Eps 8 Iblis Sungai Telaga - Khu Lung
Baca online Iblis Sungai Telaga - Khu Lung
Cersil Iblis Sungai Telaga - Khu Lung.
Kata Kiauw In kemudian kepada Teng Hiang dan Cukat Tan.
"Aku pikir kita berdua pihak bekerja masing-masing."
Lalu tanpa membuang waktu lagi, nona Cio ajak Giok Peng berangkat.
Segala-segalanya yang terjadi itu baik perbuatan terkutuk dari Gak Hong Kun maupun jalannya pertempuran di gunung Tay Sa, Tio It Hiong tidak tahu sama sekali.
Ia turun gunung dengan melihat matahari.
Tanpa ia merasa, ia sudah meninggalkan jauh markas Losat Bun.
Ia telah melintasi beberapa puncak, jalannya berliku-liku dengan jarak berbeda kali.
Ia bukan pergi ke tempat darimana ia datang, justru sebaliknya.
Ia justru menuju ke arah gunung Cu Liang San di propinsi In lam, di sebelah baratnya propinsi itu.
Selama itu apa yang diingat It Hiong ialah pertemuan besar di gunung Tay San serta keselamatan pamannya.
Ia pun ingin meminta obat pemunah racun dari Kiu Lam It Tok, guna membersihkan racun didalam tubuhnya.
Soal lain ialah soal asmara, tentang istri dan anaknya.
Ditengah pengunungan itu, ia lebih banyak menggunakan Te Ciong Sut, ilmu ringan tubuh Tangga Mega.
Kalau tidak, entah berapa sulitnya ia mesti melakukan perjalanannya itu.
Ia lupa atau sebenarnya tak tahu arah, ia menuju seenaknya saja, sampai ia sadar itu dan menjadi terkejut karenanya.
Sekian lama itu, ia belum mendapati jalan umum.
Ia juga tak bertemu dengan siapapun di tanah pegunungan itu.
Akhirnya ia berhenti berlari-lari.
Sambil berdiri diam, ia memandang sekitarnya, matanya melihat, otaknya berfikir.
"Ah, aku telah berjalan satu hari penuh !"
Pikirnya.
Ia tetap berada di tanah pegunungan.
Hari pun sudah magrib.
Mana jalanan untuk turun gunung ?
Tapi tak dapat ia berdiam saja, terpaksa ia pergi mencari gua untuk berlindung malam itu.
Di depan ada sebuah pohon yang tengah berbuah.
Melihat buat itu, datanglah rasa laparnya.
Ia ingat sudah lewat dua minggu yang ia makan dua helai hosin ouw, baru sekarang ia ingin makan pula.
Maka ia petik buah itu dan memakannya sebagai pengganti nasi.
Sebab tak dapat ia sembarangan menghamburkan obatnya yang manjur dan banyak khasiatnya itu.
Tak tahu It Hiong buah itu buah apa namanya.
Macamnya seperti buah toh, mirip buah kiekwee atau kesemak, besarnya sebesar kepalan, kulitnya merah menggiurkan.
Diluar kulitnya yang keras, ada bulunya yang halus.
Belum pernah ia melihat buah semacam itu.
Untuk memakannya, ia harus pecahkan kulitnya yang berbatok.
Isi buah putih terang dan bentuknya bundar.
Ketika ia telah memakannya, terasa buah itu harum, lezat dan adem.
Ia makan terus sampai sepuluh biji.
Cukup sudah, lenyap lapar dan dahaganya.
Untuk bekal, ia memetik lagi.
Ia mengisikan penuh kantungnya.
Buat itu ia sampai berlompatan naik ke atas pohon.
Di saat anak muda ini mau meninggalkan pohon buah itu, tiba-tiba ada bayangan hitam dari sesosok tubuh berlompat ke depannya.
Mulanya ia mengira seekor kera, kiranya itulah seorang bocah perempuan usia lima atau enam tahun, wajahnya manis dan diatas bibir kirinya ada tai lalatnya hitam.
Dia memelihara rambut panjang, yang teriap ke punggungnya.
Sagai pakaiannya ialah semacam rok, yang dari bahu sampai ke lututnya, hingga tampak hanya sepasang lengan dan betisnya.
Kedua tangan dan kedua kakinya memakai gelang emas.
Semunculnya, bocah itu terus berdiri diam.
Matanya mengawasi pemuda itu.
Matanya itu kebiru-biruan dan sinarnya indah.
Ia mengawasi orang dari atas ke bawah dan sebaliknya.
Dengan adanya bocah itu, It Hiong menerka didekat-dekat situ tentulah ada rumah orang atau kampung pemburu.
Ia menghampiri bocah itu dua tindak dan sembari tertawa ia menyapa .
"Eh, nona kecil, apakah kau tinggal disini ?"
Nona itu tidak menjawab hanya dia menatap tajam, terus dia menanya dingin .
"Kau telah mencuri makan buah liokjiak-ko kami ! Berapa bijikah kau telah habiskan ?"
Ditegur begitu, It Hiong melengak. Belum pernah ia mencuri barang orang. Ia makan buah ini sebab mengira itulah buah hutan, tak ada yang memilikinya. Ia menjadi likat.
"Harap kau tidak salah paham, nona kecil."
Katanya kemudian.
"Aku tersesat di dalam hutan ini, aku lapar. Waktu aku melihat buah itu, aku lantas petik dan makan. Berapakah harganya buah ini? Akan aku ganti...."
Ia terus merogoh sakunya, mengeluarkan sepotong perak, terus ia menganggukan itu. Tanpa sungkan-sungkan anak itu kata tawar .
"Kau tentu menganggap buah ini tak ada pemiliknya yang menjagai, lantas kau lancang memetik dan memakannya secara mencuri, lalu setelah kau tertangkap basah, kau hendak menggantinya dengan uang ! Apakah dengan cara licin ini kau anggap dapat kau membebaskan diri dari dosamu sebagai pencuri ?"
It Hiong sabar tetapi ia tidak puas. Nona itu ngotot dan berlaku kasar. Ia melepaskan uangnya hingga jatuh ke tanah, terus ia kata kasar .
"Terserah kepada kau, kau terima uang ini atau tidak ! Aku tidak mempunyai waktu untuk bicara lamalama denganmu !"
Ia terus memutar tubuhnya buat berlalu dari rimba itu. Nona itu tertawa geli.
"Adat keras !"
Katanya.
"Sebentar kapan, tiba saatnya kau hendak meminta obat pemunahnya, baru kau lihat !"
It Hiong melongo. Ia terkejut. Mendengar kata-kata si bocah tentang obat pemunah, ia menjadi berpikir.
"Apakah buah ini buah beracun ? Bocah ini masih terlalu kecil, tak mungkin dia mendusta....."
Tanpa merasa si anak muda bergidik sendirinya.
"Nona kecil,"
Tanyanya.
"apakah gunanya buahmu ini ? Apakah beracun ?"
Nona itu bersikap jenaka, baik wajahnya maupun tangannya, yang dia bawa kemukanya, tangan kiri untuk menutupi muka, tangan kanan buat menowel pipi.
"Eh....eh..., kau masih belum mau pergi ?"
Tanyanya mengejek.
"Apakah kau tak membawa lagi adatmu ? Hm ! Mari, nonamu beritahukan padamu ! Buah yang menor itu bernama liok jiak ko ! Bukankah barusan aku telah berkatai kau ? Buah itu tidak beracun, hanya mempunyai khasiat yang luar biasa dalam hal membangunkan nafsu birahi. Setelah lewat dua jam habis orang memakannya, datanglah nafsunya itu. Walaupun kau seorang kakek kakek atau nenek nenek yang sudah loyo, tak akan kau sanggup menahan dorongan nafsumu itu ! Kecuali kau minta obat pemunahnya dari aku !"
"Liok jiak ko"
Itu berarti buah dari enam nafsu birahi.
Habis berkata begitu, si nona cilik nampak sangat puas, mata dan alisnya memain, wajahnya manis dan menggiurkan.
Mendengar keterangan itu, lega hatinya It Hiong.
Ia pikir, kalau cuma gangguan nafsu birahi, itulah mudah.
Ia kata didalam hati .
"Kalau saatnya tiba dan aku tidak dapat obatnya, cukup aku menceburkan diri ke dalam air dan berdiam di sana sampai aku kedinginan. Jadi tak usah aku minta dari anak nakal ini !"
Dengan tampang sabar tapinya anak muda kita toh kata pada nona itu .
"Nona, kalau nona berkenan akan menolongku, bagaimana andiakata kau memberikan aku obat pemunahnya ? Dapatkah ?"
Ia terus memberi hormat.
Boleh dibilang tepat selagi ia berkata itu, tiba-tiba It Hiong melihat tubuhnya si nona cilik berubah menjadi besar dan tinggi, mirip dengan seorang nona usia delapan atau sembilan belas tahun, dengan senyuman manis dia mengawasi si anak muda.
It Hiong heran hingga ia mengedip-ngedipkan matanya, lalu mengucek-uceknya.
Ia menyangka matanya kabur seketika.
Ia pula mengerahkan tenaga dalamnya untuk memperkokoh batinnya.
Ketika itu mungkin sudah jam permulaan, rembulan bersinar suaram.
Tidak salah It Hiong melihat seorang nona elok dan manis sekali yang tubuhnya langsing bukan lagi bocah kecil tadi.
Nona tiu mempunyai wajah sama seperti si bocah cuma tubuhnya menjadi tinggi dan besar.
Bahkan tai lalat hitam di ujung bibir kirinya tetap tak lenyap.
Pakaiannya juga tak berubah.
Saking heran, It Hiong mengawasi.
Bingung ia akan perubahan tubuh orang itu.
Kalau bukannya ia mungkin orang menyangka nona itu seorang siluman atau jejadian.
Karena menyangka nona bukan orang dari golongan baik-baik, diamdiam It Hiong meluruskan pikirannya dan mengerahkan ilmu Hian Bun Sian Thian Khie kang buat bersiap sedia dari segala kemungkinan.
"Nona,"
Kata ia kemudian.
"sukakah nona memberikan obat pemunah itu padaku ? Nona jawab saja dengan satu perkataan atau aku akan segera berlalu dari sini !"
Bukannya menjawab, si nona tertawa.
"Siapakah namamu ?"
Dia balik bertanya.
"Aku yang rendah Tio It Hiong muridnya Tek Cio Siangjin dari Pay In Nia !"
Sahut It Hiong terus terang.
"Dapatkah aku menanyakan nama nona ?"
"Oh ! "
Kata si nona tertahan, lalu dia merapihkan rambutnya yang panjang.
"Aku Touw Hwe Jie."
It Hiong sedikit melengak. Nama itu pernah ia dengar entah dimana. Nama itu rada aneh sebab artinya "anak aci."
Maka ia berpikir keras.
Segera ia ingat pesan ayah angkatnya In Gwa Sian.
Di propinsi In lam ada seorang wanita buruk, namanya Touw Hwe Jie, orangnya cantik tetapi centil dan kejam.
Gemar sekali mengumbar nafsu birahi gunanya selagi berplesiran dia menghisap darah orang.
Wanita itu katanya dapat lari keras seperti terbang dan kepandaian silatnya lihai.
Siapa menemui wanita itu, jangan harap dia lolos dari bahaya.
Wanita itu, saking kejamnya digelari "Kip Hiat Hong Mo"
Atau si bajingan edan, tukang menghisap darah.
Sejak tiga puluh tahun dahulu namanya wanita itu sudah terkenal dan ditakuti.
Entah kenapa dia menyembunyikan diri selama beberapa puluh tahun hingga orang melupakannya.
Selama itu maka amanlah wilayah perbatasan propinsi Ilam dan Kwieciu itu.
Siapa sangka sekarang dia muncul di depannya anak muda itu.
"Mungkin dia sudah berumur tujuh atau delapan puluh tahun."
Si anak muda berpikir pula .
"Kenapa sekarang dia menjadi seorang nona remaja ? Kenapa tadi aku melihatnya sebagai seorang bocak cilik ?"
"Nona Touw Hwe Jie."
Kemudian ia tanya saking herannya itu.
"nona bukankah gelaran nona ialah Kip Hiat Hong Mo ?"
Pertanyaan itu membuat si nona melengak.
"Kenapa kau ketahui gelaranku itu ?"
Dia balik bertanya. It Hiong tertawa.
"Pernah aku yang rendah mendengar orang menyebut-nyebut tentang Kip Hiat Hong Mo Touw Hwe Jie."
Sahutnya.
"Katanya dialah seorang tua usia tujuh atau delapan puluh tahun ! Kenapa nona sebaliknya begini muda ? Bukankah apa yang aku dengar itu bertentangan dengan kenyataan ? Karena itu, aku lancang menanya...."
Wanita itu tertawa nyaring. Rupanya dia gembira sekali mendengar pertanyaan itu.
"Kalian dapat dibilang sebagai orang yang kurang penglihatan tetapi banyak rasa herannya !"
Kata dia. It Hiong melengak. Ia memikir. Lekas juga ia berkata pula.
"Jika nona bukannya mengerti ilmu membuat diri menjadi muda, kaulah seorang yang telah memalsukan namanya Cianpwe Toaw Hwe Jie itu !"
Sekarang si wanita menunjukan tampang tidak puas. Tetapi dia masih dapat tertawa, kata dia.
"Kau boleh bilang sesukamu hal itu, tidak ada halangannya denganku !"
It Hiong menganggap si nona luar biasa.
Ia lantas memikir, buat apa ia usil orang.
Touw Hwe Jie atau bukan, yang terang dia tentulah wanita cantik dan cabul, jadi perlulah lekas-lekas ia meninggalkannya.
"Ah, hari sudah tak siang lagi, aku yang rendah hendak memohon diri !"
Katanya.
"Ya, sudah lewat jam dua."
Kata wanita itu, suaranya tenang sekali.
"Racun dari buah yang kau makan itu, sebentar jam tiga akan bekerja. Dari itu kau masih dapat jalan jauh juga...."
Tak puas It Hiong mendengar lagu suaranya orang itu.
"Nona membekal obat pemunah, tetapi nona tak sudi memberikan itu padaku, dan apa yang bisa aku bilang ?"
Katanya mendongkol.
"Aku mempunyai jalan buat menyelamatkan diriku."
Begitu ia berkata, begitu si anak muda bertindak pergi. Nona itu berjalan mengikuti, sembari jalan ia berkata berduka .
"Kau bertabiat tak sabaran, kau tidak mengerti maksud orang. Nonamu memang ada membekal obat itu, walaupun demikian hendak aku menanti dahulu sampai racun sudah bekerja, baru aku akan memberikan obat padamu!"
It Hiong berjalan, tanpa menoleh.
Biasanya, telinganya tak dapat diakali.
Kali ini lain, orang mengikuti tanpa suara tindakan kaki.
Itulah hebat, ia mendengar suara orang tetapi tidak suara tindakan kakinya.
Dalam herannya, ia toh menjawab.
"Aku tak membutuhkan obatmu."
Katanya.
"Mau apa kau mengikuti aku ?"
Nona itu terdengar tertawa.
"Aku ingin melihat caranya kau membebaskan dirimu dari racun buah itu !"
Kata dia.
"Andiakata kau gagal, kau membutuhkan obatku atau tidak ?"
"Tidak !"
Sahut It Hiong, singkat dan kaku. Atas itu terdengar suara jumawa si nona .
"Kau tak membutuhkan ? Kau bakal kalap dan berputar ! Kau nanti mati melingkar ! Coba kau pikirkan, bagaimana sengsaranya akan terbinasa dengan siksaan hebat semacam itu ?"
Belum sempat menjawab atau berpikir, It Hiong sudah mulai merasakan dadanya sesak dan darahnya mulai berjalan cepat, hawa nafsunya terus mendesak dan pikirannya bekerja tidak karuan, menyusul mana matanya seperti melihat sesuatu yang berkhayal.
Ia terkejut.
Tahulah ia yang buah liok jiak ko telah mulai bekerja.
Lekas-lekas ia mengatur pernafasannya hendak ia menggunakan Hian Bun Sian Thian Khie kang yang barusan ia tak siap siagakan lagi karena selalu melayani orang bicara.
Tapi ia kalah cepat.
Racunnya buah bekerja terlebih cepat daripada pikirannya itu.
Ia merasai dua jalan darahnya, jim dan tok, tak wajar lagi.
Maka tak berjalanlah ilmunya itu.
Sebaliknya ia merasakan yang nafsu birahinya telah muncul.
Aneh racun itu.
Kalau racun lain yang bahayanya dapat ditolak Hian bun Sian Thian Khie kang, kali ini pengerahan tenaga dalam itu bahkan mempercepat bekerjanya racun liok jiak ko.
Mukanya It Hiong lantas menjadi merah, seluruh tubuhnya serasa panas.
Ia mencoba mengekang nafsunya itu.
Masih ada satu jalan darahnya, dim-keng yang masih terlindung berkat khasiatnya darah belut emas hingga pikirannya tak segera menjadi kacau hingga ia ingat dirinya.
Tanpa memilih jalan lagi, ia lari sekeras-kerasnya.
Ia beniat mencari telaga atau rawa, dimana ia bisa menceburkan diri untuk berendam guna mendinginkan tubuhnya itu.
Aneh Tou Hwe Jie.
Dia dapat mengintil terus selama mana dia berkata-kata sambil tertawa-tawa guna menggoda si anak muda.
Lama-lama It Hiong menjadi habis sabar.
Kata-kata orang membuatnya sebal.
Selekasnya ia menahan larinya dan memutar tubuh sambil menyerang dengan satu jurus dari Heng Liong Hok Houw Ciang.
Hebat nona itu.
Dia terserang secara mendadak tapi ilmu ringan tubuhnya sangat mahir.
Dia tidak menangkis, hanya mendadak ia menjatuhkan diri setelah mana barulah dia mencelat bangun untuk menyiapkan diri.
It Hiong tidak menyerang pula.
Ia hanya lari lagi sampai ia mendengar mendebarnya suara air tumpah yang terbawa angin, maka kesanalah ia menuju dengan mempercepat langkahnya.
Ia menikung di sebuah tempat sesudah itu ia lantas melihat curuk itu, yang airnya putih bagaikan perak karena sinar suaram dari si putri malam.
Airpun bermuncratan seperti turunnya hujan.
It Hiong lari ke kaki gunung, ke dinding di mana air tumpah itu turun menjadi satu hingga merupakan sebuah kolam, airnya jernih dan terang, seumpama kaca.
Tidak bersangsi sejenak juga, ia terjun kedalam kolam itu !
Kiranya kolam dangkal, cuma tiga atau empat kaki dalamnya.
Pula airnya bukan air dingin hanya air hangat.
Maka itu ia merendam di dalam air itu.
It Hiong merasai tubuhnya hangat bahkan lama-lama panas.
Maka juga nafsunya bukan berkurang tetapi justru bertambah !
"Celaka !"
Pikirnya.
Segera It Hiong lompat ke tepian ke darat.
Untung baginya otaknya tetap sadar.
Ia lantas duduk diatas sebuah batu besar untuk memejamkan matanya, guna memperkokoh hatinya.
Ia ingin mengusir racun dengan jalan bersemadhi.
Sementara itu si nona terus mengikuti.
Dia tidak berbuat apa-apa, hanya menempati diri di sisi si anak muda.
Ia mulai memperdengar-kan suara nyanyiannya.
Suara itu merdu dan sedap memasuki telinga.
It Hiong tetap bertahan tetapi belum lama ia membuka matanya maka tampaklah di depannya beberapa orang yang ia kenal baik.
Kiauw In, Giok Peng dan Tan Hong, juga Teng Hiang dan Siauw Wan Goat.
Lebih lanjut ia pun mendapatkan beberapa nona yang ia pernah lihat.
Hanya sekarang ini, semua nona-nona itu justru lagi memperlihatkan gaya centil dan ceriwis, semuanya genit-genit !
Masih It Hiong ingat akan dirinya.
Hampir ia menjadi putus asa.
Ia mengangkat tangannya dan pakai itu menepuk kepalanya, ia ingin supaya dengan begitu ia mendapat hati, agar ia sadar seluruhnya.
Berbuat begitu ia berbangkit untuk berdiri.
Sekarang si anak muda membuka matanya.
Ia melihat Touw Hwe Jie berdiri di depannya terpisah cuma tiga kaki.
Nona itu tengah menari-nari dan menyanyi-nyanyi, suaranya tetap merdu sangat menggiurkan hati, sedangkan tari-tarian, gerak geriknya sangat menggiurkan......
Di dalam keadaan tersiksa batin itu, It Hiong berkata perlahan sekali .
"Aku tak berdaya melenyapkan racunnya liok jiak ko. Maukah nona memberikan aku obat pemunahnya ? Pertolongan nona ini akan aku ukir dalam hati sanubariku."
Mendengar demikian dengan lantas si nona menghentikan nyanyian dan tarinya. Ia menghampiri sampai dekat pemuda itu. Ia tertawa.
"Jadi tak berhasil sudah daya upayamu guna membebaskan diri dari racun buah nafsu itu ?"
Katanya.
"Obat itu berada ditubuhku. Nah, kau ambillah sendiri !"
Dengan matanya yang jeli, Touw Hwe Jie menatap mukanya si anak muda.
Pada wajahnya tampak jelas kegenitannya.
It Hiong merasakan darahnya panas, nafsunya bergejolak.
Ia pun mengawasi si nona cantik yang keelokannya sangat menggiurkan hati.
Tanpa merasa, ia mendekati si nona, untuk merangkulnya.
"Nona..... nona.... mana obatmu ?"
Tanyanya. Dalam hal obat pemunah, ingatannya kuat sekali.
"Dimanakah kau taruhnya ?"
Nona itu tertawa perlahan.
"Pengaruhnya buah itu adalah membantu mendorong nafsu birahi laki-laki"
Kata ia.
"Itulah dorongan untuk orang dapat berplesiran dengan kepuasan. Obat pemunahnya ? Itulah tubuh wanita ! Masihkan kau belum mengerti ? Oh, kakak tolol !"
Kata-kata itu diantar dengan satu ciuman hangat.
It Hiong kaget sekali, ia tahu artinya kata-kata orang itu.
Sendirinya dia lantas mengeluarkan keringat dingin.
Kagetnya itu hatinya terbuka hingga ia lantas berpikir.
"Aku Tio It Hiong. Akulah laki-laki sejati. Mana dapat aku main gila dengan wanita ini ? Hilang jiwa tak berarti bagiku, tetapi kalau aku merusak nama guruku, itulah hebat ! Biarlah aku menguatkan hatiku ! Tak dapat aku mengiringi kehendaknya wanita ini !"
Dengan cepat It Hiong melepaskan rangkulannya dan mundur setindak.
Touw Hwe Jie maju satu tindak.
Tak ingin ia melepaskan ikan yang sudah terkena pancingnya.
Ia maju sambil menggertak gigi, ia menyenderkan tubuhnya di dadanya si anak muda dan meletakkan kepalanya di bahu orang.
Kata ia dengan perlahan.
"Aku tak menyayangi tubuhku yang putih bersih, suka aku menyerahkannya padamu. Dengan begitu juga aku jadi membantu kau dari pengaruhnya buah keplesiran itu ! Itu kau tahu aku sangat mencintaimu ! Kenapa kau masih tidak mengerti adikmu ini ?"
Berkata begitu si cantik mengelus-elus pipinya si anak muda. Ia berkata dulu merdu.
"orang tolol, apakah kau masih belum mengerti kebaikan hati orang ?"
Berdekatan dengan si cantik It Hiong mencium bau yang harum menyerang hati, tanpa merasa, terbangun pula nafsunya, ia memegangi bahu orang.
"Kau baik sekali, adik, aku mengerti."
Katanya.
"Tetapi kitalah sama-sama orang yang terhormat, tak dapat kita melakukan sesuatu yang menyaitui adat istiadat. Bagaimana kalau perbuatan kita ini tersiar di muka umum ? Nona, apakah tak ada lain jalan untuk membebaskan aku dari racun buah liok jiak ko itu ?"
"Hmm"
Touw Hwe Jie memperdengarkan suaranya, sambil dia menggigit bibirnya.
"Tak kusangka kau seorang Kang Ouw tetapi lagumu mirip seorang guru sekolah ! Kami wanita begini polos tetapi kau pula kau memikir terlalu jauh ! Sungguh lucu !"
It Hiong tidak melayani bicara, ia hanya memejamkan matanya, sedangkan hatinya bekerja keras tetapi sia-sia belaka ia hendak menenangkan diri itu.
Pikirannya justeru menjadi kacau dan di depan matanya kembali berbayang tingkah polah genit dan ceriwis dari beberapa nona-nona serta pria.
Masih ia sadar, maka sebisa-bisa ia mencoba melawan gangguan itu.
Pengaruhnya liok jiak ko bekerja terus dan tiba pada puncaknya, disaat mana terdengar tawa merdu dari Touw Hwe Jie.
"Kenapa kau tertawa, nona ?"
Tanya It Hiong yang pikirannya mulai kacau.
"Apa yang menyebabkan kau begini gembira ?"
Si nona berhenti tertawa tetapi sebagai gantinya ia menatap orang.
"Aku tertawa bukan disebabkan aku sangat gembira."
Katanya.
"Aku tertawa sebab lagakmu mirip pelajar tolol. Bukankah peribahasa berkatai bahwa bunga mekar harus dipetik dan jangan menanti sampai rontok hingga tangkainya menjadi sundal ? Bukankah sedetik berarti seribu tail perak dan ketika yang baik sukar ditemukan ? Kau begini, bukankah itulah menandakan ketololanmu !"
Dan si nona tertawa pula. Dalam kacaunya pikirannya, senang It Hiong mendengar suara orang yang merdu meresap itu.
"Adik yang baik, kau harus mencari sebuah tempat dimana kau dapat menolong aku menyingkirkan pengaruh buah liok jiak ko itu....."
Katanya perlahan ditelinga orang. Touw Hwe Jie melirik, terus ia memandang ke depannya dimana ada dinding puncak.
"Kita pergi kesana."
Katanya.
"Di sana ada gua batu...."
It Hiong mengangguk, jantungnya memukul.
Touw Hwe Jie mencekal tangan orang, lalu sambil berendeng mereka menuju ke dinding puncak itu.
Sudah mendekati jam empat, selagi rembulan guram, muda mudi itu merasai siuran angin gunung.
Suasana pun sunyi.
Tiba-tiba terdengar suaranya seekor burung jenjang, yang memecahkan kesunyian.
Suara burung itu agaknya sedih.
Tubuhnya It Hiong menggigil, ia bergelendot pada tubuhnya si nona, yang terus memegang dan memayangnya.
Touw Hwe Jie mengeluarkan liur.
Ia bagaikan harimau yang menghadapi anak kambing.
Pikirannya terbuka.
Ketika itu tubuh mereka nempel rapat satu pada lain.
Tiba-tiba ia merasa sesuatu yang keras di pinggangnya si anak muda.
"Apa isinya kantung ini ?"
Tanya si nona heran.
Ditanya begitu It Hiong terperanjat.
Ia ingat kantungnya itu terisi buah liok jiak ko bekalannya !
Ia menjadi mendongkol.
Tanpa ragu pula, ia tuang semua buah itu !
Hal itu membuat kemendongkolannya berkurang.
Sementara itu sang waktu tetap berjalan terus.
Selama itu, dengan sendirinya, It Hiong sudah menderita cukup lama.
Dengan lewatnya sang waktu berkurang juga pengaruh kekuatannya racun liok jiak ko.
Perlahan dengan perlahan, berkurang pula desakan nafsu biarahinya, dengan berkurangnya desakan tiu, jantungnya tak lagi memukul keras seperti tadi.
Itu pula berarti ketenangan.
Dengan berdiam anak muda kita itu menjadi terbuka pikirannya.
Ia menjadi sadar.
Biasanya seorang pria tak dapat mempertahankan diri dari godaan semacam itu sekalipun ia cuma makan sebiji buah.
Dengan It Hiong keadaan lain, ia kuat batin dan lahir sebab ia mempunyai banyak keuntungan.
Pertama-tama latihannya telah sempurna, dapat ia memusatkan pikirannya.
Asal ia dapat mengatur pernafasannya dan bersemadhi, ia cepat memperoleh ketenangan hatinya.
Disebelah itu, ia dibantu khasiatnya darah belut serta hosin ouw dan paling belakang latihan ilmu pedang Gie Kiam Sut.
Selekasnya ia sadar, It Hiong ingat obat Kay Tok Tan Yoh, hadiah pendeta tua dari kuil Bie Lek Sie.
Tidak ayal lagi, ia mengeluarkan peles obatnya itu, untuk mengambil beberapa butir isinya, terus ia masuki kedalam mulutnya dan menelannya.
Habis makan obat itu, pelesnya disimpan pula.
Touw Hwe Jie melihat orang makan obat, cuma ia tidak tahu obat itu obat apa, ia menatap si anak muda dan berkata sambil tertawa manis.
"Kakak yang baik, mari aku beritahu kau ! Racunnya buah liok jiak kok cuma dapat dilenyapkan oleh tubuh wanita, obat lainnya juga tak akan menolongnya ! Maka itu sia-sia saja kau makan obatmu !"
Ketika itu mereka sudah berjalan sampai di dinding gunung.
"Lihat gua itu"
Berkata Touw Hwe Jie sambil tertawa seraya tangannya menunjuk.
"Bukankah itu sebuah gua yang indah ? Kakak, mari kita memasukinya !"
Dan ia mencekal erat-erat tangan si pemuda buat diajak berjalan memasuki gua itu.
Mereka tetap berjalan berendeng.
It Hiong mengikuti.
Ia membutuhkan waktu supaya obatnya keburu larut di dalam perutnya.
Agar obat itu dapat mengusir racun .
Tiba di dalam gua, si nona sudah lantas menyalakan lilin yang berada di atas meja.
Hingga It Hiong bisa melihat tegas keadaan dalam gua itu, yang luas kira empat tombak persegi.
Ada meja dan kursinya yang semua terbuat dari batu.
Pembaringan terbuat dari batu juga, hanya pembaringan itu berkelambu.
Kasurnya tertutup seperti sulam, demikian juga bantal dan kepalanya.
Semuanya indah.
Semua perlengkapan lainnya seperti perlengkapan kamarnya seorang hartawan.
Yang lebih menarik hati, pembaringan itu menyiarkan bau harum.
Teranglah semua itu disediakan Touw Hwe Jie untuk setiap waktu ia bersenang-senang dengan pria yang bakal menjadi korbannya.
Touw Hwe Jie heran waktu ia mengawasi It Hiong.
Anak muda ini berdiam saja mengawasi seluruh kamar, dia tak "kalap"
Seperti pria yang, sudah yang lantas membawanya ke pembaringan.
Ia memegang tangan orang, untuk ditarik, diajak duduk diatas pembaringan.
It Hiong sementara itu merasai panas tubuhnya sudah berkurang banyak dan darahnya tak bergolak seperti taditadinya.
yang paling menyenangkannya ialah ia merasa otaknya jauh terlebih tenang.
Maka itu selagi berpikir hendak ia mendapati bukti wanita ini benar Touw Hwe Jie atau bukan, ia membiarkan ia diajak duduk diatas pembaringan.
Justru dengan begitu ia menjadi memperoleh kesempatan untuk diam-diam mempersiapkan tenaga Hian Bun Sian Khie kang.
Si cantik itu mencium pipi si anak muda terus ia turun dari pembaringannya, akan membuka bajunya hingga dilain saat ia telah menjadi separuh telanjang hingga tampak kulitnya yang putih dan halus.
Tubuhnya itupun menyiarkan bau harum.
It Hiong duduk tetap, waktu ia melihat tubuh si nona hatinya goncang.
Masih ada sisanya racun.
Tak mau ia memejamkan mata supaya orang tidak mencurigainya.
Touw Hwe Jie naik pula ke pembaringan, akan duduk di sisi si pemuda.
"Eh,"
Tegurnya tertawa.
"aku telah siap memberikan obat pemunah racun padamu kenapa kau tidak mau lekas memakainya ?"
It Hiong menguasai dirinya menahan gejolak jantungnya yang memukul keras. Lekas-lekas ia mengeluarkan obatnya buat menelan pula beberapa butir. Kali ini si nona dapat melihat peles obat orang.
"Oh !"
Serunya.
"Kiranya kau makan obatnya si kepala gundul dari Bie Lek Sie !"
Ia lantas menyambar peles orang sembari ia kata .
"Mari sini aku lihat !"
It Hiong menolak tangan orang dengan begitu ia membentur tangan si nona.
Ia merasai sebuah tangan yang halus dan lunak, ia merasakan sesuatu yang membuat hatinya goncang pula.
Tapi ia sudah sadar.
Mendadak ia berbangkit akan turun dari pembaringan itu.
Dengan cepat luar biasa, ia menelan tiga butir obatnya.
"Lekas bilang !"
Akhirnya ia menegur.
"kau pernah apa dengan Kip Hiat Hong Mo ?"
Nona itu menoleh dan mengangkat kepala, dia tertawa manis.
"Bukankah telah aku bilang tadi."
Katanya.
"Akulah Touw Hwe Jie. Apa yang kau buat kuatir ?"
It Hiong terus melayani bicara. Ia mau menang waktu supaya obatnya selesai bekerja agar sisa racun terusir semuanya.
"Bukankah Locianpwe Touw Hwe Jie sudah berusia delapan puluh tahun lebih ?"
Katanya.
"Kau sendiri nona, kau begini muda ! Sebelum aku kenal atau mengetahui kau dengan baik, tak berani aku bergaul erat-erat denganmu....."
Nona itu melengak sejenak, terus ia tertawa pula.
"Jodoh kita jodoh selewat jalan"
Katanya.
"Kita bukannya suami istri. Lelaki siapakah yang tak menghendaki kesenangan semacam ini ! Tapi kau, dari siapakah kau mendapat pula ajaran tolol ini ? Heran, kuCing tidak sudi makan ikan......"
Tiba-tiba si nona menarik ujung bajunya si pemuda, matanya menatap.
"Mari kakak."
Katanya merdu.
"Mari, sungguh aku tak tahan...."
It Hiong melepaskan tangan bajunya itu, ia mundur.
"Seorang nona berbuat seperti kau ini, apakah kau tak malu ?"
Tanyanya. Nona itu maju satu tindak ia menekan dahi orang.
"Ah, kau pria tak mempunyai jantung !"
Katanya sengit.
"Kau menyia-nyiakan kebaikanku !"
It Hiong menatap tajam.
Disaat ini ia merasa sehat benarbenar.
Maka ia percaya tubuhnya sudah bersih dari sisa racun liok jiak ko.
Sekarang berubahlah pandangan matanya.
Tak lagi rasa tergiurnya walapun ia melihat terang tubuh yang jangkung putih.
Ia merasa jemu akan kelakuan centil itu.
Maka sekarang ia tak memperdulikan lagi nona itu Touw Hwe Jie yang tulen atau yang palsu.
Kata ia keras .
"Karena nona tidak mau memberitahukan tentang dirimu yang sebenarnya, maafkan aku. Aku mohon diri !"
Terus anak muda ini lompat turun dari pembaringan untuk bertindak keluar gua dengan langkah lebar.
Touw Hwe Jiterperanjat.
Inilah ia tidak sangka.
Dengan begini ia insyaf yang It Hiong bukan kebanyakan pria korbannya.
Maka sia-sialah ihtiarnya sebegitu jauh akan merobohkan hati orang.
Karena pemuda ini mau pergi meninggalkannya, tiba-tiba hatinya menjadi panas.
"Aku mesti binasakan dia...."
Pikirnya.
Lekas-lekas ia mengenakan pula bajunya sedangkan dari bawah kasur ia menjumput sepotong sesuatu yang hijau, ia lantas libat pada pinggangnya, kemudian dengan tersipu-sipu ia lari keluar guna menyusul si anak muda.
Masih ada cahaya sisa rembulan.
Kecuali suara angin tanah pegunungan itu sunyi sekali.
Di sebelah depan terlihat tubuh It Hiong bagaikan bayangan yang lagi bergerak cepat.
Si nona tidak mengejar, hanya dia lari ke lain arah.
It Hiong sudah menyingkir kira tiga puluh tombak lebih dari gua, baru ia menoleh.
Ia tidak melihat Touw Hwe Jie mengejarnya.
"Sunguh berbahaya....."
Katanya di dalam hati.
Sendirinya ia menggigil kalau ia ingat detik-detik berbahaya tadi.
Ia berdiam sebentar guna menenangi diri, setelah itu ia berjalan dengan perlahan memutari kaki gunung.
Selekasnya ia muncul dari sebuah tikungan, kira-kira tiga tombak di depannya, ia melihat sebuah batu besar diatas mana seorang tampak sedang duduk bersila.
Ia menunda langkahnya, untuk terus mundur satu tindak.
Ia lalu mengawasi sangat tajamnya sambil hatinya bekerja.
"Jangan-jangan aku bertemu pula dengan wanita siluman itu."
Orang di depan itu memang seorang wanita, kundianya melingkar tinggi bagaikan naga, pipinya montok, mukanya bundar seperti bulan purnama dan sepasang alisnya lentik.
Dia tengah duduk berdiam, matanya dipejamkan.
Tubuhnya tertutup oleh sabuk hijau.
Kedua lengannya yang putih tampak tegas.
Menurut dandanan dialah seorang nona remaja akan tetapi dilihat dari seumumnya, dialah seorang nyonya muda.
"Ah, masa bodoh dia siapa...."
Pikir si anak muda yang mau terus melewatinya dengan cepat. Tak ada perlunya buat ia mencari tahu atau menegurnya.
"Berhenti !"
Mendadak wanita itu berseru cepat selagi si anak muda lewat di sisinya.
It Hiong mengangkat kepala.
Untuk kagetnya, ia tidak melihat wanita yang baru saja bercokol di atas batu.
Selagi ia keheran-heranan dari sebelah depannya ia mendengar suara wanita keras sebagai berikut .
"Eh, bocah, apakah kau memikir meninggalkan Cang Lo Ciang dengan nyawamu masih berada ? Coba kau tanya dirimu, berapa tingginya ilmu kepandaianmu."
It Hiong menoleh.
Ia melihat seorang wanita lain.
Wanita ini cantik dan tampangnya gesit dan sinar matanya menunjuki bahwa dia berkepadiaan silat tinggi.
Maka tak mau ia berlaku sembarangan, ia lantas memberi hormat dan bertanya sabar.
"Cianpwe memegatku ada pengajaran apakah dari cianpwe untukku yang muda ?"
Wanita itu tertawa.
"Melihat dari wajahmu, suatu wajah, bukan sembarang wajah, maka aku memberi ampun pada jiwamu !"
Berkata dia.
"Mari kau turut aku supaya kita bisa sama-sama menikmati kesenangan istimewa ! Kau setuju bukan ?"
Hatinya It Hiong tercekat. Lantas timbul rasa tak puasnya. Kembali ia menemui wanita muka tebal. Walaupun demikian ia menekan hawa amarahnya.
"Sebenarnya, kau siapakah cianpwe ?"
Tanyanya sabar. Wanita itu menjawab cepat, suaranya tawar.
"Siapa lancang lewat di Ceng Lo Ciang ini, masih dia tak ketahui namanya Touw Hwe Jie ?"
It Hiong heran, kembali Touw Hwe Jie.
"Bukankah Touw Hwe Jie ialah si nona yang mengganggunya satu malam suntuk ? Kenapa nyonya ini menyebut dirinya Touw Hwe Jie juga ? Habis ada berapa orangkah Touw Hwe Jie ?"
"Cianpwe, tolong cianpwe beritahukan gelaran cianpwe ?"
Tanyanya.
"Kip Hiat Hong Mo !"
Sahut wanita itu singkat. It Hiong heran bukan main.
"Ini pula satu Kip Hiat Hong Mo !"
Katanya, seorang diri mengulangi nama orang. Wanita itu turun dari atas batu, untuk menghampiri, untuk secara tiba-tiba menyambar tangan orang.
"Mari turut aku !"
Katanya.
It Hiong terkejut sebab ia lantas merasai tangannya kesemutan, tetapi ia tidak takut.
Ia hanya mengagumi kehebatan nyonya itu.
Segera ia bertahan dengan sebuah tipu dari ilmu silat pedang Gie Kiam Sut.
Ia mengawasi wanita itu dengan alisnya terbangun.
"Cianpwe !"
Tegurnya.
"Secara diam-diam cianpwe menangkap tanganku. Apakah perbuatan itu tidak menurunkan derajatmu ?"
Wanita itu heran.
Ia melihat si anak muda tidak kaget atau meringis kesakitan sedangkan ia tahu cekalannya itu hebat sekali.
Setelah melengak sejenak, ia menambah tenaganya, terus ia menyambar tangan orang sambil ia berkata .
"Robohlah kau !"
Tubuhnya It Hiong terpelanting tetapi ia tidak roboh seperti kehendaknya si nyonya, sebaliknya dengan mengimbangi diri, tangan kirinya mencekal itu sekalian dikebaskan sembari mulutnya pun menyerukan .
"Robohlah kau !"
Bukan main kagetnya si nyonya.
Bukannya si anak mudah yang roboh, adalah dia sendiri yang kena tertarik, banyak syukur, dia pun lihai, selekasnya tangan si anak muda terlepaskan dia dapat bertahan, dia cuma terhuyung dua tindak.
Dia lantas berdiri tegak terus ia memandang sinar matanya yang bengis suatu tanda dia sangat mendongkol.
Tanpa mengucap sepatah kata dia meloloskan sabuknya yang berwarna hijau mengkilat.
Kiranya itulah seekor ular hijau, panjang tiga kaki.
Bagaikan kilat, dia meluncurkan ular itu ke mukanya si anak muda sambil dia berseru .
"Bocah, kau tidak minum arak pemberian selamat, kau justru mau menengak arak dendaan, maka kau rasailah makhlukku ini !"
It Hiong melihat senjata lawan itu ialah seekor ular hidup.
Ia kuatir kalau ular itu beracun, tak mau ia menyentuh dengan tangannya, dengan berkelit sambil menjejak tanah, ia lompat tiga tindak ke samping.
Hebat ular itu !
Setelah gagal dengan serangannya yang pertama itu, tubuhnya terus bergerak menggeliat ke samping, untuk menyambar pula, sambil menyemburkan racunnya, untuk memagut si anak muda !
Menampak orang bertindak keterlaluan, hatinya si anak muda menjadi panas.
Ia meraba gagang pedangnya untuk "Sret !"
Menghunus senjatanya yang tajam luar biasa itu untuk menyambut dengan satu tebasan !
Maka terdengarlah satu suara putusnya semacam benda, terus tubuhnya ular itu terkutungkan dan ujungnya jatuh ke tanah !
Nampaknya si wanita terkejut, tetapi dia tabah dan cepat.
Cepat luar biasa, potongan tubuh ular yang jatuh itu dia pungut dan tempelkan potongan yang ada di tangannya, terus ia pakai pula untuk mengulangi serangannya.
Anehnya ular itu dapat bergerak-gerak seperti masih hdiup !
"Cianpwe"
Tegur It Hiong.
"kita tidak kenal satu pada lain. Kita juga tidak bermusuh, kenapa cianpwe berlaku begini keterlaluan padaku ?"
Wanita itu tidak menjawab.
Dia menggerakkan tubuhnya hingga terdengar pinggangnya bersuara, terus tangan kanannya dilancarkan.
Aneh tangan itu, yang tampak berubah lebih besar dari tadinya, terus meluncur dengan lima buah jerijinya menjambak, nampaknya lima menjambak, nampaknya kelima jari tangan itu mirip cagak cagak besi.
It Hiong terperanjat saking heran.
Wanita itu bagaikan bajingan jadi-jadian.
Ia lantas putar pedangnya, untuk membabat ke belakang, sambil berbuat begitu, tubuhnya turut berputar juga.
Itulah suatu gerakan dari jurus silat Gie Kiam Sut, maka dengan bergeraknya itu, tubuhnya terus melesat ke depannya dimana terdapat sebuah jurang !
Selama itu, sang matahari sudah muncul tanpa terasa.
Itulah sebab sang waktu telah berlalu secara diam-diam.
Karena itu dari tepian, tampak bagian bawahnya jurang.
Di bawah itu ada sebuah jalanan yang berliku-liku berputar.
Maka ingatlah It Hiong akan kata-kata si wanita tadi.
Tempat itu disebutnya Ceng Lo Ciang dan "cenglo"
Artinya keong.
Jalanan dibawah itu berputar seperti macamnya sang keong, seperti jalanan kucar.
Kalau ia ambil jalan itu, mungkin ia akan kembali kepada si wanita.
Maka ia lantas mengambil jalan lalu.
Dengan satu gerakan pesat, tubuhnya mencelat tinggi tiga tombak, meluncur ke lain arah, hingga ia berada di bawahnya lainnya dinding puncak.
Itulah lompatan Gie Kiam Sut.
Di bawah dinding puncak itu terdapat sebuah kali kecil yang airnya mengalir deras hingga terdengar suara berkericiknya yang berisik, alirannya berliku-liku dan airnya jernih sekali hingga tampak dasarnya.
It Hiong menghampiri kali kecil itu, untuk meraup airnya untuk diminum hingga beberapa kali.
Air adem sekali, meminum itu rasanya sangat nyaman hingga pikirannya terbuka.
"Jalanan disini sukar"
Pikir It Hiong kemudian.
"Baiklah aku turun ke air dan mengikuti alirannya, mungkin aku akan menemukan jalan keluar...."
Pikiran itu diwujudkan.
Anak muda kita turun ke air dan berjalan mengikuti alirannya.
Ia jalan berliku-liku.
Ia merasa jalannya makin lama makin rendah.
Selang sekian lama, ia tiba dimulutnya sebuah lembah dimana terdapat banyak batu karang dan pepohonan.
Dari lembah itu tampak beberapa puncak.
Air kali itu tumplak pada sebuah gua.
Dengan begitu aliran itu buntu.
It Hiong berdiri diam, otaknya bekerja, telinganya mendengari suaranya air.
Untuk jalan di air itu, tak mungkin lagi.
Tengah ia berdiam, tiba-tiba ia mendengar suara orang sebentar terdengar sebentar tidak.
Sebab itulah suara yang terbawa sang angin dan angin bersiur terputus-putus.
Mendengar suara orang, It Hiong menjadi bersemangat.
Ia mendapat harapan walaupun ia belum tahu orang itu jahat atau orang itu baik......
Tanpa berpikir lagi, segera ia bertindak menuju ke arah darimana suara datang.
Jalanan tidak ada tetapi itu bukanlah soal.
Di tanah pegunungan itu memangnya tidak ada jalanan manusia.
Selagi menghampiri itu, kadang-kadang It Hiong mendapat dengar suara.
Ia menerka orang berbicara sendiri atau dua orang berbicara saling sahut sembari mereka bersantap.
Ia berjalan terus hingga selanjutnya ia mendengar pula suara orang itu.
Tak mudah akan melihat lantas orangnya, orang mungkin teraling batu karang yang besar.
"Paha kambing itu gemuk dan empuk."
Terdengar satu suara.
"dan ayam panggang itu gurih sekali. Mari minum, mari minum !"
It Hiong heran, tak dapat ia mencari orang itu, suaranya terdengar terang, orangnya tak segera tampak.
Ia mesti berputaran mencarinya.
Kadang-kadang suara terdengarnya disebelah belakang.
Di situ terdapat banyak batu karang, hingga tempat itu seumpama hutan batu.....
"Aneh !"
Pikirannya.
Hampir ia menggempur sebuah batu besar yang menghadang di depannya saking penasaran.
Ia membatalkan niat menyerang itu karena ia mendapat pikiran hancuran batu bisa mencelakai orang, baik orang itu orang lihai atau orang biasa saja.
"Ah, kenapa kau tolol begini ?"
Akhir-akhirnya ia memaki dirinya sendiri.
Segera juga anak muda itu menjejak tanah untuk berlompat mengapung diri naik ke atas sebuah batu karang yang tinggi, hingga dari atas batu itu ia bisa memandang ke sekelilingnya.
"Ah !"
Serunya pula, kali ini dengan napas lega.
Sekarang ia bisa melihat orang yang suaranya ia dengar sekian lama itu.
Di bawah batu besar itu terlihat sebuah tempat sepuluh tombak luasnya, tanahnya rendah.
Di sekitarnya orang itu terdapat banyak batu karang yang kecilan.
Dia tengah duduk seorang diri.
Dialah tua yang berdandan sebagai seorang rahib To Kauw Agama Lo Cu, rambutnya terkundiakan dan tubuhnya tertutup jubah.
Dia telah berusia lanjut.
Dia duduk diatas sebuah batu hijau, menghadapi setumpukuan "Cio lo"
Besar dan kecil.
Tangan kiri dia itu memegang sepasang sumpit yang belang bentong dan tangan kanannya menjumput Ciolo, untuk dimakan tak hentinya.
Saban-saban dia bicara seorang diri, bicaranya mirip dua orang bicara satu dengan lain.
"Heran..."
Pikir si anak muda. Ia melihat orang makan Ciolo "telur batu"
Dengan lahap sekali.
Bagaimana Ciolo dapat dijadikan barang makanan dan dia memakannya begini lahap ?
Kalau dia bukannya seorang bajingan, pasti dialah seorang pandai luar biasa yang sedang hidup menyendiri.
Biar bagaimana, dia mestinya seorang ahli silat.
Tengah dia keheranan itu, It Hiong melihat si orang tua mengangkat cawannya.
Dia tidak mengangkat juga kepalanya, untuk berdongak mengawasi kepadanya tetapi dia toh berkata nyaring.
"Eh, laote. Kau begini berjodoh, marilah turun kemari ! Maukah kau minum bersama-sama aku ?"
It Hiong heran bukan kepalang.
Ia pun dipanggil "lao te", adik yang tua.
Akan tetapi ia tertarik hati dan ia pun tidak takut.
Tanpa ragu pula, ia lompat turun akan menghampiri orang tua itu, untuk berdiri sejarak tiga kaki terpisahnya.
Ia lantas mengangkat kedua tangannya untuk memberi hormat sambil berkata .
"Maaf, totiang. Aku yang muda ialah Tio It Hiong. Aku menyesal telah datang kemari hingga aku mengganggu ketenangan totiang."
Rahib itu memandangi si anak muda, lantas ia menunjuk sebuah batu disisinya sambil tersenyum ia berkata .
"Laote, silahkan duduk. Aku si oarang tua masih mempunyai sisa dua potong paha kambing. Itulah tepat buat dipakai mengundang tetamu bersantap bersama !"
Jilid 31 It Hiong melihat bagaimana orang tua itu makan Ciolo dengan lahap sekali.
Ia tahu kalau seorang luar biasa suka hidup menyendiri.
Itulah disebabkan tabiatnya yang aneh, banyak yang jumawa, maka tak mau ia banyak aturan lagi.
Orang tua itu tertawa lebar menyaksikan si anak muda polos.
"Sungguh kita berjodoh ! Sungguh kita berjodoh !"
Serunya berulang-ulang kali.
Itulah suatu tanda bahwa dia girang sekali.
Kemudian ia menyentil ke arah tumpukan Ciolo, maka sebuah Ciolo sebesar telur angsa mental kepada si anak muda, mentalnya perlahan.
Dia menambahkan kata-katanya .
"Orang gunung tidak punya barang hidangan lezat, maka itu laote silahkan kau coba daging bakar ini. Bagaimana rasanya ?"
Dengan menunjuki wajah heran, It Hiong menyambuti Ciolo itu. Diluar dugaannya, ia bukan memegang batu yang keras hanya lembek seperti kue bopaw. Ia tidak lantas makan "daging kambing"
Itu, sebab ia masih ingat baik sekali pelajaran buah liok jiak ko.
"Terima kasih totiang."
Katanya hormat.
"tetapi ilmu silatku masih jauh dari sempurna, tak ada rejekiku untuk makan barang hidangan lezat ini. Aku memulangkannya, harap totiang sudi terima kembali. Maaf, maaf......"
Dan melemparkannya.
Si orang tua seperti telah menerka penampikan itu, ia mengangguk, terus ia membuka mulutnya, maka tepat sekali dia menyambut Ciolo dengan mulutnya itu, untuk terus dikunyah.
Ia makan tanpa berkata apa-apa, maka It Hiong pun berdiam saja mengawasi tuan rumahnya itu.
Sekaranglah It Hiong berkesempatan melihat tegas wajah si rahib.
Muka orang merah dadu, licin seperti mukanya seorang anak muda, pipinya montok, janggutnya ialah yang dinamakan "janggut kambing gunung"
Sebab kecil dan lancip ujungnya.
Sinar matanya orang itu sangat jernih dan penampilannya bersih.
Seumumnya dia mirip seorang setengah tua.
Tanpa merasa ia menaruh hormat.
Habis menelan Ciolo itu, si orang tua minum secangkir, kemudian dia kata .
"Aku sudah kenyang dan minum banyak, sudah cukup, sudah cukup !"
It Hiong memberi hormat.
"Cianpwe,"
Tanyanya.
"dapatkah aku yang muda mengetahui nama atau julukan cianpwe ?"
Orang tua itu meletakkan cawannya, dia tertawa.
"Namaku si tua bangka sudah lama tak dipakai !"
Sahutnya.
"karenanya aku sampai melupakannya ! Adalah saudarasaudara kaum Kang Ouw yang memberikan julukan padaku yaitu Couw Kong Put Lo, maka itu kau panggillah aku dengan sebutan itu !"
Dia berhenti sebentar, lantas dia menambahkan.
"Laote, ilmu ringan tubuhmu tak dapat dibilang rendah, siapakah sebenarnya gurumu yang terhormat ?"
Dengan sikap hormat, It Hiong menjawab.
"Guru yang baik budi dari boanpwe ialah Sin Siauw Hong gelar Tek Cio Siangjin dari Pay In Nia."
Couw Kong Put Lo mengangguk.
"Murid ajarannya Tek Cio si hidung kerbau, benar-benar tak dapat dicela !"
Katanya.
Seperti tingkahnya In Gwa Sian, dia menyebut hidung kerbau pada rahib yang menjadi guru tamunya itu.
Dia bersikap wajar, tak likat, tidak terjumawa.
It Hiong sebaliknya melengak.
Ia heran, pikiranya .
"Orang tua ini berkundia dan berjubah sebagai rahib To Kauw, kenapa dia menyebut rahib lainnya dengan sebutan hidung kerbau ?"
Karena herannya itu, ia menatap muka orang. Couw Kong Put Lo dapat menerka keheranan orang muda itu. Dia tertawa terbahak-bahak dan kata .
"Aku si orang tua, aku gemar berdandan sebagai rahib To Kauw, tetapi sebenarnya aku bukanlah orang kaum Sam Ceng. Laote, janganlah kau mentertawakan aku !"
It Hiong tetap merasa aneh, hendak ia menanya pula atau si orang tua mendahului padanya. Kata dia .
"Pay In Nia terpisah sangat jauh dari Ceng Lo Ciang, habis sekarang laote berada disini, mau apakah kau ?"
It Hiong tahu baik, orang semacam orang tua ini tak pernah banyak pernik, maka ia menjawab cepat dan polos.
"Selama berada di Ay Lao San, aku yang muda telah tercemplung ke dalam jurang,"
Demikian jawabnya.
"di sana aku menemukan sebuah gua hingga untuk tiba diatasnya aku mesti merayap naik. Sebab aku tidak tahu jalan dan arah, aku telah tiba disini. Aku justru hendak memohon petunjuk dari cianpwe supaya aku bisa keluar dari ini tanah pegunungan, buat aku lekas-lekas pulang ke Tionggoan....."
Orang tua itu mengangguk-angguk.
"Kau telah tersesat jalan sampai disini, laote,"
Katanya.
"Selama itu sudah lewat berapa harikah?"
"Kira-kira tiga hari dua malam."
Sahut It Hiong. Orang tua itu menatap muka orang, dia mengangguk.
"Imanmu kuat, imanmu kuat !"
Katanya berulang kali terus dia tertawa, kemudian lantas dia tanya pula .
"Kau bilang kau berada di Cianglo Ciang ini sudah tiga hari dua malam, kecuali kau si orang tua, kau telah bertemu dengan siapa lagi ?"
Parasnya si anak muda menjadi merah. Ia ingat halnya ia telah makan buah liok jiak ko hingga ia membawa lakonnya dengan Touw Hwe Jie, tetapi walaupun likat, toh dia menjawab .
"Selama itu aku yang muda telah menemukan tiga orang, semuanya wanita dan ketiga-tiganya menyebut dirinya Touw Hwe Jie......."
Pemuda ini menuturkan jelas sampai terakhir ia bertempur dengan wanita yang menggunakan ular hijau sebagai senjata mirip joan pian, hingga ia menyingkir sampai akhirnya bertemu orang tua ini.
Cuma satu ia umpatkan, yaitu halnya di dalam gua ia sudah terpaksa main-main dengan wanita itu.
Couw Kong Put Lo tertawa berkakak.
"Namun wanita siluman itu"
Katanya nyaring.
"kenapa dia sedemikian sabar, sudah satu malam dia berkumpul denganmu tetapi toh dia membuatmu dapat lolos ?"
"Tapi, Cianpwe"
Berkata It Hiong menegaskan.
"orang pertama yang aku ketemukan ialah seorang bocah usia lima atau enam tahun, lalu seorang nona umur delapan atau sembilan belas tahun. Sedang paling belakang dengan siapa aku bertempur, seorang wanita setengah tua. Sama sekali aku tak bertemu dengan orang perempuan itu...."
Orang tua itu tertawa lebih nyaring dan lama hingga umpama kata tawa itu mengacaukan rimba dan lembah. Setelah berhenti tertawa, ia berkata dengan sungguh-sungguh .
"Tahukah laote, Cianglo Ciang ini tempat apa ? Inilah tempat kediamannya seorang wanita yang tersohor kejamnya. Dialah "Kip Hiat Hong Mo Touw Jie"
Yang kau ketemukan dengan tiga orang wanita yang tak sama satu dengan lain.
Itulah kepandaiannya si wanita tua, yaitu ilmu Sin Kut Kang, ilmu menciut tulang belulang atau tubuh, sedangkan sebenarnya dia hanya satu orang !"
It Hiong terkejut saking heran.
"Sin Kut Kang ?"
Katanya.
"Itulah ilmu yang aku belum pernah dengar ! Ilmu apakah sebenarnya itu ? Pengingatan dan pendengaranku masih sangat berkurang, cianpwe. Jadinya siapa mempelajari ilmu itu, dia dapat berubah-ubah tubuh dan wajahnya sesukanya ?"
"Begitulah ilmu itu."
Sahut Couw Kong Put Lo.
"Disamping itu, dia dibantu banyak oleh air mani para korbannya hingga wajahnya dapat berubah tua dan muda. Lebih-lebih kalau ia mendapati air mani pria yang lihai ilmu silatnya, ilmunya menjadi bertambah mahir. Demikian maka dia mendapat julukannya itu. Kip Hiat Hong Mo, si bajingan edan tukang menghisap darah ! Dengan darah sekalian dimaksudkan air mani pria."
Berkata sampai disini, orang tua itu menghela nafas.
"Kau tahu, anak muda."
Ia meneruskan.
"aku hidup menyendiri disini untuk memahami So Lie Kang, ilmu kewanitaan, supaya dengan pandai ilmu itu dapat aku menyingkirkan dia. Walaupun kemudian aku ragu-ragu dapat mengalahkannya..."
Orang tua itu berkatai bahwa ia sudah menyekap diri dua puluh tahun lamanya. Sepasang alisnya It Hiong terbangun.
"Cianpwe !"
Katanya.
"kau telah berilmu tinggi, sampai pun batu kau dapat makan seperti barang hidangan lezat. Kenapa cianpwe masih tak sanggup menempur wanita cabul itu ? Apakah masih ada lain kepandaiannya Touw Hwe Jie ?"
Dengan "batu"
It Hiong maksudkan Ciolo.
"telur batu". Couw Kong Put Lo bersenyum.
"Kau masih muda, laote. Tidak heran kalau kau kurang pengetahuanmu."
Katanya.
"Dia sebenarnya mempunyai satu kepandaian yang dinamakan Sek Bie Tay Hoat, yaitu ilmu paras yang menyesatkan. Dalam hal ilmu silat tangan kosong atau bersenjata, aku tidak takuti siapa juga. Dahulu gurumu si hidung kerbau itu sangat tersohor sebagai ahli ilmu pedang tetapi pada tiga puluh tahun yang lampau, pernah dengan tangan kosong aku melayani ilmu pedangnya itu. Kesudahannya kami seri. Hanya dengan keteguhan iman, aku kuatir aku tidak sanggup melawan Touw Hwe Jie. Lantas melawan dia toh berarti membuang jiwa siasia belaka, bukan ?"
Tertarik It Hiong mendengar keterangannya si orang tua. Ia percaya orang melebih-lebihkannya ketika berbicara tentang Sin Kut Kang, ilmu memperciut tubuhraga itu. Ia lantas tertawa .
"Cianpwe, kanapa Bie Sek Tay Hoat itu demikian lihai ? Apakah locianpwe pernah menempur wanita tua itu ?"
Hampir It Hiong mengatakan apa orang tua itu pernah dikalahkan si wanita, syukur ia lantas ingat dan dapat lekas merubah kata-katanya itu, kalau tidak, ia bisa dipandang sudah mengejek atau menghina orang tua ini.
Couw Kong Put Lo tidak menjawab, hanya dia berkata .
"Aku ingin ketahui jelas ialah tentang perempuan tua itu, laote, maka itu coba kau terangkan kepadaku segala sesuatu mengenai pertemuanmu dengan dia. Sekalipun kau telah bersetubuh dengannya, hal itu jangan kau lewatkan. Kau tuturkan semuanya. Itulah malah lebih penting sekali ! Tegasnya, hendak aku melayani dia dalam hal ilmunya Kip Hiat itu, menghisap darah."
It Hiong tersenyum mendengar kata-kata orang itu.
"Menurutku, Touw Hwe Jie tidak mempunyai kepandaian yang luar biasa sekali."
Katanya.
"Ketika tadi fajar aku meloloskan diri dari tangannya, kenapa dia tidak menggunakan Sek Bie Tay Hoat, ilmu kepandaiannya yang istimewa itu ?"
Couw Kong Put Lo tertawa lebar.
"Eh, anak, kau sedang mudanya, kenapa kau tidak ketahui tentang cinta kasih diantara muda mudi ?"
Tanyanya.
"Ilmu Sek Bie Tay Hoat itu dipakai bukan dengan jalan keras, hanya dengan jalan halus dengan pengaruhnya harus elok, supaya dengan begitu nafsu birahi pria dipancing dibangkitkan, supaya orang tanpa merasa roboh dalam rangkulannya seperti seerangga yang menyambar api, hingga orang mencari matinya sendiri. Setelah orang roboh, dia akan menghisap darah orang habis sampai pada sumsumnya !"
It Hiong mengangguk-angguk tetapi tak dapat ia setujui keterangannya orang tua itu.
Buktinya ia dapat bertahan dari bujukan hebat dari Touw Hwe Jie, ia cuma hampir roboh......
Pemuda ini lupa yang ia dapat bertahan sebab ia memperoleh terutama bantuannya obat pendeta dari Bie Lek Sie.
Si orang tua melihat si anak muda berdiam saja, ia belum juga dijawab, maka ia mendesak.
Katanya .
"Laote, kau turunkan segala apa dengan sebenar-benarnya ! Itulah untukku. Keteranganmu dapat membuat aku menduga-duga dia telah menggunakan Sek Bie tay Hoat atau tidak. Menurut rasaku, dia tak akan menaruh belas kasihan terhadapmu...."
Terpaksa, It Hiong mengulangi penuturannya, kali ini tanpa ada yang dilupakan.
Menurut ia, mungkin ia telah menemui muridnya Kip Hiat Hong Mo.....
Couw Kong Put Lo nampak heran hingga dia menatap anak muda di depannya ini.
"Anak, bujukan atau rayuannya Kip Hiat Hong Mo didalam guanya itu ialah apa yang dinamakan Sek Bie Tay Hoat."
Katanya kemudian.
"Apa mungkin kau telah menemukan atau mendapatkan suatu ilmu lainnya hingga kau jadi dapat bertahan dari godaannya itu ?"
"Sejak aku keluar dari rumah perguruanku, belum pernah aku menemui sesuatu yang luar biasa,"
Sahut It Hiong.
"hanya ketika aku terjatuh ke dalam jurang, disitu didalam sebuah gua aku telah pelajari ilmu pedang Gie Kiam Sut sebab aku mendapatkan pahatannya pada dinding gua. Tanpa guru aku mempelajari itu, maka juga sampai sebegitu jauh aku cuma bicara menyampaikan jarak tinggi tiga tombak lebih dan jarak jauh sepuluh tombak lebih juga."
Orang tua itu menggeleng kepala.
"Gie Kiam Sut adalah ilmu pedang, bukannya ilmu tenaga batin yang dapat dipakai menolak rayuan asmara."
Katanya.
"Juga ilmu Hian Bun Sian Thian Khie kang mu bukanlah ilmu yang dapat menentang rayuan itu. Kalau benar segala keteranganmu ini, sungguh aku tidak mengerti....."
"Benar-benar cianpwe, aku tidak mempunyai ilmu lainnya."
Berkata It Hiong memberi kepastian.
"Ketika aku dibujuk memang beberapa kali hampir aku roboh tak berdaya, hatiku menjadi kuat pula, selekasnya aku ingat perbuatan cabul itu bisa merusak nama baik guruku. Tentang kekuatan iman saja, cianpwe, aku rasa tak dapat aku melawan cianpwe....."
Couw Kong Put Lo mengangguk perlahan. Ia lantas berpikir. Lewat kira setengah jam baru ia mengangkat mukanya. Ia menatap pula si anak muda. Lalu mendadak ia bertanya.
"Laote, kau mempunyai kegembiraan atau tdiak akan mengantarkan aku pergi ke guanya Kip Hiat Hong Mo untuk kita membuat penyelidikan ?"
It Hiong tidak menerima atau menolak, hanya tanpa berpikir lagi, ia berkata .
"Aku sangat memikirkan soal pertemuan besar di gunung Tay San, waktunya yaitu tanggal lima belas bulan delapan. Aku perlu lekas pulang supaya aku dapat mencegah bencana rimba persilatan itu. Aku minta cianpwe tolong tunjuki aku jalan keluar dari daerah pegunungan ini !"
Si orang tua tertawa lebar.
"Kau memikir keluar dari sini, laote, itulah tak sukar."
Katanya.
"Aku pun dapat mengantarkan kau. Hanya saat pertemuan besar itu, pertengahan bulan delapan sudah lewat. Bukankah tadi malam pertengahan bulan itu ?"
It Hiong melengak.
"Oh !"
Serunya tertahan.
Saking menyesal lalu wajahnya menjadi suaram.
Ya, peristiwa sendiri membuatnya lupa waktu.
Sang waktu berjalan cepat bagaikan anak panah.
Demikian juga umur manusia, berapakah panjangnya.
"Cepat sekali, dua bulan telah lewat pula !"
Dan ia menghela nafas. Si orang tua mengawasi, ia berkata .
"Waktu pertemuan di Tay San sudah lewat, manusia tak dapat menahannya karenanya disesalkan pun percuma ! Laote, kau hendak melenyapkan bencana rimba persilatan, perbuatan itu dapat kau lakukan dimana-mana dan di segala saat, maka itu kalau kau dapat singkirkan wanita tua itu, bukankah itu sama artinya ? Dialah si wanita jahat dan cabul yang merusak ! Bahkan dengan menyingkirkan wanita itu, laote, namamu bakal terlebih tersiar, perbuatanmu jauh terlebih mulia !"
It Hiong menganggap si orang tua benar.
Tay San Tay Hwe sudah lewat, tak dapat ia pergi terus kesana.
Karena tak ada halangannya kalau ia pulang terlambat beberapa hari pula.
Laginya dengan mencari si wanita itu, ia cuma memerlukan waktu satu malam itu.
Ia pula ingin ketahui jelas siapa sebenarnya Touw Hwe Jie.
Maka lantas ia mengambil keputusannya.
"Cianpwe, jika cianpwe tidak menyela aku, baiklah bersedia kau mengikuti dan menurutmu!"
Si orang tua tertawa girang.
"Dasar kau gagah, laote !"
Katanya nyaring.
"Kaulah pemuda berbakat dan penuh harapan ! Pantas kau berjodoh dengan aku si orang tua !"
Ia berbangkit perlahan-lahan akan mengangkat kepala melihat langit, kemudian menambahkan .
"Kita berbicara saja, sang waktu telah berlalu. Sekarang masih ada waktu, aku pikir baik kita berangkat sebentar malam jam pertama . Karena sekarang masih ada waktu senggang, laote, kau beristirahatlah disini!"
It Hiong menurut, ia mengangguk. Ketika itu, sesudah hatinya tenang, ia merasakan perutnya meminta makan. Maka ia kata pada orang tua itu .
"Aku mau pergi mencari barang makanan, sebentar aku kembali."
"Ah, aku sampai lupa !"
Katanya.
"Aku lupa bahwa kau belum makan dan minum ! Kau tunggu saja, nanti aku si tua yang mencarikan kau daging !"
It Hiong menurut, ia duduk menantikan.
"Orang tua ini main-main atau benar-benar ?"
Beberapa kali ia tanya didalam hati.
Masih ada keragu-raguannya, sebab orang tua itu agak aneh.
Belum terlalu lama maka berhentilah It Hiong berpikir.
Saking letih dan kantuk, tanpa merasa ia tidur kepulasan.
Berapa lama ia telah tidur nyenyak, ia tidak tahu.
Kemudian ia mendusin sebab hidungnya mencium bau harum dari daging bakar, waktu ia membuka matanya, ia melihat orang tua tengah memanggang kambing.
Seekor kambing gunung yang kecil terletak tergantung diantara api tabunan, bau harumnya terbawa angin.
It Hiong mendapati, karena nyala api tempat disekitarnya itu menjadi terang sekali.
Ketika itu sudah mendekati jam pertama.
Ia berbangkit dengan merasa segar, lenyap letih dan kantuknya.
Ketika ia mendekati kambing, terbangunlah nafsu makannya dia bahkan bau harum daging panggang itu.
"Benar rejeki mulutmu, laote."
Kata si orang tua tertawa.
"Kau mendusin dari tidur yang nyenyak, justru kambing matang."
Lantas orang tua itu mengangkat kambing panggang itu.
"Mari !"
Ia mengajak si anak muda. Ia mematahkan sepaha kambing, diangsurkan pada kawannya yang muda itu.
"Kau cobailah panggang dagingku ini !"
Ia terus merabai pinggangnya, guna meloloskan cupu-cupu araknya. Sembari membuka tutup cupu-cupu itu, ia menambahkan.
"Arak bunga putih ini tak dapat dicela, siapa meneguknya, semangatnya terbangun hingga itu ada baiknya buat sebentar kita bekerja."
It Hiong menyambuti daging sambil mengucap terima kasih.
Ia lantas makan dengan lahapnya hingga daging itu habis.
Sesaat kemudian, ia mengambil paha yang kedua.
Ia pun minum arak hingga tempat arak itu senantiasa berpindah tangan.
Setelah menghabisi paha yang kedua ini, It Hiong melihat si orang tua sudah selesai makan, dia sedang menengak habis araknya.
Nyata dia kuat sekali makan daging kambingnya tanpa sisa.
"Cianpwe"
Tanya si anak muda kemudian.
"Bagaimana caranya sebentar dia menyelidiki Kip Hiat Hong Mo ?"
"Sebentar kau hendak mencoba menantang ilmu Sek Bie Tay Hoat dari Kip Hiat Hong Mo"
Sahut orang tua itu.
"Selama itu laote, kau bersiap-siap saja disini. Apa yang aku kuatirkan ialah hatimu nanti tergiur dan kau tak dapat bertahan ! Selagi aku melayani dia, mana dapat kau membantumu ? Baik kita pikirkan satu cara yang sempurna."
It Hiong berpikir. Ia menyangsikan kekuatiran orang tua itu. Bukankah sudah terbukti ia sanggup melayani atau menantang ilmunya Kip Hiat Hong Mo ? "Bukankah lebih baik kita menempur ilmu silatnya ?"
Tanyanya.
"Buat apa kita melayani pula ceriwis yang cabul itu."
"Kau benar anak muda, tetapi aku memikir lalu,"
Sahut si orang tua.
"Sudah dua puluh tahu aku memahamkan ilmu So Lie Kang, sekaranglah waktunya aku mencoba mengujinya. Dia biasa menghisap manik dan darah orang, aku hendak mencoba atas dirinya, supaya aku yang menghisap hingga dia kehabisan tenaganya dan mati karenanya. Dia berbuat jahat secara demikian terhadap banyak orang lain, hendak aku membalaskan sakit hati mereka itu dengan caranya sendiri. Mungkin dia menyesal atau mati puas karenanya."
"Bukankah lebih baik kita membinasakannya dan membakar mayatnya ?"
Tanya pula It Hiong.
"Kenapa kita mesti mencoba-coba ? Bukankah itu perbuatan tak cerdik ?"
Couw Kong Put Lo memperlihatkan tampang sungguhsungguh.
"Bicara dengan sebenarnya, laote."
Katanya.
"Jika aku berhasil menghisap darah dia itu, dengan sendirinya aku memperoleh bantuan tenaga hingga pemahamanku memperoleh kesempurnaan. Sampai itu waktu maka di dalam dunia rimba persilatan ini, akulah si jago tunggal ! Ha ha ha !"
It Hiong melengak, lantas ia sadar. Maka berpikirlah ia.
"Kalau begini, kau juga bukanlah orang baik-baik !"
Karenanya ia pun memikir untuk bila saatnya tiba, akan menyingkirkan orang aneh ini.
Keduanya mereka itu, satu wanita dan satu pria sama kejamnya.
Untuk tak membangkitkan kecurigaan orang, ia lekas-lekas berkata .
"Cianpwe, bagaimana kalau aku mengintai selagi cianpwe menempur perempuan itu ? Dengan begitu mudahlah aku turun tangan bila itu diperlukan."
"Begitu pun baik."
Sahut si orang tua setelah dia berfikir sejenak.
"Cuma janganlah laote mengintai terlalu jauh dan jangan kau simpangkan perhatianmu, itulah berbahaya buatku."
"Aku mengerti cianpwe !"
"Baiklah, begini janji kita !"
Kata si orang tua.
Selanjutnya sambil menanti tibanya jam dua, bahagian terakhir jam pertama itu, keduanya berbicara dari hal lainnya.
Selekasnya jam tiba, berdua mereka meninggalkan tempat itu.
It Hiong jalan di muka.
Keduanya berlari-lari.
Nyatanya Couw Kong Put Lo ketahui Kip Hiat Hong Mo, waktu mereka tiba, dia yang paling dahulu menghentikan langkahnya.
"Sudah sampai ?"
Katanya.
"Pantas ilmu ringan tubuhmu lihai sekali, kau dapat menyamai aku si orang tua !"
It Hiong berhenti berlari, ia berpaling kepada si orang tua atau segera ia berdiri melengak.
Orang tua itu tak lagi berjanggut seperti janggut kambing gunung dan mukanya juga tidak keriputan seperti semula ia menengokkannya.
Di depannya sekarang berdiri seoraang muda sebaya dengan ia, tampan sehat.
"Locianpwe !"
Katanya heran.
"kau juga dapat merubah diri menjadi muda belia ? Apakah ilmumu ini ilmu awet muda atau itulah hasilnya pemahamanmu atas ilmu kewanitaan So Lie Kang?"
Orang tua yang ditanya itu tertawa terbahak-bahak.
"Inilah hasil pelajaran Sang Seng Sie yang aku pahamkan."
Sahutnya terus terang.
"Itulah ilmu kehidupan. Ilmu ini jauh lebih menang daripada ilmu awet muda. Dengan ilmu ini, dapat aku merubah wajahku dengan anak kecil, orang muda, orang setengah tua ataupun orang tua, segalanya sesuaka hatiku. Hanya inipun masih ada cacatnya...."
"Apakah cacat itu locianpwe ?"
Tanya It Hiong.
"Dapatkah locianpwe menjelaskan padaku supaya aku memperoleh tambahan pengetahuan umum ?"
Nampaknya senang si orang tua atas pertanyaan itu. Lantas ia mengawasi ke arah lembah. Ia sudah berjalan pula tetapi ia lantas menghentikannya. Ia menghela nafas. Sahutnya.
"Cacatnya ialah aku dapat merubah wajah tetapi tidak tubuhku seluruhnya. Karenanya Sin Kut Kang masih menang setingkat...."
Mendengar suaranya si orang tua, It Hiong mengawasi.
Benarlah kata si orang tua itu.
Tadi ia cuma melihat muka, tak tubuh orang.
Memang tubuh orang tua itu tak berubah sama sekali.
Beda dengan Kip Hiat Hong Mo yang dapat berubah seluruhnya.
"Tapi itulah tidak apa !"
Katanya kemudian.
"Kau telah berubah menjadi muda ! Siapakah lain orang yang ketahui perubahan wajah locianpwe ini ?"
Orang tua itu tampak puas bahkan jumawa.
"Karena kepandaianku merubah wajah ini, orang Kang Ouw telah memberi gelaran Couw Kong Out Lo itu padaku !"
Kata dia, habis mana dia bertindak pula memasuki lembah.
"Put Lo"
Itu berarti "tak tua."
Baru jalan sepuluh tombak, mendadak Couw Kong Put Lo menghentikan langkahnya, dia menoleh pada kawannya dan katanya .
"Laote, pernahkah kau tiba dilembah ini ?"
Ia Hiong melihat keseputarnya.
"Belum pernah"
Sahutnya. Si tua lantas memperlambat langkahnya dengan begitu ia jadi jalan berbareng dengan si anak muda.
"Aku lupa memberitahuka kau, laote."
Kata dia sembari jalan.
"Lembah ini diberi nama Goh Cit Kok artinya lembah bencana. Disini ada go gwee cit hiam, lima tempat berbahaya, tujuh tempat malapetaka dan caranya menyelamatkan diri ialah menemukan rintangan, mutar ke kiri satu kali, tiga kali ke kanan, kalau ketemu belokan kita menyeberanginya melintas dan kalau kita melihat buah jangan kita makan itu. Dengan begitu kita tak akan tersesat atau menghadapi bencana. Nah, kau ingatlah baik-baik !"
It Hiong menganguk.
"Akan aku ingat, locianpwe."
Katanya.
"Cuma nama goh cit itu aneh sekali. Apakah arti sebenarnya ?"
Si orang tua tertawa.
"Goh cit berarti kematian."
Ia memberi keterangan.
"Si orang perempuan tua yang memberikan nama itu. Maksudnya siapa datang kemari, dia tak bakal kembali dengan masih hidup. Dia pula sengaja menyebutkan dua baris kata-kata lain yaitu, 'cuma ada setan yang memasuki lembah, tiada manusia yang keluar dari sini'. Dengan sini diartikan lembah ini. Selama tiga puluh tahun sampai sekarang ini, entah berapa banyak korban sudah roboh disini, roboh ditangannya si wanita tua sebab mereka itu kemaruk paras elok hingga kesudahannya tinggallah tengkorak atau tulang belulangnya yang putih meletak....."
It Hiong memandangi lembah, ia merasa bergidik. Tapi ia memikir.
"Jangan-jangan orang tua ini sengaja mengatakan begini buat menguji keberanianku ? "
Maka ia sengaja tertawa dan kata .
"Locianpwe, tak mungkinkah kata-katamu ini cerita belaka yang orang sengaja menyiarkannya ?"
"Jangan terburu nafsu menerka, laote."
Kata orang tua itu.
"Sebentar kalau kita sudah tiba ditempat yang dinamakan Selat Rangka baru kau akan mendapatkan bukti dari katakataku ini bahwa aku tidak mendustai orang buat menakutnakuti saja."
It Hiong berdiam, ia mengikuti orang tua itu maju terus.
Lekas sekali mereka sudah melalui kira-kira tiga lie.
Sabansaban mereka mendengar suaranya burung malam atau suaranya angin dingin diantara daun-daun pohon.
Rembulan suaram, maka suaram juga tempat yang dilalui itu.
Suasana itu dapat membuat orang merasa seram.....
Lagi sedikit jauh, setelah satu tikungan, dua orang itu dihadap sebuah batu besar yang warnanya hitam gelap.
Terpaksa keduanya menghentikan langkah mereka.
Couw Kong Put Lo mengawasi batu, lalu tiba-tiba ia kata .
"Ketemu rintangan, belok kiri, satu kiri tiga kanan !"
Dan terus ia bertindak ke arah kiri.
It Hiong mengikuti, nyeplos disisi batu itu.
Ia bergerak cepat seperti si orang tua.
Di depan mereka sekarang terbentang tanah penuh dengan batu karang berserakan.
Diantara sinarnya si puteri malam, semua batu karang itu nampaknya aneh-aneh.
Di sebelah kiri ialah dinding gunung.
Pada dinding itu dipajang rapi sejumlah rangka manusia lengkap, tulang-tulang putih semuanya.
It Hiong heran dan kagum.
Katanya .
"Darimana si wanita tua memperoleh semua rangka ini ? Semua ini tak mendapatkan rasa seram atau takut !"
"Jangan merasa puas dahulu, laote !"
Berkata si orang tua kepada kawannya.
"Inilah baru permulaan dari go gwee cit hiam."
Berkata begitu, si orang tua berjalan terus melintasi karang-karang berserakan itu.
Selalu ia jalan belok ke kiri terus ke kanan di tempat berliku-liku itu.
Sampai mereka memasuki sebuah gua kecil yang berdinding batu kiri dan kanannya.
Di sini cahaya rembulan terhalang, mereka menjadi berada di dalam kegelapan.
Selang belasan tombak barulah mereka melihat suatu sinar terang bundar berwarna kebirubiruan yang menggantung dan berputaran karena tiupan angin.
Setelah datang dekat pada cahaya terang itu, It Hiong berdua bukan mendapatkan lentera kertas atau kain, hanya lentera terbuat dari tengkorak, dan api molos dari pelbagai lubang, terutama dari sela-sela giginya.
Giris akan mengawasi itu.
Menunjuk pada lentera istimewa itu, Couw Kong Put Lo kata pada kawannya.
"Itulah yang dinamakan lentera tengkorak manusia berapi kunang-kunang dan itu pula buah karyanya si nyonya tua yang kejam !"
It Hiong mengawasi.
Lentera semacam itu bukannya cuma satu.
Masih ada satu berupa yang lainnya disepanjang jalan itu.
Maka ia menduga, jalan itu mestinya panjang atau jauh beberapa lie.
Ia tidak takut.
Itulah cuma alat.
Ia menggertak sambil menghunus pedangnya sembari bersiul, terus ia melangkah maju dengan cepat.
Sekeluarnya dari jalan sempit itu, si anak muda melihat sebuah lembah luas beberapa puluh tombak.
Sekitarnya dinding gunung belaka.
Di tengah lembah terdapat tanah kosong dan rata yang tumbuh rumput.
Jalan lainnya tak tampak......
Di tanah itu terlihat banyak tubuh bergerak-gerak mirip bayangan, lurus merupakan satu Barisan yang berdiri diam tak bergeming.
"Ah, ada banyak orang disini !"
Kata It Hiong tanpa merasa. Couw Kong Put Lo tertawa.
"Semua mereka itu korbankorbannya wanita tua !"
Katanya.
"Habis air mani dan darah mereka terhisap, mereka menjadi mayat-mayat kering dan kaku !"
It Hiong heran.
Dengan lantas ia bertindak menghampiri, untuk mendekati.
Ia bersiaga dengan Hian Bun Sian Thian Khie kang, guna menjaga diri.
Barisan rangka itu berdiri tegak dengan tangan dikasihh turun, kulitnya bersemu kuning, matanya cengok dalam, dahinya nongol tinggi.
Pakaian mereka tidak seragam, ada yang berpakaian biasa, ada yang mengenakan jubah pendeta.
Mereka pula ada yang tua, ada yang muda.
Mereka tinggal kulit pembungkus tulang.
Gigi mereka menambah keseraman mereka.
"Jumlah mereka tak kurang dari pada seratus orang,"
Pikir It Hiong.
"Tak mungkin mereka mati berbareng. Herannya kenapa kulit mereka tak membusuk atau rusak ?"
Couw Kong Put Lo bertindak mendampingin anak muda itu. Ia dapat tahu keheranan orang.
"Laote, maukah kau mendengari keteranganku mengenai pasukan rangka manusia ini ?"
Tanyanya. It Hiong menoleh.
"Cuma hal membuatku heran,"
Katanya.
"mereka tentunya mati tersiksa bukan berbareng dan buat waktu yang lama, tetapi kenapa mereka tetap masih tulang belulang tertutup kulit dan tak menjadi rusak seperti seharusnya ?"
Si kawan tua tertawa.
"Kau boleh merasa heran, tetapi itulah bukannya keanehan !"
Sahutnya.
"Sebenarnya sumsum dari semua korban ini telah habis dihisap si wanita tua, yang kemudian dengan perlahan-lahan menyedot juga darah dan dagingnya hingga akhirnya tinggal kulitnya saja. Supaya semua kulit tak jadi rusak, si wanita tua telah memanggangnya selama enam jam dengan ilmu memanggang bajingan langit......"
Mendengar demikian, bukan main gusarnya It Hiong.
"Sungguh jahat dan kejam Touw Hwe Jie !"
Katanya keras.
"Sudah orang dihisap darah dagingnya, sekarang matanya dibiarkan tersiksa begini macam ! Bagaimana kalau aku menggunakan api membakar habis semua ini ?"
Belum lagi berhenti suaranya anak muda kita atau ia sudah lantas mendengar tawa yang dingin dan orang yang tertawa itu muncul dengan segera, muncul dari belakang pusaka rangka itu.
Dialah seorang wanita usia lima-enam tahun, yang tubuhnya tergubat kain hijau, lengan dan kakinya telanjang, rambutnya panjang riap-riap, mukanya cantik dan segar mengagumi !
Couw Kong Put Lo menarik It Hiong mundur beberapa tindak.
"Hai, perempuan tua, kiranya kau bersembunyi disini ?"
Tegurnya. Nona itu mengawasi tajam.
"Apa katamu ?"
Tanyanya. Dia terus tertawa. Put Lo menuding.
"Touw Hwe Jie, masihkan kau berpura-pura ?"
Tegurnya pula. Nona itu tapi bersikap tenang.
"Apakah kalian berdua datang mencari guruku ?"
Dia balik bertanya. Put Lo melengak, dia menatap nona cilik itu. Hatinya pun berkata .
"Kapannya Touw Hwe Jie mengambil murid ?"
Tapi ia lekas menjawab.
"Kami datang untuk mengunjungi Tauw Hwe Jie, gurumu. Nah, kau pimpinlah kami untuk menemuinya."
Tapi si nona berkata dulu .
"Aturan di Goh Cit Kok ini ialah . Kalau ada orang hendak mengharap guruku, cuma satu orang yang diijinkan masuk menemuinya, yang lainnya harus menanti di sini, buat mendengar panggilan lebih jauh ! Nah, diantara kalian, siapa yang mau masuk terlebih dahulu ?"
It Hiong tidak puas.
"Pedangku tidak kenal aturanmu ini."
Katanya sengit.
"Jika kau tidak mau memimpin kami masuk, kau harus menyerahkan jiwamu !"
Dan ia menghunus pula pedangnya.
Ia pula melompat maju untuk menghampiri si nona cantik.
Nona itu nampak tak takut, bahkan dia memperlihatkan sikap jumawa.
Dia mendelik terhadap anak muda di depannya itu.
Dengan membuat main bibirnya dia kata.
"Kau mengandalkan pedangmu itu buat menghina nonamu ini ? Hm ! Sebentar ilmu Sin Kut Kang dari guruku akan membuatmu tahu rasa !"
"Hm !"
It Hiong pun perdengarkan suara dingin.
"Mengingat kaulah seorang bocah, suka aku memberi ampun padamu satu kali ini ! Kalau kau tahu selatan, lekas kau antar kami !' Berkata begitu, anak muda kita masukkan pedangnya ke dalam sarungnya. Justru itu berubahlah tubuhnya si nona cilik. Lekas sekali dia menjadi tinggi dan besar hingga dia tampak seperti seorang nona usia enam atau tujuh belas tahun. Selagi orang melengak, dia tertawa manis dan kata merdu .
"Kau lihat, usiaku tidak muda lagi ! Kau lihat, bagaimana cantik manisku ! Kamu bangsa pria, melihat aku ini, apakah kau tak merasa menyayangi dan berkasihan ? Bagaimana dapat kau membinasakan aku ?"
Sembari berkata, si nona bertindak menghampiri, lengannya halus.
Dengan matanya yang jeli, dia menatap anak muda di depannya itu.
Wajahnya pun ramai sekali.
It Hiong gusar.
Ia ingat lakonnya dengan Touw Hwe Jie.
"Siluman bangkotan !"
Ia membentak.
"Lagak tengikmu ini telah tuan mudamu menyaksikan ! Masih kau hendak menjual pula lagak tengikmu yang menjemukan disini."
Kata-kata itu ditutup dengan satu jurus Hang Liong Hok Mo Ciang.
"Hayyah !"
Menjerit si nona, yang tubuhnya berkelebat, menyingkir ke dalam pasukan rangka manusia itu. Di dalam sekejap hilang lenyap sudah dia. Couw Jong Put Lo berlompat maju mendampingi kawannya.
"Aku lihat perubahannya nona itu bukan menurut ilmu Sin Kut Kang dari Touw Hwe Jie."
Kata dia.
"Hanya aku belum pernah mendengar yang dia pernah menerima murid."
Sepasang alisnya It Hiong terbangun, matanya bersinar tajam.
"Biar bagaimana semua orang dari Goh Cit Kok ini bukan orang baik-baik !"
Katanya sengit. Terus dia bertindak maju, matanya celingukan mencari sesuatu. Put Lo menyangka si anak muda mencari si nona.
"Laote,"
Kata dia."
Si nona barusan masuk ke dalam Barisan rangkanya ini ! Kau mencari apa ?"
Tidak ada jawaban.
Tubuhnya si pemuda hilang di dalam kegelapan.
Heran si orang tua, dia berdiri diam.
Masih beberapa kali ia memanggil-manggil, tetap tanpa penyahutan.
Ia menghela nafas.
Justru ia mendengar suara apa-apa dialah belakangnya, segera ia menoleh.
Maka ia mendapati It Hiong mendatangi dengan sepondongan cabang-cabang dan daun kering.
"Locianpwe, apakah tak tampak gerak gerik orang jahat ?"
Dia tanya. Put Lo menggeleng kepala.
"Tidak !"
Sahutnya.
It Hiong meletakkan cabang keringnya itu, ia pergi pula, akan kembali dengan dahan-dahan serupa.
Perbuatan itu ia ulangi beberapa kali maka lekas juga terdapat setumpuk besar dahan dan daun itu.
Setelah itu ia membinasakan dahandahan itu didekati semua rangka, akan akhirnya menjalankan api dan pakai itu menyulutnya !
"Ha ha ha !"
Si orang tua tertawa.
"Siapa sangka kau mempunyai kegembiraanmu ini, laote ! Yang benar ialah kita mencari jalan guna mencari si siluman tua !"
"Barusan aku melihat dari tempat yang tinggi."
Berkata It Hiong.
"Di seputar ini semua dinding gunung melulu, tida ada jalannya, tidak ada guanya. Aku percaya siluman itu mempunyai jalan atau gua di dalam tanah, kalau tidak sebentar dia bakal mati tembus !"
"Pintar ! Pintar !"
Put Lo memuji sambil menganggukangguk.
Si anak muda telah mendahului dia memeriksa tempat itu.
Sementara itu sinar matanya memperlihatkan sinar bengis.
It Hiong merasa hatinya ciut ketika ia melihat sinar mata itu, diam-diam ia bersiap sedia andiakaata orang berbalik pikiran hendak berbuat jahat atas dirinya.
Sementara itu sang api sudah mulai berkobar, angin gunung membantu mengipasinya.
Api terus melentap, membakar rangka itu hingga dilain saat terdengar suara apaapa, rupanya dari terbakarnya tulang belulang.
Suara berisik dari bekerjanya api, sinarnya dan juga hawanya yang panas, membuat sejumlah ular lari serabutan !
It Hiong dan kawannya tak dapat bertahan dari hawa panas itu, keduanya berlompat tinggi ke batu gunung yang menonjol di dinding gunung, disitu keduanya duduk sambil mengawasi bekerjanya Hwe Tek Seng kun si raja api.
Semua tulang belulang itu habis dimakan api, hanya herannya dari situ terhembuskan sinar api kebiru-biruan, terlihat diantara api yang berkobar, untuk akhirnya bersama padamnya api itu.
Selekasnya hawa panas mulai reda, It Hiong berdua lompat turun pula.
Ketika itu lembah sudah kosong.
"Entah apa itu yang menyebabkan cahaya kebiru-biruan itu....."
Kata It Hiong heran, matanya mengawasi ke tempat pembakaran itu.
Atau tiba-tiba ia melihat munculnya sebuah batu besar.
Segera ia menyangka kepada mulut gua, maka lantas ia lompat maju menghampiri buat memeriksanya.
"Laote kembali !"
Berseru Couw Kong Put Lo.
Anak muda itu mendengar kata, segera ia lompat mundur, hingga ia berada disisi si orang tua.
Justru ia mau menanyakan sesuatu atau dengan tiba-tiba Couw Kong Put Lo menolak keras dengan kedua telapakan tangannya terbuka, menolak ke arah batu besar itu, maka segera terdengar satu suara keras, terus terlihat batu itu terdampar mundur satu tombak lebih.
Sebaliknya tempat dari mana batu itu muncul, tampak berubah menjadi mulutnya sebuah gua di dalam tanah !
Menyaksikan itu, si orang tua tertawa bergelak-gelak.
"Pandai kau menerka laote."
Kata ia memuji kawannya.
"Kau menerka adanya gua didalam tanah, nyatanya kau tidak keliru ! Kau lebih cerdas setingkat daripada kebanyakan orang !"
It Hiong tertawa.
"Locianpwe"
Katanya.
"darimana kau mendapat kopiah tinggi untuk dipakaikan diatas kepalaku. Budak tadi telah lolos dari jalan di dalam gua itu, mari kita susul padanya! Aku percaya kita akan berhasil mencari sarangnya si siluman tua !"
Couw Kong Put Lo mengangguk, lalu bersama-sama mereka menghampiri mulut lubang, yang lebar empat kaki persegi, bagian dalamnya gelap, tak tampak apa juga.
Sulit untuk memeriksanya.
It Hiong tertawa.
Ia menjemput sebuah batu, ia lemparkan ke dalam lubang itu sembari ia memasang telinga, guna mendengar suaranya batu itu.
Suaranya batu itu akan menyatakan sesuatu.
"Kau benar cerdik, laote !"
Si orang tua berkata pula.
"Kaupun ingat ini kepandaian melempar batu menunjukan jalan !"
It Hiong tidak menjawab, hanya telinganya lantas mendengar suara batu membentur sesuatu di dalam lubang itu.
"Bagaimana ?"
Si orang tua tanya.
"Lubang ini dalam tak sepuluh tombak"
Sahut si anak muda.
"Biar aku yang turun lebih dahulu untuk memeriksa bagian dalamnya....."
Lantas ia menghunus pedangnya sambil memutar itu, ia lompat masuk kedalam lubang buat turun ke dasarnya.
Ia memasang matanya tajam-tajam, demikian pun telinganya.
Couw Kong Put Lo tidak diam saja.
Ia sudah tua, tak mau ia kalah dari anak muda.
Tetapi ia berpengalaman dan teliti, maka ia masuki gua bukan dengan jalan berlompat turun seperti si anak muda, ia hanya merayap untuk turun dengan ilmu "Pek Houw Ya Cong Kong", Cecak bermain-main di Tembok.
Selekasnya ia sampai di dasar lubang dimana ia meletakkan kakinya, lantas ia memasang mata tajam, melihat ke sekitarnya.
Ia mengumpulkan semangatnya pada matanya supaya Bisa melihat di tempat gelap.
Gua itu lebar dua tombak, dasarnya pasir melulu.
Disekitarnya tak tampak apa juga yang mencurigakan.
Di depannya terdapat sebuah jalan atau terowongan sempit, dimana terlihat berkilaunya cahaya pedang, maka ia menerka pada pedangnya si anak muda, kawannya itu.
Tidak ayal lagi ia bertindak cepat menyusul sang kawan.
Ia percaya tempat yang telah dilewati anak muda itu tak ada bahayanya lagi.
Tiba-tiba diujung terowongan itu kiranya sebuah tempat terbuka diatas gunung.
ketika si jago tua mengangkat kepalanya, ia melihat It Hiong tengah bersembunyi disisi sebuah batu besar dimulut terowongan itu, agaknya orang tengah mengawasi atau mengintai semata.
Ia lantas bertindak mendekati anak muda itu, hingga ia pun bisa melihat segala apa seperti si anak muda sendiri.
Mulut gua itu menghadapi sebuah tempat terbuka luas beberapa batu dimana terdapat banyak pepohonan dan batu besar-besar dan beraneka ragam bentuknya.
Pada sisi dinding gunung terdapat sebuah rumah batu yang sedang, tak kecil, tak besar.
Di depan rumah batu itu yang berhalaman datar, terdapat sejumlah meja dan kursi, semuanya terbuat dari batu juga.
Di bawah sinar rembulan tampak seorang berduduk diatas salah sebuah kursi batu.
Dialah seorang wanita tua yang rambutnya diriap-riapkan, tubuhnya tertutup pakaian hitam, kedua lengannya telanjang, kedua tangan itu memeluki seekor beruang hitam yang besar, sedangkan mukanya diletaki dipunggung binatang liar itu, nampaknya dia sedang menghisap-hisap......
Dilihat dari jauh, dari tempat It Hiong berdua bersembunyi, beruang yang besar itu seperti sudah kehabisan tenaga, sebab tubuhnya berdiam saja, dia seperti tak dapat bergeming dari pelukan wanita tua itu, ketika itu cuma terdengar Pekiknya, Pekik dari kesedihan, suaranya keras berkumandang disekitarnya.
Pada kursi batu yang lainnya berduduk seorang nona.
Ialah nona yang tadi menghadapi It Hiong berdua, dia tengah mengawasi si wanita tua menghisap darahnya si beruang hitam.
Dia mengawasi dengan tubuh tak bergerak.
Suaranya binatang itu terdengar semakin perlahan makin perlahan, lalu kepalanya teklok berbareng dengan berhentinya Pekikan itu.
Baru setelah itu si wanita tua menggerakkan kepalanya, memisahkan mulutnya dari tubuh sang binatang.
Dia lantas mengeluarkan hembusan nafas panjang, sedangkan kedua tangannya melepaskan rangkulannya itu.
Maka di lain saat, rebahlah sang beruang di depannya, rebah terkulai di atas tanah.
Wanita tua itu terus bangun berdiri.
Ia merapihkan rambutnya yang riap-riapan itu.
Baru sekarang terdengar suaranya, suara tertawa yang nyaring, pertanda dari kepuasannya.
Sebaliknya wajahnya memperlihatkan tampang yang cerah.
Dia berdahi jantuk dan hidungnya mancung.
Yang hebat ialah kedua matanya yang bersinar kebiru-biruan.
Kedua lengannya besar dan kasar, sedang tubuhnya gemuk terokmok hingga dilihat seluruhnya dia mirip seekor harimau betina.....
Setelah itu si wanita tua mengangkat hidungnya tinggitinggi untuk dipakai mencium sesuatu bau, kemudian ia berpaling kepada si nona untuk bertanya.
"Eh, Ya Bie, ketika tadi kau merondia Barisan rangka di dalam lembah diatas, kau bertemu orang atau tidak ?"
Ditanya si wanita tua, nona itu lantas berlutut dan menjawab .
"Barusan selagi meronda, aku bertemu dengan dua orang asing. Entah apa maksudnya mereka datang ke tempat kita ini. Aku sudah lantas lari kemari dan selekasnya aku menutup pintu gua. Maksudku untuk memberi laporan pada suhu, tetapi suhu tengah menghisap beruang itu, terpaksa aku menantikan supaya aku tidak menganggu suhu."
Touw Hwe Jie, demikian wanita tua itu, tidak menanya apaapa lagi.
Ia tidak tahu, bagaimana tidak mengambil mumet yang ia telah didustai muridnya itu, yang tak berani secara terus terang seluruhnya.
Ia lantas mencium-cium lagi dengan hidungnya, lalu dia tertawa terkekeh dan menegur .
"Ah, sahabat dari mana telah datang kemari ? Silahkan keluar untuk kita membuat pertemuan."
Mendengar pertanyaan itu, tahulah It Hiong berdua yang kehadiran mereka telah diketahui wanita lihai itu. Si anak muda segera membisiki kawannya.
"Locianpwe, silakan kau menemuinya. Aku akan memasang mata disini...."
Couw Kong Put Lo mengangguk, terus ia lompat keluar dari tempat sembunyinya itu. Ia tertawa nyaring dan berkata keras.
"Sahabat Touw Hwe Jie, kau sungkan sekali ! Nah, kau terimalah hormatku !"
Ia benar-benar merangkap kedua tangannya.
Ia pula segera sampai di depan rumah batu itu.
Touw Hwe Jie mengawasi tajam tamunya itu yang muda dan tampan dan tubuhnya tegap.
Itulah pria yang sangat disukainya.
Bagaikan lupa daratan, ia tertawa dan kata .
"Sahabat, kau she apa dan nama siapa ? Ada urusan apakah kau datang ketempat kami ini ?"
Couw Kong Put Lo mengangkat kepalanya guna menatap muka orang.
Di saat itu timbullah kekagumannya.
Si nenek yang tubuhnya besar dan buruk wajahnya sudah tidak nampak.
Di dalam saat sedetik itu, dia telah digantikan oleh seorang wanita yang cantik manis, usia kira-kira tiga puluh tahun yang tubuhnya langsing dan putih mulus.
"Aku datang kemari guna belajar kenal dengan ilmu Sin Kut Kang yang lihai."
Ia menjawab dingin.
Nampak si wanita muda melengak.
Itulah jawaban diluar dugaan.
Belum pernah ia menemui atau mendengar ada pria yang menyebut ilmunya yang luar biasa itu.
Inilah yang pertama kali.
Maka heranlah ia yang orang mengetahui ilmunya, cuma beberapa orang kenalannya saja.
Lalu ia tertawa tawar dan kata.
"Namamu masih disembunyikan, mana dapat kau menempur ilmuku itu. Apakah kau tak akan sia-sia saja menyerahkan jiwamu ?"
Couw Kong Put Lo tahu sudah selayaknya ia memperkenalkan diri, kalau ia menyebut nama palsu dan kemudian rahasianya pecah, itu akan merusak nama baiknya. Terpaksa ia menjawab.
"Akulah Couw Kong Put Lo. Sekarang ini aku datang kemari guna menguji kepandaianmu yang sifatnya kejam telengas itu guna mengambil nyawamu !"
"Oh !"
Seru Touw Hwe Jie, yang terus mengejek.
"Kiranya kaulah si orang gagah yang buat dua puluh tahun menyekap diri di Cenglo Ciang untuk memahami ilmu So Lie Kang ! Ha ha ha ! Apakah kau tak takut yang pertapaanmu nanti pudar didalam sekejap waktu dibawahnya pohon bungan bouwtan ?"
Kawannya It Hiong melayani bicara, tetapi lebih dahulu ia menjatuhkan diri akan berduduk secara jumawa diatas sebuah kursi batu. Ia menjawab.
"Kalau aku menggunakan golok atau pedang atau kepalan buat membinasakan kau, buat mengambil jiwamu, tenagaku berlebihan. Hanya cara itu tawar, tidak menarik hati. Lebih baik kau menggunakan ilmu Sek Bie Tay Hoat guna melayani So Lie Kang, kau buat menguji kepandaianku. Dengan jalan ini aku mengambil jiwamu, barulah aku bergembira sekali !"
Touw Hwe Jitertawa geli sekali.
"Baiklah,"
Sahutnya menerima tantangan itu.
"Asal kau tidak menyesal ! Cuma baiklah kau coba-coba dahulu dengan Souw Han Cian Li muridku, kalau kau menang baru kau lawan aku ! Itu waktu pastilah kau akan merasa puas betul-betul !"
Put Lo melirik ke arah nona disisinya wanita cabul itu. Nona itu cantik. Ia pikir.
"tidak apa kalau aku mencoba dahulu nona itu, diapun manis sekali ! Aku tahu si tua ini mau bertempur bergantian menunggu sampai aku letih. Biarlah dia bawa kelicikannya itu 1"
"Touw Hwe Jie, aku terima syaratmu ini."
Katanya berani.
"Hendak aku membikin kau puas."
"Baik, sahabat tetapi kau sabarlah."
Kata Touw Hwe Jitertawa.
"Aku menjadi nyonya rumah, aku mesti melakukan keharusanku."
"Kau harus disuguhkan dahulu arak kehormatan supaya aku tidak berlaku kurang hormat terhadapmu, ahli dari pendekar So Lie Kang !"
Habis berkata, nyonya itu menoleh kepada muridnya untuk mengedipi mata, maka Ya Bie sudah lantas menyajikan barang makanan diatas sebuah meja.
Itulah sepiring besar buah liok jiak ko, sepiring abon bersama tiga pasang sumpit serta tiba buah cawannya.
Araknya termuatkan didalam sebuah poci beling yang tinggi besar dan putih.
Segera juga Touw Hwe Jie duduk di depannya sang tetamu dan muridnya berdiri di sampingnya.
Masih ada sebuah kursi tetapi ditinggali kosong.
Maka Put Lo kata pada si nona.
"Nona, kaupun duduklah ! Habis minum, aku ingin menguji kepandaianmu !"
Jilid 32 Mendengar kata-kata orang itu, Touw Hwe Jie kata dingin.
"Kursi ini disediakan buat sahabat yang datang bersamamu."
Terus ia berbangkit, sembari menoleh ke tempat It Hiong bersembunyi, ia kata nyaring .
"Sahabat yang menyembunyikan diri di belakang batu, hayo, jangan kau bersikap sempit pikiran ! Buat apa kau malu sembunyisembunyi. Marilah keluar, mari kita minum bersama!"
Begitu ia mendengar suara orang itu, begitu It Hiong muncul dari tempatnya sembunyi.
Ia juga merasa malu mengumpatkan diri.
Dengan satu lompatan Tangga Mega, tiba ia di depan meja, sembari ia kata nyaring .
"Tio It Hiong mempunyai kegembiraan minum arak sambil menghadapi rembulan yang indah. Dia hanya bersedia menyingkirkan kutu busuk dunia rimba persilatan ! Kalian boleh berpesta pora, aku akan menantikan sampai berakhirnya......"
Touw Hwe Jie melirik si anak muda.
"Hm !"
Ia perdengarkan suaranya.
"Kiranya murid pandai dari Tek Cio Totiang dari Pay In Nia ! Maaf, maaf. Sahabat Tio, kau telah berlalu dengan menggunakan ilmu pedangnya yang istimewa, bukannya kau meninggalkan Cenglo Ciang dan pergi pulang, kau justru kembali kemari mencari permusuhan ! Bukankah diantara kita tidak ada budi, tak ada ganjalan ? Kenapa kau memaksa menyeterukan aku si wanita tua ? Tapi tak apalah, kalau kau tidak mau minum arak. Kau dapat minum teh, bukan ? Nyonya rumah ini memberi isyarat mengundang tetamunya berduduk, ia sendiri terus menjatuhkan diri di kursinya. It Hiong tidak mendapat alasan buat turun tangan, terpaksa ia duduk di kursi yang disediakan itu dan Ya Bie segera menyuguhkan air teh sembari mempersilakan orang minum, dia melihat dengan manis. Put Lo kuatir nanti akan dicurangi si wanita tua, dia tidak makan dan minum seperti diundang. Maka itu dia diam duduk saja. It Hiong heran melihat kawan itu berdiam saja, tak dapat ia menerka sang kawan itu mau menantikan apa. Ia sendiri, ia mendongkol sekali terhadap wanita tua itu. Habis sabarnya, ia menanya bengis .
"Touw Hwe Jie, di dalam lembah aku melihat banyak rangka atau tengkorak manusia hitung ratus. Apakah mereka semua korban-korban hisapan darah olehmu ? Adakah itu hasilnya kekejaman ilmu Sek Bie Tay Hoatmu itu ?"
Kip Hiat Hong Mo tertawa bergelak.
"Sudah tiga puluh tahun aku si orang tua tak pernah setengah tindak pun keluar dari Cenglo CIang !"
Katanya.
"Semua mereka itu datang padaku sesudahnya aku hidup menyendiri ditempatku ini dan mereka semua datang karena hendak menguji Sek Bie Tay hoat, kepandaianku itu. Mereka semua menyebut diri sebagai orang-orang gagah tetapi sayang belum sampai melampiaskan nafsu birahinya, baru saja mereka melihat paras elok, mereka sudah runtuh sendirinya. Mereka membuang jiwa seperti kawanan serangga yang menyerbu api ! Mereka mencari matinya sendiri. Habis apa mau dibilang ? Mereka tak dapat menyesalkan atau menyalahkan siapa juga !"
Habis berkata begitu Touw Hwe Jie mengawasi Couw Kong Put Lo, dia tertawa tawar.
Tingkahnya seperti menunjuki bahwa dihadapannya ada seorang lagi yang rela mengantarkan diri atau jiwanya !
It Hiong tetap tak puas, amarahnya tidak menjadi reda.
"Kau telah menghisap habis darahnya banyak orang,"
Katanya.
"kau telah membinasakan jiwa mereka. Semua itu cuma untuk menambah ilmu kepandaianmu yang jahat dan kejam itu. Kau boleh kata mereka itu mengantarkan diri sendiri, tetapi itu tetap kejahatanmu ! Apakah kau tak takuti kutukan Thian ?"
Nyonya itu melengak. Kemudian ia kata perlahan, seperti pada dirinya sendiri.
"Biasanya kalau aku menghisap darah, aku lakukan itu terhadap segala binatang dan belum pernah aku menggunakan paras elokku membujuk atau memancing orang bangsa pria. Eh, sahabat Tio, janganlah kau memfitnah aku....."
It Hiong gusar sekali.
"Lidahmu sangat tajam !"
Teriaknya.
"Alasanmu itu bagus sekali ! Sekarang mari aku tanya, siapakah yang didalam gua sudah menggunakan keelokannya buat membujuki aku Tio It Hiong ? Siapakah ?"
Nyonya itu kembali melengak.
"Benarkah ada kejadian serupa itu ?"
Tanyanya.
"Kau sedang muda dan gagahnya, sahabat Tio !"
Katanya.
"Kau menghadapi paras elok itu, dapatkah kau bertahan ? Kalau benar katamu itu mana dapat kau bisa datang kemari dengan masih hidup ? Sungguh, sukar akan mempercayai kata-katamu ini......!"
"Sudah jangan mengoceh saja !"
Couw Kong Put Lo menyela.
"Eh, Touw Hwe Jie lekas bilang, kau hendak menyuruh siapa menguji ilmu So Lie Kang ku ? Nah, kau suruhlah dia keluar !"
Nyonya itu tertawa. Dia tak menjawab. Dia hanya mengangkat poci araknya dan menuangi cawannya si pria tua. Ia pun menuangi cawannya sendiri. Habis itu barulah dia berkata .
"Aku seorang tua adalah wanita terhormat, tak mau aku berlaku secara menggelap. Arak ini yang dinamakan Sit Kui Tok jiang, arak beracun peranti merendam tulang."
Ia menunjuk buah merah menor diatas piring dan menambahkan.
"Dan buah ini ialah liok jiak ko, buah untuk membangunkan nafsu birahi ! Siapa habis minum arakku ini dan makan buah itu tetapi hatinya tetap tenang tak bergerak, dialah baru dapat melawan ilmu Sak Bie Tay hoat dari nyonyamu ini ! Nah, sekarang kalian pikirkan masak-masak. Kalian berani mencoba arak ini dan makan buah itu atau tidak ?"
Touw Hwe Jie berbicara dengan bergaya ia seperti bergurau terhadap Couw Kong Put Lo tetapi juga bagaikan menggertak. Put Lo merasai mukanya panas.
"Aku si tua tidak memikir mencoba arak atau buahmu ini."
Sahutnya.
"Aku cuma hendak menguji ilmu kepandaianmu !"
"Baiklah !"
Menjawab si nyonya cepat.
"Akan aku membuatmu puas supaya kau insyaf akan kelayakanku !"
Terus ia menekuk bibirnya untuk memperdengarkan siutan beberapa kali kemudian dia menambahkan .
"So Han Cian Li, mari keluar !"
Dari dalam rumah batu segera muncul seekor kera perempuan yang besar sekali, diikuti oleh seekor harimau yang betina.
Si kera berbulu kuning emas dan bulunya panjang-panjang, matanya bersinar bengis, semua giginya tajam, tampangnya sangat galak.
Si harimau adalah harimau loreng yang galak yang biasa dinamakan seebiu houw, harimau tukang gegares manusia.
Kedua ekor binatang itu lantas mengawasi tajam kepada kedua orang asing itu.
Mereka berdiri diam tak bergerak, mereka seperti tengah menantikan perintah.
Touw Hwe Jie menunjukkan kepada kera dan harimaunya yang jinak dan mengerti itu, sembari dia kata pada Couw Kong Put Lo.
"Merekalah yang aku namakan So Han Cian Li, si wanita cantik penyedot roh manusia, sekarang terserah kepadamu untuk memilih yang mana ! Cuma hal yang aku minta, yaitu suka apalah kau menaruh belas kasihan terhadap mereka itu...."
Couw Kong Put Lo menjadi gusar.
Dia datang guna menguji ilmu kepandaian si wanita tua, sekarang dia disuruh melawan dua ekor binatang.
Itulah penghinaan !
Bukankah dengan begitu berarti dia dipandang sebagai binatang juga ?
"Perempuan siluman, kau sangat kurang ajar !"
Dampratnya, sedangkan tangannya dikibaskan hingga habis tersumpurlah semua barang diatas meja di depannya.
Habis itu dia bertindak meninggalkan meja, bersiap akan menantikan musuhnya.
Touw Hwe Jie tidak bergusar, sebaliknya dia tertawa terkekeh.
"Couw Kong Put Lo !"
Katanya nyaring.
"Usiamu bukan muda lagi dan pertapaanmu bukan sedikit tahun, kenapa kau belum insyaf apa yang dinamakan pantangan paras elok ? Sengaja aku memerintahkan mereka ini muncul dalam diri asalnya, itulah guna membuat hatimu tenang, supaya kau tak usah membuang jiwamu ! Jika memangnya tidak puas, baiklah, biar aku menggunakan ilmuku Hoan Kak Bie Cia, buat melenyapkan perasaan dan memalsukan yang tulen, guna membikin mereka menyalin rupa menjadi cantik manis seperti yang kau kehendaki !"
Tiba-tiba terdengarlah satu suara tawa yang nyaring dan tajam sekali hingga hati orang tergetar, menyusul mana tibatiba lenyaplah kera dan harimau itu dan sebagai gantinya ditempat itu tampak sepasang nyonya muda yang elok sekali, rambut mereka terurai di belakangnya, tubuhnya tertutup pita hitam tetapi tangan dan kaki mereka telanjang, muka mereka tersunggingkan senyuman ramai.
Melihat kedua wanita itu Couw Kong Put Lo berdiri menjublak, agaknya dia kagum sekali dan tertarik hatinya.
Kedua nyonya itu mengawasi dengan sinar mata memain terus, mereka bertindak menghampiri si orang tua, untuk menempatkan diri di kiri dan kanannya guna memegang kedua tangan orang buat akhirnya ditarik, diajak masuk ke dalam rumah batu.
Menampak demikian, hatinya It Hiong goncang.
Segera ia mengerahkan Hian Bun Sian Thian Khie kang, akan mengumpulkan semangatnya, guna menguatkan hatinya.
Dengan cara demikian, ia berhasil membuat matanya tak seperti kabur dan hatinya menjadi tenang.
Setelah itu, ia memikirkan keselamatan kawannya, tak perduli si kawan sebenarnya bukan orang lurus.
Ia telah memberikan janji bantuannya bukan ?
Sekaranglah saat bantuannya itu menyingkirkan si wanita tua, yang berilmu aneh itu !
Lantas ia menghunus pedangnya dan berlompat, untuk lari masuk ke dalam rumah batu.
Touw Hwe Jie berlompat bangun, untuk berlompat lebih dahulu ke depan pintu kamar batunya dimana dia berdiri menghadang.
"Sahabat Tio, tahan !"
Serunya mencegah. It Hiong gusar, ia lantas menikam dada orang. Itu serangan berantai tiga kali. Touw Hwe Jie tidak menangkis, ia cuma selalu berkelit setelah itu kembali ia berdiri di ambang pintu.
"Eh, siluman tua !"
Bentak It Hiong.
"kalau kau tidak kenal selatan dan tak mau menyingkir, jangan nanti kau salahkan pedangku ini yang tak kenal kasihan !"
Si nyonya tak menggubris peringatan itu. Dia tetap tertawa manis.
"Sabar, sahabat Tio ! "katanya.
"Tua bangka itu tak akan hilang jiwanya!"
"Aku tidak percaya kau !"
Bentak It Hiong.
"Dia datang bersamaku, tak dapat aku membiarkannya menempuh ancaman bencana !"
"Apa yang nyonya tua bilang,"
Kata pula si wanita itu.
"satu tetap satu, dua tetap dua, tak nanti aku memperdayai kau ! Jika kau masuk kedalam rumahku itu bukan saja kau tak bakal berhasil membantu dia, sebaliknya asal kau melihat kalapnya nafsu birahinya, bakal lenyaplah rasa hormatmu terhadapnya....."
Kata-kata nyonya itu membangkitkan ragu-ragunya si anak muda.
"Dia bukan orang lurus, dia sama sesatnya seperti wanita tua ini."
Kemudian pikirnya.
"Baik, aku biarkan mereka berdua sama roboh, paling akhir baru aku yang turun tangan membasmi mereka itu."
Si nyonya mengawasi, ia menarik nafas.
"Sahabat Tio, kau percaya aku atau tidak ?"
Tanyanya sabar agak menyesal.
"bersediakah kau mendengar beberapa perkataan pula dari aku ?"
It Hiong berfikir sejenak.
"Coba kau ucapkan itu !"
Katanya kemudian. Lantas si nyonya mengasi lihat sikap sungguhsungguh.
"Aku si perempuan tua, aku sangat menghargai Tek Cio Siangjin yang menjadi gurumu itu,"
Demikian katanya.
"Dialah orang lurus dan lihai seperti kau sendiri, bukan orang sesat. Kau gagah berani bahkan kau sangat benci kejahatan. Aku suka sekali mewariskan kepandaianku Hoan Kak Bie Cia guna membantu usahamu dalam dunia Kang Ouw ! Apakah kau suka menerima ilmu itu ?"
It Hiong menatap sambil otaknya bekerja.
Ia telah menyaksikan sendiri anehnya ilmu wanita itu.
Ia merasa keberatan.
Tak sudi ia menerima pelajaran dari kaum sesat.
Ia menunjuk rupa senang sembari memberi hormat, ia memberikan jawabannya.
"Sebelum aku menerima ijin dari guruku, tidak dapat kau menerima pelajaran dari lain perguruan. Kau baik sekali, aku berterima kasih padamu."
Touw Hwe Jitertawa. Dia seperti mengerti maksud orang, maka dia tak menjadi kurang senang. Ia berkata pula .
"Aku si wanita tua bercita-cita menyembunyikan diri, sudah puluhan tahun aku tak muncul dalam dunia Kang Ouw, tetapi melihat kau muda belia dan bakatmu begini bagus, tertariklah hatiku. Tak sayang-sayang hendak aku mewariskan kepadamu, maka itu sungguh diluar dugaan, kau tidak menghargai aku. Kau sudah menampik dengan kata-kata dustamu. Ah, sayangsayang, kaupun dapat bicara bohong...."
It Hiong mengawasi wanita itu. Nada bicara orang beda sekali daripada nada bicaranya semula. Dia benar-benar menjadi seorang wanita tua.
"Mungkin dia bicara jujur...."
Pikirnya. Tapi tak senang ia yang orang mengatakannya mendusta, maka ia kata sungguhsungguh.
"Jangan kau sembarang bicara ! Aku Tio It Hiong, belum pernah aku membohong !"
Touw Hwe Jitetap bersabar. Kata dia.
"Kalau kau tidak mendusta, habis bagaimana dengan ilmu pedang Gie Kam Sut mu itu ? Apakah kau pelajari itu sesudah kau memperoleh ijin dari gurumu ?"
It Hiong berdiam diri.
Memang ilmu itu ia pelajari tanpa mengasi tahu gurunya, tanpa meminta perkenan lagi.
Di dalam keadaannya seperti itu, mana ada kesempatan buat ia pulang dahulu dan memohon ijin dari gurunya itu ?
Touw Hwe Jie menghela nafas.
"Walaupun aku si wanita tua telah masuk ke dalam jalan sesat dan telah mempelajari ilmu tidak lurus,"
Kata dia masgul.
"aku bukan seperti katanya Couw Kong Put Lo bahwa aku menggunakan penggunaan paras elok guna mencelakai orang, untuk menghisap darah dan membinasakannya. Sebenarnya aku tak sejahat dan sekejam itu. Maukah kau mendengar sebab musababnya ?"
Tio It Hiong tidak menjawab ya atau menolak, ia hanya kata.
"Kenyataan dari kebenaran memenangi sangkalan atau bantahan. Di dalam dunia Kang Ouw, orang bekerja harus dengan cara jujur, berani berbuat berani mengakuinya ! Apa yang tersiar diluaran mungkin berlebihan tetapi untuk menyangkalnya mesti ada bukti kenyataannya !"
Touw Hwe Jie merasai mukanya panas.
"Aku si wanita tua, kau tahu aku tetap adalah gadis belia yang suci murni"
Kata dia.
"Hanya untuk membuktikan itu yang kurang leluasa. Jadi...."
Ia lantas memperlihatkan lengannya dimana ada tanda merah dadu yang dinamakan sie kiong see, tanda dari kesucian kehormatan diri. It Hiong heran. Habis melengak sejenak, ia lantas bertanya .
"Bagaimana dengan gelaran atau itu -Kip Hiap Hong Mo--dan itu semua rangka atau tengkorak manusia di dalam lembah ? Dapat kau dibilang bahwa kau tak ada sangkut pautnya dengan semua itu ?"
Kembali si nyonya menghela nafas.
"Itulah justru soal yang hendak aku jelaskan duduk perkaranya kepadamu."
Sahutnya. It Hiong tidak berkatai apa-apa, hanya ia mengawasi wanita tua itu. Kembali Touw Hwe Jie menarik nafas, lau dia kata .
"Memang benar aku si wanita tua mempelajari ilmu menghisap darah ketika aku belum menyendiri di Cenglo Ciang ini, semua korbanku adalah pelbagai binatang liar atau bukan. Lain soalah setelah aku berhasil menyempurnakan ilmu rahasia yang dinamakan Bie Cong Hoan Kak Bie Cia. Ketika itu aku saban diganggu oleh kedatangannya orang-orang sesat kaum Bu Lim Rimba Persilatan. Mereka datang untuk menganggu kesucian diriku. Mereka itu sama dengan si Couw Kong Put Lo itu...."
Nyonya itu berhenti guna menatap si anak muda. Dia seperti mau melihat perubahan sikapnya pemuda itu. Lalu ia meneruskan.
"Aku gusar terhadap kawanan pria hidung belang itu, maka aku memikir membuat mereka hilang jiwa karena orang paras elok tetapi supaya mereka puas. Karenanya aku memikir menangkap pelbagai binatang seperti beruang, kera, harimau dan ular, semuanya yang betina yang terus aku amprokinya dengan kawanan pria busuk itu. Maka terjadilah, semua pria itu mati karena darahnya terhisap. Sebaliknya aku lantas menyedot darahnya sekalian beserta binatang itu, seperti barusan beruang hitam itu..."
Dia lantas menunjuk korban beruang yang masih terkulai di tanah itu. Terpaksa, hatinya It Hiong kena tergerakkan. Mau percaya keterangan itu. Toh ia masih ragu-ragu.
"Dengan demikian"
Katanya.
"jadi semua rangka dan tengkorang itu adalah milik orang rimba persilatan yang busuk itu."
"Memang ! Barusan toh aku telah menyebutkannya, aku si wanita tua selama tiga puluh tahun, belum pernah aku melangkah setindak juga keluar dari wilayah Cenglo Ciang ini. Kalau bukannya mereka sendiri yang datang mencari mampus, mana bisa kau mendapatkan sedemikian banyak rangka dan tengkorak."
Kemudian si nyonya menunjuk Ya Bie, si nona cantik.
"Muridku satu-satunya, yang bakal jadi ahli warisku,"
Kata dia.
"ialah dia Ya Bie namanya. Aku harus mengajari dia Sin Kut Kang, belum aku mendidik dia dalam ilmu Hoan Kak Bie Ciu dan Sek Bie Tay hoat itu. Aku berkuatir buat usianya yang masih muda, takut kalau-kalau dia tak sanggup bertahan dari godaan nafsu birahi... Godaan itu lebih bisa mencelakai daripada mendatangkan kebaikan untuk dirinya !"
Mendengar keterangan paling belakang itu It Hiong tertawa.
"Aku yang muda, masih muda sekali."
Kata ia.
"aku pula pria. Bagaimana aku dapat mempelajari Hoan Kak Bie Cia, bagaimana andiakata aku jadi main gila sekehendak hatiku ? Tidakkah begitu hebat sekali ?"
"Pertanyaan yang bagus sekali !"
Berkata Touw Hwe Jie.
"Sungguh seorang anak muda yang cerdas dan berpikir panjang ! Tapi harus kau ingat anak muda, bukankah aku telah menguji kekuatan imanmu ? Apakah kau tak tahu itu ?"
It Hiong mengawasi tajam.
"Bukankah kita baru bertemu malam ini ?"
Tanyanya.
"Dimanakah kau pernah menguji aku ?"
Touw hwe Jitertawa. Dia tak lantas menjawab. Hanya dia menoleh kepada muridnya, untuk berkata.
"Ya Bie pergi masuk kedalam. Kau suruh mereka itu --So Huan Cian Li--berlalu, sedangkan kepada tua bangka tak tahu mampus itu, kau berikan sebutir obat Ceng Sim Tan !"
Si nona Ya Bie menyahuti sambil menjura, lantas dia mengundurkan diri. Setelah murid itu berlalu, Touw Hwe Jie kata pada anak muda di depannya .
"Bukan aku sendiri yang menguji kau, hanya Ya Bie muridku itu. Malam itu dikebun buah, dia bertemu denganmu. Dia melihat kau muda dan tampan sekali, hatinya sangat tertarik. Kontan setan cilik itu mencintai kau. Dari masih kecil dia hidup di tanah hutan dan pegunungan ini, dia tak mengerti adat istiadat, perihal pantangan pergaulan pria dan wanita diluar garis, dia lantas menggodia kau dengan ilmu Sin Kut Kang ! Yang dia belum paham sempurna. Demikian di dalam gua, berulang kali dia mengganggumu, buat membangunkan nafsu birahimu, tetapi dia tak berhasil memancingmu. Tentang itu, dia menceritakan padaku, maka itu aku menjadi mendapat tahu kaulah orang satu-satunya yang tepat untuk menjadi muridku, guna menerima warisan Hoan Kan Bie Ciu itu. Nah, sahabat Tio, kau telah dengar semua, maka jawablah, benarkah peristiwa itu ?"
It Hiong melengak.
"Benar !"
Sahutnya selang sejenak. Ia ada terlalu jujur buat menyangkal, meski sebenarnya ia jengah. Touw Hwe Jitertawa berkakak, sampai rambutnya yang kusut beterbangan. Lama dia tertawa, baru dia berhenti.
"Sekarang,"
Katanya.
"tak perduli kau suka menerima atau tidak, mesti aku mengajari Hoan Kek Bie Ciu kepadamu....!"
It Hiong menjublak, lalu ia merasa tak puas. Pikirnya .
"Aneh, didalam dunia ini ada orang yang begini memaksakan diri hendak mewariskan ilmu kepandaiannya !"
Tengah ia berpikir itu, It Hiong lantas melihat di depannya ada beberapa Touw Hwe Jie hingga ia menjadi bingung.
Justru itu ada sebelah tangan yang meluncur ke arahnya, untuk menekan jalan darahnya, jalan darah beng bun.
Di dalam keadaan biasa, tak perduli Touw Hwe Jie sangat gesit dan cepat, tak nanti dia dapat menowel tubuhnya si anak muda.
Kali ini keadaan lain.
Kali ini anak muda itu justru terpengaruhkan ilmu Hoan Kak Bie Cin yang membuat mata orang kabur.
Tiba-tiba It Hiong merasai tubuhnya kaku dan pada jalan darah beng bun itu terasakan terasalurkan hawa dingin bagaikan es.
Tanpa ia merasa, ia menggigil kedinginan.
Tapi ia masih sadar, maka ia mendongkol sekali.
"Touw Hwe Jie"
Bentaknya.
"kau menyerang secara membokong, apakah artinya perbuatanmu ini ?"
Tapi si nyonya tua berkata dengan sungguh-sungguh.
"Aku si tua hendak menyalurkan masuk tenaga latihanku beberapa puluh tahun ke dalam tubuhmu supaya aku bisa membantumu di dalam waktu yang sangat singkat mempelajari sempurna ilmu Hoan Kak Bie Cin ! Apakah kau tidak puas dan tak sudi menerimanya ? Lekas kau duduk bersila dan dengan tenang mengatur pernafasanmu ! Kau pejamkan mata !"
It Hiong tidak puas. Masih ia berkata .
"Kau terima baik dahulu dua rupa permintaanku, baru aku suka menerima pelajaran ilmu dari kau ini !"
"Apakah syaratmu itu ?"
Tanya si nyonya.
"Lekas bilang !"
"Yang pertama,"
Sahut It Hiong yang mengemukakan syaratnya.
"Kalau lain kali ada orang keliru mendatangi Cenglo Ciang ini, kau harus nasehati dia secara baik dan antarkan dia keluar dengan tidak kurang suatu apa ! Sebaliknya, jangan kau aniaya atau membinasakannya !"
"Dan apakah itu yang kedua ?"
Touw Hwe Jie tanya pula. It Hiong berpikir dahulu baru dia berkata .
"Diantara kita tidak ada soal guru dengan muridnya ! Kau telah melepas budi memberikan pelajaran padaku, budi itu aku ingat di dalam hati sanubariku. Di belakang hari akan aku balas budimu ini. Tetapi kalau nanti kemudian kita bertemu pula dalam dunia sungai telaga, kau harus berdiri dipihakku ! Aku Tio It Hiong !"
"Apakah masih ada permintaan lainnya ?"
Touw Hwe Jie tanya pula.
"Tidak ada lagi."
Sahut It Hiong.
"Hanya itu jiwanya Couw Kong Put Lo, aku minta kau suka mengasihaninya !"
"Semua syaratmu aku si wanita tua menerimanya !"
Sahut Touw Hwe Jie.
"Sekarang kau duduklah biar tenang dan meluruskan nafasmu dengan baik, untuk kau menerima pelajaranku !"
It Hiong tidak berkata apa-apa lagi, ia terus duduk dengan tenang.
Ia menyalurkan tenaga Hian Bun Sian Thian Khie kang dari gurunya, membuat dirinya tenang, maka juga dilain saat ia sudah berada didalam keadaan sempurna untuk segala keadaan, sedangkan selama belajar pedang Gie Kiam Sut, kedua nadinya jim dan tok telah terasalurkan selesai.
Demikian ketika hawanya Touw Hwe Jiterasalurkan masuk, maka dua hawa dingin dan panas bercampur menjadi satu menjadi hangat dan rasanya nyaman menyenangkan sekali.
Hawa itu menjalar ke seluruh jalan darah, memasuki apa yang dinamakan Hian kwan, pusat kehidupan dan kematian.
Tiba-tiba terdengar Touw Hwe Jitertawa dan kata .
"Eh, kiranya kedua nadimu jim dan tok sudah terasalurkan sempurna, pantas kau lihai ! Itu artinya mempermudah untuk kau menyempurnakan Hoan Kak Bie Ciu !"
It Hiong membuka matanya, ia melihat cuaca sudah terang.
Barulah ia ketahui yang tanpa merasa sang waktu sudah lewat dengan cepat.
Sebentar saja berlalulah waktu empat jam lamanya.
Ia lantas berbangkit.
"Nah, sekarang ada pelajaran apa lagi ?"
Tanyanya.
"Atau apakah sekarang aku sudah selesai ?"
Touw Hwe Jie mengeluarkan se
Jilid buku kecil dari sakunya, sembari menyerahkan itu kepada si anak muda, ia berkata .
"Kau sudah berhasil ! Inilah hasil yang cepat luar biasa ! Sekarang, kau bacalah kitab ini lalu melatihnya. Maka segera kau dapat berbuat apa saja yang kau suka dengan ilmu Hoan kak Bie Cin ini !"
It Hiong menyambuti menerima kitab itu, ia membaca selewatan lantas ia masuki itu kedalam sakunya.
"Kau..."
Katanya, atau mendadak ia merendah.
"Apa ?"
Tanya Touw Hwe jie, agak heran.
"Diantara kita telah terjalin budi menyerahkan dan menerimanya,"
Kata si pemuda ragu-ragu.
"Karena itu, apa atau bagaimanakah aku harus membahasakan kau ?"
Touw Hwe Jitertawa.
"Aku si wanita tua sudah berusia delapan puluh lebih,"
Katanya.
"kau panggil saja cianpwe padaku !"
Justru itu It Hiong menoleh kesamping mana si nona, diatas kursi batu ia melihat Couw Kong Put Lo, yang tengah berduduk.
Tak tahu ia kapan kawan itu muncul.
Dia duduk menyandar, napasnya sengal-sengal, mukanya pucat pasi dan berkerut.
Karena dia telah kembali kepada muka asalnya, wajah dari seorang tua.
Ia terperanjat.
"Cianpwe !"
Ia tanya Touw Hwe Jie.
"kenapa Couw Kong Put Lo menjadi demikian rupa ?"
Wanita itu menjawab dingin .
"Itulah hasil atau akibatnya, dia main-main asmara ! Dia telah berjalan di jalan kematian tetapi dia berhasil mendapati pulang nyawanya. Darah didalam sumsumnya telah tersedot tak sedikit oleh Sa Hun Cian Li, dia makan obatku, obat Ceng Sim Tan, yang menetapkan hati, dia tak akan berkhayal lagi, berfikir yang tidak-tidak...."
Lega hatinya It Hiong mendapati Couw Kong Put Lo tidak hilang jiwa, ia lantas menghampirinya dan menanya.
"Locianpwe, kau toh tak kurang sesuatu apa ?"
Orang tua itu mengangkat kepalanya, mengawasi si anak muda.
"Aku si orang tua roboh dalam demam asmara."
Katanya masih belum tentram juga.
"Aku merasa tersiksa lebih menderita dari pada mati."
It Hiong menghibur.
"Sekarang locianpwe, kau harus istirahat ! Jangan locianpwe putus asa. Bukankah ada pepatah yang mengatakan, asal sang gunung hijau, kita tak akan kekurangan kayu bakar ?"
Mukanya Couw Kong Put Lo bersemu sedikit merah, pertanda dia malu berbareng mendongkol, mendadak dia mengerahkan tenaganya untuk berlompat bangun, guna berlari-lari turun gunung.
Tapi dia masih sempat menoleh dan berkata keras .
"Sakit hati ini harus dibalas !"
Dia lari terus.
It Hiong mengawasi sampai orang lenyap dari pandangan matanya.
Ia tidak bilang apa-apa.
Ia tidak menyusul atau pergi, ia hanya terus berdiam bersama Touw Hwe Jie buat melatih Hoan Kak Bie Ciu dibawah petunjuk dan penilikan wanita tua itu.
Dengan demikian ia menjadi berdiam terus dirumah batu di lembah Goh Cit Kok itu sampai beberapa hari.
Selekasnya ia sudah selesai, ia keluar dari Cenglo Ciang dengan diantar oleh Ya Bie yang menunjuki jalan sampai di jalan umum.
Hanya ketika keduanya mau berpisah, Ya Bie agaknya merasa berat.....
Sekeluarnya dari tanah pegunungan itu, gunung Bu Lian San, It Hiong segera keras memikirkan pula pamannya yang terancam bahaya racun ular itu.
Hal kedua yang ia ingin tahu ialah kesudahannya pertempuran di gunung Tay San.
Dan akhirnya soal ketiga urusan pribadinya ialah soal asmara.
Hari itu It Hiong tiba di daerah pegunungan In Bu San dipropinsi Kwiuciu.
Karena waktu baru tengah hari tepat, ingin ia singgah di kecamatan Tengkoan saja.
Ketika itu ada di pertengahan musim gugur, diwaktu tengah hari matahari panas seperti api membakar, maka ia lantas berhenti dibawah sebuah pohon di tepi rimba di kaki gunung.
Ia duduk diatas akar pohon yang berbongkol besar, matanya dipejamkan.
Angin yang bersiur-siur membuatnya merasa nyaman.
Baru kemudian ia membuka mata untuk terus melepaskan nafas lega kemudian lagi tangannya merogoh kepinggangnya guna mengambil kantong air, sebab ia merasa berdahaga atau segera ia ingat yang ditengah jalan tadi, airnya telah terminum habis.
Maka ia berbangkit dan berjalan akan mencari sumber air, guna mengisikan kantong airnya itu.
Sekarang ini tubuh It Hiong jauh terlebih ringan daripada biasanya.
Kedua nadinya jim dan tok yang telah terbuka telah disempurnakan oleh Touw Hwe Jie si nyonya tua yang aneh sikapnya itu, maka itu ia dapat berjalan jauh lebih ringan dan cepat.
Ia sudah melewati sebuah lembah tetapi ia tetap masih berada ditepian rimba.
Rupanya rimba itu luas dan panjang hitung lie.
Tidak ada sumber air yang diketemukan, tidak telaga, tidak curug.
Maka ia memikir buat kembali saja atau tiba-tiba sang angin membawakannya suara air tumpah.
Segera ia memasang telinga akan mendengar lebih jauh.
Suara air datangnya dari dalam rimba, air seperti tengah memukuli batu....
Tanpa ragu lagi, si anak muda bertindak cepat ke dalam rimba.
Ia sudah memasuki jauh juga, sang air masih belum diketemukan.
Ia maju lebih jauh sampai di depannya tampak mengapungnya sebuah dinding gunung tinggi sepuluh tombak dan sela-sela dinding gunung itu terlihat air mengucur turun, jatuhnya ke bawah menimpa batu-batu besar.
Air berbunyi nyaring dan bermuncratan, tetapi tadi, kalau tidak dibawa sang angin, suaranya itu tak terdengar sama sekali.
Segera It Hiong menghampiri air itu.
It Hiong merasakan ketenangan rimba itu, tidak heran kalau lantas ia mendengar suara oarng berbicara, ia heran.
Lantas ia memasang telinga.
Suara itu sering berhenti.
Ia merasa orang yang mengeluarkan suara itu seorang ahli tenaga dalam.
"Kenapa di dalam rimba ini, diapit gunung, ada demikian banyak orang ?"
Pikirnya lebih jauh. Ia mendengar bukan suaranya satu orang hanya lebih.
"Siapakah mereka ? Mereka tengah melakukan apakah ? Baik aku melihatnya."
Maka ia merapikan kantung airnya, terus ia bertindak keras ke arah suara itu.
It Hiong berjalan dengan tindakan ilmu ringan tubuh Tangga Mega.
Maka ia dapat melangkah cepat dan tanpa suara apa-apa.
Selekasnya sudah melalui tiga puluh tombak lebih, di depannya ia melihat belasan orang sedang duduk berkumpul dibawah sebuah pohon besar, dimana mereka itu asyik berbicara, mereka pria dan wanita, ada yang berjubah suci, ada yang biasa saja dan bekal senjatanya pedang dan golok.
Mereka duduk bersila dalam sebuah bundaran.
Melihat caranya orang berduduk saja, It Hiong merasa heran.
Itulah cara duduknya kaum rimba persilatan.
Dengan berduduk demikian, orang tak usah tengok sana tengok ini untuk melihat andiakata ada orang luar yang datang ke arah mereka.
Sebab mereka masing-masing sendirinya sudah melihat ke sekitar mereka.....
It Hiong tidak mau kena dipergoki.
Ia ingin ketahui dahulu, siapa mereka itu.
Mereka orang lurus atau sesat, maksudnya baik atau buruk.
Ia pula tak ingin dicurigai, sebab itulah berbahaya.
Celaka kalau ia disangka sebagai mata-mata.
Maka lantas ia lompat naik ke atas pohon, akan bersembunyi diantara dahan-dahan daun-daun yang lebat.
Dengan berhatihati ia merayap diatas pohon itu supaya ia bisa datang lebih dekat.
Dari tempat jauh tak dapat ia mendengar tegas pembicaraan orang.
Dengan berada lebih dekat, ia pun bisa melihat lebih nyata pada mereka itu.
Karena formasi tempat persembunyiannya itu, It Hiong jadi menghadapi beberapa orang, sebaliknya beberapa orang membelakangi padanya.
Kebetulan baginya, orang yang paling dahulu ia lihat, ia kenali sebagai Heng San Kiam khek It Yap Tojin, gurunya Gak Hong Kun.
Rahib itu mudah dikenali dari kundia dan janggutnya yang panjang dan jubahnya serta pedang yang menggemblok di punggungnya.
It Yap Tojin diapit di satu sisi oleh seorang tua yang bertubuh besar dan berwajah keras, alisnya gombiok, matanya tajam dan berewokan pula.
Di sisi dia itu berduduk seorang nona yang cantik yang dikenalnya, Siauw Wan Goat adanya.
Di sisi yang lain ada seorang wanita usia empat puluh tahun lebih, mukanya merah, air mukanya menarik tetapi rambutnya sudah putih semua, bajunya dengan pundak terbuka, bajunya itu tersulamkan banyak gambar kupu-kupu.
It Hiong mengenali pria itu ialah Tocu pemilik atau tertua dari To Liong To, ialah Kang Teng Thian, sedangkan si nyonya setengah tua adalah Ang Gan Kwie Bo dari gunung Ngi Cie San dikepulauan Haylam.
Dan orang yang menarik perhatiannya anak muda itu ialah dua orang tua yang tampangnya luar biasa.
Mereka itu katal torokmok, mukanya penuh dengan daging tak rata.
Mereka itu bermata tajam dan galak, senjatanya ialah golok.
Rupanya mereka bersaudara.
Yang paling aneh ialah yang satu kutung lengan kirinya, yang lain buntung lengan kanannya.
Seorang lain yang It Hiong kenali ialah Kim Lam It Tok yang mukanya ia lihat sebagian saja.
Mereka yang membelakanginya, sulit buat melihat atau mengenalinya.
Pembicaraan mereka itu berlangsung terus sampai It Hiong mendengar suaranya It Yap Tojin.
Kata imam itu .
"Kekalahan di Tay San disebabkan Thian Cie Toheng terlalu memandang ringan kepada pihak lawan. Pinto tidak turun tangan tetapi pinto merasa kecewa dia membuang jiwanya!"
Imam itu bicara dengan lagak jumawa, agaknya dia puas jauh dia tidak turut di dalam pertemuan atau pertemuan besar itu.
Suara jumawa itu mendapatkan sambutan seorang wanita yang suaranya nyaring bagaikan kelenengan.
Begini sambutan itu .
"Benar, guruku itu bercelaka tetapi dia toh membuat si pengemis terluka parah ! Totiang, kau bicara dengan caramu ini, kalau begitu kemanakah perginya persahabatan diantara kau dan guruku itu ?"
"Hm !"
Si imam memperdengarkan suara dinginnya.
"Budak, jangan kau sembarang menggoyang lidahmu ! Tahukah kau akan maksudnya pertemuan kita ini ? Pinto justru hendak membangun Bu Lim Cit Cun, guna membalaskan sakit hatinya gurumu ! Rombongan yang menyebut dirinya kaum lurus itu harus dimusnahkan seluruhnya !"
It Hiong mengenali wanita itu ialah Teng Hiang. Sampai disitu maka Kang Teng Thian lantas campur bicara. Tanya dia.
"It Yap Totiang, dapatkah kau memberikan penjelasan bagaimana caranya memilih Bu Lim Cit Cun itu ?"
Bu Lim Cit Cun itu berarti Tujuh Jago. It Yap Tojin tertawa lebar.
"Pemilihan itu mudah saja asal dicari dahulu orang atau orang-orang yang bersatu tujuan dengan kita"
Sahutnya kemudian.
"Disebelah itu mereka haruslah yang ilmu silatnya tinggi. Pinto memikir untuk meminta kalian memilih atau menyebut beberapa nama. Mereka itu dapat mereka yang sekarang hadir disini atau tidak."
"Bagaimana andiakata jumlah yang dipilih lebih daripada tujuh orang ?"
Tanya Ang Gan Kwie Bo. Si orang tua yang tangan kirinya kutung mencela.
"Kalau sampai terjadi begitu, aku pikir tidak ada halangannya kita merubah sebutan menjadi Pat Cun atau Cap Cun !"
Pat ialah delapan dan Cap ialah sepuluh. Suara itu mendatangkan suara dingin "Hm"
Daripada hadirin, maka juga orang tua itu serta saudara, ialah Yan Tio Siang Cian menjadi jengah, wajahnya pucat dan suaram bergantian. Kang Teng Thian lantas berkata pula.
"Totiang kau berpengetahuan luas dan ilmu silatmu lihai. Aku percaya totiang telah mempunyai rencanamu, maka itu tolong kau memberi pengutaraan. Silakan lekas bicara, tak usah totiang bersangsi-sangsi !"
It Yap Totiang bersikap ayal-ayalan. Ia mengurut pula janggutnya. Ia tertawa dahulu baru ia berkata .
"Kang To cu terlalu memuji aku ! Tak dapat pinto menerima pujian itu ! Niatku ialah begini. Kita mengumpul sebanyak kita bisa, lantas kita memilih tujuh diantaranya."
Mendengar demikian sunyi sidang itu. Orang saling mengasi "Seperti telah pinto katakan, namanya badan kita itu mesti tetap bernama Bu Lim Cit Cun,"
Kata pula si imam habis memandangi semua hadirin.
"Kita memilih mereka yang paling lihai, lalu satu diantaranya kita angkat menjadi bengcu kepala kemudian kepala itu nanti memberi nama apa saja kepada enam sebawahannya itu, terserah."
Lantas terdengar suara dingin dari seorang wanita.
"Tapi totiang, bagaimana kau hendak memilih tujuh orang itu ? Bagaimanakah caranya supaya mereka yang tidak terpilih nanti merasa puas dan suka tunduk kepada segala perintahnya ? Kita harus berlaku adil dan mempuasi semua pihak !"
Kiranya pembicara itu ialah Kwie Tiok Giam Po dari Losat Bun, Ay Lao San.
"Itulah justru yang barusan aku minta It Yap Totiang menyebutkannya !"
Berkata pula Kang Teng Thian yang suara dalam.
"Aku menghendaki cara pemilihan yang dapat diterima semua orang."
"Cara itu ialah kita mengadu kepandaian kita."
It Yap Tojin menjawab.
"Umpama kata kepandaianku tidak berarti, dengan segala senang hati aku akan mengalah. Apa yang aku minta ialah setelah menjadi Bu Lim Cit Cun, orang tetap berlaku agung, tak berat sebelah ke pihak mana juga supaya semua orang tunduk dan puas ! Bagaimana pendapat para hadirin ?"
Diwaktu bicara itu, imam ini bersikap gagah sekali bahkan rada pemberang.
Rupanya dia merasa bahwa dia yang bakal menjadi bengcu dari Bu Lim Cit Cun itu.
Sebelum orang mau menjawab, dia sudah berkata pula .
"Seperti aku kata barusan, kita memilih orang dengan mengadu kepandaian. Kita menetapkan satu tempat dan waktunya, di sana siapa yang berminat menjadi Bu Lim Cit Cun hadir untuk diuji....."
Ang Gan Kwie Po menyela.
"Cara ini memang sederhana tetapi aku anggap kesudahannya dapat merusak kerukunan diantara kita ! Pula kaki dan tangan sukar dikendalikan sepenuhnya, bagaimana kalau ada yang keterlepasan gerakannya dia melakukan lawannya. Maka itu aku pikir, walaupun sederhana tiada pemilihan ini tak dapat diambil....."
It Yap Tojin menoleh kepada nyonya itu, matanya dibuka lebar.
"Tunggulah sampai pinto sudah bicara habis !"
Katanya.
"Setelah itu semua orang memikirkan dan memberikan pertimbangannya."
Dia mengangkat bahunya dan menyambungi.
"Tak usah dijelaskan lagi bahwa orang yang dipilih sebagai Bu Lim Cit Cun mesti seorang kepala partai atau sedikitnya yang kepandaiannya lihai luar biasa. Sesudah diuji barulah dapat diketahui orang pandai sampai dimana ! Kepandaian itu tak terbatas kepada ilmu keras atau lunak atau dengan bersenjata, yang penting ialah dia mengatasi semua orang. Aku percaya, orang semacam itu pasti akan ditaati...."
Semua orang setujui pikiran ini, mereka pada bertepuk tangan. It Yap Tojin menunjuk tampang puas.
"Jika para hadirin sudah setuju, nah, silakan tolong tunjuki nama-nama orang yang dipilih itu ! "
Katanya kemudian.
"Akan pinto mencatat nama mereka itu, untuk kemudian kita memilih tempat dan tanggal pertemuan guna melakukan ujian."
It Hiong mendengari pembicaraan itu dengan merasa girang berbareng mendongkol.
Girang sebab ia ketahui maksudnya It Yap Tojin.
Mendongkol sebab terang mereka itu berkomplot buat mengganggui dan mencelakai kaum lurus.
Jadinya mereka itu hendak mengacau saja.
Inikah yang dinamakan bencana rimba persilatan ?
Satu hal melegakan hatinya It Hiong.
Dari pembicaraan mereka ini dapat diterka yang dalam pertemuan besar di Tay San, kaum sesat itu sudah tidak memperoleh hasil bahwa Thian Cie Lojin, ketuanya, menerima bagiannya yang hebat itu.
Hanya, entah bagaimana dengan pihak lurus.....
Dengan berlaku sabar, It Hiong terus sembunyi memasang telinga dan mata.
Pembicaraan rombongan itu dilakukan terus, ramai suara mereka.
Selang hampir setengah jam baru mereka menjadi reda.
Justru didalam kesunyian, sekonyong-konyong Kwie Tiok Giam Po dari Losat Bun berkata terkejut .
"Ah, aku si wanita tua lupa ! Aku melupakan namanya seorang yang berilmu tinggi ! Dialah Kip Hiat Hong Mo Touw Hwe Jie dari Cenglo Ciang dari Bu Liang San ! Dia lihai sekali hingga dari aku harus mengalah tiga bahagian dari dianya....."
Nyata namanya Kip Hiat Hong Mo masih asing bagi kebanyakan hadirin itu, banyak yang melongo mendengarnya.
Semua lantas mengawasi jago Losat Bun itu.
It Yap Tojin kenal Touw Hwe Jie.
Pada kiranya empat puluh tahu dahulu, pernah dia menemuinya satu kali.
Kang Teng Thian kenal nama tetapi tak pernah bertemu, jangan kira, kenal pada orangnya.
Setelah berpikir sejenak It Yap Tojin berkata .
"Ya, aku kenal Kip Hiat Hong Mo Touw Hwe Jie. Dia pandai ilmu silat Sin Kut Kang. Pada empat puluh tahun, pernah aku menemuinya di perbatasan propinsi Inlam. Ketika itu dialah seoang nona yang gemar mengenakan kain hitam. Kemudian pinto dengar wajahnya itu bukan wajah yang asli. Sampai sekarang ini dia tentunya telah berusia delapan atau sembilan puluh tahun. Apakah dia masih hidup ?"
"Aku si perempuan tua penah kenal dengannya,"
Berkata Kwie Tiok Giam Po.
"Beberapa waktu yang lampau ada orang yang mencari pohon obat-obatan di gunung Bu Liang San dan pernah bertemu dengan muridnya. Katanya dia dilembah Gah Cit Kok di Cianglo Ciang dan dia masih sehat walafiat."
It Yap Tojin memperlihatkan tampang ragu-ragu, sedangkan didalam hati ia kata .
"Mana dia itu diundang ! Dia pasti terlebih lihai daripada aku..."
Kemudian ia kata.
"Dia sudah mengundurkan diri puluhan tahun, dia telah hidup menyendiri begitu lama, tak mudah akan mengundang dia turun gunung...."
Teng Hiang masih tidak puas sebab si rahib menghina gurunya, maka dia campur bicara dan berkata nyaring .
"Yang kita kehendaki jalan kemenangan, yang hendak kita balas ialah dendam sakit hati ! Karena itu selagi di depan kita ada orang sedemikian lihai, kenapa kita tidak mau pergi mengundangnya ?"
Nona ini bicara secara gagah, ia mendatangkan kesan baik dari para hadirin.
Setelah berkata begitu, ia minta Kwie Tiok Giam Po mengajaknya pergi mengundang ahli Sin Kut Kang itu.
Ia kata ingin sekali ia jalan-jalan ke Cenglo Ciang.
Untuk sekian lama orang berdiam, maka Kang Teng Thian berkata pula.
"Tuan-tuan bagaimana? Apakah tuan-tuan bersedia untuk memilih tempat serta tanggal bulannya pemilihan akan dilakukan ?"
Kiu Lam It Tok telah berdiam saja tetapi kali ini tak dapat dia membungkam terus. Kata dia.
"Baiklah tanggal bulan itu kita tepatkan hari raya Tiong Yang dan tempatnya ialah ini gunung In Bu San di puncak utamanya ! Bukankah urusan selesai sudah ?"
Kang Teng Thian campur bicara. Ia bersikap sabar dan berkata tenang.
"Aku fikir hari raya Tiong Yang sudah terlalu dekat. Mungkin kita tidak keburu berkumpul bersama. Sekarang sudah lewat pertengahannya musim gugur, untuk sampai kepada hari raya Tiong Yang itu harinya tinggal sepuluh hari kira-kira ! Aku fikir baik kita mundur sampai pertengahan bulan pertama tahun yang akan datang, disaat pesta Cap Gome ! Bukankah itu terlebih bagus ?"
Pikirannya ketua dari To Liong To ini mendapat kesetujuan umum.
Maka hari dipilihnya itu telah ditetapkan.
Sesudah berjanji untuk nanti berkumpul pula dipuncak utama In Bu San mereka lantas bubaran.
It Hiong menanti sampai orang sudah bubar semua, baru ia keluar dari tempatnya sembunyi.
Dengan lekas ia mengambil keputusan.
Ia mesti lekas pulang ke Siauw Lim Sie memberi kabar pada pihak Siauw Lim Pay perihal bahaya yang lagi mengancam ini.
Sungguh kebetulan, ia mendengarnya.
Maka tanpa ayal lagi, ia juga meninggalkan tempat itu.
Ia lari keras dengan ilmu ringan tubuh Tangga Mega sebab ketika itu sudah lohor.
Ia berlaku hati-hati agar jangan sampai ia terlihat orang atau orang-orang rombongan tadi.
Terpisahnya gunung In Bu San di kecamatan Kwieteng cuma kira tiga puluh lie.
Waktu begitu, jalanan juga sudah sepi.
Lebih-lebih ditengah, tak seorang tampak.
Tiba di dalam kota, It Hiong melihat cuaca magrib.
Nyata kota itu ramai sebab Kwieteng adalah kota hidup untuk menuju ke Ouwlam.
Tengah pemuda kita mencari penginapan, ia berpapasan dengan dua orang yang tadi hadir dipertemuan di dalam rimba.
Yang satu ialah si orang tua yang alisnya gomplok dan berewokan yang tubuhnya tinggi besar dan yang lainnya satu nona yang bukan lain daripada Siauw Wan Goat dari To Liong To.
Nona Siauw berpakaian serba merah, rambutnya dijepit gelang pada mana ada tusuk konde burung-burungan.
Ketika mereka berpapasan dekat, matanya It Hiong dan matanya si nona bentrok satu dengan lain.
Ia lewat terus dengan berpura-pura tak memperhatikan si nona itu.
It Hiong sementara itu tidak tahu halnya Gak Hong Kun sudah menyamar sebagai dianya bahwa dikecamatan Lapkeng didalam penginapan, Hong Kun sudah permainkan Siauw Wan Goat.
Ia sama ingat halnya digunung Heng San, Wan Goat telah menggoda padanya tanpa ia mengerti duduknya hal.
Ia menyesal berpapasan dengan nona itu, yang nampaknya tergila-gila padanya.
Habis bertemu Nona Siauw itu, It Hiong berjalan cepat sekali.
Masih ia memikirkan hal nona itu waktu ia tiba disebuah rumah penginapan merangkap rumah makan.
Selama itu hari sudah malam dan tamu-tamu restoran telah berkurang.
Lebih dahulu It Hiong memesan barang makanan sekalian dengan araknya.
Ia sudah berjalan jauh, hendak ia menyegarkan diri dengan minum sedikit, supaya setelah letihnya hilang, dapat ia tidur nyenyak.
Tepat sedangnya si anak muda mengangkat cawan araknya, Siauw Wan Goat tiba bersama si orang tua.
Mereka itu mengambil tempat di meja didekatnya.
Habis memesan barang makanan, Wan Goat berbisik pada si orang tua yang menjadi kawannya itu.
Selagi berbisik, ia terus melirik anak muda kita.
It Hiong bersantap sambil menunduki kepala.
Ia tidak menyangka yang si nona dan si orang itu mengikutinya.
Ia heran ketika tiba-tiba si orang tua menghampirinya dan sembari memberi hormat dia menyapa .
"Tuan, adakah kau Tuan Tio It Hiong, murid dari Pay In Nia ?"
Orang tua itu bicara dengan tenang tetapi suaranya sungguh-sungguh.
Terang ia tengah menguasai diri, supaya ia tak terpengaruh hawa amarahnya.
Ia mau memegang derajatnya sebagai seorang tua, sebagai ketua dari satu golongan.
Dialah Kang Teng Thian pimpinan dari To Liong To.
Ia sekarang hendak melindungi dan berbuat baik untuk Siauw Wan Goat, adik seperguruannya itu.
It Hiong bangkit untuk mengawasi orang yang menyapanya itu, yang ia tidak kenal, walaupun ia nampak heran, ia toh lekas-lekas membalas hormat sambil memberikan jawabannya.
"Aku yang rendah benar Tio It Hiong. Siapakah kau, bapak ? Apakah she dan nama yang mulia dari bapak ? Ada pengajaran dari bapak untukku ? Silahkan duduk ! Mari minum !"
It Hiong mempersilahkan duduk sambil ia menuangkan air teh. Orang tua itu menunjuki wajah padam, dari mulutnya juga terdengar suara "Hm!". Ia berduduk dengan perlahan-lahan.
"Aku si orang tua adalah Kang Teng Thian dari To Liong To,"
Demikian ia perkenalkan diri.
"Aku mempunyai seorang adik seperguruan yang ketujuh namanya Siauw Wan Goat. Apakah saudara Tio kenal padanya ?"
Berkata demikian Teng Thian menoleh dan menunjuk pada sumoaynya itu.
It Hiong melengak tetapi ia lantas berpaling ke arah nona yang ditunjuk itu.
Ia mendapati Siauw Wan Goat tengah mengawasinya.
Dari sinar matanya si nona terang si nona itu sangat prihatin terhadapnya.
Itulah rasa cinta yang bercampur penyesalan atau penasaran.
Mata nona itu tergenangkan airmatanya.....
Saking heran It Hiong melengak.
Sekian lama ia teringat akan lagak si nona baru-baru ini, suatu hal yang ia tak mengerti.
Teng Thian nampak tak sabaran, ia mesti menanti sekian lama.
"Hm !"
Kembali terdengar suara dinginnya.
"Saudara Tio, mengapa kau tidak menjawab pertanyaanku si orang tua ? Apakah karena melihat adik seperguruanku itu maka lantas mengerti akan kesalahanmu sendiri ?"
Si anak muda makin heran, dari melengak dia menjadi bingung.
"Sebenarnya aku yang muda pernah bertemu dengan nona Siauw yang menjadi adik seperguruanmu itu,"
Sahutnya kemudian terpaksa.
"Apakah yang hendak kau tanyakan, Keng cianpwe ? Aku mohon suka apalah kau menunjuki."
Kumis dan janggutnya Teng Thian bergerak sendirinya. Itulah bukti ia tengah menguasai dirinya, guna mengendalikan hawa amarahnya. Tak mau ia segera bentrok dengan anak muda di depannya ini.
"Saudara Tio, kau cuma pernah bertemu satu kali dengan sumoayku ?"
Berkata dia menahan sabar. Tetapi suaranya bernada keras dan ketus.
"Bahkan kau pernah menghinanya ! Masihkah kau tak hendak mengakuinya ?"
It Hiong heran sekali tetapi ia berpikir.
"Orang-orang To Liong To termasuk kaum sesat. Mungkin sikapnya orang tua itu disebabkan peristiwa di gunung Heng San hingga mereka menjadi mendendam dan sekarang mencari gara-gara guna melampiaskan dendamnya itu...."
"Aku mempunyai urusan penting buat pulang ke Siong San, tak ada kesempatan buatku untuk melayani orang tua ini...". Maka ia lantas menjawab sabar.
"Bapak, secara kebetulan saja aku bertemu dengan sumoaymu itu, apa yang telah terjadi adalah diluar kehendakku. Karena kita sama-sama tak unggulkan itu taklah dapat dibilang bahwa aku telah menghina saudaramu itu. Tapi jika Kang cianpwe tetap menganggap aku bersalah, bagaimana kalau aku matur maaf padamu ?"
Lantas It Hiong bangkit, ia mundur sedikit terus menjura pada orang tua itu.
Ia menjura dalam.
Justru orang minta maaf, justru Kang Teng Thian menjadi gusar sekali.
Ia pun tidak senang mendengar si anak muda mengatakan tak menghinai adik seperguruannya itu.
"Hei, bocah !"
Bentaknya.
"sebenarnya kau memikir bagaimanakah terhadap adik seperguruanku itu ? Lekas kau bicara terus terang di depanku si orang tua ! Kalau tidak... Hm !"
Jilid 33 It Hiong menjadi heran. Ia pun menjadi tidak senang. Seingatnya belum pernah ia berlaku merendahkan diri sebagai kali ini, tidak karuan menghaturkan maaf pada orang yang tidak dikenal.
"Kang cianpwe"
Katanya keras.
"kalau kau tidak dapat memaafkan aku, baiklah. Baik didalam air maupun di dalam api, Tio It Hiong bersedia melayanimu !"
Ketua dari To Liong To juga menjadi gusar sekali. Tak dapat ia menguasai diri lagi. Ia berbangkit dan menggeprak meja, hingga cawan dan piring pada berlompatan.
"Tak kusangka kau yang bernama besar, kiranya begini tak berharga !"
Teriaknya.
"Bocah, bagaimana kau berani menyangkal perbuatanmu atas dirinya adik seperguruanku itu ? Bagaimana sekarang kaupun berani kurang ajar di depanku ?"
It Hong menjadi terkejut sekali. Dia jadi semakin heran.
"Kang cianpwe !"
Katanya keras.
"Keng Cianpwe kaulah seorang ketua partai. Kalau kau bicara harus kau ingat akan kedudukanmu yang tinggi dan mulia itu ! Bagaimana kau mudah saja memfitnah orang ? Apakah kau tengah mencari alasan untuk menerbitkan onar ?"
Kang Teng Thian menjadi bingung juga. Sikapnya si anak muda membuatnya heran.
"Mari"
Ia menoleh kepada adik seperguruannya dan memanggil sambil menggapaikan.
Siauw Wan Goat menghampiri sambil menundukkan kepala.
Biar bagaimana ia tetap masih mencintai orang muda itu yang ia percaya Tio It Hiong adanya sedangkan orang yang mempermainkannya ialah Tio It Hiong palsu.
Ia kemudian mengawasi si pemuda.
Ia menutup muka cuma sinar matanya menyatakan ia sangat berduka.
"Kau bilangi aku, bagaimana caranya bocah ini menghinamu !"
Kata Kang Teng Thian bengis pada sumoaynya itu.
"Kakakmu nanti membelamu, tak peduli bagaimana licin dan licik juga."
Wan Goat malu sekali.
Mana dapat ia membuka rahasia hatinya di depan orang lain sekalipun orang itu kakak seperguruannya sendiri ?
Disebelah itu, ia masih mengharap akan dapat berbaik pula dengan "Tio It Hiong"
Bisa bentrok hebat dengan kakak seperguruan itu.
Dan yang sangat kejam itulah berbahaya bahkan kesudahannya akan membuatnya menyesal seumur hidupnya !
Begitulah dengan airmata bercucuran, ia mengawasi Tio It Hiong.
Mulutnya memperdengarkan tangis segak seguk sedih, tangannya dipakai menunjuk ke dadanya si anak muda.
Tak dapat ia bicara.
Kang Teng Thian mengawasi sumoay itu.
Ia menjadi bingung.
Ia bergusar tetapi tak dapat mengumbarnya.
Bahkan sebaliknya ia menjadi dapat berpikir.
"Ah, lebih baik aku recoki jodoh mereka berdua !"
It Hiong pun berdiam.
Biar bagaimana ia berkesan baik terhadap si nona.
Ia merasa kasihan.
Sekian lama ketiga orang itu berdiri diam saja, cuma si nona terus menangis sedih.
Akhir-akhirnya Tio It Hiong yang memecah kesunyian.
"Nona Siauw"
Berkata ia.
"sebenarnya kenapakah kau menjadi begini rupa ? Kenapa suhengmu ini mencari aku, hingga dia menerbitkan gara-garanya ini ?"
"Kau.... kau...."
Berkata Wan Goat, tetapi cuma sebegitu suaranya, airmatanya terus mengucur deras, tak dapat ia meneruskan kata-katanya. It Hiong mengawasi tajam.
"Aku tahu aku tidak melakukan kesalahan apa juga !"
Ia berkata pula sungguh.
"Kalau benar ada terjadi sesuatu aku minta kau tuturkan biar terang !"
"Ya, itu benar !"
Kang Teng Thian turut bicara.
"Kakakmu ini bukan orang luar. Karena itu kau boleh bicara terang terang ! Kau sebut kesalahannya supaya dia jangan terus menerus berlagak pilon !"
Siauw Wan Goat mengeluarkan saputangannya buat menepas airmatanya. Ia pun berhenti menangis.
"Kakak Hiong"
Katanya kemudian, perlahan.
"kenapa kau begini tak berbudi..."
Suara itu sangat sedih. It Hiong bingung, kalau begini ia menerka urusan bukan sebab urusan di Heng San itu. Maka ia lantas berkata sungguh-sungguh.
"Nona Siauw, kita sama-sama orang Kang Ouw. Karena itu kalau kau bicara, bicaralah biar jelas ! Setahuku diantara kita tidak ada persahabatan atau pergaulan kita baru mengenal satu dengan yang lain. Mengapa kau katakan aku tidak berbudi ? Kapannya aku telah menyianyiakanmu dan dalam urusan apakah ?"
Sambil berkata begitu It Hiong melirik Kang Teng Thian.
Ia mendapati muka orang merah padam dan tangannya dikepal, tanda dari kemurkaannya.
Ia heran hingga ia melengak.
Siauw Wan Goat mengawasi, matanya lemah, tampangnya sangat lesu.
Ketika ia berkata suaranya lemah juga.
Katanya .
"Kakak Hiong benar-benarkah kau begini tak berbudi ? Kalau begitu kenapakah kau mendustai dan menipuku ?"
Mukanya It Hiong merah dan pucat. Ia heran dan mendongkol. Masih ia mencoba mengendalikan diri.
"Nona Siauw !"
Katanya, nadanya keras.
"dalam urusan apakah aku menipumu ? Kapannya aku menyia-nyiakanmu ? Kau bicaralah terus terang supaya suhengmu ini mendengar dan dapat menimbang !"
"Hal itu telah aku beritahukan suhengku"
Sahut si nona.
"Itulah urusan kita berdua, mana kakakku menimbangnya ? Buatku sudah cukup asal aku tak berbuat, tak berbudi asal tidak menyia-nyiakan diriku. Dengan begitu aku sudah puas, tidak akan kau sesalkan padamu, kakak..."
It Hiong tunduk. Ia berpikir keras. Ia menerka si nona tergila-gila padanya karenanya dia main gila, sekarang dia mau gunakan kakaknya itu supaya si kakak mempengaruhnya.
"Tak mungkin !"
Pikirnya.
Ia tidak kenal Wan Goat tadinya, ia tidak bergaul dengan nona itu !
Darimana datangnya rasa cinta ?
Ya, ia belum pernah melakukan apa juga terhadap si nona, apa pula terhadap kesucian dirinya.
"Nona ! Tio It Hiong adalah seorang laki-laki sejati !"
Kata ia sungguh-sungguh, sikapnya gagah.
"Kalau aku melakukan sesuatu tak pernah aku sangkal itu ! Demikian terhadapmu ! Tak pernah aku melakukan apa juga ! Kita toh baru pernah bertemu satu dua kali !"
"Ah, kakak !"
Kata Wan Goat.
"apa katamu itu ? Sungguh kau berkelakar ! Aku baru saja sembuh dari hajaran sebelah tanganmu !"
It Hiong heran hingga ia mengawasi mendelong.
Inilah hebat.
Kalau sumoay dan suheng itu berkongsi memfitnah padanya sudah menganggap kehormatannya sumoay ini.
Kapannya ia pernah menghajar nona itu ?
Bukankah itu yang dinamakan orang "melukis ular dengan ditambahkan kakinya ?"
"Pasti disini ada sesuatu yang luar biasa...."
Pikirnya.
"Nona Siauw, sungguh aku tidak mengerti !"
Katanya.
"Aku pikir, baiklah hal ini dibikin terang....!"
Ah, Kak Hiong, kau memikir terlalu banyak...."
Kata si nona.
Kang Teng Thiang berdiri terus mengawasi muda mudi itu.
Ia heran hingga ia berpikir keras.
Kedua pihak sama-sama ngotot.
Dapatkah ia datang sama tengah ?
Adik itu harus dikasihhani tetapi si adik tak dapat menggusari It Hiong.
"Sudah tak siang lagi."
Katanya kemudian.
"Mari kita masuk ke dalam kamar. Di sana kita bicara lebih jauh."
Memang, mereka itu bicara di tempat terbuka.
Orang tua itu menghampiri pengurus hotel, akan melemparkan sepotong perak.
Ia minta disediakan tiga buah kamar yang bersih.
Setelah itu ia mengikuti seorang pelayan yang mengantarkannya ke dalam.
Lebih dahulu mereka pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri kemudia bertiga mereka duduk disebuah kamar.
"Kamu berdua anak muda, kamu membuat aku si orang tua pusing."
Kata kemudian Kang Teng Thian.
"Sekarang, apa juga urusan kalian, kalian boleh utarakan secara bebas, jangan kuatir aku si orang tua mendengarnya."
Orang tua itu lantas menghampiri pembaringannya, ia naik diatas itu untuk merebahkan diri, untuk beristirahat sambil memejamkan mata.
Selama itu It Hiong menurut saja.
Ia penasaran dan ingin tahu ia dituduh tak berbudi di dalam urusan apa.
Selekasnya si orang tua merebahkan diri, ia lantas tanya.
"Nona, kapannya kau dilukai oleh aku ? Cobalah kau jelaskan duduknya hal !"
Siauw Wan Goat melirik dahulu ke arah pembaringan kepada sang Toa suheng, kakak seperguruannya yang paling tua, kemudian ia menghampiri si anak muda untuk menjawab.
"walaupun aku telah dihajar kau, aku tidak membencimu, maka itu buat apa kita bicarakan pula urusan itu ?"
"Aku justru mau minta keteranganmu, nona !"
Kata It Hiong mendesak.
"Aku ingin kau menjelaskannya sebab aku tidak mengerti."
"Sebenarnya sudah cukup asal kau ingat peristiwa itu."
Kata si nona sabar.
"Kenapa kau begini mendadak menghendaki aku bicara ? Apakah kau tidak kuatir orang mendengarnya dan nanti mentertawakannya ?"
"Aku hanya kuatir kau keliru, nona"
Kata It Hiong.
"Baiklah nona, tuturkan itu dan dengan jelas!"
Wan Goat mengawasi lilin, hatinya goncang. Ia menghela nafas.
"Di dalam hal ini aku yang harus dipersalahkan,"
Katanya perlahan.
"Itulah disebabkan aku terlalu menyintaimu. Demikian aku telah ditipu olehmu ! Dan sekarang habis ditipu itu, aku pun dipermainkan...."
Ia tunduk dan menangis, air matanya meleleh, menetes jatuh.....
It Hiong mengawasi, hatinya berpikir.
Melihat keadaan si nona, ia percaya nona itu tidak lagi mendusta.
Hanya ia merasa aneh, kenapa justru ia yang dituduh.
"Dilihat begini, mesti ada orang yang main gila...."
Pikirnya kemudian. Ia menjadi curiga dan menerka-nerka.
"Mesti hal ini mesti dibikin jelas !"
Lantas anak muda kita merubah sikapnya. Ia mengulur tangannya mencekal lengan si nona bagaikan seorang kakak. Ia juga menyusut air matanya nona itu.
"Kau bicaralah, nona"
Katanya halus.
"Kau tuturkan padaku bagaimana caranya kau telah orang perhina. Kau tuturkan semua biar jelas, supaya aku dapat mendengar dan mengetahui...."
Wan Goat merasakan manis.
Orang bersikap lemah lembut terhadapnya.
Maka diakhirnya ia meluluskan permintaan anak muda itu.
Nona Siauw lantas menceritakan peristiwa di dalam hotel di kota Lap kan di pinggiran propinsi Sa-coan, peristiwa malam itu ia telah dipermalukan oleh It Hiong palsu yang ia sangka Tio It Hiong tulen.
Habis menuturkan, ia lantas mengawasi anak muda di depannya itu untuk melihat sikap orang.
"Oh, begitu"
Seru It Hiong perlahan, suaranya tertahan. Ia terus tunduk.
"Kakak Hiong"
Berkata si nona heran.
"kakak, kenapa kau melupakan aku sampai begini ?"
It Hiong balik menatap.
"Kau dengar nona,"
Katanya kemudian.
"Aku juga mempunyai sebuah cerita. Kau dengarkan lalu kau pikirkan. Bersediakah kau ?"
Wan Goat heran, tetapi ia mengangguk.
It Hiong lantas bercerita halnya ia membantu Beng Kee Eng, pamannya di gunung Ay Lao San, terus akhirnya sampai disini mereka berdua bertemu.
Ia menuturkan semua kecuali halnya di In Bu San ia telah mencuri lihat dan mendengari semua pembicaraan kawanan sesat itu yang dikepalai oleh Yap It Tojin hendak memusuhkan kaum lurus.
Mendengar cerita anak muda ini, Wan Goat jadi berpikir.
Lantas ia ingat keterangannya Tan Hong tentang Tio It Hiong palsu.
Kalau anak muda ini benar, terang ia telah ditipu orang.
Tentu sekali hal itu membuatnya sangat bersusah hati.
Tapi kemudian ia ingat lain kata-katanya Tan Hong ialah.
"Tak perduli orang Tio It Hiong yang tulen atau yang palsu, semuamua asal demi Tio It Hiong!"
Maka ia pun lantas mengambil keputusan, katanya pasti .
"Telah kau pergi kemana, semua itu tak akan perdulikan. Apa juga mau dibilang, aku toh telah menjadi istrimu ! Apakah kau hendak membuang dan menyianyiakan aku ?"
Alisnya It Hiong bangkit.
"Nona Siauw !"
Katanya keras.
"kau bicara pakai aturan atau tidak ?"
"Tetapi"
Kata nona itu.
"mana ada wanita yang memaksa mengakui suaminya ? Mustahilkah ada dua orang yang sama she dan namanya yang sama juga muka dan potongan tubuhnya."
Panas hatinya It Hiong hingga tubuhnya menggigil, tetapi ia mesti berdiam saja karena ia kewalahan untuk menyangkal si nona.
Dengan susah payah Siauw Wan Goat membujuki kakak seperguruannya mengikuti ia mencari Tio It Hiong, sekarang ia telah berhasil mendapatkan anak muda itu.
Mana ia mau sudah saja, mana ia mau dengan mudah saja melepaskannya pula.
Ia tahu kecuali kali ini, lain waktu sukar buat ia mencari pula anak muda itu.
Ia lantas memegangi anak muda itu dan menarik-nariknya, ia menangis dan mengatakan hendak mati atau hidup bersama si pemuda.
Kang Teng Thian sudah layap-layap ketika ia dibikin mendusin suara berisik adik seperguruan-nya itu.
Ia bangkit berduduk dan menanya .
"Apalagi yang kalian ributkan ?"
"Toa suheng, kau berilah keputusan dalam urusan kami ini !"
Berkata si nona menangis.
"Dia......"
Teng Thian menyela sumoay itu dengan ia kata keras pada It Hiong.
"Tio It Hiong urusanmu dengan adikku ini, tak perduli bagaimana duduknya, harus ada mulanya mesti ada akhirnya, maka itu kalian harus menjadi suami isti ! Apakah kau sangka kami orang-orang To Liong To dapat diperhina ?"
It Hiong tidak kena digertak.
"Kang cianpwe"
Berkata ia lantang.
"bukankah aku telah bicara terus terang barusan ? Apakah kau tidak mendengar nyata ? Aku telah tuturkan hal ikhwalku, bagaimana aku telah terkurung di Ay Lao San, karena itu mana dapat didalam waktu yang bersamaan aku berada di kecamatan Lapkee di Sucoan dan berada bersamasama adik seperguruanmu ini hingga dia mendapat perlakuan seperti yang dia tuturkan itu ? Aku pikir yang terang ialah dia telah terpedayakan orang jahat...."
"Ya, aku si orang tua telah mendengar nyata."
Menjawab ketua dari To Liong To itu.
"Tapi mana dapat kata-katamu itu menipuku ? Apakah kau hendak menggunakan lidahmu yang tajam buat mencuci diri bersih-bersih untuk menyia-nyiakan saudaraku ini ? Hm !"
It Hiong menjadi gusar. Ia telah berlaku jujur tetapi orang tidak percaya padanya ! Ia merasa terhinakan. Kata ia sengit.
"Akulah laki-laki sejati, mana dapat kau menyia-nyiakan seorang gadis remaja ? Kang Cianpwe, habis apakah maumu ?"
"Hm !"
Kang Teng Thian memperdengarkan suaranya yang dingin.
"Kalau kau tidak menjadi suami istri, hendak aku si orang tua membawamu ke Siauw Sit San, buat mencari In Gwa Sian ayah angkatmu itu, guna membuat perhitungan dengan. Urusan kalau ini akan aku gunakan sebagai cara mengundang mengumpulkan semua jago rimba persilatan supaya merekalah yang nanti memberikan keputusan yang adil ! Sampai itu waktu hendak aku lihat kau masih mempunyai muka tidak !"
It Hiong terkejut.
Pasti ia merasa malu kalau urusan ini sampai tersiar di muka umum.
Tak mau ia yang nama perguruannya, nama ayah angkatnya terbawa-bawa karenanya.
Maka itu ia menjadi berlaku sabar pula.
"Kang cianpwe,"
Kata ia.
"dalam hal ini kita perlu dengan pembicaraan terlebih jauh. Aku minta kau jangan bergusar dahulu supaya janganlah si manusia jahat lolos dan bebas sebebas-bebasnya...."
Kang Teng Thian menjawab tetap .
"Asal kau suka menerima baik urusan ini, asal kau suka mengakui adik seperguruanku adalah istrimu, suka aku tidak membikin susah padamu !"
Siauw Wan Goat menarik ujung bajunya si anak muda.
"Kakak Hiong,"
Katanya berduka.
"kau jawablah kakakku itu ! Kakak, asal kau suka menerima baik aku, aku bersedia sekalipun menjadi pelayan atau budakmu, semua-mua aku rela !"
Kembali sepasang alisnya It Hiong bangkit, dari duduknya ia bangun berdiri.
Ia berjalan bolak balik dengan kedua tangannya di pinggangnya.
Ia merasakan hatinya berat melebihkan tindakan kakinya.
Teng Thian dan Wan Goat mengawasi tanpa berkedip.
Mereka melihat dibawah sinarnya api bagaimana pemuda yang tampan itu tampak sangat berduka, sedikit juga tak ada tanda-tandanya bahwa dia mendusta atau ia lagi berpurapura.
Siauw Wan Goat mengawasi terus hingga ia merasa bahwa pemuda ini benar-benar Tio It Hiong yang asli, bahwa orang yang ia ketemukan di kecamatan Lapkee itu pastilah Tio It Hiong palsu.
Ia merasa dapat membedakan sikap duduk orang.
Walaupun demikian tak dapat ia melepaskan anak muda ini.
Kesucian dirinya sudah dikorbankan...
It Hiong berpikir keras.
Tak dapat ia dipaksa Teng Thian.
Rasa hormat dirinya melarangnya, ia tidak bersalah.
Tapi, ia mesti mencari jalan untuk meloloskan diri.
Bagaimanakah ?
"Nona,"
Kemudian ia kata perlahan kepada Siauw Wan Goat, sikapnya ramah.
"Kau sangat mencintai aku, inilah aku mengerti. Tak selayaknya kalau cintamu itu disia-siakan.... Akan tetapi keadaan kita lain. Masa dapat aku dipaksa ? Di dalam hatimu nona, maukah kau akan cinta paksaan ?"
Wan Goat tunduk, ia tampak likat. Ia mengangkat kepalanya akan mengawasi si anak muda, hendak ia bicara tetapi gagal.... Tapi Kang Teng Thian membentak .
"Tio It Hiong, jangan kau jual lagak lagi ! Kau harus ketahui pukulanku si orang tua Bu Eng Sin Kun tak dapat dipandang ringan !"
Pukulan itu, Bu Eng Sin Kun ialah pukulan sakti, pukulan dahsyat "Tanpa Bayangan".
It Hiong pun menjadi habis sabar.
Tak puas ia dengan ancaman itu.
Alisnya bangkit dengan tiba-tiba.
Dengan kecepatan kilat, ia menghunus Keng Hong Kiam, Pedang Mengejutkan Pelangi, hingga sinarnya menyilaukan mata.
Dengan satu bacokan, ia membuat ujung meja putus terkutung !
"Tio It Hiong cuma dapat menerima cinta suci murni dari Nona Siauw Wan Goat."
Kata ia nyaring.
"Tetapi buat menjadi suami istri, itulah satu hal penting. Sekarang ini aku menghendaki diperiksa dahulu tentang peristiwa yang sebenar-benarnya di rumah penginapan di kecamatan Lapkee itu, setelah ada kepastian dan kenyataan, akan aku minta persetujuan dahulu dari kedua kakakku, baru dapat aku mengambil keputusan ! Nona, beginilah keputusanku sekarang, dapatkah kau mengerti dan memaafkan aku ?"
Wan Goat menangis dengan air matanya bercucuran deras.
"Kakak Hiong, semua-muanya aku terserah kepadamu !"
Sahutnya sedih. Ia putus asa dan tak berdaya. Dengan hanya satu jejakan pada lantai, tubuhnya It Hiong mencelat keluar dari jendela.
"Hm !"
Bersuara Kan Teng Thian yang menjadi sangat gusar.
"Sumoay, urusan jodohmu ini mengenai kehormatannya To Liong To, maka itu kalau si orang she Tio menampik, itulah tak mungkin !"
Belum lagi berhenti dengung kata-kata si orang tua, ketua dari pulau To Liong To, atau tertua dari Cit Mo, Tujuh Bajingan atau tubuhnya sudah mencelat juga keluar jendela untuk menyusul anak muda kita.
Wan Goat terkejut, tetapi ia menghela nafas.
Tanpa ayal lagi ia pun lompat keluar jendela, meninggalkan kamarnya itu, guna menyusul kedua orang itu, maka dalam kegelapan sang malam, tiga bayangan orang tampak berkelebat saling susul.
Sebenarnya malam suaram sebab adanya sisa sinar si putri malam.
Kang Teng Thian mendapat tahu Wan Goat menyusulnya, ia lari menyusul It Hiong tidak dengan sekeras-kerasnya.
Ia harus menjaga supaya adik seperguruan itu tak ketinggalan jauh dan kesasar.
Orang berlari-lari terus sampai jam tiga atau empat, lantas jago dari To Liong To itu kehilangan orang yang disusulnya.
Ketika itu Wan Goat telah bernapas sengal-sengal dan tubuhnya bermandikan peluh tetapi karena kuatir nanti dimarahi kakak seperguruannya, ia menyusul terus....
"Bocah she Tio itu pandai lari cepat,"
Kata Teng Thian kemudian.
"pantas kau sangat menggilai dia, adikku !"
Wan Goat melotot memandang kakak itu tetapi sambil menyusuti peluhnya ia kata sabar .
"Oleh karena urusanku kakak, kau menjadi capek dan pusing..."
Hatinya si kakak panas, kata dia keras .
"Kalau tidak karena aku menunggui kau, sumoay, hingga aku mesti memperlahan lariku, pasti bocah itu akan sudah merasai pukulan Bu Eng Sing Kun ku !"
Wan Goat diam saja, tak mau ia mengatakan sesuatu yang bisa membikin kakak itu bertambah besar marahnya.
Tatkala itu, orang telah tiba di Heesia tiang dan tengah berjalan didalam kota.
Tepat mereka membiluk disebuah gua, mereka berpapasan dengan Tio It Hiong.
Hanya sekarang pemuda ini ada bersama seorang laki-laku muda usia tiga puluh lebih yang membekal pedang pada punggungnya.
Anak muda itu sudah lantas melihat Kang Teng Thian di belakang siapa ada Siauw Wan Goat, ia mengawasi nona itu, lalu Teng Thian lantas ia menarik tangan kawannya untuk segera diajak berlari pergi !
Teng Thian melihat orang lari, hatinya semakin panas.
"Hm ! Hm !"
Dia perdengarkan suara dingin berulang kali.
"Apakah kau masih memikir buat lolos dari tanganku ?"
Segera jago tua itu lari mengejar.
Di dalam waktu yang pendek orang sudah lari keluar dari dalam kota.
Teng Thian tidak lagi menanti-nanti adik seperguruannya, bahkan ia berkeras larinya.
Selekasnya mereka tiba di kaki bukit Loaw san, It Hiong berdua sudah hampir tersusul.
Kedua pihak cuma terpisah belasan tombak satu dari lain.
"Orang she Tio, tahan"
Teriak ketua To Liong To itu. Tio It Hiong dan kawannya berhenti berlari, segera mereka memutar tubuh.
"Lotiang, apakah she dan namamu yang besar ?"
Tanya si anak muda.
"Kenapa kau mengejar aku ?"
Teng Thian berseru sambil berlari terus, hingga ia lantas berada di depan orang sejarak tiga tombak. Terus ia tertawa dingin dan berkata keras .
"Orang she Tio, pandai kau berpura-pura ! Masih kau berlagak tak mengenali aku si orang tua ? Hm !"
Sebelum si anak muda menjawab, dia didahului oleh kawannya yang membekal pedang itu sembari memberi hormat, dia itu tanya hormat .
"Tuan, adalah kau Cianpwe Kang Teng Thian dari To Liong To ? Aku yang rendah bernama Teng It Beng dan ini adik angkatku."
Teng Thian membentak memutuskan kata-kata orang.
"Aku tidak perduli kau siapa ! Bocah, tidak dapat tidak, kau perlu diajar adat !"
Dan dengan bengis ia menuding anak muda itu.
Mendengar itu It Hiong berdua lantas dapat menerka maksud orang.
Inilah tidak heran sebab It Hiong itu It Hiong palsu, dia Gak Hong Kun si licik !
Hanya Hong tidak kenal Teng Thian serta tidak tahu orang berkepandaian berapa tinggi.
Cuma karena adanya Wan Goat, ia menduga yang satu pertempuran tak akan dapat dihindarkan lagi, tidak takut terutama karena adanya Teng It Beng bersamanya.
Ia lantas menghunus pedangnya dan berkata garang .
"Kang Teng Thian, kalau kau benar mempunyai kepandaian kau keluarkanlah itu !"
Teng It Beng sebaliknya dari pada kawannya itu. Ia juga tidak tahu ketua To Liong To lihai sampai dimana, tetapi ia pernah mendengar tentang hebatnya "Bu Eng Sun Kun"
Maka ia tidak menghendaki kawannya berlaku sembrono. Ia lantas maju menyelak diantara dua orang, ia kata .
"Kang Tocu, kalau diantara kau dan saudaraku ini ada ganjalan aku minta sudilah kau menjelaskan dahulu ! Untuk bertempur waktunya masih banyak !"
Tepat itu waktu Siauw Wan Goat dapat menyandak kakak seperguruannya.
Selekasnya dia melihat Hong Kun dia lantas mengawasi sangat tajam dan bersinar terang untuk meneliti ada apa yang membedakan It Hiong tulen dari yang palsu.
Hong Kun tahu yang dia pernah menipu orang, diawasi nona Siauw dia agak takut.
Diapun agak kuatir yang rahasianya nanti terbuka.
Maka dia lantas membawa tingkahnya itu.
Kang Teng Thian menunda penyerangannya.
Tak mau ia sembarang menyerang orang, ia hendak menjaga nama baiknya.
Tapi ia tak dapat berdiam saja.
Maka ia terus menunjuk adiknya, dengan suara dalam, ia kata pada Teng It Beng .
"Bocah she Tio itu telah menghina adik seperguruanku ini, untuk mengelakkan diri dia lari menghilang."
Hong Kun tidak menanti It beng menjawab orang tua itu, dia menjalak dengan suaranya yang berupa bisikan seperti suara lalar.
"Saudara Teng, tolong kau layani situa ini bicara atau tahanlah dia buat beberapa jurus, aku membekuk dulu budak perempuan Siauw Wan Goat itu, buat dijadikan manusia tanggungan, setelah itu baru kita berhitungan dengannya !"
Begitu suaranya berhenti, begitu Hong Kun lompat kepada Siauw Wan Goat, untuk menyerang si nona dengan pedangnya yang mengancam kepala orang, berbareng dengan itu, tangan kirinya menotok ke jalan darah kie bun di dada si nona.
Sebab itulah totokan "Menawan Naga."
Siauw Wan Goat terkejut atas datangnya serangan tiba-tiba itu.
Sukur untuknya, ia justru lagi mengawasi tajam anak muda itu hingga ia tak sampai terbokong.
Secara wajar ia berkelit dengan lompatan "Kwie Siam Hian"
Yang menjadi kepandaiannya yang istimewa "Kelitan Bajingan".
Tapi ia toh terkejut hingga mengeluarkan seruan tertahan.
Selekasnya ia bebas, ia lantas menghunus pedangnya guna menutup dirinya.
Di lain pihak, baru saja Hong Kun membokong itu, atau diapun menjerit secara perlahan, tubuhnya sudah lantas mencelat mundur pula ke belakangnya Teng It Beng, sedangkan sebenarnya dia hendak membekuk si nona.
Itulah secara diam-diam Kang Teng Thian sudah menyerang dengan Bu Eng Sin Kun yang mengenai pergelangan tangan yang memegang pedang hingga dia merasa nyeri, hampir pedangnya terlepas dari cekalannya.
Menampak demikian, Teng It Beng terus saja menyerang si jago tua.
Ia membacok bahu kanan jago tua itu....
Ketua To Liong To mendapat lihat datangnya serangan, ia berkelit ke samping, terus ia membalas menyerang dengan tangan kirinya.
Kembali ia menggunakan Bu Eng Sin Kun, Kepalan Tanpa Bayangan.
Tapi ia masih ingat urusan diantara It Hiong dan Wan Goat, ia menyerang tidak dengan cara hebat.
Ia cuma hendak membuat senjata orang terlepas dari cekalan.
Teng It Beng lihai dan berpengalaman.
Ia segera menerka pastilah Kang Teng Thian sudah menggunakan ilmu Bu Eng Sin Kun, maka itu sembari melayani ia senantiasa mengawasi jago tua itu, dengan begitu saban-saban ia bisa melihat serangannya sang lawan.
Cepat sekali jalannya pertempuran diantara kedua jago itu.
Hanya sebentar saja sepuluh jurus telah dilewatkan.
Kang Teng Thian menyerang saling susul secara berantai, tetapi It Beng berkecepatan bagai angin, dia selalu berkelit dari berbagai pukulan Kepalan Tanpa Bayangan.
Selama itu It Hiong mesti menonton sambil menahan nyerinya tangan kanannya sampai tak dapat diangkat.
Ia berkuatir ketika ia menyaksikan saudara angkatnya yang memegang pedang, tetapi terjatuh di bawah angin.
Ia takut kalau-kalau tak sampai dua puluh jurus, saudara itu bakal kena dirobohkan.
Maka diam-diam ia melawan rasa nyerinya itu, ia mencoba mengatur pernafasannya guna membikin darahnya berjalan seperti biasa.
Di lain pihak, diam-diam ia melirik Siauw Wan Goat sebab ia takut nona itu nanti turun tangan.
Selang hampir setengah jam reda sudah nyerinya Hong Kun.
Sekarang lantas ia memikir jalan untuk meloloskan diri.
Apakah jalan itu ?
"Tidak bisa lain, mesti aku gunakan bubuk beracunku...."
Pikirnya.
Ia ingat Sie Hun Tok Hun racunnya itu.
Maka ia lantas merogoh ke dalam sakunya.
Justru itu ia mendengar suara tertahan dari It Beng.
Ketika ia menoleh, ia mendapati tubuh saudara itu terhuyung-huyung beberapa tindak sedangkan pedangnya terlempar setombak lebih jauhnya.
Ia kaget, ia lantas melompat maju.
Tidak ada ketika lagi buat ia main ayal-ayalan, setelah berlompat itu tangannya dikibaskan guna membuyarkan bubuknya.
Hanya sekejap itu tersiarlah bau yang harum yang menusuk hidung.
Bubuk itu berhamburan dalam rupa merah naga.
Sebenarnya Kan Teng Thian bermurah hati.
Ketika ia menghajar lengannya It Beng, ia tak menggunakan tenaga seluruhnya.
Kalau tidak pastilah orang she Teng itu bakal terbinasa seketika.
Setelah melihat lawan terhuyung, ia terus menoleh ke arah It Hiong palsu, maksudnya untuk menegur, kebetulan ia melihat orang menggunakan bubuk beracunnya itu.
Mendapat pengalaman di Tay San tahulah ia kenapa musuh menggunakan bubuk jahat itu.
Itulah pertanda musuh mau mengangkat kaki.
Ia telah berpengalaman, tak mau ia menyerahkan diri menjadi korban bubuk itu, maka juga cepat sekali, ia menyerang dengan jurus silat perguruannya menghajar buyar bubuk itu.
Itulah Cian Pian Ciang, Pukulan Seribu Perubahan.
Menyaksikan demikian orang telengas, Kang Teng Thian menjadi sangat gusar, akan tetapi selekasnya bubuk buyar, ia telah kehilangan si anak muda dan juga It Beng.
Ia tahu sebabnya itu, tapi hal itu justru membuatnya gusar.
"Cit Moay, mari kita kejar mereka !"
Ia serukan adik seperguruannya.
Dan ia lantas berlompat akan lari mendahului adik seperguruannya itu.
Siauw Wan Goat tidak berayal menyusul kakak seperguruan itu.
Ia sudah mencurigai It Hiong palsu.
Tadi ia hendak membeberkan rahasia orang, tidak disangka Hong Kun telah mendahului menyebar bubuknya itu yang merupakan tirai bubuk hingga dia dan saudaranya kena teraling dan bisa kabur meninggalkan jago-jago dari To Liong To.
Dua saudara itu berlari-lari ke sepanjang kaki bukit terus melintasi ke sebuah jalan umum, jalan yang menuju ke propinsi Ouwlam.
Dari situ lantas tampak di kejauhan tubuh kecil Hong Kun berdua, hanya sekarang mereka itu bukan berlari-lari hanya berjalan dengan perlahan.
Bersama mereka tampak seorang rahib dari Agama To sebagaimana terlihat tegas dari jubah suCinya.
Kang Teng Thian tidak mau pikirkan siapa si rahib, ia terus lari menyusul.
Hebat ilmu ringan tubuh Kwie Siam Tong Hian dari To Liong To.
Dengan lekas ia sudah menyandak sejauh beberapa tombak.
Segera jago dari To Liong To mengenali siapa rahib itu.
Ialah It Yap Tojin.
Dia dalam perjalanan pulang dari gunung In Bu San dan disitu kebetulan bertemu dengan Hong Kun berdua It Beng.
Sedangkan Hong Kun bersama It Beng sebenarnya mau pergi ke In Bu San sebab ia mendengar hal gurunya mengumpuli orang di gunung itu.
Kebetulan sekali, guru dan murid bertemu di tengah jalan selagi Hong Kun dan It Beng menyingkir dari Kang Teng Thian.
Maka bertemu muridnya, It Yap Tojin menjadi heran.
Ia tidak mengenali murid itu, ia menyangka kepada Tio It Hiong.
Kesaksiannya It Beng yang membuatnya percaya.
Maka kesudahannya mereka jalan sama-sama.
Karena mereka berjalan dan bukannya berlari-lari, mudah saja mereka bercandak Teng Thian.
"Tio It Hiong, bocah tahan !"
Bentak jago tua itu. It Yap Tojin yang berpaling dahulu. Ia mengenali ketua To Liong To.
"Oh, Kang Tocu !"
Sapanya tertawa.
"Ada apakah ?"
Teng Thian heran mendapatkan It Yap Tojin ada bersama si anak muda.
Bukankah It Yap Tojin mengumpuli kawan guna memusnahkan Siauw Lim Pay serta partai lainnya yang menentang kaum sesat ?
Kenapa dia berada bersama It Hiong, orang dari pihak lawan ?
Maka itu ia mengawasi tajam pada rahib itu pertanda yang ia kurang senang.
Atas pertanyaan si rahib, ia lantas kata dingin .
"Toheng, kiranya kaulah si penjual kaum kerabat Kang Ouw ! Kau jadinya adalah si kampret !"
Ditegur begitu It Yap dapat menerka maksud orang.
"Kang Tocu, harap kau jangan salah paham"katanya.
"Ini adalah...... Hampir It Yap membuka rahasia muridnya. Mendadak ia ingat bahaya yang mengancamnya kalau ia mengakui Hong Kun sebagai It Hiong palsu, bahwa Hong Kun adalah muridnya. Kalau rahasia itu tersiar secara umum, ia bisa dicela dan dimusuhi orang ramai dan muridnya itu bisa bercelaka juga. Maka ia lantas menunjuk pada Teng It Beng sambil memperkenalkan .
"Inilah sahabatku kaum Kang Ouw, saudara Teng It Beng !"
Teng Thian memperdengarkan suara dingin.
"Hm !"
"Dan ini"
Tanyanya, menuding It Hiong palsu.
"Apakah diapun sahabat Toheng ?"
Tak dapat It Yap Tojin menjawab sejujurnya, buat mendusta pun ia tidak berani. Di lain pihak, sikap orang membuatnya tidak senang. Maka akhirnya ia menjawab dengan dingin .
"Di belakang hari Tocu bakal ketahui jelas, jadi sekarang tak usahlah kau tanya-tanya !"
Ketua To Liong To menjadi tidak puas. Ia tak senang hati.
"Toheng."
Katanya.
"Kalau Toheng membekuk bocah ini, itu baru namanya kau dapat membedakan siapa kawan, siapa lawan."
It Yap Tojin tertawa lama.
"Hebat suaramu ini Kang Tocu !"
Katanya.
"Nyatalah kau hendak menggunakan soal umum ini guna kepentingan pribadimu sendiri ! Apakah kau menghendaki pinto turun tangan hanya guna adik seperguruanmu ?"
Hebat pertanyaan itu.
Mukanya Teng Thian menjadi merah, ia merasa kulit mukanya panas sekali.
Ia tidak menjawab si rahib, hanya mendadak ia menyerang kepada Hong Kun, dada siapa dijadikan sasaran !
Hong Kun cerdik dan licik, dia selalu waspada maka waktu ia melihat ia diserang jago itu lantas ia berkelit.
Meski begitu ia toh kurang cepat, maka bahunya kena terhajar, saking nyeri tubuhnya terhuyung beberapa tindak.
Rasa nyeri itu sampai ke hulu hatinya !
Kang Teng Thian maju pula dua tindak untuk mengulangi serangannya.
It Yap Tojin terkejut.
"Orang she Kang, kenapa kau tidak memakai aturan ?"
Tegurnya.
Ia pun maju untuk menyerang iganya jago dari To Liong To.
Teng It Beng pun kaget melihat Hong Kun terancam bahaya, dengan dua tangannya ia menangkis Bu Eng Sin Kun guna membantu kawan itu.
Ketika Kang Teng Thian mengulangi menyerang Hong Kun, ia telah memasang mata terhadap It Yap Tojin.
Selekasnya rahib itu menegur dan menyerang, ia dapat segera menggeser tubuh setengah tindak untuk sembari memutar tubuhnya itu ia juga meneruskan menyerang !
Ia mendongkol, maka itu ia mengerahkan tenaga delapan bagian !
It Yap pun menjadi gusar, hendak ia melayani jago itu atau mendadak ia ingat perlawanannya Bisa merusak usahanya membangun Bu Lim Cit Cun.
Maka ia lantas lompat mundur tujuh tindak.
"Kang Tocu, tahan !"
Ia berseru.
"Mari kita bicara !"
Meski ia berkata begitu, diam-diam rahib ini mengedipi mata kepada Hong Kun dan It Beng maka murid serta kawannya segera mengangkat kaki.
Kang Teng Thian menunda penyerangannya, selekasnya ia melihat It Yap tidak melayani ia bertempur.
"Ada bicara apa ?"
Tanyanya. It Yap Tojin tertawa.
"Kang Tocu, benar hebat Bu Eng Sin Kun mu itu."
Dia memuji.
"Hari ini mata pinto telah dibuka. Sungguh aku sangat kagum."
Siauw Wan Goat menyelah.
"Apakah kau juga jeri terhadap kepalan kakak seperguruanku ini ?"
Tanyanya. It Yap Tojin mendelik kepada nona itu. Ia mendongkol. Tapi ia menahan sabar.
"Kang Tocu,"
Katanya.
"salah paham ini jadi makin besar ! Pinto justru hendak menanya Tio It Hiong si bocah tentang duduknya perbuatannya terhadap adik seperguruanmu dan siapa tahu disini kita kebetulan bertemu. Pinto hendak menanya dia secara baik-baik supaya dia suka memberikan keterangan yang sebenar-benarnya. Mengenai sikapku ini pinto minta Tocu suka memakluminya."
Teng Thian dapat tahu maksud orang tetapi karena Hong Kun berdua sudah mengangkat kaki, ia bersabar. Sebaliknya daripada bergusar, dia tertawa.
"Memang aku si orang she Kang bertabiat keras dan sembrono."
Kata dia.
"Aku tak mengerti akan siasatmu, Toheng. Maka beruntunglah bocah itu yang dapat mengangkat kaki !"
It Yap Tojin senang dengan kesudahan itu.
Ia berhati lega yang Kang Teng Thian tidak menghajar Hong Kun.
Ia menganggap tak perlu ia berdiam lebih lama pula disitu.
Segera mengangkat kaki adalah jalan yang paling baik, maka ia memberi hormat sambil menjura seraya berkata .
"Buat urusan adik seperguruanmu Tocu, akan kau tetap membuat penyelidikan. Maka itu sekarang hendak aku susul bocah she Tio itu. Sampai kita jumpa pula !"
Tanpa menanti jawaban lagi, imam itu lantas berangkat pergi. Teng Thian tidak menahan imam itu, ia hanya mengawasi orang berjalan dengan cepat. Ia cuma memperdengarkan ujaran "Hm!"
Kemudian ia berpaling kepada adik seperguruannya dan kata .
"Nampaknya urusan benar sulit. Cit Moay apakah kau telah melihat sesuatu yang mencurigakan ? Bagaimana bedanya Tio It Hiong malam itu dipadu dengan Tio It Hiong itu ?"
Wan Goat terperanjat atas pertanyaan suheng itu.
Ia memang sedang berpikir keras sebab kesangsiannya makin bertambah.
Ia pula kuatir sangat bahwa Tio It Hong yang mengganggunya benar Tio It Hiong yang palsu.
Kalau benar demikian, sungguh celaka.
Bagaimana dengan dirinya nanti ?
Ia menggigil.
"Suheng"
Sahutnya perlahan sambil duduk.
"hal ini membuat aku jeri sekali hingga aku rasanya mau mati..... Suheng, didalam hal ini, aku minta sangat bantuanmu."
Tak dapat si nona meneruskan kata-katanya.
Air matanya turun deras dan mulutnya bagaikan terkanCing hingga akhirnya ia cuma dapat menangis sedu sedan.
Pikirannya Teng Thian kacau, ia merasa berkasihan terhadap sumoaynya yang manis itu.
Apa yang ia harus lakukan ?
"Ah, anak tolol, buat apa kau menangis saja ?"
Katanya kemudian.
"Apakah tangismu akan menolongmu ? Kita harus berdaya dan bekerja ! Biar bagaimana akan aku bertanggung jawab buat urusan ini ! Aku pikir dia Tio It Hiong tulen atau palsu yang sudah pasti ialah jodohmu harus direcokkan !"
"Tapi aku kuatir, suheng."
Berkata si nona berduka.
"Aku bukannya takut It Hiong menyangkal, yang aku takuti ialah dia It Hiong yang palsu...."
Teng Thian berdiam.
"Begini, sumoay !"
Katanya kemudian, suaranya pasti.
"Sekarang kita tinggalkan dulu Tio It Hiong ini, sekarang kita pergi ke kuil Siauw Lim Sie di Siang San untuk mencari In Gwa Sian ! Beranikah It Hiong menyangkal di depan ayah angkatnya itu ? Nah, mari kita berangkat !"
Dan kakak tua itu berjalan sambil menarik tangan adiknya.
Sementara itu baiklah kita menengok dulu kepada Teng Hiang yang turut Kwie Tiok Giam Po meninggalkan gunung In Bu San.
Di sepanjang jalan, budak cerdik dapat saja jalan buat membuat si nyonya tua menjadi bergirang, hingga dia suka tertawa dan nampak selalu tersenyum-senyum.
Ia membuat nyonya tua itu sangat menyukainya.
Selang beberapa hari, tiba sudah mereka di Ay Lao San.
Di gunungnya ini, selagi Kwie Tiok Giam Po mengajak Teng Hiang melintas sebuah tikungan, tiba-tiba mereka bersamplokan dengan Tan Hong.
Nona Tan terperanjat sebab tak ada ketika lagi buat ia menghindari pertemuan itu.
"Eh, Tan Hong."
Tegut Teng Hiang.
"mau apakah kau datang ke gunung ini ?"
Tan Hong melengak. Ia bukan menjawab, ia justru balik bertanya.
"Teng Hiang."
Demikian pertanyaannya.
"mau apa kau datang ke Ay Lao San ini ?"
Kwie Tiok Giam Po melirik tajam kepada nona dari pulau Hek Keng To itu.
"Hai, budak setan!"
Katanya nyaring, nadanya dingin.
"Kau tentunya telah menyelundupi memasuki gunungku ini ! Kau pasti mengundang maksud yang tidak baik ! Hayo bilang apakah maksud kedatanganmu ini ?"
Parasnya Tan Hong menjadi merah pucat.
"Kwie Tiok Giam Po !"
Sahutnya keras.
"Nonamu datang kemari justru buat mencarimu !"
Si nyonya tertawa terkekeh.
"Sungguh mulutmu besar, budak setan !"
Katanya.
"Nah, kau bicara terus terang ! Aku beri ketika kepadamu ! Aku memberimu ampun ! Habis kau bicara baru aku akan menghajar adat padamu !"
Tan Hong tidak menghiraukan ancaman itu. Dengan bersungguh-sungguh dia tanya .
"Tio It Hiong telah menempur Barisan pedang rahasiamu, setelah itu, manakah tapak jejaknya ? Dia sudah menutup mata atau hidup ? Kau harus memberitahukan hal ini padaku dengan sebenarbenarnya !"
Teng Hiang berdiam mengawasi Tan Hong dan si wanita tua.
Pertanyaan Tan Hong membuatnya mendapat anggapan mungkin Tio It Hiong telah menutup mata.
Maka itu mengingat perkenalan mereka begitu lama, ia terharu.
Di tanya begitu, Kwie Tiok Giam Po tertawa dingin.
"Hai, budak setan !"
Tegurnya.
"Budak setan, kau toh anggauta dari pulau Hek Keng To ? Tio It Hiong sebaliknya adalah muridnya Tek Cio Siangjin dari Pay In Nia ! Bukankah kami berdua berdiri berhadapan sebagai lawan satu dengan lain ? Habis kenapakah kau menanyakan begini tentang Tio It Hiong ? Mau apakah kau ? Kenapa kau nampaknya sangat prihatin terhadapnya ?"
Hatinya Tan Hong panas ditanya demikian.
Ia tahu wanita tua hendak mengejek atau menyindirinya.
Tapi ia mencoba menyabarkan diri.
Ia perlu mengorek keterangan dari mulutnya nenek ini.
Belum sempat Kwie Tiok Giam Po mengulangi pertanyaannya karena si nona berdiam saja, sudah terdengar suaranya Teng Hiang.
Dia tertawa geli dan kata pada si wanita tua .
"Buat apakah orang susah-susah mencari Tio It Hiong ? Toh sudah jelas bukan ? Kauwcu tahu, disini ada soalnya si nona yang cintanya mengotot dan si pemuda yang tak bertanggung jawab....!"
Bukan main mendongkolnya Tan Hong mendengar suara orang itu, maka juga sepasang matanya mendelik dan mulutnya berludah.
"Eh, Teng Hiang !"
Tegurnya.
"seorang wanita, apa pula wanita muda sebagai kau, tidak dapat sembarang menggoyang lidah ! Kenapa kau bersikap begini terhadapku ? Mungkinkah kau hendak merasai sanhopang ku ?"
Saking gusar Nona Tan sudah lantas mengeluarkan senjatanya. Teng Hiang juga menghunus pedangnya yang ia terus putar di depannya.
"Tahan !"
Teriak Kwie Tiok Giam Po yang terus tertawa tawar.
"Tan Hong mari kau tanya kau ! Kau mencari aku si wanita tua kau sebenarnya hendak mencari tahu tentang dimana adanya Tio It Hiong sekarang atau hendak mencari onar dengan berkelahi ?"
Tan Hong melengak. Lantas ia berpikir.
"Memang juga aku menempuh ancaman bencana datang ke Ay Lao San ini guna mencari Tio It Hiong ! Buat apa aku layani Teng Hiang ? Ah, kenapa aku menuruti hawa amarahku dan berbuat begini sembrono ? Bukankah aku jadi mencari keruwetan tidak karuan ? Karena dapat memikir demikian, ia lantas menyimpan pula senjatanya.
"Kauwcu, haraplah kau jangan salah paham."
Katanay lantas.
"Aku yang muda, aku cuma mau minta keterangan tentang Tio It Hiong ! Aku ingin tahu dimana adanya dia sekarang dan bagaimana keadaannya."
Teng Hiang pun menyimpan pedangnya tetapi ia masih melirik dengan lirikan menghina. Dingin sinar matanya itu ! Kwie Tiok Giam Po sudah lantas memberikan jawaban .
"Tio It Hiong si bocah dia benar mempunyai kepandaian yang berarti ! Bertempur melawan Barisan pedang rahasiaku dia tidak kalah, dia hanya telah terkena hawa beracun dari suara bangsiku yang dinamakan Kwie Tiok Mo Im. Dia roboh didalam kalangan Barisanku itu...."
Kwie Kiok Mo Im ialah irama kebajingan-bajingan dari bangsi setan.
Tan Hong terkejut, tubuhnya sampai bergemetar, kalau orang roboh di dalam Barisan rahasia, apakah itu berarti masih ada jiwanya ?
"Kemudian bagaimana ?"
Ia tanya selekasnya ia dapat menetapkan hatinya.
"Jangan kaget, jangan berkuatir dahulu budak setan !"
Tertawa Kwie Tiok Giam Po.
"Bocah cilik itu tidak kehilangan jiwanya ! Disaat si bocah cilik terkena hawa beracunku dan roboh pingsan, pingsan juga dua belas orang murid wanitaku yang merupakan Barisan rahasiaku itu !"
Tan Hong dapat melegakan hatinya.
"Apakah dia ditawan Kauwcu setelah dia roboh pingsan itu ?"
Tanyanya. Hebat nona dari Hek Keng To itu. Setelah hatinya tenang, dapat dia tertawa. Sebaliknya Kwie Tiok Giam Po, mukanya menjadi merah.
"Bocah itu mempunyai kekuatan batin yang mahir sekali."
Katanya.
"Dia memiliki tenaga dalam yang luar biasa kuat. Disaat aku bertindak menghampirinya, mendadak dia berlompat bangun dengan terus dia menikam kepadaku hingga aku mesti berkelit. Syukur aku memperolehi kesempatannya. Sedangnya aku berkelit mengelakan diri dari ancamannya itu, sekonyong-konyong bocah itu berlompat keluar dari dalam Barisan, terus saja dia kabur turun gunung...."
"Oh !"
Menjerit Tan Hong yang menjadi kaget pula. Sebab mendadak timbul pula kekuatirannya untuk It Hiong. Sebisabisa ia menenangkan diri.
"Apakah itu artinya dia telah lari dari Ay Lao San ?"
Ia menegaskan kemudian.
Kwie Giok Tiam Po berpura batuk-batuk.
Inilah sebab ia malu untuk menerangkan yang ia telah lari menyusul si anak muda tetapi sia-sia saja, tak dapat ia menyusulnya dan sia-sia pula usahanya mencari si anak muda disekitar gunungnya itu.
Habis batuk-batuk itu baru ia memberikan jawabannya.
"Apakah kau sangka aku si wanita tua seorang yang kejam yang hendak membinasakan nyawa orang ? Tidak ! Habis dia lari itu aku membiarkan saja. Dia toh telah terkena racunku ! Tak ada kesempatan buatku mencari dia....."
Tan Hong berdiam, otaknya bekerja keras.
Wanita tua ini tak dapat menerangkan kemana It Hiong sudah lari dan bagaimana keadaannya sekarang.
Tapi toh dia berkuatir.
Bukankah It Hiong telah terkena hawa racunnya si wanita tua ?
"Ah !"
Pikirnya kemudian.
"Wanita ini sangat licik, aku tidak dapat mempercayai dia sepenuhnya! Dia tentu tak sudi bicara dengan sebenarnya ! Tak dapat aku mengasikan diriku ditipu dia !"
Karena memikir begini, Tan Hong tidak mau percaya wanita itu. Ia pikir terus. Kemudian ia menanya pula .
"Kauwcu, karena kau tidak tahu kemana larinya Tio It Hiong serta tak tahu juga dimana adanya dia sekarang, aku minta perkenan guna mencari dia di Ay Lao San dan sekitarnya. Bagaimana dapatkah ?"
Kwie Tiok Giam Po tidak berkesan baik terhadap Tan Hong.
Ia juga tidak takut terhadapnya, hal yang masih membuatnya suka memandang mata ialah nona ini dari Hek Keng To dan dengan pihak Hek Keng To tak sudi ia bentrok.
Ia malu hati terhadap Beng Leng Cinjin, ketua dari Hek Keng To, pulau Ikan Lodan Hitam itu.
Maka itu ia berpikir sebentar, lantas ia menjawab .
"Dengan memandang kepada muka kakakmu, suka aku memberi ampun padamu, senang aku mengijinkan kau mencarinya digunungku ini, supaya hatimu menjadi puas ! Hanya awas jangan kau nanti mengacau atau merusak digunungku ini !"
Teng Hiang jail, ia pun kata dengan kata-katanya yang tajam.
"Heran Tio It Hiong ! Kenapa dia dapat membuat orang sangat berkesan baik terhadapnya hingga orang suka menjual nyawa untuknya ?"
Tidak cukup cuma dengan kata-kata yang tajam itu, bekas budaknya Giok Peng ini pun menjebikan mulutnya dan tertawa tawar, matanya melirik secara menghina. Kwie Tiok Giam Po tertawa dan menambahkan.
"Ya, kalian bangsa wanita muda, kalian paling menggemari paras tampan saat kalian bertemu dengan bocah yang cakap ganteng, lantas kalian melupakan sekalipun jiwa kalian !"
Tan Hong tetap menahan sabar terhadap Teng Hiang yang mulutnya jail itu, dengan tidak mengatakan sesuatu ia lari meninggalkan nya.
Ia menganggap lebih perlu untuk mencari It Hiong.
Sebenarnya sebelum bertemu Kwie Tiok Giam Po dan Teng Hiang tadi, Nona Tan sudah tiba lebih dahulu di gunung Ay Lao San itu dan sudah membuat penyelidikan di pinggiran gunung, cuma ia belum berhasil mendapatkan sesuatu.
Ia pula belum berani memasuki pusatnya partai Losat Bun dari wanita tua itu.
Sekarang ia telah mendapat perkenan, maka ia menggunakan kesempatan guna mempuaskan hatinya.
Ketika Nona Tan melintasi sebuah puncak ia menemukan sebuah goa.
Ia lantas masuk ke dalam goa itu karena ia memikir baiklah ia beristirahat dahulu untuk sekalian menantikan tibanya sang malam kira lewat jam dua.
Ketika itu baru magrib, Di dalam goa itu ia duduk untuk memakan rangsum keringnya dan kemudian bersamedhi.
Tak tahu berapa lama ia berdiam di dalam gua, waktu ia membuka matanya ia melihat sinar rembulan yang terang indah dan telinganya mendengar desirnya angin gunung, maka ia berbangkit dan berjalan keluar dari dalam gua sambil tak lupa membawa senjatanya.
Jilid 34 Dengan melesat naik ke tembok, dapat Tan Hong memandang ke dalam Pekarangan, kepada markas sekali.
Ia berdiam sekian lama, tidak ada orang atau bayangannya yang ia lihat.
Dengan berani ia pergi ke pendopo depan.
Disini ia mengintai ke dalam dengan menyantol kakinya di payot, setelah itu ia melepaskan cantelannya untuk menjatuhkan diri ke lantai.
Ringan sekali tubuhnya hingga ia tidak menerbitkan suara apa juga.
Itulah halaman depan dari pendopo muka.
Itulah tempat yang ia pernah datangi bersama-sama Tio It Hiong dan Whie Hoay Giok.
Maka juga, walaupun tempat gelap, ia dapat maju dengan mudah.
Kalau perlu, ia berjalan dengan merayap, secara demikian ia melintasi Toa tian, ruang besar, sampai di belakangnya.
Belakangnya Toa tian berupa sebuah halaman terbuka yang kiri dan kanannya terapit dengan deretan pelbagai kamar, banyaknya umpama kata mirip sarang tawon !
Dengan berhati-hati, Tan Hong berjalan melintasi deretan kamar-kamar itu sampai diujung itu, ia menikung ke arah barat.
Di sinipun ada halaman yang serupa, hanya ditengahtengah halaman itu terdapat sebuah ranggon atau loteng yang panjang bentuknya.
Sambil menempel tubuh pada dinding, Tan Hong mengawasi loteng itu.
Ia mengharap munculnya salah seorang Losat Bun, buat ia cukup, guna ia memaksa dia memberikan segala keterangan yang diingininya.
Justru itu, nona ini menjadi kaget sekali.
Tempat ia menyendiri justrulah sebuah pintu rahasia.
Dan pintu sudah lantas terbuka.
Syukur terbukanya secara perlahan-lahan, hingga ia sempat melompat minggir.
Pintu terpentang dengan dibarengi berkelebatnya sebatang golok disusul dengan munculnya orang yang membawa golok itu, seorang laki-laki yang bertubuh kekar.
Tan Hong tidak mau menyebabkan orang memperdengarkan suaranya, ia lantas mendahului turun tangan.
Ia berlompat untuk menotok dengan totokan ilmu Mo Teng Ka.
Sasarannya ialah jalan darah kek tiam dibatok kepala orang.
Hanya sedetik saja, robohlah orang itu tak sadarkan diri.
Dengan satu gerakan cepat, Tan Hong memondong orang buat dibawa masuk kedalam pintu rahasia itu.
Ia berlaku berani sebab ia tak kuatir nanti ada perangkap disebelah dalam pintu itu.
Sesampainya didalam, ia lantas merapatkan pintu.
Tempat gelap tetapi Tan Hong lantas menyalakan bahan apinya.
Maka ia melihat pintu itu adalah jalan keluar dari sebuah ruang di dalam tanah.
Ia letaki orang tawanannya, lantas ia berpikir.
Hanya sebentar, ia menepuk jalan darah orang untuk menyadarkannya, menyusul mana ia merampas golok orang dan mencekal keras pergelangan tangannya sambil orang itu ditatap dengan tajam.
Sambil mengeluarkan suara perlahan, orang tawanan itu terasadar, terus dia membuka matanya, tapi segera juga dia merasakan nyeri hingga hampir dia menjerit atau ia batal sebab tengkuknya terasa dingin terancam goloknya sendiri.
"Jika kau sayang jiwamu, jangan buka suara !"
Nona Tan mengancam.
"Dan dengan sejujur-jujurnya kau jawab setiap pertanyaan nonamu ini !"
Bukan main nyerinya cekalan si nona, orang lantas bermandikan peluh pada dahinya, mukanya menyeringai menahan sakit, dan giginya dirapatkan buat bisa bertahan. Ia memperdengarkan suara "Ya"
Yang tak nyata.
"Hendak aku tanya kau."
Tan Hong mulai dengan pertanyaannya.
"Bagaimana dengan itu pemuda yang dua bulan yang lampau telah datang kemari menempur Barisan rahasia kamu ? Benarkah dia dikurung disini ?"
Orang itu menggeleng kepala.
"Tidak benar !"
Sahutnya. Tan Hong perkeras cekalannya membuat orang itu berjangit pula. Dia pun merasa sangat tersiksa.
"Kau tidak mau bicara secara jujur ?"
Tanya pula si nona.
"Apakah kau tidak menyayangi jiwamu ?"
"Aku....... aku yang rendah tidak mendusta sedikit juga......."
Sahut orang tawanan itu.
"Dia memang tidak berada disini....."
Tan Hong membuka matanya lebar-lebar, otaknya bekerja. Kemudian ia perlunak cekalannya itu.
"Apakah anak muda itu telah melarikan diri dari sini ?"
Tanyanya pula kemudian.
"Tahukah kau kemana larinya dia ?"
Orang itu melegakan nafasnya.
"Mana aku yang rendah mendapat tahu."
Sahutnya.
"Kauwcu telah mencari dia sampai setengah hari tetapi dia tetap tak dapat ditemukan...."
Tan Hong menganggap tak usah ia menanya lebih banyak lagi.
Penyahutan orang ini sama dengan keterangannya Kwie Tiok Giam Po bahwa mereka itu tak tahu kemana perginya Tio It Hiong.
Karena itu, dengan goloknya ia mengetuk otot pingsan si orang tawanan hingga dia roboh tak sadarkan diri lagi.
Kemudian dengan membawa golok orang, ia bertindak ke sebelah dalam.
Dengan terangnya api, ia melihat anak-anak tangga.
Terowongan cuma memuat satu orang.
Selekasnya ia berjalan, Tan Hong merasai hembusan angin yang sangat dingin yang membuat apinya berkelak kelik hampir padam.
Karena api terus bergerak gerak, sulit buat melihat nyata.
Keras keinginannya mencari Tio It Hiong, ia lupa pada bahaya.
Ia maju terus bahkan ia meniup apinya, sebab ada api pun percuma.
Ia mengerahkan tenaga lunak Mo Teng Ka, ia bertindak dengan langkah yang ringan.
Jalan kira-kira dua puluh tindak, Tan Hong merasai hawa makin dingin.
Tanpa merasa, ia menggigil.
Tanpa merasa juga, langkahnya menjadi lebih berat.
Toh ia berjalan terus atau tiba-tiba ia mendengar bunyinya kelenengan, terus kaki kirinya melesak disebabkan anak tangganya turun sendirinya.
Dengan begitu, tubuhnya menjadi miring, seperti mau roboh.
Meski demikian, si nona tak menjadi gugup.
Dengan lantas ia menjejak dengan kaki kanan membuat tubuhnya mencelat mundur sekalian ia berjumpalitan dengan loncatan "Auw Cu Coan In", Elang Menembusi Mega.
Dengan begitu sendirinya ia mundur kira setengahnya.
Lantas ia mundur terus sampai di pintu gua.
Karena kaget dan mengeluarkan tenaga secara tiba-tiba, napasnya si nona memburu dan peluh membasahi dahinya.
Baru saja ia memikir tindakan apa yang ia mesti ambil, mendadak ada hembusan sinar api kebiru-biruan menyambar padanya.
Ia kaget, ia lompat ke samping.
Lantas ia mencoba membuka pintu tetapi gagal.
Daun pintu tak dapat ditolak terbuka.
Makin insaflah ia, yang ia lagi terancam bahaya maut.
"Rupanya orang Losat Bun dapat mendengar suara kelenengan tadi,"
Pikirnya.
Ia mesti lekas menyingkir kalau ia mau selamat.
Di dalam keadaan seperti itu, ia tidak menjadi putus asa.
Ia ingat orang tawanannya maka ia hampiri orang itu akan menotok mendusin padanya, setelah mana ia kata .
"Lekas buka pintu rahasia ini !"
"Apa kau kata ?"
Tanya orang itu yang baru sadar hingga karenanya dia masih layap-layap matanya seperti mata orang kantuk dan telinganya pun belum dapat mendengar dengan baik.
"Lekas buka pintu !"
Perintah Tan Hong hingga ia menghajar telinga orang.
"Oh !"
Seru orang tawanan itu yang kaget disebabkan rasa nyeri pada telinganya itu.
Sekarang dia sadar betul-betul.
Maka dia lantas bertindak ke arah pintu.
Baru dua langkah tubuhnya sudah limbung, terus dia roboh.
Tan Hong dapat melihat, dia menyambar tubuh orang buat terus sekalian dibawa ke depan pintu sekali.
"Lekas buka pintu !"
Ia mengulangi perintahnya.
"Kalau kau ayal-ayalan akan aku bacok padamu, kau tak akan dapat ampun lagi !"
Meski begitu bacokan toh dilakukan pada dada orang hingga dada itu terluka ringan dan darahnya lantas mengucur keluar.
Kaget dan kesakitan terutama ketakutan, orang itu menyambar pintu untuk tangannya meraba alat rahasianya hingga dilain detik daun pintu telah terpentang.
Tan Hong mandek dan berlompat keluar tanpa ragu pula, ia lari terus ke depan untuk seterusnya berlompat naik ke atas payon.
Ia mendapatkan rembulan sudah berada di tengah langit hingga ia bisa mengawasi tegas pelbagai wuwungan rumah.
Ia merayap di genteng untuk menghampiri tembok sebab niatnya ialah meninggalkan markas Losat Bun itu.
Bagaikan bayangan ular, dari bagian lain dari payon itu muncul seorang lain yang terus membentak dengan suaranya yang nyaring seperti kelenengan.
"Hai budak hutan, kau berani menyelundup masuk ke dalam Losat Bun !"
Kata-kata itu dibarengi meluncurnya senjatanya yang mengarah iganya Nona Tan !
Tan Hong memutar tubuhnya, goloknya diayun, diangkat memapaki senjata penyerangnya.
Kiranya itulah sebatang joanpian, maka dengan bentroknya kedua senjata, ruyung lunak itu terhajar terpental.
Tan Hong tak bisa menggunakan golok, ia terpaksa menggunakan senjatanya orang tawanannya tadi sebab senjata itu terus ia bawa-bawa.
Segera setelah berhadapan, kedua pihak dapat saling melihat nyata satu pada lain.
Kiranya penyerang itu ialah Cin Cia Koan Im Lou Hong Hai.
Dia mengenali Nona Tan seperti Tan Hong pun mengenalnya.
Sebab baru-baru ini di lembah Lok Han Kok, keduanya pernah saling bertemu dan bertempur.
Hong Hui membenci lawannya ini seba dia ingat sakit hatinya Cian Pie Long kun, Sutouw Kit.
"Hai, budak bau dari Hek Keng To, kau serahkanlah jiwamu !"
Membentak Hong Hui yang terus mengulangi serangannya.
Tapi dia menggunakan siasat, mulanya dia menusuk dada lalu mendadak dia merubah sasarannya, senjatanya terus bergerak ke atas dan ke bawah beruntun sampai tiga kali.
Tan Hong repot.
Itulah disebabkan senjatanya yang tak cocok itu.
Sedangkan lawannya berlaku sangat lincah dan gesit, dia mendesak terus hingga ia mesti lebih banyak berlompat atau berkelit dan beberapa kali menggulingkan tubuh diatas genteng, maka satu kali habis bergulingan itu, ia terus lompat ke atas tembok Pekarangan.
Tan Hong tak mudah bingung, sembari berkelahi ia telah memikir jalan buat meloloskan diri.
Ia telah melihat kesana kemari.
Ketika ia sudah berdiri di atas tembok, ia mendapatkan Hong Hui menyusulnya.
Tidak bersangsi pula, ia menyambut wanita itu dengan timpukan goloknya sambil ia membentak .
"Perempuan busuk, lihat senjataku !"
Dengan berkilauan golok menyambar ke arah tongcu dari Losat Bun itu.
Di lain pihak, habis menimpuk Tan Hong berlompat terus keluar tembok Pekarangan.
Hanya diluar dugaannya, belum lagi ia berdiri tegak, ia sudah mendengar suara menyambarnya senjata yang diiringi dengan bentakan keras .
"Kalau kau mau hidup, kau diamlah untuk mandah diringkus !"
Kiranya itulah Hong Ho Lui Sin Peklie Cek, yang dengan satu ayunan genggaman bonekanya, To Kak Tongjin sudah menantikan untuk menghadang.
Tan Hong mundur setindak.
Ia melihat musuh tinggi besar dan gagah mirip seorang arhat yang bengis.
Tepat si nona mundur, tepat ia mendengar juga suara lainnya di belakangnya.
Suara tertawa dingin berulangkali.
Maka lekas-lekas ia menoleh.
Dengan demikian ia melihat seorang musuh pula, orang mana bertubuh katai dan dandanannya seperti seorang pelajar.
Dia bermata sangat tajam, mulutnya lancip, kumisnya pendek.
Dari tubuhnya dan tangannya terang dialah seorang kurus kering.
Tetapi dia bersenjatakan sepasang ruyung Long gaepang.
Dialah Sam Ciu Pie Kauw Hu Leng, tongcu nomer dua dari partai agamanya Kwie Tiok Giam Po !
Dialah yang berjuluk si Kunyuk Tangan Tiga.
"Eh, perempuan genit, malam-malam kau menyatroni markas Losat Bun kami,"
Kata si kunyuk itu.
"Apakah maumu ? Apakah kau sengaja mencari aku Sam Ciu Pie Kauw untuk mengikat jodoh kita berdua ? Kalau benar, kau jangan malumalu, mari kita bergandengan tangan !"
Tan Hong mendongkol sekali.
Terang orang tengah menggodanya.
Ia lantas menarik keluar senjatanya.
Tanpa mengatakan sesuatu, ia maju menyerang si kunyuk yang ceriwis dan kurang ajar itu !
Hu Leng bermata jeli dan gesit, ketika ia menyelamatkan diri, ia sengaja menjatuhkan tubuhnya buat bergulingan ditanah.
Dasar bergelar si kunyuk, ia rupanya pandai Kauw Kan, Si Kera.
Ia tidak gusar, ia terus tertawa haha hihi.
"Mari !"
Katanya.
"Jangan kau galak nona manis !"
Di mulut tongcu ini bernada manis, sepasang senjatanya tapinya dipakai menyerang dengan sigap menjepit musuh !
Tan Hong tidak mau mengadu senjata.
Ia percaya senjata lawan berat sekali.
Maka ia lompat mundur tiga tindak.
Justru itu datang lagi dua lawan.
Yang satu ialah Lou Hong Hui yang menyusul dan yang lainnya Teng Hiang yang baru muncul.
Rupanya Nona Teng datang sebab dia mendengar bunyi kelenengan.
Teng Hiang kini gusar sekali, dengan mata mendelik dia mengawasi Tan Hong, sedang dari mulutnya keluar ajakan buat Hu Leng dan Peklie Cek.
"Kedua tongcu mari maju bersama ! Kita bekuk dahulu budak bau, baru nanti kita bicara !"
Baca Juga: Anak Naga 10
Baca Juga: Amanat Marga 4