Eps 10 Tiga Maha Besar - Khu Lung
Baca online Tiga Maha Besar - Khu Lung
Cersil Tiga Maha Besar - Khu Lung.
"Semua kuil bekas milik Thong-thian-kauw telah dirampas orang-orang Kiu-im-kauw, menurut laporan dari bawahanku, Kiu-im Kaucu beserta kawanan jago lihaynya berkumpul semua dalam kuil It goan koan sebelah timur kota, Giok Teng Hujin sendiripun terkurung pula dalam kuil itu!"
Hoa Thian-hong menghela napas berat.
"Aaai....! Meskipun Kiu-im Kaucu menyatakan bahwa ia sedang menghukum Ku Ing-ing lantaran penghianatannya, pada hakekatnya ia justru sedang mencari gara-gara dengan boanpwee!"
"Kalau memang begitu tujuannya, itu berarti keselamatan Ku Ing-ing untuk sementara waktu tidak terancam bahaya, beristirahatlah semalam bila kekuatanmu sudah pulih kembali barulah usahakan pertolongan....!"
"Boanpwe memang sudah menyiapkan suatu rencana matang dalam soal ini,"
Sahut Hoa Thian bong sambil mengangguk.
"oleh sebab itulah kukatakan bahwa keselamatan Kun gielah justru yang bahaya, bibi! Lebih baik ramalkan jejaknya dengan begitu kita pun bisa siapkan pertolongan baginya"
Kho Hong-bwee berpikir sebentar, akhirnya dia mengangguk.
"Kalau memang begitu, baiklah!"
Sesudah cuci tangan dia lantas mengambil balok kura-kura itu dan mulai membuat ramalannya Ilmu silat yang dimiliki Hoa Thian-hong memang terhitung tinggi, akan tetapi dalam ilmu ramal meramal ia sama sekali tidak paham begitu pula dengan Bong pay, maka kedua orang ini hanya duduk membungkam di samping meja sambil menyaksikan Kho Hong-bwee membuat ramalannya.
Setelah melakukan ramalan dan memperhitungkan dalam hati kecilnya, tiba-tiba dengan paras muka berubah hebat ia berseru.
"Aia....! kok aneh benar...."
"Bagaimina menurut isi ramalan? Apakah adik menemui mara bahaya?"
Tanya Pek Soh-gie dengan terperanjat.
"Benar-benar sangat aneh!"
Ujar Kho Hong-bwee.
"menurut perhitungan ramalan, semestinya Kun gie masih berada dalam kota ini!"
Sesudah berhenti sebentar ia tertawa dan gelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya.
"Sepandai-pandainya tupai melompat toh pernah terjatuh juga, siapa tahu kalau ramalanku ini meleset?"
Hoa Thian-hong segera bangkit berdiri seraya berseru.
"Cuaca kadang kala cerah kadang kala mendung, nasib manusia kadangkala mujur kadangkala sial, aku rasa persoalan ini tak dapat dibiarkan berlalu dengan begitu saja, harap bibi beristirahat lebih bulu, biarlah boanpwe lakukan penggeledahan diseluruh kota"
Setelah memberi hormat, dia siap berlalu dari situ.
Secara diam-diam Kho Hong-bwee mengawasi terus perubahan mimik wajah si anak muda itu, melihat betapa panik dan cemasnya Hoa Thian-hong, dalam hati dia lantas berpikir, Kalau ditinjau dari kemurungan dan kegelisahan yang mencekam hatinya, sudah jelas kalau ia menaruh rasa cinta yang tebal terhadap diri Kun gie.
Sementara dia masih melamun, Bong Pay telah berteriak keras.
"Biarlah aku dan adik Soh-gie melakukan perjalanan bersama, akan kami periksa setiap rumah penginapan yang ada dalam kota ini!"
Tiba-tiba Kho Hong-bwee bangkit berdiri lalu berkata.
"Kalian tak usah memisahkan diri, kita laksanakan pencarian bersama-sama, Soh-gie! Undang kemari Oh Sam!"
Oh Sam segere menyahut dan masuk kedalam ruangan, sahutnya.
"Hamba ada disini!"
"Perintahkan semua pelindung hukum agar siap diruang tengah untuk menerima instruksi!"
Dengan hormat Oh Sam menyahut dan berlalu dari situ. Sepeninggalnya Oh Sam, barulah Kho Hong-bwee memandang sekejap ke arah pinggang Hoa Thian-hong, kemudian tegurnya.
"Kemana kaburnya pedang bajamu?!"
"Pedang baja telah patah, kitab Kiam keng berada dalam sakuku!"
"Ooh, kiong hi, kiong hi atas keberhasilanmu itu!"
Seru Kho Hong-bwee kemudian. Setelah berhenti sebentar, dengan wajah serius dia melanjutkan.
"Andaikata Kiu-im Kaucu memaksa engkau untuk menukar nyawa Ku Ing-ing dengan kitab Kiam keng tersebut, apa yang hendak engkau lakukan?!"
Mula-mula Hoa Thian-hong agak tertegun, menyusul sahutnya.
"Kalau itulah syaratnya, maka boanpwe harus pertimbangkan peraoalaa ini sebaik-baiknya!"
"Ah, dalam masalah ini tak mungkin bisa dipertimbangkan lagi!"
Teriak Bong Pay dengan gusar.
"sebagai seorang pria sejati, tidaklah pantas kalau engkau tunduk pada perintah dan tekanan musuh, sekalipun Ku Ing-ing akhirnya toh mati, setelah engkau berhasil pelajari isi kitab Kiam keng bukankah engkau dapat membunuh Kiu-im Kaucu untuk membalaskan dendam sakit hatinya? Aku lebih rela berhutang budi dan gorok leher bunuh diri daripada membiarkan kitab Kiam keng itu terjatuh ketangan Kiu-im Kaucu....!"
"Setiap urusan ada sumbernya,"
Kata Hoa Thian-hong.
"meskipun toako telah diselematkan jiwanya oleh sebatang Leng-ci, akan tetapi dahun Leng-ci tersebut kau peroleh dari tangan siaute, dalam hal ini sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan Ku lng ing, dengan sendirinya engkaupun tak usah berterima kasih dengan mengorbankan jiwamu!"
"Menurut Kun gie!"
Kata Kho Hong-bwee pula.
"dikala ia ditangkap Pia Leng-cu, engkau pernah menembusnya dengan menggunakan pedang bajamu itu, yaa urusan itu sudah lewat, rasanya akupun tak ingin banyak berbicara lagi, tapi engkau musti ingat, kitab Kiam keng adalah gudangnya ilmu silat, se
Jilid kitab pusaka yang diincar banyak orang, benda itu menyangkut pula mati hidupnya dunia persilatan, oleh sebab itu aku harap engkau suka mempertimbangkan sebaik-baiknya sebelum bertindak!"
"Terima kasih atas petunjuk dari bibi!"
"Hoa toako!"
Ujar Pek Soh-gie kemudian.
"pedang bajamu sudah patah, apakah engkau membutuhkan senjata lain?"
"Bila ada sebilah pedang panjang, tolong berilah sebilah untuk Sian te...."
Pek Soh-gie segera masuk kedalam ruangan, selang sesaat ia telah muncul kembali menyerahkan sebilah pedang panjang kepada pemuda itu.
Hoa Thian-hong segera menggembolnya dipinggang, setelah membopong Soat-ji bersama-sama jago yang lain mereka menuju keruang tengah.
Disana telah menanti beberapa puluh orang pelindung hukum, hiangcu dan tongcu, Kho Hong-bwee segera menghitung jumlahnya kemudian berangkatlah melakukan pencarian.
Setelah keluar dari kantor cabang kota Cho ciu, Kho Hongbwee memimpin rombongan itu menuju kepintu kota sebelah selatan.
Waktu itu fajar belum menyingsing, jalan raya sepi dan tak tampak seorang manusia pun yang berlalu lalang.
Tampaknya Kho Hong-bwee telah mempunyai keyakinan, dia memimpin rombongan itu bergerak maju kedepan, sedikitpun tidak tampak ragu-ragu.
Selang sesaat sampailah mereka kepintu selatan, karena pintu kota masih tertutup maka mereka masing-masing loncat naik keatas tembok kota, Tiba-tiba Hoa Thian-hong merasakan hatinya tergerak, pikirnya.
"Kalau dilihat keyakinannya yang begitu tebal, mungkinkah ramalannya memang tepat sekali?"
Sementara ingatan itu masih melintas dalam benaknya, semua orang sudah melompat keatas tembok kota, dari situ tampaklah Kho Hong-bwee dengan sorot mata yang tajam bagaikan kilat sedang mengawasi ke arah tenggara tanpa berkedip.
Hoa Thian-hong ikut memandang ke arah situ, apa yang dilihat hanyalah kegelapan ditengah keheningan, tak sesuatu apapun yang terlibat olehnya.
Oh Sam menyusul tiba kesana setelab menengok sekejap kedepan, tiba-tiba katanya.
"Lapor cubo, tempat itu masih memancarkan cahaya merah, agaknya baru saja dilanda kebakaran"
Kho Hong-bwee mengangguk, sambil ulapkan tangannya ia lantas berseru.
"Hayo berangkat!"
Ia lompat turun lebih dahulu dan bergerak menuju ke arah mana munculnya cahaya merah tadi.
Kawanan jago lainnya membungkam dalam seribu bahasa, melihat pemimpinnya sudah berangkat semua orangpun ikut menyusul dari belakang, semangat mereka tinggi dan keberaniannya mengagumkan.
Rupanya cahaya merah itu berasal dari sebuah dusun yang jaraknya kurang lebih lima enam li dari kota, tentu saja jarak sedekat itu tidak dipandang sebelah mata oleh orang-orang itu, tak selang beberapa saat kemudian sampailah mereka didepan dusun itu.
Dalam dusun tadi hanya terdapat tiga pulubhan keluarga petani, rumah mereka terbuat dari batu bata, rupanya kebakaran hanya terjadi disebuah gedung belaka, waktu itu api masih belum padam, sementara para penduduk desa yang menonton apipun masih berkerumun disitu sambil saling mem bicarakan peristiwa itu.
Tiba-tiba suasana yang semula gaduh menjadi hening dan sepi kiranya kedatangan sege-rombolan jago silat ini cukup mengejutkan orang-orang itu.
Dengan sorot mata yang tajam, Kho Hong-bwee menyapu sekejap sekitar tempat itu, kemudien sambil menatap seorang laki-laki berusia lima puluh tahunan yang berdandan sebagai seorang hartawan, tegurnya.
"Maaf kalau mengganggu sebentar lo wangwe, terimalah hormat dari pinto Kho Hong-bwee"
Ketika orang itu melihat bahwa pemimpin dari rombongan orang persilatan itu adalah seorang to koh berusia pertengahan, rasa kaget yang semula menghiasi wajahnya kian bertambah menyurut, akan tetapi setelah mendengar nama Kho Hong-bwee, tiba-tiba paras mukanya kembali berubah, untuk sesaat lamanya ia tak mengucapkan sepatah katapun.
Kho Hong-bwee tidak menggubris sikap orangitu, sambil tertawa ia menegur lagi.
"Lo wangwe, boleh aku tahu siapa namamu?"
Buru-buru orang itu maju beberapa langkah kedepan, seraya menjura sahutnya.
"Aku seorang rakyat kecil yang bernama Lau Cu cing!"
"Oooh Rupanya Lau wangwe, apakah rumah gedung wangwe yang ketimpa bencana kebakaran?"
"Benar.... benar...."
Jawab Lau Cu cing sambil beberapa kali mengangguk.
Dibelakang hartawan itu berkumpul pula sekawanan orang perempuan, pelbagai macam barang peti dan bungkusan tersebar di tanah, sekilas pandangan siapapun akan tahu bahwa merekalah yang telah ketimpa bencana kebakaran itu.
"Setelah Lau wangwe ketimpa bencana, sebetulnya tidaklah pantas bagi kami untuk mengganggu kesedihan yang kalian alami, tapi berhubung ada sedikit persoalan yang mau tak mau harus diperiksa, maka terpaksa kami harus mengganggu sebentar ketenangan wangwe!"
"Aaah.... mana.... mana.... kalau tootiang ada persoalan silahkan saja diajukan!"
"Boleh aku tahu lo wangwe, kebakaran ini disebabkan karena kurang hati-hati ataukah dikarenakan perbuatan dari musuh kalian?"
"Ooh.... kejadian ini karena kurang hati-hati orang kami sendiri, aku cuma seorang rakyat kecil yang tidak mempunyai musuh besar, meskipun kebakaran ini telah menghancurkan rumah leluhur, untung saja tidak sampai melukai orang!"
Dari ucapan tersebut dapatlah diketahui bahwa hartawan ini, masih merasa beruntung meskipun di tengah kesedihan.
Dalam anggapan orang lain, setelah hartawan ini menerangkan bahwa kebakaran disebabkan ketidak sengajaan dan sama sekali tiada hubungannya dengan musuh besar yang mencari balas, Kho Hong-bwee pasti akan membawa anak buahnya berlalu dari sana.
Apa yang terjadi?
Ternyata Kho Hong-bwee malahan ulapkan tangannya ke arah Oh Sam sekalian sambil memerintahkan.
"Periksalah disekitar tempat ini, coba lihat apakah ada sesuatu tanda yang mencurigakan?"
Oh Sam sekalian segera mengiakan dan menyebarkan diri untuk melakukan pemeriksaan, ada yang masuk kedalam dusun, ada pula yang keluar dari dusun itu, semua gerak-gerik mereka dilakukan dengan teratur dan tenang, sedikitpun tidak tampak berisik.
Setelah anak buahnya menyebarkan diri Kho Hong-bwee bertanya lagi.
"Lau wangwe, badanmu tetap semangatmu berkobar, aku rasa tentunya engkau adalah seorang jago persilatan bukan?"
"Waktu masih muda siau bin (rakyat kecil) pernah belajar ilmu bela diri kampungan, tujuanku tak lebih hanya untuk menyehatkan badan, tak berani Siau bin anggap diriku sebagai seorang jago persilatan!"
"Apakah Lau wangwe kenal dengan asal usul kami?"
Tanya Kho Hong-bwee sambil tersenyum.
"Bila dugaan Siau bin tidak keliru, semestinya tootiang sekalian adaleh para enghiong dari perkumpulan Sin-kiepang!"
Jawab Lau Cu cing setelah ragu sejenak. Setelah berhenti untuk tukar napas, dia melanjutkan kembali lebih jauh.
"Setiap penduduk Cho ciu sebagian besar mengetahui urusan tentang dunia persilatan sekalipun Siau bin jarang sekali melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, tetapi seringkali kudengar orang membicarakannya, maka dari itu Siau bin dapat menebak asal usul dari tootiang serta para enghiong sekalian"
Kho Hong-bwee mengerutkan dahinya, lantas berpaling dan bisiknya kepada Hoa Thian-hong dengan nada lirih.
"Rupanya nama jelek kami telah membangkitkan rasa was was dalam hati wangwe ini, sekalipun ia tahu duduknya perkara belum tentu bersedia untuk menerangkapnya kepada kita, bagaimana sekarang baiknya?!"
"Pengalaman boanpwe dalam dunia persilatan terlalu cetek, aku tidak berhasil menebak apa alasannnya sehingga wangwe itu berbuat demikian?"
Sahut Hoa Thian-hong dengan muka kesal. Bong Pay yang selama ini membungkam, tiba-tiba menyela dari samping.
"Aku lihat toa moay sangat lembut dan halus budinya, bagaimana kilau kita suruh dia saja yang menanyakan?"
Pek Soh-gie memandang sekejip ke arah ibunya, kemudian dengan langkah yang lemah gemulai menghampiri Lau Cu cing, sehabis memberi hormat katanya dengan lembut.
"Lo wangwe, siau li mempunyai seorang adik kembar yang terjatuh kelansan musuh, jiwanya terancam bahaya dan kami sedang mencari jejaknya, apabila lo wangwe mengetahui jejaknya, sudilah kiranya memberikan petunjuk untuk kami, atas bantuan dari lo wangwe itu kami pastilah akan merasa amat berterima kasih!"
Sementara itu fajar telah menyingsing, ketika mendengar perka-taan tersebut, Lau Cu cing segera alihkan perhatiannya ke atas wajah Pek Soh-gie ketika menyaksikan raut wajahnya tiba-tiba ia terperanjat dan mundur selangkah kebelakang sambil goyangkan tangannya berulang kali.
"Nona, aku harap engkau jangan banyak menaruh curiga!"
Serunya dengan cepat.
"aku bukan seorang jago persilatan, dan aku pun tidak tahu dimanakah adikmu berada, aku harap engkau janganlah mendesak diri ku sehingga aku tak mampi berbuat apa-apa"
Mendengar perkataan itu Pok Soh-gie lantas alihkan soror matanya ke arah ibuaya, dengan perasaan apa boleh buat dia gelengkan kepalanya berulang kali.
Jangankan Pek Hujin, Hoa Thian-hong sendiripun dapat mengetahui bahwa sebab musabab terjadinya kebakaran digedung keluarga Lau tersebut sudah pasti bukan belatar belakang karena ketidak sengajaan, akan tetapi setelah dilihatnya hartawan itu bersikeras untuk membungkam dalam seribu bahasa, tentu saja Kho Hong-bwee maupun Hoa Thianhong tidak ingin memaksa dengan memakai kekerasan.
Selang sesaat, para jago yang dikirim untuk melakukan pencarian di empat penjuru telah kembali kesitu, ternyata mereka tidak berhasil menemukan sesuatu apapun yang mencurigakan.
Waktu itu Oh Sam juga sedang kembali kepasukannya, ketika ia lewat disamping sebuah pohon yang besar, tiba-tiba wajahnya agak tertegun kemudian secepat kilat menghampiri pohon itu dan memeriksanya dengan seksama.
Kemudian dengan suara keras dia berseru.
"Hoa kongcu, cepat kemari!"
Hoa Thian-hong sangat terperanjat, cepat dia maju ke depan diikuti kawanan jago lainnya, bahkan Lau Cu cing ikut pula di paling belakang.
Pohon Waru itu sangat besar, daunnya rimbun dan tumbuh tepat didepan gedung keluarga Lau yang terbakar, jaraknya hanya empat lima kaki saja.
Pada bagian belakang dahan pohon itu tampaklah kulitnya telah disayat orang bagian, sementara diatas dahan yang tersayat itu diukir beberapa buah tulisan dengan ilmu sebangsa tim kongci yang sangat kuat hingga membekaslah seringkaian tulisan yang nyata.
Adapun tulisan itu, kira-kira berbunyi demikian.
"Ditujukan Hoa Thian-hong, Berangkat ke Kiu ci secepat mungkin, segera!"
Tulisan Segera itu tulisan dengan sangat cepat, dibawahnya tercantumlah sebuah tanda bulatan yang diberi ekor, sekilas pandangan orang akan mengira gambaran itu sebagai gambaran kecubong (anakan katak).
Orang lain tidak kenal tanda tersebut lain halnya dengan Bong Pay, begitu mengetahui lambang tadi kontan dia berseru.
"Lhoo.... ini kan lambang kipas dari Cu supek?"
Hoa Thian-hong mengawasinya dengan lebih seksama sesudah mendengar seruan itu, memang ucapan itu tak salah, lukisan tersebut memang mirip sekali dengan gambar sebuah kipas, maka kepada Kho Hong-bwee dia lantas berkata.
"Bibi, tulisan ini rupanya sengaja ditinggalkan Dewa yang suka pelancongan Cu lo cianpwe, kalau dugaanku tak keliru, tulisan ini pastilah ada hubungannya dengan masalah Kun gie!"
Pek Soh-gie maju menghampiri tulisan itu setelah diraba sebentar diapun berkata pula.
"Tulisan ini masih basah, tampaknya di buat belum lama berselang!"
Sampai disitu Kho Hong-bwee pun berpaling lagi ke arah Lau Cu ci ng seraya berkata.
"Lau wangwe, kami sama sekali tidak mempunyai maksud jahat terhadap dirimu, bila engkau tahu tentang jejak putriku itu, mohon sudilah kiranya memberitahukan kepada kami, pinto pasti akan membalas budi kebaikan itu!"
"Siau bin benar-benar tak tahu urusan, tiada sesuatu yang mampu kuucapkan!"
Sahut Lau Cu cing sambil berbungkokbungkok.
Mendengar perkataan itu, para jago dari Sin-kie-pang ratarata menunjukkan wajah kegusaran, walau begitu mereka tak berani mengutarakan kebuasan mereka itu dihadapaa umum, sebab semua orang tahu nyonya ketua yang memimpin mereka sekarang terhitung seorang pemimpin yang jujur.
Dalam keadaan begini, apa lagi yang bisa mereka lakukan kecuali secara diam-diam melotot ke arah Lau Cu cing dengan muka buas.
Dipelototi banyak orang, Lau Cu cing jadi serba salah dan merasa amat tidak tenteram, sorot malanya berulang kali melirik ke arah Hoa Thian-hong dengan maksud mohon pertolongannya.
Kendatipun merasa curiga, Hoa Thian-hong tidak sampai bersikap lain, ia menjura dan berkata.
"Aku adalah Hoa Thian-hong, apakah lo wangwe akan memberikan sesuatu petunjuk?"
Buru-buru Lau Cu cing balas memberi hormat, sahutnya.
"Sudah lama aku dangar orang berkata bahwa Hoa tayhiap mempunyai sebilah pedang baja yang berwarna hitam dan selalu tergantung di pin gang, kenapa...."
Belum habis orang itu berkata, Hoa Thian-hong telah menukas sambil tertawa tergelak.
"Haahh.... haahhh.... haahhh.... pedang baja itu sudah patah jadi dua, maka sebagai gantinya aku telah menggembol sebilah pedang yang lain!"
Lau Cu cing mengangguk tiada hentinya dan berseru.
"Aku memang benar-benar tiada sesuatu yang dapat dikatakan!"
Setelah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh.
"Hoa tayhiap adalah enghiong yang dipuji dan dihormati oleh setiap umat persilatan apabila ada hal-hal yang perlu kuberitahukan sudah pasti akan kuutarakan secara blak-blakan"
"Aaah, aku masih muda, aku tak berani menerima kebaikan dari Lo wangwee!"
Kata pemuda itu lagi sambil tertawa. Sementara itu Kho Hong-bwee yang mengamati terus dari samping, diam-diam berpikir dalam hati.
"Licik amat kakek tua ini, tampaknya dia termasuk pula seorang lakon tersembunyi!"
Sesudah termenung sebentar, dia lantas bertanya.
"Thian bong, apa rencanamu selanjutnya?"
"Aaaai....! Sekarang boanpwe toh sudah berada dikota Cho ciu, bila kukesampingkaa urusan Ku Ing-ing dengan begitu saja, terus terang saja dalam hati kecilku aku merasa tak tega...."
"Baik!"
Tukas Kho Hong-bwee kemudian, aku dan mereka semua akan melakukan pengejaran lebih dahulu, bila urusanmu disini sudah selesai segeralah menyusul kami!"
"Boanpwe terima perintah"
Sahut Hoa Thian-hong sambil memberi hormat.
Kho Hong-bwee tampak menggetarkan bibirnya seperti mau mengatakan sesuatu lagi tapi maksud itu akhirnya dibatalkan, sambil memimpin anak buahnya berangkatlah mereka menuju keselatan.
Menanti rombongan itu sudah lenyap dari pandangan, Hoa Thian-hong baru menghela napas panjang, ia merasakan kesepian.
Selang sesaat kemudian, dia baru menghapus tulisan Cu Thong itu dan manjura ke arah Lau Cu cing, tanpa mengucapkan kata-kata lagi dia membawa Soat-ji rase salju itu kembali ke kota.
Setelah kembali kedalam kota, dia ambil keputusan untuk menyusup kedalam kuil It goan koan malam itu juga, kalau bisa Ku Ing-ing akan sekalian diselamatkan jiwanya, maka begitu tiba dirumah penginapan dia lantas tidur nyenyak.
Ketika bangun tengah hari itu, dia lantas menyembuhkan kembali luka yang diderita Soat-ji dengan tenaga dalamnya yang sempurna, selesai bersantap siang, Soat-ji tidur diatas pembaringan sedangkan Hoa Thian-hong ambil keluar kitab kiam keng itu dan mempelajarinya didepan meja.
Pada halaman pertama, tercantumlah masalah tentang pedang sebagai suatu benda, ternyata apa yang dibicarakan sama sekali berbeda dengan kitab pedang manapun juga.
Kalau didalam kitab pedang biasa maka yang dititik beratkan adalah jurus serangannya yang khusus, maka dalam kitab kiam keng ini yang dibicarakan adalah soal ilmu pedang itu sendiri, sekalipun disertai juga hampir seratus macam lukisan yang berbeda-beda akan tetapi isinya berlainan dan terselip perubahan yang begitu banyak nya sehingga tak mungkin bisa dipercayakan dalam waktu singkat.
Dalam waktu singkat Hoa Thian-hong telah terjerumus kedalam isi kitab itu, seluruh perhatiannya dikonsentrasikan menjadi satu, tanpa terasa malam pun menjalang tiba, selama ini meskipun ada sebagian kecil dari isi kitab itu dapat dipahami olehnya, tapi dapatkah ilmu itu dimanfaatkan bila terjadi pertarungan, masih merupakan sebuah tanda tanya besar.
Setelah menyimpan kembali kitab Kiam keng, pelayan datang membawa lampu lentera den siapkan makanan.
Soat-ji masih berbaring diatas pembaringan, sepasang matanya memancarkan sinar tajam, rupanya kesehatannya telah pulih kembali seperti sedia kala....
Hoa Thian-hong memandang sekejap, ke arah binatang itu, lalu tertawa pikirnya di hati.
"Soat-ji memang hebat dan berbahaya, kalau tenang ia lebih tenang dari perawan kalau sudah bergerak lebih cepat dari loncatan kelinci.... tidak aneh kalau waktu turun tangan kelihayannya luar biasa...."
Sepasang telapak tangannya segera diluruskan kedepan dan bersiul nyaring.
Secepat sambaran kilat Soat-ji makhluk aneh itu melompat ketanggan Hoa Thian-hong deagan seksama pemuda itu memeriksa seku jur tubuhnya, setelah mengetahui bahwa lukanya telah sembuh, ia merasa amat gembira maka ditaruhnya binatang itu diatas meja untuk bersantap bersamasama.
Hubungan manusia dengan binatang ini berlangsung makin akrab, diam-diam pemuda ini menjadi terkenang kembali akan diri Giok Teng Hujin, tiada hentinya ia menghela napas panjang.
Tiba-tiba terdengar suara langkah manusia berkumandang memecahkan kesunyian, menyusul pintu kamar sebelah dibuka orang, kalau didengar dari pembicaraan tersebut, rupanya ada dua orang yang menginap dalam sebuah kamar.
Suara pembicaraan kedua orang itu amat nyaring dan bertenaga, seringkali kata-katanya disertai pula dengan kata sandi yang sering dipakai orang persilatan.
Dari pembicaraan tersebut Hoa Thian-hong segera mengetahui bahwa kedua orang itu adalah jago dari kalangan hitam, maka diapun tidak menaruh perhatian khusus.
Jilid 26 . Menyelamatkan Giok Teng Hujin SELANG sesaat kemudian, kedua orang itupun bersantap didalam kamar, tiba-tiba terdengar seorang diantaranya yang lebih muda berkata.
"Ang kiu ko, sebenarnya siapa yang telah membocorkan rahasia itu hingga urusan jadi heboh?"
Suara dari orang she Ang itu kedengaran lebih serak dan bertenaga, terdengar dia segera menyahut.
"Perduli amat berita itu berasal dari siapa, pokoknya urusan kita adalah melaksanakan tugas tersebut!"
Orang yang pertama tadi rupanya meneguk dulu araknya, kemudian dengan suara berat katanya lagi.
"Aaaai....! Siaute kuatir kalau perjalanan kita cuma sia-sia belaka, sekali lagi kita ke tanggor batunya...."
"Ingat saudara, tembok bertelinga, lebih baik tak usah kau ungkap lagi masalah itu, Hmm! Kalau engkau tidak ingin mencari nama dan kedudukan silahkan saja pulang ke rumah membopong anak meniduri istri dan hidup riang gembira, siapa yang akan mengurusi dirimu lagi!"
Orang itu segera tertawa dingin dan berseru dengan nada mendongkol.
"Heehh.... heeeh.... heehh.... omong kosong, aku Ciang Kin bukan seorang manusia yang takut mati, aku cuma merasa bahwa ilmu silat yang dimiliki lawan kita terlampau tinggi padahal Hong-im-hwie sudah hancur berantakan dan tercerai berai, dengan andalkan kita beberapa orang prajurit yang kalah perang rasanya masih bisa untuk mencari posisi yang menguntungkan, kalau cuma jiwa yang melayang sih urusan kecil, bagaimana kalau sampai ditertawakan orang?"
Hoa Thian-hong yang mencari dengar pembicaraan itu, dalam hatinya segera berpikir.
"Aaah....! rupanya sisa-sisa komplotan dari Hong-im-hwie, entah urusan penting apakah yang sedang mereka kerjakan?"
Terdengar orang she Ang itu berkata lagi dengan suara lirih.
"Inilah kesempatan bagi kita untuk membalikan diri dan mencari kedudukan, sekalipun harus korbankan jiwa tua kita juga harus melaksanakannya dengan mati-matian!"
Ciang Kin lantas berbisik pula dengan suara lembut.
"Menurut berita yang kudengar, katanya musuh besar kita mendapat perintah ibunya untuk pulang kedesa, ketika tiba dikota Lok yang tiba-tiba ia berputar arah, menurut berita kemarin hari dia telah munculkan diri di Hoo lam...."
Pembicaraan kedua orang itu makin lama semakin lirih, buru-buru Hoa Thian-hong pusatkan seluruh perhatiannya untuk mendengarkan pembicaraan tersebut dengan seksama.
Terdengarlah orang she Ang itu sedang berbisik dengan suara yang sangat lirih.
"Pendapatmu itu keliru besar, meskipun ilmu silat yang dimiliki musuh besar kita sangat lihay, tapi dia bukan seorang manusia yang serakah, bahkan dia anggap dirinya sebagai seorang pendekar, maka setiap perbuatannya dilakukan menurut cengli, maka dalam masalah ini bukan dia yang musti kita kuatirkan, tapi nenek sialan dari Kiu-im-kauw dan Pek loji dari Sin-kie-pang!"
"Cong tang kee memerintahkan kita semua agar berkumpul di kota Kim leng, apakah kita harus berjalan mengitari dulu propinsi Hok kian langsung menuju Bu gi?"
"Tentu saja bukan begitu maksudnya,"
Jawab orang she Ang dengan suara dingin.
"cong tangkee memerintahkan semua teman agar berputar melewati arah tenggara, maksudnya hanya untuk menghindari bentrokan dengan pihak Sin-kie-pang, padahal kota Kiu ci bila dimaksudkan sebagai arti suatu tempat maka letak yang sebenarnya adalah dikaresidenan Pa kay di Ghong see, kalau diartikan sebagai nama sungai maka letaknya dekat Tan yang di propinsi Kang siok, bila diartikan sebagai nama telaga letaknya ada di sebelah timur laut karesidenan Kang ling, telaga itu dibuat oleh Beng taysu pada jaman Liang dengan tenaga manusia, tapi kalau dimaksudkan sebagai bukit Kiu ci.... waah banyak sekali jumlahnya!"
"Pengetahuan siaute amat cetek, aku hanya tahu di karesidenan Huan sui sian pada propinsi Hoo tam terdapatt sebuah bukit Kiu ci san, Kiu ko!"
"Coba terangkanlah ditempat mana lagi terdapat bukit yang bernama bukit Kiu ci san!"
"Disebelah barat keresidenan Ciau hua sian pada propinsi Su chian terdapat sebuah bukit yang bernama Kiu ci san, disebelah utara karesidenan Sam kang sian dipropinsi Kwang see terdapat pula sebuah bukit kiu ci san, bukit itu bentuknya sembilan buah patahan dan terdiri dari batu karang yang tajam, ditengahnya terdapat sebuah air terjun yang amat besar, inilah bukit Kiu ci san yang sebenarnya, sedang bukit Bu gi san di propinsi Hok kian terdapat pula sembilan buah tekukan, pemandangan disitu sangat indah, namun dalam kenyataan bukit itu bukanlah bernama bukit Kiu ci!"
"Jadi kalau begitu tempat yang kita tuju adalah bukit kiu ci san yang letaknya ada di See lam?"
Orang she Ang itu tidak menjawab, rupanya ia lagi mengangguk. Terdengar Ciang Kin berkata lagi.
"Oooh....! Rupanya Kiu ko sudah pernah menjajahi seluruh kolong langit sehingga pengetahuannya begitu luas, sudah banyak tahun siaute bergaul dengan dirimu, sungguh tak nyana engkau adalah manusia selihay itu!"
"Aah. aku sih cuma mendengarnya dari Cong tangkee kita!"
"Sekalipun begitu, toh pengetahuanmu jauh lebih luas daripada aku sendiri!"
Diam-diam Hoa Thian-hong tertawa geli setelah mendengar perkataan itu, ketika ia merasa bahwa pembicaraan selanjutnya adalah kata-kata yang tidak penting, dia lantas menggembol pedangnya, membopong Soat-ji dan diam-diam tinggalkan rumah penginapan itu.
Waktu itu senja telah menjelang tiba, jalan raya ramai sekali, dengan langkah yang santai Hoa Thian-hong menyelusuri jalan menuju selatan pintu kota.
Selang sesaat kemudian sampailah anak muda itu disekitar kuil It goan koan, dari kejauhan tampaklah pintu gerbang kuil itu tertutup rapat, sepintas lalu bangunan itu sudah tidak mirip sebuah kuil lagi, cahaya lampu menerangi seleruh penjuru, dari situ dapatlah diketahui bahwa jumlah penghuni yang bberada disitu amat banyak.
Setelah memandang sekejap dari kejauhan, anak muda itu segera menyusup masuk kedalam sebuah lorong dan menyelinap kebelakang bangunan kuil tadi.
Dibelakang halaman kuil terdapat sebuah loteng yang terdiri dari empat tingkat, bangunannya amat megah dan mentereng, dahulunya merupakan tempat penting dari It goan koan, bahkan ketika Giok Teng Hujin menjamu Hoa Thianhong tempo hari, perjamuan itupun diadakan pada tingkat paling tinggi dari bangunan tersebut.
Dalam hati Hoa Thian-hong lantas berpikir.
"Bila Kiu-im Kaucu berada didalam kuil dia sudah pasti berada dalam bangunan itu, tapi dimanakah Giok Teng Hujin disekap?"
Tiba-tiba ia saksikan dua sosok bayangan manusia berkelebat lewat didepan sana, ilmu meringankan tubuh yang dimiliki kedua orang itu sudah mencapai puncak kesempurnaan hingga gerak-geriknya begitu enteng bagaikan segulung asap ringan saja.
Mula-mula Hoa Thian-hong merasa terperanjat tapi setelah mengetahui siapakah kedua orang itu ia jadi sangat kegirangan buru-buru serunya dengan ilmu menyampaikan suara.
"Paman Suma...."
Kiranya salah seorang diantara dua orang yang memakai baju hijau dan menyoren pedang itu tak lain adalah Kiu mio kiam kek (jago pedang berjiwa rangkap sembilan) bermuka putih, berambut panjang dan berjubah pendeta warna abuabu, senjatanya adalah sebuah sekop perak, siapa lagi kalau bukan Cu Im taysu....
Pada saat itu Suma Tiang-cing sudah siap melompat kedalam pekarangan kuil, ketika mendengar pangilan tersebut ia batalkan niatnya dan malahan menghampiri si anak muda itu.
Hoa Thiian hong segera menyambut kedatangan kedua orang itu, baru saja ia hendak memberi hormat, Cu Im taysu telah memburu datang sambil membangunkan anak muda itu.
"Nak, sudah lama engkau tiba di sini?"
Tegurnya sambil tertawa ramah.
"Tengah malam kemarin boanpwe baru sampai disini, ada urusan apa taysu dan paman Suma datang kesini?"
Kiu mio kiam kek, Suma Tiang-cing segera menjawab.
"Aku dan taysu baru saja pulang setelah berpesiar kebukit Tay san, sepanjang jalan aku dengar orang berkata bahwa Kiu-im Kaucu telah menuju ke kota Lok yang bahkan berhasil menangkap Giok Teng Hujin yang mengkhianati dirinya. Mendengar berita tersebut aku segera memburu datang kemari dengan harapan bisa selamatkan jiwanya, sebab ketika jiwaku terancam tempo hari, berkat beberapa tetes Leng-ci mustika pemberian Ku Ing-ing lah jiwaku selamat, aku tak bisa melupakan budi kebaikannya ini....!"
Hoa Thian-hong sama sekali tidak menyangka kalau sebatang Leng-ci pemberian Ku Ing-ing telah mengundang bantuan yang begitu banyak dari kawan-kawan persilatan, pada hal dua pertiga diantaranya sudah dia makan sendiri, sedangkan sisanya sepertiga pun harus dibagi untuk Suma Tiang-cing, Chin Giok long dan Bong Pay.
Berbicara menurut perbuatan yang telah dilakukan Ku Inging selama ini, semestinya Suma Tiang-cing yang benci akan kejahatan tak mungkin akan singsingkan lengan baju untuk membantu dirinya, tapi kenyataannya jago berangasan itu telah datang kemari untuk memberikan pertolongan, kejadian ini boleh dibilang sama sekali diluar dugaan siapapun.
Melihat wajah Hoa Thian-hong yang diliputi kesedihan dan kemurungan, Cu Im taysu merasa tak tega, segera sahutnya.
"Nak, janganlah murung! Sebenarnya aku dan paman Samu mu sudah kelabakan setengah mati, sekarang setelah bertambah dengan kau seorang maka berarti kesempatan kita untuk menolong orang semakin besar, mari kita rundingkan sampai masak, kemudian segera turun tangan!"
Haruslah diketahui, meskipun Hoa Thian-hong tersohor didunia persilatan, perawakannya tinggi kekar, orangnya jujur dan wataknya tegas, akan tetapi pada hakekatnya dia baru berusia sembilan belas tahun, di riridingkan Chin Wan-hong dan Pek Kun Ci pun masih jauh lebih muda, ia termasuk seorang pemuda yang cerdik tanpa menghi langkan sifat kejujurannya, sederhana, polos tapi tidak bodoh, terhadap kaum yang lebih tuapun sangat menaruh hormat....
Oleh sebab itulah kebanyakan orang persilatan dari golongan lurus sama-sama menyayangi dirinya, menganggap dia sebagai seorang rekan yang baik, hanya saja ada sebagian orang mengutarakan perasaannya itu secara terus terang, ada pula yang cuma menyimpannya didalam hati.
Sementara itu Suma Tiang-cing telah menuding ke arah loteng tinggi didalam kompleks kuil It goan koan seraya berkata.
"Ketika senja menjelang tiba tadi, aku telah menyusup kedalam kuil dan berhasil menangkap seorang imam cilik dari Thong-thian-kauw, imam cilik itu bertugas sebagai pelayan yang melayani orang-orang Kiu-im-kauw, menurut pengakuannya, Kiu-im Kaucu berdiam ditingkat ketiga bangunan loteng itu, sedangkan Ku Ing-ing disekap pada loteng tingkat paling atas dan sedang menjalankan siksaan Api dingin melelehkan sukma yang amat keji, bagaimanakah cara menjalankan siksaan tersebut dia tak menyaksikan sendiri, maka tak dapat dikatakan secara jelas, tapi dia tahu babwa Ku Ing-ing jelas belum mati!" 0000O0000 HOA THIAN-HONG menghela nafas panjang. Aaai....! Jika Kiu-im Kaucu punya keinginan untuk membunuh Ku Ing-ing, maka perbuatan itu bisa dilakukan dengan gampang sekali bagaikan membalik telapak tangan sendiri, tapi kenyataannya ia tidak mau turun tangan untuk bereskan jiwanya, itu berarti dia sengaja hendak menyiksa mangsanya dan menggunakan dia sebagai umpan untuk memancing boanpwee masuk jebakan.
"Kenapa begitu?"
Tanya Suma Tiang-cing dengan sepasang alis matanya berkenyit.
Kiu-im-kauweu memandang keponakan sebagai paku dalam mata, dia menganggap aku sebagai penghalang yang menghalangi niatnya untuk merajai seluruh kolong langit maka kalau bisa secepatnya berusaha untuk lenyapkan aku, sudah dua kali keponakan bentrok dengan diri nya, tapi setiap kali menang kalah sukar ditentukan, oleh karena itu rasa bencinya terhadap diriku semakin menebal.
Iapun lantas menceritakan peristiwa yang telah dialaminya selama ini, ketika Cu Im taysu dan Suma Tiang-cing mendengar kalau ia telah berhasil mendapatkan kitab kiam keng, kedua-duanya merasa gembira tapi sewaktu mendengar Tang Kwik-siu tiba masuk kedaratan Tionggoan untuk mencari harta di bukit Kiu ci san, kembali mereka tertegun.
Cu Im taysu menghela napas panjang, ujarnya.
"Meskipun aku sudah menduga bahwa pertikaian dalam dunia persilatan belum selesai, namun tak kusangka kalau perubahan yang berlangsung sedemikian cepatnya, kalau ditinjau dari sini dapatlah diketahui babwa Kiu-im Kaucu mempunyai ambisi yang sangat besar, Tang Kwik-siu mempunyai rencana busuk yang sukar diraba arah tujuannya sedang sisa-sisa laskar dari Hong-im-hwie dan Thong-thian-kauw masih belum mau menyerah dengan begitu saja, aku rasa hawa nafsu membunuh yang menyelimuti dunia persilatan dewasa ini jauh lebih tebal daripada pertemuan di Pek-beng-hwie mau pun dalam pertemuan Kian ciau tay hwe!"
Suma Tian cing tertawa dingin.
"Heh.... heehh.... heeh.... Sebagian besar masyarakat didunia ini kebanyakan menganggap bahwa yang berhasil jadi raja, yang kalah jadi penyamun karena ketidakpuasan manusialah menjadikan sebab musabab hingga terjadinya pertikaian ini, apabila situasi dalam dunia persilatan dapat dibalikkan seperti keadaan pada lima puluh tahun berselang dimana orang yang belajar silat suka akan gengsi, membicarakan soal kedudukan lebih mementingkan pertarungan satu lawan satu, semua orang menganggap yang menang kuat yang kalah harus mengaku kalah dan malu untuk main kerubut, maka dunia persilatan akan menjadi aman. Bila kita menghendaki keadaan tersebut maka hanya ada satu cara saja yang bisa kita lakukan!"
"Apakah caramu itu paman?"
Tanya Hoa Thian-hong dengan dahi berkerut kencang.
"Hmm! Apalagi? Kita bantai dan bunuh semua kawanan manusia durjana itu dari muka bumi, asal kaum gembong iblis itu sudah tersapu lenyap, dunia pasti akan aman."
"Omintohud!"
Seru Cu in taysu, selama dunia masih dihuni oleh makhluk yang bernama manusia, maka kejahatan tak mungkin bisa musnah dari hati umatnya, sekali pun kau basmi kawanan manusia durjana ge nerasi ini toh dari generasi yang akan datang akan muncul pula manusia-manusia durjana lainnya.
Suma lote!
Ucapan yeng disertai emosi seperti apa yang kau katakan itu bukanlah suatu cara yang jitu, Thianhong!
Jangan kau anggap perkataannya itu sebagai sungguhan!"
Suma Tiang-cing tertawa dingin.
"Taysu engkau keliru besar!"
Serunya kembali.
"Jikalau kita bunuh habis manusia-manusia durjana dari generasi sekarang sekalipun pada generasi yang akan datang muncul pula manusia durjana lain, aku rasa sifat kejahatannya tentu jauh lebih ringan"
"Thian memberikan pelajaran kepada umatnya agar saling mengasihi sesamanya, bila kita gunakan membunuh untuk mencegah membunuh, maka ajaran ini terlalu tidak masuk di akal dan tak pantas dituruti, Thian-hong! Jangan kau gubris ajaran semacam itu."
Hoa Thian-hong segera menghela nafas panjang, ia tahu Suma Tiang-cing masih belum puas, apabila perdebatan in berlangsung terus sampai beberapa haripun tak ada habisnya, buru-buru ia menyela dari samping.
"Pendapat dari taysu didasarkan pada pelajaran agama, sedang pendapat paman Suma didasarkan pada kenyataan, aku rasa kedua duanya masuk diakal."
Berbicara sampai disini, tiba-tiba dia membungkam dan tidak mengatakan apa-apa lagi. Cu Im taysu segera menyambung.
"Memang benar, urusan paling penting yang harus kita pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya untuk menolong orang, menurut pendapatmu bagaimana kita musti turun tangan?"
Hoa Thian-hong termenung dan berpikir sebentar, lalu menjawab.
"Ku Ing-ing disekap pada loteng tingkat keempat, sedangkan Kiu-im Kaucu menjaga pada tingkat ketiga, bila boanpwe ingin menye-lamatkan Ku Ing-ing tanpa diketahui olehnya, sudah jelas hal ini tak mungkin bisa kulakukan!"
Sekalipun begitu, kita masa harus merampasnya secara terang-terangan....?!"
Tanya Cu Im taysu dengan cepat.
"Boanpwe yakin, dengan kekuatan kita bertiga sekalipun harus berhadapan muka dengan kawanan jago Kiu-im-kauw yang berkumpul seruangan, kita masih mampu menerjang masuk dan mampu juga untuk menerjang keluar, akan tetapi kalau dikatakan kita harus menembusi kepungan mereka sambil membawa Ku Ing-ing, jelas pekerjaan ini sulit sekali untuk dilaksanakan"
"Perkataanmu memang benar, dalam kea aan kepepet bisa saja Kiu-im Kaucu turun tangan membereskan dulu nyawa Ku Ing-ing. Aaaai....! Aku rasa persoalan ini merupakan suatu persoalan yang amat sulit, pa dahal perempuan itu harus diselamatkan jiwanya, apa daya kita sekarang?"
Hoa Thian-hong menghela napas panjang, dia lantas berpaling dan memandang ke arah Suma Tiang-cing.
Melihat sinar mata kedua orang itu ditujukan ke arahnya, dengan cepat Suma Tiang-cing gelengkan kepalanya sambil berkata.
"Sudah setengah harian aku peras otak berusaha mencari akal yang bagus, tapi usahaku ini selalu gagal, kalau bisa malah aku akan mengambil keputusau untuk menyerbu pakai kekerasan, kalau perempuan itu berhasil diselamatkan yaa syukur, kalau tak bisa akan kulakukan pembantaian secara besar-besaran agar Kiu-im Kaucu mengetahui sampai dimanakah kelihayanku, cuma begitu jika aku gagal selamatkan jiwa orang, maka kemungkinan besar jiwa Cu Im taysu akan ikut jadi korban"
Cu Im taysu tersenyum.
"Meskipun aku tidak suka melakukan pemubunahan, akan tetapi aku tak takut menghadapi bacokan golok, apalagi disuruh bertempur boleh dibilang merupakan suatu kegembiraan!"
Hoa Thian-hong termenung sebentar, tiba-tiba katanya.
"Boanpwe telah menemukan suatu cara yang amat sederhana, bagaimana kalau kita bertiga turun tangan bersama? Kita serbu secara menggelap maupun secara terang-terangan, lihat saja bagaimana hasilnya nanti!"
"Baik! Suma Tiang-cing menanggapi dengan suara berat, aku rasa inilah satu-satunya cara yang paling ada harapan, biarlah aku dan Cu Im Taysu menyerbu secara terangterangkan, kalau bisa akan kami belenggu musuh tangguh itu sebisa mungkin, sedangkan engkau segera menyusup kepuncak loteng untuk menolong orang"
"Benar, bila kau berbasil selamatkan perempuan itu maka berusahalah untuk menerjang keluar, jangan kau gubris diriku dan paman Suma lagi!"
Kata Cu Imn taysu sambil tertawa.
Suma Tiang-cing mempunyai julukan sebagai Kiu mio kiam kek, jago pedang berjiwa rangkap sembilan, bukan saja beraninya luar biasa diapun seorang pemberang, sekali pun dihadapannya terhalang hutan golok atau bukit pedang ia tak akan memandang sebelah matapun.
Maka begitu melihat keputusan telah di ambil, ia lantas loncat masuk kebalik dinding pekarangan kedalam kuil It goan koan.
Menyaksikan hal itu, buru-buru Cu Im taysu berseru kepada anak muda itu.
"Engkau harus berhati-hati....!"
Dengan cekatan tubuhnya ikut loncat masuk kedalam pekarangan kompleks kuil itu.
Hoa Thian-hong tak berani berayal, cepat diapun melesat kedepan dan menyusup masuk kedalam kompleks kuil It goan koan tersebut.
Sebagai orang yang bertanggung jawab untuk menyelamatkan jiwa Ku Ing-ing, pemuda itu tak berani bertindak secara gegabah, dengan sangat hati-hati dan hampir boleh dibilang menempel pada dinding bangunan, dari satu bangunan berpindah kebangunan yang lain tanpa menimbulkan sedikit suara pun, dengan gerak-geriknya ini kendatipun ada orang disekitar sana, belum tentu bisa ditemukan dengan gampang.
Belakang dinding pekarangan adalah sebuah kebun bunga, disitu pohon dan rumput tumbuh dengan suburnya, ada gunung-gunungan, ada kolam dan ada pula pintu berbentuk bulat.
Dibelakang pintu itu berdirilah sebuah bangunan loteng yang megah, ketika Hoa Thian-hong melompat masuk lewat dinding pekarangan, Suma Tiang-cing dan Cu Im taysu sudah menyusup masuk lewat pintu bulat tadi, cepat si anak muda itu bersembunyi dibelakang pintu bulat itu sambil mengawasi gerak-gerik dari dua orang rekannya.
Rembulan bersinar dengan terangnya diawang-awang, cahaya lampu memancar dari bawah, dalam suasana terang benderang tentu saja jejak Suma Tiang-cing dan Cu Im taysu tak bisa disembunyikan lagi, segera mereka berhasil ditemukan oleh penjaga loteng itu.
"Siapa disitu?"
Terdengar seseorang membentak kasar. Aku Suma Tiang-cing dan Cu Im taysu sengaja datang kemari untuk menyambangi kaucu mu!"
Bersamaan dengan selesainya ucapan tersebut, tubuhnya langsung meluncur keudara dan menerjang keloteng tingkat ketiga.
Loteng tingkat ketiga jaraknya ada belasan keki, dalam dunia persilatan dewasa ini jarang sekali ada orang yang mampu melakukan hal itu, dengan sendirinya para penjaga loteng itu segera sadar bahwa mereka telah kedatangan musuh tangguh.
Dengan hati tercekat, kedua orang penjaga itu segera membentak keras, secepat sambaran kilat mereka menerjang maju kedepan.
Dengan gaya burung bangau menerjang ke angkasa, laksana anak panah yang terlepas dari busurnya, Suma Tiangcing membumbung keangkasa, belum habis ia berseru sepasang kakinya sudah menempel diatas tiang dan pedang mustikanya diloloskan pula dari sarungnya.
Dengan suatu gerakan yang amat cepat, kedua orang itu menerjang tiba, terdengarlah suara desingan tajam menderuderu, sebuah tombak pendek dan sebuah senjata pit baja penotok jalan darah dengan gerakan yang amat cepat telah meluncur tiba.
Sama Tiang cing segera membentak nyaring.
"Siapa berani menghalangi aku, mampus!"
Pedangnya secepat sambaran kitat segera melancarkan serangan kilat ke arah depan.
Dua orang jago yang bertugas menjaga loteng itu merupakan dua orang jago lihay dari istana neraka, bukan saja bentuk senjata yang digunakan sangat aneh, jurus serangan yang digunakan cukup mengge-tarkan hati siapapun yang memandang, bila orang lain yang dihadapi nisca nyalinya akan dibuat tercekat.
Sayang musuh yang dihadapinya justru adalah Kiu mio Kiam kek yang pemberang, jago muda ini tak pernah mempersoalkan apakah musuh yang dihadapinya adalah musuh tangguh atau kaum keroco, begitu menyerang ia segera melancarkan serangan dengan jurus yang ganas dan tenaga yang mengerikan, membuat siapapun jadi keder rasanya.
Setelah melepaskan serangannya tadi, kemudian menyaksikan Suma Tiang-cing melancarkan sergapan dengan pedang bajanya, dua orang jago dari istana neraka itu segera menyangka kalau musuhnya akan menangkis ancaman tersebut deagan mengandalkan ketajaman senjatanya.
Siapa tahu, bukan saja ancaman itu tidak ditangkis, ternyata pihak lawan malahan melepaskan pula ancaman maut ke arah mereka dengan sistim adu jiwa.
Tentu saja kedua orang jago itu tak ingin mati konyol, sebelum serangannya dilancarkan sampai habis, cepat-cepat kedua orang itu membatalkan kembali ancamannya seraya melepaskan jurus serangan untuk menyelamatkan diri.
Sayang serbu kali sayang, Suma Tiang-cing bukan manusia sembarangan, dan lagi dalam melepaskan ancamannya itu ia telah menghimpun segenap kekuatan yang dimilikinya, boleh dibilang sergapannya tanpa memperhitungkan mana lebih duluan dan mana belakangan.
Baru saja jago yang bersenjata tombak itu berusaha untuk menghindarkan diri kesamping, tahu-tahu....
"Krakk!"
Ditengah benturan nyaring, senjata tombaknya itu sudah terpapas kutung jadi dua bagian.
Jago yang bersenjata poan koan pit itu cepat memburu kedepan.
senjatanya diputar menusuk kaki Suma Tiang-cing, maksudnya dengan serangan tersebut maka ia dapat selamatkan jiwa rekannya.
Siapa tahu Suma Tiang-cing bertindak cekatan, sekali angkat kakinya tahu-tahu ia sudah menginjak senjata lawan, menyusul mana sebuah tendangan dahsyat melemparkan tubuhnya sehingga mencelat sejauh satu kaki lebih dari tempat semula.
Pada hakekatnya anak buah Kiu-im-kauw yang diatur disekitar bangunan loteng itu khusus disediakan untuk menghadapi Hoa Thian-hong, apa lacur sekarang yang baru dihadapi adalah Suma Tiang-cing seorang jago yang nekad dan pemberang, kontan saja pertahanan mereka dijebolkan hanya cukup dalam sekali gebrakan.
Baru saja musuhnya terdesak mundur ke belakang, Suma Tiang-cing sudah memberatkan tubuhnya dan melayang keatas serambi.
"Manusia kasar, mau kabur kemana? tiba-tiba seorang perempuan dengan suara yang dingin menyeramkan menegur dari samping. Berbareng dengan seruan tersebut, sepulung desingan hawa pedang yang tajam menyergap kedepan dan langsung menghajar jalan darah Ki bun hiat ditubuh Suma Tiang-cing. Betapa terperanjatnya jago muda itu menghadapi serangan yang sama sekali tak terduga ini, peluh dingin sampai mengucur keluar membasahi sekujur mbuhnya. Cepat pedang mustikanya dikibaskan kedepan dengan jurus bwe bong wu liu (Pusaran angin mainkan pohon Liu), bukan saja ia tidak memperduiikan keselamatan jiwa sendiri, malahan sambil bergerak kedepan ia melancarkan serangan balasan. Sreeet....! Senjata sekop dari Cu Im taysu meluncur tiba dari samping gelanggang. Dengan berkobarnya pertarungan itu maka dalam sekejap mata, api obor sudah bermunculan di empat penjuru dan menyoroti daerah sekitar gelanggang hingga terang benderang bagaikan disiang hari, berbareng itu pula dari kedua belah sisi serambi bermunculan puluhan orang laki-laki maupun perempuan. Dalam keadaan demikianlah pintu loteng terbuka, Kiu-im Kaucu dengan senjata toya kepala setannya munculkan diri didepan muka. Sementara itu Suma Tiang-cing telah melihat jelas bahwa tandingannya ketika itu adalah seorang gadis berambut panjang yang berpotongan badan ramping, dia kenali gadis itu sebagai Tiamcu istana neraka dibawah pimpinan Kiu-im Kaucu, bahkan mengenali juga bahwa senjata mustika yang dipergunakannya adalah pedang mustika Bian liong poo kiam bekas milik Thong-thian-kauw. Dalam waktu singkat dua puluh gebrakan sudah lewat dengan cepatnya, pertarungan berlangsung makin sengit dan seru. Waktu itu usia Suma Tiang-cing baru mencapai tiga puluh tahunan, sedangkan Tiamcu istana neraka berusia diantara tiga puluh tahunan juga, bukan saja wajah mereka cakep dan cantik, senjata yang digunakan juga adalah senjata mustika, berbicara yang sesungguhnya pertarungan semacam itu pastilah berlangsung dengan halus dan lembut. Apa lacur watak Suma Tiang-cing seorang pemberang dan ganas, setiap serangan yang dilancarkannya selalu bermaksud untuk melukai orang, hal ini memaksa Tiamcu dari istana neraka terpaksa harus mengeluarkan pula jurus-jurus ampuhnya untuk melayani kehendak lawan. Kiu-im Kaucu hanya menonton jalannya penarungan itu dari sisi kalangan, sepasang alis matanya berkenyit hingga menjadi satu garis, dengan suara lantang ia berseru.
"Suma Tiang-cing sudah tersohor sebagai seorang jagoan yang pemberang dan besar sekali jiwa nekadnya, ia sudah terbiasa melakukan serangan-serangan kasar macam itu...."
"Anjing betina tak usah banyak bacot, kalau berani hayo turun kemari.! tukas Suma Tiang-cing sambil membentak gusar. Kiu-im Kaucu sama sekali tidak melayani makian tersebut, malahan sambil tertawa ujarnya.
"Engkau bukan tandinganku maka lebih baik tak usahlah menantang aku untuk bertarung, saat ini Hoa Thian bong telah menyusup naik keatas loteng aku harus berjaga-jaga disana menunggu kedatangannya!"
Betapa terkejutnya Suma Tiang-cing sesudah mendengar perkataan itu, dia lantas menduga bahwa dialas loteng telah disiapkan jebakan yang lihay sehingga gembong iblis ini membiarkan musuhnya berhasil menyusup naik ke atas.
"Kalau memang terjadi begini, bukankah itu berarti bahwa selembar jiwa Hoa Thian-hong sedang terancam bahaya maut?"
Karena memikirkan persoalan itu pikiran dan perhatiannya jadi bercabang, Tiamcu istana neraka tidak menyia-nyiakan kesempatan baik itu dengan begitu saja, dia lantas membentak keras, pedang mustika boan liong kiam hoatnya dengan memancarkan cahaya bianglala yang amat menyilaukan mata segera memancar memenuhi seluruh angkasa, dalam waktu singkat dia telah melancarkan serangkaian serangan balasan yang amat gencar.
Sesudah kehilangan posisinya yang baik, dengan cepat pula Suma Thiang cing terdesak hebat sehingga kedudukannya berada di bawah angin.
Dalam waktu singkat secara beruntun dia telah menemui ancaman mara bahaya, untungnya dia memiliki jurus untuk adu jiwa yang mengerikan, maka setiap saat dia masih mampu untuk menyelamatkan jiwanya dari ancaman itu.
Sementara itu dipihak lain, Hoa Thian-hong telah manfaatkan kesempatan berkobarnya pertarungan itu secara baik-baik, sesudah berputar kesamping, sambil membopong Soat-ji dia lantas melompat naik ke loteng tingkat keempat.
Dalam prasangkanya disekitar loteng itu sudah pasti telah disiapkan jebakan maupun penjagaan yang sangat ketat, tapi apa yang dilihatnya waktu itu?
Ternyata suasana diatas loteng tingkat keempat itu sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, bukan saja tak nampak adanya bayangan manusia, alat jebakan atau senjata rahasiapun tak nampak satupun.
Diatas serambi loteng tergantung sebuah lampu lentera yang anti hembusan angin, cahaya yang redup menyinari sebuah pintu ruangan yang berukir naga dan burung hong.
Dengan cekatan Hoa Thian-hong melayang kedepan dan mendorong pintu tersebut, ternyata pintu tidak terkunci, ketika didorong segera terpentang lebar.
Ruangan itu kosong melomgpong, tak kelihatan sesosok bayangan manusia pun yang berada disitu.
Ruangan itu luasnya sekitar tiga kaki persegi, sepuluh buah lentera keraton yang indah tergantung didalam ruangan itu.
Hoa Thian-hong masih ingat ketika ia dijamu Giok Teng Hujin tempo hari, dalam ruangan inilah perjamuan tersebut diselenggarakan.
Sayang suasana dalam ruangan itu remang-remang, diantara sepuluh buah lampu lertara yang tersedia dalam ruangan itu, hanya dua buah diantaranya yang dipasang, ditengah suasana yang remang-remang itulah Hoa Thian-hong merasakan suatu perasaan yang sangat aneh.
Didekat ruangan itu terdapat tiga buah pintu, didepan pintu tergantung horden yang cukup tebal, sekilas pandangan dapatlah di ketahui bahwa dalam ruangan itu tersedia tiga buah kamar tidur.
Setelah menutup kembali pintu ruangan, Hoa Thian-hong bergerak masuk kedalam untuk melakukan pemeriksaan, waktu itulah Soat-ji yang berada dalam bopongannya mendesis lalu melompat turun dan secepat kilat menyusup masuk kedalam ruang tidur sebelah tengah.
Tanpa sadar perasaan hati Hoa Thian-hong berubah jadi amat tenang, cepat dia menyelinap kedepan pintu dan menyingkap horden yang menutupinya.
Apa yang kemudian terlihat dihadapannya membuat darahnya tersirap, dengan mata melotot karena menahan gusar dia menyerbu masuk kedalam ruang itu, serunya setengah mendesis.
"Cici....!"
Semula ruangan tersebut adalah sebuah kamar rahasia, tapi sekarang perabot yang ada dalam ruangan itu sudah dipindahkan semua sehingga tinggal sebuah ruangan yang kosong melompong.
Ditengah ruangan terdapatlah sebuah meja sembahyangan yang tampak masih baru, diatas meja sembahyangan terdapatlah empat buah patung arca setinggi beberapa depa yang tersebut dari kayu wangi, patung itu ada yang duduk ada pula yang berdiri, bentuknya satu sama yang lain jauh berbeda.
Cuma saja keempat-empatnya adalah patung perempuan dan berambut parjang sampai sepundak.
Meskipun raut wajah yang digambarkan pada keempat patung itu tidak jelek, tapi seperti halnya dengan Kiu-im Kaucu, paras muka mereka, membawa selapis kemisteriusan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.
Didepan sebuah patung arca itu terletak sebuah hiolo, diatas hiolo itu tertancap hio yang mengeluarkan bau dupa wangi, cuma tidak kelihatan ada lilin.
Kurang lebih empat lima depa didepan meja sembahyangan itu terdapat kasur bulat untuk semedi, waktu itu Giok Teng Hujin duduk diatas kasur tadi sambil menghadap ke arah patung arca, tubuh bagian atasnya berada dalam keadaan bugil, rambut nya yang panjang terurai menutupi punggungnya yang telanjang itu.
Didepan kasur bulat itu tergantung sebuah lampu lentera terbuat dari tembaga yang aneh sekali bentuknya, diatas lampu itu terdapat tutupnya, diatas penutupaya terdapat tujuh buah lubang kecil, asap hijau dan percikan api kecil manancar keluar dari ketujuh lubang itu menciptakan tujuh buah asap hijau setinggi delapan sembilan cun.
Ketika asap itu menggumpal keatas segera bergabung menjadi satu dan berbelok menuju ke arah dada Giok Teng Hujin, kobaran api itu segera membakar dadanya dengan ganas.
Tepat pada lekukan payudara Giok Teng Hujin tergantung sebuah bulatan sebesar mulut cawan arak yang berwarna keperak-perakan, kebakaran api yang bergabung setelah keluar dari ketujuh lubang kecil itu langsung memancar keatas bulatan perak itu dan memanggangnya hingga memperdengarkan bunyi gemericik yang amat nyaring.
Sekujur tubuh Giok Teng Hujin kelihatan gemetar keras, badannya telah basah kuyup bermandikan peluh.
Rupanya kesadaran Giok Teng Hujin waktu itu belum lenyap sama sekali, ketika mendengar panggilan dari Hoa Thian-hong dengan cepat dia berpaling ke arah samping dan mengguraikan rambutnya yang panjang untuk menutupi seluruh bagian raut wajahnya.
"Jangan sentuh aku!"
Terdengar gadis itu berseru dengan nada gelisah.
"jangan kau sentuh lampu lentera itu!"
Suara itu kering, serak dan tak enak didengar, seakan-akan bukan berasal dari mulut perempuan itu.
Hoa Thian-hong segera menerjang kehadapanya dan berlutut disamping tubuh Giok Teng Hujin, sekujur badannya gemetar keras sepasang matanya berubah jadi merah membara sementara air mata jatuh bercucuran membasahi seluruh wajahnya.
"Cici.... kau....!"
Akhirnya ia terisak dan tidak sanggup melanjutkan kembali kata-katanya.
Beberapa titik air mata jatuh bercucuran membasahi wajah Giok-teng hujin ketika ia tundukkan kepalanya, air mara itu menetes diatas lampu lentera itu dan seketika muncullah asap warna hijau yang sangat mengerikan.
Pemandangan ketika itu benar-benar mengenaskan, baru pertama kali ini Hoa Thian-hong menyaksikan jalannya siksaan yang amat keji ini, tentu saja hatinya terasa jadi remuk redam, darah panas dalam rongga dadanya ikut bergelora dengan hebatnya, dia ingin turun tangan namun tak tahu apa yang musti dilakukan pada saat ini Rupanya Soat-ji rase salju stupun tahu bahwa majikannya sedang menjalankan siksaan yang kejam, dikala itu makhluk tersebut ber sandar disisi majikannya sambil merintih tiada hentinya, tampaknya binatang itu sedang beriba hati.
Hoa Thian-hong merasa dendam bercampur benci, tiba-tiba serunya dengan nyaring.
"Cici, apa yang harus kulakukan!"
Saking jengkelnya, dengan sekuat tenaga dia hajar permukaan lantai itu keras-keras.
"Lampu itu!"
Bisik Giok Teng Hujin dengan lirih. Mendengar seruan tersebut, buru-buru Hoa Thian-hong menarik kembali tenaga pukulannya.
"Blaang! sebuah bekas telapak tangan yang dalam sempat membekas diatas permuaan lantai, untungnya lampu siksaan tersebut tidak sampai tergetar oleh pukulan tadi. Giok Teng Hujin benar-benar tersiksa lahir batinnya menghadapi siksaan api dingin melehkan sukma yang dialaminya sekarang, akan tetapi dengan tabah dihadapinya secara jantan. Tatkala ia saksikan kedatangan Hoa Thian-hong untuk pertama kalinya tadi, dua titik air mata memang sempat meleleh keluar, akan tetapi dengan cepat semua penderitaan dan siksaan yang dialaminya ditahan didalam hati, sesudah berhenti beberapa saat lamanya segera ujarnya.
"Aaai.! Bagaimanapun aku toh tak bisa hidup lebih lama lagi, daripada aku hidup menanggung derita, lebih baik totoklah jalan darah kematianku, agar aku bisa lebih cepat melepaskan diri dari siksaan hidup ini!"
"Tidak!"
Jerit Hoa Thian-hong sambil menggigit bibir menahan air matanya yang meleleh keluar. Giok Teng Hujin menghela nafas panjang.
"Aaii! Setiap manusia tak luput dari kematian, aku merasa amat puas apabila bila mati disisimul"
Engkau tak boleh mempunyai ingatan semacam itu, hayo keluar kanlah semangat dan keberanianmu untuk melanjutkan hidup, sekalipun harus pertaruhkan selembar jiwaku akan kutolong juga engkau hingga lolos dari mara bahaya.
Seekor semutpun menginginkan hidup, apa lagi aku adalah seorang manusia, mengapa aku tidak ingin hidup?
Bukan begitu saja dan lagi, aai!
aku benar-benar merasa berat untuk meninggalkan engkau.
Sekalipun ucapan tersebut sangat pendek dan singkat, akan tetapi luapan cinta yang diperlihatkan dalam perkataan itu benar-benar sanggup melelehkan besi baja.
Hoa Thian-hong merasa hatinya amat sakit bagaikan ditusuk dengan pisau tajam, air matanya jatuh bercucuran membasahi wajahnya.
Ketika dilihatnya sekujur badan Giok Teng Hujin gemetar keras, seolah-olah sedang menahan suatu penderitaan yang hebat, buru-buru ia menyeka air matanya sambil berseru lagi.
"Beritahukanlah kepadaku, sebenarnya macam apakah lampu setan itu, aku hendak mencarikan akal untuk menyelamatkan jiwa mu!"
Giok Teng Hujin gelengkan kepalanya dengan sedih, sambil terisak menahan tangisnya ia menjawab.
"Berilah jawaban dulu kepadaku, engkau harus berjanji tak akan menerima paksaan dari kaucu walau berada dalam keadaan apapun, engkau tak boleh mudah menyerah dengan begitu saja."
Hoa Thian-hong merasa hatinya semakin perih apalagi setelah mendengar betapa perhatiannya Giok Teng Hujin terhadap dirinya walau berada dalam keadaan begitu.
Akhirnya Hoa Thian-hong berjanji tak akan menerima paksaan dari Kaucu jika ini yang dikehendaki oleh Giok Teng Hujin.
Kemudian diterangkanlah oleh Giok Teng Hujin dengan nada sedih kepada Hoa Thian-hong.
"Dadaku telah dilapisi oleh serbuk perak yang dinamakan Miat ciat in leng (serbuk dingin pelenyap keturunan) bubuk itu dibuat menurut resep rahasia yang hanya dimiliki oleh Kiu-imkauw, yakni terbuat dari campuran kotoran ulat sutera, empedu burung-burung yang bisa berbunyi, air liur katak buduk, butiran putih telur dari ubur-ubur, kulit ari dari cacing dicampur pula dengan bubuk phospor yang mengandung racun jahat, bila serbuk perak Miat ciat in leng ini dipoleskan diatas dada seseorang, racun itu akan segera meresap ke tubuh ma-nusia bila dibiarkann terus maka racun itu akan menyerang kejantung yang mengakibatkan kematian dari korbannya!"
Perempuan itu berhenti sebentar, kemudian meneruskan lagi kata katanya lebih jauh.
"Lentera yang bisa melelehkan sukma ini pun bukan benda sembarangan, didalam lentera itu di isi dengan hawa racun dari katak puru (sejenis katak yang kasar kulitnya dan berbintik-bintik), karena mendapat pembakaran dari cahaya api lentera ini, maka hawa racun Miat ciat in leng yang dipoleskan kedadaku jadi terhisap, karenanya jiwaku bisa selamat sampai kini, tapi jika kutinggalkan cahaya api ini, racun tersebut segera akan menyerang kejantungku yang akan mengakibatkan aku jadi tewas!"
"Tapi.... tapi.... betapa sengsara dan tersiksanya tubuhmu karena selalu dibakar oleh api yang menyala-nyala ini?"
Seru Hoa Thian-hong sambil menggigit bibirnya kencang.
"Aaai....! Sebagaimana kau ketahui. 'Api dingin melelehkan sukma' adalah siksaan yang paling keji dan paling berat dari Kiu-im-kauw kami, masih mendingan kalau siksaan itu hanya Ngo kiam hun si (lima pedang memisahkan mayat)...."
"Apakah ada pemunahnya atau tidak?"
Tanya pemuda itu kemudian dengan penuh rasa dendam. Giok Teng Hujin manggut-manggut.
"Ada sih ada, cuma obat pemunahnya hanya dimiliki oleh kaucu seorang....!"
"Aku akan mencari dia sekarang juga!"
Seru Hoa Thianhong sebelum perempuan itu menyelesaikan kata-katanya, cepat dia bangkit berdiri dan siap berlalu dari situ.
"Eeh.... tunggu sebentar!"
Seru Giok Teng Hujin gelisah. Hoa Thian-hong berpaling sambil menyeka air mata yang meleleh keluar bercampur dengan keringat.
"Apa yang hendak kau tanyakan lagi?"
Tanyanya.
"Dimanakah pedang bajamu?"
"Sudah lenyap, kitab kiam keng ada disakuku!"
"Adik Hong, ingat baik-baik perkataanku!"
Kata Giok Teng Hujin mendadak dengan wajah seiius "bila kau serahkan kitab kiam keng sebagai pertukaran syarat, kendatipun aku bisa kau selamatkan, akhir nya aku tetap akan bunuh diri!"
Tertegun Hoa Thian-hong setelah mendengar ancaman itu, air mata yang baru dihapus kembali meleleh keluar dengan derasnya Giok Teng Hujin berkata lagi.
"Pada umumnya siksaan api dingin melelehkan sukma akan berlangsung selama tujuh hari tujuh malam, aku masih ada kesempatan hidup selama lima hari, usahakanlah pertolongan untukku, tapi jangan kau terima semua paksaan dari orang lain, engkaupun tak boleh menyiksa diri sendiri, usahakan pertolongan sewajarnya mengerti?"
"Ooh.... cici, bolehkah kusentuh badanmu? Walau hanya sebentar saja...."
Pinta Hoa Thian-hong mendadak dengan air mata bercucuran. Agak tertegun Giok Teng Hujin mendengar perkataan itu, tapi akhirnya dia mengangguk.
"Sentuhlah, tapi jangan sampai menggoncangkan tubuhku!"
Cepat Hoa Thian-hong lepaskan jubah luarnya, sambil berjongkok dia seka keringat yang membasahi punggung Giok Teng Hujin ketika jari tangannya menyentuh tubuh sang dara yang bergetar keras, tanpa sadar tubuhnya ikut gemetar karas.
"Kenakan pakaian itu ditubuhku!"
Bisik Giok Teng Hujin dengan suara yang lirih. Hoa Thian-hong kenakan bajunya dipunggung perempuan itu, kemudian berkata lagi.
"Wajahmu berkeringat, pipimu berminyak, ijinkanlah kuseka keringat dan minyak itu, lihatlah, rambutmu kusut dan awut-awutan biarlah kubereskan semuanya untukmu!"
"Jangan!"
Seru Giok Teng Hujin ambil buru-buru berpaling.
Kiranya setelah mengalami siksaan selama sehari dua malam, kulit dan pori-poro wajah dara itu banyak berkerut akibat kepanasan, kelembutan dan kehalusan telah banyak yang hilang, dengan begitu mukanya tampak jauh lebih tua daripada keadaan di hari-hari biasa.
Sebagai anggota Kiu-im-kauw, tentu saja dara itupun tahu akan akibat yang bakal diterima sesudah menjalankan siksaaan tersebut maka ia tak ingin Hoa Thian-hong melihat wajahnya dan mengetahui pula akan kerutanya.
Tertegun si anak muda itu ketika permintaannya ditolak, ia berdiri termangu, sementara dalam hati timbullah perasaan heran dan tak habis mengerti, ia tak tahu betapa perempuan itu merahasiakan raut wajahnya, mungkinkah terjadi suatu perubahan?
Namun ia tidak berpikir panjang, setelah termangu sebentar akhirnya pemuda itu berkata.
"Cici bersabarlah disini, segera kucari Kiu-im Kaucu! Aku akan membikin perhitungan dengannya!"
"Bawalah serta Soat-ji!"
Giok Teng Hujin menambahkan.
"Biarkan disini dulu, sebentar aku akan kemari lagi...."
"Jangan! Sebelum kau dapatkan obat pemunah, tak usah kau tengok diriku lagi, hindarilah segala resiko yang tak diinginkan, daripada kau celaka disergap orang"
Sedih dan pilu perasaan hati Thian-hong, ia merasa hatinya bagaikan disayat-sayat pisau, tak tega rasanya pemuda itu untuk menampik permintaannya, maka dengan membopong Soat-ji dia lantas mengundurkan diri dari ruangan itu.
Setelah keluar dari ruangan, ia dengar pertempuran yang sedang berlangsung dibawah loteng makin bertambah seru.
Mendadak....
segulung hawa nafsu membunuh yang luar biasa tebalnya menerjang kedalam benak, ia merasa darah panas ditubuhnya jadi mendidih, hanya satu ingatan yang terlintas dalam benaknya, ingatan itu adalah membunuh orang, makin banyak orang yang dibunuh makin baik.
Dipihak lain, Suma Tiang-cing dan Yu beng tiamcu sudah bertarung sebanyak tiga ratus gebrakan, dada kiri Suma Tiang-cing telah bertambah dengan sebuah mulut luka sepanjang tiga cun, sedangkan lengan kiri tiamcu istana Neraka juga bertambah dengan sejalur luka, darah bercampur keringat membasahi tubuh mereka membuat mereka tampak lebih seram dan mengerikan.
Cahaya kilat dan hawa pedang menyelimuti sekeliling ruangan tersebut, dua orang jago lihay itu saling bergerak diantara lapisan cahaya pedang, mereka saing menerkam dan saling menerjang ganas dan mengerikan sekali pertarungan yang sedang berlangsung.
Rapanya kelihayan ilmu siiat mereka seimbang, maka sekalipun sudah bertarung lama, keadaan tetap seimbang alias sema kuat.
Akhirnya mungkin karena penasaran, makin menyerang mereka makin kalap dan masing-masing mengeluarkan segenap kepandaian tangguh yang dimilikinya.
Sepasang pedang saling membentur satu sama lainnya menimbulkan dentingan nyaring yang memekikan telinga.
Pedang pek le kiam milik Suma Tiang-cing memang sebilah pedang yang tajam dan luar biasa, tapi dibandingkan dengan Boan liong poo kiam dari Thong-thian-kauw yang kini berada ditangan tiamcu istana neraka, toh masih kalah tajamnya, karena itu tiap kali terjadi benturan, diatas pedangnya segera tertinggal sebuah gumpilan sebesar biji beras.
Hingga detik ini, sudah tiga gumpilan yana menghiasi pedang Pek lee kiam tersebut, betapa sakit hati dan sayangnya Suma Tiang-cing melihat pedangnya rusak, ia menyerang makin ganas dan makin kalap, hampir semua ilmu kepandaian yang dimilikinya dikeluarkan, seumpama musuhnya kurang teguh imamnya niscaya sedari tadi tadi sudah dibuat ketakutan oleh tindakan musuhnya yang mirip kerbau gila ini.
Diam-diam Cu Im taysu merasa kuatir, ia tahu bila pertarungan itu dibiarkan terus berlangsung, maka akhirnya salah satu diantara mereka tentu akan mati, beberapa kali ia membentak agar rekannya menghentikan pertarungan itu, sayang bentakannya telah mendapatkan tanggapan, pertarungan masih berlangsung terus dengan serunya.
Kiu-im Kaucu tidak menunjukkan perubahan sikap, mukanya tetap dingin dan kaku sedangkan mulutnya membungkam dalam seribu bahasa.
Disaat pertarungan kedua orang itu sudah mencapai pada puncak ketegangan, Hoa Thian-hong menerkam dari atas loteng, semua orang jadi panik dan sama-sama menbentak keras.
Namun si anak muda itu sudah keburu kalap, ia tak ambil peduli kegusaran orang lain, diiringi gulungan angin pukulan yang amat dahsyat, sebuah pukulan maut telah di lontarkan ke tubuh tiamcu istana neraka.
Semua orang menjerit kaget, hati mereka berdebar keras bahkan ada pula yang sampai mundur sempoyongan, memang semua orang sudah menduga kalau cepat atau lambat Hoa Thian-hong pasti akan muncul di sana, tapi mereka tak menyangka kalau pemuda yang biasanya kalem dan tidak menyerang orang secara sembarangan, tiba-tiba saja menyergap seseorang yang sedang terlibat dalam pertempuran.
Dalam gugupnya, pertama-tama Kiu-im Kaucu yang membentak gusar lebih dahulu, untuk mencegah jelas tak mungkin lagi, maka dia lantas mencaci maki kalang kabut.
Suma Tiang-cing sendiri tak ingin mencari kemenangan dengan cara meagerubut, apalagi terhadap seorang perempuan, seraya membentak diapun tarik kembali serangannya sambil mundur kebelakang.
Tiamcu istana neraka yang terserang tak banyak berkutik, tahu-tahu dia merasakan lengan nya bergetar keras, dan pedang Boan liong poo kiam tersebut sudah dirampas oleh Hoa Thian-hong.
Ia tak tahan didorong oleh tenaga pukulan yang maha dahsyat, begitu pedang mustika tersebut terampas oleh lawan, kuda-kudanya gempur dan tak bisa dicegah lagi dengan sempoyongan ia mundur beberapa langkah kebelakang.
Dengan wajah hijau membesi dan memukul-mukulkan tongkat kepala setannya keatas tanah, Kiu-im Kaucu memaki kalang kabut.
"Anjing Hoa Thian-hong, begitukah perbuatanmu? Begitukah perbuatan dari seorang manusia yang menganggap dirinya sebagai seorang enghiong.... seorang pahlawan?"
Merah membara sepasang mata Hoa Thian-hong, wajahnya menyeringai seram, dengan sorot mata berapi-api, ia lepaskan Soat-ji ketanah, kemudian membuang pula pedang yang digembol ketanah, dengan suara yang dingin menyeramkan ia berseru.
"Tak ada gunanya kita banyak bicara, lebih baik ambillah suatu keputusan untuk menyelesaikan masalah ini!"
Sekuat tenaga Kiu-im Kaucu berusaha untuk menenangkan hatinya, lalu sambil tertawa tergelak katanya.
"Haaahh.... haaahhh.... haaahhh.... engkau rampas pedang Boan liong poo kiam dari tangan anggotaku, apakah kau hendak berduel lawan aku dengan mengandalkan senjata itu?"
Hawa nafsu membunuh telah menyelimuti wajah Hoa Thian-hong, ia tahu dalam masalah Giok Teng Hujin, ia tak mungkin memohon kepada kaucu ini dengan kata yang lembut, bertukar syarat jelas tak mungkin, sedangkan dengan jalan kekerasanpun belum tentu bisa berhasil karena sekalipun ia bisa menangkan Kiu-im Kaucu toh belum tentu orang itu bersedia melepaskan tawanannya.
Jelaslah sudah bagi pemuda itu bahwa masalah yang dihadapi adalah sebuah masalah pelik bagaikan sebuah simpul mati, kecuali ia bersedia menuruti semua kemauan dan keinginan lawan, tak mungkin Giok Teng Hujin dapat ditolong.
Tiba-tiba terbayang kembali olehnya betapa tersiksa dan menderitanya Giok teng hujn tersiksa oleh api dingin melelehkan sukma, api amarah bergelora dalam dadanya kembali memuncak, kebencian dan rasa dendam kembali muncul dihati.
Dalam keadaan demikian, ia jadi kalap, kemarahannya susah dikendalikaa lagi, dengan mata melotot besar tiba-tiba ia putar badan dan menerkam ke arah kawanan jago dari Kiuim-kauw.
Hebat sekali perubahan wajah Kiu-im Kaucu menyaksikan perbuatan sang pemuda, ia lantas membentak nyaring.
"Hoa Thian-hong, engkau berani bertindak keji?"
Hoa Thian-hong menjengek sinis, dia putar pedang mustika itu dan sahutnya dengan nada seram.
"Kau anggap aku Hoa Thian-hong tak berani bertindak kejam? Hmm, kalau mau salahkan maka sekarang juga salahkan, akan kubasmi dulu semua begundalmu, kemudian akan kulihat mampukah engkau menghalangi niatku ini!"
Selesai berkata, kembali ia siap menerkam kedepan. Cu Im taysu bertindak cepat, rupanya dia tahu kegusaran dan kenekadan pemuda itu, sambil menghadang jalan perginya dia berseru.
"Omintohud. berbuatlah belas kasihan, jangan karena emosi melakukan pembantaian keji yang sama sekali tak ada manfaatnya!"
Merah padam selembar wajah Hoa Thian-hong, sinar matanya berapi api, dengan penuh emosi teriaknya.
"Taysu, berbuatlah kebaikan untukku, boanpwae benar-benar amat benci dan dendam!"
Ucapan tersebut diutarakan dengan suara yang berat dan mantap, membuat setiap pendengar perkaraan itu merasakan telinganya mendengung keras, ibarat guntur yang membelah bumi disiang hari bolong, paras muka mereka rata-rata berubah hebat.
Suma Tiang-cing ikut menghela nafas panjang, katanya pula dari sisi gelanggang.
"Thian-hong, tadi aku memang pernab mengatakan akan membantai sampai habis setiap orang jahat, manusia jahanam yang ada didunia ini, janganlah kau anggap serius perkataanku itu, sebab ucapan yang dikatakan dalam keadaan emosi adalah kata-kata kasar belaka, kau tak boleh menganggap ucapan itu sebagai kata yang sungguh-sungguh"
Dengan pedang terhunus dan mata melotot besar karena gusar beberapa kali Hoa Thian-hong hendak menerjang lewati Cu Im taysu dan menerkam orang-orang dari Kiu-im-kauw.
Tapi ketika menyaksikan keagungan serta kekerenan wajah Cu Im taysu yang menghadang dihadapannya, ia tak berani menerjang secara gegabah, apalagi sesudah mendengar nasehat dari Suma Tiang-cing, pemuda itu makin termangu dan tak tahu apa yang musti dilakukan.
Perlu diketahui watak mulia, welasasih dan bijaksana yang dimiliki Hoa Thian-hong sekarang, tak lain adalah warisan dari ayah nya sedangkan Hoa Hujin termasuk seorang pendekar perempuan berhati sekeras baja, membenci kejahatan hingga merasuk ketulang, dalam pandangannya membasmi kejahatan sama halnya dengan berbuat kemuliaan, membunuh seorang manusia berhati keji sama artinya menyelamatkan beberapa orang baik dari kematian, baginya daripada satu kota menangis lebih baik satu keluarga saja yang menangis.
Sejak suaminya mati dan rumahnya dirampas musuh, rasa dendam dan ingin membalas dendam berkobar-kobar dalam benaknya, dia bercita-cita untuk membasmi tumpas iblis dari muka bumi dan membantai setiap manusia jahanam yang ditemuinya, dia tidak membenci satu dua orang iblis belaka melainkan seluruh manusia iblis dari golongan hitam.
Oleh karena itulah meskipun sangat ketat pendidikan yang dia berikan kepada putranya, namun tak pernah ia menyinggung soal kebajikan dan welas kasih.
Dengan dasar pendidikan yang telah diperoleh semenjak kecil, Hoa Thian-hong pun tanpa disadari ketularan pula watak keras dari ibunya ini, maka ketika Suma Tiang-cing mengucapkan kata-kata emosi tadi, suatu bayangan gelap sudah menyelimuti hati si anak muda itu, apalagi setelah persoalan yang menyangkut tentang diri Giok Teng Hujin mengalami kesulitan, bahkan mendekati jalan buntu, hawa nafsu membunuh yang sejak permulaan sudah mengkilik isi hatinya seketika tak terkendalikan lagi dan memancarlah keluar bagaikan air bah yang menjebolkan tanggul.
Rasa benci dan dendam masih menyelimuti seluruh benak Hoa Thian-hong, nasehat dari Cu Im taysu maupun Suma Tiang-cing memang sempat meredakan darahnya yang mendidih, tapi bukan berarti dapat melenyapkan keseluruhannya.
Sekujur tubuhnya masih gemetar keras menahan emosi, pedang mustika boan liong po kiam berkilauan memancarkan setentetan cahaya yang amat tajam, sinar tersebut mencorong keluar dan amat menyilaukan mata tiap pendekar, begitu dahsyatnya pancaran hawa lwekang yang tersalur didalam pedangnya itu sampai lantai loteng bergetar dan berkenyit keras, udara disekitar gelanggang terasa membeku dan kaku memaksa setiap orang merasa susah untuk bernapas.
Dengan wajah sedih tapi serius kembali Cu Im taysu berkata.
"Nak, masih hidupkah nona itu?"
Titik air mata tak kuasa lagi meleleh keluar membasahi pipi anak muda itu, dengan wajah yang kaku Hoa Thian-hong mengangguk.
"Ia masih hidup, sekarang sedang menjalankan siksaan diatas loteng, suatu siksaan yang tidak berperikemanusiaan, siksaan yang hanya bisa dilakukan oleh binatang bukan perbuatan seorang manusia normal!"
Berkernyitlah dahi Cu Im taysu sehabis mendengar jawaban itu, dia lantas berpaling ke arah Kiu im kancu dan berkata.
"Kaucu, dengan memberanikan diri pinceng sekalian ingin memohon sesuatu kepadamu, apakah engkau bersedia membebaskan nona itu dari segala siksaannya?"
Diam-diam Kiu-im Kaucu menghembuskan nafas lega, ia tahu sesudah jago berbaju pendeta ini memohon kepadanya, tanpa disadari suasana kaku dan sesak yang semula menyelimuti gelanggangpun kini sudah melumer kembali, ia tertawa dan menjawab.
"Ku Ing-ing merupakan anak murid Kiu-im-kauw kami, mau kusiksa dia atau mau kubunuh dirinya persoalan ini adalah persoalan pribadi perkumpulanku, apa sangkut pautnya dengan kalian semua?"
Kelihayan ilmu silat yang dimiliki Hoa Thian-hong sudah diketahui oleh banyak orang, apalagi sesudah pedang mustika Boan liong po kiam yang tajamnya luar biasa itu berhasil dirampas olehnya, keadaan si anak muda itu boleh dibilang ibarat harimau yang tumbuh sayapnya.
Andaikata pemuda itu tetap nekad dan melanjutkan niatnya untuk membantai setiap anggota Kiu-im-kauw yang ditemuinya, Kiu-im Kaucu percaya bahwa dia tak mampu untuk melindungi keselamatan anak buahnya, malahan mencegahpun belum tentu mampu.
Oleh sebab itulah, setelah Cu Im taysu dan Suma Tiangcing berhasil membatalkan niat si anak muda itu untuk melakukan pembantaian, serta-merta nada ucapannya pun ikut mengalami perubahan besar, pembicaraannya tidak seketus tadi lagi, malahan jauh lebih lembut dan kendor....
Cu Im taysu menundukkan kepalanya dan menghela napas panjang, kemudian ujarnya.
"Tak usah kaucu terangkan, pinceng sendiripun mengetahui bahwa persoalan ini sebenarnya adalah masalah pribadi perkumpulanmu sendiri, karenanya kami hanya memohon kerelaanmu, kami bukanlah manu sia-manusia yang tidak mengutamakan soal cengli....!"
"Aku tahu setiap persoalan yang terjadi didunia ini memang tak bisa terlepas dan soal cengli, sebagai pendekar-pendekar besar yang berjiwa ksatria tentu saja taysu sekalian harus mengutamakan soal cengli, bukan begitu?"
Kembali Cu Im taysu menghela napas panjang, selang sesaat kemudian dia baru bertanya lagi.
"Kaucu, bila diijinkan ingin sekali pinceng menanyakan satu persoalan lagi...."
"Apa yang hendak kau tanyakan lagi?"
Sela Kiu-im Kaucu dengan suara lantang.
"Sebetulnya kesalahan serta dosa apakah yang telah dilanggar nona Ku, sehingga dia harus disiksa secara keji?"
Kiu-im Kaucu tersenyum.
"Kusiksa dirinya lantaran dia berani membangkang perintahku serta berkhianat terhadap perkumpulannya, apakah taysu merasa tidak terima dengan tuduhanku ini?" 00000O00000
"OH.... tidak berani, menurut apa yang pinceng ketahui, sudah amat lama nona Ku tersiksa dan menderita selama dia menyusup ke tubuh perkumpulan Thong-thian-kauw, berbicara sesungguhnya sudah banyak sekali pahala yang telah dia lakukan demi perkumpulanmu!"
"Siapa berjasa dia mendapat pahala, siapa bersalah dia harus menerima pula hukumannya"
Tukas Kiu-im Kaucu sambil tertawa.
"Sekalipun keputusan dan tindak tandukku kurang bijaksana atau kurang adil, aku rasa orang lain tidak berhak untuk mencampurinya, ketahuilah persoalan ini adalah urusan pribadiku sendiri!"
Sekali lagi Cu Im taysu menghela napas panjang.
"Aaai.... kami semua berhutang budi kepada nona Ku, sekarang setelah jiwanya terancam bahaya, tentu saja kami semua tak dapat berpeluk tangan balaka menyaksikan ia mati tersiksa, makanya kami semua mohon kebijaksanaan dari kaucu untuk melepaskan nona Ku dari siksaan dan memberi sebuah jalan kehidupan baginya!"
"Haahh.... haaahh.... haaah.... meskipun Ku Ing-ing pernah melepaskan budi kepada kalian semua, toh kalian semua tak pernah melepaskan budi apa-apa kepada perkumpulan Kiu-imkauw kami, dan berarti boleh saja aku memberi muka kepadamu, tapi dapat pula kami tak akan memberi muka kepadamu....!"
Seru Kiu-im Kaucu sambil tertawa tergelak.
Merah padam selembar wajah Cu Im taysu sesudah mendengar perkataan itu, untuk sesaat lamanya dia tak tahu apa yang musti dijawab.
Suma Tiang-cing yang mengikuti jalannya perundingan itu, dalam hati kecilnya lantas berpikir.
"Taysu ini terlalu polos dan tak memahami kelicikan serta kebusukan hati orang, kalau dia yang memimpin perundingan ini sekalipun sepuluh tahun lagi juga tak akan berhasil, tampaknya aku harus turun tangan sendiri"
Berpikir sampai disitu, dia lantas maju kedepan dan ujarnya kepada Kiu-im Kaucu dengan mata melotot.
"Aku sudah pernah menerima kebaikan dan budi pertolongan dari Ku Ingg ing, itu berarti bagaimanapun juga aku harus menolong dirinya sampai terlepas dari siksaanmu, kalau mau melepaskan cepatlah kau sanggupi kalau tidak setuju hayo kita selesaikan saja persoalan ini diujung senjata!"
"Suma Tiang-cing!"
Seru tiamcu istana neraka dari samping dengan suara yang ketus.
"untuk menangkan akupun tidak mampu mau apa engkau berlagak sok didepan kaucu kami?"
"Apa susahnya menangkan dirimu?"
Teriak Suma Tiang-cing dengan gusarnya.
"suatu hari aku pasti akan mencari engkau dan menantang engkau untuk berduel hingga salah satu diantara kita mampus!"
Tiamcu istana neraka tertawa dingin.
"Heeeh.... heeeh.... heeeh.... sayang pedang mustikaku telah dirampas orang dengan cara yang memalukan, sedangkan kaucu kamipun tidak sampai merampas pula pedang mustikamu, kalau bertemu lagi dikemudian hari sudah tentu aku tak bisa menangkan dirimu...."
Pancingan yang dilontarkan Tiamcu dan istana neraka ini segera termakan oleh lawannya, benar juga Suma Tiang-cing segera berseru sesudah mendengus dingin.
"Hmmm! Engkau tak usah kuatir apa bila kita berjumpa lagi dikemudian hari, Suma Tiang-cing tak akan melayani dirimu dengan pedang mustika. Hmmm.... hmmm.... jangan kau anggap setelah kugunakan pedang biasa maka aku tak mampu untuk bereskan jiwa anjing mu!"
Sementara kedua orang itu sedang saling mencaci maki dan ribut, tiba-tiba dari bawah loteng melayang turun seseorang, dia tak lain adalah Pui Che-giok, sambil memburu ke gelanggang serunya dengan penuh kegelisahan.
"Hoa kongcu!"
"Bagus!"
Seru Hoa Thian-hong dengan mata melotot, engkau punya keberanian untuk datang kemari, tak malu nonamu menyayangi engkau selama ini!"
Pui Che-giok melirik sekejap ke arah Kiu-im Kaucu dengan wajah pucat pias seperti mayat, tampaknya dia merasa jeri dan takut sekali sementara diluar dia menjawab.
"Budak diambil nona setelah nona masuk kedalam perkumpulan Thong-thian-kauw, dan berarti budak bukan terhitung anggota Kiu-im-kauw!"
"Baiklah, engkau berdirilah disamping, bila aku gagal untuk menyelamatkan nonamu, aku bersumpah pasti akan membalaskan dendam baginya, aku tak akan membiarkan orang-orang dikolong langit mentertawakan diriku dan menuduh Hoa Thian-hong tak punya rasa tanggung jawab, tak punya rasa setia kawan, sehingga seorang dayangpun tak bisa menandingi...."
Mendengar ucapan tersebut Pui Che-giok benar-benar mengundurkan diri kesamping gelanggang, sementara bibirnya bergerak seperti mau mengucapkan sesuatu, tapi akhirnya niat itu dibatalkan.
Jilid 27 Dari gerak-gerik serta sikap cemas dayang tersebut, Hoa Thian-hong dapat menduga pula kalau dara tersebut hendak melaporkan sesuatu, sesudah tertegun sebentar, akhirnya dia bertanya.
"Ada persoalan apa lagi yang hendak kau sampaikan kepada diriku? Cepatlah katakan!"
"Barusan budak pergi ke kantor cabangnya perkumpulan Sin-kie-pang untuk mencari tahu jejak kongcu, ada seorang kakek yang bernama Lau Cu cing dengan membawa empat orang kakek tua yang rata-rata berumur seratus tahun keatas sedang mencari berita kongcu pula ketempat itu, budak lantas bertanya kepada orang she Lau itu ada urusan apa hendak mencari kongcu, dia menjawab katanya ada persoalan maha penting yang hendak di bicarakan dengan kongcu, maka budak lantas membawa mereka semua datang kemari sekarang mereka sedang menanti kehadiran kongcu diluar kuil!"
Betapa terperanjatnya Hoa Thian-hong sesudah mendengar laporan itu, serunya.
"Empat orang kakek tua berusia seratus tahun keatas datang mencari aku?"
"Emmmm!"
Pui Che-giok mengangguk.
"rambut mereka telah beruban semua, tapi badannya masih tegap dan langkahnya masih mantap, rupa-rupanya mereka berilmu semua!"
Kiu-im Kaucu yang ikut mendengarkan laporan tersebut ikut merasakan jantungnya berdebar keras, pikirnya dihati.
"Untuk mencari seorang manusia yang berusia delapan puluh tahun saja sudah sukarnya bukan kepalang, apalagi keempat orang itu bisa hidup mencapai seratus tahun, malahan kumpul pula menjadi satu, apabila bukan tokoh-tokoh silat yang berilmu tinggi, tak ,ungkin mereka bisa mencapai usia setinggi itu. Heeehh.... heeehh.... setelah anak jadah ini memperoleh bantuan empat jago lihay, aku kan semakin tak bisa mengganggu dirinya lagi? Sialan!"
Perlu diketahui, bila seseorang yang berusia seratus tahun keatas berlatih terus ilmu silatnya dengan tekun dan rajin, maka kelihayan ilmu silat yang dimilikinya boleh dibilang sudah mencapai tingkat kesempurnaan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata, apalagi sekaligus muncul empat orang bersamaan waktunya, tidaklah heran kalau Ku im kaucu dibikin bergidik hatinya selelah mendengar berita tersebut.
Dengan dahi berkerut Hoa Thian-hong termenung sebentar, kemudian gumannya seorang diri.
"Entah siapakah keempat orang ini? Tang Kwik-siu telah membakar gedung tempat tinggal Lau Cu cing dan kini keempat orang kakek tua itu datang mencari aku, dus berarti persoalan yarg hendak mereka bicarakan dengan diriku juga pasti menyangkut masalah percarian harta karun dibukit Kiu ci san!"
Ketika Kiu-im Kaucu mendengar soal menggali harta dibukit Kiu ci san, jantungnya ikut berdebar keras sehingga hampir saja ia menjerit kaget saking emosinya, segera ia berpikir dihati.
Masalah sebesar ini kenapa tidak kuketahui barang sedikitpun juga!
Aaah....
benar, Tang Kwik-siu bagaimanapun juga adalah seorang ketua suatu perkumpulan besar, kedudukannya sangat tinggi dan dia adalah seorang yang menjaga gengsi berbeda dengan Siang Tang Lay yang pergi datang ibaratnya sukma gentayangan, andaikata tiada suatu persoalan yang penting dan serius, tak mungkin manusia semacam dia bersedia datang kedaratan Tionggoan!"
Sementara dia masih termenung, Hoa Thian-hong telah berpaling ke arah Cu Im taysu seraya bertanya.
"Sebagai orang yang lebih muda sudah sepantasnya kalau memberi hormat kepada kaum angkatan tua, taysu, tolong pergilah ke luar sebentar dan wakililah boanpwe untuk menyambut kedatangan kakek kakek tua itu!"
Cu Im taysu kelihatan ragu mukanya murung dan keberatan untuk tinggalkan tempat itu, sinar matanya malahan dialihkan ke wajah Kiu-im Kaucu.
Rupanya ia kuatir sepeninggalnya dari situ, kedua belah pihak terjadi bentrokan lagi sehingga pertarungan kembali berlangsung bila sampai demikian kejadiannya, tanpa kehadirannya disitu berarti hanya akan melemahkan posisi pihaknya belaka.
Sebagai seorang jago yang berpengalaman luas, tentu saja Kiu-im Kaucu juga bisa menebak isi hati orang, tiba-tiba ia menengadah sambil tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh.... haaahhhh.... haaahhh.... Hoa Thian-hong, benarkah engkau akan beradu jiwa denganku?"
"Keadaanku sekarang ibaratnya anak panah diatas busur, bagaimanapun juga panah ini harus dilepaskan!"
Sahut sang pemuda sambil menarik mukanya.
"Haaahhh.... haaahh.... haaahhh.... kembali Kiu-im Kaucu tertawa terbahak bahak, kalau kulihat dari pedang bajamu yang sudah tiada, tentunya kitab Kiam keng telah berhasil kau dapatkan bukan?"
Hoa Thian-hong tertawa dingin.
"Heehhh.... heeehh.... heeehhh.... kitab Kiam keng berada disakuku, cuma sayang tak mungkin akan kugunakan benda tersebut untuk di tukarkan dengan engkau!"
Kiu-im Kaucu tertawa.
"Tentu saja, tentu saja.... tak usah kau katakan, aku juga sudah dapat menebak suara hatiku....Hmm! Sekalipun ilmu silat yang kau miliki setingkat lebih tinggipun, aku tak nanti akan jeri apalagi takut kepadamu!"
Setelah berhenti sebentar, dia ulapkan tangannya seraya berkata lebih jauh.
"Pergilah dari sini! Kujamin tak akan mencelakai nyawa Ku Ing-ing, bila isi Kiam keng sudah kau pelajari, maka aku akan menantang engkau untuk berduel lagi dihadapan para orang gagah dari seluruh kolong langit, bila dalam pertarungan itu engkau berhasil mengung-guli diriku, Ku Ing-ing akan segera kuserahkan kembali kepadamu!"
Betapa girangnya Cu Im taysu setelah mendengar perkataan itu, cepat dia menyambung.
"Kalau memang kaucu sudah berjanji begini, itulah lebih bagus lagi, aku percaya sebagai seorang ketua dari suatu perkumpulan besar, apa yang telah kaucu katakan tak akan disesali kembali, Thianhong! Hayo kita pergi!"
Hoa Thian-hong sendiri dalam hati kecilnya sedang berpikir.
"Kiu-im Kaucu adalah seorang manusia yang licik dan banyak akalnya, mana ia sudi memberi keuntungan bagiku? Aaai....! Cu Im taysu memang kelewat jujur orangnya, masa ia belum tahu betapa lihaynya orang ini....?"
Walaupun dia bisa berpikir sampai disitu namun gagal untuk mencari tahu dimanakah letak maksud dan tujuan Kiuim Kaucu dengan tindakannya itu, untuk sementara waktu si anak muda ini jadi serba salah dibuatnya, mau pergi tapi bagaimana?
kalau tidak pergi, lantas bagaimana?
Terdengar Pui Che-giok berkata lagi dari sisi gelanggang.
"Menerima siksaan api dingin melelehkan sukma, ibaratnya melubangi batok kepala sambil menyulut lampu langit, bila dileleh kan selama tujuh hari tujuh malam lamanya korban akan kehabisan tenaga ibaratnya lentera yang kehabisan minyak, hawa murninya akan banyak terkuras, dan sekalipun bisa hidup diapun tak ubahnya seperti seorang manusia cacad lainnya!"
Ucapan itu entah ditujukan kepada siapa tapi semua orang bisa menduga bahwa perkataan tersebut sengaja ditujukan kepada Hoa Thian-hong. Tiba-tiba Kiu-im Kaucu tertawa nyaring, kemudian ujarnya.
"Engkau toh bukan anggota Kiu-im-kauw kami, darimana engkau bisa tahu seluk beluk siksaan ini sedemikian jelasnya?"
Dengan memberanikan diri Pui Che-giok menatap tajam lawannya, lalu menjawab.
"Nona yang memberitahukan kepadaku!"
Kiu-im Kaucu segera tertawa.
"Haaah.... haaahh.... bagus, bagus sekali. Kiranya sedari dulu ia sudah mengetahui betapa lihaynya siksaan api dingin melelehkan sukma, jadi kalau begitu ia sudah tahu kelihayannya tapi sengaja melanggar perataran untuk mencobanya sendiri? Bagus, kalau begitu biarlah dia tahu rasa sekarang."
Mendengar kata-kata sudah tahu tapi sengaja melanggar sendiri sakit rasanya hati Hoa Thian-hong, ia tahu kesemuanya ini adalah lantaran dia, karena mesalah dirinya membuat Giok Teng Hujin harus menerima siksaan lahir maupun batin....
begitu sakit hatinya serasa bagaikan diiris-iris dengan pisau.
"Bebaskan dia dari siksaan tersebut!"
Teriak pemuda itu dengan penuh kebencian "bila engkau bersedia membebaskan dia, aku pun tak akan melatih ilmu dalam kitab Kiam keng, setiap saat akan kunantikan tantanganmu untuk melangsungkan duel satu lawan satu, bila engkau berhasil menangkan diriku, kitab Kiam keng akan kuserahkan kepadamu sebaliknya kalau engkau kalah maka nona Giok Teng Hujin harus engkau lepaskan!"
"Perkataan seorang kuncu berat bagaikan bukit, sampai waktunya aku pasti akan menantikan kedatanganmu untuk melangsungkan duel tersebut, sekarang juga akan kubebaskan dirinya dari siksaan tersebut."
Jawaban ini terlalu cepat dan sama sekali diluar dugaan, untuk sesaat lamanya Hoa Thian-hong dibikin tertegun dan tak mampu berkata-kata.
Dia cukup mengetahui sampai dimanakah kekuatan ilmu silat yang dimilikinya sekarang, pada hakekatnya ia tiada keyakinan untuk menangkan lawannya, dan sekarang ternyata pihak lawan menyanggupi tantangannya dengan begitu jelas, itu berarti bila ia tiada memiliki suatu kepandaian yang bisa diandalkan keampuhannya, tak mungkin perempuan itu begitu cepat memberikan keputusannya.
Sementara itu Cu Im taysu kembali sudah berkata.
"Empat orang kakek tua itu sedang menanti kedatangan kita diluar kuil, mari kita sambut kedatangannya!"
Sebenarnya Hoa Thian-hong ingin membuktikan dengan mata kepala sendiri bagai mana Kiu-im Kaucu membatalkan siksaan yang menimpa Ku Ing-ing alias Giok Teng Hujin, akan tetapi setelah diajak pergi oleh Cu Im taystu terpaksa ia manggut dan siap berlalu dari situ.
Tiba-tiba Pui Che-giok maju kedepan, dengan muka rada takut-takut ia berkata.
"Kongcu, aku.... aku ingin tetap tinggal di sini untuk melayani nona"
Hoa Thian-hong memang merasa ada baiknya kalau dayang itu tetap tinggal disana untuk melayani nonanya, tapi diapun kuatir kalau Kiu-im Kaucu berbuat tidak senonoh atas diri dayang ini, mengingat Pui Che-giok secara terangkan berani melawan ketua tersebut, mendengar permintaan itu, bukannya menjawab sorot mata yang setajam sembilu malahan dialihkan ke arah ketua perkumpulan Kiu-im-kauw.
Sebagai seorang jago kawakan yang berpengalaman luas, tentu saja Kiu-im-kauwcu dapat menangkap maksud hati lawannya, dia segera tertawa tergelak dengan nyaring Haaah....
haaaah....
haaahh....
majikan susah anjing ikut susah, majikan gembira anjingpun ikut gembira, jangan kau anggap aku adalah seorang manusia yang jiwanya picik, tak mungkin kususahkan seorang dayang yang sama sekali tak ada artinya bagi pandanganku, biarkan saja ia tinggal disini untuk menemani majikannya...."
Begitu Kiu-im Kaucu telah memberikan persetujuannya, Pui Che-giok sambil membopong Soat-ji lantas mengundurkan diri ke samping dengan mulut membungkam, ini bukan dikarenakan Kiu-im Kaucu menunjukkan sikapnya yang terbuka maka ia berterima kasih kepadanya.
Cu Im taysu dan Suma Tiang-cing yang mengikuti pula kejadian tersebut, dalam hati kecilnya ikut membatin.
"Bila Ku Ing-ing tidak mempunyai kelebihan sebagai seorang majikan yang baik, tidak mungkin dayangnya menunjukkan kesetiaan yang luar biasa, aaai! Memang tak bisa disalahkan kalau budak ini bersedia mengorbankan nyawanya untuk merawat majikannya, bila dihari biasapun majikannya bersikap luar biasa puka kepada dayangnya"
Dalam pada itu, Hoa Thian-hong sedang mengamati pedang mustika Boan liong po kiam yang berada ditangannya, tiba-tiba ia melemparkan senjata itu ke arah Tiamcu istana neraka, kemudian memungut kembali pedang sendiri, setelah itu tanpa mengucapkan sepatah katapun dia berlalu dari sana, Co Im taysu dan Suma Tiang-cing sendiri pun tidak banyak bicara, mereka segera berlalu pula mengikuti dibelakang si anak muda itu.
Sungguh cepat gerakan tubuh tiga orang jago tersebut, selang sesaat kemudian mereka sudah tiba diluar kuil.
Benar juga diseberang jalan dekat kuil It goan koan berdirilah empat orang kakek tua berambut putih.
Lao Cu cing berdiri di samping dan sedang bercakap-cakap dengan badan setengah dibungkukan tanda menghormat.
Walaupun tetap utuh dan putih mulus, badannya gagah dan langkahnya tegap, sedikitpun tidak kelihatan ketuaannya ataupun loyo karena dimakan usia.
Jenggot mereka rata-rata sepanjang dada, yang terpendek pun sadah mencapai dua depa, membuat siapa pun yang memandang keempat orang itu, segera timbullah perasaan menghormat.
Demikian pula keadaannya dengan Hoa Thian-hong, Cu Im taysu serta Suma Tiang-cing, tanpa disadari timbul rasa menghormat dalam hati kecil mereka, dengan langkah yang menghormat mereka maju menghampirinya.
Hoa Thian-hong berjalan dipaling depan, lantaran dialah yang dicari oleh keempat orang kakek tua itu, dari kejauhan ia telah menjura kepada Lau Cu cing seraya berkata.
"Berhubung ada urusan penting, boanpwee telah datang terlambat, mohon para lojin dan wangwe sekalian sudi memberi maaf yang sebesar besarnya."
Lau Cu cing segara balas memberi hormat.
"Kongcu tak perlu sungkan-sungkan!"
Sahutnya.
Kemudian dia memperkenalkan kakek-kakek tua itu urut dengan tempat mereka berdiri, sambil menunjuk ke arah samping kiri dia berkata, Kakek tua yang ini adalah kong co (ayahnya kakek) ku, sedang orang tua ini dari marga Gan, orang tua ini dari marga Li, sedang orang tua ini dari marga Po yang.
Buru-buru Hoa Thian-hong maju kedepan sambil memberi hormat dalam-dalam, katanya.
"Aku yang muda Hoa Thianhong, menjumpai para orang tua sekalian!"
"Pinceng Cu Im, menjumpai orang tua berempat kata Cu Im taysu pula seraya memberi hormat"
Sedang Suma Tiang-cing sambil maju memberi hormat katanya.
"Aku yang muda Suma Tiang-cing menjumpai cianpwe berempat!"
Setelah berhadapan muka dengan keempat orang kakek tua itu sekaligus, beberapa orang jago ini membahasakan dirinya dengan kedudukan yang rendah, sebab bicara soal tingkat mereka kalah tingkat sampai empat generasi.
Lau Cu cing sendiri lantas memperkenalkan pula dua orang jago itu kepada keempat kakek tua tadi.
"Taysu ini adalah seorang hiap kek (jago tua) dari golongan kaum beragama, sedang Suma tayhiap juga merupakan enghiong diantara sekalian pendekar, mereka adalah pendekar-pendekar sejati yang disanjung dan dihormati umat persilatan."
Buru-buru Cu Im taysu serta Suma Tiang-cing mengucapkan beberapa patah kata merendah.
Senyum ramah selalu menghiasi wajah ke empat orang kakek tua itu, selesai berkenalan, Kong co dari Lau Cu cing itu lantas tertawa tergelak seraya berkata.
"Kalian semua tak usah sungkan-sungkan, Haah.... haaah.... haaahh bila ada tempat untuk berbicara, kami berempat ada urusan penting hendak dibicarakan dengan diri Hoa kongcu!"
Sebelum Hoa Thian-hong sempat menjawab, Cu Im taysu telah berseru lebih dahulu.
"Tempatnya ada dan tak jauh dari tempat ini, biarlah siau ceng yang membawa jalan."
Habis berkata dia lantas berjalan lebih dahulu meninggalkan tempat tersebut.
Jarak antara kuil It goan koan dengan pintu kota timur memang sangat dekat, Cu Im taysu segera membawa beberapa orang itu menuju keluar kota.
Walaupun usianya sudah menanjak lebih dari satu abad, ternyata gerak-gerik keempat orang kakek tua itu masih lincah dan enteng, Lau Cu cing sendiripun pernah berlatih ilmu silat maka gerak langkahnya tegap lagi cepat, dengan begitu perjalanan pun bisa dilakukan dengan sangat cepat.
Selang sesaat kemudian, sampailah mereka disebuah kuil kecil.
Kuil kecil itu letaknya sendirian diluar kota, penghuni kuil itu cuma seorang pendeta tua yang bergelar It piau, dia adalah seorang sahabat karib Cu Im taysu selama banyak tahun.
Setiap kali Cu Im taysu berkunjung ke kota Cho ciu, dia selalu menginap dalam kuil ini, maka setibanya didepan pintu kuil, ia lantas membuka pintu depan dan mempersilahkan semua orang untuk masuk keruang tengah.
Ketika fajar baru saja menyingsing, It piau taysu baru saja menyelesaikan doa paginya, ketika mendengar suara langkah manusia dia lantas bangkit berdiri dari kursi bantalnya.
Cepat Cu Im taysu menjura seraya berkata.
"Maaf, kembali Cu Im akan mengganggu ketenangan suheng untuk beberapa waktu."
IT piau hweesio balas memberi hormat, bibirnya bergerak sedikit tapi tak sepatah katapun yang diucapkan, ia lantas mengundurkan diri dari ruangan tersebut.
Di belakang ruang kuil tersebut merupakan dua buah kamar kecil, yang satu dipakai untuk tempat tinggal It piau hweesio, sedangkan yang lain biasanya ditempati Cu Im taysu.
Ketika tiba didepan pintu, It piau hwesio memberi hormat kepada sekalian tamunya, ketika semua orang sudah masuk kedalam ruangan, hwesio itu membawa sebuah kasur duduknya dan masuk kedalam.
Menunggu para tamunya telah duduk semua, Cu Im taysu baru berkata sambil tertawa.
"It piau suheng adalah seorang padri yang tuli lagipula bisu, dia bukan orang persilatan, maka bila kalian ada urusan yang hendak dibicarakan, utarakan saja dengan blak-biakan, sebab sekalipun kita undang kedatangannya kemari, belum tentu ia bersedia untuk mendengarkan!"
Hoa Thian-hong alihkan sinar matanya keatas wajah Lan Cu cing serta keempat orang kakek tua itu, kemudian dengan serius ia bertanya.
"Entah ada persoalan apakah cianpwe berempat datang mencari diriku yang muda ini?"
Kakek Po yang memandang sekejap ke arah Liu Cu cing, ruparya kekek ini menyuruh dia untuk berbicara lebih dahulu. Lau Cu cing mengangguk, maka diapun berkata.
"Baiklah, ceritaku kumulai dari peristiwa yang terjadi kemarin malam!"
Dari mulut Hoa Thian-hong, baik Cu Im taysu maupun Suma Tiang-cing telah mengetahui kalau rumah kediaman Lau Cu sing telah terbakar, sedang dewa yang suka pelancongan Cu Thong meninggalkan surat yang memerintahkan Hoa Thian-hong agar segera berangkat menuju kebukit Kiu ci san.
Semenjak menghadapi peristiwa yang serba membingungkan ini, mereka bertiga sama-sama ingin mengetahui duduk perkara yang sebenarnya, malahan beberapa kali mereka hendak bertanya langsung kepada Lau Cu cing, tapi setiap kali diurungkan niatnya itu maka ketika Lau Cu cing akan menceritakan sendiri peristiwa yang telah terjadi, mereka segera pasang telinga baik-baik.
Dengan suara perlahan Lau Cu cing mulai bercerita.
"Tengah malam kemarin, lima orang jago silat berbaju kuning tiba-tiba menyerbu masuk kedalam rumahku, mereka berkata akan menjumpai kongco ku yang masih hidup. Ayahku dan kakekku sudah lama meninggal dunia, sedangkan kongco ku masih sehat wal'afiat dan hidup digunung Huang-san, sudah enam puluh tahun lamanya tak pernah pulang rumah barang sekali pun, sedangkan kami dari buyut buyutnya secara teratur datang berkunjung kebukit Huang-san untuk membayanginya, oleh sebab Kong cu berpesan agar kejadian ini selalu dira-hasiakan maka tetangga tetangga kami tak seorangpun yang mengetahui akan kejadian ini"
Ia berhenti sebentar, kemudian sambungnya lebih jauh.
"Kelima orang manusia berbaju kuning itu terdiri dari empat laki laki dan seorang perempuan, tiga orang diantaranya bermuka jelek sekali, sedangkan pria yang masih muda dan gadis yang masih kecil itu berwajah bagus dan menarik, terutama yang perempuan cantiknya bak bidadari dari kahyangan akhirnya aku tahu kalau dia Pek Kun-gie putri ketua dari Sin-kie-pang. Kedatangan mereka amat garang dan kasar, katanya jejak kongcu kami akan dicari sampai ketemu terutama Pek Kun-gie, ia selalu menyinggung soal harta karun, katanya kalau aku tidak memberikan pengakuannya maka seluruh keluarga kami akan dibantai sampai habis. Rupanya kakek tua yang menjadi pemimpin rombongan itu kuatir bila rahasianya terbongkar semua, jalan darahnya segera ditotok, ketika itulah Pek Kun-gie tak dapat berbicara lagi"
"Jelas dia mempunyai maksud dan tujuan lain, tak mungkin dara itu benar-benar akan melakukan kejahatan"
Sela Hoa Thian-hong dengan cepat. Lau Cu cing tidak memberikan tanggapannya, kembali dia melanjutkan penuturannya.
"Sepanjang hidup cayhe hanya tahu ber kat makan buah dewa yang tak ternilai harganya, maka Kongco kami bisa hidup sampai lebih dari saiu abad, aku sama sekali tidak tahu menahu tentang soal harta karun, apa lagi setelah kulihat kedatangan kelima orang itu tidak mengandung maksud baik, lebih lebih tak berani kukatakan kalau Kong co kami hidup dibukit Huang-san. Ketika itulah tiba-tiba Pek Kun-gie berkata "
Aku lihat keempat orang itu sudah...."
Kata-kata berikutnya tidak dilanjutkan, tiba-tiba saja orang she Lau itu membungkam.
Tentu saja Hoa Thian-hong sekalian tahu bahwa kata selanjutnya tentulah kata mati, Lau Cu cing tak berani melanjutkan kata-katanya oleh karena menyangkut kong co serta teman-temannya.
Selang sesaat kemudian, ia baru meneruskan kata-katanya lebih jauh.
"Betapa gusar dan mendongkolnya hatiku setelah mendengar gadis itu menyumpahi kongco ku, rasa marah dan tak senang hati ku ini segera terpancar diatas wajahku, ternyata kakek yang menjadi pemimpin rombongan itu cukup cerdas dan cekatan, dari perubahan wajahku dia lantas tertawa terbahak-bahak, kemudian katanya kepada empat orang lainnya, 'Cousu ya sangat cerdas dan perhitungannya tak pernah meleset, kalau tidak lantaran kecerdikannya ini tak mungkin beliau berhasil mendapatkan sebutir mutiara Lip cu dan se
Jilid kitab pusaka Thian hua ca ki diantara beribu-ribu orang pencari harta.' Heemmm....
heeehmmm....
ia telah memperhitungkan bahwa keempat orang laki laki itu akan hidup selama seratus lima puluh tahun lamanya, tak mungkin keempat orang itu bisa cepat mati!"
Terlanjur mengatakan kata mati, air muka Lau Cu cing segera berubah hebat dan menunjukkan sikap gugup dan perasaan tak tenang.
Hoa Thian-hong bertiga cuma bisa saling berpandangan dengan mulut melongo, beribu-ribu orang datang mencari harta karun, peristiwa itu pastilah suatu peristiwa besar yang pernah menggemparkan seluruh kolong langit, bila cuma berita kosong belaka mereka belum tentu akan percaya, tapi sekarang empat kakek tua berusia seabad lebih yang pernah mengalami sendiri peristiwa tersebut duduk dihadapan mereka, mau tak mau terpaksa ketiga orang itu harus mempercayainya juga.
Membayangkan kembali peristiwa yang terjadi dimasa lampau, tak kuasa lagi Cu Im taysu bertanya.
"Apakah kitab pusaka Thian hua Ci ki termasuk sebagai suatu kitab pusaka ilmu silat?"
Tapi setelah perkataan itu dilontarkan ke luar, padri ini baru merasa bahwa ia sudah terlanjur bicara yang tidak senonoh, buru-buru sambungnya lagi.
"Pinceng tidak berniat serakah atau ingin mendapatkannya, pertanyaanku hanya lantaran rasa ingin tahu belaka!"
Tiba-tiba ia merasa tidak tenang hatinya, cepat tambahnya lagi.
"Omintohud, rasa ingin tahu adalah perbuatan bodoh dan omong kosong, dosa.... dosa...."
Semua orang merasa geli menyaksikan tingkah laku padri ini, tapi teringat betapa serius dan berusahanya padri itu untuk mengekang diri, timbul pula rasa hormat dihati mereka, maka tak seorangpun berani tertawa.
Tiba-tiba Po-yang Lojin berkata, Thian hua adalah nama manusia, dia merupakan murid paling kecil dari Kiu-ci Sinkun, orang ini she Cho dan waktu mati baru berusia dua puluh tahunan, tapi ilmu silatnya sangat tinggi, ilmu kepandaiannya yang dipelajarinya adalah jurus-jurus paling ampuh dari pelbagai perguruan dan partai besar yang ada didunia.
"Dari pelbagai perguruan dan partai besar? sela Suma Tiang-cing dengan hati terperanjat.
"Betul, ilmu silatnya meliputi pelbagai perguruan dan partai besar"
Sahut Po-yang Lojin.
"Cho Thian-hua berbakat bagus dan berotak cerdik, tapi lantaran ilmu silat yang dipelajarinya terlalu banyak, terlalu ruwet dan tak mungkin baginya untuk mengingat semua intisari serta kelihayannya selain itu diapun mempunyai tujuan tertentu, maka setiap kali setelah mempelajari sejenis ilmu silat, diam-diam ia membuat catatan sendiri dalam se
Jilid kitab, lama kelamaan terjadilah sebuah catatan Ilmu silat yang kemudian diberi nama Thian hua ca ki!"
Sekarang Hoa Thian-hong baru paham dengan duduknya persoalan, ia lantas berseru.
"Tak beran kalau ilmu silat yang dimiliki Tang Kwik-siu amat banyak ragamnya, macam gadogado, tapi semuanya tidak sempurna dan tidak matang, rupanya ia belajar menurut catatan kitab Thian hua ca ki tersebut....! sekarang aku baru mengerti rahasia ini!"
"Sampai dimanakah macam ragamnya kepandaian silat orang itu?"
Tanya Suma Tiang-cing.
Ia pandai ilmu pukulan Tong pit sin kin ilmu iblis hua kut mo ciang, ilmu sakti kim kong ciat eng.
ilmu jari Yu seng sin ci dan aneka ragam lagi banyaknya.
Sepasang mata Sama Tiang cing melotot besar karena tertegun, serunya kemudian, Waah....
waah....
gado-gado, benar-benar ilmu gado-gado.
Lo wangwe!
Silaukan kau lanjut kan penuturanmu.
Lau Cu cing mengangguk.
Setelah kupikir-pikir, segeralah kurasakan bahwa duduk persoalan nya amat rumit.
"Cu Im suheng!"
Tiba-tiba terdengar It piau hwesio memanggil dari arah dapur.
Cu Im taysu ingin mendengarkan cerita dari Lau Cau cing, maka dia hanya mengiakan belaka, apa mau dikata It piau hwesio kembali memanggil lagi dengan lantang, terpaksa Cu Im taysu bertanya dengan suara setengah berteriak.
"Suheng, ada urusan apa engkan panggil diriku?"
"Kalian sedang membicarakan soal harta karun, aku tak berani pergi kesitu!"
Seru It piau hwesio. Tertegun Hoa Tbian hong setelah mendengar ucapan tersebut, segera katanya.
"Biar aku yang muda pergi kesana!"
Dia lantas masuk kedapur, selang sesaat kemudian pemuda itu sudah muncul kembali sambil membawa senampan nasi dan sayur mayur yang tidak berjiwa, katanya.
"Lo suhu itu menutupi telinganya sendiri dengan kain, tak heran kalau pembicaraan kita tak terdengar olehnya"
"Omintohud!"
Seru Cu Im taysu sambil tertawa.
"It piau suheng baru benar-benar terhitung sebagai seorang padri yang saleh, kalau aku, haaah.... hahh.... haahh.... aku pantas disebut bwesio sontoloyo, haha haha."
Hoa Thian-hong ikut tertawa, dia lantas menghidangkan nasi dengan sayur mayur itu kedepan semua orang.
Begitulah, sambil bersantap semua orang mendengarkan Lau Cu cing melanjutkan kembali penuturannya.
"Aku tak berani memberitahukan tempat tinggal engkong co ku kepada mereka namun tak mungkin aku membungkam dalam seribu bahasa, sesudah putar otak akhirnya kujawab bahwa engkong co ku beserta ketiga orang rekannya suka berpesiar ketempattempat kenamaan, susah untuk menemukan jejak mereka, tapi aku bersedia untuk menemukan kembali jejaknya. Rupanya....Tang Kwik-siu tahu bahwa tiada gunanya menggunakan kekerasan atas diriku dan lagi merekapun tidak punya waktu untuk menungga terlalu lama, akhirnya dia panggil muridnya yang membawa sebuah hiolo warna merah darah untuk maju kedepan, dari dalam hiolo tersebut Tang Kwik-siu menangkap seekor kelabang aneh yang tubuhnya berbintik-bintik hitam, bajuku dising-singkan lalu kelabang itu dibiarkan menggigit pergelangan tangan kiriku. Dalam keadaan demikian, sekalipun kegusaran memuncak dalam benakku, pada hakekatnya aku tak punya kemampuan untuk memberi perlawanan apa-apa"
"Sungguh tak ku nyana Tang Kwik-siu begitu keji dan bejat moralnya, bila sampai bertemu lagi lain waktu, pasti akan kusuruh ia rasakan kelihayanku!"
Kata Hoa Thian-hong dengan gusar. Lau Cu cing melirik sekejap ke arah si anak muda itu, kemudian ujarnya lebih jauh.
"Setelah Tang Kwik-siu membiarkan kelabangnya menggigit perge-langan tanganku, sambil menyingsingkan bajunya Pek Kun-gie mendadak berkata sambil tertawa.
"Hahaha Lau Cu cing, akupun pernah merasakan bagaimana enaknya dipagut kelabang, tampaknya kita memang senasib sependeritaan, ba gaimana kalau kita angkat saudara saja, engkau jadi kakak dan aku jadi adik!"
Pada mulanya aku mengira dara itu cuma berolok-olok, tapi setelah pergelangan tangan kirinya diperlihatkan kepadaku, barulah kuketahui bahwa dia memang mengalami nasib yang sama seperti aku"
Bicara sampai disitu, dia lantas menyingsingkan ujung bajunya dan memperlihatkan bekas gigitan kelabang itu kepada Hoa Thian-hong.
Pada pergelangan tangan kirinya terdapat dua titik merah sebesar kacang hijau yang menongol keluar, sedang disisi bengkak itu terdapat bekas gigitan binatang yang melekuk kedalam, ia tahu bahwa ucapan orang itu tak salah.
Terbayang kembali bagaikan ngerinya Pek Kun-gie bila digigit kelabang, ia merasa tak tega bercampur menguatirkan keselamatan gadis itu.
Setelah menurunkan kembali ujung bajunya, Lau Cu cing melan-jutkan kembali kata-katanya.
"Tang Kwik-siu berkata kepadaku bahwa racun keji kelabang itu sudah menyusup ke dalam darahku, empat puluh sembilan hari kemudian racun itu baru mulai bekerja, dan bila tidak diobati maka aku akan tewas dalam keadaan mengerikan, katanya kecuali obat pemunahnya didunia ini tiada obat lain yang bisa mengobati racun tersebut!"
Ia berhenti sebentar untuk tukar napas, setelah itu sambungnya lebih jauh.
"Ia memerintahkan cayhe untuk menemukan jejak engkong co ku atau salah seorang diantara empat kakek tua yang dimaksudkan, kemudian empat puluh hari kemudian berangkat ke kota karesidenan Sam kang di propinsi Kwang-se untuk bertemu dengannya, bila aku tidak datang maka jiwaku akan melayang, bahkan bila urusannya telah selesai maka dia akan membantai pula keluargaku!"
"Bagaimana jawaban lo wangwe?"
Tanya Suma Tiang-cing.
"Aku hanya mengiakan belaka, tidak ku berikan jawaban yang tegas dan memastikan!"
"Kalau memang begitu, tidak pantas kalau mereka lepaskan api dan membakar rumah tinggal lo wangwe!"
Kata Hoa Thianhong.
"Api itu bukan dilepaskan mereka, tapi Pek Kun-gie yang membakar rumahku malahan diapun hendak mencelakai pula jiwa anak istriku!"
Liu Cu cing menerangkan dengan tertawa.
"Kurang ajar, keji amat perbuatannya!"
Bentak Hoa Thianhong dengan penuh kegusaran. Tampaknya Lau Cu cing sudah mengetahui kalau Hoa Thian-hong mempunyai hubungan istimewa dengan Pek Kungie, ia lantas tersenyum dan berkata lagi.
"Nona Pek berkata begini kepadaku.
"Lau Cu cing, kita toh sudah angkat saudara sepantasnya kalau kuberi tanda mata atas peristiwa ini....!"
Memang lihay sekali cara nona itu melepaskan api, belum sempat kutangkap maksud kata-katanya, dia sudah melepaskan segulung bubuk obat keatas lampu lentera, diiringi suara ledakan besar api segera menjilat ruangan.
Tampaknya Tang Kwik-siu ada maksud untuk memadamkan api tersebut, tapi tak sempat, ia hanya berdiri termangu.
Berbeda dengan Pek Kun-gie, ia kelihatan bangga sekali, sambil menuding kepadaku, katanya lagi.
"Engkau tak usah sakit hati bagaimanapun juga engkau toh tak akan bisa temukan jejak engkong co mu, sekalipun engkau berhasil temukan orangnya, cepat atau lambat toh tetap mati, kelabang itu merupakan binatang paling keji dikolong langit, sekalipun orang yang digigit diberi obat pemunah, diapun cuma bisa bertahan hidup selama setengah tahun belaka!"
Mendengar ucapan tersebut, Tang Kwik-siu jadi marah dan mencaci maki tapi Pek Kun-gie juga berteriak-teriak keras.
"Apa yang dia jeritkan?"
Tanya Hoa Thian-hong dengan kemarahan masih berkobar dalam benaknya. Nona Pek berteriak begini.
"Kita sudah berjanji bahwa aku tak akan melarikan diri, tak akan membocorkan rahasia indentitasku, tak akan membongkar rahasia, toh tak pernah dalam perjanjian itu melarang aku bunuh orang dan lepaskan api? Engkau mengaku sebagai seorang cikal bakal suatu perguruan besar, kenapa ucapanmu tidak bisa dipercaya, kenapa perbuatanmu tak pegang janji?"
Berbicara sampai disitu, tiba-tiba nona Pek ayun telapak tangannya hendak menghajar anakku paling kecil, serangannya bukan ma in-main tapi suatu serangan yang amat ganas, untungnya Tang Kwik-siu bertindak cukup cekatan, ia berbasil menangkap nona Pek sehingga terhindarlah anakku dari kematian!"
Mendengar sampai disitu, dengan dahi berkerut Suma Tiang-cing segera berkata.
"Rupanya semua kelembutan dan kehalusan Pek Kun-gie cuma pura-pura belaka.... Hmmm! Kalau memang begitu, mulai hari ini Thian-hong tak boleh memperdulikan dirinya lagi"
Suma Tiang-cing adalah saudara angkat dari Hoa Goan-siu, berbicara soal hubungan maka kecuali ibunya boleh dibilang enciknya ini merupakan orang yang paling dekat hubungannya dengan pemuda itu.
Justru oleh karena adanya hubungan yang sangat erat, Suma Tiang-cing berani mengutarakan perintahnya yang amat tegas.
Hoa Thian-hong sebagai angkatan yang lebih rendah, tentu saja tak berani membangkang perintahnya itu, Tercekat hati Thian-hong setelah mendengar perkataan itu, tapi iapun tidak berhasil menemukan alasan yang tepat untuk menangkis perintah tadi, terpaksa dengan kepala tertunduk dia mengiakan barulang tali.
Sekalipun begitu, rasa sedih dan murung sempat juga meliatas diatas wajahnya.
Lau Cu cing sendiri, diam-diampun berpikir, Nama besar Hoa Thian-hong telah menggetarkan seluruh kolong langit, dan lagi dia masih muda, sepantasnya kalau anak muda berjiwa panas dan mudah jadi sombong atau jumawa, tapi kenyataannya dia tetap sederhana dan penurut, kejadian ini benar-benar luar biasa sekali.
Perlu diketahui, walaupun ilmu silat dan kesuksesan berusaha dapat membuat orang menaruh hormat, tapi masih ada bagian lain yang tidak menghormati ataupun mengaguminnya, tapi ada sebagian orang lantaran wataknya mulia dan berbudi luhur maka bukan saja orang banyak yang mengaguminya, malahan jumlah orang yang menaruh rasa kagum kadangkala jauh lebih besar dan banyak.
Begitu pula halnya dengan Lau Cu cing kalau Hoa Thianhong hanya hebat dalam ilmu silat dan tinggi kedudukannya dalam dunia persilatan, belum tentu dia akan mengaguminya, tapi justru karena wataknya yang halus budi dan jujur ia jadi amat kagum.
Tiba-tiba dia menengadah dan tertawa terbahak-bahak, kemudian katanya pula.
Hoa kongcu, bicara sejujurnya, ketika kemarin malam aku lihat engkau berada serombongan dengan orang-orang Sinkie-pang, timbul perasaan tak senang dihatiku, karenanya meskipun aku mempunyai kesulitan, rahasia tersebut tidak sampai kubocorkan dihadapanmu apalagi setelah kuketahui bahwa hubunganmu dengan nona Pek sangat akrab, semakin besar rasa antipatiku yang muncul dalam hatiku.
00000o00000 MERAH padam selembar wajah Hoa Thian-hong karena jengah, buru-buru katanya.
Lo wangwe, boanpwe bukanlah manusia yang tak tahu bagaimana menyayangi diri sendiri, akan tetapi pada hakekatnya banyak kejadian yang berada dalam dunia ini yang memaksa orang tak mampu mengendalikan diri, kendatipun harus disertai dengan pengorbanan yang besar, tapi mau tak mau perbuatan itu harua dilakukan juga, boanpwee sudah berusaha untuk bergerak terus lebih keatas, apa daya kemampuanku memang terbatas, akhirnya toh tetap terjerumus kembali menurut aliran perubahan.
Cepat Lau Cu cing ulapkan tangannya.
"Kongcu tak usah terlalu merasa rendah diri, aku sudah memahami watak serta perangai kongcu, akupun bisa memahami setiap perbuatan yang kau lakukan pasti didasari oleh alasan yang kuat, tak heran ka lau aku jadi salah paham karena tak tahu duduk persoalan yang sebenarnya"
Tiba-tiba Suma Tiang-cing ikut menghela napas panjang dan berkata dengan lirih.
"Aaai.... namaku Kiu mia kiam kek (jago pedang sembilan jiwa) kudapatkan dengan lumuran darah, siapa yang tidak tahu kalau aku Suma Tiang-cing adalah laki-laki berhati keras, tapi toh hari ini aku harus mengadu jiwa lantaran ingin menolong jiwa seorang gadis, aaai....! Mungkin inilah yang dinamakan apa boleh buat bila keadaan sudah begitu.... heeh heehh heehh mendingan kalau orang lain tahu akan duduk persoalannya kenapa aku sampai adu jiwa ka-rena seorang gadis, bila orang itu tak tahu duduknya perkara bukankah mereka juga akan menaruh perasaan salah paham kepadaku?"
Berbicara sampai disini, ia lantas berpaling kembali ke arah Hoa Thian-hong seraya berkata lebih jauh.
"Aku segan untuk mencampuri urusanmu dengan budak dari keluarga Pek, mau bagai mana terserah pada kemauanmu sendiri....!"
Tertegun Hoa Thian-hong sesudah mendengar perkataan itu, tapi diam-diam diapun bersyukur karena ia bebas dari ikatan yang memberatkan pikirannya, walaupun begitu pemuda itu tak dapat menunjukkan rasa girangnya, karena tanpa sadar soal Pek Kun-gie dan Giok Teng Hujin berbarengan berkecamuk dalam benaknya.
Tiba-tiba terdengar Lau Ca cing tertawa nyaring, lalu berkata.
"Hoa kongcu, sekarang apakah engkau sudah dapat menduga apa sebabnya Pek Kun-gie membakar rumahku dan melukai cucuku?"
"Oou....! Kenapa?"
Seru Hoa Thian-hong dengan muka tertegun.
Cu Im taysu adalah seorang padri yang berbudi luhur, dia ingin sekali membuat semua orang yang ada didunia ini jadi orang baik semua, dari pembicaraan tersebut segera diketahui olehnya bahwa dibalik pertanyaan itu tentu ada penjelasan lebih jauh, segera selanya.
"Sekalipun Pek Kun-gie adalah putri Pek Siau-thian, tapi ia pribadi sebenarnya tidak bernama jelek, apalagi setelah menjadi sahabat Thian-hong, wataknya pasti banyak mengalami perubahan, Kalau toh dia bisa melakukan perbuatan seperti membakar rumah, membunuh orang, sudah pasti dibalik kesemuanya itu dia mempunyai maksud serta tujuan tertentu.... bukan begitu?"
Lau Cu cing tersenyum.
"Tadi aku masih belum bisa memecahkan persoalan ini tapi barusan tiba-tiba dapat kupahami mengapa nona Pek sampai berbuat demikian, sudah pasti ia sengaja membakar rumahku dan ingin membunuh cucuku dengan tujuan untuk merangsang aku mengharapkan aku sangat membenci kepada mereka, asalkan aku telah menaruh rasa benci kepada mereka, sudah tentu akupun tak akan tunduk oleh ancaman Tang Kwik-siu atau dengan perkataan lain dia bermaksud untuk menggagalkan rencana Tang Kwik-siu untuk mencari harta karun"
Cu Im taysu segera bertepuk tangan sambil tertawa.
"Haaah.... haaah.... haaahh.... benar, perkataan ini memang cocok sekali, tak nyana nona Pek sangat cerdik cuma.... perbuatannya membakar rumah kelewat ganas, apalagi ingin melukai jiwa orang lain, tindakan semacam ini tidak dibetulkan, untung saja tak ada yang sampai korban jiwa, Thian-hong kalau lain kali bertemu kembali, engkau harus baik baik memperingatkan dirinya!"
Merah padam wajah Thian-hong karena malu, dengan perasaan kikuk dia lantas mengangguk. Setelah itu baru ujarnya lagi kepada Lau Cu cing.
"Pek hujin dari perkumpulan Sin-kie-pang adalah seorang pemimpin yang bijaksana, bila bertemu nanti boanpwe akan minta kepadanya untuk mengganti kerugian yang telah wangwe derita, boanpwe tanggung Pek hujin tak akan menolak!"
"Haaahhh.... haaahhh.... haaahhh.... meskipun aku bukan seorang milyuner, tapi kalau cuma sebuah rumah gedung masih tak menjadi beban pemikiranku, biarlah maksud baik Hoa kongcu kuterima didalam hati saja!"
Dalam pada itu, Po-yang Lojin berempat telah selesai bersantap pagi, Suma Tiang-cing segera mengalihkan pembicaraan kepokok persoalan yang sebenarnya, tentu saja ia merasa riku untuk langsung menyinggung soal harta karun, maka dengan jalan memutar kayun, dia bertanya dengan lantang.
"Po yang locianpwee, tadi boanpwe mendengar locianpwe menyebut tentang diri Kiu-ci Sinkun, mungkinkah dia adalah seorang tokoh persilatan yang berilmu silat sangat tinggi?"
Po-yang Lojin membereskan rambutnya yang kusut, lalu mengangguk tanda membenarkan.
"Ehmm! Dikolong langit yang serba aneh ini sering terdapat manusia-manusia yang dinamakan Kutu busuk, setan arak, gila harta, setan perempuan, coba kalian pikirkan lagi masih ada setan-setan apa lainnya yang belum kusebutkan??"
Hoa Thian-hong tersenyum, ia tidak menjawab tapi saling berpandangan dengan rekan-rekan lainnya, siapapun tidak paham dengan maksud perkataannya itu. Akhirnya Suma Tiang-cing berkata.
"Ada sejenis manusia yang gemar sekali berjudi, begitu tergila gilanya sampai tak bisa ditolong lagi, orang menyebut mereka sebagai setan judi!"
Sambil tertawa Cu Im taysu ikut angkat bicara.
"Pinceng mempunyai seorang sahabat yang tiada kesenangan lain kecuali main catur, begitu tenangnya dia bermain catur sampai tiap menit tiap detik selalu bermain tak hentinya, kalau kebetulan bertemu tandingan permainan dilakukan siang malam, kalau tak ada lawan bertanding dibelinya gula-gula dan menyuruh anak tetangganya untuk melayani dia bermain kalau tak bisa dia lantas mengajarnya, bagi orang ini lebih baik tidak makan daripada tidak main catur, orang banyak sebut dia sebagai setan catur!"
"Ada setan judi ada setan catur, apakah ada manusia jenis lain?"
Tanya Po-yang Lojin sambil tertawa.
"Boanpwe pernah dengar ada orang gila pangkat, entah benarkah ada manusia manusia yang gila pangkat dan kedudukan?"
Po-yang Lojin tersenyum dan mengangguk.
"Ada, memang didunia ini banyak terdapat manusia yang gila pangkat dan kedudukan. Mereka ada manusia-manusia yang sekolah ingin pintar, setelah pintar ingin punya kedudukan, setelah dapat kedudukan ingin naik pangkat, setelah naik pangkat pingin jadi pembesar, sudah jadi pembesar ingin jadi kaisar, bahkan berbuat dengan cara yang rendah apapun asal tujuannya tercapai, manusia seperti itu disebut manusia yang gila pangkat dan kedudukan!"
Mendadak Suma Tiang-cing seperti menyadari akan sesuatu, dia lantas berkata.
"Berbicara soal ilmu silat mungkinkah ada orang yang gila ilmu?"
Kali ini Po-yang Lojin tertawa tergelak dengan nyaringnya.
"Haaahhh.... haaahhh.... haaahhh.... orang yang suka belajar ilmu silat memang banyak, tapi orang yang berai benar gila ilmu jarang sekali ditemui dikolong langit!"
"Locianpwe, mungkinkah Kiu-ci Sinkun adalah seorang manusia gila ilmu....?"
Tanya Hoa Thian-hong.
"Bukan!"
Orang tua itu menggeleng. Hoa Thian-hong jadi tertegun, pikirnya di hati.
"Kalau bukan terus, bukankah sia-sia belaka pembicaraan yang berlangsung selama ini?"
Sementara dia masih termenung, Po-yang Lojin telah berkata kembali.
"Bukan saja Kiu-ci Sinkun gila ilmu bahkan karena gilanya ia jadi kesemsem karena kesemsemnya jadi kalap, dan saking kalapnya jadi kesetanan, dia adalah seorang kesetanan ilmu!"
"Weh, kalau begitu dia pastilah seoleng tokoh silat yang luar biasa sekali, ilmunya tentu lihay dan tingkah lakunya kokoay, apakah locianpwe bersedia untuk menceritakan riwayatnya?"
Tanya Cu Im taysu dari samping. Kakek tua she Lau yang menjadi engkong co nya Lau Cu cing tiba tiba menyela.
"Pada waktu itu orang persilatan yang berjumpa dengannya menyebut dia sebagai Sinkun, tapi kalau berada dibelakangnya orang tidak menyebut sebagai Kiu-ci Sinkun lagi melainkan Kiu si sinmo, iblis sakti ini terhitung manusia paling berdosa didalam dunia persilatan sejak dulu sampai sekarang, perbuatannya luar biasa sekali, sering kali apa yang di anggap khayalan bagi orang lain telah diciptakan menjadi kenyataan olehnya, pengaruhnya bagi dunia persilatan boleh dibilang luar biasa besarnya"
Kakek tua she Lau menghela napas panjang, kemudian menyambung.
"Dunia persilatan yang ada disaat itu sudah dibikin kacau balau tak karuan olehnya, tapi justru karena tingkah lakunya maka terciptalah dunia persilatan pada saat ini, mungkin juga sisa-sisa pengaruh keedanannya itu masih akan mempengaruhi pula dunia persilatan pada seratus tahun mendatang!"
Ucapan kakek tua she li ini cukup menggetarkan hati semua orang, baik Hoa Thian-hong maupun Suma Tiang-cing dibuat tertegun dengan mata terbelalak dan mulut melongo sesudah mendengar ucapan tersebut, mereka dibikin kebingungan dan tidak habis mengerti.
Terdengar kakek tua she Gan menyambung pula, katanya.
"Jiko Sute, biarlah toako yang memberi keterangan kepada mereka, dengan begitu semua orang tidak dibuat kebingungan tak habis mengerti, coba lihatlah bukankah mereka melongo karena kebingungan sendiri?"
Kakek tua ahe Li dan kakek tua she Lau segera mengangguk dan sama-sama berpaling ke arah Po-yang Lojin.
Agak lami Po-yang Lojin termenung, rupanya ia berusaha untuk mengumpulkan kembali semua daya ingatannya, setelah itu baru ujarnya perlahan lahan.
"Kiu-ci Sinkun dilahirkan kurang lebih seratus delapan puluh tahun berselang, sejak kecil sudah gemar belajar silat, ketika berusia belasan tahun dia belajar ilmu dari Huan Teng, seorang guru silat kenamaan di jaman itu, Huang Teng bergelar Sinkun {pukulan sakti} katanya ilmu silat yang dimiliki berasal dari
Jilid kitab pusaka yang bernama Po-kia Sinkun, hampir separuh hidupnya habis untuk belajar ilmu, tidaklah heran kalau kepandaian silat yang dimilikinya benar-benar hebat.
Dengan semangat yang menyala-nyala Kiu-ci Sinkun berangkat menjumpai guru silat itu dan mohon agar ia diterima menjadi muridnya, apa mau dikata Huan Teng mempunyai suatu peraturan yang khusus bagi orang yang hendak menjadi muridnya, dan lagi tanpa kecuali semuanya harus melakukan persyaratannya iu"
"Bagaimana peraturannya?"
Tanya Suma Tiang-cing.
Kalau dibicarakan soal peraturannya, maka lebih tepat kelau dikatakan balas jasa, apabila orang hendak belajar silat kepadanya maka dia musti bersedia membawa balas jasa yang cukup besar atau mempunyai orang kenamaan yang bersedia menjamin kwalitetnya, atau bila hal ini tidak mungkin, maka si pukulan sakti Huan teng ini akan mencoba dulu ketekunan serta kerajinannya.
Yang dimaksudkan mencoba ketekunan dan kerajinan disini adalah menjadi pelayan keluarga Huan selama empat tahun lamanya, setelah lewat empat tahun baru akan ditetapkan apakah dia dapat diterima atau tidak.
"Bagi mereka yang mempunyai kekayaan atau mempunyai kenalan orang besar tenta saja persyaratan itu tak susah untuk diatasi,"
Kata Cu Im taysu sambil tertawa.
"sedangkan Kiu-ci Sinkun tidak berhata pun tak ada kenalan orang besar, masa dia bersedia manjadi jongos orang selama empat tahun?"
"Memang begitulah kenyataannya, waktu itu usia Kiu-ci Sinkun baru belasan tahun, sekalipun harus menjadi pelayan selama empat tahun, tupanya soal itu tak menjadi halangan baginya. Justru karena ambisinya yang besar maka dia terima syarat tersebut. Sejak menjadi jongosnya keluarga Huan, setiap pagi hari ia saksikan anak murid Huan Teng berlatih ilmu, ia merasa tangannya jadi gatal dan ingin belajar, akhirnya saking tak tahannya dia telah melanggar pantangan yang sebelumnya telah ditetapkan oleh Huan Teng....!"
Bercerita sampai disitu, ia berhenti untuk meneguk air teh setegukan, sesudah tenggorokannya basah, barulah sambungnya lebih jauh.
"Tidak sampai beberapa bulan lamanya ia menjadi jongosnya keluarga Huan, secara diamdiam ia telah mencuri belajar semua ilmu silat yang sedang dilatih oleh murid-muridnya Huan Teng, ia mencuri lihat mencuri belajar dan mencuri untuk melatihnya, tapi kejadian ini bara saja berlangsung selama beberapa hari, perbuatannya ketahuan Huan Teng, bayangkan saja mencuri belajar ilmu silat orang lain adalah pantangan paling besar bagi umat persilatan, apalagi Huan Teng adalah seorang jago yang kurang terbuka pikirannya, dalam gusar dan mendongkolnya ia lantas menangkap Kiu-ci Sinkun dan mengha jarnya habishabisan sehingga nyaris mati konyol setelah dihajar, dia diusir dari perguruan dalam perkiraan Huan Teng urusanpun akan berakhir sampai disitu saja. Siapa tahu justru karena perbuatannya ini, membuat dunia persilatan sejak hari itulah mengalami banyak perubahan."
"Pandai amat kakek tua ini bercerita"
Pikir Hoa Thian-hong didalam hati.
"sekali pun perlahan-lahan tapi menawan hati, membuat para pendengarnya sedikitpun tidak merasa gelisah."
Sementara itu Po-yang Lojin telah bercerita kembali, Kiu-ci Sinkun adalah seorang anak yatim piatu, sejak diusir dari keluarga Huan, dia hidup terlunta-lunta dipinggir jalan sebagai seo rang pengemis, keadaan ini berlangsung hampir setengah tahun lamanya, luka yang dia deritapun perlahan-lahan jadi sembuh kembali, sejak itulah rasa bencinya terhadap pukulan sakti Huan Teng merasuk ketulang sumsum.
Dia ada maksud belajar ilmu dari guru lain dan bila ilmunya berhasil diyakinkan maka dia akan menuntut balas, tapi perasaannya selalu tak tenang karena ia hanya sempat mencuri belajar beberapa jurus ilmu Po-kia Sinkun milik Huan Teng, maka suatu hari ia tak dapat mengendalikan perasaan hatinya lagi, diam-diam ia menyusup kedalam gedung keluarga Huan dan masuk kekamar tidurnya Huan Teng, sudah beberapa bulan ia menjadi jongosnya keluarga Huan maka tanpa mengalami kesulitan apapun ia berhasil masuk kekamar tidur bekas gurunya ini dan mencuri kitab pusaka yang disayang Huan Teng melebihi sayangnya pada jiwa sendiri itu.
"Benar-benar besar sekali nyali orang ini, cuma tidak sepatutnya ia menjadi pencuri!"
Kata Cu Im taysu sambil tertawa tergelak.
Pada umumnya orang jadi nekad karena mata gelap, tapi ada pula sementara orang yang nekad untuk melindungi diri sendiri, seperti perbuatan dari Kiu-ci Sinkun ini, sama sekali tak ada hubungannya dengan kenekadan serta keberaniannya, di a hanya gila ilmu dan gila belajar ilmu, lantaran ilmu silat dia berbuat segala sesuatu tanpa perhitungan yang masak, keberanian manusia semacam ini kadangkala memang lebih hebat dari keberanian orang biasa.
"Aku rasa Huan Teng pasti tak akan berpeluk tangan belaka setelah dia tahu kitab pusakanya dicuri orang, lalu bagaimanakah selanjutnya setelah ia tahu kejadian ini?"
Tanya Suma Tiang-cing dari samping.
Setelah Huan Teng mengetahui kalau kitab pusakanya dicuri oleh Kiu-ci Sinkun, ia lantas menjelajahi seluruh daratan Tionggoan untuk mencari jejaknya, tapi sayang usahanya ini tidak mendatangkan hasil apa-apa, Kiu-ci Sinkun yang dicari sama sekali tidak ditemukan jejaknya.
Dua tahun kemudian, tiba-tiba Kiu-ci Sinkun munculkan diri di dalam dunia persilatan, bahkan melakukan pula suatu perbuatan terangterangan yang amat menggemparkan semua umat persilatan.
"Perbuatan aneh apakah itu?"
Tanya Hoa Thian-hong dengan perasaan tercengang.
"Pada waktu itu dikota Kay hong hidup seorang jago pedang yang bernama Kongsun Tong, permainan ilmu pedangnya sudah tersohor sekali didunia persilatan, ilmu pedangnya itu dinamakan It ci hui kiam (pedang satu huruf) diantara seluruh ilmu pedang yang ada didunia ini, kepandaiannya terhitung ilmu silat tingkat tinggi. Kiranya setelah berhasil mencuri kitab Po-kia Sinkun dari rumah keluarga Huan, Kiu-ci Sinkun telah menyembunyikan diri ditengah gunung untuk mempelajaiinya, tidak sampai setahun seluruh ilmu dalam kitab itu sudah dipelajari habis, karena takut dikejar Huan Teng dia bersembunyi selama satu tahun lagi digunung untuk memperdalam ilmunya, lama kelamaan kegemarannya untuk belajar ilmu yang lain tak bisa dibendung lagi, berangkatlah dia ke kota Kay Hong dan mencari Kongsun Tong untuk membicarakan suatu barter...."
"Barter bagaimanakah itu?"
Tanya Hoa Thian-hong.
"Kiu-ci Sinkun mengeluarkan se
Jilid kitab salinan ilmu Po-kia Sinkun untuk ditukarkan dengan se
Jilid kitab salinan ilmu pedang It Ci hui kiam milik Kongsun Tong, ia berharap agar Kongsun Tong bersedia m nerima tukar menukar itu."
Mendengar cerita tersebut, semua orang tak dapat menahan gelinya lagi, tertawalah beberapa orang jago itu dengan nyaring. Suma Tiang-cing segera berkata.
"Mungkin Kin ci sinkuc adalah seorang tolol yang otaknya terlalu sederhana dan tidak tahu keadaan."
Po-yang Lojin menggeleng.
"Kecerdasan orang ini luar biasa sekali dan jarang ditemui dikolong langit, oleh karena dalam benaknya ia cuma memikirkan soal ilmu silat belaka, maka bila dia sudah berminat akan suatu ilmu, dengan cara dan jalan apapun akan ditempuh olehnya untuk mendapatkan apa yang diinginkan, kendatipun perbuatannya itu melanggar kebiasa n orang dan cukup bikin tercengang orang lain!"
"Benar, sahabatku si setan catur juga demikian"
Sela Cu Im taysu dengan cepat. Setelah berhenti sebentar, ia tertawa dan gelengkan kepalanya.
"Terlalu banyak cerita lucu tentang orang ini, bila lain waktu ada waktu pasti akan kuceritakan!"
Po-yang lojin tersenyum, ia melanjutkan kembali penuturannya.
"Rupanya Huan Teng memandang peristiwa hilangnya kitab pusaka Po kia kun boh merupakan suatu peristiwa yang paling memalukan baginya, diapun tahu jika berita ini sampai disiarkan dan semua orang didunia mengetahui akan kejadian ini, maka Kiu-ci Sinkun akan semakin tak berani unjuk kan diri, karena itu sejak kejadian sampai detik itu rahasia tersebut tetap disimpan baik-baik, orang lain tak seorangpun yang mengetahui akan kejadian ini. Begitulah setelah Kongsu Tong mendengar permintaannya dan memeriksa pula kitab tersebut, walaupun dihati merasa amat terkejut tapi dia manyanggupi permintaan orang, bahkan bersedia pula untuk menyiapkan se
Jilid salinan ilmu pedangnya untuk ditukarkan dengan kitab itu, Kiu-ci Sinkun masih muda dan kurang pengalaman, iapun tak tahu betapa liciknya orang lain, ia menganggap orang lain tentu sama pula kebaikannya seperti dia, maka untuk sementara waktu berdiamlah dia dikota Kay hong sambil menunggu Kongsun Tong selesai membuatkan sebuah salinan kitab ilmu pedang baginya."
"Mungkinkah Kongsun Tong juga bukan seorang manusia baik-baik?"
Tanya Suma Tiang-cing. Po-yang Lojin mengelus jenggotnya yang panjang dan tertawa.
"Sebagus-bagusnya seseorang toh tetap ada cacadnya, sejelek jeleknya manusia toh ada pula kebaikannya, sekalipun didalam masyarakat ada orang yang berwatak baik, dibalik kebaikannya itu pasti ada wataknya yang jelek, susah untuk menentukan baik buruk dari pandangan sekilas saja, begitu pula dengan Kongsun Tong, ia tak bisa dikatakan orang baik pun tak bisa dikatakan orang jahat"
"Omintohud, perkataan lojin memang sangat tepat dan sangat mengena sekali dilubuk hati setiap orang...."
Puji Cu Im taysu. Ia lantas berpaling ke arah Hoa Thian-hong dan menambahkan.
"Thian-hong, engkau harus ingat baik-baik perkataan dari Po-yang Lojin ini, sebagai seorang pendekar sejati sudah menjadi kewajibanmu untuk maju terus pantang mundur, tapi bukan berarti boleh membunuh orang secara sembarangan, sebab manusia yang benar-benar bejad dan jahat sehingga tak setitik kebaikanpun dimilikinya jarang sekali terdapat didunia ini, sejahat jahatnya orang ia masih tetap memiliki kebaikan walaupun perbandingannya jauh sekali!"
"Boanpwe akan mengingat selalu nasihat ini, dan tak akan kucelakai orang lain dengan sembarangan!"
Sahut Hoa Thianhong sam bil manggut. Suasana hening untuk sementara waktu, terdengarlah Suma Tiang-cing bertanya lagi setelah memandang sekejap ke arah Po-yang Lojin.
"Locianpwe, bagaimanakah caranya Kongsun Tong mengatasi persoalan yang dihadapinya ini?"
"Setelah menerima kitab salinan ilmu pukulan tersebut, sekali dipandang Kongsun Tong sudah tahu kalau isinya tidak palsu, tapi ia curiga kalau inti sari dari ilmu pukulan tersebut telah dihilangkan dengan begitu saja. Sebab menurut jalan pikirannya, kitab Po kia kun boh adalah kitab pusaka andalan keluarga Haun, jelas tak mungkin kalau kitab tersebut dapat dicuri oleh seorang anak muda, ia lantas menaruh curiga kalau Huan Teng sedang mengatur siasat busuk untuk menjatuhkan nama baiknya, sengaja ia mengirim seorang bocah dengan membawa kitab pusaka yang tidak komplit untuk ditukar dengan rahasia ilmu silatnya, setelah ia berbasil menguasai ilmu pedangnya maka datanglah jago itu untuk menghancurkan nama baiknya."
Berpikir sampai disitu, betapa gusarnya Kongsun Tong, tapi dikarenakan Kiu-ci Sinkun cuma seorang bocah belasan dan lagi jelek jelek dia juga seorang tamu, maka sebagai orang kenamaan ia tak mau bertempur melawan bocah tak bernama itu, dia lantas kembali kekamar dan ambil keluar se
Jilid kitab pedang, kepada Kiu-ci Sinkun ujarnya.
"Coba lihatlah kitab pedangku ini, tulisannya mencapai beberapa puluh laksa kata, jurusnya seratus satu dan gambarnya seratus satu pula, kalau musti disalin maka membutuhkan waKtu yang sangat lama, terutama karena tiada pembantu yang bisa dimintai pertolongannya, aku harap engkau suka sabar menanti sebab sedikitnya dua puluh hari baru bisa selesai!"
Kitab itu memang antik bentuknya dan padat isinya, semakin gatal rasanya Kiu-ci Sinkun untuk mendapatkannya, apa mau dikata, isi kitab itu memang tebal maka ia berjanji akan kembali lagi kesitu satu bulan mendatang, dan waktu itulah barter akan dilaksanakan oleh ke dua belah pihak"
"Sebenarnya rencana busuk apakah yang telah disusun oleh Kongsun Tong itu?"
"Kongsun Tong tersohor namanya karena ilmu pedangnya yang lihay, kecuali ilmu lainnya bahkan terhadap kitab pusaka Po kia kun boh tersebutpun sama sekali tidak tertarik, dia malahan menaruh curiga kalau Huan Teng mengadung maksud jahat dan mengirim orang untuk membohongi ilmu silatnya sendiri, maka dia ambil keputusan untuk menggunakan akal busuk melawan akal busuk, bukan saja akan membari kelihayan kepada Huan Teng, mumpung menggunakan kesempatan yang sangat baik inipun dia akan angkat nama hingga tersohor dikolong langit"
"Dengan cara apa ia laksanakan rencananya berdasarkan siasat lawan siasat itu?"
Tanya Hoa Thian-hong seraya tertawa.
"Sepeninggal Kin ci siokun, diam-diam Kong sun Tong membuat sepucuk surat dan mengutus orang untuk segera menyampaikan kepada Huao Teng, didalam surat itu diterangkan bahwa ada orang yang bendak menukar kitab pusaka Po kia kua boh miliknya dengan kitab ilmu pedangnya, dan diharapkan kedatangannya untuk menangkap pencuri, selain itu diam-diam iapun mengumpulkan sekawanan jago kenamaan dari dunia persilatan untuk bertindak sebagai saksi, menurut perhitungannya andaikata Huan Teng benar-benar kecurian maka jikalau pencurinya berhasil ditangkap dan barang yang tercuri dapat dikembalikan kepada pemiliknya sudah pasti Huan Teng akan merasa sangat berterima kasih kepadanya, sebalikuya kalau kejadian ini meru pakan siasat busuk dari orang itu, maka berada dihadapan kawanan jago persilatan Kongsun Tong akan menantang Huan Teng untuk berduel, bukan saja rencana busuknya akan dibongkar dan dibeberkan didepan mata jago kenamaan, bila ia berhasil kalahkan Huan Teng bukankah nama besarnya akan semakin tersohor lagi dikolong langit....?"
Suma Tiang-cing tertawa tergelak sesudah mendengar cerita itu, serunya tanpa terasa.
"Siasat ini mempunyai manfaat rangkap, baik kiri maupun kanan semua akan mendatangkan hasil yang menguntungkan dirinya, ruparupanya pendekar pedang ini memang luar biasa sekali!"
Po yang lojtn tersenyum.
Ketika Huan Teng menerima surat pemberitahuan itu, tentu saja buru-buru ia berangkat memenuhi undangan, sementara sekawanan jago persilatan yang diundang Kongsun Teng ju-ga telah berdatangan pula pada waktunya.
Nah, ketika saat yang dijanjikan telah tiba, Kiu-ci Sinkun dengan membawa salinan kitab pusaka Po kia kun boh datang kerumah Kongsun Tong dengan wajah berseri-seri, setellah masuk kegedung dan menemukan banyak jago hadir disana, terutama pukulan sakti Huan Teng yang sudah bersiap-siap dengan wajah penuh kema rahan, sadarlah pemuda itu kalau dia sudah dihianati Kongsun Tong, setelah kejadian menjadi begini sudah pasti barter tak mungkin dilangsungkan, untuk kabur juga tak ada harapan, terpaksa dengan keraskan kepala ia maju terus kedlam rumah itu untuk menghadapi kenyataan.
"Bagaimana akhirnya??"
Tanya Cu Im taysu cepat, rupanya ia sangat tertarik oleh kisah tersebut.
Cukup perkasa tindakan Kiu-ci Sinkun, sebelum Pukulan sakti Huan Teng menegur dirinya, serta-merta ia sudah berkata lebih dulu.
Aku sudah dua tahun menjadi jongos di rumahmu, kau sudah menghajar pula tubuhku setengah mati, sebagai gantinya aku telah mencuri kitab pusakamu dan melatihnya selama dua tahun, aku rasa urusan ini tiada faedahnya dibicarakan berlarut larut.
Kini kitab tersebut telah kusembunyikan disuatu tempat yang sangat rahasia letaknya, kecuali aku siapapun jangan harap bisa temukan benda itu, sekarang aku nembawa se
Jilid kitab salinannya, bila kau bersedia maka kitab salinan ini akan kuserahkan dahulu kepadamu, urusan dibikin beres sampai disini saja, sebaliknya kalau engkau tetap merasa tidak terima, maka kita harus menyelesaikannya dengan ilmu silat, bila kau menang, kitab salinan ini kuserahkan dulu kepadamu, lalu kuantar engkau untuk mengambil kitab aslinya, selain itu kau hendak menghukum diriku dengan cara apapun aku tak akan membangkang atau coba menghindarinya"
"Andaikata Kiu-ci Sinkun yang menang?"
Tanya Hoa Thian bong. Po-yang Lojin tertawa setelah mendapat pertanyaan itu, sahutnya.
"Pertanyaan semacam ini hanya kau seorang yang mengajukan, orang lain tak akan berpikir sampai disini, waktu itu Kiu-ci Sinkun berkata pula.
"Andaikata aku yang menang, maka kitab Kun boh tersebut menjadi milikku, kau tak boleh mencari gara-gara lagi dengan aku, sedangkan akupun tak akan mencelakai jiwamu, engkau boleh pulang kerumah dan melatih kembali ilmu silatmu, tiga tahun kemudian datanglah mencari aku dan kita bertanding lagi, coba kita lihat siapakah yang lebih cepat memperoleh kemajuan dalam latihannya?"
Bercerita sampai disini, Po-yang Lojin sendiripun tak dapat menahan diri sehingga gelengkan kepalanya berulang kali, katanya sambil tertawa nyaring.
"Saudara sekalian, Kiu-ci Sinkun memang, benar-benar seorang manusia luar biasa, sejak jaman dahulu sampai sekarang, bukan saja kelakuannya aneh, tindak tanduknya juga luar biasa sekali, karena itulah dengan tidak bosan-bosannya kuceritakan kisah dimasa mudanya kepada kalian, kalau tidak begini sudah pasti kalian tidak akan percaya dengan tindak tanduknya dimasa kemudian."
"Silahkan locianpwee melanjutkan ceritanya, kami sudah pasang telinga baik-baik"
Kata Hoa Thian-hong.
Jilid 28 Po-yang Lojin mengangguk, selanjutnya ia teruskan lagi ceritanya.
"Sudah tentu pukulan sakti Huan Teng tak pandang sebelah mata pun atas diri Kiu-ci Sinkun, apalagi berada dihadapan kawanan jago persilatan yang ada dikolong langit, ia lebih-lebih tak ingin kehilangan pamornya, sambil menahan rasa gusar dan mendongkolnya ia cuma mengangguk tiada hentinya sambil menjawab, 'Bagus....! Bagus....' Menunggu ia telah selesaikan perkataannya, Huan Teng segera terjun kedalam gelanggang dan terjadilah suatu penarungan sengit di tanah lapang, berlatih silat keluarga Kong sun semua pertarungan dilangsungkan dengan menurut peraturan dunia persilatan."
Berbicara sampai disini, tak tahan lagi ia menghela napas panjang, katanya lebih jauh.
"Aaai, tahun itu Huan Teng sudah berusia enam puluh tahun, ilmu Po kia kun boh tersebut sudah dipelajari selama empat puluh tahun lamanya, sedangkan Kiu-ci Sinkun masih muda dan ilmu pukulan sakti itu pun baru dipelajari dua tahun, apa yang kemudian terjadi? Ternyata kepandaian mereka berdua seimbang alias setali tiga uang, sekalipun sudah bertempur selama liga ratus gebrakan, ternyata menang kalah masih belum dapat ditentukan"
"Sesuai dengan namanya yakni Po-kia Sinkun (pukulan sakti penjebol tameng) aku rasa ilmu tersebut semestinya adalah sejenis ilmu pukulan keras yang mengandalkan tenaga gwa kang,"
Kata Suma Tiang-cing keheranan.
"Padahal Huan Teng sudah berlatih selama empat puluh tahun lamanya dengan tekun, semestinya ia lebih tangguh baik dalam kekuatan maupun kematangan, kenapa dia tak mampu menangkan seorang angkatan muda?"
Jawabannya sederhana sekali, sebabnya Kiu-ci Sinkun adalah seorang manusia yang sangat berbakat dalam berlatih ilmu silat, terhadap soal ilmu silat, dia memiliki daya ingat yang luar biasa, selain itu kalau orang lain tiap hati cuma berlatih satu dua jam, maka dalam benaknya kecuali ilmu silat boleh dibilang tak ada pikiran lain yang berkecamuk dalam benaknya, seolah-olah, kecuali makan dan tidur dia selalu menyibukkan diri dengan berlatih ilmu silat, oleh sebab itulah bila dia berlatih satu tahun, sama halnya dengan orang lain berlatih selama lima enam tahun, ditambah pula dengan bakatnya yang bagus serta kecerdasan yang melebihi orang lain, maka satu tahun dia berlatih sama halnya dengan orang lain berlatih melama sepuluh dua puluh tahun lamanya.
Dia menarik nafas panjang-panjang, kemudian lanjutnya.
"Dalam pertarungan tersebut, Huan Tong menang karena tenaga dalamnya jauh lebih sempurna, sebaliknya Kiu-ci Sinkun lebih dapat meresapi makna serta inti sari dari ilmu Pokia Sinkun tersebut, seringkali dia bisa mengeluarkan jurus baru hasil ciptaannya sendiri, kadangkala diapun mengandaikan kelincahan serta kegesitannya untuk mengatasi keampuhan tenaga pukulan lawan, oleh sebab itulah walaupun sepanjang pertarungan itu berlangsung, seringkali dia menghadapi mara bahaya, tapi toh Kiu-ci Sinkun berhasil mempertahankan diri sehingga tidak sampai menderita kekalahan"
"Pertarungan itu tidak dibatasi sampai berapa jurus sampai akhirnya toh pasti ada yang kalah atau menang bukan?"
Tanya Suma Tiang-cing lagi.
Setelah bertarung sampai dua ratus tiga puluh jurus, tibatiba Kiu-ci Sinkun menunjukkan kelihayannya, secara beruntun dia melakukan beberapa gerakan yang keliru untuk menipu musuhnya masuk perangkap, kemudian suatu ketika tinjunya langsung disodok kemuka menghajar bahu Huan Teng, mungkin karena terlalu banyak tenaga yang diperlukan untuk mainkan pukulan sakti Po-kia Sinkunnya juga karena usia Huan Teng sudah menanjak sehingga kekuatannya jadi lemah, setelah bertarung lama tanpa hasil, kegusaran yang membakar dada Huan Teng makin membara karena gusar, kekuatannya tak dapat menghimpun dan kelemahan inilah yang telah dimanfaatkan oleh Kiu-ci Sinkun.
"Waah, akhir dari pertarungan itu pastilah diluar dugaan siapapun juga"
Kata Hoa Thian-hong, entah bagaimana selanjutnya?"
"Sewaktu Kiu-ci Sinkun berlatih ilmu Po-kia Sinkun tersebut, semua pikiran dan ingatannya dipusatkan pada soal keampuhan jurus, dengan sendirinya tiada kekuatan yang dia miliki, dengan mengandalkan kekuatan tenaganya sebagai seorang pemuda, secara dipaksakan dia dapat bertahan sebanyak dua ratus gebrakan lebih, waktu itu tenaganya sudah hampir habis digunakan, karena itu sekalipun pukulannya berhasil menghajar bahu Huan Teng, namun pukul an itu sama sekali tak bertenaga bukan saja tidak terasa malahan Kiu-ci Sinkun sendiri yang terpukul sampai mundur beberapa langkah kebelakang, begitu pertarungan terhenti pemuda itu tak mampu melanjutkan pertarungannya lagi tapi hasil yang dicapainya telah menggemparkan seluruh ruangan, sebagian besar kawanan jago persilatan itu merasa kaget dan terkesiap oleh kejadian tersebut...."
"Menurut peraturan dunia persilatan, pertarungan ini telah dimenangkan Kiu-ci Sinkun, masa dihadapan umum Huan Teng tak mau mengakui kekalahannya?"
Kata Suma Tiangcing.
Pada waktu itu Huan Teng berdiri tertegun ditengah gelanggang tanpa bisa berbuat apa-apa, sedangkan Kiu-ci Sinkun sendiri sudah bura-buru meninggalkan salinan kitab ilmu silat itu, dia hanya berseru.
"sampai jumpa tiga tahun lagi!"
Dengan gerakan cepat dia kabur dari tempat kejadian, meskipun banyak jago persilatan yang merasa tidak puas dengan kejadian itu, tapi dalam keadaan serba kalut semua orang tak tahu apa yang musti dilakukan, menanti mereka sadar kembali dari lamunannya, Kiu-ci Sinkun sudah lenyap tak berbekas.
"Haaah.... haaah.... haah kitab pusaka salinan itu sudah ditinggalkan, lagipula ada janji untuk bertemu tiga tahun lagi, tentu saja orang lain merasa tak enak hati untuk turut campur dalam urusan itu, Waah-Kiu-ci Sinkun memang cukup licik dan cerdik!"
Seru Cu Im Taysu sambil tertawa tergelak, Po-yang Lojin tersenyum, ujarnya.
"Urusan pun dianggap sudah berlalu dengan begitu saja, semua orang lantas bubar dan kembali kerumah masing-masing. Pukulan sakti Huan Teng sendiri melakukan penggeledahan selama beberapa jam dikota Kay hong, tapi jejak dari Kiu-ci Sinkun bagaikan ditelan keperut bumi saja, sama sekali tidak berhasil ditemukan lagi, dengan putus asa bercampur kecewa terpaksa ia harus pulang kerumah untuk berlatih tekun ilmu silatnya, ia bersiap-siap untuk membunuh Kiu-ci Sinkun dalam pertarungannya tiga tahun mendatang, siapa tahu beberapa bulan kemudian dirumah Kong sun Tong telah terjadi keonaran!"
"Apakah kitab pusaka ilmu silatnya juga dicuri orang?"
Tanya Hoa Thian-hong. Suma Tiang-cing segera menyela.
"Setelah Huan Tong mengalami nasib yang tragis, aku percaya Kong sun Tong pasti bertindak lebih waspada lagi, terutama terhadap kitab pusaka ilmu pedangnya itu, ia tentu menyembunyikan secara sempurna. Kendatipun Kiu-ci Sinkun memiliki daya kemampuan untuk menyusup kerumah lawan dan membongkar almari orang lain, belum tentu ia dapat menemukan kitab sekecil itu!"
Po-yang Lojin tertawa, ceritanya lagi.
"Suatu hari, baru saja Kongsun Tong pulang dari bepergian, tiba tiba temukan secarik keras diatas meja tulisnya ketika di baca ternyata surat dari Kiu-ci Sinkun, dalam surat tersebut ia mencaci maki Kongsun Tong karena berkhianat, oleh sebab itu menggunakan kesempatan sewaktu ia pergi, kitab pusakanya dicuri, bahkan berjanji pula pada tiga tahun mendatang dengan jurus It cia cian li (sekali melesat seribu li) dia akan memahtahkan jurus It nia ban nia (sekali ingat selaksa tahun) kemudian dengan jurus It ki ho seng (sekali jadi berurutan) akan memaksa Kongsun Tong menggunakan It heng sam mey (Satu deret tiga bencana) menyusul mana dengan jurus It thio it si (kadangkala tegang kadangkala kendor) dia akan menghadiahkan sebuah babatan tajam diatas dada kanan kongsun Tong, tapi ia menyatakan pula bahwa jiwa Kongsun Tong tak akan dicabut agar bisa melakukan pertarungan ulangan pada tiga tahun berikutnya.
"Masa orang ini berisi benar-benar mempunyai kepandaian sehebat itu sehingga kitab pusaka milik Kongsun Tong juga ikut dicuri?"
Tanya Suma Tiang-cing dengan dahi berkerut. Po-yang Lojin tidak menjawab pertanyaan itu, tapi melanjutkan kembali.
"Setelah membaca surat tersebut Kongsun Tong mengerutkan dahinya, memang ilmu pedang It ci kui kiam miliknya memakai kata It semua pada permulaan katanya, seperti It sia cian li, It nian ban nia, It ki ho seng, It heng sam mey serta It thio it si semuanya merupakan namanama jurus pedang. Ia merasa kitab tersebut tak mungkin bisa dicuri, mungkin semua nama itu dilihat olehnya tatkala kitab pusaka tersebut diperlihatkan kepada Kiu-ci Sinkun tempo hari. Dia merasa kitab itu sudah disimpan sangat rahasia yang tak mungkin bisa dicuri bocah itu, maka dianggapnya surat tersebut sebagai suatu ejekan belaka, ia tidak memperhatikan secara serius!"
"Tapi...."
Setelah berhenti sebentar, Po-yang Lojin melanjutkan kembali kata-katanya.
"Kongsun Tong merasa bahwa kelima jurus serangan yang ditulis Kiu-ci Sinkun tentu punya maksud tertentu, tanpa terasa dia mulai membayangkan secara diam-diam. Masih mendingan kalau tidak dibayangkan, begitu dipikirkan kontan paras mukanya berubah hebat, ia merasa dada kanannya seolah-olah betulbetul ditusuk orang dengan pedang, buru-buru dia masuk kekamar tidurnya, menyingkirkan rak bukunya, menekan tombol dan terbukalah sebuah ruang rahasia diatas dinding, ketika Kongsun Tong menekan tombol rahasia yang lain, pintu besi itu membuka secara otomatis.... apa yang kemudian dia lihat? Kitab ilmu pedang itu masih tersimpan baik-baik dalam ruang rahasia, bahkan tak pernah disentuh orang.
"Waah,kalau begitu maksud Kiu-ci Sinkun meninggalkan suratnya itu tak lain hanya bermaksud mengejek lawannya belaka? kata Cu Im taysu.
"Perkataan tasyu memang ada benarnya cuma tidak tepat keseluruhannya. Ternyata Kiu-ci Sinkun memiliki kecerdikan yang luar biasa, meskipun kitab pusaka itu hanya dilihat sepintas lalu, tapi dia dapat menghapalkan nama-nama dari jurus serangan itu, tampaknya Kiu-ci Sinkun memang berhasrat besar untuk mencuri kitab pusakanya itu. Walaupun begitu diapun tahu betapa liciknya Kongsun Tong, kitab pusaka itu pasti disembunyikan disuatu tempat yang sangat rahasia dan tak mungkin bisa ditemukan orang lain, malahan mungkin jaga kitab itu selalu digembol dalam sakunya. Berbicara sampat di sini, Po-yang Lojin menghela napas panjang.
"Aaii! Kesabaran dari Kiu-ci Sinkun memang luar biasa sekali, baik siang ataupun malam, tiap hari berjaga-jaga terus didalam rumah Kongsun Tong, ia tidak pernah bersembunyi terlalu dekat, terutama sekali di kala Kongsun Tong sedang berlatih ilmu pedangnya, ia lantas mencuri lihat dari kejauhan dan kemudian dicocokkan dengan nama-nama dari jurus serangan yang dia ingat, begitulah.... setelah mencuri lihat selama beberapa bulan dan berhasil meraba jalannya permainan pedang orang itu, ia mulai melaksanakan siasat melemparkan baru bertanya jalan."
"Siasat melempar batu bertanya jalan??"
Tanya Hoa Thianhong dengan wajah tercengang.
Benar!
Oleh karena dia tak tahu dimanakah Kongsun Tong menyimpan kitab pusaka ilmu silatnya, maka setelah meninggalkan surat, dia sendiri bersembunyi diatas atap sambil mengintip terus kebawah, setelah diketahui olehnya letak rahasia dari alat rahasia tersebut, diam-diam dia baru berlalu dari situ.
"Kenapa musti begitu?"
Tanya Hoa Thian-hong tercengang, rupanya ia merasa keheranan oleh kenyataan tersebut.
"Kongsun Tong adalah seorang manusia yang cerdik dan banyak akal muslihatnya, setelah diketahui bahwa kitab pusakanya tetap berada ditempat semula, dia lantas dapat menebak maksud hati lawannya, waktu itu diapun tidak menunjukkan sesuatu reaksi, setelah almari rahasianya dikembalikan pada letak semula dan kitab pusaka itupun disimpan ditempat semula, dia lantas berlalu seperti tidak pernah terjadi sesuatu apa pun."
"Tapi malamnya, ia melakukan penggeledahan yang teliti di setiap sudut rumahnya, setelah yakin benar kalau disekttar tempat itu tak ada musuh yang bersembunyi, sekali lagi dia buka almari rahasianya dan ambil keluar kitab yang asli, sedangkan kitab tiruan diletakkan sebagai gantinya sedang kitab yang asli di gembol dalam saku. Sejak itulah dia selalu memasang jebakan dan perangkap untuk membekuk pencuri, kadangkala diapun pergi sambil membawa pedang, sekitar wilayah diperiksa dengan teliti apakah ada jejak Kiu-ci Sinkun atau tidak, apa mau dikata ternyata jejak Kiu-ci Sinkun tak ditemukan lagi. Kiranya waktu itu dia sudah berada di wilayah Kanglam dan menjadi muridnya Biau-hua Tojin seorang tosu keji yang berdiam dibukit Mo san!"
"Waah....! Orang ini memang menarik sekali,"
Kata Cu Im taysu sambil tertawa.
"apakah dikarenakan merasa tak mampu menangkan Kongsun Tong maka dia lepaskan mangsanya itu?"
"Hmm! Cerita menarik masih belum dimulai! Dengan kecerdasan serta bakatnya itulah ia belajar giat sekali dibawah pimpinan Biau-hua Tojin, hampir semua ilmunya diturunkan kepadanya, apalagi ketika Biau-hua merasa ada kecocokan dalam watak maupun pembawaan, ia merasa lebih menyayangi muridnya ini, malahan Kiu-ci Sinkun dianggap sebagai murid kepercayaannya dan semua ilmu rahasia yang tak pernah diwariskan kepada orang lain diturunkan semua kepada muridnya yang satu ini."
"Kiu-ci Sinkun ternyata memang tidak mengecewakan gurunya, cuma dalam dua tahun semua kepandaian yang diwariskan Biau-hua Tojin telah dikuasai semua, ketika tiada kepandaian baru yang bisa dipelajari lagi, ia mulai tertegun dan tidak kerasan, suatu ketika dikala ada kesempatan yang baik baginya, maka kaburlah dia dari atas gunung, bahkan sambil menyelam minum air, ia sekalian mencuri pula semua kitab ilmu pedang, ilmu pukulan, ilmu menangkap setan, ilmu pertabiban dan ilmu jampi-jampi milik imam itu!"
Terbahak-bahak Hoa Thian-hong sesudah mendengar cerita itu, serunya cepat.
"Waah.... kepandaiannya sudah dikuras habis, sekarang dia kuras pula semua harta milik gurunya, orang ini memang luar biasa hebatnya!"
"Engkau pernah melihat orang yang suka akan bendabenda antik?"
Tiba-tiba Po-yang Lojin bertanya. Hoa Thian-hong menggeleng.
"Belum pernah, tapi boanpwee tahu pasti ada manusia macam itu didunia ini!"
"Bagi Kiu-ci Sinkun, kitab-kitab pusaka, ilmu silat adalah barang antik, bagi orang yang gemar barang antik, sering kali dia mengumpulkan kitab-kitab curiannya itu dan dibaca berulang kali malahan kemudian sekalipun ilmu silat yang dimiliki Kiu-ci Sinkun sudah amat lihay, tapi setiap kali dia mendengar kalau disuatu tempat mempunyai kitab pusaka, maka sekalipun harus menempuh jarak beribu-ribu li, dia tetap mendatangi tempat itu, gagal diminta secara terang-terangan maka dicurinya dengan cara apapun. Kiu-ci Sinkun pada waktu ia sudah mendekati orang yang demam silat "
Bagaimana keadaan Biau-hua Tojin selelah mengetahui murid kesayangannya kabur sambil membawa lari kitab kitab pusakanya?"
Tanya Suma Tiang-cing sambil tertawa geli.
"Apalagi? Tentu saja dikejar dan dicari ubek-ubekan!"
"Berhasil ditangkap atau tidak?"
Tanya Hoa Thian-hong dengan perasaan ingin tahu.
"Kalau berhasil ditangkap, tak mungkin dia mencarinya sampai ubek-ubekan....!"
Cu Im taysu tertewa tergelak, serunya cepat.
"Locinpwe, lanjutkan ceritamu, aku duga Kongsun Tong pasti menderita kerugian besar!"
Memang begitulah, kurang lebih dua tahun kemudian, waktu itu Kongsun Tong sudah hampir melupakan peristiwa masa lalu, apalagi ia merasa kurang leluasa untuk membawa kitab pusakanya kemana-mana, maka kitab pusaka itu ditaruh kembali ke tempatnya semula, sementara itu Kiu-ci Sinkun yang berhasil kabur dari bukit Mo-san langsung menuju ke kota Kay-hong, setelah dua tahun belajar ilmu dari Biau-hua loto bukan saja ilmu silatnya memperoleh banyak kemajuan, segala ilmu setanpun banyak yang dia kuasai, pagi itu dia lihat Kongsun Tong pergi jalan-jalan sambil membawa sangkar burungnya, menanti Biau-hua Tojin dan Kongsun Tong melakukan pencarian besar-besaran keseluruh dunia persilatan, waktu itu Kiu-ci Sinkun sudah kabur puluhan laksa li jauhnya dan bersembunyi diatas bukit Heng an nia untuk melatih ilmu pedangnya!"
OoooOoooo Po-yang Lojin tarik napas panjang-panjang, kembali meneguk air teh untuk membasahi kerongkongannya, tiba-tiba ia berkata.
Orang ini memang lihay dan sepanjang hidupnya sudah banyak pengalaman aneh yang dialaminya, Jite!.
Kau teruskan ceritanya, aku sudah capai ngomong terus, tapi ceritanya harus sederhana tapi jelas bagi pendengarnya,"
Baru-buru kakek she Li itu berpikir sebentar untuk mengumpulkan kembali daya ingatnya. setelah itu baru tuturnya.
"Setahun kemudian, tiba-tiba Kiu-ci Sinkun berkunjung kerumah kediaman Huan Teng untuk memenuhi janji tiga tahunnya, ketika itu Biau-hua loto dan Kongsun Tong telah berjaga-jaga disekitar rumah keluarga Huan, ketika Kiu-ci Sinkun munculkan diri, mereka bertiga segera mengepungnya rapat-rapat dan kalau bisa ingin sekali mereka cabik-cabik musuhnya jadi beberapa bagian....!"
"Tapi Kiu-ci Sinkun tetap tenang-tenang saja, sebagaimana caranya yang lama, barang siapa ingin mendapatkan kembali kitabnya yang hilang, dia harus bisa dikalahkan kalau tidak maka tuntutannya itu harus diulangi kembali sampai tiga tahun berikutnya, tentu saja Huan Teng turun tangan lebih dahulu, tapi belum sampai empat puluh gebrakan, jago tua itu sudah dikalahkan menyusul ia beradu pedang dengan Kongsun Tong dan akhirnya ia bertempur melawan Biau-hua loto bekas gurunya, tapi kedua orang jago itu mengalami nasib yang sama, tak sampai dua ratus gebrakan secara beruntun mereka telah dikalahkan dengan cara yang mengenaskan sekali"
Ketika kakek tua she Gin melihat Ji ko nya telah kelupaan menceritakan hal yang paling penting, cepat dia menambahkan.
"Ketika ia bertempur melawan Huan Teng maka ilmu silat yang dipakai hanya melulu ilmu pukulan Po-kia Sinkun, ketika bertarung melawan Kongsun Tong yang dipakai cuma ilmu pedang It ci hui kiam, sedangkan dikala bertempur melawan Biau-hua loto yang dipakaipun hanya melulu ilmu yang dipelajari dari imam tua ini, sedikitpun tidak mengandung ilmu pukulan Po-kia Sinkun ataupun ilmu pedang It ci hui kiam!"
"Oooh.... ini baru hebat namanya!"
Seru Hoa Thian-hong.
"kalau aku yang harus menjadi dia, susah rasanya untuk membedakan jurus ini adalah jurus milik siapa, jurus itu adalah jurus pukulan apa lagipula ditengah pertarungan seru.... waah, pusing deh rasanya!"
Kakek tua she Li itu menghela napas panjang.
"Aaai.... Mula-mula tiga orang itu bertarung secara bergantian tapi setelah semua dikalahkan, Biau-hua loto segera mengusulkan untuk main kerubut, maka tiga orang jago lihay itupun serentak menyerbu ke gelanggang dan mengerubuti Kiu-ci Sinkun seorang diri...."
"Selama bersembunyi di bukit Heng an sia entah barang aneh apa saja yang telah dimakan Kiu-ci Sinkun selama setahun lamanya, ternyata tenaga dalam yang dimilikinya peroleh kemajuan yang pesat, ilmu meringankan tubuh yang dia milikipun amat sempurna, sekalipun harus bertempur tiga babak secara beruntun namun ia masih tetap tangguh dan gagah perkasa, ketika dia harus satu lawan tiga mulailah Kiu-ci Sinkun keteter hebat tapi ia masih bertahan terus dengan cara pertarungannya, siapa yang sedang dihadapi jurus serangan apa pula yang dipakai....
"Akhirnya dia menderita luka parah karena tak tahan dikerubuti tiga orang jago, untungnya Biau-hua Tojin sekalian bermaksud menawannya hidup-hidup agar barang mereka yang hilang bisa didapatkan kembali, dengan keuntungan inilah suatu ketika Kiu-ci Sinkun berhasil menembusi kepungan dan melarikan diri"
"Bukankah ia sudah menderita luka parah, masa Biau-hua Tojin sekalian bertiga tidak mampu menangkapnya kembali?"
Tanya Suma Tiang-cing keheranan.
"Orang ini mempunyai tiga kemampuan, yakni pandai mencuri, pandai melarikau diri serta pandai bersembunyi, belum pernah ketiga macam kepandaiannya ini mengalami kegagalan ataupun salah perhitungan!"
"Bagaimana selanjutnya?"
Tanya Hoa Thian-hong sambil tertawa.
"Selanjutnya selama dua tahun belakangan dalam dunia persilatan secara beruntun terjadi peristiwa-peristiwa pencurian, banyak jago jago kenamaan baik dari goloogan putih maupun dari golongan hitam kecurian kitab pusakanya, tampuknya kesintingan Kiu-ci Sinkun sudah mencapai pada puncaknya sehingga umat persilatan disatroni olehya, keadaan pada waktu itu jadi kacau balau tak karuan, banyak orang yang kecurian segera menyebarkan diri kedalam dunia persilatan dan mencari jejaknya, sekalipun demikian toh ia tak berhasil ditangkap, sampai belasan tahun kemudian tiba-tiba ia munculkan diri dalam dunia persilatan!"
"Li locianpwe, selama belasan tahun dia telah bersembunyi dimana?"
Tanya Hoa Thian-hong sambil tertawa.
"Menurut perkiraan orang banyak, kemungkinan besar ia sudah menyingkir ke negeri Thian lok (kini India), hal ini berdasarkan dari ilmu Yoganya yang sangat lihay setelah muncul kembali kedalam dunia persilatan, dengan dasar kepandaian Yoga itulah orang menduga ia pasti menyingkir kesitu!"
Cu Im taysu menyela.
"Kitab pusaka ilmu silat berbeda dengan harta kekayaan seperti emas, perak, intan, permata, sebelum dirampas kembali siapa pun tak mau menyerah dengan begitu saja, setelah dia muncul kembali kedalam dunia persilatan, sudah pasti banyak sekali jago silat yang datang membuat perhitungan dengan dirinya?"
"Oooh.... Hal ini sudah jelas"
Setelah berhenti sebentar, Li lojin melanjutkan.
Baca Juga: Pedang Ular Emas 7
Baca Juga: Beruang Salju 7