Ceritasilat Novel Online

Amanat Marga 3

Eps 3 Amanat Marga - Khu Lung

Baca online Amanat Marga - Khu Lung

Cersil Amanat Marga - Khu Lung.

Hati Lamkiong Peng terkesiap, mendadak dapat dipahaminya mengapa wajah sang guru yang berbudi luhur itu selalu membawa semacam sikap yang kereng dan jarang memperlihatkan senyum gembira.

"Sejak hari itu,"

Demikian Bwe Kim-soat menyambung lagi.

"aku tidak mendarat kesempatan untuk melihat cahaya matahari lagi. Sepuluh tahun .... selama sepuluh tahun Put-sisin-liong ternyata tidak melaksanakan janjinya, dia tidak membersihkan tuduhan orang padaku, tidak menuntut belas bagiku, dengan sendirinya kutahu apa sebabnya ...."

Mendadak ia berhenti bertutur dan menengadah memandang langit.

Kesunyian yang mendadak ini serupa sebuah godam menghantam hati Lamkiong Peng, sebab ia tahu di balik kesunyian ini betapa mengandung rasa dendam dan kecewa orang.

Demi Yap Jiu-pek, lantaran Kongeu-kiam-khek itu adalah saudara Yap Jiu-pek, gurunya, tidak dapat membekuknya dan tidak sanggup mencuci bersih fitnahan orang terhadap Bwe Kim-soat.

Sebaliknya si putri berdarah dingin ini juga tidak memaksa gurunya melaksanakan janjinya, dengan sendirinya hal ini disebabkan antara mereka juga telah timbul jalinan perasaan yang mendalam.

Bwe Kim-soat memandangi cahaya bintang di langit, termenung sampai sekian lamanya, mendadak ia menatap Lamkiong Peng dengan tersenyum, semacam senyuman yang sukar dimengerti maknanya.

"Tapi apakah ... apakah kau tahu ... apakah kau tahu? ...."

Dengan tersenyum berapa kali ia mengulangi perkataannya. Dengan bingung Lamkiong Peng menegas.

"Tahu apa?"

Bwe Kim-soat menatapnya lekat-lekat, katanya perlahan.

"Apa yang tidak dilaksanakan gurumu bagiku itu kini telah kau lakukan, dengan telingaku sendiri kudengar percakapanmu dengan dia, juga kudengar sendiri jeritannya ketika dia terluka oleh pedangmu."

"Hah, jadi ... jadi Tojin itulah Kongeu-kiamkhek?"

Seketika Lamkiong Peng menjadi gelagapan.

"Tojin? ...."

Jengek Bwe Kim-soat dengan penuh benci.

"Dia sudah menjadi Tojin? Huh, meski aku tidak tahu saat ini dia telah berubah bagaimana bentuknya, tapi suaranya, sampai mati pun aku tidak lupa pada suaranya."

Meski biasanya Lamkiong Peng dapat bersikap tenang, tidak urung sekarang ia pun kelihatan terkejut, sungguh tak tersangka bahwa pendekar pedang yang termasyhur pada angkatan yang lalu bisa mati di bawah pedangnya.

Namun apa pun juga rasa malu dan menyesal atas kematian Tojin itu kini menjadi tersapu bersih.

Didengarnya Bwe Kim-soat berkata pula.

"Inilah suka-duka antara gurumu dan diriku, juga apa yang ingin kau ketahui tapi tidak berani kau tanyakan tadi. Engkau telah membalaskan sakit hatiku, maka perlu kuberi tahukan padamu bahwa kematian orang itu adalah setimpal. Selama sekian tahun aku tersekap di dalam peti mati, tidak ada harapanku yang lain kecuali selekasnya pulih sedikit tenagaku dan dapat menuntut balas padanya. Sebab itulah ketika kudengar suara jeritannya, meski merasa senang, tapi juga rada kecewa dan benci juga, malahan terpikir olehku bila dapat kulompat keluar, lebih dulu akan kubinasakan orang yang membunuh dia itu."

Terkesiap hati Lamkiong Peng, dilihatnya pada ujung mulut Bwe Kim-soat tersembul secercah senyuman.

"Tapi, entah mengapa ...."

Dengan tersenyum Kim-soat meneruskan.

"bisa jadi keadaan sekian tahun telah membuat hatiku banyak berubah, aku tidak ingin lagi membunuhmu, malah berterima kasih padamu, sebab engkau telah mengurangi kesempatan bagiku untuk berlepotan darah lagi. Bilamana tangan seorang tidak banyak berlepotan darah kan jadi lebih baik."

Lamkiong Peng tercengang, tak terduga olehnya perempuan yang disebut orang sebagai "berdarah dingin"

Ini sekarang dapat bicara demikian. Ia terdiam sejenak, kemudian berkata di bawah sadar.

"Setelah tenagamu buyar, kenapa sekarang mendadak bisa pulih kembali, sungguh kejadian aneh."

Bwe Kim-soat tersenyum misterius, ucapnya.

"Engkau merasa heran? ...."

Ia tidak meneruskan, Lamkiong Peng juga tidak dapat menerka makna ucapannya itu. Tiba-tiba teringat olehnya ucapan Bwe Kim-soat tadi.

"Tanpa menghiraukan apa pun berusaha memulihkan tenaga ...."

Jangan-jangan caranya memulihkan tenaga ini telah menggunakan sesuatu jalan yang tidak wajar. Selagi dia hendak bertanya, tiba-tiba terdengar Bwe Kim-soat menghela napas dan berucap pula.

"Sungguh aneh juga, meski saat ini Kungfuku sudah pulih kembali, tapi kurasakan tidak ada gunanya sama sekali. Sekarang aku tidak mempunyai sesuatu hubungan budi dan benci lagi. Ai, sungguh hal ini jauh lebih baik daripada hati penuh diliputi dendam dan benci."

Dia sebentar gemas, sebentar sedih, lain saat bersemangat, lalu murung lagi, sekarang dia lantas bersandar di pohon dengan tenang, sembari membelai rambutnya yang panjang bahkan ia lantas bernyanyi kecil dengan senyum yang lembut.

Melihat keadaannya yang adem ayem itu, agaknya dia sedang mengenang masa lampau, masa remaja yang bahagia.

Karena kelelahan terpengaruh pula oleh suara nyanyi orang yang merdu, Lamkiong Peng merasa mengantuk ....

Pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar orang mendengus, Lamkiong Peng tersentak sadar, waktu ia memandang ke sana, dari luar hutan mendadak muncul sesosok bayangan orang.

Serentak Bwe Kim-soat juga berhenti bernyanyi.

"Siapa?"

Bentak Lamkiong Peng.

Sekali berkelebat, dalam sekejap saja seorang pemuda berbaju kelabu sudah berada di depan mereka.

Pemuda yang gagah tapi tampak bersikap angkuh dan lagi tertawa dingin dan memandang hina terhadap Lamkiong Peng.

Tentu saja Lamkiong Peng mendongkol, tegurnya pula.

"Siapa kau? Mau apa datang kemari?"

Dengan sorot mata tajam kembali pemuda baju kelabu mengamat-amati Lamkiong Peng, lalu menjengek.

"Hm, bagus sekali! Murid kesayangan sang Suhu, Sute yang selalu menjadi pujian Suhengnya ternyata orang begini, selagi nasib mati-hidup sang guru belum diketahui, bisa juga iseng mendengarkan perempuan bernyanyi di sini, sungguh hebat!"

"Memangnya ada sangkut paut apa denganmu?"

Jawab Lamkiong Peng ketus. Pemuda berbaju kelabu itu terbahak-bahak.

"Haha, engkau masih berani bersikap keras, masa engkau tidak mengaku salah?"

"Hm, memangnya siapa kau dan apa maksud kedatanganmu?"

Jengek Lamkiong Peng. Pemuda baju kelabu melirik sekejap Bwe Kimsoat yang masih bersandar pohon itu, mendadak ia tertawa pula daun berkata.

"Kau ingin tahu siapa aku dan apa maksud kedatanganku? .... Hahaha, untuk itu harus kutahu dulu apakah kau mau mengaku salah atau tidak?!"

"Hm,"

Jengek Lamkiong Peng.

"Jika kedatanganmu ini ingin mencari perkara, ayolah lolos senjatamu dan tidak perlu banyak omong lagi."

Bwe Kim-soat tampak tersenyum, agaknya dia dapat membenarkan sikap tegas Lamkiong Peng ini. Suara tertawa pemuda baju kelabu serentak berhenti, dengusnya.

"Hm, memang kedatanganku adalah untuk mencari perkara!"

Sekali ia berputar, waktu berhadapan lagi tangannya sudah memegang sebatang tombak bertangkai lemas.

Pedang Lamkiong Peng terselip pada tali pinggangnya, sarung pedang sudah hilang jatuh ke jurang, maka pedang pemberian gurunya ini selalu dijaganya dengan baik.

Ia tersenyum dan menjawab.

"Jika engkau memang sengaja mau mencari perkara, terpaksa kulayani beberapa gebrakan."

Perlahan ia lantas melolos pedangnya, dia tetap bersikap tenang, tapi mantap, emosinya tidak mudah terpancing, ia angkat pedang sebatas dada dan siap tempur.

"Silakan!"

Katanya.

Agaknya sekarang dapat dilihatnya pemuda baju kelabu itu sebenarnya tidak bermaksud jahat melainkan cuma terdorong oleh rasa dongkol dan sengaja merecokinya, maka dalam tutur kata dan tindakan dilayaninya dengan agak sungkan.

Segera pemuda baju kelabu memutar tombaknya sehingga menimbulkan sejalur cahaya perak.

Diam-diam Lamkiong Peng memuji kecepatan tombak lawan.

Segera pedangnya juga berputar.

Sekonyong-konyong pemuda baju kelabu bersuit terus mengapung ke udara.

Cahaya perak ikut mengambang ke atas.

Cepat Lamkiong Peng menyurut mundur setindak, ujung pedang menyungkit ke atas.

Tubuh si pemuda baju kelabu menikung di udara, tombak perak menusuk ke bawah secepat kilat serupa bangau kelabu menerkam mangsa di daratan.

Hati Lamkiong Peng tergerak.

"Thian-san-jit-kimsin-hoat!"

Cepat ia menggeser ke samping, berbareng pedang lantas menebas ke atas. Sinar hijau menahan cahaya perak tombak lawan, tapi ujung tombak pemuda baju kelabu lantas menutul perlahan pada ujung pedang.

"tring", dengan daya pental itu ia melayang lagi ke udara. Lamkiong Peng menatap tajam lawannya dan tidak memburunya melainkan menunggu orang melayang turun ke bawah. Padahal kalau dia mau melancarkan serangan susulan tentu lebih untung daripada lawan yang terapung di udara. Namun dia tidak berbuat demikian melainkan berdiri tegak saja. Ketika pemuda baju kelabu melayang turun, perawakannya yang kekar berdiri tegak tanpa bergerak, hanya tombak perak yang dipegangnya tampak bergetar. Pemuda baju kelabu ini tak lain tak bukan ialah Tik Yang, sesudah mengubur mayat di rumah gubuk itu, ia lantas memburu ke bawah gunung, ia ingin tahu tokoh macam apakah "Gote"

Yang menjadi sanjungan Liong Hui itu.

Dia berwatak lugu dan terbuka, tidak menaruh perhatian atas curiga orang lain kepadanya.

Tapi setiap pemuda umumnya tentu mempunyai sifat kcangkuhan sendiri, maka begitu berhadapan dengan Lamkiong Peng lantas timbul hasratnya untuk menguji kepandaiannya.

Selain itu ia pun rada heran mengapa orang bisa iseng mendengarkan nyanyian seorang perempuan cantik di sini.

Setelah berhadapan dengan Lamkiong Peng sekarang, timbul juga rasa sukanya, keduanya berdiri berhadapan dan saling pandang.

Mendadak terdengar Bwe Kim-soat bersuara.

"Eh, kenapa kalian berhenti?!"

Tanpa terasa pandangan kedua pemuda itu beralih ke arahnya. Perlahan Bwe Kim-soat lagi berbangkit dengan gaya yang memikat. Dengan langkah gemulai ia mendekati Tik Yang, lalu menegur.

"Apakah engkau ini keturunan mendiang Kiu-ih-sin-eng Tiklocianpwe dari Thian-san?"

Baru sekarang Tik Yang memerhatikan kecantikan orang yang luar biasa itu, ia merasa silau sehingga seketika tidak mampu bersuara melainkan cuma mengangguk perlahan saja.

Bee Kim-soat tertawa, katanya pula.

"Tadi tentu engkau telah bertemu dengan Suhengnya?"

Kembali Tik Yang melengak dan mengangguk lagi. Tentu saja Lamkiong Peng sangat heran dari mana orang mengetahui hal ini. Siapa tahu Bwe Kim-soat lantas berkata pula dengan tersenyum.

"Tentu disebabkan Suhengnya memuji dia di hadapanmu, karena penasaran, maka kau susul kemari untuk mengujinya, betul tidak?"

Terbelalak mata Tik Yang, dengan heran ia mengangguk lagi.

Berturut ia tanya tiga kali dan setiap kali selalu tepat, hal ini membuat Tik Yang selain terkesima atas kecantikannya, juga tercengang oleh kecerdasannya.

"Betul,"

Akhirnya ia menjawab juga.

"Memang betul tadi aku bertemu dengan Suhengnya. Saat ini dia masih di atas sana."

"Anda ini ...."

Belum lanjut ucapan Lamkiong Peng, dengan tertawa Tik Yang berseru pula.

"Cayhe Tik Yang, sungguh sangat menyenangkan dapat bertemu denganmu. Maaf atas tindakanku yang kasar tadi, kumohon diri sekarang, sampai berjumpa lagi kelak."

Begitu kata terakhir itu terucapkan, serentak ia pun sudah melayang pergi.

"Cepat amat!"

Gumam Lamkiong Peng memandangi bayangan orang yang cuma sekejap saja lantas menghilang di luar hutan sana. Tiba-tiba Bwe Kim-soat tertawa dan berkata.

"Apakah kau tahu sebab apa dia pergi dengan tergesa-gesa?"

Belum lagi Lamkiong Peng menjawab segera ia menyambung lagi.

"Sebab dia tidak berani memandang lagi padaku."

Mendadak Lamkiong Peng membantah.

"Engkau selalu memandang buruk sifat orang lain. Sebaiknya kau ikut bersamaku untuk menemui Suhengku, nanti baru engkau tahu di dunia ini masih ada lelaki sejati yang tidak mudah terpengaruh oleh kecantikanmu."

Habis berkata Lamkiong Peng lantas mengangkat peti mati dan mendahului melangkah ke sana. Sejenak Bwe Kim-soat tertegun, tanpa terasa ia ikut melangkah ke sana dan berseru.

"Hei ...."

"Ada apa?"

Tanya Lamkiong Peng tanpa menoleh, juga tanpa berhenti.

"Kan gurumu menyuruhmu mengikut dan membela diriku, kenapa sekarang kau tinggalkan aku dan pergi sendiri?"

Terpaksa Lamkiong Peng berhenti dan menoleh.

"Bukankah kau pun ikut kemari, kenapa bilang kupergi sendiri?"

"Aku ... aku ...."

Mendadak Bwe Kim-soat mengentak kaki dan berteriak.

"Tidak, aku tidak mau ikut ke atas lagi."

"Jika engkau tidak mau ikut, harap tunggu sementara di sini, peti ini juga kutaruh dulu di sini,"

Kata Lamkiong Peng dengan tersenyum.

"Siapa bilang akan kutunggumu di sini?"

Jengek Kim-soat.

"Wah, jika begitu, lantas ... lantas bagaimana baiknya?"

"Kau yang ikut aku turun ke bawah gunung ...."

"Tentu saja aku akan ikut turun, cuma hendaknya engkau ikut ke atas dulu."

Bwe Kim-soat tampak mendongkol, katanya dengan gusar.

"Kau ...."

Tapi Lamkiong Peng lantas memotong.

"Sudah sekian ribu hari engkau tersekap di dalam peti mati ini, sekarang engkau harus menghirup udara segar. Lihatlah, cuaca cerah, pemandangan indah, betapa menyenangkan bila dapat pesiar ke puncak Hoa-san yang termasyhur ini?"

Bwe Kim-soat termenung sejenak, mendadak ia melayang lewat ke sana dan hinggap di depan Lamkiong Peng, serunya.

"Baik, ikut padaku!"

Akhirnya ia naik juga ke atas gunung.

Memandangi rambut orang yang panjang terurai dan kelakuannya yang kekanak-kanakan itu, hampir saja Lamkiong Peng tertawa geli.

Siapa tahu lantas terdengar Bwe Kim-soat mengikik tawa di depan, katanya.

"Sekali tempo menurut perkataan orang terasa menarik juga, cuma ...."

Mendadak ia menoleh dan menegaskan.

"Cuma satu kali saja."

"Baik cuma satu kali saja,"

Kata Lamkiong Peng sambil menahan rasa gelinya.

Sang surya baru saja terbit, puncak Hoa-san gilang-gemilang oleh sinar matahari pagi itu, sampai rumah gubuk itu pun kelihatan kemilauan tersorot oleh sinar sang surya.

Karena ingin lekas mengetahui keadaan di atas, langsung Lamkiong Peng menuju ke rumah gubuk ini, namun di sini tiada terdapat seorang pun.

"Mereka sudah pergi semua ...."

Ucapnya dengan kecewa.

"Nah, kan sia-sia kedatanganmu ini,"

Ujar Bwe Kim-soat.

"Juga belum tentu,"

Seru Lamkiong Peng, mendadak ia menyodorkan peti mati kepada Bwe Kim-soat, tanpa sempat berpikir Kim-soat menerima peti itu, segera pula Lamkiong Peng melompat ke sana, disingkapnya kasuran tua itu.

Bwe Kim-soat tidak melihat sehelai kertas kuning yang terselip di bawah kasuran, sambil mengangkat peti ia menjengek.

"Hm, memangnya di bawah kasur itu ada pusakanya?"

"Memang betul,"

Kata Lamkiong Peng sambil membalik tubuh perlahan, di tangannya tampak memegang sehelai kertas kuning, dengan cermat ia membacanya, perlahan air mukanya menampilkan rasa lega, tapi juga mengandung rasa heran.

Lalu kertas surat itu disimpan dalam baju.

Dengan sendirinya Bwe Kim-soat tidak dapat melihatnya, ia berseru.

"Hai!"

"Ada apa?"

Lamkiong Peng berlagak bsingung.

Kim-soat mendengus, peti mati disodorkan kembali kepada Lamkiong Peng, setelah diterima anak muda itu, serentak ia melompat keluar rumah gubuk.

Karena mendongkol, ia tidak menggubris Lamkiong Peng, tapi belum seberapa jauh tanpa terasa ia menoleh.

Dilihatnya anak muda itu mengikut kemari setelah memandang lukisan yang terukir di batu karang sana.

Sesudah agak dekat, dengan gemas Bwe Kimsoat berkata.

"Kau mau bicara atau tidak?"

"Bicara apa?"

Tanya Lamkiong Peng.

"Apa yang tertulis pada kertas kuning itu?"

Teriak Kim-soat.

"O, kiranya kau pun ingin membaca surat ini, kenapa tidak kau katakan sejak tadi, tanpa bicara mana kutahu?"

Ujar Lamkiong Peng dengan tersenyum.

Dengan tangan kanan mengangkat peti, tangan kiri mengeluarkan surat tadi dan disodorkan padanya.

Segera Bwe Kim-soat mengambil surat itu dan dibaca, ternyata isi surat hanya terdiri dari delapan huruf yang berbunyi.

"Pesan dari Thian-te, Sinliong sehat walafiat!"

"Sin-liong sehat walafiat?!"

Kim-soat berseru heran.

"Masa Put-si-sin-liong belum mati?"

"Tak mungkin mati,"

Ujar Lamkiong Peng dengan tersenyum. Bwe Kim-soat memandang anak muda itu sekejap, katanya kemudian setelah berpikir.

"Lantas apa artinya istilah Thian-te ini?"

"Tentu nama seorang Bu-lim-cianpwe (tokoh angkatan tua dunia persilatan), kecuali ini tidak mungkin ...."

"Memangnya siapa?"

Pemah kau dengar ada tokoh Bu-lim yang disebut Thian-te? Bisa jadi ...."

Mestinya Kim-soat hendak bilang Thian-te (Tuhan Allah) tentu sinonim dengan "Surgaloka", jadi cuma istilah olok-olok pihak musuh, atau mungkin juga untuk menipu mereka.

Ia urung meneruskan ketika melihat Lamkiong Peng agak cemas, akhirnya ia menambahkan.

"Thian-te ... kenapa sebelum ini tidak pemah kudengar nama ini?"

Lamkiong Peng diam saja tanpa bicara. Setelah berjalan lagi sebentar, tiba-tiba Kim-soat berkata.

"Marilah kita menyusuri jalan kecil saja."

"Kenapa?"

Tanya Lamkiong Peng.

"Begini dandananku kan malu dilihat orang,"

Ujar Kim-soat sambil membetulkan rambutnya.

Lamkiong Peng meliriknya dua kejap, kelihaian rambutnya yang panjang indah, mukanya putih bersih dengan baju yang putih mulus, sungguh luar biasa cantiknya, masa malu dilihat orang, sungguh aneh.

Tapi ia pun tidak membantah dan mengikuti kemauannya, menjelang senja, sampailah mereka di Limcong, sebuah kota besar temama di daerah barat laut.

Limcong memang kota yang ramai, dekat magrib, cahaya lampu sudah menyala di seluruh pelosok kota.

Seorang pemuda gagah cakap membawa sebuah peti mati diiringi seorang perempuan mahacantik dengan dandanan yang khas berjalan berendeng di tengah kota yang ramai ini, kecuali orang yang berlalu-lalang ini orang buta semua, kalau tidak mustahil mereka tidak menarik perhatian khalayak ramai.

Dengan sendirinya Lamkiong Peng serbakikuk, ia menunduk dan menggerundel.

"Coba kalau kita melalui jalan besar, mungkin di tengah jalan sudah dapat menyewa kereta."

Namun Bwe Kim-soat tetap tenang saja, katanya.

"Jika kau takut dipandang orang, bolehlah kita mencari tempat berhenti ...."

"Betul juga,"

Kata Lamkiong Peng sambil memandang ke kanan dan ke kiri, dilihatnya di samping sana ada sebuah restoran paling besar, papan mereknya tertulis lima huruf besar dan berbunyi "Peng-ki-koai-cip-lau", artinya restoran makan gembira.

Restoran ini memang mentereng dan berbeda daripada restoran ini, tapi langsung ia menuju ke situ.

Namun sebelum tiba di depan pintu, seorang pelayan tinggi kurus keburu memapak kedatangan mereka, bukan menyatakan selamat datang melainkan merintangi jalan mereka.

"Ada apa?"

Tanya Lamkiong Peng dengan melenggong.

"Kau mau apa?"

Pelayan itu balas bertanya dengan sikap sombong.

"Sudah barang tentu ingin makan minum,"

Jawab Lamkiong Peng.

"Memangnya restoran kalian ini tidak terbuka untuk umum?"

Pelayan jangkung itu mendengus.

"Dengan sendirinya terbuka untuk umum, cuma tamu yang berkunjung kemari dengan membawa peti mati, jelas tidak kami terima."

Baru sekarang Lamkiong Peng tahu duduknya perkara, ia tertawa dan berkata.

"Tapi, peti ini kosong, kalau tidak percaya biar kubuka ...."

Selagi ia hendak menaruh petinya, siapa tahu pelayan itu lantas mendorongnya sambil membentak.

"Kosong juga tidak kami terima."

Meski kurus badannya, ternyata cukup bertenaga juga, jelas pelayan ini bukan sembarangan pelayan.

Karena ramai-ramai itu banyak orang lantas berkerumun.

Sedapatnya Lamkiong Peng menahan rasa dongkolnya, ia coba menjelaskan.

"Kukenal kuasa kalian, bolehkah memberi bantuan, biarlah kutaruh peti ini di luar ...."

"Kenal kuasa kami juga tidak boleh, lekas pergi, lekas ...."

Seru si pelayan dengan gusar. Agaknya Bwe Kim soat juga dapat melihat Lamkiong Peng tidak mau menimbulkan perkara, maka ia menarik lengan bajunya dan berkata.

"Di sini tidak terima, biarlah kita cari yang lain saja."

Tanpa rewel Lamkiong Peng meninggalkan pelayan jangkung itu, didengarnya pelayan itu masih mengomel.

"Huh, tidak tanya-tanya dulu tempat apa ini dan siapa yang membuka restoran ini? Memangnya kau tahu siapa Kongeuya kami? Kalau berani bikin onar, mustahil tidak patahkan kakimu ...."

Kim-soat melirik sekejap, dilihatnya Lamkiong Peng tetap tenang saja tanpa keki sedikit pun, diam-diam ia merasa heran.

Siapa tahu, restoran berikutnya juga menolak tamu yang tidak diterima oleh Koai-cip-lau, berturut-turut tiga restoran lain bersikap sama.

Tentu saja Lamkiong Peng rada mendongkol, terutama suara ejekan orang yang membuntutinya untuk melihat keramaian.

Namun dia tetap tenang saja.

Sesudah sampai di suatu gang dan mendapatkan sebuah rumah makan kecil yang mau menerima mereka, pemilik rumah makan itu sudah tua, tanpa tenaga pembantu, ia menyiapkan mangkuk piring sendiri bagi tamunya sambil berkata.

"Mestinya kami juga tidak berani menerima tamu yang ditolak Koai-ciplau, tapi, mengingat tuan tamu masih muda dan membawa keluarga .... Ai, konon pemilik Koai-ciplau mempunyai seorang Kongeuya yang berbudi luhur dan suka menolong sesamanya, di segala pelosok terdapat sahabatnya. Bisa jadi yang tuan temui tadi ialah Yu-jiya yang kabarnya memang lebih galak daripada kuasanya."

Begitulah sembari bicara, sebentar saja ia telah menyiapkan santapan sekadarnya, tanpa banyak omong Lamkiong Peng dan Bwe Kim-soat makan minum secukupnya.

Kemudian Lamkiong Peng minta pinjam alat tulis, ia tulis sepucuk surat ringkas dan dilipat dengan baik, lalu menyuruh seorang anak penjual kacang di tepi jalan, setelah diberi persen dan pesan seperlunya, anak penjual kacang itu lantas berlalu.

Bwe Kim-soat hanya tersenyum saja dan memandangnya, ia tidak tanya apa yang dilakukannya itu, seperti sudah menduga apa yang bakal terjadi.

Mereka melanjutkan bersantap dengan tenang.

Tidak lama kemudian, mendadak dari luar berlari masuk seorang berbaju perlente, seorang lelaki setengah umur dengan muka putih, begitu masuk segera menjura kepada Lamkiong Peng.

Belum lagi orang ini sempat bicara, kembali dari luar berlari masuk seorang lagi dan langsung berlutut di depan Lamkiong Peng dan menyembahnya tanpa berhenti.

Nyata orang ini "Yu-jiya", si pelayan jangkung Koai-cip-lau.

"Eh, ada apakah kalian ini?"

Ucap Lamkiong Peng dengan tersenyum. Keadaan "Yu-jiya"

Itu sekarang sungguh harus dikasihani, berulang menyembah dan minta ampun. Lelaki perlente setengah umur itu pun tampak gugup, katanya.

"Ampun, tak tersangka Kongeuya bisa ... bisa berkunjung ke daerah barat laut sini."

Si kakek pemilik warung makan jadi melongo juga, ia hampir tidak percaya kepada apa yang terjadi.

Maklumlah, keluarga hartawan Lamkiong turuntemurun terkenal kaya raya, di mana-mana hampir terdapat perusahaan mereka, pegawainya tidak kurang dari puluhan ribu orang.

Tapi tidak banyak yang kenal majikan muda mereka, Lamkiong Peng.

Sekarang Lamkiong Peng hanya menulis secarik kertas dan dibubuhi tanda tangan, lalu kuasa Koai-cip-lau dan Yu-jiya tadi telah dibikin kelabakan setengah mati dan tidak tahu apa yang harus dikemukakan terhadap majikan muda dan tidak tahu pula cara bagaimana harus minta ampun.

"Wah, tampaknya kita harus ganti tempat untuk makan lebih enak,"

Kata Bwe Kim-soat dengan tersenyum Lamkiong Peng juga tersenyum, ucapnya.

"Bagaimana Yu-jiya, bolehkah kami membawa peti ini ke sana."

Dengan sendirinya anak buahnya takkan membiarkan sang majikan muda mengangkat peti mati sendiri, segera kuasa Koai-cip-lau menyela.

"Silakan Kongeu pindah dulu ke tempat sendiri, sebentar hamba akan menyuruh orang mengangkat peti ke sana."

Diam-diam ia pun heran untuk apakah majikan muda membawa sebuah peti mati kian kemari.

Dengan sendirinya ia tidak berani bertanya.

Lamkiong Peng tersenyum, ia mengeluarkan sebuah kantung sutera kecil dan dilemparkan ke atas meja, katanya kepada orang tua pemilik warung.

"Inilah uang makan kami .... Satu-dua hari lagi tentu akan kuatur pekerjaan baik bagimu, di bawah pimpinanmu, kuyakin Koai-cip-lau akan melayani setiap pengunjungnya dengan lebih ramah tamah."

Tanpa menunggu terima kasih si orang tua, segera ia melangkah pergi bersama Bwe Kim-soat.

Dengan sendirinya orang yang berkerumun juga lantas bubar.

Orang tua ini berdiri melenggong di dekat pintu, rasanya seperti habis mimpi saja.

Ia duduk di tepi meja dan membuka kantung kecil itu, seketika cahaya gemerdep serupa sinar matahari menyilaukan matanya.

Isi kantung adalah empat biji mutiara hampir sebesar jari.

Rezeki nomplok ini sungguh datangnya terlalu mendadak, seketika ia terkesima.

Sekonyong-konyong terdengar suara keriatkeriut yang perlahan, waktu ia menoleh, seketika ia melongo, darah serasa membeku.

Tanpa terasa kantung sutera kecil itu tersampar jatuh ke lantai, keempat biji mutiara pun menggelinding keluar dan berhenti di samping peti mati yang tertaruh di pojok sana.

Suara keriat-keriut itu rupanya suara terbukanya tutup peti mati, dilihatnya seorang Tojin berjubah hijau dan berlumuran darah merangkak keluar dari dalam peti.

Di bawah cahaya lampu yang guram muka si Tojin kelihatan beringas menakutkan.

Saking ngerinya si kakek berdiri seperti patung dengan kaki gemetar.

Belum lagi dia sempat menjerit, tahu-tahu Tojin berdarah itu menubruk tiba, jarinya yang kuat serupa kaitan mencekik leher si kakek.

Hanya sempat terjadi rontakan sedikit, lalu semuanya kembali sunyi lagi.

Si kakek roboh terkulai.

Tojin itu celingukan kian kemari, untung di situ tiada orang lain lagi, semuanya sudah ikut pergi menyaksikan kegantengan Lamkiong-kongeu yang termasyhur itu.

Ia menghela napas lega dan buru-buru naik ke atas loteng, ia tukar pakaian milik si kakek, lalu dengan langkah agak sempoyongan ia menyelinap keluar warung makan itu meninggalkan si kakek yang rebah di samping peti mati bersama empat biji mutiara ....

***** "Putra pewaris keluarga Lamkiong datang ke Limcong,"

Berita ini telah menggemparkan segenap lapisan masyarakat kota ini.

Di Koai-cip-lau diadakan pesta penyambutan yang meriah, banyak tokoh dari berbagai golongan sama mohon bertemu.

Tapi di tengah keramaian itu, diam-diam pemuda itu mengeluyur keluar dari Koai-cip-lau dan mendatangi lagi warung makan di gang kecil itu.

Ia menjadi heran juga setiba di gang itu, di situ juga penuh berkerumun orang banyak.

Cepat ia memburu ke situ dan menyelinap di tengah berjubel orang banyak untuk melongok apa yang terjadi, dengan sendirinya terlihat olehnya adegan yang mengenaskan itu.

Jika seekor burung mati saja dipendam dengan baik oleh Lamkiong Peng, apalagi jenazah seorang tua yang kematiannya dapat diduga karena perbuatannya.

Maka esoknya berlangsunglah upacara penguburan yang ramai, iringan pelayat panjang serupa barisan.

Sudah barang tentu semua itu berkat kehormatan Lamkiong-kongeu belaka, kereta jenazah menuju ke tempat pemakaman di Se-an, sebuah kota kuno di sebelah barat Limcong.

Tidak jauh iringan kereta jenazah keluar Limcong, tiba-tiba dari depan berlari datang seorang lelaki kekar dengan pakaian berkabung, sesudah dekat dan melihat Lamkiong Peng berada di samping kereta jenazah, langsung ia berlutut dan menyembah.

Selagi Lamkiong Peng merasa bingung, lelaki berbaju putih itu sudah bertutur.

"Hamba Gui Sing-in, berkat bimbingan Kongeu, saat ini memimpin perusahaan di Se-an ...."

"Baiklah, bicara saja nanti, saat ini bukan waktunya untuk bicara urusan perusahaan,"

Kata Lamkiong Peng. Dengan gugup Gui Sing-in menyambung lagi.

"Tapi ... tapi hamba ingin melaporkan tentang sesuatu peristiwa yang bersangkutan dengan pemakaman ini ...."

Baru sekarang Lamkiong Peng tertarik, cepat ia tanya.

"Memangnya terjadi peristiwa apa?"

Maka Gui Sing-in melapor lagi.

"Ketika hamba kemarin mendapat kabar maksud Kongeu akan mengadakan pemakaman ini, serentak hamba menyiapkan sesajian yang diperlukan untuk mengadakan sembahyangan di tengah jalan. Siapa tahu secara kebetulan di Se-an juga ada peristiwa pemakaman secara besar-besaran sehingga hampir seluruh barang sembahyang sebangsa hiosoa, lilin, kertas bakar dan sebagainya terborong habis, untung dengan harga lipat barulah hamba mendapatkan sedikit untuk keperluan sekadarnya."

"Sekadarnya pun sudah cukup, bikin susah saja kepada kalian,"

Ujar Lamkiong Peng.

"Terima kasih atas kebijaksanaan Kongeu,"

Kata Gui Sing-in.

"Karena khawatir kereta jenazah akan lewat lebih dulu, maka semalam juga hamba sudah siap di sini dengan meja sembahyang, menjelang subuh tadi, mendadak debu mengepul di kejauhan, hamba mengira kereta jenazah telah tiba, siapa tahu yang muncul adalah beberapa penunggang kuda yang semuanya memakai seragam hitam, ikat kepala hitam, bahkan segala sesuatu yang mereka bawa juga serbahitam. Kulihat pada pelana kuda mereka membawa sebuah panji merah kecil, semuanya kelihatan habis menempuh perjalanan jauh, sikap mereka tampak gelisah dan tidak sabar lagi."

Lamkiong Peng terkesiap, pikirnya.

"Mungkinkah para penunggang kuda itu adalah anak buah Suma Tiong-thian dari Ang-ki-piaukiok (perusahaan pengawalan panji merah)?"

Didengarnya Gui Sing-in menyambung lagi penuturannya.

"Begitu hamba melihat dandanan kawanan penunggang kuda itu, segera hamba tahu mereka bukan orang baik-baik, maka sedapatnya kami menghindarinya."

Diam-diam Lamkiong Peng merasa kurang senang oleh komentar Gui Sing-in itu, jika benar mereka orang dari Ang-ki-piaukiok, kenapa disangka bukan orang baik-baik? "Tak terduga,"

Demikian Gui Sing-in menyambung lagi.

"begitu melihat rombongan hamba, kawanan penunggang kuda itu lantas melompat turun dan sama berlutut sambil berseru, 'Maaf, Loyacu, kami datang terlambat,' Malahan ada di antaranya lantas menangis sedih."

Lamkiong Peng melenggong, ia heran apakah dugaannya juga keliru? Terdengar Gui Sing-in menutur pula.

"Selagi hamba terheran-heran dan ingin tanya mereka datang melayat bagi siapa, tak tahunya kawanan penunggang kuda itu pun sudah sempat melihat tulisan pada meja sembahyang, mereka menjadi gusar dan berbangkit, kontan mereka mencaci maki."

"Dengan sendirinya hamba tidak rela, kukatakan kalian yang salah lihat, kenapa menyalahkan orang lain. Rupanya mereka menjadi kalap, tanpa bicara lantas menyerang, hamba sekalian tidak mampu melawan mereka, sebagian saudara terhajar hingga babak belur dan sudah dibawa pulang untuk dirawat. Kawanan penunggang itu lantas pergi dan beginilah, mohon Kongeu memaafkan."

Lamkiong Peng memandang sekejap ke meja sembahyang yang berada di tepi jalan, beberapa lelaki yang berlutut itu tampak benjut dan mata biru, meski tidak parah, tapi cukup mengenaskan.

Lamkiong Peng tetap tenang saja, ia suruh Gui Sing-in dan kawannya berbangkit dan sembahyang penyambutan dilakukan dengan sederhana, lalu iringan kereta jenazah meneruskan perjalanan.

Mendadak timbul pikiran Lamkiong Peng.

"Angki-piaukiok itu adalah perusahaan tua dan cukup terkenal di dunia persilatan, Thi-cian-ang-ki (tombak baja panji merah) Suma Tiong-thian juga terkenal luhur budi, setiap anak buahnya tidak mungkin berbuat kasar begitu, mungkin telah terjadi salah paham. Bukan mustahil pula beberapa pegawaiku ini yang kurang sopan sehingga membikin marah orang lain."

Dia memang pemuda bijaksana, segala sesuatu selalu ditinjau secara adil, sebelum mencela orang lain, periksa dulu kesalahan pihak sendiri.

Kota kuno Se-an semakin dekat, tiba-tiba timbul lagi pikirannya.

"Kawanan penunggang kuda berpanji merah itu datang melayat secara terburuburu, entah kaum Cianpwe siapa di daerah ini yang wafat. Ai, akhir-akhir ini berturut-turut beberapa jago tua telah meninggal dunia, dunia persilatan semakin sedikit tokoh yang bijaksana, bulan mustahil akan timbul lagi kekacauan di dunia Kangouw."

Perasaannya menjadi tertekan dan masygul.

Selagi melamun, tiba-tiba terdengar suara bentakan orang di depan sana, hanya sekejap saja beberapa orang muncul dan berdiri sejajar merintangi jalan kereta.

Seorang yang menjadi pemimpinnya berbaju merah, tapi bermuka pucat, mata bersinar, ia tatap Lamkiong Peng dan menegur.

"Hendaknya saudara berhenti dulu!"

Terpaksa iring-iringan kereta berhenti, hanya suara musik yang sendu memilukan tetap bergema. Lamkiong Peng memandang orang-orang itu sekejap dan menjawab.

"Ada petunjuk apa?"

Orang berbaju merah itu memandang sekejap iringan kereta jenazah di belakang Lamkiong Peng, lalu berkata pula.

"Agaknya Anda inilah penanggung jawab pada iringan ini?"

Lamkiong Peng mengiakan.

"Jika begitu, ingin kumohon sesuatu ...."

"Silakan bicara!"

"Yakni mengenai iringan kereta jenazah kalian ini dapatlah memutar ke pintu gerbang barat saja?"

Lamkiong Peg terdiam sejenak, lalu berkata.

"Bukankah gerbang timur sudah dekat di depan?"

"Betul di depan adalah gerbang timur,"

Jawab orang itu, ujung mulutnya menampilkan senyuman yang angkuh.

"Tapi di gerbang timur sana saat ini banyak kawan Kangouw sedang mengadakan sembahyangan untuk menghormati seorang Bulim-cianpwe, apabila saudara tidak berputar ke gerbang barat, tentu tidak leluasa."

Kening Lamkiong Peng bekernyit.

"Jika kuganti arah jalan tentu juga akan kurang leluasa. Jalan raya cukup lebar dan dapat dilalui siapa pun, hendaknya maafkan tak dapat kuturut permintaanmu."

Orang berbaju merah itu tampak kurang senang, ia pandang Lamkiong Peng sekejap, lalu berucap pula.

"Aku sih tidak menjadi soal bila saudara tidak mau berganti arah, tapi para sahabat yang di sana itu rasanya sukar untuk diajak bicara ...."

Ia merandek sambil menengadah, tanpa menunggu tanggapan Lamkiong Peng, ia menyambung lagi.

"Hendaknya kau pikir sendiri, apabila yang meninggal itu bukan tokoh Kangouw terkemuka, mustahil sahabat Kangouw mau mengadakan upacara penghormatan terakhir baginya di sini. Dan upacara besar-besar ini masa boleh diganggu oleh iringan kereta jenazah lain. Maka, kuharap sebaiknya saudara mengambil jalan putar saja."

Diam-diam Lamkiong Peng kurang senang, katanya.

"Dunia persilatan mengutamakan keluhuran budi dan setia kawan, apalagi membela yang besar dan menindas yang kecil, tentu takkan dibenarkan oleh mendiang tokoh besar yang kalian puja itu. Apalagi, kalau bicara tentang nama dan kedudukan, melulu peti mati di atas kereta kami ini pun tidak perlu harus mengalah dan mengambil jalan lain."

Orang berbaju merah itu menatap Lamkiong Peng sejenak, mendadak ia tersenyum, katanya.

"Baiklah, jika Anda tidak mau terima nasihatku, terpaksa aku tidak ikut campur lagi."

Segera ia membalik tubuh dan melangkah pergi. Tak terduga seorang lelaki kekar di sampingnya mendadak berteriak.

"Yim-toako tidak mau ikut campur, biarlah aku Sih Po-gi yang ikut campur. Kubilang, wahai sahabat, putarlah ke arah lain!"

Berbareng itu sebelah tangannya terus mendorong pundak Lamkiong Peng. Air muka Lamkiong Peng berubah, dengan gesit ia hindarkan tolakan orang, bentaknya.

"Selamanya kita tidak ada permusuhan, mengapa kau main kekerasan?"

"Hahaha,"

Lelaki itu terbahak.

"Kubilang sebaiknya kau putar ke jalan lain, sahabat cilik, tentu paman Sih takkan membikin susah padamu."

Sembari bicara kembali dia mendesak maju, tangannya meraih pula hendak memegang bahu Lamkiong Peng.

Namun anak muda itu mendadak mengegos, secepat kilat sebelah tangannya balas meraih pergelangan tangan lawan, sekali sengkelit kontan Sih Po-gi terbanting roboh.

Tentu saja beberapa kawannya terkejut, beramai-ramai mereka lantas menerjang maju.

Syukurlah pada saat itu juga si baju merah yang disebut "Yim-toako"

Tadi muncul kembali bersama dua orang tua berbaju hitam dan menyerukan agar pertarungan dihentikan.

"Hm, main kerubut, apakah tidak kenal peraturan Bu-lim lagi?"

Jengek Lamkiong Peng terhadap si baju merah.

"Hebat juga kepandaian saudara cilik ini, rupanya juga orang golongan kita."

Kata si baju merah.

"Jika begitu urusan menjadi mudah dibicarakan. Kuperkenalkan lebih dulu kedua tokoh kita ini ...."

Lalu ia tuding kakek baju hitam sebelah kiri yang bertubuh lebih tinggi dan berkata pula.

"Inilah salah seorang dari Bin-san-ji-yu (dua sahabat dari gunung Bin) yang dulu terkenal sebagai Thi-ciang-kim-kiam (telapak besi pedang emas sakti) Tiangsun Tan, Tiangsun-toasiansing."

Kakek baju hitam yang disebut itu berdiri diam saja. Maka si baju merah menunjuk lagi kakek yang lain, katanya.

"Dan ini dengan sendirinya ialah Keng-hun-siang-kiam (si pedang penggetar sukma) Tiangsun Kong, Tiangsun-jisiansing."

Lamkiong Peng memberi hormat dan merasa heran mengapa kedua pendekar pedang yang terkenal berwatak nyentrik ini juga bisa muncul di sini, untuk apa pula si baju merah menonjolkan mereka kepadanya?

Didengarnya si baju merah berucap pula dengan tersenyum.

"Diriku memang kaum keroco yang tidak bemama, tapi bila kedua Tiangsun-locianpwe ini pun jauh-jauh datang melayat ke sini, memangnya berapa orang Kangouw yang mempunyai kehormatan sebesar ini, masakah saudara cilik ini tidak dapat menerkanya?"

Pada saat itu juga sebuah kereta kuda putih dengan tabir terurai telah melampaui iringan pelayat dan berada tidak jauh di belakang Lamkiong Peng, tapi anak muda itu belum lagi mengetahui, ia sedang berpikir.

"Ya, siapakah tokoh besar yang mati ini, sampai Bin-san-ji-yu juga datang melawat?"

Tanpa terasa ia tersenyum getir, lalu menjawab.

"Agaknya pengalamanku terlalu cetek sehingga tidak dapat menerkanya, mohon Anda sudi memberi penjelasan."

Mendadak air muka si baju merah berubah serius dan khidmat, ucapnya dengan menyesal.

"Kematian tokoh ini bagi orang Kangouw serupa meninggalnya orang tua mereka, setiap orang merasa kehilangan sandaran. Beliau tak lain tak bukan adalah jago yang terkenal dengan pedang Yap-siang-jiu-loh, Put-si-sin-liong Liong-loyacu .... Nah, sebagai sesama orang dunia persilatan, sekarang tentu saudara takkan keberatan untuk memutar ke jalan lain, bukan?"

Seketika Lamkiong Peng berdiri mematung dan tidak sanggup bersuara. Si baju merah merasa heran juga melihat sikap Lamkiong Peng yang serupa orang linglung itu, tegurnya.

"Eh, apakah saudara juga kenal Liongloyacu ini ...."

Mendadak Lamkiong Peng menjura padanya, habis ini mendadak ia berlari ke arah Se-an secepat terbang.

Tentu saja Bin-san-ji-yu melengak, serentak mereka pun hendak bergerak.

Tapi si baju merah lantas mencegahnya.

"Tidak perlu mengejarnya. Tampaknya perguruan anak muda ini pasti ada sangkut pautnya dengan Put-si-sin-Liong, kepergiannya tentu tidak bermaksud jahat, bisa jadi akan ikut bersembahyang."

Dalam pada itu Lamkiong Peng sedang berlari ke depan, hanya sekejap saja bayangan benteng kuno sudah tertampak di sana, di kaki tembok benteng tampak penuh berdiri orang berseragam hitam, semuanya memegang dupa dan antre memberi penghormatan terakhir pada meja sembahyang.

Seorang kakek tinggi besar tampak berdiri di tengah orang banyak dengan sikap khidmat, mendadak ia berteriak.

"Selama hidup Put-si-sinliong terkenal gagah perkasa, untuk keperwiraannya, marilah kita bersorak lagi baginya!"

Dan serentak terdengar orang bersorak gemuruh seperti suara yang didengar Lamkiong Peng dalam perjalanan tadi.

Dada Lamkiong Peng terasa bergejolak, entah duka atau gembira, tapi ia masih terus berlari menuju ke depan.

Belasan orang merasa kaget ketika mendadak seorang pemuda menyelinap lewat di antara mereka, serentak mereka membentak dan ada yang berusaha merintangi.

Namun segesit belut Lamkiong Peng terus menyelinap maju.

"Kurang ajar!"

Gerutu si kakek tinggi besar tadi demi melihat anak muda ini berani main terobos begitu saja di tengah suasana khidmat ini.

Selagi dia hendak memerintahkan orang membekuk Lamkiong Peng, tiba-tiba dua orang di sampingnya memberi kisikan, seketika lenyaplah rasa gusarnya.

Dalam pada itu Lamkiong Peng sudah menerjang sampai di depannya dan memberi hormat kepada si kakek.

Gemerdep sinar mata si kakek, tanyanya.

"Apakah kau ini murid kelima Put-si-sin-liong, Lamkiong Peng?"

Suaranya lantang berkumandang sehingga dapat didengar orang banyak.

Tentu saja semua orang melengak heran.

Maklumlah, selama Lamkiong Peng masuk ke perguruan Put-si-sin-liong memang belum pemah berkecimpung di dunia Kangouw, dengan sendirinya para kesatria tidak mengenalnya.

Meski ada di antaranya yang mengetahui dia adalah murid ahli waris Put-si-sin-liong.

Lamkiong Peng sendiri juga terheran-heran, dari manakah kakek ini dapat mengenalnya, namun lantas dijawabnya dengan hormat.

"Wanpwe memang Lamkiong Peng adanya!"

Alis si kakek menegak, katanya dengan bengis.

"Jika benar kau anak murid Sin-liong, masakah tidak tahu kami sedang mengadakan upacara sembahyang bagi arwah gurumu? Mengapa sembarangan bertingkah di sini dan mengganggu kekhidmatan suasana."

Dengan prihatin Lamkiong Peng memberi hormat lagi, lalu berseru lantang.

"Atas penghormatan para Cianpwe terhadap guruku, sungguh Wanpwe sangat berterima kasih dan takkan melupakan budi kebaikan ini. Namun ...."

Mendadak ia menyapu pandang para hadirin, lalu berteriak terlebih lantang.

"Ketahuilah bahwa sesungguhnya guruku belum meninggal ...."

Belum habis ucapannya terdengarlah pekik orang banyak. Dengan melotot si kakek tinggi besar juga melengak, katanya.

"Put-si-sin-liong belum mati katamu?"

Mendadak ia membalik tubuh dan berteriak.

"Li Sing, Ong Pun, kemari sini!"

Waktu Lamkiong Peng memandang ke sana, tertampaklah dari belakang si kakek muncul dua orang berbaju hitam dengan perawakan kekar, ternyata kedua orang ini adalah penggotong peti mati dari Ci-hau-san-ceng itu.

Rupanya sejak Lamkiong Peng meninggalkan mereka untuk mengikuti jejak si Tojin, Liong Hui, Ciok Tim, Kwe Giok-he dan Koh Ih-hong juga naik lagi ke puncak Hoa-san untuk mencari sang guru, karena menunggu sekian lama tidak ada sesuatu kabar berita, kedua orang ini lantas turun sendiri ke bawah gunung.

Karena mengambil jalan besar, ketika sampai di kaki gunung, tertampaklah berbagai jago silat sama menunggu di situ.

Rupanya berita tentang pertandingan antara Put-si-sin-liong dan Put-lotan-hong di puncak Hoa-san telah tersiar sehingga menarik perhatian kawanan jago silat itu untuk menyusul kemari dan ingin mengetahui hasil pertandingan itu.

Cuma mereka pun kenal watak Put-si-sin-liong maka tidak ada seorang pun berani sembarangan naik ke atas.

Karena itulah berita yang dibawa kedua orang penggotong peti mati itu sangat menggemparkan kawanan jago Bu-lim itu, Berita itu adalah Tan-hong sudah mati, Put-sisin-liong juga terjebak oleh tipu muslihat murid Tan-hong dan meninggalkan surat wasiat.

Kini anak murid Sin-liong juga sudah tercerai-berai.

Meski berita tidak benar dan juga agak dilebihlebihkan, namun dengan cepat lantas tersiar dan menggemparkan dunia persilatan, terutama beberapa propinsi di sekitar tempat kejadian.

Di daerah barat laut ini ada seorang gembong persilatan dan juga kaya raya, namanya Wi Ki berjuluk Hui-goan atau si gelang terbang, karena pengaruhnya yang besar di wilayah ini, dia juga terkenal sebagai Sai-pak-sin-liong atau si naga sakti daerah barat laut.

Orang Kangouw yang jail ada juga yang menyindirnya sebagai "naga gadungan", tapi Wi Ki tidak ambil pusing, ia sendiri sangat kagum dan hormat terhadap Put-si-sinliong.

Maka berita kemalangan Liong Po-si itu juga sangat mengejutkan dia.

Segera ia mengumpulkan para ago silat untuk mengadakan sembahyang bagi arwah Put-si-sin-liong di kota kuno Se-an ini.

Setiap jago silat yang mendengar berita itu serentak juga ikut menyusul ke sini.

Yang menambah semarak upacara ini adalah hadirnya tokoh-tokoh yang biasanya cuma terdengar tapi jarang kelihatan, yaitu Ban-li-liu-hiang Yim Hongpeng bersama Bin-san-ji-yu, ketiganya juga ikut hadir.

Begitulah demi melihat kedua penggotong peti mati dari Ci-hau-san-ceng barulah Lamkiong Peng tahu duduk perkara, rupanya memang telah terjadi salah paham, pikirnya.

"Pantas berita kematian Suhu diketahuinya, pantas juga dia tahu namaku, kiranya atas keterangan kedua orang ini."

Dalam pada itu dengan gusar Wi Ki lagi membentak terhadap Li Sing dan Ong Pun.

"Berita tentang meninggalnya Put-si-sin-liong berasal dari kalian, bukan? Li Sing dan Ong Pun mengiakan sambil menunduk.

"Tapi mengapa Go-kongeu kalian menyatakan Sin-liong belum lagi meninggal?"

Teriak Wi Ki. Li Sing saling pandang sekejap dengan Ong Pun dan tidak dapat menjawab.

"Apakah kalian menyaksikan sendiri Sin-liong sudah mati?"

Desak Wi Ki. Kepala kedua orang itu tertunduk lebih rendah, dengan takut dan gelagapan Li Sing menjawab.

"Hamba ... hamba ... tidak ...."

"Budak kurang ajar!"

Bentak Wi Ki dengan gusar.

"Kalau tidak melihat sendiri, kenapa berani sembarangan omong sehingga membikin malu padaku seperti sekarang ini?"

Saking gusarnya, sebelah tangannya menyapu sehingga macam-macam barang sembahyang tersampar jatuh. Li Sing dan Ong Pun tetap menunduk dengan muka pucat.

"Locianpwe jangan marah dulu,"

Seru Lamkiong Peng.

"hal ini juga tidak dapat menyalahkan mereka ...."

"Bukan mereka yang disalahkan, memangnya salahku?"

Kata Wi Ki dengan gusar.

"Bila Put-sisin-liong datang nanti, bukankah aku yang akan dituduh sengaja mengutuki dia supaya lekas mati?!"

Meski kakek ini sudah lanjut usia, tapi wataknya masih keras dan pemberang, baru sekarang Lamkiong Peng tahu kiranya orang tua inilah si gelang terbang Wi Ki, tampaknya memang rada mirip gurunya, pantas orang Kangouw memberi julukan sebagai si naga sakti dari barat laut, hanya saja perangainya tidak sehalus sang guru.

Maka ia berkata pula.

"Peristiwa ini agak panjang untuk diceritakan, sama sekali tidak ada maksud Wanpwe akan menyesali tindakan Locianpwe ini, sebaliknya Wanpwe merasa berterima kasih atas maksud baik Locianpwe."

Wi Ki mengelus jenggotnya, dipandangnya Lamkiong Peng sejenak, lalu ia berpaling kepada Ong Pun berdua, serunya sambil memberi tanda.

"Baiklah, boleh kalian pergi!"

Cepat kedua orang itu memberi hormat, lalu mengundurkan diri. Selagi Lamkiong Peng hendak bicara pula, sekonyong-konyong dari belakang sana bergema suara orang tertawa.

"Haha, kiranya saudara ini adalah murid kesayangan Sin-liong, sungguh beruntung sekali begitu menginjak daerah Tionggoan segera dapat bertemu dengan kesatria muda perkasa seperti ini ...."

Lamkion Peng terkejut dan berpaling, terlihatlah si baju merah tadi telah muncul pula dengan memegang sebuah kipas lempit, yang datang bersamanya bukan lagi Bin-san-ji-yu melainkan dua orang muda-mudi, ternyata Toaso dan Samsuheng sendiri, yaitu Kwe Giok-he dan Ciok Tim.

Sambil menggoyangkan kipasnya si baju merah berkata pula dengan tertawa.

"Yang lebih menggembirakan orang she Yim ternyata secara tidak sengaja dapat kutemui pula kedua murid kesayangan Sin-liong yang lain. Nah, inilah, siapa mereka berdua, ini tentu kalian sudah tahu!"

Munculnya Kwe Giok-he dan Ciok Tim dengan sendirinya menimbulkan kegemparan pula. Wi Ki lantas menyapa juga.

"Aha, tak tersangka Yim-tayhiap membawa datang lagi dua orang murid kesayangan Sin-liong .... Ah, kalian tentulah Ci-hau-siang-kiam yang akhir-akhir ini sangat terkenal di dunia persilatan."

Ciok Tim tampak kikuk, sedangkan Giok-he lantas memberi hormat dan menjawab.

"Terima kasih atas pujian Locianpwe ...."

Dalam pada itu Lamkiong Peng lantas ikut bicara.

"Inilah Toaso kami dan yang itu Samsuheng, Ciok-suheng."

"O, rupanya inilah nyonya si lelaki baja yang termasyhur itu,"

Seru Wi Ki dengan tertawa.

"Nyata setiap anak murid Sin-liong memang lain daripada yang lain."

"Ah, betapa pun kami tidak dapat membandingi Lamkiong-sute,"

Ujar Giok-he dengan tersenyum..

Lamkiong Peng lagi heran mengapa hanya Giokhe dan Ciok Tim saja yang muncul di sini, lalu ke mana perginya Liong Hui dan So-so?

Belum sempat dia mengajukan pertanyaan Wi Ki berkata pula dengan terbahak.

"Baiklah sekarang ingin kutanya kepada kalian, jika Sin-liong belum meninggal, ke mana perginya beliau sekarang?"

Lamkiong Peng termenung dan berusaha mencari alasan untuk menjawab, tiba-tiba Kwe Giok-he mendahului bicara.

"Suhu memang sangat mungkin masih hidup dengan baik, cuma di mana jejak beliau sekarang kami pun tidak tahu."

Wi Ki terbelalak heran. Didengarnya Giok-he berkata pula.

"Semalam kami sibuk mencari jejak Suhu di atas gunung, kami juga mengkhawatirkan keselamatan Gosute ...."

"O, jadi dia tidak berada bersama kalian?"

Tanya Wi Ki dengan kening bekernyit. Giok-he mengiakan dengan menghela napas perlahan. Wi Ki tampak kurang senang, tegurnya kepada Lamkiong Peng.

"Jika jejak gurumu belum lagi diketahui, bukannya kau cari tahu keselamatannya, sebaliknya kau sibuk mengurusi orang mati di sini, hm, murid macam apakah kau ini?"

Lamkiong Peng melenggong, seketika memang sukar baginya untuk memberi penjelasan, terutama hal-hal yang menyangkut nama baik sang guru, mana dapat diuraikan begitu saja. Tapi Giok-he lantas berkata.

"Usia Gosute masih muda, pula ...."

Ia menghela napas seperti merasa dapat memaklumi apa yang dilakukan sang Sute. Wi Ki mendengus dan tidak memandang Lamkiong Peng lagi, katanya pula.

"Si lelaki baja Liong Hui pun sudah lama kudengar namanya, mengapa tidak kelihatan juga?"

Karena merasa tidak bersalah, maka dada Lamkiong Peng cukup lapang, ia tidak menghiraukan sikap Wi Ki dan ucapan Kwe Giokhe yang bersifat negatif itu, ia pikir.

"Memang ingin kutanya keadaan Liong-toako, kebetulan sekarang orang tua ini telah mendahului bertanya bagiku."

Melihat kecanggungan di antara anak murid Putsi-sin-liong itu, diam-diam tokoh kosen dari luar perbatasan, Ban-li-liu-hiang (meninggalkan nama harum beribu li) Yim Hong-peng, menaruh perhatian, ia pikir apakah di antara anak murid Sin-liong ini terjadi pertentangan atau persaingan, mengapa ketiganya tidak ada kesatuan ucapan dan perbuatan?

Dalam pada itu Giok-he telah menjawab dengan menghela napas.

"Toako bersama Sumoay berjalan di belakang, kukira sebentar ... sebentar dapat menyusul kemari."

Sudah tentu apa yang dikatakan Giok-he ini hampir tidak pemah terjadi sebelum ini, dengan sendirinya Lamkiong Peng merasa heran dan sangsi.

Dengan kening bekernyit Wi Ki hendak bertanya lagi, pada saat itulah sebuah kereta kuda kecil bertabir kain putih tampak muncul di tengah kerumunan orang banyak.

Penumpang kereta tidak kelihatan, hanya sebuah tangan putih halus terjulur keluar dari balik tabir memegangi tali kendali.

Air muka Lamkiong Peng agak berubah.

Giok-he memandangnya sekejap, lalu berucap dengan tersenyum.

"Eh, adik keluarga manakah penumpang kereta ini, apakah Gote kenal dia?"

Belum habis ucapannya, tabir kereta mendadak tersingkap, tertampaklah seorang perempuan mahacantik berduduk di dalam kereta, ia menyapu pandang sekejap semua orang, lalu menatap Lamkiong Peng dan bertanya.

"Hei, sudah selesai belum percakapan kalian?"

Tentu saja semua silau oleh kecantikan perempuan penumpang kereta ini, seketika beratus pasang nyata sama terpusat ke arahnya.

"Ah, tadi kukira Gote pergi ke mana, kiranya ...."

Giok-he tersenyum, lalu menyambung lagi.

"Wah, alangkah cantiknya adik ini. Sungguh engkau sangat hebat, Gote, baru satu hari saja sudah berkenalan dengan seorang nona secantik bidadari, tampaknya kalian sudah sedemikian mesranya."

Tiba-tiba Wi Ki mendengus.

"Yim-tayhiap, Cioksiauhiap, hendaknya nanti kalian sudi mampir ke kediamanku untuk sekadar berbincang-bincang lagi, sementara ini kumohon diri lebih dulu."

Lalu ia pun memberi hormat kepada para hadirin dan berseru lantang.

"Atas kesudian para hadirin berkunjung kemari dari jauh, marilah suka mampir juga ke dalam kota untuk minum beberapa cawan sekadar pelepas lelah."

Habis bicara ia lantas melangkah pergi di tengah berjubelnya orang banyak.

Para hadirin juga lantas ikut bubar dan beramairamai masuk ke kota Se-an.

Menghadapi sikap dingin orang, hati Lamkiong Peng rada penasaran, cuma sukar untuk memberi penjelasan.

Giok-he tersenyum senang, setelah Wi Ki pergi jauh, perlahan ia mendekati kereta, sapanya.

"Siapakah nama adik yang terhormat ini? Ada keperluan apa kiranya engkau mencari Gote kami?"

Bwe Kim-soat duduk diam saja di tempatnya dan memandangnya dengan tak acuh, sama sekali tidak menghiraukan pertanyaannya. Cepat Lamkiong Peng mendekati dan memperkenalkan mereka.

"Inilah Toaso kami dan nona Bwe ini ...."

Dengan sendirinya ia tidak dapat menjelaskan asal-usul Bwe Kim-soat.

"O, kiranya nona Bwe, sungguh kami ikat bergembira Gote dapat berkenalan dengan nona Bwe,"

Kata Giok-he dengan tersenyum. Tiba-tiba Kim-soat mendengus.

"Hm, si kakek pergi begitu saja, tentu kau sangat senang?"

Giok-he jadi melengak.

Betapa pun Lamkiong Peng tetap menghormati sang Toaso, ia pun tahu watak Bwe Kim-soat, maka ia menjadi serbasalah melihat di antara keduanya tidak ada kecocokan, cepat ia menyela dengan urusan lain, tanyanya "Toaso, di mana Toako?"

Mendadak Giok-he melengos dan menjawab ketus.

"Tanyakan saja kepada Sumoay."

Lamkiong Peng jadi melenggong, ia heran mengapa orang menjawab cara begitu.

Pada saat itu juga mendadak dua sosok bayangan orang melayang tiba dan berhenti di depan kereta, kiranya kedua jago pedang Kongtong-pay, Bin-san-ji-yu.

Dengan sorot mata tajam mereka mengawasi Bwe Kim-soat, sampai sekian lama barulah Tiangsun Kong berucap.

"Sudah belasan tahun, tak tersangka sekarang dapat melihat lagi seraut wajah ini."

Tiangsun Tan lantas bertanya.

"Apakah nona she Bwe?"

Terkesiap Lamkiong Peng, ia heran mengapa orang dapat mengenal Bwe Kim-soat.

Dan ternyata Kim-soat lantas mengangguk.

Air muka kedua saudara Tiangsun berubah masam, dengan jari agak gemetar Tiangsun Kong menuding dan membentak.

"Bwe ... Bwe Kim-soat .... Turun sini!"

Giok-he terkejut, ia berpaling memandang Lamkiong Peng dan bertanya.

"Masa dia Leng-hiat Huicu Bwe Kim-soat? Dengan sendirinya Lamkiong Peng menjadi gugup, belum lagi dia bersuara, dilihatnya Bwe Kim-soat telah menjawab dengan santai.

"Siapa Bwe Kim-soat dan Bwe Kim-soat itu siapa?"

Kedua Tiangsun bersaudara saling pandang sekejap, timbul rasa ragu mereka.

Belasan tahun yang lalu mereka berdua pemah dihina dan dipermainkan Leng-hiat Huicu Bwe Kim-soat, dendam itu sampai kini belum lagi lenyap.

Tapi setelah belasan tahun, mustahil wajah Bwe Kimsoat sama sekali berubah?

Tiba-tiba Yim Hong-peng menyela dengan tersenyum.

"Kong-jiok Huicu sudah termasyhur sejak belasan tahun yang lalu, sedangkan nona ini paling banyak baru berusia 20-an, apakah kedua Tiangsun-heng tidak salah mengenalnya?"

Bekernyit juga kening kedua Tiangsun bersaudara, kata Tiangsun Kong dengan tergagap.

"Ya, kami pun mendengar Bwe Kim-soat sudah mati di bawah pedang Put-si-sin-liong, soalnya orang ini ... orang ini mengaku she Bwe, wajahnya juga mirip ...."

Tiangsun Tan lantas menegas lagi.

"Kau pun she Bwe, apakah tidak ada hubungan dengan Bwe Kim-soat?"

"Di dunia ini ada berjuta orang she Bwe, apakah semua orang she Bwe pasti ada sangkut pautnya dengan dia?"

Jawab Kim-soat dengan tak acuh. Melihat kedua Tiangsun bersaudara dalam keadaan salah, cepat Yim Hong-peng menimbrung lagi.

"Di dunia ini memang banyak orang yang she sama dan juga bermuka mirip, pantas juga bila kedua Tiangsun-heng salah mengenal nona, harap nona jangan marah."

"Ah, mana kuberani marah kepada kaum kesatria besar, pendekar pedang temama seperti kalian ini?"

Jawab Kim-soat ketus.

Yim Hong-peng jadi melongo kikuk.

Dalam pada itu Bwe Kim-soat telah menurunkan tabir kereta.

Diam-diam Giok-he merasa sirik melihat kecantikan Bwe Kim-soat dan ketajaman mulutnya, mendadak ia tanya Lamkiong Peng.

"Gote, apakah sekarang engkau akan pulang ke Cihau-san-ceng?"

"Tentu saja, bila urusan di sini sudah beres ...."

Tiba-tiba Lamkiong Peng teringat pada janji tiga bulan lagi masih harus bertemu dengan Yap Manjing di Hoa-san untuk menunaikan tugas yang belum selesai bagi Suhu, juga segera teringat kepada Bwe Kim-soat yang perlu "perlindungan", seketika ia menjadi ragu.

"Toako belum kelihatan menyusul tiba, akan lebih baik bila kau ikut dalam perjalanan kita,"

Ujar Giok-he.

"Tapi ... tapi tiga bulan lagi ...."

Belum lanjut ucapan Lamkiong Peng, tiba-tiba suara Bwe Kim-soat yang ketus menegurnya.

"He, lekas kau selesaikan urusan pemakaman orang tua itu, aku masih harus pesiar ke Kanglam ...."

Giok-he mendengus.

"Kau mau pergi ke Kanglam boleh silakan ...."

"Tapi mungkin aku pun perlu pergi ke sana,"

Tukas Lamkiong Peng.

"Apa katamu? Masakah tidak kau turut kataku, Toako tidak di sini, akulah Toasomu,"

Omel Giok-he dengan kurang senang.

Dia sirik terhadap kecantikan dan kecerdasan Bwe Kim-soat, sungguh ia khawatir Lamkiong Peng didampingi oleh seorang perempuan begini, sebab hal ini tentu akan memengaruhi rencananya, bahkan akan ketahuan rahasia pribadinya, maka sedapatnya ia hendak menahan anak muda itu supaya berada bersamanya.

Lamkiong Peng menjadi serbasusah.

"Kehendak Toaso seharusnya kuturut, cuma ...."

Pada saat itulah seorang lelaki berbaju hitam berlari tiba dan minta petunjuk.

"Kongeu, apakah kereta jenazah langsung menuju ke makam?"

Lamkiong Peng mengiakan, kesempatan ini lantas digunakannya sebagai alasan, katanya kepada Giok-he.

"Siaute perlu mengurus pelayatan lebih dulu, biarlah nanti kita berunding lagi."

Lalu ia memberi hormat dan mohon diri kepada Yim Hong-peng dan segera berlari pergi bersama si baju hitam.

Yim Hong-peng dan Bin-san-ji-yu juga lantas menuju ke Se-an.

Sedangkan kereta kecil yang ditumpangi Bwe Kim-soat lantas mengikut ke arah Lamkiong Peng.

"Toaso, marilah kita mencari ... mencari Toaso dulu,"

Kata Ciok Tim mendadak.

"Hah, barangkali kau rindu kepada Sumoay?"

Jengek Giok-he.

"Anak baik, turutlah padaku, Sekarang kita mampir dulu ke tempat Wi-jitya tadi, kukira Gote nanti juga akan pergi ke sana."

"Tapi ...."

Ciok Tim tergagap, tapi akhirnya mereka pun menuju ke Se-an.

Dalam pada itu cuaca telah mendung, hujan gerimis mulai turun.

Sayup-sayup terdengar suara musik yang sendu di kejauhan ....

***** Se-an, kota kuno yang sekelilingnya cuma gurun tandus belaka memang jarang kejatuhan hujan.

Tapi di bawah hujan kota kuno ini pun tidak tampak kesuraman, sebaliknya menimbulkan gairah hidup.

Bekas kota raja memang sudah tinggal bekasbekasnya saja, terutama bangunan megahnya sudah banyak yang berubah tumpukan puing, hanya kedua menara yang disebut Tai-gan dari Siau-gan (menara belibis besar dan kecil) masih berdiri tegak di bagian barat kota seolah-olah tetap memamerkan kejayaan masa lampaunya.

Tidak jauh dari Tai-gan terdapat perkampungan yang menghijau permai, itulah tempat kediaman Sai-pak-sin-liong Wi-jitya, Wi Ki.

Selewatnya perkampungan ini, tidak sampai satu li akan sampailah di jalan raya berbatu yang menembus ke gerbang timur kota.

Di bawah hujan rintik-rintik, tiba-tiba dari luar kota berlari datang sebuah kereta dan lima penunggang kuda.

Tabir kereta tertutup.

Penunggang kudanya adalah kawanan Tojin (imam agama To) yang rambut disanggul di atas kepala dan diberi tusuk kundai hitam, berjubah kelabu dengan lengan jubah yang longgar.

Keempat penunggang kuda yang mengawal di samping kereta adalah Tojin setengah umur bermuka pucat meski mata bersinar tajam, pedang tergantung di pinggang, kawanan Tojin ini mungkin jarang bertemu dengan sinar matahari, di antara mata alisnya menampilkan rasa keprihatinan.

Seorang lagi yang di depan kereta berwajah kurus kering, rambut ubanan, tidak membawa senjata, baju longgar, tangan yang memegang tali kendali justru putih bersih serupa tangan orang perempuan.

Begitu masuk kota, kelima penunggang kuda dan keretanya langsung lantas menuju ke Bo-liongceng, perkampungan naga sakti tempat kediaman Wi Ki.

Melihat gelagatnya rombongan orang ini seperti ada keperluan mendesak.

Sementara itu suasana Bo-liong-ceng yang dikelilingi pepohonan itu tampak sangat ramai.

Di halaman depan yang biasanya digunakan sebagai lapangan latihan penuh berderet ratusan meja, hampir setiap meja sudah siap beberapa macam santapan lezat sebangsa babi panggang, kambing guling, angsa bakar, itik dan ayam panggang, sudah barang tentu tidak ketinggalan berpuluh guci arak tersedia.

Di atas meja berserakan ratusan pisau belati yang gemilapan di samping mangkuk piring.

Sedangkan tetamu sama bergerombol di sana sini asyik mengobrol.

Sai-pak-sin-liong Wi-jitya muncul dari ruangan tengah, ia berdiri di atas undak-undakan dan berseru lantang.

"Banyak terima kasih atas kesudian para hadirin mengunjungi tempatku yang bobrok ini, orang she Wi tidak dapat melayani satu per satu, terpaksa sekadar menghidangkan apa yang terdapat di sini, hendaknya hadirin makan minum dengan bebas dan santai, tidak perlu sungkan, anggap saja seperti di rumah saudara sendiri. Ayolah silakan!"

Di tengah sorak gemuruh orang banyak Wi Ki mendahului menghampiri meja, disambarnya sebilah belati mengilat, segera ia merobek paha kambing guling dan diiris sepotong dan ditadah dengan sebuah piring.

Serentak tamu yang lain antre menirukan cara bersantap secara bebas dan santai ini.

Di antara tetamu tampak Ban-li-liu-hiang Yim Hong-peng tetap dengan kipas lempitnya, di depannya berdiri Kwe Giok-he dan Ciok Tim.

Dengan membawa guci arak Wi Ki mendekati Yim Hong-peng, sapanya dengan tertawa.

"Yimtayhiap, agaknya tamu dari jauh yang langka sebagai dirimu ini harus minum sampai mabuk denganku."

Yim Hong-peng mengucapkan terima kasih, jawabnya sambil mengernyitkan dahi.

"Nanti dulu! Tamu dari jauh yang langka kukira bukan cuma diriku saja, agaknya kita harus menunggu sebentar lagi."

"Memangnya ...."

Selagi Wi Ki menyatakan keheranannya, mendadak Yim Hong Peng menyurut mundur beberapa tindak.

Pada saat itulah dari luar pagar halaman tibatiba melayang turun sesosok bayangan kelabu, muncul seorang Tojin berambut putih dan berwajah kurus, berjubah kelabu longgar.

Serentak Wi Ki berseru kaget.

"He, Sisuheng (kakak seperguruan keempat), mengapa engkau datang juga?!"

Dengan sorot matanya yang tajam Tojin ubanan itu menatap Yim Hong-peng, ucapnya "Lihai benar mata-telinga sahabat ini!"

"Haha, bagus sekali atas kedatangan Sisuheng ini, suasana pasti akan tambah meriah,"

Kata Wi Ki dengan tertawa.

"Agaknya Sisuheng belum kenal pendekar dari luar perbatasan kita Ban-li-liu-hiang Yim Hong-peng."

"O, kiranya Yim-tayhiap,"

Ucap si Tojin dengan dingin, Hati Giok-he tergetar juga, ia tahu Tojin ini adalah pejabat ketua Cong-lam-pay. Dengan tertawa Yim Hong-peng lantas menjura, sapanya.

"Ah sungguh beruntung sekali hari ini dapat bertemu dengan Cong-lam-kiam-khek Lulocianpwe."

Tojin ini memang betul ketua Cong-lam-pay, namanya Lu Thian-an.

Sejak Cong-lam-sam-gan (ketiga belibis dari Cong-lam-san) gugur dalam pertandingan di Wisan, murid keempat angkatan ketujuh Cong-lampay ini lantas diangkat sebagai pejabat ketua.

Wi Ki sendiri adalah murid ketujuh, sebab itulah orang Kangouw suka menyebutnya sebagai Wi-jitya atau tuan ketujuh.

Sudah sekian tahun Thian-an Totiang tidak meninggalkan Cong-lam-san, sekarang dapat berjumpa, tentu saja Wi Ki sangat senang, serunya.

"Sisuheng, sungguh sangat kebetulan kedatanganmu ini, di sini saat ini hadir sekian banyak kesatria, inilah dua pendekar muda, nona Kwe dan Ciok-siauhiap, keduanya adalah murid kesayangan Put-si-sin-liong."

Giok-he dan Ciok Tim memberi hormat, sebaliknya Giok-jiu-sun-yang Thian-an Totiang hanya memberi salam dengan mengangkat sebelah tangannya.

Melihat tangan orang yang putih seperti pualam itu, diam-diam Giok-he membatin.

"Pantas dia berjuluk Giok-jiu-sun-yang (si imam sakti bertangan kemala)."

Sedangkan Ciok Tim juga berpikir Tojin ini bersikap terlalu angkuh. Selagi Giok-he hendak menyapa pula, mendadak Thian-an Tojin membalik ke sana dan menarik tangan Wi Ki yang hendak melangkah keluar.

"He, kau mau ke mana?"

"Hendak kupermaklumkan kepada hadirin yang lain bahwa Ciangbun Suheng hadir juga di sini."

"Nanti dulu,"

Ujar Thian-an.

"Memangnya ada apa?"

Tanya Wi Ki heran.

"Apakah kau tahu sebab apa mendadak kutinggalkan Cong-lam-san dan buru-buru menuju ke sini, tanpa memberi tahu pula lantas masuk ke sini dengan melintas tembok belakang?"

Tergerak hati Wi Ki oleh ucapan Thian-an ini.

"Ya, karena bergembira atas kedatangan Suheng sehingga tidak kupikirkan hal-hal ini."

"Ai, usiamu makin tambah tua, tapi sifatmu yang ceroboh tampaknya belum lagi berubah,"

Ujar Thian-san dengan menghela napas. Mendadak nada bicaranya berubah prihatin.

"Apakah kau tahu bahwa saat ini diketahui Leng-hiat Huicu masih hidup di dunia ini dan kini mungkin sudah berada di kota Se-an."

Terkesiap hati Wi Ki, air mukanya berubah, guci arak yang dipegangnya terlepas dan pecah berantakan dengan arak munerat mengotori jubahnya.

Hati Ciok Tim dan Giok-he juga terperanjat.

Meski Yim Hong-peng kelihatan tenang saja, tidak urung sorot matanya menampilkan rasa kejut juga.

"Dari mana Suheng memperoleh berita ini? Apakah kabar ini dapat dipercaya?"

Tanya Wi Ki.

Thian-an Tojin berpaling dan tanpa bicara ia menuding ke sana.

Waktu semua orang ikut memandang ke arah sana, tertampaklah empat Tojin berjubah kelabu memapah seorang lelaki yang berwajah pucat serupa orang yang habis sakit parah, dibantu oleh dua centeng sedang masuk dengan pelarian.

"Siapa orang ini?"

Tanya Wi Ki dengan kening bekernyit.

Giok-he dan Ciok Tim sama terkejut melihat orang ini, diam-diam keduanya saling lirik sekejap.

Kiranya orang yang kelihatan sakit parah ini adalah si Tojin misterius yang merampas peti mati kayu cendana di puncak Hoa-san itu.

"Siapa orang ini, masa tidak kau kenal lagi?"

Kata Thian-an yang aslinya she Lu. Wi Ki coba mengamati lebih jelas, sesudah dekat, mendadak ia menjerit.

"Hei, Yap ...Yap Liu-ko! ...."

Memang benar Tojin jubah hijau alias Kiamkhek-kongeu ini asalnya bemama Yap Liu-ko, saudara sepupu Yap Jiu-pek.

Dengan langkah terhuyung, ia berlari dan menubruk ke dalam rangkulan Wi Ki sambil berseru.

"O, Jitko, sungguh seperti ... seperti dalam mimpi saja Siaute dapat bertemu pula denganmu."

Baru berucap sampai di sini, langsung ia jatuh pingsan. Seketika para hadirin sama melenggong. Dengan mata melotot Wi Ki berseru.

"Se ... sesungguhnya apa yang terjadi? Liu-ko, kenapa kau berubah begini, hampir tidak kukenal lagi."

Lu Thian-an menghela napas.

"Memang sudah ada sepuluh tahun kita tidak bertemu dengan dia. Sampai lohor kemarin, mendadak ia lari ke atas gunung dengan berlumuran darah, dari ceritanya baru kutahu Leng-hiat Huicu belum mati, bahkan dia ...."

Ia melirik Ciok Tim dan Giok-he sekejap, lalu menyambung.

"Dia tertusuk oleh pedang murid Put-si-sin-liong, untung diberi pertolongan oleh orang kosen, kalau tidak saat ini mungkin mayatnya sudah membusuk di puncak Hoa-san dan rahasia dunia persilatan ini pun tak diketahui lagi oleh orang,"

Wi Ki tampak bingung, tanyanya sambil memandang tajam ke arah Giok-he.

"Mengapa dia dilukai murid Put-si-sin-liong?"

Giok-he berlagak berpikir dengan heran, sejenak kemudian baru ia bergumam.

"Apakah mungkin perbuatan Gote? Sungguh tak tersangka dia dapat berbuat seceroboh ini."

"Gote siapa, sekarang dia berada di mana?"

Tanya Lu Thian-an.

"Ya, pasti dia, Lamkiong Peng,"

Ucap Wi Ki dengan gemas.

"Ai, tak tersangka murid kesayangan Put-si-sin-liong bisa bertindak demikian."

"Kami pun tidak tahu seluk-beluknya, cuma kami tahu Gote berada bersama seorang perempuan she Bwe, juga Bin-san-siang-hiap telah ...."

Belum lanjut ucapan Giok-he, segera Wi Ki memotong.

"Jadi perempuan di dalam kereta itulah maksudmu? Ah, kenapa tidak sempat kulihat jelas dia ...."

"Menurut pendapatku, mungkin dia memang menguasai ilmu awet muda,"

Ujar Giok-he.

"Wah, tentu juga Kungfunya telah maju lebih pesat,"

Tergetar juga hati Wi Ki. Mendadak ia berseru.

"Eh, di mana kedua Tiangsun bersaudara? Yim-tayhiap, ke mana Tiangsun-siang-hiap?"

Yim Hong-peng sedang termenung, ia angkat kepala dan menjawab dengan bimbang.

"Tadi masih di sini, entah ke mana sekarang?"

Tampaknya dia juga menyembunyikan sesuatu perasaan, dengan sendirinya orang lain sukar mengetahuinya. Wi Ki menghela napas menyesal, ucapan.

"Sungguh sayang, baru saja Sin-liong menghilang, dunia Kangouw lantas kacau lagi."

"Semoga Sin-liong belum mati ...."

Seru Lu Thian-an mendadak dengan nada sinis.

Wi Ki tidak merasakan nada sinis ucapan sang Suheng, ia membangunkan Yap Liu-ko dan diajak berdiri di depan hadirin yang sudah berkerumun itu, diumumkannya tentang muncul kembalinya iblis perempuan Leng-hiat Huicu serta murid murtad Put-si-sin-liong yang membantu kejahatan iblis perempuan berdarah dingin itu.

Serentak orang banyak bersorak mendukung usaha penumpasan yang diprakarsai Wi Ki itu.

Kening Yim Hong-peng bekernyit melihat gerakan yang dikobarkan Wi Ki itu.

Diam-diam ia pun merancang tindakan apa yang harus dilakukannya, ia pikir kesempatan baik ini akan dipergunakannya untuk mencari pengaruh.

***** Saat itu Bin-san-ji-yu diam-diam sedang menguntit jejak Lamkiong Peng, dilihatnya sesudah anak muda itu menyelesaikan pemakaman, lalu bersama kereta kuda kecil itu masuk ke kota Se-an dan langsung masuk ke sebuah toko hasil bumi yang besar.

Tiangsun Kong berdua berdiri jauh di bawah emper rumah seberang, diam-diam mereka saling bertanya.

"Jika perempuan ini bukan Bwe Kimsoat, untuk apa dia menyuruh, kita berdua menguntitnya?"

Begitulah dengan bimbang mereka menunggu sekian lama di situ, tiba-tiba dari seberang datang seorang membawakan secarik surat dan diangsurkan kepada Tiangsun Tan dengan hormat, lalu tinggal pergi lagi.

Bin-san-ji-yu sama melengak, mereka membuka surat itu dan dibaca, ternyata surat dari Lamkiong Peng yang minta Bin-san-ji-yu suka mampir untuk mengobrol.

Rupanya penguntitan mereka telah diketahui dengan baik oleh Lamkiong Peng.

Mereka saling pandang sekejap, waktu memandang lagi ke seberang, Lamkiong Peng terlihat berdiri ke depan pintu sana dan sedang memberi salam dari kejauhan.

Meski kedua orang ini sudah cukup berpengalaman, bingung juga menghadapi adegan demikian, dengan kikuk mereka berseru dari jauh.

"Terima kasih atas maksud baikmu, sampai berjumpa lain kali saja!"

Habis itu cepat mereka melangkah pergi dan tidak berani menoleh lagi.

Lamkiong Peng menyaksikan kepergian mereka, senyum yang menghiasi wajahnya mendadak lenyap, ia menghela napas dan masuk ke dalam.

Nyata anak muda ini sedang dirundung kemurungan, meski Kungfunya tinggi dan keluarganya kaya, tapi ada juga urusan yang menekan perasaannya tanpa bisa diselesaikannya.

Saat itu Bwe Kim-soat lagi duduk memandangi lampu, di atas meja tersedia macam-macam buah segar sebangsa anggur, apel, jeruk dan lain-lain, tapi tiada satu pun yang menarik perhatiannya, dia tetap termenung memandang lampu, entah apa yang sedang dipikirnya.

Langkah kaki Lamkiang Peng yang berat ternyata tidak mengganggu lamunannya, bahkan dia tidak memandangnya sekejap pun, wajahnya yang agak putih mulus kelihatan serupa batu kemala.

Sampai lama sekali, akhirnya Bwe Kim-soat menghela napas perlahan dan bertanya.

"Mereka sudah pergi?"

"Sudah,"

Jawab Lamkiong Peng.

"Entah untuk apa mereka menguntit kemari? Memangnya mereka benar telah mengenali dirimu?"

"Apakah kau khawatir?"

Tanya Kim-soat.

"Khawatir apa?"

"Mungkin kau pikir bila diriku dikenal orang, tentu akan tidak menguntungkanmu dan bisa jadi engkau takkan ... takkan mengurus diriku lagi, sebab aku kan seorang iblis yang dikutuk orang persilatan, jika kau bantu diriku, tentu engkau juga akan dituduh sebagai sampah masyarakat persilatan. Apalagi engkau adalah anak murid guru temama, murid Put-si-sin-liong mana boleh membantu iblis perempuan yang jahat ini."

Lamkiong Peng diam saja tanpa memberi komentar.

"Padahal moral dunia persilatan hanya hak khusus bagi beberapa orang tertentu saja, bilamana ada sepuluh orang tokoh Bu-lim menganggap engkau adalah orang jahat, maka engkau sudah dipastikan akan menjadi orang mahajahat, sebab setiap perbuatanmu tetap akan dianggap salah, bahkan anak murid Sin-liong yang terhormat pun tidak berani bicara keadilan, sebab orang lain pun belum tentu mau percaya biarpun kau katakan apa yang kau ketahui sebenarnya."

Gemerdep sinar mata Lamkiong Peng, tapi tetap diam saja. Mendadak Bwe Kim-soat tertawa, katanya pula.

"Tapi engkau jangan khawatir, di dunia persilatan sekarang, kecuali kita berdua tiada orang ketiga yang berani memastikan aku ...."

Sampai di sini, mendadak ucapannya terputus, sebab di luar telah bergema gelak tertawa seorang dan berkata.

"Sekali ini engkau keliru, Kong-jiok Huicu!"

Air muka Lamkiong Peng berubah, bentaknya.

"Siapa?"

Segera ia memburu ke depan jendela.

Ketika daun jendela terbuka, dengar enteng melayang masuk seorang, lebih dulu ia menjura, lalu berkata dengan tersenyum "Karena keadaan luar biasa, demi menghindarkan mata-telinga orang, terpaksa masuk dengan menerobos jendela, mohon maaf."

Suaranya lantang, sikapnya gagah, orang ini ternyata pendekar di luar perbatasan Ban-li-liuhiang Yim Hong-peng.

Tercengang Lamkiong Peng, muka Bwe Kim-soat yang putih pucat menampilkan semacam perasaan aneh.

Dengan gemulai ia berbangkit, katanya.

"Kau bilang apa?"

Tapi Yim Hong-peng lantas mengalihkan pembicaraannya terhadap Lamkiong Peng.

"Keluarga Lamkiong memang kaya raya merajai kolong langit ini, tak tersangka jauh di kota Se-an ini Lamkiong-heng juga mempunyai tempat tinggal semewah ini."

Lamkiong Peng cuma tersenyum dan balas menghormat.

"Kau dengar tidak ucapanku?"

Kembali Bwe Kimsoat menegur. Yim Hong-peng tertawa, katanya.

"Nama Kongjiok Huicu mengguncangkan dunia Kangouw, mana berani kulewatkan setiap kata nona ...."

"Hm, mungkin agak terlalu banyak apa yang kau dengar ...."

Mendadak Bwe Kim-soat menarik muka sambil meluncur maju, sebelah tangannya segera terjulur ke depan.

Namun Yim Hong-peng tetap diam saja, dengan tersenyum ditatapnya telapak tangan Bwe Kimsoat, padahal sekali tersentuh oleh tangan putih mulus itu seketika jiwa bisa melayang.

Selagi Lamkiong Peng memburu maju dilihatnya tangan Bwe Kim-soat sudah diturunkan.

Mendadak Yim Hong-peng bergelak tertawa, katanya.

"Haha, sungguh hebat, sungguh kagum, Kong jiok Huicu memang benar burung hong di tengah manusia .... Tapi bilamana pukulan nona Bwe tadi dilanjutkan, predikat ini pun tidak tepat kau terima lagi."

"Sebelum kau bicara lebih jelas, dengan sendirinya tak dapat kubinasakan kau ...."

"O, jadi kala, selesai kubicara, segera nona akan membunuhku?"

"Orang yang tahu terlalu banyak, setiap saat pasti ada kemungkinan tertimpa maut."

"Ah, jadi aku mengetahui terlalu banyak?!"

Yim Hong-peng menegas.

"Betul,"

Kata Bwe Kim-soat, pandangannya tidak pemah meninggalkan wajah Yim Hong-peng.

Ia tidak berani lagi meremehkan orang.

Bilamana seorang tidak menghiraukan sebuah tangan yang setiap saat mungkin dapat merenggut nyawanya, maka orang ini jelas lain daripada yang lain.

Tiba-tiba Yim Hong-peng berhenti tertawa dan berkata dengan serius.

"Apabila yang kuketahui terlalu sedikit, maka orang yang tahu terlalu banyak di kota Se-an saat ini sedikitnya ada seribu orang."

Kim-soat melengak.

"Apa arti ucapanmu ini?"

Perlahan Yim Hong-peng menggeser ke depan jendela, lalu berkata.

"Nona Bwe memang awet muda dan pandai merawat diri, di dunia ini mestinya tiada lagi yang tahu nona Bwe yang kelihatan berusia 20-an ini adalah mendiang Kongjiok Huicu dahulu. Namun ... siapa duga ada arwah gentayangan yang lolos dari bawah pedang Lamkiong-heng justru muncul di tempat Wi Ki ...."

"Arwah gentayangan yang lolos dari pedangku? ...."

Gumam Lamkiong Peng dengan bingung. Setelah berpikir sejenak, tiba-tiba Bwe Kim-soat berkata.

"Jangan-jangan si Yap ... Yap Liu-ko itu belum mati?"

Yim Hong-peng mengangguk.

"Ya, dia terluka parah, tapi belum mati."

"Ah, kiranya dia tidak mati,"

Tukas Lamkiong Peng dengan melenggong, meski nadanya terkejut, tapi juga membawa rasa bersyukur.

Dengan keheranan Yim Hong-peng memandangnya sekejap dan merasa tidak mengerti akan jalan pikiran anak muda itu.

"Meski Yap Liu-ko cuma terluka parah dan belum mati, sekarang Lu Thian-an telah meninggalkan Cong-lam-san dan berkumpul di tempat Jitsutenya, yaitu Wi Ki. Segenap kekuatan yang berada di Se-an sekarang sedang dikerahkan untuk mencari kalian berdua,"

Demikian tutur Yim Hong-peng.

"Aku merasa tidak mampu memberi bantuan apa-apa, tapi juga tidak tega duduk berpeluk tangan tanpa ikut campur, maka sengaja kususul kemari .... Lamkiong-kongeu, apa pun kalian cuma berdua, dua tangan sukar melawan empat kepalan. Apalagi Suheng dan Susomu juga berada di sana, tampaknya mereka pun tidak dapat membenarkan tindakanmu, maka menurut pendapatku ...."

Ia merandek, dilihatnya Bwe Kim-soat sedang menatapnya dengan tajam.

"Maksudmu agar sementara ini kami menyingkir dulu?"

Tanya Lamkiong Peng. Belum lagi Yim Hong-peng menjawab, mendadak Bwe Kim-soat menyela.

"Tidak, salah!"

"Sebenarnya memang begitulah maksudku, kenapa nona bilang salah?"

Tanya Yim Hong-peng.

"Jika aku menjadi dirimu, tentu akan kubujuk dia agar tidak mencari gara-gara,"

Kata Kim-soat.

"Sebab mestinya dia tahu, barang siapa memusuhi Bwe Kim-soat, akibatnya dapat dibayangkan sendiri."

Mendadak ia berpaling ke arah Lamkiong Peng dan berkata pula.

"Dan bila kujadi dirimu, segera aku akan pergi jauh, atau segera kudatangi Wi Ki dan memberitahukan padanya bahwa antara dirimu dan Bwe Kim-soat sama sekali tidak ada sangkut paut apa pun ...."

Sampai di sini mendadak ia tertawa latah sambil berteriak.

"Wahai Bwe Kim-soat ... engkau sungguh orang yang malang dan juga bodoh. Sudah jelas kau tahu orang persilatan takkan melepaskan dirimu, sebab engkau ini bukan golongan pendekar, bukan orang berbudi luhur, sebab kau jahat .... Tapi semua itu pun cukup dibuat bangga olehmu, hanya untuk menghadapi seorang perempuan seperti dirimu, kawanan manusia yang menamakan dirinya kaum pendekar itu telah mengerahkan segenap tenaga sekota."

Lamkiong Peng diam saja tanpa memberi komentar. Yim Hong-peng menjadi heran, pikirnya.

"Kedua muda-mudi ini tidak serupa kekasih, juga tidak mirip sahabat, entah ada hubungan apa antara mereka berdua?"

Ia memandang Lamkiong Peng sekejap, lalu bertanya.

"Urusan cukup gawat, hendaknya Lamkiong-heng menentukan langkah."

"Terima kasih atas maksud baik Yim-tayhiap, cuma ...."

"Jumlah lawan terlalu banyak, menghindar untuk sementara adalah cara paling baik,"

Kata Yim Hong-peng pula.

"Jumlah lawan terlalu banyak .... Tapi Cong-lampay terkenal sebagai suatu aliran terpuji, tentunya takkan menuduh orang secara tidak semena dan tidak memberi kesempatan bagi orang lain untuk memberi penjelasan."

Diam-diam Yim Hong-peng merasa gegetun, ia pikir nama busuk Leng-hiat Huicu diketahui siapa pun, masa perlu penjelasan apa segala. Belum lagi dia bicara, tiba-tiba Bwe Kim-soat menjengek.

"Hm, tampaknya kau ini pemuda pintar, kenyataannya engkau sedemikian bodoh. Bagi orang-orang yang menamakan dirinya pendekar budiman dan penegak keadilan itu, sudah lama aku dibenci hingga merasuk tulang, masa aku akan diberi kesempatan untuk memberi penjelasan segala?"

Yim Hong-peng pikir perempuan berdarah dingin ini ternyata cukup tahu diri juga, dilihatnya Lamkiong Peng tetap tenang saja meski diolok-olok, diam-diam ia pun heran mengapa pemuda yang kelihatan halus di luar dan keras di dalam ini bisa bersabar terhadapnya.

Pada saat itulah tiba-tiba ada orang berdehem di luar, Gui Seng-in tampak muncul.

Agaknya ia merasa heran ketika diketahui di dalam rumah mendadak bertambah satu orang.

Tapi sebagai orang yang sudah cukup makan asam-garam, rasa heran itu sekilas saja lantas lenyap dari wajahnya.

Dengan tersenyum hormat ia berkata.

"Mestinya hamba tidak berani mengganggu Kongeu, soalnya ... para saudagar di Se-an mendengar kedatangan Kongeu ini, mereka sama ingin bercengkerama dengan Kongeu serta akan mengadakan perjamuan sekadarnya di Thian-tiang-lau untuk menyambut kedatangan Kongeu dan nona ini, entah bagaimana pendapat Kongeu, apakah sudi hadir tidak?"

Lamkiong Peng berpikir sejenak, dipandangnya Bwe Kim-soat sekejap.

Alis Kim-soat tampak bergerak, tapi tidak bicara.

Agaknya tanpa bicara pun sudah jelas maksudnya.

Tak terduga Lamkiong Peng lantas berkata.

"Apakah sekarang?"

"Jika Kongeu ada waktu ...."

"Baik, berangkat!"

Kata Lamkiong Peng.

Tentu saja Gui Seng-in kegirangan, cepat ia mengucapkan terima kasih dan mendahului melangkah keluar sebagai penunjuk jalan.

Yim Hong-peng melenggong atas tindakan anak muda itu, saat ini seluruh kota sedang gempar, para kesatria yang berkumpul di Se-an sibuk mencari mereka berdua, sungguh sukar dimengerti Lamkiong Peng malah menerima undangan perjamuan itu dan sengaja memperlihatkan diri di depan umum.

Agaknya Lamkiong Peng dapat meraba jalan pikiran orang, dengan tersenyum ia berkata.

"Apakah Yim-tayhiap juga akan ikut hadir untuk minum secawan?"

"Terima kasih,"

Jawab Yim Hong-peng sambil memberi hormat.

"Sungguh aku tidak mengerti ...."

"Soalnya cukup sederhana,"

Potong Lamkiong Peng.

"Urusan sudah telanjur begini, daripada menghindar akan lebih baik disongsong sekalian. Anak murid Sin-liong selamanya tidak kenal istilah lari."

Yim Hong-peng mengangguk, katanya.

"Murid Sin-liong memang gagah perkasa dan pantas dipuji."

"Sekali lagi terima kasih atas maksud baik Yimtayhiap, bila berjumpa pula kelak kita harus bicara lagi lebih asyik,"

Ujar Lamkiong Peng.

"Sejak kumasuk daerah Tionggoan, hanya Lamkiong-heng saja yang kupandang sebagai pendekar muda yang akan mengembangkan kejayaan dunia persilatan umumnya, sayang kita belum sempat berkumpul lebih lama, sampai berjumpa lagi."

Habis berkata Yim Hong-peng melayang pergi melalui jendela.

"Lugas juga tampaknya orang ini!"

Gumam Lamkiong Peng memandangi bayangan orang yang menghilang di luar.

"Hm, apa betul?"

Jengek Bwe Kim-soat. Lalu ia tanya pula.

"Eh, apakah benar kau terima undangan perjamuannya ...."

"Bila engkau tidak ingin ikut ...."

"Jika kau mau pergi, masa aku takut?"

Sela Bwe Kim-soat, segera ia berbangkit dan ikut melangkah keluar.

***** Hujan gerimis baru berhenti.

Pasar malam kota Se-an cukup ramai.

Akan tetapi malam ini lebih banyak orang berkelompokkelompok, kebanyakan orang itu pun bersenjata, semuanya orang persilatan dengan wajah prihatin dan sikap tegang.

Ketika mendadak tampak muncul dua mudamudi, yang pemuda gagah dan cakap, yang perempuan cantik luar biasa, seketika berjangkit suara desas-desis di sana-sini.

"Ssst, itu dia Lamkiong Peng!"

"Ssst, itu dia Leng-hiat Huicu!"

Seketika terjadi kegemparan, tapi segera pula suasana berubah menjadi sunyi.

Semuanya tidak bersuara, sama terpukau oleh kegagahan dan kecantikan kedua muda-mudi ini.

Sejenak kemudian, ada yang meraba senjata dan bermaksud turun tangan, tapi ketika terlihat senyuman Bwe Kim-soat yang manis dan lirikan menggiurkan, tanpa terasa tangan yang meraba senjata menjadi lemas.

Dan begitulah berpuluh pasang mata menyaksikan kedua muda-mudi itu berlalu di depan mereka, sesudah lewat agak jauh baru gerombolan orang itu mengikuti mereka dari jauh.

Thian-tiang-lau tergolong restoran terbesar di kota ini, dengan sendirinya segala sesuatunya sudah disiapkan secara semarak, terutama wajah pemilik restoran itu juga bercahaya semarak, sebab hari ini dia mendapat kehormatan dapat menerima kunjungan "tuan muda"

Keluarga Lamkiong yang mahakaya raya itu.

Lamkiong Peng dan Bwe Kim-soat masak ke restoran Thian-tiang-lau!

Dengan sendirinya berita ini dengan cepat tersiar dan dalam sekejap saja laporan sudah diterima Thian-an Tojin dan Wi Ki.

"Kabarnya Lamkiong Peng ini ahli waris keluarga Lamkiong yang kaya raya dari daerah Kanglam itu?"

Di tengah jalan Thian-an mencari keterangan kepada Wi Ki.

"Ya, dia masih muda, selain ahli waris keluarga mahakaya itu, dia juga terkenal sebagai murid kesayangan Put-si-sin-liong, tak tersangka dia terbujuk oleh Leng-hiat Huicu sehingga tersesat,"

Ujar Wi Ki.

"Hm, anak muda yang tidak menuju ke jalan yang benar, biarpun saudara seperguruan sendiri juga malu untuk membelanya,"

Jengek Lu Thianan.

"Tapi apa pun juga tindakan kita ini menjadikan Leng-hiat Huicu sebagai sasaran, mengenai Lamkiong Peng, sedikit banyak harus kita ingat akan kehormatan Put-si-sin-liong."

"Itu bergantung bagaimana hubungannya dengan Bwe Kim-soat,"

Kata Thian-an.

Hanya sebentar saja rombongan raksasa itu sudah berada di luar Thian-tiang-lau, restoran itu segera terkepung dengan rapat.

Dengan sendirinya kejadian ini mengguncangkan segenap penduduk kota, disangkanya terjadi kerusuhan apa.

Tapi setelah mengetahui persoalan bunuh-membunuh orang Kangouw, kebanyakan penduduk cepat menutup pintu dan tidak berani keluar.

Menghadapi persoalan orang Kangouw seperti ini, biasanya petugas keamanan pemerintah setempat juga tidak dapat berbuat banyak, yang mereka jaga hanya urusan tidak sampai menjalar menjadi gangguan umum.

Sungguh tidak ada yang menyangka bahwa kconaran yang timbul ini tak lain tak bukan hanya gara-gara munculnya seorang perempuan cantik, yaitu Leng-hiat Huicu.

Akan tetapi di dalam restoran, di bawah cahaya lampu yang terang benderang, Bwe Kin-soat tampak duduk tenang dan anggun.

Sudah barang tentu geger di luar restoran juga membikin panik para saudagar besar yang berkumpul di atas restoran itu.

Mereka sama bertanya-tanya ada kejadian apa dan apa yang akan terjadi?

Namun di hadapan Lamkiong-kongeu yang terhormat, betapa pun mereka tidak berani sembarangan bergerak, sampai sekarang tiada seorang pun berani melongok ke luar jendela.

Sekonyong-konyong di bawah terdengar suara bentakan, suara menyuruh memberi jalan.

Lamkiong Peng tahu apa artinya itu, perlahan ia berbangkit, ia menuju ke ujung tangga, serupa seorang tuan rumah yang siap menyambut kedatangan tetamunya.

Akhirnya berdetaklah suara tangga, terlihat Lu Thian-an dan Wi Ki berturut-turut, naik ke atas loteng dengan wajah kelam.

Dengan tersenyum Lamkiong Peng menghormat, sapanya.

"Terima kasih atas kunjungan kedua Cianpwe, maaf jika tidak kusambut jauh di bawah."

Lu Thian-an hanya mengangguk perlahan saja, langsung ia mendekati Bwe Kim-soat, ia duduk di depannya, tanpa bicara ia angkat secawan arak dan dikecupnya seceguk.

Sejak awal ia tetap tidak memandang Bwe Kimsoat, hanya menatap tangan sendiri yang putih mulus, lalu berucap.

"Malam sudah larut, bilamana hadirin merasa sudah cukup makan minum, sudah saatnya untuk pulang saja sekarang. Segera terjadi kesibukan, para saudagar itu dapat melihat gelagat tidak enak, beramai-ramai mereka berebut meninggalkan restoran ini, mereka tidak ingat lagi akan sopan santun terhadap Lamkiong-kongeu segala. Ruang restoran yang semula ramai dan agak berjubel sekarang berubah menjadi lengang. Mendadak Wi Ki melangkah ke samping Lu Thian-an, ia pun berduduk di situ, diraihnya poci arak terbuat dari timbel, langsung ia menuangkan arak dari corong poci ke mulut dan minum beberapa ceguk.

"Sepuluh tahun tidak bertemu, tampaknya kekuatanmu minum arak telah tambah maju,"

Ucap Bwe Kim-soat dengan tersenyum. Mendadak Wi Ki membanting poci itu ke atas meja. Dengan muka kelam Lu Thian-an berkata.

"Nona, sudah hampir 30 tahun engkau malangmelintang di dunia Kangouw dan entah berapa banyak orang telah menjadi korbanmu, kukira saat ini pun sudah lebih dari cukup hidupmu."

"Totiang sendiri sudah ubanan, tentu lebih-lebih cukup hidup, bila hidup lebih lama lagi, bisa jadi orang akan menyebutmu tua bangka,"

Jawab Kimsoat dengan tajam.

"Hm, tampaknya kedatangan kalian sengaja hendak mencari perkara padaku."

"Ah, masa perlu dijelaskan lagi, kami hanya berharap nona mau membereskan diri sendiri saja,"

Jengek Thian-an.

"Membereskan diri sendiri? Kau suruh aku membunuh diri? Haha, memangnya kenapa?"

"Kukira tidak perlu banyak omong, supaya aku tidak perlu melanggar pantangan membunuh."

"Wah, jika begitu, lekas kau turun tangan saja sebelum kubicara lebih banyak dan mungkin akan membongkar rahasiamu!"

Kata Kim-soat dengan tersenyum. Air muka Thian-an Tojin yang kelam itu seketika berubah.

"Kan sudah kukatakan tidak perlu banyak bicara dengan dia,"

Ujar Wi Ki.

"creng", segera ia mengeluarkan senjata andalannya, Liong-hongsiang-goan, sepasang gelang baja.

"Nanti dulu!"

Mendadak Lamkiong Peng melompat maju.

"Apakah kau pun ingin mengiringi kematiannya?"

Jengek Wi Ki sambil mendomplangkan meja. Keruan mangkuk piring berhamburan. Lamkiong Peng mengebaskan lengan bajunya sehingga meja itu tertahan dan meluncur ke sebelahnya dan menumbuk dinding.

"Tanpa alasan kalian datang kemari dan hendak membunuh orang, berdasarkan apa kalian bertindak demikian?"

Tanya Lamkiong Peng dengan tidak senang.

"Segala urusan harus diselesaikan menurut keadilan, sekarang kalian menghendaki nyawa kami berdua, sedikitnya kalian harus memberi keterangan kepada setiap orang persilatan yang hadir di sini, apa dasarnya?"

Kawanan orang persilatan sebagian sudah ikut menerjang ke atas restoran dari siap bertindak, demi mendengar uraian Lamkiong Peng yang tegas dan jujur ini, diam-diam banyak di antaranya mengangguk dan bersimpati kepadanya.

Lu Thian-an memandang sekejap kepada orang banyak, air mukanya tampak rada berubah.

"Hah, tentunya sekarang engkau merasa menyesal telah banyak bicara denganku, mestinya begitu datang segera kalian membunuhku, begitu bukan?"

Kata Bwe Kim-soat dengan tertawa merdu. Suaranya lantang berkumandang sehingga dapat didengar oleh orang yang berkerumun di luar.

"Apakah ucapanmu sengaja diperdengarkan kepada kawan Bu-lim di sekeliling sini?"

Jengek Thian-an Tojin.

"Betul, kecuali dunia persilatan sudah tidak ada keadilan lagi, kalau tidak, biarpun engkau adalah Bu-lim-bengeu (ketua persekutuan orang persilatan) juga tidak boleh meremehkan nyawa orang lain."

Gemerdep sinar mata Wi Ki, mendadak ia tergelak, serunya.

"Jika orang lain, ucapanmu ini tentu akan menimbulkan rasa curiga orang banyak terhadap tindakan kami ini. Tapi kau, perempuan yang berdarah dingin, biarpun kau omong seribu kali lagi, meski engkau mengoceh panjang lebar, aku Wi Ki tetap akan menumpaskan bencana bagi dunia persilatan."

Lalu ia memandang Lamkiong Peng dan bertanya.

"Jika kau tahu dia ini Leng-hiat Huicu, mengapa kau bela dia? Melulu kesalahanmu ini saja pantas dihukum mati. Tapi mengingat gurumu, lekas kau pergi saja, lekas!"

"Sedemikian keras kau bela dia, memangnya di antara kalian ada hubungan sesuatu yang tidak boleh diketahui orang?"

Ejek Lu Thian-an.

Mau tak mau Lamkiong Peng menjadi gusar, semula ia percaya ketua Cong-lam-pay dan Wi Ki ini adalah kaum pendekar yang berbudi luhur, siapa tahu tindak dan kata mereka sedemikian kasar, tiba-tiba terpikir olehnya di balik urusan ini pasti ada sesuatu yang janggal.

Kawanan jago persilatan dapat menerima pendirian Wi Ki itu, nama Leng-hiat Huicu sudah terkenal busuk sejak belasan tahun yang lalu, sekarang pemuda ini membelanya mati-matian, tentu anak muda ini juga bukan orang baik-baik.

Padahal tiada seorang pun antara jago persilatan ini yang pemah melihat Bwe Kim-soat sebelum ini, mereka kebanyakan cuma membeo belaka.

Tadi mereka menaruh simpati kepada Lamkiong Peng, sekarang berubah pikiran lagi.

Memang demikianlah sifat manusia pada umumnya.

Diam-diam Lamkiong Peng menghela napas, ia tahu urusan hari ini tidak mungkin diselesaikan begitu saja, ia coba melirik Bwe Kim-soat, dilihatnya orang tetap tersenyum dengan tenang.

Dalam pada itu orang banyak lantas berteriakteriak.

"Buat apa banyak bicara, bekuk dulu keduanya."

"Nah, kau minta keadilan dunia persilatan, sekarang bolehlah kita selesaikan mendasarkan pendapat umum,"

Jengek Lu Thian-an. Wi Ki juga tidak sabar lagi, segera ia putar kedua gelang baja sambil membentak.

"Minggir!"

Bwe Kim-soat tetap tenang saja, ucapnya.

"Kau maju sendirian?"

Terkesiap juga Wi Ki, tiba-tiba teringat olehnya Kungfu Leng-hiat Huicu yang menakutkan itu, seketika ia tertegun dan tidak berani bergerak lagi.

"Haha, kiranya orang Kangouw kebanyakan adalah manusia yang suka mengekor belaka ...."

Belum lanjut ucapan Lamkiong Peng, serentak terdengar suara caci maki di sana sini. Nyata ucapannya telah menimbulkan kegusaran orang banyak.

"Ikut terjang keluar bersamaku?"

Bisik Bwe Kimsoat kepada Lamkiong Peng.

Diam-diam ia siap bertindak.

Meski pihak lawan berjumlah banyak, tapi ia yakin pasti mampu menerjang keluar.

Siapa tahu Lamkiong Peng tetap diam saja di tempatnya dengan pongahnya, mendadak ia membentak.

"Diam!"

Bentakan yang menggelegar ini memekakkan anak telinga, seketika semua orang tergetar diam. Dengan tajam Lamkiong Peng menatap Lu Thian-an, teriaknya.

"Segala urusan tentu tidak terlepas dari keadilan dan kebenaran, justru kepada seorang Cianpwe serupa dirimu ingin kuminta keadilan. Sesungguhnya apa dosa Bwe Kim-soat, apa kesalahannya, bilakah dia berbuat kejahatan sehingga memerlukan tindakanmu ini."

Lu Thian-an jadi melengak, tak tersangka olehnya anak muda ini dapat bertanya demikian. Dengan kereng Lamkiong Peng berteriak pula.

"Jika engkau tidak dapat menjawab, berdasarkan apa pula engkau bertindak atas nama dunia persilatan? Berdasarkan apa pula bicara tentang keadilan dunia persilatan! Bila soalnya cuma mengenai permusuhan pribadimu dengan dia, mengingat kedudukanmu sebagai seorang pemimpin suatu perguruan terkemuka, tentu juga harus kau bereskan urusan ini langsung dengan dia sendiri, andaikan dapat kau cencang dia juga aku takkan ikut campur. Tapi bila engkau mengatasnamakan umum bagi kepentingan pribadi dan membual tentang keadilan, betapa pun aku Lamkiong Peng tidak dapat menerima dan akulah yang pertama-tama ingin minta pengajaran dulu padamu."

Dia bicara tegas dan berani, mau tak mau semua orang sama melenggong. Air muka Wi Ki berubah, Lu Thian-an juga tidak tahan, jengeknya.

"Rupanya kau menantang, anak muda!"

"Apa boleh buat,"

Ujar Lamkiong Peng lantang.

Seorang pemuda hijau pelonco berani menantang seorang guru besar dari suatu aliran pedang terkemuka, sungguh hal ini cukup menggemparkan, keruan semua orang sama heran dan juga terkejut.

"Hm, tampaknya sombong benar kau, anak muda, terpaksa aku mesti memberi hajaran padamu,"

Jengek Lu Thian-an. Lamkiong Peng hanya mendengus dan tetap berdiri tegak. Perlahan Lu Thian-an berbangkit, sedangkan Wi Ki menyurut mundur ke samping.

"Aha, menarik, rasanya tempat ini kurang luas, biarlah kusingkirkan lagi meja kursi yang memenuhi tempat ini,"

Ucap Bwe Kim-soat seperti apa yang akan terjadi ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan dia.

Lamkiong Peng tahu wataknya memang begitu, maka tidak heran.

Sebaliknya orang lain sama terkesiap, diam-diam ada yang menggerutu.

"Perempuan ini memang benar berdarah dingin."

Setelah ruangan dikosongkan, kini Lu Thian-an berdiri berhadapan dengan Lamkiong Peng, katanya.

"Silakan mulai!"

Nyata ia menjaga gengsi sebagai orang lebih tua dan memberi kesempatan menyerang lebih dulu. Namun Lamkiong Peng justru tetap diam saja, jawabnya.

"Silakan Locianpwe dulu!"

Wi Ki menjadi gusar.

"Siko, untuk apa bicara tentang peraturan dengan sampah masyarakat persilatan seperti ini!"

"Benar!"

Kata Thian-an, berbareng ia melompat maju dan menghantam batok kepala lawan tanpa kenal ampun.

Melihat serangan Lu Thian-an itu, ada juga di antara penonton yang merasa penasaran, sebagai seorang tokoh terkemuka, menyerang lebih dulu, tapi sekeji ini serangannya.

Namun Lamkiong Peng bukan lawan empuk baginya, sedikit dia menggeser ke samping, berbareng itu sebelah tangannya balas menyodok ke perut Thian-an.

Terkejut juga Lu Thian-an oleh kecepatan lawan, sembari mengelak, tangan lantas memotong ke bawah, tangannya tampak putih mulus seperti tangan orang perempuan, tapi membawa tenaga dalam yang dahsyat ....

Begitulah serang-menyerang terus berlangsung, diam-diam para penonton sama memuji anak murid Put-si-sin-liong memang tidak boleh dipandang enteng.

Namun apa pun juga Lu Thian-an memang lebih ulet, setelah belasan jurus, lambat-laun ia berada lagi di atas angin.

Padahal kelihatannya Lamkiong Peng agak terdesak, sebenarnya dia belum mengeluarkan segenap tenaganya.

Saat itu kedua tangan Lu Thian-an bekerja sekaligus dan menghantam, mendadak Lamkiong Peng bersuit panjang sambil melompat ke atas.

Terkejut Lu Thian-an, dirasakan angin keras membura dari atas, ke mana pun dia mengelak rasanya tetap akan terserang.

Bila dia tetap diam di tempat, sedangkan lawan telah menubruk dari atas, ini berarti dia akan tetap berada di pihak terserang belaka.

Semua orang sama kaget, Wi Ki juga berseru.

"Thian-liong-cap-jit-sik!"

Rupanya inilah Thian-liong-cap-jit-sik atau 17 jurus serangan naga terbang, Kungfu andalan Putsi-sin-liong.

Serangan ini dilancarkan pada waktu tubuh terapung, setiap jurus serangan pasti memaksa lawan harus menyelamatkan diri lebih dulu, atau membuntu jalan mundur musuh, serangan berantai susul-menyusul, sebab itulah Thian-liong-cap-jit-sik tak dapat dibandingi oleh ilmu pukulan dari aliran lain.

Sekarang yang dilancarkan Lamkiong Peng adalah jurus pertama yang disebut "Tit-siang-kiusiau"

Atau langsung menjulang ke langit, selagi tubuh mengapung, tangan dan kaki terus menyerang untuk mengurung segenap jalan mundur Lu Thian-an Habis itu sambil meluncur turun, kesepuluh jari berubah menjadi cakar untuk mencengkeram muka lawan.

Dia sudah siap serang sejak tadi, sekali turun tangan harus berhasil.

Tentu saja semua orang menjerit kaget melihat Lu Thian-an terancam bahaya.

Siapa tahu sebagai seorang ketua suatu aliran terkemuka, dengan sendirinya Giok-jiu-sun-yang juga bukan lawan empuk, dia kelihatan diam saja, tapi ketika serangan Lamkiong Peng sudah dekat mendadak kedua tangannya membalik dan menangkis ke atas.

Terdengar suara "plak"

Yang keras serupa menghantam kulit kering keempat tangan beradu, kedua puluh jari saling meremas dengan erat.

Adu pukulan ini membikin para penonton sama melongo.

Tertampak Lamkiong Peng menjungkir di udara dengan tangan berpegangan tangan lawan, tubuhnya menurun perlahan, namun empat tangan tetap melengket menjadi satu.

Dan begitu kaki Lamkiong Peng menyentuh tanah, segera pula Lu Thian-an menyurut mundur dua langkah, lalu keduanya sama berdiri seperti terpantek di tanah dan saling melotot.

Nyata telah terjadi adu tenaga dalam dengan antara keduanya, ini berarti pertaruhan dengan nyawa masing-masing.

Seketika suasana sunyi senyap, semua orang sama ikut tegang, sama menahan napas.

Bukan cuma yang berkerumun di atas loteng sama tegang, yang berada di bawah loteng juga sama tegangnya dan bertanya-tanya apa yang terjadi karena tidak terdengar sesuatu suara.

Di tengah kesunyian tiba-tiba terdengar suara keriat-keriut papan loteng, dahi kedua orang tampak berhias butiran keringat, Betapa hebat jurus serangan Lamkiong Peng tetap tidak dapat membandingi keuletan latihan Lu Thian-an selama berpuluh.

Lambat-laun anak muda itu kelihatan tidak tahan lagi.

Diam-diam Wi Ki bergirang, sebaliknya air muka Bwe Kim-soat tampak prihatin.

Selagi suasana semakin mencekam, sekonyongkonyong di bawah loteng berjangkit jeritan kaget, di tengah malam kelam tiba-tiba timbul gelombang hawa panas yang menyengat, bukan saja yang bertempur itu berkeringat, para penonton juga berkeringat kegerahan.

Sejenak kemudian lantas terdengar bunyi bende bertalu-talu, menyusul suara melengking orang menjerit.

"Api ... api .... Kebakaran ... kebakaran!"

Keruan suasana menjadi kacau, orang-orang yang berkerumun di jalan raya pun panik, lidah api tampak menjilat-jilat dan mendadak menyambar ke atas loteng restoran.

Para jago silat itu tidak sempat lagi memikirkan pertarungan maut itu, beramai-ramai sama mencari selamat sendiri, ada yang melompat turun melalui tangga dengan desak-mendesak, ada yang terjun begitu saja.

Meski ada juga orang berusaha memadamkan api, tapi kobaran api ini tampaknya sangat aneh, lidah api yang ganas itu dalam sekejap saja sudah menelan seluruh ciu lau atas restoran itu.

Para penonton sudah kabur mencari selamat, di atas loteng tertinggal Lamkiong Peng yang tetap beradu tenaga dengan Lu Thian-an dan ditunggui oleh Wi Ki dan Bwe Kim-soat.

Api berkobar terlebih hebat, tampaknya sebentar lagi mereka pasti akan terkubur di tengah api.

Napas mereka sudah sesak oleh asap, keringat memenuhi kepala Wi Ki, matanya membara.

Mendadak ia angkat gelang bajanya dan segera bermaksud melompat keluar.

Tak terduga mendadak bayangan orang berkelebat, tahu-tahu Bwe Kim-soat sudah mengadang di depannya.

Saking cemas dan gugupnya, tanpa pikir ia membentak, gelang naga sebelah kanan segera menghantam muka Bwe Kim-soat, sedangkan gelang hong sebelah kiri terus dilemparkan dengan membawa angin tajam mengancam iga Lamkiong Peng.

Saat itu Lamkiong Peng pun dalam keadaan payah, jangankan diserang oleh gelang baja yang dahsyat ini, sekalipun pukulan orang biasa cukup membuatnya roboh binasa.

Terdengar Bwe Kim-soat mendengus, mendadak ia mendoyongkan kepala ke belakang, berbareng itu sebelah tangan meraih ke depan, dengan tepat gelang baja lawan terpegang olehnya, sekali betot terus dilemparkan ke arah Lu Thian-an.

Selagi Lamkiong Peng terkejut karena sambaran gelang baja musuh yang sukar dielakkan itu, mendadak dilihatnya Lu Thian-an juga terkesiap oleh ancaman yang sama, Lamkiong Peng bergirang, sepenuh sisa tenaga ia mendesak lebih kuat.

Kim-soat tersenyum dan berolok.

"Hah, ini namanya senjata makan ...."

Belum lanjut ucapannya, sekonyong-konyong gelang yang menyambar Lamkiong Peng itu memutar balik dan membentur gelang yang mengancam Lu Thian-an, menyusul bahkan terus menghantam belakang punggung Bwe Kim-soat.

"Bagus, kiranya gelangmu berantai,"

Seru Kimsoat sambil memutar sebelah tangannya, kontan gelang berantai itu dipegangnya.

Maklumlah, selama sepuluh tahun dia berbaring di dalam peti mati, kesempatan itu digunakannya untuk merenungkan intisari ilmu silat yang paling tinggi, maka ketajaman mata telinganya sekarang hampir tidak ada bandingannya, sekalipun sebiji pasir menyambar dari belakang pun dapat dirasakannya dan juga dapat ditangkapnya.

Tentu saja Wi Ki terkejut, cepat ia mendoyong ke belakang untuk membetot gelangnya agar tidak sampai dirampas musuh.

Rupanya pada gelang bajanya terikat seutas rantai emas hitam yang lembut, namun cukup ulet dan kuat, golok atau pedang biasa pun sukar memotongnya.

Tak tersangka mendadak Bwe Kim-soat menebas dengan telapak tangannya, kontan rantai emas terpotong putus.

Karena kehilangan imbangan badan, kontan Wi Ki terhuyung-huyung dan hampir saja jatuh terjengkang.

Sementara itu api sudah membakar kosen jendela sekeliling loteng dan menimbulkan suara gemertak yang riuh, hawa panas membuat Lamkiong Peng, Lu Thian-an dan Wi Ki merasa seperti terpanggang, baju basah kuyup oleh air keringat, tidak terkecuali pula Bwe Kim-soat.

Mendadak daun jendela sebelah selatan terlepas dan jatuh ke atas meja di dekatnya, segera meja kursi di situ ikut terjilat api.

Lambat-laun atap rumah juga mulai terbakar, tiba-tiba sepotong kayu hangus jatuh di samping Bwe Kim-soat, saat itu dia sedang menggeser menghindari tendangan Wi Ki, segera sebelah kakinya menyungkit kayu hangus itu dan meluncur ke arah Wi Ki.

Sambil meraung tangan kiri Wi Ki menyampuk sehingga kayu hangus itu terpental keluar jendela, tapi ia lupa tangannya masih memegangi rantai gelang yang putus tadi, karena sampukan itu, rantai membalik menghantam kuduk sendiri.

Biarpun kecil, rantai emas hitam sangat keras, tambah lagi tenaga sampukan sendiri, keruan ia meringis kesakitan dan kuduknya berdarah.

Dengan meraung murka Wi Ki membuang sisa rantai itu.

"Haha, serangan bagus, itu namanya jurus 'Kaubwe-cu-piau' (ekor anjing menyabat tubuh sendiri)!"

Ejek Bwe Kim-soat dengan tertawa.

Sembari berolok-olok, segera pula ia menggeser ke samping Lu Thian-an.

Saat itu Lamkiong Peng masih saling tolak bersama Lu Thian-an, hatinya terhibur ketika dilihatnya Bwe Kim-soat masih berada di situ.

Tapi ketika dilihatnya sebelah tangan Kim-soat menghantam punggung Lu Thianan cepat ia bersuara mencegah sambil menarik ke samping.

Karena tarikan ini, ia dan Lu Thian-an sama jatuh terguling.

Kim-soat berteriak khawatir dan melompat ke samping Lamkiong Peng, cepat Wi Ki jaga memburu tiba untuk menjaga Lu Thian-an.

Waktu diperhatikan, ternyata napas kedua orang itu sama terengah, agaknya sama-sama kehabisan tenaga, namun jelas tidak terluka dalam, keduanya sedang saling pandang dengan tercengang.

Rupanya setelah saling mengadu tenaga dalam, keadaan mereka sudah payah, walaupun keempat tangan masih saling genggam, tapi sebenarnya sudah kehabisan tenaga.

Dasar Lamkiong Peng memang berjiwa luhur, ia tidak ingin lawan disergap Bwe Kim-soat selagi orang mengadu tenaga dengannya, lekas ia menarik orang ke samping.

Tak diduganya keduanya sebenarnya sama payahnya, maka begitu terseret segera keduanya jatuh terguling bersama.

Lantaran itulah mereka saling pandang dengan melenggong.

Pada saat itulah tiba-tiba di bawah loteng ada orang berteriak.

"Wi-jitya, Lu-totiang ...."

Ada semprotan air dari sebelah selatan, menyusul sinar pedang berkelebat, empat sosok bayangan kelabu menerjang masuk.

Kiranya keempat Tojin anak buah Lu Thian-an.

Bwe Kim-soat terkesiap melihat pihak lawan kedatangan bala bantuan, serunya dengar suara tertahan kepada Lamkiong Peng.

"Ayo pergi!"

Semangat Lu Thian-an berbangkit karena kedatangan anak buahnya, melihat Bwe Kim-soat bermaksud mengajak lari Lamkiong Peng cepat ia membentak.

"Lamkiong Peng, kalah menang belum jelas, bukan lelaki bila lari!"

Tentu saja Lamkiong Peng sangat gusar, ia melompat bangun.

Sementara itu Lu Thian-an sudah menubruk tiba, tanpa bicara lagi ia hantam dada anak muda itu.

Cepat Lamkiong Peng mengegos, berbareng telapak tangan menebas iga lawan.

Tiba-tiba beberapa potong kayu hangus jatuh lagi dari atas.

Terpaksa mereka harus melompat kian kemari untuk menghindari api.

Dalam pada itu keempat Tojin berjubah kelabu lantas menerjang maju, mereka adalah murid utama ketua Cong-lam-pay, dengan sendirinya ilmu pedangnya tidak lemah, serentak mereka melancarkan serangan kilat.

"Tinggalkan yang lelaki, tangkap dulu yang perempuan,"

Seru Wi Ki.

Segera sinar pedang berputar dan memburu ke arah Bwe Kim-soat.

Bwe Kim-soat tetap tenang saja, ia hanya melirik sekejap terhadap keempat Tojin itu.

Keempat Tojin ini sejak kecil sudah bertirakat di pegunungan sunyi, mana mereka pemah melihat perempuan secantik ini, mana pemah melihat senyuman semanis ini, keruan gerakan mereka menjadi agak lambat.

Namun dengan gemulai Bwe Kim-soat juga telah mengangkat tangannya, terdengar suara gemerantang nyaring, dalam sekejap tiga pedang Tojin itu telah dipatahkan oleh gelang baja rampasannya dari Wi Ki tadi.

Selagi Tojin keempat melongo kaget, tahu-tahu pandangannya menjadi silau, pergelangan tangan pun kesemutan, pedangnya telah dirampas oleh Bwe Kim-soat.

Menyusul Kim-soat menyambitkan gelang baja ke arah Wi Ki yang sedang menubruk Lamkiong Peng itu, lalu pedang rampasan menebas ke depan, Tojin pertama belum lagi sempat melompat mundur dan tahu-tahu dahi tergores luka dan mencucurkan darah.

Tojin kedua sempat menyurut mundur, tapi rambut yang tersanggul di atas kepala juga tertabas oleh pedang.

Tentu saja Tojin ketiga ketakutan, selagi melenggong, pedang Bwe Kim-soat yang menyambar tiba mendadak berhenti dan mengetuk pedang patah yang masih dipegangnya.

"Trang", pedang patah jatuh ke lantai, cepat ia melompat mundur sambil memegangi pergelangan tangan yang kesakitan. Hanya dalam sekejap saja ketiga Suhengnya sudah dibikin keok, Tojin keempat tidak berani lagi bertempur, segera ia hendak lari.

"Eh, jangan terburu-buru!"

Jengek Bwe Kim-soat, baru saja Tojin itu melangkah dua tindak, iga kanan-kiri sudah terkena pedang.

Saat itu Wi Ki telah menubruk ke depan Lamkiong Peng, tapi dari belakang gelang yang dilemparkan Bwe Kim-soat juga menyambar tiba.

Dari deru anginnya nyata terlebih kuat daripada lemparannya tadi.

Ia tidak berani gegabah, cepat ia menggeser ke samping sambil membalik tubuh, gelang baja yang masih dipegangnya menangkis ke depan dengan daya melengket, pikirnya bila gelang itu tertahan, segera akan ditangkapnya kembali.

Siapa tahu ketika kedua gelang kebentur, gelang yang dilemparkan Bwe Kim-soat mendadak dapat berputar, serupa bersayap saja tahu-tahu terbang lagi ke belakang Wi Ki.

Pada saat yang sama sepotong kayu terbakar mendadak jatuh dari atas.

Dalam keadaan tergencet, sebisanya Wiki meloncat ke samping.

"Trang"

Gelang baja menghantam lantai, kayu hangus tadi juga jatuh menerbitkan lelatu.

Ketika Wiki dapat menenangkan diri, dilihatnya Bwe kiam-soat telah berdiri diidepannya dengan tersenyum.

Sementara itu kobaran api tambah besar, bangunan restoran Thian-tiang-lau yang kukuh itu sampai berguncang dan hampir runtuh.

Lamkiong Peng dan Lu thian-an masih berhadapan dan bertempur dengan sengit.

Padahal keduanya sebenarnya dalam keadaan sama-sama payah, sampai akhirnya setiap pukulan dan setiap tendangan hampir serupa permainan anak kecil saja.

Namun air muka mereka justru jauh lebih prihatin.

Mendadak Lamkiong peng melancarkan pukulan dengan jurus Thian-liong-ie-dian atau naga meluku di sawah, dengan langkah lamban Lu thian-an mundur mengelak.

Pada saat itulah terdengar suara gemuruh, papan loteng telah runtuh sebagian, lidah api pun menyambar dari bawah ke atas, kebetulan langkah mundur Lu thian-an itu tepat menginjak papan loteng yang runtuh.

Ia menjerit kaget, syukur jarinya masih sempat meraih tepian papan loteng, tapi papan loteng itu lambat laun juga ambrol ke bawah.

Tampaknya dia akan ditelan oleh lautan api.

Dengan tenaganya sekarang mana dia mampu melompat lagi ke atas.

Tanpa pikir Lamkiong peng memburu maju dan menarik tangan Lu thian-an.

Padahal ia sendiri pun kehabisan tenaga, dengan sendirinya tidak mampu menarik naik Lu thian-an.

Kembali terdengar suara "krek"

Tempat berpijak Lamkiong peng juga akan ambrol, bilamana dia mau melompat mundur, terpakas Lu thian-an harus dilepaskan dan akan terjeblos ke dalam lautan api, tapi kalau dia tidak melompat mundur, ia sendiri pun akan ikut terkubur di tengah amukan api.

Sekujur badan Lu thian-an tampak gemetar, rambut jenggotnya sudah penuh lelatu api, tampaknya mulai terbakar.

Memandangi lawan yang telah bergebrak matimatian dengan dirinya ini, mendadak timbul rasa kasihannya, pegangannya dipererat dan tak terlepaskan.

Mendadak sepotong kayu hangus jatuh dari atas, untuk menghindar jelas tidak mungkin, terpaksa Lamkiong peng hanya miringkan kepalanya saja sehingga kayu hangus menyerempet jidat dan mengenai pundaknya.

Hanya selisih beberapa senti saja mungkin jiwa Lamkiong peng bisa melayang bilamana tepat mengenai kepalanya.

Sungguh tak terkatakan terharu hati Lu thianan oleh keluhuran budi anak muda ini, dengan suara gemetar ia berteriak.

"Lari.... lekas lari.....jangan urus diriku!"......."

Namun Lamkiong peng tetap memegangi sekuatnya, darah dari kening bercampur dengan air keringat bercucuran menetesi tubuh Lu thianan.

Di sebelah sana Wiki sedang menubruk ke arah Bwe kiam soat dengan murka.

"Hari ini biarlah kuadu jiwa dengan mu"

Gelang di tangan kanan segera mengepruk kepalan kiri juga menghantam.

"Hm memangnya kejadian sepuluh tahun yang lalau itu salahku?"

Jengek Bwe kiam-soat, dengan lincah ia hindarkan serangan Wiki itu, menyusul ia balas menabas pinggang lawan dengan pedangnya. Dengan beringas Wiki berteriak.

"tidak peduli siapa yang salah, yang jelas engkau lah pangkal bencananya, tanpa dirimu tentu takkan terjadi halhal begitu."

Rada merandek juga daya serangan Bwe kiamsoat, gumamnya.

"Tanpa aku takkan terjadi hal begitu.....Memangnyya salahku? Tapi apa kesalahanku?"

Wiki menerjang pula dcangan kalap. Teriaknya.

"Pokoknya perempuan adalah air bencana, biarlah hari ini kau mampus di tanganku1"

Dalam pada itu keempat tojin berjubah kelabu menubruk maju.

Namun sekali pedang Kiam-soat berputar kontan mereka didesak mundur lagi.

Tiba-tiba Kiam-soat berteriak kuatir dan melompat ke sebelah sana.

Tercengang juga Wiki ketika berpaling dan melihat keadaan bahaya Lamkiong peng dan Lu thian-an itu.

Tiada jalan lain, cepat gelang baja tangan kanan disambitkan ke sana, gelang baja meluncur dengan cepat, tapi setiba di depan Lamkiong peng segera berhenti.

Latihan Wiki selama berpuluh tahun memang tidak percuma, gelang baja berantai itu dapat dilempar dan ditarik sekehendak hatinya.

Ketika mendadak Lamkiong peng melihat gelang baja itu meluncur tiba segera dipegangnya dengan tangan kiri.

Serentak Wiki membentak dan menarik sekuatnya, segera tubuh Lamkiong peng terseret mundur, dan dengan sendirinya Lu thian-an ikut tertarik keatas.

Cepat Bwe kiam soat menambahi tenaga tolakan dengan kebasan lengan bajunya sehingga mereka terlempar ke tempat yang aman.

Segera keempat tojin berjubah kelabu akan menrjang maju lagi, tapi Lu thian-an lantas berteriak menghentikan mereka.

Ia memandang Lamkiong peng dengan termangu, akhirnya ia menghela nafas dan menunduk.

"Apakah perlu melanjutkan pertarungan kita?!"

Kata Lamkiong peng dengan nafas masih terengah.

"Ti......tidak, aku......aku sudah kalah!"

Jawab Lu thian-an.

Beberapa kata ini seolah-olah diucapkan dengan sepenuuhnya tenaganya.

Tentu saja Lamkiong peng melenggak, tak tersangka olehnya tojin ini bisa mengaku kalah begitu saja.

Dilihatnya wajah orang pucat pasi dan berdiri dengan lesu, dalam sekejap itu seorang guru besar suatu aliran terkemuka mendadak telah berubah menjadi seorang kakek yang patah semangat.

Memandangi bayangan belakang sang suheng, Wiki juga menggeleng kepala , ucapnya pelahan.

"Sisuheng......."

Tanpa berpaling Lu thian-an menjawab dengan lesu,"

Marilah kita pergi!"

Baru habis berkata, mendadak ia roboh terkulai, nyata luka pada badannya tidak lebih parah daripada luka hatinya Wiki berteriak kuatir, cepat ia mengangkat sang suheng dan dibawa lari menerobos lidah api dan melompat ke bawah loteng.

Segera keempat tojin berjubah kelabu juga ikut melompat turun.

Terdengarlah suara gemuruh, loteng restoran itu kembali runtuh sebagian.

Lamkiong peng terkesima, medadak ia menghela nafas dan bergumam.

"Giok-jiu-sun-yang betapapun tetap seorang ksatria!"

"Dan kau?"

Tanya Bwe kiam-soat dengan tertawa.

Kedua orang saling pandang tanpa bicara dan lupa lidah api hampir menjilat baju mereka.

************** Akhirnya terdengar juga suara ramai pasukan pemerintah.

Suara derap kaki kuda bercampur dengan suara teriakan orang banyak, suara orang berusaha memadamkan api, suara gemuruh rubuhnya bangunan dan jerit tangis orang........

Di tengah kepanikan dua sosok bayangan diamdiam meninggalkan kota kuno itu.

*********** Di suatu tanah berumput Lamkiong peng lagi berbaring dengan santai, bintang bertaburan di langit yang biru kelam, angin meniup dengan sejuk.

Bwe kiam-soat memandangi wajah anak muda yang cakap, terutama bulu matanya yang panjang menaungi kedua matanya yang besar terpejam itu.

"Tentunya tak kaupikir tugas yang diberikan oleh gurumu untuk membela diriku akan sedemikian beratnya bukan?"

Katanya tiba-tiba. Lamkiong peng melenggak dan memandang orang dengan termenung. Dengan dingin Bwe kiam-soat berkata pula.

"Apakah saat ini engkau menyesal karena membela diriku sehingga hampir saja kau sendiri menjadi korban kerubutan orang banyak tadi?"

Akhirnya Lamkiong Peng menjawab.

"Sudahlah, jangan kau bicara seprti ini lagi. Bagiku, asalkan hatiku merasa tidak berdosa, tidak berbuat sesuatu yang memalukan, kenapa aku mesti menghiraukan tuduhan orang. Demi kebenaran dan keadilan dunia kangouw, apa artinya pengorbananku ini?"

Bwe Kiam soat memandangnya dengan sorot mata lembut dan aneh, perempuan yang berjuluk "berdarah dingin"

Ini ternyata tiada ubahnya seperti gadis biasa yang juga bereprasaan.

Seketika mereka saling pandang dengan terkesima melupakan keadaan sekelilingnya.

Pada saat itu juga tidak jauh disebelah sana sesosok bayangan sedang memperhatikan kedua muda-mudi yang tenggelam dalam lamunan ini.

Sorot matanya menampilkan rasa kagum dan juga rada cemburu.

Tanpa terasa ia menghela nafas pelahan.

Tergetar hati Lamkiong peng dan Bwe kiam-soat, serentak mereka melompat bangun dan membentak.

"Siapa?"

Bayangan tadi tertawa panjang sambil melompat maju, hanya dua-tiga kali naik turun ia sudah bediri di depan mereka.

"Eh kiranya kau", kata Lamkiong peng dengan heran.

"Hm anak murid Thian-san mengapa main-main sembunyi-sembunyi sperti ini jengek Kiam-soat. Pendatang ini Tik Yang adanya, ia tertawa keras dan menjawab.

"Haha, apakah kedatanganku ini kauanggap main sembunyi-sembunyi? Bwe Kimsoat, kaukira untuk apa kudatang kemari?"

"Mungkin kedatanganmu...."

Lamkiong Peng merasa ragu. Dengan serius Tik Yang memotong.

"Walaupun kita baru saja kenal, tapi kupercaya penuh atas tindak-tandukmu pasti tidak merugikan kebenaran dunia persilatan, maka kedatanganku ini justru hendak memberi jasa baikku."

Lamkiong Peng melenggong dan kurang mengerti akan maksud orang. Dengan tertawa Tik Yang berkata pula.

"Apakah saudara tahu bagaimana terjadinya kebakaran tadi?"

Baru sekarang Lamkiong Peng menyadari duduk perkarara, rupanya kebakaran tadi tidak terjadi secara kebetulan, dengan sendirinya ia tidak tahu siapa yang melakukannya, maka ia menggeleng kepala.

"Setelah meninggalkan Hoa-san,"

Sambung Tik Yang dengan tertawa.

"selanjutnya aku pun datang ke Se-an hanya kedatanganku agak terlambat, waktu itu keributan sudah etrjadi. Dari tempat ktinggian kulihat engkau sedang melabrak ketua Cong-lam-pai itu. Melihat keadaan tempatnya, kutahu sukar untuk melarai, juga sukar membantu. Terpaksa.........haha, terpaksa kugunakan bantuan api."

Lamkiong peng melirik Bwe Kiam soat sekejap.

"Rupanya kita salah menyesali dia tadi,"

Ucap Kiam soat.

"Ah, sedikit salah mengerti apalah artinya."

Ujar Tik Yang dengan tertawa.

"Bangunan Thian-tianglau itu sungguh sangat megah, tapi ternyata tidak tahan dibakar. Kusaksikan kalian meninggalkan kota dengan selamat, diam-diam aku pun menyusul kemari."

"Tamapaknya Tik-siauhiap seorang sahabat yang simpatik, agaknya aku salah sangka......."

Belum lanjut ucapan Bwe kiam-soat, mendadak seorang mendengus dari kejauahan.

"Hm, simpatik apa, main bakar secara diam-diam masakah perbuatan simpatik segala?"

Lamkiong peng bertiga terkejut, serentak mereka berpaling. Tertampaknya dalam kegelapan sana muncul sesosok bayangan orang berkipas putih. Tanpa bicara Tik Yang mendahului menubruk kesana.

"Cepat amat!"

Ucap bayangan orang itu sambil mengebaskan lengan bajunya dan bergeser ke samping, habis itu segera melompat ke depan Lamkiong peng.

Sambil membentak Tik Yang lantas menubruk ke sini lagi, tapi segera terdengar Lamkiong peng berseru.

"O, kiranya Yim tai-hiap!"

Tergerak hati Tik Yang, ia tahu orang adalah kawan bukan lawan, seketika ia urungkan serangannya. Pendatang ini memang Ban-li-liu-hiang Yim Hong peng adanya, serunya dengan tertawa.

"Haha, tak tersangka yang main bakar itu adalah anak murid Thian san!"

Lamkiong peng juga tidak menyangka orang ini dapat menyusul ke sini, segera ia memperkenalkannya kepada Tik Yang. Yim hong-peng tertawa dan berkata.

"Tik siauhiap, sesungguhnya Thian-tiang-lau dibangun dengan sangat kukuh, cuma telah kutambahi juga sedikit bahan bakar sehingga dapat terjilat api dengan lebih cepat."

Baru sekarang Tik Yang tahu, Yim hong-peng juga mengambil bagian dalam pembakaran restoran megah itu. Ia tertawa dan berseru.

"Orang bilang Ban-li-liu-hiang adalah pendekar kosen dari perbatasan, setelah bertemu hari ini baru kupercaya Yim tai-hiap memang seorang ksatria yang suka blak-blakan."

Yim hong-peng memandang Lamkiong peng dan Bwe kiam soat sekejap, lalu berkata.

"Setelah peristiwa ini nona Bwe dan Lamkiong-heng tentu tidak leluasa bergerak lagi di dunia kang-ouw, entah bagaimana rencana perjalanan kalian selanjutnya?"

Dia bicara dengan serius, tapi sorot matanya tampak gemerdep menampilkan cahaya yang sukar diraba apa maksudnya. Lamkiong peng menghela nafas panjang, katanya.

"Siaute juga tahu unttuk selanjutnya akan banyak mengalami kesukaran di dunia kangouw, tapi yang penting asalkan kuraba hati sendiri merasa tidak bersalah, tindakanku selanjutnya juga tidak akan berubah, mungkin aku akan pulang dulu ke Ji-hau-san-ceng, lalu pulang ke rumah menjenguk orang tua....."

"Tempat lain masih mendingan, kedua temapta itu justru tidak boleh kau pergi ke sana,"

Potong Yim Hong-peng. Air muka Lamkiong peng berubah. Tapi Yim hong peng lantas menyambung.

"Maaf jika kubicara terus terang, bahwasanya nona Bwe pemah malang melintang di dunia kangouw dahulu, tentu tidak sedikit telah mengikat permusuhan. Apa yang terjadi di Se-an ini, tidak lama tentu juga akan tersiar, tatkala mana bila musuh nona Bwe ingin mencari kalian, tentu mereka akan menunggu dulu di kedua tempat itu. Dalam keadaan demikian, tentu kalian akan serba repot, terutama anggota keluarga Lamkiongheng........."

Sampai di sinis ia mengehela nafas ketika dilihatnya Lamkiong peng menunduk termenung. Tapi Bwe kiam-soat lantas menjengek.

"Habis lantas bagaimana kalau menurut pendapat Yim taihiap?"

Yim hong-peng tampak berpikir, ia tahu di depan perempuan cerdik ini tidak boleh salah omong sedikitpun. Dengan tersenyum kemudian ia berkata.

"Pendapatku mungkin terlalu dangkal, tapi mungkin berguna untuk dipertimbangkan kalian. Pada waktu nona Bwe malang melintang dahulu, meski sampai sekarang musuhmu itu tetap sama orangnya, tapi keadaan sduah berubah, oarangorang itu tersebar dimana-mana dan satu sama lain tahu mampunyai musuh bersama, yaitu nona Bwe. Pula menurut keadaaan masa itu, tentu tidak ada yang mau mengaku sebagai musuh nona Bwe. Tapi keadaan sekarang sudah berubah, bilamana orang-orang itu tahu nona Bwe masih hidup, tentu mereka akan bangkit dan bersatu untuk menuntut balas padamu."

Tiba-tiba tersembul senyuman aneh pada wajah Bwe kiam-soat, katanya pelahan,"Apakah benar mereka hanya ingin menuntut balas padaku? Mungkin....."

Ia pandang Lamkiong peng sekejap, lalu tidak melanjutkan.

"Apapun juga, menurut pendapatku, hanya dengan kekuatan kalian berdua tentu akan banyak menghadapi kesulitan.........."

"Lantas kalau menurut pendapat Yim tai-hiap, apakah kami.....kami harus minta perlindungan orang?"

Seru Lamkiong peng, nadanya kurang senang. Yim hong peng tersenyum.

"Ah dengan kedudukan kalian yang terhormat, mana berani kubilang soal minta perlindungan orang segala."

Mendadak Bwe kiam-soat menjengek.

"Yim taihiap, ada urusan apa kukira lebih baik kaukatakan terus terang saja daripada berliku-liku."

Di depan orang pintar, kukira memang tidak perlu banyak omong,"

Ujar Yim hong-peng.

"Yang jelas persoalan kalian ini memang perlu sahabat, kalau tidak, sungguh sukar lagi untuk berkecimpung di dunia kang-ouw, padahal hari depan kalian masih cerah, bila mesti putus harapan begini saja, kan sayang."

"Apa pun juga, mempunyai dua orang sahabat seprti kalian ini sedikitnya hatiku sudah terhibur."

Ujar Lamkiong peng.

"Ah diriku ini terhitung apa, kata Tik Yang dengan tertawa.

"Tapi Yim-heng tentu saja lain, beliau kan pendekar kosen dari perbatasan utara sana."

"Terima kasih atas pujianmu.

"kata Yim hong peng.

"Betapa tinggi kepandaianku mana dapat dibandingkan kalian berdua yang masih muda perkasa."

Ia merandek sambil menyapu pandang ketiga orang itu, lalu menyambung.

"Namun ada juga seorang kenalanku, orang ini sungguh berbakat besar, berbudiluhur, serba pintar baik ilmu falak maupun ilmu bumi, baik seni budaya maupaun seni bela diri, lwekangnya bahkan sudah mencapai puncaknya, sehelai daun saja dapat digunakannya untuk melukai orang. Yang paling hebat, kecuali mempunyai kepandaian yang mengejutkan, orang ini juga mempunya cita-cita setinggi langit, bahkan pergaulannya sangat luas, orangnya simpatik."

Diam-diam Bwe Kiam-soat menjengek, sedangkan Lamkiong peng dan Tik Yang meras tertarik.

Bila orang lain yang bicara demikian mungkin akan diremehkan mereka, tapi semua ini keluar dari mulut Ban-li-liu-hiang Yim hong peng, bobotnya tentu saja lain.

Tanpa terasa mereka tanya berbareng.

"Siapakah gerangan tokoh yang kau maksudkan itu?"

Yim hong peng tersenyum, tuturnya,"Orang ini sudah lama mengasingkan diri di luar perbatasan utaran sana, namanya sanagt sedikit diketahui orang.

Tapi kuyakin nama Swe thian Bang dalam waktu singkat pasti akan tersiar ke segenap pelosok dunia."

"Swe thian Bang? Sungguh nama yang indah!"

Kata Tik Yang.

"Jika benar ada seorang tokoh semacam itu, setiba di tionggoan tentu kami ingin berkenalan, Cuma sayang saat ini sukar untuk mememuinya."

Ujar Lamkiong peng. Tiba-tiba Bwe kiam soat menyela "

APakah maksud Yim tai-hiap , apabila kami dapat mengikat sahabat dengan tokoh kosen semacam ini, lalu segala urusan akan beres?"

Dia tetap bicara dengan nada dingin dan ketus. Yim hong peng, seprti tidak menghiraukannnya, katanya.

"Lamkiong-heng, suasana dunia persilatan skerang boleh dikatakan tercerai berai dan kacau balau. Kun lun pai sudah lama merajai wilayah barat, Siau lim-pai menjagoi daerah tionggoan, Butong pai menguasai daerah Kanglam, selain itu di selatan masih ada Tiam-jong-pai, di timur ada Wi-san-pai, di barat ada Cong-lam-pai. Masing-masing aliran menguasai kungfu andalan sendiri dan menguasai satu wilayah tertentu, meski semuanya juga berhasrat memimpin dunia persilatan dan setiap saat dapat menimbulkan kekacauan dunia persilatan, tapi lantaran pertarungan di Wi-san dahulu kebanyakan aliaran itu sudah mengalami kelumpuhan, ditambah lagi dunia kangouw sudah dipimpin oleh Sin-liong dan Tanhong, maka suasana sepuluh tahun terakhir ini masih dapat dikendalikan."

Dia berbicara panjang lebar, meski agak berteletele, namun tidak dirasakan jemu oleh Tik Yang dan Lamkiong peng. Maka ia menyambung pula.

"Tapi sekarang jago muda dari berbagai perguruan itu sama bermunculan, kekuatan sudah pulih, saking kesepian jadi ingin bergerak lagi. Ditambah lagi Sin-liong telah menghilang, perimbangan kekuatan jadi buyar juga. Kini tiada seorang di dunia persilatan yang mampu mengatasi semua orang, tidak terlalu lama di dunia kangouw pasti akan berbangkit huru-hara, kekuatan muda tersebut tentu juga akan membanjir timbul untuk berebut pengaruh, lantas bagaimana akibatnya tentu dapat dibayangkan. Nadanya mulai meninggi, ceritanya mulai tenang. Lamkiong peng dan Tik Yang juga terbangkit semangatnya. Tapi demi teringat kepada keadaan sendiri sekarang, tanpa terasa Lamkiong peng merasa gegetun dan dingin lagi hatinya serupa diguyur air. Sekilas Yim hong-peng dapat melihat perubahan air muka Lamkiong peng, diam-diam ia merasa senga, sambungnya pula.

"Sesudah lama tercerai akhirnya tentu akan bergabung lagi, bila terlampau sepi akhirnya pasti ribut lagi. Ini adalah kejadian logis. Tapi dalam keributan ini bila tidak diimbangi oleh suatu kekuatan besar untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, maka pastilah akan terjadi kesewenang-wenangan, yang kuat makan yang lemah, salah benar sukar dibedakan, tentu akan banyak terjadi kerusuhan pula. Dan bilamana susana kacau tak terkendalikan, akibatnya tentu tambah runyam."

"Ya memang pandangan Yim tai-hiap sungguh sangat tepat,"

Puji Lamkiong peng.

"Ah, apalah artinya diriku ini, justru Swe thianbang itulah jeniusnya manusia manusia jaman kini,"

Ujar Yim hong-peng dengan tersenyum.

"Meski kakinya belum pemah melangkah masuk Giok-bun-koan, tapi caranya menganalisa keadaan dunia persilatan dan apa yang akan terjadi sungguh seperti telah terjadi sungguhan. Terus terang kukatakan kedatanganku kepedalaman sini justru mengemban tugasnya, aku diminta mencari beberapa tokoh muda berbakat untuk bersamasama melaksanakan tugas suci menegakkan keadilan dunia persilatan."

Alis Tik Yang menegak, tukasnya,"Menegakkan keadilan, sungguh semboyan menarik. Sayang disini tidak arak, kalau tidak sungguh aku ingin menyuguhmu tiga cawan."

Lamkiong peng tambah resah bila teringat kepada urusan sendiri. Sedangkan Bwe Kiam-soat lantas mendengus, pikirnya.

"Kiranya Yim hong-peng ini tidak lebih cuma seorang pembujuk saja. Dia datang lebih dulu untuk mencari pendukung bagi Swe thian bang. Hm, besar amat ambisi orang She Swe ini, rupanya dia bemiat merajai dunia kangouw."

Setelah berpikir lagi diam-diam ia terkesiap juga.

"Lahiriah orang she Yim ini menarik, ilmu silatnya juga tinggi, tutur katanya juga memikat hati orang, jelas orang ini pun seorang tokoh luar biasa. Sampai tokoh seperti Bin-san-ji-yu pun dapat diperalat olehnya, tapi dia toh cuma menjadi seorang pembujuk bagi Swe thian bang, tampaknya kepandaian orang she Swe ini terlebih sukar dijajaki."

Agaknya Yim hong peng juga sedang mengamati rcaksi orang, maka kemudain ia menyambung lagi.

"Lamkiong-heng dengan kepandaianmu ditambah lagi kekayaan keluargamu, selanjutnya dunia persilatan mestinya berada dalam genggamanmu. Tapi engkau justru lagi menghadapai persoalan yang tak dapat dimaafkan oleh sesama omag kangouw bahkan saudara seperguruan sendiri pun tidak dapat memaklumi maksud baikmu, dalam keadaan tejepit, sungguh Lamkiong-heng serba susah. Tapi bila engkau mau bekerja sama dengan Swe thian bang, ditambah lagi tokoh muda serupa Tik-siauhiap ini, urusan apa pula yang tidak dapat diselesaikan"

"Kupikir, bila bekerjasama ini terlaksana, selain dunia persilatan dapat diamankan, juga Lamkiongheng dapat menggunakan kekuatan ini umtuk mengindang sesama orang Bulim untuk menjelas duduk perkara. Tatkala mana kekuatanmu sudah lain, ucapanmu berbobot, siapa lagi yang tidak percaya kepadamu. Jadinya bahaya yang mengancam Lamkiong-heng akan lenyap, namamu bahkan akan termashur, Ji-hau-san-ceng selanjutnya akan semakin disegani."

Dengan tersenyum tiba-tiba Bwe Kiam-soat berkata.

"Wah, menurut cerita Yim-tai-hiap ini, bukanlah dalam waktu singkat tokoh Swe thian bang yang luar biasa akan dapat merajai dunia persilatan dan menjadi Bulim-bengeu? "Ya bilamana dibantu oleh tokoh muda seperti kalian ini, tidak sampai beberapa tahun dunia persilatan pasti dapat dikuasai oleh kita,"

Ujar Yim hong-peng dengan tertawa. Dia sangat senang disangkanya kedua anak muda ini sudah terpikat oleh ocehannya. Bola mata Bwe kiam-soat berputar, katanya pula dengan tertawa.

"Maksud baik Yim tai-hiap ini sungguh sangat membesarkan hati kami, cuma.......saat ini kami sedang terdesak bahaya mengancam di depan mata, sebaliknya rencana Yim tai-hiap masih jauh daripada tercapai, bahkan jejak Swe thian-bang itu belum lagi menginjak daerah Tionggoan......."

Mendadak Ban-li-liu-hiang Yim hong peng tertawa dan memotong.

"Jika kalian sudah mau menerima ajakanku, dengan sendirinya aku pun tidak perlu merahasiakan urusan ini. Terus terang, meski jejakku baru mulai muncul sebulan terakhir, padahal sudah hampir lima tahun kujelajahi Tionggoan. Selama lima tahun ini sedikit banyak sudah kupupuk juga kekuatan tertentu, hanya karena waktunya belum tiba, maka sejauh ini belum diketahui kawanan Bulim."

"Wah melulu cara Yim tai-hiap menyembunyikan pekerjaan ini saja sudah lain daripada orang lain, sungguh hebat,"

Kata Kiam soat. Yim hong peng tertawa bangga.

"Namun caraku memilih orang sangat cermat, tidak sedikit kawan kalangan bawah dan menengah yang telah menggabungkan diri, tapi saudara dari lapisan atas justru masih sangat sedikit, sebab itulah kuminta bantuan kalian bertiga, sebab Swe siansing itu dalam jangka waktu singkat mungkin juga akan masuk ke daerah Tionggoan."

Meski dia sok pintar, tanpa terasa ia pun lupa daratan oleh senyum manis dan lirikan Bwee kiamsoat yang memabukkan itu dan pelahan tersingkap juga rahasia maksudnya.

Air muka Lamkiong peng dan Tik Yang rada berubah, sebaliknya dengan berseri-seri Yim hongpeng berkata pula.

"tidak jauh dari sini terdapat tempat persingghanku, meski sangat sederhana, tapi jauh lebih tenang daripada disini, cuma sayang masih ada sedikit urusanku di Se-an yang harus kuselesaikan, saat ini tidak dapat kuantar sendiri ke sana."

Bwe Kiam soat sengaja menghela nafas menyesal.

"Wah lantas bagaimana?"

"Tidak menjadi soal,"

Kata Yim hong-peng, meski tidak dapat kuantar sendiri, sepanjang jalan sudah ada orang siap menyambut kedatangan kalian......."

"Selain itu."

Sambungnya asmbil merogoh saku.

"Supaya kalian percaya kepada keteranganku, boleh lihat........."

Ketika tangan terangkat, terlihatlah oleh Kiam saot bertiga tiga kantung sutera berwama wami terpegang pada tangan Yim hong-peng.

"Bagus sekali, barang apakah ini?"

Tanya Kiamsoat.

"Sampai saat ini, boleh dikatakan sangat langka orang dunia persilatan yang pemah melihat benda ini,"

Tutur Yim hong-peng dengan prihatin sambil membuka salah sebuah kantung sutera itu.

Seketika semua orang mencium bau harum ane menusuk hidung.

Yim hong-peng lantas mengeluarkan sepotong kayu kecil persegi berwama lembayung dari dalam kantung dan diserahkan kepada Bwe kiam-soat.

Waktu Kiam-soat mengamati, potongan kayu kecil yang tidak menarik ini terbuat secara indah, bagian atas ada ukiran pemandangan alam yang permai, terlukis seorang berdiri di bawah cahaya senja sedang memandang puncak gunung di kejauhan, orang ini terlukis samar-samar, tapi bila diteliti kelihatan gagah dengan sikap yang hidup, Cuma sayang garis mukanya hanya terukir dari sisi belakang.

Di balik kepingan kayu ini terukir dua bait syair, sangat kecil hurufnya namun gaya tulisnnya indah kuat, jelas tulisan seniman temama.

Kepingan kayu ini keras dan berat serta berbau harum.

Setelah mengamati sejenak, kemudian Bwe kiam-soat bertanya.

"Apakah orang yang terukir di sini adalah orang yang disebut Swe thian-bang itu?"

Yim hong-peng mengangguk.

"Ya, benda ini tanda pengenal Swe thian-bang itu."

Lalu ia memberikan pula kedua kantung sutera kepada Lamkiong Peng dan Tik Yang, katanya pula dengan tertawa.

"Untuk mendapat kepercayaan kalian bertiga, sengaja kulanggar prosedur biasa dan kuberikan benda ini......."

"Prosedur biasa apa?"

Ujar Bwe kiam-soat sambil memainkan keping kayu dan kantung sutera yang dipegangnya.

"Setiba kalian di tempatku dengan sendirinya akan tahu,"

Kata Yim hong-peng.

Mendadak ia bertepuk tangan, baru berjangkit suara keplokannya, dari kejauhan lantas muncul sesosok bayangan secepat terbang.

Hanya sekejap saja orang ini sudah mendekat, ternyata dia adalah Tiangsun Tang, salah seorang jago dari Bin-san-ji-yu.

Ia berdiri dengan sikap hormat di depan Yim hong-peng sambil melirik sekejap ke arah Bwe Kiam soat, ketika diketahui benda yang berada di tangan orang, seketika wajahnya menampilakan rasa heran dan kejut.

"Agaknya antara Tiangsun-heng dan nona Bwe terdapat suatu perselisihan, tapi selanjtnya kita adalah orang sendiri, rasanya Tiangsun-heng perlu melupakan uusan masa lampau,"

Kata Yim hongpeng dengan tersenyum. Sejenak Tiangsun Tang melenggong, lalu berkata dingin.

"Saat ini juga sudah kulupakan."

"Cepat benar lupanya,"

Ujar Bwe kiam-soat dengan tertawa genit.

"Haha, memang harus begitu,"

Ujar Yim hongpeng. Sekarang harap Tiangsun-heng membawa mereka bertiga ke Liu-hiang-ceng kita, setelah kuselesaikan sedikit urusan di Se-an segera kupulang untuk menemui kalian disana."

"Dan.......pedang......."tergagap Tiangsun Tang.

"Oya, pedang Lamkiong-heng yang tertinggal di Sean itu sudah kusuruh bawa kemari,"

Yim hongpeng Selagi Lamkiong Peng melenggong, Tiangsun Tan telah menyodorkan pedang yang dibawanya sambil berkata.

"Sarungnya baru saja dibuat, mungkin tidak begitu cocok."

Yim hong-peng mengambil pedang itu dan dikembalikan kepada Lamkiong Peng, katanya.

"Tadi tanpa permisi kumasuk ke kamar Lamkiongheng, kulihat pedang pusaka ini tertinggal disana, maka secara sembrono kubawakan untuk Lamkiong-heng."

Sebelum Lamkiong Peng bersuara, pandangannya beralih kepada Tik Yang, katany pula.

"Tik-heng, apakh kauthau dimana letak kcanehan keping kayu ini?"

Alis Tik Yang menegak, jengeknya.

"Betapa anehnya barang ini, jika orang she Tik disuruh menjadi antek seorang yang bemafsu besar ingin menguasai dunia persilatan, hmk......"

Mendadak ia mendongak memandang langit sambil melemparkan kantung sutera yang dipegangnya ke tanah. Kerua Yim hong-peng terkesiap, air mukanya berubah seketika, katanya.

"Tik-heng aku....."

Tiba-tiba Lamkiong Peng juga berkata.

"Terimakasih atas maksud baik Yim tai-hiap, sesungguhnya kamu pun sangat ingin dapat bekerja sama dengan tokog besar semacam Swe tai-hiap itu, cuma........"

Ia menghela nafas, lalu mengembalikan kantung sutera kepada Yim hongpeng dan berkata pula.

"Siaute orang bodoh, juga sudah terbiasa hidup tidak beraturan, mungkin sukar ikut serta dalam pekerjaan besar yang dirancang Yim tai-hiap. Namun .........apa pun juga budi pertolongan Yim tai-hiap takkan kulupakan."

Pada dasarnya Lamkiong Peng berwatak jujur, ia dapat meraba maksud tujuan Yim hong-peng, maka tidak sudi di diperalat orang.

Tapi ia pun merasa utang budi, maka ia menolak ajakan orang dengan menyesal.

Air muka Yim hong-peng berubah kelam, kantung sutera itu diremasnya dengan mendongkol, pandangannya pelahan beralih kepada Bwe kiam-soat.

"Aku sih tidak menjadi soal,"

Kata Kiam-soat dengan tertawa, kepingan kayu dimasukkan lagi kedalam kantung. Lamkiong Peng tercengang, sebaliknya sinar mata Yim hong-peng mencorong terang. Dengan tertawa Kiam-soat menyambung lagi.

"Tapi aku pun tidak mempunyai ambisi sebesar itu, sebab itulah terpaksa aku pun menerima ajakan Yim tai-hiap dengan ucapan terima kasih, hanya....."

Pelahan ia masukkan kantung sutera itu ke dalam bajunya, lalu melanjutkan, kantung sutera dan kepingan kayu ini tampaknya sangat menyenangkan, maka berat untuk kukembalikan kepadamu, jika secara sukarela Yim tai-hiap sudah memberikannya kepadaku, kukira engkau pasti takkan memintanya kembali dariku, bukan?"

Seketika air muka Yim hong-peng berubah pucat dan melenggong dengan bingung, pelahan ia lantas menjemput kantung sutera yang dilemparkan Tik Yang tadi. Lamkiong Peng merasa tidak enak hati, ucapnya.

"Maafkan, selanjutnya asalkan Yim tai-hiap ada....."

Mendadak Yim hong-peng bergelak tertawa pula.

"Haha, agaknya orang she Yim bermata lamur, kiranya kalian sengaja hendak mempermainkan diriku........"

Sampai di sini tiba-tiba sorot matanya berubah mencorong, sambungnya sekata demi sekata.

"Hm, setelah kalian mengetahui rahasiaku, memangnya kalian ingin pergi dengan hidup. Hah, apakah kalian sangka orang she Yim seorang tolol?"

Serentak ia melompat mundur sambil berkeplok, segera dari tempat gelap di sekitarnya muncul berpuluh sosok bayangan orang.

Lamkiong Peng bertiga terkesiap.

Pelahan Tiangsun Tang melolos pedang dan siap tempur.

"Hm, bila orang she Yim tidak yakin dapat membuat kalian tutup mulut selamanya mana kumau memberitahukan rahasiaku sendiri kepada kalian?"

Jengek Yim hong-peng pula, waktu ia angkat tangannya, serentak bayangan orang itu mendesak maju dari sekelilingnya. Lamkiong Peng menyapu pandang sekejap, jengeknya.

"Mesti ada rasa terimakasihku kepada Yim-heng, tapi dengan tindakanmu ini rasa terimakasih jadi hanyut seluruhnya. Jika beratus orang di Se-an saja tidak mampu mengusik scujung rambutku, sekarang cuma berpuluh orang ini dapatkah mengatasi kami bertiga"

Segera Tik Yang juga berteriak.

"Siapa yang berani, boleh silakan dia rasakan dulu Thian-sansin-kiam."

"Boleh kaubelajar kenal dulu dengan usaha orang she Yim, jawab Yim hong-peng sembari menggeser mundur. Serentak Tiangsun Tan juga melompat kesana dan berdiri berjajar bersama Yim hong-peng di antara lingkaran orang-orang berbaju hitam. Dengan sendirinya Lamkiong peng dan Tik Yang juga berdiri berjajar dengan Bwe kiam-soat, barisan musuh kelihatan mendesak maju dengan pelahan.

"Tenang, kata Bwe Kaim soat.

"Jangan sembarangan bergerak. Bila keadaan tidak menguntungkan, segera kita terjang keluar saja."

Tiba-tiba terdengar suara gemerantang nyaring, suara rantai besi, menyusul Yim hong-peng lantas membentak.

"Thian (langit)!"

Serentak berpuluh bayangan orang itu mengangkat tangan ke atas, berpuluh jalur cahaya dingin segera terbang tinggi ke langit dari tangan orang-orang berbaju hitam itu.

Terdengar Yim hong-peng membentak pula.

"Te(bumi)!"

Sekaligus berpuluh cahaya dingin melayang pula dari gerombolan orang banyak itu dan menyambar ke arah Lamkiong Peng bertiga.

Keruan mereka terkejut, Lamkiong peng membentak sambil melolos pedang, dengan cepat ia memutar pedangnya.

Bwe kiam-soat juga lantas mengebaskan lengan bajunya, Tik Yang pun menghantamkan kedua tangannya ke depan sehingga cahaya dingin itu sama rontok sebelum tiba di tempat tujuan.

Tak terduga kembali terdengar suara bentakan.

"Hong (angin)!"

Terdengar suara menderu, segulung cahaya perak melesat tinggi ke udara, habis itu secepat kilat gulungan cahaya menyilaukan mata dengan suara menderu keras, ditambah lagi suara nyaring rantai ketika bergerak, tampaknya tidak kepalang lihainya.

Tik Yang bersuit panjang dan melompat ke atas, Bwe kiam soat juga berteriak kaget.

"Celaka!"

Belum lenyap suaranya, cahaya perak yang berhamburan itu dalam sekejap saja telah membenam seluruh tubuh Tik Yang.

Lamkong Peng terkesiap, cepat ia putar pedangnya melindungi sekujur badan, ia pun melompat ke atas.

Pada waktu tubuh Tik Yang baru bergerak ke atas, mendadak dirasakan berpuluh buah Liu-singtui (bola berantai) menyambar kepalanya.

Cepat ia menggeliat sehingga tubuhnya membelok ke samping, siapa tahu cahaya perak kembali menyambar tiba dan membungkus tubuhnya.

Dalam keadaan demikian ia tidak dapat berpikir panjang lagi, sekali meraih, sebuah bola perak ditangkapnya, lalu mengikuti daya tarikan, langsung ia menubruk ke bawah.

Tapi segera dirasakan tangan kesakitan tertusuk, pinggang kiri dan paha kanan juga kesakitan, terdengar suara gedebuk, tahu-tahu ia menumbuk tubuh seorang berbaju hitam, keduanya sama menjerit kaget dan jatuh terguling.

Dalam pada Itu Lamkong Peng sedang melayang ke atas dengan berputar untuk melindungi tubuh sendiri, di tengah gelombang cahaya tampak sedikit kacau, kesempatan itu segera digunakannya untuk menerjang, pedang pusaka Yap-siang-kiu-loh memperlihatkan kesaktiannya, terdengar suara gemerincing nyaring, bola berantai yang merupakan senjata khas kawanan lelaki berbaju hitam itu sama tertabas putus oleh pedangnya.

Kemudian terlihat olehnya Tik Yang lagi menjerit kaget dan jatuh terguling.

Terkesiap juga Bwe kiam soat melihat senjata andalan musuh yang khas itu, ia pikir pantas Yim hong peng begitu garang, mentang-mentang mempunyai barisan tempur yang lihai.

Hendaknya diketahui, senjata sebangsa Lui-singtui (bola berantai), Lian-cu-jiang (tombak berantai) dan senjata lemas lainnya bukanlah senjata yang langka, namun sangat sukar melatihnya dengan baik.

Terlebih di tengah orang banyak, bila latihannya tidak sempuma, bisa jadi akan melukai lawan atau diri sendiri malah.

Tapi bila senjata yang lemas itu dapat dikuasai dengan baik, maka daya tempurnya akan berlipat ganda.

Bahwa berpuluh lelaki berseragam hitam ini dapat serentak menggunakan senjata lemas begini, jelas mereka sudah terlatih dengan baik dan dapat bekerja sama dengan rapih sehingga tidak sampai melukai sendiri dan mencederai lawan.

Pengalaman tempur Bwe kiam soat sudah banyak, ia tahu barisan tempur ini sangat lihai dan sulit dihadapi.

Tapi saat itu Lamkiong Peng sudah menerjang ke tengah musuh, cepat ia pun ikut melayang maju, sekali lengan bajunya mengebas dengan kuat, kontan ia bikin rontok tujuh-delapan Lui-sing-tui yang lagi menghantam Lamkiong Peng.

Dalam pada itu Lamkiong Peng lantas memburu ke tempat roboh Tik Yang.

Tentu saja Bwe kiam soat berkerut kening melihat kelakuan anak muda itu, ia tahu bila lusing-tui musuh menyerang lagi pasti sukar menghindar bagi Lamkiong Peng.

Namun pada saat itu cahaya perak juga sudah kacau, terdengar Yim-hong -peng membentak pula.

"Siang (es)"

Segera Bwe kiam soat berputar ke sana dan ikut menubruk maju bersama Lamkiong Peng.

Sekonyong-konyong terdengar angin menderu lagi, berpuluh Lu-sing-tui serentak telah ditarik kembali, berpuluh lelaki berseragam hitam juga melompat mundur.

Rupanya Yim-hong-peng juga terperanjat ketika melihat barisan bola berantai anak buahnya terjadi kekacauan karena diterjang oleh Tik Yang dan Lamkiong Peng.

Padahal barisan bola berantai khusus dilatihnya dengan mengumpulkan berbagai jago silat pilihan, barisan ini memakai perhitungan Pat-kua dan berdasarkan perubahan thian (langit), te (bumi), hong (angin), uh (hujan), jit (matahari), goat (bulan), in(mega), soat (salju), dan siang(es).

Dengan sendirinya sangat ruwet perubahan sembilan macam unsur itu, namun bantu membantu satu sama lain, apalagi setiap bola berantai itu berduri pula, dengan sendirinya daya tempurnya luar biasa hebatnya.

Kini dilihatnya Tik yang hanya terluka ringan saja, Yim hong-peng kuatir barisan ciptaannya akan dibobol musuh, maka cepat ia undurkan diri dulu barisannya untuk merapikannya lebih dulu.

Waktu itu Lamkiong Peng sedang memeriksa keadaan Tik Yang, dilihatnya darah mengucur dari pinggang kiri dan paha kanan, namun tangan Tik Yang sekuatnya lagi mencekik leher seorang lelaki berbaju hitam dan ditindihnya dari bawah, dari celah jari juga merembes darah segar.

Pada telapak tangan kiri lelaki berbaju hitam itu memakai sarung tangan kulit dan terikat seutas rantai perak mengkilat, bola perak pada ujung rantai terpegang oleh Tik Yang, mendadak Tik Yang menggeram dan cahaya perak berkelebat, darah pun berhamburan, kiranya sekali hantam dengan bola yang dipegangnya Tik Yang telah menghantam remuk kepala lawan.

Cepat Lamkiong Peng membengunkan Tik Yang, dilihatnya kedua mata orang merah membara, dada penuh berlepotan darah, untuk pertama kalinya anak muda ini terluka, juga untuk pertama kalinya selama hidup anak muda ini membunuh orang.

Melihat darah yang bereeceran, ia menjadi terkesima memandangi bola perak yang masih terpegang olehnya.

"Hm, ternyata Thian-san-sin-kiam juga Cuma begini saja,"

Tiba-tiba terdengar Yim hong-peng mengejek dari samping.

"Hanya begini apa? Sedikitnya juga telah mengacaukan barisanmu, untung kauhentikan gerakan barisanmu, kalau tidak, hmk!.......ejek Bwe kiam-soat.

"Huh jangan temberang dulu.

"jawab Yim hongpeng.

"kedatanganku ke darcah Tionggoan sekali ini sebenarnya juga tidak bermaksud mengikat permusuhan, sebab itulah barisan bola perak ini belum kugunakan secara tuntas. Apabila kalian bisa melihat gelagat, hendaknya turut nasihatku, kalau tidak, terpaksa kalian harus menyaksikan kesaktian barisan bola perak yang sesungguhnya."

Habis berkata, segera Yim-hong-peng bermaksud melompat mundur ke tengah barisannya.

"Nanti dulu!"

Bentak Kiam soat mendadak, sekali bergerak, tahu-tahu ia sudah hinggap di depan Yim-hong-peng.

"Hah, memangnya dapat kautahan diriku,"

Jengek Yim-hong-peng, mendadak ia meloncat lagi.

"Boleh kau coba!"

Jengek Bwe kiam soat dengan tertawa, tangan kiri terangkat dan lengan baju berkibar, serupa ular saja tahu-tahu hendak membelit betis Yim-hong-peng.

Tergetar juga hati Yim-hong-peng, cepat kedua tangannya menebas ke bawah, kaki kanan pun mendepak.

Namun sedikit Bwe kiam soat menarik lengan bajunya, katanya dengan tertawa.

"Lebih baik kauturun saja!"

Belum lenyap suaranya, benar juga Yim-hongpeng sudah jatuh kembali ke tempat semula dan menatap Bwe kiam soat dengan tercengang. Baru saja Bwe kiam soat telah mengeluarkan gerakan "Liu-in-hui-siu"

Atau awan mengambang dan lengan baju menyambar, tampaknya tidak ada suatu yang istimewa, tapi ternyata membawa tenaga betotan yang maha kuat, juga ketepatan waktu dan bagian yang di arah terjadi secara tepat dan jitu.

Diam-diam Lamkiong Peng juga terkejut, baru sekarang ia menyaksikan kepandaian asli Bwe Kiam-soat.

Di samping terkejut ia pun kagum.

Padahal selama sepuluh tahun ini perempuan ini selalu berbaring di dalam sebuah peti mati yang sempit, tersiksa dan bisa membuat gila.

Namun perempuan ini tidak saja tetap tawakal, bahwa lwekangnya yang sudah punah dapat pulih kembali, sungguh suatu pekerjaan yang tidak mudah.

Terutama ilmu awet muda yang berhasil juga dikuasainya bahkan kungfunya seperti lebih maju daripada dulu.

Sungguh sukar dimengerti resep apa yang membuatnya mencapai mukjizat seperti ini.

Dalam pada itu pelahan Tik Yang telah duduk tegak.

"Hm, sudah saatnya kalian memilih apakah ingin menyerah atau tetap bertempur, apalagi kalian perlu juga bersiap membereskan urusan orang she Tik ini setelah dia mampus,"

Jengek Yim Hong-peng.

"Apa katamu?"

Bentak Lamkiong Peng terkesiap.

"Hehe,"

Yim Hong-peng tertawa ejek.

"pada bola perak berduri itu dilumuri racun, bila masuk darah, sukar lagi tertolong. Maka bila kau ingin menolong jiwa kawanmu, hendaknya kau lekas ambil keputusan."

Rupanya dia rada keder akan kesaktian Bwe Kim-soat, maka sengaja menggertak dengan racun yang mengenai Tik Yang itu.

Air muka Lamkiong Peng berubah hebat, waktu ia berpaling ke sana, dilihatnya wajah Tik Yang berubah kaku dan mata buram.

"Hm, biarpun kaubicara menakutkan juga takkan mampu menggertak diriku,"

Jengek Kimsoat.

"Tapi kuyakin dalam hatimu harus mengakui aku tidak main gertak belaka,"

Ejek Yim Hong Peng.

"Kau sendiri sudah terkenal sebagai perempuan berdarah dingin, dengan sendirinya mati hidup kawan tidak perlu kau pikirkan. Tapi kau Lamkiong Peng, apakah kaupun manusia yang berbudi rendah begitu?"

Tegetar juga hati Lamkiong peng, dirasakan tangan Tik Yang dipegangnya panas membara, sinar matanya juga berubah buram.

"Bila kebekuk dirimu, masakah takkan kau serahkan obat penawarnya? Jengek Bwe kiam soat pula.

"Obat penawarnya memang ada, tapi tidak ku bawa, apalagi.....hehe, apakah kau yakin mampu membekuk diriku?"

Alis kiam-soat menegak, medadak ia terbahakbahak.

"Hahaha, sungguh mengegelikan kusangka Ban-li-liu-hiang Yim Hong Peng itu tokoh lihai macam apa, tak tahunya Cuma begini saja."

Yim Hong Peng meraba janggutnya berlagak tidak mendengar. Kiamsoat mendengus lagi.

"Huh, dengan cara licik ini utnuk menjirat orang masuk ke dalam komplotanmu, apakah tindakan ini tidak teramat bodoh? Umpama berhasil kaubujuk orang dalam komplotanmu, apakh kemudian dapat kaujamin kesetiannya, apakah dia takkan menjual rahasiamu dan berkhianat? Hah, bisa jadi engkau akan menyesal dikemudian hari."

"Hahahahaha! "Yim Hong Peng terbahak.

"Untuk ini nona tidak perlu kuatir bagiku, jika orang she Yim tidak yakin mampu menaklukan harimau, tidak nanti ku berani naik ke gunung."

Diam-diam Bwe kiam-soat merancang tindakan apa yang akan diambilnya, lahirnya ia berlagak tertawa, ia pikir harus sekali serang merobohkan Yim Hong Peng, bila gagal serentak mereka bertiga lantas menerjang keluar kepungan musuh sebelum barisan bola maut itu bergerak.

Selagi ia termenung, di tengah malam sunyi mendaak ia mendengar suara burung gagak berkaok satu kali, segulung bayangan hitam terbang tiba dengan cepat sekali, dari kecepatan terbangnya lebih menyerupai seekor elang daripada dikatakan seekor gagak.

Selagi Kiam soat terkesiap dilihatnya burung gagak yang aneh ini mendadak menubruk ke muka Yim Hong Peng , tampaknya hendak mematuk biji matanya.

Tentu Yim Hong Peng terkejut, cepat ia menggeser mundur, berbareng sebelah tangannya lantas menghantam.

Pukulan ini sangat kuat, gagak itu juga sedang menyambar ke depan, sepantasnya sukar menghindarkan pukulan dasyat ini.

Siapa duga, kembali terdengar suara gaok yang panjang, secepat kilat gagak itu terbang membalik, kecepatannya terlebih mengejutkan daripada menyambar tiba tadi, hanya sekejap saja lantas menghilang dalam kegelapan.

Yim Hong Peng sendiri jadi melongo, tangan yang hampir menghantam tadi hampir tak dapat diturunkan lagi.

Di dunia ini memang banyak hewan yang cerdik, tapi seekor burung gagak dapat terbang mundur, sungguh hal ini tidak pemah terdengar, benar-benar peristiwa yang ajaib.

Selagi merasa bingung, tiba-tiba terdengar suara bentakan aneh dari jauh mendekat.

"Minggir!".........minggir!"

Menyusul terjadi kegaduhan diantara kawanan lelaki berseragam hitam dan bersenjata bola berantai, barisan mereka pun menjadi kacau dan sama menyingkir untuk memberi jalan lalu.

Kening Yim Hong Peng berkerut, bentaknya,"

Tenang, tetap ditempat, apakah kalian sudah lupa pada disiplin yang diajarkan, sebelum bertempur barisan kacau dulu, dosa ini tak terampunkan!"

Belum habis ucapannya, mendadak seorang tojin kurus kering berjubah biru dan berambut putih melangkah tiba dari balik barisan sana sembari membentak.

"Minggir! Minggir !"

Rambut dan jenggot tojin ini sudah putih seluruhnya, panjang jubah birunya Cuma sebatas dengkul, mukanya kurus, tapi sikapnya gagah berwibawa, telapak tangan kiri terangkat di depan dada dan diatas telapak tangan hinggap seekor burung gagak.

Waktu Yim Hong Peng mengamati lebih teliti, kiranya suara teriakan serak aneh tadi justru keluar dari mulut burung gagak itu.

Tentu saja ia melenggong.

Bahwa burung gagak dapat terbang mundur sudah merupakan kejadian ajaib.

Gagak ini ternyata dapat bicara pula, dengan sendirinya hal ini terlebih mengejutkan, bairpun Yim Hong Peng sudah kenyang makan asam garam dunia kangouw dan luas pengetahuannya juga terheran-heran.

Bwe kiam-soat juga tercengang, dilihatnya si tojin kurus tersenyum simpul, mendadak burung gagak itu berteriak lagi.

"Bulan tidak gelap, angin tidak kencang, mengapa kota Se-an yang aman tentram ini tejadi kekabaran dan pembunuhan, apakah kalian sengaja bikin rusuh!"

Meski serak suaranya, tapi lafalnya cukup jelas, hal ini membuat Bwe kiam soat tambah melongo.

Hanya sinar mata Lamkiong Peng tetap gemerdep dan tidak mengunjuk rasa terkejut, tapi setelah melihat si tojin berambut putih itu, tibatiba teringat seorang olehnya, baru saja dia berseru.

"Kau........"

Mendadak sorot mata si tojin menyapu pandang ke arahnya dan mengedipinya.

Seketika Lamkiongpeng urung bicara dan memandang orang dengan bingung.

Ban-li-liu-hiang berusaha mengatasi rasa bimbangnya, ia memberi hormat dan menyapa.

"Totiang tentu orang kosen dari dunia luar, entah ada keperluan dan petunjuk apa datang ke sini?"

Tojin berambut putih itu terbahak, si gagak berteriak lagi.

"Mengapa engkau Cuma menghormat padanya, masa tidak melihat kehadiranku disini?"

Yim Hong Peng melenggak dan serba susah, masakah dirinya juga harus memberi hormat kepada seekor burung gagak, sungguh mustahil. Si tojin tertawa katanya.

"Kawanku meski seekor burung namun wataknya angkuh, tingkatannya memang juga sangat tinggi, bila kauberi hormat padanya kan tidak menjadi soal?"

Yim Hong Peng melenggong sejenak, dengan hati tidak rela ia merangkap kepalan di depan dada sebagi tanda hormat.

Betapapun dia telah terpengaruh oleh sikap tojin yang berwibawa dan juga keajaiban burung gagak itu sehingga menurut saja apa yang dikatakan si tojin.

Sorot mata Lamkiong Peng menampilkan senyuman geli terhadap apa yang dilihtanya ini.

Diam-diam Bwe kiam-soat juga merasa heran, ia tahu pribadi Lamkiong peng yang lugas, tidak nanti ia tinggal diam menghadapi suatu urusan yang ganjil.

Maka ia menjadi curiga, namun kecerdasan burung gagak itu memang terbukti nyata, betapapun pintarnya juga tidak paham mengapa bisa begini.

Dilihatnya si tojin sedang mengangguk dan berkata.

"Baik anak muda yang sopan, tidak percuma kedatanganku ini."

Setelah merandek sejenak, lalu ia berkata lagi dengan kereng terhadap Yim Hong Peng.

"Tanpa sengaja aku berlalu di sini, kulihat disini hawa pembunuh berkobar, aku tidak sampai hati menyaksikan kawanan ksatria sama tertimpa malapetaka, maka sengaja mengitar ke sini."

Dengan bingung Yim Hong Peng menjawab "Ucapan Cianpwe sungguh sukar di mengerti..........."

"Jelas dirundung kemalangan, apabila kau berani main senjata, pasti celakalah kau, maka kuanjurkan lebih baik kau loloskan diri sebelum terlambat,"

Kata si tojin pula dengan gegetun. Sama sekali ia tidak memandang Lamkiong peng dan Bwe kiam soat, seperti kedua orang itu membuatnya jemu, lalu dengan nada kereng ia menyambung.

"Jika ada orang merintangimu, mengingat sopan santunmu ini, biarlah nanti kutahan mereka."

"Tapi....."

Yim Hong Peng tambah bingung.

"Tapi apa? Masa kau tidak percaya kepadaku?"

Bentak si tojin dengan bengis. Serentak burung gagak itu menyambung.

"Kemalangan akan menimpa dan belum lagi kausadari, kasihan!"

Yim Hong Peng berdiri termangu dengan air muka pucat, ia pandang Lamkiong peng bertiga dan memandang pula si tojin dan burung gagaknya, katanya kemudian dengan tergagap.

"Bukan Wanpwe tidak percaya kepada ucapan Cianpwe, soalnya urusanku ini tidak dapat diselesaikan dengan sekata dua patah saja, pula........"

"Pula apa yang kukatakan sukar untuk dipercaya, begitu bukan maksudmu?"

Potong si tojin. Yim hong-peng diam saja, biasanya diam berarti membenarkan. Mendadak si tojin bergelak tertawa.

Baca Juga: Pendekar Patung Emas 2

Baca Juga: Si Kaki Sakti Menggemparkan Dunia 01869355886

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert