Eps 4 Tiga Maha Besar - Khu Lung
Baca online Tiga Maha Besar - Khu Lung
Cersil Tiga Maha Besar - Khu Lung.
"kalau benda itu merupakan satu kesatuan yang bulat, bagaimana caranya kitab Kiam keng itu bisa menerobos masuk kedalamnya?"
Bukannya gusar Siang Tang Lay malah tertawa.
"Benda ini merupakan hasil karya dari seorang cendekiawan pada jaman dahulu kala, sudah tentu aku sendiripun tidak tahu bagaimana caranya kitab tersebut bisa masuk ke dalam kotak tersebut!!"
"Jadi sebetulnya engkau sudah pernah membaca isi kitab Kiam keng itu atau tidak?"
"Aku belum pernah membaca isinya!"
Jawab Siang Tang Lay sambil menggeleng.
"Kalau engkau tak pernah melihat kitab tersebut darimana engkau bisa tahu kalau isi kotak ini adalah kitab Kitam keng? bukankah itu berarti bahwa engkau sedang mempermainkan diriku?"
Teriak Ciu It-bong marah. Pek Siau-thian yang berdiri disampingnya segera berkata dengan suara ketus.
"Diatas kotak emas itu bukankah terangterangan sudah terukir tulisan besar yang berbunyi Kiam keng? engkau buta huruf ataukah sepasang matamu memang sudah buta?"
Ciu It-bong naik darah, ia menerjang maju kedepan sambil melepaskan suatu pukulan dahsyat.
Dengan jurus Hoo Suo lip wi atau berdiri tegak diujung sungai, Pek Siau-thian memunahkan datangnya ancaman itu lengan panjangnya ditekuk keluar dan iapun melancarkan sebuah serangan balasan.
Sudah sepuluh tahun lamanya dua orang itu saling bertempur sengit, kedua belah pihak sama-sama sudah hapal dengan jurus serang an pihak lawannya, kini setelah saling bentrok kembali maka keadaannya menjadi amat hebat ibarat tanggul sungai yang ambrol, serangan demi serangan laksana sambaran petir saling meluncur kepihak lawan, pukulan demi pukulan dilepaskan secara berantai, meskipun diantara para penonton di sisi kalangan terdapat jago-jago yang memiliki ilmu silat jauh lebih tinggi dari kedua orang itu, namun tak urung mereka dibikin kabur juga pandangannya hingga sukar untuk mengikuti jalannya pertarungan itu dengan seksama.
Tiba-tiba Pek Siau-thian membebaskan ujung baju kirinya, segulung angin pukulan yang maha dahsyat meluncur keluar dari balik kebutan tadi, sementara telapak kanannya dengan gerakan hun hoa hud liu atau memisah bunga mengayun pohon itu melepaskan satu pukulan.
Bukan begitu saja, pada saat yang bersamaan kaki kirinya melepaskan pula satu tendangan menghajar batok kepala Ciu It-bong.
Ketiga buah jurus serangan itu dilepaskan pada saat yang bersamaan dengan kecepatan bagaikan sambaran petir, kedahsyatannya luar biasa sekali.
Kalau berganti dengan orang lain, mungkin ancaman itu sukar untuk dihadapi, tapi bagi Cui It bong yang sudah hapal gerakan lawan ancaman itu masih terhitung seberapa, sebab dahulu ia pernah merasakan kelihayan dari pukulan semacam ini.
Ditengah berlangsungnya pertarungan yang maha seru itu, tanpa berpikir panjang badannya segera miring sambil membalik ke atas muka pertama ia menghindar dahulu serangan musuh kemudian dengan dengan jurus pukulan Kun sin ci tau in melancarkan satu pukulan yang tak kalah hebatnya.
Serangan itu ditujukan ke arah iga kanan lawan badan bergerak mengikuti serangan tadi dan hebatnya luar biasa terhadap ancaman pukulan telapat dari Pek Siau-thiang ternyata ia ambil sikap tak ambil perduli.
Inilah siasat mengepung Gui menolong Tio suatu siasat bertempur untuk menolong diri yang amat lihay.
Bluuuummmm!!
sepasang telapak saling membentur satu sama lainnya menimbulkan suara benturan yang memekikan telinga.
Pek Siau-thian seketika itu juga terdorong mundur satu langkah kebelakang sedang kan Ciu It-bong sendiripun sama saja, tak mampu menahan getaran pukulan tadi, namun ia tak usah mempersoalkan masalah gengsi, dalam keadaan begini buru-buru ia mengepos tenaga dan menggunakan kesempatan itu untuk meloloskan diri.
Setelah berhasil lolos dari jangkauan angin pukulan Pek Siau-thian, jaigo tua she Ciu itu dengan cepat hentikan serangan dan ber diri tak berkutik lagi.
Diam-diam Pek Siau-thian berpikir dalam hati kecilnya.
"Pada hari ini seluruh jago dan orang gagah dari kolong langit berkumpul disini, siapa menang siapa kalah masih sukar untuk diduga, kalau aku selisih terus dengan manusia cacad ini, bukan saja aku tak bisa cari kemenangan dalam soal ilmu silat hingga bakal di terta wakan orang, akupun harus membuang tenaga dengan percuma, apa gunanya pertempuran semacam ini dilanjutkan?"
Berpikir sampai disini, diapun segera hentikan kejarannya dan tidak melakukan serangan lebih jauh. Dipihak lain, Ciu It-bong sendiripun diam-diam sedang berpikir.
"Kekuatanku minim sekali dan lagi aku hanya sebatang kara belaka, yang ada hanya musuh tanpa teman, menghadapi situasi seperti ini buang tenaga dengan percuma bukanlah suatu tindakan yang cerdas...."
Karena berpikir begitu, maka diapun tak berani meneruskan pertarungan itu lebih jauh.
Thong-thian Kaucu sendiri ketika dilihatnya pertarungan harus berakhir hanya sampai ditengah jalan belaka, diam-diam merasa kecewa dan sayang, biji matanya segera berputar kemudian sambil tertawa nyaring ia berseru.
"Siang sicu, sebaenaruya bagaimana sih caranya untuk membuka kotak emas itu serta ambil keluar kitab kiam keng? harap engkau suka memberi keterangan!"
Mendengar tentang soal kotak emas, Ciu It-bong buru-buru berpaling keatas tanah, ia temukan kotak tersebut masih tetap bera da di tempat semula menubruk kedepan.
"Bangsat! enyah kamu dari sini....!"
Bentak Jin Hian dengan suara dingin.
Telapaknya segera diayun kedepan melepaskan satu pukulan dahsyat.
Ciu It-bong teramat gusar, ia membeatak nyaring dan menyambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.
"Blaamm! ditengah benturan keras yang memekikan telinga, kedua belah pihak sama-sama tergetar mundur kebelakang. Jin Hian yang berdiri dengan kaki menginjak tanah hanya berhasil dipaksa mundur satu langkah belaka untuk kemudian berhasil menjaga keseimbangan tubuhnya. Lain halnya dengan Ciu It-bong yang cuma memiliki sebuah lengan tunggal, apalagi bertempur dengan tubuh mengambang di tengah angkasa ia tidak memiliki daya tahan yang cukup kuat, dalam benturan tadi tubuhnya mencelat kebelakang dan harus bersalto beberapa kali untuk memunahkan tenaga getaran itu sebelum dapat melayang kembali ketanah dengan selamat. Sementara itu kotak emas tadi masih tetap berada ditempat semula, empat orang delapan buah mata saling menatap dengan ma ta melotot, namun siapapun tidak berhasil menyelesaikan persengketaan itu. Thong-thian Kaucu sebagai tuan rumah dalam pertemuan itu segera tertawa terbahak-bahak, ujarnya.
"Haahh.... haahh.... haahh.... Ciu heng, aku harap engkau jangan mengacau lebih lanjut, kita toh sama-sama merupakan sahabat karib yang sudah berlangsung banyak tahun, bagaimana kalau kira bagi ki tab kiam keng tersebut jadi empat bagian dan kita masing-masing pihak mendapatkan satu bagian?"
"Hmm! perkataan semacam ini masih bisa dianggap suatu perun dingan yang masuk akal jawab Ciu It-bong ketus.
"lebih baik kita menunggang keledai sambil membaca buku, lihat saja bagaimana nantinya.... Thong-thian Kaucu tersenyum sorot matanya perlahanlahan dialihkan kembali kaatas wajah Siang Tang Lay. Menyaksikan imam tua itu, pedang sakti yang menyapu daratan Tionggoan ini segera mendehem ringan lalu tertawa, katanya.
"Meskipun kotak emas itu keras melebihi baja dan tidak mempan dibacok oleh pelbagai senjata mustika namun hanya satu benda yang mampu mengalahkan kerasnya kotak emas itu!"
"Oohh....! benda apakah itu?"
Tanya Tong tiang kaucu dengan wajah tercengang. Siang Tang Lay tersenyum.
"Benda itu bukan lain adalab pedang emas yang pernah kugunakan sebagai senjata andalan, hanya pedang emas yang kecil iti saja yang mampu membuka kotak emas itu, oleh sebab itulah jika kalian ingin mendapatkan kitab Kiam keng yang berada dalam kotak emas itu dengan gampang dan tanpa membuang banyak tenaga satu-satunya jalan hanyalah menemukan pedang emas tersebut. Setelah ucapan itu diutarakan keluar maka tanpa sadar Thong-thian Kaucu , Pek Siau-thian serta Ciu It-bong alihkan sorot mata mereka yang tajam bagaikan pisau menatap wajan Jin Hian, sementara ribuan orang jago lainnya yang berada diempat penjuru juga bersama-sama dialihkan keatas wajah sang ketua dan perkumpulan Hong-im-hwie ini.
"Tua bangka she Jin!!"
Tiba-tiba terdengar Ciu It-bong membentak nyaring.
"ayoh cepat kembalikan pedang emas milikku itu kalau tidak maka engkau bakal mampus ditempat ini tanpa tempat mengubur mayatmu!"
"Hmm! sayang sekali engkau punya hasrat namun tenaga kurang engkau tak akan mampu mengganggu seujung rambutku"
Jawab Jin Hian sinis.
00000O00000 KEMARAHAN Ciu It-bong benar-benar memuncak dan sukar dikendalikan lagi, diam-diam ia himpun tenaga dalamnya kedalam tela pak ia bermaksud melakukan suatu sergapan tiba-tiba dikala pihak lawan tidak siap.
Namun Jin Hian sendiri bukanlah seorang manusia tolol, kendatipun diluaran ia tidak nampak siap bahkan ambil perhatianpun tidak, padahal dalam kenyataannya ia sudah bersiap siaga penuh dan sedikitpun tidak berani bertindak gegabah.
"Jin heng....!"
Tiba-tiba terdengar Thong-thian Kaucu berkata.
"sudah belasan tehun lamanya kita gagal untuk mengungkapkan rahasia yang menyelimuti pedang emas tersebut, akhirnya hari ini rahasia mengenai pedang emas itu terungkap juga.
"Hmm! mungkin hanya too beng seorang yang mengerti, aku sih tetap tidak mengerti,"
Jawab Jin Hian ketus. Tong tian kaucu menengadah keatas dan tertawa terbahakbahak.
"Haahh.... haahh.... haahh.... kenapa sih Jin heng musti berlagak pilon dan pura-pura bodoh? pedang emas itu merupakan kunci dari kitab pusaka Kiam keng, tanpa pedang emas itu berarti kitab emas tersebut tak mungkin bisa dibelah, tanpa membelah kotak emas itu maka kitab kiam keng ibarat rembulan diatas permukaan air, bunga dibalik cermin, bisa dilihat tidak bisa dijamah bukankah sama sekali tak ada gunanya?"
"Benar juga perkataan ini"
Pikir Jin Hian dalam hati, bayangkan saja bagaimana tajamnya pedang mustika Boan liong poo kiam, ternyata kotak emas itu sama sekali tidak gumpil atau cedera, dari sini dapat dibuktikan bahwa pedang mustika atau golok mustika biasa tak mungkin bisa membelah kotak emas itu...."
Setelah termenung sejenak, ia berpikir lebih jauh.
"Pedang emas milikku sudah dicuri orang, bahkan jiwa Bong ji pun harus ikut dikorbankan, bila kuceritakan tentang pencurinya pedang emas ini kepada umum, secuali pembunuh yang telah mencuri pedang itu, orang lain pasti tak akan percaya dengan perkataanku, sebaik nya kalau tidak kukatakan keluar maka tindakanku ini pasti akan menggusarkan semua pihak, akulah yang bakal jadi sasaran utama kemarahan mereka itu...."
Makin berpikir ia makin bingung tanpa terasa keringat dingin mengucur keluar membasahi tubuhnya. Terdengar Thong-thian Kaucu dengan nada dingin perlahan-lahan berkata kembali.
"Karena persoalan pedang emas itu perselisihan antara Jin heng, Pek heng din Ciu heng berlangsung tiada hentinya, pertarungan secara terang
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com terangan atau perebutan secara diam-diam berlangsung terus tiada habisnya, keadaan semacam ini bukan saja merusak rasa persaudaraan dan rasa setia kawan antara sesama umat persilatan, bahkan sangat melemahkan kekuatan kita untuk bersatu padu bagaimanapun juga persoalan mengenai pedang emas harus dibikin terang hari ini juga, kita tak boleh meniru kegagalan-kegagalan kita yang telah lalu sehingga jatuh kecundang kembali ditangan lawan.
"Keterangan dan pendapat too heng luar biasa dan sangat mengagumkan hatiku,"
Jawab Jin Hian ketus.
"sayang seribu sayang, pedang emas milikku itu sudah dicuri orang, karena itu kendatipun too heng bicara lebih jauh juga tak ada gunanya!"
"Kentut busuk!"
Maki Ciu It-bong gusar.
"sekalipun bocah umur tiga tahun juga tak mempercayai obrolan omong kosongmu itu!"
Nafsu membunuh yang sangat tebal melintas dialas wajah Jin Hian, ia berkata dengan suara menyeramkan.
"Tua bangka sialan, kalau engkau tak mempercayai omonganku lantas engkau mau apa?"
Ciu It-bong adalah seorang jago tua yang berwatak berangasan, mendengar tantangan yang kasar ini, kKontan ia naik pitam, tubuhnya siap melakukan tubrukan kedepan.
"Eeeei nanti dulu nanti dulu!"
Cegah Thong-thian Kaucu sambil goyangkan lengannya berulang kali.
"pinto mempunyai satu cara untuk membuktikan apakah peristiwa hilangnya pedang emas itu dari saku Jin heng adalah kejadian yang benar atau cuma omong kosong belaka"
"Apa caramu itu?"
Hardik Jin Hian. Thong-thian Kaucu tersenyum.
"Andaikata peiang emas itu masih berada ditangan Jin heng dan sana sekali tidak pernah hilang tercuri, kemudian kotak emas ini berhasil didapitkaa pula oleh Jin heng dan ilmu silat maha sakti dari Malaikat pedang Gi Ko didapatkan juga oleh Jin heng, maka...."
Berbicara sampai disini ia tertawa dan tidak melanjutkan kembali kata-katanya.
"Maka sepasang mata too heng akan berubah merah karena iri, bukan begitu?!"
Sambung Jin Hian dengan seram. Thong-thian Kaucu tertawa terbahak-bahak.
"Haahh.... haahh.... haaah.... pinto sih belum tentu bermata merah, cuma pada waktu itu ilmu silat yang Jin heng miliki akan menjadi nomor satu di kolong langit, pinto sekalian tidak akan mampu mengejar ketinggalan itu, hal ini menyebabkan Jin heng sekalipun berhasil mendapatkan ilmu tapi kehilangan teman, bukankah kejadian ini sangat tidak berharga bagimu?"
"Hmm! sempurna amat jalan pikiran Too heng!"
Ejek Jin Hian sambil mendengus dingin. Setelah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh.
"Menurut penglihatan t o-heng, bagaimana cara yang terbaik untuk memecahkan masalah ini?"
Thong-thian Kaucu tertawa, dengan sikap yang santai ia menjawab.
"Menurut pendapat pinto yang bodoh, kalau toh Jin heng sudah kehilangan pedang emas itu, kendatipun kotak emas ini berhasil kau dapatkan juga sama sekali tak ada gunanya, untuk membuktikan bahwa peristiwa hilangnya pedang emas itu dicuri orang bukan berita isapan jempol belaka, pinto persilahkan Jin beng untuk segera mengundurkan diri dari perebutan kotak emas ini!"
"Betul!"
Teriak Ciu It-bong dengan suara keras, tua bangka she Jin!
jika engkau masih mengincar kotak emas itu, maka itu berarti bahwa peristiwa hilangnya pedang emas karena dicuri orang adalah berita kosong belaka, siapa tahu berita tentang kematian putramu juga merupakan berita sensasi belaka!"
Karena amat mendongkol bercampur marah, Jin Hian tertawa keras, paras mukanya berubah jadi hijau membesi.
"Bagus! bagus! bagus!"
Jeritnya dengan suara lengking, aku orang she Jin akan segera mengundurkan diri dari perbuatan kitab Kiam keng, akan kulihat bagaimana caranya kalian akan membagi kotak emas tersebut....?"
Thong-thian Kaucu seketika alihkan sorot matanya menyapu sekejap para jago disekeliling arena, setelah itu ujarnya.
"Pek heng, pedang emas itu sudah lama lenyap tak berbekas untuk beberapa waktu lamanya tak mungkin bisa ditemukan, menurut pendapat pinto lebih baik kotak emas tersebut untuk sementara waktu kita berdua yang menyimpan"
"Perkaraan Too heng sedikitpun tidak salah"
Jawab Pek Siau-thian dengan suara tawa. Thong-thian Kaucu kembali tersenyum.
"Pek heng adalah satu-satunya orang yang pernah membaca isi catatan kitab pedang Kiam keng bu kui secara komplit, asal engkau suka meneliti dan mempelajari isinya dengan seksama kendatipun tak bisa disebut orang paling lihay di kolong langit paling sedikit engkau bisa melatih diri hingga mencapai taraf ilmu silat yang pernah dimiliki Siang sicu, aku rasa kitab Kiam keng ini sudah ti dak memiliki banyak kegunaan lagi bagimu.
"Kalau memang begitu biarlah aku saja yang menanggung resiko dengan menyimpan kotak emas ini untuk sementara!"
Seru Pek Siau-thian cepat. Ia segera maju kedepan dan hendak pungut kotak emas itu.
"Huuuh! jangan mimpi disiang hari bolong bentak Ciu Itbong sambil melepaskan satu pukulan. Pek Siau-thian melancarkan satu pukulan juga untuk pukul mundur angin pukulan dari Ciu It-bong, sambil tertawa dingin katanya.
"Tua bangka yang sudah cacad engkau berani menghalangi persoalan yang telah diputuskan bersama oleh orang-orang dari Thong-thian-kauw dan Hong-im-hwie? Hmmm! rupanya engkau sudah bosan hidup.
"Heeeh.... hheeeehh.... heeeh.... tua bangka she Pek kalau engkau dilahirkan oleh ibumu dan dibuat oleh bapakmu maka sekarang sepantasnya berani berduel satu lawan satu dengan diriku sebelum mati jangan berhenti. ini hari juga kita��tetapkan siapa yang berhak untuk hidup lebih jauh!"
Pek Siau-thian tidak langsung melayani tantangan dan Ciu It-bong itu dalam hati ia berpikir.
"Catatan kitab peding kiam keng bu kui benar-benar merupakan kunci dasar dari suatu ilmu silat tingkat tinggi, Hoa Thian-hong bocah keparat itu hanya sempat mendengar beberapa patah kata saja kehebatan ilmu pedangnya telah berlipat ganda, sayang aliran ilmu silat yang kupelajari jauh berbeda dengan kunci ilmu silat tersebut hingga untuk beberapa waktu tak mungkin bisa menghisap kebaikan dan manfaatnya, kalau tidak binatang tua yang sudah cacad ini pasti akan kubereskan dulu riwayat hidupnya."
Berpikir sampai disini, ia merasa mendongkol bercampur gusar sorot matanya segera dialihkan ke arah Siang Tang Lay dan berkata dengan suara ketus.
"Baik pedang emas maupun kotak erras itu pernah bersama-sama jatuh ketanganmu, mengapa engkau tak ambil keluar kitab Kiam keng tersebut? kejadian ini benar-benar mencurigakan sekali!"
"Betul!"
Teriak Ciu It-bong pula, tua bangka she Siang.
"sebetulnya permainan setan apakah yang sedang kau lakukan?"
Siang Tang Lay tersenyum.
"Aku hanya melatih catatan ilmu pedang Kiam keng bu kui, sejak kalian berempat sudah tidak mampu menangkan diriku, apa gunanya melatih ilmu silat yang jauh lebih tinggi?"
Paras muka Thong-thian Kaucu, Pek Siau-thian, Jin Hian serta Ciu It-bong segera berubah jadi merah padam, bicara sesungguhnya dalam kenyataan memang terbukti begitu, maka tak seorangpun ddiantara keempat orang itu yang buka suara.
Diam-diam Pek Siau-thian berpikir.
"Jika ilmu silatnya berhasil dilatih hingga mencapai taraf yang begitu tinggnya seseorang memang tidak terburu nafsu untuk melatih isi dari kitab kiam keng, mungkin apa yang diucapkan ada benarnya juga"
Berpikir sampai disitu ambisinya untuk mendapatkan kitab pusaka kiam keng mekin besar tapi diapun tahu bahwa Thian Ik-cu maupun Jin Hian sekalian tak akan berhati sosial dengan menyerahkan kitab pusaka itu Untuk dimiliki sendiri, untuk menyelesaikan pertikaian tersebut hanya ada satu jalan saja yang dapat ditempuh yaitu penyelesaian dengan jalan kekerasan.
Terdengar Thong-thian Kaucu berkata.
"Pek heng, engkau pernah menjebloskan Ciu heng kedalam penjara selama sepuluh tahun lamanya, jika kitab pusaka kiam keng itu disimpan olehmu tentu saja ia tidak akan terima."
Melihat imam tua dari perkumpulan Thong-thian-kauw itu berusaha mengungkit soal lama, Pek Siau-thian segera tertawa dingin.
"Heehh.... heeeehh.... heeehh.... kalau memang begitu biarlah kitab kiam keng tersebut untuk sementara waktu disimpan oleh too heng!"
"Baiklah, pinto sebagai tuan rumah memang sudah sepantasnya untuk memberikan bantuan kepada siapapun!"
Ia kebaskan ujung bajunya dan mengulung kotak emas yang berada diatas tanah. Tiba-tiba Jin Hian berteriak deugan suara menyeramkan.
"Barang siapa berani mengambil kotak emas itu maka dialah yang telah mencuri pedang emas dan dia juga yans telah mencelakai jiwa putraku, semua saudara dari perkumpulan Hong-im-hwie akan bersama-sama bikin perhitungan dengan dirinya, kami tak akan memperhitungkan mana hitam mana putih sebelum salah satu pihak hancur, pertempuran tidak akan dihentikan."
Paras muka Tong tiang kauau berubah hebat, serunya dengan gusar.
"Jin heng, kita semua adalah orang-orang yang sudah punya umur, jika engkau main fitnah belaka, jangan salahkan kalau pinto tak mampu menahan diri lagi!"
Jin Hian tertawa dingin.
"Heehh.... heehh.... heehh.... yang bisa menahan diri harus menahan diri, yang tak bisa menahan diripun harus menahan diri"
Dari balik barak ditepi gelanggang, tiba-tiba berkumandang keluar suara teriakan Hian Leng cu yang amat nyaring.
"Dalam pertikaian mengenai kitab pusala Kiam keng, perkumpulan kami mengundurkan diri!"
Tenaga dalam yang dimiliki imam tua ini sukar diukur dengan kata-kata, walaupun hanya sepatah kata yang ringan namun semua orang yang hadir dalam lembah itu merasakan bahwa ucapan tersebut seakan-akan dipancarkan dari sisi tubuh mereka, begitu nyaring dan tajam hingga kelihatannya seolah-olah sama sekali tidak menggunakan tenaga.
Hoa Hujin memang sudah tahu kalau imam tua itu adalah seorang musuh tangguh, kini setelah mendengar ucapannya yang nyaring maka tanpa sadar kewaspadaannya makin dipertingkat.
Dalam pada itu, Thong-thian Kaucu yang berada ditengah gelanggang mula-mula tertegun, kemudian ia berpikir lebih jauh.
"Benar juga perkataan dari paman guru, perduli siapa yang mengambil kotak emas itu, toh kotak tersebut hanya disimpan untuk sementara waktu, bilamana ada minat selesai pertemuan besar ini toh masih ada banyak keempatan untuk merampasnya kembali...."
Karena berpikir demikian, maka ia segera ulapkan tangannya sambil berseru.
"Perkumpulan Thong-thian-kauw mengundurkan diri dari perbuatan kotak emas tersebut, siapa ada kegembiraan silahkan untuk mengambilnya!"
Mendengar seruan tersebut, Ciu It-bong berusaha untuk merampas kotak emas itu, tapi Pek Siau-thian yang berdiri lebih dekat segera putar pergelangan melepaskan satu babatan kilat.
Kedua orang jago itu secepat kilat saling bertempur sebanyak tiga gebrakan, siapapun tak berani menggunakan tenaga yang berle bihan, karenanya setelah lewat tiga gebrakan mereka berhenti dengan sendirinya.
Terdengar Jin Hian berkata dengan suara dalam.
"Tua bangka she Ciu, engkau tidak lebih hanya setan gentayangan yang berdiri sendiri, kitab pusaka Kiam keng tersebut tidak mungkin bisa terjatuh ketanganmu, menurut penglihatan aku orang she Jin, lebih baik benda itu untuk sementara waktu disimpan oleh manusia yang punya rumah dan harta saja!"
Tertegun Ciu It-bong mendengar perkataan itu, ia tahu yang dimaksudkan orang yang punya rumah dan harta bukan lain adalah Pek Siau-thian, tapi ia tak habis mengerti mengapa secara tiba-tiba Jin Hian bisa berubah pikiran dan memutuskan begitu?
Sudah tentu Pek Siau-thian sendiripun tahu, kendatipun kotak emas tersebut berhasil didapatkan olehnya namun persoalan belum beres sampai disitu saja, sekalipun begitu setelah kitab pusaka berhasil didapatkan, ia tak sudi melepaskannya dengan begitu saja.
Ujung bajunya dikebas kemuka dan kotak emas itu sudah terjatuh ketangannya.
Sepasang mata Ciu It-bong berapi-api dan hampir saja melotot keluar, tapi ia tahu bahwa anggota perkumpulan Sinkie-pang banyak sekali jika Thong-thian Kaucu dan Jin Hian tidak menghalang-halangi usaha itu maka dengan andalkan kekuatannya seorang bukan tandingan dari Pek Siau-thian.
Oleh karena itulah meskipun dengan mata terbelalak ia saksikan Pek Siau-thian mengambil kotak emas itu namun sendiri tak tahu harus berbuat apa.
Tiba-tiba terdengar Thong-thian Kaucu berseru kembali dengan suara lantang.
"Siang sicu masalah kitab pusaka Kiam keng sudah lewat dan teka teki yang menyelimuti pedang emas juga sudah selesai, sekarang masih ada urusan lagi yang hendak kau utarakan?"
Siang Tang Lay tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh.... haah.... haah.... urusan yang masih tertinggal hanyalah membalas dendam untuk menyelesaikan sakit hati yang masih tersisa!"
Sorot matanya segera dialihkan ke arah muridnya yang berada disamping, sambungnya lebih jauh.
"Kalian segera atur barisan pedang dan mintalah petunjuk dari beberapa orang cianpwee itu!"
"Tecu sekalian mentaati perintah dari suhu!"
Jawab enam orang pemuda berpakaian ringkas itu sambil memberi hormat.
Dua orang dianteranya buru-buru mendorong kereta beroda itu menghantar Siang Tang Lay mendekati mimbar kehormatan, kemudian mereka ikut maju ketengah gelanggang.
Enam orang menempati posisi yang berbeda, dalam waktu singkat mereka sudah mengurung tiga orang pemimpin diri tiga kekuatan besar serta Ciu It-bong ditengah kepungan.
Thong-thian Kaucu sekalipun saling berpandangan sekejap lalu tertawa terbahak-bahak, empat orang itu merupakan gembong iblis yang menguasai suatu bagian dunia, barisan yang dibentuk oleh Siang Tang Lay dihadapan mereka ini tentu saja amat menggelikan hati orang-orang itu.
Ciu It-bong yang berwatak paling berangasan segera menuding salah seorang pemuda dihadapannya sambil berseru.
"Siang Tang Lay, engkau hendak suruh enam orang bocah ingusan itu uatuk membunuh kami empat orang tua bangka?"
Siang Tang Lay tertawa.
"Aku memang mempunyai niat untuk berbuat begitu tapi seandainya gagal aku harap kalian semua jangan menertawakan!"
"Hmm! aku tidak percaya!"
Bentak Ciu It-bong.
Ia putar telapaknya dan segera melepaskan satu pukulan dahsyat ke arah seorang pemuda berpakaian ringkas yang berada disampingnya.
Pemuda itu membentak nyaring dia ayun tangannya dan serentetan cahaya perak segera meluncur kedepan balas menyergap tubuh Ciu It-bong, meskipun serangan dilepaskan belakangan tapi tiba lebih awal kedahysatannya benar-benar menganggumkan.
Ciu It-bong terperanjat, ia segera mengepos tenaga dan melayang beberapa depa ke samping.
Terdengar serentetan bentakan keras memenuhi angkasa, enam orang pemuda berpakaian ringkas itu dengan cepat menggerakan tubuh mereka mengitari arena, makin berputar gerakannya semakin cepat sehingga akhirnya yang nampak hanyalah kilatan-kilatan cahaya perak yang menggulung ketempat orang itu.
Pek Siau-thian mengernyitkan sepasang alis matanya yang putih dalam hati ia berpikir.
Yang datang pasti tidak membawa maksud baik, yang bermaksud baik tidak akan datang, kalau tua bangka she Siang itu tidak yakin bisa menangkan pertarungan ini, tak mungkin ia berani muncul kembali dalam daratan Tionggoan untuk jual kejelekan bahkan menghantar pula jiwanya.
Kotak emas itu mengandung racun keji dan tak mungkin bisa disimpan dalam saku karenanya ia berusaha untuK mengundurkan diri kedalam barak serta menyembunyikan benda tersebut.
Dengan cepat ia lepaskan bajunya dan membungkus kotak emas itu kemudian dipindahkan ketangan kiri dalam keadaan demikian ia langsung menerjang keluar dari kepungan.
Bentakan nyaring berkumandang di angkasa, serentetan cahaya perak bagaikan seekor naga berputar di angkasa tibatiba mengancam dadanya.
Pek Siau-thian merasa amat terperanjat, pikirnya.
"Benarkah kawanan bocah ingusan itu sudah berhasil mendapatkan seluruh warisan dari Siang Tang Lay? sungguh lihay serangan itu!"
Ia mengegos kesamping dan melancarkan sebuah pukulan balasan.
Cahaya perak itu mundur kembali kebelakang sesudah mencapai tengah jalan, baru saja Pek Siau-thian tertegun, mendadak hawa pedang yang menyengat badan sudah mangancam punggungnya, ketika ia berpaling sebuag cahaya perak telah berada didepan mata.
Diam-diam Thong-thian Kaucu yang menyaksikan kejadian itu merasa terkesiap, pikirnya.
"Cepat sekali gerakan pedang bocah itu, ibaratnya naga sakti yang kelihatan kepala tak nampak ekornya, sukar diraba oleh sia papun. Belum habis ia berpikir, cahaya perak menyambar tiba dan amat menyilaukan mata, ia merasa datangnya sergapan dari belakang yang sangat lihay. Buru-buru imam tua itu loncat maju kedepan untuk menghindarkan diri dan ancaman pedang itu. Dengan tingkat kedudukan beberapa orang itu, sebenarnya mereka segan untuk melayani beberapa orang pemuda ingusan tersebut, akan tetapi setelah enam orang pemuda berpakaian ringkas itu membentangkan barisan pedangnya, seketika itu juga seluruh arena dipenuhi oleh cahaya perak yang menyilaukan mata, desiran angin tajam menyambar silih berganti, hal ini memaksa Pek Siau-thian berempat mau tak mau terpaksa harus melakukan perlawanan. Baik Thong-thian Kaucu maupun Pek Siau-thian mereka berdua sama-sama mempunyai pikiran untuk meloloskan diri dari kepunggan barisan pedang kecil itu dan kemudian akan memerintahkan anak buahnya untuk menggantikan kedudukan mereka, siapa tahu terjangan yang mereka lakukan beberapa kali semuanya mengalami kegagalan total, ken datipun sudah dicoba dengan cara apapun terjangan tersebut masih tetap gagal. Berada dalam kepungan enam orang pemuda itu, walaupun Thong-thian Kaucu sekalian tak mampu menerjang keluar dari kurungan itu, merekapun tak bisa berteriak pula untuk memerintahkan anak buah mereka yang ada diluar barisan untuk menyerang secara serentak, karena itulah untuk beberapa saat lamanya terpaksa mereka harus melangsungkan pertarungan sengit dalam barisan tadi. Haruslah diketahui bagimanapun lihaynya suatu barisan, meskipun orang yang terkurung dalam barisan itu mengalami keadaan yang kritis dan berbahaya, tapi di lihat dari luar barisan maka pertarungan itu hanya berlangsung secara datar dan biasa saja. Karena itulah Thong-thian Kaucu berempat yang sedang bertempur sengit kendatipun mereka sudah mengerahkan hampir segenap kekuatan yang dimiliki tapi bagi orang-orang yang ada diluar barisan kecuali beberapa orang yang mengerti akan ilmu barisan, rata-rata berpendapat bahwa Thong-thian Kaucu sekalian sengaja sedang mempermainkan lawannya dengan tujuan untuk mengamati perubahan-perubahan dalam barisan itu kemudian baru menghancurkan dalam sekali serangan, siapapun tak ada yang menyangka kalau empat orang gembong iblis yang tersohor akan kelihayannya itu sebetulnya sudah terkurung rapat oleh beberapa orang pemuda ingusan yang tidak bernama sama sekali. Bagaimanapun juga keempat orang itu andalah kawakan yang sangat berpengalaman, sudah banyak pertarungan besar atau pertarungan kecil yang mereka hadapi, setelah bertempur beberapa saat mereka berhasil menemukan sumber kelihayan dan ilmu barisan itu mereka tahu bahwa enam orang pemuda itu memiliki ilmu silat yang amat lihay jika mereka bermaksud meloloskan diri dari kepungan barisan itu dengan jalan jujur maka hal ini merupakan suatu pekerjaan yang amat susah. Setelah mereka berempat dapat menyaksikan keadaan yang sebenarnya dangan cepat perhatian dan kosentrasinya dipusatkan jadi satu untuk mengamati perubahan-perubahan barisan pedang itu selain dari pada itu, merekapun mulai mengamaii gerakan ilmu pedang dari beberapa orang pemuda tersebut. Setelah keempat orang itu menenangkan hatinya, daya pukulan yang dilepaskan pun berlipat ganda, enam orang pemuda itu seketika merasakan daya serangan yang dilancarkan pihak musuh makin berat mereka tak dapat melakukan terkaman dan terjangan lagi seperti keadaan permulaan tadi. Pemuda yang menjadi pimpinan dalam barisan itu segera menyadari pula akan keadaan tersebut, ia segera membentak nyaring dan dalam waktu singkat keadaan kembali terjadi perubahan. Sepasang mata Pek Siau-thian yang tajam mengikuti terus perubahan barisan itu dengan seksama, ia lihat keenam orang pemuda itu berputar mengitari barisan dengan langkah yang teratur mereka selalu menyergap dan menyerang dari lingkaran luar dalam ayunan tangan cahaya perak segera meluncur datang dan gerakan tubuh beberapa orang itupun ikut berputar mengikuti kilatan cahava perak tadi, berhubung cepatnya gerakan dan barisan yang selalu berputar maka sekilas pandangan keadaan tersebut bagaikan beberapa ekor naga perak yang sedang berputar mempermainkan empat orang korbannya yang ada ditengah kepungan. Ilmu barisan itu luar biasa sekali dan indah dipandang, empat orang yang terkepung merasakan jantung mereka berdebar keras, dengan andalkan ilmu silat mereka yang lihay dan pengalaman yang luas, untuk sementara waktu keselamatan mereka masih dapat terjamin karena itu siapapun tidak ingin menempuh bahaya untuk menerobos keluar dari kepungan. Ci-wi Siancu yang berada dalam barak segera dibikin terpesona oleh pertarungan itu, ia lihat enam orang pemuda itu bertempur sambil berputar, pedang perak mereka berputar dan berkelebat selalu mengancam tempat-tempat penting di tubuh lawan, sebaliknya Thong-thian Kaucu sekalian mematahkan setiap arcaman datang, kadangkala ma ju kadang kala mundur, kedua belah pihak seolah-olah tidak menyerang sepenuh tenaga dan pertarungan itu tidak mirip pertarungan mati-matikan, hal ini lama kelamaan mencengangkan hatinya. Diam-diam ia lantas mencowel ujung baju Hoa Hujin, bisiknya dengan lirih.
"Hujin, kalau pertarungan tersebut harus dilangsungkan dalam keadaan seperti ini bagaimana mungkin dendam sakit hatinya bisa terbalas? kalau dikatakan beradu lenaga dalam rasanya Pek Siau-thian sekalian pasti tak akan lebih lemah dari beberapa orang pemuda itu bukan?"
Hoa Hujin termenung sebentar, kemudian jawabnya.
"Kesaktian dari barisan pedang itu memang amat luar biasa, sekali memandang siapapun akan tahu bahwa barisan itu memiliki asal usul yang luar biasa namun perkataanmu ada benarnya juga, bila hendak mengandalkan tenaga dalam dari keenam orang itu untuk melukai jiwa Pek Siau-thian sekalian rasanya cara ini masih sukar untuk diwujudkan, aku benarbenar tidak habis mengerti apa maksud dan tujuan dari Siang locianpwee untuk melakukan kesemuanya itu"
Tiba-tiba terdengar Thong-thian Kaucu berseru keras.
"Siang sicu, barisan pedang ini memang luar biasa sekali, bolehkah aku mengetahui nama diri ilmu barisanmu ini?"
Pada waktu itu Siang Tong Lay sedang pusatkan seluruh perhatiannya untuk mengikuti jalannya pertarungan ditengah gelang gang, mendengar pertanyaan itu ia tertawa dan menjawab.
"Ilmu barisan ini merupakan ilmu warisan dan Malaikat pedang Gi Ko dan dinamakan Lak liong gi thian kiam tin atau barisan pedang enam naga terbang dilangit, sayang tenaga dalam yang dimiliki murid-murid ku masih terlalu cetek sehingga tak mampu menunjukkan kelihayan yang sebenarnya"
Jin Hian yang mendengar perkataan itu, diam-diam berpikir dalam hati kecilnya.
"Hmmm, untung empat orang tua bangka bersama-sama terjerumus dalam barisan ini, kalau cuma seorang diri.... entah apa yang terjadi?"
Pek Siau-thian pun sedang berpikir didalam hatinya.
"Jangan dikata daya serangan belum mencapai sebagaimana mestinya, sekalipun engkau hendak tukar kitab kiam keng dengan keenam orang bocah itupun dengan sukarela akan kulayani...."
Belum habis ingatan tersebut berkelebat dalam benaknya, mendadak telinganya berhasil menangkap serentetan suara yang amat lembut dan sukar dibedakan dengan suara lainnya.
Sura itu begitu lembut dau halus seakan-akan ada dan seakan-akan tidak, hal ini membuat Pek Siau-thian sendiri tak dapat membedakan apakah suara itu berasal dari telinganya atau muncul dari dalam hati.
Ia adalah seorang jago tua yang sangat teliti, setelah menemukan tanda yang mencurigakan, sudah tentu ia tak sudi melepaskannya dengan begitu saja, ia segera pusatkan s luruh perhatiannya untuk mencari sumbar dari suara itu.
Tiba-tiba terdengarlah pemuda yang memimpin barisan itu membentak keras, dalam sekejap mata barisan itu berputar dengan cepatnya, cahaya perak menyilaukan mata, hawa desiran tajam memekikan telinga, hal ini memaksa Thongthian Kaucu sekalian terpaksa harus memperketat serangan mereka untuk membela diri.
Dalam waktu singkat, pertarungan yang berlangsung ditengah gelanggang telah mencapai pada puncaknya, enam orang pemuda itu putar pedangnya sambil melancarkan serangan bertubi-tubi, keadaan makin seru....
Semua kejadian ini berlangsung dalam sekejap mata, Pek Siau-thian yang harus meayani serangan musuh dengan tangan kanan memegang kotak emas dengan tangan kiri terpaksa harus pusatkan kembali perhatiannya untuk bertempur, dengan begitu sumber dari munculnya suara aneh itupun makin sulit ditemukan.
Tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam benak ketua perkumpulan Sin-kie-pang ini, pikirnya.
"Keadaan yang kuhadapi pada hari ini sungguh aneh, andaikata tujuan kedatangan dari Siang Tang Lay untuk membalas dendam, maka ia tak akan menyerahkan kitab pusaka Kiam keng kepada musuhnya dengan begitu saja, bagaimanapun aku toh sudah pernah membaca isi catatan pedang Kiam keng bu kui secara lengkap, kendatipun kitab Kiam keng ini harus musnah juga tak apa yang penting jiwaku harus selamat.... aku harus bertindak dengan lebih berhati-hati. Ketika berpikir sampai disitu, pemuda yang memimpin barisan kebetulan sedang berputar kehadapan mukanya, Pek Siau-thian segera membentak keras, ia gunakan kotak emas itu sebagai senjata rahasia dan segera disambit ke arah depan sementara tubuhnya ikut menerjang kemuka sambil melepaskan sebuah pukulan. Pemuda itu merasa terkesiap, buru-buru pedang peraknya diputar untuk menangkis sambitan tadi.
"Traaang....!"
Benturan nyaring yang menimbulkan percikan bunga api muncul di angkasa termakan oleh tangkisan pedang sang pemuda, kotak emas tadi segera mencelat kembali ke arah Ciu It-bong.
"Mundur....!"
Tiba-tiba terdengar Siang Tang Lay membentak dengan suara keras.
Sejak keempat anggota badannya lumpuh dan tak dapat dipergunakan lagi, tenaga dalam yang dimiliki Siang Tang Lay mengalami kemero-sotan yang hebat, bentakan yang muncul dari pusar ini berkumandang di angkasa dan jauh menembusi awan, begitu dahsyat dan kerasnya membuat semua orang rasakan telinganya mendengung keras.
Bentakan tadi menggunakan sejenis ilmu sesat yang disebut hua hiat hoo pekikan pembawa maut, ilmu sesat itu merupakan suatu ilmu rahasia dari perguruan Seng sut hay yang tidak pernah diturunkan kepada siapapun, setelah Siang Tang Lay menderita kalah didaratan Tionggoan dan kembali ke wilayah See ih, dengan sebuah kaus kutang berserat emas yang tahan api dan tahan bacokan serta sebuah senjata kaitan kumala yang amat berharga ia mengajak iblis tua ketua perguruan Seng sut hay untuk melakukan barter dengan ilmu tadi.
Iblis tua dari perguruan Seng sut hay adalah seorang manusia yang rakus, melihat mustika, kedua kalinya ia tahu bahwa Siang Tang Lay adalah orang wilayah See ih yang memusuhi umat persilatan didaratan Tionggoan, hal ini sesuai dengan kehendak hatinya, karena itu barter tersebut disetujui dan ilmu pekikan pembawa maut pun diturunkan kepadanya.
Ilmu pekikan membawa maut merupakan kepandaian sakti yang setaraf dengan Ilmu Sam cing hoa it lie dari kalangan agama Too atau ilmu pekikan singa dari kalangan Buddha hanya saja kepandaian ini lebih keji dan telengas.
Siang Tang Lay menghimpun tenaga dalamnya dan membentak dengan ilmu sesat pekikan pembawa maut itu tujuannya ialah untuk menyerang empat orang musuh bebuyutan yang sedang bertempur ditengah gelanggang.
Thong-thian Kaucu d»n Pek Siau-thian sekalian yang sedang bertempur seketika itu juga merasakan gendang telinganya jadi amat sakit dalam waktu singkat isi perutnya terbalik ia merasa amat mual dan darah panas seperti mau keluar.
Keempat orang itu adalah jago-jago kawakan yang memiliki pengalaman sangat luas, setelah berpikir sebentar mereka segera mengetahui bahwa isi perut sudah terluka terserang oleh pekikan lawan, dalam waktu singkat keempat orang itu menunjukkan reaksi yang berbeda-beda.
Pek Siau-thian dan Jin Hian bersama-sama meluncur ke arah mulut lembah dengan harapan bisa menjebolkan lingkaran pengepungan, sedangkan Thong-thian Kaucu dan Ciu It-bong bersama-sama loncat ketengah udara dengan harapan bisa melewati batok kepala beberapa orang pemuda itu dan kabur keluar barisan.
Pada saat yang bersamaan, ketika enam orang pemuda itu mendengar gurunya mengeluarkan pekikan pembawa maut, bukannya menubruk kedalam arena untuk melukai lawan, sebaliknya mereka malah mengundurkan diri kesamping arena, pedang perak ditanaan mereka berputar kencang melindungi bagian-bagian penting diseluruh tubuhnya.
Semua kejadian itu berlangsung pada saat yang hampir bersamaan, keempat orang gembong iblis ini sama-sama cekatannya, begitu merasa isi perutnya sudah terluka mereka segera berusaha menorobos keluar dari kepungan, sementara itu kotak emas yang terpental keudara oleh tangkisan pedang perak pemuda itu baru saja meluncur jatuh kebawah.
Ciu It-bong yang kebetulan berada disampingnya, sewaktu menyaksikan kotak emas itu berada kurang lebih empat lima depa disisinya,dengan sebat menyambarnya dan dicekal dalam genggaman, meskipun tangannya bergerak menyambar kotak namun gerakan tubuhnya yang sedang meluncur kedepan meskipun tidak terganggu.
Siapa tahu baru saja kotak emas itu terjatuh kedalam genggaman Ciu It-bong tiba-tiba terjadilah suatu ledakan yang maha dahsyat....
"Blaamm....!"
Percikan cahaya api menyebar keempat penjuru, asap hitam yang tebal membumbung tinggi keangkasa, diiringi pecahan logam, daerah sekeliling tempat itu semuanya terbungkus oleh jilatan api.
Jeritan ngeri yang menyayatkan hati bergema memecahkan kesunyian, hancuran daging dan percikan darah berceceran diatas tanah membuat pemandangan disekitar sana sampak mengerikan sekali.
Peristiwa yang berlangsung ditempat itu benar-benar mengejutkan hati, pemandangannya menyeramkan membuat bulu kuduk pada bangun berdiri, Ciu It-bong yang membawa kotak emas itu mati dengan tubuh hancur berantakan, mayatnya tersayat-sayat dan tidak dapat ditemukan lagi.
Thong-thian Kaucu yang berada disampingnya kehilangan kaki kirinya sebatas paha, kaki kanannya sebatas lutut, sepasang kaki imam tua ini hancur tak tertolong lagi.
Sedang Jin Hian kehilangan lengan kanannya sebatas bahu, yang paling beruntung adalah Pek Siau-thian ia hanya menderita luka pada punggung dan tengkuknya sementara keempat anggota badannya masih utuh dan jiwanya sama sekali tidak terancam.
Semua kejadian itu berlangsung dalam sekejap mata, sejak Siang Tang Lay mengeluarkan pekikan pembawa mautnya, kemudian empat jago lihay yang sedang bertempur melarikan diri terbirit-birit, para jago yang berada didalam barak sudah dibikin terperanjat dan sama-sama bangkit berdiri, menanti kotak emas itu meledak dan terjadilah peristiwa yang lebih tragis semua orang semakin tertegun karena kagetnya.
Suasana hening untuk sesaat lamanya, menanti Thongthian Kaucu , Pek Siau-thian dan Jin Hian roboh terkapar diatas tanah, suasana jadi kalut.
Pek Soh-gieper-tama-tama yang menangkis sambil menerjang ketengah gelanggang disusul para jago dari pelbagai golonganpun menerjang kedalam gelanggang, jeritan dan teriakan bercampur baur membuat suasana amat riuh.
Hoa Hujin yang menyaksikaa peristiwa itu merasa amat terperanjat ia segera ulapkan tangannya dan menerjang masuk kedalam gelanggang lebih dahulu.
Ciu Thian-hau, It sim hweesio, Cu im taysu, Suma Tiang-cing dan sekalian jago dan golongan lurus dengan cepat membuntuti dari belakang dan melindungi keselamatan Siang Tang Lay beserta anak muridnya.
Pada waktu yang bersamaan Hing Leng cu, Pia Leng-cu serta Cing Leng cu dari perkumpulan Thong-thian-kauw dengan tubuh yang cepat bagaikan sambaran kilat telah menerjang pula kedalam gelanggang rupanya mereka hendak membereskan dulu jiwa Siang Tang Lay beserta anak muridnya tetapi setelah menyaksikan Hoa Hujin sekalian ber gerak pula kesitu dengan cepat mereka batalkan niatnya itu.
Kutungan lengan, kutungan kaki dan hancuran daging berceceran diatas tanah, darah segar mengalir bagaikan sungai, sekali memandang keadaan ditengah gelanggang benar-benar mengerikan sekali membuat bu lu kuduk semua orang pada bangun berdiri.
Tiga orang imam tua dari perkumpulan Thong-thian-kauw tiba dulu ditempat kejadian, Cing Leng cu segera membopong tubuh Thong-thian Kaucu , Pia Leng-cu menotok seluruh jalan darah penting disekeliling kakinya yang kutung hingga darah seketika berhenti mengalir.
Hoa Hujin yang menyaksikan ketepatan dan kehebatan imam tua itu dalam melepaskan totokan, benar-benar sudah mencapai puncak kesempurnaan, diam-diam ia merasa kagum, so-rot matanya segera dialihkan ke arah Siang Tang Lay.
Paras muka jago lihay dari wilayah See ih ini berubah jadi hijau membesi, sepasang matanya terpejam rapat dan ketika itu dia sedang mengatur pernapasan.
Melihat keadaan tersebut, dalam hati kecilnya perempuan itu lantas berpikir.
"Ternyata penggunaan ilmu pekikan pembawa mautnya persis seperti tenaga pukulan sewaktu dipergunakan pula selembar jiwa sendiri!"
Dalam pada itu, terdengarlah Thong-thian Kaucu berbisik dengan suara terbata-bata.
"Susiok bertiga luka pada sepasang kaki ku tidak menjadi soal tecu sudah terkena pekikan pembawa maut dari iblis tua Seng sut hay"
"Aku mengerti"
Jawab Hiang Leng cu dengan suara berat. Ia tempelkan telapak tangannya diatas punggung Thongthian Kaucu kemudian sambil berpaling hardiknya.
"Semua anggota perkumpulan Thong-thian-kauw segera mengundurkan diri kedalam barak, jaga tata tertib dan jangan kalut!"
Mendengar teriakan itu para anggota perkumpulan Thongthian-kauw secara tertib segera mengundurkan diri kedalam barak, Cing Leng cu sambil membopong Thong-thian Kaucu pun ikut mengundurkan diri kedalam barak.
Dipihak lain, orang-orang dari perkumpulan Sin-kie-pang serta Hong-im-hwie masing-masing telah menolong pemimpin mereka meskipun Jin Hiang kehilangan lengan kanannya dan punggung Pek Siau-thian penuh luka yang merekah namun keadaan mereka berdua tidak jauh berbeda dengan keadan dari Thong-thian Kaucu meskipun luka luar yang diderita cukup parah namun tidak sampai mempengaruhi keselamatan jiwa justru luka dalam yang ditimbulkan akibat pekikan pembawa maut itulah yang mengancam keselamatan mereka.
Kelompok tiga maha besar dalam dunia persilatan ini adalah perkumpulan-perkumpulan yang mempunyai tata tertib serta organisasi yang sangat ketat meskipun pemimpin mereka sudah mendalami musibah yang diluar dugaan, setelah suasana kacau sebentar keadaanpun menjadi tenang kembali.
Pek Siau-thian seria Jin Hian yang secara beruntun telah sadar dari pingsannya segera menurunkan perintah untuk menarik semua anggotanya kembali kedalam barak serta melakukan perundingan lebih jauh.
Kendatipun begitu, semua anak buah dari Thong-thiankauw, Hong-im-hwie maupun Sin-kie-pang telah menaruh rasa benci yang bukan kepalang terhadap diri Siang Tang Lay, mereka semua merasa gusar dan benci, siapa pun bermaksud membunuh jago dari wilayah See ih itu untuk melampiskan rasa dendam tersebut.
Dipihak para jago dari kalangan lurus meskipun mereka merasa gembira dan lega karena pertarungan babak pertama mereka berhasil rebut kemenangan tapi semua orang pun tahu bahwa peristiwa itu hanya merupakan suatu permulaan belaka, pertarungan berdarah yang sesungguhnya masih berada di belakaang.
Maausia-manusia sebangsa Tio Sam-koh sekalian yang berwatak polos dan terbuka kelihatan gembira dan riang sekali mereka tertawa terbahak-bahak dengan kerasnya, ada yang mengatakan sayang karena Pek Siau-thian tidak sampai mampus, ada yang memaki Ciu It-bong karena serakah hingga harus menemui ajalnya dalam keadaan mengenaskan pokoknya suasana amat cerah dan gembira.
Peristiwa besar yang terjadi ditengah gelanggang boleh dibilang telah menggoncangkan seluruh lembah Cu bo koh tapi ada sekelompok manusia lain yang tetap tenang dan bersikap acuh tak acuh, mereka bukan lain adalah gerombolan makhluk aneh yang menyerupai sukma-sukma gentayangan itu, yang berdiri tetap berdiri, yang duduk tetap duduk mereka semua tak ada yang berkutik dari tempat semula, terhadap kejadian yang berlangsung didepan mata tak seorangpun yang ambil perduli.
Yang lebih hebat lagi adalah bayi yang berada dalam pelukan setan perempuan itu, sambil menghisap puting susu perempuan setan itu sang bayi masih tidur dengan nyenyaknya seolah-olah sama sekali tidak terganggu oleh suara-suaradiluar barak, Tiba-tiba dari balik barak sebelah timur muncul seorang pria bermuka putih berjenggot hijau dan berlengan tunggal.
Para jago di empat penjuru sebagian besar kenal dengan pria berlengan tunggal ini sebagai manusia nomor tiga dalam perkumpulan Hong-im-hwie yaitu Pat pit siu lo atau malaikat berlengan delapan Cia Kim.
Semua orang mulai bertanya apa gerangan maksudnya munculkan diri ditengah arena seorang diri?
apa yang hendak ia lakukan?
Sementara itu Malaikat berlengan delapan Cia Kim sudah tiba dihadapan barak yang dihuni para jago dari kalangan lurus, dengan alis berkernyit ia berseru ketus.
"Bagaimana? apakah harus menunggu sampai diundang oleh aku orang she Cia?"
Dari dalam barak para jago dengan cepat melayang keluar sesosok bayangan manusia, dia berlengan tunggal menyoren pedang dan berwajah penuh cambang, orang itu bukan lain adalah musuh bebuyutan dari Cia Kim yakni Ciong Lian-khek.
00000O00000 MALAIKAT berlengan delapan Cia Kim tertawa dingin tiada hentinya, dengan suara menyeramkan, ia berkata.
"Ciong Lian-khek dendam permusuhan di antara kita sudah mencapai tingkat sedalam lautan aku rasa tak usah banyak bicara lagi tentang soal ini.
"Mati hidup antara golongan hitam dan putihpun bakal ditentukan pada hari ini juga karena itu ada baiknya kalau kita tentukan da hulu siapakah yang berhak untuk hidup lebih lanjut diantara kita berdua"
Ciong Lian-khek lintangkan pedangnya didepan dada, dengan serius ia menjawab.
"Hmm....! engkau masih terhitung seorang lelaki sejati!"
Manusia bercambang ini memang paling segan banyak bicara, namun setiap patah kata yang diutarakan keluar mempunyai bobot yang sangat berat.
Haruslah diketahui selama puluhan tahun belakangan ini, hampir boleh dibilang peraturan dalam dunia persilatan sudah lenyap tak berbekas, setiap kali terjadi pertempuran maka seringkali orang mengandalkan jumlah yang lebih besar untuk rebut kemenangan bahkan seringkali menggunakan cara yang memalukan untuk rebut kemenangan.
Cia Kim sebagai seorang jago yang menduduki kursi nomor tiga dalam perkumpulan Hong-im-hwie ternyata bersedia melakukan duel satu lawan satu, tindakannya ini terhitung suatu hal yang boleh dibanggakan oleh setiap orang, maka dari itu pujian dari Ciong Lian-khek tadi menunjukkan bahwa diapun mengagumi akan sifat lawannya yang jantan.
Terdengar Cia Kim mendengus dingin, sambil menubruk maju kedepan ia lancarkan sebuah pukulan.
Nama besar Malaikat berlengan delapan betul-betul bukan nama kosong belaka, setelah telapaknya berkelebat kemuka maka seketika itu juga lengannya itu berubah jadi tujuh delapan buah, tujuh delapan buah telapak itu menyerang secara bersama-sama, masing-masing mengancam tiga bagian jalan darah penting ditubuh Ciong Lian-khek.
Menyaksikan datangnya ancaman itu, Ciong Lian-khek segera berpikir dalam hatinya.
"Keparat sialan, meskipun sudah kehilangan sebuah lengan ternyata ilmu silat yang dimilikinya malah memperoleh kemajuan yang lebih pesat.... ia memang hebat!"
Bayangan telapak berkelebat bagai kabut mana yang sungguhan mana yang kosong sukar dibedakan lagi, jika ia ambil tindakan untuk menangkis dan punahkan serangan itu lebih dahulu maka posisinya masih akan terdesak.
Dalam keadaan begini Ciong Lian-khek segera putar pedangnya menyongsong datangnya ancaman itu dengan gunakan jurus Siau Ci lam thian atau sambil tertawa menunjuk langit selatan, pedangnya langsung menusuk pelipis Cia Kim.
Jurus serangan ini merupakan suatu gerakan menyerang sambil bertahan, dan penuh mengandung keuntungan bagi permainan pedangnya, kendatipun pukulan telapak dari Cia Kim sangat dahsyat namun karena kalah panjang maka diapun jadi terdesar malahan.
Melihat serangannya digagalkan secara mudah, diam-diam Malaikat berlengan delapan Cia Kim merasa amat gusar, tubuhnya berkelebat kedepan dan berbalik mengancam rusuk kiri Ciong Lian-khek, mengikuti gerakan telapak tadi badannya ikut menerjang kemuka, dengan keras lawan keras ia berusaha mematahkan pertahanan musuh.
Ciong Lian-khek bukan orang bodoh, ia segera putar pedang balas menyerang titik kelemahan lawan, jurus demi jurus dilepaskan secara berantai, serangan dibalas dengan serangan, semua babatan pedangnya ganas dan keji, sedikitpun tidak memberi peluang bagi lawannya untuk menguasai keadaan.
Sejak bertemu muka, dua orang yang saling bermusuhan ini sudah dipengaruhi oleh rasa dendam kesumat, mata mereka sudah merah membara, karena itu begitu bertempur maka kedua belah pihak sama-sama mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya, bukan saja bertempur mengenai ilmu silat merekapun mengadu semangat.
Kedua belah pihak sama-sama merupakan orang yang cemerlang dan punya nama besar dalam dunia persilatan, karena saling bersumpah untuk tidak hidup berdampingan membuat pertarungan itu berlangsung jauh lebih seru.
Dalam pada itu, jalan dibelakang barak telah dipenuhi oleh berkelebatnya bayangan manusia, kurir dari kelompok tiga besar saling berhubungan satu sama lainnya, rupanya mereka sedang merundingkan suatu masalah yang besar dan gawat.
Dalam barak yang dihuni para pendekar dari kalangan luruspun sedang berlangsung perundingan untuk menentukan siasat dalam menghadapi pertempuran terakhir, meskipun pertempuran diluar gelanggang berlangsung sengit dan tegang namun situasi dalam pe-rundingan itu jauh lebih tegang dan serius.
Tiba-tiba terdengar Ciong Lian-khek membenak keras, dalam sekejap mata desiran pedang menderu-deru, cahaya tajam berkilauan di angkasa, bayangan senjata berlapis-lapis dan mengurung Malaikat berlengan delapan Ciu Kim semakin ketat.
Terdengar angin pukulan menderu-deru, tenaga pukulan yang terpancar keluar dari telapak Malaikat berlengan delapan Ciu Kim pun segera tiba makin menghebat, pukulan demi pukulan yang gencar berusaha menembusi kepungan lapisan pedang yang berlapis hingga menyiarkan suara tajam yang memekikkan telinga.
Ilmu silat memang sukar diukur dengan kata-kata, sepanjang hidupnya Ciong Lian-khek selalu meyakinkan permainan pedangnya, sewak tu menemani Hoa Thian-hong berlatih pedang, secara tidak sadar ia telah melatih pula kepandaian sendiri secara tekun dan rajin membuat permainan ilmu pedang Seng too tui hun kiam hoatnya mencapai puncak kesempurnaan yang tiada taranya, sedang tenaga dalam yang dimilikipun mendapat kemajuan yang pesat, hal ini membuat daya serangan yang terpancar dalam permainan pedangnya betul-betul mengerikan.
Dipihak lain, Malaikat berlengan delapan Cia Kim pun sepanjang hidupnya selalu tekun mendalami ilmu telapak Siu lo ciang hoat nya.
Inti sari dari ilmu pukulan itu sudah dikuasai penuh, ditambah pula tenaga dalamnya yang sudah dilatih selama dua puluh tahun membuat pukulan-pukulannya sangat terlatih dan sempurna.
Oleh karena itulah, kendatipun serangan pedang Seng lo tui hun kiam hoat dari Ciong Lian-khek amat keji dan telengas namun selalu gagal untuk menembusi perlahanannya.
Tidak terasi setengah jam sudah lewat.
Jua orang itu sudah bertempur banyak tiga iratus gebrakan lebih.
Pertarungan ini merupakan suatu pertarungan yang amat sengit, dendam yang telah berlangsung lama, rasa benci yang sedalam lautan memaksa kedua belah pihak merasa tak puas sebelum berhasil membinasakan lawannya, oleh sebab itulah pertarungan berlangsung semakin lama, keadaan makin seru dan ramai hingga akhirnya kedua bilah pihak sama-sama mempertaruhkan keselamatan jiwanya untuk berusaha merubuhkan lawannya.
Suana dalam barak tiba-tiba berubah jada sunyi senyap tak kedengaran sedikit suara pun, semua orang telah mengetahui bahwa salah satu diantara dua orang yang sedang berempur sengit itu pasti ada yang bakal mati.
Malaikat berlengan delapan Cia Kim yang terkurung dalam lapisan cahaya pedang Ciong Lian-khek, kelihatan terdesak hebat dan berada dibawah angin, karena itu orang-orang dari perkumpulan Hong-im-hwie merasa jauh lebih tegang dan serius daripada pihak lain.
Jin Hian yang kehilangan sebuah lenganya baru saja mendapat perawatan dan menyelesaikan semedinya, setelah meninjau sebentar situasi dalam gelanggang, dengan dahi berkerut ia berpaling ke arah Cu Goan Kek yang berada dibelakananya sambil berkata.
"Ji te, engkau segera menantang perang! berpura-puralah seperti akan menggantikan kedudukan dari Sim te, jika pihak lawan ada yang berani menghalangi maka kita akan utus orang uutuk menghadapi pertarungan itu, seandainya pihak Thong-thiankauw memberi tanggapan atas kejadian itu maka kita korban perang massal dan bergerak sesuai dengan rencana yang telah dipersiapkan"
"Siaute terima perintah!"
Jawab Cu Goan Kek sambil bangkit berdiri, ia keluar dari barak dan menerjang kedalam gelanggang.
Hoa Hujin yang membayang-bayangi keadaan gelanggang dari tempat kejauhan, segera berseru dengan suara berat setelah menyaksikan keadaan tersebut.
"Sam te, turun kegelanggang dan hadang orang itu!"
Sejak tadi Suma Tiang-cing sudah mengharapkan datangnya perintah, tanpa banyak bicara ia segera terjun kegelanggang dan menghadang jalan pergi dari Cu Goan Kek.
Ketika Cu Goan Kek melihat orang yang muncul untuk menghadapi dirinya adalah pedang sembilan nyawa Suma Tian Cing hatinya terjelos.
Tapi rupanya perkuuipilan Hong-imhwie sudah punya rencana, baru saja pemuda Suma terjunkan diri dengan cepat Yan-san It-koay pun terjun pula kedalam gelanggang.
Tio Sam-koh yang menyaksikan tindakan musuh jadi naik pitam ia ketukan tongkat besinya keatas tanah dan siap terjun kedalam gelanggang, Hoa Hujin segera menarik lengan bajunya sambil berbisik.
"Pihak lawan berjumlah sangat banyak sedangkan kekuatan kita sedikit sekali bilamana keadaan tidak terlalu memaksa lebih baik menghemat tenaga"
Sementara pembicaraan itu masih berlangsung, Suma Tiang-cing telah meloloskan pedangnya dan menyenril senjata itu dengan sentilan jari, cahaya hijau berkilauan diiringi suara dentingan yang memekikkan telinga terhadap kehadiran musuh dari arah depan ia sama sekali tidak memandang barang sekejappun.
Dafri pergelanggan tangannya, Yan-san It-koay melepaskan pula gelangnya yang bercahaya hitam, dengan tangan dikepalkan dan menyilang didepan dada ia melirik sekejap ke arah Cu Goan Kek.
Orang kedua dari perkumpulan Hong-im-hwie itu mengerti apa yang dimaksudkan sahabatnya, ia segera membentak keras, tubuhnya menerkam kedepan sambil melepaskan satu pukulan yang maha dahsyat.
Paras muka Suma Tiang-cing menunjukkan sikap menghina dan pandang rendah musuhnya, sepasang matanya yang memancarkan cahaya kesombongan menyapu sekejap ke arah Yan-san It-koay dan Cu Goan Kek dengan ketus, walaupun ia tahu serangan yang dilancarkan orang she Ciu itu sudah hampir mengenai ditubuhnya, akan tetapi si anak muda itu masih tetap berdiri tak berkutik.
Jilid 10 SERANGAN yang dilancarkan Cu Goan Kek itu sebenarnya adalah suatu serangan kosong, menanti Suma Tiang-cing menggerakkan tubuhnya maka Yan-san It-koay akan segera menyergap kedepan sedang ia sendiri bisa melewati hadangan pemuda Suma itu dan membantu Malaikat berlengan delapan Cm Kiai yang terancam bahaya.
Tapi Setelah melihat sikap yang angkuh dan jumawa dari Suma Tiang-cing, seakan-akan ia tak dipandang sebelah matapun oleh la wannya, hawa arsiran segera berkobar dalam benaknya, dari jurus itupun ia rubah jadi serangan sunguhan dan langsung dihantam kemuka.
Suma Tiang-cing tertawa dingin, ia geserkan badannya kesamping dan berkelit sejauh beberapa depa dari tempat semula.
Cahaya hitam berkelebat lewat, Yan san koay dengan gelang hitamnya yang berada dalam genggaman laksana sambaran petir ditonjokkan ke arah batok kepala lawan.
Tenaga dalam yang dimiliki gembong iblis ini jauh lebih sempurna jika dibandingkan dengan tenaga lweekang dari Cu Goan Kek, karenanya walaupun serangan itu dilepaskan jauh lebih lambat namun tiba pada sasaran hampir dalam waktu yang bersamaan.
Gerakan Suma Tiang-cing yang berkelit ke arah samping justru bagaikan perahu yang mendekat ketepian, dengan tepat menyongsong datangnya ancaman tersebut.
Terdengar Suma Tiang-cing mendengus dingin, pedang mustikanya dibalik dan langsung membabat pergelangan lawan.
Cara pemuda ini mainkan pedang menyerupai cara menggunakan golok, daya tekanannya berat bertenaga tapi enteng dan lincah sekali membuat musuh sulit untuk menduga sasarannya.
Ia tersohor sebagai jago pedang bernyawa Sembilan yang merupakan manusia paling sadis dikalangan golongan putih, kalau tidak bertempur wataknya baik, tapi setelah turun tangan pasti ada jiwa yang melayang, karena kelihayan dan kekejiannya banyak gembong iblis yang jeli dan mengalah tiga bagian kepadanya.
Sementara itu jurus serangan yang dipergunakan Yan-san It-koay sudah hampir mencapai pada akhir gerakan, melihat seranganan itu jika dilanjutkan niscaya akan kurung ditangan lawan ia jadi terkejut bercampur marah, sumpahnya.
"Keparat! anjing sialan!"
Sambil putar badan satu lingkaran, dia buyarkan pukulan itu secara paksa....
"Cuuih!"
Suma Tiang-cing meludah dan disemburkan keatas wajah Yan-san It-koay, pedang mustikanya berputar dan langsung membacok tubuh Cu Goan Kek.
Orang kedua dari perkumpulan Hong-im-hwie ini rada nafsu untuk menghadapi pemuda tersebut karena itu setelah serangannya mengenai sasaran yang kosong ia segera enjotkan badan dan menyelinap kedepan.
Tiba-tiba desiran angin tajam meluncur dibelakang batok kepalanya, sewaktu ia berpaling belakang tampaklah sambaran pedang Suma Tiang-cing sudah tiba didepan mata, ia amat terperanjat dan tubuhnya buru-buru jatuh bergelinding keatas tanah untuk mencari selamat.
Mulai pertama Suma Tiang-cing menahan serangan dari Yan jan It koay lebih dahulu kemudian menyergap Cu Gom Kek meskipun ia melepaskan dua serangan namun dalam kenyataan hanya satu jurus serangan.
Mimpipun Cu Goan Kek tidak menyangka kalau Yan-san Itkoay begitu goblok dan dan tak becusnya sehingga serangan dari Suma Tiang-cing pun tidak mampu dibendung, dalam gugupnya ia berusaha sekuat tenaga untuk meloloskan diri dari arcaman.
Cahaya barkelebat lewat pakaian bagian punggung Cu Goan Kek tersambar robek, sebuah jalur sepanjang dua depa, darah mengalir keluar dari mulut luka dan membasai tubuhnya namun Cu Goan Kek masih belum merasakan hal itu.
Yan-san It-koay merasa malu bercampur gusar, ia menyergap maju kedepan sepasang kepalannya disodok kemuka menghajar pinggang Suma Tiang-cing memaksa si anak muda itu harus putar pedangnya untuk menyelamatkan diri.
Setelah secara nyaris berhasil lolos dari bacokan lawan, Cu Goan Kek merasa gusar sekali, paras mukanya jadi hijau kepucat-pucatan namun sebagai seorang jago kawakan yang berotak dingin dan berhati licik, ia segera menggigit bibir menelan rasa mendongkolnya itu didalam hati, sang badan masih melanjutkan terjangannya menubruk ke arah Ciong Lian-khek.
Kembali Suma Tiang-cing mendengus dingin, pedangnya berkelebat menyergap tubuh bagian belakang dari Cu Goan Kek, memaksa jago kedua dari perkumpulan Hong-im-hwie ini buru-buru harus berkelit ke arah samping.
Yan-san It-koay adalah seorang jago lihay yang tersohor karena kebengisan dan keganasanya, berada dihadapan umum ia kena dipaksa oleh lawannya hingga selalu berada dibawah angin, hal itu membuat kemarahannya menjadikan ia kalap, sepasang tinju di lontarkan secara berrantai krdepan, ia lepaskan pukulan secara membabi buta.
Serangan berantai yang amat gencar ini telah menggunakan seluruh kekuatan yang dimiliki Yan-san It-koay, kendatipun Suma Tiang-cing gagah perkasa dan pemberani tak urung musti menghadapi dengan sepenuh tenaga juga.
Dengan terjadinya peristiwa ini maka Cu Goan Kek pun berhasil melepaskar diri dari kurungan lawan, tanpa mengucapkan sepatah katapun ia kirim satu pukulan dahysat menyergap badan Ciong Lian-khek.
"Sreeet,!!"
Ciong Lian-khek putar badan melepaskan satu babatan pedang, serunya dengan ketus.
"Cia Kim, ini hari adalah saatnya kita berdua untuk menentukan siapa hidup siapa mati apakah engkau hendak andalkan kekuatan orang untuk mewujudkan harapanmu?"
Malaikat berlengan delapan Cia Kim tertegun, ia teringat kembali atasn kata-katanya sebelum terjadi pertarungan itu, ia pernah ber kata bahwa pada saat itu menang kalah di antara mereka hendak dilakukan tanpa campur tangan orang lain.
Dangan wajah menyesal bercampur malu, segera bentaknya dengan keras.
"Ji ko harap segera undurkan diri, setelah rasa akhirat menentukan kematian pada kentongan ketiga, siapakah yang berani mena han dirinya sampai kentongan kelima?"
Cu Goan Kek tertawa seram.
"Heeh.... heehh.... heehh.... Ji ko justru tak percaya dengan segala ketahayulan, akan ku bereskan cecunguk ini sekarang juga"
Ciong Lian-khek tertawa sinis.
"Huuh! baiklah, aku akan suruh engkau percaya dengan segala Ketahayulan!!"
Sreet!
sreet!
dua serangan berantai di lepaskan dengan gencar menukas perkataan Cu Goan Kek yang belum sempat diselesaikan.
Malaikat berlengan delapan Cia Kim semakin bertambah malu dan tiba-tiba ia berteriak keras.
"Ji ko kalau engkau tak segera mengundurkan diri, siaute akan bunuh diri lebih dulu di hadapanmu!"
Cu Goan Kek merasa amat terperanjat, ia segera urungkan serangannya dan mundur ke belakang dengan hati tercekat.
"Cia Kim"
Teriak Ciong Lian-khek kemudian dengan suara lantang.
"engkau memang seorang lelaki perkasa yang hebat, aku Ciong Lian-khek kagum atas kegagahanmu itu!"
Pedangnya dikembangkan dan segera melancarkan satu tusukan.
Malaikat berlengan delapan Cia Kim mendengus dingin, ia melangkahkan kakinya sambil berputar, sebuah pukulan balasan segera dilepaskan dengan dahsyat.
Cu Goan Kek yang dipaksa mengundurkan diri dari arena pertarungan hanya bisa berdiri melongo disisi gelanggang sambil menyaksiksn dua orang itu melanjutkan kembali pertarungannya, dalam hati ia segera berpikir.
"Baiklah aku berdiri disini sambil membayanggi pertarungan yang sedang berlangsung, bila keadaan membahayakan aku baru akan turun tangan untuk menolong jiwanya, dalam keadaan begitu aku rasa Ciong Lian-khek tidak akan...."
Belum babis ingatan tersebut berkelebat dalam benaknya, tiba-tiba terdengar Yan-san It-koay berteriak keras.
"Hati-hati dengan sergapan dari belakang....!"
Terperanjat hati Cu Goan Kek mendengar teriakan tersebut, ia segera berpaling kebelakang dan tampaklah seorang kakek tua berwajah merah, berbadan pendek dan gemuk, sambil menggoyangkan kipasnya sedang menyelinap kebelakang tubuhnya tanpa menimbulkan sedikit suarapun.
Ketika menyaksikan lawannya berpaling, kakek gemuk pendek berwajah merah padam itu tiba-tiba tertawa, kipasnya diayun kedepan dan mengipasi punggung Cu Goan Kek.
Pakaian bagian punggung dari Cu Goan Kek itu sudah tersambar robek oleh babatan pedang Suma Tiang-cing tadi tanpa terasakan olehnya, setelah dikipasi oleh kakak gemuk itu, pakaiannya segera tersingkap hingga kelihatan kulitnya yang berdarah.
Cu Goan Kek jadi sangat terperanjat, buru-buru ia loncat keudara dan menyingkir sejauh beberapa tombak dari tempat semula.
Ditengah gelanggang, terdengarlah Ciong Lian-khek membentak keras, Cia Kim mari kita tentukan siapakah yang lebih berhak melanjutkan hidup di kolong langit.
Sambil berseru badannya meluncur keangkasa hingga mencapai ketinggian dua tombak lebih.
Malaikat berlengan delapan Cia Kim tertawa angkuh, kakinya melayang kepintu Cu bu dan kepalannya disilangkan didepan dada, kepalanya menengadah keudara sikapnya angkuh sekali.
Ciong Lian-khek mendengus dingin, badannya meluncur kebawah, pedangnya berputar kencang bagaikan roda, cahaya tajam menyelimuti daerah seluas satu tombak lebih, dan mengurung batok kepala Cia Kim.
Terdengar bentakan keras bergeletar di angkasa, dengusan gusar yang seram mengiringinya lalu terjadilah suatu benturan yang dahsyat.
"Bluum! dengan jurus Lu wang kay hun atau jaring langit membekuk sukma, bacokan pedang dari Ciong Lian-khek berhasil menghajar separuh tubuh bagian atas dari Cia Kim sehingga terluka parah dan darah segar berhamburan di angkasa. Pada saat yang bersamaan pula, sebuah pukulan maut yang dilepaskan malaikat berlengan delapan Cia Kim berhasil pula menghajar telak bahu kiri lawannya, membuat tulang bahu Ciong Lian-khek hancur berantakan, tubuhnya yang ada ditengah udarapun berpusing kencang. Sejak menyaksikan Cia Kim bermaksud adu jiwa, Cu Goan Kek sudah menyadari bahwa gelagat tidak menguntungkan rekannya, ia hendak maju menolong tapi usahanya selalu ditinggalkan oleh kebebasan kipas dari dewa yang suka pelancongan Cu Thong, hal ini membuat dia panik sekali. Demikianlah, setelah terjadinya bentrokan yang sama-sama berakibatkan terlukanya kedua orang itu, para jago dari perkumpulan Hong-im-hwie sama-sama membentak keras dan serentak menyerbu masuk kedalam gelanggang pertarungan. Terdengar Ciong Lian-khek membentak keras, pedangnya berputar laksana kitiran petir, sekilas cahaya tajam yang menyilaukan mata meluncur kemuka, dengan gerakan Thay san ya teng atau tertindih oleh bukit Thay san, pedangnya membacok kebawah. Jeritan ngeri yang menyayatkan hati bergema memecahkan kesunyian, batok kepala Malaikat berlengan delapan Cia Kim terbacok hingga hancur lebur dan terpisah dari tubuhnya. Dalam pada itu, dewa yang suka pelancongan Cu Thong ketika melihat para jago dari perkumpulan Hong-im-hwie bagaikan gulungan air bah menyerbu masuk kedalam gelanggang pertarungan, ia segera meayadari bahwa pertempuran massal tak bisa dihindari lagi, kipasnya dengan cepat disimpan dan telapaknya laksana kilat melepaskan satu pukulan maut. Pukulan itu menggunakan gerakan menyerang sampai mati, salah satu serangan ampuh dalam catatan Ci yu ju ciat, tujuan Cu Thong menggunakan iimu maut itu bukan lain adalah hendak membunuh lawannya secepat mungkin. Dada Cu Goan Kek termakan telak oleh pukulan maut itu, ia menjerit kesakitan, darah segar menyembar keluar dari mulutnya dan binasalah jago nomor dua dari perkumpulan Hong-im-hwie ini. Pertempuran itu benar-benar berlangsung amat seru dan mengerikan, belum cepat mayat Cia Kim dan Cu Goan Kek roboh terkapar diatas tanah, pertarungan massal yang amat serupun sudah berlangsung. Delapan puluh orang jago lihay dari perkumpulan Hong im Hwae bersama-sama terjun kedalam geianggang pertarungan, yang masih tinggal dalam barak hanya Jin Hian yang baru saja kehilangan lengan kiri nya serta nenek buta yang belum sembuh dari luka dalamnya. Sebaliknya dari pihak pendekar kalangan lurus, mulai dari Hoa Hujin hingga kebawah sebagian besar ikut terjun dalam pertarungan massal itu, kini yang masih berpeluk tangan hanya Siang Tang Lay yang cacad dan menderita luka parah, keempat orang muridnya yang melindungi keselamatan sang guru, Biau-nia Sam-sian setia Chin Wan-hong. Dilam sekejap mata, jeritan-jeritan ngeri berkumandang silih berganti, meskipun dari pihak kalangan lurus hanya berjumlah dua puluh dua orang tapi sebagian besar merupakan jago-jago lihay yang berhasil lolos dalam pertempuran berdarah dipertemuan Pak beng hwee, lagi pula mereka semua telah bersepakat untuk membunuh pihak lawan dengan serangan kilat, oleh karena itu begitu terjadi pertempuran seru, perkumpulan Hong-im-hwie yang merupakan kelompok paling lemah diantara Tiga maha besar dalam dunia persilatan segera mengalami gempuran hebat yang mengakibatkan rontoknya kekuatan tersebut. Jin Hian yang menyaksikan anak buahnya banyak yang roboh bergelimpangan diatas tanah jadi tercekat dan sedih sekali, ia segera menjerit kalap.
"Thian Ik-cu! Pek Siau-thian! aku orang she Jin...."
Belum habis ia berkata, dari barak sebelah kiri berkumdanglah suara bentakan keras dari Hian Leng cu.
"Pek pangcu, sekarang sudah tiba saatnya bagi kita untuk turun tangan"
Dia ayun pedang mustikanya dan terjun kedalam gelanggang lebih dahulu.
Dalam sekejap mata, hawa pedang membumbung tinggi keangkasa, ratusan orang, anggota perkumpulan Thong-thiankauw mengikuti dibelakang Hian Leng cu, Pia Leng-cu dan Cing Leng cu terjun kedalam gelanggang pertarungan massal.
Luka yang diderita Pek Siau-thian paling ringan, luka itu sudah selesai dibalut.
Saat itu sambil memegang tanda perintah Hong-lui-leng yang memancarkan cahaya keemasan ia berdiri diatas sebuah meja, matanya yang jeli mengamati situasi dalam gelanggang, namun ia tetap tidak buka suara untuk mengirim kekuatannya.
Terdengar malaikat pertama Sim Kiam d ri Liong-bun Siang-sat membentak dengan suara keras.
"Saudara-saudara dari perkumpulan Hong-im-hwie, cepat menghindar kesayap kanan!"
"Hmmm! mau menghindar kemanapun tidak mungkin bisa!"
Sahut Cu Thong dewa yang suka pelancongan dengan suara dingin.
Weeeess....!
ia lepaskan pukulan dahsyat ke depan.
Tatkala menyaksikan datangnya pukulan telapak yang merah membara bagaikan baja yang membara, Malaikat pertama Sim Kian merasa amat teperanjat, ujarnya.
"Ilmu sesat apakah yang dilatih oleh kakek tua bermuka merah ini? nampaknya mengerikan sekali"
Setelah berhasil lolos dari ancaman musuh, ilmu lay in sin jiau nya segera dikerahkan menembusi angkasa dan menyergap kemuka. Tiba-tiba terdengar Hoa Hujin membentak dengan suara dalam.
"Giok Liong! Bong Pay! segera belok kesayap kanan dan sambut kedatangan para jago dari perkumpulan Hong-imhwie!"
Para jago dan perkumpulan Hong-im-hwie pada waktu itu sudah berbelok kesayap kanan, para imam dan sekte agama Thong-thian-kauw bagaikan air bah segera menerjang masuk kegelanggang, ratusan bilah pedang berkilauan di angkasa membuat suasana bertambah mengerikan.
Chin Giok-liong serta Bong Pay sekalian menyadari bahwa kekuatan mereka masih belum mampu untuk membendung serangan tersebut, mendengar perintah dari Hoa Hujin dengan cepat mereka menyingkir kesayap kanan dan menghadapi orang-orang dari perkumpulan Hong-im-hwie.
Tiba-tiba dengusan dingin bergema diudara, seorang pria berbadan bagaikan beruk melayang masuk kedalam gelanggang, sekilas cahaya hitam kontan meluncur kedepan.
Hian Leng cu mengerutkan dahinya, ia segera membentak.
"Yang datang apakah Ciu Thian-hau dari gunung Huan san?"
Pedangnya berkilat, sebuah serangan balasan segera dilepaskan.
"Traaanng....! Traaang....! Traang....! beberapa kali benturan nyaring mengakibatkan percikan bunga api berterbangan di angkasa, begitu bertemu muka kedua orang itu sudah terlibat dalam suatu pertarungan yang amat seru. Ciu Thian-hau dari gunung Huan San mendengus dingin, golok tipisnya yang berkilauan tajam secara beruntun melepaskan belasan jurus serangan berantai, namun kesemuanya berhasil dipunahkan oleh Hian Leng cu, dari pihak golongan pendekar, ilmu silat yang dimiliki Ciu Thianhau hanya sedikit dibawah Hoa Hujin, sebaliknya Hian Leng-cu adalah jago yang berilmu paling tinggi dari pihak lawan, karena iti meskipun orang she Ciu itu sudah menyerang dengan segala kemampuannya namun tetap gagal untuk merebut posisi yang lebih menguntungkan. Dalam pada itu, It sim hweesio Ti Kiam Hui telah memutar senjata sian cang nya untuk bergebrak melawan Pia Leng-cu, sedangkan Hoa Hujin menghadapi Ceng Leng cu, enam orang terbagi dalam tiga kelompok bertempur dengan serunya. Karena keenam orang itu merupakan jago-jago yang berkepandaian paling lihay, maka sekalipun terjadi pertempuran massal namun tak seorang manusiapun yang mampu terjun dalam pertarungan diantara enam orang tadi, Hian Leng cu, Pia Leng-cu dan Cing Leng cu dari pihak Thong-thian-kauw telah membendung kekuatan dan pihak pendekar yang berilmu paling tinggi, dengan terjadinya pertarungan tersebut maka daya tekanan terhadap pihak perkumpulan Hong-im-hwie pun jauh berkurang. Pada waktu itu, malaikat pertama Sim Kian dari Liong-bun Siang-sat bettempur seru melawan dewa yang suka pelancongan Cu Thong, malaikat kedua Sim Ciu melawan Cu Im taysu, Yan-san It-koay bertempur melawan jago pedang bernyawa sembilan Suma Tiang-cing, sedangkan Thian Seng cu dan Cing Si cu dari perkumpulau Thong-thian-kauw bertempur melawan Tio Sam-koh, sisanya terlibat dalam pertempuran massal. Bentakan keras bergeletar bagaikan guntur, kedua belah pihak saling bertempur dengan serunya, tapi disebabkan jumlah anak murid dari perkumpulan Thong-thian-kauw sangat banyak, dari pihak Hong-im-hwie masih terdapat belasan orang jago, ditambah pula tiga puluh orang pengawal pribadi golok emas, maka kendatipun dalam pertempu ran seru itu pihak pendekar berhasil membunuh banyak musuh, namun keadaan mereka kemungkinan terancam maut. Sepanjang pertarungan itu berlangsung, kelompok makhluk aneh yang menyerupai sukma-sukma gentayangan itu masih tetap duduk tenang dalam barak, kehadiran mereka mendatangkan firasat yang jelek bagi setiap orang disana. Siang Tang Lay yang selama ini mengikuti terus jalannya pertarungan itu, mendadak berbisik kepada seorang muridnya yang bera da disamping.
"Kalian berputarlah ke arah tenggara dan serbu kedalam gelang-gang, sergap jalan mundur pihak Hong-im-hwie dan usahakan untuk membasmi mereka semua dan muka bumi!"
Keenam orang pemuda itu menunjukkan sikap keberatan, mereka segera memberi hormat s?ambil berseru.
"Suhu....!"
Siapa yans berani membangkang perintah ku?
bintaik Siang Tang Lay dengan mata melotot.
Enam orang pemuda iiu tak berani banyak bicara lagi, mereka segera memberi hormat dan terjun kedalam gelanggang.
Meskipun usia beberapa orang itu masih muda namun ilmu silat mereka sudah mendapat warisan langsung dari Siang Tang Lay, tenaga dalam yang mereka milikipun sudah mencapai kesempurnaan, karena itu setelah mereka berenam terjun kegelanggang lewat arah tenggara dan menyergap jalan mundur dari tiga puluh orang pengawal pribadi golok emas, dalam waktu singkat para jago dari perkumpulan Hongim-hwie sudah keteler hebat dan mendekati ambang kehancuran.
Pengawal pribadi golek emas mempunyai keahlian dalam bertempur secara bersamaan sebaliknya keenam orang murid dari Siang Tang Lay ini paham dengan ilmu barisan Lak liong si thian kian tin, begitu terjadi bentrokan langsung, dalam sekejap mata ada delapan sembi lan orang pengawal pribadi golok emas roboh binasa ditangan mereka.
Jin Hian yang menyaksikan jalannya pertarungan itu dari dalam barak jadi panik sekali, ia tahu jika pertarungan ini dilanjutkan lebih jauh, massa pihak pendekar pasti akan berhasil merebut posisi yang menguntungkan, sedang perkumpulan Hong-im-hwie akan hancur berantakan dan tergeser namanya dari dunia persilatan.
Ia jadi marah bercampur dendam, tiba-tiba sorot matanya dialihkan ke arah Pek Siau-thian yang berada dalam barak diseberang, dengan suara menguntur teriaknya.
"Tua bangka she Pek, lihatlah apakah ini?"
"Apa?"
Bentak Pek Siau-thian sambil berpaling.
Jin Hian angkat tangannya, sebilah pedang kecil yang memancarkan cahaya keemasan segera muncul didepan mata.
Pek Siau-thian merasakan jantungnya bergentar keras, teriaknya tanpa Sadar.
"Aaaah! pedang emas"
"Heehh.... heeh.... heehh.... sedikitpun tidak salah, inilah pedang emas,"
Jawab Jin Hian sambil tertawa dingin.
Ia sambit pedang itu kedepan, sekilas cahaya emas berkelebat ketengah udara, setelah membentuk satu lingkaran busur, pedang emas itu langsung ketengah gelanggang dimana pertempuran massal sedang berlangsung.
"Haahhh.... haahhh.... haahhh.... bagus sekali tua bangka she Jin rupanya engkau sengaja menciptakan berita yang mengatakan pedang emas itu dicuri orang, rupanya engkaui sedang berbohong!"
Tampaklah pedang emas yang berbentuk kecil itu berputar diudara lalu rontok kebawah dan tepat berada dialas kepala Cu Im taysu. Siang Tang Lay yang berada dibawah barak buru-buru membentak keras.
"Taysu, cepat rampas pedang emas itu!"
Cu Im taysu tersenyum, pikirnya.
"Dalam keadaan situasi semacam ini, apa gunanya benda yang tak berfaedah itu?"
Ssmentata ia masih sangsi, tiba-tiba sesosok bayangan manusia berkelebat menembusi angKasa dan menyambar pedang emas itu.
Cu Im taysu dapat melihat bahwa orang yang menyambar pedang emas itu bukan lain adalah Thian Sengcu dari perkumpulan Thong-thian-kauw, senjata sekop peraknya segera ditusuk ke arah tubuhnya.
Thian Sengcu tertawa tergelak, badannya melentak dan bergeser dua depa ke arah samping, setelah lolos dan tusukan sekop lawan, pedangnya segera diayun kemuka menotok ujung senjata sekop, sementara tangan kirinya melanjutkan gerakan untuk merampas pedang emas itu.
Malaikat kedua Sim Ciu yang sedang bertempur melawan Cu Im taysu ketika menyaksikan senjata sekop lawan berputar menyerang Thian Seng cu, ia tak mau membuang kesempatan yang sangat baik itu dengan begitu saa tetapi sebelum serangan dilepaskan tiba-tiba dilihatnya pedang emas itu sudah hampir didapatkan oleh Thian Seng cu.
Sebagai seorang yang tamak akan harta, dengan cepat dia urungkan serangannya untuk menghajar Cu Im taysu, diamdiam ilmu Tay in tin jiau nya dikerahkan dan menghantam lambung Thian Seng cu secara diam-diam.
Thian Seng cu yang menutulkan pedangnya pada ujung sekop Cu Im taysu sebenarnya berhasil meminjam tenaga pantulan itu untuk merebut pedang emas dan melayang keluar dari gelanggang, siapa tahu baru saja ujung pedangnya berhasil menutul diujung sekop mendadak lambungnya terasa sakit bagaikan tertusuk, hawa murninya buyar dan tubuhnya toboh keatas tanah.
Sekalipun begitu, imam tua tadi bukanlah seorang manusia tolol setelah menyadari bahwa ia terbokong lawan, pedangnya segera diayunkan menghantam pedang emas tadi sambil berseru.
"Susiok, sambutlah pedang itu!"
Cu Im taysu hanya pusatkan perhatiannya untuk membunuh musuh, ia sama sekali tak pikirkan pedang emas itu didalam hati, karena kuatir malaikat kedua Sim Ciu menyergap dirinya, dengan cepat sekop peraknya di babat keatas tubuh Thian Seng cu yang baru saja rontok dari udara.
Serangan sekop perak itu dilepaskan dengan kecepatan bagaikan sambaran petir, dahsyatnya luar biasa.
"Ploook....!"
Dengan telak bacokan itu bersarang diatas pinggang Thian Seng cu membuat imam tua itu menjerit ngeri, mutah d rah segar dan binasa seketika itu juga.
Malaikat kedua Sim cu yang menyaksikan usahanya sia-sia belaka jadi gusar melihat mayat dari Thian Sang cu meluncur dihadapan mukanya, ia segera lancarkan satu tendangan kilat yang membuat mayat tadi mencelat kembali ke arah Cu Im taysu, bersamaan itu pula badannya maju kedepan meneruskan sergapannya.
Pedang emas yang dipukul oleh Thian seng cu dengan pertaruhan nyawa itu segera mencelat kembali diudara dan meluncur ke arah Cing Leng cu.
Pada waktu itu Cing Leng cu yang sedang bertempur melawan Hoa Hujin sedang kebat kebit hatinya karena kejut bercampur keder, dalam keadaan begitu tak sempat baginya untuk pecahkan perhatian mengurusi soal pedang emas tersebut.
Ketika dilihatnya pedang emas itu meluncur datang, ia putar badan sambil bergeser kesamping kemudian melayang ke arah depan meneruskan pertarungan lebih jauh.
Hoa Hujin, Ciu Thian-hau, It Sim hweesio, Hiang Leng cu sekalian berada disekitar tempat itu, Hoa Hujin sekalian yang berniat untuk membalas dendam sama sekali tak mau pecahkan perhatian karena soal pedang emas itu.
Hian Leng cu dan Pia Leng-cu sendiri juga merupakan siluman-siluman tua yang berpengala-man, mereka tahu bahwa soal pedang emas masih merupakan suatu tanda tanya yang belum terjawab, merebutnya dalam keadaan dan saat seperti ini sama sekali tak ada gunanya, bahkan malahan akan mendatangkan pembunuhan bagi diri mereka, karena itulah meskipun pedang emas tadi menyambar lewat dari sisi beberapa orang berkepandaian tinggi itu, namun tak ada seorang manusiapun yang mau mempedulikan, mereka tetap mengerahkan kepandaian masing-masing untuk bertempur sengit melawan musuhnya.
Pedang emas itu setelah meluncur sejauh beberapa tombak, daya luncurnya makin lemah dan akhirnya roboh keatas tanah, Chin Pek-cuan yang kebetulan berada disampingnya dengan cepat menyambar senjata tadi dan dicekalnya dalam tangan.
Dari Ciu Thian-hau ia sempat mempelajari suatu ilmu langkah yang luar biasa sekali hebatnya dalam sekali bergerak tahu-tahu tubuhnya sudah terlepas dan kurungan senjata lawan dan berhasil merampas pedang emas itu.
Suara hentikan nyaring berkumandaog dari empat penjuru, ber puluh-puluh orang musuh serentak menyerang ke arahnya.
Semua peristiwa itu berlangsung dalam sekejap mata, Pek Siau-thian yang berdiri diatas meja ketika menyaksikan pedang emas itu sudah terjatuh ketansan Chin Pek-cuan, ia segera membisikan sesuatu kesisi telinga Cukat racun Yau sut, panji Hong lui kie dikibarkan dan bentaknya.
"Pelindung hukum panji kuning mengikuti Kunsu untuk turun menuju kegelanggang!!"
Cukat racun Yau Sut menyingkap badannya dan cabut keluar sebilah pedang pendek, eriaknya.
"Pelindung hukum panji kuning, ikutilah aku!"
Suara sahutan bersema gegap gempita, seratus orang pelindung hukum panji kuring dengan mengikuti dibelakang Yau Sut, bagaikan gulungan air bah segera terjun kedalam gelanggang.
Dengan dipimpin oleh Cukat racun Yau Sut, sepasukan jago lihay itu bergerak menuju ke arah tenggara, kelompok pelindung hukum panji kuning ini merupakan jago pilihan yang berkepandian silat amat tangguh, terjangan mereka kedalam gelanggarg kali ini benar-benar dahsyat dan mengerikan sekali.
Malaikat pertama Sim Kian selain bertempur melawan dewa yang suka pelancongan Cu Thong, itupun bertugas mengatur anak buahnya serta memberi petunjuk kepada anggota perkumpulan Hong-im-hwie untuk melakukan perbuatan, ketika menyaksikan para anggota perkumpulan Sin-kie-pang menyerang lewat arah belakang, ia jadi gusar sekali se-hingga hampir saja hendak mrunkan perintah untuk beradu kekuatan dingan pihak perkumpulan Sin-kie-pang.
Tapi ia tahu Hao Goan Siu mati ditangan mereka berdua, perselishan dan dendam kesumat yang terjadi antara pihak Hong-im-hwie dengan kaum pendekar sudah terlalu dalam hingga sukar diselesaikan maka sambil menahan rasa dongkol dihati ia membentak keras.
"Saudara-saudara dari perkumpulan Hong-im-hwie semuanya bergeser kesamping kiri!"
Mendapat perintah tersebut, semua jago dari perkumpulan Hong-im-hwie siap bergeser kesamping kiri dan memberikan musuh yang ada disayap kanan kepada pihak perkumpulan Sin-kie-pang.
Siapa tahu dari pihak perkumpulan Sin-kie-pang sudah mempunyai rencana sendiri, mereka bermaksud menggunakan kesempatan hari ini untuk melenyapkan kekuatan dari perkumpulan Hong-im-hwie.
Tampaklah Cukat racun Yau Sut kembali ulapkan tangannya, ratusan orang jago dari kelompok panji kuning tiba-tiba menyebarkan diri dan menerobos kebelakang barisan pihak Hong-im-hwie, hal ini membuat pasukan dan pihak Hong-im-hwie segera terjepit ditengah kepungan, meskipun mereka ayun senjata sambil berteriak keras namun tak seorangpun diantara mereka yang secara langsung kontak senjata dengan pihak pendekar.
Diantara perkumpulan Sin-kie-pang, Hong-im-hwie dan Thong-thian-kauw bila membicarakan tentang soal ilmu silat maka ilmu silat Hian Leng ki, Pia Leng-cu serta Cing Leng cu dari perkumpulan Thong-thian-kauw lah yang paling tinggi, berbicara tentang banyaknya anggota dan pergalamannya panglima perang maka perkumpulan Sin-kie-pang yang nomor satu.
Dalam pertempuran yang terjadi pada saat ini, tiga orang imam tua dari perkumpulan Thong-thian-kauw telah berhadapan dengan para pendekar berilmu tinggi sedangkan Hong-im-hwie bertanggung jawab dalam serbuan pertama maka bila dibicarakan sesungguhnya, maka posisi pihak Sinkie-pang lah yang paling menguntungkan.
Jin Hian yang menyaksikan peristiwa tersebut dengan cepat memahami siasat keji dari Pek Siau-thian, ia jadi mendendam dan bencinya luar biasa namun jago tersebut hanya bisa menggertak gigi belaka tanpa mampu berbuat apa-apa lagi, sebab seluruh kekuatan perkumpulan Hong-im-hwie telah terjun sedalam arena dan ia tidak memiliki kekuatan lagi Ketika ia berpaling ke arah pihak perkumpulan Sin-kiepang, tampaklah para Tong cu nya, para Hiangcu, serta pelindung hukum yang berjumlah hampir melebihi tiga ratus orang masih utuh berkumpul dibelakang Pek Siau-thian, kekuatan sebesar itu masih mencerminkan suatu kekuatan yang maha besar.
Tiba-tiba Bong Pay membentak keras, sepasang telapaknya didorong kemuka secara berbareng, Seng Sam Hau itu hweesio yang gemar makan daging dan minum arak dari perkumpulan Hong-im-hwie segera terhajar telak dadanya oleh pukulan itu, ia muntah darah segar dan mundur kebelakang dengan sempoyongan, akhirnya sepasang kakinya jadi lemas dan roboh tercengang keatas tanah.
Dalam perkumpulan Hong-im-hwie, Seng Sam Hau menduduki kursi nomor lima, dia adalah seorang hweesio yang gemar minum arak, main perempuan dan suka membunuh orang, hal ini Bong Pay sebagai seorang pemuda yang masih cetek pengalamannya ternyata mampu membinasakan hweesio tadi.
Hal ini mencerminkan bahwa para jago dari perkumpulan Hong-im-hwie rata-rata sudah pecah nyali dan patah semangat.
Terdengar dua kali bentakan gusar berkumandang datang, dua orang pengawal pribadi golok emas menyerbu kedepan menggunakan kesempatan tersebut, Bong Pay yang baru saja melepaskan serangan belum sempat berdiri tegak ketika bacokan golok dari pria yang ada disamping kiri telah menyambar tiba.
Tak bisa dihindari lagi, bahu kiri Bong Pay termakan oleh bacokan itu sehingga darah segar memancarkan keluar dengan deras nya, hampir saja badannya roboh keatas tanah.
Chin Giok-liong yang kebutalan berada disekitar sana, dengan cepat menerjang maju, pedangnya dibacok kemuka berulang kali memaksa dua orang pengawal pribadi golok emas itu buru-buru mengundurkan diri.
Terdengar dewa yang suka pelancongan Cu Thong berteriak keras.
"Anak Pay dan Giok Liong segera mundur kekiri dan mendekat dengan paman Yap!"
Dari ayahnya Chin Giok-liong berhasil mempelajari pula ilmu langkah Lian Ngo heng mi sian poh hoat atau ilmu langkah dewa pemabok yang diperoleh dari Ciu Thian-hau, dalam pertempuran massal tersebut ternyata ilmu langkah itu mendatangkan faedah yang amat besar bagi dirinya, ia bisa berkelebat kekanan atau menerobos kekiri dengan leluasa.
Ketika mendengar perintah dari Cu Thong, ia segera putar pedang mendesak mundur musuh yang ada didepan mata serta melindungi Bong Pay bergeser kekiri.
Tiba-tiba terdengar Hoa Hujin berseru dengan suara berat.
"Tiong Liau, bertempurlah dengan mantap dan sabar, jangan terlalu rakus dengan pahala. Sementara itu suasana dalam gelanggang pertempuran kalut sekali, suara betrokan senjata dan bentakan gusar amat memekikan telinga, namun seruan dari Hoa Hujin yang disertai dengan tenaga dalam amat sempurna itu ternyata berhasil didengar oleh setiap orang dengan amat nyaring, hal ini mengakibatkan semua orang terperanjat dan kesadaran otak merekapun pulih kembali. Tiga harimau dari keluarga Tiong sejak mendapat pelajaran dari Hoa Thian-hong, mereka bertiga selalu melatih dasar tenaga dalam aliran perkampungan Liok Soat Sanceng, ilmu telapak yang mereka pelajari adalah ilmu pukulan Kun-siu-citauw dari Ciu It-bong, kemudian atas warisan dari Lun tok sian ci merekapun berhasil mempelajari barisan Sam seng bu kek tin, ilmu kerja sama yang luar biasa ini sangat hapal sekali mereka gunakan. Pada saat ini suami istri dan anak tiga orang yang harus bekerja sama menghadapi serbuan para jago dari perkumpulan Thong-thian-kauw segera menarik keuntungan yang sangat besar, hanya sayang watak mereka bertiga amat benci pada kejahatan dan tidak takut mati, setelah terjadi pertarungan pasti ada diantara mereka yang berusaha merncari pahala dengan pertaruhan jiwa, karena itu seringkali mereka harus menghadapi banyak mara bahaya yang mengancam keselamatan mereka. Dan kini kembali Tiong Liau berusaha hendak menerjang maju seorang diri, ketika mendengar teguran dari Hoa Hujin buru-buru ia mundur kembali kebelakang. Pertarungan massal yang berlangsung kali ini merupakan suatu pertarungan massal paling besar yang terjadi dalam dunia persilatan setelah diadakannya pertemuan Pak beng hwee, dan merupakan satu-satunya pertarungan sengit yang pernah terjadi setelah dunia persilatan menjadi tenang selama belasan tahun. Para jago yang terlibat dalam pertmpuran itu, baik dari pihak Sin-kie-pang, Hong-im-hwie, Thong-thian-kauw serta golongan pen dekar mencapai jumlah hampir tiga ratus orang banyaknya meskipun keempat belah pihak sama-sama mempunyai pemimpin, tapi berhubung ilmu silat yang jauh berbeda maka, tak lama setelah terjadi pertempuran itu sua sana berubah jadi sangat kalut, orang yang memiiki ilmu silat agak rendah semuanya terdesak dalam keadaan yang sangat berbabaya dan setiap saat jiwa mereka terancam Pasukan perkumpulan Sin-kie-pang dibawah pimpinan Cukat racun Yau sut yang bertahan dilingkaran luar selalu melancarkan serangan bila ada kesempatan, meski pun tidak memperlihatkan kekuatan sepenuhnya namun dibawah perlawanan pihak Hong-im-hwie yang semakin kalap dan makin nekad karena posisi mereka makin terjepit, pihak pendekar merasakan daya tekanan yang menekan mereka kian lama kian bertambah besar hingga hampir saja tak mampu mempertahankan diri. Hoa Hujin yang diam-diam memperhatikan situasi dalam gelanggang mulai merasa amat gelisah, ia menyadari bahwa kekuatan pihaknya amat sedikit sedang jumlah musuh besar sekali, jika pertarungan dengan sistim prajurit lawan prajurit, panglima lawan panglima semacam ini dibiarkan berlangsung lebih lanjut maka akhirnya seluruh pasukan akan musnah ditempat itu. Perempuan itupun tahu, untuk menolong keadaan seperti ini, maka satu-satunya jalan yang bisa ditempuh adalah menggunakan kekuaatan yang paling hebat dipihaknya untuk menyerang kekuatan menengah pihak lawan dengan kekuatan menengah pihaknya menyerang kekuatan paling bawah pihak musuh, meskipun akhirnya kedua belah pihak akan samasama musnah namun jumlah musuh yang bisa mereka lenyapkan akan jauh lebih banyak. Setelah berpikir sampai disitu, ia segera menggertak gigi dan memperketat serangannya menghajar Cing Leng cu. Setelah Hoa Hujin ambil keputusan untuk membinasakan musuhnya, Cing Leng cu tak mampu mempertahankan diri lagi, dalam waktu singkat pedang mustikanya berputar dengan kencang dan menghindar terus tiada hentinya, sementara mulutnya membentak penuh kemarahan, keadaan dari imam tua tersebut bagaikan seekor binatang yang masuk perangkap. Hian Leng cu yang menyaksikan peristiwa itu jadi amat terperanjat, dengan cepat ia lancarkan beberapa buah serangan berantai kemudian berusaha untuk menerjang ke arah Leng cu. Terdengar Ciu Thian-hau membentak keras, golok tipisnya melancarkan serangan ampuh secara bertubi-tubi dengan jurus yu hun hoan im atau sukma gentayangan irama pembetot, kiu ci coan lay atau sembilan irama menusuk hati serta Cu thian kui im atau malaikat langit bayangan setan ia gencet Hian Leng cu untuk tetap bertahan diposisi semula. Angin pukulan berhawa dingin yang menusuk tulang, segulung demi segulung memancar keluar mengikuti putiran telapak kirinya. Ciu Thian-hau segera memutar pula telapak kirinya untuk memunahkan pukulan-pukulan beracun dari lawannya. Tapi berhubung tenaga dalamnya masih rendah, hawa dingin itu sempat pula menerobos masuk kedalam tubuhnya membuat ia kedinginan dan sukar bertahan. Terdengar Siang Tang Lay berteriak keras.
"Hoa Hujin, jangan terlalu terburu nafsu!"
Baru saja perkataan itu diutarakan, nafsu membunuh telah menyelimuti seluruh wajah Hoa Hujin, ia maju kedepan sambil melepaskan satu pukulan yang maha dahsyat ke arah tubuh Cing Leng cu.
Pukulan yang dilepaskan dengan kecepatan bagaikan sambaran kitat ini tak sempatditangkis oleh Cing Leng cu dengan pedang nya, dalam keadaan apa boleh buat terpaksa imam tua itu ayun pula telapak kirinya untuk menerima datangnya arcaman tersebut dengan keras lawan keras.
"Blaaamm....!"
Suatu bentrokan yang memekikan telinga terjadi ditengah gelanggang, tubuh Cing Leng cu mencelat kebelakang dan roboh terkapar keatas tanah, darah segar memancar keluar dari mulutnya setinggi empat lima depa, sebelum tubuhnya mencium tanah selembar jiwanya telah melayang tinggalkan raganya.
Paras muka Hoa Hujin berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, dengan tubuh sempoyongan ia menerjang ke arah Hian Leng cu.
Melihat datangnya terjangan itu, Hian Leng cu jadi amat terperanjat, pedang mustikanya diputar kencang melindungi seluruh badan, sementara kakinya selangkah demi selangkah tanpa sadar mundur ke arah belakang.
"Ciu heng!"
Bentak Hoa Hujin dengan suara keras,"
Serahkan imam tua ini kepadaku!"
Ciu Thong Haud ari gunung Huansan menyadari bahwa dia masih bukan tandingan dari Hian Leng cu, mendengar seruan tersebut sambil mengepos tenaga ia segera tekan hawa racun dalam tubuhnya keluar tubuh, sementara tubuhnya berputar kesamping dan menyerbu ke arah kiri.
00000000000 MESKIPUN Ciu Thian-hau bukan tandingan dari Hian Ling cu, namun jika dibandingkan dengan jago-jago lainnya maka keadaan jago tersebut ibaratnya harimau di tengah kawanan kambing, di mana golok tipisnya berkelebat jeritan ngeri bergema memecahkan kesunyian, dalam sekejap mata Siang Kiat dari perkumpulan Hong-im-hwie serta lima orang pengawal golok emas telah menemui ajalnya diujung golok jago ini.
Tiba-tiba terdengar Pia Leng-cu membentak keras, pedangnya diangkat keatas dan menusuk ke arah dada It sim hweesio.
Menghadapi tusukan tersebut, buru-buru It sim hweesio mengundurkan diri kebelakang dan berusaha melepaskan diri dari kejaran senjata lawan....
Kendatipun begitu pedang lawan masih sempat bersarang diatas dadanya sedalam empat cun dan melukai paru-parunya meskipun tidak sempat mencabut selembar jiwanya namun cukup memberikan luka yang berarti.
Pada saat yang bersamaan sekelompok para pendekar kembali ada seorang mati ditangan musuh, Chin Giok-liong yang termakan oleh babatan pedang Ngo Ing toojin dari perkumpulan Thong-thian-kauw hampir saja mengorbankan lengan kanannya.
Pertarungan yang sedang berlangsung pada saat ini benarbenar suatu penarungan yang sengit dan mendebarkan hati, seluruh bumi bergoncang dan mayat bergelimpangan dimanamana.
Sekelompok makhluk aneh dalam barak yang selama ini membungkam terus hingga detik itu belum menunjukkan sikap apapun, Thian Ik-cu dari perkumpulan Thong-thiankauw yang baru saja kehilangan kakinya kendatipun seandainya pertarungan itu mendapat kemenangan total iapun tak akan bisa bergembira.
Jin Hian paling sedih diantara beberapa orang itu, ia saksikan anggota perkumpulannya yang bertempur kian lama kian sedikit banyak diantaranya sudah terluka dan menemui ajalnya hal ini membuat ia ja di putus asa dan semangat tempurnya lenyap tak berbekas, ia hanya bisa menyaksikan pertarungan berakhir dengan kematihan bagi pihak perkumpulannya.
Diantara kelompok-kelompok besar, Pek Siau-thian lah yang paling bangga memiliki kekuatan yang paling besar, rencana yang paling sempurna serta tata susunan ketentaraan paling terbaik hingga saat itu meskipun pelbagai pihak sudah banyak yang mampus dan terluka parah, hanya perkumpulan Sin-kie-pang yang belum menderita kerugian barang sedikitpun, secara diam-diam ia sudah dapat merasakan jika selesai berperang maka kemungkinan besar seluruh kolong langit akan jatuh ketangan perkumpulan Sin-kie-pang.
Dalam barak para pendekar yang masih ketinggalan hanya Siang Tang Lay, Biau-nia Sam-sian serta Chin Wan-hong, lima orang berhubung ilmu silat yang dimiliki Chin Wan-hong terlalu cetek, Hoa Hujin tidak memperkenankan gadis itu turun serta dalam pertempuran itu sedangkan Kiu-tok Sianci dengan umat persilatan didataran Tionggoan belum pernah terikat perselisihan apapun apa bila keadaannya tidak terlalu memaksa, Hoa Hujin merasa segan untuk menarik Biau-nia Sam-sian terjun dalam kancah pertempuran itu, maka untuk sementara waktu ia perintahkan tiga dewi dari wilayah Biau itu untuk tetap tinggal dibarak.
Siang Tang Lay ada maksud untuk terjun kedalam gelanggang tapi sayang keadaan tidak mengijinkan dia untuk berbuat demikian.
Chin Wan-hong yang berotak cerdik dan seksama menghadapi setiap masalah sewaktu menyaksikan Hoa Hujin berhasil membinasakan musuh namun Siang Tang Lay bukan saja tidak menunjukkan watak gembira sebaliknya malah murung dan sedih, diam-diam dalam hati kecilnya timbul kecurigaan, setelah bersabar beberapa saat akhirnya ia bertanya.
"Siang loocianpwee ilmu pukulan yang dimiliki Hoa Hujin begitu lihay dan hebatnya mengapa ia tak mau melukai beberapa orang musuh lagi?"
Siang Tang Lay menghela napas panjang.
"Aaai....! ilmu pukulan yang dilatih hujin adalah sejenis ilmu pukulan Thian lui ciang yang keras dengan sejenis ilmu pukulan Hek sat ciang yang sangat beracun, dua jenis ilmu pukulan itu jika digabungkan menj di satu maka keadaannya menyerupai air dalam guci, bila digunakan setetes berarti akan berkurang setetes, jika seluruh tenaganya habis dipergunakan maka keadaannya bagaikan lentera kehabisan minyak dan akbatnya jiwa sendiripun tak dapat dipertahankan"
Mendengar penjelasan itu Chin Wan-hong merasa amat terperanjat kembali ia bertanya lebih jauh.
"Berapa lama tenaga pukuian itu baru akan habis digunakan?"
"Tentang soal ini sulit untuk dikatakan, tapi tenaga pukulannya sebesar apa yang telah digunakan untuk menghadapi Cing Leng imam busuk itu mungkin tinggal sekali dua kali lagi, setelah itu tenaga dalamnya akan musnah sama sekali"
Baik Chin Wan-hong maupun Biau-nia Sam-sian yang mendengar keterangan itu sama-sama merasa amat terperanjat.
Setelah duduk termangu-mangu untuk beberapa waktu lamanya, tiba-tiba Chin Wan-hong berpaling ke arah Lan-hoa Siancu sambil berkata.
"Toa Suci, jangan biarkan tenaga dalamnya punah sama sekali"
"Aku sendiripun ingin mewakili hujin untuk menghadapi lawan-lawannya"
Sahut Lin hoa siancu dengan dahi berkerut.
"tapi ilmu si lat yang dimiliki dua orang imam tua itu terlalu tinggi, kami tak mampu untuk mendekati tubuhnya"
Tiba-tiba terdengar Chin Pek-cuan membentak, dengan penuh kegusaran, begitu keras suaranya sehingga memotong percakapan mereka.
Dengan cepat mereka alihkan sorot mata nya ketengah gelanggang, ternyata secara tiba-tiba Cukat racun Yau Sut telah terjun pula kedalam gelanggang pertarungan dan menghadang jalan pergi Chin Pek-cuan.
Dalam pertarungan itu tentu saja Chin Pek-cuan bukan tandingannya, ditambah pula anak murid perkumpulan Thongthian-kauw menyerang dari empat penjuru, hal ini membuat ia jadi kalang kabut dan terjerumus dalam keadaan yang sangat berbahaya.
Cbin Wan Hong amat menguatirkan keselamatan ayahnya, melihat kejadian itu dengan gelisah ia berteriak.
"Oooh....! toa suci...."
Lan hoi siancu ulapkan tangannya, kemudian berseru.
"Li hoa, Ci wi, ikutilah aku!"
Tubuhnya dengan cepat bergerak menuju ketengah gelanggang.
Li-hoa Siancu dan Ci-wi Siancu membuntuti dari belakang, ketiga orang itu langsung menyerbu ke arah garis belakang perkumpulan Sin-kie-pang.
Meskipur tiga dewi dari wilayah Biau seringkali berkelana dalam dunia persilatan namun mereka belum pernah menjumpai pertarungan sehebat ini menghadapi medan pertempuran yang luas sedikit banyak hati mereka merasa gugup juga dan tak tahu apa yang musti dilakukan.
Terdengar Pek Siau-thian berteriak dari kejauhan.
"Hati-hati perempuan suku Biau itu melepaskan racun!!"
"Ehmm! benar juga perkataannya itu"
Pikir Lan-hoa Siancu dalam hati, ia segera membentak nyaring.
"Yang takut mati harap menyingkir, yang berani silahkan maju kedepan!"
Sepasang telapaknya diayun berulang kali, selapis senjata rahasia bubuk pemabok yang tak berwujud dan berbau segera tersebar ke luar.
Sejak menyaksikan munculnya tiga orang gadis suku Biau itu, para jago dari perkumpulan Sio Kie pang sudah menunjukkan perasaan waspada, buru-buru mereka tutup pernafasan dan melancarkan pukulan kedepan.
Angin pukulan yang maha dahsyat bergabung jadi satu menyambut datangnya sarangan dari Biau-nia Sam-sian hal ini memaksa ketiga orang gadis itu terpaksa harus mengundurkan diri dari arena.
Chin Pek-cuan yang menghadapi serangan dan empat penjuru mala tak kuat mempertahankan diri, hatinya amat gusar, dengan cepat pedang emas itu disambitkan ke arah Ngo ing Cinjin dari perkumpulan Thong-thian-kauw sambil membentak keras.
"Nih!! kuhadiahkan kepadamu!!"
Cukat racun Yau Sut tersenyum, ia jangkau lengannya mencengkeram pedang emas itu.
Dengan gerakan tubuhnya yang cekatan dan lincah, dalam sekali berkelebat gagang pedang itu berhasil ditangkap olehnya.
Ngo ing Cinjin yang menyaksikan pedang emas yang sedang melayang ke arahnya tiba-tiba dirampas oleh Cukat racun Yau Sut ditengah jalan, hawa amarahnya segera berkobar, pedang berbentuk aneh dalam genggamannya segera disapu keluar membacok tubuh pedang emas itu.
Cukat racun Yau Sut mendengus dingin, pikirnya didalam hati.
"Hmm kalau aku tidak memberi sedikit pelajaran kepada kamu semua, kalian hidung kerbau sialan pasti tak akan tahu sampai dimanakah kelihayan dari Yau ya mu ini...."
Ingatan tersebut dengan cepat berkelebat dalam benaknya, menanti pedang berbentuk aneh dari Ngo ing Cinjin sudah hampir membacok diatas padang emas tersebut, kelima jarinya baru berputar kencang dan menyongsong datangnya bacokan tadi dengan ujung pedang emas yang tajam.
Criiiing....!
ditengah benturan nyaring senjata berbentuk aneh dari Ngo ing toojin yang membentuk pedang emas itu seketika kutung jadi dua bagian.
Ngo in toojin bertambah marah, dengan putungan pedangnya ia menerjang maju makin kedepan diiringi dengusan nyaring ia lancarkan sebuah tusukan kedepan.
"Bangsat! rupanya sudah bosan hidup!"
Bentak Cu kat racun Yau Sut dengan gusar.
Pedang emas diputar kebawah....
Criiing!
kutungan pedang berbentuk aneh dari Ngo ing toojin itu kembali tersayat hingga tinggal lima enam cun saja panjangnya....
Kegusaran Ngo ing toojin mendekati kalap, ia sambit kutungan pedang itu ke arah wajah Yau Sut sementara tubuhnya ikut menerjang kedepan pukulan berantai dilepaskan sicara bertubi-tubi mengurung seluruh tubuh lawan.
Para anggota perkumpulan Thong-thian-kauw yang berada disekitar tempat itu ketika menyaksikan Ngo ing toojin bertempur melawan Yau Sut merekapun ikut-ikutan berganti haluan dan arahkan serangan gencar mereka ke arah pasukan dari perkumpulan Sin-kie-pang.
Cukat racun Yau Sut tertawa dingin, badannya berputar kencang, dengan jurus hang sau cian kim atau menyapu rata selaksa prajurit, pedang emasnya diayun kemuka menyambut datangnya serbuan tersebut.
"Triiing! triiing!"
Benturan-benturan nyaring berkumandang memenuhi angkasa, senjata-senjata yang dimiliki para anggota perkumpulan Thong-thian-kauw sama-sama tertebas kutung jadi beberapa bagian oleh ketajiman pedanj e-mas itu.
Sementara dalam hati kecilnya, Cukat beracun ini berpikir.
"Meskipun pedang kecil ini sangat tajam namun tak lebih hanya merupakan sebilah senjata mustika, kalau dipergunakan tetap terasa ngotot dan menggunakan banyak tenaga, sedikitpun tak mirip apa yang tersiar dalam dunia persilatan apalagi cahaya yang terpancar keluar sama sekali tidak menyolok, aneh benar! kenapa bisa begitu?"
Tiba-tiba terasa desiran angin tajam yang memekikan telinga, diiringi daya tekanan yang maha berat menyergap datang dari belakang tubuhnya.
Ketika ia berpaling kebelakang, tampaklah Chin Pek-cuan tanpa menimbulkan sedikit suarapun telah menyusup kebelakang tubuhnya sambil melepaskan satu pukulan dahsyat.
Jelas anak murid perkumpulan Thong-thian-kauw tidak ada menghalangi usaha Cing Pek Cuan untuk melancarkan serangan maut kea rah Cukat racun Yau Sut.
Diam-diam orang she Yau ini menyumpah dalam hati kecilnya.
"Tua bangka sialan? engkau benar-benar tak tahu diri...."
Pedang emasnya dikebas ke arah depan, dan diapun segera melancarkan sebuah serangan balasan.
Diantara sekelompok mmusia yana sedang bertarung ini, ilmu silat yang dimiliki Cukat racun Yau Sut jauh lebih tinggi daripada yang lain, sekarang sambil putar pedang emasnya untuk menghadapi serangan gencar dan pihak lawan, secara diam-diam iapun mengawasi keadaan disekeliling tempat itu.
Mendadak ia temukan kurang lebih satu tombak disebelah kanannya, terlihatlah seorang kakek tua baju hitam sedang bertempur sengit melawan orang-orang dari perkumpulan Hong-im-hwie, senjata yang dipergunakan adalah sebilah pedang mustika.
Terhadap pedang emas yang berada dalam cekatannya ini ia sudah timbul perasaan curiga, dalam benaknya segera timbul ingatan untuk mencoba ketajaman senjata tersebut, maka ia menggeserkan tubuhnya mendekati kakek tua baju hitam itu.
"Traang! tiba-tiba terdengar bentrokan nyaring ditengah arena senjata sian ciang dari It sim hweesio saling membentur dengan senjata pusaka dari Pia Leng-cu sehingga kutung jadi dua bagian. Menggunakan kesempatan yang sangat baik ini, Pia Lengcu menerjang lebih kedepan, pedang mustikanya membentuk berjuta-juta ti tik bintang dan secara beruntun menyerang tubuh It sim hweesio. Dalam sekejap mati padri itu terkena lima tusukan kilat mengakibatkan darah segar mengucur keluar dari mulut-mulut lukanya. Ditengah kancah pertempuran massal ini, semua orang bertempur dengan saling berdesakan, tiada banyak tempat ruang yang dapat dipergunakan untuk menghindarkan diri, setelah menderita luka parah dan senjatanya kutung, maka It sim hweesio sudah tiada kekuatan untuk melepaskan serangan balasan lagi, kelihatannya ia bakal mampus diujung pedang Pia Leng-cu. Chin Thian Hau dari gunung Hang San yang kebetulan berada didekatnya, ketika menyaksikan kejadian itu segera membentak keras, sebuah pukulan dahsyat dilepaskan menghantam tubuh seorang imam berusia penengahan yang berada dihadapannya, isi perut imam tersebut kontan terpukul hancur dan mayatnya mencelat ke arah tubuh Pia Leng-cu. Tangan kiri Pia Leng-cu sepera ditebas kemuka menyingkirkan mayat imam berusia pertengahan yang menerjang ke arahnya itu, kemudian pedangnya disapu kedepan membabat pinggang It sim hweesio.
"Lihat golok"
Bentak Ciu Thian-hau.
Cahaya tajam berkilauan di angkasa, sambaran goiok itu dengan cepatnya telah meluncur tiba.
Buru-buru Pia Leng-cu putar pedang menangkis datangnya ancaman tersebut, It sim hweesio segera merebut pedang seorang imam dan ikut menyerang dari arah samping, dengan begitu Pia Leng-cu harus menghadapi serangan gabungan dari Ciu Chian Hau serta It sim hweesio.
Tiba-tiba terdengar suara bentakan keras yang diiringi suara dentingan nyaring berkumandang memecahkan kesunyian.
Rupanya Suara Tiang Cing yang selama ini tak mampu merebut kemenangan lama kelamaan jadi mendongkol juga, hingga menimbulkan sifat kejinya sebagai seorang pendekar pedang berjiwa sembilan, pedangnya segera diputar bagaikan hembusan angin puyuh, telapak kirinya melepaskan pukulanpukulan maut yang memaksa Yan-san It-koay terpaksa harus menyambut setiap pukulan dengan pukulan dan sedang bacokan pedang dengan tangkisan gelang.
Setelah melakukan bentrokan-bentrokan kekerasan sebanyak dua puluh jurusan, sekujur tubuh dari dua orang itu sudah berubah jadi lemas dan kehabisan tenaga, napasnya terengah-engah bagaikan kerbau, namun Suma Tiang-cing sama sekali tak ada minat untuk hentikan pertarungan.
babatan pedang ditangan kanan, pukulan dahsyat ditangan kiri masih saja dilepaskan terus tanpa berhenti.
Yan-san It-koay yang tak mampu menyelesaikan pertarungan itu terpaksa harus memutar tangan kirinya untuk menyambut tusukan pedang dengan gelang hitam, sementara lengan kanannya melepasken satu pukulan ke arah dada Suma Tiang-cing.
Maksudnya jika Scma Tiang Cing memunahkan pukulannya itu, maka ia bisa menggunakan kesempatan tersebut untnk ganti jurus dan melepaskan diri dari kurungan manusia ganas ini, siapa tahu pertarungan dengan cara beradu jiwa ini justru sangat penuju dengan maksud hati Suma Tiang-cing bahkan boleh dibilang ibaratnya Pucuk dicinta ulam tiba.
Gelang dan pedang saling beradu keras, tubuh kedua orang ini sama-sama bergetar seras sehingga melejit samping, gerakan pukulan yang dilepaskan tiba-tiba makin cepat meluncur kedepan dan Blaaam!
pukulan dari Suma Tiang-cing dengan telak bersarang di atas dada Yan-san It-koay, sebaliknya pukulan yang dilepaskan Yan-san It-koay bersarang dibawah ketiak Suma Tiang-cing.
Isi perut kedua orang itu sama-sama menderita luka parah, mereka memuntahkan darah segar dan roboh terjengkang kebelakang, Suma Tiang-cing yang terkena pukulan persis dibawah ketiaknya mengakibatkan lima batang tulang rusuknya patah, jika dibandingkan luka yang dia derita jauh lebih berat dan parah.
Yan-san It-koay yang roboh kebalakang hampir saja menumbuk diatas tubuh dewa yang suka pelancongan Cu Thong, namun kakek gemuk pendek itu tidak ambil perduli, sepasang kakinya berputar dan tubuhnya segera berkelebat kesampmg menyongsong kedatangan malaikat pertama Sim Kian.
Ilmu silat yang dimiliki Malaikat pertama Sim Kian seimbang dengan kepandaian dari Cu Thong, dua orang itu telah bertempur sebanyak tiga ratus jurus lebih tanpa seorangpun berhasil merebut kemenangan.
Sewaktu malaikat pertama Sim Kian melihat tubuh Yan-san It-koay tiba-tiba roboh terjengkang kebelakang, tanpa berpikir panjang lagi ujung bajunya segera dikebas kedepan dan menanan punggungnya sehingga rekannya itu tidak sampai mencium tanah.
Cu Thong yang melihat kejadian itu tak mau sia-siakan kesempatan bagus itu dengan begitu saja, pukulun gencar dan serangan jari bagaikan hembusan angin puyuh dilepaskan secara berantai.
Dalam pada itu, Suma Tiang-cing yang terjengkang kebelakang segera menumbuk tubuh seorang pengawal golok emas sehingga membuat orang itu ikut roboh dan persis jatuh dikaki seorang murid dari Siang Tang Lay.
Murid dari Siang Tang Lay itu membentak keras, pedangnya berkelebat secepat kilat, percikan darah segar berhamburan di angkaka dan batok kepala pengawal golok emas yang naas itu segera berpisah dengan tubuhnya.
Setelah sempoyongan mundur dua langkah kebelakang, Suma Tiang-cing berhasil mempertahankan tubuhnya, ia merasakan bawah kakinya sakit sekali hingga tak tahan ia muntah darah kembali.
Tapi dengan wataknya ysng keras kepala dan berangasan, ia tak sudi menyudahi pertarungan tersebut sampai disitu saja, setelah mengatur napas sebentar, ia seseri membentak keras dan sekali lagi menerjang ke arah Yan-san It-koay.
Meskipun luka dalam yang diderita Yan-san It-koay lebih ringan, namun ia sudah patah semangat, ketika menyaksikan datangnya terjang maut dari Sama Tiang Cing yang berwajah menyeringai seram, hatinya bergidik dan pecah nyali, terbiritbirit ia menyingkir kesamping.
"Bajingan keparat, engkau akan kabur ke mana?"
Bentak Sama Tiang Cing dengan gusar.
Pedang mustikanya dikebas kedepan, selapis cahaya tajam yang amat menyilaukan mata dengan cepatnya mengurung seluruh batok kepalanya.
Terdengarlah jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memenuhi angkasa, ketika Suma ang Cing mengebaskan pedang mustikanya ke arah depan, terbanglah semangat Yan-san It-koay untuk menghada pinya hingga paras mukanya berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, tak ampun lagi lengan kirinya sebatas sebatas sikut terputus hilang, darah dan hancuran daging bercampur jadi satu membuat keadaan betul-betul mengerikan sekali.
Sepasang mata Suma Tiang-cing telah berubah jadi merah darah, tiba-tiba ia membentak keras dengan suara yang dahsyat bagaikan guntur, pedang mustikanya kembali berkelebat kedepan membacok batok kepalanya.
Sskujur badan Yan-san It-koay bergetar keras ketika mendengar suara bentakan yang kerad bagaikan guntur membelah bumi itu, kesadaran otaknya berangsur menurun, terasa cahaya tajam berkelebat lewat dan tahu-tahu batok kepalanya sudah terbelah jadi dua.
Pertempuran itu benar-benar merupakan suatu pertempuran berdarah yang sangat mendebarkan hati, seluruh orang yang berada di sekitar tempat jtu merasakan hatinya bergetar keras, sisa laskar perkumpulan Thong-thian-kauw dan Hong-im-hwie yang menyaksikan kejadian itu merasakan nyalinya pecah dan bulu kuduknya bangun berdiri, mereka mulai mengamati keadaan disekelilingnya dan berusaha menjauhi Suma Tiang-cing yang dianggapnya sebagai malaikat elmaut.
Dengan semakin menipisnya kekuatan dari pihak Thongthian-kauw dan Hong-im-hwie, kekuatan dan daya pengaruh pihak Sin-kie-pang kelihatan semakin besar dan mengerikan.
Tatkala para pendekar saling bentrok deng an laskar perkumpulan Sin-kie-pang, mereka merasakan daya tekanan yang menggempur mereka begitu besarnya hingga sukar ditahan, dari dua puluh dua orang laskar kaum pendekar yang terjun kedalam gelanggang ada empat orang diantaranya telah menemui ajalnya dan lima orang menderita luka pa rah.
Pada waktu itu Hoa Hujin berduel melawan Hian leng cu, Ciu Thian-hong dan It sim hweesio yang menderita luka bersama-sama menghadapi Pia Leng-cu, Cu Thong bertempur sengit melawan malaikat kedua Sim Ciu sedangkan sisanya bertempur melawan sisa laskar dari golongan Thong-thiankauw serta Hong-im-hwie.
Keadaan mereka semua nampak sangat berbahaya dan gawat sekali, seandainya keenam orang murid Siang Tang Lay tidak memberikan pertolongan yang besar, mungkin sedari tadi mereka semua sudah musnah di tangan musuh.
Biau-nia Sam-sian masih tetap bertahan di luar garis pertahanan oleh pukulan gabungan para jago lihay dari perkumpulan Sin-kie-pang, kendatipun mereka telah berusaha dengan sepenuh tenaga tapi usaha itu selalu mengalami kegagalan.
Barisan pelindung hukum panji kuning dari perkumpulan Sin-kie-pang ini bukan saja berjumlah sangat banyak, berilmu tinggi dan sangat teratur bahkan mereka mempunyai sistim bertahan dan menyerang yang disiplin, serbuan mereka dikala pasukan pendekar telah lelah dan kehabisan tenaga ini ibaratnya gulungan ombak ditengah samudra yang menghempit sampan kecil.
Pek Siau-thian yang selama ini berdiam diatas meja sambil mengawasi medan pertempuran sudah mengetahui bahwa waktunya sudah tiba, dalam hati segera pikirnya.
"Sekarang kekuatan laskar perkumpulan Hong-im-hwie sudah mengalami kehancuran dan kemusnahan, pihak Thong-thian-kauw bukan merupakan suatu ancaman yang serius lagi sedangkan sekelompok manusia setan itu kendatipun mencurigakan sekali rasanya kehebatan mereka juga tak akan berkelebihan, dunia persilatan sejak kini akan menjadi daerah kekuasaan perkumpulanku.... Berpikir sampai disini, paras mukanya segera berubah dan dihiasi senyuman penuh ke-banggaan dan kesadisan, ia melirik sekejap sekeliling tempat itu kemudian angkat tinggi tanda perintah Hong Im leng tersebut. Delapan orang pria baju hitam yang berada dikedua belah sisinya segera membunyikan teronpet secara berbareng. Begitu bunyi terompet berkumandang di angkasa, ditengah gelanggang segera berkumandanglah suara bentakan yang gegap gempita, ratusan orang pasukan panji kuning dari perkumpilan Sin-kie-pang bagaikan kesurupan serentak menyerbu kedalam gelanggang dan menyapu setiap orang yang dihadapinya. Dipihak lain, Poan thian jiu atau Tangan sakti pembalik langit Ho Ke Sian beserta keenam orang Tongcu lainnya dengan memimpin masing-masing laskar menyumbat seluruh mulut lembah sehingga siapapun jangan harap bisa keluar masuk dengan leluasa, rupanya sebelum mendapat persetujuan dari Pek Siau-thian, setiap orang tak mungkin dapat meninggalkan lembah Cu-bu-kok. Dalam pada itu, pertempuran yang berlangsung dalam gelanggang berlangsung makin sengit, rupanya laskar kaum pendekar terancam kemusnahan dalam serbuan tersebut. Lan-hoa Siancu merasa panik dan gelisah sekali, pikirnya dihati.
"Meskipun kami datang kemari untuk melindungi keselamatan sumoay, tapi setelah berada disini sudah sepantasnya kalau memberi bantuan kepada mereka semua, toh kami tak dapat menyaksikan semua orang menemui ajalnya tanpa ditolong...."
Berpikir sampai disitu, ia segera membentak keras.
"Li hoa, Ci Wi, ikutilah aku!"
Sepasang kakinya menjejak tanah dan membungbung tinggi keangkasa, kemudian meluncur ke arah tengah gelanggang.
Li-hoa Siancu dan Ci-wi Siancu yang menyaksikan tindakan kakak seperguruan mereka dengan cepar enjotkan badan pula menerobos ketengah gelanggang dengan melewati atas kepala musuh-musuhnya.
Jilid 11 BILA berbicara tentang ilmu silat, diantara laskar panji kuning dari perkumpulan Sin-kie-pang itu banyak diantaranya yang memiliki ilmu silat jauh diatas tiga dewi dari wilayah Biau, tentang hal ini Biau-nia Sam-sian sendiripun mengetahui, jika mereka menerobos masuk kedalam arena berarti mereka harus menempuh mara bahaya.
Tetapi kepandaian racun dari wilayah Biau sudah amat tersohor di kolong langit, sedikit banyak para jago dari perkumpulan Sin kie nang sudah menaruh rasa segan terhadap ketiga orang gadis itu, karenanya ketika tiga orang gadis itu berkelebat lewat, semua ang gota perkumpulan Sinkie-pang sama-sama menutup pernapasan sambil bergeser kesamping, pukukan gencar dilepaskan keudara kosong.
Setelah Lan-hoa Siancu melayang diudara, ia lihat dibawahnya penuh dengan manusia dari perkumpulan Sin-kiepang hingga sukar untuk mencari tempat untuk berpijak, dalam keadaan apa boleh buat terpaksa ia membentak keras.
"Kalau kalian masih ingin hidup, ayoh cepat menyingkir dari situ....!"
Ilmu melepaskan racun dari Kiu-tok Sianci memang luar biasa sekali, Biau-nia Sam-sian telah mendapat warisan langsung dari gurunya, kemampuan mereka untuk membunuh orang benar-benar luar biasa sekali.
Baru saja tiga orang itu melayang turun ke atas permukaan, tujuh delapan orang telah roboh tak sadarkan diri diatas tanah, dalam sekejap mata para korban mengeluarkan buih putih dari mulutnya, ada pula yang mukanya berubah jadi hitam, ada yang merintih sambil berguling, ada pula yang berkelejit seperti sekarat, hal ini membuat para jago dari perkumpulan Sin kie Pong jadi ketakutan dan sama-sama menghindarkan diri.
Tetapi setelah orang-orang itu mengundurkan diri sejauh beberapa tombak, mereka segera lancarkan pukulan kembali ke arah lawannya, angin pukulan yang maha dahsyat menggulung tiba dari empat penjuru, hal ini memaksa tiga dewi dari wilayah Biau tak mampu berdiri terlalu lama dan terpaksa melayang kembali ketengah udara.
Pertempuran berdarah ini berlangsung dari malam sampai pagi dan dari pagi sampai malam, banyak korban telah berjatuhan darah berceceran diseluruh permukaan tanah.
Sisa laskar dari perkumpulan Hong-im-hwie yang masih hidup bisa dihitung dengan jari, laskar dari perkumpulan Thong-thian-kauw pun makin surut dan lemah hingga akhirnya tinggal beberapa gelintir.
Han Leng cu serta Liong-bun Siang-sat sekalian kehilangan semangat bertempur, namun dibawah desakan dan teteran Hoa Hujin sekalian, terpaksa mereka harus melakukan perlawanan dengan sepenuh tenaga.
Lembah Cu-bu-kok telah berubah jadi kuburan massal, mayat yang bergelimpangan diatas permukaan hancur tak menjadi rupa apalagi setelah di injak-injak oleh para laskar yang masih saling baku hantam, keringat bercampur darah membasahi pakaian para jago yang masih bertempur, keadaan mereka mengenaskan sekali....
Situasi dalam gelanggang pertarungan kembali mengalami perubahan, dari kelompok pendekar yang masih tetap bertahan tinggal Hoa Hujin, Tio Sam-koh, Cu Im taysu, Chin Pek Lian, Ciu Thian-hau dari gunung Huang-san serta dewa yang suka melancong Cu Thong, enam orang selain itu masih ada lagi Biau-nia Sam-sian serta sisa tiga orang murid Siang Tang Lay yang masih hidup.
Sedang yang lain kebanyakan sudah roboh terkapir diatas genangan darah, ada yang luka parah dan ada pula yang telah menemui ajalnya Ditengah sengitnya pertempuran suara terompet kembali bergema di angkasa, mendengar tanda rahasia, Cukat racun Yau Sut sekalian segera membentak keras dan menggerakkan senjata mereka tidak ambil perduli apakah lawannya dari pihak Thong-thian-kauw, Hong-im-hwie atau kaum pendekar, setiap orang diserang dan dibunuh secara kalap.
Perubahan yang berlangsung secara mendadak dan sama sekali diluar dugaan ini sangat mengejutkan dan menggusarkan hati para laskar dari perkumpulan Thong-thiankauw serta Ho Im Hwee, mereka jadi kelabakan, gelagapan dan tak tahu apa yang musti dilakukan.
Thian Ik-cu naik pitam, ditengah kobarnya api amarah dan perasaan dendam, ia segera menurunkan perintah kepada seluruh anggota perkumpulannya yang masih tersisa diluar gelanggang untuk menyerbu kedalam arena pertarungan, tapi imam-imam muda yang sama sekali tak berpengalaman itu bukan tandingan diri pasukan panji kuning, tidak selang beberapa saat semua pasukan, berhasil ditumpas habis.
Jin Hian pun merasa sangat mendongkol, dia memaki dan menyumpah, saking marahnya hawa murninya sampai menyumbat tenggorokan membuat ia tak mampu mengucapkan sepatah katapun.
Nenek dewa bermata buta yang terluka parah hanya dapat duduk termanggu diatas tempat duduknya tanpa berkutik, setelah mengetahui bahwa perkumpulan Hong-im-hwie berhasil ditumpas habis, ia jadi kecewa dan putus asa hingga selama ini mulutnya membungkam terus.
Darah mengucur keluar derasnya dari mulut luka lengan kiri Jin Hian yang kutung, ia tidak memiliki kemampuan untuk bertempur lagi, hawa murninya saat itu berjalan terbalik, keadaannya bagaikan orang menderita jalan api menuju neraka namun tak seorangpun yang menggubris atau memberi pertolongan kepadanya.
Dalam kancah pertarungan yang kalut itulah Hoa Hujin dengan menghimpun sisa tenaganya berbasil menghajar Hian Leng cu hingga isi perutnya hancur dan menemui ajalnya.
Pada saat yang bersamaan sebuah pukulan danysat dari Cukat racun Yau Sut berhasil mampir punggung malaikat pertama Sim Kian hingga gembong iblis itu maju sempoyongan.
Menggunakan kesempatan itulah Cu Im taysu segera putar senjata sekopnya dan menusuk dada Sim Kian hingga tembus.
Tiba-tiba dari atas tebing sebelah kanan berkumandang datang suara seorang perempuan dengan suara yang amat nyaring.
"Sau Tha turutkan perintah dan hentikan pertempuran!"
Mendengar seruan itu sekujur badan Pek Siau-thian gemetar keras, ia masih ingat Sau Tha adalah nama kecilnya yang jarang diketahui orang, di kolong langit dewasa ini hanya satu orang yang menyebut dirinya dengan nama itu, dan dia bukan lain adalah istrinya yang selama ini dirindukan namun hidup berpisah dengan dirinya.
Terdengar Pek Soh-gie berteriak sambil menangis.
"Ibu....!"
Pek Siau-thian pun tak mampu menahan golakan perasaan hatinya, ia ikut memanggil.
"Hong Bwee!"
Dari tengah udara melayang turun seorang tokoh berbadan ramping berwajah cantik, ditangan kanan Too koh itu menegang sebuah Hud tim sedangkan tangan kirinya mencengkam seorang gadis cantik, dia bukan lain adalah putri bungsu Pek Siau-thian yaitu Pek Kun Gei.
Dengan rasa kejut bercampur girang, Pek Soh-gie segera lari kedepan dan memeluk Pek Kun-gie erat-erat, teriaknya.
"Moay-moay, kami mengira engkau telah mati!"
Paras muka Pek Kun-gie yang cantik kelihatan kurus dan layu, butiran air mata mengembang dalam kelopak matanya, bibir yang kecil mungil kelihatan berkemak kemik, namun tak sepatah katapun yang me-luncur keluar.
Tokoh cantik itu bukan lain adalah istri Pek Siau-thian yang telah hidup berpisah selama banyak tahun, Kho Hong-bwee adanya.
Sudah belasan tahun lamanya Pek Siau-thian tak pernah berjumpa dengan istrinya ini, sekarang setelah berhadapan muka dengan istrinya yang tetap cantik itu, ia tak dapat menguasai pergolakan emosi didalam hatinya, hampir saja ia menubruk kedalam arena memeluk istrinya dan menangis sepuas puasnya.
Terdengar Kho Hong-bwee berkata dengan serius.
"Sau Tha! cepar turunkan perintah dan tarik kembali pasukanmu, aku ada persoalan yang hendak dirundingkan denganmu!"
Pek Siau-thian terperangah.
"Ada urusan apa....!"
Ia merasakan pikirannya kalut tekali, bicara sampai disitu ia segera membungkam dan segera angkat tinggi-tinggi tanda perintah Hong-lui-leng-nya sambil membentak.
"Hentikan penarungan dan tarik semua pasukan!"
Suara terompet berbunyi nyarirg, ratusan orang pasukan panji Kuning yang sedang bertempur segera menarik kembali serangannya dan mengundurkan diri diri gelanggang pertarungan.
Waktu datang cepat bagaikan ombak, waktu surutpun cepat tak terkirakan, memenandakan betapa tertib dan disipliannya organisasi perkumpulan Sin-kie-pang.
Dalam Sekejap mata, dalam lembah Cu bu koh hanya tersisa pandangan yang mengenaskan, sehabis pertempuran massal, hawa pem bunuhan telah lenyap dan seluruh gelanggang diliputi keheningan dan kesepian yang mengerikan dan memilukan hati.
Ditengah darah yang berceceran diseluruh permukaan tanah, mayat bergelimpangan dimana-mana, kutungan badan berserakan disana-sini, di malam yang sunyi dan cahaya bintang yang redup, kuntungan senjata yang memenuhi permukaan memantulkan cahaya yang menyilaukan mata.
Angin malam berhembus sepoi-sepoi, bau amis darah tersebar mengikuti tiupan angin, diantara mayat yang bergemlimpaugan bergema, serentetan suara rintihan yang lemah dan lirih, rintihan tersebut sahut bersahutan dan memperdengarkan nada penderitaan dan siksaan.
Bayangan manusia bergerak ditengah kegelapan, membalikan mayat-mayat dalam gelanggang dan berusaha mencari rekan-rekan yang terluka parah dan belum putus nyawa.
Dalam keadaan begitu, Hoa Hujin kelihatan lemah sekali, seakan-akan seseorang yang baru sembuh dari suatu penyakit yang berat, tenaga dalam yang dimilikinya sudah semakin lemah ibaratnya lampu lentera yang kehabisan minyak, ia berdiri sempoyongan ditengah ceceran darah.
Chin Wan-hong segera memburu kesisinya, memayang tubuh perempuan itu dan perlahan-lahan diajak mundur kedalam barak.
Chin Pek-cuan pertama-tama mencari putranya lebih dahulu, ia temukan Chin Giok-liong menggeletak ditengah genangan darah tanpa berkutik, meskipun tubuhnya termakan oleh lima bacokan golok dan sebuah tusukan pedang, ternyata jiwanya belum melayang.
Air mata bercucuran membasahi wajib Chin Pek-cuan yang tua berkeriput, ia terharu dan wajahnya menunjukkan rasaa gembira dan bangga.
Ditengah mayat-mayat yang bergelimpangan, Tiga dewi dari wilayah Biau berhasil temukan Tiga harimau dari keluarga Tong.
Harimau pelarian Tiong Liu masih hidup, sedangkan istrinya yakni Harimau ompong Tiong loo Poo cu serta putra Harimau bisu Tiong Long karena lukanya yang terlampau parah ternyata sudah lama mati.
Cu Im laysu temukan jenasah dari It sim hweesio, sedang Cui Thian Hau menemukan tubuh Su Tiang Cing, jago pedang bernyawa sembilan ini benar-benar bernyawa rangkap, meskipun tulang rusuknya ada lima biji yang patah dan isi perutnya hampir remuk namun jiwanya belum melayang, lapi Ciu Thian-hau yang membopong tubuhnya baru saja berjalan beberapa langkah, tiba-tiba mereka roboh terjengkang keatas tanah, ternyata jago lihay dari gunung Huang-san ini pun tak kuat menahan lukanya.
Dewa yang suka pelancongan Cu Thong menemukan tubuh Bong Pay, pemuda yang berjiwa besar ini bertempur sampai titik darah penghabisan, terakhir kalinya ia kena di hantam oleh Cukat racun Yau Sut sehingga roboh terjengkang keatas tanah.
Dalam pertarungan massal, pukulan yang dilepaskan Yau Sut rupanya tidak sepenuh tenaga, sekalipun begitu Bong Pay tak sanggup menahan diri dan keaadaannya pada saat itu kelihatan kritis sekali.
Ciong Lian-khek, tiga orang murid Siang Tang Lay beserta jago pedang rambut hijau Yap Su Ciat, beberapa orang jago mati dalam pertarungan tersebut, hanya Tio Sam-koh seorang yang sama sekali tidak ciderfa.
Secara beruntun setelah bertempur melawan Thian Seng cu, Sing Siu cu, Ngi Ing tojin serta dua orang sutenya Thian Seng cu yakni Thian Keng toojin dan Thian Ing toojin dari perkumpulan Thong-thian-kauw, sepanjang pertarungan berlangsung sudah amat banyak musuh yang terbunuh kecuali badan terasa lelah dan tanaga terhisap habis, pperempuan lihay itu sama sekali tidak luka atau cidera.
Dengan begitu dia adalah satu-satunya jago dari golongan pendekar yang paling pemberani dan paling beruntung, Semua orang bekerja keras menolong mereka yang luka dan menying-kirkan mereka yang telah mati, semua jago bekerja dengan mulut membungkam, hal ini membuat suasana jadi hening dan sepi, kendatipun bayangan manusia bergerak kesana kemari tiada hentinya.
Dari pihak perkumpulan Thong-thian-kauw kecuali ketuanya sendiri yaitu Thian Ik-cu yang masih hidup, tinggal Pia Leng-cu dan enam belas orang imam cilik.
Keenam belas orang imam cilik itu bekerja keras menggotong yang luka menyingkirkan yang telah mati, pulang pergi hampir puluhan kali banyaknya namun pekerjaan itu belum iuga selesai, sementara napas mereka sudah tersengkal-sengal dan keringat membasahi seluruh badan.
Sebagian besar anak murid perkumpulan Thong-thian-kauw ini menemui ajalnya dalam serangan kilat yang dilancarkan oleh jago-jago dari perkumpulan Sin-kie-pang yang dahsyat ibarat angin musim gugur yang merontokkan daun.
Dari pihak perkumpulan Hong-im-hwie kecuali nenek dewa bermata buta serta Jin Hian yang tidak ikut terjun kedalam gelanggang, hanya malaikat kedua Sim Ciu seorang yang selamat.
Jin Hian dan Sim Ciu segera bekerja keras mencari rekanrekannya yang terluka, setelah bersusah payah akhirnya kedua orang itu berhasil menemukan sembilan orang yang belum putus nyawa, dan cepat kesembilan orang itu digotong kedalam barak dan diberi pertolongan.
Memandang sisa mayat yang bergelimpangan ditengah gelanggang sebagian besar terdiri dari anggota perkumpulan mereka, dua orang jago lihay itu jadi putus asa dan segan untuk mengurusinya lebih jauh.
Diantara para korban yang terluka maupun mati binasa ternyata tidak terdapat seorangpun anggota perkumpulan Sinkie-pang, dalam pertumpahan darah yang benar-benar mengerikan itu, perkumpulan Thong-thian-kauw serta Hongim-hwie yang menggetarkan sungai telaga tertumpas sama sekali dan sejak detik itu sudah lenyap dari percaturan dunia persilatan.
Posisi segi tiga yang dipertahankan selama puluhan tahunpun sudah hancur berantakan, sekarang tinggal perkumpulan Sin-kie-pang yang merajai kolong langit, mulai detik itu rupanya hanya orang-orang dan perkumpulan Sinkie-pang yang akan malang melintang menguasaku seluruh jaigad, kendatipun masih ada sisa perlawanan dari golongan pendekar, tetapi kekuatan mereka jika dibandingkan maka kaum pendekar boleh dibilang sudah ketinggalan jauh, keadaan mereka ibaratnya telur beradu dengan batu.
"Pasang lentera!"
Tiba-tiba Pek Siau-thian membentak keras.
Suaranya keras dan lantang hingga menggema diseluruh lembah, suara itu penuh wibawa dan mengerikan sekali, seakan-akan diucapkan oleh malaikat sakti yang baru turun dari kahyangan.
Suara langkah kaki manusia bergema diseluruh tempat, dalam waktu singkat semua lembah sudah bermandikan cahaya Lampu lentera.
Selain beratus-ratus buah lentera, para anggota perkumpulan Sin-kie-pang memasang pula beratus-ratus buah obor besar, cahaya api yang berkilauan membuat lembah Cu
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com bu-kok bagaikan ditengah hari bolong, semua suasana ngeri dan menyeramkan yang semula menyelimuti lembah itu segera tersapu lenyap, tinggal suasana gembira dan penuh keagunggan yang menyala-nyala.
Beratus-ratus orang angota perkumpulan Sin-kie-pang berbaris rapi disepanjang mulut lembah, mereka berdiri dengan tegap gagah dan penuh disiplin, sementara sisa laskar perkumpulan Thong-thian-kauw, Hong-im-hwie dan para pendekar ditambah dengan kelompok manusia aneh menyerupai setan masih tetap berdiam diri didalam barak masing-masing.
Seluruh lembah Cu-bu-kok diliputi keheningan dan kesunyian yang mencekam, begitu sepinya sehingga jarum yang jatuhpun kedengaran.
sorot mata semua orsng samasama ditunjukan keatas tubuh Pek Siau-thian, mereka ingin lihat tindakan apakah yang hendak dilakukan olehnya untuk menyelesaikan persoalan ini.
Angin malam berhembus sepoi-sepoi menyiarkan bau amis darah yang sangat memuakkan, obor yang menyala besar memancarkan suara peletak yang membisingkan telinga, mengacaukan ketegangan dan keheningan yang mencekam seluruh lembah.
Pek Siau-thian berdiri tegak diatas meja dengan muka merah bercahaya, tangan kanannya mengelus jenggot sementara tangan kiri nya mercekal tanda perintah Hong-luileng yang memancarkan cahaya keemasan.
sepasang matanya yang memancarkan cahaya tajam perlahan-lahan bergeser kekiri dan kekanans.
Setelah memandang sekejap ke arah sisa laskar perkumpulan Hong-im-hwie, ia mengawasi pula kelompok manusia aneh yang berbadan seperti setan itu, pikirnya didalam hati.
"Mungkin kelompok manusia ini terdiri dari manusia-manusia yang telah lama mengasingkan diri dan baru saja terjun kembali kedalam dunia persilatan, dipandang dari ketenangannya yang menyerupai bukit karang, seakan-akan tak pandang sebelah matapun terhadap pertumpahan darah yang sudah terjadi, bisa dibayangkan kalau pemimpin mereka pas tilah merupakan seorang jago yang benar-benar luar biasa sekali. Setelah berhenti sebentar, ia berpikir lebih jauh.
"Kesempurnaan dalam hal ilmu silat yang diutarakan adalah bukti kenyataan, tak mungkin ilmu itu langsung datang dari langit, meskipun jumlah kelompok manusia aneh itu ada seratus orang lebih, jika dianggap sepatuhnya merupakan jago lihay dan separuhnya lagi jago berkepandaia biasa, itupun jumlahnya baru beberapa puluh orang belaka, apalagi manusia super sakti dalam seratus tahun paling banyak satu dua orang belaka dan itupun kalau aneh dari sini bisa kutarik kesimpulan bahwa sekalipun kedatangan mereka agak mendadak toh tak mungkin bisa membendung serbuan kilat dari jago-jago perkumpulan Sin-kie-pang yang kuhimpun selama hampir dua puluh ta nun lamanya...."
Setelah berpikir pulang pergi beberapa saat lamanya, ia merasa bahwa kehadiran kelompok manusia aneh tersebut bukan merupakan suatu ancaman yang serius.
Sorot matanya segera dialihkan ke arah kelompok para pendekar.
Selama dua hari ini secara beruntun Hoa Hujin telah membinasakan Bu Liang Sinkun, Hian Leng cu dan Cing Leng cu tliga orang.
Ketiga orang jago lihay itu rata-rata memiliki tenaga dalam sebesar enam puluh tahun hasil latihan, kehebatan ilmu silat mereka pun masing-masing memiliki keistimewaannya masing-masing dan kematangannya telah mencapai p da taraf tiada kelemahan lagi.
Jika Hoa Hujin ingin mencari kemenangan dengan andalkan jurus serangan, maka walaupun bertempur selama tiga hari tiga malam jangan harap bisa robohkan tiga orang itu sekaligus.
Perempuan sakti itu berhasil membinasakan tiga orang lawan tangguhnya, kesemuanya itu mengandalkan tenaga kekerasan yang disebut siasat satu tenaga menundukkan sepuluh kumpulan, dengan hawa murni yang sargat kuat, sangat beracun dan sangat bebat hingga tiada tandingan ia cabut nyawa ketiga orang itu dengan kekerasan.
Tapi setelah tiga orang itu mati, seluruh tenaga dalam yang dilatih Hoa Hujin dengan susah payah dalam gua kunopun ludas tak berbekas, kini ia tinggal bawah dasar yang tak berguna, bukan saja ilmu silatnya punah bahkan luka dalam yang ia deritapun kambuh lagi, tubuhnya jauh lebih lemah dari orang lain dan tentu saja tak mungkin bisa bergebrak lagi melawan orang lain.
Kecuali Hoa Hujin seorang, tak ada manusia lain yang ditakuti oleh Pek Siau-thian lagi, sorot matanya segera dialihkan kesisi kiri.
Tiba-tiba ia ingat bahwa istrinya yang cantik dan kini sudah menjadi pendeta masih berdiri serius dihadapannya, kehadiran perempuan itu telah menghalangi daya pandangannya.
Pek Siau-thian segera mendehem ringan, setelah menenangkan hatinya, ia memberi hormat dan berkata sambil tersenyum.
"Hujin harap beristirahatlah kesamping, setelah kuselesaikan semua masalah di sini segera kutemani engkau untuk bercakap-cakap"
Kho Hong-bwee mendengus, lalu berkata dengan nada tawar.
"Ini hari engkau berhasil rebut kemenangan total, seharusnya hatimu sudah merasa sangat puas bukan? masih ada persoalan apa lagi yang hendak kau selesaikan sendiri?"
Walaupun perempuan itu sudah berusia setengah baya, tapi berhubung tenaga dalam yang dilatih olehnya mempunyai daya untuk awet muda, maka walaupun sekarang sudah lanjut usia dan mengenakan pakaian pendeta yang longgar, akan tetapi sama sekali tidak mengurangi kecantikan wajahnya sebagai perempuan yang paling cantik sekolong langit dimasa silam.
Sementara itu Pek Siau-thian terperangah, kemudian sambil memberi hormat, katanya.
"Hujin, engkau sudah lama meninggalkan kedamaian dunia, aku rasa pekerjaan yang kulakukan ini pasti akan menjemukan hati mu, menurut penglihatanku alangkah baiknya kalau hujin jangan turut campur dalam urusan dunia persilatan."
Kho Hong-bwee mengernyiikan sepasang alisnya, dengan sorot mata yang tajam ia melirik sekejap ke arah suaminya, kemudian menjawab dengan suara dingin.
"Sudah belasan tahun lamanya kita tak pernah berjumpa muka, dalam pertemuan kali ini ternyata engkau lebih memberatkan segala tata cara yang tetek bengek, aku rasa tindakanmu ini disebabkan karena kau berada dihadapan anak buahmu sehingga berharap agar aku suka memberi muka kepada mu daripada mengurangi wibawa dan gengsimu, bukan begitu maksudmu?"
Paras muka Pek Siau-thian berubah hebat tapi hanya sebentar saja ia telah jadi tenang kembali seperti sedia kala, sambil tersenyum ia berkata.
"Meskipun Sau Tha adalah manusia persilatan yang kasar sedang hujin adalah seorang manusia terpelajar yang menguasai segala bentuk tata kesopanan tapi sejak kita menikah sekalipun pernah terjadi sedikit kesalah pahaman namun selama ini kita saling hormat menghormati sejak kapan Sau tha bersikap kurang hormat kepadamu?"
Sau tha adalah nama kecil dari Pek Siau-thian yang cuma diketahui oleh Kho Hong-bwee seorang. Terdengar perempuan cantik itu berseru.
"Kalau memang begitu aku ingin menanyakan beberapa persoalan kepadamu!"
"Apa yang ingin hujin tanyakan? asal Sau tha mengerti pasti akan kuterangkan hingga jelas!"
"Siapakah yang mendirikan perkumpulan Sin-kie-pang ini?"
Pek Siau-thian tertawa.
"Kita suami istri yang bekerja sama untuk mendirikan perkumpulan ini"
"Jadi kalau begitu dalam masalah besar yang menyangkut persoalan perkumpulan, aku punya hak untuk ikut membicarakannya bukan?"
Pek Siau-thian agak tersipu-sipu dengan paras merah padam ia tertawa dan mengangguk.
"Tentu saja kita sudah bersumpah untuk sehidup semati, ada rejeki dinikmati bersama ada bencana ditanggulangi berbareng"
Kho Hong-bwee segera ulapkan tamannya mencegah pria itu berbicara lebih jauh, selanya.
"Pembicaraan diatas pembaringan lebih baik tak usah diungkap lagi dalam saat seperti ini aku hanya ingin tahu bagaimana caramu untuk menyelesaikaa persoalan yang terjadi pada saat ini?"
Pek Siau-thian tersenyum.
"Usaha dan perjuangan kita setengah abad lamanya bukan cuma bertujuan untuk menangkan pertarungan yang terjadi pada saat ini kita mempunyai tujuan jauh lebih kedepan...."
Sesudah berhenti sebentar, ia melanjutkan.
"Apakah engkau masih ingat? ketika kita mendirikan perkumpulan Sinkie-pang, kita telah berjanji untuk merajai seluruh kolong langit, menggalang babak baru dalam dunia persilatan, membuat suatu karya yang besar serta melaksanakan kebaikan dan kebajikan bagi seluruh umat manusia....?"
Sekali lagi Kho Hong-bwee ulapkan tangannya, dia menukas.
"Waktu itu kita masih muda dan tak tahu urusan ucapan yang takabur dan tak tahu diri seperti itu tak pantas diutarakan keluar buat apa engkau selalu ingat dihati?" 00000O00000 RASA gusar terlintas diatas wajah Pek Siau-thian, serunya dengan nada marah. Kesemuanya itu adalah harapan kita, cita-cita yang kita susun sejak dahulu dan kini beruntung sekali semua harapan kita menjadi kenyataan, dalam pertemuan ini dunia persilatan telah memasuki babak baru, bukankah itu berarti bahwa perjuangan dan usaha kita selama ini telah mencapai pada hasilnya? "Darimana engkau bisa berkata begitu?"
Sela Kho Hongbwee. Pek Siau-thian berhenti sebentar, kemudian berkata lebih jauh.
"Mulai saat ini, barang siapa menyoren pedang maka itu berarti bahwa dia adalah anggota perkumpulan Sin-kie-pang, bukankah itu berarti bahwa dunia persilatan telah bersatu dibawah perintah kita."
"Bagaimana dengan orang-orang itu?"
Tanya Kho Hongbwee sambil menuding ke arah orang-orang yang berada didalam barak.
"apakah mereka juga merupakan anak buah dari perkumpulan Sin-kie-pang?"
"Semut merupakan binatang terkecilpun ingin hidup apalagi minusia-manusia yang baru lolos dari kematian, aku rasa mereka akan jadi seorang manusia yang tahu diri"
Kho Hong-bwee tertawa terkekeh.
"Jadi maksudmu, andaikata mereka tak mau takluk kepada perkumpulan Sin-kie-pang, maka itu berarti hanya ada satu jalan kematian saja bagi mereka?"
"Benar! kecuali ditumpas sama sekali, aku rasa tiada jalan lain yang bisa dilakukan!"
Kho Hong-bwee kembali tertawa.
"Andaikata semua orang telah menjadi anggota perkumpulan Sin-kie-pang, bukankah itu berarti perkumpulan Sin-kie-pang sudah tiada tandingannya lagi?"
Perempuan itu betul-betul cantik sekali, meskipun hanya tertawa namun sudah cukup memancarkan daya tarik dan daya pesona yang luar biasa, membuat siapapun serasa terpikat hatinya.
Pek Siau-thian sudan lama tak menyaksikan senyuman dari istri-nya, sekarang ia merasa tertegun dan berdiri melongo, dalam keadaan demikian tentu saja ia tak dapat menangkap arti yang sebenarnya dari perkataan itu.
Terdengar Kho Hong-bwee berkata lebih jauh.
"Inilah hasil pengetahuan yang berhasil kutemukan selama belasan tahun menyucikan diri ditempat terpencil, engkau adalah seorang manusia yang berambisi besar dan gemar cari pahala, sekalipun pelaja ran semacam ini dimengerti olehmu, namun engkau tak dapat menerimanya dengan begitu saja"
"Kita toh suami istri yang saling cinta mencintai"
Tukas Pek Siau-thian dengan cepat, ada persoalan apapun bisa kita bicarakan secara perlahan-lahan, meskipun Sau Tha bodoh dan tidak cerdas, namun aku bersedia menuruti keinginan hatimu.
Kho Hong-bwee tersenyum simpul.
"Kita adalah orang tua yang sudah mempunyai anak dewasa, ucapan yang manis serta cumbu rayu yang tak berguna lebih baik tak usah dibicarakan lagi"
Pek Siau-thian terperangah.
"Sebenarnya apa maksudmu?"
Ia bertanya. Kho Hong putar biji matanya yang jeli dan memandang sekejap ratusan anggota perkumpulan Sin-kie-pang yang berjajar dihadapannya kemudian dengan santai berkata.
"Perkumpulan Sin-kie-pang didirikan bersama oleh kita berdua, sudah lama aku mengasingkan diri dan keramaian dunia sedang engkau sudah menguasai perkumpulan ini selama belasan tahun lamanya sepantasnya kalau sekarang engkau memberi kesempatan kepadaku untuk memegang kekuasaan dalam perkumpulan ini dan memimpinnya secara muttak selama beberapa lama"
Mula-mula Pek Siau-thian terperangah kemudian menyadari apa yang dimaksudkan, ia tahu istrinya datang dengan membawa tujuan tertentu walaupun diluar bicara amat santai» dalam tujuannya benar-benar serius.
Jago tua ini dibikin serba salah tak tahu apa yang musti dilakukan olehnya, ia takut wibawa dan gengsinya berkurang di hadapan ratusan orang anggota perkumpulannya, setelah berpikir sebentar akhirnya ia memberi hormat dan berkata dengan serius.
Hong Bwee, bagaimanapun juga kita pernah jadi suami istri, meskipun aku tak becus tapi belum pernah ada niat melukai hatimu, ini hari adalah saat yang paling penting bagi kita untuk menentukan kemenangan atau kekalahan, janganlah disebabkan urusan rumah tangga mengakibatkan urusan perkumpulan jadi terbengkalai hingga menghancurkan masa depan sendiri.
Kho Hong-bwee gelengkan kepalanya, dengan tegas ia berseru.
"Perkumpulan Sin-kie-pang didirikan oleh kita berdua, urusan perkumpulan maupun urusan rumah tangga boleh dijadikan satu!"
Paras muka Pek Sian Thian yang berwarna merah seketika berubah jadi hijau membesi, serunya.
"Hong Bwee, perbuatanmu ini apakah tidak kelewat batas? dengan tinadakanmu semacam itu, engkau letakkan diriku pada posisi yang bagaimana?"
"Ikutilah perbuatan yang telah kulakukan selama ini, serahkan tanda perintah Hong-lui-leng kepadaku, lepaskan tanggung jawab mu atas perkumpulan ini dan pilihlah tempat yang kecil dan tenang untuk belajar agama ataupun falsafah, terserah apa kemauanmu dan apa kegemaranmu, pokoknya yang penting adalah umuk mempelajari ilmu un tuk menguasai diri dan merenungkan kembali semua perbuatan yang telah dilakukan selama ini, lima belas tahun kemudian engkau boleh muncul kembali dan perkumpulan Sin-kie-pang akan kuserahkan kembali kepadamu. Mendengar perkataan itu, dalam hati kecilnya Pek Siauthian segera berpikir.
"Susunan kata-katanya begitu teratur dan lancar, perkataan itiupun diutarakan secara rapi, jelas ia sudah lama memikirkan masalah ini dan merercanakan sebaikbaiknya...."
Selama suami istri itu ribut sendiri, beratus-ratus orang yang hadir disitu hanya membungkam sambil mengikuti dengan seksama, lembah Cu-bu-kok yang begitu luas jadi sepi dan tak kedengaran sedikit suarapun.
Haruslah diketahui pada waktu itu kekuatan dari perkumpulan Thong-thian-kauw, Hong-im-hwie maupun golongan pendekar boleh dibilang sudah hancur berantakan sama sekali, dalam keadaan begitu mereka tak memiliki kekuatan lagi untuk membendung ataupun melawan kekuatan perkumpulan Sin-kie-pang yang kuat dan dahsyat, andaikata Pek Siau-thian turunkan perintah untnk membantai semua orang yang masih tersisa dalam lembah itu, maka orang-orang itu tak akan memiliki kemungkinan untuk hidup lebih jauh.
Oleh sebab itulah perselisihan paham antara suami istri itu bukan saja mempengaruhi kelangsungan hidup perkumpulan Sin-kie-pang pribadi, bahkan sangat mempengaruhi juga nasib dan kesempatan hidup bagi umat persilatan lainnya.
Posisi Pek Siau-thian pada saat itu benar-benar terdesak dan dibuat apa boleh buat, hawa amarah yang memuncak membakar hatinya, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa, sebab tindakan yang terlalu berangasan dan tanpa perhitungan yang masak akan mengakibatkan lelucon yang bakal di tertawakan orang.
Otaknya segera berputar kencang untuk mencari akal bagus guna mengatasi masalah itu, sementara diluaran ia berkata.
"Perkumpulan Sin-kie-pang dirikan bersama oleh kita berdua, semua anggota goan loo mengetahui akan persoalan ini, sebenarnya memang tak jadi soal kalau pucuk pimpinan perkumpulan ini kuserahkan kepadamu, tapi engkau toh seorang perempuan, andaikata engkau yang menjadi pimpinan, aku kuatir para anggota perkumpulan ada yang tak mau tunduk kepadamu"
Kho Hong hwee berdiam diri sebentar, sedang dalam hati kecilnya ia berpikir.
"Andaikata pada saat ini aku tak mampu untuk merebut kekuasaan tertinggi itu maka satu-satunya jalan yang harus kutempuh adalah memancing perpecahan dalam tubuh perkumpulan tersebut hingga terjadinya penghianatan diantara para anggota, bagaimanapun juga aku harus berhasil membubarkan perkumpulan ini, darimana kejahatan mereka sudah mengakar daging dan mendatangkan banyak bencana serta malapetakan bagi umat persilatan...."
Berpikir sampai disint, dengan suara dingin ia lantas berkata.
"Kun Gie pernah berkata kepadaku, setelah engkau mati maka kekuasaan tertinggi dari perkumpulan Sin-kie-pang akan diserahkan kepadanya, benarkah ucapan itu?"
Pek Siau-thian mengerutkan dahinya rapat-rapat.
"Tentang soal ini sulit sekali untuk dilakukan"
"Seandainya bukan putrimu yang meneruskan kedudukan tersebut lalu apa gunanya engkau mendirikan dan membangun perkumpulan itu hingga begini besar dan megahnya.
"Andaikata Kun Gie punyai kemampuan untuk memimpin dan dihormati oleh setiap anggota perkumpulannya tentu saja kedudukan ini akan kuserahkan kepadanya kalau tidak maka terpaksa aku mencari ahli waris yang lain."
Tidak menunggu ia menyelesaikan kata-katanya, Kho Hong-bwee segera menukas dengan cepat.
"Kalau memang begitu tak usah dibicarakan lagi, kalau memang Kun Gie dapat menduduki kursi kebesaran tersebut untuk memimpin perkumpulan apa bedanya antara pria dan wanita? setelah ia diangkat sebagai ketua siapa yang berani membangkang perintahnya lagi? dan lagi toh kita punya hubungan suami istri siapa tak tunduk kepadaku, berarti tidak setia kepadamu, aku rasa lebih baik serahkan saja kekuasaanmu itu dengan lega hati."
Hawa amarah membakar dalam dada Pek Siau-thian, ia tahu jika perselisihan ini di lanjutkan maka akhirnya yang rugi dia sendiri, maka dengan muka masam serunya.
"Hong Bwee, engkau bukanlah seorang perempuan yang bodoh, sepantasnya kalau engkau lebih mementingkan kepentingan umum!"
"Andaikata aku tidak mementingkan kepentingan umum dan mengingat bahwa masalah ini adalah masalah besar, akupun segan untuk berjumpa lagi dengan dirimu."
Pek Siau-thian jadi amat gusar, nafsu membunuh menyelimuti wajahnya, dengan gemas ia berkata.
"Apabila aku tak sudi menyerahkan kekuasaan ini kepadamu engkau mau apa?"
"Kalau aku tetap bersikeras akan merebut kursi pimpinan tersebut, engkau mau apa?"
Balas Kho Hong-bwee dengan ketus Pek Siau-thian makin mendongkol, ia tertawa dingin tiada hentinya.
"Heehh.... heehh.... heehh....! apabila engkau benar-benar tak tahu diri, terpaksa aku akan putuskan semua hubungan diantara kita dan mencabut selembar jiwamu"
Kho Hong-bwee balas tertawa dingin.
"Heeehhh.... heeeehh.... heeehh.... aku ingin bertanya kepadamu diantara anak buah perkumpulan Sin-kie-pang apakah ada yang bersedia mewakili dirimu untuk turun tangan tergebrak melawan aku?"
Mendengar perkataan itu Pek Siau-thian terperangah tanpa sadar ia berpaling dan memandang sekejap ke arah anggota perkumpulannya kemudian pikirnya didalam hati.
"Andaikata aku Pek Siau-thian memerintahkan anak buahku untuk membunuh istri, perbuatanku ini pasti akan tercemoh orang dan dibuat sebagai suatu lelucon. Heeehhhh.... heeehh.... heeehhh.... keadaanku betul-betul payah sekali"
Ia mengaggap dirinya sebagai seorang pendekar sejati dengan sendirinya sebagai seorang pendekar tidak pantas kalau ia suruh anak buahnya untuk nembunuh istri sendiri.
Tapi pikiran lain segera berkecambuk pula dalam benaknya, ilmu silat yang dimiliki Kho Hong-bwee seimbang dengan dirinya walaupun selama belasan tahun terakhir ia terlatih tekun sehingga ilmu silatnya memperoleh kemajuan yang pesat, namun Kho Hong-bwee yang telah jadi pendeta tak mungkin mengesampingkan soal kepanodaiannya, itu berarti walaupun ada selisih, itu kecil sekail.
Dalam hati ia berpikir kembali.
Aku pernah bertanya kepada Kun Gie kakak beradik, mereka berdua samai tak pernah melihat ibunya berlatih silat, kalau di tinjau dari kemampuan Soh-gie yang begitu tak becus, rasanya ilmu silat yang dimiliki ibunya tak akan mencapai kehebatan yang luar biasa....
Berpikir sampai disitu, hawa amarah yang berkobar dalam dadanya mereda separuh bagian, mukanya segara berubah jadi membesi dengan memperlihatkan kewibawaannya sebagai seorang suami, serunya kepada Kho Hong-bwee dengan suara dingin.
"Hong Bwee, aku telah mengambil keputusan yang tegas, meskipun kita suami istri berdua telah lama saling mencintai tapi aku tak akan mengesampingkan soal umum karena masalah pribadi, aku rasa lebih baik beristirahat dahulu kesamping nanti aku akan meminta maaf padamu,"
Ia berpaling kesamping dan segera membentak.
"Soh-gie, Kun Gie bawalah ibumu untuk beristirahat dahulu didalam barak"
Pek Soh-gie maupun Pek Kun-gie yang mendengar perkataan itu sama-sama alihkan sorot matanya ke arah ibu mereka namun kedua orang itu tetap berdiri tegak ditempat semula tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Kho Hong-bwee tertawa dingin, tiba-tiba ia serahkan senjata Hud tim didalam gengga-mannya kepada Kun Gie lalu kepada Pek Siau-thian bentaknya dengan suara dalam.
"Dalam peristiwa yang terjadi pada saat ini, aku rasa tak mungkin bisa diselesaikan dengan bersilat lidah belaka, lebih baik kita tentukan siapa kuat siapa lemah dalam adu kepandaian, siapa lebih unggul dialah yang berhak menduduki kursi pimpinan!"
Pek Siau-thian merasa amat gusar.
"Engkau benar-benar akan bertempur melawan diriku?"
Bentaknya.
"Hmmm! kalau engkau tak mau undirkan diri, terpaksa aku harus menyelesaikan masalah ini lewat adu kepandaian!"
"Pertarungan yang diakhiri setelah saling menutul ataukah bertarung sampai salah seorang diantaranya mampus?"
Teriak Pek Siau-thian gemas.
"Aku belum akan berakhir jika kemenangan belum sampai jatuh ketanganku, engkau toh seorang pria sejati, kalah satu jurus atau setengah gerakan sudah pantas untuk mengaku kalah sedang aku sebelum mati aku tak akan mengaku kalah"
"Jadi engkau bersikeras untuk mencari kematian?"
Seru Pek Siau-thian dengan menggigit bibir.
"Susah untuk dikatakan, andaikata beruntung aku bisa menangkan setengah jurus atau satu gerakan darimu bukankah kita dapat hidup lebih jauh?"
Pek Siau-thian menggigit bibirnya hingga berbunyi gemerutuk, setelah keadaan berubah jadi begini maka pertarungan antara suami istripun tak bisa dihindari lagi.
Kalau Kho Hong-bwee lebih mengutamakan kenyataan yakni asal dapat menutulkan pukulannya berarti menang, maka Pek Siau-thian harus merobohkan perempuan itu hingga tak mampu bertempur lagi baru bisa di anggap menang, kejadian itu kalau dipikir kembali sebenarnya memang tidak adil.
Tapi Pek Siau-thian adalah seorang jago persilatan yang memimpin kolong langit, berada dibawah pandangan banyak orang tentu saja ia merasa segan untuk menawar syarat yang diajukkan istrinya, sebaliknya asal ia kena di menangkan setengah gebrakan saja itu berati jerih payahnya selama ini serta masa depannya akan hancur dengan begitu saja.
Jadi kalau dibicarakan sesungguhnya maka pertarungan ini mempanyai sangkut paut yang amat sakit dan perih sekali.
Teringat kembali olehnya, sewaktu suami istri tak akur dan Kho Hong-bwee pergi dengan hati mendoogkol, kesemuanya itu dikarenakan perempuan tersebut merasa sangat tak puas dengan tindak tanduknya yang kejam dan telengas.
Kecuali itu, Kho Hong-bwee sama sekali tak ada tindakan yang dikatakan kelewat batas, ia amat mencintai istrinya yang cantik, dalam pandangannya asal suatu hari ia berbasil menduduki kursi pimpinan tertinggi di kolong langit dan semua orang yang belajar silat tunduk pada komandonya, maka pada saat itu istrinya yang ia cintai pasti akan berubah pikiran dan kembali kedalam pangkuannrya.
Haruslah diketahui, pada waktu itu Pek Siau-thian baru setengah umur dan cinta asmaranya belum paham, sedang Khbo Hong Bwee baru berusia tiga puluh tahunan, kecantikannya belum luntur dan cintanya belum padam, Pek Siau-thian belum pernah dapat melupakan cinta kasihnya dengan perempuan itu dan sifatnya itu memang jamak sebagai seorang pria yang normal.
Tetapi, berada dalam keadaan seperti ini, Pek Siau-thian merasa tak rela untuk mengundurkan diri dengan begitu saja, kalau ia tidak ingin roboh maka satu-satunya jalan adalah berusaha merobohkan istrinya dengan ilmu sebangsa totokan, agar perempuan itu tak dapat bertempur lagi, atau jika cara ini tak bisa digunakan, terpaksa harus membinasakan jiwanya.
Pek Siau-thian putar otak habis-habisan berusaha untuk menemukan jalan yang paling baik, akhirnya dia menghela nafas panjang dan bergerak kehadapan Pek Soh-gie, katanya.
"Peganglah tanda perintah Hong-lui-leng ini, setelah benda itu berada ditanganmu berarti pula engkaulah yang memegang tampuk pimpinan dalam perkumpulan Sin-kie-pang!"
Dengan lembut Pek Soh Gi mengangguk, ia sambut panji terbuat dari benang emas itu dengan sepasang tangannya, kemudian dipegang dalam pelukannya.
Gadis ini berwatak lembut dan baik hati ia tak kenal kejelekan orang dalam kolong langit, dalam perselisihan yang terjadi antara ayah dan ibunya, iapun tak tahu siapa yang salah siapa yang benar, gadis itu hanya bisa melelehkan air mata belaka.
Pek Siau-thian melirik sekejap ke arah putri sulungnya, kemudian berpikir dalam hati.
"Andaikata aku kalah, tentu saja aku harus angkat kaki dan jauh meninggalkan tempat ini, selamanya tak bisa berjumpa muka lagi dengan mereka semua, sebaliknya kalau aku binasakan ibunya, sekalipun gadis ini berhati luhur, tak urung diapun akan membenci diriku sepanjang masa...."
Sorot matanya melirik kembali ke arah putri bungsunya, lalu berpikir lebih jauh.
"Tak nyana budak itu berhasil lolos dari kematian, mungkin sewaktu tubuhnya jatuh kedalam jurang kebetulan berhasil disambut oleh ibunya.... Heeh.... heeh.... heeehh.... budak itu mampunyai perasaan hati yang tak berbeda dengan diriku, ia pasti tak akan memperdulikan mati hidupku...."
Berpikir sampai disitu, ia segbera menyingkap pakaiannya dan mengencangkan tali pinggang, lalu selangkah demi selangkah berjalan menuju ketengah gelanggang.
Orang-orang perkumpulan Sin-kie-pang yang menyaksikan ketuanya akan bertarung melawan istrinya dengan cepat daerah sekitar sana dibersihkan dari mayat.
Pek Siau-thian dan Kho Hong-bwee segera terjun kedalam gelanggang dan berdiri saling berhadapan, masig-masing pihak memasang kuda-kuda dan siap bertempur.
Pertarungan yang bakal berlangsung pada saat ini jauh berbeda dengan pertempuran pada umumnya, kedua belah pibak tidak saling menerjang dengan kekasaran, mereka bersikap waspada dan tetap saling menanti.
Seluruh perhatian dipusatkan jadi satu, tenaga dalam dihimpun kedalam telapak dan tubuh merekapun mulai bergeser ke arah samping.
Suami istri ini sama-sama merupakan jago lihay, pergeseran tubuh mereka kian lama kian bertambah cepat, sampai akhirnya bayangan tubuh mereka sudah lenyap tak berbekas yang tersisa di gelanggang hanya bekas-bekas telapak kaki yang samar.
Ujung kaki kedua orang itu sama-sama menuntul diatas permukaan tanah yang penuh genangan darah, namun tak kedengaran sedikit suarapun, darah yang kena terinjak sama sekali tak berkutik, seakan-akan tak pernah ada orang yang lewat situ.
Lembah Cu-bu-kok yang luas dan lebar seakan-akan jadi sebuah lembah yang mati, tak kedengaran sedikit suarapua, beratus-ratus pa sang mata sama-sama ditujukan ketengah gelanggang tanpa berkedip barang sedikitpun juga.
Walaupun sudah berlarian beberapa saat lamanya, kedua belah pihak tak ada yang berani turun tangan, mereka takut kehilangan posisi yang menguntungkan sehingga mengakibatkan kekalahan fatal.
Sambil berlarian mengelilingi arena, diam-diam Pek Siauthian berpikir dalam hatinya.
"Nama besarku sudah menggegarkan seluruh kolong langit, jika aku harus tunjukkan kelemahan dihadapan istri sendiri, bukankah tin-dakanku ini akan ditertawakan orang....?"
Ingatan tersebut laksana kilat berkelebat dalam benaknya, dengan cepat ia mengambil keputusan, telapak kirinya berputar melindungi badan sedangkan kedua jari tengahn dan telunjuk tangan kanannya tiba-tiba melepaskan serangan tajam.
Terdengar Kho Hong-bwee membentak nyaring, tangan kirinya ditebas kebawah membabat pergelangan musuh, tangan kanannya menyapu kedepan dan laksana kilat melancarkan satu pukulan balasan.
Buru-buru Pek Siau-thian merubah gerakan, tangan kanan menahan serangan lawan dengan gerakan Siang ji bu pit atau bersatu padu melindungi dinding, sedang tangan kanan melancarkan serangan dengan Jurus ciong ing po loh atau burung elang menyambar kelinci, kakinya menyapu keatas dan menyerang lutut Kho Hong-bwee secara tiba-tiba.
Ketiga jurus serangan itu dilancarkan berbareng dengan kecepatan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata, jikalau seseorang tak memiliki ilmu silat yang tinggi serta tenaga dalam sebesar puluhan tahun hasil latihan tak mungkin serangan itu dapat dibendung.
Tapi Kho Hong-bwee berhasil merebut posisi yang lebih menguntungkan, jurus serangannya segera berubah dan memunahkan ke tiga jurus serangan dari Pek Siau-thian itu hingga lenyap tak berbekas, telapak dan jari menyerang berbareng secepat kilat ia lancarkan serangan balasan.
Dalam waktu singkat Kho Hong-bwee telah melancarkan dua tiga puluh jurus serangan, kedua tiga puluh serangan itu dilancarkan bagaikan hembusan angin puyuh dan hujan badai, Pek Siau-thian yang kehilangan posisi dengan cepat mengerahkan segenap kekuatannya untuk mempertahankan diri, namun ia selalu gagal untuk merebut kembali posisi yang lebih menguntungkan.
Inilah siasat musuh tak bergerak aku tak bergerak, musuh bergerak aku bergerak lebih dahulu.
Pek Siau-thian adalah seorang pria yang berpandangan luas, ia tahu sekalipun sekarang dirinya diserang habishabisan, tapi suatu ketika ia akan mendapat kesempatan baik untuk rebut kemenangan.
Beberapa saat kemudian, kedua orang itu sudah saling bergebrak hingga mencapai lima enam puluh gebrakan lebih, kedua belah pihak sama-sama mengerahkan segenap kemampuannya untuk merobohkan lawan, setiap jurus pertama belum selesai jurus berikutnya segera menyambung lebih jauh, pukulan berantai dilepaskan berkesambungan hingga sukar ditemukan mana kepala mana ekornya....
Para penonton jalannya pertarungan itu sama-sama merasa terkejut bercampur kagum, serangan berantai dari Kho Hongbwee susul menyusul bagaikan hujan badai yang melanda permukaan bumi, tiada lubang kelemahan yang ditinggalkan, sedangkan Pek Siau-thian sendiri meskipun kehilangan posisi yang menguntungkan namun dengan sepenuh tenaganya ia mampu membendung datangnya lima enam puluh serangan tanpa ada tanda-tanda bakal menderita kalah.
Jurus serangan yang dimiliki kedua orang itu sama-sama ampuh dan cepatnya perubahan yang dilakukan boleh dibilang teah mencapai taraf yang sukar diungkapkan dengan katakata.
Para penonton yang ada disamping arena mulai merasakan pandanngannya jadi kabur dan setiap gerakan sukar diikuti dengan seksama sebagian besar jago persilatan yang mengikuti jalannya pertarungan itu hanya merasakan seakanakan menyaksikan sesosok bayangan manusia yang saling berputar dengan kecepatan bagaikan kilat, lengan mereka berdua saling menyambar kesana kemari dan sama sekali tidak menemukan keindahan ataupun keampuan dari masingmasing gerakan.
Sebaliknya mereka yang memiliki kepandaian yang agak tinggi, walaupun mengikuti separuh bagian yang atas namun separuh bagian yang bawah tertinggal jauh, setelah lama mengikuti jalannya pertarungan mulai merasakan pandangannya kabur, kepalanya pening dan pandangan dihadapannya sama sekali jadi samar.
Diantara beberapa ratus orang jago itu hanya ada beberapa orang saja yang dapat mengikuti semua jalannya pertarungan dengan seksama, tapi berhubung jarak yang terlampau jauh, penglihatan merekapun terhitung payah sekali.
Anggota perkumpulan Sin-kie-pang sebagian besat hanya tahu kalau ilmu silat yang dimiliki pangcunya lihay sekali, tapi mereka tak tahu sampat dimana taraf kelihayan ilmu silat dari Pek Siau-thian, terutama sekali kelihayan dari Kho Hong-bwee, kebanyakan orang merasa banwa peristwa ini benar-benar ada diluar dugaan.
Beberapa saat kemudian, kedua orang itu sudah saling bergebrak hingga mencapai ratusan jurus banyaknya, Kho Hong-bwee selalu memimpin pertarungan itu dan sedikit pun tidak nampak terdesak.
Dalam pada itu, Pek Siau-thian sudah kehabisan tenaga dan mandi keringat, luka ledakan yang dideiitanya akibat pecahan kotak emas milik Siang Tang Lay merekah kembali dan terasa amat sakit, kendatipun luka yang diderita olehnya cuma luka terbakar belaka dan sudah dibungkus dengan bubuk obat.
Dalam pertarungan yang adu cepat dan adu kegesitan ini sedikit banyak luka-luka yang perih sakit dan panas merupakan gangguan yang paling besar lama kelamaan perasaan sakit itu berubah jadi suatu pukulan batin yang sangat berat.
Pek Siau-thian merasa amat terperanjat, segenap tenaga murni yang dimilikinya disalurkan lewat permainan jurus serangan tersebut kian lama serangannya kian semangat ia berusaha menyelesaikan pertarungan adu cepat ini sesingkat mungkin.
Menghadapi pertarungan semacam ini, seseorang membutuhkan konsentrasi yang baik dan tak boleh ada pikiran lain jika pikiran nya sedikit bercabang saja maka segera akan mengakibatkan kekalahan total.
Baca Juga: Kembalinya Sang Pendekar Rajawali 14
Baca Juga: Bangau Sakti 17