Ceritasilat Novel Online

Tiga Maha Besar 5

Eps 5 Tiga Maha Besar - Khu Lung

Baca online Tiga Maha Besar - Khu Lung

Cersil Tiga Maha Besar - Khu Lung.

Pek Siau-thian berpengalaman luas tentu saja mengerti akan bahaya tersebut kecuali mengerahkan segenap kekuatan untuk melakukan perlawanan otaknya berputar keras untuk mencari akal guaa memecahkan persoalan itu.

Dalam pada itu, para jago persilatan ysng menonton jalannya pertarungan mulai merasa tegang dan tercekat perasaan hatinya, mereka tahu bahwa pertarungan itu akan segera berakhir dan siapa menang siapa kalah akan segera diketahui, masing-masing orang membelalakkan matanya lebar-lebar, mereka menatap gerak-gerik dua orang itu tanpa berkedip.

Tiba-tiba....

terdengar Kho Hong-bwee membentak nyaring, sepasang telapaknya berputar kencang melancarkan serangan berantai, ibaratnya panah yang berhamburan bagaikan hujan gerimis, jubah pendetanya terungkap lebar, kakinya yang ramping melepaskan tendangan demi tendangan dengan kepandaian Kun It tui atau tendangan dibalik gaun.

Tubuhnya yang kecil ramping beterbangan diudara, kakinya melayang dan meluncur tiada hentinya, tendangan-tendangan berantai Kun It tui meluncur keluar bagaikan jebolnya bendungan sungai.

Serangan berantai seperti itu berlangsung hampir lima puluh gebrakan lebih, tubuh Kho Hong-bwee sama sekali tidak menempel diatas permukaan tanah, seakan-akan beratusratus buah tendangan berantai itu dilancarkan dalam satu hembusan napas.

Dibawah gencetan serangan berantai yang lihay dan bertubi-tubi itu, Pek Siau-thian dipaksa hingga terdesak hebat dan kerepotan, untuk melindungi diri badannya mundur kebelakang berulang kali sementara sambaran telapaknya memancarkan angin pukulan menderu yang sangat memekikkan telinga.

Tiba-tiba Pek Siau-thian membentak keras ditengah bentakan badannya meluncur kedepan dan tinggalkan permukaan tanah setinggi dua tiga depa dengan cepat ia melesat beberapa tombak melewati lingkaran.

Para penonton dibikin makin tegang perhatiannya ditujukan ketengah gelanggang dan jeritan kaget tiba-tiba bergema memecahkan kesunyian.

Setelah berhasil berdiri tegak, Pek Siau-thian menatap wajah istrinya dengan paras hijau membesi, kegusaran yang membakar hatinya benar-benar sudah mencapai puncaknya.

Pertarungan yang barusan berlangsung merupakan pertarungan sengit yang jarang ditemui dalam masa hidupnya walaupun ia masih mampu untuk mempertahankan diri, namun hasil dari pertarungan itu membuat ia bergidik bercampur ngeri, dan selamanya perasaan tersebut sukar dilupakan dari benaknya.

Kho Hong-bwee sendiri berdiri kurang lebih delapan sembilan depa dari sisi arena, dadanya naik turun bergelombang, napasnya tersengkal-sengkal dan keringat membasahi tubuhnya, didalam pertarungan yang berlangsung barusan ia telah kerahkan segenap kekuatan yang ia miliki, tapi sayang usahanya menemui kegagalan dan akhirnya toh Pek Siau-thian tak berhasil dirobohkan olehnya.

Kedua orang itu segera atur pernapasan untuk menekan pergolakan darah dalam dada masing-masing.

perselisihan pendapat membuat sepasang suami istri ini terpaksa harus melupakan cinta kasih antara mereka, membuat perasaan hati mereka campur aduk tak karuan.

Tapi kedua orang itu mengerti bahwa perpisahan mereka selama belasan tahun sama sekai tidak mengendurkan semangat mereka untuk berlatih ilmu, bahkan kepandaian silat masing-masing pihak berhasil mendapat kemajuan yang cukup pesat, jika pertarungan ini dilanjutkan lebih jauh maka siapapun tak akan merebut kemenangan.

Setelah sunyi beberapa saat, dengan suara dingin Kho Hong-bwee berkata lagi.

"Sau tha hunus senjata tajammu!"

Pek Siau Thiag mengerutkan dahinya, paras muka yang telah tenang terlintas kembali hawa kegusaran yang amat tebal, tegurnya.

"Dendam permusuhan apakah yang terikat kita berdua?"

"Tidak ada urusan dendam atau permusuhan, yang ada cuma pengaruh iblis yang tebal, Pek Siau-thian semakin gusar.

"Aku adalah manusia kasar dari dunia sedangkan engkau adalah dewi dari sorga, maaf aku tak bisa menangkap perkataanmu yang mengandung arti dalam"

Kho Hong-bwee tertawa getir.

"Teringat ketika diraasa lampau kita punya cita-cita dan tujuan yang sama"

"Benar,"

Tukas Pek Siau-thian.

"kalau ada permulaan buat apa ada ini hari?"

Kho Hong-bwee menghela napas panjang dengan sedihnya.

"Pada waktu itu kita masih muda dan tak banyak pengalaman, jalan pemikiran kita pada waktu itu benar-benar keliru besar"

"Hmmm!"

Dengus Pek Siau-thian penuh kegusaran.

"meskipun perkumpulan Sin-kie-pang memiliki anggota yang berpuluh-puluh ribu banyaknya, tapi peraturan perkumpuaan sangat ketat dan tujuan kita amat jelas, bukan saja tak pernah membunuh pembesar untuk memberontak, kami pun tidak...."

Kho Hong-bwee ulapkan tangannya memotong ucapan suaminya yang belum habis, katanya.

"Aku ingin bertanya kepadamu, anggota perkumpulan Sin-kie-pang yang berjumlah ratusan ribu orang tak pernah menggerakan badan mereka untuk bekerja, tak pernah menancam padi atau gandum, kecuali bunuh orang, bakar rumah, menindas kaum rakjat jelata tiada perbuatan lain yang lebih mulia, darimana datangnya makanan, minuman serta pakaian bagi orangorang itu?"

Pek Siau-thian mendengus dingin.

"Thian menciptakan manusia, ia pasti memberi kehidupan bagi ciptaannya, engkau toh sudah belajar agama selama beberapa lama, kenapa cuma urusan itupun tak tahu? padahal setiap umat persilatan mengetahui akan soal ini, aku adalah seorang ahli silat kasar dari dnnia persilatan, sedang engkau adalah istriku, lebih baik kita tak usah membicarakan persoalan itu lagi."

"Kalau memang begitu, cabut senjatamu dan mari kita lanjutkan pertarungan ini!"

"Sebenarnya apa maksudmu?"

Bentak Pek Siau-thian amat gusar.

"apakah engkau bersumpah tak akan hidup berdampingan dengan diriku lagi....?"

"Oooh! itu sih tidak, aku hanya menginginkan kau serahkan panji Hong-lui-leng kepadaku dan segera mengasingkan diri dari dunia persilatan....!"

Setelah berhenti sebentar sambungnya lebih jauh.

"Cuma, kalau kau masih mempunyai rasa sayang terhadap istri, asal kau bubarkan perkumpulan Sin-kie-pang dan menyatakan mundur dari dunia persilatan, aku akan menemui engkau untuk berpesiar keempat penjuru mencari dewa belajar ilmu dan mencari kehidupan yang bahagia serta panjang usia."

Mula-mula Pek Siau-thian terperangah kemudian satu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia bertpikir lebih jauh.

"Meskipun usulnya sangat bagus dan menyenangkan tapi aku Pek Siau-thian masih muda dan memimpin dunia persilatan adalah suatu jabatan yang mulia serta patut di banggakan, kenapa aku harus melepaskan kesempatan yang sangat baik untuk menguasai seluruh jagad ini untuk mencari pelajaran dewa yang masih semu itu? bukankah semacam ini merupakan suatu tindakan yang terlalu bodoh?"

Meskipun paras suaminya berubah tenang, sadarlah Kho Hong-bwee ia mengalami masalah yang pelik dan sukar ambil keputusan, segera ujarnya kembali.

"Rembulan setelah bulat akan menjadi lonjong, air setelah penuh akan meluber nasib buruk yang menimpa perkumpulan Hong Im bwee serta Thong-thian-kauw merupakan contoh yang paling bagus, perkumpulan Sin-kie-pang beruntung bisa utuh dan seluruh kejadian ini boleh dibilang merupakan satu keuntungan yang luar biasa, jika engkau mundur dalam keberhasilan maka nama harummu akan dikenang sepanjang masa, dan tindakan ini merupakan suatu tindakan yang cerdas!"

Terdengar Pek Kun-gie berseru pula dengan sedih.

"Ayah, perkataan dari ibu tak salah, marilah kita bersamasama mengundurkan diri dari urusan dunia persilatan, cici dan aku akan berbakti kepada ayah serta melayani dirimu hingga akhir tua nanti"

"Semuda ini sudah harus pergi menunggu ajal, apakah tindakan ini tidak terlalu awal?"

Bentak Pek Siau-thian penuh kegusaran.

"Usia manusia sampai berapa ratus tahun? darimana engkau bisa pastikan terlalu awal atau tidak?"

Kata Kho Hongbwee.

"Bagaimana dengan perkumpulan Sin-kie-pang?"

"Bagaimanapun toh mereka bukan anak cucumu, lebih baik dibubarkan mulai sekarang saja!"

Pek Siau-thian tertawa dingin.

"Heehh.... heehh.... heehh.... apa kau anggap d ngan dibubarkanya orang-orang itu dari ikatan perkumpulan, maka perbuatan tersebut akan mendatangkan keberuntungan bagi umat ma-nusia?"

Dalam hati Kho Hong-bwee segera berpikir.

"Perkataan ini benar juga, manusia-manusia itu bukanlah termasuk manusia yang baik, kalau dilepaskan kedalam dunia persilatan mereka pasti akan membuat banyak keonaran, tapi.... jika perkumpulan Sin-kie-pang dibiarkan tetap merajai kolong langit dan perbuatan mereka semena-mena maka lama kelamaan gejala ini akan mengakibatkan rusaknya masyarakat, pihak pendekar akan terbasmi dan selamanya tak bisa bangkit kembali, bencana ini bukan saja amat besar bahkan terlalu dalam, lebih baik aku usahakan sampai perkumpulan ini buyar...."

Setelah mempertimbangkan untung ruginya, perempuan itu segera mengambil keputusan, kepada Pek Siau-thian ia berkata.

"Hukum karma selamanya berlaku dalam dunia, barang siapa berani melakukan kejahatan dia pasti akan terima binasa, perkumpulan Sin-kie-pang kita dirikan bersama, kita pula yang bubarkan bukankah begitu sudah layak? biarkan mereka ambil langkah sendiri dalam menentukan garis hidupnya, biarlah mereka mampus jika berani melakukan kejahatan, setelah orang-orang itu lepas dari pengawasan kita, toh berarti sudah bukan termasuk tanggung jawab kita lagi...."

"Jadi kasarnya engkau suruh aku bubarkan hasil karya yang kuperjuangkan dan ku usahakan mati-matian selama dua puluh tahun ini dengan begitu saja?"

Seru Pek Siau-thian ketus.

"Yaa.... bicara pulang pergi toh akhirnya engkau lebih beratkan nama dan kedudukan daripada kemuliaan akhlak, kalau memang begitu biar kita selesaikan saja masalah ini dalam pertarungan adu jiwa!"

Perempuan itu tak banyak pikir lagi, ia loloskan sebilah pedang lemas yang tipis dan ramping dari pinggangnya, kemudian membentak keras.

"Persoalan yang kita hadapi pada saat ini tak mungkin dapat diselesaikan secara damai, itu berarti hubungan suami istri kita berduapun ibaratnya pedang ini"

Criing!

ditengah dentingan nyaring, Kho Hong-bwee getarkan pedang lemasnya sehingga ujung pedang seketika putus beberaoa cun dan meluncur ke arah Pek Siau-thian dengan kilatan cahaya perak.

Pek Siau-thian bukan orang lemah, ia ayun telapaknya kedepan dan menjepit ujung pedang yang menyambar ke arahnya dengan kedua jari tangannya, sementara paras mukanya berubah jadi pucat kehijau-hijauan dan tak sedap dipandang.

Para jago yang mengikuti jalannya peristiwa itu dari tepi arena pun segera mengetahui bahwa suami istri dua orang itu sudah ambil keputusan untuk menempuh jalan hidup yang berbeda, dalam keadaan begini tak mungkin mereka bisa diakurkan lagi, dan satu-satunya peristiwa yang bakal terjadi hanyalah pertarungan sengit yang akan menentukan siapa menang siapa kalah, siapa hidup siapa mati.

Setelah berhenti beberapa saat lamanya, Pek Siau-thian masukkan kuntungan pedang dalam jepitan jarinya itu kedalam saku, kemudian ia menyikap jubah dan loloskan pula sebuah senjata tajam.

Senjata andalannya berupa sebuah tali panjang yang terbuat dari otot naga, panjangnya satu tombak dua depa, pada ujung sebelah kiri terkait sembilan lembar pisau tajam berbentuk bulan sabit, sedang pada ujung lainnya terpasang sembilan batang duri segi tiga yang amat beracun.

Delapan belas pisau tajam duri segi tiga itu tersebar disepanjang tali otot tersebut, ada yang berselisih jarak beberapa cun, ada pula yang berjarak delapan sampai sembilan cun, nampak nya sangat tak beraturan dan tak tahu apa kegunaannya.

Pek Siau-thian memegang sebilah pisau tajam diantaranya, tanpa mengucapkan sepatah katapun ia tebas kedua belah ujung senjatanya itu hingga putus beberapa depa, dengan begitu senjata tersebut panjangnya makin menyusut hingga tidak sampai satu tombak, pisau bulan sabit dan duri segi tiga yang tergantung pada senjata itupun tinggal dua belas batang.

Perbuatan ini dilakukan tentu saja dikarenakan Kho Hongbwee telah mematahkan pula ujung pedangnya sehingga senjata itu cacad, ia tak sudi mencari keuntungan dari utuhnya senjata, karena itu senjata tajam miliknyapun dibikin Cacad sendiri.

Para pendekar dari golongan lurus yang menyaksikan kejadian itu diam-diam merasa kagum juga, kendatipun perbuatannya tidak dapat dibenarkan.

Terdengar Kho Hong-bwee berkata dengan ketus.

Dalam pertarungan ini kita harus saling merobohkan lawan hingga benar-benar tak berkutik, tiada pengecualian dan tiada keistimewaan bagi kedua belah pihak, pertarungan akan berjalan secara adil dan tidak berat sebelah, engkau boleh kerahkan segenap kekuatan yang kau miliki, sedang pedangku juga tak akan kenal apa artinya belas kasihan.

"Maksudmu setelah merobohkan harus segera bangkit untuk lanjutkan pertarungan. Kho Hong-bwee gelengkan kepalanya.

"Kalau engkau sudah roboh, mungkin untuk selamanya tak akan bisa bangkit kembali!"

Jilid 12 Pek Siau-thian mendendam sambil menggertak gigi, bentaknya keras-keras.

"Ayoh serang.... aku akan mengalah sejurus bagimu, dan mulai sekarang hubungan kita sebadai suami istripun putus sampai di sini saja!"

Kho Hong-bwee tertawa, tiba-tiba ia menerjang kedepan sambil melepaskan serangan, cahaya berkilauan memancar dari tubuh pedang lemas itu, desingan tajam memekikkan telinga.

Pek Siau-thian putar senjata ototnya dengan disertai desiran tajam, pisau bulan sabit dan duri segi tiga diatas tali otot itu di liputi cahaya putih dan baru laksana kilat melancarkan serangan balasan.

Kho Hong-bwee menggoyangkan pedang lemasnya.

Sreeet!

tiba-tiba ia menebas lengan kanan Pek Siau-thian.

Senjata tajam yang dipergunakan suami istri berdua itu sama-sama tidak lengkap, ketika dilancarkan sama-sama merasa kurang leluasa, namun jurus serangan yang dipergunakan sama-sama ganas dan keji, tanpa terasa pertarungan itupun berlangsung jauh lebih bengis dan mengerikan sekali....

ooooOoooo KEDUA orang itu sama-sama bertempur dengan andalkan kecepatan melawan kecepatan, dalam sekejap, mata dua puluh gebrakan sudah lewst, kedua belah pihak sama-sama berusaha untuk merebutkan kedudukan yang lebih menguntungkan.

Dalam pada itu, dari pihak perkumpulan Hong-im-hwie, hanya malaikat kedua Sim Ciu seorang yang masih sanggup melakukan pertarungan, dari pihak perkumpulan Thong-thiankauw hanya Pia Leng-cu seorang, sedangkan dari pihak golongan pendekar, tenaga dalam yang dimiliki Hoa Hujin sudah menyusut hingga tak mungkin bisa melakukan pertarungan lagi, sedang Ciu Thian-hau dari gunung Huan San, Suma Tiang-cing jago pedang bernyawa sembilan, Chin Giok-liong, Bong Pay serta harimau pelarian Tiong Liau telah menderita luka yang parah, kecuali mereka yang telah binasa dalam pertarungan, hanya Cu Im taysu, Cu Thong dewa yang suka pelancongan, Tio Sam-koh, Chin Pek-cuan, Biau-nia Samsian serta Chin Wan-hong delapan orang saja yang masih sanggup melanjutkan pertarungan.

Tapi kekuatan beberapa orang itu jika di bandingkan dengan kekuatan perkumpulan Sin-kie-pang yang begitu besar dan dahsyat ten tu saja ibaratnya telor melawan batu.

Selain itu rombongan manusia aneh yang menyerupai setan itu masih ada seratus orang lebih, andaikata rombongan manusia-manusia itu ada minat uniuk bertempur melawan pihak perkumpulan Sin-kie-pang secara dipaksa mereka masih mampu melakukan perlawanan tapi kalau berbicara mengenahi kekuatannya sudah tentu pihak mereka masih tertinggal jauh sekali.

Sekarang dalam tubuh perkumpulan Sin-kie-pang sendiri terjadi perselisihan, sisa laskar yang kalah perang sama-sama mengharapkan kemenangan dari Kho Hong-bwee sebab jika perempuan itu yang menang maka sisa laskar yang kalah perang itu masih ada kemungkinan untuk melanjutkan hidup, sebaliknya kalau Pek Siau-thian yang menang maka dia pasti akan menggunakan tindakan keji untuk membunuh mereka semua.

Kendatipun semua orang berharap agar Kho Hong-bwee yang menang namun ditinjau dati sisuasi yang terbentang dabm gelanggang saat itu harapan menang bagi perempuan itu kelihatan tipis sekali sementara anggota perkumpulan Sinkie-pang telah berbaris rapi didepan mulut lembah dan menyambut jalan keluar mereka.

Dalam keadaan seperti ini kecuali berdiam diri sambil menantikan perubahan situasi selanjutnya tiada kemungkinan bagi sisa laskar yang kalah perang itu melarikan diri.

Tiba-tiba terdengar Pek Siau-thian membentak keras, senjata ruyung emasnya disertai desiran angin tajam melancarkan serangan yang berkali lipat lebih dahsyat.

Keseriusan dan ketegangan menyelimuti paras Kho Hongbwee yang cantik jelita, pedang lemasnya terbentang kian kemari jurus demi jurus dilancarkan tiada hentinya, terhadap serangan gencar yang dilepaskan oleh Pek Siau-thian ia sama sekali tak ambil gubris bahkan melihatpun tidak.

Sistim bertempur yang lebih mengutamakan menyerang daripada pertahanan dan selalu mencari kesempatan untuk beradu jiwa ini sudah berada dalam dugaan Pek Siau-thian sebagai seorang ketua perkum pulan besar yang berambisi tentu saja ia tak sudi beradu jiwa dengan istrinya sendiri tetapi kepandaian silat mereka berada dalam keadaan seimbang lama kelamaan ia mulai kepayahan untuk menghadapi cara bertempur istrinya yang nekad itu, ia mulai keteter bebat.

Dalam sekejap mata kedua oiang itu sudah melangsungkan kembali pertarungan sengit sebanyak dua puluh gebrakan namun siapapan gagal untuk merebut kemenangan.

Pek Siau-thian sendiri walaupan tidak ingin mengadu jiwa dengan istrinya, dalam hati keclnya diapun tak ingin membinasakan istrinya yang cantik jelita itu ia mulai sadar jika pertarungan itu dilanjutkan lebih jauh maka akhirnya akan terjadi tragedi yang menyedihkan bati Kecemasan dan kejelisahan membuat hatinya jadi mendongkol sekali.

Meskipun begitu toh dia adalah seorang pemimpin yang cekatan, hatinya yang kalut tidak sampai mengacaukan permainan jurus serangannya, setelah bertempur beberapa jurus lagi ia membentak keras.

"Tunggu sebentar!"

Tubuhnya loncat kebelakaug dan menyingkir sejauh dua tombak dari tempat semula. Kho Hong-bwee menjengek dingin, katanya.

"Kalau engkau bersedia mengaku kalah, ayoh cepat serahkan tanda perintah Hong-lui-leng tersebut kepadaku!!"

"Heeeh, heeehh heeeh, sekali menjadi suami istri selamanya tetap saling mencintai, siapa menang siapa kalah toh sama saja?"

"Kalau begitu ayoh cepat serahkaa tanda perintah Hong-luileng itu kepadaku!"

Bentak Kho Hong-bwee dengan gusar. Pek Siau-thian tersenyum.

"Suami istri asalnya tetap satu, serahkan tanda perintah Hong-lui-leng kepadamu bukanlah suatu perbuatan yang memalukan!"

Ia lantas berpaling sambil membentak.

"Soh-gie, serahkan Hong lui-leng itu kepadaku!"

Pek Soh-gie terperangah, ia maju kedepan dan segera persembahkan tanda perintah Hong-lui-leng tersebut kepada ayahnya.

Semua orang melongo dan tak tahu apa maksud serta tujuan dari Pek Siau-thian, melihat wajahnya berseri-seri dan sikapnya yang santai, mereka tahu bahwa ketua dari perkumpulan Sin-kie-pang ini sedang menjalankan siasat.

Setelah mencekal tanda perintah itu, Pek Siau-thian membentak keras.

"Pelindung hukum bagian depan, harap terima perintah!"

Dari balik barisan pelindung hukum panji kuning berkelebat keluar delapan orang kakek tua sambil memberi hormat mereka berseru.

"Hamba siap menunggu perintah!!"

"Jaga hujin baik-baik, kalian tak boleh menang tak boleh kalah, dan tak boleh melukai hujin barang seujung rambutpun, siapa berani melanggar akan kupenggal kepalanya."

Mendengar seruan tersebut Kho Hong-bwee jadi amat gusar dan bentaknya keras-keras.

"Pek Siau-thian, engkau berani perintahkan anak buahmu untuk mengeroyok aku?"

Pek Siau-thian tersenyum "Engkau masih bersikap kekanak-kanakan, apa boleh buat? hari ini terpaksa aku harus menyusahkan dirimu!"

"Kurang ajar!"

Bentak Kho Hong-bwee dengan gusar, tubuhnya menerjang kedepan dan pedangnya langsung membabat ke tubuh lawan.

Pek Siau-thian mengegos kesamping dan melayang beberapa tombak kebelakang sementara kedelapan orang kakek tua itu segera maju kedepan dan menghadang jalan pergi Kho Hong-bwee.

Perempuan setengah umur itu jadi amat gusar, dengan sorot mata yang tajam ia sapu sekejap wajah dari kedelapan orang kakek itu, lalu bentaknya keras-keras.

"Kurang ajar, jadi kalian benar-benar berani untuk bertempur melawan aku?"

"Hujin harap jangan marah!"

Kata kedelapan orang kakek tua itu sambil memberi hormat.

"hamba terpaksa harus berbuat demikian, harap engkau sudi memberi maaf!"

Dalam pada itu, Pek Siau-thian dengan suara lantang berseru.

"Mulai detik ini perkumpulan Hong-im-hwie telah bubar, enam propinsi di wilayah Kang-pak akan masuk menjadi wilayah kekuasaan perkumpulan Sin-kie-pang, ketua Jin! apa yang hendak kau utarakan lagi?"

Jin Hian, Sim Cu dan nenek dewa bermata buta berunding sebentar dengan suara lirih, kemudian baru berseru.

"Mulai sekarang perkumpulan Hong-im-hwie memang telah bubar, wilayah Kang-pak mau jadi kekuasaan siapa bukan urusan kami, kami segan untuk mengurusinya...."

Sejak lengannya kutung, masa depannya pun ikut hancur berantakan apalagi setelah perkumpulannya ditumpas lawan, hatinya benar-benar putus asa dan tak punya semangat lagi, dalam pembicaraan bukan saja suaranya lemah bahkan nadanya lirih dan membuat hati orang ikut beriba.

Pek Siau-thian berusaha menekan rasa bangga dan gembiranya didalam hati, ia segera berpaling kesamping lain dan berteriak pula.

"Perkumpulan Thong-thian-kauw telah bubar, semua kuil akan dibongkar dan wilayah Kanglam akan dikuasai oleh perkumpulan Sin-kie-pang, kaucu! apakah engkau ada usul lain?"

Sejak tadi Thong-thian Kaucu telah berunding dengan paman gurunya Pia Leng-cu, mendengar pertanyaan tersebut ia segera menjawab dengan suara hambar.

"Perkumpulan Thong-thian-kauw akan tinggalkan wilayah Kanglam pangcu mau menduduki wilayah tersebut atau tidak terserah pada kemauanmu sendiri. Sepasang kakinya yang dihancurkan oleh ledakan kotak emas milik Siang Tang Lay membuat imam tua itu menderita jauh lebih parah dari pada keadaan Jin Hian meskipun anak murid perkumpulannya masih ada beberapa orang namun ilmu silat mereka rata-rata lemah sekali, meskipun ada Pia Leng-cu tapi kekuatan pihak perkumpulan Sin-kie-pang terlalu besar dan tak mungkin bisa dilawan lagi, oleh sebab itulah kecuali ngaku kalah tiada jalan lain lagi baginya. Pek Siau-thian gembira sekali sorot matanya yang tajam segera dialihkan ke arah barak yang di huni para pendekar. Sebelum ia sempat buka suara Ciu Thian-hau dari gunung Huang-san telah tertawa terbahak-bahak, teriaknya dengan cepat.

"Golongan pendekar telah ditumpas rata dengan tanah, dunia persilatan akan dimiliki oleh Pek Siau-thian seorang, benar-benar mengagumkan.... benar-benar mengagumkan...."

Ucapannya bernada tajam dan penuh mengandung sindiran. Pek Siau-thian mendengus dingin, diam-diam pikirnya.

"Kelompok manusia-manusia itu binal dan tak takut mati sukar untuk mendidik mereka jadi penurut, kalau rumput liar tidak dibasmi sampai akar-akarnya bila angin musim semi berhembus maka bibit rumput akan tumbuh kembali, lebih baik kubasmi saja mereka semua hingga tak berbekas. Setelah mengambil keputusan di hati, ia lantas berkata.

"Bulan sembilan tanggal sembilan nanti perkumpulan Sin-kiepang akan merayakan hari jadinya yang kedua puluh dikota Kay hong, semua jago yang ada di kolong langit harus menghadiri perayaan tersebut apa bila ada yang tak mau pergi harap menyatakan pendapatnya mulai sekarang. Ucapan itu bernada perintah dan memaksa orang harus menuruti kemauan hatinya. Terdengar Ik cu berkata dengan cepat.

"Perayaan sebesar itu sudah sepantasnya untuk dihadiri, sampai waktunya pinto pasti akan membawa orang untuk menyampaikan selamat kepadamu...."

Jin Hian dalam baraknya ikut berseru pula.

"Mulai detik ini aku orang she Jin sudah menjadi burung yang terlepas, tentu saja dengan senang hati aku akan menghadiri perayaan besar itu." 'Terima kasih aras kesediaan kalian!"

Seru Pek Siau-thian dengan angkuh.

Tiba-tiba terdengar Tio Sam-koh tertawa dingin dan berkata, Pek Siau-thian, engkau tak usah sombong, jangan harap kami bersedia untuk tunduk dibawah perintahmu, mau bacok, mau cincang ayoh silahkan.

Pek Siau-thian memang ada niat untuk membasmi semua kelompok pendekat, mendengar ucapan dari Thio Sam-koh tersebut, ia segera pergunakan kesempatan itu sebaikbaiknya.

Dengan muka membesi bentaknya keras-keras.

"Pelindung panji kuning, ayoh maju dan tekuk mereka semua!!"

Suara sahutan yang gegap gempita bergema memecahkan kesunyian, Cukat racun Yau Sut dengan memimpin hampir seratus orang pelindung hukum panji kuning bagaikan air bah yang menjebolkan tanggul langsung menerjang ke arah kelompok pendekar.

Kho Hong-bwee yang menyaksikan kejadian itu jadi amat gusar, pedangnya diputar kencang dan membabat seorang kakek tua di hada pannya, kemudian ia terjang kemuka.

Criing!

dengungan nyaring berkumandang memecahkan kesunyian, seorang kakek tua yang berada disisi kiri menyentilkan ujung jarinya yang tepat bersarang diujung pedang Kho Hong-bwee, membuat serangan tersebut segera menceng kesamping.

Kegusaran yang berkobar dalam dada Kho Hong-bwee memuncak, ia putar pedang emasnya dan....

Sreeet!

sekali lagi ia lancarkan sebuah bacokan maut.

Pek Kun-gie yang selama ini membungkam terus dalam seribu bahasa, tiba-tiba menyerang dari arah samping.

Kedelapan orang kakek tua itu merupakan jago-jago kelas satu dalam perkumpulan Sin-kie-pang, mereka disebut sebagai pelindung hukum bagian depan, tugas mereka adalah melindungi keselamatan pangcu dan merupakan orang kepercayaan dari Pek Siau-thian.

Walaupun kedelapan orang itu adalah orang-orang lihay yang hanya bertahan belaka, namun serbuan Kho Hong-bwee dan anaknya sama sekali tak mampu untuk menjebolkan kurungan tersebut.

Dipihak lain, Cukat racun Yau Sut dengan memimpin hampr seratus orang jago lihay, ibarat gulungan ombak ditengah samudra segera menerjang ke arah barak yang di huni oleh para pendekar golongan putih.

Para jago dari golongan pendekar yang masih sanggup berdiri segera munculkan diri untuk menyambut datangnya serangan tersebut, tapi jumlah mereka tak lebih dari tiga belas orang, untuk menghadapi serangan sedahsyat itu keadaan benar-benar bagaikan telur melawan batu.

Tiba-tiba Lan-hoa Siancu berteriak keras.

"Li hoa, Ci wi, kalau kita tidak mengadu jiwa lagi, maka kita akan berbuat kesalahan besar terhadap Siau long!"

"Benar, bagaimanapun juga kita harus melayani serbuan mereka dengan sepenuh tenaga!"

Sahut Li-hoa Siancu.

Sambil berbicara, ketiga orang kakak beradik seperguruan itu segera menyerbu ke depan lebih dahulu dan masingmasing orang menyebarkan diri untuk membendung serbuan lawan yang dahsyat bagaikan gulungan ombak samudra itu.

Terdengar Cukut racun Yau Sut membentak keras.

"Ayoh lancarkan serangan!"

Begitu perintah dilepaskan para jago yang berada di barisan paling depan sama-sama mengayunkan telapaknya dan melepaskan satu pu kulan yang maha dahsyat.

Kawanan pelindung hukum yang tergabung dibawah panji kuning ini merupakan sekawanan jago yang memiliki ilmu silat yang amat lihay, tenaga pukulan mereka yang bergabung jadi satu benar-benar amat dahsyat bagaikan gulungan ombak menghancurkan dermaga, desiran tajam memekikkan telinga kekuatan serta daya penghancurnya amat mendebarkan hati orang.

Biau-nia Sam-sian yang berada di paling depan dengan cepat tertumbuk oleh gulungan angin pukulan yang dahsyat bagaikan angin puyuh itu, badan mereka tak mampu berdiri tegak dan dengan langkah sempoyongan mundur beberapa langkah ke belakang.

Tio Sam-koh serta Cu Thong sekalian yang menyusul dibelakangnya tak mampu berdiri pula semua jago terdorong mundur beberapa langkah dari posisi semula.

Walaupun begitu kepandaian melepaskan racun dari wilayah Biau memang mempunyai ciri-ciri khas serta keistimewaan yang luar biasa, tatkala Lan-hoa Siancu bertiga menerjang maju kedepan tadi, bubuk racun yang dapat merobohkan orang lain telah dilepaskan secara ber tubi-tubi.

Kendatipun Cukat racun Yau Sut dapat menyaksikan tingkah laku mereka dengan seksama dan sudah melepaskan pukulan dari tempat kejauhan namun ada empat orang anak buahnya yang tetap keracunan serta roboh tak berkutik lagi diatas tanah.

Menyaksikan kelihayan ilmu racun musuh, Cukat racun Yau Sat merasa amat terperanjat, rasa waspada yang timbul dalam hati kecilnya makin dipertingkat sambil menahan napas, perlahan-lahan tubuhnya bergerak kedepan, pukulan demi pukulan dilancarkan secara bertubi-tubi.

Kekuatan angin pukulan yang maha dahsyat itu bergabung jadi satu membentuk gelombang serangan yang luar biasa dahsyatnya, pukulan itu langsung menerjang para jago dari kalangan lurus, membuat Cu Im taysu serta Cu Thong yang berkepandaian tinggipun kena didesak mundur kebelakang hingga tak sanggup mempertahankan kuda-kudanya.

Setelah mundur berulang kali, para jago telah mengundurkan diri kembali kedalam barak, angin pukulan dahsyat segera menerbangkan meja dan kursi membuat keadaan pada saat itu ibaratnya suatu daerah yang ketimpa angin topan.

Dalam barak terdapat beberapa orang jago yang sedang menderita luka, melihat musuh tangguh menyerbu masuk kesana, anak murid dari Siang Tang Lay segera melindungi guru mereka dan menyingkir kesamping, Chin Pek-cuan membopong putranya Giok Liong, Cu Thong membopong Bong Pay dan Chin Wan-hong memayang Hoa Hujin mengundurkan diri dari tempat itu.

Untuk beberapa saat lamanya suasana jadi kalut dan kacau balau, agaknya para jago segera akan musnah dibantai orangorang perkumpulan Sin-kie-pang.

Pada saat itulah, tiba-tiba dari atas atap barak berkumandang suara bentakan seorang perempuan yang sangat nyaring.

"Pek Siau-thian! kabut yang telah kusebarkan adalah kabut Kiu tok ciang dari wilayah Biau, kalau engkau belum juga tahu diri maka pelindung hukummu itu akan memperoleh ganjaran yang setimpal."

Ucapan itu bernada datar dan tawar tapi setiap patah kata bergema amat tajam dan nyaring didengar, Cukat racun Yau Sut sekalian beserta Pek Siau-thian yang berdiri ditempat kejauhan kontan dibuat terkesiap hatinya mendengar perkataan itu, sadarlah mereka bahwa ditempat itu sudah hadir seorang jago persilatan yang berilmu silat amat tinggi.

Sorot mata mereka segera dialihkan ke arah mana berasalnya suara itu, diatas atap barak duduklah seorang perempuan muda berdandan suku Biau yang telanjang kaki, lengannya dan dadanya kelihatan separuh, perempuan itu berwajah cantik jelita, berkulit putih bersih dan bersikap amat santai.

Tiba tiba jeritan kaget bergema saling susul menyusul, dalam waktu singkat separuh bagian pelindung hukum dari panji kuning perkumpulan Sin-kie-pang yang hadir disitu roboh terkapar keatas tanah dan tak berkutik lagi.

Pek Siau-thian amat terperanjat sekali, panji Hong-lui-leng digoyangkan berulang kali, bentaknya keras.

"Mundur! mundur.... mundur....!"

Pada waktu itu Cukat racun Yau Sut sekalian sudah dibikin ketakutan hingga sukma serasa melayang tinggalkan raganya, mendengar tanda perinlah itu bagaikan gulungan angin topan mereka segera saling berebut untuk mengundurkan diri dari situ, seakan-akan mereka sedang mengalirkan diri dari pintu neraka.

Dalam sekejap mata, disamping empat orang yang roboh terkapar lebih dahulu, diatas tanah telah bertambah dengan dua puluh tujuh sosok tubuh manusia yang semuanya terdiri dari jago-jago lihay kelas satu dalam dunia persilatan.

Dalam pertarungan dengan andalkan ilmu silat, untuk merobohkan seorang musuh merupakan suatu pekerjaan yang sulit, tapi sekarang dalam waktu singkat ada dua puluh orang lebih yang roboh tak berkutik lagi, dari sini bisa terbukti bahwa ilmu racun dari wilayah Biau memang benar-benar mengerikan sekali.

Saking gusar dan mendongkolnya, sekujur badan Pek Siauthian gemetar keras, sambil menatap perempuan muda berdandan suku Biau itu dengan sorot mata tajam tegurnya dengan suara menyeramkan.

"Apakah engkau adalah pemilik lembah Hu liong kok dari wilayah Biau??"

Perempuan cantik suku Biau itu tertawa.

"Tebakanmu sedikitpun tak salah, aku adalah Kiu-tok Sianci"

Sementara itu Biau-nia Sam-sian serta Chin Wan-hong secara beruntun telah melayang keluar dari dalam barak, sambil berlarian mereka sama-sama berseru lantang.

"Suhu....!"

Dengan sorot mata berkilat, Kiu-tok Sianci menyapu sekejap ke arah keempat orang itu, kemudian dengan muka membesi, ujarnya dingin.

"Hmm! kalian sudah menurunkan pamor kalian sendiri, apakah kamu semua masih punya muka untuk berjumpa dengan aku?"

Telapaknya dikebas kedepan, segulung angin pukulan yang tajam seketika merobohkan keempat orang itu dari atas barak. Pek Siau-thian tertawa dingin tiada hentinya.

"Heehh.... heehb.... heehh.... antara perkumpulan Sin-kiepang dengan pihak lembah Hu-liang-kok pernah mengikat janji bahwasanya kedua belah pihak tidak akan saling mengganggu maupun saling menyerang, dalam kenyataan engkau telah meracuni anak buahku sebanyak dua puluh orang lebih, jadi maksudmu tersebut hendak kau batalkan?"

"Tentu saja batal!"

Jawab Kiu-tok Sianci hambar.

"tapi perjanjian ini batal ditangan orang-orang perkumpulaa Sin-kiepang, engkau tak usah salahkan kami orang-orang dari lembah Hu-liang-kok"

"Apa maksudmu?"

Kiu-tok Sianci mendengus dingin.

"Hmm! selama ini pihak lembah Hu-liang-kok kami selalu menutup diri pergaulan dunia luar, kami tak mencampuri urusan dari siapapun tapi kalian orang-orang dan pihak perkumpulan Sin-kie-pang telah meracuni Hoa Thian-hong dengan racun keji kemudian menghantar masuk kedalam lembah Hu-liang-kok kami, memaksa aku harus menerima Chin Wan-hong sebagai muridku. Kalau perjanjian ini hendak dibatalkan maka kalian perkumpulan Sin-kie-pang yang harus bertanggung jawab dalam soal ini."

Mendengar perkataan itu Pek Siau-thian terperangah dibuatnya, meskipun alasan yang dikemukakan sedikit terlalu memaksa namun kenyataan memang demikian, untuk beberapa saat ia tak mampu mengucapkan sepatah katapun tanpa sadar lagi ia melotot sekejap ke arah Pek Kun-gie dengan pandangan gemas.

Setelah suasana hening beberapa saat lamanya, Pek Siauthian memerintahkan Yau Sut untuk mengirim orang mengangkut kembali kedua puluh sosok pelindung hukum panji kuning yang terkapar di tanah.

Cukat racun Yau Sut segera memerintahkan sepasukan pria kekar berbaju hitam untuk melaksanakan tugas tersebut.

Sepasukan pria kekar berbaju hitam ini merupakan anak buah dari tiga ruang bagian luar, diantara para jago yang hadir dalam lembah Cu-bu-kok dewasa ini mereka terhitung manusia yang berkepandaian rendah dalam pikiran Yau Sut dengan kedudukan Kiu-tok Sianci yang begitu tinggi dan terhormat tak mungkin sampai dia melepaskan racun keji terhadap kawanan manusia itu.

Terdengar Kiu-tok Sianci dengan suara dingin berseru.

"Dalam lingkaran tiga tombak disekitar barak ini tak mungkin dilalui siapapun, jangan dikata manusia, burungpun tak mungkin bisa melewati tempat ini, aku harap kalian semua menghentikan langkah kakimu itu!"

Sebenarnya kawanan manusia baju hitam itu sudah merasa amat kuatir sekali atas keselamatan jiwa mereka apa lagi setelah mendengar ancaman dari Kiu-tok Sianci itu, kontan jantungnya merasa berdebar keras tapi berhubung peraturan perkumpulan yang begitu ketat, siapapun tak berani membangkang perintah tersebut.

Begitulah, sekalipun mereka sudah tahu bahwa sebentar lagi mereka semua akan melangkah masuk kedalam lingkaran tiga tombak dari sisi barak, namun dengan langkah lebar orang-orang itu masih tetap melanjutkan perjalanannya.

Bluuk!

bluuk!

bluuk!

sebelum kawatan manusia baju hitam itu sempat mencapai hadapan para pelindung hukum yang terkapar diatas tanah, secara beruntun orang-orang itu roboh terjengkang keatas tanah dan sama sekali tak berkutik lagi.

Kiu-tok Sianci yang duduk diatas atap barak masih tetap seperti sedia kala, semua orang tak ada yang melihat bagaimana caranya orang itu melepaskan racun kejinya, dari sini semakin dapat dibuktikan betapa dahsyat dan luar biasanya kepandaian melepaskan racun yang dimiliki perempuan suku Biau ini.

Pek Siau-thian merasa terkejut bercampur gusar, pikirnya didalam hati.

"Kabut kiu tok ciang yang ditebarkan disekitar tempat ini pastilah merupakan sebangsa racun yang tak berwarna maupun berbau yang melayang diudara sehingga membuat setiap orang yang tersentuh seketika keracunan dan tak bisa berkutik lagi, dengan cara apakah aku harus menahan serangan racun itu?"

Otaknya berputar keras, segala kecerdikannya diserahkan untuk memecahkan persoalan itu, namun akhirnya toh usaha itu mengalami jalan buntu.

Karena gelisah bercampur cemas, hawa amarahnya segera berkobar membakar hatinya, paras mukapun dari merah padam berubah jadi hijau membesi.

Tiba-tiba terdengar Kho Hong-bwee berkata dengan suara dingin.

"Bukankah sudah kukatakan sejak tadi, rembulan yang bulat akhirnya akan lonjong, air yang penuh pasti akan meluber, sekarang engkau harus mempercayai kebenaran dari ucapanku itu, ikutilah nasehatku dan serahkan tanda perintah Hong-lui-leng tersebut kepadaku, biarlah aku yang bereskan masalah selanjutnya!"

"Hmmm! aku orang she Pek tak rela mengaku kalah dengan begitu saja!"

Teriak Pek Siau-thian penuh kegusaran. Dengan tanda perintah Hong-lui-leng ki nya dia tuding kemuka, kemudian bentaknya keras-keras.

"Yau Sut pimpin barisan pelindung panji kuning menyerang dari sayap kiri, Ho Kee-sian pimpin anak buah tiga ruang dalam menyerang langsung dari bawah mimbar, sisanya siapkan anak panah dan menunggu perintah!"

Ratusan orang anggota perkumpulan Sin-kie-pang samasama menyabut, suaranya keras bagaikan guntur yang membelah bumi di siang hari bolong.

Cukat racun Yau Sut serta telapak pembalik langit Ho Keesian segera tampil ke depan dan membentak.

"Ikuti aku!"

Dalam sekejap mata Cukat racun Yau Sut dengan memimpin enam tujuh puluh orang pelindung hukum panji kuning menerobos dari bawah barak, mengitari belakang rombongan manusia-manusia aneh dan menerjang masuk ke arah barak yang dihuni para jago.

Telapak pembalik langit Ho Kee-sian dengan memimpin semua pelindung hukum dan Tiang Cu dari tiga ruang dalam yang berjumlah hampir dua ratus orang dengan melingkari mimbar menerjang masuk ke arah barak yang dihuni para pendekar dari sayap kanan.

Kesempurnaan barisan dari orang-orang perkumpulan Sinkie-pang serta kedisiplinan mereka melaksanakan perintah, benar-benar tak dapat dibandingkan dengan kelompok manusia-manusia lain di kolong langit, serbuan yang dilaksanakan secara serentak oleh dua tiga ratus orang ini betul-betul dahsyat ibarat gulungan ombak ditengah samudra, walaupun serentak namun sama sekali tidak kacau, kecepatan gerakan mereka serta kecepatan mereka mengepung sasarannya begitu dahsyat, membuat siapapun yang melihat jadi terperanjat dan berkobar keras.

Kiu-tok Sianci sendiri diam-diam dibuat serba salah setelah menyaksikan serbuan te sebut, ia sadar bahwa kemampuan yang dimilikinya masih belum mampu untuk mengatasi keadaan tersebut.

Dalam keadaan tergesa-gesa ia segera melayang turun dari atas barak dan langsung menghadang serbuan yang dipimpin oleh Yau Sut, bentaknya dengan suara lantang.

"Lan hoa, Li hoa! hadang sebelah kanan sebentar lagi Siau Long akan datang kemari"

"Siau Long ada dimana?"

Teriak Lan-hoa Siancu.

Sementara pembicaraan sedang berlangsung, telapak pembalik langit Ho Kee-sian dengan memimpin para jago lihay dari tiga ruang dalam telah menyerbu masuk ke dalam barak.

Ketika para pendekar mendengar bahwa Hoa Thian-hong sebentar lagi akan tiba di sana, semua orang merasakan suatu perasaan gembira yang sangat aneh, mereka semua segera terjun kedalam gelanggang dan masing-masing orang dengan penuh semangat menyambut datangnya serangan dari pihak lawan.

Pek Kun-gie sendiri, ketika mendengar dari mulut Kiu-tok Sianci bahwasanya sebentar lagi Hoa Thian-hong akan muncul disana, dalam hati kecilnya segera berpikir.

"Sekarang orangorang perkumpulan Sin-kie-pang sedang mengerubuti ibu dan sahabat-sahabatnya jika dia sampai melihat kejadian ini mungkin sampai akupun akan dibenci olehnya...."

Ingatan tersebut belum sempat berkelebat dalam benaknya hingga selesai dengan cepat, gadis itu sudah merampas sebilah pedang dan langsung lari ke arah mimbar.

Pek Siau-thian jadi amat gusar setelah menyaksikan tingkah laku putrinya ia membentak keras.

"Budak ingusan...."

Badannya menerjang maju kedepan dan menyambar tubuh gadis itu. Dengan suara dingin Kho Hong-bwee segera berseru.

"Jangan urusi orang lain kita pun harus bertempur hingga salah satu diantaranya mampus!"

Sreet....!

Sreeet....!

dua bacokan pedang memaksa Pek Siau-thian terpaksa harus mundur dua langkah kebelakang.

Kegusaran yang berkobar dalam benak Pek Siau-thian tak terkendalikan lagi.

Senjata pecut lemasnya segera dikibaskan ke luar dan melancarkan sebuah serangan balasan.

Suasana pada waktu itu kalut sekali, Pek Siau-thian terlibat kembali dalam suatu pertempuran yang sengit melawan istrinya sendiri.

Kiu-tok Sianci sendiri menahan serbuan dari Yau Sut beserta anak buahnya berjumlah tujuh puluh orang lebih.

Berbicara dalam hal ilmu silat, sudah tentu Kiu-tok Sianci tak mungkin berhasil menghela serbuan jago-jago sebanyak itu tapi karena pertama ruang gerak disekitar barak itu amat sempit dan kecil, kedua, semua orang jeri akan nama besar Kiu-tok Sianci maka sewaktu melihat perempuan itu menerjang datang semua orang sama-sama menyingkir kebelakang.

Setelah berhasil mendesak mundur para jago, Kiu-tok Sianci secepat kilat melayang di angkasa dan berputar satu lingkaran mengitari Hoa Hujin serta Siang Tang Lay sekalian yang terluka dan tak dapat maju bertempur kemudian tanpa memperdulikan musuh-musuhnya lagi ia langsung menerjang ke arah Ho Kee-sian beserta para jagonya.

Yau Sut agak terperangah sewaktu dilihatnya Kiu-tok Sianci meninggalkan mereka semua dan malahan berpindah ke pihak lain, sebagai seorang jago yang gampang curiga satu ingatan berkelebat dalam benaknya membuat ia segera menghentikan gerakan tubuhnya.

Lain halnya dengan para jago lain yang kurang cermat, orang-orang yang berada dikedua belah sisinya dengan cepat menerjang ke muka dengan maksud membinasakan Hoa Hujin sekalian yang sedang terluka.

Siapa tahu baru saja menerjang sejauh beberapa depa ke arah depan tanpa sempat mendengus berat enam orang jago sudah roboh tak berkutik lagi diatas tanah.

Diam-diam Cukat racun Yau Sut merasa terkesiap, buruburu ia perintahkan anak buahnya untuk hentikan gerakan mereka.

Sementara itu Hoa Hujin sekalian tepat berada dihadapan mereka dan jaraknya hanya dua tiga tombak belaka, mereka tahu, andaikata orang-orang itu bisa ditangkap maka tanpa bertempur lebih jauh kemenangan telah berada ditangan mereka.

Tapi tempat dimana Kiu-tok Sianci berputar tadi telah membentuk sebuah dinding pemisah yang tak berwujud, siapapun tak punya keberanian untuk melewati dinding pemisah tersebut.

Telapak pembalik langit Ho Kee-sian adalah ketua dari ruang Thian leng tong pada saat itu dengan pemimpin dua ratus orang jago dari huan han telah menerjang masuk ke dalam barak lewat sayap sebelah kanan dengan pukulanpukulan yang berat dan dahsyat mereka paksa Biu nia Sam sian sekalian terdesak mundur beberapa langkah kebelakang, menggunakan peluang yang sangat baik itulah pasukan segera dipecah menjadi dua bagian dan mengepung gerombolan para pendekar itu dari sisi kiri maupun kana, dalam waktu singkat suasana jadi makin kritis bagi pihak kaum lurus dan nampaknya sebentar lagi mereka akau berhasil menyerbu masuk kedalam barak.

Pada saat yang gawat itulah Kiu-tok Sianci berhasil mencapai tempat kejadian, semua orang yang sudah tahu akan kelihayan ilmu ra cun dari perempuan itu, sama-sama mengundurkan diri kebelakang setelah melihat kehadirannya.

Apa lacur Pek Kun-gie dengan babatan pedangnya yang kalap pada waktu itu sudah tiba disitu dan memutuskan jalan mundur mereka, suasana jadi kalut dan barisanpun jadi kacau, semua orang berusaha menghindarkan diri dari babatanbabatan maut gadis itu.

Himpit menghimpit terjadi diantara sesama anggota perkumpulan Sin-kie-pang, banyak orang yang tergelincir roboh keatas tanah, membuat suasana yang kacau bertambah kalut rasanya.

Dalam pada saat itulah, dari mulut lembah Cu-bu-kok tibatiba bergema suara bentakan seseorang.

"Pek Siau-thian!"

Bentakan tersebut begitu keras ibarat guntur yang membelah bumi disiang hari bolong, semua orang merasakan telinganya bergetar keras dan amat sakit rasanya.

Pek Siau-thian merasa amat terperanjat, andaikata serangan Kho Hong-bwee secara mendadak tidak mengendor, mungkin lengan kanannya sudah tertebas kutung.

Pada waktu ilu masih ada seratus dua rasus orang anggota perkumpulan Sin-kie-pang yang menyumbat mulut lembah, dengan demikian orang yang berada dalam lembah dapat untuk melihat pemandangan diluar lembah.

Terdengarlah seseorang dengan nada gemetar berseru keras.

"Lapor pangcu, Hoa Thian-hong telah muncul kembali!!"

Dari suara pelapor yang gemetar dan tersendat-sendat dapat diketahui bahwa hati orang itu sudah keder dibuatnya. Pek Siau-thian semakin naik pitam, ia segera membentak keras.

"Kembali yaa kembali, apa yang musti di takuti?? lepaskan dia masuk kedalam lembah!"

Bagaikan embok laut yang membelah ke samping, para jago perkumpulan Sin-kie-pang yang menyumbat mulut lembah sama-sama menyingkir kesamping hingga terbukalah sebuah jalan lewat.

Hoa Thian-hong dengan mencekal pedang bajanya melangkah masuk kedalam lembah, pelayan tua nya Hoa In mengikuti dibelakang pemuda itu.

Pada dasarnya Hoa Thian-hong memiliki badan yang kekar dan wajah yang berwibawa, kini ia nampak jauh lebih bersemangat dan agung sekali, seakan-akan seorang manusia yang baru saja muncul dari penggodokan dalam tungku pat kwa, begitu agung dan berwibawanya membuat setiap orang dalam lembah itu diam-diam mengaguminya.

Dengan sorot mata yang tajam bagaikan kilat, Pek Siauthian menatap wajah Hoa Thian-hong tanpa berkedip, ketika dilihatnya selangkah demi selangkah si anak muda itu menghampiri kehadapannya, entah apa sebabnya tiba-tiba muncul suatu perasaan dengki yang aneh sekali dalam hati kecilnya.

Suasana dalam lembah Cu-bu-kok diliputi keheningan yang luar biasa, sorot mata setiap orang ditujukan keatas wajah Hoa Thian-hong, orang-orang dari pihak kaum pendekar termasuk juga Siang Tang Lay dan Kiu-tok Sianci sama-sama melelehkan air matia karena kegirangan, paras muka mereka semua menampilkan perasaan lega dan gembira.

Diam-diam Pek Siau-thian menyumpah dalam hati kecilnya.

"Sialan! kenapa aku musti jeri kepadanya?"

Semua perhatiannya segera dipusatkan jadi satu, sambil menekan pergolakan hatinya, ia berkata dengan ketus.

"Bukankah engkau sudah pilih jalan untuk kabur sejauhjauhnya dari tempat ini? mau apa engkau datang lagi kemari, mungkin sudah bosan hidup?"

Hoa Thian-hong menjura dan memberi hormat kemudian sahutnya, dengan wajah serius.

"Aku sama sekali tidak pergi jauh, ambisi pangcu yang begitu besar sungguh membuat hatiku merasa sangat kagum"

Bicara sampai disitu, ia merogoh sakunya dan ambil keluar sebuah kotak kecil terbuat dari kumala sambil diserahkan ketangan Hoa In, perintahnya.

"Serahkan batang Leng-ci ini untuk ibuku, Hoa In menyambut kotak itu dengan tangannya dan segera lari menuju ke arah barak, Ci-wi Siancu buru-buru nampakkan diri dari balik garis yang diselimuti kabut kiu tok ciang dan menerima kotak kumala tadi, sementara itu Kiu-tok Sianci telah ambil kembali botol kumala putih dari sakunya dan berbisik kepada Lan-hoa Siancu dengan suara lirih.

"Cepat kita tarik kembali semua kabut kiu tok cian ini, masalah yang sedang kita hadapi pada taat ini hanya bisa selesai dengan menyerahkan semua persoalan tersebut ketangan siau liong!"

Lan-hoa Siancu menerima botol kumala itu dan segera berlarian keempat penjuru untuk menarik kembali kabut racun yang telah tersebar luas ditengah udara.

Dipihak lain, Pek Siau-thian telah memandang sekejap ke arah Hoa Thian-hong dengan pandangan dingin, kemudian dengan alis mata berkenyit ujarnya.

"Seringkali ada pepatah kuno yang mengatakan, bila dalam suatu negara muncul seorang yang berbakat, maka keharuman namanya akan mencapai beberapa ratus lamanya, engkau berbakat bagus, berkemauan besar, punya keberanian dan rejeki bagus, aku merasa sangat kagum pada dirimu!"

"Aku hanya seorang pemuda yang belum tamat belajar, untuk memimpin dunia persilatan selama puluhan tahun mendatang masih belum pantas untuk tiba gilirannya pada diriku!"

"Hmm! hal ini sudah tentu!"

Sela Pek Siau-thian dengan suara dingin.

"Tapi juga tidak pada giliran pangcu!, sambung Hoa Thianhong lebih jauh dengan cepat.

"Kurang ajar, aku tidak percaya!"

Bentak Pek Siau-thian penuh kegusaran. Hoa Thian-hong menengadah keatas dan tertawa nyaring.

"Haahh.... haahh.... haahh.... kenyataan memang begitu, sekalipun engkau tidak percaya juga harus mempercayai!"

Sambil menuding ke arah rombongan manusia-manusia aneh berbentuk setan itu, ia melanjutkan.

"Coba pangcu lihat, danrimana asal mula datangnya rombongan manusia aneh itu?"

Pek Siau-thian melirik sekejap ke arah rombongan manusia aneh bagaikan setan itu, kemudian jawabnya dengan suara tawa.

"Huuh....! generasi muda dari perkumpulan Kiu-imkauw, engkau anggap aku adalah manusia macam apa? kau anggap dalam mataku telah kemasukan pasir?"

Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, paras muka semua orang yang hadir dalam lembah Cu-bu-kok itu samasama berubah hebat, sampai-sampai manusia aneh yang selama ini hanya membungkam terus dan sama sekali tak pernah mengucapkan sepatah katapun ikut berubah wajah.

Hoa Thian-hong mengangguk tanda membenarkan, setelah itu tanyanya lagi.

"Apakah pangcu tahu, siapakah kaucu dari perkumpulan Kiu-im-kauw pada generasi yang lalu?"

"Siapa?"

Bentak Pek Siau-thian. Hoa Thian-hong tertawa santai.

"Aku sendiripun tak tahu siapakah orang itu, tapi aku pernah melihat sendiri bahwa orang itu adalah seorang perempuan, setelah, memberi perintah kepada orang-orang aneh ini, dia masuk kedalam tandu warna-warni itu dan digotong masuk kedalam lembah ini, sayang pada itu semua pikiranku tertuju untuk mendalami kelemahan-kelemahan dalam permainan pedangku, sehingga duduk persoalan yang lebih jelas tak sempat kudengar"

"Huuh! kalau cuma seorang perempuan saja, aku rasa sekali lihay maka kelihayannya tak akan melampaui kehebatanku dan tak akan melampaui kehebatanmu juga orang she Hoa....!"

Hoa Thian-hong menggeleng dan tertawa.

"Engkau kelitu besar jika mempunyai pikiran begitu, kesabaran orang ini luar biasa sekali, dan aku merasa tak mampu untuk menangkan dirinya"

Pek Siau-thian segera mendengus dingin.

"Hmm! kesabaran yang luar biasa? aku rasa orang yang lain belum tentu mempunyai kesabaran yang luar biasa, aku telah mengambil keputusan, bila hutang piutang diantara kita sudah dibikin beres maka segera akan kuundang kemunculannya.

"Ternyata ia sudah punya perhitungan sendiri dalam hati kecilnya...."

Pikir Hoa Thian-hong dalam bati.

"kemampuannya menguasai dunia peralatan benar-benar bukan diperoleh dari hasil untung-untungan....!"

Berpikir sampai disini, dengan muka serius ia lantas berkata.

"Jadi pangcu sudah ambil keputusan untuk membereskan kelompok kami lebih dahulu?"

"Tentu saja!"

Paras muka Hoa Thian-hong berubah jadi serius sekali, ia berseru.

"Aku minta agar pangcu menarik kembali semua anak buahmu sebab untuk berduel satu lawan satu engkau masih bukan tandinganku!"

Mendengar perkataan itu, Pek Siau-thian merasa amat gusar sekali tapi sesaat kemudian pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya, ia teringat kembali akan beberapa kali pengalamannya dalam menghadapi serangan maut Hoa Thian-hong, hal itu membuat semangatnya jadi kendor.

"Bangsat cilik ia sudah pasti telah berhasil menyelami arti kata yang tercantum dalam catatan kiam keng"

Pikirnya dalam hati, andaikata dugaanku tidak keliru mungkin kepandaian silatku benar-benar sudah bukan tandingannya lagi"

Berpikir sampai disini, dia segera menggertak gigi dan mengibarkan panji Hong-lui-leng nya.

"Kalian semua mundur kebelakang!"

Bentaknya keraskeras.

Cukat racun Yau Sut serta Telapak pembalik langit Ho Keesian yang mendapat perintah itu segera memimpin anak buahnya masing-masing untuk mengundurkan diri kebelakang, dua tiga ratus orang jago perkumpulan Sin-kie-pang segera mengepung sekitar lembah itu dengan rapatnya.

Kho Hong-bwee yang menjumpai keadaan tersebut jadi gusar sekali, ia segera membentak keras.

"Pek Siau-thian, engkau masih punya muka atau tidak?"

Pek Siau-thian mendengus dingin.

"Hmm! memelihara tentara seribu hari apakah persoalannya hanya punya muka atau tidak?"

"Haaah haaahh haaah perkataan pangcu memang tepat sekali"

Sela Hoa Thian-hong sambil tertawa.

"memelihara tentara seribu hari, yang penting adalah dipergunakan disaat yang perlu, ini hari silahkan eng kau gunakan segenap tenaga yang kau miliki"

Kemudian sambil berpaling kebelakang dia membentak.

"Hoa In>, mundur dari situ!"

Hoa In terperangah.

"Bukankah lebih baik hamba berada disini saja?"

Serunya kemudian dengan suara terbata-bata.

"Cepat mundur dari sini! dari pada kehadiranmu merepotkan aku saja"

Hoa In melongo dan termangu-mangu, akhirnya perlahanlaha ia mengundurkan diri dari gelanggang dan berjaga-jaga diluar arena.

Sepeninggalnya Hoa In, Hoa Thian-hong alihkan sorot matanya mengawasi Wajah Pek Siau-thian kemudian dengan suara dingin katanya.

"Dengan pedang baja ini berada ditangan sekalipun berada diantara seriba prajurit sepuluh ribu kuda untuk menebas batok kepa la pancu bagiku adalah suatu pekerjaan yang sangat gampang ibaratnya mengambil barang dalam saku sendiri aku lihat lebih baik pangcu segera mengundurkan diri dari tempat ini"

Pek Siau-thian benar-benar merasa amat gusar sekali pecut lemasnya seketika dikebaskan kedepan melepaskan seranganserangan gencar yang mematikan.

Sejak menyaksikan keadaan ibunya dan saudara seperjuangan lainnya banyak yang mati atau terluka, hawa amarah sudah berkobar dalam dada Hoa Thian-hong hingga mencapai keadaan yang tak terkendalikan lagi, sekarang pemuda itu betul-betul tak mampu menahan kesabarannya lagi.

Pemuda itu punya tujuan untuk mengalahkan Pek Siau Than, karenanya ia tunggu hingga senjata pecut lemas pihak lawannya hampir bersarang diatas tubuhnya dan jurus serangan yang digunakan Pek Siau-thian sudah mendekati pada akhirnya, secara tiba-tiba ia baru gerakan pedang bajanya melepaskan serangan balasan.

Serangan yang dilancarkan kedua orang itu sama cepatnya dan hanya berlangsung dalam sekejap mata, orang lain belum sempat mengikuti jalannya pertarungan itu, tahu-tahu cahaya hitam berkelebat lewat dan pedang baja itu secepat kilat sudah menghantam diatas pisau berbentuk bulan sabit yang terikal diatas pecut lemas tersebut.

"Cniing....! benturan nyaring berkumandang memecahkan kesunyian, pecut lemas yang kena dihantam oleh pedang baja itu tiba-tiba terpental dan balik menyerang ke arah kepala Pek Siau-thian sendiri. Sementara itu pisau berbentuk bulan sabit serta duri beracun yang terikat diatas pecut lemas tadi, setelah termakan getaran keras dari pedang baja itu seketika patah semua jadi beberapa bagian ibarat hujan gerimis, semua patahan dan hancuran senjata itu langsung menyambar ke arah sekujur badan Pek Siau-thian.... Menghadapi kejadian yang sama sekali tak terduga itu, ketua perkumpulan Sin-kie-pang ini jadi amat terperanjat sekali hingga sukmanya terasa melayang tinggalkan raganya, dalam keadaan kritis dan berbahaya ia tidak memperdulikan soal kedudukan ataupun gengsi lagi buru-buru badannya dijatuhkan ke arah belakang dengan gerakan jembatan gantung ia menghindari serangan lawan lalu tubuhnya menggelinding ke samping dan meloloskan diri dengan tergopoh-gopoh. Melesat menghantam tubuh Pek Siau-thian, hancuran pisau bulatan sabit serta duri beracun itu meluncur terus kebelakang dan menyambar para jago yang berada disekeliling gelanggang. Untung para jago yang berada disekitar gelanggang adalah jago-jago lihay berkepandaian tinggi, kalau tidak niscaya diantara mereka ada yang roboh karena tersambar oleh senjata hancuran itu Hoa Thian-hong merasa gusar sekali, dia tak sudi melepaskan lawannya dengan begitu saja, melihat musuhnya berhasil lolos dari serangan yang pertama ia segera enjotkan badan dan berkelebat kehadapan Pek Siau-thian, pedangnya berkelebat ke arah depan langsung membabat pinggang lawan. Serangan ini dilancarkan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, tapi enteng seakan-akan tiada sesuatu benda apapun, sedikit pun tidak membawa suara desiran barang sedikitpun jua. Belum sempat Pek Siau-thian bangkit berdiri, sambaran pedang itu sudah meluncur datang menghajar pinggangnya, dalam keadaan terkesiap bercampur kaget jago tua dari perkumpulan Sin-kie-pang ini menjerit kaget. Dua buah serangan yang dilancarkan Hoa Thian-hong ini terlalu cepat sekali begitu cepatnya membuat dua tiga ratus orang anggota perkumpulan Sin kis pang yang mengepung Hoa Thian-hong disekitar arenapun belum sempat melakukan sesuatu gerakan apapun. Jikalau pemuda ini ada maksud membinasakan Pek Siauthian, maka asal pedangnya dilanjutkan babatannya kedepan, niscaya jago tua itu akan kehilangan jiwanya. Mendadak, dalam benaknya terlintas bayangan tubuh dari Pek Kun-gie, pemuda itu jadi sangsi dan ia jadi tak tega untuk melanjutkan babatannya itu. Meskipun tak tega membinasakan lawannya, namun rasa benci dan mendendam masih berkecamuk dalam benak si anak muda ini, pedang bajanya segera dibelokan keluar menyambar para pelindung hukum panji kuring yang berjajar disebelah kanan, sementara kakinya melancarkan sebuah tendangan kilat yang membuat Pek Sian Thian mendengus berat, tubuhnya mencelat ketengah udara dan terkapar diluar gelanggang. Traang....! Traang....! bentrokan nyaring bergema saling susul menyusul, dimana pedang bajanya berkelebat disitulah empat lima ba tang senjata tersambar putus. Pada waktu itulah bentakan keras bergema, orang-orang yang berkerumun diluar gelanggang mulai mengepang dan menyerang kedepan. Menyaksikan serangan yang dilancarkan para jago lihay itu, Hoa Thian-hong merasa gusar sekali, pikirnya.

"Kawanan manusia laknat ini sudah lama melakukan perbuatan jahat, entah berapa orang baik dan manusia budiman yang menemui ajalnya ditangan mereka? ini hari kalau aku tidak membantai beberapa orang diantaranya aku rasa tindakanku ini kurang adil...."

Setelah ambil keputusan dalam hati kecilnya, nafsu membunuh yang sangat tebal seketika memancar keluar dari balik matanya sedang baja dibabat kedepan dan langsung menerjang ke arah Cukat racun Yau Sut yang berada dihadapannya.

Menyaksikan terjangan si anak muda itu Cukat racun Yau Sut amat terkesiap sehingga keringat dingin mengucur keluar membasai seluruh tubuhnya untung ia pandai melihat gelagat, ketika dilihatnya paras muka Hoa Thian-hong berubah jadi menyeramkan sekali dan langsung menerjang ke arahnya, buru-buru ia berkelebat kebelakang dan segera mengundurkan diri kedalam gerombolan orang banyak.

Hoa Thian-hong yang amat gusar jadi tertawa keras, pedang bajanya menyambar kesana kemari bagaikan gulungan badai salju, ia terus menerus mengejar Cukat racun Yau Sut kemanapun dia pergi, daya serangan yang terpancar keluar dari ujung pedangnya amat dahyat dan berat membuat siapapun tak sanggup mempertahan diri.

ooooOoooo Pek Siau-thian yang tulang pantatnya kena ditendang sehingga hampir saja beberapa tulangnya patah, dengan susah payah melayang turun ditepi gelanggang dengan sepasang kaki masih menempel diatas tanah.

Setelah berhasil merguasahi diri dan menekan rasa sakit diatas pantatnya, jago tua dari perkumpulan Sin-kie-pang ini segera a-lihkan sorot matanya ke arah gelangang.

Ia saksikan juru pikirnya atau Kunsu dari perkumpulannya, Cukat racun Yau Sut sedang melarikan diri terbirit-birit kesana kemari dengan penuh ketakutan, sedangkan Hoa Thian-hong mengejar terus dari belakangnya, pedang baja yang berat menyambar kian kemari tiada tandingan, setiap jago yang berpapasan dengannya segera mengun durkan diri atau berusaha menghindarkan diri, bagi mereka yang agak mundur kebelakang, setiap kali senjatanya terbentur dengan pedang baja lawan kontan patah jadi beberapa bagian dan terlepas dari cekalan, keadaan pada saat itu boleh dibilang luar biasa sekali Peristiwa yang berlangsung pada saat ini terjadi dalam waktu yang amat singkat semua jago dibuat terkesiap menghadapi peristiwa tersebut, bagi mereka yang ada dibawah barak dan tak dapat melihat jelas keadaan gelanggang sama-sama memanjat keatas meja, suara bisikan dan pembicaraan berkecambuk jadi satu membuat suasana jadi gaduh.

Chin Pek-cuan nampak amat girang sekali, sambil mengelus jenggotnya ia memuji tiada hentinya.

Biau-nia Sam-sian menuding kesana kemari sambil berkaok-kaok mereka paling banyak bicara dan paling banyak tertawa.

Tio Sam-kohb tersenyum simpul dengan wajah berseri-seri mendadak ia saksikan Hoa Hujin tetap duduk tak berkutik ditempat semula dengan nada gusar segera bentaknya.

"Hong ji ayoh cepat bimbing hujin bangun!"

Chin Wan-hong amat terperanjat, buru-buru dia bangunkan Hoa Hujin dan memayangnya agar bisa melihat jelas keadaan ditengah gelanggang.

Ciu Thian-hau dari gunung Huang-san walaupun sedang menderita luka parah, pada saat ini ia berdiri diatas sebuah meja, makin memandang makin emosi hingga akhirnya tak sabar lagi ia berteriak keras.

"Seng ji! bunuh saja bangsat itu sampai mampus!"

Hoa Thian-hong sendiri setelah mengejar lama sekali namun tidak berhasil menyusul Cukat racun Yau Sut, hatinya sudah amat panas sekali apa lagi sekarang setelah mendengar teriakan tersebut, hawa amarahnya langsung berkobar dan nafsu membunuhpun menyelimuti seluruh wajahnya, ia tidak kenal belas kasihan lagi dalam serangan-serangan berikutnya.

Dalam sekejap mata, jeritan ngeri berkumandang tiada hentinya ibarat harimau diantara domba tak seorangpun yang dapat membendung ataupun menahan serangan serta terjangannya.

Setelah pemuda itu melakukan pembantaian, para jago menghindarkan diri dibuatnya, dimana pedang bajanya meyambar lewat semua orang pada menghindarkan diri dengan tergopoh-gopoh.

Kegusaran yang berkobar dalam benak Pek Siau-thian tak sanggup dikendalikan lagi, ia tak menyangka perkumpulan Sin kie pa?ng yang didirikan dengan susah payah dan menguasai dunia persilatan tanpa tandingan, kini tak mampu menahan serangan seorang pemuda dengan sebilah pedang bajanya, dalam keadaan sedih bercampur penasaran timbullah niatnya untuk berbuat nekad dan mempertahankan hasil karya nya ini dengan pertaruhan jiwa sendiri.

Dengan cepat ia menyingkap baju dan meloloskan sepasang pedang pendek yang me-mancarkan cahaya sangat tajam, sambil mencekalnya ditangan, jago tua itu langsung menerjang ke arah Hoa Thian-hong.

Sementara itu posisi Cukat racan Yau Sut kian lama kian terdesak hebat dan hadangan serta tameng yang dia andalkan pun kian menipis, tatkala dilihatnya Hoa Thian-hong mengejar terus tiada hentinya seakan-akan pemuda itu sudah ambil keputusan untuk menghabisi jiwanya, ia makin ketakutan dibuatnya, sampai-sampai sukmanya serasa melayang tinggalkan raganya.

Dengan cepat ia putar badan dan menerobos sedalam gerombolan manusia yang ada diluar gelanggang.

Diam-diam Hoa Thian-hong mendengus dingin, pikirnya.

"Sekalipun engkau naik kelangit atau masuk kebumi, ini hari aku bersumpah akan binasakan dirimu!"

Pedang bajanya diayun kedepan menciptakan sebuah jalan lewat dan pemuda itu mengjar lebih jauh.

Tiba-tiba Pek Siau-thian menerjang datang dari sisinya, sambil membentak keras jago tua itu melepaskan satu serangan kilat ke arahnya.

Menghadapi sergapan tersebut, Hoa Thian-hong merasa amat gusar ia segera membentak.

"Kurang ajar akan kutebas dulu sebuah lehermu!"

Pedang baja digetarkan keras-keras, dengan jurus Hong ku cay thian atau burung besar terbang di angkasa, ia balas melancarkan serangan kilat....

Tenaga dalam yang disalurkan Hoa Thian-hong dalam pedang bajanya pada saat ini dalam kenyataan tak mungkin bisa ditandingi oleh Pek Siau-thian.

Terlihatlah pedang baja itu berkelebat lewat dengan kecepatan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata, meskipun dilepaskan bela kangan namun tiba disasaran lebih duluan, langsung ujung pedangnya membabat lengan jago tua itu.

"Thian-hong....!"

Tiba-tiba terdengar Pek Kun-gie menjerit lengking dengan nada yang sangat terperanjat.

Diam-diam Hoa Thian-hong menghela nafas panjang, pedang bajanya dicukil keatas berulang kali, bukan lengan yang diarah kini, dia menghajar sepasang pedang pendek dari Pek Siau-thian....

"Criing! Criing!"

Dua bilah pedang pendek itu tergetar keras dan segera mencelat keangkasa.

Paras muka Pek Siau-thian pucat keabu-abuan, ia berdiri terperangah ditempat semula tanpa sanggup mengucapkan sepatah kata-pun, tubuhnya kaku bagaikan patung.

Ujung baju lengan kaitannya tersambar robek dan meninggalkan sebuah bekas darah yang amat dalam.

Sementara itu Cukat racun Yau Sut yang melarikan diri kedalam kerumunan orang banyak benar-benar sudah pecah nyalinya, paras muka orang itu sudah berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, ketika ia berpaling kebelakang maka tampaklah Hoa Thian-hong telah menyusul datang dibelakang tubuhnya.

Ia benar-benar terdesak hebat dan tak tahu ke mana ia harus pergi, dengan sangat ketakutan sorot matanya berkeliaran kesana kemari berusaha mencari jalan keluar.

Dengan cepat Hoa Thian-hong berkelebat kedepan dan menghadang jalan pergi orang she Yau itu, sambil tertawa dingin katanya.

"Sehari engkau tak mati, berarti sehari pula ada umat manusia di kolong langit yang mati ditanganmu!"

Pedangnya segera berkelebat kedepan dan melancarkan sebuah bacokan maut.

Cukat racun Yau Sut benar-benar sudah pecah nyali karena ketakutan, buru-buru ia gunakan gerakan keledai malas bergelinding ditanah, dengan menggelinding bercampur merangkak ia menyingkir sejauh satu dua tombak keluar gelanggang.

Dalam perkiraan Hoa Thian-hong, Cukat racun Yau Sut pasti tak akan berhasil lolos dan bacokan pedangnya itu, maka dalam serangan tersebut ia tidak menggunakan seluruh tenaga yang dimilikinya, tak nyana ternyata orang itu begitu sudi menggunakan gerakan yang paling rendah dan memalukan itu untuk menghindarkan diri.

Si anak muda itu jadi penasaran sekali, dengan cepat badannya berkelebat kedepan dan sekali lagi melancarkan serangan yang mematikan.

Keadaan dari Cukat racun Yau Sat pada waktu itu betulbetul amat runyam, sukmanya terasa melayang tinggalkan raga karena ta kutnya, dalam keadaan kritis dan jiwanya terancam bahaya ia lupa akan segala-galanya, yang dipikirkan saat ini hanyalah bagaimana caranya selamatkan selembair jiwanya dari ancaman tersebut.

Mendadak ia putar badan dan kabur ke arah barak dimana kelompok manusia-manusia aneh bermuka setan berkumpul, sambil lari mendekati kelompok manusia aneh itu jeritnya berulang kali.

"Kaucu.... tolonglah aku! kaucu.... tolonglah aku!"

Terperangah Hoa Thian-hong mendengar jeritan tersebut, ia segera menghentikan gerakan tubuhnya dan lupa untuk mengejar lebih jauh.

Keadaan itu benar-benar sangat aneh bampir saja membuat para jago yang hadir dilembah Cu-bu-kok itu jadi tertegun dibuatnya, semua orang tahu bahwa Cukat racun Yau Sut adalah kunsu atau juru pikir dari perkumpulan Sin-kiepang, berada dihadapan umum bukannya ia minta tolong kepada pangcu perkumpulannya, malahan minta tolong kepada orang lain.

Hal ini dengan cepat memberi keterangan kepada semua orang, bahwasanya Cukat racun Yiu Sit bukan lain adalah mata-mata yang dikirim kelompok manusia aneh itu untuk menyelinap kedalam tubuh perkumpulan Sin-kie-pang....

Sementara itu tampaklah Cukat racun Yau Sut telah kabur kedalam barak tersebut, tiba-tiba ia jatuhkan diri dan berlutut dihadapan kelompok manusia aneh itu sambil beteriak keras.

"Kaucu.... tolonglah aku! kaucu...."

"Bangsat! manusia laknat!"

Maki Pek Siau-thian dengan penuh kegusaran.

Bersamaan dengan diutarakannya bentakan itu, bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya ia menerjang maju kedepan, segenap tenaga dalam yang dimililiknya dihimpunnya kedalam telapak lalu dihantam keatas balok kepala Cukat racun Yau Sut dengan sepenuh tenaga....

"Praakk....!"

Diiringi suara benturan nyaring, batok kepala Cukat racun Yau Sut terhajar sampai hancur berantakan, isi benak nya tercecer di mana-mana mengotori seluruh badan Pek Siau-thian.

Pada waktu itulah seorang manusia aneh berbadan bagaikan prajurit setan tampil ke depan, ditangannya ia membawa gembrengan dan sebuah alat pukulan dan alat tersebut dibunyikan bertalu-talu.

Suara gemblengan yang berat dan mantap bergema diselurub lembah, membuat suasana kacau yang semula menyelimuti lembah Cu-bu-kok per lahan-lahan pulih kembali dalam keheningan.

"Breeenng-....! Breenng....! Breeenng...."

Bunyi gembrengan bergema tiada hentinya, suara yang keras memancar seluruh lembah Cu-bu-kok dan mendengung ditelinga setiap orang, begitu keras suaranya hingga terasa amat memekikkan telinga.

Ketika suara gembrengan itu berbunyi untuk ketiga kalinya dari antara rombongan pelindung panji kuning perkumpulan Sin-kie-pang tiba-tiba melangkah keluar tiga orang jago dengan tindakan yang lebar mereka tinggalkan barisan dan langsung menggabungkan diri dengan rombongan para jago dari perkumpulan Kiu-im-kauw tersebut.

Ketika Pek Siau-thian mengamati ketiga orang yang keluar barisan itu ternyata mereka adalah Che It Hun, Lim Kui serta Ke Teng Pok.

Ketiga orang itu disebut orang sebagai Kui im sam kui atau tiga setan dari per kumpulan Kiu-im-kauw, dahulu memang merupakan anak buah dari perkumpulan Kiu-im-kauw.

Sewaktu mereka menggabungkan diri dengan perkumpulan Sin-kie-pang, secara terus terang ketiga orang itu sudah menjelaskan asal usul mereka dan Pek Siau-thian pun telah mengetahui siapa yang sedang dihadapi.

Sekarang, meskipun dalam hati merasa gusar sekali karena ketiga orang jago itu berlalu tanpa pamit, namun hawa amarahnya masih dapat dikendalikan.

Siapa tahu setelah ketiga orang itu keluar barisan, tindakan itu diikuti pala oleh dua orang lain, melanjutnya disusul pula oleh delapan orang.

Dibelakang delapan orang itu mengikuti satu orang, setelah satu orang mengikuti pula dua orang....

Jilid 13 PERISTIWA itu berlangsung amat mendadak dan sama sekali diluar dugaan siapapun, belum pernah Pek Siau-thian mengalami pukulan batin seberat ini, ia saksikan dari barisan pelindung hukum panji kuning secara beruntun sudah empat puluh orang yang keluar barisan dari barisan tiga ruangan luar dalam pun ada tiga puluh orang lebih yang tinggalkan barisan.

Orang-orang itu bagaikan dicabut sukmanya oleh raja akhirat seonang demi seorang keluar barisan dengan sangat teratur dan mengikuti irama gembrengan yang bergema di angkasa, pandangan mereka lurus kedepan dan tak pernah celingukan kemana-mana, setelah tiba dihadapan Tiam cu istana neraka para jago itu berdiri tegak dengan muka serius dan penuh rasa hormat.

Sekarang Pek Siau-thian dapat memahami apa yang telah terjadi, urutan orang-orang itu tinggalkan barisan ternyata persis mengikuti urutan mereka bergabung kedalam perkumpulan Sin-kie-pang, mereka yang masuk perkumpulan Sin-kie-pang lebih dahulu sekarang tinggalkan barisan lebih dahulu, dan mereka yang akhir masuk perkumpulan seka rang tinggalkan pula perkumpulan pada urutan yang terakhir, semuanya disiplin dan sedikitpun tidak nampak kacau.

Menanti suara gembrengan itu sudah dibunyikan untuk kelima belas kalinya, watku itulah baru tak nampak ada manusia yang tinggalkan barisan, namun diantara jago-jago lihay yang masih tersisa dalam barisan pelindung hukum panji kuning perkumpulan Sin-kie-pang hanya tinggal dua puluh orang saja, bila berbicara tentang ilmu silat mereka, maka orang-orang itu hanya dapat dikatakan sebagai kelas dua belaka.

Rasa gusar, penasaran dan mendongkol yang berkecambuk dalam dada Pek Siau-thian sukar dilukiskan dengan kata-kata, dalam keadaan sedih bercampur malu mendadak ia rampas sebilah golok dari tangan seorang jago yang berada disisinya kemudian langsung digorokkan ke arah leher sendiri.

Kebetulan sekali Kho Hong-bwee berada d dekat suaminya, menyaksikan perbuatannya yang nekad itu, dia jadi amat terperanjat untuk menyelamatkan jiwanya terang sudah tidak sempat lagi perempuan itu segera menjerit keras.

"Sau Tha!!!"

Tiba-tiba Hoa Thian-hong tertawa tergelak.

"Haaah.... haaah.... haaah.... Sau Tha artinya masih muda tapi segalanya sudah tahu. Nah! akhirnya toh engkau harus menelan kekalahan yang begitu pahit!"

Laksana kilat ia menerjang maju kedepan dan telapaknya langsung berkelebat merampas golok itu.

Rasa malu dan gusar berkecamuk dalam dada Pek Siauthian, sepasang matanya tiba-tiba melotot besar dan dua titik darah kental mengalir keluar membasahi pipinya, dengan penuh kemarahan, ia mendelik ke arah Hoa Thian-hong dari sikapnya yang ganas seakan-akan ia hendak melancarkan terjangan.

Tiba-tiba Kho Hong-bwee membentak nyaring.

"Hoa Thian-hong engkau benar-benarr terlalu keji. Merah padam selembar wajah Hoa Thian-hong, ia teringat kembali akan peristiwa dimana Pek Kun-gie secara nekad terjunkan diri kedalam jurang tak terasa lagi hatinya jadi lunak dan pemuda itu jatuhkan diri berlutut dihadapan Pek Siauthian dan menjalankan satu kali penghormatan besar. Meskipun bibirnya berkemak kemik namun tak sepatah katapun yang dapat diutarakan pemuda ini. Pek Siau-thian menggertak giginya kencang-kencang perasaan hatinya sangat kalut dan serba salah, dalam keadaan seperti itu ia segera melengos ke arah lain. Tiba-tiba satu jeritan yang lengking dan keras amat memekikkan telinga bergema diseluruh angkasa.

"Kaucu muncul dalam mimbar!"

Bersamaan dengan berkumandangnya seruan itu, semua anggota perkumpulan Kiu-im-kauw sama-sama bangkit berdiri dan menyingkir keke dua belah samping, sementara bocah perempuan berbaju warna-warni dan berkuncir panjang dibelakang tandu segera tampil ke depan dan menggulung horden dimuka tandu itu.

Dalam waktu singkat suasana dalam lembah diliputi kesunyian serta kebeningan yang mencekam, beribu-ribu mata sama-sama dialih kan ke arah tandu megah tersebut, setiap orang merasakan suatu perasaan tegang yang sangat aneh.

Tiba-tiba dari balik tandu melangkah keluar seseorang, dia adalah seorang perempuan berperawakan tinggi besar dan bermuka bulat bagaikan bulan purnama.

Rambut perempuan itu masih berwarna hitam pekat dan terurai sepanjang bahu.

Ia mengenakan seperangkat jubah lebar berwarna hitam pekat, tangannya memegang sebuah tongkat hitam yrng berat dan berukirkan sembilan buah kepala setan perempuan pada bonggol atasnya, setiap ukiran kepala setan perempuan itu berambut panjang, bergigi taring dan kelihatan seram sekali, sedang kepala setan yang berada dipaling atas melukiskan raut wajah yang hampir mirip dengan wajah Kiu-im Kaucu tersebut, hanya saja Kiu-im Kaucu itu kecuali berwajah pucat pias dan bermata menyeramkan mukanya kelihatan menggidikan hati siapapun yang memandang.

Ketika perempuan baju hitam itu keluar dari tandunya thamcu istana neraka beserta seluruh jago lainnya termasuk Che It Hun sekalian yang baru saja menggabungkan diri segera jatuhkan diri berlutut sambil berseru lantang.

"Hamba sekalian menunjuk hormat untuk kaucu!"

Dengan sorot mata yang tajam bagaikan kilat, Kiu-im Kaucu menyapu sekejap ke arah semua anak buahnya yang berlutut diatas tanah kemudian sambil mengetuk tongkat kepala setannya ia berjalan menuju kekursi kebesarannya.

Dari sikapnya yang agung dan seram serta langkahnya yang berat dan mantap, Hoa Thian-hong menyadari bahwa ilmu silat yang dimiliki ketua perkumpulan Kiu-im-kauw ini sangat lihay dan otakpun licin sekali, dia merupakan seorang musuh yang sulit dihadapi.

Menggunakan kesempatan dikala Kiu-im Kaucu sedang berjalan menuju kekursi kebesarannya, pemuda itu segera kembali kedalam barak dimana para pendekar berkumpul Sementara itu Hoa Hujin dan Kiu-tok Sianci sekalian duduk bersanding pada barisan terdepan sedangkan Biau-nia Samsian sekalian kaum angkatan muda duduk dibelakangnya.

Hoa Thian-hong langsung masuk kedalam barak dan memberi hormat kepada para angkatan tua yang duduk didepan, sebelum ia sempat mengucapkan sesuatu mendadak Siang Tang Lay berbisik dengan suara lirih.

"Anakku tahukah engkau pedang emas tersebut kini terjatuh ditangan siapa?"

"Aku sama sekali tak tahu!"

"Bukankah dalam saku Yau Sut terdapat sebilah pedang emas"

Sela Tio Sam-koh dari samping.

"Oooh! pedang emas itu palsu"

Tukas Siang Tang Lay dengan cepat. Sesudah berhenti sebentar, kepada Hoa Thian-hong ujarnya dengan wajah serius.

"Engkau harus ingat baik-baik, Kitab kiam keng peninggalan malaikat pedang Gi Ko tersimpan didalam pedang bajamu itu, pedang baja murni ini sangat kuat dan keras sekali, tapi pedang emas itu merupakan senjata tertajam di kolong langit, hanya pedang emas itu saja yang mampu mematahkan pedang bajamu serta mengambil Kitab Kiam keng yang tersimpan didalamnya"

Hoa Thian-hong merasa amat terperanjat, dia angkat pedang bajanya dan diamat-amati dengan seksama.

Tiba-tiba terdengar bocah perempuan berkuncir panjang yang berdiri disamping Kiu-im Kaucu berseru kembali dengan suara lantang.

"Ku Ing-ing, harap menerima perintah!"

Serentetan suara sahutan yang merdu bergema dari arah mimbar, disusul munculnya Giok Teng Hujin serta Pui Che-giok dua orang.

Semua orang terperangah dibuatnya dan diam-diam mengeluh atas kebodohan sendiri, walaupun pertarungan sudah berlangsung beberapa hari, ternyata tak seorang manusiapun yang masih ingat dengan perempuan misterius itu.

Kiu-tok Sianci mengerutkan dahinya, kemudian berkata.

"Lan hoa, coba sadarkan orang-orang yang menggeletak ditanah, coba lihat diantara mereka masih terdapat mata-mata dari perkumpulan Kiu-im-kauw?"

Lan-hoa Siancu terima perintah dan langsung keluar dari barak, dia ambil sebuah botol dan menciumkan obat pemunah itu di ujung hidung setiap orang yang terkapar di situ.

Pengaruh kabut racun Kiu tok ciang datang amat cepat, dalam waktu singkat semua orang sudah sadar dan samasama menggabungkan diri ke arah Pek Siau-thian.

Diantara orang-orang itu ada lima orang pelindung hukum panji kuning yang tiba-tiba berhenti berlari setelah menjumpai kehadiran Kiu-im Kaucu disitu, mereka segera putar badan dan kabur menuju kebarak orang-orang Kiu-im-kauw.

Dalam pada itu Giok Teng Hujin dengan tangan kiri membopong Soat-ji makhluk aneh kesayangannya, tangan kanan memegang sumbu obat peledak, perlahan-lahan ia berjalan kehadapan Kiu-im Kaucu kemudian jatuhkan diri berlutut.

"Tecu Ku Ing-ing dengan membawa serta budak tecu yang bernama Che Giok mengunjuk hormatt buat kaucu"

Kiu-im Kaucu tertawa dingin tiada hentinya.

"Heeeh.... heeeh.... heeeh.... engkau bagus, engkau bagus, engkau tidak bagus!"

Paras muka Giok Teng Hujin berubah hebat, sambil tundukkan kepalanya ia berkata.

"Thian Ik-cu telah mengatur siasat busuk dalam lembab Cu-bu-kok ini, dia sudah menanam obat peledak di mana-mana dan siap diledakan apabila situasi pertarungan tak menguntungkan pihaknya hingga semua orang yang hadir dalam lembah ini mati konyol semua, tecu telah berhasil menggagalkan siasat busuknya itu"

"Oleh karena itulah aku mengatakan engkau bagus"

Sahut Kiu-im Kaucu dengan suara hambar.

Pek Siau-thian yang mendengar perkataan itu perasaan hatinya kembali berubah ia tak menyangka pertemuan besar Kian ciau tayhwee yang penuh dengan persoalan dan peristiwa diluar dugaan ternyata masih tersembunyi suatu hawa nafsu membunuh yang membahayakan jiwa setiap orang, diam-diam ia merasa sudah beruntung dapat hldup sampai waktu itu, kalau masih mempunyai pikiran dan ambisi yang besar untuk menguasai jagad sebetulnya pikiran itu terlalu kelewat batas.

Tiba-tiba terdengar Thian Ik-cu berseru dengan suara keras.

"Ku Ing-ing! hubungan diantara kita toh erat sekali, kapan sih aku pernah menyia-nyiakan dirimu?"

Giok Teng Hujin yang masih berlutut dihadapan Kiu-im Kaucu berubah air mukanya jadi merah padam setelah mendengar sindiran tersebut, tapi berhubung ia jeri terhadap pengaruh kaucu nya maka perempuan itu hanya membungkam terus dalam seribu bahasa.

Tiba-tiba dari sorot mata Kiu-im Kaucu keluar cahaya nafsu membunuh yang amat tajam, sambil menatap Thian Ik-cu dari kejauhan, serunya.

"Cara kami orang-orang perkumpulan Kiuim-kauw membunuh orang, sama sekali berbeda dengan apa yang kau bayangkan, andaikata engkau tak ingin merasakan penderitaan yang lebih hebat, lebih baik tutuplah mulutmu dan jangan banyak bicara!"

Dari nada ucapan itu dengan jelas mengartikan bahwa pihaknya telah ambil keputusan untuk mencabut nyawa Thian Ik-cu.

Panglima perang yang baru saja menderita kalah, seringkali memang nyalinya jauh lebih kecil, ketika Thian Ik-cu dipelototi oleh Kiu-im Kaucu dari tempat kejauhan, dia merasakan sorot mata lawan begitu tajam bagaikan anak panah yang menembusi ulu hatinya, tanpa sadar sekujur badannya gemetar keras dan bulu kuduknya pada bangun berdiri, ia segera membungkam dalam seribu bahasa.

Giok Teng Hujin merasa makin ngeri dan takut tatkala dilihat Kiu um kaucu tidak memerintahkan dirinya untuk bangkit berdiri, dalam gelisah dan cemasnya ia segera berseru.

"Tecu yang mengemukakan siasat dengan budak tecu, Che Giok menyaru sebagai Kun Gie untuk membunuh putra Jin Hian serta mencari pedang emas, dan karena siasat itu pula tiga kekuatan besar terjadi perpecahan...."

Tiba-tiba terdengar Jin Hian menengadah dan tertawa seram, suaranya begitu seram penuh kesedihan dan rasa dendam, begitu kerasnya suara tertawa itu membuat lembah Cu-bu-kok bergetar keras suasana tegang dan sedih menyelimuti seluruh angkasa.

Jin Hian makin tertawa makin keras, kutungan lengan kirinya yang telah dibalut kini merekah kembali hingga darah segar m ngucur tiada hentinya, mendadak ia muntah darah segar....

Dipihak lain secara diam-diam Thian Ik-cu telah melepaskan pedang mustika Poan liong kiam nya dan diserahkan ketangan Pia Leng-cu sambil berbisik penuh kegelisahan.

"Pedang emas itu tersimpan dalam pedang mustika ini, harap susiok segera melarikan diri, selewatnya hari ini baik atau buruknya kita harus berusaha untuk membinasakan Ku Ing-ing perempuan sialan itu!"

Terdengar Jin Hian yang sedang tertawa seram, tiba-tiba berhenti tertawa kemudian membentak keras.

"Ku Ing-ing semoga aku diberkahi umur panjang, akan kulihat bagaimanakah akhir hidupmu?"

"Hmm! mati hidup anak murid perkumpulan kami berada dalam genggamanku!"

Seru Kiu-im Kaucu dengan nada menyeramkan, raja akhiratpun tak kuasa menguasai kematian mereka, apalagi engkau....

Bicara sampai disini, tiba-tiba ia saksikan Pia Leng-cu yang berada dalam barak seberang sedang mengenakan pedang mustika dengan sikap yang tergesa-gesa, kecurigaannya segera timbul dan ia membentak keras.

"Ku lng Ing! dimanakah pedang emas itu?"

"Dalam pedang mustika Poan liong kiam milik Thian Ik-cu!"

Baru saja ucapan itu diutarakan, Pia Leng-cu dengan membawa serta pedang mustika Poan liong poo kiam telah meluncur kedepan serentetan suara suitan nyaring bergema di angkasa, imam tua itu langsung kabur keluar lembah.

Kiu-im Kaucu amat gusar sekali menyaksikan perbuatan imam tua tadi, sambil mengetukkan tongkat kepala setannya keatas tanah ia membentak keras kemudian secepat kilat mengadakan pengejaran dari belakang.

Dua orang itu satu didepan yang lain di belakang, bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya langsung menerjang ke arah mulut lembah, dalam sekejap mata bayangan tubuh mereka sudah lenyap dari pandangan mata.

Siang Tang Lay buru-buru berseru kepada Hoa Thian-hong dengan nada cemas.

"Seng ji, cepat kejar! bagaimanapun juga engkau harus merampas kembali pedang emas itu!"

Hoa Thian-hong dengan cepat melirik sekejap ke arah ibunya, lalu berpikir didalam hati.

"Luka dalam yang diderita ibu parah sekali, mungkin keselamatan jiwanya sukar dijamin, aku mana tega untuk tinggalkan dia orang tua lagi....?"

Berpikir sampai disitu, ia segera gelengkan kepalanya dan membungkam dalam seribu bahasa.

Mendadak....

terjadi kegaduhan yang amat ramai diempat penjuru.

Rupanya Pek Siau-thian telah menyadari bahwa gelagat tak menguntungkan bagi pihaknya, menggunakan kesempatan Kiu-im Kaucu belum kembali dari pengejarannya atas diri Pia Leng-cu, tiba-tiba ia pimpin sisa laskar yang tergabung dalam perkumpulan Sin-kie-pang dan cepat-cepat mengundurkan diri dari Lembah tersebut.

Jin Hian dari perkumpulan Hong-im-hwie serta malaikat kedua Sim Ciu dan nenek dewa bermata buta, masing-masing dengan membopong seorang rekannya yang terluka, ikut kabur tinggalkan mulut lembah tersebut.

Thian Ik-cu pun tak mau membuang kesempatan itu dengan begitu saja, ia segera perintahkan seorang murid untuk membopong tubuhnya dan kabur keluar dari lembah Cu-bu-kok.

Begitulah dalam keadaan serba kalut dan Kiu-im Kaucu belum kembali dari pengejarannya atas Pia Leng-cu, beberapa orang pen tolan dunia persilatan yang sudah terdesak posisinya pada melarikan diri dari sana.

Hoa Hujin sendiri diam-diam berpikir dalam hati kecilnya.

"Pengaruh dan kekuatan pihak Kiu-im-kauw terlalu besar untuk dilawan, Seng ji sendiripun belum tentu bisa menandingi kepandaian ilmu silat dari kaucu mereka, apalagi semua orang sedang terluka dan kami hanya menggantungkan Seng ji seorang, bagaimanapun juga posisi serta situasi semacam ini sangat menguntungkan bagi kita"

Perempuan ini cermat dalam pemikiran tegas dalam keputusan setelah ambil keputusan ia segera berseru.

"Seng ji bersiap sedia untuk buka jalan, mari kita undurkan diri lebih dahulu dari sini!"

Hoa Thian-hong paling menguatirkan keadaan luka yang diderita ibuaya, mendengar ibunya memerintahkan mundur ia amat gembira sebab keputusan tersebut sesuai dengan maksud hatinya.

Pemuda itu segera berlutut dan membopong ibunya diatas punggung kemudian sambil memegang pedang bajanya ia berjalan dulu didepan barisan.

Dalam waktn singkat Chin Pek-cuan telah membopong putranya Giok Liang, Dewa yang suka pelancongan Cu Thong membopong Bong Pay, Hoa In membopong Suma Tiang-cing, tiga orang murid Siang Tang lay membopong tubuh suhunya keatas tandu dan mengusung tandu tersebut, sedang Cu Im taysu menggandeng Ciu Thian-hau.

Sementara itu, sisanya masing-masing membopong dua sosok jenasah dan mengikuti dibelakang Hoa Thian-hong segera kabur keluar dari lembah Cu-bu-kok tersebut, Para jago itu merupakan orang-orang cekatan, setelah mereka ambil keputusan untuk pergi maka gerakan tubuh mereka cepat sekali, tidak sampai seperminum teh kemudian, semua orang telah meloloskan diri dari lembah itu.

Dipihak para pendekar kaum lurus, Hoa Thian-hong bergerak dipaling depan membuka jalan sedang Kiu-tok Sianci mengikuti dibarisan paling belakang, tentu saja orang-orang perkumpulan Kiu-im-kauw lebih-lebih tak berani menghadang jalan pergi mereka.

Sesudah keluar dari lembah, buru-buru Hoa Thian-hong bertanya.

"Ibu, kita akan pergi kemana?"

"Bergerak dulu ke kota Cho ciu!"

"Aaaah benar, kita memang harus kembali keperkampuan Liok Soat Sanceng yang sudah lama ditinggalkan"

Pikir Hoa Thian-hong didalam hati. Ia segera perkencang larinya dan meluncur ke arah depan tanpa lengah barang sedikitpun. Tiba-tiba terdengar Chin Pek-cuan membentak keras.

"Seng ji, lambat sedikit larinya!"

Buru-buru Hoa Thian-hong mengiakan ia segera perlambat larinya dari keadaan semula.

Meskipun pemuda itu sudah memperlambat gerakan larinya, namun buat Chin Pek-cuan serta Biau-nia Sam-sian sekalian masih tetap tak sanggup untuk menyusul.

Diantara mereka, Li-hoa Siancu yang paling payah, dengan nafas tersengkal-sengkal ia segera percepat larinya melampaui Hoa Thian-hong dan menghadang dihadapan si anak muda itu, sehingga terpaksa pemuda itu harus mengurangi gerak cepatnya.

Pada saat itu tengah hari baru saja lewat, sang surya memancarkan sinarnya dengan amat panas, setelah berlarilarian beberapa waktu lamanya tubuh mereka semua telah basah kuyup oleh air keringat.

Tiba-tiba Lan-hoa Siancu merasakan perutnya gemerutuk tiada hentinya, ia segera teringat satu urusan, dengan cepat tegurnya.

"Siau long, hari ini tanggal berapa?"

"Entah, aku sendiripun tak tahu?"

Kiu-tok Sianci yang berada didekatnya segera menyambung.

"Ini hari tanggal delapan belas, ada apa sih?"

"Yaaa ampun! aku sudah tiga hari tiga malam tak makan sesuatu apapun"

Seru Lan boa siancu setengah berteriak.

Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, semua orang segera merasakan perutnya sangat lapar, begitu haus dan laparnya sehingga hampir saja tak tertahankan.

Tiba-tiba Cu Im taysu mengheta nafas panjang dan berkata.

"Aaai....! pertamuan besar Kian ciau tayhwee telah berlangsung selama tiga hari tiga malam lamanya, kalau diingat kembali pertarungan ini mungkin merupakan suatu pertarungan yang paling panjang"

"Aaai....! ucapanmu memang benar"

Sambung Ciu Thianhau dengan suara berat, andaikata tidak murcul manusiamanusia setan dari perkumpulan Kiu-im-kauw, mungkin dalam sekali gebrakan Seng ji dapat menumpas habis sisa-sisa kekuatan dari perkumpulan Sin-kie-pang dan dunia persilatanpun akan menjadi tenang kembali.

"Walaupun kita gagal mengusir kaum penjahat dari muka bumi, sedikit banyak perkumpulan Hong-im-hwie dan Thongthian-kauw berhasil ditumpas, hasil yang kita peroleh itu sudah cukup memuaskan hati pin ceng,"

Sambung Cu Im taysu.

"Hmm!"

Tio Sam-koh mendengus penuh kegusaran.

"seorang manusia laknat telah lenyap, muncul manusia laknat lain, apa yang engkau puaskan....?"

Tiba-tiba ia membentak keras.

"Seng ji kurang ajar....!! engkau memang telur busuk"

Hoa Thian-hong jadi melongo ketika secara mendadak ia dicaci maki nenek tua itu, dengan keheranan ia lantas bertanya.

"Nenek Sam poo, kenapa sih engkau mencaci maki diriku?"

Tio Sam-koh makin gusar, teriaknya.

"Tadi bedebah Pek Siau-thian hendak bunnuh diri, kenapa engkau musti menghalangi perbuatannya itu?"

Li-hoa Siancu yang berada dibelakang, sambil mencibirkan bibirnya dia segera menyambung.

"Huuuh....! kenapa lagi? tentu saja ia memandang diatas muka Pek Kun-gie"

Merah padam selembar wajah Hoa Thian-hong mendengar perkataan itu, buru-buru selanya.

"Engkau keliru besar, aku berbuat demikian karena memandang diatas wajah istrinya.

"Huuh, engkau anggap aku tak tahu siapakah istrinya itu? bukankah dia calon mertuamu?"

Sindir Li-hoa Siancu lebih jauh sambil tertawa dingin. Dewa yang suka pelancongan Cu Tong tertawa terbahakbahak.

"Haaah.... haaah.... haaah.... setia kawan yang diperlihatkan Kho Hong-bwee patut dipuji, kita harus menghormati kepribadiannya yang luhur"

Hoa Hujin yang selama ini membungkam terus, tiba-tiba berkata.

"Jikalau orang-orang pihak Kiu-im-kauw melakukan pengejaran satu-satunya jalan yang bisa kita lakukan adalah melawan dengan sepenuh tenaga, bagaimanapun juga kita bukan lagi melarikan diri, lebih baik cari dulu sebuah dusun setelah makan kenyang baru kita lanjutkan kembali perjalanan kita."

Lan-hoa Siancu segera berseru.

"Ucapan hujin tepat sekali, Siau long dimanakah ada dusun?"

"Siaute tidak tahu!"

"Haaah! engkau ini segala apapun tidak tahu, yang engkau ketahui cuma bagaimana caranya melindungi Pek Kun-gie."

Hoa In tak tega majikan mudanya dibuat bulan-bulanan oleh sekawanan gadis Biau itu, dengan cepat ia maju kedepan sambil berkata.

"Hamba tahu, disebelah depan sana ada sebuah kota kecil!"

Ketika semua orang teringat akan makan dan minum tanpa sadar perjalanan dilakukan jauh lebih cepat, kurang lebih setengah jam kemudian sampailah mereka disebuan kota kecil.

Meskipun kota kecil tapi disitu terdapat sebuah rumah makan, setelah Hoa In membawa semua orang kerumah makan itu ia pergi seorang diri untuk membeli peti mati.

Setelah peti mati tersedia beberapa orang itu segera mengebumikan jenasab dari It sim hweesio sekalian beberapa orang, menghadapi rekan-rekan mereka yang telah gugur dalam keadaan mengenaskan semua orang merasa amat bersedih hati terutama Harimau pelarian Tiong Liau yang hampir pada saat yang bersamaan kehilangan istri dan putranya yang tercinta, kesedihan hatinya benar-benar sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Untung semua orang adalah pendekar-pendekar sejati yang berhati lapang dalam menghadapi pertarungan tersebut pada dasarnya semua orang telah membawa tekad untuk berjuang hingga titik darah penghabisan serta membasmi perkumpulan Hong Im twee, Sin-kie-pang serta Thong-thian-kauw, yang hidup merasa bersukur karena masih dapat melanjutkan hidup sebaiknya yang gugurpun berkorban dengan terpuji setelah bersedih hati beberapa waktu lamanya, perasaan hati merekapun menjadi lapang kembali seperti sedia kala.

Daun Leng-ci mustika yang masih tersisa tinggal selembar daun belaka, tapi Suma Tiang-cing, Chin Giok-liong dan Bong Pay tiga orang sama-sama menderita luka dalam yang amat parah, karena itu selembar daun mustika itu dibagikan kepada mereka bertiga untuk dimakan, hingga saat itu masih tertidur nyenyak dan tak pernah sadar barang sebentarpun jua.

Siang Tang Lay dan Ciu Thian-hau sendiri walaupun isi perutnya terluka sangat parah, tapi dengan dasar tenaga dalam mereka berdua yang amat sempurna, asal bersemedi beberapa hari saja niscaya luka itu dapat di sembuhkan dengan sendirinya.

Justru diantara mereka keadaan Hoa Hujin yang termasuk paling payah, segenap tenaga dalamnya telah ludas, ilmu silatnya punah dan luka racun yang didcitanya dahulu mulai kambuh kembali, keadaannya paling serius dan gawat diantara yang lainnya.

Kiu-tok Sianci kecuali ahli dalam bidang obat-obatan beracun, iapun menguasai dalam ilmu pengobatan, setelah mengisi perut dia segera memeriksa keadaan luka yang diderita Hoa Hujin serta mengobati penyakitnya itu.

Setelah ribut sampai sore hari, akhirnya semua persoalan dapat diatasi dan para jago pun bersama-sama kumpul dalam ruangan untuk merundingkan gerakan mereka selanjutnya.

Hoa Hujin memandang sekejap ke arah Kin tok sian ci, kemudian sambil tertawa ujarnya.

"Putra ku pernah berhutang budi kepada Sian ci dan ini hari berkat pertolonganmu semua orang berhasil lolos dari bencara tersebut, bukan saja kami ibu dan anak merasa amat berterima kasih sekali atas penolonganmu itu, aku rasa semua orang yang hadir disinipun mempunyai perasaan yang sama"

Mendengar perkataan itu, Kiun tok sian ci tertawa.

"Aaah! hujin terlalu sungkan-sungkan, kita toh mempunyai pandangan dan cita-cita yang sama, tak apa kalau kita saling bantu membantu"

Hoa Hujin tersenyum.

"Aku tahu kalau sian ci paling tak suka mencampuri urusan keduniawian, aku lihat lebih baik engkau segera pulang ke wilayah Biau saja karena urusan disini sudah selesai dan aman bila lain waktu ada kesempatan aku orang she Bun pasti akan berkunjung kesitu.

"Ibu! bagaimana dengan luka racunmu?"

Tukas Hoa Thianhong darin samping.

"sian nio paling sayang kepada ananda...."

"Sian ci telah tinggakan resep obat kepadaku, asal kita belikan obat itu bukankah lukaku akan sembuh?"

Sela Hoa Hujin sambil tertawa. Sesudah berhenti sebentar ia melanjutkan.

"Sekarang engkaupun telah lerhitung seorang pendekar kenamaan dalam dunia persilatan, lain kali kalau ingin menyelesaikan sesuatu masalah maka engkau harus mengutamakan soal cengli lebih dulu janganlah urusan pribadi maka engkau merampas cengli dengan emosimu itu!"

"Ananda akan ingat selalu nasehat dari ibu"

Sahut Hoa Thian-hong sambil tertawa riku. Sementara itu Kiu-tok Sianci telah tertawa santai lalu berkata.

"Chin loo enghiong, putri kesayanganku itu akan kau ajak pulang ke kota Keng ciil ataukah ikut aku pulang ke wilayah Biau?"

"Haahh.... haahh.... haahh...."

Chin Pek-cuan tertawa terbahak-bahak.

"selamanya perempuan mondong keluar, sejak dari permulaan aku telah berikan putriku ini kepada orang lain"

Kiu-tok Sianci kembali tersenyum.

"Hong ji, inginkah engkau pulang ke wilayah Biau dan belajar warisan ilmu kepandaianku?"

"Ingin!"

Sahut Chin Wan-hong lirih, kepalanya ditundukkan rendah-rendah.

Jawaban tersebut diutarakan dengan suara yang lirih dan lembut bagaikan bisikan nyamuk, semua orang tahu gadis itu sebenarnya ingin tapi tidak ingin, tidak ingin tapi sebenarnya ingin.

Tiba-siang Siang Tang Lay berkata.

"Hujin, aku adalah orang yang berasal dari luar perbatasan, bila ada perkataan yang menyumbat tenggorokanku, rasanya tak leluasa kalau tidak diutarakan keluar"

Kita toh sesama rekan seperjuangan, bila Siang heng ingin mengucapkan sesuatu silahkan saja diutarakan secara terus terang.

Aku tak habis mengerti, apa sebabnya hujin tak mau menganggap Hong ji sebagai menantumu?

apakah engkau benar-benar penuju dengan Pek Kun....

Buru-buru Hoa Hujin goyangkan tangannya berulang kali, sambil tertawa ia menukas.

"Aku orang she Bun amat penuju sekali dengan Hong ji, sebenarnya aku sudah ingin menimangnya sejak dulu, tapi berhubung Hong ji masih punya harapan untuk mewarisi segenap kepandaian dari sian ci maka aku kuatir karena soal perkawinannya ini sehingga menghilangkan kesempatan baik tersebut baginya"

Mendengar perkataan itu, Kiu-tok Sianci segera tertawa.

"Soal itu sih tak perlu kau risaukan, anak murid wilayah Biau bisa menjadi menantu keluarga Hoa, sekalipun tiap tahun aku harus berkunjung sekali kedaratan Tionggoan aku juga rela...."

Berbicara sampai disini, tiba-tiba paras mukanya berubah jadi amat serius serunya.

"Siau long!"

Merah padam selembar wajah Hoa Thian-hong, dengan terbata-bata ia mengiakan. Dengan nada serius Kiu-tok Sianci berkata lebih jauh.

"Ibumu adalah seorang pendekar sejati diantara kaum wanita, selamanya bertindak ia lebih mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan diri pribadi, sedang aku adalah suku Biau aku mempunyai jalan pikiran yang lain mengenai kehidupan seorang manusia, mengertikah apa yang kumaksudkan?"

Hoa Thian Hoag agak terperangah.

"Meskipun aku yang muda tidak mempunyai banyak kesempatan untuk berkumpul dengan sian nio, tapi dalam pikiranku. Sian nio tak ada ubahnya dengan ibu kandungku sendiri"

Kiu-tok Sianci mengangguk.

"Baik, akan kujelaskan kepadamu sifat suku Biau kami, bagi orang Biau mereka lebih mengutamakan soal cinta kasih daripada kepentingan umum, kalau engkau tak bersedia mengawini Hong jin, maka katakanlah sekarang juga, aku tak mungkin akan membenci atau mendendam kepadamu, tapi seandainya engkau telah mengawini Hong jin kemudian melakukan perbuatan yang mengakibatkan ia merasa sakit hati, jikalau kami orang Biau sudah membalas dendam, maka cara dan tindakan yang kami lakukan tak akan kepalang tanggung, kami akan gunakan berbagai cara yang terkeji untuk lenyapkan dirimu dari muka bumi"

Selesai mendengar keterangan tersebut. Hoa Thian-hong berdiri termangu-mangu, lama sekali ia baru berseru dengan terbata-bata.

"Empek Chin adalah tuan penolong keluarga Hoa kami...."

"Sekarang kita tidak membicarakan soal budi atau setia kawan, yang dibicarakan hanya soal cinta asmara, cintakah engkau kepada Hong ji....?"

Hoa Thian-hong melirik sekejap ke arah Chin Wan-hong, lalu tanpa disadari ia mengangguk. Li-hoa Siancu yang selama ini membungkam, tiba-tiba menimbrung dari samping.

"Siau long, cintakah engkau kepada Pek Kun-gie?"

Mendengar pertanyaan ttu, Hoa Thiao Hong berdiri tertegun dan gelabakan setengah mati, bibirnya bergerak seperti mau mengucapkan sesuatu namun tak sepatah katapun yang meluncur keluar.

Li-hoa Siancu jadi mendongkol sekali, segera hardiknya.

"Ayoh jawab engkau cinta padanya atau tidak?"

"Siaute!.... siaute sendiripun tak tahu apakah aku cinta padanya atau tidak!"

"Hmm! kalau tidak tahu itu tandanya engkau cinta pada budak ingusan tersebut! bukan begitu?"

Seru Li hoa siansu makin naik pitam. Lan-hoa Siancu yang berada disisinya segera ikut nimbrung dari samping.

"Kalau memang begitu urusan makin gampang untuk diselesaikan, sebentar kita berangkat dan cari Pek Kun-gie sampai ketemu setelah gadis ingusan itu kita bunuh bukankah urusan akan beres?"

Hoa Thian-hong kaget sekali mendengar ancaman tersebut segera pikirnya didalam hati.

"Ketiga orang budak ini sangat binal dan tak tahu aturan apa yang diucapkan dapat sungguh-sungguh dilaksanakan, waah.... kalau sampai terjadi peristiwa itu urusannya jadi runyam"

Berpikir sampai disini buru-buru ia berpaling ke arah Kiutok Sianci dan berseru.

"Sebagai seorang lelaki sejati aku berani menerima resiko macam apapun juga tapi aku mohon agar sian ci jangan membinasakan diri Pek Kun-gie"

Kiu-tok Sianci menghela napas panjang.

"Aaiai.... Hujin lebih baik engkau yang selesaikan urusan ini, aku sendiripun tak tahu apa yang harus kulakukan!" 0000O0000

"Sian Ci tak usah kuatir"

Sahut Hoa Hujin dengan wajah serius.

"setelah putraku mengawini Hong ji jika tindak tanduknya tidak genah dan cintanya tidak setia maka akan kuhantar sendiri batok kepalanya ke wilayah Biau untuk diperiksa oleh sianci!"

"Kalau memang begitu akupun tak akan mengatakan apaapa lagi!"

Hoa Hujin segera berpaling dan tegurnya.

"Chin heng entah bagaimana pendapatmu?"

Chin Pek-cuan segera menengadah dan tertawa terbahakbahak.

"Haaahhh.... haaahh.... haahh.... apa yang harus kukatakan lagi?"

Sampai disitu maka urusan perjodohanpun sudah ditetapkan, Dewa yang suka pelancongan Cu Thong sekalian segera memberi selamat kepada keluarga pihak lelaki, keluarga pihak perempuan serta Kiu-tok Sianci, sedangkan Biau-nia Sam-sian menggoda adik seperguruannya hingga membuat Chin Wan-hong jadi tersipu-sipu.

Setelah ribut beberapa waktu, merekapun membicarakan soal waktu perkawinan, Chin Pek-cuan tidak memberi komentar apapun dan menurut semua pendapat yang diutarakan.

Sebaliknya Hoa Hujin yang teringat letak perkampungan Liok Soat Sanceng jauh di wilayah San see, kalau perkawian itu diseleng garakan setelah tiba dirumah, maka hal ini pasti akan memperlambat waktu pulang Kiu-tok Sianci ke wilayah Biau, selain itu diantara rekan-rekan seperjuangan pun masih banyak yang terluka, pengaruh perkumpulan Kiu-im-kauw makin mengganas sedang masa depan dunia persilatan tetap diselubungi kabut bencana, belum tentu semua orang berminat untuk ikut menghadiri perayaan tersebut, karenanya ia ambil keputusan daripada musti gelisah lebih baik upacara perkawinan dilakukan secepatnya.

Kiu-tok Sianci adalah seorang suku Biau, ia tidak punya pantangan atau kesulitan apa-apa kecuali urusan Pek Kun-gie yang masih mengganjal dalam hatinya, menurut pemikirannya asal sang murid segera melangsungkan perkawinannya dan merekapun telah menjadi suami istri maka keadaan tersebut akan jauh lebih mantap.

Setelah berunding beberapa waktu lamanya, terakhir tiga orang itu memutuskan untuk menyelenggarakan upacara perkawinan pada saat itu juga dalam rumah penginapan kecil jauh diluar kota tersebut.

Dalam sekejap mata suasana dalam kedai itupun jadi ribut dan ramai, Hoa In segera pergi ke pasar untuk siapkan lilin dan hiasan, Lan-hoa Siancu dan Tio Sam-koh menyiapkan pakaian serta perhiasan, Li-hoa Siancu dan Ci-wi Siancu mengatur kamar pengantin, Dewa yang suka pelancongan Cu Thong menyiapkan meja perjamuan.

Karena jumlah pembantu yang sangat kurang, Cui Im taysu seorang yang pergi membereskan soal peti mati dan lelayon rekan-rekannya untuk dipindahkan dari depan kedai ke arah belakang, bekerja pulang pergi dengan repotnya membuat beberapa orang itu basah kuyup oleh air keringat....

Setelah repot seharian penuh, tatkala malam hari menjelang tiba semua persiapan pun telah beres.

Pada malam itu juga, ruang tengah kedai bermandikan cahaya terang, Hoa Thian-hong mengenakan jubah panjang warna merah, sedangkan Chin Wan-hong mengenakan gaun yang gemerlapan, kecuali tidak memakai penutup kepala, dandanan mereka persis seperti pengantin pada umumnya.

Sesudah upacara dimeja sembahyang pay ciu maka sepasang pengantin baru itupun dihantar masuk kekamar pengantin.

Keesokan harinya, sepasang pengantin baru itu mengucapkan banyak terima kasih kepada para cianpwee dan rekan lainnya yang ikut memeriahkan upacara itu.

Sejak pertempuran sengit dalam pertemuan besar Kian ciau tayhwee, dalam hati kecil setiap orang sama-sama timbul suatu perasaan yang sangat aneh, seolah-olah dalam beberapa hari yang singkat, umur mereka semua telah bertambah tua dua tiga puluh tahun kegagahan dan semangat berkobar-kobar yang mereka perhatikan dimasa silam secara tiba-tiba lenyap tak berbekas, setiap orang merasakan badannya lesu dan penat bahkan Ciu Thian-hau serta Tio Sam-koh sekalian yang merupakan orang-orang gagah yang suka berterus terangpun sama-sama berharap agar dunia persilatan dapat menjadi tenang untuk beberapa saat lamanya sehingga memberi kesempatan buat mereka untuk mengundurkan diri dan mengasingkan diri dari urusan dunia.

Selesai bersantap pagi, Kiu-tok Sianci memanggil sepasang pengantin baru itu dihadapannya dan berkata.

"Siau long ini hari juga aku akan pulang ke wilayah Bitu, Hong ji adalah seorang bocah yang jujur dan setia engkau harus hati-hati merawat dirinya"

Hoa Thian-hong anggukkan kepalanya berulang kali.

"Aku yang muda tak berani menyia-nyiakan dirinya!"

"Hmm! aku tanggung engkau tak berani, sela Lan hoa sian cu dari samping. Hoa Thian-hong dan Chin Wan-hong saling berpandangan sekejap lalu tertawa, setelah perkawinan paras muka mereka berdua meman-carkan cahaya berkilauan, cinta kasih yang begitu hangat dan mesrah terkandung semua dibalik senyuman tersebut membuat Biau-nia Sam-sian yang menjumpai keadaan tersebut sama-sama terperangah dibuatnya. Tiba-tiba Li-hoa Siancu berteriak keras.

"Bagus sekali! setelah Hong ji punya suami, ia tak mau suhunya serta para sunci nya lagi"

"Benar akupun merasakan juga akan hal ini"

Sambung Ci-wi Siancu dari samping secara tiba-tiba.

"aku merasa hubungan siau sumoay dengan diriku jadi terpaut sekali"

Chin Wan-hong jadi sangat gelisah, ia berusaha hendak membantah tapi mulutnya tergagap dan tak sepatah katapun yang sanggup di utarakan keluar.

Melihat keadaan muridnya yang terkecil ini, Kiu-tok Sianci segera tertawa dan menghentikan suara ribut-ribut semua orang, dari sakunya diambil keluar se

Jilid kitab lalu berkata.

"Isi kitab isi merupakan kepandaian ilmu tusuk jarum guna mengobati luka akibat keracunan, ambillah dan pelajari sendiri dengan seksama, setengah tahun kemudian aku akan berkunjung lagi keperkumpulan Liok Soat Sanceng guna mewariskan kepandaian yang lain"

Ching Wan Hong menerima kitab tersebut dan mengucapkan banyak terima kasih kepada suhunya, Kiu-tok Sianci pun menggunakan kesempatan itu mohon diri kepada semua orang.

Tiba-tiba Siang Tang Lay berseru.

"Seng ji, bagaimanakah ilmu silat yang dimiliki Kiu-im Kaucu menurut pendapatmu?!"

Hoa Thian-hong termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian menjawab.

"Aku yang muda tak dapat menerkanya!"

Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan.

"Tongkat kepala setan yang menjadi senjata andalannya itu entah terbuat dari bahan apa? kalau didengar dari pantulan suara ketika tongkat itu menyentuh tanah, mungkin beratnya melebihi lima ratus kati...."

"Aaah! omong kosong, pandai benar engkau ngaco belo tak karuan!"

Maki Lan-hoa Siancu. Hoa Thian-hong tersenyum.

"Betul! tongkat itu berat sekali, mungkin enci tidak perhatikan dengan seksama...."

"Aaaah! ngawur, omong kosong, aku lihat tongkat itu dibawa olehnya dengan enteng sekali kami yang ada didekatnyapun tak dengar sentuhan tongkat dengan tanah maka engkau yang ada ditempat kejauhan malah mendengar dengan jelas?"

"Suhu kau dengar atau tidak?"

Tanya Ci-wi Siancu.

Aku sih tidak mendengar jawab Kiu-tok Sianci sambil tertawa, tapi aku percaya tongkat kepala setan itu bukan benda sembarangan tongkat itu pasti berat sekali.

Kalau senjata itu benar-benar lima ratus kati beratnya tapi ia bisa membawa dengan begitu enteng seolah-olah barang kecil, dari sini dapat diketahui kalau ilmu silatnya pasti luar biasa sekali!"

Teriak Lan-hoa Siancu.

Siang Tang Lay mengangguk.

Menurut pandanganku, Kiu-im Kaucu pastilah seorang jago persilatan yang berkepandaian silat luar biasa, bukan saja akalnya banyak dan cerdas diapun merupakan seorang manusia yang licik dan kejam, manusia semacam ini sukar dihadapi.

"Perkataan dari lociqnpwee tidak salah, Hoa Thian-hong menanggapi, setelah orang ini munculkan diri dalam dunia persilaan pelbagai perbuatan yang mengoncangkan dunia persilatan pasti dilakukan olehnya, dalam keadaan demikian rasanya tak mungkin bagi kita untuk tetap santai dan menganggur"

Emmm! orang kuno mengatakan. Setelah Thian memberikan kecerdasan kepada kita umat manusia, maka setelah kita hidup di kolong langit kenapa musti menganggur atau bermalas-malasan! cuma...."

Dia menyapu sekejap kawan-kawannya yang hadir disana, lalu melanjutkan.

"Aku adalah seorang manusia yang bertubuh cacad, ketika pinjam ilmu iblis pekikkan maut Hong hiat mo kang aku telah berjanji hanya akan menggunakan satu kali saja, mulai sekarang aku tak dapat menggu nakan kepandaian itu lagi, seandainya terjadi persoalan maka aku tak dapat memberi bantuan apa-apa lagi"

Hoa Hujin tersenyum.

"Jadi kalau begitu, sepantasnya kalau namaku pun ikut terhapus dari dunia persilatan"

Terdengar Siang Tang Lay melanjutkan kata-katanya lebih jauh.

"Kalau kita gunakan racun untuk melukai seorang atau dua orang, maka kejadian ini merupakan suatu peristiwa yang umum dan tak aneh tapi kalau mengandalkan benda racun untuk membirasakan segenap musuh-musuh kita, maka kejadian itu merupakan suatu peristiwa yang melanggar hukum Thian serta memperkosa asas perikemanusiaan, sekali pun meracuni sekelompok binatang buas hingga mati juga merupakan tindakan kelewat kejam, oleh sebab itulah kita tak boleh terlalu menggantungkan kemampuan Sian ci...."

Kiu-tok Sianci tertawa dan segera berkata.

"Persoalannya terletak pada kemampuan ilmu racun yang kadangkala tak bisa digunakan sebagaimana mestinya kita berbicara menurut keadaan yang kita alami kemarin, pada waktu itu kabut Kiu tok ciang milikku sudah kusebarkan pada tingkat yang paling hebat, seandainya berada ditanah lapang yang luas atau ditempat yang berhembus oleh angin kuat maka benda racun itu tidak akan banyak mendatangkan manfaat, meskipun aku mempunyai ilmu racun lainnya, akan tetapi kepandaian tersebut tak dapat di gunakan untuk mengbahapi jumlah orang yang terlalu banyak."

Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan.

"Kabut racun itu paling anti dengan api, sebab kalau bertemu api segera akan berkobar dan musnah tak berbekas, hawa racun akan kalut dan buyar bahkan kemungkinan besar malahan akan melukai orang-orang dari pihaknya sendiri, terus terang saja ilmu racun itu banyak sekali penyakit dan kelem hannya, seandainya pihak lawan mengetahui keadaan itu dengan jelas, maka sulitlah bagi kita untuk pancing mereka hingga masuk perangkap"

"Yaa.... kalau ditinjau dari sini, bicara pulang pergi akhirnya toh untuk menghadapi perbuatan dunia persilatan, kita masih menggantungkan diri dengan soal ilmu silat, kalau ilmu silat trak dapat menandingi maka cepat atau lambat akibatnya akan menuju jalan kematian"

"Aku yang muda akan berlatih tekun siang maupun malam, aku harap Cianpwee sekalian bersedia untuk menyumbangkan pula tenaga untuk bersama-sama menghadapi situasi yang gawat dan serba susah ini"

Pinta Hoa Thian-hong serius. Siang Tang Lay menghela napas panjang.

"Aaai.... yang tua dan berpengalaman telah mengundurkan diri, orang-orang yang masih hidup sekarang tinggal beberapa gelintir saja, kami beberapa orang ini sudah tak akan memberikan manfaat apa-apa lagi bagi dirimu"

Mendengar sampai disitu, Ci-wi Siancu baru paham dengan apa yang dimaksudkan oleh jago tua itu, dengan alis mata berkenyit serunya tercengang.

"Kenapa sih? maksud Siang locianpwee, untuk menghadapi semua urusan dalam dunia persilatan dikemudian hari, maka sian long harus menanggulanginya seorang diri?"

"Kalau tidak begitu lantas apa yang harus kita lakukan?"

Ciwi siancu merasa sangat tidak puas, serunya.

"Kita semua....?"

Tetapi ketika ia saksikan kecuali dirinya guru dan murid serta Siang Tang Lay, para jago yang hadir disinipun cuma beberapa orang belaka yang mungkin merupakan segenap anggota persilatan dari golongan lurus, ia jadi terbungkam dan tak sanggup meneruskan kembali kata-katanya.

Terdengar Siang Tang Lay dengan suara lantang berkata lagi.

"Seng ji, seribu patah kata lebih baik kuringkas jadi sepatah kata saja, cepat-cepatlah rampas kembali pedang emas itu dan ambillah kitab Kiam keng dari pedang baja tersebut, menanti ilmu silatmu telah berhasil dilatih hingga mencapai tingkatan yang tiada tandingannya lagi di kolong langit, pada saat itulah apa yang ingin kau kerjakan dapat di laksanakan dengan leluasa"

"Terima kasih atas petunjuk dari locianpwee, aku telah memahami arti dari kata-katamu itu"

Sahut Hoa Thian-hong serius. Siang Tang Lay tertawa ringan, kembali katanya.

"Dan disinilah letak kunci rahasia mengapa Kiu-im Kaucu tidak terburu nafsu untuk membinasakan kita sebaliknya malah ribut untuk merampas pedang emas itu"

"Mungkin dia kuatir kalau di kolong langit terdapat jago lihay yang memiliki ilmu silat yang lebih tinggi dan lihay diri pada dirinya?"

Ujar Ci-wi Siancu.

"Tentu saja dari pada menggantungkan kekuatan anak buah lebih baik menggantungkan kekuatan sendiri, musibah yang menimpa diri Pek Siau-thian merupakan suatu contoh yang amat jelas sekali"

Kiu-tok Sianci tiba-tiba tersenyum sesudah memandang sekejap ke arah sepasang pengantin baru itu, ia bangkit berdiri dan mohon diri, Siang Tang Laypun segera mohon diri pula, kepada semua orang dan berangkat kembali ke wilayah See ih.

Hoa Hujin berusaha untuk menahan mereka, tapi setelah usahanya gagal terpaksa ia menghantar keberangkatan mereka.

Siang Tang Lay adalah rekan seperjuangan para jago, gerak-geriknya sudah terbiasa pergi datang tak menentu, kepergian jago tua itu tidak begitu memberatkan hati semua orang.

Lain keadaannya dengan Kiu-tok Sianci, bukan saja ia merupakan gurunya Chin Wan-hong, dengan diri Hoa Thianhong pun mempunyai ikatan bubungan yang sangat erat.

Biau-nia Sam-sian amat menyayangi siau sumoynya ini, sejak permulaan memandang Hoa Thian-hong sebagai saudara sendiri pula, beberapa orang yang selalu berkumpul dengan riang gembira ini, setelah harus berpisah mereka sama-sama merasa berat hati dan segan untuk berpisah satu dengan lainnya.

Setelah menghantar sampai keluar pintu rumah penginapan, Siang Tang Lay beserta anak muridnya berangkat ke arah barat, sedangkan Kiu-tok Sianci beserta Biau-nia Samsian berangkat ke arah barat daya, Hoa Thian-hong dan Chin Wan-hong menghantar guru dan kakak sepergu ruan mereka hingga sepuluh li jauhnya, disitulah dengan air mata bercucuran mereka saling berpisah.

Sesaat setelah berangkat, Lan-hoa Siancu diam-diam berpikir dalam hati kecilnya.

"Pek Kun-gie cantik jelita bagaikan bidadari sebaliknya Hong ji segan untuk mencampuri urusan itu, keadaan semacam ini benar-benar amat membahayakan posisinya."

Berpikir sampai disitu, ia lantas berseru.

"Siau long!"

"Enci ada persoalan apa?"

Tanya Hoa Thian-hong dengan air mata berlinang. Lan-hoa Siancu menarik anak muda itu ke samping lalu dengan muka serius bisiknya.

"Aku hendak memperingatkan dirimu lebih dahulu, jika engkau berani kasak kusuk mengadakan cinta dengan Pek Kun-gie maka aku bersumpah pasti akan bunuh budak ingusan she Pek itu sampai mampus mengerti?"

"Siaute tidak berani!"

"Aku tak mau tahu engkau berani atau tidak"

Tukas Lan hoa sianco cepat.

"asal aku dengar engkau adakan hubungan gelap dengan perempuan itu, maka aku akan segera bunuh Pek Kun-gie secara keji, engkau pasti tahu bukan ilmu racun dari suku Biau kami tersohor karena kelihayannya dan membuat orang yang diserang sama sekali tak bisa menghindar ataupun bersiap sedia!"

Hoa Thian-hong termangu beberapa saat lamanya, kemudian sahutnya.

"Akan siaute ingat selalu!"

Lan boa siancu mendengus dingin, setelah dipikir sebentar agaknya ia masih merasa tidak lega hati maka kembali Chin Wan-hong ditarik kesamping dan secara diam-diam memesan sepatah dua patah kata kepadanya, lalu memberikan sebuah benda kedalam gengamannya, kemudian mereka guru dan murid empat orang baru berangkat melakukan perjalanan.

Menanti bayangan punggung keempat orang itu sudah lenyap dari pandangan, Hoa Thian-hong suami istri baru kembali kerumah penginapan sambil bergandengan tangan, pada waktu itu Hoa Hujin sekalian sudah menunggu diluar pintu siap untuk berangkat keutara.

Dari tempat itu menuju keutara, perjalanan dilakukan dengan sangat lambat, Hoa Hujin naik tandu, Suma Tian Cing sekalian yang terluka parah naik kereta sedangkan sisanya ada yang menunggang kuda ada pula yang jalan kali, sedang empat buah kereta besar penuh berisikan peti mati dengan layon dari rekan-rekan mereka yang gugur.

Suasana dalam dunia persilatan pada saat itu sangat tenang dan sepi sekali, perkumpulan Thong-thian-kauw serta Hong-im-hwie yang baru saja terbasmi dan musnah, lebihlebih tak ada suara lagi sampai para anak buahnya yang berada dipelbagai daerah pun ikut lenyap tak berbekas.

Bagi kalangan hitam, suasana semacam ini dinamakan musim meng-hindari angin ibaratnya pohon tumbang monyet pada berlarian, tak seorang anggota komplotan dari dua buah perkumpulan itu yang berani munculkan diri secara terus terang.

Setiap orang sama-sama menguatirkan suasana yang tenang tapi menegangkan itu orang-orang dari perkumpulan Kiu-im-kauw belum ada yang munculkan diri secara resmi, sedang pihak Pek Siau-thian setelah mengalami pukulan batin yang amat berat itu, pengaruh pihak Sin-kie-pang pun kian hari kian bertambah merosot.

Sepanjang perjalanan menuju keutara, para jago tak pernah berjumpa seorang manusiapun yang menggembol golok atau pedang hingga akhirrya pada suatu hari mendadak terjadilah suatu peristiwa yang sangat aneh.

Kiranya kisah pertarungan dan akibat dari pertemuan besar Kian ciau Tay bwee telah tersiar secara luas dikalangan rakyat jelata, para penduduk pada mengetahui kalau pihak pendekar telah berhasil melenyapkan perkumpulan Thong-thian-kauw dan Hoa Im hwee dari muka bumi, hanya saja berita yang tersiar kian lama kian menjauhi garis kenyataan yang sebenarnya, bahkan sampai-sampai tersiar berita yang mengatakan secara bagaimana pihak pendekar bertempur sengit selama tiga hari tiga malam sebelum akhirnya berhasil melenyapkan Thong-thian-kauw dan Hong-im-hwie dari muka bumi.

Bagaimana pihak Sin-kie-pang tinggalkankan medan dan melarikan diri terbirit -birit, bagaimana ada beberapa orang manusia tanpa nama yang menyaru sebagai setan dengan mengaku orang-orang dari perkumpulan Kiu-im-kauw tapi sandiwara mereka ketahuan dan ketuanya melarikan diri terbirit-birit, sampai ada yang menyiarkan berita yang mengatakan dunia telah aman tenteram dan bebas dan kelaliman serta kejahatan.

Berdasarkan berita yang tersiar itulah setiap rumah penduduk yang dilalui para pendekar rata-rata menyiapkan meja sembahyang di luar pintu rumahnya segenap keluarga menyiapkan sayur dan arak untuk menjamu pahlawanpahlawan, mereka keluarga kaya dan kaum bangsawan memimpin rakyatnya menyambut kedatangan jago-jago lihay itu, nama besar Hoa Hujin sampai Hoa In dan Harimau pelarian Tiong Liu tersohor di mana-mana dan dihormati bagaikan malaikat, Dua wilayah yang mereka lewati semuanya menunjukkan keadaan yang sama, dengan susah payah akhirnya toh para jago berhasil melanjutkan kembali perjalanannya namun banyak waktu telah terbuang dengan percuma.

Dalam keadaan demikian, semua orang merasa malu dan jengah dengan sendirinya, untuk menghindari semua keadaan seperti itu terpaksa mereka menghindari kota besar dan melewati jalan gunung, setelah tengah malam tiba, mereka baru berani cari tempat penginapan untuk beristirahat.

Suatu ketika sewaktu rombongan para jago masih berada beberapa li dari sebuah kota, mereka saksikan cahaya lampa lentera menyinari sekeliling pintu gerbang kota, beratus-ratus orang penduduk berkumpul dikaki pintu kota menantikan kedatangan mereka, hal ini segera menyusahkan hati Hoa Hujin dan buru-buru memerintahkan semua rombongan untuk menghentikan perjalanan.

Tiba-tiba Ciu Thian-hau loncat turun dari atas kereta, kemudian berseru.

"Hujin, lo koko sekalian, aku ingin buruburu pulang kerumah, lebih baik kita berpisah sampai disini saja"

Setelah memberi hormat ia segera meneruskan perjalanan kabur menuju ketempat yang sepi dan kegelapan.

Semua orang terperangah menyaksikan kejadian itu sebelum mereka sempat mengucapkan sesuatu bayangan tubuh Ciu Thian-hau sudah lenyap dari pandangan.

Dewa yang suka pelancongan Cu Thong berpikir sebentar ketika merasakan bahwa cara itu sangat bagus maka sambil tertawa terbahak-bahak ia segera bopoag tubuh Bong Pay sambil berkata.

"Sampai jumpa lain kesempatan, akupun ingin berangkat selangkah lebih dulu"

"Cu toako kapan kita dapat bertemu lagi?"

Seru Hoa Hujin dengan gelisah. Dewa yang suka pelancongan Cu Thong tertawa.

"Kalau aku masih bernasib panjang permulaan tahun mendatang aku pasti akan datang untuk menyampaikan tahun baru kepada hujin"

"Cu toako engau akan berdiam dimana?"

Dewa yang suka pelancongan Cu Thong segera tertawa terbahak-bahak.

Haahhh....

haahhh....

haahh....

empat penjuru samudra adalah rumahku, kalau bercokol disuatu tempat tertentu maka bukanlah Dewa yang suka pelancongan"

Bicara sampai disitu, ia putar badan dan segera berlalu dari sana dengan cepatnya. Hoa Thian-hong dengan cemas segera berseru.

"Bong toako!"

Terdengar Bong Pay mengiakan tapi dalam sekejap mata bayangan tubuh Cu Thong sudah lenyap dibalik kegelapan.

Tiba-tiba Hoa Hujin menyaksikan Suma Tiang-cing ngeloyot turun dari atas kereta, dengan muka berubah jadi amat serius ia segera menegur.

"Engkau harus ikut kami untuk kembali keperkampungan Liok Soat Sanceng, setelah lukamu sembuh barulah boleh pergi tinggalkan tempat ini"

"Paman!"

Ujar Hoa Thian-hong pula dari samping.

"engkau toh sebatang kara dan tak ada urusan apa-apa, berdiamlah selama setengah tahun dalam perkampungan kami agar keponakan dapat memperoleh banyak manfaat darimu"

"Bukan saja kalian harus membawa sanak keluarga bahkan harus membawa pula orang-orang yang sudah mati, perjalanan bukan saja lambat bahkan banyak urusan tetek bengek, lebih baik aku berangkat lebih dahulu....!"

Seru Suma Tiang-cing tegas. Cui Im taysu tersenyum dan segera ikut menimbrung.

"Aku memangnya seorang padri yang tak punya kuil, baiklah akan kutemani Suma loo te untuk berkelana keempat penjuru samudra!"

"Hey hweesio tua, mau ajak dia pesiar sih boleh, tapi jangan kau bujuki dirinya untuk cukur rambut jadi pendeta lho! goda Tio Sam-koh.

"Aaah.... tentu saja, tentu saja, haahh.... haah.... haah engkau tak usah kuatir"

Jawab Cu Im taysu sambil tertawa.

Suma Tiang-cing paling tidak terbiasa kalau terikat dan tak bisa bebas, ia kuatir dihadang oleh Hoa Hujin lagi, maka dengan cepat dirampasnya kuda tunggangan dari Hoa In, lalu sekali cemplak melari kan kuda itu cepat-cepat meninggalkan tempat itu.

Cui Im taysu yang menyaksikan kejadian tersebut, buruburu menggerakkan senjata sekopnya dan menyusul dari belakang.

Setelah beberapa orang itu berlalu, kini yang tersisa tinggal keluarga Hoa, Chin dan Tio Sam-koh.

Meskipun usia Chiu Pek Cuan sudah melewati setengah abad, tapi ia masih punya ibu yang masih hidup, sebenarnya ia ada maksud untuk pulang dan merawat ibunya yang sudah tua, tapi karena berat hati untuk tinggalkan menantu kesayangannya ini, maka ia ambil keputusan untuk menghantar mereka hingga tiba diperkampungan Liok Soat Sanceng lebih dulu sebelum berangkat pulang.

Tapi sekarang setelah melihat para jago berlalu sendirisendiri, timbul kembali keinginannya uniuk pulang rumah, maka akhirnya ia pun mohon diri terhadap Hoa Hujin.

Dalam keadaan apa boleh buat, terpaksa Hoa Hujin mengijinkan permintaannya itu.

Menanti semua orang sudah berangkat, ia baru berpaling ke arah Tio Sam-koh sambil menyindir.

"Apakah engkau juga akan berangkat?"

Tio Sam-koh termenung dan berpikir sebentar, kemudian jawabnya.

"Baiklah, aku adalah sesosok sukma gentayangan yang tak punya sanak tak punya keluarga, akan kutemani engkau sampai akhir hidupku nanti....!"

Hoa Hujin tersenyum, kepada Hoa In ia segera berkata.

"Hantarlah layon dari Lie, Ma, Kwik tiga orang jago kerumah keluarga masing-masing dan serahkan kepada anak mereka, apabila dian tara ketiga keluarga itu sedang menjumpai kesulitan, bantu mereka hingga semuanya beres!"

Hoa In mengiakan dan segera melaksanakan perintah tersebut.

Harimau pelarian Tiong Liau yang kini hidup sebatang kara segera ambil keputusan pula untuk selama hidup mengabdi kepada Hoa Thian-hong, kini dia sudah termasuk menjadi anggota keluarga Hoa, maka Hoa Hujin pun memerintah dia untuk membawa ketiga layon lainnya keperkumpungan Liok Soat Sanceng dan dikebumikan disitu.

Dua orang itu terima perintah, dan berangkatlah mereka menuju ke arah kota dengan membawa kereta yang penuh berisikan peti mati itu.

Chin Giok Liok yang terluka parah masih belum sembuh dari lukanya itu, ia berbaring diatas sebuah kereta besar, Chin Pek-cuan dengan menunggang seekor kuda jempolan segara berpamitan kepada besannya, putrinya, menantunya dan rekan-rekan yang lain, setelah menjanjikan saat pertemuan, berangkatlah kereta dan kuda itu menuju ke arah barat.

Kini yang tersisa tinggalkan Hoa Hujin, Hoa Thian-hong, Chin Wan Hoag serta Tio Sam-koh empat orang dan sebuah kereta yang besar.

Hoa Hujin segera tinggilkan tandunya, bersama Tio Samkoh dan Chia Wan Hong mereka naik kedalam ruangan kereta, sedang Hoa Thian-hong duduk disisi sang kusir kereta.

Demikianlah beberapa orang itupun meneruskan kembali perjalanan mereka dengan mengitari kota tersebut.

Beberapa hari kemudian, suatu senja kereta besar itu masuk kedalam kota Cho ciu.

Di depan pintu gerbang kota tiba-tiba muncul seorang kakek tua yang menghadang jalan pergi kereta tersebut sambil berseru.

"Hoa ya, masih ingatkah engkau dengan hamba?"

"Tentu saja masih ingat"

Jawab Hoa Thian-hong sambil tersenyum manis.

"apakah engkau adalah pemilik rumah penginapan Teng hwat?"

Pemilik rumah penginapan itu jadi terkejut bercampur girang, buru-buru serunya.

"Hamba Tio Tiang Hwat, betulbetul pemilik rumah penginapan Teng Hwat, aaah....! sungguh tak nyana kalau Hoa ya masih ingat dengan diri hamba...."

"Majukah usahamu?"

Tegur Hoa Thian-hong sambil tersenyum. Dengan muka berseri-seri, pemilik rumah penginapan itu menjawab.

"Berkat berkah dari Hoa ya, usaha hamba masih berlangsung seperti sediakala, Hoa ya! penginapan kami telah dibangun dan di kapuri hingga baru, apakah Hoa ya hendak menginap di rumah penginapan hamba?"

"Tentu saja rumah penginapanmu bagus sekali"

Mendengar persetujuan itu, pemilik rumah penginapan tadi jadi sangat kegirangan, dia segera berseru.

"Hey kusir, ayoh belok kekiri dan percepat lari kudamu!"

Sang kusir kereta itu, sejak permulaan sudah tahu pemuda yang duduk disampingnya adalah seorang jago lihay yang paling tersohor di kolong langit dewasa ini, sepanjang perjalanan sudah banyak penghormatan yang diterimanya.

Sekarang mendengar pemilik rumah penginapan itu menyebut dirinya dengan panggilan kurang sedap paras mukanya jadi ketus, serunya dingin.

"Didalam kereta masih terdapat lo hujin dan Tio loo tay, kalau kularikan kereta ini cepat-cepat sehingga menggoncangkan isi kereta ini, siapa yang akan bertanggung jawab?"

Pemilik rumah penginapan itu jadi amat terperanjat, lalu serunya.

"Aaah benar, kalau begitu biarlah aku yang membawa jalan, loo hen mari ikutilah aku"

Jilid 14 SAMBIL menyingsing jubahnya, selangkah demi selangkah berjalan pemilik rumah penginapan itu didepan kereta untuk membawa jalan.

Sang kusirpun menyetak kudanya untuk berjalan amat lambat sambil busungkan dada dan celingukan kesana kemari, gaya sang kusir itu seakan-akan membawa seorang sarjana yang baru lulus ujian untuk berpawai keliling kota.

Hoa Thian-hong dibikin menangis tak bisa tertawapun tak dapat untung sepanjang jalan ia sudah banyak pengalaman menghadapi kejadian semacam ini maka pemuda itu masih dapat menahan sabar.

Setelah berjalan beberapa waktu lamanya kereta itupun berhenti didepan pinta gerbang rumah penginapan Teng hwat.

Hoa Thian-hong segera loncat turun dari atas kereta membuka pintu ruangan dan mempersilahkan ibunya untuk turun.

Rupanya pemilik rumah pengiuapan telah menyiarkan berita tentang kedatangan Hoa Thian-hong yang pernah tersohor dikota Cho ciu karena Lari racun nya dan baru-baru ini namanya makin tersohor setelah pertarungan dilembah Co bu kok, ketika rombongan tiba dirumah penginapan Teng hwat, tetangga disekitar tempat itu, beberapa tamu yeng berdiam dirumah penginapan tersebut telah penuh berdesakan disamping ruangan untuk bersama-sama menonton kehadiran sang pahlawan yang amat tersohor itu.

Begitu penuh sesak orang yang berjejal disana membuat pintu masuk rumah penginapan tersumbat dan Hoa Thianhong tak dapat masuk kedalam.

Terpaksa pemilik rumah penginapan harus menjura memberi hormat dan berteriak-teriak minta jalan kepada para penonton, setelah bersusah payah akhirnya ia baru berhasil menghantar keempat orang tamu terhormatnya ini masuk kamar Setelah berada dalam kamar, Hoa Hujin menghembuskan napas panjang dan berkata.

"Seng jil mulai besok engkau bopong aku untuk melanjutkan perjalanan, kita harus cepatcepat tiba kembali dirumah"

"Aku takut teriknya matahari akan merusak badan ibu yang masih lemah...."

Tiba-tiba terdengar serentetan suara langkah manusia yang tergesa-gesa berkumandang da-tang, disusul suara pemilik rumah penginapan itu bergema.

"Hoa ya baru saja tiba dan masuk kamar beliau ada dikamar sana"

Belum babis ucapan itu berkumandang pintu sudah terbuka lebar dan muncullah seorang pemuda berpakaian ringkas langsung berlutut dihadapan Hoa Thian-hong sambil berseru terbata-bata.

"Hujin, Tio loo tay, Hoa toako, enci Hoa"

Sekilas memandang Hoa Thian-hong segera kenali kembali pemuda itu sebagai murid termuda dan terkecil dari Siang Tang Lay, ia berasal dari siku Fibulo dan bernama Haputule bukan saja keenam orang murid Siang Tang Lay dia berusia paling kecil, ilmu silat yang dimilikipun paling lihay.

Pada waktu itu dengan air mata bercucuran, keringat membasahi seluruh tubuhnya dan muka penuh kegelisahan berlutut diatas tanah tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Menyaksikan keadaan tersebut, Hoa Hujin jadi amat terperanjat, ia segera berkata.

"Nak! ayoh bangun dan bicaralah perlahan-lahan, apakah gurumu menjumpai mara bahaya?"

Haputule mengangguk tiada hentinya, sambil menangis dia menjawab.

"Guruku telah dirampas orang!"

"Baga'mana caranya bisa dirampas? dan siapa yang merampas dirinya?"

Tanya Hoa Hujin keheranan.

"Seorang hweesio, seorang hweesio yang belum pernah kami jumpai sebelumnya...."

Dia ingin berbicara dengan lebih jelas lagi, tapi karena kurang lancar bicara dalam bahasa Han dan lagi kalimat yang diketahui pun sangat terbatas maka meskipun hatinya gelisah bercampur cemas, namun tak ada perkataan lain yang dapat diutarakan lagi.

Hoa Thian-hong maju kedepan dan membimbing bangun pemuda suku Fibulo tersebut, kemudian dengan halus katanya.

"Saudaraku, duduklah dengann tenang! pusatkan perhatianmu dan ceritakan duduknya persoalan dari permulaan hingga akhir dengan jelas, jangan ada yang kelewatan"

Buru-buru Haputule duduk diatas kursi, Chin Wan-hong menghidangkan air teh, setelah meneguk secawan dan mengusap air mata pemuda itu berkata kembali.

"Dua hari berselang, ketika malam telah menjelang tiba kami telah sampai dikota ok yang dan menginap disebuah rumah penginapan, ketika selesai bersantap...."

Bicara sampai disitu mendadak ia tergagap dan tak sanggup melanjutkan kembali kata-katanya. Dengan hati iba Hoa Hujin berkata.

"Jadi dalam sehari semalam engkau telah berangkat dari kota Lok yang menuju kemari? Aaah.... engkau benar-benar amat menderita"

Air mata jatuh berlinang membasahi seluruh wajah Haputule, setelah berhenti sebentar ia melanjutkan.

"Setiap kali selesai bersantap guru pasti minum air teh dan biasahya daun teh itu kami yang sediakan, begitu selesai bersantap akupun minta seteko air mendidih pada pelayan rumah penginapan itu, setelah membuat air teh maka aku hidangkan kepada suhu, siapa tahu baru saja suhu minum seteguk tiba

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com tiba ia muntahkan kembali air teh itu sambil berteriak.

"Dalam air teh ada setannya, hati-hati sergapan pihak musuh!"

Mendengar sampai disitu, Hoa Hujin mengerutkan dahinya dan menyela.

"Bagaimana selanjutnya?"

"Baru saja suhu selesai berteriak, dari depan pintu menerjang masuk sedrang hweesio, sementara badan suhu mulai sempoyongan seperti mau roboh tak sadarkan diri, sekali sambar hweesio itu segera menghempit suhu dibawah ketiaknya, kami suheng te bertiga dengan kalap menerjang kedepan, tapi hweesio itu dengan menggunakan sebuah jurus serangan yang mirip dengan gerakan Raja setan mengebaskan kipas, dalam sekali gebrakan saja telah berhasil pukul roboh dua orang suhengku, diapun melarikan diri dari sana, aku akan mengejar keluar tapi hweesio itu naik keatas atap rumah dan dalam sekejap mata lenyap tak berbekas"

Mendengar sampai disitu, Hoa Hujin, Hoa Thian-hong serta Tio Sam-koh saling berpandangan muka tanpa mengucapkan sepatah katapun, didalam kisah tersebut terlalu banyak hal-hal yang mencurigakan membuat timbulnya kecurigaan dalam hati mereka bertiga.

Setelah termenung beberapa saat lamanya, Hoa Thianhong segera bertanya.

"Saudaraku, coba pikirlah kembali dengan seksama, pernahkah engkau bertemu dengan hweesio itu hari sebelumnya?"

"Engkau harus membayangkan mulai dari orang-orang Kiuim-kauw"

Sambung Hoa Hujin.

"bayangkan saja paras mukanya, jangan kau perdulikan dia adalah seorang hweesio atau bukan!"

Mendengar perkataan itu Haputule segera membayangkan kembali setiap raut wajah para anggota perkumpulan Kiu-im

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com kauw yang pernah dijumpainya, tapi dengan cepat ia gelengkan kepalanya berulang kali.

"Bukan, dia sudah pasti bukan orang-orang dari perkumpulan Kiu-im-kauw!"

"Kalau begitu coba bayangkan orang-orang dari perkumpulan Sin-kie-pang!"

Sela Tio Sam-koh.

"Dari pihak perkumpulan Sin-kie-pang hanya Pek Siau-thian seorang dengan dipaksakan dapat merampas orang dengan tangan kiri dan memukul luka dua diantara tiga orang anak muridnya dengan satu jurus pukulan tangan kanannya"

Kata Hoa Hujin.

"namun aku rasa hal itu terlalu dipaksakan sekali, kalau bukan sangat kebetulan sekali tak mungkin ia bisa berhasil"

"Hweesio itu sudah pasti bukan penyaruan dari Pek Siauthian!"

Seru Haputule menegaskan. Bagaimana dari pihak perkumpulan Thong-thian-kauw? mungkinkah Pia Leng-cu? sebab dengan ilmu kepandaian yang dimilikinya ia dapat melakukan perbuatan seperti itu!"

Kembali Haputule gelengkan kepalanya berulang kali.

"Bukan, sudah pasti orang itu bukan Pia Leng-cu, Hweesio itu bermuka runcing sedang Pia Leng-cu bermuka persegi, dan berhidung pesek, sebaliknya hweesio itu bermuka besar, Pia Leng-cu bermata sopit, hweesio itu pendek gemuk sebaliknya Pia Leng-cu jauh lebih tinggi perawakan tubuhnya"

Mendengar penjelasan itu, diam-diam Hoa Hujin kembali berpikir.

"Bocah ini benar-benar amat cerdik hingga melebihi orang lain, daya ingatnya pun sangat baik, kalau ditinjau dari penjelasannya mengenai ciri-ciri Pia Leng-cu, ternyata apa yang diuraikan sama sekali tidak keliru, kalau begitu apa yang dia uraikan atas ciri-ciri hweesio tersebut mungkin tak salah lagi, atau berbeda pun terlalu jauh...."

Mendadak terdengar Haputule berkata lagi dengan cemas.

"Selama sehari semalam ini aku telah memikirkan persoalan ini beberapa ratus kali banyaknya, aku merasa yakin bahwa hweesio yang sangat asing itu bukan saja tidak mirip orangorang dari perkumpulan Kiu-im-kauw juga tidak mirip Pek Siau-thian, tidak mirip Pia Leng-cu pun tidak mirip malaikat kedua Sim Ciu atau mirip siapapun juga po tongan tidak mirip, paras muka tidak mirip ilmu silatpun sama sekali tidak mirip" 0000O0000

"KALAU begitu padri tersebut mirip siapa?"

Tanya Tio Samkoh.

"masa dari atas langit tiba-tiba terjatuh seorang padri macam begitu?"

Haputule jadi amat gelisah, paras mukanya berubah jadi merah padam bagaikan kepiting rebus, sahutnya.

"Darimana aku bisa tahu? tapi yang jelas hweesio itu adalah penduduk Tionggoan jelas ia bukan orang yang datang dari wilayah See ih!"

"Diantara persoalan ini terdapat beberapa hal yang amat mencurigakan hati"

Kala Hoa Hujin.

"pertama dimanakah letak maksud dan tujuan hwessio itu menculik pergi gurumu?"

"Tentu saja dikarenakan urusan Malaikat pedang Gi Ko"

Sahut Hapatule dengan cepat, setiap umat manusia di kolong langit ingin mengetahui rahasia mengenai pedang emas itu dan dimana kitab pusaka Kiam keng disimpan dan diantara berapa juta manusia di kolong langit hanya guruku seorang yang tahu.

Engkau memang amat cerdik, menurut ceritamu tadi hweesio itu berlalu dengan tergesa-gesa dan rupanya tak berani diam terlalu lama dalam rumah penginapan itu, aku rasa dibalik kejadian ini pasti ada sebab-sebab tertentu.

Haputule garuk-garuk kepalanya dengan kebingungan.

"Tentang soal ini aku sih belum sampai memikirkan"

Katanya.

"lalu menurut pendapat hujin apa sebabnya hweesio itu begitu gugup dan tergesa-gesa?"

Hoa Hujin termenung sebentar, lalu menjawab.

"Mungkin ia takut bertemu dengan orang lain, mungkin juga ada seseorang sedang mengejar di belakang tubuhnya, tapi semua itu cuma menurut dugaanku belaka bagaimana kenyataan yang sesungguhnya sukar untuk di ketahui."

"Saudaraku, kini dua orang suhengmu itu berada dimana?"

Tanya Hoa Thian-hong "Mereka masih menginap dirumah penginapan kota Lok yang!"

"Bagaimana dengan keadaan lukanya? apakah jiwa mereka terancam bahaya?"

Haputule gelengkan kepalanya.

"Luka yang mereka derita sih tak terlalu parah, toa suheng dihajar oleh hweesio itu dengan ilmu lutut saktinya hingga tulang ke tiaknya terluka, sedangkan ji suheng kena disikut oleh ilmu sikutan raja lalim yang mengakibatkan isi perutnya terluka"

Hoa Hujin segera mengerutkan dahinya.

Jurus-jurus serangan yang sangat sederhana, hweosio itu dapat menggunakan jurus serangan yang sederhana untuk melukai Toohan dan Temotay, dari sini bisa diketahui bahwa ilmu silat yang dimilikinya pasti sudah mencapai tingkat yang tak terhingga tingginya, para jago-jago seperti Pek Siau-thian dan malaikat kedua Sim Ciu pun belum tentu bisa menggunakan jurus seperti itu hingga ketingkat yang demikian sempurnanya.

Toohan adalah murid tertua dari Siang Tang Lay, sedangkan Temotay adalah murid kedua, ilmu silat yang mereka miliki pernah disaksikan kelihayannye oleh semua orang apalagi setelah mendengar keterangan dari Hoa Hujin, rata-rata mereka merasa bahwa ucapan tersebut sangat masuk diakal, untuk beberapa saat suasana jadi hening dan semua orang membungkam dalam seribu bahasa.

Ditengah matanya yang terbelalak lebar, air mata jatuh bercucuran membasahi pipi Haputule, sambil memandang ke arah Hoa Thian-hong serunya setengah memohon.

"Hoa toako, hanya engkau seorang yang dapat menolong suhuku.... selamatkan jiwanya...."

Hoa Thian-hong menepuk sepasang bahunya dengan lembut, kemudian berkata.

"Saudaraku, engkau tak usah gelisah atau pun cemas, bagaimanapun juga kami pasti akan berusaha untuk selamatkan Siang Tang Lay looianpwee dari ancaman mara bahaya"

"Berbicara sampai disitu, sorot matanya tanpa terasa dialihkan keatas wajah ibunya. Hoa Hujin termenung beberapa saat lamanya, lalu kapadi putranya ia berkata.

"Siang loocianpwee adalah kawan senasib sependeritaan dengan kita semua, apalagi budi kebaikan yang pernah diberikan kepada mu luar biasa besarnya, bagaimanapun juga persoalan ini harus diurus sampai beres tapi hweesio itu tidak diketahui nama maupun asal usulnya, tanpa tanda-tanda yang bisa memberi petunjuk kepada kita, rasanya untuk mencari orang diantara lautan manusia bukanlah suatu pekerjaan yang gampang....

"Bagaimanapun juga kita harus cari sampai ketemu!"

Sela Haputule dari samping, keempat anggota badan suhu telah cacad, sedang ilmu pekikan maut Hua hiat hou adalah ilmu silat dari partai Seng sut pay setelah berjanji untuk dipinjam pakai satu kali saja pastilah suhu tak akan mengingkari janji sendiri, lagipula menggunakan ilmu kepan daian tersebut sangat merusak kesehatan badan.

Hoa Hujin tertawa ramah, kepada Hoa Thian-hong serunya.

"Segera berangkatlah menuju kota Lok yang, coba lihat bagaimana keadaan luka yang diderita Toohan serta Temotay, apabila ada petunjuk jalan yang menerangkan identitas hweesio asing itu, bertindaklah menurut kemauanmu sendiri, pokoknya yang penting engkau harus cari jejak hweesio itu dan berusaha untuk selamatkan jiwa Siang locianpwee dari mara bahaya....!"

Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan.

"Dalam mengatasi persoalan yang sama sekali tak ada tanda ataupun petunjuk ini, engkau harus bertindak dengan andalkan ke cerdasan otak serta semangat bekerjamu yang besar, tapi engkau harus ingat menolong orang harus menolong sampai pada akhirnya, setelah berhasil engkau tak boleh lepaskan utusan itu ditengah jalan, sekali pun delapan tahun lamanya engkau harus menolong sampai berhasil"

"Bagaimana dengan ibu?"

"Kami akan langsung pulang keperkampungan Liok Soat Sanceng, sewaktu lewat dikota Lok yang nanti jika dapat bertemu kita bertemu, kalau tidak maka aku akan lanjutkan perjalanan menuju keutara, setelah berhasil menolong Siang locian pwee, engkau harus menghantarnya sampai ke wilayah See ih, jika semua urusan sudah selesai baru engkau pulang kerumah! mengerti?"

Mendengar perintah itu, dalam hati kecilnya Hoa Thianhong segera berpikir.

"Waah....! kalau begitu, waktu yang kubutuhkan untuk menyelesaikan persoalan ini panjang sekali...."

Pemuda itu adalah seorang anak yang sangat berbakti kepada orang tuanya, ia merasakan tak tega hati karena ilmu silat yang dimiliki ibunya telah musnah dan tubuhnya lemah kembali, selain itu diapun belum lama menikah, cinta kasih antara suami istri masih amat tebal melekat dalam hatinya, untuk berpisah dalam jangka waktu yang cukup lama tentu saja amat memberatkan hatinya.

Dari perubahan paras mukanya yang berat hati, Hoa Hujin dapat segera menebak suara hatinya, dengan alis mata berkernyit ia segera menegur tajam "Tugas berat ini tak dapat ditawar lagi, engkau tak boleh sangsi atau ragu-ragu untuk menerimanya!"

Hoa Thian-hong merasa amat terperanjat, dengan cepat ia jatuhkan diri berlutut di atas tanah sambil serunya.

"Ibu, semoga engkau bisa baik-baik jaga diri"

"Aku sudah tahu!"

Sahut Hoa Hujin sambil ulapkan tangannya.

Kepada Tio Sam-koh si anak muda itupan jatuhkan diri berlutut, baru saja dia akan buka suara untuk mohon bantuannya agar merawat ibunya, tiba-tiba Tio Sam-koh ulapkan tangannya sambil berseru.

"Ayoh enyah dari sini! semangat seorang pria berada ditempat samudra, apakah engkau hendak menjaga bini mu sepanjang masa?"

Merah padam selembar wajah Hoa Thian-hong, ia segera bangkit berdiri dari atas tanah.

Buru-buru Chin Wan-hong membungkuskan beberapa setel pakaian dan diangsurkan ke depan.

Hoa Hujin dapat memaklumi kalau putranya belum lama menikah, iapun dapat menyadari kalau pada saat itu rasa cinta di antara mereka berdua sedang berkobar mencapai puncaknya, maka ia perintahkan Chin Wan-hong untuk menghantar Hoa Thian-hong dan Haputule sampai diluar pintu.

Sementara Haputule sedang menerangkan tempat tinggalnya dikota Lok yang, Chin Wan-hong lari kedapur dan buru-buru menyiapkan sebuah bungkusan besar.

Ketika tiba didepan pintu ia serahkan bungkusan tersebut kepada suaminya.

Hoa Thian-hong terima bungkusan tersebut sambil berpesan.

"Kesehatan ibu kurang baik setiap hari harus minum obat, engkau harus hati-hati melayaninya!"

Dengan air mata bercucuran Chin Wan-hong mengangguk.

"Dalam bungkusan terdapat dua tahil perak...."

Titik air mata jatuh berlinang memotong ucapan selanjutnya. Lama.... lama sekali suasana diliputi keheningan akhirnya Hoa Thian-hong berkata lagi dengan suara lirih.

"Mempelajari obat-obatan paling banyak menghisap perhatian dan tenaga, engkau jangan mengesampingkau ilmu silatmu terutama ilmu mengatur pernapasan setiap hari engkau harus berlatih dengan tekun dan jangan berhenti barang seharipun"

Dengan lembut Chio Wan Hong mengangguk.

"Ilmu silatmu terlalu tersohor di kolong langit, hati-hatilah menghadapi segala tipu daya yang licik dan keji, terutama sekali dalam soal minuman dan makanan, kau harus lebihlebih menaruh perhatian"

Haputule sangat gelisah dan ingin cepat-cepat berangkat, melihat kedua orang itu, tak tahan lagi ia menyela dari samping.

"Enso! engkau toh seorang ahli memunahkan racun, siapa berani main setan dihadapan Hoa toako, itu berarti mencari penyakit buat diri sendiri"

Mendengar perkataan itu, Hoa Thian-hong tertawa tergelak.

"Ensomu belum lama angkat guru, ilmu kepandaian yang dipelajari pun belum banyak, untuk mencapai tingkatan ahli pemunah racun masih terlampau jauh"

Tahun itu usia Haputule baru mencapai enam tujuh belas tahunan, ia belum mengerti apa artinya cinta muda mudi.

Hoa Thian-hong yang harus berpisah lama dengan istrinya merasa ada banyak perkataan hendak disampaikan, tapi disaksikan dengan mata melotot oleh sang pemuda itu tanpa berkedip barang sedikitpun, sedikit banyak ia merasa kaku juga akhirnya setelah berpesan beberapa patah kata dan saling berpandangan dengan perasaan hati berat terpaksa mereka harus saling berpisah.

Setelah keluar dari pintu barat, Hoa Thian-hong membuka makanan itu sambil meneruskan perjalanan, kedua orang itu menyikat semua ransum yang tersedia hingga ludas dan sedikpun tak ada sisanya.

Sambil meraba perutnya yang kenyang Haputule memuji tiada hentinya.

"Aaah.... enso memang sangat baik, sejak kecil sampai dewasa belum pernah kujumpai orang yang begitu baiknya seperti enso ini Aaaai....! dia memang sangat baik!"

Hoa Thian-hong segera tersenyum.

"Baik! akan kuperhatikan persoalan ini, andaikata dikemudian hari aku temukan seorang gadis semacam itu yang berusia hampir sebaya dengan engkau, aku harus jadi mak comblang untukmu!"

"Kalau suhu tak dapat diselamatkan selamanya aku tak akan cari bini!"

"Betul!"

Puji Hoa Thian-hong.

"kita memang harus cepatcepat menyelamatkan Siang locianpwee dari ancaman bahaya maut!"

Ia cengkeram pergelangan tangannya dan segera berlari ke arah depan dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang lihay.

Ketika tempo hari Hoa Thian-hong masih lari racun setiap harinya ia berhasil melatih gerakan tubuhnya hingga mencapai tingkat kecepatan yang sukar ditandingi setiap orang setelah makan rumput mustika Leng-ci sian cho, maka ilmu meringankan tubuhnya jauh melebihi tingkatan yang berhasil mencapai tempo dulu apalagi sekarang tenaga dalamnya setingkat jauh lebih sempurna, bisa dibayangkan betapa sempurna dan luar biasanya gerakan tubuh pemuda itu boleh dibilang ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya saat ini tiada tandingannya di kolong langit.

Haputute yang diseret oleh pemuda itu seketika merasakan sepasang kakinya sama sekali tidak menempel tanah, deruan angin kencang menyambar lewat dari sisi telinganya, begitu tajam hembusan angin dari arah depan membuat ia tak sanggup membuka matanya, diam-daim ia merasa amat kagum dan tunduk seratus persen terhadap kelihayannya.

Ditengah jalan mereka hanya beristirahat sebentar, ketika fajar menyingsing keesokan harinya mereka telah masuk kedalam kota Lok-yang.

Haputule segera berlarian kecang membawa Hoa Thianhong menuju kerumah penginapan dimana kedua orang suhengnya sedang merawat luka yang mereka derita.

Pada waktu itu rumah penginapan tersebut baru saja buka pintu, ketika kedua orang itu masuk kedalam ruangan mereka telah berpapasan dengan seorang pelayan.

Begitu mengetahui siapa yang sedang di hadapi, dengan gelisah bercampur cemas pelayan itu segera berseru.

"Siau ya.... aduuh kalau engkau tidak datang lagi, rumah penginapan kami pasti akan diseret kepengadilan dengan tuduhan menghilangkan nyawa orang...."

"Apa yang telah terjadi?!"

Seru Haputule dengan hati terperanjat.

"Siau ya!"

Seru pelayan itu sambil menuding keruang belakang.

"kemarin sore dua orang rekanmu pergi dari sini, tapi entah bagaimana kemudian ternyata mereka telah dibunuh orang, mayatnya menggeletak diluar tembok kota dan.... Mulai Haputule berdiri menjablak dengan mata terbelalak, kemudian sambil menangis menggerung ia lari menuju keruang belakang rumah penginapan itu. Buru-buru Hoa Thian-hong memburu dari belakang, ketika masuk kedalam sebuah ruang terlihatlah dialas tikar terkapar dua sosok mayat manusia, mereka bukan lain adalah Toohan serta Temotay. Haputule segera menjerit sambil menangis tersedu-sedu, teriaknya dengan penuh kesedihan.

"Hoa toako! aku mau cari suhu.... aku mau membalas dendam.... aku mau membalas dendam!"

Paras muka Hoa Thian-hong telah berubah jadi hijau membesi, sambil menggigit bibir katanya.

"Aku pasti akan temukan kembali suhumu, aku pasti akan balaskan dendam bagimu!!"

Ia berjongkok membuka kain selimut yang menutupi tubuh mayat itu dan periksa keadaan lukanya.

Apa yang dialami Tooban maupun Temotay ternyata sama sekali tak berbeda, kedua orang itu tertusuk dadanya oleh senjata tajam pada ulu hati, masing-masing berbekaslah sebuah mulut luka yang panjangnya beberapa senti dengan lebar dua tiga mili, noda darah membasahi seluruh pakaian mereka tapi karena kejadian itu sudah berlangsung sehari semalam yang lalu noda darah itu sudah kering dan membeku.

Sepasang mata Haputule berubah jadi merah berapi-api, giginya saling beradu gemerutukan, tiba-tiba la cengkeram bahu Hoa Thian-hong sambil menjerit.

"Hoa toako siapa yang melakukan pembuhan ini? siapa yang turun tangan sekeji ini siapa.... siapa....?"

"Saudaraku, teguhkan imanmu dan hadapilah kenyataan dengan hati tabah"

Bisik Hoa Thian-hong sedih.

"akan kupetaruhkan selembar jiwaku untuk menyelidiki siapakah pembunuh kejam itu dan balaskan dendam bagi kematian dua orang suhengmu!"

"Mereka mati ditusuk oleh pisau belati?"

Tanya Haputule dengan wajah termangu-mangu.

Hoa Thian-hong mengangguk, ia lanjutkan pemeriksaannya dengan lebih teliti lagi.

Tapi kecuali mulut luka diatas dada serta luka lama yang ditinggalkan hweesio asing, diatas tubuh kedua sosok mayat itu ti dak ditemukan bekas luka lainnya, melihat kenyataan tersebut dalam hati kecilnya ia segera berpikir.

"Letak luka yang diderita dua orang ini sama sekali tak berbeda satu sama lainnya, andaikata sang pembunuh bukan turun tangan karena telah berhasil menawan dua orang itu lebih dahulu, maka orang yang melakukan perbuatan ini pastilah memiliki ilmu silat yang amat tinggi dan sangat lihay...."

Sementara itu Haputule sambil menggigit bibir, telah berseru.

"Hoa toako, perbuatan ini dilakukan oleh hweesio tersebut? ataukah orang lain?.... Diam-diam Hoa Thian-hong menghela napas panjang, pikirnya.

"Rupanya bocah ini sudah menganggap diriku sebagai seorang malaikat yang tahu akan segala-galanya dan bisa melakukan perbuatan macam apapun. Aaai....! ia begitu percaya pada diriku seandainya aku tak berhasil untuk menolong Siang loccianpwee serta balaskan dendam bagi kematian dua orang suhengnya betapa kecewa dan putus asanya bocah ini...."

Berpikir sampai disitu, ia segera berkata.

"Bekas luka yang ditinggalkan adalah bekas luka keras dari sini sukarlah untuk meraba ilmu silat dari aliran manakah yang telah dipergunakan sang pembunuh untuk melakukan perbuatan keji ini, untuk sementara waktu anggap saja pembunuh itu adalah hweesio tersebut, kita harus berusaha untuk menemukan dulu orang itu dan selamatkan Siang locianpwee dari mara bahaya kemudian setelah itu baru membicarakan soal balas dendam."

Dengan air mata bercucuran karena sedih, Haputule menganggukkankan kepalanya.

"Senjata tajam dari kedua orang suhengku sudah tidak berada dalam saku mereka!"

"Pedang perak milik kalian merupakan benda yang sangat berharga sekali, aku rasa senjata tersebut tentu sudah diambil oleh sang pembunuh tersebut."

Ketika dia angkat kepalanya memandang keluar, tampaklah sang pelayan berdiri di tepi pintu, selain itu masih ada belasan orang berdesakan didepan pintu menonton keramaian.

Diantara manusia-manusia itu, terlibat pula dua orang pria kekar berusia setengah baya, ketika menyaksikan sorot mata Hoa Thian-hong ditunjukkan ke arah mereka, dua orang itu buru-buru menyembunyikan diri kebelakang kerumunan orang banyak.

Haputule kebetulan menyaksikan tingkah laku mereka, secepat sambaran kilat ia menerjang kedepan dan sekaligus ia cengkeram bahu dua orang pria itu.

Menyaksikan datangnya tubrukan, dua orang pria setengah baya itu berusaha untuk menghindarkan diri, namun usaha mereka gagal dan tahu-tahu lengan mereka terasa amat sakit dan cengkeraman lawan telah bersarang disana.

Haputule mencengkeram bahu dua orang lawannya kencang-kencang, dengan suara berat hardiknya.

"Ayoh cepat jawab, apa yang sedang kalian lakukan?"

Saking sakitnya dua orang pria kekar itu menggigit bibir untuk menahan penderitaan, keringat dingin telah membasahi seluruh tubuh mereka sementara sorot matanya ditujukan ke arah Hoa Thian-hong penuh mohon belas kasihan.

Hoa Thian-hong maju kedepan dan berkata.

"Saudaraku lepaskanlah cengkeraman mu itu biar aku yang bertanya kepada mereka. Dengan penuh kebencian dan kebengisan Haputule melotot sekejap ke arah dua orang itu kemudian kendorkan cengke-ramannya dan mundur kebelakang. Sambil memegang bahunya yang sakit dan linu, dua orang pria berusia setengah baya itu berpaling ke arah Hoa Thianhong paras muka mereka telah berubah jadi pucat pias bagaikan mayat.

"Kalian berasal dari mana?"

Tegur Hoa Thian-hong dengan sepasang alis berkenyit "Hamba sekalian sebetulnya berasal dari perkumpulan Hong-im-hwie...."

Jawab dua orang pria setengah baya hampir berbareng.

"tapi berhubung perkumpulan Hong-im-hwie sudah bubar maka hamba...."

"Gerak-gerik kalian sangat mencurigakan, apakah kalian berdua telah melakukan pekerjaan yang melanggar hukum?"

Tukas Hoa Thian-hong dengan cepat.

"Baru kemarin malam hamba berdua tiba dikota Lok yang"

Buru-buru dua orang pria itu membantah, hamba bersumpah tak pernah melakukan perbuatan yang melanggar hukum, kalau Hoa ya tak percaya silahkan ta nyakan sendiri kepada pemilik rumah penginapan"

Hoa Thian-hong awasi sekejap paras muka dua orang pria itu, kemudian tanyanya lagi.

"Dahulu apakah kalian pernah bertemu dengan aku?"

Dua orang itu gelengkan kepalanya berulang kali, pria yang ada disebelah kiri segera berseru.

"Kami belum pernah berjumpa dengan Hoa ya, tapi cuma pernah mendengar tentang potongan badan serta raut wajah Hoa ya dari mulut orang lain, apalagi di pinggang Hoa ya tergantung sebilah pedang baja maka sekali bertemu kami dapat segera mengenali kembali"

"Lalu apa sebabnya kalian bersembunyi dan menghindar dengan gerak-gerik yang mencurigakan?"

Bentak Haputule dengan gusar. Dua orang itu memandang sekejap ke arah Hoa Thianhong, lalu dengan ketakutan sahutnya.

"Kami takut berjumpa dengan Hoa ya yang penuh berwibawa, karena itu...."

Hoa Thian-hong tahu bahwa kedua orang pria tersebut pastilah merupakan manusia yang tidak penting dalam perkumpulan Hong-im-hwie, maka ia segera ulapkan tangannya memerintahkan kedua orang itu segera tinggalkan tempat tersebut.

Bagaikan mendapat pengampunan, dua orang pria itu buru-buru memberi hormat kemudian ngeloyor pergi dengan tergopoh-gopoh.

Sedangkan para penonton keramaian lainnya kebanyakan terdiri dari kaum pedagang dan saudagar kelilingan, tapi rupanya mereka sudah kenal siapakah Hoa Thian-hong itu, paras muka mereka rata-rata menunjukkan sikap yang sangat menghormat.

Haruslah diketahui keadaan dari Hoa Thian-hong pada saat itu ibarat sang surya yang berada ditengah angkasa, nama besarnya amat tersohor dimana-mana dan menggemparkan seluruh dunia persilatan, dari rakyat jelata sampai para pembesar, dari kuli kasar sampai saudagar kaya hampir tak seorangpun yang tak kenal siapakah Hoa Thian-hong, hal ini disebabkan karena pengaruh tiga bibit bencana dunia persilatan terlalu luas dan dalam membekas dihati setiap orang maka ketika bibit bencana sumber kehancuran itu lenyap dari permukaan bumi, nama Hoa Thian-hong segera membubung setinggi langit dan pemuda itu menjadi pujaan setiap keluarga disegala penjuru dunia.

Semula Hapntule mengira ia telah berhasil menemukan titik terang, siapa tahu kedua orang itu tak ada sangkut pautnya dengan persoalan itu, tak disangka lagi ia jadi amat sedih hingga air mata kembali jatuh bercucuran.

"Hoa loako bagaimana sekarang? apa yang harus kita lakukan....?"

Tanyanya dengan kebingungan.

"Saudaraku, tak usah gelisah mari bereskan dulu jenasah dari kedua orang kakak seperguruanmu itu kemudian barulah kita berangkat untuk mencari pembunuhnya"

Bicara sampai disitu, ia segera berpaling sambil menegur.

"Siapakah pemilik rumah penginapan ini?"

Sejak permulaan tadi sang pemilik rumah penginapan sudah menunggu disamping, mendengar seruan tersebut buru-buru ia maju kede-pan sambil membungkuk-bungkuk memberi hormat.

"Hamba yang pemilik rumah penginapan ini, tuan ada perintah apa....?"

Hoa Thian-hong ambil sekeping uang perak dari sakunya, sambil diangsurkan kedepan, katanya.

"Ciang kwee, harap kirimlah orang untuk membeli peti mati serta tanah pekuburan, kami akan segera mengembumikan jenasah dari dua orang rekan kami ini, kalau uang tersebut tidak cukup, nanti akan kuberi lagi....!"

"Hamba akan segera melaksanakanaya....!"

Sahut pemilik rumah penginapan itu dengan gelisah.

"sedang uang itu tak berani terima, harap tuan simpan kembali.... harap tuan simpan kembali!"

Dengan badan berbungkuk-bungkuk, pemilik rumah penginapan itu mundur kebelakang. Hoa Thian-hong mengerutkan dahinya, sambil memandang pelayan rumah penginapan, ujarnya.

"Siau jiko, siapa yang menghantar jenasah dari dua orang rekanku ini pulang kepenginapan?"

"Peronda kota berhasil mendapat tahu kalau mereka adalah tamu yang menginap dalam rumah penginapan kami, berhubung mereka adalah tamu asing dan lagi salah seorang diantaranya belum kembali, maka terpaksa.... terpaksa jenasah mereka dikirim kembali kerumah penginapan kami"

"Dimanakah peristiwa berdarah ini terjadi? apakah ada orang yang menyaksikan jalannya pertarungan itu?"

Pelayan itu gelengkan kepalanya berulang kali.

"Tak ada orang yang menyaksikan jalannya peristiwa itu, dan tak ada orang yang mengatakan telah menyaksikan sesuatu, kejadian berdarah ini terjadi diluar kota sebelah utara, kurang lebih lima enam puluh tombak dari pintu gerbang kota."

Hoa Thian-hong berpikir sebentar, kemudian menyusupkan uang perak itu ketangan sang pelayan, setelah itu sambil menarik tangan Haputule, mereka berlalu dari situ dengan langkah lebar.

Setelah keluar dari rumah penginapan, kedua orang itu langsung berangkat menuju kepintu kota sebelah utara.

Sementara itu fajar baru menyingsing dan belum terlalu banyak orang yang berlalu lalang dijalan raya, belum jauh kedua orang itu melakukan perjalanan, tiba-tiba dari arah belakang terdengar ada orang yang menyusul mereka.

Dengan cepat Hoa Thian-hong berpaling kebelakang, ia lihat dua orang bocah cilik yang berusia empat lima tahun dan seorang bocah berusia sepuluh tahun sedang membuntuti perjalanan mereka dengan kencangnya.

Pakaian yang dikenakan mereka berdua telah compang camping dan dekil sekali, rambutnya kusut dan mukanya penuh berminyak, rupanya dua orang bocah itu adalah pengemis-pengemis cilik kota.

Yang berusia agak muda hanya berkaki lelanjang, sedang bocah yang agak besaran memakai sepatu, tapi pada waktu itu bocah tersebut telah melepaskan sepatunya dan berlarian dengan kencangnya.

Hanya sayang gerakan tubuh Hoa Thian-hong dan Haputule terlalu cepat, sehingga kendatipun dua orang bocah itu lari dengan sepenuh tenaga namun kian lama mereka tertinggal semakin jauh.

Hoa Thian-hong sendiri sama sekali tidak pikirkan kejadian itu dalam hatinya, sebab dua orang bocah tersebut tidak lebih hanya dua orang bocah pengemis yang sama sekali tak kenal ilmu silat.

Beberapa saat kemudian, mereka sudah tiba dipintu sebelah utara dan sampai ditempat peristiwa berdarah itu terjadi.

Dialas permukaan tanah hanya tersisa dua gumpalan darah yang telah mengering, kecuali itu tiada tanda-tanda lain yang berhasil di temukan lagi.

Hoa Thian-hong berdua tidak putus asa, mereka mencari lagi di sekitar tempat kejadian itu, namun bagaimanapun juga mereka berusaha senjata tajam milik Toohan dan Temotay tak berhasil ditemukan.

Akhirnya dengan wajah murung bercampur sedih Haputule mengeluh.

"Ooh....! Hoa toako, bagaimana sekarang? apa yang harus kita lakukan lagi?"

Hoa Thian-hong termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, setelah itu ujarnya.

"Mari kita periksa semua rumah penginapan yang ada dikota ini coba kita cari data, apakah dalam beberapa hari berselang ada kaum padri yang menginap disini kemudian kita cari dan selidiki pula setiap kuil yang ada disekitar kota ini. Cuma.... yaaah! perbuatan kita ini ibaratnya mencari jarum dari dasar samudra"

Mendadak dari balik pintu gerbang kota muncul dua buah batok kepala manusia, setelah melirik sekejap ke arah mereka, kepala kecil itu di tarik kembali dengan cepatnya.

Hoa Thian-hong adalah seorang jago persilatan yang memiliki ketajaman mata yang luar biasa, sekilas menandang ia segera kenali kembali mereka berdua sebagai dua orang pengemis cilik yang mengejar dibelakang tubuhnya tadi.

Sambil tersenyum ia segera menggapeh bocah itu seraya serunya.

"Eeeei saudara cilik berdua, kemarilah mari kita bercakap-cakap"

Dua orang pengemis cilik maju beberapa langkah kedepan, tapi dengan cepat mereka berhenti dengan wajah terperangah.

Beberapa detik kemudian mereka putar diri dan kabur ke arah kaki tembok kota sambil memberi tanda kepada Hoa Thian-hong berdua.

Melihat tanda itu, si anak muda itu mengerutkan dahinya rapat-rapat, lalu bisiknya.

"Ayoh ikuti mereka, coba lihat apa yang hendak mereka lakukan, sambil berkata ia segera maju kedepan. Buru-buru Haputule mengejar dari belakang, tanyanya dengan nada kebingungan.

"Tahukah engkau dua orang pengemis cilik itu berasal dari aliran mana?"

Hoa Thian-hong gelengkan kepalanya.

"Aku sendiripun kurang begitu jelas!"

Jawabnya.

"Bagaimana kalau kita kejar dua orang bocah itu kemudian menanyai mereka?"

"Aku rasa kalau sampai bertindak begitu, kurang baik, lebih baik ikuti saja mereka berdua dan coba lihat mereka akan bawa kita pergi kemana?"

Dua orang bocah pengemis itu berlarian didepan, sedangkan Hoa Thian-hong dan Haputule mengikuti dibelakang dengan langkah yang santai, kurang lebih setengah jam kemudian sampailah mereka dibawah sebuah pagoda lama yang telah tak terpakai.

Baca Juga: Si Racun Dari Barat 1

Baca Juga: Bangau Sakti 14

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert