Ceritasilat Novel Online

Iblis Sungai Telaga 9

Eps 9 Iblis Sungai Telaga - Khu Lung

Baca online Iblis Sungai Telaga - Khu Lung

Cersil Iblis Sungai Telaga - Khu Lung.

Hu Leng menyambut ajakan dengan dia mendahului menyerang.

Dia berada di belakangnya Tan Hong, langsung saja dia menghajar punggungnya nona itu !

Tan Hong repot juga.

Ia mesti menghadapi musuh di depan dan di belakang dan musuh berjumlah empat, Peklie Cak tidak dengan segera turun tangan tetapi dia dengan senjatanya yang berat luar biasa itu, melakukan pengawasan, bersiap sedia untuk menghadang kalau-kalau musuh berniat angkat kaki.

Tak kecewa Tan Hong mendapat julukan si Rase Sakti Bermuka Gemala, meski terkurung banyak musuh, hatinya tak menjadi ciut.

Dari mendongkol dan gusar, dia berhasil menenangkan diri, hingga ia bisa menggunakan otaknya untuk berpikir.

Begitulah ketika ia diserang Hu Leng dia berkelit sambil mendak setelah dia berdiri pula dia berdiri sambil berlompat pada penyerangnya, buat membalas menyerang dengan sanhopang yang cahayanya berkilau.

Diwaktu menyerang itu dia mengerahkan tenaga dalam Mo Teng Ka.

Hu Leng terkejut karena serangan kilat itu.

Ia pun tidak menyangka yang serangannya bakal gagal.

Ia melihat cahaya berkilau itu.

Tak sempat buat ia berkelit, terpaksa ia menggunakan senjatanya menangkis !

Suatu suara nyaring adalah akibat beradunya kedua senjaa.

Tapi Hu Leng kaget pula.

Itulah sebab ruyung kirinya terlepas dan terpental dan ujung senjata lawan terus melesat mengenakan bahunya hingga ia merasakan nyeri sekali.

Rasa nyeri itu nyelusup ke hulu hatinya !

Mau tidak mau si kunyuk terhuyung mundur lima tindak.

Habis menyerang Hu Leng, Tan Hong mesti melayani Lou Hong Hui, sebab Tongcu wanita dari Losat Bun itu sudah lantas menerjang, beradunya senjatanya, buat membantu kawannya sekalian mencoba melampiaskan sakit hatinya.

Hong Hui pun menyerang secara sangat hebat.

Peklie Cek adalah seorang tongcu yang memegang derajat kehormatan dirinya.

Tadi ia cuma menghadang seterusnya tak mungkin membantu kawan-kawannya mengepung lawan.

Bukan saja lawan itu seorang diri, dia juga seorang wanita.

Tapi setelah melihat Hu Leng kena dihajar, tak dapat ia berdiam lebih lama pula.

Ia melihat ilmu silat lawan bukan sembarang ilmu silat.

Ia pun segera dapat melihat bagaimana Lou Hong Hui tidak dapat mendesak lawan itu.

"Lou Tongcu !"

Ia lantas memperdengarkan suaranya.

"silakan kau mundur untuk beristirahat. Biarlah aku si orang tua yang melayani dia !"

Berkata begitu, tanpa menanti Hong Hui mundur, Peklie Cek terus maju sambil menyerang ke tengah-tengah diantara dua orang yang lagi bertempur seru itu.

Melihat demikian duadua Teng Hiang dan Lou Hong Hui lompat mundur menahan diri.

Tan Hong bernafas sengal-sengal.

Ia telah menggunakan terlalu banyak tenaga melayani sekian musuhnya itu.

Ia berdiri diam sambil memegang senjatanya, matanya mengawasi semua musuh terutama si orang tua yang bersenjatakan boneka itu.

Peklie Cek mendekati Nona Tan, matanya mengawasi bengis.

"Kau berani banyak lagak disini, mari kau sambut beberapa jurusku !"

Dia berkata keras terus dia menyerang.

Tan Hong tidak berani menangkis, ia berkelit.

Peklie Cek hendak menawan si nona, ia juga mau menunjuki kegagahannya, ketika nona itu berkelit, maka ia menyerang pula dan waktu nona itu berkelit pula ia terus merangsek.

Kali ini terus-terusan hingga ia menyerang tak henti-hentinya selama lima jurus !

Tan Hong terus masih berkelit.

Teng Hiang bertepuk tangan, bersorak sorai menyaksikan cara berkelahi lawan itu, kata dia nyaring .

"Bagus ! Bagus ! Sungguh menarik hati ! Lihat ! Lihat si Rase Sakti Bermuka Gemala menjadi seperti seekor tikus. Eh, eh, kalian lagi bertarung atau lagi bermain-main ?"

Hatinya Tan Hong menjadi panas sekali mendengar ejekan itu.

Sebenarnya ia tak mau menangkis lawan sebab diam-diam ia lagi mengumpulkan tenaganya.

Sekarang tidak dapat ia berkelit terus-terusan, maka ia lantas mencari kesempatan.

Kembali Peklie Cek menyerang lawannya.

Dia menjadi penasaran.

Suaranya Teng Hiang pun membuat hatinya bergolak.

Dia menyerang dengan cepat sekali sebab ingin dia merobohkan lawannya itu.

Dan inilah saat baik dari Tan Hong.

Dengan satu gerakan tubuh yang lincah ia berkelit ke samping, lalu sama cepatnya ia berkelit itu, sanhopang diluncurkan ke sikut penyerangnya itu.

Ia telah mengerahkan tenaga Mo Teng Ka pada tongkatnya itu.

Jika serangan ini mengenai sasarannya, pasti putuslah lengan orang yang diserang itu.

Peklie Cek lihai.

Selekasnya serangannya gagal, ia dapat membaca gerak gerik lawan yang tidak berkelit dengan melompat jauh.

Ia lantas bersikap sedia.

Akan tetapi Tan Hong cepat luar biasa, ia mendahului.

Hong Hu Lui Sin terperanjat.

Ia merasai sikutnya sedikit nyeri sebab sambaran angin sanhopang.

Maka ia lantas berlaku cepat luar biasa.

Ia menangkis serangan lawan.

Hendak ia membuat senjata lawan terhajar hingga lepas dari cekalan dan terpental.

Tan Hong sedang menyerang ketika ia ditangkis.

Tidak sempat ia menarik pulang senjatanya.

Dengan begitu kedua senjata lantas beradu dengan keras sekali hingga suaranya terdengar nyaring.

Percikan api pun bermuncratan karenanya.

Dan dua lawan tangannya sesemutan dan bergemetaran !

Peklie Cek tidak tahu yang senjata lawan telah dikerahkan dengan tenaga dalam Mo Teng Ka yang luar biasa.

Ia menyangka senjata itu hanya senjata biasa.

Maka kaget dan heranlah ia atas kesudahannya bentrokan itu.

Sungguh diluar dugaan yang si nona demikian besar tenaganya serta senjatanya pun tangguh sekali.

Dengan mendelong ia awasi nona itu, kemudian kata dengan kekaguman.

"Nona, kau berkepandaian begini rupa, tak kecewa kau menjadi orang Hek Keng To."

Setelah suaranya orang tua itu, maka disitu terdengar satu suara nyaring, tajam, terang dan jelas .

"Ketiga Tongcu pulanglah ! Budak itu datang kemari tanpa maksudnya yang buruk. Dia cuma hendak menjual jiwanya untuk sang cinta ! Nah, berilah ampun kepadanya !"

Itulah suaranya Kwie Tiok Giam Po, suaranya disalurkan dengan ilmu "To Kia Toan Im", saluran nafas teratas yang dikeluarkan oleh wanita tua itu dari atas ranggon kecil di Toa tian.

Tan Hong cerdik sekali.

Ia kenali suaranya ketua Losat Bun itu yang segera juga ia berkata .

"Kauwcu, jika tidak ada apaapa lagi darimu, Tan Hong meminta perkenan untuk mengundurkan diri !"

Ia berkata begitu tapi tanpa menantikan jawaban lagi, ia lantas bertindak.

Mulanya ia menghadapi Peklie Cek dang Hu Leng, untuk memberi hormat, terus ia mengawasi Teng Hiang dan Lou Hong Hui dengan sinar mata kemarahan, habis itu ia menyimpan pula senjatanya, baru lantaslah ia berlalu, tak cepat dan perlahan sampai ia lenyap diantara kegelapan malam.

Hu Leng memegangi bahu kirinya, ia menjemput senjatanya, untuk melindungi mukanya dia berkata .

"Beginilah hasilnya tabiatku yang suka belas kasihan ! Asal aku melihat nona yang cantik, tanganku lantas menjadi lembut, maka aku telah kena dicurigai budak tadi ! Ha ha ha ha !"

Lou Hong Hui melirik kawan itu, ia memperlihatkan tampang menghina tetapi tidak mengatakan sesuatu. Teng Hiang sebaliknya. Nona jail ini kata sambil tertawa .

"Nona-nona tak menyukai sepasang kumis setan dibibirmu ini !"

"Mari aku tambahkan kata-kata katamu ini !"

Berkata Lou Hu Leng tertawa.

"Bukankah kau maksudkan nona-nona jemu terhadapku ?"

Teng Hiang tidak melayani bicara, melainkan ia tertawa.

Sampai disitu maka berangkatlah mereka pulang dengan berjalan bersama-sama dengan perlahan-lahan.

Sementara itu Tan Hong sudah lantas kembali ke gua yang tadi, sebab ia tak menyingkir terus dari gunung itu.

Ia belum menyelidiki seluruh gunung Ay Lao San tapi sekarang ia percaya memang benar Tio It Hiong tidak berada di markas di gunung itu.

Ia merasa sangat letih, maka ia terus merebahkan diri, tidur pulas hingga tibanya sang fajar.

Pagi itu pun ia tak segera meninggalkan gunung, hanya ia masih berputaran di sekitar kaki gunung, buat mencari terus, di gua-gua atau tempat lebat lainnya.

Demi ini, tak mengenal lelah ia memakai waktu beberapa hari.

Hingga ia kemudian mengambil kepastian kalau It Hiong tidak dibinasakan pihak Losat Bun dengan tubuh raganya dilenyapkan.

Pasti anak muda itu sudah lolos dan turun gunung dengan tidak kurang apa-apa, tapi toh masih terus ia mencari ditanah pegunungan itu hingga tanpa merasa ia memasuki wilayah gunung Bu Liang San.

Hari itu tengah pikiran si nona kacau sekali, tiba-tiba ia melihat jauh di depannya ada bayangan orang, bayangan yang kecil yang lagi berlompatan naik dan turun.

Ia belum melihat tegas bayangan itu tetapi ia lantas menerka bahwa orang tengah berlatih ilmu ringan tubuh atau dia itu lagi bermain-main seorang diri......

"Baiklah, aku menemui dia....."

Pikir nona ini yang terus saja lari ke arah bayangan itu atau lebih benar sosok tubuh manusia.

Tak mudah akan datang dekat kepada orang itu, hanya setelah ia datang mendekati, selekasnya ia melihat nyata, ia menjadi hilang harapan.

Orang itu adalah seorang anak umur lima atau enam tahun, seorang bocah perempuan.

"Ah !..."

Serunya perlahan.

Tapi sudah kepalang ia bertindak menghampiri anak itu.

Si anak melihat ada orang asing datang, dia tak menghiraukan.

Tetap dia lompat naik dan lompat turun atau berlompatan kesana kemari.

Tan Hong menghentikan tindakannya, dia tertawa dan menyapa .

"Adik kecil, sungguh gembira kau bermain-main ! Adik, maukah kau bicara sebentar denganku ?"

Justru itu, anak kecil lagi lompat naik keatas sebuah pohon, disitu dia menyangkolkan kedua kakinya pada sebuah dahan, tubuhnya ditarik melonjor terus hingga dia tergantung, kaki diatas, kepala dibawah terus dia berayun-ayun.

Itulah sikap To Kwa Kim Ciong, Menggantung Lonceng Emas.

Sembari berbuat begitu, dengan tingkahnya seorang gagah ia menggerakkan kedua belah tangannya pada orang yang menanyanya sambil sekalian membuat main bibirnya juga.

Caranya itu seperti orang bergurau atau mengejek.....

Tan Hong tak menghiraukan lagak orang.

"Adik kecil"

Tanyanya pula.

"maukah kau bicara denganku ?"

Sekarang si nona cilik tertawa, nyaring suaranya.

"Kalau kau mempunyai kepandaian, kau nyandaklah nonamu !"

Serunya.

"Kalau kau dapat menyandak aku, baru suka bicara aku denganmu !"

Dan terus mencelat ke lain dahan, gerakannya mirip gerakan kera kecil, hebat dan lincah. Biar bagaimana Tan Hong tak puas.

"Ah, anak."

Katanya didalam hati.

"baru saja belajar sampai disini kau sudah jumawa...... Anak, mau turun !"

Meneruskan berkata, sambil berbuat begitu ia meluncurkan sebelah tangannya buat menggapai terus menarik.

Dengan berbuat begitu ia mengerahkan tenaga Mo Teng Ka yang lunak.

Nona cilik itu tidak dapat bergerak lagi.

Mudah saja ia tertangkap dan dikasihh turun perlahan-lahan, kemudian dengan masih memegangi pergelangan tangan orang, Tan Hong menanya sambil tertawa .

"Oh, adik, kau sungguh lihai."

Nona cilik itu mengawasi orang yang menegurnya.

"Katanya kau mau bicara denganku, dari hal apakah ?"

Dia tanya.

"Aku hendak tanya kau, adik"

Sahut Tan Hong.

"kau pernah lihat atau tidak seorang anak muda usia kurang lebih dua puluh tahun yang biasa mengabloki pedang dipunggungnya ? Anak muda itu pada kira dua bulan yang lalu telah datang kemari......"

"Apakah hubungannya anak muda itu dengan kau ?"

Si nona cilik bertanya pula sebelum ia menjawab orang.

"Kami bersahabat satu dengan lain"

Sahutnya.

"Bukankah pemuda itu pandai ilmu Gie Kiam Hui Hang ?"

Si Nona Tanya lagi. Tan Hong heran hingga ia menyerukan "Oh...!"

Perlahan.

"Gie Kiam Hui Hang"

Berarti "menerbangkan pedang". Ia tidak tahu yang It Hiong pandai ilmu itu atau tidak. Ia lantas tunduk dan berpikir, hingga dia tidak lantas memberikan jawabannya. Nona cilik itu bertanya pula.

"Bukankah dialah si anak muda yang datang ke Cenglo Ciang mencari Couw Kong Put Lo si bocah ?"

Tan Hong memperdengarkan melongo.

Ia tidak tahu bahkan belum pernah mendengar nama Couw Kong Put Lo.

Tentu saja ia tak tahu juga Couw Kong Put Lo itu orang kaum mana, lurus atau sesat.

Tapi ia maka lantas menanya .

"Dimana adanya Couw Kong Put Lo sekarang ?"

Anak itu mau menjawab atau mendadak dia mengerutkan mukanya terus ia mengeluarkan nafas melegakan dirinya. Dia pun tunduk dan berkata perlahan .

"Ah, aku tak dapat melanjuti latihan Sin Kut Kang ku....."

Tan Hong mengawasi dengan tidak mengerti.

Si nona bicara apa yang tak ditanyakan.

Ia pun lantas melihat nona cilik itu bergemetar atau bergidik, tubuhnya lantas terhuyunghuyung ke kiri dan ke kanan, lalu dengan perlahan-lahan tubuhnya itu menjadi besar hingga ia merupakan seorang gadis usia lima atau enam belas tahun....

Saking heran dan terkejut Nona Tan mundur dua tiga tindak.

Tetapi ia mengawasi dengan tajam.

Setelah itu nona itu menggerakkan tubuh atau pinggangnya, terus ia berdiri tegak.

Dia mengawasi orang asing di depannya terus ia bertanya .

"Mengapa kau mengawasi aku begitu rupa ? Apakah kau belum pernah mempelajari ilmu Sin Kut Kang ?"

Tentang ilmu Sin Kut Kang itu pernah Tan Hong mendengar dibicarakan Beng Leng Cinjin, kakak seperguruannya yang tertua. Katanya itulah suatu ilmu yang terdapat dalam kita "Ie Kin Kang"

Dari Tat Canwan atau Budhi dharma pencipta dari ilmu silat Siauw Lim Pay, cuma ilmu itu sudah lenyap dari peredaran.

siapa tahu sekarang ditanah pegunungan ini, ia mendengar si nona cilik menyebutnya bahkan juga nona itu tubuhnya dari kecil berubah menjadi besar itu.

Setelah mengawasi pula sejenak, Tan Hong menghampiri.

Ia melihat orang tidak bermaksud buruk.

Ia menanya halus .

"Adik, apakah Sin Kut Kang ini pelajaran dari dalam kitab Ie Kin Kang ? Adik, siapakah itu gurumu ? Dan apakah namanya gurumu itu ?"

Mendadak si nona mengawasi dengan matanya dibuka lebar.

"Apa, apa kau menanya semua ini ?"

Tanyanya.

"Kau sebenarnya mau mencari Couw Kong Put Lo atau hendak mengadu lari denganku ?"

Kembali Tan Hong melengak.

Heran nona ini.

Tapi justru ia melengak itu si nona justru sudah memutar tubuh buat lari ke dalam rimba.

Walaupun dia heran sekali, Tan Hong pun segera lari menyusul.

Ia pun ingin mengetahui tentang Couw Kong Put Lo yang disebutkan nona itu.

Mereka berlari-lari melintasi rimba itu lalu disebuah tikungan Tan Hong kehilangan nona yang dikejarnya, sia-sia saja nona mencari kesana kemari.

Disitu pun banyak pepohonan dan batu-batu besar dan batu-batu besar itu yang disebut batu rebung-letaknya tak teratur.

"Adik ! Adik !"

Ia memanggil-manggil. Tan Hong tidak berani sembarangan untuk memasuki batubatu rebung itu yang setelah dia awasi mirip sebuah "tiu"

Atau Barisan rahasia.

Sia-sia belaka panggilan itu yang terdengar cuma jawaban berupa kumandang yang lenyap terbawa angin.

Sementara itu matahari sudah doyong pula ke barat.

Sang magrib dengan cepat mendatangi.

Dan Tan Hong berada seorang diri diantara tumpukan batu itu.

Ia menjadi merasa sangat kesepian.

Ia melihat kesekitarnya dengan pikiran kosong.

Tiba-tiba dari sela-sela beberapa buah batu rebung itu muncul seorang tua dewasa, tubuh tertutup jubah keimaman, dialah seorang yang kurus dan wajahnya pucat.

Melihat orang itu, Tan Hong menjadi girang dengan mendadak.

Tanpa menghiraukan siapa orang itu, ia lantas bertindak menghampiri, sembari memberi hormat dia menanya.

"Totiang, mohon bertanya, apakah Couw Kong Put Lo tinggal disini ?"

Orang itu mengawasi.

"Siapakah kau ?"

Dia balik bertanya.

"Ada urusan apa kau mencari Couw Kong Put Lo ?"

"Aku yang muda dari Hek Keng To,"

Si nona menyahut dengan sebenar-benarnya.

"Aku ingin menemui Couw Kong Put Lo guna menanyakan tentang seorang muda...."

Orang dengan jubah imam itu memperdengarkan suara "Oh !"

Perlahan. Rupanya ia merasa sedikit heran. Kemudian ia berkata pula .

"Aku si orang tua ialah Couw Kong Put Lo. Kau ada bicara apa nona ? Mari masuk kedalam, di sana kita dapat bicara sambil duduk !"

Ia pun terus mengasi jalan. Tan Hong mengawasi. Ia melihat air muka orang berubah. Tak mau ia lancang memasuki tempat orang.

"Jangan sungkan, totiang,"

Katanya.

"Aku cuma mau menanyakan tentang si orang muda. Tak berani aku mengganggu waktu totiang...."

Lantas orang tua itu menunjuk tampang tidak puas.

"Anak perempuan !"

Katanya dingin.

"Nah, kau tanya itu !"

"Orang muda itu totiang, biasa berdandan ringkas dan membawa pedang di punggungnya, usianya dua puluh lebih. Apakah totiang pernah melihat dia ?"

Ditanya begitu, si orang tua tertawa lebar.

"Di dalam dunia persilatan ada banyak anak muda yang biasa membawa-bawa pedang !"

Katanya.

"Sebenarnya nona, siapakah yang Nona Tanyakan itu ?"

"Dialah Tio It Hiong muridnya Tek Cio Totiang dari Pay In Nia."

Tan Hong memberikan keterangannya.

"Apakah totiang pernah bertemu dengannya ?"

"Hm ! Hm !"

Orang itu mengasi dengan suara dingin.

"Kiranya nona mencari bocah she Tio itu ! Percuma saja nona !"

Tan Hong terkejut. Lantas muncul kekuatirannya.

"Apakah adik Hiong telah menampak bencana?"

Maka ia lantas menanya .

"Totiang, apakah totiang pernah bertemu dengan dia ?"

Couw Kong Put Lo-demikian nama orang itu-tidak puas yang orang berulang-ulang memanggilnya Totiang. Itulah panggilan khusus buat rahib dari kaum To Kauw.

"Hm, bocah wanita !' katanya keras.

"bagaimana kau memaksakan kau menjadi si hidung kerbau dari kalangan Sam Ceng ? Hm !"

"Sam Ceng"

Ialah tri tunggal kalangan To Kauw dan Couw Kong Put Lo tak menyukainya walaupun ia toh mengenakan jubah kaum agama itu.

Tan Hong heran hingga ia melengak.

Tapi ia cerdas dan cerdik.

Ia lantas ingat halnya banyak orang rimba persilatan yang tabiat dan sifatnya aneh.

"Maaf, maaf locianpwe"

Katanya cepat.

"Harap locianpwe maafkan aku..."

Ia lantas menatap tajam baru ia menambahkan.

"Locianpwe, apakah anak muda she Tio itu pernah datang kemari ?"

"Hm !"

Kembali si orang tua mengasi dengan suara dinginnya.

"Bukan saja bocah itu pernah datang kemari, bahkan hampir aku si tua menjual di waktu untuknya ! Dia sekarang berada di Goh Cit Kok, dia tinggal bersama dan galang gulung dengan Kip Hiat Hong Mo ! Mau apa kau cari dia?"

Mendengar itu Tan Hong girang berbareng terkejut. Girang sebab ia mendapat kabar ini, jadi Tio It Hiong tidak terbinasa, hanya ia kaget sebab ia menerka tentunya si "Adik Hiong"

Kena terkurung di dalam lembah Goh Cit Kok itu.

Disaat dia hendak menanya pula, ia mendengar seperti orang berjalan yang datangnya dari belakang batu disisi jalan lalu sirap.

Untuk sejenak ia heran, hingga ia berdiam saja.

Di lain saat ia toh terus menanya juga.

"Locianpwe, dapatkah locianpwe menjelaskan padaku tentang pemuda Tio It Hiong itu ?"

Couw Kong Put Lo suka memberi keterangan. Kata dia.

"Dia kesasar di Cenglo Ciang lalu dia ketemu denganku. Lantas bersama-sama kami pergi ke Goh Cit Kok maksudnya guna membinasakan Kip Hiat Hong MoTouw Hwe Jie. Kesudahannya aku si orang tua telah terluka didalam, tenagaku habis. Sebaliknya bocah itu, dia bukannya membantu aku, dia justru bersahabat dengan Touw Hwe Jie. Ketika aku pulang kemari, dia masih berada dilembah itu !"

Tan Hong mendapat harapan, walau ia tetap merasa kurang senang.

Maka mau ia menanya pula orang tua itu atau ia lantas melihat mendatanginya dua orang.

Seorang wnita tua dan seorang lagi seorang nona.

Rupanya suara tadi suaranya mereka itu.

Lekas-lekas dia bersembunyi dibalik batu darimana ia terus mengintai.

Selagi berjalan itu terdengar suara nyaring dari si nona.

"Jangan kau berkuatir, Ciok Kauwcu ! Touw Hwe Jie berubah, suka turut dalam rombongan Bu Lim Cit Cun kalau Tio It Hiong ada bersamanya. Inilah soal mudah,aku Teng Hiang akan aku mencarikan seorang Tio It Hiong ! Kalau kita akali dia dengan Tio It Hiong palsu, mustahil dia tak mau muncul ?"

"Hm !"

Si perempuan tua memperdengarkan suaranya yang dingin.

"Budak setan, enak saja kau bicara ! Touw Hwe Jie bukannya seorang bocah cilik, mana dia mudah diperdayakan ? Kalau kita pakai Tio It Hiong palsu, kemudian akal itu pecah bukankah itu bakal mendatangkan kesudahan yang lebih hebat ?"

"Hal itu jangan kauwcu kuatirkan."

Berkata pula si nona ialah Teng Hiang seperti dia menyebut namanya.

"Aku tahu halnya seorang Tio It Hiong palsu. Di dalam segala hal dia sangat mirip dengan Tio It Hiong yang tulen. Jangan kata Touw Hwe Jie, Kauwcu sendiri yang bermata awas mungkin kau bakal tak dapat membedakannya !"

Dua orang itu bicara sambil berjalan terus sampai mereka melewati batu rebung di belakang mana Tan Hong menyembunyikan diri.

Si wanita ialah Kwie Tiok Giam Po.

Teng Hiang membenci It Yap Tojin tak sudi ia mengangkat imam itu menjadi kepala dari Bu Lim Cit Cun.

Maka itu selekasnya ia mendengar halnya Touw Hwe Jie dari Kwie Tiok Giam Po, dia membujuki kepala Losat Bun itu pergi ke Goh Cit Kok guna mencari Touw Hwe Jie, buat mengundang dan mengajaknya bekerja sama.

Mereka gagal.

Touw Hwe Jie menampik dengan alasan ia tidak mau campur pula urusan dunia Kang Ouw.

Tapi mereka penasaran, mereka membujuki nyonya yang berilmu itu, sampai Touw Hwe Jie kewalahan dan memberitahukan, kalau toh ia muncul, ia akan berdiri di pihaknya Tio It Hiong atau sedikitnya Tio It Hiong yang datang mengundang atau memintanya turun gunung.

Habis daya Kwie Tiok Giam Po mengajak Teng Hiang berjalan pulang dengan tangan hampa tetapi di tengah jalan ini Teng Hiang mengutarakan akalnya buat memakai Tio It Hiong palsu buat memperdayakan Touw Hwe Jie.

Bekas pelayannya Giok Peng itu mengusulkan Gak Hong Kun, maka kalau kejadian hendak dia pergi mencari Tio It Hiong palsu itu.

Diluar dugaan Teng Hiang, pembicaraan mereka itu dapat didengar Tan Hong.

Sementara itu Kwie Tiok Giam Po sudah lantas melihat Couw Kong Put Lo yang berdiri diam diatas batu rebung.

Ia tertawa, dia berkata sambil menggapai .

"Itu imam palsu, kenapa kau berdiri diam saja ? Apakah kau tengah mencuri dengar pembicaraan kami ?"

Couw Kong Put Lo menjawab dengan dingin .

"Bagus perbuatan kalian ya ! Kalian menggunakan Tio It Hiong yang palsu buat mengakali Touw Hwe Jie, supaya dia turun gunung turut dalam usaha kalian ! Apakah kalian hendak mengacau dunia Kang Ouw hingga terwujudlah bencana berdarah rimba persilatan ?"

"Eh, Couw Kong Put Lo, jangan kau berpura-pura menjadi orang baik-baik !"

Kata Kwie Tiok Giam Po menegur.

"Kau tahu kami hendak membangun apa yang dinamakan Bu Lim Cit Cun ! Kalau nama kau dapat turut mengambil bagian !"

"Ah, itulah suatu nama yang baru"

Berkata Couw Kong Put Lo.

"perempuan tua bangkotan, bagaimana caranya kalian hendak membangun Bu Lim Cit Cun itu ?"

Kwie Tiok Giam Po menunda langkahnya.

"Bu Lim Cit Cun bakal dipilih dengan menguji dulu kepandaian silat seseorang,"

Ia memberikan keterangannya.

"Dia yang paling lihai, dia bakal diangkat menjadi pemimpin utama. Pemilihan sudah ditetapkan akan dilakukan pada tanggal lima belas bulan pertama lain tahun, diwaktu malam di puncak In Bu San. Apakah ada minatmu untuk turut dalam pemilihan itu ?"

Couw Kong Put Lo tertawa menyeringai, nampak dia masgul.

Dua puluh tahun Couw Kong Put Lo sudah melatih ilmu silatnya, dia memang bercita-cita buat menjagoi dalam dunia rimba persilatan, tetapi peristiwa di Goh Cit Kok membuatnya berduka dan masgul, sebab dia gagal mengumbar nafsu birahinya !

Hingga kesudahannya habislah tenaganya, hingga kepandaian silatnya tak dapat dipergunakan tanpa ia memiliki tenaga.

Maka akhirnya ia ada minat, tiada tenaganya.

"Nanti saja bila waktunya sudah tiba !"

Kata dia.

"kalau ada kegembiraanku, akan aku pergi ke In Bu San untuk melihatlihat !"

"Sampai bertemu pula !"

Berkata Kwie Tiok Giam Po yang terus saja berlari pergi.

Couw Kong Put Lo pun lantas masuk ke antara batu-batu rebungnya.

Tan Hong sementara itu telah berpikir keras.

Selagi Couw Kong Put Lo berbicara dengan Kwie Tiok Giam Po, ia pikirkan halnya It Hiong.

Gerakan Bu Lim Cit Cun itu mengancam ketentraman kaum rimba persilatan, hal itu perlu disampaikan pada pihak Siauw Lim Pay.

Ia pula perlu lekas pergi ke Siauw Lim Sie guna menemui Giok Peng dan Kiauw In guna mengabarkan tentang Tio It Hiong yang sudah lolos dari Ay Lao San, hanya entah berada dimana.

"Aku tidak tahu jalan keluar, baik aku ikuti dua orang itu,"

Kemudian ia pikir lebih jauh.

Dan lantas ia bekerja, ia berlompat akan menyusul Kwie Tiok Giam Po dan Teng Hiang, yang berlalu sambil berlari-lari.

Sempat ia melihat orang menikung, ia menyusul terus, ia menguntit.

Di lain pihak, Gak Hong Kun sudah kabur bersama Teng It Beng.

Selekasnya mereka berdua ditolongi secara tak langsung oleh gurunya, It Yap Tojin.

Ia merasai bahunya sakit tetapi ia lari terus, sampai mencapai tigapuluh lie lebih, baru mereka mencari tempat singgah, guna beristirahat, buat mengobati luka mereka selama beberapa hari.

Sejak itu ia sangat membenci orang To Liong To dan berniat sangat membalas sakit hati.

Selama itu ia cuma bisa menyesal dan mendendam sebab ia insyaf seorang diri tak sanggup ia melawan Kang Teng Thian.

Pada suatu hari berdua Teng It Beng, Gak Hong Kun menimbulkan soal sakit hati itu.

Teng It Beng tertawa dan kata .

"Saudaraku, tentang itu aku telah pikir jalannya hanya saja kita tidak dapat membalas langsung kepada Siauw Wan Goat dan Kang Teng Thian...."

"Bagaimana itu saudara Teng ?"

Hong Kun tanya.

"Coba kau jelaskan !"

"Sekarang ini Kang Teng Thian berdua lagi mencari Tio It Hiong"

Kata kakak angkat itu.

"itu artinya mereka berada di luar To Liong To, maka juga marilah kita pergi ke pulaunya, kita serbu untuk membinasakan atau melukakan sejumlah orangnya. Tidakkah jalan ini akan melampiaskan juga sakit dendam kita ?"

"Jalan ini dapat diambil, cuma karena bukan terhadap mereka berdua rasanya kurang mempuaskan"

Hong Kun menyatakan pikirannya.

"Tetapi saudaraku,"

Teng It Beng terangkan lebih jauh.

"itu pun suatu jalan buat menimpakan kesalahan pada Tio It Hiong ! Apakah kau tidak dapat berpikir sampai ke situ ? Dengan begini kita menambah hebatnya permusuhan mereka supaya mereka saling balas membalas diantara kawan sendiri ! Kita sendiri, menonton dari kejauhan saja !"

Gak Hong Kun terasadar.

"Kakak benar !"

Katanya bersuara.

"Kenapa otakku menjadi begini gelap ? Kakak bagus akalmu ini, hayo kita segera berangkat ke To Liong To !' Maka berangkatlah mereka itu. Pulau To Liong To adalah sebuah pulau kecil diluar wilayah Liawrong. Pesisir yang terdekat dengannya ialah kecamatan Aulinsia, tempat yang hidup bagi kaum nelayan serta penduduk pedagang setempat. Disitu Gak Hong Kun berdua menyewa perahu, untuk pergi ke To Liong To. Selekasnya mereka mencari keterangan seperlunya mengenai pulau itu. Kira tengah hari tibalah mereka ditengah laut hingga disekitarnya mereka tak melihat daratan. Disitu gelombang makin besar dan sang angin bertiup makin keras. Ombak saban-saban mendampar kendaraan air, yang dapat laju dengan pesat. Ketika matahari mulai turun ke barat ditengah laut muncul sebuah perahu yang besar yang layarnya tiga buah. Perahu besar itu menuju ke perahu kecil. Di atas perahu besar itu berkibar sebuah bendera besar yang memain diantara deburan sang angin. Dengan lekas kedua perahu sudah terpisah kira sepuluh tombak lebih satu dengan lain, lantas tukang perahu melaporkan pada Gak Hong Kun dan Teng It Beng soal perahu besar itu miliknya To Liong To. Cuma entah buat urusan apa mereka dihampiri. Gak Hong Kun mengerutkan alis, tak tahu ia harus mengatakan apa, tetapi Teng It Beng kata .

"Aku sudah mengerti, kau mundurlah!"

Tukang perahu itu menurut, ia mengundurkan diri. Segera juga terdengar suara bentakan dari luar perahu.

"Bagus mereka datang !"

Kata Teng It Beng.

"mari kita labrak mereka, supaya mereka tahu siapa kita !"

Gak Hong Kun mengangguk.

Berdua mereka lantas pergi keluar.

Kedua kendaraan terpisah tinggal tiga tombak, lantas pihak perahu besar menggunakan dadung bandringan akan mencangkol tiang perahu layar perahu kecil.

Bendera perahu besar, bendera To Liong To merupakan naga yang tengah menonjolkan kukunya yang tajam, yang mulutnya bergigi tajam dipentang lebar.

Di sisinya ada pula gambar tengkorak hitam dasar menyolok mata.

Di muka perahu besar itu terlihat sejumlah orang yang berpakaian seragam hitam, tubuhnya tinggi besar, tampangnya bengis, senjatanya golok semua.

Lantas yang menjadi Tauwbak atau kepala berseru .

"Perahu kecil, lekas serahkan semua barangmu, nanti aku beri jalan hidup buat kamu semua !"

Hong Kun menjawab perintah yang mengancam itu .

"Kalau kamu bisa, kamu datanglah kemari mengambil sendiri !"

Tauwbak itu bernama Thia Han Bin senjatanya sebuah golok besar, dua jeriji tangan kirinya buntung, sebab ketika bertempur di Siauw Lim Sie baru-baru ini dia kena ditebas pedangnya Pek Giok Peng.

Dia menerima tantangan, dia berlompat ke perahu kecil, lantas saja dia menebas ke arah Gak Hong Kun dan Teng It Beng yang berdiri berendeng.

Gak Hong Kun menghunus pedangnya, ia menyampok pedang musuh itu.

Thia Han Bin terkejut.

Hebat sambutan lawan hingga ia mundur setindak dan tangannya sesemutan.

Tengah ia melongo, Hong Kun kata padanya .

"Hendak aku pinjam mulutmu ! Kau beritahu pemimpinmu bahwa Tio It Hiong dari Pay In Nia datang untuk membuat perhitungan dengan Kang Teng Thian !"

Sengaja anak muda ini bersuara keras supaya anak buah kedua perahu itu mendengar terang-terang.

Thian Han Bin tidak tahu akal orang.

Ia percaya kata-kata itu, sembari maju pula guna menyerang kembali, ia teriaki salah satu orangnya ;

"Lekas memberi laporan pada Tio To Cah...."

Hong Kun mau menunjuki pengaruhnya, ia menyambut serangan dengan keras sekali, setelah itu, ia membalas menyerang.

Kembali ia berlaku keras, ia mendesak.

Tiga kali ia membalas, saban-saban ia berseru nyaring dengan tebasan yang ketiga menyampok golok lawan hingga golok itu terpental ke laut, lalu menyusul tikamannya yang membuat musuh menjerit dengan tubuhnya roboh bermandikan darah sebab ujung pedang menembusi dadanya !

Dengan satu depakan, Gak Hong Kun membuat tubuh orang akhirnya tercebur ke laut !

Berbareng dengan robohnya orang itu ke laut, dari dalam perahu besar muncul tujuh orang lainnya.

Serempak mereka itu lompat ke perahu kecil guna menerjang si anak muda.

"Kamu ingin cari mampus ?"

Bentak Teng It Beng yang maju menghadang akan terus menerjang, maka dalam beberapa gebrakan saja, empat orang roboh binasa.

Tiga rebah terluka merintih-rintih !

Gak Hong Kun menjadi seperti kalap, dia lompat naik ke perahu besar, dia menerjang setiap orang yang paling dahulu diketemui hingga orang terbinasa atau terluka, hingga perahu besar itu berisik dengan jeritan-jeritan, rintihan dan tubuh bergelimpangan dilantai perahu, selain mereka yang roboh ke laut.

Segera juga dari dalam perahu muncul seorang usia empat puluh tahun lebih, yang tangannya mencekal seutas "

Twie Hua Hot Bing So", tali "Pengejar Roh Perampas Nyawa". Dengan suara "hm !"

Berulang-ulang dengan nadanya seorang mabuk, dia membentak "Bocah she Tio, bagaimana berani kau main gila disini ?"

Lalu terus ia menyerang ! Gak Hong Kun berkelit sambil dia pun berseru.

"Kalau kau benar laki-laki sejati, kau beritahukan namamu !"

Orang itu menunda penyerangannya, dia mirip orang mabuk tetapi tubuhnya dapat berdiri tegak tanpa terhuyung sedikit juga. Dengan lantas ia menjawab .

"Akulah Tio Siong Kang, Tocu nomor enam dari To Liong To ! Akan aku ambil nyawamu !"

Dan ia meneruskan menerjang.

Hebat serangan itu sebab talinya diluncurkan menjadi kaku dan dipakai untuk menotok jalan darah !

Tapi itulah tidak aneh, karena dalam menggunakan senjatanya itu Tio Siong Kang sudah berlatih selama dua puluh tahun lebih.

Sebab itulah senjata istimewa, yang langka.

Hanya hari itu, Tio Siong Kang tengah menenggak banyak arak, hingga dia sudah pusing tujuh bagian diwaktu datang laporan perihal penyerbuan musuh tidak dikenal itu.

Gak Hong Kun menyambut serangan itu.

Hendak ia membuat tali putus.

Maka ia membabat.

Lihai Siong Kang, dia dapat tahu maksud musuh.

Dia menghindar diri dari babatan itu.

Sebaliknya, begitu dia berkelit, begitu dia menyerang pula.

Dua-dua gerakannya itu sama gesit dan cepatnya.

Maka disitu mereka berdua lantas bertarung dengan seru.

Gak Hong Kun terkejut.

Beberapa kali ia menghadapi ancaman senjata lawan itu.

Maka itu ketahui lihainya lawan, ia menggunakan tipu dari ilmu silat Heng San Pay, partainya itu.

Lekas juga Teng It Beng pun naik ke perahu besar, setelah ia menyaksikan dua orang itu lagi bertarung seru, ia tidak membantui kawannya.

Sebaliknya ia melabrak musuh, hingga ia menyapu bersih kira-kira lima atau enam puluh orang To Liong To, setelah itu baru ia kembali ke tempat pertempuran, akan menonton.......

Jilid 35 Teng It Beng menonton tidak lama, lantas dia bertindak guna membantui kawannya, supaya pertempuran segera sampai di akhirnya.

Diam-diam dia mengeluarkan Bie Hun Tok Han dan menimpukkannya kepada Tio Siong Kang.

"Saudara, kau beristirahatlah !"

Dia teriaki kawannya.

Tio Siong Kang cerdik dan bermata jeli.

Ia melihat orang menimpuk ke arahnya.

Ia tidak tahu lawan menggunakan senjata apa, tetapi ia sudah menerka.

Ia sendiri biasa menggunakan senjata rahasia.

Maka ia menggunakan kesempatan menyimpan talinya untuk sebaliknya menggunakan senjata rahasianya.

yaitu tiga batang Hui Hu Piauw, yaitu piauw Ikan Terbang, yang mana ia gunakannya dengan membungkukkan pinggangnya, sedangkan dengan tangan kirinya ia membarengi menimpuk dengan senjata rahasianya lainnya, ialah jarum beracun.

Ia menyerang kepada Gak Hong Kun dan Teng It Beng berdua.

Dua-dua Gak Hong Kun dan Teng It Beng terkejut, dua-dua lantas menangkis dengan pedangnya masing-masing.

Ketiga piauw dapat dibikin terpental balik, tetapi jarum beracun mesti dihindarkan dengan lompat berkelit, sebab jarum bukannya satu batang melainkan segumpal.

Dari berlompat ke kiri dan kanan, terpaksa mereka menceburkan diri ke laut.

Selagi Tio Siong Kang bisa mengusir musuh, ia sendiri telah kena menyedot bubuk beracun, selekasnya ia terhuyung lantas tubuhnya roboh dengan ia tak sadarkan diri.

Sudah begitu, di dalam perahu besar itu telah tidak ada seorang lain juga.

Pemilik perahu kecil, melihat kedua penumpangnya terjatuh ke air, mulanya dia mengawasi saja, tak berani dia membantu sebab dia takut perbuatannya nanti dapat dilihat orang To Liong To.

Itulah berbahaya.

Tapi selekasnya dia melihat perahu besar tak ada orang yang bergerak, baru dia menyuruh orangnya lekas membantui Teng It Beng dan Gak Hong Kun naik ke kapalnya.

Dua-dua kawan itu tidak bisa berenang, tetapi mereka sadar dan cerdik.

Diwaktu tercebur mereka menahan nafas, hingga mulut mereka tidak kemasukan air.

Sesudah kecemplung masuk ke dalam air, tubuh mereka mumbul timbul.

Mereka pun menggerakkan kaki tangan mereka buat mencakar-cakar air.

Justru mereka timbul, mereka dihampiri anak buah perahu sewaannya, lalu ditarik buat dibawa ke perahu, hingga dilain saat mereka berhasil diangkat naik.

Mereka tidak terluka tetapi mereka kena menenggak juga air laut, dari itu, mereka nampak letih.

Lantas mereka menyalin pakaian.

Mereka meminjam pakaian kering tukang perahu, pakaiannya terus digarang di api.

Mereka sendiri lantas duduk beristirahat buat bersemadhi.

Lewat sepuluh menit, maka pemilik perahu mengasih tahu kedua penyewanya bahwa perahu mereka terpisah dari tepian To Liong To tinggal belasan lie jauhnya, maka ia tanya mereka mau melanjuti belajar atau mau pulang dahulu, buat menunda sampai besok pagi.

"Sekarang sudah jam berapa ?"

Teng It Beng tanya sebelum dia memberikan jawabannya.

"Kira-kira jam dua lewat."

"Jam berapa kita bakal tiba di To Liong To ?"

Gak Hong Kun turut bicara.

"Jika tak ada halangan, kita akan tiba pada jam empat lewat."

Teng It Beng berpikir sebentra, baru ia berkata .

"Kalau kita maju terus kita bakal terhadang musuh. Sekarang ini malam gelap dan angin keras, gelombang pun dahsyat, berbahaya buat kita melakukan pertempuran di tengah laut. Kita pula tidak bisa berenang. Karena itu aku pikir baik kita pergi besok saja."

Penghidupan di atas perahu asing sekali bagi Gak Hong Kun dan Teng It Beng.

Mereka merebahkan diri tetapi tak dapat tidur.

Gelombang membuat tubuh perahu bergerak tiada hentinya.

Buat bersemedhi pun sulit.

Maka itu keduanya cuma rebah diam saja, mata mereka dipejamkan.

Entah sudah lewat berapa lama ketika Gak Hong Kun berdua dikejutkan suara terompet, keduanya lompat turun dari pembaringan, untuk melongok di jendela.

Di dalam malam tampak bayangan dari dua atau tiga perahu yang terlihat hanya dari lentera diatas tiang layarnya.

Seberhentinya suara terompet, perahu-perahu itu memencar diri.

Menyusul itu ada api melesat ke arah perahu kecil itu.

Teng It Beng terkejut.

"Musuh menyerang kita dengan panah api."

Katanya keras.

Kemudian ia lompat keluar menyuruh tukang perahu lekas mundur.

Tapi sudah kasip !

Panah-panah itu berdatangan terus.

Dua batang kena terasampok tetapi ada pula yang mengenakan tutup perahu dan terus menyala, terus berkobar sebab angin laut seperti mengipasinya.

Ada api yang menyambar Gak Hong Kun dan Teng It Beng yag terkena pada bajunya, maka keduanya lompat ke depan, guna menjatuhkan diri bergulingan akan memadamkan api itu.

Keduanya menjadi bingung.

"Bagaimana sekarang kakak Teng ?"

Gak Hong Kun tanya kawannya. Teng It Beng melengak. Dia bingung juga.

"Api ini tak dapat dipadamkan."

Katanya kemudian.

"Baik kita turun ke laut untuk berpegangan pada pinggiran perahu atau kemudinya."

Gak Hong Kun menurut.

Memang jalan lainnya tidak ada.

Kembali ada panah api menyambar, mereka menyampoknya.

Lantas mereka mencari dadung akan mengikat pinggang mereka sesudah itu mereka merosot turun ke air, untuk melindungi diri dengan pertolongannya kemudi.

Anak buah perahu sudah pada terjun ke air, sebab tak sanggup mereka memerangi api yang lantas mengganas berkobar besar.

Malam gelap tetapi cahaya api kebakaran memungkinkan orang melihat kesana kemari dengan cukup terang.

Demikian tampak perahu-perahu penyerang.

Tengah Teng It Beng berdua mengawasi dari kemudi, mendadak mereka mendengar suara terompet lantas perahuperahu penyerang itu bergerak menjauhkan diri.

Rupanya mereka itu berlalu sebab melihat perahu lawan sudah menjadi seperti lautan api.

Syukurlah sang fajar segera tiba.

Api pun telah padam sendirinya.

Teng It Beng berdua Gak Hong Kun merayap naik.

Mereka pun mendapatkan segala apa diatas perahu telah musnah dimakan api.

Perahu tinggal dasarnya saja.

Pakaian mereka cukup terpaksa mereka keringkan saja.

Berdua mereka duduk dilantai.

Gak Hong Kun menghela nafas.

"Tak kusangka kita bakal mengalami nasib begini."

Katanya masgul.

"Hampir kita mati konyol !"

Teng It Beng tertawa menyeringai.

"Jangan menyesal dan berduka cita saudaraku."

Katanya.

"Inilah pengalaman berbareng pengajaran pertama bagi kita selama kita menjelajah dunia Kang Ouw !"

Gak Hong Kun mengernyitkan alis.

"Bagaimana sekarang ?"

Tanyanya.

"Kita benar sudah lolos dari ancaman kematian tetapi sekarang kita berada di atas perahu kosong ini dan di tengah laut juga."

Teng It Beng tertawa. Nyata dia besar hati.

"Tak lama lagi musuh bakal datang memapak kita !"

Katanya.

"Sekarang adikku, kau gunakanlah ketika ini untuk beristirahat ! Kita tunggu tibanya mereka itu..."

Terkaannya Teng It Beng tepat, belum terlalu lama, mereka melihat mendatanginya dua buah perahu kecil yang dapat berlayar dengan sangat pesat.

Lekas sekali kedua perahu itu sudah datang sejarak empat tombak.

Setiap perahu memuat lima orang.

Dari masing-masing lima orang itu, yang satu memegang kemudi, yang empat ditengah-tengah.

Di tempat kemudi ditancapkan sebatang bendera kecil hitam bawah putih.

Itulah benderanya rombongan To Liong To.

"Adik bersiap sedialah."

Berkata Teng It Beng separuh berbisik pada kawannya.

"Kita menerjang masing-masing sebuah perahu. Kita habiskan mereka itu."

Begitu berkata begitu Teng It Beng bangkit sambil menghunus pedangnya, justru perahu itu telah datang sangat dekat terus dia lompat ke sebuah diantaranya untuk tak ampun lagi menyerang kalang kabutan.

Hanya sekejap robohlah empat lawan, tinggal si tukang kemudi.

Dia itu terkejut dia lantas turun tangan.

Dia menimpuk tiga buah golok terbang Liu yap To setelah mana dia menghunus goloknya buat terus menerjang.

Teng It Beng repot menyelamatkan diri dari serangan senjata itu.

Ia sampai mesti menjatuhkan diri, waktu ia mau bangun, serangan golok tiba.

Ia menangkis sedangkan tangan kirinya sekalian menekan lantai, guna membantui tubuhnya berlompat bangun.

Selekasnya ia dapat berdiri, ia membalas menebas penyerangannya itu.

Hebat serangan dan tangkisan itu, kedua senjata beradu keras.

Teng It Beng terpental mundur, begitupun penyerangnya, orang To Liong To, tetapi dia kehabisan tempat.

Dia terpental tercebur ke laut !

Selekasnya Teng It Beng menoleh ke perahu yang lainnya, di sana ia melihat Gak Hong Kun tengah melayani tiga orang musuh, yang lagi melibatkannya.

Dua orang musuh lainnya sudah rebah binasa.

"Saudara Gak, akan aku bantu kau !"

Teriak Teng It Beng.

Tetapi perahu terpisah kira lima tombak, tak dapat orang she Teng ini berlompat.

Maka ia menjemput pengayuh untuk mengayuhnya maju, mendekati perahu To Liong To itu.

Ketika orang To Liong To mendengar suaranya Teng It Beng, mereka menjadi berkuatir.

Memangnya melayani Gak Hong Kun seorang diri mereka sudah kewalahan.

Lantas mereka saling lompat ke sisi membuat perahu miring terus terbalik, mereka sendiri meneruskan menceburkan diri !

Teng It Beng menjerit saking kaget.

Dia berkuatir buat kawannya.

Dia percepat majunya perahunya.

Dari tempat orang di perahu karam itu, tak ada seorang juga yang lekas timbul di permukaan air, baru kemudian terlihat kepalanya Gak Hong Kun yang terus merayap naik, akan berduduk di dasar perahu.

Tadi ia berlaku cerdik.

Karena ia tahu ia tidak bisa berenang, selagi perahu terbalik ia menyantol kakinya pada pinggiran perahu, ketika perahu karam ia tak terpisah dari perahu itu, tak usah ia terlempar ombak.

Itulah sebabnya kenapa ia sempat naik ke atas perahu yang tetap terbalik itu.

Teng It Beng mengayuh perahunya menghampiri kawan itu.

"Kau jempol saudaraku !"

Katanya memuji sambil tertawa.

"Bagus untungnya ketiga orang itu !"

Gak Hong Kun pindah ke perahu kawannya, dia pun tertawa.

"Inilah pengalaman kita yang berharga."

Katanya.

Keduanya lantas mengayuh perahu, membuat kendaraan air itu menuju ke To Liong To.

Mereka tak sesal sesuatu, maju terus menurut rencana mereka.

Di waktu tengah hari, mereka sudah melihat pulau yang melengkung bagai naga.

Maka mereka merasa pasti, itulah To Liong To.

Mereka maju terus, mereka mengayuh sekeras-kerasnya membuat perahu laju dengan pesat sekali.

Akhirnya mereka tiba juga ditepian, dibagian yang sepi.

Itulah bagian belakang dari To Liong To.

Mereka tahu dimana beradanya markas To Liong To itu.

Dari tengah laut tadi mereka melihat bendera besar di puncak.

Mereka menduga itulah tentu markas tempat tujuan mereka tetapi mereka tak lantas pergi ke sana.

Lebih dahulu mereka mencari sebuah goa buat merebahkan diri.

Mereka merebahkan diri buat tiduran.

Kapan sang lohor tiba mereka memburu kelinci buat dibakar, dijadikan barang hidangan.

Tepat jam pertama, dua orang ini mulai dengan perjalanan mereka menuju ke markas To Liong To.

Jalanan sukar tapi mereka tak hiraukan itu.

Mereka merayap dan berlari.

Tujuan mereka ialah tempat ada cahaya api.

Jalan berliku-liku membuat mereka tak lekas-lekas tiba ditempat tujuan.

Sampai jam dua, masih belum juga mereka sampai.

Selama itu tak pernah mereka bertemu orang.

Mereka heran kenapa kawanan To Liong To demikian lalai.

Mereka maju terus sampai telinga mereka mendengar suara berkericik.

Kiranya itulah sebuah kali kecil yang lebar sepuluh tombak tetapi dasarnya cetek cuma dua atau tiga kaki, hingga dasar air dapat terlihat.

Saking dangkalnya, air jadi mengalir deras hingga terdengar suaranya itu.

Dasar kali terlihat seperti pasir.

Teng It Beng berpikir keras.

Dia mencurigai kali itu.

Kenapa tempat demikian dibiarkan tak terjaga.

Toh mudah saja orang maju dengan jalan menyeberang ke situ...

Kecuali orang dalam, tak ada yang ketahui yang dasar kali itu pasirnya berupa pasir membal.

Kalau orang injak, pasir melesak, kaki orang akan melebas masuk berikut tubuhnya.

Gak Hong Kun sudah lantas menCinCing celananya.

Hendak dia turun ke air.

DIa menurunkan sebelah kakinya, disusul kaki yang lain.

Segera kakinya itu melebas masuk ke lumpur pasir.

Dengan cepat ia sudah terlebas sebatas dengkul, terus ke paha dan perut !

Maka bukan main kagetnya !

"Kakak, tolong !"

Dia menjerit. Teng It Beng terkejut, dia menoleh. Tahulah ia apa sebabnya jeritan itu.

"Adik, tahan nafas !"

Ia segera memberitahukan.

"Ringankan ia bahaya, jangan bergerak ! Nanti aku mencari dahan guna membantumu !"

Kawan itu lari ke sebuah pohon yang tumbuh, ia tebas sembarang dahannya yang panjang. Ia lekas membawa itu, untuk lantas disodorkan pada kawannya.

"Pegang !"

Katanya, setelah mana, ia menarik.

Gak Hong Kun memegangi dahan itu, hingga ia terbawa ke tepian, dimana ia merayap naik ke darat.

Ia menarik nafas lega.

Hampir dia tenggelam di dasar lumpur pasir itu !

"Tak kusangka lumpur pasir ini merupakan semacam perangkap."

Katanya, peluhnya membasahi dahinya.

Keduanya mengawasi kali itu, yang panjang.

Mereka bingung sebab terang disitu mereka tak dapat menyeberang.

Tapi tak lama, Gak Hong Kun sudah lantas tertawa dan berkata .

"Kita jangan kurang akal ! Mari kita cari pohon kayu yang besar, kita gunaui itu sebagai alat buat menyeberang ! Itu toh dapat, bukan ?"

Teng It Beng setuju.

Maka keduanya lantas bekerja.

Hanya sayang, disekitar itu, mereka tak berhasil mendapatkan sebuah pun pohon kayu yang besar.

Kesudahannya mereka masgul dan mengeluh dengan berbareng.

Lama mereka berdiam, sampai Teng It Beng bersenyum.

Ia dapat memikir satu akal.

"Adik, kau mengenakan berapa lembar celana ?"

Tanyanya. Gak Hong Kun melengak sambil mengawasi kawan itu.

"Ah, kakak, kau masih dapat bergurau ?"

Tanyanya heran.

"Buat dapat menyeberang disini, celana pun ada faedahnya !"

Kata kawan itu, yang terus tertawa. Melihat sikap kawan itu, Gak Hong Kun percaya orang tidak lagi berkelakar.

"Semuanya tiga lapis !"

Sahutnya kemudian.

"Bagus !"

Kata Teng It Beng.

"Mari serahkan dua potong padaku !"

Gak Hong Kun menurut.

Segera setelah memegang celana, Teng It Beng ikat itu pada bagian kedua kaki dan pinggangnya.

Talinya ialah ujung baju yang ia robek.

Dengan itu ia membuat dua buah pelembungan.

Gak Hong Kun tertawa.

"Sungguh kau cerdik, saudara. Kau dapat memikir akal ini !"

Pujinya. Teng It Beng tersenyum.

"Mari !"

Dia mengajak.

Lantas dia turun ke air.

Gak Hong Kun menurut dan mengikuti.

Dengan pelembungan istimewa itu, kedua saudara itu berhasil juga melintasi kali istimewa itu.

Setibanya diseberang, Gak Hong Kun mengeringi celananya, buat dipakai pula.

Selama itu, waktu sudah jam tiga.

Di situ tak ada jalanan, bahkan banyak batu besar dan pohon duri.

Ketika Teng It Beng mendongak, dia melihat di atas dinding terdapat ujungnya semacam bangunan pesanggrahan.

Ia percaya disitu tentu ada penjaganya.

"Mari !"

Ia mengajak Gak Hong Kun.

Terus ia mulai mendaki.

Ia telah minta bantuannya pohon oyo dan batu batu yang menonjol, hingga dia mirip seorang pendaki gunung.

Gak Hong Kun meniru buat.

Setelah bersusah payah dan membuang waktu, kedua kawan itu tiba juga diatas puncak.

Mereka mendapati sepi saja di dalam pesanggrahan itu, yang merupakan sebuah bangunan terdiri dari ranggon serta beberapa kamar atau ruangan.

Api pun tidak ada.

Kedua saudara angkat itu saling mengawasi terus.

Mereka menghunus pedangnya masing-masing lantas mereka membabat kutung terompet tanduk menjangan untuk terus mencoba berlompat naik memasuki ranggon.

Tepat mereka sampai di depan ranggon, telinga mereka lantas mendengar tawa dingin di belakangnya diikuti dengan bentakan ini .

"Tahan !"

Dan suara itu lantas disusul munculnya tujuh orang dari belakang dan depan, hingga jalan mereka dihadang di depan dan di belakang.

Teng It Beng berdua berdiri diam, matanya diarahkan kepada semua orang itu, yang semua berseragam hitam, hingga tubuhnya masing-masing tinggi dan katai, dan senjatanya macam-macam.

Tio It Hiong palsu berani sekali, dia tertawa dingin.

Dia kata .

"Untuk apakah Tio It Hiong datang ke To Liong to ? Tak usah aku jelaskan pasti kalian sudah ketahui ! Jika kalian lakilaki, kalian beritahukan nama kalian, untuk seterusnya menerima binasa."

Seorang yang bertubuh tinggi besar kata dengan dingin.

"EH, bocah Tio It Hiong, apakah kau tidak kenali kami Lie Tay Kong dan Mie A Lun, kedua hiocu dari To Liong To ? Baiklah kalian lihat saja sepasang tombak cagakku."

Kata-kata orang itu dibarengi dengan satu serangan.

Juga Mie A Lun dengan cepat berlompat maju akan turut menyerang.

Karena ini lima orang kawannya turut maju juga.

Hingga Gak Hong Kun berdua segera kena diserang.

Selewatnya beberapa jurus, Gak Hong Kun dan Teng It Beng membikin musuh menjadi dua rombongan.

Itu pula maksudnya Lie Tay Kong yang hendak memecah tenaga lawan.

Tay Kong berkelahi dibantu dua kawannya, mereka mengepung Gak Hong Kun.

Mie A Lun beserta tiga kawannya mengurung Teng It beng.

Kedua belah pihak sama unggulnya.

Gak Hong Kun dapat membuat ia seimbang dengan ketiga musuhnya, begitu juga Teng It Beng hanya lewat pula beberapa jurus lagi dia nampak repot bertarung tiga lawannya, Mie A Lun dapat mendesak hebat.

Pertempuran berlangsung seru dan berisik.

Kecuali suara beradunya senjata, pihak To Liong To sering membentak.

Dari atas ranggon suara terompet pun terdengar berngiang-ngiang.

Itulah terompet tanda ada bahaya.

Gak Hong Kun melihat suasana buruk timbullah kegalauannya.

Sembari melakukan Bie Hun Tok Hun ia kata murung pada kawannya.

"Kakak Teng, kenapa kita masih tidak mau menurunkan tangan besi ? Buat apa melayani mereka lama-lama ?"

Lie Tay Kong tertawa. Kata dia.

"Tio It Hiong, kau ada punya kepandaian apa ? Di saat kematianmu mendatangi, kau keluarkanlah !"

Kata-kata "tangan besi"

Dari Gak Hong Kun adalah isyarat darinya untuk mengasi bubuk beracunnya seperti ia sudah menyiapkannya.

Gak Hong Kun menanti kesempatan.

Satu kali ia diserang sepasang tombak cagak, ia tidak menangkis.

Hanya mendadak ia melengak hingga tubuhnya seperti rebah terlentang.

Sembari melengak itu telah tangannya diayun dipakai menimpukkan bubuk beracunnya.

Lie Tay Kong kaget sekali.

Ketika ia menyedot bubuk, hidungnya terasa nyeri.

Tahu ia apa artinya itu.

"Mundur !"

Ia berteriak.

Begitu pun dua orang lawannya itu.

Selagi orang roboh, Gak Hong Kun berlompat bangun untuk berlompat lebih jauh kepada tiga orang musuhnya itu.

Ia bersiul nyaring dan dingin, menunjuki kepuasannya.

Setelah itu berulang kali ia menebas dengan pedangnya, membikin Lie Tay Kong bertiga putus lehernya masing-masing.

Mie A Lun terperanjat ketika ia mendapat kenyataan Lie Tay Kong bertiga roboh, lantaran itu gerakan tangannya sedikit terlambat.

Teng It Beng menggunakan ketika itu untuk mendesak hingga lawannya mundur tiga tindak.

Justru itu Gak Hong Kun pun lalu segera berlompat datang guna membantui kakaknya.

Maka kebetulan saja dia menyambut A Lun dengan satu tikaman !

Disaat sangat terancam itu A Lun sampai berkelit tetapi ujung pedang lawan menggores juga bahunya.

Di lain pihak senjatanya telah mengenai lengan lawan hingga Gak Hong Kun juga terluka walaupun tidak parah.

Ketika ia melihat ketiga kawannya, hatinya gentar dan giris.

Ketiga kawan itu telah roboh sebagai mayat-mayat yang bermandikan darah sebab Teng It Beng tidak mau mengasih ampun pada mereka.

"Habislah."

Pikirnya. Maka tak ayal pula dengan menahan rasa nyerinya, ia terus lari ke kaki gunung.

"Sungguh berbahaya."

Berkata Teng It Beng sambil menyusuti peluhnya. Kemudian ia memeriksa lukanya. Syukur itu cuma luka dikulit. Setelah dibalut, darahnya tak keluar lebih jauh.

"Baiknya kau cerdas dan cepat saudara Gak !"

Kemudian ia memuji.

"Sayang si orang she Mie dapat lolos !"

Kata Gak Hong Kun.

"Sekarang sulit bagi kita menyerang lebih jauh...."

"Ah lihat."

Kata Teng It Beng.

"Mereka ada orang-orang dari tingkat dua, tujuh bajingan dari To Liong To belum tampak sama sekali....."

"Kang Teng Thian bersama Siauw Wan Goat tidak berada dipulaunya."

Kata Gak Hong Kun.

"Jie Mo Lam Hong Hoan dan Nho Mo bok Cee Lauw pernah aku menemuinya di perbatasan propinsi Secuan. Mungkin mereka itu belum pulang maka kalau yang lain-lainnya ada disini, tinggallah tiga orang lagi. Aku pikir dengan mengandalkan bubukku dapat kita melawan mereka itu. Kita lagi meminjam golok membunuh orang, makanya Biearlah kemudian mereka itu pergi cari Tio It Hiong!"

Teng It Beng tertawa.

"Kapan telah tiba saatnya kau bertemu Siauw Wan Goat, dapatkah kau membagi aku barang secangkir arak ?"

Katanya bergelak.

Gak Hong Kun pun tertawa.

Ketika itu kira jam empat, rembulan terang sekali.

Karena itu untuk maju lebih jauh, Gak Hong Kun dan Teng It Beng tidak pergi melalui jalan berbata di jalan itu.

Mereka selalu menyembunyikan diri diantara pepohonan dan gerombolan rumput.

Dengan begitu tak dapat mereka menuju langsung ke markas To Liong To, mereka mesti jalan sedikit memutar.

Tepat fajar mendatangi, Gak Hong Kun berdua telah tiba di belakang gunung di belakang markas.

Terlihat bangunan benteng yang berlapis-lapis dan megah, diempat penjurunya terdapat ranggon-ranggon pemilik yang tinggal dimanapun diakibatkan bendera To Liong To yang besar, tengkorak hitam diatas putih.

Sang angin membuat bendera itu berkibar-kibar tak hentinya.

"Mari kita maju !"

Berkata Gak Hong Kun.

"Tak perduli dengan jalan berterang atau menggelap, kita mesti mengacau dan mengubrak abrik mereka !"

Boleh dibilang belum berhenti suaranya murid dari Heng San Pay itu atau mereka sudah lantas mendapat dengar suara bersuitnya anak-anak panah yang dalam jumlah besar berjatuhan saling susul ke arah mereka.

Lantas mereka mendekam, pedang mereka dihunus yang datang menyampok setiap anak panah yang datang menyambar.

Luar biasa penyerangan anak panah itu, hampir tak ada hentinya, ada tambahnya tak berkurang.

Tentu saja Teng It Beng dan Gak Hong Kun menjadi repot juga.

Tak dapat mereka menangkis terus-terusan, bisa-bisa ada anak panah yang lolos dari tangkisan atau mereka kurang gesit.

"Saudara Gak mari kita menyerbu benteng."

Teng It Beng kata perlahan pada kawannya itu.

Ia bukannya menjadi jeri, sebaliknya ia menjadi penasaran dan gusar.

Memangnya mereka telah bertekad bulat untuk tidak mundur lagi.

Habis mengajak itu, tanpa menunggu jawaban, si orang she Teng sudah lantas lompat maju, sekali mencelat, ia mencapai tiga tombak.

Gak Hong Kun menjawab dengan suaranya, lantas ia menyusul.

Selekasnya mereka berada ditempat dimana tidak terdapat serangan anak panah, hati mereka menjadi lega.

Disini mereka lantas berlari-lari keras, hingga mereka mendekati sebuah ranggon pengawasan, jaraknya kira sepuluh tombak.

Tiba-tiba dua saudara itu sangat terkejut.

Tahu-tahu ada anak panah menyambar mereka bahkan ada panah yang disertakan api.

Panah itu terjatuh di belakang mereka mengenai rumput lantas menyala !

Gak Hong Kun gusar sekali.

Dia ayal sedikit, bajunya termakan api.

Maka dengan cepat ia berlompat maju menghampiri ranggon.

Ia lantas tiba pada dinding bawahnya.

Dari atas ranggon lantas terdengar suara tertawa yang disusul dengan ini kata-kata dingin .

"Tio It Hiong, ilmu pedangmu bagus sekali ! Karena itu aku si orang tua suka menghentikan panahku ! Kalau kau berani, kau majulah untuk kita bertempur buat mendapatkan keputusan !"

Suara itu tajam sebab itulah suaranya Su Mo Siauw Tiong Beng, bajingan nomor empat.

Gak Hong Kun tidak menjawab, hanya ia menggapaikan Teng It Beng buat mengajak kawan itu maju terus.

Tanpa adanya serangan panah, mereka dapat maju dengan cepat dan mudah hingga mereka tiba di depan pintu dari bangunan ranggon pengawasan itu.

Disitu ada sebuah tangga batu, di depan mana terdapat halaman terbuka penuh rumput.

Di kiri dan kanannya terdapat semacam pagar.

Di situ pun ada sebuah saluran air laut, peranti keluar masuknya perahuperahu To Liong To.

Di tepiannya tertambat beberapa buah perahu kecil.

Di depan tangga berkumpul banyak orang dengan seragam hitam, tiga orang yang menjadi pemimpin menempatkan diri di depan mereka itu semua.

Itulah Sam Mo Cia Seng Ciang, bajingan nomor tiga yang berdandan sebagai pelajar yang menggembloki pedang di punggungnya.

Yang kedua ialah Su Mo Siauw Tiong Beng, bajingan nomor empat.

Dia ini mengenakan kopiah seragam bajunya kuning, celananya hitam tanpa senjata di tangan.

Yang ketiga ialah Mie A Lun yang tadi pernah bertempur dan sekarang melihat dua orang musuh itu dia yang paling dulu lompat menyerang Gak Hong Kun dengan jurus silat menawan roh menangkap sukma.

Dia bersakit hati sebab tadi dia dikalahkan secara curang.

Gak Hong Kun menangkis dengan hebat maksudnya guna membuat kutung senjata lawan, diluar pengetahuannya Mie A Lun berlaku cepat, senjatanya lekas-lekas ditarik pulang buat menebas kaki !

Segera juga Gak Hong Kun kena terdesak mundur !

Menyaksikan Mie A Lun menang diatas angin, Siauw Tong Beng tertawa menghina.

Kata dia .

"Orang she Teng, mari kau mencoba menyambut beberapa kali tanganku !"

Dia benarbenar maju dengan serangan tangan kosongnya !

Hebat serangan orang tua ini, walaupun ia tidak bersenjata.

Angin gerakan tangannya menghembus keras.

Inilah sebab ia adalah ahli "Hun Kin Co Kut Ciang hoat", ilmu membikin orang salah otot.

Teng It Beng terkejut, lekas-lekas ia menutup diri dengan pedangnya.

Ia menggunakan tipu pedang "Menutup Jendela, Menolak Rembulan".

Toh ia menjadi repot sekali.

Setelah itu tangan lawan mendadak berada di belakangnya.

Hingga ia mesti berkelit nyamping satu tindak, menyusul mana ia terus berontar sambil menyabet dengan pedangnya, niatnya membikin kutung lengan si lawan.

Pertempuran ini selanjutnya berjalan secara berat sebelah.

Menurut pantas pedang melawan tangan kosong, pedang mesti lebih unggul tetapi sekarang ternyata tangan kosong yang menang diatas angin.

Siauw Tiong Beng merangsek membuat lawannya berkelit atau berlompat.

Teng It Beng kena didesak terus.

Selang tiga puluh jurus orang she Teng itu telah terdesak ke tepi pesisir buatan manusia itu.

Di pihak satunya mula-mula Gak Hong Kun kena terdesak oleh Mie A Lun, tetapi dasar dia lihai, perlahan-lahan dapat dia memperbaiki diri, hingga dari berada dibawah angin dia membuatnya pertempuran berjalan berimbang.

Lalu dilain saat dia merubah keadaan membuatnya lebih unggul.

Tiba-tiba Mie A Lun dibuat menjadi kaget sekali waktu senjatanya yang kanan kena terpapas pedangnya Gak Hong Kun, sebab terus dia ditebas !

Dalam keadaan seperti itu sukar buat dia meloloskan diri dari ancaman bahaya, kecuali dia berlaku nekad, bersedia sama-sama terluka dan terbinasa.

Masih dia mencoba menangkis dengan senjata ditangan kirinya.

"Tas !"

Demikian satu suara keras dan kembali senjata itu kena terkutungkan !

Karena Gak Hong Kun berlaku bengis dan tak sudi dia memberi ampun.

Kembali dia meneruskan menikam !

Dengan sangat terpaksa Mie A Lun mengetuk pedang lawan dengan gagang senjatanya.

Dia berhasil tapi tak seluruhnya.

Ujung pedang terasampok tetapi meluncur terus.

"Traaaangg !"

Demikian satu suara lain dan pedangnya Gak Hong Kun terpental, untung tidak terlepas dari cekalan.

Mie A Lun pun bebas dari ancaman maut.

Kiranya Cia Seng Ciang yang membantu pembantunya dengan jalan menghajar pedangnya Gak Hong Kun dengan senjata rahasianya, Thie Lian hoa atau bunga seroji besi.

Menyusul itu Cia Seng Ciang berlompat maju sambil berseru .

"Bocah she Tio, apakah kau tak mau mengandalkan pedangmu menghina orang ?"

Sambil maju itu ia terus menyerang dengan satu tikaman kepada jalan darah tay yang.

Gak Hong Kun terkejut.

Tidak saja pedangnya terhajar nyamping, juga tangannya sesemutan.

Tapi masih ia berniat menghajar Mie A Lun atau ia melihat lawannya itu menyingkir dari kalangan dan Cia Seng Ciang telah menggantikan dia menghadang dan menyerangnya.

Lekas-lekas dia berkelit, terus dia berlompat mundur.

Tepat itu waktu Gak Hong Kun juga melihat keadaan berbahaya dari Teng It Beng, maka mengertilah ia bahwa pihak To Liong To masih terlalu kuat buat pihaknya hingga ia lantas memikir untuk mengangkat kaki.

Karena ini ia lantas memikir buat menggunakan bubuk beracunnya .

Bie Hua Tok Han !

Setelah berkelit itu, Gak Hong Kun berhasil memperbaiki diri, ia lantas cepat menyerang buat mencoba merubah keadaan.

Cie Seng Ciang melihat bahaya mengancam, ia berkelit ke samping, dari situ ia membarengi menggeprak keatas pedang.

Gak Hong Kun terkejut.

Gagal dia menikam, sebaliknya pedangnya kena terhajar.

Dia terkejut sebab pedang itu hampir terlepas.

Karena itu hendak ia menggunakan bubuknya yang jahat, yang sangat berbahaya itu.

Begitulah tidak menanti sampai disusul dengan serangan lain, mendadak ia loncat mencelat dengan berjumpalitan, lalu selagi tubuhnya mau turun ia mengayun sebelah tangannya yang sudah menggengam bubuknya itu.

Mie A Lun telah kenal bubuk berwarna ungu yang jahat itu, selekasnya ia melihat bubuk berhamburan, dia lompat menyingkir sambil berteriak berulang-ulang .

"Bubuk beracun ! Cia To cu, awas !' Cia Seng Ciang sendiri sementara itu sudah bercuriga. Memangnya ia adalah seorang Kang Ouw kawakan, banyak pengalamannya, luas pengetahuannya itu. Selagi lawan berjumpalitan ia sudah heran dan menerka itulah sepak terjang permulaan dari senjata rahasia yang bakal digunakan. Selekasnya dia melihat bubuk warna ungu itu tahulah ia yang lawan menggunakan bubuk beracun maka juga belum lagi Mie A Lun memperdengarkan peringatannya, ia sudah mendahului menahan nafas serta menutup jalan darahnya, menyusul mana ia berlompat ke kepala angin. Gak Hong Kun kecele ! Dia bermaksud merobohkan musuh atau sedikitnya menghadang gerak gerik musuh itu supaya ia memperolah luang buat mengangkat kaki buat membantu Teng It Beng, siapa sangka ia telah menghadapi seorang lawan yang lihai kepandaian silat dan otaknya. Dan belum lagi ia menginjak tanah, dua buah tie lian hoa sudah menyambar padanya, sebab lawan membalas menyerangnya dengan senjata rahasia juga. Terpaksa ia menjatuhkan diri dengan bergulingan di tanah, dengan pedangnya ia menyampok kedua belah senjata rahasia itu, menyusul mana ia berlompat bangun buat terus lari ke arah Teng It Beng. Mie A Lun dengan mengajak ke empat kawannya maju untuk memegat. Tak kecewa dia bergelar "Coe Sun Ka"

Si Tenggiling, dengan satu loncatan "KuCing Hutan Lompat keluar dari Lobang"

Dia segera tiba di depan lawan yang dia terus bacok !

Tadi sepasang senjata siangjin ciang dari A Lun telah terkutungkan lawan maka sekarang ia menggantikannya dengan golok, karena itu bukan genggaman pegangannya, bacokannya kurang tepat.

Gak Hong Kun menyambuti bacokan itu.

Ia berniat menebas kutung lawan, ia tapinya tidak berhasil.

Setelah berpengalaman, Mie A Lun berlaku cerdik.

Dia menarik pulang goloknya setengah jalan buat diteruskan dipakai membabat dari samping, mengarah batang lehernya lawan itu.

Gak Hong Kun terancam bahaya, ia menegakkan tubuhnya, dengan begitu selamatlah ia.

Karena terhadang ini, ia sekarang kena disusul empat orang kawannya A Lun.

Dengan begitu ia terus kena terkepung di empat penjuru.

Ia insyaf akan bahaya itu, ia menjadi nekad.

"Awas !"

Dia berteriak sambil pedangnya disabetkan ke kiri dan kanan dibulang balingkan dengan jurus "Badai Menyapu Salju".

Maka robohlah dua orang musuhnya sambil mereka itu mengeluarkan jeritan kesakitan !

Saking kaget dua orang musuh lainnya berlompat mundur.

"Kurang ajar !"

Berteriak Mie A Lun yang gusar dan segera lompat menerjang.

Gak Hong Kun menangkis.

Tak ada niatnya berkelahi lama.

Maka ia lantas desak lawannya itu.

Selagi si lawan mundur ia lompat lari pula menghampiri Teng It Beng kawannya.

Tatkala itu Siauw Tiong Beng sudah mendesak Teng It Beng sampai dipojok, lagi kira dua tombak Teng It Beng pasti akan tercebur ke air.

Tetapi Teng It Beng lihai walaupun terdesak hebat belum bisa ia segera dirobohkan.

Dengan pedangnya ia bertahan sedapat-dapatnya.

Tadi itu sesudah lawan mundur, Cia Seng Ciang tidak mengejar.

Ia hanya mengawasi.

Ia pikir cukup asal ia dapat mengusir Tio It Hiong.

Tidak ada niatnya akan nanti bermusuhan dengan Tek Cio Siangjin, walaupun murid orang ini sudah datang menyerbu tanpa alasan.

Orang pun menggunakan bubuk beracun yang lihai itu.

Tapi setelah menyaksikan dua orangnya dirobohkan, panas hatinya, membuat ia memikir lain.

"Dia sungguh kurang ajar !"

Pikirnya.

Lantas ia lari memburu.

Gak Hong Kun sendiri selekasnya dia mendekati Teng It Beng dan Teng It Beng lagi dua tombak, dia melihat Teng It Beng menikam lawan tetapi pedangnya kena terasampok.

Karena pedangnya terpental, dadanya Teng It Beng menjadi terbuka.

Melihat ini Siauw Tiong Beng lantas maju sambil menikam dada orang !

Sungguh Teng It Beng terancam bahaya.

Gak Hong Kun melihat itu lantas ia lompat ke arah Siauw Tiong Beng dan menikam punggung jago To Liong To itu.

Itulah cuma satusatunya jalan buat membantu Teng It Beng.

Siauw Tiong Beng mendapat tahu datangnya serangan dari belakang itu, tidak mau menangkis, hanya cepat bagaikan kilat ia mengegos tubuh ke samping membiarkan pedang meluncur terus ke arah Teng It Beng.

Ketika itu Teng It Beng justru merasa nyeri sediki pada dadanya.

Ia tidak kena terhajar, baru terpental angin tangannya lawan.

Kapan ia melihat pedangnya Gak Hong Kun, ia melejit mundur satu tombak lebih.

Habis membantu Teng It Beng, Gak Hong Kun melihat mendatanginya Cia Seng Ciang.

Ia lantas memberi isyarat kepada saudara angkatnya itu, pertanda bahwa ia hendak menggunakan bubuknya, sembari berbuat begitu ia kata .

"Kakak Teng, mari kita turuni tangan besi."

Menyusul itu ia lompat ke sisinya saudara itu, terus ia melepaskan bubuknya, hingga dilain detik tubuh mereka teraling bubuk warna ungu itu.

Cia Seng Ciang sekalian melihat bubuk itu, mereka pada menyingkir ke kepala angin.

Kapan bubuk sudah buyar, Gak Hong Kun dan It Beng tak tampak lagi sebab keduanya telah menggunakan kesempatan yang baik buat lekas-lekas menyingkir dari tempat yang berbahaya itu.

"Mari !"

Kata Cia Seng Ciang yang terus mengajak orangorangnya lari ke arah pelabuhan.

"Mereka itu pasti lari ke sini ! Biarlah mereka akan kepandaian mereka main jahat dengan kita."

Selekasnya mereka tiba di pelabuhan, Mie A Lun berseru kaget.

"Perahu kita hilang sebuah !"

Serunya.

"Lihat Cia Tocu !"

"Lekas kejar !"

Cia Seng Ciang berseru dengan titahnya.

Orang pada lantas lari ke tepian, tiga buah perahu segera digayuh pergi menuju ke tengah laut buat mencari dan menyusul kendaraan mereka yang lenyap itu yang mereka terka pasti sudah dipakai Gak Hong Kun berdua untuk menyingkirkan diri.

Gak Hong Kun cerdik bukan main.

Habis melepas bubuk dan kabur ke perahu tidak lantas mereka mengayuh ke tengah laut.

Mereka tak pandai menggunakan pengayuh.

Ia tahu kalau mereka dikejar, mereka bakal tergesa-gesal.

Maka ia lantas menggunakan akal.

Begitulah mereka turun ke air, perahu mereka terkejar, tetapi terus ditarik masuk ke dalam air.

Biar tidak bisa berenang, mereka pandai mengatur pernafasan mereka.

Dengan menahan nafas, dapat mereka menyelam mempertahankan diri.

Air disitupun kira baru enam kaki dalamnya.

Mereka mendekam di dalam air sampai ketiga perahu To Liong Ti melewatinya, sampai ketiga perahu itu tak nampak lagi.

Ketika mereka timbul pula, sepi sekitar mereka.

"Sungguh berbahaya !"

Kata Teng It Beng yang mengeluarkan nafas lega.

"Mari kita naik atas sebuah perahu lainnya...."

"Jangan !"

Kata Gak Hong Kun yang menarik baju kawannya.

"Tak dapat kita menyingkir dengan jalan naik perahu ! Selekasnya kita berada diluar, musuh bakal dapat melihat kita. Bukankah itu berarti mengantarkan diri ke dalam jaring ?"

Teng It Beng diam berpikir, kemudian ia mengangguk.

"Kau benar tabah dan cerdik, adikku !"

Pujinya.

"Nah, mari kita menyingkir ke gunung belakang !"

Tio It Hiong palsu mengangguk.

Maka berlari-larilah mereka ke belakang gunung, ke sebuah ranggon dimana ada delapan orang berseragam tengah melakukan tugasnya.

Semua kedelapan orang To Liong To melihat dua orang ini, yang pakaiannya kuyup basah, sampai mereka pada melengak.

Gak Hong Kun lari ke pintu ranggon.

"Siapa tidak kejam, dia bukan laki-laki sejati !"

Gumamnya.

"Hm !"

Habis tertawa dingin, muridnya It Yap Tojin lantas maju untuk menerjang ke delapan orang To Liong To itu.

Mudah saja untuk merobohkan mereka itu, hingga semuanya roboh bermandikan darah.

Dengan satu isyarat tangan, Gak Hong Kun mengajak Teng It Beng menerjang ke dalam ranggon dimana masih ada beberapa orang To Liong to.

Mereka itupun dapat dirobohkan semua.

Habis itu dengan menggunakan api, ranggon disulut dan dibakar !

Lekas sekali api berkobar besar.

Kebakaran itu menyebabkan banyak orang To Liong To lainnya datang untuk memadamkannya.

Di lain pihak, Gak Hong Kun dan Teng It Beng lari ke belakang gunung dengan memondong seorang musuh yang tengah pingsan.

Mereka mencari sebuah goa dimana mereka dapat menyembunyikan diri sekalian beristirahat.

Selekasnya malam tiba, orang To Liong To, itu yang telah disadarkan dipaksa turut mereka mencari sebuah perahu dengan apa bersama-sama mereka berlayar ke tengah laut !

Kebetulan sekali, selagi rembulan terang, laut pun tenang.

Dengan duduk mengawasi si orang To Liong To, Gak Hong Kun berdua bersabar menantikan kendaraan air itu meluncur pergi.

Layar dipasang, maka itu perahu laju pesat.

Mereka berhati puas dan lega.

Orang To Liong To itu memegang kemudi dengan tak mengucap sepatah kata.

Nampaknya dia jinak dan penurut.

Ketika itu malam dan Teng It Beng berdua tak tahu arah.

Mereka pun berdiam saja.

Mereka tak tahu yang perahu secara diam-diam diputar kembali ke pulau !

Tiba-tiba saja maka di tengah laut, di kejauhan tampak satu titik seperti bayangan bendera, makin lama terlihat makin besar.

Hingga dilain saat ketahuanlah bahwa itu adalah layar dari sebuah perahu besar.

"Tempat apakah ini ?"

Tanya Gak Hong Kun kepada tukang kemudinya.

"Sudah tak jauh lagi dari daratan."

Sahut si tukang perahu, singkat.

Diam-diam ia arahkan perahunya kepada perahu besar itu.

Kedua kendaraan air itu laju sama pesatnya, tak lama, keduanya sudah datang semakin dekat.

Sengaja tukang kemudi membuat perahunya meluncur terus kepada perahu besar itu !

Lekas juga timbullah kecurigaannya Gak Hong Kun.

Ia lantas mengulur tangannya menyambar tukang kemudinya.

Justru itu kedua perahu sudah beradu satu dengan yang lain hingga terdengar suara tabrakannya yang berisik.

Justru itu juga si tukang kemudi telah membuang diri terjun ke laut.

Dua dua Gak Hong Kun dan Teng It Beng merasai kepala mereka pusing.

Tabrakan itu tak menyebabkan perahunya terbalik dan karam cuma terjadi benturan dan goncangan yang keras.

Mereka mesti berpegangan dengan keras supaya tak usah terhuyung jatuh dari perahunya.

Tepat itu waktu dari atas perahu besar terdengar suara dingin .

"Hm ! Tio It Hiong bocah ! Mana dapat kau lolos dari tangannya Cut Tong Kauw ? Hm !"

"Cut Tong Kauw", si Ular naga keluar dari Gua adalah gelarannya Tio Siong Kang, Liok Mo atau bajingan nomor enam dari To Liong To. Dia berasal perompak pandai menyelam tinggal dan berenang dan tersohor telengas. Habis membentak itu dia mengambil senjatanya tempaling No bie cie, bersiap buat lompat naik ke perahu kecil, guna menghampiri Gak Hong Kun berdua didalam perahu kecilnya itu.

"Sabar Tio Tocu"

Berkata Siauw Kwie, salah seorang tauwhak bawahannya.

"Buat apa Tocu turun tangan sendiri ? Bukankah lebih baik untuk membiarkan mereka terkubur didalam perut ikan?"

Tio Siong Kang mengangguk sambil dia tertawa.

Batal dia pindah ke perahu kecil.

Lantas dia mengawasi kepada Gak Hong Kun dan Teng It Beng berdua.

Teng It Beng berdua masih tetap berada di atas perahunya.

Mereka itu menyekal golok di tangan kanan dan tangan kirinya dimasuki ke dalam sakunya.

Mereka mengangkat kepala, mendongak mengawasi ke atas perahu besar.

Terang yang mereka itu bersiap sedia buat menyambut musuh.

Sebenarnya Gak Hong Kun telah berpikir keras.

Keadaan mereka berbahaya terutama sebab mereka tidak bisa berenang.

Maka ia pikir baiklah ia memancing kemarahan musuh supaya musuh suka melayani mereka bertempur.

Tanpa bertempur tidak ada jalan lain buat menyelamatkan diri......"

"Cut Tong Kauw", kemudian ia berseru.

"di dalam air kau benar lihai tetapi di darat itulah soal lain. Dulu pun kau lolos dengan mengandalkan senjata rahasiamu ! Beranikah kau datang padaku buat kita main-main barang beberapa jurus ?"

Siong Kang tertawa. Dia pun cerdik.

"Tio It Hiong !"

Jawabnya dingin.

"kau berani membakar kami, maka sekarang kami hendak mengundang kau minum air laut. Inilah budi dibalas budi ! Ini pula yang dibilang keadilan api dan air saling tolong !"

Habis berkata demikian Siong Kang berseru kepada orangorangnya, menyuruh menggunakan gala gaitan, maka itu dilain saat perahunya Gak Hong Kun sudah lantas terbalik karam dan Gak Hong Kun bersama Teng It Beng tercebur ke laut !

Maka sejak itu tersiarlah berita yang Tio It Hiong telah mati kelelap di laut....

Sementara itu Tio It Hiong yang sejati sebenarnya tengah melakukan perjalanan pulang.

Habis lolos dari rumah penginapan di kecamatan Kwie teng di Kwiecie dimana ia "diganggu"

Siauw Wan Goat, ia kabur keluar ke kecamatan.

Dengan lompat naik ke atas sebuah pohon besar ia bisa melihat Wan Goat bersama Teng Thian berlari-lari menyusulnya.

Tentu saja arah mereka berdua pihak jadi berlainan.

Anak muda kita turun dari pohon dengan terus ambil jalan sepi lainnya.

Berjalan terus menerus, It Hiong kemudian telah memasuki wilayah propinsi Ouw Lam terus ke propinsi Ouwpak untuk setibanya dikota Gakyang mencari rumah penginapan untuk singgah.

Habis bersantap malam It Hiong merebahkan dirinya.

Ia ingin mendapat istirahat dan tidur nyenyak.

Tengah ia layaplayap telinganya mendengar ketukan perlahan pada daun pintu kamar, disusul dengan suaranya pelayan .

"Tuan Tio ada tamu !"

Dengan merasa heran It Hiong turun dari pembaringannya, akan membukai pintu.

Kiranya tamu itu seorang To kouw, rahib wanita kaum To Kauw, hanya aneh, selekasnya daun pintu dipentang itu, lantas menerobos masuk ke dalam kamar.

It Hiong heran.

Lekas-lekas ia membesarkan api untuk mengawasi To kauw itu guna mengenalinya.

Walaupun dia orang beragama, wanita itu tapinya berpupur medok dan memakai yancie, tampangnya centil sekali.

Tanpa sungkan-sungkan, dia lantas menjatuhkan diri duduk diatas kursi, matanya menatap anak muda di depannya, selagi anak muda itu mengawasinya.

"Eh, Tuan Tio !"

Tegurnya sambil tertawa-tawa.

"Tuan, kau telah melihat aku, kenapa kau berdiam saja ? Kapannya tuan tiba disini ?"

It Hiong mengawasi terus. Ia rasa kenal si imam tetapi ia tak ingat dimana pernah bertemu dengannya.

"Maaf,"

Katanya bersenyum.

"dimanakah kita pernah bertemu ? Kenapa aku lupa sekali ? Bagaimana aku harus memanggilmu ?"

"Ah, Tuan Tio, kenapa kau bergurau denganku ?"

Tanya rahib itu.

"Ah, benarkah tuan tak mengenali aku ? Jangan

KANG ZUSI website

http.//cerita-silat.co.cc/ jangan kau telah menemukan yang baru maka juga kau lantas melepas yang lama !' To kauw itu memanggil tuan, itulah sebenarnya sebutan "kong cu"

Kata-kata yang halus istimewa untuk orang muda, anak kaum berpangkat atau hartawan.

It Hiong heran sekali.

Tetap ia tidak dapat segera mengenali orang suci itu -suci cuma jubahnya.

Tentu sekali, ia menjadi curiga, ia tahu baik sekali lihainya orang Kang Ouw.

Dan si To kouw pastilah orang Kang Ouw, kaum sungai telaga.

"Apakah kau tidak keliru mengenali orang ?' tanya ia akhirnya.

"Aku yang rendah bernama Tio It Hiong ! Siapakah itu sahabatmu yang kita cari ?"

Mukanya si rahib terang tidak puas, tetapi dia masih dapat tertawa.

"Adik Tio It Hiong, masihkah kau tetap berpura-pura ?"

Katanya.

"Bukankah pada bulan yang lain kau berada di kuil Siang Ceng Koan di Kiu Kiong San dimana kau singgah selama beberapa hari ? Bukankan selama di dalam kamar, kita ada bagaikan sepasang merpati yang mencintai satu sama lain ?"

Selekasnya orang menyebut nama kuil dan gunungnya, selagi terperanjat It Hiong lantas ingat kepada Tokauw ini, ialah Gouw Ceng. Lekas-lekas ia berkata .

"Memang benar pernah aku pergi ke Siang Ceng Koan tetapi di sana aku cuma untuk mengambil pulang kitab Sam Cay Kiam, setelah itu aku sudah lantas turun gunugn lagi. Karena itu, kata-katamu yang tak bersih ini adalah kata-kata yang dibuat-buat !"

Sepasang alisnya Gouw Ceng bangkit, wajahnya menunjuki dia gusar dan menyesal.

"Di kolong langit ini"

Katanya keras.

"laki-laki yang tak berbudi adalah kau Tio It Hiong ! Sudah kau perdayakan cintaku, kau juga menyuruhku main gila dengan si orang she Teng sahabatmu itu! Aku lakukan itu semua demi kau. Kenapa sekarang, setelah kita bertemu pula, kau membaliki belakang padaku ? Bilang ! Bilanglah !"

Lantas si imam menangis sedu sedan.

It Hiong bingung sekali.

Inilah lakonnya Siauw Wan Goat.

Orang menggilai dia sepihak.

Maka ia menerka-nerka siapa itu yang telah menyamar menjadi ia yang tampangnya pasti sangat mirip hingga orang tak dapat membedia yang palsu dari yang tulen atau sebaliknya.

"Pernah guruku mengatakan hal bencana asmaraku, terang itulah benar."

Pikirnya. Ia menghela nafas. Tak dapat ia bergusar. Maka ia kata sabar.

"Gouw Ceng Tokauw, kekasihmu bukanlah aku, karena itu silahkan kau pergi ke lain tempat mencarinya...."

Jilid 36 Meski demikian dia bercucuran air mata, masih dia menangis.

"Tokouw, benar-benar akulah seorang putih bersih."

Kata It Hiong pula.

"Tak dapat aku main gila denganmu. Silahkan kau pergi."

Dari berduduk, Gouw Ceng bangkit berdiri.

Karena ia menangis, pupurnya menjadi tidak karuan, mukanya menjadi seperti belang.

Dengan sinar mata berapi ia mengawasi si anak muda.

Tiba-tiba ia menjambret baju orang untuk ditarik terus digoyang-goyang.

"Orang tak berbudi ! Orang tak berbudi !"

Katanya keras.

"Aku mau mengadu jiwaku denganmu!"

It Hiong repot, hatinya pun menjadi panas.

"Diam !"

Bentaknya.

"Apakah kau sudah menjadi gila ?"

Gouw Ceng mundur setindak.

Dengan mendelong ia mengawasi pemuda itu.

Melihat muka orang tidak karuan itu, It Hiong mendongkol berbareng merasa geli di hati, hingga ia tertawa.

Gouw Ceng menyangka orang mengajaknya bergurau, ia menuding muka orang, ia pun tertawa.

"Kau terlalu !"

Katanya.

"Kau bergurau keterlaluan ! Lihat, hatiku goncang !"

Tio It Hiong menolak lengan orang.

"To Kouw, kaulah yang bergurau. Bukannya aku !"

Katanya.

"Apakah kau tidak malu ? Tak ada waktuku buat melayani kau main gila ini ! Nah, kau pergilah !' Si rahib wanita tertawa. Dia maju setindak.

"Adik yang baik."

Katanya.

"Apanya yang tak menarik dalam diriku ini ? Adik, kau maafkan aku. Sekarang sudah malam, jangan kau menyia-nyiakan waktu yang baik ini !"

Tio It Hiong menjadi gusar juga.

"Jika kau hendak mencari laki-laki, pergilah ke lain tempat !"

Bentaknya.

"Kenapa kau main gila begini padaku ? Kenapa kau menuduh aku ?"

Gouw Ceng pun kewalahan, dia habis sabar.

"Tio It Hiong !"

Katanya.

"Benar-benarkah kau begini tak berbudi ? Kemana perginya kata-katamu yang manis selama di Siang Ceng Koan ? Malam itu kau membuat aku roboh tak berdaya.... Kenapa sekarang kau jadi begini rupa ? Tidak, tidak nanti aku lepaskan kau !"

It Hiong mencoba menahan sabar. Ia kuatir suara berisik rahib itu mengagetkan para tamu hotel lainnya.

"Sebenarnya kau mau apa ?"

Tanyanya ke Gouw Ceng menjadi girang dalam sekejap. Dia tertawa.

"Aku ingin bermalaman bersamamu !"

Katanya tanpa malumalu. It Hiong melengak, matanya mengawasi api. Bukan main sulitnya dia.

"Kau lihatlah kaca muka !"

Katanya.

"Kau sudah setengah tua, kau memoles bagaimana juga, tak dapat kau menyalin wajahmu ! Coba pikir, mustahil seorang pemuda dapat tergilagila terhadapmu ? Percuma akal busukmu ini ! Nah, lekas kau pergi !"

"Kau menolak aku ?"

Kata rahib itu.

"Kau menyangkal ? Tidak ! Tidak ! Masih ada lagi sahabatmu she Teng itu serta si imam pria ! Merekalah saksinya !"

"Masa bodoh !"

Bentak It Hiong.

"Masih kau tidak mau pergi !"

Akhirnya si To kouw pun menjadi gusar.

"Oh, Tio It Hiong !"

Serunya.

"Kau tak berbudi ! Kau nanti lihat aku Gouw Ceng, aku mudah dipermainkan atau tidak ! Ya, kau lihat nanti !"

Berkata begitu, Gouw Ceng bertindak keluar. Di muka pintu, ia menoleh, akan kata bengis .

"Malam ini kau tenangi hatimu dan pikirlah baik-baik, supaya kau jangan menyesal kelak ! Besok malam aku datang pula !"

It Hiong tidak menanti orang berhenti bicara, dia maju dan menolak tubuh orang hingga keluar, setelah mana ia menutup pintu. Ia menghela nafas, matanya mendelong mengawasi api. Keras otaknya bekerja.

"Sudah belasan hari, aku terus terganggu seperti ini."

Pikirnya masgul.

"Sejak aku mendaki Ay Lao San, sampai hari ini sudah lewat dua bulan. Selama itu aku tidak tahu apa yang sudah terjadi di dalam dunia sungai telaga. Yang aku hadapi ialah lakonnya Siauw Wan Goat dan rahib wanita ini ! Kenapa lagak mereka tidak karuan ? Kenapakah ? Sulit buat aku menjaga diri, terutama buat melindungi nama baik perguruanku....."

Sia-sia belaka It Hiong berpikir, tak dapat ia memecahkannya.

Ketika sudah jam tiga, ia paksakan naik ke pembaringan buat mencoba tidur.

Tak mudah ia pulas.

Ketika akhirnya ia ketiduran, ia mendusin sesudah matahari tinggi.

Ia tidur tanpa menyalin pakaian lagi.

Ia pun menjadi heran.

Hidungnya terdesak bau harum semerbak.

Ia lekas mementang kelambu dan turun dari pembaringan.

Lantas ia menjadi terperanjat.

Di depannya tampak seorang wanita lagi duduk menghadapi kaca, lagi merapikan rambutnya.

Karena orang duduk membaliki belakang tak dapat ia lantas melihat wajahnya.

Ia lantas mengawasi.

Wanita itu mengenakan baju luar warna hijau, pinggangnya ceking.

Dia rupanya melihat pada kacanya, bagaimana si anak muda tercengang.

Dia bersenyum.

"Ah, kau sudah mendusin !"

Sapanya.

Terus dia bangun berdiri akan memutar tubuh.

Selekasnya dia melihat wajah si anak muda, dia tertawa.

Tio It Hiong lantas mengenali Gouw Ceng yang telah mengganti pakaian dari jubah suci dengan pakaian biasa.

Dia melepas rambutnya terurai ke belakang dan rambut di dahinya dipotong pendek, dijadikan poni, mukanya tetap terpulas medok hingga nampak tegas tampang centilnya.

"Kau datang pula ?"

Tegur si anak muda mendongkol.

Wanita itu tertawa.

Dia menunjuk ke kaca rasa menyuruh si anak muda melihat wajahnya.

It Hiong memandang kepada kaca, hatinya tercekat.

Kiranya pipinya telah menjadi merah dengan yancie, bibirnya si wanita berpeta di pipinya itu.

Ia menjadi jengah sekali, ia pun gusar.

"Kau yang tempelkan yancie ini ?"

Tegurnya, tetapi sambil lekas menyusuti mukanya itu.

"Buat apa dibilang lagi ?"

Berkata si wanita tertawa.

"Itulah tanda cintaku kepadamu !"

Bukan main kagetnya It Hiong.

Bukan main juga menyesalnya.

Kenapa ia tidur demikian kebluk?

Kenapa ia tidak mendusin ?

Pantas barusan ia mencium bau harum, kiranya itu keluar dari yancie di pipinya itu !

"Apakah kau tidur diatas pembaringan ?"

Tanyanya, atau mendadak ia merasa menyesal. Itulah pertanyaan yang tak perlu.

"Itu juga tanda cintaku !"

Sahut si wanita. Dia agak menyesal sebab si pemuda tetap tidak menghiraukannya.

"Kau menggunakan ilmu apa ?"

It Hiong tanya.

"Tadi malam aku berdandan sebagai rahib, kau tak suka. Kau usir aku, maka sekarang aku menyalin rupa. Aku ingin menyenangimu !"

"Bukan itu yang aku tanyakan ! Kau mengunakan ilmu apa hingga aku tidak tahu kau masuk kedalam kamarku ini ?"

Wanita itu menghela nafas.

"Di dalam dunia Kang Ouw ada banyak macam benda buat membikin orang tidur pulas hingga dia tak tahu apa. Benarkah kau tidak ketahui itu ? Sayang aku menggunakannya terlalu banyak hingga kau tidur sangat nyenyak sampai aku tidak dapat jalan menghilangkan dahagaku ! Sayang, sang malam yang indah telah dilewatkan !"

It Hiong gusar sekali tetapi ia mesti mengekangnya.

"Mengingat yang kita tidak bermusuhan, kali ini aku beri ampun padamu !"

Katanya bengis.

"Sungguh kau beruntung ! Jika lain kali kau berani berbuat pula begini atas diriku, darahmu akan muncrat berhamburan !"

Gouw Ceng melengak.

Tak ia sangka si anak muda menjadi gusar.

Ia menjadi menangis salah tertawa salah.

Akhirnya toh mendekam di meja dan menangis sesegukan.

It Hiong menjublak.

Ia pun serba salah.

Hanya sejenak ia bagaikan sadar.

Perlahan-lahan ia masuki pedangnya ke dalam sarungnya, terus ia berjingkat-jingkat ke pintu.

Dengan jalan berjinjit itu ia tidak memperdengarkan suara apa-apa.

Dengan berhati-hati, ia membuka daun pintu terus ia nyeplos keluar.

Selekasnya ia telah berada di luar hotel, segera ia bertindak dengan cepat untuk keluar dari kota Gakyang.

Ia merasa lega hati sebab ia bisa lolos dari gangguannya si rahib centil dan gatel itu.

Tengah ia berlari-lari di jalan umum mendadak It Hiong mendengar suara conglang kuda di belakangnya, bahkan segera juga ia dilewati.

Setelah mana si penunggang kuda jumlahnya dua orang, lantas menahan kudanya buat membaliki dan menghadangnya.

Segera mereka itu mengawasi tajam.

Kedua penunggang kuda itu yang satu tua, yang lainnya muda.

Dandanan mereka menandakan merekalah orang-orang Bu Lim rimba persilatan.

Keduanya membekal golok di punggungnya masing-masing.

Hanya sebentar si anak muda sudah lantas berlompat turun dari kudanya dan goloknya pun dihunus.

Ia memperdengarkan suaranya yang nyaring .

"Suhu, tak salah lagi. Inilah dia si bocah !"

Lalu terus dia bertindak ke arah anak muda kita.

"Sae Sie tahan !"

Berseru si orang tua yang dipanggil suhu itu.

"Nanti gurumu menanya jelas dahulu. Masih ada banyak waktu untuk turun tangan !"

Dan guru ini -suhu-lompat turun dari kudanya.

It Hiong heran.

Ia tidak kenal mereka itu, kenapa ia seperti dimusuhi ?

Tak ingat ia banyak omong, maka ia mengangkat kakinya buat melanjuti perjalanannya.

"Tahan !"

Bentak si orang tua, sedangkan sinar golok pun berkelebat di depan mukanya pemuda kita. Lantas dia itu menanya .

"Apakah kau Tio It Hiong ?"

It Hiong mundur dua tindak. Ia menatap kedua orang itu.

"Lotiang, kau she dan nama apakah ?"

Tanyanya.

"Kenapa kau merintangi aku ?"

"Aku si orang tua ialah Koay To Ciok Peng !"

Menyahut si orang tua itu.

"Baru-baru ini di dalam kota Kayhong kau dapat lolos karena kau menggunakan akal bulus ! Masihkah kau berpura-pura ?"

It Hiong belum kenal, bahkan belum pernah bertemu dengan Koay To Peng si Golok Kilat, tetapi ia pernah mendengar nama orang, yang tersohor sejak tiga puluh tahun yang lalu.

Karena itu ia lekas-lekas memberi hormat.

"Ciok Locianpwe"

Katanya.

"kalau ada urusan, tolong kau memberikan keterangan padaku ! Bukankah kita belum pernah berkenalan ? Tak mungkinlah locianpwe keliru mengenali orang."

Alis panjang dari si orang tua bangkit berdiri.

"Hm !"

Dia memperdengarkan suara dinginnya.

"Ketika dirumahnya Bu Eng Thung Liok Cia di Siang Kang, bukankah kau telah melakukan perbuatan tangan berdarah yang berbau baCin ? Masihkah kau hendak menyangkal ?"

It Hiong terkejut. Itulah fitnah hebat. Maka lekas-lekas ia berkata .

"Cianpwe, Liok Cia dalah sahabat karib dari ayah angkatku In Gwa Sian, mana dapat kau main gila terhadap keluarganya ? Memang benar pada dua yang lalu aku pernah singgah satu malam dirumahnya, tetapi aku tidak melakukan suatu apa pula yang buruk ! Dalam hal ini keterangan bisa didapat dari Liok Cianpwe sendiri....."

Tapi Ciok Peng justru menjadi gusar.

"Tentang perkara berdarah itu, justru Liok Cia sendiri yang memberitahukan padaku !"

Katanya keras.

"Sekarang ini dia justru ada dirumahku !"

It Hiong melengak.

Itulah aneh.

Ciok Peng orang ternama, mungkinkah dia memfitnah ?

Kalau tidak bagaimana ?

Ia memang tidak melakukan perbuatan yagn dituduhkan itu.

Selagi si anak muda berdiam itu mendadak ada sinar golok berkelebat ke arahnya, datangnya dari belakang !

"Lihat golokku !"

Teriak si penyerang itu, ialah Sae Sie muridnya Ciok Peng si Golok Kilat karena murid itu sudah tak sabaran.

It Hiong berkelit sambil mencelat jauh satu tombak.

Ia berlompat dengan loncatan Tangga Mega.

Setelah itu, ia tidak membalas menyerang, hanya ia berkata .

"Sahabat, tahan ! Sebentar masih ada waktu untuk melayanimu..."

Sae Sie heran atas cara berkelit dan berlompatnya pemuda itu, ia ingat itulah cara bergerak yang berbeda dengan Tio It Hiong yang ia ketemukan di kota Kayhong.

Ia tidak mengulangi serangan, ia hanya menatap.

It Hiong maju dua tindak, ia memberi hormat pada Ciok Peng.

"Ciok Cianpwe,"

Katanya sabar.

"apa yang cianpwe bilang, aku Tio It Hiong, aku tidak berani tidak mempercayainya, tetapi kalau peristiwa berdarah di rumah Liok Cianpwe yang dimaksudkan kepadaku, sungguh itulah penasaran bagiku ! Perbuatan yang tak aku lakukan mana dapat aku akuinya ?"

Baru saja It Hiong mengucapkan kata-katanya, lantas ada orang yang menyambutinya. Suaranya keras dan nyaring .

"Bagaimana perbuatanmu atas diriku ! Kau telah memperdayai cinta dan kesucian tubuhku ! Itulah hal yang benar ! Kau mau akui atau tidak ?"

It Hiong terperanjat. Itulah suaranya Gouw Ceng, yang orangnya segera muncul. Ia menjadi gusar. Maka ia hadapi rahib wanita itu, untuk menegur dengan berkata bengis.

"Perempuan tak tahu malu ! Apakah kau mencari mampusmu ?"

Tapi Gouw Ceng tidak takut. Dia mengenali Ciok Peng dan muridnya itu. Dengan alis berdiri, dia berkata lantang .

"Biarpun bersuami istri cuma semalam tetapi itulah cinta kasih seratus malam ! Kalau kau benar demikian kejam, kau bunuhlah aku ! Ya, bunuhlah ! Oh, setan yang cintanya tipis!"

Berkata begitu, dengan mata menatap, Gouw Ceng berlenggang menghampiri si anak muda.

Sae Sie tidak kenal Gouw Ceng tetapi melihat wajah orang serta gerak geriknya itu, ia sudah sebal terlebih dahulu.

Ia heran hingga ia berdiri melongo.

Ciok Peng sebaliknya tahu baik tentang pribadi si rahib wanita.

"Hm, Tio It Hiong !"

Katanya bengis.

"Apa lagi yang hendak kau katakan ? Tidak kusangka kau menjadi begini buruk hingga kau mendatangkan malu kepada guru dan rumah perguruanmu !"

It Hiong terkejut berbareng gusar. Si orang tua sampai menyebut guru dan perguruannya. Mukanya menjadi pucat pasi.

"Baru sekarang aku yang muda ketahui tentang sifatnya kaum Kang Ouw !"

Katanya keras.

"Lihat sampai seorang cianpwe yang berpengalaman toh masih kena dikelabui ! Baiklah setelah ini aku akan berdaya mencuci penasaranku ini !"

"Jangan mengoceh tidak karuan !"

Sae Sie membentak.

"Hutang darah dari Liok Cianpwe itu tak dapat dihabiskan dengan ocehan saja !"

Ciok Peng sebaliknya kena terpengaruhkan kata-kata si anak muda, sikap siapa yang tegak pun menarik perhatiannya. Ia berdiam sebentar lalu sikapnya sedikit berubah.

"Kau kata kau penasaran sebab peristiwa di rumah keluarga Liok itu adalah satu fitnah."

Katanya.

"Habis apa katamu tentang perkara di depanmu ini ?"

Jago tua itu maksudkan tuduhannya Gouw Ceng yagn ia terus tunjuk.

"Juga inilah fitnah belaka !"

Kata It Hiong cepat dan tetap ! Gouw Ceng tertawa.

"Saudara Tio, mengapa kau bersikap begini bersungguhsungguh ?"

Tanyanya.

"Bukankah kita berdua telah saling menyinta ? Buatku apapun yang kau bilang boleh saja asal kau tetap menyintai aku !"

"Tutup mulutmu !"

Bentak It Hiong.

"Sekali lagi kau mengucap yang tidak-tidak, akan aku tidak kenal kasihan lagi !"

"Orang licik dan kejam."

Ejek Sae Sie tertawa tawar.

"Buat apa bicara saja ? Kalau benar kau terfitnah kenapa kau tidak mau segera turun tangan ?"

Gouw Ceng sebaliknya mundur sampai lima tindak.

Ia melihat It Hiong benar-benar sudah sangat marah.

Wajah orang merah padam, bibirnya rapat satu sama lain sebab si anak muda menggertak gigi mengendalikan hawa amarahnya.

Saking gusarnya tetapi kegusaran itu ia tahan, It Hiong tertawa sendirinya.

Nyaring tawanya itu.

Dan lama juga.

Mendengar tawa itu hatinya Ciok Peng bertiga memukul.

Justru itu It Hiong telah bertindak.

Mendadak saja ia menghunus Keng Hong Kiam dan terus membolang balingkannya di mukanya Gouw Ceng.

"Aduh !"

Menjerit si rahib wanita yang terus terhuyung dan terjatuh duduk, mukanya mengeluarkan darah.

Itulah sebab kedua belah pipi yang medok dengan pupur telah tergurat menjadi sepasang tapak jalak sehingga pupur pun bercampuran dan tertutup darah merah !

Hingga sekarang muka cantik si rahib berubah menjadi muka bajingan......

"Gouw Ceng !"

It Hiong membentak.

"kita sebenarnya tidak bermusuhan. Maka juga terhadap segala perbuatan centilmu aku menahan sabar saja. Tetapi sekarang buat membuktikan bahwa aku tidak pernah bercintaan dan main gila denganmu, terpaksa aku merusak pipimu. Sekarang aku mengharapkan kau merubah cara hidupmu, supaya selanjutnya kau menjadi orang baik-baik."

Rahib itu menangis.

"Tio It Hiong"

Katanya.

"Kalau benar kau tidak pernah berjodoh denganku, kau mesti memberikan sumpahmu yang berat."

Sepasang alisnya si anak muda terbangung.

"Baik, aku bersedia !"

Sahutnya cepat dan tegap.

"Kau dengar !"

Dan dia berikan sumpahnya itu.

Gouw Ceng melengak.

Ia melihat sikap sungguh-sungguh dari si pemuda.

Kemudian ia menghela nafas dan bangkit bangun.

Dari mulutnya, terdengar ini kata-kata sangat perlahan.

"Apakah benar-benar ada Tio It Hiong palsu.......?"

"Eh, apakah katamu ?"

Tanya It Hiong. Kata-katanya si rahib membuatnya terperanjat. Ketika itu Ciok Peng dan muridnya datang menghampiri. Gouw Ceng menyusuti darah di pipinya.

"Sebenarnya kau Tio It Hiong yang tulen atau yang palsu ?"

Tanyanya perlahan. It Hiong makin bercuriga.

"Akulah Tio It Hiong, murid Pay In Nia !"

Sahutnya dengan kepastian.

"Aku bukannya Tio It Hiong yang palsu. Memangnya ada orang memalsukan aku ?"

"Gouw Ceng Tokouw, bagaimana ?"

Sea Sie menyela, mencampur bicara.

"Benarkah ada Tio It Hiong palsu ?"

"Sea Sie, jangan banyak bicara !"

Ciok Peng menegur muridnya itu.

Kesangsian jago tua ini menjadi goyah.

Mulanya ia percaya Tio It Hiong mendusta, tetapi sekarang lain.

Gouw Ceng sendiri pun terbenam dalam keragu-raguan sedangkan tadinya dia bersitegang.

"Gouw Ceng Toya."

Ciok Peng terus tanya si rahib.

"Bagaimana pendapatmu ? Dia ini Tio It Hiong yang tulen atau yang palsu ?"

Gouw Ceng mengawasi tajam pada anak muda di depannya itu, ia menjawab .

"Tio It Hiong yang pernah berhubungan denganku, tampang dan dandanannya memang sangat mirip dengan anak muda ini, hanya caranya bicara dan gerak geriknya dia ini, beda seperti langit dan bumi dengan Tio It Hiong yang aku kenal itu. Rasanya mataku tidak keliru melihat. Memang pernah aku mendengar perihal satu Tio It Hiong, yang muncul di dalam pertemuan besar di gunung Tay San dimana dia telah menyerang pada Pat Pie Sin Kit In Gwa Sian. Dia ini beda daripada orang yang aku kenal itu, apa pula dia ini telah memberikan sumpahnya yang berat barusan....."

"Jadi sebenarnya kau masih belum pasti ?"

Ciok Peng menanya menegaskan. Belum lagi Gouw Ceng manjawab atau Sae Sie sudah menghunus goloknya dengan apa dia membacok It Hiong sambil berseru .

"Dialah musuhnya Liok Cim, kita bunuh dahulu baru kita bicara ! Mana ada waktu akan mencari tahu dia si palsu atau si tulen ?"

Tio It Hiong berkelit dengan cepat.

Ilmu pedang Gie Kiam Sut membuatnya bermata sangat celi dan bergerak sangat cepat dan pesat.

Kapan ia diserang terus berulang-ulang, lantas ia main berkelit terus juga dengan menggunakan ilmu ringan tubuh Tangga Mega.

Tak sudi ia membalas menyerang.

Di lain pihak, ia mesti akui kegesitan dan kecepatan bergerak anak muda itu, maka tidaklah kecewa dia menjadi muridnya Koay To Ciok Peng si Golok Kilat !

Sae Sie menyerang tak hentinya tetapi setelah lewat tiga puluh jurus, selama mana tak sekali jua lawan membalasnya, mendadak ia berhenti sendirinya.

Biar bagaimana ia tetap muridnya seorang jago tua yang lurus.

Kalau ia tadi cuma mengiringi panas hatinya, sekarang ia sadar.

Tapi ia toh menanya .

"Tio It Hiong, kenapa kau tidak melayani aku bertempur ? Beginikah kelakuan-nya seorang Kang Ouw sejati ? Apakah kau hendak memohon keampunan ?"

Alisnya anak muda kita bangun.

"Aku hanya menghargai persahabatan guruku !"

Sahutnya sungguh.

"Dengan melihat mukanya Ciok Cianpwe, tak ingin aku sama sependapat denganmu. Aku tidak mau merusak persahabatan. Itulah sebabnya tak sudi aku menggerakkan tanganku, tetapi itu bukan berarti bahwa Tio It Hiong adalah seorang penakut !"

Ia hening sejenak.

"Kalau toh kau ingin menyaksikan kepandaianku, baiklah akan kau memberikan pertunjukan !"

Begitu berhenti suaranya si anak muda, begitu Keng Hong Kiam telah menghunus dan cahayanya berkilau menyilaukan mata.

Menyusul itu tubuhnya si anak muda mencelat, terapung tinggi sampai beberapa tombak terus berputar tiga kali, pedangnya berputaran juga.

Habis itu terlihatlah ia turun pula berdiri dengan tegak di depannya ketiga orang itu !

"Saudara Sae Sie"

Katanya sabar.

"Bagaimana penglihatanmu, dapatkah menyambut ilmu golok kilat darimu ? Atau apakah aku harus meminta ampun dari kau ?"

Sae Sie melongo, demikian juga gurunya.

Ciok Peng sendiri belum pernah melihat ilmu pedang semacam itu.

Tak usah dibilang lagi bagaimana kagum dan menyesalnya Gouw Ceng.

Selagi Sea Sie belum menjawab si anak muda, kepada mereka sudah datang dua orang lain, yang datangnya dengan berlarilari.

Rupanya tadi selagi It Hiong bersilat, mereka itu muncul.

Lekas juga mereka mengawasi It Hiong dengan tajam.

Dua orang itu adalah dua orang pendeta yang berjubah kuning, kaus kakinya putih, sepatunya sepatu rumput.

Kepala mereka lanang hingga berkilauan disinarnya matahari.

Muka mereka bundar dan montok.

Alis dan mata mereka menandakan mereka bukan dari pihak sesat.

Tangan mereka sama-sama mencekal Liong Houw Kiam Hoan, gelang emas naga-nagaan dan harimau-harimauan.

"Ciok Sicu, adakah orang ini si bocah Tio It Hiong ?"

Demikian suara mereka yang pertama keras dan tegas.

Ciok Peng sudah lantas mengenali kedua biksu itu, ialah Liong Houw Sang Ceng, Sepasang pendeta naga dan harimau dari gunung Ngo Tay San.

Lekas-lekas ia memberi hormat dan menjawab .

"Liong Houw Taysu selamat jumpa ! Dengan sebenarnya pemuda ini ialah Tio It Hiong dari Pay In Nia !"

Kedua pendeta itu maju setindak menghampiri It Hiong, keduanya menatap tajam, hingga sikapnya menjadi bengis.

"Eh, orang she Tio !"

Lantas yang satu menegur.

"kau masih begini muda, kenapa berani melakukan kejahatan yang tidak dalam dunia Kang Ouw ? Kenapa dengan cara hina dan busuk, kau binasakan dua orang murid kami ? Hari ini harus kami memberikan keadilan !"

It Hiong heran yang orang-orang datang menegurnya secara demikian, tetapi ia tabah.

Ia dapat menerka bahwa salah mengerti ini masih sama dengan salah mengertinya Gouw Ceng dan Ciok Peng.

Maka itu bukannya ia lantas menjawab, ia hanya berlaku tenang, dengan mengangkat kepala ia menengadah mega yang lagi beterbangan di udara.

Baik kemudian selagi orang menantikan jawabnya, ia menghela nafas, matanya mengawasi kedua biksu itu.

Liong Houw Siang Ceng adalah murid-murid kesayangan dari Pie Sie Siansu, pendeta kepala dari kuil Goan Cio Sie di gunung Ngo Tay San, nama suci mereka ialah Bu Sak Hweshio dan Bu Siang Hweshio.

Kuil Goan Cio Sie termasuk satu cabang dari Siauw Lim Sie.

Dalam hal peryakinan Ie Kiu Ken dari Tatmo Couwen.

Pie Sie Siansu telah melatihnya selama lima puluh tahun lebih cuma sebab ia tak pernah turun gunung untuk merantau, orang tidak ketahui sampai dimana lihainya ilmu silatnya.

Apa yang orang ketahui, katanya dia lihai sekali.

Muridnya cuma dua.

Belum lama murid-murid itu merantau, mereka sudah membuat nama hingga terkenallah julukan Liong Houw Siang Ceng itu, dua pendeta Naga dan Harimau.

Sekarang mereka berdua telah kena dipermainkan Tio It Hiong palsu yang duduk kejadiannya seperti berikut .

Pada suatu hari di kota Ceelam, It Hiong palsu bertemu dengan dua orang murid angkatan kedua dari Goan Cio Sie.

Mereka ini tengah menghadang Lek Hoat Jit Long, seorang jahat dari kalangan hitam.

Hong Kun dan It Beng kena diberi oleh penjahat itu yang menghadiahkannya sebuah mutiara besar.

Bertiga mereka lantas mengepung dua pendeta itu, tetapi mereka tak berhasil bahkan mereka keteter.

Sampai disitu guna merebut kemenangan, Hong Kun lantas menggunakan bubuk beracunnya yang lihai itu.

Kedua pendeta itu kena dikalahkan, yang satu bahkan terbunuh, maka yang lainnya lari pulang buat memberi kabar kepada Liong Houw Siang Ceng, hingga kejadianlah si Naga dan si Harimau itu pergi merantau mencari Tio It Hiong guna menuntut balas.

Dan kebetulan sekali disini mereka bertemu satu dengan lain !

Bu Siang Hweshio tidak sabaran sambil memperlihatkan senjatanya yang kuning berkilauan, gelang Liong Houw Kim Hoan.

Dia membentak .

"Orang she Tio, terhadap kami masih hendak berlagak pilon ? Kau lihatlah !"

Dan dia menyerang dengan gelangnya itu, mulanya kanteg lalu diterus ke tengah, ke kepala dan perut !

It Hiong tidak diberikan kesempatan bicara, hatinya panas.

Tetapi ia dapat mengendalikan diri.

Ketika diserang itu ia terus berkelit dan berkelit lagi seperti ia melayani Sea Sie tadi.

Tanpa melakukan pembalasan ia ingin meredakan suasana.

Bu Siang Hweshio lihai, dia menyerang dengan hebat, hatinya bergolak ketika ia mendapat kenyataan selalu si anak muda dapat berkelit.

Sudah tujuh atau delapan belas jurus, masih sia-sia saja ia mendesak si anak muda.

Dia melihat orang bertubuh ringan dan gesit, maka sendirinya kulit mukanya terasa panas.

Ia lantas berseru keras, serangannya dipergencar hingga sinar kuning emas dari gelangnya itu berkilauan mengurung tubuhnya lawan !

Ciok Peng dan muridnya kagum menyaksikan kehebatan si pendeta.

Bu Siang penasaran sekali, pelbagai macam serangannya tidak dapat menemui sasarannya.

Yang paling memalukan dirinya ialah It Hiong tetap main berkelit, tak sekali juga dia pernah menangkis atau membalas menyerang.

Sesudahnya lewat beberapa puluh jurus akhirnya Bo Sak Hweshio dan Ciok Peng berseru dengan .

"Tahan !"

Kedua orang yang bertempur itu bertempur secara sepihak, yang masing-masing berbaju hijau dan kuning berhenti bergerak secara serentak.

Bu Siang mentaati saudaranya dan It Hiong memangnya tiada niatnya bertempur.

Ketika itu mukanya Bu Siang merah karena letihnya, nafasnya pun mendesak.

It Hiong sebaliknya berdiri tenang, nafasnya lurus seperti biasa, dia bukan seperti habis "bertarung"

Seru. Dia mengawasi si pendeta seperti orang yang berniat berbicara. Segera terdengar suara terang jelas dari Ciok Peng.

"Urusan kita ini berpangkal pada dirinya Tio It Hiong, tetapi sekarang aku melihat sesuatu yang menyiksaku. Menurut aku, soal tak sederhana seperti perkiraan kita. Bukankah demikian pula pemandangan kalian ?"

Jago tua ini mengawasi kedua pendeta dan Gouw Ceng, untuk menanti jawaban.

Ia pun memandang kepada It Hiong, yang terus berdiri diam dengan tenang.

Bu Sak dan Bu Siang, juga Gouw Ceng berdiam.

Jelas yang mereka tengah memikirkan persoalan mereka itu.

Melihat orang berdiam saja, Ciok Peng berkata pula .

"Menurut aku, baiklah dengan memandang kepada Tek Cio Siangjin dan Pat Pie Sin Kit, hari ini urusan kita tunda sampai disini. Kita beri ampun kepada Tio It Hiong, supaya dia dapat berlalu. Kita sendiri, harus kita membuat penyelidikan guna mendapatkan bukti, setelah mana baru kita bertindak terlebih jauh. Aku percaya suhu berdua urusan kalian pasti akan dapat dibikin terang."

"Ciok Sicu dan Gouw Ceng Tocu."

Berkata Bu Sak Hweshio.

"Jadinya kalian berada disini untuk berurusan dengan ini bocah she Tio, guna membuat perhitungan ?"

Mukanya Gouw Ceng menjadi merah, dia tunduk.

"Benar !"

Ciok Peng menjawab.

"Tapi kami mau bekerja untuk sahabatku Bu Eng Thung Liok Cim dari Siang kang. Itulah urusan tumpah darah."

Jago tua ini pun menutur perihal kejadian dirumah penginapan di kota Kayhong di waktu mana mendadak It Yap Tojin datang, maka "It Hiong"

Dapat kabur.

Kemudian ia mengutarakan keragu-raguannya sebab kabarnya ada It Hiong palsu dan It Hiong tulen.

Kedua It Hiong sama tampangnya tetapi beda gerak geriknya dan perilakunya.

Bu Sak Hweshio tertarik hati dan mau percaya Ciok Peng.

Dia menghela nafas dan kata .

"Dunia Kang Ouw memang sudah diganggu manusia-manusia licik, bahwa segala keanehan dapat terjadi. Kau benar sekali, Ciok Sicu."

Tetapi Bu Siang gusar dan kata keras .

"Tio It Hiong sudah banyak dosanya, dia pasti seorang jahat ! Orang semacam dia memang banyak akal muslihatnya ! Ciok Sicu, janganlah kau mudah diakali orang !"

"Aku si orang tua, aku paling benci kejahatan !"

Berkata Ciok Peng.

"Mana dapat aku membiarkan manusia busuk terus main gila ? Tapi pengalaman beberapa puluh tahun mengajari aku buat berlaku sabar dan tenang, demikian sekarang ini. Dalam hal kita ini aku ingin kita bertukar pikiran."

Ia melirik pada It Hiong terus ia menambahkan.

"Sekarang ini kawanan bajingan diluar lautan tengah mengacau karena itu kita harus berhati-hati. Siapa tahu kalau mereka itu lagi mengatur tipu daya dengan satu batu mendapati dua ekor burung ?"

Mendengar suaranya Ciok Peng, It Hiong kagum. Ia lantas memberi hormat pada jago tua itu sambil berkata .

"Ciok Cianpwe terima kasih. Dengan kata-katamu ini cianpwe telah membeber rahasianya si manusia jahat. Baiklah cianpwe, disini aku menjanjikan bahwa aku akan bertanggung jawab didalam semua peristiwa keluarga Liok, perkara berdarah kuil Goan Cio Sie dan penasarannya Gouw Ceng Tokouw ! Di dalam masa satu tahun jika aku gagal dengan usahaku akan aku undang cianpwe beramai datang pula kemari. Nanti di depan kalian akan kau habiskan jiwaku guna menebus dosa. Aku berkata satu tidak dua. Bagaimana kalau sekarang kita berpisah secara baik-baik ?"

Liok Houw Siang Ceng dan Ciok Peng saling memandang, keduanya berdiam. Gouw Ceng mengawasi si anak muda.

"Saudara Tio. Baiklah, urusan sakit hatiku ini aku serahkan pada kau."

Kata ia.

"Aku berterima kasih yang kau telah melukakan kedua belah pipiku sebab itulah suatu pengajaran untukku yang telah tersesat. Sekarang aku sadar, hendak aku bertobat. Akan aku hidup suci menyendiri selama sisa hidupku."

Lantas si rahib memberi hormat pada semua orang, lantas dia mengeloyor pergi.

It Hiong mengawasi Tokouw itu, ia terharu.

Ia berkesan baik buat nasib buruk si rahib karena dari kecantikannya.

Kemudian ia memberi hormat pada Ciok Peng dan kadua pendeta untuk mengucap .

"Sampai jumpa pula."

Setelah mana segera ia pergi mengangkat kaki ! Sae Sie melihat orang pergi, dia beragu-ragu ! "Suhu !"

Katanya pada gurunya.

"Si orang she Tio mengangkat kaki, apakah itu bukan disebabkan dia telah melihat suasana buruk baginya ? Apakah bukan dia sengaja menggunakan akal untuk meloloskan dirinya ? Ciok Peng tertawa bergelak.

"Muridku, kecerdasanmu berlebihan !"

Katanya.

"Sebaliknya kau kekurangan kejujuran !"

Murid itu berdiam !

Sementara itu Bu Siang telah mendapati pulang ketenangan dirinya.

Ia ingat halnya It Hiong demikian sabar, selalu berkelit dari pelbagai serangannya yang hebat.

Pula kepandaiannya anak muda itu nampaknya tak berada dibawahnya.

Kenapa dia tak menangkis atau membalas menyerang ?

Bukankah itu bukti dari kebesaran jiwa ?

Mana dapat seorang jahat bersabar sampai begitu ?

"Aku lihat sikapnya It Hiong barusan mencurigai...."

Katanya.

"Apakah Toasuhu menyangka dia licik ?"

Sae Sie tanya.

"Bukan !"

Sahut si pendeta.

"Aku heran dia dapat melayani aku bertempur dengan caranya yang luar biasa itu. Dia selalu berkelit, dia tak sudi membalas barang satu jurus. Ya, aku tak dapat mengerti apa maksudnya !"

"Aku si tua dapat menerka hatinya."

Berkata Ciok Peng.

"Tadi pun ia melayani Sae Sie tanpa menangkis dan menyerang. Terang dia tak sudi bentrok dengan kaum lurus. Maka dia terus mengalah. Mengenai kau, suhu, aku percaya itulah karena dia menghormati dan menghargai kalian...."

Selagi jago tua itu berkata begitu, diantara mereka muncul seorang muda tampah dan gagah tampangnya, bajunya panjang, pedangnya digemblokkan dipunggungnya.

Usia dia lebih kurang dua puluh tahun.

Sembari memberi hormat, dia lantas menanya jago tua itu .

"Mohon bertanya lotiang, apakah barusan lotiang melihat Tio It Hiong dari Pay In Nia ?"

Ciok Peng heran, dia mengawasi anak muda itu, kemudian dia tertawa dan balik bertanya.

"Saudara kecil, apakah she dan nama saudara ?"

"Aku yang rendah Cukat Tan murid dari Ngo Bie Pay."

Sahut anak muda itu terus terang, suaranya nyaring.

"Dana Cukat, ada urusan apakah anda mencari Tio It Hiong ?"

Bu Siang menyela dengan pertanyaannya. Cukat Tan mengawasi pendeta itu, serta pendeta lainnya.

"Toasuhu, apakah kalian Liong Houw Siang Ceng ?"

Ia balik menanya.

"Benar, kamilah Bu Sak dan Bu Siang !"

Sahut Bu Sak. Ia menunjuk pada Ciok Peng dan memperkenalkan.

"Itulah Sicu Koay To Ciok Peng ! Dan itu muridnya Ciok Sicu Dana Sae Sie !"

Lagi sesaat Cukat Tan memberi hormat pada ke empat orang itu, untuk seterusnya mengulangi pertanyaannya .

"Apakah lotiang beramai melihat pada Tio It Hiong ? Kemanakah perginya saudara Tio itu ?"

Ciok Peng mengangguk.

"Benar, kami melihatnya."

Sahutnya.

"Ada urusan apa saudara Cukat mencari dia ?"

"Barusan aku bertemu Gouw Ceng Tokouw dan dia berkatai aku bahwa saudara Tio It Hiong berada disini."

Sahut Cukat Tan yang memberikan keterangannya. Ciok Peng mengawasi untuk bertanya .

"Saudara Cukat, apakah kau pernah bertemu dengan Tio It Hiong palsu ?"

Alisnya Cukat Tan berdiri.

"Bukan saja aku pernah bertemu dengannya, bahkan kita pernah bertempur !"

Sahutnya.

"Sebaliknya dengan Tio It Hiong tulen yang aku cari. Aku belum berhasil menemuinya. Begitulah aku menyusul kemari. Hendak kau menyampaikan kabar padanya."

"Coba kau bilang aku."

Bu Siang campur bicara. Dia tak sabaran.

"Kau terangkan padaku, bagaimana kau kenali Tio It Hiong yang bertempur denganmu adalah Tio It Hiong yang palsu ?"

"Itulah sebab aku kenal baik silat mereka."

Sahut si anak muda.

"Ini pula soal yang hendak aku sampaikan pada saudara Tio It Hiong."

Ciok Peng puas mendengar keterangannya Cukat Tan itu. Jadi taklah keliru pendapatnya bahwa Tio It Hiong tadi benar Tio It Hiong yang tulen. Sembari tertawa dan tangannya menunjuk, ia lantas kata .

"Tio It Hiong barusan lari ke arah sana ! Saudara Cukat Tan pergilah lekas kau menyusul dia !"

Cukat Tan mengangguk, habis mengucap terima kasih, ia lantas lari ke arah yang ditunjuk itu.

Tio It Hiong sementara itu telah melakukan perjalanan cepat.

Ia mau pulang Lek Tiok Po terus ke Siauw Lim Sie dan ingin lekas-lekas tiba di sana.

Ia memikirkan ayah angkatnya, istrinya dan juga yang lain-lainnya.

Kalau ia memikirkan ayah angkatnya, lain orang juga tentu memikirkannya sebab dia telah pergi lama dan tanpa sesuatu berita.

Sekarang muncul Tio It Hiong palsu, karena ini ia juga ingin membuat penyelidikan.

Ia merasa aneh dimana ia tahu suka ada orangorang yang memperhatikannya, sinar mata mereka itu menandakan mereka memandang hina terhadapnya.

Pada suatu hari It Hiong tiba juga di Siang-cuinpa, ditapal batas kedua propinsi, di Kangsay dan Ouwpak.

Ia kenal baik tempat ini.

Disinilah yang dahulu buat pertama kalinya ia bertemu dengan Pek Giok Peng untuk terus mereka berada berduaan berbicara sambil tertawa gembira hingga kemudian ia turut si nona ke Lek Tiok Po sampai akhirnya jodoh mereka terikat satu pada lain.

Ia ingat bagaimana sudah sekian lama ia tak pernah pulang ke Lek Tiok Po, akan menemui mertuanya, terutama ia belum pernah melihat pula Hauw Yan, puteranya.

Karena ini tanpa merasa ia berlari-lari keras.

Barulah ia berjalan perlahan setibanya ia ditempat yang jalanannya sukar dilalui.

Ketika akhirnya si anak muda tiba di Lek Tiok Po, hari sudah jauh lohor, matahari layung bersinar indah.

Akan tetapi, kapan dia mengawasi Lek Tiok Po, ia heran.

Pintu gerbang yang besar yang berwarna hitam tertutup rapat dan kesunyian memerintah disitu dan sekitarnya !

Itulah suasana yang beda jauh dengan kebiasaan dahulu hari.

"Ah, apakah telah terjadi sesuatu yang tak diharapi ?"

Demikian pikirnya.

Karena itu ia menjadi berpikir, menerka yang tidak-tidak, hatinya pun mulai memukul.

Dengan satu loncatan pesat, It Hiong menaruh kakinya diundakan tangga di muka pintu gerbang.

Di sini ia lebih merasai suasana kesunyian.

Tidak ayal lagi, ia memegang gelang pintu yang merupakan muka binatang itu, maka nyaringlah suaranya gelang itu.

Tidak ada jawaban, tidak ada orang yang muncul untuk membuka pintu atau mendengarnya !

"Ah !"

Serunya di dalam hati.

Kali ini tanpa berayal lagi, It Hiong menjejak tanah untuk berlompat naik ke atas payon.

Justru sang angin membawa tibanya suara bentrokannya barang-barang keras lawan senjata tajam !

"Celaka !"

Pikirnya.

Maka segera ia menghunus pedangnya, lantas ia berlompat turun untuk berlari-lari ke dalam, ke arah tempat datangnya suara bentrokan senjata tajam.

Ia bergerak dengan Gie Kiam Hui Hong Sut, ilmu pedang terbang melayang hingga tubuhnya melesat luar biasa pesat.

Beberapa wuwungan telah dilintasi, maka lantas juga ia melihat loteng Ciata Yan Lauw, tempat darimana datangnya suara bahkan ia segera melihat sinar golok dan pedang serta beberapa bayangan tubuh lagi bergerak-gerak cepat dan gesit.

Dan diantara suara bentakan-bentakan terdengar juga suaranya anak kecil !

"Itukah suaranya Hauw Yan ?"demikian pertanyaan yang lantas timbul di benak otaknya It Hiong.

Kaget dan berkuatir, anak muda ini berlari sekerasnya ia mampu, hingga kali ini ia segera tiba di tempat kejadian, bahkan ia lantas menaruh kaki di dalam lankan lotengnya itu.

Tapi disini ia segera melihat pemandangan yang mengejutkan dan menggetarkan hatinya.

Hauw Yan berada di dalam rangkulannya seorang usia setengah tua, tangan kirinya yang memeluk, tangan kanannya yang memegang pedang, menudingkan ujung pedangnya ke dadanya anak yang tak tahu apa-apa.

Itulah rupanya yang tadi membuat anak itu menjerit.

Di sebelah kanan orang setengah tua itu, berdiri seorang muda dengan pedang terhunus ditangannya.

Dengan pedang itu dia tengah mengancam Pek Giok Peng.

Karena kedudukan mereka, anak muda itu cuma nampak punggungnya tetapi It Hiong segera seperti mengenalinya.

Sebaliknya Pek Giok Peng yang menghadapinya tampak pucat sekali.

Air matanya tergenang.......

Menyaksikan semua itu, lupalah It Hiong akan segala apa.

Yang ia cuma ingat ialah anak dan isterinya, terutama si anak yang harus ditolongi.

Untuk membantu Hauw Yan, lain jalan pun tidak ada kecuali ia menyerbu.

Dan itu ia lakukan !

Satu gerakan Gie Kiam Hui Heng membuat tubuhnya pemuda kita mencelat kepada si orang setengah tua yang lagi mengancam jiwanya Hauw Yan, pedang Keng Hong Kiam menebas dengan hebat.

Gerakan itu cepat luar biasa.

Lawan itu terkejut, lupa pada anak yang lagi diancamnya itu, dia mengangkat pedangnya akan menangkis serangan yang tiba-tiba itu.

"Traaangg !"

Demikian satu suara nyaring dan pedangnya si orang setengah tua terkutungkan sedangkan tubuhnya terhuyung tiga tindak.

Bocah ditangannya pun menjerit karena kaget.

Sekarang It Hiong melihat tegas orang itu, yang terus ia kenali, ialah Teng It Beng.

Orang dengan siapa ia telah mengadu pedang di lembah Pek Keng Kok diwaktu mana ia menaruh belas kasihan, ia telah mengampuni jiwa orang.

Mulanya ia melengak sejenak, lalu segera alisnya bangkit berdiri, matanya dibuka lebar-lebar, sinar matanya menyala.

Karena anak berada di tangan orang, ia masih dapat mengendalikan diri.

Dalam murka hebat itu, ia tertawa nyaring, suaranya sangat tak sedap bagi telinganya It Beng.

"Oh, saudara Teng, selamat bertemu !"

Demikian katanya, keras dan dingin.

"Sudah banyak tahun kita tidak pernah berjumpa, maka itu ingin aku ketahui dari mana saudara telah mempelajari ilmu menculik orang ?"

It Beng kaget sejenak, lantas dia juga tertawa dingin.

"Orang she Tio, lihat anakmu ditanganku ini !"

Ia berkata jumawa.

"Jangan kau sembarang bergerak !' "Teng It Beng !"

Berseru si anak muda.

"Kalau kau benar laki-laki sejati, kau turunkan anak itu ! Mari kita bertempur ! Aku Tio It Hiong, akan aku mengalah sepuluh jurus kepadamu ! Mari kita bertempur satu lawan satu, sampai siapa hidup siapa mati ! Itulah baru bukti buat orang gagah sejati !"

Teng It Beng tertawa terkekeh. Dia mengejek.

"Orang she Tio, kau memikir terlalu polos !"

Katanya.

"Sekarang kau dengar aku. Akan aku menyebut tiga kali ! Kalau setelah tiga kali itu kau tidak meletakkan senjatamu, akan aku bunuh anakmu ini !"

Berkata begitu dengan pedang buntungnya, si orang she Teng mengancam batang lehernya Hauw Yan.

Ia pula memencet membuat si anak kesakitan dan menjerit menangis.

Bukan main panas hatinya It Hiong hingga ia mau berlaku nekad atau Giok Peng menghampirinya dan dengan suara sedih berkata padanya .

"Adik Hiong, kita dapat mengorbankan segala apa, asal jiwanya Hauw Yan selamat !"

It Hiong sudah mencekal keras pedangnya atau ia mesti mengendorkannya pula. Justru itu, It Hiong berdua Giok Peng mendengar satu suara keras di belakangnya .

"Adik Peng, jika kau menghendaki jiwanya anakmu, sekarang juga kau mesti putuskan hubunganmu dengan Tio It Hiong dan kau lantas pergi mengikuti aku pergi dari sini !"

It Hiong segera menoleh, maka ia menghadapi si orang muda yang muka dan pakaiannya mirip dengan ia sendiri, hingga ia menjadi heran sekali tetapi ia cuma melengak sejenak lantas ia ingat bahwa pemuda itu ialah musuh yang menyamar menjadi dianya yang sudah melakukan bermacammacam perbuatan kejam dan keji guna memfitnah padanya.

Ia dimusuhkan dan dicari banyak orang yang hendak membinasakannya.

Sedetik itu bukan main bingungnya It Hiong.

Menyerah ia tak sudi, tak menyerah putranya terancam kematian !

Tetapi sebagai seorang laki-laki sejati, ia lebih mengutamakan kehormatan dirinya.

Maka ia memikir buat mengambil jalan pendek.

Nekad !

Kembali terdengar suara si anak muda .

"Tio It Hiong ! Kalau kau menyayangi jiwa anakmu, kau mesti dengar kata terhadapku !"

"Kau siapa ?"

Tanya It Hiong heran.

"Kenapa kau menyamar sebagai aku ?"

Pemuda itu tertawa terkekeh. Kata dia .

"Di dalam dunia ini, kaulah manusia paling licin ! Dengan menyamar sebagai aku, kau mendatangi Lek Tiok Po, mau apa kau sebenarnya ? Sekarang kau telah bertemu denganku, Tio It Hiong bagaimana kau masih hendak berpura-pura ?' It Hiong mendongkol bukan main, sampai ia tak tahu harus mengucapkan apa. Ia mengawasi dengan sinar mata yang menyala.

"Kaukah Tio It Hiong ?"

Tanyanya.

"Barusan kau memanggil apa padaku ?"

Pemuda itu melengak, memang barusan itu dia menyebutnyebut she dan nama orang. Tapi dia licik dan kulit mukanya tebal. Dia lantas tertawa.

"Barusan aku cuma hendak menguji kau."

Katanya.

"Aku hendak mencoba dihadapanku, kau berani mengaku diri sebagai Tio It Hiong atau bukan !"

Giok Peng mengawasi dua orang itu bergantian.

Memang sulit buat dia mengenali yang mana satu Tio It Hiong yang tulen.

Tapi toh mudah buat ia memastikan yang mana satu.

Bukankah tadi It Hiong yang sana itu datang bersama-sama Teng It Beng ?

Bukankah lantas merampas Hauw Yan dan memaksanya pergi mengikut dia itu ?

Maka dia itu pastilah Gak Hong Kun si It Hiong palsu.

It Beng tidak pernah ada bersama It Hiong.

Tiba-tiba Giok Peng berseru.

"Adik Hiong lekas binasakan manusia yang menyamar sepertimu ini ! Kau tolonglah anak kita !"

Hebat seruannya si nona.

Mendadak saja kedua-duanya It Hiong bergerak dengan berbareng !

Sama-sama mereka menghunus pedangnya masing-masing !

Lantas It Hiong sana menerjang It Hiong sini !

It Hiong tak menangkis, ia hanya berkelit.

Ia berkelit terus ketika ia diserang berturut turut hingga tiga kali.

Selama itu ia memperhatikan ilmu pedang penyerangnya, hingga ia mengenali itulah ilmu pedang Heng San Pay !

Kemudia ia melirik pada Teng It Beng yang menemani lawannya itu.

Hauw Yan masih berada ditangan orang setengah tua itu !

Dan itulah bahaya untuk si anak !

"Gak Hong Kun !"

Berkata ia kemudian, suaranya keras dan tajam.

"Gak Hong Kun ! Sungguh sepak terjangmu amat keji ! Baiklah, hari ini akan kurampas batok kepalamu guna membersihkan dunia persilatan yang dikeruhkan olehmu !"

Gan Hong Kun tertawa mengejek. Dia melirik It Beng.

"Kau benar bermata tajam !"

Katanya.

"Kau dapat mengenali diri asli dari tuan Gak mu ! Tapi lihatlah anakmu itu ! Ingatlah kau akan jiwanya ! Dia telah berada dalam genggamanku. Masihkah kau hendak berkeras kepala ?"

Menyambungi kata-katanya si anak muda, terdengar jeritannya Hauw Yan.

Itulah sebab anak itu dipencet It Beng yang telah menangkap arti lirikan konconya !

Nyeri hatinya It Hiong.

Terpaksa, ia menoleh kepada anaknya itu.

Justru ia menoleh.

"Ser !"

Maka pedangnya Hong Kun meluncur kepadanya menyambar punggungnya !

Setelah mengerti Gie Kiam Sut, It Hiong telah berubah menjadi luar biasa sekali.

Baik mata maupun telinganya telah menjadi lebih tajam dan celi, dan gerakan-gerakannya pun sangat cepat dan cepat.

Maka itu waktu dibokong itu wajar saja ia dapat menangkis ke belakang sambil memutar tubuhnya !

"Traaaangg !"

Demikian suaranya nyaring akibat bentroknya kedua pedang, dua-duanya pedang mustika.

Hong Kun terkejut, dia mundur satu tindak.

Tidak ia sangka yang It Hiong menjadi demikian lihainya, jauh lebih cepat dan bertenaga besar !

Sedangkan tadinya, mereka berdua hampir berimbang.

It Hiong tidak menghiraukan lagi penyerangnya itu, yang melengak.

Ia hanya menghadapi Teng It Beng untuk berkata nyaring dan bengis .

"Saudara Teng, aku menyesal atas perbuatanmu sekarang ! Kenapa kau membantui Gak Hong Kun melakukan hal yang melakukan ini ? Sekarang, saudara Teng, aku bilang padamu, jika kau tidak menyerahkan Hauw Yan secara baik-baik kepadaku, maka jangan nanti kau persalahkan aku tidak kenal kasihan lagi !"

Ketika itu, Hong Kun sudah sadar, maka ia maju pula.

Menyerang kembali kepada It Hiong yang ia tak mau memberikan ketika dapat berbicara dengan It Beng agar kawan tidak sampai kena terbujuk atau tergertak.

It Hiong terpaksa menangkis serangan orang, tetapi ia masih belum mau membalas.

Ia tetap memperhatikan It Beng.

Ia menangkis si anak muda melulu guna membela diri.

Teng It Beng tertawa menyeringai.

Ia tidak mengambil perduli ancaman itu bahkan lagi-lagi ia memencet si anak ditangannya hingga kembali Hauw Yan memperdengarkan jeritannya yang menyayatkan hati.....

Bukan main sakit hatinya Giok Peng.

Dia gagah tetapi dia tak berdaya.

Semenjak tadi dia telah menjadi korbannya Hong Kun.

Si anak muda telah menotok jalan darahnya, jalan darah moa hiat, hingga tubuhnya menjadi kaku, tenaganya habis.

Tak dapat ia bertahan lagi.

Kapan ia mendengar jeritan Hauw Yan beberapa kali, ia terus roboh !

Hong Kun sementara itu penasaran sekali, tak dapat ia merobohkan It Hiong.

"It Hiong !"

Kemudian katanya.

"permusuhan kita berdua tak lain tak bukan disebabkan kau telah merampas kekasihku, hinggga kau mengangkangi adik Giok Peng. Tetapi sekarang hendak aku memberikan ketika kepadamu ! Kalau kau masih menyayangi anakmu itulah sangat mudah kau menerima baik satu syaratku !"

Jilid 37

"Apakah itu ?"

Sahutnya. Ia menjawab saking terpaksa.

"Lekas bilang !"

Hong Kun tersenyum. Sengaja dia membawa lagak ugalugalan.

"Itulah bukan syarat sukar sebaliknya sangat mudah !"

Sahutnya.

"Itulah asal kau dapat mengembalikan adik Giok Peng kepadaku supaya dia menjadi istriku. Kau sendiri sejak saat ini kau mesti mundur dari dunia Kang Ouw, dan nama Tio It Hiong tetap menjadi namaku si orang sungai telaga......"

Tanpa menanti suara orang berhenti, It Hiong sudah lantas berseru .

"Bangsat tak tahu malu. Kalau kau dapat melayani aku sepuluh jurus apa juga kau kehendaki akan aku luluskan !"

Meskipun ia berkata demikian, dalam murkanya, It Hiong tidak mau menanti jawaban lagi.

Dengan kecepatan luar biasa, ia lompat menerjang orang yang menyamar menjadi dirinya itu.

Keng Hong Kiam berkelebat menyambar ke perut orang.

Hong Kun cerdik, tidak mau dia menangkis.

Dia justru lompat ke samping terus kepada Giok Peng untuk berlindung, diantara si cantik itu yang pinggangnya dia rangkul.

Lalu sembari tertawa mengejek dia berkata .

"Nah, orang she Tio, kau menerima baik syaratku ini atau tidak ? Kau harus ketahui tuan Gak kamu ini tidak mempunyai banyak waktu melayanimu !"

Kembali si anak muda menoleh kepada It Beng buat mengedipi mata.

Kali ini dia menganjuri sahabat itu kabur dengan membawa Hauw Yan.

Dia pun sudah memikir buat membawa Giok Peng lari bersama !

Sulit buat It Hiong memilih .

Menolong dahulu istrinya atau anaknya ?

Kembali Hauw Yan menjerit.

Itulah siasatnya It Beng hendak membikin kacau hatinya si pemuda musuhnya itu.

Ia pikir selagi si anak muda bingung hendak ia berlompat pergi buat kabur dari Ciat Yan Lauw......

Hampir It Hiong kalap selekasnya ia mendengar jeritan anaknya itu.

Ia ingat hanya kepada puteranya itu.

Mendadak dia lompat melesat kepada It Beng, itulah gerakan "Katak Loncat".

Berbareng dengan itu, Keng Hong Kiam pun digerakkan dipakai menusuk si penculik anak dengan tikaman "Peng Ter Sang Lui", Guntur di Tanah Datar.

Sasarannya ialah pinggang lawan.

Di dalam keadaan seperti itu, It Hiong menggunakan kepandaian dari ilmu sejati.

Coba ia sempat memikir, seandianya ia menggunakan ilmu "Hoan Kak Bie Ciu"

Ajarannya Touw Hwe Jie, pasti ia akan berhasil.

Hanya ilmu itu adalah ilmu sesat.......

It Beng bukan sembarang orang.

Dia bekerja dengan telah memikir dahulu.

Ia pula selalu memasang mata.

Selekasnya ia melihat It Hiong berlompat, ia pun berlompat ke samping.

Tak mau ia menjadi sasaran pedangnya lawan.

Tapi ia bukan menghindari diri.

Ia masih mempunyai satu akal lain.

Ialah sambil berkelit itu, dengan tangan kirinya mengangsurkan tubuhnya Hauw Yan buat dipakai menghadang pedang lawan, sambil ia berseru.

"Ilmu pedangmu lihai sekali ! Nah, kau bunuhlah anak ini ! Ha ha ha.."

It Hiong kaget tak terkirakan.

Kalau tikamannya mengenakan sasaran, sasaran itu bukan pinggang lawan hanya tubuhnya Hauw Yan.

Tapi ia lihai sekali.

Ia cepat bukan main.

Berbareng kaget, tangannya digeser ke lain arah, diteruskan ke betis lawan !

Teng It Beng sudah menerka kalau lawan dapat membatalkan serangannya.

Lawan itu tentu akan menarik pulang pedangnya, tidak ia sangka bahwa orang dapat meneruskan menusuk ke bawah kakinya.

Tentu sekali ia menjadi kaget.

Lantas menjejak tanah, buat berlompat tinggi.

Tetapi ia mengapungi tubuh bukan melulu guna menyelamatkan diri, ia sempat membalas menyerang juga, ialah ia menendang dengan sebelah kaki selagi ia mengangkat kedua-dua kakinya !

Itulah depakan "In Lie Twie", Kaki Didalam Mega.

Dengan menendang secara begitu, tubuh si penendang sekalian diputar, maka juga Teng It Beng kemudian dapat turun dan menaruh kaki dipintu.

Orang she Teng itu sangat cepat tetapi It Hiong terlebih cepat pula.

"Tae In Ciong"

Lompatan Tangga Mega, istimewa sekali. Dengan mudah anak muda ini dapat menghindarkan diri dari depakan itu. Di lain pihak, ia pun menggunakan pula pedangnya sembari berkelit, ia menebas ! "Taar !"

Demikian terdengar satu suara lantas It Beng memperdengarkan seruan tertahan.

Inilah sebab tak keburu ia menyingkir diri.

Lengan kirinya sebatas bahu kena tertebas dan kutung karenanya, disusul dengan tubuhnya yang terhuyung-huyung dan terus roboh ke lantai !

It Hiong berlaku cepat luar biasa.

Selagi tangan kanannya menebas, tangan kirinya menyambar.

Maka berhasillah ia merampas Hauw Yan, yang tak usah sampai jatuh terbanting.

"Anakku !"

Serunya perlahan.

Tapi, waktu ia menoleh ke arah Gak Hong Kun, si pemalsu itu sudah lenyap, lenyap bersama Giok Peng.

Sebab terang sudah, selagi ia menempur It Beng, Hong Kun yang licik telah menggunakan kesempatan kabur dengan membawa si nona !

Di dalam keadaan seperti itu, tak sempat It Hiong memikir banyak.

Dari dalam rumah besar ia telah lantas mendengar samar-samar suara senjata beradu serta bentakan berulangulang.

Tidak berayal sedetik juga, ia membawa anaknya lari ke arah kepada mana lantas melihat roboh bergelimpangannya beberapa orang dari Lek Tiok Po.

Hal mana membuatnya kaget dan berkuatir, lekas dia lari terus kedalam, hingga ia melihat suatu pemandangan yagn hebat !

Di dalam Toa thia, ruang besar dari Lek Tiok Po, orang tengah bertempur seru.

Disatu bagian, Kiauw In lagi dilibat dengan dua orang tua yang tampang dan dandanannya sangat beda dari kebanyakan orang.

Di pojok kiri Pek Thian Liong dengan pedang ditangan sedang menempur seorang tua setengah tua yang senjatanya joanpian.

Dan pojok kanan, nyonya rumah Ban Kim Hong lagi bertarung seorang yang kate gemuk, usianya lanjut.

Diantara tiga rombongan itu, It Hiong melihat Thian Long dalam keadaan berbahaya sebab dia terdesak lawannya seorang setengah tua.

Maka ia menganggap perlu ia membantu pemuda itu yang menjadi iparnya.

Maka sambil terus memeluki Houw Yan, ia berlompat melayang kepada si ipar untuk mana ia mesti loncat lewat di atas kepalanya Kiauw In.

Selekasnya ia tiba, ia lantas membacok pada musuh hingga musuh itu roboh seketika !

Sebab musuh tak sempat berdaya.

Pek Thian Liong terkejut mendapat pertolongan tak disangka-sangka itu, akan tetapi kapan ia sudah mengangkat kepalanya dan melihat orang yang menolongnya, ia heran hingga ia mendelong mengawasinya.

Sebab ia mendapati orang itu Tio It Hiong adanya !

"Saudara Tio !"

Teriaknya atau ia berhenti.

"Aneh !"

Pikirnya kemudian. Masih ia mengawasi iparnya itu.

"Tadi dia datang lantas mengejar Paman Tong dan juga melukai ayah ! Tapi sekarang dia datang pula justru membantu aku ? Bahkan dia membinasakan musuh !"

It Hiong tidak melihat Thian Liong bingung itu, tak sempat ia mengawasi orang atau memperhatikannya, sebab segera ia lompat ke arah Cio Kiauw In.

Ketika itu nona Cio sedang diserang oleh kedua lawannya yang dapat bekerja sama dengan baik, hingga ia menjadi repot hingga ia mesti berkelit dengan berloncatan kesana kemari.

Ketika itu It Hiong tiba justru ia lagi menahan serangan sepasang tangannya orang tua yang dikiri, sedangkan orang tuan yang dikanannya membarengi menghajar punggungnya, sebab ia membaliki belakang pada musuhnya itu.

Dengan kecepatan yang luar biasa, It Hiong membabat kutung tangannya penyerang di sebelah kanan hingga dia itu menjerit keras terus dia roboh dengan kesakitan, giginya dirapatkan buat menahan nyeri dan mukanya meringis hingga tak sedap dipandang !

"Tahan !"

Teriaknya It Hiong selekasnya ia merobohkan musuh itu.

Suara itu sangat nyaring dan keras, pengaruhnya besar sekali.

Sebab dua rombongan yang lagi berkelahi itu berhenti dengan sekejap.

Ia berdiri tegak dengan tampang gagah, sebelah tangan memegang pedang terhunus, tangan yang lain mengempo Hauw Yan !

Kiauw In berdiri melongo mengawasi anak muda itu.

Ban Kim Hong bersama si orang tua katai dan terokmok sudah lantas menghampiri, keduanya mengawasi dengan tajam.

Ketika itu ruang besar yang barusan ramai dan berisik, sekarang menjadi sunyi senyap.

"Hai anak bau !"

Si orang tua katai gemuk lantas memperdengarkan suaranya yang dingin menegur It Hiong.

"kau telah menipu. Dari Kolong ta kami telah kami turut datang kemari membantui kau, katanya guna membalaskan sakit hatimu, kenapa sekarang kau jadi berbalik, bahkan kau telah membunuh muridku dan melukai saudaraku ? Apakah kau rasa kau sanggup bertahan dari pukulan Peng Thiang Ciang ku ?"

"Peng Thian Ciang"

Ialah pukulan Tangan Es.

It Hiong tidak kenal orang tua ini bahkan Kolong ta yang disebutkan si orang tua juga ia tak tahu, belum pernah ia mendengarnya.

Tapi melihat tampang dan dandanan orang serta ilmu silatnya yang lihai ia menerka pada salah satu golongan bajingan dari luar lautan.

Ketika itu ia pun sedang melihat keliling ruang besar itu.

Di pojok ruang diatas kursi tampai Pek Kiu Jia duduk menyender dengan tubuhnya mandi darah yang keluar dari balutan dadanya.

Nampak orang tua itu sudah tak berdaya, mukanya pucat, kedua matanya rapat.

Ketika itu Thian Liong sedang menghampiri ayahnya itu buat ditolongi.

Thian Liong menangis dengan airmata bercucuran deras.

Di lantasi rebak menggeletak tiga sosok tubuh, dan diantaranya orang-orang Lek Tiok Po.

Yang ketiga ialah Tong Wie Lam, si guru silat tua.

Melihat berdiamnya tubuh mereka bertiga itu, terang bahwa mereka sudah tak bernyawa....

Ketika itu Hauw Yan telah hilang kagetnya.

Kapan ia melihat Ban Kim Hong dan Kiauw In, ia berteriak memanggil.

"Nenek !". Setelah itu ia menjerit menangis terus tangan dan tubuhnya digerak-gerakkan seperti yang mau nubruk neneknya itu. Teriakan anak itu membuat It Hiong bagaikan terasadar, maka ia lantas mengangsurkan anaknya kepada Kiauw In sambil ia berkata .

"Kakak, kau jagai anak ini, bersama-sama ibu, pergilah kau beristirahat ! Kau serahkan semua musuh padaku !"

Kiauw In menyambut Hauw Yan tetapi matanya masih mengawasi It Hiong sedangkan mulutnya bungkam.

Inilah sebab ia pun diliputi rasa herannya.

Ia ingin memperoleh kepastian pemuda itu It Hiong tulen atau It Hiong palsu.....

Ban Kim Hong melihat cucunya telah diserahkan pada Kiauw In, ia segera menghampiri nona itu terus membisiki, untuk akhirnya ia menyambuti sang cucu.

It Hiong sendiri segera menoleh akan menghadapi si orang tua katai teromok.

Ia memberi hormat sembari menanya.

"Mohon tanya lotiang, aku dari Kolong ta, apakah she dan nama besarmu ?"

Orang tua itu tengah membalut tangan kawannya mendapat pertanyaan itu, dia menjawab tawa ejekan berulang-ulang kemudian ia kata bengis.

"Bocah she Tio, kau banyak berlagak pilon ya ? Aku si orang tua telah membantu jiwamu bahkan aku telah ajari kau ilmu Peng Thian Ciang tetapi sekarang kau berpura tidak mengenalku. Hm, sunggu kau pandai sungguh lihai caramu berpura-pura ini !"

Sembari berkata si orang tua sudah bangun berdiri dan terus setindak dengan setindak menghampiri si anak muda, dia tidak saja mengawasi dengan tajam, kedua tangannya pun disiapkan untuk menyerang.

Mendengar suara si orang tua, It Hiong lantas ketahui di dalam halnya mereka berdua pasti ada suatu hal yang luar biasa.

"Lotiang, harap lotiang jangan bergusar dulu", ia lekas berkata.

"Rupanya telah orang menipu lotiang tetapi dia bukanlah aku. Dialah Gak Hong Kun, dia...."

"Jangan banyak bacot !"

Si orang tua menyela. Ia gusar sekali.

"Kalau bukan kau Tio It Hiong yang menipu aku, siapa lagi ? Hm !"

Kali ini si orang tua lantas menyerang dengan tangan kanannya rupanya dia sudah tak tahan sabar lagi.

Segera juga serangan ini membawakan sambaran angin yang keras dan dingin sekali, sampai pun Ban Kim Hong dan Kiauw In menggigil hingga lekas-lekas mereka menjauhkan diri.

It Hiong juga merasai sambaran hawa dingin, tetapi ia memiliki tenaga dalam yang sungguh luar biasa, ia dapat bertahan, apa pula selekasnya pun ia minggir ke samping mengasi lewat sambaran itu.

Ia tidak membalas menyerang.

Hanya ia lekas berkata pula .

"Sabar lotiang ! Aku minta lotiang dengar dahulu kata-kataku. Setelah itu kalau perlu, aku bersedia akan menyambut pukulan Tangan Es dari lotiang....."

Si orang tua heran.

Dia telah menyeranga dengan tujuh atau delapan bagian tenaganya.

Aneh, si anak muda dapat menghindari diri secara demikian mudah, orang tenangtenang saja.

Belum pernah ia menghadapi lawan setangguh ini.

Maka ia tidak mengulangi serangannya.

"Kau bicaralah !"

Sahutnya.

"Lotiang, orang yang menipu lotiang adalah Tio It Hiong palsu !"

It Hiong memberikan keterangannya.

"Dia sebenarnya Gak Hong Kun yang telah banyak melakukan kejahatan ! Dia bukan melainkan menipu lotiang, dia juga telah melakukan banyak pembunuhan dan semua kejahatannya itu dia timpakan atas diriku !"

Si orang tua menatap anak muda di depannya itu.

"Benarkah aku salah mata ?"

Katanya seperti kepada dirinya sendiri. Lantas dia mengangkat kepalanya.

"Kau katakan ada seorang lain yang menyamar sebagai kau. Baik ! Di mana adanya dia sekarang ?"

"Dia sudah kabur, lotiang !"

Sahut It Hiong.

"Dia malah membawa lari isteriku !"

"Oh, orang muda lihai !"

Kata orang tua itu.

"Tak dapat aku meladeni ocehanmu !"

Dan dia maju pula setindak, berniat menyerang.

"Tahan lotiang !"

Berseru Kiauw In yang maju menghampiri.

"Kalau lotiang tidak percaya adik Hiongku ini, itulah sulit ! Sekarang begini saja ! Silahkan lotiang turut adikku pergi menyusul orang yang menipu lotiang itu supaya dia dibekuk ! Dengan demikian, bukankah urusan gelap bakal lantas menjadi terang ?"

Orang tua itu berpikir, terus dia mengangguk. Tapi dia masih berdiri diam saja. It Hiong memberi hormat pula.

"Jika aku, Tio It Hiong mendusta, aku bersedia menyerahkan diri kepada lotiang buat lotiang hukum sesuka lotiang !"

Katanya.

"Tidak nanti kau menyangkal atau melawan !"

"Baik !"

Jawab si orang tua akhirnya. Kemudian ia menoleh kepada sepasang orang tua berwajah dan berdandan aneh itu untuk berkata .

"Mari kita pergi !"

Begitu berkata dia lantas berangkat, terus dia diikuti dua orang tua kawannya itu.

It Hiong segera menoleh kepada mertuanya dan Kiauw In untuk minta mereka itu lekas mengobati Kiu Jie.

Ia kata ia akan lekas pergi dan lekas pulang dan nanti sepulangnya baru mereka dapat bicara banyak.

Setelah memberi hormat, ia lantas pergi untuk menyusul ketiga orang tadi.

Sampai disitu barulah lega sedikit hatinya Ban Kim Hong.

Dengan berlalunya orang jahat, Lek Tiok Po menjadi aman, maka ia lantas memanggil orang-orangnya buat mengurus semua mayat serta membersihkan seluruh ruang dan Pekarangan.

Ia sendiri bersama Kiauw In lekas-lekas masuk ke dalam guna mengobati suaminya.

Sampai disini perlu kita kembali dahulu kepada Gak Hong Kun dan Teng It Beng, waktu mereka dipegat Tio Siong Kang yang membikin perahu mereka terbalik dan karam sehingga mereka tercebur ke laut.

Hingga kemudian tersiarlah berita bahwa Tio It Hiong sudah mati kelelap, tenggelam di lautan.

Pengalaman dua kali tercebur di laut membuat It Beng dan Hong Kun menjadi cerdik.

Demikian kali itu, selekasnya mereka tercebur, lantas mereka menutup mulut dan menahan nafas.

Tentu sekali, karenanya, mereka jadi tak menenggak air laut, baik dari mulut maupun dari hidung mereka.

Hong Kun memegangi pinggiran perahu, ia pula menjambret leher bajunya It Beng.

Lalu bersama-sama mereka berdiam saja.

Tak berani mereka lekas-lekas timbul.

Dengan perpegangan pada perahu, mereka juga tak terbawa arus gelombang.

Setelah berdiam sekian lama di dalam air, keduanya timbul dengan perlahan-lahan.

Tetap mereka memegangi pinggiran perahu, supaya jangan hanyut terdampar gelombang.

Musuh tidak ada, mereka tak melihat apa-apa.

Sementara itu, selain tubuh rasanya kaku bekas terendam air terlalu lama, mereka juga merasa haus dan lapar.

Tak adanya musuh membuat hati mereka sedikit lega.

"Saudara Gak, bagaimana sekaran ?"

Tanya It Beng.

Hong Kun naik ke dasar perahu yang sekarang jadi berada di muka air.

Kawannya menatap dia.

Mereka melihat bagaimana perahu terbalik itu bergerak-gerak mengikuti arus.

Entah berapa lie jauhnya mereka sudah dibawa pergi.

"Kita, menanti nasib kita...."

Kata It Beng.

"Lihat ! Lihatlah di sana !"

Tiba-tiba Hong Kun berseru, tangannya menunjuk. Ketika itu, dia tengah memandang jauh ke depan. Di sana tampak sebuah titik hitam.

"Bukankah itu sebuah pulau kecil ?"

It Beng menoleh, ia mengawasi.

"Ya, mirip !"

Serunya.

"Mari kita pergi ke sana !"

Orang she Teng cuma bisa berkata demikian, berbuat dia tak mampu.

Di situ tidak ada pengayuh !

Mana dapat mereka mengemudikan perahunya itu ?

Keduanya saling mengawasi, saling menyeringai.

Hong Kun berdiam tetapi otaknya bekerja.Diantara saat menghadapi maut itu, dia tak mudah menyerah.

Maka juga tak heran kemudian, sambil menggertak gigi, mendadak ia menghajar perahunya !

Maka pecahlah perahu itu !

"Eh, kau bikin apakah ?"

Tanya It Beng terkejut.

"Perahu inilah penolong jiwa kita ! Tanpa perahu ini kita sudah lama mampus di dasar laut..."

Hong Kun tidak menjawab, hanya dia bekerja. Dia meloloskan papan yang pecah, untuk dipakai mengayuh air.

"Kau lihat, apakah ini bukannya mengayuh ?"

Katanya kemudian. Terus dia naik ke atas perahu pecah itu, yang tetap masih terbalik. Terus dia mengayuh.

"Oh...!"

Seru It Beng yang menjadi girang.

Maka ia pun mengambil sehelai papan.

Ia juga naik ke punggung perahu, buat turut mengayuh....

Demikian, dengan mengambil banyak waktu tiba juga dua orang itu di pesisir pulau kecil itu.

Hari sudah magrib, laut tenang.

Di permukaan laut terlihat sisa sinar layung menyilaukan mata.

Selekasnya perahu kandas diatas pasir, keduanya lantas mereka jalan ke arah pulau dan mendakinya.

Tidak ada pepohonan, ada juga rumput dan lumut yang sampai pada batu karang hingga lumut itu sukar diinjak saking licinnya.

Sedangkan mereka letih dan lapar dan dahaga.

Selama satu lie, mereka tak menemui orang, tak ada rumah ataupun gubuk.

Ada juga burung laut yang terbang berbondongbondong.

Diakhirnya mereka merebahkan diri untuk beristirahat.

"Biar bagaimana, perlu kita menghilangi lelah....."

Kata Hong Kun. Mereka memilih tempat yang kering. It Beng tertawa menyeringai.

"Lihat, pakaian kuyup kita kering sendirinya !"

Katanya.

"Bagus juga untung kita ini sebab kita tak usah jadi setan

KANG ZUSI website

http.//cerita-silat.co.cc/ setan gentayangan di dasar laut. Ha ha ha ! Nah, mari kita tidur dahulu......"

Benar-benar si orang she Teng memejamkan matanya !

Hong Kun pun turut kawannya itu mencoba buat tidur.

Kapan sang malam telah lewat, sang pagi muncul dengan hawanya yang nyaman.

Sinar matahari indah lemah, angin bersiur halus.

Beristirahat satu malam membuat kawan itu merasa segar seperti biasa.

Mereka mendusin atau duduk berhadapan saling mengawasi dengan menyeringai.

Mereka ingin halnya mereka belum lepas dari kesulitan.

Paling celaka ialah geruyukannya perut mereka.

Tengah berdiam itu, It Beng dan Hong Kun mendengar samar-samar suara orang yang terbawa angin.

Diam-diam mereka memperoleh harapan.

Jadi pulau itu ada penghuninya.

Mereka mengharap akan memperoleh makanan walaupun buat satu kali bersantap saja.

Tak bersangsi pula, mereka berangkat dan lari ke arah suara itu.

Sejauh kira setengah lie, di sana tedapat sebuah jalan kecil diantara batu-batu karang.

Jalan itu menikung berputar, membawa orang ke sebuah jurang yang menghadapi laut.

Di situ terdapat sebuah halaman berbatu, luas tiga sampai empat puluh tombak persegi.

Tepat berdiri diujung jurang, terlihat dua orang yang membaliki belakang.

Mereka itu berdiri berendeng.

Yang seorang terang seorang tua, bajunya panjang dan gerombongan dan yang lainnya dandanannya ringkas.

Dia ini mungkin baru berusia lebih kurang empat puluh tahun.

Dilihat dari gerak geriknya yang satu seperti lagi mengajari sesuatu ilmu, yang lain lagi menerimanya.....

"Harrr !"

Tiba-tiba si tua berseru dan tangannya diluncurkan, dihajarkan ke arah laut.

Ketika ia menarik pulang tangannya dengan cepat ada air yang seperti tersedot naik, besarnya sebesar tiang, dan naiknya sepuluh tombak lebih.

Hajaran pun membuat air menerbitkan suara keras.

Kemudian air bagaikan tiang itu terombang ambing karena si orang tua menggoyang tangannya ke kiri dan ke kanan.....

Orang yang satunya tertawa, dia memuji sambil bertepuk tangan !

It Beng berdua berjalan mendekati dua orang itu, mereka berhenti sedikit jauh untuk menonton terus.

Mereka bahwa tangannya orang tua itu lihai luar biasa.

Tengah mereka mengawasi mendadak mereka merasa haa dingin menyambar ke arah mereka, sehingga mereka terkejut.

Apa pula kapan segera terlihat si orang tua membalik tubuh sasmbil berseru serta kedua tangannya diluncurkan ke sekitarnya !

Yang paling mengherankan ialah orang kedua, selagi si orang tua menarik air naik, air naik saban-saban dia menjemput ikan yang terbawa air itu, setiap ikan dimasukkan ke dalam korang di punggungnya !

Seberhentinya air meluncur, karunya si orang setengah tua sudah berisikan banyak ikan.

Kedua orang itu lantas tertawa berkakakan pertanda girang hatinya.

Kemudia si orang setengah tua bertindak pergi, atau mendadak kawannya yang tua berseru tertahan sebab dia melihat Hong Kun berdua !

Baru sekarang It beng berdua melihat muka si orang tua, keduanya terkejut.

Muka itu kurus kering, potongannya mirip muka kuda, kulitnya merah sekali, matanya bersinar kebiruan.

Ada kumis dan janggutnya tipis.

Yang menyolok ialah hidunya yang bengkung dan panjang mirip paruh burung elang.

Sedang kawannya bermata besar, alisnya gomplok dan berewokan, kelihatannya bengis....

Hanya sebentar dua orang itu mengawasi Hong Kun dan It Beng, lantas mereka berjalan pergi.

Tingkahnya seperti mereka tak melihat dua orang asing itu.

Mereka berjalan dengan perlahan, sembari berbicara dan tertawa-tawa.

"Hmm !"

It Beng memberi dengar suara mendongkol sambil dia mengawasi punggung orang. Hong Kun sebaliknya bersenyum dan kata .

"Perut kita tak tahu diri, dan bolehnya minta makan! Toh pantas kalau kita lebih dahulu menyapa orang......"

It Beng mendongkol, dia tak menjawab.

Tanpa perdulikan lagi kawannya, Hong Kun lari menyusul dua orang itu.

Ia menyandak dan mendahului lalu di depan orang.

Ia memutar tubuhnya seraya memberi hormat dan menyapa .

"Maaf lotiang berdua ! Kami korban-korban dari perahu kami yang karam di tengah laut, kami hanyut sampai disini.... kami amat lapar karena itu. Bagaimana kalau kami memohon bantuan lotiang."

Mendahului si orang tua, orang setengah tua itu membentak .

"Kolong ta mempunyai aturannya sendiri yang melarang orang asing lancang mendatangi pulau ini ! Atau kalau toh orang dapat masuk, dia dilarang keluar lagi dari sini dengan masih hidup !"

Hong Kun melengak. Hanya sejenak. Dia lantas tertawa.

"Kami kemari karena terdampar gelombang, tak ada maksud jahat dari kami !"

Ia berkata pula.

"Kalau dapat kami ingin minta sebuah perahu kecil serta sedikit rangsum supaya kami bisa segera berlalu dari sini.... Buat semua itu kami sangat bersyukur, terlebih dahulu kami menghaturkan banyak terima kasih !"

Orang setengah tua itu tertawa dan sekaligus dia mengejek, terus dia meletakkan korang ikannya, buat segera menyerang dengan satu sampokan, ia membentak .

"Jangan rewel ! Serahkan jiwamu !"

Hong Kun berkelit.

Hendak ia membuka mulutnya atau serangan yang kedua telah tiba.

Terpaksa ia menghindari diri pula.

Habis itu tak ada kesempatan buat ia membuka mulut.

Terus terusan ia diserang pergi datang sampai tujuh jurus hingga ia mesti berputaran.

Setelah tujuh jurus itu, si orang setengah tua masih tidak mau berhenti bahkan sebaliknya dia menjadi gusar sekali, maka juga serangannya menjadi bertubi-tubi, makin hebat.

Hong Kun heran dan mendongkol.

"Kalau aku tak melawan dia, tentu makin gila."

Pikirnya.

"Baik aku bekuk dia barang kali aku bisa memakai dia sebagai orang tanggungan guna memaksa si kakek melayani aku bicara...."

Cepat sekali muridnya It Yap Tojin berpikir, segera ia mewujudkan itu.

Selekasnya serangan tiba, dia menyambut dengan satu tebasan tangan kanan.

Habis tangkisan itu, kedua tangan beradu keras hingga terdengar suaranya.

SI orang setengah tua terkejut sebab dia mesti tertolak mundur sampai tiga tindak.

Melihat demikian Hong Kun tidak mau sudah, ia lantas membalas menyerang.

Ia maju sambil berlompat dan tangan kirinya diluncurkan ke dada orang.

Tetapi itulah gerakan belaka, selekasnya lawan bergerak untuk menangkis ia mengulur tangan kanannya untuk menangkap pergelangan tangan lawan itu, ia mencekal keras dengan jurus silat kim na cia.

"Tangan Menawan."

Si orang setengah tua kaget untuk sia-sia belaka.

Lengannya kena terpegang tanpa ia berdaya bahkan waktu Hong Kun mengerahkan tenaganya, dia justru kehabisan tenaga !

Tubuhnya menjadi lemas, mukanya meringis kesakitan.

Si orang tua hidung bengkun mendapat dengar suara itu, dia menoleh.

Maka dia menyaksikan lawannya itu.

Dia menggertak gigi, daging di mukanya bermain berkerutan.

Hong Kun mengawasi orang tua itu dan berkata dingin .

"Kiranya segini saja kepandaian orang lihai dari Kolong ta !"

Matanya si orang tua bersinar bengis.

"Bagaimana kalau kau menyambut beberapa jurus Peng Thian Ciang dari aku si orang tua ?"

Tanyanya dingin. Hong Kun tertawa. Dia berkata tak lagi dingin seperti tadi.

"Kita baru bertemu satu dengan lain, kita tidak bermusuhan. Aku pun telah dipaksa turun tangan, karena itu aku minta lotiang suka maklum."

Tapi si muka merah gusar.

"Kau murid siapa ?' tegurnya.

"Apa she dan namamu ?"

Hong Kun melepaskan cekalannya membuat si orang setengah tua bebas, tetapi dia menggerakkan tangannya, dipulir sedikit hingga orang terhuyung roboh ke tanah.

Setelah itu dia mengawasi pula si orang tua.

"Aku yang muda she Gak...."

Katanya atau mendadak dia merandak.

"Apa ?"

Si orang tua pun sudah lantas menegasi.

It Beng telah bertindak menghampiri, belum dia datang dekat, dia telah menggoyangkan kepala dan mengedipi mata mencegah menyebut namanya yang sebenarnya.

Maka si anak muda batal.

Tetapi ia lekas menyambuti.

"Aku yang rendah she Tio bernama It Hiong. Aku mohon bertanya she dan nama mulia dari lotiang...?"

Hong Kun menyebut namanya tanpa nama perguruannya sebab tak berani dia lancang menyebut namanya Tek Cio Tojin.

"Oh !"

Bersuara si hidung bengkung, yang terus mengawasi tajam pada si anak muda. Kemudian dengan dingin ia kata .

"Baiklah aku si orang tua hendak mencoba-coba ilmu silatmu kaum Pay In Nia, untuk mengetahui namanya nama kosong belaka atau benar berisi ! Orang she Tio, kau hunuslah pedangmu !"

Hong Kun telah menyaksikan kepandaian orang, tak berani ia sembarang turun tangan. Ia kuatir si orang tua nanti menjadi mendongkol dan gusar maka ia memberi hormat dan berkata .

"Aku yang renah, pelajaranku belum berarti apa-apa ! Mana berani aku berlaku kurang ajar di depan cianpwe ? Laginya habis perahu karean aku letih sekali tak ada tenagaku. Aku sangat berterimakasih jika cianpwe suka mengijinkan aku duduk untuk beristirahat...."

Mendengar suara orang, si orang tua berubah menjadi sabar seketika, dia bicara pula, suaranya tetapi masih tetap dingin. Kata ia .

"Hari ini Hay Thian It Siauw dari Kolong ta suka berbuat baik dengan tidak melaksanakan peraturan pulaunya ini. Melulu karena aku memandang kepada mukanya Tek Cio Siangjin. Lagakmu pun menyukai aku si orang tua, maka suka aku memberi ampun pada jiwamu ! nah, mari ikut aku ke guaku !"

Tanpa menanti jawaban dari It Hiong, si orang tua mengawasi pada orang setengah tua itu untuk membentak .

"Makhluk yang memalukan ! Masih kau tidak mau lantas pulang ?"

Orang itu lekas bangkit bangun terus dia pungut korang ikannya kemudian dengan mata melotot mengawasi Hong Kun, dia bertindak dengan cepat mendahului lari pulang.

Hong Kin berdua It Beng mengikuti si orang tua, yang sekarang ia tahu bergelar si "Kokok belok Tunggal dari Lautan langit."

Hay Thian It Siauw, suatu julukan yang tepat mengingat muka orang memang berwajah seperti burung bajingan.

Jalanan kecil dan banyak tikungannya.

Entah disengaja atau bukan si orang tua berjalan dengan tubuh separuh terhuyung-huyung tetapi makin lama makin cepat umpama kata seperti asap ditiup angin hingga dia seperti lenyap disetiap tikungan.

Hingga kedua orang yang mengikutinya heran dan mesti mengeluarkan kepandaiannya untuk menyusul atau mereka bakal ketinggalan dan kehilangan.

Meski begitu selama kira setengah jam, mereka ketinggalan belasan tombak.

Jalanan lebih juah makin sempit dan juga makin turun hingga mereka tiba disebuah lembah yang berada di tengahtengah pulau.

Di sini barulah Hong Kun berdua mendapat sebuah tempat yang luas kira tiga puluh tombak persegi, tanahnya bukan dipasangi batu hanya pelbagai macam batok binatang laut hingga berjalan di atas itu, orang mendengar suara tindakan kaki, sedangkan warnanya rupa-rupa.

Diseputar halaman itu tampak hanya dinding gunung yang penuh dengan beraneka batu dan batu karang yang telah lumutan hingga semua tampak hijau.

Si orang tua menghampiri sebuah gua yang ada pintunya.

Dia lantas memandang daun pintu yang tadi cuma dirapatkan.

Hong Kun lihat daun pintu terbuat dari kulit kerang raksasa.

Di dalam terdapat cahaya terang yang kemudian ternyata adalah cahaya dari serenceng ya beng ca, mutiara-mutiara yang mirip bunga bwe.

Bagian dalam gua itu dibikin seperti semacam kamar.

Semua perabotan seperti kursi, meja dan lainnya terbuat dari batok dari macam-macam binatang juga.

Jadi semua itulah barang-barang yang langka.

Si orang tua tertawa dan berkata .

"Aku si orang tua, aku tinggal di luar lautan ini sudah beberapa puluh kali musim panas dan musim dingin. Sudah biasa aku tinggal di dalam batu karang yang aku gali dan ku korek ini. Kalian juga jangan sungkan-sungkan, dapat kalian duduk atau tidur sesukanya dengan bebas !"

Hong Kun berdua mengucap terima kasih lalu berduduk.

Mereka heran yang si orang tua yang berwajah bengis dan tak mengasih ini, sekarang telah berubah menjadi begini ramah tamah.

Lagak benarkah ini atau palsu belaka ?

Segera setelah itu, orang tua itu jalan mundar mandir atau mengambil ini, meraba itu.

Agaknya dia repot sendirinya.

Sampai kemudian si orang setengah tua muncul dengan sebuah nampan yang ada isinya yang masih mengepul yang dia letaki di aas meja, sambil dia berkata .

"Suhu, ikan sudah matang !"

Hong Kun dan It Beng melihat itu memang sepiring besar masakan ikan, jumlahnya ikan dua sampai tiga puluh ekor.

Bau sedap lantas menyerang hidung mereka, hingga mereka mengilar.

Memangnya mereka sudah sangat lapar !

Si orang tua menghampiri dengan tangannya membawa sebuah batok kerang, yang dijadikan tempat arak.

Kata dia .

"Tuan-tuan berdua, silahkan mencoba ikan dari Kolong ta !"

Hong Kun berdua It Beng menghaturkan terima kasih, mereka menerima undangan tanpa sungkan-sungkan, maka berempat mereka duduk mengitari meja untuk mengisi perut.

Mereka berjumlah berempat sebab si orang setengah tua turut serta.

Hong Kun berdua It Beng dapat bermakan dengan puas, walaupun makan cuma ikan satu macam, bahkan ikan menjadi seperti nasi.

Mereka pun minum banyak.

Arak itu mirip arak bek hoa.

Cuma berbau sedikit amis.

Habis bersantap, keduanya merebahkan diri dan tidur pulas tanpa merasa.

Dan mereka terus tidur beberapa hari dan malam tanpa merasa.

Sebab araknya si orang tua dicampuri semacam obat pulas.

Hay Thian It Siauw tidak berniat membinasaka dua orang asing itu tetapi kalau dia sudah membuat orang lupa daratan, itulah sebab dia hendak menghanyutkan orang di atas perahu kecil.

Sebab ialah ia tak ingin orang ketahui tentang berdiamnya ia di pulau karang itu.

Tapi sebelum dia sempat mewujudkan niatnya itu, kebetulan dia telah kedatangan tiga orang sahabat "Hek Hay Sim Kang"

Tiga si Kejam dari Hek Hay, Laut Hitam.

Mereka datang guna menyampaikan kabar perihal pemilihan Bu Lim Cit Cun.

Dari tiga si kejam dari Hek Hay itu yang tertua ialah Lo Toa Sun Wan.

Dialah seorang perampok yang ganas kejam, kegemarannya ialah membakar rumah atau perahu orang, merampas jiwa.

Dalam halnya ilmu silat dia tak lihai, tetapi dia tersohor sebab kekejamannya itu, karean tabiatnya yang mudah berubah-ubah hingga sukar kawan-kawannya yang menemaninya kecuali dua saudara angkatnya, ialah Loe Jie Moo Sian, si nomor dua dan Lao Sam Leng Seng, si nomor tiga.

Sebagai perampok licik, ada maunya kenapa Sun Wan membaiki Hay Thian It Siauw.

Ialah dia ingin diajari ilmu Thian Peng Ciang, Tangan Es itu, serta agar ia dapat mengatasi nama Kolong ta guna menakut-nakuti orang.

Ia mau menyampaikan kabar tentang Bu Lim Cit Cun juga sekalian guan membujuknya muncul dalam dunia Kang Ouw.

Demikian selekasnya dia menemui si kokok belok Tunggal dari Laut Langit, Sun Wan lantas menuturkan hal pemilihan Bu Lim Cit Cun itu, menuturkan secara menarik hati, kemudian dia berdiam, mengawasi muka orang, untuk menanti jawaban.

Hay Thian It Siauw tertawa lebar.

"Kalian tak tahu tingginya langit tebalnya bumi !"

Katanya nyaring.

"Rupanya kalian mau memaksakan kesulitan bagiku !"

"Tetapi to cu."

Kata Lo Toa yang memanggil "to co"

Pemilik pulau.

"To cu tersohor gagah perkasa dan Thian Peng Ciang menjagoi dunia rimba persilatan, lau to ca tidak mau menggunakan ketika baik ini buat memegang pimpinan dunia persilatan, tocu mau tungu sampai kapan ? Apakah tidak siasia kepandaian to cu kalau itu tidak dipertunjuki kepada umum ?"

"Kedudukan ketua Bu Lim Cit Cun itu."

Lo Jie dan Lo Sam turut membujuk.

"tak tepat kalau diduduki lain orang kecuali tocu. Kalau nama tocu sudah terangkat naik, nama kita pasti akan turut naik pula."

Hay Thian It Siauw senang mendengar pujianitu, hingga dia tertawa bergelak.

"Baiklah kalian bersabar, nanti aku pikir-pikir saran kalian ini !"

Katanya.

Hay Thia Sam Kong tahu selatan, mereak tidak mendesak.

Mereka pun tahu sang waktu masih banyak.

Tapi mereka toh tanya, bagaimana kalau mereka bertiga pergi lebih dahulu guna mendengar-dengar berita terlebih jauh.

"Itulah boleh !"

Hay Thian It Siauw memberikan persetujuan.

"Tetapi suhu,"

Berkata si orang setengah tua, si murid.

"bagaimana kalau kita habisi saja kedua makhluk itu, supaya mereka tak merepotkan ?"

Dia menunjuk pada Hong Kun berdua yang masih rebah tak sadarkan diri.

"Siapakah mereka itu ?"

Tanya Hek Hay Sam Kong. Hay Thian It Siauw menerangkan tentang dua orang itu, lalu dia menambahkan.

"Jika aku si tua memikir buat muncul pula dalam dunia Kang Ouw, dua orang ini ada faedahnya untukku. Mereka mempunyai kepandaian silat yang baik yang bisa dipakai membantuku. Nah, Lo Sam pergilah kau bergaul dengan mereka itu, sekalian kau mencari tahu tentang asal usul mereka !"

Sun Wan menurut, Hong Kun dan It Beng dinaiki ke dalam sebuah perahu lantas mereka dibawa berlayar.

Ketika akhirnya mereka berdua mendusin dari "tidurnya", mereka sudah sampai di sebuah pesisir dimana mereka lantas mendarat.

Lantas kedua pihak berbicara ternyata mereka mendapat kecocokan, lantas mereka bergaul erat, mereka hidup bersama.

Dari jazirat Liauw tong, mereka pergi ke selatan tempat yang mereka kehendaki.

Di ceelam mereka singgah beberapa hari lantas mereka menuju ke propinsi Kangsay.

Dalam persahabatan ini, Hong Kun dan It Beng memang cerdik.

Hek Hay Sam Kong dapat dilagui.

Bertiga mereka itu tersohor kejam tetapi dalam hal kejujuran, dalam hal mempercayai kawan, mereka lebih menang.

Mereka diangkatangkat, mereka merasa diri mereka sebagai orang-orang gagah.

Ada maksudnya yang mendalam, kenapa Hong Kun mengajak ketiga sahabat itu menuju ke Kangsay.

Dia ingat Lek Tiok Po dimana dia berniat melakukan sesuatu yang menumpahkan darah guna melampiaskan dendamnya.

Dia Hek Hay Sam Kong bagaikan "tak tahu diri", mereka hendak mengangkat nama di wilayah Tionggoan, di depan Hong Kun berduan, mereka hendak mempertontonkan kegagahan mereka itu !

Inilah sebab mereka sudah pandai ilmu Thian Peng Ciang, pukulan Tangan Es Langit.

Kesudahannya mereka hendak menjual lagak itu masgul !

Di luar dugaan mereka semula, mereka roboh di Lek Tiok Po sebab Tio It Hiong muncul secara mendadak.

Bahkan Lo Sam Leng Seng kehilangan lengan kirinya.

Baru mereka mendengar penjelasannya It Hiong, pertempuran dihentikan dan mereka bersama pergi, menyusul Hong Kun si It Hiong palsu.

Hek Hay Sam Kong berlari-lari sampai diluar Lek Tiok Po, mereka tidak melihat Hong Kun yang dimata mereka It Hiong adanya, sia-sia mereka mencoba mencari di sekitarnya sampai It Hiong yang keluar belakangan dari Lek Tiok Po dapat menyusul mereka.

Sun Wan sedang bercuriga keras ketika ia melihat It Hiong menyusulnya.

Mendadak dia menerka It Hiong ini tentulah Hong Kun yang menyamar.

Ia juga ingat hilangnya tangannya Leng Seng.

"Bocah itu bukan orang baik-baik."

Serunya kepada kedua saudara angkatnya.

"Mari kita bunuh padanya."

Leng Seng dan Mo Sian menyetujui anjuran saudara tuanya itu.

Lantas mereka maju bersama-sama tanpa memberi ketika lagi pada It Hiong.

Mereka maju mengurung dan menyerang.

Si anak muda bingung.

Ia justru hendak menyusul Hong Kun.

Ia memikir keselamatannya Giok Peng.

Ia pula tidak niat mencelakai tiga oang ini.

Tapi mereka menyerang dengan lantas, mereka tidak suak memperhatikan keterangannya.

Kepandaiannya Sun Wan dalam ilmu Thian Peng Ciang, enam puluh bagian sempurna, dia keluarkan semua kepandaiannya sebab dia sangat ingin merobohkan dna membinasakan si anak muda.

Tiga puluh jurus lewat dengan cepat, sampai disitu hatinya It Hiong panas juga.

Itulah sebab waktunya yang berharga jadi diganggu Hek Hay Sam Kong, dia pun ingat karean orang datang bersama-sama Hong Kun dan It Beng, mereka bertiga ini pasti bukan orang baik-baik.

"Kenapa aku mesti berlaku murah terhadap mereka ?"

Pikirnya kemudian. Karena ini segera ia menghunus pedangnya, sedangkan tadi ia melayani dengan tangan kosong. Ia lebih banyak menghindari diri dari pelbagai serangan.

"Awas !"

Teriak Lo Hie Ni Sie selekasnya ia melihat sinar luar biasa pedang mustika.

"Awas, jangan sentuh pedang bocah ini !"

Meski ia berkata demikian, jago Teluk Hitam itu toh maju dengan golongnya ten To, goloknya sebatang.

Lo Sam Leng Seng bersenjatakan sepasang boan koan-pit.

Karena lengannya kutung sebelah, terpaksa dia menggunakan tangan kiri saja.

Walaupun demikian dapat dia menggunakan senjatanya dengan baik, sebab dia memiliki ilmu silat yang istimewa.

Diapun lebih berlompatan ke kiri dan kanan, tak sudi dia menempur depan berdepan.

Dia pula ditolong tubuhnya yang ringan.

Karena habis sabarnya, It Hiong lantas menggunakan Khie bun Pat Kwa kiam dengan jurus silat "Ban Thian hoa Ie"

Hujan bunga seluruh langit.

Ia lekas juga membalas mengurung musuh dengan sinar pedangnya.

Sekonyong-konyong terdengar suara beradunya senjata tajam serta benda logam yang terbabat putus segera itu disusul dengan jeritan kesakitan yang tertahan lalau sesosok tubuh tampak roboh dengan bermandikan darah !

Sebab itulah Lo Jie Mo Sian yang lancang maju telah menerima bagiannya hingga tibalah ajalnya.

Dia yang menganjurkan kawan-kawannya berhati-hati tetapi dia juga yang mendahului berangkat ke dunia lain......

Lo Sam Leng Seng menjadi sangat gusar, justru It Hiong belum sempat menarik pedangnya pulang.

Dia lompat menerjang, menusuk dengan senjatanya yang mirip kuas itu, pit besi yang ujungnya lancip dan tajam.

It Hiong dapat melihat majunya musuh, ia mempercepat menarik pulang pedangnya, ia meneruskan mendahului membabat ke belakang sembari menyerang itu, ia mendadak berjongko.

Hanya satu kali terdengar suara tertahan lantas tubuhnya Lo Sam roboh terkulai karena Keng Hong Kiam mengenai tepat pinggangnya hingga jiwanya terampas seketika itu juga.

Sun Wan bersuit luar biasa, dia bukannya menjadi takut dan pergi mengangkat kaki, dia itu justru menjadi sangat gusar, nekad dan keras niatnya menuntut balas.

Maka dia menyerang It Hiong berulang-ulang, dia mengeluarkan seluruh kepandaiannya, hingga si anak muda terserang hawa dingin bertubi-tubi.

It Hiong menjadi kewalahan, sedang sebenarnya tak ada niatnya untuk membunuh orang.

Ia justru bingung memikirkan Giok Peng.

Sekarang Sun Wan membuatnya tak sabaran.

Orang sangat menganggu padanya., waktunya pun seperti terampas.

Terpaksa ia melayani dengan sama kerasnya.

"Kau bandel !"

Teriaknya.

"Kau terlalu !"

Itulah kata-katanya si anak muda yang menyerbu hawa dingin, pedangnya ditebaskan ke kepala orang !"

Baru sekarang Sun Wan kaget.

Ia berkelit ke samping, dan tangannya dipakai menyampok pedang.

Ia ingin supaya pedang lawan terasampok terpental.

Akan tetapi It Hiong lihai.

Selagi pedangnya disampok itu, ia memutar balik pedangnya, kakinya turut maju untuk menyusuli sebuah tebasan "Bianglala menutupi langit."

Sun Wan terkejut, tetapi buatnya percuma saja.

Susulannya lawan terlalu cepat baginya, sebelum ia sempat berdaya tangannya sudah terbabat kutung sebatas bahu, maka robohlah dia dengan menjerit kesakitan, merintih tidak hentinya.

It Hiong mengawasi tajam.

Melihat orang tersiksa itu, ia maju untuk menendang, membikin orang tak menderita terlebih lama pula.

Hingga sampai disitu habis sudah kejahatan puluhan tahun dari Hek Hay Sam Kong yang ganas itu.

Setelah itu ia berlari pergi guna menyusul Gak Hong Kun.

Muridnya It Yap Tojin mengeraskan hati meninggalkan pergi pada Teng It Beng, si sahabat karib dan saudara angkat yang sangat setia padanya, ia lebih memerlukan memondong Giok Peng buat dibawa kabur.

Ia berkuatir, ia pun bergirang karena kekasihnya itu berada dalam rangkulannya.

Tinggal ia mencari tempat dan ketika buat mempuaskan nafsu binatangnya.

Ia berlari-lari sambil kadang-kadang bersenyumsenyum.

Setelah enam atau tujuh puluh lie, Hong Kun lari terus menerus.

Ia takut orang mengejar dan menyandaknya.

Sering pula ia menoleh ke belakang buat melihat kalau-kalau ada musuh yang mengejarnya.

Hatinya lega sesudah mendapat kenyataan tak ada orang yang menyusul.

Di siu saat pemuda she Gak ini sudah berada di dalam kamar dari sebuah hotel, dimana ia singgah.

Ia meletakkan Giok Peng diatas pembaringan.

Ia menyuruh pelayan lekas menyediakan barang makanan dan arak !

Selama itu nona Pek rebah tak berkutik.

Ia masih tidur nyenyak sebab totokannya pada jalan darahnya, jalan darah hek lian.

Sembari menenggak araknya, perlahan Hong Kun mengasi muka dan tubuh orang.

Puas hatinya.

Tanpa merasa ia telah mengeringi tiga poci arak.

Ketika itupun sudah jam tiga.

Pengaruh air arak, mempengaruhkan anak muda itu.

Ia tujuh atau delapan bagian sinting.

Begitulah ketika ia berbangkit akan bertindak ke pembaringan, tubuhnya terhuyung-huyung, perlahan-lahan ia membuka bajunya.

Ia hendak mempuaskan hatinya.

"Tio It Hiong bocah !"

Pikirnya di dalam hati.

"Tio It Hiong, apa kau bisa bikin atas diriku ? Ha ha ha !"

Hong Kun meloloskan pedang dari pinggangnya, ia letaki itu diatas meja.

Ia lantas kembali ke pembaringan untuk mengawasi Giok Peng.

Atau ia melihat satu tubuh yang ramping berdiri di depannya.

Ia mengucek matanya yang sudah rada kabur, sebagaimana kabur juga pikirannya yang sadar, sebab ia telah terjatuh di bawah pengaruh arak serta nafsu birahinya.

"Adik Peng !"

Ia menegur sambil ia mementang kedua belah tangannya untuk merangkul tubuh yang langsing itu.

Ia menyangka Giok Peng sudah bebas dari pengaruh totokannya dan telah mendusin.

Tubuh ramping itu berkelit, maka si anak muda merangkul angin.

Hampir dia roboh terkusruk.

Lekas-lekas dia mempertahankan diri, otaknya pun dikerjakan untuk berpikir.

Dia memutar tubuh buat mengawasi tubuh ramping itu, yang bergerak mirip bayangan.

Dia melihat orang berada disisi meja, tubuhnya membaliki belakang.

Dengan langkahnya yang terhuyung Hong Kun menghampiri meja.

Selekasnya dia datang dekat, dia mementang pula kedua tangannya untuk menubruk merangkul angin.

"Adik Peng !"

Katanya.

"Adik Peng kenapa kau diam saja ? Kenapa tak mau bicara ? Apakah masih marah padaku ?"

Tubuh ramping itu berdiri diam diambang pintu, kemana berusaha ia berkelit.

Hong Kun mengawasi tajam, ia tetap melihat si nona, Giok Peng adanya.

Ia menjadi penasaran.

Kali ini ia menubruk sambil berlompat.

Lagi-lagi ia gagal.

Tak berhasil ia merangkul tubuh ramping itu yang menggiurkan.

Dalam penasaran ia menubruk pula dengan berat.

Kembali ia gagal.

Ketika ia menubruk kembali, maka berdua mereka seperti saling berkejaran bagai orang main petak dalam kamar mengitari meja.

Hong Kun memang sedang sinting, berputaran seperti itu membuat kepalanya bertambah pusing.

Matanya pun dari melihat samar-samar menjadi kabur.

Maka itu setelah berputaran lagi beberapa kali, robohlah ia sendirinya.

Tapi ia masih memanggil-manggil "Adik Peng"

Berulang-ulang.

Baru dia berhenti setelah dia tumpah-tumpah.

Atau diakhirnya dia berdiam, tubuh dan mulutnya sebab dia telah jatuh pulas sendirinya......

Wanita dengan tubuh ramping itu bertindak menghampiri perlahan.

Ia memanggil-manggil .

Hong Kun !

Hong Kun !"

Ia pula memegang bahu orang, untuk dikoyak-koyak beberapa kali.

Hong Kun tetap berdiam bagai mayat !

Sampai disitu si nona barulah tertawa, terus ia memutar tubuhnya akan menghampiri pembaringan.

Pek Giok Peng masih tetap rebah, sekarang dia sudah bebas dari pengaruh totokan Hong Kun.

Lewatnya banyak waktu membuat totokan berkurang sendirinya, sedangkan dia mempunyai tubuh yang kuat.

Cuma karena sudah berdiam terlalu lama, jalan darahnya belum pulih.

Orang dengan tubuh ramping itu mengawasi nona Pek, agaknya dia heran.

Selekasnya ia melihat wajah merah dari si nona.

Ia sampai mengeluarkan seruan perlahan.

Tahulah ia yang nona itu menjadi korban totokan.

Maka lekas ia mengulur tangannya guna memeriksa dibagian mana dari tubuhnya yang telah tertotok.

Dengan tubuhnya dikasihh bangun itu, bergeraklah darah Giok Peng.

Bagaikan kontak, sadar pula ingatannya.

Ia lantas membuka kedua matanya hingga ia bisa melihat orang di depannya.

Ia mengawasi dengan tajam.

"Teng Hiang !"

Serunya kemudian dengan heran. Wanita itu yang benar Teng Hiang adanya, tertawa.

"Nona !"

Katanya.

"Nona, kenapa kau berada di dalam penginapan ini bersama-sama Tuan Gak?"

Giok Peng kaget bukan main. Kembali ia sadar-ingat akan hal ikhwalnya ketika ia dirumahnya diserbu It Hiong palsu dan dibokong. Sendirinya mukanya menjadi merah sebab ia merasa sangat malu.

"Mana adik Hiong ?"

Tanyanya. It Hiong adalah yang ia paling dahulu ingat. Ia pun lantas berlompat turun dari pembaringan. Teng Hiang menunjuk pada sosok tubuh yang rebah dilantai.

Jilid 38 Giok Peng mengawasi tubuhnya pemuda itu.

Lantas ia ingat peristiwa hebat di Lek Tiok Po.

Kemudian ia mendekati, untuk mengawasi si anak muda.

Air matanya tergenang.

Sambil mengawasi ia terbenam dalam keheranan.

Ia tanya dalam hati .

"Bukankah adik Hiong telah melihat peristiwa di rumah itu ? Kenapa sekarang ia sempat makan minum sampai lupa daratan ? Mungkinkah dia ini bukannya adik Hiong ?"

Pek Giok Peng tidak tahu yang ia telah dilarikan Gak Hong Kun sebab sebelumnya ia dibawa kabur, Hong Kun sudah mendahului menotoknya hingga ia tidak sadarkan diri.

Lebih dulu dari pada itu ia pun telah ditotok hingga habis tenaganya.

Untuk mendapatkan kepastian, nona Pek mengambil lilin diatas meja, ia bawa itu untuk dipakai menyuluhi mukanya Hong Kun guna diawasi dengan teliti.

Teng Hiang tertawa geli menyaksikan lagak si nona.

"Nona,"

Katanya.

"Kau biasanya teliti.... kenapa menghadapi suami sendiri kau jadi bingung begini ? Benarkah nona tidak bisa lantas mengenali dia siapa ?"

Dari berjongkok, Giok Peng bangkit berdiri.

"Dia ini bukannya adik Hiong !"

Katanya.

"Nona, apakah nona telah tidur bersamanya dalam sebuah pembaringan ?"

Si bekas budak pelayan tanya.

Dia tertawa pula.

Muka Giok Peng menjadi merah dan pucat pasi, kagetnya bukan main.

Ia telah dibawa-bawa dan dibawa juga ke penginapan !

Apakah yang orang perbuat atas dirinya ?

Ia tak tahu sama sekali !

"Teng Hiang !"

Tanyanya kemudian, jantungnya memukul.

"Sudah berapa lama kau berada disini ? Ataukah kau baru datang dan melihat dia baru saja roboh mabuk dan tertidur ?"

Teng Hiang sangat cerdik dan jahil, hendak ia menggoda nona bekas majikannya itu.

"Budakmu baru saja sampai nona."

Demikian sahutnya.

"Dia berada diatas pembaringan ketika dia melihat budakmu ini, dia turun dan mengejarku, untuk membekuk aku. Selagi lari berputaran dia roboh hingga terus dia ketiduran....."

Giok Peng menutupi mukanya, ia menangis. Katanya.

"Aku Siauw Yan Jie, mana aku ada muka akan melihat orang lagi. aku malu terhadap adik Hiong !' Teng Hiang mengawasi, diam-diam dia bersenyum. Katanya di dalam hati.

"Siauw Yan Jie biasanya membanggakan kecerdikannya, kali ini kena aku jual....."

Kemudian ia menghela nafas dan berkata perlahan.

"Nona, buat apa nona bingung dan menangis ? Bukankah sudah seharusnya yang satu istri tidur bersama-sama suaminya ?"

Giok Peng berhenti menangis, ia menyusut air matanya. Terus ia menuding orang yang lagi tidur nyenyak itu.

"Masih kau bicara seenakmu ini ? Lihat dia, dia adik Hiong atau bukan ?"

Teng Hiang memperlihatkan tampang sungguh-sungguh.

"Apakah dia bukannya adik Hiong ?"

Dia balas bertanya.

Giok Peng berdiri menjublak.

Benar dia bingung, mendadak dia lompat ke meja, menyambar pedang Kie Koat kepunyaan Hong Kun, buat ditarik untuk dihunus.

Teng Hiang terkejut.

Hebat cara jahilnya ini.

Tapi ia masih sempat berfikir dan bertindak.

Ia pun loncat kepada si nona, guna mencekal pergelangan tangan orang.

"Jangan sembrono, nona !"

Katanya, ia tidak menjadi bingung, sebaliknya ia tertawa.

"Mari duduk, dengarkan apa kata budakmu. Nona tetap putih bersih."

Berkata begitu, bekas budak ini menarik tangan nonanya buat disilahkan duduk.

Sebagaimana kita ketahui, Teng Hiang ada dalam perjalanan mencari Hong Kun alias It Hiong palsu.

Ia telah ketahui hubungan diantara It Hiong dan Touw Hwe Jie, maka itu, habis bertemu dengan Kwie Tiok Giam Po, ia membutuhkan bantuannya It Hiong palsu itu.

Ia mau menggunakan It Hiong palsu itu buat mengakali dan membujuki Touw Hwe Jie muncul, turut dalam pemilihan Bu Lim Cit Cun.

Dari Ay Lao San, ia kembali ke Tionggoan, disepanjang jalan ia menyelidiki tentang It Hiong palsu.

Sampai sebegitu jauh ia masih belum berhasil.

Paling belakang ini ia bertemu Gouw Ceng Tokouw keluar dari kota Gakyang, ia heran mendapatkan mukanya si rahib wanita rusak bekas goresan pedang.

Atas pertanyaannya, Gouw Ceng menuturkan tentang peristiwanya sampai It Hiong merusak mukanya itu.

Mendengar demikian, Teng Hiang lantas meminta keterangan terlebih jauh setelah mana ia mencoba menyusul It Hiong.

Sungguh kebetulan ia melihat It Hiong tengah berlari-lari sambil memondong seorang wanita.

Ia bersembunyi dan mengintai lalu mengintil, menguntitnya.

Ia melihat tegas It Hiong bagaikan orang ketakutan ada yang kejar.

Ia mengikuti terus sampai dihotel, dimana ia senantiasa mengintai hingga ia mengenali wanita itu ialah Pek Giok Peng, bekas nona majikannya.

Karena ini selagi mula-mula ia ragu-ragu sekarang ia merasa pasti pria itu adalah Gak Hong Kun adanya.

"Bagus !"

Pikirannya.

Teng Hiang girang, ia tetap hendak mendapati Hong Kun.

Ia pula mau membantu Giok Peng.

Hong Kun mau dipakai buat memancing Touw Hwe Jie dan Giok Pek supaya si nona membantu merakoki jodohnya dengan Cukat Tan.

Selama itu ia mengintai dari luar jendela, hingga ia dapat menyaksikan tingkahnya Hong Kun dengan gerak gerik Giok Peng.

Dengan kecerdikannya ia berhasil menyampuri obat pulas hong hau yeh dalam araknya si anak muda hingga kejadianlah Hong Kun lakon sinting.

Tiba saatnya ia masuk ke dalam kamar.

Ia membuka jendela tanpa diketahui Hong Kun.

Demikian ia telah mempermainkan si anak muda, hingga anak muda itu roboh dan tidur nyenyak.

"Nona, budakmu sudah tahu pasti dia bukanlah Tuan Tio !"

Katanya si bekas budak kemudian.

"Aku mencari dia sejak di tengah jalan, maka juga disini aku berhasil membantu nona."

Ia mengambil pedang orang dan melepaskan juga cekalannya sambil menambahkan.

"Nona dialah Gak Hong Kun !' Giok Peng kaget mukanya pucat.

"Tenang nona,"

Teng Hiang menghibur.

"Hong Kun berniat jahat tetapi dia belum berhasil menganggu nona ! Inilah budakmu berani bertanggung jawab ! Hanya nona mengenai urusanku sendiri aku minta nona jangan melupakannya !"

Hatinya Giok Peng tenang sedikit.

Toh ia masih meragukan kejujuran bekas budak itu.

Ia takut si budak sekongkol dengan Hong Kun.

Ia lantas mengawasi tubuhnya sendiri, terutama ia memeriksa pakaian dan kanCing bajunya.

Baru hatinya lega setelah ia tidak mendapat sesuatu yang mencurigakan.

Toh ia tak puas sebab ia telah orang pondong-pondong.

"Teng Hiang, mari kau bicara terus terang padaku !"

Katanya pula.

"Apakah kau benar telah menguntitnya selama disepanjang jalan dan sampai disini pun kau belum pernah berpisah atau meninggalkannya walaupun setengah tindak ?"

Teng Hiang tertawa.

"Siauw Yan Jie sangat tersohor !"

Katanya.

"Sekarang kemana perginya kejujurannya ? Pula, mustahil seorang nona tak merasa kalau tubuhnya ada yang ganggu. Kenapa nona bercuriga sampai begini ?"

Pek Giok Peng menarik nafas dalam-dalam.

"Karena pengalaman hebat di Lek Tiok Po, pikiranku menjadi kacau !"

Ia mengakui.

"Eh, Teng Hiang, kau toh gadis putih bersih, mengapa kau ketahui segala hal wanita ini ?"

Si bekas budak bersenyum, bibirnya dia buat main.

"Itulah buktinya nona bagaimana budakmu prihatin terhadapmu."

"Kita berdua bergaul sejak masih kecil."

Berkata Giok Peng.

"Walaupun kitalah nona majikan dan budak pelayan, kita hidup seperti kakak beradik. Hal kau ketahui sendiri.Teng Hiang, sekarang ini kau menolong aku, aku sangat bersyukur padamu, hendak aku menghaturkan terima kasih."

"Jangan mengucap begini, nona."

Berkata Teng Hiang sungguh-sungguh.

"Kata-kata nona ini menandakan nona menganggapku sebagai orang luar. Nona bilang terus terang aku memohon supaya kau lekas-lekas berangkat ke Ngo Bie San supaya kau bisa lekas-lekas menyelesaikan urusan jodohku !"

"Akan aku lakukan itu, Teng Hiang !"

Berkata Giok Peng yang baru ingat bahwa ia pernah berjanji kepada bekas budak ini yang ia mau merokoki jodohnya dengan Cukat Tan.

"Kau tunggu saja kabar baik dari aku !"

Teng Hiang mengangguk, girangnya bukan main kemudian dia tertawa dan tunduk, biar bagaimana dia toh likat juga..... Selama itu dengan lewatnya sang waktu, terlihat tubuhnya Hong Kun bergulik.

"Adik Peng....adik Peng..... adik......"

Demikian suaranya berulang-ulang. Ia memanggil dalam mengigaunya. Teng Hiang tertawa.

"Nona,"

Tanyanya kemudian.

"bagaimana duduknya maka dia telah membawa nona kemari ?"

Pek Giok Peng melirik si pemuda, mulanya melengak, terus mukanya menjadi merah, matanya terbuka lebar, giginya dikertak. Mendadak ia berlompat bangun.

"Teng Hiang, mari pedang itu !"

Serunya.

"Jahanam ini harus dimampuskan !"

Si nona berkata demikian sambil tangannya menyambar pedang ditangannya Teng Hiang.

"Sabar, nona."

Berkata si bekas budak, yang menarik tangannya.

"Coba nona tuturkan dahulu duduknya hal. Masih ada waktu buat nona membinasakan dia....."

Teng Hiang masih hendak melanjuti usahanya memakai Hong Kun sebagai umpan guna memancing Touw Hwe Jie.

Karena itu tak dapat ia membiarkan anak muda itu dibunuh si nona.

Sedapat-dapatnya ia mencari alasan untuk mencegahnya.......

Ditanya Teng Hiang itu, maka Giok Peng lantas ingat peristiwa di Lek Tiok Po.

Tiba-tiba saja "It Hiong"

Datang menyerbu, ayahnya dilukai, Tong Wie lam dihajar.

Hauw Yan dirampas, ia sendiri ditotok tak berdaya dan akhirnya dibawa lari.

Semua itu membuat darahnya bergolak.

Ia bersedih berbareng gemas dan gusar sekali.

"Kalau jahanam ini tidak dibinasakan, rumahku bakal tak aman seterus-terusnya !"

Serunya. Tapi, habis berkata itu, ia menangis, air matanya meleleh keluar...... Teng Hiang telah memikir masak-masak akalnya.......

"Nona,"

Katanya sungguh-sungguh.

"kalau nona bermusuh dengannya tak berani aku menanya jelas sebab musababnya, cuma di dalam hal ini, aku minta suka apalah nona dapat membedakan dengan jelas dahulu, orang ini benar-benar Tuan Tio atau bukan. Setelah itu, baru nona turun tangan ! Kalau nona berlaku sembrono, apabila nona berbuat keliru, pasti kelak nanti nona bakal menyesal seumur hidup nona....."

Pek Giok Peng berdiam, lenyap tampang gusarnya.

Sekarang ia beragu-ragu.

Teng Hiang benar.

Celaka kalau ia keliru turun tangan.

Ia menghampiri Hong Kun, akan menatap mukanya.

Ia makin heran.

Ia terganggu keraguraguannya.......

Sebenarnya asal si nona dapat menenangi hatinya, dapat ia mengambil ketetapan.

Tetapi peristiwa sedemikian rupa, ia telah mendapat goncangan hingga kecerdasannya terpengaruhkan.

Tak sadar ia yang Teng Hiang telah bicara putar balik.

Teng Hiang tertawa didalam hati, mengawasi nonanya bersangsi itu.

Inilah justru hal yang dikehendakinya.

ia harus dapat mengekang hatinya si nona.

"Baik, kita sadarkan dia."

Katanya kemudian.

"Lalu kita tanya padanya, dengan begitu kita bakal mendapat kepastian."

Lalu tanpa menanti persetujuannya Giok Peng, Teng Hiang menghampiri Hong Kun guna menggoyang-goyang dan menepuk-nepuk tubuh orang buat menyadarkannya.

Perlahan-lahan Hong Kun membuka matanya, mengawasi kedua nona itu terus dia meram pula, kelihatannya dia masih ingin tidur.

Ketika dia bergerak untuk berduduk di lantai nampak dia masih seperti kantuk.

Dia tunduk dan diam saja.

Teng Hiang menggertak gigi.

Ia menyesal yang ia memberikan hong hau yeh terlalu banyak hingga si anak muda sukar disadarkan lekas-lekas.

Tapi ia tidak kekurangan akal.

Lantas juga ia menotok jalan darah jintiong dari anak muda itu.

Hong Kun melengak, lantas ia berjingkrak bangun, tetapi tubuhnya terhuyung, maka ia lekas-lekas berdaya berdiri tetap.

Kemudian dia mengawasi kedua nona itu, bergantian dari yang satu kepada yang lain."

"Oh !"

Serunya kemudian.

"Kalian lagi bikin apa, heh ?"

"Tuan Tio, kau sudah sadar ?"

Berkata Teng Hiang, yang sengaja bukannya memanggil Hong Kun atau Tuan Gak. Hong Kun mengawasi Teng Hiang, yang ia lantas kenali. Ia heran, hingga ia berdiam saja, matanya mendelong.

"Tuan Tio."

Kata pula Teng Hiang.

"Malam tadi kau dengan nona Pek...."

Sampai disitu, sadar sudah Hong Kun. Ia ingat segala sesuatu. Ia menjadi girang.

"Oh, adik Peng !"

Katanya, nyaring dan terus tertawa.

"Teng Hiang, kau lihat atau tidak ? Hubunganku dengan nona Pek telah dipulihkan !"

Teng Hiang melirik. Ia dapat mengerti maksudnya pemuda itu.

"Hm, aku tahu akal bulusmu !"

Pikirnya. Tapi ia berpurapura. Ia kata .

"Ya, aku tahu tentang kalian berdua. Jodoh kalian kuat sekali ! Kalian membuatku si Teng Hiang mengiri !"

Mendadak budak ini berhenti. ia merasa bahwa ia salah bicara. Maka lekas-lekas pula ia memperbaikinya. Katanya pula .

"Tuan Tio, kalian adalah pasangan yang telah mempunyai anak. Jangan kau bergura. Kau bicara di depan si nona. Apak kau tak takut nona nanti merasa malu dan jengah ?"

Berkata begitu, budak ini mengawasi tajam pemuda itu.

Sebaliknya, mendadak Hong Kun memperlihatkan tampang muram.

Ia ingat semuanya dan kali ini ia telah dipergoki Teng Hiang.

Biar bagaimana, Teng Hiang telah ketahui rahasianya.

Itulah ia tidak inginkan.

Maka itu mendadak ia mendapat pikiran untuk membinasakan budak itu.

Dengan satu gerakan cepat, Hong Kun mencelat ke meja, niatnya menyambar pedangnya.

Tapi segera ia kecewa sebab pedangnya itu tidak berada ditempatnya.

Tapi dia tidak berhenti sampai disiut.

Ia merasa tangannya cukup lihai untuk menggantikan Kie Koat Kiam, pedangnya.

Maka juga waktu ia memutar tubuhnya, sebelah tangannya membabat dengan keras ke arah Teng Hiang !"

"Budak, serahkan jiwamu !"

Diapun membentak. Teng Hiang kaget sekali, di dalam gugup dia berkelit. Tak urung bahunya kena terserempet hingga ia merasa nyeri sampai ke ulu hatinya. Tentu sekali ia menjadi gusar.

"Jahanam tak tahu selatan !"

Bentaknya.

"Kau sangka Teng Hiang takut padamu ?"

Berkata begitu, si nona sudah lantas menghunus Kie Koat Kiam yang berada ditangannya.

Kejadian itu sangat mendadak dan cepat sekali.

Hong Kun kurang berpikir, ia tidak dapat menangkap maksudnya Teng Hiang.

Karenanya tindakkannya itu menyerang nona Teng membuat dia membuka rahasianya sendiri.

Pek Giok Peng heran, ia berdiam mengawasi dua orang itu.

Sekarang ia tahu pasti It Hiong itu palsu, ialah Gak Hong Kun, tetapi kalau ia toh bersangsi bertindak itulah karena ia masih ragu-ragu selagi ia tak sadar, Hong Kun telah mengganggu kesucian dirinya atau tidak.......

Hong Kun tak menyerang pula selekasnya ia melihat Teng Hiang menghunus pedangnya.

"Teng Hiang !"

Tegurnya.

"Teng Hiang, kau telah mempergoki rahasiaku, kau juga mencuri pedangku, mana dapat kau melepaskan padamu ?"

"Tolol !"

Bentak Teng Hiang yang terus tertawa.

Karena sekarang ia mengerti si anak muda salah paham.

Hong Kun terkejut.

Ia cerdas, teguran tolol itu membuatnya segera berpikir.

Cepat ia merubah haluan.

Ia melirik Giok Peng, terus ia tegur si bekas budak pelayan.

"Teng Hiang ! Kau gadis putih bersih, kenapa kau mengintip kami suami isteri ? Tidak malukan ?"

"ciss !"

Si nona berludah tetapi ia mengedip mata.

"Siapa mau bergurau denganmu ? Kau tahu, aku mencari kau sebab ada suatu urusan yang aku hendak bicarakan denganmu !"

Hong Kun dapat menerka hati orang. Ia pun tertawa.

"Kau mencari aku buat satu urusan ?"

Tanyanya mengulangi.

"Kalau kau mau bicara, kau pulangkan dahulu pedangku !' Teng Hiang tertawa.

"Siapa menghendaki pedangmu ini ?"

Katanya.

"Ini aku kembalikan !"

Berkata begitu, nona itu mengangkat pedangnya. Ia pun bertindak menghampiri si anak muda, lalu sembari mengangsurkan pedang ia kata perlahan.

"Jika kau ingin aku menyimpan rahasiamu, kau mesti menolong aku melakukan sesuatu !"

Hong Kun mendengar pada suara orang.

Orang rupanya hendak memaksa ia.

Ia ingat halnya ia minum dan cepat sinting.

Ia memikirkan, tadi ia telah ganggu kehormatan Giok Peng atau belum.

Karena ini, di waktu ia menyambuti pedangnya, untuk digembloki di punggungnya, diam-diam ia sekalian memeriksa pakaiannya masih rapi atau tidak.

Ia tidak melihat sesuatu tanda.

Maka pikirnya.

"Hm, budak setan ini ! Dia sangat cerdik dan licik dan rupanya mau memaksa kau ! Dalam hal apakah ? Baiklah aku gunakan dia buat menyebar urusanku dengan Giok Peng supaya umum mengetahuinya......"

Tak lama anak muda ini berpikir lantas ia tertawa dan kata pada Teng Hiang.

"Urusan jodohku dengan Nona Giok Peng bukan lagi satu rahasia, inilah sudah diketahui umum ! Karenanya aku tak tahu yang kau nanti membuka rahasia ! Sebenarnya kau hendak bicara urusan apa ? Kau katakanlah !"

Matanya Teng Hiang berputar, bibirnya pun memain. Tibatiba ia berbisik di telinga anak muda itu.

"Jangan kau banyak lagak ! Jangan kau main gila terhadapku ! Telah kulihat dengan mataku sendiri, kau belum berhasil mengganggu kesuciannya Pek Giok Peng ! Tapi kalau kau ingin menyampaikan hasratmu itu, kau harus memohon bantuanku !"

Hong Kun melengak.

"Benarkah ?"

Tanyanya.

Teng Hiang mengangguk.

Lantas ia melirik pada Giok Peng.

Nona Pek memperhatikan gerak geriknya dua orang itu.

Ia menerka jelek.

Ia merasa pemuda di depannya itu bukannya It Hiong.

Bahkan sebaliknya, ia lantas menerka kepada Gak Hong Kun.

Mendadak saja timbullah kemurkaannya.

Hampir ia mengambil tindakan kepada pemuda itu atau mendadak ia ingat Lek Tiok Po, rumahnya.

Di sana ayahnya terluka parah dan Hauw Yan anaknya, entah terjatuh di tangan siapa.

Maka ia memikir baiklah lekas-lekas ia meninggalkan dua orang itu.

Demikan selagi muda mudi itu lagi berdaya akan mengakali satu pada lain, mendadak ia lompat ke jendela untuk lari keluar.

Hong Kun terperanjat, hendak ia lari mengejar.

"Sabar !"

Teng Hiang mencegah sambil menarik tangan orang.

"Apa kau tak takut nanti berpapasan dengan Tio It Hiong ?"

Hong Kun tertawa.

"Siapakah berani memalsukan namaku ?"

Katanya. Ia tetap mengakui diri sebagai Tio It Hiong. Teng Hiang tertawa terkekeh.

"Gak Hong Kun !"

Katanya.

"Di depan Teng Hiang tidak dapat kau main gila ! Baik kau ketahui, aku bermaksud baik, hendak aku mewujudkan cita-citamu."

"Hai budak setan yang licin !"

Bentak Hong Kun.

"Macammu hendak membantu aku ? Hm ! Lepaskan tanganmu, kalau tidak aku tak akan memberi ampun lagi padamu !"

Hong Kun mengibaskan tangannya hingga terlepas dari cekalannya Teng Hiang, dia terus bertindak ke jendela.

"Gak Hong Kun !"

Berkata Teng Hiang.

"Gak Hong Kun ! Apakah kau tak sudi Teng Hiang menyimpan lebih lama rahasiamu ?"

Hong Kun terkejut, ia melengak, hingga ia menghentikan langkahnya. Kemudian ia menoleh.

"Aku mempunyai rahasia apakah ?"

Tanyanya.

"Rahasia apa yang kau tahu ?"

"Rahasia apa ? Hm !"

Si nona memperdengarkan suaranya.

"Itulah........ rahasia....... kau.......... menyamar......... sebagai.......... Tio....... It Hiong......."

Sengaja Teng Hiang mengucapkan kata-kata sepatah dengan sepatah.

Hong Kun kaget.

Itulah hebat.

Itulah rahasia mati hidupnya !

Tiba-tiba timbullah hati jahatnya.

Nona ini jahat, dia harus disingkirkan !

Maka diam-diam dia memegang gagang pedangnya, dan sambil memutar tubuhnya, dia menghunus pedangnya itu dan menebas pedangnya ke arah si nona !

Teng Hiang sementara itu selalu bercuriga dan bersiap sedia.

Dialah seorang nona yang cerdik, tak mudah ia mempercayai orang sebagai Hong Kun yang pikirannya mudah berubah.

Demikian, dengan matanya yang celi ia dapat melihat gerakannya pemuda itu.

Selekasnya sinar pedang berkelebat, ia berlompat mundur.

"Kau hendak membunuh orang ?"

Bentaknya.

"Kau hendak membinasakan aku buat menutup mulutku ? Kalau benar, kau jangan memandang aku si Teng Hiang terlalu rendah !' Hong Kun melengak. Tak dapat dia mengulangi serangannya.

"Teng Hiang !"

Katanya habis dia melengak sejenak. Lantas dia mengasih lihat senyuman manisnya.

"Teng Hiang, bagaimana kalau kita berbicara dengan memantang jendela lebar-lebar ?"

Si nona tertawa.

"Kau tak lagi berlaku galak ?"

Tanyanya.

"Bicara terus terang, aku tidak bersakit hati terhadapmu. Aku tidak menyembunyikan apa juga. Buatku sudah cukup asal kau melakukan sesuatu untukku !"

"Apakah itu ?"

Tanya Hong Kun cepat.

"Kau sebutkanlah !' "Inilah mudah !"

Berkata Teng Hiang yang lantas mengasi tahu bahwa dia ingin Hong Kun ikut padanya ke Cenglo Ciang, di sana dengan menyamar sebagai Tio It Hiong, anak muda itu harus membujuki supaya Touw Hwe Jie suka muncul buat turut dalam gerakan Bu Lim Cit Cun.

"Aku menerima baik permintaan kau ini !"

Kata Hong Kun mengangguk.

"Cuma kau, kau harus dapat buat selamalamanya menyimpan rahasiaku !' "Aku berjanji !' Teng Hiang berikan perkataannya. Sampai disitu, matang sudah pembicaraannya dua orang licik itu.

"Mari kita berangkat !"

Kemudian Teng Hiang mengajak. Tapi Hong Kun tak mudah melupakan Giok Peng. Dia ingin lekas-lekas mendapatkan nona itu, sesudah itu barulah dia puas. Begitulah sekeluarnya dari kamar hotel, dia kata .

"Kau hendak membantu aku mendapatkan adik Peng ! Bagaimanakah caranya itu ?"

"Kau sabar !"

Kata si Nona.

"Jangan kau tergesa-gesa tidak karuan. Nanti kita bicarakannya pula !"

Asyik dua orang ini berbicara hingga mereka tidak melihat sesosok tubuh berkelebat masuk dalam hotel itu, hingga keadaan mereka mirip dengan lakon si "cang coreng hendak menangkap tonggeret tetapi si burung gereja mengintai di belakangnya".

Baca Juga: Rahasia Mo Kau Kaucu Khu Lung

Baca Juga: Warisan Jenderal Gak Hui 6

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert