Ceritasilat Novel Online

Tiga Maha Besar 11

Eps 11 Tiga Maha Besar - Khu Lung

Baca online Tiga Maha Besar - Khu Lung

Cersil Tiga Maha Besar - Khu Lung.

"Bagi orang lain, kemunculannya berarti kesempatan untuk menagih hutang lama, sebaliknya bagi Kiu-ci Sinkun, kemunculannya justru untuk mengulangi kembali tingkah polanya dimasa lampau, suasana dalam dunia persilatan waktuitu makin kacau balau!"

"Kali ini bagaimana caranya dia mengacau dunia persilatan?"

Tanya Hoa Thiasn hong.

"Pada waktu itu, usia Kiu-ci Sinkun baru mencapai tiga puluh tahunan, tapi kelihayan ilmu silatnya sudah tiada taranya sehingga sukar untuk menemukan tandingan, tapi kesenangannya terhadap ilmu silat makin bertambah besar, kesenangan bukan lenyap lantaran ilmu silatnya bertambah lihay, justru sebaliknya makin terperosok semakin dalam, makin melangkah ia semakin jauh, kalau dulu ia main mencuri maka sekarang ia main rampas secara terang-teranganan, boleh jadi memakai gertakan, mungkin juga memakai kekerasan ataupun kelicikan, pokoknya dia berdaya upaya agar semua kitab pusaka ilmu silat yang dimiliki orang lain bisa dimiliki sendiri olehnya."

"Kenapa umat persilatan tidak bersatu padu dan bekerja sama untuk menghadapinya?"

"Siapa bilang umat persilatan tidak bersatu padu dan menghada-pinya bersama? pada jaman itu, untuk menghadapi dia seorang bukan saja umat persilatan dari golongan putih bersatu padu, malahan mereka bekerja sama dengan golongan hitam untuk bersama-sama menyingkikan Kiu-ci Sinkun dari muka bumi...."

"Masa dengan kekuatan Kiu-ci Sinkun seorang diri, dia mampu meng-hadapi kekuatan gabungan dari seluruh umat persilatan didunia ini?"

"Pada waktu itu seorang belum mengenal nama Kiu-ci Sinkun, kebanyakan orang tak tahu pula siapa namanya, maka ada yang sebut si demam silat ada pula menyebut si rase kepadanya, dunia persilatan pada waktu itu ibaratnya hutan pemburuan, semua umat persilatan berkumpul jadi untuk bersama-sama berburu makhluk rase yang licik ini, kemanapun dia pergi umat persilatan segera mengejar diri belakang dan menghadang dari depan, kendatipun siang malam musti ka bur kesana kemari untuk menghindari pengejaran, tapi dia masih sempat pula menyusun rencana untuk mengganggu orang lain."

"Keanehan orang ini memang luar biasa sekali, rasanya dari dulu sampai sekarang belum pernah ada yang menyamai keanehan dirinya"

Kata Cu Im taysu.

"aai.... pinceng rela hidup dijaman itu kalau bisa, agar dapat kukenali manusia yang sangat aneh ini!"

Li lojin tersenyum, sambungnya.

"Begitulah, dunia persilatan dikacau selama dua tahun lamanya, umat persilatan masih tetap tak mampu berbuat apa-apa atas jago lihay yang aneh ini. Pada waktu itulah tiba-tiba ketua dari perguruan keluarga Wi ying ada dikota Goan-ciu berhasil menemukan dua

Jilid kitab pusaka yang disembunyikan Kiu-ci Sinkun dalam sebuah gua dibukit Ho-lan-san, kitab yang berhasil ditemukan itu adalah kitab ilmu pedang partai Tiam cong serta kitab Ciok yu cap sa kek milik Ciok Yu kek dikota Seng ciu, katanya kitab ini adalah kitab pertabiban yang dibuat dikala jaman dinasti kaisar Sianyan Tee, isinya berupa ilmu pengobatan dan ilmu pertabiban yang sama sekali tak ada hubungannya dengan ilmu silat, kitab itu dicuri oleh Kiu-ci Sinkun pada belasan tahun berselang.

yaa....!

begitulah ketua dari perguruan keluarga Wi ini bukan saja tidak berhasil menemukan kitab pusaka perguruannya yang tercuri dia malah menemukan barang milik orang lain...."

Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan kembali katakatanya.

"Kebanyakan barang-barang yang berhasil dicuri dan dirampas Kiu-ci Sinkun disimpan dalam bukit bukit dan lembah-lembah terpencil yang susah ditemukan orang, sekalipun semua kitab pusaka itu adalah milik orang lain tapi setelah berada ditangannya di anggap sebagai barang miliknya sendiri, dia tak ingin mengembalikannya kepada orang lain dan tak sudi pula didapatkan orang, maka setelah dua

Jilid kitab pusaka disimpannya dalam bukit Ho-lan-san ditemukan orang betapa gusar dan mendongkolnya Kiu-ci Sinkun, setelah berkelana banyak tahun, tiba-tiba timbul ingatan untuk mencari tempat tinggal yang tetap, pilih punya pilih akhirnya ia memilih bukit Kiu ci san, dibangunya sebuah istana yang kuat dan kokoh diatas bukit itu, disana ia menetap dan menyimpan semua harta kekayaannya."

"Bukankah dia mempunyai banyak musuh yang membenci dirinya? Masakah dia bisa hidup tenang disana?"

Tanya Hoa Thian-hong.

"Tenta saja kehidupannya tak tenang, begitu kabar berita tersebut tersiar kedunia persilatan, orang-orang yang kehilangan kitab pusa kanya segera berdatangan kebukit Kiu ci san, ditambah pula para pembantu yang membantu sobatsobatnya membuat suasana dibukit Kiu ci san benar-benar sangat ramai sekali, malahan aku dengar lebih banyak orang yang bermaksud mencari kesempatan untuk merampas kitab pusaka daripada mereka yang ingin menuntut kembali kitab miliknya yang di rampas!"

"Dengan kekuatannya seorang diri, masa dia mampu menandingi orang sebanyak itu?"

Tanya Suma Tiang-cing. Li lojin menghela nafas panjang.

"Aaai! Waktu itu rata-rata para jago yang hadir didepan istana Kiu ci kiong diliputi emosi dan hawa amarah, sekali komando serentak kawanan jago sebanyak ratusan orang itu menyerbu kedepan dan mengerubuti Kiu-ci Sinkun, dalam keadaan begitu kendatipun ilmu silat yang dimiliki Kiu-ci Sinkun lihaynya bulan kepalang, tak urung juga dibuat jeri dan bergidik!"

"Andaikata orang-orang itu benar-benar menyerbu dengan tujuan adu nyawa, sudah pasti Kiu-ci Sinkun bukan tandingan mereka dan nis caya dia akan mati konyol"

Kata Hoa Thianhong. Li lojin tertawa.

"Sebenarnya orang-orang itu memang bermaksud untuk beradu jiwa, cuma sayang orang-yang dibelakang berteriakteriak sementara itu yang ada didepan cuma berdiri kaku seperti patung!"

Tiba tiba Po-yang Lojin menyela.

"Ilmu silat yang dimiliki Kiu-ci Sinkun amat lihay, andaikata benar-benar terjadi pertarungan, yang berada dibarisan depan sudah pasti akan korban lebih dulu, padahal tujuan mereka hanya merebut kembali kitab ilmu silat yang dirampas lawan, dengan sendirinya tak seorangpun para jago yang ada dibarisan depan sudi bergebrak lebih dahulu, rupanya merekapun sempat berpikir kalau mereka adu nyawa, yang untung adalah orang lain, lalu apa guna dan arti kematian mereka? Sebab itulah mereka lebih suka melihat orang lain adu jiwa sedang mereka sendiri berpeluk tangan menjadi nelayan yang beruntung."

Li lojin berkata pula.

"Dibalik kesemuanya itu sebenarnya masih terdapat suatu sebab musabab yang sensitif sekali artinya, yakni sekalipun Kiu-ci Sinkun tergila-gila oleh ilmu silat namun tindak tanduknya sama sekali tidak garang ataupun keji, sepanjang hidup belum pernah ia membunuh seorang manusiapun, bila sedang bangga meskipun wajahnya berseri namun tidak sombong, oleh karena itulah orang orang di jaman itu menyebutnya sebagai Demam silat, ada pula yang memakinya sebagai si Rase, ada pula yang memakinya si Sinting, walaupun begitu antara mereka tak pernah terikat olah dendam sakit hati apapun jua, oleh karena itu antara merekapun tidak mempunyai keharusan untuk beradu jiwa, justru karena wataknya yang sama sekali tidak keji dan bengis inilah, sampai kinipun orang menyebutnya sebagai Sinkun!"

"Ehmmm! Kalau dipikir-pikir, memang disinilah letak kunci yang paling penting"

Hoa Thian bong mengangguk.

"entah bagai manakah akhir dari kejadian itu?"

"Rupanya Kiu-ci Sinkun sendiripun mempunyai perhitungan yang cukup masak, waktu itu dia berkata begini.

"Bukankah tujuan kalian semua adalah minta kembali barang-barang kalian yang hilang? Kalau main kerubut seperti orang kampungan begitu, dari mana tujuan kalian bisa tercapai? Malahan bisa jadi barang sudah hilang nyawapun ikut melayang. Kalau kamu semua mau menuruti perkataanku dan cara yang kukemukakan, siapa tahu kalau apa yang kalian harapkan bisa tercapai? Jangan kuatir, aku toh sudah menetap disini, tak mungkin aku bakal melarikan diri"

"Waaah! caranya ini luar biasa"

Puji Cu Im taysu sambil tertawa. Li lojin tersenyum.

"Memang luar biasa sekali. Waktu itu dia berkala pula. 'Mulai hari ini aku berdiam terus dibukit Kiu ci san ini, jika kalian ingin mendapatkan kembali benda milik kalian, berusahalah dengan giat mulai sekarang carilah kitab-kitab ilmu silat yang berhubungan dengan ilmu silat, ilmu racun, ilmu bangunan, ilmu pertabiban serta ilmu-ilmu kepandaian lainnya atau mencari obat-obat mujarab, pedang mustika, golok mustika, bahkan boleh juga mencari intan permata serta mutu manikam lainnya yang berharga, asal kalian bisa dapatkan salah satu dari benda-benda itu kemudian ditukarkan kepadaku, pokoknya asal aku penujui sudah pasti kitab pusaka milik kalian yang kucuri akan kukembalikan kepada kalian!"

Tertawa Hoa Thian-hong setelah mendengar perkataan itu, dia berkata.

"Cara ini kurang adil rasanya bagi para pemilik barang yang merasa keheranan, mungkin tak ada yang setuju dengan usulnya itu?"

Memang begitulah kenyataannya, para pemilik barang itu segera menjawab.

"Kau mencuri barang, kami merampas barang kami, sekarang suruh kami tebus barang kami dengan barang lain, cara ini sama sekali tidak adil dan bijaksana."

"Apa jawab Kiu-ci Sinkun?"

Dia lantas berkata begini.

"Kalau kalian tidak setuju dengan caraku ini aku masih ada cara yang kedua, bila istanaku sudah kubangun jadi, maka semua kitab pusaka dan benda mustika yang kumiliki akan kusimpan semua ditempat ini, kalian boleh menirukan caraku dengan mencuri ataupun merampas barang-barang itu dari tanganku, setiap saat akan kunantikan kedatangan kalian!"

"Waah, waaah cara ini lebih latah lagi sela Suma Tiang-cing segera, tapi kejadian tersebut memang tak dapat dihindari, kenda tipun tidak ia katakan, orang lain toh akan berusaha untuk melakukan juga."

Li lojin tersenyum.

"Tapi diapun menerangkan pula, cara ini ada syaratnya yakni jika orang yang datang melakukan pencurian adalah pemilik barangnya sendiri, bila tertangkap maka dia akan dipenjara selama tiga tahun tanpa ada hukuman yang lain, tapi bila orang yang melakukan pencurian bukan pemilik barang, jika tertangkap dia akan dijatuhi hukuman sesuai dengan berat entengnya dosa yang di langgar, mereka yang melanggar berat maka ilmu silatnya akan dipunahkan, sedangkan yang enteng ditahan dalam istana sebagai jongos!"

"Hmmm.... bagus juga cara yang dia ajukan ini"

Ujar Cu Im taysu sambil tertawa.

Selain kedua cara tadi, dia masih mempunyai cara yarg ketiga, dia bilang bila istana Kiu ci kiong sudah didirikan, setiap hari Tong ciu dalam istana akan diadakan pertemuan besar perebutan kitab pusaka yang akan berlangsung selama tujuh hari tujuh malam, siapapun boleh ikut serta dalam pesta perebutan itu, tertu saja dalam pesta pertemuan itupun disertai pula dengan pelbagai syarat, antara lain yang paling penting adalah para peserta harus mereka yang kehilangan kitab pusaka, dan barang yang diperebutkan juga terbatas pada kitab yang dimilikinya, misalkan si pukulan sakti Huan Teng, dia hanya berhak merebut kembali kitab pusaka Po kia kun boh nya, karena itu dia hanya terbatas untuk bertempur dengan memakai ilmu Po-kia Sinkun pula, bila tahun itu kalah maka tahun berikutnya dipersilahkan untuk turut kembali.

"Orang ini sungguh menarik hati"

Seru Hoa Thian-hong tanpa terasa.

"kalau tidak demikian jika mereka harus bertarung satu lawan satu maka siapapun tak akan mampu menandingi kelihayannya, dan lagi bila dengan memakai ilmu perguruan serdiripun tak mampu menangkan orang lain, kejadian tersebut memang terhitung sangat memalukan"

"Kebaikan yang terutama dari orang ini adalah dia tak ingin mencelakai jiwa orang lain"

Li lojin menerangkan, dan lagi dia selalu meninggalkan kesempatan yang baik kepada orang lain untuk merebut kembali barang miliknya, sebab itulah sekalipun dunia persilatan telah dibikin kacau balau tak karuan tetapi tidak sampai menimbulkan bencana besar ataupun banjir darah!"

"Dari pada adu jiwa dan bertempur mati-matian memang lebih baik berusaha dengan menggunakan ketiga macam cara tersebut, lalu bagaimanakah pendapat para pemilik kitab?"

"Bagi para pemilik kitab, dapat bertempur melawan Kiu-ci Sinkun hanya terbatas dalam ilmu silat perguruannya, lagi pula kalau menang bisa memperoleh kembali barang yang hilang, boleh dibilang suatu kesempatan yang baik sekali untuk menangkannya, siapapun yakin kalau ilmu silat perguruan sendiri telah dikuasai penuh dan siapapnn percaya kalau mereka punya harapan untuk menang, toh andaikata kalah tahun berikutnya masih boleh ikut kembali dalam pesta perebutan tersebut, selain itu mereka juga kuatir kalau Kiu-ci Sinkun didesak terus terusan maka dia akan minggat dan susah dicari kembali jejaknya, daripada kitab pusakanya hilang maka para pemilik kitab akhirnya menyetujui juga usulnya itu!"

Tiba-tiba Po-yang Lojin menambahkan.

"Didalam kejadian tersebut masih terdapat pula kunci yang amat penting, sebagian besar orang-orang yang hendak mencari keuntungan diair keruh adalah kawanan jago dari kalangan hitam, tatkala para pemilik kitab sudah menunjukkan tanda-tanda setuju mereka malahan coba menghasut dan memarakkan kembali suasara yang mulai reda itu, dalam keadaan demikian inilah tiba-tiba Kiu-ci Sinkun menggunakan serangan yang paling keji dan paling cepat untuk melumpuhkan belasan orang diantara mereka yang berilmu silat paling tinggi, menyaksikan kelihayan ilmu silat yang dimiliki Kiu-ci Sinkun ini, para pemilik kitab semakin tak berani bertindak gegabah.

"Lihay amat cara sidemam silat ini bertindak"

Puji Suma Tiang-cing sambil tertawa.

Lihaynya sih tidak untuk membangun istana Kiu ci kiong, dia membutuhkan tenaga yang besar dan benda yang banyak, menurut jalan pemikirannya maka orang-orang yang ditangkapnya ini akan dijadikan anak buahnya untuk mengurangi para pekerja pembangangunan.

"Bagaimana kemudian?"

Tanya Hoa Thian-hong sambil tertawa.

"Selanjutnya....Hey, lebih baik kita cepat-cepat membicarakan soal pencarian harta karun saja, cerita jite terlalu banyak hal-hal yang tak penting, lebih baik samte saja yang lanjutkan!"

Kakek tua she Gin itu biru buru meneruskan kembali kisah cerita nya dengan suara nyaring.

"Untuk mendirikan istana Kiu ci kiong mereka membutuhkan waktu selama hampir mendekati lima tahun lamanya, pada tahun keenam bulan Tiong ciu untuk pertama kalinya diadakan pesta perebutan barang pusaka, secara beruntun pesta itu diselenggarakan sampai tujuh tahun lamanya, tapi tak seorangpun yang berhasil merebut kembali kitab pusaka perguruan mereka, sepanjang masa itu ada orang yang disekap selama tiga tahun lantaran tertangkap sewaktu hendak mencuri barang pusaka, ada pula yang menjadi pelayan dalam istana Kiu ci kiong, disamping itu banyak pula kawanan jago yang mencari bendabenda a-neh untuk ditukarkan dengan kitab salinan ilmu silat perguruannya masing-masing bahkan ada pula yang secara sukarela masuk istana Kiu ci kiong untuk menjadi seorang anak buah, pokoknya barang-barang pusaka yang bertumpuk dalam istana Kiu ci kiong kian lama kian ber tambah banyak, pengaruh mereka pun kian bertambah besar, hal ini membuat kedudukan Kiu-ci Sinkun bertambah kuat dan mantap, kekuasaannya meliputi seluruh kolong langit, tapi menghasilkan pula suatu persoalan baginya...."

Setelah berhenti sebentar untuk tukar naps, sambungnya lebih jauh.

"Selama tahun-tahun terakhir, Kiu-ci Sinkun telah menerima empat orang murid kesemuanya merupakan pemuda-pemuda berbakat bagus yang cerdik dan tekun mempelajari ilmu, dibawah petunjuk Kiu-ci Sinkun yang lihay, ilmu silat keempat orang ini memperoleh kemajuan yang sangat pesat, akan tetapi kemampuan yang mereka miliki masih belum mampu untuk mewakili guru mereka menghadapi para pemilik kitab dalam setiap pesta perebutan barang pusaka"

Rupanya dia kuatir kalau Hoa Thian-hong tidak paham dengan keterangannya ini, cepat dia melanjutkan.

"Kita ambil contoh saja pukulan sakti Huan Teng, usianya waktu itu sudah mencapai tujuh puluh tahunan, kekuatan tubuhnya sudah banyak berkurang selama pesta perebutan barang pusaka itu dilangsung kan, ia selalu diwakili oleh putranya Huang Heng, tahun itu Huan Heng baru berusia empat puluh tahunan, tapi ilmu pukulan Po-kia Sinkun yang dikuasainya sudah mencapai puncak kesempurnaan, untuk mengalahkan jago setengah umur itu Kiu-ci Sinkun sendiripun membutuhkan seratus gebrakan lebih baru keinginannya bisa tercapai. Murid kedua dari Kiu-ci Sinkun yang bernama Si Bun kong paling gemar mempelajari ilmu silat aliran keras, terutama sekali ilmu pukulan sakti Po-kia Sinkun, setelah jalan nadi pentingnya Jin dan tok berhasil ditembusi, lalu mendapat pula bantuan dari obat-obatan, tenaga dalam yang dimilikinya sudah jauh melebihi Hoan Teng, akan tetapi kematangan jurus Po-kia Sinkunnya masih kalah jauh dari Huan Tang, oleh sebab itu dia belum dapat mewakili gurunya dalam pesta perebutan barang pusaka itu, padahal jago-jago seperti Kong sun Tong dan Biau-hua Tojin sekalian sudah berlatih tekun lagi selama dua puluh tahun terakhir ini sehingga kepandaian silat mereka mencapai puncak kesempurnaan yang tidak terhingga, tentu saja murid-muridnya Kiu-ci Sinkun lebih tidak mungkin bisa menyusulnya. Suma Tiang-cing tertawa.

"Dalam keadaan demikian Kiu-ci Sinkun tak mungkin mengingkari janji sendiri, itu berarti dia mencari kesulitan bagi dirinya sendiri,"

Katanya.

"Manusia berbakat bagus sukar dicari didunia, apa lagi orang yang cerdik sekaligus berbakat, belum tentu tiap generasi bisa di temukan, sebab itulah pada pesta perebutan barang pusaka yang kedelapan kalinya, Kiu-ci Sinkun memberikan suatu pengumuman yang luar biasa, barang siapa dapat menemukan bocah laki atau perempuan yang cerdas dan berbakat bagus, boleh dikirim ke istana Kiu ci kiong untuk ditukarkan dengan barang mustika bahkan akan mendapatkan pula balas jasa yang cukup lumayan...."

"Gila.... benar-benar gila"

Kata Suma Tiang-cing sambil gelengkan kepalanya dia tertawa.

"Memang terlalu gila-gilaan perbuatannya ini tapi belsan tahun berikutnya setiap tahun paling sedikit Kiu-ci Sinkun menerima seorang, dua orang murid baru, hingga akhir hayatnya ada tiga puluh delapan orang murid laki perempuan yang dia miliki, diantaranya sebagian besar adalah manusiamanusia cerdas yang berbakat, tentu saja kepesatan ilmu silat yang dicapai merekapun amat luar biasa, ketika Kiu-ci Sinkun menanjak keusia tua, hampir semua muridnya mampu untuk mewakili gurunya turun gelanggang, meskipun ada juga beberapa orang jago lihay yang terpaksa harus dihadapi sendiri oleh Kiu-ci Sinkun!"

"Sepanjang sejarah ini, apakah ada orang yang akhirnya berhasil merampas kembali kitab pusaka mereka?"

Tanya Hoa Thian-hong dengan perasaaa ingin tahu.

"Ada! Selama empat puluh tahun pesta perebutan barang pusaka dilangsungkan, ada tiga orang yang berbasil merampas kembali barang miliknya, tapi selama itu pula hampir sebagian besar barang pusaka yang ada didunia ini telah dikuras dan diboyong masuk kedalam istana Kiu ci kiong. Bagaimanakah akhirnya nasib dari istana Kiu ci kiong ini!"

Tanya Hoa Thian-hong sambil menjulurkan lidahnya.

"Mengikuti Kiu-ci Sinkun, terpendam untuk selamanya didalam permukaan tanah, selain semua kekayaannya ikut terpendam bahkan ada tiga puluh delapan orang muridnya dan dua ratus tujuh puluh tiga orang yang ikut terkubur hidup-hidup dalam istana tadi!"

"Aaah! Sebenarnya apa yang sudah terjadi?"

Pemuda itu berseru kaget.

Singkatnya saja, diantara tiga puluh delapan orang muridnya kurang lebih ada dua belas orang adalah matamata, kedua belas orang ini sebagian besar adalah anak murid jago silat kenamaan yang sengaja dikirim kedalam istana, adapula yang dipelihara dulu oleh orang luar, setelah mendapat pendidikan yang matang kemudian dikirim kedalam istana untuk menjadi mata-mata, tentu saja orang-orang yang berdiri dibelakang kedua belas orang murid ini bermaksud untuk mengincar barang mustika yang tak ternilai harganya dalam istana Kiu ci kiong.

Perlu ditambahkan, selama masa menerima murid, Kiu-ci Sinkun tidak memikirkan kesoal lain, ia melakukan seleksinya dengan menitik beratkan pada bakat dan kecerdasan walaupun begitu diapan dapat menduga maksud-maksud tidak baik yang terkandung dihati orang lain, cuma saja Kiu-ci Sinkun tak sampai melakukan tindakan yang paling keji untuk memberantas orang-orang itu, sebab justru diantara beberapa orang itu terdapatlah muridnya yang paling berbakat dan muridnya yang paling berhasil menguasai ilmu silat yang diwariskan kepada mereka, oleh karena itu disamping membatasi ruang gerak mereka, diapun berharap dengan perasaan dan hubungan sebagai guru dan murid, sikap mereka iiu perlahan-lahan bisa mengalami perubahan, sayang muridnya terlali banyak, otomatis suasananya ikut kalut dan campur aduk tak karuan, apa yang diharapkan selalu tidak berhasil diwujudkan.

Setelah berhenti sebentar, sambungnya lagi.

Masalah kedua yang menyulitkan dirinya adalah tentang ahli warisnya, sepanjang masa hidupnya orang ini telah memusatkan semua perhatian dan ingatannya untuk berlatih ilmu, bertanding dan mewariskan ilmu kepada orang lain, namun dia gagal untuk menciptakan murid yang benar-benar ampuh, di antara ketiga puluh delapan orang muridnya tak seorang yang berhasil menuruni kemampuannya untuk menguasai segenap ilmu silat yang ada didunia ini, kepandaian yang berhasil dicapai ketiga puluh delapan orang muridnya selain berbeda beda, karena itu satu diantara ketiga puluh orang muridnya itu tak mampu mengalahkan ketiga puluh tujuh orang rekan lainnya, lagipula diantara mereka, empat orang muridnya yang diterima paling awal memiliki ilmu silat paling tinggi, sedangkan dua tiga orang muridnya yang diterima paling akhir justru memiliki bakat dan kecerdasan paling tinggi, oleh karena itulah suasananya jadi serba kalut dan tak bisa teratasi.

Oleh sebab harta kekayaan yang berada dalam istana Kiu ci kiong kelewat banyak, hal ini membuat siapapun yang bercokol dalam istana tersebut merasa tak sudi meninggalkannya dengan begitu saja, siapapun berharap untuk menjadi pemilik tunggal harta kekayaan sebesar itu, maka mulailah ketiga puluh delapan orang murid saling gontok-gontokan dan saling memperebutkan kekuasaan tertinggi, pikir mereka asal gurunya sudah mati, maka perebutan kekuasaan secara terang-terangan akan segera dimulai.

"Orang-orang itu melakukan perebutan kekuasaan dengan berkomplot ataukah secara sendiri-sendiri?"

Tanya Sama Tiang cing "Tentu saja berkomplot, tapi oleh karena ketiga puluh delapan orang itu rata-rata adalah manusia cerdas yang berotak brilian, maka makin brilian mereka makin besar pula perasaan mementingkan diri sendiri dihati masing-masing pihak, semakin sulit pula bagi mereka untuk bekerja sama dengan orang lain, begitulah mereka terbagi menjadi empat lima kelompok, tapi merekapun bertujuan sama yakni saling mempergunakan kemampuan serta kehebatan rekannya bagi tercapainya ambisi mereka pribadi, siapapun tak sudi tanduk kepada yang lain, siapapun tak sudi mendengarkan perintah orang lain, sua sana jadi kacau balau tak karuan, ditambah pula hasutan serta rongrongan dari luar istana, membuat keadaan makin kalut, bayangkan saja siapa yang sanggup mengatasi keadaan seperti itu?"

"Sebenarnya sampai sekarang dalam istana tersebut masih tersimpan benda-benda mustika apa lagi?"

Tanya Cu Im taysu dengan dahi berkerut.

"Aah....! Apa yang kau inginkan disanalah tersedia, bagi orang yang gemar ilmu silat dalam istana itu tersedia beriburibu

Jilid kitab pusaka ilmu silat, bagi orang yang suka harta dalam istana terdapat intan permata dan emas perak yang melimpah, mau umur panjang dan hidup segar bugar terus dalam istana terdapat obat mujarab yang bisa menambah umur, ingin awet muda di situpun tersedia obat untuk selalu awet muda, barang antik, lukisan berharga, kitab Budha, kitab agama To tersimpan pula dalam istana tadi, bahkan aku dengar setumpuk kitab Buddha yang diambil oleh pendeta Tong Sam cong hoatsu dengan susah payah di langit baratpun, sudah diboyong masuk kedalam istana oleh seorang perompak kenamaan dari samudra timur, malahan aku dengar jika kau ingin menjadi dewa atau malaikatpun dalam istana itu dapat kau temukan kitabnya!"

"Omiotohud! Masa begitu? Baru pertama kali ini kudengar cerita sehebat ini!"

Seru Cu Im taysu dengan mata terbelalak.

"Locianpwe, kalau toh didalam istana terdapat obat mujarab yang bisa panjang umur, kenapa Kiu-ci Sinkun bisa bisa mati?"

Tanya Hoa Thian-hong keheranan.

"Benar! Kematian Kin ci sinkun memang merupakan suatu teka teki yang tidak terjawab sampai sekarang,"

Sahut Poyang Lojin.

"berhubung dengan kematian dari Kiu-ci Sinkun, tiba-tiba saja bukit Kiu ci san dilanda oleh gempa yang sangat hebat, bukit ambruk, batu berguguran, istana Kiu ci kiong tenggelam kedasar permukaan tanah, tak seorang pun anggota istana itu berhasil melarikan diri. Kematian Kiu-ci Sinkun juga menjadi teka teki yang tak terjawab hingga kini, tapi yang pasti dalam istana memang terdapat banyak sekali obat-obat mujarab yang bisa menambah umur manusia jadi lebih panjang."

Li lojin menghela napas panjang, ia berkata pula.

"Dalam penggalian harta karun yang diselenggarakan untuk kedua kalinya, beruntung kami empat bersaudara berhasil menemukan sebiji buah cu ko yang berwarna merah, karena kami semua mendapat seperem pat bagian dari buah mustika itu, maka umur kami jadi panjang dan bisa hidup sampai hari ini....!"

"Penggalian harta karun yang kedua kalinya?"

Seru Hoa Thian-hong tercengeng.

"Benar, kami ikut dalam gerakan penggalian harta karun yang kedua kalinya, dan kini gerakan penggalian harta karun yang ketiga kalinya segera akan dimulai!"

Hoa Thian-hong, Suma Tiang-cing serta Cu Im taysu hanya saling berpandangan dengan mulut membungkam mereka tak mampu memberikan komentar apapun.

Sementara itu poyang lojin telah melanjutkan kembali katakatanya, Setelah istana Kiu ci kiong tiba-tiba tenggelam keperut bumi, sementara orang yang ada diluar lantas memberikan dugaan serta perkiraan-perkiraan mereka, ada yang mengatakan dalam istana itu pasti terjadi pergolakan hebat yang berlangsung antara murid-murid Kiu-ci Sinkun pribadi, sehingga mengakibatkan terjadinya penghan-curan secara besar-besaran oleh Kiu-ci Sinkun, tapi keadaan didalam istana tersebut memang amat kalut, siapapun tak dapat menemukan alasan yang sebenarnya tentu saja mereka hanya menguatirkan soal harta karun yang ada dalam istana itu saja sedangkan terhadap soal yang lain tak ada yang menaruh perhatian.

Suma Tiang-cing beberapa kali hendak buka suara tapi selalu diurungkan, akhirnya ia keraskan juga hatinya seraya bertanya.

"Setelah istana itu tenggelam, sudah pasti akan muncul para pencari harta, entah bagaimanakah keadaannya pada penggalian yang diselenggaraksn untuk pertama kalinya?"

"Sejak Istana Kiu ci kiong tenggelam keperut bumi, tiga puluh tahun berikutnya bukit Kiu ci san selalu dipenuhi oleh para pencari harta, diantaranya tercatat dua tahun setelah istana itu tenggelam keperut bumi merupakan tahun pencari harta yang paling besar, sejak bulan ketiga sampai bulan kesembilan yakni selama setengah tahun, kurang lebih seribu orang lebih para pencari harta yang berkumpul dibukit tersebut."

"Masa sebanyak itu?"

Seru Hoa Thian-hong dengan dahi berkerut.

"dengan kekuatan orang yang begitu banyaknya, sudah tentu mereka mendapatkan hasil yang lumayan bukan?"

"Ketika Kiu-ci Sinkun membangun istana tersebut, tujuannya adalah memusuhi umat persilatan, waktu itu diapun sudah memperhi-tungkan, andaikata suatu ketika ia mengalami kegagalan total, prinsipnya dari pada barangbarang yang berhasil dikumpulkannya selama separuh masa kehidupannya itu terjatuh ketangan orang lain, lebih baik ia berkorban bersama semua hartanya, karena itu bukan saja alat rahasia yang amat dahsyst telah dipasang diseluruh istana tersebut, diapun telah menyiapkan pula alat jebakan yang bisa menenggelamkan istana tersebut keperut bumi, andaikata alat rahasia itu di tekan maka bumi akan goncang dan bukit akan ambruk, bukan saja istana itu akan tenggelam keperut bumi, bahkan diatasnya akan tertutup pula oleh suatu sungai bawah tanah dengan arus air yang sangat deras, karena harus menggali melewati arus sungai dibawah tanah inilah maka selama setengah tahun menggali, tak seorangpun yang berhasil menemukan harta."

"Tengah malam bulan kesembilan, tiba-tiba ada orang yang menyentuh kerak bumi tanpa sengaja, begitu alat penggalinya menyentuh bagian dari tanah tersebut, dalam waktu singkat rentetan bukit yang berada disebelah kiri longsor kebawah, batu cadas sebesar rumah berguguran menutupi seluruh permukaan tanah, semalaman itu juga ada delapan ratus orang penggali harta yang tewas tertimbun tanah longsor."

"Akibat dari tanah longsor itu, keadaan medan ditempat itu kembali mengalami perubuhan, tiga ratus orang lebih yang berhasil lolos dari bencana itu kebanyakan menjadi cacad, ada pula yang putus asa dan rata-rata mereka kabur semua dari situ kecuali sebagian kecil yang masih ngotot tetap tinggal disitu meneruskan penggalian nya, dengan demikian berakhirlah gerakan penggalian harta yang pertama kali!"

"Bagaimana pula dengan gerakan yang diselenggarakan untuk kedua kalinya?"

Tanya Hoa Thian-hong. oooo0oooo "PENGGALIAN harta karun kedua kalinya diselenggarakan tujuh belas tahun sesudah terjadinya peristiwa tragis itu, cuma saja suasananya ketika itu jauh berbeda,"

Ujar Poyang lojin degnan sinar mata berki lat tajam.

Paras muka Hoa Thian-hong, Suma Tiang-cing serta Cu Im taysu menunjukkan perubahan, sepasang mata mereka terbelalak lebar, dengan tenang mereka nantikan kata-kata berikutnya.

"Musim semi tahun itu tiba-tiba ada orang yang berhasil menggali sebilah pedang mustika diatas bukit itu!"

Kata Poyang Lojin. Suma Thiang cing adalah seorang pemuda yang amat gemar akan pedang mustika, mendengar ucapan itu tak tahan dia lantas bertanya.

"Pedang mustika apakah itu?"

"Pedang Liong swan kiam!"

"Aaah....! Suma Thiang cing berseru kaget, pedang itu adalah salah satu diantara tiga bilah pedang mustika dari Oa ci cu,"

Ia berhenti sebentar kemudian lanjutkan.

"Locianpwe, silahkan melanjutkan kisahmu boan seng tak akan menukas lagi!"

"Murid paling kecil dari Kiu-ci Sinkun yang bernama Cao Thian hua pernah menggunakan pedang kenamaan itu untuk bertanding ilmu melawan Kongsun Tong, setelah pedang tersebut muncul dari perut bumi maka badaipun kembali melanda bukit Kiu ci san, berbondong-bondong kawa-nan jago persilatan berdatangan ke bukit untuk melakukan penca-rian harta karun...."

Setelah termenung sebentar, kembali ia lanjutkan katakatanya.

"Bulan keenam tahun itu, aliran sungai yang berada dibawah tanah tiba-tiba mengering, tanah diatas permukaan istana Kiu ci kiong tersumbul keluar, kesempatan ini semakin menggairahkan para penggali untukbekerja dengan lebih bersemangat, sampai akhir bulan sepuluh, hampir dua ribu orang pencari harta yang telah berkumpul dibukit tersebut."

"Waduh.... dua ribu orang! Lalu bagaimana caranya untuk melakukan penggalian?"

Seru pemuda Hoa.

"Sulit rasanya untuk menerangkan kesemuanya itu dengan kata-kata, pokoknya pada waktu itu para pencari harta terdiri dari aneka ragam manusia, ada yang jago-jago silat, ada yang bukan orang persilatan melainkan hanya para pekerja upahan yang memanfaatkan kesempatan itu untuk mencari uang, ada pula yang berkelompok merupakan satu komplotan tapi ada juga yang berdiri sendiri, dimasa masa penggalian harta karun, suasana diatas bukit Kui ci san ramai sekali ibaratnya sebuah kota kecil, pedagang, penjaja makanan, pekerja, berkumpul menjadi satu di tempat itu."

"Aaai!"

Li lojin menyambung setelah menghela napas.

"selama tiga puluh tahun, sudah tak terhitung jumlah orang yang terlantar akibat pencarian harta karun ini, banyak yang menggadaikan rumah untuk membayai penggalian, ada yang meninggalkan anak istri hanya untuk mencari harta tersebut, bahkan tidak terbatas pada orang persilatan saja, banyak diantaranya yang merupakan kaum pedagang dan kaum pekerja, mereka memandang pencarian harta sebagai sumber kekayaan yang bisa membahagiakan kehidupan mereka, bukan saja usahanya ditinggalkan, anak istri juga ditelantarkan, tiap hari tiap detik mereka hanya menggali dan menggali terus...."

"Dosa.... dosa....! Kiu-ci Sinkun memang pembuat bencana bagi umat persilatan"

Seru Co Im taysu sambil menghela napas dan gelengkan kepalanya berulang kali. Hoa Thian-hong sendiri tertawa seraya bertanya.

"Locianpwe, bagaimanakah hasil dari penggalian harta yang di selenggarakan untuk kedua kalinya itu?"

"Singkatnya hanya dua orang yang berhasil mendapatkan benda berharga, satu kelompok adalah kami empat bersaudara berhasil mendapatkan sebiji buah merah yang telah dimakan habis, sedangkan yang lain adalah ciang bunjin angkatan ketiga dari partai Seng sut pay yang berhasil mendapatkan kitab Thian hua ca ki milik Cao Thian hua!"

"Bagaimana sikap orang-orang lain yang tidak berhasil mendapatkan apa-apa?"

"Waktu itu aneka ragam manusia bercampur baur diatas bukit tersebut, keadaannya sangat kalut dan tidak menentu, ketua angkatan ketiga dari Seng sut pay memang cukup cerdik dan cekatan, setelah mendapatkan kitab pusaka Thian Hua ca ki, Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan perubahan apa-apa, dia lantas berpura-pura melanjukan sikap putus asa dan menarik pasukannya mundur dari tempat itu. Begitulah, dengan membawa kedelapan sembilan orang muridnya, mereka lantas kabur dari bukit Kiu ci san."

"Kenapa musti berbuat begitu?"

Tanya Hoa Thian-hong tercengang.

"Apalagi sebabnya kalau bukan takut dirampas orang lain, banyak orang yang menderita akibat mencari harta, banyak yang kehilangan rumah kehabisan harta kehilangan ayah atau anak lantaran harta tersebut, apalagi mereka yang kehilangan kitab pusaka perguruannya, sekalipun sudah berusaha banyak tahun toh tak ada hasilnya, tentu taja mereka tak akan biarkan orang-orang Seng Sut pay yang bukan termasuk bilangan daratan Tionggoan mendapat keuntungan itu, cuma aku dengar katanya pihak Teng sut pay kehilangan pula sejenis barang pusaka yang tersimpan dalam istana Kiu ci kiong, apakah benar atau tidak berita ini?"

"Setelah cianpwe berempat mendapatkan buah merah apakah kalian lanjutkan penggalian?"

Tanya pemuda Hua.

"Setelah kami makan buah merah itu, menurut suara hati memang ingin melanjutkan penggalian, tapi setelah dipikir kembali, kami toh tidak kehilangan apa-apa, sebiji buah merah indah merupakan penemuan yang luar biasa sekali apalagi mengingat begitu banyak pencari harta hanya kami saja yang berhasil mendapatkan mustika, itu berarti pula Thian sudah memberikan kemurahannya kepada kami, jika kami lanjutkan penggalian bukankah sama artinya kami adalah orang yang kemaruk harta? Oleh karena itu setelah berunding akhirnya kami berempat mengundurkan diri dari tempat itu...."

"Aaai! Orang bilang mereka yang tahu diri selalu dilindungi Thian, demikian pula dengan kami empat bersaudara, belum lama kami mengundurkan diri dari tempat penggalian, tibatiba diatas bukit itu kembali terjadi bencana tanah longsor disertai ledakan-ledakan aneh, beratus-ratus orang penggali harta tak sempat kabur dan tersapu o-leh air bah, menyusul kemudian terjadi pula gempa bumi dan tanah merekah, dalam waktu singkat arena penggalian kembali mengalami perubuhan besar, mereka yang mati semakin banyak lagi, cuma mayat mayat itu lenyap tak berbekas entah tersapu air bah entah tertanam keperut bumi. Kakek Lan yang selama ini hanya membungkam terus, tibatiba menghela napas berat, lalu berkata.

"Aaai! Kalau berbicara tentang keadaan yang sangat mengerikan pada hari itu, seolah-olah Lo Thian Ya menjadi gusar karena keserakahan dan kerakusan umatnya sehingga ia menurunkan bencana besar itu untuk menghukum mereka!"

Hoa Thian-hong dan Suma Tiang-cing saling berpandangan sekejap, kedua orang ini sama sekali tidak mempunyai niat serakah atau kemaruk harta, tapi mereka merasa bila sesuatu benda mustika kalau dibiarkan terpendam terus didasar tanah maka lama-kelamaan benda itu akan musnah dengan sendirinya, bila sampai demikian keada-annya, maka sama artinya mereka berbuat keji terhadap benda alam, mereka hilangkan arti kegunaan yang sebenarnya dari benda-benda alam tersebut, oleh sebab itu mereka berdua mempunyai pendapat yang sama, yakni cepat-cepat menggali keluar benda mustika itu agar bisa dimanfaatkan oleh umat manusia.

Bagaimanapun juga Thian menciptakan segala sesuatu yang ada didunia ini untuk dipakai serta dimanfaatkan oleh umatnya, benda yang tercipta ada, bukan dimaksudkan untuk dimusnahkan dengan begitu saja oleh alam itu sendiri.

Akan tetapi, setelah mendengar perkataan dari Lan lojin, tanpa terasa dua orang jago ini jadi terbungkam.

Terdengar Po-yang Lojin berkata.

"Selama ini kami empat bersaudara hidup mengasingkan diri dibukit Huang-san, kehidupan kami dilewatkan dengan penuh riang gembira dan bebas merdeka, tapi secara tiba-tiba pada akhir tahun ini kami semua telah menyadari akan sesuatu hal, kami merasa apa bedanya antara usia panjang dan usia pendek? Kami sudah diberi berkah oleh Thian untuk hidup berumur panjang, maka sepantasnya kalau kitapun berkewajiban untuk memberikan semua benda ciptaan alam kepada umat manusia didunia ini, kami harus membantu umat manusia untuk menemukan kembali harta karun yang terpendam didasar perut bumi sehingga bisa dinikmati pula oleh manusia-manusia lain, disamping itu dapat pula kami cegah agar tiada manusia lagi yang mengorbankan jiwanya dengan percuma lanlaran urusan harta karun. Liu lojin menyambung pula.

"Yaa....! Tampaknya takdir memang menghendaki demikian, harta karun dibukit Kiu ci san memang sudah waktunya untuk muncul didunia ini, selesai berunding, kami empat bersaudara segera tinggalkan bukit Huang-san dan langsung menuju kota Cho Ciu, maksud kami akan mencari ananda Cu cing serta mencari tahu lebih dahulu keadaan dalam dunia persilatan, apa mau dikata ketika kami tiba dirumahnya telah bertemu pula dengan kejadian yang dilakukan Tang Kwik-siu, kami lantas semakin menyadari bahwa takdir telah berkata demikian, sekalipun kami tidak munculkan diri toh gerakan menggali harta karun yang ketiga kalinya segera akan dilangsungkan.

"Agar semuanya berjalan lancar, persoalan ini harus diatasi dengan serius dan hati-hati, ujar Gan lojin pula, kalau tidak, kuatirnya sebelum harta karun itu berhasil diambil, peristiwa tragis kembali sudah berlangsung"

"Locianpwee berempat!"

Kata Suma Tiang-cing dengan serius.

"aku yang muda percaya bahwa kalian berempat telah mempunyai rencana yang matang, bolehkah kami ikut tahu bagaimana caranya kita harus turun tangan?"

"Bagaimana pula kita harus melaksanakan pergerakan ini sehingga bilamana harta karun itu tergali keluar, tak sampai terjadi perebutan secara kasar yang mengakibatkan terjadinya badai pembunuhan yang mengerikan dalam dunia persilatan?"

Sambil menunjukkan ibu jarinya, Po-yang Lojin berkata dengan suara sangat dalam.

"Yang terutama adalah mencari seorang manusia yang bijaksana, berjiwa besar daa berpengaruh besar untuk memimpin pergerakan ini, tapi orang tersebut harus mempunyai tiga syarat yang penting satupun syarat tersebut tak boleh kurangi!"

"Apa saja ketiga buah syaratnya itu?"

Tanya Cu Im taysu dengan dahi berkerut.

"Pertama orang ini harus berilmu silat sangat tinggi, kepandaiannya itu dapat menekan dan mengendalikan manusia-manusia berambisi besar seperti halnya dengan Tang Kwik-siu"

"Locianpwe, tahukah engkau bahwa dalam dunia persilatan dewasa ini masih terdapat manusia yang lebih berambisi dan lebih tamak daripada Tang Kwik-siu?"

Tiba-tiba Hoa Thianhong menyela.

"Siapakah orang itu?"

Tanya Po-yang Lojin dengan kaget.

"Orang itu adalah Kiu-im Kaucu"

Jawab Suma Tong cing segera.

"orang ini keji, berambisi besar dan berilmu tinggi, sedikitpun tidak kalah bila dibandingkan dengan Tang Kwiksiu!"

Po-yang Lojin mengangguk beberapa kali, ujarnya lagi.

"Kedua, orang yang memimpin gerakan penggalian ini mesti seorang yang bijaksana dan lebih mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi, dia tak boleh berwatak mata duwitan, tak boleh punya watak serakah dan kemaruk harta, andaikata barang mustika yang dicari berhasil ditemukan maka benda-benda itu musti diserahkan kepada siapa yang berhak mendapatkan benda itu, kecuali bagian yang berhak ia terima, ia tak boleh menggambil bagian orang lain."

"Waah.... syarat yang kedua ini memang sulit ditemukan pada tubuh orang persilatan,"

Seru Suma Tiang-cing.

"tapi tak usah kuatir sekalipun Suma Tiang-cing tak berani mengatakan aku memiliki watak seperti itu, namun aku dapat menemukan manusia semacam itu!"

Jilid 29

"SETELAH harta karun itu berhasil ditemukan, peristiwa ini pasti akan menggetarkan seluruh kolong langit, pada waktu itu para jago dari segala pelosok dunia pasti akan berdatangan untuk mencari bagian, soal terpenting bagi sang pemimpin ini adalah mencari jalan pemecahan bagaimana caranya mengendalikan massa, bagaimana memberi perintah kepada mereka, siapa yang berjasa akan diberi pahala apa, siapa yang salah harus diberi ganjaran apa, semua kebijaksanaan ini tergantung padanya dan mengandalkan ilmu silat tok tak mungkin bisa mengatasi kesemuanya itu!"

"Waah.... kalau mesti mencari manusia seperti ini, sukarlah rasanya!"

Kata Cu Im taysu sambil menghela nafas panjang.

"Apakah locianpwe berempat sudah mempunyai pandangan ataupun gambaran tentang siapakah yang cocok uutuk menempati jabatan ini?"

Tanya Suma Tiang-cing kemudian.

Mendapat pertanyaan tersebut empat datuk dari bukit Hoang san serentak gelangkan kepalanya, Sekalipun belum ada sekarang toh masih ada kesempatan untuk memilih, bagaimana pun juga kita kan tak bisa membiarkan mereka cari dan berusaha sendiri dengan mengadu nasib!"

Berbicara sampai disit, tiba-tiba teringat oleh Suma Tiangcing bahwa keempat datuk dari gunung Hoang san pun berbasil mendapatkan sebiji buah merah lantaran nasib mereka yang baik ia lantas riku sendiri karena tanpa sadar ia telah mengorek luka orang, hal ini berarti kurang sopan kepada mereka berempat, tanpa terasa merahlah selambar wajahnya.

Terdengar Po-yang Lojin tertawa terbahak, kemudian berkata.

"Suma tayhiap adalah pendekar sejati yang berjiwa terbuka apa yang dikatakan memang tepat sekali, lagi pula masalah yang paling kita kuatirkan adalah pertumpahan darah yang bakal terjadi setelah harta karun itu ditemukan, menurut keadaan yang sepantasnya memang harus kita pilih tapi sayangnya sudah lama kami tak pernah bergaul dengan orang lain susah rasanya bagi kami untuk mencari manusia seperti yang dimaksudkan. Suma Tiang-cing agak tertegun, tiba-tiba dia berpaling sambil bertanya .

"Thian-hong beranikah engkau memegang jabatan ini?"

Betapa terperanjatnya Hoa Thian-hong setelah mendengar pertanyaan itu, cepat-cepat ia menggelengkan kepalanya.

"Keponakan masih terlalu muda, tidak becus aku untuk memegang jabatan itu, lagi pula dengan watakku dan kemampuanku, siapa yang sudi mendengarkan perkataanku?"

Ca Im taysu termenung sebentar, kemudian dia ikut berkata.

"Aaii....! Sebenarnya hanya seorang yang pantas memegang tampuk pimpinan ini dan orang itu adalah Hoa Hujin, cuma sayang...."

"Sampai dimanakah kepulihan ilmu silat ibumu?"

Tanya Suma Tiang-cing sambil berpaling ke arah pemuda itu.

"Ilmu meringankan tubuhnya sudah pulih kembali dua tiga bagian!"

"Waah.... kalau cuma dua tiga bagian tak mungkin bisa menduduki pucuk pimpinan, sebab bagi orang yang belajar silat hanya akan tunduk kepada orang yang ilmu silat nya lebih lihay, jika mereka harus tunduk kepada seorang manusia yang lemah dan tak berkekuatan apa-apa, siapa yang kesudian tunduk perintah?"

"Bagaimana kalau biar ibuku yang memegang pucuk pimpinan, sedangkan kita semua akan bantunya dari samping?"

"Tidak mantap!"

Jawab Suma Tiang-cing dengan dingin.

"kalau caramu itu bisa dilakukan, apa salahnya kalau biar aku saja yang memegang pucuk pimpinan kemudian kalian membantu aku dari samping?"

"Dosa! Dosa....!"

Ujar Cu Im taysu sambil tertawa.

"perkataan yang sama sekali tak ada manfaatnya, lebih baik tak usah dibicarakan saja daripada buang waktu dan tenaga dengan percuma!"

"Menurut keterangan Cu ing, hingga dewasa ini perkumpulan Sia ki pang masih merupakan satu kekuatan yang amat besar, apabila Kiu-im Kaucu dan Tang Kwik-siu memang memusuhi kaum pendekar dari golongan lain, maka pihak Sin-kie-pang merupakan daya kekuatan yang bi-sa diandalkan untuk mengimbangi kekuatan lawan, apakah pihak Sin-kie-pang bersedia tunduk dibawah perintah jikalau Hoa Hujin yang memegang pucuk pimpinan ini!"

"Heeehh.... heeeh.... heeeh, perkumpulan Sin-kie-pang berambisi besar dan angkuhnya luar biasa, mana mau mereka tunduk kepada perintah kita?"

Seru Suma Tiang-cing sambil tertawa dingin tiada hentinya. Tiba-tiba Lau Cu cing menyela.

"Aku lihat Pek hujin amat menaruh perhatian dan rasa sayang kepada Hoa kongcu, aku rasa setiap perkataan dari Hoa kongcu selalu dituruti olehnya!"

Cu Im taysu tertawa, ia menjawab.

"Pek hujin menyayangi Hoa Thian-hong oleh karena ia mempunyai niat untuk menarik Thian-hong, sebagai menantunya, dia memang seorang nyonya yang bijaksana dan baik hati."

"Hehmm.... heehhm.... aku lihat jika Sin-kie-pang benarbenar disetir oleh Kho Hong-bwee maka bicara soal pribadi maupun soal tugas sudah pasti Thian-hong berada dipihak yang rugi!"

Merah padam selembar wajah Hoa Thian-hong, dia ingin membantah tetapi tak tahu musti berkata dari mana. Liu lojin berkata pula.

"Menggali harta karun bukan suatu pekerjaan yang mudah dan gampang, untuk mengerjakannya kita membutuhkan banyak tenaga dan banyak manusia, aku lihat jumlah anggota perkumpulan Sin-kie-pang banyak sekali mereka adalah suatu kekuatan yang tak boleh dianggap enteng!"

Tiba-tiba sinar setajam sembilu memancar keluar dari mata Suma Tiang-cing dengan blak-blakkan dia menegur.

"Locianpwe berempat, aku lihat kalian toh sangat memahami keadaan situasi dalam dunia persilatan kalau ingin mengatakan sesuatu kenapa tidak diutarakan saja secara terang-terangan?"

Empat datuk dari gunung Huang-san saling berpandangan sekejap, akhirnya Po-yang Lojin berkata dengan serius.

"Terus terang saja kami katakan, bahwa kami berempat sangat setuju kalau Hoa kongcu yang menduduki jabatan sebagai pucuk pimpinan didalam pergerakan ini. Perlu di ketahui bahwa masalah ini menyangkut masalah kekerasan yaitu meliputi kedudukannya dalam dunia persilatan serta kelihayan ilmu silatnya, disamping itu juga menyangkut dalam soal moral yakni meliputi soal kebijaksanaan, adil dan lebih mengutamakan kepentingan umum dari pada kepentingan pribadi. Sudah lama kami berempat berusaha menemukan manusia semacam ini, dan akhirnya kami merasa bahwa diantara sekian banyak orang gagah yang ada didalam dunia persilatan, hanya dia seoranglah yang mampu menandingi Kiu-im Kaucu maupun Tang Kwik-siu, tapi berhubung tugas ini berat dan menyangkut masalah yang lebih besar lagi sedikit salah bertindak bukan saja nama baiknya akan hancur, jiwa akan melayang, menyangkut pula keselamatan orang lain, maka...."

Tidak sampai kakek tua itu menyelesaikan kata-katanya, Suma Tiang-cing telah berpaling seraya menegur.

"Thianhong, bersediakah engkau untuk menerima kedudukan ini?"

Dengan gugup bercampur gelisah, Hoa Thian-hong segera menjawab.

"Apabila tugas ini dapat dilaksanakan secara sempurna dan baik, dunia persilatan tentu akan jadi aman tentram dan damai, cara ini memang jauh lebih baik daripada bertempur dengan pedang atau golok melawan kaum penjahat."

"Benar!"

Sambung Cu Im taysu, bilamana engkau bisa melaksanakan tugas mulia ini dengan sebaik-baiknya, tak malu engkau menjadi seorang manusia didunia ini.

Aku yang muda sama sekali tak berniat tamak atau kemaruk harta, apabila sanggup kulakukan dengan kekuatanku, dengan senang hati akan kuterima tugas berat tersebut, tapi aku merasa bahwa kekuatanku masih terlalu lemah.

"Telur busuk!"

Maki Suma Tiang-cing dengan gusar.

"sebagai seorang laki-laki sejati berani berbuat tentu berani tanggung jawab, bila engkau telah menyanggupinya, apalagi yang muski kau ragukan?"

"Aaaii!"

Cu Im taysu menghela nafas parjang.

"untuk melaksanakan tugas yang maha berat ini, kita memang harus berbuat dengan sungguh-sungguh dan sepenuh tenaga, kalau hanya berdasarkan emosi belaka, mendingan kalau cuma dirinya sendiri yang rugi, kalau sampai mencelakai umat manusia kan berabe?"

Dewasa ini kita tak dapat menemukan orang lain yang cocok untuk memikul tanggung jawab ini, itu berarti tugas ini tak bisa terhindar dari halnya bagaimana musti hati-hati, bagaimana musti bertindak, semuanya itu toh urusan belakangan"

Setelah berhenti sebentar dengan wajah lebih kendor dia melanjutkan kata-katanya.

"Mulai saat ini juga telah menerima tugas itu dan kami semua akan menurut perintahmu, sekalipun aku adalah angkatan yang lebih tua dari padamu tapi sejak kini aku pun tak akan bersikap keras lagi kepadamu dari pada menghilangkan martabatmu dimuka umum"

"Terima kasih atas kasih sayang paman!"

Cepat Hoa Thianhong bangkit dan memberi hormat. Po-yang Lojin segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaahh.... haaah.... haaah....Hoa kongcu sekarang marilah rundingkan soal rencana besar ini lebih jauh!"

Hoa Thian-hong termenung dan berpikir sebentar, kemudian berkata.

"Boanpwe rasa, kata-kata yang telah kita bicarakan di muka tadi tiada halangannya didengar orang luar, tapi kata-kata berikutnya lebih baik untuk sementara waktu kita rahasiakan dulu!"

"Apa maksudmu?"

Seru Suma Tiang-cing dengan wajah berubah hebat.

Sebelum anak muda itu memberikan jawabannya, dari luar ruangan tiba-tiba terdengar seseorang tertawa tergelak menyusul suara dari Kiu-im Kaucu berkumandang diudara.

"Hoa Thian-hong kuucapkan selamat kepadamu karena memangku jabatan tinggi ini, nyonyamu bersedia mendengarkan perin tahmu.... haaah.... haaah...."

Betapa gusarnya Suma Tiang-cing sukar dilukiskan dengan kata-kata, cepat dia melejit dan melayang keluar ruangan itu, kemudian dari atas atap dia melongok keluar.

Beberapa ratus kaki dari bangunan itu terlihatlah Kiu-im Kaucu dengan tongkat kepala setannya sedang berlalu sambil tertawa terbahak-bahak, sungguh cepat gerakan tubuhnya, dalam waktu singkat ia sudah berada jauh sekali dari situ.

Suma Tiang-cing mendengus dingin, setelah mengitari kuil itu satu kali, dia kembali lagi kedalam ruangan, tegurnya ke arah Hoa Thian-hong.

"Sedari kapan setan tua itu tiba disini?"

Keponakan menaruh curiga bahwa dia akan menguntit kita semua, maka secara diam-diam kuperhatikan terus sekitar tempat ini, benar juga, baru saja kita sampai disini, diapun tiba pula keatas ruangan ini, keponakan ingin membuat dia jadi kheki, maka sengaja kubiarkan dia berdiri agak lama diluar sana setelah kita akan membicarakan so al yang penting, barulah kita usir dia pergi Kenapa muski begini!

tanya Suma Tiang-cing dengan dahi berkerut.

Orang itu paling suka mencari urusan, sedikit saja ada angin bertiup atau rumput bergerak, dia merasa harus ikut ambil bagian, kini soal mencari harta karun sudah ketahuan olehnya, makaa diapun pasti akan menyelidiki persoalan ini sampai jelas, bila kita tidak membiarkan dia tahu setelah kita semua pergi, dia pasti akan kembali kemari dan memaksa It Pian suhu untuk menceritakan baginya, malahan mungkin juga akan mencari gara-gara dengan Lan wangwe, padahal Ku Inging juga masih berada ditangannya, karena itu keponakan sengaja hendak membuyarkan perhatiannya"

Mendengar keterangan itu, Po-yang Lojin segera tertawa terbahak bahak.

"Haahh.... haaah.... haaah.... Hoa kongcu engkau benar-benar amat teliti!"

"Locianpwe engkau tak tahu duduknya persoalan ini, boanpwe jadi ketakutan dibuatnya oleh tingkah mereka!"

Po-yang Lojin mengelus jenggotnya dan tertawa, tanyanya.

"Apa rencana kongcu tentang tindakan kita selanjutnya?"

Hoa Thian-hong berpikir sebentar, kemudian jawabnya.

"Pertama-tama boanpwe ingin mohon bantuan dari Lau lo wangwe untuk berkunjung ke perkampungan Liok soat san ceng serta merundingkan rencana penggalian harta karun ini dengan ibuku, istriku adalah seorang yang ahli dalam ilmu racun, kemungkinan besar ia dapat memunahkan pula racun kelabang yang bersarang di tubuh lo wangwe, menurut pendapatku bila usaha pertolongan ini tidak berhasil, toh masih ada kesempatan untuk menyusul ke kota Sam kang stan.

"Rencana ini bagus sekali"

Sahut Cu cing dengan girang.

"sudah lama aku dengar dan kagum atas nama besar to hujin, memang ma salah besar ini harus diberitahukan kepada lo hujin, sedangkan mengenai racun kelabang ini aku lebih baik mati keracunan daripada musti tunduk dan minta belas kasihan dari Tang Kwik-siu!"

"Cu cing! Keberangkatanmu kesana lebih banyak manfaatnya dari pada kerugian"

Kata Po-yang Lojin, tentang soal ini rasanya engkau sendiripun setuju bukan?

sedangkan kami empat saudara adalah kuda-kuda tua yang mengerti jalan, sekalipun nyawa kami sebagai pertaruhan kami berempat tetap akan ikut serta dalam perjalanan menuju bukit kiu ci san, entah bagaimana menurut pendapat Hoa kongcu?"

Tentu saja Hoa Thian-hong tak dapat menolak keinginan orang lain, terpaksa ia berkata.

"Apabila menuruti pendapat boanpwe, lebih baik locianpwe berangkat lebih dahulu keselatan dengan ditemani oleh Cu Im taysu, toh persoalan ini tak mungkin bisa diselesaikan dalam satu dua hari belaka, sepanjang perjalanan menuju sana tentu melelahkan badan, maka dari itu lebih baik boanpwe saja yang berangkat kesana ini hari juga agar bisa meninjau situasi dibukit Kiu ci sambil mengamat-amati gerak-gerik dari Tang Kwik-siu!"

"Bagus sekali, Lo Siansu! Bersediakah engkau menemani kami berempat menuju bukit Kiu ci san?"

Cu Im taysu adalah seorang jago silat kawakan tentu saja dia dapat memahami maksud hati pemuda itu.

Empat datuk dari bukit Huang-san memang sudah tua, ilmu silatnya tak seberapa, itu berarti dia yang bertugas menemani mereka disepanjang perjalanan sebagai pelindung.

Segera sahutnya setelah mandapat pertanyaan itu.

"Dengan senang hati pinceng bersedia menmani locianpwe berempat, silahkan cianpwe berempat yang menetapkan jadwal pemberangkatan!"

"Kami berempat tidak lebih hanya burung-burung bangau liar yang terbang kesana kemari tanpa arah tujuan, baiklah, kita segera berangkat sesudah tinggalkan tempat ini!"

Sementara itu Suma Tiang-cing telah berpaling ke arah Hoa Thian-hong seraya bertanya.

"Bagaimana dengan aku? Kalau engkau ada perintah, silahkan diutarakan tanpa sungkansungkani"

Merah padam selembar wajah Hoa Thian-hong karena jengah, katanya kemudian.

"Setelah berita penggalian harta karun ini tersiar keluar, kawanan jago silat dan orang gagah dari seluruh pelosok dunia akan berdatangan kebukit Kiu ci san, menurut pendapat boanpwee hanya empek Ciu seorang yang tak akan munculkan diri karena masalah ini, sebab sebagai seorang pendekar sejati yang berjiwa besar, tak mengkin ia kesudian turut serta didalam perebutan harta milik orang."

"Benar, Ciu Thian-hau memang tak boleh ketinggalan dalam gerakan ini!"

Komentar Cu Im taysu.

"Baiklah!"

Kata Suma Tiang-cing kemudian.

"akan kuseret dia untuk turun gunung kemudian menyusul kalian kebukiit Kiu ci San!"

"Lo siansu kalan toh kepntusan telah di ambil, bagaimana kalau kita berangkat sekarang juga?"

Tiba-tiba Po-yang Lojin berkata. Buru-buru Cu Im taysu melompat bangun, sahutnya.

"Ini tahun siau ceng baru berusia enam puluh dua tahun kata lo didepan sebutan cianpwe tadi tak berani kuterima!"

Begitulah setelah pertandingan selesai, secara beruntun mereka keluar dari ruangan itu siap berangkat, It piau hwesio yang menghantar keberangkatan para tamunya beberapa kali hendak buka suaranya, tapi setiap kali niat itu dibatalkan.

Cu Im taysu seperti memahami isi hatinya, ia lantas bertanya.

"Suheng, apakah engkau hendak menyampaikan sesuatu pesan?"

It piau hwesio termenung dan sangsi sebentar, akhirnya sepatah demi sepatah kata sahutnya.

Dengan melewati seribu bukit selaksa sungai dan bersusah payah, Tong Sam cong hoatsu berhasil mencapai negeri Thian tok dan berkat belas kasih Sang Buddha, beliau dapat pulang dengan membawa setumpuk kitab sembahyangan, kita sebagai murid Buddha yang maha pengasih.

Ooh kiranya soal itu, Cu Im akan selalu mengingat persoalan itu, seandainya kitab sembahyangan itu benar-benar berada didalam is tana Kiu ci kiong, aku pasti akan berusaha keras untuk mendapatkannya.

Sesudah berhenti sebentar, tiba-tiba bisiknya.

"Apakah suheng juga ingin ikut serta dalam perjalanan menuju kebukit Kiu ci san?"

It piau hwesio tampak agak tertegun setelah mendengar pertanyaan itu, sahutnya tergagap.

"Aku bukan orang persilatan, biar.... biar lah aku mempertimbangkan lagi selama beberapa hari!"

Cu Im taysu mengangguk, ia lantas putar badan dan berlalu mengikuti dibelakang para jago.

Suma Tiang-cing berangkat dulu seorang diri, karena dia harus menuju ketelaga Tay su.

Sedangkan Hoa Thian-hong juga berpisah dengan rombongan, dia langsung kembali ke rumah penginapannya.

Setelah bersantap malam udarapun kian menjadi gelap, seorang diri si anak muda itu duduk termenung dalam kamarnya, ia sedang memikirkan masalah yang menyangkut diri Giok Teng Hujin, akhirnya pemuda itu mengambil keputusan malam nanti dia akan sekali lagi menyelidiki kuil It goan koan, bila perlu diapun akan melakukan perundingan babak terakhir dengan Kiu-im Kaucu.

Sementara ia masih termenung melamunkan banyak persoalan, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk orang.

Hoa Thian-hong agak tertegun kemudian tegurnya.

"Siapa diluar?"

"Aku!"

Jawaban itu amat rendah parau dia sepertinya pernah dikenal.

Berkerut dahi Hoa Thian-hong mendengar jawaban itu, ia meraba gagang pedangnya dan perlahan-lahan membuka pintu kamar.

Tapi ketika sorot matanya membentur di atas wajah pendatang itu, mendadak sekujur badannya gemetar keras.

"Oh, kau...."

Bisiknya lirih.

Ditengah kegelapan seorang gadis baju hitam berkain cadar warna hitam berdiri di luar pintu, Pui Che-giok sambil membopong Soat-ji berdiri dibelakang gadis berkerudung ini.

Begitu melihat kemunculan Pui Che-giok serta Soat-ji, serta-merta Hoa Thian-hong lantas menduga bahwa gadis berkerudung hitam yang berada dihadapan matanya sekarang tak lain adalah Giok Teng Hujin.

Sekalipun sudah menduga sampai kesitu, pemuda itu masih tampak agak sangsi, bukankah Giok Teng Hujin lebih gemuk dan lebih montok dari pada gadis dihadapannya sekarang?

Dan lagi andaikata dia adalah Giok Teng Hujin, mengapa raut wajahnya ditutup oleh kain cadar berwarna hitam?

Tatkala gadis berkerudung hitam itu menyaksikan kekagetan Hoa Thian-hong, dua titik air mata tanpa terasa menetes keluar membasahi pipinya dibalik kata cadar, bisiknya lirih.

"Thian-hong!"

Semakin tergetar perasaan hati Hoa Thian-hong sebelah mendengar panggilan itu, ia genggam sepasang tangan gadis itu erat-erat lalu bisiknya pula dengan gemetar, Gadis berkerudung itu memang tak lain adalah Giok Teng Hujin, tapi segala sesuatunya telah berubah, tubuhnya berubah jadi kurus kering, dandanan serta pakaiannya jauh lebih sederhana, gerak-gerik maupun suara pembicaraannya berubah jadi berat dan kaku, gadis itu seolah-olah telah berubah jadi manusia lain.

Lama sekali kedua orang itu berdiri saling berhadapan muka, mereka tak bergerak maupun berkutik sementara empat mata saling berpandangan dengan air mata jatuh bercucuran.

Pui Che-giok melewiti dua orang itu dan masuk kedalam kamar sambil memasang lentera, bisiknya.

"Kongcu silahkan duduk!"

Hoa Thian-hong menghela napas panjang, sambil bergandengan tangan mereka masuk kekamar dan duduk bersanding diatas pembaringan. Pui Che-giok menampilkan sekulum senyvman paksa, katanya.

"Ini hari nona belum bersantap biarlah kuperintahkan pelayan untuk siapkan hidangan."

Selesai berkata ia lantas berlalu. Sepeninggal dayang itu, Hoa Thian-hong mengamati wajah perempuan itu beberapa saat, kemudian sambil memberanikan diri tanyanya.

"Cici, bagaimana dengan wajahmu?"

"Wajahku kena penyakit, aku tak ingin menunjukkan di hadapanmu!"

Jawab Giok Teng Hujin dengan lirih. Setelah mengetahui kalau wajah gadis itu tidak cedera, diam-diam Hoa Thian-hong menghembuskan napas lega, ia tersenyum dan kembali katanya lagi.

"Aaahh....! Kiranya cuma urusan kecil, perlahan-lahan toh akan sembuh dengan sendirinya, aku jadi menguatirkan kalau wajahmu cedera berat!"

Perlahan-lahan Giok Teng Hujin berpaling.

"Seandainya wajahku cedera dan rusak? bagaimana perasaan hatimu?"

Ia bertanya.

"Aaai! Padahal apa bedanya ruasak atau tidak, asal pikiran cici bisa lebih terbuka, bagi aku sih bukan soal"

"Coba rabalah wajahku tapi kau musti meraba dengan memakai punggung tangan jangan pakai telipak tanganmu!"

Hoa Thian-hong tertegun dan tidak habis mengerti oleh perkataannya tapi dia tahu gadis itu berkata demikian sudah pasti dikarenakan ada sebab-sebab tertentu.

Tanpa terasa ia membayangkan kembali kejadian masih berada dalam kuil It goan koan ketika sedang melaksanakan siksaan api dingin melelehkan sukma, perempuan itu pun berusaha menyembunyikan wajahnya dengan rambut yang panjang, semakin gadis itu merahasiakan wajahnya Hoa Thian-hong merasa makin curiga dan ingin tahu.

Akhirnya dia menyikap kain cadar itu dan merabanya dengan punggung tangan, ia menemukan wajah dara itu masih tetap utuh dan tidak mengalami cedera apa-apa, cuma wajahnya sekarang bertambah kering dan kehilangan kehalusan, kelembutan serta kekonyolannya dimasa lalu.

"Apakah sudah kau rasakan?"

Tanya Giok Teng Hujin kemudian dengan nada murung. Hoa Thian-hong tertawa geli.

"Aku tidak merasakan apa-apa, aku lihat engkau yang telah membesar-besarkan suatu masalah yang sebetulnya kecil!"

Dengan sedih Giok Teng Hujin menghela napas panjang, kembali ia berkata.

"Aaii....! Kau anggap siksaan api dingin melelehkan sukma adalah suatu penyiksaan mainan yang bisa dibuat sebagai bahan gurauan? Api dingin dari lentara itu sudah memusnahkan masa mudaku, sekarang aku sudah menjadi tua"

Pertama-tama Hoa Thian-hong agak terperanjat, tapi sebentar kemudian ia sudah tertawa seraya berkata.

"Tua biarkanlah jadi tua, toh makin meningkat usia seseorang, wajahnya juga akan ikut berubah jadi tua, siapa yang dapat awet muda terus?"

Giok Teng Hujin tundukkan kepalanya dengan sedih.

"Tapi engkau toh belum tua bisiknya lirih, dahulu saja aku tak bisa menangkan Chin Wan-hong serta Pek Run gie, apa lagi setelah wajahku jadi tua dan peyot, lebih-lebih tak dapat kutandingi kecantikan mereka berdua!"

Hoa Thian-hong tertawa, tertawa dengan suara dan nada yang berat memilukan.

"Aku tahu, bila aku terlalu banyak memberikan penjelasan serta keterangan maka engkau malahan tak akan mempercayai diriku lagi, pokoknya engkau boleh ingat baikbaik, biar langit jadi gersang tanah jadi tua namun cintaku padamu tak akan tua, bagaimanapun berubah jadi tua, dalam hati kecilku engkau selamanya tetap kau. Aasai....Sekali pun engkau secara tiba-tiba dapat berubah jadi seorang dara berusia belasan aku tak dapat memberikan cinta yang lebih banyak kepadamu sekalipun kau berubah jadi nenek-nenek yang peyot dan rambut telah berubah semua, akupun tak dapat memberikan cinta yang lebih sedikit padamu asal kau ingat saja bahwa samudera boleh mengering batu boleh menjadi lapuk namun cintaku padamu tidak akan berubah untuk selama-lamanya!"

Giok teng hajin termenung untuk beberapa saat lamanya, kemudian ia berkata lagi.

"Rupanya semakin lama engkau semakin pandai berbicara, perka-taanmu pun makin lama semakin dewasa, apakah selama ini kau hidup dalam segala kemurungan dan segala kesulitan?"

Hoa Thian-hong mengangguk.

"Pek Kun-gie terjatuh ke tangan Tang Kwik-siu dan sekarang aku menemukan pula masalah pencarian harta karun, jalan yang terbentang didepan mata jelas banyak rintangan dan kesulitan, berhasil atau gagal sukar diramalkan mulai sekarang, kalau tugasku tidak terlalu berat, kenapa tiap hari aku musti bermuram durja? Aaaai! Engkaupun harus mengepos semangat dan tenaga untuk membantu aku dalam penyelesaian tugas-tugas ini."

"Apa sangkut pautnya antara aku dengan urusannya Pek Kun-gie?"

Tanaya Giok Teng Hujin sambil tertawa. 0000O0000 Hoa Thian-hong miringkan kepalanya lalu tertawa, sahutnya.

"Untuk mengatasi masalah yang ada didunia ini, segala sesuatunya tergantung pada diri sendiri, misalnya dalam masalah Pek Kun-gie mau tak mau aku harus mengurusinya, dan masalahku, mau tak mau engkau pun harus mencampurinya pula, bila Thian telah mengatur segala sesuatunya secara rapi, siapakah yang dapat membangkang perintah Nya?"

Setelah mendengar perkataan itu, tanpa sadar Giok Teng Hujin merasakan dada dan perasaan hatinya jauh lebih segar, lega dan terbuka, bagaimanapun juga ia merasa bahwa didunia ini masih ada seseorang yang masih membutuhkan hiburan serta bantuannya, hal ini membangkitkan kembali gairahnya untuk hidup.

Sambil tertawa cekikikan ujarnya.

"Kalau toh Pek Kun-gie berada dalam keadaan bahaya, kenapa engkau tidak merasa sedih ataupun gelisah, mau apa engkau berkeliaran ke kota Cho ciu bukannya pergi menolong si dia?"

Hoa Thian-hong tertawa getir.

"Kenapa lagi kalau bukan lantaran kau?"

Sahutnya. Kemudian sambil menunjuk kedepan, dia melanjutkan.

"Sewaktu aku berjumpa muka dikota Cho ciu tempo hari penemuan itu dilangsungkan dalam kamar itu maka setelah datang kembali kesini tanpa kusadari aku telah kembali lagi kekamar ini masa engkau masih belum paham dengan perasaan hatiku pada dirimu?"

Giok Teng Hujin tertawa cekikikan meski pun dihati ia merasa hangat dan mesra namun diluaran sahutnya dengan suara hambar.

"Jangan omong sembarangan, perempuan hidup lantaran cinta, pokoknya separuh hidupku selanjutnya adalah tanggung jawabmu."

Hoa Thian-hong tertawa ringan.

"Eeh cici, aku adalah seorang laki-laki yang tak tahu budi, lagipula nasibku jelek, kunasehati dirimu lebih baik cepatlah sadarkan diri dan mencari tulang punggung yang lebih baikkan!"

Giok Teng Hujin tertawa cekikikan, setelah berhenti sebentar dia lantas alihkan pokok pembicaraan kesoal lain, ujarnya dengan suara lantang.

"Setelah Kiu-im Kaucu tahu bahwa engkau adalab penyelenggara pencarian harta karun seketika itu juga aku dibebaskan, katanya hukuman siksaan untuk sementara waktu di tunda dulu, ia perintahkan aku membuat pahata untuk menebus dosa."

"Bagaimanakah jawabanmu?"

Tanya Hoa Thian-hong dengan dahi berkerut kencang"

Giok Teng Hujin tertawa merdu.

"Aku jawab lihat saja perkembangannya nanti, aku akan berbuat dengan segala kemampuanku. Hmmmm! Aku nyaris mati ditangannya, sejak itu pula aku sudah tak pandang sebelah matapun terhadap kancu itu."

"Aku tahu persoalan ini tak akan berakhir dengan begitu saja, tampaknya ia memang harus dibikin mampus!"

Kata Hoa Thian-hong sambil tertawa getir.

"Kembalikan kecantikan dan kelembutan wajahku!"

Tibatiba Giok Teng Hujin berseru dengan manja.

"Tapi bagaimana caranya?"

Tanya Hoa Thian-hong dengan sepasang mata terbelalak besar dan lagi engkau toh baru saja menjalankan siksaan sudah tentu wajahmu jadi agak layu dan kusut!"

"Layu?"

Seru Giok Teng Hujin "wajahku sudah berkeriput, sudah jadi tua!"

Mula-mula Hoa Thian-hong agak tertegun kemudian sambil tertawa sahutnya.

"Aku tidak merasa keberatan sekalipun kau jadi tua pokoknya kan hati kita telah berpadu menjadi satu?"

"Hmmm kau pintar omong kosong, janjimu muluk aku tak punya gairah untuk hidup lebih lanjut!"

Setelah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh.

"Didalam istana Kiu ci kiong terdapat banyak sekali obat mujarab, sekalipun harus pertaruhkan nyawamu engkau harus mendapatkan untukku, agar keriput-keriput diwajahku hilang semua dan kembali di masa muda, kalau tidak.... Hemm! Aku akan mati didepan matamu...."

Hoa Thian-hong tertegun, serunya cepat.

"Istana Kiu ci kiong sudah hampir seratus tahun lebih tenggelam keperut bumi, sekali pun ada obat mujarab yang bagaimanapun bagusnya toh akhirnya akan berubah jadi pasir."

"Tidak mungkin, Kiu-ci Sinkun adalah seorang manusia yang cerdas dan berpengetahuan tinggi, tidak mungkin dia akan membiarkan obat obat mujarab itu hancur menjadi abu, obat mujarab itu tentunya telah disimpan secara baik-baik!"

Setelah berhenti sebentar ia melanjutkan kembali katakatanya.

"Kalau engkau tidak dapat mencarikan obat mnjarab yang bisa menghilangkan keriput-keriput diatas wajahku, maka engkau harus carikan sejenis ilmu sakti yang dapat mengembalikan kecantikan serta masa mudaku akan kucari suatu tempat yang sepi dan terpencil untuk melatih ilmu kepandaian tersebut, selama masa latihanku engkau hendak mencari tiga istri empat gundik aku tak mau tahu, pokoknya setiap setengah tahun sekali, engkau harus berkumpul selama beberapa hari dengan aku, menanti benar-benar sudah menjadi tua, hubungan kita baru putus jadi dua!"

Mendengar perkataan itu, Hoa Thian-hong lantas berpikir di dalam hati kecilnya.

"Po-yang Lojin selalu menegaskan bahwa penyelenggara pencarian harta karun ini adalah seorang yang jujur dan tidak punya jiwa korupsi, barang-barang yang bukan menjadi miliknya tidak diperkenankan untuk diambil bagi diri sendiri, kalau sekarang ku-sanggupi permintaan Ku Ing-ing untuk mendapatkan kitab pusaka awet muda serta obat mujarab, kemudian Kun gie juga pesan satu dua macam, Wan hong juga pesan satu dua macam kemudian para cianpwe minta pula satu dua macam, bagaimana caraku bisa membagi isi harta karun itu secara adil dan bijaksana?"

Terdengar Giok Teng Hujin berkata lagi dengan murung.

"Aku lihat dahimu berkerut daa mulutmu membungkam, perasaan hati mu tampak sangat berat, persoalan apakah yang membuat engkau merasa serba salah?"

Hoa Thian-hong tertawa kering.

"Aku sedang berpikir, jujur dan tidak korupsi memang gampang diucapkan tapi hakekatnya sukar untuk dilaksanakan!"

"Kalau manusia tidak berusaha untuk kepentingan diri serdiri, dunia akan kiamat dengan cepat, perduli amat jujur atau tidak korupsi atau tidak, selama engkau adalah manusia maka kau tak akan terlepas dari sifat mementingkan diri sendiri, kecuali bila engkau adalah seorang manusia super ajaib."

"Bagaimana maksudmu?"

Tanya sang pemuda sambil tertawa.

"Air yang jernih tak akan ada ikannya, manusia yang jujur tak akan ada temannya, kalau engtau ingin menjadi seorang manusia yang jujur, bijaksana dan tidak korupsi, maka bersiap-siaplah untuk menjadi seorang manusia sebatang kara yang tidak disenangi orang lain."

Setelah berhenti sebentar, dia menambahkan.

"Pokoknya bagaimanapun juga bila, kau tak dapat memenuhi harapanku ini maka aku akan beradu jiwa dengan dirimu, biar kita menjadi suami istri setan saja di alam baka!"

Hoa Thian-hong dibuat serba salah oleh tingkah laku perempuan itu, untung Pui Che-giok masuk sambil menghidangkan santapan sehingga si anak muda itupan bisa terlepas dari keadaannya yang serba salah.

Sambil menggandeng tangan pemuda itu, Giok Teng Hujin bangkit dan duduk di meja perjamuan, katanya.

"Aku dan Che giok akan bersantap, kau duduklah disini menemani aku sambil menceritakan soal harta karun dibukit Kiu ci san, kentongan ketiga tengah malam nanti kita segera berangkat"

"Biarlah aku berangkat lebih dulu, sedang kau dan Che giok beirstirahat beberapa hari dulu dikota Cho chiu, setelah kesehatan badanmu pulih kembali...."

Cepat Giok Teng Hujin gelengkan kepalanya.

"Tidak, aku malahan ingin bersayap sehingga bisa sekali terbang tiba di bukit Kiu ci san dan angkat cangkul menggali sendiri tempat terkuburnya harta karun itu"

Xxxx xxxx Bukit Kiu ci san adalah serentetan bukit tinggi dengan sembilan buah patahan yang terjal diantara patahan-patahan terjal itu tergan tunglah air terjun yang tinggi dan deras.

Pada patahan terjal yang ketujuhlah istana Kiu ci kiong terpendam, tempat itu merupakan bukit yang tertinggi diantara sekian banyak bukit yang tersebut disana sini.

Seratus tahun berselang istana itu berdiri angker dipuncak bukit tersebut warna keemasan ysng mentereng dapat terlihat sendari puluhan li jauhnya.

Tapi setelah mengalami banyak kejadian yang berubahubah kini istana Kiu ci kiong sudah lenyap dari permukaan tanah bahkan puing-puingpun tidak nampak.

Pagi itu di atas bukit telah kedatangan berombongan manusia yang berbaju kuning, rombongan itu dipimpin oleh ketua Seng sut pay yang lebih dikenal sebagai ketua Mo-kauw, Tang Kwik-siu.

Satu-satunya anggota perempuan yang ikut serta rombongan itu memang tak lain adalah Pek Kun-gie yang cantik jelita bak bidadari dari kayangan, putri kesayangan ketua Sin-kie-pang sedangkan keenam belas orang lainnya terdiri dari murid-murid Tang Kwik-siu termasuk diantaranya adalah Kok See-piauw.

Rombongan itu akhirnya mencapai puncak bukit yang tinggi itu, dihadapan mereka terbentanglah sebuah air terjun yang deras airnya, lebar telaga penampang air di bawah air terjun itu mencapai empat kaki dengan kedalaman lima depa.

Disamping telaga batu cadas tersebar disana sini semak belukar yang tinggi hampir menyeltmuti seluruh permukaan tanah.

Lama sekali Kok See-piauw mengamati keadaan disekeliling tempat itu, lalu tanyanya.

"Suhu, masakah istana Kia ci kiong terpendam di bawah air terjun ini?"

Tang kwik termenung sebentar lalu menggeleng.

"Aku rasa tidak, malahan mungkin berada dibawah tebing yang terjal ini!"

Sahutnya Seorang manusia aneh bermuka jelek berambut dan beralis mata merah yang berada disisi kiri Tang Kwik-siu segera berseru.

"Kalau toh sasarannya sudah diketahui, kita segera buntu aliran air ini dan mulai melakukan penggalian!"

Orang ini bertema Hong Liong murid tertua dari Tang Kwiksiu dengan membawa sekawanan adik seperguruan belum lama tiba didaratan Tionggoan untuk bergabung dengan gurunya.

Ketika mendengar perkataan tersebut, Tang Kwik-siu segera mengerutkan dahinya rapat-rapat.

"Menurut petunjuk dari Cousu ya, istana Kiu ci kiong didirikan diatas sebidang tanah yang luasnya mencapai seribu hektar, begitu luas dan besarnya tempat itu sehingga hari keempat setelah tanah merekah, semua bangunan itu baru terkubur kedalam perut bumi, untuk melakukan penggalian kita harus menemukan lebih dahulu pintu masuknya serta jalan utama yang berhubungan dengan istana itu, sekalipun kita lakukan penggalian, sepuluh sampai setengah bulan pun belum tentu bisa kita selesaikan pekerjaan penggalian ini.

"Lalu apa yang musti kita lakukan?"

Tanya Hong Liong dengan dahi berkerut.

"Untuk melakukan pekerjaan besar ini, kita harus bekerja sama dengan orang-orang persilatan dari daratan Tionggoan, kalau tidak begitu, kenapa kita tidak diam-diam saja meluruk kesini untuk menggali tanah, sebaliknya musti memutar kayun dan mengejutkan semua jago didaratan Tionggoan?"

Sementara itu Pek Kun-gie sedang berdiri ditepi kolam sambil memandang pesona air terjun dihadapannya, keatika mendengar perkataan itu dia lantas berpaling dan memandang ke arah lawannya dengan sorot mata yang dingin dan tajam, setajam sembilu.

Tang kwik Sin segera tertawa terbahak-bahak.

"Haahh.... haaah.... haaaahh.... selama beberapa hari belakangan ini sikapmu mengalami perubahan besar, seakanakan telah berubah jadi manusia lain, bolehkah aku tahu apa sebabnya?"

Paras muka Pek Kun-gie dingin, ketus dan kaku, bukanya menjawab dia malah bertanya.

"Kalau kudengar dari pembicaraanmu barusan, tampaknya engkau sengaja membocorkan rahasia harta karun ini kedalam dunia persilatan?"

"Haaah.... haah.... haah...."

Tang Kwik-siu tertawa angkuh.

"meskipun orang persilatan didatatan Tionggoan rata-rata licik dan banyak akalnya, akupun bukan seorang manusia yang tak betotak. Haaah haaah.... kalau aku sampai jatuh kecundang ditangan seorang budak seperti kau bukankah itu namanya perahu yang terbalik dalam selokan?"

Habis berkata, kembali dia tertawa terbahak-bahak. Pek Kun-gie mendengus dingin.

"Hemm! Jadi kalau begitu, engkau memang sengaja hendak menggunakan diriku untuk membocorkan rahasia harta karun ini kepada dunia luar?"

"Boleh juga kalau engkau menuduh diriku, tapi tahukah engkau dimanakah letak kelihayanku ini?"

Tanpa berpikir panjang, dara itu segera menjawab.

"Gampang sekali untuk menjawab pertanyaan ini, bukankah engkau kuatir ditunggangi orang lain bila engkau yang mencari orang lain untuk bekerja sama? Maka daripada menguntungkan orang lebih baik engkau menanti orang lain yang datang mencari dirimu sehingga dengan leluasa kau dapat mengajukan syarat?"

Sekali lagi Tang Kwik-siu tertawa tebahak-bahakk.

"Haaah.... haaah.... haaah engkau memang sangat cerdik tapi aku lihat sikapmu beberapa hari belakangan ini berubah jadi dingin dan lamban mendatangkan antipati bagi mereka yang memandang, apakah aku boleh tahu sebab musababnya?"

"Engkau toh mengakui dirimu sebagai seorang manusia cerdik, Hmm! Rapanya soal inipun tidak kau pahami"

"Haaah.... haaah.... haaah.... hati orang perempuan bagaikan jarum didasar samudra sekalipun aku sudah berpikir selama beberapa hari toh tidak dapat kutemukan sebab musababnya tapi aku yakin engkau bukan sengaja memperlihatkan kepada kami"

Setelah berhenti sebentar, sambungnya lagi.

"Bila kau tak ingin racun dari kelabang langit itu bersarang dalam tubuhmu, sekarang juga aku dapat memunahkannya dari bagimu"

"Tidak perlu!"

Jawab Pek Kun-gie ketus.

Kiranya orang-orang dari Seng Sut pay menyebut kelabang tersebut sebagai kelabang langit, racunnya ganas dan luar biasa kejinya.

Pek Kun-gie telah digigit oleh kelabang tersebut setelah ditangkap orang-orang Seng Sut pay ini, racun keji binatang itu sudah lama bersarang dalam tubuhnya, dan kini Tang Kwik-siu secara sukarela hendak memunhakan racun itu bagi Pek Kun-gie, sebenarnya hal ini merupakan satu kesempatan yang paling baik untuk membebaskan diri dari pengaruh racun itu.

Apa mau dikata, gadis itu malahan menolak tawarannya itu, malahan sikapnya tetap dingin dan kaku, tindakannya ini tentu saja membuat Tang Kwik-siu yang kejam dan berotak tajampun jadi kebingungan sendiri.

Sementara itu Pek Kun-gie setelah menyelesaikan kata-kata tersebut, sikapnya amat dingin dan hambar.

Kok See-piauw mengikuti semua gerak-gerik dara itu dengan pandangan tajam, paras mukanya tampak berubah hebat dan hawa gusar menyelimuti wajahnya tapi ia tak berani mengatakan sepatah katapun.

Dengan mata melotot, Hong Liong mengamati bayangan punggung Pek Kun-gie dengan mendelong, tiba-tiba tanyanya.

"Suhu, mungkinkah budak ini hendak mengakhiri hidupnya dengan cara itu?"

Orang ini termasuk seorang iblis yang ganas, bengis dan memandang nyawa manusia bagaikan benda yang tak berharga, tapi terhadap Pek Kun-gie yang cantik jelita ia merasakan sesuatu perasaan yang aneh, ia merasa sekalipun tak mungkin dirinya bisa memperoleh benda yang sangat indah itu namun diapun kuatir kalau tiba-tiba benda yang indah itu musnah dengan sendirinya.

Tiba-tiba Kok See-piauw mendengus dingin.

"Hmmm! Mungkin bagi toa suheng merasa agak asing deagan gaya dan gerak-geriknya itu, buat siaute sih sudah biasa.... lagu lama!"

"Ooh.... iya? Kenapa?"

Tanya Hong Liong dengan perasaan tertarik, sinar matanya berkilat.

"Dulu-dulunya dia memang telalu bersikap demikian sekalipun tatkala untuk pertama kalinya bertemu dengan bocah keparat she Hoa sikapnya juga tetap dingin kaku dan sedikitpun membawa ciri-ciri kewanitaannya"

"Bagaimana selanjutnya?"

Tanya Hong Liong semakin tercengang Dengan gemas dan penuh kebencian, Kok See-piauw melanjutkan kata-katanya lebih jauh.

"Akhirnya dia bertemu kembali dengan bocah keparat she Hoa itu dikota Cho ciu, entah apa sebabnya tiba-tiba ia terpesona dan terpikat oleh pemuda bangsat itu, sejak jatuh cinta sikapnya yang dingin dan hambar itu tersapu lenyap, sebagai gantinya senyum dan gelak tertawa selalu menghiasi wajahnya...."

"Lalu semanjak kapan sikapnya berubah kembali jadi dingin dan hambar?"

"Dua hari sebelum toa suheng tiba disini, padahal kamipun tidak bersikap kasar kepadanya"

Tiba-tiba Tang Kwik-siu tertawa terbahak-bahak, lalu serunya.

"Haaahh haahh haaah kiranya begitu sekarang aku paham sudah!"

"Suhu, apa yang kau pahami?"

Cepat Hong Liong bertanya dengan perasaan ingin tahu. Menyaksikan sikap serta tingkah laku muridnya yang begitu ingin tahu, kembali Tang Kwik-siu berpikir.

"Aaai, rupanya setiap orang memang suka akan gadis yang cantik, kembali ada seorang yang akan cemburu olah karena soal perempuan!"

Sementara dalam hati ia berpikir demikian, dimulut sahutnya sambil tertawa, Pastilah budak ini merasa gemas dan jengkel lantaran Hoa Thian-hong tidak muncul juga ditempat ini, maka akhirnya kemarahan dan kejengkelannya dilampiaskan kepada kita.

Mendengar penjelasan dari gurunya ini, hawa nafsu membunuh seketika menyelimuti wajah Hong Liong, serunya dengan cepat.

"Oooh kiranya begitu, mendingan kalau keparat she Hoa ini tidak datang, kalau ia berani datang kesini maka aku segera akan mencabut jiwa anjingnya, baik atau jelek kita barus memboyong budak ini kembali ke Seng sut Pay!"

Tang Kwik-siu menarik muka, katanya.

"Orang persilatan didaratan Tionggoan rata-rata licik dan banyak akal, bubungan masing-masing pihakpun sangat kacau dan tidak karuan, engkau tahu kenapa aku tidak manfaatkan kesempatan yang sangat baik ini untuk menyelesaikan soal penggalian harta karun? Hal ini lantaran kau kurang cermat dan otakmu tidak jalan, kepandauanmu juga tak mampu menandingi orangorang persilatan didaratan Tionggoan, makanya aku tak berani menyerahkan tugas mencari harta karun ini kepadamu."

Sepasang mata Hong Liong melotot besar, serunya dengan penasaran.

"Dengan tenagaku seorang aku bisa menaklukkan sepuluh perkumpulan, masa dengan kemampuan seperti ini aku tak dapat menandingi pula jago-jago silat dari daratan Tionggoan? Hmm! Kalau prinsipku, ketemu satu bunuh satu, ketemu sepasang bunuh sepasang, sekalipun mereka berakal licik, akan kubuat mereka tak mampu untuk menggunakannya...."

Tang Kwik-siu tertawa dingin.

"Hemm! Kalau begitulah prinsipmu, maka selamanya jangan harap kau bisa pulang ke wilayah Seng Sut hay"

Hong Liong sangat tidak puas dia malah hendak mencoba membantah, akan tetapi selelah dilihatnya paras muka gurunya rada aneh, terpaksa ia menahan diri.

Perlahan-lahan Tang Kwik-siu alihkan kembali pandangannya ke arah bayangan punggung Pek Kun-gie, lalu dengan suara dalam ia berkata.

"Malam ini atau besok malam, orang-orang dari Sin-kie-pang serta Hoa Thian-hong pasti akan berdatangan kemari, selama aku tak ada di-tempat ini, kemanapun Pek Kun-gie hendak pergi lebih baik kalian jangan coba menghalangi dan kalianpun dilarang mencari gara-gara dengan siapapun, mengerti?"

Diam-diam Kok See-piauw merasa amat gelisah, ia lantas berseru.

"Kalau toh memang begitu, kenapa kita musti memboyong dirinya datang kemari?"

Tang Kwik-siu tersenyum.

"Tentu saja aku mempunyai maksud-maksud tertentu dan rahasia di balik rencanaku ini tak perlu kalian ketahui"

Selesai berkata, ia lantas perintahkan muridnya untuk mencari kayu dan membangun rumah papan disitu sebagal persiapan untuk tinggal lama disitu, sedang dia seorang diri menuruni lembah dan bergerak menuju kealiran air dari kolam itu....

Hong Liong memerintahkan adik seperguruannya untuk bekerja, tatkala senja menjelang tiba mereka telah berhasil mendirikan beberapa rumah kayu yang sederhana dan selang sesaat rembulan telah muncul menerangi seluruh jagad.

Ditengah remang-remangnya suasana, belasan sosok bayangan manusia dengan gerakan yang sangat cepat bagaikan sambaran kilat bergerak mendekat, Hong Liong yang bermata tajam segera menegur dengan suara lantang "Siapa yang datang?"

Tiada jawaban hanya salah seorang perempuan diantara anggota rombongan itu pun menyapa.

"Kun gie...."

Pek Kun-gie masih termangu-mangu ditepi jurang ketika secara tiba-tiba mendengar suara panggilan dari ibunya, ia tampak terpe-ranjat sehingga tubuhnya bergetar keras, buruburu dia menyongsng maju kedepan.

Tatkala menyaksikan putri kesayangannya tidak mengalami cedera, Kho Hong-bwee merasa sangat lega, sinar matanya segera dialihkan ke arah beberapa buah rumah kayu yang barusan selesai dibangun itu.

Sementara itu, rombongan anak murid partai Seng sut hay yang mendengar tibanya s kelompok musuh segera berlari keluar dari rumah-rumah kayu itu, oleh sebab Tang Kwik-siu telah memberikan pesannya maka mereka tak berani mencari urusan.

Pek Soh-gie memburu maju kedepan, sambil merangkul adiknya dia menegur penuh perhatian.

"Adikku, tidak apa-apa bukan?"

Pek Kun-gie menggelengkan kepalanya, biji mata yang jeli kembali dialihkan ke arah rombongan yang baru tiba, dugaannya ternyata tak meleset, kekasih hati yang selalu dirindukan selama ini benar-benar belum munculkan diri.

Seketika itu juga dia merasa amat kecewa dan putus asa, hatinya terasa jadi remuk redam, ingin sekali dia menggorok lehernya untuk menghabisi hidupnya sendiri.

Para anggota perkumpulan Sin-kie-pang telah berdatangan semua, mereka pada maju memberi hormat dengan wajah berseri, sebaliknya Pek Kun-gie tetap menunjukkan wajah yang dingin, kaku dan hambar tiada jawaban yang terdengar, mulutnya selalu membungkam seakan-akan dia sama sekali tidak merasa gembira karena bebas dari tawanan.

Kho Hong-bwee yang cermat segera dapat menemukan keadaan yang kurang beres itu, dengan hati terperanjat segera tanyanya dengan suara dalam.

"Apakah engkau sudah dirugikan!"

Perlu diketahui kecantikan Pek Kun-gie bak bidadari dari kahyangan, gadis cantik jelita seperti dia bila sampai terjatuh ketangan lawan maka keadaan tersebut ibaratnya domba dimulut harimau siapapun merasa tidak berlega hati.

Sebagai seorang dara muda, kesucian badan merupakan hal yang kadangkala lebih penting dari pada nyawa sendiri, tentu saja Kho Hong-bwee amat kuatir kalau putrinya telah dinodai oleh lawan.

Tentu saja dia tak menyangka kalau Pek Kun-gie bernasib mujur lantaran kecantikan wajahnya itu, oleh karena kecantikan wajahnya sukar dicarikan tandingan dikolong langit, maka orang menganggapnya sebagai suatu benda seni yang tak ternilai harganya membuat siapapun yang memandang merasa suka dan setelah suka tak ingin merusaknya siapapun merasa tak tega untuk menghancurkannya dengan begitu saja.

Selama ini Pek Kun-gie memang telah mengiringi anak murid partai Seng sut pay untuk melakukan perjalanan sejauh sepuluh laksa li, sepanjang jalan siapa pun melamunkan hal yang tidak-tidak, apalagi Tang Kwik-siu sebagai seorang ketua dari suatu perguruan besar, tentu saja lamunannya jauh lebih hebat daripada anak muridnya.

Sekalipun begitu ia selalu merasa bahwa memperkosa Pek Kun-gie dengan suatu paksaan merupakan suatu tindakan yang keliru besar, perbuatannya itu pasti akan merusak pemandangan, dan lagi pihak Sin-kie-pang maupun Hoa Thian-hong pasti tak akan melepaskan dirinya dengan begitu saja, itu berarti pula dia akan merusak rencana besarnya untuk menggali harta karun.

Dengan dasar pelbagai alasan inilah, Tang kwiw Siu selalu mawas diri dan menahan nafsu untuk tidak sampai menodai Pek Kun-gie yang cantik, ini bukan berarti dia telah melepaskan dara itu dengan begitu saja, ia sendiripun masih punya keinginan untuk melakukan perbuatan tersebut bilamana dikemudian hari ada kesempatan.

Begitulah, tatkala mendengar pertanyaan dari ibunya, Pek Kun-gie segera memahami arti yang dimaksudkan, cepat ia menggeleng.

"Aku belum dirugikan!"

Sahutnya hambar. Setelah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh.

"Ibu tak usah kuatir, putri dari ketua Sin-kie-pang tidak mungkin akan melakukan perbuatan yang memalukan ayah ibunya!"

"Bagus! Punya semangat"

Tiba-tiba seseorang memuji dengan suara yang lantang.

Mendengar seruan tersebut, orang-orang dari perkumpulan Sin-kie-pang pada terperanjat dan serentak mereka berpaling ke arah mana berasalnya suara itu.

Hong Liong waktu itu berada didepan rumah, dia mengira Hoa Thian-hong telah datang, segera tubuhnya berkelebat kedepan dan menghalangi jalan lewat tempat itu seraya membentak.

"Bocah keparat she Hoa, temui dahulu taoya mu!"

Bong Pay ikut naik darat ia membentak.

"Bangsat, kawanan tikus darimana berani bertingkah disini, aku Bong Pay akan menemui dirimu lebih dulu!"

Begitu selesai berkata, ia lantas menerjang kedepan tapi ia keburu ditangkap oleh Kho Hong-bwee sehingga tak bisa berkutik.

Tampaklah tiga orang laki-laki munculkan diri dari balik hutan siong kurang lebih seratus kaki didepan sana, orang pertama adalah, seorang laki-laki besar dan jangkung dengan bau warna merah wajahnya gagah dan jenggotnya panjang, siapa lagi orang itu kalau bukan Pek Siau-thian ketua dari perkumpulan Sin-kie-pang.

Melihat siapa yang muncul, Pek Kun-gie segera memburu kedepan sambil menerjang kedalam pelukan kakek itu sambil serunya.

"Ayah!"

Air mata tak bisa dibendung lagi segera bercucuran dengan derasnya.

Perlu untuk diketahui, Pek Soh-gie dibesarkan oleh ibunya sedangkan Pek Kun-gie dibesarkan oleh ayahnya jadi hubungan maupun wataknya lebih mirip ayahnya dari pada ibunya.

Oleh sebab itu ketika Kho Hong-bwee yang datang, Pek Kun-gie masih dapat menahan diri tapi begitu Pek Siau-thian yang tiba, rasa sedih yang ditahan-tahan selama ini tak mampu kendalikan lagi semuanya segera meluncur keluar.

Dengan halus dan penuh kasih sayang, Pek Siau-thian membelai rambut putrinya, ia berkata dengan halus.

"Anak baik kejadian yang sudah lewat biarkanlah lewat, kenapa musti kau bersedih, makanya mulai hari ini janganlah kau tinggalkan ayah ibumu lagi"

Pek Kun-gie menganggguk berulang kali.

"Sekarang putrimu baru tahu bahwa hanya ayah dan ibu saja yang benar-benar menyayangi diriku sedang lainnya hanya cinta palsu.... sayang palsu"

"Benar untuknya, sadar saat inipun belum terlambat!"

Kho Hong-bwee maju kedepan, ujarnya pula kepada suaminya itu.

"Cepat amat kedatanganmu, siapakah kedua orang itu?"

Pek Siau-thian tertawa paksa.

"Hujin, kau pasti lelah sekali katanya"

Kemudian sambil menuding ke arah dua orang yang berada dibelakangnya ia melanjutkan.

"Kedua orang ini semuanya adalah toko-tokoh lihay dari dunia persilatan dewasa ini, mereka terhitung pula sebagai sahabat-sahabat karibku."

Dua orang laki-laki itu telah berusia empat puluh tahunan, sebelum Pek Siau-thian menyeselesaikan kata-katanya, lakilaki yang menyoren pedang dipunggung itu segera menjura sambil memperkenalkan diri.

"Aku adalah Kiong Thian yu!"

Sedangkan laki-laki berdandan sebagai sastrawan itu menyambung.

"Aku adalah Thian sun pou, sudah lama mengagumi budi kebaikan dari hujin...."

Kho Hong-bwee mengangguk sebagai tanda menghormat, oleh sebab mereka adalah sahabat dari suaminya maka ia perintahkan Kun gie serta Soh-gie untuk maju memberi hormat.

Baik Kiong Thian yu maupun Tiang sun Pou dalam hati merasa keheranan, mereka lihat paras kedua kakak beradik itu mirip satu sama lainnya, tapi sang kakak memancarkan kehalusan serta kesederhanaan, sebaliknya sang adik lebih lincah dan genit, timbullah kesan serta perasaan yang berbeda pada kedua orang itu.

Sementara itu Pek Siau-thian sendiripun sedang mengamati wajah Bong Pay dengan sinar mata tajam.

Beberapa bulan berselang, wilayah disebelah selatan sungai kuning berada dibawah pengaruh perkumpulan Sin-kie-pang, dan kini diantara tiga musuh besar ada dua sudah runtuh, sedangkan Sin-kie-pang tetap berdiri dengan kokoh, dengan sendirinya sikap maupun gerak-gerik sang ketuanya ini tetap gagah dan cukup menggidikkan hati.

Apa mau dikata yang dihadapi adalah Bong Pay yang tak takut langit tak takut bumi, ketika Pek Siau-thian mengawasinya diapun balas mengawasi orang itu dengan sorot mata yang tak kalah tajamnya.

Kho Hong-bwee segera menemukan gelagat yang kurang serasi itu, ia tahu jika saling melotot ini dibiarkan berlangsung terus niscaya akhirnya akan terjadi hal yang kurang beres.

Buru-buru serunya.

"Anak Pay, hayo cepat memberi hormat kepada empekmu!"

Agak tertegun Pek Siau-thian setelah menyaksikan hubungan yang begitu akrab antara Bong Pay dengan Kho Hong-bwee namun diapun bukan orang bodoh hanya berpikir sebentar saja dia lantas mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya sudah pasti persoalan ini ada hubungan dengan putri sulungnya.

Dalam keadaan seperti ini, kendatipun dia adalah seorang jago yang gagah perkasa toh tak urung dapat termangumangu pula.

Sementara itu Bong Pay sudah maju kedepan seraya memberi hormat, katanya.

"Aku Bong Pay memberi hormat untuk empek!"

Suara lantang dan amat nyaring sekali ibarat guntur yang membelah bumi di siang hari bolong.

Diam-diam Pek Siau-thian tertawa getir, ia tak menyangka kalau kedua orang putrinya sama sama jatuh cinta kepada pemuda dari golongan kaum pendekar, seraya ulapkan tangannya ia menyahut kaku.

"Tak usah banyak adat!"

Mendengar ucapan itu, Bong pay segera putar badan dan mengundurkan diri kesamping Kho Hong-bwee.

Dari tingkah laku pemuda itu, Pek Siau-thian dapat melihat pula suatu keanehan yakni sepanjang masa itu tak pernah Bong pay melirik ke arah putri sulangnya, suatu perasaan heran dan tak habis mengerti segera menyelimuti wajahnya.

Rupanya dalam pergaulannya yang berlangsung selama berhari-hari, tanpa disadari kedua orang itu sudah saling jatuh cinta, kendatipun demikian sebagai orang yang sederhana den jujur mereka tetap berhubu ngan secara wajar tanpa suatu penonjolan hubungan yang luar biasa.

Bong Pay dapat tunduk seratus persen kepada Kho bong bwe adalah dikarenakan alasan lain, sedari kecil ia hidup sebatang kara dan belum pernah merasakan cinta kasih seorang ibu, kasih sayang dilimpahkan Kho Hong-bwee kepadanya membuat ia tunduk kepada perempuan itu.

Memang disinilah letak kelemahan orang yang berhati keras, bila orang kasar kepadanya maka dia bisa berbuat lebih kasar kepada orang itu, sebaliknya kalau orang lembut Kepadanya maka diapun akan lembut kepada orang itu.

Begitulah, setelah semua orang saling memberi hormat, Pek Siau-thian alihkan sorot matanya ke arah Hong Liong yang berada dikejauhan, kemudian serunya.

"Beritahu kepada suhumu, besok pagi aku hendak mengajak dia untuk bertemu serta merundingkan soal penggalian harta karun!"

Hong Liong tahun ini berusia empat puluh tahunan, ia sudah belajar ilmu selama tiga puluh tahun lebih, tak heran kalau dia percaya dengan kemampuan ilmu silat yang dimilikinya.

Ketika ia saksikan Pek Siau-thian bersikap jumawa dalam hatinya, kontan hatinya jadi murka dan tak senang hati dalam pandangannya toh ilmu silat orang itu belum tentu bisa lebih tinggi dari kepandaiannya.

Tanpa ia sadari pula, perasaan tak senang itu segera tertera diatas wajahnya.

Pek Siau-thian adalah seorang manusia ysng berotak brillian, sudah tentu perubahan sikap lawannya tak lolos dari pandangan matanya, cepat ia dapat menangkap maksud hati orang itu, katanya dengan dingin.

"Hmm! Kalau urusan ini bisa kau putusi tak mungkin gurumu akan bersusah payah jauh jaub datang serdiri kedaratan Tionggoan, huh bobotku bukanlah bobot yang bisa kau tandingi"

Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan.

"Kenyataan toh menunjukkan bahwa kalian guru dan mnrid tidak sempai merugikan putriku, aku sendiripun ogah untuk mencari perkara dengan kalian, bila kau tak puas, nantikan saja kedatangan bocah she Hoa dan tantanglah dia untuk berduel"

Habis berkata sambil ulapkan tangannya, ia lantas berlalu dari tempat itu.

Sudah puluhan tahun Pek Siau-thian meminpin dunia persilatan tentu saja sikap maupun daya pengaruhnya berbeda jauh dengan orang biasa apalagi Hong Liong hidup diluar daratan Tionggoan, penga-lamannya juga amat cetek, sekalipun ilmu silatnya lihay, ia masih kalah jauh bila dibandingkan dengan Pek Siau-thian.

Dalam pada itu, ketua dari Sin-kie-pang telah membawa orang-orangnys untuk berlalu dari situ, setelah mencari daratan yang agak tinggi letaknya, ia perintahkan orang untuk beristirahat dan besok pagi baru mencari bahan kayu untuk membangun rumah buat persiapan untuk berdiam agak lama disitu.

Dengan dahi berkerut, Kho Hong-bwee berpaling kepada suaminya, lalu tanyanya.

"Engkau punya rencana untuk tinggal berapa lama disini?"

"Paling capat dua bulan paling lama setengah tahun, aku akan berdiam terus disini sampai istana Kiu ci kiong tergali dan harta karunnya ditemukan kita!"

Tiba-tiba Pek Kun-gie menyela diri samping, katanya.

"Ayah, Tang Kwik-siu memiliki se

Jilid kitab yang isinya berupa catatan rahasia ilmu silat, pada halaman yang terakhir dari buku itu aku lihat seolah-olah tercantum sebuah peta bumi, seringkali bila tak ada orang, diam-diam Tang Kwik-siu ambil keluar peta tersebut dan memandangnya dengan wajah mendelong.

"Ooh....! iya?"

Seru Pek Siau-thian dengan wajah rada berubah.

"telah kuduga kalau Tang Kwik-siu mengandaikan sesuatu dalam usaha pencarian harta karun ini, tak kunyana kalau benda yang sangat diandalkan olehnya adalah sebuah peta bumi!"

Ia lantas berpaling ke arah Kiong Thian yu serta Thian sun pou, kemudian sambungnya lebih jauh.

"Kiong jiko, Thian sun Lote, menurut dugaan kalian berasal darimanakah kitab serta peta bumi yang dimiliki Tang Kwik-siu itu?"

Kiong Thian yu termenung sebentar, kemudian sahutnya.

"Mungkin juga kitab itu adalah benda yang berasal dari istana Kiu ci kiong, tentang apa isi dari peta itu.... waah! Rada sulit untuk menduganya."

"Tang Kwik-siu memahami aneka ragam ilmu silat dari pelbagai partai persilatan yang ada didunia ini"

Tukas Pek Kungie lagi, jangan-jangan kitab tersebut adalah sumber dari segala cabang ilmu silat yang berhasil dikuasainya itu?"

Tiangsun Pou yang selalu membungkam tiba-tiba berkata.

"Ada kemungkinan besar kalau isi peta bumi itu merupakan petunjuk ke arah lorong rahasia yang menghubungkan tempat penyim panan harta, tapi asal dapat kulihat sebentar saja aku yakin letak tempat itu pasti akan segera kukenali"

Pek Kun-gie memutar sepasang biji matanya yang jeli, kemudian ujarnya pula.

"Empek Kiong, paman Tiangsun, ruparupanya sudah lama kalian mengetahui rahasia tentang harta karun ini?"

Tiangsun Pou menghela napas panjang.

"Aaai....! seratus tahun berselang berita soal harta karun sudah bukan rahasia lagi, hampir setiap manusia yang ada didunia ini mengetahui akan berita tersebut tapi oleh karena sering kali mengalami kegagalan maka banyak orang jadi kecewa putus asa dan akhirnya masalah yang sangat hangat ini menjadi dingin dengan sendirinya meskipun begitu bukan berarti persoalan ini sudah dilupakan orang, tiap orang seakan-akan hanya menunda pelaksanaan pencarian itu untuk sementara waktu, menanti kesempatan yang sangat baik telah tiba, barulah mereka kerjakan kembali. Leluhurku mempunyai hubungan yang erat sekali dengan masalah harta karun ini, setiap kali mereka akan menghembuskan nafas yang terakhir, rahasia ini selalu diwariskan turun temurun kepada generasigenerasi yang akan datang, kami selalu menganggap permasalahan ini sebagai masalah besar, tapi oleh karena besarnya hubungan soal ini dengan keluarga kami maka soal inipun semakin kami rahasiakan. Dengan dasar itulah maka kecuali mereka-mereka yang mempunyai hubungan erat dengan persoalan ini, tak mungkin mereka akan mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya.

Jilid 30 . Persekutuan Sin Kie Pang dan Seng Sut Pay PEK SIAU-THIAN yang berada di sampingnya lantas menambahkan pula dengan lantang.

"Empek Kiong mu ini adalah ahli waris dari partai persilatan Hoa san pay, kitab ilmu pukulan dan ilmu pedangnya sudah terampas dan tersimpan dalam istana Kiu ci kiong"

Kiong Thian yu ikut menghela napas panjang.

"Yaaah....! leluhur paman Tiangsun mu adalah seorang tokoh yarg amat tersohor pada waktu itu, orang sebut dirinya sebaai Seng jin lu pan (Lu pan bertangan sakti) istana Kiu ci kiong ini adalah hasil karyanya yang paling cemerlang, tapi setelah ia selesai membangun istana Kiu ci kiong ini, sampai tua ia disekap oleh Kiu-ci Sinkun dalam penjara hingga akhir hayatnya, banyak sekali kitab-kitab bangunan yang penting artinya terpendam didalam istana tersebut!"

Perlu diketahui Lu pan adalah seorang ahli dalam bidang pembangunan yang amat tersohor sekali pada dynasti Ciu, ia berasal dari negeri Lu, oleh karena lihaynya dalam konstruksi bangunan maka namanya selain dipakai untuk julukan mereka yang memiliki kemampuan setaraf dengan ahli bangunan kuno itu.

Tiangsun pou menghela napas panjang, kemudian dia berkata pula.

"Leluhur paman Kiong mu juga seorang jago yang sangat lihay, beli au dapat melukis dua ekor naga dengan dua belah tangannya secara bersamaan, begitu lihaynya lukisan itu sehingga meskipun berbareng namun kemiripannya tak jauh berbeda, aaai! Bila aku mempunyai kemampuan setinggi itu maka menggali istana Kiu ci kiong bukan pekerjaan yang sulit lagi bagiku."

"Paman tak usah murung ataupun kesal"

Hibur Pek Kun-gie, menurut penilaian keponakanmu, usaha kita dalam menggali harta karun kali ini seratus persen pasti akan berhasil.

Ia lantas membeberkan bagaimana Tang Kwik-siu mempunyai rencana untuk bekerja sama dengan para jago dari daratan Tionggoan serta siasat-siasat apa yang akan dilakukan iblis tua itu.

Selesai mendengar penjelasan tersebut Pek Siau-thian tersenyum, lalu ujarnya.

"Haahh.... haahhh.... haahhh.... keadaan ini ibaratnya tiga ekor binatang buas yang menyeberangi sungai bersama, masing-masing pihak hanya bisa menggantungkan pada nasib serta rejeki sendiri-sendiri, siapapun bisa berhasil asal kan dia mempunyai rejeki yeng baik tapi bagaimana hasilnya? untuk sementara waktu lebih baik jangan dibicarakan lebih dulu"

Setelah berhenti, sebentar dia melanjutkan.

"Ana Kun, baju kuning itu kurang sedap dipandang mata, cepatlah berganti pakaian!"

Pek Kun-gie mengangguk, ia lantas menghampiri encinya unuk pinjam pakaian.

Buru-buru Pek Soh-gie membuka buntalan dan mengambil keluar pakaian sendiri lalu menemui adiknya masuk kehutan untuk tukar pakaian.

Orang-orang dari pihak Sin-kie-pang membawa rangsum kering, setelah bersantap mereka duduk sambil kongkouw, waktu itu Tang Kwik-siu telah kembali pula dari rondanya, dengan membawa sekelompok anak muridnya mereka duduk didepan rumah.

Jarak antara kedua belah pihak hanya terpaut satu panahan belaka, dari kejauhan mereka dapat saling berpandangan.

Selama ini Pek Kun-gie selalu tutup mulut dan merahasiakan masalah dipagutnya pergelangan tangan kirinya itu oleh kelabang langit, sebab itu hubungan antara pihak Sinkie-pang dengan Seng sut pay bisa berlangsung dengan tenang tanpa urusan, malahan mereka telah bersiap sedia untuk bekerja sama dan saling memanfaatkan keuntungan serta kelebihan yang dimiliki oleh pihak lawannya.

Rembulan telah memancarkan sinarnya dari tengah awangawang, malam itu sunyi sepi dan tak kedengaran sedikit suarapun, angin yang dingin berhembus sepoi-sepoi menyejukkan badan.

0000O0000 DALAM keadaan sesejuk ini, mereka yang memiliki tenaga dalam agak sempurna masih duduk bersemedi sambil menggatur napas, sedangkan mereka yang bertenaga dalam cetek sudah tertidur pulas.

Pek Soh-gie duduk didepan sebuah batu cadas, punggungnya bersandar diatas batu itu sambil mengantuk, sedangkan Pek Kun-gie berbaring diatas tanah dengan menggunakan kaki kakaknya sebagai bantal, ditengah keheningan suasana, diapun mulai terkantuk-kantuk.

Mendadak dari tempat kejauhan muncul belahan sosok bayangan manusia, dengan cepatnya mereka berlari mendekat dan menuju menuju ke arah mereka berada.

Pek Siau-thian yang bermata tajam, segera dapat mengenali orang-orang itu sebagai anak buahnya, cepat ia memburu kedepan dan menyambut kedatangan mereka.

Perkumpulan Sin-kie-pang tak malu disebut sebagai suatu perkumpulan dengan organisasi yang bagus serta peraturan perkumpulan yang ketat, sekalipun para pelindung hukum maupun tongcunya kebanyakan adalah jago-jago persilatan namun selelah bergabung dengan perkumpulan itu gerak-gerik mereka jadi disiplin dan mentaati peraturan, berbeda jauh dengan perbuatan kasar serta berangasan yang sering kali diperlihatkan para jago dari rimba hijau.

Rupanya kedatangan rombongan inipun karena mendapat perintah dari Pek Siau-thian, setelah tiba dan memberi hormat serentak mereka membubarkan diri untuk mencari tempat beristirahat, selang sesaat kemudian suasana diatas puncak kembali pulih dalam keheningan.

Kurang lebih setengah jam kemudian anak buah perkumpulan Sin-kie-pang rombongan yang kedua telah tiba pula disana, menyusul beberapa jam kemudian rombongan yang ketigapun tiba juga disitu, dalam semalaman saja sudah lima puluh orang lebih jago-jago inti dari perkumpulan Sin-kiepang yang telah berkumpul dibukit Kiu ci san.

Menjelang fajar tiba-tiba diatas bukit itu kedatangan kembali segeromboagao jago persilatan rombongan itu dipimpin oleh seorang perempuan berambut panjang dan membawa tongkat hitam berkepala setan siapa lagi orang itu kalau bukan Kiu-im Kaucu serta para anggota perkumpulan Kiu-im-kauw nya.

Pek Siau-thian paling benci dan mendendam terhadap pihak Kiu-im-kauw, sebenarnya dia berambisi besar dan citacitanya adalah merajai seluruh kolong langit tapi setelah pertarungan berdarah dilembah Cu-bu-kok hampir boleh dikata semua impian indahnya telah hancur lembur hingga lenyap tak berbekas.

Kekalahan pahitnya itu sekalipun berhubungan pula dengan dahsyatnya pedang baja milik Hoa Thian-hong namun faktor terpenting yang mempengaruhi kesalahannya ini adalah terlalu banyak mata-mata Kiu-im-kauw yang menyusup kedalam perkumpulannya, jumlah yang sangat banyak itu sangat mempengaruhi kekuatan serta daya tempur pihak Sin-kiepang.

Sepanjang hidup, hanya kali itu saja Pek Siau-thian mengalami kekalahan besar, tak heran kalau ia memandang peristiwa tersebut sebagai suatu penghinaan, suatu peristiwa yang paling memalukan sepanjang sejarahnya, ia telah bertekad untuk membalas dendam hanya karena otaknya memang cerdik, sebelum kesempatan baik tiba dia tak akan melaksanakan niatnya itu secara gegabah.

Kendatipun demikian, ketika musuh besar saling berhadapan muka, tak urung merah juga matanya karena marah, ia mendengus dingin dan tertawa dingin tiada hentinya.

Mendadak Tang Kwik-siu tertawa tergelak, kemudian ia berseru.

"Pek lo pangcu, bersediakah engkau menerima undangan Tang Kwik-siu untuk merundingkan sesuatu?"

Pek Siau-thian berpaling, ia lihat Tang Kwik-siu dengan jubah kuningnya yang berkibar terhembus angin sedang berjalan mendekat dengan santai.

Ia lantas maju menyongsong kedatangannya, sesudah balas memberi hormat, sahutnya.

"Tang Kwik heng, dari puluhan laksa li kau bersusah payah datang kebukit Kiu ci san untuk mencari harta karun, tampaknya semua persiapan rencanamu sudah masak sekali!"

"Haahh.... haaahh.... haahh...."

Tang kwik Sin tertawa terbahak-bahak.

"saudara Pek mengapa tidak kau katakan saja bahwa aku datang kedaratan Tionggoan untuk mencari harta karun daratan Tionggoan kenapa engkau ganti dengan bukit Kia ci san?"

"Dunia persilatan meliputi seluruh wilayah didaratan ini, apa bedanya antara daratan Tionggoan dengan tepi perbatasan? Saudara Tang kwik engkau terlalu memandang asing diri kami."

"Haahh.... haaahhh.... haaahh.... jadi kalau begitu maksud saudara Pek bahwa kamipun berhak untuk menggali harta karun itu?"

"Setiap benda yang ada didunia ini adalah milik tiap manusia yang hidup dibumi ini kalau toh aku berhak menggali mengapa saudara Tang kwik tidak berhak untuk menggalinya pula?"

Sekali lagi Tang kwik Sin tertawa terbahak-bahak.

"Sudah lama aku dengar orang berkata bahwa Pek heng adalah seorang tokoh persilatan yang sejati, setelah bertemu hari ini dapat kubuktikan bahwa berita itu memang bukan nama kosong belaka"

"Terlalu memuji.... terlalu memuji...."

Sahut Pek Siau-thian dengan cepat.

Berbicara sampai disini dua orang jago silat itu saling berpandangan kemudian kembali tertawa terbakak-bahak.

Belum habis tertawa mereka, dari bawah bukit sebelah utara kembali muncul serombongan manusia, orang pertama adalah seorang pemuda berwajah tampan dengan sebilah pedang tersoren dipinggang, siapa lagi pemuda itu kalau bukan Hoa Thian-hong....

Dibelakangnya mengikuti empat datuk dari bukit Huangsan, Cu Im taysu, Suma Tiang-cing.

Ciu Thian hay yang khusus diundang dari telaga Tay ou dan paling terakhir adalah Giok Teng Hujin yang berkain cadar hitam serta dayangnya Pui Che-giok.

Begitu menyaksikan hadirnya empat datuk dari bukit Huang-san bersama dengan rombongan Hoa Thian-hong, kontan sepasang alis mata Tang Kwik-siu berkeryit, ia lantas berpaling ke arah Pek Siau-thian seraya berkata.

"Saudara Pek, merekalah yang merupakan rombongan penggali harta karun yang sebenarnya, aaai.... memang kita hanya kebagian tempat untuk menguntit dibelakang orang ini saja!"

Begitu dilihatnya Hoa Thian-hong munculkan diri, Pek Siauthian sudah merasa kheki apa lagi setelah mendengar perkataan dari Tang Kwik-siu kontan ia mendengus dingin.

Melihat siasatnya termakan, Tang Kwik-siu tertawa dalam hati, selain itu diapun merasa lega dan menghembuskan napas panjang lan-taran diketahuinya bahwa hubungan kedua orang itu memang tak akur.

Setelah mendaki keatas bukit, ketika melewari disamping Khe Hong bwe pemuda Hoa Thian-hong segera memberi hormat sambil berkata.

"Maaf bibi karena ada masalah lain aku yang muda datang terlambat...."

Kho Hong-bwee yang cerdik tentu saja tahu bahwa perkataan itu sengaja ditujukan kepda putrinya, ia tersenyum.

"Aku sendiri pun kemarin malam baru tiba, sepanjang jalan tentunya kau merasa lelah bukan? Beristirahatlah dulu disana!"

Hoa Thian-hong mengiayakan berulang kali, kemudian ia berpaling ke arah Pek Kun-gie, ketika dilihatnya gadis itu bersikap diam dan hambar, seolah-olah sama sekali terasa asing terhadap dirinya, kembali ia tertegun.

"Apakah racun keji yang bersarang ditubuhmu telah punah?"

Tegurnya lirih.

"Racun keji apa?"

Seru Kho Hong-bwee dengan nada terperanjat.

"Dahulu aku sudah tergigit makhluk beracun tapi sekarang sudah sembuh"

Sahut Pek Kun gie dingin.

Ketika dilihatnya sikap serta paras maka dara itu kurang baik, Hoa Thian-hong segera maju kedepan dan menggenggam tangan kirinya, kemudian ia singkap ujung bajunya.

Diatas pergelanggan tangannya yang putih dan halus tampak dua bekas gigitan merah masih membekas disitu.

Sekuat tenaga Pek Kun-gie meronta dan melepaskan diri dari cekalan si anak muda itu kemudian teriaknya dengan mendongkol.

"Kau tak usah mencapai urusanku, urusi persoalanmu sendiri, soal mati hidupku tak usah kau kuatirkan!"

Hoa Thian-hong tertegun, paras mukanya berubah jadi pucat kehijau-hijauan, selang sesaat kemudian dengan langkah lebar ia berjalan menuju kehadapan Tang Kwik-siu sambil menyalurkan tangannya kedepan, serunya lantang.

"Ciangbunjin kalau engkau mempunyai obat pemunahnya, harap segera diserahkan kepadaku!"

Paras muka Pek Siau-thian berubah hebat, ditatapnya wajah Tang Kwik-siu tajam-tajam kemudian ia mendengus dingin. Menyaksikan perubahan wajahnya itu, Tang Kwik-siu segera tertawa terbahak-bahak.

"Haah.... haahh.... haahh.... obat pemunah tentu saja ada, apalagi hubunganku dengan saudara Pek sudah menjadi erat, sekalipun saudara Pek tidak mengatakannya keluar siaute pun akan mempersembabkan obat pemunah itu kepadamu"

Kiu-im Kaucu yang berada dipihak lain, tiba-tiba menyindir sambil tertawa tergelak.

"Haaahh.... haaahhh.... haahh....Hoa Thian-hong rupanya tak berguna, engkau repot-repot begitu toh mereka adalah sobat lama!"

Mendadak Hong Liong menyelinap dibelakang tubuh Hoa Thian-hong, kemudian sambil tertawa dingin, katanya.

"Bocah keparat, obat pemunahnya berada disaku toaya mu, kalau engkau menginginkan obat pemunah itu, menangkan dulu toayamu!"

Tang Kwik-siu berkata sambil berkata tergelak.

"Hoa kongcu, dia adalah muridku Hong Liong, sudah lama ia mengagumi nama besarmu dalam dunia persilatan dan sekarang ingin minta beberapa petunjuk ilmu silat darimu, harap engkau suka memberi pelajaran, obat pemunahnya pasti akan diserahkan kepadamu."

Berbicara sampat disini, ia lantas berpaling ke arah Hong Liong dan berkata pula.

"Hoa Kongcu adalah seorang pendekar sejati dari daratan Tionggoan, ia bersedia melayani dirimu berarti pula ia menaruh rasa hormat kepadamu, bertempurlah dengan batas dua ratus gebrakan kalau kalah mengaku saja kalah jangan sekali-kali main sabun!"

Hong Liong bertepuk tangannya sekali, lalu serunya.

"Hey bocah cilik, hayo majulah!"

Betapa gusar dan mendongkolnya Hoa Thian-hong melihat kesombongan musuhnya, ia lantas berpikir.

"Bila ingin menaklukkan hati orang maka aku harus mendemon-trasikan pula kemampuan yang kumiliki, tampaknya sukar bagiku untuk menyelesaikan masalah harta karun dengan jalan damai, aneka ragam manusia telah berkumpul disini, siapa yang sudi memberi muka padaku?"

Berpikir sampai disitu ia lantas mengambil keputusan untuk memamerkan kekuatannya dihadapan musuh.

Tanpa banyak bicara lagi telapak tangan kirinya segera diayun kedepan melepaskan sebuah pukulan udara kosong.

Hong Liong tak berani bertindak gegabah, iapun tak sudi bertindak sungkan-sungkan, melihat musuhnya sudah turun tangan diapun membentak keras dan melepaskan pula serentetan pukulan balasan.

Sejak terjun kedalam dunia persilatan hampir boleh dibilang setiap hari Hoa Thian-hong berkecimpungan dalam pertarungan-pertarungan seru, pengalamannya dalam menghadapi pertempuran boleh dibilang sangat luas dan banyak.

Dengan dasar pengalamannya ini maka sekali bentrok dia lantas tahu kalau Hong Liong benar-benar telah mendapatkan warisan lang sung dari Tang Kwik-siu, berbicara dalam soal ilmu pukulan, belum tentu dirinya bisa menangkan lawan.

Sementara dua orang jago silat itu baru saja bertempur, dari bawah bukit kembali muncul serombongan manusia yang dipimpin oleh seorang kakek tua berlengan tunggal, dia adalah Jin Hian bekas ketua Hong-im-hwie yang telah buyar, Dibelakang mengikuti pula seorang imam tua yang tak berkaki lagi, imam itu berjalan dengan menopang dua batang toya baja, orang itu tak lain adalah Thian Ik-cu bekas ketua Thong-thian-kauw.

Sedang jago-jago lainnya yang berjumlah hampir tujuh puluh orang itu antara lain adalah Malaikat kedua Sim Ki an serta bekas anggota Hong-im-hwie serta Thong-thian-kauw.

Kedua kelompok kekuatan itu terhitung kelompok yang paling lemah, sewaktu melewati kota Sam kang sian, Hoa Thian-hong telah bertemu dengan mereka, tapi toh kedatangan mereka masih tetap tertinggal selangkah dibelakang.

Sementara itu pertarungan yang sedang berlangsung antara Hoa Thian-hong melawan Hong Liong masih berjalan dengan serunya, sekejap mata mereka telah bergebrak sebanyak enam puluh jurus, menanti Jin Hian serta Tbian Ik cu sudah tiba ditepi gelanggang, kedua orang itu sudah bertempur hingga mencapai ratusan gebrakan.

Sepanjang pertarungan itu berlangsung, Hoa Thian-hong selalu merasa gelisah dan tak tenang, pikirnya dihati.

"Sejak pihak Seng sut pay mendapat bantuan dari kitab Thian hua ca ki, kemajuan ilmu silat yang mereka miliki telah peroleh kemajuan yang pesat sekali, buktinya Hong Liong pun memiliki tenaga dalam yang amat sempurna tak mungkin aku bisa menangkan dirinya secara gam pang, padahal dia tak lebih cuma seorang muridnya Tang Kwik-siu kalau iapun tak dapat kumenangkan bagaimana caranya aku bisa menaklukan para jago lainnya serta meminpin operasi pencarian harta karun?"

Berpikir sampai disini tanpa terasa ia lantas menggigit bibirnya kencang-kencang, sengaja ia membuka pertahanan, dia memancing musuhnya agar masuk jebakan.

Benar juga, ketika Hong Liong menemukan titik kelemahan tersebut betapa kejut dan girang hatinya cepat ia membentak.

"Kena!"

Sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan kedepan.

Semua peristiwa ini berlangsung dengan kecepatanb sambaran kilat, sebelum semua orang sempat menjerit kaget tiba-tiba Hoa Thian-hong mendengus dingin, telapak tangan kirinya segera diayun kemuka dan mengirim pula sebuah pukulan gencar.

"Plaak!"

Ketika sepasang telapak tangan itu saling beradu satu sama lainnya, posisi Hoa Thian-hong tetap sekokoh bukit karang sebaliknya tubuh Hong Liong bergetar keras Tampaklah Hoa Thian-hong menggertak gigi dengan wajah yang dingin menyeramkan, kaki kanannya melangkah maju setindak, telapak tangan kirinya segera diayun kedepan melepaskan sebuah pukulan kilat.

Serangan tersebut dilancarkan mengarah dada Hong Liong kecepatan bagaikan sambaran petir dan lagi diluar dugaan, dalam keadaan begini tak sempat lagi bagi Hong Liong untuk mematahkannya, cepat-cepat ia tangkis keatas dan menyambut kembali serangan tersebut dengan kekerasan.

"Plook....!"

Sekali lagi terjadi bentrokan dahsyat.

Sekujur badan Hong Liong gemetar keras, sambil mendengus dingin ia muudur selangkah kebelakang, diatas permukaan tanah jelas terteralah sebuah bekas telapak kaki yang amat tajam.

Dalam hal jurus serangan, Hoa Thian-hong memang tak dapat merebut kemenangan maka ia pertaruhkan tenaga dalamnya untuk menggertak tubuh sang lawan.

Maka begitu serangannya telah dilancarkan, ia melangkah maju kemuka, pergelangan tangannya kembali diputar dan melancarkan sebuah pukulan dahsyat kedepan.

Hong Liong betul-betul terdesak hebat, tiada jalan lain baginya didalam keadaan seperti itu kecuali menangkis ancaman tersebut den gan keras lawan keras.

"Ploook! Ploook! Ploook!"

Secara beruntun Hong Liong harus menerima enam buah pukulan berantai yang memaksa tubuhnya mundur pula enam tangkah kebelakang.

Bekas telapak kaki yang tertera diatas permukaan batupun kian kebelakang kian nyata dan dalam sepasang mata Hong Liong melotot besar mukanya merah padam.

Sedangkan Hoa Thian hon bersikap dingin menyeramkan, hawa nafsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya.

Sungguh gelisah dan cemas perasaan hati Tang Kwik-siu menghadapi kejadian itu, dia masih ingat ketika terjadi pertarungan dikota Lok yang tempo hari, Hoa Thian-hong bisa mengimbangi permainan silatnya setelah mendapat petunjuk dari Hoa Hujin, oleh sebab itu diapun ingin memberi petunjuk pula kepada Hong Liong, agar ia bisa melepaskan diri dari pertarungan sistim bayangan menempel dengan bayangan dari pemuda she Hoa.

Apa mau dikata ia merasakan pula tenaga dalam yang begitu sempurna dari Hoa Thian-hong, setiap pukulan-pukulan yang dilancar kan selalu merupakan pukulan yang kuat dan sederhana.

Walaupun tidak banyak tipu muslihat yang terselip dibalik pukulan-pukulan itu, namun jelas tenaga dalam Hong Liong belum bisa memahami musuhnya, itu berarti kendati pun ia memberikan petunjuknya, belum tentu Hong liong dapat meloloskan diri dari kepungan lawan.

Bisa dibayangkan betapa gelisahnya iblis Tua dari Seng Sut pay ini, dia ingin mencari jalan lain tapi selalu gagal, untuk sesaat lamanya ia tak tahu apa yang musti di lakukan.

Perlu diketahui, seluruh inti ilmu silat yang dimiliki Hoa Thian-hong hanya terhimpun dalam satu jurus pukulan serta enam belas ilmu pedang ilmu, silat tersebut tiada tipu muslihat yang jitu, semuanya datar dan sederhana, justru keampuhannya terletak pada kehebatan srrta kecepatannya dalam mengerahkan tenaga dalam.

Contohnya adalah pertarungan antara Hoa Thian-hong dengan Kiu-im Kaucu tempo hari, dengan padang bajanya secara beruntun dia lepaskan berpuluh-puluh buah bacokan keatas toya kepala setannya Kiu in kaucu padahal ilmu silat perempuan Kiu-im-kauw ini luar biasa lihaynya toh ia tak mampu melepaskan diri dari kejaran pedang lawan, dari sini dapat ditarik kesimpulan betapa dahsyat dan sempurnanya kepandaian silat si anak muda itu....

Sementara itu Hoa Thian-hong sendiripun meresa kaget bercampur tercekat ketika ia saksikan enam buah pukulan berantainya belum berhasil merobohkan Hong Liong, tentu saja diapun tahu jika Hong Liong sampai dibikin mampus urusan tak akan selesai sampai disitu saja sebaliknya kalau ia disuruh melepaskan musuhnya dengan begitu ssja ia pun tak sudi.

Akhirnya setelah putar otak dan berpikir beberapa saat lamanya, tiba-tiba ia membentak keras.

"Perduli amat, rasakan pukulanku ini!"

Sebuah pukulan gencar segera dilepaskan kedepan mengarah dada lawannya.

Pukulan itu sangat dahsyat dan menggunakan tenaga sebesar dua belas bagian, lagi pula kecepatannya mengerikan sekali.

Kaget dan panik Hong Liong menghadapi kejadian tersebut, mukanya yang semula berwarna merah padam, seketika berubah jadi pucat keabu-abuan.

"Hoa kongcu, kau yang menang dalam pertarungan ini!"

Tiba-tiba Tang Kwik-siu berseru sambil tertawa terbahakbahak.

Sambil berseru ia maju kedepan dan menempelkan telapak tangannya diatas punggung Hong Liong, kemudiaa menyeret muridnya untuk mundur sejauh beberapa kaki ke belakang.

Darah panas yang bergolak dalam dada Hong Liong bergelora makin keras, bahkan meluap naik keatas tenggorokan, untungnya Tang Kwik-siu bertindak cepat, sehingga darah yang hampir dimuntahkan keluar dalam dicegah kembali.

Padahal Hoa Thian-hong sendiripun hanya menyiapkan pukulan itu sebagai suatu gertak sambal belaka, setelah pihak musuh menyerah kalah, iapun segera membuyarkan seluruh tenaga pukulannya.

Kendatipun kemenangan berhasil diraih, ia sendiri merasakan suatu perasaan yeng kosong dan hambar....

Dari sakunya Tang Kwik-siu mengambil keluar sebiji obat berwarna merah, seraya diberikan ketangan pemuda, itu katanya sambil tertawa.

"Telah lama aku dengar orang berkata bahwa kongcu telah makan teratai racun empedu api serta Leng-ci berusia seribu tahun sehingga tenaga dalammu makin sempurna dan tiada tandingannya dikolong langit, ternyata memang begitulah keadaannya!"

Apa yang dimaksudkan dalam kata-katanya itu sudah cukup jelas, yaitu ia memujih kemenangan yang berhasil diraih Hoa Thian-hong tidak lebih hanya lantaran bantuan serta kasiat dari dua macam obat mustika itu belaka.

Tiba-tiba Ciu Thian bau menyindir dengan ketus.

"Hmm! Katanya saja yang kalah harns mengaku kalah, yang menang harus mengaku menang, sekalipun kalah tak boleh main sabun. Huuh....! Kenapa mesti menggunakan kata-kata yang tak berguna itu?"

Tang Kwik-siu segera berpaling, lalu menegur.

"Jago lihay dari manakah engkau? Maaf aku tidak mengetahuinya!"

"Hmm! Aku she Ciu bernama Thian hau."

Dalam pada itu, Hoa Thian-hong telah menerima obat berwarna merah itu sambil menyela.

"Tang kwik sianseng, kedatanganmu kedataran Tionggoan kali ini bertujuaa menggali harta ataukah ingin menjumpai orang gagah yang ada didaratan Tionggoan?"

"Bagaimana kalau tujuanku menggali harta? Dan bagaimana pula kalau tujuanku adalah ingin bertemu dengan orang gagah didaratan Tionggoan....?"

"Bila tujuanmu hendak menggali harta maka kita tak perlu saling cekcok dan bertengkar, kita harus bersatu padu uutuk bersama-sama menyelesaikan pekerjaan besar ini, siapa yang lebih banyak menge-luarkan tenaga dia berhak mendapatkan jumlah yang banyak sebaliknya siapa yang mengeluarkan tenaga sedikit, dia hanya mendapatkan jumlah yang lebih sedikit, keadilan akan tetap dijaga dan semuanya akan diselesaikan sebijaksana-bijaksananya!"

Meskipun sudah kalah rupanya Hong Liong belum puas, kembali hardiknya dengan suara keras.

"Bagaimana kalau tujuan kami adalah untuk menemui para orang gagah didaratan Tionggoan?"

Hoa Thian-hong tertawa.

"Sebagian besar harta karun yang berada didalam istana Kiu ci kiong ini adalah kitab pusaka ilmu silat, bila Seng sut pay kalian merasa berilmu tinggi dan merasa yakin kalau dapat menangkan orang gagah yang ada didaratan Tioaggoan, lantas apa gunanya kalian mendapatkan kitabkitab pusaka itu? Bukankah kehadiran kalian hanya akan mengurangi jatah kami orang Tionggoan dalam pembagian nanti? Kalau memang begini, apa salahnya kalau kami orang Tionggoan beradu kepandaian dulu dengan kalian, Jika orang Seng sut pay berhasil dikalahkan dan kembali kesarangnya, kami baru menggali harta karun ini dan menikmati kitab-kitab tersebut bagi kepentingan kami orang Tionggaan!"

Pek Siau-thian yang mengikuti jalannya pembicaraan tersebut, dalem hati kecilnya lantas berpikir.

"Hebat amat binatang kecil ini! Bukan saja ilmu silatnya peroleh kemajuan yang pesat, cara berbicaranya pun jauh lebih lihay dari siapapun juga, ia tak boleh dipandang enteng....!"

Tiba-tiba Kiu-im Kaucu tertawa tergelak, kemudian katanya.

"Kedua cara itu memang bagus sekali, kami Kiu-im-kauw bersiap sedia menempuh dengan cara apapun, baik urusan main senjata, adu kekerasan maupun dalam urusan menggali bumi mencari harta, kami orang-orang Kiu-im-kauw memutuskan diri untuk berdiri dibelakang Hoa kongcu!"

Berbicara soal adu mulut, Hong Liong lebih-lebih kalah jauh dari orang lain, dan lagi Tang Kwik-siu juga mengetahui sampai dimanakah kelilayan dari Kiu-im Kaucu, karena kuatir muridnya mencari gara-gara lagi, cepat katanya sambil tertawa.

"Kita semua adalah orang-orang persilakan, tentu saja setiap orang berharap dapat mengukur ilmu dengan orang lain, sayangnya Seng sut pay kami pun mempunya sejenis benda mustika yang tersimpan pula dalam istana Kiu ci kiong, kami perlu menggali dulu istana ini dan mengambil kembali benda tersebut, aku lihat lebih baik hubungan kerja kita memang jangan sampai diganggu lebih dulu oleh urusan sepele!"

Pek Siau-thian juga berpikir.

"Nenek setan itu sudah mengutarakan sikapnya berdiri dibelakang binatang cilik itu, entah apa maksud tujuannya dibalik kesemuanya itu?"

Berpikir sampai disini, segera ujarnya.

"Kunci yang paling utama dalam penggalian harta karun ini adalah bagaimana cara menggalinya sehingga tidak sampai menyentuh nadi bumi yang bisa mengakibatkan terjadinya tanah longsor, gempa bumi, banjir serta tanah merekah. Untungnya keturunan dari Seng jiu lu pan ahli bangunan yang mendirikan istana Kiu ci kiong di masa lampau telah hadir pula disini saat ini!"

Semua orang sama-sama merasa terperanjat, beratus-ratus pasang mata serentak dialihkan ke arah rombongsn Sin-kiepang.

Tiangsun Pou maju selangkah kedepan, sesudah memberi hormat kepada semua jago ia memperkenalkan diri.

"Aku yang tak becus adalah Tiangsun Pou masih cetek dan serba terbatas ilmu bangunan yang aku kuasahi. Pek Siau-thian segera menyambung.

"Tentang asal usul dari Tiangsun lote rasanya tiada sesuatu yang perlu dibicarakan lagi dan sekarang ia bersedia untuk turut campur dalam pencarian harta karun ini, entah bagaimana dengan saudara yang lain? Apakah kalian ada pendapat tentang soal ini?"

Maksud ucapan itu cukup jelas, dia sedang bertanya kepada orang lain dengan mengandalkan apakah mereka akan mencari harta. Tang Kwik-siu yang pertama-tama menjawab.

"Seng sut pay kami memegang selembar peta rahasia, tanpa peta rahasia itu sekalipun orang yang pernah memasuki Kiu ci kiong dimasa lalu belum tentu bisa mendekati tempat penyimpanan harta"

Berbicara sampai disini, dia lantas tertawa terbahak-bahak. Tiba-tiba Kiu im kancu berkata.

"Empat datuk dari gunung Huang-san pernah menyaksikan sendiri istana Kiu ci kiong, merekapun pernah ikut dalam usaha pencarian harta karun, dalam pekerjaan ini tak bisa ketinggalan tenaga mereka berempat, dan kini mereka hadir dipihak Hoa kongcu itu berarti Hoa kongcu berhak pula untuk ikut serta dalam usaha pencarian harta karun ini"

Tampaknya Pek Siau-thian memang bermaksud untuk menyingkirkan pihak Kiu-im-kauw dari pekerjaan itu, cepat ia berseru dengan dingin.

"Lalu apa yang diandalkan Kiu-im-kauw?"

"Perkumpulan kami datang kesini hanya untuk membantu usaha Hoa kongcu, waktu penggalian kami maju, waktu pembagian harta kami mundur, harap para orang gagah tak usah memikirkan persoalan ini"

Mendengar perkataannya yang begitu manis, Hoa Thianhong dibuat serba salah, mau menangis tak bisa mau tertawa pun tak dapat.

Baik Pek Siau-thian maupun Tang Kwik-siu sama-sama mempunyai dugaan kalau antara Kiu-im Kaucu dengan Hoa Thian-hong telah mengadakan kontak secara rahasia maka dari itu pihak Kiu-im-kauw selalu membantu Hoa Thian-hong dan berdiri dibelakangnya.

Ini bisa dibuktikan oleh mereka dari ke munculan Giok Teng Hujin yang selalu berada dibelakang pemuda itu dan tak pernah memisahkan diri padahal mereka tahu bahwa Giok Teng Hujin adalah tenaga yang sa ngat berkuasa dalam perkumpulan Kiu-im-kauw, tak mungkin perempuan itu berada dipihak Hoa Thian-hong bila antara dua kelompok kekuatan itu tidak pernah mengadakan kontak apa-apa.

Lebih-lebih Tang Kwik-siu yang kurang begitu paham akan seluk beluknya dunia persilatan didaratan Tionggoan ini lebih percaya lagi dengan ucapan Kiu-im Kaucu tadi Maka sorot matanya lantas dialihkan ke arah Jin Hian serta Thong-thian-kauwcu, tegurnya.

"Bagaimana dengan sahabatsahabat dari kelompok ini? Tujuan kalian hanya ingin meramaikan suasana ataukah bertujuan untuk turut serta dalam pencarian harta karun?"

"Kami datang kemari untuk adu nasib"

Sahut Jin Hian dengan suara yang berat dan dalam.

"bisa menggali kami akan menggali, ada harta kami akan mengambil harta benda dalam perut bumi yang tiada pemiliknya, aku rasa setiap orang berhak untuk mendapatkannya dan siapapun tak usah memperdulikan tindakan kami"

Sepasang alis mata Tang Kwik-siu kontan berkeryit, ia berpaling ke arah Pek Siau-thian minta penjelasan. Dengan suara hambar Pek Siau-thian menerangkan.

"Mereka adalah bekas jago-jago lihay dari perkumpuiau Hongim-hwie serta Thong-thian-kauw!"

Sementara pembicaraan berlangsung, mereka saling berpandangan dengan penuh arti, dalam waktu singkat inilah kedua belah pihak telah mengadakan kontak perjanjian secara diam-diam untuk menyingkirkan rombongan terakhir ini dari percarian harta karun, hanya mereka belum memastikan bagaimana caranya turun tangan.

Sementara itu Hoa Thian-hong yang berdiri didekat mereka berdua sempat mengikuti jalannya lirikan dari kedua belah pihak, makin meningkat usianya makin banyak pengetahuan yang dimilikinya, betapa terperanjatnya dis setelah menyaksikan perilaku dua pemimpin golongsn besar ini....

Ia tahu Sin Ki Pang telah bersekongkol dengan pihak Seng sut pay didalam masalah percarian harta karun ini, bila kerja sama ini dibiarkan berlangsung terus niscaya pihaknya yang bakal terjepit.

Tiba-tiba terdengar Tang Kwik-siu berkata sambil tertawa.

"Hoa Kongcu, didalam masalah pencarian harta karun ini, empat datuk dari gunung Huang-san, Tiangsun sianseng serta peta rahasia milikku merupakan tiga faktor terpening yang tak bisa dipisahkan antara yang satu dengan yang lain, karenanya kami ingin bertanya kepadamu, bagaimanakah usul atau saranmu dalam pekerjaan ini?"

Hoa Thian-hong tidak langsung menjawab, dalam hati kecilnya dia berpikir.

"Ditinjau dan situasi yang terpentang didepan mata saat ini, permulaan dari penggalian harta karun ini pasti akan diakhiri dengan derah manusia yang mengalir dimana-mana, suatu hasil yang baik su dah pasti tak mungkin terjadi, bila aku tak mampu mengendalikan tingkah laku beberapa orang gembong iblis ini dengan kata-kata, bagaimana caranya aku bisa mengatur serta menguasai keadaan?"

Untuk sesaat ia tak tahu apa yang mesti dilakukan, akhirnya ia menjawab juga.

"Menurut apa yang kuketahui, masih banyak sekali jago persilatan yang belum hadir disini dan beberapa hari mendatang mereka tentu akan berkumpul semua ketempat ini, aku rasa bila kita bersatu padu maka persoalan gampang diselesaikan, tapi bila kita tercerai berai niscaya usaha ini akan mengalami kegagalan, apa salahnya kalau kita undurkan sampai tengah hari besok berkumpul kembali serta merunding-kan lagi masalah ini....?"

Tang Kwik-siu tertawa.

"Betul....! Betul....! Persoalan yang sangat penting artinya ini memang tak perlu dirundingkan dalam waktu singkat, bagaimana pendapat saudara Pek?"

"Kalau akuu sih tak ada perkataan lain"

Jawab Pek Siauthian hambar, dia lantas memberi hormat dan mengundurkan diri dari situ.

Hoa Thian-hong pun memberi hormat kepada Tang Kwiksiu lalu ikut berlalu dari situ.

Perasaan hatinya pada saat ini terasa amat berat sekali, ia tak akur dengan Pek Siau-thian, walaupun dengan Pek Kungie dia ada hubungan yang luar biasa namun pada Waktu itu sikap dara itupun kurang begitu menyenangkan, maka setelah mempertimbangkan keadaannya beberapa saat, akhirnya ia serahkan obat penawar itu kepada Kho Hong-bwee, dan iapun kembali pada rombongannya.

Setelah berkumpul dengan kawanan jago kaum lurus, tibatiba terdengar Ciu Thian bau berkata sambil menunjuk ke arah puncak bukit sebelah kiri.

Tempat itu paling tinggi letaknya, lebih baik kita membuat tenda disitu saja, selain letaknya terpencil, dan lagi kitapun dapat mengawasi gerak-gerik kawanan bajingan itu.

Setelah semua orang setuju, maka berangkatlah kawanan jago itu untuk bertenda di kaki bukit, sementara orang-orang dari Kiu-im-kauw bertenda dipuncak bukit itu.

Jarak antara kedua belah pihak hanya beberapa puluh tombak meski pun suara pembicaraan tidak kedengaran tapi gerak-gerik mereka dapat saling terlihat.

Sementara Jin Hian dan Thian Ik-cu beristirahat ditempat yang lebih kebelakang, merekapun memisahkan diri jadi dua kelompok.

Setelah melakukan perjalanan semalaman suntuk, semua orang merasa amat lelah, setelah bersantap mereka duduk bersemedi untuk mengatur pernapasan.

Hanya Hoa Thian-hong seorang yang kelihatan tidak tenang, ia merasa banyak urusan yang memenuhi benaknya semakin dipikir ia merasa semakin kalut, akhirnya dengan wajah yang murung bercampur kesal ia duduk sambil bertopang dagu.

Cu Im taysu merasa tak tega, ia menghampiri si anak muda itu dan bertanya.

"Thian-hong marilah kita bicarakan persoalaan yang sedangkan kau hadapi, siapa tahu kalau dengan perundingan tersebut dapat mengu rangi kemurunganmu?"

Hoa Thian-hong segera menggeleng.

"Kekuatan pihak kita berlalu minim dan kecil, sekalipun harta karun dapat tergali, itupun tak dapat kita milik sebab mereka pasti akan saling merampas dan saling membunuh"

"Kalau ingin main rampas silahkan suruh mereka rampas!"

Teriak Suma Tiang-cing dengan gemas, sampai waktunya pilihkan buku-buku yang bagus-bagus dan rampaslah lebih dulu kemudian lindungi empat datuk untuk mundur dari sini, kami akan menghadang para pengejar dan menghancurkan kawanan bajingan itu"

Dengan cepat Hoa Thian-hong menggeleng.

"Tujuan kita datang kesini bukanlah untuk merebut benda mustika, kalau kita sampai terlibat pula dalam soal rampas merampas maka tujuan kita yang sebenarnya akan menjadi kabur artinya!"

"Bagaimanapun juga kita harus mencari akal untuk membantai lebih dulu kawanan iblis dan bajingan dan Cui Thian hau mengusulkan dengan suaranya yang dingin.

"biln bajingan itu sudah terastasi urusan selanjutnya gampang untuk diselesaikan"

Hoa Thian-hong tertawa getir dan menggelengkan kepalanya berulang kali.

Kemenangan boanpwe atas diri Hong liong tadi sudah tidak cemerlang, apalagi jumlah anggota mereka sangat banyak, main kekerasan sudah pasti tak akan berhasil.

Siapa suruh kau tidak menggunakan pedang!"

Omel Suma Tiang-cing dengan mendongkol, buat apa kita musti sungkansungkan terhadap kawanan manusia yang memalukan itu!"

Kembali Hoa Thian-hong tertawa getir.

Bila aku musti bertempur memakai senjata, mungkin Pek Siau-thian dapat kukalahkan, Kiu-im Kaucu dapat kutandingi dan bila ditanding-kan deegan Tang Kwik-siu sedikitnya juga selisih tak seberapa tapi kendatipun kita bisa menangkan mereka toh belum sampai menaklukan mereka?

apalagi menggantungkan kepandaian pada sebilah pedang bukan lah suatu kemampuaan yang cemerlang.

Lalu bagaimana dengan ilmu yang kau pelajari dari kitab Kiam keng?, tanya Cu Im taysu.

Aku selalu sibuk menyelesaikan pelbagai persoalan, boleh di bilang tak ada waktu luang barang sedikitpun untuk mempelajarinya, paling banter aku baru sempat membacanya sekali"

"Kalau begitu berlatihlah dengan tekun"

Seru Ciu Thian-hau dengan suara dalam.

"bila berbasil, jagal dulu Tang Kwik-siu!"

Hoa Thian-hong mengangguk, setelah termenung sebentar akhirnya ia agak tenang dan memandang puncak dibelakangnya, kemudian baru katanya lagi.

"Boanpwe hendak duduk semedi diatas puncak itu sambil mengingat-ingat jurus pedangku, harap cianpwe semua menunggu disini saja."

Semua orang mengangguk dan memandang bayangan punggung si anak muda itu hingga lenyap dari pandangan mata.

Puncak bukit itu tingginya mencipai enam tujuh kaki, luas dataran dipuncak itu paling cuma lima depa tapi datar dan merata.

Dudak seorang diri diatas puncak bukit itu, tanpa terasa Hoa Thian-hong teringat kembali akan ibunya, duduk menghadap ke utara benaknya segera dipenuhi oleh kenangan sewaktu ibunya memberi petunjuk kepadanya waktu ia berterangan melawan Tang Kwik-siu dikota Lok yang tempo hari.

Diam-diam pikirnya dihati.

"Sumber dari ilmu silat sebenarnya hanya satu yang kemudian ber ubah-ubah menurut situasi serta keadaan yang sedang dihadapi, mi salnya saja kitab Kiam keng, sekalipun yang dimuat adalah ilmu pedang toh tiada tercantum jurus-jurus pedang yang pasti, itu ber arti ilmu silat dapat dipakai untuk melawan musnh hanya disebabkan orang itu pandai melihat gelagat serta tahu bagaimana cara menghindari sergapan musuh serta melepaskan serangan balasan dengan gerakan tercepat dan terganas.... berarti pula teori ini tak akan berbeda pula kalau diterapkan pada ilmu pukulan maupun ilmu totokan."

Kemudian ia berpikir lebih jauh.

"Teori ilmn silat mengatakan pula, untuk menghindari serangan musuh, maka alangkah baiknya kalau kita gunakan serangan untuk memunahkan serangan musuh, kalau toh teori ini sudah kupahani, apa salahnya kalau kuleburkan teori ilmu pedang yang kudapat kedalam permainan tangan kosong? Bagaimanapun juga, daripada memakai pedang akan lebih enak bertangan kosong belaka!"

Berpikir sampai disitu ia lantas mengambil keluar kitab Kiam keng san dan sekali lagi membaca dari awal hingga akhir.

Sementara itu tulisan serta lukisan yang tercantum dalam kitab Kiam keng telah dipahami olehnya, maka setelah membacanya sekali lagi, ia simpan kitab tersebut dan mulai mengupas serta membahas setiap teori serta rahasia yang didapatkan dari kitab tadi.

Semakin dipikir ia merasa semakin tertarik dan akhirnya semua perhatian ingatan serta pikiran terpadu menjadi satu untuk meeesapi makna dari teori-teori tersebut, dan tanpa disadari pula pemuda itupun melupakan hal-hal lain.

Tengah hari Cu Im taysu diam-diam naik ke atas bukit, ketika menyaksikan keadaan tersebut, ia tahu bahwa pemuda itu sedang konsentrasi mempelajari ilmunya, maka setelah meninggalkan rangsum dan air, padri inipun mengundur diri dari sana.

Senja itu, Cu Im taysu berkunjung lagi ke atas puncak bukit, tapi ketika dilihatnya pemuda itu tetap duduk tanpa bergerak ma lahan ransum serta air yang disediakan tak disentuhnya terpaksa ia turun lagi dari bukit itu.

Tengeh malam tiba-tiba Kiu-tok Sianci dari wilayah Biau dengan membawa kedua belas orang muridnya tiba disana, setelah di tanya oleh Cu Im taysu sekalian barulah diketahui bahwa kitab pusaka Pek tok keng dari perguruan Kiu-tok Sianci telah terjatuh pula didalam istana Kiu ci kiong, benda tersebut merupakan kitab pusaka dari per-guruannya karena itu mereka pandang tinggi peristiwa tersebut.

Sejak kitab itu lenyap, ilmu racun yang di miliki perguruannya diwariskan berdasarkan ajaran mulut kemulut tanpa dasar kitab bimbingan, lagi pula mereka kuatir kalau kitab Pek tok teng tadi terjatuh ketangan orang lain, maka begitu kabar tentang pencarian harta karun tersiar, buru-buru berangkatlah mereka tinggalkab wilayah Biau menuju kedaratan tionggoan, Chin Wan-hong adalah murid terakhir dari Kiu tok sian ki sedangkan Hoa Thian-hong dianggap menantu perguruan mereka yang paling baik, apalagi usia kedua belas orang muridnya hampir sebaya dengan Hoa Thian-hong dimana hampir setengah tahun lamanya mereka pernah hidup bersama dikala pemuda itu merawat luka racunnya dilembah Hu-liang-kok, dalam pandangan mereka Siau long adalah pujaan semua orang.

Oleh karena itu, dikala mereka saksikan pemuda itu cuma duduk tak berkutik diatas puncak, semua orang lantas ribut hendak menengok keatas puncak.

Kiu-tok Sianci kuatir muridnya membuat ribut, setelah mencegah semua orang untuk ikut, seorang diri ia menengok keatas bukit, setelah itu dia membakar dupa wangi disebuah biolo dan memerintahkan muridnya yang paling besar Lau hoa siaancu untuk mengangkutnya keatas bukit dan diletakkan disamping Hoa Thian-hong.

Dupa wangi itu bukan sembarangan dupa, bila asap yang berbau harum tersiar keluar, maka mereka yang mencium bau dupa itu akan merasakan pikirannya jadi tenang dan segar kembali.

Sehari telah lewat dengan cepatnnya, tengah hari berikutnya Pek Siau-thian, Tang Kwik-siu, Kiu-im Kaucu beserta Jin Hian serta Thian Ik-cu telah berkumpul dibukit untuk merundingkan soal penca rian harta karun, waktu itu Hoa Thian-hong masih duduk tak berkutik diatas puncak sambil mendalami ilmu silatnya.

Dalam keadaan seperti ini, semua orang jadi geiisah, baik Kiu-tok Sianci dan Cu Im taysu sekalian maupun Giok Teng Hujin dan Pek Kun-gie semua orang merasa cemas, mereka kuatir si anak muda itu terserang jalan api menuju neraka, karena suasana yang kacau dan hangat, sekalipun demikian merekapun tak berani menyadarkan pemula itu.

Akhirnya Kiu-tok Sianci dan Ciu Thian-hau mengadakan rapat kilat, mereka menyadari betapa pentingnya keselamatan Hoa Thian-hong pada saat ini, maka diputuskan untuk mengutus Kiu-tok Sianci yang mewakili kawanan jago dari kaum lurus untuk hadir dalam perundingan tersebut.

Kiu-tok Sianci maju menghampiri kawanan jago lainya, kepada mereka ia menerangkan, Pada saat ini Hoa Thian-hong sedang melatih diri ia tak dapat menghadiri perundingan tersebut, muka aku akan mewakili dirinya didalam perundingan ini.

Setelah berhenti sebentar, lanjutnya kembali.

"Orang Biau mempunyai sebuah mustika yang tersimpan pula di dalam istana Kiu ci kiong, aku rasa kamipun berhak untuk mengambil kembali benda milik kami itu, Hoa Thian-hong bukan manusia yang ber ambisi uniuk merampas barang milik orang lain, kalian tak usah menguatirkan dirinya, semua persoalan akan diselesaikan seadil-adilnya!"

Tang Kwik-siu tahu bahwa Pek Siau-thian tak sudi berbicara dengan Kiu-im Kaucu, sambil tertawa ia lantas berkata.

"Bagus sekali kalau memang begitu, lalu entah bagaimanakah pendapat dari Kiu-im Kaucu?"

Kiu-im Kaucu tidak lengsung menjawab, dalam hati pikirnya.

"Hmm! aku justru akan menanti sampai tibanya kesempatan yang baik, akan kutunggu sampai benda-benda mustika itu muncul lebih dulu sebelum mengambil tindakan selanjunya"

Tentu saja jalan pikiran ini tak diutarakan keluar, sambil tertawa jawabnya.

"Kedatangan kami orang-orang dari Kiu-im-kauw adalah demi membantu usaha Hoa kongcu untuk mencari harta kalau toh bukan Hoa kongcu yang memimpin usaha pencarian ini, lebih baik kamipun mengundurkan diri dari pekerjaan besar ini!"

Selesai berkata, dia lantas putar badan dan menyingkir dari tempat tersebut.

Baik Tang Kwik-siu maupun Pek Siau-thian bukan manusiamanusia bodoh, tentu saja merekapun tahu apa yang sedang dipersiapkan Kiu-im Kaucu, namun sebagai jago yang berpengalaman dalam dunia persilatan, mereka tak ingin membongkar rahasia tersebut sebelum tiba waktunya, maka sambil menahan diri, Tang Kwik-siu berpaling ke arah Jin Hian seraya bertanya.

"Bagaimanakah rencana saudara Jin serta Thian Ik totiang?"

Rupanya antara Jin Hian dan Thian Ik-cu telah terjalin perse-kongkolan yang erat, ketika mendengar pertanyaan itu, Jin Hian segera menjawab, Sudah lama kami dengar orang berkata bahwa istana Kiu ci kiong didirikan pada wilayah seluas puluhan li yang luar biasa lebarnya, kami tak sudi tunduk kepada orang lain dan kami berdiri sendiri tanpa mengikuti siapapun, kalau orang lain menggali pintu depan, kami akan menggali pintu belakang, kalau orang lain masuk dari kiri maka kami akan masuk lewat pintu kanan, pokoknya aku tak sudi melewati pintu yang digali orang lain.

Tang Kwik-siu tersenyum setelah mendengar perkataan itu.

"Bagaimana andaikata kalian menggali sehingga menyentuh nadi bumi yang dapat mengakibatkan gempa bumi, tanah longsor, serta air bah?"

Tanyanya. Tiba-tiba Pek Siau-thian menyela.

"Saudara Tang kwik, tanah dan hutan tiada pemiliknya, kita bisa menggali orang lainpun berhak menggali, biarlah mereka bekerja sambil mengadu nasib toh bukan manusia yang berkuasa melainkan Thian lah yang punya kuasa"

Mula-mula Tang Kwik-siu agak tertegun tetapi setelah menyaksikan hawa nafsu membunuh yang menyelimuti wajah Pek Siau-thian ia lantas dapat memahami maksud hatinya, sambil tertawa terbahak sahutnya.

"Perkataan dari saudara Pek memang tak salah, agaknya dalam urusan menggali harta karun ini hanya kita berdua saja yang harus mengeluarkan tenaga!"

Pek Siau-thian tersenyum kepada Kiu-tok Sianci, ia memberi hormat dan katanya.

"Didalam urusan pencarian harta karun ini biarlah aku bekerja sama dengan Kiu-tok Sianci, tapi berhubung sian ci serta anak muridnya kaum wanita semua maka tak perlu kalian turun tangan sendiri, silahkan empat datuk dari bukit Huang-san saja yang tampil kedepan untuk memberikan petunjuknya!"

"Empat datuk dari bukit Huang-san telah menyatakan kesanggupannya untuk membantu usaha pencarian ini, bahkan telah menyatakan pula bahwa mereka tidak berani mengambil satu bendapun yang berada didalam istana Kiu ci kiong!"

"Harta karun yang berada dalam istana Kiu ci kiong tak terhingga banyaknya, sekalipun kami kemaruk juga tak mungkin bisa memiliki semua kalau toh empat datuk itu tak mau mengambil benda apapun biar kita beri pahala lain kepada mereka sebagai tanda mata."

Begitulah keputusanpun segera diambil dan sejak itu Tiangsun Pou serta empat datuk dari bukit Huang-san berkumpul jadi satu untuk mempelajari situasi letak dari istana Kiu ci kiong dimasa lalu, kemudian meneliti pula keadaan medan yang terbentang didepan mata saat ini.

Dalam pada itu, Tang Kwik-siu telah mempelajari pula situasi dari air terjun di sebelah atas, dengan membawa anak muridnya serta sebagaian anggota Sin-kie-pang mereka berangkat keatas untuk membendung selokan dan mengalihkan aliran air terjun ketempat lain.

Selain itu diapun mengutus orang untuk turun gunung dan membeli alat perlengkapan serta bahan rangsum.

Hampir semua pekerja yang berkumpul diatas bukit Kiu ci san adalah jago-jago persilatan berilmu tinggi, oleh karenanya tenaga mereka sepuluh kali lipat lebih dahsyat dari orang biasa, selain itu gerak-gerik merekapun jauh lebih gesit.

Dengan kelebihan itulah hasil kerja mereka sangat mengejutkan sekali, ketika malam menjelang tiba, aliran air terjun tersebut sudah terbendung, dengan begitu telaga dengan airnya mulai surut dan akhirnya mengering.

Empat datuk dari bukit Huang-san dan Tiangsun Pou bekerja lembur, mereka berkumpnl diam sebuah rumah kayu sambil mempelajari terus situasi istana.

Hoa Thian-hong sendiri masih tetap melatih ilmunya diatas bukit, beberapa kali Pek Kun-gie dan Giok Teng Hujin hendak naik ke bukit untuk menengok si anak muda itu, tapi oleh karena mengetahui kelihayan dari Kiu-tok Sianci, mereka tak berani mendekat.

Tengah malam, Chin Pek-cuan dengan membawa putranya Chin Giok Linng telah tiba pula dari kota Keng ciu, menjelang fajar secara beruntun tiba pula berpuluh-puluh orang penggali harta dari pelbagai pelosok dunia persilatan, kebanyekan mereka adalah jago-jago yang ada hubungannya dengan harta karun diistana Kiu ci kiong.

Tapi setelah tiba disana, dan mereka saksikan hampir semua jago kenamaan daru dunia persilatan baik dari golongan putih maupun dari golongan hitam berkumpul semua disitu, malahan ketua Siu ki pang dan kaucu dari Mokauw berada pula disana, terpaksa mereka hanya berdiri termangu dengan mata mendelong, siapapun tak berani turun tangan secara gegabah.

Sampai menjelang tengah hari, telah seratus orang lebih jago jago tanpa kelompok yang tiba dibukit itu, diantara mereka terdapat pula keturunan dari pukulan sakti Huan Teng dan pedang satu huruf Kongsun Tong, tentu saja diantara mereka terdapat pula jago-jago yang datang untuk mencari keuntungan diair keruh, malahan Tio Ceng tang yang berasal satu desa dengan Hoa Thian-hong membatalkan niat nya untuk menerima penyerahan kembali perusahaan piau kioknya dikota Cho ciu dan buru-buru berkunjung pula ke bukit itu Keika senja menjelang tiba, secara kasar Tiangsun Pou telah berhasil membuat sebuah peta medan yang meliputi lingkaran sekitar tempat itu.

Para jago dari Seng sut pay dan Sin-kie-pang mulai bekerja mengangkuti batu dan membereskan keadaan medan dari semua halangan, meskipun mereka terdiri dari kawanan jago lihay, toh keadaanya tetap mengenaskan sekali.

Sebelum permukaan tanah disebelah kiri sempat dibersihkan, Jin Hian dan Thian Ik-cu telah memerintahkan anak buahnya untuk mulai menggali tanah disebehah lain.

Jarak antara kedua belah pihak sangat luas, tempat yang rombongan dari Jin Hian dan Thian Ik-cu gali adalah sebidang tanah dalam radius lima puluh kaki dari tempat yang dikerjakand Pek Siau-thian, selain itu tanah yang mereka galipun diluar daerah yang merupakan bekas selokan yang dibendung pihak Sin-kie-pang.

Karenanya sepintas lalu orang akan mengatakan bahwa pekerjaan mereka bebas, sedikitpun tadik menarik keuntungan dari pihak lain, malahan boleh dibilang bagaikan air sungai tak melanggar air sumur.

Ketika malam menjelang tiba, mereka berhati-hati menggali tanah selebar dua kaki dengan dalam lima depa.

Berdiri di tempat kejauhan, Pek Siau-thian mengamati pekerjaan yang dilakukan orang-orang itu, kemudian dia berpaling ke arah Tang Kwik-siu dan tanyanya sambil tertawa.

"Saudara Tang kwik, coba lihatlah liang besar itu, apakah terasa terlalu kecil kalau dibuat untuk mengubur kurang lebih tujuh puluh orang?"

Dengan wajah serius Tang kwik Sio mengamati sekejap tempat itu, kemudian sahutnya.

"Aku rasa rada terlalu kecil, kalau mereka mereka dibiarkan menggali satu hari lagi, tentunya sudah cukup!"

"Kalau memang begitu, biarlah mereka menggali sehari lagi!"

Kata Pek Siau-thian kemudian sambil mengangguk.

Selama dua orang tokoh silat itu melakukan perundingan, Jin Hian maupun Thian Ik-cu sama sekali tak merasa kalau ada orang yang sedang mengincar nyawa mereka apalagi para jago yang datang tanpa kelompok semakin tak tahu akan kejadian ini, malahan mereka telah bersatu untuk merundingkan cara lain yang dirasakan dapat pula mendatangkan hasil yang memuaskan.

oooOooo SAMPAI keesokan harinya, ketika rombongan dari Pek Siauthian mulai menggali tanah, para jago yang tidak berkelompok juga mulai bekerja sama dan melakukan penggalian kurang lebih empat lima puluh kaki jauhnya dari liang kecil yeng dibuat rombongan Jin Hian.

Terhadap perbuatan orang-orang itu, baik Pek Siau-thian maupun Tang Kwik-siu pura-pura tidak melihat, merekapun tidak melarang o rang-orang itu untuk bekerja.

Suatu hari, diatas bukit tiba-tiba bermunculan tenda dan rumah gubuk yang dibuat berjualan oleh rakyat disekitar bukit itu, ada yang menjual teh, menjual arak, menjual barang kebutuhan sehari-hari, menjual penggali tanah malahan ada seorang nyonya setengah tua dengan membawa seorang dara berusia lima enam belas tahanan menjual nyanyi di sana, suasana jadi saut ramai sekali.

Malam ini adalah malam yang keempat, Hoa Thian-hong belum juga turun dari puncak bukit, meskipun kebanyakan orang tahu bahwa empat lima hari tidak tidur bukan suatu pekerjaan yang luat biasa bagi seseorang yang telah memiliki tenaga dalam amat sempurna, namun mereka kuatir apabila pemuda itu menggunakan tenaga yang berlebihan dalam pikiran maupun latihannya sehingga mengalami jalan api menuju nereka Maka keesokan harinya pagi-pagi sekali, Kiu-tok Sianci serta Ciu Thian-hau beberapa orang secara bergilir naik kebukit dan duduk disamping Hoa Thian-hong sembari berjaga-jaga atas segala kemung-kinan yang tidak diinginkan.

Malam itu sudah tanggal dua puluh, rembulan yang sudah agak lonjong mulai mencorong ditengah awang, ketika kentongan ke empat hampir tiba, mendadak Pek Siau-thian serta anak buahnya meninggalkan tempat tidur dan serentak bermunculan dari rumah rumah kayu.

Malam itu Pek Kun-gie tak dapat tidur, ia sedang berdiri dibalik jendela sambil memandang Hoa Thian-hong yang berada diatas puncak dengan termangu-mangu, maka menyaksikan kejadian tersebut cepat ia memburu keluar rumah dari sambil menarik ujung baju Pek Siau-thian teriaknya dengan kaget.

"Ayah!"

Kho Hong-bwee pun sudah berkelebat keluar dari rumah, ia langsung menegur "Sau hat apa yang hendak kau lakukan?"

Pek Siau-thian rada menaruh rasa was-was dan jeri terhadap istrinya ini, mendengar teguran tersebut sambil tersenyum ia lantas menjawab.

"Jin loji serta Ik cu masih mendendam kepada kita lantaran kekalahan yang dialaminya ketika ada dilembah Cu-bu-kok, sekarang mereka berencana untuk menimbulkan tanah longsor dan hendak membasmi kita semua dari muka bumi, oleh karena itu sebelum mereka bertindak kita musti berusaha mendahului dan mencegah perbuatannya itu. Sesudah berhenti sebentar ia melanjutkan .

"Kau toh mengetahui sendiri bahwa mereka adalah manusia-manusia yang paling kejam dan bengis dikolong langit dewasa ini, perbuatan jahat yang dilakukan selama ini jaun lebih banyak daripadaku, aku kuatir menambah keresahan serta kemurungan hatimu, maka keputusan untuk bertindak sendiri tanpa berunding lebih dahulu dengan dirimu"

Setelah mengetahui bahwa kejadian itu sama sekali tak ada hubungannya dengan Hoa Thian-hong, legalah perasaan hati Pek Kun-gie, cepat ia melepaskan cekalannya pada ujung baju ayahnya.

Sementara Ko Hong bwe sendiri dengan dahi berkerut segera menegur.

"Sebagai umat manusia sayangilah sesamanya dengan penuh cinta kasih, apa gunanya melakukan dosa dengan membunuh orang? Bagai-manapun juga engkau harus memikirkan pula bagi keturunanmu, janganlah oleh karena perbuatanmu, anakmu yang harus merasakan hukum karmanya! Pek Siau-thian tersenyum.

"Aku bersusah payah memeras keringat dan tenaga berusaha untuk menemukan harta karun itu, kalau bukan disebabkan karena kau dan ke dua anakku, memangnya aku suka mencari peti mati buat diri sendiri!"

Ia menuding kedepan dan melanjutkan.

"Coba lihat! orangorang dari pihak Seng sut pay telah bergerak, hal ini menunjukkan bahwa persoalan ini menyangkut keselamatan jiwa orang banyak, jadi bukan aku seorang yang berpikiran sempit"

Kho Hong-bwee berpaling kesamping, benar juga Tang Kwik-siu dengan membawa anak muridnya telah bermunculan dari rumah-rumah kayu mereka rupanya mereka sedang menantikan gerak-gerik dari pihak sini.

Tak tahan lagi perempuan itu menghela napas panjang katanya dengan hambar.

"Bila aku berusaha keras untuk menghalangi perbuatanmu itu niscaya orang lain akan menuduh engkau takut bini dan tak berani berkutik terhadap istri sendiri, baiklah, lakukanlah perbuatan ini menurut perasaan hatimu, hanya ingatlah selalu bila engkau terlalu banyak membantai orang maka sama artinya engkau telah melukai perasaan hatiku!"

Tertegun Pek Siau-thian sesudah mendengar perkataan ini, selang sesaat dia baru menjawab.

"Jikalau mereka tahu diri dan segera mengundurkan diri dari pertikaian ini tidak mungkin melakukan pembantaian secara besar-besaran!"

Sehabis berkata ia lantas menjura ke arah Tang Kwik-siu dan memberi tanda agar ia yang turun tangan lebih dulu.

Melihat kode rahasia tersebut, Tang Kwik-siu balas memberi hormat dari kejauhan pula.

Pada hakekatnya dua orang sakti ini telah mengadakan kontak rahasia satu sama lainnya, maka selesai memberi hormat, masing-masing pihak lantas memimpin anak buahnya dan serentak menerjang ke arah tenda yang dihuni romboogan Jin Hian.

Posisi antara kedua belah pihak tidak terlampau jauh, selang sesaat kemudian jago-jago lihay dari pihak Teng sut pay dan Sin-kie-pang yang berjumlah tujuh delapan puluh orang bagaikan gulungan air bah telah menerjang ke depan.

Terlihatlah Jin Hian dengan sebilah golok emas yang memancarkan sinar kebiru-biruan karena mengandung racun, melompat keluar dari tendanya dengan garang kemudian menghardik keras-keras.

"Pek Loji, apa yang hendak kau lakukan?"

Rupanya pihak Hong-im-hwiee serta Thong-thian-kauw menyadari bahwa kekuatan mereka paling lemah diantara jago-jago yang hadir dibukit Kiu ci san dewasa itu, terutama sekali untuk berjaga-jaga atas serangan maut dari Pek Siauthian, maka tiap malam peronda selalu diperketat dan sekalipun tak berani bertindak secara gegabah.

Kerena itu, ketika Pek Siau-thian munculkan diri dari rumah kayunya, pihak Hong im bwe telah mengetahui akan gerakan tersebut.

Begitu Jin Hian menegur secara langsung, serentak pasukannya dengan senjata terhumus telah melesat keluar dari tenda-tenda mereka dan siap menghadapi segala kemungkinan.

Pek Siau-thian memang seorang jago yang berhati keji, tapi diapun tak berani melanggar permintaan istrinya, dalam susana kalut, ia lantas berseru keras, Siapa yang tak ingin mampus, cepat enyah dari sini!"

Berbareag dengan selesainya ucapan tersebut, sebuah serangan gencar telah dilepaskan kedada Jin Hian.

Tang Kwik-siu jauh lebih keji daripada orang-orang lain, kalau dihari-hari biasa setiap pembukaan katanya selalu diiringi senyuman, maka saat ini tanpa mengucapkan sepatah katapun ia menerjang kedepan dan langsung menyergap tubuh Thian Ik-cu.

Sejak sepasang kakinya kutung, Thian Ik-cu telah melatih ilmunya dengan sepasang toya baja, tatkala ia saksikan tibanya serangan yang amat dahsyat dari Tang Kwik-siu ,terpaksa senjatanya diputar untuk menyambut datangnya ancaman tersebut.

Dalam waktu singkat berkobarlah suatu pertempuran yang amat seru ditengah gelanggang.

Hong-im-hwie serta Thong-thian-kauw memang sudah rontok namanya dari muka bumi, akan tetapi banyak anggotnya yang masih hidup, dan mereka bukanlah manusiamanusia yeng mudah dihancurkan dengan begitu saja, terutama sekali Malaikat kedua Sim Kian anggota tubuhnya tetap utuh dan ilmu silatnya masih tetap hebat, apalagi rasa dendam telah berkecamuk dalam benaknya, membuat ia jadi paling ganas dan paling buas dalam pertarungan itu, setiap musuh yang dijumpainya segera diterjang dan diterkam dengan jurus serangan terkeji.

Suasana jadi gaduh dan ramai sekali, suara benturan senjata dan bentakan-bentakan kegusaran bergema memenuhi seluruh angkasa, kutungan badan, lelehan darah menggenangi seluruh permukaan tanah, membuat pemandangan ditempat itu tampak mengerikan sekali.

Sengit dan mengerikan sesasana pertarungan itu, semua jago dibuat terkejut dan sadar dari tidurnya, selain itu Hoa Thian-hong yang sudah empat hari empat malam terlelap dalam latihannya, ikut sadar pula dari konsentrasinya.

Selama Hoa Thian-hong mendalami ilmu silatnya, suara lain sama sekali tidak mempengaruhi dirinya, akan tetapi suara pertarungan dan jerit kesakitan seketika menyadarkan kembali anak muda itu dari semedinya.

Jilid 31 KIU-TOK SIANCI kebetulan bertugas sebagai pelindungnya, ketika dia saksikan sekujur badan pemuda itu gemetar keras dan sepasang matanya melotot besar, cepat serunya dengan suara dalam.

"Sian long, aku berada disini!"

Cepat Hoa Thian-hong berpaling, setelah mengetahui orang itu adalah Kiu-tok Sianci, wajahnya berseri karena gembira, seakan-akan ia telah berjumpa dengan ibu sendiri.

"Sian long, sadarkan pikiranmu dan minumlah sedikit air bersih!"

Kembali Kiu-tok Sianci berbisik. Hoa Thian-hong berpaling, melihat disampingnya ada air teko, ia mengambilnya dan meneguk habis isi teko tersebut, lalu bertanya.

"Sian nio, siapakah yang sedang terlibat dalam pertarungan sengit itu?"

"Pek Siau-thian serta Tang Kwik-siu dengan membawa jago-jago silatnya sedang mengerubuti Jin Hian serta Thian Ikcu!"

Sepasang alis mata Hoa Thian-hong kontan berkerut kencang.

"Lantaran harta karun mereka saling membunuh, perbuatan semacam ini tak dapat dibiarkan berlangsung terus. Sang ji harus mencampuri urusan ini."

"Biarkanlah mereka saling bunuh membunuh!"

Kata Kiu-tok Sianci dengan wajah tercengang.

"toh kejadian ini lebih banyak menguntungkan bagi kita dari pada ruginya? Buat apa kau musti mencampuri urusan ini?"

Jin Hian serta Thian Ik-cu sudah terdesak sekali, kekuatan mereka bukan terhitung sebagai suatu ancaman yang dapat mencelakai umat manusia lagi, kita wajib memberi kesempatan hidup mereka, agar mereka dapat bertobat dari perbuatan jahatnya serta banyak melakukan kebajikan!

ujar Hoa Thian-hong dengan cemas, sebaliknya Pek Siau-thian serta Tang Kwik-siu adalah dua kekuatan besar yang masih merupakan ancaman besar bagi umat Bu lim, kita tak boleh membiarkan mereka bertindak sewenang-wenang...."

Setelah berhenti sebentar, tambahnya.

"Apalagi Seng ji telah menyanggupi permintaan dari empat datuk bukit Huangsan untuk memimpin usaha penggalian harta karun ini secara adil dan bijaksana, oleh sebab itu bagaimanapun juga Pek Siau-thian dan Tang Kwik-siu musti ditundukkan lebih dahulu!"

"Anakku yang baik,"

Sahut Kiu-tok Sianci.

"bagiku, orang baik musti disayang dan orang jahat musti dibunuh, aku sama selali tidak mengerti dengan kata-kata yang telah kau ucapkan itu"

Rupanya ketekadan Hoa Thian-hong sudah bulat, ia berkata lagi dengan lembut.

"Siau nio, Seng ji sudah ambil keputusan untuk mencampuri urusan ini!"

"Aaaai....! Dengan kekuatan seorang, berapa orang musuh yang bisa kau hadapi? Dan bagaimana pula caranya engkau mencampuri urusan mereka?"

Dengan gagah Hoa Thian-hong menjawab.

"Masalah ini sudah berkembang jadi amat kritis, bagaimanapun juga aku akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk mengatasi persoalan ini, sambil berjalan kita lihat saja perkembangannya nanti!"

Berbicara sampai disitu, dia lantas bangkit berdiri dan berpekik panjang.

"Anak manis, engkau sudah empat hari empat malam tidak makan, bersantaplah lebih dulu"

Kata Kiu-tok Sianci.

Tiba-tiba ia temukan Hoa Thian-hong telah meluncur kebawah bukit, meskipun suara pekikan serasa masih berkumandang dari sisi telinganya, namun bayangan tubuh pemuda itu sudah lenyap tak berbekas.

Menyaksikan keadaan tersebut, perempuan Biau ini jadi tertegun lalu buru-buru memburu kebawah.

Sementara itu pertempuran berdarah masih berlangsung dengan serunya, dikala pekikan nyaring yang membelah angkasa tiba-tiba berkumandang memenuhi angkasa, semua orang merasa terperanjat, dalam gugupnya beberapa orang diantara mereka segera kenali suara itu sebagai pekikan dari Hoa Thian-hong.

"Semuanya berhenti!"

Terdengar Hoa Thian membentak dengan penuh kegusaran.

Bersamaan dengan seruan tersebut, sesosok bayangan manusia dengan kecepatan yang luar biasa meluncur kebawah dan langsung menerkam tubuh Tang Kwik-siu.

Pada Waktu itu Tang Kwik-siu sedang bertempur melawan malaikat kedua Sim kiam beberapa gebrakan kemudian ia menemukan bahwa ilmu silat yang dimiliki musuhnya ini ternyata lebih lihay daripada kepandaian silat dari Jin Hian maupun Thian Ik-cu, setelah mengetahui bahwa ia tak mungkin bisa rebut kemenangan dengan tangan kosong, dia memutuskan untuk melepaskan ikat pinggang emas yang terikat dipinggangnya itu untuk bertempur melawan Sim Kian....

Apa mau dikata baru saja ia bersiap sedia merebut kemenangan tiba-tiba Hoa Thian-hong menerkam dari tengah udara.

Kejadian ini segera menggusarkan hatinya, ikat pinggang naga emasnya segera digerakkan keudara kemudian secepat sambaran kilat mengejar tubuh lawan.

Hoa Thian-hong pada dasarnya mempunyai niat untuk mendemonstrasikan kelihaiannya agar semua orang tunduk dibawah perintahnya, bilamana ia memimpin gerakan pencarian harta nanti, maka dipilihnya Tang kwik Sin sebagai korban percobaan karena bagaimanapun juga ia tak enak hati untuk menyerang Pek Siau-thian menginggat Kho Hong-bwee serta putrinya mempunyai hubungan yang cukup erat dengan dirinya.

Begitu menukik kebawah ia menyergap musuhnya dengan gencar, ketika ia rasakan datangnya ancaman ikat pinggang naga emas yang mengarah dadanya, cepat tangan kanan bergetar keras kemudian dengan suatu gerakan yang luar biasa cepatnya ia tangkap kepala naga pada ujung sabuk tersebut erat-erat.

Betapa terperanjatnya Tang Kwik-siu menghadapi ancaman tersebut seakan-akan baru sadar dari impian ia lantas membentak keras.

"Hoa Thian-hong!"

Ia sendiripun tak tahu apa arti dari bentakan itu, sementara telapak tangan kirinya dengan suatu gerakan yang sangat cepat melepaskan sebuah totokan kemuka.

Totokan jari yang luar biasa dahsyatnya itu menimbulkan suara getaran yang memekikkan telinga kawanan jago yang kebetulan berada ditempat itu sama-sama merasakan telinganya menjadi sakit.

Hoa Thian-hong sama sekali tidak terpengaruh oleh desingan tajam yang memekikan telinga itu, malahan semakin bertempur ia tampak semakin bersemangat, tangan kanannya dibolak-balikkan beberapa kali melingkarkan ikat pinggang naga emas itu di atas telapak tangannya, kemudian dengan tangan kirinya ia lancarkan sebuah cengkeraman keatas pergelangan tangan Tang Kwik-siu.

Baca Juga: Pertikaian Tokoh Tokoh Persilatan 2

Baca Juga: Kisah Si Rase Terbang 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert