Eps 4 Amanat Marga - Khu Lung
Baca online Amanat Marga - Khu Lung
Cersil Amanat Marga - Khu Lung.
"Haha apa yang kukatakan selama ini hampir tidak pemah disangsikan orang, juga tidak pemah salah menafsirkan suatu peristiwa, ternyata sekarang keteranganku tidak kaupercayai, agaknya kau ini memang ingin mampus."
Burung gagak itu juga tertawa terkekeh aneh dan berkata.
"Hehe, jika benar kauingin mati, itu kan gampang..........."
Bola mata Yim Hong Peng berputar, tiba-tiba teringat seseorang olehnya, serunya.
"Hei janganjangan Ciapwe ini adalah tokoh serba tahu yang termashur pada beberapa puluh tahun yang lalu, Thian-ah Totiang adanya?"
SI tojin berambut putih tergelak.
"Haha, bagus! Ternyata namaku juga kaukenal. Ya, memang betul, aku inilah Thian-ah tojin Cuma memberitahukan kemalangan dan tidak melaporkan kemujuran itu."
"Tapi.....tapi menurut berita yang tersiar di dunia kangouw, konon....konon sudah lama cianpwe wafat........"
"Wafat apa? Potong si tojin alias Thian-ah totiang dengan tertawa.
"Soalnya beberapa puluh tahun yang lalu aku merasa bosan berkelana lagi di dunia ramai ini, maka sengaja pura-pura mati dan mengasingkan diri. Tak tersangka berita ini dianggap benar oleh orang persilatan."
Mau tak mau Bwe kiam soat juga terperanjat.
Namun tokoh aneh dunia persilatan masa lampau ini sudah lama telah didengarnya, diketahuinya orang ini terkenal sebagi peramal ulung, hampir tidak pemah meleset bilamana dia meramalkan malapetaka seseorang.
Asalkan dia memberi peringatan kepada seorang, orang tersebut tentu tertimpa bahaya.
Sebab itulah orang dunia persilatan menyebutnya sebagi Thian-ah tojin, kata "ah"
Atau gagak biasanya tidak mengenakan pendengaran, namun setiap orang persilatan tidak ada yang berani bersikap kurang hormat kepadanya. Lalu dengan serius Thian-ah tojin berkata kepada Bwe kiam soat.
"nah apa yang telah kukatakan tentu sudah kalian dengar dengan jelas."
Tergerak hati Bwe kiam soat, dipandangnya Lamkiong peng sekejap, lalu mengngguk pelahan.
"Dan tentunya kalian tidak berlain pendapat bila hendak kulepaskan dia dari malapetaka yang akan menimpanya, bukan?"
Kata Thian-ah tojin pula.
Bwe kiam soat cukup cerdik, ia tahu meski resminya si tojin menyatakan menolong Yim Hong Peng terlepas dari malapetaka, tapi sebenarnya pihak sendirilah yang dibantunya.
Maka cepat ia menjawab.
"Jika Cianpwe berpendapat demikian, tentu tidak ada persoalan bagi kami."
"Jika begitu boleh lekas kau pergi saja, kata Thian-ah tojin sambil memberi tanda kepada Yim Hong Peng . Agaknya Yim Hong Peng masih sangsi juga, segera si tojin menambahkan.
"Lekas pergi, jika terlambat mungkin akan terjadi perubahan."
Walaupun dalam hati masih penasaran terpaksa Yim Hong Peng menjawab dengan hormat.
"Atas budi kebaikan Cianpwe kelak pasti akan kubalas dengan setimpal."
Habis itu ia memberi tanda dan membentak.
"Pergi!"
Begitulah pihaknya sebenrnya berada dalam posisi yang menguntungkan tapi sekarang dia berbalik seperti dilepaskan pergi atas kemurahan hati orang, malahan seperti utang budi terhadap si tojin.
Melihat sikap si tojin ynag berwibawa dengan burung gagaknya yang ajaib, kawanan lelaki berbaju hitam tadi sudah sama kebat-kebit, sekarang mereka diperintahkan pergi, tentu saja serupa mendapat pengampunan besar, berbondong-bondong mereka lantas melangkah pergi dengan cepat.
Yim Hong Peng melototi Bwe kiam-soat sekejap, seperti mau bicara, akhirnya mengentak kaki dan membalik tubuh, hanya dengan beberapa kali lompatan saja sudah menghilang dalam kegelapan.
Sejak tadi Lamkiong peng tidak memberi komentar, sesudah Yim Hong Peng pergi jauh, mendadak ia menghela nafas dan menggerundel.
"Ai, kembali kau tipu orang lagi, kalau tidak ada Tik-heng, aku........"
Dia seperti sangat menyesalkan diri sendiri. Tentu saja Bwe kiam-soat merasa heran. Sedangkan si tojin berambut putih mendadak tertawa dengan keras, katanya.
"Ini namanya dengan gigi membayar gigi, terhadap kawanan licik dan jahat itu, apa salahnya menipu beberapa kali."
"Ai tipu menipu betapapun bukan perbuatan yang baik........."Lamkiong peng menghela nafas menyesal . Bwe kiam-soat merasa bingung, ia coba bertanya.
"Tipu menipu apa?"
Meski dia sangat cerdas, tetap tidak tahu ada tipu menipu apa dalam hal ini.
Si tojin seperti sudah kenal watak Lamkiong peng, ia tidak menghiraukan omelan anak muda itu, pelahan ia mengelus bulu burung gagak, katanya dengan tertawa.
"Sahabat burung, hari ini besar bantuanmu padaku."
Dengan tangan kanan ia seperti memutuskan sesuatu pada kaki gagak, habis itu ia angkat tangan kiri dan berkata,"Nah pergilah!"
Mendadak burng gagak itu berbunyi satu kali terus terbang dan menghilang dalam kegelapan malam.
Bwe kiam soat tercengang dan juga merasa sayang melihat si tojin melepaskan begitu saja burung gagak ajaib itu serunya.
"Ai........apakah dia akan terbang kembali kepadamu?"
Tojin itu bergelak tertawa.
"Haha nona tidak perlu merasa sayang, gagak semacam ini, bila mau dapat kutangkap sepuluh ekor sekaligus setiap saat."
Dengan bingung Bwe kiam soat memandang Lamkiong peng sekejap, lalu berkata dengan gegetun,"Ai, sesungguhnya bagaimna urusannya, sungguh aku tidak mengerti."
"Hahahaha!"
Kembali si tojin terbahak.
"Bila bertemu musuh tangguh, yang utama serang batinnya. Tak tersangka jurus seranganku ini bukan saja dapat mengelabui Ban-li-liu-hian Yim hong peng itu, bahkan Kong-jiok-Huicu yang termashur juga dapat kukelabui."
Dengan gegetun Lamkiong peng berucap.
"Tujuh tahun yang lalu berpisah, tak tersangka sekarang dapat bertemu pula denganmu di sini, juga tak terduga, engkau akan membebaskan kesukaranku, terlebih tidak nyana watakmu ternyata tidak berubah sedikitpun.........."
Tojin itu berhenti tertawa, katanya dengan tergagap.
"Terus terang permainanku yang unik ini sudah sekian tahun tidak pemah kugunakan baru sekarang lantaran melihat kongeu terancam bahaya maka sekadar kukeluarkan........"
"Tentu saja kuterimakasih atas pertolonganmu, cuma permainan semacam ini tetap bukan tindakan lelaki sejati, selama hidupmu bekecimpung di dunia kangouw, masakah engkau tidak ingin berbuat secara gilang gemilang agar namamu selalu diingat."
Dia bicara dengan suara halus, tapi mengandung semacam wibawa yang tidak dapat dibantah.
Air muka si tojin rada berubah, akhirnya menunduk dan tidak bersuara lagi.
Pelahan Lamkiong peng mendekatinya, katanya sambil menepuk pelahan pundaknya.
"Jika katakataku terlalu kasar, hendaknya engkau jangan marah. Maklumlah, bila aku tidak merasa bangga karena mempunyai sahabat serupa dirimu, tentu aku takkan bicara terus terang padamu. Apalagi engkau telah membantuku, sungguh aku sangat berterimakasih kepadamu."
SI tojin mengangkat kepalanya dan tersenyum, sorot matanya penuh rasa persahabatan, kedua orang saling pandang sekejap, mendadak ia genggam tangan Lamkiong peng dengan erat, katanya.
"Selama ini apakah........apakah engkau baik-baik saja?"
"Aku sangat baik, hendaknya engkau demikian pula,"
Jawab Lamkiong peng. Bwe kiam soat ternyata sedang termenung, mendadak ia berkeplok dan berseru.
"Aha, tahulah aku!"
Habis itu tahu-tahu ia melompat ke samping si tojin berambut putih dan memegang tangannya. Tentu saja Lamkiong peng kaget.
"Hei ada apa?"
Dengan tertawa Kiam soat berkata.
"Coba lihat, pada tangnnnya ternyata benar tersembunyi segulung benang hitam. Haha, burung gagak terbang mundur, hal ini ternyata permainan sulap belaka. Rupanya pada kaki gagak terikat benang, lalu ditarik mundur olehnya."
"Nona ternyata sangat pintar, segala apa sukar mengelabui mata telingamu,"
Ucap si tojin dengan tertawa. Lamkiong peng memandang Bwe kiam soat dengan tertawa senang, pikirnya.
"lahiriah dia kelihatan dingin dan sukar didekati, yang benar dia juga punya hati yang hangat. Cuma sayang, orang persilatan hanya kenal sikapnya yang dingin dan tidak ada yang tahu hatinya yang baik."
Tiba-tiba didengarnya Bwe kiam-soat bergumam dengan alis berkerut.
"Hanya mengenai.....mengapa burung gagak itu dapat bicara seperti manusia, hal inilah yang masih membuatku bingung,"
Tojin itu bergelak, mendadak ia berseru dengan suara yang serak aneh tadi.
"Nona sudah lama berkecimpung di dunia kangouw, masakah engkau tidak pemah dengar bahwa diantara kaum pengelana itu ada semacam permainan sulap yang ajaib......."
Suaranya bukan saja aneh, waktu Kiam-soat mengamati, ia tambah tercengang, sebab bibir si tojin tidak bergerak, tapi jelas suara tersiar dari mulutnya.
Kiam soat coba mengamati lebih teliti lagi, suara yang memang timbul dari perut si tojin itu kedengaran mirip bunyi perut yang keruyukan pada waktu perut lapar.
"Sulap apa?"
Tanyanya kemudian dengan tercengang.
Meski sudah lama ia berkecimpung di dunia kangouw, tapi pergaulannya hanya dengan tokoh kalangan atas, dengan sendirinya ia tidak tahu permainan kaum orang kecil ini.
"Kungfu ini disebut "bicara dengan perut"
Tukas Lamkiong peng.
"yaitu menggunakan tenaga otot dalam perut untuk menimbulkan suara, bagi tukang ngamen dunia kangouw, permainan ini tergolong kungfu khas dan sangat sukar dilatih......"
Sampai disini mendadak si tojin memegang perutnya dan berseru dengan tertawa.
"Haha hanya permainan rendahan saja, buat apa dibangga-banggakan."
Dengan serius Lamkiong peng berucap "Setiap ilmu kepandaian pasti tidak mudah dilatih, setiap kepandaian mana boleh diremehkan. Yang penting hanya menggunakan ilmunya itu tepat atau tidak."
"Tak tersangka di kalangan kangouw terdapat aneka ragam ilmu mujuzat begini, kau bilang ilmu golongan rendah, bagiku justru sangat ajaib, malah sebelum ini belum pemah kudengar, apalagi melihatnya,"
Ujar Bwe kiam soat.
"Ya dunia seluas ini masih banyak kcanehan alam yang belum diketahui, betapa cerdik pandai seorang terkadang juga tercengang menyaksikan hal-hal yang sukar dipecahkan dengan akal sehat,"
Kata Lamkiong peng.
"Jika demikian jadi totiang ini bukanlah Thianah tojin, lantas siapakah engkau sebenarnya?"
Tanay kiam soat dengan heran.
Wajah Lamkiong peng yang serius tadi mendadak timbul secercah senyuman, agaknya bila teringat kepada nama tojin berambut putih ini, dia lantas merasa geli.
Si tojin berdehem, lalu berucap.
"Namaku yang asli ialah Ban Tat, dahulu aku sering ngendon di rumah Lamkiong-kongeu numpang makan dan nunut tidur disana."
Mendadak ia bergelak tertawa, lalu menyambung.
"tapi kawan dunia persilatan justru menganggap aku bu-kong-put-jip (setiap lubang dimasuki) dan Ban-su-tong (segala urusan apa pun tahu), karena itulah lama-lama nama asliku lantas dilupakan orang, dan terpaksa aku hanya dikenal dengan nama Ban-su-tong, begitulah adanya."
Ia bergelak tertawa, waktu memandang ke arah Bwe kiam soat, dilihatnya orang bersikap prihatin tanpa senyum sedikitpun. Dengan heran ia coba tanya.
"Apakah nona merasa namaku ini tidak cocok bagiku?"
Kiam soat menghela nafas, ucapnya dengan sungguh-sungguh.
"Jika bukan seorang maha besar, kalau tidak ada hasrat besar untuk mencari pengetahuan, bila tidak berpengalaman luas, mana mungkin seorang disebut serba tahu? Sebab itulah nama ini bagiku hanya menimbulkan rasa kagumku dan tidak ada sedikitpun yang menggelikan."
Si tojin alias Ban Tat atau Ban-su tong jadi tercengang malah, sungguh ia tidak menyangka orang justru menaruh hormat kepada kepandaiannya itu.
"Ya, kalau bukan seorang yang maha cerdik, mana mungkin berbicara lain daripada orang lain semacam ini,"
Tukas Lamkiong peng dengan gegetun. Ban-su-tong lantas berkata.
"Sejak kongeu masuk perguruan Sin-liong, kebanyakan orang yang dulu ngendon di temapat kongeu itu lantas bubar juga, aku sendiri terluntang lantung di dunia kangouw tanpa menghasilkan sesuatu. Kedatanganku ke daerah barat laut sini sebenarnya juga lantaran mendengar berita pertandingan antara Sin-liong dan Tan hong, ingin kusaksikan pertarungan yang jarang terjadi ini, sekaligus juga ingin tahu keadaan kongeu akhirakhir ini, ternyata kedatanganku sudah terlambat, setiba di Se-an lantas kudengar berita muncul kembalinya Kong-jiok Huicu, juga mendengar kabar pertempuran Kongeu dengan pejabat ketua Cong-lam pai di restoran Thian-tiang-lau. Sungguh sangat senang hatiku mengetahui kemajuan pesat kungfu Kongeu, tapi juga kuatir atas keselamatanmu, maka cepat kususul keluarkota , dan........."
"Dan kebetulan telah kaugertak lari Yim hongpeng, kalau tidak mungkin sukar bagi kami untuk lolos dari kepungan musuh, mengingat di antara kami sudah ada yang terluka......"
"Celaka!"
Seru Lamkiong peng sebelum ucapan Bwe Kiam soat selesai, cepat ia memburu ke samping Tik Yang dan memeriksa keadaannya.
Di bawah cahaya bintang yang remang terlihat Tik Yang tak sadarkan diri, mukany kelihatan bersemu hitam.
Nyata ucapan Yim hong-peng bahwa di atas bola berantai beracun bukanlah gertakan belaka.
Tentu saja Lamkiong peng merasa ngeri melihat keadaan Tik Yang itu, cepat ia tanya dengan kuatir.
"bagaimana perasaanmu, Tik-heng?"
Namun kedua mata Tik Yang terpejam rapat seperti tidak mendengarnya. Ban Tat ikut memeriksa keadaan Tik Yang, tampak ia pun mengerutkan kening.
"Bagaimana, dapatkah tertolong?"
Tanya Lamkiong Peng. Sejenak Ban Tat termenung, katanya kemudian.
"Racun yang mengenainya jelas bukan racun yang kita kenal di daerah Tionggoan, bahakan sekarang racun sudah menjalar, mungkin........mungkin........."
"Masa tak tertolong lagi?"
Tukas Lamkiong Peng.
"Kecuali obat penawar buatan Yim hong-peng sendiri dan obat racikan mendiang "Seng ih" (tabib sakti) yang mustajab, rasanya tidak ada keajaiban lain yang mampu menawarkan racun ini, sekalipun Kiu-beng-long-tiong (si tabib penyelamat jiwa) Pohleng-sian datanh sendiri juga tidak berdaya mencegah racun yang segera akan menyerang jantung ini. Cuma......"
Belum habis ucapan Ban Tat, mendadak Lmkiong peng melompat bangun. Tapi Bwe kiam soat keburu mengadang di depannya dan menegur.
"Kau mau apa?"
"Tik-heng terluka lantaran membela diriku, mana boleh kutinggal diam tanpa menolong menyaksikan ajalnya?"
Jawab Lamkiong peng.
"Jika maksudmu hendak mencari Yim hongpeng untuk minta obat penawar padanya, tindakan mu ini tiada ubahnya serupa minta kulit kepada sang harimau.
"ujar Bwe Kiam soat.
"Biarpun minta kulit pada sang harimau juga harus kuusahakn,"
Kata Lamkiong Peng. Kiam soat menghela nafas, katany kemudian.
"Baiklah, biar kuikut pergi bersamamu."
"Saat ini engkau lagi diincar oleh setiap orang persilatan, mana boleh engkau ikut menyerempet bahaya?"
Ujar Lamkiong Peng.
"Segala hal selalu kau pikirkan orang lain, mengapa tidak kau pikirkan dirimu sendiri juga?"
"Bila setiap urusan selalu berpikir bagi diri sendiri, hidup ini akan berubah menjadi hina tanpa berharga.
"kata Lamkiong Peng dengan gegetun melihat "putri berdarah dingin"
Ini tertnyata penuh menaruh perhatian kepdanya. Segera ia menambahkan lagi.
"Hendaknya kautunggu sebentar di sini bersama Ban-heng, apakah urusan akan berhasil atau tidak, tentu selekasnya kukembali ke sini."
Kiamsoat tersenyum pedih, katanya.
"Jika urusan gagal, apakah engkau dapat kembali lagi?"
"Pasti kembali!"
Jawab Lamkiong Peng tegas.
"Jika engkau berjanji sekali pukul gagal segera akan mundur kembali ke sini, bolehlah aku tidak ikut serta,"
Ujar Kiamsoat dengan rawan. Sangat terharu hati Lamkiong Peng, tanpa tetahan ia pun membuka isi hatinya,"
Biarpun merangkak pun aku akan merangkak kembali ke sini. Cuma kalian juga harus hati-hati."
"Jangan kuatir, engakau sendiri yang perlu hatihati, akan ku tunggu disini sampai kapanpun."
Ucap Kiam soat tegas. Ban Tat memandangi kedua orang itu mendadak ia menghela nafas, katanya"Apakah nona ini benar Kong-jiok Huicu?"
"Masakah perlu disangsikan?"
Ujar Lamkiong Peng.
"Sungguh sukar dipercaya Kong-jiok Huicu bisa........"
Mendadak Ban Tat tidak melanjutkan ucapannya.
Tak diduganya bahwa Kong-jiok-Huicu yang terkenal berdarah dingin itu bisa menaruh perhatian terhadap orang lain.
Lamkiong Peng berdiri termenung sejenak, ia pandang Kimsoat sekejap, lalu berucap dengan rasa berat.
"Kupergi saja!"
Segera ia berlari pergi dengan cepat. DI tengah malam remang hanya sekejap saja bayangnnnya lantas menghilang. Kiam soat menghela nafas, gumamnya.
"Ai bilamana engkau benar Thian-ah tojin tentu dapat kaukatakan padaku baik-buruk akibat kepergiannya ini."
Seorang maha pintar dan maha cerdik, bilamana menghadapi sesuatu yang merisaukan, biasanya tanpa terasa juga akan mengharapkan bantuan kepada nasib.
Selama hidup Kong-jiok Huicu yang berdarah dingin ini suka meremehkan orang hidup, mentertawakan orang lain, segala apa yang dipercaya orang tidak ada yang dipercayanya, sebeb dia tidak memeprhatikan urusan apa pun, di tidak berperasaan, karena tidak berperasaan menjadi tidak punya rasa takut, karena tidak takut menjadi tidak percaya kepada nasib dan tidak peduli kehidupan ini.
Tapi sekarang justru timbul rasa perhatiannya yang mendalam dan rasa takut, jiwa si dia (Lamkiong Peng) seolah-olah jauh lebih penting daripada kehidupan sendiri.
Perasan ini datangnya teramat mendaadak, serupa sekaleng pewama yang tumpah dan mendadak membikin merah kehidupannya yang putih pucat.
Ban Tat menghela nafas, katanya.
"Kesujudan pasti mendatangkan keselamatan, kejahatan tak nanti dapat melawan kebaikan, dalam hal ini kukira nona dapat berbesar hati."
Dlihatnya Bwe kiam soat sedang menengadah dan seprti tidak mendengar ucapannya, agaknya saat itu orang sedang beranya bagaimana nasib si dia kepada Thian yang maha kuasa.....
*************** Malam berlalu, fajar mulai menyingsing.
Lamkiong Peng, menarik nafas dalam-dalam, menghirup hawa pagi yang sejuk, dengan gagah ia masuk ke kota Se-an.
Meski disadarinya maha sulit usahanya akan mendapat obat penawar dari tangan Yim hongpeng, tapi tekadanya sudah bulat, betapapun pendiriannya takkan berubah.
Keberaniannya yang pantang mundur ini membuatnya sama sekali tidak menghiraukan mati hidup.
Pasar pagi baru mulai, orang berlalu lalang berjubel memenuhi jalan.
Melihat Kegagahan Lamkiong Peng, orang lain sama menyingkir memberi jalan padanya, sebab sikap pemuda ini dirasakan membawa semacam kcangkeran yang membuat orang tunduk padanya.
Boh-liong-san-ceng, perkampungan tempat bersemayam Wiki masih sepi, tapi di tangah kesunyian itu membawa kesiap siagaan yang luar biasa.
Delapan lelaki tegap berbaju ringkas dan bergolok tampak mondar mandir meronda di depan perkampungan.
Sorot mata mereka serupa anjing pemburu yang mencari mangsanya, selalu mengintai ke balik kabutt pagi scakan-akan ingin menemukan Leng hiat Huicu yanng telah membikin panik kota tua Se-an itu.
DI tengah kesunyian itu mendadak terdengar suara detak langkah orang, serentak kedelapan penjaga itu berhenti bergerak dan serentak berpaling ke arah datangnya suara.
Tertampaklah seorang pemuda berbaju hijau dengan wajah putih kepucatan dan mata besar bagai bintang kejora muncul dari balik kabut dengan langkah lebar, sorot matanya yang mencorong tajam memandang sekejap sekelilingnya, lalu menegur dengan suara berat.
"Adakah Wi-cengeu di rumah?"
Kawanan penjaga berseragam hitam itu saling pandang dengan sangsi, mereka seperti juga terpengaruh oleh sikap pemuda yang berwibawa ini, meski enggan menjawab, tidak urung seorang diantaranya bersuara juga.
"Hari masih pagi, dengan sendirinya beliau berada di rumah."
Hendaknya lekas dipanggil keluar, ada urusan penting yang ingin kutanyai dia,"
Kata si pemuda dengan suara agak parau. Kawanan lelaki berseragam hitam itu semua melenggak, seorang diantaranya yang bermuka burik mendadak vbergelak tertawa dan berseru.
