Ceritasilat Novel Online

Amanat Marga 5

Eps 5 Amanat Marga - Khu Lung

Baca online Amanat Marga - Khu Lung

Cersil Amanat Marga - Khu Lung.

Jengek Ih hOng kemudian. Cuma sayang, dalam sakumu jugatidak banyak isinya."

"Memangnya pada baju orang tua ini banyak isinya?"

Tanya Manjing.

"Yang kontan memang tidak ada, tapi Gin bio (sejenis cek) tidak sedikit yang dibawanya, namun yang kuminta juga bukan ginbio melainkan........"

Belum habis ucapan Ih Hong, mendadak si akkae botak membalik tubuh terus berlari.

"Memangnya dapat kau lari?!"

Jengek Ih Hong. Ucapannya sangat manjur, emndadak si kakek botak alias Lo-Lo-si berhenti berlari dan menyurut mundur dengan takut. Kiranya di depannya kembali mengadang beberapa ekor ular hijau.

"Nah, nona cilik, tidak perlu banyak omong lagi, kecuali putra keluarga hartawan Lamkiong di daerah Kanglam, di dunia kangouw tidak ada orang lain yang lebih kaya daripada Lo-lo-si ini, kenapa kalian berdua suka ikut campur urusan? Untung aku yang kalian hadapi, jika ketemu setan ganas Song Cing, bisa celaka kalian."

"Cayhe sendiri ialah Lamkiong Peng,"

Tiba-tiba Lamkiong Peng memperkenalkan diri.

Keruan Ih Hong melengak, mendadak ia melangkah maju, sebelah tangannya terus menghantam dada Lamkiong Peng.

Serangan ini di luar dugaaan siapa pun, juga dilakukan secepat kilat, terlihat lengan bajuanya yang longgar itu berkibar, tahu-tahu telapak tangannya sudah dekat dada sasarannya.

Lamkiong Peng membentak pelahan, telapak tangan berjaga di depan dada, jari tangan kanan balas menutuk Kik-ti-hiat bagian iga lawan.

Serangan ini sekaligus juga berjaga diri, inilah salah satu jurus andalan pergruannya yang disebut Ciam-liong-su-ciau (empat jurus naga bersembunyi) yang biasanya jarang diperlihatkan jika tidak kepepet.

Tak tersangka belum lagi saling beradu tangan, serentak I hong melompat mundur, katanya dengan gegetun, ternyata benar murid Sin-liong dan putra Lamkiong.

Bagus Lo-lo-si, kcenakan bagimu hari ini."

Sekali ia memberi tanda, segera bergema pula suara sempritan, lalu ramailah suara mendesis, kawan ular hijau yang berputar-putar di depan garis kuning itu serentak melejit ke dalam lengan baju kawanan pengemis "Nanti dulu, Ih Pangeu,"

Seru Lamkiong Peng.

"Setelah kalah bertarung dengan sendirinya harus angkat kaki,"

Kata Ih Hong.

"meski kawanan setan kelaparan biasanya suka minta-minta secara paksa, tapi selamanya juga pegang janji. Bahkan ular hijau yang dibunuh tua bangka itu juga tidak perlu kutuntut ganti rugi lagi."

Gerak-gerik Kawanan pengemis badan halus ini benar-benar serupa setan, hanya sekejap saja mereka sudah menghilang. Yap manjing tertawa, katanya.

"Meski kawanan pengemis ini suka berlagak setan dan main gertak, tapi kelakuan mereka pun tidak terlalu jahat."

Lamkiong Peng sendiri sedang berpikir.

"Kawanan pengemis ini pasti ada hubungan erat dengan suhu, kalu tidak masakah hanya bergebrak satu kali saja lantas ,mengenali asal-usul perguruanku?"

"Meski Go-kui-pang (gerombolan setan lapar) ini tidak menentu baik jahatnya, tapi sasaran yang mereka incar biasanya pasti manusia kaya yang tidak berhati baik.

"ujar Ban Tat sambil menatap kakek botak tadi. Kakek itu ternyata sedang memandang Lamkiong Peng dengan terkesima, tampaknya kagum dan juga iri, mendadak ia menjura kepada anak muda itu. Cepat Lamkiong Peng memeblas hormat, katanya kemdian.

"Ah, hanya urusan kecil begini, buat apa Lotiang (bapak) memberi hormat sebesar ini?"

"Ya memang urusan kecil, mestinya aku tidak perlu banyak adat, penghormatan sekedar saja sudah cukup.

"kata kakek botak itu.

"Tapi yang kau selamatkan adalah harta bendaku dan bukan menolong jiwaku, sebab itulah penghormatanku harus kuberikan dengann sepenuhnya."

Yap manjing dan Lamkiong Peng saling pandang dengan bingung. Si botak lantas menyambung.

"Keluarga Lamkiong kaya raya menjagoi dunia, jika engkau benar Lamkiong kongeu, pasti engkau terlebih kaya dari padaku, sebab itulah penghormatanku ini juga harus kulakukan dengan sebesar-besarnya."

"O, apakah penghormatanmu ini ditujukan kepada uangnya?"

Ujar Manjing.

"Memang betul, malahan penghormatanku ini juga ditujukan kepada ayahnya yang kaya itu,"

Ujar si kakek botak. Lamkiong Peng melongo oleh uraian orang yang luar biasa ini.

"Jadi yang kau hormati adalah kekayaan seorang, bagimu uang di atas segalanya, begitu bukan?"

Tanya Manjing. Dengan serius si kakek botak menjawab.

"Benda apa pun di dunia ini tidak ada yang lebih penting daripada uang. Di dunia ini tidak ada yang berharga selain sepotong uang perak, dengan sendirinya dua potong uang perak akan lebih berharga lagi, dan yang lebih berharga daripada dua potong uang perak adalah tiga...."

"Tiga potong uang perak, begitu bukan?....."

Tukas Mnjing, mendadak ia mendekap di pundak Lamkiong Peng dan tertawa geli.

"Jika begitu, tentu engkau ini sangat kaya, rupanya Yu-leng-kun-kai itu memang tidak salah lihat,"

Kata Ban Tat dengan tertawa. Air muka si kakek botak berubah seketika, sahutnya sambil merangkul erat karung goni yang dibawanya.

"O, tidak, tidak! Mana aku punya duit........."

Karena gugupnya, tanpa terasa ia bicara dengan logat kampungnya. Lamkiong Peng menaha rasa gelinya dan berkata.

"Lotiang ternyat tahu cara sayang terhadap duit, sungguh aku sangat kagum......."

"Saat ini orang yang minta duit padamu sudah pergi, tentu kaupun boleh pergi saja,"

Sela Manjing. Tiba-tiba teringat kepada urusan sendiri, pelahan ia berkata pula.

"Dan aku pun akan pergi."

Ban Tat berdehem.

"Setelah bertemu dengan kongeu dan ternyata tidak berkurang suatu apa pun, sungguh aku sangat gembira. Segera aku akan menuju ke Kwangwa, entah kongeu akan pergi kemana?"

"Aku......."

Tiba-tiba timbul rasa kesepian dalam hati Lamkiong Peng.

"Aku ingin pulang rumah dulu, kemudian....."

Ia memandang jauh ke depan dengan hampa.

"Jika begitu...."

Sela Manjing tidak melanjutkan ucapannya, dia masih memegang surat tinggalan Put-si-si-liong, sesungguhnya di sangat berharap sepatah kata Lamkiong Peng saja dan dia rela mendampingi anak muda itu selamanya.

Akan tetapi hati Lamkiong Peng terasa pedih dan tidak sanggup berucap.

Diam-diam Ban Tat menghela nafas, katanya.

"Jika nona Yap tidak ada urusan, apa alangannya berangkat ke Kanglam bersama Lamkiong kongeu, semoga kalian menjaga diri dengan baik, kumohon diri dulu."

Ia memberi hormat terus melangkah pergi.

"Tik Yang keracunan dan menjadi gila, kemana perginya juga tidak jelas, apakah engkau tidak mau ikut mencarinya bersamaku?"

Tanya Lamkiong Peng. Seketika Ban Tat berhenti dan berpaling kembali. Tiba-tiba si kakek botak berkata.

"Tik Yang yang keumaksudkan itu apakah seorang pemuda berpedang dan keracunan parah itu?"

"Betul,"

Jawab Ban Tat dengan girang.

"Dia sudah ditolong Yan-pek (arwah cantik) Ih Lo dari kawanan setan lapar itu serta dikirim ke Kwan Gwa,"

Tutur Kakek botak itu.

"Untung mendadak ia muncul mengganggu, kalau tidak mana bisa kulari sampai di sini. Tampaknya Ih-jinio itu rada menaksir padanya dan tentu takkan membikin susah dia, kukira kalian tidak perlu kuatir baginya."

Lamkiong Peng menghela nafas lega, tanyanya.

"Dan entah perempuan macam apakah Ih-jinio yang berjuluk arwah cantik itu?"

"Orang baik tentu akan selamat, setiba di kwangwa nanti tentu akan kucari jejak Tik Kongeu,"

Kata Ban Tat.

"Menurut pandanganku, Ih-jinio pasti bukan orang jahat, apalagi dia menaksir Tik kongeu, kalau tidak mustahil dia mau pulang ke kwan gwa secepat itu. Setiba disana tentu dia akan berdaya sebisanya untuk menolong Tik Kongeu. Kalian tahu, ketulusan hati dan kemumian cinta terkadang menimbulkan kekuatan yang sukar dibayangkan."

"Kemumian cinta terkadang menimbulkan yang sukar dibayangkan,"

Ucapan ini terus menyelimuti benak Yap manjing.

Waktu ia mengangkat kepala, dilihatnya Ban Tat sudah pergi jauh.

Sekian lama Yap manjing berdiri terkesima, dilihatnya muka Lamkiong Peng rada pucat dan diam saja.

Mendadak si nona menggentak kaki dan melengos.

Ditunggunya sekian lama dan Lamkiong Peng tetap tidak bicara apa pun padanya, akhirnya gadis yang berhati keras ini pun melangkah pergi.

Dengan terkesima Lamkiong Peng memandangi bayangan si nona, ucapan Ban Tat tadi pun berkecamuk dalam benaknya, samar-samar muncul berbagai bayangan orang, tiba-tiba di rasakan sebagai bayangan Bwe Kiam soat, tapi dirasakan pula seperti bayangan sebagai bayangan Bwe Kiam soat, tapi dirasakan pula seperti bayangan Yap manjing.

Kelelahan dan kelaparan selama beberapa hari, pertentangan batin dan kusut memikirkan cinta, semua itu memeras tenaga dan pikiran..........mendadak dirasakan tangan dan kaki lemas, seperti menginjak tempat kosong, terus roboh.

Si kakek botak menjerit kaget.

Yap manjing sedang melangkah ke sana, melangkah lambat, demi mendengar suara jeritan itu, tanpa terasa ia berpaling.

Ketika diketahuinya Lamkiong Peng menggeletak di tanah, secepat terbang ia berlari kembali, kekuatan apap pun di dunia ini tidak dapat mencegahnya untuk tidak menghiraukan anak muda itu.....

********** Di ufuk timur sudah mulai remang-remang terang, hawa sejuk.

Sebuah kereta berkabin tampak dilarikan menuju ke Sun yang dari kota Se-an.

Kakek aneh yang berdandan aneh dan botak kelimis itu setengah berebah di depan kabin sambil tetap merangkul erat karung goni yang dibawanya.

Dari dalam kereta terkadang ada suara rintihan dan keluhan sedih dua orang.

Tiba-tiba si kakek botak mengetuk dinding kabin dan berseru.

"Hei nona cilik apakah kaubawa uang perak!?"

"Bawa,"

Jawab suara orang perempuan dengan marah dari dalam kereta. Dengan sungguh-sungguh si kakek berkata pula.

"Kemana pun pergi, duit tidak boleh kekurangan."

Ia tersenyum puas, lalu memejamkan mata dan mengantuk.

Setiba di Sunyang, hari sudah gelap, lampu sudah dinyalakan sana-sini.

Mendadak si kakek membuka mata dan mengetok dinding kabin lagi sembari bertanya.

"Hei nona cilik, banyak tidak uang yang kau bawa?"

"Cukup banyak,"

Jengek suara di dalam kereta. Si kakek melirik kusir kereta sekejap dan berpesan,"Carilah sebuah hotel paling besar, sebaiknya hotel merangkap restoran."

Pasar malam di kota Sunyang sangat ramai.

Setiba di hotel, dengan lagak tuan besar si kakek memerintahkan kusir dibantu pelayan hotel menggotong Lamkiong Peng ke dalam kamar, Manjing turun dari kereta dengan lesu.

"Nona cilik, berikan lima tail perak dulu untuk sewa kereta,"

Kata kakek botak.

Kusir kereta sangat senang, ia pikir sekali ini tip yang akan diterimanya cukup untuk minum arak sepuasnya.

Siapa tahu setelah si kakek menerima sepotong perak lima tail dari Yap manjing, baru saja disodorkan kepada si kusir, mendadak ditarik kembali lagi sembari berkata,"Berikan kembalinya dua tail dahulu."

Tentu saja si kusir melenggong, terpaksa ia memberi uang kembalian, lalu tinggal pergi dengan menggerutu.

Dengan berseri-seri si kakek botak masuk ke hotel, dua tail perak uang kembalian tadi diberikan kepada pelayan dan berkata.

"Siapkan semeja makan seharga sepuluh tail perak harus disuguhkan sekaligus!". Tidak kepalang gembira si pelayan, ia pikir biarpun pakaian tamunya serupa pengemis, tapi persennya ternyata tidak sedikit. Dengan ucapan terimakasih pelayan lantas mengiakan. Dengan lagak tuan besar si botak masuk ke ruangan restoran, dengan karung goni tetap dirangkulnya ia pilih sebuah meja besar dan duduk di situ. Pelayan sibuk mengantarkan teh panas dan memberi handuk wangi, tidak lama kemudian santapann semeja penuh pun selesai di siapkan dengan tertawa yang dibuat-buat si pelayan menyapa,"

Apakah tuan ingin minum arak?"

Si kakek menarik muka, ucapnya ketus.

"Minum arak bisa membikin runyam urusan, kalau mabuk, biarpun badan digeryangi orang juga tidak tahu, kan rugi. Padahal kau tahu, mencari uang tidaklah mudah."

Si pelayan melenggongg, terpaksa mengiakan.

"Eh dimana uang pemberianku tadi?"

Tanya si kakek mendadak.

"Masih ada,"

Cepat si pelayan menjawab.

"Tukarkan mata uang tembaga seluruhnya dan lekas bawa kemari."

Keruan si pelyan melongo.

Dua tail perak itu disangkanya tip, tak tahunya Cuma titipan untuk menukarkan mata uang.

Sambil menggerutu terpaksa ia melangkah pergi.

SI kakek memandang santapan lezat yang tersedia di depannya dengan menggosok-gosok tangan serupa orang putus lotre, berbareng ia berseru.

"He nona cilik, jika kau perlu menjaga orang sakit, biarlah kumakan sendiri!"

Terdengar suara jawaban Manjing tak acuh di kamar pojok sana.

"Hm, bilamana keluarga Lamkiong bukan orang kaya, biarpun kau pikat dengan segala macam bujuk rayu juga aku tidak mau menempuh perjalanan bersamamu,"

Demikian si kakek botak bergumam sendiri, lalu ia taruh karung goni di pangkuannya dan menyikat hidangan yang tersedia.

Caranya makan sungguh rakus dan juga besar takarannya, semeja penuh hidangan itu disapu bersih tanpa sisa.

Pada saat itulah pelayan baru kembali dari menukar mata uang.

Si kakek menghitung dengan teliti mata uang itu, akhirnya ia comot tiga buah mata uang.

IA ragu sejenak, akhirnya jari mengendur dan dua buah mata uang dijatuhkan kembali, hanya sisa sebuah mata uang saja ditaruh di atas meja dan berkata dengan rasa berat.

"ini untukmu!"

Si pelayan melongo, katanya kemudain dengan mendongkol.

"Kukira boleh tuan simpan simpan untuk dipakai sendiri saja."

Si kakek tertawa senang.

"Haha, betul juga, biar kupakai sendiri!"

Sebiji mata uang tembaga itu benar-benar diambilnya kembali, lalu angkat karung goninya dan masuk sebuah kamar dan menutup pintu rapat.

Dengan gemas si pelayan menuju ke halaman dan mengomel panjang pendek.

********* Di dalam kamar Manjing lagi memegangi semangkuk air obat yang baru diseduhnya dan disuapkan ke mulut Lamkiong Peng dengan tangan agak gemetar.

Meski perkenalannya dengan anak muda itu belum lama terjadi, namun aneh, rasanya sudah timbul semacam perasaan yang sukar dilupakan terhadap pemuda yang berjiwa luhur dan berdarah panas ini.

"Persahabatan harus dipupuk dengan pelahan, cinta justru timbul dalam sekejap,"

Ia jadi teringat kepada ucapan seorang pemikir, pemah dia mencemoohkan filsafah ini, tapi sekarang baru dirasakan kebenaran ucapan tersebut.

Ia teringat kepada Koh-ih-hong, Tik Yang dan juga pendekar muda congkak "Boh-in-jiu"

Itu, dia pemah berkumpul dengan mereka di puncak Hoasan yang tinggi dan sepi itu, ia kenal watak dan ketahanan mereka.

Tapi terhadap Lamkiong Peng, pada pertemuan pertama itu juga lantas timbul rasa sukanya, tapi kemudian terpaksa ia meninggalkan Hoasan dengan kenangan indah terhadap anak muda itu.

Ia tidak tahu apa yang terjadi di rumah gubuk di puncak Hoasan itu, serupa halnya ia tidak dapat meraba sebenarnya bagaimana perasaan Lamkiong Peng terhadap dia.

Sudah tiga hari dia melayani anak muda yang sakit dan tak sadar itu.

Dia enggan bicara dan berdekatan dengan oarng tua itu, tapi ia pun tidak dapat mencegahnya tinggal bersama di sebuah hotel.

Di dengarnya di kamar sebelah kakek botak itu asyik menghitung mata uang tembaga, sudah larut malam dia masih sibuk dengan duit, sungguh kakek yang mata duitan.

Esok paginya, sakit Lamkiong Peng sudah agak sembuh, petangnya dia sudah dapat turun dari pembaringan.

Memandangi Manjing yang agak letih dan kurus itu, perasaan Lamkiong Peng menjadi tidak enak, ucapnya dengan menyesal.

"Aku sakit, engkau yang repot."

"Asalkan kau sembuh, apapun kukerjakan dengan senang hati,"

Ujar si nona.

Terharu hati Lamkiong Peng, tak terduga olehnya selama tiga hari ini telah sebanyak ini perubahan sikap nona itu terhadapnya.

Tanpa terasa ia memandangnya lagi sekejap dengan penuh rasa terimakasih.

Ketika melihat Lamkiong Peng muncul dalam kamarnya, segera si kakek botak yang sedang menghitung uang itu menegur dengan tertawa.

"Aha, agaknya sakit mu sudah sembuh?!"

"Terimakasih atas perhatian Lotiang,"

Jawab Lamkiong Peng dengan tersenyum.

"Bila aku menjadi dirimu, aku tentu ingin sakit lebih lama lagi,"

Kata si kakek dengan tertawa. Lamkiong Peng melenggong. Si botak lantas menyambung.

"jika bukan lantaran sakitmu, mana anak dara ini mau mentraktirku makan minum di sini, bila bukan karena kau sakit, mana nona ini mau memperlihatkan perhatiannya kepdamu. Maka kalau engkau sakit lebih lama lagi beberapa hari, tentu aku dapat makan enak lebih lama dan kaupun akan mendapat pelyanan lembut, kita jadi sama-sama gembira, kenapa tidak mau?"

Dia mencerocos terus hingga ludahnya berhamburan, namun setiap katanya memang tepat.

Manjing menunduk malu, meski seperti orang sinting, namun ucapan kakek itu memang kena di hatinya.

Dengan tersenyum Lamkiong Peng berkata.

"Jika Lotiang ingin makan minum. Setelah kusehat nanti tentu akan kutraktir."

"Haha, bagus,"

Seru si kakek. Tapi dengan serius ia menambahkan.

"Tapi biarpun kalian telah traktir makan padaku, tidak perlu kuterima kasih padamu. Kutahu, sebabnya kalian memperbolehkan aku berada bersama kalian adalah demi kcuntungan kalian, tapi aku.....haha, boleh juga kugunakan kesempatan baik ini untuk makan minum sepuasnya."

Kata-kata ini kembali kena di hati Lamkiong Peng dan Yap manjing.

"Tapi kalau Lotiang ada keperluan lain, dapat juga kubantu........."

"Hah, memangnya kaukira aku suka menerima sedekah orang?"

Jawab si kakek dengan kereng.

"Umpama pakaian Lotiang, dapat kubelikan beberapa potong baju........."

"Eh selamanya kita tidak bermusuhan, kenapa sengaja kau bikin sudah padaku?"

Cepat si kakek menjawab. Lamkiong Peng jadi melenggong.

"Bikin susah padamu?"

"Coba kau lihat,"

Si kakek berdiri dan menuding bajunya yang serupa karung itu.

"betapa enak bajuku ini, sama sekali tidak perlu kurisaukan kemungkinan akan robek........."

Lalu ia menuding kepala sendiri yang botak.

"Dan ini kau tahu, demi untuk membuat botak kepalaku ini betapa jerih payahku selama ini. Sekarang aku tidak perlu sibuk merawat rambut, juga tidak perlu keluarkan duit untuk memotong, inilah cara yang paling baik untuk hidup hemat. Tapi sekarang kau mau memberi pakaian baru kepadaku, jika kukenakan baju pemberianmu, tentu setiap saat kuperlu memikirkan baju baru, itu berarti membuang waktu dan mengurangi kesempatan untuk mencari duit. Bukankah semua itu hanya membikin susah padaku?"

Lamkiong Peng dan Yap manjing saling pandang sekejap, logika si kakek botak ini sungguh luar biasa, tapi juga membuat mereka sukar membantah.

Si kakek lantas mendengus dan duduk kembali, sembari makan ia menggerutu pula.

"Maka bila kalian ingin kuiringi kalian, selanjutnya jangan bicara lagi tentang hal-hal ini. Hm, jika tidak mengingat kcuntungan yang akan kuraih, bisa jadi sudah sejak tadi kutinggal pergi."

Yap manjing mendengus dan melengos ke arah lain. Sedangkan Lamkiong Peng hanya menghela nafas menyesal, katanya.

"Masa urusan duit bagi lotiang sedemikian pentingnya?"

Kakek botak juga menghela nafas.

"Ai, rasanya sukar bagiku untuk menjelaskan kepada putra hartawan seperti dirimu ini akan betapa pentingnya duit. Tapi bilamana engkau sekali tempo menghadapi kesulitan, tanpa penjelasanku baru kau tahu pentingnya duit."

Tiba-tiba timbul juga perasaan hampa dalam hati Lamkiong Peng, pikirnya.

"Semoga aku juga dapat mencicipi rasanya miskin, tapi alangkah sulitnya untuk membuat aku miskin."

Ia tertawa ejek terhadap diri sendiri.

"Setiap kataku cukup beralasan, memangnya apa yang kau tertawakan?"

Oemel si kakaek.

"Yang kutertawai adalah karena sejauh ini belum lagi kuketahui nama Lotiang,"

Jawab Lamkiong Peng.

"Ah, apa artinya nama?"

Ujar si kakek.

"Cukup kausebut diriku Ci TI saja."

"Ci Ti (gila uang)?"

Lamkiong Peng menegas dengan heran.

"Tapi yang kutertawai bukan soal ini, lotiang......."

"Siapa pun tidak berhak mengurus jalan pikiran orang lain,"

Kata si kakek.

"Apa yang kau pikirkan tentu juga tidak ada sangkut paut dengan ku. Bagiku, asalkan tingkah laku dan tutur kata orang cuckup baik terhadapku, biarpun dalam hati dia benci kepadaku juga masa bodoh. Apabila setiap hari selalu kupikirkan apa yang dipiikir orang lain terhadapku, bisa jadi aku akan berubah linglung atau sinting."

Ucapan ini serupa cambuk yang memecut lubuk hati Lamkiong Peng.

Ia tertunduk dan melamun hingga lama.

Dalam pada itu si kakek botak alias Ci Ti sudah kenyang makan, ia mengulet kemalasan dan memandang Yap manjing sekejap, lalu berucap hambar.

"Nona cilik, kuberi nasehat padamu, janganlah suka mengusut pikiran orang lain, dengan begitu tentu engkau akan jauh dari kekesalan."

Manjing juga sedang termenung, ketika ia angkat kepala, dilihatnya si kakek telah melangkah ke halaman dalam.

Tiba-tiba dari luar masuk belasan lelaki berbaju ringkas dan bersenjata golok, seorang lelaki kekar lain dengan punggung menyandang sehelai panji wama merah, memanggul sebuah peti kayu masuk ke halaman sana.

Langkah beberapa orang itu tampak gesit dan cekatan, sorot mata orang terakhir itu pun bercahaya tajam, ia melirik sekejap kepada si kakek botak, masuk ke pintu bulat yang membatasi halaman itu.

Sinar mata si kakek mendadak mencorong terang, dengan tersenyum ia bergumam.

"Angkipiaukok (perusahaan pengawalan panji merah)........"

Lalu ia menguap dan berkata pula.

"Ai, makan banyak, suka kantuk, lebih baik tidur saja."

Ia masuk ke kamarnya dan menutup pintu.

Setelah termenung sekian lama, akhirnya Lamkiong Peng juga berbangkit dan masuk ke kamar.

Manjiing merasa kesepian, dipandangnya pintu kamar Lamkiong Peng dan memandang pintu kamar si kakek, ia menghela nafas, lalu ia melangkah pelahan ke halaman.

Suasana sunyi, cahaya lampu sudah padam.

Entah berapa lama Manjing berdiri di halaman, dari kejauhan terdengar suara kentongan menandakan sudah lewat tengah malam.

Selagi perasaannya diliputi rasa kekosongan, tiba-tiba dari balik wuwungan rumah ada orang tertawa pelahan, seorang mendesis.

"Untuk apa berdiri termenung di tengah malam?"

Manjing terkejut.

"Siapa?!"

Bentaknya dengan suara tertahan sambil melompat ke atas rumah. Dilihatnya sesosok bayangan secepat terbang melayang ke kegelapan sana, sungguh sangat mengejutkan kecepatan orang.

"Berhenti!"

Bentak pula Manjing sembari memburu ke sana.

Akan tetapi meski ginkangnya juga sangat tinggi, ternyata tetap tidak dapat menyusul orang, ia terus memburu dan mencari di sekitar situ, namun bayangan orang sudah menghilang.

Lamkiong Peng lagi duduk terpekur di atas tempat tidur, ia berusaha menenangkan pikiran, tapi rasanya kusut dan sukar diatasi.

Ia tidak tahu Yap manjing melamun di halaman dan juga tidak tahu nona itu melompat keluar untuk memburu seorang.

Entah sudah berapa lama, ketika pikiran Lamkiong Peng melayang-layang tak menentu, tiba-tiba di dengarnya suara seperti daun jatuh diluar jendela, cepat ia melompat bangun dan membuka daun jendela.

Di tengah keremangan malam dilihatnya Yap manjing berdiri di luar dengan rambut kusut.

"Engkau belum tidur?"

Tanya Manjing dengan pandangan sayu. Lamkiong Peng menggeleng, tanyanya.

"Apakah nona Yap melihat sesuatu?"

"Baru saja kulihat seorang Ya-heng-jin (orang pejalan malam), telah kususul dia tapi tidak dapat menemukannya,"

Tutur si nona.

"Sungguh hebat orang itu, dengan ginkang nona saja tidak sanggup menyusulnya,"

Kata Lamkiong Peng dengan terkesiap. Muka Manjing menjadi merah, ucapnya.

"ya, tak terduga di tempat ini juga terdapat tokoh selihai ini. Anehnya kedatangan orang seperti tidak bermaksud baik, tapi juga tidak bemiat jahat. Sungguh sukar dimengerti dia kawan atau lawan dan apa maksud kedatangannya?"

"Mungkin dia memang tidak bermaksud jahat, kalau tidak, kenapa dia tidak berbuat sesuatu?"

Ujar Lamkiong Peng.

Walaupun di mulut dia bicara demikian, tapi dalam hati ia menyesal juga.

Ia tahu banyak orang kangouw sekarang memusuhinya.

Hanya karena membela Bwe kiam soat sehingga mendatangkan banyak persoalan ruwet ini.

Ia sendiri tidak sanggup memberikan penjelasan mengapa dia bertindak demikian.

"Fajar hampir tiba, silahkan nona masuk saja ke dalam,"

Kata Lamkiong Peng kemudian.

Mereka tidak tidur lagi melainkan menuju ke ruangan tengah, keduanya duduk berhadapan, seketika tidak tahu apa yang perlu dibicarakan.

Terdegar suara ayam berkokok di kejauhan, ufuk timur sudah mulai remang-remang dan membangkitkan berbagai berisik di dunia ini.

Mandadak si kakek botak alias Ci Ti yang gila uang itu melongok keluar pintu kamar, dengan matanya yang masih sepat ia menegur.

"Eh, kalian sungguh iseng, ternyata mengobrol sepanjang malam, haha, dasar orang muda!"

Tiba-tiba seorang muncul pula dari balik pintu sana dengan mata yang masih belekan, kiranya si pelayan, dengan tertawa ia menyapa.

"Selamat pagi!"

Buru-buru ia mengambilkan air teh, lalu berkata,"

Maaf rekening tuan tamu........"

Mendengar urusan rekening hotel, si kakek botak segera menghilang lagi di balik pintu kamarnya. Lamkiong Peng tersenyum, katanya.

"Tidak menjadi soal, boleh hitung saja seluruhnya."

Dengan tertawa cerah si pelayan menjawab.

"Sebenarnya juga tidak banyak, Cuma tuan besar itu makan minum terlalu banyak, maka seluruhnya menjadi 93 tail lebih........"

Jumlah ini sebenarnya tidak sedikit, tapi bagi pandangan Lamkiong Peng tentu saja tidak berarti.

Tapi segera teringat olehnya di atas tubuh sendiri sekarang tidak membawa sepeser pun, cara bagaimana akan mampu membayar rekening hotel dan makan minum sebanyak itu.

Terpaksa ia berpaling dan berkata dengan tertawa kepada Manjing.

"Dapatkah nona Yap membayarkan dahulu?"

Tapi Yap manjing lantas tersenyum, jawabnya.

"Selamanya aku jarang membawa uang."

Baru sekarang Lamkiong Peng melenggong, dilihatnya mata si pelayan menatapnya dengan rasa sangsi.

Terpkir pula oleh Lamkiong Peng bahwa dirinya sekarang sudah tidak membawa lagi sesuatu benda berharga, terpaksa ia berkata kepda pelayan.

"Coba ambilkan alat tulis, biar kubikin secarik surat dan segera dapat kau pergi ambil uang."

Meski dengan ogah-ogahan, terpaksa si pelayan ,mengiakan. Selagi dia hendak melangkah pergi. Sekonyongkonyong pintu si kakek botak terbuka lagi, kelihatan dia melongok keluar sambil berkata.

"Jangan kuatir, pelayan, memangnya kau tahu siapa kongeuya ini? Jangankan Cuma sekian puluh tail perak, biarpun sekian ribu laksa tail, cukup dengan secarik bon saja, kongeuya ini dapat menarik dengan kontan."

Dengan sendirinya si pelayan kurang percaya, ia melirik Lamkiong Peng dengan sangsi. Si kakek botak alias Ci ti atau gila uang itu terbahak, serunya.

"Supaya kau tahu, biar kujelaskan, dia tak lain tak bukan ialah Lamkiong kongeu keluarga hartawan Lamkiong dari kanglam!"

Seketika air muka si pelayan berubah. Diam-diam Lamkiong Peng menggeleng kepala, pkirnya.

"Ai, dasar manusia rendah, asal mendengar nama......."

Tak terduga, mendadak si pelayan bergelak tertawa, habis itu ia lantas menarik muka dan menjengek.

"Hm, meski banyak juga kulihat orang yang menipu makan minum, tapi tidak pemah kulihat perbuatan sebusuk dan sebodoh seperti ini, masa....."

"kau bilang apa?"

Bentak Manjing dengan mendelik. Si pelayan menyurut mundur setindak, tapi lantas menjengek pula.

"hm, masa tidak kalian ketahui bahwa berpuluh kota di sekitar daerah ini, dimana terdapat cabang perusahaan keluarga Lamkiong, hanya dalam waktu beberapa hari terakhir ini seluruhnya telah dipindah tangankan kepada orang lain. Segenap bekas pegawai perusahaan Lamkiong itu sudah dibubarkan dan telah mencari jalan hidup sendiri-sendiri, tapi ternyata ada orang berani lagi mengaku sebagai Lamkiong kongeu yang maha kaya raya itu, hmk, hmk.........."

Begitulah pelayan itu mengakhiri ucapannya sambil mendengus berulang dengan tangan bertolak pingggang dan mata mendelik.

Dengan sendirinya keterangann ini membuat Lamkiong Peng melenggak, Yap manjing juga merasa bingung.

Perubahan yang mengejutkan ini sungguh luar biasa, sukar untuk dipercaya hal ini bisa terjadi mendadak begitu, masakah keluarga Lamkiong yang maha kaya raya itu, sampai menjualkan berpuluh cabang perusahaannya dengan tergesagesa begitu dan mengapa bisa terjadi pula dalam waktu sesingkat itu?

Sungguuh sukar diduga mengapa sungai yang membeku itu dapat cair dalam sekejap?

Uacapan si pelayan tadi juga di dengar oleh si kakek botak yang berdiri di samping pintu, ia pun melongo heran.

Mungkin baru pertama kali ini selama hidup Lamkiong Peng mengalamai kekikukkan seperti sekarang.

Selagi merasa bingung cara bagaimana menghadapi sikap si pelayan yang tidak sungkan itu, sekonyong-konyong dari halaman dalam berkumandang suara ribut-ribut.

"Wah....celaka!........celaka!........."

Demikian terdengar teriakan ramai orang banyak.

Pelayan tadi terkejut, cepat ia berlari ke sana dan lupa mengurus Lamkiong Peng lagi.

Mendadak Lamkiong Peng teringat kepada keluhan singkat yang didengarnya serta bayangan yang dikejar Yap manjing itu.

"Jangan-jangan terjadi sesuatu pembunuhan di halaman sebelah semalam? Demikian timbul rasa curiganya. Karena ingatan itu, serentak ia pun, melangkah ke halaman sana disusul oleh Yap manjing. Dalam demikian mereka tidak memperlihatkan lagi terhadap gerak-gerik si kakek botak. Di halaman sebelah sudah berkerumun orang banyak, ada orang berteriak kaget dan berlari masuk keluar.

"Sungguh aneh, mengapa semalam tidak terdengar sesuatu suara apapun?"

Demikian ada orang berkata. Segera ada yang menanggapi.

"Anehnya hal ini bisa terjadi atas orang Angki-piaukiok yang termashur, entah orang lihai macam apa sehingga berani merecoki panji merah yang disegani itu?"

Suara ribut dan komentar oarng yang yang kaget itu membuat hati Lamkiong Peng tidak tentram karena belum tahu duduknya perkara.

Sesudah dekat, dilihatnya di pintu bulat yang membatasi halaman ini terpancang panji merah yang berkibar tertiup angin.

Semula disangkanya panji ini adalah panji pengenal Angki-piaukiok, tapi setelah di perhatikan, kiranya merah panji ini karena lumuran darah, di tengah wama merah darah itu bersemu biru-hitam, sehingga membuat orang merasa ngeri.

Ia masuk ke halaman situ, suasana dalam hiruk-pikuk, tapi ruangan kamar sana sunyi senyap.

Seorang lelaki berbaju panjang, tampaknya seperti kasir atau kuasa hotel berdiri di luar pintu kamar yang tertutup rapat.

Waktu Lamkiong Peng mendekat, segera lelaki itu mengadangnya dengan membentangkan tangan dan berucap.

"Tempat ini dilarang..."

Belum lanjut ucapannya, sekali dorong Lamkiong Peng membuatnya sempoyongan dan hampir jatuh terjengkang.

Meski Lamkiong Peng baru smebuh dari sakitnya, namun tenaganya tentu lain dari pada orang bisa, apalgi dalam keadaan mendongkol, tentu saja cukup kuat untuk membuta orang itu jatuh.

Waktu ia menolak daun pintu, begitu terbuka, seketika detak jantungnya hampir berhenti demi mengetahui apa yang terjadi dalam kamar.

Cahaya sang surya pagi menembus masuk melalui celah jendela yang tertutup rapat sehingga remang-remang di lanati kamar kelihatan bergelimpangan belasan mayat.

Segera dikenali Lamkiong Peng sebagai kawanan lelaki berbaju hitam yang berdandan ringkas kekar itu, sekarang semuanya sudah menggeletak tak bernyawa.

Kematin kawanan ellaki kekar ini ternyata tidak serrupa.

Seorang yang brewok dengan mata melotot mencengkram kusen jendela sehingga jari pun amblas ke dalam kayu, ia mati dengan setengah bersandar di dinding.

Pada dadanya yang bidang tertancap miring sehelai panji merah, tangkai panji yang terbuat dari besi itu hampir ambles seluruhnya ke dalam dada, darah pun membasahi bajuanya yang hitam.

Seorang lagi yang beralis tebal dan bermulut besar rebah terlentang dengan wajah beringas penuh rasa ngeri, tangannya menggenggam cawan arak yang sudah pecah, daanya juga tertancap panji merah.

Dan begitulah beberapa kawannya yang lain, ada yang mati duduk di kursi, ada yang binasa bersandar di kaki meja, ada yang bajunya tidak rapi, bahkan ada yang telanjang kaki, tampaknya ia ngin lari, tapi belum sempat keluar sudah roboh binasa.

Cara kematian orang-orang iu tidak sama.

Tapi yang membuat mati mereka ternyata sama yaitu dada tertancap oleh panji merah pengenal yang mereka bawa sendiri, sekali serang membuat mereka binasa.

Dari sikap orang-orang yang mati ini agaknya belum lagi sempat mereka melolos senjata dan balas menyerang, tahu-tahu mereka sudah terbunuh.

Pelahan Lamkiong Peng memandangi mayat itu satu-persatu, aliran darah sendiri serasa mau beku.

Lamkiong Peng Mengenali kawanan lelaki barbaju hitam ini adalah anak buah Suma Tiongthian dari Angki-piaukiok.

Padahal para jago pengawal dari panji merah ini biasanya terkenal berkungfu tinggi dan disegani, namun sekarang belasan jago pengawal ini sama tergeletak menjadi mayat di hotel kecil ini, kematiannya juga tampak mengerikan, sungguh kejadian yang sukar dibayangkan.

Siapakah yang berani merecoki Angki-piaukiok pimpinan Suma Tiong-thian yang terkenal dengan julukan "Ang-ki-thi-cian-cin-tiongeu" (panji merah dan tombak baja menggetarkan daratan tengah) itu?

Siapa pula yang mempunyai kependaian setinggi ini, tanpa bergebrak dapat membinasakan jago sebanyak ini?

Setelah menenangkan diri, Lamkiong Peng Coba masuk ke dalam kamar, dilihatnya di belakang kelambu juga menggeletak sesosok mayat, agaknya orang ini ingin lari atau bersembunyi, tapi akhirnya terpantek mati juga.

Orang ini juga mati terpantek oleh gagang bendera pada dadanya.

Lamkiong Peng berjongkok dan mengangkat mayat itu, mendadak hatinya tergetar, dirasakannya tubuh orang masih hangat, ia coba mengurut hiat-to orang, ternyata hiat-tonya tidak tertutuk, juga tidak ada tanda keracunan, sungguh sukar dimengerti mengapa orang ini mandah terbunuh begitu saja tanpa balas menyerang, apakah lawannya begitu lihai sehingga satu gebrak pun tidak mampu menangkis?

Selagi Lamkiong Peng merasa sangsi dan ngeri, tiba-tiba mayat yang dipegangnya bergetar sedikit, tentu saja Lamkiong Peng sangat girang, pelahan ia bertanya,"Kuatkan dirimu, kawan!"

Orang itu membuka matanya sedikit, ucapnya dengan lemah,"Sia......siapa kau?"

"Aku Lamkiong Peng, sahabat perusahaan piaukiok kalian, siapa yang mencelakai kalian, harap katakan........."

Belum lanjut ucapan Lamkiong Peng segera muka orang itu berkerut dan bergumam lemah,"

Lamkiong Peng.......Lamkiong........habis.......ha........"

"Habis apa maksudmu?"

Seru Lamkiong Peng terkejut, dilihatnya pandangan orang menatap ujung rumah dengan kaku, belum sempat "bis"

Terucpakan, kepala lantas miring ke samping dan tak dapat bicara lagi untuk selamanya.

Lamkiong Peng menghela nafas, ia coba menoleh ke arah sana, dilihatnya ujung rumah sana kosong tanpa sesuatu benda, waktu ia mengawasi lebih lanjut baru dirasakan tempat itu sebelumnya pemah dibuat menaruh barang sebangsa peti dan sebagainya, tapi sekarang sudah hilang.

"Perampokan!"

Demikian kesimpulan yang dapat ditarik Lamkiong Peng bila melihat keadaan ini, namun peristiwa ini cukup misterius dan mengerikan.

Lamkiong Peng tidak tahu ucapan orang tadi, apakah mungkin urusan ini ada hubungannya dengan keluarga Lamkiong?

Waktu ia berpaling, dilihatnya Yap manjing juga sudah berdiri di belakangnya dan tampak sedang termenung.

"Lamkiong........... habis.........."

Demikian Manjing bergumam, mendadak ia tanya Lamkiong Peng.

"Apakah Angki piaukiok sering mengantar harta benda lagi keluargamu?"

"ya,"

Jawab Lamkiong Peng sambil mengangguk.

"Jika begitu, barang kawalan mereka sekali ini mungkin juga harta milik keluarga Lamkiong kalian, sebab itulah tadi dia menyebut nama keluargamu dan merasa malu untuk menjelaskannya."

Lamkiong Peng berpikir sejenak, akhirnya menghela nafas panjang.

"Apa yang kau sesalkan?"

Tanya Manjing.

"Meski sedikit harta benda keluarga Lamkiong Peng kalian dirampok, jumlah sekian tentu juga tidak artinya bagi kekayaan keluargamu."

"Mana aku menyesal?"

Ujar Lamkiong Peng.

"Aku hanya merasa bodoh karena memikirkan urusan yang yang cukup jelas ini dengan ruwet."

Pada saat itulah mendadak di luar bergema suara anjing yang menyalak, suaranya galak dan berbeda denagn anjing biasa.

Menuyusul cahaya emas berkelebat, seekor anjing berbulu kuning emas mulus dengan tubuh panjang serupa busur, mata mencorong terang, kuping kecil, kuping kecil dan moncong panjang, sekilas pandang serupa seekor kuda kecil, dengan langkah cepat anjing emas itu lari ke dalam kamar.

Anjing galak ini bukan Cuma suara menyalaknya saja, gerak-geriknya juga tidak sama dengan anjing umumnya.

Pada lehernya penuh dihiasi mutiara dan rantai emas, hidungnya mengendus-endus ke sana -sini, sikapnya buas.

Seorang berbaju hitam dengan mata elang dan hidung betet, tangan memegang rantai emas yang mengalung di leher anjing kuning itu ikut masuk ke dalam kamar, mungkin orang itu adalah pawang anjing kuning emas itu.

Diluar terdengar suara ribut orang banyak, ada yang sedang bicara.

"Tak tersangka detektif ulung dari saiho "Kim-sian-loh" (budak si dewa emas) hari ini bisa berada di Sunyang. Dengan kehadirannya, peristiwa perampokan yang terjadi ini pasti akan terbongkar dengan segera."

Dalam pada itu si baju hitam alias Kim sian-loh memandang Lamkiong Peng dan Yap Manjing sekejap dengan kening bekerut lalu ia menoleh dan bertanya,"Juragan Lim, sebelum kutiba, kenapa kauperbolehkan sembarangan orang masuk ke sini?"

Juragan hotel yang berdiri di luar tampak gugup, jawabnya takut,"O, ini....ini........."

Kim sian-loh mendengus kurang senang.

Melihat anjing kuning emas itu sangat menarik, sungguh Yap manjing ingin mengelusnya, siapa tahu belum lagi tangannya menyentuh, mendadak anjing itu menggerang dengan bulu emas menegak.

"Lekas mundur, anak perempuan, apakah kau ingin mampus?!"

Seru si baju hitam alias Kim sianloh.

Alis Manjing menegak, segera ia hendak mengumbar rasa gemasnya, tapi Lamkiong Peng lantas menarik lengan bajunya sehingga makian yang hampir dilontarkan ditelannya kembali.

Dilihatnya Kim sian-loh lagi berjongkok dan mengelus punggung anjingnya sambil berkata,"Jangan marah, mereka tidak berani menyentuhmu lagi!"

Sikapnya itu serupa budak terhadap tuannya. Segera orang itu berdiri dan membentak.

"Siapa kalian? Untuk apa lagi berdiri di sini?"

"Aku mau berdiri di sini, peduli apa dengan kau?"

Jawab Manjing dengan ketus "Hm, sungguh anak perempuan yang tidak tahu diri,"

Jenegk Kim sian-loh.

"Apakah kau tahu siapa aku? Berani kau ganggu tugasku?"

"Huh, memangnya kau kira aku tidak tahu siapa dirimu? Paling-paling kau Cuma budak seekor anjing saja,"

Ejek Manjing.

Ia bicara lantang tanpa tedeng aling-aling, setiap orang yang berada diluar kamar sama mendengar, keruan semua orang sama berkuatir baginya.

Kiranya anjing bebrbulu kuning emas itu diberi nama "kim-sian"

Atau dewa emas, seekor anjing yang sangat cekatan dan juga sangat galak, jago persilatan umumnya sukar menahan tubrukannya yang kuat.

Yang paling hebat adalah daya ciumnya, segala perkara pembunuhan asalkan anjing ini dibawa ke tempat kejadian tepat pada waktunya, dengan sedikit bau yang tertinggal di situ anjing ini sanggup mengusut dan mengejar ke mana larinya atau tempat sembunyi penjahat.

Sudah sekian tahun entah banyak perkara yang telah dibongkar berkat ketajaman indra penciuman aning berbulu emas ini.

