Ceritasilat Novel Online

Anak Naga 11

Eps 11 Anak Naga - Chin Yung

Baca online Anak Naga - Chin Yung

Cersil Anak Naga - Chin Yung.

"Kakek tidak akan minum sampai mabok, sebentar lagi hari akan senja, pendeta siluman itu pasti ke mari,"

Sahut orangtua itu, lalu menuang arak ke dalam cangkir Thio Han Liong dan cangkirnya.

"Anak muda, mari kita bersulang"

"Mari"

Thio Han Liong mengangkat cangkirnya, kemudian dibenturkannya dengan cangkir orangtua itu.

"Ha ha ha"

Orangtua itu tertawa gelak lalu mulai minum. Thio Han Liong cuma minum satu cangkir, orangtua itu minum dua cangkir. sementara hari pun sudah mulai senja.

"Kakek jangan ditambah lagi"

Tan Ah Yun mengingatkan.

"Hari sudah mulai senja."

"Kakek tahu."

Orangtua itu manggut-manggut.

Di saat bersamaan, terdengarlah suara angin menderuderu.

Wajah orangtua itu langsung berubah pucat, sedangkan Tan Ah Yun malah mendekati jendela, lalu mengintip ke luar melalui cela-eel a jendela itu.

"Ah Yun..."

Panggil orangtua itu dengan suara bergemetar.

"Jangan mengintip, cepat masuk"

"Kakek aku mau tahu pendeta siluman itu sudah datang apa belum,"

Sahut Tan Ah Yun.

"Ah Yun...."

Orangtua itu menggeleng-gelengkan kepala.

"Biar dia belajar berani"

Ujar Thio Han Liong sambil tersenyum.

"Kini bukan waktunya Ah Yun belajar berani. Kalau terlihat pendeta siluman itu, Ah Yun pasti ditangkap."

"Jangan khawatir paman. Aku pasti melindunginya."

"Anak muda...."

Orangtua itu menggeleng-gelengkan kepala.

"Terus terang aku masih ragu terhadapmu. Bagaimana mungkin engkau mampu melawan pendeta siluman itu?"

"Tenang, Paman"

Sahut Thio Han Liong dan memberitahukan.

"Mereka mulai memasuki desa ini."

"Oh?"

Orangtua itu segera bertanya kepada cucu perempuannya.

"Ah Yun, engkau melihat pendeta siluman itu?"

"Aku tidak melihat apa-apa."

Jawab Tan Ah Yun.

"Anak muda...."

Orangtua itu menatapnya.

"Mereka berada satu mil dari sini, tentunya Ah Yun tidak melihat mereka."

Thio Han Liong memberitahukan.

"Apa?"

Orangtua itu terbelalak.

"Engkau bisa mendengar sejauh itu?"

"Ya."

Thio Han Liong mengangguk "Anak muda"

Orangtua itu menggeleng-gelengkan kepala.

"Engkau jangan membual"

Mendadak terdengar lagi suara angin menderu-deru. Justru mengherankan, karena tiba-tiba tampak kabut.

"Mereka sudah mendekat,"

Ujar Thio Han Liong.

"Yang berjalan paling depan pasti pendeta siluman. Belasan gadis berjalan di belakangnya sambil tertawa-tawa."

"Oh?"

Orangtua itu kelihatan percaya. Berselang sesaat. Tan Ah Yunpun, berkata dengan suara rendah.

"Aku sudah melihat pendeta siluman itu...."

"Ah Yun cepat masuk"

Seru orangtua itu.

"Biarkan saja"

Ujar Thio Han Liong.

"Sebentar aku akan ke luar menghadapi pendeta siluman itu."

"Tapi...."

Orangtua itu tampak ketakutan.

"Paman"

Thio Han Liong tersenyum.

"Ah Yun lebih berani dibandingkan dengan Paman."

"Aku...."

Orangtua itu tampak tidak senang.

"Aku pun berani mengintip ke luar."

Orangtua itu mendekati jendela, lalu mengintip ke luar melalui celah-celah jendela itu.

"Hah?"

Betapa terkejutnya orangtua itu.

"Pendeta siluman itu makin mendekat. Kok gadis itu terus mengikuti sambil tertawa-tawa?"

"Mereka telah terkena sihir pendeta siluman itu."

Thio Han Liong memberitahukan.

"Paman, Adik kecil. Kalian tetap di dalam, boleh mengintip tapi jangan ke luar"

"Ya."

Sahut Tan Ah Yun.

"Kakak Thio, basmilah pendeta siluman itu"

"Baik,"

Thio Han Liong mengangguk lalu membuka pintu sekaligus berjalan ke luar.

Ia berdiri di tengah-tengah jalanan menunggu kedatangan pendeta siluman itu.

Tan Ah Yun yang sedang mengintip itu berkata kepada kakeknya.

"Kakak Thio sungguh berani. Dia berdiri di situ menghadang pendeta siluman. Mudah-mudahan Kakak Thio mampu membasmi pendeta siluman itu, agar desa kita aman kembali"

"Kalau dia tidak mampu membasmi pendeta siluman itu, desa kita ini pasti bertambah celaka."

Sahut orangtua itu sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Kakek"

Bisik Tan Ah Yun.

"Pendeta siluman itu sudah berdiri di hadapan Kakak Thio...."

"Jangan berisik, kakek sudah melihat"

Sahut orangtua itu dengan suara rendah.

Tidak salahi pendeta siluman itu memang sudah berdiri di hadapan Thio Han Liong.

gadis-gadis yang berdiri di belakangnya terus tertawa cekikikan.

Thio Han Liong memandang mereka, kemudian menatap pendeta siluman dengan tajam sekali.

"Engkau pendeta Taoisme yang berkepandaian tinggi, kenapa malah melakukan kejahatan?"

Tanya Thio Han Liong.

"Anak muda, siapa engkau?"

Pendeta siluman ilu balik bertanya.

"Namaku Thio Han Liong."

Sahut pemuda ilu.

"Pendeta, lepaskan gadis-gadis itu. Aku pun akan mengampunimu, kalau tidak.."

"Hmm"

Dengus pendeta siluman itu.

"Anak muda, pernahkah engkau dengar Leng Leng Hoatsu?"

"Leng Leng Hoatsu?"

Thio Han Liong menggelengkan kepala.

"Aku tidak pernah mendengar sama sekali"

"Aku adalah Leng Leng Hoatsu. Engkau masih muda, tentunya tidak pernah mendengar namaku"

Ujar pendeta siluman sambil menatap Thio Han Liong sekaligus mengeluarkan ilmu sihirnya untuk mempengaruhi pemuda itu.

Akan tetapi, Thio Han Liong tetap tampak tenang sekali.

Itu membuat Leng Leng Hoatsu terkejut bukan main.

Ternyata Thio Han Liong mengerahkan Ilmu Penakluk iblis, maka ia tidak terpengaruh ilmu sihir ilu.

"Anak muda"

Leng Leng Hoatsu tersenyum dingin.

"Tak kusangka engkau berisi juga, mampu menangkis ilmu sihirku sekarang cobalah kau dengar suara siulanku"

Mendadak Leng Leng Hoatsu mengeluarkan siulan aneh.

Itu memang bukan suara siulan biasa, melainkan adalah Toh Hun siauw Im (suara siulan Pembetot sukma).

Ketika mendengar suara siulan ilu, hati Thio Han Liong tersentak.

la segera mengeluarkan lonceng saktinya pemberian Bu Beng siansu, lalu dibunyikannya.

Begitu mendengar suara lonceng sakti itu, tergetarlah sekujur badan Leng Leng Hoatsu.

Pendeta siluman itu mengempos semangat sambil mengeluarkan suara siulannya, akan tetapi, suara lonceng sakti itu bertambah nyaring menusuk telinga dan hatinya.

Berselang beberapa saat kemudian, wajah Leng Leng Hoatsu berubah menjadi pucat pias dan sekujur tubuhnya menggigil seperti kedinginan dan mendadak....

"Uaaaakh...."

Leng Leng hoatsu muntah darah. Thio Han Liong berhenti membunyikan lonceng saktinya, gadis-gadis itu telah tersadar, maka mereka segera berlari ke rumah masing-masing.

"Anak muda. Tak kusangka engkau mampu melawan suara siulanku dengan lonceng kecil itu. Sekarang..."

Ujar Leng Leng Hoatsu dingin.

"Mari kita bertarung. Aku harus membunuhmu"

"Leng Leng Hoatsu, kalau engkau masih ingin bertarung denganku itu berarti engkau cari mati"

Sahut Thio Han Liong.

"Lebih baik engkau segera meninggalkan desa ini"

"Hmm"

Dengus Leng Leng Hoatsu, kemudian mendadak menyerang Thio Han Liong dengan sengit sekali.

Thio Han Liong berkelit, tapi Leng Leng Hoatsu menyerangnya lagi.

Karena itu, terpaksalah Thio Han Liong menangkis dengan ilmu Thay Kek Kun.

"Ternyata engkau murid Bu Tong Pay"

Ujar Leng Leng Hoatsu dan mulai mengeluarkan ilmu andalannya. Terkejut juga Thio Han Liong menyaksikan ilmu andalan Leng Leng Hoatsu itu. Ia menggeleng-gelengkan kepala seraya berkata.

"Leng Leng hoatsu, ilmu silatmu cukup tinggi, tapi justru digunakan untuk kejahatan, sungguh sayang sekali"

"Ha ha ha"

Leng Leng hoatsu tertawa sambil menyerangnya bertubi-tubi.

"Engkau harus mampus di tanganku"

"Leng Leng Hoatsu, lihat seranganku"

Kini Thio Han Liong mulai menangkis dan balas menyerang dengan ilmu Kiu Im Pek Kut Jiauw.

"Haah..?"

Betapa terkejutnya Leng Leng Hoatsu. la berusaha mengelak tetapi Thio Han Liong berhasil memukul dadanya, sehingga membuat Leng Leng Hoatsu menjerit dan terdorong beberapa depa.

"Aaakh..."

Leng Leng Hoatsu roboh dan mulutnya mengeluarkan darah.

"Engkau... engkau...."

"Tadi aku sudah menyuruhmu pergi, tapi engkau malah menyerangku"

Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala.

"Akhirnya engkau terluka parah. Dalam waktu tiga jam, engkau pasti binasa "

"Thio Han Liong, suhengku pasti membalas dendamku ini"

Ujar Leng Leng Hoatsu. la berusaha bangkit berdiri, lalu berjalan pergi dengan sempoyongan. Di saat bersamaan, Tan Ah Yun dan kakeknya menghambur ke luar menghampiri Thio Han Liong.

"Kakak Thio Kakak Thio..."

Panggil Tan Ah Yun dengan wajah berseri-seri.

"Dugaanku tidak meleset, engkau memang mampu membasmi pendeta siluman itu."

"Adik kecil"

Thio Han Liong tersenyum sambil membelainya.

"Anak muda...."

Orangtua itu tertawa gelak.

"Engkau sungguh hebat, aku sama sekali tidak menyangka. Engkau telah menyelamatkan desa ini...."

Di saat itulah muncul kepala desa dan para penduduk. Kepala desa mendekati Thio Han Liong sambil memberi hormat.

"Pendekar muda, bolehkah aku tahu namamu?"

Tanya nya sambil memandangnya dengan kagum.

"Dia adalah Kakak Thio,"

Sahut Tan Ah Yun cepat.

"Namanya Han Liong."

"Oooh"

Kepala desa manggut-manggut.

"Thio siau-hiup, engkau telah menyelamatkan desa kami, entah bagaimana kami berterimakasih kepadamu?"

"Bapak kepala desa,"

Sahut Thio Han Liong.

"Secara kebetulan aku lewat desa ini. Karena desa ini amat sepi, maka aku mampir di rumah Ah Yun dan bertanya kepada kakeknya, barulah kutahu desa ini diteror oleh pendeta siluman itu. Namun kini desa ini sudah aman, karena pendeta siluman itu pasti mati dalam waktu tiga jam."

"Oooh"

Kepala desa manggut-manggut.

"Thio siau-hiap, aku akan menyelenggarakan pesta untuk menjamu Thio siauhiap...."

"Itu tidak perlu."

Thio Han Liong menggelengkan kepala.

"Thio siauhiup, aku pun akan menghadiahkan sesuatu untukmu...."

"Bapak kepala desa,"

Ujar Thio Han Liong dengan sungguhsungguh.

"Aku lihat Kakek Ah Yun paling miskin di desa ini, maka lebih baik hadiah itu diberikan kepadanya."

"Baik"

Kepala desa mengangguk "Tapi biar bagaimanapun, aku harus mengadakan perjamuan makan-makan...."

"Maaf"

Ucap Thio Han Liong.

"Aku menolak."

"Thio siauhiap...."

Kepala desa tampak kecewa sekali.

"Bapak kepala desa,jungan lupa berikan hadiah itu kepada Kakek Ah Yun"

Pesan Thio Han Liong, kemudian berkata kepada Tan Ah Yun dan kakeknya.

"Maaf, aku mau pamit"

"Han Liong, hari sudah malam,"

Sahut orangtua itu.

"Lebih baik engkau bermalam di rumahku."

"Kakak Thio...."

Tan Ah Yun mulai terisak-isak.

"Kok begitu cepat sih engkau mau pergi? Aku... aku...."

"Adik kecil, aku harus segera berangkat ke Kwan Gwa. Kelak kita akan berjumpa lagi,"

Ujar Thio Han Liong sambil membelainya.

"Jangan menangis ya"

"Kakak Thio...."

Air mata Tan Ah Yun meleleh.

"Bapak kepala desa dan paman-paman sekalian, aku mohon pamit"

Mendadak Thio Han Liong melesat pergi dan seketika juga ia melesat dari pandangan mereka.

Betapa terkejutnya kepala desa dan para penduduk itu, mereka terbelalak sedangkan Tan Ah Yun berteriak-teriak "Kakak Thio Kakak Thio...."

Gadis itu mulai menangis terisak-isak.

"Ah Yun"

Sang kakek memeluknya erat-erat.

"jangan menangis, kelak dia pasti ke mari menengokmu, percayalah"

"Itu tidak mungkin...."

Tan Ah Yun terus menangis dengan air mala berderai-derai.

"Tidak mungkin Kakak Thio akan ke mari menengokku Tidak mungkin...."

Kepala desa menghampirinya sambil tersenyum, lalu membelainya seraya lembut sekali. Berkata.

"Ah Yun, besok aku akan ke rumahmu mengantar hadiah untukmu. sudahlah jangan menangis lagi, Thio siau hiap pasti ke mari kelak menengokmu percayalah"

"Aaah.."

Keluh Tan Ah Yun dan bergumam.

"Kakak Thio, kapan engkau akan ke mari menengokku? "

Bab 50 Hiat Mo Nyaris Binasa Thio Han Liong terus melanjutkan perjalanan ke Kwan Gwa.

Beberapa hari kemudian, ia telah sampai di luar perbatasan.

Begitu luas daerah itu sehingga membingungkannya, la sama sekali tidak tahu harus ke mana mencari Hiat Mo.

Ketika ia memasuki sebuah hutan, justru berpapasan dengan seorang tua pencari kayu.

"Paman,"

Panggilnya dan seraya menyapanya.

"Eh?"

Orangtua itu terbelalak.

"Anak muda, engkau kesasar ya?"

"Paman,"

Sahut Thio Han Liong sambil tersenyum.

"Aku mencari seseorang tapi tidak tahu tempat tinggalnya."

"Engkau cari siapa?"

"Aku mencari Hiat Mo."

"Hiat Mo?"

Orangtua itu tampak tersentak.

"Anak muda, mau apa engkau mencari iblis itu?"

"Aku mau membunuhnya."

"Apa?"

Orangtua itu terkejut, lalu menatap Thio Han Liong dengan mata terbelalak.

"Engkau... engkau mau membunuhnya?"

"Ya."

Thio Han Liong mengangguk Orangtua itu menggeleng-geleng kepala.

"Engkau sudah tidak waras ya? Bagaimana mungkin engkau dapat membunuhnya? Tahukah engkau? Hiat Mo adalah iblis nomor wahid di Kwan Gwa ini"

"Kalau begitu, Paman pasti tahu tempat tinggalnya. Ya, kan?"

Tanya Thio Han Liong bernada girang.

"Aku memang tahu, tapi tidak akan memberitahukanmu."

"Paman...."

Orangtua itu menasihatinya.

"Lebih baik engkau segera pergi saja, jangan cari mati di daerah Kwan Gwa ini"

"Paman, biar bagaimanapun aku harus membunuhnya,"

Ujar Thio Han Liong tegas.

"Walaupun Paman tidak bersedia memberitahukan tempat tinggal Hiat Mo, aku tetap akan mencarinya."

"Anak muda...."

Orangtua itu menghela nafas panjang.

"Karena engkau sudah membulatkan tekad, maka aku tidak akan mengecewakan mu."

"Terima kasih, Paman,"

Ucap Thio Han Liong sambil memberi hormat.

"Terima kasih...."

"Tempat tinggal Hiat Mo berada di Pek Ciauw Kok (Lembah seratus Burung)."

Orangtua itu memberitahukan.

"Keluar dari hutan ini, engkau akan melihat sebuah gunung. Nah, lembah Pek ciauw Kok terletak di gunung itu."

"Terima kasih, Paman,"

Ucap Thio Han Liong, lalu segera melesat ke dalam hutan itu.

Berselang beberapa saat kemudian, ia sudah keluar dari hutan tersebut.

Tampak gunung menjulang tinggi di depan.

Tanpa ragu lagi ia langsung melesat ke gunung itu dengan menggunakan ginkang, dan tak seberapa lama ia sudah berada di sebuah lembah.

Sungguh indah sekali lembah tersebut Burung-burung yang beraneka warna beterbangan di lembah itu.

"Inikah lembah Pek Ciauw Kok?"

Gumam Thio Han Liong sambil menelusuri lembah tersebut.

Mendadak ia mendengar suara tawa yang riang gembira, la tercengang, lalu melesat ke arah suara tawa itu.

Thio Han Liong terbelalak ternyata yang sedang tertawa riang gembira itu adalah Kwan Pek Him dan Ciu Lan Nio.

Perlahan-lahan Thio Han Liong mendekati mereka.

suara langkahnya membuat mereka berdua menoleh dan terbelalak.

"Kakak Han Liong"

Seru Ciu Lan Nlo tak tertahan.

"Saudara Han Liong...."

Mulut Kwan Pek Him ternganga lebar. la sama sekali tidak menyangka Thio Han Liong akan menemukan tempat itu.

"Adik Lan Nio, saudara Kwan"

Thio Han Liong tersenyum.

"Kalian berdua baik saja?"

"Kami baik-baik saja,"

Sahut Ciu Lan Nio.

"Engkau?"

"Aku pun baik-baik"

Ujar Thio Han Liong dan menambahkan.

"Terima kasih atas kebaikan kalian menemui An Lok Kong cu."

"Dia... dia pergi ke Hok An menemuimu?"

Tanya Ciu Lan Nio.

"Ya."

Thio Han Liong mengangguk "Bahkan kami pun sudah pergi ke pulau Hong Hoang To."

"Oh?"

Ciu Lan Nio mengangguk "Syukurlah kalau begitu"

Kwan Pek Him terus memandang Thio Han Liong, lama sekali barulah membuka mulutnya.

"Saudara Han Liong, engkau ke mari mencari Hiat Mo?"

"Ya."

Thio Han Liong mengangguk.

"Kakak Han Liong,"

Tanya Ciu Lan Nio dengan wajah berubah.

"Engkau masih ingin bertanding dengan kakekku?"

"Tapi...."

Ciu Lan Nio menghela nafas panjang.

"Giok Cu sudah tiada, untuk apa engkau masih ingin bertanding dengan kakekku?"

"Semua itu karena perbuatan kakekmu, maka aku harus membuat perhitungan dengan kakekmu"

Tegas Thio Han Liong.

"Kakak Han Liong...."

Wajah Ciu Lan Nio tampak murung sekali.

"Aku mohon engkau jangan bertanding dengan kakekku"

"Adik Lan Nio"

Thio Han Liong menatapnya.

"Engkau adalah gadis yang baik, punya nurani, perasaan dan berprikemanusiaan. oleh karena itu, aku menganggapmu sebagai adikku. Tapi lain pula dengan kakekmu. Giok Cu bunuh diri gara-gara kakekmu, maka aku harus membuat perhitungan dengan kakekmu."

"Saudara Han Liong,"

Ujar Kwan Pek Him.

"Tentunya engkau tahu, kepandaian Hiat Mo amat tinggi sekali."

"Aku tahu itu, namun aku tetap akan membuat perhitungan dengannya,"

Sahut Thio Han Liong.

"Kakak Han Liong...."

Ciu Lan Nio menggeleng-gelengkan kepala.

"Adik Lan Nio"

Thio Han Liong menatapnya seraya berkata.

"Aku harap engkau sudi membawaku pergi menemui kakekmu"

"Tapi...."

"Adik Lan Nio, bawa aku pergi menemui kakekmu"

Desak Thio Han uong.

"Atau aku akan pergi mencarinya seorang diri?"

Ciu Lan Nio memandang Kwan Pek Him, sedangkan pemuda itu hanya menghela nafas panjang, kemudian berkata.

"Saudara Han Liong telah sampai di lembah ini, tentunya kita harus membawanya pergi menemui kakekmu."

"Tapi...."

Ciu Lan Nio menggeleng-gelengkan kepala.

"Kalau kita tidak membawanya pergi menemui kakekmu, dia pun bisa pergi mencarinya. Ya, kan?"

Ujar Kwan Pek Him.

"Baiklah."

Ciu Lan Nio manggut-manggut.

"Kakak Han Liong, mari ikut kami pergi menemui kakekku"

"Terima kasih, Adik Lan Nio,"

Ucap Thio Han Liong.

Ciu Lan Nio dan Kwan Pek Him lalu mengajak Thio Han Liong ke sebuah gua tempat tinggal Hiat Mo.

Hiat Mo sedang duduk bersila di dalam gua.

ciu Lan Nio berlari ke dalam seraya berteriak-teriak.

"Kakek Kakek..."

"Lan Nio, ada apa?"

Hiat Mo tercengang.

"Kakak Han Liong ke mari mencari Kake.k Dia... dia ingin membuat perhitungan dengan Kakek"

Ciu Lan Nio memberitahukan dengan air mata meleleh.

"Oh?"

Hiat Mo tertawa.

"Apakah kepandaiannya sudah tinggi, sehingga berani ke mari mencariku^"

"Aku tidak tahu,"

Sahut Ciu Lan Nio.

"Kejadian itu adalah kesalahan Kakek maka Kakek tidak boleh membunuhnya."

Bagian 26 Hiat Mo tersenyum dan memandang cucunya seraya berkata.

"Lan Nio, kalau kakek mau membunuhnya, tidak mungkin dia bisa hidup hingga sekarang."

"Aku tahu itu, Kakek. Maksudku... kini pun Kakek jangan membunuhnya,"

Ujar ciu Lan Nio.

"Dia menganggapku sebagai adiknya, bahkan juga amat menyayangiku. Aku pun sudah menganggapnya sebagai kakak."

"Kakek tahu itu."

Hiat Mo tersenyum sambil bangkit berdiri.

"Mari kita ke luar menemuinya"

Mereka berjalan ke luar. Tampak Thio Han Liong sedang bercakap-cakap dengan Kwan Pek Him.

"Ha ha ha"

Hiat Mo tertawa gelak.

"Han Liong, bagaimana kabarmu selama ini?"

"Aku baik-baik saja,"

Sahut Thio Han Liong.

"Bagaimana Locianpwee? Apakah baik-baik juga?"

"Aku pun baik-baik"

Hiat Mo menatapnya dengan penuh perhatian, kemudian manggut-manggut.

"Ngmmm. Kelihatannya kepandaianmu bertambah tinggi. Bagus, bagus sekali"

"Kalau kepandaianku tidak bertambah tinggi, tentunya aku tidak berani mencari Locianpwee,"

Ujar Thio Han Liong dengan nada mulai dingin.

"Aku ingin bertanya, kenapa Locianpwee menikahkan Giok cu dengan Ouw Yang Bun?"

"Sebab Ouw Yang Bun mencintainya, lagipula Giok cu harus punya anak. Nah, karena itu aku menikahkan mereka."

"Hmm"

Dengus Thio Han Liong. Justru karena itu, Giok cu bunuh diri. Itu gara-gara ulah Locianpwee, maka Locianpwee harus bertanggung jawab."

"Tidak salah."

Hiat Mo manggut-manggut.

"Aku memang harus bertanggungjawab tentang itu."

"Kalau begitu, aku akan membuat perhitungan dengan Locianpwee"

Thio Han Liong menatapnya tajam.

"Oh?"

Hiat Mo tersenyum.

"Cara bagaimana engkau membuat perhitungan denganku?"

"Giok Cu mati bunuh diri gara-gara Locianpwee, ke dua orangtuanya mati karena dibunuh para anggota Hiat Mo Pang Karena itu, aku harus membunuh Locianpwee"

"Oh?"

Hiat Mo tertawa gelak "Ha ha ha..."

"Kakak Han Liong"

Seru Ciu Lan Nio. Betapa terkejutnya gadis itu la tidak menyangka kalau Thio Han Liong begitu dendam terhadap kakeknya.

"Adik Lan Nio"

Tegas Thio Han Liong.

"Ini adalah urusanku dengan kakekmu, aku harap engkau jangan turut campur"

"Kakak Han Liong...."

Mata Ciu Lan Nio mulai bersimbah air. Kwan Pek Him mendekatinya, lalu memegang bahunya seraya berbisik-bisik.

"Lan Nio, itu adalah urusan mereka, biar mereka yang menyelesaikannya"

"Tapi...."

"Jangan khawatir"

Kwan Pek Him tersenyum.

"Kakekmu tidak akan membunuhnya, percayalah"

"Kalau mereka bertarung, pasti ada yang akan terluka. Aku... aku tidak menghendaki itu."

Ciu Lan Nio mulai terisakisak.

"Lan Nio"

Hibur Kwan Pek Him.

"Tenanglah Kalaupun mereka bertarung, mereka pasti tidak akan terluka."

"Aaaah Ciu Lan Nio menghela nafas panjang. Sementara Thio Han Liong dan Hiat Mo saling memandang. Wajah pemuda itu tampak semakin dingin, bahkan penuh diliputi hawa membunuh. Tersentak juga hati Hiat Mo, sebab ia tidak pernah menyaksikan wajah Thio Han Liong seperti itu.

"Han Liong,"

Ujar Hiat Mo perlahan.

"Kalau kepandaianmu memang sudah tinggi sekali, engkau boleh membunuhku,"

"Aku ke mari justru ingin membunuhmu"

Sahut Thio Han Liong.

"Mari kita mulai bertarung"

"Ha ha ha"

Hiat Mo tertawa gelak.

"Kudengar engkau mampu menyadarkan Giok Cu, Tong Koay dan Pak Hong dengan suara lonceng, maka aku pun ingin mencobanya dengan suara sulingku"

"Baik"

Thio Han Liong mengangguk.

"Boleh mulai sekarang"

Hiat Mo memandang Kwan Pek Him dan cucunya seraya mengibaskan tangannya agar mereka menjauh.

Ciu Lan Nio segera menarik tangan Kwan Pek Him menjauhi tempat itu.

Tentunya hal itu membuat Kwan Pek Him terheran-heran.

"Lan Nio, kenapa kita harus menjauhi tempat itu?"

Tanyanya.

"Kakekku akan meniup suling pusakanya, kita tidak akan tahan."

Sahut Ciu Lan Nio memberitahukan.

"Darah kita akan bergolak dan kemungkinan besar kepandaian kita pun akan musnah."

"Oh?"

Kwan Pek Him terbelalak.

"Begitu lihay dan hebat suara suling itu?"

"Ya."

Ciu Lan Nio mengangguk "Karena suara suling itu mengandung semacam ilmu sesat."

"Oooh"

Kwan Pek Him manggut-manggut.

"Kalau begitu... bagaimana mungkin saudara Han Liong bisa bertahan?"

"Itu...."

Ciu Lan Nio menggeleng-gelengkan kepala.

"Mudah-mudahan kakekku tidak memusnahkan kepandaiannya"

Sementara Hiat Mo telah mengeluarkan suling pusakanya, la memandang Thio Han Liong seraya bertanya.

"Kenapa engkau belum mengeluarkan loncengmu?"

"Kalau sudah saatnya, aku pasti mengeluarkan lonceng saktiku"

"Kalau begitu.."

Ujar Hiat Mo sambil menatapnya tajam.

"Bersiap-siaplah engkau menghadapi suara sulingku"

Thio Han Liong tersenyum dingin, lalu duduk bersila sambil mengerahkan Ilmu Penakluk iblis.

Hiat Mu mulai meniup guling pusakanya.

Maka terdengarlah suara alunan suling yang bernada aneh terus meninggi dan bergelombang-gelombang.

Ternyata Hiat Mo mengeluarkan ilmu Toat Hun Mi Im (suara suling Pelenyap sukma).

Dengan irama tersebut ia ingin melumpuhkan Thio Han Liong.

Akan tetapi, ia justru terbelalak karena melihat Thio Han Liong tetap duduk bersila di tempat, sama sekali tidak terpengaruh oleh suara sulingnya.

Karena itu, ia meninggikan nada irama sulingnya.

Tampak keringat sebesar kacang hijau mulai merembes ke luar dari kening pemuda itu.

Di saat itulah ia mengeluarkan lonceng saktinya, pemberian Bu Beng sian Su dan mulailah membunyikannya.

Hiat Mo tersentak kaget ketika mendengar suara lonceng sakti, karena suara lonceng itu begitu nyaring lembut dan menggetarkan hati.

Setelah membunyikan lonceng saktinya hati Thio Han Liong menjadi tenang sekali dan tidak merasa bergolak lagi darahnya.

Begitu pula Kwan Pek Him dan ciu Lan Nio.

Walau mereka berada di tempat yang agak jauh, tapi ketika Hiat Mo mulai meniup suling pusakanya, mereka harus menutup telinga.

Akan tetapi, begitu Thio Han Liong membunyikan lonceng saktinya, mereka pun merasa tenang dan lega.

Meskipun Hiat Mo telah mengempos semangatnya untuk meniup sulingnya, namun suara lonceng itu tetap menggetargetarkan hatinya.

Akhirnya ia berhenti meniup sulingnya dan Thio Han Liong pun berhenti membunyikan lonceng saktinya.

"Ha ha ha"

Hiat Mo tertawa gelak.

"Bukan main Tak kusangka engkau memiliki lonceng sakti, pantas engkau mampu menyadarkan Giok Cu, Tong Koay dan Pak Hong"

"Kini kita bertanding ilmu silat"

Tantang Thio Han Liong sambil menyimpan lonceng saktinya.

"Ngmm"

Hiat Mo manggut-manggut.

"Dengan tangan kosong atau bersenjata?"

"Cukup dengan tangan kosong saja"

Sahut Thio Han Liong dan menambahkan.

"Harap Locianpwee harus berhati-hati, sebab aku akan membunuhmu"

"Oh?"

Hiat Mo tertawa lagi.

"Ha ha ha..."

"Locianpwee, bersiap-siaplah. Aku akan mulai menyerangnya"

"Baik"

Thio Han Liong menatapnya tajam sambil mengerahkan Kiu Yang Sin Kang, kemudian mendadak menyerangnya dengan Thay Kek Kun (Ilmu Pukulan Taichi).

"Ha ha ha"

Hiat Mo tertawa sekaligus berkelit, lalu balas menyerang.

Terjadilah pertarungan yang amat seru dan sengit.

Kwan Pek Him dan ciu Lan Nio menyaksikan pertarungan itu dengan hati berdebar-debar tegang.

Thio Han Liong dan Hiat Mo saling menyerang dengan sengit sekali.

Hiat Mo tampak terkejut akan kemajuan ilmu silat Thio Han Liong.

"Ha ha"

La tertawa.

"Han Liong, pantas engkau berani ke mari menantangku. Ternyata ilmu silatmu telah maju pesat, begitu pula Iweekangmu Aku kagum sekali pada mu"

"Hm"

Dengus Thio Han Liong dingin.

"Hari ini ajalmu telah tiba"

"Oh?"

Hiat Mo tertawa lagi.

"Kalau begitu, silakan cabut nyawaku"

Walau mereka berbicara, tapi tetap saling menyerang. Pertarungan telah melewati puluhan jurus namun mereka masih seimbang.

"Ha ha ha"

Hiat Mo tertawa gelak sambil meloncat ke belakang beberapa depa. la menatap Thio Han Liong seraya berkata.

"Berhati hatilah Aku akan menyerangmu dengan Hiat Mo Kang"

"Aku sudah siap menyambut ilmu itu"

Sahut Thio Han Liong.

Hiat Mo mulai mengerahkan Hiat Mo Kang, sedangkan Thio Han Liong mulai mengerahkan Kian Run Taylo sin Kang.

Mereka terus saling menatap dengan mata tak berkedip.

Namun Hiat Mo hanya mengerahkan lima bagian Iweekangnya itu, ternyata ia masih ingat akan janjinya kepada cucunya, tidak akan membunuh Hiat Mo.

Sementara Kwan Pek Him dan ciu Lan Nio menyaksikannya dengan wajah pucat pias.

Mereka berdua tahu bahwa kali ini merupakan pertarungan mati hidup.

"Ha ha ha"

Mendadak Hiat Mo tertawa gelak lalu mulai menyerang Thio Han Liong.

Thio Han Liong tidak berkelit.

Disambutnya serangan itu dengan jurus Kian Kun Taylo Bu Pien (Alam semesta Tiada Batas), maka terdengarlah suara benturan keras.

Blaaaam..

Thio Han Liong terdorong ke belakang beberapa langkah begitu pula Hiat Mo.

setelah berdiri tegak Hiat Mo menatapnya dengan mata terbelalak.

Rupanya ia tidak percaya Thio Han Liong telah menyambut serangannya itu.

Bahkan ia pun merasa heran, karena ada serangan balik dari Iweekangnya sendiri "Ha ha ha"

La tertawa gelak.

"Tak kusangka kepandaianmu sudah begitu tinggi, mampu menyambut seranganku"

"Hmm"

Dengus Thio Han Liong sambil menatapnya dingin.

"Hati-hati, aku sudah siap membunuhmu"

"Ha ha ha"

Hiat Mo tertawa gelak lagi.

"Kalau engkau mampu membunuhku, aku pun akan mati dengan mata meram"

Sementara Kwan Pek Him dan ciu Lan Nio terperangah akan kejadian itu, sama sekali tidak menyangka Thio Han Liong mampu menyambut serangan yang dilancarkan Hiat Mo. Mereka berdua kagum tapi juga cemas.

"Han Liong Hati-hatilah, aku akan menyerang lagi"

Ujar Hiat Mo sambil mengerahkan Iweekangnya pada puncaknya.

Akan tetapi, mendadak ia teringat akan janjinya kepada cucunya.

Maka seketika juga ia batal menyerang Thio Han Liong dengan sepenuh Iweekang, hanya mengerahkan tujuh bagian saja.

"Hati-hati"

Seru Hiat Mo sambil menyerang.

Thio Han Liong sama sekali tidak berkelit, namun langsung menyambut serangan itu dengan jurus Kian Kun Taylo Hap It (segala galanya Menyatu Di Alam semesta).

Blaaaam...

Terdengar suara benturan yang, amat dahsyat, memekakkan telinga.

Hiat Mo terpental enam tujuh depa, sedangkan Thio Han Liong terhuyung-huyung ke belakang hampir sepuluh langkah wajahnya tampak agak pucat.

Hiat Mo jatuh terkapar di tanah, mulutnya tampak mengeluarkan darah.

"Kakek Kakek..."

Jerit Ciu Lan Nio. Kwan Pek Him segera memegang lengannya, agar gadis itu tidak lari mendekati Hiat Mo.

"Hiat Mo"

Ujar Thio Han Liong sepatah demi sepatah "Bersiap-siaplah untuk mati"

"Han Liong...."

Hiat Mo tersenyum.

"Aku merasa puas mati di tanganmu, karena kini engkau dapat mengalahkanku. Aku merasa puas sekali...."

"Hmm"

Dengus Thio Han Liong, lalu mendekati Hiat Mo selangkah demi selangkah.

Hiat Mo sama sekali tidak tampak takut, sebaliknya malah tampak tenang sekali.

Di saat bersamaan, ciu Lan Nio meronta sekuat-kuatnya, sehingga terlepas dari tangan Kwan Pek Him.

"Kakak Han Liong Kakak Han Liong..."

Ciu Lan Nio berlari mendekatinya sambil berteriak-teriaki "Kakak Han Liong...."

Thio Han Liong mengerutkan kening sambil berhenti, seketika Ciu Lan Nio berlutut di hadapannya.

"Kakak Han Liong"

Air mata gadis itu berlinang-linang.

"Jangan kau bunuh kakekku Jangan kau bunuh kakekku"

Ujarnya memohon.

"Adik Lan Nio...."

Kening Thio Han Liong berkerut-kerut.

"Aku...."

"Kakak Han Liong"

Ciu Lan Nio menatapnya.

"Kalau engkau membunuh kakekku, aku pasti bunuh diri"

"Apa?"

Air muka Thio Han Liong berubah menjadi hebat.

"Saudara Han Liong"

Kwan Pek Him mendekatinya seraya berkata.

"Apabila Lan Nio bunuh diri, aku pun tidak akan hidup lagi."

"Kalian...."

Thio Han Liong berdiri termangu-mangu di tempat, kemudian menatap mereka dengan kening berkerutkerut.

"Kakak Han Liong...."

Ciu Lan Nio berlutut di hadapannya.

"Aku mohon, jangan bunuh kakekku..."

Thio Han Liong diam saja, lama sekali barulah membuka mulut.

"Sudahlah. Aku tidak akan membunuh kakekmu."

"Terima kasih, Kakak Han Liong,"

Ucap Ciu Lan Nio terharu.

"Terima kasih...."

"Adik Lan Nio, bangunlah. Jangan terus berlutut di situ"

Thio Han Liong membangunkannya .

"Kakak Han Liong...."

Ciu Lan Nio terisak-isak saking terharu.

"Kami berhutang budi kepadamu."

"Jangan berkata begitu, Adik Lan Nio"

"Terima kasih, saudara Han Liong,"

Ucap Kwan Pek Him sambil memegang bahu Thio Han Liong.

"Aaah.."

Thio Han Liong menghela nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ciu Lan Nio berlari mendekati Hiat Mo, sedangkan Hiat Mo telah bangkit berdiri "Kakek terluka?"

Tanya Ciu Lan Nio dengan rasa cemas.

"Ha ha ha"

Hiat Mo tertawa.

"Kalau kakek berniat membunuh Han Liong, sekarang kakek sudah tergeletak jadi mayat."

Ciu Lan Nio terperanjat mendengar ucapan kakeknya itu.

"Kakek tidak bohong,"

Ujar Hiat Mo sambil menghampiri Thio Han Liong.

"Aku tak menyangka Lwee-kang mu sudah mencapai tingkat kesempurnaan. Apa yang kau alami selama beberapa tahun ini?"

"Locianpwee...."

Thio Han Liong memandangnya, lama sekali barulah menutur tentang kejadian di gunung soat san.

"Haah..?"

Hiat Mo terbelalak mendengar penuturannya.

"Syukurlah engkau makan buah soat san Ling che itu, bahkan engkau pun bertemu Bu Beng sian su"

"Locianpwee pernah bertemu Bu Beng siansu?"

"Pernah."

Hiat Mo mengangguk "Kalau tidak salah lima puluh tahun lalu, aku tahu Bu Beng sian su memiliki sebuah lonceng sakti.

Tak disangka lonceng sakti itu telah dihadiahkan kepadamu.

Kalau aku tahu, tentu aku tidak akan menikahkan Giok Cu dengan ouw Yang Bun."

"Locianpwee...."

Wajah Thio Han Liong langsung berubah murung.

"Aku ingin bertanya, kenapa tujuh delapan tahun lalu Locianpwee begitu tega menyihir Giok cu?"

"Aaah.."

Hiat Mo menghela nafas panjang.

"Pada waktu itu aku terlampau egois. Aku tahu Giok Cu mencintaimu, tapi cucuku ini pun mencintaimu pula. Maka aku menyihirnya agar engkau menjauhi Giok Cu, dan selanjutnya akan mencintai cucuku. Akan tetapi, ternyata engkau tetap mencintai Giok Cu. Karena itu, aku pun menyatakan apabila engkau mampu mengalahkan ku, aku pasti melepaskan Giok Cu. Aku menyatakan itu lantaran dapat memastikan tidak mungkin engkau mampu mengalahkanku, lagipula aku menghendakimu terus berlatih dengan giat. selain itu. Giok Cu pun tidak bisa disadarkan...."

"Lociancwee...."

Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala.

"Oleh karena itu..."

Lanjut Hiat Mo sambil menghela nafas panjang.

"Akupun merasa kasihan kepada Giok Cu, lagipula ouw Yang Bun amat mencintainya, maka aku menikahkan mereka, agar Giok Cu punya keturunan. Itu adalah maksud baikku dan walaupun Giok Cu masih dalam keadaan terpengaruh oleh ilmu sihirku, tapi ouw Yang Bun tetap mencintainya. setelah mereka punya anak ouw Yang Bun yang mengurusi anak itu Kemudian muncul Yo sian sian. Berhubung dia memperlihatkan sebuah benda, sehingga aku harus menepati sebuah janji pula. Yo sian sian menyuruhku kembali ke Kwan Gwa. Aku menurut dan langsung kembali ke Kwan Gwa ini...."

"Oooh"

Thio Han Liong manggut-manggut.

"Locianpwee, benda apa itu?"

Tanyanya.

"Sebuah tusuk konde,"

Jawab Hiat Mo dan menutur tentang itu, kemudian menghela nafas panjang. Tak kusangka Lam Hai Lo Ni adalah nenek Yo sian sian."

"Aaah.."

Thio Han Liong menghela nafas panjang.

"Yang patut dikasihani adalah Giok Cu, dia...."

"Kakak Han Liong,"

Sela Ciu Lan Nio memberitahukan.

"Kematian Giok Cu membuat kakekku menangis tiga hari tiga malam, amat menyesali perbuatannya itu."

"Oh?"

Thio Han Liong mendekati Hiat Mo.

"Betul."

Hiat Mo manggut-manggut "Sesungguhnya aku amat menyukaimu, sedangkan cucuku pun amat mencintaimu. oleh karena itu...."

"Locianpwee, semua itu telah berlalu, jangan diungkit lagi"

Tandas Thio Han Liong.

"Dan jangan terus bilang Adik Lan Nio amat mencintaiku, nanti saudara Kwan akan cemburu."

"Tidak"

Kwan Pek Him tersenyum.

"Sebab kini Lan Nio amat mencintaiku, itu berkat bantuanmu."

"Saudara Kwan...."

Thio Han Liong tersenyum getir.

"Kalau aku teringat Giok Cu, rasanya aku tiada gairah hidup,..."

"Kakak Han Liong, bukankah engkau telah bertemu An Lok Keng cu? Jangan memikirkan yang tidak-tidak lagi"

Ujar ciu Lan Nio.

"Pada waktu itu, aku terus menangis di depan makam Giok cu."

Thio Han Liong memberitahukan.

"Akhirnya mataku mengeluarkan darah lalu pingsan. Ketika siuman, aku melihat An Lok Keng cu berada di sisiku dengan wajah pucat pias.

"Dia terus menghibur sekaligus menasihatiku. Kalau dia tidak muncul, aku pasti sudah mati."

"Saudara Han Liong"

Kwan Pek Him tersenyum.

"Aku dan Lan Nio pergi ke Kotaraja menemui An Lok Keng cu."

"Dia telah memberitahukan itu, oleh karenanya aku pun amat berterima kasih kepada kalian."

"Kakak Han Liong"

Ciu Lan Nio tersenyum.

"Kini engkau sudah tidak mendendam kakekku lagi kan?"

"Adik Lan Nio,"

Sahut Thio Han Liong.

"Semua itu telah berlalu, dendamku pun sirna dengan sendirinya."

"Terima kasih, Kakak Han Liong,"

Ucap ciu Lan Nio.

"Adik Lan Nio"

Thio Han Liong menghela nafas panjang.

"Aku pun harus berterima kasih kepadamu."

"Kakak Han Liong...."

Ciu Lan Nio menundukkan kepala.

"Ha ha ha"

Hiat Mo tertawa gelak "Kini legalah hatiku, karena Han Liong telah memiliki kepandaian yang amat tinggi Ha ha ha..."

"Locianpwee..."

Ujar Thio Han Liong.

"Kalau bukan dikarenakan Locianpwee, kepandaianku tidak akan mencapai tingkat yang sedemikian tinggi."

"Han Liong"

Hiat Mo menatapnya seraya bertanya.

"Engkau menggunakan ilmu apa meroboh kanku?"

"Kian Kun Taylo sin Kang."

Thio Han Liong memberitahukan.

"Bu Beng sian su yang mengajarku."

"Ooh"

Hiat Mo manggut-manggut.

"Tapi kenapa malah diriku terserang oleh Iweekangku sendiri?"

"Itulah keistimewaan ilmu Kian Kun Taylo sin Kang,"

Sahut Thio Han Liong dan menambahkan.

"Maka Locianpwee terserang oleh Iweekang sendiri."

"Jadi...."

Hiat Mo terbelalak.

"Kian Kun Taylo sin Kang dapat mengembalikan Iweekang lawan, sekaligus balik menyerangnya pula?"

"Ya."

Thio Han Liong mengangguk "Sungguh hebat ilmu itu"

Hiat Mo menghela nafas panjang.

"Kalau begitu kini engkau adalah jago nomor wahid dalam rimba persilatan."

"Lociancwee...."

Thio Han Liong menggeleng-ge-lengkan kepala.

"Di atas gunung masih ada gunung, di atas langit masih ada langit. Aku bukan jago nomor wahid dalam rimba persilatan."

"Ha ha ha"

Hiat Mo tertawa.

"Bagus Bagus Engkau masih mau merendahkan diri, itu sungguh bagus sekali"

"Kakak Han Liong,"

Tanya Ciu Lan Nio mendadak.

"Engkau akan langsung ke Kotaraja?"

"Tidak"

Thio Han Liong menggelengkan kepala.

"Aku masih harus berangkat ke Tibet."

"Mau apa engkau ke sana?"

Tanya Hiat Mo heran.

"Membuat perhitungan dengan sembilan Dhalai Lhama di sana,"

Jawab Thio Han Liong.

"Apa?"

Hiat Mo terperanjat.

"Engkau punya dendam pada Dhalai Lhama itu?"

"Ya."

Thio Han Liong mengangguk lalu menutur tentang para Dhalai Lhama itu melukai ayahnya. Hiat Mo manggut-manggut.

"Han Liong, sembilan Dhalai Lhama itu memiliki semacam ilmu istimewa, lagipula ketua Dhalai Lhama berkepandaian amat tinggi, maka engkau harus berhati-hati menghadapi mereka"

"Ya."

Thio Han Liong mengangguk "Bagaimana kelandaian ketua Dhalai Lhama dibandingkan dengan kepandaian Locianpwee?"

Tanyanya kemudian.

"Kepandaian ketua Dhalai Lhama lebih tinggi,"

Jawab Hiat Mo dengan jujur.

"Oleh karena itu, engkau harus berhati-hati menghadapi ketua Dhalai Lhama itu. Namun setahuku, ketua Dhalai Lhama amat adil dan bijaksana."

"Syukurlah"

Ucap Thio Han Liong.

"Maaf, aku mau pamit"

"Han Liong"

Hiat Mo memegang bahunya sambil tersenyum.

"Kapan engkau akan ke mari lagi?"

"Entahlah"

Thio Han Liong menggelengkan kepala.

"Mudah-mudahan kelak aku dapat ke mari mengunjungi Locianpwee, Adik Lan Nio dan saudara Kwan"

"Kakak Han Liong,"

Pesan ciu Lan Nio.

"Jangan lupa ajak An Lok Keng cu ke mari juga"

"Baik"

Thio Han Liong mengangguk "sampai jumpa"

Pemuda itu melesat pergi. Hiat Mo menghela nafas panjang sambil bergumam.

"Kalau aku berniat membunuhnya, nyawaku pasti melayang."

"Kakek..."

Ciu Lan Nio tercengang.

"Kok begitu? Aku sama sekali tidak mengerti."

"Kakek tadi menyerangnya dengan tujuh bagian Iweekang, maka cuma membuat kakek terpental dan muntah darah. Kalau kakek menyerangnya dengan sepenuh tenaga kini kakek pasti sudah tergeletak menjadi mayat."

"Kenapa bisa begitu?"

Ciu Lan Nio tetap tidak mengerti.

"Ternyata dia memiliki semacam ilmu yang dapat mengembalikan Iweekang lawan, dan sekaligus menyerang lawan itu pula."

Hiat Mo memberitahukan.

"Oooh"

Ciu Lan Nio manggut-manggut mengerti.

"Ternyata begitu..."

Bab 51 Im sie Cin Keng (Kitab Pusaka Alam Baka) Bagaimana nasib Kwee In Loan yang terjatuh ke dalam jurang?

Apakah ia akan mati dengan remuk seluruh tulangnya?

Ternyata wanita itu tidak mati, karena badannya menyangkut di pohon yang tumbuh di tebing.

Hanya saja kepalanya membentur dahan pohon itu, sehingga merusak urat syaraf yang di kepalanya.

Karena itu, ia jadi lupa akan semua kejadiannya, bahkan juga lupa dirinya sendiri Ketika siuman, ia tampak gembira sekali, berloncat-loncatan dipohon itu sambil tertawa cekikikan.

Tak disangka sama sekali, Kwee In Loan sudah tidak waras.

"Hi hi hi Aku bisa seperti monyet, loncat ke sana kemari Hi hi hi..."

Ujarnya sambil tertawa. Kemudian meloncat turun dan terbelalaki karena melihat sebuah gua.

"Asyiiik Ada gua, aku akan ke dalam untuk beristirahat"

Kwee In Loan memasuki gua itu.

Sungguh mengherankan, gua itu terang benderang.

Ternyata ada beberapa butir mutiara menempel di dinding gua.

Mutiara-mutiara itu memancarkan cahaya, sehingga membuat gua tersebut menjadi terang-benderang.

Kwee In Loan menengok ke sana ke mari.

Dilihatnya sebuah batu berbentuk segi empat berwarna hijau di tengahtengah gua, yang di atasnya terdapat sebuah botol kecil dan sebuah kitab tipis.

"Hi hi hi Ada makanan"

Didekatinya batu itu sambil memandang botol kecil tersebut, ternyata berisi belasan butir obat.

"Permen Hi hi hi..."

Diambilnya botol kecil itu, lalu dibukanya tutupnya dan langsung dituang ke dalam mulutnya.

"Eeeh?"

La terbelalak.

"Kok permen itu pahit rasanya? Tapi enak juga. Hi hi hi..."

La mengambil kitab itu, kemudian dibacanya dengan suara lantang, sehingga bergema di dalam gua.

"Im sie Cin Keng (Kitab Pusaka Alam Baka) Hi hi hi Ini pasti kitab dewa. Aku harus mempelajarinya agar diriku bisa menjadi dewi yang cantik Hi hi hi..."

Ternyata kitab pusaka itu berisi Im sie Hong Kang (Ilmu Tenaga Dalam Tidak Waras Alam Baka), Hong Loan Kian Hoat (Ilmu Pedang Kacau Balau) dan Hong Loan ciang Hoat (Ilmu Pukulan Kacau Balau).

siapa yang mempelajari kitab tersebut, maka pasti akan menjadi gila.

Namun kini Kwee In Loan memang sudah tidak waras, maka tidak sulit baginya mempelajari kitab itu.

Perlu diketahui, kitab Im sie Cin Keng sudah ratusan tahun lenyap dari rimba persilatan.

Bagi orang yang waras, tentunya tidak mau mempelajari kitab tersebut.

Akan tetapi, kini Kwee In Loan sudah tidak waras, gara-gara urat syarafnya telah rusak terbentur dahan, maka ia mempelajari kitab itu.

Obat ditelannya, ternyata adalah obat penambah Lwee kang.

seharusnya obat itu dimakan sehari, namun ditelannya semua sehingga membuat urat syaraf di kepalanya semakin rusak dan sudah barang tentu ia pun menjadi gila total.

Walau Kwee In Loan sudah gila total, tapi kepandaiannya justru terus meningkat.

"Hi hi hi"

La terus tertawa gembira.

"Kini aku adalah Im sie Pepo (Nenek Alam Baka), Im sie Popo yang cantik jelita Hi hi hi..." -ooo00000ooo-Setelah meninggalkan Kwan Gwa (Luar Perbatasan), Thio Han Liong kembali ke Tionggoan dan langsung menuju Tibet. Beberapa hari kemudian, ia sudah tiba di kota Cing shia dan mampir di sebuah rumah makan.

"Tuan mau pesan makanan dan minuman apa?"

Tanya seorang pelayan rumah makan itu dengan ramah.

Thio Han Liong memesan beberapa macam hidangan dan arak wangi.

Tak lama kemudian, pelayan itu sudah menyajikan apa yang dipesankan nya.

Mulailah Thio Han Liong bersantap.

Di saat itulah ia mendengar percakapan tamu lain, yang duduk di depannya.

"Pembesar Liu amat baik, adil dan bijaksana. Tapi... ia justru malah tertimpa kejadian itu."

"Aaah Kita tidak bisa berbuat apa-apa, begitu pula para pengawalnya. sungguh malang nasib Nona itu"

Thio Han Liong mengerutkan kening kelika mendengar percakapan itu. la lalu bangkit dari tempat duduknya dan mendekati tamu-tamu itu.

"Maaf,"

Ucapnya sambil tersenyum.

"Aku mengganggu Paman sekalian"

"Anak muda...."

Salah seorang tamu memandangnya.

"Silakan duduk"

"Terima kasih,"

Ucap Thio Han Liong lalu duduki "Anak muda, apa yang dapat kami bantu?"

"Aku tertarik akan percakapan tadi, maka aku ingin tahu apa yang terjadi di kota ini."

"Oooh"

Salah seorang tamu itu manggut-manggut dan menutur.

"Beberapa hari yang lalu, kota ini didatangi beberapa perampok yang berkepandaian tinggi, langsung ke rumah pembesar Liu. Para pengawal pembesar Liu berusaha menahan perampok-perampok itu, namun malah dirobohkan secara mudah sekali. Beberapa perampok itu menemui pembesar Liu dan memberitahukan bahwa dalam waktu beberapa hari, pemimpin mereka akan datang menjemput putri pembesar Liu. Apabila pembesar Liu berani menolak maka para perampok itu akan membantai keluarga Pembesar Liu berikut para penduduk kota."

"Oooh"

Thio Han Liong manggut-manggut.

"Kapan para perampok itu akan datang menjemput Nona Liu?"

Tanyanya.

"Kalau tidak salah esok."

"Paman,"

Tanya Thio Han Liong.

"Di mana tempat tinggal pembesar Liu?"

Salah seorang tamu memberitahukan.

Thio Han Liong segera berpamit dan langsung menuju rumah pembesar Liu.

Tampak beberapa pengawal menjaga di depan rumah pembesar itu.

Thio Han Liong menghampiri mereka.

"Maaf, aku ingin bertemu pembesar Liu"

Ujarnya.

"Oh?"

Pengawal itu menatapnya.

"Siapa engkau dan ada urusan apa ingin bertemu pembesar Liu?"

"Namaku Thio Han Liong. Aku ingin bertemu pembesar Liu karena ada urusan penting."

"Tapi...."

Pengawal itu menggeleng-gelengkan kepala.

"Pembesar Liu tidak mau bertemu siapa pun, karena beliau sedang menghadapi suatu masalah."

"Aku ingin bertemu beliau justru berniat membantunya memecahkan masalah itu. Cepat antar aku menemui beliau"

Desak Thio Han Liong.

"Tapi...."

"Kalau kalian tidak mau mengantarku, aku akan masuk sendiri"

"Engkau...."

"Hm"

Dengus Thio Han Liong.

"Kalian semua adalah gentong nasi, cuma gagah-gagahan saja"

Thio Han Liong melangkah ke dalam.

Namun salah seorang pengawal segera menahannya.

Mendadak Thio Han Liong mengibaskan tangannya, seketika juga pengawal itu terpentai beberapa depa dan jatuh gedebuk dengan wajah meringis.

"Dia... dia adalah kawan perampok itu, cepat beritahukan kepada Tayjin"

Seru pengawal yang terpental itu.

Dua pengawal langsung berlari ke dalam, sedangkan Thio Han Liong melangkah santai di halaman itu.

Ketika sampai di depan pintu rumah tersebut, ia melihat seorang lelaki berusia lima puluhan berhambur ke luar dengan wajah pucat pias.

Ke dua pengawal yang berjalan di sisinya menunjuk Thio Han Liong seraya berbisik.

"Tayjin, pemuda itu kawan para perampok."

Pembesar Liu memandang Thio Han Liong dan terbelalak. Pemuda itu begitu tampan dan tampak lemah lembut, bagaimana mungkin dia kawan para perampok? Pembesar Liu bertanya dalam hati.

"Maaf, aku telah mengganggu ketenangan Tayjin"

Ucap Thio Han Liong.

"Siapa engkau?"

Tanya pembesar Liu.

"Namaku Thio Han Liong."

"Ada urusan apa engkau ke mari menemuiku?"

"Tayjin, aku bukan penduduk kota ini. Kebetulan tiba di kota ini maka aku mampir di rumah makan. Aku mendengar percakapan para tamu yang makan di sana, bahwa ada suatu kejadian menimpa keluarga Tayjin. itulah yang menyebabkan aku ke mari."

"Oh?"

Pembesar Liu menatapnya dalam-dalam.

"Jadi engkau bukan kawan perampok itu?"

"Bukan."

Thio Han Liong menggelengkan kepala.

"Karena aku tidak diperbolehkan masuk menemui Tayjin, maka aku menerobos ke dalam, sehingga menimbulkan kesalahpahaman itu. Mohon Tayjin sudi memaafkan aku"

"Ha ha"

Liu Tayjin tertawa.

"Anak muda, silakan masuk"

"Terima kasih."

Thio Han Liong masuk ke dalam rumah.

"Silakan duduk"

Ujar pembesar Liu.

Thio Han Liong segera duduk dan seorang pelayan wanita langsung menyuguhkan teh.

Di saat menaruh minuman ke atas meja, pelayan wanita itu melirik ke arah Thio Han Liong.

setelah itu, barulah ia meninggalkan ruang depan menuju kamar putri pembesar Liu.

"Nona Nona"

Panggilnya.

"Masuklah Pintu tidak dikunci"

Sahut seorang gadis dari dalam. Pelayan wanita itu mendorong daun pintu kamar, lalu melangkah ke dalam mendekati Nona Liu, yang sedang duduk dipinggir tempat tidur dengan murung sekali.

"Nona, ada seorang pemuda ke mari."

"Biarkan saja."

"Pemuda itu tampan sekali dan gerak-geriknya pun halus."

Pelayan wanita itu memberitahukan.

"Dia ke mari karena mendengar tentang para perampok itu. sekarang ia sedang bercakap-cakap dengan Tayjin."

"Oh?"

Nona Liu terbelalak..

"Siapa pemuda itu?"

"Entahlah."

Pelayan wanita itu menggelengkan kepala. Sementara di ruang depan, Thio Han Liong dan pembesar Liu sedang bercakap-cakap dengan serius sekali.

"Ternyata beberapa perampok itu diutus oleh pemimpin mereka untuk melamar putriku secara paksa,"

Ujar pembesar Liu memberitahukan sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Besok pemimpin perampok dan para anak buahnya akan ke mari. Kalau aku menolak, mereka akan membantai seluruh keluargaku dan seluruh penduduk kota ini. Nah, apa yang dapat kuperbuat? Bukankah aku harus menyerahkan putriku kepada pemimpin perampok itu?"

"Aku harap Tayjin tenang, itu pasti tidak akan terjadi"

Ujar Thio Han Liong dengan sungguh-sungguh.

"Aku mampu membasmi pemimpin perampok itu dan para anak buahnya."

"Anak muda...."

Pembesar Liu menggeleng-gelengkan kepala.

"Para pengawalku sama sekali tidak berdaya, apalagi engkau? Aaaah.."

Tiba-tiba muncul Nona Liu. Apa yang diceritakan pelayan wanita itu membuat hatinya tertarik, maka gadis itu memberanikan diri untuk ke luar.

"Tin cu...."

Pembesar Liu mengerutkan kening.

"Kenapa engkau keluar?"

"Ayah...."

Liu Tin cu menundukkan kepala. Namun ia telah melihat Thio Han Liong, dan itu membuat hatinya berdebardebar aneh. la tidak menyangka pemuda itu begitu tampan.

"Ayoh cepat masuk"

Bentak pembesar Liu.

"Ayah..."

"Tayjin, biarlah dia duduk di sini, aku ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepadanya"

Ujar Thio Han Liong. Pembesar Liu tampak tidak senang.

"Dia adalah putri seorang pembesar, sedangkan engkau... aku masih belum tahu identitasmu. Karena itu, tidak kuperbolehkan putriku duduk di sini."

Thio Han Liong tersenyum.

"Aku ke mari justru ingin menyelamatkannya, tapi Tayjin... kalau begitu, Tayjin harus punya menantu pemimpin perampok itu."

"Kurang ajar"

Bukan main gusarnya pembesar Liu.

"Pengawal"

Para pengawal pembesar Liu langsung muncul menghadap pembesar itu. Mereka memberi hormat seraya bertanya.

"Ada perintah apa, Tayjin?"

"Tangkap pemuda itu"

Sahut pembesar Liu.

"Apa?"

Para pengawal terbelalak.

"Cepat tangkap dia"

Bentak pembesar Liu.

"Tapi...."

Para pengawal tetap berdiri di tempat, tiada seorang pun yang berani mendekati Thio Han Liong.

"Tayjin"

Thio Han Liong tersenyum.

"Mereka semua adalah gentong nasi. Kalau menangkap maling biasa, mereka masih bisa. Tapi kalau menghadapi para perampok, mereka sama sekali tiada gunanya. Apalagi menghadapi aku, lebih tak berguna lagi."

Thio Han Liong bangkit dari tempat duduknya lalu menghampiri para pengawal itu dan mendadak mengibaskan ke dua tangannya.

seketika terdengar suara menderu-deru, dan para pengawal itu terpental tujuh delapan depa.

"Haaah?"

Betapa terkejutnya pembesar Liu, begitu pula putrinya.

"Tayjin"

Ucap Thio Han Liong sambil memberi hormat.

"Aku mohon pamit"

"Siauhiap. tunggu"

Seru pembesar Liu.

"Maafkan kekasaranku tadi, sudilah kiranya siauhiap menyelamatkan putriku"

"Tayjin...."

Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala.

"Aku dengar Tayjin amat adil dan bijaksana, maka timbullah niatku untuk menyelamatkan putri Tayjin. Kalau Tayjin selalu berbuat sewenang-wenang dan korup, tentunya aku tidak mau turut campur mengenai urusan itu"

"Siauhiap. silakan duduk kembali"

Ucap Liu Tayjin.

"Tin cu, engkau pun boleh duduk di sini."

"Terima kasih, Ayah"

Ucap Liu Tin cu sambil duduk dengan kepala tertunduk. Thio Han Liong tersenyum, lalu duduk sambil memberi hormat kepada Liu Tin cu.

"Maaf Nona Liu, bolehkah aku mengajukan beberapa pertanyaan?"

"Silakan, siauhiap"

"Pernahkah Nona Liu bertemu pemimpin perampok itu?"

"Tidak pernah."

"Kalau begitu...."

Thio Han Liong mengerutkan kening.

"Kenapa pemimpin perampok itu tahu tentang Nona Liu?"

"Semula aku pun merasa heran, tapi setelah kupikir lebih mendalam, maka aku berkesimpulan, bahwa pemimpin perampok itu pasti pernah menyamar memasuki kota ini, dan mendengar tentang diriku."

"Ngmm"

Thio Han Liong manggut-manggut.

"Tidak salah memang begitu."

"Han Liong"

Pembesar Liu memandangnya seraya bertanya.

"Cara bagaimana engkau menghadapi para perampok itu?"

"Dalam hal ini aku harap Tayjin tenang saja,"

Sahut Thio Han Liong.

"Pokoknya aku dapat membasmi mereka."

"Kalau begitu...."

Pembesar Liu manggut-manggut.

"Sebelumnya aku mengucapkan terima kasih kepadamu."

"Tayjin tidak usah mengucapkan terima kasih."

Thio Han Liong tersenyum.

"Yang penting Tayjin menjalankan tugas sebagaimana mestinya, tentu akan mendapat penghargaan dari istana."

"Selama ini, aku sama sekali tidak pernah menyalah gunakan jabatanku. Aku selalu bertindak seadil-adilnya dengan penuh kebijaksanaan. Namun walau demikian, aku tidak mengharapkan penghargaan apa pun dari istana."

"Bagus, bagus"

Thio Han Liong tersenyum.

"Oh ya"

Pembesar Liu menatapnya dalam-dalam seraya bertanya.

"Bolehkah aku tahu engkau berasal dari mana?"

"Aku berasal dari Pak Hai, kami tinggal di sebuah pulau,"jawab Thio Han Liong dengan jujur.

"Kalau begitu.."

Ujar pembesar Liu.

"Tentu engkau berasal dari keluarga pesilat. Ya, kan?"

"Ya."

Thio Han Liong mengangguk "Ngmmm"

Pembesar Liu manggut-manggut.

"Han Liong, malam ini engkau menginap di sini saja"

"Apakah tidak akan merepotkan Tayjin?"

Tanya Thio Han Liong.

"Tentu tidak."

Pembesar Liu tertawa, lalu menyuruh seorang pelayan lelaki mengantar Thio Han Liong ke kamar tamu.

Setelah Thio Han Liong masuk ke dalam bersama pelayan lelaki itu, pembesar Liu menatap putrinya dalam-dalam seraya bertanya.

"Tin cu, engkau tertarik kepada pemuda itu?"

"Ayah...."

Wajah gadis itu langsung memerah.

"Aaah..."

Pembesar Liu menghela nafas panjang.

"Ayah tahu engkau tertarik kepadanya, tapi kita sama sekali tidak tahu jati dirinya...."

"Ayah"

Ujar Liu Tin cu sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Aku memang tertarik kepadanya, namun belum tentu dia akan tertarik kepadaku. Maka Ayah tidak perlu mencemaskan itu, aku yakin dia pasti pergi setelah menyelamatkan diriku."

"Kok engkau yakin itu?"

"Aaaah..."

Liu Tin cu menghela nafas panjang.

"Dia begitu tampan dan lemah lembut, lagipula dia adalah pendekar muda yang gagah perkasa, tentu akan terus berkelana...."

Pembesar Liu mengerutkan kening.

"Begitu banyak kaum pemuda dari keluarga terkenal, tapi kenapa engkau selalu menolak lamaran mereka?"

"Aku tidak tertarik pada mereka, maka aku tolak lamaran mereka,"

Sahut Liu Tin cu. Liu Tayjin menggeleng-gelengkan kepala.

"Usiamu sudah dua puluh, tidak kecil lagi lho"

"Ayah..."

Liu Tin cu menghela nafas panjang.

"Aku belum bertemu pemuda idaman hati, maka...."

"Engkau jatuh hati kepada Thio Han Liong?"

Tanya pembesar Liu mendadak sambil menatap putrinya dengan tajam sekali.

"Aku...."

Liu Tin cu menundukkan kepala, kemudian kembali ke kamarnya.

"Aaah..."

Pembesar Liu menghela nafas panjang.

sesungguhnya ia pun menyukai pemuda tampan dan lemah lembut itu, namun ia menghendaki putrinya menikah dengan pemuda dari keluarga hartawan atau berpangkat.

-ooo00000ooo-Pagi itu Thio Han Liong dan pembesar Liu bercakap-cakap di ruang depan, Liu Tin cu juga hadir di situ.

"Tayjin tidak usah cemas,"

Ujar Thio Han Liong sambil tersenyum.

"Percayalah, aku pasti bisa membasmi para perampok itu"

Pembesar Liu menghela nafas panjang.

"Apabila engkau tidak bisa membasmi mereka, tentu mereka akan membasmi kita dan para penduduk kota ini."

"Oleh karena itu, aku tidak mau melakukan suatu tindakan yang ragu."

Tegas Thio Han Liong. Pembesar Liu menatapnya seraya bertanya.

"Apabila engkau dapat membasmi para perampok itu, aku pasti menghadiahkanmu lima ratus tael perak."

"Maaf, aku tidak membutuhkan uang"

Ujar Thio Han Liong.

"Oh?"

Pembesar Liu mengerutkan kening.

"Lalu apa syaratmu?"

"Tidak ada syarat apa pun,"

Sahut Thio Han Liong.

"Tidak ada syarat apa pun?"

Pembesar Liu kelihatan tidak percaya, kemudian bertanya dengan suara rendah "Han Liong, apakah engkau jatuh hati kepada putriku?"

Thio Han Liong tersenyum, lalu memandang pembesar Liu sambil menjawab.

"Putri Tayjin memang cantik jelita, namun aku tidak berani sembarangan jatuh hati kepadanya, sebab dia putri Tayjin."

"Han Liong...."

Ketika pembesar Liu mau mengatakan sesuatu, mendadak seorang pengawal berlari ke dalam dengan wajah pucat pias.

"Tayjin Para perampok itu sudah datang"

"Aaah..."

Pembesar Liu langsung bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan mondar-mandir di situ.

sementara Liu Tin cu malah tampak tenang sekali dan terus memandang Thio Han Liong.

Tak lama kemudian terdengarlah suara derap kaki kuda.

Pembesar Liu berdiri mematung, sedangkan Thio Han Liong hanya tersenyum-senyum.

"Nona Liu,"

Ujarnya sambil memandang gadis itu "Pemimpin perampok itu sudah datang, tapi engkau masih tampak begitu tenang?"

"Sebab aku yakin engkau pasti dapat membasmi mereka,"

Sahut Liu Tin cu dengan tersenyum. Thio Han Liong tertawa.

"Kalau begitu, mari ikut aku ke luar"

"Baik,"

Liu Tin cu mengangguk.

"Tin cu"

Cegah pembesar Liu.

"Engkau tidak boleh ke luar"

"Ayah aku di dalam atau di luar sama saja. Ya, kan?"

Sahut Liu Tin cu.

"Aku ingin ke depan menyaksikan Thio siauhiap membasmi para perampok itu."

"Engkau...."

Pembesar Liu menghela nafas panjang.

"Baiklah. Mari kita keluar bersama"

Thio Han Liong berjalan duluan, Pembesar Liu dan putrinya mengikutinya dari belakang.

setelah melewati pekarangan, sampailah mereka di pintu pagar.

Tampak seorang lelaki berewok berusia empat puluhan berdiri di situ dan puluhan anak buahnya berdiri di belakangnya.

"Ha ha ha"

Lelaki berewok itu tertawa gelak "Liu Tayjin, terimalah hormat dari menantumu ini"

"Hmm"

Dengus Thio Han Liong.

"Engkau adalah pemimpin perampoki kok berani mengaku sebagai menantu pembesar Liu?"

"Anak muda"

Pemimpin perampok itu kelihatan gusar sekali.

"Kalau aku tidak memandang muka pembesar Liu, engkau pasti sudah tergeletak menjadi mayat"

"Oh, ya?"

Thio Han Liong tersenyum dingin. sedangkan pemimpin perampok itu memandang Liu Tin cu, lalu tertawa berbahak-bahak.

"Nona Liu, engkau memang cantik jelita Ha ha ha sungguh beruntung aku mempersunting mu"

"Tertawalah sepuas-puasnya"

Ujar Thio Han Liong.

"Sebentar lagi ajalmu pasti tiba"

"Anak muda"

Bentak pemimpin perampok.

"Engkau betulbetul mau cari mampus barangkali"

"Engkau yang cari mampus"

Sahut Thio Han Liong sambil melangkah maju beberapa tindak. Pemimpin perampok itu menatapnya dengan mata berapiapi, kemudian berseru memberi aba-aba kepada para anak buahnya.

"Cincang pemuda itu"

Seketika juga para anak buah pemimpin perampok itu menyerang Thio Han Liong dengan berbagai macam senjata.

"Kalian memang cari mati"

Ujar Thio Han Liong sambil mengibaskan ke dua tangannya. Terdengarlah suaranya menderu-deru, lalu disusul pula dengan suara jeritan.

"Aaaakh Aaaakh.."

Tampak beberapa perampok terpental lalu roboh dengan mulut mengeluarkan darah, dan nyawa mereka pun putus seketika.

Di saat bersamaan, mendadak badan Thio Han Liong bergerak laksana kilat berkelebat ke sana ke mari, dan di saat itu pula terdengar suara jeritan.

"Aaaakh Aaaaakh Aaaaakh..."

Para perampok itu telah terkapar semuanya dengan mulut mengeluarkan darah. Ternyata mereka sudah binasa.

"Haah...?"

Wajah pemimpin perampok pucat pias.

"Siauhiap. ampunilah aku"

"Hmm"

Dengus Thio Han Liong lalu mendadak mengibaskan tangannya.

"Aaaakh"

Pemimpin perampok itu terpental beberapa depa, kemudian jatuh dengan mulut menyemburkan darah segar.

"Engkau... engkau...."

Pemimpin perampok itu tak bergerak lagi, ternyata sudah binasa. Thio Han Liong membalikkan badannya, lalu memandang pembesar Liu seraya berkata.

"Tayjin, suruh para pengawal mengubur mayat-mayat itu"

"Ya, ya."

Pembesar Liu mengangguk lalu segera menyuruh para pengawalnya menguburkan mayat-mayat tersebut.

"Nona Liu,"

Ujar Thio Han Liong.

"Kini sudah keadaan aman, maka aku mau mohon pamit."

"Kok begitu cepat?"

Liu Tin cu tampak kecewa sekali. Thio Han Liong tersenyum.

"Kalau aku kelamaan di sini, ayahmu pasti tidak senang."

"Jangan berkata begitu, Thio siauhiap"

Liu Tin cu menggeleng-gelengkan kepala.

"Ayahku...."

Thio Han Liong memandangnya.

"Engkau harus menurut kepada ayahmu, sesungguhnya dia bermaksud baik..."

"Bermaksud baik?"

Liu Tin cu tercengang.

"Ayahmu menghendakimu menikah dengan pemuda dari keluarga yang kaya raya atau dari keluarga yang berpangkat,"

Ujar Thio Han Liong.

"Oleh karena itu, engkau harus menurut kata-kata ayahmu"

"Thio siauhiap...."

Liu Tin cu terbelalak. gadis itu tidak menyangka Thio Han Liong tahu akan hal itu. Thio Han Liong tersenyum lembut.

"Mudah-mudahan kita akan berjumpa lagi kelak"

"Thio siauhiap...."

Mata Liu Tin cu mulai membasah.

"Tayjin"

Thio Han Liong memberi hormat. Di saat itulah ia memperlihatkan Medali Emas Tanda Perintah Kaisar.

"Aku mohon pamit"

"Selamat jalan...."

Mendadak pembesar Liu terbelalak lalu segera berlutut di hadapan Thio Han Liong.

"Hamba memberi hormat kepada Yang Mulia...."

Di saat bersamaan, Thio Han Liong melesat pergi dan itu membuat Liu Tin cu berteriak-teriak "Thio siauhiap Thio siauhiap..."

Akan tetapi, Thio Han Liong sudah tidak kelihatan. Liu Tin cu lalu mendekati ayahnya yang masih berlutut.

"Ayah...."

"Cepat berlutut"

Sahut pembesar Liu.

"Cepaat"

"Ayah Thio siauhiap sudah pergi."

"Apa?"

Pembesar Liu mendongakkan kepalanya, lalu bangkit berdiri dengan wajah pucat pias.

"Kenapa Ayah barusan berlutut di hadapan Thio siauhiap?"

Tanya Liu Tin cu heran.

"Aaaah.."

Pembesar Liu menghela nafas panjang.

"Ayah sudah buta...."

"Lho? Kenapa?"

"Tak disangka sama sekali, ternyata dia wakil kaisar."

Pembesar Liu memberitahukan.

"Ketika dia memberi hormat kepada ayah dia pun memperlihatkan Tanda Perintah Kaisar."

"Apa?"

Liu Tin cu terbelalak.

"Thio siauhiap wakil kaisar?"

"Ya."

Pembesar Liu mengangguk "Sayang sekali dia begitu cepat pergi, kalau tidak..."

"Ayah"

Liu Tin cu menggeleng-gelengkan kepala.

"Dia tidak jatuh hati kepadaku, karena tadi dia menasihatiku agar menurut kata-kata Ayah."

"Aaaah.."

Pembesar Liu menghela nafas panjang.

"Sulit ketemu pemuda seperti dia lagi"

Setelah meninggalkan rumah pembesar Liu, Thio Han Liong terus melanjutkan perjalanannya menuju Tibet.

Sepuluh hari kemudian, ia sudah memasuki daerah itu.

Tidak sulit baginya mencari kuil Agung, sebab penduduk setempat tahu semua.

Maka, ia langsung menuju kuil tersebut, dan di sana di sambut oleh seorang Dhalai Lhama.

"Maaf, Tuan ke mari mau bertemu siapa?"

Ucap Dhalai Lhama itu.

"Aku mau bertemu sembilan Dhalai Lhama,"

Sahut Thio Han Liong. Dhalai Lhama itu terbelalak.

"Tapi... sembilan Dhalai Lhama tidak akan bertemu siapa pun...."

"Katakan kepada mereka, bahwa aku Thio Han Liong, putra Thio Bu Ki ke mari mencari mereka"

Ujar Thio Han Liong dingini Dhalai Lhama itu tampak terkejut "Tuan tunggu sebentar, aku akan melapor"

"Terima kasih."

Thio Han Liong menunggu di luar kuil. Berselang beberapa saat kemudian, Dhalai Lhama itu telah kembali dan mempersilakan Thio Han Liong masuki "Mari ikut aku ke dalam"

Thio Han Liong mengangguk lalu mengikuti Dhalai Lhama itu ke ruang depan. sesampai di ruang depan Dhalai Lhama itu mempersilakan nya duduk "Terima kasih,"

Ucap Thio Han Liong sambil duduki Tak lama kemudian, muncullah seorang Dhalai Lhama tua, yang jenggotnya panjang putih dan mengkilap.

Thio Han Liong segera bangkit dari tempat duduknya, sekaligus memberi hormat sambil menatap Dhalai Lhama tua itu.

"Anak muda, mau apa engkau ke mari cari para muridku?"

Tanya Dhalai Lhama tua. Bukan main terkejutnya Thio Han Liong, ternyata Dhalai Lama tua itu ketua para Dhalai Lhama di kuil Agung, juga guru sembilan Dhalai Lhama tersebut.

"Dhalai Lhama tua,"

Sahutnya.

"Aku ke mari ingin membuat perhitungan dengan sembilan Dhalai Lhama itu."

Dhalai Lhama tua itu mengerutkan kening.

"Silakan duduk"

Ujarnya.

"Terima kasih."

Ucap Thio Han Liong lalu duduk kembali.

"Anak muda"

Dhalai Lhama tua menatapnya tajam.

"Ada permusuhan apa engkau dengan para muridku?"

"Belasan tahun lalu, sembilan Dhalai Lhama itu menyerbu ke tempat tinggal kami. Mereka membunuh bibi, melukai dan merusak wajah ke dua orangtuaku."

Thio Han Liong memberitahukan.

"Oh?"

Wajah Dhalai Lhama tua tampak berubah.

"Belasan tahun lalu, Lie Wie Kiong, pemimpin pengawal istana ke mari mengundang mereka ke istana. Tapi... aku sama sekali tidak tahu akan kejadian penyerbuan itu."

"Itu memang benar."

Thio Han Liong memberitahukan lagi.

"Bahkan mereka pun menangkapku, namun aku berhasil meloloskan diri"

"Oh?"

Dhalai Lhama tua itu segera menyuruh salah seorang Dhalai Lhama muda untuk memanggil para Dhalai Lhama yang dimaksud.

Dhalai Lhama muda itu mengangguk dan segera masuk ke dalam.

Berselang beberapa saat kemudian, Dhalai Lhama muda itu sudah kembali bersama sembilan Dhalai Lhama.

Walau mereka sudah agak tua, Thio Han Liong masih mengenali mereka.

Namun sebaliknya mereka sudah tidak mengenalinya lagi.

"Guru,"

Tanya salah seorang Dhalai Lhama itu.

"Ada urusan apa Guru memanggil kami?"

"Betulkah belasan tahun lalu kalian menyerbu ke tempat tinggal pemuda itu?"

Tanya Dhalai Lhama tua sambil menunjuk Thio Han Liong.

"Guru...."

Dhalai Lhama itu mengerutkan kening, lalu bertanya kepada Thio Han Liong.

"Anak muda, siapa engkau?"

"Kalian sudah lupa? Aku adalah Thio Han Liong, putra Thio Bu Ki. Kalian telah membunuh bibiku, bahkan juga telah melukai sekaligus membuat wajah ke dua orangtuaku menjadi rusak"

Sahut Thio Han Liong dingini "Maka aku ke mari ingin membuat perhitungan dengan kalian"

"Engkau...."

Sembilan Dhalai Lhama itu terbelalak.

"Benar kejadian itu?"

Tanya Dhalai Lhama tua sambil menatap mereka dengan tajam sekali.

"Ya, Guru."

Sembilan Dhalai Lhama itu mengangguk.

"Kalian telah mencemarkan nama baik Dhalai Lhama Tibet, karena itu, kalian harus bertanggungjawab atas perbuatan kalian itu"

Tegas Dhalai Lhama tua dan menambahkan.

"Hukuman kalian adalah memusnahkan kepandaian kalian"

"Guru...."

Sembilan Dhalai Lhama itu segera berlutut di hadapan Dhalai Lhama tua.

"Guru Guru...."

"Kalian yang berbuat, maka kalian pula yang harus bertanggungjawab"

Ujar Dhalai Lhama tua.

"Dhalai Lhama tua,"

Ujar Thio Han Liong.

"Terima-kasih atas kebijaksanaan Dhalai Lhama tua. Aku ke mari ingin bertanding dengan mereka, maka aku mohon agar Dhalai Lhama tua jangan memusnahkan kepandaian mereka"

"Oh?"

Dhalai Lhama tua itu menatapnya tajam.

"Engkau ingin bertanding dengan mereka?"

"Ya."

Thio Han Liong mengangguk "Itu...."

Dhalai Lhama tua berpikir lama sekali, setelah itu barulah manggut-manggut.

"Baiklah! Mari kita ke halaman depan"

Thio Han Liong mengangguk Mereka lalu ke halaman depan yang amat luas itu. Di saat itulah Dhalai Lhama tua berbisik kepada para muridnya.

"Kalian tidak boleh melukainya"

"Ya, Guru."

Para Dhalai Lhama itu mengangguk Sampai di halaman, sembilan Dhalai Lhama itu berdiri di hadapan Thio Han Liong dan memandangnya dalam-dalam.

"Belasan tahun lalu, kalian melukai ayahku dengan ilmu le Kang Tui Tik (Memindahkan Iweekang Menggempur Musuh), dan juga menyerang ayahku dengan Liak Hwee Tan. Nah, aku ingin mencoba ilmu le Kang Tui Tik dan Liak Hwee Tan tersebut"

"Anak muda...."

Salah seorang Dhalai Lhama itu menggeleng-gelengkan kemala.

"Kami menyesal sekali...."

"Menyesal sekali?"

Thio Han Liong tersenyum dingin "Hati-hati Aku mau mulai menyerang"

"Silakan"

Sahut Dhalai Lhama itu Sementara Dhalai Lhama tua terus memperhatikan gerakgerik Thio Han Liong, lalu manggut-manggut.

Di saat bersamaan, Thio Han Liong bersiul panjang sekaligus mulai menyerang para Dhalai Lhama itu dengan ilmu siauw Lim Liong Jiauw Kang.

setelah berlatih di dasar telaga, ilmu tersebut pun bertambah dahsyat dan lihay.

Salah seorang Dhalai Lhama menangkis serangan itu, namun terpental beberapa depa.

Betapa terkejutnya Dhalai Lhama lain, begitu pula dengan Dhalai Lhama tua yang menonton pertandingan itu.

Sembilan Dhalai Lhama itu tidak dapat menangkis serangan-serangan yang dilancarkan Thio Han Liong, akhirnya mereka terpaksa membentuk suatu barisan.

Di saat mereka membentuk barisan, Thio Han Liong mengerahkan Kian Kun Taylo sin Kang.

Mendadak Dhalai Lhama yang paling depan membentak keras, lalu melancarkan serangan.

Thio Han Liong segera berkelit.

Ternyata ia belum mau menyambut Iweekang gabungan sembilan Dhalai Lhama itu.

setelah berkelit, ia bergerak cepat melesat ke belakang barisan itu, maksudnya ingin menyerang Dhalai Lhama yang paling belakang.

Akan tetapi, di saat bersamaan barisan itu berbalik Dhalai Lhama yang berdiri paling belakang kini berubah menjadi paling depan, bahkan sekaligus menyerang Thio Han Liong.

Pemuda itu tidak sempat lagi berkelit, maka terpaksa menyambut serangan itu.

setelah itu, terdengarlah suara benturan yang amat dahsyat.

Blaaam...

Thio Han Liong terpental beberapa depa.

Pada waktu itulah tiga Dhalai Lhama yang di belakang juga terpental beberapa depa dengan mengeluarkan darah segar.

Kini barisan itu tinggal tersisa enam orang.

Dapat dibayangkan betapa terkejutnya Dhalai Lhama itu.

"Lap Han CoanTe (Enam Bersatu Memutarkan Bumi)"

Seru Dhalai Lhama yang paling depan.

Mendadak Dhalai Lhama yang di belakang meloncat ke atas lalu berdiri di bahu Dhalai Lhama itu, begitu pula Dhalai Lhama yang lain.

setelah itu, mereka pun langsung menyerang ke arah Thio Han Liong.

Pemuda itu tidak berkelit, melainkan menyambut serangan mereka dengan jurus Kian Kun Taylo Hap It (segala galanya Menyatu Di Alam semesta).

Daaar...

Terdengar suara ledakan dahsyat yang memekakkan telinga.

Thio Han Liong terpental beberapa depa, sedangkan enam Dhalai Lhama itu terpental tujuh delapan depa, kemudian roboh dengan mulut mengeluarkan darah.

Wajah Thio Han Liong tampak pucat pias.

la menarik nafas dalam-dalam untuk mengatur pernafasannya dan menekan pergolakan darahnya.

Beberapa saat kemudian, barulah wajahnya normal kembali.

Dhalai Lhama tua itu mendekatinya.

"Engkau telah menghukum mereka, maka kini urusan kalian sudah selesai."

"Dhalai Lhama tua,"

Ucap Thio Han Liong.

"Terima kasih atas kebijaksanaanmu."

Dhalai Lhama tua menatapnya tajam.

"Engkau masih begitu muda, namun... Iweekangmu begitu tinggi. Itu.. sungguh tak masuk akal. Apakah engkau pernah makan semacam buah yang dapat menambah Iweekangmu?"

"Ya."

Thio Han Liong mengangguk "Aku pernah makan buah soatsan Ling che, kemudian aku pun memperoleh petunjuk dari Bu Beng sian su."

"Oooh"

Dhalai Lhama tua manggut-manggut.

"Anak muda, engkau sungguh beruntung"

"Dhalai Lhama tua, aku mohon engkau jangan memusnahkan kepandaian mereka"

Ujar Thio Han Liong.

"Aku mau mohon pamit"

"Baiklah."

Dhalai Lhama tua mengangguk "Selamat jalan, anak muda"

"Sampai jumpa, Dhalai Lhama tua"

Thio Han Liong memberi hormat, lalu melesat pergi.

Dhalai Lhama tua manggut-manggut, setelah itu barulah mendekati para muridnya yang terkapar itu Bab 52 Dewi Kecapi Thio Han Liong kembali ke Tionggoan dengan hati riang gembira, karena ia telah berhasil membuat perhitungan dengan para Dhalai Lhama itu.

Kini ia telah memasuki daerah Tionggoan.

Ketika ia memasuki sebuah rimba, sayup,sayup terdengar alunan suara kecapi yang amat menggetarkan hati.

suara kecapi itu membuatnya tertarik, maka ia melesat ke arah suara itu.

Tampak seorang gadis berpakaian aneh duduk di bawah pohon.

Bukan main cantiknya gadis itu, dari berpakaiannya sudah dapat diduga bahwa dia bukan gadis Tionggoan, melainkan entah gadis dari suku apa.

Suara kecapi itu memang merdu, namun bernada agak sedih.

Karena tertarik, sehingga tanpa sadar Thio Han Liong mengeluarkan lonceng saktinya, sekaligus membunyikannya mengikuti irama suara kecapi.

Maka terjadilah perpaduan suara lonceng dengan suara kecapi.

Gadis itu tersentak lalu perlahan-lahan mendongakkan kepalanya.

Ketika melihat seorang pemuda tampan duduk tak jauh dari tempatnya, wajahnya langsung berubah kemerahmerahan.

Berselang beberapa saat kemudian, barulah gadis itu berhenti memainkan kecapinya.

Thio Han Liong pun berhenti membunyikan loncengnya, lalu memandang gadis itu.

Kebetulan gadis itu pun sedang memandangnya, sehingga mereka berdua beradu pandang.

Thio Han Liong tersenyum lembut, membuat hati gadis itu berdebar-debar aneh, maka cepat-cepat ia menundukkan kepalanya.

"Maaf, aku telah mengganggu Nona"

Ujar Thio Han Liong.

"Tidak apa-apa,"

Sahut gadis itu lalu bertanya.

"Bolehkah aku tahu siapa saudara?"

"Namaku Thio Han Liong. Karena tertarik akan suara kecapimu, maka aku ke mari. Nona siapa? Kenapa berada di rimba seorang diri?"

"Aku Dewi Kecapi, Putri suku Hui."

"Putri suku Hui?"

Thio Han Liong terbelalak.

"Tapi... kenapa berada di sini?"

"Aku baru memasuki Tionggoan."

Dewi Kecapi memberitahukan.

"Aku sedang mencari seseorang."

"Engkau sedang mencari siap "

"Bu Sim Hoatsu."

"Bu sim Hoatsu?"

"Engkau kenal dia?"

"Maaf, aku tidak pernah mendengar nama orang tersebut,"

Sahut Thio Han Liong.

"Dewi Kecapi, ada urusan apa engkau mencarinya?"

"Dia pembunuh ke dua orangtuaku."

Dewi Kecapi memberitahukan.

"Kira-kira dua puluh tahun yang lalu, Bu sim Hoatsu adalah kawan baik ayahku. Akan tetapi secara tidak sengaja ayahku memperoleh sebuah kitab pusaka, karena itu, timbullah niat jahat dalam hati Bu sim Hoatsu. Dia meracuni ayahku dan membunuh ibuku, untung pamanku cepat-cepat muncul menolongku, kalau tidak aku pun pasti mati di tangannya. Pada waktu itu, aku baru berusia setahun."

Bagian 27

"Oooh!"

Thio Han Liong manggut-manggut.

"Lalu apa rencanamu sekarang?"

"Aku akan berkelana dalam rimba persilatan Tionggoan untuk mencarinya,"

Jawab Dewi Kecapi dan menambahkan.

"Dia mahir ilmu hitam, kini kepandaiannya pasti sudah tinggi sekali."

"Kalau begitu, cara bagaimana engkau menghadapinya?"

Tanya Thio Han Liong penuh perhatian.

"Kalau kepandaianku masih rendah, tentunya aku tidak berani mencarinya."

Dewi Kecapi tersenyum.

"Hampir lima belas tahun aku belajar ilmu silat...."

"Oh?"

Thio Han Liong memandangnya.

"Bolehkah aku tahu siapa gurumu?"

"Beliau adalah seorang pertapa sakti di gunung Himalaya."

Dewi Kecapi memberitahukan.

"Sebelum aku meninggalkan beliau, beliau pun pernah mengatakan bahwa sesampainya aku di Tionggoan, aku akan bertemu seorang pemuda tampan yang baik hati dan pemuda itu akan membantu aku...."

"oh?"

Thio Han Liong tersenyum.

"Kalau begitu, gurumu pasti ahli nujum juga."

"Kira-kira begitulah."

Dewi Kecapi tertawa kecil.

"Buktinya aku bertemu engkau di sini."

"Tapi belum tentu aku adalah pemuda yang dimaksud itu."

"Namun aku yakin pemuda yang dimaksud itu adalah engkau."

"Buktinya aku tidak bisa membantu apa-apa, karena aku tidak tahu tempat tinggal Bu sim Hoatsu."

"Aku yakin..."

Dewi Kecapi menatapnya sambil tersenyum lembut.

"Engkau pasti membantuku kelak."

"Oh?"

Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala.

"Itu belum tentu, sebab sebentar lagi kita akan berpisah."

"Aku tahu."

Dewi Kecapi tersenyum lagi.

"Tapi aku yakin kita pasti berjumpa kembali kelak."

"Oh, ya?"

Thio Han Liong tersenyum.

"Kalau begitu, engkau pasti sudah mewarisi ilmu nujum gurumu. Ya, kan?"

"Aku tidak pernah belajar ilmu nujum, aku cuma mendugaduga saja,"

Sahut Dewi Kecapi dan menambahkan.

"Aku tahu engkau memiliki kepandaian yang amat tinggi. oleh karena itu, aku ingin mohon petunjuk."

"Nona...."

Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala.

"Jangan menolak"

Desak Dewi Kecapi.

"Biar bagaimana pun engkau harus memberi petunjuk kepadaku."

"Itu...."

Thio Han Liong menarik nafas dalam-dalam.

"Saudara Thio...."

Dewi Kecapi tersenyum.

"Kalau engkau menolak. aku akan marah lho"

"Nona, cara bagaimana aku memberi petunjuk kepadamu?"

Tanya Thio Han Liong.

"Aku akan bersilat dengan tangan kosong, engkau harus memperhatikan,"

Sahut Dewi Kecapi.

"Setelah aku berhenti, engkau harus memberitahukan kepadaku apakah terdapat kesalahan?"

"Itu...."

Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala.

Dewi Kecapi menaruh kecapinya, lalu berjalan ke depan beberapa langkah.

setelah itu, mulailah ia bersilat tangan kosong.

Bukan main kagumnya Thio Han Liong menyaksikan gerakan-gerakannya.

la tidak menyangka Putri Hui itu berkepandaian begitu tinggi.

"Bagaimana?"

Tanya Dewi Kecapiseusai bersilat tangan kosong.

"Apakah terdapat gerakan yang salah?"

"Gerakanmu begitu cepat, sungguh menyilaukan mataku"

Sahut Thio Han Liong dan melanjutkan.

"Menurutku tiada kesalahan dalam gerakanmu."

"Oh, ya?"

Dewi Kecapi tersenyum, lalu duduk disisiThlo Han Liong.

"Aku telah memperlihatkan ilmu silatku, kini giliranmu lho"

"Aku...."

Thio Han Liong menggeleng gelengkan kemala.

"Ayolah"

Desak Dewi Kecapi.

"Jangan terus menolak. itu akan menyinggung perasaanku"

"Baiklah."

Thio Han Liong bangkit berdiri, kemudian mulai bergerak memperlihatkan Kiu Im Pek Kut Jiauw.

Menyaksikan itu, pucatlah wajah Dewi Kecapi.

sebab setiap jurus yang dimainkan Thio Han Liong, justru memecahkan jurus-jurus ilmu silatnya yang diperlihatkannya tadi.

Berselang beberapa saat, barulah Thio Han Liong berhenti.

Di saat bersamaan, Dewi Kecapi langsung mendekatinya dan sekaligus mengayunkan tangannya.

Plaaak...

"Auuh"

Jerit Thio Han Liong, kemudian menatap Dewi Kecapi dengan mata terbelalak.

"Kenapa engkau menamparku?"

"Karena engkau telah menipuku,"

Sahut Dewi Kecapi.

"Apa?"

Thio Han Liong mengerutkan kening.

"Aku telah menipumu?"

"Ya."

Dewi Kecapi manggut-manggut.

"Engkau berpura-pura memuji ilmu silatku, tapi engkau pula yang memecahkan ilmu silatku. Nah, bukankah engkau telah menipuku?"

"Nona...."

Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala.

"Tadi engkau minta petunjuk, maka aku memberi petunjuk cara memecahkan ilmu silatmu, itu agar engkau berhati-hati menghadapi musuh tangguh. Tapi... engkau malah menampar pipiku, engkau sungguh keterlaluan"

"Jadi...."

Dewi Kecapi tertegun.

"Tadi engkau memberi petunjuk kepadaku, sungguh?"

"Tentu sungguh."

"Kalau begitu, bolehkah engkau mengajarku ilmu silat yang engkau perlihatkan tadi?"

"Ilmu silat yang kuperlihatkan tadi amat ganas, engkau tidak boleh belajar ilmu silat itu,"

Sahut Thio Han Liong sambjl menggelengkan kepala.

"Lho? Memangnya kenapa?"

"Karena engkau cepat marah dan gampang emosi, buktinya tadi engkau langsung menamparku. Kalau engkau belajar ilmu silat itu, tentunya akan mencelakai orang lain."

Mendengar itu Dewi Kecapi malah tertawa, kemudian menatap Thio Han Liong dalam-dalam sambil berkata.

"Engkau memang pemuda yang jujur, tidak sia-sia kita bertemu di sini, aku suka sekali kepadamu."

"Apa?"

Thio Han Liong tertegun.

"Engkau suka sekali kepadaku?"

"Ya."

Dewi Kecapi mengangguk.

"Kok engkau tampak terkejut? Kenapa sih?"

"Terus terang...."

Thio Han Liong memberitahukan.

"Aku sudah punya tunangan, maka engkau tidak boleh suka padaku."

"Hi hi hi"

Dewi Kecapi tertawa geli.

"Seandainya engkau sudah punya isteri aku masih boleh menyukaimu."

"Eh? Engkau...."

"Engkau harus tahu, kaum lelaki Hui boleh punya isteri lebih dari satu,"

Ujar Dewi Kecapi memberitahukan.

"Kalau aku bersedia menjadi isteri mudamu, tunanganmu itu pun tidak bisa berbuat apa-apa."

"Dewi Kecapi, engkau...."

Thio Han Liong menggelenggelengkan kepala.

"Han Liong"

Dewi Kecapi tersenyum.

"Engkau harus tahu aku bukanlah gadis yang cepat marah dan gampang emosi. Tadi aku menamparmu hanya ingin menguji kesabaranmu saja."

"Tak disangka engkau begitu sabar."

"Oh?"

Mulut Thio Han Liong ternganga lebar.

"Dan juga akupun tidak akan belajar ilmu silat itu. Aku berkata begitu hanya ingin menarik panjang waktu bercakapcakap denganmu saja."

Dewi Kecapi menatapnya dengan penuh perhatian.

"Engkau memang amat tampan dan lemah lembut, pokoknya aku akan bersaing dengan tunanganmu."

"Nona...."

Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kemala.

"Aku ingin bertanya, dia atau aku yang lebih cantik?"

Tanya Dewi Kecapi mendadak.

"Kalian berdua sama-sama cantik,"

Jawab Thio Han Liong dengan jujur.

"Tapi masing-masing punya keistimewaan."

"Bagaimana keistimewaan kami?"

"Engkau periang, nakal dan blak-blakan. Dia agak kalem, lembut dan anggun, itulah keistimewaan kalian."

"Oooh"

Dewi Kecapi manggut-manggut.

"Han Liong, aku masih punya urusan lain, terpaksa harus pergi duluan. Kita pasti berjumpa kembali kelak."

"Nona harus ingat, aku sudah punya tunangan"

Ujar Thio Han Liong mengingatkan.

"Maka Nona jangan menaruh hati padaku"

"Oh?"

Dewi Kecapi tersenyum.

"Karena engkau berkata demikian, justru membuatku semakin menaruh hati padamu. sampai jumpa"

Dewi Kecapi melesat pergi, sedangkan Thio Han Liong termangu-mangu berdiri di tempat, lama sekali barulah melesat pergi.

Thio Han Liong menarik nafas lega, sebab Dewi Kecapi telah meninggalkannya.

Kalau tidak-tentunya ia akan kewalahan menghadapinya.

Kini ia melanjutkan perjalanannya menuju Kotaraja dengan perasaan tenang.

Beberapa hari kemudian ia sudah sampai di sebuah desa.

Dilihatnya ada sebuah kedai teh di pinggir jalan dan ia segera mampir.

"Tuan mau minum apa?"

Tanya pemilik kedai.

"Teh saja,"

Sahut Thio Han Liong.

Pemilik kedai langsung menyuguhkan teh wangi.

Ketika Thio Han Liong baru menghirup tehnya, di saat bersamaan masuk ke dalam seorang pemuda, yang ternyata Ouw Yang Bun.

Wajahnya tampak murung sekali.

"Saudara Ouw Yang Bun mari duduk sini"

Seru Thio Han Liong sambil melambaikan tangannya. Begitu melihat Thio Han Liong, wajah Ouw Yang Bun tampak agak berseri dan segera menyapanya.

"Saudara Thio...."

"Silakan duduk"

Ucap Thio Han Liong dengan ramah.

"Terima kasih,"

Ouw Yang Bun duduk. Pemilik kedai langsung menyuguhkan teh wangi kepada Ouw Yang Bun. setelah menghirup teh wangi itu, Ouw Yang Bun berkata.

"Saudara Thio, apakah engkau tidak dendam padaku?"

"Kenapa aku harus dendam padamu?"

Sahut Thio Han Liong lalu menghela nafas panjang.

"Semua itu telah berlalu, mungkin juga merupakan suatu takdir."

"Maaf"

Ucap Ouw Yang Bun sambil menatapnya.

"Engkau bawa ke mana mayat Giok Cu?"

"Ke rumahnya di desa Hok An, dan ku makamkan di pekarangan belakang, di sebelah makam ke dua orangtuanya."

Thio Han Liong memberitahukan.

"Nasib Giok Cu memang malang. Ke dua orangtuanya dibunuh para anggota Hiat Mo Pang, sedangkan dia malah bunuh diri Aaaah...."

"Saudara Thio"

Ouw Yang Bun menggeleng-gelengkan kepala.

"Aku yang bersalah dalam hal ini. Kalau aku tidak menikah dengannya, tentunya tidak ada kejadian tragis itu."

"Engkau tidak bersalah, sebaliknya aku amat kagum kepadamu,"

Ujar Thio Han Liong sungguh-sungguh.

"Engkau mau memperisterinya yang dalam keadaan begitu, bahkan amat mencintainya. Kalau aku tahu, akupasti tidak akan menyadarkannya, agar tetap hidup berdampingan denganmu."

"Saudara Thio...."

Ouw Yang Bun menggeleng-gelengkan kepala.

"Oh ya, engkau sudah pergi mencari Hiat Mo?"

"Sudah."

Thio Han Liong mengangguk.

"Namun aku tidak membunuhnya, karena harus memandang Lan Nio yang baik hati itu. Lagipula.... Hiat Mo menikahkan kalian dengan maksud tujuan yang baik, maka aku tidak membunuhnya."

"Engkau...."

Ouw Yang Bun terbelalak.

".... Engkau mampu mengalahkan Hiat Mo?"

"Syukurlah"

Ucap Ouw Yang Bun gembira.

"Saudara Ouw Yang Bun"

Thio Han Liong memandangnya seraya bertanya.

"Kok engkau berada di desa ini, di mana guru dan putrimu?"

"Aaaah...."

Ouw Yang Bun menghela nafas panjang.

"Guruku terluka dan Putriku diculik"

"Apa?"

Thio Han Liong tersentak.

"Siapa yang melukai gurumu dan menculik putrimu?"

"Bu sim Hoatsu."

Ouw Yang Bun memberitahukan.

"Hah?"

Thio Han Liong terkejut.

"Bu sim Hoatsu?"

"Ya."

Ouw YangBun mengangguk.

"Engkau kenal Bu sim Hoatsu?"

"Tidak kenal."

Thio Han Liong menggelengkan kemala.

"Kok dia melukai gurumu dan menculik putrimu?"

"Guruku dan Bu sim Hoatsu adalah musuh besar, namun sudah hampir dua puluh tahun dia menghilang entah ke mana."

Sahut Ouw Yang Bun.

"Sebulan lalu mendadak ia muncul di tempat tinggal guru, kemudian terjadi pertarungan. guruku terluka dan kebetulan putriku ke luar. Dia tertarik pada putriku, maka menculik-nya."

"Oooh"

Thio Han Liong manggut-manggut.

"Kalau begitu, putrimu tidak dalam keadaan bahaya. oh ya, bagaimana gurumu?"

"Sudah agak sembuh."

Sahut Ouw Yang Bun sambil menghela nafas panjang.

"Sudah belasan hari aku melakukan perjalanan. sungguh kebetulan kita bertemu di sini."

"Engkau sedang mencari Bu sim Hoatsu?"

"Ya. Ketika mau membawa pergi putriku, dia memberitahukan bahwa tempat tinggalnya di gunung oey san Gua Ceng Hong Tong. Maka aku menuju ke sana, tak disangka bertemu engkau di sini."

"Saudara Ouw Yang Bun"

Thio Han Liong menatapnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Percuma engkau ke sana mencari Bu sim Hoatsu."

"Maksudmu?"

"Bagaimana mungkin engkau dapat melawannya?"

"Aku tahu itu, tapi dia menculik putriku. Biar bagaimanapun aku harus melawannya."

"Urungkan niatmu itu, percuma engkau ke sana"

Ujar Thio Han Liong.

"Kalau dia tertarik pada putrimu, tentunya akan menerimanya sebagai murid. Nah, bukankah kelak engkau akan berjumpa dengan putrimu?"

"Memang. Tapi...."

Ouw Yang Bun memandangnya.

"Saudara Thio, aku tahu engkau berkepandaian amat tinggi. Aku... aku ingin mohon bantuanmu."

"Maksudmu aku pergi bersamamu ke oey san?"

"Ya."

"Itu...."

Thio Han Liong berpikir lama sekali, kemudian mengangguk karena teringat akan cerita Dewi Kecapi tentang Bu sim Hoatsu itu.

"Baiklah, aku akan pergi bersamamu ke gunung oey san."

"Terima kasih, saudara Thio,"

Ucap Ouw Yang Bun.

"Terima kasih...."

"Sudahlah Tidak usah terus mengucapkan terima kasih"

Thio Han Liong tersenyum.

"Kita adalah teman, bukan musuh."

"Saudara Thio...."

Ouw Yang Bun menundukkan kepala.

"Saudara Ouw Yang Bun, engkau jangan merasa tidak enak terhadapku,"

Ujar Thio Han Liong.

"Urusan itu telah berlalu, lagi pula itu bukan kesalahanmu."

"Engkau sungguh baik, aku jadi malu hati."

Ouw Yang Bun menggeleng-gelengkan kepala.

"Oh ya, ketika aku mulai melakukan perjalanan, aku dengar dalam rimba persilatan telah muncul seorang nenek gila berkepandaian amat tinggi. Dia menamai dirinya Im Sie Popo (Nenek Alam Baka)."

"Im Sie Popo?"

Thio Han Liong heran.

"Siapa nenek itu?"

"Entahlah."

Ouw Yang Bun menggelengkan kepala.

"Aku tidak pernah bertemu nenek gila itu, jadi tidak tahu siapa dia."

"Oooh"

Thio Han Liong manggut-manggut.

"Saudara Ouw Yang, bagaimana kita berangkat sekarang?"

"Baik,"

Ouw Yang Bun mengangguk.

Mereka berdua langsung menuju ke gunung oey San menggunakan ilmu ginkang, agar cepat tiba di tempat tujuan.

Dua hari kemudian, Thio Han Liong dan Ouw Yang Bun sudah tiba di Gua Ceng Hong Tong di gunung oey san.

Akan tetapi, gua itu kosong tiada penghuninya.

"Aaah...."

Keluh Ouw Yang Bun.

"Bu sim Hoatsu pasti telah membawa putriku ke tempat lain"

"Ngmm"

Thio Han Liong mengangguk.

"Lalu apa rencanamu sekarang?"

"Aku tetap akan mencari putriku,"

Sahut Ouw Yang Bun dan kemudian menghela nafas panjang.

"Tapi entah dibawa ke mana putriku? Aku...."

"Saudara Ouw Yang Bun"

Thio Han Liong menatapnya seraya berkata.

"Lebih baik engkau pergi ke desa Hok An ziarah ke kuburan isterimu dan ke dua orangtuanya."

"Ya."

Ouw Tang Bun mengangguk.

"Aku memang harus ke sana. Terima kasih atas peringatanmu."

"Temui bibi Ah Hiang dan ceritakan tentang dirimu"

Pesan Thio Han Liong sekaligus memberitahukan.

"Bibi Ah Hiang adalah pembantu yang amat setia, dia tetap tinggal di rumah itu."

"Ya."

Ouw YangBun mengangguk.

"Oh ya Kalau engkau bertemu Busim Hoatsu, haruslah berhati-hati, sebab dia mahir ilmu hitam dan ahli racun"

Thio Han uong manggut-manggut, mereka lalu berpisah.

Ouw Yang Bun menuju desa Hok An, sedangkan Thio Han Liong menuju arah Kotaraja.

Ouw Yang Bun telah tiba di desa Hok An.

sesuai dengan petunjuk penduduk desa ia langsung menuju rumah mendiang isterinya.

Ah Hiang, pembantu yang setia itu menyambut kedatangannya dengan penuh keheranan.

"Tuan mau mencari siapa?"

Tanyanya.

"Maaf"

Ucap Ouw Yang Bun.

"Aku ke mari mau ziarah kuburan Giok Cu dan ke dua orangtuanya."

"Oh?"

Ah Hiang menatapnya.

"Tuan siapa?"

"Aku Ouw Yang Bun, suami Giok Cu."

"Oh?"

Ah Hiang terbelalak.

"Ternyata Tuan adalah suami Giok Cu. Mari ikut aku ke halaman belakang"

"Terima kasih."

Ouw Yang Bun mengikutinya ke halaman belakang.

"Han Liong yang membawa mayat Giok Cu ke mari, dia...."

Ah Hiang menceritakan tentang keadaan Thio Han Liong di saat itu, lalu menambahkan.

"Kalau An Lok Kong cu tidak muncul, Han Liong pasti mati...."

"Aku sudah bertemu Han Liong."

Ouw Tang Bun memberitahukan.

"Dia telah menutur tentang semua itu."

"oooh"

Ah Hiang manggut-manggut. Tak lama mereka sudah sampai di halaman belakang. Begitu melihat kuburan Tan Giok Cu, Ouw Yang Bun langsung berlutut, kemudian menangis terisak-isak.

"Giok Cu Giok Cu...."

Air mata Ouw Tang Bun berderaiderai.

"Semoga engkau tenang di sana, aku pasti baik-baik mengurusi Hui sian Tapi... kini dia di tangan Bu sim Hoatsu, aku sedang mencarinya...."

Setelah itu, Ouw Yang Bun pun berlutut di hadapan kuburan ke dua orangtua Tan Giok Cu, lama sekali barulah ia bangkit berdiri "Aaah...."

Ouw Yang Bun menghela nafas panjang.

"semua kejadian itu bagaikan sebuah mimpi...."

"Tuan"

Ah Hiang menatapnya seraya bertanya.

"Betulkah putri Tuan berada di tangan penjahat?"

"Ya."

Ouw Yang Bun mengangguk.

"Aku sedang mencarinya, tapi tidak tahu dia dibawa ke mana?"

"Kalau begitu...."

Ah Hiang mengerutkan kening.

"Bagaimana mungkin Tuan akan berhasil mencarinya?"

"Aku akan terus menerus mencarinya."

Ujar Ouw Yang Bun.

"Bibi Ah Hiang, aku mohon pamit."

"Tuan..."

Ah Hiang menggelengkan kepala, kemudian mengantarnya sampai di depan rumah.

"Bibi Ah Hiang, sampai jumpa"

Ucap Ouw Yang Bun, lalu berjalan pergi.

-ooo000000ooo-Thio Han Liong terus melakukan perjalanan ke Kotaraja.

Hari itu dia tiba di sebuah kota, sekaligus bermalam di kota itu pula.

la duduk di dalam kamar penginapan, pelayan segera menyuguhkan teh.

"Pelayan"

Panggil Tio Han Liong ketika pelayan itu mau meninggalkannya.

"Ya, Tuan."

Pelayan itu berhenti dan membalikkan badannya.

"Mau pesan apa, Tuan?"

"Siapa yang tinggal di kamar sebelah?"

Tanya Thio Han Liong.

"Kenapa ada suara tangisan?"

"Maaf, Tuan"

Jawab pelayan.

"Aku pun tidak kenal mereka. Kelihatannya anak gadis itu sakit keras, maka ke dua wanita itu tampak cemas sekali."

"Oooh"

Thio Han Liong manggut-manggut.

Pelayan itu pergi.

Thio Han Liong mengerutkan kening, akhirnya ia berjalan ke luar menuju ke kamar sebelah.

Perlahan-lahan diketuknya pintu kamar itu, tak lama terdengar suara sahutan dari dalam.

"Siapa?"

"Maaf, aku juga tamu"

Sahut Thio Han Liong.

"Bolehkah aku masuk untuk bercakap-cakap sebentar?"

Tiada sahutan dari dalam, namun kemudian pintu kamar itu terbuka. seorang wanita cantik berusia empat puluhan berdiri di situ. Ketika melihat Thio Han Liong, wanita itu tampak tertegun.

"Siapa Anda?"

"Namaku Thio Han Liong, Pelayan memberitahukan kepadaku bahwa anak gadis yang bersama kalian itu sakit keras. Aku sedikit mengerti ilmu pengobatan, bolehkah aku mencoba memeriksanya?"

"Terima kasih atas maksud baik Anda, tapi...."

Wanita itu menggeleng-gelengkan kepala.

"Penyakit yang diderita nona kami, bukan merupakan penyakit biasa. Kami...."

"Biar dia coba periksa penyakit siauw Cui"

Ujar wanita lain, yang duduk dipinggir tempat tidur.

"Ya, Kak."

Sahut wanita yang berdiri dekat pintu, kemudian mempersilakan Thio Han Liong masuk.

"Masuklah"

"Terima kasih,"

Ucap Thio Han Liong sambil melangkah ke dalam mendekati anak gadis yang berbaring di tempat tidur, lalu bertanya pada wanita yang duduk di pinggir tempat tidur.

"Adik kecil ini menderita penyakit apa?"

"Kalau Anda tahu ilmu pengobatan, tentunya akan tahu setelah memeriksanya,"

Sahut wanita itu.

"Kalau begitu, bolehkah aku memeriksanya sekarang?"

"Silakan"

Thio Han Liong mulai memeriksa anak gadis itu dengan intensif sekali. seketika wajahnya tampak serius dan kening tampak berkerut-kerut.

"Aaah...."

Thio Han Liong menghela nafas panjang seusai memeriksa anak gadis itu.

"Bagaimana?"

Tanya wanita itu tegang.

"Anda sudah tahu nona kami menderita penyakit apa?"

"Adik kecil ini tidak sakit."

Sahut Thio Han Liong memberitahukan.

"Dia terkena semacam racun, namun jantungnya masih terlindung oleh semacam obat, maka racun itu belum menyerang kejantungnya. Akan tetapi... obat yang melindungi jantungnya cuma dapat bertahan beberapa hari lagi. setelah itu, adik kecil ini tak akan tertolong."

"Aaaah...."

Ke dua wanita itu menghela nafas panjang, kemudian berlutut dihadapan Thio Han Liong.

"Kami mohon Anda menyelamatkan nyawa nona kami...."

"Bangunlah"

Sahut Thio Han Liong sambil membangunkan ke dua wanita itu.

"Aku akan berusaha menolongnya."

"Terima kasih, Tuan."

Ucap ke dua wanita itu sambil bangkit berdiri "Adik kecil ini terkena racun yang bukan berasal dari Tionggoan."

Ujar Thio Han Liong dan menambahkan.

"Kalau tidak salah, racun itu berasal dari perbatasan Mongolia, dan boleh dikatakan tiada obatnya."

"Betul."

Salah seorang wanita itu mengangguk.

"Kami memang bukan orang Tionggoan."

"Oooh"

Thio Han Liong manggut-manggut.

"Kebetulan aku membawa obat penawar racun, mudahmudahan obat itu dapat menawarkan racun yang ada di dalam tubuh adik kecil ini."

Thio Han Liong mengeluarkan sebuah botol pualam kecil, kemudian manuang dua butir obat ke tangannya.

Ternyata Bu Beng siang su yang meramu obat penawar racun itu dari akar dan daun soat san Ling Che.

Dengan hati-hati sekali ke dua butir obat itu dimasukkannya ke dalam mulut anak gadis tersebut, lalu menyuruh salah seorang wanita itu pergi mengambil sebuah baskom.

"Ya."

Wanita itu segera pergi mengambil baskom, dan tak segerapa lama ia sudah kembali ke kamar itu dengan membawa sebuah baskom tembaga.

"Apabila adik kecil ini mau muntah, cepatlah sodorkan baskom itu ke mulutnya"

Pesan Thio Han Liong.

"Ya."

Wanita itu mengangguk.

Thio Han Liong memandang wajah anak gadis itu yang semula tampak pucat pias, kini sudah agak memerah, dan itu sungguh menggirangkan Thio Han Liong.

la segera membangunkan anak gadis itu, agar duduk dan ia pun duduk di belakangnya.

sepasang telapak tangan Thio Han Liong ditempelkan di punggung anak gadis itu, lalu mengerahkan Kiu Yang sin Kang.

Berselang beberapa saat kemudian, anak gadis itu kelihatan mau muntah.

Wanita yang memegang baskom langsung menyodorkan baskom itu ke mulutnya.

"uaaakh uaaakh uaaakh..."

Anak gadis itu memuntahkan lendir yang agak kehijau-hijauan. Usai muntah, anak gadis itu membuka matanya perlahanlahan. Ternyata tadi la dalam keadaan pingsan dan kini sudah tersadar.

"Bibi Bibi..."

Panggil anak gadis itu "Siauw Cui.. siauw Cui..."

Sahut ke dua wanita itu dengan air mata berderai-derai saking gembiranya. Sedangkan Thlo Han Liong telah menurunkan sepasang tangannya, lalu meloncat turun sambil tersenyum.

"Bibi berdua"

Ujarnya memberitahukan.

"Kini adik kecil ini telah pulih, dia memiliki Iweekang yang cukup tinggi."

"Tuan...."

Mendadak ke dua wanita itu berlutut di hadapan Thio Han Liong.

"Tuan telah menyelamatkan nyawa nona kami, entah harus bagaimana kami berterima kasih kepada Tuan?"

"Jangan berkata begitu"

Thio Han Liong tersenyum.

"Bangunlah"

Ke dua wanita itu bangkit berdiri, sedangkan anak gadis itu terus memandang Thio Han Liong.

"Kakak yang menyelamatkan nyawaku?"

Tanyanya. Thio Han Liong mengangguk.

"Terima kasih, Kakak."

Ucap anak gadis itu.

"Aku telah berhutang budi kepada Kakak, entah bagaimana aku harus membalasnya?"

"Adik kecil"

Thio Han Liong tersenyum lembut.

"Jangan berkata begitu, aku menolongmu tanpa pamrih."

"Oh?"

Anak gadis itu tertawa kecil.

"Bolehkah aku tahu nama Kakak?"

"Namaku Thio Han Liong. Namamu?"

"Namaku siauw Cui."

"Nama yang indah"

Puji Thio Han Liong.

"Adik siauw Cui amat cantik,"

Siauw Cui tersenyum.

"Kakak sungguh tampan, sudah punya isteri belum?"

"Belum, tapi sudah punya tunangan."

Thio Han Liong memberitahukan.

"Aku yakin tunangan Kakak pasti cantik sekali. Ke-napa dia tidak bersama Kakak?"

"Dia tinggal di Kotaraja, sekarang aku sedang mau ke sana"

"Hoooh "siauw Cui manggut-manggut.

"Sayang sekali kami harus segera pulang. Kalau tidak, kami ingin jalan-jalan ke Kotaraja."

"Adik kecil"

Thio Han Liong membelainya.

"Ke dua orangtua mu pasti sangat mencemaskan mu, maka kalian harus cepat-cepat pulang."

"Betul."

Sahut salah seorang wanita itu, kemudian memandang Thio Han Liong seraya bertanya.

"Thio siau-hiup, obat penawar racunmu itu dibuat dari ramuan apa?"

"Akar dan daun soat san Ling Che."

Thio Han Liong memberitahukan.

"Haah...?"

Mulut ke dua wanita itu ternganga lebar.

"Pantas dapat memunahkan racun itu oh ya, tadi siauhiap menggunakan Iweekang apa membantu nona kami mendesak ke luar racun itu?"

"Kiu Yang Sin Kang."

"Oh?"

Ke dua wanita itu manggut-manggut.

"Tidak disangka siauhiap telah memiliki Iweekang tingkat tinggi itu. Apakah siauhiap yang makan buah soat san Ling che itu?"

"Ya."

Thio Han Liong mengangguk.

"Siauhiap sungguh beruntung."

Ujar salah seorang wanita, itu.

"Siauhiap masih muda, tapi berkepandaian tinggi dan mahir ilmu pengobatan pula, itu sungguh di luar dugaan"

"Bibi berdua pun berkepandaian amat tinggi,"

Sahut Thio Han Liong sambil tersenyum.

"Siauhiap, kami berdua cuma merupakan pelayan. Kepandaian kami tidak seberapa."

"Bibi berdua terlampau merendahkan diri oh ya, bolehkah aku tahu kalian berdua dari mana?"

"Kami...."

Ke dua wanita itu menggeleng-gelengkan kepala.

"Maaf, kami tidak bisa memberitahukan Mudah-mudahan kelak kita akan berjumpa lagi"

"Baiklah."

Thio Han Liong manggut-manggut.

"Kalau begitu aku mohon diri"

"Kakak"

Panggil siauw Cui.

"Kakak tinggal di mana?"

Tanyanya.

"Aku tinggal di pulau Hong Hoang To Pak Hai."

Thio Han Liong memberitahukan.

"Pulau itu jauh sekali."

"Tempat tinggal kami pun jauh sekali."

Siauw Cui memberitahukan.

"Di puncak gunung. Kami tidak pernah berhubungan dengan orang luar."

"Oooh"

Thio Han Liong tersenyum.

"Adik kecil, sampai jumpa kelak"

"Ya, Kakak"

Sahut siauw Cui.

"Semoga kita berjumpa kembali kelak"

Thio Han Liong menatapnya sejenak.

lalu kembali ke kamarnya dan duduk.

la tidak habis pikir, siapa sebenarnya siauw Cui dan ke dua wanita itu....

Bab 53 Bu sim Hoatsu Seorang pendeta Taosme berwajah dingin dan kaku menuntun seorang gadis kecil memasuki sebuah lembah.

Mereka berdua ternyata Bu sim Hoatsu dan Ouw Yang Hui sian, putri Ouw Yang Bun.

"Aku tidak mau ikut Aku tidak mau ikut..."

Gadis kecil itu berhenti.

"Paman pendeta jahat Jahat sekali Aku tidak mau ikut..."

"Hui sian"

Bu sim Hoatsu mengerutkan kening.

"Kalau hari itu aku tidak tertarik padamu, mungkin Tong Koay dan ayahmu telah kubunuh"

"Aku tidak mau menjadi muridmu Aku tidak mau..."

Ouw Hui sian terus menggelengkan kepala dan tak mau berjalan sama sekali.

"Aku benci engkau pendeta jahat"

"He he he"

Bu sim Hoatsu tertawa terkekeh-kekeh.

"Aku justru mau mengangkatmu sebagai murid, sekaligus menjadikan dirimu pendekar wanita yang tak terkalahkan. He he he..."

"Pokoknya aku tidak mau"

Ouw Yang Hui sian membantingbanting kaki.

"Tidak mau..."

"Oh?"

Bu sim Hoatsu melotot, kemudian mendadak menarik lengan gadis kecil itu seraya membentak gusar.

"Ayoh, cepat jalan"

Bu Sim Hoatsu menyeretnya, namun gadis kecil itu tetap berkeras tidak mau bergerak, bahkan me ronta-ronta dan mencakar tangan Bu sim Hoatsu.

"Kurang ajar"

Bu sim Hoatsu mengayunkan tangannya. Plaaak Pipi Ouw Yang Hui sian terkena tamparan keras, membuatnya menjerit kesakitan.

"Aduuuuh..."

Gadis itu pun menangis dengan air mata bercucuran.

"Pendeta jahat, kenapa engkau menamparku?"

"Diam"

Sahut Busim Hoatsu membentaknya.

"Kalau engkau masih tidak mau jalan, aku akan menyeretmu"

Di saat bersamaan, muncullah seorang wanita tua berusia enam puluhan sambil bernyanyi-nyanyi kecil, lalu tertawa-tawa pula.

Walau pakaiannya compang-camping, tapi kelihatannya bersih sekali.

Ketika melihat Ouw Yang Hui sian menangis, dan melihat Bu sim Hoatsu menyeret gadis kecil itu, wajahnya langsung berubah.

"Hei Pendeta busuk. kenapa engkau menyakiti gadis kecil itu?"

Bentak wanita tua itu sambil mendekati mereka. Bu sim Hoatsu diam saja, namun terus menatapnya dengan penuh perhatian dan kening pun berkerut-kerut.

"Hi hi hi"

Wanita tua itu tertawa.

"Pendeta busuk, ternyata engkau gagu tetapi berhati jahat"

"Popo (Nenek)"

Seru Ouw Yang Hui sian.

"Tolonglah aku, pendeta jahat ini mau membawa ku pergi"

"Hi hi hi"

Wanita tua itu tertawa gembira.

"Betul Betul Aku adalah nenekmu, aku harus menolongmu."

La mendekati Ouw Yang Hui sian, namun mendadak Bu sim Hoatsu membentak.

"Diam di tempat"

"Haaah?"

Wanita tua itu tampak tersentak, kemudian memandang Bu sim Hoatsu dengan mata tak berkedip.

"Engkau tidak gagu, tapi kenapa tadi tidak mau bicara?"

"Nenek gembel"

Bu sim Hoatsu menatapnya tajam.

"Cepatlah tinggalkan tempat ini."

"He he he Pendeta busuk, kalau aku tidak mau meninggalkan tempat ini, mau apa engkau?"

"Nenek gembel"

Bu sim Hoatsu mengerutkan kening.

"Siapa engkau?"

"Aku bukan nenek gembel"

Sahut wanita tua itu.

"Aku Im Sie Popo (Nenek Alam Baka) He he he..."

Wanita tua itu ternyata Kwee In Loan yang sudah tidak waras, setelah berhasil mempelajari ilmu yang tercantum di dalam kitab pusaka Im Sie Cin Keng.

Maka ia pun meninggalkan goa yang di dasar jurang itu dan berkelana daiam keadaan gila.

"Im Sie Popo?"

Bu sim Hoatsu tercengang. Karena tidak pernah mendengar nama julukan tersebut.

"Betul"

Im Sie Popo-Kwee In Loan tertawa terkekeh-kekeh, kemudian membentak.

"Pendeta jahat, kenapa engkau menyakiti gadis kecil itu?"

"Hmm"

Dengus Bu sim Hoatsu dingini "Ini adalah urusanku, engkau jangan turut campur"

"Popo Popo"

Seru Ouw Yang Hui sian.

"Tolong aku Tolong aku, Popo"

"Hi hi hi Cucuku yang manis, jangan takut, aku pasti menolongmu"

Sahut Im Sie Popo sambil tertawa cekikikan.

"Hihihi Engkau memang cucuku"

Im Sie Popo mendekati Bu Sim Hoatsu. Pendeta itu terus menatapnya dengan tajam, dan mendadak membentak dengan suara yang amat berpengaruh.

"Engkau harus menuruti semua perintahku"

Suara bentakan itu membuat Im Sie Popo tersentak.

Ternyata Bu sim Hoatsu mengerahkan ilmu hitam untuk mempengaruhi Im Sie Popo.

Akan tetapi, nenek itu hanya tersentak, sama sekali tidak terpengaruh dan sebaliknya malah terus tertawa terkekeh-kekeh.

"He he he He he he Aku tidak akan menuruti semua perintahmu"

Ujarnya.

"Hai pendeta jahat, cepat lepaskan gadis kecil itu"

"Eh?"

Bu sim Hoatsu terperanjat, sebab Im Sie Popo tidak terpengaruh oleh ilmu hitamnya. la terus menatapnya tajam kemudian manggut-manggut.

"Engkau ternyata nenek gila, pantas begitu berani terhadapku"

"Pendeta jahat"

Bentak Im Sie Popo.

"Cepat lepaskan gadis kecil itu, kalau tidak...."

"Ha ha ha..."

Bu sim Hoatsu tertawa gelak, akan tetapi mendadak....

"Plaaak"

Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya, sehingga ia menjerit kesakitan sambil mengusap pipinya, dan tampak terbelalak pula saking terkejutnya.

"Aduuuuh..."

"He h e h e"

Im Sie Popo tertawa.

"Kalau engkau masih berani menyakiti gadis kecil itu, aku pasti akan menghajarmu lagi Ayoh cepat lepaskan dia"

"Hm"

Dengus Bu sim Hoatsu, kemudian mendadak menyerangnya dengan secepat kilat dan bertubi-tubi.

"He he he"

Im Sie Popo tertawa terkekeh-kekeh.

"Asyik mari kita main-main"

Im Sie Popo berkelit ke sana ke mari.

Dengan gampang sekali ia menghindari semua serangan itu.

Betapa terkejutnya Bu sim Hoatsu.

la tidak menyangka Im Sie Popo berkepandaian begitu tinggi.

Oleh karena itu, ia mulai mengeluarkan jurus-jurus andalannya untuk menyerang Im Sie Popo.

Akan tetapi, nenek itu tetap dapat mengelak sambil tertawa terkekeh-kekeh.

"Popo"

Seru Ouw Yang Hui sian.

"Hajar pendeta jahat itu"

"Baik, cucuku,"

Sahut Im Sie Popo, lalu balas menyerang Bu sim Hoatsu dengan jurus-jurus yang amat aneh.

Bukan main terkejutnya Bu sim Hoatsu karena seranganserangan itu tampak kacau balau tapi cepat, lihay dan dahsyat sekali.

Plak Plok Plaak Pipi Bu sim Hoatsu tertampar beberapa kali.

"Aduuh"

Jeritnya kesakitan. la terhuyung-huyung ke belakang dengan pipi membengkak.

"Hi hi hi"

Im Sie Popo tertawa.

"Pendeta busuk, pipimu sudah bengkak Hi hi hi..."

"Nenek gila"

Bu sim Hoatsu menatapnya dengan mata berapi api.

"Engkau..."

"Mau berkelahi lagi?"

Tanya Im Sie Popo sambil mendekatinya.

Di saat bersamaan, Bu sim Hoatsu merogoh ke dalam bajunya.

Ketika Im Sie Popo sudah mendekat, tiba-tiba ia mengibaskan tangannya.

Tampak asap yang agak ke-merahmerahan mengarah Im Sie Popo.

Namun nenek itu tidak berkelit, sebaliknya malah tertawa gembira menyaksikan asap yang amat indah itu.

"Hi hi hi..."

Mendadak ia terkulai.

"Ha ha ha"

Bu sim Hoatsu tertawa gelak.

"Im Sie Popo, kini engkau telah terkena Mi Hun san (Racun Penyesat sukma) oleh karena itu, mulai sekarang engkau sudah dibawah pengaruhku"

Im Sie Popo diam saja. Ouw Yang Hui sian segera mendekatinya, lalu menarik tangannya seraya berkata.

"Popo Popo Mari kita pergi"

"Cucuku...."

Im Sie Popo menatapnya. Di saat itulah terdengar suara bentakan Bu sim Hoatsu.

"Im Sie Popo Cepat tangkap gadis kecil itu"

"Ya,"

Sahut Im Sie Popo dan langsung menangkap Ouw Yang Hui sian.

"Popo Popo...."

Gadis kecil itu mulai menangis dengan air mata bercucuran.

"Kenapa Popo menurut padanya? Popo tidak mau menolongku lagi?"

"Cucuku...."

Im Sie Popo kelihatan tidak tahu harus berbuat apa. Kemudian memegang kepalanya sendiri seraya berkata.

"Aku... aku harus menuruti semua perintahnya."

"Bagus, bagus"

Bu sim Hoatsu tertawa gembira.

"Ha ha ha Mulai sekarang engkau adalah pelayanku, apa yang kukatakan engkau harus menurut"

"Ya."

Im Sie Popo mengangguk.

"Gendong gadis kecil itu dan ikut aku"

Perintah Bu sim Hoatsu sambil melangkah pergi.

"Ya."

Im Sie Popo segera menggendong Ouw Yang Hui sian, lalu mengikuti pendeta itu menuju gunung cing san.

Walau Im Sie Popo-Kwee In Loan telah terpengaruh Mi Hun san, sehingga menurut pada Bu sim Hoatsu, namun nenek itu tetap menyayangi Ouw Yang Hui sian.

"Popo jahat"

Ujar gadis kecil itu sambil meronta-ronta dalam gendongan Im Sie Popo.

"Cepat lepaskan aku"

"Cucuku...."

Im Sie Popo tersenyum lembut.

"Popo, aku masih ingat...."

Ouw Yang Hui sian memandangnya.

"Apakah Popo sudah lupa padaku?"

"Cucuku...."

Im Sie Popo tampak tercengang.

"Hi hi hi Aku sama sekali tidak mengerti maksudmu, tidak mengerti."

"Popo pernah menjadi ketua Hiat Mo Pang."

Gadis kecil itu memberitahukan.

"Namaku Ouw Yang Hui sian, kita bersama tinggal di lembah Pek Yun Kok. Apakah Popo sudah lupa?"

"Hi hi"

Im Sie Popo tertawa.

"Cucuku, aku memang sudah lupa Hi hi...."

"Popo...."

Bisik Ouw Yang Hui sian.

"Kita harus cepat-cepat meninggalkan pendeta jahat itu"

"Ha ha ha"

Bu sim Hoatsu tertawa gelak.

"Hui siam, engkau masih kecil, tapi sudah pandai menghasut. Tapi... itu percuma. Im Sie Popo tidak akan mendengarnya sebab dia cuma mendengar perintahku saja"

"Engkau jahat "sahut Ouw Yang Hui sian "Jahat sekali"

"Oh, ya?"

Bu sim Hoatsu tertawa-tawa, tapi mendadak keningnya tampak berkerut.

Ternyata ia mendengar suara yang mencurigakan-Tak segerapa lama kemudian, muncul seseorang yang tidak lain adalah ou Yang Bun, ayah gadis kecil itu.

"Hui sian Hui sian"

Serunya girang.

"Hui sian"

"Ayah Ayah"

Sahut gadis kecil itu.

"Cepat tolong aku, Ayah"

"Jangan takut, Nak"

Ouw YangBun mendekati putrinya, namun Bu sim Hoatsu langsung menghadangnya.

"Ouw Yang Bun"

Bentak pendeta itu dingini "Hari itu aku tidak membunuhmu, dikarenakan aku tertarik pada putrimu. Tapi kalau hari ini engkau berani bertingkah, nyawamu pasti melayang"

"Bu sim Hoatsu...."

Tiba-tiba Ouw Yang Bun terbelalak. Ternyata ia melihat Kwee In Loan yang menggendong putrinya itu.

"Ketua Kwee...."

"Hi hi hi"

Im Sie Popo-Kwee In Loan cuma tertawa, sama sekali tidak mengenali Ouw yang Bun.

"Ketua Kwee? siapa dia?"

"Ketua Kwee terpukul jatuh ke dalam jurang, tapi...."

Ouw Yang Bun tidak habis pikir, kemudian berkata dengan penuh harap.

"Ketua Kwee amat menyayangi Hui sian, tolong bawa dia ke mari"

Im Sie Popo diam saja. Di saat itulah Bu sim Hoatsu tertawa gelak. matanya menatap Ouw Yang Bun seraya berkata.

"Ha ha ha Nenek itu telah gila, lagipula dia terkena racun Mi Hun san, maka dia cuma menuruti perintahku saja Ha ha ha..."

"Bu sim Hoatsu, cepat kembalikan putriku"

Bentak Ouw Yang Bun sambil mengerahkan Iweekang. Ke-Hhatannya ia sudah siap bertarung mati matian melawan pendeta itu.

"Hm"

Dengus Bu Sim Hoatsu dan mendadak melesat ke sisi Im Sie Popo.

"Aku akan menjaga gadis kecil ini, cepatlah engkau pergi usir orang itu"

"Ya."

Im Sie Popo meloncat ke hadapan Ouw Yang Bun.

"Pergi Cepat pergi"

"Ketua Kwee"

Ouw Yang Bun memberi hormat.

"Gadis kecil itu adalah putriku, namanya Hui sian...."

"Ayoh"

Bentak Im Sie Popo.

"Cepat pergi"

"Aku adalah Ouw Yang Bun, apakan ketua Kwee sudah lupa?"

Tanyanya sambil mengerutkan kening.

"Kita tinggal di lembah Pek Yun Kok...."

"Ouw Yang Bun"

Bentak Bu sim Hoatsu.

"Kalau engkau tidak mau pergi, aku akan suruh dia membunuhmu"

"Pendeta jahat"

Sahut Ouw Yang Hui sian.

"Kalau engkau berani menyuruh Popo itu membunuh ayahku, aku... aku pasti membencimu selama-lamanya"

"Oh?"

Bu sim Hoatsu mengerutkan kening, kemudian berseru.

"Im Sie Popo, totok jalan darahnya agar lumpuh"

"Ya."

Im Sie Popo mengangguk, lalu bergerak laksana kilat menotok jalan darah Ouw Yang Bun.

"Ketua Kwee...."

Ouw Yang Bun berkelit, namun akhirnya tertotok juga sehingga terkulai dan tak bergerak lagi.

"Ayah Ayah..."

Teriak Ouw Yang Hui sian.

"Nak...,"

Sahut Ouw Yang Bun sambil memandangnya.

"Ayah...."

"Ha ha ha"

Bu sim Hoatsu tertawa gelak. lalu menarik Ouw Yang Hui sian meninggalkan tempat itu sekaligus berseru.

"Im Sie Popo, mari kita pergi"

Nenek itu mengangguk. lalu segera menyusul mereka. sedangkan Ouw Yang Bun tetap tergeletak tak bergerak. la terus berteriak-teriak memanggil putrinya.

"Hui Sian Hui Sian..."

Im Sie Popo menggendong Ouw Yang Hui siam lagi.

gadis kecil itu terus menangis dalam gendongannya.

Ketika memasuki sebuah lembah, tiba-tiba tampak dua sosok bayangan berkelebat ke arah mereka.

Bu sim Hoatsu dan Im Sie Popo langsung berhenti.

Di saat bersamaan melayang turun dua orang, yaitu seorang lelaki dan seorang wanita berusia empat puluhan.

Rupanya mereka berdua adalah sepasang suami isteri.

"Suamiku"

Ujar si perempuan.

"Bagaimana kalau kita menolong gadis kecil itu? Aku suka padanya."

"Baik,"

Sang suami manggut-manggut.

"Hm"

Bu sim Hoatsu mendengus dingin.

"Siapa kalian? sungguh berani kalian menghadang kami"

"Pendeta"

Sahut lelaki itu.

"Aku harap engkau sudi melepaskan gadis kecil itu"

"Ha ha ha"

Bu sim Hoatsu tertawa gelak. kemudian mendadak menatapnya dengan tajam, ternyata ia mengerahkan ilmu hitam.

"Engkau harus menuruti perintahku"

"Pendeta"

Lelaki itu tersenyum.

"Ilmu hitammu tidak akan dapat mempengaruhiku, percuma engkau mengerahkan ilmu hitam itu"

"Hah?"

Bu sim Hoatsu tersentak. Di saat bersamaan, terdengar suara jeritan Ouw Yang Hui sian.

"Paman, Bibi Tolong aku..."

"Diam"

Bentak Bu sim Hoatsu, lalu memandang lelaki itu seraya berkata.

"Kita bukan musuh, maka alangkah baiknya kalau kita tidak saling mengganggu"

"Hm"

Dengus wanita itu dingin "Engkau menculik gadis kecil, kebetulan kita bertemu di sini, maka kami harus menyelamatkannya"

"Oh?"

Bu sim Hoatsu tertawa dingin Di saat bersamaan, Ouw Tang Hui sian berseru agak terisak.

"Bibi, tolonglah aku Pendeta itu jahat sekali. Dia... dia melukai ayahku hingga tak bergerak."

"Jangan cemas, Nak"

Sahut wanita itu sambil tersenyum.

"Bibi pasti menolongmu."

Mendadak wanita itu bergerak cepat sekali menyerang Bu sim Hoatsu.

Itu sungguh mengejutkan pendeta tersebut, namun ia masih sempat berkelit.

Di saat Bu sim Hoatsu berkelit, di saat itu pula wanita tersebut menyerangnya lagi, membuat pendeta itu kelab akan.

"Wanita sialan"

Caci Bu sim Hoatsu dan berseru.

"Im Sie Popo, cepat...."

Ternyata Bu sim Hoatsu ingin minta bantuan nenek itu, namun wanita yang menyerangnya sama sekali tidak memberi kesempatan kepadanya.

la mempergencar serangannya.

Belasan jurus kemudian, wanita tersebut berhasil menotok jalan darah Giok Tiong Hiat dan ci Kiong Hiat di dada Bu sim Hoatsu, sehingga membuat pendeta itu terkulai dan dadanya terasa sakit sekali.

"Cepat suruh nenek itu melepaskan gadis kecil yang digendongnya"

Bentak wanita tersebut.

"Hm"

Dengus Bu sim Hoatsu.

"Kalau begitu...."

Wanita itu tertawa dingin.

"Aku terpaksa harus memusnahkan kepandaianmu"

"Hah?"

Air muka Bu sim Hoatsu langsung berubah.

"Engkau...."

"Nan Cepatlah suruh dia melepaskan gadis kecil itu"

Bentak wanita tersebut.

"Kalau tidak...."

Bu sim Hoatsu menghela nafas panjang.

"Im Sie Popo, lepaskan gadis kecil itu"

Serunya kemudian. Nenek itu mengangguk. sekaligus menurunkan Ouw Yang Hui siam. gadis kecil itu segera berlari menghampiri wanita tersebut.

"Terima kasih, Bibi,"

Ucapnya.

"Ngmm"

Wanita itu manggut-manggut, dan langsung menggendong Ouw Yang Hui sian.

"Suamiku, mari kita pergi"

Serunya kepada lelaki yang berdiri di sampingnya.

Lelaki itu mengangguk.

mereka lalu melesat pergi.

Bu sim Hoatsu memandang mereka dengan mata berapiapi, sedangkan Im Sie Popo malah tertawa terkekeh-kekeh.

"He he he..."

"Diam"

Bentak Bu sim Hoatsu. Im Sie Popo langsung diam.

"Kini gadis kecil itu tidak bersamaku lagi, aku pun tidak usah ke gunung cing san,"

Gumam Bu sim Hoatsu.

"Kalau begitu.. aku harus membawa Im Sie Popo pergi mencari Thio Han Liong. Dia membunuh Leng Leng Hoatsu adik seperguruanku."

Kemudian ia memandang Im Sie Popo.

"Im Sie Popo, mari ikut aku"

Ajaknya.

"Ya."

Sahut nenek itu Bu sim Hoatsu melesat pergi.

Im Sie Popo pun melesat pergi mengikutinya.

Sementara itu, sepasang suami isteri yang menyelamatkan Ouw Yang Hui sian terus melesat pergi menggunakan ginkang.

selang beberapa saat, barulah mereka berhenti lalu duduk di bawah sebuah pohon.

"Anak manis,"

Tanya wanita itu setelah menurunkan Ouw Yang Hui sian ke bawah.

"Siapa engkau dan siapa ke dua orangtuamu?"

"Namaku Ouw Yang Hui sian,"

Jawab gadis kecil itu memberitahukan.

"Ayahku bernama Ouw Tang Bun, ibuku sudah meninggal."

"Oooh"

Wanita itu manggut-manggut.

"Kenapa pendeta jahat dan nenek gila itu menculikmu? "

"Pendeta jahat itu melukai Kakek oey...."

Ouw Yang Hui siam menutur tentang kejadian itu, kemudian menambahkan.

"Nenek itu terkena racun, maka menuruti semua perintah pendeta jahat itu."

"Ngmm"

Wanita itu manggut-manggut dan memberitahukan.

"Sebelum terkena racun, nenek itu memang sudah gila?"

"Bibi, aku kenal nenek itu,"

Ujar Ouw Yang Hui Sian dan memberitahukan tentang Kwee In Loan, bahkanjuga memberitahukan tentang ayahnya yang gagal menyelamatkannya.

Wanita itu manggut-manggut ketika mendengar penuturan Ouw TYang Hui sian.

"Kami tidak tahu ayahmu berada di mana, maka tidak bisa mengantarmu ke sana. oleh karena itu, bagaimana kalau engkau ikut kami saja?"

Tanyanya.

"Bibi dan Paman bukan orang jahat kan?"

Tanya Ouw Yang Hui sian mendadak sambil memandang mereka. suami isteri itu saling memandang, lalu tersenyum seraya berkata dengan lembut sekali.

"Kami bukan orang jahat, percayalah"

Wanita itu menambahkan.

"Kami pun punya satu anak perempuan berusia sebelas tahun."

"Oh?"

Ouw Yang Hui sian tampak gembira.

"Dimana kakak itu?"

"Kami datang di Tionggoan ini justru menyusul putri kami itu,"

Sahut wanita tersebut.

"Dua pelayan kami mendampinginya, namun... entah berada di mana mereka sekarang."

"Kenapa Bibi dan Paman tidak mendampinginya?"

Tanya Ouw Yang Hui sian.

"Kami pikir...,"

Sahut wanita itu.

"Cukup ke dua pelayan kami mendampinginya. oh ya, putri kami bernama siauw Cui. Aku bernama Lie Hong suan, suamiku bernama Kam Ek Thian. Kami datang dari gunung Altai, dekat terbatasan Mongolia. siauw Cui terkena racun...."

"Kakak siauw Cui terkena racun?"

Ouw Yang Hui sian terkejut.

"Kenapa Bibi tidak mengobatinya? "

"Aaaa..."

Lie Hong Suan menghela nafas panjang.

"Kami tidak punya obat penawar racun itu, maka terpaksa menyuruh ke dua pelayan itu membawa siau Cui ke Tionggoan menemui tabib yang terkenal. Karena sudah hampir dua bulan mereka belum pulang, maka kami menyusul."

"Tapi kami tidak berhasil menemukan mereka,"

Ujar Kam Ek Thian sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Mereka entah berada di mana sekarang, kami pun tidak tahu bagaimana keadaan siauw Cui."

Di saat bersamaan, tampak tiga sosok bayangan berkelebat ke arah mereka. seketika juga Kam Ek Thian dan Lie Hong suan bangkit berdiri dan terdengarlah suara seruan yang riang gembira.

"Ayah Ibu..."

"Siauw Cui siauw Cui"

Betapa gembiranya Kam Ek Thian dan Lie Hong sua n, sebab yang muncul itu ternyata putri kesayangan mereka bersama kc dua pelayan itu.

"Ayah ibu"

Siauw Cui langsung mendekap di dada ibunya, sedangkan ke dua pelayan itu segera memberihormat kepada mereka.

"Tuan, Nyonya...."

"Yen Yen,"

Tanya Kam Ek Thian.

"Bagaimana keadaan siauw Cui? Apakah kalian sudah berhasil menemukan tabib yang terkenal?"

"Tuan, kami tidak berhasil menemukan tabib yang terkenal, tapi kini Nona telah sembuh."

Yen Yen, pelayan itu memberitahukan.

"Racun yang ada didalam tubuh Nona telah punah."

"Lho?"

Kam Ek Thian heran.

"Kenapa bisa begitu?"

"Ketika kami menginap di sebuah penginapan, seorang pemuda...."

Yen Yen menutur tentang Thio Han Liong yang menyembuhkan siauw Cui dan menambahkan.

"Obat itu dibuat dari daun dan akar soat san Ling che. Kemudian pemuda itu pun menyalurkan Iweekang-nya ke dalam tubuh Nona, maka Nona begitu cepat pulih."

"Oh?"

Kam Ek Thian tampak tercengang.

"Siapa pemuda itu?"

Tanya Lie Hong suan sambil membelaibelai putrinya.

"Thio Han Liong,"

Sahut Yen Yen memberitahukan.

"Kelihatannya dia berkepandaian tinggi, bahkan juga mahir ilmu pengobatan."

"Oooh"

Lie Hong suan manggut-manggut.

"Syukurlah kini siauw Cui telah pulih. Kita segera pulang ke gunung Aitai."

Ke dua pelayan itu mengangguk. Di saat itulah Kam siauw Cui bertanya.

"Ibu, siapa adik itu?"

"Siauw Cui,"

Lie Hong suan sambil tersenyum.

"Dia bernama Ouw Yang Hui sian. Ibu akan mengajaknya ke tempat tinggal kita."

"Asyik"

Seru Kam siauw Cui gembira.

"Adik Hui sian, aku senang sekali berteman denganmu."

"Kakak,"

Ouw Yang Hui sian sambil tersenyum.

"Aku pun senang sekali."

"Ibu, bagaimana Adik Hui sian bisa bersama Ibu dan Ayah?"

Tanya Kam siauw Cui.

"Hui sian ditangkap pendeta jahat, maka ibu menolongnya,"

Jawab Lie Hong suan.

"Karena tidak lahu di mana ayahnya, jadi dia harus ikut kita."

"Bagus"

Kam siauw Cui tertawa girang.

"Aku punya teman main"

"Nak,"

Lie Hong suan menatapnya lembut.

"Kalau kalian tidak kebetulan bertemu Thio Han Liong, entah bagaimana nasibmu?"

"Ibu,"

Kam siauw Cui memberitahukan.

"Kakak Thio itu tampan sekali, aku suka sekali padanya."

"Oh?"

Lie Hong suan tersenyum.

"Namun sayang, ibu dan ayahmu belum membalas budi pertolongannya itu."

"Ibu,"

Ujar Kam siauw Cui.

"Kakak Thio tidak menghendaki kita membalas budinya. Dia seorang pendekar yang gagah dan berhati bajik,"

"Sayang sekali...."

Kam Ek Thian menggeleng-gelengkan kepala.

"Entah kapan ayah dan ibumu akan bertemu Thio Han Liong?"

"Ayah, bagaimana kalau kita pergi mencari Kakak Thio?"

Tanya Kam siauw Cui mendadak.

"Itu tidak bisa, sebab kita harus segera pulang,"

Jawab Kam Ek Thian dan menambahkan.

"Lagi pula aliran kita tidak pernah berkecimpung dalam rimba persilatan Tionggoan."

"Tapi kita cuma mencari Kakak Thio, bukan bermaksud berkecimpung dalam rimba persilatan Tionggoan. Itu... itu tidak melanggar peraturan, bukan?"

"Memang."

Kam Ek Thian manggut-manggut.

"Namun kita tidak usah pergi mencari Thio Han Liung. Kalau berjodoh kita pasti akan berjumpa kelak."

"Yah, Ayah"

Kam siauw Cui menggeleng-gelengkan kepala.

"Kita berada di gunung Aitai, bagaimana mungkin akan berjumpa kembali dengan Kakak Thio?"

Lie Hong Suan tersenyum lembut.

"Nak, kita harus segera pulang. Kini engkau sudah punya teman main, engkau masih tidak gembira?"

"Gembira sekali,"

Ujar Kam Siauw Cui lalu bertanya kepada Ouw Yang Hui Sian.

"Adik Hui Sian, engkau senang ikut kami ke gunung Aitai?"

"Senang, tapi...."

Ouw Yang Hui Sian menundukkan kepala.

"Ayahku entah berada di mana sekarang."

"Hui Sian,"

Lie Hong Suan memegang bahunya seraya berkata.

"Setelah engkau dewasa, engkau boleh pulang ke Tionggoan mencari ayahmu."

"Ya, Bibi."

Ouw Yang Hui Sian mengangguk.

"Nah, kita berangkat sekarang"

Ujar Kam Ek Thian.

"Yen Yen, gendong Hui Sian"

"Ya, Tuan"

Pelayan itu segera menggendong Ouw Yang Hui Sian.

Lie Hong Suan menggandeng tangan putrinya, kemudian melesat pergi diikuti Kam Ek Thian dan lainnya.

Ternyata mereka menggunakan ilmu ginkang.

Bagaimana keadaan Ouw Yang Bun yang tertotok jalan darahnya?

la masih tergeletak di tempat itu tak bergerak sama sekali, namun mulutnya dapat mengeluarkan suara rintihan.

"Aaah Aaaah Hui Sian...."

Mendadak sosok bayangan berkelebat ke arahnya. Bayangan itu ternyata seorang gadis yang cantik jelita, tangannya membawa sebuah kecapi.

"Eh?"

Gadis yang ternyata Dewi Kecapi itu mengerutkan kening.

"Kenapa Anda merintih-rintih? Apakah Anda terluka?"

"Jalan darahku tertotok, maka aku tak bisa bergerak sama sekali."

Ouw Yang Bun memberitahukan.

"Nona, tolong buka jalan darahku."

Dewi Kecapi menatapnya tajam. sejenak kemudian ia manggut-manggut... sekaligus menjulurkan tangannya untuk membebaskan jalan darah Ouw Yang Bun yang tertotok itu "Aaah..."

Ouw Yang Bun menarik nafas dalam-dalam. setelah itu badannya mulai bergerak.

"Terima-kasih, Nona,"

Ucapnya.

"siapa Anda?"

Tanya Dewi Kecapi.

"Namaku Ouw Yang Bun,"

Sahutnya lalu bertanya.

"Bolehkah aku tahu siapa Nona?"

"Aku Dewi Kecapi, juga adalah Putri suku Hui."

"Hah?"

Ouw Yang Bun terkejut dan segera memberi hormat.

"Ternyata Nona Putri suku Hui. Tapi kenapa Nona berada di Tionggoan?"

"Aku mencari seseorang,"

Sahut Dewi Kecapi sambil menatapnya.

"Kenapa engkau berada di sini dan siapa yang menotok jalan darahmu?"

"Aku mencari putriku yang diculik orang, tapi malah aku dilumpuhkan."

Ouw Yang Bun menggeleng-gelengkan kepala.

"Mereka telah membawa pergi putriku. Kalau Nona tidak muncul, mungkin aku akan dimangsa binatang buas."

"Siapa yang menculik putrimu?"

"Bu sim Hoatsu."

"Apa?"

Dewi Kecapi tersentak.

"Bu sim Hoatsu yang menculik putrimu?"

"Ya."

Ouw Tang Bun mengangguk dengan wajah murung.

"Entah di bawa ke mana putriku...."

"Hm"

Dengus Dewi Kecapi.

"Busim Hoatsu, ke mana engkau pergi, aku pasti memburumu"

"Nona...."

Ouw YangBun menatapnya dengan heran.

"Nona punya dendam dengan Bu sim Hoatsu itu?"

"Ya."

Dewi Kecapi mengangguk.

"Dia membunuh ke dua orang tuaku, maka aku harus menuntut balas kepadanya."

"Tapi...."

Ouw Yang Bun menghela nafas panjang.

"Bu sim Hoatsu berkepandaian tinggi, bahkan kini ditambah Im Sie Popo yang kepandaiannya lebih tinggi. oleh karena itu, sulit bagi Nona untuk menuntut balas."

"Siapa Im Sie Popo itu?"

"Im Sie Popo bernama Kwee In Loan..."

Tutur Ouw Yang Bun tentang itu "Kini dia telah gila dan dibawah pengaruh Bu sim Hoatsu."

"Ngmm"

Dewi Kecapi manggut-manggut.

"Oh ya Mereka menuju ke arah mana?"

"Tuh"

Ouw Yang Bun menunjuk ke arah mereka pergi.

"Nona harus berhati-hati, sebab Bu sim Hoatsu mahir ilmu hitam"

"Terima kasih,"

Ucap Dewi Kecapi, kemudian melesat pergi.

"sampai jumpa...."

Ouw YangBun berdiri termangu-mangu, lama sekali barulah melesat pergi mengikuti arah itu pula.

Bab 54 An Lok Kong Cu Bertemu Dewi Kecapi.

An Lok Kong cu duduk melamun dekat taman bunga.

Wajahnya tampak muram sekali, kelihatannya ada sesuatu yang tcrganjd dalam hatinya.

Kemudian ia pun menghela nafas panjang.

"Kong cu"

LanLan, dayang pribadinya menghampirinya.

"Kenapa Kong cu duduk melamun di sini?"

"Aaah..."

An Lok Kong cu menghela nafas panjang lagi.

"Lan Lan, sudah dua bulan lebih...."

"Maksud Kong cu, Tuan Muda Thio?"

Tanya Lan Lan dengan suara rendah.

"Ya."

An Lok Kong cu mengangguk.

"Sudah dua bulan lebih dia pergi, tapi kenapa belum kembali?"

"Kong cu harus sabar,"

Hibur Lan Lan.

"Aku yakin tidak lama lagi Tuan Muda Thio akan kembali."

"Lan Lan...."

An Lok Kong cu menggeleng-gelengkan kepala.

"Aku harus pergi mencarinya."

"Kong cu...?"

Lan Lan terperanjat.

"Itu...."

"Jangan khawatir, Lan Lan"

An Lok Kong cu tersenyum.

"Aku pasti akan minta ijin kepada ayah."

"Oooh"

Lan Lan menarik nafas lega.

"Tadi aku kira Kong cu akan pergi begitu saja."

"Tentu tidak. Bagaimana mungkin aku membuat cemas ayahku?"

Sahut An Lok Kong cu.

"Tapi...."

Lan Lan menatapnya seraya bertanya.

"Bagaimana kalau Yang Mulia tidak mengijinkannya? "

"Itu tidak mungkin,"

Jawab An Lok Kong cu yakin.

"Ayah ku pasti memberi ijin, aku percaya itu."

"Mudah-mudahan begitu"

Ucap Lan Lan.

An Lok Kong cu bangkit berdiri, lalu pergi ke istana Cu Goan ciang.

Kebetulan kaisar itu sedang duduk santai di ruang istirahat sambil menikmati teh wangi.

Perlahan-lahan An Lok Kong cu mendekatinya.

"Ananda memberi hormat kepada Ayahanda,"

Ucap An Lok Kong cu sambil memberi hormat.

"Oh, Ay Ceng"

Cu Goan Ciang tersenyum.

"Duduklah"

"Terima kasih, Ayahanda."

An Lok Kong cu duduk.

"Ananda...."

"Ada apa, katakanlah"

"Ananda ingin pergi mencari Han Liong, mohon Ayahanda mengijinkan Ananda"

Ujar An Lok Kong cu dengan kepala tertunduk.

"Kenapa engkau harus pergi mencarinya?"

Tanya Cu Goan Ciang.

"Bukankah dia akan kembali ke mari?"

"Sudah dua bulan lebih, tapi dia masih belum kembali. Maka... aku ingin pergi mencarinya."

"Nak"

Cu goan ciang menatapnya.

"Kenapa engkau tidak bisa sabar menunggu? Lagipula engkau mau kc mana cari dia?"

"Ananda akan ke Tibet, dia pasti berada di sana."

"Nak...."

Cu Goan ciang menggeleng-gelengkan kepala.

"Kalau pun ayah melarang, engkau juga pasti akan pergi. oleh karena itu, lebih baik ayah mengijinkanmu. Ya, kan?"

Bagian 28

"Terima kasih, Ayahanda,"

Ucap An Lok Kong cu sambil tersenyum, sehingga wajahnya tampak berseri-seri.

"Oh ya Bagaimana setelah engkau pergi dia malah kembali?"

Tanya cu Goan ciang sambil memandangnya.

"Suruh dia menunggu ananda di istana An Lok, ananda pasti kembali"

Sahut An Lok Kong cu.

"Baiklah."

Cu Goan ciang manggut-manggut "Nak, kapan engkau akan pergi?"

"Sekarang."

"Sekarang?"

Cu Goan ciang mengerutkan kening, kemudian menghela nafas panjang.

"Baiklah, tapi... engkau harus berhati-hati dan lebih baik menyamar sebagai sastrawan muda saja"

"Ya."

An Lok Kong cu mengangguk.

"Dan..."

Tambah cu Goan ciang.

"Jangan lupa membawa pedang pusaka dan bekal secukupnya"

"Terima kasih, Ayahanda,"

Ucap An Lok Kong cu sambil memberi hormat. Wajah pun tampak cerah ceria.

"Kalau bertemu Han Liong, engkau harus langsung ajak dia pulang, jangan pesiar ke mana-mana"

"Ya, Ayahanda."

An Lok Kong cu mengangguk.

lalu meninggalkan ruangan istirahat itu untuk kembali ke istana An Lok.

An Lok Kong cu telah berangkat ke Tibet, dengan menyamar sebagai sastrawan muda.

Beberapa hari kemudian, ketika ia memasuki sebuah lembah, mendadak muncul belasan orang bertampang seram, yang ternyata para perampok.

"Ha ha ha"

Kepala perampok itu tertawa gelak sambil menatap An Lok Kong Cu.

"Tak disangka ada sastrawan muda melewati lembah ini Ha ha ha..."

"Siapa kalian?"

Tanya An Lok Kong cu dengan kening berkerut.

"Kenapa kalian menghadangku? "

"Kami perampok yang akan merampok apa yang engkau bawa"

Sahut kepala perampok.

"Oh?"

An Lok Kong Cu tersenyum.

"Lebih baik kalian jangan menggangguku, biarlah aku lewat."

"Boleh, asal buntalanmu itu ditinggalkan di sini kami tidak akan mengganggumu"

"Tidak bisa"

An Lok Kong cu menggelengkan kepala.

"Kalian tidak boleh merampok...."

"Ha ha ha"

Kepala perampok itu tertawa terbahak-bahak.

"Hei sastrawan muda, kalau engkau tidak tinggalkan buntalan itu, nyawamu pasti melayang"

"Kalian...."

Pada saat bersamaan, berkelebat sosok bayangan ke arah mereka, yang tidak lain adalah Dewi Kecapi.

"Hmm"

Dengus Dewi Kecapi sambil menatap kepala perampok itu.

"Aku harap kalian jangan mengganggu sastrawan muda itu"

"He he he"

Kepala perampok itu tertawa terkekeh-kekeh.

"Engkau sungguh cantik, kebetulan engkau muncul, jadi aku bisa bersenang-senang denganmu He he he..."

"Diam"

Bentak Dewi Kecapi gusar dengan mata berapi api.

"Engkau berani kurang ajar terhadapku?"

"He he Engkau sungguh cantik dan montok sudah lama aku tidak tidur dengan kaum wanita, hari ini aku beruntung sekali"

Ujar kepala perampok dan menambahkan.

"Gadis cantik, mari kita bersenang-senang"

"Engkau memang harus mampus"

Bentak Dewi Kecapi sambil menyerang dengan kecapinya. Serangannya membuat kepala perampok itu terkejut bukan main, karena ia tidak menyangka kalau gadis cantik itu berkepandaian begitu tinggi.

"Haaah...?"

Kepala perampok itu berkelit. Akan tetapi, Dewi Kecapi telah menyerangnya lagi. Maka membuat kepala perampek itu agak kewalahan berkelit, dan mendadak meloncat ke belakang.

"Siapa engkau?"

Tanyanya dengan wajah agak pucat pias.

"Dewi Kecapi"

"Dewi Kecapi?"

"Ya."

Dewi Kecapi manggut-manggut.

"Engkau kepala perampok hari ini bertemu aku, maka ajalmu telah tiba."

"Serang dia"

Seru kepala perampok itu memberi aba-aba kepada anak buahnya. Seketika juga para anak buahnya menyerang Dewi Kecapi. Akan tetapi mendadak Dewi Kecapi menarik tali senar kecapinya.

"Ting Ting Ting..."

"Aaaakh Aaaakh Aaaakh..."

Terdengar suara jeritan para perampok itu, tidak tahan akan suara yang bagaikan memukul dada mereka.

"Ting Ting Ting..."

"uaaakh uaaaakh..."

Para perampok itu memuntahkan darah. sedangkan kepala perampok itu terhuyung-huyung ke belakang tujuh delapan langkah dengan wajah pucat pias.

"Ting Ting Ting..."

Dewi Kecapi terus memetik tali senar kecapinya membuat para perampok itu roboh satu persatu.

Akhirnya kepala perampok itu pun roboh dengan mulut mengeluarkan darah, barulah Dewi Kecapi berhenti.

Setelah itu, Dewi Kecapi menghampiri An Lok Kong cu, lalu memandangnya dengan penuh perhatian.

"Terima kasih atas pertolongan Nona,"

Ucap An Lok Kong cu.

"Hi hi hi"

Dewi Kecapi tertawa.

"Tak kusangka engkau pun berkepandaian tinggi."

"Tapi kepandaianmu jauh lebih tinggi,"

Sahut An Lok Kong cu dengan tersenyum.

"Bahkan engkau pun cantik sekali."

"Oh ya?"

Dewi Kecapi menatapnya.

"Engkau pun cantik sekali."

"Aku cantik?"

An Lok Kong cu tercengang.

"Hi hi hi"

Dewi Kecapi tertawa cekikikan.

"Engkau kira aku tidak tahu?"

"Maksudmu?"

"Engkau adalah gadis cantik yang menyamar sebagai sastrawan muda. Engkau dapat mengelabui mata orang lain, namun tidak bisa mengelabui mataku."

"Engkau memang hebat,"

Ujar An Lok Kong cu.

"Oh ya bolehkah aku tahu siapa engkau?"

"Aku Putri suku Hui dengan julukan Dewi Kecapi. siapa engkau dan mau ke mana?"

"Aku sedang pesiar."

Sahut An Lok Kong cu.

"Aku berasal dari Kotaraja."

"Ngmmm"

Dewi Kecapi manggut-manggut.

"Aku yakin engkau adalah putri pejabat tinggi di Kotaraja. Ya, kan?"

"Ya."

An Lok Kong cu mengangguk.

"Engkau Putri suku Hui, tapi kenapa berada di Tionggoan?"

"Mari kita duduk di bawah pohon itu"

Ajak Dewi Kecapi.

"Lebih asyik kita mengobrol di sana."

An Lok Kong cu mengangguk. Mereka berdua lalu duduk di bawah sebuah pohon dan mengobrol lagi sambil tertawatawa.

"Aku datang di Tionggoan untuk mencari musuh besarku...."

Dewi Kecapi memberitahukan tentang itu.

"Oooh"

An Lok Kong cu manggut-manggut.

"Ternyata engkau ingin menuntut balas kepada Bu sim Hoat-su yang membunuh ke dua orangtuamu. Tapi... apakah engkau sanggup melawannya?"

"Kalau pun tidak sanggup, aku tetap harus melawannya."

Sahut Dewi Kecapi yang telah membulatkan tekadnya.

"Biar bagaimanapun, aku harus membunuhnya."

"Dewi Kecapi, aku sama sekali tidak menyangka kalau engkau Putri suku Hui."

An Lok Kong cu menatapnya.

"Kini suku kalian telah bebas dari kekuasaan Dinasti Mongol, sebab Tionggoan telah kembali ke tangan bangsa Han."

"Betul."

Dewi Kecapi manggut-manggut dan menambahkan.

"Mungkin tidak lama lagi, kami akan mengirim upeti untuk kaisar Beng."

"Itu tidak perlu, karena kaisar Beng sama sekali tidak pernah menindas suku Hui maupun suku lain, melainkan menghendaki perdamaian."

"Justru itu, kami amat menghormati kaisar Beng dan ingin menjalin hubungan persahabatan."

Dewi Kecapi memberitahukan.

"Mungkin aku akan mewakili kepala suku Hui untuk mengantar upeti ke Kotaraja. oh ya, bolehkah aku tahu siapa namamu?"

"Namaku Cu An Lok."

"Kelak kalau aku akan ke Kotaraja, aku pasti mengunjungimu,"

Ujar Dewi Kecapi berjanji.

"Terima kasih."

Ucap An Lok Kong cu.

"Tapi aku tidak tahu di mana tempat tinggalmu, aku harus ke mana mencarimu?"

"Kalau engkau tiba di istana, tanyakan kepada kepala pengawal istana, dia pasti memberitahukan di mana tempat tinggalku."

"Oooh"

Dewi Kecapi manggut-manggut.

"Itu pertanda ayahmu seorang pejabat tinggi dalam istana."

"Ya."

An Lok Kong cu mengangguk sambil tersenyum.

"Maaf. Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu? "

"Silakan"

"Engkau sudah punya suami?"

"Belum."

"Kekasih?"

"Juga belum."

"Engkau sedemikian cantik tapi kenapa belum punya kekasih? Apakah belum bertemu pemuda idaman hati?"

"Kira-kira begitulah"

Dewi Kecapi tersenyum.

"Belum lama ini aku bertemu dengan seorang pemuda Han. Dia sungguh tampan, lemah lembut, sopan, gagah dan berhati jujur."

"Oh?"

An Lok Kong cu tertawa kecil.

"Siapa pemuda itu?"

"Dia berkepandaian tinggi sekali. Aku... aku amat tertarik padanya, bahkan boleh dikatakan telah jatuh hati padanya pula. Namun...."

Dewi Kecapi menggeleng-ge-lengkan kepala.

"Kenapa?"

"Dia berterus terang padaku, bahwa sudah punya tunangan."

"Siapa tunangannya?"

"Aku tidak bertanya dan dia pun tidak memberitahukan, akhirnya kami berpisah."

"Engkau rindu padanya?"

"Ya."

Dewi Kecapi mengangguk, kemudian menghela nafas panjang.

"Tapi dia sudah punya tunangan, lagi pula kelihatannya amat mencintai tunangannya itu."

"Dari mana engkau tahu itu?"

"Karena di belakang tunangannya, dia sama sekali tidak mau menyeleweng. Itu pertanda dia adalah pemuda sejati, juga amat mencintai tunangannya itu."

"Oh?"

An Lok Kong cu tersenyum.

"Sebetulnya siapa pemuda itu?"

"Dia bernama Thio Han Liong."

"Hah? Apa? Thio Han Liong?"

An Lok Kong cu tersentak, namun bergirang dalam hati karena memperoleh kabar berita pemuda tersebut.

"Lho?"

Dewi Kecapi menatapnya heran.

"Kenapa engkau tampak begitu tegang? Kenapa sih? Engkau kenal dia?"

"Aku memang kenai dia"

An Lok Kong cu mengangguk.

"Ketika berpisah denganmu, dia bilang mau ke mana?"

"Mau ke Kotaraja,"

Sahut Dewi Kecapi.

"Engkau berasal dari Kotaraja, tentunya engkau tahu siapa tunangannya"

"Aku...."

An Lok Kong cu ragu menjawabnya.

"Engkau...."

Dewi Kecapi tersenyum.

"Jangan-jangan engkau juga jatuh hati padanya, namun dia sudah punya tunangan maka engkau merasa kecewa sekali."

"Aku...."

An Lok Kong cu menggeleng-gelengkan kepala.

"Terus terang, aku amat penasaran sekali,"

Ujar Dewi Kecapi.

"Rasanya ingin tahu siapa tunangannya itu"

"Lho? Kenapa?"

"Memperbandingkan kecantikanku dengan kecantikan tunangannya itu. sebab aku adalah gadis yang tercantik dalam suku Hui, mungkinkah tunangannya lebih cantik dariku?"

"Oooh"

An Lok Kong cu manggut-manggut sambil tersenyum.

"Pemuda itu sudah punya tunangan, tapi engkau..."

"Terus terang, aku masih ingin mencoba mendekatinya. Kalau dia tertarik padaku, aku pasti mengajaknya ke daerah kami."

"Oh?"

An Lok Kong cu terperanjat.

"Kalau begitu secara tidak langsung engkau akan memisahkan pemuda itu dengan tunangannya."

"Cinta memang harus bersaing,"

Sahut Dewi Kecapi.

"Tapi belum tentu aku akan berhasil mendekatinya mendekatinya."

"Kenapa?"

"Sebab dia bukan pemuda mata keranjang, lagi pula amat mencintai tunangannya. Aaaah-"

An Lok Kong Cu diam saja, namun terus memandang Dewi Kecapi dan bergirang dalam hati, sebab Thio Han Liong tidak menyeleweng di belakangnya.

"Pertama kali aku jatuh hati, tapijuga membuat aku kecewa."

Dewi Kecapi menggeleng-gelengkan kepala.

"Dia pemuda baik, yang sulit dicari bandingannya."

"Dewi Kecapi"

An Lok Kong cu tersenyum.

"Aku yakin kelak engkau pasti ketemu pemuda idaman hati, percayalah"

"Oh ya"

Dewi Kecapi menatapnya seraya bertanya.

"Engkau sudah punya kekasih?"

"Aku sudah punya tunangan."

"Engkau sudah punya tunangan, tapi masih tertarik pada Thio Han Liong?"

Dewi Kecapi menggeleng-gelengkan kepala.

"Engkau lebih sinting daripada diriku, namun dia memang merupakan pemuda yang baik dan gagah, gadis yang manapun pasti akan tertarik padanya."

"Oh ya Engkau mau ke mana?"

"Aku mau mencari Bu sim Hoatsu. Engkau?"

"Aku harus segera pulang ke Kotaraja. Dewi Kecapi aku sungguh bergembira berkenalan denganmu. Mudah-mudahan kita akan berjumpa kembali kelak"

"Ya."

Dewi Kecapi tersenyum.

"Aku pun bergembira sekali berkenalan denganmu. Kalau aku mengantar upeti ke Kotaraja, pasti mengunjungimu."

"Terima kasih,"

Ucap An Lok Kong cu sambi memberi hormat.

"Sampai jumpa"

"Selamat jalan"

Sahut Dewi Kecapi. An-Lok Kong cu tersenyum, kemudian melesat pergi laksana kilat. Dewi Kecapi berdiri termangu. la tidak menyangka An Lok Kong cu berkepandaian begitu tinggi.

"Cu An Lok..."

Gumam Dewi Kecapi.

"Dia menyamar sebagai sastrawan muda sudah tampak begitu cantik, apalagi berpakaian wanita. Dia sudah punya tunangan, siapa tunangannya?"

Dewi Kecapi terus berpikir hingga keningnya berkerutkerut. Kemudian ia menggeleng-gelengkan kepala.

"Kenapa aku harus memikirkan hal itu?"

Dewi Kecapi menghela nafas.

"Itu bukan urusanku, yang penting aku harus berhasil mencari Bu sim Hoatsu."

Usai bergumam, Dewi Kecapi melesat pergi untuk mencari Bu sim Hoatsu.

sedangkan An Lok Kong Cu menuju ke Kotaraja, Beberapa hari setelah An Lok Kong cu meninggalkan istana pergi mencari Thio Han Liong, pemuda itu justru tiba di Kotaraja dan langsung menuju ke istana menghadap Cu Goan ciang.

"Yang Mulia...."

Thio Han Liong memberi hormat.

"Han Liong"

Cu Goan ciang tersenyum lembut.

"Duduklah"

"Terima kasih,"

Ucap Thio Han Liong lalu duduk dan bertanya.

"Di mana Adik An Lok?"

"Dia tidak sabar menunggu."

Cu Goan ciang memberitahukan.

"Beberapa hari yang lalu dia berangkat ke Tibet, katanya ingin menyusulmu."

"Oh?"

Thio Han Liong mengerutkan kening.

Baca Juga: Pendekar Remaja Kho Ping Hoo

Baca Juga: Ilmu Golok Keramat 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert