Eps 9 Tiga Maha Besar - Khu Lung
Baca online Tiga Maha Besar - Khu Lung
Cersil Tiga Maha Besar - Khu Lung.
Pukulan itu sangat cepat dan luar biasa bebatnya, Haputule yang masib muda dan cetek dalam tenaga dalam jadi kelabakan setengah mati, setelah melayani musuhnya sebanyak tiga puluh gebrakan dia sudah kehabisan tenaga hingga jadi lemah, tampaknya serangan tersebut segera akan bersarang di atas tubuhnya.
Dewa yang suka pelancongan Cu Thong sudah bersiap sedia sedari tadi, melihat Haputule terancam bahaya, cepat ia menerjang kemuka sambil berseru lantang.
"Setan tua, lihat serangan!"
Kipasnya yang besar disertai desiran angin pukulan yang tajam langsung menyergap keatas punggung Kek Thian-tok.
Desiran angin pukulan itu tidak terlalu gencar, tapi lingkaran yang diancam amat luas sekali.
Kek Thian-tok jadi terperanjat, dalam hati pikirnya.
"Ilmu pukulan apaan ini? Kenapa angin serangannya begitu lembut dan dingin?"
Tentu saja dia tak berani menyambut dengan kekerasan, cepat tubuhnya berkelit ke samping dan menghindar sejauh beberapa kaki dari tempat kedudukan semula.
Dewa yang suka pelancongan sendiri rada kaget juga melihat kegesitan musuhnya, sam il tertawa tergelak dia goyang-goyangkan kipasnya sembari mengejek.
"Itulah pukulan telapak raksasa, sayang belum mencapai kesempurnaan, harap kau setan tua jangan mentertawakan!"
Kegusaran yang berkobar dalam dada Kek Thian-tok susah dikendalikan lagi, dia segera membentak keras dan sekali lagi mener-jang kemuka Gerakan tubuh musuhh cepat ibaratnya hembusan angin puyuh, diam-diam Dewa yang suka pelancongan merasa terperanjat, namun diluaran sambil tertawa tergelak serunya.
"Hey setan tua, sebutkan dulu siapa namamu, aku dewa gede tak pernah membunuh seorang prajurit tanpa nama!"
"Aku adalah Kek Thian-tok, tongcu dalam bidang latihan teknis!"
"Oooh, rupanya setan tua itu, kenapa dia bisa menggabungkan diri dengan Kiu-im-kauw?"
Pikir Dewa yang suka pelancongan agak heran. Sekalipun dalam hati berpikir demikian diluaran ia berkata lagi sambil tertawa.
"Oooh engkau adalah tongcu bagian kematian? Huuh, seorang prajurit tak bernama kalau begitu, aku dewa gede paling muak melihat orang macam kau, nyawamu tak bisa diampuni lagi!"
Kipasnya dikebut kemuka kemudian dialihkan ketangan kiri, sementara telapak tangan kanannya dengan memakai gerakan Menyerang sampai mati dari Ci yu cit ciat (tujuh kupasan dari Ci yu) langsung menyerang kedada lawan.
Ilmu pukulan kuno ini sangat aneh sekali gerakannya, walaupun sasarannya disebelah kiri namun arah yang diserang ternyata kanan.
Ditengah hujan deras yang amat ramai itu, pendengaran maupun penglihatan jago She Kek itu banyak berkurang, hampir saja ia kena diselomot oleh serangan maut itu.
Untung ilmu langkah Loan ngo heng mi sian tun hoatnya sudah mencapai puncak kesempurnaan, dalam detik terakhir dia masih sempat untuk menghindar kesamping.
Pek Kua Gie yang mengikuti jalannya pertarungan itu dari samping arena segera tertawa cekikikan karena geli.
Hoa Thian-hongpun tersenyum lirih, hanya Kiu-im Kaucu seorang yang makin mendongkol dibuatnya, rasa gusar bercampur rasa benci yang berkobar dalam dadanya membangkitkan hawa nafsu membunuhnya yang tebal.
Antara Hoa Thian-hong dengan Kiu-im Kaucu memang terdapat perbedaan yang menyolok dalam soal perangai, kalau si anak muda itu berjiwa besar, terbuka dan tidak mendendam sebaliknya ketua dari Kiu-im-kauw itu berjiwa sempit, gampang tersinggung dan besar sekati rata dendamnya.
Baik pendiriannya, dia hanya boleh menang perang dan tak boleh menelan kekalahan, kalau menang tampangnya jadi gembira dan sikapnya sok terbuka, tapi begitu menderita kalah, iasa benci dan dendamnya melipat ganda, ia bersumpah akan membalas dendam dengan kekejaman sepuluh kali lipat dari yang diterima.
Walaupun begitu, perempuan tersebut termasuk seorang jago yang berotak panjang, dia pandai menyimpan perasaan dikala situasi tidak menguntungkan pihaknya, namun dalam kenyataan benih rasa benci yang bersemayam dalam hatinya diam-diam tubuh jadi besar, makin tenang dia bersikap makin menghebat rasa benci yang tertanam dalam hatinya.
Sayang Hoa Thian-hong tidak merasakan hal itu, ia tak tahu kalau mara bahaya yang sangat besar telah siap menanti dirinya.
Sementara itu pertarungan antara Kek Thian-tok dengan dewa yang suka pelancongan telah berjalan enam puluh gebrakan, tiba-tiba hujan berhenti dan udara menjadi cerah kembali, rembulan muncul jauh di awang-awang.
Jilid 23 .
Ibu Pek Kun Gie, Kho Hong-bwee SETELAH udara cerah kembali, pertarungan yang berlangsung antara kedua orang itu berjalan semakin gencar dan seru, tampaknya dewa yang suka pelancongan sudah terdesak dibawah angin, hal ini memaksa dia untuk menarik kembali sikap main-mainnya.
Cepat kipasnya diselipkan keatas punggung kemudian sepasang telapak tangannya berputar kencang untuk menolong keadaannya yang telah terdesak.
Beberapa lembar kitab catatan Ci yu jit ciat itu mula-mula didapatkan oleh dewa yang suka pelancongan, kemudian diserahkaa kepada Hoa Thian-hong, setelah pemuda itu melatihnya kemudian diserahkan kepada ibunya dan Hoa Hujin mewariskan pula kepada Bong Pay.
Oleh karena itu ketiga jurus serangan menyerang sampai mati itu termasuk pula serangan mematikan yang paling diandalkan oleh Cu Thong.
Ilmu pedang yang dimiliki Hoa Thian-hong sangat tinggi, kepandaian tersebut menutupi ilmu silatnya yang lain, selain itu berhubung ketiga jurus serangan tersebut terlalu sadis dan pasti mencabut nyawa korbannya bila terkena, maka jarang sekaili pemuda itu memakainya dalam setiap pertarungan.
Disamping itu perangai Hoa Thian-hong memang rada berbeda, karena itu selama digunakan oleh pemuda itu, ilmu Ci yu jit ciat tersebut mempunyai sifat yarg sama sekali berbeda pula.
Lain halnya dengan Cu Thong, setiap tusukan maupun babatan telapak tangannya semua mengandung nafsu membunuh yang sangat tebal, andaikata musuh yang dihadapinya tidak memiliki kepandaian silat yang sangat tangguh, tentu mereka akan berusaha menyingkir sejauhjauhnya.
Dalam waktu singkat, kedua orang itu sudah saling bertarung sebanyak empat puluh gebrakan lebih, setiap serangan Kek Thian-tok selalu merebut posisi yang lebih menguntungkan namun setiap kali juga kena dipaksa mundur kembali oleh pukulan maut Cu Thong.
Dengan demikian posisi untuk sesaat berlangsung dalam keadaan seimbang, walau begitu ilmu langkah Loan ngo heng mi sian tun hoat dari orang she Kek ini memang sangat lihay, berulang kali Cu Thong berusaha merobohkan musuhnya namun selalu gagal, kalau ditinjau dari keadaan itu tampak nya kedua belah pihak sama-sama sulit untuk saling merobohkan.
Setelah beberapa saat mengikuti jalannya pertarungan itu, tiba-tiba Pek Kun-gie berbisik kepada Hoa Thian-hong.
"Sekarang tentunya engkau tahu bukan, apa sebabnya setiap anggota perkumpulan Kiu-im-kauw diwajiban untuk melatih ilmu langkah itu?"
Hoa Thian-hong menghela napas panjang.
"Aaaii.... ilmu langkah tersebut mengandung gerakan ngo heng yang amat rumit dan kacau, im yang dibolak balik jadi tak karuan memang manfaatnya luar biasa sekali, paling sedikit kalau mereka telah menguasai ilmu langkah tersebut, jika bertarung digelanggang tidak sampai dibikin menderita kalah secara menyedihkan"
Pek Kun-gie melirik sekejap ke arah pemuda itu lalu mengomel.
"Huuh! Aku baru saja ngomong sekecap, tapi kau cuat-cuit terus ngomong setumpuk!"
"Baik, baik, kalau begitu, silahkan engkau yang berbicara!"
Pek Kun-gie tertawa, katanya kemudian.
"Ilmu langkah tersebut mengandung gerakan Ngo heng yang amat rumit dan kacau, im yang dibolak balik jadi tak karuan, memang manfaatnya luar biasa sekali, paling sedikit kalau mereka telah menguasai ilmu langkah tersebut, jika bertarung digelanggang tidak sampai terkalahkan!"
Hoa Thian-hong berdiri melongo dengan mata terbelalak lebar, pikirnya dihati.
"Gimana sih bocah ini? Apa yang dia katakan sama persis menjiplak kata-kataku barusan? Lalu apa yang berbeda?"
Ia sudah menggerakkan bibirnya seperti mau mengucapkan sesuatu, tapi dia takut gadis itu malu kalau ditegur didepan umum, maka akhirnya niat itu dibatalkan.
Tiba-tiba terdengar dewa yang suka pelancongan berseru dari tengah gelanggang.
"Setan tua she Kek, sedari kapan engkau menggabungkan diri dengan pengumpulan Kiu-imkauw?"
Aku adalah bawahan lama dari kaucu yang lalu, tua bangka!
Kalau mau berkentut kenapa tidak sekalian dikeluarkan?
ejek Kek Thian-tok dengan ketus.
Pek Kun-gie segera menutupi hidungnya sambil menimbrung dari samping.
"Waah.... bau apaan ini, aduuh baunya luar biasa! Pasti setan tua itu yang sedang kentut bau!"
Hoa Thian-hong tersenyum melihat kebinalan gadis itu, cepat bisiknya dengan lirih.
"Jangan ngaco belo terus, coba lihat biji mata Kiu-im Kaucu yang liar terus-terusan ditujukan ke arahmu, kau musti hati-hati menjaga diri, jangan sampat kena dibekuk batang lehernya oleh dia!"
Pek Kun-gie merasa sangat bangga sambil bersandar dibahu anak muda itu, sahutnya.
"Dia selalu berharap agar aku bisa menjadi muridnya, Hmm! Kalau engkau berani tinggalkan aku lagi, aku segera akan menggabungkan diri dengan Kiu-im-kauw, aku akan bunuh orang, bakar rumah, pokoknya khusus melakukan perbuatan-perbuatan jahat"
Hoa Thian-hong tertawa santai, dia alihkan perhatiannya untuk mendengarkan pembicaraan dari Co Thong.
Sapa sangka dewa yang suka pelacongan jadi segan bertanya lagi setelah dikacau oleh Pek Kun-gie.
Perkumpulan Kin im kau adalah suatu organisasi yang amat rahasia, tiga puluh tahun berselang mereka pernah bikin onar dan kekacauan dalam dunia persilatan, tetapi berhubung gerak-gerik mereka teramat rahasia dan tak pernah melakukan perbuatannya secara terbuka maka asal usul dari para anggotanya jarang diketahui oleh khalayak umum.
Dalam kemunculannya kembali dalam dunia persilatan kali ini, Kiu-im Kaucu berkeyakinan untut menguasai seantero jagat dan merebut kursi kebesaran sebagai pemimpin Bu lim, karena keyakinan itulah maka dia munculkan diri dalam pertemuan besar Kian ciau tay hwe secara terang-terangan.
Tujuannya sengaja adalah menaklukkan seluruh kekuatan persilatan yang hadir disana, siapa tahu Hoa Thian-hong telah tampil kedepan untuk menguasai ketenangan dan kesetabilan dalam dunia persilatan, dalam keadaan begitu maka keadaan dan Kiu-im Kaucu ibaratnya menunggang diatas pungguag harimau, tetap begitu susah mau turun tak mungkin, terpaksalah dia lanjutkan pertikaiannya melawan Hoa Thianhong.
Dewa vang suka pelancongan Cu Thong pernah mendengar nama Kek Thian-tok di masa silam, hanya keterangan mengenai orang ini tidak begitu jelas dan lagi tidak begitu mengetahui tentang asal usul perguruannya, setelah pertarungan berlangsung seru, beberapa kali dia hendak memancing lawan nya untuk mencari tahu asal usul orang she Kek ini, sayang pertarungan telah berlangsung amat sengit, tenaga untuk bicarapun ngotot, maka diapun batalkan keinginannya itu.
Kek Thian-tok sendiri diam-diam merasa gusar bercampur mendongkol setelah gagal untuk rebut kemenangan dalam waktu singkat, tiba-tiba ia menerjang kemuka sambil melancarkan serangan, gerakan itu sangat berbahaya namun hebat, secara beruntun dia lepaskan delapan buah serangan berantai yang gencar.
Kedelapan buah serangan itu rata-rata berkemampuan sangat tinggi dengan disertai desiran tajam yang memekikkan telinga, gerak tubuh Cu Thong bagaimanapun juga tak sanggup menandingi kecepatan lawan nya, dia selalu terlambat dalam melepaskan pukulan, lama-kelamaan posisinya makin terdesak dibawah angin.
Ketika kedelapan buah serangan itu dapat dipunahkan dengan susah payah gerak tubuhnya sudah makin lamban, walaupun ketiga jurus serangan dari Ci yu jit ciat masih berpengaruh besar, namun ia tak mampu menggunakannya dengan jitu.
Melihat keadaan musuhnya yang mulai payah, Kek Thiantok merasa kegirangan, dia mendengus dan tiba-tiba berputar kebelakang tubuh Cu Thong, sambil ayun telapak tangannya kedepan, hardiknya.
"Kena!"
Dewa yang yang suka pelancongan merasa tercekat ia tahu tak mungkin untuk menghindar dalam keadaan begini, dalam situasi demikian cepat dia sambut datangnya serangan tersebut dengan jurus Si gou bong gwat (Badak memandang rembulan).
Posisi Cu Thong sangat tidak menguntungkan, tangkisan yang dilakukan dalam keadaan tergesa-gesa ini kurang tangguh dalam posisi dan tenaga murni yang disalurkan tak mencapai lima bagian, jika keras lawan keras dilangsungkan niscaya dewa yang suka pelancongan yang akan menderita kerugian besar.
Tapi Kek Thian-tok tidak melanjutkan serangannya itu, ia percaya dengan kecepatan gerak tubuhnya dan yakin kemenangan berada ditangannya maka sedapat mungkin ia menghindari suatu penghamburan tenaga secara sia-sia, terutama sekali dari pihak lawan masih ada empat orang musuh yang siap menanti.
Karena itu dikala Cu Thong putar badan sambil menyambut ancaman tersebut, cepat ia gerakkan tubuhnya dan berputar kembali kebelakang lawan sambil barengi dengan sebuah pukulan.
Rasa kaget dan gusar berkecamuk dalam dada Cu Thong, tanpa berpikir panjang lagi dia putar badan sambil menyambut pula da tangnya ancaman tersebut.
Dalam gerakan ini Cu Thong dipaksa untuk menyambut ancaman tersebut dengan telapak tangan kirinya, sudah tentu kekuatan yang terpancar keluar jauh lebih lemah.
Tapi Kek Thian-tok Kembali menyia-nyiakan kesempatan baik itu, dia terlalu mengandalkan kecepatan gerak bedannya, sambil tertawa tergelak untuk ketiga kalinya dia menyelinap kebelakang punggung musuhnya.
Gerak tubuh ini boieh dibilang ibarat bayangan hitam tubuh sendiri, kemanapun dia berputar bayangan sendiri pasti akan mengikuti dibelakangnya, melihat kesemuanya itu tak urung paras muka Hoa Thian-hong, Kho Hong-bwee serta Pek Kungie berubah hebat.
Berulang kali Hoa Thian-hong ingin maju untuk menolong, tapi Kiu-im Kaucu telah menduga sampai kesitu, dengan muka menyeringai seram toya kepala setannya diangkat tinggi keudara, asal pemuda itu bergerak maka diapun akan barengi dengan sebuah sergapan.
Dari hubungan antara putrinya dengan Hoa Thian-hong, Kho Hong-bwee yakin kalau perkawinan diantara mereka berdua tak bisa dihindari, ia merasa kalau toh perkumpulan Sin-kie-pang rela di korbankan sebagai mas kawin, kenapa ia tidak jual pula gengsinya untuk membelai kawanan jago dari golongan putih?
Maka dengan cepat ia melayang maju ke depan sambil berseru.
"Kek tongcu, gerakan tubuhmu sangit indah, pinni mohon petunjuk darimu....!"
"Kho Hong-bwee!"
Bentak Kiu-im Kaucu dengan gusar.
"engkau mengerti akan peraturan Bu lim atau tidak?"
"Peraturan Bu lim apaan?"
Tanya Kho Hong-bwee pura-pura berlaga pilon.
Sedari tadi Kho Hong-bwee sudah merasa kurang enak untuk mencampuri pertempuan yang sedang berlangsung antara Cu Thong melawan Kek Thian-tok, apalagi di tegur secara terang-terangan oleh Kiu-im Kaucu, merah padam selembar wajahnya karena jengah.
Ia menghentikan gerak tubuhnya ditengah-tengah jalan dan ragu-ragu untuk dilanjutkan kembali.
Sementara itu Kek Thian-tok sudah merasakan gawatnya situasi, dia tahu asal Kho Hong-bwee terjun kedalam gelanggang maka kemenangan yang sudah pasti bakal diraih akan tersapu lenyap.
Dalam keadaan begini dia ambil keputusan untuk bertindak cepat, telapak tangannya segera ditekan kebawah melepaskan sebuah pukulan yang mematikan.
Kek Thian-tok memang bertindak cukup cerdas, ketika ia berputar mengikuti dibelakang punggung Cu Thong, serangan tersebut dilan-carkan tepat menunggu dikala lawannya terpaksa harus menangkis dengan tangan kirinya, dalam keadaan begini tenaga yang terpancar keluar dengan sendirinya akan lemah sekali.
Bila pukulan itu sampai bersarang dipunggung Cu Thong, niscaya isi perut jago tua itu akan hancur dan remuk.
Berbicara sesungguhnya, Dewa yang suka pelancongan hanya kalah dalam hal ilmu meringankan tubuh, sedang dalam kepandaian lain boleh dakata mereka seimbang.
Ketika merasakan datangnya desiran angin tajam dari belakang, ia segera menyadari kalau serangan tersebut tak mungkin bisa dihindari lagi, dalam bahaya ia menggertak gigi sambil putar badan, setelah melepaskan diri dari ancaman yang membahayakan jiwanya, ia sambut pukulan itu dengan keras lawan keras.
"Pleeetak....!"
Pukulan dahsyat dari Kek Thian-tok itu bersarang telat diatas bahu kiri Cu Thong, membuat tulang bahunya itu hancur berkeping-keping, dengan sempoyongan ia mundur enam langkah kebe-lakang sebelum akhirnya dapat berdiri tegak.
Cepat Haputule memburu kemuka dan memayang tubuh jago tua itu, Dewa yang suka pelancongan hanya tersenyum sambil gelengkan kepalanya, diam-diam dia menggepos tenaga untuk menekan golakan hawa darah dirongga dadanya, kemudian sambil melotot ke arah lawannya dia berseru.
"Tua bangka she Kek, kekalahan yang ku derita tidak terlalu penasaran, lain hari aku pasti akan mohon pentunjuk lagi darimu!"
"Setiap saat akan kulayaki keinginanmu"
Sahut Kek Thiantok sambil tertawa angkuh.
Sewaklu terjadi pertarungan sengit selama beberapa hari dalam pertemuan Kian ciau tay hwe tempo hari, banyak musnah di tangan Cu Thong sementara dia sendiri sama sekali tidak menderita luka barang sedikitpun.
Tapi ini hari hanya bertarung melawan Kek Thian-tok seorangpun, bahu kirinya kena dihajar sampai remuk hingga lengannya sudah pasti akan menjadi cacad, tak heran kalau Kek Thian-tok merasa amat bangga dengan keberhasilannya itu.
Walaupun begitu kejujuran serta sikap terbuka dari Cu Thong yang berani mengaku tentang kekalahannya jarang pula ditemui dalam dunia persilatan puluhan tahun terakhir, sedikit banyak mereka merasa kagum juga akan kebesaran jiwanya ini.
Terdengar Kek Thian-tok tertawa terbahak-bahak, serunya dengan suara lantang.
"Pek hujin, bukankah engkau akan memberi petunjuk kepadaku? Aku yang tak becus siap menantikan pelajaran darimu!"
Waktu itu Kho Hong-bwee sudah terlanjur maju, tentu saja ia tak dapat menolak tantangan musuhnya, ia lantas melirik sekejap ke arah kaki kanan Kek Thian-tok seraya berkata dengan hambar.
"Silahkan engkau gunakan senjata!"
"Hujin, ketajaman mata mu sungguh hebat!"
Puji Kek Thian-tok sambil tertawa. Dia lantas menyingkap kaos kakinya dan cabut keluar sebuah senjata penotok jalan darah yang berwarna kuning emas, Pek Kun-gie segera berpikir dihati.
"Ilmu langkah yang dimiliki orang ini sangat lihay dan sukar diikuti, kalau ibu terjun sendiri kegelanggaag hingga jatuh kecun-dang, waah.... suatu pengorbanan yang sama sekali tak ada harganya."
Berpikir sampai disitu ia segera cabut keluar pedang lemasnya dan melayang kedepan tapi diam-diam dia telah mencawil tubuh Hoa Thian-hong....
Melihat putrinya telah maju, Kho Hong-bwee mengerutkan dahinya rapat-rapat, dia segera menegur.
"Kun Gie, bayo mundur! ilmu silat yang dimiliki Kek tongcu sangat lihay, engkau bukan tandingannya!"
Sambil menghadang dihadapan ibunya, Pek Kun-gie menjawab.
"Ibu, betapa tinggi dan terhormatnya kedudukanmu, untuk melayani seorang tongcu jelek macam begitu, kenapa engkau musti turun tangan sendiri? Tak ada harganya untuk menodai tanganmu!"
Kemudian sambil berpaling ke arah Kek Thian-tok ujarnya dengan ketus.
"Ilmu langkahmu memang lumayan, aku akan ajak engkau untuk bertarung beberapa gebrakan!"
Pedang lemasnya langsung ditebas kedepan melepaskan sebuah babatan dahsyat. Dalam hati Kek Thian-tok kegirangan setengah mati, segera pikirnya dalam hati.
"Aaah.... rupanya Thian memang memberi suatu kesempatan yang baik bagiku untuk membekuk Pek Kun-gie, asal bocah perempuan ini dapat kubekuk maka dengan sendirinya Hoa Thian-hong akan serahkan pedang emas itu sebagai barang tukaran.... aku harus baik-baik manfaatkan peluang baik ini!"
Ketika dilihatnya Kho Hong-bwee tidak mundur, malahan cabut pedang pusakanya sambil berdiri ditepi gelanggang, ia lantas tahu maksud perempuan itu, tentunya dia bersiap sedia memberikan bantuannya jika Pek Kun-gie menemui bahaya.
Pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya, dia sadar bila serangannya gagal maka tiada kesempatan yang kedua untuk mengulangi kembali perbuatannya itu.
Maka dengan cepat dia mengegos kesamping untuk menghindari tebasan pedang lawan, bukannya melancarkan serangan balasan, dia malah menelikung tangan kanan sendiri yang mencekal senjata kebelakang punggung, sementara untuk melayani serangan musuh dia cuma memakai tangan kirinya belaka.
Dengan tindakannya itu maka Kho Hong-bwee jadi merasa tak enak hati kalau tetap bersiaga disitu, serta-merta dia ikut mundur kebelakang.
Pek Kun-gie mendongkol sekali menyaksikan perbuatan lawannya, dengan suara dingin ia berseru.
"Aku tidak percaya kalau engkau mampu menangkan pedang lemasku hanya mengandalkan tangan kiri!"
Kek Thian-tok segera menengadah dan tertawa terbahakbahak....
"Haahh.... haahh.... haahh.... sekalipun hanya mengandalkan tangan kiri, aku masih punya kemampuan yang lebih untuk merobohkan engkau, jika dalam tiga puluh gebrakan aku tak mampu menangkan dirimu, tangan kiri ini akan segera kutebas kutung!"
Bukannya mundur, sang badan malah menerjang maju kedepan, cepat tangan kirinya berkelebat kemuka mencekeram pergelangan tangan kanan Pek Kun-gie.
Gadis itu mendengus dingin, cepat dia putar pergelangan tangan kanannya dan secara beruntun melatcarkan tiga buah serangan berantai.
Ketiga jurus serangan tersebut kesemuanya merupakan jurus-jurus serangan paling top yang pernah dimilikinya, Kek Thian-tok ada has rat untuk menyelinap kebelakang punggungnya, akan tetapi setelah menyaksikan permainan pedang gadis itu ibaratnya burung merak yang memenangkan sayapnya, hingga jalan pergi dikedua belah sampingnya terkunci, dalam keadaan apa boleh buat terpaksa dia mundur kebelakang.
Secara beruntun dia mundur tiga langkah kebelakang, walaupun terdiri dari tiga langkah namun dalam kenyataan dilakukan hampir bersamaan waktunya, bahkan tidak terlalu jauh atau terlalu dekat, dia mundur tepat menghindari jangkauan dari ketiga buah bacokan berantai itu.
Walau begitu tubuhnya masih tetap berada dihadapan Pek Kue Gie, bukan saja sikapnya amat santai malahan sekulum senyuman terhias diujung bibirnya.
Setelah menghindari serangan terantai dari dara itu, tibatiba Kek Thian-tok tertawa tergelak, tangannya diputar dan diayun kemuka melancarkan sebuah pukulan gencar.
Serangan itu sepintas lalu kelihatan enteng dan sama sekali tiada sesuatu yang istimewa, dalam kenyataan terselip rangkaian perubahan yang sukar diraba sebelumnya, Kek Thian-tok yakin kalau Pek Kun-gie pasti akan terjerumus kedalam kepungannya, maka begitu pukulan dilepaskan tak kuasa lagi dia tertawa bangga.
Pek Kun-gie benar-benar tak dapat melihat keampunan dari serangan lawan, pedang le-masnya cepat berputar keatas, kemudian secepat kilat membabat perggelangan tangan musuh.
Kek Thian-tok jadi angkuh dan jumawa, ia menoleh kekiri kanan dengan santai, sementara sikutnya ditekuk, kemudian dengan dua jari tangannya ia menyodok kemuka menotok urat nadi pada pergelangan tangan Pek Kun-gie....
Cepat dan ganas perubahan serangan ini, bagaikan kena dipagut ular berbisa, cepat Pek Kun-gie menarik kembali tangannya dengan ketakutan.
"Kun Gie, hayo mundur!"
Bentak Kho Hong-bwee dengan cepat, ia sadar bila pertarungan dibiarkan berlangsung terus, niscaya putrinya akan menderita kekalahan.
Rupanya Hoa Thian-hong sendiri pun sudah tahu kalau Kek Thian-tok mengandung maksud tak baik, menyaksikan keadaan itu cepat ia melangkah maju kemuka.
"Heehh.... heehhh.... heehhh.... mau apa boleh mulai!"
Tegur Kiu-im Kaucu sambil tertawa seram, ia ikut melangkah setindak kedepan.
"kalau engkau merasa tanganmu sudah gatal, mari, akan kulayani keinginanmu itu...."
Pada hakekatnya semua kejadian itu berlangsung hampir bersamaan waktunya, belum habis serangan yang pertama Kek Thian-tok telah menyusulkan serangan berikutnya.
Terlihatlah ia putar perggelangan tangan, dari suatu gerak totokan mendadak berubah jadi kebasan, walaupun arah yang diancam masih tetap urat nadi dipergelangan tangan kanan Pek Kun-gie, akan tetapi kecepatannya lebih hebat dan serangan itupun kian ganas.
Betapa tercekatnya hati Pek Kun-gie menghadapi ancaman tersebut, cepat sepasang kakinya menjejak permukaan tanah dan melompat mundur kebelakang, maksudnya hendak menghindari ancaman maut tadi.
Siapa sangka Kek Thian-tok yang lihay sudah memperhitungkan sampai kasitu, walaupun tangan kanannya masih ditelikung ke belakang, tapi secara diam-diam ia selalu waspada dan mempersiapkan diri untuk menghadapi sergapan Kho Hong-bwee, sedangkan tangan kiri nya seperti ular lincah yang sedang menari, menyergap, menyerang tiada hentinya, dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya yang sempurna, bagaikan bayangan saja ia membuntuti terus kemana Pek Kun-gie pergi Tiba-tiba Haputule menyergap kedepan, setibanya dibelakang punggung Kek Thian-tok, ia putar pedang pendeknya dan langsung menusuk punggung jago lihay itu.
"Kek tongcu, hati-hati dengan sergapan!"
Cepat Kiu-im Kaucu memperingatkan dengan hati kaget.
Sudah sedari tadi Haputule mengincar musuhnya, sergapan yang dilancarkan secara mendadak ini boleh dibilang amat dahsyat ibaratnya gulungan ombak yang menghantam batu karang.
Betapa terperanjatnya Kek Thian-tok setelah mendengar peringatan dari kaucunya, ingatan kedua belum sempat terlintas, tahu-tahu segulung desingan angin pedang yang tajam telah menyergap punggungnya.
Uatung dia lihay dan berpengalaman luas, walaupun kaget dan gugup menghadapi sergapan maut tersebut, sempat juga ia keluarkan ilmu langkah Loan ngo heng mi sian tun hoatnya yang hebat itu, secepat petir ia mengegos ke samping.
"Traaang....!"
Ditengah suatu dentingan nyaring, senjata penotok jalan darah emas milik Kek Thian-tok serta pedang pendek milik Haputule berbareng terjatuh keatas tanah.
Cara menghindar yang dilakukan Kek Thian-tok boleh dibilang cepatnya bukan kepalang, akan tetapi Haputule sendiripun bukan seorang manusia biasa, terutama permainan pedang pendeknya boleh di kata memiliki suatu keistimewaan yang khusus.
Ketika ia merasa tusukan pedangnya meleset dan mengenai sasaran yang kosong, cepat telapak tangannya disodok kemuka, pedang pendeknya segera dilontarkan kemuka....
Kendatipun sambitan itu belum sanggup menembusi punggung Kek Thian-tok, akan tetapi sempat juga melukai pergelanaan tangan kirinya, sebuah mulut luka sedalam satu cun segera membekas pada pergelangan tangannya itu, untung tak sampai memutuskan urat nadinya.
Sekalipun begitu Kek Thian-tok jadi naik darah, sambil memegangi pergelaagan tangan kanannya yang terluka, ia melesat dua kaki jauhnya dari tempat semula lalu sambil menggertak gigi menahan emosi, teriaknya.
"Anjing cilik! Bila aku tak mampu membereskan selembar jiwa anjingmu, aku bersumpah tak akan hidup sebagai manusia!"
Sebagai seorang keturunan suka Fibulo, meskipun kecil usianya keberanian Haputule boleh dibilang melebihi siapapun, bukan jengah setelah mendengar ancaman itu, dia malahan maju untuk pungut kembali pedang pendeknya kemudian sekali ayun kakinya ia menyepak senjata milik Kek Thian-tok itu sampai mencelat jauh kedepan sana.
Dipihak lain, Hoa Thian-hong telah mengalihkan sorot matanya keatas wajah Kiu-im Kaucu, kemudian ujarnya.
"Kaucu, apakah engkau ada minat untuk melangsungkan suatu pertarungan sungguh-sungguh yang akan menentukan mati hidup kita berdua?"
"Heeeh.... heeeh.... heehh.... ku memang berhasrat untuk melangsungkan pertarungan semacam itu, cuma aku punya satu syarat!"
"Apa syaratmu itu?"
Tanya Hoa Thian-hong sambil tersenyum.
"Engkau benar-benar tak paham atau sudah tahu pura-pura bertanya lagi?"
Tegur Kiu-im Kaucu agak mendongkol. Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan.
"Kalau toh engkau merasa tak paham baiklah! Akan kujelaskan kepadamu, jika aku yang menang maka engkau harus serahkan pedang emas itu kepadaku, aku rasa syatar ini tidak terlalu memberatkan engkau bukan?"
"Bagaimana kalau kami yang menang?"
Sambang Pek Kungie secara tiba-tiba dengan nada mengejek. Kiu-im Kaucu tertawa dingin, ia tidak menggubris anak dara itu, sebaliknya kepada Hoa Thian-hong ujarnya lagi.
"Bila engkau yang menang, maka akan kubuka sangkar untuk melepaskan burung gereja yang tersekap didalamnya, persoalan tentang Ku Ing-ing yang berkhianat tidak akan ku teruskan lebih lanjut!"
"Wah.... tidak bisa, tidak bisa, syarat macam begitu cuma menguntungkan pihakmu saja!"
Teriak Pek Kun-gie dengan penasaran.
"memangnya apa sangkut paut antara mati hidup Ku Ing-ing dengan kami?"
"Budak ingusan, hayo tutup mulutmu!"
Bentak Kho Hongbwee dengan marah.
"urusan ini adalah urusan pribadi Hoa kongcu lebih baik kau tak usah turut campur!"
Sambil meleletkan lidahnya, Pek Kun-gie segera tutup mulut dan tak berani komentar lagi. Sementara itu, Hoa Thian-hong sedang berpikir dihatinya.
"Kiu-im Kaucu pasti tak akan percaya kalau kuterangkan bahwa pedang emas itu belum kutemukan, padahal Pia Lengcu sudah mampus.... waah! Kalau pedang emas itu tak berada dalam loteng kecil itu, akulah yang bakalan menjadi sasaran!"
Berpikir sampai disitu, dia lantas mengangkat pedang baja yang berada ditangannya seraya berkata dengan serius.
"Baiklah, bila kaucu yang menang maka pedang baja ini segera kuserahkan kepadamu sebaliknya kalau beruntang aku yang menang aku harap kaucu aegera membebaskan Ku Inging dari segala tuduhan."
"Waah tidak adil!"
Teriak Pek Kun-gie lagi.
"Sekalipun tidak adil, apa daya kita?"
Sahut Hoa Thian-hong sambil tersenyum.
"Lhoo apa maksudmu?"
Hoa Thian-hong tertawa.
"Jika aku sampai kalah, jangan toh senjata ini tak mampu kulindungi, bahkan nyawa pun ikut melayang, sebaliknya kalau aku yang beruntung menang, kecuali memohon kebebasan buat Ku Ing-ing, apalagi yang bisa kita mintakan?"
"Kalau kita yang menang, kenapa tidak suruh kecoak tua itu gorok leber untuk bunuh diri?"
Seru Pek Kun-gie sambil menuding ke arah Kiu-im Kaucu yang langsung melotot gusar sehabis mendengar perkataan itu. Hoa Thian-hong tertawa geli.
"Aaah, kamu masih muda dan tidak akan mengerti urusan, kalau cuma syarat-syarat kecil saja yang kua ajukan, mungkin kaucu yang terhormat ini sanggup untuk mengabulkan, tapi kalau kita pertaruhkan selembar jiwanya.... waah, paling banter toh cuma omong kosong belaka, akhirnya juga tak mungkin terwujud!"
Sepasang alis mata Kiu-im Kaucu kontan berkernyit, dengan marah ia berteriak.
"Hey, bocah keparat! Berdasarkan apa engkau berani mengatakan begitu dihadapan ku?"
Hoa Thian-hong tersenyum.
"Sebatang Leng-ci betusia seribu tahun yang jelas milik pribadi Ku Ing-ing, ternyata kaucu sudi-sudinya menipu kami dengan mengatakan benda itu milik kaucu.... Huuh. Cukup ditinjau dari perbuatanmu ini, dapat kutarik kesimpulan sampai dimanakah karakter dan akhlak dari kaucu?"
Kontan Kiu-im Kaucu tertawa dingin tiada hentinya.
"Bocah keparat, engkau jangan omong sembarangan yaa! Engkau tahu, setiap nyawa dari anggota Kiu-im-kauw telah menjadi milikku pribadi, apalagi barang-barang milik mereka! Hmm.... peraturan macam begini bukan dimulai sejak aku memegang tampuk pimpinan, sekarang hayo kita buktikan, pengetahuan siapa yang picik dan jalan pikiran siapa yang benar?!"
"Penjelasan macam begitu rasanya terlelu dipaksakan, tapi untuk diakal juga....!"
Pikir pemuda itu dihati. Dengan paras muka serius dia lantas berkata.
"Baiklah, kita tak usah ribut-ribut terus, akan kuturuti syarat yang kau ajukan itu. Nah, sekarang harap kaucu suka memilih seorang saksi yang akan bertindak sebagai juri dalam pertarungan ini!"
Pek Kun-gie penasaran karena dianggapnya pertaruhan semacam itu sangat tidak adil, disamping itu diapun tahu bahwa Hoa Thian-hong tidak mempunyai keyakinan untuk menangkan pertarungan itu, berbicara sesungguhnya ia tidak mengharapkan terjadinya pertarungan macam ttu.
Tapi dara itupun merasa tak berdaya untuk menghalangi niat si anak muda tersebut, dalam bingungnya tiba-tiba ia mendengar perkataan tadi, dengan wajah berseri dia lantas tampil kedepan seraya berseru.
"Hitunglah aku sebagai salah semang jurinya!"
Kiu-im Kaucu mengerling sekejap ke arah Pek Kun-gie, sebelum mengucapkan sesuatu, mendadak ia berpaling ke arah lain seraya menghardik.
"Siapa yang berada disitu? Hayo pada keluar....!"
Rupanya dibalik dinding rumah telah bersembunyi beberapa orang, cuma orang-orang itu berilmu tinggi maka selain Hoa Thian-hong dan Kiu-im Kaucu, tak ada yang mengetahuinya.
Setelah Kiu-im Kaucu menegur, barulah semua orang alihkan pandangan matanya ke arah mana, empat orang jago silat perlahan-lahan munculkan diri dari balik sebuah loteng sempit disisi kiri mereka.
Keempat orang itu mengenakan jubah panjang berwarna kuning dengan rambut digulung menjadi satu seperti potongan kaum tosu, ujung bajunya mencapai pergelangan tangan hingga sekilas pandangan mirip dengan jubah kaum pendeta, hanya badannya bagian dada mereka dibiarkan terbakar sehingga tampaklah dadanya yang bidang dan berotot....
Sepatu mereka terbuat dari kain dengan kaus putih setinggi lutut, pada pinggang masing-masing terikat sesuatu tali pinggang yang cukup lebar dan menyolok.
Dandanan dari keempat orang itu persis satu sama lainnya, satu-satunya yang berbeda hanyalah warna ikat pinggangnya belaka.
Orang pertama yang berjalan dipaling depan adalah seorang kakek bermuka merah padam, ikat pinggang yang dikenakan berbentuk seekor naga yang terbuat dari emas, naga emas tersebut panjangnya sembilan depa dengan bentuk kepala selebar cawan arak, badannya kecil tipis sejari kelingking dengan sisik emas yang amat hidup, walaupun tubuhnya panjang seperti tali tapi cakar, sisik maupun jarinya terukir sangat hidup, sekilas pandangan orang akan mengira benda itu sebagai seekor naga yang betul-betul hidup.
Kalau tiga orang yang berjalan didepan berpotongan jelek dengan hidung yang mekar seperti sapi, bibir tebal dan bertampang kriminil, maka orang keempat yang ada dibelakang masih sangat muda dengan bibir yang merah, gigi yang putih dan wajah yang tampan, cuma sayang matanya memancarkan hawa nafsu membunuh yang tebal sehingga membuat tak sedap orang yang memandang.
Dengan langkah yang tebar keempat orang itu keluar dari tempat persembunyiannya dan menuju ke tengah gelanggang.
Kakek tua yang berjalan dipaling depan bertangan kosong, orang kedua membawa sebuah hiolo yang memancarkan sinar merah darah, asap tipis masih mengepul keluar dari balik hiolo tadi, walaupun sedang berjalan namun asap tipis itu tetap mengepul lurus ke angkasa, membuat siapapun yang memandang jadi tercengang dan keheranan.
Bukan begitu saja, bahkan dari balik hiolo itu terdengarlah serentetan suara yang aneh, seakan-akan terdapat berpuluhpuluh ekor makhluk berbisa sedang merangkak.
Ketika empat orang itu berjalan menuju ketengah gelanggang, mula-mula sepasang mata Pek Kun-gie memandang sebuah sabuk naga emas yang dikenakan kakek paling depan dengan pandangan tertegun, kemudian ketika sinar matanya beralih kewajah pemuda berwajah tampan yang ada dipaling belakang, tak tahan lagi ia menjerit kaget.
Hoa Thian-hong tertegun dan alihkan pula sorot matanya kedepan, dengan cepat dia kenali pemuda itu sebagai Kok See-piauw, murid Bu-liang Sinkun yang pernah dikenalnya sedari dulu.
Sementara itu, semua orang telah menduga bahwa kawanan jago berjubah kuning ini adalah orang-orang Mokauw dari Seng sut hay, cuma mereka sama-sama tercengang ketika dilihatnya Kok See-piauw berada satu rombongan dengan orang-orang itu, sebab sepengetahuannya pemuda itu bukanlah anak murid dari Mo-kauw.
Setibanya ditengah gelanggang, dengan jelalatan kakek tua itu menyapu sekejap paras muka setiap orang yang hadir disitu, kemudian tertawa terkekeh kekeh.
"Haaah.... haaah.... haahh.... bukankah ada orang hendak adu kepan-daian silat? Biarlah aku yang menjadi saksi, tanggung aku bertindak dengan seadil-adilnyanya dan tidak sampai berat sebelah"
Sementara pembicaraan masih berlangsung, orang yang membawa hiolo merah darah itu sudah tiba di tengah gelanggang, dia letakkan hiolo tersebut persis di tengahtengah yang memisahkan Kiu-im Kaucu serta Hoa Thian-hong sesudah itu ia berlutut sambil berkemak kemik seperti sedang mendoakan sesuatu, Kok See-piauw maupun laki-laki setengah baya yang lain ikut berlutut, sikap maupun mimik wajah mereka amat serius dan bersungguh-sungguh....
Menyaksikan tingkah laku mereka, Hoa Thian-hong lantas berpikir dalam hatinya.
"Sudah lama aku dengar pihak Seng Sut pay memiliki tokoh-tokoh silat yang ampuh dan berilmu tinggi, aku rasa kedatangan mereka pasti tidak membawa maksud baik, aku harus waspada sehingga tidak sampai jatuh kecundang ditangan lawan....!"
Sementara masih termenung, mendadak ia saksikan Kiu-im Kaucu sedang mengawasi hiolo merah darah itu dengan paras muka takut bercampur waspada, tanpa terasa diapun pertinggi kewaspadaannya sendiri.
Kepada kakek bermuka merah itu ujarnya.
"Bolehkah aku mengetahui siapa namamu? Dan apa tujuanmu datang kemari?"
"Pinto bernama Tang Kwik-siu, bila kedatanganku akan ceroboh dan tak tahu diri harap kongcu jangan mentertawakan!"
Habis berkata kakek baju kuning itu terbahak-bahak. Haputule yang berada disisi Hoa Thian-hong segera berbisik dengan suara lirih.
"Dia adalah ciangbunjin dari perguruan Seng sut pay, locou dari Mo-kauw yang tersohor itu."
Perguruan Seng sut pay bermarkas besar di wilayah Seng sut hay, ilmu silat mereka sangat aneh dan berdiri sendiri, anak murid yang diterima mereka secara resmi tidak terlalu banyak, akan tetapi berhubung setiap murid menerima murid lagi dan tiap cucu murid menerima murid pula, maka pengaruh perguruan itu meluas sampai meliputi wilayah Ceng hay, luar perbatasan, Mongolia, Tibet serta See ih, malah pengaruhnya amat besar dikalangan rakyat sekitar sana.
Oleh sebab dandanan mereka tosu bukan tosu, padri bukan padri itulah maka perkumpulan itu disebut orang sebagai Mokauw, dengan begitu maka ciangbun cousu dari perguruan Seng sut pay sama juga dengan cikal bakal dari Mo-kauw.
Setelah disergap satu kali dikala berada dirumah penginapan tempo hari sebetulnya Hoa Thian-hong segan untuk berpura-pura memakai segala tata cara, tapi terpikir olehnya bagaimanapun juga orang itu adalah cikal bakal suatu perkumpulan besar, maka ia menjura sambil berkata.
"Oh, kiranya Tang Kwu kaucu, bila ti ak mengenal dirimu harap suka di maafkan!"
Tang Kwik-siu menengadah dan tertawa terbahak-bahak.
"Haehh.... haahh.... haahh.... ketika aku berangkat menuju ketimur, sering kudengar orang berkata bahwa jago silat yang ada didatatan Tionggoan banyaknya luar biasa, tapi diantara sekian banyak jago hanya Hoa kongcu dan Kiu-im Kaucu saja yang terhitung lihay."
Kiu-im Kaucu tak senang hati ketika mendengar namanya disebut belakangan daripada Hoa Thian-hong, sebelum ia sempat menyelesaikan kata-katanya, sambil tertawa dingin katanya.
"Obrolan mulut orang lain tak bisa dipandang sebagai ucapan yang benar, bila engkau tidak puas bagaimana kalau too yu terhitung salah satu peserta dalam pertarungan ini?"
"Bagus.... bagus sekali, memang lebih pantas kalau kalian dua orang kaucu bertarung lebih dulu"
Teriak Pek Kun-gie sambil bertepuk tangan kegirangan.
"hayo cepat kalau ingin adu jotos, mari kita buktikan kaucu mana adalah kaucu asli dan kaucu yang mana lagi adalah kaucu gadungan!"
Tang Kwik-siu tertawa lebar.
"Nona, bila kupandang parasmu yang cantik jelita bagaikan bidadari dari khayangan maka kurasa engkau pastilah Gadis paling cantik didaratan Tionegoan, Pek Kun-gie adanya bukankah begitu??"
Merah padam selembar wajah Pek Kun-gie karena jengah, dalam hati dia lantas berpikir.
"Tampangnya memang jelek dan mengerikan, tapi ucapannya sedap didengar, Emmm sungguh, tak kusangka manusia sebuas itu pandai mengambil hati orang...."
Diam-diam ia lantas menjawil ujung baju Hoa Thian-hong seraya berbisik lirih.
"Aku lihat orang ini tidak terlalu jahat bila sampai bertempur nanti, ampunilah selembar jiwanya!"
"Tak usah banyak komentar, hayo mundur ke sisi bibi sana? kata Hoa Thian-hong sambil tertawa. Pek Kun-gie tertawa cekikikan, bukannya bersembunyi disamping ibunya, dia malahan lari kebelakang punggung Hoa Thian-hong. Kok See-piauw sendiri, sejak datang kesana, ia sudah mulai tak tenteram hatinya, sepasang matanya yang bulat senantiasa melotot dan memperhatikan wajah Pek Kun-gie. Jauh sebelum Hoa Thian-hong terjun ke dalam dunia persilatan, Kok See-piauw sudah tergila-gila oleh kecantikan wajah Pek Kun-gie, dengan segala daya upaya ia berusaha merebut hatinya, sekalipun harus mengorbankan segalagalanya Sejak Hoa Thian-hong muncul diantara mereka berdua, iapun tahu bahwa Pek Kun-gie penuju oleh ketampanan Hoa Thian-hong, tapi karena hubungan kedua orang itu terhalang oleh pelbagai kesulitan dan persoalan, maka sekalipun cemburu dia masih mampu mengendalikan diri, sedikit banyak hal ini disebabkan ia masih mempunyai harapan untuk maju dan menangkan perlombaan cinta ini. Tapi sekarang, setelah dilihatnya kedua orang itu bermesrahan dengan intimnya, ia mulai sadar bahwa perhitungannya tempo hari meleset malahan mungkin hubungan itu bisa diteruskan kejenjang perkawinan, dalam kecewa dan putus asanya, api cemburu yang semula masih dapat dikendalikan kontan saja meledak, ia merasa tiada kebencian yang lebih hebat daripada kebencian yang dideritanya saat ini. Paras mukanya berubah jadi pucat pasi seperti mayat, sepasang matanya melotot bengis, dengan penuh kemarahan ia melotot sekejap ke arah Hoa Thian-hong, kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun dengan langkah lebar ia menghampiri hiolo merah darah itu, setelah duduk bersila disisinya, tiba-tiba sepasang telapak tangannya ditusukkan kedalam hiolo tersebut.... Sementara itu hujan lebat baru berhenti, permukaan air yang menggenangi jalan itu setinggi beberapa senti, akan tetapi Kok See-piauw tidak menggubris ia duduk bersila diatas genangan air itu. Begitu sepasang telapak tangannya ditusuk kedalam hiolo merah darah itu terdengarlah suara gemerisikan keras tadi menggema semakin santar, rupanya terdapat berribu-ribu ekor makhluk beracun yang sedang memperebutkan hidangan nikmat. Kok See-piauw menggigit bibir menahan sakit, kulit wajahnya berkerut kencang hingga tampak mengerikan sekali, sekalipun harus menahan siksaan dan penderitaan yang hebat namua ia tidak mengeluh ataupun memerintih. Menyaksikan tingkah laku yang aneh dari anak muda itu, semua orang tertegun dan berdiri terbelalak, siapapun tak tahu permainan setan apakah yang sedang dilakukan orangorang itu. Sementara semua orang masih tercengang, Tang Kwik-siu telah tertawa tergelak seraya berkata.
"Muridku yang paling kecil Kok See-piauw belum lama terjun kedalam perguruanku, tapi ia ingin cepat-cepat menguatkan ilmu silat nya, maka apabila ada sesuatu perbuatannya yang lucu harap kalian semua jangan mentertawakan!"
Suara gemerisik yang timbul dari dalam hiolo merah darah itu cukup menggetarkan hati Pek Kun-gie sehingga bulu kuduknya pada berdiri, mula-mula ia masih tahan, tapi lama kelamaan sambil bersembunyi dibelakang Hoa Thian-hong bentaknya dengan gusar.
"Kok See-piauw! Kalau ingin melatih ilmu silatmu, lebih baik enyahlah jauh-jauh dari sini, jangan bikin muak hati orang saja!"
Kok See-piauw melotot penuh kegusaaan, setelah melirik sekejap ke arah Hoa Thian-hong dengan padangan dingin, ia pejamkan kembali matanya dan duduk bersila sambil atur pernapasan.
Tang Kwik-siu kelihatan sangat gembira bercampur bangga, setelah memandang sekejap ke arah Hoa Thian-hong dan Kiu-im Kaucu, kembali ujarnya dengan suara nyaring.
Kalau memang kamu berdua ada niat untuk melangsungkan duel, apa salahnya kalau sekarang juga pertarungan itu dilangsungkan, ingin kusaksikan sampai dimanakah kelihayan ilmu silat yang kalian berdua miliki....
haah....
haah....
haah....
tidak keberatan bukan.
Baik Hoa Thian-hong maupun Kiu-im Kaucu sama-sama bukan orang bodoh, tentu saja mereka tahu bahwa orang ini bermaksud jahat dan ia mengharapkan pertarungan antara mereka berdua berkobar hingga dialah yang akan menarik keuntungan sebagai nelayan yang mujur.
Sekalipun begitu, mereka berdua segan untuk membongkar rahasia kelicikannya ini.
Lama sekali Kiu-im Kaucu termenung sambil putar otak, akhirnya kepada Hoa Thian-hong ia berkata, Ikan akan berlompatan disamudra yang luas, burung burung akan terbang leluasa di angkasa yang lebar, sampai dimanakah luasnya ilmu silat tak seorang pun yang bisa mengukur, aku rasa hanya manusia-manusia terbelakang yang tak becus saja yang bergairah untuk mendapatkan peninggalan orang kuno, contohnya pedang emas itu, benda inilah yang merupakan bibit penyakit dan sumber bencana, banyak orang yang tak becus ilmu silatnya berharap mendapatkan kepandaian itu agar bisa meninggikan derajatnya, Kalau engkau bersedia menuruti perkataanku dan menghancurkan benda tadi dihadapan umum, aku pikir persoalanpun bisa diselesaikan secara baik baik!" 000O000 JELAS sekali tujuan dari perkataan Kiu-im Kaucu, asal Hoa Thian-hong bersedia melenyapkan pedang emas itu dihadapan umum, maka pertarungan serta perselisihan antar kedua belah pihak dapat dibikin habis sampai disini saja dan diapun bersedia mengalah kepada pemuda ini untuk mengundurkan diri dari sana.
Mendengar penawaran tadi, Hoa Thian-hong berpikir didalam hatinya.
"Kiu-im Kaucu jelas merupakan seorang musuh yang amat tangguh, kalau ditambahi Tang Kwik-siu dan Kok See-piauw maka posisiku akan terjepit, jelas untuk menggebah mereka pergi bukanlah suatu pekerjaan yang gampang, tapi.... pedang emas itu belum terjatuh ketanganku, bagaimana caranya aku bisa musnahkan benda itu?"
Pek Kun-gie segera tampil kedepan setelah dilihatnya anak muda itu membungkam dengan dahi berkerut, ia tahu banyak persoalan yang berkecamuk dalam benaknya.
"Pedang emas itu belum berhasil kami temukan!"
Katanya dengan suara lantang.
"bila engkau tidak percaya yaa sudahlah, sebab dalam kenyataan benda itu memang belum terjatuh ketangan kami, jika engkau kurang puas dan ingin mencari gara-gara, silahkan turun tangan dengan segera, akan kulayani semua kehendak hatimu!"
Kho Hong-bwee mengerutkan dahinya setelah menyaksikan tingkah pola putrinya, dengan suara keras ia menegur.
"Budak ingusan, engkau jangan sinting sampai lupa dengan hari kelahiran sendiri, memangnya engkau tidak tahu kalau ilmu silat yang dimiliki kedua orang kaucu itu sangat tinggi, engkau masih belum punya tempat untuk ikut campur dalam urusan ini!"
Pek Kun-gie melirik sekejap ke arah Kiu-im Kaucu, tatkala dilihatnya perempuan itu sedang melotot ke arahnya dengan penuh ke gusaran, dengan hati tak senang ia mundur kesamping.
Sambil tersenyum segera Hoa Thian-hong berkata.
"Kaucu, bicara yang sejujurnya, pedang emas itu belum berhasil kami temukan, sekalipun kuulangi sampai berpuluh-puluh kali rasanya engkau tetap tidak akan percaya, bukan begitu?"
"Benar, aku memang tidak percaya!"
"Kalau tidak percaya tanya sama Pia Leng-cu, tanya sendiri pedang emas itu ia sembunyikan dimana?"
Teriak Pek Kun-gie dengan penuh kegusaran.
Padahal Pia Leng-cu sudah mati ditusuk Haputule, jelas maksud dari Pek Kun-gie menyuruh Kiu-im Kaucu bertanya kepada orang yang sudah mati adalah bersifat ejekan saja, karena orang Kiu-im-kauw memang gemar menyaru sebagai malaikat elmaut, iblis, sukma gentayangan dan sebangsanya.
Kalau ucapan itu bisa menghilangkan kecurigaan lawan masih rada mendingan, justru dengan bantahan dari Pek Kungie ini, maka Kiu-im Kaucu maupun Tang Kwik-siu semakin yakin dan percaya kalau pedang emas itu betul-betul sudah terjatuh ke tangan Hoa Thian-hong.
Tiba-tiba Tang Kwik-siu tetawa lebar, setelah memandang sekejap sekitar tempat itu katanya.
"Aku rasa benda yang sedang kalian pertaruhkan toh pedang baja itu, kenapa musti mengungkit-ungkit soal pedang emas lagi? kan persoalan itu sama sekali tak ada sangkut pautnya!"
"Tua bangka bangkotan, tua-tua keladi makin tua makin menjadi, senang ya kalau dunia jadi kacau balau?"
Maki Pek Kun-gie dengan gusar,"hmmm....! Kalau engkau berani memanaskan suasana lagi, jangan salahkan kalau kuberi pelajaran yang setimpal kepadamu!"
"Budak ingusan, kenapa engkau selalu bicara tak karuan, tidak takut ditertawakan orang?!"
Hardik Kho Hong-bwee lagi. Kiu-im Kaucu segera menengadah dan terbahak-bahak.
"Haahh.... haahh.... haahh.... Tang Kwik-siu, engkau cerdik, licik dan banyak tipu muslihatnya, gayamu persis seperti orang daratan Tionggoan, mungkin orang tak akan percaya kalau engkau berasal dari tempat gersang jauh diluar perbatasan situ, sayangnya kecerdasanmu itu sama sekali tidak bermanfaat bagi pandangan kami, tipu muslihat pasaran mu itu seolah olah permainan seorang anak kecil dalam pandangan kami. Bila engkau bersedia menuruti anjuranku, lebih baik janganlah pakai tipu-tipuan, langsungkan saja masalah ini dengan kekerasan, daripada engkau mendapat malu dan ditertawakan orang banyak."
"Heeeh.... heeeh.... heeeh.... benar juga perkataanmu itu, pinto merasa terterima kasih atas nasehatmu itu"
Ujar Tang Kwik-siu sambil tertawa aneh. Sesudah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh.
"Hoo Tok telah meminjam ilmu pekikkan darah dari perguruan Seng sut pay kami."
"Siapakah Hoo tok itu?"
Sela Kiu-im Kaucu.
"Nama mendiang guruku!"
Jawab Haputule dengan dingin.
"nama Siang Tang Lay di peroleh sesudah ia mendapat nama didaratan Tionggoan"
"Hoo tok pernah membicarakan pula soal pedang emas dengan diriku"
Lanjut Tang Kwik-siu lebih jauh.
"apa toh yang kalian perebutkan? kau tidak lebih cuma se
Jilid kitab ilmu pedang?
Huuhh, bagi orang-orang Seng sut pay kami, benda macam itu sih belum sampai dipandang sebelah matapun, ketahuilah maksud kedatangan pinto ke wilayah timur kali ini adalah disebabkan maksud tujuan lain.
"Apakah tujuanmu?"
Tanya Pek Kun-gie ingin tahu. Dengan pandangan aneh Tang Kwik-siu melirik sekejap ke arah dara itu, kemudian sambil menunjuk Kok See-piauw yang duduk bersila didepan hiolo merah darah, sahutnya.
"Dia telah kuterima sebagai muridku, telah kujanjikan kepadanya untuk bantu membuat perhitungan terhadap musuh-musuhnya, selain itu akupun telah berjanji akan membantu dia hingga menduduki tahta sebagai Bengcu dari dunia persilatan!"
"Haaah.... haaah.... haaah.... sungguh menggelikan, sungguh lucu.... hampir saja gigiku pada copot saking gelinya!"
Ejek Pek Kun-gie sambil terbahak-bahak.
"Kun gie, jangan ribut!"
Bentak Hoa Thian-hong dengan suara rendah. Pek Kun-gie menjulurkan lidahnya sambil menunjukkan muka setan, kembali ejeknya dengan lirih.
"Eeeeh, kamu bawa cermin tidak? Aku harap engkau bisa melihat dulu tampangmu diatas cermin!"
Sementara itu Kiu-im Kaucu telah berkata sambil tertawa seram.
"Waah, kalau sampai terwujud keinginan mu itu, bukankah daratan Tionggoan akan jatuh dibawah pemerintahan orang-orang Seng sut pay? Haahh.... haahh.... haah.... meskipun latah, rupanya ada orang yang jauh lebih latah dari aku!"
Tangkwik Siu tertawa.
"Bagaimana jadinya nanti, masih sukar diramalkan mulai sekarang, dari pihak kami memang mengharapkan begitu, tapi berhasil atau tidak tergantung pada kemampuan Kok Seepiauw sendiri!"
Berbicara sampai disitu, dia lantas mengayunkan jari tangannya dan melancarkan sebuah tabokan keatas kepala Kok See-piauw dari tempat kejauhan.
Pukulan udara kosong yang dilepaskan dari kejauhan ini sama sekali tidak menimbulkan sedikit suarapun, ini membuat Hoa Thian-hong maupun Kiu-im Kaucu jadi tertegun, mereka tak pernah menyangka kalau ilmu pukulan yang dimiliki pihak Seng sut pay begitu halus dan lembutnya hingga sekilas pandangan seakan-akan suatu pukulan yang pura-pura.
Kok See-piauw bergidik dan sekujur badannya gemetar keras, lalu sepasang matanya dipentangkan lebar-lebar, sorot mata yang tajam segera memancar keluar, sepasang tangannya waktu diangkat keluar dari balik hiolo, maka terlibatlah pada setiap jari tangannya masih menempel berbagai macam makhluk beracun antara lain ular berbisa, kalajengking, kelabang, laba-laba, tokek serta pelbagai jenis binatang lain yang aneh bentuknya dan tak diketahui namanya, tubuh yang berwarna-warni cukup membuat hati orang jadi bergidik rasanya.
Hanya sekejap memandang makhluk-makhluk berbisa itu, Pek Kun-gie kontan menjerit kaget lalu buru-buru menyingkir kesamping, disitu gadis cantik itu muntah-muntah karena mual.
Makhluk beracun sebangsa itu seringkali dijumpai orang, tapi perlu diketahui makhluk yang dipelihara dalam hiolo itu justru jauh berbeda bentuknya dengan makhluk biasa, bukan saja warnanya jauh berubah malahan bentuknya ikut-ikutan pula berubah jadi kukoay.
Jangan orang lain, bahkan Kiu-im Kaucu sendiripun merasa perutnya mual dan hampir saja dia muntah, cepat jago lihay ini melengos ke arah lain.
Ketika belasan ekor makhluk aneh itu terangkat dari hiolo, tubuh mereka berliuk-liuk tiada hentinya dengan kencang, rupa-rupanya bi natang itu tak ingin meninggalkan hiolo tersebut namun merekapun tak sudi lepaskan hidangan lezat yang telah tergigit, maka meskipun masih tetap memagut mangsanya, tubuh merekapun ikut bergerak ingin turun kedalam hiolo.
Kulit muka Kok See-piauw berkerut kencang!
tiba-tiba ia kebaskan tangannya keras-keras, seetika itu juga kawanan makhluk beracun yang masih menggigit ujung jarinya pada rontok kembali kedalam hiolo.
Laki-laki baju kuning yang berada disampingnya segera maju kemuka dan menyebarkan bubuk obat kedalam hiolo tadi, Kemudian cepat membopongnya mundur kebelakang.
Sesudah terpagut aneka ragam makhluk beracun, sepasang telapak tangan Kok See-piauw berubah jadi merah membekak, tapi ia getarkan tangannya berulang kali sehingga warna di tanggannya itu perlahan lahan pulih kembali jadi putih seperti sedia kala, dari situ bisa ditarik kesimpulan bahwa sari racun yang telah terhisap masuk ke dalam tubuhnya telah tersalur ke dalam peredaran darahnya.
Diam-diam tercekat hati Hoa Thian-hong setelah menyaksikan kesemuanya itu, pikirnya dihati.
"Ilmu pukulan Kiu pit sin ciang miliknya sudah termasuk sejenis pukulan yang sangat beracun, apalagi kalau dibantu dengan sari racun dari makhluk-makhluk sebanyak itu, sudah pasti siapapun yang terkena pukulan itu niscaya jiwanya melayang tinggalkan raganya!"
Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, Kok See-piauw sudah loncat bangun dan berjalan menghampiri ke arahnya.
Menyaksikan kejadian itu, pucat pias selembar wajah Pek Kun-gie, segera bentaknya.
"Hey, orang She Kok, apa yang hendak engkau lakukan?"
Kok See-piauw sama sekali tidak menggubris bentakan itu, dia tepuk tangan satu kali dan membentak dengan wajah menyeringai seram.
"Hoa Thian-hong, aku orang she Kok ingin minta petunjuk beberapa jurus pukulanmu, beranikah engkau menerima tantanganku ini?"
Hoa Thian-hong kerutkan dahinya, lalu sambil tertawa menjawab.
"Biasanya engkau pengecut dan kecil nyalinya, sekarang berani juga menantang orang berduel, haaah.... haaah.... haaah.... kalau dugaanku tidak keliru, tentunya engkau punya kekuatan yang bisa diandalkan bukan? Baiklah, akan kujajal sampai dimanakah kelihayanmu itu!"
"Eeeh engkau pakai pedang saja!"
Teriak Pek Kun-gie dengan gelisah, terbayang kembali akan makhluk-makhluk beracun yang berada dalam hiolo itu, tak kuasa lagi bulu kuduknya pada bangun berdiri. Hoa Thian-hong segera tertawa.
"Kalau aku gunakan pedangmk, dia pasti bukan tandinganku!"
Katanya.
"Kalau kau segan memakai pedang, biar aku saja yang menghadapi kurcaci ini!"
Teriak Pek Kun-gie dengan gemas, pedang lemas nya segera diayun dan dia menerjang kedepan.
Sekali sambar Hoa Thian-hong menarik kembali gadis itu kesisi tubuhnya, ujarnya sambil tertawa, Jangan gugup dulu, aku rasa kalaupun angin pukulannya beracun, belum tentu pukulan itu berhasil menghantam ke atas badanku, aku rasa dibalik kesemuanya itu pasti tersimpan hal-hal yang tidak beres, biar aku saja yang mencoba kehebatannya itu!"
Dewa yang suka pelancongan Cu Thong tiba-tiba menimbrung dari samping dengan suara dingin.
"Apa gunaya ribut-ribut dengan manusia durjana yang bejat moralnya itu, sekali tusuk habisi saja nyawa anjingnya!"
Hoa Thian-hong agak tertegun, sebagai seorang pemuda yang selalu taat pada perkataan orang tua, ia merasa segan untuk menolak perintahnya, maka setelah Cu Thong berkata demikian iapun tak banyak bicara lagi.
Sambil meloloskan pedang bajanya, kepada Tan kwik Siu ia berkata sambil tertawa.
"Aku hendak menggunakan senjata untuk mencoba kepandaian kalian, kuharap kalian guru dan murid bersedia untuk maju bersama-sama"
Tergelak Tang Kwik-siu setelah mendengar tantangan itu.
"Haahh.... haahh.... haaah.... tidaklah aneh kalau ada orang mengincar pedang milikmu, rupanya semua ilmu silat yang kau miliki hanya terletak di atas sebilah pedang tersebut!"
Pek Kun-gie yang berada disamping anak muda itu tiba-tiba menimbrung dari samping.
"Hey, aku libat tata bahasamu sempurna dan caramu berbicara halus, aku rasa tentunya engkau sangat memahami bukan tentang segala kebudayaan yang berlaku dalam daratan Tionggoan?"
Tang Kwik-siu agak tertegun, tapi sejenak kemudian sahutnya.
"Semasa masih muda, seringkali pinto melakukan perjalanan kedaratan Tionggoan, wilayah seluas Kwan liok boleh dibilang meru-pakan tempat-tempat pesiar yang seringkali aku kujungi"
"Baik, kalau engkau sering bersiar kemana-mana, maka aku ingin tanya tempat bers earah apa saja yang terdapat disekitar kota Lok yang ini....?"
Semua orang tercengang dan tidak habis mengerti ketika secara tiba-tiba gadis itu mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan tempat kenamaan disekitar kota Lok yang.
Tang Kwik-siu kelihatan bangga sekali, ujarnya dengan diiringi gelak tertawa yang nyaring, Menurut apa yang pinto ketahui, disekitar kota Lok yang terdapat tempat tinggal dan gedung di mana Locu serta Khong hucu pernah memberikan ajaran kepada murid-muridnya, selain itu ada jembatan Thi an kim kiau, An lok oh, Pit bui si, kuil Pek bi si, istana sang cing kiong, Cing swan te leng, bukit bong san, pintu naga serta hutan Kwan lim, coba katakan nona, selain tempat-tempat itu apakah masih ada tempat lain yang kiranya lebih indah?"
"Oooh....! Rupanya dikota Lok yang terdapat begitu banyak tempat-tempat kenamaan, sayang badanku sudah lelah dan tak punya tenaga lagi, kalau tidak harus kukunjungi tempattempat itu!"
Pikir Hoa Thian-hong dihatinya. Sementara itu, Pek Kun-gie sudah tertawa terkekeh, katanya.
"Tak kusangka engkau memang hafal dengan daerah dalam wilayah Tionggoan, memang tak salah sekitar kota Lok yang memang tiada tempat lain kecuali tempat-tempat tadi."
Betapa bangganya Tang Kwik-siu, sambil mengelus jenggotnya ia tertawa tergelak.
"Haaah.... haaah.... haaah membaca selaksa
Jilid buku, melakukan perjalanan sejauh selaksa li, serta mempelajari delapan macam ilmu senjata adalah tiga kegemaranku sejak dilahirkan didunia ini!"
Katanya.
Ketika menyinggung soal delapan belas macam ilmu senjata, dia sengaja memperkeras suaranya sehingga semua orang kedengaran jelas.
Tampaklah ia memang sengaja sedang mengejek dan mentertawakan Hoa Thian-hong yang pandai dalam ilmu pedang saja, kecuali itu kepandaian lain tak mampu dilakukan.
Pek Kun-gie segera mendengus dingin.
"Hmm Aku ingin bertanya kepadamu, hutan Kwan lim itu letaknya ada dimana?"
Tang Kwik-siu tertawa.
Hutan Kwan lim disebut pula kuburan raja, disitulah Kwan Kong dikebumikan, walaupun sewaktu menemui ajalnya Kwan Kong berada di Keng lam, tapi sejak orang-orang dari kerajaan Go takluk kepada pihak Goei, dengan segala kebesaran dan upacara yang meriah, Co Cho telah memindah jenasahnya kemari, sudah dua kali aku berkunjung kesi tu, disekitar baugunan tumbuh banyak pohon siong, tempat itu terasa nyaman dan rindang, benar-benar suatu tempat rekreasi yang indah.
Belum pernah Tang Kwik-siu diajak bercakap-cakap dengan seorang gadis yang cantik jelita seperti Pek Kun-gie, tidaklah heran kalau makin berbicara ia semakin bersemangat, hingga akhirnya tak terbendung lagi iapun membicarakan apa saja yang ingin di bicarakan.
Rupanya Pek Kun-gie muak mendengarkan perkataannya itu, cepat dia goyangkan tangannya sambil menukas.
"Sudah, sudah cukup! Anggap saja engkau memang sudah dua kali berkunjung kesana. Aku cuma ingin tahu, siapakah Kwan Kong itu?"
Tang Kwik-siu tertegun sesaat, kemudian katanya.
"Kwan Kong atau Kwan Yu bernama juga Kwan Ing tiang, dia adalah seorang panglima perang yang tersohor pada jaman Siok han, bukan saja hapal dengan buku pelajaran Cun ciu, wataknya jujur, gagah dan bijaksaaa, senjata yang diandalkan adalah sebilah golok twan to berukir naga hijau yang beratnya mencapai tujuh puluh dua kati, setelah meninggal semua orang menyembah dirinya sebagai Bu Seng (malaikat ilmu silat), dengan Lau Pi...."
"Cukup, cukup!"
Tukas Pek Kun-gie sambil goyangkan tangannya berulang kali "itu berarti semua malaikat ilmu silat kita kebanyakan mengandalkan sebilah golok bukan, lalu apa bedanya golok dengan pedang?
toh sama-sama pisaunya!"
Sekarang semua orang baru tahu, rupanya gadis itu sengaja berputar kayun membicarakan ini itu, tujuannya tak lebih hanya untuk membela Hoa Thian-hong.
Kok See-piauw makin cemburu, api benci dan dendam berkecamuk dalam benaknya, sambil menjerit marah dia langsung menubruk kedepan dan menghantam tubuh anak muda itu.
Hoa Thian-hong menarik muka, pedang bajanya diputar kencang lalu batas membacok kedepan.
Dahsyat dan tajam serangan pedangnya ini, neskipun dalam keadaan gusar, Kok See-piauw tak berani menyambut dengan keras lawan keras, sambil merendahkan tubuhnya cepat ia bergeser kesamping, lalu dari situ dia melancarkan satu serangan lagi.
Hmm!
Sekalipun ilmu pukulan dan tenaga dalamnya telah mendapat kemajuan yang pesat, paling-paling toh cuma begitu saja"
Pikir Hoa Thian tong dalam hati, asal ku hadapi dirinya dengan pedang baja, bukan suatu pekerjaan yang sulit jika ingin kucabut jiwanya, cuma kalau ia kubunuh dengan begitu saja orang lain tentu akan mentertawakan aku!"
Sementara otaknya berputar sebuah tusukan pedang kembali di lancarkan kedepan.
Kok See-piauw menang nekad dan ada maksud adu nyawa, apa lacur ilmu pedang yang dimiliki Hoa Thian-hong terlalu lihay, hal ini memaksa ia tak sanggup mendekati tubuhnya, dalam keadaan terpaksa ia harus menyingkir ke samping kemudian melepaskan serangan lagi dari samping.
Apabila Hoa Thian-hong ingin bereskan nyawanya, dengan gampang hal itu akan terlaksana, akan tetapi ia segan untuk membereskan nyawanya, dia cukup berharap agar Kok Seepiauw lah yang tahu diri dan mundur dengan teratur.
Tang Kwik-siu memang pernah mendengar orang berkata bahwa Hoa Thian-hong terhitung jagoan kelas satu di dunia ini, cuma mimpipun ia tak mengira kalau permainan pedang baja si anak muda itu demikian dahsyatnya hingga sukar diatasi.
Setelah memperhatikan sekejap permainan pedang lawan, dengan paras muka berubah hebat teriaknya.
"See piau, hayo mundurl"
Kok See-piauw bukanlah seorang yang goblok, meskipun ia tahu bahwa kepandaian silatnya bukan tandingan lawan, akan tetapi ia tetap menerjang dan mundur bagaikan seekor harimau edan.
Ketika mendengar panggilan tadi, cepat ia mundur kebelakang dengan hati mengumpat.
Tiba-tiba dilihatnya Pek Kun-gie berada tak jauh dari sisinya, cspat ia putar badan dan ganti menerjang si anak dara itu.
Betapa gusarnya Hoa Thian-hong menyaksikan kejadian itu, ia meluncur kemuka dan menghadang dihadapan Pek Kun-gie, sambil tertawa dingin pedangnya langsung disodok kedepan dan menusuk dada lawan.
Walaupun berada dalam keadaan gusar, Hoa Thian-hong masih belum berminat untuk melukai musuhnya, bukan saja tusukan pedang itu tidak ditujukan pada bagian tubuh yang mematikan, bahkan sewaktu mencapai punggung musuh, dari suatu seragan tusukan, tiba-tiba berubah jadi serangan tabokan, dengan tenaga sebesar tiga bagian ia gebuk punggung Kok See-piauw keras-keras.
Kalau dilihat kekuatannya memang amat kecil, namun cukup telak bagi Kok See-piauw, ia menjerit keras dan roboh terjengkang ke atas tanah, tulangnya amat sakit bagaikan retak, untuk beberapa saat lamanya ia tak sanggup bangkit kembali.
Hijau membesi raut wajah Tang Kwik-siu, saking mendongkolnya selangkah demi selangkah dia maju ke depan lalu ujarnya.
"Ilmu silat yang dimiliki Hoa kongcu memang terbukti kehebatannya, sudah jelas anak muridku ini bukan tandinganmu, biarlah untuk meriahkan suasana ijinkan pinto untuk minta petunjuk barang satu dua jurus dari diri Hoa kongcu!"
Seraya berkata dia lantas melepaskan tali ikat pinggangnya yang berwarna emas itu. Hoa Thian-hong tertawa dingin, tiba-tiba ia simpan kembali pedang bajanya sembari menjawab.
"Kalau Tang kwik kaucu ingin bertarung, baiklah akan kusambut permainan pukulan dari kaucu itu!"
"Hey, apa yang ingin kau lakukan?"
Omel Pek Kun-gie dengan suara terperanjat. Hoa Thian-hong tersenyum.
"Kedua orang kaucu ini sama-sama tertarik pada pedang bajaku ini, maka aku ingin mencoba bagaimana kalau kulayani tanpa menggunakansenjata tajam!"
Kemudian ia menjura kepada Tang Kwik-siu dan melanjutkan.
"Silahkan kaucu!"
Tang Kwik-siu tertawa, ujarnya.
"Bila dalam dua ratus gebrakan pinto menderita kalah, seketika itu juga aku akan pulang ke Seng sut hay dan semenjak itu tak akan menginjak daratan Tionggoan barang selangkahpun!"
"Ikat pinggangmu harus ditinggal pula di sini!"
Teriak Pek Kun-gie menambahkan.
Jilid 24 . Hoa Thian Hong mencari dua kekasihnya TANG KWIK-SIU tertawa tergelak, sambil menerjang kemuka ia melepaskan sebuah pukulan dahsyat, serunya.
"Maaf, aku main kasar!"
Sekilas pandangan Hoa Thian-hong tahu kalau serangan yang dilancarkan orang itu amat kuat dan hebat, sekalipun mukanya jelek tapi ilmu silat yang dimiliki bukanlah omong kosong.
Tentu saja ia tak berani sembarangan bertindak, apalagi bertindak secara gegabah, sepasang tangannya secepat petir dirangkap menjadi satu, kemudian berbareng dilontarkan kedepan.
"Bagus!"
Seru Tang Kwik-siu, kesepuluh jarinya direntangkan lebar-lebar seperti jepitan baja, dengan telapak tangan menghadap udara, dia kirim satu pukulan udara kosong dengan hebatnya.
Meskipun ilmu pukulan udara kosong merupakan satu jenis ilmu pukulan, akan tetapi jarang bisa ditemui dalam dunia persilatan, bahkan Hoa Thian-hong baru pertama kali ini menjumpainya, Untuk sesaat ia tak tahu dimanakah letak keampuhan dan kesaktian ilmu pukulan yang tampaknya luar biasa itu, dengan jurus Kun siu ci-tau, ia hadapi serangan keras itu dengan pukulan keras juga.
Rupanya Tang Kwik-siu telah mencari tahu sampai jelas tentang seluk beluk Hoa Thian-hong, begitu ia lihat anak muda itu menyerang dengan telapak kirinya, sadarlah jago tua itu bahwa musuhnya telah keluarkan ilmu simpanannya.
Sambil tertawa tergelak ia rubah pukulan kepalanya menjadi suatu pukulan telapak, disambutnya serangan tersebut dengan keras lawan keras.
"Blaang! ditengah benturan nyaune, sepasang telapak tangan telah saling beradu satu sama lainnya, tubuh mereka berdua segera bergetar keras. Namun kedua belah pihak sama-sama tak mau buang kesempatan baik itu dengan begitu saja, secepat kilat mereka berputar satu ling karan lalu secepat kilat saling melancarkan beberapa jurus pukulan. Sebagai jaro yang sama-sama lihaynya, cukup dalam sekali bentrokan mereka telah mengetahui sampai dimanakah kemampuan yang dimiliki musuhnya. Mereka mengerti dalam hal tenaga dalam jelas kekuatan mereka seimbang, siapapun tak bisa menangkan lawannya, untuk merebut kemenangan,j elas harus mengandalkan kesempurnaan jurus silat serta pengalaman dalam menghadapi musuh. Tidak sampai dua gebrakan, Tang Kwik-siu telah berhasil memaksa Hoa Thian-hong untuk keluarkan ilmu simpanannya, begitu musuh sudah menggunakan ilmu andalannya maka diapun ikut merubah gerak sera ngannya. Mendadak tangan kirinya sebentar menyerang, sebentar mencekeram, kadangkala menotok dan kadang pula membacok, sebaliknya tangan kanannya mainkan pukulan Lei sim toh si ciang hoat dari aliran Sing sut pay untuk meneter lawannya habis-habisan. Dalam waktu singkat mereka telah saling bergebrak sebanyak dua puluh jurus lebih. Serentetan serangan bertubi-tubi itu dilancarkan secepat samba-ran petir, jangankan mereka yang sedang bertempur, bahkan para penonton yang berada disekitar gelanggang ikut merasakan napasnya jadi sesak. Tapi Hoa Thian-hong masih tetap melayani serangan musuhnya dengan jurus Kun-siu-ci-tauw tersebut. Untungnya dalam hal ilmu meringankan tubuh ia cukup tangguh dan punya simpanan, dalam waktu singkat ia sudah keluarkan ilmu I heng huan wi (geser badan tukar tempat), Sut te tun sin (mengerutkan badan menyusup bumi) serta Gong tiong toa I na (berjumpalitan ditengah udara) untuk meloloskan diri dari bahaya maut. Kendatipun posisinya masih terdesak dibawah angin, namun ia berhasil mempertahakan diri sehingga tak sampai menderita ke kalahan. Tang Kwik-siu yang secara beruntun sudah melancarkan pelbagai serangan dengan jurus-jurus yang ampuh tanpa berhasil mengalahkan Hoa Thian-hong, lama kelamaan timbul juga niatnya untuk merebut kemenangan, tiba-tiba ia membentak keras, tangan kiri menggunakan jurus sian ki ci lek sedang tangan kanan memakai ilmu pukulan thian mo ciang, Hua kut Sinkun serta Toa jin eng dari kalangan Buddha untuk meneter lawannya habis-habisan Jurus-jurus serangan yang dipergunakan rata-rata merupakan serangan ampuh dengan peruba-han yang terhitung banyaknya, dalam waktu singkat Hoa Thian-hong sudah keteter hebat sehingga mundur terus kebelakang. Betapa gelisahnya Pek Kun-gie menyaksikan kejadian itu, sambil putar pedang lemasnya ia menjerit lengking.
"Kawan-kawan semua, hayo kita serbu bersama, mari kita jagal seluruh manusia siluman dari Mo-kauw ini!"
Sambil menjejak permukaan tanah, ia langsung menerjang lebih dahulu kedepan.
Siapa tahu belum sempat tubuhnya meluncur kedepan, tiba-tiba ia merasa lengan tangannya jadi kencang dan tahutahu sudah kena dicengkeram oleh ibunya sendiri.
Paras Kho Hong-bwee amat murung dan serius, mulutnya membungkam dalam seribu bahasa, sementara sorot matanya yang tajam mengawasi jalannya pertarungan itu tanpa berkedip.
Pek Kun-gie seketika itu juga merasakan lengannya seolaholah di jepit oleh suatu jepitan baja yang sangat kuat, ia menjerit kesakitan sampai peluh membasahi seluruh tubuhnya, akan tetapi Kho Hong-bwee tidak merasa dan jepitan itupun lama sekali tidak mengendor.
Tang Kwik-siu memang seorang jago yang lihay dengan ilmu silat yang beraneka ragam, sekalipun pertarungan baru berlangsung enam tujuh puluh gebrakan, secara berutan ia telah menggunakan belasan jenis ilmu pukulan yang rata-rata merupakan ilmu tangguh yang sudah lama lenyap dari peredaran Bu Lim.
Jangan toh berpuluh-puluh macam, apabila orang biasa berhasil mempelajari satu saja diantaranya, ilmu silat itu sudah cukup diandalkan untuk menjago dunia kangou, bisa dibayangkan sampai dimanakah kelihayan dari Tang Kwik-siu tersebut.
Sesudah mengikuti jalannya pertarungan itu, bukan saja Kho Hong-bwee dan Cu Thong merasa terkejut dan berdebar hatinya, malahan Kiu-im Kaucu sendiripus merasa tercekat sehingga paras mukanya berubah jadi hijau membesi.
Jago lihay sebangsa Tang Kwik-siu boleh dibilang sukar dijumpai dalam kolong langit, seorang menguasai berpuluh jenis ilmu pukulan sakti yang beraneka ragam, bukan saja semua jago merasa tak mampu untuk melampaui kelihayannya, bahkan Kiu-im Kaucu sendiripun yakin bahwa dia sendiripun belum temu sanggup mengalahkan jago dari Mo-kauw ini.
Dalam waktu singkat, Hoa Thian-hong sudah terdesak hebat hingga keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, ditengah hembusan angin pukulan yang menderu-deru, secara lapat-lapat kedengaran pula dengusan napasnya yang memburu.
Untung saja ilmu pukulan Kun-siu-ci-tauw yang berhasil dikuasainya itu memang suatu jurus pukulan yang tangguh, semakin berbahaya situasi yang dihadapinya semakin dahsyat pula daya pengaruh yang terpancar keluar dari ilmu pukulan itu, makin hebat teteran musuh yang menekan datang semakin besar pula daya tolakan yang dihasilkan.
Berulang kali Tang Kwik-siu melepaskan pukulan-pukulan dengan jurus tangguh, namun senantiasa ia gagal untuk mendepak musuhnya hingga terpojok, karena itu meskipun pertarungan berjalan sengit dan gembong iblis dari Mo-kauw ini berbasil menduduki posisi atas angin, namun menentukan untuk menang atau kalah masih merupakan suatu pekerjaan yang amat sulit....
Lama kelamaan Kho Hong-bwee merasa gelisah bercampur cemas, apalagi setelah menyaksikan keadaan putrinya yang setiap saat berusaha untuk terjunkan diri kegelanggang pertarungan.
Ia tahu dalam keadaan demikian, kekuatan yang dimilikinya terlalu lemah dan tak mungkin bisa menguaiahi keadaan, apa boleh buat lagi terpaksa ia berpaling ke arah Kiu-im Kaucu dan berkata dengan suara hambar.
"Ilmu silat yang dimiliki Tang kwik kaucu sangat lihay dan aneka ragam kepandaian yang dikuasainya sukar ditandingi oleh siapapun, tampaknya kursi pimpinan dunia persilatan dalam daratan Tionggoan harus terpindah tangan kepihak Seng sut pay. Aaai, mungkinkah inilah masanya bagi perkumpulan Sin-kie-pang kami untuk membubarkan diri?"
Beberapa patah kata yang diucapkan Kho Hong-bwee itu kedengaranya amat sederhana dan tiada sesuatu yang hebat, tapi pada hakekatnya kata-kata itu justru tersimpan segulung kekuatan yang luar biasa.
Sekujur badan Kiu-im Kaucu bergetar keras sehabis mendengar perkitaan itu, cepat pikirnya dihati.
"Andaikata Hoa Thian-hong yang berhasil merajai dunia persilatan, orang lain pasti masih ada kesempatan untuk hidup, seba liknya kalau setan tua she Tang ini yang berhasil malang melintang didaratan Tionggoan tanpa tandingan, sudah pasti perkumpulan Kiu-im-kauw yang kudirikan akan ikut tertumpas pula....Hmmm! Untuk menghindari segala kemungkinan yang tidak diinginkan, terpaksa aku musti singkirkan dahulu iblis tua itu...."
Sekalipun Kiu-im Kaucu dapat memahami keadaan tersebut dalam sekilas pandangan, akan tetapi ia tak sudi membantu Hoa Thian-hong, sebab rasa iri dan sifat mementingkan diri sendiri yang dimilikinya terlalu tebal, ia lebih suka menghadapi kesulitan dibelakang hari dari pada sekarang harus membantu musuhnya.
Tang Kwik-siu sendiri walaupun berada di tengah pertarungan, akan tetapi semua perkataan yang di ucapkan Kho Hong-bwee dapat di dengar olehnya dengan sangat jelas, diam-diam ia merasa terperanjat.
Jago tua dari Seng Sut hay ini jadi terbayang kembali akan nasib Siang Tang Lay yang pernah malang melintang didaratan Tionggoan tanpa tandingan, tapi akhirnya toh mati setelah dikerubuti oleh ketua Sin-kie-pang, ketua Hong-imhwiee, ketua Thong-thian-kauw ditambah Bu liang sinkun dan Ciu It Bong.
Sebagai seorang cikal bakal dari suatu perkumpulan besar, Tang Kwik-siu terhitung seorang jago lihay yang berotak cerdik, setelah memahami dimanakah letak kelihayan dan bahaya yang mengancam posisinya, segera ia mengambil keputussn untuk melakukan serangkaian serangkaian kilat untuk merobohkan Hoa Thian-hong lebih dahulu, kemudian sepenuh tenaga menghadapi pula Kiu-im Kaucu, asal dua kelompok kekuatan terbesar dalam dunia persilatan dewasa ini berhasil dipatahkan, maka untuk menguasai jasad dikemudian hari tidaklah mengalami banyak rintangan.
Begitu keputusan diambil, gerak serangan pun ikut berubah, tangan kirinya dengan lima jari yang dipentangkan bagaikan cakar setan senantiasa mengancam hiat to penting ditubuh Hoa Thian-hong, dimana jari tanggannya menyambar lewat disitulah tersembur lima gulung hawa hitam yang disertai bunyi desingan tajam.
Sebaliknya lengan kanannya dengan disertai suara gemerusukan yang nyaring tiba-tiba memanjang empat cun dari keadaan semula pukulan-pukulan yang kemudian dilancarkan semuanya ditujukkan pada dada si anak muda itu.
Memang dahsyat dua macam ilmu serangan itu, dalam sekejap mata Hoa Thian-hong semakin keteter hebat, sehingga setiap saat ia terancam oleh bahaya maut.
Haputule yang berada disamping gelanggang, tiba-tiba menjerit keras dengan nada amat terkejut, Haah bukankah ilmu cengkeraman itu adalah Ngo kui in tong jiu (cakar lima setan angin dingin) dan ilmu pukulan Tong pit mo ciang (pukulan iblis berlengan panjang).
Mendengar seruan tersebut Kiu-im Kaucu segera berpikir pula dalam hatinya.
"Aaih.... kalau begitu, sekalipun ilmu silat yang dimiliki tua bangka itu terdiri dari aneka ragam ilmu yang tangguh, toh yang pa ling diandalkan adalah ilmu-ilmu semacam ini Selama ini lengan tangan Pek Kun-gie masih dicengkeram terus oleh ibunya setelah Hoa Thian-hong keteter hebat dan jiwanya terancam mara bahaya, malahan paling banter ia cuma bisa bertahan dua puluh gerakan lagi, dalam cemasnya Kho Hong-bwee segera melemparkan tubuh putrinya kebelakang seraya berseru.
"Mundur jauh-kauh dari sini....!"
Berbareng iiu pula. ia cabul keluar pedangnya yang tersoren di atas punggung.
"Bibi...."
Seru Kok See-piauw dengan sepasang alis matanya berkenyit.
"Ada apa? hardik Kho Hong-bwee dengan gusar, sekalipun aku tidak kenal aturan dunia persilatan, aku lebih-lebih tak kenal dengan sampah masyarakat macam dirimu!"
Kendatipun usia Kho Hong-bwee sudah mendekati setengah abad, namun kecantikan wajahnya belum hilang, sekalipan memakai jubah to koh yang kedodoran, kecantikannya masih amat menonjol.
Sayangnya dia adalah seorang perempuan yang halus diluar kasar didalam, kalau tidak begitu tentunya hubungan suami istri mereka tak akan putus sejak belasan tabun yang lampau.
Apa lagi sekarang, setelah hawa nafsu membunuh yang tebal menyelimuti seluruh wajahnya, kontan Kok See-piauw jadi bergidik dan tak berani banyak bicara lagi.
Dengan demikian, situasi dalam gelanggang pertarungan berubah semakin tegang, Kiu im kuicu segera ambil keputusan dihati kecilnya, asal Hoa Thian-hong sudah terluka dan mengalami kekalahan, dia akan turun tangan secepat kilat.
Asal ia bertindak tepat pada saatnya, Hoa Thian-hong pasti tak akan mati dan selama pemuda itu masih hidup berarti Tang Kwik-siu akan bertambah lagi seorang musuh yang tangguh, dan selama pemuda itu terluka, diapun bisa manfaatkan kesempatan yang sangat baik ini untuk merebut kursi pertama dalam dunia persilatan.
Sementara itu Kho Hong-bwee dan Cu Thong yang masih menderita luka parah telah loncat kedepan bersiap sedia, mereka tidak langsung terjun kedalam gelanggang sebab pertarungan Hoa Thian-hong melawan Tang Kwik-siu baru berlangsung delapan sembilan puluh gebrakan, mereka berharap agar pemuda itu bisa bertahan beberapa saat lagi sehingga nama baik pemuda itu tidak sampai merosot karena kejadian ini.
Di pihak lain, Kok See-piauw serta dua orang murid Tang Kwik-siu yang lain telah menghimpun tenaga murninya pula untuk bersiap sedia asal situasi telah tegang dan serius, mereka akan turun gelanggang untuk menghalangi setiap bahaya yang mungkin akan diberikan kepada anak muda itu.
Di tengah penarungan sengit yang masih berlangsung, tibatiba terdengar Tang Kwik-siu tertawa tergelak, lalu berseru.
"Hoa Thian-hong, berhati-hatilah, dalam sepuluh jurus mendatang aku akan berusaha merobohkan dirimu!"
Berbareng dengan selesainya ucapan tersebut, tiba-tiba ia merebut posisi Tiong kiong dengan langkah Ling ting poh (ilmu langkah menyendiri), segera pukulan dahsyat langsung dilontarkan ke depan.
Waktu itn Hoa Thian-hong sudah kehabisan tenaga dan tersengkal-sengkal napasnya, tatkala merasakan betapa dahsyatnya ancaman yang meluncur datang, dan merasa tak mampu untuk mematahkan ancaman tadi, buru-buru ia menggeserkan badannya ke samping, kemudian balas melancarkan serangan dengan ilmu Menyerang sampai mati.
Tang Kwik-siu tertawa terbahak-bahak, tangan kirinya dibabat kemuka, desingan angin jari yang tajam segera meluncur kemuka menotok sikut anak muda itu, sementara telapak tangan kanannya merendah kebawah dan langsung menjotos ke arah pusarnya.
Rupanya jago tua dari Seng sut hay ini telah memperhitungkan masak-masak, asal ia menyerang maka Hoa Thian-hong bakal menang kis dengan tangan kanannya, maka berbareng itu pula serangan berikutnya yang disusulkan, boleh dibilang telah disertai dengan hawa pukulan yang maha dahsyat.
Setelah menyadari kelihayan musuhnya, Hoa Thian-hong tak berani melayani secara gegabah, sadari tadi seluruh tenaga dan perhatiannya telah dipusatkan menjadi satu.
Begitu merasa tak mampu menghadapi serangan lawan, sepasang kakinya segera menjejak permukaan tanah dan mundur setengah depa kebelakang, dengan begitu loloslah si anak muda itu dari kurungan musuhnya.
"Hebat amat ilmu ginkang yang dimiliki bocah ini!"
Pikir Tang-kwik Siu dihati.
"bila aku gagal membinasakan bocah ini sekarang juga, entah bagaimana jadinya beberapa waktu mendatang? Kepandaian silatnya pasti akan bertambah lihay!"
Berpikir sampai disitu, telapak tangannya segera dihimpun ke depan dan mengejar kemana pergi si anak muda itu.
Kecepatan gerak tubuh Hoa Thian-hong boleh dibilang sudah mendekati jalan pikiranya, akan tetapi perubahan jurus yang di lancarkan Tang Kwik-siu boleh dibilang bagaikan sukma gentayangan, jurus pertama belum habis dilancarkan, jurus berikutnya telah menyusul tiba, ini memaksa Hoa Thianhong keteter hebat dan tiada kesempatan untuk bertukar napas lagi.
Sementara situasi berubah jadi kritis dan Hoa Thian-hong sudah didesak hingga tak sanggup mempertahankan diri lagi, tiba-tiba dari kejauhan terdengar seorang perempuan berseru dengan suara yang dingin tapi penuh kewibawaan.
"Jangan gugup, gunakan Siau ci lam thian (sambil tersenyum menuding langit selatan)....!"
Kecuali Hoa Thian-hong, semua orang tertegun setelah mendengar seruan itu, sebab ucapan tadi bukan saja sangat mendadak tibanya bahkan nyaring dan amat menusuk pendengaran.
Lain halnya bagi si anak muda itu, seruan tadi sudah amat dikenal olehnya bahkan boleh dibilang telah bersatu dengan perasaan hatinya, begitu mendengar seruan tadi, spontan lengannya disodok kedepan dan menggunakan jari tangannya, ia menotok jalan darah tay yang hiat sepasang jidat Tang Kwik-siu.
Ketika pukulan yang dilancarkan Tang Kwik-siu mengancam dada Hoa Thian-hong, serta-merta anak muda itu menyingkir kesamping sambil menyodok kemuka.
Kejadian tersebut bukan berarti dapat membebaskan diri dari ancaman telapak tangan Tang Kwik-siu, asal jago tua itu membalikkan telapak tangannya niscaya sudah mampu menghatam dada anak muda itu dengan telak.
Sekalipun begitu, asal Tang Kwik-siu berani melanjutkan ancamannya, kendatipun ia berhasil menghantam dada pemuda itu, jari tangan Hoa Thian-hong sendiripun akan menyodok pula jalan darah tay yang hiat diatas jidatnya.
Siapapun tahu bahwa jurus siau ci thian lam ini hanya suatu jurus serangan yang sederhana dan gampang, bahkan setiap orang mampu untuk menggunakannya tapi yang hebat justru jurus yang sederhana itu merupakan tandingan yang paling jitu untuk mematahkan ancaman lawan.
Siapapun lebih suka dadanya kena dihantam dari pada jalan darah tay yang niatnya tersodok.
Bisa di bayangkan betapa gusarnya Tang Kwik-siu menghadapi kejadian tersebut, serta-merta ia lantas berkelit kesamping.
Berhasil dengan serangannya, semangat Hoa Thian-hong makin berkobar, ia membentak keras telapak tangan kirinya diayun kemuka dan segera mengirim lagi sebuah pukulan gencar.
Setelah sekian lama melakukan pertarungan, baru kali ini Hoa Thian-hong melancarkan pukulan yang benar-benar tangguh.
Weeess....!"
Sebuah angin pukulan yang dahsyat bagaikan gulungan ombak di tengah hembusan angin puyuh langsung menggulung kedepan dan menghantam tubuh jago tua itu.
Belum habis rasa kaget yang menyelimuti dada Tang Kwiksiu, angin pukulan yang maha dahsyat itu telah menggulung tiba, dalam posisi begini ia tak berani mererima ancaman tersebut dengan keras lawan keras.
Dalam paniknya ia putar badan sambil merendahkan tubuh, berhasil menghindari serangan musuh, telapak tangannya segera disodok ke depan menghajar iga lawan.
Pertarungan berlangsung makin cepat, dalam sekejap mata dua jurus telah di lewatkan.
Namun kawanan jago sudah tidak berniat untuk menyaksikan jalannya pertarungan lagi, semua orang samasama alihkan sorot matanya ke arah mana berasalnya suara itu.
Tampaklah Hoa Hujin dengan wajah yang agung sedang berjalan mendekat, langkah kakcinya amat cepat melebihi sambaran petir, hanya sekejap mata ia sudah tiba ditengah gelanggang.
Tio Sam-koh dengan toya bajanya yang besar, Chin Wanhong sambil menggandeng tangan Siau Ngo-ji mengikuti dibelakangnya dengan langkah lebar.
Menyaksikan kesemuanya itu, Kiu-im Kaucu sangat terperanjat, dalam hati ia lantas berpikir.
"Menurut berita yang tersiar, katanya Bun Siau-ih sudah kehilangan tenaga untuk bertempur, bahkan badannya jadi lemah dan menjagal ayampun tak mampu, kenapa secara tiba-tiba ilmu silatnya bisa pulih kembali jadi begini lihay? atau mungkin apa yang tersiar dalam dunia persilatan hanyalah berita kosong belaka?"
Jangankan dia, orang lainpun sama-sama kaget bercampur tercengang sesadah menyaksikan kejadian itu, sebab berita tentang punahnya ilmu silat yang dimiliki Hoa Hujin telah tersebar luas ke mana-mana, justru karena tiadanya tandingan yang tangguh maka Kiu-im Kaucu sekalian berani malang melintang dengan pongahnya.
Sebagai jago lihay yang berpengalaman, hanya cukup dalam sekilas pandangan saja, Kiu-im Kaucu sekalian telah mengetahui bahwa kekuatan tubuh yang dimiliki perempuan sakti ini telah pulih kembali seperti sedia kala, ini terbukti dari kecepatan gerak tubuhnya.
Apabila bukan disaksikan dengan mata kepala sendiri, siapapun tak akan menyangka kalau hal ini benar-benar terjadi, untuk sementara waktu semua orang berdiri terbelalak dengan mulut melongo, kaget dan herannya bukan kepalang.
Tang Kwik-siu sebagai jago dari luar daratan sama sekali tidak kenal dengan Hoa Hujin, ditengah pertarungan dia tak sempat menengok kekiri kanan, dia cuma merasa bahwa suasana disekitar tempat itu anehnya bukan kepalang.
Dalam herannya terrpaksa dia menegur.
"Jago lihay darimanakah yang telah datang?"
"Bun Siau-ih?"
Jawab Hoa Hujin dengan dingin.
Tiba-tiba dengan dahi berkerut ia membentak, Pertahankan diri, gunakan Boan thian hu tee (membongkar langit membalik bumi), Siang cu soay siau (siang cu membanting seruling) Untuk sukses dalam pemberian petunjuk atas jurus silat yang akan dipergunakan orang, seseorang harus benar-benar menguasai ilmu silat yang amat luas, pengalaman dalam menghadapi musuh yang tinggi serta kecerdasan otak yang luar biasa.
Perlu diketahui, ilmu silat yang dimiliki Tang Kwik-siu bukan berasal dari daratan Tionggon, selain itu selama hidupnya Hoa Hujin sendiripun tak pernah menggunakan senjata tajam, dengan begitu ilmu silat yang dimiliki perempuan itu belum bisa dikatakan lebih hebat dari Tang Kwik-siu.
Cuma untungnya perempuan itu ada disisi gelanggang, dengan kedudukannya sebagai penonton pandangannya justru jauh lebih meluas daripada mereka yang langsung terlibat dalam pertarungan itu, maka setiap kali ia berhasil memberi petunjuk kepada Hoa Thian-hong untuk mendahului musuhnya dan merebut posisi yang jauh lebih mengun tungkan.
Sekalipun jurus serangan berikutnya dari Tang Kwik-siu sama sekali tak terduga olehnya, dengan hubungan batin yang amat erat antara ibu dan anak berdua, asal Hoa Thian-hong mendengar suara ibunya, segera ia gunakan jurus serangan itu, maka pemuda ini berhasil memperbaiki kedudukannya yang terdesak.
Jurus Boan thian hu tee hanya suatu pukulan biasa, sebaliknya siang cu soay siau adalah jurus serangan dari ilmu delapan dewa mabok sempoyongan, jurus silat dasar yang sering dilatih Hoa Thian-hong semenjak kecil, bila pemuda itu diharuskan mengunakan sendiri jurus itu, tentu dia tak berani melakukannya, tapi karena ia percaya dengan ibunya maka jurus-jurus serangan itu segera digunakan.
Diluar dugaan, jurus yang sederhana itu ternyata justru berhasil digunakan untuk menghindari serangan dahsyat yang dilancarkan oleh Tang Kwik-siu.
Semangat Hoa Thian-hong semakin berkobar, ia sudah tidak jeri lagi untuk menghadapi ilmu pukulan Tang Kwik-siu yang lihay, serangan demi serangan dilancarkan secara tetap dan mantap, setiap kesempatan yang ada segera dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk meneter lawan.
Dengan begita maka pertarungan yang berlangsungpun makin ganas dan hebat, Tang Kwik-siu yang sudah lama mendengar akan nama besar Hoa Hujin, sedikit banyak merasa waspada juga sesudah kehadiran ja go itu, ia tak berani lanjutkan niatnya untuk membunuh si anak muda itu, ia cuma berharap agar Hoa Thian-hong hentikan dulu serangan itu dan diapun akan mengakhiri pertarungan ini sampai di sini saja.
Sebagai seorang tokoh silat yang punya nama besar, tentu saja Tang Kwik-siu tak tudi menghentikan dulu serangan tersebut.
Tiba-tiba terdengar Hoa Hujin berseru dengan suara berat.
"Poo...."
Begitu mendengar ucapan 'poo', Hoa Thian-hong langsung membentak keras, dengan hawa murni yang melimpah ruah dia lepaskan sebuah pukulan dahsyat ke arah musuhnya.
Jurus serangan itu bernama Po hau peng ho (harimau ganas menyeberangi sungai), suatu jurus serangan dikala menghadapi bahaya, mekipun sederhana gerakannya tapi hebat pukulannya, sebagai seorang ketua perkumpulan besar tentu saja Tang Kwik-siu malu untuk menghindarkan diri, dia melepaskan pula sebuah pukulan dahsyat untuk menyambut datangnya ancaman tersebut.
"Blaaram....!"
Ketika sepasang telapak tangan saling beradu satu sama lainnya terdengarlah suara ledakan yang memekikkan telinga.
Kedua orang itu sama-sama bergetar keras, lengannya jadi linu dan hampir saja tak sanggup digunakan lagi.
Kalau orang lain tentu akan segera mengakhiri pertempuran itu, berbeda dengan Hoa Thian-hong, ternyata makin bertempur ia semakin gagah, telapak tangan kirinya segera dilontarkan kemuka melepaskan satu pukulan dahsyat.
Dalam keadaan begitu, tentu saja Tang Kwik-siu tak bisa menyudahi pertarungan itu secara sepihak, terpaksa dia harus melayani kembali pertarungan itu lebih jauh.
Pada saat itulah Yu beng tiamcu dari Kiu-im-kauw tiba-tiba melayang masuk kedalam gelanggang dan membisikkan sesuatu kesisi telinga ketuanya, Kiu-im Kaucu segera memutar biji matanya berulang kali, tiba-tiba dia ulapkan tangannya dan mengundurkan diri dari situ.
Tiamcu istana neraka dan Kek Thian-tok diam-diam menyusul dari belakang, dalam waktu sekejap mata tiga sosok bayangan manusia itu sudah lenyap dibalik kegelapan.
Betapa tercekatnya Kho Hong-bwee yang diam-diam mengikuti gerak-gerik mereka, dalam hati segera pikirnya.
"Sampai sekarang Soh-gie dan Bong pay sekalian belum sampai disini, jangan-jangan mereka telah menjumpai hadangan?"
Berpikir sampai disitu, dia jadi amat gelisah, tentu saja tak mungkin baginya untuk berlalu dari situ sebelum pertarungan selesai, maka dengan suara lantang dia berteriak keras.
"Dua ratus gebrakan sudah penuh!"
Mendengar seruan itu, Tang Kwik-siu segera melayang mundur kebelakang, sambil tertawa tergelak Katanya.
"Hoa kongcu, kegagahan dan keberanian mu sungguh pinto merasa amat kagum!"
Maksud perkataan itu jelas berganda, yang dia maksudkan adalah keberanian saja yang dimiliki pemuda itu, padahal ilmu silatnya toh cuma begitu saja.
Hoa Thian-hong merasa tak senang hati apa lagi setelah menyaksikan mimik wajahnya yang amat bangga dan bernada mengejek, ia segera menjura dan menunjukkan sikap seolaholah menghantar tamu untuk pergi, sementara mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.
Tang Kwik-siu tertawa pongah, dengan sorot mata tajam ia perhatikan sekejap wajah Hoa Hujin, lalu pikirnya dihati.
"Perempuan ini paling-paling bau berusia empat puluh tahunan, tak disangka dulunya sudah menjadi seorang pimpinan dari kaum pendekar didaratan Tionggoan. benarbenar aneh....!"
Berpikir sampai disitu, bibirnya lantas bergetar seperti mau mengucapkan sesuatu, tapi ketika dilihatnya paras muka Hoa Hujin amat serius dan hawa nafsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, ia batalkan maksudnya untuk bercakapcakap, setelah tertawa dingin ia lantas membawa ketiga orang muridnya untuk berlalu dari situ.
Setelah empat jagoan dari Seng sut hay itu berlalu, Hoa Hujin baru bergerak maju kedepan dan saling menegur dengan Dewa suka pelancongan Cu Thong.
Kemudian kepada Kho Hong-bwee, katanya sambil tertawa.
"Hian Moay, selamat berjumpa kembali! Aku dengar engkau sudah belasantahun lamanya mengasingkan diri dan bertapa, mengapa sekarang muncul kembali dalam dunia persilatan?"
Kho Hong-bwee tertawa getir dan gelengkan kepalanya.
"Yaa.... apa boleh buat lagi? Demi anak terpaksa aku harus berbuat begini"
Sementara itu Pek Kun-gie merasa sedih dan susah sekali sejak Chin Wan-hong munculkan diri ditengah mereka, pada mulanya dia masih dapat menguasai diri, akan tetapi setelah mendengar perkataan dari ibunya, ia merasa perih hatinya dan sedih sekali, tak tahan titik air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya, cepat ia putar badan membelakangi semua orang sehingga siapapun tak melihat kalau dia sedang meneteskan air mata.
Hoa Hujin melirik sekejap bayangan punggung Pek Kun-gie yang ramping dan halus, setelah menghela napas panjang, bisiknya kepada diri Kho Hong-bwee dengan lirih.
"Bocah itu terlalu romantis dan besar cintanya, enci yang bodoh sih memang amat suka kepadanya"
Mendengar perkataan itu, satu ingatan cepat melintas dalam benaknya, segera ia berpikir.
"Jangan-jangan ia maksudkan bahwa karena sesuatu halangan maka ia tak bisa menerima putriku?"
Sementara masih termenung, sorot mata nya tanpa sadar dialihkan keatas wajah Chin Wan-hong.
"Hong ji cepat kemari dan temui bibi dari keluarga Pek!"
Buru-buru Hoa Hujin berseru.
Dengan langkah yang lemah gemulai Chin Wan-hong maju kedepan, sambil memanggil Bibi ia memberi hormat.
Sambil tersenyum Kho Hong-bwee memperhatikan semua tingkah laku Chin Wan-hong terasa olehnya gadis itu amat supel, lemah lembut, halus dan agung, gayanya memang gaya seorang perempuan dari keluarga yang terhormat, hal ini membuat hatinya jadi sedih dan menghela nanas panjang, pikirnya.
"Aah sudahlah, Chin Wan-hong memang pantas jadi menantunya keluarga Hoa, siapa yang berani mengatakan ia tak pantas?"
Berpikir sampai disitu, dengan perasaan putus asa ia tertawa paksa dan katanya lagi kepada Hoa Hujin.
"Putranya gagah, menantunya pintar dan halus, enci Bun! Engkau memang hok-ki dan sangat bahagia....!"
Hoa Hujin tersenyum, ia seperti mau mengucapkan sesuatu tapi niatnya itu kemudian dibatalkan.
Perlu diketahui, dulunya Hoa Hujin dan Kho Hong-bwee disebut sepasang perempuan tercantik dalam dunia persilatan, itu berarti sejak dahulu mereka adalah sahabat lama.
Akan tetapi dikarenakan jalan yang di tempuh Hoa Goansiu dan Pek Siau-thian berbeda maka hubungan antara Hoa Hujin dengan Kho Hong-bwee juga tanpa sadar terhalang oleh selapis selaput tipis, dengan adanya halangan ini dengan sendirinya bubungan mereka berduapun semakin lama semakin jauh.
Apalagi sekarang setelah terjadinya affair cinta antara Hoa Thian-hong dengan Pek Kun-gie, kedua belah pihak merasa semakin serba salah untuk menanggulanginya.
Keluarga Hoa adalah keluarga besar dunia persilatan dengan jumlah keluarga yang amat minim, berbicara menurut hati pribadi Hoa hujjin sendiri, ia tidak menampik jikalau putranya beristri muda lagi selain istrinya yang pertama.
Akan tetapi ia tak berani bertindak secara gegabah dengan menyetujui perkara itu dengan begitu saja, sebab dengan kecantikan dan keangkuhan Pek Kun-gie belum tentu dia bersedia berada dibawah tingkatan orang lain.
Yang paling dikuatirkan Hoa Hujin adalah pertengkaran yang bakal terjadi setelah ia dan Chin Wan-hong bersuamikan satu orang.
Jangankan Kiu-tok Sianci pasti menentang sekalipun Hoa Hujin yang cerdik dan bijaksanapun merasa tak tega hati.
Sebaliknya kalau ditolak, ia juga tak tega, pertama karena ia terharu sekali dengan penampilan Kho Hong-bwee dalam pertemuan Kian ciau tay hwee untuk menegakkan keadilan, kedua, iapun merata terharu oleh sikap Pek Kun-gie yang begitu tergila-gila kepada putranya.
Bilamana ia tidak kuatirkan sikap Kiu-tok Sianci yang terlalu keras dengan pendirian sudah pasti sedari dulu-dulu dia telah memberikan persetujuannya.
0000O0000 KHO HONG-BWEE termasuk seorang perempuan bertinggi hati, setelah merasakan betapa kakunya suasana di tempat itu, timbullah pikiran untuk membawa putrinya berlalu dari situ.
Siapa tahu sebelum ia melaksanakan niatnya itu, tiba-tiba Chin Wan-hong menghampiri Pek Kun-gie dan menggandeng tangannya, kemudian kedua orang itu terlibat dalam suatu pembicaraan yang mengasyikkan.
Menyaksikan itu dia tertegun, tapi segera dirasakan olehnya bahwa gelagat semacam ini sangat menguntungkan putrinya, maka niatnya untuk berlalu juga segera dibatalkan.
Kepada Hoa Hujin segera ujarnya sambil tersenyum.
"Menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan, katanya tenaga dalam yang dimiliki enci Bun telah buyar dan musnah rupanya berita itu cuma berita sensasi belaka, kenyataannya engkau tetap tangguh dan hebat, kejadian ini sungguh patut digirangkan!"
Hoa Hujin tertawa geli mendengar perkataan itu, sahutnya.
"Engkau ikut tertipu, pada hakekatnya tenaga dalam yang enci miliki benar-benar telah buyar dan sekarangpun aku sedang berlatih kembali dari permulaan, untungnya ilmu meringankan tubuh yang ku miliki dengan cepat telah pulih kembali satu dua bagian maka ketika kugertak Tang Kwik-siu tadi sengaja kuhimpun segenap kemampuan yang kumiliki untuk melayang dari situ kemari dengan kecepatan semaksimal mungkin, padahal kakiku sekarang terasa jadi lemas dan tak bertenaga hampir saja roboh keatas tanah!"
"Ooh, sungguh tak kusangka enci memiliki hati yang gagah sampai setaraf itu, sungguh bikin Siau moay merasa sangat kagum!"
Seru Kho Hong-bwee sambil tertawa.
"Aaai....! Keadaanku ibaratnya menunggang dipungung harimau, apa daya kalau tidak terpaksa berbuat begitu?"
Sahut Hoa Hujin sambil menggeleng dan tertawa getir.
Begitulah, makin berbicara kedua orang itu semakin asyik sehingga melupakan segala-galanya.
Dipihak lain Chin Wan-hong masih tetap menggandeng tangan Pek Kue Gie dan berbisik dengannya, tapi karena suaranya lirih dan siapa pun tidak mendengar apa yang sedang dibicarakan maka tak seorangpun yang tahu mereka sedang membicarakan tentang soal apa.
Semua orang hanya melihat bagaimana Chin Wan-hong berbisik lirih, sedang Pek Kun-gie berdiri tertegun dengan kadangkala menggeleng kadangkala pula mengangguk, Hoa Thian-hong paling gembira diantara beberapa orang itu, ia sengaja melibatkan diri dalam pembicaraan yang asyik dengan Tio Sam-koh dan Cu Thong.
Tio Sam-koh kelihatan penasaran sekali sekalipun sedang ber cakap-cakap sepasang matanya mengawasi terus ke arah Chin Wan-hong tanpa berkedip, kalau bukan Kho Hong-bwee hadir pula di situ, niscaya ia sudah mendamprat gadis itu habis-habisan.
Yang paling gelisah adalah Siau Ngo-ji, sedari tadi ia sudah bermaksud untuk memata-matai pembicaraan dari kedua orang dara itu apa lacur Hoa Thian-hong memegangi terus tangannya sehingga ia tak bisa meronta, dalam keadaan begini bocah cilik yang brilian ini jadi mati kutu nya.
Tiba-tiba dari bawah wuwungan rumah sebelah utara situ muncul seorang pengemis cilik, sekilas pandangan Siau Ngo-ji segera kenal rekannya itu, teriaknya keras-keras.
"Hey, si bisul, siapa yang lagi kau cari?"
Pengemis cilik itu segera memburu datang sambil menyodorkan secarik kertas, sahutnya.
"Ko toako suruh aku menyampaikan ini kepadamu!"
Siau Ngo-ji menerima kertas itu, lalu coba dibacanya dengan suara lantang.
"Ing telah ditangkap Kiu-im-kauw...."
"Apa itu Kiu-im-kauw?"
Tukas Hoa Hujin sambil berpaling"
Dengan setengah meringis Siau Ngo-ji menjawab.
"Oooh.... aku.... sisa tulisan itu aku tak mengerti...."
Hoa Thian-hong menyambar kertas itu dan dibacanya sekejap, paras mukanya kontan berubah jadi pucat pias, ia maju menghampiri ibunya seraya berkata.
"Ibu, surat ini berasal dari saudara Ko Thay, katanya Ku Ing-ing telah ditangkap oleh orang-orang dari Kiu-im-kauw....!"
Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan.
"Ketika terjadi pertarungan diatas perahu tempo hari secara terang-terangan ia telah mengkhianati Kiu-im Kaucu, dan kini sesudah tertangkap kembali, aku kuatir kalau siksaan yang dideritanya...."
"Hidup sebagai umat manusia, kita tak boleh melupakan budi"
Ujar Hoa Hujin dengan wajah murung.
"andaikata Ku Ing-ing belum mati, maka kita harus pertaruhkan nyawa untuk menolongnya lolos dari mara bahaya, sebaliknya kalau ia keburu telah dibunuh, kitapun harus balaskan dendam bagi kematiannya"
Sampai disitu, dia lantas menggape pengemis cilik itu sambil serunya.
"Hey, engkoh cilik, hayo kemarilah!"
Pengemis cilik itu maju mendekati dengan sikap yang berbungkuk l karena kelewat menghormat sahutnya tergagap.
"Haa.... haamba.... be.... berr.... bernama.... sii.... si Bisul!"
Hoa Hujin tersenyum.
"Saat ini Ko toako mu itu berada di mana?"
Pengemis cilik itu menunjuk fceudara dan menyahut.
"Ddd.... dia.... ma.... masih ada urusan, sekarang belum bisa menyambangi hujin!"
Kembali Hoa Hujin termenung beberapa saat lamanya, lalu sambil berpaling ke arah Hoa Thian-hong katanya.
"Seng ji, pergilah mengikuti engkoh cilik ini, disamping menyambangi saudara dari keluarga Ko sekalian tanyakan masalah tertangkapnya Ku Ing-ing serta arah perginya orangorang Kiu-im-kauw!"
"Baik ibu!"
Sahut Hoa Thian-hong dengan lurus kebawah, lalu kepada pengemis cilik itu lanjutnya.
"Saudara cilik, hayo kita berangkat!"
Pengemis cilik itu segera melangkah pergi dari situ. Betapa gelisahnya Siau Ngo-ji, cepat-cepat ia lari ke sisi Chin Wan-hong seraya berbisik.
"Enso, hayo kita pergi bersama toako!"
Chin Wan-hong agak tertegun, ia lantas berpaling ke arah mertuanya seraya berseru.
"Ibu, Siau Ngo-ji rindu dengan Ko toako nya, apakah dia boleh ikut serta bersama engkoh Hong?"
"Suruh dia ikut pergi, sekalian berpamitan dengan Ko toakonya itu!"
Siau Ngo-ji agak tertegun sesudah mendengar ucapan tersebut, tapi sesaat kemudian ia sudah menarik Chin Wanhong kesamping sambil bisiknya lirih.
"Enso, engkau jujur dan terlalu welas kasih, jangan biarkan ada orang lain ikut naik keatas pembaringanmu, apalagi Pek...."
Pucat pias wajah Chin Wan-hong karena terperanjat, dia kuatir ibu dan anak dari keluarga Pek ikut mendengar ucapan tersebut, buru-buru tukasnya.
"Anak kecil tahu apa? Hayo tutup mulut dan jangan sembarangan berbicara, sana! Ikut dengan toako mu"
Stan ngo ji masih penasaran, sebelum berlalu mengikuti disamping Hoa Thian-hong, dia masih sempat melemparkan sebuah kerlingan yang sangat dingin ke arah Pek Kun-gie.
Belum jauh tiga orang itu berlalu, tiba-tiba pintu samping sebuah warung kelontong ditepi jalan terbentang lebar, menynsul seorang pemuda berkulit hitam, berwajah persegi dengan dada yang bidang dan tubuh penuh berotot munculkan diri didepan mata.
Begitu melihat kemunculan pemuda itu, dengan kejut bercampur girang Siau Ngo-ji segera berteriak keras.
"Ko toako!"
Begitu mengetahui kalau pemuda itu adalah Ko Thay, dengan langkah cepat Hoa Thian-hong maju kedepan seraya menjura.
"Saudara Ko!"
Katanya.
"telah lama ku kagumi nama besarmu, sungguh beruntung hari ini kita dapat saling berjumpa!"
Ko Thay tertawa, ia balas memberi hormat sambil sahutnya. Siaute merasa malu untuk berjumpa dengan Hoa toako....
"Aah, janganlah saudara memandang asing terhadap kami, mari, kuperkenalkan saudara dengan ibuku!"
Kata Hoa Thianhong.
Ia tarik lengannya yang kekar dan berotot itu untuk diajak maju ke arah depan.
Setibanya dihadapan Hoa Hujin, Ko Thay melepaskan diri dari cekalan dan segera jatuhkan diri berlutut keatas tanah, serunya.
"Hamba Ko Thay menjumpai hujin!"
Hoa Hujin ada maksud untuk menghalangi tapi tak sempat, betapa terharunya perempuan ini, cepat serunya.
"Nak, tak usah banyak adat, Bun si tidak memiliki kebaikan budi apapun, tak berani kuterima penghormatan sebesar ini!"
Sambil berkata ia lantas bangunkan Ko Thay dari atas tanah.
Sementara itu, dari terapat kejuhan tiba-tiba melayang datang sesosok bayangan manusia, dalam sekilas pandangan Kho Hong-bwee segera kenali orang itu sebagai pelayannya, ia lantas berderu lantang.
"Oh Sam, dimana para pelindung hukum yang lain?"
"Lapor Cubo!"
Seru Oh Sam sambil memberi hormat.
"para pelindung hukum telah mengejar orang-orang dari Kiu-imkauw ke arah selatan, mungkin pada saat ini mereka sudah berada seratus li lebih dari tempat ini!"
"Karena urusan apa mereka mengejar orang-orang Kiu-imkauw? dan dimanakah Soh-gie?"
Tanya Kho Hong-bwee dengan alis mata berkenyit.
"Toa siocia berada bersama-sama para pelindung hukum!"
Jawab Oh Sam. Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan kembali penuturannya.
"Senja tadi, rombongan kami telah berjumpa dengan orang-orang Kiu-im-kauw, kami lihat mereka telah berhasil menawan Giok Teng Hujin yang berkhianat, menyaksikan kejadian itu Bong sauhiap yang pernah berhutang budi dari perempuan itu segera maju untuk memberikan pertolongannya, toa siocia kami ikut pula memberikan pertolongan maka kami semua terlibat dalam suatu pertarungan yang sengit, Bong sauhiap yang begitu bernafsu untuk menolong orang, berulang kali melakukan tubrukan secara ganas dan gencar, tapi toh akhirnya bukan saja gagal menolong orang, dia sendiri harus menderita luka...."
"Bagaimana keadaan lukanya?!"
Tanya Cu Thong dengan gelisah.
"Cukup parah lukanya, tapi semuanya adalah luka luar sehingga tidak sampai membahayakan jiwanya!"
Bagaimana selanjutnya?! sela Cu Thong kemudian.
"Jumlah kekuatan dari Kiu-im-kauw jauh lebih banyak daripada kami, karena itu walaupun pertarungan berlangsung cukup sengit kami tetap gagal untuk memberikan pertolongannya. Pihak Kiu-im-kauw sendi ripun tiada bernafsu untuk melangsungkan pertarungan lama, setelah berhasil meloloskan diri, mereka segera kabur mennju ke arah selatan, karena Bong sauhiap mengejar terns, terpaksa kami semua harus mengikuti juga kemana ia pergi....!"
Tidak menunggu Oh Sam menyelesaikan kata-katanya, Co Thong telah terseru kepada Kho Hong-bwee.
"Terima kasih atas bantuan perkumpulanmu, kuucapkan banyak-banyak terima kasih lebih dahulu!"
Sebelum Kho Hong-bwee sempat menyelesaikan katakatanya, ia telah berseru pula kepada Hoa Hujin.
"Sampai jumpa lain kesempatan!"
Sekali menjejak tanah, ia telah kabur dari situ "Cu teng....!"
Cepat Hoa Hujin berteriak.
"lengan kirimu toh masih terluka...."
Belum habis perkataan itu diutarakan, Cu Thong sudah berada dimulut jalan sebelah depan sana dan lenyap dari pandangan mata.
Sesudah perginya Cu Thong, suasana untuk sesaat jadi hening dan sepi, semua orang membungkam dalam pikirannya masing-masing.
Selang sesaat, Kho Hong-bwee baru buka suara dan berkata setelah termenung beberapa saat lamanya.
Enci Bun, apakah engkau tahu kebaikan apa toh yang pernah didapatkan Bong sauhiap dari diri Giok Teng Hujin?"
Hoa Hujin menghela nafas panjang.
"Asai! Beginilah kisahnya"
Kata perempuan itu kemudian.
"nona itu pernah menghadiahkan sebatang Lengci berusia seribu tahun kepada putraku, dengan obat mujarab itulah racun teratai yang terkandung didalam tubuhnya berhasil dipunahkan, sedang sisanya yang separuh telah digunakan untuk menolong nyawa tiga orang yang menderita luka parah dikala sedang berlangsungnya pertemuan besar Kian ciau tay hwe. Nah, Bong pay adalah seorang penerima budi tersebut!"
"Ooh jadi Bong sauhiap masih ingat dengan sumber datangnya budi pertolongan itu? Kalau demikian, dia tentunya seorang yang gagah dan bijaksana!"
Hoa Hujin tersenyum.
Aku pernah memberi pelajaran ilmu silat kepadanya, bocah itu terlalu mengerti akan perasaan orang lain dan lagi jujur serta bersifat terbuka, memang anak semacam itu terhitung sebagai seorang murid yang bagus dan menyenangkan!"
Berbicara sampai disini, mereka berdua saling berpandangan sambil tertawa, tawanya penuh arti yang mendalam. Maka Kho Hong-bwee pun minta diri, katanya.
"Aku harus buru-buru berangkat, sebab Kiu-im Kaucu sudah berangkat keselatan, sedang budakku berada pula ditengah perjalanan, kalau sampat saling bertemu.... waah, bisa berabe!"
Hoa Hujin termenung sebentar, kemudian dengan nada yang membawa arti mendalam ia menyabut.
"Aku sendiripun harus segera berangkat keutara, hian moay! Bila engkau tidak menampik, silahkan mampir dalam perkampungan Liok soatsan ceng, marilah kita berbicara lebih serius selama beberapa hari!"
Diam-diam Kho Hong-bwe merasa bergirang hati, betapa tidak?
Dengan diutarakannya perkataan itu berarti pula kalau janda dari Hoa tayhiap ini telah memberi perlambang kepadanya bahwa ia bersedia merundingkan soal bubungan anak-anak mereka dengan lebih serius.
Sudah tentu tawaran seperti ini tidak di tampik dengan begitu saja, begitulah dengan wajah berseri ia lantas berlalu dengan membawa serta Pek Kun-gie dan Oh Sam.
Pek Kun-gie sama sekali tidak membantah sebab dalam hati kecilnya ia bisa menduga bahwa Hoa Thian-hong tentu akan berangkat untuk menolong Giok Teng Hujin dan bagaimanapun juga ia tak mungkin bisa tetap tinggal disana, maka gadis itupun ambil keputusan untuk menanti ditengah jalan.
Dalam waktu sekejap ketiga orang itupun sudah berlalu dari sana dan lenyap dari pandangan.
Sepeninggalnya Kho Hong-bwee bertiga, Hoa Hujin baru menatap sekejap sisa jago yang masih ada disitu, tiba-tiba serunya kepada Ha putule.
"Eaah.... engkoh cilik, bukankah dendam sakit hati perguruanmu telah kau tuntut balas? Kalau tidak terburu-buru kembali ke See ih, bagaimana kalau bermain dulu selama tiga tahun dalam perkampungan Lik soat san ceng kami? Setelah itu baru berangkat pulang ke desa!"
"Bibi tak usah kuatir, aku bisa palang seorang diri, aku tak takut menghadapi mara bahaya macam apapun sepanjang perjalanan!"
"Aku tidak bermaksud begitu, kata Hoa Hujin sambil tersenyum, setelah berhenti sebentar, lanjutnya lebih jauh.
"Sudah lama kudengar orang berkata bahwa pengaruh dari Mo-kauw sudah meluas sampai ke tepi perbatasan, perbuatannya sewenang-wenang dan tidak mengenal arti perikemanusiaan, oleh sebab itu aku pikir apa bila engkau bersedia untuk mengikuti aku selama tiga tahun, maka akan kugunakan waktu yang sebaik-baiknya untuk mewariskan segenap kepandaian silat yang kumiliki kepadamu, dengan harapan suatu ketika engkau bisa kembali ketempat asalmu dan memberantas pengaruh Mo-kauw dari sekitar tempat itu"
"Saudaraku"
Ujar Hoa Thian-hong pula, perguruanmu telah mengalami kehancuran, dan sekarang tinggal kau seorang yang masih tetap hidup, bila kau bisa bangkitkan semangatmu dan mengangkat kembali nama besar perguruanmu, aku yakin arwah Siang locianpwe yang berada di alam baka pasti akan bergiring hati menyaksikan kesukses anmu itu"
Merahlah sepasang mata Haputule sesudah mendengar perkataan itu, katanya.
"Berbahagialah aku setelah ada kesediaan bibi untuk wariskan ilmu silatnya kepadaku akan tetapi pedang emas itu adalah...."
Tiba-tiba ia berhenti berbicara dan mengalihkan pokok pembica-raan kesoal lain, katanya.
"Asalkan pedang emas itu terjatuh ketangan Hoa toako, aku rela menyerahkannya kepadamu!"
"Tidak!"
Tampik Hoa Thian-hong dengan tegas.
"belajarlah ilmu silat lebih dahulu dengan ibuku, sedang aku akan berusana keras untuk menemukan kembali pedang emas itu, asal kutemukan pastilah akan kuserahkan kepadamu!"
Haputule berpikir sebentar, lalu menjawab.
"Aku sendiri cuma menginginkan pedang emas itu, sementara kitab Kiam keng itu sendiri sama sekali tiada hubungannya dengan perguruan pedang pendek kami, sekalipun engkau hadiahkan kepadaku, aku belum tentu mau menerimanya!"
Hoa Thian-hong tersenyum.
"Kalau toh ibuku bersedia mewariskan ilmu silatnya kepadamu, itu berarti hubungan kita ibaratnya antara sesama saudaru seperguruan, andaikata kitab kiam keng benar-benar terjatuh ketanganku, perduli menjadi siapa toh sama saja!"
"Macam apa toh pedang emas itu?"
Tiba-tiba Ko Thay menyela dari samping gelanggang. Dari sakunya Haputule mencabut keluar pedang peraknya, kemudian menjawab.
"Menurut keterangan guruku, pedang emas itn dibentuk dari sari emas yang kuat, beratnya dua puluh satu kali lebih mantap daripada bobot emas biasa, dibandingkan besi tujuh belas kali lipat lebih berat dan dibandingkan dengan baja beratnya empat belas kali lipat, bukan saja pedang emas itu tajamnya luar biasa melebihi pedang mustika apapun juga, bentuknya minim dan cuma beberapa senti meter, pokoknya persis sekali bentuknya dengan pedang perak ini"
Dengan seksama Ko Thay memperhatikan pedang perak itu dia lihat bentuknya kecil dan panjangnya berikut gagang pedang cuma enam cun, gagang maupun pedangnya melebur menjadi satu bahkan jauh lebih pendek dari pada pisau belati biasa, sepintas lalu orang akan mengira pedang itu sebagai pedang mainan.
Melihat akan hal itu, tak kuasa lagi pemuda kekar ini menge-rutkan dahinya, tiba-tiba ia berpaling dan mengamati jenasah Pia Leng-cu dengan seksama.
Menyaksikan gerak-gerik orang, Hoa Thian-hong berkata.
"Le Kiu dari Kiu-im-kauw telah menggeledah sekujur badan Pia Leng-cu dengan seksama, dia adalah seorang jago yang berpengalaman luas, andaikata pedang emas itu benar-benar berada di badan Pia Leng-cu, aku pikir senjata itu tentulah sudah didapatkan olehnya!"
"Aku rasa Pia Leng-cu adalah seorang manusia licik yang mempunyai banyak tipu muslihat, tak mungkin ia tega dan lega hati meletakkan pedang mustika yang disayangi itu di tempat lain, aku cukup mengenal watak manusia semacam ini, agar enak makan dan nyenyak tidur senjata tersebut pasti digembol terus dalam sakunya apalagi kalau ia sudah tahu bahwa pedang mustika itu setiap saat bakal lenyap pastilah dia akan membawanya terus menerus dengan ha rapan bila dia mati maka senjata itu akan dibawanya pula masuk keliang kubur"
"Benar juga pandanganmu ini, puji Hoa Hujin, kalau pedang emas itu tidak berada ditubuh Pia Leng-cu, maka ia tak bisa di hitung sebagai seorang manusia yang besar sekali rasa curiganya!"
Berbicara sampai disitu, tiba-tiba ia seperti merasakan sesuatu, cepat sorot matanya di alihkan ke arah Pia Leng-cu.
"Boanpwe sendiripun hanya berpikir seandainya saja, benar atau keliru sama sekali tidak mempunyai keyakinan, harap kalian bersedia untuk memakluminya!"
Ujar Ko Thay tenang.
Selangkah demi selangkah ia menghampiri jenasah Pia Leng-cu dan mulai periksa sepatu yang dikenakan olehnya.
Dengan perasaan ingin tahu semua orang merubung kedepan, tampaklah Ko Thay mencabut keluar sebilah pisau belati, kemudian dengan sekuat tenaga ia merobek sepatu yang digunakan Pia Leng-cu itu sehingga robek menjadi dua bagian, tapi disitu ia tak berhasil menemukan sesuatu apapun, Ko Thay segera mencabut kembali pisau belatinya setelah itu melirik sekejap ke arah kaki kiri Pia Leng-cu yang cacad, ia keliha tan agak sangsi sehingga untuk beberapa saat lamanya tidak berani turun tangan secara gegabah.
Hoa Hujin tersenyum sesudah menyaksikan kejadian itu, ia berkata.
"Siapapun tak dapat menduga kejadian dengan tepat, apa salahnya kalau kita coba saja untuk memeriksanya, siapa tahu kalau tebakan kita tidak meleset?"
Ko Thay tidak ragu-ragu lagi, pisau belatinya segera ditekan kebawah dan merobeknya keras-keras pada sepatu kiri yang dikenakan Pia Leng-cu, belum terlalu dalam ia memotong, mendadak tangannya jadi enteng dan tahu-tahu ujung pisau belatinya sudah kutung bebera pa bagian.
"Hoore.... kita berbasil temukan pedang itu!"
Seru Siau Ngoji kegirangan.
Lega juga perasaan hati Ko Thay, setelah memperhitungkan arahnya dengan tepat, sekali lagi ia menyobek sepatu kiri Pia Leng-cu, dalam waktu singkat tampaklah cahaya emas memancar keempat penjuru, dari dasar alas sepatu itu tampaklah terselip sebilah pedang pendek.
Pedang emas itu dibungkus oleh selapis kulit ular sehingga hanya gagang pedangnya saja yang kelihaian dari luar, akan tetapi gagang pedang itu berwarna emas dan memancarkan cahaya yang tajam, sehingga siapapun merasa silau sesudah memandangnya.
Ko Thay cabut keluar pedang itu, habis dibersihkan kotoran yang menempel pada pedang itu dengan bajunya, ia lantas menyerahkan ketangan Hoa Hujin dengan sikap yang hormat.
Hoi hujin menerima pedang itu, setelah meloloskan sarung kulit ularnya, ia angkat pedang yang sudah menggetarkan sungai telaga selama puluhan tahun dan mengakibatkan pertumpahan darah yang mengerikan itu keudara.
Meskipun para jago yang mengerubungi disekitarnya tiada bernafsu serakah ataupun ingin mendapatkannya, tak urung tergetar juga perasaan hati mereka.
Setelah semua orang mengamatinya beberapa saat, tibatiba Hoa Hujin menghela napas panjang, lalu kepada Hoa Thian-hong katanya.
"Demi pedang kecil ini, Ciu It bong sudah hidup menderita selama banyak tahun, di mana akhirnya jiwapun ikut melayang tinggalkan raganya, sebagai orang yang berhutang budi kepadanya engkau jangan melupakan kebaikan yang pernah kau terima itu, ketahuilah keberhasilanmu bertarung melawan Tang Kwik-siu sebanyak dua ratus ge brakan sebagian benar adalah berkat pemberiannya!"
"Perkataan itu memang besar"
Sahut Hoa Thian-hong.
"ananda telah mempunyai rencana untuk mencarikan seorang pewaris baginya, sehingga ilmu pukulan Kun siu ci tan (pergulatan terakhir binatang yang terjebak) hasil ciptaannya itu bisa terwaris hingga pada generasi yang akan datang, dengan begitu akupun bisa pula membalas budi kebaikannya"
"Kalau engkau memang punya rencana itu, bagus sekali kata Hoa hnjin sambil mengangguk. Ciu It bong adalah seorang jago yang gagah berani dan hidup luntang lantung seorang diri, ia terhitung seorang laki-laki sejati, seorang enghiong hoohan, siapa pun akan berbangga hati apabila bisa menjadi ahli warisnya"
Setelah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh.
"Kuo siu ci tan kurang sedap didengar dalam pendengaran, kita carikan saja nama lain yang lebih bagus!"
Hoa Thian-hong berpikir sebentar, kemudian sahutnya.
"Sekalipun Ciu locianpwe suka hidup luntang lantung seorang diri, ilmu pukulan hasil ciptaannya amat rumit dengan perubahan yang tak terhitung jumlahnya dalam satu gebrakan mungkin tersimpan beratus-ratus jenis perubahan lain, Ibu, bagaimana kalau kunamakan saja jurus pukulannya itu sebagai ilmu pukulan Hau in ciang hoat?"
Hoa Hujin mengangguk.
"Bagus, nama Hau in ciang hoat memang sangat tepat! Cuma, engkau harus ingat, bila engkau hendak menerima murid maka pertama yang musti kau perhatikan adalah watak serta perangainya, kedua dia musti berbakat baik, sedang yang lain boleh tidak terlampau diperhatikan, ingat?"
Hoa Thian-hong mengangguk tiada hentinya tanda mengerti. Tiba-tiba terdengar Tio Sam-koh berseru dari samping.
"Eeeh, hayo cepat ambil keluar kitab pedang Kiam keng itu, aku ingin lihat macam apakah bentuk kitab itu?"
Hoa Hujin tertawa, ia serahkan pedang emas itu ketangan Hoa Thian-hong lalu berkata.
"Ambillah keluar kitab Kiam keng itu, agar semua orang ikut menyaksikan bentuk kitab tersebut!"
"Tapi.... tapi.... ibu, pedang baja itu adalah barang peninggalan ayah, tidakkah terlalu sayang kalau dirusak?"
Kata Hoa Thian-hong dengan hati sangsi. Hoa Hujin menghela napas panjang.
"Aaai.... kitab kiam keng adalah benda pokok, sedang pedang baja itu hanya pelengkap yang digunakan sebagai tempat penyimpanan belaka, sekalipun akhirnya harus rusak, yaa apa boleh buat lagi?"
Hoa Thian-hong tak berani membantah perintah dari ibunya lagi, pedang bajanya segeta dicabut keluar, sebelum melakukan penebasan, ia sempat berpaling ke arah Haputule seraya berkata.
"Saudaraku, jikalau pedang emas ini sampai rusak atau gumpil...."
"Toako tak usah sangsi ataupun ragu"
Tukas Haputule dengan cepat.
"sekalipun rusak juga tidak menjadi soal!"
Hoa Thian-hong tidak ragu lagi, ia pegang pedang bajanya dengan tangan kiri dan memegang pedang emas dengan tangan kanan, ketika senjata itu ditebas kebawah....
"Criing....!"
Diiringi suara dentingan nyaring dan kilatan cahaya emas, patahlah pedang baja itu menjadi dua bagian.
Memang tak salah, ruang kosong terdapat dalam pedang baja itu, dalam ruang kosong tadi terseliplah satu gulungan kain warna kuning.
Menyaksikan gulungan kain itu, Hoa Thian-hong menghembuskan napas panjang, katanya.
"Aaii!....! Untung pedang baja ini tak terbuang dengan percuma ternyata memang benar-benar ada isinya!"
Pedang emas itu diperiksa pula dengan seksama, ketika dilihatnya senjata itu utuh dan sama sekali tidak cedera, cepat-cepat diserah kan kepada Haputule.
Kemudian gulungan kain kuning itu baru dicabut keluar dengan sangat hati-hati, lalu di serahkan kepada ibunya.
Menerima gulungan kain kuning itu, serta-merta Hoa Hujin mem buka dan memeriksanya dengan teliti, ia lihat kain itu terbuat dari bahan sebangsa nilon yang halus tapi sangat kuno, panjangnya delapan cun dengan lebar enam tujuh depa, tulisan yang terukir diatas kain itu sangat rapat dengan sebesar kepala lalat, diantaranya terselip juga tulisan yang dibuat dengan tinta merah yang menyolok, selain itu dihiasi pala dengan seratus lebih gambaran manusia dengan bentuk yang berbeda-beda.
Sementara itu fajar baru saja menyingsing, di tengahtengah remangnya cuaca tak mungkin bagi Hoa Hujin yang tenaga dalamnya buyar untuk meneliti tulisan itu, karenanya walaupun gulungan kain ada didepan mata, ia tak mampu untuk membaca isinya.
Kendatipun demikian, dari lukisan yang tertera disitu ia tahu bahwa isinya benar-benar adalah kitab kiam keng.
"Tampaknya gulungin kain ini memang benarbenar berisikan jeri payah dari malaikat pedang Gi Ko"
Pikirnya dalam hati. Setelah diamatinya sekejap, gulungan kain itu lantas diserahkan kepada Tio Sam tokoh, katanya.
"Kurang jelas penglihatanku, biar Sam-koh saja yang periksa, apakah isinya benar-benar benda mustika atau bukan!"
Tio Sam-koh menerimanya, kemudian tanpa dilihat segera dilipat dan diserahkan ke tangan Hoa Thian-hong sembari berkata.
"Aku malas untuk menelitinya lebih jauh bagaimanapun toh isinya tetap berupa se
Jilid kitab kiam keng, Nah, bawa saja dalam sakumu dan pelajarilah secara perlahan-lahan!"
Hoa Hujin yang ada disampingnya segera menambahkan pula dengan nada serius.
"Peninggalan orang kuno harus dipelihara dan dilindungi dengan sebaik-baiknya, jangan aampai rusak atau hilang dirampas orang!"
"Ananda tak berani gegabah!"
Jawab Hoa Thian-hong bersungguh-sungguh.
Bicara sampai disini, dia lantas menyimpan baik-baik Kitab kiam keng itu dalam sakunya, kemudian baru minta petunjuk akan tugas yang harus dilakukan diwaktu mendatang.
Hoa Hujin termenung dan berpikir sebentar, lalu katanya.
"Kami harus pulang kerumah, sedang engkau berangkatlah seorang diri menuju keselatan, berusahalah keras untuk selamatkan Ku Ing-ing dari mara bahaya, aku tahu tugasmu kali ini sangat berat dan sukar, dengan ilmu silat yang dimiliki Kiu-im Kaucu saja ia sudah mampu menandingi dirimu, apalagi kalau anak buahnya memberi bantuan. Aku sendiri tiada ide atau pendapat lain yang bisa kuberikan kepadamu, aku rasa lebih baik lakukanlah semua tugas itu menuruti suara hatimu sendiri!"
"Ilmu silat yang dimiliki Tang Kwik-siu jauh diatasmu"
Sambung Tio Sam-koh pula.
"sedangkan Kok See-piauw bangsat cilik itu selalu bikin onar dari tengah, sudah pasti dia akan mencari gara-gara lagi dengan dirimu, bila engkau hendak mengatasi kesulitan ini maka satu-satunya jalan adalah pergiat latihan ilmu silatmu, bila mendapatkan kesempatan bereskan saja nyawa keparat cilik she Kok itu!"
Hoa Thian-hong mengiakan berulang kali, selesai mendapatkan wejangan tersebut, dia baru berpaling ke arah Ko Thay dan bertanya.
"Saudara Ko, apakah engkau mempunyai rencana lain?"
Ko Thay tersenyum.
"Aah, siaute cuma seorang manusia biasa, buat manusia macam aku sih tak ada rencana apa-apa, semua kesulitan kuatasi setelah berada didepan mata!"
"Nak, ikut saja kami pulang keperkampungan Liok soat san ceng, dan berdiamlah selama beberapa tahun disana!"
Tibatiba Hoa Hujin mengusulkan dari samping. Untuk sesaat Ko Thay kelihatan agak tertegun, tapi ia segera menggeleng seraya menjawab.
"Aku merasa sangat berbangga hati apabila bisa mendapat didikan langsung dari bibi, cuma aku tahu bibi repot dengan urusan bibi sendiri, dan lagi bakat boanpwe untuk belajar silat sangat cetek, ingin belajar dari depan rasanya sudah terlambat karena usiaku sudah tua dan hasilnya dikemudian haripun terbatas, karena itu aku lebih baik menolak saja penawaran bibi yang sangat menggiurkan hati itu!"
Caranya menolak memang sangat halus tapi semua orang tahu bahwa hatinya amat sedih dan pedih sehingga nada suaranya ikut kedengaran agak gemetar....
Sejak perjumpaannya untuk pertama kali ini, rupanya Tio Sam-koh menaruh kesan yang baik terhadap diri Ko Thay, sesudah mendengar perkataan itu tiba-tiba ia menyela dari samping.
"Barusan, bukankah engkau mengatakan hendak carikan seorang ahli waris bagi Ciu It bong? Menurut pendapatku, Ko Thay adalah calon ahli waris yang paling tepat untuk Ciu It bong!"
Tampaknya Hoa Thian-hong merasa bahwa cara itu memang berkenan di hatinya, cepat ia menegur.
"Saudara Ko, apakah engkau bersedia!"
"Tentu saja siaute bersedia!"
Jawab Ko Thay sambil mengangguk.
Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan "Aku tahu, saat ini Hoa toako sedang repot dan banyak urusan, maka siaute pikir alangkah baiknya kalau kugunakan kesempatan ini untuk berkunjung dahulu kelembah Cu-bu-kok, akan kucari jenasah dari Ciu locianpwe dan menguburnya ditempat yang lebih layak, setelah kuangkat beliau sebagai guruku, rasanya waktu itulah baru tepat bagiku untuk belajar silat peninggalannya!"
Hoa Hujin lantas berpikir dihati.
"Bocah ini memang tahu diri, tebal sekali rasa setia kawan dan penghormatannya terhadap golongan tua, aku gembira sekali bisa memperoleh seorang rekan seperti dia!"
Dengan cepat katanya.
"Baiklah, kalau memang begitu kita tetapkan saja persoalan ini sampai disini, sekarang menolong orang lebih penting, cepatlah pergi Seng ji....!"
Hoa Thian-hong tak berani membantah perintah tbunya, terpaksa dia berpamitan dengan orang-orang itu dan segera melanjutkan perjalanannya menuju keselatan.
Sementara itu, Hoa Thian-hong telah tinggalkan kota Lok yang dan berangkat menuju ke selatan, ia tahu bahwa Pek Kun-gie pasti akan menantikan dirinya ditengah jalan.
Siapa tahu, dugaan itu ternyata meleset, sekalipun sudah melakukan perjalanan selama seharian suntuk, bayangan si gadis cantik itu belum juga ditemukan.
Dalam keadaan begitu, dia merasa amat murung dan sedih seolah-olah seperti telah kehilangan sesuatu, untungnya pikiran itu segera terampas untuk memikirkan keselamatan orang lain, maka untuk sementara waktu Pek Kun-gie dapat dilupakan olehnya.
Terbayang akan Ku Ing-ing yang tertawan, tanpa sadar ia memba-yangkan pula kegenitan perempuan itu, cinta kasihnya yang mendalam serta tingkah laku yang romantis, dengan perasaan kesal dan murung, ia meneruskan perjalannya dengan cepat.
Jilid 25 .
Pengorbanan tulus Giok Teng Hujien TENGAH hari itu tibalah si anak muda itu didalam sebuah dusun, karena merasa lapar dia ambil keputusan untuk beristirahat dan mengisi perut lebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanannya lagi.
Dari kejauhan ia lihat ada sebuah warung dengan panji tulisan "Arak"
Berkibar terhembus angin, dengan langkah lebar ia lantas menghampiri warung itu, maksudnya ia hendak minum arak untuk meng-hilangkan segala kemurungan yang mencekam dirinya selama dua hari ini.
Ramai sekali warung arak itu apalagi letaknya ditepi sebuah jalan raya, bukan saja bangunannya lebar dengan dua puluh meja lebih, daganganpun ramai sekali.
Terutama disaat tengah hari, banyak orang bersantap dalam warung itu sambil melepaskan dahaga, maka hampir saja delapan bagian sudah penuh berisikan tamu.
Baru saja Hoa Thian-hong duduk disebuah meja kosong, seorang pelayan yang basah oleh keringat telah datang menghampiri sambil menyapa.
"Siangkong, engkan hendak pesan apa?"
"Siapkan sepoci arak dan beberapa macam sayur!"
Jawab pemuda itu seenaknya.
Pelayan itu segera mengiakan dan berlalu.
0000O0000 SELANG SESAAT, pelayan telah muncul menghidangkan sepoci arak dan sepiring daging sapi yang tampak lezat.
Dasar anak dusun yang sudah banyak tahun hidup diatas bukit dan siang malam hanya memikirkan soal belajar silat, kemudian setelah terjun kedalam dunia persilatan harus terlibat dalam masalah yang pelik, menyaksikan hidangan yaog lezat, kontan si anak muda itu menyikatnya densan lahap.
Memang sudah lama ia terjun kedalam dunia persialatan, selama luntang lantung kesana kemari tanpa tempat tinggal yang tetap, entah sudah berapa ribu kali masuk kerumah makan untuk bersantp, tapi mi num arak seorang diri baru dialaminya sekarang untuk pertama kali.
Ketika pelayan arak itu mendengar bahwa tamunya hanya memesan beberapa macam sayur yang sederhana, dikiranya pemuda ini bukan seorang yang biasa makan minun, oleh sebab itu arak yang dihidangkan juga arak biasa yang terhitung dari kwalitet rendah.
Baru satu tegukan ia mencicipi, terasa arak itu amat keras bagaikan tusukkan jarum, bukan saja susah ditelan bahkan rasanya juga sangat tak enak.
Tanpa terasa ia menghela napas berat, dalam benaknya terlintas pula kenangan dimasa silam.
Dia masih ingat ketika untuk pertama kalinya minum arak dikota Cho ciu, waktu itu senja baru menjelang tiba dan ia menghadiri pertemuan yang diadakan Giok Teng Hujin didalam kuil It goan koan dari Thong-thian-kauw, ketika itu Giok Teng Hujin dengan dandanan yang agung sambil membopong Soat-ji makhluk aneh itu duduk di kursi utama, sementara disampingnya didampingi Cing siu cu dan Ngo ing cin jin dari Kuil It goan koan.
Pui Che-giok dayang Giok Teng Hujin yang cantik jelita bertugas melayani Hoa Thian-hong, sementara kawanan gadis cantik yang lain mengiringi diseputar ruang perjamuan.
Waktu itulah untuk pertama kalinya dia dihormati orang sebagai tamu terhormat, untuk pertama kalinya disanjung dan dipandang oleh seorang jago kenamaan.
Menyusul kemudian perjamuan yang diadakan Giok Teng Hujin dalam pesanggrahan nya ditepi pantai, rumah yang putih dengan ruangan yang serba indah.
Dan terakhir ketika berada dalam kota Lok yang, didalam sebuah ruang loteng yang kecil mungil, dengan pembaringan yang putih beralaskan kain seprei warna merah jambu, lilin merah dengan ukiran naga dan burung hong, serta arak dewa mabuk yang menggairahkan api asmara.
Aaai, dia hanya senantiasa melepaskan budi kepadaku, melepaskan kebaikan kepadaku belum pernah mengucapkan kata-kata yang tak sedap didengar, tak pernah menuntut sesuatu balas jasa atas pertolongan yang pernah dilakukannya, dia memang seorang perempuan yang cantik, hebat dan luar biasa.
Berpikir sampai disitu, tak kuasa lagi air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya.
Haruslah diketahui, bibit cinta yang bersemi didalam hati Hoa Thian-hong maupun Giok Teng Hujin bermula dari suatu persahabatan yang erat akrab dan hangat, rasa persahabatan yang begitu tebal dan mendalam sedikit demi sedikit terlanjur masuk kedalam hati Hoa Thian-hong hingga akhirnya menjurus kesoal citta.
Bibit persahabatan diantara mereka berdua memang tampaknya tidak terlalu hangat, tidak terlalu membekas dihati sanubari malahan terasa agak cabul dan melanggar kesusilaan, malahan boleh dibilang bagaikan permainan anakanak.
Pada hakekatnya hal itu disebabkan Giok Teng Hujin merasa umurnya terlalu tua hingga tidak pantas mendampingi si anak muda itu, oleh sebab ia kuatir bukan kebaikan yang diperoleh sebaliknya justru cemoohan atau hinaan, maka cinta kasih yang bersemi dalam hatinya hanya disampaikan secara gurauan, sementara dalam hati kecilnya ia merasa sedih dan menahan tetesan air mata.
Pada hakekatnya di masa lampau, Hoa Thian-hong sama sekali tidak merasakan akan hal itu, ia tetap belum dapat meresapi limpahan cinta yang ditujukan Giok Teng Hujin kepadanya, ia selalu menganggap perempuan itu lincah berwajah riang, romantis dan tidak bersungguh-sungguh dalam menghadapi soal semacam apapun jua.
Tapi sekarang, secara tiba-tiba ia jadi paham, ia merasa bahwa penghianatan Giok Teng Hujin terhadap perkumpulannya adalah akibat dia, akibat ia hendak menghalangi dirinya jangan sampai menyerahkan pedang baja itu kepada orang lain.
Dan sekarang kitab kiam keng sudah berada dalam sakunya, ia semakin dapat meresapi kebaikan dari Gok teng hujin itu, apalagi selelah terbayang akan ancaman siksaan In hwe lian bun (api dingin melelehkan sukma) serta Ngo kiam hua si (lima pedang menyincang badan), pemuda itu semakin merasakan betapa pedih dan tersiksanya perasaan hatinya.
Ditengah helaan napas panjang dan pelbagai pikiran yang berkecamuk dalam benaknya, tanpa terasa sepoci arak telah berpindah kedalam perutnya.
Cepat dia angkat poci kosongnya seraya berseru.
"Hey, pelayan! Ambillah satu poci lagi!"
Seorang pelayan segera maju menghampiri sambil berkata.
"Harap yaya tunggu sebentar, hamba segera akan siapkan satu poci arak lagi!"
Selang sesaat dia telah muncul kembali sambil membawa sepoci arak, dalam keadaan murung karena memikirkan banyak persoalan si anak muda itu sama sekali tidak memikirksn apa sebabnya pelayan itu jadi lebih rajin dari pada tadi.
Melihat arak telah dihidangkan, diapun segera penuhi cawannya dan meneguk isinya, hanya tiba-tiba saja ia merasa arak yang dimi num jauh lebih harum dan sedap agaknya arak pilihan yang telah puluhan tahun lamanya disimpan dalam gudang.
Dalam heran dan tercengangnya, tiba-tiba ia merasa suasana disekitar ruangan itu menjadi hening dan serius, hanya disudut kiri saja masih kedengaran ada orang sedang berbicara.
Cepat dia alihkan sorot matanya ke arah mana berasalnya suara pembicaraan itu, ternyata mereka hanya sekelompok pedagang belaka, sementara dari sisi mejanya duduk pula seorang pemuda berdandan busu sedang melotot penuh kegusaran ke arah kaum pedagang tadi, rupanya ia hendak mencegah orang-orang itu buka suara.
Agak tertegun Hoa Thian-hong menghadapi kejadian tersebut, dia alihkan kembali sorot matanya ke arah lain.
Tampaklah seorang kakek berusia lima puluh tahunan duduk dikursi utama, enam orang yang masih muda dengan pakaian ringkas dan masing-masing membawa sebuah bantalan panjang yang tampaknya adalah senjata tajam berada diseputarnya.
Ketika kakek itu menyaksikan Hoa Thian-hong berpaling ke arahnya, cepat ia bangkit berdiri seraya memberi hormat, ujarnya sambil tersenyum.
"Kongcu ya, baik-baikkah engkau?"
Cepat Hoa Thian-hong bangkit berdiri dan balas memberi hormat.
"Baik-baikkah engkau lo enghiong?"
Sahutnya.
Sapa menyapa sudah lazim terjadi diantara kawanan jago persilatan yang bertemu di suatu tempat, misalnya warung makan atau rumah penginapan karena menganggap pihak lawan lebih tua maka Hoa Thian-hong merasa sepantasnya.
Kalau ia baru duduk setelah lawannya duduk.
Siapa tahu rupanya kakek itupun sedang menunggu sampai anak muda itu duduk lebih dahulu ia baru duduk, untuk sesaat kedua orang itu sama-sama berdiri tertegun tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Melihat itu, kawan-kawan lainnya yang ada di seputar meja ikut bangkit berdiri untuk menunjukkan sikap hormatnya.
Setelah menyaksikan kesemuanya itu, Hoa Thian-hong lantas berpikir dalam hatinya.
"Orang-orang itu terlalu sungkan terhadap diriku, aku jadi tak enak rasanya...."
Maka dia maju menghampiri orang-orang itu seraya tegurnya dengan sekulum senyuman menghiasi bibirnya.
"Cayhe adalah Hoa Thian-hong, boleh aku tahu siapa nama besar dari Lo enghiong?!"
Buru-buru kakek tua itupun melangkah keluar dari tempat duduknya.
"Ooh.... aku adalah Tio Ceng tang, sungguh beruntung aku bisa bertemu dengan Hoa hongcu, pertemuan ni sangat menggembirakan hidupku"
Dari sikap serta gerak-gerik Tio Ceng tang yang gagah dan perkasa, siapapun akan tahu bahwa dia bukan seorang manusia sem barangan, akan tetapi sikapnya yang begitu menghormat terhadap Hoa Thian-hong membuat si anak muda itu merasa jadi riku.
Dalam keadaan pusing oleh persoalan yang sedang dihadapi, Hoa Thian-hong sebenarnya tidak berminat untuk mengadakan hubungan lebih jauh dengan orang ini, akan tetapi iapun tak mau kurang hormat sehingga mendatangkan kesan kurang baik bagi orang lain, maka dengan sikap yang tetap menghormat kembali ia berkata.
"Ooh.... rupanya Tio lo enghiong, sayur dan arak ditempat ini sangat lezat, bila lo enghiong tidak terburu-buru melakukan perjalanan, bagaimana kalau kita minum dulu satu dua cawan?"
Bagaikan orang yang kaget karena tiba-tiba mendapat lotre tujuh puluh lima juta rupiah, Tio Ceng tang berdiri melongo untuk beberapa saat lamanya, kemudian dengan gelisah sahutnya.
"Daripada menolak, baiklah kuterima penghormatan ini, kongcu, silahkan duduk, silahkan duduk"
Setelah kedua orang itu anbil tempat duduk, pelayan menambah cawan dan sumpit. Terdengar Tio Ceng tang berseru dengan cepat.
"EÃeb, pelayan.... siapkan lagi beberapa macam sayur, apabila ada arak yang paling baik, harap siapkan sepoci lagi!"
Pelayan itu mengiakan berulang kali kemudian buru-buru menuju kedalam dapur.
Sementara itu dari logat suara Tio Ceng tang, pemuda kita dapat menangkap bahwa suaranya membawa logat wilayah San see yang barat, maka iapun menegur.
"Tio lo enghtoog, aku boleh tahu darimana asalmu?"
"Aku juga berasal dari In tiong san!"
Sahut Tio Ceng tang dengan sekulum senyum kebanggaan tersungging diujung bibirnya.
"Oooh.... rupanya kita berasal dari desa yang sama, maap maap...."
Kata Hoa Thian-hong sambil memberi hormat lagi.
"Kongcu tak usah banyak adat, beberapa hari berselang aku dengar cerita dari para sahabat, katanya Hoa kongcu sedang berangkat pulang ke desa dan bermalam di Lok yang, mengapa...."
"Boanpwee telah bertamu dengan suatu kejadian yang ada diluar dugaan, ujar Hoa Thian-hong dengan wajah sedih, maka aku harus berangkat menuju keselatan, apakah locianpwe juga hendak pulang kedesa?"
"Bulan berselang aku baru saja berangkat dari desa, sekarang kami hendak menuju ke kota Cho ciu. Haahh.... haah.... haah.... kongcu, janganlah bersikap sungkan-sungkan, sebutan locianpwe tak berani kuterima....!"
Selang sesaat kemudian, pelayan telah menghidangkan sayur dan arak baru, sambil minum arak dan bersantap Hoa Thian-hong mengajak tamunya berbicara kesana kemari Semula dia bermaksud antuk mencari tahu kabar tentang orang-orang Kiu-im-kauw, tapi setelah tahu bahwa dia asal utara mau kesela tan, maka niatnya itupun dibatalkan.
Setelah pembicaraan berlangsung sekian lama, tiba-tiba Tio Ceng tang meletakan kembali cawan araknya keatas meja, lalu ujarnya dengan muka serius.
"Kami orang-orang dusun telah mendapat kabar yang mengatakan bahwa lo hujin telah kehilangan tenaga dalamnya sewaktu melakukan pertarungan untuk menumpas kaum sesat, semua orang sangat menguatirkan kesehatannya, bolehkah aku tahu bagaimana keadaannya sekarang?"
"Terima kasih atas perhatian locianpwa semua, Ibuku telah sehat kembali dan tenaga dalamnya telah pulih kembali seperti sedia kala. Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan lebih jauh.
"Apakah locianpwe sekeluarga berada dalam keadaan sehat walafiat juga?"
Sambil menjura Tio Ceng tang tertawa, jawabnya.
"Berbicara terus terang, semenjak kecil aku sendiripun telah luntang lantung dalam dunia persilatan, untungnya nasibku agak mu jur sehingga berhasil mendirikan sebuah perusahaan ekspedisi Toa tong piau kiok dikota Cho-Ciu, berkat bantuan dari sahabat sa habatlah usahaku dapat berlangsung agak lumayan."
"Oohh rupanya Tio lo piau tai!"
Tio Ceng tang tertawa lebar.
"Setelah perusahaan itu berjalan beberapa tahun, sekalipun hanya berupa usaha kecil-kecilan namun boleh dibilang aku berhasil mendapatkan banyak kemajuan dari situ. Siapa tahu setelah terjadinya pertarungan berdarah dalam pertemuan Pek-beng-hwie kaum lurus banyak yang dibunuh dan kaum sesat malahan mendapatkan kemenangan, kejadian itupun segera merubah pula nasib kehidupan dari kami orang-orang kecil dalam dunia persilatan...."
"Apakah usaha ekspedisimu tak boleh melewati wilayah kekuasaan, malahan harus membayar pajak yang mencekik leher kepada pihak perkumpulan....?"
Tanya Hoa Thian-hong dengan sepasang alis matanya berkenyit "Aiah, kalau cuma begitu sih urusan kecil"
Sahut Tio Ceng tang sambil tertawa.
"justru yang payah mereka main rampok dan main rampas dengan begitu saja, sejak kaum iblis memperoleh kemenangan maka perusahaan Toa tong piau kiok ikut disita pula oleh orang-orang Hong-im-hwie, aku tahu bahwa kekuatanku sangat minim, kalau main ribut jelas bukan tandingan sebab ibaratnya telur melawan batu, terpaksa selama banyak tahun kupendam terus rasa mangkel dan dongkolku ini"
"Siapa yang telah mengangkangi perusahaan Poa tong piau kiok mu itu?"
Tanya Hoa Thian-hong dengan cepat, menurut apa yang kuketahui orang-orang Hong im bwe Kebanyakan sudah mampus atau terluka ketika berlangsungnya pertemuan Kian Ciau tay hwe...."
Tio ceng tang goyangkan tangannya berulang kali, ia bertanya sambil tertawa.
"Kongcu tak usah gelisah, orang yang mengangkangi perusahaan Toa totg piau kiok itu bernama Hek Kun lun, dia masih belum berhak untuk menghadiri pertemuan Kian ciau tay hwe"
Sesudah tertawa terbahak-bahak, sambungnya lebih jauh.
"Sejak pertarungan di lembah Cu-bu-kok kekuatan Hongim-hwie telah runtuh dan mengalami kehancuran, dalam keadaan demikian aku rasa hanya bajingan-bajingan cilik macam Hek Kun lun yang berdiam di daerah pastilah sudah kabur terbirit-birit sambil memboyong keluarganya dan sekarang akupun sudth tiba waktunya untuk menerima kembali warisan ku yang sudah lama terbengkelai setelah belasan tahun hidup sebagai pemburu!"
Mendengar perkataan itu, tanpa terasa Hoa Thian-hong terbayang kembali akan perkumpulan Sin-kie-pang dibawah pimpinan Kho Hong-bwee, mungkinkah pendekar perempuan itu berhasil merubah moral anak buahnya, soal ini masih merupakan suata tanda tanya besar, selain itu Kiu-im-kauw telah menyusupkan pula pengaruhnya kedalam dunia persilatan, kalau dikatakan dunia sudah aman, sebenarnya boleh dibilang ucapan ini terlalu pagi.
Walau begitu Hoa Thian-hong merasa tidak tega untuk mengatakan keluar, dia kuatir mengurangi kegembiraan Tio Ceng tang.
Sementara itu Tio Ceng tang telah mengangkat cawan araknya seraya berkata dengan serius, Hoa kongcu, bukannya aku sengaja menyanjung atau menjilat pantat, tahukah engkau berapa banyak sahabat persilatan dan rakyat kecil yang merasa berterima kasih kepadamu?
tak usah kita jauhjauh mencari perumpamaan, cukup ambilah kedai ini sebagai contoh, kalau tempo dulu yang berkunjung kemaii kebanyakan adalah orang-orang perkumpulan, buka mulut lantas memaki, gerak tangan lantai memukul orang, habis makan kalau senang membayar, kalau tak senang lantas pergi dengan begitu saja, maka sekarang keadaannya telah berubah, manusia-manusia semacam itu sudah tergeser dari percaturan dunia persilatan, usaha rakyat kecilpun berjalan lagi dengan tertib tahu kah kongcu bahwa ketertiban dan keamanan ini semuanya adalah pemberianmu...."
Merah jengah selembar wajah Hoa Thrao Hong, dengan cepat dia menukas, Membasmi kaum durjana menolong kaum lenah adalah kewajiban setiap umat persilatan didunia, kemampuan apa yang kumiliki sebagai seorang manusia yang masih muda dan berilmu cetek?
Kalian tak usah memuji diriku, aku tak lebih hanya menyumbangkan sedikit tenaga untuk membantu kaum tua belaka...."
Pemuda itu kuaitir kalau di sanjung-sanjung lebih lanjut, cepat dia alihkan pokok pembicaraan kesoal lain.
"Selama satu dua hari belakangan ini, apakah Lo piau tau pernah melihat orang-orang dari Kiu-im-kauw?"
Agak tertegun Tio Ceng tang setelah mendengar perkataan itu, sahutnya setelah termanggu sesaat.
Aku memang pernah mendengar kalau Kiu-im-kauw yang sudah bubar telah bangkit kembali, tapi selama ini belum pernah kutemui orang-orang dari pihak Kiu-im-kauw"
Setelah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh.
"Cuma selang pagi tadi aku telah berjumpa dengan sekawanan manusia berbaju kuning yang dandanannya tosu bukan tosu, pendeta bukan pendeta, kalau dugaanku tak salah mestinya mereka adalah orang-orang Mo-kauw dari luar perbatasan"
"Kalau begitu mereka pastilah Tang Kwik-siu dan muridnya! pikir Hoa Thian-hong di hati. Cepat ia bertanya.
"Berapa orana yang telah lo piau tau temui? Mereka telah pergi ke arah sebelah manoa?"
Mereka semua berjumlah lima orang, empat pria dan seorang wanita, arahnya kalau bukan menuju kota Cho Ciu, pastilah menuju ke ke Ou kwang....!"
"Empat pria seorang wanita!"
Ulang Hoa Thian-hong dengan dahi berkerut kencang.
"kalau bukan menuju ke kota Cho Ciu? Pastilah menuju ke Oa kwang....?!"
Sambil meletakkan kembali cawan araknya keatas meja, Tio Ceng tang berkata lagi dengan wajah serius.
"Putraku pernah berjumpa dengan kongcu sewaktu ada dikota Cho-ciu, maka tatkala kongcu masuk sedalam warung tadi, ia telah menerangkan kepadaku, sebenarnya ketika itu juga akan kusampaikan berita ini kepada diri kongcu, akan tetapi berhubung...."
Betapa gelisahnya Hoa Thian-hong tatkala dilihatnya orang itu tidak langsung membicarakan urusan yang serius, cepat dia menukas dengan hati gelisah.
"Seorang sahabatku telah terjatuh ketangan musuh besarnya, karena memikirkan kesela-matannya aku jadi sangat murung, harap lo piau tau jangan mentertawakan kehilafanku itu!"
"Ooh tidak, tidak boleh aku tahu sahabat kongcu itu seorang laki-laki ataukah...."
"Dia adalah seorang nona, sahabat karib dari istriku, menurut berita yang kuterima katanya ia kena ditangkap orang-orang dari pihak Kiu-im-kauw!"
"Aaah! Kalau begitu kejadian ini aneh sekali!"
Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak anak muda itu, segera dia bertanya.
"Dimana letak keanehan itu? Apakah aku boleh tahu perempuan yang lo pia tau temui itu berapa besar usianya dan bagaimanakah dandanannya....?"
Tanpa berpikir panjang Tio Ceng tang segera menjawab.
"Dia adalah seorang nona yang cantik jelita bak bidadari yang turun dari kahyangan, usianya belum mencapai dua puluh tahunan, pakaian maupun dandanannya tidak berbeda jauh dengan keempat pria tersebut, diapun mengenakan jubah kuning dengan sepatu terbuat dari kain, ikat pinggangnya berwarna kuning pula"
Sesudah berhenti sebentar, sambangnya lebih jauh.
"Bukannya aku sengaja mengibul atau omong kosong, kecantikan nona itu benar-benar luar biasa, hampir saja aku tidak percaya kalau dldunia ini ternyata terdapat seorang perempuan yang memiliki kecantikan wajah yang begitu hebatnya"
Betapa terperanjatnya Hoa Thian-hong seteleh mendengar perkataan itu, dalam hati dia lantas berpikir.
"Aduuh.... jangan-jangan dia adalah Kun Gie?"
Ketika secara tiba-tiba Tio Ceng tang menyaksikan air muka si anak muda itu berubah jadi pucat piat bagaikan mayat, dia jadi sa ngat kuatir dengan penuh perhatian ujarnya.
"Hoa kongcu, kau...."
Setelah berbasil menguasai diri, cepat-cepat Hoa Thianhong berkata lagi.
"Lo piau tau, harap terangkan dengan cepat, aku harus segera selamatkan jiwanya, karena itu perjalanan pun harus kulakukan sekarang juga"
"Terima perintah!"
Tio Ceng tang. Sesudah termenung sebentar, dia berkata, kembali.
"Kemarin malam kami menginap didalam sebuah rumah penginapan yang memakai merek Kho ke ci, ketika baru saja bangun tidur secara lapat-lapat kudengar ada suara gaduh diluar halaman, mana secara iseng aku membuka jendela menengok keluar, kutemukan empat laki-laki dan seorang perempuan itu lagi bersiap-siap hendak berangkat, tapi perempuan itu ribut terus dan tak mau pergi, katanya kalau tidak naik kuda maka dia tak mau berangkat, waktu itu aku tidak terlalu menaruh perhatian, siapa tahu tiba-tiba gadis cantik itu berseru keras...."
Berbicara sampai disini, tiba-tiba ia membungkam dan tidak melanjutkan kembali kata-katanya. Hoa Thian-hong jadi sangat gelisah, cepat dia berseru.
"Apa yang dikatakan nona itu?"
Tio Ceng tang tidak langsunng menjawab, dengan sorot mata yang tajam dia menyapu sekejap sekeliling tempat itu, kemudian dengan suata yang lirih sahutnya.
"Nona itu berteriak demikian. 'Dari sini menuju ke Kiu ci masih ada lima enam ribu li jauhnya, aku tak kuat jalan lagi, kalau kalian mau menggali harta silahkan gali sendiri, aku tidak ingin kaya, aku tidak ingin....'"
"Dia tak ingin apa lagi?"
Sela Hoa Thian-hong. Sayang ketika berbicara sampai disitu, kakek yang tampaknya pemimpin rombongan itu sudah menghampirinya, sambil tertawa kakek itu segera memaki.
"Kamu si bocah perempuan edan, kami toh mau pergi ke kota Cho ciu, siapa bilang mau ke Kiu ci atau sip ci, tapi nona itu segera berteriak lagi. 'Kalau pergi ke kota Cho ciu, maka kalian semua pasti akan mampus semua! Baru saja berbicara sarpai disitu, nona itu sudah diseret pergi oleh kakek tua tersebut."
Hoa Thian-hong semakin murung, dengan dahi berkerut dia cuma bisa berguman seorang diri.
"Kiu ci.... menggali harta....Cho Ciu...."
Terdengar Tio Ceng tang berkata kembali.
"Menurut penilaianku, apa yang dikatakan nona itu sebagai Kiu ci pastilah tujuan mereka yang sebenarnya, sedang kakek itu sengaja mengucapkan kota Cho ciu untuk melamurkan perhatian orang, sayangnya beberapa orang itu terlalu cepat perginya, ketika kami berangkat ternyata jejak mereka sudah tidak tampak lagi"
"Lo piau tau, seingatmu nona itu berbicara dengan logat darimana? Selain Lo piau tau apakah ada orang lain yang pernah menyaksikan raut wajah nona itu?"
"Logat suara itu campuran, tapi sebagian besar sepertinya logat dari orang-orang Ho lim, ketika itu fajar baru menyingsing kebetulan aku bangun lebih pagi, maka ketika semua orang bangun sesudah mendengar suara ribut-ribut dari nona itu, mereka telah berlalu dari rumah penginapan tersebut"
Kalau begitu dia pastilah Kun gie ada nya, batin Hoa Thianhong didalam hati.
Tiba-tiba terdengar suara jeritan kaget menggema memecahkan kesunyian disusul seorang dara berbaju hijau lari masuk kedalam kedai dan berlutut dihadapan Hoa Thitan Hong sambil menangis tersedu-sedu.
"Kongcu ya!"
Serunya dengan lirih.
"jiwa siocia tak bisa dilindungi lagi, berusahalah cepat untuk menyelamatkan jiwanya...."
Secara mendadak Hoa Thian-hong merasakan dadanya amat sakit, cepat ia menarik napas panjang dan melancarkan kembali udara yang tersumbat didalam dadanya, kemudian ucapnya.
"Che giok, bangunlah! Aku sudah mengetahui akan persoalan ini, dan sekarang juga aku sedang berangkat menuju kesitu!"
Kiranya dara berbaju hijau itu bukan lain adalah dayang kepercaysaa dari Giok Teng Hujin yakni Pui Che-giok adanya, setelah melakukan perjalanan siang malam tanpa berhenti, mukanya tampak kusut rambutnya awut-awutan tak karuan, sekujur badan basah dan bau keringat, keadaannya benarbenar sangat mengenaskan.
Delam bopongannya tampak Soat-ji makhluk rase itu, tampaknya Soat-ji menderita luka yang cukup parah mukanya layu dan lesu, tubuhnya sama sekali tak mampu bergerak.
Tampaknya makhluk cerdik inipun menyadari bahwa majikannya sedang kesusahan dan rupanya diapun tahu kalau Hoa Thian-hong adalah orang yang paling akrab hubungannya dengan majikannya, sepasang ma ta yang merah dan pudar menatap anak muda itu dengan sorot belas kasihan sementara mulutnya memperdengarkan suara keluhan lirih.
Pui Che-giok bangkit berdiri dengan isak tangis yang menjadi, ujarnya lirih.
"Kongcu ya, cepatlah berangkat! Siocia sedang menderita karena menjalani siksaan api dingin melelehkan sukma, siksian itu terlalu sadis dan kejam.... oooh, kengcu ya cepatlah selamatkan jiwanya!"
"Sekarang dia berada dimana?"
Tanya Hoa Thian-hong dengan darah panas bergolak dalam dadanya.
"Dia ada di Cho ciu,"
Sahut gadis itu dengan air mata bercucuran membasahi wajahnya. Hoa Thian-hong meaggertak gigi menahan emosi, katanya kemudian.
"Perjalanan amat jauh, tak mungkin bisa kita capai tempat itu dalam waktu singkat, bersantaplah lebih dahulu!"
Seraya berkata ia lantas membopong Soat-ji, rase putih salju itu.
Pui Che-giok duduk di kursi dan berusaha untuk mengisi perutnya, tapi air mata jatuh bercucuran dengan derasnya membuat ia tak mampu menelan nasi dalam mulutnya itu, akhirnya ia menggeleng sembari berkata.
"Budak tak tega untuk makan!"
"Paksalah untuk makan sedikit aku akan berangkat duluan, dan engkau boleh menyusul belakangan"
Diangkatnya cawan arak itu lalu melolob Soat-ji untuk minum. Sambil melelehkan air matanya Pui Che-giok paksakan diri untuk makan, katanya lagi.
"Soat-ji kena dihajar oleh kaucu dengan ilmu pukulan Yu seng ciang hingga isi perutnya terluka, aku lihat dia sudah tiada harapan untuk hidup lagi."
Paras muka Hoa Thian-hong berubah jadi hijau membesi, sahutnya dengan suara dalam.
"Tak usah kuatir, aku pasti berhasil enteng hidupkan kembali dirinya!"
Memang parah sekali luka dalam yang diderita Soat-ji, begitu parahnya sampai nafsu untuk minum arakpun ikut hilang.
Hoa Thian-hong segera mengambil uang sekeping sebagai pembayaran uang arak, tapi Tio Ceng tang buru-buru membayarnya.
Dalam keadaan begini, Hoa Thian-hong tidak berminat untuk banyak bicara lagi, setelah saling memberi hormat, serunya kepada Tio Ceng-tang.
"Sampai jumpa lagi dikota Cho cia!"
Sekali berkelebat, sambil membopong Soat-ji berlalulah si anak mada itu dari sana.
Ia mulai sadar tahwa Pek Kun-gie telah terjatuh pula ketangan musuh, bahkan keadaannya gawat sekali, sedikitpun tidak berada dibawah keadaan Giok Teng Hujin, walaupun demikian gadis itu masih lebih mujur, kenapa, ia masih mempunyai orang tua, punya saudara dan lagi sebagai seorang putri ketua Sin-kie-pang.
Berbeda jauh dengan Giok Teng Hujin yang hidup menderita tanpa sanak tanpa saudara, kecuali orang dayang dan seekor rase salju, boleh dibilang tiada sanak lain, maka setelah mempertimbangkan sebentar pemuda ini mengambil keputusan untuk tinggalkan dahulu urusan Pek Kun-gie dan berusaha untuk selamatkan dahulu jiwa Giok Teng Hujin.
Rase salju itu dapat memahami perkataan manusia, dan lagi pandai pula bertempur, sambil melanjutkan perjalanan pemuda itu lantas salurkan hawa murninya untuk menyembuhkan luka yang diderita makhluk tersebut.
Begitula, sembari melanjutkan perjalsaan ia salurkan terus hawa murninya ke tubuh Soat-ji, dua tiga jam kemudian luka yang diderita rase salju itu ada enam tujuh bagian telah sembuh, waktu itulah makhluk tadi meronta bangun dan melanjutkan perjalanan sendiri dengan berlarian disamping pemuda itu.
Mereka melakukan perjalanan siang malam tanpa berhenti, ketika kentongan kedua baru menjelang, anak muda itu sudah tiba di kota Cho ciu.
Baru saja masuk kedalam kota, ia berjumpa dengan Oh Sam yang muncul dari hadapannya, si anak muda itu segera menegur.
"Pek hujin berada dimana?"
"Cu to baru tiba siang tadi, sekarang ia dikantor cabang, Cu amat mengguatirkan keselamatan kongcu maka beliau perintahkan hamba untuk menunggu kedatangan kongcu di sini!"
Sesudah melirik sekejap kepada Soat-ji makhluk rase itu, dia melanjutkan lebih jauh.
"Apakah nona kedua tidak melakukan perjalanan bersama-sama kongcu....?"
"Mungkin sudah terjadi kejadian yang tak terduga!"
Sahut Hoa Thian-hong dengan suara mendalam.
"aku sama sekali tak bertemu dengannya, cepat bawa aku menghadap cu bo mu!"
Oh Sam amat terperanjat, tanpa mengucapkan sepatah katapun ia segera putar badan dan lari kedepan.
Selang sesaat tibalah mereka berdua dikantor cabang perkumpulan Sin-kie-pang, Oh Sam langsung membawa Hoa Thian-hong menaju keruang dalam.
Ketika mendengar suara langkah manusia, Kho Hong-bwee segera menyambut seraya menegur.
"Thian-hong, dimana Kun gie?"
Hoa Thian-hong maju kedepan sambil memberi hormat, lalu sahutnya dengan kepala tertunduk.
"Kemungkinan besar kun gie telah bertemu dengan Tang Kwik-siu dan kena ditawan oleh mereka, semestinya boanpwee akan mengejar ke arah Ou kwang...."
Mula-mula Kho Hong-bwee tampak agak terkejut, tapi sejenak kemudian ia sudah tenang kembali, sambil bangunkan Hoa Thian-hong dia berkata.
"Berbicara menurut cengli, memang sepantasnya engkau datang ke Cho ciu lebih dulu engkau sama sekali tidak berbuat salah!"
Perempuan ini segera perintahkan pelayan untuk siapkan hidangan dan arak wangi.
Hoa Thian-hong tahu bahwa perempuan ini terkenal karena bijaksana, akan tetapi berhubung ia merasa tak punya katakata yang bisa diutarakan, maka sebagai gantinya ditatapnya sekejap perempuan itu dengan pandangan penuh berterima kasih.
Setelah memberi hormat pula kepada Pek Soh-gie, iapun menegur.
"Cici, Bong toako ada dimana?"
"Dia ada didalam ruang tengah"
Jawab Pek Soh gi.
"beristirahatlah lebih dulu, tentunya engkau merasa lelah bukan?"
Ketika mereka bertiga masuk keruang tengah, tampaklah Bong pay dengan badan dibalut sedang duduk bertopang dagu, mukanya murung bercampur kesal, sekalipun tahu ada orang yang masuki ruangan itu dia sama sekali tidak menegur ataupun angkat kepalanya.
Hoa Thian-hong segera maju menghampirinya, lalu menegur.
"Toako, bagaimana keadaan lukamu?"
Bong pay gelengkan kepalanya dan tetap membungkam dalam seribu bahasa. Kho Hong-bwee yang ada disampingnya segera tersenyum, ujarnya.
"Bocah ini bersikeras akan menantang Kiu-im Kaucu untuk berduel, tapi aku justru telah melarang dia pergi kesana!"
Diam-diam Hoa Thian-hong menghela napas panjang, dia tahu walaupun paras muka perempuan itu tampaknya tenang dan tidak menunjukkan sikap gugup ataupun gelisah, sebenarnya rasa kuatirnya terhadap keselamatan putrinya sukar dilukiskan dengan kata-kata, ia lantas mencari tempat duduk dan bermaksud mengisahkan pengalamannya sepanjang perjalanan menuju kesana.
Pada saat itulah dua orang dayang masuk kedalam ruangan sambil membawa nampan dan air teh.
Kho Hong-bwee segera ulapkan tangannya sembari berkata.
"Cucilah dulu mukamu, kemudian bersantap, setelah itu barulah bercerita...."
Tanpa banyak berbicara Hoa Thian-hong cuci muka dan makan hidangan ringan yang telah tersedia, ketika perjamuan telah siap.
Kho Hong-bwee segera mempersilahkan tamu nya untuk duduk sementara ia bersama Bong Pay dan Pek Soh-gie mengiringi disampingnya.
Sudah belasan tahun lamanya Kho Hong-bwee bertapa ditempat yang terpencil, kepandaiannya untuk menguasai diri memang melebihi siapapun, sekalipun ia tahu bahwa keselamatan putrinya terancam, namun sepanjang perjamuan berlangsung, tak separah katapun yang dia ucapkan menyinggung soal keselamatan putrinya itu.
Menanti sampai telah selesai, Hoa Thian-hong barulah mence-ritakan apa yang telah didengarnya dari mulut Tio Ceng tang.
Mendengar keterangan tersebut, dengan dahi berkerut Kho Hong-bwee termenung beberapa saat lamanya, kemudian ia baru berkata.
"Kalau memang rombongan itu benar-benar terdiri dari empat pria dan seorang wanita, mereka yang pria pastilah Tang Kwik-siu, Kok See-piauw beserta muridmuridnya, sedang yang perempuan tak usah diragukan lagi tentulah Pek Kun-gie budak binal Itu!"
"Bibi, aku sangat mengharapkan agar malam ini juga bibi sekalian melakukan perjalanan untuk menghadang jalan pergi mereka! ujar Hoa Thian-hong dengan wajah murung, apabila berhasil menyusul Tang Kwik-siu, maka berusahalah untuk mengadakan hubungan kontak dengan kantor cabang kota Cho ciu, begitu urusan disini selesai, boanpwe segera akan menyusul kalian kesana!"
"Ibu, beberapa orahg bajingan itu bukan manusia baikbaik"
Ujar Pek Soh-gie pula, keadaan adik memang terlalu bahaya, aku rasa asul Hoa toako memang sangat bagus, lebih baik sekarang juga kita lanjutkan perjalanan!"
Kho Hong-bwee tertawa.
"Untuk mengejar orang kita harus mempunyai arah tertentu, kalau arahnya saja tidak tahu, bagaimana mungkin pengejaran bisa di lakukan?"
Katanya cepat.
Menurut dugaanku, Kun gie memang sengaja berkaok-kaok untuk menarik perhatian orang banyak, dia mengatakan bahwa mereka akan berangkat ke Kiu ci untuk mencari harta, rupa-rupanya rahasia itu memang sengaja dibocorkan olehnya dengan harapan berita tersebut bisa terdengar oleh kita orang.
"Benar!"
Ujar Bong Pay pula.
"kejadian yang sebenarnya pastilah demikian. Hemm hemm hemm dia memang cerdik dan punya banyak akal setannya, kalau yang dikatakan urusan lain, belum tentu orang akan menaruh perhatian, tapi katakata mencari harta cukup menghebohkan siapapun yang mendengar, sudah tentu berita itu dengan cepat akan tersiar keseluruh dunia persilatan"
"Ibu, Kiu ci yang dia maksudkan mungkinkah bukit Kiu ci san yang letaknya di wilayah Yong kang?"
Tanya Pek Soh-gie dengan wajah amat murung karena gelisah. Kho Hong-bwee mengangguk tanda membenarkan.
"Benar, didaratan Tiooggoan memang terdapat beberapa tempat yang bernama Kiu ci, tapi kalau dia katakan jaraknya masih lima enam ribu li, maka tak bisa salah lagi yang dia maksudkan tentulah bukit Kiu ci san yang terletak di wilayah Yong kang!"
"Bibi, apakah selama ini engkau dan toa ci berdiam diri dibukit Huan keng san?"
Tanya Hoa Thiao Hong dengan dahi berkerut. Kho Hong-bwee menghela napas panjang, ia mengangguk dan menyahut.
"Kedua tempat itu sama-sama nama dari gunung dan sama-sama pula letaknya di barat daya"
Setelah berhenti sebentar, lanjutnya.
"Aku jadi agak curiga, wilayah utara maupun selatan wilayah keng ou merupakan daerah kekuasaan Sin-kie-pang, dengan dandanan mereka yang begitu menyolok, entah dengan cara apa mereka lanjutkan perjalanannya?" 0000O0000 SEMUA orang tertegun sebab ucapan itu memang masuk diakal, sementara suasana jadi bening dan tak seorangpun yang mampu menjawab, tiba-tiba terdengar Pek Soh-gie berseru.
"Aah, aku punya akal!"
Dia lantas bangkit berdiri dan buru-buru lari masuk kedalam ruangan.
Selang sesaat gadis itu telah muncul kembali membawa sebuah nampan beralasan kain kuning, dalam kain kuning itu tersedialah seperangkat alat untuk meramal nasib.
Menyaksikan itu, Bong Pay langsung berteriak.
"Aah, benar, bibi adalah seorang pertapa, soal lihat nasib, meramal nasib sudah menjadi ilmu pegangan yang paling diandalkan"
Cepat Pek Soh-gie menyingkirkan cawan dan sumpit dari meja, kemudian sambil letakkan nampan itu dihadapan ia berkata.
"Ibu, silahkan engkau buatkan satu ramalan untuk melihat nasib adik dewasa ini"
Kho Hong-bwee tertawa.
"Banyak orang mengatakan bahwa gadis cantik umurnya pendek sekalipun dalam kenyataan Kun gie terhitung seorang gadis yang ayu tapi ia masih belum terhitung seorang gadis rupawan, diapun tidak termasuk seorang manusia yang berumur pendek, aku rasa nasibnya tak perlu diramalkan lagi!"
Dengan muka murung dan gelisah Pek Soh-gie memohon lebih jauh.
"Mencari rejeki menghindari bencana merupakan perbuatan yang jamak bagi manusia, ibu haraplah engkau engkau suka menghitungkan nasib adik!"
Sekali lagi Kho Hong-bwee tersenyum.
"Rahasia langit tak boleh dibocokan, daripada mengundang kemarahan para malaikat, begini saja akan kubatasi dengan sebuah ramalan saja dan aku lihat urusan Kun gie untuk sementara waktu kita kesampingkan lebih dahulu akan kucoba untuk hitungkan nasib bagi Giok Teng Hujin saja!"
Mendengar perkataan itu, dalam hati kecilnya Hoa Thianhong menghela napas panjang, pikirnya.
"Satu gelombang belum tenang, gelombang lain telah datang.... aai, akulah yang menjadi biang keladi hingga terjadinya semua peristiwa ini!"
Berpikir sampai disitu, diapun lantas bertanya.
"Bibi, tahukah engkau Kiu-im Kaucu pada saat ini berada dimana?"
Baca Juga: Seruling Samber Nyawa 6
Baca Juga: Pendekar Satu Jurus 4