Eps 7 Tiga Maha Besar - Khu Lung
Baca online Tiga Maha Besar - Khu Lung
Cersil Tiga Maha Besar - Khu Lung.
"Kalau mau membenci silaukan membenci, aku adalah sahabat ibumu, dengan mata kepala sendiri aku lihat Hong ji kawin dengan kau. Hmm! seorang lelaki ingin kawin dua kali? Kemana larinya tanggung jawab mu? Untuk selamatkan keluarga Hoa, kehidupan Hong ji dan nama baik kita semua, ini hari aku bersumpah akan bunuh Pek Kun-gie sampai mampus, sekalipun kau akan membenci aku, aku tak ambil perduli.... pokoknya Pek Kun-gie tak bakal hidup tinggalkan tempat ini!"
Hoa Thian-hong amat terperanjat, peluh dingin membasahi tubuhnya, sekarang ia telah paham apa sebabnya Tio Samkoh berkeras akan membunuh Pek Kun-gie, rupanya tidak lain tidak bukan dia ingin melindungi nama baik keluarga Hoa.
Dalam pada itu, Tio Sam-koh telah putar toya sambil menubruk maju, dengan muka menyeringgai, bentaknya.
"Ayoh cepat enyah dari sini atau segera putar pedang layani seranganku, kalau tidak...."
Hoa Thian-hong tercekat hatinya, sambil menghadang didepan Pek Kun-gie, ia berteriak.
"Kun Gie cepat lari...."
Pek Kun-gie dapat merasakan gawatnya situasi, kalau ia tidak pergi maka Hoa Thian-hong pasti akan melindungi dirinya dan pemuda itu bakal mampus termakan sapuan toya Tio Sam-koh, dengan hati perih dan menangis tersedu-sedu dara itu segera putar badan dan tinggalkan tempat itu.
Tio Sam-koh adalah seorang nenek tua yang benci segala kejahatan, sejak lama dia sudah mendendam pada anggota perkumpulan Sin-kie-pang, setelah nafsu membunuhnya berkobar sukarlah untuk dicegah kembali, melihat Pek Kun-gie kabur dia segera membentak dan mengejar dari belakang.
Hoa Thian-hong amat terperanjat, cepat-cepat ia mengejar pula dari belakang.
Kiu-im Kaucu tertawa seram, tiba-tiba ia berseru.
"Hoa Thian-hong, mau lari kemana? sambutlah sebuah seranganku."
Weeesss!
sebuah sapuan dahsytat segera di lontarkan.
Hoa Thian Hoag sangat membenci akan ketajaman lidah Kiu-im Kaucu yang selalu menghasut perpecahan diantara mereka, justru karena hasutannya membuat Tio Sam kob bersikeras akan bunuh Pek Kun-gie, ia kuatir dara itu bakal mati termakan hasutan dari Kiu-im Kaucu, sebab watak dari Tio Sam-koh sudah sangat dikenal olehnya.
Makin dipikir ia semakin gusar, sambil tertawa seram pedangnya dibacok kedepan.
"Criing....!"
Benturan keras terjadi, pedang dan toya saling membentur satu sama lain nya, letupan bunga api bermuncratan keem pat penjuru, dengan tubuh gemetar keras mereka sama-sama tergetar mundur satu langkah Sejak dilahirkan belum pernah Hoa Tniao Hong mengalami kegusaran seperti hari ini, darah panas dalam dadanya terasa bergolak keras, dengan penuh kemarahan ia menerjang kemuka dan bentaknya nyaring.
"Sambutlah bacokanku ini!"
Dengan gerakan membacok rata bukit Hoa san, suatu jurus yang sederhana tapi cepat bagaikan sambaran kilat, pemuda itu lancarkan sebuah bacokan dahsyat ke arah musuhnya.
Kiu-im Kaucu tak ingin adu tenaga lebih jauh, sebab ia tahu tenaga dalam pemuda itu tidak berada dibawahnya, tapi dalam keadaan begitu mau tak mau terpaksa ia harus menyambut datangnya bacokan dengan jurus menyeberangi samudra dengan jembatan emas.
"Criing....!"
Sekali lagi terjadi benturan keras, pedang baja membacok keras diatas toya kepala setan membuat batu hijau yang diinjak Kiu-im Kaucu hancur berkeping-keping, sepasang kakinya terbenam sedalam dua tiga tun.
Dengan kalap Hoa Thian-hong membentak kembali.
"Makanlah bacokanku ini!, makan bacokan ini! makan bacokan...."
Criiing!
Criiing!
Criing!
benturan nyaring berpadu dengan bentakan kalap menciptkan suara tajam yang memecahkan kesunyian ditengah malam itu, begitu nyaring suaranya sampai separuh kota Lok yang jadi gempar dibuatnya.
Sesaat kemudian pintu penginapan terbentang, Chin Wanhong sambil memayang mertuanya lari ke arah jalan raya.
Tampaklah sepasang kaki Kiu-im Kaucu sudah terbenam ditanah sebatas lutut, rambutnya terurai lucu, mukanya menyeringai seram sementara Hoa Thian-hong sambil putar pedang bajanya membacok tubuh Kiu-im Kaucu dengan kalap, bentakan-bentakan dahsyat menggelegar tiada hentinya membuat pemuda itu ibaratnya iblis yang sudah gila.
Pemandangan yang terbentang didepan mata pada waktu itu benar-benar mendebarkan hati, dua orang jago lihay dengan putar dua macam senjata yang berbeda saling membacok dengan dahsyatnya.
Hoa Hujin amat terperanjat, ia tak habis mengerti apa sebab terjadinya pertarungan itu, meskipun ilmu silatnya sudah punah, pengalaman dan pengetahuannya bertambah luas.
Dalam sekilas pandangan ia telah mengetahui bahwa posisi Kiu-im Kaucu masin kuat dan belum kalah, kendatipun keadaannya sangat mengenaskan, sedang putranya walaupun berada dipihak penyerang namun sama sekali tidak meraih keuntungan apa-apa, bila pertarungan seperti ini dilanjutkan maka akhirnya lebih baik korban jiwa daripada merebut kemenangan.
Chin Wan-hong dengan air mata bercucuran segera berseru.
"Ibu, apa yang telah terjadi?"
Hoa Hujin angkat bahu, tiba-tiba ia membentak keras.
"Seng ji, serang tubuh bagian bawah!"
Sejak kecil Hoa Thian-hong sudah biasa menuruti perkataan ibunya, meskipun sekarang pikirannya sudah kabur terpengaruh hawa amarah namun pendengarannya masih tajam.
Mendengar seruan terebut, tanpa berpikir panjang lagi pedangnya segera berputar menyapu tubuh bagian bawah dari Kiu-im Kaucu.
Ketua dari perkumpulan Kiu-im Kaucu ini membentak nyaring, tiba-tiba toyanya disilang kebawah....
Traaang!
sekali lagi terjadi ben trokan nyaring, nenek tua segera loncat naik keudara dan menggunakan daya pantul tersebut badannya meleset sejauh empat tombak dari tempat semula.
Hoa Thian-hong melotot besar, dengan sinar berapi-api ia memburu kedepan dengan langkah lebar.
"Engkoh Hong, jangan dikejar! jerit Chin Wan-hong sambil menangis. Kiu-im Kaucu sendiri tanpa mengucapkan sepatah katapun segera berlalu dari sana sambil menyeret toya kepala setannya, suara gemerincingan yang nyaring mengiringi langkahnya yang sempoyongan. Meskipun langkahnya lambat, Hoa Thian-hong jauh lebih lambat lagi, ternyata pemuda itu tak mampu menyusul lawannya. Pada saat itulah Tio Sam-koh muncul dari seberang jalan, ketika mereka berpapasan nenek she Tio itu dengan muka hijau membesi dan amat tak sedap dipandang segera melancarkan satu serangan keatas kepala Kiu-im Kaucu. Atas datangnya ancaman itu Kiu-im Kaucu sana sekali tak berkutik, menanti toya baja hampir mengenai kepalanya dia baru tarik senjatanya untuk menangkis. Traaang....! benturan nyaring memekikkan telinga, Tio Sam-koh merasa telapak tangannya jadi pecah, toya baja mencelat keudara dan jatuh diatas atap rumah. Tio Sam-koh tertegun, ketika Kiu-im Kaucu lewat disisinya dengan sempoyongan ia tak tahu musti mengejar atau menghindar. Hoa Hujin dengan alis berkernyit segera berseru kepada menantunya.
"Luka dalam yang diderita Seng ji amat parah, cepat bimbing dia pulang kepenginapan!"
Buru-buru Chin Wan-hong menyusul kedepan, sambil memayang suaminya ia berbisik lembut.
"Engkoh Hong, ibu suruh kau kembali, tak usah dikejar lagi!"
Hoa Thian-hong terperangah, ia lirik sekejap ke arah Tio Sam-koh lalu putar badan dan kembali kepenginapan.
Demikianlah, dibawah bimbingan istrinya, Hoa Thian-hong kembali kedalam kamar, Hoa Hujin dan Tio Sam-koh mengikuti dibelakangnya, lewat sesaat Siau Ngo-ji muncul pula sambil memikul toya nenek Sam popo nya, semua orang membungkam dan suasana amat sunyi.
Chin Wan-hong Sangat menguatirkan keselamatan suaminya, lama kelamaan habislah sabarnya, ia segera berbisik lembut kepada suaminya.
"Engkoh Hong, cepatlah semedi dan atur pernapasan, luka dalammu sangat parah, kalau tidak diobati maka luka itu akan semakin parah!"
Hoa Thian-hong mengangguk, tapi ia tetap tak berkutik dari tempat semula.
Chin Wan-hong memelelehkan air matanya, ia berpaling ke arah mertuanya dan berharap Hoa Hujin yang suruh pemuda itu duduk bersemedi.
Hoa Hujin kerutkan dahinya rapat-rapat, setelah hening sebentar akhirnya sambil tertawa ia berkata.
"Sam-koh, menang kalah adalah kejadian yang umum bagi kita orang persilatan, ceritakanlah apa yang telah terjadi?"
"Pek Kun-gie telah mampus diujung toya ku!"
Teriak Tio Sam-koh dengan penuh kegusaran.
Paras muka Hoa Hujin dan Chin Wan-hong berubah hebat, lebih-lebih gadis she Chin, sambil menjerit kaget tubuhnya gemetar keras.
Tiba-tiba Hoa Thian-hong berseru tertahan, ia muntah darah segar hingga seluruh tubuhnya basah oleh darah....
Chin Wan-hong semakin ketakutan, ia segera menggunakan secarik kain untuk menyeka noda darah diujung bibir suaminya, bibir bergetar seperti mau mengucapkan sesuatu namnn tak sepatah katapun yang sanggup di utarakan keluar.
Rupanya ketika Siau Ngo-ji belum kembali juga, semua orang merasa kuatir dan segera menyuruh Hoa Thian-hong mengamati dari atas atap rumah sekalian meronda disekitar sana untuk mencegah ada musuh menyusup masuk.
Baru saja pemuda itu meronda, tiba-tiba dia saksikan Kiuim Kaucu menyergap Pek Kue Gie, ia segera menburu ketempat kejadian un tuk memberi pertolongan.
Siau Ngo-ji sendiri setelah lari kembali kepenginapan, segera menceritakan kejadian itu kepada semua orang, Tio Sam-koh ingin melihat keadaan dan ikut keluar rumah, siapa tahu malah terjadi kejadian seperti diatas, karena itu Hoa Hujin berdua yang tinggal dikamar sama sekali tak tahu apa yang sudah terjadi.
Sekarang ketika Hoa Hujin mendengar laporan yang mengatakan bahwa Tio Sam-koh telah membunuh Pek Kungie dan dari sikap dan gerak-geriknya yang gusar sama sekali tak menunjukkan kebohongannya, segera mengira apa yang dikatakan benar-benar telah terjadi, sambil berusaha tetap tenang diapun berkata.
"Kalau toh sudah dibunuh yaaa sudahlah, dua puluh tahun terakhir memang ada delapan sembilan puluh persen jago dari golongan lurus dan sesat yang telah mampus, mereka yang takdir harus mampus akhirnya tetap mampus, yang harus hidup tetap akan hidup, mereka yang sudah mati tak akan bangkit kembali, buat apa kita pusing memikirkan persoalan ini?"
"Siapa yang bilang aku pusing?"
Teriak Tio Sam-koh penuh kemarahan.
"Sam popo, sudahlah jangan bicara lagi!"
Pinta Chin Wanhong dengan sedih.
"Hnm aku senang bicara, siapa yang berani melarang aku?"
Hoa Hujin tertawa paksa.
"Nenek tua, toh tak ada orang yang bilang perkataanmu salah, buat apa musti berteriak-teriak?"
Kepada putranya ia melanjutkan.
"Aku tahu Pek Kun-gie mencintaimu, kalau dibicarakan dia memang patut dikasihani apalagi kedatangannya pada malam ini adalah untuk memberi kabar buruk untukmu pergilah untuk urusi layonnya dan simpan dalam kuil, aku rasa orang-orang dari Sin-kie-pang pasti akan mengangkutnya kembali ke bukit Toa pa san."
"Ibu....!"
Pinta Chin Wan-hong dengan alis mata bercucuran.
"bagaimana kalau kita angkut kembali ke perkampungan Liok Soat Sanceng dan dikubur dalam kuburan keluarga kita?"
"Tak mungkin, pertama tak cocok dengan adat istiadat dan kedua Pek Siau-thian belum tentu setuju!"
Perlahan-lahan Hoa Thian-hong bangkit berdiri, bisiknya dengan suara kaku.
"Ananda segera pergi!"
Ia putar badan dan melangkah ke pintu.
"Gelinding kembali!"
Tiba-tiba Tio Sam-koh membentak nyaring. Hoa Thian-hong kembali kehadapan nenek tua itu sambil bertanya.
"Sam popo masih ada pesan apa?"
Dari sikapnya yang kaku dan suaranya yang kosong dan hampa, Chin Wan-hong tahu bahwa suaminya amat sedih hingga kelewat batas, ia jadi murung sekali, kepada Hoa Hujin pintanya.
"Ibu, bolehkah aku menemani engkoh Hong?"
Hoi hujin berpikir sebentar, lalu mengangguk.
"Baiklah, hati-hatilah dijalan dan hadapi semua urusan dengan seksama!"
Tiba-tiba Tio Sam-koh tertawa dingin, katanya.
"Pek Kungie belum mampus! ketika aku mengejar dan beri sebuah babatan, sayang babatan itu tidak mengena disasaran.... Haaah.... haaah sayang! sayang! haaah.... haah.... itulah balasannya!"
Sekujur badan Hoa Thian-hong bergetar keras, matanya melotot bulat dan menatap Tio Sam-koh tanpa berkedip. oooooOooooo "SAM POPO!"
Rengek Chin Wan-hong dengan sedih.
"aku tahu engkau paling sayang Hong ji, tapi bagaimana keadaan Pek Kun-gie? apa yang musti disayangkan? apa pula yang kau artikan sebagai balasannya, Sam popo, berilah keterangan yang jelas!"
Tio Sam-koh tertawa dingin.
"Heeeh.... heeeh.... heeeehh.... pukulan toyaku meleset dari sasaran, apakah aku tak patut merasa sayang? soal balasan.... haaah.... haaah.... lebih baik tak usah dibicarakan lagi."
"Hey nenek tua, kau ikut jadi edan?"
Tegur Hoa Hujin.
"Hmm! jadi kalian ingin tahu?"
"Benar! persoalan ini menyangkut masalah besar, tentu saja kami ingin tahu."
Tio Sam-koh tertawa seram.
"Heeh.... heeh.... heeeh.... baiklah, aku akan beritahukan kepada kalian, Pek Kun-gie telah lolos dari ayunan toyaku dan dia ditawan orang lain"
"Ditawan siapa?"
Tanya Hoa Hujin keheranan.
"Pia Leng-cu!"
Paras muka Hoa Hujin berubah hebat, hatinya jauh lebih bergetar daripada mendengar berita kematian Pek Kun-gie.
Tiba-tiba Hoa Thian-hong sempoyongan, sekali lagi ia muntah darah segar.
Chin Wan-hong merasakan hatinya sakit bagaikan di irisiris, cepat ia bimbing suaminya dan merengek.
"Engkoh Hong, engkau harus jaga diri, memandang diatas wajah ibu, kau harus jaga diri!"
Setelah berhenti sebentar, lanjutnya.
"Ibu perkumpulan Thong-thian-kauw boleh dikata hancur ditangan Pek Siauthian, apalagi Pia Leng-cu berhasil tangkap Pek Kun-gie, dara itu pasti akan dibunuh...."
"Kalau dibunuh sih tak perlu dikuatirkan!"
Kata Hoa Hujin sambil menghela napas panjang.
"yang kutakuti justru...."
"Lalu bagaimana sekarang?"
Seru Chin Wan-hong pula dengan murung, tiba-tiba ia sadar apa yang dimaksudkan sebagai kejadian yang menakutkan itu, anggota badannya jadi dingin dan tubuhnya gemetar keras.
"Aaai!"
Hoa Hujin menghela napas panjang.
"dendam kesumat antara kedua belah pihak amat dalam, kecantikan Pek Kun-gie kelewat batas, sebagai siluman dari Thong-thiankauw yang merupakan kawanan manusia cabul, aku takut kalau Pia Leng-cu...."
"Ibu"
Tiba-tiba Chin Wan-hong berlutut dengan air mata bercucuran. Hoa Hujin kembali menghela napas panjang.
"Katakanlah, kalau ingin bicara asal tidak melanggar kebiasaan umum dan bertentangan dengan perbuatan seorang kesatria, aku pasti akan ijinkan!"
Tio Sam-koh melotot bulat, dengan gusar selanya.
"Siau Ih! apa maksud perkataanmu itu? engkau bilang perbuatanku telah melanggar kebiasaan umum dan bertentangan dengan perbuatan seorang kesatria?"
"Sam-koh, jangan ribut dahulu,"
Sahut Hoa Hujin sambil tertawa.
"sekarang dihadapan anak-anak akan kukatakan sesuatu hal untuk menghilangkan rasa curiga yang mencekam hatimu"
"Katakan!"
Seru Tio Sam-koh sambil tertawa dingin. Air muka Hoa Hujin berubah jadi amat serius, katanya.
"Kecantikan Pek Kun-gie ibaratnya bidadari yang turun dari kayangan, dia merupakan incaran dari setiap pria dan pemuda di dunia, Hong ji berbakti dan jujur, dia adalah contoh menantu yang paling baik, sedang aku Bun Siau-ih belum tua...."
"Maksudmu aku Tio Sam-koh sudah tua reyot dan tak berguna lagi?! tukas nenek itu marah. Hoa Hujin tersenyum, dengan serius lanjutnya.
"Nenek tua, ringkasnya saja aku katakan, keluarga Hoa dapat memperoleh Hong ji sebagai menantu, kejadian ini merupakan sesuatu yang beruntung bagi keluarga kami dan aku Bun Siau-ih sudah merasa amat puas serta tidak mengharapkan apa-apa lagi, kau anggap aku bisa sia-siakan dirinya?"
Semua orang membungkam dalam seribu bahasa, sebab perkataan itu bukan saja tegas bahkan meyakinkan.
Walaupun ilmu silat yang dimiliki Hoa Hujin sudah punah, tapi kegagahan serta jiwa kesatrianya masih merupakan lambang kebenaran bagi kaum lurus didunia persilatan, ia tak akan bicara sembarangan.
mencemooh orang dengan seenaknya atau memuji seseorang tanpa dasar yang kuat, kejujuran serta keterbukaannya ini sangat dikagumi dan dihormati umat persilatan dan apa yang dikatakan tegar bagaikan emas.
Oleh sebab itulah walaupun Tio Sam-koh seorang jago yang berwatak keras, akan tetapi hatinya takluk dan kagum sekali terhadap jago wanita itu.
Chin Wan-hong terharu sekali hingga air mata bercucuran, sapanya lirih.
"Ibu...."
"Bangunlah, mari kita bicarakan lebih jauh!"
Ujar Hoa Hujin lembut. Tio Sam-koh segera berpaling dan melotot gemas ke arah Hoa Thian-hong, katanya ketus.
"Hey, mengertikah engkau dengan kata yang berbunyi, Ibu bijaksana istri setia? keluarga Hoa bukan keluarga kecil yang kampungan, engkau harus sadar akan hal ini."
"Selamanya Seng ji selalu cinta dan hormat kepada enci Hong"
Sahut Hoa Thian-hong.
"Kalau memang begitu, kularang engkau mencintai orang lain!"
Hardik Tio Sam-koh. Melihat suaminya dibuat tersipu-sipu, Chin Wan-hong segera menukas.
"Meskipun Pek Kun-gie berasal dari keturunan gerombolan persilatan, tapi dia pribadi adalah seorang gadis yang suci bersih...."
"Jangan memuji musuh! kembali Tio Sam-koh memotong dengan nada geram. Chin Wan-hong tertegun, ketika dilihatnya paras muka mertuanya tetap wajar, ia memberanikan diri dan berkata lagi kepada diri Tio Sam-koh.
"Sam popo, walaupun Pek Kun-gie berasal dari lumpur namun ia sendiri sama sekali tidak ternoda, dia benar-benar seorang nona yang luar biasa, andaikata orang lain yang menggantikan kedudukannya, mungkin sedari dulu-dulu mereka sudah terjerumus kedalam lembah kenistaan!"
"Goblok! engkau lupa, ketika untuk pertama kalinya dia menyiksa dan menganiaya Seng ji? Hmmm! sampai matipun aku tak akan melupakan kejadian ini"
"Siksaan terjadi karena cinta, dia hanya ingin paksa engkoh Hong untuk tunduk kepadanya dan sama sekali tiada maksud mencelakainya, seorang manusia sejati tak akan mengingat dendam lama, seorang kesatria tak akan mengingat masalah yang sepele, buat apa kita ingat kejadian yang sudah lampau?"
Sorot matanya dialihkan keatas wajah Hoa Hujin, kemudian melanjutkan.
"Ibu, keluarga kita terkenal karena dasar hidup kita adalah kebajikan dan kebenaran, karena itu engkoh Hong disegani dan dihor mati rekan-rekan persilatan, kalau kita biarkan Pek Kun-gie terjatuh ke tangan Pia Leng-cu tanpa berusaha ditolong, umat persilatan pasti akan mentertawakan kita."
"Bodoh amat budak ini!"
Pikir Tio Sam-koh dihati.
"dia hanya tahu mencari muka di hadapan suaminya, apa tak terpikir olehnya bagaimana akibat dari perbuatannya itu?"
Dalam keadaan terdesak, tiba-tiba dia lihat Siau Ngo-ji duduk terpekur disudut ruangan dengan wajah melongo, dengan gusar dan gemas ia segera mengerling sekejap ke arahnya.
Melihat kerlingan itu, Siau Ngo-ji putar biji matanya dan diam-diam melirik sekejap ke arah Hoa Hujin.
Dengan ilmu menyampaikan suara, buru-buru Tio Sam-koh berbisik.
"Jangan kuatir, kalau punya akal setan utarakan keluar, kalau ada apa-apa akulah yang akan bertanggung jawab!"
Mendengar bisikan itu, Siau Ngo-ji segera berteriak keras.
"Aduuh.... enso!.... aduh...."
"Ada apa?! tanya Chin Wan-hong tercengang. Dengan muka panik dan penuh kegelisahan Siau Ngo-ji berseru.
"Isi perut toako mengalami luka yang sangat parah, kenapa tidak kau buatkan obat agar bisa dia minum?"
"Tiada obat yang lebih baik...."
"Ah, luka yang kuderita cuma luka kecil! tukas Hoa Thianhong dengan cepat"
Asal beristirahat sebentar tentu akan sembuh dengan sendirinya, tak usah minum obat lagi!"
Selesai berkata, ia lantas duduk di kursi dan mulai mengatur pernapasan untuk menyembuhkan luka tersebut.
Sebaliknya Siau Ngo-ji masih tetap ngotot dengan pendiriannya, dengan muka serius dia berkata lagi.
"Duduk bersemedi sambil atur pernapasan memang penting tapi minum obatpun merupakan hal yang penting juga"
"Betul!"
Sambung Tio Sam-koh dengan cepat.
"itu namanya pengobatan luar dalam, dengan begitu pastilah luka yang diderita akan sembuh dengan lebih cepat lagi"
"Dewasa ini musuh tangguh sedang mengitari kita dan toako adalah jenderal perang kita.
"Enso! lebih baik cepatcepatlah buatkan obat agar kesehatan toako segera pulih kembali seperti sedia kala"
"Baik, baik aku segera akan membuatkan obat baginya"
Jawab Chin Wan-hong dengan gugup.
Buru-buru ia lari ke tepi pembaringan, membuka buntalannya dan membuat obat mujarab.
Sebenarnya gadis ini sudah mempersiapkan serangkaian penjelasan, permohonan serta cengli-cengli yang menerangkan bahwa Hoa Thian-hong harus segera berangkat untuk menolong Pek Kun-gie tetapi setelah dipotong oleh Siau Ngo-ji dengan teriakan-teriakannya maka persoalanpun untuk sementara waktu jadi tertunda.
Hoa Hujin sendiri pun bukan manusia sembarangan, dalam hati diapun sudah mempunyai perhitungan sendiri mengenai kejadian tersebut, akan tetapi berhubung jejak Pia Leng-cu sukar ditemukan dan diapun menyadari betapa sulitnya pekerjaan menolong orang ini maka apa yang dipikir hanya disimpan dalam hati dan tak sampai diutarakan keluar.
Dalam pada itu, Chin Wan-hong telah mengambil sebutir obat ditambah lagi dengan beberapa macam rumput obat setelah ditumbuk semua jadi bubuk maka hancuran bubuk tersebut digilas menjadi serbuk halus.
Siau Ngo-ji yang nakal diam-diam menyelinap ke samping ensonya kemudian berbisik lirih.
"Enso, banyak bicara pasti akan ketahuan boroknya inilah penyakitku yang paling parah"
"Kenapa?"
Tanya Chin Wan-hong keheranan.
"Engkau adalah menantu yang belum lama mengalami malam pengantin, selama berada didepan mertua lebih baik banyak kerja kurangi bicara, meskipun tidak mengharapkan jasa, paling sedikit tidak pula merugikan diri sendiri, terutama dalam masalah Pek Kun-gie, alangkah baiknya kalau engkau berdiam diri, jangan kau urusi apa yang akan toako lakukan, daripada mencari penyakit bagi diri sendiri dikemudian hari.
"Tapi Pek Kun-gie adalah seorang nona yang sangat baik"
Bisik Chin Wan-hong.
"Ssstt jangan keras-keras!"
Desis Siau Ngo-ji sambil tempelkan jari tangannya di bibir.
"di kolong langit memang banyak nona yang baik, tapi enso baik kepada toako belum tentu baik kepadamu"
"Ah masa iya, kalau baik pada toako tentu baik pula kepadaku!"
"Aduuh enso, janganlah berlagak bodoh!"
Seru Siau Ngo-ji dengan cepat.
"kalau ada sebiji kue, alangkah baiknya kalau dinikmati sendiri, kenapa mesti kau bagikan untuk orang lain?"
Diam-diam Chin Wan-hong tertawa geli, dia tidak menggubris obrolan bocah itu lagi, sambil membawa cawan air teh dan obat yang baru dibuat ia menghampiri suaminya.
Siau Ngo-ji yang konyol segera berseru keras.
"Toako, ketahuilah langit biar besar bumi biar lebar, yang penting umur kita biar paling panjang, usia bibi paling panjang, usia mu nomor dua dan cepat-cepatlah minum obat lantas naik pembaringan dan tidur...."
Hoa Thian-hong tidak berbicara apa-apa, ia terima obat itu dan sekali teguk menghabiskan isinya, kepada istrinya diamdiam ia lempar sebuah kerlingan penuh rasa terima kasih.
Chin Wan-hong balas mengerling sekejap ke arah suaminya, dibalik sorot matanya yang lembut penuh berisikan pengertian yang mendalam.
Sepasang suami istri ini saling berpandangan menggantikan ucapan, apa yang dibicarakan pun persoalan yang menyangkut diri Pek Kun-gie, walaupun Siau Ngo-ji cerdik dan banyak akal tentu saja sebagai bocah tentu saja ia tak akan menduga sampat ke situ.
Setelah menerima mangkuk obat yang kosong, Chin Wanhong kembali ke tepi pembaringan, kepada Hoa Hujin bisiknya lirih.
Ibu, menolong orang ibarat menolong kebakaran, persoalan ini tak dapat ditunda-tunda lagi.
Mendengar bisikan itu, Tio Sam-koh semakin panik, dengan mendongkol ia lantas melotot ke arah Siau Ngo-ji.
"Bocah setan! Ide setan apa lagi yang telah kau usulkan?"
"Aku tidak mengemukakan ide apa-apa!"
Jawab Siau Ngo-ji dengan gugup. Tio Sam-koh semakin gusar.
"Huh! Aku lihat kau berkemak-kemik disisi telinga Hong ji, kemudian Hong ji berkemak-kemik pula disamping telinga ibunya kalau bukan engkau yang keluarkan usul, lantas siapa lagi?"
Dengan gemas ia ayun telapak tangannya siap menggaplok. Siau Ngo-ji jadi ketakutan, dia lari kedepan dan bersembunyi dibelakang Chin Wan-hong.
"Urusan ini tak ada sangkut pautnya dengan aku"
Serunya dengan gelisah. Pada saat itulah dari luar pintu terdengarlah suara langkah kaki orang, disusul pelayan mengetuk pintu.
"Sam po po, ada urusan penting!"
Siau Ngo-ji segera berseru. Ia lari keluar dan membuka pintu, kemudian bocah itu muncul kembali sambil membawa secarik kertas, sambil diangsurkan kedepan Tio Sam-koh ujarnya lirih.
"Surat ini ditulis Ko toako, silahkan Sam po po membaca lebih dulu."
Tio Sam-koh mendengus dingin, dia sambar kertas tadi dan dibaca isinya.
"Kiu-im Kaucu telah mengundurkan diri keluar kota, sekarang ia bercokol diatas sebuah perahu pembesar, anak buahnya dalam perahu itu banyak sekali, belum jelas apa rencana selanjutnya. tertanda. Ko Tiay."
Selesai membaca isi surat itu, Hoa Hujin lantas tertawa dan berkata.
"Wah, kalau pihak lawan mau turun tan an disungai, keadaan jadi makin serius!"
"Toako, bagaimana dengan ilmu berenangmu?"
Tanya Siau Ngo-ji.
"Kalau dipaksakan sih masih mampu! Aku sendiripun kalau dipaksakan masih mampu, tapi bagaimana dengan Sam po po?"
Tio Sam-koh tertawa dingin.
"Heeeh.... heehh.... heehh.... aku nenek tua tak dapat dibandingkan dirimu, aku adalah ayam daratan, sekali tercebur kedalam air lantas tenggelam!"
"Aku juga begitu!"
Seru Siau Ngo-ji lagi, terapung cuma sebentar lalu tenggelam kedalam air, bagaimana dengan enso?"
"Aku sama sekali tak mampu"
Jawab Chin Wan-hong dengan wajah murung bercampur kesal. Setelah berhenti sebentar, sambungnya kembali.
"Arus di sungai huang-ho amat deras, celaka kalau pihak musuh melubangi dasar perahu setelah kita berada ditengah sungai, dalam keadaan begitu perahu kita pasti tenggelam, sekalipun Hoa toako punya kepandaian yang lihay belum tentu dia mampu melindungi kita semua"
Kalau kita tak berani menyeberangi sungai, memangnya kita harus bercokol terus di sini?"
Sela Tio Sam-koh dengan berangnya.
"Kawanan manusia itu terlalu menghina orang!"
Seru Hoa Thian-hong pula dengan marah, aku ingin sekali memberi...."
Tiba-tiba ia menengok ke arah ibunya dan membungkam.
"Pihak musuh jauh lebih kuat daripada kita, menurut pendapatku alangkah baiknya kalau sementara waktu kita hindari pertarungan dengan kekerasan"
Ujar Hoa Hujin. Sesudah berpikir sebentar, ia melanjutkan.
"Bagaimana dengan lukamu?"
"Luka ananda tak berapa, ibu tak usah menguatirkan!"
"Dengan daya diriku sebagai beban, memaksakan diri untuk menyeberangi sungai adalah suatu tindikan yang terlalu menempuh bahaya, kalau kita pindah kedermaga lain, rasanya keadaanpun tak akan jauh berbeda, satu-satunya jalan yang bisa kita tempuh seka rang adalah berdiam dulu disini untuk beberapa saat, kemudian baru mencari akal lain"
"Tapi kita musti berdiam disini sampai kapan?"
Seru Tio Sam-koh dengan cepat. Hoa Thian-hong tertawa.
"Bagaimanapun toh kita tak ada urusan, apa salahnya kalau kita ajak pihak musuh untuk beradu kepandaian sampai pada akhirnya?"
Kepada Hoa Thian-hong ujarnya pula.
"Untuk sementara waktu kita tak usah menentukan jadwal pemberangkan, sekarang pergi sambangi dulu engkoh cilik she Ko itu kemudian baru selidiki lagi kekuatan pihak lawan, setelah mendapat pelajaran tadi aku pikir Kiu-im Kaucu serta orangorang dari Mo-kauw tak akan berani datang lagi, selidikilah jejak musuh dengan secermat mungkin, engkau tak usah terburu-buru pulang kesini"
Siau Ngo-ji yang cerdik segera tergerak hatinya sesudah mendengar perkataan itu, pikirnya.
"Aaah, tidak benar, dibalik ucapan tersebut rupanya mengandung maksud lain, bukankah terangkan hujin suruh toako selidiki jejak dari Pia Leng-cu serta menyelamatkan Pek Kun-gie?"
Berpikir sampai disitu, dia lantas menimbrung dari samping.
"Kalau toako hendak menyambangi Ko toako, ajaklah aku! akan kutunjukkan tempat tinggalnya"
"Siau Ngo-ji tak usah ikut, lebih baik kau berdiam saja dirumah penginapan!"
Seru Hoa Hujin kembali.
"mulai besok kau harus belajar membaca dan menulis, siang hari waktu senggang boleh membicarakan soal ilmu silat, jangan kau pedulikan urusan lain lagi, baik situasi gawat atau aman, tugasmu hanya belajar membaca dan menulis!"
Agak tertegun Siau Ngo-ji setelah mendengar perkataan itu, kemudian dengan alis berkenyit dan muka masam serunya.
"Oooh bibiku yang baik, bagi seorang ahli silat asal kenal tulisan toh sudah lebih dari cukup!"
"Bagi seorang lelaki sejati, kalau tak bersekolah mana mungkin bisa mengatasi masalah besar, Sengji! kau boleh berangkat"
Kata Hoa Hujin dengan serius.
Hoa Thian-hong segera mengiakan, setelah memberi hormat kepada ibunya dan Tio Sam-koh, berangkatlah pemuda itu tinggalkan ruang penginapan.
Siau Ngo-ji adalah seorang bocah gelandangan yang sejak kecil sudah hidup terlunta-lunta ditengah jalan raya, karena penghidu pannya itu maka perkembangan jiwapun terpengaruh oleh lingkungannya, ia hanya tahu apa artinya budi dan setia kawan, tapi tak tahu arti kasih sayang, ia menyayangi Chin Wan-hong karena gadis itu memperha tikan dirinya, karena itu dia kuatir kalau Hoa Thian-hong menggunakan kesempatan itu pergi menolong Pek Kun-gie.
Hanya saja karena berani dihadapan Hoa Hujin, maka ia tak berani bertindak semaunya sendiri.
Ketika dilihatnya Hoa Thian-hong sudah berlalu, buru-buru ia mengerling ke arah Tio Sam-koh dan mengharapkan bantuan dari nenek itu untuk menghalangi kepergian toakonya.
Siapa tahu Tio Sam-koh adalah seorang jago perempuan yang bersifat blak-blakan, sudah tentu ia tak mengerti apa maksudnya kerlingan tersebut, setelah tertegun sebentar akhirnya aengan gusar dia menegur.
"Eh setan cilik, mau apa kau kerling sana melirik kesini? Mau main setan dengan aku?!"
Siau Ngo-ji dibikin serba salah jadinya, dalam keadaan begini mau tertawa susah mau menangispun tak dapat, kembali ia putar biji matanya kemudian berseru.
"Oh iya, aku lupa mengatakan sesuatu kepada toako"
Sambil berseru ia lantas lari keluar kepintu.
"Siau Ngo-ji, apa yang hendak kau katakan kepada toakomu?!"
Tegur Hoa Hujin.
"Aku mau beritahu kepada toako, dimana Ko toako sekarang berada!"
Sahut bocah itu sambil berpaling.
"Coba katakan dulu, dia ada dimana?"
"Di See su...."
"Kau keliru!"
Jawab Hoa Hujin sambil tertawa.
"saat ini ini pasti ada ditepi sunngai, ayoh cepat naik pembaringan dan tidur!"
Siau Ngo-ji garuk-garuk kepalanya yang tak gatal lalu menjawab.
"Ooh iyaayaa.... semestinya dia ada ditepi sungai, maklum! pikiranku lagi kalut sehingga tak sempat berpikir panjang"
Dalam pada itu, Hoa Thian-hong sendiri sepeninggalnya dari rumah penginapan segera melayang naik keatas atap rumah dan bergerak menuju kepintu kota sebelah utara, sepanjang perjalanan tiada hentinya ia berpikir.
"Ibu adalah seorang pendekar wanita yang berjiwa besar, memandang diatas wajah Pek hujin sudah pasti ia setuju kalau kutolong Pek Kun-gie dari ancaman maut, yang paling mengagumkan adalah enci Hong, ia berjiwa besar dan berhati welas, bukan saja melupakan sekali pengalaman pahitnya dimasa lampau, malahan ia bantu bicara untuk kebaikan Kun Gie."
Menyusul diapun berpikir lagi.
"Bagai manapun juga aku harus memburu kesana dan memolong Kun Gie hingga lolos dari mara bahaya, bagaimanapun juga tujuanku hanya menolong orang, asal dia bisa diselamatkan dan kuantar kembali kegunung, awan hitam yang menyelimuti angkasapun akan buyar dengan sedirinya."
Berpikir sampai disitu, diapun sudah tiba dipintu kota sebelah utara, ditengah kesunyian yang mencekam, tiba-tiba pemuda itu mendengar ada suara panggilan yang merdu berkumandang datang.
"Thian-hong!"
Hoa Thian-hong terperanjat dan segera menghentikan langkah kakinya, cepat ia berpaling ke arah mana berasalnya suara panggilan itu.
Disebelah barat adalah sebuah bangunan loteng yang tinggi, jendela yang mungil perlahan-lahan terbentang lebar, dibawah cahaya lampu tampaklah seraut wajah cantik munculkan diri didepan mata.
Dengan ketajaman mata Hoa Thian-hong, hanya sekilas memandang ia segera kenali perempuan itu sebagai Giok Teng Hujin, hatinya berdetak keras dan untuk sesaat ia agak gelagapan.
Sementara itu Giok Teng Hujin telah menggape ke arahnya sambil berbisik lirih.
"Ayoh kemarilah, masa kau bisa kutelan?"
Terpaksa Hoa Thian-hong harus keraskan hati dan meloncat keatas loteng, katanya.
"Cici, mau apa disitu? Saat ini siaute masihb ada urusan penting yang harus segera diselesaikan...."
"Periksa dulu sekitar tempat ini, kalau tak ada orang cepat masuk kemari, kita berbicara didalam saja!"
Pinta Giok Teng Hujin.
Hadiah Leng-ci dari perempuan ini bukan saja telah memunahkan racun teratai Tan hwe tok lian yang bersarang ditubuh Hoa Thian-hong, bahkan selama berlangsungnya pertarungan sengit dilembab Cu-bu-kok, sisa Leng-ci mujarab itu sudah menyelamatkan pula jiwa Suma Tiang-cing, Bong Pay serta Chin Giok-liong, itu berarti pemuda tersebut sangat berhutang budi terhadap dirinya.
Sebaliknya perempuan itu menaruh rasa cinta yang membara terhadap si anak muda itu, rasa cintanya yang begitu besar membuat perempuan tersebut rela berbuat apa saja dengan pemuda kekasihnya ini.
Hoa Thian-hong yang sadar bahwa ia berhutang budi kepadanya, tak berani menampik atau menegur tingkah laku perempuan ini, oleh sebab itulah di hari-hari biasa dia takut sekali kalau berjumpa dengan gadis ini.
Dan sekarang jalan perginya sudah terhadang, dalam keadaan demikian sulitnya bagi Hoa Thian-hong untuk meloloskan diri.
Dengan muka berseri Giok Teng Hujin melirik sekejap ke arah pemuja itu, kemudian omelnya.
"Eeh.... kenapa berdiri melongo terus disitu? ayoh cepat menggelinding masuk kemari"
Hoa Thian-hong angkat bahunya, dengan perasaan apa boleh buat, terpaksa ia menerobos masuk kedalam jendela.
Giok Teng Hujin tersenyum manis, setelah pemuda itu masuk maka jendelapun ditutup rapat-rapat.
Tempat itu adalah sebuah kamar tidur dari kaum gadis, pembaringan terbuat dari gading dengan kelambu warna putih, sepreinya merah jambu dan bantalnya bersulamkan sepasang burung belibis, sepasang lilin yang berukirkan naga dan burung hong memancarkan sinarnya dengan terang benderang membuat suasana dalam kamar itu jadi terang dan bergairah.
Ditepi pembaringan sudah tersedia sebuah meja perjamuan, diatas meja tersedia sepasang sumpit, sepasang cawan, seteko arak wangi dan sebuah cawan kecil yang terbuat dari kaca, isinya adalah cairan warna putih.
Pui Che-giok dayang pribadi Giok Teng Hujin dengan wajah penuh senyuman berdiri di samping meja sedang Soat-ji rase berbulu salju itu mendekam diatas permadani tepat dibawah jendela.
Jilid 18 DENGAN langkah yang lemah gemulai, Giok Teng Hujin berjalan mendekati meja perjamuan, setelah duduk ia tuding ke arah sepasang lilin tesebut dan berkata seraya tertawa.
"Malam ini aku menikah untuk pertama kalinya, kau kawin untuk kedua kalinya, biar Che giok jadi mak comblang, Soat-ji jadi saksi, kita mengikat diri jadi suami istri"
"Aah.... cici, janganlah bergurau terus!"
Seru Hoa Thianhong sambil duduk pula didepan meja perjamuan.
"saat ini kepandaian silat ibuku telah punah, beliau berada dalam keadaan bahaya"
"Tak usah kuatir! tukas Giok Teng Hujin dengan cepat, selama ada toa nio cu yang melindungi, tanggung keselamatannya terjamin!"
Hoa Thiao Hong tertawa getir.
"Pekerjaan yang merepotkan terlalu banyak, baiklah siaute akan temani cici untuk minum beberapa cawan arak sebelum pergi, besok aku pasti akan datang menyambangi diri cici lagi, cici tak usah kuatir, aku pasti tidak akan bohong!"
Giok teng bujin tertawa, menanti Pui Che-giok sudah menuangkan arak bagi mereka, ia baru tunjuk cawan kaca kecil itu dan berkata.
"Cawan itu adalah arak pengikat perkawinan nanti saja baru kita minum."
Hoa Thian-hong tertawa tergelak, ia lirik sekejap arak yang ada dihadapannya, setelah yakin kalau tiada campuran apapun didalamnya, ia lantas angkat cawan tersebut sambil berkata.
"Kalau begitu, biarlah siaute yang menghormati cici dengan secawan arak!"
"Aduuh.... sungkan-sungkan segala, emangnya sama tamu agung?"
Omel Giok Teng Hujin de-ngan alis berkenyit. Hoa Thian-hong dibikin serba salah, untuk menutupi kejengahan sendiri ia teguk habis isi cawan tersebut, kemudian serunya.
"Che giok, penuhi cawanku dengan arak baru!"
"Tidak takut arak itu kucampuri racun?"
Seru Giok Teng Hujin lagi. Hoa Thian-hong tertawa.
"Aku percaya penuh pada cici!"
Giok Teng Hujin melirik genit ke arah pemuda itu, tiba-tiba ia letakkan cawan kaca kecil itu dihadapan Hoa Thian-hong, kemudian ujarnya.
"Istrimu adalah seorang ahli menggunakan racun, rupanya sudah banyak kepandaian khususnya yang kau pelajari yaa? Sekarang coba periksa dulu, bagaimana dengan arak ini?"
Hoa Thian-hong melirik sekejap ke arah arak dalam cawan kaca kecil itu, ia lihat cairan tersebut berwarna putih bersih seperti susu, baunya amat merangsang dan wangi sekali, sukar untuk diketahui mengandung racun atau tidak.
"Bagaimana? ada racunnya tidak?"
Seru Giok Teng Hujin lagi.
"Tidak ada!"
Sahut Hoa Thian-hong sambil tertawa pula. Giok teng bujin tertawa cekikikan, sambil menuding wajah pemuda itu katanya.
"Anggaplah engkau memang sisetan cilik yang pintar, kalau ada racunnya masa digunakan sebagai arak pengikat perkawinan?"
Sesudah berhenti sebentar, sambungnya lagi. Berani diminum tidak? "Tidak berani!"
Kembali Hoa Thian-hong menggeleng sambil tertawa tergelak.
Dengan gemas Giok Teng Hujin melotot sekejap ke arah pemuda itu.
Terus terang kukatakan kepadamu, isi cawan itu juga arak namanya Seng sian mi atau madu pembuat dewa jadi mendusin, sekalipun dewa atau malaikat yang minum mereka juga akan dibikin mabuk selama tiga hari tiga malam.
Mendengar perkataan itu, Hoa Thian-hong mengbela napas panjang, ujarnya dengan gegetun.
"Siaute pun bersedia untuk mabuk selama tiga hari tiga malam, sayang ibuku cacad dan tak ada yang melindungi, sebagai seorang putra aku tak bisa melepaskan tanggung jawab ini, kalau tidak aku ingin benar minum secawan arak itu agar bisa tidur nyenyak selama tiga hari."
Giok Teng Hujin tertawa merdu.
"Bagus sekali! kalau toh engkau hendak jadi seorang anak yang berbakti maka aku ingin tanya, diantara tiga hal yang tidak berbakti, bakti apakah yang terbesar?!"
"Tentu saja tidak punya keturunan adalah kejadian yang paling tidak berbakti!"
Sahut Hoa Thian-hong sambil tertawa.
"Nah itulah dia! sewaktu kau masih mengidap racun teratai empedu api, tubuhmu tak dapat digunakan untuk mendekati perempuan, andaikata tiada Leng-ci hadiah dariku, bukankah keluarga Hoa kalian akan putus keturunan?"
Merah padam selembar wajah Hoa Thian-hong karena jengah.
"Budi kebaikan dari cici tak akan kulupakan untuk selamanya!"
"Tak usah kau ungkap tentang soal budi lagi, aku cuma ingin bertanya, adakah Leng-ci kedua di kolong langit ini?"
Hoa Thian-hong segera menggeleng.
"Benda langka yang amat mujarab itu belum tentu bisa ditemui dalam seratus tahun, rasanya sukar untuk temukan lengci kedua di kolong langit dewasa ini"
"Baik! Nah sekalipun binimu pandai dalam ramuan obat, tapi andaikata tiada Leng-ci dari enci, dapatkah ia punahkan racun te ratai empedu api yang bersarang dalam tubuhmu?"
Hoa Thian-hong gelengkan kepalanya.
"Ia pernah mengatakan kepadaku, menurut hasil penyelidikannya selama ini, teratai racun empadu api adalah racun paling dahsyat yang tiada keduanya di kolong langit, kecuali Leng-ci berusia seribu tahun, tiada obat lain yang bisa digunakan untuk memusnahkan racun tersebut"
Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan.
"Dia adalah orang yang paling berterima kasih kepada cici, seringkali dia membicarakan tentang kebaikan cici ini"
Tentu saja begitu!
ujar Giok Teng Hujin sambil tertawa, sebab dia pula yang merasakan manfaat dari kebaikanku itu, andaikata tiada Leng-ci mustikaku itu, kendatipnn dia sudah kawin dengan dirimu, paling banter cuma hidup menjanda sepanjang masa, kalau tidak berterima kasih kepadaku lantas musti berterima kasih kepada siapa lagi?"
Pui Che-giok yang mendengarkan pembicaraan tersebut tak dapat menahan rasa geli lagi, ia segera tertawa cekikikan.
Hoa Thian-hong jadi amat jengah, selembar wajahnya berubah jadi merah padam, akhirnya sambil tundukkan kepala dan tertawa ia gelengkan kepalanya berulang kali.
Giok Teng Hujin sendiripun tak dapat menahan gelinya, ia ikut tertawa cekikikan kemudian sambil berpaling hardiknya ke arah Pui Che-giok.
"Enyah dari sini dan menyingkir jauh-jauh!"
Pui Che-giok menutupi bibirnya dengan ujung baju, kemudian ia keluar dari ruangan dan sekalian merapatkan pintu itu.
Sesudah dayang itu berlalu, Giok Teng Hujin baru angkat cawan arak dan bertanya dengan lirih.
"Apakah binimu sudah mengandung?"
"Aah! mana bisa secepat itu? toh aku baru kawin sebulan kurang sedikit."
"Aku masih ingat dengan tepat, lengci itu kau makan sebelum pertemuan besar Kiao ciau tayhwee diselenggarakan, masa sudah selama itu benihmu belum jadi juga?"
"Huss.... cici pandai bergurau!"
Seru Hoa Thian-hong tertawa.
"sebelum diresmikan mana aku berani main pukul sembarangan?"
Giok teng hujio mengangguk tiada hentinya, ia berkata dengan wajah serius.
"Sebelum menikah engkau memang tak boleh sembarangan berbuat, dan kini jejakmu sudah hilang, tentunya urusanpun tak usah dianggap terlalu serius bukan?"
Mendengar perkataan itu tak tahan lagi Hoa Thian-hong segera bangkit berdiri, sambil goyangkan tangannya berulangkali ia berseru.
"Cici engkau terlalu romantis, siaute tak sanggup menghadapinya, biarlah aku mohon diri saja!"
"Engkau berani kabur?!"
Ancam Giok Teng Hujin pura-pura marah.
"kalau kau lari dari sini, aku akan segera mengejar kerumah penginap anmu dan minta orang kepada ibumu serta Chin Wan-hong!"
Melihat jendela yang ada disampingnya, untuk beberapa saat Hoa Thian-hong tak tahu apa yaeg musti dilakukan, dengan ilmu meringankan tubuhnya yang sempurna, untuk berlalu dari situ bukanlah suatu urusan yang sulit dan Giok Teng Hujin tak akan mampu menangkap dirinya.
Akan tetapi ia berhutang budi kepada perempuan agung ini, kedua antara mereka berdua sebetulnya memang sudah tumbuh benih cinta, tentu saja si anak muda itu tak tega meninggalkan sang gadis dengan begitu saja....
Rupanya Giok Teng Hujin sendiripun sudah ambil keputusan untuk menyerahkan kesucian tubuhnya kepada si anak muda itu, dengan langkah yang lembut gemulai ia bangkit dari tempat duduknya dan pindah kesamping si anak muda itu.
Seketika itu juga Hoa Thian-hong merasakan berdebar keras, sambil memandang keluar jendela bisiknya.
"Enci, fajar sudah hampir menyingsing!"
Giok Teng Hujin tertawa manis.
"Kentongan kelima ayam mulai berkokok, itulah tandanya fajar hampir menyingsing, ayoh berlutut dan menyembah dulu kepada cici!"
"Siaute tidak mengerti!"
"Kau tidak mengerti, biar kuajarkan kepadamu!"
Dia ambil cawan kecil yang terbuat dari kaca itu dan meneguk sedikit arak Cui sian mi tersebut, kemudian sambil di angsurkan ketepi bibir Hoa Thian-hong, ujarnya.
"Aku akan menegukkan, lalu engkaupun minum setegukan, perlahanlahan rasanya akan nikmat!"
Hoa Thian-hong adalah seorang pria yang sudah menikah, boleh dibilang ia sudah berpengalaman dalam bermain cinta, cukup mendengar rayuan manis yang merangsang itu sudah membuat hatinya tak tahan, apalagi tubuh mereka saling menempel dan bau harum semerbak berhembus lewat tiada hentinya, lama kelamaan pemuda itu mulai tak sanggup menahan diri, jantungnya berdebar makin keras.
Dalam keadaan demikian, terpaksa ia minta ampun.
"Ooh.... ciciku yang baik, ketika kentongan ketiga hampir lewat tadi baru saja aku bertempur melawan kaucu mu, isi perutku terluka parah dan kini...."
Giok Teng Hujin mengerling genit ke arahnya, lalu sambil tertawa merdu menukas.
"Telur busuk cilik, bukankah engkau tidak mengerti, lalu apa artinya perkataanmu itu?"
"Sekarang siaute sudah mengerti!"
Jawab sang pemuda tertawa. Giok Teng Hujin tertawa cekikikan, bisiknya.
"Tak usah kuatir, masa cici tega untuk mencelakai dirimu? Arak ini mendatangkan banyak manfaat bagimu, minumlah dulu setegukan, nanti akan cici ajarkan cara intuk menyembuhkan luka itu."
Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Hoa Thian-hong minum seteguk arak Cui sian mi itu.
"Bagaimana caranya untuk mengobati luka ku itu?"
Kepandaian tersebut disebut resep melatih diri untuk menghindari kematian, minumlah setegukan lagi, akan kuterangkan dengan lebih jelas lagi.
Dia angkat cawan arak Cui sian mi itu, setelah diteguk satu tegukan barulah dia angsurkan kepada Hoa Thian-hong, sambungnya.
"Orang kuno mengatakan, kalau ada Im tentu ada Yang, ada dingin pasti ada panas, ada laki tentu ada perempuan, kalau kedua unsur digabungkan akan mendatangkan kebaikan, kalau dipisahkan membedakin jenis kelamin, mengenai ajaran ini kau tentu sudah mengerti bukan?"
"Emmmm, mengerti!"
"Baik, menurut resep dewa dikatakan, segala macam penyakit bagaimana parahpun hanya ada dua obat yang bisa menyembuhkan, yakni sari hawa panas ditubuh pria dan sari hawa dingin ditubuh wanita, kalau kedua unsur tersebut digabungkan menjadi satu, maka semuanya akan sembuh dan lenyap!"
"Aaah.... ecci ngaco belo, aku ogah untuk mendengarkan, aah!"
Omel Hoa Thian-hong sambil tertawa.
"Siapa bilang aku ngaco belo tak karuan?!"
Seru Giok Teng Hujin manja.
"inilah resep yang paling jitu dari ilmu penggabungan antara unsur panas dan unsur dingin, jika kepandaian ini bisa dilatih dengan baik, bukan saja semua luka akan sembuh, bahkan hidup manusiapun bisa langgeng dan tak akan tua"
Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan.
"Kalau sejenis disatukan akan membentuk pedang pengusir setan, kalau dua jenis disatukan jadilah tangga untuk naik kesorga, pernah kau baca syair dari Hu-yu Tee-kuo ini?"
"Aaah pelajaran sesat dari kaum kiri, aku tak pernah membaca syair seperti itu."
"Telur busuk! Kau berani memaki cici sebagai orang sesat dan golongan kiri? Kau musti dihukum!"
Dia angkat cawan berisi arak Cai sian mi tersebut, setelah meneguk setegukan kemudian ia tekan kepala Hoa Thianhong kebela kang dan melolobi pemuda itu dengan dua tegukan arak.
Hoa Thian-hong terengahengah dengan nafas memburu, serunya sambil tertawa getir.
"Enciku yang baik, siaute tak kuat minum arak.... aku mabuk nanti."
"Tak usah kuatir, setelah kita habiskan arak pengikat perkawinan ini maka semua budi dan dendam yang kita tanam selama ini akan terhapus sama sekali."
"Aaai....! ucapan cici terlalu serius."
Giok Teng Hujin mendengus dingin.
"Serius biarlah serius, aku sudah tak ambil peduli!"
"Aaai....! Cici.... aah!"
Belum sempat pemuda itu mengucapkan sesuatu, tiba-tiba kepalanya ditekan kembali kebelakang oleh Giok Teng Hujin, sisa setengah cawan arak Cui sian mi yang masih ada dicawan setelah dilolobkan semua kedalam mulutnya.
Hoa Thian-hong menggeliat lemas, bisiknya dengan napas terengah-engah seperti kerbau.
"Aduh cici.... kepalaku.... kepalaku pusing...."
Giok Teng Hujin yang berbaring dalam pelukan pemuda itu tertawa terkekeh-kekeh, saking gelinya sampai air matapun bercucuran.
Paras muka Hoa Thian-hong berubah jadi merah padam bagaikan buah tho, kelopak matanya tak mampu dibentang kembali, dengan suara tak jelas kembali ia bergumam.
"Ooh.... cici, kepalaku pusing.... aduh pusing sekali....!"
"Aaah masa iya? Aku kok tidak pusing? Oh iya, aku lupa, rupanya aku sudah mirum obat penawar lebih dulu"
Hoa Thian-hong sudah tak tahan lagi, ia mendebrak meja dan mengomel lagi.
"Aku tak kuat duduk lagi, aku mau berbaring, aku...."
Giok Teng Hujin tertawa makin melengking.
"Eii, telur busuk cilik, engkau sendiri yang minta berbaring lho! Nanti jangan salahkan cici lagi, bukan cici yang memaksa dirimu untuk tidur diranjang"
Sambil merangkul pinggangnya, gadis itu bantu Hoa Thianhong untut berbaring diatas pembaringan. ooooOoooo DENGAN mata berkedip-kedip karena mabuk hebat, Hoa Thiau Hong mengomel terus.
"Ooh.... cici yang baik, biarlah aku pergi, aku benar-benar masih ada urusan!"
"Hiih.... hiih.... hiih.... jangan ribut terus ah, bukankah cici juga sedang bekerja?"
Sambil berkata ia lantas melepaskan pedang baja yang tergantung dipinggangnya. Dengan cepat Hoa Thian-hong putar badan dan menindihi pedang baja itu dengan tubuhnya.
"Jangan kau sentuh benda itu!"
"Aku senang menyentuh senjata itu....!"
Seru Giok Teng Hujin sambil tertawa cekikikan.
Dengan sepasang tangannya ia tarik bahu orang kemudian memutar balik kembali tubuh Hoa Thian-hong sehingga tidur terlentang, ia lihat sepasang pipi pemuda itu sudah berubah jadi merah padam selembar kepiting rebus, tak tahan lagi gadis itu merangkul tubuh kekasihnya dan mencium dengan mesrah.
Tiba-tiba Hoa Thian-hong merasa pipinya jadi basah, dengan memaksakan diri ia membuka kembali kelopak matanya yang terasa berat, lalu bertanya.
"Enci yang manis, kenapa kau menangis?"
Meskipun air mata bercucuran membasahi pipinya, namun senyum manis masih tersungging diujung bibir gadis itu.
"Ini hari adalah hari baik buat kita, enci merasa sangat gembira makanya air mataku jatuh bercucuran."
"Tidak, enci punya rahasia dihati, siaute dapat merasakan akan hal itu."
Giok Teng Hujin tertawa manis.
"Apa yang cici pikirkan adalah masalah mengenai dirimu, aku takut engkau tak sudi menuruti perkataanku, marilah.... enci akan lepaskan pakaian luarmu."
Sembari berkata ia lantas ulurkan tangannya bermaksud untuk melepaskan pedang baja itu.
Dengan cepat Hoa Thian-hong menggelinding kesamping dan sekali lagi menindihi pedang baja itu dengan tubuhnya, dengan suara tak jelas ia berkata.
"Jangan kau sentuh, diatas pedang itu telah dipolesi racun ganas!"
Giok Teng Hujin tertawa cekikikan.
"Kalau ada racunnya aku semakin gembira, kau tak perlu kuatir!"
Sekali lagi ia membalik tubuh pemuda itu sehingga tidur terlentang.
"Enci, daripada tidur bersama lebih baik biarkanlah aku tidur seorang diri!"
Gumam sang pemuda dengan kelopak mata hampir terkatup rapat.
"Omong kosong, seorang pria tak boleh kehilangan wanita, seorang wanita tak boleh kekurangan pria, kalau tiada wanita maka pikiran akan melayang, kalau pikiran melayang maka syaraf gampang jadi lelah, kalau syaraf sudah lelah maka akan mengurangi usia, kalau engkau tidur seorang diri, maka umurmu akan berkurang banyak" .
"Kalau tenagaku lipat ganda memang paling baik tidur dengan wanita, kalau tenaga ku loyo dan lemas seperti ini, tidur dengan wanita sama artinya mendekati jalan kes orga.... siaute...."
Kembali pemuda itu mengguling kebelakang dan sekali lagi menindihi pedang bajanya itu.
Giok Teng Hujin selalu berusaha untuk melepaskan pedang bajanya, sedangkan Hoa Thian-hong meskipun sudah mabuk sehingga perkataannya tak jelas, tapi jurstru setiap gerakgeriknya selalu melindungi pedang baja itu dari jangkauan orang.
Demikianlah, kedua orang itupun saling dorong mendorong, tarik menarik tiada hentinya, walaupun sudah berlangsung lama namun apa yang dituju Giok teng bujin tak pernah tercapai.
Lama kelamaan perempuan itu jadi mendongkol bercampur penasaran, dengan suara manja dia lantas mengomel.
"Kekasihku yang tolol, sebenarnya kau sudah mabuk belum?"
"Dalam hati aku masih dapat memahami, tapi sekujur badanku tak bertenaga lagi!"
Mendengar jawaban ini, dalam hati kecilnya Giok Teng Hujin segera berpikir.
"Aaai....! tenaga dalam yang dimiliki kekasihku ini memang amat sempurna, walaupun secawan arak Coi sian mi telah dihabiskan namun tak sampai membuat dirinya mabuk...."
Dalam hati ia berpikir, diluaran ujarnya sambil tertawa merdu.
"Kalau engkau tak punya tenaga lagi, biarlah cici yang melayani dirimu, akan kubuat tenagamu sama sekali tak terbuang!"
Seraya berkata dia lantas jatuhkan diri ke atas pembaringan dan berbaring disisi pemuda itu, sambil menuding jidatnya ia melan jutkan.
"Kalau engkau tak mau menurut lagi, jangan salahkan kalau kutokok jalan darah mu"
"Jangan cici. jangan sekali-kali kau totok jalan darahku!"
"Aah, betul juga! Kalau jalan darahmu itu tertotok, tentunya hilanglah kegembiraanku"
"Aku tidak maksudkan begitu, ketahuilah pada saat ini Kiuim Kaucu, Pia Leng-cu serta sekelompok jago lihay lainnya yang tergabung dalam Mo-kauw sedang mengincar nyawaku, andaikata enci totok jalan darahku dan kesempatan baik ini digunakan orang lain untuk celakai jiwaku, bukankah sama artinya enci yang menjerumuskan diriku kedalam lembah kebinasaan?"
Agak tertegun Giok Teng Hujin setelah mendengar perkataan itu, lama sekali ia termenung akbarnya titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.
"Cici, kenapa menangis? Apakah ucapan ku keliru?"
Buruburu Hoa Thian-hong bertanya dengan hati gelisah. Giok Teng Hujin gelengkan kepalanya.
"Tahukah kau, apa sebabnya orang-orang itu bendak mencelakai jiwaku?"
Ia bertanya.
"Mereka hendak merampas pedang bajaku ini!"
Air mata jatuh berlinang membasahi pipi Giok Teng Hujin, ia semakin sedih, katanya lagi.
"Tahukah engkau, encipun akan merampas pedang baja milikmu itu? Kau anggap tujuanku bikin kau mabuk benar-benar adalah untuk mewujudkan tali perkawinan diantara kita berdua?"
Ia berhenti sebentar, kemudian melanjutkan.
"Tentu saja, kalau engkau masih mencintai aku, berilah pelampiasan bagi cicimu, agar rasa cinta cici terhadap dirimu tidaklah sia-sia belaka."
"Aaai....! Cici, cintamu terlalu bodoh"
"Begitulah cinta kasih seorang gadis terhadap kekasihnya, aku memang dungu dalam bercinta, tapi apakah kau tidak merasa bahwa hatimu terlalu kejam??"
"Enci, kenapa engkau juga ingin merampas pedang bajaku? apakah Kiu-im Kaucu yang paksa engkau berbuat demikian?, dengan cepat Hoa Thian-hong alihkan pembicaraan kesoal lain. Giok Teng Hujin segera menggeleng.
"Bukan, ide ini timbul dari benakku sendiri, aku merampas pedang baja bukan karena terdorong maksud lain, aku berbuat demikian karena aku cinta padamu."
"Tak dapat kutangkap maksud ucapanmu itu!"
Giok Teng Hujin menunduk dan mencium mesrah pemuda itu, lama sekali dia baru berkata dengan sedih.
"Tahukah engkau bahwa kitab pusaka Kiam keng hasil karya dari malaikat pedang Gi Ko tersimpan dalam pedang bajamu itu? Semua orang berpendapat demikian, masa engkau tak tahu?!"
"Aku tahu, selain itu akupun percaya akan hal ini, tapi yang ku maksudkan adalah dalam hal lain!"
"Kepandaian silatmu sudah mencapai tingkat yang amat tinggi, jika kau latih isi kitab Kiam keng, maka tiada orang yang sanggup menandingi dirimu lagi, engkau dapat mengangkat dirimu sebagai raja tanpa tandingan, pernahkah kau berpikir sampai kesitu?!"
Hoa Thian-hong tertawa.
"Aku sih tak ingin menjadi raja tanpa tandingan di kolong langit, aku cuma berharap agar orang budiman bermunculan kembali didunia kangau, sedang orang jahat yang banyak berbuat onar musnah dari muka bumi, hanya inilah harapanku!"
"Engkau bersedia, apakah orang lain juga bersedia?"
"Kalau memang begitu biarlah kita bertarung sampai titik akhir, aku percaya Thian akan membantu kaum budiman serta menumpa mereka yang suka berbuat kejahatan"
"Dengan dasar apa engkau percaya kalau Thian selalu melindungi orang budiman?!"
Bisik Giok Teng Hujin dengan murung.
"apakah Lo Thian-ya berkata sendiri kepadamu? Tidakkah kau pernah lihat, banyak orang budiman yang harus menemui ajalnya ditangan orang jahat?"
"Yaah.... kita harus bertempur dengan andalkan kekuatan masing-masing, siapa berumur pendek dialah yang musti gugur, bagaimanapun juga kita toh tak sudi menyerah kalah dengan begitu saja dan membiarkan musuh berbuat sehendak hatinya terhadap diri sendiri tanpa melawan?"
Rupanya Giok Teng Hujin merasa murung sekali, dengan gusar ia berteriak.
"Orang mati! kau tidak takut mati, justru akulah yang takut kau mati....! kau...."
Walaupun kata-katanya singkat, namun dalam kenyataan mengandung pancaran rasa cinta yang amat mendalam, Hoa Thian-hong merasa terharu sekali, tanpa sadar air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya.
"Aku merasa amat berterima kasih sekali atas cinta kasih yang cici limpahkan kepada ku, sepanjang masa akan kuingat selalu cinta cici yang begitu membara!"
Gick teng hujin tertawa getir.
Kalau memang begitu janganlah banyak tingkah, ikuti saja semua perbuatan yang cici lakukan atas dirimu, bagaimanapun juga cici sama sekali tak bermaksud untuk mencelakai dirimu.
"Tak mungkin, hal ini tak mungkin terjadi"
Dengan cepat Hoa Thian-hong gelengkan kepalanya.
"pedang baja ini diwariskan mendiang ayahku kepada siaute dan untuk memanfaatkan pedang ini beliau telah menciptakan enam belas jurus pedang untukku, diatas pedang inilah mengalir semua pikiran dan keringat mendiang ayahku, jangan dibi lang didalam pedang ini tersimpan kitab pusaka Kiam keng, sekalipun tak adapun tak sudi kubiarkan senjata ini jatuh ketangan musuh"
Dengan gemas Giok Teng Hujin menghela napas panjang.
"Aaai....! Pedang baja ini adalah bibit bencana, setelah kudapatkan pedang akan kuserahkan kepada kaucu kami, sekalipun pedang ini berada ditangannya juga sama sekali tak ada manfaatnya bagi dia. Pia Leng-cu maupun orang-orang Mo-kauw pasti akan alihkan sasarannya untuk merecoki dia, tak seorangpun yang akan datang menyusah kan dirimu lagi, apakah engkau tak akan paham dengan siasatku ini?"
"Aku tak mau ambil perduli siasat apapun, pokoknya selama hayat masih dikandung badan aku akan kerahkan segenap kemampuan yang kumiliki untuk mempertahankan pedang baja ini"
Giok Teng Hujin semakin gelisah.
"Aaai.! engkau harus tahu, sekalipun kitab pusska kiaam keng muncul kembali didunia dan jatuh ketangan orang, engkaupun tak usah kesal karena tak bisa menangkan dia, pokoknya semua orang telah tahu, jika engkau berhasil mendapatkan kitab pusaka kiam keng maka di kolong langit tak ada orang yang mampu menandingi dirimu lagi, dan semua orang pasti tak akan menyetujui tindakanmu itu, semua orang pasti akan menghimpun segenap kemampuan yang dimilikinya untuk menghalangi dirimu, bahkan menggunakan pelbagai cara yang teren-dah untuk mencelakai dirimu, buat apa engkau musti menyusahkan diri sendiri?"
Antara kaum sesat dan kaum lurus selamanya tak dapat hidup berdampingan, apa boleh buat?
Terpaksa aku harus mempertahankan diri demi tegaknya keadilan dan kebenaran.
Cici!
Kau tak usah kuatirkan diri ku lagi.
Setelah berhenti sebentar, sambil tertawa lanjutnya.
"Bertarirglah disini cici, mari kita bermesraan lagi!"
"Giok Teng Hujin merasa gemas sekali.
"Telur busuk kecil! Kau anggap aku benar-benar tak tega untuk turun tangan terhadap dirimu? Hmm! Keputusan sudah bulat engkau tak dapat kukuh dengan pendirianmu lagi. Seraya berkata, tangannya diayun dan menotok sebuah jalan darah dipinggang pemuda itu. Hoa Thian-hong jadi amat terperanjat, buru-buru ia tangkap pergelangan tangan Giok Teng Hujin dengan sepasang tangannya, serunya dengan gelisah.
"Cici, jangan berbuat demikian!"
Rupanya ia sudah mabuk terpengaruh oleh arak, sehingga seluruh tubuhnya lemas tak bertenaga, kepandaian silat yang dimiliki pun tak ada yang bisa digunakan lagi.
Dengan yang menyambar kesana kemari tanpa beraturan, dia berusaha untuk menangkap pergelangan tangan dara itu, tapi bagai manapun juga usahanya ini selalu gagal.
Giok Teng Hujin tertawa cekikikan, tiba-tiba pergelangan tangannya berputar dan menyerang kembali jalan darah Siau ci hiat di pinggang pemuda itu, sedang tangan kirinya dengan suatu jurus serangan yang aneh menotok jalan darah diiga kirinya.
Sebenarnya kedua orang itu sedang bergumul jadi satu, ditambah pula ilmu silat yang dimiliki Giok Teng Hujin bukan kepandaian sembarangan, serangan yang dilancarkan secara serentak dari arah yang terang dan gelap ini amatlah sukar untuk dihindari atau ditangkis.
Walaupun begitu ilmu silat yang dimiliki Hoa Thian-hong pun bukan kepandaian silat biasa, dalam gugupnya dengan cepat ia menggelinding kesamping dan menjatuhkan diri kebawah pembaringan, dengan begitu dua buah serangan tersebutpun bisa dihindari dengan manis.
Giok Teng Hujin tertawa cekikikan, telapak tangan kirinya langsung diayun kedepan.
