Ceritasilat Novel Online

Tiga Maha Besar 6

Eps 6 Tiga Maha Besar - Khu Lung

Baca online Tiga Maha Besar - Khu Lung

Cersil Tiga Maha Besar - Khu Lung.

Pagoda itu terdiri dari tujuh tingkat dan berdiri disebuah tanah lapang yang luas serta terpencil letaknya, berhubung dimakan usia bangunan tersebut sudah rusak dan hancur, setiap saat ada kemungkinan untuk tumbang ketanah, sekitar bangunan telah dipagari dengan kayu siap untuk dibongkar, tapi karena belum dikerjakan maka diatas pagar terpancanglah sebuah tulisan yang berbunyi.

"Dilarang masuk!"

Ketika empat orang itu sudah tiba disekitar bangunan, dari balik semak belukar tiba-tiba berkumandang suara tepuk tangan yang amat nyaring, pengemis yang berusia empat lima belas tahun ini segera balas menepuk tangan mengikuti irama tertentu.

Dari balik semak belukar muncullah seorang bocah pengemis berbadan hitam yang berusia antara tujuh delapan tahun, dengan cepat ia lari menghampiri rekan-rekannya.

"Siau Ngo-ji, ada orang yang datang kemari?"

Tegur pengemis yang rada besaran itu.

Pengemis hitam itu gelengkan kepalanya sementara sepasang biji matanya yang melotot gede memperhatikan Hoa Thian-hong dari atas sampai kebawah, tiba-tiba ia nampak terperanjat hingga mulutnya ternganga dan tubuhnya berdiri menjublak.

Pengemis yang rada besaran itu segera menuding ke arah Hoa Thian-hong sambil berkata.

"Dialah Hoa thian....!"

"Ooooh! tak aneh, kalau sejak pandangan pertama aku sudah merasa kenal...."

Teriak Siau Ngo-ji. Hoa Thian Hoag tersenyum.

"Saudara cilik, apa yang sedang kau kerjakan seorang diri berada disini?"

Sambil menuding ke arah puncak pagoda dihadapannya, Siau Ngo-ji menjawab.

"Jenasah kakek tua dari wilayah See ih berada diatas pagoda itu, aku sedang menjaga jenasahnya agar tidak dicuri orang"

Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, Haputule nampak tergetar keras karena terperanjat bagaikan angin puyuh dia langsung lari menuju ke arah pintu pagoda.

"Hey, berhenti!"

Teriak Siau Ngo-ji dengan suara lantang.

Haputule sama sekali tidak menggubris teriakan itu lagi, sekali hantam ia hajar pintu pagoda itu sampai terbuka lalu dengan cepat menerjang masuk keruang pigoda.

Hoa Thian-hong sangat menguatirkan keselamatan jiwanya, sekali enjot badan bagaikan sambaran kilat ia merebut lari dihadapan mukanya.

"Blaammm!"

Terdengar ledakan keras bergelegar diudara pintu pagoda yang kena diterjang segera membentang lebar dan menumbuk diatas dinding kayu Dalam sekejap mata debu dan pasir berterbangan memenuhi seluruh angkasa, empat belah dinding bergetar keras seakan-akan sebentar lagi bakal roboh sama sekali.

Diam-diam Hoa Thian-hong merasa amat terperanjat, Haputule sama sekali tidak merasakan hal itu.

Ketika ia menengok keatas, tampaklah enam tingkat dibagian bawah sudah roboh sama sekali, hanya pada tingkat yang terakhir saja masih ada lantai papannya, tapi karena jaraknya dari permukaan tanah terlalu tinggi, Haputule tak mampu untuk melayang naik keatns.

Saat itulah Siau Ngo-ji menengok dari luar pintu, sambil menggape serunya dengan suara lantang.

"Hoa toako, cepat keluar! hati-hati kalau sampai pagoda itu roboh dan mengubur kalian berdua didalamnya!"

Hoa Thian Hoag segera menarik tangan Haputule sambil serunya.

"Saudaraku, ayoh keluar dulu! aku akan naik keatas puncak terakhir untuk memeriksa keadaan disana!"

"Toako!"

Teriak Haputule dengan sepasang mata berubah jadi merah berapi-api.

"suhu pasti sudah mendapat celaka.... suhu pasti sudah mendapat celaka...."

Hoa Thian-hong sundiripun dapat merasakan pula bahwa situasi tidak beres, ia bawa Haputule sampai keluar dari pagar kayu ke mudian sambil mengepos tenaga tubuhnya segera melayang naik keatas pagoda setinggi enam tujuh tombak, sekali ujung bajunya dikibaskan pemuda itu sudah melayang masuk kedalam ruang pagoda.

Siau Ngo-ji membelalakkan matanya lebar-lebar, tiba-tiba sambil acungkan jempolnya ia berkata kepada dua orang pengemis rekannya.

"Hoa toako benar-benar hebat kalau dibandingkan dengan hweesio itu.... huuh! kentutnya saja belum bisa mengejar"

Begitu mendengar tentang kehadiran seorang hweesio Haputule tak dapat menahan diri lagi, sekuat tenaga ia loncat naik keatas pagoda tingkat keempat kemudian sekali enjot badannya loncat naik lebih keatas.

Braak....Bluummm!

seketika itu juga dinding pagoda jadi retak dan roboh kebawah, Haputule yang menginjak tempat kosong segera terjatuh kembali kebawah.

Dalam Waktu singkat batu bata dan pasir berguguran diatas tanah dengan hebatnya, bangunan lama itu mulai retak-retak lebar dan agaknya sebentar lagi bangunan tersebut sama sekali akan roboh.

Reaksi dari Siau Ngo-ji paling cepat, menyaksikan keadaan tersebut ia segera berteriak keras.

"Hoa toako cepat loncat keluar! pagoda itu bakal roboh keatas tanah!"

Sementara itu Hoa Thian Hoag sudah loncat masuk kedalam ruang pagoda tingkat terakhir, begitu sorot matanya dialihkan keruangan itu, hatinya kontan tercekat, ternyata dalam ruangan diatas sebuah tikar buntut berbaringlah sesosok mayat dan mayat itu bukan lain adalah tubuh dari Siang Tang Lay.

Sebuah lobang besar yang penuh berpelepotan darah muncul pada ulu hati Siang Tang Lay, dadanya penuh noda darah, kematiannya sama sekali tidak berbeda dengan kematian yang dialami oleh Toohan maupun Temotay, hal ini membuktikan bahwa pembunuhnya adalah seorang yang sama.

Belum sempat mayat itu diteliti, pagoda itu sudah roboh keatas tanah, tergopoh-gopoh Hoa Thian-hong bopong mayat tersebut dan loncat keluar lewat jendela.

"Braakk! Braakk! Braaakk!!"

Pagoda kuno itu roboh sama sekali dan hancur Jadi berkeping-keping, pasir dan debu segera beterbangan menyelimuti seluruh angkasa.

Haputule maupun ketiga orang bocah pengemis itu buruburu loncat mundur kebelakang sedangkan Hoa Thian-hong yang memiliki ilmu meringankan badan amat sempurna segera berputar setengah lingkaran ditengah udara kemudian melayang turun keatas permukaan jauh dari tempat kejadian.

Haputule masih diliputi rasa kaget yang luar biasa ketika Hoa Thian-hong melayang turun keatas permukaan tanah, tapi begitu ia lihat si anak muda itu membopong jenasah dari gurunya, bagaikan orang kalap ia segera menerjang maju kedepan, sambil mendekap mayat tersebut menangislah bocah itu sejadi-jadinya.

Belasan tahun berselang Siang Ting Lay yang berilmu tinggi datang ke wilayah timur untuk bertarung melawan jago persilatan dari daerah Tionggoan dengan andalkan sebilah pedang emas, ia berhasil mengobrak abrik utara maupun selatan daratan Tionggoan tanpa menjumpai seorang lawanpun yang bisa menandingi kehebatannya.

Tapi kemudian ia disergap oleh gabungan tenaga dari Pek Siau-thian, Jin Hian, Thian Ik-cu, Bu Liang Sinkun serta Ciu It

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com bong sehingga tertuka parah, untung jiwanya diselamatkan oleh Hoa Goan-siu.

Kendatipun begitu badannya sudah jadi cacad dan ilmu silatnya jauh mengalami kemunduran.

Dalam perjalanannya kedaratan Tionggoan kali ini sekaligus ia berhasil melukai Jin Hian dan Thian Ik-cu boleh dibilang sakit hatinya berhasil dibalas sebagian tapi sayang mereka secara beruntun telah mengalami musibah, dari tujuh orang ada enam orang sudah mati dan sekarang tinggal muridnya yang terkecil Haputule seorang, kalau ditinjau kembali maka nasib yang mereka alami benar-benar amat menyedihkan sekali.

Haputule menangis tersedu-sedu, dengan sedihnya karena begitu berduka menyaksikan gurunya dibunuh orang akhirnya pemuda itu jatuh tak sadarkan diri.

Hoa Thian-hong sendiripun melelehkan air mata karena sedih, tapi bagaimanapun juga dia adalah seorang pemuda yang sudah banyak pengalaman meskipun rasa sedih yang dialaminya sukar dilukiskan dengan kata-kata namun pikirannya tidak sampai kacau karenanya.

Dengan cekatan ia segera mengurut dada Haputule sehingga membuat pemuda itu sadar kembali dari pingsannya.

Sambil membuka kembali matanya lebar-lebar, Haputule memeluk Hoa Thian-hong seraya menangis tersedu-sedu, teriaknya.

"Ooooh, toako aku ingin balaskan dendam untuk suhu dan suheng-suhengku, engkau harus membantu aku!"

"Saudaraku engkau tak usah kuatir"

Jawab Hoa Thian-hong dengan air mata bercucuran ", sekalipun barus pertaruhkan jiwa, aku pasti akan menangkap pembunuh kejam itu agar engkau bisa membalas dendam sendiri atas sakit hati ini"

"Tapi siapakah pembunuhnya? uuuh.... uuuhh.... uuuhh.... kita harus pergi kemana untuk mencari hweesio yang dilahirkan oleh anjing betina itu?"

"Saudaraku, engkau tak perlu gelisah! selama pembunuh itu belum mati, sekalipun dia sudah lari keujung langit atau dasar samudra, kita pasti akan berhasil menangkapnya kembali!"

"Betul, engkau tak perlu kuatir"

Sambung Siau Ngo-ji terhadap diri Haputule.

"selama janji yang diucapkan Hoa toako kami ini selalu ditepati, apa yang lelah dia janjikan tentu akan dilaksanakan sebagaimana mestinya"

Tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam benak Hoa Thianhong, ia segera berseru.

"Saudara-saudara cilik sekalian, dari mana kalian bisa tahu akan peristiwa ini? bersediakah kalian ceritakan kisah tersebut kepadaku?"

"Tentu saja bersedia!"

Jawab Siang ngo ji dengan cepat, ia ber batuk-batuk sebentar, lalu melanjutkan.

"Ceritanya begini...."

"Bagaimana jalan ceritanya?"

Seru Haputule dengan hati cemas.

"Dua hari berselang ketika malam telah menjelang tiba, aku sedang menangkap jangkerik dibawah pagoda ini, tiba-tiba muncul seo rang hweesio sambil membopong seseorang, sekali loncat hweesio itu terbang keudada dan mencapai tingkat keempat, kemudian dalam sekejap mata ia sudah mencapai tingkat teratas!" 0000O0000 MENDENGAR sampai disitu, diam-diam Hoa Thian-hong berpikir dihatinya.

"Hweesio itu sambil membopong tubuh seseorang sanggup melayang naik keatas puncak pagoda dengan beberapa enjotan badan, ilmu meringankan tubuh yang dimiliki tentu luar biasa sekali!"

Terdengar Siau Ngo-ji bercerita lebih jauh.

"Dari tingkah lakunya aku segera merasa bahwa asal usul dari hweesio itu agak kurang beres, dalam hati aku mulai berpikir sekali lompat hweesio itu bisa mencapai ketinggian beberapa tombak itu berarti ilmu silat yang dimilikinya pasti lihay sekali, karenanya terpaksa aku cuma bertiarap dibawah pagoda tanpa berani bergerak barang sedikitpun juga"

"Kemudian bagaimana?"

Sela Haputule dengan hati amat gelisah.

"ayoh cepatlah bercerita"

Siau Ngo-ji segera mengerutkan dahinya.

"Tenangkan hatimu, kenapa musti terburu nafsu?"

Katanya.

Bocah pengemis itu cuma berusia tujuh delapan tahun, tak bisa ilmu silat, badanpun kecil tapi sikapnya luar biasa sekali gagahnya, terutama gerak-geriknya yang cerdik dan aneh, sangat menarik perhatian orang.

Hoa Thian-hong dibikin serba salah, terpaksa dengan suara yang amit lirih ia berkata.

"Saudara cilik, cepatlah kalau bercerita, setelah ada petunjuk yang jelas kami akan segera menangkap pembunuh kejam itu"

Siau Ngo-ji mengangguk.

"Aku yang bersembunyi dibawah pagoda sempat mendengar hweesio itu mengajukan beberapa pertanyaan kepada suhu dari saudara ini dan mendesaknya untuk menjawab, hweesio itu antara lain bertanya dimanakah kitab pusaka Kiam keng disembunyikan, tapi suhu dari saudara ini cuma tertawa dingin tiada hentinya tanpa mengucapkan sepatah katapun, sikap yang ketus dan tidak bersahabat dari suhunya saudara ini kontan menggusarkan hweesio tersebut, ia segera turun tangan menyiksa suhu dari saudara ini."

"Bagaimana selanjutnya?"

Seru Hoa Thian-hong dengan sepasang alis mata berkenyit.

"Kemudian.... mendadak hweesio itu bertanya, 'Apakah kitab pusaka Kiam keng itu di simpan dalam pedang bajanya Hoa toako?'"

Biji mata bocah itu segera berputar dan melirik sekejap ke arah pedang baja yang tergantung dipinggang Hoa Thiao Hong. Diam-diam si anak muda itu merasa amat terperanjat, tanyanya lagi.

"Lalu apa yang dijawab oleh Siang locianpwee itu?"

Siang locianpwee itu?

sepatah katapun ia tidak berbicara, ia tetap membungkam dalam seribu bahasa, mendadak hweesio tersebut tertawa terbahak-bahak dengan kerasnya begitu keras suara tertawa itu sehingga hampir saja pagoda itu akan roboh, sesaat kemudian terdengarlah Siang locianpwee itu menjerit kesakitan, rupanya hweesio tersebut telah turun tangan untuk membunuh orang.

"Bagaimana selanjutnya?"

Pada saat itulah dari luar pagoda terdengar seorang perempuan berbicara, perempuan itu berkata.

"Hey Pia Lengcu.... Pia Leng-cu, dengarkanlah anjuranku dan cepat-cepatlah takluk kepadaku ber gabunglah dengan perkumpulan Kiu-imkauw kami...."

"Oooh....! jadi mereka adalah Pia Leng-cu serta Kiu-im Kaucu!"

Seru Haputule dengan terperanjat.

"Emmm! saudaraku, lanjutkan ceritamu, bagaimana selanjutnya?"

Sela Hoa Thian-hong.

"Hweesio itu.... aah! bukan, Pia Leng-cu itu segera loncat turun dari atas pagoda, dengan sikap yang garang ia berteriak.

"Kiu-im Kaucu, engkau jangan terlalu mendesak orang sehingga terpojok, ketahuilah kalau anjing sedang panik tembok pekarangan pun akan diloncati, kalau engkau paksa aku Pia Leng-cu terus sampai tak ada jalan lagi, terpaksa aku akan serahkan pedang emas ini kepada Hoa Thian-hong"

"Apa yang kemudian diucapkan oleh Kiu-im Kaucu?!"

Kembali Haputule bertanya dengan suara gelisah.

"Apa yang dia katakan?!"

Siau Ngo-ji sengaja berjual mahal, setelah berhenti beberapa saat ia baru melanjutkan. Kiu-im Kaucu tertawa terbahak-bahak, ujarnya.

"Waah, kalau engkau berbuat demikian malah jauh lebih bagus lagi, Hoa Thian-hong pernah berhutang budi kepada perkumpulan Kiu-im-kauw kami, kalau engkau serahkan pedang emas itu kepadanya, maka aku akan mintanya kembali dari tangannya, aku yakin ia pasti tak akan menampik"

"Hoa toako!"

Seru Haputule dengan wajah tercengang.

"engkau pernah berhutang budi apa sih dengan pihak perkumpulan Kiu-im-kauw?"

Hoa Thian-hong menghela napas panjang.

"Aaai....! nyonya hiolo kumala Ku Ing-ing pernah menghadiahkan sebatang Leng-ci mustika berusia seribu tahun kepadaku untuk memunahkan racun teratai yang mengeram didalam tubuhku, berkat Leng-ci tersebut beberapa orang toyu yang terlukapun berhasil diselamatkan jiwanya, yang dimaksudkan Kuu im kaucu pastilah persoalan ini."

"Betul!"

Seru Siau Ngo-ji membenarkan.

"Kiu-im Kaucu juga berkata demikian, semula aku masih mengira kalau dia lagi mengibul dan omong besar!"

"Bagaimana selanjutnya?"

Tanya Hoa Thian-hong.

"Kemudian...."

Siau Ngo-ji berhenti sejenak, kemudian baru terusnya.

"Pia Leng-cu segera mendengus dingin, dengan sikap acuh tak acuh dia berkata, 'Sekalipun ilmu silat yang kau miliki masih setingkat lebih lihay daripada kepandaianku, namun untuk bereskan nyawa aku Pia Leng-cu bukanlah suatu pekerjaan yang mudah, apalagi toh masih ada seorang to yu yang pasti tak akan setuju dengan tindakanmu itu.'"

"To yu yang mana sih yang dia maksud kan?"

Tanya Hoa Thian-hong keheranan.

"Pada mulanya aku sendiripun keheranan dan tak habis mengerti, tapi setelah kutenggok ke arah mana asalnya suara pembicaraan itu.... oohh hoohh.... rupanya dari arah lain telah berdiri seorang makhluk yang sangat aneh."

"Makhluk aneh macam apa?"

Tanya Haputule ikut tercengang bercampur keheranan.

"Keanehan yang terdapat pada diri orang itu sukar dilukiskan dengan kata-kata, pokoknya barang siapapun bertemu dengan orang itu maka sekujur badannya akan merinding dan bulu kuduknya pada bangun berdiri, lagi pula waktu itu udara gelap aku sendiripun tidak dapat melihat jelas raut wajahnya."

"Apa yang diucapkan mauusia aneh itu?"

Kembali Haputule bertanya dengan cepat.

"Manusia aneh itu berkata, 'Pia Leng-cu, darimana engkau bisa menebak kalau kitab Kiam keng disimpan dalam pedang baja milik Hoa Thian-hong?'"

"Benar, dibalik peristiwa ini pasti ada hal yang diluar dugaan"

Batin Hoa Thian-hong dihati kecilnya. Terdengar Siau Ngo-ji melanjutkan kembali kata-katanya.

"Pia Leng-cu segera menjawab, 'Gampang sekali untuk menebak hal itu, coba bayangkan saja kitab pusaka Kiam keng tersebut sudah pasti adalah suatu benda yang bisa dilihat tak dapat diambil.' Siang Tang Lay pun tak dapat mengambilnya, kalau tidak kenapa ia tidak tidak ambil kitab pusaka Kiam keng itu untuk diwariskan kepada anak muridnya, atau dihadiahkan kepada Hoa Thian-hong"

"Pintar juga anjing bulukan ini!"

Seru Haputule dengan penuh rasa benci dan mendendam.

"Sementara itu Pia Leng-cu melanjutkan kembali katakatanya!"

Sambung Siau Ngo-ji lebih jauh.

"dia bilang benda pusaka warisan dari Dewa pedang Gi Ko sudah pasti mempunyai sangkut pautnya antara yang satu dengan yang lain, pedang baja yang berada ditangan Hoa Thian-hong adalah sebilah senjata yang kuat dan keras sekali, sebalik nya pedang emas adalah pedang paling tajam di kolong langit, dua bilah senjata yang saling berlawanan ini pasti bukan kebetulan saja sebaliknya mengandung maksud-maksud tertentu. Mendengar perkataan itu manusia aneh tersebut segera berseru.

"Ucapanmu itu sangat masuk diakal dan...."

"Pia Leng-cu pun kembali berkata, 'Keponakan muridnya menyembunyikan pedang emas itu didalam pedang pusaka Boan liong poo-kiamnya, perbuatannya itu segera menggerakkan kecerdasannya, kalau didalam pedang itu disimpan se

Jilid kitab pusaka Kiam keng, rasanya hal ini besar sekali kemungkinannya, apalagi pedang baja itu kuat dan ampuh tak mempan dibacok atau ditebas kutung oleh golok atau pedang mustika biasa, sebaliknya hanya bisa ditebas kutung oleh pedang emas, ditinjau dari rentetan hubungan itu bukankah dapat ditarik kesimpulan kalau pedang emas itu sebenarnya tak lain tak bukan adalah kunci untuk mendapatkan kitab pusaka Kiam keng?'"

Mendengar kisah itu, tanpa terata sambil meraba gagang pedangnya Hoa Thian-hong tertawa dingin.

"Hmmm! bagaimana selanjutnya?"

Ia bertanya.

Kemudian ketiga orang itu saling memaki dan saling membentak, lama kelamaan dari cekcok mulut akhirnya Kiu-im Kaucu bertempur melawan Pia Leng-cu malah bertempur sengit melawan manusia aneh itu sedangkan Pia Leng-cu mengundurkan diri dari gelanggang pertarungan dan melarikan diri dari tempat kejadian, melihat Pia Leng-cu kabur maka Kiu-im Kaucu dan manusia aneh itupun segera berhenti bertempur kedua orang itu dengan cepatnya mengejar Pia Leng-cu yang sudah kabur lebih dahulu, dalam sekejap mata ketiga orang itu sudah lenyap dari pandangan mata.

Diam-diam Hoa Thian-hong merasa amat terperanjat, ia tak dapat menebak siapakah manusia aneh yang berani bertempur melawan Kiu-im Kaucu itu.

Haputule dengan sepasang mata berubah merah berapi-api segera bertanya.

"Saudara cilik, apakah engkau sempat melihat jelas ke arah mana ketiga orang itu berlalu?"

"Pada waktu itu aku tak sempat melihat jelas, tapi kedua orang kakak seperguruanmu kemarin sore baru menemui ajalnya, oleh karena itu aku yakin sampai kemarin sore Pia Leng-cu masih berada dikota Lok yang."

"Pintar sekal bocah cilik ini"

Pikir Hoa Thian-hong dengan perasaan terperanjat. Haputule segera berpaling ke arah Hoaa Thian-hong, kemudian ajaknya dengan suara lirih.

"Hoa toako, bagaimana kalau kita lakukan penggeledahan lebih dahulu disekitar kota Lok yang, coba libat apakah kita masih dapat menemukan jejak dari bajingan anjing bulukan itu!"

Siau Ngo-ji segera goyangkan tangannya berulang kali sambil menyela dari samping.

"Tak usah dicari lagi, kami telah melakukan pencarian yang teliti diseluruh kota Lok yang, namun tak berhasil menemukan jejak dari ketiga orang itu. Hoa toako lebih baik segera kembali untuk menyambut kedatangan ibumu."

"Kenapa?"

Tanya Hoa Thian-hong dengan sepasang dahi berkerut. Pada waktu itu setelah aku kembali kedalam kota, dan menceriterakan kisah kejadian itu kepada Ko toako....

"Ko toako? siapakah dia?"

Sela Haputule dengan wajah keheranan.

Oooh yaa!

dia adalah toako kami!

belum habis aku bercerita tiba-tiba saja toako berteriak.

Aduh celaka....!

pada saat itu juga dia segera mencuri seekor kuda dan berangkat menuju ke kota Cho Ciu....

"Mau apa Ko toako mau berangkat ke kota Cho ciu?"

Ko toako bilang begini.

"ketiga orang gembong iblis itu ada maksud untuk mendapatkan kitab Kiam keng, sedang kitab kiam keng didalam pedang baja milik Hoa toako, mereka bertiga pasti akan menggunakan segala daya upaya untuk mendapatkannya. Mendengar perkataan itu aku lantas membantah. 'Aaahh! tak mungkin, ilmu silat yang dimiliki Hoa toako lihay sekali dan tiada tandingannya di kolong langit, sudah pasti dia tak akan pikirkan ketiga orang itu dalam hatinya', namun Ko toako tidak sependapat dengan jalan pikiranku ini"

"Lalu apa yang dikatakan Ko toakomu?"

"Ko toako bilang begini. pertama, serangan yang datang secara menggelap sukar di duga, kedua kemungkinan besar tiga orang gembong iblis itu bakal bersekongkol untuk bersama-sama menghadapi Hoa toako seorang, selain itu kami dengar kabar yang mengatakan ilmu silat yang dimiliki ibunya Hoa toako telah punah, seandainya tiga orang itu secara tibatiba turun tangan dan menculik ibu Hoa toako bukankah dalam keadaan demikian Hoa toako serta-merta akan serahkan pedang baja itu kepada mereka tanpa syarat? jika ke tiga orang itu sampai berhasil mendapatkan kitab kiam keng, waaah.... ilmu silat mereka sudah pasti akan lihay sekali!"

Pucat pasi selembar wajah Hoa Thian-hong karena kaget dan terkesiapnya, sambil membelai kepala Siau Ngo-ji ia segera berseru.

"Saudara cilik engkau memang luar biasa sekali! Ko toako mu juga hebat, kalau dibandingkan dengan aku maka kecerdikan kalian jauh lebih hebat beberapa kali lipat"

"Ko toako seperti juga dengan aku, diantara para jago dan orang gagah yang ada di kolong langit kami cuma kagum terhadap Hoa toako seorang"

Tukas Siau Ngo-ji dengan cepat.

Jilid 15 HOA THIAN-HONG sangat terharu hingga air mata tanpa terasa jatuh berlinang membasahi pipinya.

Sebelum bertemu, aku sama sekali tidak saling mengenal dengan kalian, tapi karena urusanku Ko toako mu telah bersusah payah berangkat ke kota Cho ciu uatuk memberi kabar, bila bertemu nanti aku pasti akan mengucapkan banyak terima kasih kepadanya.

Belum habis Hoa Thian-hong bicara kembali Siau Ngo-ji menukas.

"Kami sudah lama bersahabat dan berkenalan dengan Ko toako urusan ini toh kecil sekali, kenapa Hoa toako musti berterima kasih"

Ia berhenti sebentar, kemudian sambil tertawa haha hihi sambungnya lebih jauh.

"Hiiih.... hiiih.... hhiiih.... apakah Hoa toako segera akan berangkat ke kota Cho ciu "

Apa yang diucapkan Ko toako mu memang tak sala, ibuku dalam keadaan bahaya karenanya aku harus segera berangkat kesana"

"Bagaimana kalau aku temani Hoa toako tanya Siau Ngo-ji sambil mengerdipkan matanya. Hoa Thian-hong jadi serba salah, dalam hati ia merasa keberatan karenanya pemuda itupun berkata.

"Dunia persilatan sangat berbahaya dan banyak sekali tipu muslihat yang bisa menjerumuskan orang kelembah kehancuran, saudara cilik engkau masih muda dan lagi orang tuamu masih ada"

"Oooh! sudah tak ada lagi aku sudah tak punya orang tua"

Tukas Siau Ngo-ji sambil goyangkan tangannya berulang kali.

"aku hidup sebatang kara tak punya sanak tak punya keluarga, dunia persilatan adalah rumahku dan aku hidup di antara siksaan serta penderitaan karena itu aku tidak takut mara bahaya, kalau aku takut menghadapi kenyataan mungkin sejak dulu aku mati kelaparan....!"

Hoa Thian-hong jadi amat terharu dan tak tega untuk menampik keinginannya dan lagi ia merasa sayang kalau bocah cerdik itu harus hidup bergelandangan tanpa masa depan yang cerah.

Setelah berpikir sebentar, pemuda itupun mengangguk, kepada Haputule pesannya.

"Saudaraku, untuk sementara waktu tinggallah dulu dikota Lok yang untuk mengurusi layon dari suhu serta kedua orang kakak seperguruanmu, aku akan menyambut kedatangan ibukmu, disamping berusaha keras untuk menangkap Pia Leng-cu"

"Selesai mengebumikan jenasah dari suhu, aku akan segera menyusul Hoa toako ke kota Cho ciu!"

Sahut Haputule dengan sedih.

"Baik! musuh amat licik dan kejam, saudaraku! engkau harap selalu waspada dan bertindak seksama"

Setelah mengangguk kepada dua orang pengemis lainnya, sambil menggempit Siau Ngo-ji dibawah ketiaknya berangkatlah pemuda itu menuju ke kota Cho ciu.

Hoa Thian-hong sangat menguatirkan keselamatan ibunya, perjalanan dilakukan cepat sekali ibarataya sambaran petir yang membelah di angkasa, ketika senja menjelang tiba mereka telah sampai diluar kota Tha sian shia....

Tiba-tiba Siau Ngo-ji berteriak keras.

"Hoa toako, mari kita beristirahat sebentar, turunkan aku!"

Hoa Thian-hong berhenti berlari dan t runkan Siau Ngo-ji keatas tanah, tanyanya.

"Saudara cilik, engkau lelah?"

Siau Ngo-ji menghembuskan napas panjang-panjang.

"Lelah sih tidak, cuma aku tak dapat bernapas, dadaku lama kelamaan jadi sesak!"

Buru-buru Hoa Thian-hong atur pernapasan sebentar untuk pulih kembali tenaganya, kemudian katanya.

"Kalau dihitung menurut jadwal perjalanan, mungkin pada malam ini ibuku menginap semalam dikota ini, bila sepanjang perjalanan tak ada halangan atau rintangan maka seharusnya saat ini sudah berada dikota ini, ayoh kita masuk kedalam kota untuk mencari jejak mereka!"

"Toako tak usah terburu nafsu"

Hibur Siau Ngo-ji.

"aku sudah mendapat kabar yang mengatakan bahwa sepanjang perjalanan bibi tidak memperoleh rintangan apa-apa sekarang mungkin beliau sudah tiba ditempat tujuan dengan selamat!"

"Aaaai....! dalam keadaan begini engkau masih bisa-bisanya bergurau"

Sambil menggandeng tangan kecilnya yang dekil dan kotor berangkatlah mereka masuk kedalam kota.

Ketika lewat dibawah pintu gerbang kota, tiba-tiba Siau Ngo-ji berhenti, kemudian menunjukkan kode tangan kepada seorang bocah ku disan yang sedang berjongkok dipinggir jalan.

Bocah kudisan itu melirik sekejap ke arah Hoa Thian-hong kemudian berbisik lirih.

"Rumah penginapan Beng ho dijalan raya sebelah barat!"

Siau Ngo-ji segera tarik tangan Hoa Thian-hong seraya berseru.

"Aku tahu tetak itu toako! ayoh ikuti lagi aku"

"Apakah Ko toako mu berdiam dirumah penginapan Beng ho?"

Tanya Hoa Thian-hong keheranan.

"Bukan, bibi yang tinggal disitu!"

"Eeei.... rupanya kalian juga punya Organisasi yang cukup besar....!"

Tegur sang pemuda tercengang. Siau Ngo-ji tertawa bangga.

"Perkumpulan Hong-im-hwie menguasai wilayah Kangpak, perkumpulan Sin-kie-pang menguasai wilayah Kanglam dan perkumpulan Thong-thian-kauw menguasai wilayah Kangtang, sebaliknya seluruh pengemis cilik yang ada di kolong langit berada dibawah kekuasaan Ko toako, sebenarnya kami juga akan mendirikan sebuah perkumpulan, tapi ilmu silat yang dimiliki Ko toako belum berhasil dikuesahi, ia tak mau jadi Loo toa dan suruh aku yang menjabat kedudukan tersebut, namun aku sendiripun merasa terlalu pagi untuk berpikir sampai kesana"

"Berapa sih usia Ko toako mu itu? ilmu silat apakah yang dipelajari olehnya?"

Siau Ngo-ji berpikir sebentar, kemudian menjawab.

"Lo toako kurang lebih lima belas tahun, ilmu silat yang dipelajari nya adalah ilmu telapak Tiat sah ciang serta Tiat poh san aku sendiripun berlatih ilmu pukulan Tiat sah Ciang, tapi baru mencapai taraf berlatih diatas pasir, itupun baru berlangsung selama beberapa bulan"

"Coba aku periksa tangan kirimu!"

Kata Hoa Thian-hong dengan dahi berkerut.

Siau Ngo-ji perlihatkan lengan kirinya, ketika diperiksa ternyata telapak tersebut memang jauh lebih kasar daripida tangan kanannya.

Bocah itu tersenyum, katanya.

"Hoa toako, aku ingin melatih kedua belah telapakku, boleh toh?"

Hoa Thian-hong termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian ia manjawab.

"Kalau melatih ilmu keras seperti itu, kadangkala telapak tangannya bisa membengkak jika kedua duanya dilatih maka pertama ku rang begitu leluasa dan kedua kurang sempurna sewaktu latihan, tangan bisa jadi cacad, berlatih sepasang telapak secara bersama sama memang terlalu bahaya."

Ia berhenti sebentar, kemudian melanjutkan.

"Apakah Ko toakomu punya suhu?"

Siau Ngo-ji gelengkan kepalanya.

"Kami semua berlatih sendiri-sendiri, tak ada guru yang memberi petunjuk kepada kami"

"Lalu siapa yang ajarkan cara berlatih ilmu keras itu kepada kalian semua?"

Dengan mata terbelalak lebar Siau Ngo-ji menjawab.

"Kami dengar dari orang lain, katanya banyak sekali orang yang mengetahui cara berlatih ilmu itu, cuma orang harus sabar dan tekun berlatih, tidak takut sengsara dan tidak takut lelah, dengan begitu kepandaian tersebut baru bisa tercapai hasilnya, sekali hantam Ko toako kami sanggup untuk mengbancurkan enam buah batu bata yang disusun menjadi satu!"

"Aaai....! dua orang bocih yang cerdik, sayang mereka tidak bertemu dengan guru yang pandai"

Sementara masih termenung, tanpa sadar mereka telah sampai diluar rumah penginapan Beng ho, baru saja naik ketangga batu seorang pelayan telah maju menyambut kedatangan mereka sambil bertanya "Kek koan, apakah kalian hendak mencari kamar?"

"Apakah ada tiga orang tamu perempuan menginap dirumah penginapan ini?"

"Oooh ada.... ada"

Sahut pelayan itu berulang kali.

Ia segera putar badan dan membawa dua orang itu menuju keruang belakang dan berhenti didepan sebuah kamar yang tertutup rapat.

Belum sempat mereka bertiga mendekati kamar itu, dari balik ruangan berkumandang lah suara bentakan dari Tio Sam-koh.

Dari sura bentakan itu Hoa Thiaa Hong tabu kalau ibunya selamat tanpa kekurangan sesuatu apapun, ia jadi lega dan segera menjawab.

"Nenek Sam poo, aku!"

"Tunggu sabentar!"

Seru Tio San koh.

Hoa Thian-hong segera ulapkan tangannya memerintahkan pelayan itu untuk berlalu, beberapa saat kemudian pintu terbuka dan Chin Wan-hong muncul diambang pintu.

Hoa Hujin duduk bersila diatas pembaringan, sedang Tio Sam-koh dengan toya ditangan berdiri disisinya dengan gagah perkasa.

Hoa Thian-hong segara maju kedepan memberi hormat kepada dua orang itu, kemudian sambil berpaling kebelakang, serunya.

"Siau Ngo-ji, orang tua ini adalah sam po po, ayoh maju kedepan dan memberi hor at kepadanya!"

"Nenek sam popo!"

Sapa Siau Ngo-ji sambil menjura dalamdalam. Hoa Thian-hong segera menuding kembali ke arah ibunya sambil menambahkan.

"Dan dia adalah ibuku!"

Siau Ngo-ji segera jatuhkan diri berlutut diatas tanah, sambil menyembah, katanya.

"Bibi, Siau Ngo-ji menyembah untukmu!"

Tio Sam-koh jadi mendongkol sekali, sambil hentakkan toya bajanya keatas tanah ia berteriak gusar.

"Bocah kurangajar, engkau berani pandang rendah orang yaa? kenapa tidak berlutut dan menyembah kepada aku nenek tua?"

Siau Ngo-ji balas mendelik, sahutnya.

"Bibi Hoa secara beruntun telah membinasakan Lie Buliang, Hian Leng cu serta Cing Leng cu, setiap orang di kolong langit mengetahui akan hal ini, tentu saja aku harus berlutut dan menyembah kepadanya"

Tio Sam-koh semakin gusar, kembali ia berkata.

"Aku nenek tua dengan andalkan toya bajaku telah membinasakan Cing Si cu serta berpuluh-puluh orang lainnya, apakah engkau bocah kurangajar tidak pernah dengar orang membicarakan soal itu?"

"Cing Si cu?!"

Seru Siau Ngo-ji, dia adalah koancu dari kuil It-goan-koan dikota Cho ciu, kalau engkau tidak bilang darimana aku bisa tahu? baiklah, aku akan berlutut dan menyembah kepadamu"

Sambil berkata ia segera putar badan dan menyembah kepada Tio Sam-koh. Selesai memberi hormat, Hoa Thian-hong kembali menuding ke arah Chin Wan-hong sambil memperkenalkan.

"Dia adalah enso mu!"

Siau Ngo-ji kembali berlutut hendak menyembah, tapi Chin Wan-hong buru-buru mencegah sambil berkata.

"Saudaraku, tak usah memberi hormat secara kebesaran, silahkan duduk...."

Hoa Thian-hong tersenyum, ujarnya kemudian.

Enci Hong, kami harus buru-buru melakukan perjalanan sehingga tak sempat makan dan minum, sekarang perutku lapar sekali!

tolong sediakan makanan "Baik!

aku akan siapkan makanan didapur!"

Sahut Chin Wan-hong, iapun berlalu dari kamar. Sepeninggal gadis itu, Hoa Hujin berkata.

"Bagaimana keadaan Siang locianpwee? kenapa Haputule tak kelihatan?"

Hoa Thian-hong menghela nafas panjang ia segera menceritakan semua kejadian yang dialami selama melakukan perjalanan ke kota Lok yang.

Setelah mengetahui akan nasib sial yang menimpa Siang Tang Lay beserta kedua orang muridnya, Hoa Hujin tak tahan ikut bersedih hati, ia menghela nafas panjang tiada hentinya.

Tiba-tiba Tio Sam-koh mengelukan tongkat bajanya keatas tanah, kemudian serunya dengan lantang.

"Pia Leng-cu pasti berada dikota ini, bagaimanapun juga kita harus berusaha untuk menangkap bajingan itu kemudian membacoknya hidup-hidup hingga mampus!"

Hoa Hujin menghela napas panjang, dari balik selimut dia ambil keluar dua carik kertas, sambil dianggurkan kedepan, katanya.

"Engkoh cilik she Ko ini adalah seorang pendekar sejati yang berjiwa ksatria. Seng ji, engkau harus baik-baik ikat tali persahabatan dengan dirinya"

Hoa Thian-hong menyambut kertas itu dan membaca isinya, pada lembaran pertama tertulislah kata-kata sebagai berikut, Kiu-im Kaucu, Pia Leng-cu serta seorang manusia aneh tua dari perkumpulan Mo-kauw yang bercokol dilaut Teng sut hay telah ber kumpul semua dikota ini, mereka bertujuan jahat terhadap diri hujin, harap diperhatikan dan waspada selalu"

Sedang pada lembaran kedua tertulislah kata-kata berikut.

"Pia Leng-cu sangat pandai ilmu merubah wajah, saat ini paras muka serta dandanannya kembali berubah, jejaknya hilang tak ketahuan, Kiu-im Kaucu berdiam dirumah penginapan Ko seng dipintu kota sebelah utara, makhluk aneh dari perkumpulan Mo-kauw bercokol dikuil kota Shia hong hio, perlu diketahui makhluk aneh itu pernah berkata demikian kepada Kiu-im Kaucu. 'Engkau adalah kaucu, apa aku kaucu?' Kalau dengar dari ucapan tersebut, kemungkinan besar dia adalah pentolan dari perkumpulan Mo-kauw"

Di bawah surat itu tertulislah namanya sebagai berikut.

"Tertanda, aku yang rendah Ko Tay"

Hoa Thian-hong segera mengernyitkan sepasang alisnya yang tebal, ia bertanya.

"Ibu, siapa yang serahkan surat ini kepadamu?"

Ketika kereta kuda kami baru saja masuk kota, seorang bocah cilik angsurkan selembar kertas kepadaku, kemudian sewaktu bersan tap malam tadi, dibawah mangkuk sayur kami temukan pula lembaran surat yang kedua"

Ia berhenti sebentar, kemudian melanjutkan.

"Makanan maupun minuman kami dikerjakan sendiri oleh Hong ji, akupun tak habis mengerti darimana datangnya surat itu?"

Hoa Thian-hong termenung sejenak, lalu ujarnya lagi.

"Ilmu silat yang dimiliki saudara Ko kurang begitu baik, kalau dia harus adu kepandaian dengan tiga orang gembong iblis itu aku takut kalau...."

"Toako tak usah kuatir"

Tukas Siau Ngo-ji dengan cepat.

"meskipun ilmu silat yang di miliki Ko toako masih belum bisa menandingi kehebatanmu, tapi tiga sampai lima orang gembong iblispun tak akan mampu berbuat sesuatu terhadap dirinya"

Hoa Hujin tersenyum, serunya.

"Tiga lima orang gembong iblis bukan main kehebatannya lho.... jangan kau anggap sebagai suatu permainan!"

Hoa Thian-hong memandang sekejap ke arah ibunya, lalu berkata.

"Saudara cilik she Ko itu baru berusia empat lima belas tahunan, ilmu silat yang sedang dilatih adalah ilmu pukulan Tiat san ciang atau pukulan pasir besi."

Perkataan itu diucapkan sangat mendalam dan mempunyai dua arti rangkap, sudah tentu sebagai seorang yang cerdas Hoa Hujin dapat memahami maksudnya.

Jangan dibilang Ko Tay masih sangat muda dan belum menginjak dewasa, sekalipun ia sudah dewasa dan ilmu pukulan pasir besinya telah dilatih hingga mencapai puncak kesempurnaan, dalam penglihatan Hoa Hujin dan putranya, kepandaian tersebut masih belum terhitung sebagai Suatu ilmu silat yang bisa diandalkan, tentu saja mereka tak ingin menyaksikan seorang bocah cilik yang belum dewasa harus jual nyawa bagi kepentingan mereka.

Hoa Hujin berpikir sebentar, lalu ujarnya.

"Siau Ngo-ji, dapatkah kau temukan Ko toakomu itu?"

"Untuk menemukan Ko toako sih bisa saja, cuma ia tak dapat datang kemari, dan kitapun tak dapat pergi kesana"

"Kenapa??"

"Kalau kedua belah pihak telah saling bertemu, bukankah rahasia Ko toako bakal ketahuan? jika ketiga orang gembong iblis itu mengetahui kalau dia adalah sahabat Hoa toako.... waaah! kemungkinan besar dia malah akan dicelakai"

"Hmm! jaman memang sudah berubah, pentunganpun bisa jadi siluman! betul-betul hebat!"

Ejek Tio Sam-koh dengan suara tajam. Mendengar sindiran itn, Siau Ngo-ji langsung mengenyitkan sepasang alis matanya.

"Nenek Sam popo! aku toh sudah berlutut dan menyembah kepadamu, kenapa sih engkau begitu pandang rendah diriku?!"

Serunya penuh rasa penasaran. Tio Sam-koh semakin melototkan matanya bulat-bulat.

"Huuh! orang sih kecil tapi nyali mu benar-benar sangat besar...."

"Baik! Baik! Baik!"

Seru Siau Ngo-ji sambil anggukan kepalanya berulang kali, suatu ketika aku pasti akan melakukan suatu peker jaan besar untuk diperlihatkan kepadamu"

Hoa Hujin tersenyum simpul, ia saling berhadapan sekejap dengan Hoa Thian-hong lalu anggukkan kepalanya.

Mereka merasa bahwa setiap perkataan dari Siau Ngo-ji sangat masuk diakal, dalam kenyataan memang banyak kesulitan yang terdapat dalam peristiwa itu.

Beberapa saat kemudian, Chin Wan-hong muncul dalam ruangan menghidangkan sayur dan nasi, Hoa Thian-hong serta Siau Ngo-ji segera duduk dan bersantap bersama-sama.

"Toa! tiba-tiba Siau Ngo-ji berbisik lirih, apakah makanpun ada peraturannya?"

Mendengar pertanyaan itu Hoa Thian-hong segera tertawa.

"Buat orang persilatan seperti kami, makan sih tak usah pakai aturan, bebas dan santai sajalah!"

Siau Ngo-ji mengangguk, tanpa sungkan-sungkan lagi ia segera ambil nasi dan bersantap dengan lahapnya.

Melihat pakaian yang dikenakan Siau Ngo-ji sudah amat dekil dan banyak berlubang, celana sampai sebatas lutut penuh dengan lumpur, sepasang tanganaya hitam, rambut kusut dan awut-awutan persis seperti seorang pengemis cilik.

Hoa Hujin segera berpaling ke arah Chin Wan-hong sambil berkata.

"Hong ji, carilah satu stel pakaian baru untuknya, dan perintabkan pelayan untuk siapkan air mandi!"

"Bibi Hoa, engkau tak usah repot-repot!"

Seru Siau Ngo-ji sambil berpaling.

"aku tak tahan pakai pakaian baru, tidak sampai beberapa hari toh akhirnya bakal rusak lagi!"

"Kalau sudah rusak kita bicarakan lagi, ayoh cepat bersantap lebih dulu!"

Kata Hoa Hujin sambil tertawa.

Chin Wan Hoag sendiri segera berlalu dari ruangan untuk carikan pakaian buat Siau Ngo-ji.

Baru saja kedua orang itu selesai bersantap, pelayan telah menyiapkan air mandi.

Berhubung Siau Ngo-ji adalah seorang bocah cilik yang baru berusia tujuh delapan tahunan, semua orangpun tidak terlalu memikirkan soal pantangan atau menyingkir dari sana, mereka merintahkan pelayan untuk letakkan tong besar tempat mandi disudut ruangan, kemudian suruh bocah itu lepaskan pakaian dan mandi.

Sebenarnya Siau Ngo-ji ada maksud untuk menghindar, tapi karena ia jeri terhadap Hoa Hujin maka dengan rada jengah akhirnya bocah itu lepaskan pakaian juga untuk mandi.

Tiba-tiba Tio Sam-koh berkata.

"Siau Ih, bagaimanapun juga pertarungan ini harus kita adakan, sekarang Seng ji sudah kembali, aku nenek tua tak sudi menjadi cucu kura-kura terus-terusan!"

"Nenek Sam poo, apa yang kau katakan?!"

Sambung Hoa Thian-hong dengan cepat. Dengan wajah uring-uringan Tio Sam-koh berseru.

"Setelah membaca dua lembar tulisan itu, Hong jin selain mengusulkan agar kita bertindak tenang dan memaksakan suatu tutup pintu tidak keluar dari ruangan barang selangkahpun, dia selalu mengandalkan kelihayan dari kepandaian perguruannya untuk mempertahankan diri...."

Mendadak Siau Ngo-ji berpaling sambil memperingatkan.

"Nenek sam popo, dinding ada celah, tembok ada telinga, kalau sedang membicarakan masalah yang penting, janganlah berteriak-teriak begitu dong!"

"Bocah busuk! siapa suruh eagkau cerewet dan banyak mulut?"

Bentak Tio Sam-koh penuh kegusaran.

"Pia Leng-cu telah lenyap tak ketahuan kemana perginya, siapa tahu kalau ia berdiam dikamar sebelah, kalau engkau berteriak teriak begitu hingga rahasianya ketahuan, mana mungkin bangsat itu mau masuk perangkap?"

"Monyet cilik, banyak amat akal busuk mu!"

Maki Tio Samkoh, kemudian sambil tertawa lanjutnya.

"Seng ji coba periksalah keadaan disekeliling ruangan ini jangan sampai dugaan dari monyet cilik ini benar-benar terjadi hingga ada orang yang berhasil mendekati tempat Tinggal kita"

Hoa Thian-hong tersenyum, dia segera melayang keluar dari ruangan dan memeriksa keadaan disekeliling tempat itu, kebetulan Chin Wan-hong telah pulang sambil membeli setumpuk pakaian, dua orang itu segera bersama-sama kembali keruangan.

Semua orang sekali lagi merundingkan siasat untuk menghadapi musuh.

Tio Sam-koh adalah seorang jago tua yang bersifat seperti jahe, makin tua semakin pedas, kalau menurut pedapatnya, sebelum musuh datang berkunjung, mereka terjang lawan-lawanya lebih dahulu sehingga musuh jadi kocar kacir.

Tapi Hoa Thian-hong lebih mementingkan keselamatan ibunya, apabila keadaan tidak terlalu mendesak, ia tak ingin terlalu jauh meninggalkan ibunya.

Chin Wan-hong adalah seorang gadis yang halus dan penurut, setelah kembali kedalam ruangan dia selalu mengikuti perasaan dan maksud hati mertua serta suaminya, sekarang setelah mendengar kalau usul dari suaminya persis seperti apa yang dia inginkan, gadis itupun segera tutup mulut dalam seribu bahsaa tanpa mengajukkan suatu usul yang lain.

Hoa Hujin sendiri dalam keadaan demikian jadi bingung sendiri, untuk beberapa waktu perundingan jadi macet dan mereka tak berhasil mengambil keputusan apapun juga Tiba-tiba Siau Ngo-ji berbisik lirih.

"Enso, kepandaian apakah yang merupakan kepandaian terampuh dari perguruan mu?"

Sambil menyisir rambut Siau Ngo-ji dengan sisir, Chin Wanhong tertawa.

"Ketika suhu menyaksikan ilmu silatku terlalu cetek, maka dia telah menghadiahkan sedikit kabut sembilan bisa kepadaku, kabut beracun itu tidak berwarna tidak berbau, jika disebarkan diudara maka kabut itu tetap menggumpal dan sama sekali tidak buyar, barang siapa tersentuh oleh racun itu maka dia akan segera keracunan hebat dan jatuh tak sadarkan diri!"

"Ooh! kalau begitu kabut beracun itu pasti lihay sekali, tapi kalau dihembus angin bakal buyar atau tidak?"

"Kalau anginnya terlalu besar tentu saja akan buyar, tapi kalau racun itu disebar dalam ruangan kemudian pintu kamar dikunci rapat-rapat, sepuluh sampai setengah bulau pun tak bakal buyar!"

"Andaikata engkau sabarkan kabut beracun itu dibelakang pintu, kemudian ada musuh yang menerjang pintu dan masuk kemari, bukankah ada hembusan angin yang bakal muncul mengikuti hempasan pintu itu? bagaimana kalau racun itu sampai terhembus buyar dan malahan meracuni orang yang ada didalam kamar?"

Semua orang merasa terperanjat sesudah mendengar perkataan itu, mereka sama sekali tak menyangka kalau Siau Ngo-ji dengan usianya yang masih begitu muda ternyata mempunyai jalan pikiran yang cermat dan teliti, semua orang merasa malu sendiri dan perhatian mereka terhadap kecerdasan bocah itupun makin berlipat ganda.

Chin Wan-hong sangat berharap bisa menggerakkan hati Tio Sam-koh pergi menempuh bahaya, melihat bocah itu menanyakan keampuhan kabut sembilan racun, dengan cepat sahutnya.

"Aku dapat sebarkan kabut beracun itu di...."

"Lain kali tak usah mengungkap soal kabut beracun lagi,"

Tukas Siau Ngo-ji dengan cepat.

"hati-hati kalau sampai rahasia tersebut kedengaran orang lain"

Chin Wan Hoag menganggukan kepalanya berulang kali.

"Aku dapat meletakkan benda itu ditempat yang paling ideal, andaikata ada orang menerjang pintu dan masuk kedalam ruangan, gulungan angin hempasan justru malah akan menyebar benda itu untuk menyumbat pintu masuk."

"Bagus sekali!"

Seru Siau Ngo-ji dengan sepasang alis mata berkenyit.

"tapi manjur tidak kalah digunakan untuk menghadapi orang-orang yang berilmu silat tinggi?"

"Menurut guruku, asal makhluk ini terdiri dari darah dan daging, sampai dimanapun sempurnanya tenaga dalam yang dimiliki, tak mungkin akan mampu untuk menghadapi kehebatan benda itu."

Paras muka Siau Ngo-ji segera berseri-seri, sambil berpaling serunya.

"Bibi Hoa, aku punya satu ide bagus!"

"Coba katakan!"

"Meskipun ide ku ini tak terhitung sangat bagus, tapi...."

Mendadak Hoa Thiaa Hong melayang kesisi pintu dan sepasang lengannya bekerja cepat membentangkan pintu ruangan mereka.

"Sreeeet....!"

Serentetan cahaya putih meluncur keluar dari arah pintu ruangan, dalam sekejap mata bayangan tarsebut telah lenyap dari pandangan.

Hoa Thian-hong mengejar sampai diluar ruangan setengah baris ia mencari dan menggeledah sekitar tempat itu namun tiada sesuatu jejak yang berhasil ditemukan.

Akhirnya dengan tangan hampa ia kembali kedalam ruangan, sesudah menutup pintu katanya.

"Bayangan putih tadi adalah rase salju milik Ku Ing-ing!"

"Makhluk aneh rase salju? bukankah binatang itu adalah binatang peliharaan Giok Teng Hujin dari perkumpulan Thongthian-kauw tempo dulu?"

Kata Siau Ngo-ji keheranan.

"Huuhh! rupanya segala apapun diketahui olehmu!"

Jengek Tio Sam-koh. Siau Ngo-ji tersenyum, seakan-kan hendak memperkenalkan diri, ia berkata.

"Mulai umur lima tahun aku berkelana di dunia persilatan, kalau dihitung-hitung sekarang sudah hampir tiga tahun lamanya, meskipun tidak banyak yang kulihat tapi banyak sekali yang kudengar."

"Masih kecil banyak pengalaman, aku lihat engkau sudah hampir tiba saatnya untuk cici tangan dibaskom emas dan mengundurkan diri dari keramaian dunia persilatan!"

Ejek Tio Sam-koh lagi sambil cibirkan bibirnya. oooooOooooo MENDENGAR sindiran itu, dengan mata melotor besar Siau Ngo-ji segera berteraik.

"Nenek Sim popo, aku toh.... sudah...."

"Oooh oooh.... yaa. aku Lupa! engkau toh sudah berlutut dan menyembah kepadaku!"

Sela Tio Sam-koh kembali dengan cepat. Hoa Thian-hong yang disamping gelanggang segera tertawa terbahak-bahak.

"Haahh.... haaahh.... hhaahh.... Siau Ngo-ji, nenek Sam popo punya reputasi membunuh beberapa ratus orang persilatan, akupun pernah kena ditempeleng oleh dia orang tua, lain kali engkau musti lebih berhati-hati lho!"

"Kenapa?"

Seru Tio Sam-koh ketus.

"apa aku nenek tua tak boleh menggaplok dirimu?"

Hoa Thian-hong menjura berulang kali.

"Boleh.... ooh boleh.... boleh, tentu saja boleh! kalau Seng ji kurangajar, silahkan Sam popo menghajar sepuasnya"

Melihat keadaan dari Hoa toako nya, diam-diam Siau Ngo-ji berpikir dalam hati kecilnya.

"Hoa toaiko pun berani dihajar oleh nenek tua itu, waaah! dia musti galak sekali, aku harus lebih berhati-hati lagi...."

Sementara itu, sambil tertawa Hoa Hujin telah berkata.

"Siau Ngo-ji, Ku Ing Isg adalah nama asli dari Giok Teng Hujin, tapi persoalan ini tidak terlalu penting, coba katakan dulu ba gaimanakah idemu tadi? ' Tiba-tiba tetdengar suara langkah kaki manusia berkumandang datang, kemudian ada orang mengetuk pintu. Hoa Thian-hong segera membuka pintu kamar, seorang pelayan menyerahkan sepasang sepatu kecil terbuat dari kulit menjangan sambil ujarnya.

"Hoa ya, tadi siau hujin menitahkan hamba untuk memberikan sepatu ini!"

"Oooh! terima kasih"

Sahut si anak muda itu sambil menerimanya.

Sepatu kecil itu dibeli untuk Siau Ngo-ji, dengan cepat bocah itu menerimanya sambil dipakai, sambil tertawa cekikikan karena gembira ia mengomel.

Hiiihb....

hhiiih....

hiiihh....

bagus amat sepatu ini, waah!

baru pertama kali ini aku pakai sepatu baru....

oohh!

enso, engkau memang baik sekali, ensoku memang cantik, manis dan lagi baik deeh"

Tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang aneh, dengan cepat dirabanya dalam sepatu itu, sesaat kemudian ia ambil keluar secarik kertas yang dilipat dalam sepatu itu.

Siau Ngo-ji segera membuka kertas itu dan dilihatnya beberapa saat, kemudian kepada Chin Wan-hong dia berkata.

"Enso, dua buah huruf ini adalah nama dari Ko toako, sedang ini adalah tulisan 'Pek' dan tulisan ini adalah huruf 'giok' dan yang ini.... huruf yang lain pernah enso temui tidak?"

Chin Wan tersenyum, ia ambil kertas itu kemudian diserahkan kepada Hoa Hujin. Dengan cepat Hoa Hujin periksa isi surat tersebut yang kira-kira berbunyi demikian.

"Giok Teng Hujin dari perkumpulan Thong-thian-kauw sudah tiba dikota ini, sekarang dia tinggal disebuah penginapan kecil dijalan yang terpencil dekat pintu kota sebelah selatan, ia belum berjumpa muka dengan Kiu-im Kaucu, sedangkan Pek Kun-gie dari perkumpulan Sin kie ping seorang diri baru saja masuk kedalam kota, sekarang dia sedang berkeliling kota dengan wajah yang kusut, rupanya kejernihan otaknya agak terganggu sebab aku lihat ia agak tidak awas pikirannya....! Tertanda. aku yang muda Ko Tay"

Waktu itu Tio Sam-koh duduk disebelah kanan Hoa Hujin, sedang Hoa Thian-hong duduk disamping pembaringan, mereka bertiga telah membaca isi surat itu bersama-sama.

Selesai membaca paras muka Hoa Hujin seketika nampak murung dan alis matanya berkenyit, sedangkan Tio Sam-koh melototkan matanya mengerling sekejap ke arah Hoa Thianhong dengan pandangan dingin, seolah-olah sedang berkata demikian, *Hmm!

kesemuanya ini adalah gara-gara mu, coba aku mau lihat bagaimana caramu untuk mengatasi kesulitan ini?"

Hoa Thian-hong sendiripun gelagapan dibuatnya, buru-buru dia alihkan sorot matanya melirik sekejap ke arah Chin Wanhong.

Gadis she Chin itu sendiri sewaktu menyaksikan paras muka mertua nya menunjukkan kerumungan, dengan perasaan gelisah dia segera bertanya.

"Ibu, persoalan apa yang membuat engkau jadi kesal dan murung....?"

Nada ucapannya penuh perasaan kuatir, dan perasaan itu dengan jelas tertera nyata di atas wajahnya. Hoa Hujin tertawa terpaksa, sahutnya.

"Pek Kun-gie ikut mengejar kemari, menurut laporan Ko Tay jalan pikiran gadis itu sedikit kurang waras"

"Ooh....! rupanya begitu!"

Sambung Siau Ngo-ji dengan cepat.

"bibi tak usah gelisah, tentara menyerbu kita halau, air bah datang kita bendung, sekalipun langit ambruk rasanya Hoa toako masih mumpu untuk mengatasinya"

Chin Wan-hong tersenyum.

"Nona Pek sama sekali tidak mendatangkan beacaca bagi kita! ujarnya lembut, sedangkan Giok Teng Hujin, adalah sahabat karib Hoa toako mu, diapun tak akan mempunyai maksud jelek terhadap diri kita"

"Ooh! kalau memang begitu, urusankan lebih gampang untuk diselesaikan?"

Ia berhenti sebentar, kemudian melanjutkan.

"Aku paling benci mengadakan hubungan dengan kaum wanita, lebih baik kita tak usah gubris persoalan ini lagi, ayoh kita teruskan perundingan untuk menangkap penjahat saja!"

Hoa Thian-hong sendiripun merasakan suatu perasaan yang amat tak sedap, waktu itu dia memang bermaksud untuk alihkan pokok pembicaraan kesoal lain, mendengar ucapan itu dengan gembira ia segera berseru.

"Coba katakanlah, bagaimana caranya untuk merangkap penjahat?"

Siau Ngo-ji mendehem ringan, dengan muka serius dia berkata.

"Kalau kita musti tunggu sampai penjahat datang mencari gara-gara, maka satu hari penjahat tak datang berarti kita musti tunggu seharian penuh dengan sia-sia, setahun tidak datang kitapun musti siap siaga selama setahun penuh, dari sini menuju ke San see masih amat jasuh dan makin banyak pula yang musti kita hadapi, sekali pun sudah sampai di San see dengan selamat toh Hoa toako masih tetap harus berjaga-jaga dirumah tanpa berani tinggalkan pintu gerbang barang satu langkahpun jua.

"Eeei.... bocah cilik, ternyata engkau punya otak yang encer juga"

Seru Tío Sam-koh sambil tertawa.

"lebih baik setujui saja pendapat dari aku nenek tua, ayoh kita cari dulu jejak dari Pia Leng-cu toosu bajingan itu, kalau Pia Leng-cu tidak ketemu maka kita cari gara-gara dengan Kiu tm kaucu"

Bertempur sih harus bertempur, cuma kita harus mencari jalan yang paling tepat.

"Apa kamu bilang?"

Teriak Tio Sam-koh dengan mata melotot bulat-bulat.

Siau Ngo-ji tertawa cekikikan.

Hiiih....

hiihh....

hhiiih....

nenek Sam po po jangan gelisah dahulu, aku toh akan menyetujui dengan pendapat dari kau orang tua"

"Hmm! bocah ingusan, pandai benar putar kemudi mengikuti hembusan angin...."

Siau Ngo-ji tertawa.

"Ooh yaaa? masa begitu? menurut aku, sewaktu aku dan Hoa toako pergi, kalau ada orang bermaksud jabat dan hendak menyerang ruangan ini mumpung Hoa toako dan aku tak ada disini, maka kita harus suruh orang itu bisa datang tak bisa pergi dan rasakan dulu kelihayan dari enso"

Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan.

"Sebaliknya kalau aku dan Hoa toako tetap berjaga dirumah penginapan ini, kecuali kalau mereka bertiga bisa saling bertukar syarat dan menyerang secara bersama, aku rasa tak mungkin mereka bersedia menempuh bahaya sendirian dan biarkan orang lain pungut keuntungan dari samping...."

Hoa Hujin mengangguk setelah mendengar perkataan itu.

"Perkataan dari Siau Ngo-ji memang sangat masuk diakal, dan siasat ini memang dapat dilaksanakan"

Siau Ngo-ji jadi kegirangan, serunya kemudian.

"Kalau memang begitu, mari kita lakukan sesuai dengan rencana tersebut."

Kepada Chin Wan-hong ia menambahkan.

"Enso, aku dengar orang bilang jalanan yang telah dilalui oleh orangorang dari lembah Hu-liang-kok tak dapat dilalui orang lain sebab kalau tidak maka orang itu bakal sial."

"Kenapa?"

Tanya Chin Wan-hong tercengang.

"Sebab jalanan tersebut sudah mengandung racun keji, bukankah begitu?"

Chin Wan-hong segera tertawa lebar.

"Aaaah! tidak sampai selihay apa yang kau bayangkan, aku baru belajar sedikit tentu kemampuanku jauh lebih terbatas."

"Aaaai....!"

Seru Siau Ngo-ji gegetun.

"kalau ada kesempatan kita musti lebih banyak mempelajari beberapa macam kepandaian yang luar biasa itu, tapi bagaimanapun jua tempat yang telah kau raba tentu bisa mengandung racun bukan?"

"Kalau dibalik telapak tangan kita sudah diisi dengan obat racun, tentu saja setiap benda yang telah kuraba dapat mengandung racun yang jahat pula."

"Kalau memang begitu bagus sekali!"

Seru Siau Ngo-ji.

"cepat polesi pedang baja milik Hoa toako itu dengan obat racun, tapi obat musti jenis obat yang tak bisa hilang dalam waktu lama dan jangan lupa polesi pula tangan Hoa toako dengan obat pemunah."

"Kenapa?"

Tanya Chm Wan Hong dengan wajah sangsi.

"Sampai detik ini sudah ada empat orang yang mengincar pedang baja tersebut, mereka sudah pasti akan menggunakan kekerasan kalau dapat dan menggunakan cara mencuri kalau merasa sulit, untuk menghindari segala kemungkinan yanr terjadi, dan siapa tahu kalau Hoa toako lagi teledor sehingga ada orang berhasil merebutnya, maka biarlah orang pertama yang mencuri lebih dulu harus merasakan bencana yang datang tidak terduga itu...."

"Ehmm! cerdas amat bocah ini, akalnya banyak dan jalan pikirannya jauh ke arah depan"

Pikir Hoa Thian-hong didalam hati.

"kalau usianya lebih meningkat dan ilmu silatnya lebih hebat, kemungkinan besar dia bisa menjadi seorang jago yang sangat lihay!"

Tio Sam-koh sebagai seorang nenek tua yang sangat emosi dan benci terhadap segala kejahatan, nomor satu yang menyatakan persetujuannya, ia segera berseru.

"Hong ji, bukankah sebelum tinggalkan dirimu beberapa orang sucimu itu sudah tinggalkan banyak sekali benda wasiat untukmu? kalau obat-obatan itu bisa digabung jadi satu, cepatlah poleskan diatas tubuh pedang baja itu"

Chin Wan-hong tidak segera menjawab, sorot matanya segera dialihkan keatas wajah Hoa Hujin dan menantikan persetujuannya.

Hoa Thian-hong berpikir sebentar, diapun merasa apabila kitab pedang Kiam keng itu sampai terjatuh ketangan kawanan iblis dari golongan sesat, maka ibarat harimau yang tumbuh sayap, mereka pasti akan makin menjadi dan berbuat kejahatan serta keonaran dimana-mana, apalagi kalau ilmu silatnya sudah mendapat kemajuan yang pesat, niscaya tak ada orang yang mampu mengendalikan mereka lagi, untuk mencegah segala kemungkinan yang tak diinginkan dan menghindari tumbuhnya bibit bencana bagi umat persilatan memang sepantasnya kalau sedia payung sebelum hujan.

Maka diapun mengangguk tanda setuju.

Buru-buru Chin Wan-hong lari masuk kedapur dan mengambil tungku berisi api, kemudian melepaskan buntalannya dan ambil keluar sebuah bungkusan obat.

Siau Ngo-ji yang masih bocah dan besar sekali rasa ingin tahunya, dengan cepat mendekati Chin Wan-hong, dia ikut menengok kedalam kantong kulit itu, ketika dilihatnya isi kantong terdiri dari pelbagai macam botol kumala yang berbentuk aneh-aneh dan ada yang besar ada pula yang kecil, dia segera berseru.

"Enso, engkau harus pilihkan dari jenis yang paling lihay, kalau bisa carikan yang amat hebat sehingga kalau tersentuh lantas tak bisa berkutik, dalam sekejap mata putuslah nyawanya."

Chin Wan-hong tertawa, dia ambil keluar dua macam botol porselen dan membuka salah satu botol diantaranya, kemudian ia perintahkan kepada Hoa Thian-hong untuk merentangkan telapak tangannya.

Si anak muda itu merentangkan telapak tangannya dan Chin Wan-hong menuang keluar segumpal cairan putih dari dalam botol itu, dia suruh Hoa Thian-hong untuk mempolesi seluruh telapak tangannya dengan ca iran tadi kemudian memanggangnya sebentar diatas tungku api itu hingga jadi kering.

Hoa Thian-hong tak banyak bicara, dia keringkan telapak tangannya diatas tungku api, kemudian setelah kering diciumnya dengan hidung, ternyata obat itu sama sekali tidak meninggalkan bau apapun juga.

"Obat pemunah itu telah meresap masuk kedalam kulit tanganmu, selama tujuh puluh hari obat itu masih bekerja, tapi jangan sampai terkena cuka karena obat itu segera akan buyar...."

Pesan Chin Wan-hong. Hoa Thian-hong tertawa.

"Kalau obat ini dipoleskan diatas telapak tangan, masa tak ada kejelekannya"

Tiba-tiba ia teringat kembali akan hubungan mesrahnya dengan sang istri, apabila merugikan tentu saja istrinya tak akan berbuat demikian terhadap dirinya, oleh karena itu setelah bicara sampai ditengah jalan ia membungkam kembali.

"Obat itu adalah obat pemunah, sekalipun termakan kedalam perut juga tidak menjadi soal...."

Kata dara itu kembali, dia ambil botol yang lain dan segera membuka penutupnya.

"Apakah obat itu akan kau poleskan keatas pandangku?"

Chin Wan-hong mengangguk.

"Mulai sekarang, orang lain tak boleh menyentuh pedang bajamu ini dan engkau sendiripun harus hati-hati, jangan sampai biarkan pedang baja itu menyentuh ditubuh bagian lain, kalau sampai salah tersentuh cepatlah telan obat pemunah, walaupun cuma sedikit itu sudah lebih dari cukup"

"Ooh.... benar-benar menarik hati!"

Seru Hoa Thian-hong sambil tertawa, dia segera cabut keluar pedang bajanya dan diangsurkan kedepan.

Isi botol kumala itu adalah cairan obat berwarna kuning, Chin Wan-hong ambil kapas dan menyuruh Hoa Thian-hong untuk mempoleskan obat racun itu keatas tubuh pedangnya.

Pedang baja itu bentuknya memang aneh, dari ujung sampai gagang pedangnya merupakan satu bentuk yang sama, keadaannya mirip pedang tapi dalam kenyataan lebih mendekati sebagai sebuah pentungan, baja.

Mula-mula Hoa Thian-hong mempolesi gagang pedangnya lebih dahulu, kemudian setelah dipanaskan diatas tungku api sampai kering, dia baru mempolesi bagian lain dari senjata tersebut.

Pedang baja itu panjang dan besar, obat racun dalam botol itu hampir habis sama sekali dipakai untuk mempolesi pedang itu, walaupun disana sini terpaksa ada yang di polesi dengan begitu saja.

Dalam pada itu, Siau Ngo-ji yang selama ini membungkam, tiba-tiba ulurkan telapak tangannya kedepan sambil memohon.

"Enso yang baik hati, tanganku belum kau polesi dengan obat pemunah itu!"

"Buat apa?! tanya sang dara dengan wajah tercengang. Dengan muka murung dan dahi berkerut Siau Ngo-ji menjawab.

"Andaikata pedang baja milik Hoa toako itu sampai menyentuh tanganku, kan aku bisa berabe....!"

Chin Wan-hong tersenyum, melihat paras mukanya yang patut dikasihani terpaksa dia ambil keluar obat pemunahnya dan dilepaskan pula diatas tangannya.

Siau Ngo-ji dengan penuh semangat mempoleskan obat pemunah itu disekitar telapak tangan sampai pergelangan tangannya, kemudian dikeringkan diatas tungku api, begitu seram wajahnya sehingga nampaklah sikapnya yang bersungguh-sungguh.

Menanti obat itu sudah kering, dia baru tunjukkan tangannya kehadapan Chin Wan-hong sambil berseru.

"Eoso yang manis, coba lihatlah! apakah sudah beres?"

"Beres!"

Sahut Chin Wau Hong sambil tersenyum.

"dalam tujuh puluh hari mendatang jangan sampai menyentuh cuka!"

Siau Ngo-ji amat kegirangan, dengan muka berseri-seri ia segera berseru.

"Hoa toako, sekarang waktu menunjukkan kentongan ketiga, mari kita segera berangkat!"

Hoa Thian-hong tersenyum.

"Hari sudah malam, lebih baik engkau tetap tinggal dirumah penginapan saja."

"Apa?"

Seru Siau Ngo-ji dengan wajah melongo. Chin Wan-hong jadi geli melihat kekagetan bocah itu, ia tersenyum dan menjawab.

"Ilmu silat yang dimiliki toakomu sangat tinggi dan dia tak membutuhkan bantuan orang lain, kalau engkau tidak tinggal disini untuk menjaga keamanan dirumah penginapan ini, kita bisa ketakutan jadinya....! tinggal saja disini yaa?"

Siau Ngo-ji termenung dan berpikir keras dengan alis mata berkenyit.

"Hmmm...."

Untuk beberapa saat lamanya ia jadi serba salah dibuatnya. Tio Sam-koh mencibirkan bibirnya, sambil ulapkan tangannya ke arah Hoa Thian-hong, dia menghardik.

"Ayoh cepat enyah dari sini!"

Hoa Thian-hong tetap berdiri ditempat semula, sorot matanya yang memancarkan cahaya keraguan dialihkan keatas wajah ibunya. Dengan suara lirih Hoa Hujin segera berkata.

"Pergilah untuk mencoba kekuatan dari Kiu-im Kaucu tersebut, disini toh ada Sam-koh dan Hong ji dua orang! kendatipun Pia Leng-cu datang kemari, dia tak mungkin bisa mendapat keuntungan apa-apa."

"Tapi disini sudah hadir seorang jago dari Mo-kauw, bagaimana sikap serta tujuannya sulit untuk diraba ataupun diduga...."

"Kita sudah berani terjun ke dunia persilatan, harus berani pula menghadapi segala resikonya, engkau tak usah banyak berpikir dan cepatlah pergi!"

Seru Hoa Hujin sambil ulapkan tangannya.

Dengan perasaan apa boleh buat, terpaksa Hoa Thian-hong menyelipkan pedang bajanya dipinggang dan keluar dari ruangan tersebut.

Tiba-tiba Siau Ngo-ji mengejar sampai didepan pintu, sapanya.

"Eeeeii.... toako!"

"Ada apa saudaraku?"

Tanya Hoa Thian-hong sambil berpaling. Dengan suara berat Siau Ngo-ji berpesan.

"Kalau tak bisa ungguli musuh cepatlah kabur, kalau bisa robohkan lawan sakali bacok kutungi badannya jadi dua bagian, asal gembong iblis itu sudah mampus maka bencana pun bisa kita hindari, engkau jangan sekali-kali berhati lemah lembut!"

Terkesiap hati Hoa Thian-hong mendengar perkataan itu, dalam hati ia segera berpikir.

"Tabiat bocah ini rada mirip dengan watak dari ibu, sungguh tebal hawa nafsu membunuhnya!"

Dalam hati ia berpikir demikian, diluaran ia mengangguk dan segera berlalu dari sana.

Setelah keluar dari ruangan kembali pemuda itu awasi keadaan disekeliliagnya, setelah yakin tak ada orang, dia enjotkan badan dan melayang naik keatas atap rumah.

Malam itu udara sangat gelap, langit tiada bintang ataupun rembulan, cuaca gelap gulita sehingga membuat suasana jadi menyeramkan, kecuali kerlipan cahaya dari lampu jalan nun diujung sana, tiada kedengaran suara yang mendesis, suasana amat hening dan sepi.

Dengan gerak rubuh yang enteng dan cekatan, Hoa Thianhong bersembunyi dibelakang wuwungan rumah, dengan sorot matanya yang tajam perlahan-lahan ia menyapu keadaan disekitar tempat itu dan menjaga jangan sampai ada yang menyergap ibunya disaat ia sedang pergi.

Walaupun langit sangat gelap dan tiada sinar yang menerangi tempat itu, namun dengan sorot matanya yang tajam ia dapat melihat semua benda disekitarnya dengan jelas.

Mendadak....

ia temukan sesosok bayangan manusia berdiri diatas rumah tepat diseberangnya, dan orang itu rupanya sedang mem perhatikan ke arahnya.

Dalam hati Hoa Thian-hong segera berpikir.

"Sungguh besar nyali orang ini, ia berani betul berdiri diatas atap rumah tanpa berusaha untuk menyembunyikan jejaknya"

Berpikir sampai disitu, ia segera awasi keadaan disekitar tempat itu dan segera melayang turun dari atas atap rumah, dengan menyelusup lewat wuwungan rumah dia berkelebat maju kedepan.

Setelah menyeberangi jalan raya, dia berpuiar satu lingkaran lebar dan diam-diam loncat naik keatas atap rumah, sekarang posisi nya sudah dibelakang bayangan manusia itu.

Bayangan manusia tersebut masih tetap berdiri ditempat semula, walaupun sudah makan waktu cukup lama namun ia masih tetap tak bergeser dari tempat semula.

Hoa Thian-hong makin mendekati orang itu tapi hatinya segera bedebar keras.

Ternyata orang yang berdiri diatas atap rumah itu bukan lain adalah putri kesayangan dari Pek Siau-thian, ketua pekumpulan Sin-kie-pang yang selama ini mencintai dirinya....

Pek Kun-gie adanya.

Dengan tenang Pek Kun-gie berdiri diatas atap rumah, biji matanya yang bening basah oleh air mata, dengan pandangan sayu ia awasi rumah penginapan yang didiami oleh Hoa Thianhong itu tanpa berkedip, badannya kaku bagaikan patung namun alisnya berkeryit memancarkan kepedihan hati yang amat tebal, membuat siapa pun yang memandang ikut beriba hati.

Hoa Thian-hong yang bersembunyi ditempat kegelapan sangat terharu melihat sikap gadis itu, sambil memandang bayangan pung gungnya yang liuk-liuk indah, tanpa sadar air mata jatuh berlinang membasahi pipinya, dalam hati ia bergumam.

"Ooh.... Kun Gie! Kun Gie sayang! buat apa kau menyiksa diri? aku sudah beristri dan berkeluarga, buat apa engkau masih mengerang akan diriku?"

Angin malam berhembus lewat mengibarkan ujung baju Pek Kun-gie, namun dara itu masih tetap tidak merasa, ia tetap berdiri tidak bergerak ditempat semula.

Lama sekali dilihatnya gadis itu tak berkutik terus dari tempat semula, hatinya jadi kecut, pikirnya.

"Ooh Kun Gi! engkau akan menanti sampai kapan? apakah engkau hendak berdiri disitu semalam suntuk?"

Pek Kun-gie adalah seorang gadis yang sangat cantik, pria manapun yang berjumpa dengan dirinya kebanyakan terpikat kepadanya, tapi rasa cinta gadis itu terhadap Hoa Thian-hong sudah mencapai pada taraf yang sukar dilukiskan dengan kata-kata, si anak muda itu tentu saja dapat merasakan pula pancaran cinta yang diperlihatkan dara itu kepadanya, tapi pemuda itu sadar dengan keadaan nya pada saat ini, dia telah beristri sedang pihak lain adalah gadis perawan, dia tak ingin merusak kehidupan dara itu karena dirinya.

Malam semakin kelam, baju yang mereka kenakan telah basah oleh embun tapi Hoa Thian-hong tetap berdiri ditempat persembunyiannya, ia tak tega meninggalkan gadis itu, pemuda itu hendak maju mendekati dan menghibur dirinya, tapi bayangan sekelompok perempuan segera muncul dalam benaknyaa.

Bayangan itu terdiri dari raut wajah Chin Wan-hong, ibunya, Kiu-tok Sianci, Biau-nia Sam-sian serta Tio Sam-koh.

Pemuda itu merasa seolah-olah kaum perempuan itu melotot ke arahnya dan mengawas gerak-geriknya terhadap Pek Kungie....

Tiba-tiba....

telinganya seakan-akan mendengar lagi suara peringatan dari Kiu-tok Sianci yang dingin.

"Seng ji" , engkau harus ingat! kalau engkau tidak setia dalam cinta dan mencari bini lain, atau kau berani melakukan sesuatu perbuatan yang merugikan Hong ji, aku bersumpah akan mencabut selembar jiwamu!"

Kemudian ia teringat kembali suara dari ibunya yang tegas dan berat.

"Harap siau ci legakan hati, kalau Seng ji berani mengkhianati cintanya, aku akan potong sendiri batok kepalanya untuk dikirim ke lembah Hu-liang-kok dan minta maaf kepadamu!"

Teringat kembali akan perkataan dari dua orang itu, dia merasakan hatinya jadi kecut dan seakan-akan kepalanya diguyur air dingin sebaskom, tanpa sadar peluh dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya.

Dalam hati ia segera berpikir.

"Daripada bertemu lebih baik tak berjumpa, daripada kesalahpahaman ini kian hari kian berlarut-larut....!"

Karena berpendapat demikian, ia segera ambil keputusan untuk tinggalkan tempat itu secara diam-diam.

Tapi bagaimanapun juga manusia bukanlah pohon atau rumput yang tidak berperasaan, siapakah yang tidak terharu kalau menyaksikan pemandangan seperti itu?

siapa yang tidak beriba melihat kesetiaan cintanya?

apalagi makin gagah seorang pria semakin besar pula rasa cintanya pada pihak yang lain.

Tanpa disadari oleh Hoa Thian-hong sendiri, benih cintanya terhadap Pek Kun-gie sudah tertanam sejak banyak waktu, semakin tercekam oleh lingkungan yang serba terbatas, makin berkobar cinta kasihnya terhadap gadis itu, hanya saja larangan dari angkatan tuanya membuat pemuda itu tak berani mengutarakan perasaan hatinya itu.

Tapi benih cinta yang tersembunyi dalam lubuk hatinya kian hari kian tumbuh dengan suburnya, dan rasa cintanya terhadap gadis itupun makin lama makin bertambah, apalagi sekarang dilihatnya gadis itu berdiri termangu-mangu ditengah malam yang dingin sambil mengawasi kamar tidurnya membuat Hoa Thian-hong merasakan hati nya jadi hancur berkeping-keping, dia ingin pergi dengan keraskan hati, namun kakinya terasa tak mau diajak psrgi....

Entah berapa lama sudah lewat, tiba-tiba Pek Kun-gie bergumam seorang diri.

"Apakah engkau sudah tidur? aku...."

Walaupun bisikan itu amat lirih tapi bagi pendengaran Hoa Thian-hong cukup membuat hatinya jadi remuk rendam, hampir saja ia tak mampu menguasai emosinya dan menerjang kedepan serta memeluk gadis itu erat-erat.

Tapi ingatan lain dengan cepat berkelebat dalam benaknya.

"Dia adalah seorang gadis perawan yang masih suci, sedang aku telah beristri, kalau aku mempunyai bubungan gelap dengan dirinya maka nama baiknya pasti akan ternoda, itu berarti aku telah menghancurkan kehidupannya, aaai.... aku tak boleh mencelakai masa depannya!"

Terdengar Pek Kun-gie bergumam lagi dengan suara lirih"

"Oooh.... Thian-hong sayang, engkau telah tidur? aku akan menunggu sebentar lagi, setelah kau tidur nyenyak aku baru akan berlalu dari sini...."

Bisikan lirih yang mirip igauan tersebut penuh dengan rasa cinta yang tebal, meski pun terselip nada yang begitu memilukan hati....

Hoa Thian-hong yang jantan, pada saat ini tak dapat menahan pergolakan emosinya lagi, dia ambil keputusan untuk munculkan diri dan berjumpa dengan gadis manis itu.

Tapi....

sebelum pemuda itu sempat melangkah maju, tibatiba ia saksikan sekujur badan Pek Kun-gie gemetar keras kemudian menjerit kaget....

Hoa Thian-hong terkesiap, dia segera alihkan sorot matanya kedepan, sesosok bayangan manusia tahu-tahu muncul diatas atap rumah penginapan itu dan sedang awasi ruang penginapan sebelah belakang.

Jarak kedua belah pihak hanya terpaut satu tombak belaka, karena pendatang tak diinginkan itu muncul dari arah utara sedang tubuh Pek Kun-gie kebetulan tertutup oleh bangunan loteng yang tinggi, maka orang itu tidak menemukan jejaknya.

Sekilas pemandangan Hoa Thian-hong dapat kenali pendatang yang tak diundang itu sebagai Kiu-im Kaucu, bawa amarahnya segera berkobar didalam dada, pikirnya.

"Pia Lengcu saja belum datang, tak nyana dia sebagai seorang ketua dari suatu perkumpulan telah datang lebih dahulu kesana, manusia ini benar-benar tak tahu diri!"

Tiba-tiba terdengar Pek Kun-gie membentak keras.

"Hey Kiu-im Kaucu!"

Pada waktu itu Kiu-im Kaucu sedang mengawasi daerah di sekitarnya, ketika mendengar bentakan itu dia segera berpaling, tapi setelah diketahuinya kalau orang jtu adalah Pek Kun-gie, dengan gerak tubuh yang amat cepat ia menyeberangi jalan raya dan berdiri tepat dihadapan dara tesebut.

Dengan pandangan yang tenang Pek Kun-gie melirik sekejap ke arah Kiu-im Kaucu, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan perasaan jeri ataupun takut, dengan suara ringan tegurnya.

"Dia sudah tidur pulas, janganlah mengganggu ketenangan tidurnya....!"

Mula-mula Kiu-im Kaucu agak tertegun, tapi dengan cepat ia dapat menangkap apa yang dimaksudkan, dalam hati segera berpikir.

"Karena sedihnya budak ini sudah kehilangan kesadaran otaknya, bahkan mendekati orang yang tak waras otaknya."

Sementara dalam hati berpikir demikian diluaran ia tertawa dan mengejek.

"Tahukah engkau, pada saat ini Hoa Thianhong tidur sepembaringan dengan siapa?"

Rasa sedih yang tak terkirakan berkelebat diatas wajah Pek Kun-gie, dengan muka murung jawabnya.

"Tentu saja aku tahu, dia telah menikah dengan Chin Wan-hong dan tentunya tidur dengan gadis itu."

"Benar dan tepat sekali perkataanmu itu, mereka sudah menikah dan sekarang lagi bersenang-senang didalam kamar, buat apa engkau berdiri termangu-mangu ditempat ini?"

"Anjing bedebah!"

Diam-diam Hoa Thian-hong menyumpah dalam hati kecilnya.

"dalam keadaan seperti inipun dia masih tega untuk menyakiti hatinya dengan kata-kata seperti itu"

Terdengar Pek Kun-gie dengan suara tawar menjawab.

"Kiu-tok Sianci maupun Chin Pek-cuan adalah tuan penolong dari keluarganya, sebagai seorang yang setia kawan dan berjiwa gagah apalagi sebagai seorang bocah yang berbakti kepada orang tuanya, tentu saja ia tak mau membangkang perintah ibunya, walaupun dia telah menikah dengan Chin Wan-hong, dalam kenyataan dia sama sekali tak mencintai gadis itu."

"Siapa yang bilang? apakah Hoa Thian-hong yang mengatakan sendiri kepadamu?"

Ejek Kiu-im Kaucu sinis.

"Tentu saja bukan dia yang mengatakan sendiri kepadaku, tapi aku tahu bahwa dugaanku itu pasti tak akan keliru!"

Kiu-im Kaucu semakin sinis, kembali sindirnya dengan suara tajam dan tak sedap didengar.

"Kenapa? hati manusia toh tak sama, siapa tahu lain diluar lain didalam? dengan berdasarkan bukti apa engkau bisa mengatakan kalau Hoa Thian-hong sebenarnya tidak mencintai Chin Wan-hong?"

"Aku mengetahui perasaan hatinya!"

Jawaban yang amat singkat itu diutarakan dengan begitu meyakinkan, seakan-akan walaupun samudra bisa mengering dan batu bisa membusuk, tapi keyakinannya itu sama sekali tak dapat digoyahkan lagi.

Kiu-im Kaucu mendengus dingin, sebenarnya dia hendak mengatakan.

'Itu toh menurut perasaanmu, bagaimana dengan pemuda itu?

engkau sendiri toh tak tahu....?' Tapi ketika dilihatnya keyakinan yang begitu tebal memancar keluar dari wajah Pek Kun-gie, ketika sorot mata mereka saling bertemu satu sama lainnya, ucapan yang sudah hampir meluncur keluar itu akhirnya tertelan kembali.

Sikap Pek Kun-gie masih tetap tenang, seakan-akan dia tidak tahu kalau orang yang berdiri dibadapannya itu bukan lain adalah ketua dari perkumpulan Kiu-im-kauw yang baru saja munculkan diri kedalam dunia persilatan serta mengambil oper kekuasaan dari Tiga maha besar yang telah musnah dari permukaan bumi itu.

Dengan pandangan yang jeli dia menatap wajah lawannya tajam-tajam, lalu serunya kembali dengan suara berat.

"Ditengah malam buta begini, mau apa engkau datang kemari?"

Kiu-im Kaucu mengerutkan dahinya.

"Hmm....! engkau sedang berbicara dengan aku?"

"Tentu saja berbicara deneaa engkau! mau apa kau datang kemari ditengah malam buta begini? mau menyergap dirinya yaa?"

Kiu-im Kaucu tidak segera menjawab, dalam hati kembali pikirnya.

"Rupanya budak ini sudah dibikin sinting oleh rasa cintanya yang tidak kesampaian, kalau dilihat dari sikapnya yang kebodoh-bodohan ini rupanya ia sudah tak tahu apa yang dinamakan lihay dan apa yang dinamakan mati atau hidup."

Berpikir sampai disitu, bukannya gusar ia malah tertawa terbahak-bahak, sahutnya.

"Dalam dunia persilatan dewasa ini hanya dua tiga orang saja yang mampu bertempur satu lawan satu dengan diriku dan berbicara tentang kemampuan dalam ilmu silat, siasat, komplotan serta kekuasaan maka hanya seorang saja yang sanggup menghadapi diriku, orang itu bukan lain adalah Hoa Thian-hong...."

Rupanya Pek Kun-gie amat girang atas pujian itu, dengan muka berseri-seri ia tertawa dan memotong.

"Kalau engkau sudah tahu, itu lebih baik lagi! sekarang cepatlah tinggalkan tempat ini, jangan ganggu ketenangan tidurnya, dan mulai sekarang jangan musuhi dirinya lagi."

Kiu-im Kaucu dibikin serba salah oleh perkataan tersebut, mau tertawa ia tak bisa mau marahpun tak dapat, akhirnya dengan wajah menyeringai dia berseru.

"Hey budak ingusan! aku mempunyai satu cara untuk membuktikan apakah Hoa Thian-hong benar-benar cinta kepadamu atau tidak!"

Tapi dengan cepat Pek Kun-gie gelengkan kepalanya.

"Aku tak mau dengarkan caramu itu, aku tahu bahwa dia sangat mencintai diriku!"

"Ooooh.... jadi kau takut kalau rahasia kebohonganmu sampai terbongkar....?"

Ejek Kiu-im Kaucu sinis.

"engkau takut kalau kenyataan membuktikan bahwa dalam hati kecil Hoa Thian-hong sebenarnya sama sekali tak ada pikiran tentang dirimu?"

Hawa amarah berkobar dalam hati Pek Kun-gie, dengan muka penuh kegusaran dia melototi perempuan tua itu. Sejenak Kemudian sambil menutupi telinganya dengan jari tangan, dia berseru.

"Aku tak sudi untuk mendengarkan omongan setanmu lagi, aku mau pergi....!"

Tanpa banyak bicara dia segera putar badan dan berlalu dari sana. Kiu-im Kaucu segera tertawa dingin.

"Heeeeh.... heeeh.... heeehh kalau engkau berani tinggalkan tempat ini, aku akan segera membinasakan Hoa Thian-hong!"

Mendengar ancaman tersebut sekujur badan Pek Kun-gie gemetar keras, ia segera berpaling sambil berseru.

"Kepandaian silatnya sangat lihay, siapa pun jangan harap bisa membinasakan dirinya!"

Kembali Kiu-im Kaucu tertawa licik.

"Aku telah siapkan suatu tindakan yang hebat dan dahsyat untuk menghadapi Hoa Thian-hong, kalau aku ingin membinasakan dirinya maka hal itu depat kulakukan dengan gampang sekali bagaikan membalik telapak tangan sendiri. Heeeh heehh asal bibit bencana ini berhasil kusingkirkan, maka perkumpulan Kiu-im-kauw secara resmi akan dibuka dan mulai menerima anggota baru, pada waktu itu seluruh kekuasaan di permukaan bumi ada ditanganku!"

Pek Kun-gie makin terkesiap setelah mendengar ucapan itu, dia melayang kembali ke tempat semula sambil berkata.

"Coba terangkanlah cara lihay apakah yang telah kau siapkan itu, dan bagaimana caramu untuk mencabut jiwanya?"

Kiu-im Kaucu tertawa dingin.

"Heeeh.... heeh.... heehh siasatku tidak akan kuperdengarkan pada telinga yang keenam, kemarilah! akan Kubisikkan rencanaku ini kepadamu"

Agaknya Pek Kun-gie sama sekali tak mempunyai perasaan waswas, mendengar perkataan itu dia segera loncat maju kedepan.

Hoa Thian-hong yang bersembunyi ditempat kegelapan jadi amat terperanjat setelah menyaksikan kejadian itu, dia takut Kiu-im Kaucu menggunakan cara yang paling keji untuk melukai Pek Kun-gie, badannya bergerak untuk menghalangi gerak maju dara itu tapi ingatan lain dengan cepat berkelebat dalam benaknya.

"Andaikata dia ada maksud hendak mencelakai Kun Gie, maka hal itu bisa dia lakukan dengan gampang sekali tanpa menggunakan siasat licin untuk membohongi dirinya, andaikata aku munculkan diri dalam keadaan begini, siapa tahu kalau dia malah berubah ingatan dan menggunakan Pek Kun-gie sebagai sandera untuk memaksa aku...."

Jilid 16 SEMENTARA dia masih termenung sambil memikirkan persoalan itu, Kiu-im Kaucu telah membisikkan sesuatu ketelinga Pek Kun-gie.

Dengan paras muka pucat pias bagaikan mayat, gadis itu secara beruntun mundur beberapa langkah kebelakang, sekujur badan-nya gemetar keras membuat atap rumah itu gemerisik suaranya.

0000O0000 KIU-IM KAUCU menyeringai seram, sambil tertawa keras serunya lagi.

"Bagaimana? sekarang engkau pasti sudah percaya bukan, kalau aku hendak mencabut nyawa Hoa Thianhong, maka soal itu bisa kulakukan dengan gampang sekali!"

"Hmm! selamanya perhitungan manusia tak dapat menangkap garis yang ditetapkan oleh takdir, selamanya dia akan lolos dari bahaya karena dilindungi oleh Thian!"

Hoa Thian-hong sendiripun berpikir dalam hatinya.

"Kelicikan dan kekejaman Kiu-im Kaucu benar-benar melebihi kejahatan dari kelompok musuh yang sudah lewat, entah dia mempunyai siasat keji apa lagi sehingga begitu punya keyakinan untuk cabut nyawaku dengan mudah?"

Sementara ia masih termenung, Kiu-im Kaucu telah ulapkan tangannya sambil berkata.

"Kalau toh engkau percaya kalau dia selalu dilindungi oleh Thian, pergilah tinggalkan tempat ini!"

Tapi dengan cepat Pek Kun-gie gelengkan kepalanya.

"Aku tidak jadi pergi!"

Katanya. Kiu-im Kaucu tertawa licik.

"Tidak pergi juga malah lebih baik, engkau cantik jelita dan belum pernah kujumpai ada seorang nona yang mempunyai paras muka secantik dirimu. Aaai! sayang Hoa Thian-hong keparat cilik itu punya mata tidak berbiji"

"Jangan maki dirinya!"

Bentak Pek Kun-gie dengan gusar.

Baiklah, kalau toh engkau masih tetap tidak sadar dari lamunanmu yang kosong, akan kubuktikan kesemuanya dengan kenyataan, aku akan membuktikan sehingga engkau tahu kalan Hoa Thian-hong sebenarnya sama sekali tidak cinta kepadamu.

Mendengar perkatan itu, Pek Kun-gie berdiri termangumangu, beberapa waktu kemudian dia baru bertanya dengan suara gemetar.

"Cara api yang hendak kau gunakan untuk membuktikan bahwa dia.... dia tidak mencintai aku!"

Kiu-im Kaucu tertawa licik.

"Cara itu sebenarnya sederhana sekali, mulai sekarang masuklah jadi anggota perkumpulan Kiu-im-kauw kami, anggap saja engkau sudah kena kutawan, cara ini sebenarnya terpaksa sekali tapi apa boleh buat lagi? toh kita hanya akan membuktikan apakah Hoa Thian-hong bakai muncul untuk menolong dirimu atau tidak!"

"Kenapa?"

Seru Pek Kun-gie dengan paras muka tercengang dan tak habis mengerti.

"Coba jawablah, seandainya aku berhasil menawan Thianhong dalam keadaan hidup-hidup, bukankah engkau akan pertaruhkan jiwamu untuk menolong dia hingga lolos dari bahaya?"

"Hem! kepandaian silatnya jauh lebih hebat dari engkau, tak mungkin kau mampu untuk menawan dirinya"

Seru Pek Kun-gie sambil mendengus dingin. Kiu-im Kaucu tertawa kering.

"Jangan persoalkan kepandaian silat siapa yang lebih tinggi, jawab saja pertanyaanku ini! andaikata aku berbasil menangkap dirinya, apakah engkau akan menyelamatkan jiwanya dari ancaman maut?"

"Tentu saja! tentu saja aku akan menyelamatkan jiwanya....Hmm! andaikata engkau mencelakai jiwanya, maka aku bersumpah tidak akan hidup berdampingan dengan dirimu, dan selama aku masih hidup maka aku akan selalu musuhi dirimu sehingga akhirnya engkau berhasil kubasmi dari muka bumi!"

"Tepat sekali perkataanmu itu!"

Seru Kiu-im Kaucu sambil menyeringai seram.

"oleh karena kau mencintai Hoa Thianhong maka engkau larang orang lain melukai dirinya, sebaliknya kalau Hoa Thian-hong benar-benar mencintai dirinya maka dengan sendirinya diapun melarang siapa pun melukai engkau, setelah engkau masuk jadi anggota perkumpulan Kiu-im-kauw kami, apabila Hoa Thian-hong menolong jiwamu itu berarti dia memang mencintai engkau, sebaliknya kalau dia tidak ambil peduli tentang persoalan ini dan tak mau tahu tentang mati hidupmu, itu berarti dalam hati kecilnya memang sama sekali tak pernah memikirkan tentang dirimu....!"

Hoa Thian-hong yang bersembnnyi ditempat kegelapan, diam-diam berpikir didalam hati.

"Perempuan itu sangat lihay dalam hal berbicara, entah apa tujuannya memancing Kun Gie untuk masuk jadi anggota perguruannya, sungguh licik ketua ini!"

Tampaklah Pek Kun-gie gelengkan kepalanya dan menegaskan.

"Aku tak mau mencoba hatinya!"

"Kenapa?"

Tanya Kiu-im Kaucu tercengang setelah terperangah beberapa waktu.

"Aku mengetahui tentang perasaan hatinya dan aku percaya kepadanya, kesemuanya itu sudah lebih dari cukup bagiku. Hmm! cin ta berada dalam kepercayaan, tak boleh dicoba mengertikah engkau akan teori ini?"

Kembali Kiu-im Kaucu tertawa licik.

"Aaaai, aku tak habis mengerti, kenapa di dunia terdapat seorang perempuan yang tergila-gila oleh seorang pria hingga kesadaran otakpun sampai terganggu."

"Aku senang begini, kau mau apa?"

Potong Pek Kun-gie dengan penuh kegusaran, asal aku cinta padanya, peduli amat dia cinta kepadaku atau tidak, itu urusan pribadiku dan kau tak usah mencampuri urusanku itu"

Paras muka Kiu-im Kaucu yang pada dasarnya berwarna pucat, kini lerlintas oleh hawa nafsu membunuh yang sangat tebal tapi hanya sebentar saja telah lenyap kembali, ia tertawa licik sambil berseru.

"Kalau begiti pergilah tinggalkan tempat ini, kalau tidak aku akan segera akan mencabut jiwamu, akan kulihat Hoa Thian-hong akan membalaskan dendam bagimu atau tidak?"

Pek Kun-gie mendengus dingin.

"Hmm! engkau hendak mencelakai dirinya dengan menggunakan akal licik, aku sengaja tak mau pergi, engkau mau apa?"

"Kalau begtiu, artinya engkau sudah bosan hidup didunia dan ingin mencari kematian buat diri sendiri"

Sambil tertawa seram ketua dari perkum pulan Kiu-im-kauw itu segera menerjang kedepan dan melancarkan sebuah cengkeraman maut.

Pek Kun-gie dengan cekatan loncat kesamping untuk menghindarkan diri, ia singkap gaunnya dan cabut keluar sebilah pedang lemas yang memarcarkan cahaya tajam.

Pertama-tama Kiu-im Kaucu agak tertegun, tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam benaknya dan segera berseru.

"Oooh.... engkau juga menggunakan pedang lemas? apakah ibumu yang ajarkan kepandaian itu kepadamu?"

"Engkau tak usah mencampuri urusanku!"

Tukas Pek Kungie dengan ketus. Bukannya gusar, Kiu-im Kaucu malah tertawa tergelak.

"Haaaah.... haaahh.... haaahhh.... walaupuna ku sudah lama mengasingkan diri dari keramaian dunia, tapi aku mengetahui dan memahami semua ilmu silat yang ada didunia serta asal usul dari manusia-manusia kenamaan da am kolong langit."

Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan.

"Aku mengerti apa sebabnya secara tiba-tiba engkau menggunakan pedang!"

Pek Kun-gie tertegun lalu tertawa dingin.

"Heehh.... heehh.... heehh.... aku menguasai beraneka ragam ilmu silat, aku senang memakai senjata apa itu toh urusan pribadiku sendiri, kenapa engkau musti mencampuri urusanku?"

Kiu-im Kaucu tertawa licik.

"Memang betul perkataanmu itu, mau pakai senjata apa memang urusan pribadimu, tapi pedang lemas adalah sejeais senjata yang paling sukar dipelajari, dari dulu engkau tidak memiliki dasar yang cukup kuat, tak mungkin kalau tanpa sebab engkau ganti memakai senjata lain, mungkin hal ini ada hubungannya dengan peristiwa yang terjadi baru-baru ini...."

"Peristiwa apa?"

Kiu-im Kaucu tertawa keras.

"Haahh.... haahh.... haahh.... baru-baru ini ayah mu mendapat kesempatan untuk membaca seluruh isi catataa Kiam keng Poh kui, mungkin ia telah ajarkan seluruh isi catatan tersebut dan menyuruh engkau ganti belajar ilmu pedang....Hmm.... hmmmm. tebakanku ini tidak keliru bukan?"

"Keliru besar!"

Teriak Pek Kun-gie dengan gusar. Kiu-im Kaucu mengerutkan dahinya, dengan nada tak percaya dia balik bertanya.

"Dimana letak kesalahannya?"

Senyum manis tersungging diujung bibir Pek Kun-gie, dengan wajah berseri dia menjawab.

"Bukan ayahku yang ajarkan kepandaian tersebut kepadaku, tapi Thian-hong lah yang mewariskan kepandaian sakti itu kepadaku!"

"Eeei, kapan sih aku lelah ajarkan catatan ilmu pedang Kiam keng Poh kui tersebut kepadanya?"

Batin Hoa Thianhong. Sementara itu Kiu-im Kaucu telah tertawa seram.

"Haah.... haahh.... haahh.... perduli siapakah yang telah ajarkan kepandaian itu kepadamu, pokoknya hari ini aku akan menawan dirimu, akan kulihat apakah ada orang yang akan menolong engkau atau tidak?"

Laksana sambaran kilat, ia segera menerjang kedepan sambil melancirkan sebuah totokan....

Setelah perempuan tua itu ambil keputusan untuk menawan orang, tentu saja sulit bagi Pek Kun-gie untuk melarikan diri.

Hoa Thian-hong yang bersembunyi ditempat kegelapan segera menyadari akan mara bahaya yang mengancam Pek Kun-gie, ia tahu apabila dirinya tidak muncul tepat pada waktunya, gadis itu niscaya akan terjatuh ketangan Kiu-im Kaucu.

Menyadari betapa kritisnya situasi pada waktu itu, tanpa banyak pikir lagi si anak muda itu segera munculkan diri, dengan suara dalam serunya.

"Kaucu, harap ampuni jiwanya.... sambutlah penghormatan dari aku orang she Hoa"

Kiu-im Kaucu amat terperanjat, cepat-cepat ia melayang kembali ketempat semula.

Rasa malu bercampur gusar berkecamuk dalam dadanya, diatas paras mukanya yang pucat tiada berdarah terlintas warna merah dadu karena jengah, katanya dengan dingin.

"Hmm! aku mengira untuk selamanya engkau akan menghindari diriku, tak tahunya ada juga waktunya untuk terpaksa munculkan diri dari tempat persembunyiannya"

Mendengar perkataan itu, Hoa Thian-hong segera berpikir didalam hatinya.

"Meskipun orang ini amat licik dan berbahaya, tapi masih punya perasaan malu, ia tahu orang tua menganiaya kaum muda adalah suatu perbuatan yang memalukan, kalau dibandingkan kawanan iblis dimasa lalu, dia memang mempunyai moral yang jauh lebih tinggi....!"

Berpikir sampai disitu ia segera tertawa nyaring, setelah menjura ujarnya lagi.

"Aku dengar kaucu berdiam dirumah penginapan Tiang seng dipintu kota sebelah utara, sekarang aku memang bermaksud untuk menyambangi dirimu disana!"

Diam-diam Kiu-im Kaucu merasa amat terperanjat, ia sama sekali tidak menyangka kalau Hoa Thian-hong mengetahui tentang jejaknya, dengan cepat dia balas memberi hormat sambil menyahut.

"Kata menyambung kalau tak berani kuterima, sejak kau menikah sampai sekarang, aku belum sempat memberi selamat kepadamu, harap suka dimaafkan...."

"Kalau terlalu sungkan!"

Kata Hoa Thian-hong sambil tertawa, sorot matanya segera dialihkan ke arah Pek Kun-gie.

Sementara itu gadis she Pek itu berdiri dengan air mata bercucuran, sorot matanya yang sayu memandang wajah Hoa Thian-hong tanpa berkedip, diatas wajahnya yang suram tersungging satu senyuman manis, bibirnya bergetar seperti mau mengucapkan sesuatu namun tak sepatah katapun yang kedengaran.

Selama beberapa hari gadis ini tak enak makan tak nyenyak tidur, dia hanya berharap bisa bertemu dengan kekasih hatinya, dan sekarang setelah orang yang diimpiimpikan telah muncul didepan mata, ia merasa hatina remuk rendam, sakit sekali bagaikan di sayat dengan pisau tajam.

Banyak rintangan yang telah dihadapi, banyak kesedihan yang telah dialami dan sekarang kekasih hatinya muncul didepannya, tapi ia tak dapat menubruk kedepan dan berbaring dalam pelukannya, banyak kata mesrah ingin diutarakan tapi tak sepatah katapun dapat dilontarkan keluar, yang ada hanya kesedihan, kesengsaraan serta siksaan batin yang tak terlukiskan hebatnya.

Lama sekali ia termenung akhirnya tersungginglah satu senyuman diatas wajahnya yang murung dan sayu, bibirnya bergetar keras dan muncullah serentetan suaara yang amat lirih.

"Thian.... Hong....!"

Dua barisan air mata jatuh berlinang membasahai pipinya. Hoa Thian-hong merasakan hatinya amat sakit, pikirnya.

"Selama ini dia selalu mencintai aku, kalau tak ada diriku maka sering kali dia menganggap aku telah sehari dengan dirinya, dia selalu mengatakan kalau aku cinta kepadanya, bahkan sekarang dihadapan Kiu-im Kaucu pun bersikap demikian, kalau aku bersikap agak dingin kepadanya maka dia pasti akan kehilangan muka, betapa jengah dan malunya nanti...."

Sebagai seorang pria yang cukup romantis, dia tak tega membuat seorang gadis sengsara dan malu karena urusan kecil, tanpa sadar dia ulurkan tangannya kedepan dan mengape ke arah gadis itu.

Maksudnya dia suruh Pek Kun-gie mendekati ke arahnya dan berdiri diaampingnya, tapi ia sama sekali tak tahu kalau gerakannya yang amat sederhana itu telah disalah artikan oleh dara tadi, bagi sang gadis yang sedang dimabok cinta, ia telah mengartikan uluran tangan itu sebagai suatu maksud yang amat mendalam....

Mula-mula Pek Kun-gie agak tertegun, kemudian dengan badan gemetar tiba-tiba ia menjerit sambil menangis.

"Oooh....Thian-hong."

Dia segera menubruk kedepan dan menjatuhkan diri kedalam pelukan si anak muda itu.

Dalam kejut dan girangnya, dara itu telah melupakan segala-galanya, isak tangis tak dapat dikendalikan lagi dan meluncurlah dari balik bibirnya.

Pada saat ini ia peluk tubuh Hoa Thian-hong erat-erat, jatuhkan diri kedalam rangkulannya dan menangis tersedusedu, dalam sekejap mata pakaian si anak muda itu sudah basah oleh air mata, sambil membelai rambat Kun Gie yang panjang, bisiknya dengan lembut.

"Jangan menangis, berdirilah kesamping.... aku akan beradu kepandaian lebih dahulu dengan Kiu-im Kaucu...."

Belum habis dia berkata, mendadak dari dalam rumah penginapan berkumandang suara yang amat gaduh, suara itu amat lirih dan tak begitu jelas tapi serentetan suitan panjang yang tinggi melengking segera menyusul dibelakang dan menggema di angkasa.

Hoa Thian-hong amat terperanjat, ia segera menengadah dan menyaksikan sesosok bayangan manusia sambil mengempit seseorang melayang kekar dari halaman belakang rumah penginapan itu, sambil membawa suitan panjang yang melengking laksana sambaran kilat orang itu kabur menuju ke arah selatan.

Gerak tubuh orang itu sangat cepat dan sama sakali tidak berada dibawah kepandaian Hoa Thian-hong maupun Kiu-im Kaucu, pekikan nyaringnya membelah kesunyian ditengah malam buta, hanya sebentar saja bayangan hitam tadi sudah lenyap dari pandangan mata.

Pada saat yang bersamaan, Kiu-im Kaucu pun berlalu dengan gerakan yang amat cepat, dalam sekejap mata ia sudah mengejar jauh kedepan dan lenyap dibalik kegelapan.

Hoa Thian-hong amat terperanjat, kepada Pek Kun-gie segera serunya dengan hati cemas.

"Cepat pulang kerumah, dan jangan sembarangan pergi ke-mana-mana.... tahu?"

Tanpa menunggu jawaban ia segera loncat turus dari atas atap rumah dan didalam dua kali loncatan ia sudah tiba dirumah penginapan, dengan gerak tubuh yang sangat cepat ia menerjang masuk kedalam ruangan dimana ibunya berada.

Terlihatlah pintu kamar sudah diterjang orang sehingga hancur jadi berpuluh-puluh keping dan tersebar dimana-mana, dinding ruang an ambruk selebar tiga empat depa, hancuran kayu dan batu bata berterakan dimana-mana, bahkan pembaringanpun sampai penuh debu.

Ketika ia melayang turun didalam ruangan itu tampaklah Hoa Hujin, Tio Sam-koh, Chin Wan-hong dan Siau Ngo-ji berkumpul diluar kamar, kecuali Hoa Hujin masih bersikap tenang, paras muka tiga orang lainnya boleh dibilang telah berubah hebat.

Setelah mengetahui kalau keempat orang itu berada dalam keadaan selamat, Hoa Thian-hong merasa hatinya lega sekali, ia mendekati ibunya seraya berbisik.

"Ibu, tentunya engkau sangat terkejut?"

Hoa Hujin tersenyum.

"Engkau telah anggap aku sebagai nenek tua dari dusun yang sama sekali tak berguna?"

Tiba-tiba Chin Wan-hong berseru.

"Engkoh Hong, kabut kiu tok ciang tidak mungkin bisa ditarik kembali, kita harus cepatcepat memusnahkannya daripada terhembus angin dan menyebar kemana-mana sehingga meracuni mereka yang tak bersalah."

"Lalu bagaimana caranya untuk memusnahkan kabut beracun itu?"

"Untuk memusnahkan pengaruh dari kabut racun itu sih mudah sekali, justru aku kuatir kalau sampai membakar rumah ini sehingga menimbulkan kebakaran!"

"Tidak jadi soal, musnahkan kabut beracun itu dan aku akan berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan yang bakal terjadi."

Sementara itu para tamu yang menginap dirumah penginapan tersebut telah terbangun dari tidurnya karena terperanjat, mereka sama-sama bergerombol disekitar sana menonton keramaian.

Chin Win Hoog segera meminjam lilin yang dibawa salah seorang tamu dan sekali sentil, cahaya api dengan cepatnya meluncur kedepan menyambar ketengah ruangan yang penuh dengan debu itu.

Ledakan keras terjadi, cahaya api menjilat keempat penjuru, tapi Hoa Thian-hong bertindak cepat, telapak kirinya segera diayun kedepan melancarkan sebuah pukulan dahsyat.

Weeess....!

desiran angin tajam menderu-deru, termakan oleh kekuatan yang terpancar dari angin pukulan, bunga api itu menggumpal jadi satu membentur bulatan api yang menggelinding diudara, hanya dalam sekejap mata cabaya api tadi sudah padam.

Menyaksikan kedahsyatan itu, Siau Ngo-ji segera berteriak keras.

"Waaduuh.... ilmu silat apaan itu?"

"Bocah ingusan, ilmu telapak tak bisa kau bandingkan deagan ilmu pedang!"

Seru Tio Sam-koh sambil tertawa. Hoa Thian-hong pun tersenyum, ujarnya.

"Pukulan itu adalah jurus Kun siao ci tao dari Ciu It-bong, aaai.... sayang orang berbeda jalan sehingga harus menerima akhir yang mengenaskan, kalau dihitung-hitung aku masih berhutang budi kepada dirinya"

Tiba-tiba Siau Ngo-ji menuding keatas wajah Hoa Thianhong dan berseru dengan nada tercengang.

"Eeei.... Hoa toako, engkau barusan menangis!"

"Aaah.... ngaco belo apa lagi yang hendak kau katakan?!"

Seru Hoa Thian-hong sambil tertawa paksa.

Ia segera berpaling ke arah lain.

Sementara itu orang yang menonton keramaian berkumpul kurang lebih beberapa tombak jauhnya, dari beberapa orang itu, setelah ditegur oleh Siau Ngo-ji sehingga Hoa Thian-hong buru-buru harus berpaling ke arah lain untus menyembunyikan bekas air mata yang belum Kering, secara tiba-tiba ia temukan ada sepasang biji mata yang jeli sedang awasi pula dirinya dari balik kerumunan orang banyak, tapi sewaktu melihat pemuda itu berpaling ke arahnya, orang itu buru-buru menyembunyikan diri.

Tak usah diawasi dengan lebih seksama lagi, si anak muda itu tahu kalau orang itu bukan lain adalah Pek Kun-gie, diamdiam dia merasa amat murung bercampur kuatir, pikirnya.

"Dia begitu terpikat olehku, mungkin gadis itu bisa mengikuti aku sampai ke wilayah San see.... waahh.... bagaimana caranya aku selesaikan persoalan ini?"

Tiba-tiba pemilik rumah penginapan munculkan diri, setelah memberi hormat ia bertanya.

"Tuan.... see.... sebenarnya.... apa yang telah terjadi?"

Hoa Thian-hong segera tarik kembali lamunannya dan menyahut.

"Oooh.... barusan ada pencuri mau mengambil barang milik kami, kamar ini sudah tak dapat dipakai lagi, apakah masih ada kamar yang lain?"

Chin Wan-hong yang berada disamping segera menyambung.

"Semua kerugian yang terjadi ditempat ini akan kami ganti, hitunglah semua kerusakan dan minta uang gantinya besok pagi!"

"Ooh.... tak usah diganti, tak usah diganti....!"

Seru pemilik rumah penginapan itu berulang kali.

Kemudian dengan cepat ia mendekati searang pedagang yang ikut tonton keramaian dan membisikkan sesuatu dengan suara yang amat lirih.

Pedagang itu tampak agak terperanjat, dengan muka penuh rasa hormat ia segera berkata.

"Ooooh.... tentu harus mengalah! sudah sepantasnya mengalah.... aku segera akan membereskan barang-barang milikku!"

Ia putar badan dan segera berlalu.

Hoa Thian-hong yang mempunyai daya pendengaran yang amat tajam, sempat menangkap pembicaraan tersebut, ia lihat ketika pemilik rumah penginapan itu menyebut namanya dan minta pedagang itu pindah ke lain kamar, hatinya jadi merasa tak enak di samping itu diapun tahu kalau Pek Kun-gie belum berlalu dari sana karena kuatir ketahuan maka hatinya jedi kebat kebit tak karuan, peluh dingin tanpa terasa membasahi seluruh tubuhnya.

Beberapa saat kemudian pemilik rumah penginapan itu telah muncul kembali dan mempersilahkan mereka untuk masuk kedalam kamar.

Orang-orang yang menonton keramaianpun segera pada bubaran, diam-diam Hoa Thian-hong melirik ke arah orangorang yang bergerombol itu setelah dilihatnya Pek Kun-gie tidak berada diantara mereka, tanpa terasa ia menghembuskan nafas panjang dan membimbing ibunya masuk kedalam kamar.

Dalam kamar tersebut baik diluar maupun didalam ruangan terdapat tempat tidur, Hoa Thian-hong melirik kembali keluar pintu kemudian dalam hati kecilnya diam-diam berdoa "Budak bodoh, cepat-cepatlah pulang kerumah dan tak usah berkeliaran lagi disekitar tempat ini....

apalagi berdiri seperti orang bodoh didepan jalan...."

Habis berdoa ia segera menutup pintu kamarnya. Dalam pada itu, Hoa Hujin telah bersandar diatas pembaringan, ujarnya dengan lirih.

"Seng ji, apakih engkau sudah berjumpa dengan musuh? kenapa begitu cepat telah kembali kemari?"

"Ananda berbicara dengan Kiu-im Kaucu diseberang jalan sana, pertarungan belum sampai berlangsung, ketika mendengar suara gaduh Kiu-im Kaucu segera mengejar orang itu sedang ananda segera kembali kemari....!"

Mendengar perkataan itu, sepasang biji mata Siau Ngo-ji yang jeli segera berputar kesana kemari kemudian berhenti diatas dada Hoa Thian-hong yang basah, diam-diam dia menunjukkan muka setannya.

Tanpa sadar Hoa Thian-hong ikut menundukkan kepalanya memandang keatas dada sendiri, ia lihat pakaian bagian dadanya masih basah, dan tempat itu bukan lain adalah tempat yang basah terkena air mata dan Pek Kuti Gie tadi.

Kenyataan tersebut membuat hatinya jadi gugup dan kebat kebit tak karuan, cepat-cepat ia geserkan badannya dan berdiri membelakangi cahaya lentera.

Ketika dia kembali kerumah penginapan tadi, air mata yang menodai pipinya belum kering dan semua orang dapat melihat akan hal itu, tapi tak ada seorang pun yang meraruh curiga terhadap kejadian tersebut, semua orang tahu pemuda itu gelisah karena memikirkan keselamatan dari ibunya sehingga mengucurkan air mata, oleh sebab itu Tio Sam-koh yang biasanya cerewetpun sama sekali tak mengajuhkan suatu pertanyaanpun.

Siau Ngo-ji adalah bocah nakal yang cerdik, diapun paling teliti memeriksa keadaan orang, dengan kebiasaannya itulah bocah tadi berhasil temukan tanda yang sukar diduga orang.

Hoa Thian-hong yang telah berbuat sesuatu tanpa ingin diketahui orang lain jadi kuatir sekali apabila Siau Ngo-ji berteriak, dengan muka penuh senyuman ia berkata.

"Aku lihat orang yang kabur itu mengempit seseorang, aku mengira salah seorang anggota keluarga kita ada yang kena tangkap karena itu hatiku merasa amat gelisah. Siau Ngo-ji, tentunya engkau juga dibuat terkejut bukan?"

Siiu ngo ji tertawa cekikikan.

"Hiiihh.... hiiihh.... hiiihhh enso sangat baik kepadaku, membelikan pakaian baru, celana baru, sepatu baru untukku dan membantu pula menyisiri rambutku, hatiku akan selalu condong kepadanya, karena perasaan istimewa ini aku selalu kuatir apabila toako sampai berjumpa dengan seorang manusia yang lihay dan kena ditawan olehnya.... kalau sampai begitu kan berabe...."

Hoa Thian-hong mengerti bahwa dibalik perkataannya masih terdapat perkataan lain, buru-buru ia tertawa kering dan alihkan pokok pembicaraan kesoal lain.

"Sebenarnya siapa sih yang telah melakukan sergapan ketempat ini sehingga dinding tembokpun jadi jebol? ibu cepatlah cerita kepadaku!"

Hoa Hujin tertawa.

"Kali ini jasa Siau Ngo-ji paling besar, biarlah dia saja yang bercerita!"

"Benar! Siau Ngo-ji memang paling pandai bicara"

Sokong Hoa Thian-hong. Siau Ngo-ji cepat-cepat goyangkan tangannya berulang kali seraya berseru.

"Eeeei eeeeeii kalau ada persoalan dapat kita rundingkan secara baik-baik, toako! engkau tak usah menyanjung-nyanjung diriku"

Setelah berbatuk ringan, dia melanjutkan "Kesuksesan yang berhasil kita capai hari ini tidak lain adalah berkat kelihayan dari enso, aku tak berani rebut pahala ini ini, enso!

lebih baik engkau saja yang berbicara kepada toako, agar rasa kejutnya dapat segera hilang"

Chin Wan-hong adalah seorang perempuan yang jujur dan polos, tentu saja dia tak tahu kalau kedua orang itu sedarg main setan, dia segera berpaling kepada mertuanya sambil berkata.

"Ibu, kalau engkau hendak beristirahat, biarlah kami bercakap-cakap ditempat luar saja!"

"Fajarpun sebentar lagi akan menyingsing, mari kita bercakap-cakap di sini saja kemudian segera lanjutkan perjalanan, nanti aku akan tidur dalam kereta saja!"

Dengan lembut Chin Wan-hong menganguk, kepada suaminya dia segera berkata.

"Setelah engkau pergi maka akupun siapkian kabut beracun disekitar ruangan, Siau Ngo-ji bilang lebih baik kita pasang jebakan disegala penjuru ruangan, agar orang yang berani menyergap kesitu segera terjatuh kedalam perangkap dan tak bisa kabur lagi, aku turuti jalan pikirannya itu dan segera mengatur dua tempat jebakan diluar pintu"

Sementara pembicaraan sedang berlangsung, diam-diam Hoa Thian-hong mengerahkan tenaga dalamnya untuk mengeringkan pakaiannya yang basah oleh air mara, kemudian sambil tersenyum dia bertanya.

"Jebakan apakah yang telah kau siapkan?"

Kami minta ibu untuk memperhitungkan gerak langkah yang bakal dilakukan pihak musuh, sebab andaikata orang yang melakukan sergapan itu adalah seorang jago lihay kelas satu, maka begitu mendorong pintu kamar dan merasakan adanya racun disekitar tempat itu, dengan cepat dia pasti akan mengundurkan diri, dalam keadaan demikian....

Ketika Siau Ngo-ji menyaksikan ensonya bicara ragu-ragu, tak tahan lagi dia segera menyambung.

"Kami telah letakkan sebaskom air bekas cuci kaki keatas tiang pengtari dan mengikat baskom itu dengan seutas tali yang di hubungkan dengan pintu, apabila pintu terbuka maka baskom berisi bekas air cuci kaki itu akan tumpah, dan apabila orang itu mundur kembali air kotor itu dengan tepat akan menimpa batok kepalanya...."

"Kenapa musti pakai air bekas cuji kaki?"

Tanya Hoa Thianhong sambil tertawa.

Menurut bibi, apabila yang datang adalah jago sebangsa Pia Leng-cu maka guyuran iir tersebut tak mungkin bisa menimpa tubuhnya, kalau air itu diberi racun maka jika meleset dari sasaran kan sayang sekali, oleh sebab itu kami putuskan untuk menggunakan air bekas cuci kaki, untuk melengkapi kebutuhan kami ini, nenek Sam popo secara khusus telah cuci kakinya satu kali"

"Kentut busuk" , bentak Tio Sam-koh dengan gusar!, malam yang mana aku nenek tua tak pernah cuci kaki? siapa bilang aku cuci kaki secara khusus?"

"Benar.... benar....!"

Seru Siau Ngo-ji dengan gelisah, nenek Sam popo setiap hari memang cuci kaki...."

Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan.

"Menurut bibi, apabila orang itu merasakan sesuatu yang aneh muncul dari atas kepalanya, maka jikalau orang itu adalah Pia Leng-cu atau Kiu-im Kaucu, mereka pasti akan menghindarkan diri ke arah samping kanan, sebaliknya kalau orang itu adalah jago lihay dari Mo-kauw, mereka pasti akan menghindar sesamping kiri, karena pendapat tersebut maka kami meletakkan sedikit obat racun yang setaraf lihaynya dengan kabut kiu tok ciang disisi sebelah kanan, jika ada orang menghindar kesana dan bubuk racun terhembus angin maka racun itu segera akan berterbangan keangkasa, dan apabila Pia Leng-cu atau Kiu-im Kaucu yang datang, mereka pasti akan menggeletak keatas tanah."

Hoa Thian-hong terpikir sebentar, kemudian berkata.

"Ilmu langkah Huan im tun hoat atau bayangan semua lolos di angkasa dari pihak Mo ku memang berputar menurut kebalikan dari tangkah Tay kek, dan itu berarti mundurnya ke arah sebelah kiri, apa yang telah kalian siapkan disana?"

"Hiihh.... hiihh.... hiihh.... air dewa!"

Jawab Siau Ngo-ji sambil tertawa cekikikan "Air dewa?"

"Air kencing dari bocah keparat itu!"

Teriak Tie Sam-koh dengan suara keras. Hoa Thian-hong tertawa terbahak-bahak.

"Haaah.... haaah.... haaahhh masa air kencingpun bisa dipakai untuk melawan musuh lalu apakah alasannya sehingga jebakan yang dipasang dikedua belah pihik terbagi atas yang ringan dan yang berat?"

Siau Ngo-ji tak menjawab pertanyaan itu sebaliknya sambil tertawa dia balik bertanya.

"Ketika toako baru saja kembali keruangan ini, apakah engkau tidak mencium bau pesing??"

"Kenapa? oooh.... jadi yang datang adalah orang-orang dari perkumpulan Mo-kauw?"

"Perkataanmu tepat sekali, anakan iblis cilik terkena kabut racun Kiu tok ciang dan roboh seketika, dalam gugupnya gembong iblis tua menyepak pispot isi air kencingku hingga tumpah, karena ketakutan ia segera melarikan diri terbiritbirit."

"Kalau cerita yang agak jelas dong!"

Sela Hoa Thian-hong sambil tertawa. Siau Ngo-ji ambil sebuah cawan air teh dan meneguk habis isinya, kemudian ujarnya lagi.

"Enso bilang kabut kiu tok ciang tidak tersedia dalam jumlah banyak, maka hanya bisa disebarkan dibelakang pintu, sedang obat pemabok Mi hun san adalah bubuk obat yang mempunyai.... eeei Enso, mempunyai apa....?"

"Mempunyai perbedaan dalam bentuk tapi persamaan dalam kasiat!"

"Aaah! benar, mempunyai perbedaan dalam bentuk tapi sama dalam kasiat sambung Siau Ngo-ji sambil menepuk kepalanya, sayang jumlah yang tersediapun tidak banyak dan cuma bisa disebar disuatu sudut yang sama!"

Setelah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh.

"Menurut jalan pikiranku, andaikata kita berhasil menangkap Pia Leng-cu maka hal ini jauh lebih baik lagi, bukan saja kita dapat lenyapkan seorang musuh besar, bahkan dapat pula merampas kembali pedang emas yang berada ditangannya, bukankah itu berarti sekali tepuk mendapat dua lalat? sebaliknya kalau bangsat dari Mo-kauw adalah jago yang paling lihay dari perkumpulannya, kitapun bisa tangkap iblis itu dan sekali bacok menghabisi nyawanya, sekalipun anak murid dan cucu muridnya mencari balas buat kami juga tak mengapa.... sebaliknya kalau bajingan itu hanya jago kelas dua belaka dari perkumpulan Mo-kauw maka kalau kita bunuh orang itu, maka segera akan mengundang kembali kehadiran jago yang lebih lihay.... dalam keadaan seperti ini kita toh tidak bakalan rugi"

"Sungguh hebat daya pikiranmu! puji Hoa Thian-hong sambil acungkan jempolnya. Siau Ngo-ji melirik sekejap ke arah pakaian dada Hoa Thian-hong, ketika dilihatnya bagian yang basah telah mengering, dia segera tertawa kembali sambil berseru "

Toako, sekarang engkau sudah boleh tak usah menyanjung diriku lagi!...."

"Jangan ngaco belo tak karuan, bicara lah yang serius!"

Tegur Hoa Thian-hong sambil tertawa. Siau Ngo-ji berhenti sebentar, kemudian sambungnya lebih jauh.

"Oleh karena itu kami letakkan bubuk racun pemabok itu disebelah kanan, khusus lami tujukan untuk menghadapi Pia Leng-cu atau Kiu-im Kaucu, sedangkan air dewaku diletakkan disebelah kiri untuk disuguhkan kepada tamu-tamu dari pihak Mo-kauw.... Heehh.... heehh.... baru saja pekerjaan kami selesai, eeei.... yang ditunggu-tunggu telah datang!"

"Apakah waktu itu semua orang berada didalam kamar?"

"Benar, sebenarnya aku ingin mengintip keluar untuk melihat situasi, tapi karena ilmu silat yang kumiliki terlalu dangkal, si apapun tidak setuju kalau aku keluar dari pintu!"

"Bagaimana kemudian?! tanya Hoa Thian-hong lagi sambil tertawa.

"Kemudian.... waah! suatu pertunjukkan baguspun berlangsung, tanpa mendergar sedikit suarapun tiba-tiba palang pintu kamar putus dengan sendirinya dan pintupun segera terbentang lebar, dari luar pintu menerjang masuk seorang marusia berbaju kening, siapa tahu baru saja kakinya menginjak pintu kamar tiba-tiba ia roboh terkapar diatas lantai, sementara disisi pintu telah bertambah dengan seorang makhluk tua berbaju kuning pula, sungguh cepat gerak-gerik makhluk tua itu, entah bagaimana caranya tahu-tahu ia sudah menyambar kaki makhluk cilik dan menyeretnya keluar dari kamar, tidak meleset dari dugaanku.... ooh.... bukan! bukan.... tidak meleset dari dugaan bibi, ia memang benar-benar berbelok seperti yang diharapkan"

"Eeei.... bagaimana sih ceritanya?"

Bagaimana lagi?

karena terperanjat makhluk tua baju kuning itu loncat mundur ke belakang dan cepat mundur kebelakang tiang penglari yang sudah kami pasang alat jebakan, tak ampun lagi air cuci kaki dari nenek Sam-popo segera tumpah kebawah dan hampir saja mengguyur kepala makhluk tua tersebut, dengan cepat makhluk tua itu menengadah dan melancarkan sebuah pukulan udara kosong dengan jurus mendorong jendela memandang rembulan, baskom berisi air cuci kaki itu kontan mencelat entah kemana, diikuti suara gaduh yang sangat keras, pispot berisi air kencing ikut tersambar sampai tumpah tak karuan, ia segera menjerit bagaikan babi disembelih, tanpa buang waktu lagi segera melarikan diri terbirit-birit...."

"Hmm! rupanya engkau suka sekali mendengar kisah cerita dari orang-orang yang jual dongeng dialun-alun?"

Goda Hoa Thian-hong sambil tertawa.

Siau Ngo-ji mengerutkan dahinya.

Mendengarkan orang jual dongeng?

Hmm dikota Lok yang banyak dijumpai orang seperti itu, dirumah minum teh yang tersohor pun ada lima orang tapi cerita Hong sin pang dari Sun ji macu manusia topeng itu paling menarik, aku adalah tamu terhormatnya yang sudah menjadi langganan tetap walaupun hujan badai aku tetap selalu hadir "Huuuhh!

tamu terhormat apa?

paling-paling tamu di kolong meja!"

Ejek Tio Sam-koh sambil mencibirkan bibirnya. Siau ngoji kontan melotot, teriaknya.

"Eeeei nenek sam popo! seorang pria sejati tak takut berasal dari kalangan rendah kalau tak punya uang sih diatas meja atau di kolong meja juga sama-sama mendengarkan!"

"Bocah busuk!"

Maki Tio Sam-koh dengan marah.

"kenapa matamu melotot-melotot? pingin minta hadiah ditempeleng yaa?"

Aku tidak takut ditempeleng, kalau ada alasan yang kuat dan benar, aku harus beri penjelasan sampai terang. Hoa Hujin tertawa geli, ia segera bangkit dan duduk dipembaringan, kemudian tegurnya.

"Siau Ngo-ji, jangan ribut-ribut lagi! mari aku beri pelajaran ilmu silat kepadamu, tapi kalau engkau tidak tekun, jangan salahkan kalau nenek Sam popo benar-benar akan menghadiahkan sebuah tempelengan kepadamu."

Kletak....

keetak....!

bunyi roda kereta kuda yang berputar dengan cepat diatas jalan berbatu, ditengah sorot cahaya sang surya yang telah condong kesebelan barat, rombongan dari Hoa Hujin memasuki kota Lok yang.

Ketika kereta masuk sedalam kereta, seorang pengemis cilik loncat naik keatas kereta dan membisikkan sesuatu kesisi telinga Siau Ngo-ji.

Bocah yang duduk diatas kursi kusir segera mengangguk sambil berseru.

"Aku sudah tahu! "Apakah mendapat kabar dari Ko toako mu?"

Buru-buru Hoa Thian-hong bertanya. Siau Ngo-ji gelengkan kepalanya.

"Kabar dari Haputule, dia bilang ada urusan yang harus segera dikerjakan, untuk sementara waktu dia tak akan berjumpa dengan toako"

Kemudian kepada sang kusir kereta serunya pula.

"Hey kusir, belok kekiri! "

Kusir kereta segera putar kemudi dan berbelok kesebelah kiri, beberapa saat kemudian sampailah mereka didepan sebuah sebuah penginapan....

Setelah mendapat kamar, ketiga orang perempuan itu segera mandi dan tukar pakaian, sedang Siau Ngo-ji tarik Hoa Thian-hong kesamping ruangan sambil berbisik.

"Setelah makan malam nanti, mari kita jalan-jalan ke kota dan mencari musuh, kalau bisa kita bekuk dulu gembong-gembok iblis itu agar pada gelagapan dan tahu kelihayan kita" 0000O0000 SIAPA yang kau maksudkan?! tanya Hoa Thian-hong. Perduli amat siapakah orang itu, Kiu-im Kaucu juga boleh, imam tua juga boleh atau gembong iblis dari Mo-kauw juga lumayan, asal mereka menginap didalam kota, aku pasti berhasil menyelidikinya"

Hoa Thian-hong segera gelengkan kepalanya.

"Caramu itu tak bisa digunakan, kabut racun kiu tok ciang sudah kita gunakan, aku tak dapat meninggalkan ibuku dengan begitu saja"

Siau Ngo-ji segera busungkan dada sambil berseru lirih.

"Jangan kuatir, kota Lo yang adalah daeah kekuasaanku, tanggung beres, tak mungkin bisa terjadi sesuatu yang ada diluar dugaan"

"Tidak mungkin!"

Kembali Hoa Thian-hong gelengkan kepalanya.

"sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya toh jatuh pula keatas tanah, lebih baik kita jangan lakukan tindikan yang terlalu mengundang resiko besar"

Tertegun Siau Ngo-ji mendengar jawaban tersebut, kembali ia barbisik lirih.

"Sebelah timur kota Lok yang merupakan pusat segala hiburan dan keramaian kota"

"Pusat segala keramaian?"

"Benar! pusat dari segala keramaian dan hiburan kota!"

Seru Siau Ngo-ji dengan gelisah.

"ditepi jembatan Lok yang ada pasar malam, ramainya bukan kepalang, mau makan apapun aku bisa mendapatkannya secara gratis!"

Mendengar perkataan itu, Hoa Thian-hong segera berpiir didalam hatinya.

"Oooh.... rupanya dia cuma ingin bermainmain belaka, hampir saja hatiku tertarik oleh obrolannya!"

Berpikir sampai disitu, dia segera gelengkan kepala berulang kali sambil berkata.

"Aku tak akan keluar dari pintu rumah, engkaupun tak boleh keluar tinggalkan tempat ini, kalau lain kali ada kesempatan maka akan kubawa dirimu untuk pesiar segala penjuru dunia, kemana engkau suka kesitu aku temani engkau untuk bermain"

Siau Ngo-ji segera mengerutkan dahinya erat-erat.

"Aku sama sekali tidak ingin bermain!"

Keluhnya.

"Haputule itu bodoh dan tidak mengerti adat istiadat dari orang Tionggoan, kalau sampai ketemu Pia Leng-cu, bisa-bisa jiwanya ikut melayang!"

"Ooh.... serius amat persoalan ini!"

Seru Hoa Thian-hong dengan alis mata berkenyit.

"Oleh sebab itulah kita harus keluar rumah untuk mencarinya, dan lagi dia pasti mempuayai alasan tertentu sehingga menyembunyikan diri dikegelapan, kita harus menanyakan persoalan ini kepadanya!"

Tiba-tiba pitu kamar terbuka, dan Tio Sam-koh munculkan diri sambil berteriak.

"Siau Ngo-ji, tingkah lakumu sangat mencurigakan, apa lagi yang sedang kau bicarakan?"

Buru-buru Siau Ngo-ji loncat kedepan dan menyahut sambil tertawa.

"Ooh.... tidak apa-apa, toako sedang mambicarakan soal ilmu silat dengan aku, nenek Sam Popo engkau silahkan cuci kaki, air bekas cuci kakimu jangan sampai tumpah lho! baunya.... huuh, sedap...."

Tio Sam-koh mendengus dingin, ia jewer telinga Siau Ngo-ji dan menyeretnya masuk kedalam kamar.

Lewat beberapa saat kemudian, arak dan sayur telah dihidangkan, beberapa orang itu duduk mengitari meja dan santap bersama-sama.

Hoa Thian-hong tidak minum arak dihadapan ibunya, lebihlebih Chin Wan-hong sebagai seorang perempuan yang menjaga gengsi, ia menghindari minuman keras seperti itu, hanya Siau Ngo-ji seorang yang ribut minta arak walaupun begitu takaran minumannya terbatas sekali, cuma secawun kecil.

Selesai bersantap, biji mata Siau Ngo-ji mengerling tiada hentinya memberi kode kepada Hoa Thian-hong, tapi pemuda itu pura-pura tidak melihat dan sama sekali tidak menggubris kerlingan itu.

Tiba-tiba Hoa Hujin tertawa dan menegur.

"Siau Ngo-ji, engkau ingin keluar rumah untuk bermain-main?"

"Tidak! aku tidak ingin! buru-buru Siau Ngo-ji gelengkan kepalanya berulang kali" , aku adalah penduduk asli kota Lok yang, sudah bosan aku bermain disekitar tempat ini lagipula sudah tak ada tempat lain yang menarik bagiku, buat apa musti lelah keliling kota?"

Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan.

"Barusan ada orang mencari aku untuk diajak main, tapi aku segera menolak ajakannya!"

"Siapa sih yang ajak engkau? kenapa aku tak melihat?"

Tanya Hoa Thian-hong keheranan.

Mereka bersembunyi ditempat kegelapan, kalau toako tidak memper-hatikan tentu saja tidak melihat, meskipun kami adalah teman lama namun tidak pergi juga tidak menjadi soal.

"Kalau begitu jangan pergi"

Seru Chin Wan-hong.

"daripada menggangu pelajaran silatmu!"

Siau Ngo-ji anggukkan kepalanya berulang kali Perkataan enso memang benar! Tiba-tiba dengan wajah merengek dia melanjutkan.

"Mungkin sampai sekarang mereka masih menunggu aku diluar, biar kusuruh mereka pulang dulu."

Hoa Hujin tertawa geli menyaksikan tingkah lakunya yang kocak, ia segera berseru.

"Sudahlah, tak usah berpura-pura lagi....! pergilah bermain sebentar besok pagi engkau harus tinggalkan kota Lok yang, sudah sepantasnya kalau minta diri lebih dahulu kepada sahabat-sahabat lamamu!"

"Benar! kita semua adalah teman-teman sewaktu masih berkaki telanjang, sekarang aku sudah bersepatu, kalau aku tidak temui mere ka mungkin orang lain akan mengatakan aku jadi sombong dan lupa teman"

"Kami masih punya sedikit uang, berapa banyak sih temantemanmu itu....? kita hadiahkan sepasang sepatu baru buat setiap orang!"

Siau Ngo-ji goyangkan tangannya berulang kali.

"Bukan.... bukan begitu maksudku! bertelanjang kaki artinya masih miskin dan menganggur, memakai sepatu artinya sudah punya kedudukan dan hidup lebih enak! katakata tersebut adalah kata-kata kangouw untuk mengatakan sesuatu, bukan terus berarti kami benar-benar ingin membeli sepatu baru!"

Hoa Hujin tersenyum.

"Baik! pergilah untuk menjamu sahabat-sahabat lamamu, tapi engkau musti hati-hati, kalou seorang pria sejati, lelaki jantan punya keberanian untuk keluar rumah, maka dia musti cekatan dan pandai melihat gelagat, kalau sampai tertangkap orang maka kejadian itu kurang cemerlang bagi diri sendiri.

"Bibi tak perlu kuatir!"

Sahut Siau Ngo-ji dengan hati gelisah.

"selama Hoa toako mendampingi aku, semua malaikat atau iblis akan menghindarkan diri, siapa yang berani cari gara-gara dengan diriku?"

"Aku segan untuk keluar rumah"

Potong Hoa Thian-hong sambil tertawa. Siau Ngo-ji jadi tercengang.

"Bukankah toako harus mencari Haputule serta Ko toako?"

Hoa Thian-hong kembali tersenyum.

"Haputule telah menyembunyikan diri, itu berarti posisinya jauh lebih aman, aku memang ingin sekali berjumpa dengan Ko toako mu itu!"

"Bagus sekali, kalau begitu mari kita segera berangkat, Ko toako juga ingin menyambangi toako, ayoh kita segera berangkat!"

"Kenapa musti terburu nafsu? ini hari au akan jaga rumah, lain hari saja baru a ku kunjungi Ko toako mu itu"

Melihat ajakannya ditampik, Siau Ngo-ji menghela nafas panjang.

"Aaaaiii....! baiklah, kalau begitu terpaksa aku harus pergi seorang diri."

"Bawalah uang disaku, cepat pergi dan cepat kembali!" ' ujan Chin Wan-hong, dari sakunya ambil keluar sebuah kepingan uang perak dan dicerahkan kepada bocah itu. Memandang uang perak yang diangsurkan kepadanya, Siau Ngo-ji tertawa.

"Heeeh.... heeeeh.... heeeehbh teman-temanku semua adalah sahabat yang miskin, memang tak ada salahnya kalau membawa sedikit uang, lagi pula aku masih punya sedikit hutang-hutang lama, setelah besok berangkat entah sampai kapan baru kembali lagi? kalau hutang terlalu lama rasanya memang kurang enak, cuma uang itu terlalu banyak, satu dua tahil perak sudah lebih dari cukup."

"Bawa kemari!"

Seru Tio Sam-koh.

Setelah menerima uang perak itu, dengan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya ia gunting uang perak tersebut, dalam waktu singkat uang perak yang beratnya mencapai sepuluh tahil itu sudah terpotong-potong jadi sepuluh potongan kecil, bukan saja bentuknya sama bahkan beratnya pun tak jauh berbeda.

Chin Wan-hong ambil dua kepingan kecil uang perak itu dan diserahkan kepada Siau Ngo-ji sambil berpesan.

"Ini hari engkau tak boleh minum arak lagi, jangan berkelahi dengan orang, cepat-cepat pulang untuk berlatih ilmu silat!"

Siau Ngo-ji mengangguk, sambil melototi kepingan uang perak yang ada ditangannya, ia coba untuk memencetnya dengan kedua belah jari tapi perak itu terasa keras sekali, tanpa sadar sambil menjulurkan lidahnya ia berseru.

"Cctt.... cctt.... cctt.! kepandaian apaan itu? tampaknya benar-benar kalo lebih hebat dari pada ilmu Liong jiau kang!"

"Bawa ke toko dan timbangkan kepingan uang perak itu, sekeping satu tahil, kalau beratnya tidak betul bawa kembali kemari!"

Seru Tio Sam-koh lagi dengan dingin."

Tertegun Sau ngo ji setelah mendengar ucapan itu, akhirnya sambil memberi hormat dia berkata.

"Hiiih.... hiihh.... Siau Ngo-ji punya mata tak kenal gunung Tay san, ini hari baru kutahu kelihayan nenek Sam popo, pulangnya nanti aku pasti akan membawa oleh-oleh yang enak untukmu, dan lain hari aku ingin belajar ilmu menggunting perakmu, yang hebat itu"

"Huhh....! cepat enyah...."

Hardik Tio Sam-koh ia pukul pantat Siau Ngo-ji dengan toyanya dan melempar tubuh bocah itu keluar dari pintu. Siau Ngo-ji menjerit kaget, setelah selamat mencapai tanah diam-diam ia baru menggerutu.

"Oooh! sungguh lihay"

Pantatnya diraba, untung tak sakit, buru-buru ia kabur dari rumah penginapan.

Setelah keluar dari pintu, ia bersuit ke arah tempat gelap, kemudian seraya ulapkan tangannya dengan langkah lebar Siau Ngo-ji berjalan kejalan raya, dalam sekejap mata segerombol bocah mengikuti dibelakangnya, yang paling tua berumur lima enam belas tahunan, yang terkecil berumur lima enam tahun, semuanya adalah bocah-bocah gelandangan dari kota Lok yang.

Setelah menyeberangi beberapa jalan raya, sampailah mereka didepan kedai penjual bakmi, seorang kakek tua sedang masak mie diluar, dari kejauhan Siau Ngo-ji telah berteriak keras.

"Hey lo thio, siapkan arak, sayur dan hidangan lezat! kami akan bayar kontan, sekalian lunasi hutang-hutang lamaku!"

Bersamaan dengan ucapan tadi, sekawanan bocah gelandangan itu bagaikan hembusan angin berebutan cari tempat duduk, kursi ditarik meja digeser, suasana hiruk pikuk dan ramai sekali.

Seorang perempuan tua menghampiri mereka, setelah mengamati Siau Ngo-ji tiba-tiba serunya dengan kaget.

"Eee....! Siau Ngo-ji, kaya mendadak?"

"Oooh.... jangan kuatir!"

Jawab Siau Ngo-ji sambil rogoh sakunya dan ambil sekeping uang perak.

"Nih! simpan dulu uang itu dalam kas, setelah habis makan kita bikin perhitungan...."

Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan.

"Tenggorokanku sakit, ini hari tak minum arak, sediakan secawan air teh bagiku!"

Bocah yang berusia paling kecil itu membawa sebuah tabung bambu, sanbil mendekati Siau Ngo-ji dan merangkak naik keatas kursi ujarnya.

"Ngo ko, kenapa sih Hoa toako tak ikut keluar?"

"Dia tak bisa keluar karena masih ada urusan, bagaimana dengan Tiat Pak Ong?"

Bocah itu baru berusia lima enam tahunan dan bernami Siau Biau ji, dia merupakan sahabat karib Siau Ngo-ji, sementara itu sambil angsurkan tabung kecil tadi, sahutnya.

"Makan malam sudah kuberikan, selama engkau tak ada dirumah, aku tak berani mengadunya dengan milik orang lain."

Siau Ngo-ji membuka tutup tabung, isinya ternyata seekor cengkerik berwarna hitam, Siau Ngo-ji mengilik cengkeriknya seben tar, ketika dilibatrya binatang itu tetap segar, ia tutup kembali tabung bambu itu sambil berkata.

"Selama beberapa hari ini, ada orang yang menganiayai engkau?"

Siau Ngo-ji menggeleng.

"Tidak ada yang berani, kawan-kawan telah menerima kabar dan tahu kalau engkau sudah angkat saudara dengan Hoa toako, mereka bersikap sangat baik kepadaku!"

"Engkoh Siau ngo"

Seru seorang bocah yang bernama Hek niu.

"Hoa toako sudah wariskan ilmu silatnya kepadamu?"

"Hmm! dari siapa Hoa toako belajar ilmu silat, dari situ pula aku belajar silat, soal ini tak usah dibicarakan lagi, kapan Ko toako kembali kesini dan sekarang dia ada dimana?"

Tanya Siau Ngo-ji dengan alis mata berkenyit.

"Sore tadi Ko toako sudah kembali ke kota, kami pada mencari dirinya tapi tak ke temu, entah dia sudah pergi kemana lagi?"

"Loo kok aneh?! gumam Siau Ngo-ji. Sementara itu sayur dan arak telah dihidangkan, semua orang segera angkat cawan untuk menyatakan selamat kepada Siau Ngo-ji, sedang bocah itu angkat cawan air tehnya menerima ucapan selamat itu. Tiba-tiba bocah yang berumur agak tuaan berkata.

"Siau Ngo-ji, kemarin bocah keparat dari keluarga Lau datang lagi mencari gara-gara dengan kita, perselisihan ini harus segera di bereskan, aku rasa lebih baik kita hajar saja orang-orang itu biar kapok!"

Siau Ngo-ji segera goyangkan tangannya berulang kali.

"Ilmu silat ynng sekarang kupelajari sudah mencapai tingkatan yang lain daripada yang lain, bocah keparat itu bukan tandingan ku lagi, kalau sampai kehilangan nyawa buat aku sih bisa kabur sambil cuci tangan, tapi bagaimana dengan kalian semua? kamu semua terpaksa harus angkat kaki dari kota Lok yang!"

Setelah behenti sebentar, sambungnya lebih jauh.

"Eei, selama dua hari belakangan ini apa kalian melihat ada orang yang berdandan menyolok masuk kedalam kota? misalnya sebangsa hweesio.... atau imam.... atau orang persilatan berjubah kuning, atau perempuan yang cantik! pokoknya mereka-mereka yang punya mata bersih dan kening menonjol keluar?"

"Ooh ada"

Jawab siau biau ji cepat.

"ada hweesio bau, imam hidung kerbau serta manusia jelek berbaju kuning, mereka semua hebat-hebat nampaknya ada juga perempuan yang cantik sekali, begitu cantiknya sampai aku ogah berkedip!"

Cahaya tajam memancar keluar dari balik mata Siau Ngo-ji.

"Ceritalah yang jelas dari awal sampai akhir, jangan ada yang kelewatan!"

"Betul, siau biau ji! kalau cerita musti yang jelas"

Tukas Hek niu dari samping, engkoh siau ngo ayoh teguk secawan arak"

Siau Ngo-ji sedang memikirkan sesuatu, ia lantas menjawab. Enso larang aku minum arak diluaran, siau biau ji...."

Tiba-tiba ia sadar kalau terlanjur bicara, dengan cepat tambahnya.

"Ooh.... tenggorokanku benar-benar lagi sakit!"

"Kenapa sih?"

Tanya siau biau ji.

"apakah ensomu galak sesaki seperti anjing beranak?"

"Huuss! jangan sembarangan ngomong, ensoku adalah perempuan paling baik didalam jagad, ilmu silatnya juga hebat apalagi ilmu racun dan obat-obatanya.... waah! tak bisa dilukiskan deh hebatnya, sampai akupun cuma mendengarkan perkataaanya seorang.... ooh iya, bagaimana ceriteranya? makhluk jelek berbaju kuning itu pernah kujumpai, bagaimana dengan dia?"

Sau biau ji membasahi bibirnya dengan ludah, lalu bercerita.

"Selama beberapa hari belakangan ini kami selalu berjaga-jaga dipintu kota selatan, pagi tadi muncul dua orang makhluk aneh berbaju kuning, waktu kutengok mukanya.... hiiiii....! ngeri deh, jeleknya bukan kepalang...."

Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan.

"Makhluk tua yang punya jenggot merah berjalan didepan, yang rada muda dan punya hidung seperti samai mengikuti dibelakangnya, dia memanggul sesosok tubuh manusia nampaknya kena penyakit gila atau ayan.... mukanya bengkak seperti labuh, tangannya penuh tutul-tutul merah seperti cacar.... hiiihh! pokoknya ngeri deh."

"Ehmm! orang itu terkena racun jahat dari wilayah Biau"

Siau Ngo-ji menjelaskan, bagaimana selanjutnya?"

"Setelah cari kamar dirumah penginapan Kong goan, yang mudaan itu keluar rumah seorang diri, rupanya dia pergi beli obat dikedai.... selanjutnya Ji hau yang membuntuti, biar dia saja yang cerita!"

Sambil berseru bocah itu tuding seorang bocah dihadapannya. Bocah hitam yang berada dihadapannya segera melanjutkan cerita itu.

"Siau biau ji tetap jaga dipintu kota, sedang aku buntuti beberapa orang baju kuning itu, aku menyusup masuk kedalam rumah penginapan lewat pintu belakang, ku lihat mereka bertiga mendapat kamar di ruang sebelah barat, aku lantas ingat dengan perkataan dari Ko toako, katanya orang yang berilmu silat tinggi bisa menangkap ja tuhnya bunga dan daun pada jarak sepuluh tombak, aku tak berani terlalu mendekat dan terpaksa mendorong pintu dikamar sebelahnya"

"Bukankah diatas dinding kamar ada lubang untuk mengintip?"

Tanya Siau Ngo-ji. Ji hau angkat cawan araknya dan meneguk abis isinya, kemudian menjawab.

"Benar, aku masih ingat diatas dinding papan terdapat sebuah lubang kecil untuk mengintip kamar itu, seberangnya persis pembaringan dikamar seberang, kita toh sering kali melihat siluman laki dan perempuan saling bergumul dan saling menindih.... aduuh asyiiknya!"

"Jangan bicara yang tak penting, bagaimana seterusnya? aku harus segera pulang seru Siau Ngo-ji dengan dahi berkerut. Ji hau melengak sebentar, kemudian melanjutkan.

"Ketika aku mendorong pintu kamar sebelah aduuuh maknya! seorang kakek tua berjenggot putih sedang duduk bersila didalam kamar itu, ketika aku melongok kedalam, sepasang mata kakek itu segera terbuka lebar, yaa mama! sepasang biji matanya memancarkan sinar yang dingin dan tajam, aku jadi ketakutan sampai kakiku jadi lemas, hampir saja aku jatuh semaput."

Sambil menuding ke arah Ji hau, Siau bi ji tertawa geli dan mengejek.

"Haaah.... haaahh.... haaahh engkoh siau ngo, karena ketakutan dia sampai terkencing-kencing hingga celananya basah kuyup, sungguh memalukan"

Merah padam selembar wajah Ji hau, serunya dengan penasaran.

"Maknya! kalau bicara jangan sembarangan, kalau engkau yang melihat sinar mata itu, mungkin sukmapun seraya melayang meninggalkan raga...."

Bocah-bocah itu tergelak tertawa, sampai kakek penjual bakmi pun ikut tertawa terbahak-bahak. Siau Ngo-ji gebrak meja menghentikan gelak tertawa itu, hardiknya dengan suara dalam.

"Jangan gaduh! Ji hau, teruskan ceriteramu"

Bocah-bocah itu berhenti tertawa, suasanapun pulih kembali dalam kesunyian. Terdengar Ji hau melanjutkan kembali kata-katanya.

"Dalam gugupnya, aku segera melarikan diri terbirit-birit, untung kakek tua itu tidak berteriak sehingga aku kena digebuk oleh pelayan rumah penginapan itu, aku kabur ketengah tumpukan barang dan menyembunyikan diri, beberapa saat kemudian pelayan muncul sambil membawa sebuah gentong besar, isi gentong itu adalah air bersih, lewat sebentar lagi orang baju kuning yang rada mudaan itu muncul sambil membopong sebungkusan besar obat-obatan serta segentong cuka."

Bocah itu berhenti sebentar, setelah makan sayur asin dan buru-buru menelannya kedalam perut, sambungnya lebih jauh.

"Aku sangat ingin mengintip kedalam dan pingin tahu permainan setan apa yang sedang dilakukan, setelah maju mundur setengah harian, akhirnya aku besarkan nyali dan ngeloyor masuk kedalam halaman kemudian merangkak kebawah jendela, siapa tahu sebelum aku bangkit berdiri tibatiba aku dengar pintu kamar berbunyi dan makhluk tua itupun berbicara!"

Apa yang dia bicarakan? Ji hau menghembuskan nafas panjang lalu menjawab.

"Dia bertanya.

"Bagaimana dengan tempat yang dipilih?"

Lalu seorang lain menjawab.

"Tempatnya sudah dipilih, terletak di tengah tumbuhan ilalang ditepi seberang sungai!"

Kemudian makhluk tua itu bertanya lagi.

"bahan-bahan untuk hioloo darah sudah kau siapkan komplit?"

Orang yang satu menyahut.

"Oh sudah, sudah siap semua!"

Makhluk tua itu bertanya lagi.

"makhluk-makhluk beracunnya juga sudah siap?"

Orang yang lain menjawab.

"sudah kusiapkan semua!"

Suasana hening untuk sesaat lalu orang itu menyambung kembali.

"Suhu tak usah kuatir, asal mereka menginjak kedaratan, tanggung akan terluka oleh ilmu Hiat teng koh hun to hoat kita!"

Mendengar sampai disitu, Siau Ngo-ji kerutkan dahinya rapat-rapat dan bergumam.

"Ilmu sakti hioloo darah pembetot sukma? ilmu sihir apaan itu....? mungkin ilmu jahat yang amat keji...."

"Aku sendiripun tidak tahu ilmu apaan itu, mereka mengatakan begitu maka akupun sampaikan kepadamu tanpa mengurangi sepatah katapun!"

"Bagaimana selanjutnya? cepat katakan!"

Seru Siau Ngo-ji dengan gelisah. Dengan muka mewek Ji hau melanjutkan.

"Kemudian.... waah! menarik sekali, baru saja aku mencuri dengar pembicaraan itu, tiba-tiba jendela dibuka dan seorang baju kuning yang mudaan itu melongok keluar, tengkukku langsung dicengkeram seperti anak kucing kemudian melemparkan ke tubuhku keluar dari halaman, kakiku belum sempat menginjak tanah terdengar makhluk tua baju kuning itu sudah membentak keras, 'tangkap kembali! mampusi bocah itu!' waaduuh, aku semakin ketakutan, untung Lo Thian ya masih lindungi aku, kebetulan aku terjatuh ketumpukan rumput kering diistal kuda, cepat-cepat aku menggelinding ketanah dan menerobos keluar lewat lubang anjing disudut tembok, makhluk kecil itu goblok sekali ketika ia sampai diluar, aku sudah ngeloyor kedalam rumah penggiling tahu disamping rumah penginapan itu dan sembunyikan diri."

"Macam apakah kakek tua yang duduk bersila dikamar sebelah makhluk tua itu?"

Tanya Siau Ngo-ji kemudian dengan suara berat.

"Jenggotnya putih, rambutnya putih, bajunya putih dan raut wajahnya bersih rada gagah!"

Siau Ngo-ji alihkan pandangannya ke arah siau biau ji, dan tanyanya lagi.

"Selain makhluk aneh baju kuning, apakah masih ada orang-orang yang menyolok lagi masuk kedalam kota?"

"Kami lihat seorang perempuan berbaju hitam, berwajah putih dan berambut uban dengan membawa sebuah tongkat hitam dengan kepala setan terukir digagangnya masuk ke dalam kota, tampaknya mirip dengan Kiu-im Kaucu yang pernah kami dengar, aku suruh siau kwik menguntilnya, siapa tahu baru ikuti beberapa jauh, mendadak perempu ao itu lenyap tak berbekas dan sampai sekarang tidak ketemu lagi!"

"Selain itu?"

Seorang perempuan cantik yang membawa rase putih juga masuk kedalam kota, wajah nya mirip Giok teng hujn tapi betul atau tidak entahlah, selain itu ada pula seorang perempuan muda yang menunggang kuda, wajahnya cantik jelita dan boleh dibilang bagaikan bidadari yang baru turun dari kahyangan!"

"Perempuan itu adalah Pek Kun-gie!"

Seru Siau Ngo-ji dengan amat gusarnya.

"ia merecoki Hoa toako terus menerus. Hmm! kalau sampai ketemu dengan aku, pasti akan ku maki habis-habisan, perempuan yang tak tahu malu!"

"Kenapa sih musti dimaki?"

Tanya Siao biau ji keheranan, perempuan itu cantiknya bukan kepalang, kalau aku sih tak tega un tuk mencaci maki dirinya.... kasihan!"

Siau Ngo-ji segera tertawa dingin.

"Heeh.... heehh.... heehh.... kau anggap enso ku jelek? kecantikan wajahnya mungkin sepuluh kali lipat lebih hebat daripada perempuan yang bernama Pek Kun-gie itu. Ia bangkit berdiri dan ambil keluar sekeping perak, sambil diserahkan kepada kakek penjual bakmi, pesannya.

"Uang itu aku titipkan disini, kalau siau biau ji tak punya uang uutuk makan, biar dia makan mie ditempatmu, tiga tahun kemudian aku akan bayar kekurangannya, berapa saja kekurangan itu pasti akan kubayar...."

Jilid 17

"BAGAIMANA kalau orang lain yang makan?"

Tanya kakek penjual bakmi sambil menerima uang itu.

"Kecuali ini hari aku yang menjamu, selanjutnya tak ada hubungan apa-apa dengan nonaku!"

Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan.

"Kalau engkau berani menganiaya Siau biau ji Hmm! warung bakmi ini akan kuobrak abrik sampai rata dengan tanah, jenggotmu akan kucabuti semua hingga tak mampu hidup di sini lagi."

Kepada rekan-rekan lainnya dia melanjutkan.

"Kalau kehidupan kalian alami kesulitan pergilah cari Ko toako! Siau biau ji paling kecil diantara kalian, pengalamannya paling dangkal, kalian jangan mengganggu dirinya!"

Bocah-bocah itu sama-sama mengiakan, sedang Siau biau ji sambil menangis sesenggukan katanya.

"Engkoh Ngo ko, kemana engkau pergi aku mau ikut terus jangan tinggalkan aku seorang diri!"

"Tidak mungkin, setelah tiba diperkampungan Liok Soat Sanceng nanti aku akan mintakan ijin kepada enso agar utus orang datang kemari untuk menyambut dirimu."

"Kenapa musti tunggu tiga tahun?"

Seru siau biau ji dengan air mata bercucuran. Siau Ngo-ji termenung sebentar, kemudian jawabnya.

"Paling lama tiga tahun, mungkin juga kurang dari itu.... Nah! pergilah bermain-main, aku harus segera kembali."

"Ngoko, cengkerikmu!"

Seru siau biau ji sambil berikan tabung bambu itu kepada kakaknya.

"Aku tak mau bermain itu lagi, buat kau!"

Siau hiau ji mengangguk.

"Ngo ko, ajarin aku ilmu silat agar kalau berkelahi aku bisa lebih tangguh "

"Sekarang tak ada waktu, lain kali saja,"

Setelah memberi salam kepada rekan-rekannya ia menambahkan.

"Nah, sampai jumpa lain waktu, aku pergi dulu!"

Sambil mengingat-ingat terus persoalan tentang ilmu hioloo darah pembetot sukma, bocah itu dengan cepat kembali ke rumah penginapan.

Beberapa jalan raya sudah diseberangi, ketika ia tiba satu tombak dari pintu penginapan, tiba-tiba bayangan manusia munculkan diri dari bawah wuwungan rumah, sambil menampakkan diri ia meregur lirih.

"Saudara cilik, tunggu sebentar!"

Siau Ngo-ji terperanjat dan mundur dua langkah, ketika mengang-kat kepalanya bocah itu kontan merasa terperanjat.

Seorang gadis yang cantik jelita bagaikan bidadari berdiri dibawah lampu jalan yang remang-remang, meskipun suasana agak gelap namun kecantikan wajah dara itu sangat mengikat hati, sampai Siau Ngo-ji yang masih kecilpun diam-diam mengagumi.

Gadis itu menengok sekejap sekeliling tempat itu, kemudian mengundurkan diri ke bawah wuwungan rumah, seraya menggape bisiknya.

"Saudara cilik, kemarilah! aku punya urusan penting hendak disampaikan ke padamu!"

"Engkau adalah Pek Kun-gie!"

Tegur Siau Ngo-ji tanpa bergerak. Gadis cantik itu tersenyum dan mengangguk.

"Engkau kenal aku? Ohh! Thian-hong yang beritahu kepadamu?"

Siau Ngo-ji berdiri melongo, pikirnya.

"Aduh mak, betulbetul cantik! apalagi kalau tertawa, waduh bikin hati orang syuur-syuuran.... Hoa toako bisa menampik cintanya, itu menandakan kalau toako betul-betul seorang lelaki yang hebat!"

Sementara itu Pek Kun-gie sudah menggape lagi sambil berseru.

"Kemarilah! jangan berdiri ditenhah jalan, aku punya kabar penting hendak disampaikan kepadamu"

Siau Ngo-ji melangkah maju tapi sekilas bayangan terlintas dalam benaknya, tiba-tiba ia teringat akan Chin Wan-hong, bocah itu segera merasakan hatinya hangat dan segar seolaholah tersorot oleh cahaya sang surya.

Pada mulanya bocah ini adalah seorang anak yatim piatu yang tak punya sanak tak punya keluarga, sedari kecil hidup gelandangan dikota Lok yang, ia kenyang disiksa, hidup menderita dan tak kenal apa artinya kasih sayang.

Meskipun Hoa Hujin, Hoa Thian-hong dan Tio Sam-koh sangat baik terhadap dirinya, kasih sayang itu adalah kasih yang umum dan sama sekali tidak merangsang daya rasanya yang hebat, lain halnya dengan Chiu Wan Hong.

Dara ini bukan saja harus melayani mertuanya dan suaminya, diapun sangat kasih dan menaruh perhatian terhadap Siau Ngo-ji, terutama sekali wataknya yang halus berbudi dan sifat kewanitaan yang tegitu tebal ditambah ketulusan dan kehangatan kasih seorang ibu tercermin begitu tebalnya, membuat setiap ucapan dan gerak-geriknya mengandung kasih sayang dan perhatian yang tak terhingga bagi Siau Ngo-ji.

Walaupun kasih sayang dan perhatian itu ditampilkan secara sederhana dan wajar, namun kesemuanya timbul dari dasar sanu bari yang suci dan sama sekali tiada suatu paksaan atau pura-pura, karena itulah Siau Ngo-ji merasakau daya rangsangan yang besar atas kebaikan yang pernah diterimanya selama ini.

Teringat akan ensonya, timbullah rata permusuhan yang tebal terhadap Pek Kun-gie yang cantik jelita, bocah itu tak berkutik dari tempat semula dan tegurnya ketus.

"Darimana kau kenal diriku?"

Agak terperangah Pek Kun-gie menyuksikan perubahan sikap bocah itu, jawabnya kemudian.

"Aku lihat setiap hari kau bergaul dengan Thian-hong, kalian sering bercakap dan bergurau dengan mesrahnya, tentu saja kuk nali dirimu!"

"Hmm! Hoa toako adalah suami dari enso ku, tentu saja mesrah dengannya, berita penting apa yang hendak kau katakan? sampaikan saja kepadaku, kalau ingin ketemu Hoa toako.... Huuh! jangan mimpi"

Ucapan tersebut sangat menusuk hati Pek Kun-gie, parasnya berubah hebat, lama sekali ia baru pulih kembali seperti sedia kala.

"Engkau adalah sanak dari keluarga Hoa? ataukah sanak dari keluarga Chin Wan-hong?"

Tanyanya kemudian.

"Hmm! enso adalah nyonya muda dari keluarga Hoa, maka aku boleh dianggap sanak dari keluarga Hoa juga sanak dari keluarga Chin"

Pek Kun-gie mengerutkan dahinya, dengan muka murung ia berbisik.

"Usiamu masih muda dan tak tahu urusan, memandang diatas wajah Thian-hong aku tak mau ribut dengan kau...."

Siau Ngo-ji segera tertawa dingin, tukasnya.

"Kau tak mau ribut, justru aku ingin ribut, ayoh jawab apa mau mu menguntit terus perjalananku?"

Hawa nafsu membunuh yang tebal melintas diatas wajah Pek Kun-gie, dia maju dan siap melancarkan serangan maut.

Sebagai putri ketua perkumpulan Sin-kie-pang yang dibesarkan dibawah asuhan ayahnya yang berkekuasaan besar, ia sudah terbiasa bersikap angkuh dan tinggi hati, kalau bukan mencintai Hoa Thian-hong tak mungkin dia sudi hidup menderita, namun sifat tersebut hanya berlaku khusus buat Hoa Thian-hong seorang, bagi orang lain watak angkuh dan kejamnya masih berlaku seperti sedia kala.

Kadangkala kekuatan yang terpancar akibat cinta memang sangat besar, ketika ia maju kedepan tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam benaknya.

Kalau bocah ini aku lukai, Thia Hong pasti akan gusar kepadaku, aku tak boleh sembrono.

Cepat ia tahan tubuhnya dan berseru.

"Beritahu kepada Thian-hong, katakan ada orang hendak gunakan siasat busuk untuk mencelakai jiwa lo hujin dan dirinya, aku akan menunggu disini, cepat suruh dia keluar!"

Stan ngo ji kerutkan dahinya dan tertawa dingin.

"Heeeh.... heeeh.... heeehh aku saja tidak gelisah, kenapa kau musti ribut? bukankah orang Mo-kauw hendak celakai mereka dengan ilmu hioloo darah pembetot sukmanya?"

Tertegun Pek Kun-gie mendengar ucapan tersebut, serunya keheranan.

"Ilmu hioloo darah pembetot sukma? ilmu apaan itu? bukan itu yang kumaksudkan, cepat panggil Thian-hong!"

"Huuhh! kalau ingin adakan pertemuan dengan Hoa toako katakan saja terus terang, pakai akal-akalan segala. Huuhh! tak tahu malu,"

Batin Siau Ngo-ji.

"dianggap dengan perkataan seperti itu, aku lantas ketakutan?"

Berpikir begitu, dengan acuh tak acuh dia pun berkata lagi.

"Tidak sukar kalau suruh aku panggilkan Thian-hong, tapi kabar ini musti aku laporkan kepada enso dulu, kemudian suruh enso yang beritahu toako, setuju tidak?"

Secara lapat-lapat Pek Kun-gie merasakan hatinya sakit seperti diiris, pikirnya.

"Aaai.... keadaan sekarang ibarat harimau turun gunung yang dianiaya kawanan anjing, ooh Thian-hong kenapa kau tidak keluar? apakah kau tidak tahu semalam aku menunggu dirimu ditluar?"

"Bagaimana? setuju tidak?"

Terdengar Siau Ngo-ji menegur dengan uara ketus.

"kalau beritahu saja kepadaku biar aku yang sampaikan, kalau urusan benar serius maka diam-diam akan kusampaikan kepada toako cuma, engkau tetap tak bisa bertemu dengan toako!"

Pek Kun-gie menghela napas panjang.

"Baiklah akan kuceritakan garis besarnya saja, sampaikanlah kepada toako!"

"Bicara pulang pergi kau hanya ingin bertemu dengan toako.... Huuh baiklah ceritakan garis besarnya kepadaku dan nanti akan kuper-timbangkan lagi"

"Sebetulnya...."

Tiba-tiba terdengar dengusan dingin yang menyeramkan memecahkan kesunyian, bagaikan sambaran kilat sesosok bayangan manusia menubruk ke arah Pek Kun-gie.

Merasakan datangnya ancaman, Pek Kun-gie terperanjat dan loncat kebelakang, teriaknya keras-keras.

"Cepat lari pulang"

Belum habis kata-kata itu diutarakan, bayangan tadi kembali menerjang untuk kedua kalinya ke arah Pek Kun-gie dengan kecepatan bagaikan sambaran petir.

Pek Kun-gie putar telapak dan cabut pedangnya, cahaya tajam berkilauan dan ia balas menyerang dengan pedang lemasnya.

Menyaksikan kejadiau itu, Siau Ngo-ji jadi panik, pikirnya.

"Aduuh celaka, kalau Pek Kun-gie mampus, maka berita itu tak bisa disampaikan kepada toako."

Sebagai bocah yang cerdik, dia segera bertindak cepat, sambil kabur kepenginapan ia berteriak keras.

"Hoa toako, cepat keluar Kiu-im Kaucu, Pia Leng-cu...."

OooooOooooo BELUM habis ia berseru, dari atap penginapan menggema bentakan gusar dari Hoa Thian-hong.

"Kiu-im Kaucu, aku orang she Hoa sudah menanti disini!"

Ternyata bayangan marusia yang menyergap Pek Kun-gie bukan lain adalah Kiu-im Kaucu, dia bermaksud membekuk gadis itu dalam satu gebrakan, diluar dugaan sambutan pedang dari gadis itu cukup tangguh membuat tubuhnya meleset dari sasaran, tangan kanannya segera menyodok lewati jaring pedang dan menotok tubuh dara itu.

Kembali Hoa Thian-hong membentak.

"Libat pedang!"

Cahaya hitam secepat kilat meluncur kedepan dan menusuk punggung Kiu-im Kaucu.

Walaupun selisih jarak ada dua tombak, namun pancaran hawa ki kang dari ujung pedang telah mengancam jalan darah Leng tay hiat dipunggung Kiu-im Kaucu, memaksa jago tua itu cepat-cepat harus melindungi diri.

Dengan hati terperanjat Kiu-im Kaucu mundur kebelakang dan melayang beberapa tombak kesamping.

Cahaya hitam lenyap dari udara Hoa Thian-hong berdiri di tengah jalan dengan gagah, mulutnya membungkam dalam seribu bahasa.

Lega hati Pek Kun-gie setelah lolos dari ancaman, sambil tuding Kiu-im Kaucu ujarnya.

"Thian-hong, ia telah menyusun rencana keji, besok pagi...."

"Budak cilik, rupanya kau sudah bosan hidup!"

Seru Kiu-im Kaucu dengan nada seram. Peras muka Hoa Thian-hong berubah, ia menghadang didepan Pek Kun-gie sambil berseru dengan suara dalam.

"Kun Gie, mundurlah agak jauh!"

Pedang bajanya diayun dan segera mengebas keudara kosong.

Pek Kun-gie tertegun, ketika ia angkat kepala tampaklah diujung pedang baja milik Hoa Thian-hong telah menempel tiga batang duri racun yang panjangnya beberapa cun serta berwarna hitam tak mengkilap.

Ketiga batang duri racun itu meluncur tanpa menimbulkan suara ataupun kerlipan cahaya, sementara tangan kiri Kiu-im Kaucu memegang tongkat kepala setan, tangan kanan tertutup dibalik baju yang lebar dan sama sekali tidak nampak sesuatu gerak apa pun, sergapan macam itu boleh dibilang sangat lihay sekali.

Istri Hoa Thian-hong adalah seorang ahli racun yang lihay, sedikit banyak pemuda itupun kenal dengan kepandaian tersebut, dari warna duri racun itu ia tahu bahwa bahan racun yang digunakan pada ujung senjata tersebut merupakan racun yang amat jahat, tanpa terasa peluh dingin membasahi tubuhnya, iapun semakin waspada menghadapi Kiu-imkauwcu yang kejam.

Ssraeotara itu telah terperangah sebentar"

Pek Kun-gie segera berseru lantang.

"Thian-hong, orang itu mempunyai maksud jahat kepadamu, jangan kau ampuni ampuni jiwanya?....

"Aku tahu, turunlah ke bawah wuwungan rumah!"

Tiba-tiba Siau Ngo-ji berseru.

"Toako, apa yang kau lihat? kalau benda yang beracun, simpanlah dan nanti tunjukkan kepada enso!"

"Cepat pulang, dan jangan tetap berada diluaran!"

Bentak Hoa Thian-hong dengan gusar.

"Enso suruh aku menjaga disini, sekalian awasi sekitar gelanggang kalau ada orang yang hendak menyergap dirimu!"

Setiap perkataannya tak lupa mengucap kan kata enso dan rupanya sengaja di tujukan kepada Pek Kun-gie.

Dara itu berubah wajahnya, ia merasakan hatinya seperti di tusuk-yusuk oleh pisau yang tajam, Hoa Thian-hong sendiri tentu saja mengerti pula maksud tujuan bocah itu, pikirnya dihati.

"Kurangajar, rupanya dia memang sengaja sedang menyakiti hati Kun Gie...."

Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa ia robek bajunya untuk bungkus duri beracun tadi dan segera dilempar kebelakang, hardiknya.

"Ayoh cepat kembali kerumah penginapan!"

Siau Ngo-ji pungut bungkusan itu dan berpikir.

"Toako sudah kehilangan muka, kalau aku teruskan olokolok ini niscaya dia akan gusar...."

Berpikir sampai disitu, segera teriaknya.

"Toako tak usah gugup, aku akan undang kedatangan enso!"

Sambil berseru dia kabur kedalam penginapan. Hoa Thian-hong segera berpikir dalam hati.

"Setan cilik ini pilih kasih dan terlalu condong kepadi enci Hong, kalau ia betul-betul undang ensonya, waah.... Kun Gie pasti akau dibuat serba salah...."

Berpikir sampai disitu, ia berpaling ke arah Pek Kun-gie dan berkata.

"Cepatlah pulang kerumah, jangan berdiam diluaran, kalau aku bisa keluar rumah pasti akan...."

Sebetulnya pemuda itu hendat bilang, kalau dia bisa keluar rumah pasti akan berkunjung kebukit Toa pa san untuk menjenguk dirimu, tapi ingatan lain segera berkelebat dalam benaknya, ia teringat kalau dia sudah punya istri sedang dara itu masih perawan maka kata yang hampir meluncur segera di telan kembali.

Senyum kemurungan tersungging diujung bibir Pek Kungie, katanya.

"Engkau tak usah menguatirkan aku, Kiu-im Kaucu kejam dan punya rencana busuk dia hendak...."

Sambil tertawa seram Kiu-im Kaucu segera menukas.

"Pek Kun-gie, meskipun dari dulu kaum pria tidak setia pada janji, dan kaum wanita gampang jatuh cinta, namun keadaanmu benar-benar menggelikan hati."

Merah jengah selembar wajah Pek Kun-gie, teriaknya dengan gusar.

"Lebih baik jangan kau campuri urusan kami!"

"Hmm! dia tak boleh mencampuri, aku nenek tua justru akan mencampuri kau mau apa?"

Tiba-tiba suara Tii Sam-koh menggelegar ditengah udara.

Bersama dengan kehadirannya, toya baja tersebut mengiringi deruan angin tajam langsung menghajar batok kepala gadis itu.

Hoa Thian-hong jadi gegetun, serunya dengan gelisah.

"Eee.... nenek Sam popo...."

Dengan suatu gerakan yang manis, Pek Kun-gie mengegos kesamping, setelah lolos dari ancaman tersebut dengan gusar ia membentak pedangnya menyambar kemuka melepaskan serangan balasan.

Hoa Thian-hong semakin gelisah, dengan nada setengah merengek serunya.

"Nenek Sam popo, berhenti! jangan main serang.... ada persoalan kita selesaikan secara baik-baik!"

Tio Sam-koh sama sekali tidak menggubris, serangan toyanya makin gencar dan jurus maut dilepaskan secara bertubi-tubi membuat Pek Kun-gie tak sanggup menahan diri dan terjerumus dalam keadaan yang sangat berbahaya.

Hoa Thian-hong semakin gelisah hingga mendepak kakinya berulang kali, sebagai keturunan seorang terhormat pemuda itu tak berani turun tangan terhadap Tio Sam-koh, maka ia cuma bisa gelisah tanpa sanggup melakukan sesuatu apapun.

Kiu im kaicu yang menyaksikan kejadian itu, dalam hatipun segera berpikir.

"Agaknya budak itu mengetahui rencana besarku, ia berusaha membaiki bocah keparat she Hoa, sedang keparat dari keluarga Hoa masih cinta kepada budak itu dan tak tega melihat gadis itu mampus ditangan orang.... inilah suatu pertunjukkan yang menarik hati!"

Kemudian pikiran lain berkelebat pula dalam benaknya.

"Ilmu silat yang dimiliki Pek Siau-thian sangat lihay, diapun berhasil mempelajari isi catatan ilmu pedang Kim keng bu kui, kemajuan yang diraih pasti luar biasa, kekuatannya mungkin jauh lebih ampuh dari keadaan tempo hari, selama Pek Kungie masih hidup keluarga Hoa dan keluarga Pek tak mungkin bentrok satu sama lain, itu berarti Kiu-im Kaucu harus menghadapi musuh dari dua arah, sebaliknya kalau nenek itu membunuh Pek Kun-gie, maka dendam kesumat pasti terjalin antara dua keluarga, sedang Kiu-im Kaucu akan mencari untung dari situasi ini, aku harus manfantkan peluang ini sebaik-baiknya....!"

Berpikir sampai disitu, dia tertawa seram dan berseru.

"Pek Kun-gie, cepat kabur dari sini, engkau cantik dan menarik, cepat atau lambat Hoa Thian-hong pasti tunduk dibawah gaunmu, kalau nyawamu keburu mampus, ooooh sayang sekali!"

Tio Sam-koh segera membatin.

"Betul juga perkataannya, siluman rase ini cantik bagaikan bidadari yang turun dari kahyangan, Hong ji jauh bukan tandingannya. Setiap pria sudah pasti akan terpikat oleh kecantikannya itu, kalau siluman rase ini di biarkan hidup, akhirnya Seng ji pasti terjatuh kedalam pelukannya lebih baik cepat dibunuh, daripada memelihara harimau di kandang domba."

Berpikir sampai disini, permainan toyanya dipergencar, serangan maut dilepaskan bertubi-tubi memaksa Pek Kun-gie kerepotan dan kian lama kian terdesak hebat.

Hoa Thian-hong merasakan hatinya panas bagaikan minyak mendidih, ia berputar disekitar gelanggang sambil bersiap sedia bila Pek Kun-gie menjumpai mara babaya, ia siap memberi pettolongan.

Tiba-tiba Kiu-im Kaucu berteriak lagi.

"Pek Kun-gie, cepat pergi! jangan engkau paksa Hoa Thianhong berkelahi sendiri dengan Tio Lo tay kalau sampai terjadi begitu, ooh! kasihan Hoa Thian-hong, dia akan dicemooh orang sebagai manusia yang berani melawan tingkatan tua!"

Hoa Thian-hong gusar sekali, hardiknya.

"Kalau engkau menghasut terus, jangan salahkan kalau aku orang she Hoa bertindak kurangajar!"

"Binatang cilik, enyah dari sini!"

Bentak Tio Sam-koh dengan gesar.

Weeess!

toyanya disapu kedepan dengan gerak mendatar.

Meskipun berilmu tinggi, Hoa Thian-hong tak berani melawan, ia segera mengegos kesamping.

Sapuan toya itu mengena disasaran kosong, menggunakan kesempatan yang baik ini, Pek Kun-gie gigit bibir dan melepaskan satu serangan balasan yang hebat.

Hawa amarah yadg berkobar dalam dada Tio Sam-koh makin memuncak, permainan toyanya segera berubah, ia kurung Pek Kun-gie dibawah bayangan toyanya yang berlapis lapis dan mendesaknya habis-habisan.

Hoa Thian-hong makin gelisah hingga hampir saja mengucurkan air mata, ia lihat Pek Kun-gie makin kepayahan dan terkurung kembali dalam lapisan toya Tio Sam-koh.

Tiba-tiba nenek tua itu membentak nyaring diiringi desiran angin tajam, toya baja itu menghantam batok kepala Pek Kungie.

Serangan itu dilancarkan dengan kecepatan luar biasa, tak sempat bagi Pek Kun-gie untuk menghindar, dalam gugupnya dia angkat pedang lemasnya untuk menangkis.

Hoa Thian-hong amat terperanjat, ia tahu sambaran toya itu luar biasa dahsyatnya kalau ditangkis dengan pedang niscaya gadis itu akan mati konyol, dalam gelisahnya tanpa berpikir panjang ia segera menubruk kemuka dan melindungi Pek Kun-gie dengan tubub sendiri Tio Sam-koh makin gusar menyaksikan kejadian itu namun dia pun tak bisa lanjutkan serangannya untuk menghajar Hoa Thian-hong, dengan mendongkol terpaksa ia miringkan toyanya kesamping dan menyambar disamping pemudi itu.

Hoa Thian-hong segera menggulung tubuh Pek Kun-gie dengan lengan kirinya kemudian mundur dengan cepat, menanti Tio Sam-koh memburu kedepan, dua orang muda mudi itu sudah jauh mundur kebelakang.

Diam-diam Kiu-im Kaucu merasa gegetun, pikirnya.

"Sayang.... oooh. sungguh sayang.... kalau sambaran toya itu dilanjutkan niscaya dua orang muda mudi itu sudah mampus!"

Setelah melangsungkan pertarungan sengit, seluruh tenaga Pek Kun-gie sudah terkuras habis, rambutnya jadi kusut dan bajunya basah oleh keringat, mukanya yang cantik berubah merah padam, napasnya tersengkal dan hampir saja tak mampu berdiri tegak.

Hoa Thian-hong merasa amat kasihan, sebagai pemuda yang berjiwa kesatria ia iba dan terharu melihat Pek Kun-gie menderita karena dia, rasa cintanya atas gadis itu makin menebal.

Terdengar Tio Sam-koh membentak dengan gusar.

"Binatang cilik! engkau berani melindungi perempuan rendah itu? kau sudah lupa dengan peringatan dari Kiu-tok Sianci?"

Hoa Thian-hong menghela napas panjang, wajahnya amat sedih, pikirnya dihati.

"Masalah ini ibarat simpul tali mati kalau aku sudah mampus urusan ini baru selesai....!"

Dengan ilmu menyampaikan suara bisik-nya kepada dara itu. Gie!, bersediakah engkau turuti omonganku?"

Beberapa patah kata yang singkat dan sederhana mendatangkan perasaan mesrah yang sukar dilukiskan dengan kata-kata, bagi Pek Kun-gie, perasaannya jadi hangat dan dua titik air mata jatuh berlinang, ia mengangguk lirih.

Hoa Thian-hong tertawa sedih.

"Aku minta cepatlah pulang kerumah dan temani ibumu engkau bersedia....?"

Tio Sam toh naik pitam, bentaknya dengan penuh kegusaran.

"Aku larang kalian berbicira dengan ilmu menyampaikan suara!"

Pek Kun-gie tertegun beberapa saat, lalu dengan air mata bercacaran dia mengangguk.

"Aku bersedia, tapi.... kapan kau datang menjenguk aku?"

Sekali lagi Tio Sam-koh hentakkan toya-nya keatas tanah, dengan langkah lebar ia maju kedepan, kembali teriaknya.

"Bagus! bagus sekali! binatang cilik perempuan rendah.... berani benar kalian mengikat janji.... rupanya kalian punya hubungan gelap...."

Tiba-tiba Kiu-im Kaucu tertawa, dia menyindir lagi. Pek Kun-gie, kalau engkau tidak sadar terus, rumah tangga orang yang bahagia segera akan berantakan. Tio Sam-koh terkesiap, pikirnya.

"Benar juga perkataan itu! kecantikan perempuan rendah itu luar biasa, ia mati-matian memikat Seng ji, sedang bocah keparat itu rupanya sudah terpikat oleh kecantikannya, sekarang masih bisa dicegah hubungan itu karena Siau Ih masih hidup, tapi setelah Siau Ih mati dan binatang ini tak ada yang urus, dengan ilmu silatnya yang ampuh siapa lagi yang bisa menghalangi hubungan cintanya? Hong ji jujur dan berhati lemah tak mungkin ia bisa kendalikan tingkah pola suaminya, sekalipun Kiu-tok Sianci munculkan diri belum tentu ia mampu kalahkan binatang itu.... bukankah rumah tangga yang ba hagia benar-benar akan jadi berantakan?"

Sementara itn Pek Kun-gie sedang berbisik dengan sedih.

"Katakanlah! sepuluh? delapan tahun? sekalipun sepanjang masa aku hanya menanti jawabanmu, aku segera menantikan kedatangan mu dirumah."

Air mata bercucuran membasahi wajah Hoa Thian-hong, sahutnya.

"Gi! engkau harus tahu keadaanku, aku"

"Bagus bagus sekali!"

Pikir Tio Sam-koh dihati.

"binatang binatang terkutuk! rupanya engkaupun menaruh hati kepadanya, perasa an tersebut tak berani kau perlihatkan karena desakan keadaan. Hmm kalau suatu hari keadaan telah berubah, apa saja yang dapat kau lakukan??"

Dengan sorot mata berapi-api dan penuh pancaran cahaya nafsu membunuh, nenek tua itu putar toya dan menerjang kembali.

Hoa Thian-hong terkesiap, dia maju dan menghadang didepan Pek Kun-gie, serunya sambil tertawa paksa.

"Sam popo....!"

"Tutup mulut! aku tahu kalau Pek Kun-gie kubunuh maka selamanya engkau akan membenci diriku."

"Seng ji tak berani membenci Sam po po"

Bisik Hoa Thianhong dengan air mata bercucuran. Tidak sempat pemuda itu selesaikan perkataannya, Tio Sam-koh telah menukas.

Baca Juga: Kembalinya Sang Pendekar Rajawali 3

Baca Juga: Pedang Langit Dan Golok Naga 10

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert