Ceritasilat Novel Online

Kisah Si Rase Terbang 2

Eps 2 Kisah Si Rase Terbang - Chin Yung

Baca online Kisah Si Rase Terbang - Chin Yung

Cersil Kisah Si Rase Terbang - Chin Yung.

Semua orang yang berada di ruangan depan, menunggu dengan tidak sabar. Berselang setengah jam, baru Siang Lootay kelihatan muncul, diikuti Giam Kie yang berjalan perlahanlahan.

"Saudara-saudara!"

Teriak Giam Kie.

"Perak itu jangan diganggu! Semua pulang!"

Mendengar perkataan pemimpin mereka, semua perampok itu jadi tereengang dan serentak mereka bangun semua.

"Hengtiang (kakak)..."

Kata Jie Cee-cu.

"Berangkat!"

Bentak Giam Kie sembari meng-ulapkan tangannya dan segera berjalan keluar lebih dulu.

Ia tak berani berdiam lama-lama dalam ruangan itu, karena khawatir rahasianya terbuka.

Anak buahnya tentu saja tidak berani membantah.

Sesudah menengok beberapa kali kepada bungkusan-bungkusan perak itu, dengan rasa kecewa mereka berlalu satu demi satu.

Walaupun berpengalaman luas, mula-mula Ma Heng Kong tidak dapat menaksir mengapa keadaan itu bisa berubah menjadi begitu.

Tapi matanya yang tajam segera juga dapat melihat tetesan darah di atas lantai.

Sekarang ia mengerti bahwa Giam Kie sudah mendapat luka dan ia menduga, bahwa di siang-kee-po bersembunyi seorang pandai.

la sama sekali tidak pernah bermimpi, bahwa nyonya tua yang kelihatan begitu loyo itu, baru saja melakukan pertempuran mati-matian melawan kepala perampok itu.

Sembari memegang pundak puterinya, ia maju beberapa tindak untuk menghaturkan terima kasih.

Tapi, belum sempat ia mengeluarkan sepatah kata, Siang Loo-tay sudah berteriak.

"Cin-jie! Ikut aku!M Ma Heng Kong terkejut dan di lain saat, ibu dan anak itu sudah masuk ke ruangan dalam. Semua anggota Piauw-kiok dan ketiga Siewie itu lantas saja saling mengutarakan pendapatnya. Ada yang mengatakan, bahwa nyonya itu tentu sudah mengenal kepala perampok tersebut, yang lain berpendapat, bahwa Giam Kie mungkin men-jadi sadar sesudah dibujuk oleh Siang Loo-tay dan sebagainya. Selagi mereka ramaiberbicara, tiba-tiba Siang Po Cin keluar lagi dan berkata.

"Ibuku meng-undang Ma Loopiauwtauw ke dalam untuk minum ten."

Ternyata nyonya itu mengundang Ma Heng Kong dengan maksud yang baik.

Sembari minum teh, ia membujuk supaya Ma Heng Kong berobat dulu di Siang-kee-po dan minta bantuan Piauw-kiok lain untuk mengawal perak itu sampai di Kimleng.

Ma Heng Kong merasa sangat berterima kasih akan kebaikan orang, yang bukan saja sudah memberikan pertolongan sehingga piauwnya tidak sampai kena dirampas, tapi juga sudah mengajukan tawaran yang mulia.

Ia segera minta bantuan Piauw-kiok lain untuk mengantar perak itu, sedang ia bersama pu-teri dan muridnya lantas berdiam di Siang-kee-po untuk sementara waktu.

Dalam pada itu, dengan menerima tawaran Siang Loo-tay, Ma Heng Kong juga mempunyai suatu harapan lain, yaitu harapan bisa bertemu dengan orang pandai yang sudah merubuhkan Giam Kie, yang menurut dugaannya bersembunyi di Siang-kee-po.

Menjelang magrib, hujan baru berhenti.

Ketiga Siewie itu segera pamitan dan menghaturkan terima kasih untuk kebaikan tuan rumah.

Mereka berlalu dengan diantar oleh Siang Po Cin sampai di pintu depan.

Sesudah ketiga Siewie itu berangkat, sambil menuntun si bocah kurus, orang yang berlengan satu itu pun lantas saja minta did dan berlalu.

Siang Loo-tay melirik anak itu dan ia ingat, bagaimana si bocah sudah mencaci Biauw Hujin.

"Sungguh jarang terdapat anak kecil yang bernyali begitu besar,"

Pikirnya. Memikir begitu, lantas saja ia menanya.

"Ke mana kalian ingin pergi? Apakah kalian mempunyai bekal cukup?"

"Siauwjin (aku yang rendah), paman, berdua keponakan terlunta-lunta dalam dunia Kang-ouw dan tak punya tempat tinggal yang tentu,"

Jawab si lengan satu.

"Maka itu, tak dapat aku menjawab, ke mana kami niat pergi."

Nyonya Siang mengawasi anak itu dengan rasa kasihan dan beberapa saat kemudian, ia berkata.

"Jika kalian tidak berkeberatan, dapat kalian berdiam di sini untuk membantubantu. Rumah ini cukup besar dan ditambah dengan dua orang lagi, tidak menjadi soal."

Mendengar tawaran itu, si lengan satu yang dalam hatinya menggenggam maksud tertentu, menjadi sangat girang dan menerima baik tawaran tersebut sembari menghaturkan terima kasih.

Men-jawab pertanyaan, ia memberitahukan, bahwa ia bernama Peng Sie, sedang bocah itu, yang diakui sebagai keponakannya, bernama Peng Hui.

Malam itu, Peng Sie bersama keponakannya tidur di sebuah kamar kecil sebelah Barat, yang ditunjuk oleh pengurus rumah.

Sesudah mengunci pintu dan jendela, dengan paras berseri-seri, Peng Sie berkata dengan suara perlahan.

"Siauwya (ma-jikan kecil), mendiang ayah dan ibumu memberkahi kau! Dua halaman kitab silat itu sekarang sudah kembali ke dalam tanganmu. Allah sungguh adil!"

"Peng Sie-siok,"

Kata si bocah.

"Aku mohon kau jangan memanggil Siauwya lagi. Jika didengar orang, orang bisa jadi curiga."

Peng Sie mengiakan, sembari mengeluarkan bungkusan kertas minyak itu yang lalu disodorkan kepada si bocah dengan sikap menghormat.

Ia bu-kan menghormat Peng Hui, tapi Injin (tuan pe-nolong) yang mewariskan dua halaman kitab ilmu silat tersebut.

"Peng sie-siok,"

Kata pula bocah itu.

"Cara ba-gaimana, begitu mendengar kisikanmu, Giam Kie lantas saja rela menyerahkan dua halaman kitab itu?"

Jawab Peng Sie.

"Aku berkata. 'Giam Kie, mana itu dua halaman Kun-keng (kitab ilmu silat)? Biauw Jin Hong, Biauw Tayhiap, memerintahkan kau mengembalikannya. Tepat, pada waktu akumengucap-kan kata-kata itu, Biauw Tayhiap melirik padanya. Itulah suatu kejadian kebetulan yang diberkahi tangan Allah. Biarpun Giam Kie mempunyai nyali yang sepuluh kali lipat lebih besar, dia tak akan berani tidak membayar pulang."

Peng Hui berdiam beberapa saat dan kemudian berkata pula.

"Kenapa dua halaman itu bisa berada di dalam tangannya? Dan kenapa kau menyuruh aku memperhatikan mukanya? Kenapa dia begitu ketakutan melihat Biauw Tayhiap?"

Peng Sie tak menyahut. Ia menggigit bibir dan mukanya kelihatan menyeramkan. Air matanya ber-linang-linang di kedua matanya, tapi sebisa-bisanya ia coba menahan turunnya air mata itu.

"Sie-siok,"

Kata si bocah dengan suara gemetar.

"Sudahlah! Aku tak akan menanya pula. Bukankah kau sudah berjanji nanti, sesudah aku besar dan memiliki kepandaian tinggi, baru kau akan men-ceritakannya dari kepala sampai buntut. Baiklah, mulai dari sekarang, aku akan belajar giat-giat."

Demikianlah, paman dan keponakan itu lantas saja bernaung di Siang-kee-po yang besar dan luas.

Peng Sie bekerja di kebun sayur, sedang Peng Hui bertugas di Lian-bu-teng, menyapu dan mem-bereskan perabotan serta senjata.

Dilain pihak, Ma Heng Kong yang berobat di rumah keluarga Siang, melewatkan temponya yang senggang dengan meruridingkan soal-soal ilmu silat dengan puterinya, muridnya dan Siang Po Cin.

Setiap kali mereka berlatih, Peng Hui hanya melirik satu dua kali, tidak berani menonton lama-lama.

Ma Heng Kong dan yang Iain-lain mengetahui, bahwa bocah itu bernyali besar.

Akan tetapi, mereka sama sekali tidak menduga, bahwa si kurus sebenarnya mengerti ilmu silat.

Maka itu, setiap kali Peng Hui melirik dengan sikap acuh tak acuh, baik Ma Heng Kong yang berpengalaman, maupun Siang Po Cin yang cerdik, belum pernah menduga, bahwa bocah itu sebenarnya tengah memperhatikan ilmu silat mereka.

Tapi Peng Hui bukan ingin mencuri pelajaran orang.

Apa yang benar-benar dipikirkannya, lebih-lebih tak dapat ditaksir oleh Ma Heng Kong.

Setiap melihat pukulan yang luar biasa, di dalam hatinya ia selalu berkata.

"Apa bagusnya pukulan itu? Ter-nyata manusia tolol boleh juga digunakan. Tapi jika menghadapi orang gagah tulen, pukulan itu sedikit pun tiada gunanya."

Harus diketahui, bahwa bocah itu sebenarnya bukan she Peng, tapi she Ouw, sehingga namanya yang sejati adalah Ouw Hui.

Dia itu bukan lain daripada putera tunggal Ouw It To, Liautong Tay-hiap yang pernah bertempur melawan Biauw Jin Hong tiga had tiga malam lamanya.

Dari mendiang ayahandanya, ia mewarisi kitab ilmu silat dan ilmu golok yang berisi Ouw-kee Kun-hoat dan Ouw-kee To-hoat (Ilmu silat dan ilmu golok keluarga Ouw), yang tiada keduanya di dalam dunia.

Maka itu, tidak mengherankan, jika Ouw Hui memandang rendah ilmu silat yang dipertunjukkan oleh Ma Heng Kong dan yang Iain-lain itu.

Ketika jatuh ke dalam tangannya, kitab tersebut kurang dua halaman yang berisi pokok-pokok Ouw-kee Kun-hoat dan Toa-hoat.

Oleh karena itu, mes-kipun Ouw Hui cerdas dan giat luar biasa, ia belum dapat memiliki intisari ilmu mendiang ayahnya.

Dalam waktu yang lampau, kekurangan itu tak dapat ditambal dengan apapun juga.

Sekarang, secara kebetulan, dua halaman yang dicuri Giam Kie, telah diambil pulang.

Maka itu, bisa dimengerti jika sekarang ia mendapat kemajuan yang luar biasa pe-satnya.

Cobalah dibayangkan.

Dengan hanya memiliki delapan macam pukulan yang didapat dari dua halaman itu, Giam Kie sudah bisa menjagoi, bahkan sudah berhasil merubuhkan Pek-seng Sin-kun Ma Heng Kong.

Dari itu, dapatlah ditaksir-taksir bagaimana tingginya kepandaian Ouw Hui yang sudah memahami kitab itu dari kepala sampai di buntut.

Tentu saja, karena usianya yang masih muda dan tenaga dalamnya yang masih cetek, banyak bagian kitab itu yang belum dapat diyakinkannya dengan sempurna.

Tapi dengan bantuan kitab tersebut, latihannya dalam satu hari mempunyai harga yang sama dengan latihan Cie Ceng dalam sebulan.

Andaikata Cie Ceng dan yang Iain-lain berlatih terus-menerus puluhan tahun, mereka toh tak akan dapat menyusul Ouw Hui yang memiliki kitab tunggal itu dalam Rimba Persilatan.

Demikianlah, setiap malam bila seluruh gedung keluarga Siang sudah terbenam dalam kesunyian, seorang did Ouw Hui pergi ke tanah belukar untuk berlatih.

Ia mempelajari ilmu golok dengan meng-gunakan golok-golokan kayu.

Setiap kali membacok, seperti juga ia membacok musuh besarnya yang sudah membinasakan ayahandanya.

Memang benar sekarang ia masih belum mengetahui, siapa adanya musuh itu, tapi bukanlah Peng Sie-siok sudah menjanjikan untuk membuka segala rahasia jika ia sudah besar dan sudah memiliki kepandaian yang tinggi?

Memikir begitu, ia semakin giat berlatih dan menggunakan otaknya yang cerdas untuk memecahkan rahasia-rahasia yang tersembunyi dalam Kun-keng itu.

Ia harus menggunakan otaknya, sebab ilmu silat yang paling tinggi harus dipelajari dan diselami dan bukan hanya harus dilatih dengan menggunakan tenaga jasmani.

Dalam sekejap, sudah lewat tujuh delapan bu-lan.

Luka Ma Heng Kong sudah lama sembuh, akan tetapi setiap kali mereka ingin berlalu, Siang Loo-tay dan puteranya selalu menahan dengan keras.

Karena memang perusahaan Piauwkioknya sudah ditutup sehingga ia sudah tidak mempunyai peker-jaan lagi dan juga karena nyonya rumah itu serta puteranya menahan secara sungguh-sungguh, maka Ma Heng Kong selalu menunda-nunda keberang-katannya.

Secara resmi, Siang Po Cin tidak mengangkat Ma Heng Kong sebagai guru.

Orang angkuh sebagai Siang Loo-tay yang sangat bangga akan kepandaian Pat-kwa-to Siang Kiam Beng, mana mau gampang-gampang mengijinkan puteranya mengangkat orang luar sebagai guru?

Akan tetapi, mengingat budi keluarga Siang yang sangat besar, Ma Heng Kong sendiri memandang Po Cin sebagai muridnya sen-diri.

Apa juga yang dikehendaki pemuda itu, asal ia mampu, ia tentu memberikannya dengan segala senang hati.

Biarpun bagaimana juga, Pek-seng Sin-kun memang mempunyai ilmu silat yang cukup tinggi.

Maka itu, selama tujuh delapan bulan, Siang Po Cin sudah memperoleh pelajaran yang tidak sedikit dari orang tua itu.

Sementara itu, Ma Heng Kong masih belum dapat memecahkan teka-teki yang selalu merupa-kan pertanyaan dalam hatinya.

Kenapa, pada hari itu, Giam Kie sudah berlalu terbirit-birit, dengan mendapat luka?

Ia menduga, bahwa di dalam rumah keluarga Siang bersembunyi seorang yang berke-pandaian sangat tinggi.

Tapi, siapakah orang itu?

Sekali, secara tiba-tiba ia menimbulkan soal itu.

Akan tetapi, sembari tertawa, Siang Loo-tay mem-beri jawaban yang menyimpang.

Sebagai seorang yang cerdas, Ma Heng Kong mengetahui, bahwa nyonya rumah sungkan membuka rahasia itu dan mulai dari waktu itu, ia tidak berani menyebut-nyebut pula persoalan itu.

*** Sebagai seorang tua, sering-sering Ma Heng Kong tidak bisa tidur pulas.

Pada suatu malam, kira-kira jam tiga, mendadak ia mendengar suara "krek"

Di luar tembok, seperti suara patahnya ca-bang pohon kering.

Dengan pengalamannya yang luas, Pek-seng Sin-kun segera mengetahui, bahwa seorang tetamu malam sedang lewat di luar rumah.

Tapi heran sungguh, sehabis suara "krek"

Itu, tidak terdengar pula suara lain, sehingga ia tidak mengetahui, ke mana perginya tetamu malam itu.

Meskipun ia berdiam di Siang-kee-po sebagai tetamu, tapi karena mengingat budi keluarga Siang yang sangat besar, Ma Heng Kong selalu meng-anggap keselamatan keluarga tersebut, seperti ke-selamatannya sendiri.

Dengan cepat, dari bawah bantalnya, ia menarik keluar Kim-sie Joan-piannya yang lalu dilibatkan di pinggangnya dan perlahan-lahan ia membuka pintu.

Baru saja ia ingin melompati tembok, di tempat yang jauhnya kira-kira empat lima tombak, men-dadak berkelebat sesosok bayangan hitam yang terus berlari-lari ke arah gunung di belakang.

Dalam sekelebatan itu, Ma Heng Kong menge-tahui, bahwa orang itu mempunyai ilmu mengen-tengkan badan yang cukup tinggi.

"Apakah bukan Giam Kie yang datang lagi untuk mencari urusan?"

Tanyanya di dalam hatinya.

"Urusan ini muncul karena gara-garaku, sehingga aku tentu tidak bisa tinggal berpeluk tangan."

Memikir begitu, lantas saja ia mengejar. Tapi, sesudah mengejar kurang lebih tiga puluh tombak, bayangan itu menghilang.

"Celaka!"

Ma Heng Kong mengeluh.

"Jangan-jangan aku kena diakali dengan tipu memancing harimau keluar dari gunung."

Buru-buru ia kembali ke gedung keluarga Siang, tapi keadaan di situ tenang dan tentram sehingga Pek-seng Sinkun menjadi lega hatinya. Tapi, biar bagaimanapun juga, ia tetap bereuriga dan khawatir.

"Gerakan orang itu luar biasa dan dia bukan lawan enteng,"

Pikirnya.

"Tapi badannya kecil kurus dan sama sekali tidak mirip dengan badan Giam Kie yang tinggi besar. Siapa dia?"

Ia mengebaskan Joan-piannya beberapa kali dan pergi ke belakang untuk menyelidiki terlebih jauh.

Di waktu mendekati batas pekarangan belakang, tiba-tiba kupingnya menangkap bunyi sabet-an-sabetan golok.

"Malu aku!"

Ia mengeluh.

"Benar ada tetamu yang menggerayang ke sini. Dengan siapa dia bertempur?"

Dengan sekali menjejak kaki, Ma Heng Kong sudah hinggap di atas tembok.

Ia celingukan dan memasang kuping.

Ternyata, bunyi itu keluar dari sebuah rumah genteng yang terletak di bagian belakang tapi sungguh heran, sedang pertempuran berlangsung dengan serunya, sama sekali tidak ter-dengar bentakan atau cacian.

Ma Heng Kong mengetahui, bahwa dalam pertempuran itu tentu ter-sembunyi latar belakang lain, sehingga ia tidak berani sembarangan menerjang untuk memberikan bantuan.

Perlahan-lahan ia mendekati jendela dan mengintip dari sela-selanya, dan...

hampir-hampir ia tertawa.

Dalam ruangan itu yang kosong melompong dan yang hanya diterangi sebuah pelita kecil di atas meja, terdapat dua orang yang sedang bertempur seru dan kedua orang itu bukan lain daripada Siang Loo-tay dan puteranya.

Ma Heng Kong jadi seperti orang kesima.

Dengan hebat Siang Loo-tay menghujani puteranya dengan seranganserangan berat dan gerakan-ge-rakanannya yang gagah dan gesit berbeda seperti langit dan bumi dengan keloyoannya yang biasa diperlihatkan terhadap orang luar.

Dilain pihak, Siang Po Cin melayani ibunya dengan ilmu golok Pat-kwa-to yang sangat lihay.

Ma Heng Kong sekarang mengetahui, bahwa bukan saja si nyonya tua, tapi Siang Po Cin pun sudah sengaja menyem-bunyikan kepandaiannya sendiri.

Sambil menonton, Pek-seng Sin-kun teringat akan suatu kejadian lima belas tahun berselang, di jalan Kam-liang, dimana ia sudah bertempur melawan ayah Siang Po Cin.

Dalam pertempuran itu, ia terkena satu pukulan, sehingga harus berobat tiga tahun untuk menyembuhkan lukanya.

Ia mengetahui, bahwa kepandaiannya masih kalah jauh dari kepandaian Siang Kiam Beng, sehingga sakit hatinya akan sukar dibalas dan semenjak itu, tak pernah ia berjalan lagi di jalan Kam-liang.

Belakangan, sesudah Siang Kiam Beng meninggal dunia dan nyonya Siang melepas budi begitu besar kepadanya, ia mencoret sakit hati itu dari hatinya.

Tapi, siapa nyana, pada malam itu, ia kembali dapat menyaksikan ilmu golok Pat-kwa-to yang diperlihatkan oleh janda dan putera musuhnya.

Sembari mengawasi, banyak pertanyaan muncul di dalam hati Ma Heng Kong.

"Ilmu silat Siang Loo-tay tidak berada di sebelah bawahku,"

Pikirnya.

"Tapi kenapa ia menyembunyikan kepandaiannya itu. Dia sudah menahan aku dan anakku di dalam rumahnya. Apakah ia mempunyai maksud tertentu?"

Beberapa saat kemudian, ibu dan anak itu tiba-tiba merubah cara mereka bersilat, masing-masing mempergunakan Pat-kwa Yoe-sin Ciang-hoat (pukulan Patkwa), sembari berlari-lari di sekitar ruangan itu.

Dengan demikian, gerakan-gerakan golok mereka bereampur pukulanpukulan tangan kosong.

Sesudah menjalankan habis sampai lima puluh empat pukulan, kedua belah pihak loncat mundur dengan berbareng dan berdiri tegak sambil mencekal golok.

Meskipun sudah mengeluarkan banyak tenaga dalam tempo lama, paras muka Siang Loo-tay sedikit pun tidak berubah, tapi muka Siang Po Cin sudah merah seluruhnya-dan napasnya ter-sengalsengal.

"Pernapasanmu sukar sekali diatur,"

Kata sang ibu dengan suara menyeramkan.

"Jika kemajuanmu begitu perlahan, sampai kapan kau akan dapat membalas sakit hati ayahmu?"

Siang Po Cin menundukkan kepalanya, kelihat-an ia malu sekali.

"Biarpun kau belum pernah menyaksikan ilmu silat Biauw Jin Hong, tapi tenaganya yang luar biasa, sudah kau lihat dengan mata sendiri, diwaktu ia menahan roda kereta,"

Kata pula Siang Loo-tay.

"Kepandaian Ouw It To tidak berada di sebelah bawah Biauw Jin Hong. Hai! Aku melihat, dalam beberapa hari ini kau begitu tergila-gila kepada gadis she Ma itu, sehingga kau tak sempat lagi berlatih."

Ma Heng Kong terkejut.

"Apakah Hong-jie mengadakan perhubungan yang diluar kepantasan dengan dia?"

Tanyanya di dalam hatinya. Muka Siang Po Cin jadi semakin merah dan ia berkata.

"Ibu, terhadap nona Ma, aku selalu ber-sikap menurut peraturan. Belum pernah aku bicara banyak-banyak dengan ia."

Siang Loo-tay mengeluarkan suara di hidung dan segera berkata pula.

"Siapa yang telah memelihara kau, dari bayi sampai besar? Apakah kau kira, aku tidak mengetahui segala maksud tujuan-mu? Bahwa kau sudah penuju nona Ma, aku pun tidak menyalahkannya. Baik romannya, maupun ilmu silatnya, aku sendiri sangat penuju."

Bukan main girangnya Siang Po Cin.

"Ibu!"

Ia berseru sembari nyengir. Tapi sang ibu mengebaskan tangannya, seraya membentak.

"Kau tahu, siapa ayahnya?"

"Bukankah Ma Loopiauwtauw?"

Si anak balas menanya.

"Siapa kata bukan?"

Kata Siang Loo-tay.

"Tapi apakah kau tahu, ada apa di antara Ma Loopiauwtauw dan keluarga kita?"

Siang Po Cin menggeleng-gelengkan kepalanya sembari mengawasi ibunya dengan hati berdebar-debar.

"Anak! Dia adalah musuh ayahmu!"

Kata sang ibu. Bukan main kagetnya Siang Po Cin.

"Ha!"

Ia berseru.

"Lima belas tahun berselang,"

Tutur Siang Loo-tay.

"Ayahmu telah bertempur dengan Ma Heng Kong di jalan Kam-liang. Ayahmu memiliki ke-pandaian yang sangat tinggi dan tentu saja orang she Ma itu bukan tandingannya. Dalam pertem-puran itu, ayahmu sudah menghadiahkan kepada-nya satu bacokan dan satu gebukan, sehingga dia mendapat luka berat. Tapi orang she Ma itu juga bukan sembarang orang dan dalam perkelahian itu, ayahmu pun telah mendapat luka di dalam. Ketika ayahmu pulang, sedang lukanya belum sembuh, musuh besar kita, Ouw It To, malam-malam datang menyatroni dan membunuh ayahmu. Jika orang she Ma itu tidak lebih dulu melukakan padanya... hm! Manusia semacam Ouw It To, biar bagaimanapun juga tak akan dapat melukakan padanya!"

Di waktu mengeluarkan kata-kata itu, pada suaranya sangat rendah dan sungguh menyeramkan.

Selama hidupnya, Ma Heng Kong sudah kenyang menghadapi macam-macam badai dan taufan, tapi pengalamannya disaat itu, benar-benar dirasakan sangat menyeramkan olehnya, sehingga sekujur badannya jadi bergemetar.

"Ouw It To adalah seorang gagah yang kepandaiannya tak dapat diukur ba-gaimana tingginya,"

Katanya di dalam hati.

"Biarpun Siang Kiam Beng tidak mendapat luka, jangan harap ia dapat meloloskan diri. Sungguh sial! Gara-gara si nenek mencinta suami, semua kesalahan agaknya mau ditimpakan ke atas kepalaku."

Sesaat kemu-dian, Siang Loo-tay kedengaran berkata lagi.

"Dan sekarang, secara sangat kebetulan, dengan meng-iring piauw, si tua bangka sudah datang sendiri kemari. Dengan tangannya sendiri, mendiang ayahmu telah mendirikan Siang-kee-po ini. Mana bisa aku membiarkan segala bangsa tikus berlaku kurang ajar dan merampas piauw dalam rumah ini? Tapi, apakah kau tahu maksudku menahan orang she Ma itu, ayah dan anak, di sini?"

"Ibu... kau... kau ingin membalas... sakit hati ayah?"

Jawab Siang Po Cin dengan suara terputus-putus.

"Kau keberatan, bukan!"

Bentak ibunya.

"Ka-rena kau mencinta perempuan she Ma itu, ya?"

Melihat ibunya seperti orang kalap dan kedua matanya seakan-akan mengeluarkan api, Siang Po Cin mundur beberapa tindak dan tidak berani mengeluarkan sepatah kata.

Beberapa saat kemudian, Siang Loo-tay tertawa dingin.

"Baiklah,"

Katanya.

"Beberapa hari lagi, aku akan majukan lamaran kepada orang she Ma itu. Dengan memandang keadaanmu dan mukamu, ku-rasa lamaran itu tidak akan ditolak."

Perkataan Siang Loo-tay yang tidak diduga itu kembali mengejutkan Siang Po Cin dan Ma Heng Kong.

Dari sela-sela jendela, Ma Heng Kong dapat melihat paras muka nyonya itu yang mengandung kebencian hebat dan tanpa merasa, bulu romannya berdiri.

"Sungguh beracun hati tua bangka itu,"

Pikirnya.

"Dia merasa tidak cukup jika hanya meng-ambil jiwaku. Dia sekarang ingin mengambil anakku sebagai menantunya untuk dipersakiti begitu rupa, sehingga hidup tak bisa, mati pun tak mungkin. Tapi Allah masih berbelas kasihan, sehingga malam ini aku dapat mendengar segala siasatnya. Jika tidak... ah! Sungguh kasihan, Hong-jie yang mesti menjadi korban...."

Siang Po Cin yang belum berpengalaman, tidak mengetahui maksud ibunya yang sebenarnya.

la hanya menjadi girang tereampur heran.

Dilain pihak, Ma Heng Kong yang khawatir ketahuan jika berdiam lama-lama di situ, lantas saja berlalu dengan indap

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com indap.

Setibanya di kamarnya sendiri, ia menyusut keringat dingin yang berketel-ketel di dahinya.

Mendadak ia ingat akan kejadian yang menuntun dirinya ke tempat berlatihnya Siang Loo-tay dan Siang Po Cin.

"Siapakah bayangan kurus kecil itu yang lari ke gunung belakang?"

Tanyanya kepada diri sendiri.

Keesokan harinya, diwaktu lohor, dengan mengenakan thungsha dan ma-kwa, Ma Heng Kong minta Siang Po Cin mengundang ibunya dengan pesan, bahwa ia hendak merundingkan suatu soal yang sangat penting.

Siang Po Cin girang berbareng kaget.

"Apakah begitu cepat ibu sudah majukan lamaran?"

Pikirnya.

"Sikap dan pakaian Ma Loopiauwtauw sangat ber-beda dengan biasanya."

Sesudah nyonya Siang dan Ma Heng Kong mengambil tempat duduk di ruangan belakang, Siang Po Cin duduk menemani mereka dengan hati berdebar-debar.

Lebih dulu Ma Loopiauwtauw menghaturkan terima kasih kepada nyonya rumah yang sudah begitu baik hati untuk memberi tempat meneduh kepada mereka bertiga.

Pernyataan terima kasih itu disambut oleh Siang Loo-tay dengan kata-kata merendah.

Sesudah selesai dengan kata-kata pembukaan, barulah Ma Heng Kong mulai dengan tujuannya yang sebenarnya.

"Anakku It Hong sudah bukan kecil lagi dan aku ingin mendamaikan suatu urusan dengan Siang Loo-tay,"

Ia mulai.

Jantung Siang Po Cin memukul keras, sedang nyonya Siang merasa heran.

Ia menduga, bahwa Ma Heng Kong mau membuka mulut untuk merangkap jodoh puterinya dengan Siang Po Cin.

Bahwa pihak perempuan membuka mulut lebih dulu, adalah kejadian yang sangat langka.

"Ma Loosu boleh bicara saja dengan bebas,"

Jawab nyonya Siang.

"Kita adalah orang sendiri, tak usah Ma Loosu memakai adat istiadat."

"Di samping anakku, selama hidup aku hanya mempunyai seorang murid,"

Kata Ma Heng Kong.

"Dia itu adalah seorang yang tumpul otaknya dan kasar sifatnya. Akan tetapi, semenjak ia masih kecil aku selalu menganggapnya sebagai anakku sendiri. Dengan Hong-jie, dia sudah bergaul lama dan ke-lihatannya sangat akur. Maka itu, aku berniat meminjam rumah Siang Loo-tay untuk pertunangan mereka!"

Dapat dibayangkan, bagaimana kagetnya Siang Po Cin setelah mendengar ucapan itu. Tanpa rae-rasa, ia berbangkit sambil mengawasi Ma Heng Kong.

"Sungguh lihay tua bangka itu,"

Kata Siang Loo-tay di dalam hatinya.

"Tak bisa salah lagi, tentunya anak kurang ajar ini yang sudah berlaku tidak hati-hati, sehingga rahasia jadi terbuka."

Tapi, sedang hatinya berkata begitu, mulutnya memberi selamat dengan paras girangyang dibuat-buat.

"Anak! Lekas memberi selamat kepada Ma Loopeh!"

Ia memerintah puteranya.

Otak Siang Po Cin tak dapat bekerja lagi.

Ia seperti orang kesima dan mengawasi ibunya dengan mendelong.

Akhirakhirnya, tanpa mengucapkan sepatah kata, ia lari keluar dari ruangan itu!

Sesudah mengucapkan lagi terima kasih dengan kata-kata merendah, Ma Heng Kong kembali ke kamarnya dan segera memanggil It Hong serta Cie Ceng.

Kepada mereka itu, dengan ringkas ia mem-beritahukan, bahwa had itu mereka akan ditunang-kan.

Tak kepalang girangnya Cie Ceng, sedang It Hong kemalumaluan dengan paras muka yang ber-ubah merah.

"Kamu hanya ditunangkan,"

Orang tua itu mene-rangkan.

"Pernikahan antara kamu baru diatur sesudah kita pulang."

Kalau Cie Ceng sedang tergirang-girang, adalah Siang Po Cin yang bersedih hati.

Sesudah bergaul dengan It Hong yang cantik manis delapan bulan lamanya, pemuda itu terjirat eraterat dalam pe-rangkap dewi asmara.

Semalam mendengar janji ibunya untuk meminang nona tersebut, bukan main girang hatinya.

Maka itu, dapatlah dibayangkan bagaimana kagetnya, ketika mendengar pengutara-an Ma Heng Kong.

Seorang diri, ia duduk terpekur di dalam kamarnya, memikirkan nasibnya yang sa-ngat sial.

Bagaikan seorang linglung, kedua matanya mendelong mengawasi pohon Ginheng yang tum-buh di luar jendela kamarnya.

Ia hampir tidak pereaya akan kupingnya sendiri yang mendengar bahwa Ma Heng Kong telah mengucapkan kata-kata itu.

Tak tahu berapa lama ia menjublek di situ.

Ia terkejut ketika seorang pelayan dengan tiba-tiba masuk ke kamarnya sembari berkata.

"Siauwya, waktu untuk berlatih sudah tiba. Loo Tay-tay sudah menunggu lama sekali."

Siang Po Cin terkesiap.

"Celaka!"

Ia mengge-rendeng.

"Aku bakal dimaki."

Ia merenggut kantong piauwnya dan pergi ke Lian-bu-teng sambil berlari-lari. Begitu masuk, ia melihat ibunya duduk di kursi dengan paras angker.

"Hari ini berlatih dengan jalan darah di bagian pundak,"

Katanya. Ia berpaling kepada dua pelayan dan berseru.

"Pegang papan erat-erat. Jalan!"

Diam-diam Siang Po Cin merasa tereengang.

Ia merasa heran bahwa ibunya sama sekali tidak ter-pengaruh oleh perkataan Ma Heng Kong dan terus bersikap seperti biasa.

Tapi ia tidak berani berpikir lama-lama.

Semenjak kecil, ia biasa dididik dengan keras sekali oleh ibunya.

Dalam ruangan berlatih, sedikit pun ia tidak boleh lengah.

Begitu salah, ia tentu tak akan terlolos dari gebukan atau sedikitnya cacian.

Demi-kianlah, buru-buru ia mengambil sebuah piauw dari kantong itu dan siap sedia untuk menimpuk.

"Biauw Jin Hong. Beng-bun, Toh-to!"

Teriak Siang Loo-tay. Tangan kanan Siang Po Cin terayun dan dua buah piauw dengan jitu sekali menenai dua jalan darah yang disebutkan ibunya.

"Ouw It To. Ta-tui, Yang-koan!"

Nyonya Siang berteriak pula.

Siang Po Cin mengayun tangan kirinya dan dua buah piauw lantas saja menyambar ke arah papan yang terlukis gambar Ouw It To.

Mendadak, mata Siang Po Cin melihat adanya perubahan pada papan itu.

"Ih!"

Ia berseru sembari mengawasi dengan tajam. Ternyata, huruf-huruf "Ouw It To"

Pada papan itu sudah tidak kelihatan lagi.

Siang Loo-tay yang juga sudah melihat perubahan itu, lantas menggapai bujangnya yang membawa papan.

Setelah diteliti, baru ketahuan, bahwa huruf-huruf "Ouw It To"

Sudah dikerik hilang dengan sebuah benda tajam dan sebagai gantinya, di papan itu terdapat cukilan huruf-huruf "Siang Kiam Beng"!

Siang Po Cin tak dapat menahan amarahnya lagi.

Dengan sekali menggaplok, ia membuat dua buah gigi bujang itu rontok dan dengan sekali menendang, ia menyebabkan orang apes itu rubuh di atas lantai.

"Tahan!"

Teriak Siang Loo-tay.

Ia mengetahui bahwa bujang itu yang dipelihara sedari kecil, tentu tidak berani melakukan perbuatan tersebut.

Tak bisa salah lagi, perbuatan itu tentu dilakukan oleh orang luar dan orang luar itu, menurut taksirannya, bukan lain daripada Ma Heng Kong bertiga.

"Coba undang Ma Loosu datang ke sini,"

Ia memerintah salah satu orangnya.

Siang Po Cin sebenarnya adalah seorang yang sangat hatihati.

Tapi pada hari itu, oleh karena kegagalannya dalam pereintaan, ia menjadi sangat aseran.

Begitu mendengar ibunya memerintahkan orang memanggil Ma Heng Kong, lantas juga ia mendusin akan kekeliruannya.

Ia membangunkan bujang yang digaploknya tadi dan berkata.

"Aku sudah salah memukul kau, harap kau tidak menjadi gusar."

Sehabis berkata begitu, ia mengangkat ta-ngannya untuk mencabut dua buah piauw yang menancap di papan.

"Tahan!"

Kata Siang Loo-tay yang lalu memerintah orang mengambil Pat-kwa-to.

Sebelum golok itu diambil, Ma Heng Kong bertiga sudah masuk ke ruangan Lian-bu-teng.

Ia terkejut ketika melihat paras muka nyonya Siang yang sedang gusar.

Buru-buru ia menyoja seraya menanya.

"Ada urusan apa, Siang Loo-tay-tay memanggil aku?"

Nyonya Siang tertawa dingin.

"Suamiku sudah lama meninggal dunia,"

Jawabnya dengan tawar.

"Walaupun andaikata sampai sekarang Ma Loosu masih mempunyai ganjalan berhubung dengan pe-ristiwa tempo hari, tidaklah pantas, jika Loosu mengumbar nafsu terhadap orang yang sudah tiada lagi di dunia...."

Pek-seng Sin-kun menjadi bengong.

"Aku tak mengerti..."

Katanya, tergugu.

"Mohon Siang Loo-tay sudi bicara terlebih terang."

Dengan mata berapi, nyonya Siang menuding papan itu dan berkata dengan suara keras.

"Ma Loosu adalah seorang laki-laki dalam kalangan Kang-ouw. Aku merasa pasti, kau tidak akan melakukan perbuatan yang serendah itu. Aku mau tanya. Siapa yang melakukan itu, puterimu atau muridmu?"

Sehabis berkata begitu, matanya menyapu Ma Heng Kong bertiga dengan sikap yang sangat angker.

Ma Heng Kong heran dan terkejut melihat perubahan nama pada papan itu.

Tapi lekas juga ia menjawab dengan suara nyaring.

"Meskipun anak dan muridku orang-orang tolol, aku berani memastikan, bahwa mereka tak akan berani berbuat begitu."

"Dengan lain perkataan, kau mau mengatakan, bahwa perbuatan itu sudah dilakukan oleh orang-orang dari Siangkee-po sendiri, bukan?"

Seru Siang Loo-tay. Ma Heng Kong lantas saja ingat akan orang kecil kurus yang ia jumpai semalam.

"Apakah tak bisa jadi, perbuatan itu dilakukan oleh orang luar yang masuk ke gedung ini?"

Tanyanya.

"Semalam aku...."

"Maksudmu anjing Ouw It To sendiri yang menggerayang ke sini?"

Bentak Siang Loo-tay. Baru habis perkataannya itu diucapkan, di luar ruangan mendadak terdengar suara seseorang yang sangat nyaring.

"Tak berani mencari orangnya, namanya yang dihantam pulang pergi! Itulah baru perbuatan rendah!"

"Siapa itu? Kemari!"

Siang Loo-tay memanggil.

Di lain saat, dua bujang yang berdiri dekat pintu, didorong orang dan seorang bocah yang kecil kurus bertindak masuk.

Bocah itu bukan lain dari-pada Ouw Hui.

Itulah suatu kejadian yang benar-benar di luar dugaan.

"A-hui, kalau begitu kau?"

Kata Siang Loo-tay dengan suara dalam. Ouw Hui manggutkan kepalanya dan menjawab dengan tenang.

"Benar. Aku yang berbuat. Tak ada sangkut pautnya dengan Ma Loosu."

"Kenapa kau berbuat begitu?"

Tanya nyonya Siang.

"Mataku tak enak melihatnya!"

Sahut si bocah.

"Seorang gagah tak pantas berlaku seperti kau."

Siang Loo-tay mengangguk.

"Anak manis, benar katakatamu,"

Katanya.

"Kau mempunyai tulang punggung. Mari lebih dekat, aku mau melihat muka-mu secara lebih tegas."

Sembari bicara, ia meng-ulurkan tangannya.

Ouw Hui yang sama sekali tak menyangka, bahwa nyonya itu tidak menjadi gusar, lantas saja maju mendekati.

Siang Loo-tay mengusap-usap ke-dua tangannya yang kecil seraya berkata.

"anak baik, benar-benar kau anak baik!"

Mendadak, dengan sekali membalik tangannya, Siang Lootay menotok dengan kedua tangannya, sebelah tangannya menotok jalan darah Hwi-cong-hiat di pergelangan tangan kiri Ouw Hui dan sebelah tangan lagi menotok jalan darah Gwakoan-hiat di pergelangan tangan kanan bocah itu.

To-tokan itu yang dilakukan secepat kilat, tak dapat dielakkan lagi dan Ouw Hui tidak dapat bergerak pula.

Dengan kepandaian yang dimilikinya, sebe-narnya si nenek tak akan mampu merubuhkan Ouw Hui.

Hanya kekurangan pengalaman yang sudah membikin ia terperangkap secara begitu mudah.

Karena khawatir tawanannya masih akan dapat melarikan diri, Siang Loo-tay lalu mengirimkan tendangan ke arah jalan darah Siauw-yauw-hiat.

Sesudah memamerkan kegagahannya di hadapan seorang anak kecil, ia meneriaki orang-orangnya untuk mengambil rantai dan tambang, guna meng-gantung putera Ouw It To ini di tengah-tengah Lian-bu-teng.

Sesudah korbannya digantung, Siang Po Cin segera mengambil cambuk kulit dan menghantam Ouw Hui kalang kabut.

Sambil menggigit bibir, tanpa bersuara anak ini menerima hujan sabetan itu.

"Siapa menyuruh kau?"

Bentak Siang Po Cin sembari menyabet.

Sekali membentak, sekali pula ia mengebat.

Sembari menganiaya, ia memerintah orang-orangnya menjaga Peng Ah Sie supaya ia tidak melarikan diri.

Dalam jengkelnya karena gagal dalam pereintaan, ia sekarang melampiaskan ama-rahnya di atas kepala anak piatu itu.

Melihat Ouw Hui seolah-olah sudah menjadi "manusia darah", Ma It Hong dan Cie Ceng merasa sangat tidak tega di dalam hatinya.

Beberapa kali, mereka ingin maju membujuk, tapi Ma Heng Kong selalu melarang dengan kedipan mata.

Sesudah menghantam kira-kira tiga ratus kali, Siang Po Cin menghentikan pukulannya, bukan karena kasihan, tapi karena ia khawatir bocah itu keburu binasa, sebelum dia dapat mengorek siapa yang menjadi dalang di belakang bocah itu.

"Bangsat kecil!"

Ia membentak.

"Apakah bang-sat Ouw It To yang menyuruh kau datang ke sini?"

Mendadak, mendadak saja, Ouw Hui tertawa terbahakbahak, nyaringdan panjang.

Bahwa dalam keadaan mandi darah, bocah itu masih bisa tertawa dan tertawa secara begitu riang, benar-benar diluar dugaan semua orang.

Siang Po Cin mengangkat pula cambuknya untuk menyabet.

Sekali ini, Ma It Hong tak dapat bersabar lagi.

"Jangan pukul lagi!"

Ia berteriak.

Siang Po Cin mengawasi si nona dan cambuknya yang sudah terangkat naik, turun lagi perlahan-lahan.

Kejadian itu merupakan suatu pelajaran ber-harga yang pahit getir bagi putera Ouw It To.

Setiap kali cambuk itu melanggar tubuhnya, setiap kali ia menyesalkan ketololannya sendiri.

Dan sesudah mendapat pengalaman itu, seumur hidupnya ia selalu waspada dan tidak pernah membuat kesalahan untuk kedua kalinya.

Selagi menahan sakit sehingga hampir-hampir menjadi pingsan, kupingnya mendadak mendengar teriakan.

"Jangan pukul lagi!"

Ia membuka kedua matanya dan melihat Ma It Hong sedang mengawasi ia dengan sorot mata kasihan.

Dalam keadaan ter-jepit, bukan main besar rasa terima kasihnya.

Melihat puterinya ditundukkan oleh paras can-tik, Siang Loo-tay jadi sangat mendongkol, tapi ia tidak mengucap apaapa.

"Siang Loo-tay,"

Kata Ma Heng Kong.

"Biarlah kau menghajar bocah itu supaya bisa mengorek latar belakangnya. Hong-jie, Ceng-jie, mari kita berlalu!"

La memberi hormat dan segera meninggalkan ruang-an itu bersama puteri dan muridnya. Sesudah keluar dari Lian-bu-teng, It Hong menyesalkan ayahnya.

"Ayah,"

Katanya.

"Bocah itu dianianya begitu hebat, kenapa, sebaliknya dari menolong, kau menganjurkan supaya dia dihajar terus?"

Sang ayah menghela napas dan menyahut.

"Kau tahu apa? Orang-orang Kang-ouw sangat berbahaya dan berhati kejam."

Sebagai pemudi yang masih polos, Ma It Hong sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh ayahnya.

Malam itu, mengingat penderitaan Ouw Hui, tak dapat si nona tidur pulas.

Kira-kira tengah malam, perlahan-lahan ia turun dari pembaringan dan sesudah mengambil sebungkus obat luka, ia menuju ke Lian-bu-teng.

Di tengah jalan, tiba-tiba ia bertemu dengan seorang yang sedang jalan mondar-mandir sembari menghela napas berulang-ulang.

Orang itu adalah Siang Po Cin yang sudah lantas dapat melihatnya dan segera menghentikan tindakannya.

"Nona Ma,"

Katanya dengan suara perlahan.

"Apakah kau?"

"Benar,"

Jawabnya.

"Kenapa kau tidak tidur?"

"Sesudah mengalami kejadian tadi, bagaimana aku bisa pulas?"

Sahut pemuda itu sembari meng-gelengkan kepala.

"Dan kau, kenapa kau sendiri tidak tidur?"

"Sama seperti kau,"

Kata si nona.

"Aku pun memikirkan kejadian siang tadi dan hatiku sangat menderita."

"Kejadian siang tadi"

Yang dimaksudkan Ma It Hong adalah pemukulan terhadap Ouw Hui, tapi bagi Siang Po Cin.

"kejadian tadi"

Adalah pertunang-an antara It Hong dan Cie Ceng. Mendengar perkataan si nona pemuda itu jadi bergemetar sekujur badannya.

"Ah! Kalau begitu ia mencinta aku,"

Pikirnya.

"Kalau begitu, pertu-nangannya dengan Cie Ceng adalah atas paksaan ayahnya."

Nyalinya jadi lebih besar, ia maju setindak dan berkata dengan suara halus.

"Nona Ma!"

"Hm! Siang Siauwya, aku ingin memohon serupa pertolongan,"

Kata Ma It Hong.

"Kenapa mesti memohon?"

Kata Siang Po Cin.

"Apa juga yang diperintahkan olehmu, aku akan segera mengerjakannya. Andaikata kau ingin aku lantas binasa dan ingin mengorek keluar jantung hatiku, aku juga akan mengabulkannya."

Katakata itu dikeluarkan dengan bernafsu, dengan suara yang agak menggetar.

Sudah lama ia ingin mencurahkan isi hatinya dan baru sekarang ia mendapat kesem-patan yang bagus.

Mendengar ucapan itu, si nona jadi terperanjat.

Sama sekali ia tidak mengetahui, bahwa pemuda itu sudah jatuh cinta kepadanya.

Ia bengong beberapa saat dan kemudian berkata sembari tertawa.

"Guna apa aku menginginkan kebinasaanmu?"

Siang Po Cin menengok ke sana sini, ia khawatir dipergoki orang.

"Bicara di sini tidak leluasa, mari kita pergi keluar tembok,"

Katanya dengan suara perlahan.

Ma It Hong mengangguk dan mereka berdua lalu melompati tembok.

Sambil menuntun tangan-nya Siang Po Cin mengajak si nona duduk di bawah pohon Kui.

Perlahan-lahan Ma It Hong menarik tangannya dan berkata.

"Siang Siauwya, apakah kau bersedia meluluskan permintaanku?"

Pemuda itu mengulurkan tangannya dan kem-bali mencekal tangan Ma It Hong.

"Katakan saja,"

Jawabnya.

"Tak usah banyak menanya-nyanya."

Si nona sekali lagi menarik kembali tangannya yang diusapusap.

"Aku mohon kau melepaskan A-hui,"

Katanya.

"Jangan menganiaya ia lagi."

Saat itu, dahan pohon di atas mereka mendadak bergoyang, tapi mereka tidak memperhatikannya.

Sebelum Ma It Hong menjelaskannya, Siang Po Cin berharap nona itu akan mengusulkan supaya mereka lari berdua, seperti cara Tian Kui Long dan isterinya Biauw Jin Hong.

Tentu saja ia merasa sangat kecewa setelah mengetahui maksud It Hong yang sebenarnya.

Ia berdiam saja, tak menjawab.

"Bagaimana?"

Si nona menegas.

"Apakah kau merasa keberatan?"

"Jika kau memaksa, aku tentu akan meluluskan-nya,"

Jawab Siang Po Cin.

"Biarlah sekali ini aku dicaci habishabisan."

Ma It Hong girang.

"Terima kasih, banyak-banyak terima kasih,"

Katanya sambil berbangkit.

"Marilah kita sama-sama melepaskan dia."

"Duduklah sebentar lagi,"

Siang Po Cin memohon. Oleh karena permintaannya sudah diluluskan, si nona merasa tidak enak jika ia bersikap terlalu getas. Maka itu, sembari mesem, ia duduk kembali.

"Kasihlah aku mengusap-usap tanganmu,"

Pinta pemuda gila basa itu.

Melihat lagak orang yang sudah jatuh dibawah pengaruhnya, di dalam hati si nona jadi timbul rasa kasihan dan ia membiarkan tangannya dielus-elus.

Sembari mengusapusap tangan orang yang ha-lus, hampir-hampir Siang Po Cin menangis karena mengingat, bahwa nona itu yang begitu cantik, tak bisa menjadi isterinya.

Lewat beberapa saat, It Hong berkata.

"A-hui sudah digantung terlalu lama, aku sungguh merasa sangat tak tega. Pergilah kau melepaskan ia dulu. Sesudah itu, boleh kau datang lagi ke sini."

Sehabis berkata begitu, ia menarik tangannya dan berbangkit lagi.

Siang Po Cin meng-hela napas dan segera turut berdiri.

Sekonyong-konyong di atas pohon terdengar suara keresekan dan sesosok bayangan hitam melayang turun ke bawah.

"Tak usah dilepaskan!"

Kata orang itu sembari tertawa.

"Aku sudah bisa melepaskan diriku sen-diri!"

Po Cin dan It Hong terkesiap. Orang itu, yang kecil kurus, bukan lain daripada Ouw Hui. Sesudah mengetahui siapa adanya orang itu, rasa kaget mereka berubah menjadi keheranan besar.

"Siapa melepaskan kau?"

Tanya It Hong dan Po Cin dengan berbareng.

"Perlu apa pertolongan orang?"

Jawab bocah itu sembari nyengir.

"Aku senang keluar, aku lantas keluar."

Harus diketahui, bahwa totokan Siang Loo-tay hanya mempunyai kekuatan untuk empat jam lama-nya.

Sesudah lewat empat jam, jalan darah Ouw Hui terbuka sendiri.

Dengan menggunakan ilmu mengkeretkan otot dan tulang, mudah saja ia meloloskan did.

Untung juga, meskipun kena labrakan hebat, semua lukanya adalah luka di kulit yang tidak berbahaya.

Sesudah menggerak-gerakkan kaki tangannya agar darahnya berjalan !agi sebagaimana biasa, selagi ingin ber-tindak untuk menolong Peng Ah Sie, mendadak ia mendengar suara It Hong dan Po Cin yang bersama-sama melompati tembok.

Buru-buru ia menyusul dan loncat ke atas pohon.

Berkat ilmu mengen-tengkan badannya yang sangat tinggi, Siang Po Cin dan Ma It Hong sama sekali tidak mengetahui, bahwa ia sedang mengintip mereka.

Dapat dimengerti, bahwa Siang Po Cin, sedikit juga tidak pereaya, jika Ouw Hui dapat meloloskan dirinya sendiri.

Ia menduga, bahwa pasti ada orang yang menolong bocah itu.

Dengan sikap garang, ia mendekati dan mencengkeram dada si bocah.

Sesudah dianiaya dengan ratusan sabetan pe-cut, mana bisa sakit hati itu tidak dibalasnya?

Sekali badannya digoyangkan, cengkeraman Siang Po Cin terlepas dan kedua tangannya lantas saja bekerja cepat sekali.

Dalam sekejap saja, muka putera Siang Kiam Beng ini sudah kena tujuh delapan tamparan.

Dengan gelagapan, Siang Po Cin coba membela diri.

Sembari menyampok dengan tangan kirinya, Ouw Hui mengirimkan tinju kanannya yang jatuh tepat di hidung musuhnya itu, yang segera menge-luarkan darah.

Ia tidak berhenti sampai di situ saja.

Berbareng dengan jotosannya, ia menggaet dengan kakinya.

Buru-buru Siang Po Cin menjejak kakinya dan badannya melesat ke atas untuk meloloskan diri dari gaitan itu.

Tapi tak dinyana, selagi tubuhnya masih berada di tengah udara, Ouw Hui yang gerakannya cepat bagaikan kilat, sudah mengirimkan Lianhoan-tui (tendangan berantai), sehingga tak ampun lagi, Siang Po Cin jungkir balik dan ke-mudian rubuh ngusruk di atas tanah.

Sungguh pun musuhnya sudah terguling, hati Ouw Hui masih belum puas.

Tapi ia tahu, jika ia menghantam lagi, Ma It Hong tentu akan menyelak antara mereka.

Sebagai ksatria yang harus meng-ingat budi orang, ia tentu tidak dapat menolak permintaan si nona.

Ouw Hui masih muda usianya, tapi banyak akal budinya.

"Orang she Siang!"

Ia berseru.

"Anjing kecil! Berani kau mengubar aku?"

Sehabis berteriak begitu, ia memutarkan badan dan terus kabur.

Ketika itu, Siang Po Cin merasa, bahwa karena kurang waspada, ia sudah kena dirubuhkan oleh musuh yang gerakannya cepat luar biasa itu.

Sedikit pun ia tidak pereaya, bahwa dengan memiliki ilmu silat Pat-kwa peninggalan mendiang ayahnya, dalam pertempuran yang sungguhsungguh, ia bisa di-jatuhkan oleh bocah cilik.

Selain itu, beradanya Ma It Hong di sampingnya, sudah membikin ia jadi malu sekali.

Demikianlah, tanpa berkata suatu apa, ia segera mengejar.

Ilmu mengentengkan badan Ouw Hui banyak lebih unggul daripada Siang Po Cin, tapi ia sengaja menahan larinya, supaya musuhnya tidak keting-galan terlalu jauh.

Dengan cepat mereka sudah melalui tujuh delapan li, Ouw Hui menengok dan melihat Ma It Hong sedang membuntuti dari be-lakang.

Ia menghentikan tindakannya dan mem-bentak.

"Orang she Siang! Hari ini majikan kecilmu menerima hinaan karena ibumu sudah menggunakan akal licik. Sekarang Siauwyamu ingin memper-lihatkansedikit kepandaiannya."

Berbareng dengan caciannya, ia menubruk bagaikan seekor elang.

Buru-buru Siang Po Cin berkelit.

Begitu hing-gap, kaki kiri Ouw Hui kembali menjejak tanah dan badannya menubruk pula dari jurusan lain.

Oleh karena tidak keburu berkelit lagi, Siang Po Cin mengulurkan kedua tangannya untuk menyambut.

Begitu kebentrok, Siang Po Cin merasakan kedua tangannya sakit luar biasa dan jika tidak keburu ditarik, kedua pergelangan tangannya tentu sudah menjadi patah.

Ouw Hui tak mau memberi hati kepadanya.

Bagaikan kilat, tinjunya mampir di dada musuh, sedang kaki kanannya telak mengenai kem-pungan Siang Po Cin.

Dalam bingungnya, Siang Po Cin menggunakan kedua tangannya untuk menutupi kepala dan muka-nya.

Sungguh kasihan, latihan sepuluh tahun sedikit pun tiada gunanya.

Tapi Ouw Hui yang merasa sangat sakit hati, sungkan berhenti sampai di situ.

Ia mengangkat kaki kirinya untuk menggertak dan selagi musuhnya berkelit ke kanan, ia memapaki dengan kaki kanannya yang dengan jitu mampir di jalan darah Siauwyauw-hiat, sehingga tanpa am-pun, putera Siang Kiam Beng itu rubuh kejengkang.

Ouw Hui membeset thungsha musuhnya yang kemudian digunakan untuk mengikat tubuh musuh itu sendiri.

Sebenarnya ia niat menggantung musuh itu di pohon liu, tapi karena badannya terlalu kecil, ia tak dapat mewujudkan maksudnya.

Maka itu, ia lalu mengangkat badan musuhnya dan melontar-kannya ke atas.

Tepat sekali, badan Siang Po Cin terjepit antara cabang dahan bereagak.

Dengan gemas Ouw Hui memotes tujuh de-lapan batang cabang pohon liu yang lalu digunakan mengebat musuhnya.

Siang Po Cin gusar dan malu bukan main, tapi ia pun mengetahui, bahwa tak gunanya meminta ampun.

Sesudah Ouw Hui menyabet kira-kira tiga puluh kali, Ma It Hong sudah menyusul sampai di situ.

Ia terperanjat melihat pemandangan itu dan untuk sementara, ia tak dapat mengeluarkan sepatah kata.

"Nona Ma,"

Kata Ouw Hui sembari tertawa.

"Kau tak usah mintakan ampun. Sekarang juga aku ampuni dia!"

Ia tertawa terbahak-bahak. Walaupun baru berusia belasan tahun, Ouw Hui mempunyai sikap dan keangkeran seorang ksatria sejati. Ia melemparkan cabang-cabang liu itu dan berlalu dengan tindakan lebar.

"Sahabat kecil!"

Seru It Hong.

"Siapa sebenarnya kau?"

Ouw Hui memutarkan badannya dan menyahut dengan nyaring.

"Pertanyaan nona tak dapat tak dijawab. Aku adalah Ouw Hui, putera Tayhiap Ouw It To!"

Ia tertawa nyaring dan panjang, di lain saat, tubuhnya kecil kurus sudah menghilang di antara pohon-pohon liu.

Ma It Hong berdiri terpaku.

Pengakuan Ouw Hui benarbenar mengagetkan.

Berselang beberapa saat, baru si nona bisa membuka suara.

"Siang Siauwya,"

Katanya.

"Apakah kau bisa turun?"

Siang Po Cin coba berontak, tapi ia tak dapat memutuskan tali ikatan itu. Seluruh mukanya merah, tak dapat ia memberi jawaban.

"Sudahlah, jangan bergerak,"

Kata pula It Hong.

"Kalau jatuh, kau bisa luka. Biarlah aku membantu."

Sehabis berkata begitu, ia segera memanjat pohon itu.

Selagi ia manjat, mendadak terdengar bunyi tindakan kuda dan sejumlah penunggang kuda ke-lihatan mendatangi.

Waktu itu, fajar baru menyingsing dan udara masih agar gelap.

"Kenapa begini pagi orang-orang itu sudah melakukan perjalanan?"

Tanya si nona di dalam hatinya.

Dalam sekejap saja mereka sudah tiba di bawah pohon itu.

Melihat seorang nona memanjat pohon dan seorang lelaki yang terikat badannya, terjepit antara cabang dahan, mereka -yang semuanya berjumlah sembilan orang -menjadi heran bukan main.

"Jangan nonton!"

Seru Ma It Hong.

"Pergilah!"

Sembari berkata begitu, si nona loncat ke atas dan menjambret dahan pohon yang menjepit Siang Po Cin.

"Sungguh indah ilmu mengentengkan badan itu!"

Puji salah seorang penunggang kuda. Buru-buru Ma It Hong membuka ikatan Po Cin dan menanya dengan suara halus.

"Apakah kau terluka?"

Suara si nona yang lemah lembut sangat meng-girangkan hati Siang Po Cin.

"Tak apa-apa,"

Jawab-nya, lalu ia meloncat turun, diikuti Ma It Hong.

Melihat sembilan orang itu kasak-kusuk secara kurang ajar, Siang Po Cin jadi sangat mendongkol.

Ia melirik dengan sorot mata gusar.

Mereka itu, ada yang tua, ada juga yang muda dan semua berpakaian indah serta bersikap garang.

Di antara mereka terdapat seorang kongcu (putera orang berpangkat) yang berparas cakap dan baru berusia kira-kira dua puluh tahun.

Ia mengenakan jubah panjang yang berwarna biru, sedang kepalanya ditutup dengan sebuah topi kecil tertata dua butir mutiara sebesar telunjuk.

Ma It Hong yang semenjak kecil sudah meng-ikuti piauwhang, mengenal baik batu-batu per-mata.

Dari jarak beberapa tombak, kedua mutiara itu sudah terlihat sinarnya yang terang dan segera juga ia mengetahui, bahwa mutiara itu berharga sangat tinggi.

Ia merasa heran, mengapa benda yang begitu mahal dicantumkan di topi.

Apakah tidak takut jatuh hilang?

Keheranan itu sudah membikin ia melirik beberapa kali.

Di lain pihak, si kongcu yang melihat ke-cantikan Ma It Hong, lantas saja berdebar hatinya.

Ia lalu berbicara bisik-bisik dengan seorang setengah tua yang segera manggutmanggutkan kepalanya dan kemudian tertawa berkakakan.

"Bangsat kecil itu tentunya juga telah mencuri, sehingga digantung di pohon,"

Kata orang setengah tua itu.

"Mencuri apa?"

Celetuk seorang tua.

"Apakah kau tak melihat, bahwa adiknya menolong dia?"

Suara si tua itu mengejek dan lagaknya tengik.

Siang Po Cin yang memang sudah mendongkol.

lantas saja naik darah.

Sambil melompat, ia meng-gaplok.

Jarak antara ia dan si tua tidak kurang dari setombak.

Bahwa dengan sekali melompat, ia sudah dapat mengirimkan pukulan adalah diluar dugaan semua orang yang dengan terkejut, segera mundurkan tunggangan masing-masing.

Si tua tentu saja tak sudi menerima hinaan di hadapan orang banyak.

Ia meloncat turun dari tunggangannya dan coba menjambret baju Siang Po Cin.

Dengan cepat Siang Po Cin menyamber pergelangan tangan orang tua itu, yang ternyata juga mempunyai kepandaian lumayan, sebab dengan sekali membalikkan tangan, ia dapat mengelit sambaran Siang Po Cin dan terus menyodok dengan lima jarinya.

Dilain saat, mereka berdua sudah bertempur seru.

Biarpun baru saja mendapat hajaran, Siang Po Cin tidak mendapat luka pada otot atau tulangnya.

Dengan penuh kegusaran, ia segera mengeluarkan ilmu silat Pat-kwaciangnya dan menyerang bertubi-tubi.

Berselang beberapa saat, bagaikan kilat tinju-nya mampir di pundak si tua yang lantas saja jadi sempoyongan.

"Loo-thio, coba mundur!"

Seru seorang kawan-nya.

Berbareng dengan seruannya, dengan suatu ge-rakan indah, orang itu loncat turun dari pelana.

Agaknya ia sangat disegani oleh si tua yang dengan sikap menghormat, buruburu mundur ke belakang.

Melihat gerakan orang itu yang luar biasa, Siang Po Cin lantas saja berwaspada.

Muka orang itu berwarna ungu, parasnya angker dan badannya ting-gi besar.

Sambil menggendong tangan ia mengawasi Siang Po Cin dan berkata.

"Apakah kau murid Pat-kwa-bun? Siapa gurumu? She Tie atau she Siang?"

Suara sombong dan lagak angkuh orang itu, sudah lebih menggusarkan Siang Po Cin.

"Tak usah tahu!"

Ia membentak. Orang itu bersenyum.

"Mengenai orang-orang Pat-kwa-bun, aku justru berhak mencari tahu,"

Katanya.

Siang Po Cin sebenarnya seorang yang sangat hati-hati.

Tapi hari itu, berhubung dengan kemen-dongkolannya, ia tak dapat berpikir secara tenang lagi dan tidak bisa menangkap maksud tersembunyi dalam kata-kata orang itu.

Demikianlah, dalam ke-gusarannya, dengan gerakan Pek-lui-tui-tee (Geledek menyambar ke bumi), ia menghantam lutut orang itu.

Yang diserang tertawa, kedua tangannya tetap digendong di belakang.

Dengan sekali mengisarkan kaki kirinya, ia sudah dapat memunahkan serangan Siang Po Cin.

Melihat serangan pertamanya di-punahkan secara begitu gampang, Siang Po Cin segera menyerang dengan ilmu Yoe-sin Pat-kwa-ciang.

Kedua kakinya menginjak garis Pat-kwa (De-lapan segi), sedang kedua tangannya menghantam musuh dengan pukulanpukulan berantai, yang satu lebih cepat dari yang lain.

Tapi orang yang diserang itu tetap berlaku tenang.

Kedua tangannya tetap berada di belakang-nya, sama sekali ia tidak berkelit atau mengegos, hanya kedua kakinya berkisar ke sana sini dalam suatu lingkaran yang sangat kecil.

Tapi sungguh heran, semua pukulan Siang Po Cin jatuh di tempat kosong, tak pernah melanggar ujung bajunya.

Orang itu seolah-olah sudah mengetahui, ke arah mana Siang Po Cin akan memukul.

Melihat pertunjukan luar biasa itu, semua orang jadi merasa kagum.

Siang Po Cin menjadi semakin gusar dan menyerang semakin hebat.

Tapi orang itu tetap meladeninya dengan caranya yang aneh.

Perlahan-Iahan putera Siang Kiam Beng ini mendapat kenyataan, bahwa kedua kaki musuhnya juga menginjak garisan Pat-kwa.

Lantas saja ia ingat, bagaimana ibunya pernah menceritakan, bah-wa dalam partai Pat-kwa-bun terdapat serupa ilmu yang dinamakan Lwee-pat-kwa (Pat-kwa Dalam).

Akan tetapi, orang yang ingin mempelajari ilmu tersebut, harus menyelami dulu ilmu Gwa-pat-kwa (Pat-kwa Luar).

Seorang yang sudah mahir dengan Lwee-pat-kwa, tanpa banyak bergerak dapat men-jatuhkan musuhnya yang berkepandaian tinggi.

Sekarang Siang Po Cin insyaf, bahwa lawannya sudah berlaku sangat murah hati terhadap dirinya.

Jika orang itu mau, dengan sekali menghantam, dia akan rubuh.

Mengetahui itu, semakin lama ia jadi semakin ketakutan, sampai akhirnya ia meloncat ke belakang dan berkata sembari merangkap kedua tangannya.

"Boanpwee (orang yang tingkatannya lebih rendah) mempunyai mata, tapi tak bisa melihat gunung Taysan yang besar. Tak dinyana, Boanpwee sekarang sedang berhadapan dengan Cian-pwee (orang yang tingkatannya lebih tinggi) dari partai kita!"

Orang itu tertawa.

"Siapa gurumu? She Tie atau she Siang?"

Tanyanya lagi.

Siang Po Cin bingung, karena ibunya pernah memesan, bahwa untuk ke-pentingan urusan pembalasan sakit hati, ia tidak boleh sembarang memperkenalkan dirinya kepada orang luar.

Siang Loo-tay khawatir, jika sebelum temponya tiba, musuh-musuhnya akan sudah mengetahui, bahwa dia adalah putera Siang Kiam Beng.

Melihat kesangsian Siang Po Cin, orang itu tertawa seraya berkata.

"Jika tak salah, ilmu silatmu didapat dari Siang Kiam Beng Suheng. Toako, bagaimana pendapatmu? Benar tidak?"

Perkataannya yang terakhir ini ditujukan kepada seorang tua yang duduk di punggung kuda. Orang tua itu, yang berusia kira-kira lima puluh tahun, segera loncat turun dari kudanya dan berkata.

"Mana gurumu? Aku adalah Ong Supehmu (Supeh berarti paman guru yang berusia lebih tinggi dari sang guru). Yang itu adalah saudaraku. Pergilah memberi hormat kepada Susiokmu (Susiok adalah paman guru yang berusia lebih muda dari guru sendiri)."

Sehabis berkata begitu, orang itu tertawa berkakakan.

Siang Po Cin mengetahui, bahwa guru ayahnya adalah Wiecin Ho-sok Ong Wie Yang (Ong Wie Yang yang menggetarkan daerah sebelah utara su-ngai Hongho).

Cong-piauw-tauw (pemimpin besar) dari Tin-wan Piauw-kiok di Pakkhia.

Mendengar orang itu mengaku she Ong dan ilmu silatnya adalah ilmu silat Pat-kwa-bun, ia merasa pasti, bahwa mereka berdua benar adalah Supeh dan Susioknya sendiri.

Akan tetapi, sebagai seorang yang hati-hati, ia masih merasa perlu untuk menanya.

"Pernah apa kedua Cianpwee dengan Wie-cin Ho-sok Ong Loo-piauwtauw?"

"Ia adalah mendiang ayah kami,"

Jawab orang tua itu.

"Apakah kau masih belum mau pereaya? Di mana adanya Siang Sutee (adik seperguruan)?"

Sekarang Siang Po Cin tidak bersangsi lagi. Ia segera menjatuhkan diri di atas tanah sambil memanggil Supeh dan Susiok.

"Ayahku sudah mening-gal dunia,"

Katanya.

"Apakah Supeh dan Susiok tidak menerima warta?"

Orang tua itu bernama Ong Kiam Eng, sedang adiknya adalah Ong Kiam Kiat, kedua-duanya pu-tera Ong Wie Yang.

Dulu, dengan sepasang ta-ngannya dan sebilah golok Patkwa-to, Ong Wie Yang sudah menggetarkan seluruh kalangan Rimba Hijau (Liok-lim) di sebelah utara Sungai Hongho, sehingga dalam kalangan Hek-to (Kalangan pen-jahat) terdapat kata-kata yang seperti berikut.

"Le-bih baik bertemu dengan Giam Lo-ong (Raja Akhe-rat) daripada bertemu dengan Loo-ong (orang tua she Ong)."

Dari kata-kata ini dapatlah dibayangkan besarnya nama Ong Wie Yang pada jaman itu.

Tapi pada saat itu ia sudah meninggal dunia banyak tahun berselang.

Meskipun menjadi murid, perhubungan Siang Kiam Beng dengan gurunya tidak begitu baik.

Sesudah meninggalkan rumah perguruan, dia jarang sekali surat-menyurat.

Kedua saudara Ong, yang belakangan bekerja di dalam istana, juga tidak ter-lalu memperhatikan adik seperguruan mereka dan itulah sebabnya, mengapa, walaupun letak Shoa-tang tidak terlalu jauh dari kota raja, mereka berdua sama sekali tidak mengetahui tentang kebinasaan Siang Kiam Beng.

Ong Kiam Eng menghela napas dan berbicara bisik-bisik dengan si kongcu yang, sembari melirik Ma It Hong, lantas saja manggut-manggutkan ke-palanya.

"Apakah rumahmu jauh dari sini?"

Tanya Kiam Eng.

"Aku dan saudaraku ingin sekali bersembah-yang di meja abu mendiang ayahmu. Kita sudah berpisahan dua puluh tahun lebih lamanya, tak nyana tidak bisa bertemu muka lagi."

Ia kembali menghela napas dan berkata pula sambil menunjuk kongcu yang cakap itu.

"Hayolah memberi hormat kepada Hok Kongcu. Kami berdua bekerja di bawah perintahnya."

Melihat pakaian dan sikap kongcu itu yang agung, apalagi sesudah mendengar bahwa kedua saudara Ong adalah kaki tangannya, Siang Po Cin mengetahui bahwa dia itu tentu juga seorang "kongcu mahal"

Di kota raja. Lantas saja ia memberi hormat dengan berlutut. Hok Kongcu tidak membalas hormat. Ia hanya mengangkat kedua tangannya seraya berkata.

"Ba-ngunlah!"

Siang Po Cin agak mendongkol.

"Sombong sungguh kau!"

Katanya di dalam hati.

"Apakah kau Hongtee (kaisar)?"

Ketika mereka tiba di Siang-kee-po, orang sudah mengetahui tentang kaburnya Ouw Hui dan sedang mencarinya.

Siang Po Cin segera masuk dan memberitahukan ibunya.

Mendengar kunjungan kedua saudara seperguruan mendiang suaminya, Siang Loo-tay kaget berbareng girang dan buru-buru keluar menyambut.

Dalam kerepotannya, ia menyampingkan soal larinya Ouw Hui.

Ong Kiam Eng lalu memperkenalkan kawan-kawannya kepada nyonya Siang.

Ternyata di antara sembilan orang itu.

ada lima orang yang termasuk ahli silat kelas satu dari Rimba Persilatan.

Di sam-ping kedua saudara Ong, tiga ahli lainnya adalah.

Tan Ie dari Thay-kek-bun, Ouw Poan Jiak dari Siauwlim-pay dan In Tiong Shiang dari Thian-liong-bun cabang Selatan.

Tan Ie dan In Tiong Shiang sudah lama mendapat nama besar dalam kalangan Kang-ouw, sedang Ouw Poan Jiak, walaupun masih muda, kelihatannya bersemangat sekali dan dari kedua tangannya yang keras dan ber-tenaga, dapat diketahui, bahwa dia bukan orang sembarangan.

Tiga orang lainnya adalah orang ke-pereayaan Hok Kongcu.

Si orang tua yang kena dihantam Siang Po Cin dikenal sebagai Thio Congkoan (Cong-koan berarti pengurus), orang yang berkuasa dalam gedung Hok Kongcu.

Demikianlah, satu demi satu Ong Kiam Eng memperkenalkan kawan-kawannya.

Mengenai "kongcu mahal"

Itu, Kiam Eng hanya menyebut "Hok Kongcu"

Dan sama sekali tidak menjelaskan, siapa sebenarnya dia.

Ketika kedua saudara Ong menanyakan hal ihwal meninggalnya Siang Kiam Beng, nyonya siang memberitahukan, bahwa suaminya meninggal dunia karena sakit.

la memberikan jawaban begitu karena kesombongannya dan ia sungkan mengakui, bahwa Siang Kiam Beng telah dibinasakan oleh Ouw It To.

Selain itu, ia juga sudah mengambil keputusan, bahwa sakit hati itu harus dibalas dengan tangan sendiri dan tak boleh meminta pertolongan orang lain.

Selagi nyonya rumah asyik bereakap-cakap dengan para tetamunya, Ma It Hong masuk ke dalam dan memberitahukan segala pengalamannya ke-pada sang ayah.

Mendengar bahwa A-hui adalah putera Ouw It To, Ma Heng Kong kaget bukan main.

Tapi ia agak kurang pereaya, bahwa bocah kurus itu mempunyai kepandaian yang lebih tinggi dari pada Siang Po Cin, Cie Ceng yang berada di situ, hanya tutup mulut.

Sesudah bereakap-cakap beberapa lama, Ma It Hong segera meninggalkan kamar ayahnya untuk kembali ke kamarnya sendiri.

Cie Ceng mengikuti dan memanggil.

"Sumoay!"

"Apa?"

Tanya si nona yang mukanya lantas saja berubah merah. Cie Ceng mengulurkan tangannya untuk men-cekal tangan tunangannya. Ma It Hong mundur sembari berkata.

"Nanti dilihat orang. Kau tidak malu?"

"Malu?"

Cie Ceng menegas.

"Tengah malam buta kau pergi keluar bersama-sama bocah she Siang itu. Bikin apa kau?"

Si nona naik darah.

"Apakah maksud per-kataanmu?"

Tanyanya dengan suara gusar.

"Aku tanya. Apakah maksudnya kamu keluar berdua-dua?"

Kata Cie Ceng.

Sebenarnya dalam hari-hari sebelumnya Cie Ceng selalu berlaku manis terhadap Sumoaynya.

Sekarang ia tak dapat menahan sabar lagi karena rasa curiga dan iri hatinya.

Dilain pihak, karena khawatir diomeli ayahnya, Ma It Hong tidak berani bicara sejujurnya, bahwa ia keluar dengan maksud meminta Siang Po Cin melepaskan Ouw Hui.

Tapi Ma Heng Kong sendiri, sesudah mendengar pembicaraan antara Siang Loo-tay dan pu-teranya, menduga keras, bahwa kedua orang muda itu telah sengaja membuat pertemuan di waktu tengah malam.

Ia tidak mau menegur puterinya, karena Cie Ceng berada bersama-sama dengan mereka.

Dalam sengketa itu, dapat dimengerti, jika Ma It Hong naik darah.

Beda dengan biasanya dan secara tak dinyana, baru saja ayahnya merangkap jodoh mereka, Suko itu lantas saja berlaku sedemikian kasar.

Kalau sekarang saja sudah begitu, bagaimana jika sudah menjadi suami isteri?

Sebenar-benarnya, jika It Hong mau bicara terus-terang dengan mudah Cie Ceng dapat dibikin mengerti.

Tapi, karena sudah ketelanjur marah-marah, si nona sungkan mengalah lagi.

"Dengan siapa aku suka pergi, aku merdeka untuk pergi,"

Katanya sambil melotot.

"Kau punya hak apa untuk mencampuri urusan pribadiku?"

Seorang yang sudah timbul iri hatinya dalam soal pereintaan, tak akan dapat menggunakan lagi otaknya secara tenang. Seluruh muka Cie Ceng lantas berubah merah.

"Dulu memang tidak, tapi sekarang aku mempunyai hak penuh!"

Ia berteriak. It Hong merasakan dadanya seakan-akan mau meledak dan seperti biasanya, jika seorang wanita gusar, mengucurnya air mata tak dapat ditahan lagi.

"Sekarang kau sudah begitu,"

Katanya sesenggukan.

"Apa lagi nanti?"

Melihat tunangannya menangis, Cie Ceng merasa kasihan.

Tapi rasa kasihan itu lantas saja ter-tutup rasa cemburunya.

Di depan matanya ter-bayangkan,bagaimana tunangannya berada berdua-dua dengan Siang Po Cin.

Hinaan itu sungguh tak dapat ditelan olehnya.

"Kau bikin apa?"

Ia berteriak pula.

"Bilang! Hayo, bilang!"

Tapi semakin dikerasi, si nona jadi semakin kepala batu.

Pada saat itu, secara kebetulan, atas perintah ibunya, Siang Po Cin masuk ke dalam untuk meng-undang Ma Heng Kong menjumpai kedua saudara Ong.

Melihat Cie Ceng dan Ma It Hong sedang bertengkar, tanpa merasa ia menghentikan tindakannya.

Kedatangan Siang Po Cin adalah seolah-olah ular mencari penggebuk.

Cie Ceng yang sedang mata gelap dan diliputi rasa cemburu, lantas saja menumpahkan amarahnya di atas kepala pemuda she Siang itu.

"Biar aku mampuskan kau, anak anjing!"

Ia berteriak sembari menerjang. Siang Po Cin menjadi gelagapan.

"Eh-eh! Ke-napa kau?"

Tanyanya.

Karena diserang secara tidak diduga-duga, dadanya kena dihajar telak oleh tinju Cie Ceng.

Ia terhuyung dan sesudah lawannya mengirimkan pu-kulan ketiga, baru ia dapat membela diri.

Di lain saat, mereka sudah bertempur dengan serunya.

Ma It Hong yang sedang mendongkol dan pe-nasaran, lantas saja berjalan pergi tanpa memper-dulikan bagaimana kesudahan pertempuran itu.

Dengan pikiran kusut, ia menuju ke taman bunga yang terletak di belakang gedung dan duduk terpekur di sebuah kursi batu.

"Apakah seumur hidup aku harus menyerahkan nasibku ke dalam tangan seorang yang begitu macam?"

Katanya di dalam hati.

"Sekarang saja, sedang ayah masih hidup, ia sudah berani berbuat begitu. Apalagi nanti, jika ayah sudah menutup mata?"

Mengingat begitu, tanpa merasa air matanya turun berketel-ketel di kedua pipinya.

Entah berapa lama ia sudah duduk bengong di situ, ketika tiba-tiba, kupingnya menangkap bunyi seruling yang keluar dari semak-semak pohon bunga.

Dalam suasana sunyi senyap, sungguh merdu terdengarnya bunyi seruling itu.

Hati si nona jadi berdebar-debar.

Semakin didengar, tiupan lagu itu semakin merdu.

Perlahan-lahan ia berdiri dan ber-jalan ke arah bunyi itu.

Ternyata, yang meniup seruling adalah seorang lelaki yang duduk di bawah sebuah pohon Hay-tong.

Ia mengenakan thungsha (jubah panjang) warna biru, sedang serulingnya vang terbuat dari batu Giok berwarna sama dengan kedua tangannya yang putih halus.

Lelaki itu bukan lain daripada Hok Kongcu.

Sambil terus meniup serulingnya, Hok Kongcu mengangguk, maksudnya agar si nona maju terlebih dekat.

Sikap pemuda itu, yang menarik tereampur angker, seolaholah mempunyai tenaga besi berani vang tak dapat ditolaknya.

Paras muka It Hong lantas saja bersemu dadu dan perlahanlahan ia menghampiri.

Sembari mendengarkan permainan seruling yang merdu merayu itu, tanpa merasa tangan si nona memetik sekuntum bunga mawar yang lalu ditempelkan pada hidungnya.

Seruling...

mawar...

suasana senja yang hening suci dan seorang pemuda yang cakap, halus serta agung.

Dalam suasana bagaikan dalam impian, It Hong mendadak teringat akan Cie Ceng yang kasar.

Di-rendengkan dengan Hok Kongcu, perbedaannya adalah seperti antara langit dan bumi.

Dengan sorot mata halus, It Hong mengawasi kongcu mahal"

Itu.

Ia tak ingin menanya siapa dia, tak ingin mengetahui apa dia sudah kawin atau belum.

Ia hanya merasakan, bahwa berhadapan dengan pemuda itu, hatinya senang sekali.

Jika ingin menggunakan kata-kata tanpa tedeng-tedeng.

Ma It Hong sekarang sudah jatuh cinta!

Puteri Ma Heng Kong ini adalah seorang gadis yang masih sangat hijau.

Ia menganggap, beradanya si kongcu dalam taman bunga itu, sudah terjadi secara kebetulan saja, dan juga, bahwa Hok Kongcu sama sekali tidak mengambil inisiatif untuk mengilik-ngilik hatinya.

Tentu saja, ia tidak mengetahui, bahwa jika bukan karena kecantikannya, Hok Kongcu pasti tidak akan mampir di rumah Siang Kiam Beng.

Apakah artinya Siang Kiam Beng bagi seorang kongcu yang semahal dia?

Tentu saja, Ma It Hong tidak mengetahui, bahwa jika ia tidak duduk be-ngong di taman bunga, Hok Kongcu pasti tidak meniup serulingnya.

Harus diketahui, bahwa di kota raja, bukan main kesohornya kepandaian meniup seruling Hok Kongcu.

Raja-raja muda dan orang-orang "mahal"

Lainnya tak gampang-gampang bisa mendengar tiupan serulingnya itu.

Dan sebagai seorang yang ahli dalam hal menaklukkan wanita, sikapnya yang lemah lembut dan sinar matanya yang redup halus, banyak lebih ber-harga daripada ribuan katakata.

Dilain saat, Hok Kongcu berhenti meniup serulingnya dan tanpa mengeluarkan sepatah kata ia mengulurkan sebelah tangannya untuk memeluk pinggang Ma It Hong.

Dengan kemalu-maluan si nona menyingkir.

Tapi ketika si kongcu mengang-surkan tangan untuk kedua kalinya, It Hong tidak kuat menolak lagi.

Ah!

Cinta adalah mulia dan suci bersih!

Tapi berapa banyak perbuatan kotor sudah terjadi dalam dunia ini, dengan menggunakan "cinta"

Sebagai kedoknya?

Otak Ma It Hong yang sudah kacau, tak bisa bekerja lagi seperti biasa.

la tak ingat lagi akan segala akibat, ia tak memikirkan lagi, apakah tidak mungkin, jika ada orang yang secara kebetulan akan masuk ke dalam taman bunga itu.

Tapi, si kongcu "mahal"

Sendiri, sebelum masuk ke taman, sudah memperhitungkan itu semua. Lebih dulu, ia memerintah Tan Ie menemani Ma Heng Kong, kedua saudara Ong diperintahnya "mengikat"

Siang Loo-tay dan puteranya, ia menugaskan Ouw Poan Jiak menempel Cie Ceng dan akhirnya, ia memerintah In Tiong Shiang menjaga di pintu taman dengan pesan.

Siapa pun tak boleh masuk!

Dan tentu saja, tak seorang manusia masuk ke situ.

Demikianlah, pada hari kedua sesudah ditu-nangkan, puteri tunggal Pek-seng Sin-kun Ma Heng Kong sudah menjadi gulagula si kongcu "mahal"!

Malam itu, di Siang-kee-po diadakan pesta be-sar untuk menghormati kunjungan Hok Kongcu dan rombongannya.

Oleh karena nyonya rumah dan para tetamu semua terdiri dari orang-orang Rimba Persilatan, maka tak ada perbedaan antara lelaki perempuan dan Siang Loo-tay serta Ma It Hong duduk bersama-sama dengan yang lain.

Dulu, Ma Heng Kong mengenal Ong Wie Yang sebagai seorang rekan dalam perusahaan sejenis (Piauw-kiok).

Akan tetapi, sesudah Ong Wie Yang meninggal dunia, Tin-wan Piauw-kiok ditutup dan kedua saudara Ong bekerja kepada pembesar ne-geri, Kiam Eng dan Kiam Kiat tak bisa disebut rekan lagi.

Tapi, kedua saudara Ong juga sudah lama mendengar nama besar Ma Heng Kong, sehingga mereka masih mengindahkan orang tua itu.

Ma It Hong duduk dengan muka bersemu dadu.

Kedua matanya bersinar luar biasa, seperti tengah memandang sesuatu yang jauh, jauh sekali.

Ia memandang semua orang, tapi ia tidak melihat Pak-khia.

Dapat diduga, bahwa hatinya sedang meng-ingat kejadian itu magrib tadi.

Tiba-tiba, seorang kee-teng (pelayan atau bujang) menghampiri Siang Loo-tay dengan tindakan terburu-buru dan berkata dengan suara perlahan.

"Loo-tay-tay, bangsat she Peng itu sudah ditolong orang."

Nyonya Siang terkejut, tapi parasnya sedikit pun tidak berubah dan ia terus melayani para tamu-nya.

Sekonyong-konyong, bagaikan halilintar di tengah hari oolong, dengan suatu suara gedubrakan, dua belah daun pintu depan terpental dan jatuh di lantai!

Sebelum orang mengetahui apa yang terjadi, seorang bocah kecil kurus berdiri di tengah-tengah pintu, sambil menolak pinggang!

Dalam tugas melindungi keselamatan Hok Kongcu, meskipun berada di meja perjamuan, kedua saudara Ong dan yang Iain-lain tetap membekal senjata.

Begitu daun pintu terpental, mereka serentak meloncat bangun dan berdiri di sekitar kongcu mereka.

Tapi setelah melihat, bahwa yang mun-cul hanya seorang bocah kurus yang tidak membawa kawan, mereka semua saling memandang dengan perasaan heran.

"Apa bisa jadi, bocah itu yang menghantam daun pintu sehingga terpental?"

Tanya mereka di dalam hati.

Bocah kurus kecil itu tentu saja bukan lain daripada Ouw Hui.

Sesudah menyelamatkan Peng Ah Sie dan Siang dari Siang-kee-po, hatinya masih tetap menggerodok.

Ia ingat cambukan Siang Po Cin dan ingat pula kelicikan Siang Loo-tay.

Maka itu, lantas saja ia kembali ke Siang-kee-po untuk melampiaskan amarahnya.

"Siang Loo-tay!"

Ia membentak dengan nyaring.

"Jika kau mempunyai kepandaian, sekaranglah coba-coba kau pegang diriku!"

Badannya kecil kurus, suaranya masih seperti suara anak-anak, tapi sikapnya adalah sikap ksatria. Begitu melihat anak musuh besarnya, kedua mata nyonya Siang seperti juga mengeluarkan api.

"Kau potong jalan mundurnya jangan membiar-kan dia lari,"

Ia berbisik di kuping puteranya. Sesudah itu, ia menengokdan berkata kepada seorang pelayannya.

"Ambil golokku."

Perlahan-lahan, Siang Loo-tay berdiri.

"Siapa yang melepaskan kau?"

Ia membentak.

"Apakah Ma Loo-kun-su?"

Sedikitpun ia tidak pereaya, bahwa Ouw Hui dapat melepaskan dirinya sendiri.

"Bukan,"

Jawab Ouw Hui sembari menggeleng-kan kepala.

"Apakah dia?"

Nyonya Siang menuding Cie Ceng. Ouw Hui tetap menggelengkan kepalanya.

"Kalau begitu, tentu nona... nona itu,"

Kata Siang Loo-tay sembari menunjuk It Hong. Ouw Hui tertawa sembari manggut.

"Tak salah,"

Ia berteriak.

"Nona itu adalah penolong jiwaku!"

Maksud satu-satunya dari pengakuan Ouw Hui adalah untuk mengutarakan rasa terima kasihnya kepada It Hong.

Ia sama sekali tidak menduga.

bahwa kata-katanya itu hampirhampir saja meng-ambil jiwa nona Ma.

Dengan muka menyeramkan, Siang Loo-tay melirik It Hong.

"Ayahmu, Ouw It To, kenapa tidak datang sendiri?"

Tanyanya pula. Mendengar itu, kedua saudara Ong terkesiap.

"Sudah lama ayahku meninggal dunia,"

Jawab Ouw Hui dengan tenang.

"Jika kau ingin membalas sakit hati, balaslah terhadap aku."

Paras muka Siang Loo-tay menjadi pucat ba-gaikan mayat.

"Apakah benar?"

Tanyanya.

"Jika ayahku masih hidup, kau berani memukul aku?"

Kata Ouw Hui. Sembari mengangkat Pat-kwa-to itu tinggi-ting-gi, sekonyong-konyong Siang Loo-tay menangis ke-ras.

"Ouw It To! Ouw It To!"

Ia berteriak.

"Kenapa kau buru-buru mampus? Tak boleh kau mampus begitu cepat!"

Ouw Hui menjadi bingung.

Otaknya yang masih sederhana tidak mengerti, kenapa nyonya itu men-dadak menangisi kematian ayahnya.

Sesudah berteriak beberapa kali, mendadak nyonya Siang berhenti menangis.

Ia menyusut air matanya dengan tangan baju, maju setindak dan dengan sekali memutarkan ba-dan, ia menyabet leher Ouw Hui dengan Pat-kwa-tonya.

Itulah serangan yang tidak diduga-duga, sehing-ga semua orang jadi terkesiap.

Sabetan itu, yang dinamakan Hui-sin-pek-shoa-to (Sabetan menghantam gunung sembari memutarkan badan, adalah salah satu pukulan terhebat dari ilmu golok Pat-kwa-to.

Menurut perhitungan, ja-ngankan seorang bocah, sekalipun ahli silat yang berkepandaian tinggi akan sukar meloloskan diri.

Tapi, diluar semua perhitungan, dengan sekali mengegos Ouw Hui sudah berhasil mengelit serangan itu dan berbareng dengan itu, mengulurkan ta-ngannya untuk mengetok pergelangan tangan Siang Loo-tay.

Melihat bocah itu bukan saja bisa menyelamatkan diri, tapi juga dapat melakukan serangan pembalasan, tak ada seorang pun yang tidak terperanjat.

Harus diketahui, bahwa Siang Loo-tay adalah seorang isteri yang sangat mencinta suaminya.

Bahwa dia tidak menggorok lehernya sendiri untuk mengikuti sang suami berpulang ke alam baka, adalah karena ia ingin membalas sakit hati itu dengan tangan sendiri.

Sekarang, setelah menge-tahui musuh besarnya sudah meninggal dunia, bukan main rasa kecewa dan menyesalnya.

Tujuan satu-satunya adalah membinasakan bocah itu, pu-tera tunggal Ouw It To.

Maka itu, lantas saja ia menyerang dengan mata merah dan setiap setangannya adalah serangan yang membinasakan.

Selama hidupnya, inilah untuk pertama kalinya Ouw Hui menghadapi musuh dan musuh yang sung-guh-sungguh berat.

Tapi, tak usah malu Ouw Hui menjadi putera tunggal Liao-tong Tayhiap Ouw It To.

Dengan memiliki nyali besar, bukan saja ia tidak menjadi gentar, semangatnya malah meluap-luap.

I a bukan hanya membela diri, ia balas menyerang dengan tangan kosong, menggunakan ilmu Kinna-chiu (Ilmu menangkap) dan Liong-heng-jiauw (Ilmu kuku naga).

Ketika melihat Siang Loo-tay membuka serangan dengan menggunakan pukulan istimewa ilmu Pat-kwa-to, kedua saudara Ong merasa agak menyesal, bahwa dalam menghadapi seorang bocah, nyonya itu sudah menggunakan ilmu simpanan.

Tapi semakin heran.

Ilmu Pat-kwa-to yang dike-luarkan oleh Siang Loo-tay boleh dibilang sudah sempurna dan ditambah kenekatannya, serangan-serangan itu sudah cukup untuk merubuhkan ahli silat kelas utama.

Tapi, tak dinyana-nyana, sebalik-nya dari keteter, bocah itu malah berada di atas angin.

Di lain saat, Siang Loo-tay sudah dikurung dengan pukulan-pukulan aneh yang menyambarnyambar bagaikan hujan dan angin.

Mendadak, dengan berbunyi nyaring, pipi kiri nyonya Siang kena digaplok, disusul suatu tamparan pada pipi kanannya.

"Soso (isteri kakak)! Coba mundur dulu!"

Seru Ong Kiam Kiat.

"Biar aku yang melayani bocah itu."

Sembari berseru, dengan menenteng golok, ia meloncat ke dalam gelanggang.

Tapi, baru saja kedua kakinya hinggap di lantai, suatu sinar hijau berkelebat menyambar mukanya, dibarengi dengan teriakan "A-ya!"

Dan rubuhnya Siang Loo-tay.

Buru-buru Ong Kiam Kiat menyam-pok sinar hijau itu yang ternyata adalah sebilah golok tapi dengan kecepatan luar biasa, golok itu berubah arah, dari membacok dari atas jadi mem-babat dari samping.

Diserang secara begitu, Ong Kiam Kiat menjadi repot sekali.

Ternyata, sesudah menggampar dua kali, Ouw Hui merasa puas.

Dengan menggunakan ilmu Kin-na-chiu, ia mencengkeram pergelangan tangan siang Loo-tay dan merebut Pat-kwa-tonya, diba-rengi dengan suatu tendangan, sehingga nyonya itu jungkir balik dan rubuh terpelanting di atas lantai.

Sebelum Ong Kiam Kiat datang dekat, ia sudah mendahului dengan tiga serangan kilat, sehingga lawannya menjadi repot.

Harus diketahui, bahwa Ong Kiam Kiat adalah ahli kelas utama dari partai Pat-kwa-bun dan ilmu silatnya pada waktu itu, sedikit pun tidak berada di sebelah bawah Siang Kiam Beng.

Tapi, karena memandang rendah musuhnya, ia kena didahului dan menjadi gelagapan.

Sesudah lewat tiga serangan berantai itu, baru ia bisa menetapkan hatinya dan membela diri se~ rapat-rapatnya, untuk lebih dulu menyelidiki ilmu golok si bocah.

Salah seorang penonton yang paling memper-hatikan pertempuran itu, adalah Hok Kongcu.

Bu-kan main herannya kongcu "mahal"

Itu, setelah menyaksikan, bagaimana seorang bocah yang baru berusia belasan tahun, dapat menandingi jagoan kelas satunya.

Selagi mengawasi dengan penuh perhatian, mendadak hidungnya mengendus bau wangi pupur.

Ia melirik dan melihat It Hong berdiri di dekatnya.

Dengan berani, ia mengulurkan tangan-nya untuk mencekal bahu si nona.

Oleh karena semua mata ditujukan ke arah gelanggang pertempuran, perbuatannya itu tidak dilihat orang.

Sembari bertempur, Ong Kiam Kiat terheran-heran.

Ia adalah seorang ahli berpengalaman yang mengenal macammacam ilmu dari berbagai partai atau cabang persilatan.

Dan ia sungguh tereengang, bahwa sesudah bertanding lama juga, ia belum dapat meraba ilmu apa yang digunakan Ouw Hui.

Apakah ilmu keras?

Apakah ilmu lembek?

Mungkinkah Gwakee (Ilmu luar)?

Atau Lwee-kee (Ilmu da-lam)?

Sedikitpun ia tak dapat merabanya.

Yang merupakan kenyataan adalah.

Bocah itu teguh ba-gaikan gunung, lunak seperti air dan cepat laksana kilat.

Sesudah lewat lagi beberapa saat, Kiam Kiat menjadi bingung.

Dalam gedung Hok Kongcu, ia mempunyai kedudukan tinggi.

Tapi sekarang, menghadapi seorang bocah saja, ia belum bisa men-dapat kemenangan sesudah bertempur puluhan jurus.

Andaikata belakangan ia berhasil juga mem-binasakan Ouw Hui, tapi jika ia memerlukan tempo terlalu lama, di mana ia dapat menempatkan muka-nya?

Memikir begitu, lantas saja ia merubah cara bersilatnya.

Sembari mencekal goloknya erat-erat, badannya berputarputar dengan kecepatan luar biasa.

Harus diketahui, bahwa Pat-kwa Yoe-sin-ciang (Ilmu pukulan Pat-kwa sembari berlari-lari) adalah ilmu yang kesohor di seluruh wilayah Tiong-goan.

Dalam menggunakan ilmu tersebut, orang harus bertempur sembari lari berputarputar, dengan ke-dua kakinya tetap berada dalam garis-garis Pat-kwa.

Diserang secara begitu, si musuh tentu saja harus turut berputar-putar.

Jika musuh tidak turut memutarkan badan, ia akan kena diserang dari be-lakang.

Demikianlah, bagi orang yang tidak terlatih, dalam tempo cepat, matanya akan berkunang-ku-nang.

Ilmu itu adalah salah satu ilmu yang paling lihay dalam Rimba Persilatan.

Di bawah pimpinan ayahnya setiap pagi Ong Kiam Kiat harus berlatih tiga kali dan saban kalinya, ia harus lari berputaran lima ratus dua belas kali.

Sebelum tidur, ia juga harus berlatih tiga kali.

Dengan begitu, saban hari ia harus berputar-putar di dalam lingkaran besar, lingkaran menengah dan lingkaran kecil lebih dari tiga ribu kali.

Latihan tersebut dilakukannya terus-menerus selama dua puluh tahun lebih, maka tidak mengherankan, jika gerakan kakinya sudah menjadi wajar dan tak usaha diperhatikan lagi.

Yang masih memerlukan per-hatiannya hanyalah kedua tangannya yang mengi-rimkan pukulanpukulan ke arah musuh.

Dalam sekejap Ouw Hui sudah terkurung di tengah-tengah bayangan golok.

Ia mengenal ba-haya, sembari mengempos semangatnya, ia menge-luarkan ilmu mengentengkan badannya.

Dengan kegesitan dan kelincahannya, loncat kian kemari untuk meloloskan diri dari serangan-serangan yang luar biasa itu.

Ma Heng Kong mengawasi dengan rasa kaget dan heran.

"Sungguh malu!"

Katanya di dalam hati.

Tak dinyana, bayangan yang kulihat adalah bayangan bocah itu.

Jika tidak bertemu dia, aku tentu tidak mengetahui kebusukan Siang Loo-tay.

Macan yang bersembunyi di Siang-kee-po ternyata bukan lain daripada anak kurus itu.

Ah!

Seumur hidupku aku berkelana di dunia Kang-ouw, tapi masih bisa salah mata."

Sembari berpikir begitu, kedua matanya menyapu seluruh ruangan. Mendadak ia mendapat kenyataan, bahwa puterinya dan muridnya tidak berada di dalam ruangan tersebut.

"Benar gila!"

Katanya dengan mendongkol.

"Selama hidup, be-rapa kali orang bisa menyaksikan pertandingan yang begini seru? Tapi orang muda hanya mengingat soal pereintaan. Kalau sudah menjadi suami isteri, bu-kankah masih ada banyak tempo untuk bereakap-cakap siang-hari-malam?"

Tapi Ma Loopiauwtauw salah menduga.

Memang benar Ma It Hong keluar untuk bereinta-cintaan, tapi tidaklah benar ia bereinta-cintaan dengan tunangannya.

Sekonyong-konyong, berbareng dengan suatu bunyi nyaring, lelatu api berhamburan ke empat penjuru, akibat bentrokan golok kedua orang yang sedang bertempur itu.

Begitu kedua golok mereka kebentrok, Ong Kiam Kiat menjadi girang.

"Ah!"

Katanya di dalam hati.

"Meskipun ilmu silatnya cukup tinggi, tenaga bocah ini masih terlalu kecil. Dengan beberapa bentrokan lagi, aku pasti akan dapat membikin goloknya terpental."

Memikir begitu, lantas saja ia memperhebat serangannya sambil mengerahkan tenaga dalamnya, sehingga mau tidak mau, Ouw Hui terpaksa menyambut kekerasan dengan kekerasan.

Baru saja goloknya beradu lima enam kali, lengan-nya sudah kesemutan.

Sedari bermula, pertandingan itu berjalan secara pincang.

Tubuh Ong Kiam Kiat tinggi besar, sedang badan Ouw Hui kurus kecil, tingginya belum sampai pada leher lawan.

Yang satu menunduk dan menyabet dengan goloknya dari atas ke bawah, yang lain mesti mendongak untuk menyambut sabetan itu.

Kepincangan itu menyolok sekali.

Andaikata kepandaian dua lawan itu setanding, Ouw Hui akan masih berada di bawah angin juga, karena tubuhnya yang begitu kecil dan kate.

Dalam keadaan berbahaya itu, otak Ouw Hui yang sangat cerdas mendadak mengingat sesuatu.

Ia meloncat keluar dari gelanggang seraya ber-teriak.

"Tahan!"

Dengan Ouw Hui, Ong Kiam Kiat sebenarnya tidak merapunyai permusuhan apa-apa. Sesudah melihat kelihayan bocah itu, tanpa merasa di dalam hatinya timbul perasaan simpathi. Maka, lantas saja ia berkata.

"Baiklah. Jika kau mengaku kalah, aku suka mengampuni jiwamu."

"Siapa mengaku kalah?"

Tanya Ouw Hui, dengan tertawa.

"Kau menang badan yang sebesar kerbau dan menarik keuntungan dari tubuhku yang kecil. Sama sekali bukan karena kepandaianmu. Tunggu-lah."

Sehabis berkata begitu, ia mengambil sebuah bangku panjang (seperti bangku sekolah) yang ke-mudian ditempatkannya di tengah ruangan.

"Hayo! Kita bertempur lagi!"

Ajaknya. Ong Kiam Kiat merasa geli berbareng men-dongkol "Sahabat!"

Kata pula Ouw Hui.

"Sebelum mulai, kita berjanji dulu. Kau tidak boleh menendang bangku ini. Kalau kau menendang, kaulah yang dihitung kalah."

"Fui!"

Bentak Ong Kiam Kiat.

"Dalam dunia, mana ada cara berkelahi yang begitu macam?"

"Aku masih kecil, badanku tidak setinggi badan mu,' kata Ouw Hui sembari menyengir.

"Jika kau tak sudi, biarlah kau tunggu saja lima tahun. Sesudah lewat lima tahun, sesudah aku setinggi kau, kita boleh ber tempur lagi."

Walaupun ia masih kekanak-kanakan, otak Ouw Hui penuh dengan daya upaya.

Sesudah meyakinkan dan mempelajari kitab ilmu silat pening-galan ayah andanya, Ouw Hui mengira, bahwa dalam dunia, ia sudah tidak mempunyai tandingan lagi.

Tapi, begitu bertemu musuh, ia kena ditotok oleh Siang Lootay dan dihajar habis-habisan.

Dalam kejadian itu, masih boleh dikatakan, dialah yang tolol sendiri.

Sekarang, sesudah bergebrak dengan Ong Kiam Kiat, baru ia mengerti, bahwa meskipun ilmu goloknya banyak lebih unggul daripada kepandaian musuh, tapi tenaganya masih kalah jauh sekali.

Maka itu, ia coba menggunakan tipu untuk meloloskan diri.

Tapi, diluar dugaan, karena sungkan kehilang-an muka dan juga karena yakin akan memperoleh kemenangan, Ong Kiam Kiat lantas saja memben-tak.

"Kunyuk! Kau rasa aku takut kepada syaratmu? Kau kira aku tak dapat mampuskan kau?"

Berbareng dengan caciannya, ia menyabet pinggang Ouw Hui dengan goloknya.

Ouw Hui segera menangkis dan mereka lalu bertempur pula.

Sekarang kedua lawan itu sudah kira-kira sama tingginya.

Karena panjang bangku itu tidak kurang dari lima kaki, maka Ong Kiam Kiat sukar menggunakan pula Pat-kwa Yoe-sin-ciangnya yang harus digunakan sambil lari berputarputar.

Ia sekarang menyerang dengan golok dan tangan kosong dengan berbareng, untuk merubuhkan si bocah dari bangkunya.

Dilain pihak, Ouw Hui melayaninya sembari meloncat kian kemari, dari ujung ke lain ujung bangku, ia sama sekali tidak berani menyambut kekerasan dengan kekerasan.

Sesudah lewat belasan jurus, dengan gemas Ong Kiam Kiat mengubah pula cara bersilatnya.

Kini ia menggunakan taktik membabat ke kiri-ke kanan, setiap babatannya ditujukan ke lutut Ouw Hui.

Berselang beberapa saat, Ouw Hui mendadak meloncat tinggi-tinggi untuk meloloskan diri dari suatu sabetan yang luar biasa hebatnya.

Sebelum si bocah hinggap lagi di bangku, Ong Kiam Kiat sudah membabat ke kiri kanan di atas bangku itu.

Dengan demikian, jika Ouw Hui berani turun ke bangku itu, kakinya tentu akan kena babatan golok.

Jalan satu-satunya untuk menyelamatkan diri, adalah turun di atas lantai.

Tapi tak pereuma Ouw Hui menjadi putera tunggal Liaotong Tayhiap Ouw It To!

Pada detik yang sangat berbahaya, ia segera tahu apa yang harus dilakukannya.

Sekali ia menggoyangkan ba-dan di tengah udara, tubuhnya melayang turun ke ujung kiri bangku itu.

Dengan ujung kakinya, ia menotol ujung kiri bangku tersebut dan sekai lagi badannya melesat ke atas.

Ditotol dengan ujung kaki, bangku itu terangkat, ujung kanannya melonjak ke atas, dan berdiri lempang.

Selagi terangkat ke atas, pinggiran bangku itu menghantam janggut Ong Kiam Kiat yang jadi terasa sakit sekali.

Dilain saat, Ouw Hui sudah hinggap di ujung bangku yang mengacung ke atas itu, darimana ia lalu menyabet ke bawah berulang-ulang, dengan lagak yang lucu, sehingga semua orang jadi tertawa besar.

Bukan main gusarnya Ong Kiam Kiat yang lantas saja membalas, menyerang dengan pukulan berantai.

Akan tetapi, karena si bocah berada di kedudukan yang lebih menguntungkan, ia tidak bisa berbuat banyak.

Dalam gusarnya, tanpa menghirau-kan janjinya, ia menendang bangku itu, yang tentu saja lantas terpental, dan berbareng dengan itu, ia mengirimkan bacokan ke dada Ouw Hui.

Sebelum badannya hinggap di lantai, Ouw Hui masih sempat menyampok golok yang menyambar ke jurusannya dan dengan meminjam tenaga bentrokan kedua golok itu, tubuhnya melesat kurang lebih setombak.

Selagi badannya melesat, tangan kirinya menyembat bangku tadi yang lalu digunakannya sebagai tameng untuk menjaga serangan musuh.

Demikianlah dengan tangan kiri mencekal "tameng"

Dan tangan kanan memegang golok, Ouw Hui melakukan serangan-serangan pembalasan yang dahsyat.

Melihat saudaranya belum juga dapat meru-buhkan bocah itu, Ong Kiam Eng mengerutkan alisnya dengan perasaan cemas.

Orang-orang seperti Tan Ie, In Tiong Shiang, Ma Heng Kong dan yang Iain-lain adalah ahli-ahli silat yang berpengalaman.

Dilihat dari jalannya pertempuran, siang-siang Ouw Hui seharusnya sudah dapat dirubuhkan.

Tapi sungguh mengherankan.

Walaupun Ong Kiam Kiat berusaha sekuat tenaganya dengan mengirimkan pukulan-pukulan simpanannya, ia masih tetap belum bisa menjatuhkan bocah cilik itu.

Dengan menggunakan dua rupa senjata, ke-adaan Ouw Hui jadi terlebih baik.

Bangku itu ter-buat dari kayu merah yang kuat dan ulet.

Beberapa bacokan hebat yang dikirimkan oleh Ong Kiam Kiat tak dapat memutuskan bangku tersebut.

Dilain pi-hak, dengan bersembunyi di belakang tameng itu, Ouw Hui melakukan serangan-serangan pembalasannya.

"Kunyuk!"

Bentak Ong Kiam Kiat.

"Kau mesti diajar mengenal kelihayan tuan besarmu!"

Sembari membentak, ia membabat dengan sepenuh tenaga-nya.

"Crok!"

Goloknya menancap di bangku yang hampir-hampir menjadi putus.

Buru-buru Kiam Kiat menarik pulang senjatanya, tapi kayu merah yang keras itu seakan-akan menggigit goloknya.

Ia terkesiap dan segera mengerahkan tenaga dalam-nya untuk membetot sekali lagi.

Pada detik itulah, tanpa menyia-nyiakan kesempatan baik ini, Ouw Hui menikam kempungan lawannya.

Bukan main terkejutnya Ong Kiam Kiat.

Golok Ouw Hui yang menyambar bagaikan kilat dari jarak yang sangat dekat, tak dapat dikelitnya lagi, sedang senjatanya sendiri masih menancap di bangku.

Pada saat yang berbahaya itu, Kiam Kiat tidak mempunyai jalan lain daripada melepaskan senjatanya dan loncat mundur secepat mungkin.

Ong Kiam Kiat merasakan dadanya seperti mau meledak.

Gusar dan malu bereampur menjadi satu.

Dengan mata merah, lantas saja ia menyerang dengan tangan kosong secara nekat-nekatan.

Harus diakui, bahwa Ong Kiam Kiat adalah seorang ahli silat yang sangat lihay.

Menghadapi serangannya yang datang bertubi-tubi, Ouw Hui yang bertenaga kecil, lantas saja jadi keteter.

Dengan mencekal bangku, gerakannya jadi agak lambat dan sesudah lewat belasan jurus, pundaknya kena dipukul sehingga ia terhuyung dan hampir-hampir terguling di atas lantai.

Melihat jago cilik itu kepukul, tanpa merasa para penonton mengeluarkan seruan tertahan.

Sambil menahan sakit, Ouw Hui melepaskan bangku itu dan tangannya menyambar gagang golok yang menancap di kayu itu.

Sekali ia menendang, golok itu copot dan bangku tersebut terpental menyambar Ong Kiam Kiat.

Dengan gemas, Kiam Kiat menggunakan kedua tangannya untuk memapaki bangku itu yang lantas saja patah menjadi dua.

Dilain pihak, dengan mencekal dua batang golok, Ouw Hui lantas saja menyerang sehebat-hebatnya.

Dengan tangan kosong menghadapi dua batang golok, sedikit pun Ong Kiam Kiat tidak menjadi gentar.

Beberapa saat kemudian, berbareng dengan terdengarnya suatu teriakan, golok Ouw Hui yang di tangan kiri, sudah kena dirampas.

Kiam Kiat melemparkan senjata itu ke lantai dan tetap menyerang dengan tangan kosong.

Dengan mempunyai latihan dua puluh tahun lebih, ilmu silat tangan kosong Ong Kiam Kiat sungguh-sungguh dahsyat.

Siang Po Cin mengawasi pertempuran itu dengan perasaan kecewa teream-pur girang.

Kecewa, oleh karena sesudah belajar bertahun-tahun dan menduga ilmunya sudah cukup tinggi, pada hari itu ia mendapat kenyataan, bahwa dibandingkan dengan kepandaian paman gurunya, apa yang dimilikinya, sama sekali tidak berarti.

Ia girang karena melihat lihaynya ilmu silat Pat-kwa-bun.

Ia merasa, bahwa jika ia belajar terus dengan giat, suatu waktu, benar-benar ia akan mempunyai kepandaian yang tinggi.

Tiba-tiba, berbareng dengan bentakan "Pergi"!, Pat-kwa-to yang dicekal Ouw Hui, terbang ke atas dan bocah itu sendiri meloncat mundur.

Sambil merangkapkan kedua tangannya, Ong Kiam Kiat segera bergerak untuk melancarkan serangan-serangan yang membinasakan.

Ouw Hui tahu, bahwa ia tak dapat bertahan lebih lama lagi.

Tapi, sebagai seorang yang banyak tipu dayanya, sekonyongkonyong ia tertawa ter-bahak-bahak sembari menuding lawannya.

Ong Kiam Kiat heran, gerakan tangannya lantas saja berhenti.

"Bocah! Kenapa kau tertawa?"

Tanya-nya.

"Bala bantuanku datang!"

Jawabnya, sembari tertawa.

"Sekarang aku tidak takut lagi kepada kamu semua."

Ong Kiam Kiat terkejut dan sebelum ia dapat memikir lebih lanjut, Ouw Hui sudah berkata.

"Aku mau menyambut bala bantuanku. Kamu boleh tung-gu! Jangan lari!"

Selagi Kiam Kiat bersangsi, dengan tindakan lebar ia menuju ke pintu, untuk segera melarikan diri.

Ketika itu, Siang Loo-tay sudah memungut Pat-kwa-tonya yang dilemparkan Ouw Hui.

Dengan sekali melompat, ia menghadang di tengah jalan.

"Anak capeay!"

Ia memaki.

"Kau mau lari?!"

Tapi ia tak berani terlalu mendesak, karena rae-ngetahui bahwa ilmu silat Ouw Hui masih lebih tinggi daripada kepandaiannya.

Pada saat itu, lapat-lapat terdengar tindakan kuda yang dikaburkan ke arah Siang-kee-po.

Dalam suasana yang sunyi, walaupun jauh, bunyi menderap itu kedengaran nyata sekali.

Semua orang mema-sang kuping.

Tindakan kuda itu deras bagaikan turunnya air hujan.

Semua orang yang berada di situ adalah ahli-ahli silat yang selalu selulup timbul dengan senjata dan kuda.

Mendengar bunyi yang luar biasa itu, di muka mereka lantas saja terlukis keheranan mereka.

Dalam sekejap, kuda itu sudah tiba di depan gedung.

Di luar lantas saja terdengar suara ben-takan para pegawai Siang-kee-po, suara terbukanya pintu pekarangan depan, suara beradunya senjata dan jatuhnya beberapa tubuh manusia.

Sedang semua orang masih tereengang, di depan pintu ruang-an pesta sudah muncul seorang yang baru datang.

Dengan serentak, semua mata ditujukan ke arah orang itu.

Dia adalah seorang yang berusia lima puluh tahun, thungshanya gerombongan, di atas bibirnya terdapat kumis pendek, rambutnya putih, tingginya sedang dan badannya agak gemuk.

Dengan tangan kanan menuntun seorang gadis yang berusia kira-kira dua belas tahun, ia tertawa dengan paras muka yang simpatik sekali.

Dilihat sekelebat-an, macamnya seperti seorang hartawan dari pe-dusunan atau seorang saudagar kecil.

Ketika Ouw Hui menyebutkan bala bantuan, ia hanya bicara sembarangan, dengan harapan supaya dapat meloloskandiri, bila perhatian Siang Loo-tay dan lain-lain tertarik ke jurusan lain.

Tapi di luar dugaan, secara kebetulan, benar-benar ada tetamu baru yang berkunjung ke Siang-kee-po.

Selagi semua orang memperhatikan tetamu itu, perlahan-lahan ia mendekati pintu.

Kalau orang lain melupakan Ouw Hui, adalah Siang Loo-tay tak melupakannya.

Begitu melihat musuhnya mencoba kabur, ia meloncat dan meng-hantam punggung Ouw Hui dengan pukulan Pwee-sim-teng (Paku di punggung), salah satu pukulan yang membinasakan dari Pat-kwa-ciang.

Kalau kena, isi perut Ouw Hui tentu akan menjadi rusak dan ia akan binasa seketika itu juga dengan muntahkan darah.

Melihat nyonya itu menurunkan tangan yang sedemikian kejamnya terhadap anak kecil, tetamu gemuk itu mengeluarkan seruan tertahan.

Selagi ingin bergerak untuk menolong, Ouw Hui sudah bergerak lebih dulu.

Sembari mengegos, Ouw Hui mengangkat tangan kirinya dan membetot tangan musuhnya yang sedang menyambar.

Siang Loo-tay terhuyung beberapa tindak, hampir-hampir ia jatuh terguling.

Si gemuk heran bukan main, melihat bocah yang kecil kurus itu dapat memunahkan serangan yang begitu hebat.

Ong Kiam Eng yang mempunyai pergaulan luas, merasa bahwa ia mengenal tetamu gemuk itu, tapi tak ingat lagi siapa sebenarnya dia.

Sembari merangkap kedua tangannya, lantas saja ia menanya.

"Bolehkah aku mengetahui she dan nama saudara yang mulia? Dan untuk apa, malam-malam saudara datang berkunjung?"

"Siauwtee (adik) she Tio,"

Jawabnya, sambil membalas hormat.

"Ah!"

Berseru Ong Kiam Eng.

"Kalau begitu, tak salah lagi, saudara adalah Tio Samya (tuan ketiga) dari Ang-hoa-hwee (Perkumpulan bunga merah) Harap dimaafkan, yang siauwtee tak bisa mengenali terlebih siang."

Mendengar, bahwa tetamu itu adalah Cian-chiu Jieiay (Jielay-hud yang bertangan seribu) Tio Poan San, salah seorang pemimpin besar dari Ang-hoa-hwee, semua orang jadi terkesiap.

Harus diketahui, bahwa tujuh tahun sebelum-nya, bersamasama dengan para paderi Siauw-lim-sie jago-jago Ang-hoahwee telah membakar istana Yong-ho-kiong dan mengacau di Kota terlarang.

Kejadian itu adalah suatu kejadian yang menggemparkan seluruh Rimba Persilatan dan diketahui oleh rakyat di seluruh Tiongkok.

Sesudah peristiwa itu, Ang-hoa-hwee lalu menghilang.

Menurut kata orang-orang Kang-ouw, jago-jago perkumpulan tersebut telah menyingkir ke Huikiang untuk sementara waktu.

Tak terduga, Tio Poan San mendadak muncul di situ.

Diwaktu masih muda, Kiam Eng pernah bertemu dengan Poan San di Piauw-kiok mendiang ayahnya, tapi pertemuan itu sudah berselang dua puluh tahun lebih dan paras muka Poan San sudah banyak ber-ubah, sehingga ia tidak lantas dapat mengenalinya.

Sembari memperlihatkan paras muka girang, Kiam Eng segera berkata pula.

"Apakah Tio Samko datang di Shoatang sendirian atau beramai-ramai dengan para enghiong (orang gagah) lainnya? Di waktu masih hidup, mendiang ayahku sering sekali menyebutkan kelihayan para enghiong dari Anghoa-hwee yang sangat dikaguminya."

Tio Poan San adalah seorang yang beradat sabar dan berhati mulia serta bisa bergaul dengan siapapun juga. Mendengar pertanyaan itu, lantas saja ia menjawab dengan sikap simpatik.

"Siauwtee datang seorang diri untuk suatu urusan pribadi. Bolehkah aku menanya, siapa ayah saudara?"

Setelah mengetahui, bahwa Poan San datang seorang diri, hati Kiam Eng menjadi lebih lega. Ia membungkuk dan menjawab.

"Ayahku adalah pemimpin dari Tin-wan Piauwkiok...."

"Ah!"

Poan San memotong perkataan orang.

"Kalau begitu, saudara adalah putera Ong Loo-piauwtauw. Aku dengar, Ong Loopiauwtauw sudah meninggal dunia. Apakah benar?"

La mengucapkan kata-kata itu dengan wajah berduka.

"Mendiang ayahku telah meninggal dunia enam tahun berselang,"

Sahut Kiam Eng.

"Yang itu adalah adikku Kiam Kiat."

La berpaling kepada adiknya dan menyambung perkataannya.

"Thay-kek-kun dan Thay-kek-kiam Tio Samya tiada bandingannya dalam dunia. Sungguh beruntung, bahwa had ini kita bisa bertemu muka."

Sesudah berkata begitu, ia segera memperke-nalkan semua hadirin kepada Tio Poan San. Ong Kiam Kiat yang mulutnya loncer lantas menunjuk Tan Ie sembari berkata.

"Tan-heng juga, adalah orang partai Thay-kek-bun. Apakah kalian sudah mengenal satu kepada yang lain?"

"Hm!"

Gerendeng Poan San yang mukanya men-dadak berubah menyeramkan.

Ia mengawasi Tan Ie dari kepala sampai di kaki dan dari kaki sampai di kepala.

Melihat perubahan paras Poan San, hati Tan Ie merasa tidak enak.

Sesudah diawasi secara begitu, ia lebih-lebih merasa mendongkol.

Sekonyong-konyong, si gadis kecil yang ditun-tun Tio Poan San menuding Tan Ie sembari ber-teriak.

"Tio Sioksiok! Benar dia! Benar dia!"

Sua-ranya yang nyaring penuh dengan kegusaran.

Tan Ie kaget berbareng heran.

Belum pernah ia bertemu dengan gadis cilik itu yang berkulit agak hitam.

Lantas saja ia menengok kepada Kiam Kiat seraya berkata.

"Tio Samya adalah dari Thay-kek-bun di Oenciu, cabang Selatan. Aku sendiri adalah dari Thay-kek-bun di Kongpeng. Kami berdua ha-nya sama-sama menjadi anggota satu partai dan bukan dari satu cabang. Tio Samya adalah tertua kami yang sangat dikagumi olehku."

Ia mendekati sambil mengangsurkan tangan. Tapi Poan San meng-gerakkan kedua tangannya ke belakang, seolah-olah tidak melihat angsuran tangan itu, dan memutarkan badan ke arah Kiam Eng seraya berkata.

"Saudara Ong, hari ini siauwtee datang mengacau dan lebih dulu siauwtee ingin meminta maaf kepada saudara-saudara sekalian."

Ia menyoja kepada semua orang yang lantas membalasnya.

"Janganlah Tio Samya berlaku begitu sungkan,"

Kata mereka. Dapat dimengerti jika sikap Tio Poan San seakan-akan segayung air dingin yang mengguyur kepala Tan Ie.

"Lagi kapan aku berdosa terha-dapmu?"

Katanya di dalam hati.

"Namamu memang besar, tapi, apakah kau kira aku takut padamu?"

Sesudah memperkenalkan semua orang, Kiam Eng menunjuk Ouw Hui sembari berkata.

"Saudara kecil itu mempunyai sedikit ganjalan dengan Tee-huku (isteri adik). Ganjalan itu telah dibuat oleh ayahnya. Sekarang, sedang Suteeku sudah meninggal dunia lama sekali, dengan memandang muka Tio Samya, urusan ini lebih baik jangan disebut-sebut lagi. Bagaimana kalau kita sudahi saja?"

Ia menutup keterangannya dengan tertawa besar.

Harus diketahui, bahwa Ong Kiam Eng dan Siang Kiam Beng memang tidak begitu akur.

Ia sebenarnya sama sekali tidak mempunyai minat untuk membalaskan sakit hati saudara seperguruan itu.

Dan sekarang, di hadapan Tio Poan San, ia ingin menunjukkan kebaikan hatinya.

tapi Tio Poan San yang tidak mengerti duduknya persoalan, tentu saja merasa heran.

Dilain pihak, Siang Loo-tay lantas saja naik darah.

"Tak perduli Tio Poan San atau Tio It San (Poan San berarti setengah gunung, It San berarti satu gunung), tak boleh menjual lagak di Siang-kee-po!"

Ia berteriak.

"Apakah arti perkataan Ong-heng?"

Tanyanya.

"Siauwtee sama sekali tidak mengerti."

"Tee-huku adalah seorang perempuan, jangan-lah Tio Samya tersinggung karena kata-katanya,"

Kata Kiam Eng.

"Mari, mari! Siauwtee ingin mem-beri selamat datang kepada Tio Samya dengan secangkir arak."

Sembari berkata begitu, ia segera menuang arak. Ouw Hui mengetahui, bahwa jika mereka bicara terus, kedoknya akan segera terbuka. Maka itu, lantas saja ia berseru.

"Tio Samya! Mulut kawanan kantong nasi itu besar sekali. Itulah urusan mereka sendiri. Tapi dalam temberangnya, mereka menga-takan, orang-orang Ang-hoahwee tolol semuanya. Mereka mengagul-agulkan ilmu silat Pat-kwa-ciang dan sesumbar, bagaimana, dengan sebilah Patkwa-to, Looenghiong mereka sudah merubuhkan semua orang gagah dari Ang-hoa-hwee. Karena tak tahan, aku sudah menyemprot mereka. Mereka menjadi gusar dan mau menghajar diriku. Tio Samya! Coba kau pikir. Jengkel atau tidak? Dalam urusan ini, aku mengharapkan pertimbanganmu yang adil."

Tio Poan San yang tidak mengetahui apa yang sedang diributi mereka, jadi terlebih bingung.

Tapi memang benar, dulu Ong Wie Yang pernah ke-bentrok dengan Ang-hoa-hwee.

Tapi urusan itu sudah dibereskan oleh pihaknya dengan mengguna-kan tipu, sehingga Ong Wie Yang mengaku kalah, tanpa bertempur.

Maka, bukanlah suatu keheranan, jika pada waktu itu, kedua saudara Ong meng-agulkan kepandaian ayahnya.

Ia lantas saja tertawa dan berkata.

"Kepandaian Ong Loopiauwtauw memang sangat tinggi dan kami semua saudara merasa sangat kagum."

Tiba-tiba, sorot matanya yang seperti kilat mengawasi Tan Ie.

"Tan Suhu,"

Katanya.

"Harap kau suka mengikut aku keluar untuk membicarakan suatu urusan."

Tan Ie tereengang dan segera menjawab.

"Aku dan Tio Samya belum pernah saling mengenal. Ada urusan apa yang mau dibicarakan? Semua orang yang berada di sini adalah bangsa ksatria. Kalau ada sesuatu, baiklah Tio Samya bicara di sini saja."

Tio Poan San tertawa dingin dana berkata.

"Urusan yang mau dibicarakan adalah urusan yang memalukan partai Thaykek-bun. Guna apa orang luar turut mendengar?"

Paras muka Tan Ie berubah pucat. la mundur setindak dan berkata dengan nyaring.

"Kau adalah orang dari Thay-kek di Oenciu, sedang aku adalah dari Thay-kek di Kongpeng. Kita hanya separtai dan bukan secabang. Aku tidak boleh campur tangan dalam urusanmu, sedang kau pun tak boleh mencampuri urusanku."

"Karena tangan Tan-heng terlalu lihay dan da-lam kalangan Thay-kek-bun di Kongpeng, tak ada orang yang berani keluar, maka tanpa memperdulikan perjalanan laksaan li, dari Huikiang aku datang ke sini,"

Kata Tio Poan San.

"Lebih dulu siauwtee pergi ke Pakkhia dan mendengar Tan-heng pergi ke Shoatang, maka aku segera menyusul. Benar juga orang kata, bahwa jala langit besar sekali."

Mendengar perkataan "jala langit besar sekali" , semua orang jadi terkejut dan menanya di dalam hati, kedosaan apa yang sudah dilakukan Tan Ie, sehingga Tio Samya mencarinya dari tempat yang begitu jauh.

Tan Ie yang bertubuh jangkung kurus, mem-punyai kepandaian yang cukup tinggi dan sudah lama mendapat nama besar dalam kalangan Kang-ouw.

Walaupun namanya tidak semashur Tio Poan San, tapi ia adalah salah seorang tokoh terkemuka dari Thay-kek-bun cabang Utara.

Ditambah dengan Hok Kongcu sebagai sanderanya, sedikit pun ia tidak merasa keder terhadap Tio Samya.

Maka itu, lantas saja ia membentak.

"Tio Poan San! Aku menghormati kau sebab usiamu yang lebih tua. Kau dan aku, dari cabang Selatan dan Utara, masing-masing mempunyai keunggulan sendiri. Ja-ngan kau coba-coba menggencet aku."

Berbareng dengan perkataannya, ia menghantam pundak Tio Poan San dengan pukulan Dewi Menenun Kain. Pukulan Thaykek cabang Utara itu, yang dalam "kelembekan"

Mengandung "kekerasan", memang hebat luar biasa.

Tapi ketika itu, ilmu silat Tio Poan San sudah dilatih sampai di puncak kesempurnaan.

Begitu tangan musuh menyambar, ia berjongkok dan menyambut dengan pukulan In-chiu (Tangan awan).

Ia menangkap pergelangan tangan Tan Ie yang lantas dibetot ke sebelah kanan.

Pada saat itu juga, Tan Ie tak bisa berdiri tegak, separuh badannya kesemutan.

Antara jago-jago Hok Kongcu, adalah In Tiong Shiang yang mempunyai perhubungan paling rapat dengan Tan Ie.

Sedan Tan Ie dan Tio Poan San bertengkar, ia sudah menghunus pedangnya dan berwaspada.

Demikianlah, berbareng dengan ru-buhnya si kawan, sembari membentak "lepas"!

ia meloncat dan menikam punggung Tio Poan San.

Tanpa menengok, pada detik yang tepat, Tio Samya menghunus pedang Tan Ie yang segera disabetkan ke belakang.

Dengan suatu suara "trang"!

pedang si pembokong sudah kutung dua!

Melihat Tan Ie sudah dirubuhkan dalam sejurus saja dan pedang In Tiong Shiang dipatahkan dengan sekali menyampok, paras muka jago-jago Hok Kongcu menjadi pucat bagaikan mayat.

"Bagaimana sekarang?"

Poan San menanya Tan Ie.

"Kau ikut atau tidak?"

Orang she Tan itu tidak menyahut, mukanya sebentar merah, sebentar biru.

Selagi semua mata mengawasi Tio Poan San dan pecundangnya, tiba-tiba tujuh buah Kimpiauw dengan berkeredepan menyambar saling susul ke arah Ouw Hui.

Ternyata, tujuh Kimpiauw itu dilepaskan oleh Siang Lootay.

Melihat semua orang, terhitung Ouw Hui, sedang memperhatikan Tio Poan San dan Tan Ie, nyonya Siang sungkan menyia-nyiakan kesem-patan yang baik ini dan lantas saja melepaskan tujuh piauw itu dengan kedua tangannya.

Jarak antara Ouw Hui dan Siang Loo lay hanyalah kira-kira lima kaki dan senjata rahusia itu dilepaskan di Suar dugaan, sehingga biarpun seorang yang berkepan-daian lebih tinggi daripada Ouw Hui, jangan harap bisa meloloskan diri dari ketujuh piauw itu.

Dalam usahanya membalaskan sakit hati suami-nya, Siang Loo-tay mengetahui, bahwa Biauw Jin Hong dan Ouw It To mempunyai kepandaian yang luar biasa tingginya, sehingga dalam pertempuran berhadapan satu lawan satu, sukar sekali ia bisa memperoleh kemenangan.

Maka itu, setiap rnata Kimpiauw sudah lebih du!u dipoles dengan racun yang sangat hebat.

"Celaka!"

Teriak Ouw Hui sembari membuang diri.

Gerakan itu yang cepat iuar biasa, dapat meng-egos tiga buah piauw yang menyambar di sebelah atas, tapi empat piauw yang terbang ke arah kem-pungan dan kedua kakinya tak akan dapat di-elakkannya lagi.

Pada detik yang sungguh-sungguh berbahaya itu, Tio Poan San mendadak mengulurkan tangannya.

Dan sekali tangannya bergerak, tujuh buah piauw itu sudah berada dalam tangannya!

Tio Poan San mendapai julukan Cian-chiu.

Jielay.

Julukan "Jielay atau Jielay-hud (Sang Buddha) diberikan kepadanya oleh karena mukanya yang simpatik dan hatinya yang sangat mulia.

Ge-iaran "Cian-chiu" (Seribu tangan) didapatnya karena mempunyai kepandaian istimewa dalam menyambut ruparupa senjata rahasia.

Dibawah sinar iilin, ia melihat, bahwa setiap mata piauw berwarna merah tua.

Ia mencium dan benar saja, mengendus bau-bauan wangi, yang menandakan, bahwa piauw tersebut mengandung racun.

Sebagai seorang ahli senjata rahasia, Tio Poan San paling membenci orang yang menggunakan senjata beracun.

Dalam kalangan Rimba Persilatan terdapat perkataan yang berarti begini "Senjata rahasia adalah senjata terhormat.

Meski bentuknya yang kecil, senjata ini dapat menghantam musuh yang berada di jarak jauh.

Maka itu di samping kaki tangan dan senjata biasa, senjata rahasia merupakan salah satu dari Tiga Alat Persilatan.

Hanya karena ada orang-orang rendah yang membubuhkan racun kepada senjata rahasia, maka belakangan senjata itu dipandang rendah."

Demikian komentar dalam Rimba Persilatan, mengenai senjata rahasia. Dengan sorot mala gusar, Tio Poan San melirik Siang Lootay dan berkata.

"Ong Wie Yang adalah seorang ksatria. Apakah mengajarkan orang menggunakan senjata beracun? Apakah ia mengajarkan orang membokong musuh? Apa pula musuh itu tak lebih dari seorang bocah!"

Kala-kata itu yang dikeluarkan dengan bernafsu, sudah membikin kedua saudara Ong malu sekali. Melihat Ong-sie Heng-tee (dua saudara Ong) menundukkan kepalanya, nyonya Siang lantas saja berteriak.

"Siapa kau? Berani menghina orang di Siang-kee-po! Sayang! Sungguh sayang, suamiku sudah meninggal dunia, sehingga dalam Patkwa-bun tidak terdapat lagi orang yang dimalui. Yang ketinggalan adalah anak setengah piatu dan janda tua. Biarlah! Biarlah kami menelan segala hinaan!"

Mendadak ia menangis keras.

"Ah! Siang Kiam Beng!"

Ia berteriak.

"Sesudah kau mati, dalam Pat-kwa-bun hanya ketinggalan sekawanan anjing yang hanya tahu bagaimana harus membungkuk terha-dap orang luar. Tak ada lagi manusia yang mem-punyai tulang punggung, yang bisa membela partai kita. Siang Kiam Beng! Mulai besok, aku akan menyuruh anakmu masuk Thay-kek-bun, supaya jangan dihina orang seumur hidup. Ah, Siang Kiam Beng! Dulu, kau begitu gagah perkasa. Jika kutahu bakal mengalami kejadian seperti hari ini, aku tentu sudah masukkan Pat-kwa-to ke dalam peti matimu!"

Sembari sesambat, ia mencaci dan lalu melem-parkan Patkwa-to, yang kemudian diinjak-injak dan diludahinya.

Muka kedua saudara Ong menjadi merah padam, bahna gusar dan malu, akan tetapi mereka tak berani bertengkar dengan Siang Loo-tay di hadapan orang banyak.

Sebenarnya, Tio Poan San ingin lekas-lekas berlalu dengan membawa Tan Ie.

Tapi, Sesudah menyaksikan kekejaman Siang Loo-tay terhadap Ouw Hui, ia yakin, bahwa begitu lekas ia berlalu, bocah itu tentu celaka.

walaupun ia tidak mengenal bocah itu, tapi, sebagai ksatria, mana bisa ia tak menolong?

Demikianlah, sembari menyoja kepada Ong-sie Heng-tee, ia berkata.

"Aku juga ingin membawa bocah itu. Biarlah di lain hari, aku meng-. haturkan terima kasih pula atas kebaikan kedua saudara."

Sebelum Kiam Eng menjawab, Siang Loo-tay sudah sesambat lagi.

"Oh, Siang Kiam Beng!"

Ia berteriak.

"Baik juga kau mati siang-siang, supaya tak usah melihat kejadian yang memalukan. Sutee-mu adalah pentolan Pat-kwa-bun, tapi bocah be-lasan tahun saja, dia masih belum mampu rubuhkan. Lebih celaka lagi, goloknya sampai kena direbut orang! Suhengmu (dimaksudkan Ong Kiam Eng) lebih takut lagi terhadap anak itu. Dia mengharap-kan, supaya bocah itu lekas-lekas pergi, lebih lekas. lebih baik...."

"Diam!"

Bentak Ong Kiam Eng yang sudah tak dapat menahan amarahnya lagi. Ia berpaling kepada Tio Poan San dan berkata.

"Tio Samya, kurasa kau sudah mendengar semua perkataan Tee-huku. Hari ini, bukan aku tak sudi memberi muka kepada Tio Samya. Akan tetapi, jika bocah itu diijinkan berlalu dengan begitu saja, Pat-kwa-bun sukar menancap kaki lagi dalam dunia Kang-ouw, sedang kami berdua juga tak mempunyai muka lagi untuk menjadi manusia."

Tio Poan San menganggap perkataan Ong Kiam Eng memang ada benarnya. Ia menengok kepada Ouw Hui seraya berkata.

"Bocah, kedosaan apakah yang kau sudah lakukan terhadap kedua suhu ini? Lekaslah berlutut untuk meminta maaf dan kemudian ikut aku pergi."

Tio Poan San sudah mempunyai banyak peng-alaman, tapi sekali ini, ia salah raba.

Ia tidak tahu.

bahwa bocah kecil kurus itu mempunyai darah pah-lawan yang tak nanti mau gampang-gampang tun-duk terhadap siapapun juga.

"Tio-ya,"

Kata Ouw Hui sembari tertawa.

"Sungguh menyesal, tak dapat aku meluluskan permintaanmu untuk berlutut terhadap dia."

Mendengar jawaban itu, Tio Poan San jadi tereengang.

Di pihaknya, Ong Kiam Eng sudah menghitung, bahwa begitu lekas Ouw Hui meminta maaf, ia akan segera cuci tangan.

Tapi jawaban si bocah sudah menggusarkan hatinya.

"Saudara kecil,"

Katanya.

"Ilmu silatmu memang tinggi dan tak heran, jika kau jadi lupa daratan. Mari, mari! Aku Ong Kiam Eng meminta peng-ajaranmu."

Dengan sekali mengenjot badan, Ouw Hui sudah berada di tengah ruangan dan menghantam hidung Ong Kiam Eng dengan tinjunya.

Sembari mesem, Kiam Eng menyambut serangan itu dan membaias menyerang.

Diwaktu telapakan tangan Ong Kiam Eng baru turun, pukulan itu kelihatannya enteng sekali.

Tapi di tengah jalan, pukulan itu berubah berat dan menghantam muka Ouw Hui dengan kesiuran angin yang dahsyat.

Tio Poan San terkejut.

"Orang she Ong ini benar lihay,"

Pikirnya, sembari siap sedia untuk menolong jika perlu.

Tapi di luar dugaan, gerakan badan Ouw Hui sungguh-sungguh mengherankan.

Dengan miringkan badannya sedikit, ia telah mem-buat tangan Ong Kiam Eng jatuh di tempat kosong.

Tapi orang she Ong itu adalah ahli terutama dari Pat-kwa-bun.

Begitu tangan kirinya meleset, tangan kanannya sudah membabat.

Ouw Hui menyambut dengan kedua tinjunya dan....

"Plak!"

Telapakan tangan Ong Kiam Eng jatuh lepat di atas tinju.

"Aduh!"

Teriak Ouw Hui.

Sekonyong-konyong, dengan gerakan Tin-ciu-kin-na (Menurunkan sikut dan menangkap), ia coba mencengkeram jalan da-rah Kie-tie-hiat di tangan kiri Ong Kiam Eng.

Pukulan ini adalah salah satu pukulan aneh dari ilmu silat keluarga Ouw.

Ong Kiam Eng terkesiap dan meloncat mundur beberapa tindak.

Siang Loo-tay dan Ma Heng Kong saling meng-awasi.

Mereka merasa heran, kenapa bocah itu juga memiliki pukulan tersebut.

Harus diketahui, bahwa Tin-ciu-kin-na adalah salah satu dari belasan pukulan yang dipunyai oleh Giam Kie.

Pada waktu bertempur melawan Ma Heng Kong, berulang kali Giam Kie telah menggunakan pukulan tersebut.

Begitu mundur, Ong Kiam Eng segera maju menyerang pula.

Dengan gerakan sebagai seekor harimau, ia menubruk dan menghantam lengan kiri Ouw Hui.

Sembari memutarkan badan, Ouw Hui mengirimkan tendangan hebat dengan gerakan Kauw-tui-hoan-tui (Menekuk lutut menendang ke belakang).

Tendangan itu juga merupakan tendangan rahasia yang hanya dimiliki oleh keluarga Ouw.

Dengan demikian, bukan saja Ma Heng Kong dan yang Iain-lain, tapi malah Tio Poan San yang ber-pengalaman, juga turut merasa heran.

Melihat pukulan-pukulan Ouw Hui yang aneh agaknya mengandung ejekan, Ong Kiam Eng jadi mendongkol.

"Jika kau tidak diberi sedikit hajaran, orang bisa memandang rendah partai Pat-kwa-bun,"

Pikirnya.

Harus diketahui, bahwa dalam pertandingan itu, sama sekali ia tidak memandang sebelah mata kepada lawannya.

Setiap gerakannya dan setiap pukulannya adalah untuk diperlihatkan kepada Tio Poan San, seorang ahli yang mempunyai nama sa-ngat besar.

Maka itu saban gcrakannya dilakukan dengan hati-hati, agar sesuai dengan derajat seorang ahli silat ternama.

Dengan adanya pikiran begitu, tujuan dari pu-kulanpukulannya adalah untuk memperlihatkan keindahan dan kesempurnaan dan bukan untuk membinasakan musuh.

Dari sebab dapat, tak dapat ia merubuhkan Ouw Hui dalam tempo cepat.

Di lain pihak, Siang Po Cin yang mengawasi pertempuran itu, jadi merasa gusar.

Ia melihat pa-man gurunya hanya mempergunakan pukulan-pu-kulan Pat-kwa-ciang yang paling cetek dan ia segera menarik kesimpulan, bahwa, karena takut terhadap Tio Poan San, sang Supeh sungkan bersungguhsungguh dalam usaha membalaskan sakit hati men-diang ayahnya.

Siang Po Cin tentu saja, tidak mengetahui, bahwa berlaku latihan puluhan tahun, dengan pu-kulan-pukulan yang biasa itu, Ong Kiam Eng ingin merubuhkan lawannya dengan perlahan.

Dalam tempo tidak terlalu lama, Ouw Hui sudah tertindih di bawah "angin pukulan".

Ketika itu, jika mau, dengan mudah Ong Kiam Eng bisa melukai Ouw Hui.

Tapi ia bukan bermaksud begitu.

Dengan disaksikan oleh Tio Poan San, ia ingin menghabiskan tenaga Ouw Hui, sehingga anak itu berlutut memohon ampun, sedang ia sendiri tetap segar dan tenang, seolah-olah sedikit pun tidak pernah membuang tenaga.

Memang juga, dalam ilmu silat, yang paling.

sukar dipelajari adalah.

Mengangkat barang berat seperti mengangkat barang enteng dan mengguna-kan tenaga seperti juga tidak menggunakan tenaga.

Setiap ahli silat ternama harus mempunyai kepandaian begitu.

Seorang yang bertempur dengan na-pas tersengal-sengal dan keringat mengucur, bukan seorang yang dinamakan ahli silat.

Tio Poan San yang dapat membaca pikiran Ong Kiam Eng, tidak khawatir lagi akan keselamatan bocah itu dan sekarang ia justru ingin mengetahui, sampai di mana Ouw Hui bisa mempertahankan diri.

Beberapa saat kemudian, Ouw Hui kelihatan sudah payah benar.

Sekonyong-konyong, sesudah jungkir balik, dengan tangan kanan menekan lantai, ia menyapu dengan kedua kakinya.

Sapuan itu juga merupakan suatu pukulan aneh.

Baru saja Ong Kiam Eng ingin meloncat mundur, Ouw Hui sudah duduk di atas lantai, sedang kedua kakinya menen-dang ke atas secara berantai.

Dalam sekejap, ia sudah mengirim tujuh delapan tendangan kilat, sehingga Ong Kiam Eng menjadi repot.

Ma Heng Kong dan Siang Loo-tay kembali saling mengawasi.

Tendangan berantai itu tidak dimiliki oleh Giam Kie dan sekarang ternyata, bocah itu mempunyai kepandaian yang jauh lebih tinggi daripada perampok she Giam itu.

Sesudah menendang, dengan sekali memutar-kan badan, ia berdiri dan kedua sikutnya menyikut ke belakang.

Pada saat itu, punggungnya berhadap-hadapan dengan punggung Ong Kiam Eng.

Oleh karena badannya kate, kedua sikutnya itu meng-hantam pantat Ong Kiam Eng, sehingga semua penonton tidak dapat menahan tertawanya lagi.

Ong Kiam Eng menjadi gusar bukan main.

Sembari memutarkan badan, ia menghajar dada Ouw Hui dengan pukulan yang sangat hebat.

Sekarang ia sudah tidak memperdulikan lagi derajat dan keagungannya.

Kalau dapat, dengan sekali memukul, ia ingin membinasakan si bocah cilik yang dianggapnya kurang ajar sekali.

Melihat begitu, Tio Poan San menghela napas.

"Ah! Putera Wie-cin Ho-sok Ong Wie Yang dalam banyak hal masih belum dapat menyamai ayahnya!"

Katanya di dalam hati.

Sementara itu, selama memperhatikan pertem-puran itu, ia selalu mengawasi Tan Ie untuk menjaga jangan sampai dia merat.

Melihat musuhnya sekarang menyerang bagai-kan angin dan hujan, Ouw Hui menjadi gentar.

Dengan mengandalkan pukulan-pukulan yang di-dapatkannya dalam Kun-keng (kitab ilmu silat), untuk sementara waktu ia dapat mempertahankan diri.

Sebenarnya, pukulan-pukulan aneh itu hanya untuk digunakan dalam latihan.

Pukulan-pukulan untuk bertempur tereatat di bagian belakang dari kitab tersebut.

Karena latihan dan tenaga Ouw Hui belum mencukupi, maka sampai sebegitu jauh, ia belum dapat menyelami pukulan-pukulan yang tereatat di bagian belakang kitab itu.

Maka itu, dalam menghadapi musuh, ia hanya dapat memperguna-kan pukulan-pukulan aneh yang sebenarnya di-gubah untuk latihan.

Dapat dimengerti, bahwa sebagai seorang Tayhiap (pendekar besar), Ouw It To tentu sungkan menggunakan pukulan-pukulan seperti lelucon yang bisa ditertawai orang.

Sesudah bertempur lagi belasan jurus, Ouw Hui mulai terhuyung kian kemari.

Mendadak, sambil mengegos ke kanan untuk mengelit pukulan Ouw Hui, Ong Kiam Eng membabat dengan tangan ka-nannya dengan gerakan Yoe-kong-tamjiauw (Men-cengkeram di udara), semacam pukulan yang sangat hebat.

Buru-buru Ouw Hui membungkuk, sehingga tenaga pukulan itu berkurang tujuh bagian.

Tapi walaupun begitu, begitu kena, ia lantas terguling di atas lantai.

Tanpa merasa semua penonton mengeluarkan teriakan tertahan.

Ong Kiam Eng yang belum merasa puas, segera menghantam lagi dengan telapak-an tangannya.

Tio Poan San gusar bukan main.

Sebagai ahli kenamaan, tidak pantas ia menurunkan tangan ja-hat terhadap seorang bocah yang sudah rubuh.

Dalam gusarnya, Tio Poan San siap sedia untuk menolong pada detik yang terakhir.

Tiba-tiba berbareng dengan berkelebatnya sesosok sinar hijau, Ong Kiam Eng menarik pulang tangannya dan meloncat mundur beberapa tindak.

Ternyata, di waktu terguling, Ouw Hui menemukan pedang In Tiong Shiang yang kutung.

Dalam ke-adaan terdesak, ia menjumput senjata itu yang lalu digunakan untuk memapaki tangan Ong Kiam Eng.

Kalau Ong Kiam Eng tidak berlaku cepat, telapakan tangannya tentu sudah ditobloskan senjata itu.

Begitu berhasil dengan pukulannya, Ouw Hui yang cerdik segera menggulingkan badan, menjumput serupa benda dari atas lantai dan kemudian memotong ujung bajunya yang digunakan untuk membungkus ujung mata pedang yang tajam.

"Ong Toaya,"

Katanya sembari tertawa.

"Ta-nganku pendek, tanganmu panjang, sehingga per-tempuran ini jadi agak pincang. Maka itu, aku menyambung tangan kananku supaya menjadi lebih panjang. Jika kau takut, pergilah ambil Pat-kwa-to."

Semenjak Hui-thian Ho-lie (si Rase Terbang) muncul dalam Rimba Persilatan, di setiap jaman, jago-jago keluarga Ouw semua terdiri dari orang-orang yang mempunyai kecerdasan luar biasa.

Ouw Hui mengetahui, bahwa dengan tangan kosong, tak dapat ia menandingi musuhnya.

Maka itu, ia meng-ambil keputusan untuk menggunakan senjata yang diapatnya secara kebetulan.

Tapi ia khawatir Ong Kiam Eng juga menggunakan senjata dan ia men-duluinya dengan katakata mengejek.

Sebagai seorang ternama, Ong Kiam Eng tentu saja sungkan kehilangan muka di hadapan banyak orang.

Tanpa menyahut, ia segera menyerang dengan kedua tangan kosongnya.

Dengan bantuan senjata kutung itu, Ouw Hui lalu mulai membela diri lagi.

Selagi terputar-putar melayani musuh, tangan kirinya sekonyong-konyong membuka topinya.

"Tangan kananku memegang pe-dang, tangan kiri mencekal tameng,"

Katanya sem-bari tertawa.

"Aku mau melihat, apakah kau masih bisa mendesak diriku."

Sembari berkata begitu, ia mengangkat tangannya yang mencekal topi kulit itu untuk memapaki serangan musuh.

"Anak bau!"

Ong Kiam Eng memaki dalam hatinya.

"Dengan memapaki begitu, pergelangan tanganmu pasti akan patah."

Ia mengempos semangatnya untuk menambah tenaga dalamnya dan menghantam! Mendadak, begitu pukulannya mampir di atas topi, Ong Kiam Eng berteriak.

"Ah!"

Teriakan itu adalah teriakan kesakitan dan kegusaran.

Sembari berteriak, ia loncat mundur setombak lebih.

Semua orang kaget dan memandangnya dengan heran.

Ternyata, telapakan tangan kirinya menge-luarkan sedikit darah.

Semua penonton menjadi bingung, mereka tak tahu, sebab apa Ong Kiam Eng mendapat luka.

Ong Kiam Eng gusar bukan main.

"Kau... kau!"

Ia berteriak sambil menuding.

"Apa yang kau sem-bunyikan di bawah topi?"

Ouw Hui meletakkan pula topinya di kepala dan mengacungkan tangan kirinya. Yang berada di tangannya itu, ternyata adalah sebatang Kimpiauw! "Inilah senjata rahasia Pat-kwa-bunmu!"

Jawab-nya sembari menyengir.

"Bukan aku yang mem-bawa-bawa kemari. Barusan aku memungutnya dari lantai untuk dibuat main. Salahmu sendiri! Siapa suruh kau mencari tahu isi topiku. Baiklah! Apa bagusnya Kimpiauw ini?"

Sembari berkata begitu, ia mengayunkan tangannya ke arah dada Ong Kiam Eng.

Ong Kiam Eng berkelit ke samping dan meng-ulurkan tangannya untuk menyambuti senjata rahasia itu.

Bahwa ia lebih dulu berkelit, membukti-kan yang jago tua itu segani si bocah cilik.

Ia khawatir Ouw Hui mempunyai ilmu menimpuk yang aneh, sehingga jika sambutannya meleset, Kimpiauw itu bisa mengenai dadanya.

Tapi...

ia menangkap angin.

Tak ada piauw yang menyambar dia.

Ternyata, selagi mengayunkan tangan ke de-pan, Ouw Hui mengerahkan tenaga dalamnya ke jeriji dan menyentil piauw itu ke belakang.

Siang Loo-tay yang sedang berdiri di belakang Ouw Hui, jadi terkesiap melihat menyambarnya suatu sinar kuning.

Secepat mungkin, ia menun-dukkan kepalanya, tapi tak urung, piauw itu menancap di kondenya!

Siang Po Cin meloncat menubruk ibunya seraya menanya dengan suara ge-metar.

"Ibu! Apakah kau terluka?"

Melihat cara-cara si bocah cilik yang aneh-aneh dan bagaimana nyonya Siang lolos dari lubang ja-rum, semua orang jadi terperanjat.

Tio Poan San mesem sembari memelintir kumisnya.

la juga mahir daiam ilmu melepaskan senjata rahasia yang baru-san diperlihatkan oleh Ouw Hui.

Kalau ia yang melepaskannya, sepuluh Siang Loo-tay juga tentu sudan binasa.

Akan tetapi, cara anak itu yang dalam kelucuannya mengandung kecerdikan luar biasa, tak dapat ditiru olehnya sendiri.

Sesudah dapat menetapkan hatinya, Siang Loo-tay lantas saja berteriak.

"Toasuheng, pencet nadi-mu! Piauw itu beracun!"

"Aku ambil obat!"

Seru Siang Po Cin sembari lari ke ruangan dalam.

Sifat Ong Kiam Eng yang telengas, tidak banyak berbeda dengan mendiang ayahnya.

Buru-buru ia merobek bajunya yang lalu digunakan untuk meng-ikat nadinya.

Melihat begitu, Ong Kiam Kiat segera mendekati untuk membantu.

"Minggir!"

Bentak saudara tua itu sembari men-dorong keras, sehingga Kiam Kiat terhuyung be-berapa tindak.

"Toako...!"

Seru si adik.

Kiam Eng tidak menyahut.

Sembari meloncat, ia menghantam kepala Ouw Hui dengan pukulan Pat-kwa Yoesin-ciang.

la sekarang sudah lupa da-ratan.

Jika mungkin, dengan sekali pukul, ia ingin mengambil jiwa bocah yang licik itu.

Semenjak belajar silat, baru di Siang-kee-po Ouw Hui mendapat pengalaman dalam pertem-puran yang sesungguhnya.

Pertama, ia bergebrak dengan Siang Po Cin, kemudian dengan Siang Loo-tay dan Ong Kiam Kiat dan sekarang dengan Ong Kiam Eng, ahli nomor satu dalam Patkwa-bun.

Dalam empat kali bertempur, semakin lama hatinya jadi semakin mantap.

Dengan ilmunya yang luar biasa, ia berusaha menambal kekurangan tenaga-nya.

Yoe-sin Pat-kwa-ciang sudah dikenalnya, selama ia bertempur melawan Ong Kiam Kiat.

Dalam pertempuran itu, hampir-hampir ia binasa.

Tapi sekarang, ia sudah mengetahui kelihayan ilmu ter-sebut yang menyerang dengan berputarputar.

Ia mengetahui, jika ia turut berputar-putar, silatnya akan menjadi kalut dan matanya berkunang-ku-nang.

Sekonyong-konyong ia ingat, bahwa dalam Kun-keng terdapat semacam ilmu yang dinamakan Su-siang-po (Tindakan empat penjuru), yang mes-kipun sederhana, rasanya dapat digunakan untuk menghadapi Yoe-sin Pat-kwa-ciang.

Ia tak sempat memikir lama-lama lagi, sebab Ong Kiam Eng sudah berada di belakangnya.

Dengan cepat ia maju setindak dan pada detik itu, tangan Ong Kiam Eng sudah menyambar punggungnya.

Melihat bagian belakang Ouw Hui terbuka, semua orang jadi khawatir.

Tapi di luar dugaan, pukulan Ong Kiam Eng jatuh di tempat kosong, karena tindakan majunya Ouw Hui.

Yoe-sin Pat-kwa-ciang adalah pukulan berantai yang dilancarkan susul menyusul sembari berlari-lari.

Tak perduli pukulan itu mengenai sasaran atau tidak, yang memukul itu terus lari berputar-putar, sembari melancarkan pukulan berantai.

Di lain detik, Ong Kiam Eng sudah berada di sebelah kanan Ouw Hui.

Pada detik itu, Ouw Hui maju setindak ke sebelah kiri.

Gerakan tersebut tepat sekali dengan menyambarnya pukulan Ong Kiam Eng, yang untuk kedua kalinya, jatuh pula di tempat kosong.

Harus diketahui, bahwa Su-siang-po dan Pat-kwa-ciang keluar dari sumber yang sama.

Dalam Kun-keng, Su-siang-po adalah ilmu untuk melatih gerakan kaki dan bukan untuk melukakan musuh.

Semakin lama, Ouw Hui semakin mahir meng-gunakan ilmu tersebut, sampai akhirnya, ia dapat melayani musuh sambil menoiak pinggang dengan kedua tangannya.

Kedua matanya yang jeli hanya mengawasi gerakan kaki Ong Kiam Eng, tanpa memperdulikan segala pukulannya.

Begitu musuh-nya berada di kiri, ia maju setindak ke kanan, kalau musuhnya berada di depan, ia mundur setindak ke belakang dan begitu seterusnya.

Pulang pergi, ia hanya menggunakan empat tindakan, yaitu.

Setindak ke depan, setindak ke belakang, setindak ke kiri dan setindak ke kanan.

Apa yang luar biasa, gerakan Su-siang-po sangat cocok dengan gerakan Pat-kwa-ciang.

Setiap pukulan Pat-kwa-ciang menyambar tepat pada saat yang sama dengan tindakan Su-siang-po.

Bagian pertama dari Yoe-sin Pat-kwa-ciang berisi tiga puluh dua macam pukulan.

Dalam ke-gagalannya itu, semakin lama Ong Kiam Eng jadi semakin bingung.

Melihat cara berkelahinya Ong Kiam Eng, diam-diam Tio Poan San menghela napas panjang.

"Dalam mewarisi ilmu ayahnya, Ong Kiam Eng hanya mengenai ilmu yang mati,"

Katanya di dalam hati.

"Diwaktu menghadapi musuh yang tangguh, sama sekali dia tidak dapat membuat perubahan untuk menyesuaikan diri. Sungguh sayang! Keli-hayan Ong Wie Yang kelihatannya tiada yang mewarisi."

Dengan cepat, bagian pertama Yoe-sin Pat-kwa-ciang sudan digunakan seanteronya. Pada saat itu, Siang Po Cin keluar dengan membawa obat.

"Toasupeh!"

Ia berseru.

"Makan obat dulu, baru bereskan bocah itu."

Ketika itu, lengan kiri Ong Kiam Eng sudah tidak menurut perintah lagi dan racun sudah be-kerja hebat. Lantas saja ia meloncat ke luar dari gelanggang untuk makan obat dulu.

"Ong-heng,"

Kata Tio Poan San.

"Aku lihat...."

Poan San tak dapat meneruskan kata-katanya, oleh karena Kiam Eng sudah menggoyangkan ta-ngan dan menerjang pula.

Ia mengetahui, bahwa Tio Poan San tentu bemaksud untuk mendamaikan dan jika ia sampai mesti menolak permintaan Cian-chiu Jielay, ia seolah-olah tidak mau "memberi muka"

Kepada Tio Samya.

Maka itu baru Poan San membuka mulut, ia sudah mendahului menerjang.

Sekarang Ong Kiam Eng mengubah cara ber-silatnya dan menyerang dengan tindakan-tindakan yang sangat pendek, sedang setiap pukulannya be-rat luar biasa.

Itulah Lwee Patkwa Ciang-hoat (Pukulan Pat-kwa Dalam) yang paling lihay dari Pat-kwa-bun.

Sebagaimana diketahui, tanpa menggunakan kedua tangannya, dengan hanya meng-gunakan tindakan-tindakan Lwee Pat-kwa Ciang-hoat, Ong Kiam Kiat sudah membikin Siang Po Cin tidak berdaya.

Dan sekarang, sudah Yoe-sin Pat-kwa-ciang dipunahkan dengan Su-siang-po, mau tak mau, Ong Kiam Eng terpaksa menggunakan ilmu simpanan itu.

Baru saja menyambut tiga pukulan.

Ouw Hui sudah merasa tak tahan lagi.

"Celaka!"

Ia mengeluh. Ia menunduk dan melihat kaki lawannya sedang bergeser ke kiri. Dengan berani, ia menjejak kaki kiri Ong Kiam Eng.

"Apa kau mau cari mampus!"

Bentak Kiam Eng sembari menarik pulang kakinya.

Dengan berbuat demikian, kaki kanannya tidak menginjak lagi ga-risan Pat-kwa.

Di waktu mengajar kedua puteranya, Ong Wie Yang berlaku bengis sekali.

Setiap tindakan dan setiap pukulan tak boleh salah sedikit pun.

Dengan mendapat didikan begitu, ditambah lagi dengan sifatnya yang sangat kukuh, dalam pertempuran, Ong Kiam Eng sangat memperhatikan kedudukan kedua kakinya dan ia tak akan mengirimkan pukulan, jika kedua kakinya tidak berada di kedudukan yang tepat.

Dan di waktu kedua kakinya sudah menginjak pula garis Pat-kwa, Ouw Hui kem-bali menjejak salah satu kakinya.

Diganggu secara begitu ilmu silat Ong Kiam Eng segera menjadi kacau.

Melihat kesempatan baik itu, dengan menggunakan seantero tenaganya, Ouw Hui menghan-tam kempungan musuh.

"Bagus!"

Seru Kiam Eng sembari menyambut dengan kedua tangannya.

Itulah sambutan keras melawan keras.

Ouw Hui merasakan sekujur badannya bergoncang keras, tapi tangan kirinya menahan terus kedua telapakan tangan musuh, yang semakin lama jadi semakin berat.

Pada detik itu, sedikit saja ia mundur, isi perutnya akan mendapat luka hebat.

Karena itu, dengan mati-matian ia mempertahankan diri.

Melihat si bocah sudah kalah dan jiwanya ber-ada dalam bahaya, Tio Poan San tertawa seraya berkata.

"Anak, kau sudah kalah. Guna apa mati-matian?"

Sembari berkata begitu, ia menepuk pundak Ouw Hui.

Heran sungguh, bagaikan arus listrik, semacam tenaga yang luar biasa mengalir dari ta-ngan Poan San ke tubuh Ouw Hui.

Dan pada saat itu juga, Ong Kiam Eng merasakan kedua tangannya kesemutan dan dadanya sesak, sehingga buru-buru ia meloncat mundur.

"Ong-heng,"

Kata Tio Poan San.

"Tenaga da-lammu jauh lebih tinggi daripada bocah itu. Guna apa bertanding terus?"

Sehabis berkata begitu, ia menepuk-nepuk pundak Ouw Hui seraya berkata pula.

"Sungguh hebat! Dalam tempo lima enam tahun lagi, aku pun sudah bukan tandinganmu lagi."

Dengan perkataan lain, pada waktu itu, Ong Kiam Eng lebihlebih bukan tandingan Ouw Hui.

Muka Ong Kiam Eng menjadi merah seperti kepiting direbus.

Ia ingin sekali mengucapkan be-berapa perkataan untuk menolong sedikit mukanya, tapi ia tak tahu, apa yang harus dikatakannya.

Maka itu, ia hanya berdiri bengong tanpa mengeluarkan sepatah kata.

Melihat telapakan tangan kiri kakaknya ber-warna hitam akibat racun, Ong Kiam Kiat berpaling ke arah Siang Loo-tay dan menanya.

"Apakah tak ada obat luar?"

Nyonya Siang tak menyahut, ia hanya meng-gelenggelengkan kepalanya. Dari sakunya, Tio Poan San segera mengeluarkan sebuah botol kecil yang berwarna merah dan berkata sembari membuka tutupnya.

"Secara kebetulan aku membawa obat bubuk ini yang agak manjur."

Ong Kiam Kiat menjadi girang sekali.

Ia tahu, bahwa Tio Poan San adalah ahli senjata rahasia, sehingga obat itu tentu juga bukan obat semba-rangan.

Buru-buru ia menyodorkan telapak tangannya dan Poan San lalu menuang sedikit obat bubuk itu di atas telapaknya.

Sesudah menerima budi itu, menurut peraturan dalam kalangan Kang-ouw, Ong-sie Heng-tee tak boleh mengganggu lagi Ouw Hui yang berada di bawah perlindungan Tio Poan San.

Sesudah memberi obat, sembari menggendong kedua tangannya, Poan San berjalan mundar-man-dir di ruangan itu.

"Kita yang belajar ilmu silat, ada yang lebih tinggi kepandaiannya dan ada juga yang lebih rendah,"

Katanya dengan suara nyaring.

"Bagi seorang manusia, yang terutama adalah hati yang mulia dan perbuatan yang baik. Jika kita dapat melakukan perbuatan-perbuatan yang tak mem-bikin kita malu terhadap Langit dan Bumi, maka tinggi ceteknya ilmu silat tidak menjadi soal. Mem-punyai kepandaian tinggi, tentu saja sangat baik, tapi walaupun kita hanya mempunyai kepandaian cetek, kita toh akan tetap dihormati orang. Aku, si orang she Tio, paling membenci perbuatan yang tak mengenal malu, paling membenci manusia rendah yang menjual sahabat untuk memperoleh ke-mewahan."

Suaranya semakin keras, sedang kedua matanya mengawasi Tan Ie yang terus menunduk untuk menghindari bentrokan mata.

Selagi menunduk, sekonyong-konyong Tan Ie terkesiap bagaikan dipagut ular dan bulu romanya bangun semua.

Kenapa?

Ternyata, sesudah menyambut tujuh piauw yang dilepaskan oleh Siang Loo-tay, Tio Poan San melemparkan semua piauw itu di atas lantai.

Salah satu di antara bendabenda itu diambil Ouw Hui untuk melukai Ong Kiam Eng, sedang enam yang lainnya masih tetap berhamburan.

Di waktu ber-jalan mundar-mandir, Tio Poan San sengaja mengerahkan tenaga dalamnya ke dua kakinya dan menginjak enam buah piauw itu yang lantas saja melesak masuk ke dalam ubin!

Itulah lantarannya Tan Ie jadi bergidik.

Dengan berbuat begitu, Tio Poan San bermaksud memperingatkan Siang Loo-tay supaya dia jangan menggunakan lagi senjata beracun dan memperingatkan semua orang supaya jangan mencampuri urusannya dengan Tan Ie.

Tan Ie mengawasi ke sekitar ruangan.

Ong-sie Heng-tee sedang repot membungkus luka, Siang Loo-tay dan Siang Po Cin berdiri bengong dengan muka pucat, Ma Heng Kong tengah memanggut-manggutkan kepalanya, sedang In Thiong Shiang menggertak gigi dengan paras muka ketakutan.

Ia mengerti bahwa sudah tak ada kawan yang berani membantu padanya.

Dalam bingungnya, ia menjadi nekat.

"Baiklah!"

Ia berteriak.

"Dalam waktu senang, banyak saudara, banyak sahabat. Tapi had ini, selagi aku si orang she Tan didesak oleh seorang bangsat besar, tak seorang sahabat yang berani muncul. Orang she Tio! Kita tak usah pergi ke luar. Di sini saja kita bergebrak."

Baru saja Tio Poan San ingin menjawab "baik", sekonyongkonyong ia merasakan suatu kesiuran angin di belakangnya. Ia tahu, itulah sambaran senjata rahasia.

"Bagus!"

Ia berseru dan tanpa menengok, sebelah tangannya diulur ke belakang.

Di lain detik, dua jerijinya sudah menjepit sebatang Huito (golok terbang) yang kecil.

Ketika sedang menjepit, ia merasakan sambaran tenaga Yang-kong (tenaga "keras"

Dan sesudah menjepit, Huito itu agak tergetar di antara kedua jerijinya. Itulah timpukan yang agak berbeda dari timpukan Siauw-lim-pay di Hokkian.

"Sahabat!"

Katanya sembari tertawa.

"Ternyata kau adalah Siauw-lim-sie di Siongsan. Siapakah gurumu?"

Orang yang menimpuk itu benar saja adalah Ouw Poan Jiak, seorang ahli silat dari Siauw-lim-pay di Siong-san!

Bahwa tanpa menengok dan tanpa melihat penimpuknya, Tio Poan San sudah dapat menangkap Huito itu dan mengetahui siapa yang melepasnya, benar-benar sudah mengejutkan semua orang.

Setelah dibokong, Tio Poan San jadi berpikir.

"Baru saja Ang-hoa-hwee menyingkir ke Hui-kian beberapa tahun, namanya sudah tak begitu ce-merlang lagi seperti dulu,"

Pikirnya.

"Dalam usaha melindungi seorang bocah dan mengajak keluarnya seseorang, aku terus dihalang-halangi. Jika tidak memperlihatkan ke-angkeran, bisa-bisa orang akan memandang rendah seluruh Ang-hoa-hwee."

Memikir begitu, lantas saja ia berseru.

"Sahabat! Berdirilah biar tegak dan jangan bergerak!"

Sebelum Ouw Poan Jiak sempat menyahut, Tio Poan San mengayun kedua tangannya beberapa kali, kemudian memutarkan badannya dan meng-ayunkan pula tangannya berulang-ulang.

Dan...

ber-bareng dengan terayunnya tangan itu, macam-ma-cam senjata rahasia, seperti Huito, Kimpiauw, pa-nah tanah, batu Hui-hong-sek, Thie-lian-cie, Kim-chiepiauw dan sebagainya, menyambar-nyambar ke arah Ouw Poan Jiak!

Ong Kiam Eng terperanjat.

"Tio-heng!"

Ia ber-teriak.

"Jangan menurunkan tangan yang kejam!"

"Benar,"

Sahutnya.

"Aku pun tidak ingin berlaku kejam."

Ketika semua mata ditujukan ke arah Ouw Poan Jiak, semua orang jadi terpaku dan ternganga.

Ternyata, Ouw Poan Jiak berdiri mepet di tembok dan di sekitar tubuhnya tertancap macam-macam senjata rahasia itu, tapi tidak satu pun yang mengenakan kulit badannya.

Ouw Poan Jiak sendiri jadi terbang semangatnya dan sesudah beberapa saat, barulah ia menyingkir dari tembok itu.

Ketika menengok, ia melihat puluhan senjata rahasia itu yang menancap di tembok, merupakan peta badan manusia.

Sukar sekali dilukiskan perasaan Ouw Poan Jiak diwaktu itu, Tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia menyoja dalam-dalam di hadapan Tio Poan San dan kemudian, ia keluar dari pintu dengan tindakan lebar, tanpa meminta did dari siapa pun juga.

Kejadian itu sekaan-akan merupakan keputus-an hukuman mati untuk Tan Ie.

Siapa lagi yang berani membantu dia?

Setelah mengetahui jiwanya tak akan tertolong lagi, Tan Ie menjadi nekat.

"Sedari dulu, pembesar negeri dan kawanan pe-rampok memang tak dapat menginjak bumi ber-sama-sama,"

Katanya dengan suara keras.

"Biarlah aku mati untuk membalas budi Hok Kongcu."

Tio Poan San menjadi gusar sekali. Ia menengok ke arah Ong Kiam Eng dan berkata.

"Bahwa dalam Thay-kek-bun muncul manusia keji, itu ada-lah suatu kejadian yang sangat memalukan bagi partai kami. Sebenarnya-benarnya, urusan ini hen-dak kuselesaikan secara diam-diam, tanpa diketahui oleh orang luar. Tapi binatang itu agaknya mau mendesak supaya aku berterus terang terhadap dunia luar."

Dengan sebenarnya, Tan Ie sendiri tidak mengetahui, kedosaan apa yang telah dibuatnya terhadap Tio Poan San.

Dia adalah seorang yang berhati-hati dan sangat licik, tak gampang-gampang mau menanam permusuhan dengan siapapun juga.

Maka itu, lantas saja ia menyambungi.

"Benar! Dalam dunia, yang paling terutama adalah keadilan. Biarlah kau menyebutkan segala kesalahanku, supaya semua orang dapat mempertimbangkannya."

"Hm!"

Gerendeng Cian-chiu Jielay sembari menunjuk gadis cilik yang dibawanya.

"Apakah kau kenal adik kecil ini?"

Tanyanya. Tan Ie menggelengkan kepalanya.

"Tak kenal, belum pernah aku bertemu dengan dia,"

Jawabnya.

"Tapi kau tentu kenal ayahnya,"

Kata pula Tio Poan San.

"Dia adalah puteri Lu Hie Hian, di Kongpeng."

Begitu tiga perkataan "Lu Hie Hian"

Itu keluar dari mulut Tio Poan San, paras muka Tan Ie menjadi pucat seperti kertas.

"Oh!"

Kata beberapa orang dan semua mata segera ditujukan kepada gadis itu.

Gadis itu bam saja berusia dua belas atau tiga belas tahun, tapi parasnya diliputi awan pende-ritaan.

la menuding Tan Ie dan berteriak.

"Kau tak kenal aku? Tapi aku kenal kau! Malam itu, ketika kau membunuh saudaraku, ayahku, aku mengintip di luar jendela. Setiap malam dalam mimpi, aku selalu melihat cecongormu!"

Setiap perkataan yang keluar dari mulut si nona, tandas setandas-tan-dasnya. Sebagai orang yang berdosa, Tan Ie hanya dapat mengeluarkan beberapa perkataan.

"Ah"!. Tio Poan San lalu menyoja kepada semua ha-dirin dan berkata dengan suara nyaring.

"Apa yang dikatakan oleh manusia she Tan ini, adalah tepat sekali. Dalam dunia, yang paling terutama adalah keadilan. Sekarang, ijinkanlah aku menuturkan segala kejadian dari kepala sampai di buntut, agar sekalian saudara dapat mempertimbangkannya. Sebagai kalian tahu, di antara tiga Suheng-tee (saudara seperguruan) dari Thay-kek-bun di Kongpeng, adalah Lu Hie Hian, yang paling kecil, yang mem-punyai kepandaian paling tinggi. Eh, orang she Tan! Pernah apakah kau dengan Lu Hie Hian?"

Tan Ie menunduk dan menjawab dengan suara perlahan.

"Susiokku!" (paman guru. Sembari menjawab begitu, ia mengasah otak untuk mencari jalan kabur).

"Benar,"

Kata Tio Poan San.

"Lu Hie Hian adalah Susioknya. Aku sendiri tidak kenal padanya. Dia adalah Kauwcu-ya (tuan guru) dari Cin-ong-hu (gedung raja muda) di Pakkhia. Kami, orang-orang dusun, mana bisa berkenalan dengan orangorang besar?"

Kata-katanya mengesankan, bahwa di dalam hatinya, ia merasa sangat tidak senang.

Akan tetapi, sebagai se orang mulia, dengan memandang muka si gadis cilik, ia hanya berkata sampai di situ.

Sesudah berdiam beberapa saat, Poan San menyambung penuturannya.

"Semenjak hidup meng-asingkan diri di Huikiang, aku tidak mengetahui pula segala sengketa dalam Rimba Persilatan di daerah Tiong-goan. Tapi, pada suatu hari, nona ini datang kepadaku dan sembari berlutut serta menangis, ia meminta bantuanku. Nona! coba ke-luarkan dua rupa barang itu supaya dapat dilihat oleh para paman."

Gadis itu segera menurunkan sebuah bung-kusan yang digendong di punggungnya.

Dengan hati-hati ia membuka bungkusan itu.

Begitu bung-kusan itu terbuka, semua orang jadi terkejut.

Di bawah sinar lilin, mereka melihat sepasang tangan manusia yang sudah kering dan selembar kain putih dengan tulisan darah!

"Coba ceritakan segala kejadiannya, supaya bisa diketahui oleh semua orang,"

Kata Poan San pula dengan suara kasihan. Sembari mencekal kedua tangan manusia yang kering itu, air mata si nona mengucur deras.

"Pada suatu malam,"

Ia mulai.

"Selagi ayahku rebah di pembaringan dengan menderita sakit, manusia she Tan itu datang dengan mengajak tiga kawan yang bertubuh tinggi besar. Ia mengatakan, bahwa atas perintah Ongya (raja muda), ia ingin mendapatkan rahasia Kiu-toa-koat (sembilan teori) dari Thaykek-kun. Entah bagaimana, mereka jadi bertengkar. Adik lelakiku menangis karena ketakutan. Manusia she Tan itu segera mencengkeram adikku dan sambil membalingbalingkan pedangnya, ia menggentak ayah. Katanya, jika ayah tak meluluskan permin-taannya, ia akan membinasakan adik. Ayah menge-luarkan beberapa perkataan yang tidak dimengerti olehku. Dan... dia... dia lantas membunuh adik!"

Kata-kata itu ditutup dengan suara sesambat yang memilukan hati.

"Manusia begini jahat, kenapa tidak lantas di-mampuskan!"

Teriak Ouw Hui tanpa merasa. Sesudah menyusut air matanya, si nona berkata pula.

"Belakangan, ayah bertempur dengan mereka. Tapi, karena mereka berjumlah lebih besar, ayahku kalah dan dibinasakan. Belakangan lagi, Sun Peh-peh datang berkunjung dan aku lalu mencerita-kan...."

"Sun Pehpeh itu adalah Sun Kong Hong, Ciang-bunjin (Pemimpin) dari Thay-kek-bun di Kong-peng,"

Celetuk Tio Poan San. Sun Kong Hong adalah nama yang tidak kecil dan dikenal oleh semua orang, yang lantas saja memanggutmanggut-kan kepala mereka.

"Sesudah berpikir beberapa hari,"

Si nona menyambut penuturannya.

"Sun Pehpeh memanggil aku. Mendadak, dengan golok ia membacok putus tangan kirinya. Dengan darahnya sendiri, ia menulis surat di atas kain putih itu. Sesudah itu, ia rae-letakkan golok itu di atas meja dan membenturkan tangan kanannya ke mata golok, sehingga tangan itu menjadi putus. Ia... ia menyuruh aku pergi ke Huikiang untuk mempersembahkannya kepada Tio Pehpeh. Ia berkata... dalam Thay-kek-bun, hanya Tio Pehpeh seorang yang bisa menolong mem-balaskan sakit hati itu...."

Semua orang jadi saling mengawasi dengan mulut ternganga. Itulah kejadian yang hebat dan menyedihkan, mereka semua merasa kasihan ter-hadap gadis cilik itu.

"Sun Kong Hong memang kukenal,"

Kata Tio Poan San.

"Dulu, karena memandang rendah ke-padaku, ia pernah datang di Unciu untuk mengadu silat. Tak dinyana, pertandingan itu sudah mem-bikin ia ingat akan diriku."

Dari keterangan tersebut, orang bisa menarik kesimpulan, bahwa Sun Kong Hong sudah dirubuhkan dalam pertandingan tersebut.

"Dalam surat darahnya, Sun Kong Hong mem-beritahukan, bahwa ia adalah Ciangbun (pemimpin) dari Thay-kek-bun di Pakkhia,"

Tio Poan San menerangkan pula.

"Ia mengatakan, bahwa kepan-daiannya tidak cukup tinggi untuk memberi hukuman kepada murid murtad she Tan itu. Dari sebab itu, ia mengutungkan kedua tangannya untuk dipersembahkan kepadaku, si orang she Tio. Akhir-nya, dengan disertai pujian, ia meminta bantuanku. Hm! Sesudah menerima sepasang tangan itu dan sebuah topi besar (pujian), walaupun andaikata, aku tak mengenal padanya, aku masih membantu juga."

Muka Tan Ie pucat seperti kertas, tapi ia masih coba membela diri.

"Surat darah itu belum tentu ditulis oleh Sun Supeh. Coba kulihat."

Sembari berkata begitu, ia menghampiri Nona Lu untuk meneliti surat darah tersebut.

Mendadak, di luar dugaan semua orang, ba-gaikan kilat ia menghunus sebilah pisau belati yang lantas saja ditodongkan ke punggung si nona.

"Baiklah kita mampus bersama-sama!"

Ia berseru. Ituiah perubahan yang benar-benar mengejut-kan. Tio Poan San meloncat untuk menolong, tapi Tan Ie mencengkeram erat-erat leher Lu Siauw Moay dan membentak.

"Maju lagi setindak, kaulah yang membinasakan jiwa anak ini."

Diluar kehendaknya, Poan San mundur setindak. Ia bingung, tak tahu harus berbuat apa.

"Ah! Jika Cit-tee (adik ketujuh) berada di sini, ia tentu tahu, tindakan apa yang harus diambil,"

Katanya di dalam hati.

Harus diketahui, bahwa sebagai manusia yang berhati tulus, Tio Poan San kebanyakan kalah jika berhadapan dengan kaum siauwjin (manusia rendah).

Maka itu, dalam bingungnya, ia ingat kepada adik ketujuhnya Bu Cukat Cie Thian Hong (karena pintarnya, Cie Thian Hong mendapat ge-laran Bu Cukat, yaitu Cukat Liang yang kesohor pandai di jaman Samkok).

Tan Ie menekankan pisaunya, sehingga merobek baju Lu Siauw Moay dan mata pisau mengenai kulit anak itu.

Dengan demikian Tio Poan San tidak dapat memukul jatuh pisau itu dengan senjata rahasianya.

Kemudian sembari mengawasi Poan San, ia berkata.

"Tio Samya, kau dan aku sebenarnya tidak mempunyai ganjalan suatu apa. Meskipun kau menimpuk kedua mataku dengan senjata rahasia, aku tak akan membalasnya."

Ketika itu, Poan San mencekal dua buah piauw dalam tangannya dan memang benar ia sedang menimbang-nimbang untuk menimpuk kedua mata Tan Ie.

Asal Tan Ie mengegos atau menyampok, ia bisa membarenginya begerak untuk menolong Lu Siauw Moay.

Tapi, tak dinyana, orang she Tan itu sudah dapat membaca pikirannya.

Sesaat itu, seluruh ruangan menjadi sunyi senyap.

Dengan kedua mata tetap mengawasi Tio Poan San, Tan Iebicara kepada kedua saudara Ong.

"Ong Jieko,"

Katanya.

"Apakah kalian tahu, sebab apa hari ini Tio Samya mendesak aku sampai begitu hebat?"

Sebagai rekan yang bekerja kepada satu ma-jikan, meskipun tidak bisa dikatakan bersahabat, kedua saudara Ong itu mempunyai hubungan yang baik juga dengan Tan Ie.

Kalau bukan karena merasa jeri, sedari tadi juga mereka tentu sudah coba membujuk.

Maka itu, mendengar pertanyaan Tan Ie, Ong Kiam Eng lantas saja berkata.

"Menurut keterangan Tio Samya, ia pun diminta tolong oleh orang lain. Belum tentu, ia sendiri mengetahui duduknya per-soalan sejelas-jelasnya. Memang mungkin sekali, dalam hal ini terselip salah mengerti."

Tan Ie tertawa dingin.

"Salah mengerti sih tak ada,"

Katanya.

"Ong Toako, sebagaimana kau tahu, sebelum bekerja pada Hok Kongcu, lebih dulu aku bekerja di gedung Heng Cinong."

"Benar,"

Kata Ong Kiam Eng.

"Adalah Heng Cin-ong yang memujikan kau kepada Hok Kongcu."

Tan Ie manggutkan kepalanya dan berkata pula.

"Seperti yang dikatakan Tio Samya, memang benar aku sudah melukai ayah nona itu. Akan tetapi, aku berbuat begitu atas perintah Ongya. Kau dan aku sama-sama menjadi kuli orang. Jika majikan memerintah, apakah kau bisa membantah?"

"Ah, kalau begitu, tak bisa terlalu menyalahkan kau,"

Kiam Eng membantu.

Harus diketahui, bahwa sesudah menerima su-rat darah, bersama Lu Siauw Moay, Tio Poan San segera pergi ke Kongpeng.

Oleh karena tidak dapat mencari Sun Kong Hong di kota itu, mereka terus menuju ke kota raja.

Sesudah menyelidiki sekian lama, baru Poan San mendengar, bahwa Tan Ie turut mengiring Hok Kongcu ke Tiongkok Selatan.

Kuda yang ditunggangi Poan San adalah kuda Lok Peng, yaitu Gin-song Tui-tian-kauw (si Arus listrik berwarna perak) yang larinya cepat luar biasa.

Dalam dua hari saja, dari Pakkhia ia sudah mengejar sampai di Siang-kee-po.

Maka itu, duduknya per-soalan yang sejelas-jelasnya, ia masih belum tahu.

Di tengah jalan, beberapa kali ia coba mencari tahu dari Lu Siau Moay.

Tapi, baru mengucapkan beberapa patah, gadis cilik itu yang tidak pandai menurut, sudah keburu menangis, sehingga Poan San tidak tega menanya terlalu terbelit-belit.

Sekarang, mendengar Tan Ie bersedia untuk memberikan penjelasan, hatinya merasa senang.

"Baiklah,"

Katanya.

"Kau tadi berkata, bahwa dalam dunia ini, yang paling terutama adalah keadilan. Kau sudah mengakui, bahwa Lu Hie Hian adalah paman gurumu. Sepantasnya, biarpun ia berdosa besar, tak boleh kau membinasakan padanya."

Sesaat itu, keberanian Tan Ie sudah pulih kem-bali.

Ia merasa pasti, bahwa dihari ini, ia akan bisa meloloskan diri.

Akan tetapi, ia yakin, bahwa jika hatinya tidak dibikin puas, Tio Poan San tentu akan merasa penasaran dan akan terus mengejar-ngejar dirinya.

Maka itu, tujuannya yang terutama adalah memuaskan Tio Poan San, supaya ia tidak merupakan bahaya lagi di hari kemudian.

"Tio Samya,"

Katanya.

"Kau adalah seorang ksa-tria yang tulus dan bersih. Terus-terang aku ingin memberitahukan, bahwa sekali ini kau sudah kena ditipu Sun Kong Hong!"

Tio Poan San terkejut.

"Apa?"

Ia menegas.

"Dulu,"

Tan Ie menerangkan.

"Sun Couwsu (kakek guru) dari Thay-kek-bun di Kongpeng mem-punyai tiga orang murid. Sun Supeh murid pertama, ayahku murid kedua, sedang Lu Susiok murid ke-tiga. Mereka bertiga tidak akur. Aku rasa, Tio Samya sudah mengetahui hal ini."

Sebenarnya Tio Poan San tidak mengetahui, tapi sebagai orang yang sudah mencampuri urusan itu, ia merasa jengah untuk mengakuinya. Maka itu, ia hanya berkata.

"Habis bagaimana?"

"Lu Susiok adalah pentolan Thay-kek-bun ca-bang Utara,"

Tan Ie meneruskan penuturannya.

"Aku sendiri sangat mengagumi kepandaiannya. Ia menjadi guru silat di gedung Heng-ong, tapi rahasia Thay-kek-kun sedikit juga ia tidak turunkan kepada Ongya (raja muda). Heng-ong adalah seorang yang suka sekali kepada ilmu silat. Melihat liciknya Lu Susiok, raja muda itu jadi merasa mendongkol. Beberapa kali ia mendesak dan oleh karena terlalu didesak, Lu Susiok lantas saja minta berhenti. Maka itu, Heng-ong telah mencari aku dan minta aku menjelaskan arti Loan-hoan-koat dan Im-yangkoat (dua teori silat) dari Thay-kek-kun. Hanya sungguh menyesal, mendiang ayahku tidak mempunyai ke-pandaian yang tinggi dan siang-siang sudah meninggal dunia, sehingga bisa dikatakan, bahwa ia sama sekali tidak mewariskan kepandaian apa-apa kepadaku. Heng-ong lantas saja memerintahkan, supaya aku meminta penjelasan dari Lu Susiok."

Tio Poan San manggut-manggutkan kepalanya.

"Menurut peraturan Thay-kek-bun cabang Selatan dan cabang Utara, rahasia ilmu silat dari partai tersebut tidak boleh diturunkan kepada orang bang-sa Boan,"

Katanya di dalam hati.

Baca Juga: Tugas Rahasia Gan Kh

Baca Juga: Pedang Kiri Pedang Kanan 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert