Eps 1 Kisah Si Rase Terbang - Chin Yung
Baca online Kisah Si Rase Terbang - Chin Yung
Cersil Kisah Si Rase Terbang - Chin Yung.
Hoei-Ho-Gwa-Toan
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com Kisah Si Rase Terbang Karya . Chin Yung Saduran . Boe Beng Tjoe "Ouw It To, Kietie, Thiankie!"
"Biauw Jin Hong, Teecong, Hapkok!"
Demikian terdengar teriakan seorang, disusul dengan berkelebatnya sinar emas yang menyambar ke arah dua papan kayu dan empat kali suara "tuk".
Sinar yang menyambar itu adalah senjata rahasia Kimpiauw.
Di atas sebuah papan dilukiskan peta badan seorang lelaki brewokan yang berbadan kasar dan di pinggir papan terdapal tiga huruf.
"Ouw It To."
Dilain papan terdapat lukisan seorang lelaki yang bertubuh tinggi kurus dengan tiga huruf "Biauw Jin Hong."
Pada peta badan kedua orang itu digam-barkan pula jalan-jalan darah.
Di bawah papan itu dipasangkan gagang yang dipegang oleh dua orang laki-laki dan papan itu dibawa lari berputar-putar di seluruh Lian-bu-teng (ruangan tempat berlatih silat).
Di pojok utara timur terdapat sebuah kursi yang diduduki oleh seorang nenek berambut putih dan berusia lima puluh tahun lebih.
Nenek itulah yang barusan berteriak-teriak memberi komando dengan menyebutkan nama-nama Ouw It To dan Biauw Jin Hong.
Seorang pemuda yang berparas cakap dan ber-usia kirakira dua puluh tahun, menimpukkan Kimpiauw menurut komando si nenek.
Kedua orang yang menyekal gagang papan, memakai jala kawat baja di masing-masing kepalanya, sedang pakaian mereka adaiah baju kapas yang tebal.
Mereka ber-pakaian begitu karena khawatir si pemuda kesalahan tangan.
Di luar, seorang wanita muda dan seorang pemuda sedang mengintip melalui lubang di kertas jendela.
Melihat jitunya timpukan Kimpiauw itu, mereka saling mengawasi dengan paras muka kaget dan kagum.
Di luar rumah, hujan turun seperti dituang-tuang dan saban-saban terdengar gemuruh geledek yang sangat nyaring.
Karena besarnya hujan, air bereipratan ke badan dua orang muda itu yang memakai jas hujan dari kain minyak.
Mereka mengintip terus dan mendengar si nenek berkata.
"Jitu sih sudah jitu, hanya kurang tenaga. Hari ini cukuplah berlatih sampai di sini."
Sehabis berkata begitu, perlahan-lahan ia berbangkit. Dua orang muda di luar jendela itu, buru-buru menyingkir dan berjalan ke arah pekarangan luar.
"Sumoay (adik seperguruan),"
Kata si pemuda.
"Permainan apakah itu?"
"Permainan?"
Yang ditanya menegasi.
"Kau toh melihat sendiri, orang itu sedang berlatih piauw. Timpukannya cukup jitu."
"Kau kira aku tak tahu orang sedang berlatih piauw?"
Kata pemuda itu.
"Apa yang aku kurang mengerti adalah namanama di atas kedua papan itu. Apa artinya Ouw It To dan Biauw Jin Hong?"
"Kalau kau tidak mengerti, apakah kau kira aku mengerti?"
Jawab si nona.
"Lebih baik tanya kepada ayah."
Muka pemudi itu yang berusia kurang lebih delapan belas tahun, berpotongan telur, parasnya cantik, kedua pipinya bersemu dadu dan pada ke-seluruhannya, gerak-geriknya lincah dan muda segar.
Si pemuda bermata besar, dengan dua alis yang tebal, sedang mukanya penuh jerawat yang berwarna merah.
Usia pemuda itu kira-kira enam tujuh tahun lebih tua daripada si nona dan meskipun parasnya kurang cakap, ia bersemangat dan gagah sekali.
Selagi mereka berjalan melewati pekarangan, hujan turun semakin deras, sehingga muka mereka menjadi basah.
Dengan sapu tangan, gadis itu menyusut air di mukanya yang bersemu dadu dan yang kelihatannya menjadi lebih segar serta ayu.
Melihat kecantikannya, pemuda itu mengawasinya dengan mata mendelong.
Ketika mengetahui dirinya sedang dipandang, gadis itu tertawa dan sembari berkata "tolol!", ia lari masuk ke dalam sebuah ruangan.
Di tengah-tengah ruangan terdapat perapian yang dikitari oleh dua puluh orang lebih, yang sedang mengeringkan pakaian basah.
Di sebelah timur berkumpul sejumlah orang Rimba Persilatan yang mengenakan pakaian ringkas pendek dan bersenjata semua.
Di sebelah barat terdapat tiga orang yang memakai seragam pembesar tentara Boan.
Mereka baru saja datang dan belum membuka pakaian mereka yang basah.
Begitu melihat masuknya si nona, mereka memandangnya secara kurang ajar sekali.
Nona itu segera menghampiri seorang tua yang berbadan kurus dan segera menceritakan apa yang dilihatnya barusan.
Orang tua itu, yang berusia kira-kira lima puluh tahun, kelihatan bersemangat dan gagah, tingginya belum cukup lima kaki, rambutnya masih hitam jengat dan kedua matanya bersinar tajam.
Mendengar penuturan wanita muda itu, ia segera mengerutkan alisnya dan berkata dengan suara perlahan.
"Lagi-lagi kau mencari gara-gara. Jika ketahuan, bukankah bakal jadi rewel?"
Gadis itu meleletkan lidahnya dan berkata sem bari tertawa.
"Ayah, selama mengikuti kau po-piauw (mengantar barang barang-barang dari satu ke lain tempat oleh orangorang Rimba Persilatan) kali ini, sudah delapan belas kali aku dimaki."
"Jika kau sedang berlatih silat dan diintip oleh orang luar, bagaimana perasaanmu?"
Tanya sang ayah.
Begitu mendengar perkataan ayahnya, nona yang sedang tertawa-tawa itu, lantas saja heruhah paras mukanya.
la ingat kepada suatu kejadian.
Tahun yang lalu, ada seorang mengintip dari luar.
di waktu ayahnya berlatih.
Ayahnya mengetahui itu, tapi berlagak pilon.
Beberapa saat kemudian, selagi berlatih melepaskan panah tanah, mendadak ia memanah mata orang itu yang segera menjadi buta Masih untung ayahnya berlaku murah hati dan tidak mengerahkan seantero tenaganya, sehingga orang itu terluput dari kebinasaan.
Harus diketahui bahwa dalam kalangan Rimba Persilatan, mengintip orang berlatih silat dianggap sebagai kedosaan yang lebih besar daripada mencuri uang.
Gadis itu merasa agak menyesal, tapi ia sungkan mengaku salah.
"Ayah,"
Katanya.
"Ilmu melepas piauw orang itu, lumrah saja. Tak ada harganya untuk dicuri."
Si orang tua menjadi gusar.
"Budak kecil!"
Ia membentak.
"Kenapa kau begitu iseng mulut, mencela-cela kepandaian orang lain?"
Nona itu tertawa dan berkata dengan suara aleman.
"Siapa suruh aku menjadi anak Pek-seng Sin-kun Ma Loopiauwtauw."
Selagi ayah dan anak itu berbicara, ketiga per-wira Boan yang tengah mengeringkan pakaian, terus memasang kuping, tapi mereka tak dapat mendengar pembicaraan mereka, karena mereka ber-cakap-cakap dengan suara perlahan.
Tapi kata-kata terakhir nona itu, diucapkan agak keras.
Begitu mendengar "Pek-seng Sin-kun Ma Loopiauwtauw" , seorang antara mereka segera menc-ngok ke arah si orang tua dan kemudian mengawasi bendera piauw natar kuning dengan sulaman hitam.
"Pek-seng Sin-kun?"
Katanya di dalam hati.
"Sombong benar!"
Orang tua itu adalah seorang she Ma, namanya Heng Kong dan dalam kalangan Kang-ouw ia diberi julukan Pek-seng Sinkun ( si Tinju malaikat yang tidak terkalahkan).
Si nona adalah puteri tung-galnya yang diberi nama It Hong, sedang pemuda itu, yang barusan turut mengintip orang berlatih piauw, adalah muridnya, seorang she Cie bernama Ceng.
Melihat perwira Boan itu saban-saban melirik It Hong, Cie Ceng jadi mendongkol dan terus mengawasi dengan sorot mata gusar.
Di lain saat, ketika perwira itu menengok, dua pasang mata mereka jadi kebentrok.
Ia gusar dan mendeliki murid Ma Heng Kong ini, yang dianggapnya mau mencari gara-gara.
Cie Ceng adalah seorang pemuda yang ber-darah panas dan karena berdampingan dengan gurunya, nyalinya menjadi lebih besar lagi.
Maka itu, lantas saja ia membalas delikan dengan delikan juga.
Perwira tersebut, yang berbadan tinggi besar, agaknya mempunyai ilmu silat yang tidak cetek.
la tertawa berkakakan dan sembari menengok kepada kawannya, ia berkata dengan suara cukup keras.
"Eh, coba lihat bocah itu yang bermata seperti mata bangsat. Apakah kau sudah mencuri perempuannya?"
Kedua kawannya lantas saja turut tertawa besar. Dengan gusar, Cie Ceng meloncat bangun.
"Apa kau kata?"
Ia membentak. Perwira itu menyengirdan berkata.
"Bocah, aku sudah bicara salah. Maaflah."
Mendengar orang itu mengakui kesalahannya, amarah Cie Ceng lantas menjadi reda, tapi selagi ia mau duduk pula, orang itu berkata lagi "Aku tahu, orang bukan mencuri perempuanmu, tapi mencuri adikmu."
Cie Ceng kembali meloncat, tapi sebelum ia sempat menubruk orang yang mulutnya iseng itu, Ma Heng Kong sudah keburu membentak.
"Ceng-jie! Duduk!"
"Suhu (guru)! Apakah kau tak dengar?"
Kata Cie Ceng dengan muka merah.
"Para Tayjin (orang berpangkat) hanya guyon-guyon, tak ada sangkut pautnya dengan kau,"
Kata sang guru dengan suara tawar.
Cie Ceng tak berani membantah pula.
Dengan sorot mata gusar ia mengawasi ketiga perwira itu dan kemudian duduk pula.
Mereka bertiga tertawa terbahak-bahak dan mata mereka melirik It Hong secara lebih kurang ajar lagi.
Ma It Hong pun sangat gusar, tapi ia mengetahui, bahwa ayahnya paling sungkan berurusan dengan pegawai kerajaan.
Selagi memutar otak untuk mencari daya guna menghajar tiga perwira itu, tiba-tiba suatu sinar terang berkeredep, dibarengi dengan menggelegarnya halilintar yang nya-ring luar biasa.
Sementara itu, air hujan masih tetap turun seperti dituangtuang.
Di antara berisiknya hujan, sekonyong-konyong terdengar suara rhanusia di depan pintu.
"Besar sungguh hujan ini,"
Kata orang itu.
"Bolehkah aku numpang meneduh di sini?"
Seorang bujang lelaki dari gedung itu, lantas saja ketuar menyambut sambil berkata.
"Masuklah, tuan. Di sini ada perapian yang hangat."
Pintu ditolak dan masuklah dua orang, satu lelaki dan satu perempuan.
Yang lelaki, seorang yang berusia kira-kira tiga puluh tahun dengan badan tinggi besar, cakap dan ganteng, menggen-dong sebuah bungkusan di punggungnya, sedang yang perempuan adalah seorang wanita cantik elok yang berusia kira-kira dua puluh dua tahun.
Ma It Hong sudah boleh dikatakan cantik, tapi dibanding dengan wanita itu, puteri Ma Loopiauwtauw ini masih kalah jauh sekali.
Mereka lantas saja membuka baju hujan mereka.
Tubuh wanita itu dikerebongi baju luar si lelaki, tapi seantero pakaiannya, luar dalam, semua basah kuyup.
Lelaki itu masuk sambil menuntun tangan wanita tersebut dan dilihat dari gerak-geriknya, tak bisa salah lagi mereka adalah sepasang suami isteri.
Sesudah menggelar rumput kering, lelaki itu segera membimbing isterinya duduk di atas lantai.
Pakaian mereka indah sekali, sedang di leher wanita tersebut terdapat seuntai kalung mutiara, yang bun-dar-bundar dan besar dan harganya tentu mahal sekali.
Ma Heng Kong tereengang.
"Daerah ini tidak aman,"
Katanya di dalam hati.
"Kalau bukan orang hartawan, mereka tentu orang berpangkat. Kenapa, tanpa membawa pengiring, mereka berani jalan di sini?"
La sudah berpengalaman luas dalam dunia Kang-ouw, tapi tak juga ia dapat menebak, siapa adanya pasangan itu.
Nyonya tersebut kelihatnanya sangat mende-rita, kedua matanya merah akibat sampokan angin dan hujan.
Dengan memakai terus pakaian basah itu, tak bisa tidak, ia akan mendapat sakit.
Melihat itu, Ma It Hong jadi merasa kasihan.
Ia membuka tempat pakaiannya dan Sesudah mengeluarkan seperangkat pakaian, ia mendekati wa-nita itu sambil berkata.
"Nyonya, pakailah ini. Sesudah pakaianmu kering, kau bisa menukar lagi."
Nyonya itu sangat berterima kasih.
Ia berbang-kit sembari tertawa dan melirik suaminya, seperti orang ingin minta permisi.
Lelaki itu manggutkan kepalanya dan menghaturkan terima kasih sembari tertawa.
Nyonya itu lalu menarik tangan Ma It Hong, mereka berdua pergi ke ruangan belakang dan meminjam kamar untuk berganti pakaian.
Ketiga perwira Boan itu mengawasi dengan sorot mata kurang ajar.
Orang yang barusan bereekeok dengan Cie Ceng dan nyalinya paling besar, lantas saja berkata dengan suara perlahan.
"Aku mau mengintip."
Seorang kawannya menyengir.
"Jangan cari urusan, Looho,"
Katanya.
Tapi sembari mengedip-ngedipkan matanya, orang she Ho itu terus ber-bangkit.
Baru berjalan beberapa tindak, ia rupanya ingat akan sesuatu dan kembali lagi untuk meng-ambil goloknya, yang lantas digantungkan di pinggangnya.
Melihat musuhnya pergi ke belakang, Cie Ceng yang masih mendongkol, lantas melirik gurunya.
Ia ini ternyata sedang bersemedhi, sambil meramkan kedua matanya.
Dua piauwtauw lainnya, seorang she Cek dan yang seorang lagi she Yo, bersama lima pembantu dan belasan tukang kereta, tengah bertiduran di sekitar kereta barang.
Melihat begitu, Cie Ceng buru-buru bangun dan terus mengikuti perwira she Ho itu.
Mendengar bunyi tindakan, perwira itu menengok.
Ia tertawa dan menanya.
"Bocah, kau baik?"
"Pembesar bau, kau baik?!"
Cie Ceng mencaci.
"Kepengen dihajar?"
Tanya orang she Ho itu sembari menyengir.
"Tak salah,"
Jawab Cie Ceng.
"Guruku melarang aku menghajar kau. Apakah kau setuju jika kita membereskan sengketa ini secara diam-diam?"
Perwira itu yang menganggap ilmu silatnya ting-gi, tentu saja tak memandang sebelah mata kepada satu "bocah"
Seperti Cie Ceng.
Apa yang ia kha-watirkan hanyalah jumlah rombongan Cie Ceng yang agak besar, sehingga kalau mesti bertempur secara campur aduk, pihaknya yang hanya terdiri dari tiga orang, sudah pasti akan menderita ke-kalahan.
Maka itu, ia girang mendengar usul pemuda itu.
Ia manggut-manggutkan kepalanya dan berkata.
"Baiklah. Kita pergi jauhan. Jika kedengaran gurumu, pertempuran ini tak mungkin kejadian."
Setelah melewati cimehe dan selagi mencari tempal yang cocok, dari sebuah lorong, tiba-tiba muncul seorang, yang berpakaian indah, usianya kira-kira tujuh belas tahun, parasnya cakap dan ia ini bukan lain daripada pemuda yang tadi berlatih melepas piauw.
"Ah, kenapa aku tidak mau meminjam ruangan berlatihnya?"
Kata Cie Ceng dalam hatinya. Ia menghampiri dan berkata sembari memberi hormat.
"Hengtiang (kakak), selamat bertemu."
Pemuda itu membalas hormat dan menanya.
"Siapa adanya tuan?"
"Dengan tuan perwira itu, aku mempunyai sedikit sengketa,"
Jawab Cie Ceng sembari menunjuk si perwira.
"Bisakah aku meminjam Lian-bu-teng Hengtiang?"
Pemuda itu merasa agak heran.
"Darimana ia mengetahui, bahwa aku mempunyai Lian-bu-teng?"
Tanyanya pada dirinya sendiri. Akan tetapi, seperti biasa, orang yang berkepandaian silat, paling senang menonton perkelahian. Maka itu, lantas saja ia menyahut.
"Bagus! Bagus!"
Tanpa berkata suatu apa lagi, ia mengajak kedua tamunya masuk ke ruangan berlatih.
Ketika itu, Lian-bu-teng sudah kosong.
Di ping-gir empat penjuru tembok terdapat rak-rak senjata, karung pasir, kantong anak panah, cio-so (batu yang dibuat seperti kunci untuk berlatih silat) dan Iain-lain alat.
Di sebelah barat ruangan itu terdapat panggung Bwee-hoa-chung dengan tujuh puluh lima pelatoknya.
(Bwee-hoa-chung, atau panggung bunga bwee, dibuat dari pelatok-pelatok kayu.
Orang yang berlatih silat atau bertempur, harus berdiri di atas pelatokpelatok itu).
Melihat perlengkapan itu, si perwira yakin, bahwa keluarga tersebut adalah keluarga kalangan persilatan yang tidak boleh dipandang ringan.
Ia berpaling kepada tuan rumah dan berkata sembari merangkap kedua tangannya.
"Aku datang di rumah tuan untuk numpang meneduh dari serangan hujan. Bolehkah aku mendapat tahu, she dan nama tuan yang besar?"
Pemuda itu buru-buru membalas hormat.
"Aku yang rendah she Siang bernama Po Cin,"
Jawabnya.
"Siapakah nama kedua tuan ini?"
"Namaku Cie Ceng,"
Jawab murid Ma Heng Kong.
"Guruku adalah Pek-seng Sin-kun Ma Heng Kong, Cong-piauw-tauw (pemimpin) dari Hui-ma Piauw-kiok."
Sembari memperkenalkan diri, ia meng-awasi lawannya dengan sikap bangga.
"Sudah lama aku mendengar nama besar itu,"
Kata Siang Po Cin sembari menyoja.
"Dan tuan?"
"Aku adalah Gie-cian Sie-wie (Pengawal Kai-sar) kelas dua dari pasukan golok, namaku Ho Sie Ho,"
Jawabnya.
"Ah, kalau begitu aku sedang berhadapan dengan seorang Sie-wie Tayjin,"
Kata tuan rumah.
"Aku dengar, di kota raja terdapat delapan belas ahli silat utama dalam islana. Ho Tayjin tentulah juga mengenal mereka."
"Ya, aku kenal sebagian besar,"
Sahut Ho Sie Ho.
"Siang Kongcu,"
Kata Cie Ceng dengan suara keras.
"Kumohon kau sudi menjadi saksi. Aku dan orang she Ho itu sudah mufakat untuk menjajal tenaga secara adil. Tak perduli siapa yang menang, siapa yang kalah, kejadian ini tidak boleh diuwarkan di luaran."
La mengajukan syarat tersebut oleh karena kha-watir diomeli gurunya. Ho Sie Ho tertawa terbahak-bahak.
"Memang berkelahi melawan bocah cilik bukan suatu hal yang dapat dibanggakan!"
Katanya.
"Tak ada harga untuk menyombongkan diri di depan orang banyak. Bocah! Hayo maju!"
Sesudah berkata begitu, ia menyelipkan jubah panjangnya di pinggang, sedang Cie Ceng lalu mem-buka thungshanya, melilit thaucangnya (kuncir pada jaman pemerintahan Boan) di kepalanya dan me-masang kuda-kuda.
Melihat lawannya memasang kuda-kuda menurut ilmu silat Cap-kun, hati Ho Sie Ho menjadi lega.
"Hm! Sebegitu saja murid Pek-seng Sin-kun?"
Ia menggerendeng.
"Anak umur tiga tahun juga sudah mahir dalam ilmu itu."
Harus diketahui, bahwa "Tam-cap-hoa-hong" (Tam-tui, Cap-kun-Hoa-kundan Hong-bun) adalah empat rupa pelajaran silat yang di Tiongkok Utara merupakan pokok ilmu silat dan harus dikenal oleh setiap orang yang belajar silat.
Tanpa menyia-nyiakan tempo lagi, Sesudah ber-kata "sambutlah" , Ho Sie Ho segera menyerang dengan pukulan Siang-po Ya-ma Hun-cong (Kuda liar membelah suri), pukulan dari Thay-kek-kun, ilmu silat Lweekeh yang pada masa itu sangat di-gemari orang.
Buru-buru Cie Ceng menggeser kaki kirinya ke belakang untuk mengegos pukulan tersebut dan hampir berbareng dengan itu menyabet dengan tangan kirinya.
Sambil memutarkan badan, dengan gerakan Coan-sin Pauw-ho Kwie-san (Memutar badan memeluk harimau pulang ke gunung), Ho Sie Ho berkelit.
Tapi, dengan gerakan yang luar biasa cepatnya, Cie Ceng mengulangi serangannya dengan jotosan ke arah muka lawannya.
Kali ini.
Ho Sie Ho tidak keburu mengegos lagi dan harus menangkis dengan lengannya.
Begitu kedua lengan mereka beradu, ia merasakan pundaknya kesemut-an.
"Ah! Tak dinyana bocah ini mempunyai tenaga yang begitu besar,"
Katanya di dalam hati.
Dalam tempo cepat, mereka sudah bergebrak belasan jurus.
Siang Po Cin yang menonton di pinggir, mendapat kenyataan, bahwa tindakan Cie Ceng sangat mantap dan pukulannya bertenaga, sedang gerakan Ho Sie Ho enteng lincah, suatu tanda, bahwa ia mempunyai ilmu mengentengkan badan yang lumayan.
Sesudah saling menyerang beberapa jurus lagi, dengan suatu bentakan keras, Ho Sie Ho meng-hantam pundak Cie Ceng, yang lalu berkelit sembari menendang, Ho Sie Ho mengegos dan mengirim pula tinjunya dengan pukulan Gioklie Coan-so (Dewi menenun), yang telak mengenai lengan Cie Ceng.
Tapi pemuda itu, yang bertenaga besar, seperti tidak merasakan suatu apa dan terus menjotos dengan pukulan Kiong-po Pek-tah (Memukul sembari menindak).
"Duk!"
Tinju Cie Ceng mampir jitu di dada Ho Sie Ho yang lantas saja terhuyung beberapa tindak, akan kemudian jatuh terduduk di atas lantai.
"Bagus!"
Demikian terdengar seruan seorang wanita.
Siang Po Cin menengok.
Ternyata, di depan pintu berdiri dua orang wanita, seorang nyonya dan seorang gadis, yaitu Ma It Hong dan si nyonya muda yang baru saja selesai menukar pakaiannya yang basah.
Pujian "bagus!"
Itu diucapkan Ma It Hong yang merasa girang melihat suhengnya memperoleh kemenangan.
Ho Sic Ho yang dadanya sakit berbareng malu, lantas saja jadi mata gelap.
Sembari meloncat ba-ngun, ia menghunus goloknya dan tanpa berkata suatu apa, segera membacok.
Cie Ceng tidak men-jadi gentar.
Dengan ilmu Kong-chiu-jip-pek-to (De-ngan tangan kosong masuk ke dalam rimba golok), ia melayani musuhnya dengan waspada.
Melihat kekalapan perwira itu, sedang suhengnya tidak ber-senjata, Ma It Hong jadi khawatir.
Tapi, selagi ia mengawasi jalan pertempuran dengan penuh perhatian, nyonya muda itu menarik tangannya seraya berkata.
"Hayolah! Aku paling sebal melihat orang berkelahi."
"Tunggu sebentar,"
Ma It Hong menolak.
Nyonya itu mengerutkan alisnya dan lantas berlalu sendirian.
Selain It Hong, Siang Po Cin pun mengawasi segala gerakan-gerakan kedua lawan itu dengan menggenggam sebatang Kimpiauw, siap-sedia untuk menolong Cie Ceng, jika perlu.
Dalam gelanggang, Cie Ceng sedang mencurah-kan seluruh perhatiannya kepada golok musuh.
Suatu ketika, Ho Sie Ho membacok mukanya.
Cie Ceng miringkan badannya sembari menendang, sedang Ho Sie Ho lantas saja memutarkan senjatanya dan membabat kedua kaki pemuda itu.
Bagaikan kilat, sambil melompat, Cie Ceng menjotos dengan tinjunya yang sekali lagi tepat mengenai hidung Iawannya.
Sedang kaki tangan Ho Sie Ho kalang kabut, tangan kanan Cie Ceng meluncur dan dilain saat, golok itu sudah kena dirampasnya.
Ho Sie Ho terkesiap dan buru-buru meloncat mundur beberapa tindak, sembari mengusap hidungnya yang berlumuran darah.
"Apakah sekarang kau masih berani memaki orang?"
Tanya Cie Ceng sambil melemparkan golok orang.
Paras muka perwira Boan itu menjadi merah seperti kepiting direbus dan ia tak berani mengeluarkan sepatah kata.
Sambil mengedipkan matanya, Siang Po Cin buru-buru menarik baju Cie Ceng seraya berkata dengan suara agak nyaring.
"Ho Tayjin salah tangan. Kedua belah pihak sebenarnya belum ada yang kalah atau memang. Sudahlah. Ilmu kedua saudara sama-sama tingginya, aku merasa kagum sekali."
"Kenapa begitu?"
Tanya Cie Ceng, tidak mengerti.
"Masing-masing mempunyai kebagusan sendiri,"
Kata Siang Po Cin sambil tertawa.
"Cap-kun dari Cie-heng sangat bagus, tapi Thay-kek-kun dan Thay-kek-to Ho Tayjin juga tidak kurang lihaynya. Cic-heng, kau hanya beruntung karena sedetik Ho Tayjin tidak berwaspada. Tapi, mengenai ilmu yang sesungguhnya, adalah Ho Tayjin yang lebih unggul."
Sehabis berkata begitu, ia mengeluarkan sapu tangannya yang lalu diberikan kepada Ho Sie Ho untuk menyeka darah dari hidungnya.
Cie Ceng sebenarnya ingin menarik urat lagi, tapi Ma It Hong sudah menarik tangannya sembari berkata.
"Suko, hayolah!"
Karena tidak mengerti maksud Siang Po Cin, Cie Ceng merasa mendongkol sekali dan berlatu bersama Ma It Hong sembari mengawasi tuan ru-mah dengan sorot mata gusar.
Selagi mereka ber-jalan melewati cimehe, mendadak guntur berbunyi dan di antara suara guntur terdengar pula suara tertawa Ho Sie Ho dan Siang Po Cin, yang agaknya sedang mentertawakan mereka berdua.
Demikianlah, walaupun menang berkelahi, Cie Ccng jadi semakin mendeluh dan dengan uring-uringan ia duduk di pinggir perapian.
Ia melirik dan melihat gurunya masih tetap bersila dengan meram-kan mata.
Dilain saat, Ho Sie Ho masuk, ia lalu kasak-kusuk dengan kedua kawannya dan kemu-dian tertawa berkakakan bertiga-tiga, sedang mata mereka tak hentinya melirik nyonya muda yang cantik itu.
Berselang beberapa saat lagi, Pek-seng Sin-kun agaknya mendusin.
Ia berbangkit dan sesudah mengulet beberapa kali, menghampiri kereta piauw.
"Ceng-jie, kemari kau!"
Ia memanggil.
"Coba lihat, kenapa ini?"
Cie Ceng buru-buru menghampiri dan menanya.
"Kenapa?"
Dengan muka menghadapi tembok dan mem-buat gerakan seperti sedang membetulkan kereta, Ma Heng Kong berkata dengan suara perlahan.
"Anak tolol! Kenapa tadi tendanganmu miring? Jika tidak, tak usah kau menggunakan tempo begitu lama."
Cie Ceng terkesiap.
"Suhu... li... hat?"
Tanyanya dengan suara gemetar.
"Hm! Jangan kau kira bisa main gila di hadapan gurumu!"
Sang guru menggerendeng.
"Jika nyalimu tidak terlalu kecil dan takut mam-pus, sebenarnya siang-siang kau sudah menang."
Biar bagaimanapun juga, Cie Ceng harus meng-akui jitunya perkataan itu. Memang benar, pada gebrakan-gebrakan pertama, ia berlaku luar biasa hali-hali karena ia belum dapat meraba "isi"
Lawan-nya.
"Sekarang kau lekas menghaturkan terima kasih kepada pemuda she Siang itu,"
Perintah Ma Heng Kong.
"Lain orang usianya banyak lebih muda, tapi otaknya jauh lebih cerdas daripada kau."
Cie Ceng kembali terkejut.
"Suhu,"
Katanya.
"Terima kasih apa? Orang she Siang itu kurang baik hatinya, bukan manusia baik-baik."
"Hm!"
Ma Heng Kong kembali menggerendeng.
"Benar hatinya kurang baik, tapi kurang baik untuk melindungi kau, Cie Toaya!"
Si murid tergugu, ia mengawasi dengan mata niendelong, tanpa mengerti apa yang dimaksudkan gurunya.
"Siapa yang kau hajar tadi?"
Tanya Ma Heng Kong.
"Dia adalah Gie-cian Sie-wie kelas dua dari pasukan golok. Dan kita? Kita adalah orang-orang yang mencari sesuap nasi dari pekerjaan po-piauw. Jika tuan tuan besar itu ingin menyusahkan kau, apakah kau kira bisa mencari makan? Dengan kata-katanya yang manis, pemuda she Siang itu sudah menolong muka paduka Sie-wie itu dan maksudnya adalah, supaya kau tak usah berabe di hari kemudian."
Cie Ceng mendusin dan lantas saja berkata.
"Benar, benar, kau benar Suhu!"
Tanpa menunggu perintah untuk kedua kalinya, buru-buru ia berlari-lari ke Lian-bu-teng, di mana Siang Po Cin masih berlatih ilmu silat Cap-kun yang barusan diguna-kannya sendiri.
Melihat datangnya Cie Ceng, paras muka Siang Po Cin jadi bersemu merah dan segera menghentikan latihannya.
"Siang Kongcu,"
Kata Cie Ceng sambil merang-kap kedua tangannya.
"Guruku memerintahkan aku datang menghaturkan banyak terima kasih kepada mu. Oleh karena tidak mengerti maksudmu yang sangat mulia. tadi aku sudah berlaku kurang ajar dan untuk itu, aku mohon kau sudi memaafkannya."
"Cie Toako, jangan kau bicara begitu,"
Kata Siang Po Cin sembari tertawa dan membalas hormat.
"Ilmu silatmu adalah sepuluh kali lebih tinggi daripada orang she Ho itu. Siauwtee sungguh merasa kagum."
Mendengar pujian itu, Cie Ceng jadi merasa girang sekali. Kemudian ia bereakap-cakap dengan pemuda itu.
"Siang Lauwtee (adik),"
Katanya.
"Ilmu cabang persilatan mana yang kau pelajari?"
"Siauwtee baru saja belajar dan tak dapat bicara tentang cabang ini atau cabang itu,"
Jawabnya.
"Barusan aku merasa kagum melihat pukulanmu yang sangat lihay. Bukankah begini?"
Sembari berkata begitu, ia menendang dengan kaki kanannya, membabat dengan telapakan tangan kanannya dan mendorong ke alas dengan telapak tangan kirinya.
Dapat dimengerti, bahwa hal itu sudah lebih-lebih menggirangkan hati Cie Ceng yang lantas saja berkata.
"Pukulan itu mempunyai dua baris Kouw-koat (teori) yang berbunyi. Daratan lautan mendekati pintu, tiga tidak memperdulikan, menjotos dan membabat jangan sungkansungkan."
Begitu perkataan tersebut keluar dari mulutnya, ia ingat, bahwa itu adalah rahasia pelajaran yang tidak boleh sembarang dibuka terhadap orang luar dan oleh karena itu, buru-buru ia berputar haluan.
"Apa yang kau jalankan barusan adalah sangat tepat."
"Tapi, apakah artinya Daratan lautan mendekati pintu, tiga tidak memperdulikan?"
Tanya Siang Po Cin.
"Aku... aku juga tak tahu,"
Jawabnya dengan muka bersemu merah, karena ia tidak biasa berdusta.
Siang Po Cin yang mengetahui, bahwa pemuda itu tak mau membuka rahasia, tidak mau mendesak terlebih jauh dan terus mengumpak-umpak, sehingga Cie Ceng merasakan dirinya seolah-olah mumbul di awang-awang.
"Siang Lauwtee,"
Katanya.
"Sekarang baik kita jangan membicarakan segala hal yang tak ada artinya. Cobalah kau menjalankan ilmu silatmu dan jika ada apa-apa yang kurang betul, aku akan memberi petunjuk-petunjuk."
Siang Po Cin menjadi girang dan lantas saja mempertunjukkan ilmu silat Tam-tui yang mempunyai dua belas jalan.
Ternyata, ia sudah hapal ilmu tersebut dan dapat menjalankannya tanpa membuat kekeliruan.
Hanya sayang, pukulannya tidak mantap dan tindakan kakinya agak melayang, sehingga jika digunakan dalam pertempuran yang sungguh-sungguh, silat itu yang kelihatannya sangat indah, sedikit pun tiada gunanya.
Cie Ceng menggeleng-gelengkan kepalanya dan sesudah Siang Po Cin selesai menjalankan dua belas jalan itu, ia berkata sambil menghela napas.
"Saudara, janganlah berkecil hati jika aku berterus terang. Guru yang mengajar kau, hanya membuang-buang tempomu yang sangat berharga."
Selagi ia hendak memberi penjelasan terlebih lanjut, tiba tiba Ma It Hong muncul di depan pintu dan berkata.
"Suko, ayah memanggil kau."
Cie Ceng lantas saja pamitan dan butu burn kembali kepada gurunya.
Dalam ruangan itu so karang bertambah pula dua orang yang numpang meneduh dari serangan hujan.
Seorang di antara mereka itu hanya mempunyai sebuah lengan, lengan kiri.
Suatu bekas bacokan golok yang sangat panjang, dari alis kanan ke pinggir mulut kiri, melewati hidung, tampak pada mukanya, sehingga di bawah sinar api, parasnya kelihatan menakutkan sekali.
Seorang lagi adalah bocah yang berusia kira-kira 14 tahun.
Badannya kurus dan kulitnya kuning.
Satu-satunya persamaan antara kedua orang itu adalah pakaian mereka yang sangat rombeng.
Cie Ceng melirik mereka dan terus menghampiri gurunya.
"Suhu, ada apa..."
Tanyanya.
"Kenapa kau pergi begitu lama..."
Tanya Ma Heng Kong dengan suara gusar.
"Kau mengagul-agulkan kepandaianmu, bukan?"
"Mana murid berani?"
Jawabnya.
"Tuan rumah she Siang itu mempunyai ilmu melepas piauw yang boleh juga, hanya sayang, ilmu silatnya terlalu cetek."
"Anak tolol!"
Bentak sang guru.
"Dengan kepandaianmu yang tiada artinya, dua orang seperti kau masih belum tentu dapat menandingi dia."
Cie Ceng tertawa.
"Mungkin sekali tidak begitu,"
Katanya.
"Tam-tui yang diajarkan gurunya, hanya bagus dilihat, tapi tak dapat digunakan."
"Kau tahu siapa gurunya?"
Tanya Ma Heng Kong. Cie Ceng heran.
"Apakah Suhu tahu siapa guru Siang Po Cin, sedang ia sendiri belum pernah bertemu dengan orang she Siang itu dan yang belum pernah melihat ilmu silatnya?'' tanyanya di dalam hati.
"Entah, murid tak tahu,"
Jawabnya.
"Tapi mesti-nya bukan seorang pandai."
"Hm! Bukan seorang pandai!"
Ma Heng Kong mengcluarkan suara di hidung.
"Lima belas tahun berselang, gurumu telah dibacok dan digebuk orang, sehingga harus berobat tiga tahun baru menjadi sembuh. Siapakah orang itu?"
"Pat-kwa-to (si Golok Pat-kwa) Siang Kiam Beng,"
Jawab Cie Ceng. 'Tak salah,"
Sang guru berbisik.
"Siang Kiam Beng adalah orang Bu-teng-koan, propinsi Shoa-tang. Bukankah tempat ini Bu-teng-koan? Ketika baru masuk di sini, aku tidak memperhatikan. Coba lihat. Bukankah lukisan di penglari itu merupakan Pat-kwa?"
Cie Ceng berdongak dan lihat gambar Pat-kwa dari air emas di atas penglari itu.
"Suhu, lekas bersiap!"
Katanya, tergugu.
"Kalau begitu, kita sudah masuk ke dalam sarang musuh."
"Jangan ribut, Siang Kiam Beng sudah dibinasakan orang,"
Kata gurunya.
Cie Ceng memang pemah mendengar penuturan gurunya, bahwa selama hidupnya, guru itu baru sekali dirubuhkan orang dan orang itu adalah Siang Kiam Beng.
Tapi, oleh karena kejadian tersebut adalah kejadian yang memalukan dan gurunya tidak pernah menyebut-nyebut lagi, ia pun tak berani menanyakan pula.
Baru sekarang ia mengetahui, bahwa Siang Kiam Beng sudah binasa.
"Apakah dibinasakan oleh Suhu?"
Tanyanya, berbisik.
"Andaikata aku belajar lagi sampai ajalku, tak dapat aku menandingi kepandaian Siang Kiam Beng,"
Jawab Ma Heng Kong dengan suara tawar.
"Orang yang kepandaiannya secetek aku, mana mampu mengambil jiwa orang she Siang itu?"
Cie Ceng tereengang dan menanya pula.
"Kalau begitu, siapa yang membunuh dia?"
"Orang yang namanya tertulis di atas papan itu,"
Jawabnya.
"Siang Kiam Beng telah dibinasakan oleh kedua orang itu."
Cie Ceng membuka kedua matanya lebar-lebar.
"Ouw It To dan Biauw Jin Hong?"
Tanyanya.
Sebagai murid, Cie Ceng memandang gurunya bagaikan malaikat.
Ia menganggap, dalam dunia ini, jarang ada manusia yang dapat menandingi kepandaian Pek-seng Sin-kun Ma Loopiauwtauw.
Tapi sekarang, dari mulut gurunya sendiri, ia mendengar, bahwa ilmu silat Pat-kwa-to Siang Kiam Beng masih jauh lebih tinggi daripada kepandaian gurunya itu, sedang Ouw It To dan Biauw Jin Hong bahkan lebih atas lagi dari Siang Kiam Beng.
Maka itu, tidak mengherankan, jika ia jadi terperanjat.
"Orang apakah itu, Ouw It To dan Biauw Jin Hong?"
Ia menanya pula.
"Kepandaian Ouw It To lebih tinggi sepuluh kali lipat daripada aku,"
Gurunya menerangkan.
"Hanya sayang, belasan tahun berselang, ia sudah meninggal dunia."
"Mati sakit?"
Tanya Cie Ceng.
"Dibinasakan oleh Tah-pian Thian-hee Bu-tek-chiu, Kimbian-hud Biauw Jin Hong,"
Jawabnya. (Tah-pian Thian-hee Butek-chiu berarti tiada tandingannya di kolong langit. Kim-bianhud berarti Buddha muka emas). Perkataan "Tah-pian Thian-hee Bu-tek-chiu Kim-bian-hud Biauw Jin Hong"
Diucapkan hampir berbareng dengan menyambarnya kilat yang disusul menggelegarnya guntur.
Selagi Cie Ceng hendak membuka mulut lagi, dari sebelah jauh mendadak terdengar derap kaki kuda dan sesaat kemudian ternyata.
bahwa yang datang itu tidak kurang dari belasan penunggang kuda.
Begitu mendengar bunyi kaki kuda, suami isteri yang berparas cakap itu saling mengawasi dan walaupun mereka coba menekan perasaannya, semua orang dapat melihat, bahwa mereka sedang berada dalam ketakutan hebal.
Seperti orang yang takut akan panasnya hawa api, yang Iclaki menarik tangan si wanita dan mereka berkisar ke pojok yang agak jauh.
Belasan kuda itu berhenti di depan rumah dan sesudah terdengar beherapa teriakan, tujuh delapan orang pergi ke belakang dengan mengambil jalan memutar.
Ma Heng Kong berubah paras mukanya.
"Hati-hati,"
Ia berbisik.
"Siapa yang datang?"
Tanya Cic Ceng dengan suara gemetar. Ma Heng Kong tidak menjawab pertanyaan muridnya, tapi lantas memberi komando dengan suara keras.
"Siapkan senjata! Lindungi piauw!"
Keadaan lantas saja menjadi kalut.
Dua piauw-tauw she Cek dan she Yo segera memerintahkan tukang kereta piauw itu menjadi satu dan semua orang lantas saja menghunus senjata.
Tapi Ma It Hong justru menjadi girang dan sembari mencabut senjatanya, golok Liu-yap-to, ia menanya.
"Ayah, orang dari mana?"
"Belum tahu,"
Jawab sang ayah, yang kemudian menambahkan.
"Sungguh heran! Tanpa lebih dulu ada anginanginnya, mereka datang begitu menda-dak."
Dilain saat, tujuh delapan orang yang mengena-kan pakaian serba hitam dan bersenjata golok, sudan berada di atas tembok luar.
Ma It Hong lantas saja mengayun tangannya untuk melepaskan panah tangan, tapi ia keburu dicegah oleh ayahnya yang membentak.
"Jangan sembarangan! Ikuti gerakan-ku!"
Orang-orang yang berada di atas tembok itu mengawasi ke dalam ruangan tanpa berkata suatu apa.
Mendadak, pintu depan didorong orang dan ke dalam ruangan itu lantas masuk seorang lelaki yang mengenakan pakaian sutera berwarna biru, tapi mukanya sangat menakutkan, sehingga pakaiannya yang indah itu sungguh tidak sesuai dengan mukanya.
Sebelah tangannya mencekal baju hujan yang baru dibukanya.
Begitu masuk, ia mendongak dan tertawa terbahak-bahak.
Ma Heng Kong merangkap kedua tangannya dan berkata.
"Sahabat, harap kau sudi memaafkan mata Loohan yang tak ada bijinya, sehingga Loohan belum datang berkunjung untuk memberi hormat. Bolehkah aku mendapat tahu, she dan nama sahabat yang mulia dan di mana adanya pesanggrahan sahabat."
Sementara itu, tuan muda dari Siang-kee-po, Siang Po Cin, yang mengetahui kedatangan pe-nunggang-penunggang kuda itu, sudah berada di depan ruangan tersebut dengan membekal Kim-piauw dan menyoren golok di pinggangnya.
Kepala perampok itu tidak bersenjata.
Ia memakai cincin Giok putih pada salah sebatang jeriji-nya, kancing emas pada jubahnya dan tangan kirinya mencekal Pit-yan-hu kristal (semacam pipa), sehingga ia kelihatannya seperti seorang saudagar kaya raya.
"Namaku yang rendah Giam Kie,"
Ia memper-kenalkan diri.
"Bukankah Looenghiong yang mena-makan diri sendiri sebagai Pek-seng Sin-kun Ma Heng Kong?"
"Mana berani aku menamakan diri sendiri secara begitu,"
Jawab Ma Heng Kong sembari merangkap kedua tangannya.
"Julukan tersebut telah diberikan oleh sahabat-sahabat Kangouw guna membikin terang muka Loohan, tapi sebenar-benarnya julukan itu adalah kosong belaka."
Sedang mulutnya berkata begitu, hatinya penuh dengan keheranan, oleh karena nama Giam Kie sama sekali tidak dikenal dalam kalangan Kang-ouw.
Giam Kie tertawa besar dan menuding kawan-kawannya yang berdiri di atas tembok.
"Saudara-saudaraku itu sedang kelaparan dan kedatangan katni adalah untuk meminta makan,"
Katanya.
"Giam Ceecu jangan terlampau merendahkan diri,"
Kata Ma Heng Kong.
"Ceng-jie! Lekas ambil lima puluh tail perak untuk saudara-saudara Giam Ceecu."
Ma Heng Kong bertindak sesuai dengan kebiasaan dalam kalangan Kang-ouw, akan tetapi ia sendiri merasa, bahwa kawanan itu tak akan merasa puas dengan uang sebegitu. Giam Kie tertawa terbahak-bahak.
"Ma Loo-enghiong melindungi piauw, sekali melindungi tak kurang dari tiga puluh laksa tail,"
Katanya dengan suara tawar.
"Walaupun aku, orangshe Giam, hanya seorang miskin, tapi aku tidak memandang sebelah mata lima puluh tail perak."
Ma Heng Kong terkejut. Cara bagaimana Giam Kie bisa mengetahui, bahwa ia sedang melindungi tiga puluh laksa tail perak? "Aku si tua sebenarnya tidak mempunyai kepandaian suatu apa,"
Kata pula Ma Heng Kong dengan suara merendah.
"Di sepanjang jalan aku hanya mengandal kepada sahabatsahabat yang sudi mem-beri muka kepadaku. Aku merasa beruntung sekali, bahwa hari ini aku bisa berkenalan dengan Giam-heng, sehingga mendapat seorang sahabat baru. Perintah apakah yang Giam-heng ingin memberikan kepadaku?"
"Kata-kata 'perintah' tak tepat untuk diguna-kan oleh Looenghiong,"
Jawab Giam Kie.
"Selama hidup, kedua mataku selalu terbuka lebar-lebar jika melihat harta. Mana boleh tiga puluh laksa tail perak lewat dengan begitu saja di depan hidungku? Ma Loopiauwtauw agaknya suka sekali bicara tentang sahabat ini, sahabat itu, sahabat entah mana lagi. Begini saja. Aku hanya berani mengambil separoh dan mohon meminjam lima belas laksa tail untuk sementara waktu."
Tanpa menunggu jawab, ia mengulapkan tangannya dan kawan-kawannya yang berdiri di atas tembok, lantas saja meloncat turun.
"Ambil semuanya?"
Tanya seorang.
"Tidak,"
Jawabnya.
"Separoh saja. Ada rejeki harus dinikmati beramai-ramai."
Kawanan perampok itu lantas mengiyakan dan segera menghampiri kereta-kereta piauw.
Karuan saja, Ma Heng Kong lantas naik darah.
Barusan, demi menyaksikan cara loncatan, kawanan kecu itu, ia mengetahui, bahwa di antara mereka tidak terdapat ahli silat yang berkepandaian tinggi, sehingga hatinya jadi agak lega.
"Apakah Giam-heng benar-benar mau mende-sak aku sampai di pojok?"
Tanyanya.
"Kenapa kau bicara begitu?"
Giam Kie berbalik menanya sembari menyengir.
"Aku toh hanya mengambil separoh."
Cie Ceng yang berdarah panas, tak dapat menahan sabar lagi. Ia loncat ke depan dan membentak.
"Sebagai orang yang berjalan di jalan hitam, apakah kau pernah mendengar nama besar Hui-ma Piauw-kiok?"
"Belum,"
Jawab Giam Kie.
Mendadak badannya berkelebat dan tangannya mencabut bendera Hui-ma Piauw-kiok yang ditancapkan di atas sebuah kereta.
la memotes bendera itu yang kemudian dilemparkan ke lantai dan diinjaknya dengan sebelah kaki!
Itulah suatu hinaan besar!
Hinaan yang melanggar kebiasaan kalangan Kang-ouw.
Merampas piauw adalah kejadian lumrah, akan tetapi jarang ada perampok yang berbuat sedemikian kurang ajar.
Semua anggota piauw-hang lantas saja berteriak-teriak mencaci dan bergerak untuk bertempur.
Tanpa berkata suatu apa lagi, Cie Ceng segera menghantam dada kepala perampok itu dengan tangan kirinya.
Giam Kie berkelit dan berkata dengan suaradingin.
"Bocah! Galak juga kau!"
Tangan kirinya meluncur untuk mencengkeram lengan Cie Ceng yang lantas buru-buru merubah gerakan tangan kirinya dan menghantam janggut musuh dengan tangan kanan.
Giam Kie miringkan kepalanya sembari menjotos dengan tinju kanan.
Pukulan itu aneh sekali jalannya dan walaupun Cie Ceng sebisa-bisa meloncat minggir, tak urung pundaknya kena dihantam juga.
Badannya lantas saja bergoyang-goyang, tapi untung ia masih dapat mempertahan-kan diri.
Saat itu juga, ia merubah gerakannya.
Ia menekuk dengkul kanan dan menyodok dengan tangan kirinya.
Itulah gerakan Hui-tui-coan-ciang (Menekuk lutut menyodok dengan tangan) yang sangat lihay dari Cap-kun Siauw-lim-pay.
Tapi Giam Kie bersikap acuh tak acuh.
Sembari mesem, ia menendang dengan kaki kirinya.
Ten-dangan itu sangat luar biasa dan menyambar dari jurusan yang tidak terduga-duga, sehingga Cie Ceng jadi kelabakan.
Tanpa menyia-nyiakan tempo, Giam Kie mengirimkan jotosan lurus yang tepat mengenai dada pemuda itu yang lantas saja jatuh kejengkang dan muntahkan darah hidup.
Melihat seorang lawan sudah dirubuhkan, kawanan perampok itu lantas bersorak-sorai dengan girangnya.
Melihat tangan Giam Kie yang sekejam itu, orang-orang piauw-hang menjadi kaget berbareng gusar.
Ma It Hong lari menghamiri Cie Ceng yang lantas dibangunkannya.
"Suko, bagaimana keadaanmu?"
Tanyanya kebingungan.
Ma Heng Kong adalah seorang kawakan dalam kalangan Kang-ouw dan ia sudah mengalami banyak hujan angin serta gelombang.
Tapi dengan segala pengalamannya itu, ia masih belum mengetahui, ilmu silat cabang mana yang dipergunakan Giam Kie.
Biar bagaimana juga, Ma Heng Kong mengerti, sekali ini ia tak dapat menyingkir lagi dari pertempuran mati hidup.
Lantas saja ia maju beberapa tindak dan berkata sembari menyoja.
"Giam-heng benar-benar mempunyai kepandaian yang tinggi dan aku menghaturkan terima kasih untuk pelajaran yang telah diberikan kepada muridku. Pengalaman ini ada baiknya, agar ia tahu, bahwa dalam kalangan Kang-ouw terdapat banyak sekali orang pandai."
"Ah! Kepandaianku hanya kepandaian seekor kucing kaki tiga,"
Kata si perampok sembari tertawa.
"Sekarang aku memohon pelajaran Pek-seng Sin-kun Looenghiong."
Ma Heng Kong mengawasi kepala kecu itu yang mukanya berminyak dan tampangnya seperti tampang bangsa buaya.
Betul ia merasa heran, bagaimana manusia semacam itu bisa memiliki ilmu silat yang begitu luar biasa.
Sebagai seorang berpengalaman, lantas saja ia mengambil putusan untuk, dalam pertempuran babak-babak pertama, hanya membela diri tanpa menyerang dan berusaha menyelami ilmu silat musuh.
Demikianlah, sambil memusatkan semangatnya, ia menunggu.
Ketiga Siewie, Siang Po Cin dan orang-orang Hui-ma Pauwkiok mencurahkan perhatian mereka kepada gelanggang pertempuran.
Mereka mengetahui, bahwa pertempuran itu bukan saja akan memutuskan nasib tigapuluh laksa tail perak itu, tapi juga jiwa Ma Heng Kong.
Tapi, tidak semua orang di dalam ruangan itu tetarik perhatiannya oleh pertempuran yang akan terjadi.
Si lelaki cakap dan si wanita cantik tetap berbicara bisik-bisik dengan berendeng pundak, tanpa menghiraukan segala apa.
Giam Kie mengetahui, bahwa ia akan menghadapi lawan berat.
Perlahan-lahan ia masukkan Pit-yan-hunya ke dalam kantong dan melibat thaucang-nya di kepalanya.
"Kawanan buaya memang tak membicarakan soal kebajikan, mencari makan selalu dilakukan dengan mengadu jiwa!"
Ia berseru sembari melompat dan mengirim tinjunya ke arah Ma Heng Kong.
Pada saat tinju musuh tinggal terpisah setengah kaki dari dadanya, bagaikan kilat dengan gerakan Pek-ho-liang-cie (Bangau putih membuka sayap).
Ma Heng Kong memutarkan badan ke sebelah kiri dan kedua tangannya mendorong ke atas.
Pukulan itu adalah pukulan Cap-kun yang biasa saja dari Siauw-lim-pay, akan tetapi, digunakan oleh orang tua itu, bukan saja gerakannya indah, tapi pu-kulannya pun dahsyat luar biasa.
Melihat begitu, si lelaki cakap yang tadi tidak menggubris, sekarang mengawasi dengan penuh perhatian.
Si wanita yang agaknya merasa sebal menowel pemuda itu dan berkata.
"Kui Long, Kui Long."
Ia menyahut, tapi matanya tetap mengawasi medan pertempuran.
"Apa toh menariknya perkelahian antara seorang tua bangka dan seorang perampok?"
Tanya wanita itu, uringuringan. Mendengar gerutuan itu, lelaki tersebut mene-ngok dan berkata sembari tertawa.
"Ilmu silat pen-jahat itu agak luar biasa. Juga, rasa-rasanya aku kenal dia."
"Hai!"
Wanita itumenghela napas.
"Kamu, orang lelaki, rupanya menganggap, bahwa yang paling penting di dalam dunia, adalah membunuh orang dan berkelahi."
"Baiklah,"
Kata si lelaki.
"Jika kau tak suka aku melihat, aku juga tidak mau melihat. Tapi kau harus menengok kemari, supaya aku dapat sepuas hati memandang mukamu yang bundar telur."
Wanita itu tertawa perlahan dan mendongak-kan kepalanya, sehingga dua pasang mata mereka lalu saling memandang dengan penuh kecintaan.
Sementara itu, pertarungan antara Giam Kie dan Ma Heng Kong sudah mencapai babak-babak yang hebat.
Ma Heng Kong sudah mengeluarkan hampirseluruh pukulan Cap-kun, tapi masih belum bisa berada di atas angin.
Dilain pihak, ilmu Giam Kie ternyata hanya terdiri dari beberapa belas ma-cam pukulan.
Ho Sie Ho, Gie-cian Siewie kelas dua itu, juga sudah dapat melihat terbatasnya kepan-daian perampok itu dan ia merasa heran, kenapa Ma Heng Kong belum juga dapat merubuhkan musuhnya.
Sesudah lewat lagi beberapa jurus, Ma Heng Kong menyerang dengan gerakan ma-tong-tui-kun (Dari atas kuda mengirim tinju), yaitu badannya bersikap seperti orang menunggang kuda, lengan kanannya ditarik ke belakang, sedang tangan kiri-nya mendorong ke depan.
"Turunkan sikut, menangkap musuh!"
Seru Ho Sie Ho.
Benar saja, sikut Giam Kie turun agak ke bawah dan tangannya coba mencengkeram pergelangan tangan Ma Heng Kong dengan ilmu Kin-na-chiu (Ilmu menangkap).
Ma Heng Kong buru-buru menarik pulang tangannya dan mengegos.
"Menekuk lutut, menendang balik!"
Ho Sie Ho berseru pula sembari tertawa.
Tepat dengan dugaan itu, Giam Kie menekuk lutut kanan dan menendang ke belakang!
Harus diketahui, bahwa ilmu silat Ma Heng Kong adalah jauh lebih tinggi daripada Ho Sie Ho.
Akan tetapi, sedang Ho Sie Ho sudah dapat men-duga lebih dulu gerakan-gerakan Giam Kie, apakah Ma Heng Kong tidak mampu menduganya?
Sung-guh mengherankan, terang-terang sudah bisa ditak-sir bahwa perampok itu akan menekuk lututnya dan menendang ke belakang, tapi tak mampu merubuh-kannya!
Sebagai seorang yang bergelar Pek-seng Sin-kun, ia mahir dalam segala macam ilmu silat Siauw-lim-pay.
Melihat Cap-kun tak dapat mengalahkan kepala rampok itu, lantas saja ia merubah cara bersilatnya dan menggunakan Yan-ceng-kun yang gerakannya cepat luar biasa.
Yan-ceng-kun adalah ilmu silat Yan Ceng, salah seorang gagah dari rombongan Liangsan (Song Kang) dimasa kerajaan Song.
Pada jaman itu, Yang-ceng-kun terkenal karena kegesitannya yang tiada bandingannya di seluruh Tiongkok.
Walaupun sudah berusia agak lanjut, gerakan-gerakan Ma Heng Kong masih lincah sekali dan dalam menggunakan ilmu silat tersebut, ia seakan-akan seekor kucing.
Melihat musuhnya merubah ilmu silalnya, Giam Kie tetap bersikap acuh tak acuh dan terus melayani dengan belasan pukulan yang dimilikinya.
Bukan main herannya Siang Po Cin, Cie Ceng, Ma It Hong dan semua orang dari Hui-ma Piauw-kiok.
Setiap orang sudah dapat menduga lebih dulu pukulan yang akan dikeluarkan oleh Giam Kie, tapi toh Ma Heng Kong tidak dapat berbuat banyak.
Berturut-turut Ma Heng Kong menghujani musuhnya dengan pukulan-pukulan hebat, tapi dengan tenang kepala rampok itu dapat memecahkan serangan-serangan tersebut.
Orang yang tangannya kutung sebelah dan si bocah kurus juga menonton pertempuran itu dari tempat mereka.
"Siauwya (majikan kecil),"
Bisik si lengan satu.
"Perhatikanlah kepala perampok itu. Jangan melupakan mukanya."
"Kenapa, paman Peng Sie?"
Tanya si bocah.
"Perhatikan dan jangan lupa,"
Jawabnya.
"Apakah dia orang jahat?"
Tanya pula bocah itu. Orang yang dipanggil paman Peng Sie meng-gertak giginya.
"Inilah maunya Tuhan!"
Katanya.
"Maunya Yang Kuasa, sehingga kita dapat bertemu di sini! Perhatikan padanya! Hati-hati, jangan sam-pai dia mengetahui!"
Selang beberapa saat, si buntung berkata pula. NKau selalu mengatakan latihanmu kurang benar. Sekarang, perhatikanlah. Mungkin kau akan bisa berlatih secara tepat."
"Kenapa begitu?"
Tanya si bocah. Mata si lengan satu kelihatan mengembang air mata.
"Sekarang aku belum dapat menceritakan,"
Jawabnya.
"Nanti, nanti jika kau sudah besar dan kau sudah memiliki ilmu yang tinggi, aku akan menuturkan dari kepala sampai di buntut."
Dengan memperhatikan kaki tangan Giam Kie, bocah itu dapat melihat gerakan-gerakan yang luar biasa, akan tetapi mula-mula ia belum dapat mengerti maknanya, kemudian ia seperti mendusin dari tidurnya.
"Peng Sie-siok (paman Peng Sie)!"
Mendadak ia berseru dengan suara tertahan.
"Ilmu orang itu rasa-rasanya aku mengerti."
"Tak salah,"
Kata si buntung.
"Perhatikanlah terus. Kitab ilmu silat dan ilmu golokmu hilang dua halaman, sehingga kau selalu mengatakan tidak begitu mengerti isinya. Dua halaman yang hilang itu berada di badan Giam Kie!"
Bocah itu terkejut dan mukanya yang kurus kecil tiba-tiba bersemu merah, sedang kedua mata-nya yang bersinar tajam mengawasi Giam Kie tanpa berkesip.
"Kenapa berada pada dia?"
Tanya pula anak itu.
"Di kemudian hari aku akan memberi kete-rangan yang sejelas-jelasnya kepadamu,"
Jawab si lengan satu.
"Dia dahulu tidak mempunyai kepan-daian suatu apa, akan tetapi, sesudah memperoleh dua halaman kitab itu, ia memiliki belasan macam pukulan dan dapat menanding ahli silat kelas satu. Cuba kau pikir. Kitab ilmu silat dan ilmu golok itu terdiri dari dua ratus lebih halaman. Bayangkanlah, betapa tinggi kepandaianmu, jika kau sudah dapat menyeiami seluruh kitab itu."
Bocah itu girang bukan main dan mencurahkan seluruh perhatiannya kepada gelanggang pertempuran.
Yang berharga untuk ditonton, dalam pertempuran itu, sebenarnya hanyalah seorang.
Belasan macam pukulan yang diulangi dan diulangi lagi oleh Giam Kie, sudah menyebalkan semua penonton.
Dilain pihak, pukulan-pukulan Ma Heng Kong ber-aneka warna dan sedap dilihatnya.
Sesudah gagal dengan Yan-ceng-kun, ia kembali menukar ilmu silatnya dan menggunakan Louw-tie-cim-cui-tiat (Louw Tie Cim, juga salah seorang gagah dari kalangan Liangsan, mabuk arak).
Dengan ilmu silat tersebut, ia menyerang bagaikan seorang mabuk arak, sempoyongan kian kemari, sebentar bergu-lingan, sebentar meloncat bangun, sedang kaki ta-ngannya menyambar-nyambar laksana topan.
Dice-car begitu, Giam Kie perlahan-lahan jadi terdesak juga.
Sesudah lewat lagi beberapa jurus, sekonyong-konyong Ma Heng Kong membentak.
"Kena!"
Jitu sekali kakinya mampir di pinggang musuh berkat tendangan Lee-hie-hoan-sin (Ikan gabus membalik badan).
Sambil berteriak, Giam Kie membungkuk untuk menahan sakit.
Ma Heng Kong mengetahui, bahwa lawannya berkepandaian tinggi, sehingga meskipun tendangannya mengenai tempat berba-haya, musuh itu belum tentu mendapat luka berat.
Menurut peraturan adu silat yang biasa, begitu salah sepihak kena dipukul, pihak yang menang harus segera menghentikan kaki tangannya.
Akan tetapi, pertaxungan itu adalah pertarungan mengenai tiga puluh laksa tail perak, sehingga sikap sung-kan-sungkan bisa membawa akibat rewel.
Memikir begitu.
Ma Heng Kong segera meloncat dan me-ngirimkan pula suatu tendangan hebat ke punggung musuh.
Kawanan perampok itu serentak berteriak.
Mereka menganggap serangan Ma Heng Kong mele-wati batas-batas kepantasan.
Pada saat yang sangat berbahaya itu, di luar segala dugaan, Giam Kie menekuk lututnya dan menendang ke belakang.
Tendangan itu yang dilakukannya mendadakan dan cepat luar biasa, sudah membikin Ma Heng Kong yang berpengalaman tak keburu mengegos lagi.
Kaki Giam Kie mampir tepat di kempungan Pek-seng Sin-kun yang lantas saja jatuh kejengkang.
Dengan hati mencelos Ma It Hong dan Cic Ceng memburu dan membangunkan orang tua itu yang mukanya berubah pucat pias dan napasnya tersengal-sengal.
"Lindungi piauw mati-matian,"
Ia berkata dengan suara serak.
Dengan golok terhunus, Cie Ceng dan Ma It Hong berdiri di samping Ma Heng Kong.
Dilain pihak, Giam Kie pun mendapat luka yang tidak enteng.
Ia mengulap-ulapkan tangannya beberapa kali dan berteriak.
"Rampaslah piauw itu! Mau menunggu sampai kapan?"
Mendengar perintah itu, kawanan perampok itu lantas saja menerjang orang-orang Hui-ma Piauw-kiok, disambut oleh Ma It Hong, Cie Ceng.
Cek dan Yo Piauwtauw serta yang Iain-lain.
Siang Po Cin tak dapat menahan sabar lagi.
"Ketiga Siewie Tayjin!"
Ia berseru sembari meng-hunus Pat-kwa-to.
"Mari kita turun tangan!"
"Bagus!"
Sahut Ho Sie Ho yang, bersama dua kawannya, lantas saja terjun ke dalam pertempuran.
Ketiga perwira itu hanya memiliki kepandaian biasa, tapi Siang Po Cin dengan Pat-kwa-tonya benar-benar merupakan banluan yang sangat berharga.
Melihat Ma It Hong didesak oleh dua perampok dan gerakan kaki tangannya sudah mulai kalang kabut, ia menerjang sambil membentak.
"Binatang! Tak malu, kamu dua lelaki mengerubuti seorang nona?"
Berbareng dengan cacian itu, Pat-kwa-tonya menyambar kepala seorang perampok yang lantas menangkis dengan pecutnya.
Baru saja beberapa gcbrakan, tangan Siang Po Cin mampir telak di dada penjahat itu yang segera rubuh terguling.
"Bagus!"
Kata si nona, tersengal-sengal.
"Ini satu aku dapat membereskannya."
Pemuda itu lantas loncat menyingkir sembari tertawa dan segera membantu Cie Ceng yang tengah dikepung beberapa penjahat.
Dalam beberapa jurus saja, ia dapat merubuhkan seorang perampok, sehingga Cie Ceng merasa sangat berterima kasih dan kagum akan ketajaman mata gurunya.
Benar-benar, ilmu silat Siang Po Cin banyak lebih unggul daripada ia.
Demikianlah dengan bantuan empat tenaga, keadaan jadi berubah, pihak perampok terdesak mundur dan dalam tempo cepat, mereka akan dapat diusir pergi.
Sekonyong-konyong, di antara suara bentrok-an-bentrokan senjata, terdengar satu seruan.
"Ta-han! Aku mau bicara!"
Seru seorang.
Tapi semua orang yang sedang bertempur, mana sempat meladeni seruan itu.
Mendadak, berbareng dengan berkelebatnya bayangan manusia, seseorang menghadang di depan Siang Po Cin.
Tanpa menegur lagi, pemuda itu membacok.
Tapi...
dengan sekali menggerakkan langannya, orang itu berhasil merampas golok Pat-kwa-tonya yang kemudian dilemparkan ke lantai.
Bukan main kagetnya Siang Po Cin yang lantas meloncat minggir sembari mengawasi orang itu, yang bukan lain daripada si lelaki cakap yang ber-pakaian indah.
Orang itu lalu terjun ke dalam pertempuran dan dengan Kin-na-chiu-hoat, ia merampas macam-macam senjata yang kemudian dilemparkan ke lantai semua.
Semua orang kaget berbareng heran dan buru-buru menyingkir sambil mengawasi orang yang luar biasa itu.
Sesaat kemudian, tiba-tiba pada belasan tahun berselang.
"Tian Siangkong (tuan Tian)!"
Ia berteriak.
"Kau?"
"Bagaimana kau bisa mengenal aku?"
Tanya pemuda itu.
"Apakah kau lupa?"
Kata Giam Kie dengan tertawa.
"Tiga belas tahun berselang, aku pernah melayani kau di Ciangchiu-hu."
Orang itu menunduk seakan-akan berpikir.
"Ah! Benar!"
Katanya sesaat kemudian.
"Bukankah kau tabib yang mengobati orang kepukul? Tapi, bagaimana kau sekarang pandai silat dan menjadi Ceecu?"
"Semua itu adalah berkat bantuanmu,"
Jawab-nya.
Orang itu adalah Ciang-bun-jin (pemimpin uta-ma) cabang Utara dari partai Thian-liong-bun, namanya Tian Kui Long.
Melihat perubahan yang tak terduga itu, orang-orang Huima Piauw-kiok menjadi bingung.
Tian Siangkong yang ilmu silatnya tinggi, ternyata mem-punyai hubungan dengan kepala perampok itu.
Dengan berbisik.
Ma Heng Kong memerintahkan orang-orangnya berkumpul di sekitar kereta-kereta piauw untuk menunggu perkembangan selanjutnya.
Mata Tian Kui Long menyapu ke seluruh ruang-an dan sesudah mengawasi sang hujan yang masih turun deras, ia berkata.
"Giam-heng, jual beli hari ini sudah ditetapkan olehmu, bukan?"
"Harap Loojinkee (orang tua) jangan kecil hati,"
Jawab Giam Kie sembari nyengir.
"Oleh ka-rena saudara-saudaraku kelaparan dan tidak mem-punyai jalan lain, maka mau tak mau, kami melakukan pekerjaan yang tidak bermodal ini. Kami berjanji akan merubah cara hidup kami dan tentu juga tak akan melupakan budi Siangkong."
Tian Kui Long mendongak dan tertawa berka-kakan.
"Kenapa kau ngaco, di hadapanku?"
Katanya.
"Loo-giam! Kau mengambil lima laksa tail. Cukup tidak?"
Giam Kie terkejut.
"Loojinkee jangan guyon-guyon,"
Katanya, tertawa.
"Kenapa guyon-guyon?"
Kata Tian Kui Long, sungguhsungguh.
"Di sini ada tiga puluh laksa tail. Aku mengambil separuhnya, lima belas laksa, kau ambil lima laksa. Sisanya masih ada sepuluh laksa. Bagaimana sisa itu dibaginya?"
Sekarang Giam Kie kegirangan setengah mati.
"Loojinkee ambillah semuanya,"
Jawabnya, menye-ringai.
"Bagi-bagi apa lagi?"
Tian Kui Long menggeleng-gelengkan kepala-nya dan berkata.
"Tidak, tidak bisa begitu. Jika aku mengeduk semuanya, aku melupakan pribudi Kang-ouw. Barusan, ketika masuk di sini, aku... isteriku basah bajunya...."
Mendengar kata-kata "isteriku"
Paras muka wa-nita cantik itu jadi bersemu merah dan ia mesem mengawasi Tian Kui Long. Sesudah berdiam sejenak, Tian Kui Long melanjutkan perkataannya.
"Orang yang memberi per-tolongan adalah Nona Ma yang meminjamkan baju kering kepadanya. Budi itu tak dapat tidak dibalas. Biarlah nona tersebut mengambil lima laksa tail. Di sini terdapat tiga Siewie Tayjin. Orang kata. Siapa yang nadir mempunyai bagian. Maka itu biarlah setiap orang mendapat satu laksa. Sisanya yang dua laksa kita serahkan saja kepada tuan rumah gedung ini! Bagaimana pikiranmu? Pantas tidak?"
Giam Kie menepuk-nepuk tangan.
"Pantas! Adil!"
Teriaknya.
"Dari dulu aku sudah bilang, Tian Siangkong adalah orang yang paling royal di dalam dunia."
Mendengar kata-kata itu, Ma Heng Kong dan kawan-kawan merasakan dada mereka seperti mau meledak.
Seolah-olah tiga puluh laksa tail perak itu adalah harta benda Tian Kui Long sendiri!
Dalam gusarnya, hampir-hampir Ma Heng Kong pingsan.
Cie Ceng melirik gurunya.
"Bagaimana Suhu? Bagaimana?"
Tanyanya kebingungan.
"Apa bagaimana?"
Bentak Ma It Hong dengan gusar. Lalu ia memungut sebatang golok yang meng-geletak di lantai.
"Orang she Tian!"
Ia berteriak.
"Apakah kau kira kami ini mayat-mayat yang sudah busuk?"
Ia mengangkat goloknya dan menubruk.
"Jangan memaksa aku turun tangan,"
Kata Tian Kui Long sembari tertawa.
"Bisa-bisa isteriku ma-rah."
"Fui! Rewel kau!"
Bentak wanita cantik itu sembari mesem manis, karena hatinya girang. Ma It Hong adalah seorang gadis yang beradat keras. Tanpa menyahut, ia membabat terus.
"Aduh! Celaka!"
Seru Tian Kui Long, nyengir-nyengir kuda.
"Isteriku melarang aku berkelahi dengan orang perempuan."
Sembari berkata begitu, ia menyentil belakang golok Ma It Hong, lantas saja terlepas.
Gerakan orang she Tian itu cepat luar biasa.
Tangan kanannya menyambar gagang golok, tangan kirinya mencekal pergelangan tangan si nona dan kemudian ia mengangkat golok itu, seperti juga mau menebas.
Tapi golok itu berhenti di te-ngah udara dan Tian Kui Long menghela napas panjang.
"Ah! Bagaimana aku bisa tega membinasa-kan nona yang cantik bagaikan bunga!"
Katanya.
Melihat Ma It Hong dipermainkan, Siang Po Cin dan Cie Ceng segera meluruk.
Siang Po Cin mengayun tangan kanannya dan sebatang Kim-piauw menyambar mata kiri orang she Tian itu, sedang Cie Ceng yang tak sempat memungut sen-jata, sudah mendupak punggung musuh.
Tepat pada saatnya, Tian Kui Long melem-parkan golok dan memutarkan badan, lalu menangkap pergelangan kaki Cie Ceng dan sekali tangannya diangkat, tubuh Cie Ceng terjungkir ba-lik.
Hampir berbareng dengan itu, murid Ma Heng Kong ini mengeluarkan teriakan kesakitan, karena lutut kanannya tertancap Kimpiauw.
Tian Kui Long tidak berhenti sampai di situ.
Sekali dilontarkan, tubuh Cie Ceng terbang ke tengah udara, akan kemudian menimpa badan Ma It Hong, sehingga mereka terguling di lantai bersama-sama.
Melihat cara Tian Kui Long mempermainkan kedua orang itu, yang lain tak berani maju menerjang pula.
"Giam-heng,"
Kata orang she Tian itu.
"Bagilah perak itu menurut pengaturan tadi. Sediakan satu kereta yang baik untuk mengangkut aku dan isteri-ku. Oleh karena ada urusan penting, kami ingin berangkat sekarang juga."
Dengan girang Giam Kie lantas saja mengajak kawankawannya bekerja.
Mereka mengeluarkan bungkusanbungkusan perak dan membuat dua tumpukan dari lima laksa tail, satu tumpukan dari dua laksa dan tiga tumpukan, masingmasing selaksa tail perak.
Sesudah beres, Giam Kie membentak tukang-tukang kereta.
"Sekarang kamu mesti menurut perintah dan jangan membandel."
Harus diketahui, bahwa menurut kebiasaan Liok-lim (Rimba Hijau kawanan perampok) di dae-rah Utara, dalam setiap perampokan, tukang kereta tidak boleh diganggu keselamatannya, jika ia menurut perintah.
Melihat keadaan begitu, dapat dimengerti jika tukangtukang kereta itu tidak berani membantah lagi.
Tanpa menghiraukan hujan, mereka lalu men-dorong kereta-kereta piauw keluar ruangan itu.
Sakit sungguh hati Ma Heng Kong, melihat kereta piauw didorong keluar satu demi satu.
Tidak lama kemudian, sebuah kereta keledai berhenti di depan pintu dan sambil memimpin wanita cantik itu, Tian Kui Long segera berjalan menuju ke kereta itu.
Pek-seng Sin-kun yakin, bahwa begitu kereta tersebut berangkat, bukan saja namanya runtuh.
tapi bakul nasinya pun akan terbalik.
Sambil menahan sakit, ia berdiri.
"Biarlah aku mengadu jiwa tua ini!"
Ia berteriak sambil menubruk Tian Kui Longdan coba menceng-keram dengan sepuluh jcrijinya.
Wanita itu keta-kutan dan mengeluarkan teriakan kaget.
Tian Kui Long berkelit sembari menghantam pundak Ma Heng Kong dengan telapak tangannya.
Jika belum terluka, dengan gampang Ma Heng Kong akan dapat mengelakkan pukulan itu.
Tapi, waktu itu otot-ototnya tidak menurut kemauannya dan mes-kipun matanya melihat sambaran tangan musuh, tak bisa ia berkelit atau meloncat minggir.
Dengan mengeluarkan bunyi "buk", badannya terpental dan jatuh ngusruk di luar pintu.
Pada saat itu, tiba-tiba saja terdengar suatu suara menyeramkan.
"Bagus!"
Dan sungguh heran, hampir berbareng dengan terdengarnya suara tersebut, paras muka Tian Kui Long dan wanita itu mendadak berubah pucat-pias dan badan mereka bergemetar!
Dengan cepat, orang she Tian itu mendorong si wanita ke dalam kereta, sedang ia sendiri lalu meloncat ke punggung kelcdai.
Sembari menggen-cet perut hewan itu dengan kedua lututnya, ia mencambuk keledai tunggangannya.
Tapi aneh, baru melangkah dua tiga tindak, si keledai lantas berhenti dan tak dapat maju setindak juga, mes-kipun dicambuk berulangulang.
Sementara itu, semua orang sudah berkumpul di pintu, menyaksikan apa yang terjadi.
Mereka melihat seorang jangkung kurus sedang menahan roda kereta dengan tangan kanannya, sedang ta-ngan kirinya mendukung sebuah bungkusan.
Di-sabeti oleh Tian Kui Long, keledai itu berusaha mati-matian untuk bergerak, sehingga punggung-nya meiengkung, tapi kereta tersebut seperti juga terpaku di tanah dan tidak bergeming sedikit pun.
"Masuk!"
Orang itu membentak dengan suara yang membangunkan bulu roma.
Tian Kui Long kelihatan bersangsi, tapi wanita itu sudah turun dari kereta dan tanpa menengok, ia masuk lagi ke dalam ruangan tadi.
Ogah-ogahan Tian Kui Long turun dari keledainya dan menyusul wanita tersebut.
Pakaiannya basah kuyup, tapi ia seakan-akan tidak merasakan itu dan berdiri dengan mata mendelong serta mulut ternganga, seolah-olah kehilangan semangat.
Wanita cantik itu menggapai dan menyuruh Tian Kui Long duduk di sampingnya.
Orang jangkung kurus itu pun lantas masuk ke dalam ruangan dengan tindakan lebar dan duduk di samping perapian.
Tanpa menengok kepada siapa-pun juga, ia membuka bungkusan itu yang isinya...
adalah seorang anak perempuan berusia kira-kira dua tahun!
Agaknya, karena khawatir anak itu kedinginan, begitu masuk ia duduk di pinggir perapian.
Anak itu sedang tidur pulas, tapi di kedua matanya terdapat bekas-bekas air mata.
Ma It Hong, Cie Ceng dan Siang Po Cin buru-buru membangunkan Ma Heng Kong.
Melihat Tian Kui Long begitu takut terhadap si jangkung kurus, mereka kaget berbareng girang.
"Thia (ayah),"
Kata Ma It Hong.
"Bagaimana lukamu? Orang... orang itu siapa?"
"Dia..."
Jawabnya, terputus-putus.
"Dia.... Tah-pian Thianhee Bu-tek-chiu.... Kim.... Kim-bian-hud Biauw Jin Hong!"
Sehabis berkata begitu, ia pingsan.
Dalam ruangan itu, orang-orang Hui-ma Piauw-kiok berdiri di sebelah timur, Giam Kie dan ka-wannya berkumpul di barat, sedang ketiga Gie-cian Siewie bersama Siang Po Cin berdiri di belakang kursi.
Tanpa kecuali, semua mata mengawasi Biauw Jin Hong, Tian Kui Long dan wanita cantik itu.
Dengan sorot mata mencinta dan paras welas asih, Biauw Jin Hong mengawasi anak yang sedang didukungnya itu.
Jika tidak melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana ia sudah menahan roda kereta dengan sebelah tangannya, semua orang tentu sukar pereaya, bahwa orang yang mempunyai paras muka begitu mempunyai kepandaian yang sedemikian tinggi.
Si cantik itu kelihatan tenang, kedua matanya mendelong memandang api, sedang di mulutnya tersungging senyuman dingin dan hanya seorang yang matanya luar biasa tajamnya, akan dapat melihat, bahwa kedua bibirnya sedikit bergemetar, mencerminkan hatinya yang sedang ber-debardebar.
Tian Kui Long, orang ketiga yang ketika itu menjadi pusat perhatian, pucat-pias mukanya dan kedua matanya ditujukan kepada tu-runnya sang hujan di luar rumah.
Tiga orang itu, yang masing-masing matanya melihat ke arah tiga jurusan yang berbeda-beda, duduk diam tanpa mengeluarkan suara, tapi hati mereka sama-sama bergoncang keras, ada yang gembira, ada yang sedih dan ada pula yang ke-takutan setengah mati.
Sambii mengawasi anak itu yang montok dan manis, di depan mata Biauw Jin Hong terbayang kejadian-kejadian pada tiga tahun yang lampau.
Sudah tiga tahun!
Tapi toh seakanakan baru saja lerjadi kemarin.
Kini sedang turun hujan besar, tapi pada hari itu tiga tahun yang lampau, yang turun lebat adalah salju.
Ketika itu, kira-kira magrib, seorang diri, de-ngan menumpang seekor kuda berbulu kuning yang kurus tinggi, ia sedang berada di jalan Ciang-ciu, propinsi Hopak.
Sembari melarikan tunggangannya melawan serangan salju, ia teringat, bahwa sepuluh tahun sebelumnya, di bulan Cap-jiegwee (Bulan ke-12), ia telah mengadu silat di kola itu dengan Liaotong Tayhiap Ouw It To dan dalam pertandingan tersebut, secara tak disengaja, ia sudah melukai Ouw It To dengan golok beracun, sehingga Ouw Hujin (nyonya Ouw) belakangan menggorok lehernya sendiri untuk mengikuti suaminya berpulang ke dunia baka.
Dengan Ouw It To, bukan saja kepandaiannya setanding, tapi juga sama-sama mempunyai sifat-sifat ksatria yang luhur.
Dalam pertandingan itu, dari lawan mereka menjadi kawan yang paling menghormati.
Tapi, tak dinyana, karena salah tangan, ia sudah melukai Liao-tong Tayhiap yang olehnya dianggap sebagai manusia satu-satunya di dalam dunia yang mengenal isi hatinya.
Ia dikenal sebagai Tah-pian Thian-hee Bu-tek-chiu, atau orang yang tiada tandingannya dalam dunia, dan sesudah berkelana ke empat penjuru, baru ia bisa bertemu dengan seorang yang benar-benar merupakan tandingan setimpal baginya.
Tiga hari mereka bertanding, sedang di waktu malam, mereka tidur di satu pembaringan.
Hai!
Selama sepuluh tahun, setiap kali mengingat peristiwa itu, belum pernah ia tidak menghela napas berulang-ulang dan mengeluh dengan suara perlahan.
"Ouw It To! Ah, Ouw It To!"
Waktu itu sudah mendekati ulang tahun ke sepuluh hari meninggalnya suami isteri Ouw It To dan tanpa memperdulikan perjalanan jauh, dari Leng-lam Biauw Jin Hong pergi ke Ciangciu untuk bersembahyang di depan kuburan sahabat itu.
Kira-kira magrib, semakin mendekati Ciangciu, hati Kimbian-hud menjadi semakin sedih.
Sembari melarikan tunggangannya dengan perlahan, ia kata dalam hatinya.
"Jika tahun itu aku tidak kesalahan tangan, hari ini tentu aku dapat malang melintang di kolong langit bersama-sama suami isteri Ouw dan dengan adanya kita berdua, segala pembesar busuk dan kawanan kureaci tentu akan jadi ketakutan setengah mati. Ah, sungguh menggirangkan jika bisa terjadi begitu."
Selagi melamun, tiba-tiba terdengar bunyi pe-cut dan bentakan-bentakan kusir, beberapa saat kemudian dari antara kembang-kembang salju yang turun melayang-layang, muncul sebuah kereta ke-ledai yang dilarikan pesat sekali.
Ketika kereta itu melewatinya, dari dalam kereta mendadak terdengar suara wanita yang merdu sekali.
"Thia (ayah),"
Katanya.
"Sesudah tiba di kota raja, kau harus mengantar aku pergi membeli bu-nga...."
Biauw Jin Hong mengetahui, bahwa suara itu adalah suara wanita kanglam yang sangat ber-beda dengan suara penduduk Tiongkok Utara.
Baru saja melewati Biauw Jin Hong, kaki depan hewan itu tiba-tiba kejeblos ke dalam lubang, sehingga dia kenyuk-nyuk.
Dengan tenang si kusir menarik les dan dengan meminjam tenaga tersebut, keledai itu mengangkat kakinya, untuk kemudian berlari pula.
Biauw Jin Hong heran.
"Dilihat dari gerakan-nya, kusir itu bukan orang sembarangan,"
Katanya di dalam hati.
"Siapa dia? Aku rasa ada harganya untuk berkenalan."
Sebelum mengambil keputusan, di belakang kereta mendadak muncul seorang lelaki yang memikul sepikul barang keperluan pelancong dan mengejar kereta itu dengan tindakan lebar.
Pikulannya yang terbuat dari kayu pohon Angco kelihatan melengkung, yang menandakan, bahwa barang itu bukannya enteng, tapi ia dapat berlari-lari cepat sekali dengan tindakan enteng.
Biauw Jin Hong jadi terlebih heran.
"orang itu bukan saja bertenaga besar, tapi ilmu mengentengkan badannya juga tinggai sekali,"
Pikirnya.
Sebagai seorang berpengalaman, ia mengetahui bahwa hal itu mesti ada latar belakangnya.
Maka itu, ia segera menepuk tunggangannya dan meng-ikuti dari belakang.
Sesudah berjalan beberapa li, tukang pikul itu, yang berat bebannya kira-kira dua ratus kati, masih bisa beriari terus bagaikan terbang.
Sekonyong-konyong, di sebelah belakang terdengar bunyi gemerincing dan ketika menengok, Biauw Jin Hong melihat seorang lelaki lain, yang memikul alat-alat solder, sedang menyusul dari belakang.
Tindakan orang itu malah lebih enteng lagi dan meskipun kakinya masih meninggalkan tapak di atas salju, ilmu mengentengkan badannya sudah jarang terdapat dalam Rimba Persilatan di wilayah Tiong-goan.
"Siapa dia?"
Tanya Biauw Jin Hongdi dalam hati dengan kaget. Tudung dan baju orang itu penuh salju dan di tengahtengah sambaran angin, jalannya miring kian kemari. Mendadak Biauw Jin Hong mendusin.
"Ah!"
Pikirnya.
"Ganheng-kong (Ilmu entengkan badan seperti burung belibis) adalah ilmu dari ke-luarga Ciong di Ouwpak Barat!"
Sesudah berjalan pula tujuh delapan li, siang berganti malam, tapi untung juga, mereka sudah tiba di sebuah kota kecil.
Kereta itu berhenti di depan sebuah rumah penginapan dan Biauw Jin Hong pun segera turun dari kudanya di hotel itu.
Rumah penginapan itu sangat kecil dan semua tamu berkumpul di ruangan tengah untuk menghangat-kan badan di dapur atau makan minum.
Walaupun nama Biauw Jin Hong kesohor di seluruh negara, ia sendiri tidak banyak mengenal orang-orang Rimba Persilatan.
Si tukang solder sama sekali tidak dikenalnya.
Sesudah minta ma-kanan, seorang diri ia duduk pada sebuah meja kecil.
Ketiga orang luar biasa itu duduk makan pada meja terpisah dan mereka agaknya bukan berkawan.
Mendadak, di ruangan dalam terdengar suara seorang yang berkata.
"Lam Tayjin, Siocia (nona), penginapan ini sangat kecil. sehingga kalian, tentu sangat tidak leluasa. Marilah ke ruangan tengah untuk bersantap."
Tirai kain tersingkap dan seorang pelayan mengantar seorang pembesar dan seorang nona masuk ke dalam ruangan itu.
Melihat ke-datangan seorang pembesar negeri, para tamu lan-tas saja berbangkit.
Hanya Biauw Jin Hong yang tidak memper-dulikan dan duduk terus sambil menghirup araknya.
Pembesar itu yang mengenakan jubah kebesaran tingkat ke lima, berbadan gemuk dengan muka seperti seorang kaya raya, sedang nona itu sungguh-sungguh cantik, sehingga jangankan di daerah Uta-ra, di wilayah Kanglam sekalipun jarang terdengar wanita yang secantik ia.
Masuknya mereka sudah membikin para tamu menjadi kikuk dan beberapa antaranya lantas saja berjalan keluar.
Si pelayan melayani kedua tamu itu secara luar biasa hormatnya, dengan mulut tak hentinya menge-luarkan katakata "Tayjin"
Dan "Siocia".
Mendengar nada suara pelayan itu yang sangat bertenaga, tanpa merasa Biauw Jin Hong jadi ke-tarik.
Dilihat dari tindakannya, tak bisa salah lagi, orang itu mempunyai kepandaian yang tidak cetek.
Disamping itu, pada bagian jalan darah Tay-yang-hiat kulitnya kelihatan agak menonjol, sehingga bisa dipastikan, bahwa ia itu mempunyai Lweekang (tenaga dalam) yang sangat tinggi.
Biauw Jin Hong tereengang.
"Hm!"
Ia mengge-rendeng.
"Orang-orang itu tentu mempunyai mak-sud tertentu. Biarlah aku menonton untuk menyaksikan apa yang mereka ingin lakukan."
Karena perhatiannya tertarik, tanpa merasa ia melirik beberapa kali ke arah si pembesar dan nona itu. Sekonyong-konyong pembesar itu menggebrak meja dan membentak sambil menuding Biauw Jin Hong.
"Hei! Siapa kau? Bertemu pembesar tidak menyingkir, masih tak apa. Tapi kenapa mata bang-satmu terus mengincar kemari? Aku melihat kaki tanganmu yang kasar memang pantas sekali menjadi bangsat. Sekali lagi kau berani mengincar, aku kirim kau ke kantor pembesar untuk dihajar setengah mampus!"
Biauw Jin Hong tidak meladeni. Sembari menunduk, ia menghirup araknya. Pembesar itu jadi semakin gusar.
"Hei!"
Ia ber-teriak.
"Apakah kau tidak bisa minta maaf?"
"Thia,"
Bujuk puterinya dengan suara halus.
"Orang dusun ada juga yang tak mengenal adat. Guna apa meladeni orang kasar begitu? Hayo mi-num!"
Ia mengangkat cawan arak yang lantas di-tempelkan pada bibir ayahnya.
Sesudah mencegluk arak yang diberikan oleh si nona, amarahnya agak reda.
Melihat Biauw Jin Hong terus bersantap sembari menunduk, ia menganggap Kim-bian-hud sudah merasa takut dan ia sendiri pun lalu makan minum dengan gembira sembari bereakap-cakap dengan puterinya.
Apa yang dibicarakan adalah rencana sesuatu yang akan dilakukan mereka, Se sudah tiba di Pakkhia dan memangku jabatan yang baru.
Selagi bereakap-cakap, pintu depan terbuka dan masuklah seorang pembesar lain, yang badan-nya kurus dan mukanya kuning.
Begitu masuk, ia berseru.
"Aha! Lagi-lagi aku bertemu dengan Jin Thong-heng (Saudara Jin Thong). Sungguh kebetulan!"
Dengan tindakan lebar ia menghampiri, sedang Lam Jin Thong dan puterinya lantas saja berdiri.
"Tiauw Houw-heng (Saudara Tiauw Houw),"
Kata Lam Jin Thong sembari menyoja.
"Selamat bertemu! Selamat bertemu!"
Si pelayan segera mengambil piring mangkok dan sumpit serta menambah arak dan sayur.
"Hm! Dengan Tiauw Houw-heng itu, semuanya sudah ada lima orang pandai,"
Kata Biauw Jin Hong di dalam hatinya.
"Dilihat gerak-geriknya, ayah dan anak itu sama sekali tidak mengerti ilmu silat. Tapi, apa mungkin aku salah mata?"
Memikir begitu, lebih-lebih ia berwaspada.
Ha-rus diketahui, bahwa gelaran Tah-pian Thian-hee Butek-chiu, atau orang yang tak ada tandingannya dalam dunia ini, sesungguhnya merupakan duri di mata orang-orang gagah dalam Rimba Persilatan.
Dapat dikatakan, bahwa tak ada seorang gagah pun yang tidak ingin mencopot gelaran itu yang merupakan suatu hinaan bagi mereka.
Selama hidup-nya, sering sekali Biauw Jin Hong harus melawan badai hanya karena gelarannya itu.
"Apakah tak mungkin, bahwa mereka beramai-ramai datang untuk menyeterukan aku?"
Tanya Jin Hong di dalam hatinya. Sementara itu, orang yang dipanggil "Tiauw Houw-heng"
Sudah berbicara serius sekali dengan Lam Jin Thong.
Yang mereka bicarakan adalah soal-soal kalangan pembesar negeri.
Tiba-tiba si tukang pikul dan lukang solder, yang berada di luar ruangan, bereekeok mengenai soal ada tidaknya golok mustika yang dapat mem-bacok putus emas dan giok, dalam dunia ini.
"Mana ada golok yang bisa memutuskan besi seperti membacok lumpur?"
Seru si tukang pikul.
"Apa yang dinamakan Po-to (golok mustika) hanya golok yang lebih tajam dari golok biasa."
"Tahu apa kau?"
Si tukang solder mengejek.
"Golok mustika adalah goiok mustika. Jika tak khawatir kau menjadi ketakutan aku bisa mem-perlihatkan kau sebiiah mustika, supaya kedua matamu jadi lebih terbuka."
"Kau punya golok mustika?"
Si tukang pikul menegas.
"Fui. Jangan suka mengimpi di siang hari bolong! Jika kau mempunyai Po-to, tak usah kau menjadi tukang tambal pantat kuali! Kalau dikata-kan kau mempunyai golok sayur yang tumpul, aku pereaya juga."
Mendengar ejekan itu, beberapa orang lantas saja tertawa berkakakan.
Dengan lagak mendongkol, si tukang solder mengeluarkan sebilah golok bersarung kulit, dari pikulannya.
Begitu dihunus, golok itu mengeluarkan sinar berkeredep yang menyilaukan mata.
"Benar-benar golok luar biasa!"
Puji semua orang yang berada di situ. Si tukang solder mengangkat goloknya dan ber-lagak membacok tukang pikul itu yang lantas loncat menyingkir sembari berteriak.
"Aduh! Tolong ibu!"
Melihat lelucon itu, para penonton tertawa ter-bahak-bahak. Biauw Jin Hong terus memasang mata.
"Hm! Tak bisa salah lagi, mereka adalah sejalan,"
Pikirnya.
"Dilihat lagaknya, permainan itu bukan ditujukan kepadaku."
"Siapa mempunyai golok sayur?"
Tanya si tukang solder.
"Aku pinjam."
"Ada,"
Jawab si pelayan yang lantas masuk ke dapur dan keluar lagi dengan membawa golok.
"Cekal keras-keras,"
Ujar tukang solder itu, sembari menyabet dengan goloknya.
"Trang!"
Dan golok sayur itu kutung menjadi dua!
Semua orang bersorak-sorai sembari menepuk-nepuk tangan dan memuji ketajaman golok mustika itu.
Si tukang solder kelihatan girang dan bangga sekali.
Lantas saja ia mengebul dan menceritakan bagaimana lihay dan tajamnya golok itu, sehingga semua orang mendengarkannya dengan mulut ter-nganga.
Lam Jin Thong yang juga mendengar segala perkataannya, tanpa merasa mengeluarkan geren-dengan "hm", sedang bibirnya menjebi.
"Saudara Jin Thong,"
Kata "Tiauw Houw-heng"
Itu.
"Aku rasa golok itu pantas dinamakan golok 'mustika'. Tak nyana, orang semacam itu mempunyai senjata yang begitu berharga."
"Tajam sih memang tajam,"
Sahut Lam Jin Thong.
"Tapi belum tentu dapat dikatakan golok mustika."
"Aku rasa Saudara keliru,"
Kata "Tiauw Houw-heng".
"Saudara sudah melihat dengan mata sendiri, bagaimana tajamnya golok itu. Apakah di dalam dunia ada senjata yang terlebih tajam?"
Lam Jin Thong tertawa seraya berkata.
"Karena belum banyak pengalaman, melihat golok begitu saja, Saudara sudah terheran-heran. Aku...."
"Thia,"
Si nona mendadak memutuskan perkataannya.
"Hayolah cepat minum dan makan. Kau harus tidur siang."
"Anak sekarang pintar menilik orang tuanya,"
Kata sang ayah sembari tertawa dan mengangkat sumpitnya.
"Hari ini benar-benar aku beruntung karena kedua mataku jadi lebih terbuka,"
Kata pula "Tiauw Houw-heng".
"Aku rasa, Saudara juga baru pernah melihat golok mustika yang semacam itu."
"Yang sepuluh kali lipat lebih bagus, aku sering melihatnya,"
Jawab Lam Jin Thong sembari tertawa dingin.
"Tiauw Houw-heng"
Tertawa berkakakan.
"Saudara benarbenar suka guyon-guyon,"
Katanya.
"Saudara adalah pembesar sipil. Golok mustika apakah yang Saudara pernah lihat?"
Si tukang solder agaknya juga sudah dapat menangkap pembicaraan kedua orang itu dan ia lantas saja berteriak.
"Jika di dalam dunia benar-benar ada golok yang bisa mengalahkan golokku ini, aku rela mempersembahkan kepalaku kepada-nya. Memang, berapa sukarnya orang menggoyang lidah. Aku bisa kata, anakku pernah menjadi pem-besar tingkat kelima."
Melihat keberanian si tukang solder, semua orang jadi terkejut.
"Jangan rewel, tutup mulutmu!"
Bentak seorang antaranya. Lam Jin Thong gusar bukan main. Dengan muka pucat, ia bangun dan berjalan masuk ke kamarnya dengan tindakan lebar.
"Ayah!"
Puterinya memanggil, lapi dalam kegu-sarannya, mana ia mau meladeni. Dilain saat, ia sudah keluar pula dengan menenteng sebatang golok melengkung yang panjangnya tiga kaki dan bersarung hitam.
"Hei! Tukang solder!"
Ia membentak.
"Aku mempunyai sebatang golok untuk diadu dengan golokmu. Jika kau kalah, kutungkanlah kepalamu!"
"Jika Looya (panggilan untuk seorang berpang-kat) yang kalah?"
Tanya tukang solder itu.
"Aku juga akan mengutungkan kepalaku,"
Ja-wab Lam Jin Thong dengan suara gusar.
"Thia,"
Bujuk puterinya.
"Kau sudah minum terlalu banyak. Guna apa rewel dengan mereka? Hayolah kita balik ke kamar."
Melihat Lam Jin Thong sudah bergerak untuk menurut bujukan puterinya, si tukang solder iantas saja berkata.
"Jika Looya kalah, siauwjin (aku yang rendah) mana berani menerima kepala Looya? Be-gini saja. Ambillah aku sebagai menantumu!"
Mendengar kata-kata yang kurang ajar itu, ada yang tertawa dan ada pula yang menegur padanya.
Lam Siocia sendiri menjadi merah mukanya dan dengan kemalu-maluan, ia lari masuk ke dalam kamarnya.
Perlahan-lahan Lam Jin Thong menarik keluar golok itu dari sarungnya.
Baru dihunus separuh, suatu sinar hijau yang dingin berkeredep menyi-laukan mata dan sesudah dicabut seluruhnya, sinar dingin itu berkeredep-keredep tak hentinya, sehingga orang sukar membuka matanya.
"Buka matamu!"
Lam Jin Thong membentak.
"Golokku ini dinamakan Hui-ho Po-to (Golok mustika si Rase Terbang)."
Golok itu yang tebal belakangnya dan tipis bagian tajamnya, sungguh-sungguh hebat.
Si tukang solder mendekati dan mendapat kenyataan, bahwa gagang golok yang berbentuk rase terbang dibung-kus dengan benang emas.
"Golok Looya benar-benar bagus, tak usah diadu lagi,"
Katanya.
Melihat siasat orang-orang itu, Biauw Jin Hong Iantas saja mengerti maksudnya.
Tak salah lagi.
mereka datang untuk merampas golok mustika ter-sebut.
Sebagaimana diketahui, orang-orang yang pandai silat menghargai senjata tajam seperti jiwa-nya sendiri.
Maka itu, tidaklah mengherankan, jika golok mustika itu sudah membikin banyak orang jadi mata gelap.
Akan tetapi, Lam Jin Thong adalah seorang pembesar sipil.
Dari mana ia memperoleh Po-to itu?
Dan dengan cara apa, orang-orang itu bisa mengetahuinya?
Sesudah mengerti, bahwa orang-orang itu bukan hendak menyeterukan dirirtya, hati Biauw Jin Hong menjadi tenang.
Begitu Hui-ho Po-to terhunus.
"Tiauw Houw-heng" , si pelayan, si tukang pikul, si kusir dan tukang solder serentak mendekati. Biauw Jin Hong menge-tahui, bahwa semuanya sudah merasa tidak sabar dan mereka belum turun tangan hanya karena merasa jerih satu terhadap yang lain. Karena diejek, dalam kegusarannya Lam Jin Thong memang berniat mengadu goloknya. Tapi sesudah melihat golok lawan yang juga bukan golok biasa, hatinya khawatir kalau-kalau senjatanya sen-diri turut mendapat kerusakan. Maka itu, lantas saja ia berkata.
"Sudahlah, jika kau mengakui kesalahan-mu. Lain kali janganlah bicara yang tidak-tidak."
Selagi Lam Jin Thong ingin masukkan senjata itu ke dalam sarungnya.
"Tiauw Houw-heng"
Seko-nyong-konyong merampas golok itu dan dengan sekali menyabet, golok si tukang solder sudah men-jadi dua potong.
Si tukang solder, tukang pikul, kusir dan si pelayan segera mengurung "Tiauw Houw-heng"
Dan bersiap untuk lantas turun tangan. Melihat begitu, walaupun tangannya mencekal golok mustika, ia merasa tidak ungkulan dan buru-buru memulang-kan golok itu kepada Lam Jin Thong sembari berkata.
"Golok bagus! Golok bagus!"
Paras muka Lam Jin Thong berubah.
"Hai, kau sungguh ceroboh!"
Ia menegur sambil masukkan Hui-ho Po-to ke dalam sarungnya dan kemudian kembali ke kamarnya untuk mengaso.
Biauw Jin Hong mengerti, bahwa dengan siasat-nya itu, kelima orang tersebut hanya ingin mencari tahu benar tidaknya Lam Jin Thong mempunyai golok mustika.
Ia menaksir, bahwa dalam tempo cepat, mereka berlima akan saling membunuh dalam perebutan.
Meskipun Biauw Jin Hong berjiwa ksatria, tapi karena melihat cara-cara Lam Jin Thong yang sangat kasar, ia segera memutuskan untuk tidak mencampuri urusan itu.
Besok paginya, ia mendapat kenyataan, bahwa Lam Jin Thong dan puterinya sudah berangkat, sedang si tukang solder dan yang Iain-lain, bahkan si pelayan juga, sudah menghilang dari rumah penginapan tersebut.
"Ah, benar juga orang kata, bahwa di segala pelosok dunia terdapat buaya-buaya,"
Kata Biauw Jin Hong di dalam hatinya sambil menghela napas.
Ia lalu membayar uang penginapan dan berangkat dengan menunggang kudanya.
Sesudah berjalan dua puluh li lebih, di selat gunung sebelah barat mendadak terdengar teriakan seorang wanita yang menyayatkan hati.
"Tolong! Tolong!"
Ituiah teriakan Lam Siocia!
Begitu mendengar jeritan itu, Biauw Jin Hong jadi naik darahnya.
Ia loncat turun dari tunggangannya dan berlari-lari ke arah suara teriakan itu dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan.
Sesudah membelok dua kali, jauhjauh ia sudah melihat mayat Lam Jin Thong yang rebah di atas salju, sedang Hui-ho Po-to menggeletak di samping mayat itu, agaknya tak ada orang yang berani menjumput terlebih dulu.
Lam Siocia yang sedang menangis, ditekap mulutnya oleh si tukang solder.
Biauw Jin Hong segera menyembunyikan diri di belakang sebuah batu besar untuk menyaksikan perkembangan selanjutnya.
"Golok mustika hanya satu, yang menginginkan ada lima orang,"
Kata "Tiauw Houw-heng".
"Bagaimana baiknya?"
"Kita mengadu kepandaian, siapa menang, sia-pa dapat,"
Jawab si tukang pikul.
"Tiauw Houw-heng"
Melirik Lam Siocia dan berkata pula.
"Golok mustika dan wanita cantik adalah benda yang samasama sukar didapat di dalam dunia."
"Aku tak turut dalam perebutan golok,"
Kata si tukang solder.
"Cukup dengan mendapatkan ini."
"Enak saja kau!"
Bentak si pelayan sembari tertawa dingin.
"Begini saja. Yang nomor satu dapat golok, nomor dua dapat si nona."
"Bagus! Aku mufakat,"
Kata si kusir.
"Lauw-hia (kakak),"
Kata si pelayan kepada si tukang solder.
"Lepaskanlah dia. Mungkin sekali aku merebut kedudukan kedua dan nona manis itu akan menjadi isteriku!"
"Benar!"
Kata "Tiauw Houw-heng"
Sembari tertawa. Mau tak mau, si tukang solder melepaskan Lam Siocia yang lantas saja menghampiri mayat ayahnya dan menangis.
"Siocia, sudahlah, jangan menangis!"
Kata si tukang pikul sembari menarik tangan Lam Siocia dengan cara yang kurang ajar sekali.
Sampai di situ, Biauw Jin Hong tak dapat ber-sabar lagi.
Dengan tindakan lebar, ia keluar dari tempat sembunyinya dan membentak.
"Pergi!"
Kelima orang itu terkesiap.
"Siapa kau?"
Tanya mereka hampir berbareng. Biauw Jin Hong yang tak suka banyak berbicara, hanya mengebas tangannya dan membentak pula.
"Pergi semua!"
Antara mereka adalah si tukang solder yang adatnya paling berangasan.
"Kau yang pergi!"
Ia berteriak sembari menghantam dada Kim-bian-hud dengan kedua tangannya.
Biauw Jin Hong mengerahkan tenaga dalamnya dan menangkis kekerasan dengan kekerasan juga.
Begitu kesampok, badan si tukang solder "terbang"
Ke udara untuk kemudian jatuh ngusruk di atas salju! Melihat lihaynya Biauw Jin Hong, keempat orang lainnya jadi terperanjat.
"Siapa kau?"
Mereka menanya pula.
Biauw Jin Hong tak menyahut, ia terus menerjang.
Si kusir mengeluarkan Joan-pian (cambuk) dari pinggangnya dan si tukang pikul menarik keluar pikulannya dan mereka segera menyerang dari kiri kanan.
Kim-bian-hud mengetahui, bahwa lima orang itu semuanya mempunyai kepandaian tinggi dan jika mereka mengerubuti, belum tentu ia bisa mendapat kemenangan.
Maka itu, begitu berge-brak, ia segera menurunkan tangan dengan tidak mengenal kasihan lagi.
Sembari mengelit sambaran Joan-pian, tangan kanannya menangkap ujung pi-kulan yang lantas dibetotnya dan dengan sekali mengerahkan tenaga, pikulan itu yang terbuat dari kayu angco sudah dibuatnya patah menjadi dua potong!
Hampir berbareng dengan itu, kaki kirinya menendang si kusir yang lantas saja jatuh terpe-lanting.
Dengan ketakutan, si tukang pikul coba melarikan diri, tapi Biauw Jin Hong sudah keburu mencengkeram leher bajunya dan sekali dilontar-kan, badan tukang pikul itu melayang ke tengah udara bagaikan layangan putus dan jatuh celentang di tempat yang jauhnya belasan tombak.
"Tiauw Houw-heng"
Yang bisa melihat gelagat, buru-buru membungkuk dan berkata dengan suara manis.
"Menyerah! Kita menyerah. Po-to itu seha-rusnya menjadi milik tuan."
Sembari berkata begitu, ia memungut Hui-ho Po-to dan mempersembah-kannya kepada Biauw Jin Hong.
"Aku tak kesudian!"
Kata Kim-bian-hud.
"Pu-langkan kepada yang punya!"
"Tiauw Houw-heng"
Terkejut.
"Di dalam dunia, di mana ada orang yang begitu baik hati!"
Pikirnya. Ia mengawasi Biauw Jin Hong yang mukanya ber-warna kuning emas dan parasnya angker sekali. Mendadak ia sadar.
"Ah!"
Katanya.
"Tuan adalah Kim-bian-hud Biauw Tayhiap!"
"Kami semua mempunyai mata, tapi tak bisa melihat gunung Thaysan,"
Kata "Tiauw Houw-heng".
"Sekarang kami bertemu dengan Biauw Tayhiap. Apalagi yang kami bisa katakan."
Sehabis berkata begitu dengan kedua tangan ia meng-angsurkan golok mustika itu seraya berkata pula.
"Siauwjin (aku yang rendah) bernarna Chio Tiauw Houw dan sungguh beruntung, bahwa hari ini aku bisa bertemu dengan Biauw Tayhiap. Terimalah golok ini!"
Biauw Jin Hong yang paling sungkan rewel, lantas saja menyambuti dengan niatan untuk menyerahkan lagi senjata mustika itu kepada Lam Siocia.
Dan pada detik itulah, berbareng dengan ter-dengarnya suara "srr, srr"
Yang sangat halus, Biauw Jin Hong merasakan lututnya seperti digigit semut, dan sementara itu, Chio Tiauw Houw yang sudah loncat minggir, lantas saja kabur sembari berteriak.
"Dia sudah terkena Coat-bun Tok-ciam (jarum beracun)! Lekas kepung padanya!"
Mendengar kata-kata "Coan-bun Tok-ciam", Biauw Jin Hong terperanjat.
Ia ingat, bahwa paku beracun keluarga Chio di propinsi Hunlam tersohor lihaynya di seluruh wilayah Tionggoan.
Sembari menarik napas dalam-dalam, ia loncat memburu dan dalam sekejap sudah menyusul musuh itu.
Sekali ditotok jalan darahnya, Chio Tiauw Houw rubuh terguling.
Mendengar Kim-bian-hud sudah kena senjata beracun, si tukang pikul dan yang lain merasa sangat girang dan lantas saja mengurung dari sebelah jauh untuk menunggu sampai racun bekerja.
Biauw Jin Hong menahan napas dan menerjang maju dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan yang paling tinggi.
Si tukang pikul ketakutan setengah mati dan lari ngiprit berputar-putar sekeras-kerasnya mengelilingi kalangan pertempuran itu.
Tapi, mana bisa ia meloloskan diri dari tangan Kim-bian-hud.
Di lain saat, Biauw Jin Hong sudah menghantam dengan telapak tangan kanannya dan dia terjungkal binasa dengan isi perut hancur.
Kaki Kim-bian-hud tak berhenti dan beberapa detik kemudian, ia sudah menyusul si kusir yang dalam keadaan kepepet, terpaksa melawan juga dengan Joan-piannya.
Ia mengharap bisa mempertahankan diri sampai de-lapan sembilan jurus, untuk menunggu bekerjanya racun.
Tapi Biauw Jin Hong tentu saja sungkan memberi kesempatan dan sekali berkelebat, ta-ngannya sudah menangkap ujung pecut yang lantas dibetot dan cepat luar biasa, ia menghantam kepala musuh dengan gagang Joanpian itu, si kusir lantas saja terguling dengan batok kepala hancur.
Sesudah membinasakan dua orang, kaki Biauw Jin Hong sudah mulai kesemutan.
la mengetahui, bahwa disaat itu, ia berada dalam keadaan yang menentukan mati atau hidup dan sedikit pun ia tidak boleh mengaso.
Akan tetapi, si pelayan dan si tukang solder berada dalam jarak puluhan tombak.
Selama hidup, sedapat mungkin Kim-bian-hud sungkan mengambil jiwa manusia.
Tapi, ia mengerti bahwa jika di antara lima musuh itu masih ada yang hidup dan ia sudah keburu rubuh akibat bekerjanya racun, maka jiwanya tentu tidak dapat ditolong lagi.
Mengingat begitu, sambil menggertak gigi, ia mengejar si pelayan.
Orang itu licik sekali, ia berlari-lari di tempat-tempat becek dan banyak lubang.
Tapi dengan memiliki ilmu mengentengkan badan yang sangat tinggi, itu semua tidak merupakan rin-tangan besar bagi Kimbian-hud yang dengan cepat sudah dapat menyusul.
Dalam keadaan putus ha-rapan si pelayan mencabut Citsiunya (pisau) dan menubruk.
Pada saat ditubruk, Biauw Jin Hong memutarkan badan dan tanpa menengok lagi, ia menendang ke belakang.
Sehabis memandang, ia segera mengejar si tukang solder.
Tendangan itu dengan jitu menghajar ulu hati si pelayan yang lantas saja rubuh tanpa bernapas lagi.
Meskipun ilmu silatnya tidak seberapa tinggi, si tukang solder memiliki ilmu mengentengkan badan Gan-hong-kong dari keluarga Ciong, yang di-anggap sebagai ilmu luar biasa dalam Rimba Per-silatan.
Disamping itu, pengejaran atas berapa orang itu barusan sudah mempereepat bekerjanya racun, sehingga, ketika mengejar si tukang solder, tindakan Biauw Jin Hong tidak begitu cepat lagi dan ia tak dapat menyusul musuhnya.
Melihat itu, si tukang solder menjadi girang sekali.
"Dengan dipayungi Tuhan, golok mustika dan nona manis akan menjadi milikku,"
Pikirnya.
Tapi baru saja ia bergirang, ketika serupa benda hitam sekonyong-konyong datang menyambar ba-gaikan kilat dan tak dapat dielakkannya lagi.
Ter-nyata, benda itu adalah Joanpian yang dilontarkan oleh Biauw Jin Hong.
Setelah mengetahui, bahwa ia tidak akan dapat menyusul musuhnya, ia menimpuk dengan menggunakan tenaganya yang penghabisan dan timpukan itu tepat mengenai kempungan si tukang solder yang lantas saja menggeletak binasa di atas tanah yang tertutup salju.
Tapi, sekarang Kim-bian-hud sendiri tak dapat mempertahankan dirinya lagi dan ia jatuh terduduk.
Sambil menangis di samping jenazah ayahnya, Lam Siocia memperhatikan jalannya pertempuran dahsyat itu dengan hati berdebar-debar dan penuh ketakutan.
Ketika melihat Biauw Jin Hong rubuh, buru-buru ia menghampiri dan coba membangun-kannya.
Tapi tubuh Kim-bian-hud yang tinggi besar, berada di luar batas kekuatan gadis yang lemah itu.
Walaupun bagian bawah badannya mati, pikiran Biauw Jin Hong masih tetap jernih.
"Lekas geledah badannya,"
Ia memerintah sambil menuding Chio Tiauw Houw yang tak dapat bergerak, karena jalan darahnya ditotok.
"Ambil obatnya dan berikan ke-padaku."
Lam Siocia melakukan itu dan beberapa saat kemudian, ia mengeluarkan sebuah botol kristal dari dalam saku Tiauw Houw.
"Apa ini?"
Tanya si nona. Saat itu otaknya Kim-bian-hud sudah mulai butak.
"Jangan mau tahu... kasih... aku... makan,"
Katanya dengan suara lemah. Lam Siocia lalu membuka tutup botol tersebut dan menuang yowan yang berwarna kuning ke mulut Biauw Jin Hong.
"Bunuh mati padanya!"
Memerintah Kim-bian-hud sesudah menelan obat itu. Si nona terkejut dan menyahut dengan suara terputusputus.
"Aku... aku tidak berani... mem-bunuh orang."
"Dia yang memhunuh ayahmu!"
Berkata Biauw Jin Hong dengan suara keras.
"Tidak... aku tidak berani,"
Jawabnya, tergugu.
"Sesudah lewat enam jam, jalan darahnya akan terbuka sendiri,"
Kata Biauw Jin Hong.
"Aku men-dapat luka sangat berat... kita bereiua bisa mati tanpa kuburan."
Dengan kedua tangan, Lam Siocia mengangkat golok mustika itu yang ialu dihunus.
Sesaat itu, ia melihat kedua mata Chio Tiauw Houw mengeluarkan sorot minta dikasihani.
Sebagai manusia yang belum pernah memotong ayam atau bebek, bagaimana dapat diharapkan agar si nona bisa turun tangan untuk membunuh orang?
"Jika kau tidak membunuh dia, bunuhlah aku!"
Bentak Biauw Jin Hong.
Si nona terkesiap, goloknya terlepas dan jatuh tepat di atas kepala Chio Tiauw Houw.
Hui-ho Po-to adalah golok mustika yang dapat memapas besi bagaikan lumpur, maka begitu kena, kepala Chio Tiauw Houw lantas terbelah dua!
Lam Siocia menjerit dan rubuh pingsan di atas badan Kim-bian-hud.
*** Melamun sampai di situ, anaknya yang didu-kung itu mendadak tersadar dan menangis.
"Ayah, mana ibu?"
Tanyanya dengan sesenggukan.
Biauw Jin Hong tak menyahut.
Anak itu menengok ke sana sini dan secara kebetulan, ia melihat nyonya cantik itu yang berada di dekat perapian.
Sambil mementang kedua tangannya, ia berteriak.
"Ibu! Ibu! Lan-lan sedang mencari kau!"
Ia meronta-ronta, ingin menghampiri nyonya itu yang dipanggil ibu. Semua orang heran bukan main. Terang-terang nyonya itu adalah istri Tian Kui Long. Kenapa anak itu memanggii "ayah"
Kepada Biauw Jin Hong dan "ibu"
Kepadanya?
Suasana lantas saja menjadi te-gang dan semua orang, kecuali anak itu yang ter-girang-girang, berdebar-debar hatinya.
Perlahan-lahan nyonya itu bangun, menghampiri Biauw Jin Hong dan lantas saja menggendong anak itu.
"Ibu! Lan-lan sudah dapat mencari kau!"
Katanya dengan girang.
Si nyonya memeluk anak itu erat-erat.
Dua muka yang cantik, satu besar dan satu kecil, jadi menempel satu pada yang lain dan air mata si anak yang belum kering jadi bereampur dengan air mata si ibu yang baru mengucur keluar.
Sementara itu, si lengan satu yang sedari tadi berdiri di pojok tembok dengan mata waspada, perlahan-lahan menghampiri Giam Kie.
la mem-bungkuk dan berbicara bisikbisik di kuping kepala perampok itu, yang paras mukanya berubah pucat dengan mendadak.
Sesudah melirik Biauw Jin Hong dengan sorot mata ketakutan, perlahan-lahan Giam Kie masukkan tangannya ke dalam saku dan ke-mudian mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari kertas minyak.
Si lengan satu mengambil bungkusan itu, yang lalu dibukanya.
Ternyata, di dalamnya terdapat dua lembar kertas yang sudah agak tua.
la manggut-manggut-kan kepalanya, masukkan bungkusan itu ke dalam kantong sendiri dan kemudian kembali ke pojok tadi.
Beberapa saat kemudian, nyonya itu menge-ringkan air matanya dengan lengan baju dan sesudah mencium anaknya, sekonyong-konyong ia berbangkit dan sambil menahan turunnya air mata, ia menyerahkan kembali anak itu kepada Biauw Jin Hong.
"Ibu...! Ibu...! Ibu...!"
Teriak anak itu sambil meronta-ronta.
Tapi sang ibu tetap berlalu, berlalu tanpa menengok pula.
Biauw Jin Hong menahan sabar sambil menunggu.
Ia menunggu jawaban si cantik, ia menunggu menengoknya ibu yang telengas itu, untuk melihat puterinya yang sedang meronta-ronta.
Di dalam hatinya, Biauw Jin Hong ingin sekali menyeret dan menginjak seorang manusia durhaka dengan kakinya untuk kemudian dibinasakan.
Akan tetapi, ia mengetahui, bahwa manusia itu tentu akan mendapat pertolongan.
Biauw Jin Hong adalah seorang yang dikenal sebagai tiada tandingannya dalam dunia ini, tapi hatinya lembek, penuh welas asih dan ia mencinta, dengan seluruh hatinya, pe-rempuan cantik itu yang berhati kejam.
Demikianlah, sedang puterinya menjerit-jerit memanggil ibu, ia menunggu dan menunggu terus....
Apakah si cantik tuli?
Apakah dia manusia berhati baja?
Teriakan itu menyayatkan hati, tapi seujung rambut, ia tak bergerak.
Darah Kim-bian-hud bagaikan bergolak-go-lak.
Jika menuruti dorongan hatinya, ia tentu sudah menghantam hancur puterinya sendiri, agar tak usah mendengar jeritanjeritan yang mengiris hati.
Demikianlah, seorang gagah perkasa tiada tan-dingan, seorang ksatria dari ujung rambut sampai ujung jari kakinya, seolah-olah menjadi linglung.
Ia memandang ke depan dengan mendelong dan di depan matanya kembali terbayang peristiwa di Ciangciu tiga tahun berselang itu.
*** Ketika itu, di atas tanah yang tertutup salju menggeletak tak kurang dari enam mayat.
Akibat jarum beracun, Biauw Jin Hong tak dapat berdiri lagi, sedang Lam Siocia berada dalam ketakutan hebat.
"Tuntun kuda itu kemari,"
Memerintah Kim-bian-hud dengan suara keras. Buru-buru si nona menuntun kuda itu ke hadapan Biauw Jin Hong dan kemudian mengangsurkan tangannya yang lemas halus untuk mengangkatnya.
"Minggir!"
Perintah Biauw Jin Hong pula.
Sesudah Lam Siocia menyingkir, Kim-bian-hud ialu mencekal injakan kaki pada pelananya dan dengan sekali mengerahkan tenaga, tubuhnya ter-angkat naik dan hinggap di atas pelana.
"Pungut golok itu,"
Kata Biauw Jin Hong dan bagaikan orang kehilangan semangat, si nona lan-tas saja menurut.
Sesudah itu, dengan sebelah tangan ia mengangkat naik tubuh Lam Siocia ke atas pelana dan perlahan-lahan ia melarikan tung-gangannya kembali ke rumah penginapan yang semalam.
Selama dalam perjalanan, dengan mengerahkan tenaga dalamnya, Biauw Jin Hong tak sampai men-jadi pingsan.
Tapi, begitu tiba di hotel, ia tak dapat mempertahankan did lagi dan jatuh tergulingdi atas salju di depan rumah penginapan itu.
Dua pelayan lantas saja menggotong ia masuk ke dalam kamar.
Oleh karena menanggung budi yang sangat besar, Lam Siocia merawat penolongnya ini dengan telaten.
Begitu tersadar dari pingsannya, Biauw Jin Hong segera menggulung kaki celananya dan men-cabut dua batang jarum beracun yang masih menancap pada lututnya.
Sesudah itu, ia lalu minta seorang pelayan hotel mengisap darah beracun dari lukanya.
Meskipun dijanjikan upah besar, pelayan itu tak berani melakukan pekerjaan tersebut.
Tanpa berkata suatu apa, Lam Siocia segera menempelkan mulutnya yang mungil pada lutut Biauw Jin Hong dengan penuh kerelaan, ia menyedot keluar semua darah beracun yang mengeram di lutut sang penolong.
Si nona mengetahui, bahwa dengan berbuat begitu, ia sudah menyerahkan jiwa dan raganya kepada "si orang dusun".
Tak perduli apakah dia itu seorang perampok atau buaya, Lam Siocia sudah mengambil keputusan untuk mengikuti orang yang sudah menolong jiwanya dan membaiaskan sakit hati ayahnya.
Di lain pihak, Biauw Jin Hong juga mengerti, bahwa berbareng dengan diisapnya darah beracun oleh nona itu, penghidupannya berkelana di kalangan Kang-ouw sudah tiba pada akhirnya.
Mulai dari sekarang, ia bertanggung jawab untuk keselamatan wanita itu, suka duka Ciankim Siocia tersebut adalah suka dukanya sendiri.
Sesudah makan obat Chio Tiauw Houw dan sesudah darah beracun itu diisap habis, jiwa Biauw Jin Hong boleh tak usah dikhawatirkan lagi.
Akan tetapi, Coat-bun Tok-ciam hebat bukan main.
Dalam sepuluh hari, kedua kakinya tak akan dapat digunakan sebagaimana mestinya.
Ia segera mengeluarkan beberapa potong perak dan minta pertolongan pelayan hotel untuk mengurus dan mengubur jenazah ayah Lam Siocia serta lima orang itu yang ingin merampas Hui-ho Po-to.
Lam Siocia tidur sekamar dengan Biauw Jin Hong dan siang malam ia merawat Kim-bian-hud dengan telaten sekali.
Sesudah mengalami peristiwa yang sangat...
sangat hebat itu, sering sekali dalam tidurnya ia mengigau, menangis dan menjerit ke-takutan.
Biauw Jin Hong adalah seorang yang tidak pandai bicara dan ia sama sekali tidak dapat mengeluarkan kata-kata untuk menghibur nona cantik itu.
Akan tetapi, setiap kali melihat si nona berparas guram, ia selalu memandangnya dengan sorot mata mencinta, sehingga tanpa merasa, hati gadis itu jadi terhibur juga.
Lam Siocia memberitahukan Biauw Jin Hong, bahwa di waktu menjabat pangkat di Kang-ouw, ayahnya telah menangkap seorang bajak yang ke-sohor namanya dan dari bajak itu, ia mendapatkan golok Hui-ho Po-to.
Tidak lama kemudian, ayahnya dipanggil ke kota raja untuk memangku jabatan yang lebih tinggi.
Dalam perjalanan itu, sang ayah telah membawa juga Hui-ho Po-to dan ia niat mempersembahkannya kepada orang yang sudah menolongnya memperoleh kenaikan pangkat.
Tapi, tak dinyana, perjalanan itu sudah mengakibatkan kebinasaannya.
Biauw Jin Hong segera menanyakan nama bajak itu, tapi Lam Siocia tidak dapat menjelaskannya.
Apa yang diketahuinya adalah, bahwa si penjahat sudah mati dalam penjara.
Kim-bian-hud menghela napas.
"Orang gagah manakah yang sudah binasa secara begitu menge-cewakan?"
Ia menanya dirinya sendiri.
Pada malam hari ke lima, Lam Siocia membawa semangkok obat ke dalam kamar.
Selagi Biauw Jin Hong menyambut obat itu sekonyong-konyong di luar jendela terdengar beberapa suara yang halus.
Tanpa berubah paras, Kim-bian-hud minum terus obatnya.
Dari suara itu, ia mengetahui, bahwa di luar jendela terdapat musuh yang sedang mengintip gerakgeriknya, tapi yang tidak berani lantas turun tangan.
"Tak bisa salah lagi mereka tentunya kawan lima orang itu,"
Kata Biauw Jin Hong di dalam hatinya.
"Lima-enam hari lagi, sedikit pun aku tidak merasa takut. Tapi dalam beberapa hari ini, kedua kakiku masih belum bisa bergerak dan kalau yang datang musuh-musuh tangguh, benar-benar sukar dilayani."
Tiba-tiba suatu sinar putih menyambar dari luar jendela dan sebilah pisau belati, yang pada ga-gangnya diikatkan selembar kertas, menancap di atas meja.
Lam Siocia menjerit dan lari ke samping Biauw Jin Hong.
Tangan Biauw Jin Hong yang sedang rebah di atas pembaringan, tak cukup panjang untuk meng-ambil pisau itu dari tengah meja.
Sembari tertawa dingin, ia menepuk tepi meja.
Pisau itu, yang menancap beberapa dim dalamnya, lantas loncat kira-kira satu kaki tingginya dan jatuh di pinggir tangan Kim-bian-hud.
"Kim-bian-hud benar-benar lihay!"
Demikian terdengar suara orang di luar jendela.
Dilain saat, dua orang kedengaran melompati tembok, disusul dengan terdengarnya derap kaki kuda yang semakin lama jadi semakin jauh.
Biauw Jin Hong membuka kertas itu yang ter-tulis seperti berikut.
Ciong Tiauw Bun, Tiauw Eng dan Tiauw Leng dari Ouwpak Utara, menyampaikan hormat yang sebesar-besarnya.
Lam Siocia melihat, ia mengawasi surat itu dengan paras muka guram, entah jengkel, entah gusar.
"Musuh cari kita?"
Tanyanya. Biauw Jin Hong manggut.
"Musuh lihay?"
Tanya pula si nona. Kim-bian-hud kembali mengangguk.
"Dia kabur karena melihat cara kau menepuk meja?"
Tanya lagi si nona.
"Dia bukan musuh, hanya orang suruhan untuk mengantar surat,"
Jawabnya.
"Dengan kepandaianmuyangbegitu tinggi, mereka tentu akan merasa jeri,"
Kata Lam Siocia dengan suara kagum. Biauw Jin Hong tak menyahut, otaknya sedang bekerja.
"Tiga saudara Ciong yang bergelar Kui-kian-cu (Ditakuti setan) adalah orang-orang yang disegani dan tak mengenal takut,"
Pikirnya.
"Hanya sayang, kedua lututku masih belura sembuh."
Walaupun mulutnya, mengucapkan kata-kata-nya tadi, sebenarnya Lam Siocia sangat khawatir. Maka itu, beberapa saat kemudian, ia berkata pula.
"Toako (kakak), apakah tidak baik jika sekarang kita kabur dengan menunggang kuda, supaya mereka tak dapat mencari kita?"
Biauw Jin Hong menggeleng-gelengkan kepala-nya, tanpa mengeluarkan sepatah kata.
Bagaimana mungkin Tah-pian Thian-hee Bu-tek-chiu Kimbian-hud Biauw Jin Hong, lari kabur dalam menghadapi musuh?
Ia memang tak banyak bicara, apa pula mengenai urusan itu, tak guna banyak bicara.
Malam itu, Lam Siocia terus gulak-gulik, tanpa bisa pulas.
Sesudah mengalami gelombang dan ba-dai hebat, sekarang ia benar-benar memikirkan keselamatan "si orang dusun"
Yang kasar.
Tapi Biauw Jin Hong sendiri terus pulas dengan nyenyak dan tenang.
Besokpaginya, Kim-bian-hud mintasemangkok mie dan sebuah kursi.
Sesudah apa yang diminta itu diantarkan kepadanya, ia segera duduk di ruangan tengah, sedang Hui-ho Po-to disenderkan di pinggir kursi.
Ia adalah seorang yang sungkan membuat rencana terlebih dulu, oleh karena kejadian yang sebenarnya sering menyimpang dari rencana yang sudah ditetapkan.
Maka itu, ia duduk di kursi dan menunggu perkembangan selanjutnya.
Melihat sikapnya yang menyeramkan, Lam Siocia jadi ketakutan dan mengajukan beberapa per-tanyaan, tapi sepatah pun tak mendapat jawaban, sehingga si nona tidak berani menanya lagi.
Pada waktu Sien-sie (antara jam tujuh dan sembilan pagi), diluar pintu terdengar derap kaki kuda dan tiga orang loncat turun dari tunggangan mereka, untuk kemudian terus masuk ke dalam hotel itu.
Melihat dandanan mereka, semua orang jadi terkesiap.
Ternyata, ketiga orang itu masing-masing mengenakan pakaian berkabung dari kain blacu kasar, dengan topi dan sepatu putih.
Biauw Jin Hong mengetahui, bahwa tiga saudara Ciong menjagoi di daerah Kengciu dan Siang-yang.
Mereka mempunyai kepandaian yang sangat tinggi, hal mana terbukti dari kepandaian muridnya -si tukang solder -yang tidak cetek.
Sekarang dengan kedatangan tiga saudara itu sendiri, Biauw Jin Hong mengerti ia sedang menghadapi lawan berat.
Paras muka mereka sangat mirip dengan yang Iain, ketigatiganya berwajah putih pucat, berhi-dung besar yang menghadap ke atas dan perbedaan antara usia mereka hanya bisa dilihat dari kumis mereka.
Yang paling tua, Ciong Tiauw Bun, ku-misnya berwarna kelabu, yang kedua Ciong Tiauw Eng berkumis hitam, sedang yang paling muda, Ciong Tiauw Leng, tidak memeiihara kumis.
Di waktu mereka masuk, Biauw Jin Hong melihat tindakan mereka enteng luar biasa, seolah-olah tidak menginjak tanah, sehingga lantas saja ia mengerti, bahwa ketiga lawan itu benar-benar bu-kan lawan enteng.
Selama berkelana di dunia Kang-ouw, semakin tangguh musuhnya, makin bergelora semangat Biauw Jin Hong.
Sesaat itu, tanpa merasa bukubuku tulang di sekujur badannya berbunyi peratak-perotok.
Begitu berhadapan, ketiga saudara Ciong lantas menyoja dalam-dalam seraya berkata.
"Biauw Tay-hiap, selamat bertemu."
Kim-bian-hud membalas hormat dan berkata.
"Selamat bertemu. Aku tak bisa berdiri, harap kalian sudi memaafkan."
"Sedang Biauw Tayhiap mendapat luka di lutut, menurut pantas memang kami tak boleh meng-ganggu,"
Kata Ciong Tiauw Bun.
"Akan tetapi, sakit hati murid kami, tak bisa tidak dibalas, sehingga kami mohon Biauw Tayhiap suka memaafkan kami bertiga."
Mendengar itu, Kim-bian-hud hanya mengangguk.
"Kepandaian Biauw Tayhiap kesohor di kolong langit,"
Tiauw Bun berkata pula.
"Jika kami bertiga bertempur satu lawan satu, sudah pasti kami bukan tandingan Tayhiap, Loojie! Loo-sam! Marilah kita bertiga menyerang dengan berbareng!"
"Baik,"
Sahut kedua saudaranya dengan berbareng.
Dalam Rimba Persilatan, ketiga saudara Ciong itu mempunyai nama yang baik.
Walaupun cara-cara mereka aneh, kedudukan mereka dalam kalangan Kang-ouw adalah tinggi dan disegani oleh banyak orang.
Disaat itu dengan serentak, masing-masing mencabut sepasang Poan-koan-pit (senjata berben-tuk alat tulis Tionghoa) dari pinggangnya.
Tadi, begitu mereka masuk, para tetamu dan pelayan hotel sudah menduga, bahwa di ruangan itu bakal terjadi suatu pertempuran.
Sekarang, begitu mereka menghunus senjata, semua orang lantas saja menyingkir, sehingga ruangan itu jadi kosong melompong.
Hanya seorang yang tidak bergerak dan orang itu bukan lain daripada Lam Siocia yang tetap berdiri di suatu sudut.
Bahwa seorang wanita yang sedemikian lemah, sudah berani berdiri tegak untuk menyaksikan pertempuran itu, sangat mengharukan hati Biauw Jin Hong.
Dan pada detik itulah, suatu tali pereintaan yang tak dapat dilihat dengan mata manusia, sudah menyirat erat-erat hati Kim-bian-hud.
Oleh karena sikap yang gagah itu, lenyaplah segala kesangsian yang mungkin masih terdapat di dalam hati Biauw Jin Hong untuk mengikat seluruh jiwa dan raganya dengan nona yang cantik dan lemah lembut itu.
la mesem puas dan segera menghunus Hui-ho Po-to.
Melihat sinar golok yang berkeredepan, ketiga saudara Ciong serentak memuji.
"Benar-benar sebuah golok mustika!"
Dilain saat, mereka sudah menyerang dengan berbareng, Tiauw Bun dari depan, Tiauw Eng dari samping kiri, sedang Tiauw Leng dari samping ka-nan.
Biauw Jin Hong melintangkan goloknya tanpa bergerak.
Pada saat enam ujung Poan-koan-pit itu hampir melanggar kulitnya, tiba-tiba saja, cepat bagaikan kilat, Kim-bian-hud membabat ketiga orang itu dengan Hui-ho Po-to.
Ciong-sie Sam-heng-tee (tiga kakak beradik she Ciong) juga sungguh-sungguh bukan lawan tem-pe!
Diserang secara begitu mendadak dan dengan gerakan yang sangat aneh, mereka toh keburu menyingkir dari babatan golok.
Mereka heran, heran karena mereka sama sekali tidak nyana, bahwa Biauw Jin Hong, yang kesohor ilmu pedangnya (Biauw-kee Kiam-hoat, atau ilmu pedang dari ke-luarga Biauw), juga memiliki ilmu silat golok yang begitu tinggi.
Mereka tentu saja tidak mengetahui, bahwa pukulan yang barusan digunakan oleh Kim-bian-hud adalah salah semacam pukulan dari Ouwkee To Hoat (ilmu golok keluarga Ouw), yang didapatnya dari Ouw It To sendiri.
Pertempuran lantas saja berlangsung dengan hebatnya.
Dengan menggunakan ilmu mengenteng-kan badan yang sangat tinggi, ketiga saudara itu menyerang bagaikan gelombang dan kadang-ka-dang loncat menyingkir, jika Biauw Jin Hong membalas dengan pukulan-pukulan aneh.
Tak usah di-sebutkan lagi, betapa dalam pertempuran itu, Biauw Jin Hong berada dalam kedudukan yang sangat dirugikan, karena ia sama sekali tidak dapat mengejar musuh-musuhnya yang lincah dan gesit.
Akan tetapi, meskipun begitu, berkat Hui-ho Po-to dan kepandaiannya yang sudah mencapai puncak kesempurnaan, Kim-bian-hud tidak sampai jatuh di bawah angin.
Dengan tenang dan mantap, ia menyapu setiap serangan.
Di dalam hatinya, Biauw Jin Hong yakin, bahwa untuk merubuhkan musuh-mu-suh itu, ia mesti bisa melakukan serangan mendadak yang luar biasa cepatnya dan di luar dugaan musuh-musuh itu.
Akan tetapi, ia juga mengetahui, bahwa Ciong-sie Samheng-tee adalah orang-orang yang tidak jahat dan telah mendapat nama harum dalam ka-langan Kang-ouw.
Sebagai seorang ksatria tulen, sedapat mungkin Biauw Jin Hong tidak ingin menurunkan tangan kejam terhadap mereka itu.
Di lain pihak, serangan-serangan ketiga saudara itu semakin lama jadi semakin hebat.
Bagaikan hujan, enam batang Poan-koan-pit menyambar-nyambar ke arah berbagai jalan darahnya.
Sekali lengah, bukan saja nama besarnya akan habis, lak-sana hanyut disapu air, akan tetapi Lam Siocia pun mungkin akan menderita dalam tangan ketiga lawan itu.
Memikir begitu, serangan-serangannya juga jadi semakin hebat dan turun tangannya semakin berat.
Melihat tenaga Biauw Jin Hong yang luar biasa besarnya dan goloknya yang sangat tajam, ketiga saudara Ciong tidak berani merangsek terlalu dekat.
Ketiga saudara itu menjadi jengkel dan habis sabar.
Mendadak, sembari berseru keras, Ciong Tiauw Bun menggulingkan badannya dan menye-rang di belakang kursi.
Tak usah dikatakan pula, serangan itu adalah serangan licik, karena Biauw Jin Hong sama sekali tidak dapat memutarkan ba-dan.
Dengan berbunyi "tak!"
Sebuah kaki kursi itu patah, kursinya jadi miring dan tubuh Biauw Jin Hong pun turut miring.
"Celaka!"
Seru Lam Siocia.
Dalam keadaan berbahaya, tangan kiri Kim-bian-hud menyambar ke arah muka Ciong Tiauw Eng, yang lantas coba menyingkir.
Mendadak, berbareng dengan berkelebatnya suatu sinar dingin, sebatang Poan-koan-pit yang dicekal Tiauw Eng dan sebatang lagi yang dipegang Tiauw Leng, terpapas kutung, sedang Tiauw Bun juga merasakan pundaknya sakit, tergores golok!
Itulah pukulan In-liong-sam-hiaiv (Tiga kali naga menampakkan diri) yang didapat dari Ouw It To, semacam pukulan luar biasa yang dengan sekali membabat dapat melukakan tiga orang musuh dengan berbareng.
Ciong-sie Sam-heng-tee menyingkir jauh-jauh.
Mereka saling mengawasi dengan perasaan kaget dan kagum.
"Loo-toa, kau terluka?"
Tiauw Eng menanya kakaknya.
"Tak apa-apa,"
Jawab sang kakak.
Melihat kursi Biauw Jin Hong sudah miring, Tiauw Bun mengerti, ia tak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang baik itu.
Akan tetapi satu hal tetap ditakutinya, yaitu.
Golok mustika dengan ilmu silat golok yang luar biasa itu.
"Dengan menggunakan senjata, kami bertiga ternyata bukan tandingan Biauw Tayhiap,"
Kata Tiauw Bun sembari merangkap kedua tangannya.
"Sekarang kami ingin memohon pelajaran dari Biauw Tayhiap dengan tangan kosong."
Kata-kata itu diucapkan secara manis, tapi mak-sudnya sangat beracun.
Menyingkir dari keunggulan lawan dan menyerang di bagian lemah, adalah per-buatan seorang yang menghendaki jiwa.
Menurut peraturan Kang-ouw, Biauw Jin Hong sebenarnya dapat menolak usul yang licik itu.
Akan tetapi, sebagai seorang yang berkepandaian tinggi, nyali Kim
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com bian-hud besar luar biasa. Sembari tertawa dingin, ia masukkan Hui-ho Po-to ke dalam sarung dan manggutkan kepalanya.
"Baiklah!"
Jawabnya, dengan tenang.
Dengan girang, ketiga saudara itu lalu melem-parkan Poankoan-pit mereka dan menerjang dengan serentak.
Sungguh hebat pukulan-pukulan Kim-bian-hud!
Begitu ia mengerahkan tenaga dalamnya dan menghantam dengan sepenuh tenaganya, Ciong-sie Sam-heng-tee tak bisa maju lebih dekat dari jarak delapan kaki.
Jika bukannya mempunyai tenaga dalam yang kuat, siang-siang tentu mereka sudah kecundang, dihajar sambaran angin pukulan Biauw Jin Hong yang sudah cukup untuk merubuhkan kebanyakan orang.
Sesudah bergerak beberapa jurus, Ciong Tiauw Eng mengeluarkan sifat liciknya.
Ia berguling ke belakang kursi dan menyapu dengan kakinya.
"Tak!"
Sebuah kaki kursi kembali patah!
Kursi itu rubuh ke belakang dan tubuh Biauw Jin Hong juga turut kejengkang!
Pada detik yang sangat berbahaya itu, kedua tangan Kimbian-hud menekan belakang kursi dan tubuhnya lantas saja melesat ke atas.
Hatinya panas melihat kelicikan Ciong Tiauw Eng.
Selagi melayang turun, bagaikan seekor elang, ia menubruk manusia licik itu.
"Loo-toa! Loo-sam!"
Tiauw Eng berteriak minta tolong.
Tiauw Bun dan Tiauw Leng lantas saja mera-buru.
Sambil mengerahkan tenaganya, dengan tangan kirinya Biauw Jin Hong menghantam pundak Tiauw Bun, sedang tangan kanannya menjotos dada Tiauw Leng.
Dengan serentak mereka rubuh, sedang Tiauw Eng keburu lari ngiprit ke luar pintu.
Sesudah merubuhkan kedua musuhnya, Kim-bian-hud sendiri jatuh terguling.
Melihat kegagahan Biauw Jin Hong dan dua antara mereka sudah mendapat luka, Ciong-sie Sam-heng-tee tidak berani masuk lagi.
Selagi hen-dak mengangkat kaki, Ciong Tiauw Eng mendadak melihat setumpuk jerami kering di pinggir hotel.
Karena malu dan gusar, suatu niatan jahat lantas saja muncul di dalam hatinya.
Ia mengeluarkan bahan api dan menyalakan jerami kering itu, yang lantas saja berkobar-kobar.
Seantero penghuni hotel dan pelayan menjadi kalang kabut dan lari serabutan.
Dengan mencekal Poan-koan-pit, ketiga saudara itu menjaga di depan pintu.
"Siapa yang berani menolong orang yang tak bisa jalan itu, akan kami hajar sampai mampus!"
Teriak seorang antara mereka. Melihat api semakin lama jadi semakin besar, sedang ia sendiri tidak berdaya dan tiga musuhnya menjaga di depan pintu, Biauw Jin Hong yang gagah perkasa jadi putus asa.
"Biauw Jin Hong! Biauw Jin Hong!"
Ia mengeluh.
"Apakah hari ini kau bakal mati ketambus?"
Jauh-jauh, ia melihat Lam Siocia sudah lari keluar bersamasama dengan orang banyak dan hatinya menjadi agak lega.
Matanya menyapu ke seluruh ruangan dan secara kebetulan sekali, ia melihat segulung tambang kasar di suatu sudut.
"Ah! Tuhan masih berbelas kasihan!"
Ia berseru di dalam hatinya sembari menggulingkan tubuhnya ke pojok itu.
Ia mengambil tambang itu yang lantas diputarkannya belasan kali sembari mengerahkan tenaga dalamnya.
Diluar, sambil memandang api yang berkobar-kobar, Ciongsie Sam-heng-tee saling memandang sembari tertawa.
Mereka beranggapan, bahwa kali ini Tah-pian Thian-hee Bu-tek-chiu tentu akan tamat riwayatnya.
Sementara itu, Lam Siocia yang sudah dapat menyelamatkan diri, berdiri di luar rumah dengan terisak-isak.
Mendadak, berbareng dengan suatu bentakan keras, seutas tambang melesat keluar dari antara api dan asap dan meliiit dahan sebuah pohon besar yang tumbuh di samping rumah.
Dilain saat, tubuh Kim-bian-hud yang jangkung kurus turut "terbang"
Keluar!
Semua orang jadi kesima.
Dengan tangan kiri mencekal tambang, bagaikan seekor elang, Biauw Jin Hong melayang ke arah tiga saudara Ciong itu.
Ciong-sie Sam-heng-tee terbang semangatnya.
Mereka ingin kabur, tapi sudah tidak keburu lagi.
Dengan hati gemas, Biauw Jin Hong menggerakkan tangannya bagaikan kilat dan satu demi satu, ia melontarkan ketiga saudara itu ke dalam api yang berkobar-kobar.
Untung juga, berkat kepandaian mereka yang tinggi, begitu dilemparkan ke dalam api, lantas saja mereka bisa lari keluar, tapi tak urung, rambut, alis dan sebagian pakaian mereka juga dijilat api.
Ketika saudara itu, yang sudah pecah nyalinya, tidak berani berdiam lama-lama lagi dan tanpa berhenti untuk mengambil kuda mereka, dengan terbirit-birit mereka kabur ke jurusan Selatan.
Jauh-jauh, mereka mendengar suara tertawa Kim-bian-hud yang nya-ring dan panjang.
Mengingat kejadian itu, suatu senyuman sudah segera menghiasi bibir Biauw Jin Hong.
Senyum itu hanya bagaikan berkelebatnya sinar terang menembusi awan-awan hitam dan di lain saat, paras muka Biauw Jin Hong kembali diliputi kegelapan.
Di depan matanya terbayang pula, bagaimana, sesudah kesehatannya pulih, ia menikah dengan Lam Siocia.
Sebagai seorang pria yang belum per-nah mencinta wanita, dengan cara-caranya sendiri, Kim-bian-hud sudah mencurahkan seantero kecin-taannya kepada wanita itu yang sekarang berada dalam jarak lima kaki dari tempatnya.
Begitu dekat tetapi juga begitu jauh!
Ia ingat, dalam suasana bahagia, dalam alunan gelombang asmara, sebagai lazimnya sepasang pe-ngantin baru, ia telah mengajak si Lan (Lam Siocia bernama Lam Lan) pergi bersembahyang di ku-buran suami isteri Ouw It To.
Sesudah kenyang memeras air mata, ia memendam Hui-ho Po-to di kuburan itu.
Menurut anggapannya, dalam dunia ini, kecuali Ouw It To, tak ada manusia lain yang cukup berharga untuk menggunakan senjata mus-tika tersebut.
Sekarang ksatria utama satu-satunya itu sudah tak ada lagi dalam dunia, maka golok mustika itu pun harus turut lenyap dari dunia ini.
Sesudah bersembahyang dan memendang golok, ia segera menceritakan kepada istrinya per-tempuran pada sepuluh tahun berselang, dalam mana, secara tak disengaja, ia sudah melukakan Liao-tong Tayhiap sehingga jadi matinya.
Biasanya, Biauw Jin Hong adalah seorang yang paling tidak suka banyak bicara.
Akan tetapi, pada hari itu, kata-kata keluar dari mulutnya seperti juga meng-alirnya air banjir.
Kenapa begitu?
Sebabnya adalah, sesudah menyimpan rahasia itu selama sepuluh tahun, baru pada saat itu ia dapat menumpahkan segala apa yang memenuhi dadanya kepada seorang yang paling dekat dengan dirinya.
Barang sem-bahyang yang ia sajikan di atas meja adalah sayur-sayur yang dulu dimasak oleh Ouw Hujin (Nyonya Ouw), untuk dimakan mereka bertiga.
Sesudah selesai sembahyang, seorang did ia minum arak, seolah-olah sahabatnya itu sedang menemani ia.
Ia minum banyak, banyak sekali, dan semakin banyak ia minum, semakin banyak ia ber-bicara.
Sesudah bereerita ke barat-ke timur, akhirnya ia menceritakan kecintaan Nyonya Ouw terhadap suaminya.
Katanya.
"Wanita yang seperti itu, suami di api, ia di api, suami di air, ia pun di air...."
Berkata sampai di situ, tiba-tiba ia melihat perubahan pada paras isterinya, yang kemudian menyingkir jauh-jauh sembari menekap muka.
Ia memburu untuk memberi penjelasan.
Akan tetapi, ketika itu, ia sudah terlalu mabuk untuk bisa bereerita lagi.
Disamping itu, ia ingat, bahwa ketika ia terkurung api yang dinyalakan Ciong-sie Sam-heng-tee, isterinya yang tereinta sudah kabur terlebih dulu....
Biauw Jin Hong adalah seorang ksatria yang biasanya tak suka rewel mengenai segala urusan remeh.
Ia merasa, bahwa pada waktu itu, Lam Lan, yang belum menjadi isterinya dan tidak mengerti ilmu silat sedikit pun, memang pantas sekali kabur terlebih dulu.
Apakah untungnya jika ia berdiam terus di dalam ruangan yang sudah dikurung api?
Tapi...
di dalam hati kecilnya, sebagai seorang manusia biasa, ia mengharapkan suatu pengorbanan dari seorang wanita yang dicintanya.
Ia berharap, bahwa pada saat yang sangat berbahaya itu, Lam Lan berdiri tegak di sampingnya.
Maka itu, tidak mengherankan jika dalam ma-buknya ia merasa mengiri kepada Ouw It To yang dianggapnya beruntung sekali, dengan mempunyai seorang isteri yang sudah rela membuang jiwa untuk suaminya yang tereinta.
Ia merasa, bahwa meskipun Ouw It To mening-gal dunia dalam usia muda, akan tetapi sedalam-dalamnya sahabat itu banyak lebih berbahagia dari-padanya.
Sebagaimana umumnya, seorang sinting sukar dapat menyimpan rahasia hatinya.
Demikianlah ia sudah keterlepasan omong!
Dan beberapa kata-kata itu sudah menimbul-kan keretakan antara kedua suami isteri itu, suatu keretakan yang tak dapat ditambal lagi!
Akan te-tapi, kecintaan Biauw Jin Hong terhadap isterinya itu sedikit pun tidak menjadi berubah.
Mulai dari waktu itu, baik ia maupun isterinya, tak pernah menyebutnyebut pula persoalan itu.
Sebenarnya, mereka tidak pernah menimbulkan lagi soal Ouw It To.
Belakangan terlahirkan Yok Lan, seorang bayi perempuan secantik ibunya.
Dengan lahirnya si jabang bayi, kedua suami isteri itu jadi lebih terikat lagi.
Akan tetapi, perbedaan-perbedaan pokok antara mereka berdua tidak dapat dilupakan.
Biauw Jin Hong adalah seorang Kang-ouw yang miskin, sedang isterinya adalah Cian-kim Siocia dari ke-luarga pembesar negeri.
Biauw Jin Hong tak suka banyak bicara dan mukanya selalu 'menyeramkan, sebaliknya sang isteri mengharapkan seorang suami yang cakap, pintar, pandai bicara, halus, lemah lembut dan mengerti akan adat orang perempuan.
tapi, apa yang dipunya oleh Kim-bian-hud hanyalah ilmu silat yang tiada tandingannya dalam dunia.
Apa yang diharap-harapkan oleh isterinya, tak satu pun yang dimilikinya.
Jika Lam Lan paham ilmu silat, tentu ia akan dapat menghargai, malah mengagumi kepandaian sang suami.
Tapi, apa celaka, Lam Lan bukan saja tidak mengerti ilmu silat, tapi justru merasa sebal terhadap ilmu tersebut, oleh karena ia untuk selama-lamanya tidak dapat melupakan, bahwa ayahnya sudah binasa dalam tangan orang yang pandai silat.
Hanya sekali ia pernah tertarik kepada ilmu silat.
Itulah ketika suaminya mendapat kunjungan seorang sahabat dan sahabat itu bukan lain daripada Tian Kui Long, yang cakap dan pintar.
Sebagai putera seorang kaya raya, disamping ilmu silat, Tian Kui Long paham juga ilmu surat, ilmu menggambar, menabuh khim, main tiokie dan terutama pandai membawa diri di hadapan kaum wanita.
Tapi, entah kenapa, sang suami memandang rendah dan agak tidak meladeni tamu yang gagah pintar itu, sehingga tugas melayani tamu lebih banyak jatuh di atas pundak si isteri.
Begitu bertemu, Nyonya Biauw dan orang she Tian itu lantas saja merasa cocok.
Malam itu, diam-diam Lam Lan bersedih hati dan menyesal tak habisnya.
Ia menyesal, kenapa orang yang menolong dia pada had itu bukan Tian Kui Long, tapi manusia tolol yang bernama Biauw Jin Hong?
Berselang beberapa had, dalam bereakap-ca-kap, Tian Kui Long mengetahui, bahwa nyonya muda itu tidak mengerti ilmu silat.
Secara manis budi, lantas saja ia mengajarkan beberapa macam pukulan kepada isteri Tah-pian Thian-hee Bu-tek-chiu, dan pelajaran itu dipelajari dengan penuh semangat oleh Nyonya Biauw.
Pada suatu hari, entah sehabis membicarakan apa, Lam Lan berkata begini kepada Tian Kui Long.
"Menurut pantas, kau dan suamiku harus menukar nama. Dia harus pergi ke sawah untuk meluku. Dan kau, kau sungguh manusia utama!"
Entah Tian Kui Long memang sudah meng-genggam maksud tidak baik, entah di didorong kata-kata menyeleweng dari wanita itu, tapi biar bagaimanapun juga, malam itu telah terjadi suatu peristiwa yang berarti.
Tetamu menghina tuan ru-mah, isteri mendurhakai suami dan ibu menelan-tarkan anak.
Malam itu, seorang diri Biauw Jin Hong berlatih ilmu pedang nyenyak di pembaringan.
Disengaja atau tidak disengaja, pantek-kode emas Lam Lan yang berbentuk burung Hong, men-dadak jatuh.
Tanpa menyia-nyiakan tempo, Tian Kui Long buru-buru memungut perhiasan itu dan...
dengan lagak dibuat-buat, ia menancapkan pantek konde itu di kepala Nyonya Biauw!
Pada jaman itu, perbuatan Tian Kui Liong adalah pelanggaran adat istiadat yang kurang ajar sekali.
Menancapkan pantek konde seorang wanita yang sudah bersuami, hanya boleh dilakukan oleh suaminya sendiri.
Mulai detik itu, Lam Lan melupalsan segala apa.
Ia melupakan suami, puteri dan nama baiknya.
Bersama lelaki itu, ia kabur tanpa pamitan!
Dapat dibayangkan, bagaimana perasaan Biauw Jin Hong, ketika ia mengetahui kejadian itu.
Sem-bari mendukung anaknya, tanpa memperdulikan hujan dan angin, ia mengejar dengan menunggang kuda.
* * Lam Lan tak tuli.
Ia mendengar tangisan pu-terinya yang menyayatkan hati.
Sebagai seorang ibu, rasa cinta yang wajar memanggil dia.
Tapi...
tapi...
senyum Tian Kui Long yang menggiurkan hati, sudah cukup untuk menahan ia.
Biauw Jin Hong mendapat gelaran Kim-bian-hud (Buddha yang bermuka kuning emas), mungkin karena hatinya yang penuh welas asih, bagaikan hati seorang Buddha.
Sesudah isteri durhaka itu menghina ia secara begitu hebat, ia masih juga bersedia untuk memaafkannya, bersedia untuk melupakan kejadian yang memalukan itu, asal saja Lam Lan suka pulang kembali bersama-sama dengan ia dan puteri mereka.
Dengan lain perkataan, Kim-bian-hud bersedia untuk "membeli"
Keutuhan rumah tangganya, dengan harga bagaimana tinggipun juga.
Di lain pihak, dalam mabuknya di bawah bujuk rayu manusia keji yang tampan itu, Lam Lan jadi lebih berkepala batu karena ia mengetahui ke-lemahan sang suami.
Ia mengetahui Biauw Jin Hong berhati lembek dan mengetahui pula, bahwa suami itu sangat mencintainya.
Oleh karena itu, ia merasa pasti, Kim-bian-hud tidak akan membunuh dia.
"Tapi apakah dia tak akan membinasakan Kui Long?"
Tanya Lam Lan dalam hatinya.
Tapi orang ketiga dalam peristiwa segi tiga itu, mempunyai suatu rahasia hati yang tidak diketahui orang.
Tujuannya adalah harta karun yang tidak dapat ditaksir bagaimana besar harganya, pening-galan Cong Ong (Lie Cu Seng).
Dan kunci ke gudang harta adalah pada isteri Biauw Jin Hong.
Tentu saja kecantikan Lam Lan merupakan daya penarik yang tidak kecil, akan tetapi, kecantikan itu bukan merupakan tujuan Tian Kui Long yang ter-utama.
Demikianlah Biauw Jin Hong menunggu.
Para anggota Piauw-kiok, kawanan perampok, Siang Po Cin, si lengan satu dan bocah kurus itu juga sama menunggu.
Semua orang menahan napas.
Apa yang terdengar hanyalah suara tangis Yok Lan.
Biarpun hati nyonya itu keras seperti baja, tetapi semua orang menduga, bahwa ia akan memutarkan badan dan mendukung pula puterinya itu.
Di luar ruangan, sang hujan terus turun dengan hebatnya, dibarengi dengan menyambarnya kilat dan gemuruh guntur.
Akhir-akhirnya, Biauw Hujin menengok.
Hati Biauw Jin Hong melonjak!
Tapi, lekas juga ia men-dapat kenyataan, bahwa menengoknya sang isteri bukan ditujukan kepadanya atau kepada puterinya.
Lam Lan menengok sembari mesem dan matanya memandang Tian Kui Long.
Semenjak menikah, belum pernah Kim-bian-hud melihat sorot mata yang begitu halus dan begitu penuh dengan rasa cinta!
Hati Kim-bian-hud mencelos, habislah sudah semua harapannya.
Perlahan-lahan ia berbangkit dan hati-hati dengan kain minyak, ia membungkus Yok Lan yang kemudian dipegangnya erat-erat di dadanya yang lebar.
Semua mata mengawai Tah-pian Thian-hee Bu-tek-chiu dengan perasaan duka.
Dalam dunia yang lebar ini, mungkin tak ada ayah yang begitu mencinta anaknya, mungkin tak ada bapak yang begitu menderita seperti Biauw Jin Hong.
Dengan tindakan lebar, tanpa menengok lagi, ia keluar dari ruangan itu.
Sedari masuk sampai keluar lagi, tak sepatah kata keluar dari mulutnya.
Hujan seperti dituang-tuang, kilat dan geledek menyambar-nyambar...
sayup-sayup orang dapat menangkap suara tangis Yok Lan....
* * * Semua orang terpaku.
Seluruh ruangan sunyi senyap.
Lama sekali tak seorang pun mengeluarkan sepatah kata.
Perlahan-lahan Biauw Hujin berdiri, di mulutnya tersungging senyuman yang dipaksakan tapi butiran-butiran air mata turun berketel-ketel di kedua pipinya yang halus.
Tian Kui Long juga segera berbangkit, sebelah tangannya mencekal ga-gang pedang di pinggangnya.
"Lan-moay (adik Lan),"
Ia berbisik.
"Mari kita berangkat."
Sembari berkata begitu, kedua matanya melirik bungkusan-bungkusan perak di dalam kereta.
Meskipun gerak-geraknya tetap menarik, tapi suaranya agak gemetar karena jantungnya masih memukul keras.
Melihat Tian Kui Long masih juga mengincar piauw itu, Pek Seng Sin-kun Ma Heng Kong segera berseru.
"Hong-jie! Ambil senjata!"
"Thia!"
Jawab sang puteri yang mengetahui ayahnya menderita luka berat.
"Lekas!"
Bentak orang tua itu dengan suara keren.
Dengan hati berat, dari punggungnya si nona mencabut Kim-sie Joan-pian (Pecut) yang sudah mengikuti ayahandanya puluhan tahun.
Selagi ingin menyodorkan pecut itu kepada sang ayah, di belakang ruangan mendadak terde-ngar suara batuk-batuk dan seorang nyonya tua berjalan keluar.
Nyonya itu mengenakan baju ber-warna hijau, kun-nya hitam, pundaknya agak bong-kok, kedua kondenya sudah putih semua, tapi di embun-embunnya masih terdapat sejemplok ram-but yang berwarna hitam.
Siang Po Cin yang hanya mendapat luka enteng, lantas memburu seraya berkata.
"Ibu, jangan per-dulikan urusan di sini. Lebih baik ibu mengaso saja."
Nyonya tua itu ternyata adalah ibu pemuda tersebut. Nyonya Siang mengangguk.
"Kau dirubuhkan orang?"
Tanyanya, suaranya sungguh tak enak di-dengarnya. Paras muka Siang Po Cin lantas berubah merah karena malu.
"Anak tak punya guna, bukan tandingan orang she Tian itu,"
Katanya dengan mendongkol, sembari menuding Tian Kui Long.
Dengan mata yang setengah terbuka dan setengah tertutup, Siang Loo-tay (Nyonya tua Siang) lebih dulu melirik Tian Kui Long dan kemudian mengawasi Biauw Hujin.
"Sungguh cantik,"
Katanya. Sekonyong-konyong, seorang bocah kurus menyelak keluar dari antara orang banyak dan berkata sambil menuding Lam Lan.
"Puterimu minta di-dukung, kenapa kau tak meladeni? Sebagai ibu, kenapa kau sedikit pun tak mempunyai liangsim (perasaan hati)?"
Semua orang terkejut.
Tak ada yang menduga, bahwa bocah yang compang camping bagaikan pe-ngemis itu, akan berani mengeiuarkan kata-kata begitu.
Berbareng dengan perkataan bocah itu, kilat menyambar, disusul dengan suara geiedek yang dahsyat.
"Hatimu tidak baik,"
Kata lagi si bocah.
"Lui-kong (Malaikat Geiedek) akan menghantam mampus padamu!"
La menuding dengan paras muka gusar, sehingga dalam pakaian yang rombeng itu, terlihatlah satu keangkeran yang wajar.
"Srt!"
Tian Kui Long menghunus pedang.
"Pe-ngemis!"
Ia membenlak.
"Berani betul kau ngaco belo!"
Giam Kie loncat dan mencengkeram dada bocah tersebut.
"Lekas berlutut di hadapan Tian Siangkong.... Hu.... jin!"
Ia berseru. Si bocah berkelit dan dengan kegusaran yang meluap-luap, ia menuding lagi ke arah Biauw Hujin seraya berteriak.
"Kau... kau tak punya liangsim...!"
Dengan paras muka merah, tanpa berkata suatu apa, Tian Kui Long mengangkat pedangnya untuk menikam.
Tapi, sebelum tikaman itu dilangsungkan, Lam Lan berteriak keras sembari menutup muka-nya dengan kedua tangan dan terus lari keluar dari ruangan itu, ke tengah-tengah hujan.
Tian Kui Long terkejut, pedangnya urung menikam dan ia segera berlari-lari mengejar Biauw Hujin.
"Lan-moay,"
Kata orang she Tian itu dengan suara dibuatbuat.
"Bocah itu ngaco belo. Jangan kau memperdulikan padanya."
"Aku..."
Jawab si nyonya, sesenggukan.
"Aku... memang... memang tak mempunyai liangsim."
Sembari menangis, Biauw Hujin berjalan terus, diikuti oleh Tian Kui Long.
Jika Tian Kui Long ingin menahan dengan kekerasan, sepuluh Biauw Hujin juga tentu tak akan bisa berjalan terus.
Tapi orang she Tian itu tentu saja tidak berani meng-gunakan kekerasan.
Ia mengikuti sembari mem-bujuk, tapi Lam Lan tidak menggubris.
Semakin lama, tanpa memperdulikan serangan hujan, mereka berjalan semakin jauh dan sesudah membelok di suatu tikungan, mereka lenyap dari pemandang-an, ditedengi pohon-pohon besar.
Semua orang membuang napas lega dan meng-awasi si bocah pengemis yang lantas saja naik de-rajatnya.
Giam Kie tertawa dingin, paras mukanya girang sekali.
"Sungguh bagus!"
Katanya.
"Sekarang Giam Toaya bisa makan sendiri. Sungguh bagus! Saudara-saudara! Lekas angkat harta kita!"
Kawanan perampok itu serentak mengiakan dan segera bergerak untuk membereskan harta ben-da orang.
Mendadak, kaki kiri kepala penjahat itu terangkat dan menendang si bocah yang lantas saja jadi terjungkir balik.
Sesudah itu, ia mencengkeram dada si lengan satu dan membentak.
"Pulangkan!"
"Giam Loo-toa,"
Tiba-tiba Siang Loo-tay-tay berkata dengan suara dalam. Tempat ini adalah Siang-kee-po (rumah keluarga Siang), bukan?"
"Benar,"
Jawabnya.
"Kenapa?"
"Aku adalah majikan dari Siang-kee-po, bukan?"
Tanya pula nyonya tua itu. Dengan tangan tetap mencengkeram dada si lengan satu, Giam Kie mendongak dan tertawa berkakakan.
"Nyonya Siang,"
Katanya.
"Dengan maksud apa kau bicara berputar-putar? Rumahmu luas, temboknya tinggi dan hartamu pun rasanya tidak sedikit. Apakah kau mau membagikan harta kepada kami?"
Mendengar perkataan itu, kawanan perampok lantas saja tertawa bergelak-gelak. Siang Po Cin gusar bukan main, mukanya men-jadi pucat pias.
"Ibu,"
Katanya.
"Guna apa banyak bicara dengan manusia begitu? Biarlah anak yang menghajar padanya!"
Ia menggapai seorang pe-gawai Siang-kee-po yang segera menyodorkan sebatang golok kepadanya. Giam Kie mendorong si lengan satu dan meng-ejek.
"Bocah! Kau jangan lari!"
Ia bersenyum dan mengawasi Siang Po Cin dengan sikap menghina.
"Giam Loo-toa,"
Kat Nyonya Siang.
"Ikut aku! Aku mau bicara denganmu!"
"Ke mana?"
Tanya Giam Kie dengan perasaan heran.
"Ikut saja,"
Jawabnya dan sebelum Giam Kie sempat menanya lagi, ia sudah memutarkan badan terus berjalan. Baru jalan beberapa tindak, ia menengok dan berkata.
"Jika kau tak mempunyai nyali, boleh tak usah ikut."
Giam Kie tertawa besar.
"Aku tak punya nyali?"
Katanya sembari mengikuti.
Jie-cee-cu (kepala rampok kedua) yang ber-hati-hati, buruburu menyodorkan sebatang golok kepada Giam Kie yang lantas menyambutinya.
Siang Po Cin yang tak tahu maksud ibunya, lantas saja mengikuti dari belakang.
Sembari berjalan terus dan tanpa menengok, Siang Loo-tay berkata.
"Cin-jie! Kau tunggu saja di sini. Giam Loo-toa! Perintah orang-orangmu supaya jangan bergerak untuk sementara waktu!"
"Baik,"
Sahut Giam Kie.
"Anak-anak! Jangan bergerak! Tunggu sampai aku balik."
Kawan-kawannya lantas saja mengiakan dan Jie-cee-cu lantas saja mengatur kawan-kawannya untuk menjaga larinya orang-orang Piauw-kiok.
Tadi, ketika Siang Po Cin dan ketiga Siewie itu membantu pihak Piauw-kiok, kawanan penjahat sudah jatuh di bawah angin.
Akan tetapi, sesudah Siang Po Cin dan Cie Ceng dilukakan oleh Tian Kui Long keadaan jadi berbalik dan pihak perampoklah yang lebih kuat.
Ketika itu, semua orang dari kedua belah pihak mencekal senjata mereka erat-erat untuk menunggu kesudahan pertempuran antara nyonya rumah dan Giam Kie.
Sembari mengikuti, Giam Kie merasa geli ka-rena melihat nyonya tua yang bongkok itu, berjalan dengan tindakan yang tidak tetap.
"Siang Loo-po-cu (nyonya tua),"
Katanya dengan suara mengejek.
"Apa kau mau membagi harta?"
"Benar, aku mau membagi harta,"
Jawab si nyonya.
Jantung kepala perampok itu memukul keras.
Sebagai seorang yang sangat rakus ia mengilar bukan main melihat kekayaan keluarga Siang.
Men-dengar perkataan nyonya tua itu, ia jadi kegirangan setengah mati.
Bukan tak mungkin, bahwa setelah melihat kawanannya, nyonya itu sudah pecah nyali-nya dan sebelum dipaksa, buru-buru menawarkan sebagian hartanya, pikir Giam Kie.
Siang Loo-tay berjalan terus.
Sesudah melewati tiga halaman, mereka tiba di depan sebuah rumah yang terletak di sudut paling belakang.
Nyonya Siang mendorong pintu dan terus masuk sembari berkata.
"Masuklah."
Giam Kie menengok dan melihat suatu ruangan kosong melompong yang panjangnya beberapa tom-bak.
Perabotan satu-satunya yang terdapat di dalam ruangan itu adaiah sebuah meja persegi.
Dengan rasa sangsi, ia bertindak masuk.
"Mau bicara, lekas bicara!"
Ia berseru.
"Jangan main gila!"
Siang Loo-tay tidak menyahut.
Ia menghampiri pintu yang lalu dikuncinya.
Giam Kie heran dan menyapu seluruh ruangan dengan matanya.
Ia melihat di atas meja itu terdapat sebuah Lengpay (papan yang dipuja) yang di atas-nya dituliskan huruf-huruf seperti berikut.
"Tempat memuja mendiang suamiku Siang Kiam Beng."
"Siang Kiam Beng, Siang Kiam Beng,"
Giam Kie mengulangi dalam hatinya.
"Nama itu agak tak asing lagi. Tapi siapa?"
Ia memutar otak, tapi untuk sementara ia tak dapat mengingat, siapa adanya Siang Kiam Beng.
"Kau sudah berani berlaku kurang ajar di Siang-kee-po, boleh dikatakan nyalimu besar juga,"
Kata Siang Loo-tay dengan suara perlahan.
"Jika suamiku It Hong hidup, sepuiuh Giam Kie pun sudah tak hernyawa lagi. Sekarang, meskipun di Siang-kee-po hanya ketinggalan seorang anak setengah piatu dan seorang janda, tapi kami tidak dapat membiarkan hinaan segala kawanan anjing."
Sehabis mengucapkan cacian itu, tiba-tiba ia melempangkan punggungnya yang bongkok, sedang kedua matanya yang mendadak bersinar keredepan mengawasi Giam Kie tanpa berkesip.
Jika barusan ia sebagai seorang neneknenek yang sudah dekat ke lubang kubur, sekarang sekonyong-konyong ia seakan-akan menjadi macan betina yang angker dan galak, sehingga kepala perampok itu jadi terkesiap.
"Ah! Kalau begitu tadi, ia hanya berpura-pura loyo,"
Katanya di dalam hati.
Tapi lekas juga ia memikir, bahwa sepandai-pandainya, orang perempuan tentu tidak mempunyai kepandaian seberapa tinggi.
Memikir begitu, hatinya menjadi mantap lagi dan ia segera berkata sembari tertawa.
"Ya, benar aku sudah menghina kau. Habis mau apa kau?"
Tanpa menyahut, Siang Loo-tay menghampiri meja abu dan mengeluarkan satu bungkusan kuning yang penuh debu, dari belakang Lengpay.
Begitu bungkusan itu dibuka, suatu sinar hijau berkeredep, dibarengi dengan menyambarnya hawa yang dingin.
Ternyata, kain itu membungkus sebilah golok Pat-kwa-to tersepuh emas yang belakangnya tebal dan mata goloknya tipis.
Melihat Pat-kwa-to itu, Giam Kie lantas saja ingat akan suatu kejadian yang terjadi pada belasan tahun berselang.
Ia mundur beberapa tindak dan mengeluarkan seruan tertahan.
"Pat-kwa-to Siang Kiam Beng!"
"Meskipun orangnya sudah tiada lagi, goloknya masih tetap berada di sini!"
Kata Siang Loo-tay dengan suara menyeramkan.
"Dengan Pat-kwa-to ini, aku memohon pengajaran dari Giam Loo-toa."
Tiba-tiba ia memegang gagang golok itu dan dengan gerakan Tong-cu-pay Hud (Anak kecil menyembah Buddha), ia menghadapi Giam Kie dengan sikap Siang-sit Co-chiu Po-to (Mendukung golok dengan tangan kiri), yaitu gerakan pertama dari ilmu golok Pat-kwa-to.
Meskipun di dalam hatinya kepala perampok itu agak keder, tapi sesudah mengingat, bahwa seorang kenamaan seperti Ma Heng Kong masih jatuh dalam tangannya dan mengingat pula, bahwa nyonya tua itu tentu juga tidak mempunyai kepandaian terlalu tinggi, lantas saja ia mendapatkan kembali kepereayaannya terhadap did sendiri.
Sembari mengebas golok, ia tertawa seraya berkata.
"Kau ingin menjajal ilmu, kenapa tidak di ruangan tadi saja dan mesti datang ke tempat ini? Apakah kau hanya dapat menunjukkan keangkeran di depan meja abu suamimu?"
"Benar,"
Jawabnya dengan pendek. Giam Kie melirik meja abu dan berkata pula.
"Siang Lootay, hayolah!"
"Kau adalah tamu,"
Kata nyonya itu.
"Giam Cee-cu, silahkan menyerang terlebih dulu."
Giam Kie tidak lantas membuka serangan, sebaliknya berkata pula.
"Dengan Siang-kee-po, aku sama sekali tidak mempunyai permusuhan. Dalam merampas piauw kali ini, yang dilanggar olehku adalah si tua bangka she Ma. Jika Siang Loo-tay ingin juga membela dia, biarlah kita tetapkan, bahwa pertandingan ini akan berakhir, begitu ada salah satu pihak yang kena ditowel. Tak perlu kita ber-tempur mati-matian."
"Tak begitu gampang!"
Kata nyonya Siang sembari mengeluarkan suara di hidung.
"Selama hidup-nya, Siang Kiam Beng adalah seorang enghiong (orang gagah). Ia mendirikan Siang-kee-po bukan untuk dibuat sesuka-suka oleh segala orang, mau masuk bisa masuk, mau keluar biasa lantas keluar."
"Bagaimana kemauanmu?"
Tanya Giam Kie yang mulai gusar.
"Jika aku kalah, kau boleh membunuh aku dan anakku,"
Jawabnya.
"Tapi kalau aku menang, kepala Giam Cee-cu juga harus ditinggalkan di sini!"
Giam Kie mencelat, ia tak nyana, nyonya itu mengeluarkan kata-kata yang sedemikian berat.
"Hayo!"
Berseru Siang Lootay. Giam Kie naik darah.
"Untung apa jika aku mengambil jiwamu dan jiwa anakmu!"
Ia berseru.
"Cukup jika kau menyerahkan Siang-kee-po dan semua harta benda kepadaku!"
Baru habis ia mengucapkan perkataan itu, Siang Loo-tay sudah membacok dengan pukulan Tiauw-yang-to.
Giam Kie buru-buru miringkan ke-palanya.
Pukulan itu cepat dan berat, dan ketika Pat-kwa-to iewat di samping kepaianya, Giam Kie merasakan kupingnya pedas.
Giam Kie terkejut, sebab begitu membuka serangan, nyonya Siang sudah menghantam dengan pukulan yang membinasakan.
Ia mengetahui, bahwa dalam serangan yang berikutnya, si nyonya tentu akan membalikkan golok dan membabat pinggang-nya.
Buru-buru ia menjaga di bagian pinggang dan "trang!"
Kedua golok berbentrok keras.
Dari ben-trokan itu, Giam Kie mendapat kenyataan, bahwa tenaga nyonya itu tidak begitu besar, sehingga hati-nya menjadi lebih mantap.
Dengan gerakan Tui-to-kwa-houw (Mendorong golok menikam tenggorok-an), ia menyodok leher lawan dengan goloknya.
Nyonya Siang meloncat minggir, semhari ber-kata.
"Su-bun To-hoat (Ilmu golok Emas pintu), ada apa bagusnya?"
"Memang tidak bagus, tapi cukup untuk meru-buhkan kau,"
Jawabnya sambil menyerang dengan pukulan Cin-to Lianhoan-to (Golok berantai).
Nyonya Siang tidak berkelit atau menangkis.
Ber-bareng dengan serangan lawan, ia membacok muka Giam Kie dengan Pat-kwa-to.
Kepala perampok itu terkesiap.
"Eh, kenapa dia begitu nekat?"
Pikirnya.
Dalam Rimba Persilatan di wiiayah Tionggoan, memang terdapat suatu kebiasaan yang dinamakan Wie Gui-kiu Tio (Mengepung negara Gui untuk menolong negara Tio), yaitu.
Balas menyerang, tanpa berusaha untuk menolong diri dari serangan musuh, agar musuh mem-batalkan serangannya.
Dapat dimengerti, bahwa cara begitu sangat berbahaya dan hanya digunakan jika sudah tidak terdapat jalan lain lagi.
Ketika itu, jika mau, dengan gampang Siang Loo-tay dapat menangkis serangan Giam Kie.
Tapi ia tidak menangkis dan mengirimkan serangan pembalasan.
Dengan berbuat begitu, terdapat kemungkinan besar, bahwa kedua belah pihak mendapat luka dengan berbareng.
Itulah sebabnya, kenapa Giam Kie jadi terkejut.
Dalam bahaya, Giam Kie menggulingkan badan sambil mengirim suatu tendangan aneh, yang ham-pir-hampir mengenai pergelangan tangan Siang Loo-tay.
Harus diketahui, bahwa sesudah memiliki be-lasan macam pukulan yang luar biasa, Giam Kie berhasil menjatuhkan banyak sekali orang gagah dalam Rimba Persilatan.
Ilmu golok Su-bun To-hoat yang dipunyainya adalah ilmu yang biasa saja.
Akan tetapi, dengan menggabungkan belasan pu-kulan aneh itu ke dalam Su-bun To-hoat, setiap kali terdesak, ia selalu berhasil meloloskan diri dari bencana.
Pertempuran berlangsung terus, semakin lama jadi semakin sengit.
Melihat lihaynya nyonya tua itu, mau tidak mau Giam Kie merasa kagum.
Ia menginsyafi, bahwa jika pertempuran berjalan terus seperti itu, sekali kurang hati-hati, kepalanya bisa dipapas Pat-kwa-to yang tajam dan berat.
Sembari mengempos semangatnya, sedang goloknya yang dicekal di tangan kanan tetap menyerang dengan Su-bun To-hoat, tangan kiri dan kedua kakinya menghujani nyonya Siang dengan balasan pukulan aneh itu.
Benar saja, sesudah lewat beberapa jurus, Siang Loo-tay jadi terdesak.
"Hm!"
Giam Kie mengejek. Tadinya kukira ilmu golok Siang Kiam Beng benar-benar lihay. Tak tahunya hanya sebegini!"
Siang Loo-tay menghormati mendiang suami-nya seperti dewa.
Maka itu, tidak mengherankan, jika ejekan Giam Kie sudah membikin ia jadi mata gelap.
Pada saat itu juga, ia merubah cara bersilatnya.
Bagaikan kilat, ia meloncat kian kemari, goloknya menyambar-nyambar dari segala penjuru dan setiap serangannya adalah serangan yang membinasakan.
"Eh-eh! Siang Loo-tay, apa kau sudah gila?"
Teriak kepala rampok itu sembari lari berputar-putar.
"Bukan aku yang membunuh suamimu. Ke-napa kau jadi nekat-nekatan?"
Dalam setiap pertempuran, larangan yang tak boleh dilanggar, adalah perasaan keder.
Begitu hati jeri, habislah ilmu silatnya.
Dilain pihak, Siang Loo-tay yang sudah berada di atas angin, lantas saja menyerang semakin hebat.
Giam Kie ngiprit ber-putar-putar di ruangan itu, tujuan satu-satunya adalah menyingkir secepat mungkin dari macan betina yang sudah kalap itu.
Beberapa kali ia menubruk pintu untuk mem-bukanya, tapi ia selalu tidak berhasil karena da-tangnya hujan serangan.
Dalam bingungnya, sesudah lari lagi beberapa putaran, mendadak ia menendang ke belakang dan kemudian menjejak lantai sekuat-kuatnya, sehingga badannya melesat untuk melompati jendela.
Pundak Siang Loo-tay kena ditendang, tapi nyonya itu masih keburu menyabet dengan goloknya, sehingga hampir berbareng, sembari berteriak, mereka rubuh di bawah jendela.
Nyonya Siang hanya mendapat luka enteng, tapi Giam Kie yang lututnya tergores, tak bisa lantas bangun.
Semangat kepala perampok itu, terbang ke awang-awang.
Dengan mata bersinar merah, Siang Loo-tay mengangkat Patkwa-tonya untuk segera menebas.
Dengan kedua tangan memegang lutut, Giam Kie berteriak dengan suara gemetar.
"Am-pun!"
Semenjak kecil, Siang Loo-tay mengikuti ayah-nya dan kemudian mengikuti suaminya berkelana di dunia Kang-ouw.
Banyak sekali orang gagah yang ia pernah jumpai, tapi belum pernah ia bertemu dengan manusia yang begitu tidak mengenal malu, seperti Giam Kie.
Hatinya bergoncang dan Pat-kwa-tonya turun dengan perlahan.
Giam Kie merangkak sembari memanggutmanggutkan kepalanya.
"Mohon Loo-tay-tay raeng-ampuni kedosaan siauwjin,"
Katanya.
"Apa jugayang Loo-tay-tay perintahkan, akan kuturut. Aku hanya memohon belas kasihan untuk jiwaku."
Nyonya Siang menghela napas dan berkata de-ngan suara angker.
"Baiklah! Aku ampuni jiwamu. Tapi ingat! Kejadian ini tak boleh kau bocorkan kepada siapapun juga."
"Baik, baik, baik,"
Kata Giam Kie, kegirangan.
"Pergi!"
Bentak Siang Loo-tay.
Giam Kie menyeringai!
Ia menjumput goloknya dan dengan susah payah, ia merangkak bangun, akan kemudian dengan menggunakan golok itu sebagai tongkat, ia berjalan keluar terpincang-pin-cang.
"Tahan!"
Mendadak Siang Loo-tay berteriak.
"Sebelum bertanding, sudah ditetapkan, bahwa sia-pa yang kalah, harus meninggalkan kepalanya di Siang-kee-po! Kau kira aku lupa?"
Giam Kie mencelos hatinya.
"Loo... tay-tay... sudah mengampuni..."
Katanya terputus-putus, dengan meringis.
"Aku mengampuni jiwamu, tidak mengampuni batok kepalamu!"
Bentak nyonya Siang. Ia mengebaskan Pat-kwatonya dan membentak dengan bengis. Tat-kwa-to dari Siang Kiam Beng, tak per-nah pulang dengan tangan kosong!"
Muka Giam Kie pucat bagaikan kertas, kedua lututnya lemas dan ia jatuh berlutut.
Bagaikan kilat, dengan tangan kiri Siang Loo-tay menjambret thau-cang Giam Kie dan berbareng dengan berkelebat-nya Pat-kwa-to itu, thaucang itu sudah menjadi putus.
"Tinggalkan thaucangmu di sini!"
Bentak nyonya Siang.
"Mulai dari sekarang kau harus mencukur rambut dan menjadi hweeshio. Tak boleh kau ber-keliaran lagi dalam Rimba Persilatan. Mengerti?"
Giam Kie manggut-manggutkan kepalanya dan mengeluarkan beberapa patah kata yang tidak jelas.
"Bungkus lututmu, pakai topi!"
Perintah Siang Loo-tay.
"Sesudah itu, pergi dari sini dan ajak semua anak buahmu."
Baca Juga: Kembalinya Sang Pendekar Rajawali 1
Baca Juga: Siluman Gua Tengkorak Kho Ping Hoo