Eps 10 Anak Naga - Chin Yung
Baca online Anak Naga - Chin Yung
Cersil Anak Naga - Chin Yung.
"Hiat Mo Pang -"
Gumamnya-"
Kalau begitu, Hiat Mo pasti masih berada di Pek yun Koksetelah mengunjungi ke dua orangtua Giok Cu, aku harus segera berangkat ke Pek yun Kok-"
Ini Thio Han Liong singgah di sebuah kedai teh di pinggir jalan. Pemilik kedai teh segera menyuguhkan secangkir teh wangi.
"Tuan masih mau pesan makanan lain?"
Tanya pemilik kedai teh yang berusia enam puluhan. Tidak. Paman Tua,"
Sahut Thio Han Liong sambil menghirup teh wangi itu.
"Aaaah -"
Tiba-tiba pemilik kedai teh menghela nafas panjang.
"Kenapa Paman Tua menghela nafas panjang?"
Tanya Thio Han Liong heran. Pemilik kedai teh memberitahukan.
"Sejak Hiat Mo Pang berkuasa dalam rimba persilatan, kaum golongan putih menyembunyikan diri Maka, kedai tehku ini menjadi sepi sekali. Para anggota Hiat Mo Pang sungguh kejam, mereka sering merampok dan memperkosa...."
"Paman Tua, betulkah tujuh partai besar telah takluk kepada Hiat Mo Pang?"
"Betul. Bahkan ketua Run Lun dan ketua Khong Tong telah binasa di tangan Tong Koay dan Pak Hong."
"Apa?"
Thio Han Liong terbelalak.
"Bagaimana mungkin Tong Koay dan pak Hong membunuh ke dua ketua itu?"
"Itu kudengar sendiri dari murid-murid Kun Lun dan Khong Tong Pay, ternyata Tong Koay dan Pak Hong berada dipihak Hiat Mo Pang."
"Itu tidak mungkin. Tidak mungkin..."
Gumam Thio Han Liong sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku dengar, kalau tidak salah Tong Koay dan Pak Hong telah terpengaruh oleh ilmu sihir Hiat Mo, maka ke dua jago tua itu menuruti semua perintah Hiat Mo-"
"oooh"
Thio Han Liong manggut-manggut, kemudian bertanya.
"Paman Tua sudah berusia lanjut, kenapa masih membuka kedai teh?"
"yaaah -"
Pemilik kedai teh menghela nafas panjang.
"Karena cucu-cucuku masih kecil...."
"Di mana orangtua mereka?"
"Beberapa tahun lalu, anak dan menantuku meninggal di bunuh para anggota Hiat Mo Pang...."
"Kenapa para anggota Hiat Mo Pang membunuh anak dan menantu Pa man Tua?"
"Mereka ingin memperkosa menantuku, maka anakku melawan. Akhirnya ia meninggal di tangan anggota Hiat Mo Pang. Begitu melihat anakku meninggal, menantuku langsung membunuh diri sejak itu aku harus mengurusi cucu-cucuku."
"oh?"
Thio Han Liong menatap pemilik kedai teh itu dengan iba.
"sekarang siapa yang menjaga cucu-cucu Paman Tua?"
"Seorang janda tua, dia tidak punya anak-Kalau aku ke mari membuka kedai teh, janda tua itu ke rumahku untuk menjaga cucu-cucuku."
"oooh"
Thio Han Liong manggut-manggut, kemudian memberi pemilik kedai teh itu tiga ratus tael perak-"Paman Tua, uang ini untuk biaya hidup cucu-cucu Paman Tua.
sekolahkan mereka agar kelak bisa ikut ujian di Kotaraja"
"Tuan...."
Pemilik kedai teh memandang Thio Han Liong dengan mata basah-"Terimalah"
Desak Thio Han Liong.
"Terima kasih"
Ucap pemilik kedai teh sambil menerima uang perak itu.
"Terima kasih, Tuan."
"Paman Tua,"
Pesan Tiiio Han Liong.
"Hati-hatilah menyimpan uang ini, jangan sampai orang lain tahu Paman Tua punya uang sebanyak itu"
"Ya-"
Pemilik kedai teh cepat-cepat menyimpan uang itu ke dalam bajunya.
"Paman tua, aku mohon pamit,"
Ucap Thio Han Liong lalu melangkah pergi. Begitu sampai di luar, ia langsung melesat pergi.
"Haaahhh"
Mulut pemilik kedai teh ternganga lebar.
"Tak disangka pemuda itu berkepandaian begitu tinggi." -ooo0000ooo-Beberapa hari kemudian, Thio Han Liong sudah tiba di desa Hok An, dan langsung menuju rumah Tan Ek seng. Perlahan-lahan Thio Han Liong memasuki halaman rumah itu la menengok ke sana ke mari dengan kening berkerutkerut, karena rumah itu tampak tidak diurus sama sekali. Di saat itulah mendadak muncul seorang wanita, ialah Ah Hiang, pembantu di rumah itu.
"Bibi Hiang Bibi Hiang..."
Panggil Thio Han Liong.
"Hah? Han Liong...."
Ah Hiang langsung menangis sedih.
"Di mana Nona? Kenapa tidak ikut ke mari?"
"Dia -dia masih berada di Pek yun Kok-Aku ke mari duluan mengunjungi paman dan bibi-Di mana mereka?"
"Ayoh ikut aku ke halaman belakang"
Ah Hiang menarik Thio Han Liong ke halaman belakang.
"Bibi Hiang, ada apa?"
Tanya Thio Han Liong heran.
Ah Hiang tidak menyahut, melainkan terus menarik Thio Han Liong ke halaman belakang, sampai di halaman belakang, Thio Han Liong terbelalak dan wajahnya pucat pias.
Ternyata di halaman belakang terdapat sebuah makam.
Begitu membaca tulisan yang ada pada batu nisan itu Thio Han Liong langsung menjatuhkan diri di hadapan makam itu dan menangis sedih.
"Paman, Bibi--"
Air mata Thio Han Liong berderai-derai, Itu adalah makam Tan Ek seng dan Lim soat Hong. Lama sekali Thio Han Liong menangis dengan air mata berlinanglinang, setelah itu barulah bertanya.
"Kenapa Paman dan bibi meninggal? Apa yang terjadi di sini?"
"Han Liong -"
Sahut Ah Hiang terisak-isak-"Setahun yang lalu, muncul para anggota Hiat Mo Pang merampok desa ini.
Tuan dan nyonya pergi melawan mereka, tapi akhirnya meninggal di tangan para anggota Hiat Mo Pang itu."
"Hiat Mo Pang lagi Aku bersumpah akan membunuh para anggota Hiat Mo Pang itu"
Thio Han Liong mencetuskan sumpahnya itu.
"Han Liong, kalau engkau bertemu nona, bawalah dia ke mari menyembayangi ke dua orangtuanya"
Pesan Ah Hiang.
"Ya-"
Thio Han Liong mengangguk-"Ah Hiang, aku harus segera berangkat ke Pek yun Kok menjemput Giok Cu ke mari-"
"Baik-"
Ah Hiang mengangguk-"Aku tetap menjaga rumah ini sampai Nona Giok Cu pulang."
"Terima kasih,"
Ucap Thio Han Liong lalu melesat pergi. Hari itu Thio Han Liong sampai di sebuah kota, lalu mampir di sebuah rumah makan.
"silakan duduk. Tuan"
Ucap seorang pelayan. Thio Han Liong duduk, kemudian pelayan itu bertanya lagi.
"Tuan mau pesan makanan dan minuman apa?"
"sop sapi dan nasi,"
Sahut Thio Han Liong dan menambahkan.
"satu guci arak wangi."
"ya. Tuan."
Pelayan itu segera menyajikan apa yang dipesan Thio Han Liong. Di saat Thio Han Liong sedang bersantap, mendadak terdengar suara jeritan di luar kedai.
"Jangan ganggu putriku Jangan ganggu putriku"
Thio Han Liong memandang ke luar. Dilihatnya belasan orang berpakaian merah sedang menyeret seorang lelaki tua. Lelaki tua itu meronta-ronta sambil berteriak-teriak.
"Aku mohon, kalian jangan ganggu putriku Jangan ganggu putriku"
"Pelayan.."
Panggil Thio Han Liong.
"ya. Tuan."
Pelayan itu segera mendekatinya.
"Mau pesan apa, Tuan?"
"siapa orang-orang berpakaian merah itu?"
Tanya Thio Han Liong.
"Mereka...."
Pelayan merendahkan suaranya.
"Mereka para anggota Hiat Mo Pang. Mungkin mereka mau memperkosa putri orangtua itu."
"Apa?"
Mata Thio Han Liong langsung membara-"Mereka para anggota Hiat Mo Pang? Tengah hari bolong begini mereka berani melakukan pemerkosaan?"
"Aaaah -"
Pelayan itu menghela nafas panjang.
"siapa yang berani melawan mereka?"
"Pelayan, aku mau ke sana sebentar"
"Tuan"
Pelayan itu menggeleng kepala.
"Jangan campuri urusan itu. Tuan akan celaka"
"Mereka yang akan celaka"
Sahut Thio Han Liong sambil berjalan ke luar, sedangkan pelayan itu segera memberitahukan kepada majikannya.
"Apa? Pemuda itu pasti celaka"
Majikan itu menghela nafas panjang.
"Kenapa engkau tidak mencegahnya?"
"Aku sudah mencegahnya, tapi dia tetap berjalan ke luar...."
Sementara Thio Han Liong sudah berada di hadapan para anggota Hiat Mo Pang, sedangkan lelaki tua itu telah dibanting kejalan.
"Tuan-tuan"
Ujar lelaki tua itu.
"Jangan ganggu putriku...Jangan ganggu putriku...."
"Hmm"
Dengus salah seorang anggota Hiat Mo Pang, lalu memasuki rumah lelaki tua itu, dan yang lain segera mengikutinya.
Akan tetapi, mendadak berkelebat sosok bayangan menghadang di depan mereka, yang tidak fain adalah Thio Han Liong.
"Mau apa kalian masuk ke rumah ini,?"
Tanya Thio Han Liong dingin.
"Tuan"
Terdengar suara sahutan dari dalam rumah.
"Tolonglah aku, mereka mau memperkosa aku Tuan, tolonglah aku"
"Tenang Nona"
Sahut Thio Han Liong, kemudian bertanya kepada belasan orang itu.
"Kalian anggota Hiat Mo Pang?"
"Betul"
Jawab salah seorang anggota Hiat Mo Pang sambil mengangkat dadanya "Kini Hiat Mo Pang berkuasa di rimba persilatan, siapa pun tidak berani melawan kami"
"oh?"
Thio Han Liong tertawa dingin-"
Aku justru akan membunuh kalian semua"
"Apa?"
Anggota Hiat Mo Pang itu melotot.
"siapa engkau dan berasal dari perguruan mana?"
"Engkau tidak perlu bertanya, yang jelas hari ini kalian harus mampus"
Sahut Thio Han Liong.
"serang dia"
Seru anggota Hiat Mo Pang itu seketika juga para anggota Hiat Mo Pang menyerang Thio Han Liong dengan berbagai macam senjata.
Thio Han Liong bersiul panjang.
Tiba-tiba badannya bergerak ke sana ke mari sambil mengeluarkan ilmu Kiu Im Pek Kut Jiauw.
"Aaaah Aaaakh -"
Terdengar suara jeritan yang menyayat hati. Belasan anggota Hiat Mo Pang itu terkapar dengan mulut mengucurkan darah kemudian putuslah nafas mereka.
"Terima kasih. Tuan"
Ucap wanita muda yang di dalam rumah itu.
Thio Han Liong menolehkan kepalanya sambil tersenyum, lalu berjalan pergi menuju rumah makan.
Para tamu dan pemilik rumah makan itu memandangnya dengan mata terbelalak lebar, begitu pula si pelayan.
"Tuan..."panggil pelayan, kemudian mengacungkan jempolnya.
"Tuan sungguh hebat"
Thio Han Liong nanya tersenyum. Ketika ia baru mau bersantap, pemilik rumah makan itu mendekatinya dengan wajah serius.
"Anak muda"
Ujarnya dengan suara rendah-"Lebih baik engkau segera meninggalkan kota ini."
"Kenapa?"
Tanya Thio Han Liong.
"Engkau telah membunuh para anggota Hiat Mo Pang itu, maka pemimpin Hiat Mo Pang di kota ini pasti akan ke mari. Pemimpin itu berkepandaian amat tinggi, maka lebih baik engkau segera pergi."
Terima kasih atas perhatian Paman"
Ucap Thio Han Liong.
"Aku justru menghendaki kemunculan pemimpin itu."
"Anak muda"
Pemilik rumah makan memberitahukan.
"Pemimpin itu adalah mantan penjahat dari golongan hitam, kepandaiannya sungguh tinggi sekali. Engkau...."
"Terima kasih atas kebaikan Paman memberitahukan itu. Tapi aku tidak mau pergi, karena aku harus membasmi mereka, setelah itu, aku akan berangkat ke Pek yun Kok, markas pusat Hiat Mo Pang."
"Anak muda...."
Ketika pemilik rumah makan mau mengatakan sesuatu, mendadak pelayan berbisik.
"Pemimpin itu telah datang bersama para anak buahnya."
"Haaah -?"
Pemilik rumah makan seaera meninggalkan Thio Han Liong. Thio Han Liong tersenyum dingin, lalu bangkit berdiri dan berjalan kc luar untuk menghampiri pemimpin cabang Hiat Mo Pang itu.
"Siapa engkau?"
Bentak pemimpin itu.
"Aku yang membunuh para anak buahmu itu"
Sahut Thio Han Liong.
"Mereka memang harus mampus, termasuk engkau yang lainnya"
"Engkau...."
Pemimpin itu mengerutkan kening, kemudian berseru.
"Serang dia"
Para anak buahnya langsung menyerang Thio Han Liong dengan berbagai macam senjata, sedangkan Thio Han Liong cuma bertangan kosong Justru secara reflek ia mengibaskan tangannya.
Betapa dahsyat kibasan tangannya, sebab bertahun-tahun ia berlatih di dasar telaga melawan terjangan arus.
"Aaaakh -"
Terdengar jeritan menyayat hati-Tujuh delapan anggota Hiat Mo Pang terkapar dan binasa seketika.
Thio Han Liong tidak berhenti sampai di situ.
Mendadak badannya berkelebat ke sana ke mari, kemudian terdengar lagi suara jeritan dan sisa anggota Hiat Mo Pang itu pun terkapar semua dalam keadaan tak bernyawa.
"Haaah-..?"
Betapa terkejutnya pemimpin itu, wajahnya pucat pias.
"Kini saatnya giliranmu"
Ujar Thio Han Liong sambil menghampirinya selangkah demi selangkah-"siapa sebenarnya engkau? Ada permusuhan apa engkau dengan Hiat Mo Pang?"
Tanya pemimpin itu dengan suara bergemetar.
"Aku pembantai Hiat Mo Pang"
Sahut Thio Han Liong.
"Bersiap-siaplah engkau berangkat ke neraka"
"Hiyaaah"
Pekik pemimpin itu sambil menyerangnya. Thio Han Liong tidak berkelit, melainkan menyambut serangan itu dengan Kian Kun Taylo sin Kang.
"Aaaakh -"
Jerit pemimpin itu-Ternyata ia telah terserang oleh Iweekangnya sendiri, sehingga badannya terpental beberapa depa, lalu roboh dengan mulut mengeluarkan darah-"si -siapa engkau?"
"Aku Thio Han Liong"
"Haaah -?"
Sepasang mata pemimpin itu mendelik dan nafasnya putus seketika.
Thio Han Liong memandang mayat-mayat yang bergelimpangan itu, kemudian menghela nafas panjang sambil melangkah untuk kembali ke rumah makan.
"Tuan...."
Pelayan segera menghampirinya.
"Bukan main...."
Thio Han Liong tersenyum, dan ketika melihat sop sapi nya, ia terbelalak karena sop sapi itu tampak mengebul.
"Eh? sop sapi ini?"
"Aku ganti yang baru matang."
Pelayan memberitahukan.
"Terima kasih,"
Ucap Thio Han Liong, ia mulai bersantap. Di saat bersamaan, muncul pemilik rumah makan mendekatinya dengan wajah berseri-seri, lalu duduk di hadapan Thio Han Liong.
"Engkau masih muda, tapi kepandaianmu sungguh bukan main"
Ujarnya.
"Mulai sekarang, kota ini pasti aman."
"Paman"
Tanya Thio Han Liong.
"Apakah kota ini sudah bersih dari anggota Hiat Mo Pang?"
"sudah bersih sekali,"
Sahut pemilik rumah makan.
"Kami sebagai penduduk kota ini amat borterimakasih kepadamu."
"oh ya, bagaimana pembesar di kota ini?"
Tanya Thio Han Liong mendadak-"Pembesar di kota ini cukup baik dan adil, tapi -tidak bisa berbuat apa-apa terhadap para anggota Hiat Mo Pang"
Jawab pemilik rumah makan memberitahukan.
"Pernah sekali pengawalnya berhasil menangkap salah seorang anggota Hiat Mo Pang, tapi ketika pembesar itu mau menjatuhkan hukuman berat kepada anggota Hiat Mo Pang itu, justru muncul pemimpinnya, dan langsung memukul pembesar itu sampai muntah darah-Kami dengar, pembesar itu masih dalam keadaan luka -."
"Di mana rumah pembesar itu?" ......
"Tak jauh dari sini."
Pemilik rumah makan memberitahukan.
"Dari sini menuju ke kiri, kemudian membelok ke kanan. Kira-kira seratus depa sudah tampak rumah pembesar itu."
"Terima kasih, Paman"
Ucap Thio Han Liong. Ketika ia baru merogohkan tangannya ke dalam bajunya, pemilik rumah makan itu berkata.
"Tidak usah membayar. Kalau engkau membayar, sama juga menghinaku."
"Baiklah."
Thio Han Liong manggut-manggut.
"Paman. aku mohon pamit"
"selamatjalan, siauhiap"
Ucap pemilik rumah makan.
Thio Han Liong tersenyum, lalu meninggalkan rumah makan itu menuju rumah pembesar kota tersebut.
Tak seberapa lama kemudian, ia sudah tiba di depan rumah pembesar itu.
Tampak beberapa pengawal menjaga di sana.
Begitu melihat Thio Han Liong, salah seorang penjaga segera menghampirinya sambil memberi hormat.
"siauhiap ingin bertemu siapa?"
"Aku ingin bertemu pembesar kota ini."
"Maaf, siauhiap"
Pengawal itu menggeleng-geleng-kan kepala.
"Lie Tayjin dalam keadaan sakit, tidak bisa menemui siapa pun."
"Saudara, aku ke mari justru ingin mengobati Lie Tayjin-"
"oh?"
Wajah pengawal itu langsung berseri-"Kalau begitu, silakan masuk"
"Terima kasih,"
Ucap Thio Han Liong.
"Siauhiap, mari ikut aku ke dalam"
Pengawal itu berjalan ke dalam, dan Thio Han Liong mengikutinya dari belakang.
"Kepandaian siauhiap sungguh tinggi sekali"
Bisiknya.
"Engkau menyaksikan kejadian tadi?"
Tanya Thio Han Liong.
"ya."
Pengawal itu mengangguk-"Kebetulan aku pergi membeli obat untuk Lie Taujin-"
"Oooh"
Thio Han Liong manggut-manggut-Ketika hampir sampai di depan pintu rumah, mendadak melesat ke luar sosok bayangan, yang ternyata seorang pemuda tampan.
"Tuan muda siauhiap ini kemari ingin mengobati Lie Taujin"
Pengawal itu memberitahukan.
"Dia pula yang membunuh pemimpin dan para anggota Hiat Mo Pang itu"
"oh?"
Pemuda itu menatap Thio Han Liong dengan penuh perhatian, kemudian memberi hormat seraya berkata.
"Selamat datang, siauhiap"
"Selamat bertemu, saudara"
Sahut Thio Han Liong.
"Silakan masuk"
Ucap pemuda itu.
"Terima kasih-"
Thio Han Liong berjalan memasuki rumah itu, sedang kan pengawal telah kembali ke tempat penjagaannya-"Silakan duduk siauhiap"
Ucap pemuda itu sambil tersenyum ramah-"Terima kasih-"
Thio Han Liong duduk. seorang pelayan segera menyuguhkan teh, lalu mengundurkan diri dari situ, tapi matanya masih sempat melirik Thio Han Liong dan bibirnya mengembangkan seulas senyuman.
"Silakan minum, siauhiap"
Ucap pemuda itu.
"Terima kasih-"
Thio Han Liong menghirup teh itu.
"siauhiap"
Pemuda itu menatapnya.
"Bolehkah aku tahu siapa siauhiap?"
Tanyanya.
"Namaku Thio Han Liong."
"oooh"
Pemuda itu manggut-manggut.
"Kok Thio siauhiap tidak menanyakan namaku?"
"oh ya, nama saudara?"
"Aku bernama Lie yen Huang,"
Sahut pemuda itu sambil tersenyum lembut dan. menambahkan.
"Putra Lie Tayjin-"
"Aku dengar Lie Taujin terpukul oleh pemimpin cabang Hiat Mo Pang itu, hingga kini masih belum sembuh-Benar kah itu?"
"Benar."
Lie yen Huang menghela nafas panjang.
"Ayahku terluka dalam, tabib biasa tidak mampu mengobatinya. Namun aku yakin Thio siauhiap mampu mengobati ayahku."
"Kok saudara Lie begitu yakin kepadaku?"
Tanya Thio Han Liong sambil tersenyum.
"Thio siauhiap berkepandaian tinggi, tentunya juga mahir ilmu pengobatan. Kalau tidak. Thio siauhiap pasti tidak akan ke mari,"
Sahut Lie yen Huang dan menambahkan.
"Thio siauhiap sungguh tampan, pasti banyak gadis jatuh cinta kepada siauhiap."
"saudara Lie pun tampan sekali,"
Ujar Thio Han Liong dan melanjutkan.
"Mudah-mudahan aku bisa menyembuhkan luka dalam yang diderita ayahmu."
"Thio siauhiap, sebelumnya aku mengucapkan terima kasih-"
"saudara Lie jangan sungkan-sungkan"
Ucap Thio Han Liong.