"Haha, kau ingin kami panggil cencu untuk menemuimu? Hehe, fajar baru menyingsing, cengeu belum tentu bangun, tapi kauminta beliau keluar untuk menemuimu, hahaha, sungguh lucu......."
Seorang lagi yang behidung besar menjengek.
"Memangnya kau ini siapa? Berani minta bertemu dengan cengeu segala? Mendingan jika kau Liong thi-han yang sudah lama termashur itu atau Lamkiong Peng yang menggemparkan baru-baru ini.........."
Mendadak pemuda yang bersikap kereng ini menjawab,"
Aku sendirilah Lamkiong Peng adanya!"
Nama Lamkiong Peng sungguh lebih mengguncang daripada bunyi guntur, Kawanan lelaki berseragam hitam itu sama melenggong memandangi Lamkiong Peng.
Habis itu segera mereka berlari ke dalam kampung sambil berteriak.
"Lamkiong Peng......... Lamkiong Peng datang.........."
Mimpi pun meeka tidak menyangka Lamkiong Peng yang kemarin menempur Giok-jiu-sun-yang dengan gagah berani itu pagi ini datang sendirian ke Boh-liong-san-ceng sini.
Dalam sekejap perkampungan yang semula sunyi sneyap itu menjadi gempar, berita datangnya Lamkiong Peng tersiar dengan cepat, banyak orang datang ingin melihat bagaimana bentuk pemuda yang perkasa ini, ada juga yang mengintip dari balik pintu dan celah jendela.
Lamkiong Peng sendiri tetap berdiri menanti di situ dengan tenang.
Sejenak kemudian, tiba-tiba terdengar gema suara orang membentak dari dalam perkampungan.
"DI mana Lamkiong Peng?"
Suaranya berat dan pelahan, tapi menggema hingga jauh, tergetar juga hati Lamkiong Peng, pikirnya.
"Siapakah yang memiliki lwekang sehebat ini?"
Hendaklah maklum bahwa baik Wiki maupun suhengnya, Giok-jiu-sun-yang, keduanya mesi sama tokoh kelas satu, tapi tenaga dalam orang yang bersuara ini ternyata sangat mengejutkan dan jelas bukan suara Wiki berdua.
Namun Lamkiong Peng tetap tenang saja waktu ia memandang kedepan, tertampak sesosok bayangann muncul dari balik kabut pagi setelah berdehem, lalu berkata lantang.
"Dimana Lamkiong Peng?"
Lamkiong Peng tambah sangsi, bayangan orang ini tinggi besar dan berambut putih, dia inilah Wiki, kepala Boh-liong-san-ceng, tapi suara ini jelas tidak sama dengan suara pertama tadi, ia menjadi heran apakah mungkin di dalam sana ada tokoh Bulim kelas tinggi yang lain?
Sembari mengelus jenggotnya, Wiki menatap Lamkiong Peng dengan tajam, jengeknya.
"Untuk apa kau datanh kemari, Lamkiong Peng? Memangnya benar engkau tidak takut mati?"
Mendadak dengan suara bengis ia membentak,"Bwe leng-hiat! Dimana Bwe leng-hiat? Apakah kaupun ikut datang?"
Suaranya lantang juga, tapi kalau dibandingkan suara pertama tadi, jelas bedanya seperti bunyi keleningan dengan suara genta.
Lamkiong Peng menatap sekilas ke belakang Wiki, tertampak di belakangnya penuh bayangan orang, suara tadi entah diucapkan oleh siapa.
Dengan kaku kemudian Lamkiong Peng balas bertanya,"Dimana Yim hong peng?"
Wiki melengak, tapi segera ia berteriak pula,"
Mau apa kaucari Yim hong-peng?"
Belum lagi Lamkiong Peng bersuara pula mendadak bayangan orang berkelebat, tahu-tahu Yim hong-peng sudah berada di depannya, serunya dengan tertawa.
"Haha, kau datang kemari, Lamkiong Peng, bagus, bagus sekali............."
Segera Wiki sebagai tuan rumah buka suara pula.
"Baiklah, jika kalian sudah berhadapan, marilah silakan bicara di dalam sana."
Di dalam perkampungan kabut tampak lebih tebal disertai bau harum yang aneh, entah siapa gerangan tokoh kosen macam apa yang tak kelihatan itu bersembunyi di balik kabut dan bau harum ini.
Namun dengan gagah Lamkiong Peng melangkah masuk di tengan bayangn orang banyak.
Orangorang yang berkerumun itu sama menyingkir memberi jalan.
Kening Wiki bekernyit, seperti mau bicara lagi tapi setelah memandang sekejap ke balik kabut sorot matanya menampilkan rasa jeri sehingga orang urung buka mulut, dengan menunduk ia lantas mengikut di belakang Yim hong-peng dan Lamkiong Peng.
Boh-liong-san-ceng yang megah ini mendadak berubah sunyi senyap pula, yang terdengar hanya suara langkah orang banyak melintasi halaman dan menuju ke ruangan pendopo.
DI ruangan pendopo terpasang beberapa lentera tembaga, tapi di tengah kabut tebal yang tampak aneh ini, tampak serupa api setan (api pospor) yang berkelip di tanah perkuburan sunyi.
Lamkiong Peng menaiki undak-undakan dan menuju ke pintu pendopo, sekonyong-konyong ia membalik tubuh dan memandang sekeliling, perkampungan yang megah ini seperti terbenam di dalam kabut melulu hingga terasa lebih seram dan misterius.
Seketika hati Lamkiong Peng juga timbul semacam perasaan aneh, pada saat itulah tiba-tiba dekat belandar pendopo bergema pula suara aneh tadi.
"Lamkiong Peng, apakah kedatanganmu ini hendak mencari Yim hong-peng untuk meminta obat penawar racun?"
Hati Lamkiong Peng tergetar pula, ia berpaling ke atas, di tengah pendopo yang remang itu suara orang tadi masih mendengung.
Karena rasa ingin tahunya mendorongnya tanpa pikir terus langsung melompat ke atas belandar sana.
Belandar tengah pendopo sangat tinggi, tapi jarak tiga tombak ini tidak menjadi soal bagi Lamkiong Peng.
Siapa tahu, baru saja tubuhnya meninggalkan permukaan tanah, mendadak terasa tenaga tidak cukup, ia terkejut, sebisanya tangannya meraih keatas dan keburu memegang belandar.
Waktu ia pandang keadaan setempat, debu memenuhi belandar itu, mana ada bayangan orang segala.
Tentu saja ia terkesiap, segera ia melayang turun lagi ke bawah.
Dilihatnya Yim hong-peng sedang memandangnya dengan tersenyum, Cuma senyuman yang mengandung rasa misterius.
Air muka Wiki tampak guram, pelahan ia mendekati meja dan mengambil sebatang jarum baja panjang utnuk mengungkit sumbu lampu sehingga cahaya lampu tambah terang namun tetap sukar menembus kabut yang tebal dan mengurangi keseraman suasana.
Lamkiong Peng sendiri lagi menyesali diri sendiri mengapa tenaganya bisa terasa habis setelah lelah semalaman, namu ia tetap tidak gentar, mendadak ia mendongak dan berseru dengan lantang.
"Sahabat ini siapa? Kenapa mesti main sembunyi dalam kegelapan? Apakah tidak punya keberanian untuk menemuiku? "Haha"
Terdengar Yimhong peng tergelak.
"Jika engkau sudah datang kemari, tujuanmu tentulah ingin minta obat penawar padaku. Akan tetapi saat ini tenaga mumimu sudah lemah, biarpun kaumain kekerasan juga takkan terkabul maksud tujuanmu."
Tiba-tiba Lamkiong Peng merasakan telapak tangan sendiri yang berlepotan debu kotoran belandar itu terasa kaku kejang, seperti dikuasai oleh semacam tenaga yang menggerakkan otot dagingnya.
Pelahan ia menjawab.
"Jika kutukar dengan sesuatu, apakah kau dapat berikan obat penawarnya?"
"Itu harus diketahui dahulu barang apa yang hendak kautukarkan?"
Jengek Yim Hong-peng.
"Supaya kautahu biarpun diriku seorang kasar, tapi kalo Cuma benda mestika biasa atau batu permata bisa saja tidak kupandang sebelah mata."
Dengan tenang Lamkiong Peng menjawab.
"barang yang hendak kugunakan untuk menukarkan obat penawarmu adalh jiwa orang she Lamkiong ini"
Tergetar hati Wiki. Yim hong-peng juga melenggak.
"Apa katamu? Coba jelaskan lagi?"
Dengan lantang Lamkiong Peng berkata.
"Asalkan kauberikan obat penawarmu, besok kupasti kembli lagi kesini......."
"Meski ingin kupercaya kepada janjimu, tapi........"
"Kutahu janjiku tentu takkan dipercaya olehmu,"
Potong Lamkiong Peng ,"Supaya kalian tidak sangsi, boleh kauberi minum padaku racun yang bekerja sehari kemudian, lalu serahkan obat penawarmu."
Yim Hong-peng terbahak-bahak.
"Haha, bagus, bagus! Tapi ingin kutanya dulu padamu, sesungguhnya apa alasanmu sehingga kau pandang jiwa orang lain terlebih penting daripada nyawa sendiri?"
Tanpa pikir Lamkiong Peng menjawab.
"Bila orang lain berbudi luhur bersedia mati bagiku, kenapa aku tidak boleh mati bagi orang lain, kan lebih baik kumati bagi orang, mati cara demikian pun akan mendatangkan ketentraman hati."
"Haha, betul juga, orang hidup akhirnya pasti mati,"
Seru Yim Hong-peng dengan tergelak.
"Tapi usiamu masih muda belia, di rumah ada ayahbunda, ada pula sahabat dan kekasih, jika sekarang harus mati begitu saja, apakah engkau tidak merasa menyesal?"
Terkesiap juga Lamkiong Peng, mendadak teringat akan pesan tinggalan sang guru dan rindu ayah-bundanya, hubungan baik sahabat dan cinta kekasih, tapi ia pun tidak dapat melupakan budi kebaikan Tik Yang yang sekarang sedang sekarat itu.
Dengan senyum mengejek Yim Hong-peng memandang anak muda itu, disangkanya perkataannya telah menggoyahkan tekad gugur demi persahabatan anak muda itu.
Tak teduga mendadak Lamkiong Peng menegadah dan berucap tegas.
"Mana obat racunnya?"
Air muka Yim hong peng berubah, juga Wiki dan lai-lain sama terkesiap. Tiba-tiba dari pojok ruang pendopo yang kelam sana bergema pula suara aneh itu.
"Racun berada di sini!"
Serentak Lamkiong Peng berpaling ke sana, dari tempat yang kelam sana mendadak melayang tiba sebuah talam.
Cara bergerak talam ini sanat aneh, serupa dipegang oleh sebuah tangan yang tidak kelihatan dan disodorkan pelahan ke depan Lamkiong Peng.
Sekali meraih Lamkiong Peng pegang talam itu, diatas talam ada sebuah kotak kemala kecil, tanpa curiga Lamkiong Peng ambil kotak kecil itu, sekali toalk ia dorong talam kembali ke sana.
"Barak", talam kayu membentur dinding dan ternyata tidak di sambut orang. Sang surya sudah mulai terbit di ufuk timur, namun cahaya matahari pagi tetap tidak dapat membelah kabut tebal yang aneh ini, kembali tercium bau harum sayup-sayup terbawa angin. Dengan sorot mata acuh tak acuh Yim hongpeng memandang Lamkiong Peng, terlihat anak muda itu sedang mendongak dan menuangkan isi kotak kemala yang berupa bubuk putih kedalam mulutnya. Begitu kukuh dan tegas sikap Lamkiong Peng seolah-olah yang diminum itu bukan racun segala. Ia angkat secangkir teh yang tersedia di atas meja dan dibuat kumur. Dirasakan telapak tangan berkejang pula, memegang cangkir teh saja rasanya tidak kuat lagi. Ia menjadi sangsi masakah racun dapat bekerja secepat ini? Setelah menaruh kotak kemala dan cangkir teh di atas meja, dengan suara berat ia berkata.
"Sekarang serahkan obat penawarnya."
"Obat penawar apa?"
Tanya Yim hong peng. Seketika Lamkiong Peng menarik muka, bentaknya.
"kau.....jadi kau......."
"Racun yang kauminum kan bukan pemberianku,"
Jengek Yim hong-peng, habis berkata, lengan bajunya mengebas dan segera ditinggal pergi.
Seketika hati Lamkiong Peng panas seperti dibakar.
Ia tidak tahan lagi, segera ia menubruk ke arah Yim hong-peng.
Namun Yim hong peng tetap melangkah ke depan dengan tenang, tampaknya Lamkiong Peng segera akan menerrjang tuubuhnya, siapa tahu mendadak serangkum angin keras meyambar tiba dari balik kabut tebal sana, meski tidak bersuara, tapi kekuatannya sukar untuk ditahan.
Seketika Lamkiong Peng merasa seperti didiorong oleh kekuatan dasyat, tanpa kuasa ia terhuyung-huyung dan akhirnya jatuh terduduk di atas kursi.
Menyaksikan itu, Wiki menghela nafas panjang, mendadak ia bertindak keluar dengan langkah lebar.
Sedangkan Yim hong peng lantas membalik tubuh dengan pelahan.
Setelah menenangkan diri, dengan gusar Lamkiong Peng membentak,"Bangsat yang tidak pegang janji, kau........."
Dari balik kabut ada orang yang menjengek.
"Hm, memangnya siapa yang pemah berjanji akan memberi obat penawarnya kepadamu?"
Saking gemasnya hingga Lamkiong Peng tidak sanggup bicara lagi. Terdengar suara aneh di balik kabut berkata pula.
"Sekali kau masuk perkampungan ini berarti jiwamu sudah tergenggam di dalam tanganku, masakah ada hak bagimu untuk bicara tentang tukar menukar obat penawar segala?"
Ucapan ini sangat menyakitkan hati Lamkiong Peng, hatinya serasa terkoyak-koyak, rasa murka dan sedih setelah tertipu, rasa cemas dan putus asa membangkitkan sisa tenaganya yang terakhir, mendadak ia menubruk kesana, diterjangnya bayangan di balik kabut yang tebal itu.
Akan tetapi baru saja tubuhnya melompat ke atas, kontan ia tidak tahan dan jatuh menggeletak lagi ke tanah, sayup-sayup didengarnya suara jengekan orang, remang-remang sesosok bayangan orang seperti mendekatinya dari balik kegelapan sana.
Akan tetapi kelopak matanya terasa sedemikian berat sehingga sukar terbuka lagi, samar-samar hanya terlihat sepasang sepatu yang mengkilat pelahan bergeser mendekat...........
********************** Suara langkah kaki yang berat dari jauh mendekat dari pelahan bertambah keras........
Sinar sang surya yang baru terbit menembus celah-celah tirai dan menyinari kelambu barsulam bunga, tempat tidur yang menyiarkan bau harum semerbak.
Bersama dengan mendekatnya suara langkah orang, mendadak kelambu tersingka, seorang pemuda cakap segera berbangkit dan duduk ke tepi ranjang, mukanya kelihatan pucat, sinar matanya gemerdep takut seperti orang yang merasa berbuat dosa.
Cahaya sang surya yang menyilaukan itu membuatnya mengalingi mukanya dengan sebelah tangan, ia tidak berani menatap sinar marahari, sebab ia kuatir sinar sang surya akan menerangi kejahatan yang tersembunyi dalam lubuk hatinya.
Suara langkah kaki tadi mendadak berhenti di depan pintu.
Muka pemuda itu bertambah pucat, segera ia hendak berdiri, tak terduga dari balik kelambu di belakangnya lantas berjangkit suara tertawa genit, sebuah tangan putih mulus telah memegang pergelangan tangannya sambil menegur.
"He kaumau apa?"
Dengan rasa gugup pemuda itu memandang ke arah pintu. Kembali suara tertawa di belakang kelambu bertanya lagi.
"boleh kau tanya siapa yang diluar?.........Tanyalah, kanapa takut?"
Pemuda itu berdehem terlebih dahulu, lalu bertanya dengna suara berat.
"Siapa itu?!"
Meski Cuma satu kata yang sedehana, tyapi baginya serasa telah banyak memakan tenaga.
Di luar lantas bergema juga orang berdehem.
Dengan gugup pemuda pucat itu duduk kembali ke tempat tidur.
Terdengar suara seorang menjawab dengan rasa takut-takut.
"Apakah Tuan tamu ingin meminta sesuatu?"
Pemuda pucat ini mengusap keringat dingin yang membasahi dahinya, sambil menghela nagas lega, lalu berteriak.
"Tidak!"
Segera bergema pula suara tertawa nyaring di balik kelambu. Pemuda pucat itu menghela nafas, katanya.
"Ai kukira.........kukira Toako yang berada diluar. Semalam aku..........bermimpi buruk sebentar mimpi suhu merangket diriku, lain saat mimpi toako lagi mendamprat diriku dan.............."
Pemuda pucat itu menunduk, mandadak tangan putih mulus itu menariknya sehingga pemuda itu jatuh kedalam rangkulan yang hangat dan harun sehingga tidak sanggup lagi melepaskan diri lagi serupa seekor kelinci jatuh ke dalam perangkap si pemburu.
Pelahan kelambu tertutup lagi, sejenak kemudian sebelah kaki yang putih bersih pun terjulur ke tepi ranjang yang berguncang pelahan.......
"Adik Tim,"
Terdengar suara lembut bergema pula di balik kelambu.
"andaikan benar Toako datang, lantas bagaimana?"
"Aku....aku........"
Agaknya pemuda itu tidak sanggup menjawab.
Kaki putih tadi tampak terjulur lemas, lalu sampai lama tiada suara lagi di balik kelambu.
Kemudian sbeleh kaki yang lain juga menjulur kebawah, lalu seorang perempuan cantik dengan rambut kusut pelahan berdiri, bajunya yang tipis melambai ke bawah sehingga menutupi kakinya yang indah.
IA membetulkan rambutnya sambil mengehela nafas gegetun, katanya.
"Adik Tim, kutahu engkau benar masih suka padaku."
Pemuda pucat itu pun muncul dari balik kelambu dan memandang perempuan menggiurkan itu dengan melenggong, katanya kemudian.
"Aku.....aku memang suka padamu, namun toako setiap saat dapat.........dapat datang, sungguh aku sangat.........sangat takut."
Perempuan cantik menggiurkan yang habis main pat gulipat dengan pemuda pucat ini ialah Kwe giok-he, mandadak ia berpaling ke sana dan menatap pemuda itu dengan tajam, katanya.
"Jika selamanya toako takkan kembali lagi, lantas bagaimana?"
Pemuda bermuka pucat itu bukan lain ialah Ciok Tim, ia melenggak sejenak lalu berucap dengan heran.
"Toako takkan kembali lagi?"
Giok he mendengus pelahan ia melangkah ke sana dan duduk di kursi, katanya.
"Jika dia tidak mati kan seharusnya sudah lama di datang ke Sean?"
Air muka Ciok Tim tambah pucat, katanya dengan tergagap.
"Mak.....maksudmu......."
Mendadak Giok he memotong.
"Tempo hari ketika di puncak Hoa san sudah kulihat jurang diluar rumah gubuk itu, setiap saat dapat terjadi malapetaka, bisa jadi di sana tersembunyi sesutau kejahatan yang belum terbongkar. Tentu kaulihat juga wajah mayat itu penuh rasa kejut dan takut, padahal tubuh mayat itu tidak terdapat tanda luka senjata atau pukulan jelas dia mati karena ketakutan."
"Mati ketakutan?"
Ciok Tim menegas dengan melongo. Giok he mengangguk, katanya pula.
"kemudian ketika kau susul tiba, bukankah kaulihat tiba-tiba aku bersenyum?"
"Kukira engkau tersenyum kepada.......kepadaku,"
Kata Ciok Tim.
"Biarpun kusenang karena melihatmu, namun senyumanku itu adalah karena kudengar, suara jeritan ngeri di bawah jurang itu."
"Jeritan ngeri? Kenapa aku tidak mendengar?"
"Waktu itu engkau lagi asyik memperhatikan diriku, dengan sendirinya tidak mendengar, namun dapat kudengar dengan jelas jeritan yang keras dan cemas itulah suara Toakomu. Coba kaupikir, menuruti watak Toakomu yang keras, bilamana dia tidak mengalami sesuatu musibah, mana bisa dia mengeluarkan jeritan ngeri tiu."
Ciok tim terkesima bingung, entah merasa senang, bersyukur, gelisah atau sedih. Sembari menggulung rambutnya, Giok he berkata pula dengan pelahan.
"Semula aku belum berani memastikannya, tapi setelah sekian hari tiada kelihatan bayangan Toakomu, bila dia tidak mati, mustahil sampai sekarang tidak muncul lagi di sini. Dengan nama dan bentuknya, begitu masuk kota Se-an pasti akan dikenal orang dan segera tersiar."
Bola mata Giok he mengerling dan tersembul senyuman puas yang sukar diraba, lalu berkata pula.
"Setelah bertemu dengan perempuan iblis itu, sekalipun semalam Lo-ngo (kelima, maksudnya Lamkiong Peng) dapat menyelamatkan diri, tentu selanjutnya juga tidak berani lagi emnongol di dunia kangouw, bahkan pulang ke rumah saja mungkin juga tidak berani......."
Ia sengaja menghela nafas, namun senyumnya bertambah cerah, sambungnya lagi.
"Tak tersangka Anak murid Ji-hau-san-ceng akhirnya tersisa kita berdua saja, betapa besar perusahaan yang ditinggalkan suhu itu terpaksa harus kuurus sendiri. Ai, selanjutnya engaku harus membentuku adik Tim."
Ciok Tim tidak menoleh, bahkan melengos ke arah lain, sebab saat itu air matanya berlinang memenuhi kelopak matanya, entah air mata terharu, meyesal atau sedih.
*********************** Menjelang lohor, Giok he dan Ciok Tim tamapak keluar dari hotel.
Langkah Ciok Tim diperlamabat sehingga bertahan suatu jarak tertentu di belakang Kwe giok-he.
Jarak yang layak seorang sute mengiringi sang suci.
Namun sinar matanya tanpa terasa selalu jatuh ke arah pinggang Giok he yang ramping.
Jalan raya di tengah kota Se-an jelas berbeda daripada biasanya, hal ini disebabkan kegemparan yang terjadi semalam, sampai saat ini perasaan penduduk masih belum tentram kembali.
Juga lantaran toko-toko yang memasang panji "grup Lamkiong"
Hari ini sama tutup, jelas disebabkan mengalami suatu kejadian yang luar biasa.
Dengan tenang Giok he melangkah ke arah Bohliong-ceng, namun segala sesuatu di sekelilingnya tidak terlepas dari pengematannya.
Sebab itulah dia tidak menumpang melainkan lebih suka berjalan.
Jalan raya yang kelihatannya tentram tapi jelas ada kelainan itu akhirnya bergema suara derap kaki kuda dari kejauhan sana.
Waktu Giok-he menoleh, dilihatnya tiga ekor kuda tinggi besar dengan pelana yang mengkilat muncul dari belakang.
Kuda belang yang di depan ditunggangi seorang pemuda gagah berbaju satin dan muka cakap, pedang bergantung di pinggangnya, tubuhnya yang jangkung duduk tegak di atas pelana, sorot matanya yang menampilkan sinar kepongahan mengerling kian kemari seperti tiada seorang pun di dunia ini terpandang olehnya.
Tapi ketika melihat lirikan mata Kwe giok-he, mendadak pemuda itu menahan kudanya.
"tring", sarung pedang bersepuh emas menyentuh pelana kuda dan menimbulkan suara nyaring, tanpa menghiraukan sopan santun ia memandang Giokhe dari atas ke bawah dan sebaliknya dengan cengar-cengir. Air muka Ciok Tim berubah masam, sedapatnya ia manahan rasa gusarnya dan tidak menghiraukan sikap orang yang kurang ajar itu. Sebaliknya sikap Giok-he meski kelihatan prihatin, tapi lirikannya serupa sengaja dan tak sengaja justru mengerling lagi dua kejap ke arah orang, lalu menunduk. Karena itu pemuda penunggang kuda itu tambah berani, pelahan ia terus mengintai di belakang Giok-he, sorot matanya tidak pemah meninggalkan pinggang Giok he yang ramping menggiurkan itu. Kedua penunggang kuda lain yang mengikut dibelakangnya adalah dua kacung yang juga berdandan perlente, keempat mata mereka yang besar juga sedang memandang Giok he dengan penuh minat. Dandanan kedua anak ini serupa, bahkan wajah dan perawakan juga sama, namun sikap dan gerak-geriknya agak berbeda, kalau yang satu tampak pintar dan lincah, yang lain kalihatan pendiam dan prihatin serupa orang dewasa. Ciok Tim tidak tahan lagi akan rasa gusarnya, ia menyusul ke dekat Kwe giok-he. Si pemuda berbaju perlente memandang sekejap, mendadak ia tertawa, lalu ia melrikan kudanya cepat ke depan.
"Hm kurang ajar benar orang ini! jengek Ciok Tim Kacung sebelah kanan mendadak menahan kudanya dan menegur dengan mata melotot.
"Apa katamu?"
Sedangkan kacung yang lain lantas mencambuk pantat kuda kawannya dan mengomel,"sudahlah, lekas berangkat, cari gara-gara apa lagi?"
Setelah kedua kacung itu pun melarikan kudanya ke depan, dengan tersenyum Kwe giok-he tanya Ciok Tim.
"Kau kira orang macam apakah pemuda tadi?"
"Hm, besar kemungkinan anak kemarin sore yang baru tamat belajar, mungkin anak keluarga hartawan yang biasa berbuat tidak semena-mena.
"jengek Ciok Tim. Giok-he memandangi bayangan punggung ketiga orang di depan sana, katanya.
"Tampaknya tidak rendah ilmu silat mereka, tentu dari perguruan temama."
Diantara kerlingan dan kerut keningnya agaknya timbul lagi sesuatu pikirannya, hanya hal ini tidak dilihat oleh Ciok Tim.
Setelah melintasi lagi dua simpang jalan tertampaklah gedung megah dengan halaman luas, itulah Boh-liong-ceng, tempat kediaman Wiki.
Baru saja mereka sampai di depan gerbang perkampungan itu, terdengarlah derap kaki kuda yang ramai, ketiga pemuda penunggang kuda tadi telah menyusul tiba.
Seketika air muka Ciok Tim berubah, gumamnya.
"Hm, tampaknya mereka sengaja menguntit kita."
"Jangan cari perkara,"
Ujar Giok he dengan tersenyum.
Tiba-tiba si pemuda perlente penunggang kuda tadi melompat turun dari kudanya dan tepat berdiri di samping Giok-he.
Dengan mendongkol Ciok Tim lantas memburu maju dan melototi orang dengan sikap bermusuhan.
Selagi pemuda perlente itu hendak menyapa, sekonyong-konyong pintu gerbang perkampungan megah itu terkuak, menyusul terdengarlah gelak tertawa lantang, tertampak Wiki dan Yim-hong peng muncul dari dalam, sembari berseru.
"Aha, rupanya ada tamu dari jauh, maaf jika tidak kusambut selayaknya!"
Dengan wajah berseri si pemuda perlente lantas berpaling ke sana dan memberi salam hormat.
Diam-diam Ciok Tim berkerut kening, ia heran orang macam apakah pemuda ini sehingga Wiki merasa perlu menyambut keluar.
Di luar dugaan, Wiki hanya menyapa, sekedarnya saja kepada pemuda perlente itu, lalu langsung menghampiri Kwe giok-he dan berucap.
"Liong hujin sungkan bermalam di tempatku ini, tentu semalam telah beristirahat dengan tenang."
"Terimakasih atas perhatian Wi-locianpwe,"
Kata giok he, sambil memberi hormat.
Baru sekarang Ciok Tim tahu bahwa yang hendak di sambut oleh Wiki ternyata mereka berdua bukan pemuda perlente tadi.
Sebaliknya pemuda perlente tadi merasa kikuk karena yang disambut tuan rumah ternyata bukan dirinya, dengan tercengang ia pandang Wiki dan Giok he.
Ketika dilihatnya Ciok Tim sedang meliriknya dengan sikap mengejek, seketika dia mendelik, dengan suara dongkol, ia menjengek.
"Apakah tempat ini memeng betul Boh-liong-ceng?"
Dengan sinar mata gemerdep Yim hong-peng menanggapi.
"Betul, apakah saudara ini bukan serombongan dengan Liong-hujin?"
Pemuda itu menjengek.
"Kudatang dari Tongthian-kiong di puncak Kun-lun-san, siapa Lionghujin belum pemah kukenal."
Seketika hati Giok he, ciok Tim, Wiki dan Yim hong-peng sama tergetar.
"Aha, kiranya anda ini murid Kun-lun pai, silakan masuk, kebetulan meja perjamuan sudah siap, marilah kita minum bersama barang satudua cawan, seru Wiki. Hendaknya dimaklumi anak murid Kun-lun pai sangat jarang muncul di dunia kangouw. Biasanya orang kangouw juga sedikit sekali yang berkunjung ke Kun-lun-san, sejak dahulu Put-si-sin-liong mengalahkan Ji-yan Tojin, ketua Kun-lun-pai dipuncak pegunungan itu, berita mengenai murid utama Ji-yan Tojin yaitu Boh-in-jiu Tok put-hoan, sangat menonjol di dunia kengouw dan merupakan salah seorang jago pedang yang disegani. Bahwa pemuda perlente ini adalah murid Kunlun-pai, mau tak mau Wiki harus melayaninya dengan cara lain. Ban-li-liu-hiang Yim hong-peng lantas ikut menyambut juga dengan hormat scakan-akan dia adalah tuan rumahnya. Sikap pemuda perlente itu tampak tambah congkak, tanpa sungkan ia lantas mendahului masuk ke dalam Boh-liong-ceng. Diam-diam Ciok Tim mendongkol, dengan suara tertahan ia membisiki Kwe giok-he.
"Jika orang ini saudara seperguruan Boh-in-jiu itu, artinya dia juga musuh Ji-hau-san-ceng kita, rasanya aku ingin menjajalnya, ingin kutahu betapa lihainya anak murid Kun-lun-pai."
"Berbuatlah menurut gelagat, jangan sembarangan bertindak,"
Desis Giok-he sambil menarik ujung bajunya.
Sementara itu sang surya sudah memancarkan cahayanya yang gilang gemilang, kabut tebal tadi sudah tersapu lenyap, suasana misterius yang meliputi ruang pendopo tadi pun lenyap.
Di tengah ruangan memang benar sudah siap meja perjamuan, dengan tertawa Wiki lantas berseru.
"Liong-hujin..........."
Belum sempat ia menyilakan duduk orang, sekonyong-konyong si pemuda perlente tanpa sungkan lantas menduduki tempat utama scakanakan tempat itu memang disediakan untuk dia.
Selaku tuan rumah, tentu saja Wiki berkerut kening dan kurang senang, ia pikir biarpun anak murid Kun-lun-pai seyogyanya juga tidak boleh sesombong ini.
Ciok Tim juga lantas mendengus menyatakan rasa tidak senangnya.
Namun pemuda perlente itu sengaja menengadah dan tidak menghiraukan cemooh orang lain.
Giok-he hanya tersenyum saja dan duduk di tempat scadanya, Ciok Tim juga tidak enak untuk bicara, terpaksa ia menahan perasaannya dan duduk di samping Giok-he.
Dengan sendirinya Wiki tidak dapat memperlihatkan rasa marahnya, ia hanya berdehem dan coba menyebutkan nama Kwe giokhe, Ciok-Tim dan Yim hong-peng, maksudnya agar pemuda perlente itu terkejut dan dapat lebih tahu diri.
Siapa tahu nama ketiga orang ternyata tidak membuatnya gentar, ia hanya menyapa pandang mereka sekejap, lalu ia menyebut nama sendiri dengan nama dingin.
"Dan namaku Cian Tong-lai."
Lalu tidak bicara lebih banyak lagi, juga tidak bergerak dari tempat dudukhya, hanya dipandangnya wajah Giok he yang cantik itu dua tiga kejap, entah dia sengaja berlagak angkuh atau memang masih hijau sehingga tidak kenal nama tokoh dunia persilatan yang menonjol ini.
Wiki juga mendongkol melihat sikap orang yang sombong itu, ia pikir biarpun Tok put-hoan juga tidak berani bersikap scangkuh ini.
Setelah menyilakan tetamunya minum, dengan tertawa Wiki berkata.
"Agaknya Cian-heng belum lama terjun ke dunia kangouw, tapi kalau dibicarakan sesungguhnya kita pun bukan orang luar. Beberapa tahun yang lalu ketika suhengmu Toh-siauhiap baru turun dari Kun-lun-san, dia juga mampir ke tempatku sini dan saling sebut sebagai saudara denganku haha....."
Mendadak si pemuda perlente yang mengaku bemama Cian Tong-lai itu memotong.
"Toh puthoan adalah sutitku."
Tentu saja semua orang melenggak, sungguh sukar dipercaya Toh put-hoan yang lebih tua itu ternyata murid keponakan pemuda she Cian ini.
Sambil tertawa Cian Tong-lai menenggak secawan arak lagi, lalu menuding kedua kacung yang berdiri di pojok ruangan itu dan berkata.
"Kedua bocah itulah baru terhitung satu angkatan dengan Toh put-hoan."
Baru sekarang Yim hong-peng dan Wiki terkejut. Cepat Wiki berkata dengan menyengir.
"O, maaf, jika begitu lekas kedua saudara cilik silakan duduk juga untuk minum bersama."
Anak yang bersikap prihatin itu berucap.
"Susiok hadir disini, kami tidak berani ikut duduk."
Kacung yang lain menambahkan dengan tertawa.
"Asalkan lain kali bila kami berkunjung lagi ke sini jangan Wi-cengeu menyuruh kami berdiri di sini."
Muka Wiki berubah merah, didengarnya kacung tadi berseru pula dengan tertawa.
"Wah, tak tersangka nama Toh-suheng sedemikian tersohor di dunia kangouw, bila tahu tentu Toasupek akan sangat senang."
Cian Tong-lai menyapu pandang sekejap lalu menyambung dengan ketus.
"Kedatanganku ini adalah karena nama WI ceng-cu yang termashur bermurah hati dan gemar mengumpulkan orang pandai dan bijaksana........"
Dengan sorot mata tajam ia memandang Wiki sekejap, seketika air muka Wiki bertambah merah. Maka Cian Tong-lai menyambung lagi.
"Selain itu, ingin juga kucari kabar tentang Toa sutitku itu."
Berubah juga air muka Ciok Tim sambil memandang Giok he sekejap. Pelahan Cian Tong-lai berkata lagi.
"Sejak meninggalkan Kun-lun-san, hanya beberapa tahun pertama saja masih ada kabar beritanya, tapi akhir-akhir ini tidak terdengar lagi sesuatu beritanya........"
Sampai di sini sinar matanya berkelebat ke arah Ciok Tim, lalu menyambung dengan nada bertanya.
"Jangan-jangan sahabat she Ciok ini mengetahui akan jejak Toasutitku itu?"
Tergetar hati Ciok Tim sehingga arak tercecer dari cawan yang dipegangnya. Lekas Giok he menyela.
"Nama Boh-in-jiu memang sudah lama kami dengar, Cuma sayang tidak pemah bertemu, cara bagaimana kami tahu jejaknya?"
Apa betul begitu?"
Jengek Cian Tong-lai. Senyum Giok he tambah menggiurkan, katanya.
"Ucapan murid Sin-liong-bun kukira tidak perlu disangsikan."
Mendadak sebelah tangannya menekan, cawan arak mendadak amblas ke dalam meja, ketika tangannya terangkat, cawan arak ikut mumbul juga, gerakannya cepat dan gesit, apa yang terjadi itu cuma sekejap saja.
Air muka Cian Tong-lai sedikit berubah, ia pandang wajah Giok he yang cantik itu, mendadak ia bergelak tertawa, katanya.
"Scumpama Hujin bukan anak murid Sin-liong-bun juga kupercaya penuh kepada keteranganmu."
Mendadak Ciok Tim mendengus. Yim hong-peng tertawa, katanya.
"Arak dan hidangan sudah dingin, ayolah jangan mengecewakan maksud baik tuan rumah..........."
Belum lenyap suaranya, mendadak terdengar deru angin keras dari udara, suasana menjadi gelap, berbareng itu terdengar pula suara burung, beberapa ekor elang terbang lewat di depan pendopo, habis itu lantas terbang mengitar di halaman, seluruhnya ada tujuh ekor burung elang.
Berubah air muka Wiki, serentak ia bangkit berdiri.
Si kacung yang lincah lantas berseru dengan tertawa.
"Hihi, tak terduga di sini juga ada elang sebesar ini, sungguh menarik."
Baru habis ucapannya, sekonyong-konyong ia melompat miring ke atas, kedua tangannya terpentang terus menubruk ke tengah kawanan elang yang terbang mengitar itu.
Kacung itu bergerak dengan santai, tapi meluncur secepat kilat, bajunya yang perlente itu berkelebat, tahu-tahu sebelah tangannya sudah berhasil menangkap sayap salah seekor elang itu.
"Bagus!"
Seru Giok he sambil berkeplok tertawa.
Elang itu bersuara kaget, kcenam ekor elang yang lain serentak terbang balik, sekaligus mereka hendak mematuk si kacung.
Tiba-tiba dari kejauhan ada suara jepretan busur dan bentakan orang.
"Pukul!"
Berbareng itu selarik sinar hitam menyambar tiba.
Semua itu hanya terjadi dalam sekejap, belum lagi tubuh si kacung turun ke bawah, tahu-tahu cahaya hitam itu sudah menyambar, paruh kcenam ekor elang yang tajam itu pun akan mengenai tubuhnya.
Baru saja Giok-he berseru "bagus", seketika ia menjerit pula.
"Celaka!"
Yim hong-peng, Wiki, Cian Tong-lai juga berseru kuatir, si kacung mengendurkan cengkramannya, kedua kaki di tekuk, ia berjumpalitan sekali di udara, lalu turun ke bawah dengan enteng, walaupun begitu ujung bajunya juga telah tertembus oleh cahaya hitam tadi.
Kacung yang lain tidak tinggal diam, ia pun membentak.
"Lihat serangan!"
Sekaligus tujuh titik perak terpancar ke depan menyerang ketujuh ekor elang.
Kcenam ekor elang berbunyi kaget dan terbang ke udara, seekor sempat tersambit oleh senjata rahasia si kacung dan jatuh ke tanah bersama si kacung pertama tadi.
Cahaya hitam tadi masih menyambar ke depan dengan kencang dan "crat", menancap di dinding, nyata tenaga pemanah itu sangat kuat.
Dengan muka kelam Cian Tong-lai berbangkit dan berkata.
"Wi cengeu, apa cara demikian Bohliong-ceng meladeni tamunya?"
Belum lenyap suaranya segera terdengar pula orang berteriak lantang di luar.
"Tujuh elang menjulang ke udara, gemilang usaha kami malang melintang. Air muka Wiki berubah seketika, gumamnya.
"Jit-eng-tong (Klik tujuh elang)!"
Pada saat itulah seorang lelaki berbaju hitam muncul dengan membawa sehelai kartu merah besar dan dihaturkan kepada Wiki.
Waktu Wiki membuka dan membacanya, ternyata kartu merah itu tidak terdapat tulisan apa pun melainkan Cuma terlukis tujuh ekor burung elang yang berwama berbeda dengan gaya yang berlainan dan kelihatan seperti elang hidup.
"Tamu agung silahkan masuk!"
Segera Wiki berseru sambil memburu keluar. Kening Yim hong-peng bekernyit sambil bergumam.
"Jit-eng-tong...........Jit-eng-tong!"
Lalu ia pun melangkah keluar.
Cian Tong-lai memandang bayangan punggung kedua orang itu, sinar matanya menampilkan nafsu membunuh, ia coba tanya si kacung yang jatuh tadi, Giok-ji, apakah kau terluka?"
Giok-ji menggeleng pelahan, namun mukanya kelihatan pucat, sikapnya yang lincah dan periang tadi kini tak tertampak lagi.
"Boleh juga anak ini, tampaknya dia Cuma terkejut oleh sambaran anak panah dan tidak menjadi alangan,"
Ujar Giok-he.
"Hm, anak murid Kun-lun mana boleh........."
Belum lanjut jengekan Cian Tong-lai, sekonyongkonyong berkumandang suara orang ramai dari halaman sana.
Tiba-tiba elang yang terluka tadi pentang sayap hendak terbang ke udara, tapi sekali tangan Cian Tong-lai menuding "crit", kontang elang yang baru melayang setinggi manusia itu jatuh lagi ke lantai.
"Khikang yang hebat!"
Seru Giok-he memuji sambil melirik Ciok Tim, tertampak air mukanya berubah.
Sungguh tak tersangka anak muda yang congkak itu memiliki kungfu selihai ini, agaknya lebih hebat dari pada ketua Kun-lun-pai sendiri.
Pada saat itulah dari balik gunung-gunungan halaman sana bergema bentakan seorang, menyusul sesosok bayangan tinggi besar melayang tiba, ia berjongkok dan menjemput bangkai elang tadi, di bawah sinar sang surya kelihatan rambutnya yang putih dan sorot matanya yang guram, orang tua yang tinggi besar dengan baju perlente ini kelihatan sedih sehingga tangan yang memegang bangkai elang rada gemetar.
Ia berdiri termangu sejenak, lalu bergumam seperti mau menangis.
"O, siauang........ kau.......kau mati!......"
Dari balik gunung-gunungan sana lantas muncul pula enam kakek berjenggot dan rambut ubanan, semua dengan baju perlente, namun dari gerak geriknya tidak terlihat ketuaan mereka.
Muka kcenam kakek ini tidak sama, dandanan mereka serupa, hanya pinggang masing-masing terikat tali sutera berlainan wama.
Seorang diantaranya berwajah putih bermata tajam dan selalu tersenyum, tali pinggangnyya berwama putih, muncul diapit oleh Wiki dan Yim hong-peng.
Ketika melihat si kakek bertali pinggang merah lagi berduka memegangi bangakai elang, segera kakek muka putih bertanya.
"Ada pada, Jit-te? Apakah siau-ang terluka?"
"Mati.......bahkan sudah mati......"gumam si kakek tali merah, mendaak ia berteriak murka.
"Siapa yang membunuhnya.....siapa........."
Suaranya keras mendengung memekak telinga.
Tanpa terasa si kacung yang bemama Giok-ji tergetar mundur setindak.
Mendadak si kakek bertali merah berpaling, sorot matanya terpancar tajam, sambil memegang bangkai elang ia terus menubruk maju, sebelah tangannya segera meraih pundak si kacung.
Giok-ji seperti tertegun oleh keberingasan orang, ingin mengelak, tapi tidak keburu lagi, pundak terasa kencang dicengkram tangan si kakek.
"Siau-ang terbunuh olehmu bukan?"
Bentak si kakek.
Kacung itu terkesiap, tapi tangan kanan mendadak bekerja, hiat-to bagian iga si kakek hendak ditutuknya.
Terkejut juga si kakek oleh serangan ini, sedikit menggeliat dapatlah ia menghindar, tak tersangka kaki kiri si kacung juga lantas melayang ke depan, mengarah selakangan si kakek.
Dalam keadaan demikian bila si kakek tidak lepas tangan, seketika dia bisa menggeletak binasa.
Terpaksa si kakek menyelamatkan diri lebih dulu, ia melompat mundur.
Tak terduga pundak segera terasa kesemutan, tahu-tahu dicengkram orang, suara orang yang ketus bergema di samping telinganya.
"Akulah yang membunuh binatang piaraanmu itu."
Kejadian ini berlangsung dengan cepat dan membuat semua orang melenggong. Dengan kuatir cepat Wiki berseru.
"He, Cian siau-hiap........Ang jitya, ada urusan apa marilah bicara secara baikbaik!"
Serentak kcenam kakek berbaju perlente juga memencarkan diri dan mengepung Cian Tong-lai dan kedua kacungnya di tengah.
Namun Cian Tong-lai menghadapi mereka dengan santai saja, ia tetap mencengkram pundak si kakek bertali merah, dengan tak acuh ia pandang kcenam kakek itu satu persatu, sama sekali tidak gentar terhadap ketujuh kakek yang terkenal sebagai Thian-hong-jit-eng (tuju elang menembus langit) Ketujuh piaokiok (perusahaan pengawalan) yang termashur sejak 30 tahun yang lampau.
Si kakek bertali merah tidak dapat berkutik, hanya mata mendelik dan jenggot scakan-akan menegak, bahkan juga tidak berani bersuara.
Sebab dirasakan ada arus tenaga kuat tersalur dari Koh-cing-hiat di bagian pundak menembus ke dalam tubuh, bilamana tubuh sendiri sedikit meronta, bukan mustahil tenaga tidak kelihatan itu akan bekerja keras dan menggetar putus urat nadi jantungnya.
Kcenam kakek berbaju perlente dari Thian-hongjit-eng itu sangat gusar, tapi tidak berani sembarang bertindak mengingat kawan sendiri berada dalam cengkraman musuh.
Giok-he mengerling sekejap, dilihatnya wajah Wiki menampilkan rasa cemas dan kuatir, sedangkan Yim hong peng tetap tenang saja.
Kedua kacung tadi sedang mengawasi kcenam kakek dengan was-was, kcenam ekor elang tadi kembali terbang mengitar di udara tepat di atas kepala Cian Tong-lai scakan-akan mengetahui bahaya yang sedang mengancam si kakek bertali merah.
Sekonyong-konyong kcenam ekor elang sama berbunyi dan menubruk ke bawah, sekaligus mematuk kepala Cian Tong-lai.
Berbareng itu kcenam kakek juga membentak dan serentak menerjang maju.
Alis Cian Tong-lai menegak mendadak, sebelah tangannya menampar ke atas, kontan kcenam ekor elang terdampar oleh angin pukulan dasyat sehingga tertahan dan tidak mampu menembus angin pukulan.
Kesempatan itu segera digunakan si kakek bertali merah untuk mendak ke bawah terus hendak memberosot ke samping.
"Hm, ingin lari!"
Jengek Cian Tong-lai.
Saat itu juga seorang kakek bertali pinggang wama putih sempat melompat tiba lebih dulu, segera ia menarik kakek bertali pingggang merah dan tak sempat menyerang Cian Tong-lai.
Kedua kacung tadi tidak tinggal diam, mereka songsong si kakek bertali ungu dan kuning, walaupun usai kedua kacung ini masih muda belia, tapi mereka tidak gentar menghadapi lawan tangguh.
Si kakek bertali ungu dan kuning saling pandang sekejap, lengan baju mereka mengebas dan keduanya sama menyurut mundur, betapapun tokoh Jit-eng-tong yang termashur tidak sudi bergebrak dengan dua anak ingusan.
Dan karena daya tubrukan kawanan elang tadi tertahan oleh angin pukulan Cian Tong-lai, setelah merandek, segera menubruk lagi ke bawah, Saat itu juga Cian Tong-lai sudah terkepung oleh ketiga kakek yang bertali pinggang berwama hijau, hitam, biru, sekali bergerak, kembali ia desak mundur ketiga kakek itu, lalu mnejengek.
"huh, main kerubut, dibantu pula kawanan hewan, kiranya beginilah jago silat daerah Tionggoan."
Muka si kakek bertali hitam tampak dingin.
Mendadak si kakek bertali biru bersuit pelahan sambil menggeser ke samping kawannya, kawanan elang yang sedang menubruk ke bawah mendadak terbang lagi ke atas.
Si kakek bertali hijau berseru.
"Lakte, mundur dulu, biar kubelajar kenal dengan orang angkuh ini!"
Segera ia melancarkan beberapa pukulan dasyat, meski perawakannya paling kecil, tapi kekuatannya sangat mengejutkan.
Si kakek bertali putih sempat menarik kakek bertali merah ke pinggir kalangan dan kebetulan di samping Giok-he berdiri.
Dengan simpatik Giok he bertanya.
"Tampaknya tidak ringan luka Locianpwe ini, kubawa obat luka dalam jika sekiranya perlu pakai. Si kakek bertali putih tersenyum, katanya.
"Terima kasih, cuma saudaraku ini hanya tertutuk Hiat-to kelumpuhannya saja, sebentar lagi dapat bergerak lagi dengan bebas."
Dalam pada itu si kakek bertali hijau sudah bergebrak beberapa jurus dengan Cian Tong-lai, keduanya sama bergerak dengan cepat, namun tenaga pukulan si kakek bertali hijau ternyata tidak tahan lama, sudah mulai lelah.
Si kakek bertali kuning bergeser ke sisi Giok-he dan bertanya dengan suara tertahan.
"Apakah anak muda ini sekomplotan denganmu?"
"Jika kami sekomplotan, tentu dia takkan berbuat sekasar itu kepada para Locianpwe"
Jawab Giok he dengan menyesal. Sementara itu si kakek bertali putih sedang menguruti tubuh si kakek bertali merah, tanpa menoleh ia menukas.
"Pemuda itu adalah anak murid Kun-lun-san, ilmu silatnya tidak rendah, hendaknya Lak-te disuruh jangan gegabah."
Si kakek bertali kuning termenung sejenak lalu ia mendekati Wiki.
Saai itu Wiki juga merasa serba susah dan tidak tahu cara bagaimana harus melarai.
Tiba-tiba si kake bertali kuning menghampiri Wiki dan mendengus,"Hm, tak terduga orang Conglam-pai bisa ada hubungan dengan murid Kunlun-pai."
Selagi Wiki melenggak dan belum sempat menjawab, si kakek bertali kuning berkata pula.
"Sebenarnya kedatangan kami tidak bemiat jahat melainkan ingin mencari murid seorang sahabat lama dan minta WI cengeu suka membnatu, siapa tahu cara demikianlah sambutan disini........."
Si kakek bertali kuning ini sudah tua, tapi wataknya tetap sangat keras, habis bicara segera melancarkan pukulan.
Di sebelah sana si kakek bertali ungu bemama Tong-jit-thian dan si biru bemama Na Lok-thian sekaligus lantas menerjang juga ke arah Cian Tong-lai.
Kakek bertali hijau yang sedang menempur Cian Tong-lai itu bemama Leng Cin-thian, dahulu di terkenal dengan Tai-li-kim-kong-jiu, pukulan bertenaga raksasa, tapi sekarang dia ternyata bukan tandingan pemuda she Cian yang sombong ini.
Diam-diam Giok he dan Ciok Tim terkesiap menyaksikan ketangkasan Cian Tong-lai.
Begitu pula Yim hong-peng juga menampilkan rasa kagum serupa pertama kalinya melihat Lamkiong Peng dahulu.
Kedua kacung segera bergerak juga hendak mengadang Tong-jit-thian dan Na Lok-thian, tapi mendadak bayangan hitam berkelebat, seorang kakek kurus tinggi dengan muka kaku dingin berdiri di depan mereka, sorot matanya tajam menimbulkan rasa ngeri orang.
Pelahan si kakek bertali hitam mengangkat tangannya, kedua kacung itu terkesiap dan tanpa terasa menyurut mundur setindak, sorot mata mereka sama menatap tangan si kakek kurus kering dan hitam ini.
Tak terduga tangan si kakek hanya terangkat saja dan tidak bergerak lagi.
Wajahnya juga tetap kaku tanpa memperlihatkan sesuatu perasaan, hanya sorot matanya yang mencorong tajam tetap menatap kedua kacung itu.
Sorot matanya seperti membawa semacam daya gaib yang sukar dilukiskan sekalipun Yim hong-peng juga terkesiap demi beradu pandang dengan sorot mata aneh itu, diam-diam ia heran.
"Aneh apakah sorot matanya itu pun mengandung semacam kungfu mujizat?"
Tiba-tiba teringat olehnya ada semacam kungfu istimewa sudah lama menjadi dongeng di dunia kangouw, tanpa terasa ia memendang ke sana, dilihatnya muka kedua kacung itu pucat pasi, keempat biji matanya yang besar terbelalak lebar, tapi kaku tak bergerak melainkan Cuma menatap telapak tangan si kakek yang hitam itu.
Setiap kali si kakek melangkah maju setindak, seperti kena sihir, setiap kali pula kedua kacung itu pun menyurut mundur setindak.
Berulang si kakek mendesak maju tiga tindak dan kacung itu pun mundur tiga tindak, dengan suara aneh si kakek berkata pelahan.
"Berdiri saja di sini dan jangan bergerak."
Benar juga, kedua kacung itu lantas berdiri termenung tanpa bergerak, hanya mata melotot dan muka bertambah pucat.
"Hari sudah hampir gelap, tidurlah!"
Ucap pula si kakek.
Serentak kedua kacung itu berbaring di tanah dan memejamkan mata, seperti tidur benar-benar.
Lalu si kakek bertali hitam membalik tubuh, sorot matanya mendadak tertuju ke muka Yim hong-peng.
Yim hong-peng cukup cerdik, cepat ia menunduk dan berucap.
"Lihai benar kungfu Locianpwe."
"Ah, kan kedua anak kecil ini memang penurut, terhitung kungfu apa?"
Ujar si kakek ketus. Kedua matanya meram melek dan tidak kelihatan hendak bertindak sesuatu. Diam-diam Yim hong-peng membatin.
"Sudah lama tersiar di dunia kangouw tentang kawanan elang ini, katanya elang hitam dingin, elang hijau sombong, elang biru bicara lembut, elang merah pemarah, elang kuning dan ungu latah dan nyentrik, bila melihat elang putih kawanan elang sama tertawa. Tampaknya elang hitam ini memang betul dingin luar biasa sesuai namanya Leng Yathian (malam sedingin) Dalam pada itu tiba-tiba terlihat asap putih tipis merembes keluar dari permukaan bumi dan melingkar di sekitar kaki semua orang, lambat laun asap putih ini buyar ke berbagai penjuru. Seketika terbeliak matanya, tersembul semacam senyuman aneh pada ujung mulutnya. Waktu ia memandang ke sana, pertarungan di halaman sana telah bertambah sengit. Kelihatan elang kuning Wi leng-thian bergerak kian kemari dnegan ilmu pukulan yang kuat sehingga si gelang terbang Wiki tampak kewalahan.. Meski ilmu silat Wiki tergolong jago kelas satu dunia kangouw, tapi sekarang dia harus memikirkan akibat lebih lanjut dari pertarungan ini, sebab itulah dia tidak berani menyerang sepenuh tenaga sehingga dia lebih banyak bertahan daripada menyerang. Dalam sekejap saja belasan jurus sudah berlangsung pula, dia mulai kepayahan, ia membentak.
"Sesungguhnya ada urusan apa Bohliong-ceng dan Jit-eng-tong kalian, kenapa kalian mendesak orang secara keterlaluan?"
Elang kuning mendengus.
"Hm, Jit-te kami terluka di tempatmu, Lamkiong Peng diuber-uber kalian, apakah semua ini bukan permusuhan?"
Air muka Wiki berubah, cepat ia berputar menghindarkan sekali pukulan, lalu ia balas menghantam untuk mendesak mundur lawan sambil membentak.
"Kau bilang Lamkiong peng?........Jadi kedatangan kawanan elang ke wilayah berat sekali ini adalah karena Lamkiong Peng?"
"Betul,"
Jengek elang kuning sambil mengelak, mendadak sebelah kakinya menendang ke perut lawan.
Namun telapak tangan Wiki lantas memotong ke bawah untuk menabas pergelangan kaki musuh, meski dia enggan bermusuhan dengan kawanan elang dari Jit-eng-tong, tapi timbullnya juga rasa gemasnya setelah berulang di desak, gerak serangannya sekarang pun tidak kenal ampun lagi.
Namun elang kuning segera berputar lagi ke samping, telapak tangan lantas menabas iganya.
Serangan ini sangat cepat dan tampaknya sukar dihindari, Wiki menjadi nekat, berbareng ia pun menghantam perut elang kuning, pukulan dasyat dan sama cepatnya, tampaknya kedua orang akan sama-sama roboh.
Melihat itu elang hitam Leng Ya-thian terkesiap, cepat ia memburu maju, tapi Yim hong-peng sudah mendahuluinya melompat maju, kedua tangannya bekerja sekaligus sehingga kedua orang tertolak mundur.
Berbareng elang kuning Wi leng-thian dan si gelang terbang Wiki tergetar mundur beberapa langkah.
Cara melerai Yim hong-peng ternyata tidak pilih kasih.
Elang hitam Leng Ya-thian melenggong dan tidak jadi turun tangan.
Mestinya ia siap menghantam punggung Yim hong-peng, sebab disangkanya cara orang memisah pasti tidak adil.
Tapi dia ternyata salah duga, untung di sempat mengurungkan serangannya.
Dilihatnya Yim hong-peng lagi melirik padanya dan berkata.
"Cayhe juga Cuma menjadi tamu Bohliong-ceng saja."
"Oo!?.........Leng ya-thian melenggak, meski air mukanya tetap kaku dingin, namun sikapnya sudah lain. Sementara itu pertarungan elang kuning dan Wiki tetap berlangsung dengan sengitnya. Kcenam ekor elang yang mengitar di udara tadi kini sudah hinggap di pendopo dengan sayap terpentang dan kelihatan gagah sekali. Giok he berdiri dekat serambi, ia coba melirik elang putih Pek Kui-thian yang asyik mengurut si elang merah, katanya dengan gegetun.
"Ai, Ban-liliu-hiang Yim tai-hiap ini memang seorang tokoh cerdik, dia selalu nongkrong di atas pagar dan mengikuti arah angin, selamanya tidak mau rugi."
Maski tidak keras suaranya, tapi cukup jelas didengar Pek Kui-thian. Tiba-tiba Ciok Tim ikut bicara.
"Tak tersangka orang she Cian ini memiliki ilmu silat setinggi ini, padahal usianya juga baru 20-an........Ai, tak terduga di dunia persilatan memang ada jalan cepat untuk mencapai tingkatan yang sempuma."
Giok he tersenyum, ia melirik lagi ke arah Cian Tong-lai, dilihatnya pemuda yang datang dari puncak tertinggi Kun-lun-san itu sedang berputar di sekitar elang biru Na Lok-thian dan elang ungu Tong jit-thian serta elang hitam Leng Cin-thian, sampai sekarang belum nampak dia akan kalah meski satu melawan tiga."
Padahal nama Jit-eng-tong menggetarkan dunia kangouw dan disegani baik kalangan pek-to maupun golongan hek-to, kawanan elang sudah tentu mempunyai kungfu andalan yang lain daripada yang lain.
Meski sejak tujuh tahun yang lalu kawanan elang itu sudah cuci tangan dan mengasingkan diri, segenap cabang perusahaan pengawalan yang tersebar di berbagai propinsi itu serentak dikukut kembali ke kantor pusat Jit-eng-tong di Kanglenghu, sejak itu tidak pemah lagi kelihatan kawanan elang itu berkecimpung di dunia kangouw.
Tapi sekarang ketujuh bersaudara elang ini mendadak muncul di sini, kepandaian mereka ternyata belum lapuh mengikuti usia mereka yang tambah lanjut.
Bahkan watak berangasan sebagian elang itu pun tidak berubah.
Begitulah Cian Tong-lai sendirian melawan ketiga ekor elang dan tetap tidak kelihatan bakal kecundang, bayang pukulannya menyambar kian kemari, sekilas pandang seolah-olah mempunyai berpuluh tangan.
Tampaknya dia menghantam elang biru,tahu-tahu pukulannya berbalik menuju si elang hijau.
Dan selagi elang biru merasa longgar, tahu-tahu angin pukulan yang dasyat menyambar ke arahnya lgi.
Meski ilmu pukulan sakti Kun-lun-pai sudah lama termashur di dunia persilatan, tapi jurus pukulan yang digunakan Cian Tong-lai sekarang jelas bukan ilmu pukulan Kun-lun-pai biarpun yang hadir sekarang rata-rata adalah tokoh Bulim terkemuka, namun tiada seorang pun kenal asal usul ilmu pukulannya.
Tiba-tiba Giok he bersuara terkejut pelahan dengan alis bekernyit.
Waktu elang putih Pek Kuithian meliriknya dan melihat air muka orang yang terkejut itu, seketika timbul rasa curiganya.
Sementara itu diantara pepohonan di dalam halaman entah mulai kapan telah timbul lagi kabut remang putih sehingga cahaya matahari scakanakan menjadi guram.
Si elang kuning Wi Leng thian dan Wiki entah mulai kapan sudah mengendur gerakannya, agaknya terasa tenaga dalam sendiri sudah kewalahan.
Di tengah kabut tebal wajah Leng Ya-thian tampak kelam dan dingin, kedua kacung masih menggeletak diam di tanah, hanya Yim hong-peng saja yang kelihatan tenang, seperti sudah mempunyai pendirian terhadap segala kejadian ini.
Sebagai kepala Thian-hong-jit-eng, Pek-kui-thian membawa elang merah Ang-hau-thian ke dekat Kwe giok-he dan minta dijaga untuk sementara, lalu ia menuju ke tengah kalangan untuk mengemati-amati gerak langkah Cian Tong-lai yang aneh itu.
Dilihatnya elang biru, elang ungu dan elang hijau bertiga terdesak kacau hingga tidak sanggup balas menyerang lagi.
Hanya karena pengalaman mereka dan tenaga dalam yang kuat sehingga masih bertahan sebisanya.
Dengan kening bekernyit elang putih Pek-kuithian berkata kepada elang hitam.
"Lakte, apakah dapat kaulihat ciri gerak langkah pemuda ini?"
"Langkah anak muda ini memang sangat ajaib, tapi sukar kupecahkan di mana letak ciri langkahnya yang hebat ini,"
Jawab elang hitam Leng Ya-thian. Mendadak Pek kui-thian berseru.
"Berhenti, Longo!"
Elang kuning terkejut, ia menghantam sekali terus melompat mundur ke samping Pek-kui-thian dengan nafas terengah. Wiki juga kelihatan tersengal-sengal.
"Wi-heng,"
Kata Yim hong-peng,"tampaknya tidak sedikit kerepotan yang akan kauhadapi nanti."
"Ai, ada apa semua ini, sungguh aku tidak mengerti........"
Wiki menghela nafas. Yim hong-peng mendengus.
"Kawanan elang ini datang ke daerah barat sini, tujuan mereka ialah Lamkiong Peng, apabila Lamkiong Peng menghilang, betapapun Wi-heng sukar memberi penjelasan dan mungkin Boh-liong-ceng yang harus menanggung akibatnya."
Air muka Wiki agak berubah, ia termenung memandang kabut yang mengambang di udara. Dalam pada itu terdengar si elang putih Pek-kuithian lagi berkata.
"Tampaknya Lo-ji berdua tidak sanggup bertahan lagi, agaknya aku perlu turun tangan sendiri."
Segera ia melangkah maju, kedua tangan bergerak, serentak ia menghantam dengan dasyat.
Elang putih kelihatan lemah lembut, tapi sekali bergebrak ternyata sangat tangkas.
Dengan sendirinya elang kuning dan elang hitam tidak tinggal diam, segera mereka pun ikut menerjang musuh.
Tapi mendadak Pek-kui-thian memberi tanda sambil membentak.
"Pencarkan diri!"
Segera kelima elang lain sama menyingkir, tapi cepat menubruk meju ke arah Cian Tong-lai secara serentak.
Dengan kerubutan lima orang, hanya beberapa jurus saja kelihatan mulai kewalahan.
Dengan sinis Yim hong-peng berolok-olok pula.
"Thian-hong-jit-eng memang hebat, tampaknya beberapa gebrakan lagi murid Kun-lun-pai ini akan........"
Mendadak Wiki menghela nafas, ucapnya dengan menunduk.
"Sekalipun kumasuk kcanggotaan Pang kalian juga tiada gunanya, kenapa kau mendesak orang sedemikan rupa?"
"Siapa yang mendesakmu?"
Ucap Yim hong-peng dengan menarik muka.
"Apa pun yang akan terjadi, jiwa dan harta bendaku jelas sukar diselamatkan lagi, ai aku......."
Selagi Wiki berkeluh kesah di sebelah sana Giok he juga sedang bicara dengan Ciok Tim, katanya.
"Adik Tim, coba lihat wajah Wiki yang muram durja itu dan sikap Yim hong-peng yang senang itu, dapatkah kau terka apa yang terjadi di antara mereka?"
"Apa yang terjadi di Boh-liong-ceng ini, siapa pun yang akan menang, bagi Wiki tetap sukar terlepas dari tanggung jawab,"
Ujar Ciok Tim.
"Lantas apa lagi?"
"Ada apa lagi?"
Sahut Ciok Tim bingung.
"Keruwetan hari ini ternyata tidak dapat kaulihat,"
Kata Giok he.
"Tadi waktu ita masuk Boh-liong-ceng, sikap Wiki terhadap Yim Hongpeng kelihatan kikuk, tingkah laku Yim hong-peng juga tidak mirip seorang tamu. Kedatangan orang ini ke daerah pedalaman sekali ini pasti membawa intrik yang tersembunyi, dia bahkan memaksa Wiki masuk kedalam kompoltan mereka, padahal usia Wiki sudah lanjut, berkeluarga pula, semangatnya sudah luntur, jelas ia tidak suka kepada kehendak Yim hong-peng itu. Tapi dia juga jeri untuk menolaknya, hanya seluk beluk urusan ini pun tidak jelas kuketahui."
Ia tersenyum, lalu menyambung.
"Cian-Tong-lai ini menguasai kepandaian tinggi, dia baru berkecimpung di dunia kangouw, kecuali ingin mencari Boh-in-jiu, dengan sendirinya juga ingin menggunakan kesempatan ini untuk mencari nama, sebab itulah dia sengaja berlagak congkak dan mencari perkara kepada Thian-hong-jit-eng. Dia memang memandang rendah kaum piasu, apalagi kawanan elang itu pun sudah tua. Siapa tahu apa yang terjadi justru jauh di luar dugaannya, bukan saja ia gagal menonjolkan diri, bahkan bikin serba susah kepada Wiki sebagai tuan rumah, sebaliknya Yim hong-peng yang menarik kcuntungan dari kanan-kiri, tentu saja dia sangat senang."
Baru selesai ucapannya, sekonyong-konyong terdengar di belakang ada orang tertawa pelahan dan berkata.
"Cara nyonya memandang orang dan menilai persoalan ternyata sangat jitu, sungguh sangat mengagumkan ."
Suaranya jelas, serupa timbul di tepi telinganya.
Keruan Giokhe terkejut, cepat ia menoleh, dilihatnya asap masih mengembang memenuhi ruangan, si elang merah Ang-hau-thian masih duduk di tempatnya, selain dia tiasda bayangan orang lain lagi.
Tentu saja Giok-he terkesiap, tanpa terasa ia bertanya.
"Siapa?"
Dengan bingung Ciok Tim berpaling.
"Ada apa?"
"Suara tadi, masa tidak kau dengar?"
Ujar Giokhe.
"Suara apa?"
Ciok Tim tambah bingung. Berdebar hati Giok he, ia menggeleng dan berpaliang.
"jangan-jangan ilmu Toan-im-jip-bit (ilmu mengirimkan gelombang suara) yang digunakan orang tidak kelihatan itu?"
Ia coba melirik sekeliling orang yang hadir, ia heran siapakah diantaranya yang menguasai ilmu gaib itu. Tiba-tiba suara tadi mendengung pula di telinganya.
"Sejak kumasuk ke pedalaman, apa yang kudengar dan kulihat, etrnyata Cuma nyonya saja yang terhitung ksatria sejati, bilaman nyonya mau bekerjasama denganku, tentu segala urusan besar dapat disukseskan. Jika nyonya setuju bekerja sama denganku, harap nyonya mengangguk pelahan tiga kali."
Saat itu Ciok Tim legi memandang Giok-he menunnduk dengan mata terpejam, seperti lagi mendengarkan sesuatu, lalu manggut-manggut dan tersenyum, kemudai membuka mata dan memancarkan cahaya cemerlang.
Saking herannya Ciok Tim coba bertanya.
"Ada........ada apa, Toaso?"
"Oo, tidak ada apa-apa,"
Sahut Giok-he dengan tersenyum sambil menuding ke dapan.
Waktu Ciok Tim memandang ke sana , dilihatnya gerak langkah Cian-tong-lai semakin kuat, bahkan kelihatan semakin lesu dan loyo, serupa orang kurang tidur atau terlalu letih.
Kabut semakin tebal, tiba-tiba Ciok Tim merasakan kabut putih itu sangat aneh datangnya, lambat laun sukar membedakan lagi keadaan ruangan, wajah orang yang hadir disitu pun mulai sukar dibedakan.
Segera timbul rasa letih dan mengantuk, Ciok Tim merasa nafasnya juga tambah sesak, kelopak mata melambai, bayangan orang mulai kabur dan akhirnya.........
Begitu cepat datangnya rasa letih dan kantuk, sekuatnya ia coba memandang Giok-he yang berdiri di sampingnya dirasakan sperti mendadak berjarak sangat jauh, ia berteriak.
"Toaso........toaso.........."
Sekonyong-konyong dirasakan nafs sendiri juga sedemikian jauh, ia membusungkan dada dan bermaksud lari keluar tapi kabut putih itu serasa menindihnya dengan berat sehingga sukar melangkah, baru saja satu-dua tindak segera ia jatuh tertunduk.
Samar-samar dirasakan bayangan orang dan pepohonan di taman di telan seluruhnya oleh kabut tebal, semua orang tidak terlihat lagi.
Tiba-tiba di dengarnya suara olrang melangkah keluar ruang pendopo itu, ia coba menoleh, tahutahu suara langkah itu sudah sampai disampingnya, hanya dapat dilihatnya sepasang sepatu yang mengkilat bergeser pelahan di tengah kabut.
Lalu terdengar suara tertawa mengejek bergema di tepi telinganya.
"Huh, thian-hong-jit-eng apa segala, setiba disini juga patah sayapnya. Hm anak murid Kun-lun apa, kedatangannya juga rontok sama sekali........"
Habis itu lantas bergema suara tertawa senang, rasanya seperti suara Yim hong-peng.
Lalu segalanya kembli menjadi sunyi.
Di tengah kesunyian itulah Ciok Tim terpulas dan ditelan kegelapan.
********* Kegelapan yang tak berujung, kesunyian yang tak berpangkal.
Pelahan Lamkiong Peng siuman kembali, waktu ia membuka mata, tidak terdengar sesuatu suara, juga tidak terlihat apa-apa, ia menghela nafas dan membatin.
"Apakah aku sudah mati?"
Mati ternyata tidak menakutkan sebagai mana dibayangkan, namun jauh lebih kesepian daripada perkiraannya.
Ia coba mengucek mata, tapi tidak terlihat telapak tangan sendiri, apa pun tidak terlihat.
Dalam sekejap itu segala kejadian selama hidupnya seolah-olah terbayang kembali, setelah dipikirnya dan ditimbang, ia merasa selama hidupnya begitu-begitu saja, tidak penah timbul pikiran membikin susah orang lain, baik terhadap ayah bunda, guru maupun sahabat, selalu dihadapinya secara jujur tulus, tidak pemah terpikir olehnya perbuatan yang licik dan munafik.
Ia tersenyum sendiri, ia pikir bilamana cerita tentang surga dan neraka benar ada, sesudah mati mungkin dirinya tidak perlu diputus masuk neraka.
Dalam kesepian, sekonyong-konyong di dengarnya sayup-sayup, suara musik berkumandang dari kegelapan sana, lagunya begitu sedih mengharukan, serupa tangisan kawanan setan.
Di tengah suara musik yang sayup-sayup itu mendadak bergema teriakan.
"Lam........kiong........peng......Hahaha, kau sudah datang?"
Lalu terdengar serentetan suara tertawa tajam mengerikan. Lamkiong Peng mengusap dahinya yang berkeringat dan membentak.
"Siapa kau? Manusia atau setan? Hm, biarpun setan juga aku tidak takut! Tidak perlu kaumain sembunyi!"
"Hahaha,"
Suara tertawa yang seram itu berubah menjadi tertawa latah yang lantang.
"Aku Cuma menghendaki kaurasakan bagaimana orang mati, agar kautahu mati bukan tindakan yang enak, supaya kaukenal berharganya kehidupan."
Dengan geram Lamkiong Peng menghantam ke arah suara itu, diam-diam ia bersyukur tenaga sendiri belum lenyap.
Siapa tahu pukulannya yang keras itu seperti batu tenggelam dalam lautan, menghilang dalam kegelapan.
Suara tertawa latah itu bergema pula.
"Haha, meski tempat ini bukan neraka, tapi jaraknya tidak jauh lagi, meski kau tidak jadi mati, bila mau sudah belasan kali dapat kumampuskan kau.........."
"Kenapa tidak kau bunuh diriku? Apakah kau ingin memeras diriku, supaya kutunduk padamu?"
Sela Lamkiong Peng sambil tertawa.
"Ya, memang begitulah maksudku,"
Kata suara itu dalam kegelapan.
"Haha, jika aku sudah pemah mati sekali, apa alangannya mati sekali lagi,"
Seru Lamkiong Peng dengan terbahak.
"Bila kau ingin kutunduk kepadamu, huh, jangan mimpi!"
Lalu ia duduk bersila dan mengheningkan cipta, tiba-tiba pikiran terang dan lapang dada.
Dalam kegelapan, sang waktu dirasakan lalu dengan sanagt lambat, tapi rasa lapar justru datang dengan sangat cepat.
Lamkiong Peng duduk bersila, perut mulai lapar sekali dan sukar ditahan.
Segera timbul pula macam-macam pikiran.
Ia berdiri dan coba meraba sekitarnya, baru sekarang diketahuinya dirinya berada di dalm sebuah gua yangs eram serupa neraka dan tiada terdapat sesuatu benda apa pun.
Walaupun kelaparan, kesepian dan kegelapan yang mencekam, namun semua itu tak dapat menggoyahkan pendiriannya.
Entah berselang berapa lama lagi, tiba-tiba Lamkiong Peng mencium bau sedap daging dan arak, ia menelan air liur, biji lehernya naik turun, rasa laparnya tambah sukar ditahan.
Sejak kecil baru sekarang untuk pertama kalinya ia rasakan betapa susahnya orang kelaparan.
Ia memejamkan mata dan menggerutu.
"Sialan, aku hendak dipancingnya dengan makanan!"
Bau sedap semakin keras, mau tak mau ia harus mengakui pancingan ini mempunyai daya tarik yang amat kuat.
Selagi ia berusaha memancarkan perhatiannya atas bau sedap makanan itu, tiba-tiba terdengar suara orang mendengus di atas.
"Hm, lamkiongkongeu tentu tidak enak bukan kelaparan?"
Dengan gusar Lamkiong Peng menjawab.
"Tekadku sudah bulat, betapapun kau imingi diriku juga tiada gunanya, tidak perlu banyak omong."
"Sekarang juga sudah kukerek dua ekor ayam panggang lezat tepat di depnmu, boleh coba kau cicipi."
Kata suara itu. Meski teguh pendirian Lamkiong Peng, tapi kebutuhan biologis membuatnya tidak tahan, waktu ia mengendusnya, abu sedap itu tambah merangsang. Dalam kegelapan suara itu bergema pula.
"Di antara kedua ekor ayam panggang ini, seekor di antaranya dilumuri dengan obat bius, bilaman kau makan, akan hilang kesadaranmu yang asli dan seluruhnya engkau akan tunduk kepada perintahku. Sebaliknya seekor ayam panggang yang lain tidak diberi racun apapun, bila kauberani, boleh silakan bertaruh dengan nasibmu!"
Tanpa terasa Lamkiong Peng menjulurkan tangan, betul juga, ujung jarinya lantas menyentuh sesuatu yang kenyal.
Sungguh hatinya tergelitik.
Akan tetapi segera ia memejamkan mata dan menarik kembali tangannya sambil membentak.
"Tidak, mana boleh untuk sekadar makan ini aku harus bertaruh dengan nasibku sendiri."
Terdengar suara terloroh dalam kegelapan sejenak kemudian mendadak ia menghela nafas dan berucap.
"Ai, tokoh semacam anda sungguh sayang tidak suka bekerja sama denganku. Betapapun kuhormati engkau sebagi seorang jantan sejati, aku tidak tega membunuhmu, juga tidak tega membiusmu dan menganiayamu, makanya kuberi hidup sampai sekarang. Tapi bila kubebaskan dirimu, jadinya tiada ubahnya seperti melepaskan harimau kembali ke gunung, pada suatu hari kelak biasa jadi usaha yang telah kupupuk selama bertahun-tahun akan hancur di tanganmu."
Ia menghela nafas, lalu menyambung.
"Kutahan dirimu di sini sesungguhnya karena terpaksa, hendaknya jangan kau sesalkan diriku bila kau mati, aku berjanji akan menguburmu dengan baikbaik."
Dalam kegelapan ada cahaya mengkilat berkelbat, terdengar suara "trang"
Jatuh di samping Lamkiong Peng, lalu suara itu berucap lagi.
"Sekaranag kulemparkan sebilah belati itu untuk membunuh diri. Apabila pikiranmu berubah cukup kau berteriak dan segera ku datang membebaskanmu.
"Supaya kautahu, tinggi gua ini lebih dari enam tombak, dinding sekeliingnya terbuat dari baja, hanya bagian atas saja dapat keluar masuk, boleh juga kaucoba, jika kurang tenaga, silahkan makan kedua ekor ayam panggang itu, tidak ada yang diberi racun, jangan kuatir mungkin akan menambah tenagamu."
Dia bicara dengan tulus, serupa sahabatb yang memberi nasehat. Pada saat itulah sayup-sayup terdengar suara omag yang ebrucap dengan lirih, suara halus merdu.
"Eh cara bicara serupa dua sahabat yang akan berpisah, kau tahu......."
Sampai disini tidak terdengar lagi apa yang diucapkannya.
Suara itu bagi Lamkiong Peng sudah sangat dikenal, hatinya tergetar, ia heran siapakah itu?
Didengarnya suara tadi berkata pula,"Bila kita bertemu sepuluh tahun yang lalu, kuyakin kita pasti dapat terikat menjadi sahabat karib, sayang sekarang aajalmu sudah dekat......
sebelum kau mati, jika ada sesuatu permintaanmu, tentu akan kulakukan bagimu."
Lamkiong Pengsedang memikirkan suara merdu tadi, tanpa pikir ia menjawab.
"Siapakah suara orang perempuan tadi? Boleh kau perlihatkan dia kepadaku sekejap saja."
Suara itu terdiam, sejenak kemudian baru berkata pula.
"Hanya ini permintaanmu?"
Lamkiong Peng mengiakan.
"Masa tidak ada pesan akan kau tinggalkan bagi orangtua atau sahabatmu?"
Tanya suara itu.
"Masa sama sekali tidak ada urusanmu yang perlu kuselesaikan bagimu? Tidakkah perlu kaulihat sesungguhnya siapa yang mengakibatkan kematianmu ini?"
Lamkiong Peng melenggong, tiba-tiba timbul rasa duka yang tak terkatakan, kalau dipikir, sesungguhnya teramat banyak urusannya yang belum lagi selesai.
Seketika ia merasa putus asa, ia menunduk dan tidak bicara lagi.
"Bagaimana dengan orang yang ingin kaulihat........."
"Tidak perlu kulihat lagi."
Kata Lamkiong Peng.
"Tapi sudah kusanggupi padamu, maka boleh coba kaupandang ke atas,"
Kata suara itu.
Mata Lamkiong Peng lantas terbeliak, ia tahu tutup lubang gua itu telah dibuka.
Namun di tetap duduk termenung, meski diragukannya perempuan itu pasti seoarang yang ada hubungan erat dengan dirinya, namun dia tidak ingin memandangnya lagi, ia tidak mau meninggalkan rasa penyesalan sesudah mati.
Keadan sunyi sejenak.
"brak", tutup lubang dirapatkan lagi. Dalam kegelapan lantas bergema suara musik yang memilukan, suara yang misterius tadi lagi berdendang dan mengucapkan selamat tinggal. Suara musik itu memepengaruhi juga rasa duka Lamkiong Peng, tanpa terasa air matanya meleleh. Dalam dukanya tiba-tiba timbul semacam keberanian untuk mencari hidup, ia coba meraba belati yang dimaksudkan orang tadi, pelahan ia mendekati dinding, sekuatnya ia tusuk dengan belati itu. Seketika tangan tergetar kesakitan, dinding sekeliling memang benar terbuat dari baja, ia menghela nafas duka dan bersandar di ujung dinding, ia merasa segalanya sudah tamat, sama seklai tidak ada harapan lagi. Namun titik akhir kehidupan tetap sangat panjang, ia tidak ingin merusak tubuh pemberian orang tuaaa, tapi juga tidak tahan oleh derita batin selama menunggu ajal ini. Entah berselang lama lagi, mendadak dirasakan dinding tempatnya bersandar bisa bergerak, ketika cahaya membuat matanya terasa silau, berbareng tubuhnya lantas roboh terjengkang. Ia terkejut dan cepat melompat bangun. Waktu ia memandang ke depan, dilihatnya seorang tua telah berdiri di situ dengna wajah prihatin, tangan memegang obor. Ketika si kakek mendorong lagi dengan sebelah tangan, pintu rahasia gua itu lantas menutup kembali. Lamkiong Peng tercengang, baru sekarang dirasakan dirinya telah terbebas dari bayangan maut. Sungguh tidak kepalang rasa girangnya, seketika ia berdiri melongo dan tidak tahu apa yang mesti diperbuatnya. Orang tua yang membawa obor ini ternyata bukan lain daripada si gelang terbang Wiki , pemilik Boh-liong-ceng. Kening si kakek tampak terkerut rapat, jelas menanggung tekanan batin. Ia memberi tanda kepada Lamkiong Peng , lalu mendahului melangkah keluar ke sana. DI bawah cahaya obor kelihatan lorong di bawah tanah ini penuh sarang laba-laba atau galgasi, setiap langkah selalu menimbulkan debu, jelas jalan ini sangat jarang dilalui orang. Namun lorong itu berliku-liku, bangunannya juga ajaib dan mengagumkan. Memandangi bayangan orang yang tinggi besar, hatinya penuh rasa terimakasih. Selama hidupnya belum pemah dirangsang perasaan semacam ini,maklumlah, soalnya dia baru saja menghadapi "kematian"
Yang membuatnya derita batin dan putus asa. Ia berdehem, tenggorokan serasa tersumbat, ia coba bertanya.
"Locianpwe......."
"Ssst, diam!"
Desis Wiki tanpa menoleh.
Setelah membelok satu tikungan, mendadak Wiki menekan pada ujung dindidng, terdengar suara "kriaat", dinding di situ lantas menyurut mundur dua-tiga kaki lebarnya.
Cepat Wiki menyelinap masuk ke situ sambil bergumam.
"O, jit-eng , jangan menyesal jika tidak dapat kuselamatkan kalian, aku telah berusaha sepenuh tenaga............."
Selagi Lamkiong Peng merasa bingung, terlihat Wiki sudah melompat keluar lagi dengan mengempit seorang pemuda berbaju perlente dalam keadaan pengsan.
"Gendong dia!"
Kata Wiki dengan suara tertahan.
Lamkiong Peng menurut, diangkatnya pemuda itu dengan tidak mengerti apa maksud Wiki.
Setelah merepatkan pintu dinding.
Wiki mendahului berjalan lagi ke depan dengan langkah berat dan kening bekernyit.
"Loc........"
Lamkiong Peng ingin tanya pula. Tapi Wiki lantas memotong.
"Tidak perlu kauterimakasih padaku."
"Tapi.......... sebenarnya........."
"Dunia persilatan segera akan timbul peristiwa besar, kawanan perusuh dari Kwan gwa sudah masuk ke daerah Tionggoan, aku berada di bawah ancaman mereka, harta bendaku yang kudapatkan dari jerih payahku selama berpuluh tahun tampaknya akan hanyut ludes."
Tentu saja Lamkiong Peng tidak paham. Selagi ia hendak tanya, Wiki telah menyambung pula.
"Pemuda yang kau gendong ini memiliki kepandaian mengejutkan, dia adalh murid Kunlun-pai, namanya Cian-tong-lai. Dia terkena semacam kabut bius yang istimewa dan tidak dapat kutolong, harus selang sekian lama baru dia akan siuman dengan sendirinya. Kalian berdua sama pemuda gagah, hari depan kalian tak terbatas, semoga kalian dapat lari meninggalkan temapat ini dan mencari kesempatan untuk bertindak di kemudian hari, janganlah gembong iblis itu berhasil merajai dunia."
Dia bicara dengan sedih dan penasaran. Dengan alis menegak Lamkiong Peng bertanya.
"Siapa yang kaumaksudkan? Masa dia........."
"Kepandaian orang ini sukar dijajaki, potong Wiki pula.
"Dia mahir menggunakan berbagai senjata rahasia yang aneh dan dupa bius yang mujizat, bahkan banyak anak buahnya yang serba pandai sehingga makin menambah kejahatan yang diperbuatnya. Ada anak buahnya yang berjuluk Toat-beng-jiang (tombak pencabut nyawa) dan Tuihun-kiam (pedang sambar nyawa), kungfu kedua orang ini sungguh sangat mengejutkan, kita sama sekali bukan tandingannya."
Tergerak pikiran Lamkiong Peng, katanya.
"Apakah gembong iblis yang kaumaksudkan itu ialah Swe thiam-beng?"
Melenggak juga Wiki, seperti heran mengapa Lamkiong Peng juga kenal nama itu, sambil menekan lagi pojok dinding ia menjawab.
"Ya, Swe thian-beng."
Baru lenyap ucapannya, tertampaklah cahaya udara. Ternyata mereka sudah berada di pintu keluar lorong. Terdengar Wiki lagi bergumam dengan pedih.
"Di Boh liong-ceng kami sekarang entah terkurung berapa orang, dengan kekuatanku hanya dapat kuselamatkan kalian berdua, hendaklah lekas kalian pergi slekasnya, ingatlah selalu pesanku, ilmu silat orang ini sukar dijajaki, janganlah kalian sembarangan bertindak.
"Locianpwe......."
Belum lanjut ucapan Lamkiong Peng, tahu-tahu Wiki mendorongnya keluar sambil bergumam.
"Naga melahirkan sembilan anak, setiap anak berbeda-beda, biarpun sesama saudara seperguruan, terdapat juga serigala dan harimau diantaranya........."
Terdengar suara keriat-keriut, pintu lorong rahasia itu telah rapat kembali.
Lamkiong Peng berdiri termenung dengan terharu.
Waktu ia menengadah, cuaca remang-remang, malam sudah larut, ketika ia periksa keadaan Cian Tong-lai, muka anak muda itu pucat pasi, namun tidak mengurangi wajahnya yang cakap.
Ia coba membedakan arah, lalu membawa Cian Tong-lai berlari ke arah barat daya, teringatnya Bwe kiamsoat yang berjanji menunggu kembalinya itu, seketika bergejolak perasaannya yang tertekan itu.
Tapi bila teringat Tik Yang yang sekarat, seketika ia menghentikan langkahnya.
Terjadi lagi pertentangan batin.
Jika dia kembali dengan tangan hampa, maka segala langkah usahanya akan berubah juga tdiak ada artinya sama sekali, mana boleh ia menyaksikan Tik Yang yang telah membantunya itu mati keracunan begitu saja?
Selagi bingung dan serba salah, menddak dirasakannya sebuah tangan pelahan menekan Leng-thai-hiat pada punggungnya, Ling-thai-hiat adalah salah satu hiat-to penting yang berhubungan erat dengan jantung, bilamana tergetar dengan keras, seketika binasa.
Akan tetapi Lamkiong Peng hanya terkejut sekejap saja, habis itu lantas tenang malah, ia pikir dalam keadaan serba susah, bila mati akan merupakan pelepasan malah baginya, lepas dari segala siksa derita.
Karena itulah ia tetap berdiri diam saja dan tidak memberi rcaksi apa pun, dengan tenang ia menantikan ajal.
Siapa tahu, sampai sekian lamanya tangan itu tetap tidak bergerak lagi.
Bekernyit kening Lamkiong Peng dengusnya.
"Kenapa sahabat tidak lekas turun tangan?"
Di bawah kerlip bintang bayangan orang dibelakangnya tampak bergerak mendoyong ke depan, agaknya orang merasa heran terhadap sikap Lamkiong Peng yang tak gentar itu.
Segera terdengarlah suara tertawa ngikik nyaring di belakang, katanya.
"Lo-ngo, apakah engkau benar-benar tidak takut mati?"
Suara ini hampir serupa dengan suara yang didengarnya di tempat tahanan yang gelap itu, suara yang sudah dikenalnya. Tergetar hati Lamkiong Peng, serentak ia membalik tubuh dan berseru.
"He, toaso!"
Di tengah remang malam Giok-he kelihatan lagi tersenyum riang.
"Kenapa Toaso juga datang ke sini?"
Tanya Lamkiong Peng Giok he tidak menjawab, sebaliknya ia membuka sebelah tangannya dan berseru.
"Coba lihat, apa yang kupegang ini?"
Tergerak hati Lamkiong Peng, tanpa terasa ia berseru.
"He, obat penawar? Apakah obat penawar?"
"Kau memang cerdik, yang kupegang itu memang obat penawar,"
Ujar Giok he sambil membuka lebar telapak tangannya sehingga kelihatan sebiji pil merah.
"Ku tahu demi untuk mendapatkan obat penawar ini, kau tidak sayang menyerempet bahaya dengan taruhan nyawa sendiri. Tapi obat ini tetap tidak kauperoleh, begitu bukan?"
Lamkiong Peng menghela nafas menyesal sambil menunduk, seperti mau bicara, tapi urung.
"Setiba di Boh-liong-ceng,"
Demikian Giok he bicara pula.
"Hatiku ikut sedih demi mendengar urusanmu. Betapapun kau adalah suteku dan harus kubela."
Dia bicara dengan tulus penuh perhatian, tapi sinar matanya gemerdep dengan maksud yang sukar diraba, dengan semdirinya hal ini tidak dilihat oleh Lamkiong Peng.
"Sebab itulah aku berusaha memperdayai Yim hongpeng yang munafik itu, akhirnya dapat kutipu obat penawar ini dari dia."
Demikian Giok he bertutur pula."Tapi ketika kupancing dia membawaku ke tempat tahananmu dan ingin menolongmu keluar, siapa tahu engkau sudah berhasil kabur lebih dulu.
Sungguh aku bergirang bagimu dan juga sedih.
Tanpa obat penawar, menuruti watakmu yang keras, tidak nanti kau mau pulang ke sana, sebab itulah tanpa menghiraukan bahaya segera kususulmu ke sini."
Terharu Lamkiong Peng dan juga merasa malu diri, ia pikir betapapun Toaso tetap baik padaku, hampir saja aku salah menilainya.
Ia mengadah, dilihatnya Giok-he sedang memandangnya, tiba-tiba Lamkiong Peng merasa Liong-hui sesungguhnya adalah lelaki yang beruntung.
Dengan tersenyum Giok-he berkata pula.
"toako dan Sumoay mendampingiku, tapi dia seorang yang kaku dan pendiam, seharian paling bicara dua tiga kata denganku. Entah bagaimana dengan toakomu, ai, sungguh kukuatir........."
"Toaso, kukira Toako sudah pulang ke Ji-hausan-ceng, bila........bila urusan disini selesai segera kita pun dapat pulang."
Kata Lamkiong Peng. Kata Giokhe dengan hampa.
"Betapapun aku hanya seorang perempuan. Losam selalu acuh tak acuh, alangkah baiknya jika dapat berada bersamamu, tentu aku tidak perlu repot....."
"Meski siaute tidak dapat menjaga Toaso sepanjang jalan, tapi........."
Tiba-tiba ia mengeluarkan sepotong kemala putih dan diberikan kepada Giok he, sambungnya.
"dengan, membawa kemala ini, kemana pun dapat Toaso memperoleh bantuan pada setiap cabang perusahaan setempat usaha keluarga kami."
Ia tidak memandang langsung kepada Giok he sehingga tidak diketahui betapa senang hati nyonya muda itu, hanya dirasakan sebuah tangan halus memegang tangannya, hatinya tergetar dan menyurut mundur setindak, pil merah oleh Giokhe telah ditaruh pada tangannya sambil berkata.
"Gote, selesai urusanmu di sini hendaknya segera kaupulang, bila bertemu dengan toako juga membujuknya supaya lekas pulang."
Dia bicara agak tersendat sehingga Lamkiong Peng tambah rikuh untuk memandangnya, ia cuma mengangguk saja sambil menunduk.
"Toaso telah banyak membelamu, entah kaupun sudi bekerja sesuatu bagiku atau tidak?"
Kata giokhe pula.
"Orang yang dalam gendonganmu ini adalah murid Kun-lun dan merupakan musuh kita, kungfunya sangat tinggi, mungkin kita bukan tandingannya, demi menghilangkan bahaya di kemudian hari, hendaknya kau tutuk Hiat-to cacat bagian punggungnya."
Lamkiong Peng mendongak dengan tercengang, jawabnya kemudian.
"Apabila orang ini berbuat sesuatu kesalahan kepada Toaso, setelah dia siuman nanti pasti akan kulabrak dia mati-matian. Tapi sekarang di dalam keadaan pingsan, orang menyerahkan dia dalam tanggung jawabku pula, apaun juga tidak dapat kuganggu dia dalam keadaan demikian."
Giok he tampak kurang senang, jengeknya.
"Baru saja kauterima obat penawar dariku dan segera kaubangkang kehendakku, apapula yang dapat kuharapkan darimu kelak?"
"Tapi aku.......aku.........."mendadak Lamkiong Peng mengembalikan pil merah itu kepada Giok he dan menambahkan.
"Lebih baik kukembalikan obat ini daripada berbuat pengecut yang melanggar hati nuraniku."
Selagi ia hendak berpaling dan tiingal pergi, sekonyong-konyong Giok-he mengikik tawa, katanya.
"Ah, aku Cuma menguji kejujuranmu saja apakah engkau masih ingat kepada ajaran suhu atau tidak, mengapa kau jadi serius terhadap Toaso?"
Sembari berkata ia serahkan pula pil merah itu kepada Lamkiong Peng . Hati Lamkiong Peng menjadi lunak lagi, ucapnya.
"Asalkan bukan tindakan seperti ini, terjun ke lautan api sekalipun akan kulakukan bagi toaso dan toako."
"Apa tidak ada perbedaan antara toako dan toaso dalam pandanganmu?"
Tanya Giok-he. Kembali Lamkiong Peng melenggong bingung. Didengarnya Giok he berucap pula.
"Asalkan pandanganmu terhadap toako dan toaso tidak ada perbedaan, maka senanglah hatiku."
Tiba-tiba ia menjulurkan sebelah tangannya dan berkata pula.
"Untuk memastikan apa yang kaukatakan barusan ini, sudilah kaujabat tangan toaso."
Sekilas pandang Lamkiong Peng merasa tangan orang yang putih bersh itu emnimbulkan rasa waswas yang sukar diceritakan.
"Kenapa, apakah tangan Toaso kotor?"
Kata Giok he melihat anak muda itu ragu-ragu.
Pelahan Lamkiong Peng mengangsurkan tangannya untuk menjabat tangan Giokhe, baru saja ia hendak menarik kembali tangannya, mendadak genggaman Giok-he mengerat, hawa hangat harum tersalur dari telapak tangan ke lubuk hatinya.
"Gote,"
Terdengar Giok-he berucap dengan lembut.
"hendaknya jangan melupakan malam ini............."
Tergetar hati Lamkiong Peng, sebelum selesai ucapan orang segera ia menarik tangan dan berlari pergi.
Gemerdep sinar mata Giokhe memandang bayangan anak muda yang menghilang dalam kegelapan itu, tersembul senyuman aneh pada ujung bibirnya.
Tiba-tiba dari kegelapan muncul lagi sesosok bayangan dan melayang capat ke arah Giokhe serta memegang tangannya.
"Jangan melupakan malam ini apa?"
Setelah merandek, segera ia membentak pula.
"Barang apa yang kaupegang ini?"
Suaranya mengandung rasa gusar dan cemburu, tidak perlu ditanya lagi jelas orang ini ialah Ciok Tim. Dengan ketus Giokhe mengipatkan tangannya dan mendengus.
"Hm, kau ini apaku? Kau ingin memerintahku?"
Berubah juga air muka Ciok Tim, Kau.....kau..........Ai, terhadap Toako..........aku.........."
Sambil mendengus Giok membuka telapak tangannya dan berkata.
"Kemala ini pemberian Gote padaku, dengan kepingan kemala ini, dalam sehari saja bila perlu dapat kutarik berpuluh laksa tahil perak, apakah kaupun dapat menyediakan?"
Ciok Tim tercenagang, rasa gusar membuat air mukanya berubah menjadi malu, ia meremas tangan sendiri dengan pedih, mendadak ia membentak dan mencengkram pundak Giok-he dengan keras scakan-akan ingin merobek tubuhnya yang bemas itu, seolah-olah ingin mengorek hatinya yang dingin itu.
Berubah juga air muka Giok-he, jari tangan kanan terjulur dan bermaksud menutuk iga anak muda itu, tapi baru menyentuh bajunya, nafsu membunuhnya mendadak berubah lunak, tiba-tiba ia tertawa menggiurkan.
"Eh, ada apa kau? Lepaskan, aku kesakitan!"
Suaranya menggetarkan kalbu membuat tangan Ciok Tim agak gemetar, akhirnya ia menghela nafas panjang, melepaskan tangan dan menunduk. Pelahan Giok he memijat pundak sendiri dan berkata.
"Oo, sakit sekali cengkraman mu, lekas urut bagiku."
Tanpa terasa Ciok Tim menjulurkan tangannya dan meraba bagian yang dimaksud.
Giok he memejamkan mata seperti menikmati, rabaan anak muda itu.
Jari Ciok Tim tambah beraksi dengan cepat dan mulai menurun ke bawah.......sorot matanya memancarkan cahaya kerakusan seperti binatang liar yang kelaparan.........
Pelahan tubuh Giok he menggeliat, ia berucap seperti orang mengigau.
"Sungguh bodoh kau, memang kaukira aku ada berbuat apa terhadap Longo? Hm, aku kan Cuma........Cuma ingin memperalat dia saja.......Oo, kau mau apa?"
Mendadak ia berteriak sambil memberosot lepas dari pegangan Ciok Tim.
Keruan anak muda itu melenggong, serupa kucing liar yang sedang berahi mendadak disiram air dingin.
Giok he memandangnya dengan senang, ia tahu anak muda ini seluruhnya telah jatuh dalam cengkramannya, sudah masuk dalam perangkap yang diaturnya, telah menjadi budaknya.
Dengan lembut ia lantas berkata.
"Adik Tim, etntunya kau tahu betapa hatiku terhadapmu asalkan kauturut apa yang telah kuatur, segala hasil usahaku kelak adalah milikmu. Cuma kaupun perlu tahu, meski kusuka padamu, namun banyak urusan yang tdiak adapat kutinggalkan hanya lantaran dirimu. Banyak persoalan dunia persilatan yang tidak kaupahami, demi hari depan kita, mau tidak mau harus kukerjakan hal-hal yang sukar kaubayangkan, untuk ini hendaknya kaumaklum."
Dengan bimbang Ciok Tim mengangguk. Maka Giok he menyambung lagi.
"Maka apapun tindakanku selanjutnya jangan kau ganggu. Jika kau terima permintaanku ini selamanya tentu kaudapat berada bersamaku, kalau tidak......."
Sampai disini ia tidak meneruskan lagi melainkan terus membalik tubuh dan melangkah ke sana.
Ciok Tim berdiri melongo di tempatnya,, ia merasa pedih dan juga mendongkol, sungguh ia tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.
Pada saat itulah Giok-he berpaling dan berseru.
"He, untuk apa berdiri di situ? Ayolah kemari........"
Tanpa terasa Ciok Tim ikut melangkah ke sana, dalam kegelapan terdengar pula suara tertawa yang menggiurkan........
Kegelapan memang telah banyak menyembunyikan berbagai rahasia dan dosa manusia sehingga dunia ini kelihatan terlebih indah.
Dalam pandangan Lamkiong Peng saat itu, dunia ini menag kelihatan indah dan penuh harapan.
Ia merasa dunia ini ada orang jahat, tapi orang baik terlebih banyak lagi.
Hasratnya ingin lekas menolong sahabatnya memebutanya lupa letih dan lapar.
Dengan penuh semangat ia berlari dalam kegelapan malam.
Dengan hati-hati ia telah menyimpan pil merah itu dalam sebuah kantung sutera kecil, kantung yang serupa dompet itu adalah pintalan sang ibu sebelum dia meninggalkan rumah.
Pada waktu kesepian ia suka meraba kantung sutera itu.
Dia seorang kastria muda, dia tidak pemah melupakan kasih ibunda.
Ia berlari dengan cepat, tidak lama ia sudah berada di luar kota Se-an, suasana sunyi senyap, ia coba memeriksa keadaan sekeliling, akan tetapi tidak terlihat bayangan Bwe kiam soat.
IA menjadi kuatir.
"Apakah dia sudah pergi?"
Ia coba memanggil.
"Nona Bwe......nona Bwe ..."
Namun suasana tetap sunyi senyap, dimanapun Bwe kiam soat berbunyi seharusnya mendengar suaranya. Nafas Lamkiong Peng terasa sesak, pikirnya.
"Kenapa tidak menunggu disini? Kenapa dia ingkar janji? Tik Yang keracunan, apakah juga dibawanya pergi, kan obat penawar yang kubawa ini menjadi sia-sia........."
Ia menghela nafas dan tidak ingin berpikir lagi, ia melangkah ke sana dengan limbung.
Awan tersimak, cahaya bulan menembus langsung menyinari sesosok bayangan manusia di balik semak sana, terlihat mukanya, siapa lagi dia kalau bukan Bwe kiam soat.
Dengan girang Lamkiong Peng berseru.
"Hei nona Bwe, kiranya engkau berada disini!"
Selagi dia hendak memburu kesana, dilihatnya muka Bwe kiam soat yang pucat itu kaku dingin, melenggong seperti orang linglung, sorot matanya buram, air mukanya kaku tanpa memperlihatkan sesuatu perasaan, serupa orang yang hiat-tonya tertutuk, seperti juga orang yang tersihir.
Tergetar hati Lamkiong Peng , ia tahu pasti terjadi sesuatu.
Cepat ia memburu maju sambil menegur dengan suara gemetar.
"Kenapa......."
Belum lanjut ucapannya, dilihatnya mata Bwe kiam soat melirik ke samping depan sana tanpa bersuara.
Tanpa terasa Lamkiong Peng ikut memandang ke sana, di bawah pohon duduk sesosok bayangan orang lagi, duduk kaku tanpa bergerak seperti patung, hanya sinar matanya kelihatan gemerdep dalam kegelapan.
Waktu diperhatikan, kembali hati Lamkiong Peng berdebar, tanpa terasa ia berseru.
"Hei, nona Yap, kenapa engkau pun berada disini?!"
Sungguh tak terpikir olehnya bahwa bayangan yang duduk di bawah pohon itu adalah murid Tanhong Yap jiu-pek, Yap man-jing yang cantik dan juga pongah itu.
Siapa tahu, meski mendengar seruannya, namun Yap manjing tetap diam saja, seperti tidak mendengar dan juga tidak melihat, ia msih duduk di tempatnya.
Tentu saja Lamkiong Peng terheran-heran, ia menaruh Cin tong-lai di tanah, lalu dihampirinya nona yang jelita dan seperti linglung itu.
"Nona Yap,"
Tegurnya sesudah dekat.
"Apakah terjadi sesuatu disini?"
Terlihat senyuman Yap manjing yang hambar, namun tetap duduk saja tanpa menjawab.
Mengamat-amati lebih teliti, dilihatnya si nona tetap memakai baju hijau, mata alisnya tetap menampilkan sikap angkuh, sama sekali tidak ada tanda hit-to tertutuk dan sebagainya.
Lamkiong Peng tambah heran, ia coba mendekati Bwe kiam soat, dilihatnya Kiam soat melototinya sekejap, seperti tidak senang dia memperhatikan orang lain "Sesungguhnya apa yang terjadi?"
Tanya Lamkiong Peng dengan gelisah. Namun Bwe kiam soat juga tidak bergerak dan juga tidak menjawab, seperti orang bisu dan tuli.
"Bagaimana dengan Tik Yang ? Dimana dia!"
Serunya pula kuatir sambil memandang kian kemari.
Bwe kiam soat Cuma memandang Yap man-jing tanpa berkedip, sebaliknya Yap manjing juga menatap Bwe kiam soat, kedua nona itu sama sekali tidak memandang lagi kepada Lamkiong Peng, seperti dia tidak hadir di situ.
Seketika Lamkiong Peng celingukan kian kemari dengan bingung.
Sekilas pandang mendadak dilihatnya di semak rumput sana merayap keluar seekor ular hijau sepanjang satu kaki, dengan cepat ular itu merayap ke samping dengkul Yap manjing.
Meski sorot mata Yap manjing menampilkan rasa ngeri, namun tubuhnya tetap tidak bergerak sama sekali.
Biasanya di tengah semak rumput memang banyak ular berbisa.
Tentu saja Lamkiong Peng kuatir, cepat ia melompat maju, sekali raih ekor ular itu segera dipegangnya.
Ular itu lantas melingkar ke atas, lidah ular yang merah terjulur, secepat kilat hendak memagut urat nadi Lamkiong Peng.
Meski mahir ilmu silat, namun Lamkiong Peng sama sekali asing terhadap ular.
Ia terkejut dan membuang ulat itu kebelakang, tapi ketika ia berpaling mengikuti temapt jatuhnya ular, kembali ia terkejut, sebab ular itu dengan tepat terlempar ke atas tubuh Bwe kiam soat.
Lekas Lamkiong Peng memburu lagi ke sana.
Ular itu pun seperti terkejut, hanya sejenak berhenti di atas tubuh Bwe kiam soat, lalu merayap ke bagian lehernya.
Air muka Bwe kiam soat tampak pucat ketakutan, kulit dagingnya merinding dan berkerut-kerut, dengan cemas ia memandang lidah ular yang sebentar-bentar terjulur itu, butiran keringat dingin merembes keluar di dahinya, namun tubuhnya tetap tidak bergeming.
Orang perempuan pada umumnya takut kepada tikus dan ular, betapa tabah hati seorang perempuan juga akan menjerit kelabakan bila melihat mahluk melata tersebut, apalgi sekarang tubuh Bwe kiam soat dirayapi ular, betapa cemasnya sukar dilukiskan.
Ketika Lamkiong Peng memburu tiba, segera ia hendak mencengkram kepala ular.
Karena pengalaman tadi, ia pikir sekali pencet akan membinasakan binatang melatah ini.
Tak terduga belum lagi tangannya bergerak, tiba-tiba seorang membentak di belakangnya.
"Jangan!"
Dengan terkejut Lamkiong Peng menoleh, dilihatnya Ban tat berlari datang dari kejauhan sana, dengan nafas tersengal ia menatap ular hijau itu dengan was-was, berbareng ia menarik Lamkiong Peng mundur ke belakangnya.
Dengan heran Lamkiong Peng bertanya.
"Apa..........."
Pelahan Ban tat memberi tanda supaya jangan bicara, lalu ia melangkah maju dengan prihatin serupa seorang jago dunia persilatan menghadapi lawan yang paling tangguh.
Melihat ketegangan orang tua ini, Lamkiong Peng tahu ular hiaju ini pasti bukan sembarangan ular berbisa bilamana cengkramannya tadi tidak berhasil sekali pegang, buka mustahil jiwa Bwe kiam soat melayang.
Suasana berubah sunyi mencekam, jantung sama berdebar.
Tubuh ular hijau yang jelek dan bersisik itu sudah mulai merayapi pundak Bwe kiam soat dengan lidahnya yang mersah menjulur dan hampir menjilat wajah Bwe kiam soat yang pucat.
Sampai Yap manjing yang duduk di seberangnya juga menampilkan rasa kuatir dan ngeri.
Langkah Bantat sangat pelahan dan sangat hatihati.
Lamkiong Peng mengepal tinju dengan menahan nafas, butiran keringat mengucur dari dahinya.
Mendadak terlihat lidah ular berkelebat lagi.
Secepat kilat Ban Tat turun tangan dengan tiga jari ia cengkeram leher ular, beberapa senti dibawah kepala, menyusul dibantingnya dengan keras ke tanah, kontan ular itu mati kaku dan tidak berkutik lagi.
Gerak tangannya cepat lagi jitu, baru sekarang Lamkiong menghela napas lega.
Selagi dia hendak mengucapkan terima kasih, dilihatnya Ban Tat masih prihatin, mendadak ia melolos sebilah belati tajam, sekali injak dengan kaki kiri, kontan tubuh ular itu dipotongnya.
"Gret"
Menyusul belati itu lantas ditancapnya diatas kepala ular, darah segar pun munerat menyebabkan menyebarkan bau anyir busuk.
Sampai disini baru Ban Tat menarik napas lega, tampa terasa juga Lamikiong Peng mengusap keringatnya.
Namun Bwe Kim Soat dan Yap Manjing masih tetap duduk kaku di tempatnya.
Kejadian yang mendebarkan tadi scakan -akan terjadi atas diri mereka.
"Sungguh berbahaya...."
Guman Ban Tat. Sebenarnya apa yang terjadi ini? tanya Lamkiong Peng.
"Ular ini tidak terdapat di daerah Tionggoan, tapi jenis ular paling berbisa yang cuma terdapat di daerah gurun. Bisa ular ini sangat jahat, sekali tergigit dalam sekejap korbannya akan mati sesak napas. Sungguh tak terduga ular semacam ini bisa muncul disini."
Diam -diam Lamkiong Peng bersyukur terhindar dari maut, untung kedatangan penolong yang ahli, kalau tidak urusan ini bisa runyam.
"Yang kutanyakan bukan Cuma sola ular, tapi mereka.... sesungguhnya apa yang terjadi?"
Katanya pula menunding Bwe dan Yap berdua.
"Kenapa mereka begitu? Dan kemana perginya Tik-heng?"
Ban Tat mengeluarkan sepotong kain putih, dengan hati -hati ia membungkus tangkai belati lalu menggali sebuah liang disamping bangkai ular, katanya dengan gegetun.
"Aku dan nona Bwe menunggumu disini, lambat laun fajarpun menyingsing, sedangkan kedaan sahabat She Tik itu semakin parah dan menguatirkan, berulang dia mengigau, tubuh pun mengejang. Mestinya nona Bwe hendak menutuk hiat -to untuk mengurangi penderitaannya, tapi kuatir racun sudah masuk darahnya, bila hiat-to ditutuk bisa jadi racun akan mengumpul dan tidak dapat mengalir, hal ini tentu akan tambah bahaya."
Ia berhenti sejenak sambil melirik Bwe Kim-soat sekejap, lalu bertutur pula.
"Waktu itu mestinya ingin kucari suatu tempat yang sejuk untuk bersembunyi dan menunggu kepulanganmu, tapi nona Bwe menolak, ia bilang sudah berjanji menunggumu disini, biarpun langit ambruk dan bumi ambles juga tetap akan menunggumu disini."
Terharu sekali hati Lamkiong Peng, tampa terasa ia memandang Bwe Kim-soat sekejap, kebetulan Kim-soat juga lagi melirik ke arahnya. Bentrokan pandangan ini membuat jantung anak muda itu berdebur.
"Kemudian lantas bagaimana? "
Tanyanya kepada Ban-tat.
Menjelang magrib, kupergi mencari makanan dan air minum, siapa tahu sedikitpun nona Bwe tidak mau makan, dia Cuma minum dua ceguk air dingin sambil memandang ke arah kepergianmu dengan cemas.
Meski dia tidak omong juga dapat kuselami betapa rasa kuatirnya bagimu.
Setelah hari gelap ingin kucari lagi kayu bakar untuk membuat api unggun....."
Kembali ia merandek sambil memandang Ke arah Yap manjing, sambungnya.
"pada saat itulah nona Yap ini mendengar suara igauan Tik yang dan mencari ke arah suara sini..."
Mendadak ia memandang kian kemari sambil menahan suaranya.
"kedatangan nona Yap ini seprti juga lantaran dirimu, sekali dia melihat nona Bwe, seketika air mukanya berubah dan bertanya.
"Apakah Lamkiong Peng juga terluka?.........Agaknya dia dapat menerka siapa nona Bwe, juga orang yang berada bersama nona Bwe pasti dirimu."
Diam-diam Lamkiong Peng menghela nafas, entah merasa hangat atau bingung, sedapatnya ia menahan kcinginannya memandang Yap manjing, akan tetapi toh tidak tahan dan akhirnya melirik juga sekejap, kembali keduanya beradu pandang.
Jantung Lamkiong Peng berdebur lagi, cepat ia tanya Ban Tat.
"Dan kemudian bagaimana?"
"Kemudian......."
Bantat berdehem dulu, lalu menyambung.
"Kemudian nona Bwe menjengek dan menegur siapakah nona Yap? Dan...dan keduanya lantas terlibat dalam pertengkaran........"
Agaknya ia sungkan menceritakan pertengkaran kedua nona yang berpangkal atas diri Lamkiong Peng itu, ia cuma berkata.
"pembicaraan kedua nona itu tentu saja tidak dapat ku ikut campur, namun akhirnya kudengar.....kudengar nona Bwe berkata.
"Ya usiaku sudah 40-an, dengna sendirinya memenuhi syarat untuk menjadi angkatan yang lebih tua, maka sekarang hendak kuberi hajaran kepada kaum muda yang tidak sopan seperti kau ini."
Kening Lamkiong Peng bekernyit, pikirnya,"
Jika demikian, jelas Yap Manjing telah menyebut nona Bwe sebagai Locianpwe, mengapa dia menganggap nona Yap tidak sopan?"
Betapa pintarnya Lamkiong Peng tetap tidak dapt memahami perasaaan anak perempuan.
Ia tidak tahu bahwa Yap manjing sengaja menyebut usia Bwe kiam soat untuk mengingatkan dia hanya sesuai menjadi "Locianpwe", atau kaum tua Lamkiong Peng, artinya tidak cocok untuk menjadi pacarnya.
Dengan sendirinya hal ini membuat Bwe kiam soat menjadi marah.
Didengarnya Ban tat berkata pula.
"maka nona Yap lantas marah jugga, pada waktu itu Tik Yang lagi meronta-ronta, kudekati dia untuk merawatnya. Ketika keadaannya agak baikan, kudengar kedua nona ribut mulut lagi, akhirnya nona Yap menjengek.
"Hm, orang kangouw sama menyebut dirimu sebagi Leng hiat-huicu, tentu karena tabiatmu yang dingin dan tenang. Maka sekarang juga boleh kita beradu kesabaran berduduk semedi, tidak peduli menghadapi kejadian apapun dilarang bergerak, barangsiapa bergerak lebih dulu dianggap kalah."
Etrgerak hati Lamkiong Peng , pikirnya nona Yap ini sungguh pintar, dia hidup bersama Yap jiu-pek di puncak Hoa-san yang dingin dan sepi itu selama berpuluh tahun, dalam hal duduk menyepi dengan sabar, tentu jauh lebih tahan daripada orang lain."
Berpikir demikan, tanpa terasa ia memandang Bwe kiam soat sekejap, lalu bertanya pelahan.
"Dan dia menerima tantangan itu?"
"Masa dia menolak?"
Ujar Ban tat.
Tapi segera teringat oleh Lamkiong Peng , Bwe kiam soat pemah tersekap belasan tahuan di dalam peti mati yang sempit dan gelap itu, penderitaaan selama itu memerlukan kesabaran yang tak terhingga untuk mengatasinya, jika urusan duduk diam saja pasti tidak menajdi soal baginya.
Berpikir demikian, tanpa terasa ia menyapu pandang sekejap kepada Bwe kiam saot dan Yap manjing berdua, ia pikir, pengalaman dan watak kedua orang perempuan ini memang lain daripada yang lain, tampaknya dalam waktu singkat mereka pasti sanggup bertahan untuk tidak bergerak sama sekali.
Melihat perubahan air muka Lamkiong Peng yangs sebentar kuatir dan sebentar girang, lain saat kagum, segera merasa sedih lagi, tentu saja Ban tat juga terheran-heran.
"Pertandingan mereka ini entah akan berakhir kapan,"
Gumam Lamkiong Peng dengan gegetun. Mendadak ia bertanya.
"Dan kemana perginya Tikheng?"
"Racun yang digunakan Yim hong-peng memang sangat lihai, selain bisa membunuh, juga dapat membuat pikiran sehat orang terbius. Sahabat she Tik itu selama seharian tampak seperti orang sinting, pada waktu malam bahkan kumat gilanya, aku harus mengawasi keadaan nona Bwe, juga perlu menjaga dia, memangnya kau susah kerepotan, kedatangn nona Yap segera pula menantang bertanding lagi kepada nona Bwe, selagi aku agak meleng, sahabat she Tik itu terus melepaskan peganganku dan berlari secepat terbang ke tempat gelap.
"Dan tidak kalian susul?"
Tanya Lamkiong Peng kuatir.
"Nona Bwe dan nona Yap waktu sudah mulai bertanding berduduk dan tidak dapat bergerak lagi, dengan sendirinya tak dapat menyusulnya."
Tutur Ban tat.
"Dan kau sendiri?"
Tanya Lamkiong Peng .
"Aku sendiri segera mengejarnya, ujar Ban Tat dengan gegetun.
"Siapa tahu, meski sahabat Tik itu keracunan, tapi ginkangnya tetap sangat mengejutkan, meski sudah kusul dengan sekuat tenaga, namu tidak seberapa lama aku kehilangan jejaknya dalam kegelapan."
"Dan karena tidak dapat kau susul dia, lantas kembali lagi kesini?"
Tanay Lamkiong Peng dengan mendongkol.
"Ya, aku memang tidak berdaya, setiba kembaliku kesini, kebetulan kulihat ular hijau tadi,"
Tutur Ban Tat dengan menyesal.
"Dia lari ke arah mana?"
Ban Tat menuding ke arah barat.
"Coba bawaku kesana,"
Seru Lamkiong Peng sambil menarik tangan Ban Tat dan diajak berlari pergi. Tanpa kuasa Ban Tat terseret lari secepat terbang, diam-diam ia mebtin.
"Berpisah belum ada setahun, tak tersangka kungfunya sudah maju secepat ini.........." ********** Malam semakin sunyi, Bwe kiam soat dan Yapmanjing hanya sempat melirik ke arah menghilangnya bayangan Lamkiong Peng di kegelapan sana, segera mereka memusatkan perhatian dan saling tatap pula. Meski diluar kedua orang kelihatan tenang, tapi dalam hati sama bergejolak. Angin meniup dingin, tanah kosong di tengah kedua orang yang duduk saling pandang itu menggeletak Cian Tong-lai yang sejak tadi tak sadarkan diri. Mendadak anak muda ini mulai bergeliat dan membalik tubuh miring ke samping. Bwe kiam soat dan Yap manjing sama tidak tahu siapakah pemuda berbaju perlente ini. Apakah orang ini sakit atau terluka. Apakah musuh Lamkiong Peng atau sahabatnya. Tertampak anak muda itu membalik dua tiga kali, mendadak melompat bangun serupa seekor kelinci yang terkejut terkena panah, dengan tercengang ia kucek-kucek matanya, lalu memandang Bwe kiam soat dan Yap Manjing dengan terbelalak.
"He, tempat apakah ini? Kenapa aku berada di sini?"
Tanyanya bingung.
Bahwa setelah siuman, mendadak diketahui dirinya berada di tempat sepi dan disampingnya berduduk dua peermpuan maha cantik tanpa bergerak, betapa tabahnya tidak urung juga rada sangsi dan ngeri.
Setelah tercengang sejenak, mendadak ia berpaling.
"Giok-ji.....Tanji........"
Lalu ia mneghadapi lagi ke arah Bwe dan Yap berdua, bentaknya.
"Sesungguhnya tempat apakah ini? Mengapa aku sampai di sini?"
Namun kedua perempuan maha cantik ini tetap tidak bergerak sedikitpun, bahkan meliriknya pun tidak. Timbul juga rasa ngeri Cian tong-lai, pikirnya.
"Jangan-jangan aku ketemukan setan? Kalau tidak, mengapa tanpa sebab dari Boh-liong-ceng aku bisa berada di sini?"
Mendadak ia melayang pergi secepat terbang.
Hati Bwe kiam soat dan Yap berdua sama tergetar, diam-diam mereka memuji kehebatan ginkang anak muda itu.
Mereka pun geli teringat kepada kelakuan Cian Tong-lai yang bingung tadi.
Siapa tahu, sejenak kemudian, mendadak terdengar suara orang berdehem, pemuda berbaju perlente muncul kembali, dengan langkah santai ia mendekati kedua peermpuan cantik itu, lebih dulu ia mengamat-amati Bwe kiam soat beberapa kejap, lalu mengawasi Yap Manjing dengan cermat, kemudian menuju ke samping Kim soat serta mendekatkan kepalanya ke muka orang dan menegur.
"He, he, kau dengar ucapanku tidak?"
Tapi Bwe kiam soat tetap diam saja, tidak bergerak, juga tidak berkedip. Cian Tong-lai menggeleng kepala, ia coba mendekati Yap manjing dan berjongkok di sampingnya serta menegur.
"He.....he....."
Namun Yap manjing Juga diam saja tanpa bergeming, malahan sorot mata mereka tampak menampilkan rasa gusar atas tingkah lakunya yang kasar itu. Mendadak Cian tong-lai membentak.
"Hai..."
Bentakan ini keras luar biasa scakan-akan genta yang dibunyikan di tepi telinga, hati Bwe dan Yap tergetar, betapapun tenangnya mereka tidak urung berkedip juga.
"Haha, kiranya kalian bukan orang tuli,"
Seru Cian tong-lai dengan tertawa.
"Semula kusangka kalian orang bisu tuli, eh kiranya kalian juga dengar suaraku. Padahal kalian masih muda jelita, jika benar bisu-tuli kan sayang!"
Mendadak ia berhenti tertawa dan menarik muka, jengeknya.
"Hm, jika kalian buka orang bisu-tuli, kenapa kalian tidak menggubris pertanyaanku tadi? Apakah kalian menghina diriku? Bwe dan Yap merasa selain kungfu anak muda ini sangat tinggi, orangnya juga cakap, Cuma tutur katannya yang kelewat congkak dan menjemukan, namun meski hati mendongkol mereka tetap tidak bergerak. Cian tong-lai bersimpuh tangan dan berjalan mondar-mandir, dipandangnya Bwe kiam soat, lalu memandang Yap manjing lagi, sejenak kemudian kembali ia menengadah dan bergelak tertawa.
"Hahaha, bagus, tahulah aku! Mungkin thian kasihan padaku karan kesepian, maka sengaja memberikan dua teman jelita kepadaku."
"Betul tidak?"
Demikian ia pandang Kiam soat dan bertanya, lalu berpaling dan tanya Yap manjing pula.
"Betul tidak?"
Lalu ia terbahak-bahak dan menambahkan pula.
"Aha, rasanya memang betul begitu, bukankah kalian telah mengaku secara diam-diam?!"
Sedapatnya Bwe kiam soat emnahan rasa gusar, dia berharap Yap manjing tidak tahan oelh godaan anak muda itu dan mendahului bergerak, dengan begitu di akan segera melompat bangun untuk memberi hajaran setimpal kepada pemuda sombong dan bangor ini.
Sebaliknya Yap manjing juga tetap diam saja, ia pun berharap Bwe kiam soat bergeral lebih dahulu.
Jadinya kedua orang tetap saling pandang, dada serasa mau meledak saking gemasnya, namun tetap tidak ada yang bergerak lebih dulu.
Mendadak Cian tong-lai menepuk dahi sendiri dan berhenti tertawa,a lisnya bekernyit, ucapnya dengan masgul.
"O, thian, meski engkau memperlakukanku dengan amat baik, tapi rasanya juga keterlaluan. Kedua anak perempuan ini sama cantiknya, lantas cara bagaimana harus kuambil keputusan? Padahal aku cuma ada satu tubuh, terpaksa mereka harus kujadikan istri tua dan istri muda. Lantas siapakah di anatar mereka yang berhak menjadi istri tua dan yang mana istri muda?"
Dia sengaja berlagak seperti seorang yang kebingungan, ia mendekati Yap manjing dan meraba pipinya yang halus itu, katanya dengan menyesal.
"Ai, muda jelita seperti ini mana sampai hati kujadikan dirimu sebagai istri muda?"
Lalu dengan lagak kasihan ia pun mendekati Bwe kiam soat dan mencolek dagunya serta berkata.
"Dan ini kan juga tidak kalah cantiknya, sungguh sayang bila disuruh antri dari belakang."
Mata Bwe dan Yap serasa mau menyemburkan api saking gusarnya.
Tapi tiada seorang pun memandang Cian tong-lai, keduanya tetap saling pandang dengan melotot dengan harapan semoga pihak lawan mau bergerak lebih dulu.
************* Kembali tadi, Lamkiong peng yang cemas dan gemas serta kuatir itu sedang berlari menyeret Ban Tat, gerundelnya.
"Kenapa dia begitu ceroboh dan membiarkan Tik-heng pergi begitu saja. Padahal dia tahu jelas Tik-heng keracunan parah dan kupergi mencari obat penawar dengan menyerempet bahaya. Ai jika.........jika Tik heng tidak dapat kutemukan, bukankah........bukankah berarti jiwanya melayang akibat perbuatan mereka?"
Dia berlari semakin cepat dan gelisah.
"Lamkiong-kongeu,"
Kata Ban Tat.
"Kedua nona itu berduduk diam di sana, bukan.........bukan mustahil akan timbul bahaya."
Lari Lamkiong-peng agak diperlambat ucapnya dengan mendongkol.
"Lantas bagaimana dengan jiwa Tik-heng?"
"Ai, alangkah bahagianya setiap orang yang dapat bersahabat denganmu,"
Ucap Ban Tat dengan gegetun.
"Tik-heng keracunan lantaran membela diriku, tapi sekarang.......ai, sungguh aku........"
Lamkiong Peng tidak sanggup melanjutkan karena sejauh itu bayangan Tik Yang tetap tidak kelihatan. Segera ia berteriak.
"Tik-heng, Tik yang.......dapatlah kaudengar suaraku?"
"Dia dalam keadaan tidak sadar, biarpun kau panggil di telinganya juga tidak dipahaminya,"
Ujar Ban Tat.
"Apalagi dalam keadaan gelap begitu, kemana akan kaucari dia? Meski dia keracunan parah, tapi sudah kusalurkan tenaga mumiku untuk memperkuat jantungnya, kukira dalam sehari atau setengah hari saja takkan beralangan bagi jiwanya. Akan lebih baik sekarang kita kembali ke sana untuk membujuk kedua nonna itu agar berhenti bertanding. Mereka Sebenarnya tidak bermusuhan, bujukanmu mungkin akan diturut mereka. Besok pagi setelah terang tanah barulah kita berempat mencari sahabat she Tik itu. Lamkiong Peng menjadi ragu dan mengendurkan langkahnya.
"Tapi.........tapi........"
Belum lanjut ucapannya, sekonyong-konyong jauh dari belakang sana berkumandang suara bentakan orang yang tersiar terbawa angin. Jelas orang yang membentak itu memiliki tenaga dalam yang kuat.
"Siapa itu?"
Lamkiong Peng melengak dan saling pandang dengan Ban tat.
Tanpa pikir lagi segera kedua orang berlari kembali ke arah datangnya tadi.
Tidak jauh mereka berlari, kembali terdengar suara gelak tertawa orang terbawa angin.
"Ternyata tidak salah dugaanmu, mereka mengalami sesuatu,"
Kata Lamkiong Peng.
"Kedua nona itu sama menguasai kepandaian tinggi, bila menghadapi kejadian di luar dugaan, mustahil mereka tetap duduk diam saja hanya untuk berebut kemanangan yang tidak ada artinya itu?"
Ujar Ban Tat.
"Tapi watak kedua orang itu terkadang memang sukar dimengerti..........."
Belum habis ucapan Lamkiong Peng,sekonyongkonyong berkumandang lagi suara tertawa keras orang.
"Biar kupergi dulu!"
Seru Lamkiong Peng sambilmendahului berlari secepat terbang.
Hanya sekejap saja ia sudah lari sampai di tempat duduk Bwe dan Yap berdua, dilihatnya pemuda perlente Cian Tong-lai yang dibawanya dari Boh-liong-ceng itu sekarang sudah berdiri di depan Bwe kiam soat dan sedang membelai rambutnya dengan tertawa dan berkata.
"Ehm, halus dan lemas benar rambutmu, selicin sutera rasanya, sungguh beruntung aku........."
"Dari jauh segera Lamkiong Peng membentak,"Berhenti, cian tong lai!"
Saat itu Cian tong-lai lagi tergiur, dirasakan sorot mata kedua nona yang gusar itu semakin menambah daya pikat mereka.
Ia pikir bilamana mereka benar benci kepadanya, mengapa mereka tidak segera melabraknya, tapi tetap duduk diam saja tanpa peduli mereka dicolek dan diraba.
Bentakan Lamkiong Peng membuatnya terkejut, cepat ia berpaling, dilihatnya seorang pemuda tak dikenal sedang memburu tiba dengan cepat.
Ia heran dan juga mendongkol, segera ia balas membentak.
"Siapa kau?"
Dari mana kau kenal namaku?"
Lamkiong Peng berhenti di depannya, dengan sorot mata tajam ia menjawab.
"Aku yang membawamu ke sini dari Boh-liong-ceng, dengan sendirinya kutahu namamu."
Tentu saja Cian Tong-lai melenggak.
"Engkau yang memebawaku ke sini?.........
"Ya, kau tidak sadar karena terbius, jika tidak ditolong oleh Wiki, saat ini nasibmu pun sukar diramalkan,"
Tutur Lamkiong Peng.
"Aku tak sadar........terbius?...........Wiki yang menolongku?......."
Demikian Cian tong-lai bergumam dengan terheran-heran.
"Ya, baru saja kau bebas dari bahaya, kenapa lantas berlaku tidak senonoh terhadap kaum wanita?"
Damprat Lamkiong Peng.
"E-eh, nanti dulu!"
Ujar Cian tong-lai sambil menggoyangkan tangannya.
"Urusan ini rada membingungkan. Tampaknya kedua nona itu seperti kenalanmu?"
"Memang betul,"
Jawab Lamkiong Peng.
"Haha, pantas kau kelihatan cemas begini,"
Ujar Cian tong-lai dengan tertawa.
"Cuma, jangan kau kuatir. Biasanya aku pun tahu baik dan jelek. Kau bilang telah membantuku, kau pun mengatakan mereka adalah sahabatmu, maka bolehlah kita bagi rata saja seorang dapat satu, urusan lain boleh kita bicarakan nanti."
Mendongkol hati Lamkiong Peng oleh ucapan orang yang tidak pantas itu, dengan menggereget ia mendamprat.
"Kurang ajar! Sungguh tak tersangka kau dapat bicara seperti ini. Tampaknya perlu kuberi hajar adat padamu."
Cian tong-lai mendelik, jengeknya,"Hajar adat padaku? Haha, bagus......."
"Bagus apa?"
Bentak Lamkiong Peng sambil menampar muka orang.
Tamparannya ini tidak pakai jurus serangan melainkan serupa orang tua menghajar anak nakal saja.
Namun Cian Tong-lai menghadapinya dengan tertawa, sikapnya pongah, tamparan orang dianggapnya sepele, sekenanya ia hendak mengkis sambil mengejek.
"Hm, hanya begini saja......."
Belum lanjut ucapannya, sekonyong-konyong dirasakan tenaga tamparan orang sangat kuat, tangan sendiri yang menagkis terasa kaku kesemutan, tanpa kuasa ia tergetar mundur beberapa tindak.
Sesuai dengan pesan si gelang terbang Wiki, mestinya Lamkiong Peng tidak bermaksud melukai Cian tong-lai, tapi sikap orang yang congkak dan ucapannya yang menghina memnuatnya tidak tahan.
Sambil membentak segera ia menubruk maju, sekaligus ia menghantam dua-tiga kali, selalu mengincar beberapa hiat-to penting di bagian iga lawan.
Meski lengan Cian tong-lai masih terasa kemeng, namun gerakannya tidak kurang gesitnya, dengan cepat ia mengindar dan balas menyerang beberapa kali.
Keduannya sama terkesiap oleh ketangkasan lawan dan tidak berani lagi saling meremehkan.
Dalam pada itu Ban Tat telahmemburu tiba, ia pun terkejut melihat pertarunagn sengit kedua orang itu.
Apalagi dilihatnya air muka Bwe kiam soat danYap manjing juga menunjuk rasa cemas, mau-tak mau ia ikut prihatin.
Mendadak terdengar suitan Lamkiong Peng, kedua tangan menghantam susul menyusul dengan jurus "Ciam-liong-sing-thian"
Atau naga sembunyi melambung ke langit.
Diam-diam Ban Tat bergirang, ia pikir sekali anak muda itu mengeluarkan jurus serangan andalan perguruannya, kemenangan tentu tidak perlu diragukan lagi.
Tak tersangka Bwe kiam soat dan Yap manjing justru sama menjerit kuatir, berbareng mereka pun menubruk maju.
Kiranya selama beberapa hari ini Lamkiong Peng sudah terlampau letih, ia sudah kehabisan tenaga sehingga gerak-geriknya mulai lamban, jurus Ciam-liong-sing-thian itu dilancarkannya dengan terpaksa, tujuannya hanya untuk gugur bersama musuh.
Namun Bwe kiam soat dan Yap manjing yang menyaksikan di samping jauh lebih jelas, mereka tahu tenaga mumi Lamkiong Peng sudah habis, dengan melancarkan serangan maut itu keadaan anak muda itu justru lebih celaka daripada selamatnya.
Maka mereka terus menubruk maju untuk membantu.
Cian tonng-lai mendengus sembari menggeser ke samping, ketika Lamkiong Peng yang melambung keatas itu mulai turun, segera ia pun bersuit dan bermaksud melompat untuk menyongsong lawan.
Pada saat itulah tiba-tiba dari kanan-kiri menubruk tiba dua sosok bayangn orang dengan angin pukulan dasyat.
Ia terkejut, cepat ia berputar melepaskan diri dari gencetan itu.
Sementara Lamkiong Peng sudah melayang turun, karen sasarannya keburu menggeser, cepat gunakan gerakan "Sin-liong-hi-in"
Atau naga sakti memainkan awan, dengan berjumpalitan ia tancapkan kakinya di tanah dengan enteng.
Sempat dilihatnya Bwe kiam soat dan yap manjing sama meliriknya sekejap, habis itu mereka terus menerjang lagi ke arah Cian tong-lai, dari lirikan mereka itu jelas kelihatan perhatian mereka terhadap keselamatan Lamkiong Peng.
Tergetar hati Lamkiong Peng.
Ban Tat juga gegetun dan diam-diam ikut merasa bahagia bagi anak muda itu.
Akan tetapi sebagai orang tua yang sudah kenyang asam garam kehidupan, rasanya di balik kebahagiaan itu seperti ada sesuatu yang mengkuatirkan.
"Haha, tampaknya kedua nona benar-benar ingin belajar kenal dengan kepandaianku, baiklah kuperlihatkan sejurus dua jurus istimewa, supaya kalian tahu siapa tahu diriku,"
Seru Cian tong-lai dengan tertawa, akan tetapi ketika selesai ucapannya, dia tidak sanggup tertawa lagi.
Mendadak Bwe kiam soat menutuk empat kali ke beberapa hiat-to mematikan di tubuh Cian Tong-lai, meski keempat hiat-to itu tersebar di bagian yang berbeda, namun gerak serangan Bwe kiam soat itu scakan-akan dilancarkan secara serentak.
Terpaksa Cian tong-lai melompat mundur dan tergencang oleh serangan maut lawan itu.
Tiba -tiba Bwe kim-soat tersenyum kepadaYap man-jing dan berkata.
"yap moaymoay, boleh kau mundur saja, biar kulayani dia sendiri"
Akan tetapi alis Yap Man-jing seolah-olah menegak tanpa bersuara ia pun menubruk maju dan melancarkan beberapa kali serangan kilat sehingga terpaksa Cian tong-lai melayani dengan sama cepatnya.
"Haha, serngan bagus, kungfu lihai!"
Seru Bwe kiam soat dengan tertawa.
"Adik yang baik, bukan maksudku bilang kepandaian mu renadah, Cuma, untuk mengalahkan kungfu Tiau-thian-kiong dari Kun-lun-san ini bagimu masih belum ukurannya, maka lebih baik kauturut kepada ucapanku dan mundur saja."
Akan tetapi Yap manjing tetap tidak menjawab melainkan melancarkan serangan terlebih cepat.
Diam-diam Cian tong-lai juga terkesiap oleh serangan si nona di samping heran asal usulnya dapat dikenali Bwe kiam soat.
"Adik yang baik, jika tidak mau kauturt perkataanku, biarlah cici saja yang menyingkir?"
Kata Kiam soat pula sembari menyurut mundur.
"He, apa maksudmu ini?"
Tanya Lamkiong Peng dengan bingung.
"Dua mengeroyok satu kan tidak pantas, biarlah dia mencoba sendiri, masa kau kuatir?"
Sahut Kiam soat.
Air muka Lamkiong Peng tampak masam dan tidak menghirukannya lagi, ia coba mengikuti gerakan Cian Tong-lai yang aneh itu.
Dilihatnya Yap manjing sekarang berbalik telah terkurung di bawah pukulannya yang lihai.
Namun Yap manjing masih dapat balas menyerang dengan sama gesitnya, meski agak terdesak dibawah angin, tapi belum ada tanda akan kalah.
Dengan tertawa Bwe Kiam soat berolok pula.
"Wah rupanya Yap jiu pek memang mengajarkan sejurus kungfu sakti kepada murid kesayanagnnya, Cuma tak diduganya kungfu ini tidak digunakannya untuk menghadapi murid Sinliong, tapi murid Kun-lun-pai yang justru dilabraknya."
Lamkiong Peng mendengus saja. Sedang Ban Tat lantas mendekatinya dan berkata.
"Tampaknya nona Yap tidak........."
"Meski dua mengerubut satu, terpaksa harus kubantu dia,"
Kata Lamkiong Peng. Tiba-tiba terdengar Bwe kiam soat berucap dengan hampa.
"Jangan kau kuatir, biar ku........."
Serentak ia melompat maju dan melancarkan pukulan dasyat.
Terpaksa Cian tong-lai menarik serangannya terhadap Yap manjing untuk melayani Bwe kiam soat, dengan demikian Yap manjing jadi bebas tekanan.
IA menghela nafas dan menyingkir ke pinggir kalangan.
Ban Tat merasa lega, ucapnya.
"Pantas nama Kongjiok Huicu termashur, ternyata benar....."
Jelas dia sangat kagum terhadap kelihaian kungfu Bwe kiam soat.
Setelah termenung sejenak memandang bayangan Cian Tong-lai, Yap manjing menghela nafas, lalu menunduk dan pelahan membalik tubuh dan melangkah pergi.
"He nona Yap..........."
Seru Lamkiong Peng sambil melompat ke samping gadis itu.
"Masa engkau hendak pergi?"
Manjing tetap menunduk, jawabnya pelahan.
"Ya, kupergi........."
"Tapi guruku.........."
Belum lanjut ucapan Lamkiong Peng, mendaak terdengar bentakan Bwe kiam soat.
"Berhenti dulu!"
Lamkiong Peng dan Yap manjing sama berpaling, dilihatnya Cian tong-lai sedang menyerang, karena bentakan Bwe kiam soat itu ia lantas menahan serangan dan menegur.
"Ada apa?"
Dengan lagak menggiurkan Bwe kiam soat berucap dengan tersenyum,"Selamanya kita tidak ada permusuhan apapun, untuk apa kita saling labrak mati-matian?"
Cian tong-lai memandangnya dengan tercengang, sahutnya kemudian dengan ragu.
"Ya, memangnya tiada permusuhan apa pun antara kita, buat apa kita mengadu jiwa?"
"Malahan sebenarnya kita dapat saling tukar kepandaian sejurus dua, dengan begitu siapa pula tokoh kangouw jaman ini yang mampu menandingi kita?"
Kata Kiam soat pula. Cian tong-lai tertawa senang.
"Benar, bilamana kita saling mengajar sejurus dua, haha bagus sekali........"
"Tutup mulut!"
Bentak Lamkiong Peng mendadak.
"Kau mau apa?"
Jengek Kiam soat dengan muka dingin.
"Aku............."
Lamkiong Peng gelagapan.
"Jangan urus dia,"
Ucap Kiam soat kepada Cian Tong-lai. Lalu ia pandang Lamkiong Peng dengan tajam dan berkata pula.
"Aku bukan sanak kandungmu, urusanku tidak perlu kau turut campur. Soal pesan tinggalan Liong po si juga tidak ada sangkut pautnya denganku, boleh silahkan kau bawa nona Yap itu untuk melaksanakan pesan tinggalan gurumu."
Seketika Lamkiong Peng berdiri terkesima. Bwe kiam soat tersenyum kepada Cian tong-lai, katanya.
"mArilah kita pergi dan mencari tempat bersantap, perutku lapar."
Dengan tersenyum Cian tong-lai mengangguk, serentak keduanya melayang kesana.
Cian tong lai sempatmenoleh dan berteriak kepada Lamkiong Peng,"jika kau ingin bertanding denganku, silahkan pulang berlatih lagi tiga tahun dan boleh coba mencariku lagi."
Habis berucap bayangannyya pun sudahh jauh, hanya suara tertawa pongahnya berkumandang dalam kegelapan.
Lamkiong Peng berdiri terpaku, suara tertawa orang terasa menusuk perasaan, sambil mengepal erat tinjunya, ia membatin.
"Bwe Kiam soat, Bwe leng hiat, sungguh memnag berdarah dingin...."
Menyaksikan kepregian Bwe kiam soatmendaak Yap manjing mendengus.
"Kenapa tidak kau susul dia?"
Lamkiong Peng menghela nafas, jawabnya.
"Kenapa harus kususul dia?"
"Hm, dasar tidak punya perasaan,"
Jengek manjing sambil melengos. Tentu saja Lamkiong Peng melenggong pikirnya.
"Masa aku tidak berperasaan, dia bersikap begitu padaku, masa aku yang tidak berperasaan?......."
Tiba-tiba Manjing berpaling dan berkata padanya.
"Dia sangat baik padamu, masa engkau tidak tahu dan tidak menghiraukannya?"
Lamkiong Peng tambah melenggak.
"Masa..........masa dia bermaksud baik padaku?"
"Jika dia tidak baik padamu, mana bisa dia menaruh perhatian terhadap keselamatanmu."
"Tapi....tapi dia.........telah pergi bersama.........."
"Dia berbuat begitu justru lantaran cemburunya ketika ada anak perempuan lain mencarimu, maka dia.........."
Tiba-tiba Manjing menambahkan dengan serius.
"Ia tidak tahu maksudku mencarimu adalah untuk memenuhi janjiku terhadap gurumu."
Bingung juga Lamkiong Peng memikirkan perasaan anak perempuan yang sukar dimengerti itu. Katanya kemudian.
"Meski nnona Bwe telah pergi, hal itu disebabkan rasa gusar yang timbul seketika, nantii dia pasti akan...."
Sampai disini, mendadak dia teringat sesuatu, teriaknya,"
Hei, dimana Yap-siang-jiu-loh?"
"Yap-siang-jiu-loh apa?"
Tanya Ban Tat dengan bingung.
"Yaitu pedang pusaka tinggalan guruku, senjata itu tadi kutaruh di samping Tik Yang,"
Seru Lamkiong Peng. Ban Tat melenggong.
"Tapi pada waktu Tik Yang berlari pergi, tampaknya dia tidak membawa sesuatu."
"Ayo aku harus........"
"Kau mau kemana?"
Tanya Manjing.
"Apakah engaku tidakingin membaca dulu surat wasiat tinggalan gurumu?"
"O. Apakah surat wasiat guruku berada pada nona? Tanya Lamkiong Peng. Pelahan Manjing mengeluarkana sepucuk surat sambil melirik sekejap, lalu surat disodorkannya. Lamkiong Peng menerima surat itu dan berkayta.
"Tapi menurut perintah suhu, tiga hari kemudian.........."
"Jika engkau tidak pulang ke ji-hau-san-ceng, apa alangannya bila kau baca saja surat ini. Kalau tiga urusan yang ditentukan oleh gurumu memerlukan bantuanku, maka birlah kita lekas menyelesaikannya, dengan begitu selekasnya aku pun cepat melepaskan dari persoalanmu."
Pelahan Lamkiong Peng membuka sampul surat, tulisan tangan yang cukup dikenalnya segra terpajang di depan mata.
Isi surat itu berbunyi .
Anak Peng, Aku sudah tua dan mendahului pergi, Ji-hausan-ceng buknlah tempat kediamanmu yang abadi, perusahaan orang tuamu juga perlu pimpinan mu.
Kau lahir dari keluarga temama, bakatmu pun tidak terbatas, hari depanmu sungguh gilang gemilang dan tak terbatas.
Seorang lelaki sejati memerlukan pembantu rumah tangga yang bijaksana, untuk ini perlu kau dapatkan istri yang baik.
Nona Yap Manjing pintar lagi cerdas, dia gadis pilihan yang cocok untuk mendampingi hidupmu, inilah pesanku yang pertama.
Sayang sekali Liong-hui tidak punya keturunan, karena itulah kuharap bila anakmu lebih dari satu, hendaknya seorang kauberikan she Liong untuk menyambung keturunan keluarga Liong.
Inilah pesanku yang kedua........"
Membaca sampai disini, muka Lamkiong Peng menjadi merah. Sungguh tak terduga olehnya pesan tinggalan sang guru justru menyangkut perjodohan dengan Yap manjing. Ia membaca lagi"
Selain itu selama ini di dunia persilatan tersiar berita misterius bahwa tempat suci dunia persilatan bukanlah Siong-san Siau-lim-si juga bukan Kun-lun atau Bu-tong-san melainkan terletak di suatu istana dan suatu pulau.
Pulau itu bemama "Cu-sin" (para dewa).
Diaman letak tempatnya sukar ditemukan.
Konon Kun-Mo-To adalah pulau kediaman manusia jahat dan keji di dunia ini, sedangkan istana para dewata dihuni oleh manusia bajik dan bijak.
Akan tetapi jika tidak menguasai ilmu silat maha tinggi, siapa pun sukar memasuki istana dan pulau itu selangkah pun.
Tergetar juga hati Lamkiong Peng membaca samapi disini, ia merasa urusan ini benar-benar misterius dan penuh teka-teki.
Ia coba membaca lagi .
Pada waktu masih muda sudah kudengar ceruta tentang istana dan pulau misterius ini.
Akan tetapi orang yang bereerita selalu memperingatkan padaku agar selama hidup hanya boleh meneruskan kisah ini satu kali dan kepada seorang saja.
Selama hidupku telah berkelana menjelajahui dunia, namun kedua tempat itu tetap tidak dapat kutemukan.
Sekarang ku pergi dan cerita ini kusampaikan kepadamu dan Manjing, tentu saja kalian tidak boleh sembarangan diceritakan lagi kepada orang lain, hal ini perlu diperhatikan.
Jika kalian ada jodoh, mungkin sekali kalian akan mampu menemukan kedua tempat misterius itu untuk menyelesaikan cita-citaku yang belum terlakasana."
Sekaligus Lamkiong Peng membaca habis surat ini, lalu ia memejamkan mata dalam benaknya terbayang dua lukisan, yang satu istana megah serupa kediaman malaikat dewata.
Tempat yang lain adalah sebuah pulau dengan gunung di kejauhan diliputi kabut tebal, suasana seram dan mengerikan dengan binatang buas dan mahluk berbisa.
Melihat anak muda itu termangu-mangu dengan air muka berubah tidak menetu, Yap Manjing pun merasa heran, tegurnya.
"Sudah selesai kau baca?"
Terkejut Lamkiong Peng dan tersadar dari lamunannya, jawabnya sambil menyembunyikan surat itu di punggung.
"O, sudah habis kubaca."
"Hm, memangnya kaukira aku ingin tahu isi surat gurumu?"
Jengek Manjing.
"Aku Cuma ingin tanya, apakah ketiga pesan gurumu itu ada sangkut pautnya dengan diriku?"
Lamkiong Peng berdehem pelahan, jawabnya dengan tergagap.
"O, Tentang ini.......ini........."
Dengan sendirinyua ia rikuh untuk menjelaskan bahwa buka Cuma ada sangkut pautnya tapi justru sangat berkepentingan. Alis Manjing menegak, katanya pula.
"Baiklah, jika tidak ada sangkut pautnya denagn ku, biarlah ku pergi saja."
"Nona Yap......."
"Ada apa lagi?"
"Ini....ini.........."
Lamkiong Peng menjadi bingung, meski sang guru memberi pesan, tapi urusan ini mana bisa dilakukannya.
Dalam pada itu Yap manjiing telah melangkah lewat disampingnya dan mendadak merampas surat itu sambil mengomel.
"Gurumu menyuruh kau baca surat ini bersamaku, kenapa engkau Cuma membaca sendiri, sebaiknya kulaksanakan pesan beliau........."
Sembari bicara ia terus membaca isi surat itu, seketika mukanya yang dingin itu berubah merah sambil mendekap mulut dengan suara agak gemetar, O, kau......."
Lamkiong Peng juga serba salah dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Tiba-tiba Manjing menjerit terus berlari ke depan.
Tapi baru beberapa langkah, sekonyong-konyong di tengah malam yang sunyi timbul suara yang aneh, suara gemeresak serupa hutan bambu tertiup angin, dari jauh mendekat.
Baik Lamkiong Peng maupun Yap manjing sama terkejut, serentak si nona melompat kembali ke samping Lamkiong Peng sambil bertanya.
"Ap........apakah ini?"
Suara gemeresak itu sungguh sangat mengerikan, Lamkiong Peng juga bingung dan coba memandang ke arah Ban Tat.
Orang tua itu kelihatan pucat juga dan sedang menatap ke depan denagn kedua tangan merogoh saku seperti hendak mengambil sesuatu, jarang jago tua ini memperlihatkan rasa prihatin seperti ini.
Lamkiong Peng sendiri juga terkesiap, namun ia coba menghibur Manjing.
"Tak apa-apa, jangan kuatir....."
Belum habis ucapannya, dai depan sudah muncul sesosok bayangan orang yang berjalan mundur ke belakang, agaknya didepannya terjadi sesuatu yang mengerikan sehingga membuatnya tidak berani membalik tubuh dan lari.
Suara gemersak itu semakin keras, sebaliknya langkah mundur orang ini tambah lambat agaknya kaki menjadi lemas saking ketakutan.
"Sahabat........."
Baru saja Lamkiong Peng hendak menegur, sekonyong-konyong orang ini menjerit kaget sambil membalik tubuh.
Maka tertampaklah wajahnya yang kurus dengan sinar mata buram, kepala botak, pakaiannya juga sangat aneh, serupa sebuah karung dimasukkan pada tubuhnya begitu saja.
Lamkiong Peng melenggong, ia coba menegur lagi.
"Sahabat ini.........."
Mendadak orang berteriak pula terus bersembuyi di belakangnya, mungkin saking ngerinya sehingga tidak sanggup bersuara.
Waktu manjing memandang ke sana, tertampaklah dari kegelapan membanjir keluar berpuluh ular hijau berbisa.
Kiranya suara gemersak tadi berasal dari kawanan ular ini.
Tanpa terasa ia menjerit kaget dan menubruk ke dalam rangkulan Lamkiong Peng.
Mendadak Ban Tat membentak, kedua tangan bergerak, segera selapis kabut kuning bertebaran dan jatuh lima enam kaki di depan mereka.
Suara gemersik tadi mulai mereda, tertampak di belakang kawanan ular itu mengikut pula serombongan pengemis denagn baju compang camping dan rambut semerawut.
Perawakan kawanan pengemis ini juga tidak sama dengan bemtuk yang aneh, namun wajah mereka sama kelihatan kelam seram dan tahu-tahu muncul dari kegelapan sana seperti sekawanan setan yang membanjir keluar dari neraka.
Yap manjing merangkul Lamkiong Peng dengan erat.
Mendadak dirasakan tubuh anak muda itu bergemetar.
Tentu saja ia heran, sekilas lirik baru diketahuinya orang botak aneh itu juga telah merangkul pinggang Lamkiong Peng dari belakang, karena dia gemetar ketakutan sehingga tubuh Lamkiong Peng ketularan dan ikut berguncang.
Ular hijau yang berbentuk jelek dengan sinar mata gemerdep itu sedang merayap di tanah becek sana, tampaknya lambat, sebenarnya sangat cepat, hanya seekejap saja kawanan ular sudah merayap sampai di depan garis kuning yang ditebarkan oleh Ban tat tadi.
Dengan was-was Ban Tat memandangi kawanana ular yang merayap-rayap itu, ada yang melingkar dan ada yang mendesis dengan menjulurkan lidahnya yang merah, namun tiada seekor pun yang berani mendekati garis kuning.
Sekilas pandang saja Lamkiong Peng dapat menghitung kawanan pengemis ini terdiri dari tujuh belas orang, semuanya berwajah bengis,namun di mulut mereka justru sedang memohon.
"Kasihan Tuan, sudilah memberi sedikit sedekah dari isi saku tuan."
Suara minta-minta itu terus diulang, seorang disusul yang lain dan terus menerus oleh ketujuh belas mulut.
Tentu saja Lamkiong Peng heran dan bingung, ia coba memandang si orang aneh botak tadi, dilihatnya pakaiannya juga compang-camping, jelas tidak membawa sesuatu benda berharga, namun sebuah karung goni justru dirangkulnya dengan erat, tampaknya karung itu pun kosong tanpa sesuatu isi yang berharga untuk di minta.
Lamkiong Peng tidak mengerti apa yang terjadi ini, tapi jiwa ksatria yang mengharuskan dia membela keadilan dan membantu kaum lemah membuatnya menaruh simapatik terhadap orang tua yang rudin di belakangnya ini.
Sekonyong-konyong dilihatnya Ban Tat menggeser kesana, agaknya hendak menyembunyikan ekor ular yang dibunuhnya tadi supaya tidak dilihat oleh kawanan pengemis aneh itu.
Suara mendengus tadi sudah berhenti, sebaliknya suara mohon kasihan bertambah ramai.
Jika tidak melihat wajah kawanan pengemis itu, suara minta-minta mereka sungguh menimbulkan rasa iba orang.
Tapi wajah mereka yang seram penuh nafsu membunuh itu membuat suara minta-minta mereka terasa seram.
Mendadak Ban Tat membentak.
"Apakah kawankawan ini datang dari "nerakanya neraka"
Di kawan gwa?"
Suara minta-minta tadi serentak berhenti, ketujuh belas pasang mata sama menatap Ban Tat.
Seorang pemgemis bertubuh jangkung dan kurus kering, tapi mata bersinar tajam dengan wajah pucat pasi pelahan melangkah maju, langakhnya enteng mengambang, seperti setiap saat bisa kabur tertiup angin.
Baju compangcamping yang dipakainya sangat longgar sehingga menggembung tertiup angin.
Serupa badan halus saja ia melayang lewat garis kuning itu, ia tersenyum seram terhadap Ban Tat, lalu berucap.
"Kau kenal padaku?"
Biarpun Ban tat sudah berpengalam luas, menghadapi pengemis aneh ini timbul juga rasa seramnya, jawabnya denagn suara agak gemetar.
"Apakah sahabat ini adalah Yu-leng-kun-kai (kawanan pengemis badan halus) yang tersiar di dunia kangouw itu?"
Pengemis aneh yang serupa badan halus ini mendengus.
"Betul, nerakanya neraka, pengemis badan halus, setan jahat, arwah miskin, minta sedekah denagn paksa.....Hehe, tampaknya belum pemah kau masuk neraka, dari mana kau kenal kawanan setan jahat seperti kami ini?"
Dia bicara seperti bertembang, lalu disusul suara kawanan pengemis aneh yang menirukkan tembangnya sehingga di dengar di tengah malam gelap scakan-akan jeritan setan.
Tanpa terasa Ban Tat mnyurut mundur, katanya pula.
"Yu-leng-kun-kai, biasanya tidak mau minta emas di bawah sribu tail atau perak kurang dari selaksa tail, padahal kami tidak membawa sesuatu benda berharga, jangan-jangan sahabat salah alamat minta sedekah pada kami?"
Tergerak juga hati Lamkiong Peng, segera ia teringat kepada asal usul kawanan pengemis aneh ini, pikirnya.
"Biasanya kawanan pengemis setan kelaparan ini tidak pemah masuk ke pedalaman sini, apakah mungkin kedatangan mereka ini hanya karena menyusul seorang tua aneh yang serupa pengemis ini?"
Terdengar pengemis jangkung tadi mendengus.
"Yang hendak kami cari tentu saja bukan dirimu, memangnya sengaja kau cari gara-gara kepada kawanan setan?"
Mendadak ia melompat ke depan Lamkiong Peng dan menjengek pula,"Anak muda terlebih jangan cari perkara kepada setan, juga jangan merintangi jalan lalu setan, tentu kau tahu."
"Anda ini Ih pangeu atau Song pangeu Song cing?"
Jawab Lamkiong Peng denagn lantang dan tenang, tidak kejut juga tidakjeri. Gemerdep sinar mata pengemis jangkung ini, ia tertawa ngekek, katanya.
"Meski setan ganas Song cing tidak hadir, kedatanganku Ih Hong si arwah rudin tetap sanggup mengakhiri riwayat sesorang. Jika kau tahu asal usul kawanan setan di sini, apakh minta dilalap oleh kawanan setan?"
Serentak kawanan pengemis bersorak.
"Lalap saja, lalap saja!"
Sementara itu Yap manjing sudah menenangkan diri, jengeknya.
"Huh,main setan-setanan untuk menkuti orang, sungguh konyol!"
Ih Hong menyeringai.
"Hehe, nona manis 18-19 tahun berangkulan denagn pemuda di depan umum dan berani pula usil mulut di neraka sana juga tidak mau menerima setan perempuan yang tidak tahu malu serupa dirimu."
Muka Manjing menjadi merah, segera ia membentak.
"Keparat!"
Selagi ia hendak melancarkan pukulan, mendadak Lamkiong Peng menrik lengan bajunya dan mendesis.
"SSt, tahan dulu!"
"Kawanan jembel ini berlagak setan segala dan minta secara paksa, untuk apa banyak bicara dengan mereka?"
Ujar Manjing dengan mendongkol. Tapi Lamkiong Peng bicara dengan serius.
"Sebagai pengemis, adalah jamak mereka mintaminta. Orang kangouw umumnya suka pakai nama atau julukan yang aneh, bahwa mereka menamai diri sendiri sebagai setan juga bukan sesuatu kejahatan. Orang tidak bermaksud jahat kepada kita melainkan Cuma minta kita memberi jalan padanya, mana boleh kita sembarangan menyerangnya?"
Si arwah rudin Ih Hong mestinya akan mendamprat demi mendengar komentar Lamkiong Peng itu, ia tercengang. Baru sekarang sejak tampil di dunia kangouw ada orang memberi penilaian demikian padanya?"
Yap manjing juga tercengang dan tidak jadi bertindak.
Entah mengapa, anak perempuan yang dingin dan angkuh ini sekarang berubah lembut.
Sedangkan si kakek botak aneh tadi lantas berseru kuatir,"He, masa.....masa akan kaubiarkan kawanan setan kelaparan ini merampas barang seorang kakek rudin seperti diriku ini?"
Lamkiong Peng tersenyum, serunya.
"Sudah lama kudengar kawanan pengemis badan halus suka berkeliaran di dunia ramai, bilamana mintaminta juga tidak melampaui separoh milik orang. Malahan juga sering merampas yang kaya untuk menolong yang miskin, hal ini sudah lama kukagumi. Tapi sekarang rombongan kalian justru mengejar dan mendesak terhadap seorang tua lemah begini, sungguh membuatku sangat heran."
Dia bicara dengan lugas dan terus terang, sedikitpun tidak berlagak. Ih Hong tertawa.
"Haha, tak tersangka annak muda belia seperti kau ini jjuga tahu sejelas ini mengenai kawanan setan lapar kami."
Tertawanya sekarang seperti timbul dari lubuk hati yang bersih sehingga sama sekali tidak berbau setan lagi.
Diam-diam Ban Tat membatin"Sudah lama kuberitahukan kepadanya tentang kawawan setan lapar ini, tak terduga dia masih ingat sejelas ini."
Terdengar Ih Hong berhenti tertawa dan berkata,"Dan bila kau tahu sejelas ini mengenai kami, tentu kaupun tahu kawanan setan sekali sudah keluar tentu takkan pulang denagn tangan hampa.
Maka sebaiknya engkau jangan ikut campur urusan ini."
Sekali berkelebat mendadak ia melompat ke belakang Lamkiong Peng.
"tolooong!"
Cepat si kakek botak berteriak. Tapi Lamkiong Peng lantas mengadang di depan Ih Hong, ucapnya.
"Apabila anda bertindak terhadap seorang kakek rudin seperti ini dan mendesaknya, sungguh aku harus menyatakan rasa kecewa kepada nama baik kalian."
Ih Hong berhenti di tempatnya, jengeknya mendadak.
"Kakek rudin? Hm, kaubilang dia kakek rudin? Jika di tidak kaya raya melebihimu dan tidak berbudi, masa kawanan setan samapai turun tangan padanya?"
Lamkiong Peng melenggong bingung. Si kakek botak lantas berteriak.
"Jangan kau percaya kepada ocehannya, mana bisa aku kaya........"
"orang she Ih,"
Sela Manjing mendadak.
"Kau bilang dia kaya raya?"
"Ya,"jawab Ih Hong ketus.
"Apa buktinya? Jika salah, lantas bagaimana? Tanya Manjing.
"Kawanan pengemis setan bermata setajam sinar kilat dan tidak pemah salah lihat, apabila salah lihhat, kami rela kelaparan sepuluh tahun dan segera pulang kandang.........."
"Betul?"
Manjing menegas.
"Anak perempuan ingusan kau tahu apa?"
Jengek Ih Hong.
"Meski Lo-lo-si itu tampaknya rudin, padahal dia kaya raya, yang kami minta sekarang tidak lebih hanya separoh barang yang berada dalam karungnya itu, yang kami minta kan cukup pantas. Kawanan pengemis setan biasanya tidak suka mengganggu orang miskin, kalau tidak, mana bisa budak ingusan seperti dirimu dibiarkan ikut bicara."
"Hm, kau tahu siapa dia?"
Jengek Manjing sambil memandang Lamkiong Peng.
Ih Hong juga memandang anak muda itu dari kaki ke kepala, lalu ia putar ke kanan dan balik lagi ke kiri.
Dengan kening bekernyit Lamkiong Peng ikut berputar ke sana-sini dan tetap mengadang di depannya.
"hm, tampaknya serupa putra keluarga hartawan,"
Baca Juga: Pedang Berkarat Pena Beraksara 1
Baca Juga: Pendekar Satu Jurus 8