Eps 6 Amanat Marga - Khu Lung
Baca online Amanat Marga - Khu Lung
Cersil Amanat Marga - Khu Lung.
Makanya ayahmu telah memberikan nama yang aneh dan juga enak didengar kepada genta yang serupa ini, yaitu Hou hou-leng."
Sambung Loh Ihsian dengan tertawa.
"Ah, kisah berpuluh tahun yang lalu buat apa mengungkapnya Iagi."
Ujar Lamkiong-hujin "Anak Peng, apabila kaumau, biarlah sepasang gentaku ini boleh kuberikan padamu, selanjutnya bila berkelana di dunia kangouw Mendadak teringat olehnya putra ke-sayangan sebentar Iagi akan menuju ke tempat jauh yang tidak diketahui di mana letaknya, seketika wajahnya yang berseri berubah muram durja.
Lamkiong Siang-ju menghela napas pelahan.
"Ya, nak, bolehlah kau simpan saja sepasang genta ini, ayah-ibu tidak dapat memberi benda berharga lain, hendaknya kedua pasang genta ini dapat kausimpan dengan baik, kelak ...."
Bicara urusan kelak, tanpa terasa ia menjadi sedih dan tidak sanggup meneruskan.
Di luar hujan masih lebat, suasana gelap gulita.
Memegangi keempat buah genta emas, Lamkiorig Peng juga menunduk diam.
Tiba-tiba Loh Ih-sian berkata dan tertawa lantang.
"Haha, jika ayah-bundamu sudah menghadiahkau gentanya kepadamu, bila kusimpan gentaku sendiri, bisa jadi akan kaupandang pamanmu ini memang orang kikir. Nak, ambil saja, biar kuberikan sekalian gentaku ini dm simpanlah baik-baik, kelak bila ketemukan gadis setimapal, boiehlah kaubagi dia sepasang genta ini."
Dengan hormat Lamkiong Peng menerima pemberian itu.
"Apa pun juga, hari ini kita dapat ber-kumpul kembali, hal ini harus kita rayakan."
Kata Lamkiong hujin.
"Biarlah kuolah dua-tiga macam hidangan untuk teman minum arak kalian. Dengan hadirnya Loh-loji dan anak Peng di sini, paling tidak perasaanku akan lebih longgar."
"Ah, masa mesti bikin repot Samoay sendiri."
Ujar Loh Ih-sian.
"Apa boleh buat, kan semua kaum hamba di sini sudah dilepas."
Kata Lamkiong-hujin.
Lalu Lamkiong Siang-ju membuka hiat-to para lelaki yang terluka karena membela perkampungannya tadi disertai permintaan maaf, kemudian mereka disilakan istirahat di be-lakang.
Selesai mengatur, makanan sederhana pun sudah dihidangkan.
Tapi belum lagi tiga cawan arak habis terminum, mendadak Loh Ih-sian berdiri dan membentak.
"Siapa itu di luar? "
Di tengah kegelapan malam di luar masih hujan lebat, terdengar suara gemersak ramai di undakundakan.
Sekali Lamkiong Sian-ju tolak dari jauh, terpentanglah daun pintu, tapi di luar tidak kelihatan sesuatu.
Air muka Lamkiong Siang-ju dan Loh Ih-lian sama berubah, tiba-tiba angin meniup membawa semacam bau amis yang aneh.
Kebetulan Lamkiong-hujin datang mem-bawakan sepiring Ang-sio-bak, sekilas pandang terlihat dalam kegelapan di luar ada dua titik cahaya, tanpa terasa ia menjerit.
"Hah, ular! "
"Prang! "
Piring yang dipegangnya jatuh dan pecah berantakan.
Terlihat.
kedua titik cahaya hijau itu bergoyanggoyang dan semakin dekat.
Selagi Lamkiong Peng hendak bertindak, mendadak Loh Ih-sian mencegahnya sambil mendesis.
"Nanti dulu ! "
Sekali ia monyembur, seutas benang perak terpancar ke arah kedua titik cahaya hijau.
Di tengah desir angin yang berbau amis ter-cium pula bau arak, kiranya Loh Ih-sian telah menggunakan tenaga dalam untuk menekan arak yang diminumnya sehingga terpancur keluar, serupa panah arak, sungguh hebat sekali semprotan panah arak itu, seketika kedua titik cahaya hijau itu padam.
Dengan kening bekernyit Lamkiong Siang-ju berucap.
"Sejak Ban-siu-san-ceng (perkam-pungan seribu binatang) terbakar, di dunia persilatan sudah langka ahli yang mahir me-ngendalikan ular dan binatang liar, kedatangan ular ini sungguh rada aneh."
Belum habis terpikir, tiba-tiba bergema suara musik di kejauhan, segera kedua titik cahaya hijau muncul lagi, bergoyang-goyang mengikuti irama musik dan meninggi ke atas.
Berubah air muka Lamkiong Siang-ju, di-raihnya poci arak di atas meja dan disiramkan ke sana, seutas air mancur lantas tersebar sampai di depan pintu, segera.
ia jemput pula lentera tembaga dan berjongkok untuk me-nyulut.
"buss ", api lantas menyala dan berkobar mengikuti jalur arak. Di bawah cahaya api tampaknya di atas undakundakan luar sana seckor ular hijau se-besar lengan lagi menegak leher dengan lidah-nya yang terjulur sembari menyurut mundur. Loh Ih-sian berteriak kaget dan menyingkir ke pojok.
"Hah, Loh-loji juga takut alar? "
Ujar Lam-kionghujin dengan tersenyum-Baru sekarang Lamkiong Peng tahu sebab-nya kakek botak ini ketakutan terhadapan ka-wanan setan dari Kwan-gwa dulu, rupanya bu-kan orangnya yang ditakuti melainkan ular pia-raan mereka.
Dengan cepat api yang menyala dari alkohol itu telah paham, suara musik tadi tambah melengking.
Cepat Lamkiong-hujin juga turun tangan, dua titik cahaya perak menyambar ke depan, cahaya hijau seketika padam, ular pun ter-guling ke bawah undak-undakan.
Mendadak suara musik berubah keras, menyusul lantas terdengar suara harimau meraung, seekor ma-can kumbang melompat ke atas, ''Binatang!"
Bentak Lamkiong Peng sambil memapak ke depan.
Harimau itu sedang menubruk dari atas, sekali berkelit Lamkiong Peng mengelak ke samping, menyusul sebelah tangannya lantas menghantam kepala binatang itu.
"Prak ", tanpa ampun kepala macan hancur, darah munerat, kepala binatang buas itu luluh dan binasa. Sekalian kaki Lamkiong Peng mendepak, bangkai karimau diu-ndangnya ke bawah undak undakan sana.
"Sungguh hebat, itulah murid Sin-long maha sakti! "
Puji Loh Ih-sian sambil berkeplok tertawa.
Mendadak suara musik berganti nada lagi, suara musik ringan hilang, sebagai gantinya adalah suara alat musik berat, yaitu tambur dan gembreng ditabuh bertalu-talu.
Di tengah hujan angin empat sosok bayangan tinggi besar tampak muncul dari kegelapan dan serentak melompat ke atas undak-undakan.
Ternynta ke-empatnya adalah kingkong yang bertenaga raksasa.
Di bawah cahaya remang bulu keempat ekor kingkong yang berwama kuning emas itu membentangkan kedua lengan dengan mulut ternganga serta mengeluarkan suara garang di selingi suara gemuruh menepuk dada, buas dan mengerikan.
"Lekas kembali, anak Peng."
Seru Lamkiong Siang-ju. Namun Lamkiong Peng tetap berdiri menghadapi keempat ekor kingkong itu. Tiba-tiba bergema suara orang di dalam kegelapan hutau.
"Lamkiong Siang ju, untuk apa kaubertahan di situ, jika tidak lekas ang-kat kaki, sebentar lagi bila binatang sakti membanjir tiba, kematian kalian pun takkan terkubur."
Suaranya kecil melengking, berkumandang jelas di tengah suara genderang yang ramai,''Omong kosong! "
Bentak Lamkiong Peng, berbareng kedua tangannya lantas memukul langsung kepada kedua ekor kingkong yang tengah.
Sambil meraung aneh, kedua ekor kingkong itu terguling ke bawah undak-undakan.
tapi segera mereka melompat bangun dan menerjang maju lagi sambil menyeringai sehingga kelihatan barisan giginya yang menakutkan.
Dalam pada itu kedua ekor kingkong yang lain segera menubruk maju dari kanan-kiri.
Namun secara gesit Lamkiong Peng melompat ke samping.
Kedua ekor kingkong yang terguling tadi sudah menerjang tiba dan mengerubuti Lamkiong Peng.
Mangkin gencar suara tambur di-tabuh, makin kalap keempat ekor kingkong itu menerjang musuh.
Melihat putranya kewalahan dikerubut keempat ekor kingkong itu, Lamkiong Siang-ju tidak tinggal diam, dari samping ia pun meng-hantam.
kontan salah seekor "
Kingkong itu ter-pukul jatuh.
Tapi dengan cepat merangkak bangun dan menerjang maju lagi.
Mendadak Loh Ih-sian mendekap bibir dan bersuit sekerasnya, begilu keras suara suitan-nya sehingga irama tambur menjadi kacau, se-ketika cara bertempur kecmpat ekor kingkong itu pun tidak teratur lagi.
Kesempatan itu digunakan Lamkiong Siang-ju untuk menghartam lagi, ' "blang ".
dada salah seekor kingkong iiu tertonjok.
Sungguh dahsyat pukulan ini, kontan kingkong tumpah darah dan terguling ke bawah undak undakan.
Loh Ih-sian masih terus bersuit.
Mendadak iapun menghantam dua tangan sekaligus, salah seekor kingkong itu mendoyong ke belakang, tapi segera kaki Loh Ih-sian mengait dan "bluk "
Kingkong ttu jatuh terjengkang.
Tanpa ayal Loh Ih-sian memegang kedua kaki kingkong sambil menggertak, sekali angkat tubuh kingkong sebesar manusia itu terus di-putar duatiga kali, lalu dliemparkan hingga jatuh jauh di hutan sana.
Semangat Lamkiong Peng tambah terbang-kit, kembali ia menghantam dan menendang sehingga seekor kingkong mencelat.
Sekarang suara tambur itu bergema lagi, namun sisa seekor kingkong itu rupanya tahu gelagat dan tidak berani bertempur lagi, segera ngacir pergi.
Loh Ih-sian bergelak tertawa puas dan memuji, ' "Sungguh kungfu hebaf, murid Sin-liong memang lain daripada yang lain."
Dalam pada itu Lamkiong Siang-ju sedang berseru lantang ke sana.
"Dengarkan para ka-wan, harta benda di Lamkiong-san ceng saat ini berada di sini, apabila kalian mengincarnya, silakan mengambilnya menurut kemampuan kalian, kenapa mesti main sembunyi dalam kegelapan hutan dan menyuruh kawanan binatang yang tak berarti ini untuk membikin malu kalian sendiri? "
Suara tambur mulai mereda, sebagai gan-tinya suara musik halus tadi kembali bergema, lembut dan ulem.
Waktu angin meniup lagi, bau amis tadi sudah hilang, sebalikuya malah mengandung bau harum sayup sayup aneh membuat perasaan tergelitik dan membangkitkan nafsu.
Mendadak di tengah hutan yang gelap me nyala empat cahaya lampu yang menyilaukan mata, pekarangan di depan uudak-urdakan batu, seluas dua-tiga tombak itu tiba-tiba muncul enam orang gadis berbaju sutera putih tipis dan berkerudung topi bunga serta mulai me-nari mengikuti irama musik.
Hujan masih turun, hanya sekejap saja baju tipis kcenam gadis jelita itu sudah basah kuyup sehingga hampu tembus pandang garis tubuh mereka yang menggiurkan.
Makin lama makin asyik bunyi musiknya dan makin panas tariannya, kening Lamkiong Peng bekernyit, ia melengos ke arah lain.
Alis Lamkiong Siang-ju juga menegak, kata-nya.
"Jite, apakah kauingat cara mempengaruhi lawan dengan kemaksiatan dan menggertak dengan kekerasan seperti ini biasanya digunakaa tokoh kangouw dari mana? "
"Apakah maksud Toako hendak mengatakan kebiasaan majikan perempuan dari Ban-siu sanceng, yaitu Tek-ih-huicu (si nyonya senang)?"
Jawab Loh Ih-sian.
"Sesudah kebakaran yang menimpa Ban-siusan-ceng, sudah lama Tek-ih-huicu meng-hilang dan tiada kabar beritanya."
Kata Lam-kiong Siangju.
"Bahwa sekarang dia muncul kembali, nyata caranya sudah tidak selihai dulu lagi, namun gayanya masih tidak berubah."
"Ya, memang sudah berpuluh tahun tidak ada kabar tentang Tek-ih-huicu, apakah mung-kin iblis perempuan yang menyendiri ini dahulu juga pemah mendidik murid? "
Tengah bicara, suara musik tadi tambah gencar, gaya menari kcenam gadis berbaju sutera itu pun semakin menghanyutkan, di antara gerak-geriknya seperti sengaja dan seperti tidak sengaja selalu menonjolkan bagian tubuh yang seharusnya dirahasiakan, lirikan matanya juga memikat.
Cahaya lampu juga tambah remang, dari kegelapan hutan sana lantas muncul empat gadis lagi dengan menggotong sobuah joli ke-cil beratap.
Waktujoli berhenti dan tabir tersingkap, kedua gadis jelita di depan lantas membentang dua buah payung, maka turunlah dari joli se-orang nona berbaju wama lembayung dengan potongan tubuh yang ramping, cantik sekali nona ini tampaknya tapi mukanya justru di-alingi sebuah kipas bambu.
"Joli kecil dan baju ungu, semua ini adalah ciri pengenal Tek-ih-huicu dahulu. jangan-jangan memang betul Tek-ih-huicu telah mun-cul lagi di dunia kangouw? "
Gumam Lamkiong Siang-ju. Loh Ih-sian tidak menanggapi, dia kelihatanprihatin, mendadak ia membentak.
"Siapa itu? "
Waktu ia berpaling, di bawah cahaya lampu yang remang, di atas tumpukan peti ternyata sudah bertambah beberapa sosok bayangan orang.
Pada saat itu juga gadis berbaju ungu juga mulai melangkah ke atas undak-undakan mengikuti irama musik, gayanya jauh lebih monggiurkan daripada gadis yang lain.
Serentak belasan gadis jelita tadi mengikut di belakangnya, sambil menaiki undakan batu para gadis itu melepaskan baunya yang tipis sepotong demi sepotong sehingga akhirnya telanjang bulat tanpa sehelai benang pun.
Sementara itu di tengah ruangan pendopo bayangan orang banyak serentak berputar mengitari tumpukan peti, seorang yang mengepalainya tampak berperawakan kekar, alis tebal mata cekung, seorang lagi bertubuh jang-kung dan berwajah kurus.
Kiranya mereka ini adalah tokoh Tiam-jong-pai, yaitu Kongsua Yan dan Thian-go Tojin.
"Hm, kukira Tiam-joNg-pai adalah golongan temama dan aliran lurus rupanya juga biasa berbuat secara sembunyi-sembunyi, tengah malam buta menyusup ke rumah orang, barangkali memang beginilah ajaran Tiam-jong-pai? "
Segera Loh Ih-sian mengejek. Thian-go Tojin meniadi gusar. Sedangkan Kongsun Yan tidak menghiraukan ejekan itu, ucapnya ketus.
"Kami hanya minta birara de-ngan Lamkiong-cengeu."
"Melihat perbuatan para Totiaug, rasanya tidak ada yang perlu kubicarakan lagi."
Ujar Lamkiong Siang-ju dengan dingin.
"Creng ", segera Thian-go Tojin melolos pedang. Kongsun Yan tetap tenang saja, katanya.
"Apabila Cengeu mau mendengar nasihatku sebaiknya harta bendamu ini kautitipkan dalam penga-wasan kami selama tiga tahun, se-sudah tiga tahun akan kami kembalikan dalam keadaan utuh tanpa kurang sesuatu ...."
"Hehe, anjing kelaparan ingin pinjam bak-pau, sungguh menggelikan."
Ejek Loh Ih-sian. Kongsun Yan berlagak tidak mendengar, katanya pula.
"Atas kehormatan Tiam-jong-pay kuberani memberi jaminan takkan mengganggu sedikit pun harta bendamu ini."
"Hehe, kehormatan Tiam-jong-pai? Memangnya berapa harganya sekati? "' jengek pula Loh Ih-sian. Thian-go membentak murta, segera pedang bergerak dan hendak menyerang. Namun Kongsun Yan keburu mencegahnya, katanya.
"Nanti dulu Samte, dengarkan dulu jawaban Lamkiong-cengeu.' "
"Kukira Toako juga tidak ada jawaban, kami justru ingin tahu apa yang dapat diper-buat orang Tiam-jong-pai Kalian? "
Jengek Loh Ih-sian.
Belum lenyap suaranya segera pedang Thian-go Tojin menusuk, cepat Loh Ih-sian berkelit dari keduanya lantas saling labrak.
Di luarr sana suara musik masih berkumandang, belasan gadis jelita itu sudah ber-ada di ujung undak-undakan, semuanya telanjang bulat dengan tubuh yang mulus menggiurkan.
Gadis jelita berbaju ungu menggoyang goyang kipasnya setengah menutupi wajahnya, meski dia tidak memanggalkan bajunya.
Tapi terkadang mengeluarkan suara tertawa genit yang memikat.
"Turun? "
Bentak Lamkiong Peng.
Namun kawanan gadis itu tetap menari seperti tidak mendengar, Kerlingan mereka terpusat ke arah Lamkiong Peng scakan-akan ingin menelan bulat-bulat anak muda itu.
Melihat goyang pinggul dan gerakan memikat yang terpampang di depan mata itu, tentu saja Lamkioug Pong serba susah, mana dia sampai hati turun tangan terhadap gadis telanjaug begilu.
Dalam pada itu Thian-go Tojin dan Loh Ih-sian sedang bertempur dengan sengit.
Pedang Thian-go berputar cepat dengan tipu serangan yang ganas, ilmu pedang Tiam-jong-pai memang cepat dan lincah, namun Loh Ih-sian iuga tidak kurang lihainya Dia bergerak ter-lebih cepat daripada sambaran pedang lawan.
Sedikit pun senjata lawan tidak mampu meyentuh ujung bajunya, malahan dia seperti sengaja hendak mempermainkan orang dan tidak balas menyerang, serupa kucing mempermainkan tikus.
Dengan gemas mendadak pedang Thian-go tojin menusuk dari arah yang tak terduga akan tetapi mendadak tersengar suara "trang"
Kiranya Loh ihsian sempat meraih sebuah piring sebagi tameng sehingga tertusuk berantakan oleh pedang Thian go tojin, hidangan dalam piring berhamburan mengotori bajunya.
Tentu saja Thian go tojin bertambah murka, seklai depak ia bikin meja terbalik, mangkuk piring pecah berserakan, lampu perunggu di atas meja juga ikut terguling dan padam seketika.
Tapi pada saat itu cahaya lampu dari dalam hutan sana telah menyorot tiba, kawanan penari telanjang juga sudah berada di depan ruangan.
Lamkiong siang ju berkerut kening, ucapnya.
"Jite, jangan bergurau lagi, sudah waktunya turun tangan sunguh-sungguh!"
"Baik,"
Seru Loh-ih sian, segera jurus serangannya berubah, sekaligus ia melancarkan dua tiga kali pukulan sehingga Thian go tojin terdesak ke pojok ruangan. Siang ju berseru kepada sang istri.
"hujin boleh kaulayani yang di luar dan yang di dalam serahkan saja kepadaku."
Dengan sendirinya lmakiong hujin sudah melihat datangnya kawanan penari telanjang itu, Cuma seketika ia pun bingung menghadapi adegan luar biasa itu.
Nona berbaju ungu tadi tampaknya melangkah maju dengan gaya gemulai, tahu-tahu ia sudah bergeser ke depan Lamkiong Peng, seketika anal muda itu pun mencium bau harum yang memabukkan, pikirannya serasa melayang.
"Mundur!"
Cepat ia membentak sembari ayun sebelah tangannya ke depan untuk menghantam Koh-cing-hiat di pundak orang.
Tak tersangka nona cantik itu sama sekali tidak menghindar, sebaliknya sambil tertawa genit ia malah menyongsong maju, dengan dadanya yang montok ia sambut pukulan Lamkiong Peng itu.
Cepat Lamkiong Peng menarik kembali pukulannya, betapapun ia tdiak dapat menyerang seorang gadis yang tidak melawan.
"Menyingkir Peng-ji!"
Seru lamkiong hujin.
Tapi baru saja dia bergerak, tahu-tahu empat penari telanjang sudah mengadang di depannya.
Empat penari telgnjarg Iain lantas mengepung Lamkiong Peng dengan goyang ping-gul dan guncang dada secara merangsang.
Saat itu Lamkiong Peng berdiri di depan pintu, bila dia menyingkir berarti memberi kesempatan kepada kawanan penari telanjang itu untuk menyerbuke dalam, tapi kalau tidak menghindar.
tentu dia akan terkurung di tengah gadis telanjang, betapapun teguh imannya jika dibuai oleh irama musik yang masyuk dan tarian yang merangsang, tentu tidak tahan akhirnya.
Dalam pada itu keempat penari telanj ng itu sudah semakin mendekat, gaya mereka yang cabul sungguh bisa membuat setiap lelaki lupa daratan ....Di sebelah dalam pertarungan Thian-go dan Loh Ih-sian juga tambah seru, jsgo pedang Tiam-jongpai yang lain sudah memegang pedang dan siap tempur juga, Tiba-tiba Kongsun Yan melolos pedang dan berkata.
"Hari Ini bukan pertandingan biasa, umpama main kerubut juga bukan soal lagi "
Ia memberi tanda dan segera msnyerang disusu oleh begundalnya.
Mendadak Loh Ih-sian merasa angin tajam menyambar dari belakang, tiga pedang serentak menabasnya.
Thian-go Tojin juga tidak tinggal diam , berbareng ia pun menyerang ' "Hm, biasanya Tiam jong-pai tidalah jahat, mestinya aku tidak suka membikin susah orang.
tapi perbuatan kalian sungguh ke-terlaluan, terpaksa aku harus bertindak."
Kata Lamkiong Siang-ju.
Mendadak ja menghantam ke belakang, angin pukulannya mendampar kecmpat penari telanjang yang mengepung di depan Lamkiong Peng, meski dia menyerang tanpa berpaling, namun pukulannya cukup telak, mana kawanan gadis telanjang itu tahan angin pukulannya, terdengar jeritan kaget, dua di antaranya ter-getar jatuh ke bawah undakan batu.
"Harap ayah menghadapi mereka di sini, biar anak melayani orang Tiam-jong-pai."
Seru Lamkiong peng.
Belum lanjut ucapannya, kembali Lamkiong Siang-ju menghantam lagi satu kali, si nona berbaju ungu tergetar mundur, cepat Lamkiong Peng mendesak maju dan menutuk pundak lavvan.
Namun kipas si nona mendadak menabas pergelangun tangan Lamkiong Peng, sekilas tertampaklah wajahnya di bawah cahaya remang.
Seketika hati Lamkiong Peng tergetar, seru-nya.
"Hei, kau ... kau ...."
Sungguh tak fersangka dan tak terduga nona berbaju ungu ini adalah Suci atau kakak seperguruannya, yaitu Koh-ih-hong alias Ong Soso.
Dengan tersenyum manis dan kerlingan genit kembali Koh Ih-hong memotong lagi de-ngan kipasnya menurut irama musik.
"He, Sisuci, ken .. kenapa engkau menyerangku?' seru Lamkiong Peng.
"Masa eng-kau tidak ... tidak kenal lagi padaku? Di mana Toako sekarang? "
Koh Ih-hong terkekek.
"Hehe, siapa kenal padamu? Siapa Toakomu? "
Dalam pada itu kawanan penari telanjang lantas menerjang maju pula, Dengan tercengang Lamkiong Peng me-nyurut mundur ke dalam ruangan. Kening Lamkiong Sian-ju bekernyit, seru-nya.
"Gadis ini mungkin sudah terpengaruh oleh obat bius. boleh kau menyingkir dulu...."
Belum lenyap suaranya.
mendadak cahaya pedang berkelebat.
Kongsun Yan telah menusuk dari samping.
Lamkiong Peng msmbentak, segera ia menendang pergelangan tangan lawan yang memegang senjata.
Di sebelah.
sana Lamkiong hujin tampak-nya juiga serba susah menghadapi keampat penari telanjang tadi, meski ia sendiri iuga orang perempuan, tidak urung mukanya menjadi me-rah melihat gerak cabul mereka.
"Awas obat bius mereka, Hujin."
Seru Lamkiong Siang-ju mendadak.
Terkesiap Lamkiong-hujin.
benar juga, baru saja ia menahan napas, serentak keempat penari telacjaug itu menaburkan kabut tipis.
Dengan gusar Lamkiong-hujin mengebaskan lengan bajunya sehingga bubuk putih buyar, sekaligus ia kebut hiat-to tangan lawan.
Di sebelah sana Loh ih sian satu lawan empat dan sedang melancarkan pukulan dasyat.
"blang blang ", mendadak ia menyikut ke belakang sehingga dua orang lawan menjerit kaget dan pedang terlepas, kedua tojin itu pun tumpah darah. Dalam pada itu Lamkiong Peng telah menandingi Kongsun Yan dan dua pemudi berdandan ringkas. Ia terkejut, kuatir dan sangsi pula, ia kuatir mengenai keadaan sang Toako, yaitu Liong hui, juga sangsi mengapa Koh ih hong bisa berubah menjadi begitu.
"Jangan melukai dia ayah!"
Seru Lamkiong Peng mendadak.
Kiranya pada saat itu Koh Ih-hong kena ditutuk oleh lamkiong sian ju dan sempoyongan terjatuh ke bawah undakan batu.
Pada saat itulah itulah tiba-tiba dari kegelpan hutan sana muncul sesosok bayangan sambil membentak terus menerjang tiba, sekali raih dapatlah dia merangkul tubuh Koh Ih hong yang hampir roboh itu.
Pendatang ini bertubuh tinggi besar dan berbaju mentereng muka penuh berewok pendek kaku serupa dari landak.
Nyata dia inilah Liong hui.
"He, toako..........."
Seru lamkiong Peng setelah mengenali orang.
"Apakah orang ini Liong Hui? "
Tanya Lamkiong Siang ju dengan melenggak. ' "Betul.
"jawab Lamkiong Peng, segera ia bereseru pula.
"Toako, siaute Lamkiong Peng berada di sini!"
Siapa tahu air muka Lioug Hui tidak mem perlihatkan sesuatu perasaan serupa orang ling lung saja, sambil merangkul Koh Ih-hong segera ia pentang kelima jarinya mencakar muka Lamkiong Sian ju.
Baru saja Lmakiong siang ju mendak ke bawah, segera Liong hui menendang lagi.
Meski ganas serangannya, tapi sebenarnya banyak lubang kelemahannya.
Namun Lamkiong siang ju tidak ingin melukainya, ia melompat mundur untuk menghindari tendangan lawan.
Tak terduga mendadak Laiong hui menaruh Koh ih hong, lalu membentak.
"Biarlah aku mengadu jiwa dengan kawanan bangsat kalian ini?"
Sekali tendang ia bikin seorang penari telanjang hingga terjungkal, menyusul sebelah tangannya menghantam lamkiong siang ju dengan dasyat.
"he, Toako, ken.........kenapa kau?............."
Jerit Lamkiong Peng keget, tiba-tiba pundak terasa dingin, kiranya telah terserempet oleh pedang Kongsun Yan sehingga tergores luka.
"Layani saja lawanmu dengan tekun, biar kuselesaikan urusan Suhengmu ini."
Kata Lam kiong Siang-ju. Tanpa menghiraukan luka sendiri, Lam kiong Peng berseru kuatir.
"Ayah, apakah Toaka terpengaruh juga oleh obat? "
"tampakuya memang begitu."
Kata Lamkiong Siang-ju.
"Sungguh rendah Tiam-jong-pai, pakai obat bius segala?! "
Teriak Lemkiong Peng dengan murka, mendadak ia jepit batang pedang Kong-sun Yan yang menyambar tiba, sekali tekuk pedang lawan lantas patah, sebelah kaki menendang seorang jago pedang Tiam-jong-pai.
Menyusul pedang patah membalik dan diguna-kan untuk menusuk lawan.
Jago pedang menjerit dan jatuh terguling dengan tangan memegang dada ia bergulingan di lantai yang penuh pecahan mangkuk piring"
Sehingga sekujur badan berlumuran darah, akibatnya tak sadarkan diri.
"Keji amat! "
Geram Kongsun Yan.
Selagi dia hendak menyerang pula dengan pedang patah, tak tersangka Lamkiong-hujin telah berhasil mengebas hiat-to keempat penari telanjang dan saat.
itu sedang melompat tiba, sekali tepuk pelahan Ciang-tai-hiat di pung-gung Kongsun Yan tertutuk.
Pada saat itu juga pedang patah yang di-rampas Lamkiong Peng juga ditusukkan ke ba-hu Kongsun Yan, terdengar jeritan, darah pun mengucur.
"Jisuheng ...."seru Thian-go kuatir. Dengan tumpah darah Kongsun Yan berseru.
"Samte, le ... lekas pergi! "
Habis berkata ia pun jatuh terguling. Tiba-tiba dalam kegelapansana berkumandang suara kuda lari, cepat seorang berteriak dari kejauhan.
"Lamkiong-cengeu, Lam-kiong-heng, saudaramu Suma Tiong-thian datang terlambat! "
Hanya sekejap saja seckor kuda sudah mendekat, Thi cian ang-ki Suma Tiong-thian, si jago tua bertombak besi dan panji merah, memutar tombaknya di bawah hujan, langsung ia larikan kudanya ke atas undak-undakan sambil berteriak pula "Jangan kuatir, Lam kiong heng, inilah Suma Tiong-thian!"
Begitu tombak bergerak, secepat kilat ia tusuk Liong Hui.
Sekilas pandang Lamkiong Peng melihat kuda jago tua itu akan menginjak tubuh Koh Ih-hong yang menggeletak di undakan batu itu.
ia berteriak kuatir dan melompat maju sambil mendorong dengan kuat sehingga Iari kuda tertolak ke samping.
Tentu saja kuda itu meringkik kaget dan tusukan tombak Suma Tiong-thian juga meleset.
Liong Hui membentak gusar, sekali raih ujung tombak kena dipegangnya.
Baru sekarang Suma Tiong-thian dapat melihat jelas siapa orang yang diserangnya tadi, serunya.
"Hei, Liong... Liong-taihiap ...."
Pada saat itu tiba-tiba dari hutanSana berkumandang suara orang tertawa seram, keempat jalur cahaya api serentak padam, suara musik juga lantas lenyap.
Angin dan hujan kembali menderu lebat, bumi raya gelap gulita dan hampir tidak ke-lihatan jari sendiri.
Pada saat itulah terdengar Lamkiong-hujin menjerit kaget dan bentakan Liong Hui, men dadak Liong Hui menarik sekuatnya sehingga Suma Tiong-thian terseret jatuh ke bawah kuda, berbareng itu Liong Hui juga berguling dan mengangkat Koh Ih-hong terus dibawa lari ke tengah kegelapan sana.
Lamkiong Peng tercengang.
sedang Thian-go Tojin melancarkan dua-tiga kali tusukan untuk mendesak mundur Loh Ih-sian, lalu ia mendobrak daun jendela dan melompat pergi.
Kuatir di luar musuh akan menyergapnya Loh Ih-sian tidak mengejar.
Suma Tiong-thian ternyata sangat tangkas meski sudah berusia lanjut, sekali lompat ia berusaha menahan kudanya yang menjadi liar dan membedal ke dalam ruangan, terdengar suara gemuruh, tumpukan peti diterjang roboh.
Isi peti berserakan, semuanya berupa batu permata yang kemilauan dalam kegelapan.
Selagi Suma Tiong-thiau hendak mengatasi kudanya, sekonyong-konyong sinar tajam menyambar dari luar, seorang jago pedang Tiam jong-pai menyambitkan pedangnya, cepat jago tua itu mengelak, pedang menyambar lewat dan menancap di perut kuda.
Keruan kuda itu kesakitan dan tambah liar terus membedal keluar seperti kesetanan.
Jago pedang Tiam-jong-pai tadi tertendang jatuh dan belum sempat merangkak bangun, kontan dia terinjak mampus oleh lari kuda yang kesetanan itu.
Habis menginjak orang, kuda itu pun keserimpat dan jatuh terjungkal ke bawah undak -ondakan sambil meringkik, lalu tidak bergerak lagi.
Suma Tiong-thian terkesima kehilangan kuda kesayangan.
Lamkiong Peng berteriak.
"Toako ..."
Akan tetapi Lamkiong Siang-ju lantas membujuknya.
"Tenang, anak Peng, tampak-nya kedua orang itu kehilangan kesadarannya dan saat ini entah sudah lari ke mana, bukan mustahil ...."
Meski tldak lanjut ucapannya, namun da-pat diduga dia pasti akan mengatakan keselamatan Liong Hui dan Koh Ih-hong sukar diramalkan.
Lamkiong Peng tertegun sejenak, mendadak ia menjadi beringas, diseretnya bangun Kong-sun Yan, bentaknya.
"Coba katakan, dengan obat bius apa Tiam-jong-pai kalian mengerjai Toako kami sehingga dia lupa daratan?' Selain sang guru, orang yang paling di-kasih dan dihormatinya ialah Liong Hui, dengan sendirinya hatinya sekarang sangat sedih dan gusar. Ujung mulut Kong-sun Yan berlumuran darah, setengah potorng pedang masih me-nancap di bahunya, keadaannya payah, ucap-nya lemah.
"Orang Tiam-jong-pai tidak per-nah menggunakan obat bius.
" 'Omong kosong, jika bukan perbuatan Tiamjong-pai kalian, habis siapa? "
Teriak Lamkiong Peng, Kongsun Yan memejamkau mata dan tidak menanggapi.
"Sabar anak Peng."
Ucap Lamkiong Siang-ju.
"Kuyakin Tiam-jong-pai memang bukan orang yang suka menggunakan obat bius, apa yang diperbuatnya ini tentu karena terpaksa, juga pakai perempuan cantik untuk memikat musuh, cara ini pun pasti tidak sudi dilakukan Tiam-jong-pai, seharusnya kaukatakan terus terang apa yang terjadi. Kalau tidak, peristiwa hari ini telah disaksikan orang banyak. betapa pun kalian menyangkal juga sukar membuat orang percaya."
Tiam-jong-yan Kongsun Yan tersenyum sedih, ucapnya, 'Di mana Samsuteku Thian-go? "
Loh Ih-sian menjawab, 'Meski Tiam-jong-pai kalian memusuhi kami, tapi kami tidak bertindak kejam, Thio-go sudah. kami lepaskan. Kongsun Yan terdiam sejenak, akhirnya ia menghela napas dan bertutur.
"Bilamana kalian ingin ke luar dari perkampungan ini dengan selamat, kukira teramat sulit."
"Apa maksudmu?' tanya Lamkiong Siang-ju.
"Kalau kalian ingin hidup, hendaknya kauserahkan harta bendamu ini kepada mereka, kalau tidak ...."
"Memangnya kaum iblis Kun-mo-to sudah tiba? "
Tanya Lamkiong Siang-ju.
"Betul."
Kongsun Yan mengangguk."
"agak-nya Kun-mo-to terlalu meremehkan Lamkiong-sanceng kalian, mereka tidak mengirim ja-go kelas tinggi melainkan cuma seorang pelayan rendahan saja dengan kawanan gadis dan binatang buas itu, katanya hendak membantu Tiam jong pai kami menduduki perkampungan ini siapa tahu Lamkiong-cengeu suami-istri yang selama ini dikenal sebagai orang awam ternyata menguasai kungfu setinggi ini. Sekarang pihak mereka untuk sementara menghentikan serang-an, tentu sedang menyiapkan langkah selanjut-nya yang lebih lihai."
Bicara sampai di sini napasnya tampak tersengal dan seperti tidak tahan lagi. Lamkiong Siang-ju tampak sedih, ucapnya.
"Terima kasih atas keterusterangan Totiang, bilamana tidak menolak, padaku tersedia obat luka."
"Tiada gunanya."
Ucap Kongsun Yan dengan tersenyum pedih, ''Urat nadiku sudah ter,-getar putus oleh pukulan nyonya, ditambah lagi tusukan pedang Lamkiong-kongeu tadi ....
Namun semua itu tidaklah menjadikan aku den-dam kepada kalian, aku hanya memohon bi lamana mungkin, kelak semoga kalian dapat membantu Suteku membangun kembali Tiam-jong-pai kami ....' "
Sampai di sini, suaranya hampir tak terdengar lagi, napas pun semakin lemah. Tiba-tiba hati Lamkiong Peng tergerak, serunya.
"Jika benar kawanan iblis dari Kun mo-to tadi harus menyusun kekuatan untuk menyerang lagi, saat ini kepungan tentu agak longgar, kesempatan ini dapat kita gunakan untuk menerjang keluar daripada menunggu ajal di sini."
"BetuI."
Tnkas Loh Ih-sian.
"Setelah menerjang keluar dapat kita berusaha mengadakan kontak dengan utusan dari Cu-sin-tian . ..."
"Usul yang baik."
Kata Suma Tiong thian. ''Saat ini di !uar ada belasan orang kawanku dan ..."
"Belasan Piauthau kawan Suma-cianpwe sekarang juga lagi istirahat di ruangan be-lakang, biar kupanggil keluar mereka."
Kata Lamki'ong Peng tiba-tiba sambil lari ke be-lakang.
"Apakah Toako dan Toaso masih ingin berbenah sesuatu lagi? "
Tanya Loh Ih-sian.
"Selanjutnya kami takkan punya kediaman tetap lagi, mau bebenah apa pula? "
UjarLam-kiong-hujin sambil menghela napas. Selagi Loh Ih-sian hendak bicara pula, mendadak terdengar suara kaget Lamkiong Peng yang berlari keluar.
"Ada apa? "
Tanya Lamkiong Siang-ju.-' "Semua ... mati semua ....ucap Lamkiong Peng dengan gugup. Semua orang sama melenggong.
"Semuanya mati dengan urat nadi tergetar putus."
Tutur Lamkiong Peng.
"Dada mereka terasa masih hangat, jelas mati belum lama, tapi sudah kuperiksa dan tiada nampak bayangan seorang pun."
Semua orang saling pandang dengan ter cengang, Bahwa di ruangan depan berkumpul tokoh kelas tinggi sebanyak ini dan tiada se-orang pun mendengar sesuatu, tahu-tahu orang di belakang sama terbunuh, sungguh kejadian yang mengerikan.
Pelahan Kongsun Yan membuka matanya dan berucap dengan lemah.
"Sudah ... sudah terlambat, kawanan ... kawanan iblis sudah dataug ...."
Mendadak matanya mendelik, napas ter-sumbat dan meninggal dunia.
Angin masih menderu, hujan tetap lebat.
Di tengah suara tegang itu.
perasaan semua orang sama tertekan.
Lamkiong-hujin menggunakan saputangan-nya untuk membalut luka lengan Lamkiong Peng, katanya pelahan, ''Coba angkat tangan-mu, nak, apakah melukai uratmu tidak?"
Lamkiong Peng menggerakan tangannya dan menjawab.
"Tidak apa-apa."
Dalam pada itu terdengar pula derap kaki kuda yang ramai dalam kegelapan, kedengarannya tidak cuma satu-dua penunggang kuda saja.
"Suma-heng."
Tanya Lamkiong Siang-ju.
"yang datang itu mungkin anak buahmu? "
Suma Tiong-thian berlari ke depan, dilihatnya empat ekor kuda berlari datang dengan cepat di bawah hujan lebat.
Waktu diamati, ternyata tiada seorang penunggang pun, hanya kuda yang terakhir terikat miring sebuah panji merah dan berkibar tertiup angin, mendadak panji itu tertiup jatuh ke tanah dan terinjak kuda sehingga sukar dikenali lagi.
Tergetar hati Suma Tiong-thian dan me-nyurut mundur, gumamnya.
"Wah, habis ... habis sudah ....
"Apakah para saudaramu di luar perkampungan sana juga mengalami sesuatu?' tanya Lamkiong Siang-ju.
"Ada kuda tanpa penunggangnya. dengan sendirinya lebih banyak celaka dari pada selamatnya."
Ucap Suma Tiong-thian. Mendadak ia berteriak lantang.
"Wahai kawanan tikus Kun-moto! Jika berani ayolah keluar untuk menentukan siapa yang lebih unggul, kenapa main sembunyi dan sergap, terhitung orang gagah macam apa? "
Sambil berteriak ia jemput tombaknya yang terlempar ke undakan batu tadi terus berlari dengan tombak terhunus.
Mendadak dari kegelapan hutan sana me-layang keluar tiga gulung bayangan hitam.
Cepat tombak Suma Tiong-thian menyampuk dan menusuk, kedua guling bayang hitam terpukul jatuh, bayangan ketiga tertusuk oleh ujung tombak.
Lamkiong Siang-ju memburu maju dan berseru.
"Sabar dulu, Suma-heng, jangan ter-buru nafsu dan terpancing muslihat musuh! "
Tanpa terasa Suma Tiong-thian diseret kembali ke dalam ruangan, waktu ia meme-riksa ujung tombaknya.
ternyata yang tersunduk di situ adalah sebuah kepala manusia dan se-gera dikenali sebagai anak buah sendiri.
Keruan air muka Suma Tiong-thian ber-ubah hebat.
tangan pun terasa lemas dan tombak terjatuh ke lantai.
"Sungguh keji kawanan iblis Kun-mo-to."
Geram Loh Ih-sian.
"Toako, dengan kemampu-an kita, memangnya kita tidak dapat mener-jang keluar ...."
"Jite."
Kata Lamkiong Siang-ju.
"musuh dalam keadaan gelap dan kita di pihak terang, betapapun kita sudah berada dalam posisi yang lemah. Jika kita tidak sabar dan meng-hadapi persoalan dengan tenang, bisa jadi urusan akan runyam.
"' Tapi . , . tapi kalau mesti menunggu dan menunggu lagi, sampai kapan baru akan berakhir? "
Dengan beringas Suma Tiong-thian berseru.
"Aku Icbih suka menerjang ke kegelapan sana dan bertempur mati-matian daripada menunggu dengan tersiksa cara begini? "
Lamkiong Peng juga memandang sang ayah dengan semangat menyala, anak muda ini pun ingin bertempur saja daripada menunggu se-cara tidak menentu. Pelahan Lamkiong Siang-ju menghela na-pas.
"Soal mati atau hidup adalah urusan kecil, tapi menepati janji adalah soal lebih besar. Sejak dulu hingga kini keluarga Lamkiong ti dak pemah berbuat sesuatu yang melanggar janji, meski sekarang keluarga Lamkiong kita menghadapi kerutuhan juga tetap tidak boleh melanggar janji. Apapun juga kita harus menunggu kedatangan utusan Cu-sin-tian dan me -nyerah-terimakan harta benda ini, kalau tidak mati pun aku tidak tentram."
Pada saat itulah tiba-tiba di bawah hujan terdengar suara gemersik, suara orang berjalan yang semakin mendekat.
Seketika hati semua orang menjadi tegang.
Sekali lompat I.oh Th-sian menuju ke de-pan pintu.
Di atas undak-undakan akhirnya muncul tiga sosok bayangan orang, selangkah demi selangkah naik ke atas, kedatangannya seperti tidak bermaksud jahat.
"Siapa itu? "
Bentak Loh Ih-sian.
Tiba-tiba orang yang di tengah berdehem pelahan, dalam kegelapan kelihatan kepalanya yang gundul kelimis, seperti seorang hwesio.
Sekali mengangkat kaki.
tahu-tahu sudah di depan Loh Ih-sian.
Keruan Ih-sian terkejut.
Terdengar pendatang itu berkata.
"Paderi tua tidak sering berkecipung di dunia kangouw, umpama kuberitahukan namaku juga Sicu tak-kan kenal."
Waktu Loh Ih-tian memandang ke sana, dilihatnya sekujur badan orang basah kuyup, jenggot dan alisnya sama putih, sikapnya ke-reng berwibawa, tanpa terasa timbul rasa hormat dan segan Koh Ih-iian.
Kedua orang lain juga menyusul naik ke atas undakan, seorang memakai tudung sebang-sa caping dan memakai mantel ijuk, tangan memegang sebuah karung goni yang basah.
Ka-rena tudungnya yang lebar sehingga wajahnya tidak terlihat jelas.
Orang ketiga berjubah bi-ru, ternyata seorang tojin.
Meski dandanan ketiga orang ini, tidak sama, tapi semuanya sudah berusia lanjut.
Dalam keadaan tidak biasa ini.
entah ada keperluan apa kunjungan kalian bertiga?"
Tegur Loh Ih-sian. Hwesio pertama memberi salam dengan tersenyum, jawabnya.
"Kedatangan kami justru menyangkut kejadian di Lamkiong-san-ceng ini. Apabila Sicu tidak keberatan, biarlah kututurkan setelah berada di dalam."
Loh Ih-sian agak ragu, tapi ketiga orang itu lantas melangkah ke dalam ruangan.
Tergerak hati Larnkiong Peng, pikirnya, ' "Kepungan di luar perkampungan cukup ke-tat, entah cara bagaimana ketiga orang ini da -pat masuk ke sini dengan leluasa?"
Waktu ia melirik sang ayah, orang tua itu kelihatan tetap tenang taja. maka ia pun tidak kuatir lagi. Begitu masuk ke dalam dan melihat mayat yang bergelimpangan itu, si hwesio lantas berkata"
"Ai, hanya persoalan sedikit harta benda dan harus jatuh korban jiwa sebanyak ini, apakah para Sicu tidak merasa berdosa? "
"Kejadian ini bukanlah kehendak kami dan terjadi karena terpaksa, biarlah kelak akan kami mengadakan selamatan bagi arwah para korban ini."
Kata Lamkiong Siang-ju "Jika benar Sicu mempunyai nazar begini, hal ini menandakan Sicu masih mempunyai nurani yang baik."
Kata si hwesio.
"Tapi akan Icbih baik lagi bilamana Sicu sudi menderma-kan barang-barang yang mengakibatkan ben cana ini untuk amal bagi anak-cucumu."
Air muka samua orang sama berubah, baru sekarang kelihatan belangnya maksud tujuan kedatangan ketiga orang mi. ' Derngan tenang Lamkiong Siang-ju men-jawab.
"Meski Caihe ada maksud demikian, cuina sayang, harta benda ini sudah bukan miiikku lagi."
"Ah, masa Harta benda ini masih ber-ada di tempat Sicu, kenapa bukan lagi milikmu? "
Kata si hwesio dengan tersenyum. Mendadak Suma Tiong-thian membentak, ' Umpama benar miliknya, jika tidak diderma-kan padamu, memangnya akan kaupaksa? "
Si hwesio tua tetap tersenyum tanpa gusar. jawabnya sambi! tergelak.
"Haha, bila para Sicu tidak sudi beramal, maka urusan di sini pun tidak ada sangkut-pautnyaa dengan kami."
Memangnya apa sangkut-pautnya urusan ini dengan kalian? "
Bentak Suma Tiong-thian dengan gusar.
"Lekas kalian cnyah dan sini! " 'Eeh, Sicu ini ternyata seorang pemberang? "
Seru si tojin berjubah biru dengan tertawa.
"Wah, air muka Sicu kelihatan gelap, ini tanda tidak baik, hendaknya jangan suka marah, kalau tidak, pesti akan mengalami malapetaka. Ingat dan camkan! "
Saking gusarnya sampai Suma Tiong-thian tidak sanggup bersuara, hanya dadanya yang tampak naik turun.
Si kakek bermantel ljuk lantas mendekati Suma Tiong-thian, mendadak is menyingkap tudungnya dan mendengus.
"Hm, apakah kau tidak percaya ucapannya? "
"Memang tidak ..."
Belum lanjut per-kataan Suma Tiong-thian, mendadak dilihatnya wajah orang yang luar biasa.
Ternyata muka orang tua ini sangat menyeramkan, bagian di atas hidung penuh gores-an bekas luka serupa sebuah semangka yang diiris kian kemari, rambut dan alisnya juga ter-kerik licin, kedua matanya bersinar galak, wajahnya sangat menakutkan.
Semua orang juga terkesiap menyaksikan wajah yang seram ini.
Si kakek tertawa, 'Haha, jangan takut, biar mukaku jelek, tapi hatiku sangat baik, seorang pedagang sejati.
Jika mereka datang dengan bertangan kosong untuk menderma, kedatanganku justru membawa bavang dagangan dan ingin juaal beli secara adil."
"Memangnya barang dagangan apa yang kaubawa, bolehkah diperlihatkan kepada ha-dirin di sini? "
Ujar Lamkiong Siang-ju dengan tersenyum.
"Wah, tampaknya Lamkiong-cengeu juga seorang pedagang."
Kata kakek itu sembari me-nuang semua isi karungnya. Ternyata isinya adalah buah kepala manusia yang sudah ter-guyur air hujan sehingga putih pucat.
"Semua barangku ini masih segar dan ba-ru, sebuah kepala bertukar dengan sebuah pe-ti, jualbeli ini tentu cukup adil bukan? "
"Satu kepala tukar sebuah peti, hm, jual-beli ini memang pantaa, cuma kukira barang daganganmu sudah tidak segar lagi."
Jengek Siang-ju.
"Oo, apakah kauminta barang yang lebih segar?' tanya si kakek. Mendadak Lamkiong Siang-ju melompat ke sana dan mengangkat sebuah peti, serunya.
"Jika sekarang juga kupotong kepalamu sendiri, maka peti ini akan kutukar."
"Eh, jadi atau tidak bisnis kita, kenapa Cengeu mesti mrngincar jiwaku? "
Sahut si kakek dengan tertawa sambil melangkah maju.
Selagi semua orang melenggong, mendadak sebelah kaki si kakek menyampar sebuah kepala manusia yang dituangnya dari karung ta-di, langsung kepala itu menyambar ke muka Suma Tiong-thian.
Berbareng itu sebelah ta-ngan si kakek terus meraih peti yang dipegang Lamkiong Siang-ju, tangan lain juga memotong pundak Lamkiong-hujin, sedangkan kaki kanan terus menyampar pula sehingga sebuah kepala kembali mencelat menuju ke muka Loh Ih-sian dengan keras.
Beberapa gerakan itu scakan-akan dilakukannya.
secara bersamaan.
Keruan semua orang melengak.
Dalam pada itu Suma Tiong-thian juga ka-get ketika mendadak sebuah kepala manusia nienyambar kearahnya, seketika ia tidak sem-pat mengelak, cepat ia mengebas dengan tangan shingga kepala itu mencelat jauh ke luar ruangan.
Habis itu baru mendadak teringat olehnya wajah kepala tadi seperti sudah dikenalnya, yaitu salah seorang anak buahnya sendiri.
Keruan hati terkesiap, rasanya mual, isi perut hampir tertumpah keluar seluruhnya.
Ia mem bentak dan menghantam pula dengan dahsyat.
Dalam pada itu Loh Ih-sian menggeser ke samping sehingga kepala manusia tadi menyambar Icwat di tampingnya dan ' "bluk ", membentur dinding.
Sedang Lamkiong Siang-ju berusaha mempertahankan petinya, tiba-tiba dirasakan tenaga dahsyat menyodok tiba, sekuatnya ia ber-tahan.
Pads saat hampir sama Lamkiong-hujin lantas menabas, ia balas memotong pergelangan tangan si kakek.
''Sambil bergelak kakek itu meluncur ke samping, peti Lamkiong Siang-ju ikut tertolak ke depan karena kehilangan imbangan, saat itu juga Suma Tiong-thian lagi menghantam dan tepat mengenai peti.
"brak ", seketika peti jatuh terbuka dan isinya berhamburan. Diam-diam Lamkiong Peng terkejut, sekaligus kakek itu menggunakan tangan dan kaki-nya untuk menyerang cmpat orang dengan cara yang berbeda, kungfunya sungguh sangat lihai, mengapa selama ini tidak terdengar asal-usul seorang tokoh kosen seperti-ini? "
Si hwesio tua tadi tersenyum dan berkata "Tenaga dalam Lamkiong-sicu sungguh hebat, pukulan Lamkiong-hujin juga sangat gesit, bi-cara sejujurnya kalian sudah terhitung lumayan.
Mengenai Sicu yang ini ...."
La melirik Suma Tiong-tian sekejap, lalu menyambung.
"Dia tidak lebih serupa anak yang baru masuk sekolah dasar, bila ingin maju masih harus belajar lebih giat lagi."
"Dan bagaimana dengan diriku? "
Tanya Loh Ihsian sambil melompat maju dan menyerang si hwesio. 'Akulah pengujinya, jangan salah sasaran! "
Seru si kakek kelimis tadi sambil mengadang di depan Loh Ih-sian, tangan terangkat, kon-tan ia colok kedua mata Loh Ih-sian.
Dalam keadaan demikian, Loh Ih-sian tidak sempat menarik kembali pukulannya untuk menangkis, tak terduga mendadak ia men-dongak sedikit, ia pentang mulut terus hendak menggigit jari lawan.
Keruan kakek kelimis itu terkesiap dan cepat tarik kembali tangannya.
"Haha, boleh juga, dengan cara menggigit ini sudah terhitung lulusan kelas menengah."
Seru si hwesio.
"Huh, terhitung jurus serangan macam apa ini? "
Jengek si kakek kelimis "Oo, belum pemah kaulihat? Hehe, tam-paknya engkau perlu banyak menambah pe-ngalaman."
Ejek Loh Ih sian.
Sembari bicara kedua orang sudah saling gebrak lagi, hanya sekejap saja belasan jurus sudah lalu.
Meski cara bertempur Loh Ih-sian tampak serabutan.
tapi serangannya justru sangat berbahaya, sama sekali si kakek kelimis tidak mampu mengatasinya.
Suma Tiong-thian sampai melongo menyaksiikan pertarungan mereka.
"Tak tersangka di dunia persilatan se-karang masih ada beberapa jago lumayan se-perti ini, bilamana harus kubinasakan mereka sungguh rasanya tidak tega."
Ucap ti tojin ber-jubah biru tadi. Mendadak Lamkiong Peng mendengus.
"Hm, jika setiap penghuni Kun-mo-to cuma punya kepandaian seperti mereka ini, maka ke-takutan orang kangouw terhadap kawanan iblis dari pulau hantu itu sebenarnya agak ber-lebihan."
"Eh, kautahu kami datang dari Kun-mo-to anak muda? "
Tanya si tojin dengan mata me-lotot.
"Lahiriah bajik, hati ternyata kejam dan keji, ucapan licin. kungfu tidak lemah, usia pun ratarata sudah mendekati waktunya ma-suk peti mati, orang begini jika tidak datang dari Kun-mo-to masakah mungkin datang dari tempat lain? "
Jengek Lamkiong Peng.
"Hahaha, bagus! "
Seru tojin berjubah biru dengan terbahak, anak muda memang lebih cepat berpikir ...."
Belum lanjut ucapannya Lamkiong Peng telah jemput sebatang pedang di lantai terus menusuk.
Tojin itu tidak mengelak melainkan cuma mengebaskan lengan jubahnya.
kontan pedang terbelit oleh lengan jubah yang longgar itu.
Tak terduga pedang Lamkiong Peng yang kelihatan keras itu, sebenarnya cuma serangan pancingan belaka, mendadak ujung pedang bergetar terus menyambar ke samping, Ialu secepat kilat menusuk lagi dari arah lain.
Lengan jubah si tojin membelit tempat kosong, tahu-tahu ujung pedang lawan me-nyambar lagi ke tenggorokannya, sungguh tak terpikir olehnya anak muda belia ini mengua-sai ilmu pedang sehebat ini.
Cepat ia menyurut mundur dua-tiga selangkah.
Si hwesio tua berkerut kening, nyata dia terkesiap ucapnya.
"Aha, Sicu cilik ini sungguh anak berbakat. Apabila kaumau ikut kami ke lautan sana, tanggung dalam waktu sepuluh tahun pasti akan menonjol dan menjagoi dunia kangouw."
"Huh, Lamkiong Peng adalah seorang le-laki sejati mati pun tidak sudi berkomplot dengan kawanan iblis."
Seru Lamkiong Peng.
"Lamkiong Peng?! "
Si hwesio menegas.
"Jadi dirimu inilah putra sulung lamkiong san-ceng sekarang ini? "
"Betul! "
Teriak Lamkiong Peng, berbareng Pedang menyabat sambil menggeser ke sam-Ping. Si hwesio tua mengelak dengan ringan, katanya.
"Lamkiong-sicu, rasanya paderi tua men-jadi terpikat oleh bakat putramu ini dan ingin memboyong segenap anggota keluarga Lamkiong ke pulau sana untuk menikmati hidup bahagia bersama. Tapi bila Sicu sendiri berkeras pada pendirianmu, kami juga tidak boleh membiarkan harta benda ini digunakan sebagai dana kejahatan kawanan tua bangka di Cu-sin-to sana, apalagi kalau putramu yang berbakat ini sampai diperalat oleh mereka, tentu urasan akan tambah runyam. Maka ter-paksa hari ini kami mesti melanggar pantangan membunuh."
Tiba-tiba pikiran Lamkiong Siang-ju ter-gerak, serunya cepat.
"Jite dan anak Peng, ber-henti dulu semuanya! "
Lamkiong Peng segera melompat mundur. Sedangkan Loh Ih-sian molancarkan pukulan dahsyat untuk memaksa mundur si kskek ke-limis, habis itu ia pun melompat ke samping Lamkiong Sian-ju sambil berkata.
"Toako, jangan kaupercaya kepada ocehan hwesio ini. Penghuni Kun-mo-to kebanyakan adalah manusia jahat dan orang buangan, sebaliknya peng-huni Cu-sin-to adalah kaum kesatria dunia per-silatan yang mengasingkan diri. tidak perlu bicara urusan lain, melulu nama Kun-mo dan Casin saja sudah merupakan pembedaan yang menyolok, urusan sekarang sudah telanjur be-gini, biarlah kita hadapi kawanan iblis ini sekuatnya."
Segera Suma Tiong-thian menyatakaa setuju.
"Betul, gempur saja! "
Segera Lamkiong Siang-ju berkata pula.
"Antara keluarga Lamkiong sudah ada perjanjian dengau Cu sin-to yang telah berlangsung selama ratusan tahun, tentang siapa baik dan siapa jahat bukan urusan kita, yang jelas tidak mungkin kurusak perjanjian leluhur yang sudah ada. Urusan hari ini biarlah kuselesaikan lang-sung dengan Taysu saja."
"Jika begitu, jadi Sicu bermaksud me-nantang bertarung denganku satu lawan satu? "
Tanya si hwesio dengan sinar mata gemerdep.
"Begitulah maksudku."
Jawab Siang-ju.
"Dan bagaimana pula jika hasil pertandingan kita sudah jelas? "
Tanya si hwesio tua.
"Bila kukalah, maka segala urusan keluarga Lamkiong kuserahkan kepada semua Kehendakmu."
Jawab Siang-ju dengan tegas dan mantap.
Loh Ih-sian dan lain-lain yakin ilmu silat hwesio tua ini pasti sangat tinggi dan su-kar diukur, tapi mereka pun tahu watak Lamkiong Siang-ju yang pendiam dan cermat, tidak nanti berbuat sesuatu yang tidak yakin berhasil, sebab itulah meski merasa ragu, namun tidak ada yang bersuara.
Si hwesio tua tersenyum, katanya sambil mengerling ke arah kedua kawanya."
"Sebenar-nya aku tidak keberatan atas tantangan Lam-kiongsicu ini, cuma sayang, kedua kawanku ini jelas tidak dapat meluluskan."
Serentak si jubah biru dan si kakek ke-limis berseru.
"Ya, tidak! "
Loh lh-sian dan Iain-lain menjadi heran, jelas pertarungan ini menguntungkan pihak mereka, mengapa kedua orang ini menolak dengan tegas. Lamkiong Siang-ju tertawa.
"Haha, rupa-nya tidak meleset dugaanku ...."
"Dugaan apa? "
Tanya si hwesio. Tertawa Lamkiong Siang-ju terhenti, ucapnya pelahan.
"Orang bilang Teh-ih Hujin ma-hir ilmu rias yang tidak ada bandingannya di dunia ini, setelah bertemu sekarang memang harus kupuji ternyata tidak bemama kosong. Cuma sayang, betapa cermat tindakanmu tetap melupakan sesuatu."
Hati semua orang sama tergetar, sama heran atas ucapan Siang-ju ini. Pelahan si hwesio menjawab.
"Melupakan apa? "
"Meski Hujin bicara dengan alim serupa seorang paderi saleh, tapi engkau lupa bahwa seorang hwesio harus menjalani penbabtisan dengan kepala diselomoti api dupa. Engkau tidak membawa tasbih pula, meski memakai kasa (jubah kaum hwesio), tapi kaki memakai sandal orang awam. Yang lebih kentara lagi adalah wajah Hujin yang dibuat kereng, na-mun kerlingan matamu tidak berubah, mam mungkin seorang paderi saleh selalu main mata."
Hwesio tua itu terdiam sejenak, mendadak ia tertawa ngekek, katanya.
"Ah, rupanya aku terlalu menilai rendah kecerdasan kalian, sebab itulah aku telah bertindak ceroboh. Sung-guh hebat juga dapat kaulihat samaranku. Tadi aku pun tidak seharusnya menggunakan "gema irama iblis dan tari pembetot sukma"
Sehingga dapat kauterka Tek-ih Hujin pasti berada di sekitar sini.
Yang lebih tidak pantas Iagi adalah aku menyamar sebagai hwesio, padahal di dunia ini mana ada hwesio yang punya mata jeli serupa diriku?"
Waktu semua orang memandangnya, meski wajahnya kelihatan kereng, namun kerlingan matanya memang jalang.
Mau-tak-mau semua orang sama gegetun.
di samping memuji kemahiran penyamaran Tek-ih Hujin yang luar biasa berbareng juga mengagumi ketajaman mata Lamkiong Siang-ju, orang lain tidak tahu Samarannya, tapi dia ternyata dapat mengetahui hwesio tua ini adalah samaran Tek-ih hujin.
Di tengah tertawa merdunya, pelahan tangan si "hwesio "
Mengusap dan menarik mu-ka sendiri, ketika ia membuka tangan, tahu-ta-hu hwesio tua yang saleh telah berubah menjadi seorang perempuan setengah baya dan masih sangat cantik mempesona.
"Setelah jejak Hujin ketahuan, kenapa tidak lekas pergi saja, memangnya perlu mengalirkan darah di sini? "
Kata Siang-ju. Tek-ih Hujin mengerling genit, ucapnya, 'Kami bertiga melawan kalian berlima memang terasa kalah kuat, cuma sayang, betapa-pun cerdik Lamkiong-cengeu tetap melupakan sesuatu."
Nyata, suaranya sekarang telah berubah menjadi halus merdu.
"Melupakan apa? "
Tanya Siang-ju. Tek-ih Hujin tertawa ngikik.
"Kaulupa bahwa selain mahir merias dan mengubah suara, Tek-ih Hujin masih menguasai sejenis kepandaian yang tidak ada bandingannya di dunia....."
Tergerak hati Lamkiong Siang-ju, serunya mendadak.
"Hah menggunakan racun maksudmu? . ..."
"Betul, kembali dapat kauterka dengan jitu."
Ajar Tek-ih Hujin.
"Cuma sayang kini sudah terlambat."
Serentak Lamkiong Siang-ju menyurut mundur sambil membentak "Lekas tahan napas! "
"Sudah kukatakan terlambat, masa engkau tak percaya? "
Ujar Tek-ih Hujin dengan tertawa.
"Saat ini kalian sudah mengisap hawa racun yang tak berwujud dan tak berbau, dalam setengah jam kalian akan mati dengan tubuh membusuk, apa gunanya sekarang kalian mau menahan napas? Selama hidupku senantiasa 'tek-ih' (senang), jika lebih sering tidak senang tak mungkin orang kangouw memberi nama julukan Tek-ih Hujin padaku? "
Ia meraba rambut pada pelipisnya, lalu berucap pula dengan tersenyum manis.
"Jika saat ini kalian mengaku salah dan mau me nurut kepada perkataanku, bisa jadi akan ku-beri ampun kepada kalian dan menawarkan racun yang kalian isap. Kalau tidak, selang setengah jam Iagi, biarpun tabib sakti Hoa To lahir kembali juga tidak mampu menyelamat-kan kalian."
Muka Lamkiong Siang-ju tampak pucat, damperatnya.
"Huh, ngaco-belo, betapapun kauputar lidah tetap takkan kupercaya."
Tek-ih Hujin tertawa senang.
"Hihi, meski mulutmu keras, padahal dalam hatimu sudah percaya. betul tidak? Soalnya engkau tentu sudah pemah mendengar cerita orang kangouw bahwa kabut wangi pencabut nyawa Tek-ih Hujin tidak berbau dan tidak berwujud, kalau tidak segera minum obat penawar, dalam jarak seluas tiga tombak baik manusia maupun hewan, asalkan keciprat setitik saja kabut be-racun itu. tidak ada yang dapat hidup lebih dari satu jam.
"Cuma sayang kabut ini tak dapat men-capai jauh, dengan susah payah aku menyaru sebagai hwesio tua dan menuju ke sini di bawah hujan, tujuanku adalah membuat kalian tidak berjagajaga, dengan begitulah baru dapat kumasuk ke ruangan ini dengan leluasa dan dapat meracun mati kalian dengan mudah."
Dia bicara dengan berlenggak-lenggok dan main mata dengan genit. Tiba-tiba pikiran Lamkiong Peng melayanglayang, tanpa terasa teringat olehnya akan diri Kwe giok ge, diam-diam ia membatin,"
Menagapa perempuan yang berhati keji dan jahat sama berbentuk cantik molek?"
Pada saat itulah terdengar Loh-ih-sian membentak,"perempuan keji, biar aku mengadu jiwa denganmu!"
Serentak Suma Tiong-thian juga jemput kembali tombaknya. Tapi si kakek kelimis dan tojin jubah biru lantas mengadang di depan mereka. Tek-ili Hujin juga lantas mendmgus.
"Hm, kalian tidak lekas minta ampun padaku, memangnya kalian tidak ingin hidup lagi?'' Seketika Suma Tiong-thian merandek, sebab mendadak leringat olehnya akan anak-istri dan keluarganya.
"Aku memang sudah bosan hidup! "
Teriak Loh Ih-sian, berbareng ia menghantam dengan kalap.
"Kausendiri bosan hidup, apakah orang lain juga bosan hidup?"
Ucap Tek-ih Hujin.
Seketika Loh Ih-.sian melengak dan ber-henti meyeraing, waktu ia memandang ke sana, Suma Tiong-thian kalihatan lesu, sedangkan Lamkiong Siang-ju tampak sedih.
Lamkiong-hujin memandang putra kesayangannya dengan cemas.
Loh Ih-sian terharu.
pikirnya.
"Aku sendiri sebatangkara, dengan sendirinya mati hidup tidak menjadi soal bagiku. Tapi orang lain berumah tangga dan anak istri Iengkap bahagia, mana mereka bisa meniru dirimu dan menyuruh mereka mati begitu saja? "
Maklumlah, lantaran wataknya yang mudah tersinggung, makanya dia putus asa dan mengasingkan diri Selama 20 tahun, dengan segala daya upaya berusaha mengumpulkan duit, sebaliknya pribadinya sama sekaili tidak terawat.
Sekarang hatinya menjadi dingin dan berdiri termangu tanpa bicara.
Tiba-tiba Lamkiong Peng berseru.
"Cara bagaimana kaubikin susah Toako kami, ke mana perginya sekarang? "
Tek-ih Hujin tersenyum.
"Asalkan kauturut perkataanku, urusan Toakomu tentu akan kuberitahukan padamu, Sekarang hari sudah hampir pagi racun yang kalian minum sudah hampir bekerja. kalian tidak berani bertempur dan juga tidak mau menyerah, apakah memang ingin menanti ajal saja di sini? "
"Hm, jangan kau gembira dalu, segala macam racun di dunia ini pasti ada obat penawarnya "
Jengek Lamkiong Siang-ju mendadak "Ah. tidak perlu kaubicara lagi kutahu maksudmu hanya ingin memancing supaya ku-beri tahu seluk-beluk racun ini."
Kata Tek-ih Hujin dengan tertawa.
"Terus terang kukatakan, racunku ini di dunia hanya dipunyai dua keluarga saja, atau dengan lain perkataan juga cuma dua tempat ini saja yang mempunyai obat penawar, salah satu tempat itu justru jauh terletak di luar perbatasan utara sana. biarpun sekarang engkau dapat terbang ke sana juga tidak keburu lagi "
Hati Lamkiong Peng tergerak, didengar-nya sang ibu sedang berkata.
"Habis cara ba-gaimana baru dapat kauberi ...."
Belum lanjut ucapannya.
"kekk ", menda-dak seekor burung beo menerobos masuk me-lalui jendela dan hinggap di atas sebuah peti lalu mengguncangkan sayap untuk merontokkan air hujan yang membasahi bulunya, kemudian bersuara panjang pula satu kali. Meski kecil burungnya, tapi tampak gagah.
"Aha. sudah Jatang! "
Mendadak Lamkiong Siang-ju berseru girang. Beruang beo itu melayang dan hinggap di pundak Siang-ju serta menirukan ucapannya.
"Sudah datang ....."
Benar juga segera terdengar suara langkah orang di undakan batu, sesosok bayangan tinggi besar lantas muncul di depan pintu.
Orang yang berperawakan raksasa ini memakai baju satin yang sangat mewah, tapi caranya memakai justru tidak teratur, dari tujuh buah kancing hanya dirapatkan tiga buah saja sehingga dadanya terbuka dan kelihatan dadanya yang bidang dengan simbar (bulu) dada yang hitam lebat.
Rambut orang ini juga semerawut tak teratur, kedua alisnya sangat tebal, mata kiri justru tertutup oleh sebuah kedok mata sehingga menambah keseraman mata kanannya.
Tangan kirinya tampak melambai lurus dan lengan kanan menyanggah pada sebuah tongkat hitam, kaki kanan buntung sebatas dengkul.
Sorot matanya yang tajam itu sekarang sedang menyapu pandang keadaan sekelilingaya.
Tergetar hati Tek-ih Hujin melihat kemunculan orang aneh ini.
Burung beo tadi segera terbang dan hinggap di pundak si buntung kaki dan bermata satu ini.
Lamkiong Siang-ju memberi hormat dan berseru.
"Sudah lama kami menunggu, silakan masuk."
Pelahan orang aneh itu mengangguk, kata-nya tambil memandang Lamkiong Peng.
"Ini-kah putra kesayanganmu? .... Haha, bagus. momang hebat! "
Diam-diam Tek-ih Hujin menyurut mundur ke sudut yang agak gelap.
Sedang si tojin berjubah biru dan si kakek berdiri dengan air muka prihatin memandangi pendatang yang aneh ini.
Seperti tak acuh si buntung tersenyum, katanya.
"Sudahlah, tidak perlu bertempur lagi, kabut racunmu sama sekali takkan mempan terhadapku."
Tek-ih Hujin terkesiap. Belum lagi dia bertindak, tongkat lelaki buntung itu mengetuk lantai, pelahan ia melangkah masuk, katanya.
"Bagus, peti-peti ini sudah siap ...."
Burung beo tadi menirukan.
"Bagus ..Bagus,..."
Si tojin jubah biru dan si kakek kurus saling memberi tanda, berbareng mereka hendak menubruk maju. Tanpa berpaling lelaki buntung itu mendadak membentak.
"Jangan bergerak! "
Seketika kedua orang itu urung bertindak. Dengan tak acuh lelaki buntung itu mem-balik tubuh, lalu berkata.
"Aha, sekian tahun tidak bertemu, mengapa kalian masih suka main sergap begini? "
Tojin jubah biru terkekeh.
"Ah, masakah main sergap, maksud kami banya ingin menyapa kepada kenalan lam saja.! "
"Bagus, bagus ...."
Ucap si buntung sam-bil membelai bulu burung beo yang hitam legam itu.
"Rupanya kalian berdua juga berhasil menemukan Kun-mo-to dan kedatanganmu sekarang hendak memusuhiku, bukan? "
Mendadak si kakek menyela.
"Betul? "
Sinar matanya mencorong terang dan siap tempur. Namun si buntung hanya memandangnya sekejap dengan hambar, ia berkata ke arah lain.
"Lamkiong-cengeu, jika putramu sudah datang, peti juga sudah siap, bila ada arak harap sediakan dua guci.habis minum segera berangkat! "
"Hm, kutahu kami tidak kaupandang se-belah mata."
Jengek sikakek mendadak.
"Tapi bila petipeti ini hendak kaubawa pergi, sedikitnya harus kaulangkahi dulu mayatku."
Dengan terkekeh si tojin jubah biru lantas menyambung.
"Meski kungfu kami bukan tandinganmu, tapi jika. dua lawan satu, jelas engkau takkan menarik kcuntungan. Apalagi, hehe. bukan mustahil keluarga lamkiong akan berdiri di pihak kami."
Si buntung bermata satu itu berucap.
"Bagus, boleh kalian coba saja nanti ... Hehe, dan Dona besar itu, jika obat penawar tidak kaubei-ikan, apakah kaukira dapat keluar dari Lamkiong-sanceng dengan hidup? "
Air muka Tek-ih Hujin berubah, katanya dengan tersenyum genit.
"Eh, jika engkau melarang kupergi, biarlah kutemanimu di sini."
"Haha. bagus, Bu-tau-ong, Hek-sim-khek, coba kalian bekuk dia, akan kuberi rasa enak padanya."
Seru si buntung. Suma Tiong-thian tertesiap mendengar namanama yang disebut itu, kiranya kedua orang ini adalah "Bu-sim-siang-ok"
Atau dua manusia jahat tak berhati yang terkenal berpuluh tahun lampau itu, pantas kungfu mereka tinggi dan tindaktanduknya keji.
Lamkiong Peng belum luas pengalaman kangouw, tak diketahuinya asal-usul Bu-simsiang-ok yang ditakuti beberapa puluh tahun yang lalu ini.
Si kakek kurus, Bu-tau-ong atau kakak tanpa kepala, tertawa ngekek, ucapnya.
"Hehe, kauminta kami membekuk dia? .... Hah, barangkali setelah kaumasuk Co-sin-tian, pikir-anmu menjadi kurang waras."
"Hm, apakah kalian memang sudah bosan hidup dan tidak mau minta obat penawar ke-padanya? "
Jengek si buntung. Bu-tau-ong dan Hek-sim-khek sama me-lengak, seru mereka.
"Apa artinya? "
"Hah, rupanya kalian belum lagi tahu."
Seru si buntung dengan tertawa.
"Baik, ingin kutanya padamu, apakah sebelumnya kalian telah mencium obat penawar? "
Kedua orang sama terkesiap dan tidak dapat bicara.
"Haha, kalian mengira ucapannya tadi hanya untuk menggertak pihat Lamkiong-cengeu saja dan tidak benar telah menebar-kan kabut berbisa soalnya kalian memang tidak tahu kapan dia menyebarkan racun, begitu bukan?"
Muka Hek-sim-khek tambah pucat, wajah Busim-ong pun semakin beringas.
"Huh, jangan kalian percaya kepada ocehannya."
Kata Tek-ih Hujin dengan tertawa, namun suaranya rada gemetar Serentak Bu-sim-siang-ok berputar tubuh, Heksim-khek Iantas menegur.
"Jadi benar kaugunakan racun? "
Bu-tau-ong juga lantas melangkah maju sambil menjulurkan tangan.
"Serahkan obat penawarnya! "
Si buntung kelihatan tertawa senang. ia bersandar tak acuh di atas peti, katanya "Obat penawar tulen. setelah dicium, kontan akan bersin tujuh kali, harus kaucoba du!u, jangan sampai tertipu."
Tek-ih Hujin menyurut mundur, ucapnya gugup.
"Jangan ..jangan kaupercaya, dia bohong! "
"Jika tidak serahkan obat penawar, akan kucincang dirimu, dagingmu akan "kumakan bersama arak."
Bentak Bu-tau-ong bengis.
"Kulitnya putih halus, dagingnya tentu empuk, rasanya pasti enak."
tukas Hek-sim-khek.
"Cuma sayang, tentu rada berbau langu."
Ujar si buntung dengan tertawa. Dalam pada jtu Tek-ih Hujin mash terus menyurut mundur, ucapnya.
"Baik, akan...akan kuberi..."
Ia meraba bajunya, tapi mendadak tangannya terangkat, berpuluh titik perak tajam serenntak berhamburan, ia sendiri segera melayang keluar melalui jendela.
Cepat lengan baju Hek-sim-khek mengebas, kedua tangan Bu-sim-ong juga menghantam dari jauh sehingga senjata rahasia lawan dibikin rontok, tanpa berhenti mereka terus mengejar sambil membentak.
"Lari ke mana?! "
Pada saat itu juga dari luar menyambar masuk setitik cahaya tajam menuju ke arah Lamkiong Peng. Selagi anak muda itu hendak menangkap senjata rahasia itu, sekonyong-konyong tangan terasa kesemutan.
"tring ", cahaya perak itu mencelrt jauh ke sana. Entah sejak kapan si buntung bermata satu sudah berada di sampingnya, jarinya mengetuk pelahan tangan Lamkiong Peng, tongkat yang menyanggah ketiaknya membentur senjata rahasia musuh hingga mencelat. Meski tinggi besar tubuhnya, namun gerak-gerik ternyata sangat gesit. Lamkiong Peng jadi melengak sendiri. Dengan tak acuh si buntung melangkah ke sana dan bersandar pula di peti, katanya.
"Permainan itu tidak boleh disentuh."
"Tidak boleh disentuh? "
Lamkiong Peng menegas. Si mata satu tertawa, katanya.
"Meski nona besar itu tidak betul menyebarkan kabut berbisa tanpa wujud itu, tapi senjata rahasianya memang betul berbisa jahat dan tidak boleh disentuh. Kakiku ini justru korban senjata rahasia lakinya pada waktu Ban-siu-san-ceng terbakar dulu, hampir saja jiwaku ikut melayang. Sampai akhirnya bahkan harus dipotong."
Semua orang sama terkejut, Si mata satu menyeringai, ucapnya pula.
"Ah di dunia ini mana ada racun tanpa bau dan tiada wujud, kalau ada, bukankah nona besar itu dapat malang melintang di dunia ini tanpa tandingan? "
Sinar matanya menyapa pandang wajah semua orang yang kelihatan bingung itu, tuturnya pula.
"Kabut pembetot sukma hanya semacam asap berbisa yang tipis dan dapat terlibat oleh mata, racun ini sudah pemah kuratakan, apa yang kukatakan tadi tidak lebih hanya untuk mengadu domba antara mereka sendiri supaya anjing menggigit anjing, biar nona besar itu merasakan betapa kejamnya kedua kawannya sendiri-Haha, mana mungkin dapat diberikannya obat penawar yang dapat membuat orang bersin tujuh kali. Cuma ... nona besar itu juga bukan seteru yang mudah ditandingi, akhirnya Bu-sim-siang-ok juga takkan menarik sesuatu kcuntungan, bisa jadi kedua pihak akan sama-sama konyol."
Suma Tiong-thian berseru senang.
"Haha, hampir saja aku tertipu olehnya."
Si mata satu memandangnya sekejap, jengeknya.
"Orang yang tidak takut mati tak mungkin tertipu olehnya."
"Memangnya engkau sendiri tidak takut mati? tanya Suma Tiong-thian.
"Siapa bilang aku tidak takut mati? Orang yang tidak takut mati tentu orang tolol."
Mendadak Suma Tiong-thian menunduk, gumamnya.
"Tapi jelas.engkau tidak takut mati, kalau takut, mustahil engkau mau menerjang Bao-siu-san-ceng di tengah malam buta sendirian dan membakar beratus binatang buas serta membinasakan Hok-siu-san-kun ...."
"Ah, itu cuma perbuatan ugal-ugalanku pada waktu muda."
Ujar si mata satu dengan tertawa. 'Manusia makin tua makin licik, hari ini aku juga tidak mau bergebrak dengan orang, terpaksa menggunakan akal licik untuk mengadu domba mereka sendiri."
Dengan tersenyum Lamkiong Siang-ju berucap.
"Meski sudah lama kutahu kungfu Anda maha tinggi, tapi tak pemah terpikir Cianpwe ini ialah Hong Man-thian, Hong-taihiap. terlebih tidak menyangka setelah pertemuan Wi-tan dahulu Hong-taihiap lantas menghilang sekian lamanya dan ternyata masih sehat walafiat."
"Haha, sciudah pertemuan Wi-san, orang kangouw lama mengira kawanan makhluk tua itu sudah mampus semua dan cuma tersisa Sin-liong dan Tan-hong berdua, tidak ada yang tabu bahwa kawanan tua bangka itu masih banyak yang hidup di dunia fana ini, cuma kebanyakan sudah mengasingkan diri ke Cu-sin-to dan Kun-moto, bicara sesungguhnya. keadaannya tidak banyak bedanya dengan mati."
"Hah, jadi Hong-taihiap inilah yang ter-kenal di dunia persilatan sebagai Mo-hiam-kuncu (si jantan petualang) Tiang-jiu-thian-kun (Si ksatria suka tertawa)?"
Tanya Lam-kiong Peng. Hong Man-thian menengadah dan tergelak.
"Ah, itu hanya sebutan yang sembarangan diberikan oleh kawan kangouw, mana aku dapat disebut sbagai Kuncu segala, kalau Siaujin (orang rendah) sih lebih tepat."
Dalam pada itu hajan sudah reda.
cahaya remang subuh sudah kelihatan di luar.
Lamkiong Siang-ju dan Loh Ih-sian mengumpulkan batu permata yang berserakan tadi dan dimasukan lagi ke dalam peti.
Lamkiong-hujin mengeluarkan seguci arak dan seperangkat baju kering, arak untuk Hong Manthian, baju diberikan kepada Lamkiong Peng yang basah kuyup itu.
Suasana yang diliputi ketegangan tadi kini berubah menjadi sepi dan haru akan perpisahan.
Hong Man-thiaa dan Loh Ih-sian duduk berhadapan tanpa bicara dan asyik menenggak arak, hanya sekejap saja seguci arak sudah dihabiskan mereka berdua.
"Sungguh kuat takaran minummu."
Sera Hong Man-thian sambil menepuk bahu Loh Ih-sian. Sambil bergelak tertawa Loh Ih-sian menjawab.
"Kekuatanmu minum arak juga sangat hebat, sungguh aku tidak mengerti mengapa engkau sengaja tinggal menyepi di Cu-sin-to, padahal alangkah senangnya jika tinggal di dunia fana sini, kan bisa lebih banyak minum arak beberapa guci lagi."
Hong Man-thian menengadah dengan termangumangu, gumamnya.
"Alangkah senangnya minum arak....Hah, tidak ada pesta yang tidak bubar, sekarang sudah terang tanah, sudah waktunya berangkat! Untuk ini kiranya perlu bantuan beberapa kereta Suma-taihiap di luar sana."
"Untuk mengantar keberangkatan anak Peng keluar lautan, biarlah kami antar be-berapa jauhnva, jika tidak keberatan, sudilah Suma-heng tinggal dulu di sini sampai datangnya penghuni baru perkampungan ini."
Suma Tiong-thian mengangguk setuju, katanya.
"Jangan kuatir, Lamkiong-heng, meski sudah tua bangka, sedikit urusan ini tentu dapat kubereskan."
"Biar kudatangkan kereta di luar sana."
Seru Loh Ih-sian sambil melompat pergi.
"Akan kubantu, Jicek."
Seru Lamkiong Peng terus ikut lari keluar.
Kedua orang berlari menuju ke luar perkampungan, tertampak sepanjang jalan senjata berserakan, di tengah hutan, di semak belukar.
mayat bergelimpangan, darah sudah bersih terguyur air hujan, Tidak jauh di sebelah sana beberapa ekor kuda tanpa bertuan sedang asyik makan rumput yang segar.
Lamkiong Peng dan Loh Ih-sian baru saja sampai di depan hutan, mendadak di tengah semak-semak sana berkumandang suara rintihan orang.
Keduanya saling pandang sekejap terus melompat maju, terlihat dua batang pohon babakbelur serupa habis dipahat dan dibacok oleh senjata tajam.
Tetumbuhan di sekitar pohon juga bekas terinjak-injak.
Dengan hati-hati kedua orang melangkah ke depan.
Mendadak terdengar suara tertawa seram, dua sosok bayangan orang muncul dari balik semaksemak pohon sana.
"Siapa?"bentak Lamkiong Peng. Tapi segera dapat mereka kenali kedua orang ini ternyata Bu-sim-siang-ok adanya. Pakaian kedua orang ini kelihatan morat-marit penuh rumput, seperti berguling-guling dari sana, sedang muka, hidung, mulut dan telinga berlepotan darah, mata mendelik kalap. Berapa tabah Lamkiong Peng dan Loh Ih-sian merasa ngeri juga melihat keadaan kedua orang itu.
"Hehe, obat penawar ... mana obat pe-nawar ..."
Bu-sim-ong terkekeh, kedua tangan terpentang dan segera menubruk maju.
Lamkiong Peng kaget dan menyurut mundur.
Tak terduga baru saja Bu-sim-ong melangkah segera jatuh terguling.
Hek-sim-khek juga membentak.
"Ganti nyawaku!"
Belum lenyap suaranva dia juga terjungkal, tapi tangannya sempat terangkat, selarik sinar hitam gilap lantas menyambar ke arah Lamkiong Peng.
Serangan sebelum ajalnya ternyata sangat lihai.
Cepat Lamkiong Peng menggeser ke samping, terdengar suara mendesing menyambat lewat di topi telinganya, cahaya hitam gilap itu masih terns melayang ke sana dan menumbuk batang pohon, Kiranya benda itu sebuah kotak kecil Untuk sejenak Lamkiong Peng dan Loh Ih-sian siap siaga, setelah sekian lama kedua orang itu tidak berkutik lagi barulah mereka mendekati, ternyata keduanya sudah mati dengan.
mata mendelik.
Demi melihat kotak itu, Loh Ih-sian berucap dengan gegetun.
"Ai, Tek-ih Hujin itu memang sangat keji, kotak racun ini dikatakannya sebagai obat penawar, betapa licin juga Bu-sim-siang-ok takkan menyangka obat yang diserahkan Teh-ih Hujin dalam keadaan terpaksa ini justru adalah racun, dan sekali dicium maka celakalah mereka."
Sebagai seorang jago kawakan dugaannya ternyata tidak keliru.
Cuma tidak diketahuinya bahwa pada waktu sebelum "Bu-sim-siang-ok mencium racun itu, lebih dulu mereka sudah memaksa Teh-ih Hujin mencium dulu obat itu, setelah menyaksikan tidak terjadi sesuatu barulah mereka berebut menciumnya.
Dan karena itulah mereka jadi benar-benar terjebak, sebab sebalumnya Teh-ih Hujin sudah memakai obat penawar lebih dulu, makanya dia tidak mengalami sesuatu setelah mencium racunnya, Padahal bubuk racun dalam kotaknya itu kalau disebarkan dan tertiup angin, maka sedikitnya akan menimbulkan korban beratus orang, sebab asalkan mencium hawanya saja cukup membuat jiwa melayang.
Apalagi Bu-sim-siang-ok kuatir obat penawar yang mereka endus itu kurang banyak, mereka mencium sekuat-kuatnya sehingga se-kotak kecil bubuk racun itu hampir seluruhnya masuk rongga dada mereka, keruan jiwa mereka tak tertolong lagi.
Begitulah mereka berguling di tanah dan tersiksa oleh bekerjanya racun, tubuh serasa ditusuk beribu jarum tak tertahankan rasa sakitnya.
Mereka menjadi kalap seperti orang gila, batang pohon dicakar sekuatnya, rumput dibetot, keadaan itulah yang dilihat Lamkiong Peng tadi.
Sedangkan Teh ih Hujin sempat melarikan diri.
Biarpun Bu-sim-siang-ok memang penjahat yang berlumuran darah tangannya, tidak urung Lamkiong Peng terharu melihat kematian mereka yang mengenaskan itu.
la mengumpulkan ranting kayu dan rumput kering untuk menutupi mayat mereka dan tinggal pergi.
Ia menemukan beberapa ekor kuda, lain dipasang pada kedua kereta kosong di luar perkampungansana serta dibawa pulang.
Tertampak ayah-ibunya dan Iain-lain sama berdiri di depan rumah sedang menunggu.
Beramai-ramai semua peti lantas dimuat keatas kereta.
Suma Tiong-thian mengucapkan selamat jalan kepada semua orang.
ia pegang tangan Lamkiong Peng dan memberi nasihat agar berjaga diri baikbaik, terutama harus awas terhadap orang perempuan.
Rupanya dia belum lagi lupa kepada Kwe Giok-he yang diam-diam berusaha menjatuhkan nama anak muda itu.
Lamkiong Peng terkesiap dan tidak paham maksud orang tua itu, tapi mengiakannya dengan terima kasih.
Dan begitulah 20-an peti termuat dua kereta terus berangkat menuju ke timur.
Loh Ih-sian dan Hong Man-thian menumpang bersama satu kereta dan asyik minum arak sepanjang jalan.
Sedangkan Lamkiong Siang-ju bersama anak dan istrinya menumpang pada kereta lain, ketiganya tidak banyak bicara sepanjang jalan.
Malamnya mereka sampai di suatu kota dan mendapatkan rumah pondokan.
Kereta di parkir di halaman.
Hong Man-thian mencari sepotong kapur dan menulis sebuah huruf "koan "
Pada dinding kereta.
"Apakah peti perlu diturunkan? "
Tanya Koh Ihsian.
"Dengan huruf "koan"
Ini, siapa pula di dunia ini yang berani mengincarnya?' ujar Hong Man-thian dengan tertawa. Kiranya tulisan "koan "
Ini adalah tanda tangannya yang dulu pemah mengguncangkan dunia pestilatan.
Satu kali dia membantu seorang teman yang harta bendanya dirampok kaum bandit di Thayhing-san, tanpa susah-payah Hong Man-thian berhasil meminta kembali harta yang hilang itu.
Beberapa peti harta benda itu ditumpuk di lereng bukit sunyi, peti diberi tanda pengenal huruf "koan ", lalu ditinggalkan pulang, kawan pemilik barang disuruh mengambil sendiri ke tempat penimbunan peti.
Tentu saja kawannya kaget, disangkanya harta benda yang baru diminta kembali itu pasti akan dicuri orang lagi.
Cepat ja menuju ke tempat yang dimaksudkan yang berjarak tiga-hari-tiga-malam perjalanan itu Siapa tahu setiba di tempat, harta yang dimaksud ternyata masih utuh tanpa terganggu sedikit pun.
Rupanya orang dunia parsilatan setelah melihat tanda pengenal Hong Man-thian itu bukannya mengganggu, sebaliknya diam diam memberi perlindungan malah.
Begitulah dia berkisah kegagahannya pada masa lampau sehingga tambah semangatnya minum arak.
Lamkiong-hujin lantas minta disediakan berbagai jenis arak, ia mencampur sendiri arak yang paling enak, dan ternyata sangat menyocoki selera Hong Man-thian dan Loh Ih-sian sehingga tiada henti-hentinya kedua orang itu memuji.
Dan seterusnya setiap persinggahan selalu Hong Man-thian minum sampai mabuk oleh ramuan arak Lamkiong-hujin yang istimewa itu.
Entah karena ingin menikmati arak enak atau karena ada sebab lain, perjalanan makin hari makin lambat.
Anehnya pada setiap tempat persinggahan Hong Man-thian pasti keluar sampai setengah harian, pulangnya dia membawa satu kereta penuh muatan, kebanyakan berupa peti besar dan kecil, semuanya tertutup rapat entah apa isinya.
Peti yang paling besar serupa peti mati, yang paling kecil juga berukuran dua-tiga kaki panjangnya.
Akhirnya kereta yang dikumpulkan bertambah banyak sehingga merupakan satu iring-iringan kereta.
Wilayah timur ini kebanyakan daerah pegunungan dan merupakan sarang penjahat.
Dengan sendirinya iring-iringan kereta mereka menimbulkan perhatian orang.
Banyak lelaki kekar berkuda mondar-mandir mengawasi kon-voi mereka, namun Hong Man-thian anggap seperti tidak tahu saja.
Walaupun begitu, kawanan bandit juga heran dan sangsi melihat iringan kereta yang panjang itu ternyata tidak dikawal sebagaimana lazimnya, karena belum jelas asal-usulnya, seketika pun tidak ada yang berani mendahului turun tangan mengganggunya.
Hari ini rombongan mereka sampai di Tangyang, di depan adalah lereng gunung pertemuan antara pegunungan, Hwekeh, Thian-tai dan Sa-beng-san.
Menjelang magrib mereka pun berhenti pada rumah pondokan.
Hong Man-thian keluar lagi mengilari kota.
Esok paginya, rumah pondokan itu mendadak menjadi riuh ramai didatangi orang banyak.
Kiranya kemarin Hong Man-thian telah mendatangi semua pandai besi di kota Tangyang ini dan minta dibuatkan satu-dua buah sangkar besi yang besarnya antara satu tombak sehingga jumlah seluruhnya lebih 20 buah.
Dengan sendirinya orang lain tidak tahu apa gunanya sangkar besi sebanyak itu.
Tapi Hong Man-thian lantas menyuruh orang memindahkan peti ke dalam sangkar besi, lalu dimuat lagi ke atas kereta dan melanjutkan perjalanan.
Kawanan bandit yang selalu mengintai gerakgerik konvoi mereka ini menjadi geii, pikir mereka.
"Biarpun harta benda telah kau simpan di dalam sangkar besi, memangnya kami tidak dapat merampas sekalian bersama sangkarnya? "
Karena itu mereka mentertawai kebodohan pemilik barang ini, hati mereka jadi mantap dan malam ini juga bemiat turun tangan.
Setelah lewat beberapa kampung lagi, di depan adalah lereng pegunungan, penunggang kuda yang wira-wiri mengikuti iringan kereta mereka tambah banyak, semuanya bertampang jahat menakutkan.
Tentu saja para kusir kereta jadi ketakutan, diam-diam mereka bersepakat bilamana kawanan bandit datang mereka akan menyelamatkan diri lebih dulu.
Lamkiong Siang-ju dan lain-lain juga tidak tahu untuk apa Hong Man-thian membeli sangkar besi besar sebanyak itu, akhirnya mereka coba minta keterangan kepadanya.
Hong Man-thian tertawa, tuturnya, ''Dulu, terjadi sebuah Lelucon, begini ceritanya.
Seorang membawa galah bambu masuk ke kota.
Baik bambu melintang maupun menegak tetap sukar memasuki gerbang kota.
Setelah berkutak-kutek sekian lamanya, akhirnya orang itu melemparkan galah bambu ke dalam kota melalui atas tembok benteng.
"Seorang di tepi jalan terbahak-bahak geli, katanya, 'Bodoh amat orang ini, kenapa galah bambu itu tidak dipatahkan menjadi dua atau tiga potong, dengan begitu kan leluasa pergi ke mana pun'."
Loh Ih-sian melenggong, ia pun tidak paham arti lelucon itu, katanya.
"Kenapa dia tidak meluruskan bambunya dan menerobos masuk ke kota ...."
"Jika dia masuk kota begitu saja kan bukan lagi lelucon namanya."
Ujar Hong Man-thian dengan tergelak. Lamkiong Peng juga tertawa geli. Maka Hong Man-thian melanjutkan.
"Jika kawanan penjahat melihat kusimpan peti harta benda di dalam sangkar besi, tentu mereka akan tertawa akan kebodohanku serupa orang vang membawa galah bambu itu, kan sangkar besi dapat juga diangkut sekalian biarpun peti tersimpan di dalamnya. Mereka lupa bahwa orang yang membawa galah bambu itu mendadak. bisa membawa galahnya masuk ke kota dengan lurus begitu saja, untuk ini kawanan bandit itu tentu tak bisa tertawa lagi."
Loh Ih-sian meraba kepalanya yang botak.
"Memangnya apa gunanya sangkar besi sebanyak ini? "
"Jika kuceritakan apa gunanya, tentu juga bukan lelucon lagi."
Kata Hong Man-thian. Mendadak burung beo yang selalu hinggap di pundak Hong Man-thian itu ikut bersuara.
"Lelucon , .. lelucon ...."
Pada saat itulah sekonyong-konyong tiga anak panah mendenging memecah angkasa sunyi. Kembali burung beo itu berteriak.
"Lelucon datang ... lelucon datang ...."
Lamkiong Siang-ju tidak heran, ia memang sudah menduga akan kejadian demikian.
Ia cuma mengatur rombongan kereta menjadi satu lingkaran, para kusir sama menyingkir ketakutan.
Terdengar dari kanan-kiri suara derap kaki kuda yang ramai, debu mengepul, serentak muncul berpuluh penunggang kuda.
Dari arah timur dipimpin seorang bermuka hitam dan berjenggot pendek, kelihatan gagah perkasa, segera ia berteriak.
"Inilah Thian-gwa-hui-lai-poan-cai-thian (setengah bukit melayang turun dari langit) berada di sini, para saudara siap! "
Sambil bersuara ia terus melompat ke atas dan berdiri di atas pelana kudanya dengan gagah.
Segera kawanan penunggang kuda dari beberapa penjuru itu sama berhenti di se-keliling lelaki kekar itu.
Dari rombongan sana tampil lagi tiga penunggang kuda yang gagah, mereka melompat turun dari kudanya dan berkumpul untuk berunding.
"Hah, rupanya beberapa rombongan bandit ini sudah saling kenal, semula kukira mereka akan saling cakar-cakaran, agaknya tontonan menarik ini tidak jadi muncul."
Ucap Loh Ih-sian dengan tertawa.
"Tontonan menarik sih masih ada."
Ujar Hong Man-thian.
"Untuk itu hendaknya kalian jangan turun tangan dulu, turutlah kepada caraku."
Dalam pada itu keempat lelaki tadi setelah berkumpul dan berunding, lalu mereka melangkah maju seorang diantaranya yang kurus kecil tapi mata bersinar tajam segera beseru.
"Di mana pemilik iringan kereta ini harap tampil untuk bicara."
Orangnya kecil, tapi suaranya besar, Hong Manthian berlagak bingung dan memandang kian kemari, tanyanya.
"Eh, di mana orang yang bicara itu? "
Tentu saja si kurus kecil mendongkol, jengeknya.
"Apakah matamu belum melek, di sinilah aku yang bicara."
Hong Man-thian sengaja berkerut kening, katanya.
"Ai, rasanya kita belum saling kenal, entah ada petunjuk apa Anda mengajak bicara padaku? "
Si kurus terbahak.
"Haha, supaya kautahu, aku inilah Jiu-hong-kui-yap (angin musim rontok menyapu daun) Toh Stau-giok dari Lok-yap-ceng ...."
"Haha, Lok-yap-ceng (perkampungan daun rontok), tampaknya nama yang baik juga."
Seru Hong Man-thian.
"Ketiga orang ini yang satu adalah Oh-taihiap yang terkenal dengan ilmu goloknya dari Hun-cuikoan dan ...."
"Untuk apa banyak omong dengan dia."
Sela seorang temannya yang bersuara lantang tadi.
"Ayolah sahabat, terus terang saja kita buka kartu, memangnya perlu apa kau berlagak bodoh. Tinggalkan keretamu dengan seluruh isinya dan jiwa kalian akan diampuni."
Hong Man-thian mengelus jenggot dan purapura kaget.
"Hah, kukira kalian datang untuk ikut minum arak bersamaku, tak tahu-nya kalian mengincar harta benda juga? " 'O, barangkali engkau ini penggemar sanjak."
Si jangkung menyeringai.
"Baiklah, biar aku Thi Toakan membawakan sajak bagimu, nah dengarkan ... Gunung ini aku yang buka, hutan ini aku yang tanam. Jika ingin lalu di sini, bayar dulu uang jalan. Ingat, jangan coba coba bilang tidak, senjata kami tidak kenal ampun."
Mendadak ia ayun kepalan dan meng-hantam kepala salah seekor kuda, kontan kepala kuda pecah, belum lagi sempat meringkik sudah roboh binasa.
Lamkiong Siang-ju dan lain-lain tetap tenang saja.
Sebaliknya Toh Siau-giok dan dan begundalnya sama berseri kaget.
"Wah, tangan hebat! "
Thi Toa-kan tertawa, katanya.
"Nah, dapat kalian pahami tidak akan sajakku? "
Hong Man-thian berlagak terkejut.
"Wah, kusangka kalian adalah kaum pelancong yang iseng, siapa tahu kalian ini kaum bandit dan perampok...
"Diam-diam ia mengedipi Lamkiong Peng, lalu berteriak.
"Ai celaka, ada bandit! Ayolah lekas kemari pengawalku, hajarlah bandit ini! "
Lamkiong Peng merasa geli.
segera ia tampil ke muka.
Semula Thi Toa-kan dan begundalnya melengak juga, tapi ketika diketahui yang muncul cama seorang anak muda belia, hati mereka menjadi tabah, dengan tertawa Thi Toa-kan berseru.
"Haha, apakah ini jago pengawalmu. Eh, Toa piauthau yang terhormat engkau dari Piaukiok mana? Setelah kenal nama kami, masakah kauberani main kayu lagi dengan kami?"
Belum lenyap suaranya, tahu-tahu Lamkiong Peng melompat maju dan "plok ", pipi-nya telah tergampar dengan tepat. Keruan Thi Toa-kan melengak. teriaknya murka.
"Binatang ,...."
Baru saja bersuara, pipi sebelah lain juga kena gamparan keras, ia tergetar mundur dengan mulut berdarah, sambil mengusap darah segera ia hendak menerjang maju.
Tapi Toh Siau-giok keburu menarik baju-nya dan mendesis.
"Sabar dulu! "
Lalu ia berkata kepada Lamkiong Peng, 'Eh, lihai benar kungfu saudara muda ini, siapakah namamu dan murid dari perguruan mana? "
"Aku murid Sin-Hong, Lamkiong Peng ada nya! "
Seru anak muda itu lantang.
Thi Toa-kan, Toh Siau-giok, dan Oh Cin, si jago golok dan seorang lagi berbaju hitam bemama Tio Hiong-to berjuluk Im-yang-poh, si kampak, saling pandang dengan air muka berubah, seru Toh Siaugiok.
"Hah, Anda inikah Lamkiong Peng? "
Lamkiong Peng hanya mendengus saja tanpa bicara lagi.
Hendaknya maklum, sejak pertarungan sengit di restoran Koai-cip-lau dan menerjang Hui-goan-sanceng tempat Wi.Ki dahulu, Lamkiong Peng lantas tersiar luas di kangouw dan disegani.
Keruan keempat orang itu sama gentar, Thi Toakan menyingkir ke samping dan memanggil seorang anak buahnya, mendadak dijambretnya leher baju orang dan didamperatnya.
"Inikah hasil selidikanmu, kaubilang pengawal iringan kereta ini cuma orang tua yang cacat dan reyot, mengapa bisa mendadak muncul seorang Lamkiong Peng? "
Anak buahnya ketakutan, 'Hah, dia ... dia Lamkiong Peng? "
Kontan Thi Toa-kan menjotosnya sehingga mencelat. Segera keempat orang itu berunding apa yang harus dilakukannya lebih lanjut. Tio Hiong-to mendesis.
"Kabarnya Lam kiong Peng ini sangat lihai, tapi kita sudah telanjur datang, masa harus pulang dengan tangan hampa. Biarpun hebat, dua kepalan takkan mampu melawan empat tangan, kalau kita maju sekaligus, masa kali perlu takut padanya? "
"Betul ". sambut Oh Cin.
"Betapapun kita berempat harus mengujinya dulu."
Setelah sepakat, segera mereka maju lagi bersama, cuma sikap mereka sudah tidak segalak tadi. Toh Siau-giok mendahului bicara.
"Jika iringan kereta ini dikawal oleh Lamkiong-kongeu, mestinya kami akan segera angkat kaki dari sini. Cuma, hehe, ketiga sahabatku ini justru ingin belajar kenal dulu sejurus dua dengan Lamkiong-kongeu, sedikitnya agar menambah pengalaman kami.
"Dia memang licik, semua tanggung jawab ia tumplek atas diri ketiga kawannya. Lamkiong Peng mendengus.
"Ayolah sila-kan mana dulu yang akan maju?! "
Toh Siau-giok menyurut mundur malah, Thi Toa-kan bertiga juga saling pandang dengan ragu, mereka hanya berani main kerubut, untuk satu lawan satu mereka jeri.
Terlebih Thi Toa-kan yang habis merasakan digampar, betapapun ia tidak berani maju sendirian.
Terdengar Toh Siau-giok berucap di samping.
"Ketiga saudara jangan berebut turun tangan, masa di antara saudara sendiri perlu rendah hati? "
Muka Oh Cin tampak merah, mendadak ia berpaling dan menjengek.
"Aneh juga, kenapa mendadak Toh-heng seperti tidak berkepentingan lagi akan urusan ini? "
"Aku memang tidak ingin berebut duluan dengan kalian, jika Oh-heng juga sangsi, silakan mundur saja menonton di samping."
Sahut Toh Siau-giok. Oh Giu menjadi gusar, Hm, memangnya kaukira aku jeri, apa langannya kaumaju untuk belajar kenal dengan dia."
Ucap Oh Cin. Segera ia melangkah maju sambil melolos golok. Mendadak Hong Man-thian berseru sambil menggoyangkan tangannya.
"Eh, jangan! Nanti dulu!' Oh Cin melengak dan bertanya.
"Ada a pa lagi? "
"Lamkiong-piauthau."
Kata Hong Man-thian.
"Hendaknya urusan ini jangan sampai terjadi perkelahian."
Lamkiong Peng melongo heran juga. Hong Man-thian lantas menyambung.
"Sebab kalau perkelahian ini terjadi serentak kawanan orana gagah ini pasti akan main kerubut, jika terjadi demikian, wah, aku si tua bangka ini pasti akan celaka. Padahal kuminta engkau menjadi pengawalku justru berharap cukup dengan namamu dapatlah barang kirimanku ini akan sampai di tempat tujuan dengan aman, sekarang gelagatnya ternyata kurang menguntungkan, rasanya lebih baik kukorbankan sedikit harta bendaku saja, yang penting aman dan selamat."
"Hm, ternyata kaupun bisa berpikir panjang."
Jengek Oh Cin.
"Jika kau mau kompromi baiklah akan kudamaikan bagimu."
Si dogol Thi Toa-kan juga lantas membusungkan dada dan berseru.
"Mendingan kau dapat melihat gelagat, kalau tidak, hmm ...."
Diam-diam Lamkiong Peng merasa geli dan mengundurkan diri. Hong Man-thian lantas berkata pula.
"Sangkar besi di atas kereta tidak digembok, bilamana kalian mau, silakan ambil saja, asal-kan jangan dikuras habis, tapi sisakan yang pantas uutuk hari tuaku."
Meski Lamkiong Peng dan lain-lain tahu tingkah orang tua ini pasti menarik, tapi sejauh ini belum lagi diketahui apa sebenarnya maksudnya.
Sebaliknya Thi Toa-kan dan Iain-lain sangat girang, segera mereka memberi tanda ke-pada anak buahnya dan siap hendak membongkar peti.
Mendadak Thio Hiong-to berteriak.
"Nanti dulu! "
"Ada apa? "
Tanya Oh Gin kurang senang.
"Biarpun saudara sekandung, utang-piutang juga harus dihitung dengan betul."
Kata Tio Hiongto.
"Tampaknya rejeki hari ini tidaklah sedikit, meski di antara kita sudah kenal baik, perlu juga segala sesuatu diatur secara jelas. Peti-peti ini berukuran yang sama, isinya juga tidak seragam, bilamana antara kita cuma ambil begitu saja dan bisa kacau dan tidak adil "
"Betul."
Sambut Oh Cin.
"tadi pihak kami turun tangan dahulu, dengan sendirinya hak utama berada padaku. Mengenai Toh heng, jika dia sudah rela menonton saja di samping, dengan sendirinya ia pun melepaskan haknya."
Seketika orang Lok-yap-ceng menjadi gempar, segera ada yang melolos senjata dan siap tempur.
Tapi Toh Siau-giok memberi tanda kepada anak buahnya itu supaya tenang.
Rupanya dia sudah menduga di balik urusan ini pasti ada sesuatu yang tidak beres, umpama betul persoalannya semudah ini juga dia sudah siap sedia untuk merobohkan lawan.
Di antara keempat pentolan bengal ini memang Toh Siau-giok yang paling licik dan licin, selain kungfunya lebih tinggi juga lebih pandai menggunakan otak.
Tio Hiong-to lantas menarik muka dan mendengus.
"Hm, bilakah Oh-heng pemah turun tangan' Thi-beng, apakah kaulihat? "
"Kalau bicara turun tangan, kukira akulah yang paling dulu."
Ujar Thi Toa-kan. Teringat pada dua gamparan yang dirasakannya tadi, tanpa terasa mukanya menjadi merah. Tentu saja Oh Cin kurang senang, goloknya bergerak, serunya.
"Habis bagaimana cara membaginya menurut pendapat kalian? "
"Dengan sendirinya pihak Thian-tai-ce ka-mi berhak mengambil dulu."
Seru Thi Toa-kan sambil membusungkan dada. Dia memang tinggi besar, sekali membusung mendadak perawakannya bertambah satu kepala lebih tinggi daripada orang lain.
"Hm, kalau bicara tentang tubuh dengan sendirinya Thi-heng lebih gede, cuma sayang tubuh gede terkadang juga tiada gunanya."
Ejek Tio Hiong-to.
"Kurangajar! Kaubilang apa? "
Bentak Thi Toa kan. Oh Cin juga angkat goloknya dan berseru "Apa pun engkau tidak berhak ambil dulu."
Tio Hiong-to melirik Toh Siau-giok sekejap lalu berkata.
"Kukira biarkan Toh-heng saja yang membagi rata rejeki ini. Kepandaian Toh-heng paling tinggi, anggota Lok-yap-ceng juga paling banyak, kupercaya dia pasti tidak akan menang sendiri dan bikin rugi orang lain."
Rupanya dia merasa pihak sendiri tidak sanggup menghadapi pihak yang lain, maka cepat ia ganti haluan dan ingin mencari kawan.
Diam-diam Toh Siau-giok mengawasi air muka Lamkiong Peng dan lain-lain, dilihat-nya anak muda itu tenang-tenang saja.
sorot matanya menampilkan rasa geli, tergerak hatinya, dengan tertawa ia berkata.
"Ah, soal harta bagiku sih tidak kupikirkan lagi, silakan kalian bertiga membagi sendiri."
Habis berkata, benar juga ia lantas memberi tanda agar anak buahnya menyingkir mundur.
Meski penasaran, terpaksa anak buahnya menurut.
Selagi Thi Toa kan bertiga melenggong, tiba-tiba Hong Man-thian berseru pula dengan tertawa.
"Ai, sudah kukatakan silakan bagi saja sendiri, tapi kalian ternyata sungkan-sungkan. Jika begitu, aku ada juga suatu akal baik, mungkin dapat kalian setujui."
Tio Hiong-to kuatir pihaknya akan dikerubut oleh Oh Cin dan Thi Toa-kan, segera ia mendahului menyatakan setuju.
"Bagus, jika Losiansing mau turun tangan dengan bijaksana, kupercaya caramu membagi pasti adil."
Oh Cin dan Thi Toa-kan saling pandang sekejap, dalam hati mereka juga berpikir sama seperti Tio Hiong-to, maka tiada jalan lain kecuali mengangguk setuju.
"Kalian tahu, orang tua semacam aku ini paling takut melihat darah bercucuran, sebab itulah kurela menyerahkan sebagian harta bendaku ini, yang penting semuanya berjalan aman dan lancar. Cuma kalian harus berjanji juga setelah mendapatkan pesangon yang layak jangan lagi kalian cari perkara lagi, kalau tidak ...."
Mendadak Hong Man-thian menarik muka dan menyambung.
"Kalian sudah menyaksikan sendiri kepandaian jago pengawalku, bilamana dia tidak mau turut lagi kepada perkataanku, tentu kalian tahu sendiri akibatnya."
Mau-tak-mau ketiga orang itu merasa ngeri juga, terutama Thi Toa-kan yang sudah kena hajaran Lamkiong Peng tadi, cepat Tio Hiong-to mendahului menanggapi.
"Baik, asal saja caramu adil, kami pasti setuju."
"Haha, tentu saja adil."
Kata Hong Man-thian.
"Kalian adalah kesatria kaum Lok-lias makin gagah makin mengagumkan, makin banyak tangan kalian berlumuran darah makin dipuja, Maka sekarang kuingin tahu dulu siapa kiranya di antara kalian yang paling gagah perkasa. Asalkan setiap orang dapat menceritakan suatu kejadian nyata dari hasil karyanya yang paling gagah perkasa, maka dia berhak mengambil dulu isi petiku ini. Tapi jika perbuatan yang pemah dilakukannya kurang gemilang, terpaksa harus disilakan menyingkir saja ke pinggir."
Selesai berucap, mendadak tongkatnya terjulur, sebuah peti di luar sangkar dicungkit dan diraihnya ke depannya, lalu berkata pula.
"Nah, ingin kutambahkan lagi, peti yang semakin dekat danganku isinya juga semakin berharga. Maka nanti bilamana di antara kalian harus berebut dulu mendului, terpaksa kalian harus menggunakan kepandaian sejati masing-masing untuk memperoleh peti ini."
Semula orang-orang itu sama ragu oleh cara aneh yang diuraikan Hong Man-thian itu, tapi kemudian demi peti dibuka dan isinya ternyata penuh batu permata yang sukar di nilai, seketika mata mereka menjadi merah dan lupa daratan.
Maklum, kebanyakan manusia tamak kalau urusannya sudah menyangkut harta, maka tuju-an menghalalkan cara dan tidak kenal malu lagi, segera mereka berebut dulu menceritakan perbuatannya yang gagah perkasa.
Sambil menepuk dada Thi Toa-kan ber-teriak.
"Pemah pada suatu malam di kota Limhai sekaligus kulakukan tujuh perkara besar, kusikat habis setiap orang yang memergokiku dan melawan, kubunuh semuanya sehingga mata golokku pun tumpul. Kejadian ini cukup diketahui siapa pun sehingga tidak perlu kuberi bukti atau saksi. Nah, apakah perbuatanku itu bukan sesuatu yang gagah perkasa? "
Habis berkata ia bergelak tertawa bangga. Oh Cin tidak mau kalah, segera ia menyambung.
"Huh, hanya begitu saja belum masuk hitungan. Pemah pada suatu hari, di luar kota Thaisun, di tengah siang hari bolong sekaligus kukerjai berpuluh anak perempuan yang sedang berziarah ke Gan-tang-san, semuanya kusikat ...."
Begitulah mereka seperti kuatir ketinggalan, satu persatu mereka menuturkan "karya besar "
Masing-masing, bahkan kuatir tidak di percaya, mereka berani memberi bukti dan mengajukan saksi segala.
Seketika apa yang didengar Lamkiong Peng dan Iain-lain adalah kisah kejahatan yang meliputi perampokan, pembunuhan dan sebagainya yang membuat darah meluap.
Setiap perbuatannya yang "gemilang "
Itu pantas dijatuhi hukuman penggal kepala sepuluh kali.
Toh Siau-giok tetap mengikuti semua ke jadiin itu secara diam-diam, makin dipandang makin dirasakan urusan tidak biasa.
Tadi ketika tongkat Hong Man-thian menggait peti sudah dapat didengarnya suara logam, jelas bukan sembarangan tongkat.
Apalagi cara kakek yang kelihatan reyot itu menentukan pemberian isi peti juga harus diragukan.
Makin dipikir makin ngeri hati Toh Siau-giok, tanpa terasa ia pun menyurut mundur terlebih jauh.
Anak buah Lok-yap-ceng mestinya penasaran karena orang lain bakal mendapat rejeki nomplok, tapi pihaknya justru diperintahkan mundur.
Tapi biasanya mereka sangat tunduk kepada kebijaksanaan sang Cengeu, terpaksa mereka ikut mundur sesuai perintah Toh Siau-giok.
Dan begitulah, setelah gembong Lok-lim itu sama menguraikan perbuatan gagah masingmasing, kemudian mereka lantas bersiap-siap di sekeliling Hong Man-thian.
"Bagus, bagus, kalian ternyata sama gagah perkasa."
Seru Hong Man-thian. ''Sekarang bolehlah kalian siap sedia, sekali kuberi tanda dengan tepukan tangan, bolehlah kalian buka dulu peti dalam sangkar yang sudah terbuka itu."
Pelahan ia lantas angkat tangannya, jantung semua orang sama berdebar menantikan beradunya telapak tangannya, semuanya melotot dan siap tempur.
"Plok."
Begitu tangan Hong Man-thian menepuk, beramai-ramai orang-orang itu lantas menyerbu serupa segerombolan binatang buas menerkam mangsanya.
Ada yang menubruk peti besar-kecil di atas kereta, ada yang membuka peti di dalam berbagai sangkar besi itu.
Melihat kelakuan orang-orang yang biadab itu, sebenarnya Lamkiong Peng dan Loh Ih-sian sudah tidak tahan lagi rasa gemasnya.
Sedangkan Lamkiong Siang ju dan istrinya tetap tenang saja, mereka yakin tokoh kosen angkatan tua seperti Hong Man-thian ini pasti mempunyai maksud tujuan yang di luar dugaan.
Dalam pada itu berpuluh orang itu sebagian besar telah menyerbu peti di dalam sangkar besi tanpa pikir akibatnya.
Mendadak Hong Man-thian membentak.
"Tutup pintu sangkar! "
Serentak Lamkiong Siang-ju berempat bergarak cepat, hanya sekejap saja berpuluh pintu sangkar besi itu sudah ditutup rapat.
Kawanan berandal itu lagi lupa daratan ingin merebut rejeki, tentu saja mereka tidak memperhatikan kejadian lain.
Ketika mereka menyadari apa yang terjadi, mereka hanya bisa mengeluh dan semuanya sudah terlambat.
Mendadak Hong Man-thian mendekap bibir dan bersuit keras, makin lama makin melengking suitannya sehingga anak telinga orang terasa pekak.
Lamkiong Sian-ju berempat saja sama tergetar jantungnya, apalagi kawanan berandal itu, sebagian sudah kelengar, ada yang sanggup bertahan juga tidak urung muka pucat dan gigi gemertuk, Toh Siau-giok yang berdiri agak jauh pun merasa lemas kakinya, ingin lari pun tidak mampu.
Di tengah suara suitan dahsyat itu, satu-dua tutup peti besar di antara puluhan buah peti itu pelahan mulai terbuka.
Sekonyong-konyong terdengar raungan yang menggetar, seekor singa pelahan menongol dari dalam peti besar itu.
Menyusul terdengar pula suara harimau meraung, suara serigala, beruang dan sebagai-nya, suara berbagai binatang buas itu serasa mengguncang bumi dan menggetar sukma.
Sebagian binatang buas itu muncul dari peti di sangkar besi sana, dari sangkar besi sini menongol kawanan ular berpuluh ekor banyaknya Tadi kawanan berandal itu menyerbu serupa binatang buas kelaparan, sekarang mereka sendiri yang menjadi mangsa kawanan binatang buas yang benar-benar kelaparan itu, seketika darah berhamburan dan daging beterbangan, sungguh adegan yang mengerikan.
Pada saat itulah dari kejauhan mestinya sedang melayang tiba beberapa sosok bayangan orang Begitu mendengar suara suitan dahsyat itu, serentak mereka berhenti, seorang di antaranya bertubuh ramping dan gemulai, dia itulah Kwe Giok he.
Di kanan-kirinya dua orang lelaki, yang seorang adalah Yim Hong-peng yang gagah dan yang lain adalah Ciok Tim yang bermuka pucat.
Di belakang mereka mengikut empat orang tua, mereka adalah empat di antara Kang-lam-jit-eng atau tujuh elang dari daerah Kanglam.
"Suara suitan siapa itu, begitu lihai! "
Ta-nya Giok-he dengan kening bekernyit.
"Kalau tidak salah duga, rasanya seperti suara Hong Man-thian yang dahulu seorang diri menerjang dan membakar Ban-siu-san-ceng, itulah Iwekang Boh-giok-siu (suitan penghancur batu pualam) yang maha lihai."
Ujar si elang hitam sambil mendekap telinganya.
"Masakah tokoh tua itu belum mati? "
Tanya Giok-he.
"Konon dahulu dengan lwekangnya yang maha ampuh Boh-giok~siau itu dia dapat menundukkan kawanan binatang buas sehingga Ban-siu-san-ceng dapat dibobolnya."
Tutur Yim Hong-peng.
"Jika makhluk tua she Hong itu berada di situ, tampaknya kedatangan kita ini hanya sia-sia belaka, marilah kita pergi saja."
Ajak Giok-he sambil menarik tangan Yim Hong-peng.
Dengan sendirinya tingkah laku Giok-he itu tidak terlepas dari pengawasan Ciok Tim, air mukanya tampak kelam, entah gusar entah sedih, tapi akhirnya ia ikut juga di belakang Giok-he dengan kepala menunduk, mereka ber-lari pergi secepat datangnya tadi.
Ketujuh orang ini datang dan pergi lagi, dengan sendirinya hal ini tidak diketahui oleh orang-orang yang berada di sana.
Sementara itu suitan Hoag Man-thian su-dah mereda, namun suara raungan binatang buas belum lagi lenyap, apalagi ditambah dengan suara kawanan binatang buas itu sedang mengganyang mangsanya.
Menyaksikan kejadian ngeri itu, Lamkiong Peng merasa ingin tumpah, tapi darah pun bergolak, meski jelas diketahuinya orang-orang itu seluruhnya adalah kaum penjahat yang tak terampunkan, tapi dia tidak sampai hati menyaksikan mereka dijadikan umpan binatang buas itu.
Ia memburu ke depan Hong Man-thian dan berseru.
"Sudahlah, berhenti! "
Dibukanya semua pintu sangkar besi itu' Hong Man-thian melengak, tapi mendadak ia mendongak dan tertawa keras.
Begitu hebat suara tertawanya sehingga kawanan binatang itu sama terpengaruh pula serupa kena sihir dan lupa mengganyang mangsanya lagi.
Di dalam sangkar besi masih ada belasan orang yang belum mati dan masih meronta-ronta, demi mendengar suara lengking tawa Hong Man-thian, serentak mereka terhentak sadar, cepat mereka merangkak dan menerobos keluar, Thi Toa kan kelihatan buntung lengan kanan akibat digigit singa.
Thio Hiong-to sekujur badan berlumuran darah dan terluka parah.
Sedangkan Oh Cin sudah hancur lebur dirobek oleh cakar harimau dan sebagian tubuhnya sudah menjadi isi perut binatang buas itu.
Dalam sekejap saja orang-orang yang beruntung masih hidup itu segera melarikan diri.
Diam-diam Toh Siau-giok juga bersyukur tidak menjadi mangsa kawanan binatang dan lekas-lekat mengeluyur pergi.
Serentak Hong Man-thian juga beraksi pula dengan tongkatnya, ia mengetuk tubuh binatang buas itu, lalu dicengkeram kuduknya terus dilemparkan ke dalam peti, hanya sebentar saja berpuluh ekor singa, harimau dan serigala telah dibekuk seluruhnya dan ditutup lagi ke dalam peti.
Puluhan ekor ular berbisa itu pun digiring masuk kembali ke dalam peti, suasana menjadi tenang pula.
Kalau tidak ada bekas darah dan ceceran daging.
siapa pun tidak tahu baru saja telah terjadi peristiwa yang mengerikan itu.
"Nah, setelah kenyang makan darah dan daging orang jahat, tentu kalian dapat meringkuk dan puasa belasan hari lagi."
Ucap Man-thian dengan tertawa.
"Beginikah caramu memberi makan kawanan binatang? "
Tanya Lamkiong Peng.
"Kawanan penjahat itu digunakan sebagai umpan binatang buas kan cukup adil dan setimpal bagi perbuatan mereka? "
Jawab Hong Man-thian tertawa. Seketika Lamkiong Peng melongo dan tidak dapat bicara lagi. Loh Ih-sian menghela napas, katanya.
"Sungguh tak terpikir olehku dalam petimu itu ter-simpan barang hidup, anehnya mengapa kawanan binatang itu sedemikian menurut dan mau mendekam diam di dalam peti. Kalau tidak melihat sendiri sungguh sukar untuk dipercaya "
"Kalau diceritakan sebenarnya juga tidak perlu diherankan."
Tutur Hong Man-thian.
"Caraku mengendalikan kawanan binatang ini tiada ubahnya seperti ilmu tiam-hiat, pada bagian tertentu tiap binatang juga ada tempat yang lemah, asalkan dapat kaukuasai tempat dan waktunya secara tepat, sekali ketuk dia takkan berdaya dan akan tunduk padamu."
Selagi mereka asyik bicara tentang cara mengatasi binatang buas di sebelah sana Lamkiong Peng lagi sibuk menggali liang untuk mengubur sisa tubuh manusia yang berserakan itu.
Tidak lama kemudian, kawanan kuda yang ijuga jatuh kelengar karena suara suitan Hong Manthian tadi sebagian telah sadar kembali, sebagian lain mati ketakutan melihat binatang buas tadi.
Iringan kereta lantas melanjutkan perjalanan, perasaan semua orang sama tertekan dan jarang yang bicara.
Dua hari kemudian, sampailah mereka di semenanjung Sam-bun-wan, sejauh mata memandang tertampaklah air laut yang biru dan beriak itu.
Sudah sejak jaman kuno perdagangan Tiong-kok melalui laut terbuka secara luas, semenanjung Sam-bun wan ini adalah pelabuhan perdagangan yang merupakan pangkalan besar bagi padagang di wilayah Ciatkang.
Kangsoh dan Anhui.
Sebab itulah kota pelabuhan ini sangat ramai.
Menjelang magrib, di jalanan kota lantas penuh orang berlalu lalang, kebanyakan adalah kaum nelayan yang berbau amis dan pelaut yang berbaju pendek dan berbadan kekar, dada terbuka dan lengan telanjang.
Mereka masuk ke kota untuk mencari hiburan, makan minum, tidak ketinggalan main perempuan pula.
Dengan sendirinya suasana kota pelabuhan begini dirasakan serba baru bagi Lamkiong Peng, ia berdiri di luar hotel memandangi keramaian itu.
Hong Man-thian sendiri asyik minum arak Iagi.
Mendadak ia mengeluarkan sehelai kertas panjang dan dibentang di atas meja.
Kertas itu penuh tulisan yang tidak rajin, ada yang gaya tulisannya indah, ada yang tulisannya serupa cakar ayam.
Baris pertama tulisan itu berbunyi.
Timbel 300 kati, air raksa 100 kati.
Baris berikutnya tertulis.
Benang 100 kati, besi seribu kati.
Lalu tertulis Iagi berbagai jenis barang keperluan lain.
Rupanya kertas itu adalah sehelai daftar belanja.
Anehnya kebanyakan barang yang tertulis itu bukanlah barang keperluan sehari-hari.
Yang paling aneh adalah bagian terakhir, barang belanja yang diperlukan ternyata tertulis.
Harimau satu ekor, singa jantan-betina sepasang, ular berbisa 120 ekor.
Serigala dan macan tutul masing-masing dua ekor.
Waktu Lamkiong Peng dan lain-lain ikut membaca daftar itu, semuanya terheran-heran, entah apa yang akan di perbuat oleh tokoh-tokoh kosen yang berdiam di pulau misterius Cu-sin-to dengan barang belanjaannya yang luar biasa ini?
Yang paling membingungkan adalah baris terakhir yang terbaca oleh Lamkiong Peng, ya-itu tertulis.
Orang jahat sepuluh.
'Masa orang jahat terhitung juga barang belanjaan?
Apa gunanya dan akan dibeli di mana?"
Tanyanya heran.
"Nanti tentu kautahu sendiri."
Ujar Hong Manthian dengan tersenyum aneh, senyum misterius dan juga mengandung rasa duka.
Lamkiong Peng tidak dapat menerka maksudnya, ia pun tidak tanya lebih lanjut.
Habis makan-minum, Hong Man-thian lantas keluar untuk belanja, tapi pulangnya ternyata tidak membawa sesuatu barang.
Malamnya, Hong Man-thian memesan satu meja penuh santapan pilihan, sambil makan-minum ia mengajak mengobrol macam macam urusan.
Dia memang pandai bereerita sehingga orang lain sama lupa lelah dan kantuk juga lupa tanya padanya kapan dan di mana dia akan berlayar.
Tanpa terasa perjamuan berlangsung hingga hampir tengah malam, tiba-tiba Hong Man-thian menuangkan arak bagi Lamkiong Siang-ju berempat, lalu angkat cawan dan berucap.
"Betapa lama berkumpul akhirnya harus berpisah juga, di dunia ini memang tidak ada pesta yang tidak bubar. Bahwa sekali ini Hong Man thian dapat berkunjung ke Kanglam dan bertemu dengan para sahabat, sungguh kejadian yang menggembirakan. Cuma sayang tidak dapat berkumpul lebih lama, waktu berpisah sudah tiba, marilah kita habiskan secawan ini dan segera kumohon diri."
Semua orang menyangka barang belanjaannya belum lagi lengkap, tentu dia akan tinggal lagi beberapa hari lagi, siapa tahu mendadak ia mengucapkan kata perpisahan, tentu saja semua orang terkesiap.
Lamkiong-hujin memandang putra kesayangan dengan perasaan berat, katanya.
"Kenapa Hongtaihiap mendadak hendak berangkat di tengah malam buta, apakah tidak menunggu sampai ...."
Belum lenyap suaranya, mendadak kepala terasa pening dan tidak sanggup bicara lagi.
Bahkan Loh Ih-sian dan lain-lain serentak juga merasa kepala pusing dan mata berkunangkunang, bumi seperti berputar dan langit akan ambruk.
Segala benda serasa berputar seperti kitiran.
Lamkiong-hujin terkejut, serunya kuatir.
"Anak Peng ...."
Segera ia berbangkit hendak mendekati Lamkiong Peng, tapi baru melangkah segera ia jatuh terkulai.
Lamkiong Peng juga tidak tahan oleh rasa pusing, samar samar dilihatnya sorot mata ibu kesayangan yang kuatir itu, tapi ia pun tidak berdaya dan tidak ingat sesuatu lagi.
Entah berselang berapa lama lagi, Samar-samar Lamkiong Peng merasa berada di sebuah pulau yang indah, tetumbuhan menghijau permai.
Banyak bebuahan yang aneh, bahkan bumi penuh berserakan batu permata.
Di kejauhan ada sebuah istana megah dengan undak-undakan batu kemala dan tiang emas, di depan istana tampak bergerombol orang mondarmandir serupa malaikat dewata di sorgaloka.
Malahan mendadak dilihatnya ayah-ibunda juga berada di tengah orang banyak itu.
Saking girangnya mendadak ia memburu ke sana.
Tapi tahu-tahu kakinya menginjak tempat kosong, di bawah ternyata jurang yang tertutup mega.
Ia menjerit kaget dan sekuatnya berusaha melompat ke atas, waktu ia membuka mata, dirasakan keringat membasahi tubahnya, kira-nya baru saja mimpi buruk.
Ia berpaling, tampak dirinya berbaring di dalam ruang yang kosong, hanya terlihat sebuah tempat tidur, sebuah meja dengan dua kursi.
Di ketinggian ada sebuah jendela kecil, bintang gemerlip di angkasa Iuar.
Rupanya ia telah tertidur sehari semalam, ia coba menenangkan diri dan meronta bangun, dirasakan lantai bergoyang-goyang, terdengar pula suara gemercak air di sekeliling, tiba-tiba disadarinya dirinya berada di dalam sebuah kapal yang terombang-ambing di tengah laut.
Kiranya dalam keadaan tidak sadar ia telah jauh meninggalkan ayah-bundanya, me-ninggalkan tanah kelahirannya, meninggalkan kampung halaman dan orang yang dikenalnya, kini jaraknya entah sudah berapa jauh, sedetik demi sedetik bertambah jauh terpisah.
Pedih rasa hatinya, apakah akan tamat begini saja kehidupannya?
Sedangkan budi kebaikan orang tua dan guru belum lagi dibalas-nya, masih banyak amal bakti yang perlu dilaksanakannya pula.
Setelah termenung sekian lama, mendadak ia mengepal tinjunya dan bergumam.
"Tidak, aku masih harus pulang ke sana, harus! "
Mendadak seorang tertawa dan berkata sambil mendorong pintu kamar.
"Haha, bagus! Tekadmu harus dipuji."
Kelihatan Hong Man-thian muncul dengan membawa poci arak, langkahnya agak sempoyongan, jelas terlalu banyak menenggak arak.
"Mari keluar."
Kata Hong Man-thian ke-mudian.
Ketika Lamkiong Peng ikut ke geladak kapal, tertampak jauh di ufuk timur sana sudah ada cahaya remang-remang, hanya sebentar saja subuh ternyata sudah tiba.
Pemandangan kelihatan indah, tapi keadaan di atas geladak kapal morat-marit penuh tertimbun berbagai macam barang.
Di buritan sana, di samping tiang layar tertaruh sebaris sangkar besi, isinya tentu saja kawanan binatang buas yang sudah dilepaskan dari peti, ssmuanya meraung dan menyeringai ketika melihat manusia.
Seorang lelaki kurus dan pendiam dengan dada baju terbuka berdiri di buritan sambil memegang kemudi, ada lagi seorang lelaki pendek kecil dan agak buntak dengan baju yang dekil, kepala kurapan dan lagi cengar-cengir.
Melihat orang ini, timbul rasa jemu dan mual.
Kebanyakan pelaut dan nelayan, biarpun kasar dan miskin, rata-rata juga kelihatan sehat dan bersih, tapi orang ini selain kotor dan menjemukan mukanya, suaranya juga tidak enak didengar.
"Siapa orang ini? "
Tanya Lamkiong Peng.
"Juru masak."
jawab Hong Man-thian. Lamkiong Peng melengak, terbayang sayur mayur yang akan dimakannya selanjutnya adalah hasil pengolahan orang dekil jni, seketika tambah mual rasanya, gumamnya.
"Kenapa mencari juru masak seperti ini? "
Hong Man-thian tergelak, katanya.
"Kau-tahu, bukan pekerjaan gampang untuk mendapatkan pelaut ini. Biarpun orang yang biasa hidup berkecimpung di lautan, siapa yang mau ikut berlayar tanpa batas waktu dengan kapal yang tak dikenalnya? "
"Dan cara bagaimana Cianpwe mendapatkannnya? "
Tanya Lamkiong Peng. Mendadak Hong Man-thian bersuit pelahan, burung beo piaraannya yang selalu mengintil ke mana dia pergi itu lantas hinggap di pundaknya.
"Panggil Jitko."
Kata Hong-thian. Segera beo itu berteriak.
"Jitko...Jitko...."
Mendadak papan geladak tersingkap, seorang lelaki hitam kekar melompat keluar dari bawah geladak.
Terperanjat juga Lamkiong Peng melihat bentuk orang yang aneh ini, perawakannya pendek gemuk, pundaknya lebar sehingga bentuknya mirip peti.
Punggung agak bungkuk dan kepala scakan-akan terselip di antara pundaknya, Namun gerakgeriknya justru sangat gesit, sekali lompat sudah berada di depan Hong Man-thian.
Rupanya yang buruk juga sangat mengejutkan, mulut lebar dengan gigi panjang serupa siung, dagunya mencuat ke depan.
kelakunnnya kasar.
Dengan tunduk kepala ia berkata kepada Hong Man-thian.
"Apa yang Cukong ingin hamba kerjakan? "
Hong Man-thian terbahak-bahak, katanya kepada Lamkiong Peng.
"Bersama dia inilah kami berdua berlayar mengarungi samudera raya dengan sebuah perahu kecil dan akhirnya sampai di daerah Kanglam. Kembalinya sekarang tentu saja kami tidak ingin menderita lagi, kami ganti kapal besar ini, tapi juga tambah muatan sedemikian banyak, maka kami juga perlu pakai tenaga pelaut cukup banyak."
"Berapa banyak pelaut yang kaubawa?' tanya Lamkiong Peng.
"Belasan orang ", jawab Hong Man-thian.
"Apakah kauingin melihat mereka? "
"Ah, tidak."
jawab Lamkiong Peng sambil menggeleng.
Setelah melihat bentuk "Jitko' yang serupa binatang dan si juru masak yang memualkan itu, ia pikir kebanyakan pelaut yang mau bekerja di kapal ini tentu juga manusia yang tidak sedap dipandang.
Bangun kapal ini sangat kukuh, cuma ada sebuah tiang layar, sekarang layar sudah berkembang dan tertiup angin, ada layar buritan juga sudah dikembangkan, kapal laju dengan cepat.
Untuk pertama kalinya Lamkiong Peng merasakan kehidupan berlayar di samudera raya ini, lambat laun terlupalah segala rasa kesalnya, sebaliknya timbul rasa serba baru.
Namun juga diharapkannya selekasnya mencapai tempat tujuan, dengan begitu dapat berdaya untuk selekasnya pulang ke Kanglam.
Kebanyakan pelaut yang bekerja di kapal ini memang berwajah bengis, semuanya me-mandang Lamkiong Peng dengan sorot mata yang waswas serupa binatang buas lagi meng-incar mangsanya.
Diam-diam Lamkiong Peng juga waspada, sebaliknya Hong Man-thian seperti tak mengacuhkan.
Setiap pagi pada waktu sang turya baru terbit, tentu Hong Man-thian berdiri di haluan kapal, selain itu dia hanya duduk minum arak di dalam kabin, makin jarang dia bicara, terkadang sehari suntuk tidak buka suara.
Selain minum arak sendiri, setiap kali ia pun membujuk Lamkiong Peng ikut minum be-berapa cawan arak yang keras itu.
Tapi bila melihat si tukang masak kudisan itu membawa-kan makanan, hati Lamkiong Peng lantas mual, tanpa didorong dengan arak memang sukar menelan makanan itu.
Tukang masak kudisan itu sungguh sangat jorok, terkadang tidak cuci muka sehingga masih belekan.
Untungnya dia memang mahir mengolah makanan yang sangat mencocoki se-lera sehingga biarpun menjemukan masih di-biarkan saja.
Sepanjang hari tukang masak itu hanya tertawa linglung, segala urusan tak diacuhkannya, bila melihat Lamkiong Peng ia suka me-nyengir, sebaliknya Lamkiong Peng cepat melengos.
Beberapa hari kapal berlayar, laut luas tanpa kelihatan tepinya.
"Apakah masih jauh? "
Demikian Lamkiong Peng sering bertanya.
"Sabar, setibanya di sana akan kautahu sendiri."
jawab Hong Man-thian dengan dingin.
Makin lama kapal berlayar, air muka orang tua itu pun tambah kelam, arak yang diminum juga tambah banyak, dengan sendirinya ini agak janggal, sebab umumnya orang yang pu-lang, semakin dekat rumah sendiri seharusnya semakin senang, kenapa dia justru tambah murung?
Malam ini omb'ak sangat besar, Lamkiong Peng lebih banyak minum arak dan terkenang kepada ayah-bunda, hati merasa kesal.
Ia me-langkah ke atas geladak dan bersandar di ha-luan, dilihatnya bintang bertaburan di langit, suasana sepi, hanya debur ombak yang ter-dengar.
Selagi pikirannya merasa lapang, se-konyongkonyong didengarnya di bawah geladak suara tertawa orang yang khas, menyusul ada suara orang melangkah tiba, suara tertawa itu dikenalnya sebagai suara si tukang masak kudisan itu.
Sesungguhnya Lamkiong Peng tidak suka melihat orang ini, kening bekernyit dan ber-usaha menggeser ke bagian yang gelap.
Waktu berpaling, terlihat dua kelasi menarik si kudisan naik ke atas geladak.
Mestinya Lamkiong Peng hendak tinggal pergi, demi melihat gerak-gerik ketiga orang ini rada mencurigakan, tergerak pikiran Lamkiong Peng, cepat ia sembunyi di balik kabin.
Kedua kelasi yang kurus dan gesit itu bemama Kim Siong, seorang lagi si juru mudi bemama Tio Cin-tong, kedua orang ini adalah kelasi yang berpengalaman dan disegani di antara lesama kelasi, maka Lamkiong Peng kenal mereka.
Begitu melompat ke geladak dan memandang sekellling, dengan pelahan Kim Siong lantas mendesis.
"Sepi! "
"Coba periksa lagi, apakah juru mudinya kawan sendiri atau bukan? "
Sahut Tio Cin-tong.
Mereka bicara dengan bahasa sandi kaum bandit, hal ini menimbulkan curiga Lamkiong Peng.
Dilihatnya Kim Siong lantas memeriksa keadaan sekitar geladak, ia sempat lewat di samping tempat sembunyi Lamkiong Peng, lalu lapor kepada kawannya.
"Aman, hanya juru-mudi berada di kabinnya dan agaknya sedang mengantuk."
Tio Cin-tong mengangguk, si juru masak kudisan diseretnya ke samping setumpukan barang muatan. Si kudisan kelihatan sempoyong-an, muka pun pucat.
"Sret ", Tio Cin-tong melolos belati yang terselip pada sepatu bot yang dipakainya, lalu belati yang mengkilat itu bergerak gerak di de-pan hidung si juru masak, desisnya dengan meyeringai.
"Kauingin mati atau minta hidup? "
"Dengan ... dengan sendirinya ingin hidup."
jawab si kudisan dengan gelagapan ka-rena ketakutan.
"Kalau ingin hidup harus tunduk kepada perintahku."
Kata Tio Cin-tong.
"Terus terang, kami ini adalah tokoh-tokoh yang biasa membunuh orang tanpa berkedip, jika memang biasa berkacimpung di lautan tentu pemah kaudengar nama kami, aku inilah Hai-pa (singa laut) Tio-lotoa dari Hai-pa-pang (kawanan ba-jak singa laut) di sekitar Ciu-san! "
Juru masa itu tampak malengak, jawab-nya dengan gemetar.
"Ah, tentu ... tentu hamba akan menurut."
"Memangnya kauberani membantah."
Je-ngek Tio Cin-tong. Lalu ia mengeluarken satu bungkusan kertas dan berkata pula.
"Nah, be-sok hendaknya kaumasak kuah ayam yang se-dap. separoh isi bungkusan ini masukkan ke dalam kuah dan separoh lagi campurkan pada makanan lain."
"Eh, kuah ayam kan tidak perlu pakai merica."
Ujar si kudisan dengan lagak seorang nhli masak.
"Sialan."
Omel Tio Cin-tong.
"Ini bukan merica melainkan racun, tahu?! Barangsiapa makan sititik saja, dalam sekejap akan mam-pus dengan matahidung-telinga-mulut keluar darah, maka ingat, jangan kauanggep sebagai gula dan kaumakan, sesudah urusan beres dan tuanmu mendapat rejeki nomplok, tentu kau-pun akan kami bagi sedikit. Tapi bila urusan ini sampai bocor, biar kami cencang dirimu lebih dulu dan kami buang ke laut sebagai umpan ikan. Tahu? "
Juru masak itu menjura dan mengiakan berulang. Kim Siong tertawa, katanya.
"Menurut pengamatanku selama beberapa hari ini, rejeki ini memang sukar dinilai jumlahnya-Cuma si buntung itu jelas bukan lawan yang empuk, juga si makhluk aneh itu, malahan si bagus itu pun kehhatan bisa sejurus dua."
Tio Cin-tong mendengus.
"Hm, kecuali me-reka, apakah kaukira Ong Ti, Sun Ciau dan si jurumudi Li-losam itu adalah orang baik? Kurasa tujuan mereka ikut dalum kapal ini juga tidak bermaksud baik, besar kemungkin-an mereka pun sahabat kalangan hitam. Cuma mereka bukan segaris deagan kita, besok kita kerjai mereka sekalian.
"Mereka bicara dengan lirih, namun dapat didengar jelas oleh Lamkiong Peng, diam-diam anak muda itu terkejut dan bersyukur juga.
"Untung kudengar tipu muslihat mereka, kalau tidak bukan mustahil akan dikerjai mereka."
Selagi berpikir, sekonyong-konyong dari se-belah kiri terdengar suara mendesir, sesosok bayangan orang melayang tiba. Langsung pendatang ini mendengus.
"Hm, Tiolotoa, keji amat hatimu, sampai kami ber-saudara juga akan kaukerjai? "
Air muka Tio Cin Tong berubah, ia me-lompat mundur sambil membentak.
"Siapa? "
Bayangan orang itu melangkah maju, tertampak wajahnya yang kaku, tangan besar kaki panjangg.
dia inilah Li-losam, si juru mudi.
Tio Cin-tong dan Kim Siong siap siaga, sebaliknya Li-losam seperti tidak mengacuhkannya, pelahan ia melangkah ke sana dan berucap "Anjing kudisan, serahkan racunnya tadi?"
Juru masak kudisan itu ketakutan dan sembunyi di tengah tumpukan barang muatan sehingga mirip anjing kudisan memang. Belum lagi si juru masak menjawab, men-dadak Tio Cin-tong membentak.
"Kauserah-kan jiwamu! "
Sekali belati terangkat segera ia hendak menerjang maju.
"Nanti dulu."
Seru Li-losam mendadak.
"Rupanya cngkau tidak tahu maksudku, ku-minta racun ini tidaklah bemiat jahat, Hen-daknya ingat, si buntung itu tokoh macam apa, masa dia dapat dibereskan dengan sebungkus racun begini saja? Jika ketahuan, engkau bisa mati konyol malah. Lekas lemparkan racun itu ke dalam laut, biarlah kuatar rencana lain untuk membereskan mereka."
Tio Cin-tong urung menyerang, tapi mu-lutnya tetap garang.
"Hm, kau ini apa, aku Hai-pa Tiolotoa harus tunduk padamu? "
"Hm, jadi tidak kaukenal diriku? "
Jengek Lilosam, mendadak ia melangkah maju lagi dan mendesiskan dua-tiga kata dengan lirih.
Seketika air muka Tio Cin-tong berubah, badan gemetar dan "trang ", belati pun jatuh, ucapnya dengan terputus-putus.
"Hah ... cngkau ... mengapa ...."
"Tidak perlu banyak omong, lekas kembali ke kamarmu dan tidur saja, tiba saatnya tentu akan kuberitahukan padamu."
Ujar Li-losam.
"Hai-papang kalian telah bekerja dengan susah-payah, tentu takkan kubikin rugi kalian."
Terpaksa Tio Cin-tong mengiakan dan melangkah pergi dengan menarik Kim Siong. Si juru makan kudisan juga mau ikut pergi dengan takut-takut, mendadak Li-losam mencengkeram lengannya sambil membentak.
"Kurangajar! Kauberani berlagak dungu di de-pan tuanmu? .... Serahkan nyawamu! "
Berbareng itu sebelah tangannya terus mengliantam kepala orang.
Lamkiong Peng menjadi heran apakah mungkin si kudisan ini samaran seorang tokoh persilatan?
Dilihatnya juru masak itu ketakutan hingga terkulai lemas di lantai, pukulan Li-losam tampaknya segera akan membuat batok kepalanya hancur tapi dia masih diam saja.
Tak terduga pukulan Li-losam itu mendadak berhenti setongah jalan, dia hanya me-nepuk pelahan pada pundak si kudisan dan berkata.
"Jangan takut, aku hanya mencoba dirimu saja. Nah, pergilah sekarang! "
Apa yang diperbuat dan apa yang dibicarakannya air mukanya tidak pemah ber-ubah, tetap kaku dm dingin.
Habis bicara ia lantas kembali ke tempat kemudi.
Si kudisan lantas merambat turun ke ba-wah geladak, sinar matanya melirik sekejap ke tempat sembunyi Lamkiong Peng seperti tidak sengaja.
Melihat sekeliling tiada orang lagi, pelahan Lamkiong Peng menyelinap kembali ke ka-marnya, tapi baru saja dia msnarik pintu ka-mar, tiba-tiba diketahuinya dalam kegelapan sepasang mata mencorong sedang menatapnya, orang seperti sudah sejak tadi menunggunya di balik pintu, Lamkiong Peng terkejut, segera ia siap menghadapi ssgala kemungkinan.
Tapi setelah diamati, kiranya dia bukan lain daripada si makhluk aneh yang dipanggil "Jitko "' itu.
Jitko menyengir sehingga kelihatan barisan giginya yang putih panjang serupa taring itu.
lalu melangkah pergi.
Kejut dan heran Lamkiong Peng, ia pikir apakah makhluk aneh ini pun mendergar percakapan orang orang tadi?
Mengapa dia tidak bertindak sesuatu?
la lantas masuk ke dalam kabin dan mencari Hong Man-thian, dilihatnya orang tua itu asyik minum arak di bawah cahaya lampu yang sudah redup, orang dua cacat ini scaken-akan tidak tidur dan juga tidak makan nasi, dia sr-perti dilahirkan melulu untuk minum arak saja.
Tanpa menoleh ia menegur Lamkiong Peng.
"Belum tidur? Apo mau minum dua cawan? "
"Sekarang Cianpwe boleh minum sepuas-nyn, selanjutnya mungkin tidak dapat minum lagi.
"' kata Lamkiong Peng. Hong Man-thian tertawa.
"Masa di dunia ini ada sesuatu urusan yang dapat membuatku tidak minum arak9 Wah, rasanya aku jadi ingin tahu apa urusannya? "
Habis bicara ia meneggak lagi satu cawan.
"Apakah Cianpwe tahu kelasi kapalmu ini ,adalah kawanan bajak yang biasa main bunuh dan rampok? "
Kata Lamkiong Peng, lalu diceritakannya apa yang dilihat dan didengar tadi. Siapa tahu Hong Man-thian tetap tenang saja. Dengan kening bekernyit Lamkiong Peng berkata pula.
"Meski wanpwe juga tidak me-nguatirkan gangguan penjahat itu, tapi setelah kutahu maksud jahat mereka, sedikit banyak harus mengawasi gerak-gerik mereka."
"Memangnya kaukira aku tidak tahu."
Ja-wab Hong Man-thian dengan tergelak.
"Sejak mereka menginjak kapal ini segera kutahu mereka tiada seorang pun orang baik. Hanya si kudisan yang kelihatan linglung itu bukanlah sekomplotan mereka, sebab itulah kusuruh di kudisan menjadi juru masak. Namun aku tetap m.engawasi gerakgerik mereka, untuk menjaga srgala kemungkinan, di dalam arak sudah ku-taruh obat penawar segala macam racun, ma-kanya setiap kali makan kusuruh kauminum dua-tiga cawan untuk berjaga bilamana diracun, apabila mereka berani main kekerasan, haha. itu berati mereka mencari mampus sendiri. Kau lihat sepanjang hari aku selalu minum arak, apa kaukira aku bisa mabuk? "
Diam-diam Lamkiong Peng menghela na-pas, ucapnya.
"Kehebatan Cianpwe sungguh sukar dibandingi siapa pun ...."
Hong Man-thian tertawa bangga, lalu berkata pula.
"Sebenarnya aku cuma tua keladi dan dapat melihat segala sesuatu dengan lebih jelas, bila usiamu juga setingkat diriku tentu akan kaurasakan segala tipu maslihat di dunia ini tidak lebih hanya begini-begini saja. Cuma Li-losam itu tampaknya memang seorang tokoh yang tidak boleh diremehkan, entah dia berasal dari orang macam apa? "
"Orang ini pasti mempunyai asal-usul ter-tentu, tapi di depan Locianpwe masakah dia mampu berbuat sesuka hatinya? "
Ujar Lamkiong Peng.
"Tidak peduli bagaimana asal-usulnya, yang jelas dia suruh orang she Tio jangan menaruh racun dalam makanan, hal ini menandakan dia cukup cerdik."
Ujar Hong Man-tliian.
"Padahal betapa hebatnya racun atau obat bius, di mana pun dia campurkan, jika tidak kuketahui hal ini kan berarti sia-sia hidupku selama sekian puluh tahun di dunia ini."
"Apakah Cianpwe tidak ingin membongkar tipu muslihat mereka? "
Tanya Lamkiong Peng.
"Jika kubongkar rencana keji mereka dan membunuh mereka, lalu siapa yang akan menjadi kuli di kapa! ini? "
Hong Man-thian tergelak.
"Kawanan penjahat ini memang sial bertemu dengan diriku."
Mendadak hati Lamkiong Peng tergerak, tanyanya.
"Apakah mungkin Cianpwe hendak menggunakan mereka untuk memenuhi daftar belanja yang terakhir itu? "' "Memang begitulah."
Ujar Hong Man-thian dengan tertawa.
"Sudah. kuduga ada orang akan mengnntarkan dirinya sendiri. maka akupun tidak perlu repot mencari-cari orang, setiba di sana, haha ...."
Mendadak ia berhenti tertawa dan menenggak arak lagi.
Lamkiong Peng hanya menggeleng kepala saja, dirasakan orang tua ini salain me-ngagumkan, juga menakutkan.
Dilihatnya alis orang tua itu berkerut rapat, serupa menanggung urusan ynng membuatnya masgul, maka arak terus ditenggaknya secawan demi secawan.
Mendadak ia berpaling dan berkata pula kepada Lamkiong Peng, ''Selama hidupku ha-nya ada suatu penyesalan, apakah kautahu urusan apa?"
Lamkiong Peng menggeleng dan menjawab tidak tahu.
"Brak ", mendadak Hong Man-thian menggabrukkan cawan arak di atas meja, lalu berkata.
"Urusan yang membuatku menyesal se-lama hidup ini adalah minum arak tidak pemah mabuk, biarpun kuminum sepanjang hari pikiranku tetapjemih, sungguh aku sangat me nyesal mengapa bisa terjadi begini."
"Minum tidak pemah mabuk, itu tandanya takaran minum Locianpwe yang luar biasa, masa dibuat menyesal malah? "
Ujar Lamkiong Peng. Kembali Hong Man-thian menenggak tiga cawan pula, lalu berkata.
"Manusia minum arak sebenarnya untuk menghilangkan rasa kesal. Orang yang takaran minumnya kurang kuat, cukup sedikit minum saja sudah melupakan semua kesedihan, dan inilah yang dicari. Orang yang kuat takaran minumnya, sudah banyak arak yang diminum diminum dan tetap tidak mabuk, selain makan waktu juga makan biaya, hal ini kan tidak menguntungkan. Jika serupa diriku, selamanya minum tanpa mabuk, jelas ini kemalangan besar dan terlebih harus disesalkan."
Uraian orang tua ini sungguh tidak dimengerti oleh Lamkiong Peng, ia tertawa dan berkata.
"Selama hidup Locianpwe gagah perkasa, namamu termashur di seluruh jagat, sesudah tua pun tirakat di Cu-sin-tian, tempat yang serupa sorgaloka bagi pandangan setiap orang persilatan, semua ini sukar dibandingi orang lain, mengapa Locianpwe justru menggunakan arak untuk menghapus rasa kesal? "
"Cu-sin-tian ..."
Hong Man-thian ber-gumam dengan terkesima, mendadak ia memberi tanda.
"Aku sudah dikawani oleh arak, boleh kaupergi tidur saja."
Sungguh Lamkiong Peng tetap tidak mengerti mengapa orang tua itu selalu murung.
Esok paginya ia naik ke atas geladak, dilihatnya Tio Cin-tong, Kim Siong dan Li-lo-sam masih tetap bertugas seperti biasa.
Dengan sendirinya ia pun berlagak tidak tahu apa-apa, cuma diam diam ia pun gegetun bagi nasib malang beberapa orang ini.
Selama brberapa hari terakhir ini Hong Manthian juga tampak pendiam, hanya cara minum araknya tambah banyak.
Melihat orang tua itu semakin lama semakin lesu.
hati Lamkiong Peng juga ikut tertekan dan lesu serupa binatang buas di dalam kurungan itu.
Maklumlah, di tengah lautan makanan dan air minum adalah benda paling berharga, dengan sendirinya tidak ada rangsum yang cu-kup bagi kawanan binatang itu, ditambah lagi ombak besar yang mengombang-ambingkan kapal, betapapun kawanan binatang itu pun mabuk sehingga binatang yang, biasanya buas dan garang tersiksa hingga lemas dan lesu, sama sekali kehilangan kegarangannya, sampai ssuara meraung pun jarang terdengar.
Memandangi Hong Man-thian dan memandang pula kawanan binatang buas itu, tanpa terasa Lamkiong Peng menghela napas.
Layar mengembang, kapal terus laju di tengah lautan yang tiada kelihatan ujung pangkalnya.
Lilosam dengan wajahnya yang kaku itu duduk di pinggir kapal dan sedang memancing ikan.
Menjelang magrib, Hong Man-thian juga membawa buli-buli arak dan bersandar di taiang layar untuk menyaksikan orang mancing.
"Masa ikan laut juga mau dipancing?"
Tanya Lamkiong Peng dengan tertawa.
"Asal ada umpan, ikan dimana pun dapat dipancing,"
Ujar Hong Man-thian. Belum lenyap suaranya, mendadak Li-losam menarik tali pancing, benar juga seckor ikan kakap kena dikailnya.
"Aha, bagus, ikan ini pasti sangat lezat, cuma sayang di sini tidak ada ahli masak serupa ibumu."
Kata Hong Man-thian dengan gegetun. Menyinggung ibunya, Lamkiong Peng men-jadi sedih, tapi segera ia tertawa cerah. dan berucap.
"Rasanya caraku masak pun lumayan."
"Apa betul? "
Hong Man-thian menegas dengan girang.
"Tentu saja betul."
jawab Lamkiong Peng.
Untuk membuat senang hati orang tua ini, dia benarbenar bawa ikan hasil kaitan Li-losam itu ke dapur.
Hendaklah maklum, kepandaian memasak pun diperlukan kungfu (sesuatu keahlian disebut kungfu, jadi arti kungfu tidak identik dengan ilmu silat) yang khas, antara lain cara me-motong, bahannya, apinya, rempah-rempahnya semuanya memerlukan kepandaian khusus.
Bakat Lamkiong Peng memang tinggi, se-lain ilmu silat dan kesusastraan, dalam ha!
masak memasak ia pun belajar dan cukup menguasainya.
Maka tidak seberapa lama seporsi Ang-sio-hi sudah di bawa keluar, ternyata memang sangat hebat, baik wama, bau maupun rasanya, semuanya memenuhi selera Hong Man-thian, sembari makan Ang-sio-hi berulang-ulang ia menenggak arak, hanya sebentar saja seekor ikan sudah tersisa kepala dan ekornya saja.
"Kenapa kausendiri tidak makan ang-sio-hi buatan sendiri? "
Sesudah kenyang makan baru Hong Man-thian ingat kepada Lamkiong Peng yang sejak tadi hanya menyaksikan dia makan.
Dengan tersenyum Lamkiong Peng menyumpit ekor ikan, ekor ang-sio-hi biasanya kering dan rasanya seperti keripik, dengan nlkmatnya anak muda itu mengunyah keripik ekor ikan itu.
Ia pun gembira melihat Hong Man-thian makan Ang-sio-hi dengan bemafsu.
Waktu menoleh, Hong Man-thian melihat si makhluk aneh "Jitko "
Berdiri di samping dan biji lehernya naik turun, tampaknya hampir mengiler, dengan tertawa ia berseru.
"Apakah kaupun ingin makan? Ambil saja kepala-nya! " 'Tanpa disuruh lagi segera Jitko comot kepala ikan terus dijejalkan ke dalam mulut dan dikunyah kulit bersama tulangnya, caranya makan sungguh rakus serupa binatang buas saja.
"Haha., ibunya ahli masak, anaknya juga lumayan ...."
Selagi Hong Man-thian ber-seru memuji, mendadak suaranya berubah se-rak dan mata melotot, ia meraung.
"Wah, ce-lakal "
Langsung sebelah tangannya terus mencangkeram ke arah Lamkiong Peng.
Karena bingung, Lamkiong Peng diam saja, tapi gerakan Hong Man-thian itu ter-nyata bukan menyerang malainkan merampas sisa tulang ikan yang masih belum habis di-makan anak muda itu.
"Bangsat, aku jadi terjebak juga olehmu! "
Bentak Hong Man-thian dengan beringas, langsung ia sambitkan tulang ikan yang dirampas-nya itu ke arah Li-losam yang memegang pan-cing dan berdiri di pinggir kapal sana.
Namun cepat Li-losam sempat menegas.
Hong Man-thian lantas berteriak.
"Makanan beracun! Lekas binasakan kawanan bangsat ini! "
Serentak ia melompat bangun dan tongkat berputar Tanpa ayal si makhluk aneh Jitko segera bertindak, ia meraung serupa binatang buat terus menerkam salah seorang anggota Hai-pa-pang itu scakan-akan pecah nyalinya dan tidak tahu menghindar, segera ia terpegang, kesepuluh jarinya Jitko mencengkram masuk ulu hatinya, baru saja ia menjerit sudah lantas binasa.
Waktu Jitko menarik tangannya, isi perut orang itu kena dirogoh keluar seluruhnya, bahwa isi perut korbannya terus dilalapnya serupa binatang buas benar-benar.
Kelihatan sinar matanya yang jelilatan, mukanya penuh berlepotan darah, sembari tertawa aneh ia menerkam lagi korban yang lain.
Keruan orang itu ketakutan setengah mati, segera ia hendak kabur, tak terduga belum lagi lenyap suara tertawanya, mendadak kedua mata jitko mendelik terus jatuh terjengkang, darah tampak mengucur dari mulutnya.
Sekali hantam Lamkiong Peng juga membinasakan seorang lelaki lalu, bergebrak dengan Kim Siong, tapi baru satu-dua gebrakan tibatiba kepala terasa pening dan hampir ti-dak tahan.
Diam-diam ia mengeluh bisa ce-laka.
Betapaputi ia tidak ingin jatuh di tangan kawanan bandit ini, segera ia bergerak hendak terjun ke laut.
Siapa tahu mendadak Tio Cin-tong sempat menarik ikat pinggangnya, katanya sambil menyeringai.
"Huh, masa kauingin mati dengan cnak! "
Di sebelah sana secepat terbang Hong Man-thian lantas menubruk Li-losam, melihat betapa lihai orang tua itu, mau-tak-mau Li-losam merasa takut.
Ia tidak berani melawan tapi melompat mundur sambil menjengek.
"Hm, tua bangka, masakah engkau tidak segera roboh?!' Namun gerakan Hong Man-thian terlampau cepat baginya, sekali raih baju Li-losam sem -pat dipegangnya. Saking kagettnya Li-losam meronta sekuat nya.
"bret ", baju robek, pecah nyali Li losam, tanpa pikir ia terjun ke dalam laut untuk menyelamatkan diri. Serentak Hong Man-thian membalik tubuh, tongkatnya menyambarseorang lelaki. Perawakan ornng ini sangat kekar, mukanya juga buas, ia bermaksud menangkis, tapi tahu-tahu dia kena dicengkeram Hong Man-thian dan diangkat terus dilemparkan hingga terbanting di geladak. Ia hanya sempat meraung, segera kepala pecah dan otak berhamburan. Tanpa berhenti Hong Man-thian menubruk pula ke arah Kim Siong. Ia menyadari keracunan, maka niatnya membinasakan segenap penjahat di atas kapal. Tak terduga racun yang masuk tubuhnya teramat banyak, obat bius ini pun lain dari-yang lain, biarpun dia memiliki lwekang tlnggi tetap tidak tahan. Terasa mata birkunang-kunang, bayangan Tio Cin-tong mulai berubah dua dan dari dua menjadi empat dan lebih banyak lagi, semuanya melayang kian kemari di sekitarnya. Ia tahu tidak sanggup tahan lagi, sungguh celaka, seorang gagah perkasa harus jatuh di tangan orang pengecut tak dikenal. Mendadak ia meraung sambil melemparkan tongkatnya, lalu roboh terkapar. Serangan terakhir ini menggunakan segenap sisa tenaganya, tentu saja dahsyat sekali. Ketika tongkat itu menyambar tiba, Kim Siong seperti tidak tahu cara bagaimana harus menghindar. Rupanya nyalinya pecah saking takutnya sehingga dia melongo seperti patung, keruan .dadanya ditembus oleh tongkat baja dan terpantek di lantai kapal. Semua ini terjadi dalam sekejap, kelasi kapal yang beruntung tidak mati menjadi ke takutan juga, semuanya gemetar. Yang tersisa tanpa cedera hanya si juru masak kudisan saja yang sibuk bekerja di da-pur, ketika mendengar ramai-ramai di geladak dan jeritan ngeri, buru-buru ia naik ke atas untuk melihat apa yang terjadi. Dalam pada itu Lamkiong Peng, Hong Man-thian dan si makhluk aneh Jitko sudah roboh terkapar, hanya burung beo saja yang masih terbang kian kemari, dan hinggap di sa-na-sini sambil menjerit.
"Lucu ... haha, lu-cu ...."
Dengan basah kuyup Li-losam merangkak ke atas kapal lagi, setelah memandang sekeliling, ia berucap, 'Mendingan, cuma mati empat.
Lemparkan mereka ke laut, cuci bersih papan geladak, esok akan kubereskan mereka ber-tiga."
Meski mengalami kejadian ini, dia -tetap tenang saja, ia tutuk beberapa kali pada tubuh Lamkiong Peng,.
Hong Man-thian dan si makhluk aneh Jitko, ini pun tidak mengurangi rasa kuatirnya, ditambahi lagi ikatan tali yang ke-tat pada tubuh ketiga tawanannya, habis ini barulah ia tinggal pergi.
Tio Cin-tong dan Iain-lain tentu saja sangat kagum atas hasil tipu Li losam itu, mereka lantas membersihkan lantai geladak.
Kiranya tadi Li-losam menggunakan obat bius yang paling keras pada umpan pancing, ikan yang dapat dikailnya itu makan umpan yang penuh racun, karena tidak menduga akan hal ini, apalagi Hong Man-thian melihat sen-diri ikan itu baru saja ditangkap dari dalam laut, ang-sio hi juga diolah sendiri oleh Lamkiong Peng, maka tanpa sangsi ia makan ikan saus manis itu.
Tak tersangka bahwa ikan yaug dianggap-nya pasti bersih itu justru telah ditaruhi obat bius yang tidak dapat dipunahkan oleh sem-barangan ohat penawar, ketika Hong Man-thian menyadari apa yang terjadi dan ber-maksud menolak keluar racun yang masuk tu-buh, namun sudah kasip, akhirnya tokoh yang tidak ada bandingannya toh kena diringkus orang tanpa berdaya.
Setelah lewat sekian lama, ketika hari sudah pagi, Li-losam sudah kenyang tidur dan keluar dari kamarnya, lalu ia menyuruh orang menyiram Hong Man-thian bertiga dengan air dingin, akhirnya barulah mereka siuman.
Segera Lamkiong Peng merasakan cahaya matahari yang menyilaukan mata, namun tubuh sama sekali tidak dapat berkutik.
Terdengar Li-losam mendengus.
"Hm, ha-nya dengan sedikit perangkap saja kalian lan-tas terjebak, rupanya hanya begini saja kelihaian kalian "
Waktu Lamkiong Peng memandang ke sana, terlihat Hong Man-thian dan si makhluk aneh Jitko juga teringkus seperti dirinya dan tidak dapat bergerak.
Tertampak Li-losam memegang cambuk panjang, ujung cambuk menuding hidung Hong Man-thian dan lagi menegur, 'Eh, Hong Man-thian, apa pula yang akan kaukatakan, konon kungfumu maha lihai, kenapa sekarang kaupun mati kutu dan jatuh dalam ceng-keramanku?"
Meski sudah siuman, namun sejauh ini Hong Man-thian tidak membuka mata, kini men-dadak ia mendengus.
"Hm, akumemang sudah bosan hidup, mau bunuh atau mau sembelih boleh terserah kepadamu? "
"Sudah berpuluh tahun kutunggu kesempatan seperti ini, baru gekarang kau jatuh dalam tanganku, bila kubiarkan kaumati dengan enak rasanya aku kan berdosa terhadap diriku sendiri."
Suaranya sbenarnya serak, tapi dua kalimat terakhir itu mendadak berubah tajam nyaring, Seketika Hong Man-thian terbelalak, muka berubah pucat dan berseru.
"Hah, kira-nya .."
"Haha, bagus, akhirnya dapat kaukenali diriku, cuma sudah terlambat! "
Seru Li-losam sambil tergelak.
Berbareng cambuknya meng-geletar di udara.
Mendadak Lamkiong Peng mendengar su-ara raungan harimau, kiranya di belakangnya adalah kurungan harimau.
Tapi karena bunyi cambuk Li-losam, harimau itu lantas mendekam dan tidak berani bertingkah lagi.
Setelah mendengar suara Li-losam yang melengking nyaring dan kepandaiannya menjinakkan harimau, hati Lamkiong Peng tergerak, tiba-tiba teringat olehnya akan seorang, seru-nya.
"Hah, Tek-ih Hujin! "
Li-losam terbahak-bahak.
"Haha, bagus, kaupun mengenali diriku! "
Sembari bicara terus berpaling kesana, waktu ia menoleh kembali ke sini, tahu-tahu mukanya yang dingin kaku serupa orang mati itu mendadak berubah menjadi wajah yang cantik molek, wajah Tek-ih Hujin yang mempesona itu.
Diam-diam Lamkiong Peng gegetun.
"Pantas dia dapat menaruh racnn pada ikan segar dan pandai menundukkan harimau, kiranya dia samaran Tekih Hujin. Sekarang kujatuh di tangan orang ini, entah bagaimana nasibku nanti."
Tek-ih Hujin lantas-mendekati Hong Man-thian, pelahan ia meraba mukanya dan ber-kata dengan tertawa.
"Hong-lotaucu, sudah la-ma aku merindukan dirimu, cara bagaimana akan kuperlakukan dirimu sekarang, apakah da-pat kauterka? "
Mendadak ia mengeluarkan sebuah botol kecil, sambungnya.
"Apa kautahu apa isi bo-tol ini? "
Hong Man-thian memejamkan mata dan tidak menggubrisnya. Tek-ih Hujin mengerling genit, ucapnya dengan terkekeh.
"Hihi, biar kuberitahukan, isi botol ini adalah obat perangsang lelaki yang paling kuat, barangsiapa asalkan men-ciumnya sedikit, seketika nafsu berahi akan berkobar. Apakah kaumau menciumnya sedikit saja?! "
Waktu menyamar tadi mukanya kelihatan kaku dingin, tapi sekarang setiap kali bicara wajahnya kelihatan sangat mempersona dan menggiurkan, gayanya itu membuat Tio Cin-tong dan Iain-lain sama terkesima.
Namun Hong Man-thian tetap diam saja.
Tek-ih Hujin lantas menyodorkan botol kecil itu dan berkata.
"Eh, coba endus sedikit, sesudah mencium bubuk ini, meski sekujur badan tidak dapat berkutik, rasanya tentu luar biasa, kujamin cngkau pasti tidak pemah me-ngalami perasaan demikian ...."
Lamkiong Peng belum berpengalaman, ia tidak tahu apa yang bakal terjadi, ia coba me-mandang ke sana, Dilihatnya botol kecil yang dipegang Tek-ih Hujin semakin mendekati hidung Hong Man-thian, dengan mata terpejam Hong Man-thian tetap tidak menghiraukannya, namun apa daya, sama sekali ia tidak dapat bergerak.
Pada saat itulah mendadak seorang men-jerit, harimau juga meraung kaget karena je-ritan itu, serentak Tek-ih Hujin berpaling sehingga botol yang dipegangnya sedikit mi ring dan isinya tertuang setitik dan kabur ter-bawa angin.
Kiranya si juru masak kudisan itulah yang menjerit, waktu Tek-ih Hujin berpaling, dengan tergagap ia berkata.
"Ken ... kenapa cngkau berubah menjadi orang perempuan? Ap .... apakah engkau dewa yang dapat berubah wu-jud? "
Tek-ih Hujin tersenyum senang.
"Kaulihat aku cakap tidak? "
"Ya, cakap ... cakap sekali! "
Jawab si kudisan dengan menyengir.
"Mendingan kaupun dapat membedakan orang cakap dan tidak."
Ujar Tek-ih Hujin dengan senang.
"Baiklah, lekas pergi membuatkan beberapa macam makanan enak, sebentar boleh kaupandang diriku lebih la'ma."
Si kudisan tertawa dan berlari pergi. Tek-ih Hujin membetulkan rambutnya, katanya pula dengan tertawa.
"Hong-lotaucu, coba kaulihat, seorang linglung saja mengetahui aku ...."
Belum lanjut ucapannya, sekilas diketahui-nya seorang kelasi kekar di sebelahnya sedang menatapnya dengan sorot mata merah beringas serupa binatang buas lagi mengincar mangsanya Ia terkejut dan menegur.
"Kaumau apa? "
Tubuh lelaki itu tampak gemetar, muka merah beringas, mendadsk ia pentang kedua tangan terus menubruk maju, karena tidak ter-sangka sangka, tubuh Tek-ih Hujin terpeluk dengan crat, dengan kalap lelaki itu berteriak.
"Kuharap ... kuminta engkau ... aku tidak tahan ...."
Kiranya karena isi botol tadi sedikit tertuang dan terbawa angin, lalu terisap oleh kelasi itu, obat itu adalah obat perangsarg yang sangat keras, seketika mengobarkan nafsu berahinya sehingga membuatnya beringas dan lupa daratan.
Sama sekali tak terpikir oleh Tek-ih Hu-jin bahwa kelasi itu berani merangkulnya, seketika ia terpeluk dengan crat, dirasakan ba-dan orang panas seperti dibakar, bagian ter-tentu juga membuat hatinya terguncang.
Pada dasarnya perangai Tek-ih Hujin memang ca-bul, dia tidak marah, sebaliknya malah tertawa sambil mengomel.
"Orang mampus ...."
"Bluk ", akhirnya dia roboh tertindih lelaki kalap itu. Mendadak Tio Cin-tong menubruk maju, sekali menikam dengan belatinya, kontan pung-gung kelasi itu tertembus, bentaknya.
"Berani kurangajar terhadap Hujin?! "
Lelaki itu meraung keras, tubuh membalik dan binasa. Muka Tek-ih Hujin tampak merah, cepat ia melompat bangun, omelnya.
"Siapa suruh kaubunuh dia? "
Tio Cin-tong melenggong, tapi Tek-ih Hujin lantas berkata pula.
"Ah, kutahu, tentunya engkau cemburu! "
Mendadak sebelah tangannya menampar tehingga Tio Cin-tong jatuh terguling.
Dengan muka kereng Tek-ih Hujin menyapu pandang sekejap para kelasi, bentaknya dengan bengis, 'Nah, inilah contohuya!
Asalkn kalian bekerja dergan baik dan menurut perintah, tentu akan kuberi imbalan yang setimpal.
Cuma, siapa pun tidak boleh cemburu, tahu?"
Lalu ia mendekati Tio Cin-tong dan menjulurkan tangan.
Muka Tio Cin-tong tampak pucat dan melongo bingung.
Tak terduga Tek-ih Hujin hanya meraba perlahan pada mukanya yang digampar tadi.
mendadak ia berkata dengan tertawa.
"Lemparkan keparat itu ke laut, pergilah pegang kemudi, kerjalah baik-baik, tahu? "
Seperti mendapat pengampunan, cepat Tio Cintong mengiakan dan berlari pergi.
Semua kejadian i!u dapat di saksikan olehLamkiong Peng,ia hanya geleng kepala, ia merasa bila orang jatuh dalam cengkeraman perempuan seperti ini, sungguh lebih baik mati daripada hidup.
Dilihatnya si juru masak kudisan telah muncul kembali dengan membawa enam ma-cam hidangan, bau sedapnya sungguh menusuk hidung.
"Biarlah di sini juga kita makan siang, sembari maksud ingin kulihat permainan si tua bangka she Hong itu."
Kata Tek-ih Hujin. Dengan cepat para kelasi lantas mengatur meja kursi, Tek-ih Hujin menuang secawan arak dan dibawa ke depan Hong Man-thian katanya.
"Sedap tidak baunya? Lalu ia mendekati Lamkiong Peng dan si makhluk aneh serta mengiming iming arak itu di depan hidung mereka. Makhluk aneh Jitko menyeringai, mata pun melotot, Tek-ih Hujin memperlihatkan botol kecil tadi, katanya pula dengan tertawa.
"Jangan kuatir, saat ini pendirianku sudah berubah, biar kalian merasakan dulu siksaan orang ke-laparan dan kehausan, habis itu baru merasakan betapa celakanya orang yang dirangsang nafsu berahi."
Mendadak ia memberi tanda kepada Tio Cintong, katanva.
"Ikat dulu kemudinya, marilah kita minum bersama untuk merayakan kemenangan ini! "
Kecuali Lamkiong Peng bertiga, yang berada di atas kapal kini tersisa tujuh orang saja, jadi tepat untuk memenuhi satu meja.
Kawanan anggota Hai-pa-pang meski bi-asanya sangat garang, tapi menghadapi Tek-ih Hujin, mereka benar-benar mati kutu dan juga kebatkebit.
Yang paling senang jelas adalah Tek-ih Hujin sendiri, bahwa musuh utama selama hidupnya kini dapat ditawan, sungguh hal ini harus dirayakan.
Ia angkat cawan arak dan berseru.
"Wahai Hong Manthian, betapa ga-gahnya engkau dahulu ketika membakar Ban-siu-san-ceng kami dan aku terusir hingga tiada tempat berteduh. Dua bulan yang ialu, di Lamkiong-san-ceng hampir juga jiwaku melayang di tanganmu, tapi sekarang di mana kagagahanmu? "
Sernbari berolok-olok tidak lupa pula menenggak arah, dia memang ayu, setelah minum arak wajahnya semakin menggiurkan.
Kawanan berandal Hai-pa-pang semua masih takut-takut, sesudah minum secawan arak, mereka bertambah tabah dan segera makan minum tanpa pantang lagi.
Si juru masak kudisan sibuk naik turun membawakan hidangan dan tambah arak, na-mun lirikan matanya tidak pemah melepaskan gerakgerik Tek-ih Hujin.
Tiba-tiba Tek-ih Hujin berbangkit dan mendekati Lamkiong Peng, sambil mengamati anak muda itu ia bertanya.
"Adik cilik, berapa usiamu tahun ini? "
Lamkiong Peng diam saja. Tek-ih Hujin tertawa, katanya pula.
"Ai, kenapa malu-malu bicara dengan Taci, bila..."
Belum lanjut ucapannya, mendadak terdengar suara gemerincing. mangkuk piring sa-ma tumpah, ketujuh lelaki itu sama roboh ter-jungkal, semuanya mabuk serupa orang mampus.
"Huh, manusia tak berguna, baru dua-tiga cawan sudah menggeletak."
Omel Tek-ih Hujin. Tak terduga mendadak ia pun me-ngeluh.
"Celaka! "
Cepat ia melompat ke samping si juru masak, segera ia cengkeram pergelangan tangan-nya.
"Ada ... ada apa? "
Tanya si kudisan dengan melongo.
"Budak kurang ajar! "
Bentak Tek-ih Hujin.
"Kauberani menaruh racun dalam arak, lekas serahkan obat penawarnya, kalau tidak ...."
"Hehehehe! "
Tiba-tiba si kudisan terkekeh.
"Akhirnya kautahu juga? Cuma, semuanya sudah terlambat.
"Dia menirukan ucapan Tek-ih Hujin tadi, tentu saja air muka Tek-ih Hujin alias si nyo-nya senang menjadi pucat seketika.
Semangat Lamkiong Peng dan Hong Man-thian sama terbangkit juga melihat kejadian itu.
Terdengar si kudisan lagi tertawa, katanya.
"Obat ini kuterima dari kalian, sekarang kugunakan untuk kalian, ini kan adil dan pantas? "
Di tengah tertawa juru masak itu, Tek-ih Hujin segera roboh terkulai.
"Hehe, nyonya senang ternyata tidak lama senangnya."
Si kudisan berolok-olok pula, kelakuannya tetap angin-anginan, Diam-diam Lamkiong Peng merasa gegetun, sungguh sukar dinilai dari lahiriahnya, tak terduga orang yang bermuka jelek daa ke-lihatan bodoh ini ternyata juga memiliki ke-cerdasan.
Kecuali dia rasanya juga jarang ada orang yang sanggup mengelabui mata Tek-ih Hujin.
Dengan langkahnya yang lamban si juru masak kudisan lantas mendekati Lamkiong Peng bertiga dan membuka tali pengikatnya.
Tapi karena hiat-to mereka masih tertutuk se-hingga belum dapat bargerak.
"Budi besar tidak berani balas dengan ucapan terima kasih, untuk selanjutnya masih diharapkan bantuan Anda untuk membuka hiat-to kami."
Ucap Hong Man-thian dengan sungkan.
"Hiat-to apa maksudmu? "
Si kudisan ber-tanya dengan ketolol-tololan.
"Ai, jika. Anda sengaja menyembanyikan kepandaian, terpaksa aku pun tak dapat memaksa."
Ujar Man-thian dengan gegetun.
"Mana ... mana hamba tahu hiat-to apa segala, tapi kalau Loyacu mau memberi pe-tunjuk, mungkin . , . mungkin bisa kucoba."
Kata si kudisan.
Hong Man-thian pikir jika orang memang sengaja berlagak bodoh, apa salahnya kukatakan cara membuka hiat-to yang harus dilakukannya.
Maka dengan pelahan ia lantas menguraikan bagian mana yang harus dipijat ' dan ditutuk, juru masak yang kotor itu menuruti petuinjuk itu dan meraba-raba tubuh Lamkiong Peng, walaupun begitu diperlukan sekian lamanya baru anak muda itu dapat di-bebaskan dari kelumpuhannya.
Hidung Lamkiong Peng tercium bau busuk kudis di tubuh orang, rasanya ingin tumpah.
Untung segera ia merasa dirinya audah dapat bergerak, tanpa tunggu lagi ia melompat ba-ngun sehingga si kudisan tertumbuk sempoyongan.
Cepat Lamkiong Peng membuka hiat-to Hong Man-thian yang tertutuk, begitu melompat bangun Man-thian lantas menjura kepada si kudisan.
"Ah. Loyacu jangan banyak adat."
Ujar si juru masak dengan gugup.
"Yang kuhormati bukan karena jiwaku kau selamatkan, tapi karena engkau telah membeebaskan diriku dari hinaan dan aniaya musuh.
"ujar Hong Man-thian. Tika-tiba terlihat si Jitko sedang menyeret salah seorang kelasi tadi ke tepi kapal.
"He, akan kau apakan dia? "
Tegur Lam-kiong Peng.
"Buang saja ke laut untuk umpan ikan."
jawab Jitko.
"Nanti dulu,' kata Lamkiong Peng.
"Apa pun juga kita tidak sampai diperlakukan me-lampaui batas, biarlah jiwa mereka boleh di ampuni saja, Taruh saja mereka di dalam se-koci dan hanyutkan sekoci itu, terserah kepada nasib mereka akan selamat atau ditelan laut, bukan lagi urusan kita."
Hati Lamkiong Peng memang luhur, be-tapapun ia tidak sampai hati melemparkan orang-orang yang belum mati itu ke laut.
Hong Man-thian menggeleng kepala atas jalan pikiran anak muda itu.
Si juru masak kudisan juga tidak membantah, segera mereka menurunkan sekoci dan memindahkan tujuh lelaki dan seorang perempuan itu ke dalam parahu kecil itu dan dihanyutkan di tengah laut.
Ketika mereka bertiga tertawan, Tek-ih Hujin telah memerintahkan kapal berlayar kembali ke arah semula, sekarang kapal juga tetap laju menuju pulang.
Lamkiong Peng pikir juru masak kotor ini sungguh banyak terdapat kcanehan, ia coba tanya.
"Bila tidak keberatan, apakah boleh kami tanya $iapa nama Anda yang sebenar-nya? "
"Ah, nama orang rendah semacam hamba mana ada harganya untuk disebut."
jawab si kudisan tetap dengan tertawa seperti orang bo-doh. Cuma nama Lamkiong-kongeu justru su-dah pemah hamba dengar dari seorang kawan-mu."
"Hah, apa betul, siapa dia? "
Tanya Lamkiong Peng. Juru masak itu memandang jauh ke sana, katanya kemudian.
"Orang itu bukan saja ka-wan Kongeu, bahkan boleh dikatakan orang terdekat Kongeu."
"Eh, jangan-jangan engkau kenal Liong-toakoku? "
Lamkiong Peng menegas dengan girang.
"Bukan."
Kata si juru masak. ' Lantas siapa? Apakah Ciok-siko, atau Su-malopiauthau atau Loh-sacek ...."
Begitu-lah sekaligus la menyebut beberapa nama orang yang ada hubungan rapat dengan dirinya, malahan nama Kwe Giok-he, Ong So-so dan Yap Man-jing juga disebutnya.
Namun si juru masak tetap menggeleng dan menjawab bukan.
Lamkiong Peng menjadi bingung sendiri.
la pikir orang yang rapat dengan dirinya se-lain yang sudah disebutkan tinggal Bwe Kim-soat yang juga boleh dikatakan orang yang ada hubungan rapat denganku.
Tapi dia berwatak dingin, juga suka pada kebersihan.
misalnya sslama sepuluh tahun ia tersekap di dalam peti mati, jika orang lain tentu sudah mati konyol, tapi dia dapat keluar dengan hidup dan pa-kaiannya masih tetap putih bersih.
Mustahil dia tidak jijik melihat orang dekil dan berbau busuk semacam ini, apalagi mau bicara dengan dia?
Karena itulah akhirnya ia menggeleng dan mengaku.
"Wah, rasanya aku tidak ingat lagi ada orang lain yang ada hubungan dekat denganku."
Juru masak ia memandang jauh tanpa bicara. sekian lama barulah itu berkata pula dengan pelahan.
"Masa selain orang-orang itu Kongeu tidak mempunyai sahabat lain lagi? "
"Rasanya tidak ... tidak ada lagi."
jawab Lamkiong Peng. Juru masak itu termenung sejenak pula, mendadak ia tertawa, katanya.
"Ah, tahulah aku, tentu orang itu sengaja mengaku sebagai sahabat baik Kongeu."
Lalu ia melangkah ke pinggir kapal dan mengelamun sendiri. Hong Man-thian yang sedang pegang ke-mudi itu memandang Lamkiong Peng sekejap selagi dia hendak bicara, mendadak si juru masak berteriak.
"Wah, eclaka! "
"Ada apa? "
Tanya Man-thian cepat.
Jura masak kudisan itu menuding badan kapal, waktu Hong Man-thian melongok ke bawah, seketika air mukanya juga berubah hebat.
Kiranya badan kapal yang terapung di permukaan air kini tinggal tiga-empat ka-ki saja.
"Hah, jadi kapal ini lagi tenggelam dengan pelahan?! "
Teriak Lamkiong Peng kuatir.
Hong Man-thian tidak menjawab, sekali lompat, tubuhnya yang gede itu melayang ke bawah kabin, Meski tongkatnya sudah terlempar ke laut, namun gerak-geriknya tetap cepat dan gesit.
Segera Lamkiong Peng menyusul ke sana, setiba di bawah dek, keduanya saling pandang dengan muka pucat.
Ternyata di antara celah-celah kabin sudah mulai merembes air laut, makin lama makin keras, sebagian barang sudah terapung di permukaan air.
Malahan rembesan air segera berubah deras, sebentar saja sudah sebatas paha Lamkiong Peng.
Baca Juga: Legenda Pendekar Ulat Sutera 7
Baca Juga: Anak Rajawali Chin Yung