Eps 8 Tiga Maha Besar - Khu Lung
Baca online Tiga Maha Besar - Khu Lung
Cersil Tiga Maha Besar - Khu Lung.
"Huuh....! Hidung kerbau itu tak tahu malu, tua bangka belaka, manusia cabul yang bejad moralnya, dia paksa aku untuk mengunggap catatan kiam keng bu kui.... engkoh Hong! Jangan berikan kitab kiam keng tersebut kepada tua bangka sekarat itu, biar dia mampus penasaran...."
Betapa gusarnya Pia Leng-cu ketika mendengar makian itu, kontan sepasang matanya melotot besar, dia hendak balas memaki tapi ketika pandangan matanya terbentur dengan wajah dara itu, dia malah tertegun untuk sesaat tak sepatah katapun mampu diucapkan.
Perlu diketahui, sewaktu Pia Leng-cu berada berduaan dengan Pek Kun-gie tadi, berhubung kesatu ruang loteng itu kecil lagi gelap, kedua Pek Kun-gie lagi uringan dan penuh menaruh perasaan benci dan dendam, maka yang tertampak oleh Pia Leng-cu ketika itu hanya potongan badannya belaka, kecantikan yang sesungguhnya dari dara itu sama sekali tidak kelihatan.
Lain halnya dengan keadaan waktu itu, meskipun ia sedang mencaci maki Pia Leng-cu, akan tetapi ucapan itu ditujukan kepada Hoa Thian-hong, dalam pandangan imam tua itu terlihatlah betapa cantik jelita dara itu sekalipun sedang memaki orang mukanya berseri manis, kerlingan natanya menawan hati ditambah pula suaranya lembut seperti genta membuat orang terkesima jadinya.
Dasar seorang imam cabul yang gemar main perempuan, Pia Leng-cu kontan merasakan jantungnya berdebar keras, ia benar-benar terpersona, apalagi terbayang kembali lekukanlekukan tubuhnya yang putih, halus dan padat berisi itu, tanpa sadar jantungnya berdebar keras, hampir saja ia lupa sedang berada disana.
Hoa Thian-hong sendiri ketika mendengar perkataan dari Pek Kun-gie, sikapnya tetap halus dan sekulum senyum tersungging diujung bibirnya, tapi begitu menjumpai keadaan Pia Leng-cu yang kesemsem dengan mimik wajah yang menakutkan, timbul kembali hawa amarah dalam hatinya.
Ia segera ulapkan tangannya dan berseru.
"Aku toh hanya akan memberikan pedang baja itu, belum pernah kukatakan kalau kitab Kiam keng itu akan kuserahkan kepadanya, menyingkirlah kesamping, aku akan bereskan sendiri persoalan ini!"
Pek Kun-gie makin gelisah, kembali dia berseru.
"Semua orang bilang kitab kiam keng itu ada didalam pedang bajimu, jangan kau berikan kepadanya!"
"Aku hanya menyetujui untuk serahkan pedang ini kepadanya, namun tak pernah kusanggupi untuk dibawa pergi olehnya, minggirlan kesitu, tak usah kuatir!"
Sungguh gelisah dan panik pikiran Pek Kun-gie, tapi ia tak berani membangkang perintah si anak muda itu, terpaksa dengan hati berat dara itu menyingkir kesimping, diam-diam pedang lemasnya dicabit keluar siap menghadapi sejala kemungkinan yang tidak diizinkan Dalam pada itu, Hoa Thian-hong telah menengadah dan memandang sekejap ke arah Pia Leng-cu dengan pandangan dingin, sambil angsurkan pedang baja itu kemuka, hardiknya.
"Nih, ambillah!"
Pia Leng-cu agak tertegun, kemudian serunya dengan marah.
"Lempar kemari!"
"Hey bangsat cabul, dengarkan baik-baik kata kami ini"
Teriak Pek Kun-gie dari samping,"
Kami hanya setuju untuk berikan pedang itu kepadamu, tapi tak pernah menyanggupi dirimu untuk membawa pergi pedang tersebut dari tempat ini, kalau tak takut mampus ambilah!"
Kiu-im Kaucu yang licik dan ingin menjadi nelayan yang untung segera menanggapi dari samping sambil tertawa tergelak.
"Haahh.... haahhh.... haahhh.... Pia Leng-cu ayoh maju dan terima pedang itu! Hoa kongcu adalah seorang pria sejati, tak mungkin dia akan menipu engkau.... hayo maju! Apalagi yang kau takuti...."
Dengan kecurigaan hatinya yang sangat tebal, Pia Leng-cu tak ingin maju kemuka sambil menempuh bahaya, akan terapi setelah dipandang oleh belasan pasang mata dengan sorot mata mengejek, hawa amarahnya berkobar juga didalam hati sambil menggigit bibir dia segera melangkah maju kedepan dengan tindakan lebar.
Pek Kun-gie benar-benar kuatir kalau Hoa Thian-hong sungguh menyerahkan pedang baja itu kepada orang, kembali ia berteriak deng an suara keras.
"Thian-hong, tak tak usah berbicara soal kepercayaan dengan orang jahat macam dia!"
Sementara itu Pia Leng-cu sudah maju ke muka, jaraknya dengan pedang baja itu tinggal empat lima depa, tatkala mendengar seruan tersebut ia segera menghentikan kembali langkahnya.
Hoa Thian-hong mendengus dingin, ia muak menyaksikan kepe-ngecutan imam tua itu, semakin ragu orang untuk maju ia semakin pandang hina musuhnya.
Melihat Pia Leng-cu kembali berhenti dengan sangsi, ia mengejek sinis serunya.
"Api yang telah kukatakan tak pernah kuingkari lagi. Nah ambilah pedang tersebut!"
Sekali tangannya diayun....
Duuuk!
Pedang baja sepanjang empat depa itu sudah menancap lurus tepat dihadapan Pia Leng-cu.
Tindakan dari Hoa Thian-hong ini sama sekali diluar dugaan semua orang, dengan pandangan kebingungan Pia Leng-cu, Kiu-im Kaucu maupun puluhan orang anak buahnya, melotot ke arah senjata itu tanpa sanggup mengucapkan sepatah katapun.
Lama sekali Pia Leng-cu berdiri tertegun akhirnya ia melirik sekejap ke arah Kiu-im Kaucu.
Imam tua ini sadar, setelah pedang baja tersebut terjatuh ketangannya, pada hakekatnya bukan suatu pekerjaan yang gampang untuk lolos dari kepungan, malahan mungkin jauh lebih sukar untuk mendekati ke langit.
Walau begitu tak mungkin baginya untuk melepaskan mustika yang berada didepan mata dengan begitu saja....
Akhirnya menggertak gigi ia robek pakaiannnya lalu membungkus pedang itu baik-baik dan menggantungnya diatas punggung.
Tak seorang manusiapun yang bergerak dari tempat kedudukan masing-masing, baik Hoa Thian-hong maupun Kiuim Kaucu sama-sama mengikuti gerak-gerik sang imam tua tanpa banyak bicara.
Kebungkaman dan ketenangan sang pemuda itu menggelisahkan hati Pek Kun-gie, cepat ia menggoyang lengan si anak muda itu sambil mengomel.
"Ayolah, rebut kemoali pedang baja itu, kenapa kau diam melulu?"
"Memangnya kau rela pedang itu diambil bajingan cabul itu?"
Hoa Thian-hong tertawa geli.
"Aah, kamu ini, memangnya gampang ya untuk merampas kembali pedang itu? ilmu silat yang dimiliki cinjin ini sangat lihay, akupun paling banter cuma menang setingkat darinya, apalagi sekarang tak ada senjata yang bisa kupakai lagi, susah rasanya untuk merobohkan dirinya!"
"Kalau begitu.... kalau begitu.... tidak sepantasnya kau berikan pedang itu kepadanya"
Omel Pek Kun-gie sambil mendepak-depakkan kakinya keatas geladak.
Gadis itu betul-betul amat gelisah sehingga ia tak mampu berkata-kata lagi.
Bukannya ikut gelisah, sikap Hoa Thian tong malahan jauh lebih tenang, seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu urusanpun, katanya sambil tertawa.
"Sebagai seorang manusia yang hidup di dunia, kita tak boleh mengingkari apa yang telah diucapkan, sekali perkataan sudah ke luar maka kita wajib melaksanakan sampai selesai, kenapa kau musti gelisah? memangnya dia mampu kabur dari sini sambil membawa pedang baja itu?"
Sementara ia masih berbicara, Pia Leng-cu telah selesai membenahi dirinya, pedang baja itu dia gantung dipunggung sementara pedang mustika Poan liong poo kiam dicekal dalam keadaan terhunus, asal ada orang hendak merampas senjata mustika itu maka ia akan terjun kedalam air dan kabur dari situ.
Tentu saja diapun sempat mendengarkan pembicaraan dari Hoa Thian-hong, dan iapun dapat meresapi makna dari ucapan itu, tapi ia tak sudi menyerah dengan begitu saja, prinsipnya selama hayat masih di kandung badan dia akan selalu berusaha sedapat mungkin, sebelum jalan betul-betul menjadi bantu, ia tak mau pasrah nasib dengan begitu saja.
Sekalipun ia sudah membenahi diri dan siap kabur, Hoa Thian-hong sama sekali tidak menggubris dirinya, Kiu-im Kaucu sendiripun tetap duduk tak berkutik ditempat semula, seakan-akan mereka sama sekali tak pandang sebelah matapun atas kejadian tersebut.
Betapa malu dan marahnya Pia Leng-cu diperlakukan seperti itu, ia tuding Kiu-im Kaucu dengan pedang mustikanya, lalu membentak nyaring.
"Pia Leng-cu ada disini, pedang baja maupun pedang emas kini berada ditangan cinjin mu, kalau engkau tidak kemari lagi, jangan salahkan kalau cinjin tak akan menemani lebih lama"
"Ooh.... silahkan.... silahkan.... kalau mau pergi, silahkan saja terjun kedalam air!"
Sahut Kiu-im Kaucu sambil tertawa santai. Kemarahan yang menggelora dalam dada Pia Leng-cu sukar dilukiskan dengan kata-kata, pikirnya.
"Nenek bajingan, kalau hari ini aku bisa lolos dari sini. Hmm! Tunggu sajalah pembalasan dari cousu-ya mu.... sialan."
Berpikir sampai disitu dia lantas loncat keujung perahu dan siap terjun kedalam air.
"Tunggu sebentar!"
Tiba-tiba Hoa Thian-hong membentak keras. Pia Leng-cu putar badan lalu berseru.
"Bocah keparat, kalau tidak terima, hayo maju kemari, kuhajar kau sampai mampus!"
Pek Kun-gie naik pitam menyaksikan keangkuhan lawan, ia serahkan pedang lemas itu kepada Hoa Thian-hong, kemudian serunya dengan mendongkol.
"Bikin mampus siluman tua itu, cukil keluar sepasang biji mata bangsatnya!"
Hoa Thian-hong tertawa sambil menggeleng.
"Percuma! Setibanya dalam air, pedang lemasmu itu tak lebih cuma barang rongsok yang tak ada gunanya, cepat disimpan saja."
Kemudian sambil berpaling ke arah Pia Leng-cu, serunya.
"Aku cuma ingin bertanya kepadamu, bagaimana kepandaianmu didalam air?"
"Perduli amat dengen cousu ya mu!"
Tukas Pia Leng-cu ketus.
"kalau tidak puas silahkan maju dan kita adu kepandaian sampai salah seorang mampus!"
Hoa Thian-hong terawa, katanya.
"Kalau aku sih tak mampu, tapi aku rasa kehebatan mu dalam air juga tidak sampai selihay lawan!"
Setelah berhenti sebentar, lanjutnya kembali.
"Ikutilah anjuranku, baik-baik berdiri diatas perahu dan tak usah terjun keair, asal engkau masih berada diatas daratan maka cuma aku dan Kiu-im Kaucu berdua yang sanggup melangsungkan pertarungan melawan dirimu, tapi begitu engkau terjun kedalam air, hmm! Coba lihatlah, tujuh delapan puluh orang yang berada disini semuanya adalah musuh-musuh tangguhmu, engkau akan menjadi sate ikan dan nyawamu pasti akan kabur kembali ke akhirat!"
"Bagus.... bagus sekali! Hoa Thian-hong aku lihat makin lama engkau semakin lihay!"
Seru Kiu-im Kaucu sambil tergelak tertawa, walau sepasang alis matanya berkenyit.
"Penderitaan dan siksaan akan mendidik otak manusia untuk ber pikir keras, memangnya aku orang she Hoa masih kecil?"
Kiu-im Kaucu tertawa, ia tidak ber bicara lagi tapi alihkan sorot matanya ke arah Pia Leng-cu.
Semula imam tua itu memakai kain cadar untuk menutupi wajahnya, berhubung dia takut kain cadar itu mengganggu pandangan matanya selama berada didalam air, maka kain cadar tersebut telah dilepas olehnya.
Ucapan Hoa Thian-hong ibaratnya guntur yang membelah bumi disiang hari bolong, ia tergugah dari impian indahnya, apalagi setelah periksa keadaan disekitar sana, paras mukanya kontan berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, sekarang disuruh terjun keair pun mungkin ia tak berani.
Pek Kun-gie sendiri adalah seorang pendekar wanita yang dididik langsung oleh Pek Siau-thian, sedikit banyak diapun pangcu muda dari suatu perkumpulan besar, tentu saja baik kecerdikan maupun jalan pikirannya jauh lebih tangguh dari orang lain.
Sayang ia terbelenggu oleh cinta sehingga watak serta kegagahannya mengalami banyak perubahan, sekalipun begitu bukan berarti dia berubah jadi bodoh.
Sehabis mendengar ucapan dari Hoa Thian-hong itu, cepat dia menyapu sekejap sekeliling gelanggang, apa yang kemudian dilihat membuat hatinya jadi amat terperanjat.
Kiranya anak buah perkumpulan Kiu-im-kauw yang berkumpul disekitar gelanggang mencapai tujuh puluh orang lebih, bukan saja mereka mengenakan pakaian berenang yang tahan air, senjata tajam yang mereka gunakan adalah senjata bangsa tri sula, garpu panjang serta pisau bercabang dua, bahkan ada sebagian diantaranya mempergunakan senjata kaitan pedang dan sebangsanya.
Dari sini dapatlah diketahui kedudukan masing-masing orang, yang bersenjata trisula atau sebangganya jelas merupakan jago-jago lihay di dalam air, sedang senjata pedang atau sebangsanya adalab jago-jago diatas daratan.
Organisasi yang diatur dengan begitu rapihnya ini menunjukkan pula betapa cakapnya Kiu-im Kaucu mengatur anak buahnya.
Belum habis rasa kaget dan curiga terlintas dalam benak imam tua itu, tiba-tiba Kiu-im Kaucu tertawa tergelak sambil berkata.
"Pia Leng-cu, kalau engkau bersedia masuk kedalam perkumpulan Kiu-im-kauwca, aku bersedia pula memberi kedudukan yang tinggi kepadamu...."
"Heehhh.... heehhh.... heeh.... omong kosong!"
Tukas Pia Leng-cu dengan cepat. Kiu-im Kaucu tidak menjawab lagi, dengan seenaknya dia ulapkan tangan dan berseru.
"Lubangi perahu mereka!"
Berbareng dengan selesainya ucapan itu, seseorang loncat masuk kedalam air dengan gerak cepat, begitu gesit dan lincah gerakan tubuh orang itu, jelas dia adalah seorang jagoan kelas satu.
Pek Kun-gie menggenggam tangan Hoa Thian-hong eraterat, kemudian bisiknya dengan cemas.
"Mereka akan melobangi perahu kita, ayoh kita terjun saja kedalam air...."
Dalam pada itu dari dasar perahu sudah kedengaran suara ayunan kampak yang menggoncangkan seluruh perahu tersebut.
"Bagaimana dengan kepandaianmu didalam air?"
Tanya Hoa Thian-hong sambil tersenyum.
"Biasa-biasa saja"
Jawab sang gadis tertegun aai.... akulah yang sudah mencelakai dirimu, tiba-tiba matanya jadi merah dan air mata jatuh berlinang.
"Eeh, kita toh belum tentu mati, kenapa kau musti menangis?"
Hibur sang anak muda sambil tertawa. Dia lantas berpaling ke arah Kiu-im Kaucu dan berkata.
"Kaucu, sebelum pertemuan Kian ciau tay hwe diselenggarakan, apakah perkumpulan selalu beroperasi diatas samudra?"
Kiu-im Kaucu tersenyum kemudian menghela napas panjang.
"Aaai....! Dua puluh sembilan tahun berselang perkumpulan Kiu-im-kauw terdesak dan tak dapat berdiri lagi dalam dunia persilatan, terpaksa kami mundur ketengah samudra dan hidup selama tujuh belas tahun diantara daratan den lautan, sekaranglah kami baru dapat hidup kembali diatas daratan!"
"Mungkin selama ini kalian hidup di selatan, makanya jarang sekali orang persilatan yang ada didaratan Tionggoan mengetahui akan kejadian tersebut!"
Kembali Kiu-im Kaucu mengangguk sambil tersenyum.
"Memang begitulah kenyataannya!"
Suatu benturan keras memotong pembicaraan yang berlangsung, ternyata dasar perahu itu sudah berhasil dilubangi sehingga air sungai segera mengalir masuk sedalam perahu.
Kecuali Hoa Thian-hong, Pek Kun-gie dan Pia Leng-cu, diatas perahu itu masih terdapat sebuah kereta besar serta dua ekor kuda penghela, karena air sungai mengerangi perahu itu, tentu saja kedua ekor kuda yang berada diatas geladak jadi meringkik ketakutan, binatang itu berloncatan kesana kemari dengan panik, membuat perahu iiu semakin oleng jadinya.
Dengan perasaan menyesal Hoa Thian-hong memandang sekejap ke arah kuda-kuda itu, kemnudidn pikirnya.
"Arus sungai sangat deras, tak mungkin kuda-kuda itu sanggup berenang ketepian, lebih baik kulepaskan saja tali pengikatnya sehingga mereka bisa berloncatan dengan lebih leluasa. Karena berpikir demikian, diapun loncat kedepan dan melepaskan tali pengikat kuda itu. Pia Leng-cu teramat benci terhadap diri Kiu-im Kaucu, dengan seram ia tertawa panjang kemudian serunya.
"Hey, Kiu-im Kaucu! Katanya perkumpulan Kiu-im-kauw mengembara selama tujuh belas tahun diatas samudra, lalu dua belas tahun kemudian kalian bersembunyi dimana?"
Paras muka Kiu-im Kaucu berubah jadi dingin menyeramkan, dia cuma melotot dan sama sekali tidak menjawab.
Keadaan dari Pek Kun-gie saat itu ibaratnya burung kecil yang jinak, kemanapun Hoa Thian-hong pergi dia mengikuti terus disampingnya, sekalipun mereka ada dalam keadaan bahaya, rejeki ataupun bencana sukar diramalkan, namun matanya tetap berseri-seri, sekulum senyum manis menghiasi bibirnya.
Sambil menarik ujung baju sang anak muda, tiba-tiba ujarnya sambil tertawa.
"Kiu-im Kaucu tak berani mengakui letak sarangnya, engkau tahu kenapa dia tak berani menjawab?"
Memanya kenapa?! tanya Hoa Thian-hong keheranan.
"Dia kuatir kalau engkau menyerbu ke dalam sarangnya!"
Hoa Thian-hong tertawa tergelak karena geli.
"Haahh.... hahh.... haaah.... kamu ini kok ada-ada saja, ngaco belo!"
Sementara itu Kiu-im Kaucu telah berseru pula sambil tertawa.
"Pek Kun-gie, kalau engkau bersedia menjadi muridku, semua ilmu kepandaian yang kumiliki akan kuwariskan kepadamu, tapi kalau engkau menampik terpaksa akan kusuruh englau mati didasar sungai dan menjadi santapan gorombolan ikan"
"Hmmm! Kalau memang jantan ayoh kita berduel diatas daratan"
Tantang Pek Kun-gie sambil cibirkan bibirnya,"
Kalau engkau bisa kalahkan kami berdua, aku pasti akan angkat engkau sebagai guruku!"
Tiba-tiba terdengar ledakan keras menggema dari dasar perahu, sebuah lubang besar kembali muncul didasar perahu penyeberang itu, air sungai mengalir masuk makin deras, kuda-kuda itu meronta makin kuat, kereta besar itu telah roboh terbalik, tampaknya sebentar lagi perahu itu bakal tenggelam ke dasar sungai.
Pia Leng-cu berdiri di ujung perahu, sementara Hoa Thianhong sambil memegang pergelangan tangan Pek Kun-gie berdiri di sisi perahu, mereka sama sekali tidak bergerak sementara sorot matanya mengawasi gerak-gerik disekitarnya untuk mengikuti situasi.
Tiba-tiba Pek Kun-gie membentak nyaring.
"Hey hidung kerbau! Kembalikan pedang baja itu, kalau tidak engkau akan mampus tenggelam didasar sungai"
Pia Leng-cu menggerakkan bibirnya seperti mau mengucapkan sesuatu, tapi tak sepatah katapun yang mampu diutarakan keluar, dalam situasi yang sangat gawat ini dia tak berani pecahkan perhatian, semua kosentrasi ditunjukan kesatu arah.
Kembali Pek Kun-gie berteriak dengan suara lantang.
"Kembalikan pedang baja itu kepada kami, akan kami tahankan Kiu-im Kaucu bagimu asal engkau dapat menyingkirkan musuh-musuh yang lain, maka siahkan terjun ke air dan kabur, tanggung harapanmu untuk hidup tetap ada."
Mendengar perkataan itu, Kiu-im Kaucu tertawa terbahakbahak.
"Haaah.... haaah.... haaah.... budak cilik, sungguh bagus akal dan idemu itu!"
Tiba-tiba perahu yang mereka tumpangi bergetar keras, menyusul perahu itu tenggelam dua depa kedalam air, begitu air sudah menggenangi seluruh ruangan perahu, dengan sendirinya perahu itupun tenggelam kedasar sungai makin cepat.
Tiba-tiba Pia Leng-cu enjotkan badan dan meyayang ke arah perahu musuh yang ada disebelah timur.
Bentakan-bentakan keras menggelegar di angkasa, para jago yang ada diatas perahu sama-sama ayun senjata mereka menyongsong kedatangan tubuh imam tua itu, maksud mereka hendak paksa sang imam tercebur kedalam air sungai.
Diantara kawanan jago yang hadir dalam gelanggang waktu itu hanya Kiu-im Kaucu dan Hoa Thian-hong yang paling disegani Pia Leng-cu, sementara sisanya yang lain sama sekali tak dipandang barang sekejappun olehnya.
Begitu mencapai permukaan perahu dia langsung ayun pedangnya membantai kawanan jago itu, ia telah mengambil keputussn untuk berusaha membasmi anak buah Kiu-im Kaucu sebanyak mungkin, sehingga daya tekanan yang muncul dari kawanan jago itu bila dia sampai tercebur kedalam air tidak sampai terlalu besar.
Pedang pusaka boan liong poo kiam diputar sedemikian rupa hingga menciptakan selapis bianglala hijau ditengah udara, kemudian secepat kilat mengurung batok kepala musuh-musuhnya.
Perahu yang ditumpangi Kiu-im Kaucu berada disebelah barat, sedang perahu yang ada disebelah timur hanya ditumpangi oleh kawanan jago yang berkedudukan paling rendah serta berilmu silat paling rendah.
Sudah tentu jago-jago itu bukan tandingan Pia Leng-cu yang lihay, bilamana serangan yang dilancarkan lewat udara itu tidak ce pat dihindari, niscaya kawanan jago dari perkumpulan Kiu-im-kauw itu bakal mampus diujung senjata.
Kiu-im Kaucu yang berada agak jauh dari sasaran tak mungkin bisa memberikan pertolongannya, terpaksa ia berseru keras.
"Buyar!"
Perintah inilah yang sedang ditunggu-tunggu kawanan jago tersebut, secepat kilat mereka menghindar kesamping dan bubar keempat penjjru.
Dengan kecepatan bagaikan kilat Pia Leng-cu meluncur keatas perahu, sekali sentak ia sudah berdiri diatas kemudi perahu itu, pedangnya dilintangkan didepan dada dan berdiri angkuh tanpa ber cakap-cakap.
Kakinya yang pincang belum sembuh seratus persen, walaupun begitu sama sekali tidak mempengaruhi kelincahan tubuhnya, semua gerak-gerik dilakukan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.
Kendatipun begitu anakbuah perkumpulan Kiu-im-kauw bukan gerombolan kurcaci yang tak becus, mereka masingmasing mempunyai guru yang pandai ditambah ilmu gerakan tubuh Luan ngo heng mi sian tun yang lihay dari perkumpulan, wajib yang mereka pelajari, sekali meloncat mereka semua sudah kabur jauh dari lawannya.
Menyaksikan kehebatan lawannya, diam-diam Pia Leng-cu merasa kaget bercampur tercengang.
Hoa Thian-hong masih tetap bertindak tenang, ia baru menarik tangan Pek Kun-gie untuk loncat ke arah perahu sebelah timur yang diduduki Pia Leng-cu setelah perahu sendiri seluruhnya tenggelam dan musuh di perahu lawan tersapu bersih.
Sungguh enteng gerakan tubuh si anak muda itu, sekali enjot badan tahu-tahu dia sudah melayang turun disisi Pia Leng-cu, jaraknya cuma empat depa saja dari imam tua itu.
Pihak perkumpulan Kiu-im-kauw sama sekali tak memberi perlawanan atau mencegah gerakan si anak muda itu, mungkin hal ini di karenakan Kiu-im Kaucu sendiri sama sekali tak memberi perintah apapun.
Pia Leng-cu merasa mendongkol sekali menyaksikan kejadian tersebut, dia berdiri diatas kemudi dengan uringuringan, sebaliknya Pek Kun-gie merasa amat bangga sambil mengerling sekejap ke arah musuhnya dia mengejek dengan dingin.
"Kalau pedang baja itu tidak kau kembalikan kepada kami, sekalipun kau terbang kelangit atau masuk kedalam tanah, kami tetap akan membuntuti dirimu serta berusaha untuk menghabisi nyawamu"
Dalam pada itu, perahu penyeberang yang ada ditengah kepungan telah tenggelam kedasar sungai, yang masih sisa tinggal enam buah perahu besar milik perkumpulan Kiu-imkauw, mereka tetap melingkar jadi satu tanpa bergerak satu sama lain.
Sementara fajar telah menyingsing, obor telah dipadamkan namun anak buah dari Kiu-im Kaucu belum melakukan pergerakan apa-apa, rupanya mereka masih menunggu perintah selanjutnya dari ketua mereka.
Kiu-im Kaucu sendiri rupaya sudah menyadari, kalau penyelesaian dalam persoalan hari ini harus dilakukan olehnya sendiri, dia bangkit dari tempat duduknya dan bergerak menuju ke arah tiga perahu yang ada disebelah timur dengan menelusuri pinggiran perahu.
Begitu ketuanya bangkit berdiri, delapan orang laki perempuan yang berada di belakangnya ikut bangkit dan mengikuti dibelakang ketuanya, jelas orang-orang itu mempunyai kedudukan yang agak tinggi dalam perkumpulan Kiu-im-kauw.
Pia Leng-cu putar otaknya memikirkan persoalan itu, ia merasa tak mungkin bisa menangkan kehebatan Kiu-im Kaucu walau pun bertarung diatas geladak perahu apalagi dipihak lawan masih terdapat begitu banyak jago lihay, jelas dia tak mungkin bisa menahannya.
Bila pedang baja itu tidak dikembalikan kepada Hoa Thianhong, sudah tentu pemuda itu tak akan memberikan bantuannya, tapi kalau pedang itu buru-buru dikembalikan dengan begitu saja, ia merasa rugi besar.
Akhirnya setelah peras otak memikirkan persoalan itu, dia ambil keputusan untuk terjun saja kedalam air dan kabur lewat sungai.
Setelah ambil keputusan, ia segera enjotkan badannya, ibarat anak panah yang terl pas dari busurnya imam tua itu meluncur ketengah sungai dan menyelam kedalam air.
Menyaksikan perbuatan musuhnya, Kiu-im Kaucu segera mengetuk toyanya keatas lantai geladak.
"Bekuk orang itu!"
Bentaknya.
Dalam waktu singkat kawanan jago yang ada diatas perahu sama-sama terjun kedalam air dan menyelam kedasar sungai, dari tujuh puluh jago yang siap sedia ada separuh di antaranya sudah turun tangan, diatas perahu tinggal dua puluh orang lebih.
Pek Kun-gie makin gelisah, sambil menggoyankan lengan Hoa Thian-hong serunya dengan cemas.
"Bagaimana sekarang? Pedang baja itu tak boleh sampai lenyap, jangan biarkan senjata itu terjatuh ketangan musuh!"
Hoa Thian-hong tertawa getir.
"Sekalipun tak boleh hilang, apa daya kita sekarang? Coba lihat, begitu banyak anak buah Kiu-im-kauw yang sudah terjun ke dalam sungai, jelas kita bukan tandingannya!"
Air dalam sungai Huang-ho kuning berlumpur, ditambah pula dengan derasnya arus membuat ombak menggulung dengan besar, ketajaman mata Hoa Thian-hong memang luar biasa, namun sekarang ia tak sanggup mengikuti jalannya pertarungan didasar sungai.
Ia hanya lihat baik Pia Leng-cu maupun anak buah dan Kiuim-kauw tak ada yang muncul lagi keatas permukaan air untuk berganti nafas, dari kemampuan yang dimiliki orang-orang itu, jelas kepandaian berenang mereka hebat sekali.
Kiu-im Kaucu yang berada diatas geladak perahu diamdiam berpikir pula dihati.
"Setelah kehilangan senjatanya, ilmu silat Hoa Thian-hong pasti banyak berkurang kehebatannya, inilah kesempatan yang paling baik bagiku untuk merobohkannya, tapi.... kalau toh dia tak punya pegangan yang kuat memangnya pedang itu mau diserahkan kepada orang lain dengan begitu saja? Aaaah.... tak mudah rasanya untuk membekuk bocah itu!"
Mengetahui kesulitan yang bakal dihadapi, Kiu-im Kaucu mengambil keputusan untuk pusatkan segenap kekuatan yang dimilikinya untuk membekuk Pia Leng-cu.
Dia ulapkan tangannya, melihat tanda yang diberikan sang ketua, dua puluh orang yang masih tersisa diatas perahu segera memecahkan diri jadi dua rombongan.
Yang separuh meloncat kesisi kiri perahu untuk memutuskan rantai besi, kemudian memutar kemudi perahu ke arah pantai sebelah kiri, sedangkan separuh yang lain dengan melindungi ketuanya dengan menunggang perahu besar yang ada disebelah kanan berputar ke arah kanan.
Dengan begitu maka perahu yang ditumpangi Hoa Thianhong serta Pek Kun-gie beserta sisa empat buah perahu yang lain tertinggal disana.
Menyaksikan kejadian itu, Hoa Thian-hong segera membentak keras.
"Cepat putuskan rantai-rantai besi itu!"
Sambil berseru dia loncat kedepan dan memegang kemudi perahu.
Cepat Pek Kun-gie cabut keluar pedang lemasnya dan meloncat keujung perahu, sekali tebas dia kutungi rantai besi disana, lalu loncat pula kebelakang perahu dan mematahkan pula rantai yang mengi kat buritan perahu.
Dengan sorot mata yang tajam Hoa Thian-hong menyapu permukaan sungai, waktu itu ada sebagai anak buah perkumpulan Kiu-im Kaucu yang munculkan diri diatas permukaan air untuk tukar napas, ditinjau dari posisi mereka, semuanya berada kurang lebih delapan sembilan kaki disebelah kanan.
Maka dia segera putar kemudi perahu dan menggerakan perahu rampasan itu menuju ketempat kejadian.
Tiba-tiba Pia Leng-cu munculkan diri diatas permukaan air, setelah menghirup napas panjang ia menyelam kembali kedalam air, bersamaan itu pula tujuh delapan orang anak buah perkumpulan Kiu-im Kaucu muncul disekeliling tempat kejadian.
Melihat kesemuanya itu paras muka Pek Kun-gie berubah hebat.
"Oooh.... sungguh lihay"
Serunya.
"kalau keadaannya begini terus, jelas tak ada harapan bagi Pia Leng-cu untuk kabur dari tempat ini!"
"Engkau bisa pegang kemudi?! tiba-tiba Hoa Thian-hong bertanya dengan muka murung. Pek Kun-gie mengangguk, ia segera pegang kemudi perahu.
"Jangan terlalu mendekati mereka"
Perintah Hoa Thianhong.
"hati-hati kalau pihak Kiu-im-kauw melubangi dasar perahu kita lagi!"
Bicara sampai disitu ia lantas menyingkap bajunya dan cabut keluar sebuah senjata trisula yang tajam dan loncat ketepi perahu.
"Thian-hong jangan terjun kedalam air!"
Pekik Pek Kun-gie sangat kuatir.
"Aku tahu!"
Jawab Hoa Thian-hong sambil mengangguk.
Sementara itu perahu yang ditumpangi Kiu-im Kaucu sudah bergerak menuju kepantai sebelah kanan, sedangkan perahu yung ditumpangi Hoa Thian-hong masih ada ditengah sungai, pertarungan yang berlangsung dalam air terjadi ditengah sungai antara kedua buah perahu itu.
Sisa perahu yang ada disebelah kiri berjaga-jaga pada jarak kurang lebih delapan kaki dari gelanggang pertarungan, berada dalam keadaan seperti ini sulitlah bagi Pia Leng-cu kalau dia ingin kabur keatas daratan....
Untuk bertarung dalam air, maka pertama itu harus tinggi dalam teknik berenang kedua dia harus punya ketajaman mata yang luar biasa, dan ketiga harus tahan lama berada dalam air.
Uatung Pia Leng-cu mempunyai kepandaian berenang yang lihay, kalau tidak ia tak akan berani mengejar Hoa Thian-hong ketengah sungai menumpang sampan kecil.
Sekalipun dia lihay, jago-jago dari perkumpulan Kiu-imkauw banyak sekali jumlahnya, rata-rata merekapun berilmu tinggi dalam soal berenang, dalam waktu singkat ia sudah dibikin pusing tujuh keliling oleh kedahsyatan musuhnya.
Ketika ia terjun keair untuk kabur ke arah daratan tadi seorang kakek tua berambut putih segera mengejar dibelakangnya, meski pun ditengah gulungan ombak dan aliran arus yang deras namun dalam jarak tiga kaki, orang itu masih sempat melihat jelas bayangan tubuh dari Pia Leng-cu.
Belum sampai dua panahan jauhnya, imam tua itu sudah kena dihadang olehnya, baru bertarung lima gebrakan orangorang dari Kiu-im-kauw sudah mengepung disekitar sana, dalam keadaan begitu sulitlah bagi Pia Leng-cu untuk kabur dengan leluasa.
Dibawah pimpinan Kiu-im Kaucu semuanya terbagi jadi dua istana dan tiga ruangan.
Dua istana terdiri dari istana neraka atau Yu beng tian serta istana siksaan.
Tiam cu yang memimpin ruang neraka adalah seorang perempuan, sedang tiam cu yang memimpin ruang siksa adalah seorang lelaki berusia lima puluh tahunan.
Sedangkan ketiga ruangan itu terdiri dari ruangan Ing kian tong, cuan to tong, serta Su li tong.
Ketiga orang tongcu dan kedua orang tiam cu itu merupakan lima orang panglima perang dari Kiu-im-kauwccu, mula pertama Giok Teng Hujin sendiripun merupakani anggota ruang Yu beng tiam, cuma ilmu silatnya masih tak dapat dibandingkan dengan kehebatan kelima orang ini.
Baik kedua orang tiam cu maupun ketiga orang tongcu semuanya hadir dalam gelanggang saat ini, waktu diselenggarakannya pertemuan Kiam ciau tay hwe mereka juga hadir cuma waktu itu dandanan mereka aneh-aneh persis dengan makhluk halus.
Dan hari ini mereka mengenakan pakaian sutera hitam yang perlente, dengan ikat kepala warna hitam pula, jangan kan Hoa Thian-hong sekalipun Pia Leng-cu juga tidak mengenali identitas mereka.
Pada waktu itu ketua istana neraka bertugas menjaga diperahu sebelah kiri untuk menghalangi niat kabur Pia Lengcu menuju pantai utara, Tiam cu ruang siksa, Ing kiam tongcu serta Su li tongcu bertugas melindungi keselamatan Kiu-im Kaucu sedangkan tugas menang-kap orang dalam air diserahkan kepada tongcu ruang penyebaran ajaran.
Formasi ini sebenarnya diatur khusus untuk menghadapi Hoa Thian-hong, tapi yang masuk perangkap sekarang bukanlah si anak mudu itu melainkan Pia Leng-cu.
Tongcu ruang penyebaran agama itu bernama Bong Seng, umurnya lima puluh tahunan dan bersenjatakan sebelah kaitan tajam berkepala harimau, setelah ada dalam air jangan kan menghadapi serbuan anak buah yang lain, untuk menghadapi jago tua ini pun Pia Leng-cu sudah dibikin kewalahan, apalagi serangan yang dilancarkan musuhmusuhnya dari empat arah delapan penjuru secara bergilir, tentu saja lambat laun imam tua itu tak kuasa menahan diri.
Untung Pia Leng-cu sendiripun memiliki kelebihankelebihan, pertama tenaga dalamnya amat sempurna, kedua ketajaman matanya luar biasa dan ketiga pedang boan liong poo kiam yang diandalkan sangat tajam, maka untuk beberapa waktu dia masih sanggup mempertahankan diri.
Selain itu Bong Seng tak berani turun tangan keji hingga membinasakan imam tua ini, sebab pedang emas itu ada ditangannya dan tongcu tersebut kuatir kalau pedangnya sudah disembunyikan ketempat lain.
Maka ia gunakan taktik berperang gerilya, kalau musuh menyerang secara ganas maka mereka pada kabur menjauh, sebaliknya kalau penahanan musuh agak mengendor, mereka segera menyerang dengan gencar, asal imam tua itu sudah lelah dan kehabisan tenaga maka sudah pasti dia bakal dibekuk dalam keadaan hidup-hidup.
Manusia yang bernama Bong Seng ini amat pandai ilmu berenang, sepanjang pertarungan berlangsung dia selalu memancing Pia Leng-cu agar bertarung di tengah sungai.
Pia Leng-cu buta arah yang ada disekitarnya, boleh dibilang ia tak tahu dimana kini posisinya waktu itu, setelah bertempur beberapa saat ia merasa hawa murninya hampir habis, cepat pedang mustikanya di ayun keluar menyingkirkan ancaman musuh kemudian menyusup keluar dari permukaan air sungai.
Setelah berada diluar air barulah Pia Leng-cu mengetahui kalau dia masih berada diiengah sungai, ombak menggulung disana sini, kedua belah pantai tampak jauh diujung sana, sekarang dia baru merasa terkesiap dan ketakutan.
Ingatan kedua belum sempat terlintas, tiba-tiba kakinya tertusuk oleh senjata trisula sehingga tembus kedalam tulang, sakitnya bukan kepalang sampai peluh dingin membasahi tubuhnya.
Betapa gusar dan gelisahnya imam tua itu, cepat ia menyelam Kembali kedalam air sam il melepaskan sebuah tusukan balasan.
Orang yang berhasil melukai dirinya tak lebih hanya seorang anak bauh perkumpulan Kiu-im-kauw, sekalipun ia berhasil melukai musuhnya akan tetapi dia sendiripun mampus dengan dada tertusuk oleh pedang.
Menggunakan kesempatan yang sangat baik ini, Bong Seng menyusup keluar dengan kelincahan seperti ular air, senjata kaitannya secepat kilat langsung menyambar ke arah pinggang Pia Leng-cu.
Serangan dari senjata kaitan ini cepat sukar terbayang dengan ingatan, Pia Leng-cu tercekat, sukma serasa melayang tinggalkan raganya.
Dalam gugup dan gelisahnya cepat ia putar pedang sambil ikut menggeliat kesamping, dengan jurus Ya can pat hong (pertarungan massal di delapan penjuru) dia tangkis datangnya ancaman tersebut.
Bong Seng tak berani menyentuh senjata lawan dengan kekerasan, merasakan datangnya sambaran tersebut terpaksa ia tukar gerakan berganti jurus, sekalipun begitu pinggang Pia Leng-cu termakan pula oleh sobekan senjata kaitan itu sehingga muncul sebuah mulut luka sepanjang empat cun, darah segar segera berhampuran dalam air.
Waktu itu Hoa Thian-hong berdiri di tepi perahu, jaraknya dengan Pia Leng-cu hanya beberapa kaki, tapi ketika diketahuinya sekitar perahu penuh dengan anak buah dan perkumpulan Kiu-im-kauw, dia kuatir ada orang yang melubangi dasar perahunya lagi.
Cepat dia memberi tanda kepada Pek Kun-gie dan perintahkan dia untuk menjauhi tempat kejadian, Tiba-tiba Pia Leng-cu menyusup keluar dari permukaan air, lalu serunya dengan suara lantang.
"Hoa Thian-hong!"
Si anak muda itu agak tertegun, sebelum ia sempat buka suara imam tua itu sudah menyelam kembali kedalam air.
Pek Kun-gie putar kemudi perahu itu dan menggerakkan perahunya ke arah pantai sebelah kiri, serunya dengan nyaring.
"Selama gunung nan hijau, kita tak usah bakal kehabisan kayu bakar, lebih baik kita mendarat dulu kemudian baru berusaha untuk merebut kembali pedang baja itu!"
Pertarungan yang berlangsung dalam air telah mencapai puncak ketegangan, punggung Pia Leng-cu kembali tersambar oleh senjata kaitan Bong Seng, meskipun lukanya tidak terlalu parah namun nyalinya benar-benar telah pecah, ia merasa keselamatan jiwanya jauh lebih penting dari pada segalanya, maka begitu menyusup keluar dari dalam air kembali ia berteriak keras.
"Hoa Thian-hong....!"
"Jangan kita gubris dirinya!"
Cepat Pek Kun-gie berseru. Hoa Thian-hong mengerutkan dahinya, kemudian menjawab.
"Kun Gie, dekatkan perahu kita kesana!"
"Kita tak boleh menolong siluman tosu itu!"
Seru gadis itu sangat gelisah, kalau tidak maka kita pasti akan terseret kedalam bencana...."
"Dia toh sudah mohon kepada kita, tak mungkin kita berpeluk tangan tanpa memberikan bantuannya, lagipula pedang baja itu toh lebih baik kita ambil kembali dari tangannya, daripada musti merampas pakai kekerasan dan kekuatan"
Sembari berkata ia lantas menyambar sebuah gala yang panjang dan mengawasi keadaan di tengah sungai dengan seksama.
Pek Kun-gie tak berani membantah perintah si anak muda itu, terpaksa ia putar kemudi dan jalankan perahu itu mendekati kembali gelanggang pertarungan.
Tiba-tiba Kiu-im Kaucu berseru dengan nada menyeramkan.
"Hoa Thian-hong, engkau sudah bosan hidup rupanya?"
"Engkau sendiri yang pingin mampus! balas Pek Kun-gie dengan penuh kemarahan. Hoa Thian-hong sendiri cuma tertawa getir dan tidak menjawab. Sekarang siapapun dapat melihat kelihayan dari perkumpulan Kiu-im-kauw, bagi Hoa Thian-hong jangankan kabur dari situ, untuk menyelamatkan diri sendiripun masih merupakan suatu tanda tanya besar. Berada dalam keadaan begini, tentu saja mencampuri urusan orang lain berarti mencari jalan kematian bagi diri sendiri, apa yang diucapkan Kiu-im Kaucu sedikitpun tidak salah. Sementara itu Pia Leng-cu yang sedang bertempur didalam sungai telah mencapai pada puncak kegawatan, dia kerahkah segenap kekuatan yang dimilikinya untuk menyusup keluar dari permukaan air, kemudian jeritnya setengah merengek.
"Hoa Thian...."
"Hmm! Tak nyana engkau adalah seorang pengecut berjiwa kerdil, seorang manusia kurcaci yang takut mampus!"
Maki Hoa Thian-hong dengan penuh kegusaran.
Sambil memaki, gala panjagnya laksana kilat diayunkan ke arah tengah sungai.
Keadaan dari Pia Leng-cu sudah payah sekali, bagaikan orang tenggelam yang mendapat pertolongan, cepat dia menubruk ke arah tongkat gala yang diulurkan ke arahnya itu.
Ketiga buah jari tangan kirinya sudah terpapas kutung, waktu itu masih dibalut dengan kain, dalam gugupnya terpaksa ia buang pedang pusaka boan liong poo kiam kedalam air dan mencekal gala panjang itu erat-erat.
"Naik!"
Bentak Hoa Thian-hong sambil menyentak gala panjang itu keangkasa.
0000O0000 MENGIKUTI getaran tersebut, Pia Leng-cu melesat ketengah udara dengan membentuk gerak setengah lingkaran busur, begitu mencapai permukaan geladak ia lepas tangan dengan lemas, sambil duduk bersila di ujung perahu, napasnya ngos-ngosan seperti kerbau.
Sementara itu tongcu ruang penyebaran agama Bong Seng telah muncul pula dari permukaan sungai dengan tangan kanan membawa senjata kaitan, tangan kiri membawa pedang boan liong poo kiam milik Pia Leng-cu Dengan lincah ia berenang ke arah perahu ketuanya dan loncat naik keatas perahu.
Sambil persembahkan pedang mustika itu kepada ketuanya, tongcu itu memberi hormat seraya berkata.
"Hamba berusaha untuk menangkap buronan itu dalam keadaan hidup, maka semua serangan tidak kulakukan dengan sepenuh tenaga!"
Kiu-im Kaucu mengangguk sambil tersenyum.
"Memang itulah yang aku kehendaki"
Katanya.
Setelah menerima pedang Boan liong poo kiam, senjata itu diperiksa dan ditelitinya dengan seksama akhirnya keistimewaan yang terdapat pada gagang pedang itu ditemukan olehnya.
Ternyata gagang pedang itu kosong tengahnya, ujung gagang tertutup oleh sekrup dan diatas sekrup tertempel sebutir mutiara sebesar buah kelengleng, ketika penutupnya dibuka ternyata isi ruang dalam gagang pedang itu kosong melompong, tidak tampak sebuah bendapun.
Menyaksikan hal itu, Yu beng tiam cu segera berseru.
"Imam tua itu licik dan banyak akal, tampaknya pedang emas itu tidak berada pula dalam sakunya!"
Kiu-im Kaucu tertawa dan mengangguk.
"Delapan puluh persen pedang itu sudah disembunyikan disuatu tempat yang rahasia, tak susah untuk mengetahui letak tempat persembunyian itu, kita bekuk saja dia dalam keadaan hidup-hidup lalu kita siksa dia sampai mengaku.... Untung dia takut mampus, tak mungkin terlintas ingatan untuk bunuh diri!"
Dia serahkan pedang pusaka itu kepada seorang gadis yang berdiri dibelakangnya, kemudian perintahkan kekasihnya untuk jalankan perahu itu mendekati perahu yang ditumpangi Hoa Thian-hong.
Dalam pada itu perahu yang diparkir di arah kiri pantai telah bergerak pula menuju ketengah sungai, dengan begitu perahu yang ditumpangi Hoa Thian-hong terjepit diantara dua perahu musuh, sementara ssliaai puluh orang pasukan katak dari perkumpulan Kiu-im-kauw telah munculkan pula dirinya diatas permukaan air, perahu dari Hoa Thian-hong dikepung rapat-rapat sehingga tak mungkin kabur lagi.
Menyaksikan situasi yang amat gawat, Pek Kun-gie tahu kalau harapan bagi mereka untuk kabur dari situ tipis sekali.
Ia jadi mendongkol bercampur gusar, sambil melotot ke arah Pia Leng-cu hardiknya.
"Serahkan kembali pedang baja itu!"
Pia Leng-cu sedang duduk atur pernapasan diujung perahu, ketika mendengar teguran itu dia agak melengak, seakanakan kejadian itu sama sekali berada diluar dugaannya.
Hoa Thian-hong sendiri gelengkan kepala sambil menghela napas panjang, sambil melangkah maju kedepan katanya.
"Aaai....! Orang ini memang tak dapat di tolong lagi, agaknya kita musti pakai kekerasan untuk menghadapi dirinya!"
Dengan gusar Pia Leng-cu loncat bangun, teriaknya marahmarah.
"Ooh.... jadi engkau tolong orang mengharapkan pahala? Hmm! enghiong hoohan macam apaan kamu ini?"
Hoa Thian-hong tertawa.
"Aku memang bukan seorang enghiong hoohan, tapi engkau, haahh.... haahh.... haaah! engkau lebih-lebih tak pantas dianggap sebagai seorang manusia!"
Sekali tangan kirinya diayun kemuka, dem ngan jurus Kunsiu-ci-tauw (perlawanan binatang-binatang yang terkurung) dia kirim sebuah pukulan gencar kedepan.
Pia Leng-cu menyadari sampai dimanakana kelihayan tenaga dalam yang dimiliki Hoa Thian-hong, sudah tentu serangan tersebut tak berani disambutnya dengan keras lawan keras.
Mau memunahkan diapun tak mampu, sebab serangan itu aneh dan maha sakti, dalam keadaan apa boleh buat terpaksa dia bungkukan badan dan menghindar kesamping "Turun!"
Hadik sang pemuda lantang.
Tiba-tiba gerak pukulannya mematah kebawah dan menyapu ke arah samping arena.
Dalam sangkaan Pia Leng-cu, dengan berkelit ke arah samping maka serangan lawan dapat dihindari dengan mudah, siapa tahu pinggangnya terasa jadi kencang dan tahu-tahu segulung angin pukulan yang sangat tajam telah menyusup tiba.
Sampai dimana rasa kaget dan ngeri yang melintas dalam benaknya sukar dilukiskan dengan kata-kata, dalam gugupnya cepat ia loncat ke arah samping untuk menghindar.
Sekilas ingatan berkelebat dalam benak Hoa Thian-hong, ia berpikir "Andaikata dia kupaksa untuk mencebur kembali kedalam air maka imam tua ini pasti akan terjatuh ketangan lawan!.
Aaai!
selama berada di sungai aku memang tak bisa bergerak dengan leluasa, tempat ini merupakan daerah kekuasaan dari Kiu-im Kaucu, kendatipun pedang baja itu dapat kurebut kembali belum tentu aku mampu melindunginya, lebih baik sementara waktu kubiarkan dulu dibawa siluman tosu ini...."
Berpikir sampai disitu, ia lantas tarik kembali telapak tangannya sambil membentak.
"Kembali!"
Pada hakekatnya intisari dari kepandaian silat yang dimiliki malaikat pedang Gi Ko berbunyi demikian, Wujud pedang mengungguli tiada pedang, pedang berat mengungguli pedang enteng, dan semua keunggulan dan keampuhan dari pelajaran itu sudah tercantum dalam catatan Kiam keng bu kui, karena itu apa yang merupakan inti pelajaran dari catatan kiam keng bu kui tidak lebih adalah pelajaran-pelajaran tentang mengangkat yang berat ibarat ringan memunahkan yang kuat menjadi lunak.
Hoa Thian-hong telah nempelajari isi dari catatan kiam keng bu kui tersebut, hal ini membuat permainan ilmu pedangnya yang semula kuat dan penuh tenaga menjadi enteng dan lincah, sedikitpun tidak terpengaruh oleh emosi malahan kelihatannya sangat enteng, padahal kalau benarbenar dihadapi barulah terasa sampai dimanakah kedahsyatan daya hancur yang dimiliki dari permainan pedangnya itu.
Justru karena ia telah memahami intisari dari taktik perubahan lunak dan keras itu, maka dengan sendirinya permainan ilmu pukulan yang dia milikipun ikut mengalami perubahan.
Perlu diketahui jurus Kun-siu-ci-tauw itu diciptakan oleh Ciu It-bong, tapi dalam permainan Hoa Thian-hong sekarang baik dalam gerakan maupun dalam hal perubahannya hanya sebagian yang masih bertahan, sedang dalam soal kekuatan tenaga, cepat lambatnya gerakan serta tipu daya serangan tersebut telah mengalami perubahan yang sangat besar, bahkan boleh dibilang bertolak belakang, walaupun begitu justu daya kekuatannya malah jauh lebih mengerikan.
Ketika termakan oleh pukulan yang amat dahsyat tadi, Pia Leng-cu sudah berada delapan sembilan depa dari sisi perahu, tiba-tiba ia mendengar Hoa Thian-hong membentak kembali.
Saat itulah segulung tenaga murni yang maha dahsyat meluncur tiba dan mengisap lubuhnya ke arah belakang, tak bisa dikuasai lagi tubuh Pia Leng-cu segera terjengkang dan melayang kembali ke arah belakang.
Sebenarnya imam tua itu terhitung seorang jago lihay yang menggetarkan sungai telaga, sayang belakangan ini beberapa kali dia harus jatuh kecundang ditangan Kiu-im Kaucu serta Hoa Thian-hong, hal ini membuat nyali jadi pecah dan hatinya bertambah jeri.
Oleh karenanya baru saja bertemu muka dan pertarungan belum sempat dilangsungkan, ia sudah dibuat keder setengah mati, justru karena keadaannya itu maka diantara sepuluh bagian tenaga murninya ada tujuh bagian tak mampu digunakan Sekarang terhisap pula oleh sesuatu kekuatan yang besar hingga membuat tubuh tertarik kembali kebelakang, hatinya jadi gugup dan sangat gelisah, untuk beberapa saat dia tak tahu apa yang musti dilakukan.
Padahal kalau pada hari-hari biasa, aaal dia goyangkan badan dan mencelat ke arah samping, maka dengan sangat mudah dia akan terlepas dari pengaruh tenaga hisapan tersebut.
Dasar nyalinya sudah pecah, bukan saja ia kuatir kalau Hoa Thian bong menambahi dengan sebuah pukulan lagi, diapun sangat kuatir kalau sampai tercebur kembali kedalam sungai sehingga disergap oleh kawanan pasukan katak dari pihak Kiuim-kauw.
Dalam gugupnya ia banya bisa meronta dan celinggukan dengan kebingungan, tiada suatu reaksi apapun yang dilakukan olehnya.
Menanti tubuhnya sudah mencapai kembali permukaan geladak, tahu-tahu ia sudah berdiri menghadap ke arah sungai dengan punggung persis didepan Hoa Thian-hong.
Kalau waktu itu Hoa Thian-hong berhasrat untuk merampas kembali pedang bajanya, maka hal itu bisa dilakukannya denpan sangat gampang.
Namun si anak muda itu bukan seorang pemuda yang suka mengingkari janji sendiri, ia merasa tindakannya kurang gentlemen jika barang yang telah diberikan kepada orang lain harus dirampas kembali dengan kekerasan.
Akhirnya dia menghela napas dan sama sekali tidak menyentuh pedang baja tersebut barang sebentarpun.
Menyaksikan kejadian itu Kiu-im Kaucu segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaah.... haah.... haah.... Hoa Thian-hong!"
Serunya.
"tampaknya kolong langit akan jatuh ketanganmu dan diperintah oleh kalian utusan khusus dari keluarga!"
Ucapan itu bernada tajam, tanpa sadar Pek Kun-gie membayangkan kembali kata-kata itu dan menghubungkan kata utusan khusus dari keluarga itu menjadi 'Urusan khusus dari suami yang telah berkeluarga' matanya langsung jadi merah dan tak tahan lagi gadis ini ingin menangis sejadijadinya.
Namun akhirnya hanya titik air mata yang jatuh berlinang membasahi pipinya, dengan suara ketus ujarnya kepada Kiuim Kaucu.
"Huuuh....! Engkau membawa senjata toya kepala setanmu, sedang pedang baja kami telah diambil oleh seorang manusia yang tak tahu malu, anak buahmu banyak tak terhitung sedang kami cuma berdua.... Hmmm! Aku lihat mulai hari ini semua enghiong diseantero jagat akan tunduk dibawah perintahmu seorang"
Paras muka Pia Leng-cu berubah hebat ketika mendengar dirinya dimaki sebagai seorang manusia yang tak tahu malu, bibirnya sudah bergerak siap memaki.
Agaknya Hoa Thian-hong telah menduga sampai kesitu, baru saja dia menggerakkan bibirnya, dengan pandangan dingin diliriknya imam itu sekejap.
Pia Leng-cu seketika merasa hatinya malu bukan kepalang, cepat ia tutup mulutnya kembali dan tundukkan kepala.
Jilid 21 SEMENTARA itu dengan pandangan mata yang tajam Kiuim Kaucu telah mengamati Pek Kun-gie dari atas sampai kebawah, memandang kecantikan wajahnya yang mempesonakan hati ditambah pula kemanjaan dan kelincahannya, timbul rasa tertarik pada dara ini.
Dia lantas berpaling ke arah Yu beng tiam cu yang berdiri disisinya dan berkata setengah bisik, Coba lihat, gadis itu cantik jelita, umur nya masih muda, diapun belum dibikin rusak oleh kebiasaan-kebiasaan buruk dari dunia persi latan, aku jadi ingin sekali untuk menerimanya sebagai muridku.
Mendengar ucapan ketuanya, Tham cu istana neraka tertawa lirih, jawabnya dengan cepat.
"Kalau memang begitu, kita bekuk saja gadis itu dalam keadaan hidup-hidup!"
Kiu ini kaucu segera menggeleng.
"Aku tidak ingin memperolehnya dengan cara kekerasan, apalagi main rampas, yang paling kuutamakan adalah ketulusan hati serta kesetiaan hatinya!"
"Kalau begitu kita loloh saja dia dengan secawan obat pemabuk sehingga daya ingatannya hilang."
Kembali Kiu-im Kaucu menggeleng.
"Gadis itu sangat agung dan berwibawa kecuali cantiknya seperti bidadari dari kahyangan, baik budi maupun perasaan hati nya amat kukagumi sekali, kalau kita hilangkan perasaanya itu dengan obat, bukankah yang kuperoleh cuma kerangka tubuhnya belaka? Aku toh hendak menjadikan dirinya sebagai pewaris ilmu silatku, jangan sampai watak maupun perasaan hatinya dimatikan dengan begitu saja"
"Wah, kalau memang begitu, hamba sendiripun jadi tak tahu apa yang musti dilakukan!"
Pembicaraan tersebut dilakukan dengan sangat lirih, karena itu kecuali mereka berdua, tak ada yang mendengar.
Sementara perahu yang dalang dari kiri dan kanan sudah makin mendekat, akhirnya sisi perahu mereka saling menyentuh dan berdempetan.
Kiu-im Kaucu segera enjotkan badan dan melayang keatas perahu dari Hoa Thian-hong, sambil mengetuk lantai geladak dengan toya kepala setannya, ia berseru ketus.
"Pia Leng-cu, untuk terakhir kalinya kuperingatkan kepadamu, serahkan pedang baja dan pedang emas itu kepadaku, kemudian menggabungkan diri dengan Kiu-im-kauw kami, sebelum kuambil tindakan yang lebih tegas, aku harap enpkau suka memberikan jawaban yang tegas!"
Pia Leng-cu tidak menjawab, dalam hati pikirnya.
"Kalau kupersembahkan pedang baja dan pedang emas itu kepadanya, kemudian menyerahkan diri kepada Kiu-im Kaucu, itu berarti sepanjang hidupku tiada harapan lagi bagiku untuk tampil didepan masyarakat si luman ini, sudah pasti jiwaku terancam.... aiiih, bagaimana baiknya sekarang ini?"
Otaknya diperas untuk memecahkan persoalan itu, akhirnya ia merasa tak rela untuk menyerah kalah dengan begitu saja, timbullah satu ingatan jahat dalam benaknya, ia hendak mengikat Hoa Thian-hong lebih dahulu kemudian akan suruh pemuda itu melindungi keselamatan jiwanya.
Berpikir sampai disini, tanpa banyak bicara lagi ia cabut keluar pedang baja itu dan segera diserahkan kembali ketangan Hoa Thian-hong.
Pemuda itu agak tertegun oleh tindakan Pia Leng-cu yang sangat sekali tak terduga ini, tepi cepat ia menerimanya dan disisipkan dibalik ikat pinggangnya, kemudian barulah dia berpaling ke arah Kiu-im Kaucu dan berkata sambil tertawa.
"waah.... kalau begini ceritanya, kaucu bakal menemui banyak kesulitan lagi untuk mendapatkan pedang ini!"
Rupanya Pek Kun-gie menduga kalau Kiu-im Kaucu bakalan turun tangan, cepat dia loncat kesisi Hoa Thian-hong dan siap siaga menghadapi segala kemungkinan dangan pedang lemas terhunus.
Sekali lagi Kiu-im Kaucu mengamati dara muda itu dengan pandangan mata yang tajam, dia awasi dari atas kepala Pek Kun-gie hingga ke ujung kakinya, makin dipandang hatinya terasa makin tertarik, apalagi oleh kecantikan wajahnya yang mempesonakan hati.
Tak tahan lagi sambil tertawa ujarnya dengan lembut.
"Pek Kun-gie, untuk kesekian kalinya kuulangi kembali tawaranku, bersediakah engkau menjadi muridku dan mempelajari seluruh ilmu silat yang kumiliki?"
"Hmm! Pek Kun-gie mendengus dingin, untuk kalahkan kami saja tak mampu, kenapa aku musti menjadi muridmu? Huuh.... suatu lelucon yang tak lucu!"
Kiu-im Kaucu tertawa lirih.
"Kami?"
Serunya.
"engkau maksudkan Hoa Thian-hong? Memangnya aku lebih lemah kalau dibandingkan dengan dirinya?"
"Sekalipun tidak begitu, diapun tidak jauh lebih lemah dari pada dirimu, daripada menjadi muridmu apa salahnya kalau aku berlatih dari dirinya....?"
Sekali lagi Kiu-im Kaucu tertawa mengikik.
"Tapi, dia toh sudah...."
Sebenarnya dia hendak mengatakan.
"dia toh sudah beristri, memangnya engkau dapat hidup sepanjang masa dengan dia?"
Ketika ucapan tersebutt sudah mencapai ujung bibirrya, tiba-tiba ia merasa tak tega, ia kuatir ucapan tersebut menyinggung perasaan halus dari gadis itu, maka setelah kata-kata tadi mencapai ujung bibirnya, cepat ia batalkan niatnya dan menelan kembali ucapan yang tak sempat diutarakan itu.
Perlu diketahui, semakin tinggi ilmu silat yang dimiliki seseorang, semakin serius dia pandang perlunya seorang pewaris, sebab kalau kepandaian silat yang lihay itu sampai musnah karena tidak di wariskan kepada murid pandai, maka nama besar maupun ilmu kepandaiannya akan ikut masuk liang kubur bersama kematiannya.
Keadaan tersebut tak jauh bedanya dengan seorang keluarga ilyader, sekalipun dia kaya, dia punya harta kekayaan setinggi gu nung, namun jika dia tak punya keturunan maka bila sang milyuner itu mati, jatuh ke tangan siapakah harta kekayaannya itu dia tak akan tahu.
Oleh karena itulah, makin kaya seseorang makin besar keinginannya punya keturunan malahan anak tak cukup dia akan cepat-cepat berharap datangnya seorang cucu.
Lain halnya dengan orang miskin, sekalipun tidak punya keturunan mereka tak akan jadi risau, toh kalau mati tidak ada harta kekayaaan yang musti dibingungkan.
Nah, begitu pula keadaannya dengan orang yang belajar silat, makin tinggi ilmu silatnya semakin panik dia mencari pewaris.
Kiu-im Kaucu walaupun lihay dia tetap seorang manusia, sebagai manusia dengan sendirinya diapun tak luput dari watak egois yaitu mementingkan diri sendiri, Selain dia menginginkan seorang pewaris yang dapat menguasai semua ilmu silatnya diapun berharap agar tahtanya sebagai ketua perkumpulan Kiu-im-kauw bisa terjatuh pula ketangan muridnya, dengan begitu iapun tak usah risau atau kuatir bila kedudukan yang tinggi itu terjatuh ketangan orang lain.
Selain itu Pek Kun-gie adalah seorang gadis yang amat cantik, benar-benar cantik jelita, makin dipandang makin mempersonakan, makin dilihat makin kesemsem, membuat siapapun yang sudah menaruh perhatian kepadanya segan untuk alihkan perhatiannya lagi.
Bagi Hoa Thian-hong pribadi, ia belum pernah mengamati wajah Pek Kun-gie dengan seksama, jangankan dara itu bahkan istrinya sendiri Chin Wan-hong pun tak pernah diamati dengan seksama, tentu saja anak muda itu tak dapat menemukan dimana letak daya tarik dari dara itu.
Sudah tentu kaum wanita jauh lebih cermat memandang kaumnya sendiri dari pada seorang lelaki mengamati seorang wanita, sekalipun paras muka Kiu-im Kaucu tidak terlalu cantik namun dia sendiripun bukan termasuk seorang dari tipe jelek, walau begitu terhadap kecantikan Pek Kun-gie ia sama sekali tidak menaruh rasa iri atau cemburu.
Tujuan dari Kiu-im Kaucu hanya ingin menerima dirinya sebagai murid, maka gadis itu diamati dengan seksama siapa tahu makin dilihat makin kesemgem, ia merasa kecantikan dan kebagusan dara itu ibaratnya sekuntum bunga mawar yang indah, kalau tidak dipandang masih mendingan, makin di pandang orang akan makin tertawan, sehing ta akhirnya timbullah keinginan untuk memetiknya.
Rasa heran dan tak habis mengerti terlintas dalam benak Hoa Thian-hong ketika dilihatnya perempuan itu menggawasi sekujur badan Pek Kun-gie dengan liar, dalam hati pikirnya "Aneh benar perempuan itu, jangan-jangan ia termasuk perempuan bangsa lesbian.
Hiih!
Lebih baik dijauhi saja"
Karena pendapatnya itu, cepat-cepat dia tarik Pei Kun Gie kesamping tubuhnya dan berbisik.
"Berdiri sajalah disamping situ, sebelum ada perintah dariku jangan turun tangan secara sembarangan."
Kiu-im Kaucu dapat menyaksikan pula semua gerak-gerik dari sepasang muda mudi ini, dalam hati diapun berpikir.
"Sudah terang bocah ini amat mencintai Pek Kun-gie, waah! Kalau begini terus keadaannya, sudah pasti disuatu hari ia akan mengawini perempuan ini. Heeeh.... heeeh.... heeehh.... kalau mulai sekarang aku berhasil menarik budak itu kedalam perkumpulanku, siapa tahu kalau bocah itupun akhirnya akan bergabung pala dengan Kiu-im-kauw??"
Berpikir sampai disitu, dia lantas tertawa tergelak dan berkata.
"Hoa Thian-hong, tunggu sajalah disamping situ, aku hendak melangsungkan suatu pertarungan yang sejujurnya dengan kau, agar kamu dapat mengaku kalah dengan hati puas."
Bicara sampai disitu, dengan langkah lebar ia lantas menghampiri Pia Leng-cu.
"Eeh.... engkau terhitung seorang enghiong atau bukan?"
Bentak Pia Leng-cu dengan gusar. Kiu-im Kaucu tertawa sinis.
"Huuhh....! Kalau seorang kuucu, seorang lelaki sejati, mungkin saja taktik itu akan mendatangkan hasil, sayang aku bukan seorang manusia sejati, tidak doyan aku dengan permainan macam itu."
Tiba-tiba toya kepala setannya diayun kedepan dengan jurus Tay san ya leng (Bukit Tay san menindihi kepala) dan langsung menghajar batok kepala lawan.
Serangan itu dilancarkan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, bergidik hati Pia Leng-cu menghadapi ancaman itu, dalam gugup dan gelisahnya, cepat-cepat dia kerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk meluncur ke arah samping.
Kiu-im Kaucu tertawa dingin, telapak tangannya diayun kedepan melepaskan sebuah pukulan udara kosong ke arah imam tua itu.
Pia Leng-cu masih berada diudara ketika serangan tersebut menyambar tiba, betapa terperanjatnya imam tua itu ketika merasakan datangnya terjangan yang maha ampuh itu, dalam keadaan begitu terpaksa dia lepaskan pula sebuah pukulan untuk menangkis ancaman tadi.
Ketika dua gulung angin pukulan saling membentur satu sama lainnya, Pia Leng-cu mendengus tertahan, sesudah muntah darah segar dia terkulai ditanah dalam keadaan tak sadarkan diri.
Keadaan dari Pia Leng-cu waktu itu boleh dikata sudah terlampau payah, pertama hawa murninya aidah amat minin, kedua tubuhnya masih berada ditangah udara, serangan balasan yang ia lepaskan dalam keadaan gugup itu sama sekali tak mengandung tenaga sampai sebesar lima bagian, tentu saja pukulan seperti itu tak mungkin bisa menandingi kelihayan lawannya.
Dalam keadaan tak sadarkan diri, tubuhnya terjerumus kedalam sungai, untung anak buah Kiu-im-kauw masih siap disekitar sana, badannya segera disambar dan terus dilemparkan kembali keatas geladak perahu.
Dalam pada itu, ketiga buah perahu itu sudah berantai kembali menjadi satu, pasukan katak yang masih berada dalam air sama-sama loncat naik keatas perahu, sementara kursi kebesaran dari Kiu-im Kaucupun telah diangkut keatas perahu itu.
Setelab duduk, ketua dari Kiu-im-kauw itu berkata.
"Le tiamcu! tua bangka hidung kerbau itu amat licik dan terlalu banyak akal busuknya, menurut pendapatku, untuk mendapatkan pedang emas tersebut terpaksa kita harus beri suatu peringatan diatas tubuhnya!"
Tiamcu dari ruang siksaan bernama Le Kiu gi, mendengar peringatan tersebut ia segera bungkukkan badan memberi hormat dan menjawab.
"Hamba akan turus tangan sendiri untuk bereskan tua bangka hidung kerbau ini, maksud kaucu apakah dia masih diberi kesempatan untuk hidup...."
"Orang ini tak bisa digunakan lagi, di musnahkan saja!"
Tukas Kiu-im Kaucu sambil ulapakan tangannya.
Dengan sangat hormat Le Kiu gi ia segera menghampiri imam tua itu dan menotok jalan darah kakunya setelah itu diapun menepuk sebuah jalan darah diatas punggung nya.
Pia Leng-cu menghembuskan napas panjang, perlahanlahan ia tersadar kembali dari pingsannya.
Pek Kun-gie mengawasi terus gerak-gerik dari orang she Le itu, dari semua perbuatannya yang cekatan, ia lantas berbisik kesisi telinga Hoa Thian-hong.
"Orang ini adalah seorang penjagal, dia hidup dengan menjagali manusia, aku amat kenal dengan tabiat manusia seperti ini sebab dalam perkumpulan Sin-kie-pang kami pun terdapat manusia sebangsa ini"
Hoa Thian-hong tidak memberi tanggapan, dia malah berbisik dengan ilmu menyampaikan suara.
"Setelah masalah itu selesai, maka tibalah giliran kita untuk mendapat kesulitan, sebentar akan kuusahakan suatu akal untuk mengirim kau naik kertas daratan lebih dahulu"
"Tidak! aku tidak mau! jerit Pek Kun-gie sambil goyangkan kepalanya berulang kali.
"Kalau engkau tidak pergi lebih dahulu, bagaimana mungkin aku bisa meloloskan diri? Hoa Thian-hong pura-pura marah. Pek Kun-gie menggigit bibirnya kencang-kencang, dengan air mata bercucuran sahutnya setengah terisak.
"Aku ingin berada disampingmu, kalau harus mati aku ingin mati disisimu!"
"Aku tak ingin mampus, aku tak ingin mati konyol, aku ingin hidup segar bugar!"
Tukas sang pemuda dengan muka keras. Akhirnya dengan sedih Pek Kun-gie mengangguk.
"Baiklah.... aku akan menuruti perkataanmu, bagaimanapun juga.... tiba-tiba ia berhenti dan tidak melanjutkan kembali kata-katanya. Sementara dua orang itu masih berkemak kemik bicara sendiri, Le Kiu gi telah selesai menggeledah seluruh badan Pia Leng-cu, apa yang diduga ternyata tidak meleset, pedang emas benar-benar tidak berada dalam sakunya, walau begitu tiamcu dari tuang siksa inipun tidak terlalu terburu nafsu untuk menanyainya. Sarung pedang dari Boan liong po kiam ia lepas dari punggang sang imam kemudian diperiksa pula dengan seksama, tapi sarung itu kosong dan tak ada sesuatu bendapun yang ada didalamnya maka sarung tadi diserahkan kepala sang dara yang memegang pedang pusaka itu. Kemudian barulah dia berkata kepada Pia Leng-cu.
"Bertindaklah bijaksana, serahkan pedang emas itu kepada kami, daripada engkau musti mengalami siksaan badaniah yang terlalu berat!"
Pia Leng-cu termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, ia tahu dalam keadaan begini tak mungkin kalau ia tidak bicara, dengan suara dingin segera jawabnya.
"Pedang itu aku simpan dalam sebuah ruang rahasia di kuil It goan koan yang ada dikota Cho ciu!"
Le Kiu gi mengangguk, rupanya dia percaya dengan pengakuan itu, dari sakunya dia ambil keluar sebatang jarum Cu bun toh kut teng (paku penebus tulang yang tampak pagi tak kelihatan sore) lalu mencekeram tangan kanan Pia Leng-cu dan tanpa mengucapkan sepatah katapun menancapkan paku tadi kedalam ibu jari sang imam tua tersebut.
Rasa sakit yang tak terhingga membuat Pia Leng-cu memperdengarkan suatu jeritan lengking yang menyayatkan hati, jeritan itu begitu keras hingga menggema diseluruh angkasa, membuat siapapun yang mendengarkan ikut merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri.
Menyaksikan kesemuanya itu Hoa Thian-hong berpikir didalam hati.
"Imam tua itu memang pantas mampus, tapi tidak semestinya disiksa secara begitu keji!"
Berpikir sampai disitu dengan muka penuh kemarahan ia segera melangkah maju kadepan.
Pek Kun-gie bukan gadis yang bodoh, dari tingkah laku sang anak muda tentu saja ia tahu apa yaeg hendak dia lakukan, cepat dia memburu kemuka dan menghalangi jalan perginya.
Ini disebabkan, pertama ia sudah terbiasa menyaksikan kejadian seperti ini, kedua ia tak rela kalau Hoa Thian-hong mencari gara-gara yang mengakibatkan menyusahkan diri sendiri dan ketiga ia sangat membenci Pia Leng-cu, maka sedapat mungkin ia menghalangi niat Hoa Thian-hong untuk memberikan bantuannya.
"Siluman hidung kerbau itu sudah kenyang menganiaya kita, pantaslah kalau dia terima ganjaran hidup.... Thian-hong! Jangan kau campuri urusannya!"
Bisik dara itu dengan lirih. Hoa Thian-hong segera berpikir.
"Imam tua itu toh sudah menjadi tawanan orang, aku menang tak berhak untuk mencampuri urusan ini, toh mencampuri juga tak ada gunanya, memang aku sanggup untuk membebaskan imam tua itu?"
Akhirnya ia menghela napas panjang dan berjalan menuju ke belakang buritan, dia tidak ingin menyaksikan perbuatan kotor yang tak berperi kemanusiaan itu.
Melihat anak muda itu menuju kebelakang, Pek Kun-gie segera menyusul pula dibelakangnya.
Paku penembus talang Cu bun toh kut teng dari Le Kiu gi panjangnya cuma satu cun, namun bentuknya aneh dan seperti gergaji, diatasnya telah dipolesi dengan sejenis racun keji yang mempunyai kekuatan pembusukan yang amat dahsyat.
Bila paku Cu bun toh kut teng itu ditancapkan ke tubuh seseorang, maka korbannya akan merasakan suatu penderitaan dan suatu siksaan yang luar biasa hebatnya, kendati pun seorang pria sejati yang bertulang besi otot kawat, tak urung akan menjerit ngeri pula.
Bisa dibayangkan betapa sakitnya ketika raku beracun itu ditancapkan diujung ibu jari, suatu bagian sensitip yang bisa menim bulkan rasa sakit beratus-ratus kali lebih hebat.
Sementara itu Pia Leng-cu sudah menggigit keras saking sakitnya, peluh dingin membasahi seluruh tubuhnya, mukanya pucat pasi, sorot matanya buram, keadaan dari imam tua ini sangat mengenaskan sekali.
Sebaliknya sikap Le Kiu gi amat santai, seolah-olah sama sekali tidak terjadi suatu apapun, perlahan ia merogoh kedalam sakunya dan ambil keluar paku Cu bun toh kut teng yang kedua kemudian mencekeram pula jari telunjuk tangan kanan imam tua itu, paku tersebut siap ditancapkan pula kesana....
Kali ini Pia Leng-cu benar-benar merasa ketakutan setengah mati, sukmanya serasa melayang tinggalkan raga, cepat dia berteriak keras.
"Pedang emas itu ada didalam kota Lok yang, percayalah dengan pengakuan ini, aku mengaku dengan sejujurnya, berilah kematian yang lebih cepat kepadaku. Le Kiu gi tertawa dingin.
"Heeehh.... heeehh.... heeehh.... luas kota Lok yang mencapai ratusan li persegi, sedang pedang emas itu sangat kecil bentuknya, siapa tahu engkau sembunyikan disudut yang mana?"
Keringat sebesar kacang kedelai telah mengucur keluar bagaikan hujan deras, dengan nada setengah merengek katanya, Pedang emas itu ada diatas loteng sebuah rumah obat, rumah obat itu berada didepan penginapan Ciat seng, aku bersedia menghantar kalian kesana untuk mengambil pedang emas itu, aku mohon berilah kematian yang cepat kepadaku.
Le Kiu gi mendengus sinis.
"Hmmm! Itupun musti dilihat dulu apakah pedang emas itu asli atau palsu, bila barang palsu, Heeehh.... heeehh.... heeehh.... aku masih harus banyak bertanya kepadamu!"
Bicara sampai disini, sorot matanya segera dialihkan ke arah Kiu-im Kaucu guna minta pertimbangan. Kiu-im Kaucu termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, tiba-tiba ia menengadah sambil berseru.
"Hoa Thian-hong!"
Anak muda itu maju menghampiri sambil bertanya.
"Kaucu ada petunjuk apa lagi?"
Kiu-im Kaucu tertawa angkuh, sambil menatap lawannya dia mengejek dengan suara nyaring.
"Engkau dapat menilai sendiri bukan atas situasi yang terbentang dibadapanmn? Nah, apa yang hendak kau lakukan?"
Hoa Thian-hong tertawa.
"Aku bukannya sengaja memanaskan hatimu, tapi berbicara sesungguhnya baik berduel satu lawan satu, beradu dengan tangan kosong atau senjata, baik tarung diperahu atau dalam air belum tentu kaucu sanggup mengungguli diriku, tentu saja kalau engkau kerahkan segenap kekuatanmu yang tersedia sekarang, aku mengakui bukan tandingan, cuma...."
"Cuma untuk mencabut nyawamu maka aku harus membayar dengan sesuatu pengorbanan yang sangat besar, bukan begitu maksudmu? sambung Kiu-im Kaucu sambil tertawa dingin. Hoa Thian-hong tersenyum.
"Berbicara sesungguhnya kalau engkau main kerubut terpaksa akupun akan kerahkan segenap kemampuan yang kumiliki untuk memberi perlayanan sebaik-baiknya dan tanggung...."
"Tanggung bagaimana? bentak Kiu-im Kaucu.
"Bukannya aku sengaja omong besar dan menyombongkan diri jika aku sudah mulai tutun tangan dengan pertaruhan selembar jiwaku, maka kecuali kaucu seorang, kematian yang berjatuhan dari pihak anak buah mu akan banyak sekali susah dihitung, bila Kiu-im-kauw ingin berdiri kembali dalam dunia persilatan, terpaksa harus membangun dan mendirikan sekali lagi!"
Tertegun hati Kiu-im Kaucu sehabis mendengar perkataan itu, ia termenung sebentar lalu jawabnya sambil tertawa.
"Ilmu meringankan tubuh yang kau miliki amat sempurna, seandainya engkau ambil taktik menghindar yang berat dan memilih yang ringan, belum tentu aku mampu menahan dirimu terus menerus, aku tidak percaya engkau pasti mampu berbuat begitu, tapi akupun tak berani memastikan kalau engkau tak sanggup, walau begitu aku bukanlah seorang manusia yang bodoh, buat apa aku musti paksakan suatu pertarungan massal dengan engkau? Untuk memaksa engkau masuk perangkap, aku sudah menyiapkan suatu siasat baru yang jauh lebih bagus"
Tiba-tiba Pek Kun-gie berteriak deagan lantang.
"Kau engkau merasa punya kepandaian, hayolah kita naik keatas daratan kalau ketika itu kau mampu kalahkan kami berdua, aku bersedia angkat dirimu menjadi guru"
Hoa Thian-hong tertawa santai, ia menjura ke arah Kiu-im Kaucu dan berkata.
"Aku mohon petunjuk!"
Kiu-im Kaucu kembali tertawa.
"Aku tak usah paksa kalian untuk terjun kedalam air, diujung perahu ini saja aku akan bertarung melawan kau Hoa Thian-hong, sementara anak buahku akan membekuk Pek Kun-gie, membeseti kulit badannya dan melemparkan tubuhnya kedalam sungai sebagai umpan ikan, aku ingin lihat apa yang bisa kau lakukan?"
Paras muka Hoa Thian-hong berubah hebat, untuk sesaat lamanya dia cuma bisa termenung dengan mulut membungkam.
Walaupun ucapan itu diutarakan secara bergurau, akan tetapi memang sangat masuk diakal, bila benar-benar sampai terjadi begitu maka niscaya anak muda itu akan dibuat pusing tujuh keliling.
Pek Kun-gie sama sekali tidak ambil perduli akan kejadian itu, sambil ayun pedang lemasnya dia berseru.
"Akulah yang akan menyayat kulitmu, membetoti ototmu, memotong lidahmu, mencincang tubuhmu dan membuang badanmu ke sungai sebagai umpan ikan...."
Bukannya marah karena dia dicaci maki oleh dara tersebut, Kiu-im Kaucu malahan tertawa terbahak-bahak, Hoa Thianhong serta anak buah Kiu-im-kauw juga tak kuasa menahan gelinya sehingga ikut tertawa, suasana jadi ramai sekali.
Terbayang sewaktu untuk pertama kalinya Hoa Thian-hong berjumpa dengan Pek Kun-gie, waktu itu gadis itu sangat angkuh, jumawa dan tak pandang sebelah matapun terhadap orang lain, sebagai putri kesayangan dari ketua perkumpulan Sin-kie-pang, bukan saja angkuh dan tinggi hati dalam tindak tanduknya, malahan mendatangkan rasa dongkol dan mangkel bagi yang diperintah.
Semua perkataan maupun perbuatannya dikala itu membangkitkan rasa antipatih bagi orang lain, membuat semua orang tak senang hati kepadanya.
Tapi sekarang tindak tanduknya sama sekali berubah, malahan boleh dibilang bertolak belakang.
Kobaran api cinta memadamkan semua keangkuhan dan tinggi hati nya, api asmara yang panas telah membangkitkan sifat kewanitaannya yang murni.
Selama Hoa Thian-hong berada disampingnya, tanpa disadari ia berusaha keras untuk memancarkan semua keindahan dan daya tariknya seorang dara, daya tarik itu termasuk juga kelincahan, kesucian dan lemah lembut, pokoknya walaupun sedang berbuat sesuatu yang kasar, kekasaran itu tertutup oleh kelembutan sehingga mendatangkan rasa simpatik bagi siapapun.
Atau tegasnya saja walaupun sedang memaki orang, makianya separuh adalah sungguh-sungguh dan separuh yang lain cuma gurauan, membuat orang yang mendengar tak merasa sakit hati, tidak jadi gusar malahan timbul rasa perasaan yang gatal-gatal aneh.
Apalagi kalau perbuatan itu dilakukan oleh seorang gadis muda yang cantik jelita macam Pek Kun-gie, tentu saja makian itu kedengaran semakin menawan hati.
Meskipun merasa geli, perasaan hati Hoa Thian-hong sangat berat, dia tahu Kiu-im Kaucu tak mungkin akan menyelesaikan persengketaan itu dengan begitu saja, jika apa yang Kiu-im Kaucu katakan benar-benar dilaksanakan, ia yakin tiada kemampuan untuk melindungi keselamatau jiwa Pek Kun-gie, maka sekalipun sudah termenung dan putar otak beberapa saat lamanya, pemuda itu masih belum sanggup menemukan cara pemecahan yang jitu.
Tiba-tiba Kiu-im Kaucu tertawa ringan dan berkata "Hoa Thian-hong, aku ingin bertanya kepadamu, bagaimana hubunganmu dengan Ku Ing-ing dari perkumpulan kami?"
Merah padam selembar wajah Hoa Thian-hong mendengar pertanyaan itu, ia terbelalak dengan mulut melongo, untuk sesaat dia tak mampu memberikan jawaban yang tepat.
Melihat anak muda itu tersipu-sipu, tanpa pikir panjang Pek Kun-gie segera menanggapi dengan dingin.
"Kami sama sekali tidak punya hubungan apa-apa dengan Ku Ing-ing!"
"Ku Ing-ing bukan lain adalah Giok Teng Hujin"
Jawab Kiuim Kaucu sambil tertawa, aku sedang bertanya kepada Hoa Thian-hong kalau engkau tak tahu urusan lebih baik janganlah turut campur!"
"Aku sengaja mau turut campur kau mau apa? ngotot Pek Kun-gie dengan cepat" , kami benar-benar tidak punya hubungan apa-apa dengan Giok Teng Hujin. Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba dia berpaling ke arah Hoa Thian-hong dan bertanya dengan suara lirih.
"Bagaimana hubunganmu dengan dirinya?"
Hoa Thian-hong semakin jengah dibuatnya, untuk beberapa saat lamanya muka, telinga sampai lehernya pada berubah jadi merah semua bagaikan kepiting rebus. Kiu-im Kaucu tertawa mengikik, katanya lagi.
"Ku Ing-ing memang terlalu besar nyalinya, dia telah mencuri sebatang Leng-ci berusia seribu tahun milikku dan dihadiahkan kepadamu, coba bayangkan saja seberapa besar dosanya itu?"
Hoa Thian-hong sangat terperarjat, dalam waktu sekejap mata mukanya berubah jadi pucat pias seperti mayat.
Kiu-im Kaucu tersenyum, ia tatap wajah anak muda itu tajam-tajam, kemudian ujarnya lebih jauh.
"Mungkin engkau tidak percaya dengan perkataanku ini, dalam kenyataan semua anggota perkumpulan Kiu im kiu mengetahui akan kejadian ini, bila suatu hari aku berhasil menangkap kembali Ku Ing-ing, maka akan kuhadapkan dirinya denganmu agar kau tahu bila apa yang kuucapkan sama sekali tidak bohong"
"Aku tak akan mengucapkan terima kasih kepadamu"
Kata Hoa Thian-hong sambil menjura.
"bila kaucu mempunyai satu keinginan, silahkan diutarakan dengan terus terang! Bila kau inginkan pedang baja ini, sekarang juga akan kupersembahkan kepada mu"
Berbicara sampai disini, dia lantas, angsurkan pedang baja itu kedepan, lanjutnya, Pedang ini telah dipolesi dengan racun, silahkan kaucu mencucinya dengan air cuka!"
Kiu-im Kaucu tertawa, dengan sorot mata yang amat tajam bagaikan kilat ia menatap wajah Hoa Thian-hong tanpa berkedip, tiada sepatah katapun yang dia ucapkan, pedang baja itupun sama sekali tidak diterimanya....
Rupanya Pek Kun-gie merasa keberatan kalau pedang tersebut diserahkan orang dengan begitu saja, ia segera menyindir.
"Eeh, pedang itu akan diberikan kepada mu, ketika mendapatkan kitab pusaka kiam keng, kuucapkan selamat kepadamu karena kepandaian silat yang kau miliki nomor satu didunia, pedang baja itupun termasuk sebilah benda mustika, kalau dibandingkan masih cukup untuk ditukar dengan Leng-ci berusia seribu tahunmu itu, pedang tersebut diserahkan kepadamu sebagai imbalan dari Leng-ci mu, dengan demikian kita sudah impas, siapapun tidak berhutang budi lagi!"
Mendengar perkataan itu Kiu-im Kaucu segera merenpadah dan tertawa terbahak-bahak, lama sekali ia baru berhenti tertawa, kepa da Hoa Thian-hong ujarnya, Kitab pusaka Kiam keng hanya berguna barimu tapi sama sekali tak bermanfaat bagiku, bagi pandanganku Hmm!
Pedang baja tersebut sama sekali tak kupandang barang sekejappun.
"Lalu apa tujuan kaucu mengejar Pia Leng-cu mati-matian dan apa pula maksudmu untuk ikut merampas pedang baja milikku ini, tanya Hoa Thian-hong dengan alis mata berkenyit. Kiu-im Kaucu tertawa. Dikolong langit dewasa ini hanya engkau seorang yang mampu menandingi kepandaian silatku, aku sangat berharap apabila kita bisa saling mengukur kepandaian secara adil, siapa kalah dia harus berlatih kembali kepandaiannya dengan ketekunan sendiri, tapi kalau ada salah satu pihak yang meminjam kepandaian yang diwariskan jago lampau.... bukankah tindakan ini terhitung sangat tak adil?"
"Ucapan kaucu sangat masuk diakal, aku merasa amat kagum!"
"Nah, karena itulah salah satu diantara kedua belah senjata itu harus terjatuh ke tanganku, baik itu pedang emasnya atau pedang bajanya"
Sambung Kiu-im Kaucu sambil tersenyum.
"pokoknya asal salah satu diantaranya berada ditanganku, berarti pula kitab pusaka Kiam keng tersebut tak mungkin akan terjatuh ketanganmu, itu berarti pula engkau tak dapat meminjam kepandaian dari malaikat pedang Gi Ko untuk mempertingkat kemampuannu dalam mengalahkan aku!"
Hoa Thian-hong mengangguk sambil tertawa.
"Sudah jamak kalau setiap manusia punya pandangan serta jalan pikiran demikian, aku tak dapat menyalahkan engkau!"
Disamping itu akupun tidak berharap apa bila kitab pusaka Kiam keng itu sampai terjatuh kepihak ketiga, sebab kalau sampai begitu maka dunia persilatan pasti akan menjadi kalut, itu berarti pula aku harus berhadapan lagi dengan seorang musuh tangguh yang baru.
"Kalau toh memang begitu, bagaimana caramu untuk menyelesaikan masalah ini?"
Tanya Hoa Thian-hong tercengang. Tiba-tiba Kiu-im Kaucu menengadah dan tertawa terbahakbahak.
"Haaah.... haaah.... haaah.... masalah ini memang sulit untuk disele saikan, akan tetapi aku sudah memikirkan suatu cara penyelesaian yang bagus, entah engkau bisa menyanggupi atau tidak?"
"Bagaimana cara penyelesaianmu itu?"
Tanya Hoa Thianhong agak tertegun "asal urusan bisa dibikin beres secara damai, tentu saja aku dapat mempertimbangkan dengan seadil dan sebijaksana mungkin" 0000O0000 KEMBALI Kiu-im Kaucu tertawa tergelak.
"Aku memang sudah mempunyai suatu cara penyelesaian yang bagus, bukan saja urusan bisa dibikin beres, malahan kita bisa merubah peperangan menjadi perdamaian, merubah kebengisan menjadi keten-traman, cuma saja.... aku justru kuatir kalau kamu berdua tak tahu diri!"
"Aah! Kalau memang ada cara yang begitu bagusnya, kenapa tidak kaucu usulkan sedari tadi?"
Kata Pek Kun-gie sambil tertawa.
"Aah, aku bisa menebak maksud hati kaucu, bukankah engkau hendak menjodoh kan Giok Teng Hujin dengan dirinya?"
Bicara sampai disitu, sang gadis segera menunjuk ke arah Hoa Thian-hong yang berdiri disampingnya.
Hoa Thian-hong merasa bersalah, mendengar kata-kata itu merah padamlah selembar wajahnya karena jengah, dia purapura marah dan segera bentaknya.
"Huus....! Kun gie, jangan sembarangan bicara."
Pek Kun-gie tertawa cekikikan, sambil menuding anak muda itu kembali dia menggoda.
"Kamu ini, pintarnya cuma main gertak Hmm! Tampangnya saja jujur dan kalem, padahal bagaimana isi yang sebenarnya siapa yang tahu?"
Dari pembicaraan yang sedang berlangsung, Kiu-im Kaucu dapat mengamati perubahan wajah si anak muda itu, pikirnya di hati.
"Kalau dilihat dari kejengahan serta rasa menyesal yang ditunjukkan bocah itu, mungkin saja dia memang punya hubungan istimewa dengan Ku Ing-ing.... heeem.... heeem.... apa salahnya kalau kutakut-takuti dirinya? Akan kulihat bagaimana reaksinya nanti...."
Karena berpendapat demikian, dengan muka dingin menyeramkan ia lantas berseru.
"Ku Ing-ing berulang kali melanggar perintahku, sekarang ia sudah dianggap sebagai seorang pengkhianat dari perkumpulan Kiu-im-kauw, hukuman lima pedang manyincang badan, siksaan api dingin melelehkan sukma sudah lama menantikan dirinya, siapa yang ambil perduli dia mau dikawinkan dengan siapa?"
Mendengar perkataan itu, paras muka Hoa Thian-hong kontan berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, ia merasa amat terkejut bercampur gugup hingga tanpa sadar jantungnya berdetak keras.
Pek Kun-gie ikut gugup menyaksikan keadaan kekasihnya, ia segera berpikir dihati.
"Aaai.... semuanya salah aku yang terlalu cerewet, kalau tidak kuungkap tentang soal itu, Kiu-im Kaucu pasti tak akan mengungkap pula persoalan ini kalau Hoa Thian-hong tidak tahu urusan ini masih mendingan kalau dia sudah tahu pastilah dia tak akan berpeluk tangan belaka....!"
Saking gugup dan gelisahnya semua kesusahan segera dilampiaskan keatas badan Kiu-im Kaucu, dia ingin mencari muka dihadapan kekasihnya, maka dengan muka penuh kemarahan dan mata melotot besar, hardiknya ke arah Kiu-im Kaucu.
"Mau hukum mampus peghianat dari pergururanku atau tidak, urusan ini sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan kami, tapi kalau kau anggap kesalahan Giok Teng Hujin adalah disebabkan dia curi Leng-ci mustiksmu untuk dihadiahkan kepada kami.... hmmm Hmm Dari sini menunjukkan betapa cepatnya pikiranmu dan betapa sempitnya jiwamu, baik, hutang ini kami terima, katakan saja apa yang kau kehendaki, mau turun? Mau adu kepandaian? Kami pasti akan melayani dengan senang hati"
Setiap kali dara ini mengartikan Hoa Thian-hong, dia selalu menggunakan istilah kami sebagai pengganti nama pemuda itu, dengan sendirinya dia hendak mengartikan bahwa antara Hoa Thian-hong dengan dirinya merupakan satu bentuk tubuh yang menunggal, urusan dari Hoa Thian-hong berati pula urusan dari Pek Kun-gie.
Sudah tentu Kiu-im Kaucu dapat menangkap arti sebenarnya dari perkataan itu, dia segera menengadah dan tertawa terbahak-bahak.
"Haahh.... haah.... haahh.... engkau sendiripun ibaratnya patung arca yang menyeberangi sungai, untuk menyelamatkan diri sendiripun tidak mampu masih ingin mencampuri urusan orang lain?"
Perkataan itu sangat menusuk perasaan hati Pek Kun-gie, kontan hawa amarahnya berkobar, sambil membentak dia putar pedang lemasnya siap menerjang ke arah musuhnya.
Tapi Hoa Thian-hong keburu menarik tangannya sehingga dia tak bisa melanjutkan niatnya.
Walaupun begitu kemarahan yang berkobar dalam hati Pek Kun-gie belum sirap dia melotot ke arah Kiu-im Kaucu dengan mata berapi-api, sementara pedang lemasnya dikebaskan kesana kemari sehingga berbunyi desiran tajam....
Kiu-im Kaucu pura-pura tidak melihat kesemuanya itu, kembali dia melanjutkan kata-katanya.
"Berbicara terus terang, sekalipun nyali Ku Ing-ing amat besar dia tak akan berani mengkhianati aku secara terang-terangan, menurut dugaanku cepat atau lambat dia pasti akan datang menyerahkan diri untuk menunggu dijatuhi hukuman setimpal, jika berkeras hati akan mencampuri urusan ini, silahkan saja datang kemarkas waktu saat hukuman dilaksanakan nanti!"
Hoa Thian-hong ikut berpikir didalam hati.
"Ku Ing-ing adalah murid dari perkumpulan Kiu-im-kauw, kalau dia bersedia menyerahkan diri, itu berani urusan tersebut adalah urusan ramah tangga dari Kiu-im-kauw sendiri, aku sebagai orang luar tidak sepantasnya kalau mencampuri urusan ini.... tapi haruskah aku berpeluk tangan belaka? Dia mati lantaran aku, bagaimana pertanggungan jawabku bila aku cuma diam melulu?"
Berpikir sampai disitu, ia semakin murung rasanya. Beberapa saat kemudian pemuda itu baru berkata.
"Kaucu, bukankah engkau mengatakan ada cara penyelesaian yang bisa merubah peperangan menjadi perdamaian, merubah kebengisan menjadi ketentraman? entah bagaimana caranya itu? Silahkan kau utarakan keluar."
Dari sikapnya yang lesu dan lemas, tampaknya pemuda ini sudah tertekan batinnya sehingga menunjukkan nada akan menyerah.
Melihat keadaan musuhnya, Kiu-im Kaucu bergirang dalam hati, ia segera tertawa tergelak.
"Haah.... haahh.... haahh.... sebenarnya caraku ini teramat sederhana, suruh saja Pek Kun-gie angkat diriku sebagai guru asal dia sudah menjadi muridku maka memandang diatas wajahnya, aku bersedia menghapuskan semua pertikaian yang melibatkan kita berdua, bukankah dengan begitu peperangan akan berubah jadi perdamaian, kebengisan berubah jadi ketentraman?"
"Oooh.... begitu tinggi kau pandang diriku? Sungguh bikin hatiku terperanjat karena tak tahan!"
Ejek Pek Kun-gie sambil mencibirkan bibirnya deagan sinis. Hoa Thian-hong sendiri pun mengerutkan dahinya.
"Semua orang tahu kalau ilmu silat yang kaucu miliki sangat lihay, apalagi engkau merupakan seorang kaucu dari suatu perkum pulan besar, tawaranmu ini memang boleh dianggap suatu rejeki nomplok!"
Kiu-im Kaucu tidak menanggapi, sorot matanya dialihkan ke arah Pek Kun-gie, lalu berkata sambil tertawa.
"Hey budak, sudah kaudengar semua? Rejeki atau bencana hanya engkau seorang yang menentukan!"
Pek Kun-gie mencibirkan bibirnya, dia segera melengos ke arah lain dan tetap membungkam. Hoa Thian-hong yang berada disisinya melanjutkan.
"Untuk menerima murid dan mewariskan ilmu silat, bisa berjalan lancar apabila sudah disetujui oleh kedua belah pihak, jika kaucu suruh aku yang menetapkan.... aku rasa hal ini terlalu kelewat batas!"
Kiu-im Kaucu tertawa terbahak-bahak.
"Haahh.... haahhh.... haahh.... Pek Kun-gie sudah dibikin pusing oleh cinta, dia telah kehilangan pegangan untuk mengambil keputusan, apa yang kau katakan ia selalu turuti dengan seratus persen, sudah tentu aku tak akan main paksa, aku hanya berharap engkaulah yang bantu mewujudkan kebaikan ini"
Pek Kun-gie merasa malu bercampur mendongkol tatkala dirinya dikatakan sudah dibikin pusing oleh cinta sehingga kehilangan pegangan, dengan penuh kemarahan dia berteriak.
"Engkau jangan ngaco belo tak karuan, kau.... kau sendiri yang tak punya pegangan!"
Walaupun sedang berada dalam keadaan gusar, namun dara itu tak sanggup membantah ucapan itu.
Melihat keadaan tersebut, gelak tertawa Kiu-im Kaucu makin menjadi, suara tertawanya semakin keras.
Pek Kun-gie semakin mendongkol bercampur marah, sambil mendepak depakkan kaki nya keatas geladak, teriaknya berulang kali.
"Huuh! kau jahat, kau sembunyikan golok dibalik senyuman, kau banci! kau seram kau tak tahu diri, kau licik dan main akal, kau tak tahu malu"
Semakin keras gadis itu memaki, semakin nyaring Kiu-im Kaucu tertawa, akhirnya gadis itu menarik kata malu itu jadi amat panjang, keras dan hampir boleh dikata setengah menjerit, barulah Kiu-im Kaucu berhenti tertawa, meski begitu mukanya sudah berubah jadi merah padam, napasnya tersengkal-sengkal.
Diam-diam Hoa Thian-hong merasa kuatir bercampur gelisah, dia tahu Kiu-im Kaucu bukan sebangsa manusia yang gampang putus asa, setelah ada tujuan biasanya dia berusaha terus sampai apa yang di cita-citakan tercapai, jika tidak segera dicarikan akal yang tepat untuk menyelesaikan persoalan ini, sukarlah masalah itu bisa diselesaikan.
Pek Kun-gie sendiri adalah seorang putri jagoan persilatan, ia tak dapat membedakan mana yang baik mana yang buruk, hanya saja dia memang tidak bermaksud mengangkat Kiu-im Kaucu sebagai gurunya, sehingga keadaan pada waktu itu ibaratnya hanya mengagumi burung bangau tidak mengagumi sang dewa.
Seandainya bukan disebabkan karena Hoa Thian-hong, tentu saja dia sangat berharap bisa mendapat seorang guru yang pandai seperti Kiu-im Kaucu, tapi bagi pandangan Hoa Thian-hong, Kiu-im Kaucu adalah seorang jago dari golongan sesat dan lagi dia pun terhitung seorang gembong iblis yang disegani orang, prinsipnya siapa yang dekat dengan gincu akan jadi merah, siapa yang dekat tinta akan jadi hitam, sekalipun seorang yang berhati bajik bila sampai mengangkat seorang jahat sebagai gurunya, maka perangai maupun tindak tanduknya pasti akan terpengaruh.
Sudah tentu karena prinsipnya ini, anak muda itu tak sudi menganjurkan kepada Pek Kun-gie untuk mengangkat Kiu-im Kaucu sebagai gurunya.
Tapi situasi yang dihadapinya sekarang jauh berbeda, bila ia tak bisa menentukan pilihannya sebagai sahabat maka berarti pula mereka harus berhadapan sebagai musuh, dalam keadaan yang gawat seperti ini sudah tentu hatinya jadi panik.
Paras muka Kiu-im Kaucu berubah hebat ketika dilihatnya Hoa Thian-hong tetap memburgkam dalam seribu bahasa, dengan suara tajam tiba-tiba ia membentak.
"Aku harus berangkat ke kota Lok yang untuk mengambil pedang emas, setuju atau tidak hayo cepat kasih jawaban yang terang!"
Hoa Thian-hong tidak langsung menjawab, kembali dia berpikir.
"Semestinya aku harus menolak penawarannya itu secara tegas, tapi kalau aku berniat demikian, pihak lawan tentulah akan menggunakan kekerasan, padahal jumlah musuh amat banyak, susah kalau mau melawan pakai kekerasan"
Sementara ia masih merasa amat panik tiba-tiba perahu mereka bergerak melewati sebuah kanal yang amat sempit, walaupun arus air sangat deras akan tetapi jarak antara perahu dengan daratan jadi makin bertambah dekat.
Tanpa berpikir panjang lagi ia segera menyambar tnbuh Pek Kun-gie dan loncat ke arah perahu yang berada disebelah kanan.
"Hoa Thian-hong!"
Bentak Kiu-im Kaucu dengan amat gusar, engkau benar-benar tak tahu diri. Hoa Thian bong sama sekali tidak menggubris bentakan itu, kepada Pek Kun-gie bisiknya.
"Naiklah keatas daratan letih dulu!"
Tertegun hati Pek Kun-gie mendengar bisikan itu, sebelum dia paham dengan apa yang telah terjadi, tiba-tiba sepasang kakinya sudah dicengkeraman oleh Hoa Thian-hong.
Semua gerakan yang dilakukan anak muda itu cepat sambaran kilat, begitu sepasang kaki Pek Kun-gie sudan dicengkeram tiba-tiba ia putar badannya dan memalingkan tubuh Pek Kun-gie satu lingkaran di udara, bentaknya dengan nyaring.
"Pergi!"
Sepisang tangan dilepakkan tahu-tahu dia sudah melempar tubuh dara itu menuju ke atas daratan.
Pek Kuo gie ketakukan sehingga menjerit lengking, ia merasa angin tajam menderu-deru disisi telinganya, dadanya terasa amat sesak.
Daya luncur dara itu amat cepat, ibarat anak anak panah yang terlepas dari busurnya, sebelum rasa kagetnya tersapu lenyap, tahu-tahu daya luncur itu sudah menjadi lemah.
Dalam keadaan begitu ia segera berjumpulitan sekenanya, dan tahu-tahu sepasang kakinya sudah mencapai daratan, walaupun selamat tiba dipantai tak urung paras mukanya telah berubah jadi pucat pias seperti mayat....
Gerakan yang dilakukan Hoa Thian-hong ini sangat aneh dan sama sekali diluar dugaan siapapun, Kiu-im Kaucu dibikin teramat gusar sehingga mukanya berubah jadi hijau membesi, ia segera loncat bangun dari tempat duduknya.
Kendatipun begitu, diam-diam diapun merasa amat kagum dengan tidakan berani dari anak muda tersebut.
Haruslah diketahui, apabila seseorang tidak memiliki kekuatan pada lengan sebesar lima enam ribu kati, maka sulitlah untuk melemparkan tubuh seseorang sejauh dua puluh kaki lebih dan lagi apabila terlalu besar kekuatan yang digunakan kemungkinan besar orang yang dia lempar akan menderita luka dalam yang cukup parah.
Kiu-im Kaucu sadar dia sediri belum tentu sanggup melakukan seperti apa yang dilakukan pemuda itu.
Setelah tertegun beberapa saat lamanya, Kiu-im Kaucu segera tertawa seram, serunya.
"Hoa Thian-hong, jadi engkau bersikeras akan memusuhi diriku?"
Kiu-im Kaucu merupakan seorang manusia yang aneh, gembira atau marah sukar diikuti dari perubahan wajahnya, Hoa Thian-hong sangat kuatir terhadap keanehannya itu.
Dengan cekatan dia cabut keluar pedangnya dan disilangkan didepan dada, lalu dengan serius berkata.
Pia Leng-cu adalah seorang jago yang kedudukannya sudah terpojok, aku bisa memaklumi kalau dia berusaha menukar pedangku dengan Pek Kun-gie yang ditangkap sebagai sandera, sebaliknya kaucu adalah seorang jago besar yang disegani seluruh jagad, nama besarmu cemerlang dan mencapai semua pelosok, aku benar-benar merasa tak puas kalau engkau hendak menggunakan cara yang sama dengan yang digunakan Pia Leng-cu untuk memaksa aku!"
Beberapa patah kata ini tidak sombong juga angkuh tapi apa adanya, tentu saja Kiu-im Kaucu tak mampu membantah barang sekecappun.
Setelah membungkam lama sekali, akhirnya ia tenawa dingin dan mengejek.
"Hmm! Jadi kalau begitu engkau berharap kita melakukan pertarungan untuk menyelesaikan persoalan ini?"
"Aku rela mati dalam pertarungan dari pada menanggung derita karena sakit hati"
Kembali Kiu-im Kaucu berpikir didalam hati.
"Keberanian bocah ini mengagumkan sekali, rasa percaya pada diri sendirinya sangat tinggi, ia tidak merendahkan diri pun tidak menyombongkan diri, aaai! Manusia macam begini memang sulit untuk dilayani"
Sementara ia masih termenung, Tiamcu istana neraka yang berada disisinya mendadak berbisik.
"Orang ini sangat tangguh, jangan dilayani dengan kekerasan!"
Kiu-im Kaucu mengerutkan dahinya, dengan ilmu menyampaikan suara ia segera bertanya.
"Kalau tidak dilayani dengan kekerasan berarti harus dilayani dengan kecerdikkan, engkau punya akal bagus?"
"Selama Hoa Thian-hong masih berada di sini, Pek Kuo Gie tentu tak akan melarikan diri dari seputar daratan sana"
Bisik Tiam cu istana neraka dengan suara lirih.
"kenapa kaucu tidak perintahkan orang untuk naik keatas daratan dan membekuk dirinya lebih dahulu?"
"Emmm.... bagus sekali usul ini"
Batin Kiu-im Kaucu.
Tanpa sadar ia berpaling ke arah daratan, waktu itu Pek Kun-gie memang sedang berlarian disepanjang pantai, tanpa kuasa dia lantas berpaling ke arah seorang kakek disisinya sambil berseru.
"Seng tongcu, cepat naik kedaratan! Bekuk dulu budak tersebut"
Betapa terkejutnya Hoa Thian-hong mendengar perintah itu, dia segera berpaling sambil membentak nyaring.
"Kun Gie, cepat kabur kembali ke kota Lok yang, jangan berke-liaran terus disini"
Pek Kun-gie yang ada didaratan agak tertegun, tapi cepat dia loncat turun dan lenyap dibalik tanggal.
Kiu im kaccu terbahak-bahak, ia berseru lagi, Sekalipun batok kepala budak itu dipenggal, dia tentu tak akan kabur seorang diri dari sini.
Seng tongcu!
naik segera kedaratan dan bekuk budak itu sampai dapat.
Kakek she Seng itu adalah tongcu bagian penerimaan anggota, sambil menjura dia mengiakan lalu loncat ketengah sungai.
Hoa Thian-hong sendiripun dapat memaklumi perasaan Pek Kun-gie, dia sadar gadis itu tak akan tinggalkan tempat itu seorang diri, sudah pasti dia hanya sembunyi dibalik tanggul sambil mengikuti secara diam-diam.
Bila Kakek she Seng itu sampai naik keatas daratan, niscaya gadis itu bakal kena di bekuk.
Pemuda itu sendiri dapat pula menyaksikan keadaan yang terbentang diseputarnya, kalau dia sampai terjun kedalam air sudah pasti kekalahan berada dipihaknya, mau loncat kedaratan sudah terang tak mungkin karena perahu itu bergerak ditengah-tengah sungai.
Dalam gugup dan gelisahnya pemuda itu membentak keras, sambil menerjang kedepan pedangnya langsung membabat pinggang kakek she Seng dari ruang penerimaan anggota itu.
Kiu-im Kaucu sangat terperanjat, dengan cekatan ia menerjang maju, hardiknya.
"Seng tongcu, hati-hati!"
Tongkat kepala setannya secepat kilat diayun kemuka langsung membabat ke arah pinggang Hoa Thian-hong.
Arah yang diserang adalah bagian yang mematikan, dalam keadaan begini mau tak mau Hoa Thian-hong harus berganti jurus untuk melindungi diri, cepat pedangnya berputar balas menusuk ke tubuh lawan.
Dalam sekejap mata, suatu pertarungan sengit yang menggetarkan langit dan bumi telah berlangsung diatas geladak perahu.
Tongcu ruang penerimaan anggota baru yang berhasil lolos dari ancaman maut itu segera menyusup kesamping perahu, walau begitu peluh dingin telah membasahi tubuhnya.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun ia kabur menuju buritan perahu, setelah jauh meninggalkan Hoa Thian-hong dia baru mence burkan diri kedalam sungai....
Sejak terjun kedalam dunia persilatan, Hoa Thian-hong selain hidup ditengah kancah pertarungan yang serba sulit dan membahayakan jiwanya, lingkungan semacam itu lambat laun mendidik dirinya menjadi seorang pemuda yang tabah, berani serta bersemangat.
Setelah berhadapan dengan musuh tangguh dihari itu, sebelum terjadi pertarungan ia selalu berusaha untuk menghindari suatu pertarungan yang tak berarti, tapi begitu pertarungan tak bisa dihindari lagi, segala pikiran bercabang dibuang jauh-jauh, semua kekuatan dan pikirannya dipusatkan jadi satu untuk melayani serangan-serangan musuh, terhadap ketujuh puluh orang anggota Kiu-im-kauw yang berdiri disekitar gelanggang, dia sama sekali tidak ambil perduli.
Luas ujung perahu itu cuma sekitar lima laki, sedang senjata yang digunakan kedua belah pihak sama-sama senjata berat, pedang ba ja milik Hoa Thian-hong panjangnya mencapai empat depa, sedangkan toya kepala setan milik Kiuim Kaucu panjangnya mencapai delapan depa, begitu penarungan berkobar terpaksa sisa orang yang lain harus menyingkir keburitan perahu atau dua perahu yang lainnya.
Dalam keadaan begini jangankan main keroyokan dengan jumlah banyak, bahkan ikut serta dalam pertarungan itupun susah.
Untuk menghindari sergapan dengan senjata rahasia, Hoa Thian-hong menempatkan diri disebelah luar dengan punggung menghadap ke arah sungai, kakinya berdiri tegak bagaikan batu karang, maju atau mundur semuanya pakai aturan.
Sedangkan Kiu-im Kaucu bertarung dengan maksud paksa anak muda itu tercebur kedalam air, maka dari itu toya kepala setannya berulang kali melancarkan serangan yang amat gencar.
Namun Hoa Thian-hong sama sekali tidak mengalah dengan begitu saja, setiap serangan diimbali dengan serangan, tiap desakan dibalas dengan desakan, walaupun sudah bertarung beberapa waktu, posisinya tetap tak bergeming dari posisi semula.
Dalam pertarungan yang berlangsung kali ini, Kiu-im Kaucu bertindak jauh lebih hati-hati, semenjak pengalaman pahit yang dideritanya belum lama berselang, ia tahu kalau tenaga dalam yang mereka miliki berada dalam posisi yang seimbang, jika pertarungan harus dilangsungkan dengan keras lawan keras, maka kedua belah pihak akan sama-sama menelan kerugian yang amat besar.
Sebagai seorang ketua dari suatu perkumpulan besar, tentu saja dia amat menyayangi jiwa sendiri, ia tak ingin melakukan pertarungan yang mengakibatkan kedua belah pihak samasama menelan kerugian, sebab sekalipun menggunakan kekerasan, belum tentu ia mampu mendesak Hoa Thian-hong hingga tercebur kedalam sungai.
Beberapa saat kemudian, kedua belah pihak sudah bertarung sebanyak tiga puluh gebrakan, babatan pedang maupun sambaran toya semuanya dilakukan dengan gesit dan enteng, sepanjang pertarungan berlangsung kedua macam senjata itu tak pernah saling membentur satu sama lainnya.
Sementara itu tengah hari sudah hampir menjelang, tapi awan gelap menutupi seluruh jagad, sang surya belum muncul di angkasa membuat udara yang remang-remang menambah seramnya suasana.
Ombak menggulung makin besar, arus mengalir makin deras, perahu yang bergerak dengan saling bergandeng itu kadangkala harus saling membentur satu sama lain, goncangan-goncangan keras itu membuat pertarungan yang sedang berlangsung diujung perahu berlangsung makin ramai.
Beberapa kali Kiu-im Kaucu melepaskan serangan berantainya untuk mendesak lawan, namun semua ancaman itu selalu gagal untukc memaksa Hoa Thian-hong terdesak mundur barang setengah langkahpun, lambat laun dia mulai berpikir.
"Bocah ini berdiri dengan membelakangi sungai, keadaan tersebut ibaratnya bintang buas yang masuk perangkap, kalau aku mendesak kelewat batas, dia pasti akan jadi nekad dan menyerang diriku habis-habisan, apa salahnya kalau kuulur waktu sedapat mungkin? Asalkan budak dari keluarga Pek itu berhasil kubekuk kemenangan sudah pasti berada ditanganku....!"
Berpikir sampai disini, ia memperlunak serangannya walaupun masih mengurung musuhnya dengan ketat.
Hoa Thian-hong sendiri tiada bernafsu melangsungkan pertarungan jarak panjang, karena ia masih berada di atas perahu musuh, begitu Kiu-im Kaucu memperlunak serangannya, dari semula jadi tuan rumah, pedangnya berkelebat sedemikian rupa melancarkan serangan-serangan gencar yang mematikan.
Dalam waktu singkat, pedang bajanya melepaskan serangkaian serangan berantai dengan jurus Im yang ji kek (dingin dan panas dua unsur kekuatan)>, Su kok ciong bong (Kesunyian mencekam empat penjuru , Liong cian hi ya (Pertarungan naga di tengah belukar) serta Hong hui cay tian (Biang lala terbang di angkasa).
Semua serangan yang digunakan olehnya merupakan serangkaian serangan mematikan yang amat dahsyat, tampaklah cahaya hitam menyelimuti seluruh angkasa, tiada desiran yang mendengung diudara, yang ada cuma sambaran bayangan tajam yang mendirikan bulu roma.
Sepenuh tenaga Kiu-im Kaucu melayani serangan gencar musuhnya, toya kepala setannya berputar memekikan telinga, bayangan hitam menyelimuti angkasa bagaikan bukit bersusun, walaupun pertarungan sudah berlangsung lama akan tetapi ia belum menunjukkan tanda-tanda akan kalah.
Demikianlah, kedua orang itu saling berusaha merebut posisi yang lebih menguntungkan, setiap kesempatan yang tersedia di manfaatkan dengan sebaik-baiknya, tiap jengkal tanah diperebutkan mati-matian.
tanpa terasa tiga puluh gebrakan sudah lewat.
Walau begitu posisi mereka masih tetap seimbang, kekuatan mereka ibaratnya setali tiga uang, siapapun gagal untuk merebut posisi diatas angin, sampat disitu kedua orang itu sama-sama kaget bercampur terkesiap.
Makin lama pertarungan itu berlangsung, Kiu-im Kaucu merasa makin ierperanjat, sebab ilmu silat yang dimiliki Hoa Thian-hong sekarang jauh lebih maju kalau dibandingkan sewaktu diseleng-garakannya pertemuan besar Kian ciau tay hwee, kematangan dalam jurus pedang maupun dalam hal tenaga dalam sama sekali jauh berbeda dengan keadaan dimasa itu.
Haruslah diketahui, ketika pertemuan Kian ciau tay hwee diseleng garakan, Hoa Thian-hong baru saja memahami inti sari yang tercakup dalam catatan Kiam keng bu kui, meskipun ilmu pedangnya mengalami kemajuan yang pesat namun belum membaur seratus persen, kematangannya masih jauh dari harapan tapi setelah mengalami penyelidikan serta latihan yang tekun selama banyak waktu, hasil yang diraih sekarang ini meningkat beberapa kali lipat jika di bandingkan dulu.
Untung yang dihadapinya saat itu adalah Kiu-im Kaucu yang lihay, andaikata berganti dengan orang lain, mungkin satu juruspun tak sanggup menahan.
Begitulah, makin lama pertarungan berlangsung Kiu-im Kaucu makin terkesiap, timbullah rasa was-was dalam hatinya, ia membatin jika kemajuan pasat yang dicapai bocah itu dalam ilmu silat demikian besarnya, maka kalau keadaan dibiarkan berlangsung beberapa bulan lagi, tanpa berlatih kitab kiam keng pun, bocah itu sudah amat sulit tandingi.
Kalau hal ini sampai terjadi, bukankah itu berarti kursi kebesaran sebagai manusia nomor wahid dikolong langit akan terjatuh ke tangan anak muda itu?
Mempertimbangkan kerugian yang bakal dicapai ini, rasa iri dan dengki segera timbul dalam benaknya, hawa nafsu membunuh pun ikut berkobar menyelimuti seluruh benaknya, dia segera ambil keputusan untuk lenyapkan musuh tangguh ini dari muka bumi.
Baru saja ingatan jahat itu melintas dalam benaknya, dan belum terpikirkan olehnya bagaimana cara untuk merebut kemenangan, tiba-tiba dari atas tanggul ditepi pantai berkumandang suara tertawa yang amat merdu bagaikan genta.
"Eeh.... tiamcu istana nerakaa, kalau punya nyali, hayo seberang kemari, mari kita bergebrak sebanyak tiga ratus jurus!"
Tiamcu istana neraka amat terkejut, ketika dia berpaling maka terlihatlah Pek Kun-gie sedang berdiri diatas tanggul sambil menuding ke arahnya dan mencaci maki, mukanya berseri seri dan penuh rasa bangga, sementara bayangan tubuh dari Seng tongcu lenyap tak berbekas, entah kenama kaburnya kakek tua itu.
Sambil bertolak pinggang dengan tangan kirinya, dan menuding ke arah perahu dengan pedang lemasnya, Pek Kungie tertawa mengikik.
"Hiiih.... hiiih.... hiiih.... Kiu-im Kaucu! ejeknya.
"anak buahmu itu terlalu tak becus, cuma sekali ayun pedang batok kepala nya sudah terpenggal lepas dari kepalanya, haaah.... haaah.... haaahh maaf, maaf, terpaksa aku musti bikin hati kaucu menjadi susah!"
Sementara itu Hoa Thian-hong telah menyerang musuhnya dengan jurus Kiu thian cu lay (sembilan langit penuh seruling), serangan itu dilancarkan begitu cepat ibaratnya anak panah yang terlepas dari busurnya kemudian ia membentak keras.
"Kun Gie, hayo cepat pergi dari situ, jangan bikin kacau lagi ditempat ini!"
"Baik!"
Jawab Pek Kun-gie dari atas daratan, aku segera kembali ke kota Lok yang dan mencari pedang emas itu lebih dulu!"
Habis berkata ia segera putar badan dan berlalu dari sana.
Tiamcu istana neraka mengecutkan dahinya rapat-rapat, kepada Kiu-im Kaucu yang sedang terlibat dalam pertarungan sengit, serunya dengan suara lantang.
"Ilmu silat yang dimiliki Seng tongcu sangat lihay, dengan kepandaian yang dimiliki budak itu tak mungkin dia bisa dibikin keok, sudah pasti pihak musuh mendapat bala bantuan yang tersembunti dibelakang tanggul....!"
Baru saja lari beberapa langkah, tiba-tiba Pek Kun-gie berhenti dan berpaling kembali, ia berseru dengan nyaring.
"Eehh Kiu-im Kaucu, cepatlah kirim beberapa orang anak buahmu yang berilmu tinggi untuk mengejar aku, kalau sudah terlambat menyesal tak ada gunanya!"
Tiamcu istana neraka naik darah, dengan dahi berkerut segera serunya.
"Hamba mohon perintah uutuk naik kedarat guna membekuk budak itu, harap kaucu akan mengabulkan!"
"Baik!"
Sahut Kiu-im Kaucu dengan suara dalam.
"Kerahkan segenap kekuatan yang tergabung dalam istana neraka untuk naik ke darat, bekuk Pek Kun-gie sampai dapat"
Tiamcu istana neraka mengiakan, sambil ulapkara tangannya ia segera terjun kedalam air, dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.
Secara beruntun sembilan belas orang anak buah istana neraka ikut terjun pula kedalam sungai, dengan cepat mereka berenang menuju ke arah daratan....
Melihat itu, Hoa Thian-hong segera berpikir.
"Kedudukan tiamcu istana neraka dalam Kiu-im-kauw sangat tinggi, posisinya hanya setingkat dibawah kaucu seorang, bisa dibayangkan kalau ilmu silat yang dimilikinya pasti amat lihay, waah.... kalau Kun Gie tidak cepat pergi, dia pasti akan kena dibekuk!"
Berpikir sampai disitu, ia lantas membentak nyaring.
"Kun Gie, cepat kabur!"
"Mau kabur kemana?"
Ejek Kiu-im Kaucu sinis.
Tongkat kepala setannya tiba-tiba melayang kedepan melancarkan sebuah serangan kilat.
Serangan tersebut berkekuatan sangat besar, lihaynya luar biasa.
Diam-diam Hoa Thian-hong terkesiap, cepat dia mundur selangkah kebelakang, pedang bajanya meluncur ke bawah dan tiba-tiba menekan diatas toya lawan, sambil menempel diatas toya itu cepat ia babat jari tangan lawan.
"Ilmu pedang bagus!"
Puji Kiu-im Kaucu Cepat tangan kirinya ditarik kembali, tangan kanannya menekan ke arah bawah dan memakai jurus Tay san ya teng (menindik kepala dengan butit Tay san, dia sergap musuhnya.
Ilmu silat yang dimiliki dua orang itu sama-sama lihay dan sudah mencapai taraf yang luar biasa, walaupun serangan dan jurus yang dipakai amat sederhana, tiada sesuatu yang aneh, tetapi dalam kenyataan tersimpan daya penghancur yang luar biasa.
Begitulah serangan mereka semuanya memakai taktik gerak pendek tapi cepat dan jurus serangan dibuat sesederhana mungkin, dalam keadaan demikian bukan saja seseorang harus mempunyai tenaga dalam yang sempurna, daya pencipta yang cemerlang, dia pun musti pandai memberikan reaksinya atas ancaman yang tiba, sedikit salah bertindak niscaya akan berakibat fatal.
Ketika Hoa Thian-hong menghadapi serangan toya yang membabat datang dengan kecepatan luar biasa itu, ia tahu kecuali menangkis dengan pedangnya tiada jalan lain yang bisa dipakai.
Namun pemuda itupun menyadari betapa gawatnya situasi diseputarnya, dia tak ingin adu tenaga dengan musuh, sebab sekali adu kekuatan maka akibatnya pasti fatal.
Kalau toh jumlah kekuatan kedua belah pihak seimbang, cara ini pasti akan dilayani olehnya, namun sekarang dia hanya seorang diri sedangkan musuh berjumlah amat banyak, sekali terjerumus niscaya dia bakal mati konyol ditangan lawan.
Jilid 22 PEMUDA itu hendak mundur kebelakang untuk menghindar, namun jalan telah buntu, dalam gugupnya tanpa berpikir panjang sepasang kakinya segera menutul permukaan tanah kemudian menyeruak dari sisi Kiu-im Kaucu dan menyambar kebelakang punggung lawan.
Dikala tubuhnya masih berada diudara, pedang bajanya yang menyilang didada secepat kilat membabat ke arah tenggorokan musuh.
Dalam pertarungan yang berlangsung antara dua jago lihay, jarang sekali ada yang mau bertarung dengan melewati diatas kepala musuhnya, tapi Hoa Thian-hong terpaksa harus berbuat demikian, hal ini disebabkan karena kesatu keadaan sudah amat terdesak, kedua bila jurus Tay san ya teng dari Kiu-im Kaucu telah digunakan kemudian dia akan berganti jurus, maka arah yang paling susah dicapai oleh serangannya itu adalah atas bahu kirinya, Karena itu Hoa Thian-hong melayang lewat dari titik kelemahan tadi.
Meskipun demikian, andaikata seseorang tidak memiliki ilmu meringankan tubuh yang sempurna, kendatipun dia ada hasrat untuk berbuat demikian, belum tentu kekuatannya mampu melakukan.
Baru saja Kiu-im Kaucu merasakan serangannya mengenai disasaran yang kosong, desiran angin tajam telah menyambar dari sampingnya, menyusul pula musuh telah muncul didepan mata, dalam terperanjatnya cepat dia putar pinggang sambil mengirim toyanya membabat ke arah belakang dengan jurus Sin liong pak wi (Naga sakti mengebaskan ekor) "Traang....!
sepasang senjata beradu satu sama lainnya menimbulkan letupan bunga api, kedua belah pitak samasama merasakan lengannya jadi kesemutan.
Dengan suatu gerakan hampir menempel disamping telinga Kiu-im Kaucu, secepat kilat pemuda itu menyambar lewat dan melayang turun dibelakang tubuh lawan.
Gerakan tersebut boleh dibilang dilaksanakan dengan menempuh bahaya maut, sampai jago yang hadir disitu samasama terberanjat dibuatnya, mereka merasa kaget bercampur terkesiap.
Terutama sekali ketika dilihatnya Hoa Thian-hong menyambar lewat dari samping telinga ketua mereka, saking gugup dan kagetnya hampir saja mereka menjerit tertahan.
Tiamcu ruang siksa Le Kiu gi kuatir kalau kaucunya terluka, tanpa pikir panjang ia getarkan tangannya kedepan, tiga batang paku penembus tulang yang mengandung racun keji segera menyergap ke arah punggung Hoa Thian-hong.
Pada waktu itu sepasang kaki Hoa Thian-hong belum mencapai tanah, padahal tenaga luncurnya telah habis dan tenaga baru belum sempat dihimpun, serangan senjata rahasia itu menyambar kemuka dengan begitu cepatnya, jelas sulitlah bagi pemuda itu untuk menghindar.
Hampir Le Kiu gi bersorak kegirangan ketika ia lihat Hoa Thian-hong masih tetap tidak merasakan datangnya ancaman senjata rabasiarya padabal reku2 beracin itu ajdab harocir menempel diatas punggungnya, terbayang bagaimana seorang jago lihay bakal mampus ditangannya, air mukanya kontan berseri.
Siapa tahu, seolah-olah diatas punggung Hoa Thian-hong tumbuh mata, menanti paku-paku beracun itu hampir menempel diatas punggung, pedang baja itu diayun kebelakang "Tiing!
Tiiing!
Tiiing!"
Ketiga batang paku beracun itu langsung menempel diujong pedangnya.
Perlu diketahui pedang itu terbuat dari baja dan diatas pedang tersebut terdapat kekuatan besi samberani yang kuat, begitu menempel diujung pedang maka ketiga batang paku itu sama sekali tidak rontok.
Hoa Thian-hong masih tetap tenang seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu kejadian bahkan memandang sekejappun tidak, sorot matanya yang tajam menatap diatas wajahnya Kiu-im Kaucu tanpa berkedip.
Paras muka Kiu-im Kaucu yang dasarnya sudah pucat, kini berubah makin memucat hingga seperti kertas, sedikitpun tidak nampak warna darah, matanya yang tajam memancarkan nafsu membunuh yang tebal, mu kanya menyeringai bengis hingga persis seperti malaikat buas dari neraka.
Diam-diam Hoa Thian-hong merasa bergidik, pikirnya.
"Watak orang ini aneh sekali, aku toh tidak terikat dendam sakit hati apa-apa dengan dirinya, kenapa....!"
Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, tiba-tiba Kiu-im Kaucu berkata dengan suara keras.
"Engkau toh anggap kamu kuat, kamu tangguh? Kenapa tidak berani beradu kekerasan dengan aku?"
Hoa Thian-hong tertawa.
"Mau adu kekerasan tentu saja boleh, cuma tak dapat dilang-sungkan diatas peraru ini!"
Katanya. Saat itulah tiba-tiba tiamcu ruang siksaan Le Kiu gi menimbrung dari samping.
"Lapor kaucu, sudah lama tiamcu istana neraka naik keatas daratan namun sampai sekarang belum nampak kembali, jangan-jangan di atas pantai telah terjadi peristiwa diluar dugaan?"
Kiu-im Kaucu terkesiap, cepat dia alihkan pandangan matanya ke arah daratan, pantai memang kosong tak kelihatan seorang manu siapun, baik anak buah Kiu-im-kauw maupun Pek Kun-gie seolah-olah lenyap ditelan bumi.
Terdengar Le Kiu gi berkata kembali.
"Pek Kun-gie mengetahui pula tempat persembunyian dari pedang emas itu, kalau kita sampai didahului olehnya, kerugian yang kita derita akan terlalu besar...."
Sembari berkata sorot matanya melirik sekejap ke arah pedang baja yang berada ditangan Hoa Thian-hong, maksudnya lebih baik sang kaucu turun tangan merampas pedang baja milik anak muda itu lebih dulu, sehingga kalau sampai pedang emas tersebut didahului orang, mereka tak akan sampai memberita kerugian besar.
Sepasang biji mata Kiu-im Kaucu berputar kencang, tibatiba serunya dengan nyaring.
"Hoa Thian-hong, tinggalkan pedang baja itu, aku akan persilahkan engkau naik ke daratan, bila kita berjumpa lagi dikemudian hari, aku berjanji tak akan mencari kemenangan darimu dengan andalkan senjata"
Bagi orang persilatan, pantangan yang paling besar adalah hutang budi kepada orang lain, dalam anggapan Hoa Thianhong ia telah hutang budi kepada Kiu-im Kaucu, bila hutang tersebut tidak cepat dibayar lunas maka sepanjang hari hidupnya tak akan tenang.
Maka sambil tertawa paksa sahutnya.
"Aku bersedia menggunakan pedang baja ini sebagai imbalan dari Leng-ci berusia seribu tahun itu, cuma kaucu pun harus memberi jaminan kalau mulai hari ini engkau tak akan mencelakai Giok Teng Hujin bahkan apabila dia berkeinginan untuk tinggalkan Kiu-im-kauw, maka kaucu tak boleh menghalang-halanginya!"
"Baik!"
Jawab Kiu-im Kaucu dengan suara lantang.
"kita berjanji dengan sepatah kata itu, asal pedang baja itu kau serahkan kepadaku, akupun akan titahkan orang untuk merapatkan perahu ini kedaratan"
Mendengar jawaban yang diberikan begitu cepat, sedikit banyak timbul juga rasa curiga dalam benak Hoa Thian-hong, tapi segera terbayang kembali kalau dia sudah berhutang budi kepada kaucu ini, sekalipun pedang baja tersebut harus diserahkan kepadanya juga pantas.
Maka tanpa banyak bicara lagi dia angsurkan pedang baja itu ketangan Kiu-im Kaucu.
"Thian-hong! Jangan tertipu...."
Mendadak seorang gadis berteriak nyaring.
Perasaan hati Hoa Thian-hong tergerak, buru-buru dia tarik kembali pedang bajanya.
Semua oraig ikut terperanjat, tanpa terasa mereka semua lirikan pandangan matanya ke arah sang pembicara.
Tampaklah Giok Teng Hujin dengan seperangkat pakaian ketat warna hitam sedang berdiri diburitan perahu sebelah kanan, sebuah senjata yang bersinar tajam berada dalam genggamannya, sekujur badan dara itu basah kuyup, tampaknya belum lama naik keatas perahu.
Mula-mula Kiu-im Kaucu agak tertegun, menyusul sambil tertawa seram teriaknya.
"Besar amat nyalimu! Bukan saja berani menjumpai aku, bahkan berani pula memusuhi aku.... hemm! Hmm! Bagus, bagus kalau ingin bicara hayo kemari!"
Sekujur badan Giok Teng Hujin gemetar keras, mukanya hijau kepucat-pucaan, jelas ia sedang merasa takut, ngeri bercampur emosi sukar untuk membayangkan bagaimanakah perasaan hatinya waktu itu.
Tiamcu ruang penyiksaan Le Kiu gi segera membentak nyaring.
"Kaucu ada perintah, mengapa tidak maju menghadap?"
Hoa Thian-hong mengenyitkan sepasang alis matanya yang tebal, dengan ilmu menyampaikan suara ia segera berbisik.
"Cepat-cepat kabur dari sini, bagiku lebih gampang untuk lari seorang diri daripada ber-kawan!"
Meskipun selisih jarak antara kedua belah pihak terpaut empat lima kaki, akan tetapi bisikan yang langsung ditujukan ke sisi telinga Giok Teng Hujin dapat terdengar amat nyaring, seakan-akan sang pembicara berada di sisi tubuhnya.
Tentu saja Giok Teng Hujin juga mengerti betapa sadis dan kejamnya siksaan lima pedang menyincang badan serta Api dingin melelehkan sukma itu.
Penampilannya sekarang berani pula mengumumkan penghianatannya secara terus terang, rasa takut dan ngeri yang berkecamuk dalam hatinya makin menjadi, begitu mendengar bisikan dari Hoa Thian-hong, buru-buru dia berseru.
"Leng-ci berusia seribu tahun adalah barang milik pribadi, jangan kau serahkan pedang itu kepadanya, ingat baik-baik perkataan itu. Habis berkata ia menjejakan kaki keatas lantai dan tubuhnya mencebur kembali kedalam sungai. Begitu hebat amarah yang berkobar didalam dada Kiu-im Kaucu membuat ketua dari Kiu-im-kauw ini hampir saja jadi kalap, dengan setengah menjerit ia membentak.
"Le tiamcu! Bong tongcu! Bekuk budak sialan itu sampai dapat!"
Baik Le Kiu gi maupun Bong Seng yang mendapat perintah itu cepat-cepat mengiakan, mereka segera memburu kedepan dan mengejar ke arah mana Giok Teng Hujin melarikan diri.
Hoa Thian-hong merasa gelisah bercampur gusar, nafsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, cepat tangan kirinya menyambar ketiga batang paku penembus tulang yang menempel diujung pedangnya ke mudian menyambit ke arah punggung Bong Seng.
Sementara kaki kanannya dengan suatu tendangan kilat menghajar seorang pria bersenjata yang berada disamping gelanggang hingga mencelat keudara dan menumbuk punggung Le Kiu gi.
Terdengar Bong Seng menjerit kesakitan, tubuhnya langsung terjungkal kedalam air.
Ketiga batang paku penembus tulang itu adalah senjata istana andalan Le Kiu gi, racun yang dipoleskan diujung senjata tersebut luar biasa ganasnya, dalam keadaan panik, sambitan yang dilancarkan Hoa Thian-hong itu menjadi suatu sergapan yang maha dahsyat.
Ketiga batang paku penebus tulang itu langsung menancap diatas punggung Bong Seng hingga tembus empat cun dalamnya, salah satu diantaranya malahan menhajar tepat dihatinya, begitu tercebur kedalam sungai, racun keji itu mulai bekerja maka mampuslah tongcu itu didalam air.
Dipihak lain, Le Kui gi yang sedang meluncur kedepan tibatiba merasa ada orang menyambar ke arahnya, cepat dia berpaling, ketika dilihatnya orang itu adalah anggota perkumpulan sendiri, dengan cekatan ia tolak telapak tangannya, ia bermaksud meminjam tenaga tolakan itu untuk mempercepat daya luncurnya kedepan.
Siapa tahu dalam paniknya, tanpa disadari oleh Hoa Thianhong sendiri ia telah kerahkan ilmu silat tinggi macam Le san ta gou (memukul kerbau dari balik bukit) serta Ciat hu coan lip (Pinjam benda salurkan tenaga) yang belum pernah dipelajari sebelumnya.
Baru saja telapak tangan Le Kiu gi menolak tubuh orang itu, mendadak dia merasakan munculnya segulung tenaga pukulal yang maha dahsyat menyambar keluar dari lengan orang itu, kontan isi perutnya terasa bergolak keras, pandangan matanya jadi gelap dan tanpa mampu berteriak lagi tubuhnya ikut tercebur kedalam sungai.
Meskipun dihari-hari biasa Hoa Thian-hong tak pernah menggunakan senjata rahasia, tapi pelbagai macam cara melepaskan senjata rahasia pernah dipelajari olehnya, satu cara paham maka beratus-ratus macam cara yang lain pun dapat dipahami dengan sendirinya.
Apalagi setelah ilmu silatnya mencapai pada taraf seperti apa yang dimiliki sekarang, memetik daun menyambit dengan bungapun bisa mencabut nyawa orang.
Kepandaian Bong Seng didalam air memang sudah mencapai taraf yang tak terkirakan, akan tetapi ia sama sekali tidak menyangka datangnya sergapan dari belakang, nyawanya langsung melayang keakhirat begitu tubuhnya mencapai air.
Sebaliknya Le Kiu gi hanya menderita luka dalam yang sangat parah, selembar jiwanya masih dapat diselamatkan.
Perubahan yang terjadi ini sama sekali diluar dugaan siapapun, dalam waktu singkat Giok Teng Hujin sudah berada tiga kaki jauhnya dari situ, sekali dia menyelam tubuhnya tak pernah muncul kembali.
Kiu-im Kaucu betul-betul marah besar, apalagi setelah dilihatnya dalam satu gebrakan Hoa Thian-hong berhasil membunuh seorang panglima besarnya dan melukai yang lain, hampir saja ia jadi kalap karena sukar mengendalikan diri, dengan suara keras dia menggembor.
"Kek tongcu, bawa segenap anak buahmu dan tangkap budak bajingan itu secepatnya, sedangkan yang lain segera lubangi semua perahu yang ada, serentak semuanya bekerja, siapa berani melanggar, bunuh!"
Sembari berseru toya kepala setannya melancarkan serangan-serangan mematikan secara bertubi-tubi, begitu dahsyat ancaman itu ibaratnya angin puyuh dan hujan badai.
Sebetulnya Hoa Thian-hong tak tega membunuh orang tanpa alasan yang tertentu, tapi berhubung dia kuatir kalau sampai Giok Teng Hujin tertangkap, maka dia menyerang dengan tangan besi, bukan saja dahsyat dalam serangan, cara membunuhpun dilakukan sangat keji, hampir saja dia tercengang sendiri oleh kekejaman sendiri.
Menunggu Kiu-im Kaucu sudah nekad dan menyerang dia dengan taruhkan nyawa, dia baru merasakan keadaan yang tidak menguntungkan, terpaksa dia putar untuk melayani serangan musuh, sementara ingatan untuk kabur terlintas dalam benaknya.
Sreeeet!
Sreeet!
Secara beruntun anak buah perkumpulan Kiu-im-kauw pada terjun kedalam air, malahan Pia Leng-cu yang sedang menderita luka parahpun dibawah serta terjun ke sungai.
Hoa Thian-hong merasa gugup bercampur gelisah, dari keadaan itu dia dapat menduga kalau orang-orang Kiu-imkauw bermaksud melubangi didalam air.
Dalam gugupnya mendadak ia lihat diatas perahu sebelah kiri masih terdapat beberapa orang yang belum sempat terjun kesungai, pedang bajanya segera diayun berulang kali kemuka memaksa mundur Kiu-im Kaucu, Kemudian secepat sambaran kilat dia menyambar keperahu sebelah kiri dan menangkap salah seorang diantaranya.
Bingung dan tak habis mengerti melintas dalam benak Kiuim Kaucu, ia tak tahu apa gunanya Hoa Thian-hong mengempit seorang anak buahnya, secepat kilat dia menerjang kembali ke arah anak muda itu sambil melepaskan serangan-serangan berantai.
Dengan cekatan Hoa Thian-hong menyingkir kesamping, dalam waktu singkat dia sudah melayang dua kaki lebih, sekali loncat dia melayang pula kesisi sebelah kiri, semua gerakgeriknya dilakukan dengan kecepatan laksana sambaran kilat.
Kiu-im Kaucu merasa gugup bercampur gusar, hampir saja dia kalap, bentaknya dengan marah.
"Hoa Thian-hong, kau seorang pria sejati atau bukan? Bukannya bertempur, engkau hendak kabur kemana?"
Sekali loncat, ia menubruk ke arah mana pemuda itu kabur. Hoa Thian-hong mendengus dingin.
"Hemm! Perkataanmu tak dapat dipercaya, aku tak sudi masuk perangkap lagi!"
Sambil berkata dia sudah kabur keujung perahu dan loncat kembali keatas perahu sebelah kanan.
Amarah yang berkobar dalam dada Kiu-im Kaucu benarbenar sukar dikendalikan lagi, dia ikut menerjang kesitu.
Rupanya Hoa Thian-hong memang sengaja mempermainkan musuh, melihat perempuan itu mengejar tiba, cepat dia kabur lagi keburitan perahu tersebut.
Begitulah dalam waktu singkat kedua orang itu saling ber kejar-kejaran diatas ketiga buah perahu itu, yang satu kabur yang lain mengejar, lama kelamaan Kiu-im Kaucu berhasil mendekati lawannya.
Ini disebabkan Hoa Thian-hong harus mengempit seseorang dibawah ketiaknya, dia memang lihay dan berilmu tinggi, kalau di bandingkan musuhnya lari pemuda ini jauh lebih cepat, seandainya kejadian ini berlangsung ditanah datar, mungkin sudah tadi-tadi ia sudah jauh meninggalkan musuhnya dibelakang.
Benturan keras menggelegar tiada hentinya dari dasar perahu, menyusul timbulnya beberapa buah lubang diatas perahu tadi, air sungai mulai mengalir masuk keatas geladak dan menggenanggi seluruh ruangan perahu.
Diam-diam Kiu-im Kaucu menyeringai seram, sambil melakukan pengejaran yang ketat, ia berteriak nyaring.
"Hoa Thian-hong, apa maksudmu mengempit seorang anak buahku?"
Kalau toh harus mati, sedikit banyak aku musti cari kembali modalku....!"
Sahut Hoa Thian-hong cepat. Mendengar perkataan itu, Kiu-im Kaucu teryawa terbahakbahak.
"Haahh.... haahh.... haahh.... anak murid perkumpulan kami banyak sekali jumlahnya, kalau punya kegembiraan hayo bunuh saja mereka sampai habis....!"
Hoa Thian-hong mendengus dingin, tiba-tiba ia menerjang ketepi perahu, kemudian orang yang berada dibawah ketiaknya langsung dilempar kedepan dengan keras, menyusul mana dia ikut melayang kedepan....
0000O0000 KIU-IM KAUCU jadi sangat terperanjat, cepat ia menerjang keujung perahu, tapi sayang sudah terlambat, pemuda itu telah melayang jauh ke arah depan, melihat itu sambil mendebrak kakinya diatas lantai perahu teriaknya setengah menjerit.
"Orang she Hoa! Aku bersumpah tak akan hidup tersama kau...."
Sementara itu orang-orang yang berada dalam sungai sama-sama menjerit kaget, tapi diantara mereka yang berotak cerdas cepat putar badan dan cepat-cepat berenang menuju ke arah pantai dengan melawan gulungan ombak yang besar.
Hca Thian-hong yang melayang ditengah udara bergerak enteng ke arah depan, ketika daya luncurnya menjadi lemah dan tubuhnya melayang kembali kebawah, kebetulan orang yang dilempar lebih dahulu kedepan itu berada dibawah kakinya, ia segera menggunakan punggung orang itu sebagai batu injakan, sekali menjejak tahu-tahu ia sudah meluncur kembali kedepan untuk kedua kalinya.
Loncatan yang pertama ia berhasil melampaui jarak sejauh enam kaki, kemudian dalam loncatan yang kedua ia mencapai jarak empat kaki delapan depa, ketika masin berada ditengah udara, ia selipkan kembali pedang bajanya ke arah pinggang.
Kemudian dikala badannya meluncur kebawah dengan cepat hingga tampaknya pemuda itu segera akan tercebur kedalam sungai, tiba-tiba kaki kanannya menjejak kembali diatas telapak atas kaki kirinya, sepasang telapak tangannya mendayung kebelakang lalu ditekan ke arah bawah, dengan kerahkan ilmu meringankan tubuh menaik keawan lewat tangga, suatu kepandaian ginkang tingkat tinggi, sekali lagi badannya meluncur kemuka untuk ketiga kalinya.
Dari balik tanggul di tepi pantai tiba-tiba loncat keluar Pek Kun-gie, tatkala menyaksikan kelihayan kekasihnya dia segera berte puk tangan sambil bersorak.
"Horee.... bagus.... bagus.... Thian-hong,kau memang hebat, aduuhh mak!"
Pujian itu diakhiri dengan suatu jeritan kaget.
Walaupun secara beruntun Hoa Thian-hong sudah tiga kali mengganti napas dan mencapai permukaan sungai seluas empat lima belas kaki, akan tetapi jarak dari perahu sampai daratan ada dua puluh kaki jauhnya, kendati ilmu meringankan tubuhnya amat sempurna, tak urung dia kehabisan napas juga sehingga akhirnya toh ia tercebur pula kedalam sungai.
Pada waktu itu anak buah Kiu-im Kaucu tersebar ditengah sungai, mereka sedang menugggu sampai perahu itu tenggelam barulah saat itu serentak menyerbu maju untuk melawan mangsanya.
Siapa tahu Hoa Thian-hong telah keluarkan ilmu simpanannya yang lihay hingga jauh meninggalkan lawanlawannya, menanti kawanan jago dari Kiu-im Kaucu berdatangan ketempat kejadian, pemuda itu sudah mencapai tepi daratan.
Pek Kun-gie sangat gembira, dengan muka berseri dia lari ketepi sungai dan mengulurkan tangannya kebawah sambil berseru.
"Hayo cepat naik, hayo cepat naik, mereka sudah makin mendekat, hati-hati, tuh lihat! Mereka sudah sampai dibelakangmu...."
Sekalipun ilmu berenang milik Hoa Thian-hong tidak begitu bagus, akan tetapi untuk berenang dalam jarak selebar lima enam kaki bukan merupakan suatu pekerjaan yang terlalu menyulitkan, dalam sekejap mata ia sudah mencapai tepi pantai dan diseret naik keatas daratan oleh Pek Kun-gie.
Begitu naik keatas darat, gadis itu segera menarik tangannya untuk diajak kabur dari situ.
"Jangan gugup, tak usah terburu nafsu, kita tunggu mereka sebentar....!"
Kata Hoa Thian-hong cepat.
Ia putar badan dan berdiri tegak, dengan sorot mata tajam di awasinya musuh-musuh yang tersebar ditengah sungai.
Pek Kun-gie gelisah sekali sambil mendepak-depakan kakinya kembali dia berseru.
"Hayo cepetan dikit, kita harus segera mencari pedang emas itu, hayo cepat! Kita bisa kena didahului mereka...."
Hoa Thian-hong tertawa geli menyaksikan kepanikan orang, sabutnya sambil tersenyum.
"Huuss! Jangan ribut dulu, memangnya kau anggap Pia Leng-cu suka berterus terang, ingat? Dia toh seorang hidung kerbau yang licik dan banyak akal setannya"
Tentu saja Pek Kun-gie tahu apa sebabnya pemuda itu tak mau pergi dari situ, seratus persen dia tentu sedang menguatirkan keselamatan Giok Teng Hujin, kontan saja dia jadi mendongkol dan berdiri dengan muka cemberut, cemberutnya cemberut masam.
Disar perempuan, kalau sudah cemburu memang sukar disembunyikan dalam hatinya, gadis itu tahu, bila Hoa Thianhong sedang penuju sesuatu, biar diseretpun percuma saja, terpaksa diapun tidak merengek lebih jauh.
Pada saat itulah seorang kakek tua bersenjatakan pedang pendek dari Kiu-im-kauw telah mencapai daratan, dengan cepat dia merangkak bangun dari dalam air dan siap loncat keatas tanggul.
Hoa Thian-hong segera maju sambil menggetarkan pedang bajanya, dia mengancam.
"Kau sudah bosan hidup yaa? Hayolah, kalau pingin pulang keakhirat.... silahkan naik ke darat!"
Sekilas rasa kaget dan ngeri meliputi paras kakek tua itu, cepat-cepat dia menyelam kembali kedalam air dan mundur dua kaki kebelakang, dengan termangu-mangu dia memandang ke arah daratan, untuk sesaat lamanya kakek tua itu tahu apa yang musti dilakukan Hoa Thian-hong alihkan kembali pandangan matanya jauh ketengah sungai, waktu itu dia lihat ada banyak orang sedang berenang menuju kehilir sungai, dia tahu kawanan jago itu sedang mencari Giok Teng Hujin untuk dibekuk, hatinya makin gelisih bercampur murung.
Dari perubahan wajah anak muda itu, Pek Kun-gie sendiripun dapat merasakan kalau kekasihnya sedang menguatirkan keselamatan Giok Teng Hujin, api cemburu membakar hatinya makin keras, pikirnya.
"Kalau dia tak mau pergi, apa salahnya kalau kutotok saja jalan darahnaya kemudian membawa dia kabur dari sini?"
Cepat dia ambil keputusan, jari tangannya diam-diam menyodok kedepan dan menotok jalan darah Hoa Thian-hong yang ada diarah pinggang.
Totokan tersebut sudah diarahkan secara tepat, bahkan berat ringannya serangan telah diperhitungkan masak-masak, siapa sangka anak muda itu cuma mengerutkan tubuhnya dan totokan tersebut sama Sekali tidak menunjukkan reaksi.
Pek Kun-gie semakin panik dan keki, akhirnya dia mendepakkan kakinya keatas tanah sambil mengomel.
"Baik.... baik.... kalau engkau tak mau pergi dari sini, jangan salahkan aku kalau jiwa Cu locianpwe, dewa yang suka pelancongan itu terancam bahaya, sekarang dia sedang bergerak melawan dua puluh orang jago lihay dari Kiu-im-kauw!"
Sekarang Hoa Thian-hong baru kaget, teriaknya.
"Kenapa tidak kau katakan sedari tadi?"
Cepat ia sambar tangan gadis itu dan kabur menuju ketengah dataran.
Pantai selatan sungai Hoang ho merupakan tanah gersang yang jarang ditanami pepohonaan, bukan saja tak ada persawahan disitupun jarang ada perumahan, pemandangan kealam bebas amat luas sekali Begitu mencapai keatas daratan, dari kejauhan Hoa Thianhong telah menyaksikan rombongan manusia sedang terlibat dalam suatu pertarungan sengit, ketika dihitung jumlahnya ternyata mencapai tiga empat puluh orang lebih.
Pemuda itu jadi panik, dia percepat larinya dan langsung bergerak menuju ketempat kejadian.
Menanti ia sudah hampir mendekati tempat kejadian, maka segala sesuatunya dapat terlihat jauh lebih jelas lagi.
Ternyata orang yang sedang terlibat dalam pertarungan itu terbagi menjadi dua tombongan, grup pertama terdiri dari Tiam cu istana neraka beserta kesepuluh orang anak buahnya dari Kiu-im-kauw, sedangkan grup kedua terdiri dari Kho Hong-bwee, Pek Soh-gie beserta belasan orang anak buahnya dari perkumpulan Sin-kie-pang, selain itu ditambah pula dengan dua orang jago lain, mereka adalah Cu Thong dewa yang suka pelancongan yang gemuk dan pendek serta Bong Pay yang baru saja sembuh dari luka parahnya.
Kho Hong-bwee masih tetap berdandan sebagai seorang Too koh (rahib) sambil putar pedang mustikanya ia sedang melangsungkan pertarungan sengit melawan tiamcu istana neraka.
Sedangkan sisanya, yang lain melangsungkan suatu pertarungan massal yang tak kalah serunya, diantara dua rombongan jumlah anak buah Kiu-im-kauw jauh lebih banyak beberapa orang.
Seng tongcu dari ruangan penerimaan anggota baru menggeletak ditepi gelanggang dalam keadaan jalan darah tertotok, empat orang anggota Kiu-im-kauw sedang berusaha untuk menolong Seng longcunya itu, tapi Dewa yang suka pelancongan Cu Thong selalu menghalangi jalan pergi mereka dengan kebutan kakinya.
Pertarungan ini berjalan sangat kocak dan penuh dihiasi oleh suara tertawa haha hihi yang nyaring.
Ketika Hoa Thian-hong mencapai tempat kejadian, dari kejahuan Cu Thong telah berseru.
"Hey anak Seng, baik-baik bukan dirimu?"
"Orang tua, engkau sendiri juga baik-baik bukan? sapa Hoa Thian-hong pula sambil tertawa. Dengan muka berseri-seri Pek Kun-gie menarik tangan anak muda itu untuk mendekati gelanggang pertarungan, serunya dengan bersemangat.
"Hayo kita cepat-cepat bereskan kawanan manusia itu, kemudian berangkat ke kota Lok yang untuk mencari pedang emas!"
Hoa Thian-hong tersenyum.
"Boleh saja kalau ingin ambil pedang emas, aku cuma kuatir kalau pengakuan dari Pia Leng-cu tidak jujur, kalau kita sampai kecele dan menubruk tempat kosong, idiih! Malu sekali aaah, kita bisa ditertawa kan orang-orang Kiu-im-kauw!"
Aaah, perduli bagaimana nantinya, sekarang pokoknya kita musti labrak begundal-begundal dari Kiu-im-kauw ini lebih dahulu sampai babak belur, mumpung harimau betina yang galak itu belum sampai disini, lumayan toh kalau kita bisa hadiahkan beberapa buah bogem mentah ditubuh mereka?"
Hoa Thian-hong tertawa geli sewaktu mendengar Pek Kungie mengistilahkan Kiu-im Kaucu sebagai Harimau betina, sebetulnya dia mau maju untuk melabrak musuhnya, tiba-tiba ia lihat Bong Pay sedang bertarung dengan Pek Soh-gie mendampingi disamping nya.
Serangan jari maupun telapak tangan dari Bong Pay lihay sekali, angin serangannya dahsyat dan mengerikan, setiap Pek Soh-gie temui bahaya dia segera maju menolong.
Satu ingatan cepat terlintas dalam benaknya, dia berpikir.
"Bong toako memang gagah dan ganteng dia paling cocok kalau dijodohkan dengan nona gede dari keluarga Pek, bila dua orang itu bisa berpasang, waah! Mereka merupakan sepasang sejoli yang paling cocok, aaah! Lebih baik aku tak usah maju, biar mereka bertarung agak lamaan secara berduaan!"
Pek Kun-gie tak tahu jalan pikiran kekasihnya, melihat pemuda itu batal untuk maju ia jadi keheranan, segera tanyanya dengan hati gelisah.
"Eeh, kenapa kau? kita tidak segera melabrak mereka, kalau sampai pasukan besar musuh tiba disini, kitalah yang bakal konyol!"
"Sstt! Jangan ribut dulu"
Bisik Hoa Thian-hong sambil tersenyum.
"kalau kau gembar gembor begitu, konsentrasi yang lagi tertolong pasti akan buyar!"
Kemudian sambil menuding kedepan, bisiknya lagi.
"Coba kau lihat ilmu pedang ibamu, Huuh! Kalau dibandingkan dengan kepandaianmu.... waaah! sejaripun kau tak menampil...."
"Hmm! Aku tak mau ambil perduli, pokoknya asal lebih hebat dari Chi Wan Hong, binimu itu, aku sudah puas!"
Jawab Pek Kun-gie dengan bibir dicibirkan.
Hoa Thian-hong tertawa, ia merasa tidak leluasa untuk menanggapi lebih jauh maka pemuda itu lantas membungkam.
Seperti teringat akan sesuatu tiba-tiba sikap Pek Kun-gie berubah jadi gelisah bercampur panik.
Setelah putar biji matanya kesana kemari gadis itu langsung kabur kemuka sambil berseru.
"Thianhong, hayo cepatan dikit, kalau terlambat kuatirnya tidak keburu lagi!"
Dalam waktu singkat dia sudah kabur sejauh puluhan kaki dari tempat semula.
Hoa Thian-hong sama sekali tidak beranjak dari tempat semula, dia kuatir pertarungan seru itu diganggu oleh kehadiran Kiu-im Kaucu beserta anak buahnya, kalau sampai jago lihay itu muncul disana dan dia sedang pergi, siapa lagi yang mampu menghadapi kelihayannya?
Tiba-tiba terdengar Kho Hong-bwee berseru dengan cemas.
"Hoa kongcu, cepatlah kejar dia, aku kuatir budak itu sudah teringat oleh suatu urusan penting kalau tidak ia tak akan segugup dan segelisah itu!"
Hoa Thian-hong selain menghormati watak Kho Hongbwee, selama ini dia pandang perempuan itu sebagai angkatan yang lebih tua, tentu saja ia merasa tak enak hati untuk menampik permohonannya, terpaksa dia kabur mengejar ke arah mana Pek Kun-gie lenyapkan diri.
Tiamcu istana neraka merasa amat terperanjat ketika diketahuinya arah yang ditempuh dua orang itu adalah kota Lok yang, dia segera berpikir dalam hati.
"Aduuh celaka! Kalau dililat arah mereka jelas kedua orang itu sedang kabur ke kota Lok yang untuk mencari pedang emas...."
Karena kuatir cepat dia loncat mundur dari gelanggang, sambil ulapkan tangannya ia berseru.
"Orang-orang dari Kiuim-kauw segera ikut aku. Begitu selesai berbicara dia segera mengejar ke arah Hoa Thian-hong berdua. Secara beruntun orang-orang dari Kiu-im-kauw mengundurkan diri dari gelanggang pertarungan dan menyusul dibelakang Tiamcu mereka. Kho Hong-bwee seria Cu Thong sekalian tentu saja tak mau ketinggalan, mereka ikut menyusul dibelakang orang-orang Kiu-im-kauw. Dengan begitu maka dalam waktu singkat tempat itu menjadi sunyi kembali, kecuali Seng longcu seorang yang masih menggeletak diatas tanah karena tidak mampu bergerak. Gerak tubuh Hoa Thian-hong sangat cepat bagaikan hembusan angin, sekejap kemudian dia sudah menyusul disamping Pek Kun-gie sambil menarik tangannya pemuda itu menegur.
"Eeh, apa-apaan kamu ini? Kenapa kau lari dengan muka gugup? Hayo bilang, permainan setan apa yang sedang kau lakukan?"
Pek Kun-gie tidak langsung menjawab, dia berpaling kebelakang, sewaktu dilihatnya para jago yang lain sedang menyusul dibela kangnya ibarat seekor naga panjang, dara cantik itu merasa gembira bercampur gelisah serunya lantang.
"Hayo kita kabur rada cepatan dikit, pokoknya kita harus jauh tinggalkan orang-orang dibelakang sana!"
"Ibumu dan encimu toh ikut dirombongan belakang, masa engkau juga akan tinggalkan mereka semua?"
Tegur sang anak muda keheranan.
"Tentu saja!"
Mendadak gadis itu merasa salah bicara, cepat ia membungkam dan mempercepat larinya kedepan. Bukan bertambah cepat, Hoa Thian-hong malahan semakin memperlambat gerak tubuhnya, ia mengomel.
"Aku mau bicara dengan Cu locianpwe serta Bong toako, kalau engkau tak mau terangkan dengan jelas, aku ogah untuk lari lagi."
"Engkau tak mau lari lagi?"
Seru Pek Kun-gie gelisah.
"baik, aku segera akan loncat kesungai, aku akan bunuh diri, aku akan tusuk perutku dengan pisau"
"Eeh.... kenapa musti begitu?"
Tegur Hoa Thian-hong tercengang.
"Kita tinggalkan dulu orang-orang itu, nanti akan kukatakan dengan sejujurnya!"
Ha Thian-hong benar-benar dibuat kehabisan akal, dengan perasaan apa boleh buat terpaksa dia mempercepat larinya kedepan.
Begitu dia kerahkan kepandaian saktinya dalam sekejap mata para pengejar dibelakang sudah ketinggalan jauh sekali.
Kurang lebih sepertanak nasi kemudian Pek Kun-gie baru terpaling kebelakang, ia lihat hanya tiamcu istana neraka serta Cu Thong dua orang saja yang masih mengguntil dikejauhan, sedang sisanya yang lain sama sekali tidak nampak batang hidungnya lagi.
Bicara sebenarnya, ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Kho Hong-bwee termasuk sangat lihay, malah jauh diatas kepandaian tiamcu dari istana neraka maupun Cu Thong, akan tetapi dia ada maksud untuk memberi kesempatan bagi putrinya untuk jalan bersama Hoa Thian-hong, karenanya ia sama sekali tidak mengejar dengan sepenuh tenaga.
Sebaliknya orang-orang yang lain telah kerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya, sampai seluruh badan telah basah kuyup oleh air keringat namun mereka masih tetap ketinggalan jauh sekali.
Sementara itu Hoa Thian-hong telah menemukan pula keanehan yang menyelimuti wajah Pek Kun-gie, dia merasa amat tercengang sehingga tanpa terasa tegurnya.
"Ada urusan apa toh? Kok kau kelihatan begitu gembira?"
Pek Kun-gie tertawa cekikikan.
"Kita lari dipaling depan, itu beratti pedang emas tersebut sudah pasti akan terjatuh ketangan kita"
"Aku tidak percaya kalau engkau gembira karena soal ini, Hayo cepat mengaku terus terang! Kalau tidak awas kalau kulemparkan tubuhmu kedalam sungai"
Pek Kun-gie semakin geli hingga tertawa mengikik.
"Hmm Apa takutnya beritahu kepadamu? Aku bukan orang bodoh, bukankah engkau selalu paksa aku untuk pulang kerumah? Nah sekarang ibuku sudah datang, kalau aku tidak cepat-cepat kabur memangnya aku harus menunggu sampai diseret pulang olehnya?"
"Haahh.... haahhh.... haahh.... rupanya karena soal itu, tapi kalau kau bergelandangan terus diluar...."
"Sampai matipun aku tak mau pulang, pokoknya kalau kau paksa aku untuk pulang kerumah, berarti kauingin aku cepat mampus tukas sang dara dengan cepat. Setelah tertawa cekikikan, ia melanjutkan.
"Sekalipun sudah pulang ke gunung, kau toh masih bisa ngeloyor keluar!"
Pokoknya aku akan ikut terus disampingmu, kau lari ke timur ikut ke timur, kau naik langit aku ikut kelangit, itu namanya kalau sudah jodoh kemana tak akan lari lagi, Mengerti?"
Hoa Thian-hong tersenyum dihatinya dia berpikir.
"Nasibnya memang jauh lebih beruntung daripada Ku Ing-ing, dia masih punya rumah, masih ada ayah ibu dan saudara, lain sebaliknya Ing ing telah menjadi penghianat dari Kiu-im-kauw, dia harus buron te rus dengan hidup bersembunyi, dunia begini luas, kemana dia akan mencari tempat berteduh?"
Teringat sampai kesitu, rasa sedih dan murung kembali menyelimuti wajahnya, rasa gembira yang semula menghiasi wajahnya kontan tersapu lenyap hingga sama sekali tak berbekas.
Pek Kun-gie belum merasakan kesedihan anak muda itu, ia masih gembira dan berjoget dengan riang gembira, serunya lagi dengan setengah mengomel.
"Hayolah cepatan dikit larinya.... Ooh Lo Thian! Hayolah, cepatan dikit kalau lari"
"Kau tahu Kiu-im Kaucu masih ada dibelakang, kalau orang orang kita dibelakang sampai ketemu dengannya, mungkin jiwa mereka akan terancam, aku lihat lebih baik kita balik kesana sambil periksa keadaan mereka, setuju bukan?"
Mula-mula Pek Kui Gie agak kaget, menyusul mana sambil tertawa sahutnya.
"Ooh, jangan kuatir, makin cepat kita kabur ke arah kota Lok yang, Kiu-im Kaucu akan semakin gelisah dan dia akan mengejar semakin kencang, sekalipun ibu tak dapat menangkan dia, belum tentu beliau akan dikalahkan dalam waktu singkat, saat ini pikiran dari Kiu-im Kaucu telah melayang keatas pedang emas itu, dia pasti akan kerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk mengejar kita, tak mungkin dia akan mencari kesulitan buat diri sendiri, percaya tidak?"
Hoa Thian-hong berpikir sebentar, dia merasa apa yang diuraikan dara itu memang sangat masuk diakal, maka segera pikirnya.
"Keadaan dari Ing ing jauh lebih berbahaya, kalau begitu akan kuusahakan untuk peroleh pedang emas itu kemudian baru mengajak Kiu-im Kaucu untuk berunding secara baik-baik, mungkin dengan imbalan pedang emas tersebut dia bersedia untuk menyelesaikan persoalan ini secara baik-baik...."
Setelah mengambil keputusan didalam hati, cepat dia kerahkan segenap kemampuannya untuk mengerahkan ilmu meringankan tubuh tingkat tingginya sambil menarik tangan Pek Kun-gie bagaikan hembusan angin puyuh mereka kabur menuju ke kota Lok yang.
Kurang lebih dua tiga jam kemudian sampailah mereka dikota Lok yang, waktu itu malam sudah menjelang lagi, cahaya lampu menerangi setiap rumah penduduk didalam kota, ketika masuk ke kota kebetulan hujan sedarg turun dengan derasnya.
Hoa Thian-hong segera menarik Pek Kue Gie untuk berteduh dibawah emper rumah orang, katanya.
"Hayolah kita cari sebuah rumah makan untuk berteduh dari hujan deras ini, sementara kau bersantap, aku akan mencari pedang emas itu, asal ketemu aku segera akan menyusul!"
"Tidak, aku tidak mau, kita harus berada bersama-sama,"
Jawab Pek Kun-gie sambil membereskan rambutnya yang kusut, dia hembuskan napas panjang.
Kemudian tanpa banyak bicara Pek Kun-gie meneruskan perjalanan diteagah bujan deras.
Menyaksikan kenekatan dara itu, Hoa Thian-hong tidak bisa berbuat apa-apa lagi kecuali mengikuti dibelakangnya.
Sesaat kemudian mereka sudah tiba didepan rumah penginapan Ciat-seng, sambil menuding jendela loteng dari kedai penjual obat itu Pek Kun-gie berkata, Diatas loteng itulah gudang penyimpanan obat yang dimaksudkan imam sekarat itu.
"Ikuti aku!"
Seru Hoa Thiaa Hong cepat"
"Eeeh.... tunggu sebentar!"
Tiba-tiba Pek Kun-gie berseru, seraya berkata dia lari masuk kedalam kedai obat itu dan memesan sejenis benda.
Setelah gadis itu muncul kembali, Hoa Thian-hong baru bertanya dengan keheranan.
Eeeh, apa-apaan kau ini?
"Pinjam korek api, engkau membawa bahan untuk obor bukan?"
Sahut Pek Kun-gie.
Hoa Thian-hong menggeleng sambil tertawa, dia berputar ke arah kiri, dari situ sambil menggandeng tangan Pek Kun-gie loncat naik keatas loteng kecil itu, setelah membuka jendelanya mereka menyusup masuk kedalam ruangan itu.
"Tutup jendela itu rapat-rapat"
Bisik Pek Kun-gie, aku akan mencari pedang emas itu se-mentara engkau jaga didepan jendela, jangan beri kesempatan kepada lawan untuk masuk kesini!"
Hoa Thian-hong segera tutup pintu jendela dan berjaga disa mpingnya, sementara Pek Kun-gie telah memasang api dan memilih sebuah batang ranting obat yang mudah terbakar, dengan rating itu Sebagai obor ia serahkan kepada sang pemuda untuk memegangnya, sedang dia sendiri dengan badan basah kuyup mulai mencari pedang emas tersebut disekitar ruangan loteng itu.
Pek Kun-gie adalah seorang jagoan dunia persilatan, dalam soal menggeledah atau melakukan pencarian harta pusaka sudah terlalu hapal dan berpengalaman, setelah memeriksa sekejap sekitar situ dia lantas loncat naik keatas belandar rumah, ia periksa dengan seksama setiap bagian ruangan yang mungkin bisa dipakai untuk menyembunyi kan pedang itu, malahan atap maupun celah celah dinding pun diperiksa dengan seksama, namun pedang emas tersebut sama sekali tidak ditemukan.
Perlu diketahui, ranting yang digunakan sebagai bahan obor itu adalah sejenis bahan obat, karena terbakar maka timbullah asap yang tebal, dan asap itu segera menggumpal didalam seluruh ruangan berhubung tiadanyva celah sebagai penyaluran, maka dalam waktu singkat ruangan itu sudah berbau bahan obat yang sangat tebal.
Mencium ban obat-obatan itu Hoa Thian-hong segera berkata sambil tertawa geli.
"Waaaduuh.... obat-obatan apaan ini? Kalau termasuk bahan obat yang mahal harganya, sayang toh kalau dibakar dengan begitu saja "
Memangnya aku juga tahu? Tanya saja sama binimu!"
Sambung Pek Kun-gie cepat.
Sambil melayang turun keatas tanah, gadis itu mulai pindahi bahan-bahan obatan tersebut dan menggeledah seputar ruangan itu.
Perlahan-lahan Hoa Thian-hong menghampiri kesamping Pek Kun-gie, dia angkat tinggi-tinggi obor tersebut agar sinar penerangan jauh le bih tajam, ketika dilihatnya pakaian dara iiu basah kuyup oleh air hujan dan tubuhnya sekarang basah pula oleh keringat, ia jadi dibikin sangat terharu.
"Istirahatlah dulu"
Bisiknya dengan lembut.
"aku akan menggan tikanmu untuk menggeledak disekitar tempat ini!"
"Ruangan ini penuh dengan debu, kotornya bukan kepalang, kau tak usah ikut, nanti kotor tanganmu!"
Setelah tertawa manis, sambungnya kembali.
"Pia Leng-cu memang seorang telur busuk sialan, setelah menotok jalan darah pingsanku, dia telah menaruh badanku dibawah tumpukan bahan obat-obatan itu, ketika kusadar dari pingsan terasa pandangan mataku jadi sangat gelap, diatas badan masih tertumpuk oleh bahan rumput-rumputan kering Hiih....! Waktu itu aku menyangka sudah mampus dan nyawaku sudah ada di akhirat."
"Imam tua itu memang patut dibenci tapi patut juga dikasihani"
Hoa Thian-hong menanggapi.
"ibu jarinya sudah ditusuk oleh sebatang paku beracun yang ganas, jika jalan darahnya dibebaskan maka jiwanya pasti akan melayang tinggalkan raganya!"
Daripada biarkan dia hidup sambil mencelakai orang dijagad, memang lebih enak kalau dibikin mampus saja, hidang kerbau sialan itu seorang telur busuk besar sekalipun dicincang tubuhnya juga pantas.
Gadis itu berhenti sebentar, kemudian melanjutkan.
"Kenapa toh kakinya kok jadi pincang??"
"Oooh dia kena digigit oleh Soat-ji rase salju milik Giok Teng Hujin!"
"Dan mukanya yang bengkak? Apa engkau yang tampar mukanya dengan tangan?"
"Ooh bukan, aku menyemburnya dengan semburan arak!"
"Semburan arak?"
Pek Kun-gie, tiba-tiba membelalakan matanya lebar-lebar. Tiba-tiba dia membanting sedikit bahan obat yang ada dicekalannya keatas lantai, kemudian sambil mencak-mencak karena mendongkol teriaknya.
"Bagus, bagus sekali, orang sedang berada dimulut harus, mampuspun tak berkesempatan, engkau malahan cari kesenangan dengan temani perempuan lain minum arak, macam apakah kamu itu? Oooh puas sungguh puas yaa?? Hatimu busuk, tak nyana hatimu kejam, aku.... aku akan adu jiwa dengan kau"
Hoa Thian-hong tertawa santai, bisiknya.
"Eeh.... eehhh.... jangan berteriak-teriak begitu, nanti tauke yang punya warung obat naik kemari lho!"
"Tidak ambil perduli, pokoknya aku mau teriak, aku.... aku mau teriak yang keras...."
Jerit Pek Kun-gie makin menjadi.
Cepat Hoa Thian-hong menutupi mulutnya dengan tangan, sebelum dia melakukan tindakan lain, tiba-tiba jendela dihajar orang sampai terbentang lebar, menyusul Kiu-im Kaucu dengan suatu sergapan kilat menerjang masuk kedalam ruang loteng itu, begitu tajam sambaran anginnya sehingga memadamkan obor yang berada ditangan anakmuda itu.
Sekejap mata ruang loteng jadi gelap gulita hingga sukar melihat kelima jari tangan sendiri.
Hoa Thian-hong sangat terkejut, cepat ia cabut pedang bajanya dan berdiri dihadapan Pek Kun-gie untuk menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.
Tiba-tiba Pek Kun-gie bertepuk tangan sambil berteriak kegirangan.
"Hooree.... keracunan! Dia mulai keracunan! Hayo, roboh kau, roboh kau sekarang.... mampus kau!"
Sewaktu menerjang masuk kedalam ruang loteng, Kiu-im Kaucu memang sudah mencium sejenis bau obat-obatan yang sangat aneh sekali, mulai detik itu hatinya sudah curiga dia kuatir kalau kena dipecundangi oleh akal busuk Hoa Thianhong.
Dan kini setelah mendengar seruan yang tiba-tiba diutarakan Pek Kun-gie, kecurigaan semakin menjadi, dengan hati berdebar karena ketakutan cepat ia jejakkan kaki kelantai dan meluncur keluar dari ruangan tersebut, peluh dingin telah mengucur keluar membasahi tubuhnya.
Pek Kun-gie tertawa mengikik karena geli, cepat ia menuju ketepi jendela dan melongok kebawah.
Ditengah hujan sangat deras, tampaklah Kiu-im Kaucu berdiri kaku di tengah jalan raya, tubuhnya sama sekali tak berkutik barang sekejappun, kesadaannya persis seperti sebuah patung arca.
Dari sikapnya itu jelas ia sedang kerahkan hawa murninya untuk mengusir, hawa racun yang mengeram dalam tubuhnya.
Kembali gadis itu tertawa mengikik, serunya dengan lancang.
"Hey Kiu-im Kaucu, engkau sudah terkena racun jinsom dari bukit Tiam Pek san, lebih baik cepatlah pulang kerumah untuk persiapkan segala urusan yang terakhir, kalau tidak kau pilih peti mati buat diri sendiri, takutnya mayatmu akan diberikan anjing!"
"Sett....! jangan ribut terus"
Bisik Hoa Thian-hong.
"memangnya sedang ada diruma h sendiri"? Kaok-kaok terus persis seperti burung gagak"
Pek Kun-gie tertawa cekikikan, ia tidak bicara lagi.
Sementara itu dari kejauhan telah meluncur datang beberapa sosok bayangan manusia, orang yang tiba dulu adalah seorang To koh berbadan kecil langsing, dia tak lain adalah Kho Hong-bwee ibunya Pek Kun-gie, dibelakangnya menyusul dia orang yaitu Tiamcu istana neraka dari Kiu-imkauw serta Dewa yang suka pelancongan Cu Thong.
Sesaat kemudian dari belakang sana baru menyusul datang Kek Thian-tok, itu tongcu pelatih teknis dari Kiu-im-kauw sambil mengempit tubuh Pia Leng-cu.
Melihat gerak tubuh sang lawan yang begitu cepat dan cekatan walaupun sedang mengempit seseorang, dalam hati Pek Kun-gie dan Hoa Thian-hong merasa amat terperanjat.
Kek Thian-tok adalah seorang tongcu pelatih teknis yang bertanggung jawab dalam soal memberi latihan ilmu silat kepada para anggota, darimana anak buah Kiu-im-kauw pandai ilmu meringankan tubuh dan langkah dewa pemabuk luan ngo beng mi sian tun hoat kalau bukan belajar dari kepala pelatih teknisnya ini?
Anak buahnya saja sudah begitu lihay, apalagi Kek Thiantok sebagai pengajarnya, sudah tentu berlipat ganda kelihayannya dari yang lain, malahan kalau dibandingkan dengan Kiu-im Kaucu sendiri, boleh dibilang dalam soal ilmu meringankan tubuh dia tak kalah jauh.
Setelah beberapa orang itu sampai ditempat tujuan, mereka menghembuskan napas panjang untuk menyegarkan kembali dadanya yang turun naik.
Dengan memakai kipasnya untuk menahan air hujan, Dewa yang suka pelancongan Cu Thong menengadah keatas loreng, lalu teriaknya dengan suara nyating.
"Seng ji, kalian lagi apaapaan? Permainan setan apa lagi yang telah kamu siapkan? Aaah.... gara-gara kamu, hampir saja napasku jadi putus ditengah jalan, untuug tak sampai mampus!"
Mendengar teguran itu cepat Hoa Thian-hong melayang turun kebawah, sahutnya sambil tersenyum.
"Boapwe memang rada sinting sehingga bikin susah kau orang tua saja, harap cianpwe tak usah marah lagi!"
Kemudian ia memberi hormat kepada Kho Hong-bwee sambil menyapa.
"Hujini baik-baik bukan selama ini?"
Kho Hong-bwee, tertawa, sambil balas hormat sahutnya.
"Kongcu tak usah banyak adat, bagaimana dengan kesehatan ibumu?"
Dipihak lain, Kiu-im Kaucu sudah merasa kalau dirinya tertipu, ia periksa seluruh tubuhnya dengan teliti tapi tak ada tanda-tanda ke racunan, maka sambil melototkan sepasang matanya dengan pandangan tajam, bentaknya penuh kegusaran.
"Hoa Thian-hong! Serahkan pedang emas itu kepadaku"
Pek Kun-gie melayang turun dari atas loteng, sambil berdiri disisi Hoa Thian-hong, ejeknya.
"Lucu amat kamu ini! Memangnya kami hutang pedang emas atau pedang perak kepadamu?"
Baru saja perkataan itu selesai diutarakan keluar, mendadak dari kegelapan meluncur keluar sesosok bayangan hitam langsung menerjang ke arah Kek Thian-tok. Imam bajingan, serahkan jiwa anjing mu!"
Bentaknya.
Begitu mencapai sasaran, serentetan cahaya perak meluncur dari tangannya dan lenyap dihadapan....
Kek Thian-tok sangat terkejut, cepat dia putar badan sambil menyingkir beberapa kaki kesamping, bentaknya dengan gusar.
"Siapa kau?"
Dengan terkejut semua orang berpaling ditengah hujan yang amat deras, berdirilah seorang pemuda bermuka sedih ditengah jalan, dia tak lain adalah Haputule satu-satunya murid It kiam kay Tionggoan ( Pedang yang menggetarkan daratan Tionggoan ) Siang Tang lay yang masih hidup.
Sementara itu sebilah pedang perak yang panjangnya beberapa depa telah menancap diatas punggung Pia Leng-cu langsung tembus hingga gagang pedangnya.
Kek Thian-tok kaget bercampur gusar, ia periksa pernapasan Pia Leng-ci ternyata imam tua itu sudah menghembuskan napasnya yang penghabisan.
Dalam cemas bercampur marahnya tanpa menunggu perintah dari kaucunya lagi, ia lempar mayat Pia Leng-cu keatas tanah, sambil membentak sebuah pukulan dahsyat dilancarkan ke arah Haputule.
"Saudaraku, hati-hati! Hoa Thian-hong memperingatkan. Haputule geserkan sepasang kakinya dan berkelit dari serangan tersebut, dengan manis ia lolos dari ancaman. Kek Thian-tok semakin naik darah, sebagai seorang tongcu dari Kiu-im-kauw dia merasa kehilangan muka setelah tawanan yang berada ditangannya dibunuh orang dihadapan umum tanpa mampu dicegah olehnya, bahkan tawanan tersebut adalah seorang tawanan yang penting sekali artinya. Dalam gusar dan malunya, ia lancarkan sergapan hebat dengan maksud merobohkan lawannya, siapa tahu serangan itu meleset dari sasaran, hal ini semakin menggusarkan hatinya, cepat dia memburu kemuka sambil mengirim lagi sebuah pukulan maut. Hoa Thian-hong cepat melayang kemuka dan cabut keluar pedang pendek yang menancap dipunggung Pia Leng-cu, sambil dilemparkan kedepan, serunya.
"Saudaraku, sambut pedangmu itu!"
Criit!
Diiringi desiran tajam yang memekikan telinga, serentetan cahaya perak langsung meluncur ke arah punggung Kek Thian-tok.
Serangan yang dilancarkan Hoa Thian-hong ini sangat kuat dan mengerikan, mendengar desiran tajam mengancam punggungnya, dengan ketakutan Kek Thian-tok mengguling kesamping untuk menghindar, dengan begitu pedang pendek tadi menyambar lewat dari atas kepala Kek Thian-tok langsung meluncur ke arah dada Haputule.
Pedang pendek itu masih meluncur lewat dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, desiran yang tajam amat memekikan telinga melihat pedang itu meluncur dengan sisa ke kuatan yang cukup hebat, Haputule tak berani menyambut dengan tangannya, terpaksa dia melangkah setindak kesamping untuk menghindarkan diri.
Siapa sangka Hoa Thian-hong menyambit pedahg itu dengan memakai sejenis kepandaian Toa buan keng (tenaga pantulan seperti bumerang) yang sangat aneh tapi hebat, begitu meluncur sampai dihadapan Haputule tiba-tiba pedang itu tidak melaju kembali kedepan melainkan malah sama sekali berhenti sedetik kemudian lewat sesaat lagi baru melaju untuk kedua kali.
Melihat keanehan tersebut, Haputule agak tertegun menyusul mana cepat ia sambar gagang senjatanya.
Kemarahan yeng berkobar dalam dada Kek Thian-tok makin menjadi, walaupun Haputule telah bersenjata, namun ia sama sekali tidak ragu untuk menyerang sekali lagi, tubuhnya menerjang kedepan sembari mele paskan sebuah pukulan, Haputule angkuh dan tidak takut mati, sekalipun serangan musuh amat dahsyat ia sama sekali tak sudi berkelit sambil menerjang pula kedepan, pedangnya langsung melepaskan sebuah bacokan kilat.
Dalam waktu singkat kedua orang itu terlibat dalam suatu pertarungan yang amat sengit dibawah curahan hujan deras.
Perlu diketahui Kek Thian-tok adalah seorang tongcu yang bertugas melatih ilmu silat anak murid Kiu-im-kauw, dasar ilmu silat yang dia miliki tentu saja sangat luar biasa sekali.
Bicara yang sebenarnya selama Pia Leng-cu berada dibawah kempitannya, tak mungkin bagi Haputule untuk membinasakan tawanan tersebut, sayang pada waktu itu hujan sedang turun dengan derasnya, pemandangan diseputar sana jadi kabur dan kurang jelas, suara hujan mengganggu pendengaran, dan lagi Kiu-im Kaucu sedang berbicara dengan Hoa Thian-hong sehingga perhatian semua orang tertuju kepada dua orang itu, oleh karenanya sergapan Haputule dapat bersarang dengan jitu.
Jangankan Kek Thian-tok tidak mampu menghindari, andaikata Kiu-im kaucu yang menghadapi sendiri kejadian itu belum tentu ia dapat selamatkan tawanannya.
Sebagai murid kesayangan dari Siang Tang lay, dasar kepandaian yang dimiliki Haputule cukup tangguh, bukanlah suatu pekerjaan yang gampang bagi Kek Thian-tok untuk merobohtan pemuda itu.
Ditengah pertarungan, Kek Thian-tok selalu bergerak ibaratnya sukma gentayangan, dia selalu menempel didepan Haputule sambil melepaskan serangan-serangan kilat yang gencar, semua ancaman ditujukan ke arah bagian-bagian yang mematikan dari lawannya.
Dengan demikian posisi Haputule selalu dipaksakan berada diatas angin dia cuma menangkis dan tak mampu membalas, walauPun begitu permainan pedang pendeknya tangguh sekali, aneh dalam serangan ampuh dalam sergapan terutama sekali senjata pendek macam begitu memang paling cocok untuk melangsungkan pertarungan jarak dekat, karenanya untuk beberapa saat Kek Thian-tok sendiripun tak mampu berbuat apa-apa atas dirinya.
Setelah mengikuti sebentar jalannya pertarungan itu, Hoa Thian-hong tahu bahwa tenaga dalam yang dimiliki Haputule sangat terbatas, bila pertarungan itu dilangsungkan agak lama maka akhirnya dia pasti menderita kekalahan.
Diam-diam ia lanÃas bersiap sedia, asal rekannya itu menemui bahaya maka dia akan segera memberikan bantuannya.
Mendadak ia temukan kalau Kiu-im Kaucu sendiripun sedang mengincar dari sudut lain, dia tahu kalau dirinya menerjang maju niscaya perempuan itu pun akan menghalangi gerakannya, merasakan betapa gawatnya suasana, cepat dia memberi kisikan kepada Cu Thong dengan ilmu menyampaikan suaranya.
"Diantara enam orang murid Siang locianpwe ada lima diantaranya telah mati dalam keadaan mengenaskan, kini tinggal Haputule seorang yang masih hidup, kita harus lindungi keselamatan jiwanya dari bahaya, sebab kalau tidak maka kita akan malu terhadap arwah Siang locianpwe yang ada dialam baka, nanti kalau sampai Haputule menjum-pai mara bahaya, tolong kau orang tua memberikan pertolongannya, sedang boanpwe akan menandingi Kiu-im Kaucu!"
Dewa yang suka pelancongan Cu Thong segera mengangguk, dengan sorot mata yang tajam dia awasi pertarungan yang sedang berlangsung ditengah gelanggang, sementara mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.
Kiu-im Kaucu sendiri merasa gusar bercampur mendongkol, dia mengira pedang emas itu sudah jatuh ketangan Hoa Thian-hong, kalau sampai demikian maka berarti pula kitab Kiam keng sudah merupakan benda dalam saku anak muda itu.
Otaknya segera berputar keras untuk mencari akal guna mengatasi masalah tersebut, namun diapun sadar betapa minimnya kekuatan yang tersedia baginya waktu itu, dari pihak Kiu-im-kauw kecuali dia sendiri hanya Kek Thian-tok serta tiamcu istana neraka saja yang hadir disana.
Sebaliknya dari pihak lawan hadir pula Hoa Thian-hong, Cu Thong serta Kho Hong-bwee yang mampu menandingi kekuatan mereka bertiga, padahal disitu masih hadir pula Pek Kun-gie serta Haputule, walaupun ilmu silat kedua orang ini biasa-biasa saja akan tetapi cukup memberi angin bagi lawannya untuk melakukan perlawan.
Dalam posisi yang begini menguntungkan, mungkinkah Hoa Thian-hong bersedia untuk serahkan pedang itu kepadanya?
Sekalipan otaknya sudah diperas habis-habisan namun perempuan ini gagal untuk menemukan sesuatu cara yang bagus, tapi ia bertekad tak akan lepaskan Hoa Thian-hong dengan begitu saja.
Akhirnya ia berhasil menemukan suatu akal bagus, dengan ilmu menyampaikan suaranya ia lantas berbisik kepada Tiamcu istana neraka yang berada disampingnya.
"Aku akan mengunci keparat she Hoa tersebut disini, sedang kau cepat tinggalkan tempat ini dan kumpulkan segenap kekuatan yang kita miliki untuk bekuk Bun Siau-ih sampai dapat, cepat berangkat!"
Dengan sorot mata yang tajam tiamcu istana neraka menyapu sekejap pihak lawan, kemudian dengan mengerahkan pula ilmu menyampaikan suara jawabnya dengan ragu-ragu.
"Tapi.... pihak musuh jauh lebih banyak jumlahnya, kaucu...."
"Asal orang she Hoa itu mempelajari isi kitab Kiam keng, maka selama hidup tiada harapan lagi bagi Kiu-im-kauw untuk tampil didepan umum"
Teriak Kiu-im Kaucu dengan gusar.
"hayo cepat pergi, tak usah ragu-ragu dalam tindakan, gunakan segala cara yang bisa dilakukan untuk bekuk orang itu, ingat! yang penting adalah tujuan kita tercapai"
Tiamcu istana neraka tak berani banyak bicara lagi, dia segera putar badan dan kabur dari situ.
Pek Kun-gie dapat menyaksikan tingkah laku musuh yang merugikan, cepat dia mendorong tubuh Hoa Thian-hong seraya berseru.
"Cepat hadang jalan perginya!"
"Memangnya kenapa?! tanya sang anak muda keheranan.
"Dia pergi cari bala bantuan!"
Tiba-tiba dara itu merasa jalan pikirannya belum tentu benar, cepat ujarnya lagi.
"Yang jelas dia pasti melakukan suatu perbuatan yang merugikan kita jangan biarkan dia pergi!"
"Kita toh tak mungkin membasmi musuh sampai seakarakarnya, biarkan saja dia pergi dari sana!"
Pek Kun-gie jadi mencak-mencak karena gelisah, dia ingin mengejar ssndiri tapi saat itu bayangan tubuh dari tiamcu istana neraka sudah lenyap dari pandangan mata.
Kho Hong-bwee dapat menyaksikan pula tingkah laku putrinya, dengan hati berkerut ia segera betpikir, Dihari-hari biasa budak ini selalu bertindak terbuka, tenang dan sangat berwibawa, kenapa sekarang jadi begitu ribut dan mencakmencak melulu seperti monyet?
Heran!"
Tiba-tiba dari gelanggang pertempuran terdengar Kek Thian-tok membentak keras, telapak tangannya dibalik dan langsung menghajar ke arah dada Haputule.
Baca Juga: Pedang Wucisan 2
Baca Juga: Anak Rajawali 4