"Thio siauhiap, Mari ikut aku ke kamar ayahku"
Ajak Lie yen Huang.
"Ayahku belum bisa bangun dari tempat tidur."
Thio Han Liong mengangguk, lalu mengikuti Lie yen Huang menuju kamar pembesar Lie-Tampak seorang tua berbaring di tempat tidur-Ba-dannya kurus dan wajahnya tampak pucat kehijau-hijauan.
"Ayah, saudara Thio ini mahir ilmu pengobatan. Dia ke mari ingin mengobati Ayah-"
Ujar Lie yen Huang.
"oooh"
Pembesar Lie manggut-manggut.
"Terima-kasih."
Thio Han Liong memberi hormat seraya berkata.
"Lie Tayjin, perkenankanlah aku memeriksa Tayjin"
"Silakan"
Sahut Pembesar Lie.
"Maaf"
Ucap Thio Han Liong dan mulai memeriksa nadi pembesar Lie. cukup lama barulah ia berhenti memeriksa nadi pembesar Lie seraya berkata.
"Ternyata Tayjin terkena pukulan yang mengandung racun, untung sudah makan semacam obat mujarab, maka jantung Tayjin terlindung. Kalau tidak. Tayjin pasti sudah meninggal."
"oh?"
Pembesar Lie tampak terkejut.
"Tayjin,"
Tanya Thio Han Liong.
"Tabib manakah yang memberikan obat mujarab itu?"
"Bukan tabib, melainkan putra ku sendiri."
Pembesar Lie memberitahukan? "oooh"
Thio Han Liong manggut-manggut, kemudian berkata kepada Lie yen Huang.
"saudara Lie, obat itu memang dapat menyembuhkan luka dalam, namun tidak bisa memunahkan racun, Itu sayang sekali, yang membuat obat itu harus mencampuri dua macam bahan obat-obatan, maka obat itu dapat menyembuhkan luka dalam, dan sekaligus dapat pula memunahkan racun."
"Thio siauhiap, aku mohon petunjuk"
Ujar Lie yen Huang sambil memberi hormat. Thio Han Liong tersenyum, lalu memberitahukan mengenai ke dua macam bahan obat-obatan itu.
"Terima kasih, Thio siauhiap,"
Ucap Lie yen Huang dengan wajah berseri
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "sekarang aku akan mendesak keluar racun yang bersarang di dalam tubuh ayahmu dengan Iweekangku-Tolong ambilkan sebuah baskom"
Ujar Thio Han Liong.
"ya."
Lie yen Huang segera pergi mengambil baskom, tak lama ia sudah kembali dengan membawa sebuah baskom tembaga.
"Apabila ayahmu mau muntah, cepat sodorkan baskom itu ke mulut ayahmu"
Pesan Thio Han Liong, lalu menurunkan pembesar Lie itu ke lantai, kemudian ia duduk di belakangnya, sepasang telapak tangannya ditempelkan di punggung pembesar Lie, lalu mengerahkan Kiu yang sin Kangnya.
Tak seberapa lama kemudian, pembesar Lie tampak sudah mau muntah-Lie yen Huang cepat-cepat menyodorkan baskom tembaga itu ke mulutnya.
"uaaakh"
Pembesar Lie mulai muntah-"uaaaakh -"
Yang dimuntahkannya adalah cairan kehijau-hijauan.
Berselang sesaat barulah ia berhenti muntah-Thio Han Liong pun berhenti mengerahkan Kiu yang sin Rang.
Kini wajah pembesar Lie sudah tampak kemerah-merahan, la langsung bangkit berdiri lalu duduk di pinggir tempat tidur.
"Thio siauhiap,"
Ucap pembesar Lie-"Terima kasih, kini dadaku tidak terasa sakit lagi."
Thio Han Liong tersenyum.
"Tayjin, kini Tayjin sudah sembuh, boleh mulai berjalan."
"Terima kasih, Thio Siauhiap,"
Ucap Lie Yen Huang sambil memandangnya dengan kagum.
"Aku tak menyangka sama sekali kalau Iweekang Thio siauhiap begitu tinggi. Pantas pemimpin cabang Hiat Mo Pang dan para anak buahnya tidak sanggup melawan Thio siauhiap."
"Apa?"
Pembesar Lie terkejut.
"Thio siauhiap bertarung dengan mereka?"
"Betul, Ayah-"
Lie Yen Huang memberitahukan dengan wajah berseri-seri-"Ayah, Thio siauhiap telah membunuh mereka semua-"
Pembesar Lie terbelalak-"
Kalau begitu, kepandaian Thio siauhiap pasti tinggi sekali-Nak. engkau harus mohon petunjuk kepada Thio siauhiap-"
"ya. Ayah-"
Lie yen Huang manggut-manggut. Thio Han Liong tersenyum-"saudara Lie, kepandaianmu cukup tinggi, hanya saja jalan darah jintokmu belum terbuka, maka sulit bagimu untuk mencapai Iweekang tinggi."
"Betul, Thio siauhiap-"
Lie yen Huang mengangguk.
"Guruku tidak mampu membantuku membuka jalan darah jintok. maka aku tidak berhasil mencapai Iweekang tingkat tinggi."
"saudara Lie, aku bersedia membantumu membuka jalan darahjintokmu,"
Ujar Thio Han Liong sungguh-sungguh.
"Apa?"
Lie yen Huang terbelalak-"Thio siauhiap sanggup melakukan itu?"
Thio Han Liong mengangguk-"Silakan duduk bersila di lantai sekarang juga aku akan membantumu membuka jalan darah itu-"
Lie yen Huang kurang percaya, namun ia tetap duduk bersila di lantai.
"saudara Thio, sebelum dan sesudahnya kuucapkan banyak-banyak Terima kasih."
"Saudara Lie, engkau tidak usah sungkan-sungkan"
Thio Han Liong tersenyum, lalu duduk di belakang Lie yen Huang.
la menempelkan sepasang telapak tangannya ke punggung pemuda itu, kemudian mengerahkan Kiu yang sin Kang.
seketika juga Lie yen Huang merasakan adanya aliran hangat menerobos ke dalam tubuhnya melalui sepasang telapak tangan Thio Han Liong, segeralah ia menghimpun Iweekangnya untuk menerima aliran hangat kiriman Thio Han Liong itu.
setelah Iweekangnya membaur dengan hawa hangat itu, mulailah hawa hangat itu menerobos kejalan darah jintoknya.
Kira-kira sepeminum teh kemudian, terbukalah jalan darah tersebut, otomatis Iweekang Lie yen Huang bertambah tinggi, karena memperoleh Kiu yang sin Kang.
Thio Han Liong berhenti mengerahkan Kiu yang sin Kang, lalu bangkit berdiri sambil tersenyum.
Lie yen Huang juga bangkit berdiri, lalu memandang Thio Han Liong dengan mata berbinar-binar.
"Terima kasih, Thio siauhiap,"
Ucapnya dengan saura rendah.
"saudara Lie,"
Sahut Thio Han Liong.
"Jangan berlaku sungkan-sungkan"
"Ha ha ha"
Pembesar Lie tertawa gelak-"Lebih baik kalian bercakap-cakap di ruang depan."
"ya. Ayah-"
Lie yen Huang manggut-manggut.
"Ayah beristirahat saja."
"Jangan khawatir"
Pembesar Lie tersenyum.
"Ayah tidak akan mengganggumu yang ingin bercakapcakap dengan Thio siauhiap""
"Ayah -""
Sungguh membingungkan, mendadak wajah Lie yen Huang tampak kemerah-merahan.
"Thio siauhiap, mari kita duduk di ruang depan saja"
"Baik-"
Thio Han Liong mengangguk. Mereka berdua menuju ruang depan, kemudian duduk berhadapan dan Lie yen Huang terus memandangnya dengan mata tak berkedip
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Thio siauhiap, aku sungguh kagum kepadamu Bolehkah aku mohon petunjuk mengenai ilmu silat?"
"saudara Lie--"
"Thio siauhiap, aku mohon petunjuk"
Desak Lie yen Huang.
"Kalau Thio siauhiap tidak sudi memberi petunjuk kepadaku, aku -aku akan marah-"
"Baiklah""
Thio Han Liong mengangguk-"Coba engkau perlihatkan ilmu silat tangan kosong"
"Y a-"
Lie yen Huang segera berjalan ke tengah-tengah ruang itu, setelah itu mulailah ia bersilat tangan kosong.
Thio Han Liong menyaksikannya dengan penuh perhatian, berselang sesaat barulah Lie yen Huang berhenti-"Thio siauhiap, bagaimana ilmu silatku?"
Tanyanya.
"Cukup lihay dan dahsyat,"
Jawab Thio Han Liong.
"Tapi banyak kekurangannya."
Lie yen Huang tercengang, sebab gurunya selalu memujinya, tapi kini Thio Han Liong mencela ilmu silatnya masih terdapat banyak kekurangan.
"saudara Lie"
Thio Han Liong tersenyum.
"Keli-hatannya engkau kurang percaya akan apa yang kukatakan barusan."
"Ya."
Lie Yen Huang mengangguk.-"Begini --"
Thio Han Liong menghampirinya seraya berkata.
"Engkau boleh menyerangku terus-menerus, aku tidak akan membalas-"
Lie Yen Huang mengerutkan kening.
"Baikiah-Hati-hati"
Lie yen Huang mulai menyerang.
Thio Han Liong tersenyum sambil berkelit ke sana ke mari.
Lie yen Huang terus menyerangnya, tapi pukulannya selalu meleset, Itu membuatnya penasaran sekali, maka ia menyerang dengan sengit.
"saudara Lie,"
Ujar Thio Han Liong.
"Hati-hati, aku akan balas menyerangmu"
Mendadak Thio Han Liong menyerangnya dengan Kiu ImPek Kut Jiauw. Badannya mencelat ke atas, kemudian berjungkir balik dan sebelah tangannya menyentuh kepala Lie yen Huang lalu meloncat turun.
"Haaah -?"
Betapa terkejut Lie yen Huang, karena hanya satu jurus, Thio Han Liongsudah mengalahkannya.
"Thio siauhiap. -"
"saudara. Lie, kini engkau sudah percaya?"
Tanya Thio Han Liong sambil tersenyum.
"Aku percaya."
Lie yen Huang tertawa kecil.
"sebetulnya bukan ilmu silatku yang terdapat banyak kekurangan, melainkan Thio siauhiap berkepandaian amat tinggi, maka gampang sekali mengalahkanku."
"Terus terang,"
Ujar Thio Han Liong dengan sungguhsungguh-"Ilmu silatmu cukup tinggi, namun engkau memiliki sifat penasaran, yang akan mengacau konsentrasimu-sungguh membahayakan dirimu kalau berhadapan dengan lawan tangguh"
"Kalau begitu -"
Lie yen Huang memandangnya dengan penuh harap.
"Tentunya Thio siauhiap sudi mengajarku beberapa jurus ilmu silat tingkat tinggi, ya, kan?"
"saudara Lie, ayahmu seorang pembesar yang baik dan adil, engkau memang harus memiliki ilmu silat tingkat tinggi untuk melindungi ayahmu. Baiklah, aku akan mengajarmu beberapa jurus ilmu silat tingkat tinggi."
"Terima kasih, TTiio siauhiap."
Lie yen Huang langsung memberi hormat.
"Terima kasih...."
Di saat bersamaan, muncul pembesar Lie dengan tersenyum-senyum. la memandang mereka berdua dan manggut-manggut.
"Bagus, bagus"
Ucapnya sambil duduk.
"Kenapa Ayah tidak beristirahat di dalam kamar?"
Tanya Lie yen Huang dengan wajah tidak senang.
"Ayah mengganggu kalian berdua?"
Pembesar Lie balik bertanya sambil tersenyum.
"Tidak, Tayjin"
Sahut Thio Han Liong.
"Thio siauhiap, engkau jangan memanggilku Tayjin, panggil saja aku paman"
"ya. Tapi Paman juga jangan memanggilku Thio siauhiap, panggil saja namaku"
"Namamu?"
"Aku bernama Han Liong, Paman"
Pembesar Lie manggut-manggut.
"Kalau tidak salah, engkau akan mengajar putriku ilmu silat tingkat tinggi?"
"Paman...."
Thio Han Liong terbelalak-"saudara Lie... adalah anak gadis?"
"ya-"
Pembesar Lie mengangguk-"Karena engkau telah menyembuhkan aku, rasanya tidak baik kalau aku masih membohongimu."
Thio Han Liong tersenyum.
"saudara Lie, ternyata engkau anak gadis. Aku... aku sama sekali tidak tahu."
"Kini engkau sudah tahu kan?"
Mendadak Lie Yen Huang berlari ke dalam, dan itu membuat Thio Han Liong tertegun.
"Paman, dia... dia marah kepadaku?"
"Ha ha ha"
Pembesar Lie tertawa.
"Bagaimana mungkin dia marah kepadamu? Mungkin dia ke kamar untuk berganti pakaian."
"oooh"
Thio Han Liong manggut-manggut. Tak lama kemudian, Lie Yen Huang sudah kembali dengan pakaian wanita yang ringkas, Gadis itu memang cantik sekali.
"saudara Lie, tak kusangka engkau begitu cantik,"
Ujar Thio Han Liong memujinya.
"Kenapa engkau masih memanggilku saudara?"
Sahut Lie Yen Huang dengan malu-malu.
"Lebih baik panggil aku adik,"
"Adik Yen Huang..."
Panggil Thio Han Liong.
"Kakak Han Liong..."
Sahut Lie Yen Huang dengan kepala tertunduk-"Ha ha ha"
Pembesar Lie tertawa gelak-"Han Liong, engkau boleh mulai mengajarnya ilmu silat tingkat tinggi, aku ingin menyaksikannya sekarang."
"Baik-"
Thio Han Liong mulai mengajarkan beberapa jurus ilmu silat tingkat tinggi kepada Lie Yen Huang, dan gadis itu belajar dengan sungguh-sungguh-la memang cerdas, dalam waktu singkat ia sudah menguasai ilmu silat itu, maka ia terus berlatih di situ-Thio Han Liong menyaksikannya dengan penuh perhatian.
Kalau Lie yen Huang melakukan kesalahan, ia langsung memberi petunjuk kepadanya.
"Adik yen Huang"
Pesan Thio Han Liong.
"Kalau tidak menghadapi bahaya, janganlah engkau mengeluarkan jurus jurus ilmu silat yang kuajarkan kepadamu"
"Kenapa?"
"Sebab jurus-jurus ilmu silat yang kuajarkan padamu itu amat lihay dan ganas, setiap jurus pasti mematikan lawan. Engkau pun harus terus berlatih, karena jurus jurus ilmu silat itu dapat melindungi dirimu."
"oh?"
Lie yen Huang girang bukan main.
"Kakak Han Liong, ilmu silat apa itu?"
"Kiu Im Pek Kut Jiauw."
"Ha h? Apa?"
Mulut Lie yen Huang ternganga lebar.
"Itu ilmu Kiu Im Pek Kut Jiauw?"
"ya."
Thio Han Liong mengangguk
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Maka engkau tidak boleh sembarangan mengeluarkan ilmu silat itu-"
"Aaaah..."
Lie yen Huang menghela nafas panjang.
"Aku tak menyangka akan memiliki Kiu Im Pek Kut Jiauw."
"Adik yen Hung, coba ulangi lagi ilmu silat itu"
"ya."
Lie yen Huang mulai berlatih lagi. Thio Han Liong memperhatikan dengan cermat sekali, dan kemudian mendadak berseru.
"Adik yen Huang, berhenti dulu"
Lie yen Huang langsung menghentikan gerakannya. Thio Han Liong mendekatinya, ternyata gerakan tadi terdapat sedikit kesalahan.
"Ketika mencelat ke atas dan berjungkir balik, engkau telah melakukan sedikit kesalahan, yakni tanganmu agak miring ke kiri"
Thio Han Liong memberitahukan, lalu memainkan jurus tersebut.
Di saat ia jungkir balik, justru tampak sebuah benda terjatuh di lantai, tring Benda yang jatuh itu adalah sebuah medali emas-Tanda perintah Kaisar.
Begitu melihat benda itu, pembesar Lie langsung berlutut.
"Hamba memberi hormat kepada yang Mulia"
Lie yen Huang terbengang-bengong, berdiri mematung di tempat-"Bangunlah Paman"
Thio Han Liong cepat-cepat membangunkan pembesar Lie-"Terima kasih, yang Mulia,"
Ucap pembesar Lie-Thio Han Liong memungut medali emas itu, lalu dimasukkannya ke dalam bajunya-"Kakak Han Liong"
Tanya Lie yen Huang.
"Benda apa itu?"
"Anak goblok"
Sahut pembesar Lie-"Itu medali emas Tanda Pengenal Kaisar."
"Haaah -?"
Lie yen Huang terperanjat.
"Kalau begitu, aku... aku juga harus berlutut?"
"Tidak usah. Adik yen Huang."
Sahut Thio Han Liong cepat sambil tersenyum lembut.
"Aku tidak sengaja menjatuhkan medali emas itu."
"Han Liong...."
Pembesar Lie menatapnya.
"Aku sama sekali tidak menyangka engkau utusan kaisar."
"Paman...."
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala.
"Kakak Han Liong, belum lama ini muncul seorang pemuda yang sering menghukum pembesar korup dan pembesar yang berlaku sewenang-wenang adalah engkau?"
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk-"Kakak Han Liong"
Lie yen Huang menghela nafas panjang.
"Ini sungguh di luar dugaan, sebetulnya engkau punya hubungan apa dengan kaisar, maka engkau diangkat sebagai wakil atau utusan kaisar?"
"Sesungguhnya aku tidak mau menerima jabatan itu, namun kaisar terus mendesak membuat aku merasa tidak enak menolaknya."
Thio Han Liong memberitahukan.
"Kaisar dan ayahku adalah kawan baik -"
"Kakak Han Liong, bolehkah aku tahu siapa ayahmu?"
"Ayahku adalah Thio Bu Ki-"
"Haaah -?"
Lie yen Huang dan ayahnya terbelalak-"Engkau putra Thio Bu Ki?"
"Pantas kaisar mempercayaimu"
Ujar pembesar Lie.
"Karena kaisar adalah mantan bawahan ayahmu ketika melawan pasukan.Mongol."
"Tak disangka sama sekali Tak disangka sama sekali..."
Gumam Lie yen Huang.
"guruku juga mantan anak buah ayahmu, guruku sering bercerita tentang ayahmu yang amat gagah itu, namun akhirnya malah dikhianati Cu Goan ciang -."
"Itu telah berlalu,"
Ujar Thio Han Liong.
"Cu Goan ciang telah menjelaskan kepadaku."
"oooh"
Lie yen t-fuav-oi manggut-manggut.
"Paman, kini Paman sudah sehat, maka aku mohon pamit,"
Ucap Thio Han Liong.
"Han Liong...."
Pembesar Lie memandangnya.
"Kakak Han Liong...."
Lie yen Huang menghela nafas panjang.
"engkau tidak mau bermalam di sini?"
"Terima kasih. Adik yen Huang"
Sahut Thio Han Liong.
"Aku harus seoera berangkat ke Pek yun Kok untuk bertanding dengan Hiat Mo-"
"Kakak Han Liong...."
Mata Lie yen Huang mulai basah.
"Kapan kita akan berjumpa lagi?"
"Kalau aku sempat, aku pasti ke mari mengunjungimu,"jawab Thio Han Liong.
"Paman, Adik yen Huang sampai jumpa"
Mendadak Thio Han Liong melesat pergi. Begitu cepat laksana kilat sehingga Lie yen Huang tidak sempat menahannya.
"Kakak Han Liong Kakak Han Liong..."
Namun pemuda itu sudah tidak kelihatan.
Maka meledaklah isak tangis gadis itu dengan air mata berderai-derai, sedangkan ayahnya cuma menghela nafas panjang.
-ooo00000ooo-Bab 46 Kesedihan yang Memuncak sementara itu, yo sian Sian juga telah meninggalkan Lam Hai menuju lembah Pek yun Kok-Kini ia telah menguasai ilmu Thian sin ci (Ilmu Jari sakti Langit), maka ia langsung menuju lembah Pek yun Kok mencari Kwee In Loan.
Dalam perjalanan menuju lembah itu, ia pun mendengar tentang Hiat Mo Pang.
Tersentak hatinya, sebab Hiat Mo Pang telah berdiri dalam rimba persilatan, itu berarti Hiat Mo juga berada di lembah Pek yun Kok.
yo sian sianpun terkejut sekali, karena tujuh partai besar telah takluk kepada Hiat Mo Pang, juga mendengar bahwa Tong Koay dan Pak Hong terpengaruh oleh ilmu sihir Hiat Mo-Namun ia sama sekali tidak tahu murid kesayangannya pun berada di lembah Pek yun Kok, bahkan sudah menikah dan mempunyai anak-Tujuh delapan hari kemudian, yo sian sian sudah tiba di mulut lembah Pek yun Kok-la tidak langsung memasuki mulut lembah itu, sebab dia yakin Hiat Mo dan lainnya akan muncul.
Dugaannya memang tidak meleset, tak lama kemudian, muncullah Hiat Mo, Kwee In Loan, si Mo, Tong Koay dan pak Hong.
"He he he"
Kwee In Loan tertawa terkekeh-kekeh-"Akhirnya engkau ke mari juga mencari aku"
"Betul"
Yo sian sian manggut-manggut.
"Aku ke mari untuk membuat perhitungan denganmu"
"Bagus, bagus"
Kwee In Loan tertawa dingin-"Hari ini engkau pasti mampus di lembah ini"
"oh?"
Yo sian sian menatap mereka-"Kalian ingin mengeroyok ku?"
"Ha ha ha"
Hiat Mo tertawa gelak "Aku seorang diri sudah cukup membunuhmu, bersiapsiaplah engkau untuk mampus"
"Hiat Mo"
Yo sian sian menatapnya tajam.
"Lebih baik engkau jangan mencampuri urusan pribadi kami"
"Biar bagaimanapun, aku harus turut campur"
Sahut Hiat Mo sambil tertawa.
"Ha ha ha..."
Di saat bersamaan, muncul Ciu La n Hio bersama Kwan Pek Him. Gadis itu langsung menegur Hiat Mo-"
Kakek Itu urusan perguruan mereka. Kakek tidak boleh mencampuri urusan itu"
"Lan Nio...."
Hiat Mo mengerutkan kening.
"Kakek"
Ciu Lan Hio memberitahukan.
"Bibi sian sian adalah guru Tan Giok Cu...."
"Engkau kenal Giok Cu?"
Tanya yo sian sian cepat.
"ya."
Ciu Lan Hio mengangguk.-"Di mana Giok cu dan Han Liong?"
Tanya yo sian sian dan menambahkan.
"Cepat katakan"
"Giok Cu...."
Ciu Lan Hio melirik Hiat mo-"
Kalian... kalian menangkapnya?"
Yo sian sian tampak cemas sekali-"
Kalian... kalian...."
"Hiat Locianpwee"
Tanya Kwee In Loan.
"Belum mau turun tangan membunuh wanita itu?"
"Baik"
Hiat Mo mengangguk-"Aku akan sebera membunuhnya"
"Kalau Kakek berani membunuh Bibi sian sian, aku pun akan mati di sini"
Ancam Ciu Lan Hio dengan sungguhsungguh-"Apa?"
Hiat Mo terperanjat.
"Lan Nio...."
"Kakek, aku tidak main-main..."
Ujar ciu Lan Hio.
"Hiat Mo"
Mendadak yo sian sian memperlihatkan sebuah benda, ternyata sebuah tusuk konde pemberian Lam Hai Lo Ni.
"Engkau kenal benda ini?"
Begitu melihat tusuk konde itu, mata Hiat Mo langsung terbelalak dan tampak terkejut.
"siapa -siapa yang berikan benda itu kepadamu?"
Tanya Hiat Mo dengan suara bergemetar.
"Lam Hai Lo Ni"
"siapa Lam Hai Lo Ni?"
"Nenek dari ibuku"
Sahut yo sian sian.
"Bukankah Hiat Mo hutang satu permintaan?"
"Aaaah -"
Hiat Mo menghela nafas panjang.
"Aku pernah bersalah terhadap nenekmu, maka berjanji akan mengabulkan satu permintaannya. Baiklah, aku menepati janjiku itu. Apa permintaanmu?"
"Permintaanku yakni Hiat Mo harus segera kembali ke Kwan Gwa, tidak boleh memasuki Tionggoan lagi"
Yo sian sian mengajukan permintaan tersebut.
"Baik,"
Hiat Mo manggut-manggut, kemudian memandang ciu Lan Nio seraya bertanya-"Engkau mau ikut Kakek pulang ke Kwan Gwa?"
"Kakek,"
Sahut Ciu Lan Hio-"Aku dan kakak Kwan ingin menunggu Kakak Han Liong-"
"Baiklah-"
Hiat Mo manggut-manggut-"
Kalau begitu, kakek pulang duluan ke Kwan Gwa."
Hiat Mo melesat pergi, yo sian sian langsung menarik nafas lega-Kini ia menatap Kwee In Loan dengan dingin sekali, lalu berkata-"Sekarang saatnya aku membuat perhitungan denganmu"
"Baik"
Kwee In Loan mengangguk, kemudian dengan tibatiba membentak keras sambil menyerangnya yo sian sian yang sudah bersiap langsung berkelit, sekaligus balas menyerang.
Mereka sama-sama mengeluarkan ilmu silat perguruan Kouw Bok Pay (Kuburan Tua).
Ciu Lan Nio dan Kwan Pek Him menyaksikan pertarungan itu dengan penuh perhatian.
Tong Koay dan Pak Hong tetap berdiri mematung di tempat, sedangkan si Mo terus mengerutkan kening.
Mendadak si Mo melesat ke arah yo sian sian, sekaligus menyerangnya dengan Ha mo Kang.
"Guru -"
Teriak Kwan Pek Him.
"Jangan mencampuri urusan itu"
Akan tetapi, si Mo sama sekali tidak menggubris seruan muridnya, la terus menyerang yo sian sian dengan ilmu Ha Mo Kang.
Begitu melihat si Mo turun tangan membantu, Kwee In Loan mempergencar serangannya.
Karena dikeroyok, maka yo sian sian segera mengeluarkan ilmu Thian sin ci (Ilmu jari sakti Langit).
Betapa terkejutnya Kwee In Loan menyaksikan ilmu tersebut.
Ketika ia baru mau menyuruh si Mo mundur, justru di saat itu terdengar suara jeritan yang menyayat hati.
"Aaaakh -"
Itu adalah suara jeritan si Mo, yang kemudian terkapar dengan dada berlubang tertembus oleh ilmu Thian sin ci.
"Guru Guru -"
Kwan Pek Him segera mendekatinya.
"Guru -"
"Pek Him..."
Sahut si Mo lemah-"Engkau... engkau murid baik, guru... guru merasa bangga sekali... karena engkau tidak berhati kejam seperti gurumu ini...."
"Guru Guru...."
Kwan pek Him memeluk si Mo erat-erat
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Guru -"
"Muridku... muridku--"
Mendadak sepasang mata si mo mendelik dan kepala terkulai-"Guru...."
Kwan Pek Him menangis terisak-isak, ternyata si Mo telah mati-"Kakak Kwan, jangan berduka"
Ciu Lan Nio memegang bahunya.
"Nanti kesehatanmu akan terganggu."
Kwan Pek Him mengangguk dan berhenti menangis, lalu menaruh mayat gurunya ke bawah-sementara pertarungan itu semakin seru dan dahsyat, ternyata Kwee In Loan juga mengeluarkan Hiat Mo Kang untuk melawan Thian sin ci-Blam Terdengar suara benturan.
yo sian sian terdorong ke belakang beberapa langkah, sedangkan Kwee In Loan hanya dua tiga depa.
Betapa terkejutnya Kwee In Loan, maka ia mengempas semangatnya untuk menghimpun Hiat Mo Kang hingga ke puncaknya.
Justru ia sama sekali tidak tahu, bahwa di belakangnya terdapat sebuah jurang yang amat dalam.
Mendadak ia memekik keras sambil menyerang yo sian sian, sedangkan yo sian sian pun sudah mengerahkan Lwee-kangnya hingga ke puncaknya, la menangkis serangan itu dengan Thian sin ci.
Blaaam Terdengar suara benturan yang amat memekakkan telinga.
yo sian sian terpental beberapa depa, sedangkan Kwee In Loan belasan depa dan meluncur ke bawah jurang yang ribuan kaki dalamnya.
"Aaaakh -"
Sayup,sayup masih terdengar suara jeritannya, yo sian sian kembali berdiri tegak, namun mulutnya mengeluarkan darah-"Bibi sian sian...."
Ciu Lan Nio mendekatinya.
"Bagaimana lukamu?"
"Tidak apa-apa."
Yo sian sian tersenyum.
"Kok engkau kenal aku?"
"Aku dengar dari Kakak Han Liong."
Ciu Lan Nio memberitahukan.
"Akupun kenal Tan Giok cu."
"Di mana muridku itu?"
"Dia berada di--"
Di saat Ciu Lan Hio baru mau memberitahukan, mendadak melayang turun sosok bayangan, ternyata Thio Han Liong.
"Kakak Han Liong Kakak Han Liong..."
Seru Ciu Lan Hio girang.
"Kakak Han Liong...."
"Adik Lan Hio"
Thio Han uong tersenyum.
"saudara. Han Liong"
Panggil Kwan Pek Him.
"saudara Kwan, engkau dan Adik Lan Hio sudah saling mencinta?"
Tanya Thio Han Liong sambil memandang mereka.
"ya."
Kwan Pek Him mengangguk-"syukurlah"
Ucap Thio Han Liong, lalu memandang yo sian sian sambil memberi hormat.
"Bibi sian sian...."
"Han Liong"
Yo sian sian terbelalak-"Engkau bertambah besar lho oh ya, di mana Giok Cu?"
"Dia berada di markas Hiat mo Pang."
Thio Han Liong memberitahukan dan bertanya.
"Bibi sian sian berhasil mengalahkan Kwee In Loan?"
"ya."
Yo sian sian mengangguk-"Dia terpukul jatuh ke dalam jurang, si Mo pun telah binasa-"
"oooh"
Thio Han Liong manggut-manggut, kemudian memandang ciu Lan Hio seraya bertanya.
"Di mana kakekmu?"
"Tadi -tadi kakekku pulang ke Kwan Gwa,"
Jawab Ciu Lan Hio.
"Benarkah?"
Thio Han Liong kurang percaya.
"Memang benar,"
Sahut yo sian sian.
"Aku yang menyuruhnya pulang ke Kwan Gwa."
"oh?"
Thio Han Liong mengerutkan kening.
"Tahu-kah Bibi sian sian apa yang telah terjadi atas diri Giok Cu?"
"Apa yang telah terjadi atas dirinya?"
Tanya yo sian sian cemas.
"Dia terkena ilmu sihir Hiat Mo, keadaannya persis seperti Tong Koay dan Pak hong."
Thio Han Liong menunjuk ke dua jago yang berdiri mematung di tempat.
"Haaah -?"
Betapa terperanjatnya yo sian sian.
"Kalau begitu, hanya Hiat Mo yang dapat menyembuhkannya?"
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk-"
Kalau begitu, kita harus segera pergi menyusul"
Ujar yo sian sian.
"Tidak usah"
Sahut Thio Han Liong.
"Kemungkinan besar aku dapat menyembuhkannya."
"oh?"
Yo sian sian tampak tertegun.
"engkau dapat menyembuhkan Giok Cu?"
"Mudah-mudahan"
Thio Han Liong mengangguk.
"Kakak Han Liong"
Ujar ciu Lan Hio terputus-putus.
"Giok cu.dia -."
"Kenapa dia?"
Tanya Thio Han Liong dengan wajah berubah-"Apakah kakekmu telah membunuhnya?"
"Ti -tidak-Tapi--"
Di saat bersamaan, tampak seorang gadis berjalan santai menghampiri mereka, gadis itu adalah Tan Giok Cu-"Giok Cu Giok cu..."
Seru yo sian sian memanggilnya.
"Giok Cu..."
"Bibi sian sian, percuma memanggilnya, sebab dia tidak kenal kita,"
Ujar Thio Han Liong sambil mengeluarkan lonceng sakti pemberian Bu Beng sian su.
Di saat bersamaan, tampak pula ouw yang Bun mengikuti Tan Giok Cu sambil menuntun putrinya bernama ouw yang Hui siam.
Ciu Lan Nio dan Kwan Pek Him memandang, mereka tidak tahu harus berbuat apa?
Di saat itulah terdengar suara lonceng yang amat merdu dan menggetarkan hati, ternyata Thio Han Liong sudah mulai membunyikan lonceng saktinya sambil mengerahkan ilmu Penakluk iblis.
Begitu mendengar suara lonceng sakti itu.
Tong Koay, Pak Hong dan Tan Giok Cu langsung jatuh terduduk
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com sedangkan Thio Han Liong terus membunyikan lonceng saktinya berdasarkan irama yang diajarkan Bu Beng siansu-Air muka Tong Koay, Pak Hong dan Tan Giok Cu mulai berubah, dan keringat mereka pun terus mengucur dari kening, sementara yo sian sian, Ciu Lan Hio, Kwan Pek Him dan ouw yang Bun memandang mereka dengan hati berdebardebar tebang.
Berselang beberapa saat kemudian, wajah mereka bertiga mulai berubah pucat pias, tak lama berubah lagi jadi merah padam-setelah itu, barulah kembali normal seperti biasa-Di saat itulah mendadak mereka bertiga memuntahkan cairan yang agak kehijau-hijauan, lalu menarik nafas dalamdalam-"Aaahhh"
Mereka bertiga menengok ke sana ke mari, seakan baru tersadar dari tidur-Begitu melihat Thio Han Liong, Tan Giok Cu berseru-seru.
"Kakak tampan Kakak tampan...."
"Adik manis Adik manis..."
Sahut Thio Han Liong dan berhenti membunyikan lonceng saktinya, lalu dimasukkan nya ke dalam bajunya.
"Kakak tampan...."
Tan Giok Cu mendekap di dadanya.
"Adik manis"
Thio Han Liong tersenyum sambil membelainya.
"Akhirnya engkau sembuh juga."
"Sembuh?"
Tan Giok Cu tampak tercengang.
"memang nya aku sakit?"
"Akan kujelaskan nanti,"
Jawab Thio Han Liong dan berbisik.
"Engkau belum memberi hormat kepada gurumu lho"
"oh?"
Cepat-cepat Tan Giok Cu bersujud di hadapan yo sian sian.
"guru...."
"Giok Cu"
Yo sian sian memandangnya dengan mata basah-"Syukurlah engkau bisa sadar"
"Guru,"
Tanya Tan Giok Cu.
"Sebetulnya kenapa aku?"
"Adik manis"
Thio Han Liong memberitahukan.
"sudah beberapa tahun engkau disihir oleh Hiat Mo, sehingga pikiranmu di bawah pengaruhnya. Begitu pula Tong Koay dan Pak Hong. Tadi kubuyarkan ilmu sihir itu dengan lonceng sakti, maka kalian bertiga tersadar dari sihir itu."
"oooh"
Tan Giok Cu manggut-manggut.
"Kakak tampan, mulai sekarang kita tidak akan berpisah lagi. Aku... aku ingin menjadi isterimu, agar bisa mendampingimu selama-lamanya."
"Baik, baik,"
Thio Han Liong mengangguk,-"Kakak tampan...."
Di saat Tan Giok Cu baru mau mengatakan sesuatu, mendadak ouw yang Hui siam yang berusia hampir empat tahun itu berlari-lari mendekatinya seraya berseru-seru-"Ibu Ibu Ibu...."
Gadis kecil itu memeluk Tan Giok Cu eraterat. (Bersambung keBagian 24)
Jilid 24
"Eh?"
Tan Giok Cu terbelalak.
"Anak siapa ini kok memanggilku ibu?"
"Dia anak kita,"
Sahut ouw Yang Bun.
"Namanya.... ouw Yang Hut Siam, berusia hampir empat tahun."
"Anak kita?"
Tan Giok Cu terbelalak.
"Apa maksudmu?"
"Giok Cu"
Ouw Yang Bun memberitahukan.
"Kita berdua adalah suami isteri, ouw Yang Hut Siam adalah putri kiYa."
"Omong kosong Itu omong kosong"
Bentak Tan Giok Cu.
"Dia bukan anakku dan klta bukan suami isteri"
"Giok Cu, aku tidak bohong,"
Ujar ouw Yang Bun.
"Kalau engkau tidak percaya, tanyalah kepada Kwan Pek Him dan ciu Lan Nio."
Tan Giok Cu tidak bertanya kepada mereka, hanya menatap mereka dengan kening berkerut-kerut. Sementara wajah Thio Han Liong tampak pucat sekali. Lamemandang Ciu Lan Nio seraya bertanya.
"Adik Lan Nio, apa yang telah terjadi atas diri Giok Cu?"
"Itu... itu...."
Ciu Lan Nio menundukkan kepala.
"Aku...."
"Adik Lan Nio,"
Desak Thio Han Liong.
"Katakanlah"
"Kakak Han Liong, itu...."
Ciu Lan Nio tampak sulit memberitahukan, kemudian malah terisak-isak.
"Adik Lan Nio"
Bentak Thio Han Liong.
"cepat ceritakan apa yang telah terjadi atas diri Giok Cu. Be-narkah ouw Yang Bun adalah suaminya dan gadis kecil itu anak mereka?"
"Saudara Han Liong,"
Sahut Kwan Pek sambil menggelenggelengkan kepala.
"Beberapa tahun lalu, ketika aku dan Lan Nio pergi menyampaikan surat kepada para ketua, di saat itu Hiat Mo, Kwee In Loan dan guruku menikahkan Giok Cu dengan ouw Yang Bun...."
"Haaah...?"
Wajah Thio Han uong pucat pias.
"Mereka menikahkan Giok Cu yang sedang dalam keadaan terpengaruh oleh ilmu sihir?"
"Ya."
Kwan Pek Him mengangguk dan menambahkan.
"Kata Hiat Mo, selamanya Giok Cu tidak akan normal, maka Giok Cu harus punya keturunan...."
"Jadi.... Giok Cu dinikahkan dengan ouw Yang Bun?"
Tanya Thio Han Liong dengan suara bergemetar.
"Ya."
Kwan Pek Him mengangguk.
"Aaaah..."
Thio Han Liong menghela nafas panjang. sementara Tan Giok Cu berdiri mematung di tempat, sekujur badannya terus menggigil seperti kedinginan, kemudian bergumam.
"Aku sudah punya suami dan anak? Aku sudah punya suami dan anak? Tidak mungkin Tidak mungkin Kakak tampan, itu tidak mungkin"
"Ibu Ibu...."
Mendadak ouw Yang Hut siam memanggil sambil menangis.
"Ibu Ibu...."
"Pergi"
Bentak Tan Giok Cu.
"Engkau bukan anak-ku Cepat pergi"
"Ibu Ibu...."
Air mata ouw Yang Hut siam meleleh.
"Ibu...."
"Giok Cu,"
Ujar ouw Yang Bun lembut.
"Dia putri kita...."
"Diam"
Bentak Tan Giok Cu.
"Engkau bukan suamiku, aku bukan isteri mu gadis kecil itu bukan anakku"
"Giok Cu...."
Wajah ouw Yang Bun tampak murung sekali.
"ouw Yang Bun, aku tahu engkau mencinta Giok Cu. Tapi...."
Thio Han Liong memandangnya dengan mata membara.
"Kenapa engkau melakukan itu? Kena-pa?"
"saudara Thio,"
Sahut ouw Yang Bun.
"Aku mencinta Giok Cu melebihi cintamu kepadanya. Walau dia dalam keadaan terpengaruh oleh ilmu sihir Hiat Mo, aku tetap bersedia memperisterinya. Aku menikah dengan dia secara resmi, lagipula dalam kurun waktu beberapa tahun ini, aku selalu mendampinginya. Dia tidak bisa urus anak, aku yang mengurusnya...."
"Diam"
Bentak Thio Han Liong.
"Baik, kalian sudahjudi suami isteri dan sudah punya anak pula, maka aku harus meninggalkan kalian"
"Kakak tampan, jangan tinggalkan aku"
Tan Giok Cu memeluknya erat-erat.
"Aku hanya mencinta imu. ..."
"Adik manis.."
Thio Han Liong membelainya.
"Engkau sudah punya suami dan anak. maka kita...."
"Tidak Tidak"
Tan ,Giok Cu menangis dengan air mata berderai-derai.
"Aku hanya mencintaimu seorang, aku...."
"Adik manis, kini engkau sudah punya suami dan anak...."
"Kakak tampan, itu bukan atas kemauanku. Aku... aku tidak punya suami dan aku pun tidak merasa pernah melahirkan anak."
"Ibu Ibu..."
Panggil ouw Yang Hut siam terisak-isak.
"Ibu...."
"Pergi Pergi Engkau bukan anakku Cepat pergiii"
Bentak Tan Giok Cu.
Tan Giok Cu tidak menyayangi putrinya itu memang harus dimaklumi, karena ketika melahirkan, ia tetap dalam keadaan tak sadar terpengaruh oleh ilmu sihir tersebut.
Maka, ia sama sekali tidak merasa pemah melahirkan.
"Ibu Ibu...."
Air mata ouw Yang Hut siam bercucuran.
"Kenapa Ibu tidak mau Hut siam lagi? Ibu...."
"Giok Cu"
Ouw Yang Bun menghela nafas panjang.
"Hut siam adalah putri kita, engkau yang melahirkan nya."
"omong kosong"
Bentak Tan Giok Cu, yang kemudian memandang Thio Han Liong seraya berkata.
"Kakak tampan, mereka jahat sekali, ingin memisahkan kita. Mari kita pergi"
"Adik manis...."
Sesungguhnya Thio Han Liong ingin memberitahukan tentang kematian ke dua orang tua Tan Giok Cu, namun dalam keadaan begitu ia tidak berani memberitahukan.
"Kakak tampan, ayohlah Mari kita pergi"
Desak Tan Giok Cu.
"Kita mencari tempat yang sepi untuk hidup di sana."
"Adik manis"
Thio Han Liong memandangnya, kemudian menggeleng-gelengkan kepala.
"Kini engkau sudah punya suami dan anak...."
Sementara Yo sian sian, Tong Koay, Pak Hong, Kwan Pek Him dan ciu Lan Nio cuma berdiri mematung di tempat, mereka sama sekali tidak tahu harus berbuat apa.
"Kakak tampan...."
Mendadak wajah Tan Giok Cu berubah pucat sekali, lalu terhuyung-huyung ke belakang beberapa langkah.
"Engkau... engkau tidak mau aku lagi?"
"Adik manis, bukan aku tidak mau engkau, melainkan engkau sudah punya suami dan anak."
"Itu tidak sah Itu tidak sah"
Teriak Tan Giok cu.
"Aku tidak punya suami dan anak"
"Adik manis...."
"Baik-baik"
Tiba-tiba Tan ,Giok Cu tertawa ter-kekehkekeh.
"He he he Kakak tampan, kini engkau sudah tidak mau aku Baik Baik,..."
Sekonyong-konyong Tan Giok Cu mengayunkan tangannya ke ubun-ubunnya sendiri, dan itu membuat Yo sian sian dan Thio Han Liong berteriak kaget.
"Giok Cu Jangan..."
"Adik manis...."
Akan tetapi, telapak tangan Tan Giok Cu telah menghantam ubun-ubunnya sendiri mengeluarkan suara yang mengerikan.
Plaaaak seketika juga Tan Giok Cu terkulai, kepalanya telah pecah dan otaknya berhamburan.
"Adik manis..."
Teriak Thio Han Liong sambil melesat ke arahnya.
"Adik manis...."
"Kakak tampan...."
Tan Giok Cu memandangnya sambil tersenyum.
"Peluklah aku..."
Thio Han Liong segera memeluknya erat-erat, kemudian membelainya dengan tangan bergemetaran.
"Adik manis, kenapa engkau...."
"Kakak tampan... aku... aku...."
Mendadak sepasang mata Tan Giok Cu mendelik, lalu kepala terkulai dan nafasnya putus seketika.
"Adik manis Adik manis..."
Jerit Thio Han Liong dengan air mata berderai-derai.
"Adik manis...."
"Ibu Ibu...."
Ouw Yang Hut siam juga menjerit sambil menangis meraung-raung.
"Ibu Ibu...."
"Giok Cu muridku...."
Yo sian sian berdiri di tempat dengan wajah pucat sekali.
ouw Yang Bun terbelalak seakan tidak percaya apa yang telah terjadi itu.
Ciu Lan Nio menangis sedih, Kwan Pek Him tak henti-hentinya menghela nafas panjang, sedangkan Tong Koay dan Pak Hong terus saling memandang.
"Adik manis..,."
Thio Han Liong memeluk mayat Tan Giok Cu erat-erat.
"Kenapa engkau bunuh diri? Kenapa engkau tinggalkan aku...."
"Kakak Han Liong...."
Ciu Lan Nio mendekatinya. gadis itu ingin menghibur Thio Han Liong, namun Thio Han Liong justru membentaknya.
"Pergi Jangan dekati aku Kakekmu... kakekmu...."
Tiba-tiba Thio Han Liong memekik keras, lalu melesat pergi sambil membopong mayat Tan Giok Cu.
"Kakak Han Liong"
Teriak Ciu Lan Nio.
"Han Liong"
Seru Yo sian sian.
"saudara Han Liong"
Teriak Kwan Pek Him.
"Engkau mau ke mana?"
Akan tetapi, Thio Han Liong sudah tidak kelihatan. Ketika itu kalutlah mereka yang berada di sana.
"Ibu Ibu...."
Ouw Yang Hut siam masih terus menangis. Di saat bersamaan sekonyong-konyong ouw Yang Bun memukul dadanya sendiri sambil berteriak-teriak.
"Aku yang bersalah Aku harus mampus Aku yang bersalah...."
Tong Koay segera mendekatinya, lalu menamparnya seraya membentak gusar.
"Kalau engkau mampus, bagaimana yang kecil ini? Bukankah dia putrimu? Engkau harus mengurusinya "
"Guru Guru...."
Ouw Yang Bun bersujud di hadapan Tong Koay.
"Guru...."
"sudahlah"
Tong Koay menghela nafas panjang.
"urusan sudah jadi begini macam? Percuma engkau menyesal. Yang penting engkau harus mengurusi putrimu ini jangan menelantarkannya "
Ya ,Guru."
Ouw Yang Bun men angguk.
"Celaka Celaka...."
Ciu Lan Nio berjalan mondar-mandir.
"Kita harus bagaimana? Kakak Hian Liong pergi ke mana?"
"Kesedihan Han Liong telah memuncak. kita tidak bisa menghiburnya,"
Ujar Yo sian sian dengan air mata berderaiderai.
"Nona Lan Nio, aku masih kurang jelas tentang itu. Tuturkanlah sekali lagi"
"Bibi sian sian"
Ciu Lan Nio menutur tentang semua itu dan menambahkan.
"Justru tak disangka Kakak Han Liong dapat menyembuhkan."
"Aaaaah..."
Yo sian sian menghela nafas panjang.
"Itu... itu sudah merupakan nasib Giok Cu. Kalau ke dua orangtuanya tahu...."
"Giok Cu sudah mati bunuh diri, kini Kakak Han Liong....",ciu Lan Nio terisak-isak.
"Aku khawatir dia...."
"Aaaah..."
Yo Sian Sian menghela nafas panjang lagi.
"Kita semua tidak dapat menghiburnya ."
Pak Hong menghampiri Yo sian sian, kemudian menggeleng-gelengkan kepala seraya berkata.
"Aku masih seperti dalam mimpi, dan tidak mengerti apa yang terjadi ini. Aku dan Tong Koay diselamatkan Han Liong, tapi dia...."
"semua itu gara-gara Hiat Mo,"
Sela Tong Koay.
"sebab dia yang menyihir Giok Cu, kemudian menikahkannya dengan muridku...."
"Kakekku bersalah karena menyihir Giok Cu, tapi yang mau menikah dengan Giok Cu adalah muridmu yang tak tahu diri itu. Dia yang menimbulkan kejadian tragis ini,"
Sahut Ciu Lan Nio.
"sudah tahu Giok Cu dan Kakak Han Liong saling mencinta, namun masih mau kawin dengan Giok Cu."
"Nona Lan Nio"
Ucapan itu amat menyinggung perasaan Tong Koay.
"Kalau bukan dikarenakan gadis kecil itu, aku pasti sudah membunuh muridku itu."
"sudahlah, Tong Koay,"
Ujar Pak Hong.
"sudah terjadi, mau menyalahkan apa dan siapa?"
"Aaaah..."
Mendadak Tong Koay membentak.
"ouw Yang Bun, bawa putrimu dan ikut guru pergi"
"Ya, Guru"
Ouw YangBun mengangguk sambil menarik tangan putrinya.
"Nak. mari ikut ayah"
"Hut siam mau ibu Hut siam mau ibu...."
Gadis kecil itu mulai menangis lagi.
"Ibu...."
"Cepat gendong dia"
Bentak Tong Koay, lalu melesat pergi. ouw Yang Bun segera menggendong putrinya, setelah itu ia pun melesat pergi sambil menggendong putrinya.
"Baiklah."
Pak Hong manggut-manggut.
"Aku pun mau pergi. Kini rimba persilatan sudah aman, Kwee In Loan jatuh kejurang, si Mo pun telah binasa. sampai jumpa"
Pak Hong melesat pergi. Kini di sana hanya tinggal Yo sian sian, ciu Lan Nio dan Kwan Pek Him .
"Bibi sian sian,"
Tanya Ciu Lan Nio.
"sebetulnya Kakak Han Liong pergi ke mana?"
"Dia membopong mayat Giok Cu, dia...."
Yo sian sian teringat sesuatu.
"Aku yakin dia pasti ke desa Hok An tempat tinggal orangtua Giok Cu."
"Kalau begitu, mari kita susul ke desa Hok An itu"
Ajak Ciu Lan Nio.
"Tapi...."
Yo sian sian mengerutkan kening.
"Kita ke sana juga percuma, sebab tidak bisa menghiburnya. Aaaah siapa yang bisa menghiburnya agar dia tidak menempuh jalan pendek?"
"Aku ingat,"
Ujar ciu Lan Nio tak tertahan.
"Ada seorang yang mungkin bisa menghiburnya."
"siapa orang itu?"
Tanya Yo sian sian dan Kwan Pek Him serentak.
"An Lok Kong cu."
Ciu Lan Nio memberitahukan.
"Mungkin dia bisa menghibur Kakak Han Liong."
"siapa An Lok Kong cu?"
Tanya Yo sian sian heran.
"An Lok Kong cu adalah putri kaisar."
Ciu Lan Nio menjelaskan.
"Dia pernah bersama Kakak Han Liong."
Ciu Lan Nio menutur tentang itu berdasarkan apa yang didengarnya dari Thio Han Liong. Yo sian sian manggutmanggut mendengarnya.
"Tapi belum tentu An Lok Kong cu bisa menghiburnya."
"Mungkin bisa,"
Sahut Ciu Lan Nio.
"Karena Kakak Han Liong pernah bilang kepadaku, dia juga mencintai An Lok Kong cu, tapi tidak akan memperisterinya, sebab dia harus menikah dengan Giok Cu. oleh karena itu, kemungkinan besar An Lok Kong cu bisa menghiburnya."
"Kalau begitu..,"
Ujar Yo sian sian setelah berpikir sejenak.
"Aku akan segera berangkat ke desa Hok An, kalian berdua harus membubarkan Hiat Mo Pang, lalu berangkat ke Kota raja menemui An Lok Kong cu"
"Ya, Bibi sian sian."
Ciu Lan Nio mengangguk.
"Baiklah."
Yo sian sian memandang mereka.
"Aku berangkat duluan."
Yo sian sian melesat pergi, sedangkan ciu Lan Nio dan Kwan Pek Him segera membubarkan Hiat Mo Pang.
setelah itu, barulah mereka berangkat ke Kotaraja.
Apa yang terjadi di lembah Pek Yun Kok telah tersirat di dalam rimba persilatan.
Mengenai bubarnya Hiat Mo Pang, tentunya sangat menggembirakan tujuh partai besar dalam rimba persilatan.
Tapi rimba persilatanjuga berduka cita atas kematian Tan Giok Cu, sekaligus mencemaskan Thio Han Liong.
Bab 47 Banjir Air Mata Kwan Pek Him dan ciu Lan Nio telah tiba di Kotaraja.
Mereka berdua langsung menuju istana.
Para pengawal menjaga di pintu istana, namun tanpa permisi lagi Ciu Lan Nio menerobos ke dalam.
"Hei"
Bentak para pengawal.
"Tidak boleh masuk"
"Maaf, maaf"
Ucap Ciu Lan Nio sambil menghentikan langkahnya.
"Aku lupa bahwa ini ke istana. Maaf...."
"Mau apa Nona ke mari?"
Tanya salah seorang pengawal, ternyata Yo Wie Heng.
"Kami mau bertemu An Lok Keng cu,"
Sahut Ciu Lan Nio.
"Kalian teman An Lok Kong cu?"
Tanya Yo Wie Heng sambil memandang mereka dengan tajam.
"Kami tidak kenal An Lok Kong cu, namun kami boleh dikatakan temannya,"
Sahut Ciu Lan Nio.
"Kalian tidak kenal An Lok Kong Cu , tapi boleh dikatakan temannya."
Gumam Yo Wie Heng sambil meng-garuk-ggruk kemala. ucapan gadis itu amat membingungkannya.
"Tuan"
Kwan Pek Him segera menjelaskan.
"Kami berdua teman baik Han Liong, ada urusan penting yang harus kami sampaikan kepada An Lok Kong cu. Harap Tuan memperbolehkan kami menemui An Lok Kong cu"
"Maaf, maaf"
Yo Wie Heng tersenyum.
"Ternyata kalian berdua adalah teman Han Liong, mari ikut aku ke dalam"
"Terima kasih,"
Ucap Ciu Lan Nio dan Kwan Pek Him sambil mengikut Ho Wie Heng ke dalam. Tak seberapa lama kemudian, mereka sudah sampai di pekarangan istana An Lok. Yo Wie Heng berhenti seraya berkata.
"Kalian tunggu dulu di sini, aku akan ke dalam melapor"
"Ya."
Kwan Pek Him dan Cu Lan Nio mengangguk. Yo Wie Heng melangkah ke dalam istana itu, sedangkan Kwan Pek Him dan ciu Lan Nio menengok ke sana ke mari dengan mata terbelalak.
"sungguh indah istana ini"
Ujar ciu Lan Nio kagum.
"Rasanya aku ingin tinggal di sini beberapa hari."
"oh, ya?"
Kwan Pek Him tersenyum.
"Engkau ingin tinggal disini beberapa hari?"
"Kakak Kwan"
Ciu Lan Nio menatapnya.
"Aku hanya bergurau. Bagaimana mungkin aku tinggal di sini beberapa hari?"
Di saat bersamaan, tampak Yo Wie Heng berjalan ke luar bersama seorang gadis yang amat cantik, dia adalah An Lok Kong cu.
"Kong cu"
Yo Wie Heng memberitahukan.
"Itu mereka."
"Baik,"
An Lok Kong cu manggut-manggut.
"Engkau boleh pergi sekarang."
"Ya, Kong cu."
Yo Wie Heng memberi hormat, lalu meninggalkan tempat itu. An Lok Kong cu menghampiri mereka, sedangkan ciu Lan Nio terus menatapnya dengan mata tak berkedip.
"Engkau An Lok Kong cu?"
Tanyanya.
"Ya."
An Lok Kong cu mengangguk.
"Kalian berdua teman Han Liong?"
"Betul,"
Ciu Lan Nio manggut-manggut.
"Kong cu, engkau memang cantik sekali. pantas Kakak Han Liong mencintaimu."
"siapa bilang dia mencintaiku?"
Tanya An Lok Kong cu dengan wajah agak kemerah-merahan.
"Kakak Han Liong yang bilang kepadaku."
"oh ya"
Hati An Lok Kong cu langsung berbunga-bunga.
"Kalian berdua ke mari ingin menyampaikan sesuatu mengenai dirinya?"
"Ya."
Ciu Lan Nio mengangguk.
"Dia... dia...."
"Kenapa dia?"
Wajah An Lok Kong cu langsung berubah.
"Apa yang telah terjadi atas dirinya?"
"Kong cu,"
Ciu Lan Nio mulai terisak-isak.
"Kakak Han Liong...."
"Kenapa dia?"
An Lok Kong cu cemas sekali.
"Cepat katakan"
"Celaka, Kong cu,"
Sahut Ciu Lan Nio.
"Dia... meninggal."
"Apa?"
An Lok Kong cu nyaris pingsan seketika.
"Kakak Han Liong meninggal? Dia... meninggal?"
"Kong cu,"
Kwan Pek Him memberi hormat.
"Ke-kasihnya yang meninggal, bukan Han Liong, harap Kong cu tenang"
"ooooh"
An Lok Kong cu menarik napas lega.
"Maksud kalian Tan ,Giok Cu meninggal?"
"Ya."
Kwan Pek Him mengangguk. lalu menutur tentang kejadian yang menimpa Tan Giok Cu.
"Han Liong tampak sedih sekali, dia... dia pergi membopong mayat Giok Cu."
"Haaah...?"
Wajah An Lok Kong Cu pucat pias.
"Kakak Han Liong....^ "
Kami tidak bisa menghiburnya. Kata guru Giok Cu, kemungkinan besar Kakak Han Liong pergi ke desa Hok An."
"Mau apa dia membopong mayat Giok Cu ke desa Hok An?"
Tanya An Lok Kong cu.
"Ke tempat tinggal orangtua Giok Cu."
Ciu Lan Nio memberitahukan.
"orangtua Giok Cu tinggal di desa itu"
"oooh"
An Lok Kong cu manggut-manggut.
"Bagaimana keadaan Kakak Han Liong?"
Tanyanya.
"Dia... dia...."
Ciu Lan Nio terisak-isak lagi.
"Aku khawatir... dia akan bunuh diri juga."
"Haaah...?"
Mata An Lok Kong cu mulai basah.
"Dia... dia...."
"Guru Giok Cu bilang, kemungkinan besar Kakak Han Liong ke desa Hok An. Kami ingin menyusul ke sana, namun guru Giok Cu bilang percuma"
Ujar ciu Lan Nio.
"Karena kami tidak bisa menghiburnya. Di saat itulah mendadak aku teringat kepada Kong cu..."
"Engkau kok teringat kepadaku?"
"sebab Kakak Han Liong pernah memberitahukan kepadaku, bahwa dia juga mencintai Kong Cu. Karena itu, aku pun teringat kepada Kong cu. Hanya Kong cu yang bisa menghibur Kakak Han Liong, itu agar dia tidak turut bunuh diri"
"Baik,"
An Lok Kong cu manggut-manggut.
"Aku akan sebera menyusul ke desa Hok An."
"Kong Cu, biar bagaimanapun Kong cu harus menghiburnya. Kalau dia juga turut bunuh diri, akupun merasa berdosa terhadapnya,"
Ujar ciu Lan Nio.
"Timbulnya kejadian tragis itu dikarenakan ulah kakekku, aku...."
"Nona"
An Lok Kong cu menepuk bahunya.
"Eng-kau berhati bajik, tidak seperti kakekmu itu."
"Aah..."
Ciu Lan Nio menghela nafas panjang.
"Kong Cu, cepatlah berangkat ke desa Hok An"
"Baik,"
An Lok Kong cu mengangguk
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "
Kalian mau ikut aku ke sana?"
"Tidak."
Ciu Lan Nio menggelengkan kepala.
"Kalau melihat aku, Kakak Han Liong pasti fngatpada kakekku, tentunya akan membuatnya marah besar. Aku dan Kakak Kwan akan berangkat ke Kwan Gwa."
"Kalau begitu, aku harus segera menemui ayahku,"
Ujar An Lok Kong cu.
"Kalian tunggu di sini sebentar"
"Kong Cu, kami mau mohon pamit saja,"
Sahut Ciu Lan Nio dan menambahkan.
"Tolong hibur Kakak Han Liong"
"Ya."
An Lok Kong cu mengangguk.
"Kong cu,"
Ucap Ciu Lan Nio.
"Kami mohon diri"
"Selamat jalan"
Sahut An Lok Kong cu.
setelah Kwan Pek Him dan ciu Lan Nio pergi, An Lok Kong cu bergegas-gegas pergi menemui Cu Goan ciang.
Kebetulan kaisar itu sedang duduk santai di ruang istirahat sambil menikmati teh.
Ketika melihat An Lok Kong cu memasuki ruang itu dengan wajah pucat pias, ia terkejut.
"Ay Ceng, kenapa engkau?"
"Ayahanda, Ananda harus segera berangkat ke desa Hok An."
An Lok Kong cu memberitahukan.
"Lho?"
Cu Goan ciang heran.
"Kenapa?"
"Kakak Han Liong..."
Tutur An Lok Kong cu tentang itu.
"Ananda harus ke sana untuk menghiburnya."
Cu Goan ciang manggut-manggut.
"Baiklah. Kapan engkau akan, berangkat?"
"sekarang,"
Sahut An Lok Kong cu dan menambahkan.
"Ananda akan menyamar sebagai pemuda, jadi tidak akan menarik perhatian orang."
"Baik,"
Cu Goan ciang menatapnya.
"Engkau harus membujuknya pulang ke pulau Hong Hoang To, setelah itu undang ke dua orangtuanya ke mari"
"oh?"
An Lok Kong cu terbelalak.
"Itu...."
Cu Goan ciang tersenyum.
"Ayah ingin minta maaf kepada ke dua orangtuanya. Itu ada baiknya juga bagi diriku. Engkau mengerti?"
"Mengerti. Tapi... kalau ke dua orangtuanya tidak mau ke mari?"
"Yah, mau bilang apa? Engkau saja mewakili ayah minta maaf kepada mereka. Namun ayah yakin mereka pasti mau ke mari, sebab Thio Bu Ki berjiwa besar."
"ooo"
"Nak"
Cu Goan ciang menatapnya seraya bertanya.
"Engkau sungguh-sungguh juga mencintai Han Liong?"
"Ya."
An Lok Kong cu mengangguk.
"Han Liong memang anak baik, jujur dan gagah,"
Ujar cu Goan ciang.
"Terus terang, ayah amat membutuhkan tenaganya."
"oh?"
"Ayah memberikannya Tanda Perintah itu, dia pun melaksanakan tugasnya dengan baik, tidak pernah menyalahgunakan Tanda Perintah itu Ayah sungguh gembira sekali"
"Kalau dia mencintai Ananda, bolehkah Ananda menikah dengan dia?"
"Ha ha ha"
Cu Goan ciang tertawa gelak.
"Pertanyaan yang bodoh. Ayah justru berharap engkau menikah dengan dia. Itu akan memperbaiki hubungan ayah dengan orangtuanya."
"oooh"
An Lok Kong cu manggut-manggut.
"Nak"
Cu Goan ,Yang menatapnya.
"Han Liong juga mencintaimu?"
"Sebelumnya Ananda tidak tahu, namun kini sudah tahu,"
Jawab An Lok Kong cu.
"Dia memang mencintai Ananda juga."
"Syukurlah kalau begitu Nan, engkau boleh berangkat sekarang,"
Ujar cu Goan ciang sambil tersenyum.
"Terima kasih, Ayahanda,"
Ucap An Lok Kong cu sekaligus memberi hormat.
"Terima kasih...."
Sementara itu, Yo sian Sian telah tiba di rumah Tan Ek seng di desa Hok An. Ah Hiang menyambut kedatangannya dengan linangan air mata.
"Ah Hiang, Han Liong berada di sini?"
Ah Hiang mengangguk sambil menangis sedih, kemudian berkata dengan air mata berderai-derai.
"Belum lama ke dua orangtua Giok Cu meninggal, kini Giok Cupun sudah tiada...."
"Apa?"
Yo sian sian terbelalak.
"Ke dua orangtua Giok Cu sudah meninggal?"
"Ya."
Ah Hiang mengangguk.
"Para anggota Hiat Mo yang membunuh mereka. Han Liong pernah ke mari, aku sudah memberitahukan kepadanya."
"Aaaah.."
To sian sian menangis terisak-isak.
"Tak disangka jadi begini sungguh kasihan nasib mereka"
"Kini aku khawatirkan Han Liong,"
Ujar Ah Hiang memberitahukan.
"setelah menguburka mayat Giok Cu di sisi makam ke dua orangtua Giok Cu, Han Liong terus berlutut di situ siang malam tanpa makan dan minum...."
"Haaah?"
Yo sian sian terkejut bukan main.
"Dia di mana sekarang?"
"Di pekarangan belakang."
Jawab Ah Hiang. Yo sian sian langsung ke pekarangan belakang. Dilihatnya Thio Han Liong berlutut di hadapan makam baru itu.
"Han Liong..."
Panggil Yo sian sian sambil menghampirinya.
"Bibi sian sian"
Sahut Thio Han Liong tanpa menoleh.
"Ini makam Adik Giok Cu, yang di sebelah adalah makam ke dua orangtuanya."
"Aku sudah tahu."
Yo sian sian memegang bahunya.
"Han Liong, engkau jangan terlampa duka dan menyiksa diri, jagalah kesehatanmu baik-baik"
"Bibi sian sian,"
Ujar Thio Han Liong dengan air mata berlinang-linang.
"Adik Giok Cu merupakan segala-galanya bagiku. Kini dia sudah tiada, berarti aku telah kehilangan segala-galanya."
"Han Liong...."
Yo Sian Sian terisak-isak.
"Aku tahu betapa besarnya cintamu kepadanya, dia pasti tenang di alam baka. Namun dia pasti marah melihatmu terus menyiksa diri sendiri"
Thio Han Liong tersenyum getir, kemudian meng-gelenggelengkan kepala.
"Aku pun sudah tiada gairah hidup, aku... aku ingin menyusulnya...."
"Han Liong"
Bentak Yo sian sian.
"Apakah engkau sudah lupa kepada ke dua orangtua mu? Engkau ingin menjadi anak yang tak berbakti?"
"Bibi sian sian...."
"Han Liong, engkau harus makan sedikit Jangan membiarkan perutmu lapar"
"Aku tidak mau makan, perutku tidak lapar...."
"Han Liong...."
Yo sian sian tampak cemas sekali.
la tidak tahu harus bagaimana menghiburnya.
Kalau Thio Han Liong terus begini, hawa murninya pasti akan buyar, itu amat membahayakan dirinya.
oleh karena itu, Yo sian sian berharap An Lok Kong cu tiba selekasnya.
Thio Han Liong terus berlutut di depan makam Tan Giok Cu tanpa makan dan minum.
Air matanya tak henti-hentinya mengalir, dan itu sungguh mencemaskan-Yo sian sian yang berdiri di sisinya.
sudah tiga harHo sian sian di situ, namun sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa.
Yo sian sian menghela nafas panjang, kemudian memandangnya.
Pucatlah wajah wanita itu, ternyata kini yang keluar dari mata Han Liong bukan air mata lagi, melainkan darah.
"Haaah...?"
Betapa terkejutnya Yo sian sian.
la segera menotok beberapa jalan darah di tubuh Thio Han Liong, lalu mengerahkan Lweekangnya, sekaligus di salurkan ke dalam tubuh Thio Han Liong.
Di saat bersamaan, muncullah An Lok Kong cu mendekati mereka.
Begitu melihat dari mata Thio Han Liong mengalir darah, pucatlah wajahnya.
"Kakak Han Liong...."
An Lok Kong cu mulai menangis.
"oooh"
Yo sian sian menarik nafas lega, dan berhenti menyalurkan Lweekangnya ke dalam tubuh Thio Han Liong.
"Bibi,"
Tanya An Lok Kong cu.
"Bagaimana keadaan Kakak Han Liong?"
"Kalau aku terlambat menyalurkan Lweekangku ke dalam tubuhnya, dia pasti lumpuh seumur hidup,"
Sahut Yo sian sian sambil menatapnya.
"Engkau pasti An Lok Kong cu. Ya, kan?"
"Ya, Bibi."
An Lok Kong cu mengangguk.
"Kenapa Kakak Han Liong belum sadar?"
"Aku sengaja menotok jalan darahnya agar dia pingsan,"
Jawab Yo sian sian sambil menghela nafas panjang.
"Kini engkau sudah datang, maka engkau harus berusaha menghiburnya."
"sudah sekian hari dia tidak makan dan minum, maka engkau pun harus membujuknya agar mau makan."
An Lok Kong cu mengangguk sambil memandang Thio Han Liong yang dalam keadaan pingsan itu.
"Bibi, kapan dia sadar?"
"Sebentar lagi dia akan sadar. engkau harus menjaganya baik-baik,"
Ujar Yo Sian sian.
"Aku mau pergi."
"Bibi mau pergi ke mana?"
"Kembali ke Lam Hai,"
Sahut Yo sian sian sekaligus melesat pergi. Terdengar pula suara seruannya sayup,sayup.
"Kong Cu, jaga dia baik-baik,..."
Setelah Yo sian sian pergi, An Lok Kong cu segera duduk di sisi Thio Han Liong yang telentang itu. Lamemandang Thio Han Liong dengan air mata bercucuran, lalu membelainya perlahan-lahan.
"Kakak Han Liong Kakak Han Liong...."
Berselang beberapa saat kemudian, sepasang mata Thio Han Liong terbuka perlahan-lahan.
"Kakak Han Liong Kakak Han Liong..."
Panggil An Lok Kong cu girang.
"Kakak Han Liong...."
"Adik An Lok..."
Sahut Thio Han Liong sambil bangkit duduk.
"Engkau kok berada di sini?"
"Aku ke mari menengokmu"
Sahut An Lok Kong cu sambil mengusap-usap wajahnya.
"Kakak Han Liong, engkau harus...."
"Adik An Lok"
Thio Han Liong memberitahukan sambil terisak-isak.
"Giok Cu sudah tiada, itu makam nya."
"Aku sudah tahu, maka aku ke mari."
An Lok Kong cu membelainya dengan penuh kasih sayang.
"Kakak Han Liong, jangan berduka lagi Kalau engkau mati, akupun tidak bisa hidup,"
"Adik An Lok...."
Mendadak Thio Han Liong memeluknya erat-erat.
"sungguh malang nasib Giok Cu gara-gara Hiat Mo dia mati bunuh diri Aku harus menuntut balas"
"Kakak Han Liong...."
An Lok Kong cu berlega hati, karena kini Thio Han Liong tampak sudah tenang.
"Adik An Lok"
Thio Han Liong menatapnya seraya bertanya.
"Dari mana engkau tahu aku berada di sini?"
"ciu Lan Nio dan Kwan Pek Him datang ke istana memberitahukan kepadaku, maka aku sebera ke mari."
Thio Han Liong manggut-manggut.
"Adik Lan Nio memang baik, namun kakeknya...."
"Kakak Han Liong,"
An Lok Kong cu menggenggam tangannya seraya berkata.
"Sudah sekian hari engkau tidak makan dan minum, mari kita makan dulu setelah itu, barulah kita bercakap-cakap."
"Adik An Lok, aku tidak lapar."
"Tidak lapar pun harus makan sedikit, jangan bandel"
Ucap An Lok Kong cu sambil tersenyum.
"Kalau bandel, aku akan menjewer telingamu."
"Aku...."
"Kakak Han Liong, biar bagaimanapun engkau harus makan sedikit"
Desak An Lok Kong cu halus dan menambahkan.
"Kalau engkau tidak mau makan, akupun tidak mau makan."
"Adik An Lok...."
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala.
"Baiklah, aku akan makan sedikit, tapi... makan di sini."
"Baik,"
An Lok Kong cu bangkit berdiri Justru di saat bersamaan, tampak Ah Hiang mendekati mereka dengan membawa sebuah nampan berisi beberapa macam hidangan dan dua mangkok nasi putih.
"Nona, aku membawa makanan."
"Lho?"
An Lok Kong cu terbelalak.
"Bibi Ah Hiang kok tahu aku Nona?"
"Aku seorang wanita, maka aku tahu Nona menyamar sebagai pemuda"
Jawab Ah Hiang sambil menaruh nampan itu ke bawah.
"Aku pun tahu kalian pasti mau makan."
"Terima kasih, Bibi Ah Hiang,"
Ucap An Lok Kong cu sambil duduk kembali, kemudian memandang Thio Han Liong seraya berkata.
"Mari kita makan"
Thio Han Liong mengangguk. Mereka berdua mulai makan sambil bercakap-cakap.
"Heran"
Gumam Thio Han Liong.
"Kok Adik Lan Nio dan Kwan Pek Him bisa ke Kotaraja menemuimu, siapa yang menyuruh mereka ke Kotaraja?"
"Nona Lan Nio teringat kepadaku,"
Ujar An Lok Kong cu sambil tersenyum.
"Maka dia mengajak Kwan Pek Him ke Kotaraja menemuiku."
"Adik Lan Nio tidak mengenalmu, bagaimana dia bisa teringat kepadamu? Aku sungguh tidak habis pikir"
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala.
"Itu dikarenakan engkau pernah memberitahukan sesuatu kepada Nona Lan Nio, maka dia teringat kepadaku."
"oh?"
Thio Han Liong tercengang.
"Aku pernah memberitahukan apa kepadanya?"
"Bukankah engkaupernah memberitahukan kepadanya, bahwa engkau... engkau juga mencintaiku?"
Ujar An Lok Kong cu menundukkan kepala.
"oooh"
Thio Han Liong manggut-manggut.
"Karena tiada seorang pun yang bisa menghiburmu, maka Nona Lan Nio teringat kepadaku. Mereka khawatir engkaujuga akan ikut bunuh diri..."
"Aaaah..."
Thio Han Liong menghela nafas panjang.
"sungguh mengenaskan nasib Giok Cu, aku...."
"Kakak Han Liong, jangan terus diingat. semua itu telah berlalu, kini harus menjaga kesehatanmu baik-baik,"
"Adik An Lok...."
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala.
"Kakak Han Liong"
An Lok Kong cu mengalihkan pembicaraan.
"Beberapa tahun ini, engkau berada di mana dan apa yang engkau alami?"
"Aku kalah bertanding dengan Hiat Mo, lalu ke gunung soat sa n...
"jawab Thio Han Liong dan memberitahukan tentang apa yang dialaminya di gunung tersebut. Jadi kini kepandaianku sudah maju pesat, dan Lweekang ku pun telah mencapai taraf yang amat tinggi."
"oh?"
Wajah An Lok Kong cu berseri.
"Kalau begitu, wajah ke dua orangtua mu pasti bisa pulih. Ya, kan?"
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk.
"Setelah meninggalkan gunung soat san, aku ke mari mengunjungi ke dua orangtua Giok Cu. Tapi... tak disangka mereka berdua telah meninggal di bunuh para anggota Hiat Mo Pang."
"Begitu jahat para anggota Hiat Mo Pang"
An Lok Kong cu menggeleng-gelengkan kepala.
"sejak itu aku pun mulai membantai para anggota Hiat Mo Pang."
Thio Han Liong memberitahukan.
"Dan menuju lembah Pek Yun Kok, tak diduga Bibi sian sian sudah berada di sana. la berhasil membunuh si Mo dan memukul Kwee In Loan jatuh kejurang, tapi aku...."
"Kakak Han Liong, sudahlah Jangan diungkit lagi kejadian itu"
"Sebelumnya aku ingin memberitahukan Giok Cu tentang kematian ke dua orangtuanya, dia malah bunuh diri"
Thio Han Liong menghela nafas dan air matanya pun mulai meleleh.
"Kakak Han Liong...."
An Lok Kong cu terkejut ketika melihat air mata Thio Han Liong mulai meleleh.
"Jangan menangis lagi Tadi... tadi engkau menangis hingga mengeluarkan darah, untung Bibi sian sian cepat-cepat menotok jalan darahmu agar pingsan, kemudian menyalurkan Lweekangnya ke dalam tubuhmu."
"oh?"
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala.
"Adik An Lok, coba bayangkan betapa malangnya nasib Giok Cu Padahat dia seorang gadis yang baik, tapi.."
Mendadak sepasang mata Thio Han Liong berapi-api. An Lok Kong cu terperanjat menyaksikannya .
"Aku harus membunuh Hiat Mo"
Ujar Thio Han Liong sambil berkertak gigi.
"Dia yang menyebabkan semua kejadian itu, aku harus membunuhnya"
"Kakak Han Liong...."
An Lok Kong cu cepat-cepat memegang tangannya seraya berkata dengan lembut sekali.
"Jangan emosi, tenanglah"
"Hmm"
Dengus Thio Han Liong dingin.
"Mulai sekarang aku akan membantai para penjahat agar rimba persilatan bersih dari kejahatan"
"Kakak Han Liong...."
An Lok Kong cu memandangnya sambil tersenyum dan menambahkan.
"Bahkan engkau pun harus menghukum para pembesar yang berlaku sewenang-wenang dan korup,"
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk.
"Oh ya, Kakak Han Liong,"
Ujar An Lok Kong cu perlahan.
"Bagaimana kalau engkau mengajakku ke pulau Hong Hoang To?"
"Mau apa engkau ke sana?"
"Aku ingin mengunjungi ke dua orangtua mu, dan juga engkau boleh mengobati wajah ke dua orangtua mu."
"Aaah..."
Thio Han Liong menghela nafas panjang.
"sudah hampir delapan tahun aku tidak pulang menengok ke dua orangtua ku...."
"oleh karena itu, engkau harus pulang,"
Ujar An Lok Kong cu dan melanjutkan.
"Aku ikut karena ingin mengunjungi ke dua orangtua mu, juga ingin menikmati keindahan pulau itu."
"Adik An Lok...."
Lama sekali Thio Han Liong berpikir, kemudian manggut-manggut.
"Baiklah, besok pagi kita berangkat ke pesisir utara menemui Kwa Kiat Lam. Dia punya kapal yang cukup besar."
"Dia bersedia mengantar kita ke pulau Hong Hoang To?"
"Tentu bersedia, sebab dia mantan anggota Beng Kauw."
"oooh"
An Lok Kong cu mengangguk dan berkata.
"Terima kasih Kakak Han Liong atas kesudianmu mengajakku ke pulau itu."
"Tidak usah berTerima kasih, Adik An Lok,"
Ujar Thio Han Liong.
"Memang ada baiknya engkau menemui ke dua orangtua ku."
"Memangnya kenapa?"
"sebab...."
Thio Han Liong memandangnya.
"Engkau boleh mewakili ayahmu menjernihkan tentang kejadian penyerbuan belasan tahun silam itu."
"Kakak Han Liong,"
An Lok Kong cu tersenyum.
"Terus terang, Ayah yang menyuruhku bersamamu ke mlau Hong Hoang TO menemui ke dua orangtua mu."
"oh? Kenapa?"
"Aku harus mewakili Ayahku menjernihkan kesalahpahaman itu, lalu mengundang ke dua orangtua mu ke istana."
"Adik An Lok...."
Thio Han Liong menggelengkan eYala.
"Belum tentu ke dua orangtuaku akan memenuhi undangan itu."
"Kakak Han Liong,"
An Lok Kong cu tersenyum seraya berkata.
"Engkau harus membujuk ke dua orang-tua mu agar mau ke istana"
"Baiklah."
Thio Han Liong mengangguk.
"Akan kucoba, namun aku tidak berani menjamin."
"Terima kasih, Kakak Han Liong,"
Ucap An Lok Kong cu gembira.
"Engkau baik sekali terhadapku."
"Aaah..."
Thio Han Liong menghela nafas panjang, kemudian memandang makam Tan Giok Cu.
"Adik Giok cu...."
Keesokan harinya, Thio Han Liong dan An Lok Kong cu berpamit kepada Ah Hiang, lalu berangkat ke pesisir utara.
Dalam perjalanan, Thio Han Liong tidak begitu banyak bicara, itu membuat An Lok Kong cu menghela nafas diam-diam.
"Kakak Han Liong...."
An Lok Kong cu meliriknya.
"Engkau masih teringat kepada Giok Cu?"
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk.
"Kakak Han Liong, jangan terus diingat"
Ujar An Lok Kong cu lembut.
"itu akan mengganggu kesehatanmu...."
"Aaah..."
Thio Han Liong menghela nafas panjang.
"Aku kenal Giok Cu ketika berusia tujuh tahun. Kini dia sudah tiada, maka aku selalu terkenang kepadanya."
"Kakak Han Liong, kalau aku mati, engkaujuga akan sedemikian sedih?"
Tanya An Lok Kong cu mendadak.
"Adik An Lok,"
Tegur Thio Han Liong.
"jangan omong yang bukan-bukan, aku tidak mau mendengar ucapan itu."
"Kakak Han Liong"
An Lok Kong cu bertanya lagi.
"Kalau aku mati, engkau juga akan menangis sampai mengeluarkan air mata darah?"
"Itu....H Thio Han Liong memandangnya dan berkata tanpa sadar.
"Kalau engkau mati, aku pun pasti mati."
"Kakak Han Liong...."
An Lok Kong cu langsung mendekap di dadanya.
"Kakak Han Liong...."
Kini An Lok Kong cu meneruskan perjalanan dengan penuh kegembiraan, karena yakin Thio Han Liong mencintainya.
oleh karena itu, ia terus berusaha menghibur Thio Han Liong, agar pemuda pujaan hatinya itu tidak terus dirundung duka.
"Kakak Han Liong, Ayahmu galak?"
Tanya An Lok Kong cu mendadak.
"Ayahku tidak galak, namun berwibawa,"
Jawab Thio Han Liong memberitahukan.
"Tapi engkau tidak boleh berbohong, karena Ayahku paling membenci orang yang suka berbohong."
"Kakak Han Liong"
An Lok Kong cu tersenyum.
"Aku bukan gadis yang suka berbohong."
"Aku tahu."
Thio Han Liong manggut-manggut.
"oh ya, ibumu galak?"
"ibuku pun tidak galak. sebaliknya malah agak memanjakan aku, ketika aku masih kecil."
"oooh"
Ketika An Lok Kong cu mau melanjutkan, tiba-tiba terdengar suara jeritan wanita.
"Tolong Tolong..."
Thio Han Liong dan An Lok Kong cu mengerutkan kening, kemudian saling memandang.
"Mari kita ke sana"
Ajak Thio Han Liong.
"Baik,"
Mereka berdua melesat ke tempat suara jeritan itu.
Tampak belasan orang mengerumuni seorang wanita muda, seorang lelaki bertampang seram sedang memeluk wanita itu, sekaligus berusaha membuka pakaiannya.
"Berhenti"
Bentak Thio Han Liong dengan wajah merah padam saking gusarnya. Belasan orang itu terkejut, begitu pula lelaki bertampang seram itu. Mereka segera memandang Thio Han Liong.
"Lepaskan wanita itu"
Bentak Thio Han Liong lagi sambil mendekati mereka selangkah demi selangkah.
"siapa engkau? sungguh berani mencampuri urusan kami"
Sahut lelaki bertampang seram.
"Hmm"
Dengus Thio Han Liong dingini "Hari ini kalian bertemu aku, itu berarti ajal kalian telah tiba"
"Ha ha ha"
Lelaki bertampang seram itu tertawa, lalu berseru.
"serang orang itu"
Begitu lelaki bertampang seram itu berseru, belasan orang lainnya langsung menyerang Thio Han Liong dengan berbagai macam senjata.
Thio Han Liong berkelit, kemudian badannya berkelebat ke sana ke mari.
"Aaaakh Aaaakh..."
Terdengar suara jeritan yang menyayat hati. Belasan orang itu terkapar dengan mulut mengeluarkan darah, ternyata mereka semua telah binasa.
"Haah?"
Betapa terkejutnya lelaki bertampang seram itu.
"siauhiap, ampunilah aku Ampunilah aku...."
"Hmm"
Thio Han Liong tersenyum dingin, kemudian mendadak mengibaskan tangannya. seketika lelaki bertampang seram itu terpental belasan depa, lalu roboh tak bernyawa lagi.
"Terima kasih, Tuan,"
Ucap wanita muda itu sambil berlutut.
"Banguniah"
Ujar Thio Han Liong.
"Kini sudah aman, engkau boleh pulang."
Wanita muda itu bangkit berdiri, An Lok Kong cu menghampirinya seraya bertanya.
"siapa orang-orang itu?"
"Mereka... mereka adalah perampok."
Wanita muda itu memberitahukan.
"Mereka merampok di desa kami, kemudian menculikku. Kalau siauhiap tidak muncul, aku... aku pasti mereka perkosa."
"sekarang sudah aman, engkau boleh pulang,"
Ujar An Lok Kong cu.
"Ya."
Wanita itu mengangguk lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Thio Han Liong dan An Lok Kong cu saling memandang, kemudian mereka menggeleng-gelengkan kepala.
"Kakak Han Liong, kenapa engkau membunuh mereka semua?"
"Adik An Lok, mereka para penjahat, maka harus dibasmi,"
Sahut Thio Han Liong.
"Apakah engkau tidak dengar tadi, wanita muda itu bilang mereka adalah para perampok yang merampok di desanya."
"Aku dengar."
An Lok Kong cu manggut-manggut.
"Engkau benar, para penjahat harus dibasmi."
"Kini mereka semua telah mati, aku harus mengubur mayat-mayat itu,"
Ujar Thio Han Liong.
"Tidak usah, Kakak Han Liong"
Sahut An Lok Kong cu.
"Lho? Kenapa?"
Thlo Han Llong heran.
"Aku yakin para penduduk desa itu akan ke mari. Biar mereka yang mengubur mayat-mayat itu."
"Baik,"
Thio Han Liong manggut-manggut.
Mereka berdua meninggalkan tempat itu, lalu melanjutkan perjalanan menuju pesisir utara.
Tidak salah apa yang dikatakan An Lok Kong cu, tak lama setelah mereka pergi, muncullah puluhan penduduk desa.
Begitu melihat mayat para perampok itu, bersoraklah mereka dengan penuh kegembiraan.
setelah itu, barulah mereka bergotong-royong mengubur mayat-mayat itu.
Bab 48 Wajah Thio Bu Ki Dan Tio Beng Pulih Enam, tujuh hari kemudian, Thio Han Liong dan An Lok Kong cu sudah tiba di pesisir utara.
Di saat Thio Han Liong menengok ke sana ke mari, tiba-tiba terdengar suara seruan yang penuh kegembiraan.
"Han Liong Han Liong..."
Seorang lelaki berlari-lari menghampiri mereka dengan wajah berseri-seri, ternyata Kwa Kiat Lam.
"Paman Kwa"
Betapa gembiranya Thio Han Liong.
"Han Liong"
Kwa Kiat Lam tertawa gembira.
"Ha ha ha Kini engkau telah dewasa, tapi... kenapa badanmu agak kurus?"
"Aku...."
Thio Han Liong menghela nafas panjang, kemudian memperkenalkan An Lok Kong Cu.
"Paman Kwa, ini temanku, namanya Cu An Lok."
"Ha ha ha"
Kwa Kiat Lam tertawa terbahak-bahak.
"Cu An Lok, aku senang sekali bertemu denganmu"
"Aku pun senang sekali bertemu Paman Kwa,"
Sahut An Lok Kong cu sambil memberi hormat.
"Han Liong, sudah hampir delapan tahun engkau tidak ke pulau Hong Hoang TO. sekarang engkau dan temanmu ini mau ke pulau itu?"
Tanya Kwa Kiat Lam.
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk.
"Aku rindu sekali kepada ke dua orangtua ku, mari kita berlayar sekarang"
"Baik,"
Kwa Kiat Lam persilakan mereka naik ke kapal.
Tak seberapa lama kemudian, mereka mulai meninggalkan pesisir utara.
Thio Han Liong dan An Lok Kong cu berdiri di haluan.
An Lok Kong cu memandang laut nan luas itu dengan wajah berseri-seri.
"Wuah"
Serunya tak tertahan.
"sungguh indah pemandangan laut Aku tak menyangka pemandangan laut sedemikian indah menakjubkan"
"Apalagi disaat senja, kita akan menyaksikan sang surya tenggelam ke dalam laut."
Thio Han Liong memberitahukan.
"oh?"
An Lok Kong cu tersenyum.
"Kakak Han Liong, ada apa di pulau Hong Hoang To?"
Tanyanya.
"Ada burung-burung Hong Hoang (Phoenix)."
"Burung itu sudah langka. Aku hanya melihat burung tersebut dari gambar. Tak disangka di pulau itu terdapat burung Hong Hoang."
"Burung itu sangat jinak. engkau bisa membelainya."
Thio Han Liong memberitahukan.
"Bahkan amat indah, bulunya warna-warni dan mengkilap."
An Lok Kong cu tampak gembira sekali.
"Apakah burung itu dapat ditunggangi?"
"Burung itu tidak begitu besar, bagaimana mungkin dapat ditunggangi?"
Thio Han Liong menggelengkan kepala.
"sayang sekali"
Ujar An Lok Kong cu.
"Kalau burung itu kuat dan besar, aku ingin menunggang burung itu agar bisa melihat-lihat pulau itu dari atas."
"Kalau begitu, engkau boleh duduk dipundakku,"
Ujar Thio Han Liong sambil tersenyum.
"Aku akan meloncat ke atas menggunakan ginkang. Nah, bukankah engkau bisa melihat pulau itu dari atas"
"Kakak Han Liong...."
An Lok Kong cu cemberut.
"Jangan mengada-ada"
"Aku tidak mengada-ada."
Thio Han Liong tersenyum, lagi.
"Itu kalau engkau mau duduk di pundakku."
"Engkau konyol ah"
An Lok Kong cu memukul dada Thio Han Liong, namun kemudian malah mendekap di situ.
Thio Han Liong membelainya.
An Lok Kong cu bergirang dalam hati, karena kini Thio Han Liong tampak tidak begitu berduka lagi.
Wajahnya tampak mulai cerah ketika angin menerpanya.
"Kakak Han Liong, bagaimana kalau ke dua orang-tuamu tidak sudi menerimaku di pulau itu?"
Tanya An Lok Kong cu setengah berbisik, Jangan khawatir"
Sahut Thio Han Liong.
"Ke dua orangtua ku tidak berhati sempit, percayalah"
"syukurlah kalau begitu"
Ujar An Lok Kong cu dan menambahkan.
"Tapi... hatiku agak kebat-kebit."
"Itu tidak apa-apa. Tenang saja."
Thio Han Liong membelainya lagi, namun kemudian menghela nafas panjang.
"Aaaah..."
"Kakak Han Liong"
An Lok Kong cu menatapnya seraya bertanya.
"Teringat pada Giok Cu lagi?"
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk.
"Aku tidak habis pikir, kenapa nasibnya begitu malang?"
"Mungkin sudah merupakan suratan takdir,"
Ujar An Lok Kong cu sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Juga memang merupakan nasibnya...."
Beberapa hari kemudian, sampailah mereka di pulau tersebut.
"Kakak Han Liong"
Seru An Lok Kong cu terbelalak.
"sungguh indah pulau Hong Hoang To ini, aku... aku betah di sini"
"oh?"
Thio Han Liong tersenyum, kemudian mendadak ia mengerahkan Lweekang sambil bersiul panjang.
Betapa nyaringnya suara siulan itu, bergema ke seluruh pulau tersebut.
Tak lama tampak belasan burung Hong Hoang terbang ke arahnya, lalu melayang turun di hadapannya.
"Ha ha ha"
Thio Han Liong tertawa gembira.
"Ka-wan-kawan, kita berjumpa lagi"
Thio Han Liong membelai burung-burung itu. Bukan main kagumnya An Lok Kong cu ketika menyaksikan keindahan burung tersebut.
"Kakak Han Liong, bolehkah aku membelainya?"
Tanya An Lok Kong cu sambil mendekati salah seekor dari antara burung-burung itu.
"Tentu boleh."
Thio Han Liong mengangguk. An Lok Kong cu segera menjulurkan tangannya untuk membelai salah seekor burung itu, dan burung itu terus memandangnya.
"Kakak Han Liong"
An Lok Kong cu tersenyum.
"Kenapa burung ini melototi aku?"
"Dia belum mengenalmu,"
Sahut Thio Han Liong dan menambahkan.
"Maka engkau harus memperkenalkan diri"
"oooh"
An Lok Kong cu manggut-manggut.
"saudara Hong Hoang, namaku Cu An Lok...."
"Adik An Lok"
Thio Han Liong tertawa.
"Itu burung Hong Hoang betina, engkau harus memanggilnya Cici (Kakak Perempuan)."
"Cici Hong Hoang"
Panggil An Lok Kong cu sambil tertawa kecil. Burung itu manggut-manggut, membuat An Lok Kong cu terbelalak.
"Kakak Han Liong"
Serunya sambil tertawa geli.
"Burung ini manggut-manggut"
"Kalau-engkau nakal, burung itu pun akan mengomel."
Sahut Thio Han Liong sambil tersenyum.
"oh? Itu...."
Ucapan An Lok Kong cu tidak dilanjutkan, sebab mendadak berkelebat dua sosok bayangan di hadapan mereka.
"Ayah Ibu"
Seru Thio Han Liong girang. Berdiri seorang lelaki dan seorang wanita di situ. Wajah mereka tampak menyeramkan, tidak lain adalah Thio Bu Ki dan Tio Beng.
"Han Liong...."
Thio Bu Ki dan Tio Beng terbelalak.
"Engkaukah yang bersiul tadi?"
"Ayah Ibu...."
Thio Han Liong segera bersujud di hadapan mereka, kemudian terisak-isak.
"Hampir delapan tahun kita tidak berjumpa, bagaimana keadaan Ayah dan Ibu?"
Thio Bu Ki membelainya dengan penuh kasih sayang.
"Ayah dan ibumu baik-baik saja."
Tio Beng juga membelainya.
"Bangunlah"
Thio Han Liong bangkit berdiri. Kini giliran An Lok Kong cu bersujud di hadapan mereka.
"Paman, Bibi, terimalah hormatku"
"Banguniah"
Thio Bu Ki segera membangunkannya.
"Anak muda, siapa engkau?"
"Bu Ki Koko,"
Ujar Tio Beng sambil tersenyum.
"Dia anak gadis yang menyamar sebagai pemuda."
"oh?"
Thio Bu Ki menatap An Lok Kong cu dalam-dalam.
"Engkau anak gadis?"
"Ya, Paman."
An Lok Kong cu bangkit berdiri seraya memberitahukan.
"Namaku Cu Ay Ceng, gelarku An Lok Kongcu."
"An Lok Kong cu?"
Thio Bu Ki mengerutkan kening.
"Engkau putri kaisar?"
"Ya, Paman."
An Lok Kong cu mengangguk. Di saat bersamaan, tampak Kwa Kiat Lam menghampiri mereka, lalu memberi hormat kepada Thio Bu Ki dan Tio Beng.
"saudara Thio, apa kabar?"
"Kami baik-baik saja,"
Sahut Thio Bu Ki dengan tersenyum.
"Terima kasih atas kebaikanmu mengantar mereka ke mari."
"sama-sama,"
Sahut Kwa Kiat Lam sambil tertawa.
"Mari ke gubuk kami"
Ajak Thio Bu Ki lalu bersama Tio Beng melangkah pergi. Kwa Kiat Lam, Thio Han Liong dan An Lok Kong cu langsung mengikutinya. An Lok Kong Cu berjalan dengan kepala menunduk.
"Adik An Lok,"
Tanya Thio Han Liong heran.
"Ke-napa engkau diam saja?"
"Kakak Han Liong"
An Lok Kong cu menggeleng-gelengkan kemala.
"Kelihatannya ayahmu kurang senang akan kehadiranku di sini."
"Tidak mungkin^ Thio Han Liong tersenyum.
"Hanya saja merasa terkejut atas kehadiranmu."
"Kalau ayahmu memarahiku,"
Pesan An Lok Kong cu dengan suara rendah.
"Engkau harus membelaku lho"
"Jangan khawatir"
Thio Han Liong menepuk bahunya.
"Ayahku tidak akan memarahimu, percayalah"
Berselang beberapa saat kemudian, mereka sudah tiba di gubuk itu. Tio Beng segera menyuguhkan teh, lalu duduk di sisi Thio Bu Ki.
"Han Liong"
Thio Bu Ki menatapnya seraya bertanya.
"Selama delapan tahun ini, apa yahg engkau lakukan dan apa pula yang engkau alami?"
"Ayah, aku mengalami banyak kejadian..."
Tutur Thio Han Liong mengenai semua itu.
"Tapi... Giok Cu dan ke dua orangtuanya telah meninggal."
"Sungguhi malang nasib mereka"
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala.
"Tak disangka rimba persilatan telah berubah menjadi begitu. Namun syukurlah kini Hiat Mo Pang telah bubar"
"Han Liong"
Tio Beng menatapnya seraya bertanya.
"Engkau membawa daun soat san Ling Che?"
Thio Han Liong mengangguk, lalu mengeluarkan daun tersebut dan diberikan kepada ayahnya. Thio Bu Ki menerima daun itu lalu menciumnya, sejenak kemudian barulah manggut-manggut sambil tersenyum.
"Beng Moy,"
Ujarnya kepada Tio Beng.
"Kemung-kinan besar wajah kita akan pulih."
"oh?"
Tio Beng tampak gembira sekali.
"Daun soat san Ling che itu dapat menyembuhkan wajah kita?"
"Rasanya bisa."
Thio Bu Ki mengangguk.
"soat San Ling che bagaikan buah dewa dalam dongeng, tak disangka Han Liong justru telah makan buah itu. Aku yakin Lweekangnya jauh lebih tinggi dariku."
"syukurlah kalau begitu"
Ucap Tio Beng.
"Tapi aku tidak habis pikir, siapa sebetulnya BuBeng sian su?"
Ujar Thio Bu Ki sambil menghela nafas.
"usia-nya lebih tua dari Guru Besar Thio sam Hong, dan berkepandaiannya pun telah mencapai kesempurnaan. Namun beliau malah tak dikenal orang, itu sungguh luar biasa"
"Ayah"
Thio Han Liong memberitahukan.
"BuBeng sian su juga kenal sin Tiauw Tayhiap-Yo Ko dan siauw Liong Li, bahkanjuga kenal Tong Sia, si TOk, Lam Ti dan Pak Kay. Tapi mereka justru tidak tahu BuBeng sian su kepandaiannya begitu tinggi. sebab beliau tidak pernah memamerkan kepandaiannya, lagi pula tidak pernah bertarung dengan siapa pun."
"Han Liong, engkau sungguh beruntung bertemu dengan beliau"
Ujar Thio Bu Ki.
"Bahkan beliau pun mengajarmu Kian Kun Taylo sin Kang. Ayah masih tidak mengerti, apa bedanya Kian Kun Taylo Ie sin Kang dengan Kian Kun Taylo sin Kang?"
"Kata beliau, Kian Kun Taylo sin Kang dapat mengembalikan Lweekang lawan sekaligus menyerangnya dengan Lweekangnya sendiri"
Thio Han Liong memberitahukan.
"oh?"
Thio Bu Ki tampak kurang percaya.
"Han Liong, mari kita ke pekarangan sebentar, ayah ingin tahu bagaimana Kian Kun Taylo sin Kang yang engkau miliki itu"
"Baik, Ayah."
Thio Han Liong mengangguk. Mereka berdua segera berjalan ke luar. Tio Beng dan lainnya juga ikut ke luar. Thio Bu Ki dan Thio Han Liong berdiri berhadapan berjarak kurang lebih tiga depa.
"Bersiap-siaplah"
Ujar Thio Bu Ki.
"Ayah akan menyerangmu dengan Kiu yang sin Kang, engkau harus menangkis dengan Kian Kun Taylo sin Kang Ayah cuma mengeluarkan tiga bagian Lweekang Kiu Yang sin Kang, engkau mau mengeluarkan berapa bagian Kian Kun Taylo sin Kang mu, terserah."
"Ya, Ayah."
Thio Han Liong mengangguk.
"Han Liong, hati-hati"
Pesan Thio Bu Ki.
"Ayah mulai menyerangmu dengan Kiu Yang sin Kang."
Thio Han Liong mengangguk, sedangkan Thio Bu Ki telah menyerangnya.
Thio Han Liong tidak berkelit melainkan langsung manangkis dengan Kian Kun Taylo sin Kang menggunakan jurus Kian Kun Taylo Bu Pien (Alam semesta Tiada Batas-.
BLam Terdengar suara benturan.
Thio Han Liong termundur-mundur beberapa langkah, sedangkan Thio Bu Ki terpental beberapa depa.
setelah berdiri tegak, ia memandang Thio Han uong dengan mata terbelalak.
"Bu Ki Koko"
Tio Beng mendekatinya seraya berkata.
"Engkau tidak terluka dalam?"
"Tidak."
Thio Bu Ki menarik nafas dalam-dalam.
"Tak disangka begitu lihay ilmu Kian Kun Taylo sin Kang itu. Kalau tadi aku menyerang dengan sepenuh tenaga, saat ini aku sudah tergeletak menjadi mayat."
"Ayah...."
Thio Han Liong mendekatinya.
"Maafkan aku...."
"Ha ha ha"
Thio Bu Ki tertawa gelak.
"Kini legalah hati ayah, karena engkau telah memiliki kepandaian yang begitu tinggi"
"Han Liong...."
Tio Beng memandangnya sambil tersenyum.
"Tak disangka kepandaianmu sudah begitu tinggi, ibu gembira sekali."
"Mari kita kembali ke dalam"
Ajak Thio Bu Ki. Mereka semua masuk ke dalam rumah. sementara Kwa Kiat Lam masih memandang Thio Han Liong dengan mata tak berkedip.
"Han Liong, kepandaianmu itu...."
Kwa Kiat Lam menggeleng-gelengkan kepala.
"Jauh lebih tinggi dari ayahmu."
"Paman Kwa,"
Sahut Thio Han Liong dengan jujur.
"Itu dikarenakan aku makan soat san Ling che, kalau tidak Lweekangku tidak akan begitu tinggi. Lagi cula Bu Beng sian su mengajarku semacam ilmu, maka kepandaianku bertambah tinggi."
"oooh"
Kwa Kiat Lam manggut-manggut.
"Han Liong,"
Tanya Tio Beng mendadak.
"Bagaimana engkau bertemu An Lok Kong cu?"
Thio Han Liong memberitahukan, setelah itu ia pun menambahkan.
"Ayah, Ibu, aku sudah bertemu Kaisar."
"Maksudmu Cu Goan ciang?"
Tanya Thio Bu Ki sambil mengerutkan kening.
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk.
"Paman cu minta maaf kepadaku karena penyerbuan belasan tahun yang lalu itu."
"Hmm"
Dengus Thio Bu Ki.
"Dia menyuruh para Dhalai Lhama itu ke mari untuk membunuh ayah dan ibumu, kini malah minta maaf?"
"Aya^"
Thio Han Liong memberitahukan.
"Sesungguhnya Paman cu tidak menyuruh mereka membunuh ayah dan ibu, itu adalah perbuatan para Dhalai Lhama."
"Itu cuma alasan belaka"
Ujar Thio Bu Ki.
"Itu bukan alasan, memang begitu,"
Ujar Thio Han Liong.
"Para Dhalai Lhama itu menghendaki kitab pusaka Kiu Yang dan Kiu In cin Keng, maka turun tangan jahat terhadap ayah."
"oh?"
Kening Thio Bu Ki berkerut.
Ia masih ingat belasan tahun yang lalu, para Dhalai Lhama itu memaksanya menyerahkan ke dua kitab pusaka tersebut, kemudian menangkap Thio Han Liong.
Pada waktu itu pemimpin pasukan pilihan bernama Lie We Kiong sama sekali tidak membantu para Dhalai Lhama.
sesungguhnya di saat itu Lie Wie Kiong bisa turun tangan membunuh Thio Han Liong, tapi tidak dilakukannya.
oleh karena itu, Thio Bu Ki mulai percaya akan keterangan putranya.
"Paman"
Ujar An Lok Kong cu.
"Itu memang benar. sebelum para Dhalai Lhama dan Lie Wie Kiong berangkat ke mari, ayahku memang berniat membunuh Paman. Namun malam harinya, ayahku terus berpikir dan teringat akan satu hal, yakni apabila tiada Thio Bu Ki tiada dinasti Beng dan ayahku pun tidak bisa menjadi kaisar, maka... keesokan harinya, ayahku berpesan kepada Lie Wie Kiong dan para Dhalai Lhama, tidak boleh membunuh Paman, harus undang Paman ke istana secara baik-baik, Tak tak disangka para Dhalai Lhama itu justru membunuh Bibi Ci Jiak dan melukai paman, bahkan menyerang Paman dan Bibi dengan Liak Hwee Tan."
"Kong cu,"
Tanya Tio Beng sambil menatapnya.
"Benarkah keteranganmu itu?"
"Apabila aku bohong, aku pasti disambar petir"
Sahut An Lok Kong cu.
"Ngmmm"
Tio Beng manggut-manggut, kemudian memandang Thio Bu Ki sambil tersenyum dan berkata.
"Bu Ki Koko, An Lok Kong cu menyamar sebagai pemuda, itu membuatku teringat akan masa lalu."
"Betul."
Thio Bu Ki tersenyum.
"Engkau pun pernah menyamar sebagai pemuda, sehingga aku sama sekali tidak tahu bahwa engkau anak gadis."
"Ayah"
Thio Han Liong memberitahukan.
"Ketika aku bertemu Adik An Lok, aku pun tidak tahu bahwa dia anak gadis. setelah aku ke Kotaraja menemuinya di istana An Lok, barulah aku tahu bahwa dia anak gadis, juga putri kaisar."
"Han Liong."
Tanya Thio Bu Ki.
"Bagaimana sikap Cu Goan ciang terhadapmu?"
"Baik sekali,"
Jawab Thio Han Liong dan menambahkan.
"Paman Cu pun menyerahkan sebuah Tanda Perintah kepadaku, agar aku menghukum pembesar korup dan pembesar yang berbuat sewenang-wenang."
Thio Han Liong memperlihatkan Tanda Perintah itu Thio Bu Ki memandang Tanda Perintah itu, kemudian menghela nafas panjang.
"Cu Goan ciang memang cerdik, Dia tahu ayah dan engkau tidak mau menjadi pejabat tinggi, maka menyerahkan Tanda Perintah Kaisar itu kepadamu. Itu berarti engkau adalah wakilnya,"
Ujar Thio Bu Ki dan melanjutkan.
"Namun engkau harus merasa bangga, karena Cu Goan ciang mempercayaimu."
"Paman."
Sela An Lok Kong cu dengan wajah berseri-seri.
"Ayahku memang sangat mempercayai Kakak Han Liong, bahkan juga amat menyukainya."
"oh?"
Thio Bu Ki menatapnya.
"Kong cu, kenapa ayahmu menjadi begitu baik terhadap Han Liong?"
"Paman jangan memanggilku Kong cu, panggil saja namaku"
Ujar An Lok Kong cu dengan sungguh-sungguh .
"Baik,"
Thio Bu Ki manggut-manggut.
"Han Liong memanggilmu adik An Lok, maka aku memanggilmu An Lok saja."
"Terima kasih Paman,"
Ucap An Lok Kong cu dan memberitahukan.
"ayahku begitu baik terhadap Kakak Han Liong, itu dikarenakan ayahku pernah berbuat salah terhadap Paman, maka ayahku ingin menebus kesalahan itu.^ "
Oooh"
Thio Bu Ki manggut-manggut.
"Ketika aku mau berangkat ke desa Hok An untuk menghibur Kakak Han Liong, ayahku pun berpesan agar membujuk Kakak Han Liong mengajakku ke pulau ini. setelah itu aku harus mengundang Paman dan Bibi ke Kotaraja, ayahku ingin bertatap muka dengan paman dan Bibi"
"Itu...."
Thio Bu Ki memandang Tio Beng. Bagian 25
"An Lok,"
Ujar Tio Beng sambil tersenyum.
"Kami tidak berani berjanji tentang itu, karena... lihatlah wajah kami yang telah rusak ini Bisakah kami ke Kota raja?"
"Bukahkah Kakak Han Liong membawa daun Soat San Ling. che? Daun itu dapat menyembuhkan wajah Paman dan Bibi kan?"
"Itu belum tentu,"
Sahut Thio Bu Ki.
"Tapi kami akan mencobanya,"
"Seandainya wajah Paman dan Bibi pulih, tentunya sudi ke Kotaraja kan?"
An Lok Kong cu memandang mereka dengan penuh harap.
"Itu akan kami pertimbangkan setelah wajah kami pulih,"
Ujar Thio Bu Ki kemudian memandang Kwa Kiat Lam seraya berkata.
"Saudara Kwa tinggallah engkau di sini beberapa hari"
"Tentu."
Kwa Kiat Lam tersenyum.
"Sebab aku masih harus mengantar mereka ke Tionggoan."
"Terima kasih Paman Kwa,"
Ucap Thio Han Liong.
"Han Liong"
Thio Bu Ki menatapnya tajam.
"Kapan engkau akan pergi mencari Hiat Mo untuk membuat perhitungan?"
"Itu..."
Pikir Thio Han Liong sejenak, lalu melanjutkan.
"Setelah Ayah dan ibu ke Kotaraja."
"Han Liong...."
Thio Bu Ki tersenyum.
"Engkau juga menghendaki kami ke Kotaraja?"
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk.
"Sebab Adik An Lok bermaksud baiki sedangkan ayahnya juga bertujuan yang benar, yakni ingin menjernihkan kesalahpahaman belasan tahun yang lalu itu."
"oh?"
Thio Bu Ki menatapnya, lama sekali barulah berkata.
"Baik, kalau wajah ayah dan ibu pulih, kita berangkat bersama ke Kotaraja."
"Terima kasih, Paman,"
Ucapan Lok Kong cu dengan wajah berseri.
"Ngmm"
Thio Bu Ki manggut-manggut, kemudian memandang Thio Han Liong seraya berkata.
"Kini kepandaianmu sudah tinggi sekali, apakah engkau berniat pergi mencari para Dhalai Lhama itu?"
"Ayah, aku memang ingin membuat perhitungan dengan mereka,"
Sahut Thio Han Liong. Thio Bu Ki menghela nafas panjang.
"Itu telah berlalu, engkau tidak usah mencari mereka lagi."
"Ayah..."
Thio Han Liong heran.
"Ayah tahu kini Iweekangmu telah sempurna, tapi...."
Thio Bu Ki menggeleng-gelengkan kepala.
"Mereka berjumlah sembilan orang, ilmu itu sungguh sulit dihadapi."
"Ayah"
Thio Han Liong memberitahukan.
"Bu Beng siansu sudah memberi petunjuk kepadaku, bagaimana cara memecahkan ilmu itu. Maka aku harus mencari para Dhalaai Lhama itu."
"Kakak Han Liong,"
Sela An Lok Kong Cu.
"Guru-guruku memiliki ilmu Ie Kang Tui Tik yang amat lihay dan dahsyat, engkau harus berhati-hati."
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk.
"An Lok,"
Tanya Thio Bu Ki.
"Para Dhalai Lhama itu gurugurumu?"
"Ya, Paman"
An Lok Kong Cu mengangguk dan menambahkan.
"Tapi aku tidak akan membela guru-guruku itu, sebab mereka yang bersalah dalam hal itu. Tapi.... Kakak Han Liong, janganlah engkau membunuh para Dhalai Lhama itu"
"Baiklah,"
Sahut Thio Han Liong.
"Terima kasih Kakak Han Liong,"
Ucap An Lok Kong Cu.
"Oh ya Kalian mengobrol di sini saja"
Ujar Thio Bu Ki.
"Kami mau ke kamar mengobati wajah, mudah-mudahan bisa pulih"
"Ayah,"
Tanya Thio Han Liong.
"Kapan bisa tahu hasilnya?"
"Tiga hari,"
Sahut Thio Bu Ki.
"Kalau tidak bisa pulih, berarti tidak ada obat lain yang dapat menyembuhkannya."
"Ayah,"
Ujar Thio Han Liong sambil tersenyum.
"Bu Beng siang su yang mengatakan daun soat san Ling Che itu dapat menyembuhkan wajah Ayah dan ibu, maka aku yakin akan itu."
"Mudah-mudahan"
Ucap Thio Bu Ki, lalu masuk ke dalam bersama isterinya.
Tiga hari kemudian, Thio Bu Ki dan Tio Beng membersihkan muka yang ditempeli daun soat san Ling Che, setelah itu mereka saling memandang.
seketika mereka berseru tak tertahan.
"Bu Ki Koko Wajahmu...."
"Beng Moy Wajahmu...."
Ternyata wajah mereka telah pulih.
Dapat dibayangkan betapa gembiranya hati mereka.
Kemudian mereka berpeluk-pelukkan.
Lama sekali barulah mereka berjalan keluar.
Kini usia mereka sudah hampir lima puluh tahun, tapi setelah wajah mereka pulih, mereka tampak gagah dan cantik.
Thio Han Liong, An Lok Kong Cu dan Kwa Kiat Lam sedang bercakap-cakap di pekarangan.
Ketika mendengar suara langkahi mereka segera menolehkan kepalanya dan terbelalak.
"Ayah, ibu...."
"Paman, Bibi...."
Sedangkan Kwa Kiat Lam terus memandang mereka dengan mata terbelalak dan mulutnya ternganga lebar.
"Wajah kami telah pulih, ini... ini sungguh diluar dugaan"
Ujar Tio Beng dengan suara agak bergetar-getar saking gembiranya.
"Selamat, Ayah selamat ibu"
Ucap Thio Han Liong.
"Paman, Bibi"
Ucap An Lok Kong Cu sambil tersenyum.
"Kuucapkan selamat pada Paman dan Bibi."
"Terima kasih, Terima kasih...."
Thio Bu Ki dan Tio Beng tersenyum.
"Ha ha ha"
Kwa Kiat Lam tertawa gelak.
"Selamat, selamat"
"Ha ha ha"
Thio Bu Ki tertawa terbahak-bahak.
"Kalau Han Liong tidak memperoleh soat san Ling Che, wajah kami pasti tidak bisa pulih, selamanya kami bermuka menyeramkan bagaikan muka setan iblis."
"Ayah, ibu."
Ujar Thio Han Liong dengan suara rendah.
"Jangan melupakan janji itu"
"Janji apa?"
Tanya Thio Bu Ki "Bukankah Ayah sudah berjanji, apabila wajah Ayah dan ibu sudah pulih, maka Ayah dan ibu akan pergi ke Kotaraja?"
Sahut Thio Han Liong memberitahukan.
"Tidak baik Ayah ingkar janji."
"Itu...."
Thio Bu Ki memandang Tio Beng seakan minta pendapat.
"Karena engkau telah mengatakan begitu, haruslah ditepati"
Ujar Tio Beng dan menambahkan.
"Janganlah kita mengecewakan mereka. Mereka menghendaki kita ke Kotaraja, sudah pasti ada maksud tertentu."
"Oh?"
Thio Bu Ki tercengang.
"Mereka mempunyai maksud apa?"
"Bu Ki koko"
Tio Beng menggeleng-gelengkan kepala.
"Engkau kan pernah muda, masa sih tidak tahu maksud mereka?"
"Beng Moy, terus terang aku tidak mengerti.Jelaskanlah"
Desak Thio Bu Ki.
"Mereka berdua... saling mencinta, tentunya sangat berharap kita pergi menemui Cu Goan ciang."
Thio Bu Ki manggut-manggut, kemudian tertawa gelak.
"Ternyata mereka menghendaki kita dan cu Goan ciang menjodohkan mereka Ha ha ha...."
"Ayah...."
Wajah Thio Han Liong memerahi begitu pula wajah An lok Kong Cu, tapi mereka amat girang dalam hati.
"Baiklah."
Thio Bu Ki memandang mereka.
"Besok pagi kita berangkat ke Tionggoan."
Keesokan harinya, berlayarlah mereka menuju Tionggoan.
Betapa gembiranya An Lok Kong Cu.
Ia tidak menyangka akan berhasil mengundang ke dua orangtua Thio Han Liong ke Kotaraja.
Beberapa hari kemudian, mereka sudah tiba di pesisir utara.
Thio Bu Ki, Tio Beng, Thio Han Liong dan An Lok Kong Cu berpamit kepada Kwa Kiat Lam.
"Saudara Kwa, kami pamit dulu,"
Ujar Thio Bu Ki.
"Ha ha ha"
Kwa Kiat Lam tertawa gelak.
"Aku tidak akan pergi ke mana-mana, tetap berada di pesisir utara ini. Kapan kalian mau pulang ke pulau Hong Hoang To, aku pasti mengantar."
"Terima kasih, saudara Kwa,"
Ucap Thio Bu Ki.
"Sampai jumpa"
"Selamat jalan"
Sahut Kwa Kiat Lam. Thio Bu Ki dan lainnya meninggalkan pesisir utara. Di tengah jalan Thio Bu Ki berkata.
"Sudah lama aku tidak bertemu Thay suhu danpara supek, bagaimana kalau kita singgah ke gunung Bu Tong dulu?"
"Itu memang baik sekali,"
Sahut Tio Beng.
"Aku pun amat rindu kepada mereka."
"Ini merupakan suatu kesempatan, kita harus mengunjungi Bu Tong Pay dulu,"
Ujar Thio Han Liong, lalu bertanya kepada An Lok Kong cu.
"Engkau setuju?"
"Tentu setuju,"
Sahut An Lok Kong cu cepat dengan tersenyum.
"Ha ha ha"
Thio Bu Ki tertawa.
"Beng Moy, dulu engkau tidak begitu menurut seperti An Lok, amat nakal dan bandel."
"Eh? Bu Ki koko"
Tio Beng cemberut.
"Aku pun menurut kepadamu, kalau tidak... bagaimana mungkin engkau dapat menumbangkan Dinasti Goan? Padahal aku adalah Putri Mongol. Demi cintaku kepadamu, maka aku mengkhianati bangsaku sendiri lho"
"Aku tahu itu Beng Moy. Karena itu, hingga saat ini dan selanjutnya, aku tetap mencintaimu. Nah, bukankah cintaku kepadamu tak pernah luntur?"
Ujar Thio Bu Ki sambil tersenyum.
"Bu Ki koko..."
Tio Beng tersenyum bahagia. Menyaksikan itu Thio Han Liong dan An Lok Kong Cu saling memandang, kemudian An lok Kong cu tertawa geli.
"Hi hi hi Paman dan Bibi sungguh bahagia. sudah berusia hampir setengah abad, namun masih tetap saling mencinta. Itu merupakan contoh yang baik bagi Kakak Han Liong."
"An Lok"
Tio Beng tersenyum.
"Bilang saja engkau menghendaki Han Liong mencintaimu selama-lamanya Ya, kan? "Bibi...."
Wajah An Lok Kong Cu langsung memerah.
"Ha ha ha"Thio Bu Ki tertawa.
"Han Liong, engkau harus mencintai An Lok seperti ayah mencintai ibumu."
"Ya, Ayah."
Thio Han Liong mengangguk.
Padahal ia masih teringat Tan Giok Cu, tapi ekspresi wajahnya tidak memperlihatkan itu, agar An Lok Kong Cu tidak tersinggung.
Beberapa hari kemudian, mereka sudah tiba di gunung Bu Tong.
Mendadak muncul beberapa murid Bu Tong Pay Begitu melihat Thio Han Liong, mereka segera memberi hormat.
"Han Liong..."
"Mari kuperkenalkan"
Sahut Thio Han Liong.
"Ini Ayah dan ibuku"
"Apa?"
Murid-murid Butong Pay itu terbelalak.
"Aku harus segera pergi melapor kepada guru"
Salah seorang murid Butong Pay langsung melesat ke atas, yang lain mempersilakan mereka ke siang cing Koan, kuil Bu Tong Pay.
Betapa gembiranya song wan Kiauw Jie Lian ciu Jie Thay Giam dan Tho siong Kee.
Mereka berempat menghambur ke luar menyambut kedatangan Thio Bu Ki.
"Supek"
Seru Thio Bu Ki sambil bersujud, begitu pula Tio Beng, Thio Han Liong dan An Lok Kong Cu.
"Bangunlah"
Song Wan Kiauw membangunkan Thio Bu Ki.
"Eeeh? Kata Han Liong wajah kalian berdua rusak berat, tapi kok tidak?"
"Diobati dengan daun soat san Ling che, maka wajah kami pulih."
Thio Bu Ki memberitahukan.
"Oooh"
Song Wan Kiauw manggut-manggut.
"Mari kita masuk"
Mereka masuk ke siang Cin Koan, lalu duduk di ruang depan jie Lian ciu memandang mereka seraya berkata.
"Tak disangka kita bertemu lagi. Dua puluh tahun lebih rasanya begitu cepat berlalu."
"Ya."
Thio Bu Ki manggut-manggut.
"Supek bagaimana keadaan Thay suhu ? Beliau baik-baik saja ?"
"Suhu baik-baik saja,"
Sahut Jie Lian ciu, lalu menatap Thio Han Liong seraya berkata.
"Kami sudah mendengar tentang kejadian di lembah Pek Yun Koki namun masih kurang jelas, lebih baik engkau tuturkan lagi."
Thio Han Liong mengangguk lalu menutur semua kejadian itu sejelas-jelasnya termasuk kejadian di gunung soat san.
"Bu Beng sian su ?"
Jie Lian ciu mengerutkan kening.
"Aku sama sekali tidak pernah mendengar tentang Bu Beng sian su itu. Betulkah sian su itu begitu lihay dan tinggi kepandaiannya? "
"Betul, Kakek Jie."
Thio Han Liong mengangguk.
"Beliaupun mengajarku ilmu Kian Kun Taylo sin Kang."
"Oh?"
Terbelalak Jie Lian cu.
"Ilmu itu hebat sekali. Aku menyerang Han Liong dengan Kiu Yang sin Kang, dia menangkis dengan ilmu itu, sehingga membuat aku terpental."
Thio Bu Ki memberitahukan, sekaligus menjelaskan mengenai ilmu Kian Kun Taylo sin Kang.
"Haaahi..?"Jie Lian ciu dan yang lainnya terbelalak.
"Begitu hebat ilmu Kian Kun Taylo sin Kang itu?"
"Benar."
Thio Bu Ki manggut-manggut.
"Lagipula Han Liong makan buah soat san Ling Che, yang berkhasiat menambah Iweekangnya. selain itu ia pun memperoleh petunjuk dari Bu Beng sian su. oleh karena itu, kini kepandaiannya telah jauh berada di atas kepandaianku."
"Syukurlah"
Ucap Jie Lian ciu. Setelah bercakap-cakap sejenak, barulah mereka ke ruang meditasi menemui Guru Besar Thio sam Hong. Dapat dibayangkan betapa gembiranya Guru Besar itu.
"Ha ha ha"
Thio sam Hong tertawa gelak.
"Bu Ki, tak kusangka masih bisa bertemu engkau. Kini... tenanglah hatiku"
"Thay suhu...."
Mata Thio Bu Ki tampak basah.
Mereka bercakap-cakap cukup lama, setelah itu barulah Thio Bu Ki dan lainnya pergi beristirahat.
Keesokan harinya, Thio Bu Ki, Tio Beng, Thio Han Liong dan An Lok Kong cu melanjutkan perjalanan menuju ke Kotaraja.
Bab 49 Membasmi Pendeta jahat Kini mereka berempat sudah tiba di Kotaraja, langsung menemui istana kaisar.
Kebetulan Lie Wie Kiong pemimpin pengawal istana, Tan Bun Hiong, Lie sieBeng dan Yo wie Heng berada di depan istana.
Begitu melihat Thio Bu Ki, terbelalaklah mereka dan segera memberi hormat seraya berkata.
"Selamat datang, Thio Kauwcu"
"Ngmm"
Thio Bu Ki manggut-manggut.
"Lie Wie Kiong,"
Ujar An Lok Kong cu.
"Cepat beritahukan kepada ayahku, bahwa Paman Thio dan isterinya telah datang"
"Ya. Kong cu."
Lie Wie Kiong segera berlari ke dalam.
"Paman, Bibi, Kakak Han Liong, mari kita masuk"
Ajak An Lok Kong cu sambil tersenyum.
Thio Bu Ki manggut-manggut, lalu mengikuti An Lok Kong cu ke dalam istana kaisar.
Begitu pula Tio Beng dan Thio Han Liong.
Ternyata An Lok Kong cu mengajak mereka ke sebuah aula besar.
Cu Goan ciang dan Lie Wie Kiong sudah berada di sana.
Begitu melihat Thio Bu Ki dan Tio Beng, cu Goan ciang langsung bangkit berdiri sambil tertawa gembira.
"Ha ha ha Thio Kauwcu, selamat datang"
"Yang Mulia,"
Sahut Thio Bu Ki sambil memberi hormat.
"Terimalah hormat kami"
"Thio Kauwcu, silakan duduk"
Ucap Cu Goan ciang.
"Terima kasih, Yang Mulia."
Thio Bu Ki, Tio Beng dan Thio Han Liong duduki sedangkan An Lok Kong cu duduk di sebelah ayahnya.
"Thio Kauwcu,"
Ujar cu Goan Ciang sungguh-sungguh.
"Jangan memanggilku Yang Mulia, panggil saja namaku"
"Engkau adalah kaisar, bagaimana mungkin aku memanggil namamu? Kalau aku memanggil namamu, kemungkinan besar leher kami akan diputus,"
Sahut Thio Bu Ki.
"Jangan berkata begitu Thio Kauwcu, aku berkata berdasarkan persahabatan dan persaudaraan"
Ujar cu Goan ciang.
"Di samping itu. aku pun harus minta maaf kepadamu."
"Saudara Cu, semua itu telah berlalu."
Thio Bu Ki menghela nafas panjang dan melanjutkan.
"Jangan memanggilku Kauwcu, panggil saja namaku"
"Saudara Thio"
Cu Goan ciang tampak terharu.
"Terima kasih atas kebesaran jiwamu, sekali lagi kuucapkan terima kasih kepadamu."
"Saudara Cu, jangan sungkan-sungkan"
Thio Bu Ki tersenyum.
"Engkau memang lebih hebat dariku, mampu mendirikan Dinasti Beng dan memerintah dengan adil bijaksana, maka rakyat hidup aman dan makmur."
"Saudara Thio"
Cu Goan ciang tertawa.
"Terus terang, semua itu adalah jasamu. Tiada saudara Thio, tiada Dinasti Beng, tiada saudara Thio bagaimana mungkin aku menjadi kaisar. Dulu... aku bersalah, itu karena aku berhati sempit dan mencurigaimu, akhirnya..."
"Sudahlah, saudara Cu"
Thio Bu Ki tersenyum.
"Itu telah berlalu, tidak perlu diungkit lagi."
"Terima kasih,"
Ucap Cu Goan ciang, kemudian berkata kepada Lie Wie Kiong.
"Cepat suruh para dayang menyajikan hidangan-hidangan istimewa dan arak istimewa, aku ingin menjamu para tamu terhormat ini"
"Ya, Yang Mulia."
Lie Wie Kiong sebera meninggalkan aula itu.
"Saudara Cu, jangan repot-repot"
Ujar Thio Bu Ki.
"Aku akan merasa tidak enak"
"Ha ha ha"
Cu Goan ciang tertawa terbahak-bahak.
"Dua puluh tahun lebih kita tidak bertemu, maka hari ini kita harus makan dan minum sepuas-puasnya."
"Baiklah."
Thio Bu Ki manggut-manggut, lalu memandang Tio Beng seraya bertanya.
"Beng Moy kenapa engkau diam saja dari tadi?"
"Bu Ki Koko, aku... aku teringat akan masa lalu,"
Sahut Tio Beng sambil menghela nafas panjang.
"Aku adalah Putri Mongol, tapi...."
"Beng Moy, jangan mengungkit tentang itu lagi"
Ujar Thio Bu Ki sambil tersenyum lembut.
"Itu telah berlalu dan anak kita pun telah dewasa, tidak lama lagi kita akan mempunyai menantu."
"Ya."
Tio Beng mengangguk setelah itu wajahnya mulai cerah. Tak seberapa lama kemudian, mulailah para dayang menyajikan hidangan-hidangan dan arak istimewa.
"Ha ha ha"
Cu Goan ciang tertawa terbahak-bahak.
"Saudara Thio, mari kita bersulang untuk pertemuan kita yang menggembirakan ini"
Ujar sahut Thio Bu Ki. Mereka mulai bersulang sambil tertawa riang gembira, setelah itu barulah mulai menikmati hidangan-hidangan istimewa.
"Saudara Thio,"
Ujar cu Goan ciang sungguh-sungguh "Biar bagaimanapun, kalian harus tinggal di sini beberapa hari"
"Itu akan merepotkanmu,"
Ujar Thio Bu Ki.
"Tidak jadi masalah,"
Cu Goan Ciang tersenyum.
"Sebab malam ini kita harus bicara dari hati ke hati."
"Baiklah."
Thio Bu Ki mengangguk "Oh ya, saudara Cu Bukankah engkau menyerahkan sebuah Medali Emas Tanda Perintah Kaisar kepada Han Liong?"
"Betul."
Cu Goan ciang manggut-manggut.
"Dia merupakan utusanku untuk menghukum pembesar korup dan para pembesar yang berlaku sewenang-wenang. saudara Thio, tentunya engkau tidak berkeberatan kan?"
"Tentu tidak."
Thio Bu Ki tersenyum.
"Engkau memang cerdik, tahu kami tidak mau menjadi pejabat tinggi, namun justru engkau membebankan tugas itu kepada anakku."
"Itu dikarenakan anakmu berhati jujur, adil bijaksana dan gagah. Maka hanya dia yang berderajat mewakiliku,"
Ujar cu Goan Ciang dengan sungguh-sungguh.
"Dalam hal ini, aku harap saudara Thio maklum adanya"
"Ha ha ha"
Thio Bu Ki tertawa gelak "Saudara Cu, jangan-jangan ada sesuatu di balik itu. Ya, kan?"
"Kira-kira begitulah,"
Sahut Cu Goan ciang sambil tertawa terbahak-bahak.
"Saudara Cu"
Tio Beng tersenyum.
"Bolehkah aku bertanya?"
"Silakan nyonya Thio"
Cu Goan Ciang manggut-manggut.
"Aku ingin bertanya, sesuatu yang dimaksudkan itu sebetulnya apa?"
Tanya Tio Beng dengan sungguh-sungguh.
"Ha ha ha"
Cu Goan ciang tertawa.
"Tentunya menyangkut putriku dengan putramu. Mereka berdua...."
"Ayahanda...."
Wajah An Lok Kong cu langsung memerah.
"Ha ha ha"
Cu Goan ciang tertawa terbahak-bahak.
"Sudah dewasa tapi masih malu-malu kucing"
An Lok Kong cu cemberut, sedangkan Tio Beng tersenyumsenyum, kemudian berkata.
"An Lok, bolehkah aku melihatmu berpakaian wanita?"
"Bibi...."
An lok Kong Cu tersenyum sipu.
"Nak"
Ujar cu Goan Ciang.
"Cepatlah engkau berganti pakaianmu, Nyonya Thio ingin melihatmu berpakaian wanita"
An Lok Kong Cu mengangguk lalu masuk berjalan menuju istana An Lok, Cu Goan Ciang dan Thio Bu Ki terus tertawa, sehingga membuat suasana bertambah semarak.
"Han Liong"
Cu Goan Ciang memandangnya.
"Ketika Kwan Pek Him dan Ciu Lan Nio ke mari memberitahukan keadaanmu kepada putriku, dia... dia amat mencemaskanmu, dan hari itu juga dia berangkat ke Hok An."
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk "Pada waktu itu aku pingsan, dan ketika sadar kembali aku melihat Adik An Lok berada di sisiku. Dia... terus menghiburku agar aku tidak berpikir pendek"
"Yaaah"
Cu Goan Ciang menghela nafas panjang.
"Aku harap engkau tidak akan menyia-nyiakan cintanya"
"Aku tidak akan menyia-nyiakan cintanya,"
Ujar Thio Han Liong dengan sungguh-sungguh.
"Aku berjanji"
"Bagus, bagus"
Cu Goan Ciang tertawa gembira.
"Ha ha ha saudara Thio, kita sebagai orangtua tentunya harus setuju, kan?"
"Ngmm"
Thio Bu Ki manggut-manggut.
"Saudara Thio,"
Tanya Cu Goan Ciang mendadak.
"Kira-kira kapan kita menikahkan mereka?"
"Menurutku lebih baik terserah mereka saja,"sahu tThio Bu Ki dan menambahkan.
"Kalau mereka menikahi tidak usah terlampau dimeriahkan."
"Baik"
Cu Goan Ciang manggut-manggut, kemudian memandang Thio Han Liong seraya bertanya.
"Kira-kira kapan kalian akan menikah?"
"Harus kurundingkan dulu dengan Adik An Lok, Aku tidak bisa menjawab sekarang, Yang Mulia,"
Jawab Thio Han Liong. Di saat bersamaan, muncullah An Lok Kong Cu dengan berpakaian wanita. Thio Bu Ki dan Tio Beng memandangnya dengan penuh perhatian, lalu manggut-manggut dan tersenyum.
"An Lok,"
Ujar Tio Beng sambil tersenyum.
"Engkau sungguh cantik, tapi kenapa engkau memilih Han Liong?"
"Bibi...."
Wajah An Lok Kong Cu kemerah-merahan, kemudian melirik Thio Han Liong sambil tersenyum mesra.
"An Lok,"
Ujar Tio Beng sambil tersenyum.
"Padahal engkau putri kaisar, pasanganmu harus putra pejabat tinggi."
"Ha ha ha"
Cu Goan Ciang tertawa gelak.
"Nyonya Thio, putramu adalah utusan atau wakilku. Nah apakah dia tidak pantas menjadi pasangan putriku?"
"Ha ha"
Thio Bu Ki tertawa.
"Saudara Cu, ternyata engkau mengatur itu dengan putrimu."
"Tidak salah."
Cu Goan ciang manggut-manggut.
"Pertama kali aku melihat putramu, aku sudah menyukainya, oleh karena itu, aku menyerahkan Medali Emas Tanda Perintahku kepadanya."
"Oooh"
Thio Bu Ki mengangguk Usai makan, cu Goan ciang menyuruh seorang dayang mengantar Thio Bu Ki, Thio Beng dan Thio Han Liong ke kamar, namun An Lok Kong cu sebera berkata.
"Ayahanda, Kakak Han Liong tinggal di istana saja"
"Baik"
Cu Goan ciang tersenyum.
"Tentu kalian ingin merundingkan sesuatu malam ini. Ha ha ha...."
Malam harinya, An Lok Kong cu dan Thio Han Liong duduk berdampingan di dekat taman bunga. Wajah putri kaisar itu tampak berseri-seri, sedangkan Thio Han Liong memandang ke langit.
"Kakak Han Liong, apa yang sedang engkau pikirkan?"
Tanya An Lok Kong cu lembut.
"Ti... tidak."
Thio Han Liong menggelengkan kepala.
"Engkau... teringat lagi kepada Giok Cu?"
An Lok Kong cu menatapnya.
"Kakak Han Liong...."
"Aku bukan teringat pada Giok Cu, melainkan sedang memikirkan sesuatu,"
Ujar Thio Han Liong memberitahukan.
"Aku memikirkan tentang kita berdua...."
"Kenapa kita berdua?"
Tanya An Lok Kong cu.
"Ayahmu bertanya kepadaku, kapan kita menikah. Aku menjawab akan berunding dulu denganmu, inilah yang kupikirkan."
"Oooh"
An Lok Kong cu manggut-manggut dan wajahnya tampak kemerah-merahan.
"Bagaimana keputusanmu?"
"Aku justru ingin bertanya kepadamu."
"Aku... aku terserah kepadamu, pokoknya aku menurut saja."
"Terima kasih atas pengertianmu, Adik An Lok,"
Ucap Thio Han Liong sambil menggenggam tangannya.
"Kalau begitu, tunggu urusanku selesai barulah kita menikah."
"Urusan apa yang harus engkau selesaikan?"
"Membunuh Hiat Mo dan membuat perhitungan dengan para Dhalai Lhama itu."
"Oooh"
An Lok Kong cu manggut-manggut.
"Ternyata urusan itu. Bolehkah aku ikut?"
"Adik An Lok, sebaiknya engkau jangan ikut"
Tegas Thio Han Liong.
"Sebab amat berbahaya bagi dirimu, dan secara tidak langsung engkau akan berkecimpung dalam rimba persilatan, itu tidak baik"
"Kakak Han Liong..."
"Adik An Lok, Thio Han Liong menatapnya.
"Tadi engkau bilang menurut kepadaku, sekarang..."
"Baiklah"
An Lok Kong cu mengangguk "Aku tidak akan ikut. Tapi... setelah urusan itu beres, engkau harus sebera ke mari."
"Ya."
Thio Han Liong manggut-manggut dan menambahkan.
"Ayahku tadi sudah bilang kepada ayahmu, kalau kita menikah, tidak perlu terlampau dimeriahkan."
"Aku pun bermaksud begitu. Memang lebih baik hidup tenang, damai dan bahagia di pulau Hong Hoang To. Aku... akan melahirkan anak sebanyak-banyaknya. agar pulau itu menjadi ramai."
"Pokoknya engkau harus melahirkan setahun sekali, sampai lima belas tahun"
Ujar Thio Han Liong sambil tertawa.
"Memangnya aku apaan?"
An Lok Kong cu cemberut.
"Ha ha ha"
Thio Han Liong tertawa.
"Engkau sendiri yang bilang duluan, akan melahirkan anak sebanyak-banyaknya, bukan?"
"Aku cuma bergurau, engkau malah anggap bencran. Tapi... ada baiknya juga kita mempunyai banyak anaki jadi pulau itu tidak sepi."
"Kalau bisa, kita harus mempunyai anak lebih dari sepuluh, maka pulau Hong Hoang tidak akan sepi."
An Lok Kongcu manggut-manggut.
"Setiap hari kita bersenda gurau dengan anak-anak kita, itu sungguh menyenangkan"
"Adik An Lok,"
Ujar Thio Han Liong sambil tersenyum. Tak disangka ayahmu dan ayahku akan akur kembali, itu sungguh di luar dugaan"
"Aku pun tidak menyangka, mungkin semua itu karena kita,"
Sahut An Lok Kong cu.
"Kalau kita tidak saling mencinta, ayahmu dan ayahku tidak akan akur."
"Kira-kira begitulah"
Thio Han Liong tersenyum.
"Adik An Lok, sudah larut malam, kita harus tidur."
An Lok Kong cu mengangguk kemudian mereka berjalan ke dalam istana itu, dan tak lama sudah sampai di kamar An Lok Kong cu.
"Adik An Lok, selamat tidur"
"Selamat tidur juga"
Sahut An Lok Kongcu.
"Sampai jumpa esok pagi"
An Lok Kong cu masuk ke kamarnya.
Thio Han Liong berjalan ke kamarnya, kemudian menghela nafas panjang.
Ternyata ia teringat pada Tan Giok Cu, yang sudah tiada itu.
-ooo00000ooo-Cu Goan ciang dan An Lok Kong cu makan siang bersama Thio Bu Ki, Tio Beng dan Thio Han Liong.
Tiba-tiba Cu Goan ciang memandang pemuda itu seraya bertanya.
"Han Liong, nyenyak tidurmu semalam?"
"Nyenyak sekali, Yang Mulia,"
Jawab Thio Han Liong.
"Tentunya kalian berdua tidur agak larut malam, sebab harus merundingkan sesuatu. Ya, kan?"
Cu Goan ciang tersenyum.
"Merundingkan apa?"
Thio Han Liong tidak mengerti.
"Lupa ya?"
Cu Goan ciang menatapnya.
"Mengenai pernikahan kalian berdua kira-kira kapan?"
"Oh, itu"
Thio Han Liong manggut-manggut.
"Setelah urusanku selesai, barulah aku dan Adik An Lok akan melangsungkan pernikahan."
"Engkau masih punya urusan apa?"
Tanya Cu Goan ciang heran.
"Aku harus pergi ke Kwan Gwa membunuh Hiat Mo dan ke Tibet membuat perhitungan dengan para Dhalai Lhama itu."
Thio Han Liong memberitahukan.
"Oooh"
Cu Goan ciang manggut-manggut.
"Setelah urusan itu beres, engkau harus segera ke mari menikah dengan An Lok Kong cu, jangan lupa"
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk.
"Ha ha ha"
Cu Goan ciang tertawa gembira.
"Saudara Thio, akhirnya kita akur kembali dan akan menjadi besan pula. Ini... sungguh menggembirakan"
"Ya."
Thio Bu Ki manggut-manggut.
"Memang menggembirakan sekali. Hanya saja Han Liong masih harus menyelesaikan urusannya. Kalau tidak, sekarang juga kita menikahkan mereka."
"Maksudkupun demikian, tapi...."
Cu Goan ciang menggeleng-gelengkan kepala.
"Han Liong harus berangkat ke Kwan Gwa dan Tibet. Kalau mereka sudah menikah legalah hatiku."
"Bu Ki koko, bagaimana kalau Han Liong menikah dulu dengan An Lok, setelah itu barulah berangkat ke Kwan Gwa dan Tibet?"
Tanya Tio Beng mendadak.
"Itu terserah Han Liong,"
Sahut Thio Bu Ki.
"Han Liong"
Tio Beng menatapnya.
"Bagaimana menurutmu?"
"Ibu, lebih baik tunggu aku membereskan ke dua urusan itu. setelah itu barulah aku menikah dengan Adik An Lok,"
Jawab Thio Han Liong.
"Itu atas persetujuan Adik An Lok,"
"Oh?"
Tio Beng memandang An Lok Kong cu.
"Betulkah begitu, An Lok?"
"Betul, Bibi."
An Lok Kong cu mengangguk "Kalau begitu, baiklah."
Tio Beng manggut-manggut.
"Tunggu Han Liong menyelesaikan ke dua urusan itu dulu."
"Bibi,"
Ujar An Lok Kong cu memberitahukan, agar Tio Beng mendukungnya.
"Sebetulnya aku ingin ikut Kakak Han Liong, tapi dia tidak memperbolehkan"
"Memang engkau tidak boleh ikut, lebih baik engkau menunggu di dalam istana saja,"
Sahut Tio Beng.
"Itu lebih aman daripada engkau ikut Han Liong ke Kwan Gwa."
"Yah Bibi...."
An Lok Kong cu tampak kecewa sekali.
"Aku kira Bibi akan mendukungku, tidak tahunya malah mendukung Kakak Han Liong"
"Nak"
Cu Goan ciang tersenyum.
"Ayah pun tidak mengijinkan engkau ikut Han Liong. Memang lebih baik engkau menunggu di istana."
"Aaah.."
Keluh An Lok Kong cu.
"Kapan Kakak Han Liong akan kembali?"
"Adik An Lok,"
Sahut Thio Han Liong.
"Aku pasti berusaha kembali secepatnya, percayalah"
"Aku... aku mempercayaimu, Kakak Han Liong,"
Ucap An Lok Kong cu.
"Tapi... aku merasa berat sekali berpisah denganmu."
"Legakanlah hatimu"
Thio Han Liong tersenyum.
"Aku pergi tidak akan lama, percayalah"
"Kakak Han Liong...."
An Lok Kong cu menundukkan kepala. Beberapa hari kemudian, Thio Bu Ki, Tio Beng dan Thio Han Liong berpamit kepada Cu Goan ciang. se-telah itu, barulah Thio Han Liong berpamit kepada An Lok Kong cu.
"Adik An Lok, aku mohon pamit untuk berangkat ke Kwan Gwa"
"Selamat jalan dan hati-hati, Kakak Han Liong"
Sahut An Lok Kong cu dengan mata basah.
"Adik An Lok, aku pasti segera kembali,"
Ujar Thio Han Liong sambil membelainya.
"Aku pasti menunggumu"
An Lok Kong cu memandangnya dengan air mala berderai.
"Aku pasti kembali selekasnya untuk menikah denganmu,"
Bisik Thio Han Liong.
"Kakak Han Liong..."
AJI Lok Kong cu menggenggam tangannya erat-erat dan berbisik.
"Aku mencintaimu."
"Aku pun mencintaimu."
Thio Han Liong mengecup keningnya, setelah itu barulah berangkat menuju Kwan Gwa.
sedangkan Thio Bu Ki dan Tio Beng berangkat ke pesisir utara menemui Kwa Kiat Lam.
Ternyata mereka ingin pulang ke pulau Hong Hoang To.
Empat lima hari kemudian, Thio Han Liong sampai di sebuah desa.
Justru membuatnya tercengang, karena desa itu tampak sepi sekali.
Thio Han Liong menengok ke sana ke mari, dilihatnya pintu rumah terbuka sedikit, dan sepasang mata mengintip keluar, ke arahnya.
Thio Han Liong tersenyum, kemudian dengan per-lahanlahan didekatinya rumah itu.
Namun pintu rumah itu langsung ditutup kembali.
Thio Han Liong meng-geleng-gelengkan kepala, lalu mengetuk pintu rumah itu Namun karena tiada sahutan dari dalam, terpaksalah Thio Han Liong yang membuka mulut.
"Tolong bukakan pintu. Aku pelancong...,"
Ucapnya sambil mengetuk pintu rumah itu Sejenak kemudian pintu rumah itu terbuka sedikit, seoran gtua menjulurkan lehernya ke luar.
"Anak muda, siapa engkau?"
"Namaku Thio Han Liong. Kebetulan aku melancong sampai di desa ini"
"Anak muda, lebih baik engkau segera meninggalkan desa ini. Kalau tidak engkau pasti celaka."
"Oh?"
Thio Han Liong mengerutkan kening.
"Paman, apa yang telah terjadi di desa ini?"
Jangan banyak bertanya, cepatlah engkau pergi"
Tandas orangtua itu sambil menutup kembali pintu rumahnya. Akan tetapi, mendadak Thio Han Liong mendorong pintu rumah itu, kemudian melangkah masuk.
"Hah?"
Mulut orangtua itu menganga lebar saking terkejutnya.
"Engkau...."
"Jangan takut, Paman"
Ujar Thio Han Liong sambil tersenyum.
"Aku bukan orang jahat."
"Tapi...."
Orangtua itu menatapnya dengan wajah agak pucat.
"Kenapa engkau menerobos ke mari?"
"Paman mau menutup pintu, maka aku terpaksa menerobos ke mari,"
Sahut Thio Han Liong dan tersenyum lagi.
"Aku ingin bertanya, apa gerangan yang terjadi di desa ini?"
"Engkau tiada hubungan dengan pendeta siluman itu?"
Tanya orangtua itu mendadak.
"Pendeta siluman? siapa dia?"
Thio Han Liong balik bertanya dengan heran.
"Hiih"
Orangtua itu tampak ketakutan sekali.
"Sungguh menyeramkan, dia betul-betul pendeta siluman yang amat jahat sekali."
"Paman, tolong tuturkan apa yang telah terjadi di desa ini...."
Mendadak muncul seorang gadis berusia belasan. Begitu melihat Thio Han Liong gadis itu terbelalak.
"Kakek.."
"Ah Yun, cepat masuk"
"Kakek"
Tanya gadis itu "Siapa tamu itu, kenapa Kakek tidak mau memperkenalkannya?"
"Ah Yun...."
Orangtua itu menggelengkan kepala.
"Dasar bandel, suruh masuk malah mau di sini"
"Adik kecil,"
Ujar Thio Han Liong sambil tersenyum.
"Aku bernama Thio Han Liong. Bolehkah aku tahu siapa namamu?"
"Namaku.... Tan Ah Yun,"
Sahut gadis itu dengan malumalu.
"Ah Yun"
Bentak orangtua itu.
"Cepat duduk. Jangan kurang ajar di hadapan tamu"
"Kakek..."
Tan Ah Yun cemberut.
"Paman"
Thio Han Liong.
"Ah Yun tidak kurang ajar, dia gadis yang tahu diri dan manis sekali."
"Terima kasih atas pujian Kakak"
Ucap Tan Ah Yun sambil tertawa gembira dan bertanya.
"Kakak bukan penjahat kan?"
"Aku bukan penjahat, melainkan pembasmi penjahat,"
Sahut Thio Han Liong dan menambahkan.
"Maka engkau tidak usah takut kepadaku"
"Kakak begitu tampan dan lemah lembut. Begitu melihat, aku sudah tahu bahwa Kakak bukan penjahat,"
Ujar Tan Ah Yun sambil tersenyum.
"Oh?"
Thio Han Liong menatapnya, kemudian tertawa kecil seraya bertanya.
"Adik kecil, berapa usiamu?"
"Empat belas."
"Engkau sudah remaja, tidak lama lagi akan dewasa,"
Ujar Thio Han Liong dan melanjutkan.
"Kelak engkau akan menjadi gadis yang cantik dan manis."
"Oh ya?"
Tan Ah Yun menghela nafas panjang.
"Aku tidak mau menjadi gadis yang cantik manis, melainkan ingin menjadi gadis yang sederhana saja."
"Ngmmm"
Thio Han Liong manggut-manggut, lalu memandang orangtua itu.
"Paman lanjutkanlah penuturan tadi"
"Pendeta jahat itu memiliki ilmu hitam. Para gadis desa kalau terkena sorotan matanya, pasti langsung mengikutinya."
Orangtua itu memberitahukan.
"Oh?"
Thio Han Liong mengerutkan kening.
"Maka aku melarang cucuku keluar...."
Orangtua itu menggeleng-gelengkan kepala.
"Belasan gadis yang mengikutinya sangat menurut kepadanya. setiap senja pendeta siluman itu pasti ke mari bersama gadis-gadis itu."
"Mau apa pandeta siluman itu ke mari setiap senja?"
Tanya Thio Han Liong dengan kening berkerut.
"Mencari anak gadis lagi,"
Jawab orangtua itu sambil menghela nafas panjang.
"Maka aku khawatir sekali...."
"Menguatirkan Ah Yun akan ditangkap pendeta jahat itu?"
"Ya."
Orangtua itu manggut-manggut.
"Paman"
Thio Han Liong tersenyum.
"Kini aku telah berada di desa ini, maka Paman tidak usah khawatir lagi. Aku akan membasmi pendeta siluman itu."
"Apa?"
Orangtua itu terbelalak.
"Engkau... engkau akan membasmi pendeta siluman itu?"
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk "Anak muda"
Orangtua itu menggeleng-gelengkan kepala.
"Jangan bergurau, bagaimana mungkin engkau mampu membasmi pendeta siluman itu?"
"Aku percaya Kakak mampu membasmi pendeta siluman itu,"
Ujar Tan Ah Yun mendadak.
"Apa?"
Orangtua itu mengerutkan kening.
"Kok engkau percaya?"
"Kakek tidak mungkin Kakak Thio akan membohongi kita. Dia berani melakukan perjalanan seorang diri, tentu memiliki ilmu silat tinggi, kalau tidak dia pasti tidak berani melakukan perjalanan seorang diri"
"Oh?"
Orangtua itu mengerutkan kening lagi, lalu memandang Thio Han Liong seraya bertanya.
"Anak muda betulkah engkau memiliki ilmu silat tinggi?"
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk "Aaah...."
Orangtua itu menghela nafas panjang.
"Seandainya engkau muncul beberapa tahun lalu, tentu kedua orangtua Ah Yun tidak akan mati."
"Ke dua orangtua Ah Yun di bunuh para penjahat?"
"Ya."
Orang tua itu mengangguk "Beberapa tahun lalu, muncul segerombolan orang berpakaian merah, mereka merampok dan memperkosa, akhirnya ke dua orangtua Ah Yun mati di tangan mereka."
"Hiat Mo Pang"
Seru Thio Han Liong tak tertahan.
"Hiat Mo pang?"
Orangtua itu mengerutkan kening.
"Engkau kenal para penjahat itu?"
"Mereka anggota Hiat Mo Pang."
Thio Han Liong memberitahukan.
"Namun belum lama ini, Hiat Mo Pang telah bubar."
"Oooh"
Orangtua itu manggut-manggut.
"Paman, betulkah pendeta siluman itu akan muncul di senja hari?"
Tanya Thio Han "Ya."
"Kalau begitu, bolehkah aku menunggu di sini?"
"Boleh"
Sahut Tan Ah Yun cepat.
"Kakak boleh menunggu di sini."
"Ah Yun"
Orangtua itu melotot.
"Kalau orangtua lagi bicara, engkau tidak boleh menyelak, tahu?"
"Kakak Thio belum tua kan?"
Sahut Tan Ah Yun sambil tertawa.
"Jadi aku boleh menyelak."
"Ah Yun...."
Orangtua itu betul-betul kewalahan terhadap cucu perempuannya itu.
"Adik kecil,"
Ujar Thio Han Liong sambil tersenyum lembut.
"Engkau tidak boleh kurang ajar terhadap kakekmu."
"Ya, Kakak Thio."
Tan Ah Yun mengangguk.
"Mulai sekarang aku tidak akan mulai kurang ajar lagi terhadap Kakek."
"Nah, itu namanya gadis baik dan penurut."
Thio Han Liong tersenyum lagi.
"Kakak Thio"
Tan Ah Yun menatapnya seraya berkata.
"Senyuman Kakak Thio sungguh menawan hati"
"Engkau masih kecil kok sudah bisa omong begitu?"
Orangtua itu terbelalak.
"Kakek Tan Ah Yun tersenyum.
"Aku sudah tidak kecil lagi, sebab usiaku sudah empat belas tahun."
"Ha ha ha"
Orangtua itu tertawa gelak "Betul, betul Tidak lama lagi engkau akan punya suami Ha ha ha...."
"Dasar Kakek pikun"
Tan Ah Yun bersungut-sungut.
"Tadi bilang aku masih kecil, sekarang malah bilang aku akan punya suami Huuh Dasar pikun"
"Ah Yun, Cepat ambilkan arak wangi"
Ujar orangtua itu.
"Kakek mau minum bersama Han Liong?"
"Ya."
Tan Ah Yun segera berlari ke dalam. Tak lama kemudian ia sudah kembali dengan membawa satu guci arak dan dua buah cangkir lalu ditaruhnya di atas meja seraya berkata.
"Kakek jangan minum sampai mabok lho"
Baca Juga: Badik Buntung 6
Baca Juga: Pendekar Bego Can Id