja memesan kita agar tjara kita mematjul harus pelahan2, tidak boleh keras2, sebab kalau sampai baskom wasiat itu mendjadi rusak kena patjul, wah, bisa runjam! Kata pak Mandor, bila baskom wasiat itu sudah dapat diketemukan, kita masing2 akan diberi pindjam pakai satu malam, apa jang kau ingin masukan didalam baskom itu boleh kau lakukan mana suka. Nah, anak tolol, mulai sekarang boleh kau tjoba2 rentjanakan, barang apakah jang akan kau masukan didalam Tjip-po-bun itu."
Tik Hun pura2 memikir sedjenak, lalu mendjawab.
"Aku sering kelaparan, perutku selalu berkerontjongan, maka aku akan taruh sebutir beras didalam baskom itu dan besok paginja, wah, sudah mendjadi satu baskom penuh beras putih, bagus bukan?"
"Hahaha! Memang bagus! Haha!"
Demikian orang itu mendjadi lupa daratan dan bergelak tertawa. Keruan simandor lantas menoleh demi mendengar ada suara tertawa orang, lantas ia membentak.
"Hus, djangan banjak omong doang! Hajo, lekas kerdja! Lekas gali!"
Orang itu mendjadi ketakutan dan tjepat bekerdja pula dengan giat. Diam2 Tik Hun membatin.
"Masakah didunia ini terdapat Tjip-po-bun apa segala? Emangnja seperti tjerita Aladin dalam 1001 malam sadja? Ah, madjikan rumah ini pasti bukan seorang tolol, dibalik kesemuanja ini pasti ada sesuatu tipu muslihat, tapi ia sengadja mengarang tjerita tentang baskom wasiat segala untuk menipu orang."
Maka sedjenak kemudian, dengan suara tertahan kembali ia menanja orang tadi.
"Siapakah nama Tauke disini? Engkau tadi mengatakan dia bukan orang daerah sini?"
"Itu dia, bukankah si Tauke sudah berada disitu?"
Sahut orang itu.
Waktu Tik Hun memandang kearah jang dimaksudkan, ia melihat dari ruangan belakang sana telah muntjul satu orang, perawakannja tinggi kurus, kedua matanja bersinar tadjam, pakaiannja sangat perlente, usianja kira2 setengah abad.
Hanja sekedjap sadja Tik Hun memandang orang itu, tapi kontan djantungnja ber-debar2, tjepat ia berpaling dan tidak berani memandang pula.
Didalam hati tiada hentinja ia bertanja2.
"Orang ini sudah pernah kukenal, ja, sudah pernah kukenal. Dimanakah itu? Siapakah dia?"
Begitulah ia merasa muka si Tauke sudah dikenalnja, tjuma seketika tak teringat dimanakah dulu telah melihatnja. Dalam pada itu si Tauke sudah mulai berkata.
"Malam ini harap kalian menggali lebih dalam lagi satu-dua meter, tidak peduli apakah diketemukan potongan kertas, remukan batu atau petjahan kaju, satu bendapun tidak boleh dianggap sepele, harus diperlihatkan padaku."
Mendengar suara si Tauke, Tik Hun terkesiap, segera ia sadar.
"Ja, ingatlah aku sekarang. Kiranja dia!"
Kiranja Tauke pemilik gedung megah itu tak-lain-tak-bukan adalah sipengemis tua jang pernah mengadjarkan tiga djurus ilmu pedang kepada Tik Hun ketika berada dirumah Ban Tjin-san di Heng-tjiu dahulu itu.
Tatkala mana badjunja rombeng, rambutnja kusut-masai, sekudjur badannja kotor dekil, seratus prosen adalah dandanan pengemis.
Tapi kini telah berubah mendjadi seorang hartawan, hampir semuanja telah berganti bulu, pantas sadja Tik Hun takbisa lantas mengenalnja, dan sesudah mendengar suaranja barulah Tik Hun ingat siapa gerangannja.
Dan begitu mengenali si Tauke, sebenarnja Tik Hun bermaksud lantas melompat keluar dari lubang galian untuk menjapanja.
Tapi penderitaan dan pengalaman selama beberapa tahun ini telah menggembleng Tik Hun mendjadi seorang pemuda jang bisa berpikir dan dapat bertindak hati2 dalam segala hal.
Pikirnja.
"Paman pengemis tua ini pernah berbudi padaku. Dahulu djika aku tak ditolong olehnja, mungkin aku sudah terbinasa ditangan bandit terkenal dari Thay-heng-san jang bernama Lu Thong itu. Kemudian ia telah mengadjarkan tiga djurus Kiam-hoat lagi padaku hingga aku dapat menghadjar anak murid Ban-supek. Kini kalau dipikir, sebenarnja ketiga djurus ilmu pedang jang dia adjarkan padaku itu toh sepele sadja, tiada sesuatu jang luar biasa, tapi pada waktu itu telah menghindarkan diriku dari hinaan dan penganiajaan orang. Kini dapat berdjumpa pula dengan dia, aku harus menjatakan terima kasihku selajaknja. Akan tetapi tempat ini adalah bekas kediaman Suhuku, mengapa dia menggali tanah disini? Dan untuk apa dia membangun gedung sebesar ini untuk menutupi pandangan orang luar? Dahulu dia adalah seorang pengemis, seorang kere, kenapa sekarang bisa kaja mendadak?"
Begitulah diam2 Tik Hun me-nimang2 dan ambil keputusan akan diam sadja dulu untuk melihat gelagat. Pikirnja pula.
"Aku utang budi padanja, untuk mengutjapkan terima kasih adalah soal gampang. Tapi mengapa dia tidak kuatir Suhuku akan pulang kesini? Djangan2 .......... djangan2 Suhu sudah meninggal?"
Sedjak ketjil ia sudah ikut dan dibesarkan Djik Tiang-hoat, perasaannja kepada guru itu adalah mirip orang tua sendiri, kini demi -terpikir gurunja mungkin sudah mati, seketika ia mendjadi sedih.
Tiba2 dipodjok sana terdengar suara gemerinting sekali, patjul kuli penggali itu entah kena mematjul sesuatu benda keras apa.
Tapi demi mendengar suara njaring itu, segera si Tauke melompat turun kedalam lubang galian itu, tjepat ia djemput sepotong benda.
Serentak kuli2 penggali itu berhenti kerdja semua dan memandang kearah benda jang dipegang si Tauke.
Maka tertampaklah Tauke lagi memegang sebuah.......
paku, bolak-balik Tauke memeriksa paku itu dengan wadjah agak ketjewa.
Achirnja ia lemparkan paku itu kepinggir lubang galian dan memerintah.
"Hajo mulai lagi, lekas gali terus!"
Tik Hun kerdja keras semalam suntuk bersama para kuli kampung, selama itu si Tauke terus mengikuti kemadjuan galian itu.
Setelah fadjar menjingsing dan tiada diketemukan sesuatu apa, barulah si Tauke memerintahkan istirahat.
Sebagaian besar kuli2 kampung itu adalah penduduk sekitar situ, mereka pulang kerumah masing2.
Tapi ada sebagian jang bertempat tinggal agak djauh, mereka lantas merebah dan tidur diserambi samping rumah gedung itu.
Tik Hun djuga ikut tidur diserambi samping itu.
Sampai sore harinja barulah mereka bangun tidur untuk makan.
Badan Tik Hun terlalu kotor, orang lain tidak suka berdekatan dengan dia, diwaktu tidur maupun makan, selalu orang2 itu mendjauhi Tik Hun.
Tapi hal ini malah kebetulan bagi Tik Hun, risiko dirinja akan dikenali orang mendjadi lebih sedikit.
Selesai makan, dalam isengnja Tik Hun lantas djalan2 kesuatu pedusunan ketjil tidak djauh dari gedung besar itu untuk mentjari tahu apakah sang guru pernah pulang kampung atau tidak.
Ditengah djalan diketemukan djuga beberapa teman memain diwaktu ketjil, kini teman2 itu sudah tinggi besar dan asjik bertjotjok-tanam disawah-ladang.
Ia tidak ingin dirinja diketahui orang, maka ia tidak menjapa teman lama itu, tapi sengadja mentjari satu anak tanggung untuk ditanja tentang keadaan rumah gedung itu.
Menurut keterangan botjah tanggung itu, katanja gedung itu dibangun pada musim rontok tahun jang lalu, pemiliknja sangat kaja dan datang kesini buat mentjari Tjip-po-bun, namun sudah sekian lamanja benda mestika jang ditjari itu masih belum ketemu.
Sembari berkata botjah itu sambil ketawa2, suatu tanda dongeng tentang Tjip-po-bun atau baskom wasiat itu telah mendjadi bahan obrolan iseng penduduk setempat.
Ketika ditanja tentang rumah2 petak jang dulu, anak tanggung itu mengatakan sudah lama rumah2 ketjil itu tidak ditinggali orang dan selamanja djuga tidak pernah ditengok jang empunja.
Maka waktu gedung besar itu dibangun, dengan sendirinja rumah2 petak itu dibongkar.
Tik Hun mengutjapkan terima kasih dan tinggalkan anak tanggung itu, hatinja mendjadi masgul dan penuh tjuriga pula.
Sungguh ia tidak tahu sebenarnja apakah maksud tudjuan tindak-tanduk sipengemis tua jang penuh rahasia itu.
Ia berdjalan menjusur gili2 sawah dan ladang, ketika melewati sepetak ladang sajur, ia melihat tanaman ladang itu menghidjau lebat, subur sekali tertanam sajur Khong-sim-djay.
"Khong-sim-djay! Khong-sim-djay!" ~ tiba2 benak Tik Hun bergema suara panggilan jang njaring merdu dan nakal itu.
"Khong-sim-djay"
Adalah sajur jang sangat umum didaerah Oulam barat situ, sesuai dengan namanja, maka sajur itu kopong tengahnja tak bersumbu.
Dari itu Sumoaynja Tik Hun, jaitu Djik Hong, telah memberi nama pojokan itu kepada Tik Hun sebagai olok2 bahwa pemuda itu berotak kopong, takbisa berpikir, polos dan djudjur, takbisa ber-belit2.
Sedjak Tik Hun meninggalkan kampung halaman itu, selama itu dia mengeram didalam pendjara di Hengtjiu, kemudian di-uber2 musuh dan achirnja terkurung ditengah lembah bersaldju.
Dan baru harini dia dapat melihat Khong-sim-djay pula.
Tik Hun ter-mangu2 sedjenak memandangi sajur jang bersedjarah itu.
Ia berdjongkok dan memetik setangkai, lalu pelahan2 melandjutkan perdjalanan kebarat.
Disebelah barat adalah pegunungan sunji jang tandus penuh batu karang, pepohonan susah tumbuh disitu.
Ditengah bukit tandus itu terdapat sebuah gua jang tidak pernah didatangi manusia ketjuali Tik Hun dan Djik Hong jang dulu sering memain kesitu.
Karena terkenang pada masa lalu jang menggembirakan itu, tanpa merasa Tik Hun berdjalan terus kearah gua.
Sesudah melintasi tiga bukit lain dan menerobos dua terowongan besar, achirnja sampailah dia digua jang terpentjil dan sunji senjap itu.
Didepan gua itu ternjata sudah penuh tumbuh rumput alang2, hingga mulut gua tertutup rapat.
Hati Tik Hun mendjadi berduka terkenang teman main diwaktu ketjil jang ditjintainja itu kini telah berada dipangkuan orang lain.
Ia tjoba menerobos kedalam gua itu, ia melihat barang2 jang terdapat digua itu masih tetap seperti dulu waktu ditinggal pergi bersama Djik Hong, sedikitpun tidak pernah didjamah atau pindah tempat.
Barang2 seperti bandring jang dahulu sering digunakannja untuk menangkap burung, boneka tanah jang dibuat Djik Hong, alat perangkap kelintji, seruling milik Djik Hong diwaktu angon sapi.
Semuanja itu masih terletak baik2 diatas medja batu didalam gua.
Disebelah sana terdapat pula sebuah kerandjang ketjil.
Dulu Djik Hong sering datang kegua ini dengan membawa kerandjang djindjing jang berisi bahan2 dan alat mendjahit.
Tertampak gunting didalam kerandjang itu sudah berkarat, Tik Hun tjoba ambil sed
Jilid buku pola menjulam jang sudah kuning dari kerandjang itu.
Ia mem-balik2 halaman buku itu dan ter-kenanglah dimasa dahulu bila dia bersama Djik Hong ‘pik-nik’ kegua ini, sering ia mengajam kerandjang disitu dan Djik Hong lantas menjulam, terkadang sigadis menjulam bunga atau burung2an diatas kain tebal guna bahan sepatunja.
Ter-menung2 Tik Hun mengenangkan kedjadian dimasa lampau.
ketika satu pasang kupu2 besar warna hitam terbang kian kemari didepan gua, selalu sepasang kupu2 itu terbang berdjadjaran keatas dan kebawah bagaikan sepasang kekasih jang sedang bertjumbu.
Saat itu Djik Hong telah ber-teriak2.
"Nio San-pek, Tjiok Eng-tay! Nio San-pek, Tjio Eng-tay!"
Kiranja penduduk didaerah Oulam barat itu menamakan kupu2 besar warna hitam itu sebagai Nio San-pek dan Tjio Eng-tay, jaitu sepasang kekasih jang saling tjinta-mentjintai dan sehidup-semati dalam tjerita roman klasik jang terkenal.
Waktu itu Tik Hun sedang mengajam sepatu rumput, pasangan kupu2 itu telah terbang diatas kepalanja.
Mendadak Tik Hun meneplok dengan sepatu rumputnja hingga seekor kupu2 diantaranja tergablok mati.
Melihat itu, Djik Hong mendjerit kaget dan menegur dengan marah.
"Ken........ kenapa kau membunuhnja?"
Tik Hun mendjadi gugup karena sigadis mendadak marah, tjepat sahutnja.
"Karena kau suka kupu2, maka aku hendak menangkapnja untukmu."
Kupu jang diteplok mati itu djatuh ditanah, sedang kupu jang lain masih terus terbang mengitar diatas kawannja jang sudah tak berkutik itu. Maka Djik Hong berkata.
"Lihatlah, bukankah kau berdosa? Mereka adalah pasangan suami-isteri jang rukun, tapi sekarang kau telah membunuh satu diantaranja."
Dan barulah Tik Hun merasa menjesal, sahutnja.
"Ai, memang aku bersalah."
Kemudian Djik Hong telah menirukan bentuk kupu2 jang mati itu dan dibuatnja sebuah pola atau patrun untuk disulam diatas sepatunja sendiri.
Waktu tahun baru, kembali ia menjulam sebuah dompet kain dengan lukisan kupu2 jang sama untuk Tik Hun.
Dompet kain itu selalu tersimpan didalam badju pemuda itu dan baru hilang ketika dia dimasukan pendjara di Hengtjiu.
Patrun itu masih terselip didalam buku pola itu.
Ia mengambil patrun kupu2 itu, telinganja sajup2 seperti mendengar suara Djik Hong.
"Lihatlah, bukankah kau berdosa? Mereka adalah pasangan suami-isteri jang rukun, tapi sekarang kau telah membunuh satu diantaranja."
Tik Hun ter-menung2 agak lama, ketika ia membalik2 pula halaman buku pola itu, tiba2 didengarnja dari djauh ada suara berkeletakan batu paling bentur, terang itulah suara tindakan orang jang sedang mendatangi.
Diam2 Tik Hun heran, pikirnja.
"Djarang ada manusia jang datang dibukit tandus ini, djangan2 adalah sebangsa binatang buas?"
Segera ia masukan buku pola itu kedalam badjunja, saat lain tiba2 didengarnja ada suara orang sedang berkata.
"Sekitar tempat ini sunji senjap dan bukit karang belaka, tidak mungkin terdapat disini."
"Semakin sepi semakin besar kemungkinanan orang menjimpan harta mestika disini,"
Demikian suara seorang tua mendjawab.
"Maka kita harus mentjarinja dengan tjermat."
"Ha, mengapa ada orang mentjari harta mestika lagi ketempat ini?"
Pikir Tik Hun.
Tjepat ia menjelinap keluar gua, ia bersembunji dibalik satu pohon besar.
Tidak lama kemudian lantas terdengar ada suara orang bertindak kearah gua.
Dari suaranja dapat diduga sedikitnja adalah 7-8 orang.
Waktu Tik Hun mengintip dari belakang pohon, ia melihat seorang jang djalan paling depan berpakaian perlente dan berdandan setjara ber-lebih2an, mukanja seperti sudah dikenal Tik Hun.
Menjusul seorang dibelakangnja membawa tjangkul, orang kedua ini berbadan tegap gagah, mukanja tjakap.
Begitu melihat orang kedua ini, seketika darah Tik Hun tersirap, sungguh kalau bisa ia ingin lantas menerdjang madju untuk menghadjarnja, bahkan sekali tjekik ia ingin mampuskan orang itu.
Kiranja orang kedua itu tak-lain-tak-bukan adalah musuh besarnja jang telah membikin sengsara padanja, orang jang telah merebut Sumoaynja jang tjantik serta mendjebloskan Tik Hun kedalam pendjara, jaitu si Ban Ka adanja.
Sedang orang pertama jang lebih muda tadi ternjata adalah Sim Sia, anak murid Ban Tjin-san jang buntjitan.
Dan dibelakang Ban Ka dan Sim Sia, lalu muntjul pula anak murid Ban Tjin-san jang lain, jaitu Loh Kun, Sun Kin, Bok Heng, Go Him dan Pang Tan.
Murid Ban Tjin-san seluruhnja ada delapan orang, tapi murid kedua, jaitu Tjiu Kin, dahulu telah dibunuh oleh Tik Hun didalam taman bobrok dikota Hengtjiu waktu dia bersama Ting Tian di-uber2 oleh Tjiu Kin dan kawan2nja.
Maka kini murid Ban Tjin-san hanja tinggal tudjuh orang sadja.
Sudah tentu Tik Hun sangat heran.
"Hendak mentjari harta mestika apakah orang2 ini?"
Pada lain saat tiba2 terdengar Sim Sia berseru.
"Suhu, Suhu! Disini ada sebuah gua!"
"O, ja?"
Sahut suara orang tua tadi.
Nadanja penuh rasa girang.
Menjusul lantas muntjul seorang jang tinggi besar, itulah dia Ngo-in-djiu Ban Tjin-san adanja.
Sudah beberapa tahun tak bertemu, Tik Hun melihat semangat orang tua itu masih segar dan kuat, sedikitpun tidak terlihat tanda2 lojo sebagaimana lazimnja orang tua.
Hanja beberapa langkah lebar sadja Ban Tjin-san sudah masuk kedalam gua.
Menjusul lantas terdengar suara2 orang banjak.
"He, disini pernah ditinggali orang!" ~ "Debu kotorannja begini banjak, sudah lama tidak didatangi orang." ~ "Tidak, tidak! Lihatlah ini, disini terdapat tapak kaki baru." ~ "Ja, disini djuga ada bekas djari tangan!" ~ "Benar, pasti Gian-susiok telah............. telah mendahului menggondol Soh-sim-kiam-boh itu."
Terkedjut dan geli pula Tik Hun mendengar pembitjaraan orang2 itu. Pikirnja.
"Apa barang jang hendak mereka tjari adalah Soh-sim-kiam-boh? Mengapa sudah sekian lamanja mereka masih terus mentjari? Menurut Suhu, katanja beliau mempunjai seorang Suheng kedua jang bernama Gian Tat-peng, tapi Gian-supek itu sudah lama menghilang tanpa ada kabar beritanja, mungkin sudah lama orangnja meninggal dunia, mengapa sekarang dapat muntjul lagi untuk berebut Soh-sim-kiam-boh apa segala? Sudah terang bekas tapak kaki dan tangan itu adalah tinggalanku barusan, tapi mereka menerka setjara ngawur, sungguh lutju!"
Begitulah maka terdengar Ban Tjin-san sedang berkata.
"Diam, diam! Djangan ribut! Tjoba tjarilah sekitar sini dengan tenang."
Lalu ada jang mengomel.
"Djika Gian-susiok sudah mendahului datang kesini, mustahil barangnja tak digondol lari lebih dulu."
"Djik Tiang-hoat itu benar2 seorang jang litjin dan pintar mengatur, ia sembunjikan Kiam-boh (kitab peladjaran pedang) itu disini, tentu sadja orang lain sudah mentjarinja,"
Udjar jang lain.
"Sudah tentu ia sangat litjin dan pandai mengatur, kalau tidak masakah dia berdjuluk ‘Tiat-soh-heng-kang’?"
Demikian kata seorang lagi.
Begitulah sambil bitjara mereka terus mengobrak-abrik gua itu.
Memangnja didalam gua tidak terdapat benda apa2, maka sesudah dibongkar-bangkir orang2 itu, tetap tiada sesuatu jang mereka ketemukan.
Menjusul lantas terdengar suara gemerantang jang njaring, itulah suara tjangkul.
Tapi gua itu adalah batu karang, dengan sendirinja tjangkul itu tidak mempan menggalinja.
"Sudahlah, disini tiada terdapat apa2, marilah kita keluar, tjoba kita rundingkan lagi diluar sana,"
Kata Ban Tjin-san kemudian.
Be-ramai2 ketudjuh anak muridnja lantas ikut sang Suhu keluar gua, mereka mengambil tempat ditepi suatu sungai ketjil, disanalah mereka berduduk diatas batu karang jang banjak terserak disitu.
Tik Hun kuatir dipergoki mereka, maka tidak berani mendekat.
Sedangkan suara pertjakapan kedelapan orang itu sangat lirih, maka apa jang dirundingkan mereka itu takbisa didengar Tik Hun.
Tidak lama kemudian, selesai berunding, kedelapan orang itu tampak berbangkit semua dan berangkat pergi.
Diam2 Tik Hun memikir pula.
"Katanja mereka ingin mentjari Soh-sim-kiam-boh apa segala, tapi belum lagi ketemu sudah lantas tjuriga telah ditjuri lebih dulu oleh Gian-supek. Sedangkan bekas tempat tinggal Suhu telah dirombak pula mendjadi suatu gedung megah, katanja sipengemis tua itu ingin mentjari Tjip-po-bun apa segala............. Ah, benar, tahulah aku!"
Begitulah se-konjong2 terkilas sesuatu pikiran pada benaknja, mendadak ia sadar akan duduknja perkara.
"Terang sipengemis tua itu bukan bertudjuan mentjari Tjip-po-bun segala, tapi iapun ingin mentjari Soh-sim-kiam-boh. Ia jakin kitab pusaka itu berada ditangan Suhuku, maka sengadja mentjari kemari, dan agar tidak menimbulkan rasa tjuriga orang lain, lebih dulu ia membangun gedung besar itu, kemudian menggali pekarangan didalam rumah itu untuk mentjarinja, dan agar tidak membikin geger chalajak ramai, ia sengadja menjiapkan berita dongengan katanja ingin mentjari Tjip-po-bun, sudah tentu alasan itu tjuma buat membohongi orang kampung jang bodoh sadja."
Lalu terpikir pula olehnja.
"Tempo dulu waktu Ban-supek mengadakan perajaan hari ulang tahun di Hengtjiu, pengemis tua itu siang-malam selalu mengintjar disekitar kediaman Ban-supek, suatu tanda dia mempunjai sesuatu maksud tudjuan. Ja, sesudah tidak menemukan Soh-sim-kiam-boh jang ditjari itu, masakah rombongan Ban Tjin-san takkan mendatangi rumah gedung itu untuk menjelidiki lebih djauh? Mungkin kedatangan mereka kesini sudah lama, maka gedung itu sudah pernah mereka datangi. Namun urusan ini terang belum selesai, biarlah aku menanti dirumah gedung itu sadja untuk menonton keramaian. Ja, dibalik semua kedjadian ini pasti ada sesuatu rahasia lain."
"Tapi kemanakah perginja Suhu selama ini?"
Demikian pikirnja pula.
"Bekas tempat tinggalnja telah dibongkar-bangkir orang sedemikian rupa, masakah beliau sama sekali tidak tahu? Apa benar beliau tidak pernah pulang kemari? Lalu bagaimana dengan Djik-sumoay? Ja, mungkin dia masih tinggal di Hengtjiu dan sedang menikmati kebahagiaan sebagai njonja muda keluarga Ban jang kaja-raja. Sudah tentu orang2 keluarga Ban itu tidak memberitahukan pada Sumoay bahwa bekas tempat tinggalnja itu akan diobrak-abrik. Dan apakah jang sedang dikerdjakan Sumoay saat ini?......" *** Hlm. 35 Gambar. Mendadak terdengar suara "blang"
Jang keras, pintu depan telah didobrak orang hingga terpentang, serempak anak-murid Ban Tjin-san terus menjerbu kedalam dan mengepung Gian Tat-peng di-tengah2.
Malamnja, kembali didalam rumah gedung itu terang-benderang dengan tjahaja lilin, belasan kuli kampung asjik mengajun tjangkul mereka untuk menggali tanah.
Tik Hun djuga berada diantara kuli2 penggali itu, ia tidak terlalu giat, tapi djuga tidak malas, dengan demikian ia mengharap tidak menarik perhatian orang lain.
Apalagi rambutnja kusut-masai, djenggot dan kumisnja tak tertjukur hingga hampir seluruh mukanja tertutup oleh berewoknja jang tak terawat itu, ditambah lagi debu tanah jang berlepotan dimukanja, keruan muka aslinja mendjadi lebih susah dikenali.
Malam ini penggali2 itu menitik-beratkan podjok utara dari lubang tanah itu, sedang sipengemis tua sedang berdjalan mondar-mandir ditepi lubang galian itu sambil menggendong tangan.
Sudah tentu sekarang ia bukan lagi seorang pengemis jang dekil dan mesum, tapi adalah seorang Tauke besar jang hidup mewah, badjunja buatan dari bahan sutera satin, pada djari manis kiri memakai sebuah tjintjin permata djamrud, ikat pinggangnja djuga terikal sepotong batu kemala jang susah dinilai harganja.
Se-konjong2 Tik Hun mendengar diluar gedung itu ada suara orang merajap datang, dari kanan-kiri dan muka-belakang, semua djurusan ada suara merajap orang.
Djarak pendatang2 itu masih sangat djauh, agaknja sipengemis tua masih belum mengetahui sedikitpun.
Tik Hun tjoba miringkan tubuh untuk melirik sipengemis itu, tapi sang Tauke ternjata tenang2 sadja seperti tidak merasakan apa2.
Sementara itu Tik Hun mendengar suara tindakan orang2 dari berbagai djurusan itu sudah makin mendekat.
Satu, dua, tiga........
enam, tudjuh, delapan, ja, benarlah itu Ban Tjin-san beserta ketudjuh anak muridnja.
Tapi sipengemis tua ternjata masih tidak mengetahui.
Sungguh heran Tik Hun, baginja kedatangan rombongan Ban Tjin-san itu dapat didengarnja dengan djelas, bahkan dapat dihitung djumlahnja.
Tapi mengapa pengemis tua itu seperti orang tuli sadja tanpa mendengar apa2?
Lima tahun jang lampau, Tik Hun kagum dan memudja pengemis tua itu bagaikan malaikat dewata.
Pengemis itu hanja mengadjarkan tiga djurus ilmu pedang kepada Tik Hun dan pemuda itu sudah sanggup menghadjar Ban-bun-pat tetju atau delapan murid keluarga Ban, hingga pontang-panting, sedikitpun kedelapan lawan itu tak mampu melawan.
"Tapi kini, mengapa kepandaian pengemis tua ini telah berubah sedjelek ini dan mundur malah? Djangan2 Tauke ini bukan pengemis tua jang dahulu itu? Barangkali aku salah mengenali dia? Tapi, tidak, tidak mungkin, tidak mungkin aku salah lihat!"
Demikian Tik Hun bertanja-djawab sendiri.
Ternjata Tik Hun tidak memikir bahwa sebenarnja ilmu silatnja sendiri jang telah mentjapai kemadjuan pesat hingga sudah hampir mentjapai tingkatan jang tiada taranja.
Sesuatu jang dapat didengarnja dengan djelas bagi telinga orang lain sebaliknja sedikitpun tidak terdengar apa.
Dalam pada itu kedelapan orang itu makin lama sudah makin mendekat.
Sungguh Tik Hun sangat heran.
"Perbuatan kedelapan orang itu benar2 sangat lutju, memangnja mereka mengira tiada seorangpun jang mengetahui kedatangan mereka hingga mesti main germat-germet seperti maling kuatir kepergok?"
Sementara itu kedelapan orang itu sudah lebih dekat lagi. Mendadak sipengemis tua tampak bergetar sambil miringkan kepalanja untuk mendengarkan.
"Ha, dia sudah dengar sekarang barangkali? Kenapa baru dengar sekarang, apa tuli?"
Demikian Tik Hun membatin.
Padahal sipengemis tua jang sudah mendjadi Tauke itu sebenarnja tidak tuli.
Soalnja djarak kedelapan orang itu memang masih djauh.
Kalau Tik Hun dua-tiga tahun jang lalu pasti djuga takkan mendengar suara rombongan Ban Tjin-san, bahkan lebih dekat djuga belum tentu dapat mendengarnja.
Sementara itu kedelapan orang itu sudah dekat benar2, kini mereka melangkah setindak demi setindak dengan hati2, terkadang berhenti dulu, lalu melangkah madju pula, terang mereka djuga kuatir diketahui oleh orang didalam rumah.
Namun sekarang sipengemis tua sudah mengetahui kedatangan musuh.
Dengan tenang ia mendekati podjok ruangan dan mengambil sebatang tongkat jang tertaruh disitu.
Itulah sebatang "Liong-thau-bok-koay"
Atau tongkat kaju berukiran kepala naga.
"Masakah tongkat begitu akan dipakai sebagai sendjata?"
Demikian Tik Hun merasa heran. Se-konjong2, serempak kedelapan orang diluar rumah itu berlari madju dan mengepung dari empat djurusan kearah gedung.
"Blang" , mendadak pintu didobrak orang hingga terpentang, setjepat kilat seorang telah mendahului menerdjang masuk, itulah dia Ban Ka. Menjusul Sim Sia, Bok Heng dan lain2 djuga lantas ikut menjerbu kedalam. Sesudah ketudjuh Ban-keh-te-tju itu menjerbu masuk, serentak mereka mengepung sipengemis tua di-tengah2 sambil sendjata siap ditangan. Namun pengemis tua itu ternjata tenang2 sadja, bahkan ia ter-bahak2 dan berkata.
"Hahahaha! Bagus, bagus! Apa anak2 sudah datang semua? Dan dimana Ban-suko, mengapa tidak nampak?"
Maka terdengarlah suara tertawa lepas seorang diluar rumah, menjusul masuklah orang itu dengan langkah berlenggang, itulah dia "Ngo-in-djiu"
Ban Tjin-san.
Sesudah berada didalam rumah, Ban Tjin-san berdiri berhadapan dengan pemngemis itu terpisah oleh lubang galian, kedua orang sama2 mengamat-amati masing2, selang sebentar barulah Ban Tjin-san membuka suara.
"Gian-sute, wah, berpisah selama lima tahun, tahu2 engkau sudah mendjadi OKB (orang kaja baru)."
Begitu selesai mendengar utjapan Ban Tjin-san itu, seketika katjau-balau pikiran Tik Hun oleh berketjamuknja matjam2 pertanjaan.
"Ha? Djadi......... djadi pengemis tua inilah tak-lain-tak-bukan adalah Djisupek Gian Tat-peng jang selama ini tjuma dikenal namanja sadja itu?"
Demikian ia tidak habis heran. Maka terdengar sipengemis tua itu sedang mendjawab.
"Suko, aku tjuma mendapat sedikit redjeki jang tak berarti, tapi selama beberapa tahun ini usahamu tentu banjak kemadjuan, bukan?"
"Terima kasih atas pudjimu,"
Sahut Ban Tjin-san.
"He, anak2, mengapa tidak lekas memberi hormat kepada Susiok?"
Serentak Loh Kun dan lain2 lantas berlutut memberi hormat kepada pengemis tua itu dan berkata.
"Terimalah hormat kami, Susiok!"
"Sudahlah, sudahlah! Sambil memegang sendjata, tentu tidak leluasa untuk mendjura, maka boleh tak usahlah,"
Seru pengemis tua itu dengan tertawa. Diam2 jakinlah Tik Hun.
"Djika demikian, djadi pengemis ini memang betul Gian-supek adanja."
"Sute,"
Demikian Ban Tjin-san telah berkata pula.
"ada apa kau menggali tanah didalam rumah sini? O, barangkali kau mengusahakan pertambangan, ja? Besar amat lubang jang kau gali ini?"
Tapi sipengemis tua alias Gian Tat-peng itu tetang2 sadja, ia tertawa dingin, lalu mendjawab.
"Dugaan Suheng salah semua. Soalnja musuh Siaute terlalu banjak, aku ingin bersembunji disini, maka sengadja menggali lubang perlindungan ini. Tapi lubang inipun serta guna, djika musuh terbunuh oleh Siaute, maka sekalian aku lantas menguburnja disini dengan tidak perlu menggali liang kubur lain. Sebaliknja djika Siaute dibinasakan musuh, maka lubang inipun dapat dianggap sebagai tempat tidurku untuk se-lama2nja."
"Wah, bagus, bagus! Sute memang pintar berpikir!"
Demikian Ban Tjin-san tertawa memudji.
"Tapi badan Sute toh tidak terlalu gede, kulihat liang inipun sudah lebih dari tjukup, rasanja tidak perlu menggali lebih dalam lagi."
"Benar, untuk mengubur seorang memang lebih dari tjukup, tapi kalau untuk mengubur delapan orang mungkin masih kurang dalam,"
Sahut Gian Tat-peng.
Melihat kedua saudara perguruan itu begitu berhadapan sudah lantas perang mulut dengan kata2 tadjam, tiba2 Tik Hun mendjadi teringat kepada apa jang pernah ditjeritakan Ting Tian dahulu.
Pikirnja.
"Menurut tjerita Ting-toako, katanja Suhu bersama Ban-supek dan Gian-supek bertiga telah mengerojok dan membunuh guru mereka, Bwe Liam-seng. Sedangkan guru mereka sendiri sadja dibunuh, apalagi diantara mereka masakah dapat diharapkan adanja hubungan persaudaraan jang baik? Menurut tjerita Ting-toako (batjalah hal 38 d
Jilid 2), katanja mereka bertiga telah berhasil merebut Soh-sim-kiam-boh dari guru mereka, tapi tidak mendapatkan Kiam-koat jang merupakan inti rahasia dari peladjaran ilmu pedang itu.
Padahal Kiam-koat itu melulu terdiri dari angka2 sadja, katanja angka pertama adalah ‘4’, angka kedua adalah ‘51’, angka ketiga adalah ‘33’, angka keempat adalah ‘53’, angka kelima ‘18’, angka keenam ‘7’ dan ..........
sampai adjalnja Ting-toako angka2 itupun belum selesai diutjapkan.
Bukankah Kiam-boh sudah mereka rebut dari guru mereka, mengapa sekarang mereka mentjari lagi kesini?"
Dalam pada itu Ban Tjin-san telah berkata.
"Sute jang baik, kita berdua adalah saudara seperguruan sedjak ketjil, kau tjukup kenal pikiranku, akupun paham isi hatimu, buat apa mesti bitjara setjara ber-putar2! Mana, serahkan!" ~ Begitu kata2 terachir itu dilontarkan, berbareng ia sodorkan tangannja kedepan. Namun Gian Tat-peng hanja geleng2 kepala, sahutnja.
"Belum dapat kutemukan. Kelitjinan Djik-losam memang harus diakui kita bukan tandingannja. Sampai sekarang aku masih belum dapat mengetahui dimanakah dia telah menjembunjikan Kiam-boh itu."
Kembali Tik Hun terkesiap, pikirnja pula.
"Agaknja sesudah mereka bertiga berhasil merebut Soh-sim-kiam-boh dari guru mereka, kemudian Suhu berhasil pula mengangkangi sendiri kitab ilmu pedang itu. Tapi mengapa selama itu tiada terdjadi apa2? Ja, tentu disebabkan Suhu dapat bertindak dengan sangat litjin hingga selama itu perbuatannja tak diketahui oleh kedua Supek ini. Dan kalau Suhu tidak tinggal disini, dengan sendirinja Kiam-boh itu selalu dibawanja ke-mana2, masakah Kiam-boh itu dapat disembunjikan atau dipendam didalam rumah ini? Sekarang mereka membongkar-bangkir tempat ini, bukankah terlalu tolol perbuatan mereka itu?"
Akan tetapi ia tahu sekali2 Ban Tjin-san dan Gian Tat-peng itu bukan orang tolol, mungkin berpuluh kali, bahkan beratus kali lebih pintar dan tjerdik daripada Tik Hun sendiri.
Habis, rahasia dan muslihat apakah jang berselubung dibalik kesemuanja ini?
Ja, rahasia dan muslihat apakah jang terselubung dibalik semua kedjadian itu?
Apa benar maksud tudjuan Gian Tat-peng dan Ban Tjin-san melulu untuk mendapatkan Soh-sim-kiam-boh sadja?
Tidak!
Masih ada maksud tudjuan mereka jang lain.
Dan apakah itu?
Harta karun!!
Dan siapakah jang akan menang dan kalah diantara usaha Ban Tjin-san dan Gian Tat-peng jang mulai tjakar2an sendiri itu?
Batjalah d
Jilid ke-9. D
Jilid Dalam pada itu terdengar Ban Tjin-san telah tertawa ter-bahak2. Katanja.
"Sute, masakah kau perlu berlagak pilon lagi? Ha-ha, orang mengatakan Samsute kita adalah Tiat-soh-heng-kang, tipu-akalnja lihay, tapi menurut hematku, adalah Djisute kau jang lebih lihay. Mana serahkan!"
Dan kembali ia mendjulurkan kedua tangannja pula. Tapi Gian Tat-peng me-nepuk2 kantongnja jang kosong itu, sahutnja.
"Djika sudah kudapatkan, masakah antara kita masih perlu di-beda2kan milikmu atau milikku? Djika barang itu dapat ketemukan, tentu akan kutundjukan setjara terbuka, kita boleh melatihnja bersama dan kita dapat tukar pikiran pula, bukankah begini lebih baik. Bukan aku sengadja mem-besar2kan hal ini, tapi sesungguhnja Suheng, andaikan mestika itu kudapatkan, seorang diri saudaramu ini djuga tak sanggup melatihnja, tapi mesti minta Suheng jang memegang pimpinan ini. Sebaliknja, hehe, seumpama Suheng jang menemukan mestika itu, biarpun anak muridmu tjukup banjak, tapi kepandaian mereka masih hidjau, maka perlu djuga rasanja bantuan saudaramu ini untuk berkongsi."
"Kau sudah pernah mendatangi gua disana itu, apa jang telah kau ketemukan?"
Tanja Ban Tjin-san.
"Gua apa?"
Sahut Gian Tat-peng dengan heran.
"Didekatan sini ada gua, maksudmu?"
"Sute,"
Kata Tjin-san.
"kita adalah saudara seperguruan selama puluhan tahun, buat apa achirnja mesti tjektjok sendiri? Harap kau keluarkan sadja, marilah kita mempeladjari bersama, ada untung sama dirasakan, ada rugi sama dipikul."
"Sungguh aneh, mengapa kau jakin benar2 menuduh aku sudah memperolehnja?"
Tanja Tat-peng.
"Djika betul aku sudah mendapatkan barangnja, buat apa aku masih susah-pajah menggali disini?"
"Huh, banjak tipu akalmu jang litjin, siapa tahu permainan apa jang sedang kau lakukan?"
Udjar Tjin-san.
"Suko, kau sendiri toh tjukup kenal Samsute, masakah barangnja akan begini gampang kita ketemukan?"
Kata Tat-peng.
"Menurut pendapatku, belum tentu pula disimpannja didalam rumah ini, bila menggali tiga hari masih belum kutemukan apa2, maka akupun tidak ingin meneruskan lagi penggalian ini."
"Haha, kukira lebih baik kau menggali sebulan atau dua bulan supaja permainan sandiwaramu ini bisa lebih hidup,"
Djengek Ban Tjin-san. Seketika air muka Gian Tat-peng berubah, segera ia bermaksud undjuk gigi, tapi sesudah dipikir pula, sedapat mungkin ia menahan gusarnja, sahutnja kemudian.
"Suheng, tjara bagaimana aku harus berbuat supaja kau mau pertjaja?" ~ Habis berkata, ia terus membuka djubahnja dan dibalik, ia kebas2 djubahnja itu, maka terdengarlah suara gemerintjing jang njaring, dari djubahnja itu djatuh beberapa tahil perak dan sebuah pipa tembakau, ia pun tidak mendjemput kembali barang2 itu, tapi masih mengebas beberapa kali djubahnja itu.
"Hm, memangnja kau begitu bodoh, masakah kau membawanja didalam badjumu?"
Kata Ban Tjin-san.
"Ja, andaikan kau bawa, tentu djuga kau simpan dibagian dalam, tidak mungkin kau taruh disaku luar."
Gian Tat-peng menghela napas, sahutnja.
"Djikalau Suheng tetap tidak pertjaja, ja apa boleh buat, silakan menggeledah badan Siaute sadja."
"Maafkan kalau begitu,"
Kata Tjin-san.
Lalu ia memberi tanda kepada Ban Ka dan Sim Sia.
Kedua pemuda itu mengangguk tanda tahu, lalu mereka memasukkan pedang mereka kesarungnja, dari kanan-kiri segera mereka mendekati Gian Tat-peng.
Menjusul Ban Tjin-san memberi isjarat pula kepada Bok Heng dan Loh Kun, kedua orang itu pelahan2 lantas menggeser kebelakang Gian Tat-peng dengan pedang tetap terhunus.
Dalam pada itu Gian Tat-peng telah tepuk2 lagi saku badju dalam dan berkata.
"Nah, silakan geledah!"
"Maaf, Susiok,"
Kata Ban Ka, terus sadja ia mengulur tangannja kedalam saku sang paman guru.
Tapi mendadak ia mendjerit tadjam sekali, tjepat ia menarik kembali tangannja, waktu diperiksa dibawah sinar obor jang terang itu, maka tertampaklah dipunggung tangannja terdapat seekor ketungging jang besar.
Rupanja sangat kesakitan hingga Ban Ka ber-djingkrak2.
"plok" , tjepat ia baliki tangan dan menggablok ketepi tanggul liang galian, seketika ketungging berbisa itu terpukul hingga hantjur. Tapi punggung tangannja sudah terkena bisa binatang itu, kontan sadja terus abuh. Ban Ka masih berlagak djagoan, sedikitpun ia tidak sudi merintih, tapi keringat dingin didjidatnja sudah lantas merembes keluar ber-butir2 sebesar kedelai. Kemudian terdengar Gian Tat-peng berseru kaget.
"Ai, Ban-hiantit, darimanakah kau mendapatkan serangga berbisa seperti itu? Wah itu adalah ketungging loreng, lihaynja tidak kepalang. Suko, hajolah lekas, lekas, kau membawa obat penawar ratjun tidak? Kalau terlambat sebentar lagi, wah tentu tjelaka, tentu tjelaka!"
Maka tertampak punggung tangan Ban Ka jang abuh itu dari warna merah berubah mendjadi matang biru, lalu mendjadi hitam, ada satu garis merah pelahan2 menaik kearah lengan.
Namun Ban Tjin-san insaf telah terdjebak oleh tipu kedji sang Sute, karena sudah kepepet, terpaksa ia menahan perasaannja dan berkata.
"Sute, kakakmu ini terimalah menjerah padamu, aku mengaku kalah sudah, harap kau berikan obat penawarnja dan kami lantas pergi, untuk seterusnja kami takkan datang kembali untuk merusuhi kau lagi.
"Tentang obat penawar, ja, dulu aku memang punja, tapi kemudian, lama kelamaan entah tertaruh dimana, biarlah lewat beberapa hari lagi akan kutjarikan dan mungkin akan dapat diketemukan. Pabila tidak, nanti aku akan pulang ke Tay-beng-hu untuk mentjari resep obat itu dan membelikannja diapotik. Ja, apa mau dikata, habis kita sesama saudara seperguruan sih."
Mendengar djawaban itu, sungguh dada Ban Tjin-san hampir2 meledak saking gusarnja.
Luka terpagut ular atau diatup ketungging seperti itu dalam waktu singkat sadja djiwa penderita mungkin akan melajang, asal garis merah jang mulai menaik ke lengan itu menembus sampai didada, maka kontan penderita itu akan terbinasa, tapi sang Sute enak2 bitjara tentang "lewat beberapa hari lagi obat penawar itu akan ditjari"
Dan katanja akan tjari resepnja dulu ke Tay-beng-hu, padahal djarak Tay-beng-hu itu be-ribu2 li djauhnja, bahkan setjara tidak kenal malu mengatakan pula tentang hubungan baik sesama saudara seperguruan apa segala.
Tapi apa daja, djiwa putera kesajangannja tergantung diudjung rambut, terpaksa Ban Tjin-san menahan perasaannja, seorang laki2 hendak membalas dendam masih belum terlambat untuk menunggu sepuluh tahun lagi.
Maka katanja pula.
"Sute, harini sudah terang aku terdjungkal habis2an. Apa jang kau inginkan, hendaknja kau katakan terus terang sadja."
Gian Tat-peng benar2 seorang litjik, biar orang kerupukan setengah mati, tapi ia djusteru bersikap ngular kambang, dengan pe-lahan2 ia miring kepala untuk memikir, habis itu barulah ia mendjawab.
"Suko, apa sih keinginan jang kuharapkan dari kau? Sudahlah, kau suka bagaimana dan aku akan menurut sadja."
Diam2 Ban Tjin-san gemas tidak kepalang, didalam hati ia bersumpah.
"Baik, sedemikian kau mendesak diriku, sedikitpun tidak mau mengalah, pada suatu hari kelak pasti aku akan suruh kau kenal akan kelihayanku." ~ Dan lahirnja ia tenang2 sadja dan mendjawab.
"Baiklah aku berdjandji untuk selandjutnja takkan bertemu lagi dengan Sute, kalau aku meng-utik2 apa2 lagi kepada Sute anggaplah aku orang she Ban ini bukan manusia."
"Ai, mana aku berani terima sumpahmu seberat itu,"
Udjar Gian Tat-peng dengan senjum tjulas.
"Begini, aku hanja mohon Suko menjatakan bahwa 'Soh Sim Kiam-boh"
Itu diakui sebagai milik Gian Tat-peng.
Kalau jang menemukan kelak adalah Gian Tat-peng sendiri itulah tidak perlu lagi dipersoalkan, tapi umpama Suko jang menemukan, maka djuga harus diserahkan kepada Sutemu ini."
Dalam pada itu separoh tubuh Ban Ka sudah kaku lumpuh, hawa ratjun pelahan2 mulai menjerang otaknja hingga kepalanja terasa pening, mata mendjadi gelap, tubuhnja sempojongan, tanpa kuasa lagi ia berkeledjetan seperti orang kena penjakit ajan.
"Sute, Sute!"
Seru Loh Kun dengan kuatir, tjepat ia madju untuk memajang Ban Ka.
Waktu di periksa lengannja, ternjata garis merah itu sudah lewat ketiak dan mendjurus kedada.
Tjepat ia berpaling kepada Ban Tjin-san dan berseru.
"Suhu, segala permintaannja kita sanggupi sadja!"
Dibalik kata2nja itu se-olah2 menjatakan bahwa kita terpaksa menerima sjaratnja, tapi kelak kita masih dapat ingkar djandji dan membalas sakit hati.
Ban Ka adalah putera tunggal kesajangan Ban Tjin-san, dengan sendirinja djago "Ngo-in-djiu"
Itu tidak dapat menjaksikan puteranja itu mati konjol begitu sadja, terpaksa ia lantas berseru.
"Baiklah, 'Soh-sim-kiam-boh' itu anggaplah sebagai milik Sute. Kionghi. Kionghi!"
"Djika begitu, biarlah kutjari dulu kedalam kamar sana, boleh djadi aku akan mendapatkan obat penawar apa jang berguna, hal ini tergantunglah nasib Ban-hiantit sendiri jang entah akan mudjur atau malang."
Habis berkata, tetap dengan tjaranja jang ngular kambang ia bertindak kedalam.
Segera Ban Tjin-san mengedipi Loh Kun dan Bok Heng dan segera kedua pemuda itupun ikut masuk kedalam.
Selang agak lama, tunggu punja tunggu ketiga orang itu masih belum keluar, suara merekapun tidak kedengaran.
Sebaliknja keadaan Ban Ka semakin pajah, sudah dalam keadaan tak sadarkan diri dan tak berkutik lagi bersandar dalam pegangan Sim Sia.
Keruan Ban Tjin-san semakin kelabakan bagaikan orang kebakaran djenggot.
Segera ia berkata kepada muridnja jang lain, jaitu Pang Tam.
"Tjoba kau lihat kedalam sana!"
Pang Tan mengiakan, tapi belum lagi ia bertindak, sementara itu tertampak Gian Tat-peng sudah berdjalan keluar dengan muka ber-seri2 dan berkata.
"Untung, untung! Ini, dapat kutemukan ~ sembari berkata ia lantas undjukan sebuah botol porselen ketjil dan menjambung pula.
"Ini adalah obat penawar ratjun, tentu akan mandjur sekali untuk menjembuhkan ratjun antupan ketungging."
Habis berkata, ia terus mendekati Ban Ka, ia membuka sumbat botol dan menuang keluar sedikit obat bubuk warna hitam, ia bubuhkan obat dipunggung tangan Ban Ka sambil berkata.
"Ban-hiantit, agaknja nasibmu masih mudjur!"
Obat penawar itu ternjata sangat mustadjab, hanja sekedjap sadja dari luka itu lantas merembes keluar air hitam dan menetes ketanah, makin lama makin banjak darah hitam jang menetes itu dan garis merah dilengan Ban Ka itupun pelahan2 menurun kembali kepergelangan tangan.
Ban Tjin-san menghela napas lega, tapi mendongkol pula.
Djiwa puteranja memang telah dapat diselamatkan, tapi pamornja sekarang benar2 bangkrut habis2an.
Bertempur sadja belum dan dia mesti mengaku kalah, bukankah hal ini terlalu penasaran baginja?
Selang tak lama pula, achirnja Ban Ka membuka mata dan memanggil.
"Ajah!"
Lalu Gian Tat-peng menutup kembali botolnja dan menjimpannja kedalam badju, katanja dengan tertawa.
"Nah, selamat djalan, aku tidak menghantar, ja!"
"Panggil mereka keluar,"
Kata Ban Tjin-san kepada Sim Sia, maksudnja kedua muridnja jang menjusul Gian Tat-peng keruangan belakang tadi. Sim Sia mengiakan, lalu menudju keruangan belakang sambil berseru.
"Loh-suko, Bok-suko, hajolah lekas keluar, kita akan berangkat!"
Tapi ia tidak mendapat sahutan seorangpun, kembali ia menggembor lagi beberapa kali dan tetap sunji senjap tiada suara apa2.
Tanpa menunggu perintah sang Suhu lagi segera Sim Sia menerdjang kebelakang.
Namun sial benar2, sekali ia sudah masuk, untuk selandjutnja iapun tidak keluar lagi.
Keruan Ban Tjin-san tjuriga dan kuatir, tapi segera iapun sadar.
"Didalam rumah keparat Gian Tat-peng ini kalau bukan ada djagoan silat lihay, tentu didalam situ dipasang perangkap rahasia apa2 hingga ketiga muridku sekali masuk lantas terdjebak tipu muslihatnja. Dalam keadaan demikian biarpun aku memohon lagi dengan merendah diri djuga tiada gunanja."
Karena pikiran itu, tanpa bitjara segera ia lolos pedang, sekali bergerak, kontan ia menusuk keleher Gian Tat-peng.
Selamanja Tik Hun belum pernah melihat sang Toasupek Ban Tjin-san mengundjukan ilmu silatnja, kini melihat tusukannja itu sangat kuat dan kedji pula, diam2 ia memudji.
"Ehm, bagus, serangannja ini sangat tepat."
Hendaklah diketahui bahwa kepandaian Tik Hun sekarang sudah luar biasa, maka setiap permainan silat orang lain baginja boleh dikata seperti mengambil barang disaku sendiri gampangnja, apakah permainan silat orang itu salah atau benar dengan segera akan dapat diketahui olehnja.
Ia melihat serangan pertama Ban Tjing-san itu sedikitpun tiada tempat kelemahan, maka dapat diduga ilmu silat sang paman guru itu memang tidak rendah.
Begitulah maka Gian Tat-peng telah mengegos untuk hindarkan tusukan Ban Tjin-san tadi, menjusul kedua tangannja jang memegangi tongkat tadi mendadak dipentang, tahu2 tongkat itu putus mendjadi dua.
"tjreng" , tahu2 tangannja telah bertambah sebatang pedang jang gemilapan menjilaukan mata. Kiranja tongkat itu sebenarnja adalah sendjata "dwi-guna" , boleh dipakai sebagai tongkat dan dapat pula digunakan sebagai pedang bila udjung tongkat jang berukir kepala naga itu ditarik, maka kepala naga itu akan berubah tugasnja mendjadi garan pedang dan bagian tongkat jang bawah sebenarnja adalah sarung pedang. Maka begitu pedang sudah dilolos, segera Gian Tat-peng melantjarkan serangan balasan hingga dalam sekedjap sadja terdengarlah suara "trang-tring"
Jang njaring, kedua saudara seperguruan itu lantas saling labrak ditengah lubang galian luas itu.
Sedjak tadi para kuli kampung itu sudah kuatir menjaksikan pertengkaran mulut kedua orang itu, kini melihat mereka mulai saling tempur dengan sendjata, keruan kuli2 kampung itu bertambah ketakutan hingga mereka sama menjingkir kepodjok ruangan dan tiada seorangpun jang berani membuka suara.
Tik Hun djuga pura2 ketakutan, tapi diam2 iapun perhatikan pertarungan kedua paman guru itu.
Sesudah mengikuti belasan djurus lagi, diam2 Tik Hun merasa gegetun, pikirnja.
"Tenaga dalam kedua Supek ini mengapa begitu tjetek? Meski tipu serangan mereka masing2 ada keunggulannja sendiri2, tapi kalau kebentur lawan jang punja Lwekang tinggi, sekali sendjata beradu, sekali gebrak sadja pasti sendjata mereka akan mentjelat keudara, djangan lagi hendak bitjara serang-menjerang segala? Dan kalau kedua Supek ini ingin ilmu silat mereka tambah madju, mereka harus mulai dengan memupuk tenaga dalam, kalau tiada memiliki tenaga dalam jang kuat, sekalipun mendapatkan Soh-sim-kiam-boh djuga tiada gunanja. Apalagi usia mereka sudah landjut begini, untuk melatih Lwekang agaknja djuga sudah susah."
Dan setelah mengikuti beberapa djurus pula, kembali ia lebih gegetun lagi.
"Njata sekali ilmu silat Lau Seng-hong berempat pendekar jang bergelar "Lok-hoa-liu-tjiu"
Adalah djauh lebih tinggi daripada kedua Supek ini.
Kulihat ilmu silat kedua Supek ini memang sedjak mula sudah sesat djalan, melulu mengutamakan perubahan2 tipu serangan jang indah dipandang, tapi sebenarnja tak berguna.
Mereka tidak pikir tjara bagaimana harus memupuk tenaga dalam jang merupakan landasan ilmu silat.
Apakah sebabnja mereka bisa salah?
Ja, aku mendjadi ingat, dahulu waktu Suhu mengadjarkan ilmu pedang padaku djuga demikian tjaranja dia memberi petundjuk.
Agaknja mereka, Ban-supek, Gian-supek dan Suhu bertiga saudara seperguruan memang beginilah memperoleh didikan dari Sutjo (kakek guru).
Pada hal ilmu silat kembangan begini kalau ketemukan lawan jang bertenaga dalam sedikit lebih kuat, maka silat kembangan mereka ini seketika tiada gunanja sama sekali.
Ja, sungguh aneh, mengapa mereka beladjar ilmu pedang tjara begini?"
Begitulah Tik Hun tidak habis mengerti oleh tjara beladjar silat Suhu dan kedua Supeknja itu.
Dalam pada itu dilihatnja Sun Kin, Pang Tan dan Go Him bertiga djuga sudah mulai mengerubut madju, mereka tidak pikirkan pula tentang peraturan Kangouw apa segala.
Maka tertawalah Gian Tat-peng dengan ter-bahak2.
"Bagus, bagus! Toasuko, makin lama makin djempol kau! Sekian banjak begundalmu jang kau bawa untuk mengerojok Sutemu ini!" ~ Meski ia bersikap tenang2 sadja seperti tak terdjadi apa2, tapi permainan pedangnja sudah mulai katjau menghadapi empat lawan itu. Pikir Tik Hun pula.
"Ilmu pedang kedua Supek masing2 mempunyai keunggulannja sendiri2. Dahulu Gian-supek telah mengadjarkan tiga djurus 'Dji-koh-sik', 'Ni-kong-sik' dan 'Gi-kiam-sik' padaku hingga aku dapat melabrak habis2an kedelapan Ban-bun-tetju, tapi kini ia sendiri menggunakan tipu2 serangan itu untuk menghadapi Ban-supek ternjata tiada sedikitpun gunanja. Ai, mengapa mereka tidak paham bahwa ilmu pedang jang indah2 permainannja kalau tidak dilandasi dengan tenaga dalam jang kuat, apa sih gunanja? Dan sungguh aneh, mengapa mereka tidak tahu hal ini?"
Se-konjong2 dalam benaknja terkilas sesuatu kedjadian dimasa lampau.
"Menurut tjerita Ting-toako mengenai asal-usul Sin-tjiau-keng, njata Sutjo Bwe Liam-sing pasti paham betapa pentingnja landasan Lwekang tapi mengapa beliau tidak mengatakan kepada ketiga muridnja? Djangan2 …… djangan2 …." ~ berpikir sampai disini, tanpa merasa ia menggigil dan keringat dingin merembes keluar dipunggungnja, badannja gemetar sedikit. Seorang kampung disebelahnja jang berusia sudah tua tiada hentinja menjebut Budha dan berdoa.
"Omitohud, Omitohud! Semoga djangan terdjadi pembunuhan disini. Adik tjilik, djangan takut, djangan takut!"
Rupanja ia melihat Tik Hun gemetar, maka disangkanja pemuda itu ketakutan oleh pertarungan sengit itu, maka orang tua itu lantas menghiburnja.
Padahal hatinja sendiri sebenarnja djuga sangat ketakutan.
Begitulah sekali Tik Hun sudah dapat menerka dimana letak kegandjilan itu, tjuma hal ini terlalu kedji dan penuh kepalsuan hati manusia, maka ia tidak ingin banjak memikirkan pula, bahkan tidak ingin membentangkan satu djalan pikiran jang membenarkan pendapatnja itu.
Namun Tik Hun tadi sudah berhasil memetjahkan teka-teki jang gandjil itu, dengan sendirinja segala sesuatu hal jang paling ketjil sekalipun djuga akan dapat diarahkan kesitu.
Dan setiap gerak serangan Ban Tjin-san dan ketiga muridnja itu selalu menambah dan membuktikan kebenaran pendapat Tik Hun itu.
"Ja, ja, tidak salah lagi, tentu beginilah halnja. Tetapi, ah apa mungkin? Sebagai guru masakah bisa berlaku sekedji ini? Tidak, tidak bisa ~ namun djika bukan begitu, mengapa bisa begini? Sungguh sangat aneh?"
Achirnja terbajanglah suatu adegan jang sangat djelas dalam benaknja.
"Beberapa tahun jang lalu, itulah ditempat jang sama ini, aku dan Djik Hong sumoay sedang latihan dan Suhu berdiri disamping untuk memberi petundjuk. Suhu telah mengadjarkan suatu djurus jang indah dan aku telah melatihnja dengan giat. Tapi ketika untuk kedua kalinja aku bertanja apa jang Suhu adjarkan lantas tidak sama lagi, gajanja sih tetap sangat bagus tapi sudah berbeda daripada jang pertama. Tatkala itu aku mengira ilmu pedang Suhu itu terlalu hebat dan banjak perubahannja, tapi kini demi dipikir sebab apakah satu djurus ilmu pedang bisa ber-beda2 tjara mengadjarkan, maka terang gamblang sekali dapat kuketahui sekarang. Mendadak ia merasa sangat berduka, sangat sedih, pikirnja pula.
"Suhu telah sengadja menjesatkan aku, sengadja mengadjarkan ilmu pedang jang tidak baik padaku. Sebenarnja kepandaiannja tjukup tinggi, tapi ia sengadja mengadjarkan padaku ilmu pedang jang tjuma indah dipandang tapi tidak berguna dipakai …….. dan Ban-supek djuga begitu, kepandaiannja terang djauh berbeda daripada para anak muridnja ini …."
Dalam pada itu dilihatnja Gian Tat-peng sedang beraksi pula, tangan kiri bergaja, dan tangan kanan bergerak, udjung pedang disendal hingga ber-putar2 dalam bentuk lingkaran2, lalu dengan tjepat luar biasa terus menusuk kedada lawan.
Sebaliknja Ban Tjin-san djuga tjepat menangkis, pedangnja menabas melintang ber-ulang2, lawannja tudjuh kali memutar pedang, iapun menabas tudjuh kali hingga lingkaran2 ketjil pedang lawan dipetjahkan semua olehnja.
Menjaksikan itu, kembali Tik Hun berpikir pula.
"Ketudjuh lingkaran2 itu sebenarnja tidak perlu, sebab paling achir toh dia menusuk kedada Ban-supek, djika begitu, mengapa tidak terus langsung menusuk sadja, bukankah lebih tjepat dan lebih ganas? Sebaliknja Ban-supek djuga menabas dan menangkis lingkaran2 ketjil itu, nampaknja memang bagus, tapi sebenarnja gobloknja keliwat. Kalau dia balas menusuk keperut Gian-supek, bukankah sedjak tadi dia sudah menang!"
Mendadak benaknja terbajang pula suatu adegan dimasa dahulu.
Waktu itu dia sedang berlatih bersama sang Sumoay Djik Hong.
Banjak djuga variasi ilmu pedang jang dimainkan Djik Hong, sebaliknja ia sendiri agak lupa kepada tipu djurus jang diadjarkan oleh Suhunja hingga dia terdesak kalang-kabut oleh serangan Djik Hong, ber-ulang2 terpaksa ia mundur.
Dan selagi Djik Hong mentjetjar pula tiga kali hingga dia kelabakan takbisa menangkis, nampaknja pasti dia akan kalah, pada saat sudah kepepet inilah ia tidak memikirkan apa jang pernah dipesan sang guru lagi, tapi pedangnja diangkat untuk menangkis sekenanja, menjusul terus menusuk kedepan.
Aneh djuga, serangan Djik Hong itu tampaknja bergaja indah dan lihay, dan tangkisan Tik Hun tampaknja kaku ngawur, tapi malah serangan Djik Hong itu dapat dipatahkan, bahkan tusukan Tik Hun terus mengantjam ke pundak Djik Hong.
Sedang Tik Hun bingung karena tak sempat menarik kembali tusukannja itu, se-konjong2 Djik Tiang-hoat melompat madju dengan membawa sepotong kayu, tjepat ia sampuk hingga pedang Tik Hun kena dihantam djatuh terpental.
Dalam pada itu Djik Hong dan Tik Hun sudah kaget setengah mati.
Maka Djik Tiang-hoat telah damperat Tik Hun mengapa tidak menurut petundjuk adjaran sang guru, tapi main ngawur.
Tatkala itu Tik Hun djuga pernah memikir.
"Aku menjerang setjara 'ngawur', tapi mengapa malah menang?"
Tapi pikiran itu hanja sekilas sadja lantas hilang. Segera terpikir olehnja.
"Ja, mungkin ilmu pedang Sumoay sendiri pun kurang sempurna, bila betul2 ketemukan lawan tangguh, tjaraku ngawur tadi tentu akan bikin tjelaka diri sendiri."
Begitulah sama sekali ia tidak pikirkan bahwa tipu serangan jang dilontarkan setjara mendadak itu sebenarnja djauh lebih hebat dan lebih praktis daja gunanja.
Dan kalau dipikir sekarang, terang berbeda sama sekali pendapatnja.
Kini ilmu silat Tik Hun sudah sempurna, dengan terang gamblang ia dapat melihat dengan djelas bahwa diantara permainan silat Tjin-san dan Gian Tat-peng itu hanja gerak kembangan jang tiada gunanja, sedangkan apa jang diadjarkan Ban Tjin-san kepada muridnja dan apa jang diadjarkan Djik Tiang-hoat kepada Tik Hun, gerak tipu jang tak berguna itu lebih banjak pula.
Njata sekali bahwa Sutjo Bwe Liam-sing sebenarnja sudah tahu bahwa djiwa ketiga muridnja itu tidak djudjur, maka diwaktu mengadjar sengadja menjesatkan mereka kedjalan jang tidak benar.
Kemudian waktu Ban Tjin-san dan Djik Tiang-hoat mengadjar kepada muridnja, djalan sesat itu mendjadi makin djauh lagi.
Sungguh Tik Hun tidak habis mengarti, dengan tipu serangan jang tidak berguna itu kalau dipakai bertempur melawan musuh, itu berarti menjerahkan djiwa sendiri kepada musuh.
Mengapa Sutjo, Supek dan Suhu begitu kedji dan kedjam?
Mengapa mereka begitu tjulas.
Sambil memandangi muka Gian Tat-peng, kemudian Tik Hun mendadak ingat sesuatu kedjadian dimasa dahulu.
Jaitu pada hari Bok Heng datang untuk mengundang gurunja menghadiri perajaan ulang tahun sang Supek.
Tatkala itu ia sedang berlatih dengan Djik Hong, mendadak terdengar suara orang tertawa dibalik onggok djerami sana, waktu Suhunja memeriksa kesana, kiranja adalah seorang pengemis tua jang sedang mendjemur diri dibawah sinar matahari sambil mentjari tuma dibadjunja jang rombeng itu.
Tatkala itu Suhu tidak tahu, padahal sebenarnja pengemis tua itu adalah samaran Gian Tat-peng.
Senantiasa Gian-supek itu mengintai disekitar rumah tinggal Suhunja itu untuk mentjari sesuatu dan sudah tentu jang ditjari adalah Soh-sim-kiam-boh, malahan sampai sekarang kedua Supek itu masih bertempur memperebutkan kitab pusaka itu.
Begitulah djika disana Tik Hun sedang mengelamun mengenangkan kedjadian2 dahulu, adalah ditengah kalangan pertempuran sana Ban Tjin-san masih saling labrak dengan sengit bersama Gian Tat-peng.
Tapi karena Ban Tjin-san mengerojok bersama ketiga muridnja, maka Gian Tat-peng makin lama makin terdesak.
Se-konjong2 Sun Kin menusuk kepunggung Gian Tat-peng, tapi tjepat Tat-peng sempat membaliki pedangnja untuk menangkis, berbareng pedangnja menjabat kebawah, maka mendjeritlah Sun Kin.
"trang"
Pedangnja djatuh ketanah, pergelangan tangannja djuga luka terkena sendjata lawan. Dan pada saat jang hampir sama itu, kesempatan itu telah digunakan dengan baik oleh Ban Tjin-san.
"tjret"
Pedangnja djuga kena menggores suatu luka pandjang di lengan kanan Gian Tat-peng.
Sambil mengikuti pertarungan Ban Tjin-san melawan Gian Tat-peng itu.
Tik Hun mendjadi ter-heran2 mengapa tipu2 serangan mereka hanja indah dalam gaja permainan sadja, tapi sama sekali tidak berlandaskan Lwekang?
Karena kesakitan, tjepat Tat-peng mengoperkan pedangnja ketangan kiri.
Dan sudah tentu ia kurang biasa menggunakan pedang dengan tangan kiri, apalagi lukanja djuga tidak ringan, darah mengutjur membasahi tubuhnja, maka setelah beberapa djurus lagi, kembali bahu-kirinja tertusuk pula oleh pedang Ban Tjin-san.
Para kuli kampung jang menonton disamping itu mendjadi putjat ketakutan, mereka saling berbisik menjatakan kekuatiran mereka akan kemungkinan terdjadinja perkara djiwa, tapi tiada seorangpun diantara mereka jang berani bersuara keras.
Sebaliknja Ban Tjin-san sudah bertekad harus membunuh sang Sute, maka serangan2nja semakin gentjar dan semakin kedji.
"Tjret" , kembali dada kanan Gian Tat-peng kena tertusuk lagi. Tampaknja dalam berapa djurus lagi djiwa Gian Tat-peng pasti akan melajang dibawah pedang sang Suheng, tapi toh dia masih melawan mati2an, sepatahkatapun dia takmau minta ampun. Rupanja ia tjukup kenal watak sang Suheng jang tjulas, apalagi selama belasan tahun mereka telah "perang dingin"
Setjara diam2, kalau dia minta ampun, itu berarti akan makin dihina dan tidak mungkin berguna. Dalam pada itu Tik Hun sedang memikir.
"Dahulu waktu di Hengtjiu, Gian-supek pernah menolong aku dari labrakan sibandit besar Lu Thong, malahan iapun mengadjarkan tiga djurus ilmu pedang padaku hingga aku terhindar dari aniaja dan hinaan murid2nja Ban-supek. Sebelum aku membalas budinja ini, mana boleh aku menjaksikan dia mati ditangan orang."
Karena itu Tik Hun pura2 gemetar ketakutan, tapi tjangkul jang dipegangnja itu telah siap mengeduk tanah.
Pada saat lain dilihatnja pedang Ban Tjin-san kembali menusuk lagi keperut Gian Tat-peng dan tampaknja Gian Tat-peng sudah tak sanggup menangkis lagi, pada detik itulah setjepat kilat Tik Hun sendalkan tjangkulnja, kontan segumpal tanah melajang kearah Ban Tjin-san.
Tenaga sambaran gumpalan tanah itu tak terkatakan kuatnja, karena tertumbuk oleh tenaga itu, seketika Ban Tjin-san tak tahan.
"bluk" , kontan ia djatuh terdjungkal. Oleh karena diluar dugaan, maka tiada seorangpun jang tahu darimana datangnja gumpalan tanah itu. Dan selagi suasana agak panik, tanah tjangkul Tik Hun jang kedua kalinja telah menghambur lagi, tapi sekali ini jang diarah adalah lentera minjak dan lilin ditepi medja sana, maka dalam sekedjap itu padamlah lilin dan lentera, dalam rumah mendjadi gelap gelita disertai suara djerit kaget orang banjak. Dan pada saat lain Tik Hun lantas melompat madju, tjepat ia kempit Gian Tat-peng terus menerdjang keluar. Setiba diluar rumah, segera Tik Hun tutuk beberapa Hiat-to penting dipundak, dada dan lengan untuk menahan keluarnja darah dari luka Gian Tat-peng itu. Lalu ia panggul sang Supek, ia keluarkan Ginkangnja jang tinggi terus berlari setjepat terbang kearah pegunungan dibelakang rumah. Karena Ginkangnja hebat, tempat disekitar situ djuga sangat dikenalnja, maka Tik Hun terus berlari menudju kelereng gunung jang paling terdjal dan susah ditempuh. Gian Tat-peng menggemblok diatas pundak pemuda itu merasa badannja se-akan2 me-lajang2 di-awang2 dan mirip dialam mimpi sadja. Sekalipun ia sudah kenjang asam-garam kalangan Kangouw, tapi susah disuruh pertjaja bahwa didunia ini ternjata ada tokoh silat setinggi ini. Begitulah djalan jang ditudju oleh Tik Hun itu makin lama makin tinggi, kira2 lebih satu djam, achirnja tibalah diatas puntjak gunung jang paling tinggi disekitar situ. Puntjak gunung itu mendjulang tinggi menembus awan, djangankan orang lain susah mendaki kesitu, biarpun Tik Hun sendiri djuga baru pertama kali ini datang kesitu. Dahulu ia dan Djik Hong sering memandangi puntjak gunung ini dari djauh dan bersenda-gurau setjara ke-kanak2an, siapa duga harini kebetulan dia menolong djiwa seorang, maka didatanginja puntjak gunung ini. Kemudian ia letakan Gian Tat-peng ditepi sebuah batu tjadas, lalu ia tanja.
"Kau membawa obat luka atau tidak?"
Tanpa mendjawab, tapi Gian Tat-peng terus berlutut dan menjembah, katanja.
"Siapakah nama Inkong (tuan penolong) jang mulia? Hari ini Gian Tat-peng selamat berkat pertolonganmu, sungguh budi setinggi langit ini entah tjara bagaimana harus kubalas."
Tik Hun adalah orang djudjur tulus, meski ia tidak ingin memberitahukan siapa dirinja sendiri, tapi ia pun merasa tidak pantas menerima penghormatan sang Supek, maka tjepat iapun berlutut dan balas menjembah, sahutnja.
"Tjian-pwe djangan banjak adat hingga membikin hati Tjayhe merasa tidak enak. Tjayhe adalah seorang 'Bu-beng-siau-tjut' (peradjurit tak bernama, kerotjo), namaku tiada harganja untuk dikenal, tentang sedikit urusan ini kenapa mesti bitjara soal membalas budi segala."
Tapi Gian Tat-peng masih berkeras ingin tahu.
Sebaliknja Tik Hun tidak dapat membohong dengan nama palsu, hanja tetap ia takmau beritahukan namanja.
Gian Tat-peng tahu bahwa banjak tokoh2 kosen dari dunia persilatan jang suka mengasingkan diri dan menghapuskan namanja dari pergaulan ramai, dari itu iapun tidak berani mendesak terus, kemudian ia mengeluarkan obat luka jang dibawanja dan membubuhkan dilukanja sendiri.
Melihat luka2 diatas tubuh sendiri itu, mau-tak-mau Gian Tat-peng merasa ngeri dan bersyukur pula, pikirnja.
"Untung ada tua penolong ini, kalau tidak, mungkin saat ini aku sudah mendjadi almarhum?"
Lalu Tik Hun mulai membuka suara.
"Tjayhe ada beberapa persoalan jang susah dimengerti, maka ingin minta pendjelasan pada Tjianpwe."
"Djanganlah Inkong menjebut diriku sebagai Tjianpwe,"
Kata Tat-peng dengan merendah.
"Djika Inkong ada pertanjaan apa2, asalkan Tat-peng tahu, tentu akan kukatakan se-djudjur2nja, sedikitpun tidak berani berdusta."
"Bagus sekali, inilah jang kuharapkan,"
Kata Tik Hun.
"Nah tolong tanja Tjianpwe, apakah gedung itu adalah kau jang membangunnja?"
"Benar,"
Sahut Tat-peng.
"Tjianpwe sengadja mengupahi orang buat menggali lubang besar itu, tentunja ingin mentjari 'Soh-sim-kiam-boh' itu, dan apakah sudah diketemukannja?"
Tanja Tik Hun pula. Tat-peng terkesiap, pikirnja.
"Ai, kukira dia menolong aku dengan maksud baik, tak tahunja djuga seorang jang lagi mengintjar 'Soh-sim-kiam-boh'." ~ Tapi mau-tak-mau iapun mendjawab.
"Sudah banjak djerih-pajah jang kukorbankan, tapi sampai saat ini belum memperoleh sedikit tanda2 jang berguna. Harap Inkong maklum bahwa apa jang kukatakan ini adalah sesungguhnja. Pabila Tat-peng sudah memperoleh apa jang ditjari itu, tentu akan kupersembahkan dengan kedua tangan. Sedangkan djiwaku djuga Inkong jang menolong, masakah aku masih sajangkan benda jang toh takkan berguna djika djiwa sudah melajang."
"Eh, djangan kau salah sangka,"
Kata Tik Hun sambil gojang2 tangannja.
"Aku sendiri tidak inginkan Kiam-boh itu, untuk bitjara terus terang, meski kepandaianku tjuma biasa sadja, tapi aku jakin kalau tjuma kitab seperti 'Soh-sim-kiam-boh' apa itu, rasanja belum tentu akan berpaedah bagiku."
"Ja, ja, memang!"
Kata Tat-peng.
"Ilmu silat Inkong sudah tiada taranja dan didjaman ini tiada tandingannja, sedangkan 'Soh-sim-kiam-boh' itu hanja sed
Jilid kitab peladjaran ilmu pedang jang biasa sadja.
Kami bersaudara perguruan karena ingin memperoleh kitab pusaka perguruan sendiri, maka sangat menilai tinggi atas kitab itu, padahal dimata orang luar itu tjuma kitab jang tiada artinja."
Biarpun Tik Hun adalah seorang tulus dan tidak pandai ber-liku2, tapi ia dapat djuga mendengar apa jang dikatakan Gian Tat-peng ada jang tidak djudjur, namun iapun tidak membongkar kebohongan orang itu, tapi ia bertanja lagi.
"Kabarnja tempat ini adalah kediaman lama Sutemu Djik Tiang-hoat. Katanja Djik Tiang-hoat itu berdjuluk 'Tiat-soh-heng-kang', apakah artinja djulukan itu?"
Sedjak ketjil Tik Hun dibesarkan oleh gurunja, apa jang dilihatnja selama itu adalah sang guru itu seorang tua pedusunan jang djudjur dan lugu, tapi Ting Tian djusteru mengatakan bahwa gurunja adalah seorang jang banjak tipu akalnja sebab itulah ia sengadja tanja Gian Tat-peng untuk mengetjek kebenaran apa jang dikatakan Ting Tian itu.
Maka terdengar Gian Tat-peng telah mendjawab.
"Suteku Djik Tiang-hoat memang berdjuluk 'Tiat-soh-heng-kang', jaitu orang memperumpamakan dia itu laksana seutas rantai besi besar jang melintang dipermukaan sungai hingga semua lalu-lintas air itu takbisa naik dan takdapat turun, artinja mengatakan Djik-sute itu seorang jang banjak tipu muslihatnja, tjaranja kedji pula terhadap orang."
Sungguh hati Tik Hun sangat menjesal, pikirnja.
"Apa jang dikatakan Ting-toako itu ternjata sedikitpun tidak salah. Guruku ternjata benar seorang jang demikian, sedjak ketjil aku telah tertipu olehnja dan beliau selamanja djuga tidak pernah mengundjukan watak aslinja padaku." ~ Namun demikian dalam hatinja tetap timbul sekelumit harapan, maka tanjanja pula.
"Djuluk orang Kangouw itu belum tentu dapat dipertjaja penuh, boleh djadi musuhnja jang sengadja memberikannja djulukan itu untuk meng-olok2nja. Sebagai sesama saudara perguruan, tentunja Gian-tjianpwe tjukup kenal bagaimana wataknja, nah, sebenarnja bagaimanakah wataknja itu?"
Gian Tat-peng menghela napas, kemudian katanja.
"Bukanlah aku sengadja hendak membitjarakan kedjelekan saudara perguruanku sendiri, tapi karena Inkong ingin tahu, Tjayhe tidak berani berdusta sedikitpun, maka biarlah kukatakan terus terang. Djik-suteku itu lahirnja memang kelihatan seperti orang desa jang ke-tolol2an, tapi sebenarnja hatinja litjin, pikirannja tadjam. Kalau tidak, masakah 'Soh-sim-kiam-boh' itu dapat djatuh kedalam tangannja?"
Tik Hun manggut2, selang sedjenak barulah ia berkata pula.
"Darimana kau tahu dengan pasti bahwa 'Soh-sim-kiam-boh' itu berada padanja? Apa kau menjaksikan dengan mata kepala sendiri? Menurut kabar, katanja engkau suka menjamar sebagai seorang pengemis tua, apakah benar?"
Diam2 Gian Tat-peng terkesiap lagi, ia heran orang begitu lihay dan serba tahu mengenal seluk-beluk dirinja. Maka djawabnja.
"Wah, berita Inkong benar2 sangat tadjam hingga setiap tindak-tanduk Tjayhe dapat diketahui Inkong. Semula aku pikir, 'Soh-sim-kiam-boh' itu kalau bukan berada ditangan Ban-suko tentulah berada pada Djik-sute, maka diam2 aku menjamar sebagai pengemis tua untuk menjelidiki antara kedua tempat tinggal Suheng dan Sute itu. Tapi sesudah kuselidiki sekian lamanja, achirnja aku menarik kesimpulan bahwa Kiam-boh itu tidak berada pada Ban-suko tapi pasti berada ditangan Djik-sute."
"Apa jang mejakinkan kesimpulanmu itu?"
Tanja Tik Hun. Djawab Gian Tat-peng.
"Dahulu waktu guru kami akan wafat, beliau telah menjerahkan Kiam-boh itu kepada kami bertiga saudara seperguruan ……"
Tik Hun djadi teringat kepada tjerita Ting Tian tentang peristiwa berdarah pada suatu malam dipantai Tiangkang, dimana Ban Tjin-san, Gian Tat-peng dan Djik Tiang-hoat bertiga telah mengerojok guru mereka hingga mati.
Maka ia lantas mendengus demi mendengar keterangan Gian Tat-peng itu, katanja.
"Hm apa betul gurumu menjerahkan kitab itu kepada kalian setjara baik2? Hm kukira belum …. belum tentu benar, bukan? Apakah beliau meninggal setjara wadjar?"
Keruan kedjut Gian Tat-peng tak terhingga, mendadak ia melompat bangun, ia tuding Tik Hun dan berseru.
"Apa kau … kau adalah Ting … Ting Tian … Ting-toaya?"
Hendaklah diketahui bahwa kedjadian Ting Tian jang mengubur djenazah Bwe Liam-sing itu achirnja tersiar dikalangan Kang-ouw, sebab itulah demi mendengar dosa sendiri jang membunuh guru dibongkar oleh Tik Hun seketika ia mentjurigai pemuda itu adalah Ting Tian.
Tapi dengan dingin Tik Hun berkata.
"Aku bukan Ting Tian, Ting-toako adalah seorang pembentji kedjahatan, dengan mata kepala sendiri ia telah menjaksikan kalian bertiga mengerojok hingga tewasnja Suhu kalian, pabila aku adalah Ting-toako, tidak mungkin harini aku mau menolong djiwamu, tentu akan kubiarkan kau mati dibawah pedangnja Ban Tjin-san."
"Habis siapa engkau?"
Tanja Gian Tat-peng dengan takut dan sangsi.
"Kau tidak perlu urus siapa aku,"
Sahut Tik Hun.
"Djika ingin orang lain tidak tahu, ketjuali kalau engkau sendiri tidak berbuat. Nah, katakan terus terang, setelah kalian menewaskan gurumu dan berhasil merebut 'Soh-sim-kiam-boh', kemudian bagaimana?"
"Djika …. djika engkau toh sudah tahu semuanja, buat …. buat apa tanja padaku lagi?"
Sahut Gian Tat-peng dengan suara gemetar.
"Ada sebagian jang kuketahui, tapi ada sebagian aku tidak tahu. Maka kau harus mengaku dengan sedjudjurnja, djika bohong sedikit sadja tentu akan kuketahui."
Sungguh takut dan hormat pula Gian Tat-peng kepada Tik Hun, katanja kemudian.
"Mana aku berani membohongi Inkong? Begini, sesudah kami mendapatkan 'Soh-sim-kiam-boh' itu, setelah kami periksa, ternjata jang ada tjuma Kiam-boh (kitab peladjaran ilmu pedang) dan tiada terdapat Kiam-koat (kuntji peladjaran ilmu pedang) jang penting itu, djadi pertjumalah kami mendapatkan Kiam-bohnja sadja ……"
Diam2 Tik Hun membatin.
"Menurut Ting-toako, katanja Kiam-koat itu menjangkut rahasia suatu partai harta karun jang belum diketemukan sesudah Bwe Liam-sing, Leng-siotjia dan Ting-toako wafat semua, maka didunia ini sudah tiada seorangpun jang tahu akan Kiam-koat itu, sebaiknja kalian djangan mengimpi pula akan memperolehnja."
Dalam pada itu terdengar Gian Tat-peng sedang melandjutkan.
"Sebab itulah, maka kami masih terus menjelidiki dimanakah beradanja Kiam-koat itu. Tapi kami bertiga saling tjuriga-mentjurigai, masing2 sama kuatir kalau Kiam-boh itupun akan dikangkangi pihak lain, maka setiap malam diwaktu tidur, Kiam-boh itu lantas kami kuntji didalam sebuah peti besi, kuntji daripada peti itu kami buang ketengah sungai dan peti besi itu kami simpan dilatji medja jang kami kuntji pula. Malahan peti besi itu kami gandeng pula dengan tiga buah rantai besi jang ketjil dan masing2 terikat dipergelangan tangan kami, djadi asal ada seorang jang bergerak sedikit, segera dua orang jang lain akan lantas terdjaga bangun."
Pendjagaan seperti itu sungguh sangat kuat,"
Udjar Tik Hun.
"Benar,"
Sahut Gian Tat-peng.
"Tapi toh masih terdjadi djuga keonaran."
"Terdjadi keonaran apa?"
Tanja Tik Hun.
"Malam itu kami tidur didalam suatu kamar, tapi esok paginja mendadak Ban-suheng ber-teriak2.
"Dimana Kiam-boh itu? Dimana?" ~ Waktu aku terdjaga bangun, kulihat latji medja jang tersimpan peti besi itu sudah terbuka, tutup peti besi djuga melompong. Kiam-boh jang tersimpan didalam peti itu sudah terbang tanpa bekas. Keruan kami bertiga sangat kaget, tjepat kami mentjari kesana kemari dan sudah tentu hasilnja nihil. Kedjadian itu benar2 sangat aneh sebab pintu dan djendela kamar itu masih tetap tertutup rapat dan terkuntji dengan baik, maka daapt diduga pentjuri Kiam-boh itu pasti bukan dilakukan orang dari luar, sebaliknja adalah orang jang berada didalam kamar, djadi kalau bukan Ban-suko tentu adalah Djik-sute, satu diantara mereka berdua itu pasti adalah malingnja."
"Djika begitu, mengapa dia tidak membuka djendela atau pintu agar disangka ditjuri oleh orang luar?"
Tanja Tik Hun.
"Tangan kami tergandeng oleh rantai besi, kalau diam2 bangun untuk membuka latji dan peti besi itu masih mungkin, tapi kalau berdjalan agak djauh untuk membuka pintu atau djendela, maka rantai besi jang menggandengkan kami itu akan kurang pandjang,"
Kata Tat-peng.
"O, kiranja begitu, lalu apa jang kalian lakukan lagi?"
Tanja Tik Hun pula.
"Sudah tentu kami tidak tinggal diam mengingat Kiam-boh itu tidak mudah kami peroleh tapi direbut dengan mengadu djiwa,"
Sahut Tat-peng.
"Maka diantara kami bertiga telah saling menjalahkan dan terdjadilah pertengkaran, bahkan saling tuduh menuduh pula, namun tiada seorangpun jang dapat membuktikan tuduhan masing2, akhirnja terpaksa masing2 menudju kearahnja sendiri-sendiri ……"
"Ada sesuatu jang aku merasa tidak paham, harap suka memberi pendjelasan,"
Kata Tik Hun.
"Bahwasanja kalian bertiga adalah saudara perguruan, djikalau gurumu memiliki sed
Jilid Kiam-boh pusaka, lambat atau tjepat toh pasti akan diwariskan kepada kalian, apakah mungkin Kiam-boh ini akan dibawanja serta kedalam liang kubur?
Dari itu, mengapa kalian turun tangan sekedji itu dan mengapa mesti membunuh guru kalian untuk mendapatkan Kiam-boh itu?"
"Ai, dasar guruku itu memang sudah pikun barangkali,"
Sahut Tat-peng.
"Tjoba, masakah kami bertiga dituduh berhati tidak djudjur dan berdjiwa djahat, maka beliau bertekad akan mengadjarkan ilmu silatnja kepada orang luar. Oleh karena kami sudah tak tahan lagi, sudah terpaksa, maka berbuat seperti apa jang terdjadi itu."
"O, kiranja begitu. Habis, darimana kemudian kau jakin bahwa Kiam-boh itu berada dalam tangan Djik-sutemu?"
Tanja Tik Hun.
"Semula jang kutjurigai adalah Ban Tjin-san, sebab dia jang menggembor lebih dulu tentang kemalingan itu. Dan biasanja itu maling suka teriak maling, itulah siasat jang paling sering digunakan. Tapi sesudah diam2 aku menguntit dia, tidak lama kemudian aku lantas tahu dia bukan malingnja. Sebab dia sendiri djuga sedang membajangi Samsute. Djikalau Kiam-boh itu berada ditangan Ban Tjin-san, tidak mungkin dengan susah-pajah ia malah menjelidiki orang lain, tapi ia tentu akan menghilang sedjauh mungkin untuk mejakinkan ilmu pedang itu. Namun setiap kali aku melihat dia, selalu kulihat dia sedang mengertak gigi dengan gemas, sikapnja tidak sabar lagi dan dendamnja tidak kepalang. Karena itulah aku lantas ganti sasaran, jang kuintjar sekarang adalah Djik Tiang-hoat."
"Lalu adakah sesuatu jang kau ketemukan?"
Tanja Tik Hun.
"Tidak, Djik Tiang-hoat itu benar2 memang seorang jang litjin, sedikitpun ia tidak menundjuk sesuatu tanda jang mentjurigakan,"
Sahut Tat-peng dengan menggeleng kepala.
"Pernah aku mengintai waktu dia mengadjar ilmu pedang kepada putri dan muridnja, tapi dia sengadja berlagak bodoh, ia sengadja mengubah nama2 djurusnja dengan istilah2 jang aneh dan menggelikan. Tapi semakin dia berlaga pilon, semakin menimbulkan tjurigaku. Selama tiga tahun aku terus mengintai gerak-geriknja, tapi tetap tiada sesuatu lubang kelemahan jang kudapatkan. Diwaktu dia tiada dirumah, pernah beberapa kali aku menggerajangi rumahnja, tapi hasilnja nihil, djangankan Soh-sim-kiam-boh apa segala, biarpun kitab beladjar membatja djuga tiada sedikitpun terdapat dirumahnja. Hehe, Suteku ini benar2 seorang maha litjin, seorang tjerdik, seorang pintar!"
"Kemudian bagaimana?"
Tanja Tik Hun lagi.
"Kemudian, kemudian pihak Ban Tjin-san akan merajakan ulang tahunnja. Ia telah mengirim seorang muridnja untuk mengundang Djik Tiang-hoat ke Heng-tjiu untuk ikut merajakan Shedjit sang Suko,"
Tutur Tat-peng pula.
"Sudah tentu, merajakan Shedjit hanja siasat sadja, jang benar Ban Tjin-san ingin mentjari tahu bagaimana keadaan Djik-sutenja. Begitulah Djik Tiang-hoat lantas berangkat ke Heng tjiu dengan membawa serta seorang muridnja jang ke-tolol2an, kalau tidak salah bernama Tik Hun dan puterinja, Djik Hong djuga ikut. Ditengah perajaan ulang tahun itu, entah mengapa mendadak si tolol Tik Hun itu telah berkelahi dengan kedelapan anak-murid Ban Tjin-san, dalam keadaan dikerubut itu mendadak Tik Hun melontarkan tiga tipu serangan jang hebat hingga menimbulkan tjuriga Ban Tjin-san. Segera ia mengundang Djik-sute kedalam kamarnja untuk bitjara, tapi bitjara punja bitjara, achirnja mereka sendiripun bertengkar, sekali tusuk Djik Tiang-hoat telah melukai Ban-suko, habis itu ia lantas kabur dan menghilang entah kemana lagi. Aneh, sungguh aneh, benar2 sangat aneh!"
"Aneh tentang apa?"
Tanja Tik Hun.
"Tentang Djik Tiang-hoat jang menghilang itu, sedjak itu tidak pernah kelihatan lagi batang-hidungnja, entah dia telah sembunji dimana, bahkan kabar sedikitpun tiada lagi,"
Kata Tat-peng.
"Diwaktu Djik Tiang-hoat berangkat ke Hengtjiu, dengan sendirinja tidak mungkin ia membawa serta Kiam-boh jang dia serobot dari kedua Suhengnja itu, tapi pasti dia simpan kitab pusaka itu disuatu tempat rahasia dirumahnja itu. Semula aku menaksir sesudah dia melukai Ban Tjin-san, tentu malam itu djuga ia akan pulang kerumah untuk mengambil Kiam-boh, lalu merat sedjauh mungkin. Selama itulah, begitu terdjadi peristiwa itu di Heng-tjiu, segera aku menggunakan kuda pilihan mendahului datang ke Wan-leng sini, aku sembunji disekitar rumahnja untuk mengintai dimanakah dia menjimpan Kiam-boh tjurian itu, dengan begitu aku akan segera menjergapnja. Akan tetapi tunggu punja tunggu, tetap dia tidak muntjul. Akhirnja aku mendjadi tidak sabar lagi, dengan tidak sungkan2 lagi aku lantas bongkar rumahnja hingga murat-marit, aku lalu menggali kitab pusaka jang dia pendam dirumahnja itu. Namun sampai sekarang rupanja usahaku ini sia2 belaka, djerih pajahku itu terbuang pertjuma. Tjoba kalau tidak ditolong oleh Inkong, bukan mustahil sekarang djiwaku sudah melajang disitu."
"Dan kalau menurut pendapatmu, kira2 sadja Djik-sutemu itu sekarang berada dimana?"
Tanja Tik Hun.
"Inilah aku benar2 tidak dapat menerkanja,"
Sahut Tat-peng dengan menggeleng.
"Besar kemungkinan dia sudah ketulah dan sudah mati menggeletak dimana atau djatuh sakit untuk tidak pernah sembuh lagi atau boleh djadi mengalami ketjelakaan apa2 serta sudah mendjadi mangsa harimau atau serigala."
Melihat tjara Gian Tat-peng omong itu penuh mengundjuk rasa senang pabila sang Sute itu benar2 sudah mati, diam2 Tik Hun mendjadi muak terhadap manusia rendah itu.
Tapi lantas terpikir olehnja bahwa selama ini memang tiada kabar berita tentang gurunja itu, besar kemungkinan memang sudah mengalami sesuatu halangan apa2.
Maka ia lantas berbangkit dan berkata.
"Terima kasih atas keteranganmu jang sebenarnja ini, sekarang Tjayhe mohon diri lebih dulu."
Dengan penuh hormat kembali Gian Tat-peng mendjura tiga kali lagi, katanja.
"Budi kebaikan Inkong jang tiada terhingga ini selama hidup Gian Tat-peng takkan melupakan."
"Hanja soal ketjil ini mengapa mesti dipikirkan,"
Sahut Tik Hun.
"Kau boleh merawat lukamu disini, Ban Tjin-san itu takkan dapat menemukan kau, maka tidak perlu kau kuatir."
"Saat ini besar kemungkinan dia lagi kelabakan seperti semut di minjak wadjan panas, mana dia sempat untuk memikirkan mentjari aku?"
Sahut Tat-peng dengan tersenjum.
"Sebab apa?"
Tanja Tik Hun dengan heran.
"Sebab saat ini dia tentu lagi kelabakan memikirkan keselamatan puteranja,"
Tutur Tat-peng.
"Tangan puteranja itu telah kena disengat oleh ketungging jang berbisa djahat itu, untuk bisa sembuh harus ber-turut2 dibubuhi obat sebanjak sepuluh kali, kalau tjuma sekali dibubuhi obat, memang sakitnja akan hilang untuk sebentar, lalu tidak lama kemudian akan kambuh lagi lebih djahat."
"Wah djika begitu, apakah djiwa Ban Ka itu akan melajang?"
Kata Tik Hun agak kaget. Ratjun ketunggingku itu memang benar2 lain daripada jang lain,"
Tutur Tat-peng dengan ber-seri2.
"Jang hebat adalah Ban Ka itu takkan mati seketika, tapi dia akan merintih dan menderita selama sebulan suntuk, habis itu barulah djiwanja melajang. Hahaha, sungguh hebat, sungguh bagus!"
"Kalau sebulan kemudian baru dia akan mati, djika begitu tentu dia akan dapat menemukan tabib pandai untuk mengobati lukanja jang disengat ketungging itu,"
Udjar Tik Hun.
"Agaknja Inkong tidak tahu bahwa ketungging berbisa itu bukanlah sembarangan serangga jang dibesarkan oleh alam, tapi adalah piaraanku sendiri, sedjak ketjil aku telah melolohi dia dengan matjam2 obat penawar agar mereka sudah biasa atau kebal oleh obat penawar itu, maka kalau tabib umumnja membubuhkan obat penawar ditempat jang disengat itu, sudah tentu takkan berguna sama sekali. Hahaha!"
Dengan melirik hina Tik Hun mengikuti tjerita manusia kedji itu, diam2 ia membatin.
"Hati orang ini benar2 terlalu kedjam dan menakutkan. Bukan mustahil lain kali akupun akan kena disengat oleh ketungging jang ia piara itu. Menurut pesan Ting-toako, katanja kalau berkelana di Kangouw hendaklah djangan timbul maksud untuk membikin tjelaka orang, tapi djuga djangan lengah untuk mendjaga kemungkinan ditjelakai orang. Maka lebih baik aku minta sedikit obat penawar dari dia sekedar untuk persediaan siapa tahu bila kelak ada gunanja."
Maka ia lalu berkata.
"Gian-tjianpwee, obat penawar untuk ratjun ketunggingmu itu bolehlah serahkan padaku sadja."
"Baik, baik,"
Sahut Gian Tat-peng tanpa pikir. Tapi ia tidak lantas menjerahkan obat jang diminta, sebaliknja tanja dulu.
"Inkong minta obat penawar itu, entah akan digunakan untuk apa?"
"Ketunggingmu itu sangat lihai, bisa djadi pada suatu saat aku kurang hati2 hingga tersengat, tapi kalau aku sudah punja obat penawarnja tentu takkan kuatir lagi,"
Sahut Tik Hun. Wadjah Gian Tat-peng mengundjuk rasa risi, sahutnja dengan tertawa.
"Ah Inkong suka bergurau sadja. Sedangkan buat pertolongan djiwa Inkong padaku belum kubalas, masakah aku mempunjai maksud untuk mentjelakai Inkong."
"Ja, tapi ada baiknja djuga aku mendjaga segala kemungkinannja, sedia pajung sebelum hudjan, kan tiada djeleknja,"
Kata Tik Hun sambil mengulurkan tangannja.
"Ja, ja!"
Sahut Gian Tat-peng dan terpaksa ia mengeluarkan botol obat penawar itu dan diserahkan kepada tuan penolong djiwanja itu.
Sesudah meninggalkan Gian Tat-peng dipuntjak gunung itu, Tik Hun kembali pula kegedung itu untuk menjelidiki keadaannja.
Tapi dilihatnja gedung itu sudah sepi senjap tiada seorangpun, para kuli kampung sudah bubar, simandor dan si Koankeh djuga entah menghilang kemana lagi.
"Suhu mungkin sudah meninggal, Sumoay kini sudah mendjadi isteri orang, maka tempat ini untuk selandjutnja terang takkan kudatang lagi,"
Demikian pikir Tik Hun.
Segera ia tinggalkan gedung itu dan berangkat menudju kebarat-daja dengan menjusur tepi sungai.
Sementara itu fadjar sudah menjingsing, sang surya mulai mengintip diufuk timur, beberapa puluh meter djauhnja, waktu Tik Hun menoleh, ia melihat sinar fadjar tjemerlang diputjuk pohon2.
Jang didepan gedung itu, air sungai djuga ber-kelip2 memantjarkan tjahaja ke-emas2sannja, pemandangan demikian ini sudah sedjak ketjil kenjang dilihat oleh Tik Hun, tanpa merasa ia menggumam lagi.
"Untuk selandjutnja aku takkan kembali lagi ketempat ini."
Setelah membetulkan rangselnja, ia pikir tugas jang masih harus dilaksanakannja hanja tinggal satu sadja jaitu mengubur abu tulang Ting-toako bersama djenazah Leng-siotjia.
Maka tempat jang harus ditudjunja sekarang adalah Heng-tjiu.
Pikirnja pula.
"Sikeparat Ban Ka itu telah mengakibatkan hidupku merana seperti sekarang ini, sjukur orang djahat tentu mendapat gandjaran jang setimpal, maka rasanja akupun tidak perlu membalas dendam dengan tanganku sendiri, menurut kata Gian Tat-peng katanja dia akan me-rintih2 dan sesambatan selama sebulan, habis itu baru akan mati, entah apa jang dikatakan itu benar atau tidak. Djika ternjata djiwanja masih belum melajang umpamanja, maka aku baru menambahi dia dengan tusukan pedangku biar bagaimanapun djiwa andjingnja harus kutjabut."
Begitulah ia lantas berangkat ke Heng-tjiu jang tidak djauh dari barat Ouw-lam itu, maka tiada seberapa hari iapun sampailah disana.
Sesudah mentjari kabar, diketahuilah bahwa Leng Dwe-su masih tetap mendjadi Tihu disitu.
Maka ia tetap menjaru seorang gelandangan jang dekil agar tidak dikenal orang.
Begitu masuk kota, pikiran pertama jang timbul padanja adalah.
"Aku ingin menjaksikan dengan mata kepalaku sendiri tjara bagaimana Ban Ka tersiksa oleh ratjun ketungging itu. Entah apakah dia dapat disembuhkan dan entah apakah dia sudah pulang kesini atau belum, boleh djadi dia masih tinggal di Ouwlam untuk berobat."
Maka pelahan2 ia menudju kerumah keluarga Ban itu, dari djauh lantas dilihatnja Sim Sia sedang keluar dari gedung megah itu setjara ter-gesa2, agaknja sedang sibuk mengalami sesuatu masalah gawat.
Pikir Tik Hun.
"Djika Sim Sia berada disini, tentu Ban Ka djuga sudah pulang. Maka malam nanti biarlah aku menjelidikinja kesitu."
Segera ia kembali ketaman bobrok dahulu, taman itu tidak djauh dari rumah keluarga Ban itu.
Ditaman itulah dahulu Ting Tian meninggal sesudah lebih dulu membunuh Tjiu Kin, Kheng Thian-pa dan Tay-beng.
Kini berkundjung lagi ketempat lama ia melihat taman itu semakin rusak, keadaan semakin tak keruan.
Di-mana2 runtuhan puing dan tumbuh2an liar.
Ia mendatangi pohon Bwe dahulu itu, ia me-raba2 lekak-lekuk pohon tua itu sambil memikir.
"Waktu itu Ting-toako menghembuskan napasnja jang penghabisan dibawah pohon ini, tapi wudjut pohon ini sampai sekarang masih tetap sama, sedikitpun tiada berubah, sebaliknja Ting-toako sekarang sudah mendjadi abu."
Begitulah ia lantas duduk ter-menung2 dibawah pohon Bwe itu, achirnja ia terpulas djuga.
Kira2 dekat tengah malam, ia mendusin dan mengeluarkan rangsum kering untuk tangsal perut lalu keluar dari taman bobrok itu dan menudju kerumah keluarga Ban.
Ia memutar kepintu belakang gedung besar itu, dari sini ia melompat pagar tembok dan masuk ketaman bunga.
Menghadapi tempat bersedjarah itu, tanpa merasa hati Tik Hun mendjadi pedih, pikirnja.
"Dahulu aku terluka parah dan sembunji digudang kaju sana, tapi Sumoay tidak membantu dan menolong aku, ia benar2 tidak berbudi, bahkan ia malah memanggil suaminja untuk membunuh aku."
Begitulah sambil membajangkan kedjadian dahulu dan selagi ia mulai melangkah kedepan, tiba2 dilihatnja ditepi empang sana ada tiga titik sinar api jang ber-kelip2.
Tik Hun mendjadi tjuriga dan segera berhentikan langkahnja ia mengumpet dibelakang sebatang pohon, lalu mengintai ketempat sinar api itu.
Sesudah diperhatikan, akhirnja dapat diketahuinja bahwa bintik2 sinar api itu tak-lain adalah tiga batang dupa jang tertantjap disuatu Hiolo (tempat menantjap dupa).
Hiolo itu tertaruh diatas satu medja ketjil dan didepan medja itu ada dua orang jang sedang berlutut dan menjembah kepada langit.
Tidak lama kemudian kedua orang itu tampak berbangkit, maka djelaslah Tik Hun melihat satu diantaranja adalah Djik Hong, seorang lagi adalah satu dara tjilik, terang itulah puteri sang Sumoay jang dipanggil "Kong-sim-djay"
Itu. Terdengar perlahan-lahan Djik Hong berdoa.
"Dupa pertama ini memohon agar Tuhan Allah memberkahi keselamatan bagi suamiku, agar lukanja segera sembuh, abuhnja lekas kempis dan ratjunnja segera hilang, supaja tidak lama tersiksa oleh ratjun ketungging itu Khong-sim-djay, hajolah berkata, bilang mohon Tuhan Allah memberkati penjakit ajah lekas sembuh" .
"Ja, ibu, mohon Tuhan Allah memberkati penjakit ajah lekas sembuh, supaya ajah tidak berteriak2 kesakitan lagi"
Demikian dara tjilik itu menirukan nada sang ibu.
Mendengar itu, diam-diam Tik Hun merasa senang dan sjukur atas penderitaan Ban Ka.
Tapi ia gemas pula atas perhatian Djik Hong terhadap suaminja itu.
Kemudian terdengar Djik Hong berdoa lagi.
"Dan dupa kedua ini mohon Tuhan Allah memberkati ayahku dalam keadaan selamat dan sehat walafiat, semoga lekas2 pulang untuk berkumpul lagi Khong-sim-djay, lekas bilang mohon Tuhan Allah memberkati Gwakong semoga berumur panjang" .
"Ja, ibu, Gwakong, hendaklah engkau lekas pulang, mengapa engkau tidak lekas pulang" , demikian sidara tjilik menirukan pula.
"Katakan mohon Tuhan Allah memberkahi selamat", sang ibu mengajarkan.
"Ja, ibu, mohon Tuhan Allah memberkahi selamat pada Gwakong, kepada ajah dan kepada kakek" , kata dara tjilik itu. Selamanja ia belum pernah melihat Djik Tiang Hoat yaitu Gwakong atau kakek luarnja, maka jang dipikirkan adalah ajahnja dan kakeknja sendiri, jaitu Ban Tjin-san. Dan sesudah berhenti sejenak, kemudian Djik Hong berdoa lagi dengan suara agak lirih. Dan dupa jang ketiga ini memohon kepada Tuhan Allah agar memberkahi dia dalam keadaan sehat, semoga dia hidup senang dan mendapatkan isteri baik dan lekas mendapat anak………………………." . ~ berkata sampai disini, suaranja menjadi serak se-akan2 tersumbat tenggorokannja, lalu ia mengusap air matanja dengan lengan badju.
"Kembali ibu terkenang kepada Kuku, ja"
Tanja si dara tjilik.
"Khong Sim-djay, bilang mohon kepada Tuhan Allah agar memberkahi keselamatan kepada Khong-sim-djay Kuku………….."
Kata Djik Hong pula.
Memang Tik Hun sudah heran ketika Djik Hong berdoa untuk dupa jang ketiga.
Ia tidak tahu siapakah jang dimintakan berkah.
Dan demi mendadak mendengar bekas kekasih itu menyebut "Khong-sim-djay Kuku", seketika telinganja seperti mendengung, hatinja serasa berkata.
"Ha, dia maksudkan aku, dia maksudkan aku?" . Dalam pada itu si dara tjilik telah menurut kata ibunja tadi dan sedang bersujut.
"Ja, Tuhan Allah, ibuku selalu terkenang kepada Khong-sim-djay Kuku, mohon diberkahi selamat dan redjeki besar agar kelak aku dibelikan sebuah boneka besar. Dia adalah Khong-sim-djay, akupun Khong-sim-djay, kami sama-sama Khong-sim-djay. Eh, ja, ibu kemanakah perginja Khong-sim-djay Kuku itu? Mengapa dia tidak pernah pulang?"
Maka Djik Hong telah menjawab.
"Khong-sim-djay Kuku itu telah pergi ke tempat jang jauh, jauh sekali. Kuku itu telah meninggalkan ibumu, tetapi ibumu senantiasa memikirkan dia…………………" . ~ berkata sampai disini tiba-tiba ia peluk anak perempuannja itu dan menjusupkan kepalanja di dada botjah itu, lalu masuk kerumah dengan langkah lebar. Pelahan2 Tik Hun keluar dari tempat sembunjinja dan mendekati Hiolo jang ditinggalkan itu. Dengan ter-menung2 ia memandangi ketiga batang dupa itu semakin lama makin surut, sampai akhirnja mendjadi abu semua, tapi ia masih ter-mangu2 di situ tanpa bergerak sedikitpun. Ia baru tersadar ketika burung berkitjau dengan ramai dan fajar sudah menyingsing, maka tjepat ia tinggalkan taman keluarga Ban itu. Ia berkeliaran kian kemari di dalam kota Heng-tjiu tanpa arah tujuan. Tiba-tiba didengarnja suara "tjreng-tjreng"
Jang berisik, itulah bunji ketjer seorang tabib kelilingan jang sedang menawarkan obatnja sepandjang jalan.
Mendadak hati Tik Hun tergerak.
Bukankah ia ingin menjaksikan sendiri bagaimana keadaan Ban Ka jang sesambatan tersiksa oleh ratjun ketungging itu?
Terus saja ia mendekati tabib kelilingan itu, ia keluarkan sepuluh tahil perak untuk membeli pakaian tabib itu beserta peti obat dan peralatan lainnja.
Sudah tentu tabib kelilingan itu sangat heran ada orang mau memborong barang2nja jang rombeng itu, padahal nilainja tidak lebih dari lima tahil perak.
Sudah tentu ia kegirangan setengah mati, bagai orang putus lotre.
Tanpa tahan harga lagi ia terus lepaskan kepada Tik Hun.
Sesudah memborong milik tabib kelilingan itu, lalu Tik Hun kembali ke taman bobrok itu, disitulah ia ganti pakaian, ia menjaru sebagai tabib.
Lalu ia tumbuk sedikit rumput obat dan airnja ia gunakan untuk poles mukanja sendiri, malaha ia sengaja tambal sepotong kojok dimata kiri sendiri hingga muka aslinja susah dikenali lagi.
Habis itu, segera ia menudju ke rumah keluarga Ban.
Didepan gedung keluarga Ban itu ia sengaja bunyikan ketjernja sekeras mungkin, sesudah dekat pintu ia terus ber-teriak2 malah.
"Tabib sakti, spesial mengobati segala matjam penjakit aneh, segala jenis keratjunan, baik disengat kelabang maupun dipagut ular, tanggung tjes-pleng, sekali minum obatku, seketika sembuh!" . Begitulah sesudah ia ber-teriak2 beberapa kali, lantas tertampaklah dari dalam berlari keluar dengan buru2, setelah dekat orang itu lantas memanggilnja.
"He, Sinshe, kemarilah sini" . Tik Hun kenal orang itu adalah muridnja Ban Tjin San jang bernama Go Him, jaitu orang jang dahulu telah menabas putus djarinja itu. Tapi kini Tik Hun dalam penjamaran, muka aslinja sudah berobah 180 derajat, dengan sendirinja Go Him tidak kenal dia lagi. Pelahan-lahan Tik Hun mendekati Go Him, karena kuatir suaranja dikenal orang, ia sengaja menekuk suara dan berkata.
"Ada apakah Tuan? Apakah engkau menderita penjakit aneh, misalnja bisul djahat atau abuh bengkak jang tak dikenal namanja?"
"Hus, apakah kau kira aku ini mirip seorang penderita sakit?"
Semprot Go Him.
"He, aku ingin tanja padamu, kalau disengat ketungging, apakah kau dapat menjembuhkan?"
"Ha-ha, mengapa tidak bisa?"
Sahut Tik Hun sengaja bergelak tawa.
"Sedangkan ular-ular berbisa seperti Djik-lian-tjoa (ular gelang rantai), Kim-kah-tay (ular bergelang kaki), Bak-kia-tjoa (ular katja-mata, kobra) dan lain-lain ular berbisa paling djahat juga tjes-pleng bila makan obatku, apalagi tjuma penjakit sepele kena disengat ketungging, he-he, itulah penjakit tak berarti" .
"Ah, djangan kau omong besar dahulu", ujar Go Him.
"Hendaklah engkau ketahui bahwa ketungging itu bukan sembarangan ketungging, sedangkan tabib terkemuka di kota Heng-tjiu djuga tak berdaja menjembuhkannja, masakah kau sanggup mengobati?"
"Ha, masakah ada ketungging selihay itu?"
Demikian Tik Hun pura-pura mengkerut kening.
"Padahal ketungging didunia ini paling lihay tjuma sebangsa Hwe-kat (ketungging kelabu), Kim-tji-kat (ketungging mata uang emas), Moa-tahu-kat (ketungging kepala burik), Ang-bwe-kat (ketungging ekor merah), Pek-kah-kat (ketungging kaki putih) dan………………………."
Begitulah ia sengadja mentjerotjos dengan aneka matjam-matjam nama-nama ketungging sampai berpuluh-puluh djenis banjaknja. Habis itu baru ia berkata pula.
"Setiap jenis ketungging itu memang ber-beda2 ratjunnja, tjara pengobatannja djuga berlainan, maka biarpun namanja sadja tabib pandai, djikalau tjuma nama kosong saja sudah tentu takkan betjus menjembuhkan luka disengat ketungging" . Mendengar sekaligus tabib kelilingan itu mentjerotjos berpuluh nama jenis ketungging, mau tak mau Go Him merasa kagum dan tertarik, segera katanja.
"Djika begitu, silakan Sinshe masuk ke dalam untuk mengobati suhengku, Djikalau dapat menjembuhkan, tentu suhuku akan memberi hadiah besar" . Tik Hun mengangguk dan ikut masuk ke dalam gedung itu. Begitu melangkah masuk, seketika Tik Hun teringat kepada kejadian dulu, dimana ia dan sumoay mengikut sang suhu menghadiri perajaan ulang tahun sang Supek, tatkala itu ia masih seorang pemuda desa jang hidjau, segala apa belum pernah dilihatnja dan semuanja serba baru baginja, maka sepandjang djalan ia asjik bitjara dengan Sumoay tentang pemandangan jang mereka lihat itu. Kini berkundjung kembali kegedung jang sama, namun suasananja sudah berbeda. Ia ikut Go Him masuk keruangan dalam, setelah menjusur dua tempat Tjimtjhe, akhirnja sampai dibawah sebuah loteng. Segera Go Him menengadah keatas dan berseru.
"Samsuso, ini adalah seorang tabib kelilingan, katanja mampu mengobati segala penjakit kena disengat ketungging, apakah perlu aku mengundang tabib ini untuk periksa penjakit Suko?"
Lalu terdengar suara berkeriut, djendela loteng dibuka orang, tertampak Djik Hong melongok keluar dan berkata.
"Baiklah, terima kasih Go-sute, malahan hari ini Suko-mu tambah kesakitan, lekas undang Sinshe naik ke sini" .
"Baiklah Suso", sahut Go Him. Lalu ia berpaling kepada Tik Hun.
"Silakan, Sinshe". ~ Ia menjilakan sang "Sinshe"
Naik ke loteng, tapi ia sendiri tidak ikut mengantar. Maka Djik Hong berseru lagi.
"Go-sute, silakan kaupun ikut kemari membantu" . Go Him mengiakan, maka iapun ikut naik keatas loteng. Setiba diruangan loteng, Tik Hun melihat ditengah situ didekat jendela tertaruh sebuah meja tulis jang besar dengan penuh segala peralatannja dan banjak kitab-kitab pula, diatas medja terdapat pula sehelai badju anak ketjil jang belum selesai dijahit. Sementara itu tampak Djik Hong telah memapak keluar dari kamar sana, mukanja tidak berbedak dan bergintju, tapi tidak mengurangi tjantiknja, hanja tampak agak kurus dan putjat sedikit, mungkin terlalu letih dan kurang tidur karena mesti merawat sang suami. Tik Hun hanja memandang sekejap saja kepada sang Sumoay itu lalu tidak berani memandang lagi sebab kuatir dikenali. Kemudian ia ikut masuk kedalam kamar, disitu kelihatan ada sebuah randjang kaju jang besar, diatasnja merebah seseorang dengan menghadap kedalam sana sambil tiada hentinja me-rintih2. Itulah dia Ban Ka. Dan ditepi randjang itu seorang dara tjilik berduduk diatas dingklik tjilik ketjil sedang memijat pelahan-lahan kaki sang ajah. Tapi demi melihat wajah Tik Hun jang kotor dan aneh itu, ia mendjerit takut dan mengumpet ke belakang sang ibu. Kemudian Go Him berkata.
"Suko-ku ini kena disengat ketungging berbisa, ratjunnja masih belum hilang, harap Sinshe suka memeriksa dan kasih obat bila perlu" . Tik Hun mengiakan. Kalau diluar tadi ia bisa mentjerotjos bagai air bah membanjir untuk bitjara dengan Go Him, adalah sekarang sesudah melihat Djik Hong, seketika hatinja ber-debar2 dan mulut serasa terkantjing, untuk bitjarapun rasanja susah. Tapi iapun mendekati ranjang dan tepuk pelahan dipundak Ban Ka. Pe-lahan2 Ban Ka membalik tubuh, ketika ia membuka mata dan melihat matjam Tik Hun jang luar biasa itu, mau tak mau ia terkesiap djuga. Maka terdengar Djik Hong mendahului berkata.
"Samko, ini adalah Sinshe jang diundang oleh Go Sute, katanja…………..katanja ia pandai mengobati segala matjam ratjun serangga dan ular, boleh djadi dia ada obat mudjarab jang dapat menjembuhkan lukamu" . ~ Njata nadanja djuga tidak menaruh kepertjajaan bahwa tabib gelandangan seperti itu mampu mengobati penjakit sang suami. Tapi Tik Hun tidak bitjara, ia periksa punggung tangan Ban Ka jang abuh itu. Ia melihat bagian tangan itu hitam hangus mengerikan.
"Ini adalah sengatan ketungging berbisa keluaran Wan-leng di barat Ouw-lam, di Ouw-pak tiada terdapat ketungging sejenis itu" . kata Tik Hun kemudian.
"He, ia betul, memang betul disengat oleh ketungging di Wan-leng sana" . seru Go Him dan Djik Hong berbareng.
"Sesudah Sinshe dapat mengetahui asal-usul ketungging jang menjengat itu, tentu Sinshe dapat mengobatinja?"
Tanja Djik Hong pula dengan penuh harapan. Tik Hun sengaja menghitung dengan djari, lalu katanja pula.
"Ehm, ketungging itu menjengatnja diwaktu malam, kalau tidak salah, ehm, sampai sekarang sudah lewat tujuh hari tudjuh malam lamanja" . Keruan Go Him saling pandang dengan Djik Hong, habis itu mereka berseru berbareng lagi.
"Betul, betul, sungguh dugaan Sinshe sangat tepat, memang pada malam hari kena disengat oleh ketungging dan sampai sekarang sudah tudjuh hari tujuh malam. Maka harap Sinshe lekas tolong memberi obat" . Sudah tentu Tik Hun bukan dewa jang bisa meramalkan kedjadian jang sudah lalu dan dapat menduga apa jang belum datang. Soalnja ia sendiri jang menjaksikan Ban Ka disengat oleh ketunggingnja Gian Tat-peng, dengan sendirinja ia dapat mengatakan dengan djitu. Begitulah maka ia mendjadi senang dan kasihan pula melihat kelakuan Djik Hong dan Go Him jang kejut-kejut girang itu. Maka iapun sengaja djual mahal, segera katanja pula.
"Apakah tuan ini telah menggetjek mati ketungging itu dengan punggung tangannja? Kalau tidak berbuat demikian sebenarnja masih dapat tertolong, tapi kini ketungging itu dibunuh diatas punggung tangan, seketika ratjunnja lantas tersebar semua kedalam luka, untuk menolongnja sungguh maha sulit sekarang" .
"Memang djelas sekali uraian Sinshe, tapi apapun djuga mohon Sinshe sudilah menolong djiwanja" , pinta Djik Hong dengan kuatir dan gopoh. Kedatangan Tik Hun ke Heng-tjiu ini sebenarnja ingin menjaksikan sendiri tjara bagaimana Ban Ka menderita dan me-rintih2 mendekati adjalnja, jaitu untuk melampiaskan rasa dendamnja selama ini, maka sedikitpun tiada pikiran padanja untuk menolong djiwa musuh besarnja itu. Namun sejak semalam didengarnja doa restu Djik Hong jang ternjata masih tidak melupakan dirinja, bahkan memohon kepada Tuhan Allah agar memberkati selamat bahagia bagi dirinja, semoga lekas beristri dan beranak, malahan mengatakan bahwa dirinja jang telah meninggalkan Sang Sumoay itu, dari utjapan terakhir ini agaknja Sumoay masih jakin bahwa dia benar2 pada malam itu hendak kabur bersama gundiknja Ban Tjin-san, yaitu si Mirah, oleh sebab itulah maka Sumoay menjesal dan putus asa lalu menikah pada Ban Ka. Diwaktu ketjilnja Tik Hun sangat penurut kepada segala kehendak Djik Hong, tidak pernah ia membangkang atau membantah apa jang dikatakan sang Sumoay. Maka kini demi mendengar permohonan Djik Hong jang penuh kuatir itu, hati Tik Hun menjadi lemas, segera ia bermaksud mengeluarkan obat penawar jang diperolehnja dari Gian Tat-peng itu. Tapi mendadak ia mendapat pikiran lain.
"Si keparat Ban Ka ini telah membuat aku menderita dan merana selama ini, dia merebut pula Sumoayku, kalau aku tidak membunuhnja dengan tanganku sendiri sebenarnja sudah dapat dikatakan aku tjukup murah hati, mana boleh sekarang aku menolong djiwanja pula?" . Karena pikiran itu ia segera menggeleng kepala dan mendjawab.
"Bukanlah aku tidak mau menolongnja, tapi sesungguhnja dia sudah terlalu mendalam keratjunan, pula sudah tertunda sekian hari, ratjunnja sudah masuk otak, untuk menolongnja sudah sangat susah" . Tiba2 Djik Hong meneteskan air mata, ia tarik si dara tjilik tadi dan berkata padanja.
"Kong-sim-djay mestikaku, lekaslah kau mendjura kepada paman Sinshe ini, mohon beliau sukalah menolong djiwa ajahmu" .
"Djang………………djangan mendjura apa segala……………….,"
Tjepat Tik Hun menggojang-gojang tangannja.
Tapi anak itu memang sangat penurut, rupanja tahu djuga ajahnja sakit sangat pajah, maka terus saja ia berlutut dan menjembah beberapa kali.
Kelima jari kanan Tik Hun sudah terpapas kutung oleh Go Him dahulu dan sejak tadi ia masukkan saku, maka ia hanja gunakan tangan kiri untuk membangunkan anak dara itu.
Waktu menarik bangun botjah itu, tiba-tiba dilihatnja dilehernja memakai sebuah kalung dengan mainan jang berukir empat huruf 'Tik-jong-siang-bo'.
Melihat itu, Tik Hun menjadi tertegun, teringat olehnja tempo dulu waktu dia pingsan di dalam gudang kaju rumah keluarga Ban ini, ketika ia sadar kembali, ia dapatkan dirinja berada di dalam suatu sampan dan terombang-ambing di tengah sungai Tiang-kang, disampingnja terdapat beberapa tahil perak dan sedikit perhiasan, diantaranja juga terdapat sebuah mainan jang bertuliskan empat huruf seperti itu.
Ia mendjadi heran, djangan-djangan…….
djangan-djangan………….
Maka ia tidak berani memandang lagi, pikiran kusut akhirnja djernih kembali, terbajang pula keadaan waktu dahulu itu.
"Ja,….ketika aku djatuh pingsan digudang kaju itu, selain Djik-Sumoay jang menolong aku, terang tiada orang lain lagi. Dahulu aku mentjurigai dia sengaja hendak membunuh aku, tapi semalam ia berdoa…….berdoa kepada Tuhan, ia telah mengutarakan isi hatinja terhadap diriku. Dan kalau dia begitu mentjinta aku, tempo dulu itu sudah tentu tidak mungkin bermaksud membunuh aku. Masakah aku ditakdirkan bahwa sesudah mengalami derita sengsara selama ini, lalu aku akan dipersatukan lagi dengan Sumoay seperti sekarang ini" . Teringat kemungkinan akan rujuk kembali dengan sang Sumoay tanpa merasa hati Tik Hun ber-debar2 pula, ketika ia melirik Djik Hong, dilihatnja wadjahnja penuh merasa kuatir, dengan penuh perhatian Sumoay itu sedang memandangi Ban Ka jang menggeletak dirandjang itu, sorot matanja mengunjuk rasa tjinta kasih jang tak terhingga. Melihat sinar mata sang Sumoay itu, seketika hati Tik Hun mentjelus lagi. Kembali terbajang lagi kejadian dahulu jang masih diingatnja dengan jelas. Hari itu ia bertempur melawan Ban-bun-pat-tetju, ia dikerojok dan dihadjar mereka hingga matang biru dan hidung botjor. Kemudian Sumoay telah mendjahitkan badjunja jang terobek dalam perkelahian itu, sorot mata sang Sumoay pada saat mendampinginja itulah djuga penuh rasa kasih sajang seperti sekarang sang Sumoay itu memandangi Ban Ka. Maka kini, teranglah sorot mata jang membahagiakan setiap lelaki itu oleh sang Sumoay telah diberikan kepada suaminja dan tiada mungkin ditujukan kepadanja lagi.
"Pabila aku tidak memberi obat penawar padanja, siapakah jang dapat menjalahkan aku? Dan bila nanti Ban Ka sudah mampus, dimalam hari diam2 aku datang kesini untuk membawa kabur Sumoay, siapakah jang dapat merintangi aku? Dengan begitu aku dapat berkumpul pula dengan Sumoay sebagai suami isteri selama hidup. Tentang anak dara ini, ehm, biarlah akan kubawa serta dia………………Tetapi, ai, tak bisa, tak bisa! Sumoay sudah biasa menjadi njonja muda dirumah keluarga Ban jang kaja ini, hidupnja senang serba tjukup, masakah dia mau ikut pergi bersama aku untuk meluku sawah dan mengangon kerbau lagi? Apalagi wajahku jelek begini, tidak banjak 'makan' sekolah, lagi tanganku juga tjatjat, masakah aku sesuai menjadi djodohnja? Dan apakah dia sudi ikut kabur bersama aku?"
Begitulah demi teringat dirinja sendiri jang serba kurang dan serba rendah itu, Tik Hun menjadi malu diri dan ketjil hati, ia menunduk termangu-mangu.
Sudah tentu Djik Hong tidak tahu bahwa pada saat sesingkat itu pikiran sang 'Sinshe' sedang melajang-lajang sedjauh itu.
Maka dengan terkesima iapun memandangi Sinshe itu dengan harapan akan terdengar utjapan menggirangkan dari mulutnja bahwa suaminja dapat tertolong.
Sementara itu Ban Ka masih terus me-rintih2 dan sesambatan, ratjun ketungging itu meresap sampai diruas tulang ketiaknja, keruan rasanja mendjadi seperti lengannja itu terkutung sakitnja.
Dan sesudah menunggu agak lama, sang Sinshe masih diam sadja, Djik Hong tambah kuatir, kembali ia memohon pula.
"Sinshe, tolong………… tolonglah engkau mentjoba sadja, asal……. asal dapat mengurangi sedikit penderitaannja djuga………….djuga mendingan baginja, andaikan… andaikan…………, akhirnja dia…………. Ja, djuga tak bisa menjalahkan pada Sinshe" . ~ Maksudnja akan mengatakan bila djiwa Ban Ka itu toh tak bisa diselamatkan lagi, asal penderitaannja dapat dikurangi, biarpun akhirnja mati djuga tidak terlalu tersiksa lagi. Maka Tik Hun tersadar dari lamunannja tadi, seketika itu hatinja serasa hampa, segala harapannja musna sirna, ia benar-benar ingin mati pada saat itu djuga. Dengan segenap hati ia mentjintai sang Sumoay, tapi Sumoay itu telah dipersunting oleh musuhnja, bahkan kini orang jang ditjintai itu memohon dengan sangat agar dia menolong musuh itu. Apa gunanja lagi mendjadi manusia seperti itu? 'Aku lebih suka mendjadi Ban Ka jang menderita dan tersiksa seperti sekarang ini, tapi didampingi Sumoay jang memandang padaku dengan penuh kasih sajang, biarpun akan mati dalam beberapa hari lagi djuga tidak menjadi soal'. Demikian pikirnja. Begitulah tanpa merasa ia menghela napas dan mengeluarkan obat penawar jang diperolehnja dari Gian Tat-peng itu, ia tuang sedikit obat bubuk warna hitam dan dibubuhkan dipunggung tangan Ban Ka.
"He, betul, memang betul itulah obat penawarnja, wah, ini……….. ini berarti akan tertolonglah!"
Demikian mendadak Go Him berseru.
Tik Hun mendjadi heran mendengar seruan jang bernada aneh itu.
Bahwasanja sang Suheng 'berarti akan tertolong' seharusnja ia ikut bergirang, akan tetapi nadanja itu, djusteru merasa sangat ketjewa malah, bahkan merasa menjesal dan dongkol pula.
Tik Hun tjoba melirik ke arah Go Him, ia melihat sorot mata pemuda itu menjinarkan rasa bentji dan kedji.
Keruan Tik Hun bertambah heran.
Tapi demi teringat bahwa diantara kedelapan anak murid Ban Tjin-san itu tiada seorangpun jang baik, sedangkan Ban Tjin-san sendiri saling bunuh membunuh dengan guru dan saudara seperguruannja, maka tidaklah heran bila diantara anak2 muridnja itu djuga saling tjakar2an.
Dan kalau begitu, tentunja hubungan antara Ban Ka dan Go Him tidak baik, tapi mengapa ia malah mengundang aku untuk mengobati Suhengnja itu?
Dalam pada itu tangan Ban Ka jang abuh itu, begitu dibubuhi obat hitam tadi, hanja sebentar sadja dari luka itu lantas mengeluarkan air hitam.
Lambat-laun sakit Ban Ka djuga berkurang, dengan suara lemah ia dapat berkata.
"Terima kasih Sinshe, obat penawar ini benar-benar sangat bagus" . Sungguh girang Djik Hong tidak kepalang, tjepat ia membawakan tempolong untuk menadah darah hitam jang menetes terus dari luka sang suami itu sambil tiada henti-hentinja menjampaikan terima kasih kepada Sinshe sakti alias Tik Hun.
"Suso, sekali ini Sinshe telah berdjasa besar, bukan?"
Tiba-tiba Go Him berkata.
"Benar, aku harus menjampaikan terima kasih sebesar-besarnja kepada Go Sute", sahut Djik Hong.
"Hanja omong di mulut sadja pertjuma, tapi harus dengan kenjataan" , ujar Go Him dengan tersenjum. Djik Hong tidak gubris padanja lagi, tapi berpaling dan berkata kepada Tik Hun.
"Numpang tanja siapakah nama Sinshe jang mulia? Kami harus memberi penghargaan sepantasnja kepada Sinshe" . Tapi Tik Hun gojang-gojang kepala, sahutnja.
"Tidaklah perlu penghargaan apa segala. Tapi ratjun ketungging ini harus berturut-turut dibubuhi obat ini sepuluh kali baru bisa sembuh sama sekali" ~ dan dengan perasaan hampa dan pilu tak terutjapkan, akhirnja ia berkata pula sambil mengangsurkan botol obat jang diperolehnja dari Gian Tat-peng itu.
"Ini, terimalah semua obat penawar ini" . Sebaliknja Djik Hong menjadi ragu2, sebab sama sekali tak tersangka olehnja bahwa urusan bisa terdjadi sebegitu gampang, katanja kemudian.
"Biarlah kami membeli saja kepada Sinshe, entah berapa harganja?"
"Tidak, tidak perlu beli, tapi kuberikan tjuma-tjuma padamu" , kata Tik Hun. Sungguh girang Djik Hong tak terhingga, tjepat ia terima botol obat itu, sambil memberi hormat, katanja.
"Sinshe begini berbudi dan murah hati pula, betapapun kami harus menjuguhi engkau barang setjawan arak. Go-sute, silakan engkau menemani Sinshe keruangan tamu untuk berduduk sebentar."
"Sudahlah, tidak perlu duduk lagi, aku akan mohon diri saja", ujar Tik Hun.
"Tidak, djangan", seru Djik Hong.
"Budi pertolongan Sinshe atas jiwa suamiku ini kami tidak dapat mendapat membalas apa-apa, maka hanja setjawan arak sadja harap engkau sudi menerima sekadar sebagai penghormatan kami. Sinshe, betapapun engkau djanganlah pergi dahulu!."
"Betapapun, engkau djangan pergi dahulu!"
Kata-kata ini sekali menjusup kedalam telingan Tik Hun, betapapun keras hatinja djuga lantas lemas seketika. Pikirnja.
"Sakit hatiku ini sudah terang tak terbalas lagi, sesudah aku menguburkan Ting-toako, untuk seterusnja aku djuga tidak mungkin kembali ke kota Heng-tjiu lagi, selama hidup ini, aku takkan bertemu pula dengan Sumoay. Dan sekarang ia hendak menjuguhi aku setjawan arak, ja, dengan demikian boleh juga aku akan dapat memandangnja lebih lama sedikit" . Oleh karena itu, iapun memanggut sebagai tanda menerima undangan Djik Hong. Tidak lama kemudian, meja perdjamuan sudah dipersiapkan, jaitu diruangan tamu di bawah loteng. Tik Hun diminta duduk ditempat jang paling terhormat, Go Him mengiringi disebelahnja. Karena merasa sangat berterima kasih kepada Sinshe jang berbudi itu, maka Djik Hong sendiri telah melajaninja minum arak dan menjuguhkan daharan. Agaknja Ban Tjin-san dan anak muridnja jang lain waktu itu tiada dirumah, maka tiada orang lain lagi jang ikut hadir dalam perjamuan itu. Dengan penuh hormat Djik Hong menjuguhkan tiga tjawan arak kepada Tik Hun dan diminum habis oleh 'Sinshe' itu. Tiba-tiba perasaannja pilu hingga matanja memberambang, ia tahu bila tinggal lebih lama disitu mungkin air matanja bisa lantas menetes, hal mana tentu akan mengakibatkan rahasianja terbongkar. Maka tjepat ia berbangkit dan berkata.
"Sudahlah tjukup, terima kasih atas suguhanmu, sekarang aku permisi untuk pergi dan selandjutnja takkan datang lagi."
Djik Hong agak heran oleh utjapan tabib kelilingan jang tidak genah itu. Tapi karena potongan sang tabib memang agak lutju, maka iapun tidak ambil perhatian, segera didjawabnja.
"Ai, mengapa Sinshe ter-buru2 sadja? Atas budi pertolonganmu itu, kami tidak dapat membalas apa-apa, di sini ada seratus tahil perak, harap Sinshe suka terima sekedar sangu dalam perdjalanan." ~ sembari berkata iapun mengangsurkan sebungkus uang perak dengan penuh hormat. Mendadak Tik Hun menengadah dan ter-bahak2 tawa, katanja.
"Akulah jang telah menolong dia, akulah jang telah menghidupkan dia! Sungguh lutju, akulah jang telah menghidupkan dia! Apakah didunia ini ada orang jang lebih goblok dari diriku?"
Dan meski dia bergelak tertawa dengan menengadah, tapi tanpa merasa air matanja djuga berlinang-linang.
Keruan Djik Hong dan Go Him saling pandang dengan bingung melihat kelakuan 'Sinshe' jang setengah sinting itu.
Sebaliknja si dara tjilik Khong-sim-djay lantas berteriak-teriak.
"Heee, Sinshe menangis, Sinshe menangis!" . Tik Hun menjadi terkedjut, ia tahu telah ditjurigai orang, ia kuatir rahasianja akan ketahuan, maka ia tidak berani bitjara lagi dengan Djik Hong, hanja dalam hati ia berkata.
"Sejak ini aku takkan bertemu lagi dengan kau" . Diam-diam ia mengeluarkan kitab kuna jang didalamnja terselip pola sulaman sepatu jang diketemukan di dalam gua dengan Wan-leng tempo hari, ketika orang tidak memperhatikan, pelahan2 ia taruh kitab itu diatas kursi, lalu tanpa memandang lagi kepada Djik Hong ia lantas mohon diri dan tinggal pergi.
"Go-sute, harap engkau hantarkan Sinshe."
Kata Djik Hong. Go Him mengiakan, lalu mengikut dibelakang Tik Hun. Sambil masih memegangi bungkusan uang perak tadi, hati Djik Hong ber-debar2 tak keruan. Pikirnja.
"Siapakah sebenarnja Sinshe itu tadi? Mengapa suara tertawanja mirip benar dengan orang itu? Ai, entah mengapa, meski djiwa Ban-long dalam keadaan bahaja, tapi pikiranku selalu menjeleweng dan memikirkan dia sadja, ai, dia……dia entah……"
Begitulah ia menjadi ter-menung2 sendiri, ia taruh bungkusan uang perak itu di atas medja, dengan tumpang dagu ia berduduk pula di atas kursi.
Kebetulan kursi jang didudukinja sekarang adalah kursi jang bekas diduduki Tik Hun tadi.
Ketika mendadak merasa menduduki sesuatu benda, Djik Hong berbangkit lagi dan memeriksanja, maka lantas tertampaklah sed
Jilid kitab kuna jang sudah ke-kuning2an.
Se-konjong2 Djik Hong berseru tertahan sekali, tjepat ia djemput kitab itu dan mem-balik2 halamannja, segera terdjatuh keluar dari kitab itu sehelai pola sepatu, ia kenal itu adalah buah tangannja waktu masih tinggal dirumah dibarat Ouw-lam sana.
Ia ternganga sambil memegang kitab dan pola itu, kedua tangannja gemetar.
Ketika ia mem-balik2 lagi kitab itu, kembali diketemukannja sepasang kupu2 guntingan dari kertas, seketika terbajanglah waktu berduaan dengan Tik Hun duduk berdjadjar di dalam gua, dimana ia telah menggunting kupu2 kertas itu.
Tanpa terasa ia berseru tertahan pula, katanja didalam hati.
"He, dari……… dari manakah kitab ini? Sia…..siapakah jang membawanja kesini? Djangan2 Sinshe itu tadi?" . Melihat sikap ibunja agak aneh, si dara tjilik Khong-sim-jay menjadi takut, ber-ulang2 ia memanggil.
"Mak, mak, ken…kenapakah kau?"
Djik Hong terkejut oleh seruan anaknja ini, tapi tjepat ia masukkan kitab itu kedalam badjunja sambil berlari keluar rumah setjepat terbang.
Sedjak ia mendjadi anak menantu keluarga Ban, hidupnja selalu lemah-lembut halus sopan, tidak pernah ia berlari kesetanan seperti itu.
Keruan kaum hamba dan dajang keluarga Ban menjadi ter-heran2 melihat njonja muda mereka berlari tjepat dengan Ginkang sekaligus dari ruangan dalam terus menjusur Tjimtjhe terus keluar rumah.
Waktu sampai dipelataran depan, kebetulan Djik Hong melihat Go Him telah masuk kembali, maka tjepat ia tanja.
"Dimanakah Sinshe itu?"
"Orang itu sangat aneh, tanpa bitjara apa-apa ia sudah pergi", sahut Go Him.
"Suso, ada urusan apakah kau mentjarinja lagi? Apakah keadaan Suko berubah buruk?"
"Tidak, tidak" , sahut Djik Hong sambil memburu keluar pintu, ia menengok kesana dan mengintai kesitu, tapi bajangan tabib kelilingan itu sudah tak tertampak lagi. Djik Hong ter-longong2 sedjenak diluar pintu, kembali ia mengeluarkan kitab kuna tadi, dan setiap kali melihat pola sepatu dan kupu2 kertas itu, seketika timbul pula pemandangan2 gembira ria dimasa mudanja. Bajangan2 itu bagaikan air bah membandjir kedalam benaknja hingga tanpa merasa air matanja bertjutjuran. Mendadak ia berubah pikiran.
"Mengapa aku begitu bodoh? Bukankah barusan Ban-long ikut kong-kong dan lain2 pergi ke Wan-leng untuk mentjari Gian-susiok, boleh jadi tanpa sengadja mereka telah masuk kedalam gua dan disanalah kita ini telah diketemukan, lalu sekalian ada jang membawa pulang kitab ini. Memangnja Sinshe jang tidak terkenal itu ada hubungan apa dengan kitab ini?" . Tapi lantas datang pikiran lain pula.
"Ah, tidak, tidak, tidak! Masakah mungkin terjadi setjara begitu kebetulan? Gua itu letaknja sangat rahasia, sekalipun ajahku juga tidak tahu, masakah Ban-long dan rombongannja dapat menemukannja? Tujuan mereka adalah mentjari Gian-supek, manabisa mereka kesasar kedalam gua rahasia itu? Tadi waktu aku membersihkan medja kursi perjamuan, sudah terang keempat kursi itu aku melapnja hingga bersih, tidak mungkin ada sed
Jilid kitab seperti ini. Dan kitab ini kalau bukan tabib itu jang membawanja, habis darimanakah datangnja?"
Begitulah dengan penuh tjuriga dan sangsi pelahan2 ia kembali ke kamarnja.
Dilihatnja sehabis dibubuhi obat tadi, semangat Ban Ka sudah banjak lebih baik, sakitnja djuga mulai hilang.
Sambil memegangi kitab itu, sebenarnja Djik Hong bermaksud menanja sang suami, tapi lantas terpikir olehnja.
"Lebih baik aku djangan ter-buru2 tjari keterangan dulu, djangan2 tabib itu……tabib itu adalah…………….."
Dalam pada itu terdengar Ban Ka sedang bitjara padanja.
"Hong-moay, Sinshe itu benar2 adalah tuan penolong djiwaku, kita harus memberi penghargaan se-tinggi2nja kepadanja"
"Ja, aku tadi telah menghadiahkan dia seratus tahil perak, tapi dia djustru tidak mau terima meski kupaksa" , tutur Djik Hong.
"Ai, benar2 seorang kangouw jang aneh, seorang jang berbudi. Obat penawar itu…………………… he, dimanakah botol obat itu tadi? Apakah kau simpan di dalam latji medja?"
Tadi waktu Djik Hong mau keluar untuk melayani "Shinshe"
Jang akan didjamunja itu, ia ingat betul botol obat itu ditaruhnja di atas medja di depan randjang Ban Ka, tapi kini sudah hilang. Maka Ban Ka telah mendjawab.
"Tidak, aku tidak menjimpannja, bukankah tadi kau taruh diatas medja?"
Tapi meski Djik Hong sudah mentjari kian kemari diseluruh kamar itu, tetap botol obat itu tidak kelihatan. Keruan ia sangat gelisah dan tjemas, pikirnja.
"Djangan2 karena pikiranku tadi lagi bingung, maka obat itu kubawa serta sambil lari keluar dan jatuh? Tapi, ah, tidak bisa, aku ingat betul2 botol obat itu kutaruh di atas medja, didekat mangkok obat itu" . Ban Ka juga sangat gugup, katanja.
"Le……lekas kau mentjari lagi, masakah bisa hilang? Sungguh aneh. Tadi aku hanja terpulas sebentar dan masih ingat benar2 botol obat itu tertaruh di atas meja."
Mendengar itu Djik Hong bertambah kuatir, segera ia keluar kamar, ia tjoba tarik puterinja dan tanja padanja.
"Khong-sim-djay, tadi waktu ibu keluar, adakah siapa2 jang masuk ke kamar?"
"Ada, Go-sioksiok tadi datang, ketika melihat ajah tidur, ia lantas keluar lagi" , tutur si dara tjilik. Djik Hong menghela napas lega mendapat keterangan itu, lapat2 ia merasa ada sesuatu jang tidak beres. Tapi Ban Ka sedang sakit, apapun jang terjadi tidak perlu dia ikut tahu hingga ikut menanggung kuatir. Maka katanja kepada Khong-sim-djay.
"Anak baik, kau temani ajah di dalam kamar, ja, kalau ajah tanjakan ibu, bilanglah ibu lagi menyusul Sinshe untuk minta obat bagi ajah" . Sidara tjilik memanggut dan menjahut.
"Ja, mak, kau lekas pulang, ja!"
Dan sesudah tenangkan diri, pelahan-lahan Djik Hong membuka latji medja Ban Ka, ia ambil sebilah belati dan diselipkan dipinggang dalam badju, kemudian ia turun ke bawah loteng. Pikirnja.
"Keparat Go Him itu, bila bertemu aku ditempat sepi, selalu ia tjengar-tjengir padaku dengan maksud tidak baik. Tabib tadi itu adalah dia jang mengundang, djangan2 dia bersekongkol dengan tabib itu dan telah mengatur tipu muslihat kedji apa2" . Begitulah sambil memikir ia bertindak ketaman dibelakang rumah. Sampai diserambi samping, dilihatnja Go Him sedang ter-menung2 memandangi ikan mas di empang sambil bersandar lankan.
"Go-sute", segera Djik Hong menegur.
"lagi berbuat apa engkau di sini seorang diri" . Ketika berpaling dan melihat penegur itu adalah Djik Hong, seketika muka Go Him berseri-seri, sahutnja.
"Kukira siapa, tak tahunja adalah Suso. Engkau mengapa tidak mendjaga Suko di atas loteng, tapi masih punja tempo luang untuk djalan2 kesini?"
"Ai, aku merasa sangat kesal,"
Sahut Djik Hong sambil menghela napas.
"Setiap hari selalu mendampingi orang sakit, dan semakin tangan Suko-mu kesakitan, perangainja djuga bertambah kasar. Maka aku perlu keluar untuk djalan2 menghibur hati dan lara" . Mendengar jawaban itu, sungguh girang Go Him melebihi orang dapat 'buntut', dengan tjengar-tjengir segera ia membumbui.
"Ja, memang, engkau memang perlu istirahat dan menghibur diri. Sebenarnja Suko djuga keterlaluan, punja isteri tjantik sebagai engkau masih kurang terima, tapi malah suka mengamuk sadja, sungguh keterlaluan" . Djik Hong mendekati orang dan bersandar juga di atas lankan untuk memandangi ikan mas jang lagi berenang kian kemari dengan bebas ditengah empang itu, lalu sahutnja dengan tertawa.
"Ah, Suso-mu ini sudah tua, masakah masih dikatakan tjantik apa segala, bukankah akan dibuat tertawa orang?"
"He, mana bisa, mana bisa", tjepat Go Him berkata.
"Suso benar-benar sangat tjantik. Diwaktu masih gadis engkau mempunjai ketjantikan seorang gadis, sesudah menjadi Siaunaynay (nyonja muda) juga tetap mempunjai ketjantikan sebagai Siaunaynay. Tanjakan saja diseluruh kota Heng-tjiu ini, siapa orangnja jang tidak mengatakan bahwa bunga tertjantik adalah tertanam dikeluarga Ban" . Sampai disini mendadak Djik Hong memutar tubuh dan mengangsurkan tangannja sambil berkata.
"Mana, serahkan sini".
"Serahkan apa?", tanja Go Him dengan tertawa.
"Obat penawar itu", kata Djik Hong dengan muka membesi.
"Obat penawar apa? Entah, aku tidak tahu, apakah kau maksudkan obat penawar untuk luka Ban-suko itu?,"
Demikian Go Him berlaga pilon.
"Benar!", sahut Djik Hong tegas.
"Sudah terang kau jang mengambilnja". Go Him tertawa litjik, sahutnja.
"Tabib itu adalah aku jang mengundangkan, obat penawar adalah aku jang mengusahakan Kini Ban-suko dibubuhi satu kali, paling tidak ia akan terhindar dari penderitaan untuk beberapa hari" .
"Tapi Sinshe itu bilang obat itu harus dibubuhkan ber-turut2 sepuluh kali", kata Djik Hong.
"Ja, aku sungguh menjesal, sungguh aku menjesal", tiba-tiba Go Him gojang2 kepala.
"Menjesal tentang apa?" , tanja Djik Hong "Semula aku menjangka tabib kelilingan jang dekil seperti itu masakah mempunjai kepandaian apa2, maka aku mau mengundang dia ke atas loteng, tudjuanku sebenarnja adalah ingin mentjari kesempatan untuk melihat Suso, siapa duga, eh, keparat itu benar2 mempunjai obat mudjarab untuk menjembuhkan ratjun disengat ketungging. Sudah tentu, sudah tentu, hal itu sangat bertentangan dengan maksud tudjuanku" , demikian tutur Go Him. Sungguh gusar Djik Hong tak terkatakan oleh tjerita orang itu, tapi obat penawar jang ditjarinja itu masih ditangan orang, ia harus bersabar untuk mendapatkan obatnja, habis itu baru akan membikin perhitungan dengan manusia rendah itu. Maka dengan tertawa ia mendjawab.
"Habis kalau menurut kau, tjara bagaimanakah kau mengharapkan balas djasa dari Sukomu agar engkau mau menjerahkan obat penawar itu?"
Tiba2 Go Him menghela napas, sahutnja.
Sam-suko sendiri sudah menikmati kebahagiaan selama beberapa tahun ini, kalau sekarang dia harus mati juga pantas rasanja ".
Air muka Djik Hong berubah seketika, tapi sedapat mungkin ia menahan perasaannja, dengan menggigit bibir ia diam saja.
Maka Go Him berkata pula.
"Waktu kau datang ke Heng-tjiu untuk pertama kalinja, diantara kami berdelapan saudara seperguruan, siapakah orangnja jang tidak kesengsem padamu? Dan kami mendjadi penasaran melihat sitolol Tik Hun itu siang malam senantiasa mendampingi engkau, maka kami be-ramai2 lantas berkomplot untuk menghadjarnja hingga babak belur…………………."
"He, kiranja kalian menghadjar Sukoku itu malahan adalah disebabkan diriku?"
Kata Djik Hong.
"Ja, memang", sahut Go Him.
"Dan untuk menghadjarnja sudah tentu harus ditjari alasan. Maka kami sengadja menuduh dia suka menondjolkan diri buat bertempur dengan bandit Lu Thong hingga membikin malu kami jang menjadi anak murid keluarga Ban jang berkepentingan. Padahal tujuan kami adalah demi dirimu. Suso! Habis, kau menambalkan badjunja, mengajak bitjara padanja dengan mesra, tentu sadja kami 'minum tjuka'!" . Diam-diam Djik Hong terkesiap oleh tjerita itu, pikirnja.
"Apa benar peristiwa itu adalah gara2 diriku? Ai, Ban-long, mengapa selama ini kau tidak pernah mengatakan hal ini kepadaku?" . Tapi ia masih pura2 tidak paham dan berkata pula dengan tertawa.
"Ai, Go-sute, engkau ini memang pintar berkelakar. Padahal waktu itu aku aku adalah seorang gadis desa, seorang nona jang ke-tolol2an, dandananku djuga mentertawakan orang, apanja sih jang menarik?"
"Tidak, tidak", ujar Go Him.
"Orang tjantik tulen djusteru tidak perlu berdandan atau bersolek segala. Suso, bila bukan karena kesemsem padamu, tentu tidak sampai …………" ~ berkata sampai di sini mendadak ia berhenti dan tidak meneruskan lagi.
"Apa lagi" , tanja Djik Hong "Setelah kami dapat menahan kau dirumah keluarga Ban ini, untuk mana aku orang she Go juga tidak sedikit mengeluarkan tenaga,"
Kata Go Him pula.
"akan tetapi, Suso, setiap kali kau bertemu muka dengan aku selalu bersikap dingin2 saja, tersenjum sekali sadja padaku juga tidak pernah, tjoba, apakah hal itu tidak membikin hatiku mendjadi panas" .
"Tjis", semprot Djik Hong dengan tertawa.
"Aku tinggal dirumah keluarga Ban, lalu aku menikah pada Suko-mu, semuanja itu adalah aku sendiri jang sukarela, tenaga apa jang pernah kau korbankan dalam urusan itu? Toh waktu itu kau tidak ikut membudjuk padaku apa segala, ai, kenapa kau sembarangan omong sadja?"
"Meng…………….. mengapa aku tidak korbankan tenaga?"
Bantah Go Him.
"Tjuma saja engkau sendiri jang tidak tahu."
Djik Hong tambah tjuriga, segera katanja dengan membudjuk.
"Sute jang baik, tjoba katakanlah sebenarnja kau ikut mengorbankan tenaga apa, tentu Susomu ini takkan melupakan djasamu itu?"
Go Him meng-gojang2 kepala, katanja kemudian.
"Urusan itu sudah lama lalu, buat apa di-ungkat2 lagi? Andaikan kau mengetahui djuga tiada gunanja".
"Ja, sudahlah, djika kau tidak mau menerangkan, akupun tidak memaksa", kata Djik Hong.
"Nah, Go-sute, lekaslah serahkan obat penawar itu padaku, kita berada berduaan disini djangan2 akan dipergoki orang dan akan menimbulkan sangkaan djelek" .
"Kalau siang hari memang kuatir dipergoki orang, tapi kalau malam hari tentu tidak kuatir lagi" , ujar Go Him sambil tertawa.
"Apa katamu" , bentak Djik Hong tertahan dengan muka membeku sambil mundur setindak. Tapi dengan menjengir Go Him berkata pula.
"Djika kau ingin menjembuhkan penjakit Ban-suko, hal ini tidak sulit asalkan nanti tengah malam kau datang ke gudang kaju sana, aku akan menunggu engkau di sana, Djika kau mau menurut pada keinginanku itu, aku lantas memberikan kadar obat jang tjukup untuk dibubuhkan satu kali diluka Ban-suko" .
"Andjing keparat, kau berani omong begitu, apa kau tidak takut ditjintjang oleh Suhumu?"
Damperat Djik Hong dengan gemas.
"Memangnja aku sudah siap untuk korbankan djiwaku ini, tegasnja aku sudah nekat,"
Sahut Go Him.
"Padahal Ban Ka sibotjah apek itu apanja sih jang dapat menangkan aku? Soalnja ia adalah putera Suhu sendiri, hanja itu sadja. Padahal semua orang toh ikut keluarkan tenaga, mengapa mesti dia sendiri jang menikmati wanita tjantik sebagai engkau ini?"
Djik Hong semakin tjuriga mendengar Go Him berulang-ulang mengatakan 'mengeluarkan tenaga'.
Tapi karena Go Him lantas menghambur dengan kata2 makian kotor, ia benar2 tidak tahan lagi, maka katanja segera.
"Kau mengatjo-belo tak keruan, sebentar djika Kongkong pulang, biar akan kulaporkan padanja, lihat sadja kalau dia tak membeset kulitmu" .
"Ha-ha, aku djusteru ingin tjoba,"
Baca Juga: Bukit Pemakan Manusia 7
Baca Juga: Sepasang Pendekar Kembar Kho Ping Hoo