Pemilik anjing yang berbaju hitam itu juga ikut terkenal karena anjingnya sehingga diberi julukan kim sian loh atau budak dewa dan jadilah dia detektif terkenal di beberapa propinsi daerah utara.

Meski dia jaya berkat anjingnya, bahkan mengaku kim sian loh, tapi dia justru pantang orang menyinggung hal ini.

Sekarang tanpa tedeng aling-aling Yap manjing mengejek boroknya itu, seketika ia naik darah, segera ia berteriak.

"Mana orangnya, tangkap perempuan kurang ajar ini."

Manjing mendengus.

"Hm, seharusnya anjing budak manusia, tapi ada manusia justru mau menjadi budak anjing.........Hmk!"

Dengan sikap menentang ia tatap empat petugas yang membawa borgol yang menerjang masuk itu sambil membentak,"Jika kalian berani maju lagi selangkah, segera akan kubinasakan!"

Kim sian loh menjadi gusar, diam-diam ia mengendurkan rantai yang dipegangnya dan mendengus.

"Apa betul begitu lihai kau?"

Cepat Lamkiong Peng mengadang di depan manjing dan berkata.

"Nanti dulu!"

Melihat pemuda yang mengadang di depan ini meski bermuka agak kurus, namun sikapnya gagah dan anggun, tanpa terasa Kim sian loh menyurut mundur.

Semula dia bermaksud melepaskan anjingnya, tapi sekarang dia tidak berani semabrang bertindak lagi, bentaknya.

"Siapa kau? Apakah kau pun........."

Lamkiong Peng tersenyum dan memotong.

"Sudah lama kudengar anda seorang detektif ulung, masa orang baik atau jahat juga tidak dapat kau bedakan?"

"Kalian sembarangan berada di tempat pembunuhan dan pencurian, dapatkah kalian terhindar dari prasangka?"

Ujar kim sian loh.

"Jika begitu, jadi Kim pohtau menganggap kami ikut tersangkut dalam perkara ini? Memangnya kami berdiam di sini untuk menunggu ditangkap oleh Kim pohtau?"

Jawab Lamkiong Peng. Kim sian loh mendengus.

"Saat ini belum dapat dipastikan, tapi sebentar lagi segala suatunya tentu akan ketahuan dengan jelas."

Segera ia mengendurkan pegangannya dan menepuk anjingnya, katanya "Kim-loji bikin repot padamu lagi."

Begitu rantai dilepaskan, segera anjing si dewa emas melompat ke depan, hanya sekejap saja dia telah mengitari empat ruangan, lalu menyalak tiga kali dan melompat lagi kebawah kaki Lamkiong Peng dan Yap manjing sambil mengendus beberapa kali, habis itu mendadak melompat pergi lagi Kembali ia mengitari beberapa kali ruangan itu dengan cepat, kemudian berlari menyusur kaki dinding, makin lari makin lambat.

Semula Kim sian loh merasa bangga dan penuh keyakinan akan kemampuan anjingnya tapi ketika anjingnya mengitari ruangan untuk kedua kalinya, tertampaklah rasa gelisah dan herannya.

Setiap kali anjing itu mengitar lagi satu kali, rasa heran dan cemasnya juga bertambah, sampai butiran keringat pun menghiasi dahinya.

Tanpa terasa ia pun ikut mengitari rumah sambil bergumam,"He, masa belum kautemukan sesuatu, Loji.......masa tidak............."

Manjing tertawa dingin dengan sikap mengejek.

Mendadak terlihat anjing malangkah keluar, serentak perhatian semua orang yang berdiri di luar pintu terpusat kepada anjing dan memberi jalan padanya.

Kim sian loh menghela nafas lega, ia yakin anjingnya telah menemukan petunjuk baru, ia melirik Lamkiong Peng dan Yap manjing, katanya.

"Awasi mereka berdua, jangan sampai kabur."

Lalu ia mengikuti anjing itu keluar.

"Jika benar dia dsapat menemukan pembunuhnya, aku justru sangat berterima kasih padanya,"

Ucap Lamkiong Peng pelahan.

"Mari kita ikut ke sana,"

Ajak Manjing.

"Mau kemana?"

Bentak empat opas yang memegang rantai sambil mengadang dengan borgolnya.

Tapi sekali tangan Manjing bekerja, terdengarlah suara gemerantang yang nyaring, borgol dan pentungan yang dipegang keempat opas itu sama jatuh ke lantai.

Keruan beberapa opas itu terperanjat, belum pemah mereka melihat kungfu selihai ini, mereka sama melenggong dan menyaksikan Manjing berdua melangkah keluar dan tidak mencegahnya lagi.

Sementara itu anjing emas kim sian sudah sampai di halaman, sesuda mengitar sebentar mendadak ia melompat melintasi pagar tembok, tanpa ayal Kim sian loh ikut melintasi pagar tembok itu, dilihatnya anjingnya sedang menyalak ke kamar yang terletak di halaman itu.

Sikap Kim sian loh menjadi tegang, segera ia membentak.

"Siapa yang tinggal di sini?"

Orang banyak pun sudah membanjir ke dalam halaman, mendengar bentakannya, semua orang sama memandang ke belakang, tertampak Lamkiong Peng dan Manjing sedang mendatangi menyongsong tatapan berpuluh pasang mata.

"Jadi kalian berdua yang tinggal disini? ?"

Bentak kim sian loh pula.

"Mau apa jika kami tinggal di sini ?"

Jawab Manjing ketus.

"Jika begitu, jadi kalian ini penjahat yang merampok dan juga pembunuhnya,"

Teriak kim sian loh. Suasana menjadi panik seketika, pemilik hotel lantas menyingkir dengan ketakutan, semua orang sama menjauhi Manjing berdua.

"Kau harus bertanggung jawab atas ucapanmu,"

Jengek Lamkiong Peng.

"Selama belasan tahun entah berapa banyak yang telah kuringkus dan tidak ada satu pun yang keliru tangkap, maka lebih baik kalian menyerah saja."

Lamkiong Peng melirik sekejap anjing yang sedang menggonggong itu, tiba-tiba teringat olehnya si kakek yang gila uang yang misterius dan tamak harta itu, tanpa terasa berubah air mukanya, ia memburu maju dan mendorong pintu kamar, ternyata kamar sudah kosong, mana ada bayangan si kakek.

Kim sian loh terbahak-bahak,"Haha, meski begundalmu sudah minggat, asal kubekuk kalian mustahil jejak begundalmu takkan ketahuan."

Segera ia mengeluarkan senjata tombak berantai yang melilit di pinggangnya, sekali menyendal, tombak berantai menegeluarkan suara gemerincing, pelahan ia mendekati Lamkiong Peng berdua dan membentak,"Ayolah, lekas kalian menyerah saja untuk dibekuk."

Para penonton sama menyingkir ketakutan, si pemilih hotel bahkan sudah kabur. Dengan kening berkerut Lamkiong Peng berkata.

"Sebelum terang duduk perkaranya masakah kau.........."

"Dengan hidung Kim sian, mustahil urusan bisa salah?"

Kata kim sian loh.

Begitu tombak berantai bergerak, kontan ia sabet kepala Lamkiong Peng.

Kuatir anak muda yang baru sembuh dari sakitnya itu belum kuat, cepat Manjing memburu maju dengan membentak.

Tak terduga dari belakang lantas terdengar angin menyambar tiba, rupanya si anjing bulu emas yang sejak tadi hanya menyalak saja kini telah menubruk ke arahnya dengan buas.

Anjing ini memang bertubuh tinggi besar, setelah berdiri menegak dengan taring menyeringai, segera leher Manjing hendak digigit.

Keruan semua omang menjerit kuatir, tampaknya dalam sekejap anak perempuan yang cantik molek ini akan menjadi mangsa anjing buas.

Namun Manjing semapat mengegos, dengan gesit ia menggeser ke samping.

Tak terduga anjing itu memang sangat tangkas, sekali luput menubruk, segera ia membalik dan menerkam pula.

Manjing terkejut, diam-diam ia mengakui kelihaian anjing yang tidak kalah dibandingkan jago silat biasa ini.

Dia memenag tidak ingin melukai anjing itu, sekarang ia tambah sayang kepada binatang cerdik ini.

Hanya sebelah tangannya menabas dan tepat mengenai kuduk anjing itu sambil berseru kepada Lamkiong Peng,"Lekas kau mundur saja!"

Dilihatnya Lamkiong Peng cukup tangkas menghadapi tombak berantai Kim sian loh meski kesehatannya belum puilih seluruhnya.

Dengan gerakan yang lincah ia menghindar kian kemari sehingga tombak lawan sukar menyentuhnya.

Semua orang tercengang melihat ketangkasan kedua muda mudi ini, tampaknya mereka memang benar penjahat yang merampok dan membunuh ini, kalau tidak masakah menguasai kungfu setinggi ini.

Tapi ketika untuk kedua kalinya Kiam sian hendak menerkam Yap manjing lagi, tanpa terasa mereka menjerit kuatir pula.

"binatang!"

Bentak Manjing sambil menabas, namun anjing itu tidak kurang gesitmya, ia sempat menghindar dan mendekam di tanah dan siap menubruk maju lagi.

Pada saat itulah terdengar suara gemuruh dari luar berlari masuk lagi berpuluh petugas bersenjata.

Bekernyit kening Lamkiong Peng, dihindarkannya sekali serangan Kim sian loh, lalu bentaknya.

"jika engkau tidak segera berhenti bikin jelas dulu persoalannya, jangan menyesal bila aku........."

Belum habis ucapannya mendadak seorang membentak.

"Berhenti semua!"

Menggelegar suara bentakannya, menyusul angin tajam lantas menyambar dari uadara, sebatang tombak dengan ujung terikat sehelai panji merah meluncur tiba dan "crat", tombak menancap di halaman.

Kim sian loh tekejut dan melompat mundur dari kalangan.

Terdengarlah suara seorang tua sedang menegur dari jauh.

"Kim-pohtau, apakah penjahatnya sudah kau temukan?"

Begitu lenyap suaranya, muncul juga seorang kakek berambut ubanan dan berpakaian perlente, dahi lebar dan mulut besar.

"Hah, suma-lopiauthau datang, urusan menjadi mudah diselesaikan."

Seru kim sian loh girang. Berbareng ia menuding Lamkiong Peng berdua.

"Penjahatnya berada di sini."

"Kau bilang dia penjahatnya?"

Tanya si kakek dengan dahi bekernyit, jelas dia kurang senang.

"Betul, selain keduua muda mudi ini adalagi begundalnya........"

"Tutup mulut!"

Bentak si kakek sebelum Kim sian loh berucap lebih lanjut. Kim sian loh tercengang dan menyurut mundur. Sebaliknya si kakek lantas menyongsong ke depan Lamkiong Peng, sapanya dengan menyesal.

"Ku datang terlambat sehingga Hiantit (keponakan baik) mendapat perlakuan tidak pantas, harap dimaafkan."

Lamkiong Peng tertawa sambil memberi hormat, jawabnya.

"Tak tersangka hari ini paman pun datang kemari."

Si kakek alias suma tiong-thian menarik tangan Lamkiong Peng dan berkata kepada Kim sian loh.

"Kim pohtau coba kemari."

Dengan bingung kim sian loh mendekati mereka.

"Kau bilang dia ini penjahatnya? Tanya si kakek. Detektif yang biasanyan sangat angkuh ini sekarang menjadi melenggong oleh sikap kakek yang kereng ini, seketika ia tidak dapat menjawab.

"Sungguh aku merasa kuatir caramu memecahkan setiap perkara, bila begini cara kerjamu."

Kata Suma tiong thian. Kim sian loh memandang anjing kesayangannya sekejap, sekarang anjing ini juga tampak jinak setelah berhaapan dengan si kakek perlente.

"Wanpe sebenarnya juga tidak percaya, kenyataannya........."

"Hm, kenyataan apa?"

Jengek si kakek, sebelum lanjut jawaban kim sian loh.

"Memangnya kau tahu siapa dia?"

Ia merandek sejenak, lalu menyambung dengan pandangan tajam.

"Dia tak lain tak bukan adalah putra kesayangan keluarga Lamkiong yang termashur, murid sanjungan Put-si-sin-liong, namanya Lamkiong Peng."

Keterangan ini membuat muka Kin sian loh berubah pucat dan memandang Lamkiong Peng dengan melongo. Lamkiong Peng tersenyum, katanya.

"Sebenarnya urusan ini......."

Belum lanjut ucapnya, sekonyong-konyong selarik sinar hitam menyambart tiba dari kerumunan orang banyak.

Cepat Lamkiong Peng mengegos, si kakek pun membentak dan menghantam, sinar hitam terpental ke samping, berbareng ia terus memburu kesana.

Manjing tidak bersuara, segera ia pun melayang ke tengah kerumunan orang banyak, tempat menyambarnya senajta rahasia.

Hampir bersama saatnya dia dan Suma Tiong-thian tiba di situ.

Anjing si dewa emas juga menguntit di belakang si kakek.

Namun tiada seorang pun yang pantas dicurigai, agaknya penyergap itu sudah menyelinap pergi.

"Apakah Locianpwe ini Thi-cian-ang-ki Suma-Locianpwe?"

Sapa Manjing dengan tersenyum.

"Betul,"

Jawab Suma tiong thian sambil memandang si nona.

"dan nona inikah Khong-jiok Huicu yang termashur itu?"

Manjing hanya menggeleng sambil tersenyum. Pada saat itulah terdengar seorang lelaki berbaju panjang menuding keluar sambil berseru.

"Itu dia sudah pergi!.........sudah pergi!....sudah pergi!........Ai, sungguh keji caranya menyerang.........."

Belum habis ucapannya segera Suma tiong-Thian dan Yap manjing memeburu ke arah yang ditunjuk.

Gemerdep sinar mata lelaki berbaju panjang ini dengan semyuman licik, diam-diam ia hendak menyusup pergi dari kerumunan orang banyak.

Tak terduga mendadak Lamkiong Peng sudah mengadang di depannya sambil menegur.

"Hm, apakah sahabat mau pergi begitu saja?"

Terkejut juga orang itu.

"Selamanya kita tidak kenal dan juga tidak bermusuhan, mengapa kau serang diriku dengan senjata rahasia?"

Tanya pula Lamkiong Peng, pelahan ia memperlihatkan saputangan yang dipegangnya, pada saputangan itu ada sebatang senjata rahasia berbentuk aneh, seperti jarum, tajam kedua ujungnya, dan bercahaya hitam gilap.

"Am-gi (snejata rahasia) sekeji ini, kalau bukan terhadap musuh besar mana boleh digunakannya?"

Kata Lamkiong Peng pula.

"Kau .........kau bilang apa? Aku sama..... sama sekali tidak paham? Ujar orang itu dengan muka pucat. Berbareng itu kedua tangannya terus menyodok ke dada Lamkiong Peng.

"Hm,"

Lamkiong Peng mendengus sambil berkelit.

Orang itu mengannggap lawan cuma seorang pemuda lemah, segera ia mendesak maju dan menghantam lagi.

Tak terduga, belum lagi hantamannya dilontarkan, tahu-tahu kuduk bajunya dicengkram orang dari belakang.

Keruan ia terkejut, sekilas melirik dilihatnya Suma tiong-thian berdiri dibelakangnya dengan muka kereng dan membentak.

"Kaum tikus celurut, berani main gila di depanku!"

Sekali angkat kontan orang itu dilemparkan jauh kesana. Diam-diam Lamkiong Peng menggeleng kepala, pikirnya.

"Sudah lanjut usia orang ini mengapa perangainya masih keras begini."

Bilamana orang ini terbanting mati, kepada siapa lagi akan dikorek keterangan pembunuhan di sini?"

Pada saat itulah mendadak bayangan orang berkelabat lagi, orang yang dilemparkan Suma tiong-thian itu telah dilempar kembali ke sini.

Cepat Suma tiong-thian menangkapnya kembali, waktu ia mengawasi, ternyata Yap manjing telah berdiri di depannya dengan tersenyum.

"Hebat amat ginkang nona. Jangan-jangan murid Tan hong siancu? Kata si kakek. Manjing tersenyum.

"Sungguh tajam pandangan Locianpwe, wanpwe memang murid Tan hong adanya."

"Hahaha, memang sudah kuduga, kecuali anak murid Tan hong siancu, siapa pula yang dapat mendidik murid dengan ginkang setinggi ini,"

Seru Suma tiong-thian dengan tertawa.

"Haha, sungguh menyenangkan, anak muda memang selalu melampaui angkatan tua, inilah kemajuan zaman."

Pelahan ia lemparkan tawanannya ke tanah, dilihatnya muka orang sudah pucat pasi. Lamkiong Peng memburu maju dan menegur.

"Sesungguhnya sebab apa sahabat menyerangku? Siapa yang menyuruhmu? Asalkan mengaku terus terang, tentub takkan kubikin susah padamu."

Orang itu menghela nafas, dipandangnya sekeliling, mendadak sinar matanya menampilkan rasa takut, lalu tutup mulut tanpa berucap sepatah pun. Dengan kikuk Kim sian loh melangkah maju, katanya.

"hamba mempunyai cara untuk membikin dia mengaku terus terang, entah bolehkah kucoba?"

Suma tiong-thian mendengus.

"orang ini pasti tidak ada sangkut paut dengan perkara perampokan ini, hal ini tidak perlu kau ributkan. Betapa bodohnya kaum penjahat di dunia tentu juga tidak mau berdiam di sini setelah berbuat kejahatan. Mengenai urusan lain, hm, kukira tidak perlu Kim pohtau ikut campur, aku sendiri mempunyai cara untuk mengorek keterangannya."

Kim sia loh mengiakan dan mengundurkan diri dengan kikuk. Suma tiong-thian menjengek, mendadak mencengkram tulang lemas pundak orang itu, lalu bertanya dengan suara tertahan.

"Atas suruhan siapa, lekas mengaku!"

Kontan butiran keringat merembes di dahi orang itu, namun dia tetap tutup mulut tanpa bersuara apa pun.

Waktu suma Tiong-thian memperkeras remasannya, tak tertahan lagi orang itu merintih kesakitan, namu tetap tidak mau bicara.

"Aku tidak terluka, jika dia tidak mau mengaku, biarkan saja,"

Ujar Lamkiong Peng.

"Hiantit tidak tahu, keluarga Lamkiong kalian saat ini sedang menghadapi ujian berat bahwa orang ini sengaja menyerang dirimu secara menggelap, jelas pasti ada dalangnya di belakang layar, mana boleh disudahi begini saja?"

"Ujian berat apa?"

Tanya Lamkiong Peng. Suma tiong-thian menghela nafas sedih, tuturnya.

"Urusan ini agak panjang untuk diceritakan, untung Hiantit sudah akan pulang ke rumah........Ai, tiba saatnya tentu engkau akan tahu sendiri."

Lamkiong Peng tambah bingung dan entah terjadi apa dengan keluarganya.

Ia menunduk dan termenung, mendadak dilihatnya kabut tipis mengambang dari permukaan bumi, hanya sekejap saja sudah menyelubungi telapak kaki orang banyak.

Tergerak hatinya, waktu ia menengadah, sang surya terang benderang di langit, cepat ia membentak.

"Lekas mundur, kabut berbisa!"

Segera ia mendahului menyurut keluar. Suma tiong-thian melenggong bingung, tanyanya.

"Ada apa?"

Tanpa terasa remasannya mengendur, kesempatan itu segera digunakan orang itu untuk meronta sekuatnya, lalu berguling ke sana dan menghilang di balik kabut.

Seketika terjadi kekacauan, segera Suma tiongthian mengejar sambil membentak.

"Hendak lari kemana?!"

Cepat Lamkiong Peng berseru pula.

"Lekas pergi dari sini!"

Tanpa pikir Yap manjing menahan pundak Lamkiong Peng terus melompat ke atas wuwungan, waktu memandang ke sana, orang tadi agaknya sudah mencampurkan diri di tengah kerumunan orang banyak.

Janggut panjang Suma Tiong-thian berkibar, ia pun menyelinap kian kemari di tengah orang banyak untuk mencari.

Kim sian loh lantas menarik rantai emas namun anjing yang terantai itu seperti tidak mau tunduk lagi pada perintahnya melainkan terus mengikut di belakang Suma tiong-thian sambil menggonggong pelahan.

"Kau tinggal disini, biar kubantu Suma lociacpwee membekuk kembali orang tadi"

Pesan Manjing kepada Lamkiong Peng.

"tidak perlu lagi,"

Ujar anak muda itu.

"Tentang asal-usul orang itu sudah kuketahui. Yang tak tersangka adalah dalam waktu sehari dua hari saja orang-orang ini sudah dapat memupuk kekuatan seluas ini."

"Orang siapa maksudmu?"

Tanya Manjing dengan bingung. Dilihatnya air muka Lamkiong Peng mendadak berubah dan berseru.

"Wah, celaka!"

Segera ia membalik tubuh dan berlari kesana , karena badan masih lemah, hampir saja ia jatuh keserimpet. Cepat Manjing memburu maju untuk memegangnya sambil bertanya.

"Hendak ke mana kau? Ai, ada sementara urusan mengapa tidak kaukatakan terus terang padaku?"

"Sesungguhnya aku sendiri tidak tahu sampai di mana perkembangan urusan ini.......Ai, saat ini sungguh kuharap bisa tumbuh sayap untuk terbang pulang ke rumah,"

Demikian ucap Lamkiong Peng dengan sedih.

Tiba-tiba timbul semacam firasat yang tidak enak, seperti berbagai macam malapetaka akan menimpa keluarga Lamkiong, terutama bila teringat kepada gerombolan "hong-uh-biau-hiang" (dupa mengambang di tengah hujan angin) yang begitu luas pengaruhnya, sungguh tambah besar rasa kuatirnya.

"Apakah engkau mau pulang?"

Tanya Manjing dengan hampa.

"Ya dan engkau....."

Jawab Lamkiong Peng ragu.

"Apakah perlu kutemanimu?"

Mencorong sinar mata si nona. Lamkiong Peng mengangguk dengan pikiran kusut, selain sedih terhadap urusan yang dihadapi keluarganya, kini bertambah lagi dengan keruwetan benang cinta.

"Jika begitu marilah kita lekas berangkat,"

Seru Manjing girang.

Segera ia menarik anak muda itu dan diajak berlari pergi.

Asalkan berada bersama Lamkiong Peng, urusan lain sama sekali tidak terpikir lagi olehnya.

Kabut makin tebal, orang banyak menjadi kacau dan akhirnya bubar.

Dengan muka masam dan mengepal tinjunya Suma Tiong-thian mengentak kaki dengan geram.

Selama hidupnya malang melintang di dunia kangouw, tak terduga sesudah tua berbalik banyak mengalami macam-macam gangguan, sekarang seorang kroco malahan dapat kabur di bawah tangannya.

Tentu saja ia dongkol dan juga heran.

Waktu ia berpaling, dilihatnya Kim-sian-loh masih berdiri di belakang dan sedang memandangnya dengan bingung.

Anjing berbulu emas si dewa emas jugga mendekam di samping kakinya dengan jinak.

IA menghela nafas pelahan dan mengelus kepala anjing itu, katanya.

"Dunia kangouw memang banyak gelombang badai, apakah engkau tidak ingin pensiun saja, Kim pohtau."

Kim-sian-loh menunduk dan menjawab dengan tergagap,"Wanpwee........."