"Ploook!"
Dengan nyaring ia hantam paha pemuda itu, sementara tangan kanannya berkelebat kemuka merampas pedang baja.
"Cici....! Hoa Thian-hong menjerit kaget. Belum hatbis dia berteriak, tiba-tiba pintu jendela ditumbuk orang hingga terbuka, sesosok bayangan manusia dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat menyusup ketepi peramringan, sepuluh jari tangannya dipetangkan lebar-lebar dan langsung menerjang tubuh Hoa Thian-hong. Betapa terperanjatnya Giok Teng Hujin sewaktu menyaksikan kehadiran orang lain di dalam kamarnya, begitu kagetnya sehingga sukma serasa melayang tinggalkan raganya, cepat-cepat dia menghardik.
"Siapa kau?"
Dengan sepasang tangannya menggenggam pedang dia lancarkan sebuah bacokan kedepan.
Bayangan manusia itu sama sekali tidak bersuara, tangan kirinya bergerak kedepan langsung mencengkeram pedang baja itu, serta-merta tangan kanannya laksana sambaran petir mencengkeram perut bagian bawah dari Hoa Thian-hong.
Jelas orang itu sudah memahami sampai dimanakah kelihayan dari Hoa Thian-hong, oleh sebab itu walaupun ia tahu kalau Hoa Thian-hong sudah dibikin mabok oleh arak Cui sian mi namun serangannya yang dilancarkan ke arah pemuda itu sama sekali tak berkurang kehebatannya.
Hoa Thian-hong mendengus dingin, telapak tangan kirinya berputar lalu diayun ke depan sedang lengan kanannya segera diangkat keatas, dengan jurus sakti Kun siuci tau dia sambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras, sementara tangan kanannya dengan suatu gerakan yang aneh menggetar pergi sepasang tangan Giok Teng Hujin, dan tahutahu gagang pedang baja itu sudah dicekal kembali dalam genggamanannya.
Seketika itu juga Giok Teng Hujin merasakan sepasang tangannya tergetar keras, tak kuasa lagi badannya berguling kesudut pem baringan.
Sementara itu orang yang melancarka sergapan tadipun tak kalah kejutnya, baru saja ia mendengar si anak muda itu mendengus dingin, tahu-tahu segulung angin pukulan yang maha dahsyat telah menerjang masuk lewat telapak tangannya.
Selama peristiwa itu berlangsung hampir bersamaan waktunya, sejak jendela dipentang orang sampai waktu itu hanya makan waktu sekejap mata, tapi ketiga belah pihak melancarkan serangan mereka dengan kecepatan bagaikan kilat.
Agaknya orang yang melakukan sergapan itu telah menyadari kalau Hoa Thian-hong tidak benar-benar mabuk, menyadari kalau dirinya tertipu, saking kagetnya peluh dingin membasahi tubuhnya, dia kendorkan tangan kirinya melepaskan cekalan pada pedang baja tersebut, sedangkan serangan pada tangan kananpun dibuyarkan, sekali enjot badan tubuhnya meluncur keluar lewat jendela.
Sejak pertarungan sengit diselat Cu-bu-kok serta pertarungan serunya melawan Kiu-im Kaucu, sebagian besar jago persilatan yang ada di kolong langit pada menaruh rasa jeri terhadap diri Hoa Thian-hong, demikian pula dengan penyergapan gelap itu.
Setelah menyadari kalau dirinya tertipu, cepat-cepat ia mengundurkan diri dari situ, kecepatan dan kecekatannya menghadapi perubahan situasi benar-benar sangat mengagumkan.
Tampaklah Hoa Thian-hong melejit bangun dari atas tanah, kemudian ia pentang mulutnya dan....
Cuuh!
Serentetan pancaran arak berwarna putih langsung menyambar keatas wajah penyergap tadi....
Kiranya meskipun Hoa Thian-hong telah meneguk separuh cawan lebih arak wangi Cui sian mi, namun secara diam-diam dia telah simpan arak tadi kedalam lambungnya dengan menggunakan sejenis ilmu khusus dari wilayah Biau yang biasanya digunakan untuk menghadapi minuman atau makanan beracun.
Dan kini setelah menghadapi serangan musuh, ia lantas kerahkan bawa murninya untuk memaksa sisa arak yang tertampung itu tumpah keluar semua, bahkan memanfaatkannya sebagai senjata rahasia untuk melukai lawan.
Serangan ini benar-benar sangat aneh dan luar biasa, dengan hati terperanjat penyergap itu berpaling kebelakang, dan tak dapat di hindari lagi pancaran senjata arak itu bersarang telak diatas wajah bagian kanannya, bersamaan waktunya pula kaki kanan orang itu merasa amat sakit hingga merasuk ketulang sumsum, rupanya Soat-ji rase berbulu salju itu telah manfaatkan kesempatan baik tadi untuk menggigit kaki tamu tak diundang ini.
Rupanya Soat-ji rase berbulu salju yang selama ini mendekam dibawah jendela telah menyusup keluar tatkala penyergap tadi menyerang masuk kedalam ruangan, tapi berhubung gerak tubuh penyer gap itu sangat cepat sekali, maka walaupun gerak tubuh Soat-ji cepat toh dia masih kalah setindak daripada musuhnya.
Andaikata orang itu tidak dibuat ketakutan setengah mati oleh serangan balasan yang dilancarkan Hoa Thian-hong, niscaya Soat-ji pun tetap gagal untak melukai lawannya.
Kendatipun begitu, ilmu silat yang dimiliki penyergap itu sangat mengejutkan pula, dalam keadaan pipi kanan terluka oleh semburan arak, kaki kanan terpincang karena gigitan Soat-ji, ia masih mampu menahan rasa sakit yang luar biasa itu untuk kabur keluar jendela, dalam waktu singkat tubuhnya sudah jauh diujung jalan sebelah sana.
Hoa Thian-hong telah memburu pula ke tepi jendela, dalam sekejap mata separuh badannya sudah keluar dari ruangan itu....
"Thian-hong! racun...."
Tiba-tiba Giok Teng Hujin berteriak keras.
Hoa Thian-hong terkesiap, dengan cepat ia teringat kembali kalau diatas pedang bajanya telah dipolesi racun yang keji, teringat pula ketika penyergap tersebut menyerang dirinya.
Giok Teng Hujin jadi begitu panik sehingga mengucurkan air mata, pemuda itu jadi tak tega.
Buru-buru ia kembali kesampingnya, sambil mengeluarkan obat pemunah dari dalam saku ia berkata.
"Makanlah obat ini maka racun itu akan punah dengan sendirinya, aku harus segera mengejar penyergap itu!"
Begitu pemuda tersebut menyelesaikan kata-katanya, sambil menangis Giok Teng Hujin telah berteriak.
"Sepasang tanganku telah berubah jadi kaku semua!"
Kreet....! pintu kamar dibuka orang, Pui Che-giok dengan langkah cepat telah masuk kedalam. Hoa Thian-hong segera berseru dengan cepat.
"Che giok, tolong berikanlah obat pemunah ini kepadanya, aku...."
Sementara itu Giok Teng Hujin sendiripun sedang berpikir....
"Setelah perpisahannya pada hari ini, entah sampai kapan kita baru bisa berjumpa lagi?"
Dalam gelisahnya, dia segera tundukkan kepala dan menggigit lengan pemuda itu keras-keras. Hoa Thian-hong kesakitan dan menjerit tertahan.
"Aduuh.... cepat lepaskan gigitanmu.... orang yang menyergap diriku tadi adalah Pia Leng-cu, Pek Kun-gie telah terjatuh ketangan.... aduuh!"
Ketika Giok Teng Hujin mengetahui kalau Hoa Hoa Thianhong mengejar Pia Leng-cu adalah dikarenakan hendak menolong Pek Kun-gie, gadis ini jadi gemas sekali sehingga gigitanpun diperkeras dengan sendirinya pemuda itu sangat kesakitan.
Walaupun begitu Hoa Thjan Hong tak dapat berbuat apaapa kecuali menahan rasa sakit hingga air matapun bercucuran, ia tak berani mengerahkan hawa murninya untuk melawan, sebab kuatir menggetarkan gigi dara itu, dalam keadaan apa boleh buat terpaksa ia berbicara.
"Cepat-cepatlah kendorkan gigitanmu, aku tak akan pergi, aku akan menyuapi obat untuk mu.... ayohlah, cepat lepaskan gigitanmu!"
Giok Teng Hujin sama sekali tidak menggubris permohonannya itu, bahkan gigitannya malah semakin diperkeras.
Pui Che-giok yang menyaksikan kejadian itu diam-diam tertawa geli, ia segera maju kedepan dan menutup kembali jendela yang terpentang, kemudian membersihkan noda darah dan arak yang menodai pemukaan tanah, setelah selesai pintu ditutup kembali dan diapun berlalu.
Sementara itu Hoa Thian-hong telah melihat sepasang tangan Giok Teng Hujin yang putih bersih kini telah berubah jadi hitam gelap, sedang gigitan pada tangannya sama sekali tak mau dilepas, dalam keadaan seperti ini pemuda kita menghela napas, seperti lagi membujuki anak kecil saja katanya.
"Baiklah, cepat lepaskan gigitanmu, perkataan seorang pria sejati berat laksana bukit, setelah aku berjanji tak akan pergi-pastilah aku tak akan pergi!"
Racun keji dari wilayah Biau terkenal karena keganasannya, sejak keracunan, Giok Teng Hujin hanya memikirkan tentang kekasihnya dan sama sekali tak mengerahkan tenaga untuk lawan racun, hal ini membuat sepasang tangannya sama sekali jadi kaku, kesadaranpun agak kabur.
Menanti Hoa Thian-hong mengucapkan kata-kata tadi, ia baru lepaskan giginya.
Hoa Thian-hong segera membuka penutup botol dan menyuapi obat tersebut kedalam mulutnya, setelah itu telapak tangannya di tempelkan diatas punggungnya dan salurkan hawa murni untuk membantu daya kerja obat tadi dalam memunahkan racun yang bersarang di tubuhnya.
Lewat beberapa saat kemudian, racun yang bersarang didalam tubuh perempuan itu telah punah.
Giok Teng Hujin dapat menggerakkan kembali lengannya dengan leluasa, diapun angkat kedua buah tangannya dan memeluk tubuh Hoa Thian-hong erat-erat, si anak muda itu tertawa getir, bisiknya dengan lembut.
"Pek Kun-gie...."
Senyum manis tersungging diujung bibir Giok Teng Hujin, ia gelengkan kepalanya berulang kali, namun pelukannya sama sekali tidak mengendur dan mulutpun membungkam dalam seribu bahasa.
Hoa Thian-hong jadi kebingungan dibuatnya, dengan perasaan tak mengerti ia menegur.
"Eeeh! kenapa sih wajahmu kelihatan sangat gembira? Ayoh, dibalik kegembiraanmu itu pasti ada hal-hal yang tak beres!"
Giok Teng Hujin tertawa manis, dengan muka berseri-seri ujarnya.
Lepaskan dulu benda yang ada racunnya itu dan letakkan dibalik pembaringan, kemudian berbaringlah dulu maka akan kubicarakan banyak hal dengan dirimu, kalau engkau bisa menangkan perdebatan ini maka mulai detik ini aku, Ku Inging tak akan merecoki dirimu lagi, dan kau boleh anggap aku sebagai perempuan yang paling rendah di kolong langit dewasa ini.
Perkataan tersebut diucapkan dengan nada serius, mau tak mau terpaksa Hoa Thian-hong harus melaksanakan seperti apa yang dikatakan olehnya, sesudah melepaskan pedang bajanya dan diletakkan dibawah kasur iapun berbaring diatas pembaringan.
"Nah, apa yang hendak kau perdebatkan sekarang boleh kau katakan secara blak-blakan!"
Agaknya Giok teng bnjin merasa sangat gembira, ia lemparkan satu senyuman yang amat mesrah kepada pemuda itu, lalu katanya.
"Cinta kasih yang diperlihatkan Pek Kun-gie kepadamu telah diketahui oleh khalayak umum, sedangkan rasa cinta dan sayang dari aku, Ku Ing-ing kepadamupun rasanya tak perlu dijelaskan lagi bukan??"
Hoa Thian-hong menghela napas panjang, dengan mulut membungkam dia mengangguk. Giok Teng Hujin tersenyum, ujarnya lebih jauh.
"Dia yang mencintai dirimu lebih dulu? ataukah aku lebih dulu yang mencintai dirimu?"
Merah jengah selembar wajah Hoa Thian-hong, sahutnya dengan suara amat lirih.
"Susah untuk menentukan siapa yang lebih duluan, tapi aku rasa persoalan ini toh tidak terlalu penting"
Setelah berhenti sebentar, sambungnya kembali.
"Cinta kasih yang enci berikan kepadaku disertai dengan pelepasan budi kebaikan yang berlipat ganda, kalau dibicarakan sesungguhnya tentu saja Pek Kun-gie tak dapat dibandingkan dengan dirimu!"
Giok Teng Hujin tertawa.
"Perkawinanmu dengan Chin Wan-hong, perduli atas usul dari siapa, kejadian ini adalah suatu peristiwa yang sangat adil dan jamak, sebaliknya kalau engkau tinggalkan Chin Wanhong untuk menikah dengan Pek Kun-gie, bukan saja semua orang gagah yang ada di kolong langit akan memandang hina dirimu, merekapun akan memandang rendah pula ibumu, semua orang gagah di kolong langit tentu akan pada membicarakan ketidakbecusan ibumu serta ketidak bijaksanaannya dalam mengambil keputusan"
Mendengar perkataan itu, tiba-tiba Hoa Thian-hong merasa peluh dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, dengan gugup ia menimbrung dari samping.
"Sampai detik ini, aku dan ibuku belum pernah memikirkan hal-hal seperti apa yang cici katakan barusan!"
Giok Teng Hujin tersenyum, kembali ia menyela.
"Benarkah begitu? Kalau rumah tangga sendiri tak dapat mengatur, mana mungkin mengatur suatu negara? Engkau dan ibumu adalah tulang punggung para jago dari golongan lurus, kalau toh urusan rumah tanggapun tak becus untuk mengatur, dengan dasar apakah kalian bisa menegakan keadilan serta kebenaran bagi umat persilatan??"
Sesudah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh.
"Dalam kenyataan, meskipun pendapat seperti ini tak pernah kalian pikirkan, dalam hatipun secara lapat-lapat telah merasakan, cuma saja berhubung kata-kata semacam itu diucapkan keluar oleh seorang perempuan jahat seperti aku sekarang ini, maka engkau meneri manya dengan suatu perasaan istimewa pula"
"Selamanya siaute tak pernah memandang enci sebagai orang jabat, dan ibuku juga tak pernah mempunyai pandangan begitu...."
Kembali Giok teng hnjin tertawa.
"Perduli bagaimanapun juga, yang jelas aku berdiri dipihak orang-orang jahat, mungkin engkau sendiripun tak pernah memikirkan bukan, orang baik bukan saja harus dipuji dan disanjung oleh orang baik, selain itu orang jahatpun harus ikut memuji dan menyanjungnya pula, dengan demikian ia baru bisa dianggap seorang yang benar-benar baik sejati!"
"Aaah! Mana mungkin ada orang jahat bersedia memuji dan menyanjung orang baik. Kalau sampai begitu dimanakah letak kebu sukan dari orang jahat itu?"
"Bukan begitu, engkau memandang watak manusia terlalu kasar dan gamblang, baik dia seorang kuncu ataupun seorang manusia jahat, bila mereka semua menaruh rasa kagum dan menyanjung, maka penghormatan tersebut barulah dapat dianggap sebagai suatu penghormatan yang sungguhsungguh dan dari situ pula lahirlah kata-kata yang menyatakan. Sesat selamanya tak bisa menangkan lurus, dan oleh karena pendapat ini pula semakin banyak yang diderita orang baik, semangat dan ambisinya semakin teguh, sebaliknya oOrang jahat yang terkena pukulan batin, jiwanya langsung jadi kerdil dan keberanianpun hancur berantakan.... tentu saja walaupun dalam hati kecil seorang manusia jahat merasa hormat terhadap seorang baik, ia selalu berusaha untuk menghindari pikiran sampai kesitu, apalagi mengumumkan perasaannya itu dihadapan umum"
Hoa Thian-hong berpikir sejenak, kemudian dengan muka serius sahutnya.
"Terima kasih atas petunjuk dari cici, mulai hari ini siaute pasti akan berusaha untuk menjadi seorang manusia yang benar-benar baik, sehingga membuat pihak musuhpun mau tak mau terpaksa mesti mengagumi diriku"
Giok Teng Hujin tertawa cekikikan.
"Apa yang sedang kubicarakan hanyalah masalah besar dalam dunia persilatan, masalah tentang muda mudi sih boleh bertindak lebih bebas dan leluasa, tak perlu musti pakai aturan segala"
Hoa Thian-hong tertawa terbahak-bahak, ia merasa dada dan pikirannya jadi lapang sekali.
Sebenarnya pembicaraan tentang masa lah baik dan busuk itu hanyalah perkataan melantur dari Giok Teng Hujin, perempuan itu sendiripun tak pernah memikirkannya dihati, tapi bagi pendengaran Hoa Thian-hong telah mendatangkan manfaat yang amat besar.
Sebelum kejadian tersebut, Hoa Thian-hong masih merupakan seorang pemuda yang keras kepala dan berdarah panas tapi mulai detik itu juga segala watak serta perangainya telah mengalami perombakan besar dan jadilah dia seorang lelaki sejati yaog berjiwa ksatria, setiap perkataan maupun perbuatannya tak malu disebut seorang pemimpin dari golongan kaum lurus.
Sudah tentu Giok Teng Hujin sendiripun tak pernah menduga kalau ucapan isengnya telah mendatangkan perubahan besar bagi kekasih hatinya ini.
Sementara itu dipthak lain, Pek Kun-gie yang kemarin malam baru saja lolos dari pengejaran Tio Sam-koh, ketika baru saja ia tiba didepan mulut sebuah gang, tiba-tiba dari balik kegelapan menyusup keluar seorang kakek tua berjenggot putih, begitu munculkan diri dia segera lancarkan sebuah totokan yaog merobohkan gadis itu kemudian mengempitnya di bawah ketiak dan kabur dari situ.
Dari gerakan tubuh kakek tua itulah, Tio Sam-koh segera kenali orang itu sebagai Pia Leng-cu dari perkumpulan Thongthian-kauw dan karena itu pula dia tidak melanjutkan pengejarannya.
Kakek berbaju putih itu sama sekali tidak berlalu dengan begitu saja, sesudah membawa Pek Kun-gie berputar satu lingkaran akhirnya ia kembali lagi disekitar rumah penginapan tersebut dan menyembunyikan diri ditempat kegelapan sambil menyaksikan pertarungan sengit antara Hoa Thian-hong melawan Kiu-im Kaucu, menanti kedua belah pihak telah buyar barulah dia mengempit tubuh Pek Kun-gie dan menyusup keatas loteng sebuah rumah obat diseberang penginapan tersebut dan bersembunyi disudut gudang obat tadi.
Orang itu memang tak lain dan tak bukan Pia Leng-cu, dengan pedang emas berada dalam sakunya, sambil melarikan diri dari pengejaran Kiu-im Kaucu, dia pun berusaha untuk merampas pedang baja milik Hoa Thian-hong serta mendapatkan kitab kiam keng yang maha dahsyat tersebut.
Apabila orang-orang dari pihak Mo-kauw tidak masuk bilangan, maka dewasa ini ilmu silat yang dimiliki Hoa Thian Hoag serta Kiu-im Kaucu boleh dibilang nomor satu di kolong langit, meskipun kepandaian silat dari Pia Leng-cu sendiripun sudah mencapai puncak kesempurnaan, akan tetapi kalau dibandingkan dengan kedua orang jago ini, dia masih tetap kalah setingkat,oleh sebab itulah untuk menghadapi kedua orang jago lihay ini menantang secara berhadapan, maka diputuskan untuk bermain gerilya ditempat kegelapan.
Sejak perkumpulan Thong-thian-kauw musnah dari muka bumi, imam tua ini selalu berusaha untuk membalas dendam, dan satu-satunya harapan yang dijagakan dirinya adalah memperoleh kitab Kiam keng tersebut kemudian mempelajari isinya.
Selama ini semua anggota perkumpulan Thong-thian-kauw mempelajari ilmu pedang, dengan dasar ilmu silat serta tenaga dalam yang dimilikinya sekarang, apabila bisa memperoleh kemajuan yang amat pesat, dan asalkan ia sanggup menandingi kepandaian silat dari Hoa Thian-hong serta Kiu-im Kaucu, maka dunia persilatan akan berada dibawah injakan kakinya, dalam keadaan begitu tak sulit untuk membangun kembali perkumpulan Thong-thian-kauw yang telah runtuh.
0000O0000 KUNCI UNTUK memperoleh kitab pusaka Kiam keng yaitu pedang emas itu berada ditangannya akan tetapi Kiu-im Kaucu selalu mengejar-ngejar terus membuat dia makan tak enak tidur tak tenang, hal ini membangkitkan niatnya untuk merampas pedang baja milik Hoa Thian-hong dan kemudian kabur jauh-jauh dari situ, asal dia bisa mempela jari isinya niscaya dunia aian menjadi miliknya.
Begitulah, sekembalinya keatas loteng kecil, dia lantas memikirkan pertarungan sengit yang baru saja berlangsung antara Hoa Thian-hong melawan Kiu-im Kaucu, ia tahu sesudah pertarungan tersebut hawa murni mereka berdua pasti mengalami kerugian besar, dalam keadaan begitu tak mungkin Kiu-im Kaucu akan muncul kembali disana, ia lantas merasa bahwa malam ini adalah saat yang paling tepat untuk merebut pedang baja itu.
Pek Kun-gie yang kena dibekuk segera diikatnya dengan tali otot kerbau yang kuat, mulutnya dijejali pula dengan robekan kain sehingga tak dapat berteriak.
Kemudian tubuhnya disembunyikan dibawah tumpukan obat-obatan.
Sedangkan ia sendiri menyusup kembali kedaerah sekitar rumah penginapan dimana Hoa Thian-hong berdiam, menurut perkiraannya Pek Kun-gie yang ditotok jalan darah pingsannya tak akan sadar dalam beberapa jam, karenanya tak mungkin juga ia dapat meloloskan diri.
Walaupun begitu ia tak berani terlalu mendekati rumah penginapan tersebut, sebab pertarungan sengit antara Hoa Thian-hong melawan Kiu-im Kaucu telah mendatangkan rasa bergidik dalam hatinya, selain itu diapun dapat menyaksikan peristiwa terlukanya orang-orang Mo-kauw yang menyergap rumah penginapan malam itu.
Dalam keadaan ketakutan dan pernah pecah nyali, akhirnya dia ambil keputusan untuk tidak melakukan gerakan apa-apa secara gega bah, tapi mendekam disekitar penginapan sambil menantikan saat yang tepat untuk merampas pedang baja itu Beberapa saat kemudian ia lihat cahaya lampu dirumah penginapan itu telah padam, ia mengira Hoa Thian-hong sekalian telah naik kepembaringan dan tidur, maka ditunggunya dengan tenang ditempat kegelapan.
Siapa tahu lewat beberapa saat kemudian, mendadak Hoa Thian-hong munculkan diri dari dalam kamarnya dan tinggalkan rumah penginapan tersebut menuju kepintu kota sebelah utara.
Sesudah berpikir sebentar, imam tua ini segera menduga kalau kepergian Hoa Thian-hong saat itu tentulah dikarenakan persoalan Pek Kun-gie, maka ia menguntit dari kejauhan, dia ingin tahu apa yang hendak di lakukan si anak muda itu.
Tak tahunya ditengah jalan Hoa Thian-hong telah berjumpa dengan Giok Teng Hujin, maka dengan sendirinya perjalananpun terhenti ditengah jalan.
Pia Leng-cu adalah seorang jago kawakan yang mempunyai banyak pengalaman dalam dunia persilatan, ia menyadari betapa sempurnanya tenaga dalam yang dimiliki Hoa Thiian Hong dan betapa tajamnya pendengaran si anak muda itu, salah-salah kurang waspada niscaya jejaknya ketahuan musuh, selain itu dia pun kuatir srigala mengincar kambing, harimau menunggu diarah belakang, dan jejaknya ditempeli eleh Kiu-im Kaucu yang kejam, oleh sebab itulah semua tindak tanduknya dilakukan dengan sangat berhati-hati, sedikitpun tak berani bersikap gegabah.
Posisinya saat ini berada diantara desakan dua kekuatan besar, ibaratnya ular yang kena digebuk, ia tak berani berbuat seenaknya sendiri sehingga dia sendiri malahan jatuh dalam pengawasan orang.
Ketika dilihatnya Hoa Thian-hong sudah masuk kedalam loteng dan jendelapun sudah tertutup, diam-diam ia berputar satu lingkaran kemudian dengan sangat berhati-hati mendekati tempat tersebut.
Setibanya diluar jendela, imam tua ini segera tutup napasnya dan mengamati suasana dalam ruangan dengan seksama, ia temukan Giok Teng Hujin sedang melolob Hoa Thian-hong dengan arak keras, bahkan yang dipergunakan adalah arak Cui sian mi suatu arak yang berkadar tinggi dari perkumpulan Thong-thian-kauw, jadinya ia sangat Kegirangan, diam-diam ia bersyukur kepada sukma cousu ya nya yang sudah menyediakan kesempatan baik kepadanya untuk peroleh pedang baja serta menjadi seorang tokoh tak terkalahkan didunia, dalam hati ia lantas ambil keputusan, asalkan pedang baja itu sudah jatuh ketangan nya dan kitab Kiam keng didapatkan olehnya, maka sambil membawa Pek Kun-gie dia akan kabur jauh dari keramaian dunia dan mencari tempat yang tidak dapat ditemukan Kiu-im Kaucu untuk mempela ari isi kitab Kiam keng tersebut.
Bila ditambah pula dengan ilmu catatan Kiam keng bu kui yang diketahui Pek Kun-gie, jika ia muncul kembali dalam dunia persilatan, siapa lagi yang mampu menandingi dirinya?
Terbayang pula betapa nikmat dan hangatnya dia akan mencicipi tubuh Pek Kun-gie yang putih mulus dan padat berisi itu, hatinya jadi sangat kegirangan, ia merasa pengorbanan serta penderitaan yang dialaminya selama ini dia masih belum terhitung seberapa jika dibandingkan dengan apa yang bakal diraih di kemudian hari.
Pia Leng-cu tahu betapa lihaynya madu arak Cui sian mi ini, asalkan Hoa Thian-hong meneguk setengah cawan, seratus persen pemuda itu pasti akan mabuk dan tak sadarkan diri.
Menyusul mana dia dengar pembicaraan yang lirih dari kedua orang itu, meskipun dalam hati merasa amat gelisah akan tetapi berhubung persoalan ini menyangkut masa depan dirinya, maka imam tua ini selalu bersabar diri dan bertindak dengan hati-hati.
Siapa tahu fajar telah menyingsing diufuk sebelah timur, imam itu tahu bila mengintip lewat luar jendela dilanjutkan, meskipun mereka yang berada dalam ruangan tidak sampai mengetahui perbua-tannya, tapi bagi mereka yang lewat dijalan raya sebelah bawah sana pasti akan mengetatui perbuatannya itu dalam sekilas pandangan.
Dengan perasaan apa boleh buat, terpaksa ia menggeserkan tubuhnya kembali ke tempat persembunyiannya kesudut bangunan yang sulit diketahui orang, walaupun begitu dengan tenaga dalam yang dimiliki Hoa Thian-hong ternyata ia tak sempat mendengarkan sesuatu tanda yang mencurigakan, bahkan Soat-ji rase salju yang punya penciuman yang melebihi manusia biasapun tidak merasakan sesuatu yang aneh.
Kendatipun Hoa Thian-hong tak tahu kalau diluar jendela telah siap seorang musuh tangguh, namun selama ini dia sendiripun selalu waspada, dia kuatir dirinya disergap musuh secara mendadak sehingga pedang baja itu dirampas orang, selain itu diapun takut kalau imamnya kurang teguh sehingga terjerumus kedalam jaring cinta Giok Teng Hujin, karenanya ia selalu menjaga otaknya atar tetap segar dan dingin.
Demikianlah, ketika Pia Leng-cu merasa saat yang dinantikan telah tiba, maka ia menerjang masuk kedalam ruangan dengan langkah yang berhati-hati serta penuh perhitungan, toh perhitungan itu akhirnya meleset juga bukan saja usahanya gagal total bahkan harus kabur sambil membawa luka yang parah.
Seandainya Giok Teng Hujin tidak memegangi Hoa Thianhong terus menerus, niscaya imam tua itu akan mampus diujung telapak tangan Hoa Thian-hong yang ampuh.
Dengan kaki berjalan pincang, Pia Leng-cu segera loncat turun dari atas loteng, buru-buru ia telan sebutir pil pemunah racun dan kabur lewat jalanan yang masih sepi.
Setalah kabur, dia masuk kedalam sebuah ruangan dalam suatu pen ginapan kecil, imam ini duduk bersila dan salurkan hawa murninya untuk melawan kekuatan racun yang bekerja dalan tubuhnya.
Racun keji dari Kiu-tok Sianci memang tersoohor karena keganasannya, walaupun dia telah menelan sebutir pil pemunah namun obat tersebut tidak menunjukkan kemanjuran apa-apa, saluran hawa murni yang dimaksudkan untuk mendesak keluar racun itu dari dalam tubuhpun mengalami kegagalan total, untung ia cuma sebentar menangkap pedang baja itu sehingga dia hanya menderita keracunan ringan, dengan andalkan tenaga dalam hasil latihannya selama enam puluh tahun, akhirnya ia berhasil mendesak racun itu ke ujung tiga jari tangan kirinya.
Demi untuk selamatnya jiwanya, dalam keadaan begini sambil gertak gigi ia lantas cabut sebilah pisau belati dan menebas kutung ketiga buah jari tangannya itu.
Setelah racun keji itu dapat dimusnahkan, selembar jiwanya selamat pula dari ancaman maut, buru-buru dia ambil keluar obat luka dan dibubuhkan keatas mulut luka diatas tangan serta kakinya, sesudah membalut dengan baik barulah topeng kulit manusia yang ia kenakan dilepaskan.
Semburan arak dari Hoa Thian-hong yang bersarang telak dipipi kanannya terasa amat dahsyat, untung mukanya dilindungi oleh topeng itu sehingga tak sampai terluka parah kendati begitu separuh wajahnya telah membengkak besar, buru-buru ia mengurutinya bebe-rapa saat, kemudian ganti pakaian, menutupi mukanya dengan kain cadar dan berlalu dari rumah penginapan itu.
Dengan hati kebat kebit karena ketakutan, sepanjang perjalanan Pia Leng-cu berjalan seperti maling takut ketangkap polisi, dengan susah payah akhirnya toh dapat kembali keatas loteng kecil rumah obat itu dengan selamat.
Jalan darah Pek Kun-gie yang tertotok, saat itu sudah bebas dengan sendirinya, waktu itu dia sedang menggerakan tubuhnya diba wah tumpukan bahan obat, Pia Leng-cu maju menghampiri dan mengangkat tubuhnya dari bawah tindihan bahan obat-obatan.
Diatas loteng kecil itu, terdapat sebuah jendela kecil yang tepat berhadapan dengan penginapan dimana Hoa Thian-hong menginap, diatas jendela tersebut Pia Leng-cu membuat sebuah lubang kecil yang bisa di gunakan untuk mengintip segala gerak-gerik dipintu luar penginapan tersebut.
Suasana dalam ruangan gelap gulita, tapi sinar yang memancar masuk lewat lubang itupun dapat menyinari seluruh ruangan dengan jelas.
Setelah sadar dari pingsannya, Pek Kun-gie temukan kaki dan tangannya dibelenggu orang, sadarlah dara itu bahwa dia telah di tangkap orang, namun ia tak tahu siapakah yang telah menawan dirinya ini.
Kemudian ia alihkan sorot matanya kesamping dan menyaksikan seorang pria berkain cadar hitam dengan bentuk badan persis seperti Pia Leng-cu berdiri dihadapannya, ia baru terkesiap hingga keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya.
Bagaikan sukma gentayangan saja, Pia Leng-cu mengangkat tubuh Pek Kun-gie dan diletakkan disudut ruangan, kemudian perlahan-lahan ia lepaskan kain cadar yang menutupi wajahnya.
Dahulu ia pelihara jenggot pulih yang panjang, tapi untuk melengkapi penyamarannya, jenggot itu sudah dicukur habis, kini dengan muka yang murung bercampur kesal serta bengkak separuh ditambah pula sorot matanya yang memancarkan cahaya kebengisan ke lihatan amat mengerikan sekali sehingga bikin hati orang jadi bergidik.
Dengan pandangan tajam Pek Kun-gie mengawasi pria dihadapannya, setelah merasa yakin kalau orang itu adalah Pia Leng-cu, bulu kuduknya tanpa terasa pada bangun berdiri, tak kuasa lagi titik air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya.
Dengan muka menyeringai seram, Pia Leng-cu mengangkat tangan kirinya dan diperlihatkan dihadapan dara itu sambil ujarnya dengan suara menyeramkan.
"Lihatlah dengan cepat, mukaku, tanganku semuanya dilukai oleh Hoa Thian-hong sampai kaki kiriku jadi pincang pula. Hmm! semua hutang darah ini akan kulampiaskan diatas tubuhmu, apalagi hutang perkumpulan Sin-kie-pang atas Thong-thian-kauw sudah menumpuk terlalu banyak, kini akan ku tagih semua dirimu"
Sambil berkata perlahan-lahan dia lepaskan kain handuk dan mengeluarkan pula sumbat kain yang memenuhi mulut Pek Kun-gie.
Berada dalam keadaan begini, dara ayu dari perkumpulan Sin-kie-pang ini segera berpikir di hati.
"Setelah aku terjatuh ketangan bangsat ini, tak bisa dibayangkan bagaimana akibatnya, kalau aku tidak cepat-cepat mati maka siksaan serta penderitaan yang kualami akan bertambah parah.... aaai! Thian-hong.... ooh Thian-hong. Gadis itu kuatir kesempatan yang ada lenyap dengan begitu saja, sehingga akhirnya dia malah tersiksa hebat, maka tanpa berpikir panjang lagi ia menggigit lidahnya keras-keras bermaksud untuk bunuh diri. Sebagian besar anggota perkumpulans Thong-thian-kauw hidup dalam pelampiasan nafsu seks atas lawan jenisnya, selama hidupnya Pia Leng-cu entah sudah berapa banyak merusak kehormatan dan kesucian anak gadis orang, makin tua makin menjadi dan ia pan ai sekali menyelami perasaan kaum wanita. Ketika dilihatnya paras muka Pek Kun-gie berubah hebat, secepat sambaran kilat tangan kanannya menjepit sepasang pipi dara itu, membuat mulutnya tak sanggup terkatup kembali. Air mata semakin deras bercucuran membasahi wajah Pek Kun-gie, dengan sorot mata penuh kegusaran ia melototi musuhnya tanpa berkedip. Pia Leng-cu tertawa seram, sepatah demi sepatah ia berkata dengan nada seram.
"Dengarkanlah baik-baik, kalau engkau berani bunuh diri maka segera kunodai jenasah mu, kemudian telanjangi dirimu dan kugantung mayatmu didepan pintu kota sana, agar semua orang yang ada diseantero jagad tahu kalau perempuannya Hoa Thian-hong telah dirusak kehormatannya oleh aku Pia Leng-cu!"
Selesai berkata, ia lepaskan jepitannya. Sekujur badan Pek Kun-gie gemetar keras, setelah berpikir beberapa saat lamanya, ia benar-benar tak berani untuk bunuh diri, pikirnya dihati.
"Baik mati maupun hidup, aku tak boleh bikin malu Thian honh, lebih baik aku pasrah saja pada nasib dan mengikuti perkembangan situasi selanjutnya...."
Setelah ambil kepututan didalam hati, ia berkata.
"Kalau mau bunuh aku bunuhlah dengan cepat dan biarkan aku mati dengan tubuh yang suci, anggap saja engkau telah balaskan dendam bagi Thong-thian-kauw, dan perkumpulan Sin-kiepang kami telah membayar impas hutang berdarah ini, dalam keadaan begini aku Pek Kun-gie akan mati dengan mata meram tanpa mengucapkan separah katapun, Hoa Thian-hong adalah seorang enghiong yang mengutamakan kebijaksanan dan keadilan, ia pasti akan merasakan kebaikan budimu ini, siapa tahu ia malah akan memberikan imbalan yang besar untuk itu"
Hmm! Perkataanmu telah membingungkan, aku Pia Lengcu sama sekali tak mengerti"
Tukas imam tua itu dengan ketus. Sesudah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh"
"Setelah urusan berkembang jadi begini, masing-masing pihakpun berjalan menurut seleranya masing-masing, kini aku Pia Leng-cu tinggal sebatang kara, tiada sesuatu apapun yang perlu kutakuti lagi, asal ada keuntungan bagi ku maka pekerjaan itu segera kulakukan. Hmmm! jika engkau membandel terus, jangan salahkan kalau kunodai dulu kesucianmu untuk melampiaskan semua rasa dongkolku, ke mudian baru bikin perhitungan selanjutnya"
Ketika mendengar perkataan tersebut, terutama sekali kata-kata yang berbunyi '....
dimana ada keuntungan disana kulakukan perbuatan itu....' satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benaknya, ia lantas berpikir.
"Pedang emas tersebut berada dalam saku bangsat ini, kalau ditinjau dari tindak tanduknya yang selalu mengintil kepergian Hoa Thianhong, rupa-rupanya diapun bermaksud untuk mendapatken kitab Kiam keng. Asalkan ia punya niat kesitu, berarti pula diapun takut banyak urusan.... untuk sementara waktu aku tak usah keburu mati, kalau Thian-hong mengetahui akan persoalan ini, dia pasti akan datang menolong diri ku, sampai waktunya kalau bangsat ini hendak celakai jiwa Thian-hong, siapa tabu kalau aku bisa bantu menyelamatkan jiwanya?"
Jilid 19 SEMENTARA ia masih termenung, dengan wajah menyeringai seram Pia Leng-cu telah berkata lagi.
"Sekarang, beritahu dulu kepadaku apa isi catatan Kiam keng bu kui yang kau ketahui, jika berani menyelewengkan kata-kata tersebut dari isi yang sebenarnya.... Hmm! Akan kusuruh kau tak punya muka untuk berjumpa lagi dengan Hoa Thian-hong"
Pek Kun-gie selalu teringat akan Hoa Thian-hong, maka Pia Leng-cu menggunakan titik Kelemahan tersebut untuk memaksa gadis itu menuruti Kemauannya, meskipun cara ini amat keji dan tak tahu aturan namun amat jitu dan tepat mengenai sasarannya.
Mendengar permintaan tersebut, dalam hati Pek Kun-gie segera berpikir.
"Kalau aku mengatakan tak tahu, dia pasti tak percaya, seba-liknya Kalau kuterangkan sejujurnya, bila intisari kepandaian tersebut sampai dipahami olehnya, bukankah kepandaian silat yang dia miliki akan melampaui Thian-hong?"
Agaknya Pia Leng-cu dapat menebak pula isi hatinya, ia menyeringai seram dan berseru Engkau tak usah banyak berpikir, ilmu silat kekasihmu itu berada jauh didepanku sekalipun aku berhasil memahami intisari catatan Kiam keng bu kui, belum tentu bisa menyusul kemampuannya, siapa kuat siapa lemah masih harus ditentukan setelah Kiam keng mustika itu akhirnya diketahui terjatuh ketangan siapa.
Hmm!
Sekalipun kuhafalkan dengan sejujurnya, belum tentu kau percaya seratus persen, pasti kau ngotot mengatakan aku bohong.
"Hafalkan saja dengan cepat, palsu atau asli aku dapat mem-bedakan sendiri!"
Tukas Pia Leng-cu. Pek Kun-gie kembali berpikir dihati.
"Isi Kiam keng bu kui bagian depan banyak diketahui oleh para jago yang hadir dalam pertemuan Kian ciau tay hwe, tak mungkin aku bisa bohong, sebaliknya kalau isi bagian belakang sengaja kukacau sedikit, rasanya belum tentu ia dapat membedakan...."
Karena berpendapat begitu, iapun lantas menghapalkan isi catatan tersebut.
"Peraturan menurut langit, kerugian pasti tersisa.... Berjaga ketat sikap waspada dan rahasia, pedang pengusir setan, bocorkan ra hssia langit, lambat, tenang, lincah, bergabung jadi...."
Tiba-tiba Pia Leng-cu tertawa seram.
"Heehh.... heeehh.... heeehh.... keliru besar, lambat, tenang dan lincah mana mungkin bisa digabungkan jadi satu?"
Cahaya kilat berkelebat lewat dan....Breet!
pakaian yang dikenakan Pek Kun-gie dari bagian dada sampai antara belahan pahanya mendadak tersebar robek sehingga anggota badannya yang putih mulus dan merangsang tertera jelas didepan mata, Pisau belati itu disembunyikan dibawah pakaian, setelah merobek pakaian Pek Kun-gie ia sembunyikan kembali pisaunya ditempat semula, semua gerakan dilakukan dalam waktu singkat dan secepat sambaran kilat.
Pek Kue Gie hanya merasakan cahaya tajam berkilauan, sebelum sempat melihat jelas bentuk pisau tersebut tahu-tahu semuanya sudah terjadi, untung gadis itu duduk bersila ditanah oleh sebab badannya naik turun tidak merata maka babatan pisau tersebut tak sampat melukai tubuhnya.
Walaupun begitu, dari sini pula dapat di buktikan betapa sempurnanya permainan ilmu pedang yang dimiliki imam tua ini.
Muja-mula Pek Kun-gie merasa terperanjat, menyusul mata hatinya jadi gusar bercampur malu apalagi setelah dilihatnya pakaian yang dikenakan robek sama sesali hingga dada dan bagian bawahnya terlihat jelas.
Berada dalam keadaan bagini, gadis itu ingin mati saja, tapi ia tak berani berbuat begitu kuatir kalau jenasahnya benarbenar dinodai imam cabul tersebut, sepasang tanganpun terbelenggu dibelakang punggung hingga tak mungkin bisa digunakan untuk menutupi bagian yang kelihatan.
Saking gemas benci dan mendongkolnya, sekujur badannya gemetar keras, sambil menggertak gigi ia berseru.
"Lebih baik bunuhlah diriku, kalau tidak suatu saat pasti kucokel keluar sepasang biji matamu itu!"
Pia Leng-cu sama sekali tidak menggubris perkataan itu, sepasang matanya melotot besar dan mengawasi payudara sang dara yang menonjol sebagian dari balik pakaiannya yang robek, terutama sekali lekukan tubuh bagian bawahnya yang indah memikat, membuai matanya hampir tak berkedip, paras mukanya yang membengkak berderu ken cang menahan emosi, keringat sebesar kacang kedelai mengucur keluar tiada hentinya, tanpa sadar nafsu birahinya telah berkobar dengan hebatnya....
Haruslah diketahui Pek Kun-gie adalah seorang gadis yang cantik jelita bagaikan bidadari, bukan saja paras mukanya sangat menawan hati bentuk tubuhnya pun sangat indah, ditambah pula kulit tubuhnya yang putih bersih sama sekali tiada Cacad, pinggangnya ramping serta sepasang payudaranya yang bulat berisi, boleh dibilang suatu perpaduan yang amat serasi.
Pia Leng-cu adalah seorang lelaki hidung bangor yang gemar main perempuan, tidaklah heran kalau nafsu berahinya kontan berkobar setelah menyaksikan anggota tubuh gadis itu.
Pek Kun-gie merasa amat malu bercampur marah, pikirnya dihati.
"Daripada tubuhku ternoda oleh bajingan cabul ini, lebih baik mati saja.... aaa! Dari pada tubuh ternoda, lebih baik aku mati dalam kesucian."
Setelah ambil keputusan dihatinya, iapun siap menggigit putus lidah sendiri untuk bunuh diri.
Tapi sebelum niat tersebut dilaksanakan, tiba-tiba Pia Lengcu berpaling ke arah lain dan menghela nafas panjang.
"Aaaai....!"
Terperangah hati Pek Kun-gie menyaksikan kejadian tersebut, ingatan untuk bunuh diripun untuk sementara waktu ditunda lagi.
Meskipun Pia Leog cu telah alihkan sinar matanya ke arah lain, tapi apa yang barusan dilihat masih terbayang nyata dalam benak nya, perasaan hatinya masih bergolak keras dan nafsu berahi yang telah berkobarpun susah ditenangkan kembali, keringat sebesar kacang kedelai masih terus mengucur keluar membasahi tubuhnya.
Pada saat ini terjadilah perang batin yang sangat dahsyat dalam hati kecilnya, ia merasakan suatu siksaan dan penderitaan yang belum pernah dialaminya sepanjang hidup.
Haruslah diketahui, meskipun bentuk badan Pek Kun-gie sangat indah tetapi kalau pria yang memandang tubuhnya itu hanyalah seorang pria yang belum berpengalaman, maka pria tersebut paling banter cuma merasakan keindahannya belaka, sama sekali tiada rangsangan lain yang jauh lebih hebat.
Sebaliknya Pia Leng-cu berasal dari perkumpulan Thongthian-kauw, pada dasarnya dia memang seorang pria cabul yang gemar main perempuan, sepanjang hidupnya entah sudah berapa banyak perempuan yang digauli olehnya, justru karena terlalu banyak perempuan yang pernah dilihat olehnya maka ia dapat merasakan kalau bentuk badan Pek Kun-gie luar biasa sekali dan susah diuraikan tandinganya di kolong langit, justru karena pendapat inilah maka rangsangan yang membara dalam dadanya beratus ratus kali lebih hebat daripada rangsangan pada umumnya.
Kalau menuruti watak serta keinginan hatinya, sedari tadi dia pingin menubruk gadis itu serta memperkosanya.
Namun diapun memahami perangai dari Pek Kun-gie, dia tahu gadis itu berhati keras, jika ia terburu-buru merodai tubuhnya, niscaya gadis itu akan bunuh diri dan kalau sampai terjadi keadaan demikian, itu berarti semua rencananya akan gagal total.
Sudah tentu imam tua ini tidak berharap rencana besarnya mengalami kegagalan total hanya disebabkan salah melangkah, ia lantas berusaha untuk menekan perasaan sendiri serta memadamkan api berahi yang sudah hampir mencapai pada puncaknya itu.
Beberapa waktu sudah lewat, ditengah keheningan yang mencekam, ia menjerit dalam hati kecilnya.
"Tidak boleh.... Tidak boleh....! Aku tidak boleh melakukannya pada saat ini, dengan adanya gadis ini sebagai sandera, sekalipun tempat persembunyianku ditemukan Hoa Thian-hong keparat cilik itu belum tentu dia berani mengapa-apakan diriku, kalau kuinginkan pedang baja itu ditukar dengan gadis ini, mungkin saja keparat itupun akan menyanggupi, sebaliknya kalau kupaksa keparat cilik itu untuk menghadapi Kiu-im Kaucu, diapun pasti tak berani membangkang perintahku, kini isi dari catatan Kiam keng bu kui belum kudapatkan, aku tak boleh membuat suasana jadi rusak berantakan."
Setelah dipikirkan berulang kali akhirnya dia ambil keputusan untuk memadamkan api berahi dalam hatinya, dari bawah tumpukkan bahan obat ia ambil keluar sebuah buntalan serta pedang mustika Poan liong poo kiam tersebut.
Pedang mustika itu diselipkan dulu dalam pakaiannya, setelah kobaran api birahinya bisa dikuasainya, dia lepaskan buntalan itu dan ambil keluar satu stel jubah warna hijau, dengan pakaian itu ia tutupi badan Pek Kun-gie yang setengah telanjang tadi sehingga tinggal kepalanya saja yang kelihatan.
Pek Kun-gie jadi terperangah oleh tindak tanduk imam tersebut, pikirnya didalam hati.
"Meskipun bajingan tua ini patut dibunuh namun ilmu silat yang dia miliki memang terhitung lihay, tampaknya di kolong langit dewasa ini kecuali Thian-hong serta Kiu-im Kaucu, tiada orang ketiga yang mampu menandingi dirinya lagi"
Dalam pada itu, Pia Leng-cu sudah putar badannya dan berkata dengan suara dingin.
"Mulai sekarang aku harap engkau bisa baik-baik membawa diri, ketahuilah pada saat ini aku berusaha keras untuk menahan diri kalau engkau mencari kesulitan terus dan berusaha untuk membangkitkan bawa gusar ku, itu berarti engkau sendirilah yang ingin mencari kepuasan dan sengaja memancing nafsu birahiku untuk memperkosa engkau!"
Paras muka Pek Kun-gie berubah jadi hijau membesi, karena gusarnya, tapi gadis itu tahu apa yang diucapkan adalah kata-kata sejujurnya, dalam hati dia merasa takut dan tak berani banyak berbicara lagi.
Pia Leng-cu mendekati bawah jendela dan duduk disitu, ujarnya kembali.
"Kepandaian silatku juga terletak diatas sebilah pedang, kalau dihitung sampai ini hari maka sejarahnya sudah berlangsung enam puluh tahun lamanya, perduli sampai dimanakah kehebatan dari Kiam keng bu kui, asal kau masukkan sepatah kata yang tiada hubungannya dengan catatan tersebut, aku segera dapat membedakannya. Ilmu Pedaug yang dimiliki Hoa Thian-hong sangat hebat tenaga dalam yang dia miltki juga jauh melebihi aku, tapi kalau berbicara tentang pengetahuan serta pengalaman dalam hal ilmu pedang, ia masih tak mampu menandingi aku, Pek Siau-thian sendiri hanya belajar sampai setengah jalan, tentu saja lebih tak masuk hitungan. Nah! kalau engkau tahu diri, lekaslah beritahu kepada ku semua isi catatan Kiam keng bu kui tersebut secara lengkap"
Teringat akan peristiwa yang baru saja terjadi, Pek Kun-gie ngeri sekali menghadapi imam tua yang berhati keji seperti kala jengking ini, apa yang dipikirkan sekarang hanyalah melindungi kesucian tubuhnya, selain itu ia tak berani membangkitkan amarahnya sehingga menimbulkan kerugian bagi diri sendiri.
Tanpa diulangi untuk kedua kalinya, cepat-cepat ia menghapalkan kelima puluh delapan kata isi catatan Kiam Leng bu kui tersebut tanpa salah sepatahkata pun.
Pia Leng-cu menghimpun segenap perhatian dan semangatnya untuk mendengar catatan itu, kemudaan dengan seksama dia teliti setiap kata tadi apakah ada yang palsu atau tidak, sesudah yakin tiada ke alahan barulah dia duduk bersandar didinding dan merenungkan makna dari pelajaran tersebut.
Apa yang tercantum dalam catatan Kiam keng bu kui hanyalah inti sari pelajaran ilmu pedang, ajaran itu sebangsa teori untuk menggunakan yang tiada menjadi ada, dan bukanlah jurus serangan untuk menghadapi musuh, oleh sebab itu bila seseorang tidak memiliki dasar ilmu silat yang cukup kuat sekalipun tahu isi pelajaran tersebut belum tentu bisa memahami isinya, sekalipun mengerti setengsh-setengah juga sama sekali tak ada manfaatnya.
Misalnya saja Pek Siau-thian yang mempunyai ilmu silat terdiri dari pelbagai macam ragam, walaupun kepandaian itu meliputi juga ilmu pedang tapi dasarnya amat terbatas sekali, walaupun begitu dia mengetahui akan besarnya manfaat dari pelajaran Kiam keng bu kui ini, maka setelah pertemuan Kian ciau lay hwee bubar, ia segera menutup semua cabang dan ranting perkumpulannya serta membuyarkan anggota perkumpulan yang ada, kemudian seorang diri menutup diri dan mendalami pelajaran yang diperoleh tersebut.
Disamping itu, iapun melatih pula beberapa macam ilmu silat yang lain dari perguruannya, dalam keadaan demikian Kho Hong hwee tak tega meninggalkan suaminya yang baru saja mengalami kekalahan total seorang diri, diam-diam Pek Siau-thian genbira sekali melihat kenyataan itu, berhubung istrinya juga berlatih ilmu pedang maka ia lantas mencatat kelima puluh delapan patah kata catatan Kiam keng bu kui itu diatas secarik kertas, dan diserahkan kepada putri sulungnya Soh-gie untuk diserahkan kepada ibunya, dengan sendirinya Pek Kun-gie jadi ikut mengetahui isi dari kelima puluh delapan kata itu.
Bagi Pek Siau-thian sekeluarga, kelima puluh delapan kata itu tidak mendatangkan manfaat apa-apa, berbeda jauh ketika diketahui oleh Pia Leng-cu.
Apa yang dikatakan imam tua itu sama sekali tak bohong, pengetahuannya mengenai ilmu pedang memang sudah mencapai tingkatan yang sangat tinggi, kelima puluh delapan kata itu ibaratnya melu-kis naga memberi mata, dalam waktu yang amat singkat ilmu silatnya telah peroleh kemajuan yang amat pesat.
Suasana diatas loreng sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, Pia Leng-cu duduk sanbii pejamkcn mata, ibaratnya padri yang sudah duduk semedi dan sama sekali tak pernah beranjak dari tempat duduknya Pek Kun-gie sendiri sama sekalii tak ada pekerjaan, ia gunakan waktu senggangnya untuk melamunkan Hoa Thianhong terutama sekali sepanjang masa mereka berduaan, mulai dari Hoa Thian-hong lari ra cun dikota Cho ciu hingga detik ini setiap hari dia hanya melamun terus, seringkali ia membayangkan bagaimana mereka menikah, punya anak dan berpesiar keseantero dunia, kemudian membayangkan pula bagaimana anak mereka menikah, punya cucu, hampir tiada sesuatu yang lewat dalam lamunanaya itu.
Asal dia mulai melamun maka segala-galanya sudah terlupakan olehnya, bahkan iapun merasa lupa dimana dia sedang berada.
Demikianlah, kedua orang itu masing-masing sibuk dengan pekerjaannya sendiri, sipapun tak mengganggu pihak yang lain, siapa pun tidak merasa lapar atau dahaga, sepanjang hari tak seorangpun yang buka suara untuk berbicara.
Malam harinya, tiba-tiba Pia Leng-cu bangkit berdiri, dengan kaki yang pincang dia berjalan bolak balik dalam ruang kecil itu, mendadak dari tumpukan peti obat dia ambil seutas ranting kering dan menggunakan ranting itu untuk menebas, menusuk dengan cepatnya.
Walaupun ditengah kegelapan, Pek Kun-gie masih sempat melihat kalau imam tua itu sedang berlatii pedang, ia berlatih terus tiada hentinya bahkan tak kenal lelah, hal ini membuat Pek Kun-gie lama kelamaan merasa amat kesal, pikirnya.
"Bangsat ini berlatih terus dengan tekunnya, kalau diteruskan maka ilmu silatnya tentu akan melampaui Thian-hong. Aaai....! Tahu begitu, lebih baik kukorbankan segala-galanya daripada memberi tahukan rahasia ini kepadanya...."
Menyusul mana dia membayangkan bagaimana Hoa Thianhong berperang tanding melawan Pia Leng-cu, bagaimana imam tua itu diteter terus sampai kalang kabut tak karuan, akhirnya pemuda itu putar pedang bajanya beberapa kali mencukil keluar sepasang biji mata imam bangsat ini, kemudian melamunkan pula bagaimana Hoa Thian-hong menggandeng tangannya mendaki bukit Thay san menyaksikan munculnya sang surya dari balik samudra luas....
Tengah malam telah menjelang, tiba tiba dari depan penginapan berkumandang suara kereta kuda, Pia Leng-cu kelihatan terkejut sambil membuang ranting kayunya dari genggaman, ia lari ketepi jerdela dan mengintip keluar lewat lubang yang dibuat.
Dari balik pintu samping rumah penginapan itu meluncur keluar sebuah kereta kuda.
Hoa Thian-hong duduk didepan sebagai sais kuda, jendela ruang kereta tertutup rapat sehingga tak terlihat siapakah yang berada dalam kereta itu.
Pek Kun-gie telah teisadar pula dari lamunannya, dengan hati terperanjat ia berseru lirih.
"Kenapa? Kenapa ia berangkat?"
Pia Leng-cu hanya mendengus dingin, mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa. Pek Kun-gie makin tercekat, serunya lagi.
"Kiu im katcu telah siapkan jebakan diatas sungai, nenek iblis itu bermaksud merampas pedang bajanya. Hmm! Kalau sampai pedang baja itu terjatuh ketangan Kiu-im Kaucu, selama hidup jangan harap kau bisa mendapatkan kitab pusaka Kiam keng"
Pia Leng-cu baru saja terpikat oleh keampuhan isi pelajaran Kiam keng bu kui, ia tahu kitab Kiam keng yang berada dalam pedang baja Hoa Thian-hong merupakan seluruh peninggalan ilmu pedang dari malai kat pedang Gi Ko, rangsangan tersebut terlalu besar baginya untuk bisa dibendung, mendengar perkataan dari Pek Kun-gie tadi timbullah perasaan tak tenang dan panik dalam hati kecilnya.
Tapi bagaimanapun juga dia adalah seorang jago kawakan yang banyak pengalaman semua tindak tanduknya selalu dipikirkan dulu secara cermat sebelum dilaksanakan, karena itu walaupun dalam hati merasa gelisah namun perasaan tersebut tak sampai diutarakan keluar.
Memandang kereta kuda itu makin menjauh, ia cuma berkata dengan suara tawa.
Tengah malam buta begini pintu kota sudah tertutup, tak mungkin kereta kuda itu bisa keluar dari kota.
Dalam hati kecilnya Pek Kun Gei mengeluh "Thian-hong....
ooh....
Tbhian Hong!
Mengapa kau tinggalkan aku seorang diri?
Tegakah kau biarkan aku terjatuh ketangan bajingan cabul ini?"
Dalam hati berpikir begitu, diluaran dia tertawa dingin dan berseru lagi.
"Untuk keluar kota dan menyeberangi sungai, masa membutuhkan kereta kuda? Hmm! Setibanya ditepi sungai, pedang baja itu pasti akan terjatuh ketangan Kiu-im Kaucu, waktu itulah Kiu-im Kaucu akan datang mencari engkau untuk merampas pedang emas itu, heeee.... heeehh.... heeeeh.... akan kulihat engkau hendak kabur kemana lagi?"
Pia Leng-cu menyeringai dan tertawa seram.
"Haaah.... haaahh.... haaahh.... sampai waktunya maka engkaulah yang bakal sial lebih dulu!"
Pek Kun-gie berusaha keras untuk mententramkan hatinya, sambil berlagak tak acuh, katanya.
"Kalau didengar dari pembicaraanmu memang tampaknya menyeramkan sekali, padahal setelah tiba pada waktunya asal mata melotot kaki menjejak, habis sudahnya waktu, apa yang musti aku pusingkan lagi?"
Pia Leng-cu berpikir dihati.
"Meskipun mulut budak ini sangat keras, dalam kenyataan memang begitulah. Heehmmm.... heehmm.... kalau orangnya sudah mampus, siapa yang akan memperdulikan lagi tubuhnya bakal diperkosa atau tidak, kata semacam itu toh tak lebih cuma gertak sambal belaka...."
Sementara itu derap kaki kuda sudah makin menjauh, ketika dilihataya Pia Leng-cu tiada minat untuk melakukan pengejaran, dalam gugup dan gelisahnya ia berseru kembali.
"Kalau engkau tak menanggung rasa penyesalan sepanjang masa, cepatlah kejar Hoa Thian-hong, ilmu silat yang dia miliki merupakan nomor satu di kolong langit, dia sudah tak akan tertarik oleh se
Jilid kitab Kiam keng, dia pasti bersedia menggunakan pedang baja itu untuk ditukar dengan aku"
Setelah berhenti sebentar, sambungnya lagi.
"Dia adalah seorang pria sejati yang tak pernah pungkiri setiap ucapan yang telah di utarakan keluar, asalkan ia sudah bersedia untuk menukar aku dengan pedang baja tersebut, maka janji itu tak akan diingkari dan diapun tak akan menyusahkan dirimu lagi!"
Pia Leng-cu tertawa seram, tukasnya.
"Haaahh.... haaahh.... haaahh.... pedangnya aku mau, orangnya aku juga mau, bagaimana akhirnya nanti hal ini harus dilihat dengannasibmu selanjutnya!"
"Huuh! jangan mimpi disiang hari bolong, siapa yang kesudiaan dengan binatang tak tahu malu seperti kau?! sumpah Pek Kun Ge didalam hati. Mendadak ia merasa iganya jadi kaku, dan gadis itupun jatuh tak sadarkan diri. Sesudah menotok jalan darah pingsan di iga Pek Kun-gie, imam tua itu menggapitnya dibawah ketiak dan melayang turun kebawah loteng, dengan menelusurl jalan raya dia mengejar ke arah mana kereta kuda tadi berlalu. Baru saja menyeberangi sebuah jalan raya, dari kejauhan tampaklah kereta kuda ini berjalan dengan sangat lambat, rupanya Hoa Thian-hong kuatir mengganggu ketenangan tidur rakyat disekitar sana maka kereta itu sengaja dilarikan dengan perlahan. Pia Leng-cu menyadari kalau ilmu silatnya masih bukan tandingan lawan, apalapi kaki kanannya pincang dan mulut lukanya belum merapat, oleh sebab itu dia cuma menguntil dikejauhan dan tak berani terlalu mendekati, sepertanak nasi kemudian tibalah kereta itu dibawah kaki pintu kota sebelah utara.
"Kreekk.... kreeekk....!"
Pintu kota yang tebal dan berat tiba-tiba terbentang lebar, dari balik gelagapan muncullah dua orang penjaga berseragam lengkap.
Hoa Thian-hong segera jalankan keretanya keluar dari pintu kota, kepada dua orang petugas itu sambil menjura, bisiknya.
"Terima kasih atas bantuan kalian berdua."
"Tak usah sungkan-sungkan, semoga kongcu selamat sepanjang jalan"
Jawab kedua orang itu hampir berbareng. Pia Leng-cu yang mengikuti jalannya peristiwa itu ditempat kegelapan, segera berpikir dihati.
"Aah.... rupanya keparat cilik itu telah menyuap petugas pintu kota untuk membukakan pintu baginya, sungguh tak kunyana otaknya secerdik itu, sehingga asal seperti inipun dapat dilakukan olehnya."
Ia menunggu beberapa saat lamanya, kemudiaan baru berputar kesamping dan mendaki keatas tembok kota dari kejauhan, dari sana dia loncat turun keluar kota, tampaklah kereta tadi tidak langsung menuju kedermaga melainkan dilarikan menuju ke arah timur.
Dalam hati kecilnya Pia Leng-cu kembali berpikir.
"Sungguh cermat dan seksama jalan pikiran bocah keparat ini, kalau nenek setan itu bercokol diatas perahunya, dia pasti menanti ditengah dermaga, menanti mereka sadari kalau keparat itu menyusup keseberang, mungkin bocah kaparat itu sudah mendarat ditepi seberang sana!"
Mula-mula kereta itu hanya dilarikan dengan perlaban, setelah beberapa li, mendadak Hoa Thian-hong ayun cambuknya berulang kali, kereta itupun segera kabur dengan cepatnya.
Diam-diam Pia Leng-cu merasa amat terkejut, dia ikut mempercepat lari tubuhnya, namun selisih jaraknya dengan kereta itu tetap di pertahankan sejauh tiga puluh tombak, ia merasa sekalipun Hoa Thian-hong berpaling kebelakang, ditengah kegelapan demikian ini jejaknya sulit untuk diketahui.
Sepanjang kota Lok yang, permukaan air sungai jauh lebih tinggi dari permukaan tanah disekitarnya, karena itu sepanjang sungai dibangun tanggul yan amat tinggi untuk mencegah terjadinya kebanjiran.
Hoa Thian-hong larikan kudanya dengan cepat menelusuri sisi tanggul tersebut, debu mengepul memenuhi angkasa, suara putaran roda kereta berkumandang memecahkan kesunyian.
Setelah berlarian kurang lebih setengah jam lamanya, tibatiba kereta itu dilarikan naik keatas tanggul dan berhenti disana.
Suara gulungan ombak serta hembusan angin menggema memecahkan kesunyian di malam hari itu, tiba-tiba terdengar seseorang menegur dengan suara nyaring.
"Yang datang apakah Hoa ya?"
"Benar, aku yang datang! Bagaimana dengan perahu untuk menyebe-rang....?"
Sahut Hoa Thian-hong dengan suara dalam.
"Sudah siap sedia semua!"
Pia Leng-cu seeera loncat kedepan dan bersembunyi dibelakang tanggul, ketika ia mengintip kedepan sana tampaklah ditepi sungai telah berlabuh sebuah perahu penyeberang yang besar, empat orang pria kekar berdiri diempat penjuru siap dengan gala yang panjang, dua orang pria yang lain menanti diatas daratan.
Hoa Thian-hong menggerakkan kembali kereta kudanya hingga tepat berhenti didepan perahu itu, sambil loncat turun dari atas kereta bentaknya nyaring.
"Cepat! hela kuda itu keatas perahu"
Sebelum mendapat perintah dua orang pria itu masingmasing sudah menghela seekor kuda naik keatas geledak perahu, Hoa Thian-hong loncat kebelakang kereta dan mendorong kereta tersebut naik keperahu.
Dalam waktu singkat kereta kuda itu sudah berada diatas geladak, si anak muda itu cepat ayun tangannya, dengan pukulan udara kosong ia putuskan tali pengikat perahu, dengan cepatnya perahu itu terdorong oleh arus sungai yang deras dan meluncur kedepan.
Pia Leng-cu merasa kaget bercampur mendongkol, dia sama sekali tidak menyangka kalau Hoa Thian-hong telah mengatur segala sesuatunya dengan sempurna, bahkan semua gerakan dilakukan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, menyaksikan perahu itu bergerak ketengah sungai terdorong oleh arus air yang kuat, ia lantas menduga tak sampai tiga empat li Kemudian perahu itu sudah akan merapat dipantai seberang.
Untuk beberapa saat lamanya ia tak tahu apa yang musti dilakukan, berhubung sekitar sungai ditempat itu berarus kuat dan lagi bukan dermaga maka kecuali perahu itu tidak nampak perahu lain.
Dalam gugup dan gelisahnya, terpaksa dia mengempit tubuh Pek Kun-gie dan berlarian disepanjang bendungan untuk mengikuti bergeraknya perahu tadi.
Dalam waktu singkat perahu penyeberang itu sudah meninggalkan tepi pantai sejauh delapan sembilan kaki, mendadak Pia Leng-cu menemukan sebuah sampan kecil tertambat ditepi sungai.
"Perduli amat sampan itu milik siapa, pokoknya pakai dulu beres"
Pikirnya dihati, kalau memang hokki sudah pasti bakal bencana, kalau sudah bencana mau kemana untuk menghindar?
sekalipun jiwa tua musti melayang, aku tak akan biarkan pedang baja itu terjatuh ketangan nenek setan"
Imam tua ini dibesarkan ditepi pantai lautan selatan, ia yakin ilmu berenang yang dimilikinya tidak lemah, setelah bulatkan tekad, ia segera loncat naik keatas sampan itu, setelah membaringkan Pek Kun-gie keatas geladak, ia segera menyambar dayung dan melanjutkan sampan itu mengejar perahu penyeberang tadi.
Dalam waktu singkat, Hoa Thian-hong yang berdiri diujung geladak lelah menemukan jejeknya, ia segera menghardik.
"Siapa disitu?"
"Pia Leng-cinjin dari perkumpulan Thong-thian-kauw!"
"Pek Kun-gie ada dimana?"
Si anak muda itu segera menghardik. Pia Leng-cu menengadah dan tertawa terbahak-bahak.
"Haaah.... haaah.... haaahh.... dia berada disampan, asal kakiku ber-gerak sedikit saja kedepan, niscaya tubuhnya yang indah dan wajahnya yang cantik akan terinjak hancur jadi perkedel!"
"Suruh dia berbicara!"
Dalam pada itu, selisih jarak antara sampan dan perahu penyeberang masih ada sepuluh kaki lebih, dalam suasana ombak menggulung dengan dahsyatnya dan angin berhembus kencang mereka berdua terpaksa harus kerahkan tenaga murni untuk berbicara, suara pembicaraan yang bercampur dengan gulungan ombak kedengaran sangat mengerikan.
Hoa Thian-hong menguatirkan keselamatan Pek Kun-gie, maka dia butuh gadis itu berbicara.
Pia Leng-cu segera berpikir.
"Kalau aku hendak paksa Hoa Thian-hong untuk serahkan pedang baja itu, paling sedikit aku harus mematahkan dahulu mentalnya...."
Karena berpendapat demikian, buru-buru ia alihkan dayung itu ketangan kiri, sedang tangan kanannya digunakan untuk menotok bebas jalan darah pingsan ditubuh Pek Kun-gie.
Siapa tau karena luka dikedua jari tangan kirinya baru sembuh, kurang leluasa baginya untuk mendayung....
Kreeek!
tiba-tiba dayung itu patah jadi dua bagian, seketika itu juga sampan itu tergulung ombak dan hampir saja terbalik.
Pia Leng-cu sangat terperanjat, buru-buru dia sambar sebuah papan dan digunakan sebagai pengganti pendayung.
Dan kejauhan Hoa Thian-hong dapat menyaksikan sampan itu berputar kencang di tengah sungai, dengan hati kaget ia lantas membentak.
"Pia Leng-cu!" 0000O0000 SEMENTARA itu Pek Kun-gie baru saja bebas dari totokan jalan darah, mengikuti terombang ambingnya sampan kecil itu, kesadarannya perlahan-lahan pulih kembali. Ketika mendengar seruan dari kekasihnya, dengan penuh rasa gembira ia segera berteriak keras.
"Thian-hong!"
"Bagaimana keadaanmu? Apakah terluka?"
Teriak Hoa Thian-hong dengan gelisah.
Pek Kun-gie bangun dari atas geladak dan duduk, ia lihat ombak sedang menggulung dengan hebatnya diseputar badannya, sementara perahu penyeberang yang ditumpangi Hoa Thian-hong sama sekali tak terlihat, dalam gugupnya ia lupa menjawab.
"Bagaimana keadaanmu? Apalah terluka? terdengar Hoa Thian-hong berseru lagi dengan cemas. Aku tidak terluka, engkau harus perhatikan baik-baik, Kiuim Kaucu telah mengumpulkan banyak sekali anak buahnya yang lihay dalam ilmu berenang, ia sudah siapkan jebakan didalam sungai dan siap turun tangan terhadap dirimu Tiba-tiba Pia Leng-cu tertawa keras, serunya dari samping.
"Bukankah engkau belum terluka? Nah, sekarang lihatlah tuanmu akan melukai engkau."
Dengan kaki kanannya dia lancarkan sebuah tendangan keras keatas jalan darah Hay ki hiat dibelakang pinggang Pek Kun-gie, gadis itu merasa kesakitan dan tak tahan lagi dia menjerit ngeri.
Hoa Thian-hong merasakan hatinya sakit seperti diiris-iris, dia segera membentak keras.
"Pia Leng-cu, apa yang kau inginkan?"
"Kau punya apa?"
Jawab Pia Leng-cu sambil tertawa terbahak-bahak.
"haaah.... haaah.... aku lihat nona cantik ini berbadan putih, jelas bukan gadis sembarangan, aku segan untuk menukar dengan benda apapun!"
"Bicaralah terus terang, apa tujuanmu yang sebenarnya?"
Kembali Hoa Thian-hong membentak. Dengan mimik wajah menyeramkan Pia Leng-cu berteriak.
"Akupun tak akan berbohong lagi, asal engkau persembahkan pedang baja itu kepadaku, segera kubebaskan Pek Kun-gie, kedua belah pihak sama-sama memperoleh apa yang diinginkan dan rasanya kitapun tidak saling dirugikan"
"Thian-hong"
Dengan cemas Pek Kun-gie berteriak.
"dia paksa aku untuk membacakan isi catatan kiam keng bu kui, pedang baja itu lebih baik.... lebih baik bawalah kabur, kau tak usah menggubris aku lagi....!"
Tentu saja gadis ini ingin sekali meloloskan diri dari cergkeraman mulut srigala, tapi dia kuatir lantaran persoalannya sehingga mengakibatkan kekasihnya harus temui banyak kesulitan, ketika beberapa patah kata itu diucapkan keluar, hatinya terasa remuk redam, isak tangispun makin menjadi.
Pia Lerg cu merasa amat gusar sekali, dengan mendongkol ia menengadah dan tertawa seram.
"Haah.... haaah.... haaah.... baiklah! kalau begitu engkau boleh selalu mengikuti aku, setelah mendarat nanti aku pasti akan memberi kepuasan seks untukmu, aku tanggung engkau pasti akan kenikmatan dan sepanjang masa tak akan terlupakan kembali, haaah.... haaaah.... asal aku temani seorang gadis cantik seperti engkau, apa salahnya kalau Cousu ya mu melepaskan semua urusan dan pusatkan perhatian pada dirimu seorang? Haah.... haah.... puas puas! Hahh.... haaah.... haaah...."
Waktu itu cuaca amat gelap, awan hitam menyelimuti jagad, ombak pun menggulung dengan hebatnya.
Pia Leng-cu memang ada niat untuk bikin keder hati Hoa Thian-hong, maka gelak tertawanya yang mendekati kalap itu kedengaran amat menusuk pendengaran, ibaratnya jeritan kuntilanak atau lolongan srigala dimalam hari, membuat siapapun yang mendengar, merasakan hat nya jadi bergidik.
Sementara itu perahu penyeberang didepan sana sudah mencapai tengah sungai, sedangkan sampan kecil itu berada delapan sembilan kaki dibelakangnya, ditengah gulungan ombak dan arus air yang kencang, dua buah perahu itu meluncur kedepan dengan cepatnya.
Panjang sampan kecil itu cuma beberapa kaki, sama sekali tidak sesuai digunakan dalam situasi semacam ini, ditengah gulungan ombak yang tinggi dan besar, setiap saat sampan itu terancam pecah beran takan jadi berkeping-keping, keadaannya sangat berbabaya sekali.
Ditengah kegelapan, Hoa Thian Hang berdiri angker diburitan perahu, ia tidak berbicara, tidak bergerak, seakanakan sebuah pa tung arca didalam kuil, sepasang matanya yang tajam memancarkan cahaya menggidikkan menatap sampan dibelakangnya tanpa berkedip, agaknya ia merasa ragu-ragu dan untuk sesaat tak mampu mengambil keputusan.
Pek Kun-gie melingkar tak berkutik di atas sampan, sebab tangan dan kakinya di belenggu oleh otot kerbau yang kuat, saat itu dia hanya bisa menangis dengan sedihnya.
Ditengah kegelapan ia dapat menyaksikan sepasang mata kekasihnya yang melotot tajam, ia menyadari posisi pemuda itu, tidak mungkin baginya untuk serahkan pedang baja itu karena dia, tapi dia tetap menaruh harapan itu, meskipuu harapannya tipis sekali.
Beberapa saat kemudian, sampan kecil itu sudah mendekati tengah sungai, jaraknya dengan peraru penyebrang semakin dekat, dalam hati Pia Leng-cu lantas berpikir.
"Ibu dan istri Hoa Thian-hong masih bersembunyi didalam kereta besar itu, dengan kehadiran dua orang itu tentu saja Hoa Thian-hong merasa tak leluasa untuk serahkan pedang bajanya untuk ditukar dengan Pek Kun-gie, agaknya pertukaran syarat ini tak dapat dijalankan pada malam ini!"
Karena berpendapat demikian, dia segera ambil keputusan didalam hati, serunya dengan penuh perasaan benci.
"Orang she Hoa, simpanlah pedang baja itu dan jagalah seluruh kolong langit! Biar cousu ya mengundurkan diri saja dari dunia persilatan dan jauh meninggalkan daratan!"
Berbicara sampai disitu, dia lantas putar kemudi mendayung sampan kecil itu menuju ketepi sebelah kanan.
Keadaan dalam sungai pada waktu itu sangat berbahaya, jika sampai tercebur kedalam sungai kendatipun Pia Leng-cu masih mampu menyelamatkan diri namun sulit baginya untuk membawa Pek Kun-gie naik kedaratan, walaupun diluaran dia bersikap keras padahal dalam hati merasa sangsi dan sukar ambil keputusan.
Tapi akhirnya ia nekad untuk mengundurkan diri dari situ, secepat kilat arah sampan diputar dan sejenak kemudian sampan itu sudah tinggal dua kaki dari tepi pantai.
Hancur lebur perasaan hati Pek Kun-gie, meskipun selama berada diatas loteng kecil itu dia pandang kematian bagaikan pulang kerumah, tapi sekarang kekasihnya berada didepan mata, keinginannya untuk melanjutkan hidup kuat sekali, ketika dilihatnya Hoa Thian-hong tetap membungkam, tak tahan lagi dia berseru dengan sedih.
"Thian-hong! Aku....!"
"Pia Leng-cu!"
Mendadak Hoa Thian-hong membentak nyaring. Imam tua itu tercekat, cepat ia menegur.
"Bagaimana? Mau pedangnya atau mau orangnya?"
"Pedang ini kuserahkan kepadamu, cepat dayung perahu itu kemari....!"
Pia Leng-cu sangat kegirangan, cepat-cepat ia putar kemudi dan mendayung kembali perahu itu ketengah sungai, sementara itu Hoa Thian-hong telah berpesan pula kepada pemegang kemudi perahunya agar perahu mereka dimiringkan sehingga bergeser kemari.
Pek Kun-gie sendiri merasakan hatinya sangat terhibur, ia menggigit bibirnya rapat-rapat sementara air mata jatuh bercucuran dengan derasnya, ia merasa terharu bercampur terima kasih, saking emosinya sehingga tak sepatah katapun sanggup diucapkan keluar.
Ia tahu pedang baja itu bukan saja sangat penting artinya bagi Hoa Thian-hong, didalam senjata itu pun tersimpan kitab kiam keng yang amat luar biasa, kesediaan pemuda itu untuk mengorbankan pedang bajanya benar-benar merupakan suatu pengorbanan yang paling besar dari pemuda itu bagi dirinya.
Tentu saja Pek Kun-gie merasa amat terharu.
Dalam pada itu, sampan kecil itu sudah makin mendekati perahu penyebrang, selisih jarak mereka tinggal lima tombak, pada saat itulah Pia Leng-cu menghentikan perahunya dan berseru.
"Hoa Thian-hong, engkau harus mengerti, asal pinto menggerakkan tanganku, niscaya Pek Kun-gie segera akan mati binasa, kalau engkau hendak menggunakan siasat untuk membongi aku, menyesallah engkau nantinya....!"
Hoa Thian-hong cabut keluar pedang baja itu dari pinggangnya, lalu berseru dengan dingin.
"Setiap patah kata yang telah kuucapkan selamanya tak akan ku jilat kembali, asal engkau biarkan Pek Kun-gie loncat naik keatas perahuku, pedang baja ini segera kuserahkan pula kepada mu, ucapan seorang pria sejati selamanya tak akan disesalkan kembali!"
Pia Leng-cu tidak langsung menjawab, pikirnya.
"Berbicara dari tabiat bocah keparat ini, setiap perkataannya memang dapat dipercaya, cuma.... masalah ini menyangkut urusan yang sangat besar, dan lagi...."
Sinar matanya dialihkan sekejap keatas tubuh Pek Kun-gie, timbul perasaan sayang untuk melepaskan gadis itu sebelum sempat mencicipi keperawanan tubuhnya.
Sementara itu Hoa Thian-hong telah berkata lagi dengan suara dingin.
"Dalam waktu singkat perahu-perahu armada di bawah pimpinan Kiu-im Kaucu akan tiba disini, ketahuilah aku sudah ambil keputusan yang bulat, kalau engkau tetap raguragu dan lewatkan kesempatan baik ini, janganlah salahkan diriku lagi"
Pia Leng-cu sugera tertawa dingin.
"Heeh.... heeh.... heeh.... kalau sampai terjadi begitu, akan kubunuh Pek Kun-gie, kemudian sambil bertepuk tangan segera berlalu dari sini"
Kalau sampai terjadi begitu maka aku orang she Hoa akan tinggalkan semua urusan yang ada, biar naik kelangit atau masuk kebumi, aku bersumpah akan mencingcang tubuhmu jadi berkeping-keping"
Mendengar ancaman tersebut, Pia Leng-cu merasakan hatinya tercekat, tiba-tiba temukan perahu penyeberang itu sedang bergerak mendekati ke arahnya, ia makin terparanjat, cepat-cepat dia gerakan dayung dan membawa sampan itu menyingkir kesamping, hardiknya keras-keras.
"Ayoh putar kemudi perahumu!"
Dalam gugupnya tenaga dayungan tersebut terlampau kuat, ketika sampan kecil itu bertumbukan dengan ombak yang menggulung tiba dari arah depan hampir saja mereka terbalik kesungai.
Tubuh Pek Kun-gie terguling kesamping diiringi jeritan tajam karena kaget.
Hoa Thian-hong yang berada diatas perahu penyeberangpun merasa amat terperanjat hampir saja dia ikut menjerit kaget.
Untung Pia Leng-cu pandai mengendalikan diri, dalam gugupnya sepasang tangan bekerja bersamaan waktunya, sampan itu segera dapat terkendali kembali keseimbangannya.
Dalam segala kegugupan dan kerepotan, kakinya menginjak tubuh Pek Kun-gie yang terguling sehingga tidak sampai tercebur kedalam sungai, kendatipun begitu sampan kecil tadi sudah kemasukan air setinggi dua cun lebih sedikit.
Saking terperanjatnya, peluh dingin membasahi seluruh tubuh Pia Leng-cu, sambil memandang ke arah perahu penyeberang dia menyeringai seram katanya.
"Kalau engkau berani merapatkan kembali perahu penyeberangmu itu, jangan salahkan kalau kubunuh dulu Pek Kun-gie dihadapanmu"
Hoa Thian-hong sendiri setelah hilang rasa kagetnya, segera tertawa dingin tiada hentinya.
"Heehh.... heehh.... heehhh.... akhirnya berjalan juga direl yang benar, kalau toh memang begitu biarlah segalanya pasrah pada takdir...."
Meskipun begitu ia tetap memberi tanda kepada anak buahnya agar jangan terlalu mendekati sampan kecil itu lagi.
Arus sungai didaerah sekitar tempat itu sangat deras, tempat semacam ini paling tidak menguntungkan kalau digunakan untuk penyeberangan, perahu yang besarpun harus mengikuti arus dengan keadaan sangat bahaya, apalagi sampan yang kecil itu, keadaannya jauh lebih mendebarkan.
Semua orang berusaha untuk mentemramkan hatinya padahal dalam hati kecilnya jantung terasa berdebar keras, semua orang berharap agar adegan ini bisa cepat-cepat terselesaikan dan semua orang naik kedaratan dengan selamat.
Hoa Thian-hong tak berani banyak tingkah karena kuatir mencelakai jiwa Pek Kun-gie, sebaliknya Pia Leng-cu menyadari kalau ilmu silatnya bukan tandingan lawan, ia selalu berusaha untuk mencegah penyergapan dari Hoa Thianhong, karena kedua belah pihak sama menjerikan sesuatu dari musuhnya, maka untuk sesaat suasanapun diliputi dalam keheningan.
Akhirnya Pia Leng-cu buka suara memecahkan kesunyian yang mencekam disekitar tempat itu.
"Lemparkan pedang itu kepadaku, aku segera akan tinggalkan sampan ini dan berenang kedaratan, aku jamin Pek Kun-gie tak akan kuganggu barang seujung rambutpun."
"Thian-hong, jangan tertipu, dia telah bilang...."
Tiba-tiba Pek Kun-gie menghentikan teriakannya.
Pia Leng-cu pernah berkata kepadanya bukan saja pedang itu dia mau, orangnya pun dimaui juga, sebenarnya Pek Kungie hendak menyampaikan kata-kata itu tapi setelah ucapan sampai dibibir, mendadak ia merasa malu untuk melanjutkan, maka dia segera membungkam.
Hoa Thian-hong segera tertawa dingin.
"Heeh.... heehhh.... heehh.... Pia Leng-cu, apakah kepercayaan dari Hoa Thian-hong tak dapat melampaui dirimu?"
"Masalah ini menyangkut urusan yang sangat besar, kenapa aku tak boleh menaruh curiga?"
Teriak Pia Leng-cu dengan gusar. Hoa Thian-hong tertawa.
"Apa yang perlu kau curigai?"
"Masalah ini adalah suatu masalah yang amat besar, apakah engkau dapat memutuskan sendiri? Hmm! dengan menggunakan pedang baja ditukar dengan orang, apakah ibumu menyetujui?"
Hoa Thian-hong segera tertawa tergelak.
"Haah.... haaah.... haaah.... sungguh tak nyana engkau bisa memahami kesulitanku, kalau toh sudah tahu begitu tidak sepantasnya kalau engkau datang kemari?"
Pia Leng-cu menyeringai seram.
"Undang ibumu keluar dan biar dia yang berbicara, aku hanya percaya dengan perkataan dari Bun Siau-ih kalau tidak lebih baik pembicaran ini kita batalkan!"
Mendengar perkataan tersebut Hoa Thian-hong segera menengadah dan tertawa terbahak-bahak.
"Haahh.... haah.... haaah.... Pia Leng-cu agaknya pikiranmu sudah tersumbat oleh kerakusanmu sehingga kecerdikan yang kau miliki tersapu lenyap, sungguh bikin hatiku jadi geli"
Agak tertegun Pia Leng-cu setelah mendengar perkataan itu, tapi hanya sebentar saja dia lantas menyadari apa yang sudah terjadi.
Seandainya ibu dan istrinya berada diatas perahu mungkinkah Hoa Thian-hong bersikap begitu tenang bahkan menghentikan perahunya ditengah sungai untuk berbicara dengan dirinya?
Dan mungkinkah dia bersedia membiarkan ibunya menempuh bahaya karena persoalan Pek Kun-gie?
Setelah menyadari apa yang terjadi diam-diam ia bersuara didalam hati kecilnya.
"Ooh, rupanya aku terkena siasat memancing harimau turun gunung, jelas kereta tersebut tiada orangnya!"
Mula-mula ia terkejut, menyusul jadi sangat gembira, sebab andaikata disitu hadir Bun Siau-ih dan Chin Wan-hong, untuk memaksa Hoa Thian-hong menyerahkan pedang bajanya jelas bukan suatu pekerjaan yang gampang, sebaliknya kalau kedua orang itu tidak hadir disana, dengan usia Hoa Thian-hong yang masih muda, dia pasti bersedia untuk menukar pedang bajanya dengan diri Pek Kun-gie....
Sementara dia masih termenung, Hoa Thian-hong telah tertawa terbahak-bahak.
"Haah.... haaah.... haaah.... Pia Leng-cu, kenapa tidak kau tenangkan hatimu dan dengarkan dengan seksama? Kiu-im Kaucu telah munculkan diri dibelakang kita berdua, tapi engkau sama sekali tidak merasa, apakah kedaaanmu itu tidak terlalu menggelikan?"
Sekali lagi Pia Leng-cu merasa amat terperanjat, ia merasa kegelapan mencekam seluruh jagad dan lagi angin serta ombak menggulung dengan dahsyatnya, tiada sesuatu yang berhasil ia lihat dan tiada sesuatu yang sempat ia dengar.
Berbicara tentang ketajaman pendengaran serta penglihatan, maka ia masih kalah jauh kalau dibandingkan dengan Hoa Thian-hong, sebab bukan saja si anak muda itu telah makan Racun teratai empedu api, dia pun menelan Leng-ci mustika yang berusia seribu tahun, tenaga dalam yang dia miliki sekarang telah mencapai puncak kesempurnaan, tentu saja kehebatan yang dia miliki pun jauh melebihi orang lain.
Ketika itu selisih jarak mereka cuma empat lima rombak, ditengah kegelapan Pia Leng-cu tak lebih hanya sempat memandang bayangan tubuhnya belaka, sebaliknya pemuda itu dapat memperhatikan semua gerak-gerik Pia Leng-cu dengan sangat jelas sekali.
Tatkala dilihatnya paras muka imam tua itu menunjukkan rasa kaget bercampur gelisah, seakan-akan dia tak merasakan suatu apa pun, tak dikuasai lagi dia tertawa geli, katanya.
"Suara gulungan ombak memecah dikedua belah tepian pantai, coba bayangkan sendiri, kecuali Kiu-im Kaucu telah munculkan diri, siapa lagi yang telah datang?"
Pia Leng-cu makin terkesiap, ia segera berpikir didalam hati.
"Jarak antara sini sampai perahunya tinggal lima tombak belaka, dengan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki keparat cilik itu, sekali loncat maka dia bisa mencapai sampanku ini, lebih baik aku bersikap lebih berhati-hati....!"
Berpikir sampai disitu, dengan suara tajam dia lantas membentak.
"Ujung kakiku sekarang telah menempel diatas jalan darah Leng-thay hiat dari Pek Kun-gie, kalau engkau berani melakukan suatu pergerakan, jangan salahkan kalau aku berhati kejam!"
Hoa Thian-hong tertawa.
"Tujuan dari Kiu-im Kaucu hanya ingin merampas pedang baja itu belaka, lebih baik berjaga-jagalah terhadap dirinya!"
Pia Leng-cu mendengus dingin, dia segera pusatkan semu pikirannya dan periksa keadaan disekeliling tempat itu dengan seksa ma, apa yang kemudian terdengar ternyata membuktikan dengan tepat apa yang telah diucapkan si anak muda itu.
Sepuluh sampai dua puluh kaki dibelakangnya, terdengarlah suara ombak yang memecah ketepian tertumbuk perahu, padahal di daerah sekitar tempat itu tiada perahu lain kecuali Kiu-im Kaucu yang telah munculkan diri, tak mungkin ada orang lain lagi.
Sedikit banyak imam tua ini menjadi panik, ia sadar kepandaian silatnya bukan tandingan orang, untuk malu takut dihadang harimau untuk mundur telah dihadang pula oleh srigala, dalam keadaan demikian ia semakin gugup dan panik, dia mulai menyesal mengapa terlalu pandang enteng musuhnya dan mengejar pula sampai ketengah su ngai.
Bila sekarang juga dia mundur ketepian, niscaya perahunya bakal dihadang oleh perahu-perahu dari Kiu-im Kaucu, padahal pedang baja belum sampai jatuh ketangannya bisa dibayangkan betapa gugup dan menyesalnya Pia Leng-cu.
Tiba-tiba terdengar Hoa Thian-hong berseru dengan suara lembut.
"Kun Gi!"
"Emmm.... Aku ada disini"
Dengan cepat Pek Kun-gie menjawab. Sekilas senyuman sedih menghiasi ujung bibir si anak muda itu, ujarnya lebih lanjut.
"Dengarkanlah perkataanku, walaupun manusia dapat hidup seratus tahun lagi, akhirnya dia toh tetap harus mati, usia manusia telah ditentukan oleh Thian, apabila nasib memang menentukan harus mati, lebih baik pasrah saja pada kehendak alam, mengertikah engkau dengan perkataanku ini?"
"Mengerti, aku tak takut mati!"
Jawab dara itu dengan lembut dan halus.
"Ibuku sangat menaruh perhatian atas dirimu, Wan hong menyayangi pula dirimu, kami berharap agar engkau tetap hidup dalam keadaan segar bugar, ingatlah selalu akan katakataku ini!"
"Akan kuingat selalu"
Sahut Pek Kun-gie dengan air mata bercucuran.
"Aku akan menuruti perkataanmu, kalau tak bisa hidup lagi maka aku akan segera habisi nyawaku sendiri"
Air matapun mengembang dikelopak mata Hoa Thian-hong, ia berkata.
"Dahulu kami semua menguatirkan diri mu dinodai, tapi sekarang dengan kehadiranku ditempat ini, sekalipun nyawamu tak dapat kuselamatkan, akupun tak akan membiarkan dirimu dibawa pergi lagi, mengertikah kau?"
"Aku mengerti, engkau tak usah terlalu merisaukan diriku"
"Andaikata engkau mengalami musibah yang tak dapat dihindari lagi, itu berarti kematianmu lantaran aku, ibuku masih hidup, aku tak bisa mengiringi kematianmu itu, tapi kalau aku sudah mempunyai keturunan, maka aku segera akan cukur rambut menjadi pendeta, aku akan mengasingkan diri sebagai ungkapan rasa terima kasihku kepada mu!"
"Jangan.... aku ingin kau tetap hidup.... hidup seratus tahun lagi!"
Seru Pek Kun-gie sambil menangis tersedu-sedu. Pia Leng-cu yang mengikuti jalannya pembicaraan itu makin lama semakin terperanjat, tak tahan lagi akhirnya dia membentak keras.
"Hoa Thian-hong, engkau anggap dirimu sebagai seorang pendekar sejati, apakah ucapanmu kau anggap sebagai kentut belaka?"
Setiap perkataan yang telah kuucapkan selamanya tak akan kujilat kembali.
"Engkau telah berjanji akan menukar pedangmu dengan orang!"
Teriak Pia Leng-cu gusar.
"Biarkan Pek Kun-gie loncat naik keatas perahu penyeberangku, pedang baja ini segera kuserahkan kepadamu!"
Setelah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh.
"Engkau harus cepat ambil keputusan, kalau tidak sekalipun pedang baja ini berhasil kau peroleh, belum tentu kau bisa lolos dari tempat ini."
Tahun ini usia Pia Leng-cu sudah mencapai tujuh puluh tahun lebih, walaapun akalnya tidak termasuk panjang, namun pengalaman yang diperolehnya cukup banyak, menyaksikan keterangan dari Hoa Thian-hong dia malah ragu-ragu untuk menerima pertukaran syarat tersebut, bagaimanapun juga dia tak percaya kalau pihak lawan benar-benar berhasrat untuk menukarkan pedangnya dengan dara tersebut.
Berulang kali ia memikirkan persoalan itu, namun toh akhirnya ia tak dapat ambil keputusan, lama-kelamaan ia lantas jadi nekad, dengan suaa yang menyeramkan dia berseru.
"Kalau dibalik rencanamu ini terselip maksud-maksud yang tak beres, lebih baik terang kau lebih dahulu mulai sekarang. Kalau tidak...."
"Hmm! Lebih baik adu jiwa daripada terjebak oleh siasat licikmu itu"
Hoa Thian-hong tersenyum.
"Emmm! rupanya jadi orang kau terlalu berhati-hati, padahal sekalipan aku bicara tetus terang engkau juga tak akan mempercayainya, ketahuilah setelah pedang baja ini kuberikan kepadamu dan pertukaran syaratmu sudah berjalan sebagai mestinya, maka akan kuikuti terus jejakmu walau sampai keujung langit atau kedasar samudra pun sampai pedang baja itu akhirnya berhasilku rampas kembali"
Tertegun hati Pia Leng-cu setelah mendengar perkataan itu, untuk beberapa saat lamanya dia membungkam dan tak mau mengucapkan sepatah katapun.
Haruslah diketahui, berbicara tentang ilmu meringankan tubuh, ilmu pedang, ilmu kepalan maupun tenaga dalam, Hoa Thian-hong masih berada diatas kepandaiannya, kalau si anak muda itu sudah ambil keputusan untuk mererut kembali senjata tersebut, sulitlah baginya untuk meelayani kehendak orang.
Tiba-tiba dari atas permukaan sungai berkumandang suara terompet yang amat nyaring.
Suara terompet yang dibunyikan dengan sebuah keong ini biasanya hanya digunakan oleh kaum perompak dan bajak laut sebagai pertanda, diatas sungai apalagi daratan hampir boleh dikata tak pernah terdengar suara semacam itu, tanpa sadar beberapa orang itu dibuat tertegun jadinya.
Suara pekikan yang nyaring dan menggetarkan sukma itu berkumandang ditengah kegelapan menembusi udara, tibatiba dari permukaan sungai muncullah titik-titik cahaya api.
Dari depan belakang, kiri maupun kanan pada saat yang bersamaan muncullah enam buah perahu besar, diujung setiap perahu berdirilah belasan orang pria berpakaian anti air yangberwarna hitam, ditangan masing-masing mencekal obor ditangan kiri dan senjata ditangan kanan.
Walaupun kedatangan rombongan itu amat cepat dan besar sekali jumlahnya, akan tetapi suasana tetap hening dan tak kedengaran sedikit suara pun.
Pada perahu besar yang ada dipaling belakang duduklah seorang nenek baju hitam yang berambut panjang dan memegang toya kepala setan, orang itu bukan lain adalab Kiuim Kaucu yang munculkan diri untuk pertama kalinya dalam pertemuan besar Kian ciau tayhwee.
Enam buah perahu itu bergerak maju menembusi gulungan ombak, dalam waktu singkat mereka telah mengepung Hoa Thian-hong dan Pia Leng-cu ditengah gelangang, perahu bagian depan segera bergerak makin lambat sementara perahu dibelakang menyusul ke muka, kian lama kepungan itupuno kian merapat.
Hoa Thian-hong sendiripun mempunyai perhitungan yang amat masak, namun dia sama sekali tak menyangka kalau anak buah yang dibawa Kiu-im Kaucu untuk menyergap dirinya berjumlah begitu banyak, setelah menyaksikan kehadiran musuh diam-diam hatinya merasa terperanjat.
Pedang bajanya segera ditarik kembali, setelah merampas sebuah gala yang panjang dia menyingkir kesampmg dan serunya kepada orang-orang yang ada diatas perahu.
"Atas bantuan dari kalian semua, kuucapkan banyak-banyak terima kasih, cepatlah kalian terjun kedalam air untuk menyelamatkan diri, kalau terlambat mungkin akan terjatuh ketangan lawan"
Pria yang pegang kemudi perahu itu segera menjura, sahutnya dengan suara nyaring.
"Hamba sekalian merasa kalau ilmu silat yang kami miliki sangat cetek, daripada mengganggu perhatian yaya lebih baik ham ba sekalian mohon diri lebih dahulu, semoga yaya baik-baik menjaga diri"
Habis berkala dia segera terjun kedakam air.
Diatas perahu semuanya ada enam orang pria kekar, saat itu mereka semua maju menjura kemudian masing-masing terjun kedalam air untuk menyelamatkan diri.
Mereka berenam adalah penduduk kota Kwaa lok, yang sudah lama hidup diatas sungai, untuk mensukseskan siasatnya memancing per hatian musuh ini sengaja Hoa Thianhong minta bantuan dari Ko Thay untuk mengaturkan segala sesuatu baginya.
Waktu itu nama besar Hoa Thian-hong telah menggetarkan sungai telaga, ibaratnya sang surya ditengah awan, semua orang kangou yang dimintai bantuannya rata-rata merasa bangga dan bersedia untuk memberikan bantuannya.
Walaupun ilmu silat yang dimiliki beberapa orang itu sangat rendah, akan tetapi mereka lihay dalam ilmu berenang, ditengah gulungan ombak yang amat dahsyar beberapa orang itu segara menyelam kedalam air dan meluncur menuju ketepian, dalam waktu singkat mereka sudah berada puluhan kaki jauhnya dari perahu mereka, dalam keadaan begini anak buah dari Kiu-im Kaucu tak ada yang berani menghalangi, sebab mereka tidak mendapat perintah untuk berbuat demikian.
Sementara itu perahu yang ditumpangi Kiu-im Kaucu sudah bergerak semakin dekat, jarak masing-masing pihak tinggal delapan kaki, tampaklah perahunya bergerak kekanan dan lansung menerjang ke arah sampan kecil yang ditumpangi Pia Leng-cu.
Menyaksikan terjangan tersebut, imam tua itu tercekat hatinya, buru-buru dia mendayung sampannya dan bergerak dua tiga kaki lebih mendekati perahu yang ditumpangi Hoa Thian-hong.
Tiba-tiba ia buang papan kayu itu dan cabut keluar pedang boan liong poo kiam, dengan tangan kiri mengempit Pek Kungie, bentak nya keras-keras.
"Eh orang she Hoa, engkau inginkan Pek Kun-gie dalam keadaan hidup atau dalam keadaan mati?"
Kiu-im Kaucu segera tertawa tergelak dari kejauhan, cepat dia menanggapi.
"Tentu saja mau yang hidup, sebilah pedang baja berapa banyak artinya? Ayoh di tukar saja!"
Sementara pembicaraan masih berlangsung, perahunya sudah mengejar beberapa kaki lebih kedepan.
Sementera itu Hoa Thian-hong berdiri tepat diburitan perahu, dengan kakinya dia menahan kemudi, tangannya mencekal sebuah gala yang panjang, dengsn pandangan tajam mengawasi semua gerak-gerik yang terjadi didepan mata.
Ia telah perhitungkan keadaan dengan jitu dia tahu Pia Leng-cu ibaratnya katak masuk tempurung, tak mungkin ia berani turun tangan keji secara sembarangan, maka sambil tenangkan hatinya, ia sama sekali tidak menggubris teriakan orang.
Pia Leng-cu merasa kejut bercampur gusar ketika dilihatnya perahu yang ditumpangi Kiu-im Kaucu kembali menerjang sampannya, ia tahu kalau sampai tertumbuk niscaya dia bakal tercebur kedalam air.
Dalam gugup dan gelisahnya, bawa nafsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, dia segera berteriak.
"Orang she Hoa, cepat putar kemudi dan hadang...."
Belum habis dia berkata, segulung ombak besar telah menyapu tiba membuat sampannya jadi oleng, buru-buru Pia Leng-cu mengerahkan tenaganya dan menginjak bagian yang oleng dengan kaki kirinya, dengan begitu keseimbangan sampan itupun dapat dipertahankan kembali.
Hoa Thian-hong yang mengikuti jalannya peristiwa itupun diam-diam mengucurkan peluh dingin, ia paksa untuk tenangkan diri lalu ujarnya dengan ketus.
"Aku orang she Hoa tak mampu menolong engkau, kalau tahu diri cepatlah loncat naik keatas perahu besar!"
Sementara itu sampan kecil tadi sudah oleng kesana kemari dan kehilangan kendali, setiap saat kemungkinan besar akan terbalik kedalam sungai, padahal perahu yang ditumpangi Pia Leng-cu makin lama semakin mendekat, dalam hati Pia Lengcu sadar, Pek Kun-gie yang dibuat sandera cuma manjur kalau digunakan untuk menghadapi Hoa Thian-hong, sebaliknya Kiuim Kaucu justru berharap mengalami kegagalan total.
Setelah mempertimbangkan diri dan menyaksikan pula gelagat makin lama semakin tidak menguntungkan, akhirnya dia ambil keputusan untuk menyingkir dari sampan tersebut, sambil menggertak gigi dia enjotkan badan dan melayang keatas perahu besar.
"Lemparkan gadis itu kemari!"
Hoa Thian-hong segera menghardik dengan muka dingin membesi. Pia Leng-cu terperanjat, sesudah tertegun beberapa saat dengan gusar ia membentak.
"Hmm! Kau anggap siapakah cousu ya mu ini? Berani benar main gertak dihadapanku?"
Hoa Thian-hong mendengus dingin, gala panjangnya digetarkan lalu menusuk kedapan.
Jurus yang digunakan adalah ilmu tombak Pat coa yang maha sakti, gala sepanjang dua kaki itu diiringi deruan angin tajam dan ujung gala memancarkan cahaya hitam langsung menusuk tenggorokan imam tua itu.
Pia Leng-cu terkejut bercampur gusar, ia menyingkir selangkah kesamping, pedangnya langkung membabat gala itu.
Pedang mustika Boan liong po kiam ada lah sebilah pedang tajam, dalam perputaran yang kencang, terbislah selapis cahaya hijau yang amat menyilaukan mata.
Menyaksikan ketajaman pedang lawan, Hoa Thian-hong segera berpikir.
"Siluman toosu ini rakus dan tamak sekali, kalau tidak kubekuk sekarang juga dia pasti akan balas menggertak aku, kalau sampai begitu aku tentu akan menderita kekalahan total!"
Sementara ia masih berpikir, serangan yang dilancarkan dengan gala itu telah meluncur datang bagaikan hujan gerimis, menyerang secara gencar tanpa menguatirkan sesuatu, seakan-akan pemuda itu sama sekali tidak memikirkan tentang keselamatan jiwa dari Pek Kun-gie.
Sambil mengempit tubuh Pek Kun-gie di bawah ketiak kirinya, tak urung timbul kecurigaan dalam hati Pia Leng-cu, dia putar pedangnya sedemikian rupa untuk menyambut serangan-serangan gencar lawan.
"Sudah lama aku dengar orang berkata kalau Pek Kun-gie mencintai bocah keparat itu, tapi bocah itu sama sekali tidak membalas cintanya"
Pikir sang imam dihati, jangan-jangan gadis ini memang benar-benar cuma bertepuk sebelah tangan belaka, padahal bocah she Hoa itu sama sekali tidak menaruh hati kepadanya....
waah!
kalau sampai begitu, akulah yang bakal berabe!"
"Criing!...."
Saat itulah perahu yang di tumpangi Kiu-im Kaucu kembali menerjang tiba, jangkar baja yang amat besar tiba-tiba menyambar ke arah sampannya dan tepat mencengkeram diatas geladak sampan kecil itu.
Pia Leng-cu tak lebih cuma sedang prajurit yang pernah menderita kekalahan ditangan Kiu-im Kaucu, ia sangat jeri terhadap nenek tua itu, menyaksikan kehadirannya, dia jadi pecah nyali dan ketakutan setengah mati, menggunakan kesempatan yang sangat baik itulah tiba-tiba Hoa Thian-hong membentak keras, gala yang dipakai untuk menye rang diputar sedemikian rupa sehingga mirip dengan sebuah tusukan tombak, secepat kilat tahu-tahu menyergap keatas dadanya.
Pertarungan yang berlangsung antara kedua orang itu sebenarnya tidak terhitung sebuah pertarungan yang membahayakan jiwa, sebab masing-masing pihak berdiri diujung perahunya sendiri.
Hoa Thian-hong berdiri diujung buritan sementara Pia Leng-cu berdiri diujung geladak.
Walaupun begitu, serangan gaya yang menggunakan jurus tombak itu cukup tangguh, terutama tusukan terakhir yang dilancarkan secara mendadak itu, tampaknya Pia Leng-cu segera akan dipaksa untuk mence burkan diri kedalam sungai....
Untung dia cukup tangguh, reaksinya dalam menghadapi bahayapun cukup baik, dalam gugupnya cepat ia loncat keudara dan loloskan tubuhnya dari tusukan maut tersebut.
Dengan muka penuh nafsu pembunuhan, Hoa Thian-hong membentak keras.
"Lemparkan dara itu kemari!"
"Engkau punya muka tidak?"
Teriak Pin Leng cu dengan marah.
"Hmm!"
Hoa Thian-hong mendengus dingin.
"berbicara dari keadaan yang terbentang saat ini, aku percaya engkau tak akan mampu melindungi keselamatan sanderamu, hmmm! Jika engkau tahu diri, cepat lemparkan data itu kepadaku, hitung-hitung kita bikin hubungan persahabatan, siapa tahu dengan perbuatanmu itu, akupun bersedia pertaruhkan selembar jiwaku untuk bantu selamatkan jiwamu dari bencana"
Jilid 20 Kiu-im Kaucu yang duduk dikursi kebesarannya, tiba-tiba menyambung dengan nada mengejek.
"Huuh! Memangnya engkau mampu untuk selamatkan jiwanya?"
Hoa Thian-hong tertawa dingin.
"Menang kalah sampai sekarang toh belum ketahuan, buat apa engkau musti bergembira lebih dulu?"
Dalam pada itu, keenam buah perahu besar dari perkumpulan Kiu-im-kauw telah mengepung rapat perahu yang ditumpangi Hoa Thian-hong, keenam perahu tersebut dihubungkan satu sama lainnya dengan rantai baja yang sangat kuat, hingga dengan begitu terciptalah suatu gelang rantai yang mengitari sekeliling sungai.
Sementara perahu penyeberang yang ditumpangi Hoa Thian-hong hanya berada dua kaki dari perahu pengepung, dalam sekali lompatan sebenarnya kedua belah pihak sanggup untuk meloncat keperahu lawan.
Akan tetapi, berhubung arus air sungai amat deras maka susahlah bila ada orang ingin menyeberang keatas perahu lawan, sebab dalam kenyataan perahu itu masih tetap bergerak mengikuti gerak arus air yang sangat deras itu.
Tercekat hati Pia Leng-cu setelah mengawasi sebentar keadaan disekelilingnya, kepungan musuh terlalu tangguh, dalam keadaan begini tidak sukar baginya kalau ingin selamatkan jiwa sendiri, tapi untuk kabur sambil membawa sandera jelas hal itu hanya suatu impian belaka.
Kembali dia berpikir.
"Bila situasi berubah lagi, sudah tentu Hoa Thian-hong akan berubah pikiran pula, apa salahnya kalau kugukan kesempatan itu untuk saling bertukar barang dengan dia mumpung pikirannya belum berubah dan dia belum punya ingatan untuk ingkar janji"
Begitu ambil keputusan dihati, ia segera membentak keras.
"Hey bocah keparat, kulabulkan permintaanmu itu, nah! sambutlah dara ini...."
Sekali ayun, dia melempar tubuh Pek Kun-gie ke arah perahu.
Hoa Thian-hong kuatir kalau Kiu-im-kauw lakukan pengacauan ditengah jalan, buru-buru dia maju kedepan dan menyambut tubuh Pek Kun-gie.
Apa yang ia duga ternyata meleset, Kiu-im Kaucu tetap duduk tak berkutik dari tempat duduknya, justru dia memang berharap pertukaran manusia dengan pedang bisa berjalan dengan lancar.
Apabila pedang baja itu sudah terjatuh ketangan Pia Leng-cu, itu berarti baik pedang baja maupun pedang emas berada ditangan imam tua dari perkumpulan Thong-thian-kauw ini, asal dia melakukan penyergapan dan penangkapan dengan sepenuh tenaga dia yakin usahanya itu pasti akan berhasil.
Dipihak lain, setelah menerima tubuh Pek Kun-gie, pemuda itu segera menegur lirih.
"Gie, engkau terluka?"
Betapa gembiranya Pek Kun-gie setelah berada disamping kekasihnya, ia menggeleng.
"Tidak, aku tidak terluka, cuma tangan dan kakiku diikat dengan otot kerbau, pakaianku juga.... juga sudah rusak!"
Hoa Thian-hong mengerutkan dahinya, ia memandang dara itu sekejap, pakaian yang dikenakan adalah sebuah jubah warna hijau yang kedodoran, sekalipun begitu tidak menutupi kecantikan wajahnya.
Cepat ia meraba otot kerbau yang membelenggu tangan kirinya, sekali pencet dengan kelima jari tangennya, otot kerbau yang kuat dan ulet itu seketika terputus jadi beberapa bagian.
"Masuklah kedalam kereta"
Bisik pemuda itu kemudian.
"disitu sudah tersedia pakaian, engkau harus ganti pakaian dengan cepat!"
"Tangan dan kakiku masih kaku, aku tak dapat jalan sendiri! bisik Pek Kun-gie pula dengan aleman"
Terpaksa Hoa Thian-hong merangkul pinggang dara itu menuju ke arah kereta, kemudian menyingkap horden dan membantu pula gadis itu naik kedalam kereta.
Tiba-tiba Kiu-im Kaucu alihkan sorot matanya ke arah kereta kuda itu, kemudian sambil tertawa nyaring berseru.
"Hmmm Hebat sekali siasatmu untuk mengelabuhi musuh, sampai-sampai akupun kena kau tipu!"
Perasaan hati Hoa Thian-hong agak bergerak.
"Terima kasih atas perhatian dari kaucu, tentunya engkau sudah memberi muka kepadaku"
Katanya.
"Oooh.... tentu saja!"
Hoa Thian-hong tertawa dingin.
"Heeeh.... heeeeh.... heeeh.... perlu engkau ketahui, siasat ini kunamakan mengelabubi langit menyeberangi samudra, sekarang ibuku su dah tiba diutara sungai, apakah kaucu sudah mengetahui akan hal ini?"
Mula-mula Kiu-im Kaucu agak tertegun, menyusul mana sambil tertawa sahutnya.
"Perkampungan Liok Soat Sanceng merupakan suatu perkampungan besar dalam dunia persilatan, cepat atau lambat aku bakal ber kunjung keutara, suatu ketika pasti akan kukunjungi pula perkampungan itu. Cuma.... Hmm! Saat ini Hoa ya sedang berada dipung gung harimau, aku rasa lebih baik sementara waktu berjaga disini saja, apa gunanya mengejar kesitu?"
Mendengar jawaban tersebut, diam-diam Hoa Thian-hong merasa kegirangan, pikirnya.
"Kalau kudengar dari jawabannya, jelas rencana matang yang kami susun tidak sampai diketahui olehnya...."
Setelah meninggalkan Giok Teng Hujin, Hoa Thian-hong sama sekali tidak pergi mencari Ko thay, diapun tidak mencari jejak Pek Kun-gie, melainkan kembali kerumah penginapannya.
Disana ia memperoleh laporan yang sangat terperinci dari Ko thay yang mengatakan, bukan saja Kiu-im Kaucu telah membawa anak buahnya menjaga sungai Huan ho, bahkan orang-orang dari Mo-kauw aliran Seng sut pay juga menyiapkan orangnya di tepi seberang untuk melakukan penyergapan.
Maka dipersembabkanlah sebuah siasat bagus untuk melepaskan diri diri incaran musuh.
Dalam siasat tersebut dianjurkan kepada Hoa Thian-hong untuk pura-pura membawa keluarganya menyeberangi sungai, tindakannya itu pasti akan memancing perhatian semua lawan-lawannya, sementara Chin Wan-hong serta Tio Samkoh bertugas mengawal Hoa Hujin kabur lewat pintu selatan, bukan menyeberangi sungai Hoan ho melainkan hanya berdiam untuk sementara waktu diluar kota Lok yang.
Dengan begitu perhatian dari Hoa Thian-hong pun dapat tertuju pada satu persoalan, ia bisa menggunakan kesempatan yang ada untuk bertarung dengan sepenuh tenaga melawan musuh-musuhnya, sekalian menyelesaikan pula pertikaiannya mengenai masalah kitab pusaka Kiam keng.
Selesai membaca isi surat itu, para jago merasa kagum bercampur terima kasih terhadap enghiong yang muncul diantara kalangan muda itu, maka untuk menghindari terpancingnya pihak musuh sampai dirumah hanya lantaran kitab Kiam keng, disamping itu demi selamatkan pula jiwa Pek Kun-gie dari ancaman, diputuskanlah untuk melakukan semua siasat seperti apa yang telah di atur.
Begitulah, ketika kentongan ketiga sudah tiba, Hoa Thianhong terlebih dulu meninggalkan rumah penginapan, tak lama kemudian Hoa Hujin dibawah lindungan Chin Wan-hong serta Tio Sam-koh, dengan membawa serta Siau Ngo-ji segera ngeloyor keluar dari rumah penginapan dan diam-diam kabur menuju kepintu kota sebelah selatan.
Walaupun semua persoalan telah diatur secara rapi dan sempurna, tak urung perasaan Hoa Thian-hong masih belum tenang, dia kuatir kalau sampai terjadi sesuatu hal diluar dugaan.
Menanti Kiu-im Kaucu telah memberikan tanggapannya dan pemuda itu yakin kalau siasatnya tak sampai bocor, perasaan hatinya baru lega sama sekali.
ooooOoooo SEMENTARA itu api obor telah menerangi seluruh jagad, membuat suasana disekitar sungai jadi terang benderang bagaikan disiang hari.
Tatkala dilihatnya paras muka Hoa Thian-hong menunjukkan rasa gembira, satu ingatan segera melintas dalam benak Kio im kaucu, ia putar otak berusaha untuk memecahkan teka teki itu, diapun bermaksud memancing dari pembicaraan lawan, namun untuk sesaat ia tak berhasil menemukan kata-kata yang dianggapnya cocok.
Tiba tiba terdengar Pia Leng-cu membentak dengan gusar.
"Hey manusia she Hoa perkataan seorang lelaki sejati berat laksana bukit, engkau punya muka atau tidak?"
Hoa Thian-hong tertawa, ia cabut pedang baja dari pinggangnya lalu menjawab.
"Rupanya sekalipun engkau harus adu jiwa, incaranmu atas pedang baja tak akan berubah....?"
Pia Leng-cu makin naik darah, teriaknya.
"Pek Siau-thian angkuh dan tak pandang sebelah mata kepada orang lain, apa sangkut pautnya antara engkau dengan dia? Kenapa musti kau campuri urusan pribadiku? toh putrinya yang kubekuk, Hmm! Engkau sendiri yang setuju kalau pedang ditukar orang, memangnya aku paksa kan pakai kekerasan?"
Dalam keadaan yang sangat tidak menguntungkan itu, kegagahan dan kejantanannya lenyap tak berbekas, sekalipun ucapannya masih keras dan ngotot akan tetapi wajahnya tak urung ikut berubah jadi merah padam.
Berbicara menurut peraturan yang berlaku dalam dunia persilatan, pertikaian antara Pek Siau-thian dengan Pia Lengcu sebagai sama-sama umat persilatan dari golongan hitam, Hoa Thian-hong tak berhak untuk ikat ambil bagian, kalau tidak maka dia akan dituduh orang sebagai pemuda yang ikut campur dalam urusan orang karena terpikat oleh pipi licin (perempuan)....
Dengan sorot mata tajam, Hoa Thian-hong memandang sekejap ke arah Kiu-im Kaucu yang duduk dikursi kebesarannya, setelah termenung sebentar ujarnya dengan muka serius.
"Apa yang aku orang she Hoa katakan tak pernah diingkari kembali, setelah aku berjanji akan berikan kepadamu, benda itu sudah pasti akan kuserahkan kepadamu!"
"Kalau begitu cepat lempar kemari!"
Bentak Pia Leng-cu dengan gusar.
"Thian-hong, jangan berikan kepadanya!"
Tiba-tiba Pek Kun-gie berteriak keras.
Dengan suatu gerak yang cepat ibarat burung walet terbang diudara, ia melayang ke sisi pemuda itu.
Setelah pakaiannya tercabik-cabik oleh sobekan pisau belati Pia Leng-cu, kini dara tersebut telah menggantinya dengan seperangkat pakaian milik Hoa Thian-hong, tentu saja pakaian itu kedodoran baginya.
Ujung baju yang terlalu panjang ia gulung keatas, pinggangnya diikat dengan seutas tali pinggang warna putih, dandanannya bukan pria bukan wanita sehingga kelihatan lucu sekali.
Walau begitu wajahnya yang cantik sama sekali tidak hilang karena itu, apalagi setelah berkumpul kembali dengan kekasih hatinya yang dirindukan siang malam, kegembiraan yang bergolak sukar dikendalikan hingga terlibat nyata diatas wajahnya.
Mukanya yang berseri-seri dan senyum yang manis itu membuat paras mukanya yang sudah cantik, kelihatan jauh lebih menawan hati.
Tak tahan Hoa Thian-hong melirik sekejap ke arahnya lalu tertawa geli.
"Ayoh berdiri disitu saja!"
Serunya, urusan yang ada disini biar aku sendiri yang selesaikan"
Dengan gemas dan penuh kemarahan, Pek Kun-gie meruding ke arah Pia Leng-cu, lalu mencaci maki dengan gusarnya.
Baca Juga: Badik Buntung Gkh
Baca Juga: Kaki Tiga Menjangan 12