"Kukira anjing ini pun sudah waktunya kaupulangkan,"

Kata Suma Tiong-thian pula.

"Tapi sudah belasan tahun Kim-sian ikut padaku, sungguh aku.......aku tidak......."

"Di dunia ini tidak ada perjamuan yang tidak bubar,"

Ujar suma Tiong thian dengan gegetun."

Apalagi, tentunya kau tahu majikannya saat ini jauh lebih memerlukan dia daripadamu."

Kim-sian-loh berdiri termangu dengan termenung. Tiba-tiba dari balik kabut sana muncul lima sosok bayangan, seorang lantas menegur dengan suara lembut.

"Suma-cianpwee, apakah engkau masih kenal padaku?"

Waktu Suma tiong-thian memandang ke sana, tertampaklah seorang nyonya cantik baju merah dan bermata jeli sedang melangkah tiba dengan lemah gemulai, dengan girang ia menjawab.

"Hah, biarpun tua mataku belum lagi rabun, masakah tidak kenal lagi padamu? Wah, bagus sekali. Ternyata Ciok-heng juga datang. Eh dimana Liong hui, mengapa dia malah tidak ikut kemari?"

Kiranya nyonya cantik itu ialah Kwee Giok he, dengan menyesal ia berkata pula.

"Ai, aku pun sedang mencarinya kian kemari, tapi tidak.........ai, salahku juga, mungkin aku berbuat sesuatu yang membikin marah dia, kalau tidak, entah mengapa dia........."

Mendadak senyumnya lenyap dan berubah menjadi sangat sedih. Kening Suma Tiong-thian bekernyit, katanya.

"Dan dimanakah So-so? Mungkinkah dia ikut bersama Liong hui?"

Giok he mengangguk pelahan.

"Ah, anak ini........."

Gumam Suma tiong thian. Yang berdiri di samping Ciok Tim yang ebrwajah kaku itu terdapat pula Yim hong peng yang tampak bersikap santai, ia berdehem lalu berucap.

"Anda ini mungkin ialah Thi-cian-ang-ki yang termashur itu? Cayhe Yim hong peng."

"Yim hong peng?..........Ah bagus sekali, tak tersangka dapat bertemu dengan Yim taihiap disini?"

Kata Suma tiong-thian.

Sekilas dilihatnya jauh di belakang mereka berdiri lagi dua orang serupa kaum budak ikut dibelakang majikannya, jelas dikenalnya kedua orang ini adalah kedua elang hijau dan kuning dari Jit-eng-tong, gembong perusahaan pengawalan yang termashur dahulu.

Dengan girang Suma tiong thian mendekati mereka sambil menyapa.

"Wi-heng dan Leng-heng, masa kalian sudah pangling padaku?"

Siapa tahu si elang kuning Wi leng thian dan elang hijau Leng Gin thian hanya saling pandang sekejap seperti samasekali tidak mengenalnya, mereka tetap berdiri diam dan kaku.

Suma tiong thian jadi melenggong sendiri, katanya pula dengan mendongkol.

"Hah, meski ang-ki-piaukiok dan Jit-eng-tong perusahaan sejenis, namun jalan yang ditempuh memang tidak sama. Tak tersangka begini sempit jalan pikiran kalian."

Leng Gin thian dan Wi leng thian tetap diam saja seperti tidak mendengar.

Yim hong peng dan Kwe giok he saling pandang sekejap dengan sorot mata mengandung senyuman puas, sedangkan Ciok Tim kelihatan merasa kasihan kepada kedua jago pengawal tua itu.

Pelahan Giok he lantas menarik ujung baju Suma tiong thian dan berbisik kepadanya.

"Suma cianpwee, ada sementara orang takkan menjadi soal dijadikan kawan atau tidak.........Eh, betapa gagah anjing ini, tentu inilah Kin sian yang termashur itu?"

Kim sian loh memberi hormat dan menjawab.

"Betul, dan cayhe Kim sian loh, apabila nyonya ada keperluan..........."

"Oya, hampir lupa kuberitahukan padamu,"

Seru Suma tiong thian mendadak.

"Peng-ji juga berada disini!"

"Gote Lamkiong peng maksud Cian pwee?"

Tanya Giok-he.

"Netul,"

Jawab Suma tiong thian, waktu ia berpaling, kabut tadi sudah mulai menipis, namun di halaman sana kosong sepi tiada seorang pun.

"Peng-ji! Peng-ji!"

Cepat Suma tiong thian berteriak.

"Mungkin dia sudah pergi,"

Ujar Giok he dengan tersenyum.

"Pergi?"

Heran juga Suma tiong thian.

"Akhir-akhir ini entah mengapa, bila melihat diriku dan samte dia lantas menyingkir jauh, padahal.....ai, umpama dia berbuat sesuatu kesalahn, antra sesama saudara seperguruan tentu juga akan kami maafkan."

Giok he merandek sejenak, lalu menyambung lagi dengan menyesal.

"Anak ini........pintar lagi cekatan, semuanya baik. Kuharap kelak dia dapat melakukan sesuatu pekerjaan besar, siapa tahu..........Ai!"

"Memangnya dia kenapa?"

Tanya Suma tiong thian melenggak.

"Betapapun dia masih muda belia, hanya lantaran seorang perempuan bejat dia tidak sayang bermusuhan dengan orang banyak.

"tutur Giok he.

"Demi membela Bwe-leng-hiat dia telah membunuh Hui-goan Wi loenghing."

"Hah apa betul?"

Teriak Suma tiong thian terkeju dan gusar. Giok he tidak menjawab melainkan menunduk dan menghela nafas. Yim hong peng juga menggeleng, ucapnya.

"Maklum anak muda!"

Dengan geram Suma tiong thian bergumam.

"Keluarga Lamkiong sendiri sedang gawat dan dia masih bebruat demikian.........."

Mendadak ia berpaling dan bertanya.

"Apakah kautahu perempuan she Bwe itu telah memperalat kemala tanda pengenal Peng-ji untuk menarik harta benda dari berbagai cabang perusahaan Lamkiong di sekitar Se-an?"

Giok he melirik Yim hong peng sekejap, lalu berucap dengan lagak terkejut.

"Apa betul?"

"Berpuluh laksa tail perak memangnya bukan urusan besar bagi keluarga Lamkiong, tapi sekarang........"

Ia memandang ke depan dan menghela nafas panjang. Gemerdep sinar mata Giok he, katanya.

"Apakah keluarga Lamkiong mengalami sesuatu?"

"ya sesuatu yang luar biasa, bisa..bisa bangkrut........"

Gumam si kakek.

Mendadak terlihat seorang lelaki berbaju hitam berlari masuk dengan membawa sehelai panji merah, rambut semerawut, nafas ngos-ngosan, begitu masuk segera ia berlutut dan menyembah sambil melapor.

"Wah celaka Ciongpiauthau!"..........."

"Ada apa?"

Tanya Suma tiong thian dengan bengis. Orang itu melapor pula.

"Beberapa cabang perusahaan keluarga Lamkiong di Buwi, Tioya, Kolong, Engting dan Lanciu, semuanya telah dilelang, manjadi seratus lima puluh tail perak, semuanya diringkas menjadi batu permata, selagi diangkut sampai di Thayan lantas........lantas..........."

"Lantas bagaimana?"

Bentak Suma tiong thian.

"Lantas dirampok orang tanpa meninggalkan bekas, sambung orang itu.

"kecuali hamba yang merintis jalan di depan, saudara yang lain seluruhnya..........seluruhnya telah terbunuh oleh panji merahnya sendiri, melihat gelagatnya, tiada seorang pun diantaranya sempat membela diri."

Belum habis ucapannya, tahu-tahu Suma tiong thian berteriak terus roboh terkulai, jatuh pingsan.

Wajah Giok he dan Yim hong peng tampak menampilkan rasa kejut juga, seperti sama sekali tidak tahu menahu atas urusan perampokan ini.

********** Dari Sunyang lewat Pekho sampai di Ansia, sepanjang jalan hanya ladang luas, jarang kampung dan sedikit penduduk.

Waktu senja, di sebuah dusun kecil di luar kota Ansia yang tenang, asap dapur mengepul sana-sini, nyata sudah dekat orang makan malam.

Beberapa orang lelaki dengan baju robek dan telanjang kaki tampak berdiri di depan satusatunya penjaja makanan di dusun ini sedang membeli kacang goreng dengan satu duit, atau membeli siopia dengan dua duit sebiji, tiga duit dapat memebeli secawan arak putih, empat duit dapat dapat setahil daging rebus.

Lalu menongkrong di atas bangku panjang dan menikmati makanan itu sambil minum arak serta mengobrol ke timur dan ke barat.

Mendadak salah seoarang itu melenggong dan mendesis sambil memandang ke depan sana.

"Lihat alangkah cakapnya sepasang muda mudi ini. Wah juragan, tampakanya daganganmu akan laris!"

Penjaja makanan itu menoleh, terlihat dari ujung jalan sana melangkah tiba sepasang muda mudi, meski kelihatan letih akibat perjalanan jauh, namun sikapnya tetap gagah dan anggun.

Penjual makanan yang sudah ompong itu tertawa dan berkata.

"Ah, mana orang sudi jajan di tempat seperti ini........"

Tak terduga, tahu-tahu kedua muda mudi itu langsung menuju ke tempatnya, si gadis berbaju hijau yang cantik itu lantas mengeluarkan empat duit dan berkata.

"Beli siopia dua biji."

Dengan gugup kakek penjual makanan itu membungkuskan dua siopia. Sambil menerima bungkusan siopia, si nona bertanya.

"Sudah dekat Ansia bukan?"

Serentak beberapa orang menjawab.

"Ya, sudah dekat di depan!"

Gadis jelita itu memngucapkan teriamkasih dan melanjutkan perjalanan bersama si pemuda. Sambil berjalan si nona membagi siopia kepada pemuda itu, katanya.

"Lekas dimakan, biarpun penganan udik juga perlu untuk menambah tenagamu agar dapat menempuh perjalanan lebih jauh, setiba di Ansi dapatlah kita mengambil dua ekor kuda di cabang perusahaanmu, juga perlu tambah sangu."

"Beberapa hari ini syukur bersamamu, kalau........kalau tidak.........."gumam si pemuda dengan gegetun. Si nona menatapnya dengan sinar mata mencorong terang serupa kerlip lampu di kejauhan. Tidak lama kemudian mereka sudah memasuki kota Ansia yang telah bermandikan cahya. Mereka coba mencari cabang perusahaan keluarga Lamkiong. Akan tetapi seorang di tepi jalan yang ditanya memperlihatkan rasa heran.

"Kalian mencari toko milik keluarga Lamkiong?"

Jawab orang itu.

"Di kota ini sebenarnya ada sebuah toko hasil bumi milik keluarga Lamkiong yang terkenal, tapi ebberapa hari yang lalu toko itu telah dioperkan kepada orang lain, semua pegawainya juga telah dibubarkan. Kejadian ini memang sangat mengherankan penduduk di sini."

Bagi Lamkiong Peng, bukan Cuma heran saja, tapi juga gelisah dan cemas karena tidak tahu apa yang telah terjadi.

Si nona berbaju hijau, Yap manjing, juga melenggong, tapi segera ia tertawa dan berkata.

"Ah, untuk apa diherankan, bisa jadi Tunan besar Lamkiong kita mendadak tidak mau berdagang lagi dan ingin pensiun saja di rumah."

Tanpa pikir ia ajak Lamkiong Peng meneruskan perjalanan keluar kota. Hati Lamkiong Peng penuh diliputi tanda tanya.

"Sesungguhnya apa yang telah terjadi?"

Ia tidak dapat menerka, juga sukar mendapat penjelasan.

Hawa malam mulai dingin, waktu ia menengadah, tertampak bayangan lereng gunung memanjang di depan.

Itulah lereng gunung Butong, disana pula terletak pusat ilmu silat perguruan temama, Bu tong Pai yang termashur.

Sementara itu mereka sudah berada di kaki gunung dengan pepohonan yang rimbun.

"Tentu engkau sudah lelah, biarlah kita mengaso saja disini."

Kata Manjing. Mereka lantas mencari suatu tempat teduh dan berduduk, untuk sejenak suasana terasa sunyi senyap, tiba-tiba terdengar perut Lamkiong Peng berkeruyukan. Manjing tertawa.

"Hah, kau lapar lagi!"

Segera ia merogoh saku dan mengeluarkan sisa sepotong siopia, katanya pula.

"ini, makanlah!"

Lamkiong Peng terharu, katanya dengan kerongkongan serasa tersumbat.

"Engkau sendiri..........."

"Baiklah, kutahu engaku takkan mau makan sendiri,"

Ucap manjing dengan tersenyum sambil merobek siopia itu menjadi dua dan separoh diberikan kepada Lamkiong Peng.

Sambil makan siopia, Lamkiong Peng merasa panganan ini jauh lebih lezat daripada makanan apapun.

Jika bukan dalam keadaan begini dan penganan pemberian kekasih, mana dapat dirasakan nikmatnya siopia itu.

Dcangan tersenyum Manjing berucap.

"Pantas kakek botak itu kemaruk harta, kiranya uang memang pegang peranan sedemikian penting dalam kehidupan manusia.........Eh, menurut pendapatmu, apakah perampokan itu dilakukan olehnya?"

"Haya tenaga satu orang saja mana dapat membunuh kawanan jago pengawal Ang-kipiaukiok itu?"

Ujar Lamkiong Peng.

"Jika begitu, mengapa mendadak ia kabur tanpa sebab?"

"Ya, akupun tidak mengerti,"

Jawab si anak muda. Selagi manjing mau bicara lagi, mendadak Lamkiong Peng menarik tangannya dan mendesis.

"Ssst, jangan bersuara!"

Terdengarlah suara orang tertawa berkumandang dari atas lereng sana, seorang tertawa sambil berkata.

"Jika tidak ada urusan penting, mana berani sembarangan kuganggu ketenangan keempat totiang?"

Berubah air muka Maniing, bisiknya.

"Coba dengarkan, suara siapa ini?"

Tanpa pikir Lamkiong Peng menjawab.

"Siapa lagi, jelas si tua gila uang itu!"

Logat kampung aslinya dari propinsi Soasai memang sukar dilupakan oleh orang yang pemah mendengar suaranya.

"Mengapa ia pun berada di sini........."

"Sssst!"

Desis Lamkiong Peng. Rupanya beberapa orang itu sudah makin dekat, terdengar suara seorang berucap dengan nada berat.

"Ada urusan, harap lekas bicara."

"Sepanjang jalan kukuntit di belakang Totiang selama dua hari, tujuanku justru ingin mencari suatu tempat bicara yang terahasia."

Kata Ci Ti alias gila uang. Agaknya lawan bicaranya melenggak, lalu berkata.

"Bagaimana kalau kita bicara di atas tebing sana?"

"Bagus sekali."

Seru Ci Ti.

Terkesiap Lamkiong Peng berdua segera terdengar suara angin mendesir, beberapa orang itu telah melompat ke atas.

Ternyata keempat orang tepat berdiri di suatu tebing yang mencuat di depan tempat sembunyi Lamkiong Peng dan Yap manjing, Cuma mereka berada di bawah pohon dan teraling oleh akar tertumbuhan yang rimbun, maka mereka dapat melihat pihak lawan dan lawan tak dapat melihat mereka.

Tertampak jelas empat tojin berjubah hijau dan berkaos kaki putih, rambut disanggul tinggi dia atas kepala, pedang tergantung di pinggang, di punggung masing-masing menggendong sebuah bungkusan kuning.

Usia mereka rata-rata sudah lebih 50an, sikapnya kereng berwibawa, jelas mereka bukan orang sembarangan.

Seorang di antaranya berwajah kelam dan berjenggot sehingga sikapnya terlebih gagah, dengan berkerut kening ia lantas berkata.

"Nah, apa yang ingin Sicu bicarakan sekarang dapatlah kaukatakan saja."

"Silahkan duduk, silahkan duduk dulu,"

Ujar si kakek botak alias Ci Ti, lali ia mendahului duduk bersila.

"Selama ini kami tidak suka bergurau dengan siapa pun."

Ujar Tojin bermuka kelam itu. Mnedadak si botak juga bicara dengan serius.

"Tempo sama dengan uang, aku pun tidak pemah membuang-buang waktu untuk bergurau."

Keempat tojin saling pandang sekejap, lalu ikut duduk bersila. Seorang tojin lain yang berwajah dingin meraba tangkai pedang dan berucap.

"Sesungguhnya apa yang hendak dibicarakan Sicu?"

Ci Ti memandang cuaca sekejap, lalu berkata.

"Saat ini seperti sudah tengah malam, bukan?"

Selagi tojin bermuka kelam mendengus dongkol, segera Ci Ti menyambung.

"Tengah malam kemarin........."

Baru selesai bicara demikian, serentak air muka keemapt tojin itu berubah hebat, teriaknya.

"Apa katamu?"

Berbareng mereka pun meraba pedang masing-masing. Selagi Lamkiong Peng terkesiap, terdengar Ci TI terbahak dan berkata pula.

"Tengah malam kemarin, ketika keempat totiang memperlihatkan ketangkasan kalian, mungkin tak pemah tersangka ada orang menonton permainan kalian di samping."

Ia merandek sejenak, tanpa menunggu jawaban ia meneruskan.

"Tapi sebelumnya juga tidak kudga bahwa kawanan permapok berkedok yang turun tangan keji itu tak lain tak bukan adalah jago Bu tong pai yang terkenal dan dipandang sebagai pimpinan dunia persilatan, bahkan tidak ada yang menyangka hal itu bisa dilakukan oleh Bu tong su bok (empat pohon dari Butong) yang merupakan para tertua andalan Bu tong pai."

Mendengar ini, jantung Manjing hampie melompat keluar dari rongga dadanya, Dirasakan Tangan Lamkiong Peng yang memegangnya juga bergemetar.

Bahwa kawanan tojin Bu tong pai bisa menjadi perampok, sungguh berita yang amat mengejutkan.

Baru slesai Ci Ti berucap, serentak terdengar suara bentakan, bayangan orang berkelebat, sinar pedang pun menyambar, dalam sekejap Bu tong su bok telah mengepung Ci Ti di tengah, ujung pedang mereka pun mengancam di depan leher kakek botak itu.

Namun kakek botak yang aneh alias si mata duitan itu tetap duduk bersila di tempatnya tanpa bergerak, sikapnya tetap tenang, katanya.

"Lebih baik kalian tetap duduk saja, memangnya kalian sangka urusan ini dapat diselesaikan dengan main senjata?"

Si tojin bermuka kelam membentak.

"Omong kososng, sembarangan memfitnah orang! Masa kaukira Butong su bok tidak mampu membinasakan kakek sialan macam dirimu ini?"

Ci Ti mendengus.

"Memfitnah? Hm, numpang tanya bungkusan apa yang kalian panggul itu?"

Ujung pedang yang mengancam leher si kakek tampak bergetar, air muka Bu tong su bok juga berubah hebat.

"Hah, keempat totiang adalah orang cerdik dan pintar, coba pikir saja, hanya aku saja sendirian, kalau tidak ada bala bantuan yang telah kuatur, masa kuberani sembarangan merecoki Bu tong su bok yang termashur ini?"

Ejek si kakek botak.

Pendek kata, apabila malam ini kalian mencederai diriku, maka dalam waktu lima hari saja setiap orang Bulim pasti akan athu bahwa keempat tokoh Bu-tong-pai yang temama dan disegani sesungguhnya tidak lain adalah perampok belaka."

"Meski tersiar juga tidak ada orang mau percaya, pada hakikatnya di sini tidak ada orang lain lagi,"

Jengek si tojin muka kelam.

Kalau tidak ada api, dari mana datangnya asap, sesuatu kejadian tentu ada sebabnya, apakah ada orang lain yang tahu atau tidak, perlu kukatakan lagi bahwa sebelum kudatang kemari sudah kuatur segala kemungkinannya.

Maka menurut pendapatku, akan lebih baik jika kalian meletakkan senjata saja dan coba bicara lagi."

Benar juga, pelahan keempat pedang yang mengancam itu lantas diturunkan.

"Nah silahkan duduk, segala apa kan dapat dirundingkan secara baik, aku si gila uang juga bukan manusia tak tahu malu,"

Ucap si kakek.

Tidak ada pilihan lain, perlahan Bu tong su bok duduk kembali dengan air muka agak merah.

Nyata biarpun kungfu mereka cukup mengejutkan, namun pengalaman kangouw mereka terlalu dangkal.

Segera si kakek mata duitan berkata pula.

"Sudah lama kudengar orang bilang Bu tong su bok adalah tokoh saleh dan tinggi agamanya, kalau tidak menyaksikan sendriri sungguh aku pun tidak percaya kalian dapat berbuat demikian. Agknya kalian baru pertama klai ini berbuat sehingga sangat tegang, kalau tidak dengan ketajaman mata telinga kalian tentu dapat mengetahui penonton yang tak diundang serupa diriku ini."

Bu tyong su bok tertegun dan tidak dapat menjawab. Ci Ti tersenyum, katanya pula.

"Kerena kalian baru pertama kali berbuat sungguh aku tidak mau merusak nama baik yang kalian pupuk dengna susah payah selama ini, asal saja kalian menerima dua syaratku, selamanya akan kurahasiakan kejadian ini."

Si tojin bermuka kelam adalah kepala Bu tong su bok, namanya Ci pek tojin, si cemara ungu, dengan kening bekernyit ia berkata.

"Apa syaratmu?"

"Urusan ini sebenarnya tidak sulit, asalkan........."

Belum si kakek botak selesaikan ucapannya, mendadak Ci pek tojin memotong.

"Urusan apa pun, asal sanggup kulakukan pasti akan kami terima. Tapi entah cara bagaimana akan kau jamin bahwa seterusnya kau pasti akan menutupi rapat urusan ini dan takkan disiarkan!"

Ci Ti berpikir sejenak, katanya kemudian.

"Tentang ini.........."

Mendadak ia berbangkit, telapak tangan kiri melindungi dada, telapak tangan kanan terangkat ke depan, jari besar dan jari telunjuk membuat lingkaran dan sisa ketiga jari lain terjulur miring ke depan, sedikit ia menarik nafas, serentak tubuhnya memanjang lebih setengah kaki, lalu berucap.

"Nah, apa yang kukatakan tentunya dapat kalian percaya bukan?"

Lamkiong Peng dan Yap manjing sama terkesiap, hampir berteriak.

Sungguh mereka tidak menduga si kakek botak yang semula kelihatan loyo dan mata duitan itu mendadak bisa berubah gagah perkasa..

Bu tong su bok juga kaget, Ci pek tojin lantas bertanya.

"Apakah Cian pwe ini salah seorang tokoh ajaib yang termashur di dunia kangouw pada 30 tahun yang lalu dan konon sudah lama mengasingkan diri, Hong tun sam yu adanya?"

Ci Ti alias si mata duitan hanya tersenyum saja, dalam sekejap ia sudah keliahatn lagi keadaannya yang konyol tadi. Ci pek tojin menghela nafas, katanya.

"Jika benar Cianpwe adalah tokoh Hong tun sam yu yang dahulu pemah menumpas kawanan iblis, apa pula yang perlu kukatakan, cianpwee ingin memberi petunjuk apa., terpaksa kami hanya menurut saja."

Nyata keempat tojin andalan Bu tong pai yang namanya disegani serupa ketuanya, Komg tiok Tojin, kini ternyata juga jeri terhadap Hong tun sam yu yang biasanya jarang muncul di dunia persilatan itu.

Maka dapat dibayangkan betapa jayanya ketiga Hong tun sam yu ketika masih aktif dulu.

Manjing saling pandang sekejap dengan Lamkiong Peng dengan heran.

Terdengar Ci Ti berkata pelahan.

"Nah, dengarkan pertama, hendaknya kalian serahkan bungkusan yang kalian panggul itu kepadaku."

Bu tong su bok Melenggak dan saling pandang dengan serba susah.

Akhirnya Ci pek tojin menghela nafas, pedang dimasukkan kembali ke sarungnya, bungkusan yang dipanggulnya ditanggalkan, dengan hormat ketiga kawanannya, jing tiong, tokgo, dan koh tong tojin juga menirukan perbuatan Ci-pek.

"Keempat bungkusan itu diikat menjadi satu", kata Ci Ti. Segera Bu tong su bok membuka bungkusan mereka, tertampaklah cahaya mengkilat menyilaukan mata, ternyata isi keempat bungkusan itu adalah batu permata yang tak temilai jumlahnya. Sejenak kemudian isi keempat bungkusan itu telah diringkas menjadi satu. Ci Ti menerima satu kantungan besar itu lalu berkata.

"Harta benda ini adalah milik keluarga Lamkiong yang diserahkan dalam pengawalan Angki-piaukiok bukan?"

Bergetar tangan Lamkiong Peng. Dilihatnya mata Ci Ti menampilkan cahya yang aneh, lalu berkata pula.

"dan urusan kedua, ingin kutanya, sesungguhnya lantaran apa kalian berempat rela mengorbankan nama baik untuk merampas harta benda ini?"

Air muka Bu tong su bok berubah hebat, cipek tojin menyapu pandang sekitarnya, suasana malam sunyi, hanya angin mendesir dingin.

"Selain aku kukira tiada orang lain lagi,"

Kata Ci Ti. Lamkiong Peng menggenggam tangan Manjing, tangan kedua orang terasa sedingin es. Terdengar Ci pek tojin menghela nafas dan berkata.

"Apakah Cianpwe pemah mendengar nama Kun mo to (pulau kawanan iblis)?"

"Kun mo to?"

Ci Ti menegas dengan melenggak, suaranya juga mengandung nada terkejut.

"Ya, entah sudah beberapa puluh tahun yang lalu cerita tentang Kun mo to telah tersiar luas di dunia kangouw,"

Tutur Ci Pek pula.

"Entah mulai kapan dan entah bagaimana duduk perkaranya, diam-diam Kun mo to telah mengadakan perjanjian rahasia dengan ketujuh perguruan besar dunia persilatan, yaitu pihak Kun mo to berjanji takkan ikut campur urusan ketujuh pergruruan besar, juga takkan mengganggu anak muridnya. Sebaliknya Jit-toa-mui-pai (ketujuh perguruan besar) harus berjanji akan mengerjakan sesuatu rusan bagi Kun mo to, kapan dan apa pun."

Ia menghela nafas, lalu menyambung lagi.

"Perjanjian rahasia ini turun temurun diketahui oleh para ketua dan beberapa tokoh terkemuka Jittoa-mui-pai kami, yakni siau-lim, kun-lun, kongtong, Tiam-jong, Gobi, Hoa-san dan Bu-tong pai kami. Sudah lama perjanjian rahasia ini berlangsung turun temurun, tapi sejauh ini Kun mo to tidak pemah melaksanakan haknya, baru akhir-akhir ini.........."

Ia menghela nafas lagi sambungnya.

"Kira-kira lebih sebulan yang lalu, medadak datamh kurir pihak Kun mo to, kami diminta bilamana mengetahui ada harta benda keluarga Lamkiong yang dikirim lewat jarak ratusan li, di sekitar Bu tong san, maka orang Bu tong pai kami diharusakan merampasnya, juga wajib membunuh setiap orang yang mengawal harta benda itu dengan tanda pengenal merak sendiri, adapun harta bendanya boleh terserah kepada kami untuk diatur bagaimana baiknya."

Gemerdep sinar mata Ci Ti, katanya.

"meski perusahaan keluarga Lamkiong sudah bersejarah ratusan tahun, tapi selian ada hubungan denga perusahaan pengawalan umumnya tidak pemah terdengar ada hubungan lain dengan orang persilatan, mengapa keluarga Lamkiong bisa bermusuhan dengan pihak Kun mo to?"

"Kami juga merasa heran,"

Ucap Ci pek.

"mengingat perjanjian rahasia pihak Kun mo to dengan Jit-toa-mui-pai kami sudah berlangsung sekian lama dan sejauh ini tidak pemah menggunakan hakknya, dapat diduga karena mereka memandang hal ini sangat penting dan tidak mau sembarangan menggunakan haknya. Siapa tahu sekarang mereka justru menggunakan hak ini untuk bertindak terhadap keluarga Lamkiong yang tidak ada sangkut pautnya dengan dunia persilatan..Cuma lantaran pejabat ketua kami juga harus patuh kepada perjanjian leluhur, juga tidak ingin bermusuhan dengan Kun mo to, dalam keadaan terpaksa kami lantas di tugaskan melakukan tindakan yang tak terpuji ini."

Jing siong tojin lantas menymabung.

"Bukan Cuma Bi tong pai kami saja yang bertindak, kuyakin Gobi, Kunlun, Kongtong dan pergururan lain pasti juga berbuat yang sama. Sungguh harus disesalkan, entah ada permusuhan apa antara Kun mo to dengan keluarga Lamkiong, biarpun keluraga lmakiong kaya raya, tapi mana tahan bermusuhan dengan Jit-toa-mui-pai?"

C Ti duduk termenung tanpa memberi tanggapan, suasana menjadi sunyi. Mendadak terdengar di bawah pohon yang rimbun sana ada seruan orang tertahan.

"Hei, kau........."

Tahu-tahu muncul seorang pemuda cakap dengan muka pucat dan mendekati Bu tong su bok. Serentak Bu tong su bok berbangkit,. Ci Ti juga berseru.

"lamkiong Peng!"

"hah, Lamkiong Peng?!"

Ci pek tojin bersuara kaget.

Langsung Lankiong Peng mendekati Ci pek tojin, mendadak ia membentak dan melancarkan pukulan.

Ci-pek berkelit, lengan bajunya mengebas.

Karena dia menyesali perbuatannya, maka kebasan lengan bajunya hanya digunakan untuk menagkis saja, tak terduga Lamkiong Peng ternyata tidak tahan oleh tenaga kebasannya, kontan ia roboh terejngkal.

Sekonyong-konyonh bayangan orang berkelebat, seorang gadis jelita melayang tiba dan menubruk di atas tubuh Lamkiong Peng sambil menjerit.

"Hei kau........."

Segera ia mendongak dan memaki.

"Sebenarnya ada permusuhan apa antara keluarga Lamkiong dengan Bu tong pai kalian? Kenapa kalian bertindak sekeji ini?"

Bu tong su bok saling pandang dengan gugup dan tak dapat menjawab. Ci Ti memnadang Lamkiong Peng sekejap, katanya.

"jangan kuatir, dia tidak parah, hanya karena tubuhnya masih lemah dan dirangsang rasa murka, ditambah lagi rasa cemas, gusar dan lelah, maka mendadak ia jatuh pingsan dan bukan terluka dalam, asal mengaso dua hari dan makan sedikit obat tentu akan sembuh."

Pelahan Manjing mengangkat tubuh Lamkiong Peng, ucapnya dengan gemas.

"Hm, baru sekarang kutahu wajah asli Bu tong pai, ternyata semuanya Cuma manusia rendah dan tidak tahu malu belaka. Tunggulah pembalasanku."

Habis berkata ia lantas melangkah pergi. Tapi bayangan orang lantas berkelebat, Bu tong su bok telah mengadang di depannya.

"Nanti dulu nona !"

"Kau mau apa lagi?"

Bentak Manjing. Ci pek menghela nafas.

"Kami bertindak demikian sesungguhnya juga terpakasa, mohon nona dapat memahami kesulitan kami."

"Hm, kesulitan apa?"

Jengek manjing.

"Demi kepentingan pihak sendiri lantas mengadakan perjanjian rahasia dengan kaum iblis dan sembarangan berbuat tanpa menghiraukan kepentingan orang kangouw, sungguh rendah dan memalukan."

Bu tong su bok melongo oleh maikan si nona. Ci Ti berdehem dan coba menyela.

"Nona...."

"Peduli apa denganmu?"

Damprat Manjing dengan melotot.

"Bagimu, asal ada duit, habis perkara, apa yang perlu kaukatakan?"

Ci Ti melenggong juga.

"Nah, kalau kalian mau, boleh silahkan cincang saja diriku di sini, kalau tidak hendaknya lekas menyingkir dan memberi jalan."

Bentak Manjing.

"Maaf nona, kami tidak ingin membikin susah nona, juga tidak dapat membiarkan nona pergi dari sini, terpaksa mesti minta nona suka tinggal sementara di suatu tempat, nanti kalau..............."

"Nanti apa?"

Bentak Manjing sebelum lanjut ucapan Koh tong tojin.

"Barangkali kalian sedang mimpi, kalian kira nonamu dapat kalian perlakukan sesukanya? Biarpun Bu tong su bok terkenal di dunia kangouw juga aku Yap manjing tidak jeri."

Pada saat itulah mendadak seorang tertawa nyaring dan mendengus.

"Hm, empat orang tua mengerubut seorang nona cilik, terhitung orang gagah macam apa?"

"Siapa?!"

Bentak Bu tong su bok dengan kaget. Segera suara orang itu tertawa pula.

"Hihi jangan takut, adik cilik, Tacimu datang membantumu!"

Belum lenyap suaranya sesosok bayangan orang lantas malayang tiba dari bawah tebing.

Diam-diam Bu tong su bok terkesiap oleh ginkang orang yang hebat.

Ternyata kedua pendatang seorang lelaki dan seorang perempuan, yang lelaki gagah tampan, Cuma sikapnya rada angkuh, yang perempuan cantik molek mempesona.

"Bwe kiam soat!"

Seru Manjing. Kedua pendatang ini memang Bwe kiam soat dan Cian tong lai adanya. Bu tong su bok terkejut. Dengan tertawa genit Kiam soat berucap.

"Adik cilik, coba beritahukan padaku, apakah beberapa tosu brengsek ini hendak mengerubut dirimu? Biar kuhajar adat kepada mereka."

Manjing menarik muka dan mendengus.

"Urusanku tidak perlu kau ikut campur."

"Ahh, masih juga kau bicara segalak ini?"

Uajr Kiam soat dengan tertawa.

"Kau pondong seorang lelaki sebesar ini, mana bisa kau lawan keempat tosu ini. Kalau aku tidak kebetulan pergoki kejadian ini, bukan mustahil nona jelita seperti dirimu ini akan dikerjai orang."

Sembari bicara ia pun tertawa terkial-kial serupa tangkai bunga bergoyang tertiup angin. Muka Ci pek tojin yang kelam itu tambah gelap, katanya .

"Nama kebesaran nona Bwe sudah lama kami kenal, namun caramu bicara itu hendaknya tahu aturan sedikit di hadapan kami."

"Eh tong-lai, coba kaudengar, cara bicara tosu tua ini bukanlah terlampau latah?"

Tanya Kiam soat kepada pemuda yang berdiri di sebelahnya.

"Hehe, memang, kukira memang agak terlalu latah,"

Cian tong lai mengangguk seperti orang linglung.

"Bukan urusan kalian, lekas kalian pergi..........."

Jengek Manjing.

"Urusan kami atau bukan, yang pasti akan kuikut campur, kukira akan lebih baik jika kau pergi saja membawa dia lebih dulu,"

Ujar Kiam soat dengan tertawa.

"Baik, biar ku pergi,"

Kata Manjing dan segera hendak melangkah.

"Nanti dulu!"

Bentak Koh-tong Tojin.

"Eh, apa macamnya seorang tosu tua main adang seorang nona cara begini?"

Segera Bwe kiam soat mengejek. Waktu Bu tong su bok berpaling, ternyata si kakek botak alias Ci Ti entah sudah menghilang ke mana. Koh tong tojin berkata pula.

"Sudah lama kami dengar ilmu silat nona meliputi intisari berbagai aliran temama dan sukar diukur dalamnya. Sekarang nona bersikap segarang ini terhadap kami, agaknya engkau sengaja hendak pamer kepandaian di sini?"

Serentak Jing siong dan Tok go tojin berputar dan siap di belakang Bwe kiam soat, hanya Ci pek saja dengan muka kelam tetap berdiri di depan lawan.

Kiam soat tersenyum tak acuh, katanya sambil melirik kawannya, Tong-lai, coba ada orang berani bicara kasar padaku, masa engkau tidak memberi hajar adat kepada mereka?"

Alis Cian tong-lai tampak menegak, serunya.

"Orang beragama bersikap sekasar ini, memang pantas diberi hajar adat!"

"Huh, anak ingusan juga berani bicara tentang hajar adat terhadap Bu tong su bok?"

Jengek Koh tong tojin dengan gusar.

"Bu tong su bok?"

Melenggak juga Cian tong-lai.

"Ya, itulah kami berempat!"

Sahut Koh tong sambil melolos pedang.

"Hm, memangnya mau apa jika Bu tong su bok?"

Bentak Cian tong-lai mendadak, sekali melangkah maju, segera telapak tangannya menabas iga Koh tong.

Sebenarnya antara Bu-tong pai dan Kun-lun pai perguruan Cian tong-lai ada hubungan erat, tapi pemuda yang angkuh dan biasanya suka bertindak menuruti watak sendiri ini sekarang tidak menghiraukan hubungan baik segala demi membela si cantik.

"Kurang ajar!"

Bentak Koh tong tojin sambil menggeser ke samping, berbareng pedangnya balas menabas pergelangan tangan Cian tong-lai.

Gerak menghindar yang cepat dan serang balasan yang lihai.

Tak terduga Cian tong-lai lantas mendesak maju malah sambil menghantam lagi, dengan tangan yang lain ia tolak tangan lawan yang berpedang.

Koh tong terkejut, cepat ia melompat mundur dan membentak.

"Apakah kau murid Kun-lun pai?"

"Kalau murid Kun-lun pai lantas mau apa?"

Jawab Cian tong-lai sambil melancarkan pukulan tiga kali di tengah berkelebat sinar pedang lawan.

"bagus serangan hebat!"

Seru Kiam soat memuji.

"apabila ditambah lagi jurus Sam kun ce hoat (tiga pasukan menyerang bersama), tosu brengsek ini pasti akan kelabakan."

Kiranya dalam waktu beberapa hari yang singkat ini, demi merebut hati si cantik, tanpa pikir Cian tong-lai telah memberitahukan padanya segenap intisari kungfu kun lun pai.

"Hm, boleh coba!"

Jengek Koh-tong Tojin sambil berputar, secepat kilat pedangnya juga menusuk tiga kali, tapi saking cepatnya scakan-akan hanya satu jurus saja.

"Bu tong kiam hoat yang hebat!"

Puji Kiam soat.

"tapi coba rasakan jurus Sam kun ce hoat orang !"

DI tengah tertawa nyaringnya, dilihatnya Cian tong-lai melompat ke atas, sebelah kaki menendang pergelangan tangan lawan yang memegang pedang.

Ketika Koh-tong tojin menarik peadngnya tahutahu tangan Cian tong-lai menerobos masuk di bawah cahaya pedang dan menusuk hiat-to maut pada pelipisnya.

Mendadak Koh-tong tojin tarik pedang ke samping, segera Cian tong-lai menerobos maju dan menutuk Ki-bun dan Ciang-tai-hiat di dadanya.

Cepat Koh-tong putar pedangnya untuk menabas, tapi Cian tong-lai lantas melompat ke samping dan menghantam iga lawan.

Dengan terkejut Koh-tong mengelak, menyusul pedang menusuk lagi.

Tak terduga kedua tangan Cian tong-lai lantas mengatup dan tepat menjepit batang pedangnya dengan kuat.

Dalam kaget dan gusarnya koh-tong menarik sekuatnya.

Akan tetapi pedang serasa melengket di tangan lawan dan sukar terlepas.

"Hehe, bagaimana, aku tidak berdusta, bukan?"

Terdengar Bwe kiam soat berucap dengan tertawa. Cian tong-lai tampak senang, bentaknya mendadak.

"Lepas!"

Tahu-tahu pedang Koh tong tojin tergetar mencelat, cepat Koh tong melompat juga ke atas untuk meraih kembali pedangnya.

Pada saat yang sama, Jing-siong Tojin telah memburu maju, kontan pedang menabas pergelangan tangan Cian tong-lai.

Tok-go Tojin juga tidak tinggal diam, berbareng ia pun menusuk iga kiri musuh.

"Hm, tidak tahu malu..........."

Jengek Bwe kiam soat.

Mendadak dirasakan angin tajam menyambar tiba, pedang Koh tong tojin telah menabasnya dengan cepat.

Tapi Bwe kiam soat tidak berkelit atau mengegos, tentu saja Koh-tong bergirang.

Tak terduga mendadak Bwe kiam soat menyurut mundur, pedang Koh-tong menyambar lewat dan mengenai dinding karang "trang", lelatu api munerat dan membuat tangan Koh tong kesemutan sendiri.

Di antara Bu-tong-su-bok meski masing-masing mempunyai kungfu andalan, tapi bicara tentang ginkang dan kiam hoat tiada yang dapat menandingi Koh-tong.

Sekarang dia ternyata tidak sanggup melawan Cian tong-lai, juga tidak mampu, mengalahkan Bwe kiam soat, tentu saja ia malu dan gusar, sedikit bergeser,, sebelah kakinya menendang dada Kiam soat.

"Hm, apakah ini pun jurus serangan seorang tojin?"

Jengek Kiam soat sambil menghindar ke samping.

Di sebelah sana Jing-siong dan Tok-go berdua telah mengurung Cian tong-lai di tengah sinar pedang mereka, ilmu pedang mereka Liang-gikiam-hoat dapat bekerja sama dengan sangat rapat, meski sangat lihai kungfu Cian tong-lai juga rada kerepotan.

Sementara itu Ci-pek Tojin berdiri menghadapi Yap manjing, ia juga ghengsi, asal Manjing tidak bergerak, ia pun tidak mau turun tangan.

"Apa benar kau larang aku pergi?"

Tanya Manjing.

"Urusan menyangkut nama baik perguruan kami, terpaksa aku bertindak demikian,"

Jawab Cipek.

Manjing menunduk memandang Lamkiong Peng sekejap, muka anak muda itu kelihatan pucat dan mata terpejam, nafas sangat lemah.

Ia kuatir dan mendongkol pula, tapi juga tak berdaya, terpaksa ia berkata.

"Bila aku bersumpah takkan menyiarkan kejadian yang kulihat ini, tentu aku boleh pergi bukan?"

Ci-pek tojin berpikir sejenak, tiba-tiba dilihatnya sisutenya sudah diatasi Bwe kiam soat, pikirannya berubah, katanya segera.

"Nona berasal dari perguruan temama, tentu saja dapat kupercayai janjimu."

Mendadak ia mnyingkir ke samping dan memberi tanda.

"Silahkan!"

Manjing jadi melenggak karena urusan berakhir semudah ini, tapi mengingat keselamatan Lamkiong Peng, tanpa bicara lagi segera ia angkat kaki.

Dalam pada itu dengan mengancam Hiat-to maut punggung Koh-tong tojin segera Bwe kiam soat berseru.

"nah, ketiga totiang dapat berhenti, barang siapa sembarangan bergeral lagi, terpaksa ku............."

Sampai di sini sekilas dilihatnya Yap manjing sedang melangkah pergi dan melompat terjun ke bawah tebing.

Tapi lantaran keadaannya juga sangat lemah, mendadak terdengar jeritan Manjing yang jatuh di bawah.

Tanpa pikir Kiam soat mendorong Koh-tong dan ikut melayang turun ke bawah.

Cepat Ci-pek bertiga membangunkan Koh-tong yang terluka itu.

Sedangkan Cian tong-lai segera menyusul Bwe kiam soat ke bawah tebing, serunya.

"Nona Bwe, kita pun dapat pergi saja."

Rupanya berhubungan selama beberapa hari ini di antara mereka sudah tambah akrab, Cian tonglai jadi semakin terpikat.

Dilihatnya Bwe kiam soat sudah berada di samping Yap manjing dan ingin menariknya bangun, tapi Manjing sedang mendengus.

"Tidak perlu, aku dapat berdiri sendiri."

Cian tong-lai memburu maju, jengeknya.

"Hm, sungguh orang yang tidak tahu budi, baru saja kita membebaskan dia dari kesukaran, sekarang dia tidak tahu terimakasih lagi."

Meski jatuh terduduk karena lompat dari ketinggian, namun Lamkiong Peng masih tetap dalam rangkulannya, sekarang Manjing lantas melompat bangun dan menjawab.

"Hm, memangnya kalian yang membebaskanku dari kepungan musuh?"

"Ya, kau sendiri yang tinggal pergi,"

Ujar Kiam soat dengan tertawa.

"Eh, adik cilik, kau mau kemana?"

"Ku pergi kemana, apa sangkut pautnya denganmu?"

Jengek Manjing.

"Siapa yang peduli,"

Sela Cian tong-lai dengan gemas sambil menarik lengan baju Bwe kiam soat.

"Jika dia tidak tahu diri, marilah kita pergi saja."

Tapi Bwe kiam soat tidak menghiraukannya, katanya pula kepada Manjing.

"Adik cilik, kau gendong seorang sakit, tenagamu lemah di sekitar sini juga sukar mencari tempat pondokan, hanya seorang diri ke mana kau mau pergi?"

Manjing menjadi ragu juga, tubuh sendiri memang lemah, tidak membawa biaya pula, apalagi tidak kelihatan rumah penduduk di sekitar situ.

Jika tidak mendapat pertolongan sungguh keadaan Lamkiong Peng memang menguatirkan.

Sejenak kemudian barulah ia menjawab.

"Habis bagaimana?"

"Marilah kita meneruskan perjalanan bersama dan menyembuhkian penyakitnya dahulu,"

Kata Kiam soat.

"Kau mau pergi bersama mereka?"

Seru Cian tong-lai.

"Bukankah kita akan pergi bersama."

"Berdasarkan apa kau ikut campur urusanku? Jengek Kiam soat mendadak.

"Bukankah .......segala apa sudah kuberitahukan padamu, mengapa kau..........."

"Semua itu kau lakukan dengan sukarela, apakah pemah kujanjikan sesuatu kepadamu?"

Jawab Kiam soat dengan ketus. Cia tong-lai melenggong, mendadak ia berteriak.

"Tapi..........tapi engkau tak dapat pergi........jangan tingggalkan aku............."

Segera ia menubruk maju dan bermaksud merangkul Bwe kiam soat. Sambil bekernyit kening Kiam soat membentak.

"Lelaki hina!"

Kontan sebelah tangannya menghantam. Sama sekali Cian tong-lai tidak mengelak dan menghindar.

"plak", pukulan itu tepat jatuh mengenai dadanya dan mencelat jauh ke sana, roboh dan pingsan seketika. Kiam soat mencibir, katanya kepada Manjing.

"Marilah kita pergi!"

Manjing hanya menoleh sekejap, akhirnya ikut pergi tanpa bicara. Diam-diam Manjing membatin.

"Pantas setiap orang bilang dia berdarah dingin, tingkah lakunya memang keji dan dingin. Tapi........terhadap Lamkiong Peng tampaknya dia tidak dingin."

Dalam pada itu terdengar Bwe kiam soat lagi berkata.

"Ada sementara lelaki di dunia ini memnag menggemaskan, asalkan kau beri sedikit kebaikan, dia lantas ingin menarik kcuntungan darimu. Untung sekarang, bilamana terjadi belasan tahu lalu, hm, jiwa orang she Cian itu tentu sudah melayang." *************** Lamkiong Peng berbaring di tempat tidur dan tampak bergulang-guling dengan keringat memenuhi dahinya. Ia sednag bermimpi buruk, seperti beratus senjata lagi menghunjam kepalanya, seperti api hendak membakarnya, serupa setan iblis yang tak terhitung jumlahnya hendak mengerubutnya. Mendadak ia berteriak dan bangun, waktu ia membuka mata, mana ada api, senjata dan setan segala. DI bawah cahya lampu hanya kelihatan dua raut wajah cantik molek yang sedang memandangnya dengan cemas. Setelah menenangkan diri, ia pandang Bwe kiam soat dengan tercengang, katanya.

"Engkau .........engkau berada di sini?"

Kiam soat tersenyum manis, sebaliknya Manjing menunduk sedih, pelahan ia meninggalkan kamar Lamkiong Peng kembali ke kamar sendiri.

Sungguh kusut pikirannya, sampai jauh malam ia tidak dapat tidur, pikirnya.

"Yang dicintainya ialah Bwe kiam soat, untuk apa ku bikin susah sendiri dengan menyelipkan diri di tengah mereka?"

Setelah dipkir lagi pulang pergi, akhirnya ia menghela nafas, ia membuka daun jendela dan bergumam.

"Ku pergi saja, semoga kalian hidup bahagia selamanya dan aku pun........"

Tak tertahan menitiklah air matanya. Ia tidak tahu bahwa pada saat yang sama Bwe kiam soat juga sedang termenung-menung di kamarnya, ia pun sedag memikirkan nasibnya dan berkeluh kesah.

"Wahai Bwe kiam soat mengepa engkau menjadi lupa daratan seperti ini, masa kau lupa pada usiamu yang sudah tidak muda lagi, dirimu pun berlumuran dosa, mana setimpal dirimu baginya. Dia sudah sembuh, dia juga sudah didampingi seorang gadis jelita yang pantas baginya, untuk apa lagi kau tinggal di sini?"

Ia menghela nafas dan berbangkit, gumamnya.

"Biarlah ku pergi saja, kalau aku tidak pergi sekarang, bisa jadi sebentar lagi aku tidak sanggup pergi."

Dengan sedih ia membuka daun jendela, dengan perasaan berat ia memandang ke arah kamar Lamkiong Peng, gumamnya pelahan "Ku pergi saja, jangan kau sesalkan diriku, semua ini demi kebaikanmu, padahal........masa aku tidak ingin mendampingimu selamanya?.........."

Tanpa terasa air matanya berderai, dengan mengeraskan hati akhirnya ia melompat keluar jendela dan meninggalkan kamar hotel.

Tidak ada yang tahu hampir pada saat yang sama, di kamarnya Lamkiong Peng juga sedang bingung memikirkan kedua nona itu, selama dua tiga hari ini ia berbaring sakit di tempat tidur, ia sedih akan malapetaka yang menimpa keluarganya, juga murung bagi persoalan diri sendiri yang terlibat di tengah cinta kasih dua nona itu.

Ia pikir keluarganya sedang menghadapi ujian berat, hari depannya sukar diramalkan, betapapun ia tidak dapat membikin susah kedua nona itu.

Akhirnya ia pun mengambil keputusan akan tinggal pergi saja demi kebahagiaan kedua nona itu.

Ia ingin pulang dulu ke Kanglam untuk menjenguk orang tua dan mencari tahu sesungguhnya apa yang terjadi.

*********** Beberapa hari kemudian, di suatu malam yang pekat dengan hujan angin, sebuah pintu gapura megah berdiri tegak dalam kegelapan malam.

Dibalik gapura itu adalah jalan yang panjang berliku diapit oleh pepohonan yang bergoyang tertiup angin.

Guntur menggelegar, cahaya kilat berkelebat, sesosok bayangan orang tampak merandek dan agak ragu untuk meneruskan langkahnya.

Sekujur badannya basah kuyup, bajunya tak teratur, rambutnya semerawut dan mencucurkan air, entah air hujan atau air keringat.

Kening orang itu bekernyit, ia menyapu pandang sekelilingnya dengan sinar matanya yang tajam.

Nyata dia inilah Lamkiong Peng, malam ini juga dia sudah pulang sampai di rumah disambut oleh hujan angin yang keras.

Kepulangannya membawa tanda tanya yang belum terjawab, yang membuatnya gelisah dan cemas.

Sepanjang jalan dari utara sampai ke selatan, segenap cabang perusahaan keluarga Lamkiong ternyata sudah ditutup seluruhnya, hal ini membuatnya bingung dan juga kapiran sepanjang perjalanan.

Maklumlah, selama ini ke mana pun dia pergi tidak pemah kekuarangan sesuatu.

Tapi sekarang dia tidak punya segalanya, dia tidak pemah membawa sangu, untuk makan saja harus menjual baju.

Syukurlah sekarang dia sudah tiba di rumah sendiri.

Ia membusungkan dada dan mengusap air yang membasahi mukanya , ia melangkah lagi ke depan.

Mendadak dari balik pohon di tepi jalan itu ada orang yang membentak.

"Berhenti!"

Di bawah sinar kilat dua sosok bayangan melompat keluar dari kanan kiri jalan.

Lamkiong Peng berhenti dengan melenggak.

Dilihatnya dua lelaki berbaju hitam dan memakai kedok, yang seorang bersenjata pedang dan yangn lain memakai sepasang senjata potlot baja, keduanya mengadang di depan dan menegur.

"Sahabat berani menerobos ke dalam Lamkiong san ceng di tengah malam buta begini, apakah engkau sudah tidak sayang lagi pada nyawamu?"

Segera orang yang berpedang itu menusuk leher Lamkiong Peng.

Serangannya cepat, jurusnya lihai, sekali serang segera hendak merenggut nyawa orang.

Lamkiong Peng melenggong, cepat ia berkelit sambil membentak.

"Berhenti dulu! Apakah kalian tidak kenal siapa diriku?.........."

Orang yang bersenjata potlot baja segera menutuk dua hiat-to di dada V sambil membentak.

"Tidak peduli siapa pun, selama 30 hari ini dilarang masuk kes ini."

Lamkiong Peng melompat mundur dan berseru pula.

"Berhenti dulu, aku inilah Lamkiong Peng!"

Orang itu merandek sejenak, mendadak ia tertawa keras dan berakata.

"Haha, Lamkiong Peng, dari mana datangnya Lamkiong Peng sebanyak ini, termasuk kau sudah ada empat orang memalsukan nama Lamkiong Peng untuk masuk ke sini."

Sembari bicara pedangnya menyerang pula tiga kali sekaligus. Mau tak mau gusar juga Lamkiong Peng, teriaknya.

"Jika kalian tidak percaya, terpaksa harus kuterobos secara paksa."

Sekali menghantam ia desak mundur orang berpedang itu.

"Saat ini Lamkiong san ceng sudah berada di bawah lindungan 17 tokoh terkemuka, biarpun setinggi langit kepandaianmu juga jangan harap akan memasuki perkampungan ini!"

Teriak orang bersenjata potlot.

Berbareng potlot bajanya lantas menutuk.

Serangan orang ini sangat lihai, setiap tempat yang di arah selalu bagian yang mematikan.

Tentu saja hati Lamkiong Peng penuh diliputi tanda tanya, sungguh kalau bisa ia ingin terbang masuk untuk menemui ayahnya.

Tapi apa daya, kedua orang ini ngotot merintanginya dan sukar memberi penjelasan.

Menghadapi kerubutan mereka, seketika Lamkiong Peng tidak mampu melepaskan diri.

Terdengar angin berkesiur, kembali tiga sosok bayangan melayang tiba.

Sekilas lirik lelaki berpedang lantas berseru.

"Ciok-loji, kedatangan musuh lain lagi lekas kau papaki mereka!"

Lelaki berpotlot yang disebut Ciok-loji itu berkerut kening, katanya.

"Ketiga pendatang ini tampaknya tidak lemah, lekas kau lepaskan isyarat tanda bahaya saja."

"Hm, jika malam ini kita tidak mampu mempertahankan pos penjagaan kita ini, selanjutnya apakah kita ada muka utnuk menemui orang?"

Jengek lelaki berpedang.

Mendadak tangannya bergerak, tiga larik sinar perak langsung menyambar ketiga sosok bayangan yang melayang tiba di bawah hujan itu.

Ciok-loji tertegun sejenak, segera ia pun menubruk ke sana.

Dilihatnya seorang di antaranya mengayun tangannya, kontan ketiga larik sinar perak tergetar balik.

Cepat Ciok-loji memukul, angin pukulan menyambar, ketiga senjata rahasia itu dapat dipukulnya jatuh.

"Siapa sahabat yang menerobos Lamkiong san ceng di tengah malam buta ini, lekas mundur kembali!"

Bentaknya.

Dilihatnya ketiga sosok bayangan itu berseragam sama, baju hitam dan pakai kedok, kedua orang kanan kiri bersenjata golok, yang di tengah bertangan kosong, di bawah kain kedoknya kelihatan jenggotnya yang putih.

Ketiga orang itu mendengus, serentak mereka mengerubut maju.

Kedua potlot baja Ciok-loji bekerja cepat, serentak ia tutuk dada ketiga penyatron.

Si kakek berjenggot memberi tanda berhenti kepada kawannya, lalu berseru.

"Apakah sahabat yang mengadang ini kedua saudara keluarga Ciok dari Tiam-jong-pai?"

"Kalau betul mau apa?"

Jawab Ciok-loji bengis.

"lekas mundur, kalau tidak, jangan menyesal jika kami tidak sungkan lagi."

"Hm, aku justru ingin coba-coba kepandaian jago Tiam-jong, jengek Si kakek. Kedua orang berkedok dan bergolook itu segera menyurut mundur dan si kakek oun perang tanding dengan ciok-loji. Senjata si kakek berkedok ini adalah cambuk panjang berwama hitam, hanya sekali dua serangan saja Ciok-loji sudah terkurung di tengah bayangan cambuk yang dasyat.

"Yim ong-hong!"

Seru Ciok-loji terkesiap.

"Betul,"

Kata si kakek berkedok dengan tertawa.

"Haha, tak tersangka setelah mengasingkan diri 20 tahun masih ada kawan Bulim yang kenal diriku."

Lelaki berpedang itu juga terperanjat, ia sudah kerepotan melawan Lamkiong-peng, kini diketahui pula si kakek berkedok ini adalah bandit termashur pada 20 tahun yang lalu, tentu saja ia tambah kuatir.

Segera ia merogoh saku dan dilemparkan ke udara, selarik cahaya meluncur dan meletus di atas, seketika tersebarkan bunga api sebagai hujan.

Lamkiong Peng juga curiga karena kedua orang itu merintanginya mati-matian, apabila benra mereka melindungi perkampungannya, mengapa jejak mereka dirahasiakan dan main sembunyi, jelas karena asal usul mereka tidak boleh diketahui orang lain.

Jika Yim ong-hong yang sudah menhilang 20 tahun ini, apa maksud tujuan kedatangannya ini?

Dalam pada itu terdengar Ciok-lojj lagi berseru.

"Yim ong-hong, kau berani melanggar sumpahmu sendiri, dan kini mengaduk lagi di dunia kangouw, apakah kau tidak takut Hong-tun-sam-yu akan mencarimu?"

"Hahaha, sudah belasan tahun jejak Hong-tunsam-yu tidak kelihatan di dunia kangouw, mungkin ketiga tua bangka itu sudah mampus semua, maka sumpahku dengan sendirinya juga batal,"

Jawab Yim ong-hong dengan tertawa.

"Barubaru ini kudengar di sini ada berjuta tahil perak, tanpa terasa hatiku tergelitik. Anehnya Tiam-jongsiang-kiat yang termashur mengapa sudi menjadi penjaga rumah orang, apakah barang kali kalian juga mengincar harta berjuta tahil ini?"

"Hm, jika kaupun mengincar harta benda yang berada disini, sama halnya kau lagi mimpi,"

Jengek Ciok-loji. Ia terus berjaga dengan rapat, meski cambuk Yim ong-hong menyerang dengan gencar belum juga mampu merobohkan lawan.

"Menyingkir!"

Bentak Lamkiong Peng mendadak, sekali hantam ia desak mundur pengadangnya. Tentu saja kedua ciok bersaudara, tercengang. Juga Yim ong-hong melenggak, teriaknya.

"He, anak muda, apa maksudmu ini? jika perkampungan ini berhasil diserbu, tentu engkau akan mendapat bagian yang menarik, lekas bereskan Ciok-lotoa dulu!"

Sesudah menyebarkan bunga api tadi dan sejauh ini belum kelihatan datang bala bantuan, diam-diam Ciok-lotoa yang berepdang itu menjadi gelisah, cepat ia menanggapi ucapan Yim onghong,"

Jangan percaya ocehannya sahabat muda, orang ini adalah bandit yang terkenal kejam, caranya merampok terkenal main sapu bersih tanpa kenal ampun, mana mungkin dia membagi bagian rezeeki padamu.

Jika kau bantu kami menggempurnya mundur, mungkin engkau akan mendapat ongkos yang layak."

Diam-diam Lamkiong Peng mendongkol, sudah dirinya disangka sebagai penjahat, sekarang harta benda keluarganya menjadi incaran pula.

Meski dia meragukan tingkah laku kedua Ciok bersaudara, tapi orang memang mempertahankan keselamatan perkampungannya, jelas kawan dan bukan lawan, sebaliknya komplotan Yim ong-hong ini jelas adalah penyatron yang mengincar harta keluarganya.

Segera ia melancarkan pukulan dasyat sehingga cambuk Yim ong-hong sama sekali tidak berdaya menembus pertahanannya.

Tentu saja Yim ong-hong terkejut oleh ketangkasan anak muda itu, hanya dengan bertangan kosong ternyata mampu melawan cambuknya yang lihai ini.

Smentara itu kedua Ciok bersaudara sempat mengalihkan perhatian untuk melayanikedua orang berkedok yang bergolok itu.

"Hm, rupanya kedua saudara Li dari Thay-hingsan,"

Jengek Ciok-loji. Salah seorang berbaju hitam dan berkedok itu balsa mendengus.

"Hm, tajam amat mata Ciokloji!". Mendadak ia menarik kedoknya dan bergelak.

"Haha, baiklah biar kuperlihatkan wajah asli tuan besar Li!"

Kakak kedua Li bersaudara ini bemama Li Thihai berjuluk Hoa-to atau golok kembangan, adkinya soat-to Li Hui-hai, si golok salju juga membuang kain kedoknya sambil berteriak.

"Nah, setelah kalian melihat dengan jelas wajah kami, bolehlah kalian mengadu kepada raja akhirat!"

Kedua Li bersaudara ini sama berkepala besar dan bermata melotot, bercambang dengan perawakan tinggi besa.

Namun golok mereka adalah senjata ringan dan gesit.

Keempat golok segera bekerja sama dengan rapat, cahaya perak berhamburan serupa salju, serentak Ciok-loji berdua terserang dengan gencar.

Tanpa bicara kedua Ciok bersaudara melayani lawan dengan sama tangkasnya.

Diam-diam Lamkiong Peng membatin.

"Sekaligus tokoh Bulim kelas tinggi ini membanjiri Lamkiong san ceng, jangan-jangan ayah telah mengumpulkan harta benda hasil penjualan berbagai cabang perusahaan ke sini, entah apa maksuda tujuan ayah dengan tindakannya ini?"

Angin meniup semakin kencang, hujan pu tambah lebat, di kegelapan hutan sana mendadak meluncur pula tiga larik cahaya terang, lalu bunga api berteberan di udara.

Menyusul di sekeliling bergema suara teriakan dan bentakan diseling suara nyaring beradunya senjata.

Seketika air muka semua orang sama berubah.

Tampaknya sebelah sana kedatangan penyatron lagi,"

Desis Ciok-loji kepada saudaranya.

"Antara Yim ong-hong dan Cin Luan-ih biasanya ada satu tentu ada dua, selama ini keduanya hampir tidak pemah berpisah, jika sekarang Yim ong-hong berada disini,. Dengan sendirinya Cian Luan-ih juga sudah ikut datang,"

Kata Ciok-lotoa. Yim ong-hong terbahak-bahak, katanya.

"Biar kukatakan terus terang, segenap kawan, kalangan hitam dari ke-13 propinsi sudah datang semua ke lamkiong san ceng ini, apa kalian mesti jual nyawa percuma bagi Lamkiong Sian-ju?"

Habis bicara cambuknya bekerja terlebih kencang, ia menyabat kian kemari sehingga kedua Ciok bersaudara agak kerepotan.

Lamkiong Peng tambah gelisah, ia pikir ayah tidak mahir ilmu silat, jika kawanan penyatron ini sampai berhasil menyerbu ke dalam rumah, entah bagaimana akibatnya nanti."

Karena cemasnya, mendadak ia bersuit dan melompat tinggi ke atas, kedua tangannya meraik, secepat klat ujung cambuk Yim ong-hong terpegang olehnya.

Dengan sendirinya Yim ong-hong menahan cambuknya dengan kuat sambil berseru kaget.

"gaya Si-liong, murid Ci-hau!"

Kedua Ciok bersaudara saling pandang sekejap sambil berucap.

"Ternyata benar Lamkiong Peng adanya!"

Dalam pada itu Lamkiong Peng juga telah melayang turun ke tanah dan menarik sekuatnya sehingga cambuk Yim ong-hong terbetot lurus.

Kedua orang saling tarik dengan kuat, keempat kaki mereka sampai amblas ke dalam tanah.

DI tengah hujan angin yang lebat, suara suitan semakin ramai dan juga tambah dekat di udara muncul bunga api berhamburan.

Pada saat itulah sekonmyong-konyong sesosok bayangan orang mucul dari dalam hutan, dengan dua tiga kali lompatan, langsung bayangan ini menerjang ke sini.

"Aha, bagus!"

Seru Ciok-lotoa dengan girang.

"Tiam-jong-yan juga datang?!"

Seru Yim onghong kaget sehingga tenaganya mengendur.

Pada saat yang sama Lamkiong Peng terus membentak sambil memebetot sekuatnya sehingga cambuk lawan kena dirampasnya.

Bayangan yang menerjang tiba itu, Tiam Jong Yan, si walet dari Tiam-jong, mendengus.

"Hm, Yim ong-hong ternyata benar berada di sini. Dan siapakah sahabat ini?"

"Dia inilah Lamkiong Peng,"

Kata Ciok-loji.

"Apa betul?"

Tim jong yan menegas.

"Gaya Sin-liong, tidak mungkin salah,"

Ujar Ciok-loji. Diam-diam Lamkiong Peng merasa lega keran akhirnya identitas dirinya dapat dikenali mereka. Ia memberi hormat dan berkata.

"Atas kebaikan hadirin yang sudi membela Lamkiong san ceng, di sini Lamkiong Peng mengucapkan terimakasih. Harap kalian bertahan sementara di sini, biar kujenguk dulu ayahku."

Selagi dia hendak tinggal pergi, siapa tahu bayangan orang lantas berkelebat, tahu-tahu Tiam Jong Yan mengadang lagi di depannya. Lamkiong Peng tercengang.

"apakah anda belum percaya bahwa aku inilah Lamkiong peng?"

Dengan dingin Tiam Jong Yan menjawab,"justru lantaran anda Lamkiong Peng, maka terlebih tidak boleh masuk ke sana."

"Meng.........mengapa begitu?"

Tanya Lamkiong Peng dengan tercengang.

"Tiada gunanya banyak bertanya, lekas mundur ke sana!"

Seru Tiam jong yan, sebelah tangannya lantas menilak ke depan.

Tentu saja lamkiong peng bertambah curiga, sambil mengelak, mendadak tangan terasa mengencang, kiranya ujung cambuk sebelah sana kena di pegang lagi oleh Yim ong-hong, sekali bentak segera ia menarik cambuk sekuatnya, menyusul lantas diputar dan menyabat kepada Lamkiong Peng.

Malahan Tiam Jong Yan juga melancarkan pukulan maut ke dada anak muda itu.

Kedua orang ini terhitung tokoh kelas tinggi, serangannya sangat lihai, cepat Lamkiong Peng mengelak.

Yim ong-hong tergelak.

"haha, kukira Tim jong pai kalian juga tidak bermaksud baik......."

Belu lenyap suaranya, kedua telapak tangan Tiam jonbg pai menghantam sekaligus, yang kiri memukul Lamkiong Peng, yang kanan menghantam Yim ong-hong sekuatnya.

Terpaksa Yim ong-hong menarik kembali serangnnya kepada Lamkiong Peng, cambuknya berganti arah di tengah jalan dan menyabat iga Tiam Jong Yan.

Kesempatan itu digunakan Oelh Lamkiong peng menarik diri, dengan cepat ia hendak melompat ke arah perkampungan.

Tak terduga Yim ong-hong dan Tiam Jong Yan kembali merintanginya.

"Tiam Jong Yan"

Bentak Lamkiong Peng.

"percuma engkau dikenal sebagai tokoh perguruan temama, apakah sekarang kaupun menjadi bandit yang tamak harta?"

"Hm, siapa yang menghendaki hartamu?"

Jengek Tiam Jong Yan.

"Jika begitu mengapa kau ganggu rezeki kami?"

Tukas Yim ong hong.

"dan mengapa kau pun merintangi jalanku?"

Bentak lamkiong Peng murka.

Muka Tiam Jong Yan tampak masam, ia tidak menjawab, tapi serangannya tambah dasyat.

Di sebelah sana kedua Ciok bersaudara yang menandingi kedua Li bersaudara tampak sudah muali unggul, sedangkan suara suitan dan bentakan di tengah hutan sana semkin mendekat, malahan sering diselingi suara jeritan ngeri, jelas ada orang terluka dan binasa.

Hanya di perkampungan yang terletak di kedalaman hutan sana tetap kelam tanpa terdengar scuatu suara.

Sekonyong-konyong terdengar orang menjerit di samping.

Permainan golok Li hui-hai menjadi kacau, pedang Ciok-loji telah menusuk bahu kirinya, darah munerat membasahi baju Ciok-loji.

Li thi-hai terkejut, serunya.

"He, jite, apakah parah lukamu?"

Li hui-hai menggertak gigi, ia menerjang maju lagi, serangannya tambah kalap, mendadak kakinya menendang sehingga sebuah potlot baja ciok-lotoa terlepas dari pegangan.

Li Thi-hai meraung sambil menabas sehingga lengan kiri terluka panjang, pedang Ciok-loji juga membalik dan melukai lengan kanan Li thi-hai.

Dalam sekejap keempat orang sama terluka dan berlumuran darah, namun semuanya pantang mundur, tetap bertempur dengan sengit.

"Hm, jika kalian bertiga bukan tamak terhadap harta untuk apa kalian mengadu jiwa bagi Lamkiong siang-ju?"

Bentak Yim ong-hong.

"Dan bila kalian benar membela lamkiong-sanceng kami, mengapa kalian merintangiku ke sana?"

Lamkiong Peng juga berteriak.

Namun Tiam Jong Yan dan kedua ciok bersaudara tetap bertempur tanpa bicara.

Air hujan mengguyur air darah dan menggenangi jalan yang becek.

Mendadak terdengar suara bentakan dan jeritan, sesosok bayangan terguling keluar dari kegelapan hutan sana dengan luka di dada.

Sekilas pandang segera Tiam Jong Yan menendang sehingga orang itu terpental.

"Wah, celaka, si harimau gila Tio Kang terjungkal,"

Teriak Li thi-hai.

"Hm, jika tidak lekas mundur, tiada satupun diantara kalian dapat pergi dengan hidup,"

Jengek Ciok-loji.

Belum lenyap suaranya kembali seorang bayangan menerjang keluar dari kegelapan hutan sambil menjerit, langsung ia menerjang ke depan Li thi-hai, pedang yang dipegangnya lantas menabas, tapi ia sendiri keburu menyemburkan darah segar, mata mendelik dan segera roboh terjungkal.

Agaknya orang ini binasa terkena pukualan kuat.

"Celaka, Go sute terbunuh,"

Teriak Ciok-lotoa, selagi ia hendak memeriksa kawannya mendadak dua kali tabasan golok Li Hui-hai membuatnya melompat mundur.

"Hm, sahabat Hek-to ke 13 propinsi sudah berkumpul di sini, Tiam jong pai kalian hari ini mungkin akan tertumpas seluruhnya di sini,"

Jengek Li thi-hai.

"Kentut busuk!"

Bentak Ciok-loji murka sekaligus ia melancarkanlima kali tusukan.

Tergerak hatiLamkiong Peng,ia tidak mau terlibat lebih lama lagi dalam pertempuran yang tak keruan juntrungannya ini.

Mendadak ia mendesak mundur Tiam Jong Yan, kebetulan waktu itu cambuk Yim ong-hong juga menyabat, selagi Tiam Jong Yan kerepotan menghindari serangan dua jurusan, kesempatan ini segera digunakan Lamkiong Peng untuk melompat ke arah perkampungan.

Baru saja tubuh Lamkiong Peng meluncur ke depan, Ciok-lotoa membentak, sebelah potlot bajanya disambitkan.

Ketika mendengar desing angin tajam menyambar dari belakang, tanpa menoleh Lamkiong Peng melompat sekuatnya ke depan sambil mengebaskan sebelah tangan ke belakang, potlot baja lawan jadi ketinggalan dan jatuh di tanah.

Li hui-hai menjadi kalap, selagi Ciok-loji menabas dengan pedangnya, ia tidak menghindar, sebaliknya golok langsung menabas pundak Cioklotoa hingga darah munerat.

Sambil meraung kesakitan, ciok-lotoa, menubruk maju, kontan kedua golok Li hui-hai menikam sehingga menembus perut Ciok-lotoa, tapi kedua tangan Ciok-lotoa yang kuat juga mencekik leher Li hui-hai, sebelum Li hui-hai sempat meronta tahu-tahu mata mendelik dan tulang kerongkongan tercekik patah, darah pun mengucur dari mulutnya dan binasa seketika.

Kejut dan gusar Ciok loji sambil meraung kalap pedangnya juga menusuk iga Li hui-hai hingga menembus ke iga sebelahnya.

Tentu saja Li Thi-hai tidak tinggal diam, goloknya juga membacok sehingga lengan kanan Ciok-loji terpenggal, teriaknya parau.

"Serahkan nyawamu!"

Belum lenyap suaranya, pukulan Ciok-loji juga tepat mengenai dada Li Thi-hai.

Kontan Li thi-hai tumpah darah dan golok jatuh ke tanah.

Lengan kanan Ciok-loji pun buntung sebatas pangkal pundak, namun dia tidak merasakan sakit, seperti lengan kutung itu bukan miliknya, menyusul kakinya menendang pula ke selangkangan Li thihai.

Terdengarlah jeritan Li thi-hai, tubuhnya mencelat dan jatuh ke dalam hutan, jelas nyawa pun amblas.

Kedua tokoh kalangan hitam semuanya binasa dalam sekejap.

Ciok-loji sempoyongan, tersembul senyuman pedih pada ujung mulutnya, gumamnya.

"Lotoa, sudah kubalaskan sakit hatimu.........."

Belum lanjut ucapannya ia pun jatuh kelenger.

Karena tersabat oleh cambuk Yim Ong Hong, Tiam Jong yan juga kesakitan, sekilas pandang dilihatnya kedua Ciok bersaudara telah sama menggeletak, tentu saja ia terkesiap, diam-diam ia berkeluh.

"Ai, habislah semuanya!"

Waktu ia memandang ke sana, dilihatnya Yim ong hong lagi berjongkok kesakitan kena tendangannya tadi. Bentaknya,"

Kau bilang sahabat kalangan hitam ke 13 propinsi hampir semuanya berkumpul di sini, apakah benar tujuan kalian adalah harta benda keluarga Lamkiong ini?"

Meski kesakitan, Yim ong hong tetap tenang, jawabnya.

"Habis untuk apa para kawan berkumpul di sini jika bukan lantaran ada rezeki?"

Tiba-tiba timbul akal keji Tiam jong yan katanya.

"Setelah mendapatkan bagian rezeki itu, apakah kalian segera angkat kaki dari sinji?"

"Sesudah berhasil, tentu saja kami akan pergi, untuk apa berdiam di sini? Hah, orang pintar sebagai Tiam jong yan mengapa mengajukan ppertanyaan begini?"

Sahut Yim ong-hong tertawa.

Mendadak Tiam-jong-yan alias Kongsun Yan meluncurkan tiga larik sinar lagi ke udara, terdengar letusan disertai bunga api yang bertebaran memenuhi angkasa.

Tergerak hati Yim Ong-hong, ia tahu orang sedang memanggil kawannya, segera ia pun bersuit memberi tanda.

Dalam sekejap terdengarlah suara teriakan di dalam hutan yang menyerukan berhenti bertempur.

Segera sesosok bayangan tingggi besar melompat keluar dari kegelapan hutan sana sambil berseru.

"Bagaimana, Yim-lotoa?"

Orang ini berambut ubanan semua, suaranya lantang, namun keadaannya kelihatan runyam, baju tak teratur berlepotan air darah dan air hujan, ia pun bersenjata cambuk.

Dia inilah Cin Luan-ih, salah seorang dari Hong-ih-siang-pian, kedua cambuk angin dan hujan, dua tokoh bandit yang pemah mengguncangkan dunia kangouw.

"Tiam-jong-yan lopas tangan! "

Jawab Yim Onghong.

Cin Luan-ih tertawa puas, tapi kelika melihat mayat kedua Li bersaudara.

ia pun terkejut.

Sementara itu bayangan orang berbondongbondong melayang keluar pula dari dalam hutan, sebagian besar melompat ke belakang Hong-ihsiang-pian, sebagian kecil, empat orang tojin dan tiga pemuda berpedang, mendekati Kongsun Yan.

Terkesiap juga Kongsun Yan melihat sisa kawannya itu, tidak terkecuali kawannya juga kaget melihat keadaan medan tempur, salah seorang tojin berjenggot berseru.

"Hah, Ciok toako dan Ciok-jiko ...."

Kiranya di antara ke-17 jago Tiam-jong-pai yang datang ini, ada sembilan orang yang terbunuh. ''Sudahlah ...."

Ucap Kongsun Yan dengan menghela napas.

"Sudahlah bagaimana? Apa maksudmu?' tanya si tojin jonggot hitam yang bergelar Thian-go Tojin.

"Biarkan mereka lewat ke sana."

Ucap Kongsun Yan pelahan.

"Jiko, mana boleh ...."

Belum lagi Thian-go bicara lebih lanjut, mendadak Kongsun Yan memberi tanda.

"Jangan banyak bicara, biarkan mereka lewat! "

Thian-go Tojin mengepal erat kedua tinju nya, suatu tanda tidak rela atas kebijaksanaan sang Suheng. Serentak belasan orang sama me-layang ke arah perkampungan sana. Kongsun Yan lantas mendesis.

"Agaknya Samte tidak tahu maksudku. Hari ini kawanan penyatron yang datang tidaklah sedikit, untuk menghemat tenaga, apa salahnya kita biarkan mereka langsung menuju ke sana, tentu mereka akan disambut golongan lain yang sudah menunggu di sana. Kita boleh tunggu saja di sini, apakah mungkin kita akan membiarkan harta benda diboyong mereka begitu saja?"

Thian-go melenggong, ia simpan kembaili pedangnya dan mengangguk, katanya.

"Ya, perhitungan Jiko memang harus dipuji."

Kongsun Yan memandang para anak mu-rid Tiam-jong yang hadir, ucapnya pula dengan menyesal.

"Kalian tahu, demi memenuhi janji dengan kaum iblis pada berpuluh tahun yang lalu oleh leluhur kita, bilamana sekarang kita dapat membendung musuh dan mempertahankan diri sudahlah lumayan. Yang kuharap asalkan harta benda itu tidak sampai diangkut pergi, untuk itu biarpun jiwaku barus melayang juga kurela. Ciangbun Suheng sudah .... Ai, selanjutnya hanya Samsute saja yang harus memikul tugas mengembangkan Tiam-jong-pai kita."

Thian-go To-jin nununduk terharu, anak murid Tiam-jong-pai yang lain pun sama prihatin menghadapi tugas selanjutnya yang berat Angin mendesir, hujan masih turun dengan lebatnya membuyarkan darah yang memenuhi tanah di situ.

Malam tambah larut, di bawah hujan Lamkiong Peng terus berlari dengan cepat.

Ha-nya sebentar saja bayangan rumah megah di depan sudah kelihatan.

Terbangkit semangat Lamkiong Peng, ber-bagai tanda tanya dalarn benaknya sejenak lagi akan menjadi jelas.

Namun hatinya tetap diliputi ketegangan.

Secepat terbang Lamkiong Peng melompati undak undakan rumah yang panjangnya lebih 20 tingkat itu.

Tempat ini sudah dikenalnya dengan baik sejak kecil, begitu kaki menyentuh undakan batu yang dingin itu, timbul juga perasaan hangat dalam lubuk hatinya.

Tak terduga pada saat itu juga mendadak dari dalam rumah bergema suara bentakan pe-lahan.

"Kembali!"

Tiga bintik perak serentak menyambar tiba, dua titik perak di depan, satu titik di belakang.

Akan tetapi ketika hampir mendekati sasaran, titik perak terakhir itu mendadak meluncur terlebih cepat dan mendahului yang lain.

Keruan Lamkiong Peng terkejut, cepat ia mengegos, terdengar suara desing tajam me -nyambar lewat di samping telinga, berbareng itu ia melompat ke atas sehingga kedua titik senjata rahasia yang lain pun Iuput mengenainya.

Waktu ia hinggap kembali di lantai, suasana dalam rumah lantas sunyi senyap seperti tidak pemah terjadi sesuaiu.

Cemas hati Lamkiong Peng memikirkan kedua orang tua, segera ia berteriak, ''Siapa yang berada di dalam, ini Lamkiong Pmg sudah pulang!"

Belum Ienyap suaranya terdengarlah orang berseru di dalam.

"Ah, kiranya anak Peng adanya! "

Sesosok bayangan secepat terbang me-layang keluar.

Belum lagi Larnkicng Peng sem-pat menghindar, tahu-tahu bayangan orang sudah memegang pundaknya, Sekuatnya Lamkiong Peng meronta, tapi sukar terlepas.

Sekilas pandang dilihatnya rambut orang semrawut, namun kedua matanya terang dan bersinar welas asih, siapa lagi kalau bukan sang ibu.

Sungguh mimpi pun tak terpikir olehnya bahwa sang ibu mempunyai kungfu setinggi itu.

Selagi ia melenggong, sang ibu telah merangkulnya dengan erat sumbil berseru.

' O, anakku, engkau sudah pulang, sungguh sangat kebetulan!"

Kasih sayang ibunda sungguh menghibur hati Lamkiong Peng yang cemas, lapar, lelah dan curiga.

Di tengah ruangan besar yang guram itu hanya diterangi sebuah lentera kecil hampir padam tertiup angin ketika pintu mendadak terbuka.

Waktu Larnkiong Peng masuk ke dalam tertampaklah berpuluh peti besar tertimbun di tengah ruangan, di atas peti penuh menancap berbagai senjata rahasia.

Pada deretan kursi di sekitar sana duduk bersandar beberapa lelaki kekar yang kelihatan lesu, malahan ada yang kelihatan berlepot-an darah, ada yang napasnya terengah dan sebagian memejamkan mata setengah mengantuk, jelas mereka habis mengalami pertempuran sengit dan terluka.

Di tengah ruangan yang agak runyam ini berdiri pula dengan tenang seorang tua berbaju perlente, jenggotnya kelihatan bergoyang tertiup angin, namun sikapnya tetap tenang dan sinar matanya mencorong.

"Ayah! "

Seru Lamkiong Peng sambil mem-buru maju dan berlutut di depan orang tua ini.

Dia memang ayah Lamkiong Peng, Lamkiong Siang-ju.

Orang tua ini menghela napas pelahan dan membelai kepala anak kesayangannya, sampai sekian lama tidak sanggup berucap apa pun.

Dengan penuh kasih sayang Lamkiong hujin (nyonya Lamkiong) menggunakan saputangan-nya untuk mengusap air hujan dan air keringat di kepala Lamkiong Peng, ucapnya dengan lembut.

"Nak selama ini tentu telah bikin su-sah padamu, selanjutnya mungkin engkau akan tambah sengsara lagi."

Lamkiong Siangju hanya tersenyum getir saja tanpa bersuara.

Melihat wajah sang ayah yang rawan dan muka ibunda yang pucat kurus, keadaan di dalam rumah juga tampak runyam.

Lamkiong Peng tahu tentu telah terjadi hal-hal yang luar biasa, capat ia tanya.

"Ayah, sebenarnya apa yang terjadi'' Kenapa berbagai cabang per-usahaan kita telah kaututup? Tiam-jong-pai yang selamanya tidak ada sangkutpaut apa pun dengan kita mengapa sekarang ikut mengepung perkampungan kita, seperti menjaga, tapi juga kelihatan tidak bermaksud baik terhadap kita. Kecuali itu, Kun-mo-to yang sering tcidengar di dunia kangouw tapi tidak pemah terlihat orangnya, mengapa juga memusuhi kita? Ayah, mohon jelaskan semua itu, sungguh anak teramat cemas dan gelisah."

"Sabar dulu, nak, kenapa kaujadi segopoh ini? "

Ujar Lamkiong-hujin.

"Sebentar ayahmu tentu akan menjelaskan duduknya perkara."

Dengan wajah prihatin Lamkiong Siang-ju naelangkah ke luar pintu, setelah memandang sejenak, mendadak ia membalik tubuh dan memberi hormat sambil berkata.

"Maaf, jika terpaksa kuperlakukan kalian secara kurang hormat! "

Selagi semua orang yang duduk lesu itu merasa heran, ada yang berdiri dan bertanya.

"Ada ..ada apa ...."

Tahu-tahu bayangan Lamkiong Siang-ju berkelebat dan memenuhi seluruh ruangan, semua orang yang baru berdiri itu sama roboh terduduk lagi di kursi masing-masing serta tak sadarkan diri, hanya sebentar saja lantas men-dengkur dan tertidur dengan nyenyak.

Melihat ketangkasan sang ayah yang hanya dalam sekejap saja telah menutuk hiat-to tidur semua orang, keruan kejut dan heran sekali Lamkiong Peng, serunya.

"Hah, kiranya ayah menguasai kungfu sehebat ini?! "

Kiranya di kolong langit ini tidak ada seorang pun yang tahu bahwa bos keluarga Lamkiong yang kaya raya dan termashur ini ternyata teorang ahli silat maha tinggi yang jarang ada bandingannya, sampai putra kesayangan sandiri juga baru sekarang tahu hal ini.

Dalam pada itu Lamkiong Siang-ju telah berdiri menghadapi dinding dan berucap dengan suara berat.

"Anak Peng, sejak kecil kauhidup tidak kekurangan apa pun, hanya kau saja permata hati ayah-bunda, apa pun ke-salahanmu ayah-bunda tidak pemah marah padamu, apakah kautahu sebab apa semua ini? "

Lamkiong Peng tidak dapat melihat wajah sang ayah, tapi dari pundaknya yang bergetar jelas hati orang tua itu sangat dirangsang emosi, tentu saja ia gugup, sahutnya.

"Anak ... anak tidak tahu, mungkinkah anak berbuat sesuatu kesalahan? "

"Apa yang kukatakan itu adalah karena menyangkut nasibmu selanjutnya."

Ucap Lamkiong Sian ju pula.

"Soalnya, untuk seterusnya tak dapat lagi kauhidup cnak soperti sebelum ini, mungkin malah akan hidup menderita dan harus berani menghadapi ujian berat."

Lamkiong Peng merasa bingung, tanyanya dengan suara gemetar.

"Bilamana anak harus menderita bagi ayah-bunda kan pantas juga, hanya ... hanya mengapa ayah bicara, demi-kian, sesungguhnya ada ... ada urusan apakah? "

"Keluarga Lamkiong, maha kaya raya, apakah kautahu dari mana datangnya kekayaan sebesar ini? "

Ucap Lamkiong Siang-ju dengan prihatin. Lamkiong Peng melongo bingung.

"Kakek-moyangmu berasa! dan keluarga miskin."

Demikian tutur Lamkiong Siang-ju.

"Sepnti juga orang meskin umumnya, kakek-moyang kita kenyang menjalami penderitaan hidup sengsara. Akhirnya beliau bersumpah ingin menjadi orang kaya, dengan hemat beliau mengumpulkan sedikit sangu dan ikut berlayar dengan serombongan pelaut.

"Tak terduga, di tengah jalan kapal yang di tumpangi mengalami angin badai dan kapal tarbalik, kakek-moyang kita beruntung mendapatkan sepotong kayu dan terhanyut meng-ikuti arus, untunglah beliau tidak meninggal dan terdampar ke sebuah pulau yang tak diketahui namanya.

"Dalam keadaan begitu, cita-cita beliau ingin menjadi kaya kembali buyar serupa mimpi belaka, saking sedihnya dia menangis tergerung-gerung. Tak terduga, pulau karang itu ternyata bukan pulau kosong tanpa peng-huni. pada saat kakek moyang merasa putus asa, tiba tiba diketahuinya di tengah pulau terdapat banyak orang tua yang berpakaian model kuno. Kiranya pulau karang itu adalah pulau misterius yang dalam dongeng dunia persilatan di sebut Cu-sia-ci-tian (istananya para dewa)."

Kembali Lamkiong Peng melenggong. Didengarnya sang ayah menyambung lagi.

"Setelah menemukan kakek moyang, kawanan orang tua itu tanya tentang asal-usul dan pengalamannya. Beliau diamat-amati dengan teliti, akbirnya kakek moyang-diperbolehkan tinggal di situ.

"Dengan cepat sekali tiga tahun sudah lewat, selama tiga tahun itu kakek moyang banyak mengalami kesukaran, beliau harus be-kerja giat siang malam tanpa kenal lelah, setelah msngalami gemblengan tiga tahun, mendadak kawanan kakek itu membawa kakek-moyang ke tepi laut..Ternyata di situ sudah berlabuh sebuah kapal besar, dalam kapal ter-timbun harta benda yang tak terhitung jumlah-nya.

"Tentu saja kakek moyang terbelalak heran dan bingung, sama sekali tak tersangka olehnya bahwa kavvanan kakek aneh itu dapat memberi hadiah kapal besar dengan isinya. Hanya saja syaratnya kakek moyang diharus-kan bersumpah takkan menyiarkan rahasia ke-kayaan Cu-sin-tian. Selain itu kakek moyang diwajibkan mencicil utang yang dibawanya sekapal penuh itu.

"Rupanya isi kapal itu hanya sebagai modal pinjaman kepada kakek moyang ber-hubung keterangannya yang bersumpah ingin menjadi orang kaya itu. Kawanan kakek ajaib di pulau itu sengaja membantu memenuhi cita-citanya, cuma untuk itu kakek moyang di-haruskan turun temurun keluarga Lamkiong mesti menugaskan putra sulungnya membawa sejumlah harta kekayaannya ke pulau Cu-sin-tian. Setiap turunan jumlah antaran itu harus bertambah sekali lipat, kecuali keluarga Lam-kiong tidak punya keturunan lagi, kalau tidak betapapun janji bayar utang itu tidak boleh diingkari.

"Sampai pada angkatan kakekmu, jumlah utang yang berlipat itu telah berjumlah sukar dihitung dan mendadak datang pula utusan Cu-sin-tian mendesak antaran upeti yang harus dipenuhi itu. Terpaksa kakekmu harus me-ngumpulkan harta kekayaan yang tersebar di berbagai tempat dan menugaskan pamanmu mengantarnya ke Cu-sintian. Waktu itu, aku sendiri belum menikah sedangkan pamanmu sudah mempunyai seorang anak bayi ...."

Baru sekarang Larnkiong Peng mengetahui sejarah keluarganya yang diliputi kcanehan itu dengan suara rada gemetar ia tanya.

"Dan di ....di manakah paman sekarang? Di mana pula saudara sepupuku itu? "

Lamkiong Siang-ju mengeleng, jawabnya.

"Sehari sebelum pamanmu berangkat, dengan nekat dia membunuh istri dan anak kesayangannya yang masih bayi itu. Rupanya dia sudah menghitung,satu angkatan lagi, biarpun keluarga Lemkiong menjual semua harta benda kekayaannya juga sukar memenuhi utang kepada Cu-sin-tian.

"Rupanya pamanmu tidak sampai hati anak keturunannya akan menderita, juga tidak ingin aku kawin dan beranak yang akibatnya juga cuma akan tertimpa sengsara, maka pamanmu meninggalkan pesan sepucuk surat, lalu berangkat dengan membawa harta benda itu dan berlayar ke lautan, sejak itu pun tidak ada kabar beritanya lagi ...."

Bertutur sampai di sini, ia menjadi ber-duka dan tersendat-sendat.

Pada umumnya orang luar hanya tahu keluarga Lamkiong kaya-raya tiada bandingannya, siapa pula yang tahu keluarga kaya ini ternyata penuh dengan darah dan air mata.

"Tidak lama sesudah pamanmu berangkat, kakek juga lantas wafat."

Tutur Lamkiong Siang-ju lebih lanjut.

"Setelah berkabung selama ti-ga tahun, aku lantai keluar mencari kabar jejak pamanmu. Biasanya setiap kali anggota keluarga kita mengirim upeti, sebelumnya pihak Cu sin tian selalu mengirim utusan dengan membawa surat dan memberi petunjuk ke pelabuhan mana harus dituju. Jadi anggota keluarga kita tidak ada yang tahu di mana letak pulau Cu-sin-tian yang sebenarnya, meski sudah sekian tahun aku berkelana tetap tidak mendapatkan sesuatu petunjuk. Akhirnya aku pun putus asa, tak tersangka pada waktu itulah aku bertemu dengan ibumu."

Mendadak Lamkiong-hujin mengusap air mata dan memegang tangan sang suami, lalu berucap pelahan, ' "Biarlah kuteruskan ceritamu Sesudah bertemu dengan ayahmu, kami lantas saling jatuh cinta.

Cuma ayahmu senantiasa berusaha menghindariku.

Sudah tentu aku heran dan sedih.

Dalam gusarku segera kuputuskan juga akan menikah dengan seorang lain.

"Orang itu juga sahabat ayahmu, siapa sangka pada suatu hari ayahmu ... ayahmu kena disergap orang dan keracunan hebat, dalam keadaan sakit parah ayahmu menceritakan sejarah keluarganya kepadaku, maka aku baru tahu sebabnya dia selalu menghindari diriku. rupunya dia mempunyai alasannya, yaitu dia menyadari keluarga Lamkiong yang termashur ini akhirnya akan runtuh, akan bangkrut, ayahmu tidak tega membuatku sengsara di kemu-dian hari, juga tidak tega melahirkan anak yang nasibnya akan menderita, begitu dewasa wajib membayar utang bagi leluhurnya "Tapi ibumu ternyata tidak gentar meng-hadapi semua itu."

Tiba-tiba Lamkiong Siang-ju menyambung, 'dia juga tidak takut kepada kehidupan miskin.

Dalam semalam dia menggendongku ke Thian-san untuk mencari obat penawar.

Maka sejak itu kami tidak pemah berpisah lagi."

tukas Lamkiong-hujin sambil menggelendot di tubuh sang suami.

'Kemudian, se-telah kaulahir, kami bertekad akan membuat bahagia hidupmu, tidak ingin kau belajar ilmu silat, maka kami tidak pemah mengajarkan kungfu padamu.

Siapa tahu watak pembawaanmu justru gemar ilmu silat, kami tidak tega pula melawan kehendakmu, maka kami me-ngirim dirimu kepada Liong Po-si ...

.O, nak, sungguh kami telah membikin susah padamu karena selama ini selalu kami rahasiakan se-mua ini."

Habis bertutur, menangislah nyonya Lam-kiong tersedu.

Sambil membelai rambut putranya, Lamkiong Siang-ju bertutur lagi "Sebenarnya ku-harapkan utusan Cu-sin-tian takkan datang se-cepat ini, sebab itulah kami pun tidak meng-hendaki pemikahanmu.

Siapa tahu sekali ini, agaknya mereka sudah memperhitungkan keka-yaan keluarga Lamkiong takkan terdapat sisa lagi, maka tanpa menunggu kau kawin dan melahirkan anak segera menyampaikan pesan agar selekasnya menyelesaikan pengiriman harta benda kita, untuk itu dirimu ditunjuk yang ha-rus melaksanakan tugas.

"Nak, kautahu semua ini untuk memenuhi sumpah kakek moyangmu, meski ... meski ayahbunda sangat sayang padamu, tapi ... tapi apa yang dapat kami lakukan lagi ..."

Sampai di sini. berderailah air matanya. Mendadak Lamkiong Peng membusungkan dada dan berseru tegas.

"Ayah dan ibu, urus-an utang keluarga Lamkiong kita dengan sen-dirinya harus kita tuntaskan ...."

"Tapi kau, nak ...."

Lamkiong-hujin tidak sanggup meneruskan lagi.

"Anak pasti akan pulang kembali."

Seru Lamkiong Peng tegas.

"betapa misteriusnya Cu-sinthian itu, anak bersumpah akan pulang ke sini untuk mendampingi ayah dan ibu. Biarpun di sana ada dinding tembaga dan tembok baja juga takkan mampu mengurung anak. Apalagi jika para penghuni di sana berjuluk Para Dewa, masa mereka memaksa orang berbuat tidak bakti kepada orang tua?' "Tapi ... tapi sekali ini lain daripada biasanya."

Ujar Lamkiong Siang-ju dengan se-dih.

"Akhirakhir ini orang dari Kun-mo-to justru muncul lagi di dunia kangouw, bahkan mereka bertekad merintangi kita mengirim harta ke Cu-sin-tian."

Baru sekarang Lamkiong Peng menyadari duduknya perkara.

"Pantas dengan janji rahasia mereka memaksa berbagai golongan orang Bu-lim untuk bersama-sama merampas harta kirim-an keluarga Lamkiong."

Lamkiong Siang-ju menghela napas.

"Se-karang anak murid Tiam-jong yang datang itu masih berkumpul di luar perkampungan sana, sebab mereka gagal merampas harta benda yang tidak sedikit ini. Kelihatan mereka seperti berjaga, sebenarnya mereka mengawasi supaya kita tidak dapat mengirim keluar harta benda yang tidak sedikit ini. Selain itu ada lagi ka-wanan bandit besar dunia kangouw yang juga mengincar rejeki nomplok ini.

"Selama beberapa hari ini entah berapa kali telah terjadi pertempuran sengit di perkampungan kita ini dan banyak mengalirkan darah. Ai, harta, selain membawa sengsara bagi keluarga Lamkiong kita, apa pula yang kita dapatkan? Anakku. jika engkau dilahirkan di keluarga miskin, tentu takkan kaurasakan pen-deritaan seperti sekarang ini."

Di luar hujan nusih turun dengan lebatnya. Mendadak di luar jendela ada orang meng-hela napas panjang.

"Ai, aku salah! "

Lamkiong Peng terkejut, bentaknya.

"Siapa itu? "

Segera Lamkiong Siang-ju pun melompat ke depan jendela dan membuka daun jendela. Tapi sebelum orang tua itu bertindak lebih lanjut, suara orang tadi telah menegur.

"Lotoa, apa sudah pangling padaku?' "Hah, Loh Ih-sian! "

Seru Lamkiong-hujin sambil memburu maju. Lamkiong Siangju juga berseru kaget.

"He, Jite, kiranya engkau? "

Waktu Lamkiong Peng mengawasi, ter-tampak di luar jendela berdiri seorang tua ber-kepala botak, segera dikenalinya si kakek aneh bemama Ci Ti alias mata duitan itu.

Sungguh tak tersangka olehnya bahwa kakek yang mata duitan ini adalah "Jite "

Atau saudara kedua sang ayah. Seketika ia jadi melongo. Dilihatnya kakek botak itu telak melompat masuk dan berhadapan dengan sang ayah.

"Jite."

Ucap Lamkiong Siang-ju sambil memegangi pundak Ci Ti.

"Sekian lama tidak bertemu, mengapa...mengapa engkau ber-ubah begini? "

Ci Ti termenung-menung seperti orang linglung, tiba-tiba ia bergumam.

"Aku salah, aku salah! "

"Ah, urusan yang sudah lalu, untuk apa kaupikirkan lag!."

Ucap Lamkiong-hujin dengan sedih.

"Aku dan Toako tidak menyalahkanmu, sebaliknya malah merasa ... merasa bersalah padamu."

"Tidak, aku salah."

Seru Ci Ti mendadak sambil berlutut di depan Lamkiong Siang-ju dan mencucurkan air mata.

"Toako, kuminta maaf ...."

Lekas, bangun, Jite."

Kata Lamkiong Siang-ju sambi! menarik si kakek botak.

"Tidak, Selama urusannya tidak kukatakan, mati pun aku tidak mau berdiri lagi."

Kata Ci Ti.

"Soal ini sudah 20 tahun menekan hatiku. Pada waktu itu, kusangka Samoay (adik ketiga) silau kepada kekayaan keluarga Lamkiong, maka aku ditinggalkan untuk menikah dengan-mu. Aku tidak tahu bahwa sebelum berkenal-an denganku dia sudah mencintaimu. Tidak kuduga bahwa dia menikah denganmu, bukan lantaran kemaruk kepada kekayaanmu, dia justru rela ikut sengsara bersamamu, sebaliknya aku ... aku malah tinggal pergi tanpa pamit, bahkan kudatangkan serombongan mu-suh untuk merecoki kalian ...."

"Ai, Jite, aku dan Samoay kan tidak ber-alangan apa pun, untuk apa mengangkat lagi urusan lampau dan buat apa engkau menista diri sendiri."

Ujar Lamkiong Siang-ju dengan menyesal. Tidak boleh tidak harus kukutuk diriku sendiri, dengan begitu barulah hatiku bisa agak tentram."

Kata Ci Ti.

"Selama puluhan tahun ini siang dan malam kukutuki kalian, seperti orang gila aku mencari harta benda, kecuali merampok dan mencuri. hampir dengan segala jalan aku berusaha mengumpulkan harta ben-da, aku pun mengasingkan diri, hidup hemat dan melarat, orang sama menganggap aku orang gila, tidak ada yang tahu bahwa aku sengaja bersumpah akan mengumpulkan harta benda yang lebih banyak daripada kekayaan keluarga Lamkiong, akan tetapi ...."

Mendadak ia melemparkan karung yang dibawanya dan berteriak pula.

"Ini, biarpun kukumpulkan harta benda berjuta-juta tahil, lalu apa gunanya? Baru sekarang kutahu be-ta pa besarnya harta benda tetap tidak dapat membeli cinta yang mumi, biarpun kekayaan berlimpah tetap takdapat mengurangi derita se-orang. Baru sekarang kusadar, Toako aku ... aku salah padamu, harap engkau sudi mem-beri ampun."

"Sudah kaudengar ceritaku tadi?'' tanya Lamkiong Siang-ju dengan rawan. Ci Ti mengangguk. Cepat Lamkiong Siang-ju membangunkan-nya dan berkata.

"Apa pun juga hari ini kita bertiga telah berkumpul kembali di sini, sung-guh menggembirakan dan bahagia."

Ia tertawa cerah, lalu berpaling dan berkata pula.

"Anak Peng, lekas memberi hormat kepada paman. Inilah Loh lh-sian, paman Loh yang dahulu terkenal sebagai Sin-heng-bu-eng-tang-kun-thiciang (si pelari cepat tanpa bayangan, kepala tembaga dan pukulan besi).

"Lekas Lamkiong Peng melangkah maju dan memberi hormat. Loh Ih-sian mengusap air matanya, kata-nya dengan tertawa.

"Nak, tentu tak kausangka kakek yang mata duitan ini adalah pamanmu."

Lamkiong-hujin juga terharu, ucapnya dengan tersendat.

"Sungguh tak terduga akhirnya kita berkumpul lagi, tak nyana sekarang engkau suka berdandan secara begini. Ai, masa ... masa engkau begitu miskin sehingga baju pun tidak mampu beli."

"Aku bukan miskin, tapi terlampau kikir."

Ujar Loh Ih-sian dengan tertawa.

"Meski da-lam karungku terisi berjuta tahil perak, tapi satu tahil pun kusayang menggunakannya."

"Kutahu apa yang kaulakukan ini adalah lantaran dia (maksudnya sang istri)."

Kata Larokiong Siang-ju dengan gegetun.

"Ai, engkau memang ...."Cis. sudah sama tua, untuk apa bicara kejadian dulu di depan anak."

Omel Lamkiong-hujin dengan agak jengah.

Meski hati ketiga orang tua ini diliputi rasa sedih dan haru, tapi juga merasa gembira karena dapat berkumpul kembali.

Sesaat itu mereka scakanakan berada pada 20 tahun yang lalu.

tatkala mereka masih muda dan malang melintang di dunia kangouw bersama.

Pada saat itulah mendadak terdengar orang membentak di luar serentak tiga batang pa-nah bersuara menyambar masuk lewat jendela dan "cret ", sama menancap di atas peti yang bertumpak di tengah ruangan itu.

"Haha, bagus, tak tersangka ada kawanan bandit berani menyatroni rumah Toako se-karang."

Kata Loh Ih-slan dengan tergelak.

"Tenaga pemanah ini tampaknya tidak lemah, entah orang gagah dari mana? "

Kata Lamkiong Siang-ju dengan tertawa. Segera terdengar seorang berteriak di luar.

"'Yim Ong-hong dan Cin Lun-ih bersama para orang gagah dari ke-18 gunung datang untuk meminta sedikit biaya kepada Lamkiong-cengeu, harap Lamkiong cengeu memberi ke-bijaksanaan akan menerima dengan hormat atau menolak secara tegas? "

"Kenapa Hong-ih-siang-pian muncul kem-beli? "

Ucap Lamkiong Siang-ju dengan kening bekernyit.

"Tampaknya Hong-ih-siang-pian belum ta-hu siapa yang tinggal di sini."

Ujar Loh Ih-sian sambil membusungkan dada. seketika perawakannya scakan-akan tumbuh lebih tegap. Lalu sambungnya.

"Siaute belum Iagi tua, ba-gaimana dengan Toako?' "Masa kaukira Toako sudah tua? "

Sahut Lamkiong Siang-ju.

"Haha, bagus! "

Loh Ih-sian bergelak ter-tawa sambil menepuk pinggang sehingga terdengar bunyi genta.

"Sekarang juga? "

"Ya, tunggu kapan lagi? "

Jawab Siang-ju. Lamkiong-hujin tertawa.

"Bagus, Hau-hoa-leng (genta pembela bunga) kalian masih leng-kap, sebaliknya bunga macam diriku ini sudah layu! "

Tiba-tiba orang di luar menbentak pula.

"Lekas beri jawaban, bila kami menghitung ti-ga kali tidak ada keputusan, segera kami me-nyerbu masuk! "

Loh Ih-sian menanggapi ucapan Lamkiong-hujin tadi.

"Ah, kami bersaudara belum Iagi tua, masa engkau mengaku sudah layu? Eh, Lo-toa, perintis jalan kan tetap diriku? "

"Baik."

Kata Siang-ju. Baru saja kata itu terucapkan, mendadak Loh Ih-sian melompat dan hinggap di atas ke-dua tangan Lamkiong Siang-ju yang diangkat ke atas. Begitu Siang-ju membentak.

"Pergi! "

Sekali tolak, kontan tub ah Loh Ih-sian terlempar ke luar secepat terbang.

Terdengarlah Suara "blang ", daun pintu terpentang, menyusul terdengar gemerinting, seutas benang emas terbang masuk dari luar, berbareng ada benang emas lain menyambar keluar dari tangan Lamkiong Siang-ju.

Kembali terdengar bunyi genta, kedua benang emas terlibat menjadi satu, menyusul Siang-ju membentak pula.

"Masuk! "

Seketika di luar ada orang menjerit dan terdengar suara menderu, tubuh Loh Ih-iian melayang masuk kembali, tangan kiri terbelit oleh benang emas, tangan kanan mencengkeram seorang kakek bertubuh tinggi besar.

Segera Loh Ih-sian membanting tawanan-nya ke lantai.

Ternyata yang dibekuknya ada-lah satu di antara Hong-ih-siang-pian, yaitu Yim Ong-hong.

Lamkiong Peng terkesima, entah kejut atau kagum.

Waktu ia mengamati lebih lanjut baru diketahuinya bahwa pada ujung kedua utas benang emas itu sama terikat sebuah gen-ta kecil wama emas.

ketika Loh Ih-sian melayang keluar atas tenaga lemparan Lamkiong Siang-ju, segera ia melemparkan genta emas ke dalam, berbareng itu genta emas Lamkiong Siang-ju juga dilemparkan keluar, kedua utas benang emas saling belit dengan kuat, waktu Siang-ju menarik Iagi dengan kuat, sementara itu Loh Ih-sian sempat menerkam ke bawah dan Yim Ong-hong tercengkeram dan diangkat.

Berkat tenaga tarikan Lamkiong Siang itu Loh Ih-sian dapat melayang keluar secepat terbang dan melayang masuk kembali dengan sama cepatnya.

Biar pun Yim Ong-hong juga bukan jago lemah, tapi dalam keadaan terkejut ia menjadi kelabakan dan tak tempat mengelak.

Dalam pada itu di luar telah terjadi kekacauan, ada suara orang tua berteriak.

"Yang di dalam apakah Hong-tun sam-yu adanya?' Lamkiong Siang-ju dan Loh Ih-sian sali pandang dengan tertawa. Waktu itu Yim Ong-hong sudah merangkak bangun, dengan muka pucat dan ketakutan berseru.

"Hah, ternyata bsnar Hong-tun-sam yu adanya! "

"Sudah sekian tahun tidak bertemu, syukur engkau masih kenal kami bersaudara."

Ucap Loh Ih-sian. Yim Ong-hong menghela napas menyesal ucapnya dengan menunduk.

"Sekalipun Caihe tidak kenal Iagi kepada kalian bertiga, tapigaya 'genta emas pencabut nyawa' tadi tidak mungkin kulupakan."

"Haha, genta pencabut nyawa ...... Sungguh tidak terduga permainan yang kami cipta-kan untuk bersenda gurau telah dipandang orang persilatan sebagai ilmu sakti."

Ujar, Loh Ih-sian dengan tertawa. Mendadak ia membentak' dengan wajah kereng.

"Jika kauingat juga kepada kami bersaudara, apakah sudah kaulupakan sumpah yang pemah kalian ucapkan di depan kami? "

Yim Ong-hong menjawab dengan takut.

"Bilamana kutahu Lamkiong-cengeu tak-lain-takbukan adalah Leng-bin-jing-ih-khek (si ba-ju biru berwajah dingin) dari Hong-tun-sam-yu dahulu, betapa besar nyaliku juga tidak berani melanggar Lamkiong-san-ceng satu langkah pun "Dan bagaimana setelah kau tahu sekarang?"

Jengek Loh Ih-sian. Di luar sana masih gaduh, segera Yim ong hong beretriak.

"Cin-loji, lekas membawa para saudara kita mengundurkan diri keluar perkamoungan, Hong-tun-sam-yu berada disini!"

Belum lenyap suaranya Cin Luan-ih telah melompat ke depan pintu, serunya kaget.

"Ah, kiranya betul ketiga Taihiap berada disini, tak terduga kungfu yang kami latih selama berpuluh tahun ini tetap tidak mampu menahan sekali terkam dari udara oleh Loh tai-hiap."

DI bawah hujan lebat sana mendadak ada orang berteriak.

"Huh, Hong-tun sam-yu apa segala? Jauh-jauh kita sudah datang kemari, masa selalu satu patah kata ini saja kita lantas mundur dengan tangan hampa."

Pada saat yang sama serentak belasan bayangan orang lantas menerjang maju. Mendadak Cin Luan-ih membalik tubuh dan membentak.

"Siapa itu yang bicara?"

Segera seorang leleki pendek kecil dengan sinar mata tajam tampil ke muka, seorang di sebelah kiri juga menjengek.

"Hm, menyuruh kawan sendiri pergi, sedikitnya kau perlu di beri sedikit sangu? Betul tidak, kawan-kawan?"

Belasan orang sama mengiakan.

"Ah, kiranya kedua Pek cecu,"

Ucap Yim ong hong dengan tertawa sambil mendekati kedua orang itu.

"Katakan saja terus terang, sesungguhnya apa yang kalian minta?"

Orang yang di sebelah kiri menjawab.

"Dari jauh kami datang kemari, adalah layak bilamana kami minta bagian, sebagai orang tua tentu juga harus memikirkan nasib para saudara kami yang sudah lelah ini."

"Baik, terimalah ini?"

Seru Yim ong hong sambil tertawa, berbareng kedua tangannya menyodok ke depan. Terdengarlah suara "blang-blang"

Dua kali, kontan kedua Pek bersaudara menjerit dan tumpah darah serta terguling ke bawah undakan sana.

"Nah, siapa lagi yang minta bagian rezeki?"

Jengek Yim ong hong kemudian. Seketika kawanan bandit sana bungkam, hanya suara hujan saja yang terdengar, belasan orang itu sama berdiri diam, bemafas saja tidak berani terlampau keras.

"Enyah!"

Bentak Yim ong hong. Buru-buru belasan orang itu ngacir keluar. Hong-ih-siang-pian lantas memberi hormat dan mohon diri.

"Sudah lama kita berkenalan, kalian ternyata belum lagi melupakan kami, meski sekarang kami sedang menghadapi urusan gawat, tapi bilamana kalian perlu bantuan sedikit banyak masih dapat kuberikan,"

Kata Lamkiong siang ju.

"Ah, cengeu tidak menghukum kami saja sudah membuat kami berterimakasih, mana kami berani mengharapkan urusan lain,"

Jawab Yim ong hong.

"Jika demikian, karena kami masih ada urusan, biarlah kita sudahi sampai di sini,"

Kata siang-ju sambil memberi tanda mengantar tamu. Yim ong hong dan Cin luan-ih memberi hormat. Selagi mereka hendak melangkah pergi, mendadak Loh-ih-sian berkata.

"nanti dulu, Ingin kutanya sedikit, ketika kalian datang tadi, tentu kalian telah bertemu dengan anak murid Tiam-jong di depan sana?"

"ya, Anak murid Tiam-jong sudah terluka lebih separuh, kecuali Tiam jong yan dan Thian-go berdua, yang masih sanggup bertempur tidak seberapa orang lagi."

Habis menutur, kedua orang itu lantas mohon diri dan angkat kaki. Setelah berada di tengah ruangan, Loh-ih-sian berkata.

"Jika kepungan kawanan penyatron sudah menipis, kenapa kesempatan ini tidak digunakan Toako untuk mengangkat peti-peti ini keluar?"

Lamkiong siang-ju tersenyum pedih,"Para utusan Cu-sin-to sudah datang satu kali, tapi mereka tidak menjelaskan tempat penyerahan harta benda ini, umpama peti ini kita angkut keluar, lalu harus diantar kemana?"

Loh-ih-sian tercengang, mendadak ia menengadah dan bergelak tertawa.

"Haha, dimana dan kapanpun, betapa banyak penyatron di sana, memangnya dengan gabungan kita takut takkan mampu menerobosnya?"

Sembari bicara, serentak ia guncangkan genta emas yang dipegangnya, suara genta yang nyaring berkumandang jauh di tengah hujan lebat.

Melihat Lamkiong Peng memandangi gentanya dengan terkesima, Loh-ih-sian bertanya.

"Nak, apakah dapat kau dengar di mana letak keajaibannya bunyi genta ini?"

Lamkiong peng menggeleng dengan tersenyum.

"Genta emas ini sebenarnya adalah benda pusaka keluarga lamkiong kita,"

Tukas Lamkiong hujin.

"genta ini seluruhnya ada tiga pasang, satu hal aneh mengenai genta emas ini adalah bila salah satu pasang diantaranya berguncang, kedua pasang yang lain juga akan ikut berbunyi. Gejala ini serupa paduan suara alat musik saja."

Segera ia mengeluarkan sepasang genta emas dan diberikan kepada Lamkiong Peng, sesudah genta itu dipegang, mendadak Loh-ih-sian mengguncangkan gentanya, seketika genta di tangan Lamkiong peng juga ikut berbunyi.

Tentu saja Lanikiong Peng terheran heran dunia ini memang penuh keajaiban, banyak urusan yang sukar dijelaskan dengan akal.

' "Ketika kami bertiga masih malang melintang di dunia kangouw dahulu, hanya kung fu ibumu yang paling lemah."

Tutur Lamkiong Siang-ju.

"Kami kuatir suatu tempo ibumu akan menghadapi bahaya, maka kubagikan genta emas ini kepada mereka masing-masing satu pasang, bila ibumu mengalami bahaya, sekali genta berbunyi, segera kedua pasang genta yang kami pegang ini juga akan me-ngeluarkan suara dan segera pula kami dapat menyusul ke tempatnya untuk memberi bantuan ...."

Baca Juga: Kaki Tiga Menjangan 17

Baca Juga: Rajawali Sakti Dari Langit Selatan 11

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert