Ceritasilat Novel Online

Kembalinya Sang Pendekar Rajawali 1

Eps 1 Kembalinya Sang Pendekar Rajawali - Chin Yung

Baca online Kembalinya Sang Pendekar Rajawali - Chin Yung

Cersil Kembalinya Sang Pendekar Rajawali - Chin Yung.

Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Judul Asli .

Sin Tiaw Hiap Lu Oleh Chin Yung Ebook .

Dewi KZ Musim rontok, nona Kanglam petik teratai di pinggir sungai, Lengan baju sempit, kun-nya enteng melambai-lambai, Sepasang gelang emas, lapat-lapat kelihatan.

Bayangan muka (atas air), memetik bunga, bunga laksana muka, Hati tergoncang ibarat getaran tali tetabuan tjeng, Di tikungan Sungai Keecio, gelombang badai datangnya terlambat, Halimun tebal, asap enteng berterbangan, Tapi si dia yang ditunggu, tak juga muncul kelihatan.

Suara nyanyian lapat-lapat membikin ingat ‘tu kejadian.

Ketika di gili-gili Kanglam dengan sedih berpisahan.

Demikianlah sajak "Kupu-kupu rindukan bunga"

Yang dibuat oleh penyair kenamaan zaman Pak Song (Song Utara), Ouwyang Siu.

Ia lukiskan pemandangan selagi seorang gadis Kanglam memetik teratai, dengan hanya menggunakan enam puluh huruf Tionghoa.

Akan tetapi, dengan enam puluh huruf itu, ia berhasil melukiskan musimnya, tempatnya, pemandangannya, parasnya sang nona, pakaiannya, perhiasannya dan perasaannya, semuanya dilukiskan dengan indah sekali seperti cuma dapat dilukiskan oleh seorang penyair besar.

Ouwyang Siu tinggal lama di Kanglam, sehingga ia mengetahui benar keadaan di daerah itu.

Musim semi dengan pohon yangliu-nya, musim panas dengan buah engtoh-nya dan musim rontok dengan gadis-gadisnya yang memetik buah teratai, adalah pemandangan istimewa dari Kanglam yang indah permai.

TAMU ANEH DITENGAH MALAM.

Zaman pemerintahan Song-li-cong pada dinasti Song, di daerah Oh-ciu, daerah Kanglam, ada sebuah kota kecil, namanya Leng-oh-tin.

Waktu itu dekat pertengahan musim rontok, daun teratai mulai kering, teratai padat.

Di sungai kecil pinggir kota kecil itu lima gadis cilik berada di sebuah perahu kecil sedang bernyanyi dan bersenda gurau dengan asyiknya sambil mendayung perahu untuk memetik biji teratai Di antara kelima gadis cilik itu usia tiga orang kurang lebih lima belasan, dua orang lagi hanya berusia delapan atau sembilan tahun saja.

Kedua dara cilik itu adalah saudara misan, Piauci (kakak misan) bernama Thia Eng, sedangkan Piaumoay (adik misan) she Liok bernama Bu-siang, timur keduanya hanya selisih setengah tahun saja, tapi Thia Eng lebih pendiam dan lemah lembut, sebaliknya Liok Bu-siang sangat lincah, perangai keduanya sama sekali berbeda.

Ketiga gadis yang lebih tua-an masih terus bernyanyi sambil mendayung perahu menyusun semak daun teratai itu.

"Eh Piaumoay, lihatlah, paman aneh itu berada di situ!"

Seru Thia Eng sambil menuding seorang yang berduduk di bawah pohon tepi sungai sana.

Orang yang dimaksud itu berambut kusut masai tapi kaku, kumis dan jenggotnya juga semrawut dan kaku seperti duri landak, namun baik rambut maupun jenggot dan kumisnya masih hitam mengkilap, mestinya usianya belum begitu lanjut, namun mukanya penuh keriput dan cekung sehingga tampaknya seperti kakek berusia 70-80 tahun.

Yang paling aneh dan lucu adalah pakaian-nya, bajunya yang menyerupai kaos oblong adalah sebuah karung goni yang sudah compang-camping, sedangkan celananya terbuat dari satin dan masih baru, malahan bagian bawah bersulamkan kupu-kupu yang berwarna warni, Tangan kakek itu memegang sebuah kelentungan (kelontong) mainan kanak-kanak, kelentungan itu tiada hentinya di putar sehingga menimbulkan bunyi kelentang-keluntung, tapi kedua mata kakek itu menatap kaku ke depan seperti orang kehilangan ingatan.

"Orang gila ini sudah berduduk selama tiga hari di sini, mengapa dia tidak lapar?"

Kata Liok Bu-siang.

"He, jangan panggil dia orang gila, kalau dengar nanti dia marah,"

Ujar Thia Eng.

"Kalau dia marah akan tambah menarik,"

Kata Liok Bu-siang sambil menjemput sebuah ubi teratai terus dilemparkan ke arah kakek aneh itu.

Jarak antara perahu kecil itu dengan si kakek aneh ada belasan meter jauhnya, tapi tenaga Bu-siang ternyata tidak lemah meski usianya masih kecil.

Lemparannya itupun sangat jitu, ubi teratai itu langsung menyamber ke muka si kakek aneh "Jangan, Piaumoay !"

Thia Eng berseru men cegah, namun sudah terlambat, ubi teratai itu sudah terlanjur menyambar ke sana.

Akan tetapi keajaiban segera terjadi, tiba-tiba kakek aneh itu menengadah, dengan tepat ubi teratai itu tergigit olehnya.

iapun tidak menggunakan tangan, hanya lidahnya yang bekerja, ubi teratai itu digeragotinya dengan lahap.

Padahal biji teratai mentah itu rasanya pahit, apalagi kulitnya juga tidak dikupas, tapi kakek aneh itu sama sekali tidak ambil pusing, Melihat cara makan orang aneh itu, ketiga gadis yang agak besaran tadi menjadi geli dan mengikik tawa.

Liok Bu-siang juga merasa senang, serunya.

"Ini makan satu lagi!" -Segera ia lemparkan pula sebuah ubi teratai kepada si kakek Waktu itu separuh daripada umbi teratai pertama masih belum habis termakan dan tergigit di mulutnya, mendadak kakek itu memapak ubi teratai kedua yang dilemparkan Bu-siang dengan ubi teratai yang tergigit di mulutnya itu, sedikit mencungkit, ubi teratai kedua lantas mencelat ke atas, jatuhnya ke bawah tepat hinggap di atas kepalanya, Rambut si kakek semrawut kaku sehingga ubi teratai itu dapat tertahan di atas kepalanya tanpa bergoyang sedikitpun. Serentak kelima gadis cilik itu bersorak gembira.

"Ini masih ada ! ""

Seru Bu siang pula, kembali melemparkan sebuah ubi teratai Lagi-lagi kakek aneh itu mencungkit dengan ubi teratai di mulutnya seperti tadi dan kembali ubi teratai itu mencelat ke atas dan jatuh persis menumpuk di atas ubi teratai yang duluan.

Melihat permainan akrobat itu, kelima gadis bertambah senang, tangan Liok Bu-siang juga bekerja berulang-ulang, dalam sekejap saja di atas kepala kakek aneh itu sudah bersusun belasan ubi teratai sehingga tingginya hampir satu meter.

Setelah ubi teratai pertama tadi termakan, si kakek sedikit miringkan kepalanya dan ubi teratai yang paling atas mendadak menggelinding ke bawah, tapi tepat jatuh di mulut si kakek, sebentar saja ubi teratai inipun dimakan habis, lalu ubi teratai yang lain menggelinding jatuh ke bawah pula dan dimakan lagi.

Dalam waktu singkat ubi teratai yang tersunggi di atas kepala-nya itu hanya tersisa dua saja.

Senang dan heran Liok Bu-siang serta Thia Eng melihat permainan kakek aneh itu, segera mereka mendayung perahunya ke tepian dan mendarat.

Thia Eng berhati welas asih dan berbudi halus, dia mendekati si kakek dan menarik-narik bajunya serta berkata.

"Empek (paman) tua, caramu makan begitu tidak enak!" -Lalu ia mengambil sebuah ubi teratai kulitnya dikupasnya, bijinya dibuang, sumbu ubi yang pahit juga diambilnya, kemudian diberikannya kepada kakek aneh itu. Kakek itupun tidak menolak, ubi teratai itu lantas dimakannya dan terasa lebih gurih dan enak daripada yang dimakannya tadi, tiba-tiba ia menyeringai kepada Thia Eng dan manggut-manggut. Aneh juga, kedua ubi teratai yang masih bersusun di atas kepalanya itu cuma bergoyang sedikit saja dan tidak terperosot jatuh. Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara mengkuiknya anjing kecil di seberang sungai sana terseling suara teriakan dan bentakan anak-anak kecil yang riuh ramai. Waktu Thia Eng menoleh ke sana, tertampak seekor anjing kecil budukan sambil mencawat ekor sedang berlari-lari ketakutan melalui jembatan kecil sana, di belakang anjing budukan itu mengejar tujuh atau delapan anak nakal, ada yang memegang bambu, ada yang menyambit dengan batu disertai suara bentakan segala. Anjing kecil itu memang sudah jelek karena kulitnya budukan, kini dihajar pula hingga babak belur oleh kawanan anak. nakal itu, tentu saja keadaannya bertambah konyol. Biasanya Thia Eng suka kasihan kepada anjing kecil ini dan sering memberi sisa makanan padanya, Rupanya anjing kecil itu melihat Thia Eng dari kejauhan, maka dengan mati-matian ia lari ke sini, lalu sembunyi di belakang Thia Eng. Ketika kawanan anak nakal itu mengejar tiba dan hendak menghajar pula anjing kecil itu, cepat Thia Eng mencegahnya sambil berseru.

"He, jangan memukulnya, jangan memukulnya !"

"Anak perempuan minggir, bukan urusanmu !"

Damperat seorang anak yang paling nakal, berbareng tangannya mendorong tubuh Thia Eng.

Tapi sedikit mengegos saja Thia Eng dapat menghindarinya.

Bu-siang berdiri di sebelah sang Piauci, melihat anak nakal itu kurang ajar, segera ia menjegal dengan sebelah kakinya sambil menahan pelahan di bahu anak itu.

Tanpa ampun anak nakal itu jatuh tersungkur mencium tanah, bahkan dua gigi depan copot semuanya, saking kesakitan anak itupun menjerit menangis.

Bu-siang bertepuk senang, sedangkan Thia Eng merasa kasihan, ia membangunkan anak itu dan menghiburnya.

"Jangan menangis! Apakah sakit ?" -Melihat mulut anak itu penuh darah, ia menjadi gugup dan mengeluarkan sapu tangan untuk mengusap darahnya. Tapi anak nakal itu terus mendorongnya sambil memaki.

"Tidak perlu kau mengusap, kau budak busuk yang tidak punya ayah ibu !"

Kuatir dihajar pula oleh Bu-siang, anak nakal itu lantas berlari menyingkir sambil mencaci maki, setelah agak jauh, ia terus menjemput batu kecil dan menyambiti kawanan gadis ku.

Dengan gesit Thia Eng dan Bu-siang dapat menghindarinya, akan tetapi ketiga gadis yang agak besaran itu tidak mahir ilmu silat, mereka menjadi kesakitan tertimpuk oleh batu-batu kecil itu.

Beberapa potong batu itupun mengenai badan si kakek aneh, tapi orang tua itu tidak menjadi gusar juga tidak menghindar seperti tidak berasa apa-apa tersambit oleh batu-batu itu.

Melihat itu, kawanan anak nakal itu menjadi heran dan merasa tertarik, segera mereka mengam************************************ Hal 9 dan 10 Hilang ************************************ tanah, Muka Thia Eng sudah berubah, menjadi pucat pasi, sebaliknya wajah Bu-siang tampak merah padam, Waktu mereka memandang sekelilingnya, kiranya tempat itu adalah tanah pekuburan kedua anak dara itu belum pernah mendatangi tempat sesunyi itu, mau-tak-mau hati mereka menjadi berdebar.

"Kongkong (kakek)", kata Thia Eng dengan lemah lembut.

"kami ingin pulang saja, tak mau lagi bermain dengan kau."

Tapi kakek aneh itu menatapnya dengan tajam tanpa menjawab.

Melihat sinar mata si kakek memancarkan semacam perasaan sedih dan memilukan, meski masih kecil dan tidak paham seluk-beluk kehidupan insaniah, namun secara naluri timbul rasa simpatiknya terhadap orang tua itu, katanya kemudian dengan halus.

"Apabila engkau tidak punya teman memain, besok saja engkau datang ke tepi sungai sana, nanti akan ku kupaskan ubi teratai pula untukmu."

Tiba-tiba kakek aneh itu menghela napas dan berkata.

"Ya, sudah 40 tahun, selama 40 tahun ini tiada orang menemani aku bermain." -Sampai di sini mendadak sorot matanya berubah menjadi beringas, tanyanya dengan suara bengis.

"Di mana Ho Wan-kun ? Kau pernah apa dengan Ho Wan-kun ?"

Thia Eng menjadi takut melihat perubahan sikap si kakek, jawabnya dengan suara gemetar.

"Aku... aku"

Mendadak si kakek mencengkeram lengannya dan menggoyang-goyangkan tubuhnya beberapa kali lalu bertanya pula dengan suara parau.

"Mana Ho Wan-kun?"

Hampir saja Thia Eng menangis, air matanya berlinang-linang dalam kelopak matanya, tapi tidak sampai menetes.

"Hayo menangis! Menangis!"

Mendadak kakek aneh itu menghardik dengan mengertak gigi "Kenapa tidak menangis ?

Hm, beginilah kau pada 40 tahun yang lalu, Kau mengatakan menikah dengan dia secara terpaksa, tapi mengapa kau tidak mau minggat bersamaku?

Ya, kau anggap aku miskin, anggap aku berwajah jelek jika benar kau berduka mengapa kau tidak menangis?"

Dengan gemas si kakek pandang Thia Eng, tapi aneh juga, meski ketakutan, namun air mata Thia Eng tetap tidak menetes, Ketika kakek itu menyuruhnya menangis sambil menggentak-gentak tubuhnya, Thia Eng bahkan menggigit bibir dan berkata di dalam hati.

"Tidak, aku pasti tidak menangis !"

"Hm, jadi kau tidak mau meneteskan setetes air mata bagiku ? setetes air mata saja kau tidak sudi ? Lantas untuk apa aku hidup lagi ?"

Mendadak kakek itu melepaskan Thia Eng, lalu dengan setengah berjongkok ia membenturkan kepalanya ke batu nisan yang berada di sampingnya, Batu nisan itu terbuat dari batu hijau dan tertanam kuat di dalam tanah.

Karena benturan keras itu, batu nisan itu terus mencelat keluar dari tanah dan jatuh agak jauh dengan mengeluarkan suara keras, Sedang si kakek juga lantas menggeletak pingsan.

"Lekas, lari, Piauci !"

Seru Bu-siang, segera ia tarik tangan Thia Eng dan mengajaknya kabur. Thia Eng ikut berlari beberapa langkah, ketika menoleh, ia lihat kepala si kakek mengucurkan darah ia menjadi tidak tega, katanya.

"Jangan-jangan paman tua itu terbentur mati, marilah kita memeriksanya."

"Kalau mati kan jadi setan ?"

Ujar Bu-siang.

Thia Eng terkejut, ia takut si kakek akan menjadi setan, iapun takut kalau si kakek mendadak siuman, lalu mencengkeramnya pula sambil mengucapkan perkataan yang sama sekali tidak dipahami apa maksudnya.

Akan tetapi iapun tidak tega dan merasa kasihan melihat muka si kakek penuh darah, ia coba menghibur dirinya sendiri.

"Tidak, kakek aneh itu bukan setan, aku tidak takut, iapun takkan mencengkeram aku lagi."

Segera ia lepaskan pegangan tangan Bu-siang dan mendekati si kakek sambil berseru.

"Kong-kong, apakah kau kesakitan ?"

Terdengar orang aneh itu merintih satu kali, tapi tidak menjawab.

Thia Eng menjadi tabah sedikit, ia keluarkan sapu tangan untuk menutupi luka si kakek Tapi luka itu agaknya cukup hebat, hanya sekejap saja sapu tangan Thia Eng itu sudah basah kuyup oleh darah yang terus mengucur keluar, ia pikir sejenak tiba-tiba ia merobek ujung baju sendiri untuk menggantikan sapu tangan yang penuh darah itu.

"He, kalau pulang nanti tentu kau akan dimarahi ayah,"

Ujar Bu-siang.

"Betapapun juga akan dimarahi, biar saja,"

Kata Thia Eng. ia tekan luka si kakek sehingga darah tidak merembes lagi. Selang tak lama, pelahan kakek itu membuka matanya, melihat Thia Eng duduk di sampingnya, katanya sambil menghela napas.

"Buat apa kau menolong aku? Lebih baik aku mati saja."

Thia Eng gembira melihat si kakek telah siuman, dengan suara lembut ia bertanya.

"Kepalamu sakit tidak ?"

"Kepala tidak sakit, hati yang sakit,"

Jawab si kakek dengan suara pedih.

Thia Eng menjadi heran, sungguh aneh, luka pada kepala separah itu katanya tidak sakit, tapi hatinya yang dikatakan sakit malah, iapun tidak tanya lagi, kembali ia merobek sepotong kain bajunya untuk membalut lukanya.

Si kakek menghela napas pula dan berbangkit katanya.

"Kau tak mau bertemu lagi dengan aku, apakah kita akan berpisah dengan begini saja ? Satu titik air mata saja kau tak mau meneteskan bagiku ?"

Mendengar suara ucapannya sedemikian memilukan sedemikian berduka, dilihatnya pula wajah si kakek yang jelek itu penuh darah, tapi sorot matanya memancarkan perasaan memohon dengan sangat, tanpa terasa hati Thia Eng men-jadi terharu dan ikut berduka, air matapun bercucuran tak tertahankan Bahkan tanpa kuasa ia terus merangkul si kakek, tiba-tiba ia merasa orang tua aneh ini seperti orang yang paling dekat dan paling rapat dengan dirinya.

Menyaksikan mereka tanpa sebab saling rangkul dan menangis dengan lucu itu, Liok Bu-siang menjadi geli, tak tertahan ia tertawa terbahak-bahak Mendengar suara tertawanya, mendadak orang aneh itu melepaskan Thia Eng, ia berlari ke depan Bu-siang dan menatapnya tajam, tiba-tiba ia menengadah dan berkata dengan gegetun.

"Ya, kau sering kasihan padaku, tapi juga selalu mengejek aku, kau telah menyiksa diriku sedemikian."

Habis menggumam, tiba-tiba ia ingat sesuatu, ia memandang Bu-siang pula dengan teliti, lalu memandang Thia Eng, kemudian berkata.

"Tidak, tidak kau bukan dia, kau masih kecil Pernah apa Ho Wan-kun dengan kalian ? Mengapa kalian sedemikian mirip dia ?"

Usia Thia Eng dan Bu-siang memang sebaya, tapi gerak-gerik mereka dan sifat masing-masing boleh dikatakan berlawanan sama sekali, wajah merekapun tidak sama.

Kalau raut muka Thia Eng berbentuk bulat telur, kulit badannya putih mulus, sedangkan muka Bu-siang berbentuk daun sirih, kulitnya hitam manis, meski usianya lebih muda setengah tahun, tapi perawakannya ramping semampai sehingga lebih tinggi daripada sang Piauci malah.

Karena merasa bingung atas ucapan si kakek tadi, Bu-siang lantas menanggapi.

"Aku tidak tahu siapa yang kau tanyakan, cuma aku dan Piauci sama sekali tidak mirip, mana bisa menyerupai seseorang ?"

Kakek itu mengamat-amati pula kedua anak dara itu, mendadak ia mengetok kepalanya sendiri dan berkata.

"Ya, aku benar-benar goblok Kau she Liok bukan ?"

"Ya, darimana kau mendapat tahu ?"

Jawab Bu-siang. Orang tua itu tidak menjawab, ia bertanya pula.

"Kakekmu bernama Liok Tian-goan bukan?"

"Benar,"

Jawab Bu-siang sambil mengangguk Untuk sejenak kakek itu termenung, sekonyong-konyong ia pegang bahu Thia Eng terus diangkat tinggi-tinggi ke atas, katanya dengan suara halus.

"Anak dara yang baik, kau she apa ? Cara bagaimana kau memanggil Liok Tian-goan ?"

Kini Thia Eng tidak punya rasa takut lagi, jawabnya.

"Aku she Thia, Gwakong (kakek luar) she Liok, ibuku juga she Liok."

"Ya, ya, tahulah aku, Liok Tian-goan dan Ho Wan-kun melahirkan seorang putera dan seorang puteri,"

Kata orang aneh itu. Lalu ia tuding Bu-siang dan melanjutkan.

"Puteranya ialah ayah-mu." -Kemudian ia menurunkan Thia Eng dan berkata sambil menudingnya.

"Dan puterinya ialah ibumu, Pantas kalian berdua menyerupai Ho Wan-kun separo-separo, yang satu pendiam, yang lain nakal, yang satu welas asih, yang lain kejam."

Thia Eng tidak tahu bahwa nenek-luarnya bernama Ho Wan-kun, juga Bu-siang tidak kenal nama neneknya, hanya dalam hati samar-samar ia merasakan si kakek aneh ini pasti mempunyai Untuk sejenak kakek itu termenung, se-konyong2

"Thia Eng diangkatnya tinggi di atas kepala, katanya dengan suara halus.

"Anak dara baik, kau she apa ? Pernah apa kau dengan Liok Tian-goan ?"

Hubungan yang erat dengan leluhurnya sendiri, dengan melenggong mereka memandangi kakek aneh itu.

"Mana Gwakongmu ? Maukah kau membawa aku menemuinya ?"

Kata si kakek pula.

"Gwakong sudah tidak ada lagi,"

Jawab Thia Eng.

"Tidak ada lagi ? Mengapa tidak ada, kami sudah berjanji akan bertemu besok lusa,"

Tukas kakek itu dengan melengak.

"Sudah beberapa bulan Gwakong telah meninggal dunia,"

Jawab Thia Eng.

"Lihatlah, bukankah kami berkabung semua ?"

Benar juga si kakek melihat pada kuncir rambut kedua anak dara itu sama terikat oleh pita putih sebagai tanda berkabung, seketika hati si kakek menjadi limbung, ia menggumam sendiri.

"Dia telah paksa aku memakai celana wanita selama 40 tahun dan kini dia tinggal pergi begitu saja ? Hm, hm, ketekunan belajarku selama 40 tahun ini jadi cuma sia-sia belaka." -Habis berkata mendadak ia menengadah dan tertawa terbahak-bahak, suara tertawanya berkumandang jauh dan penuh mengandung perasaan sesal dan penasaran yang tak terhingga, Sementara itu hari sudah dekat magrib, suasana sudah remang-remang. Liok Bu-siang menjadi rada takut, ia tarik lengan baju sang Piauci dan berkata.

"Piauci, marilah kita pulang saja !"

Mendadak si kakek berkata pula.

"Jika begitu tentu Wan-kun juga sangat berduka dan kesepian.

"Eh, anak dara yang baik, bawalah aku menemui nenek-luarmu."

"Tidak ada, nenek-luar juga sudah tidak ada,"

Jawab Thia Eng.

"Apa katamu ?"

Mendadak kakek itu melonjak tinggi sekali sambil berteriak menggeledek.

"Di mana nenek-luarmu ?"

Muka Thia Eng menjadi pucat, jawabnya dengan gemetar.

"Nenek juga tidak ... tidak ada, nenek dan kakek meninggal ber... bersama, Kongkong, janganlah kau menakuti aku, ak...aku takut !"

"Dia sudah mati ? jadi dia sudah mati!"

Mendadak kakek aneh itu memukul-mukul dada sendiri "Tidak, tidak !

Dia belum bertemu dengan aku dan mohon diri padaku, dia pasti tak boleh mati Dia telah berjanji padaku pasti akan bertemu.

sekali lagi dengan aku."

Kakek itu berteriak-teriak dan berjingkrak seperti orang gila, mendadak sebelah kakinya menyapu.

"krak" , sebatang pohon kecil tersapu patah menjadi dua. Memangnya kakek itu sudah angin-anginan, kini dia mengamuk, tampaknya menjadi tambah gila dan menakutkan. Thia Eng menggandeng tangan Bu-siang dan menyingkir jauh ke sana, mereka ketakutan dan tak berani mendekat. Si kakek mendadak merangkul sebatang pohon Liu dan digoyang-goyangkan sekuatnya, Tapi pohon Liu itu cukup besar sehingga si kakek tidak mampu membetotnya keluar, ia menjadi murka dan berteriak.

"Kau sendiri sudah berjanji, apakah kau telah lupa ? Kau mengatakan akan bertemu lagi dengan aku !"

Semakin berteriak, akhirnya suaranya menjadi parau dan masih terus berusaha membetot keluar pohon Liu tadi. Mendadak ia berjongkok dan mengerahkan segenap tenaganya sambil membentak.

"Keluar !" -Namun pohon Liu itu tetap sukar terbetot keluar, sebaliknya tertarik oleh tenaga si kakek yang maha kuat, pohon itu menjadi patah bagian tengah. Sambil merangkul potongan pohon Liu, kakek itu termangu sejenak, tiba-tiba ia menggumam pula.

"Dia sudah meninggal, sudah meninggal !" -Ketika ia ayun potongan pohon itu terus dilemparkan bagaikan payung raksasa saja pohon Liu itu terlempar jauh dan jatuh ke tanah, Sejenak kemudian air muka si kakek tampak berubah menjadi tenang, dengan ramah ia mendekati Thia Eng berdua dan berkata dengan tersenyum.

"Kongkong telah menakuti kalian ya? Di manakah kuburan kakek dan nenekmu ? Coba bawalah aku ke sana."

Bu-siang meremas tangan sang Piauci, maksudnya supaya Thia Eng jangan memberitahukan padanya, Namun dalam hati Thia Eng merasa sangat kasihan kepada kakek aneh itu, tanpa pikir ia terus menuding pada dua pohon besar di kejauhan dan berkata.

"Itu, berada di bawah kedua pohon itu !"

Mendadak kakek itu mengempit pula kedua anak dara itu dan dibawa lari ke arah pohon yang ditunjuk tadi.

Dia lari lurus ke depan tanpa perduli rintangan apapun, kalau terhalang oleh sungai kecil, sekali lompat saja sungai itu lantas dilintasinya.

Biasanya Liok Bu-siang sangat kagum terhadap Ginkang ayah-ibunya jika mengikuti latihan mereka, tapi kini kecepatan berlari si kakek dengan mengempit dua anak dara ternyata jauh terlebih hebat daripada ayah-ibu Bu-siang.

Hanya sekejap saja mereka sudah sampai di bawah kedua pohon besar tadi.

Kakek aneh itu melepaskan Thia Eng berdua, lalu berlari ke depan kuburan tertampak dua kuburan berjajar, setiap kuburan terdapat sebuah batu nisan dengan pahatan huruf-huruf yang diberi cat kuning yang kelihatan masih baru.

Rumput di atas kuburan juga masih jarang-jarang, suatu tanda kedua kuburan itu memang belum lama didirikan.

Air mata si kakek berlinang-linang sambil memandangi kedua batu nisan kuburan, jelas terbaca tulisan di atas batu-batu nisan itu menyebut kuburan Liok Tian-goan dan isterinya.

Ho Wan-kun.

Kakek itu berdiri terpaku di depan kuburan itu sampai sekian lamanya, mendadak pandangannya serasa kabur, kedua batu nisan seperti berubah menjadi dua sosok bayangan manusia, yang satu adalah gadis jelita yang sedang tersenyum manis dan yang lain adalah pemuda tampan romantis.

Dengan mata mendelik si kakek mendadak membentak.

"Bagus, celana wanita ini kukembalikan padamu !" -Berbareng ia melangkah "maju, sebelah tangannya menghantam dada pemuda itu.

"Plak" , bubuk batu bertaburan pukulannya itu mengenai batu nisan, sedangkan bayangan pemuda telah lenyap.

"Mau lari ke mana ?"

Bentak pula si kakek, tangan Iain lantas menghantam sekalian.

"plak-plak" , batu nisan itu sampai rompal sebagian, betapa hebat tenaga pukulan si kakek sungguh luar biasa. Semakin memukul semakin mengamuk, tenaga pukulannya juga semakin hebat, sampai pukulan ke sembilan, kedua tangannya menghamtam sekaligus.

"blang", batu nisan itu patah menjadi dua. Sambil terbahak-bahak ia berteriak.

"Nah, kau sudah mampus sekarang, untuk apa lagi aku memakai celana perempuan?" -Habis itu ia lantas merobek-robek celana wanita bersulam kupu-kupu yang dipakainya sendiri itu hingga hancur, lalu dilemparkan ke atas kuburan, maka tertampaklah celana pendek dari kain belacu yang dipakainya di bagian dalam. Selagi tertawa terbahak-bahak, mendadak suara tertawanya berhenti, setelah tertegun sejenak, segera ia berteriak pula.

"Aku harus melihat mukamu, aku harus melihat mukamu !" -Ketika kedua tangannya menjojoh, serentak kesepuluh jarinya menancap ke dalam kuburan Ho Wan-kun, waktu ia tarik kembali tangannya, dua gumpal tanah ikut tergali keluar. Begitulah kedua tangan si kakek terus bekerja dengan cepat laksana cangkul saja, tanah bergumpal-gumpal tergali olehnya sehingga sebentar lagi peti mati, pasti akan kelihatan. Thia Eng dan Bu-siang menjadi ketakutan, tanpa terasa mereka terus putar tubuh dan lari bersama, Karena asyik menggali kuburan, kakek aneh itu tidak memperhatikan kaburnya kedua anak dara itu. Setelah berlari-lari dan membelok ke sana ke sini beberapa kali dan tidak nampak dikejar si kakek barulah kedua anak dara itu merasa lega. Mereka tidak kenal jalanan di situ, terpaksa bertanya kepada orang kampung, karena itulah sampai hari sudah gelap baru mereka tiba kembali di rumah.

"Wah, celaka, celaka !"

Ayah, ibu, lekas kemari ada orang menggali kuburan nenek !"

Begitulah Bu-siang berteriak sambil berlari menerobos ke dalam rumah, setiba di ruangan tamu, dilihatnya sang ayah sedang bicara dengan tiga orang tamu yang tidak dikenalnya.

Ayah Bu-siang bernama Liok Lip-ting, baik Lwekang maupun Gwakang sudah mencapai tingkatan yang cukup sempurna, hanya sejak kecil kedua orang tua mengawasinya dengan sangat ketat dan melarangnya berkecimpung di dunia Kangouw, maka namanya sama sekali tidak terkenal di dunia persilatan walaupun ilmu silatnya tergolong kelas.

tinggi Pada hari itu dia sedang duduk iseng di ruang tamu dan mengenangkan ayah-bunda yang sudah wafat, tiba-tiba terdengar suara ringkik kuda di luar, tiga penunggang kuda berhenti di halaman luar dan seorang diantaranya lantas berseru.

"Wanpwe mohon bertemu dengan Liok-locianpwe!"

Di daerah Kanglam pada umumnya orang jarang naik kuda karena jalanan sempit dan banyak sungai dan kali yang bersimpang siur, maka hati Liok Lip-ting tergerak ketika mendengar suara ringkik kuda tadi, demi mendengar suara seruan, cepat ia memapak keluar, Dilihatnya tiga lelaki baju hijau dengan penuh debu sudah berdiri di luar pintu.

Melihat Liok Lip-ting, ketiga orang itu lantas memberi hormat dan berkata.

"Kami datang dari jauh dan mohon bertemu dengan Liok-locianpwe."

Mata Liok Lip-ting menjadi merah, jawabnya.

"Sungguh menyesal, ayah sudah wafat tiga bulan yang lalu, Mohon tanya nama tuan-tuan yang terhormat."

Sejak berhadapan tadi sikap ketiga orang sudah kelihatan gelisah dan kuatir, demi mendengar jawaban Liok Lip-ting, air muka mereka menjadi pucat seperti mayat dan saling pandang.

dengan melenggong, Lalu Liok Lip-ting bertanya pula.

"Tuan-tuan ingin bertemu dengan ayah, entah ada keperluan apakah ?"

Ketiga orang itu tetap tidak menjawab, seorang diantaranya menghela napas dan menggumam.

"Sudahlah, biarlah kita terima nasib saja !"

Mereka lantas memberi hormat pula kepada Liok Lip-ting, lalu hendak mencemplak kuda ma-sing-masing. Tapi seorang diantaranya tiba-tiba berkata.

"Liok-locianpwe ternyata sudah wafat, biarlah kita memberi hormat ke depan layonnya."

Liok Lip-ting menyatakan terima kasih dan anggap tidak perlu maksud orang itu, tapi ketiga orang itu memohon pula dengan sangat dan terpaksa Liok Lip-ting menyilakan mereka masuk Lebih dulu ketiga orang itu mengebut debu di atas tubuh agar bersih, lalu ikut Liok Lip-ting ke ruangan belakang untuk memberi hormat di depan abu layon Liok Tian-goan dan isterinya, Ho Wan-kun.

Seperti lazimnya, Liok Lip-ting berlutut di samping meja sembahyang itu untuk membalas hormat.

Selesai menjalankan penghormatan, waktu ketiga orang itu berbangkit, tak tertahankan lagi mereka menangis dengan sedih, Karena tangisan mereka ini, Liok Lip-ting menjadi berduka juga, iapun menangis keras-keras, Yang bertubuh gemuk pendek di antara ketiga orang itu berkata kepada kawannya yang mengucurkan air mata itu.

"Cu-hiante, marilah kita mohon diri kepada tuan rumah !"

Orang she Cu itu mengusap air matanya, ia memberi hormat kepada Liok Lip-ting dan lantas mohon diri.

Melihat gerak-gerik ketiga orang itu tangkas dan gesit, jelas memiliki ilmu silat yang lumayan, entah mengapa datang terburu-buru dan berangkat pula tergesa-gesa, tapi Liok Lip-ting tidak enak untuk bertanya, terpaksa ia mengantar keberangkatan mereka.

Setiba di luar, ketiga orang itu memberi salam perpisahan pula, lalu mencemplak ke atas kuda masing-masing.

Ketika orang she Cu itu naik ke atas kudanya lengan baju agak tergulung sedikit sehingga tertampak sebagian lengannya berwarna merah hangus.

Liok Lip-ting terkejut, dilihatnya kedua orang dibagian depan sudah melarikan kudanya, tanpa pikir ia terus melayang ke sana dan menghadang di depan kuda.

Tentu saja kedua ekor kuda itu berjingkrak kaget dan meringkik Syukur kedua orang itu mahir menguasai kudanya sehingga tidak sampai terperosot jatuh.

"Apakah Cu-heng ini terkena Jik-lian-sin-ciang ?"

Tanya Liok Lip-ting.

Mendengar disebutnya "Jik-lian-sin-ciang" (pukulan sakti ular belang berbisa), pula terlihat gerakan Liok Lip-ting yang hebat.

serentak ketiga orang itu melompat turun dari kudanya dan menyembah, kata mereka.

"Mata kami benar-benar lamur sehingga tidak kenal kesaktian Liok-tayhiap, mohon Liok-tayhiap sudi menolong jiwa kami."

"Ah, jangan sungkan,"

Jawab Liok Lip-ting sambil membangunkan ketiga orang itu.

"Silahkan masuk ke dalam untuk bicara pula."

Begitulah maka Liok Lip-ting lantas menyilakan ketiga tamunya masuk ke rumah pula dan baru saja berduduk, belum sempat bertanya lebih lanjut, pada saat itulah Liok Bu-siang berlari-lari masuk sambil berteriak-teriak ia tidak jelas apa yang diledakkan anak perempuannya, tapi ia lantas membentaknya.

"Anak perempuan tidak tahu aturan, hayo ribut apa ? Lekas masuk sana !"

Tapi Bu-siang lantas berteriak pula.

"Ayah, orang itu sedang menggali kuburan nenek !"

Baru sekarang Liok Lip-ting terkejut, serentak ia melonjak bangun dan membentak.

"Apa katamu ? Ngaco-belo !"

"Memang betul, paman,"

Pada saat itu pula Thia Eng juga sudah masuk Liok Lip-ting tahu anak perempuan sendiri sangat nakal dan jahil, tapi Thia Eng tidak pernah berdusta, maka ia lantas tanya lebih jelas apa yang telah terjadi Dengan terputus-putus dan tak teratur Liok Bu-siang menceritakan apa yang dilihat dan dialaminya tadi Tidak kepalang terkejut dan gusar Liok Lip-ting, segera ia samber golok yang tergantung di dinding, ia minta maaf kepada ketiga tamunya, lalu berlari menuju makam ayah-bundanya.

Ketiga tetamunya juga lantas menyusulnya ke sana, Setiba di depan makam, tak terperikan pedih hati Liok Lip-ting, hampir saja ia jatuh kelengar, Ternyata makam ayah-ibunya sudah dibongkar orang, bahkan kedua rangka peti mati juga sudah terbuka.

jenazah di "

Dalam peti mati sudah lenyap, benda-benda yang biasanya disertakan di dalam peti juga berserakan tak keruan.

sedapatnya Liok Lip-ting menenangkan diri, dilihatnya tutup peti mati sama meninggalkan bekas lima kuku jari yang dalam, jelas bangsat pencuri mayat itu telah mencongkel tutup peti mati secara paksa dengan tenaga jarinya yang hebat Padahal kedua peti mati itu terbuat dari kayu yang keras, diberi pantek dan dipaku pula sehingga sangat kuat, tapi orang itu mampu membongkarnya dengan bertangan kosong, maka betapa hebat ilmu silat orang itu sungguh sukar diperkirakan -oooo000oooo2.

JIK -LIAN -SIN -CIANG Tidak keruan rasa hati Liok Lip-ting, ya sedih ya gusar, ya kejut ya sangsi, tapi ia tidak mendengarkan cerita Bu-siang secara jelas sehingga tidak diketahui bangsat pencuri mayat ini ada permusuhan kesumat apa dengan ayah-bundanya sehingga sesudah kedua orang tua itu sudah meninggal masih dirasakan perlu merusak kuburannya serta memusnahkan mayatnya.

Sejenak dia terlongong di depan kuburan, segera pula ia mengejar, tapi hanya beberapa langkah, ia ragu2, ia memeriksa tapak kaki disekitar kuburan, namun jejak yang dicarinya tak diketemukan, ia bertambah heran, pikirnya.

"Seorang diri dia membawa jenazah ayah bunda-ku, betapapun tinggi Ginkangnya pasti juga meninggalkan tapak kaki ?"

Biasanya dia cukup cermat, namun mengalami kejadian yang tak terduga ini, pikirannya menjadi kacau, tidak sempat lagi ia memeriksa dengan teliti, segera ia lari mengejar mengikuti jalan raya.

Ketiga tamu tadi kuatir akan keselamatannya, merekapun mengintil dengan kencang.

Begitu Liok Lip-ting kembangkan Ginkang, larinya secepat kuda membedal, mana bisa ketiga orang itu menyusulnya ?

sekejap saja sudah kehilangan bayangannya, Liok Lip-ting berlari memutar beberapa kali, cuaca pun sudah gelap, terpaksa dia kembali ke kuburan pula, dilihatnya ketiga tamu itu berdiri menunggu di pinggir kuburan, Liok Lip-ting berlutut di depan kuburan, ia memeluk peti mati ibunya dan menangis tergerung-gerung.

setelah orang puas menangis, barulah ketiga laki2 itu maju membujuk.

"Liok-ya, harap tenangkan hati dan berpikirlah dengan jernih. Mungkin kami bisa memberi sedikit keterangan latar belakang kejadian ini."

Melotot kedua mata Liok Lip-ting, teriaknya.

"Siapa bangsat keparat itu ? Dimana dia ? Lekas katakan !"

Kata salah seorang itu.

"Cukup panjang cerita ini, tidak perlu Liok-ya gugup, marilah pulang dulu nanti kita rundingkan persoalan ini."

Liok Lip-ting anggap omongan orang memang benar, katanya.

"Aku terlalu gugup sampai berlaku kurang hormat."

"Ah, kenapa Liok-ya berkata demikian,"

Sahut ketiga tamu itu.

Maka mereka kembali ke rumah Liok Lip-ting.

Setelah menghaturkan teh kepada tamu-tamunya, tak sempat tanya nama para tamunya, Liok Lip-ting.

lantas masuk ke dalam hendak memberitahukan isterinya, tak tahunya sang isteri sudah mendapat laporan Bu-siang dan keluar mengejar bangsat itu dan belum kembali.

Bertambah pula kekuatiran Liok Lip-ting, terpaksa ia kembali ke ruang tamu dan bicara dengan ketiga tamunya, Ketiga tamunya lantas memperkenalkan diri, kiranya mereka adalah para Piausu An-wan Piaukiok dari Ki-lam di Soatang, seorang she Liong, she So dan she Cu.

Mendengar mereka hanya kawanan Piausu, seketika berubah dingin sikap Liok Lip-ting, hatinya kurang senang, katanya.

"Selamanya aku tidak pernah berhubungan dengan Piausu, hari ini kalian kemari, entah ada keperluan apa ?"

Ketiga orang itu saling pandang lalu serentak berlutut, serunya.

"Harap Liok-ya suka tolong jiwa kami!"

Liok Lip-ting sudah dapat meraba beberapa bagian, katanya tawar.

"Berdirilah kalian, Entah cara bagaimana Cu-ya sampai terkena Jit-lian-sin-ciang ?"

Liong-piausu dan So-piausu berkata berbareng.

"Kami berduapun terkena juga."

Sembari berdiri mereka menyingkap lengan baju, tampak ke-empat lengan mereka sama berwarna merah darah dan mengerikan. Liok Lip-ting terkejut katanya ragu2.

"Tiga irang semua kena ? Siapa yang menyerang kalian ? )ari mana pula kalian mendapat tahu ayahku asa menolong ?"

"Tujuh hari yang lalu, kami bertiga membara se-partai barang kawalan menuju ke Hokkianwat Yangciu, di jalan hawa sangat panas, kami berteduh di sebuah gardu minum di pinggir jalan, kami bersyukur sepanjang jalan ini tidak terjadi pa-apa, agaknya barang kawalan akan tiba di tempat tujuan dengan selamat,"

Demikian tutur Liong-piausu.

"Pada saat itulah dari jalan raya sana berlari mendatangi seekor keledai berbulu loreng dengan langkah cepat, penunggangnya adalah seorang Tokoh setengah umur berjubah kuning. ia turun dari keledai dan masuk ke dalam gardu pula, Cu-hiante memang masih muda dan suka iseng lagi, melihat orang berparas elok, ia cengar-cengir dan main mata kepadanya. Tokoh itupun balas tersenyum manis padanya, Cu-hiante kira orang ada maksud, segera ia menghampiri dan meraba pakaian orang, katanya tertawa.

"Seorang diri menempuh perjalanan, apa tidak takut diculik perampok dan dijadikan isteri muda ?" -Tokoh itu tertawa, ujarnya.

"Aku tidak takut perampok, hanya takut pada Piausu." -sembari bicara iapun menepuk ringan dipundaknya, Mendadak Cu-hiante seperti kesetrom, seluruh badan bergetar hebat, gigi berkerutukan.

"Sudah tentu aku dan So-hiante sangat kaget. Lekas aku memburu maju memayang Cu-hiante, sementara So-hiante segera menjambret si Tokoh dan bentaknya.

"Kau gunakan ilmu sihir apa ? Tokoh itu hanya tersenyum saja, ia menepuk pula sekali di pundak kami berdua, seketika seluruh badan terasa panas seperti di-panggang, panasnya sukar tertahan, namun sekejap lain terasa seperti jatuh ke dalam sumur es, tak tertahan seluruh badan menggigil kedinginan.

"Para kerabat Piaukiok yang lain mana berani maju ? si Tokoh tertawa, ujarnya.

"Kepandaian begini saja berani mengibarkan bendera Piaukiok, huh, bikin malu saja, sungguh besar nyali kalian, Kalau tidak kupandang muka kalian yang tebal, pastilah ku persen beberapa kali tamparan lagi" , Kupikir sekali tepuk saja tidak tertahan, apalagi ditambah beberapa kali pukulan lagi, tentulah jiwa kami melayang. Tokoh itu tertawa pula.

"Kalian mau tunduk tidak kepadaku ? Masih berani main gila dijalan raya ?" -Lekas aku menyahut.

"Kami menyerah ! Tidak berani lagi!" -si Tokoh mengetuk sekali belakang leherku dengan gagang kebutnya, seketika rasa dingin dalam badanku hilang, namun badan masih terasa kaku dan gatal, sudah tentu jauh lebih mending dari pada semula, Lekas aku menjura.

"Kami punya mata tapi lamur sehingga berbuat salah kepada Sian-koh. Harap Sian-koh tidak pikirkan kesalahan kami ini dan sukalah memberi ampun kepada kedua saudaraku."

"Tokoh itu tersenyum.

"Dulu guruku hanya mengajarkan cara memukul orang, tidak pernah mendidik aku cara menolong orang, Tadi kalian sudah merasakan sekali tepukan ku, kalau badan kalian kuat, rasanya dapat bertahan sepuluh malam, Kalau hawa merah sudah merembes sampai ke dada, tibalah saatnya kalian pulang ke neraka." -lalu ia tertawa cekikikan, dengan kebutnya ia bersihkan kotoran di jubahnya terus keluar dan cemplak keledainya tinggal pergi. Sudah tentu kejutku bukan kepalang, tanpa hiraukan pamor segala, lekas aku memburu maju dan berlutut di depannya serta berteriak memohon.

"Harap Sian-koh bermurah hati, sudilah memberi ampun dan menolong jiwa kami!"

Mendengar sampai di sini Liok Lip-ting mengerut kening, Liong-piausu tahu perbuatannya terlalu rendah dan hina, segera ia menambahkan.

"Xiok-ya, kami datang untuk mohon pertolonganmu, maka apa yang terjadi waktu itu harus kami ceritakan, sedikitpun kami tidak merahasiakannya kepadamu."

"O, ya, teruskan ceritamu."

Ujar Liok Lip-ting. Tutur Liong-piausu lebih lanjut.

"Tokoh itu hanya tersenyum saja, sesaat kemudian baru berkata.

"Baiklah, akan kuberi petunjuk kepadamu. Dia sudi menolong tidak terserah pada keberuntunganmu sendiri, Nah, lekas kalian pergi ke Ling. ok-tin di Oh-ciu, mintalah pertolongan kepada Liok Tian-goan, Liok-lo-enghiong. Dalam dunia ini hanya dia saja seorang yang dapat mengobati luka-luka ini. Katakan pula kepadanya, dalam waktu dekat akupun akan menemui dia."

Tersentak hati Liok Lip-ting, teriaknya kaget.

"Memangnya orang yang mencuri jenazah ayah bundaku itu ada sangkut paut dengan persoalan ini ? ini wah sulit!"

"Begitulah Cayhe berpikir,"

Kata Liong-piausu "Setelah mendengar kata2nya aku masih ingin memohon padanya, tapi dia lantas menukas.

"Perjalanan ke Oh-ciu cukup jauh, memangnya kalian hendak membuang-buang waktu," -Tanpa kelihatan dia angkat kakinya, entah bagaimana tahu2 badannya sudah melayang ke punggung keledainya. Cepat sekali keledai itu mencongklang pergi, dikejar pun tidak keburu lagi Aku melongo sekian lamanya, kulihat So dan Cu-hiante masih gemetar, terpaksa ku payang mereka naik ke atas kereta.

"Begitu tiba di kota segera ku panggil tabib terpandai, namun para tabib itu mana dapat mengobati ? Waktu kami buka baju, di atas pundak kami masing2 ada tapak tangan merah darah yang menyolok sekali Sampai besok paginya, rasa, dingin kedua saudaraku baru hilang dan tidak gemetar lagi, namun warna merah tapak tangan itu semakin membesar, kuingat pesan si Tokoh, kalau hawa merah ini sampai merembes sampai ke dada dan ujung jari, jiwa kami bertiga akan tak tertolong lagi, maka kami tidak perdulikan lagi barang kawalan itu, selama beberapa hari ini siang-malam kami memburu kemari, siapa tahu Liok-loenghiong ternyata sudah wafat Memang Cayhe terlalu gegabah, kami hanya ingat kata-kata si Tokoh, tak tahunya Liok-ya telah mendapat ajaran warisan leluhur, engkaulah yang menjadi harapan sebagai tuan penolong jiwa kami."

Dasar banyak pengalaman dan pandai bicara lagi, belum Liok Lip-ting memberi jawaban, dia sudah sebut orang sebagai tuan penolong jiwa mereka, maksudnya supaya orang tidak enak menolak Liok Lip-ting tersenyum ewa, katanya.

"Sejak kecil aku mendapat didikan keluarga, tapi tidak berani berkelana di Kangouw, jika kalian tidak kenal namaku yang rendah, inipun tidak perlu dibuat heran."

Lahirnya dia bersikap merendah, sebetulnya amat tinggi hati, pelahan ia angkat kepala mendadak ia melonjak dan berteriak kaget.

"Apa itu ?" -di bawah sinar pelita jelas sekali kelihatan di atas dinding tembok putih itu berderet sembilan tapak tangan darah. Mereka berempat terlongong mengawasi ke sembilan tapak tangan merah itu, seperti orang tersihir dan linglung, sesaat lamanya tak mampu bicara, Para Piausu dari An-wan Piaukiok tidak tahu asal-usul tapak tangan darah itu, namun melihat Liok Lip-ting begitu terkejut, serta merta mereka merasa ke sembilan tapak tangan itu pasti berlatar belakang, Ke sembilan tapak tangan itu berjajar tinggi di atas tembok dekat atap rumah, dua yang paling atas berjajar, demikian terus menurun ke bawah masing2 berjajar dua, paling bawah berjarak rada jauh dan berjumlah tiga, Ketiga tapak terbawah inipun tingginya kira-kira tiga meter lebih, kalau tidak naik tangga, tidak mungkin bisa menjajarkan cap2 tangan itu sedemikian rapi.

"lblis itu, untuk apa iblis itu mencari aku ?"

Demikian gumam Liok Lip-ting. Dasar orang kasar, Cu-piauthau itu segera bertanya.

"Liok-ya, apa maksud ke sembilan tapak tangan darah ini ?"

Hati sedang gundah, menguatirkan keselamatan istrinya lagi, maka Liok Lip-ting tidak hiraukan pertanyaannya, ia keluar rumah dan melihat isterinya, Liok-toanio, sedang mendatangi sambil menggandeng Thia Eng dan Liok-Bu-siang, begitu berhadapan dengan sang suami, nyonya itu hanya menggeleng kepala saja.

Supaya sang istri tidak kuatir, Liok Lip-ting tidak menyinggung tapak tangan darah di atas dinding itu, segera ia iringi orang masuk ke dalam kamar di belakang, lalu ia tuturkan ketiga Piau-thau yang terkena pukulan Ji-lian-sin-ciang dan minta diobati "Lip-ting,"

Ujar Liok-toanio.

"malam ini jangan kita tidur di rumah, bagaimana pendapatmu ?"

"Kenapa ?"

Liok Lip-ting menegas, Liok-toanio suruh Thia Ing dan Liok Bu-siang keluar, setelah tutup pintu ia berkata lirih.

"Kejadian hari ini amat ganjil, ayam dan anjing dalam rumah kita ini sudah tiada satupun yang hidup."

"Apa ?"

Teriak Liok Lip-ting kaget.

"Tiga ekor anjing penjaga pintu, empat ekor kucing, tujuh ekor babi puluhan itik dan dua puluhan ayam, semuanya sudah mati"

Belum lagi habis istrinya menutur, Liok Lip-ting sudah berlari keluar langsung ke belakang, Kim-seng, jongos tuanya menyapa.

"Siauya !" -saking sedih hampir saja ia mengucurkan air mata. Tampak oleh Liok Lip-ting anjing, kucing, ayam dan itik terkapar di atas tanah, semua sudah mati kaku tak bergerak lagi Pelahan Liok Lip-ting berjongkok di depan anjing kesayangannya, didapatinya batok kepala binatang sudah hancur, terang bukan terkena pukulan atau hantaman benda keras, se-olah2 seperti dipukul dengan suatu benda keeiJ yang lemas, namun tidak mungkin hal itu terjadi ? Sedikit me-renung, tiba-tiba Liok Lip-ting teringat penuturan Liong-piauthau, si Tokok itu memegang sebuah kebutan, terang binatang itu mati dibawah pukulan kebutnya, Tapi kebutan itu terbuat dari barang lemas, cuma sekali kebut orang dapat membunuh anjing Dan babi, malah batok kepalanya hancur luluh, kekuatan lwekang orang itu sangat tinggi dan mengejutkan.

"Ayam anjing tidak ketinggalan ayam anjing tidak ketinggalan !"

Tanpa terasa mulutnya menggumam pikirnya.

"Sejak kecil aku tidak pernah berkecimpung di Kangouw, mana mungkin aku ikat permusuhan ? Orang ini menyerang secara keji, tentu tujuannya hendak mencari perhitungan dengan ayah bunda."

"Segera ia masuk ke kamar tamu, katanya kepada ketiga Piauthau.

"Bukan aku tidak suka menahan kalian, soalnya keluarga kami bakal tertimpa bencana, harap kalian suka segera pergi, saja supaya tidak terembet."

Ketiga Piausu ini tadinya mengira orang sudah, sudi memberi pertolongan kini mendengar tuan rumah mengusir mereka secara halus, mereka menjadi gugup dan bingung pula, kata mereka serempak sambil berdiri.

"Liok-ya... Liok-ya... engkau...."

Gelisah dan cemas membuat mereka tidak kuasa meneruskan kata-katanya.

Liok Lip-ting mengerut kening, tiba2 ia masuk ke kamar dan mengeluarkan dua puluh tujuh batang jarum emas, setiap batangnya panjang sembilan incij tanpa suruh orang membuka pakaian, langsung ia tusukkan kedua puluh tujuh jarum itu ke badan ketiga Piausu, setiap orang sembilan batang, Gerak-geriknya amat cekatan, setiap tusukan jarum langsung menancap di Hiat-to penting dalam badan, Belum lagi ketiga Piausu tahu apa yang terjadi tahu2 kedua puluh tujuh batang jarum itu sudah menancap di atas badan mereka Kejadiannya memang aneh, meski jarum2 itu menusuk masuk tujuh-delapan inci ke dalam badan mereka, tapi karena semua Hiat-to itu sudah mati rasa, maka sedikitpun tidak terasakan sakit "Lekaslah kalian cari tempat yang sepi dan sembunyi atau menetaplah di rumah petani, tiga hari lagi boleh kemari Kalau jiwaku masih hidup, nanti aku memberi pengobatan lebih lanjut."

Ketiga Piauthau itu amat kaget tanyanya.

"Liok-ya bakal menghadapi bencana apa ?"

Liok Lip-ting tidak sabar untuk bicara lagi sahutnya.

"Kalian terkena Jik-sin-ciang, sebetulnya racun bakal menyerang dalam sepuluh hari dan kalian akan meninggal kini aku sudah menusuk dengan jarum emas, kadar racun akan tertahan sementara, hawa merah itu tidak akan menjalar Tiga hari lagi biar kuberi pertolongan lebih lanjut dan pasti tidak akan terlambat."

"Kalau tiga hari lagi Liok-ya mengalami se suatu, lalu bagaimana ?"

Tanya Cu-piau-thau. Mata Liok Lip-ting mendelik jengeknya.

"Kecuali aku tiada orang Iain yang mampu mengobati luka-luka Jik-lian-sin-ciang. Kalau aku mati biarlah kalian mengiringi aku."

Liong dan So masih berkukuh hendak mohon pengobatan selekasnya, tapi Liok Lip-ting sudah berkata pula.

"Kalian masih tunggu apa lagi Orang yang mencari perkara kepadaku bukan lain adalah Tokoh itu, sebentar dia akan tiba di sini. Seketika ciut nyali ketiga piausu itu dan mereka berani tanya lagi, cepat mereka pamit dan mohon diri. Liok Lip-ting tidak antar tamu2nya, ia duduk di kursi sambil mengawasi ke sembilan tapak tangan di atas dinding itu. Entah berapa lama ia terlongong mengawasi tapak2 tangan itu, tiba2 dilihatnya A Kin jongos berlari masuk ter-gesa2 dan melapor "

Siauya, di luar ada datang seorang tamu."

"Katakan aku tidak dirumah,"

Ujar Liok Lip-ting.

"Siauya, Toanio nyonya itu mengatakan tidak mencari kau, dia sedang menempuh perjalanan dan mohon menginap semalam saja di sini,"

Kata si A Kin.

"Apa ? jadi dia perempuan ?"

Teriak Lip-ting kaget.

"Benar, Toanio itu malah membawa dua anak, mungil dan elok sekali "

Mendengar tamu perempuan membawa anak, barulah Liok Lip-ting merasa lega, tanyanya menegas.

"Dia bukan Tokoh ?"

"Bukan,"

Sahut A Kin menggeleng.

"Pakaian-nya bersih, kelihatannya nyonya dari keluarga baik-baik."

"Baik, bawalah masuk ke kamar tamu, siapkan makanan dan sediakan ala kadarnya,"

A Kin mengiakan sambil mengundurkan diri.

Liok Lip-ting berdiri, baru saja ia hendak ke dalam, ternyata Liok-toanio sudah berada di luar ruangan katanya segera sambil mengerut alis.

Lip-ting, kedua bocah itu harus kita sembunyi-kan Kedua bocah itupun masuk hitungan,"

Kata Liok Lip-ting sambil menuding tapak tangan di atas dinding.

"Iblis itu sudah memberikan tanda darah ini, sampai ke ujung langitpun kau tidak akan lolos dari kekejamannya."

Dengan termangu Liok-toanio mengamati ke sembilan tapak tangan darah di dinding itu, tapak-tapak tangan itu se-olah2 semakin besar, semakin merah dan seakan-akan menubruk ke arahnya, tan-pa terasa ia menjerit kaget dan memegangi sandaran kursi, katanya.

"Kenapa ada sembilan tapak tangan, keluarga kita kan hanya tujuh orang."

Sehabis berkata kaki tangan sudah terasa lemas tak bertenaga, dengan terlongong ia awasi suaminya, hampir saja ia mengucurkan air mata, Lekas Liok Lip-ting memegang lengannya, dan berkata.

"Isteriku, bencana sudah di depan mata, takut pun tiada gunanya. Dua tapak teratas ditujukan kepada ayah-ibu, dua di bawahnya terang untuk kita berdua. Dua lagi di baris ketiga ditujukan kepada Bu-siang dan Thia Eng, tiga yang lain adalah A Kin dan dua pelayan lain, Hehehe, inilah yang dinamakan banjir darah dalam keluarga, ayam, anjing tidak ketinggalan."

Bergidik Liok-toanio dibuatnya mendengar kata2 suaminya.

"Ayah dan ibu ?"

Ia menegas tak mengerti "Akupun tidak tahu ada permusuhan apa antara gembong iblis ini dengan ayah dan ibu.

Ayah bunda lama wafat, dia suruh orang membongkar kuburan dan mengeluarkan jenazah mereka, mungkin setiap orang harus menerima sekali pukulan baru dianggap selesai membalas sakit hati."

"Kau kira orang gila itu adalah utusannya ? "Sudah tentu."

Baru mereka bicara dilihatnya A Kin berlari masuk dengan ber-sungut2, katanya.

"Siauya, pintu besar kita entah kenapa tidak bisa dibuka, seperti terpantek dari luar" . Berubah air muka Liok Lip-ting berdua, lekas mereka memburu keluar, tertampak daun pintu yang bercat hitam itu masih tertutup rapat Ke-dua tangan Liok Lip-ting terukir menangkap gelang tembaga pintu dan ditariknya ke belakang, terdengarlah suara berkereyot, daun pintu hanya bergoyang sedikit, namun tidak dapat dibukanya, Liok-hujin memberi isyarat, segera ia melompat ke atas tembok, di luar sunyi senyap tidak kelihatan bayangan manusia. Sambil melintangkan pedang ia lompat turun keluar pintu, seketika alisnya berdiri, makinya.

"Terlalu menghina orang !"

Ternyata daun pintu itu sudah terpantek oleh dua batang besi panjang yang di paku di atas daun pintu, Di atas batang besi itu tergantung secarik kain yang berlepotan darah, kelihatannya amat mengerikan.

Waktu itu Liok Lip-ting pun sudah menyusul keluar, melihat palang besi dan kain belacu (tanda duka cita), ia tahu musuh semakin mendesak dalam dua jam mendatang, pasti gembong iblis itu akan menurunkan tangan jahatnya.

ia tertegun sebentar, rasa gusarnya mulai menipis, katanya.

"Niocu (isteriku), kalau seluruh keluarga Liok kita hari ini harus mati bersama, biarlah kita mati tanpa merendahkan pamor ayah bunda."

Liok-toanio manggut2, saking haru suaranya tertelan dalam tenggorokannya, Mereka melompati tembok kembali ke dalam rumah langsung menuju ke belakang, tiba2 terdengar sesuatu suara di atas tembok sebelah timur, kiranya di atas sana ada orang, Liok-Lip-ting memburu ke depan menghadang di depan isterinya, waktu ia angkat kepala, dilihatnya di atas tembok sedang duduk seorang anak laki2, rambut kepalanya dikuncir dua menegang, bocah itu sedang memetik kembang di atas pohon, Lalu terdengar orang berteriak di sebelah bawah.

"Awas lho, jangan sampai terjatuh !"

Kiranya Thia Eng, Liok Bu-siang dan seorang anak laki2 lain sedang menunggu di kaki tembok sana, Liok Lip-ting berpikir.

"Kedua bocah ini minta menginap di rumah-ku, kenapa begini nakal ?"

Anak laki2 di atas tembok itu sedang memetik sekuntum bunga, Liok Bu-siang segera berteriak.

"Nah, berikan padaku, berikan kepadaku !"

Anak laki2 itu tertawa, ia melempar bunga itu ke arah Thia Eng, lekas Thia Eng ulur tangan menangkapnya, lalu diangsurkan kepada sang Piau-moay, Tapi Liok Bu-siang naik pitam, ia meraih kembang itu terus dibanting dan di-injak2.

Melihat ke empat bocah ini bermain dengan riang gembira, sedikitpun tidak tahu bencana besar yang bakal menimpa mereka sekeluarga, Liok Lip-ting suami istri menghela napas, mereka masuk ke dalam kamar.

"Piaumoay, kenapa kau marah ?"

Bujuk Thia Eng. Liok Bu-siang merengut, katanya.

"Aku tidak sudi, aku sendiri bisa memetik !" -sekali kaki kanannya menutul tanah, badannya melejit ke atas serta meraih akar rotan yang merambat di atas tembok, sekali meminjam tenaga, seketika badannya melambung ke atas pula beberapa kaki lalu melayang ke arah sebatang dahan pohon, Anak laki-laki di atas tembok itu bersorak gembira, teriaknya.

"Lekas kemari!"

Kedua tangan Liok Bu-siang menarik dahan pohon, di tengah udara ia jumpalitan dua kali, badannya mendadak melambung ke tengah udara, terus menubruk ke atas tembok.

Dinilai dari Ginkangnya, apa yang Bu-siang lakukan sekarang boleh dikata sangat berbahaya namun hatinya sedang panas dan dongkol kepada si anak laki2 yang melempar bunga kepada Piau-cinya tadi, memang sifat pembawaan anak perempuan ini suka menangnya sendiri, maka tanpa hiraukan keselamatan dirinya ia telah main lompat di tengah udara.

Anak laki2 itu menjadi kaget, teriaknya memperingatkan.

"Awas ! Hati2! -segera ia ulur tangan hendak menangkap tangan Bu-siang. Kalau dia tidak mengulurkan tangan, Liok Bu-siang sebetulnya bisa mencapai pagar tembok tapi ketika melihat anak laki-laki itu hendak menarik dirinya, segera ia menghardik.

"Minggir" -badanpun menyingkir ke samping hendak menghindari tarikan tangan orang, Kepandaian jumpalitan ditengah udara adalah ilmu Ginkang tingkat tinggi, walau dia pernah melihat ayah bundanya memainkannya, dia sendiri belum pernah mempelajarinya, dengan sedikit berkisar itu, jari2-nya sudah tidak dapat meraih tembok, ditengah teriakan kagetnya, badannya langsung jatuh ke bawah, Melihat Bu-siang jatuh, anak laki-laki yang berada di kaki tembok segera memburu maju dan ulur tangan memeluk badannya. Tapi tembok itu setinggi beberapa tombak, meski badan Bu-siang kecil, tenaga luncuran setinggi ,itu jelas amat berat, meski anak laki2 itu berhasil memeluk pinggangnya, tak tertahan keduanya terbanting jatuh dengan keras. Terdengarlah suara "krak" , tulang kaki kiri Liok Bu-siang "patah, demikian pula jidat anak laki-laki itu kebentur batu runcing, darah mengucur keluar, Thia Eng dan anak laki2 di atas tembok itu memburu maju untuk menolong. Anak laki2 itu merangkak bangun sambil mendekap jidatnya yang bocor, sementara Liok Bu-siang jatuh semaput. Sambil memeluk Piaumoaynya Thia Eng segera berteriak.

"lh-tio, Ah-i (paman, bibi), lekas datang !"

Mendengar teriakannya, Liok-toanio segera memburu keluar, tiba2 terasa di atas kepalanya angin kencang menyamber, sesuatu benda berat menindih kepalanya Sebat sekali Liok-toanio berkelit ke samping, dilihatnya yang dilempar ke arahnya itu ternyata mayat seseorang.

Tak sempat membawa goloknya segera ia melompat ke wuwungan rumah, belum lagi ia berdiri tegak, dua sosok mayat tahu2 dilempar pula memapak mukanya, ketika Liok-toanio membungkukkan tubuh, tahu2 kedua lututnya menjadi lemas dan tidak kuasa berdiri tegak, kontan ia terjungkal jatuh ke pelataran.

Kebetulan Liok Lip-ting sedang memburu keluar, melihat Liok-toanio terjungkal jatuh dari atas, segera ia melompat ke depan dengan ilmu Ginkang yang dia yakinkan selama berpuluh tahun, meski jaraknya masih tiga tombak jauhnya, namun sekali lompat badannya melesat seperti anak panah, telapak tangannya sempat menyanggah punggung istrinya, Karena tenaga sanggahan ini badan Liok-toanio terlempar naik, diwaktu meluncur turun pula, Liok Lip-ting dengan ringan dapat menurunkan badan istrinya di atas tanah.

Tak sempat menanyai keadaan istrinya, sekilas dilihatnya tidak apa-apa, segera ia melompat ke atas rumah, matanya menjelajah sekelilingnya, tertampak bulan sabit tergantung tinggi di cakrawala, angin menghembus sepoi2, namun tidak kelihatan bayangan seorangpun Liok Lip-ting segera kembangkan Ginkang, dalam sekejap saja ia sudah meronda keadaan rumahnya satu keliling, namun tidak menemukan apa-apa, segera ia melompat turun ke bawah pelataran dan masuk ke dalam rumah.

Di situ terlihat seorang nyonya pertengahan umur sedang membopong Liok Bu-siang dan anak laki-laki tadi masuk ke ruang tengah, tanpa menghiraukan kucuran darah anak laki-laki itu, si nyonya berusaha menyambung dulu tulang kaki Liok Bu-siang yang patah.

Liok Lip-ting semula mengira puterinya sudah dicelakai orang, kini melihat hanya tulang kaki yang patah, hatinya rada lega, tanyanya kepada istrinya.

"Kau tidak apa-apa bukan ?"

Liok-toanio menggeleng kepala, ia sobek lengan baju untuk membalut jidat anak laki2 itu yang terluka, ingin dia memeriksa luka kaki puterinya, tak terduga baru saja melangkah, kaki sendiri terasa linu lemas, tanpa kuasa ia jatuh terduduk.

Nyonya pertengahan umur itu menutuk Hiat-to Pek-hay-hiat dan Hwi-tiong-hiat dikedua paha Liok Bu-siang untuk menghilangkan rasa sakit, lalu kedua tangan menekan pada kedua sisi tulang yang patah untuk menyambungnya.

Melihat gerak-gerik orang yang cekatan, ilmu tutuknya terang tingkat tinggi, makin curigalah Liok Lip-ting, serunya.

"Siapakah Toanio ini ? Ada petunjuk apa berkunjung ke sini ?"

Nyonya itu tumplek seluruh perhatian untuk menyambung tulang kaki Liok Bu-siang yang patah, sedikitpun tidak menghiraukan pertanyaannya, Diam-diam Liok Lip-ting perhatikan tangan kiri orang yang memegangi kaki puterinya, sementara tangan kanan diangkat dan berputar setengah lingkaran terus menutuk turun pelan-pelan, itulah gerakan It-yang-ci yang menurut cerita ayahnya merupakan kepandaian khas musuh besarnya, maka tanpa ragu2 lagi, kedua telapak tangan Liok Lip-ting terus menghantam ke punggung orang.

Mendengar deru angin dari belakang, tangan kanan nyonya itu tetap menutuk Pek-hay-hiat Liok Bu-siang, telapak tangan lain menepuk balik ke belakang menangkis pukulan Liok Lip-ting.

Kontan Liok Lip-ting merasakan tenaga dahsyat mendorong ke arah dirinya, seketika dada terasa sesak, tanpa kuasa ia tergentak mundur dua langkah.

Karena menggunakan telapak tangan kiri sehingga si nyonya tidak dapat memegangi sebelah kaki Liok Bu-siang, maka telunjuk jarinya yang menutuk turun itu ikut tergetar miring, tulang kaki Liok Bu-siang yang patah itu kembali lepas, sekali menjerit seketika anak dara itu jatuh pingsan lagi.

Pada saat itulah dari atas genteng terdengar suara tertawa seorang, serunya.

"Aku hanya membunuh sembilan jiwa keluarga Liok, orang luar harap segera keluar!"

Waktu Liok Lip-ting angkat kepala, dilihatnya di atap genteng berdiri seorang Tokoh, di bawah cahaya bulan yang remang2, jelas kelihatan parasnya yang elok, berusia delapan atau sembilan belas, kulitnya putih halus, sikapnya garang, di punggungnya terselip sepasang pedang.

Liok tip-ting segera berseru lantang.

"Aku inilah Liqk Ljp-ting, apa Toyu datang dari Jik-lian-to ?"

Si Tokoh mendengus.

"Baik sekali kalau sudah tahu, lekas kau bunuh isteri dan puteri serta semua pembantumu, lalu kau bunuh diri pula supaya aku tidak perlu turun tangan !" -sikapnya congkak, kata2-nya pedas, sedikitpun tidak pandang sebelah mata pada tuan rumah, Meski Liok Lip-ting tidak pernah angkat nama di kalangan Kangouw, betapapun dia keturunan seorang pendekar besar, mana mandah dihina di hadapan orang luar, segera ia memburu keluar dan melompat ke atas seraya membentak.

"Biar kau kenal dulu kelihayanku !"

Sikap si Tokoh acuh tak acuh, disaat kedua kaki Liok Lip-ting hampir menginjak genteng, badan masih terapung di udara, mendadak kedua pedangnya bergerak laksana bianglala, tahu-tahu sinar pedang lawan itu sudah mengurung seluruh badannya, serangan kedua pedang ini amat lihay dan hebat sekali, meski ilmu silat Liok Lip-ting amat tinggi, betapapun dia kurang pengalaman menghadapi musuh tangguh, tahu2 hawa pedang musuh yang dingin itu sudah menyamber lehernya, dalam keadaan begitu jelas dia tidak akan mampu menangkis atau menyelamatkan diri, terpaksa ia pejamkan mata menunggu ajak "Trang,"

Tiba2 seseorang telah menangkiskan pedang yang menyerang lehernya itu, waktu Lip-ting membuka mata, dilihatnya nyonya setengah umur tadi sedang menempur si Tokoh dengan bergaman sebatang pedang panjang, Nyonya itu berpakaian warna abu2, sementara Tokoh muda itu mengenakan jubah kuning, tertampak bayangan abu2 dan kuning saling berputar menari di bawah cahaya bulan diselingi samberan sinar kemilau yang berhawa ,dingin, sedemikian sengit pertempuran itu, namun tidak terdengar suara benturan kedua senjata masing2.

Betapapun Liok Lip-ting keturunan keluarga persilatan, meski gerak-gerik kedua orang yang bertempur itu amat cepat, setiap jurus dan tipu serangan kedua pihak dapat diikutinya dengan jelas, Tertampak Tokoh itu menyerang dan menjaga diri dengan rapat, ganti-berganti ia mainkan ilmu pedangnya yang hebat, sebaliknya si Nyonya melayaninya dengan tenang dan mantap, setiap kesempatan pasti tidak disia-siakan untuk melancarkan serangan yang mematikan.

Se-konyong2 terdengar "tring" , dua pedang beradu, pedang di tangan kiri si Tokoh mencelat terbang ke udara, Sebat sekali ia melompat mundur keluar dari arena pertempuran, mukanya yang putih halus bersemu merah, matanya mendelik gusar, bentaknya.

"Aku mendapat perintah guru untuk membunuh habis keluarga Liok, apa sangkut pautnya dengan kau ?"

Nyonya itu menjengek dingin.

"Kalau gurumu berani dan punya kepandaian, seharusnya dia mencari Liok Tian-goan sendiri, kini dia sudah mati, tapi gurumu tidak tahu malu mencari perkara kepada keturunannya ?"

Si Tokoh kebutkan lengan bajunya, tiga batang jarum menyamber, dua batang menyamber si nyonya, jarum ketiga ternyata menyerang Liok Lip-ting yang berdiri di pekarangan serangan mendadak dan cepat lagi, lekas si nyonya ayunkan pedangnya menangkis, terdengar Liok Lip-ting menggerung gusar, dua jarinya dapat menjepit batang jarum yang menyerang tenggorokannya itu.

Si Tokoh tersenyum dingin, dengan tangkas ia jumpalitan terus keluar, tiba2 terdengar suitan panjang di kejauhan sana, dalam sekejap saja dia sudah berlari puluhan tombak jauhnya.

Melihat Ginkang orang begitu hebat, nyonya itupun rada tercengang, lekas ia melompat turun kembali ke dalam ruangan, melihat Liok Lip-ting sedang pegangi sebatang jarum, segera ia berseru.

"Lekas buang !"

Sekarang Liok Lip-ting tidak curiga lagi kepada orang, lekas ia lemparkan jarum itu ke tanah, Cepat nyonya itu mengeluarkan seutas tali kain dari dalam bajunya terus mengikat pergelangan tangan Lip-ting dengan kencang, Baru sekarang Liok Lip-ting dibuat kaget, serunya.

"Jarum itu berbisa ?"

"Ya, racun yang tiada bandingannya."

Sahut nyonya itu, lalu ia keluarkan sebutir pil dan suruh Lip-ting menelannya.

Liok Lip-ting rasakan kedua jarinya sudah mati rasa, tak lama kemudian melepuh sebesar tebak Lekas si nyonya bekerja pula mengirisnya dengan ujung pedang, darah hitam segera mengalir keluar dan berbau busuk, Sungguh kejut Liok Lip-ting bukan kepalang, batinnya.

"Jariku tidak lecet atau terluka, hanya tersentuh sedikit saja, racun sudah bekerja sedemikian lihay, kalau jariku kena tertusuk sedikit saja, jiwaku tentu sudah melayang ?"

Baru sekarang nyonya itu sempat memayang Liok-toanio, lalu ia memeriksa luka-lukanya.

Ternyata Hui-tiong-hiat di bagian lututnya masing2 terkena sambitan sebatang jarum, Tapi jarum2 ini adalah jarum emas milik Liok Lip-ting yang biasanya untuk menolong orang, Meski bencana belum berlalu, namun sementara keluarganya masih dalam keadaan selamat, hati Liok Lip-ting rada bersyukur, waktu ia berpaling melihat ketiga mayat tadi, berkobar pula amarahnya disamping bergetar hatinya.

Ternyata ketiga mayat itu bukan lain adalah Liong, So dan Cu-piauthau dari An-wan Piaukiok, Waktu ia periksa luka mereka bertiga, dilihatnya jarum2 yang dia gunakan kini sudah berpindah tempat, semula tusukan jarumnya untuk menghilangkan rasa sakit, kini jarum2 itu menusuk pada Hiat-to yang mematikan.

Cukup sebatang saja sudah amat men-derita, apa lagi tertusuk sembilan batang ?

Cuma tusukan jarum pada badan Liong-piauthau rada meleset, maka jiwanya belum melayang, sorot matanya memancarkan rasa belas kasihan, se-olah2 mohon pertolongan pada Liok Lip-ting.

Liok Lip-ting tidak tega, namun melihat luka2-nya, meski ada obat dewapun tidak akan bisa menolong jiwanya, katanya sambil menghela napas.

"Liong-piauthau, berangkatlah dengan tenang."

Liong-piauthau menarik napas panjang, ia angkat badan bagian atas, katanya tersendat.

"Liok... Liok-ya, aku tiada harapan lagi, kau lekas kau lari. iblis itu berkata, dikolong langit ini hanya Liok Tian-goan yang boleh mengobati aku, putera tunggalnya pun tidak boleh... kau lekas lari, sebentar dia akan tiba !" -beberapa patah kata terakhir diucapkan dengan suara lirih hampir tidak terdengar, kejap lain iapun sudah menutup mata dan berhenti bernapas. Nyonya itu mendengus gusar.

"Hm, iblis keparat! iblis keparat!"

Liok Lip-ting menjura serta bertanya.

"Aku punya mata tapi tak bisa melihat, mohon tanya siapa she dan nama Toanio ?-"

"Suamiku she Bu,"

Sahut nyonya itu.

"Kiranya tepat dugaanku, Melihat kepandaian It-yang-ci Toanio, sudah lantas kuduga pastilah anak murid It-teng Taysu dari Tayli di Hun-lam, Silahkan masuk ke dalam menikmati secangkir teh."

Maka mereka lantas masuk ke dalam rumah.

Liok Lip-ting membopong Bu-siang tertampak mukanya pucat, namun sedapatnya menahan sakit, tidak menangis dan tidak mengeluh, timbul rasa kasih sayang Lip-ting tak terhingga kepada puteri tunggalnya ini.

Bu Sam-nio, nyonya tadi berkata.

"Begitu murid iblis itu pergi, gembong iblis itu segera akan datang sendiri Liok-ya, bukan aku pandang rendah dirimu, kalau cuma tenaga kalian berdua suami isteri, meski ditambah aku seorang juga bukan tandingan iblis ganas itu. Kukira laripun tak berguna, terpaksa kita pasrah nasib, biarlah kita tunggu kedatangannya di sini saja."

Liok-toanio bertanya.

"Sebetulnya orang macam apa gembong iblis itu ? Ada dendam permusuhan apa pula dengan keluarga kita ?"

Bu Sam-nio melirik kepada Liok Lip-ting, katanya kemudian.

"Memangnya Liok-ya tidak menjelaskan kepadamu ?"

"Katanya persoalan menyangkut mertuaku yang sudah meninggal itu, sebagai putera yang berbakti, tidak enak membicarakan persoalan ayah bundanya, dia sendiripun tidak begitu jelas akan seluk-beluk persoalan ini,"

Tutur Liok-toanio.

"Disitulah soalnya", ujar Bu Sam-nio menghela napas.

"Aku orang luar, tiada halangan kuterangkan Mertuamu Liok Tian-goan, Liok-loenghiong diwaktu mudanya adalah pemuda ganteng, dia disebut pemuda romantis nomor satu di kalangan Bu-lim. Gembong iblis Jik-lian-sian-cu Li Bok-chiu itu..."

Mendengar nama Li Bok-chiu disebut, Liok Lip-ting seketika merinding seperti dipagut ular berbisa, Bu Sam-nio melihat perubahan air muka orang, katanya lebih lanjut.

"Sekarang kaum persilatan bila menyinggung nama Jik-lian-sian-ci, pasti gemetar ketakutan, tapi puluhan tahun yang lalu dia adalah gadis rupawan yang halus budi dan lemah lembut. Mungkin memang sudah takdir, begitu bertemu dengan mertuamu, hatinya lantas jatuh cinta, Belakangan setelah mengalami berbagai rintangan, perubahan dan pertikaian mertuamu akhirnya menikah dengan Ho Wan-kun, mertua perempuan sekarang, Bicara soal mertua perempuanmu, mau tidak mau aku harus menyinggung suamiku juga. Soal ini cukup memalukan bila dituturkan, tapi keadaan hari ini sudah amat mendesak, terpaksa aku tidak perlu! simpan rahasia lagi."

Sejak kecil Liok Lip-ting sudah mendengar penuturan ayah bundanya bahwa selama hidup mereka mempunyai dua musuh besar yang paling tangguh, seorang adalah Jik-lian-sian-cu, seorang lain adalah Bu Sam-thong, salah seorang murid kesayangan It-teng Taysu dari negeri Tayli di Hunlam, Semula It-teng Taysu adalah raja negeri Tayli, tapi ia meninggalkan Takhta dan cukur rambut menjadi Hwesio, lalu menerima empat murid, satu diantaranya ialah Bu Sam-thong !

Sewaktu mudanya Bu Sam Thong menjabat pangkat yang tinggi di negeri Tayli, Cuma bagaimana Liok Tian-goan suami isteri sampai mengikat permusuhan dengan dia tidak pernah dituturkan kepada puteranya.

Maka waktu melihat Bu Sam-nio menggunakan It-yang-ci menyambung tulang kaki puterinya yang patah tadi, sudah tentu Liok Lip-ting kaget dan curiga, tak nyana Bu Sam-nio malah bantu menghalau murid Jik Lian sian-cu dan menolong jiwanya, hal ini sungguh di luar dugaannya.

Bu Sam-nio mengelus pundak anak laki2 yang terluka jidatnya itu, matanya mendelong mengawasi api lilin.

"Suamiku dan mertuamu sejak kecil bertentangan, hubungan mereka sangat intim, meski sifat2 mereka tidak cocok, namun suamiku amat mencintainya. Siapa tahu akhirnya dia menikah dng mertuamu, saking gusar suamiku lantas minggat jauh ke Tayli, menjabat panglima pemimpin tentara, menjadi anak buah Toan-hongya, Pernah suamiku bertemu dengan mertuamu terjadilah perang tanding yang seru, suamiku memang berangasan dan terlalu mengumbar nafsu karena patah hati, akhirnya dia bukan tandingan mertuamu, sejak itu tindak tanduknya agak sin-ting, baik sahabat karibnya atau aku sendiri tak dapat menyadarkan dia, Dulu dia pernah berjanji dengan mertuamu bahwa lima belas tahun kemudian bertanding lagi, siapa tahu kedatangannya kali ini, kedua mertuamu ternyata sudah meninggal."

Liok Lip-ting amat gusar, serunya sambil menggablok meja.

"Kalau dia punya kepandaian, kenapa tidak datang sejak dulu, kini setelah tahu ayahku sudah almarhum baru meluruk datang dan menculik jenazahnya, terhitung perbuatan orang gagah macam apa ?"

"Omelan Liok-ya memang benar,"

Ujar Bu Sam-nio.

"Suamiku sudah kehilangan kesadaran-nya, tingkah laku dan tutur katanya sudah tidak genah lagi, Hari ini aku membawa kedua anakku ini kemari, bukan lain adalah hendak mencegah perbuatannya yang tidak keruan, dalam dunia sekarang ini, mungkin hanya aku seorang saja yang rada ditakutinya."

Sampai di sini segera ia berkata kepada kedua puteranya.

"Lekas menyembah kepada Liok-ya dan Liok-toanio."

Kedua anak laki2 itu segera berlutut dan menyembah, Liok-toanio .

lekas membimbingnya bangun serta menanyakan nama mereka.

Yang jidatnya terluka bernama Bu Tun-ji, usianya dua belas tahun, adiknya bernama Bu Siu-bun, satu tahun lebih muda.

"Sungguh tak nyana suamiku tidak kunjung tiba, malah Jik-lian-sian-pu keburu membuat perkara di rumahmu... ai,"

Demikian kata Bu Sam-nio lebih lanjut.

"Dua pihak sama2 tidak dapat melupakan cinta masa lalu, cuma yang satu lelaki dan yang lain perempuan."

Baru dia bicara sampai di sini, mendadak di-atas rumah ada orang berteriak.

"Anak Ji, anak Bun, ayo keluar !"

Suara ini datangnya tiba2, sedikitpun tidak terdengar suara langkah di atas genteng, mendadak suaranya kumandang ditengah malam buta, keruan Liok Lip-ting suami istri sangat kaget, mereka tahu Bu Sam-thong telah tiba, Thia Eng dan Liok Bu-siang pun kenal suara si orang gila yang mereka temui siang tadi.

Tertampak sesosok bayangan berkelebat, Bu Sam-thong melompat turun, seorang satu tangan, ia angkat kedua puteranya terus lari secepat angin, sebentar saja ia sudah tiba di hutan pohon Liu, tiba2 ia turunkan Bu Siu-bun, dengan hanya membawa Bu Tun-ji bayangannya lantas lenyap dalam sekejap mata, putera kecilnya dia tinggal demikian saja didalam hutan itu.

Bu Siu-bun berteriak2.

"Ayah ! Ayah !". Tapi Bu Sam-thong sudah menghilang, terdengar suaranya berkumandang dari kejauhan.

"Kau tunggu di situ, sebentar aku kembali menjemput kau."

Bu Siu-bun tahu tindak tanduk ayahnya rada sinting, maka ia tidak heran, Tapi seorang diri berada dalam hutan yang gelap, hatinya rada takut, namun teringat sebentar sang ayah akan kembali, maka dengan termenung ia duduk saja dibawah pohon.

Duduk punya duduk, teringat olehnya akan kata2 ibunya bahwa ada musuh lihay entah yang mana hendak menuntut balas, belum tentu sang ibu bisa menandingi lawan, Meski usianya masih kecil, namun Siu-bun sudah tahu berkuatir akan keselamatan ibunya, Setelah menunggu sekian lamanya dan sang ayah tidak kunjung datang, akhirnya dia menggumam sendiri.

"Biar aku pulang mencari ibu saja !" -lalu ia menggeremet dan meraba2 menuju ke arah datangnya tadi, Bocah kecil berada dalam hutan seorang diri, apalagi malam pekat, mana bisa menentukan arah dan tujuan ? Semakin jalan ia menuju ke arah hutan belukar yang makin dalam, Akhirnya ia tiba di sebuah lekukan gunung, di bawah adalah selokan setinggi tujuh delapan tombak, selayang pandang sekelilingnya hitam melulu. Saking gugup dan ketakutan Bu Siu-bun lantas berteriak.

"Ayah, ayah ! Ibu, ibu !" -Terdengar gema suaranya berkumandang dilembah pegunungan Disaat hatinya cemas dan gundah itulah tiba-tiba hidungnya mengendus bau amis yang memualkan disusul hembusan angin keras, ditengah kegelapan tampak dua titik sinar seperti pelita minyak sedang bergerak ke arahnya. Bu Siu-bun heran, mendadak didengarnya suara gerangan yang keras, kedua titik terang seperti sinar pelita itu memburu cepat ke arahnya, Sungguh kagetnya bukan main, teriaknya.

"Harimau !" -tanpa banyak pikir segera ia melompat ke atas menangkap dahan pohon terus merayap naik dengan mengerahkan segenap tenaganya, terasa pantatnya se-o!ah2 kena terpukul oleh sesuatu, segera kaki tangan bekerja sekuat tenaga merambat ke puncak pohon. Didengarnya binatang buas itu menggerung2 serta berputar2 mengitari pohon, Melihat binatang itu tidak bisa naik ke atas pohon barulah hati Siu-bun sedikit lega, tiba2 terasa pantatnya pedas dan perih, waktu ia merabanya, ternyata celananya sudah robek tercakar kaki harimau tadi, Dasar bocah nakal, segera teringat olehnya akan , cerita ibunya bahwa harimau tidak bisa naik pohon, maka sambil menuding ke bawah ia lantas memaki kalang kabut.

"Harimau keparat, harimau brengsek, harimau busuk !"

Mendengar suara manusia, harimau itu menggerung semakin keras.

Begitulah satu sama lain bertahan di atas dan berputar di bawah pohon, meski Bu Siu-bun sangat kantuk dan letih, mana dia berani tidur ?

sebentar lagi hari akan terang tanah, maka pandangan mulai jelas keadaan sekelilingnya, Semula dia tidak berani langsung mengawasi harimau di bawahnya, akhirnya ia membesarkan nyali menunduk ke bawah, saking kejutnya hampir saja ia terjungkal jatuh dari atas pohon, Ternyata harimau loreng di bawah itu kira-kira sebesar anak sapi,.

duduk menengadah sambil menyeringai buas, matanya menatap dengan penuh nafsu, mulut melelehkan liur kental.

Memang harimau itu sedang kelaparan, menunggu semalam suntuk tanpa -dapat mencaplok mangsa di depan mata, rasa laparnya makin mengobarkan kebuasannya, mendadak ia menggerung sekeras-kerasnya terus menerjang ke atas.

Lompatan ini setombak lebih tingginya, cakar depannya berhasil mencapai batang pohon sehingga sesaat lamanya badannya tergantung ditengah udara.

Harimau ini cukup besar dan rada gemuk, berat badannya tidak kurang dua ratus kati, sudah tentu batang pohon itu tidak kuat menahan berat badannya.

"peletak" , sekali membal dahan pohon itu patah dan jatuh ke bawah, Bu. Siu-bun ikut terpental dan terjungkal ke bawah, Sejak kecil ia dididik ilmu silat oleh ayah bundanya, waktu meluncur ke bawah dia bisa kendalikan badan dan menggelinding ke samping, sedikitpun tidak terluka, begitu merangkak bangun segera ia lari sipat kuping. Tanpa hiraukan rasa sakitnya, harimau itu segera mengejar dengan kencang. Walau Bu Siu-bun sudah punya dasar latihan Ginkang, namun usianya masih kecil, kaki pendek lagi, maka langkahnya tidak bisa cepat dan jauh, mana bisa menandingi kecepatan lari seekor harimau, terpaksa ia lari berputar-putar mengitari pohon, ia bermain petak dengan pengejarnya, Kalau lari lurus harimau itu memang cepat dan gesit, tapi untuk putar2 dan main menyelinap kian kemari gerak geriknya menjadi lamban, maka gerungan-nya semakin keras, ia menubruk membabi buta, debu pasir dan dedaunan sama beterbangan Melihat harimau itu tidak bisa berbuat apa-apa terhadap dirinya, Bu Siu-bun menjadi senang, sambil memaki kalang kabut ia berlari pula berputar mengelilingi pohon dan batu. Saking senang sehingga kurang ber-hati2 dan menginjak sebutir batu bundar, kontan ia tergelincir dan jatuh, Tanpa ayal harimau itu lantas menubruk ke arahnya. Bu Siu-bun berteriak.

"Ibu, ibu l"

Se-konyong2 dilihatnya dua gulung bayangan hitam meluncur dari tengah angkasa menubruk ke arah dirinya, tahu2 harimau itu terangkat naik ke tengah udara, menyusul badan sendiripun ikut terapung ke angkasa, Kaget dan takut pula Bu Siu-bun, waktu ia membuka mata, pohon di bawah tertampak menjadi kecil, dirinya sedang terbang di-awang2 waktu ia menengadah ternyata se-ekor burung besar mencengkeram baju punggungnya sedang terbang dengan pentang sayap yang lebar.

Semula hatinya amat takut, tak lama kemudian, ia merasa burung raksasa itu tidak bermaksud jahat.

Tiba2 didengarnya gerungan keras di sebelah belakang, ia berpaling, tertampak harimau besar itu dicengkeram oleh seekor burung raksasa lainnya dan dibawa terbang juga, kakinya mencak2 sambil menggerung keras, cakar burung raksasa itu mencengkeram kuduk dan pangkal ekornya hingga tergantung ditengah udara.

Sekali kembangkan kedua sayap, burung raksasa di belakang itu terbang lebih tinggi memasuki awan, tiba2 cengkeraman kedua cakarnya dilepaskan, kontan harimau itu meluncur jatuh ke bawah dari ketinggian ratusan tombak dan akhirnya terbanting hancur lebur.

Melihat adegan yang mengerikan ini, seketika Bu Siu-bun berteriak kaget, teringat olehnya.

"Kalau burung besar inipun melepaskan diriku, mustahil aku tidak akan hancur lebur ?" -karena takut cepat ia memeluk ujung kaki burung besar itu. Se-konyong2 terdengar lengking suitan panjang di bawah, suaranya nyaring dan merdu, terang suitan dari mulut perempuan, Kedua ekor burung besar itu pelahan terbang turun, lalu meletakkan Bu Siu-bun di atas tanah, Gesit sekali Siu-bun melompat bangun, tertampak sekelilingnya pohon Liu melulu, bumi seperti ditabur bunga yang mekar beraneka warnanya, suatu tempat yang indah dan permai, Dari balik pohon sana berlenggang keluar seorang anak perempuan, sekilas ia melirik kepada Bu Siu-bun, lalu ia tepuk2 kedua paha burung besar tadi, katanya.

"Tiau-ji elok, Tiau-ji bagus !"

Bu Siu-bun membatin.

"Kiranya kedua burung ini bernama "Tiau-ji"(rajawali), dilihatnya kedua burung itu berdiri gagah dan angker, jauh lebih besar dan tinggi daripada anak perempuan itu. Bu Siu-bun tidak paham berterima kasih segala, katanya sambil mendekat anak perempuan itu.

"Apakah kedua ekor Tiau-ji ini peliharaanmu ?"

Anak perempuan itu mencibirkan bibir, sikapnya memandang hina, jengeknya.

"Aku tidak kenal kau, tidak sudi bermain dengan kau !"

Bu Siu-bun tidak perduli akan sikap kasar orang, ia ulur tangan mengelus kaki burung besar itu.

Anak perempuan itu mendadak bersiul ringan, sayap burung besar itu segera terpentang dan menyapu dengan ringan, kontan Bu Siu-bun tersabet jumpalitan dan terguling di tanah, lalu kedua ekor burung itu segera terbang rendah menubruk ke arah mayat harimau tadi dan mulai berpesta pora.

Cepat Bu Siu-bun melompat bangun dan mengawasi kedua rajawali itu, hatinya amat ketarik, katanya.

"Sepasang burung ini amat bagus, mau dengar perintahmu, kalau pulang biar akupun minta ayah menangkapnya sepasang untukku !"

Anak perempuan itu mendengus.

"Hm, memangnya ayahmu mampu menangkapnya ?"

Berulang-ulang menghadapi sikap yang kurang simpatik, barulah Bu Siu-bun sekarang sempat mengamati anak perempuan di hadapannya ini, tertampak orang mengenakan pakaian yang amat mewah, lehernya mengenakan kalung mutiara sebesar kelengkeng, kulit mukanya halus putih seperti air susu, biji matanya jeli, mulutnya kecil mungil sepasang biji mata anak perempuan itupun sedang mengawasi seluruh badan Bu Siu-bun, tanyanya.

"Siapa namamu ? Kenapa keluar bermain seorang diri, tidak takut digigit harimau ?"

"Aku bernama Bu Siu-bun, sedang menunggu ayahku, Dan siapa namamu ?"

Anak perempuan itu mencibirkan bibir, katanya.

"Aku tidak bermain dengan anak liar !" -. lalu ia putar badan tinggal pergi. Bu Siu-bun tertegun.

"Aku bukan anak liar !"

Teriaknya sambil mengintil, Melihat anak perempuan itu berusia dua-tiga tahun lebih muda, badan rendah kaki pendek, ia pikir untuk mengejar tentu tidak sukar, siapa tahu baru saja ia kembangkan Ginkang, bagai anak panah terlepas dari busurnya anak perempuan itu sudah lari tujuh-delapan tombak jauhnya, sehingga dirinya ketinggalan jauh di belakang, Lari beberapa langkah pula mendadak anak perempuan itu berhenti katanya sambil berpaling.

""Hm, kau mampu mengejarku ?"

Sambil berlari Bu Siu-bun menyahut.

"Tentu bisa !" . TOKOH JUBAH PUTIH YANG CANTIK Anak perempuan itu putar badan terus lari kencang pula, tiba-tiba ia menyelinap ke depan dan sembunyi di belakang pohon, Tak lama kemudian Bu Siu-bun sudah menyusul tiba, sesudah dekat, tiba2 kaki kiri anak dara itu diulur keluar menjegal kaki orang. Bu Siu-bun tidak ber-jaga2, kontan badannya doyong ke depan, cepat ia gunakan cara mengendalikan keseimbangan badan tapi tahu2 kaki kanan anak perempuan itu mendepak sekali lagi pada pantatnya, tanpa ampun Bu Siu-bun jatuh terjungkal hidungnya menerjang sepotong batu runcing, darah segera membasahi pakaiannya. Melihat darah bercucuran, anak perempuan itu menjadi gugup juga, tiba-tiba didengarnya orang membentak di belakangnya.

"Hu-ji, kau nakal lagi dan menganiaya orang ya ?"

Anak perempuan itu tidak berpaling, sahutnya.

"Siapa bilang ? Dia jatuh sendiri, perduli amat dengan aku ? jangan kau sembarangan lapor kepada ayah lho!"

Bu Siu-bun meraba hidung, sebetulnya tidak sakit, namun melihat kedua tangan berlepotan darah, hatinya gugup juga.

Mendengar anak perempuan itu bicara dengan orang, segera ia angkat kepala, dilihatnya seorang kakek pincang dan bertongkat rambut sudah jarang2 dan jenggot pun sudah ubanan, badannya kurus kerempeng, namun semangatnya masih menyala-nyala.

Terdengar orang tua itu mendengus.

"Jangan kau sangka mataku buta tidak bisa melihat, apa yang terjadi dapat kudengar dengan jelas, Kau budak kecil ini sekarang sudah begini nakal, kelak kalau sudah besar pasti lebih nakal lagi ?"

Anak perempuan itu maju menghampiri serta menarik lengan si kakek, katanya memohon dan merengek.

"Kongkong, jangan kau katakan kepada ayah ya ? Hidungnya keluar darah, lekas kau mengobatinya !"

Kakek pincang itu maju setapak, sekali raih ia tangkap lengan Bu-siau-bun, lalu memijat beberapa kali di Bun-hiang-hiat di pinggir hidungnva, hanya sekali urut dan usap, darah kontan berhenti mengalir Terasa oleh Bu Siu-bun jari2 tangan orang seperti jepitan besi mencengkeram lengannya, hatinya menjadi takut, ia meronta, tapi sedikitpun tak bergeming.

Pelahan tangannya ditarik lalu diputar, ia lancarkan Siau-kim-na-jiu-hiat yang diajarkan ibunya, telapak tangannya ikut berputar setengah lingkaran, terus melintir dari dalam untuk melepaskan pegangan si kakek, Kakek itu tidak menduga dan ber-jaga2, sungguh tak nyana bocah sekecil ini ternyata membekal ilmu silat selincah itu, karena gerakan ronta membalik itu, pegangannya terlepas, sambil bersuara heran tangannya menyamber pula menangkap tangan orang, Bu Siu-bun kerahkan sepenuh tenaganya berusaha membebaskan diri, namun pegangan orang tak bergeming lagi "Adik kecil jangan takut,"

Kata kakek itu.

"Aku tidak melukai kau, kau she apa?"

"Aku she Bu,"

Jawab Siu-bun. Kakek itu menengadah seperti mengingat sesuatu, lalu katanya menegas.

"She Bu ? Ayahmu murid It-teng Taysu bukan ?"

Bu Siu-bun berjingkrak girang.

"Ya, kau kenal Hong-ya kami ? Kau pernah melihatnya tidak ? Aku sendiri tidak pernah melihatnya,"

"Dimana ayah bundamu ? Kenapa seorang diri kau kelayapan di sini ?"

Kata si kakek sambil lepaskan tangannya. Bu Siu-bun mewek2 ingin menangis teringat pada kejadian semalam dan terkenang kepada ayah ibunya. Anak perempuan itu lantas mengolok-olok.

"Cis, tidak tahu malu, sudah besar suka menangisi."

Bu Siu-bun tegak kepala dan berkata.

"Hm, siapa bilang aku menangis." -lalu ia ceritakan bahwa ibunya sedang menunggu kedatangan musuh di Liok-keh-cheng. Ayah entah pergi kemana membawa kakaknya, lalu dirinya kepergok harimau buas itu. Karena gugup dan pikiran tidak tenang, ceritanya putar balik tak teratur, namun kakek itu dapat memahami sebagian besar ceritanya itu, tanyanya.

"Tahukah kau siapa musuh yang di tunggu ayah bundamu ?"

"Seperti bernama Jik-lian-coa apa, pakai Chiu apa lagi,"

Tutur Siu-bun. Kakek itu menengadah pula, mulutnya menggumam.

"Jik-lian-coa apa ?"

Mendadak ia ketuk tongkat besinya di atas tanah, teriaknya keras.

"Pastilah Jik-lian-sian-cu Li Bok-chiu adanya !"

"Betul, betul!"

Bu Siu-bun bersorak gembira.

"Memang Jik-lian-sian-cu"

Karena tebakan si kakek yang tepat itu, maka ia kegirangan, namun si kakek ternyata sangat tegang, katanya.

"Kalian berdua boleh bermain di sini, setapakpun jangan meninggalkan tempat ini, biar kutengok kesana !"

"Kongkong, aku ikut kau !"

Rengek anak perempuan tadi. Kakek itu menjadi gugup.

"Ai, ai, tidak boleh ! iblis perempuan itu sangat jahat, aku sendiri bukan tandingannya. Soalnya tahu teman baik sedang menghadapi bahaya, terpaksa aku harus menyusul kesana, Kalian harus menurut kataku. Habis berkata segera ia berlalu dengan langkah terincang-incut. Meski pincang, tapi dengan bantuan tongkat besi segera ia kembangkan Ginkang, larinya amat cepat, tidak kalah dari pada tokoh2 silat kelas tinggi Tatkala itu hari sudah terang, para petani sudah bekerja di sawah, dengan riang gembira sedang menuai padi sambil berdendang, Kakek itu berlari bagai terbang tanpa hiraukan suasana gembira kaum tani yang bekerja keras itu. sekejap saja dia sudah tiba di depan Liok-keh-cheng. Kedua matanya memang buta, namun daya pendengarannya amat tajam, jaraknya masih kira2 satu li, namun dari kejauhan ia sudah mendengar suara bentrokan senjata keras, suara orang sedang bertempur dengan sengit. Ia tidak kenal keluarga Bu atau keluarga Liok dan tiada hubungan, iapun tahu ilmu silat sendiri jauh bukan tandingan Jik-lian-sian-cu, kedatangan dirinya ini mungkin hanya mengantar jiwa belaka, namun selama hidupnya selalu bantu kaum lemah demi kebenaran dan keadilan, selamanya ia tidak hiraukan keselamatan diri sendiri, Maka langkah kakinya dipercepat waktu tiba di depan perkampungan didengarnya di atas genteng ada empat orang sedang bertempur dengan seru. Sebelah kanan satu orang melawan tiga orang, tapi agaknya ketiga orang itu terdesak di bawah angin malah. Ternyata setelah Bu Sam-thong membawa pergi Tun-ji dan Siu-bun, Liok Lip-ting -suami isteri semakin cemas dan heran, mereka tidak tahu apa maksud orang gila itu. sebaliknya Bu Sam-nio menjadi senang, katanya tertawa.

"Selamanya suamiku bertindak angin2an, kali ini ternyata bisa tahu kasih sayang dan dapat melihat bahaya."

Liok-toanio mohon keterangan, tapi Bu Sam-nio hanya tersenyum saja, katanya.

"Nanti sebentar kau akan tahu sendiri."

Waktu itu sudah larut malam, Liok Bu-siang sudah tertidur dalam pangkuan ayahnya, Thia Engpun sudah kantuk dan tidak kuasa membuka matanya lagi.

Liok-toanio berdiri hendak membawa kedua anak itu masuk kamar, lekas Bu Sam-nio berseru mencegah.

"Tunggulah lagi sebentar". Benar juga tak lama kemudian, terdengar suara di atas genteng.

"Lemparkan ke atas !"

Itulah suara Bu Sam-thong.

Pergi datangnya ternyata tidak berbekas, Liok Lip-ting suami istri sebelumnya tidak tahu sama sekali.

Segera Bu Sam-nio bopong Thia Eng keluar terus dilemparkan ke atas, Bu Sam-thong ulur tangan meraihnya.

Baru saja Liok Lip-ting berdua kaget dan ingin tanya, Bu Sam-nio sudah lemparkan Liok Bu-siang ke atas pula, Keruan Liok Lip-ting kuatir, serunya.

"Apa yang kau lakukan ?" -segera ia melompat ke atas genteng, namun sekelilingnya sunyi sepi, bayangan Bu Sam-thong dan kedua anak perempuan itu sudah tidak kelihatan Baru saja Liok Lip-ting hendak mengejar, dari bawah Bu Sam-nio keburu berteriak.

"Liok-ya tidak perlu kejar, dia bermaksud baik,"

Liok Lip-ting ragu2, segera ia turun ke pelataran tanyanya kuatir.

"Maksud baik apa ?"

Liok-toanio sudah maklum lebih dulu, katanya.

"Bu-samya kuatir iblis perempuan itu turun tangan keji kepada anak2, maka sebelumnya hendak disembunyikan di tempat yang rahasia!"

Baru sekarang Liok Lip-ting sadar, ber-kali2 ia mengiakan, namun teringat Bu Sam-thong juga mencuri jenazah ayah bundanya, hatinya berkuatir pula. Bu Sam-nio tertawa, ujarnya.

"Biasanya suamiku tidak suka anak perempuan, entah kenapa kali ini dia mau melindungi kedua puterimu, benar2 di luar dugaanku, Waktu dia membawa pergi anak Ji dan anak Bun tadi, beberapa kali ia melirik kepada putri2mu, sikapnya amat prihatin, betul juga dia kembali membawa mereka. Ai, semoga sejak kini wataknya berubah, tidak linglung lagi." -Lalu ia menghela napas, katanya lebih lanjut.

"Silahkan kalian pergi istirahat, iblis itu amat membanggakan kepandaian sendiri, selamanya tidak mau menyergap musuh diwaktu malam, sebelum terang tanah pasti dia tidak akan datang."

Semula Liok Lip-ting suami isteri memang menguatirkan keselamatan puteri dan keponakannya, kini setelah kekuatiran itu tidak membebani benak mereka, rasa takutpun hilang, timbul keberanian mereka untuk menghadapi musuh.

Mereka sudah membekal senjata masing2, semua duduk bersimpuh di ruang besar itu, bertiga dengan Bu Sam-nio mulai semadi menghimpun tenaga.

Sang waktu berjalan cepat, tidak lama fajar pun menyingsing, biasanya waktu seperti itu, suasana diramaikan oleh kokok ayam dan gonggongan anjing, namun sekarang keadaan sepi nyenyak Di tengah kesunyian pagi itulah tiba2 terdengar suara "blang"

Yang menggetarkan hati, entah diterjang apa pintu besar itu tiba2 terbuka dan semplak pecah, Pintu besar itu sudah dipantek dengan dua batang besi, menurut kebiasaan A Kin, si jongos, setiap malam juga palang pula pintu itu dengan batang kayu.

Kini palang besi dan kayu luar dalam itu sama putus, tahu-tahu seorang Tokoh pertengahan umur mengenakan jubah putih mulus melangkah masuk, dia bukan lain adalah Jik-lian-sian-cu Li Bok-chiu.

Saat itu A Kin sedang menyapu di pelataran, segera ia membentak.

"Siapa itu ?"

Cepat Liok Lip-ting berteriak.

"A Kin, lekas menyingkir !"

Tapi sudah terlambat, sekali kebut di tangan Li Bok-chiu terayun, seperti pula kematian anjing, babi dan lain, tanpa bersuara kepala A Kin terpukul remuk dan melayanglah jiwanya tanpa bersuara.

Liok Lip-ting segera menjinjing golok menerjang keluar terus membacok, Li Bok-chiu miringkan badan berkelit terus melesat lewat disamping-nya, sekali kebutnya bergerak pula, dua pelayan perempuan seketika tersabet mati, lalu tanyanya dengan tertawa.

"Dimana kedua bocah itu ?"

Melihat musuh bertindak begitu ganas, meski sadar bukan tandingan lawan, namun Liok Lip-ting berdua tetap merangsak dengan sengit dengan senjata masing2.

Li Bok-chiu sudah angkat kebut hendak memukul, tiba2 dilihatnya Bu Sam-nio berdiri disamping, ia tersenyum manis, katanya.

"O, masih ada orang luar di sini, terpaksa aku bunuh kalian di luar rumah saja," -. suaranya merdu, gerak geriknya genit, tak terlihat bagaimana dia bergerak, tahu2 badannya mengapung ke atas genteng, segera mengejar juga ke atas, Belum lagi mereka berdiri tegak, kebut Li Bok-chiu sudah menyapu datang sehingga senjata Mereka terpental balik, Agaknya ia sengaja hendak permainkan ketiga lawannya, dalam puluhan jurus itu ia tidak pernah melancarkan serangan mematikan, ia cuma desak ketiga lawannya berputar2 seperti kucing mempermainkan tikus layaknya, Keruan Liok Lip-ting bertiga mandi keringat dan gusar pula dibuatnya.

"Mau bunuh lekas bunuh saja!"

Damperat Liok Lip-ting.

Tiba2 Li Bok-chiu bersiul nyaring panjang ia melayang turun ke tanah langsung menubruk ke arah seorang kakek pincang bertongkat be yang berdiri di pinggir kali, Dimana kebut Li Bo chiu bergerak, tahu2 kebutnya membelit ke leher si kakek pincang dan buta itu.

jurus serangan ini dilancarkan disaat kakinya belum menyentuh tanah, namun kebutnya bagai ular hidup tahu.2 sudah menyerang tempat mematikan dibadan lawan, Walau kakek tua itu buta, namun kupingnya dengan jelas mendengar serangan musuh yang lihay ini, lekas tongkatnya terangkat dan mendadak menutul ke depan, ia balas menjojoh pergelangan tangan kanan musuh, Tongkat besi merupakan senjata berat, umumnya piranti untuk menyapu, menggebuk, mengemplang atau menggencet, namun kakek tua ini justru menjojoh dengan gaya seperti pedang menusuk, tongkat seberat itu ternyata dapat ia mainkan dengan ringan dan lincah seperti pedang.

Lekas Li Bok-chiu sedikit gentakan kebutnya, ujung kebut memutar balik untuk membelit ujung tongkat terus ditarik dan disendal sambil membentak.

"Lepas tangan !"

Jurus ini merupakan ilmu pinjam tenaga lawan untuk memukul lawan, ujung kebutnya meminjam tenaga jojohan tongkat tadi serta ditarik dan disendal, seketika si kakek merasakan seluruh lengannya bergetar hebat, hampir saja ia tidak kuasa pegang tongkatnya, dalam keadaan yang gawat itu, lekas ia melompat miring mengikuti tarikan orang, dengan begitu barulah ia berhasil punahkan daya tarikan kebutan lawan, diam2 ia terkejut.

"Gembong iblis ini ternyata tidak bernama kosong."

Li Bok-chiu tadi sudah menyerukan "lepas tangan,"

Namun ia tidak berhasil merebut tongkat besi lawan, hal ini betul2 di luar dugaannya, pikirnya.

"Siapa kakek pincang yang punya kepandaian selihay ini ?"

Sekilas dilihatnya biji mata orang memutih, kiranya seorang buta, barulah ia sadar dan teringat teriaknya.

"Kau ini Tin-ok ?"

Kakek pincang buta ini memang tertua Kang-lam-chit-koay (tujuh manusia aneh dari Kanglam) Hwi-thian-pian-kok (si kelelawar) Kwa Tin-ok adanya, seperti diketahui sejak Hoa-san-lun-kiam pertandingan ilmu pedang di Hoa-san dulu.

Kwe Ceng dan Ui Yong menikah setelah mendapat restu Ui Yok-su, lalu mereka mengasingkan diri di pulau Tho-hoa-to.

Sifat Ui Yok-su memang lain dari pada yang lain, suka menyepi tidak suka keramaian, setelah beberapa bulan berkumpul bersama puteri dan menantunya, lama kelamaan ia menjadi bosan dan tidak kerasan tinggal dirumah, secara diam-diam ia meninggalkan Tho-hoa-to, ia hanya meninggalkan sepucuk surat, katanya ia hendak mencari tempat lain yang sepi dan nyaman.

Ui Yong kenal watak ayahnya, meski hati merasa berat, namun apa boleh buat dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Semula ia mengira dalam beberapa bulan Ui Yok-su pasti akan pulang atau paling tidak mengirim kabar, tak tahunya seka!i berpisah tahunan sudah lewat, namun Ui Yong tidak pernah mendapat kabar berita sang ayah, Karena kangen pada ayahnya, Ui Yong ajak suami-nya, Kwe Cerig keluar untuk mencarinya, selama beberapa bulan mereka berkelana di Kangouw, terpaksa mereka pulang ke Tho-hoa-to, sebab waktu itu Ui Yong ternyata sedang hamil.

Perangai Ui Yong biasanya jahil dan suka aneh2, hampir tidak suka ketentraman sekejap pun, karena hamil segala sesuatunya dirasakan serba repot dan kurang leluasa, hatinya menjadi kesal dan risau, dalam keadaan itu ia menjadi uring-uringan, ia anggap biang keladi yang membikin susah padanya itu ialah Kwe Ceng, Bagi perempuan yang sedang hamil memang sering bersifat kasar dan suka marah, walau Ui Yong amat mencintai Kwe Ceng, ada kalanya ia sengaja mencari kesalahan orang dan mengajak bertengkar Dasar Kwe Ceng berwatak polos dan lugu, jika sang istri sedang marah tanpa alasan, paling2 ia hanya tertawa-tawa saja tanpa menghiraukan-nya.

Tanpa terasa sepuluh bulan telah berselang, akhirnya Ui Yong melahirkan seorang anak perempuan dan diberi nama Kwe Hu.,, Waktu hamil hatinya kurang senang, setelah melahirkan ia amat kasih sayang kepada puterinya, selalu dimanjakan Belum lagi genap satu tahun puterinya ini sudah teramat nakal.

Ada kalanya Kwe Ceng merasa anaknya keterlaluan lalu dia memarahinya, namun Ui Yong segera membela dan melindunginya, lama kelamaan sang puteri semakin menjadi nakal Waktu Kwe Hu berusia tiga tahun, Ui Yong mulai mengajarkan ilmu silat padanya, Karena itu, celakalah binatang piaraan di Tho-hoa-to, kalau bukan bulunya digunduli, tentu ekornya dicabuti Tho-hoa-to yang biasanya aman tenteram dan damai itu, lama kelamaan menjadi tempat jagal binatang.

Hari berganti bulan dan beberapa tahun telah berselang pula, Suatu hari mereka kedatangan seorang tamu, dia bukan lain adalah guru Kwe Ceng, Kwa Tin-oh adanya.

Setelah menetap beberapa tahun dikampung halamannya di Kang-lam, dulu di sana ada Cu Jong, Han Po-ki, Lam Hi-jin, Thio Ah-seng, Coan Kim-hoat dan Han Siau-eng, mereka bertujuh biasa malang melintang ke mana saja, sekarang tinggal Kwa Tin-ok seorang, usia semakin lanjut lagi, lama kelamaan ia merasa kesepian Hari itu ia teringat akan muridnya suami istri, segera ia jual segala harta miliknya buat ongkos menuju ke Tho-hoa-to.

Kedatangan sang guru sudah tentu membuat Kwe Ceng dan Ui Yong sangat senang, maka mereka tahan beliau menetap saja di pulau itu, betapapun mereka tidak mengijinkan Tin-ok meninggalkan mereka lagi, Kwa Tin-ok menganggur tak punya pekerjaan, maka ia menjadi teman bermain Kwe Hu yang paling setia, satu tua satu anak, ternyata mereka dapat bergaul rukun dan menjadi sahabat kental.

Hari itu Ui Yong merasa kangen kepada sang ayah, maka esoknya ia meninggalkan pulau bersama Kwe Ceng untuk mencari ayahnya, sebelum berangkat ia berpesan kepada Kwa Tin-ok untuk tinggal dirumah saja menemani puterinya, Siapa tahu usia Kwe Hu meski kecil, namun dia sudah mewarisi watak pemberani dan tidak takut tingginya langit dan tebalnya bumi setelah ayah bundanya pergi, segera ia merengek2 kepada Kwa Tin-ok agar mengajaknya keluar untuk mencari kakeknya juga, Ui Yok-su.

Keruan Kwa Tin-ok kaget, ia goyang tangan dan berteriak.

"Tidak boleh jadi ? Tidak boleh jadi ?"

Kalau ada ayah bundanya Kwe Hu sih tidak berani mengumbar adat, setelah ayah, ibunya pergi, tiada yang perlu dia takuti lagi Segera ia lari ke pinggir, laut lalu terjun ke dalam air, teriaknya.

"Baiklah Kwa-kongkong, biar aku berenang saja kesana sendiri!" . Kwa Tik-ok tidak bisa berenang, mendengar deburan ombak yang besar itu, ia menjadi gugup sendiri, kuatir Kwe Hu ketimpa malang, lekas ia berteriak.

"Kembali, lekas kembali, dari sini ke daratan sana ratusan li jauhnya, mana bisa kau berenang ke sana ?"

"Aku tidak perduli, kalau kau mati tenggelam, kaulah penyebabnya!"

Seru Kwe Hu. Saking gugup Kwa Tin-ok sampai garuk-garuk kepala tak berdaya, terpaksa teriaknya pula.

"Lekas kau naik sini, marilah berunding dulu."

"Kalau kau berjanji mau bawa aku pergi mencari Gwakong, baru aku mau naik ke atas."

Kwa Tin-ok kewalahan, terpaksa ia berkata.

"Baiklah, ku lulusi permintaanmu."

Kwe Hu menirukan cara2 orang dewasa, serunya.

"Seorang Kuncu (laki2 sejati) hanya sepatah kata !"

Tanpa terasa Kwa Tin-ok segera menyambung.

"Kuda lari sekali pecut !"

Sebagai seorang kawakan Kangouw yang pernah malang melintang puluhan tahun, sekali Kwa Tin-ok sudah keluarkan janjinya, selama hiduppun tidak akan menyesal Dulu dia pernah bertaruh dengan Khu Ju-ki, hingga selama delapan belas tahun ia menyekap diri di padang pasir yang berhawa panas dingin itu, tidak lain juga cuma untuk memenuhi janji kedua kalimat yang diucapkannya itu.

Begitulah Kwe Hu lantas naik ke daratan, sebaliknya Kwa Tin-ok menghela napas berulang kali, terpaksa mereka berkemas dan menunggang kedua ekor rajawali terbang ke barat menuju ke daratan besar.

-oooo000oooo4.

PEMUDA PENGGEMBALA ULAR.

Hari itu mereka tiba di kabupaten Ouwciu, Kwa Tin-ok mengajak Kwe Hu bermalam di rumah seorang petani, maklum sudah tua, gampang capai sehingga tidurnya teramat nyenyak, di luar tahunya pagi-pagi benar Kwe Hu sudah membawa kedua ekor rajawali itu keluyuran di luar.

Memang kebetulan juga, secara tidak terduga ia berhasil menolong Bu Siu-bun dari terkaman harimau buas.

Begitulah setelah beberapa gebrakan melawan Li Bok-chiu, Kwa Tin-ok tahu bahwa dirinya bu kan tandingan orang, segera ia kembangkan ilmu permainan tongkat, Hok-mo-tiang-hoat, dengan rapat ia mempertahankan diri Diam2 Li Bok-chiu memuji dalam hati.

"Tua bangka ini dikenal sebagai pentolan Kang-lam chit-koay, kiranya tidak bernama kosong, matanya buta kakinya pincang, sudah tua dan tenaga lemah lagi, namun masih kuat melawan puluhan jurus seranganku."

Didengarnya Liok Lip-ting dan isterinya ber-kaok2 sedang memburu datang bersama Bu Sam-nio, diam2 ia berkeputusan.

"Kabarnya tua bangka ini adalah guru Kwe Ceng, Kwe-tayhiap, jangan aku sampai melukainya, kalau sampai Kwe Ceng suami isteri mencari perkara padaku, tentu akan serba menyulitkan, biarlah hari ini aku memberi kelonggaran kepadanya."

Segera kebutnya bergerak, ujung kebut mendadak tegak kaku, seperti ujung sebuah tombak terus didorong menusuk ke dada Kwa Tin-ok.

Meski kebut itu terdiri dan benda2 lemas, namun dengan Lwekangnya yang hebat, daya tusukan ini sungguh luar biasa.

Lekas Kwa Tin-ok ketukan tongkat besinya ke tanah, badannya lantas tertolak mundur ke belakang beberapa langkah, Li Bok-chiu maju se-tapak, agaknya seperti hendak mengejar dan menyerang, siapa tahu se-konyong2 badannya mendorong ke belakang, pinggangnya lemas gemulai se-olah2 tidak bertulang, tahu2 pundaknya hanya terpaut satu dua kaki di depan Bu Sam-nio.

Keruan Bu Sam-nio kaget, lekas ia lancarkan ilmu It-yang-ci, ia menutuk ke jidat orang, Sayang ilmunya ini belum mencapai tingkat tinggi, gerak geriknya kurang cekatan dan cepat, begitu pinggang li Bok-chiu meliuk, se-olah2 setangkai bunga teratai yang tertiup angin, tahu2 ia sudah menggeliat ke samping, malah "plak", tahu2 perut Liok-toanio terkena sekali gablokannya.

Jik-lian-sin-ciang Li Bok-chiu sudah termasyhur dan menggetarkan setiap jago persilatan, kontan Liok-toanio roboh terguling, Liok Lip-ting tidak lagi menghiraukan keselamatan jiwa sendiri, golok segera ia timpukan ke arah Li Bok-chiu, berbareng ia pentang kedua tangannya menubruk maju hendak memeluk pinggang orang untuk mengadu jiwa, sebagai perawan suci bersih, karena patah hati perangai Li Bok-chiu berubah sadis dan tidak kenal kasihan lagi, terutama ia amat membenci hubungan asmara muda mudi, kini melihat Liok Lip-ting hendak memeluk badannya, terlihat raut mukanya lapat2 rada mirip ayahnya diwaktu muda dulu, rasa bencinya semakin berkobar, setelah ia pukul jatuh golok orang dengan kebutnya, sekali ayun pula.

"sret" , telak sekali kebutnya memukul batok kepala Liok Lip-ting. Kasihan Liok Lip-ting yang membekal ilmu silat warisan keluarga yang tinggi, selama hidup tidak pernah menanam permusuhan dengan orang lain, tak nyana hari ini dia terjungkal habis-habisan. Beruntun ia melukai Liok Lip-ting suami istri, kejadian berlangsung dalam waktu yang amat pendek Kwa Tin-ok dan Bu-Sam-nio berusaha meno-long, namun terlambat. Li Bok-chin, serunya.

"Dimana"

Kedua bocah perempuan itu ?"

Tanpa menanti jawaban, bayangan berkelebat langsung ia melesat masuk ke dalarn perkampungan dalam sekejap saja ia sudah periksa setiap pelosok rumah, namun tidak kelihatan bayangan Thia Eng dan Liok Bu-siang.

Dari tungku di dapur ia mengambil api terus menyulutnya di-gudang kayu bakar, tak lama kemudian dia sudah berlari keluar pula, katanya dengan tersenyum.

"Dengan Tho-hoa-to dan It-teng Taysu aku tidak bermusuhan kalian silahkan pergi saja !"

Kwa Tin-ok dan Bu Sam-nio terhitung golongan pendekar, mereka menyaksikan orang meng-ganas panta dapat berbuat banyak, keruan gusar mereka bukan kepalang, sebatang tongkat dan sebilah pedang serempak menubruk maju pula, Li Bok-chiu bergerak lincah seperti kupu2 menari, ia miringkan badan menghindari sambaran tongkat besi, sementara kebutnya terayun membelit pedang Bu Sam-nio, tenaga dalam tersalur melalui ujung kebutnya, sekali tarik dan dorong pula, terdengar "pletak !" , pedang itu putus menjadi dua potong, ujung pedang melesat ke arah Bu Sam-nio, sementara gagang pedang menyamber ke muka Kwa Tin-ok.

Bahwa pedangnya terkebut lawan Bu Sam-nio sudah amat kaget, di luar dugaan orang dapat mematahkan pedangnya dengan kebut yang lemas saja untuk menyerang dirinya pula, kutungan pedang itu melesat cepat, lekas ia menunduk kepala untuk berkelit, terasa kepala menjadi dingin dan silir, ujung pedang menyamber lewat memotong sebagian gelungan rambutnya.

Dilain pihak, mendengar samberan angin ke-keras, ujung tongkat Kwa Tin-ok sapukan ke depan untuk menyampuk gagang pedang itu ke samping, didengarnya Bu Sam-nio menjerit kaget.

dan ketakutan, lekas ia putar tongkatnya hingga menderu kencang dan merangsak maju, sebetulnya tangan kirinya sudah menggenggam senjata rahasia, tapi ia tahu Ping-pok-ciau milik Jik-lian-sian-cu amat ganas dan keji, mata sendiri tidak bisa melihat, jangan2 malah memancing orang mengeluarkan jarumnya yang berbisa itu, sudah tentu dirinya tidak akan mampu melawan, oleh karena itu meski situasi sangat gawat, ia tidak berani sembarangan menimpukkan senjata rahasianya.

Sejak mula Li Bok-chiu selalu memberi kelonggaran kepadanya, pikirnya.

"Kalau tidak ku unjuk kelihaianku yang sejati, tua bangka ini tentu tidak tahu aku sengaja mengalah kepadanya."

Ujung kebutnya segera membelit ujung tongkat orang, Kontan (Kwa Tin-ok merasa segulung tenaga hebat membetot tongkatnya, lekas ia, kerahkan tenaga untuk menarik balik, siapa tahu baru saja tenaganya tersalur ke ujung tongkat, mendadak Kekuatan betotan kebut musuh sirna tanpa bekas, seketika ia merasakan kaki tangan menjadi lemas se-olah2 kosong melompong tak kuasa mengerahkan tenaga lagi.

Sedikit menggerakkan tangan kirinya Li Bok-chiu sendal tongkat orang ke samping, telapak tangannya hanya satu dua dim saja di depan dada Kwa Tin-ok, katanya tertawa.

"Kwa-loyacu, Jik-lian-sin-ciang sudah mengusap di depan dadamu lho!"

Dada Kwa Tin-ok terbuka lebar dan tidak mampu menangkis atau membela diri, tapi ia lantas memaki dengan gusar.

"Perempuan keparat, tepukkan saja ke dadaku, kenapa cerewet ?"

Melihat gelagat yang jelek ini Bu Sam-nio kaget dan memburu hendak menolong.

Tangkas sekali Li Bok-chiu sudah melejit ke udara, disaat badannya masih terapung di udara, telapak tangannya sempat mengusap sekali dimuka Bu Sam-.nio.

Katanya tertawa.

"Kau berani mengggebah muridku, nyalimu cukup besar juga!" -Habis berkata ia tertawa cekikikan, sekali lompat badannya melayang jauh dan sekejap saja sudah tidak kelihatan lagi, Terasa oleh Bu Sam-nio jari orang yang meraba mukanya itu sedemikian halus dan licin, kulit mukanya terasa dingin nyaman, dilihatnya bayangan orang berkelebat ke dalam hutan dan menghilang, Hanya beberapa jurus saja ia melabraknya, namun gebrakan yang berlangsung tadi boleh dikata berbahaya sekali, ia kerahkan seluruh kekuatannya, akhirnya toh roboh dan tak mampu bergerak Kwa Tin-ok tadipun merasakan dadanya seperti ditindih batu besar ribuan kati, napas sesak terasa mual, segera ia menarik napas dalam2 beberapa kali, barulah pernapasannya dapat lancar kembali. Dengan susah payah Bu Sam-nio merangkak bangun, didengarnya suara gemuruh dan angin menderu, hawa terasa sangat panas, ternyata Liok-keh-ceng sudah tertelan jago merah yang membara, Dengan Kwa Tin-ok mereka mengangkat tubuh Liok Lip-ting suami isteri, tampak kedua orang sudah kempas kempis, terang tinggal menunggu ajal saja, pikirnya.

"Kalau memindahkan mereka, tentu ajalnya akan tiba lebih cepat, namun tak mungkin Kubiarkan mereka di sini, bagaimana baiknya ?"

Disaat serba susah itulah tiba2 dari jauh di dengarnya seseorang berteriak.

"Niocu, apa kau selamat ?" -itulah suara Bu Sam-thong. Girang dan dongkol pula Bu Sam-nio, pikirnya kau si gila ini entah berbuat apa saja dan sampai sekarang baru datang, Dilihatnya pakaian sang suami sudah robek dan penuh tambalan. Sedang berlari cepat mendatangi sambil ber-kaok2 selamanya Bu Sam-nio belum pernah menghadapi sikap suaminya yang begitu mesra terhadap dirinya, hatinya menjadi senang, sahutnya lantang.

"Aku di sini!"

Cepat sekali Bu Sam-thong meluncur tiba, tanpa berhenti ia raih badan Liok Lip-ting berdua terus dibawa pergi sambil berteriak.

"Lekas ikut aku !"

Kwa Tin-ok belum saling memperkenalkan diri, namun ia yakin orang adalah sekaum dari golongan pendekar, maka segera ia ikut jejak orang, sekaligus mereka lari sejauh beberapa li, Bu Sam-thong menjinjing dua orang, Kwa Tin-ok pincang berjalan dengan menggunakan tongkat, namun Bu Sam-nio malah ketinggalan paling jauh.

Bu Sam-thong menyusup ke timur dan berputar ke barat, akhirnya ia bawa kedua orang memasuki sebuah gua di sebuah lekukan gunung, Begitu masuk ke dalam gua itu, Bu Sam-nio melihat Tun-ji dan Siu-bun, kedua puteranya itu selamat tak kurang suatu apapun, ia merasa lega, Dilihat-nya kedua puteranya sedang bermain, batu di tanah bersama Liok Bu-siang dan Thia Eng.

Di ujung sana berdiri seorang gadis cilik lain yang berpakaian mewah, Usianya lebih kecil dari Liok dan Thia, namun sikap dan tindak tanduknya kelihatan sombong, ia tidak sudi bermain dengan mereka berempat, Dia bukan lain adalah puteri kesayangan Kwe Ceng dan Ui Yong, Kwe Hu adanya.

Melihat Kwa Tin-ok ikut datang segera Kwe Hu berteriak.

"Kwa-kongkong, kedua burung itu entah pergi kemana, tidak kelihatan bayangannya, ku panggil berulang kali juga tidak mau kembali!"

Sementara itu Thin Eng dan Liok Bu-siang lantas memeluk badan Liok-toanio dan Liok Lip-ting serta menangis sambil menjerit2.

Mendengar jerit tangis kedua anak perempuan ini, seketika Kwa Tin-ok teringat akan kata2 Li Bok-chiu, serunya kuatir.

"Wah, celaka ! Kita memancing setan masuk pintu, sebentar iblis laknat itu pasti menyusul kemari!"

"Bagaimana bisa ?"

Tanya Bu Sam-nio bingung.

"Gembong iblis itu hendak mencabut nyawa kedua "

Bocah dari keluarga Liok ini, tapi dia tidak tahu dimana mereka berada."

Seketika Bu Sam-nio sadar, ujarnya.

"Ya, benar,, dia sengaja tidak melukai kami, tapi mengintil di belakang kita secara diam2."

Bu Sam-thong menjadi gusar, teriaknya. Se-tan keparat itu berani mengganas, sebentar biar aku yang menempurnya."

Batok kepala Liok Lip-ting sudah remuk, namun ada satu hal yang belum dia selesaikan maka ia bertahan sampai sekarang, dengan suara lemah katanya kepada Thia Eng.

"Ah-ing, ambillah sapu... sapu.... sapu tangan di dalam bajuku."

Thia Eng menyeka air mata, lalu merogoh keluar sehelai sapu tangan sutera dari baju sang paman.

Sapu tangan ini terbuat dari sutera putih, tiap ujungnya tersulam bunga merah, Bentuk dan warna bunga itu amat aneh dan lain dari bunga biasanya, kelihatan indah menyolok tapi menyeramkan pula, selintas pandang membuat berdiri bulu kuduk orang.

Kata Liok Lip-ting.

"Ah-Eng, ikatlah sapu tangan ini di lehermu, jangan kau copot lagi, tahu tidak ?"

Thia Eng tidak tahu maksudnya, namun pamannya berpesan wanti2, maka ia mengangguk serta mengiakan, Saking kesakitan Liok-toanio sudah jatuh pingsan berulang kali, mendengar suara suaminya, segera ia membuka mata, katanya.

"Kenapa tidak kau berikan kepada anak Siang ? Berikan kepada Siang-ji!"

"Tidak!"

Sahut Liok Lip-ting tegas.

"Mana boleh aku mengingkari pesan ayah bundanya ?"

"Kau... kau sungguh kejam, puterimu sendiri tidak kau hiraukan lagi keselamatannya ?"

Mata Liok-toanio memutih, suarapun serak dan jatuh semaput lagi. Liok Bu-siang tidak tahu soal apa yang dipertengkarkan ayah bundanya, sambil menangis ia berteriak.

"lbu Ayah !"

"Niocu!"

Ujar Liok Lip-ting dengan suara lembut.

"Kau amat sayang kepada Siang-ji, biarlah dia ikut berangkat bersama kita ?"

Sapu tangan sutera putih bersulam bunga merah itu adalah pemberian Li Bok-chiu kepada Liok Tian-goan dimasa mudanya sebagai tanda mengikat janji, Menjelang ajal, Liok Tian-goan tahu dosa2 mereka suami isteri bertumpuk dan banyak musuh, anak cucunya kelak pasti terlibat banyak urusan, maka ia wariskan sapu tangan itu kepada puteranya.

Dengan wanti2 ia berpesan, bila Bu Sam-thong meluruk datang menuntut balas, kalau bisa menghindari adalah baik, kalau tidak bolehlah dilawan sekuat tenaga dan rasanya jiwa tidak akan melayang cuma2.

Tapi kalau Li Bok-chiu yang datang, orang ini amat keji dan ganas pula, ilmu silatnya juga tinggi, satu2-nya jalan untuk menyelamatkan diri ialah mengalungkan sapu tangan sutera putih itu di leher.

ingat akan asmara dimasa mudanya, mungkin si iblis itu tidak tega turun tangan, Tapi Liok Lip-ting sendiri tinggi hati, meski menjelang ajal, namun ia sendiri tidak mau unjuk sapu tangan itu.

Thia Eng adalah puteri saudara perempuan Liok Lip-ting yang dititipkan padanya, Biasanya ia bersikap keras kepada keponakan ini, sering ia memarahinya dan mendidiknya dengan keras, tapi urusan sudah berlarut sedemikian jauh, malah dia berikan sapu tangan penyelamat itu kepada Thia Eng.

Betapapun Liok-toanio berjiwa lebih sempit, kasih sayangnya kepada puteri sendiri lebih besar, melihat sang suami tidak perdulikan keselamatan jiwa puteri sendiri, saking dongkol dan gusar, kontan ia jatuh semaput lagi.

Karena soal sapu tangan sampai bibi dan pamannya bertengkar segera Thia Eng angsurkan sapu tangan itu kepada Piaumoay-nya, katanya.

"Bibi bilang untuk kau, nah, terimalah !"

Tapi Liok "

Lip-ting segera membentak.

"Siang-ji, jangan kau terima !"

Bu Sam-nio tahu dalam hal ini pasti ada latar belakang yang dirahasiakan segera ia tampil bicara.

"Bagaimana kalau sapu tangan ini disobek menjadi dua potong ? Satu orang separoh, boleh tidak ?"

Liok Lip-ting hendak bicara, namun keadaannya sudah sangat payah, mana bisa mengeluarkan suara pula, terpaksa ia hanya mengangguk saja, Bu Sam-nio segera minta sapu tangan itu "bret"

Ia sobek menjadi dua dan dibagikan kepada Liok Bu-siang dan Thia Eng. Bu Sam-thong berdiri di mulut gua, mendengar jerit tangis di sebelah "

Dalam, tak tahu apa yang terjadi, segera ia berpaling, entah mengapa dilihatnya separuh muka isterinya berwarna hitam separuh yang lain putih halus seperti salju, keruan ia kaget dan kuatir, katanya sambil menuding muka sang isteri.

"Ke... kenapa begini ?"

"Kenapa ?"

Tanya Bu Sam-nio sambil meraba mukanya, terasa kulit mukanya seperti kaku dan mati rasa, mencelos hatinya, seketika teringat akan rabaan tangan li Bok-chiu pada mukanya tadi, apa tangan halus dan lembut itu menggunakan racun dalam rabaannya tadi ?

Baru saja Bu Sam-thong hendak bertanya pula, mendadak didengarnya seorang tertawa di luar gua, katanya.

"Kedua bocah perempuan itu di sini bukan ? Perduli mati atau hidup, lekas lempar keluar!"

Suaranya nyaring seperti kelintingan. Bu Sam-thong segera melompat keluar gua, dilihatnya Li Bok-chiu sedang berdiri di luar gua, seketika hatinya tergetar.

"Puluhan tahun tidak bertemu, kenapa dia masih sedemikian cantik ?"

Tapi dilihatnya kebut di tangan Li Bok-chiu bergoyang gontai, sikapnya adem-ayem, pandangan matanya tajam, kedua pipinya bersemu merah, bagi orang yang tidak kenal iblis yang suka mengganas ini, orang pasti mengira orang adalah putri hartawan yang sengaja menjadi Tokoh (pendeta wanita agama Tao).

Melihat kebut baru Bu San-thong ingat dirinya tidak membekal senjata, kalau balik mengambil ia kuatir orang akan menerjang masuk dan melukai Thia Eng atau Liok Bu-siang, sekilas dilihatnya di pinggir gua tumbuh sebatang pohon, segera ia rangkul dengan kedua tangan serta menghardik keras.

"Naik !"

Waktu ia kerahkan tenaga, pohon itu seketika kena dicabut sampai akar-akarnya, Li Bok-chiu tersenyum genit.

"Amat besar tenagamu !"

Bu Sam-thong segera melintangkan batang pohon itu, katanya.

"Nona Li, puluhan tahun tidak bertemu, kau baik-baik saja ?"

Dahulu ia biasa panggil orang nona Li, kini meski orang sudah masuk agama menjadi pendeta To, namun ia tidak mengubah panggilannya, selama dua puluhan tahun terakhir ini Li Bok-chiu tidak pernah mendengar orang memanggil dirinya dengan sebutan "nona Li" , seketika tergerak hati-nya, terbayang olehnya akan kehidupan manis mesra masa mudanya dahulu, namun kilas lain ia pun berpikir.

sebetulnya aku dapat hidup rukun sampai hari tua bersama pujaan hatiku, siapa tahu dalam dunia ini muncul seorang yang bernama Ho Wan-kun yang membuat aku malu dan kehilangan, pamor, aku hidup menderita sampai hari tua.

Se gera rasa manis mesra yang menggejolak tadi se ketika tersapu bersih, perasaan berubah menjadi benci dan dendam.

Seperti Li Bok-chiu Bu Sam-thong juga seorang yang patah hati dalam gelanggang asmara boleh dikatakan mereka mengalami pendeta dan siksaan batin yang sama.

Sepuluhan tahun yang lalu Bu Sam-thong pernah melihat seorang diri Li Bok-chiu membunuh puluhan Piausu dari Ho-si Piaukiok secara kejam dan tak berperi-kemanusiaan, kalau dibayangkan sampai sekarang masih terasa seram, Para Piausu itu sebetulnya tiada salah dan tiada dosa kepadanya, merekapun tiada sangkut paut dengan Ho Wan-kun soalnya hanya karena merekapun she Ho, di kala kepedihan hati tak terlampiaskan, ia luruk ke Ho-si Piau kiok serta membunuh habis semua penghuninya, Kini dilihat pula oleh Bu Sam-thong raut muka perempuan ini sebentar mengunjuk kelembutan hatinya, namun saat lain berubah bengis dan menyeringai dingin, diam2 ia sangat menguatirkan keselamatan kedua anak perempuan Liok dan Thia itu.

Berkata Li Bok-chiu.

"Di atas dinding sudah kuberikan tanda sembilan telapak tangan, aku tidak akan berhenti sebelum membinasakan sembilan orang, Nah, Bu-samko, silahkan kau menyingkir !"

"0rang2 yang kau musuhi sudah sama mati, putera dan bininya pun sudah kau lukai, cucu perempuannya yang masih kecil itu, harap kau ampuni saja !"

Kata Bu Sam-thong. Li Bok-chiu menggeleng sambil tersenyum, katanya.

"Bu-samko, silahkan kau minggir."

Bu Sam-thong pegang batang pohon itu lebih kencang, teriaknya.

"Nona Li, kau memang terlalu kejam, Ho Wan-kun."

Seketika berubah air muka Li Bok-chiu mendengar nama itu, katanya.

"Aku sudah bersumpah barang siapa di hadapanku menyinggung nama orang itu, maka kalau bukan aku yang mati pasti dia yang mampus, Nah, Bu-samko, kau sendiri yang salah, jangan kau menyalahkan aku."

Kebut-nya segera mengebas ke atas kepala Bu Sam-thong.

Jangan pandang kecutnya itu kecil pendek, namun kebasannya ini cepat dan keras sekali, rambut kepala Bu Sam-thong yang awut2an itu seketika seperti diterpa angin ribut Li Bok-chiu tahu orang adalah murid kesayangan It-teng Taysu, meski tindak tanduknya ling-lung, namun ilmu silatnya mempunyai keistimewaannya sendiri, maka sekali turun tangan segera ia lancarkan serangan maut yang mematikan Cepat Bu Sam-thong angkat batang pohon itu dan mendadak terulur maju terus menyapu dengan keras.

Melihat sapuan keras dan lihay ini, badan Li Bok-chiu berkelebat melayang mengikuti deru angin, sebelum daya kekuatan sapuan pohon itu melanda tiba, ia sudah melompat ke depan terus menyerang ke muka lawan.

Hebat memang kepandaian Bu Sam-thong, tidaklah sia2 Toan-hongya menggemblengnya selama puluhan tahun, melihat orang merangsak maju, tangan kanan segera terangkat, jari tengahnya terjulur menutuk jidat orang.

It-yang-ci yang dia lancarkan ini tidak bisa dibandingi dengan permainan isterinya tadi, kelihatannya gerak tangannya tidak begitu cepat dan hebat, namun serba rumit dijajagi atau diraba perubahannya, aneh dan ajaib.

Tapi badan Li Bok-chiu mendadak mencelat mundur beberapa tombak jauhnya, Melihat orang bergerak segesit kera selincah kupu menyelusuri kembang, datang pergi seenteng asap, dalam sekejap saja merangsak maju dan mundur beberapa kali, mau-tidak-mau Bu Sam-thong sangat kagum dan tergetar.

Segera ia kerahkan tenaga mengabitkan dahan pohon itu dengan hebatnya, serentak ia desak lawan mundur puluhan tombak jauhnya, tapi sedikit ada peluang, Li Bok-chiu segera menyelinap maju secepat kilat, untung It-yang-ci amat lihay, kalau tidak tentu sejak tadi dia sudah terkapar roboh.

Meski demikian, betapapun bobot dahan pohon itu terlalu berat, diputar sedemikian kencangnya, lama-kelamaan ia merasa letih dan kehabisan tenaga, sebaliknya Li Bok-chiu bergerak semakin gesit dan mendesak semakin dekat Mendadak bayangan putih berkelebat, tahu2 Li Bok-chiu melompat ke pucuk pohon sembari mengayun kebutnya menyerang ke bawah dari tengah udara.

Bu Sam-thong terkejut, lekas ia putar balik batang pohon terus dihantamkan ke tanah, sambil tertawa Li Bok-chiu berlari maju melalui dahan pohon.

segera Bu San-thong memapak dengan tutukan jarinya.

Tapi sekali menggeliat gemulai, badan lawan tahu2 sudah menyurut mundur ke pucuk pohon pula.

Begitulah beruntun puluhan jurus, bagaimanapun Bu Sam-thong kerahkan tenaga menggentak pohon atau menyapukannya dengan hebat menghantam batang pohon yang lain untuk menjatuhkan orang, namun Li Bok-chiu seperti lengket dengan dahan pohon di tangannya itu, malah setiap kali kalau gerakan dahan pohon lamban ia lantas menyerang maju dengan serangan ganas.

Lama kelamaan Bu Sam-thong merasa payah juga, meski badan orang tidak terlalu besar dan berat, paling tidak menambah beban di atas dahan pohon besar itu, dengan berdiri di .

pucuk pohon, dahan pohon itu tidak akan mampu mengenai dia, sebaliknya orang lebih leluasa menyerang dirinya, terang dirinya dalam posisi yang terdesak Inysaf akan kedudukan yang berbahaya ini, bila dirinya sedikit ayal atau lena, jiwa sendiri tidak menjadi soal, tapi semua penghuni gua baik tua dan muda bakal menjadi mangsa keganasannya pula.

Segera ia ayun batang pohon itu lebih kencang, ia berusaha menjatuhkan orang dari dahan pohon di tangannya, Tepat pada saat itulah, tiba2 dari belakang didengarnya seruan nyaring disusul dua bayangan abu2 menubruk turun dari atas Karena pahanya tersambit jarum berbisa, Bu Sam-thong rebah tengkurap tak mampu bangun Jagi, sementara Li Bok-chiu sedang sibuk dikerubuti dua ekor rajawali dan seekor burung merah kecil berparuh panjang.

Waktu Bu Sam-thong angkat kepala, dilihatnya dua ekor rajawali menukik turun bagai meteor jatuh menyerang ke arah Li Bok-chiu dari kanan kiri, Melihat luncuran kedua burung raksasa yang pesat dan dahsyat ini, cepat Li Bok-chiu menjungkir ke bawah dengan kaki kiri tetap menggantol dahan pohon, Karena tidak berhasil mengenai musuh, kedua rajawali itu terbang ke udara pula.

Baru saja Bu San-thong keheranan, tiba2 didengarnya suara anak perempuan di belakangnya.

"Tiau-ji, ayo turun gigit perempuan jahat itu !"

Kedua ekor burung rajawali itu amat cerdik dan tahu kata2 orang, seekor dari kiri ke kanan, yang lain dari kanan ke kiri, empat cakar besinya serentak mencengkeram ke bawah pohon.

Pernah Li Bok-chiu dengar bahwa Kwe Ceng dan Ui Yong dari Tho-hoa-to ada memelihara sepasang burung rajawali sakti, menghadapi serangan kedua burung sakti ini, terhadap rajawali itu sendiri ia tidak takut, namun ia jeri bila Kwe Ceng suami isteri berada tidak jauh dari situ, hal itu tentu akan membawa kesulitan dan menggagalkan urusannya, dengan gerakan gemulai segera ia berkelit beberapa kali, tiba2 ia ayun kebut-nya.

"plok" , ia berhasil menyabet sayap kiri rajawali jantan, saking kesakitan rajawali itu berpekik dan beberapa tangkai bulunya rontok berhamburan di udara. Melihat burung rajawalinya cidera, Kwe Hu berteriak pula.

"Tiau-ji jangan takut, gigit perempuan galak itu."

Sekilas Li Bok-chiu melirik, dilihatnya anak perempuan itu berkulit halus bagai salju, cantik melek dan menawan hati, tergeraklah hatinya.

"Sejak lama kudengar bahwa Kwe-hujin adalah perempuan tercantik nomor satu angkatan muda, memangnya anak perempuan ini adalah puterinya ?" -Karena menggunakan pikiran, gerak gerik kaki tangannya menjadi sedikit lamban, Walaupun mendapat bantuan sepasang rajawali namun Bu Sam-thong masih tidak kuasa merobohkan lawannya, keruan hatinya semakin gelisah, Se-konyong2 pohon itu ia lempar ke tengah udara bersama orangnya. Agaknya Li Bok-chiu tidak menduga akan perbuatannya ini, tanpa kuasa badannya ikut terlempar beberapa tombak tingginya di udara. Seperti diketahui tenaga sakti Bu Sam-thong memang amat mengejutkan, dulu waktu Kwe Ceng dan Ui Yang hendak minta bertemu dengan It Teng Taysu, di tepi jurang dia mengangkat sepotong batu besar yang diatasnya rebah pula seekor sapi jantan yang besar, ia kuat bertahan hampir setengah jam lebih, Kepandaian silat Li Bok-chiu memang tinggi namun karena dilempar sekuat itu, ia tidak kuasa menyingkirkan diri lagi. Melihat dia melambung ke udara,, kedua rajawali itu segera menukik turun pula seraya menutuk Kalau di atas tanah datar kedua rajawali ini tidak dapat mengapakan dirinya, sekarang Li Bok-chiu terapung di tengah udara dan tiada tempat untuk pengerahan tenaga, mana kuat melawan terjangan kedua rajawali yang hebat ini! Dalam gugupnya kebut terayun untuk melindungi mukanya, berbareng lengan baju mengebas, sekaligus ia timpuk tiga batang jarum Peng-pok-gin-ciam. Dua batang menerjang kedua rajawali sebatang ke arah dada Bu Sam-thong. Tiga batang senjata rahasia dia timpukan ke tiga arah sasaran yang berlainan dengan tepat, sungguh lihay sekali. Kedua rajawali itu rupanya tahu kelihaian jarum musuh, cepat pentang sayap melambung tinggi pula ke tengah udara, tapi jarum perak itu menyamber teramat cepat.

"sret, sret"

Jarum menyerempet lewat sela2 cakar kaki dan mengelupas sedikit sisik kulitnya, Ketika Bu Sam-thong tiba2 melihat sinar perak berkelebat lekas ia jatuhkan diri, namun jarum perak itu masih mengenai juga paha kiri-nya, sebat sekali ia hendak berdiri pula, siapa tahu kaki kirinya itu, ternyata tidak mau menurut perintah lagi, lututnya tertekuk dan berlutut dengan tangan menyanggah tanah, ia.

kerahkan tenaga murni, baru saja hendak merangkak bangun pula, rasa kaku dengan cepat sudah menjalar sekejap saja kedua kakinya sudah pati rasa, kontak ia jatuh tengkurap, kedua tangan masih bertahan dan meronta hendak berdiri, namun akhirnya ia rebah tak bergerak lagi.

"Tiau-ji, Tiau-ji!"

Teriak Kwe Hu keras.

"Lekas kemari!"

Kedua ekor rajawali itu ternyata terbang entah kemana dan tidak mau mendengar teriakannya lagi.

"Adik cilik", tegur Li Bok-chiu tersenyum.

"apa kau she Kwe ?"

Melihat orang bicara manis budi, Kwe Hu pun tertawa, sahutnya.

"Ya, aku she Kwe. Kau she apa ?"

"Mari sini, ku ajak kau bermain,"

Perlahan Li Bok-chiu menghampiri hendak menggandeng tangannya. Dengan mengetuk tongkatnya lekas Kwa Tin-ok menerjang keluar dari gua dan menghadang di depan Kwe Hu, teriaknya.

"Hu-ji, lekas masuk !"

"Memangnya kau takut aku bakal menelannya bulat2 ?"

Ujar Li Bok-chiu tertawa cekikikan Kaki kirinya sedikit mencungkit tongkat besi orang berbareng tangan kiri meraih menangkap ujung tongkat.

Kwa Tin-ok lekas menyendal serta menariknya, namun ia tidak berhasil melepaskan cekalan orang, teriaknya.

"Hu-ji lekas lari."

Kwe Hu malah bersungut dan berkata "Bibi ini hendak bermain dengan aku."

Tidak lari ia malah hendak menarik tangan Li Bok-chiu. Kwa Tin-ok kaget, selagi kehabisan akal, tiba2 terdengar suara pekik kedua rajawali yang telah terbang balik.

"Tiau-ji, lekas ke sini!"

Kwe Hu berseru.

Tiba2 samar merah berkelebat, seekor burung kecil warna merah yang berparuh panjang mendadak menubruk langsung ke arah kepala Li Bok-chiu dari sela2 kedua burung rajawali.

Keruan Li Bok-chiu terkejut lekas kebutnya menyamber namun burung merah itu melayang pergi datang dengan cepat, tiba2 badannya mundur tiga kaki ditengah udara meluputkan diri dari kebutan itu..Tapi secepat itu pula ia sudah menerjang maju pula, gerak geriknya tidak kalah dari pada tokoh kosen dunia persilatan.

Kaget dan senang pula Li Bok-chiu, katanya sambil tertawa.

"Burung kecil ini menyenangkan juga!"

Tiba2 didengarnya suara desiran aneh yang kumandang dari belakang gunung, entah dari mana berbondong2 merayap keluar ular hijau yang tak terhitung banyaknya, Seorang anak laki2 berbaju hijau sedang mendatangi sambil berdendang dengan bertepuk tangan, Ular-ular itu mengiringi nyanyiannya, sebaris dari sebaris amat teratur merubung ke arah Li Bok-chiu.

Anak laki2 berusia 14 -15 tahun itu lalu duduk di tanah untuk menonton burung merah tadi menempur sengit Li Bok-chiu.

Burung merah kecil itu amat gesit dan tangkas, maju mundur bagai kilat, sabetan kebut Li Bok-chiu meski sangat kencang, namun lawan kecil ini selalu dapat lolos.

Dilihatnya anak laki2 itu bermuka cakap, bibir merah gigi putih, tampan dan menyenangkan serta merta timbul rasa kasih sayangnya, melihat orang menggusur ular menghadang di depannya, diam2 ia berpikir.

"Kabarnya di Pek-tho-san daerah Se-ek benua barat ada seorang Bu-lim Cianpwe tokoh persilatan tua bernama Auwyang Hong yang pandai menguasai ular untuk menyerang musuh, mungkin pemuda ini punya hubungan erat dengan dia ?"

Semula ia berniat melancarkan serangan ganas untuk membinasakan burung merah itu, berpikir sampai di situ, ia jadi ragu2 dan batalkan niatnya semula.

Harus diketahui Li Bok-chiu adalah seorang yang licik dan banyak tipu dayanya, sebelum bertindak ia selalu memikirkannya lebih dulu secara seksama, kalau dirinya tidak terdesak kalah, dia tidak akan segera menurunkan tangan jahatnya.

pikirnya.

"Kenapa hari ini begini kebetulan ? It Teng Taysu, Pek-tho-san dan Tho-hoa-to masing2 ada orang kumpul di sini, memangnya sebelum ini mereka sudah berjanji untuk bersatu menghadapi aku ? Biarlah kucari tahu dulu keadaan yang sebenarnya."

Sambil mengebaskan kebutnya, Li Bok-chiu bertanya.

"Adik cilik, siapa namamu ? Apa kau datang dari Pek-tho-san ?"

Melihat orang bicara dengan lemah-lembut, pemuda itu berdiri sahutnya dengan, tertawa.

"Aku she Nyo, Pek-tho-san apa yang kau maksudkan ?"

Melihat orang tidak bersiap, se-konyong2 burung merah tadi menyergap pula serta mematuk dengan paruhnya yang runcing panjang.

Sebat sekali Li Bok-chiu ulur tangan kiri terus meraih, gerak-gerik burung merah kecil itu amat cepat dan tangkas, namun gerak tangan Li Bok-chiu lebih cepat lagi, tahu2 burung merah itu tergenggam oleh tangannya.

Keruan pemuda itu kaget, teriaknya.

"Hai, jangan kau melukai dia !"

"Baik, nih, kukembalikan padamu !"

Sahut Li Bok-chiu sambil membuka telapak tangannya, Begitu mendapat kebebasan burung merah itu segera pentang sayap hendak terbang, tapi baru saya sayapnya terbentang, Li Bok-chiu kerahkan lwekang melalui telapak tangannya, sehingga burung merah itu seakan-akan melengket pada tangannya, biarpun beberapa kali burung kecil itu menggelepai2 sayapnya tetap tidak mampu terbang lolos dari telapak tangannya.

Maklumlah Jik-lian-sin-ciang Li Bok-chiu sudah mencapai puncaknya, tenaga yang dikerahkan pada telapak tangannya bisa dia gunakan sesuka hatinya, dalam sekejap saja ia bisa mengubah kekuatan pukulan telapak tangan beberapa kali, sekali serang pukulannya bisa menimbulkan gelombang kekuatan yang menderu hebat, tenaga dipusatkan di tengah2 telapak tangan, sementara jarinya bisa mengendon sehingga orang yang terkena pukulannya tidak mampu mengerahkan tenaga untuk melawan.

Bagi jago yang berilmu silat tinggi, kalau badannya terkena pukulan, secara reflek akan mengerahkan tenaga untuk melawan, baik menangkis atau untuk mematahkan Tapi ilmu pukulan Li Bok-chiu ini lain dari pada yang lain, sekali pukul didalamnya mengandung bermacam kekuatan yang dahsyat, oleh karena itu ia amat tenar dan ditakuti karena ilmu pukulan Jik-lian-sin-ciang, siapa yang tidak akan kuncup nyalinya bila mendengar atau melihat ilmu pukulannya ini.

Begitulah burung merah tadi masih terus kerupukan di tengah telapak tangan Li Bok-chiu dan tidak mampu terbang meloloskan diri.

Bu Sam-nio dan lain2 juga terkurung oleh barisan ular yang banyak itu, merekapun kaget dan heran pula, Melihat burung merah itu tidak mampu lepas dari telapak tangan orang, mereka pun kuatir akan keselamatannya, tapi takut di-gigit u!ar2 berbisa itu, setapak pun mereka tidak berani bergerak.

Melihat suaminya terkapar di tanah tanpa bergerak, entah mati atau masih hidup, betapapun mereka sudah menjadi suami isteri sekian puluh tahun lamanya, Bu Sam-nio amat prihatin akan keadaan suaminya, segera ia berseru memanggil.

"Samko, bagaimana kau ?"

Bu Sam-thorig mengerang, punggungnya terangkat beberapa kali, namun tetap tidak mampu menegakkan badan.

Kwe Hu, tampak celingukan kian kemari dan tidak melihat bayangan kedua burungnya, segera ia berteriak.

"Tiau-ji, Tiau-ji, lekas kembali!"

Setelah menunggu cukup, lama tidak melihat apa2, maka Li Bok-chiu sudah bertekad.

"Seumpama Kwe Ceng suami isteri dan Auwyang Hong berada di sekitar sini, jika aku segera turun tangan masakah mereka sempat berbuat apa-apa kepadaku ?" -Maka dengan tersenyum kecil ia melangkah ke depan.

"Eh, jangan bergerak !"

Teriak anak muda tadi.

"Awas digigit ular!" -Tapi dilihatnya di mana kaki Li Bok-chiu beranjak ke depan, kawanan ular itu entah kenapa sama menyurut mundur seperti amat takut kepadanya, saling desak dan menyingkir ke pinggir. Tiba2 Li Bok-chiu melompat lewat di samping si pemuda terus menerjang ke dalam gua. Bu Sam-nio ayun pedangnya seraya membentak.

"Keluar !"

Tangan kiri Li Bok-chiu masih pegang burung kecil dan tangan kanan menyongsong tajam pedang terus menepuk. Keruan Bu Sam-nio heran.

"Memangnya tanganmu terbuat dari baja ?"

Siapa tahu jari2 orang ternyata bergerak selincah ular hidup, tahu2 sudah mencomot batang pedang terus digentak ke depan, ujung pedang malah membal balik memotong ke jidat Bu Sam-nio sendiri, perubahan ini terjadi dalam waktu yang amat cepat.

"sret", belum sempat ia berkelit pedangnya sendiri sudah membacok jidatnya.

"Maaf !"

Ujar Li Bok-chiu tertawa, burung ditangan kirinya segera dilepaskan, kedua tangannya segera menjinjing Thia Eng dan Liok Bu-siang, kaki sedikit menutul badannya segera mencelat keluar gua, dalam kesibukannya itu ia sempat pula menendang tongkat besi Kwa Tin-ok yang menyerampang datang dan menimpuk sebatang Ping-pok-ciam di kuncir Kwe Hu.

Mendengar jeritan kedua anak dara Thia dan Liok, tahu keadaan sangat gawat, si pemuda segera bangun dan menubruk maju memeluk Li Bok-chiu sambil teriaknya.

"Hai, hai, lekas lepaskan !"

Tangan Li Bok-chiu masing2 menjinjing satu orang, sedikitnya ia tidak menduga si pemuda bakal memeluk pinggangnya, tahu2 ia merasa bawah ketiak sudah dijepit sepasang tangan kecil seketika hatinya terkesiap, entah bagaimana seketika seluruh badan menjadi lemas lunglai.

Supaya Thia dan Liok kedua anak perempuan itu tidak tergigit ular, ia kerahkan tenaga di telapak tangan terus melemparkan mereka beberapa tombak jauhnya, cepat sekali tangannya membalik mencengkeram punggung si pemuda.

Usia Li Bok-chiu sudah mencapai lima puluhan tahun, namun dia masih seorang perawan yang suci, semasa mudanya bergaul dan main asmara dengan Liok Tian-goan, namun Masing2 memegang teguh adat istiadat, maka selama hidupnya belum pernah ia bersentuhan tubuh dengan laki2 manapun jua.

Banyak laki2 kalangan Kangouw yang terpikat akan kecantikannya, tapi sekali orang mengunjuk nafsu jahat atau tingkah laku yang tidak sopan, maka jiwa orang itu pasti melayang di bawah Jik-lian-sin-ciangnya.

Walau pemuda ini baru berusia belasan, betapapun dari badannya sudah mengeluarkan bau kelakian yang merangsang dan memabukkan, se-konyong2 Li Bok-chiu menghadapi keadaan ini, seketika ia terkesima dan luluh hatinya.

Begitu mencengkeram punggung si pemuda sebetulnya ia sudah kerahkan tenaga hendak menghancurkan isi perut orang untuk mencabut nyawanya, siapa tahu tenaga ternyata tak kuasa dikerahkan, hal seperti ini selama hidup belum pernah dia alami, keruan tak terkatakan rasa kejut dan herannya.

Pada saat itulah burung merah itu tahu2 menubruk pula mematuk matanya sebelah kiri sedikitpun Li Bok-chiu tidak menduga, tahu-tahu sebelah matanya seperti ditusuk sesuatu benda dan sakitnya luar biasa, biji matanya sudah dipatuk buta oleh burung merah itu.

Keruan murkanya tidak kepalang.

"plok" , ia ayun tangannya secepat kilat, pukulan ini dilandasi kekuatan Lwekangnya selama hidup ini, burung kecil itu seketika terpental jatuh dengan leher putus sayap kutung, Cepat sekali tangan kanannya mengangkat si pemuda serta memakinya.

"Keparat cilik, kau ingin mampus ya !"

Segera ia putar badan pemuda itu dengan kaki di atas dan kepala di bawah, segera pula ia hendak benturkan kepala orang pada batu gunung agar mampus, Meski dalam bahaya, namun si pemuda sedikitpun tidak gugup atau takut, malah katanya sambil tertawa.

"Kokoh (bibi), jangan kau puntir kakiku hingga kesakitan !"

Suaranya sedemikian lembut dan aleman, sorot matanya halus mesra dan membuat orang yang menghadapinya luluh hatinya dan kuncup amarahnya, apapun yang diminta rasanya sulit untuk menolaknya.

Sekilas Li Bok-chiu melenggong, belum lagi hatinya ambil keputusan, didengarnya pekik sepasang rajawali di angkasa, kedua rajawali itu sedang terbang mendatangi dari kejauhan, tahu2 menukik serta menyerangnya pula.

Mata kirinya sudah buta, rasa gusar dan penasaran ini belum sempat terlampias, segera ia kebutkan lengan baju kirinya, dua batang Ping-pok-ciam memapak kedua rajawali itu.

Senjata rahasianya ini amat ganas dan berbisa lagi, kedua rajawali ini tadi sudah merasakan kelihayannya, lekas mereka pentang sayap melambung pula ke atas, namun jarum2 perak itu menyamber dengan kecepatan luar biasa, meski kedua rajawali terbang amat cepat, luncuran kedua batang jarum perak itu terlebih cepat lagi, saking kaget dan ketakutan kedua rajawali sampai bersuit nyaring, tampaknya jiwa mereka bakal tak tertolong lagi, kedua rajawali yang gagah perkasa ini bakal melayang oleh jarum berbisa itu.

Mendadak terdengar suara mendering keras, sesuatu benda meluncur amat kencang dari kejauhan memecah angkasa, Sungguh cepat sekali kedatangan benda kecil ini, baru saja kuping mendengar dering luncurannya, dalam sekejap saja sudah melayang tiba dan tahu2 membentur jatuh kedua batang jarum berbisa itu.

Datangnya senjata rahasia ini sungguh sangat mengejutkan meski li Bok-chiu seorang kejam, tak urung iapun terperanjat Segera ia melompat ke depan sambil melemparkan si pemuda untuk menjemput benda itu, kiranya hanya sebutir batu kerikil biasa, Pikirnya.

"Orang yang menimpukkan batu kerikil ini ilmu silatnya pasti tinggi luar biasa, mataku sudah cidera, biarlah aku menghindarinya saja."

Serta merta ia bergerak menuruti jalan pikirannya, telapak tangannya segera menepuk ke punggung Thia Eng, tujuannya hendak membinasakan Thia Eng dan Liok Bu-siang sesuai tanda peringatan sembilan tapak tangan berdarah yang ditinggalkan di dinding rumah Liok Lip-ting itu.

Akan tetapi pada waktu telapak tangannya hampir menyentuh punggung Thia Eng, sekilas mata kanan yang masih jeli itu tiba2 melihat leher anak dara itu terikat selembar saputangan bersulam bunga merah indah yang dia kenal adalah buah tangan sendiri dahulu yang diberikan pada kekasihnya sebagai tanda mata.

Karena ini, seketika ia merandek, tenaga gablokannya tadi dengan cepat ia tarik kembali segala cumbu-rayu dimasa silam sekilas terbayang kembali olehnya.

Melihat saputangan sulaman ini iapun lantas tahu maksud kemauan Liok Tian-goan, pikirnya dalam hati.

"Walaupun ia telah menikah dengan perempuan hina she Ho itu, namun dalam hatinya nyata ia tidak pernah melupakan diriku terbukti sapu tangan ini masih dia simpan baik2, karena itu ia mohon agar aku mengampuni keturunannya, lantas aku harus mengampuni atau tidak ?"

Demikianlah sesaat ia menjadi ragu2, tidak bisa ambil keputusan Sejenak pula ia putuskan akan bunuh dulu Liok Bu-siang saja.

Maka kebutnya segera ia angkat hendak menyabet gadis cilik itu, namun di bawah cahaya matahari yang terang, lagi2 tertampak olehnya pada leher gadis ini berkabung selembar saputangan bersulam yang sama.

"Eh !"

Li Bok-chiu bersuara heran, pikirnya pula.

"Mana mungkin ada dua saputangan yang sama ? Satu diantaranya pasti palsu."

Oleh karena itu, kebutnya yang menghantam tadi ia ubah menjadi membelit dan dengan tepat leher Liok Bu-siang kena dililit oleh ekor kebut, anak dara ini terus dia seret ke dekatnya.

Tetapi pada saat itu juga, suara mendesing tadi kembali menggema, sebutir batu lagi2 menyamber dari belakang mengarah punggungnya, lekas Li Bok-chiu baliki kebutnya untuk menyampuk batu yang cepat sekali datangnya ini, tangkisannya sangat jitu, dengan tepat batu itu kena disamplok pergi namun demikian, Li Bok-chiu merasakan juga genggaman tangannya sakit pedas.

Batu sekecil itu ternyata membawa tenaga begitu kuat, maka betapa hebat ilmu silat penyambit batu itu dapat dibayangkan keruan Li Bok-chiu tak berani tinggal lebih lama lagi, ia samber Liok Bu-siang terus dikempit, ia keluarkan Gin-kang atau ilmu entengkan tubuh yang tinggi, secepat terbang dalam sekejap saja ia sudah menghilang kabur.

Nampak Piamoay atau adik misannya digondol orang, tentu saja Thia Eng menjadi ribut "Piaumoay-Piaumoay !"

Demikian, ia ber-teriak2 sambil menyusul dari belakang dengan kencang.

Akan tetapi dengan kecepatan berlari Li Bok-chiu, mana bisa Thia Eng menyusulnya ?

Namun sejak kecil gadis ini sudah punya kemauan keras, dengan kertak gigi ia masih terus mengudak.

Di daerah Kanglam banyak terdapat sungai, tak lama Thia Eng mengudak, ia telah terhalang oleh sebuah sungai kecil hingga tak berdaya buat maju lagi, Tetapi dara ini tidak putus asa, sambil jalan menyusut gili2 sungai, mulutnya masih memanggil terus.

Se-konyong2 pada sebuah jembatan kecil di sebelah kiri sana ada berkelebatnya bayangan putik tiba2 satu orang mendatangi dari seberang Thia Eng tercengang karena tahu2 Li Bok-chiu sudah berdiri di hadapannya, cuma Liok Bu-siang sudah tak kelihatan di bawah kempitannya.

Dalam hati Thia Eng sangat ketakutan, tetapi ia lantas ingat lagi pada Liok Bu-siang, maka dengan tabahkan hati ia tanya.

"Dimanakah adik-misanku ?"

Sekilas Li Bok-chiu melihat raut muka Thia Eng memper sekali dengan mendiang Ho Wan-kun yang menjadi lawan asmaranya, maka rasa bencinya seketika timbul dan panas hatinya membakar, tanpa pikir lagi ia angkat kebutnya terus, menyabet ke kepala si nona.

Dengan ilmu silat seperti Liok Lip-teng yang begitu tinggi saja tidak mampu menangkis tipu serangan Li Bok-chiu yang lihay ini, apalagi hanya gadis sekecil Thia Eng ?

Maka tampaknya dengan segera senjata kebut itu akan bikin kepala berikut dada anak dara itu hancur lebur.

Di luar dugaan, baru saja Li Bok-chiu ayun kebutnya, mendadak terasa olehnya tarikannya menjadi kencang, ujung kebutnya se-akan2 kena dibetot oleh sesuatu dan tak mampu diayunkan ke depan.

Tidak kepalang kejutnya, ia hendak menoleh buat melihat, tapi tahu2 tubuhnya terapung ke atas terus melompat beberapa tombak ke bela-kang, habis ini baru turun kembali.

Sungguh bukan buatan kejut Li Bok-chiu oleh kejadian ini, lekas ia putar tubuh, namun ia menjadi melongo karena di belakangnya kosong melompong tanpa sesuatu yang dia dapatkan.

Li Bok-chiu sudah biasa menghadapi lawan tangguh, tahu gelagat kurang menguntungkan dirinya, ia putar kebutnya hingga berwujut satu lingkaran secepat roda angin, dengan demikian, dalam jarak lima kaki musuh sukar mempedayai-nya, setelah ini baru dia berani memutar tubuh lagi.

Maka tertampaklah olehnya di samping si dara cilik Thia Eng kini sudah berdiri seorang aneh berjubah hijau, perawakannya tinggi kurus, air, mukanya kaku tanpa menunjuk sesuatu perasaan, seperti manusia tapi lebih memper mayat pula hingga membikin orang yang melihatnya akan timbul semacam rasa jemu dan muak.

Li Bok-chiu tidak kenal orang aneh ini, ia pikir ilmu silat orang jauh di atas dirinya, tetapi ia justru tidak ingat dalam kalangan Bu-lim ada tokoh siapakah yang begini lihay dan bermuka seperti dia ini, Selagi ia hendak menegur, tiba2 ia dengar orang itu sudah buka suara!

"Orang ini terlalu kejam, nak, hayo, kau pukul dia!"

Demikian orang itu berkata pada Thia Eng. Sudah tentu Thia Eng tidak berani menghantam Li Bok-chiu seperti apa yang diajarkan itu.

"Aku tak berani,"

Ia menjawab dengan mengkeret.

"Kenapa takut ? Hantam saja dia,"

Kata orang itu lagi.

Akan tetapi Thia Eng masih tetap tak berani Akhirnya orang itu jadi tak sabar, mendadak ia pegang tengkuk Thia Eng terus dilemparkan ke tubuh Li Bok-chiu.

Kini Li Bok-chiu tak berani hantam anak dara ini dengan kebutnya lagi, ia ulur tangan kirinya buat menyambut datangnya tubuh kecil itu, tetapi baru saja tangannya hampir menyentuh pinggang Thia Eng, se-konyong2 terdengar suara mendesir, sikutnya terasa linu pegal hingga seketika tangannya tak kuat diangkat Keruan dengan tepat kepala Thia Eng lantas menumbuk pada dadanya, bahkan berbareng pula gadis itu menambahi dengan sekali tamparan keras hingga mengeluarkan suara "plak"

Pada "pipinya.

Seumur hidup Li Bok-chiu belum pernah dihina sedemikian ini, tentu saja ia gusar, secepat kilat kebutnya memutar terus menyabet kepala gadis cilik itu, Akan tetapi kembali terdengar sambaran angin, tangkai kebutnya kena dibentur sesuatu benda kecil hingga hampir terlepas dari cekalannya.

Kiranya orang aneh tadi telah gunakan pula sebutir batu kecil dan disentilkan dengan jari dan tepat mengenai gagang kebutnya, sementara itu Thia Eng ingat Li Bok-chiu telah membunuh A Kin dan pelayan perempuan dirumahnya, pula nasib paman dan bibinya sampai kini, belum diketahui, tiba2 rasa takutnya tadi berubah menjadi dendam dan murka, tanpa ayal lagi susul menyusul ia kerjakan kedua tangannya yang kecil dengan cepat, beruntun-runtun ia persen pipi Li Bok-chiu dengan empat kali tempelengan pula.

Percuma Li Bok-chiu selama ini malang-melintang di seluruh jagat, tetapi kini telah digenjot anak dara ini sesuka hati tanpa bisa membalas sedikitpun Li Bok-chiu pandai berpikir dan juga pintar.

menyimpan perasaan hatinya, ia mengerti keadaan"

Tidak menguntungkan dirinya, maka iapun tidak mau tinggal lebih lama, tiba2 ia ketawa ngikik, lalu ia putar tubuh hendak kabur, Baru beberapa langkah, sekonyong-konyong ia kebaskan lengan bajunya ke belakang beberapa kali, berbareng itu terlihatnya sinar perak yang kemilauan, belasan jarum "Peng-pek-gin-tjiam"

Telah menyamber pada orang aneh berjubah hijau tadi.

Cara Li Bok-chiu melepaskan Am-gi atau senjata gelapnya ini, tidak memutar tubuh dulu, juga tanpa menoleh, akan tetapi setiap jarumnya dengan tepat mengarah tempat yang berbahaya di atas tubuh orang aneh itu.

Orang itu sama sekali tidak menduga akan serangan ini, ia tidak menyangka senjata rahasia Li Bok-chiu bisa begini keji dan begini lihay, terpaksa ia enjot kakinya, secepat kilat ia melompat mundur.

Datangnya jarum perak luar biasa cepatnya, namun cara melompat mundurnya ternyata terlebih cepat lagi, pula sekali lompat ia telah mundur sejauh beberapa tombak, dengan mengeluarkan suara gemerisik, jarum2 perak tadi jatuh semua di depan orang itu.

Li Bok-chiu sendiri sudah mengetahui bahwa serangannya ini tidak bakal berhasil dengan menghamburkan belasan jarum ini tujuannya hanya buat desak orang menyingkir saja, karena itu, ketika ia dengar suara lompatan orang di belakang, kembali ia kebaskan lengan bajunya lagi, dua jarum perak yang lain menyusul dia arahkan ulu hati Thia Eng.

Sudah dipastikan Li Bok-chiu bahwa kedua jarumnya ini tidak nanti meleset dari sasarannya, tetapi karena takut orang aneh berjubah hijau itu menubruk maju dan menghajar padanya, maka tanpa menoleh lagi buat melihat hasil serangannya itu, segera ia "tancap gas"

Terus lari pergi dengan cepat, hanya sekejap saja ia sudah menyeberangi jembatan dan menghilang di antara hutan yang lebat.

Sementara itu karena serangan mendadak tadi, orang berbaju hijau itu berseru kaget, ketika ia maju dan membangunkan Thia Eng, ia lihat dua jarum perak yang rada panjang telah menancap di dada anak dara itu, tanpa terasa air muka orang aneh ini berubah.

Setelah ter-mangu2 sejenak, segera ia pondong Thia Eng terus lari cepat menuju ke arah barat.

Kembali pada Kwa Tin-ok dan lain2.

Mereka menjadi jeri oleh ketangkasan Li.

Bok-chiu yang pergi-datang cepat luar biasa itu, Hanya si anak muda tadi ternyata bernyali sangat besar.

"Biar aku pergi menolong kedua Moaymoay !"

Demikian serunya, Sambil berkata ia"

Terus mengejar pergi mengikuti arahnya Li Bok-chiu tadi Anak muda ini sama sekali tidak kenal jalanan, sesudah belok sini dan putar sana beberapa kali, akhirnya ia kesasar, terpaksa ia harus berhenti untuk tanya orang di pinggir jalan.

Meski begitu, sesudah jalan terus secara ngawur, tiba2 ia dengar dari jauh ada suara teriakan Thia Eng yang me-manggil2.

"Piaumoay, Piaumoay !"

Kedengarannya suara itu berada tidak jauh, tanpa ayal lagi segera ia percepat langkahnya mengudak ke depan.

sungguhpun anak muda ini baru sekali ini bertemu dengan Thia Eng dan Liok Bu-siang, akan tetapi dalam hati mudanya tanpa terasa sudah timbul perasaan suka pada mereka, sudah terang ia tahu lihaynya Li Bok-chiu, namun ia tetap menguber terus tanpa memikirkan risikonya sendiri.

Setelah ber-lari2 tak lama menurut arah datangnya suara tadi ia taksir seharusnya sudah sampai di tempat suara Thia.

Eng, akan tetapi aneh, meski ia menengok sana-sini, bayangan kedua anak dara itu sama sekali tidak tertampak.

Ketika tanpa sengaja ia berpaling, tiba2 ia lihat di atas tanah berserakan belasan buah jarum perak yang mengeluarkan sinar mengkilap, tiap2 jarum itu panjangnya kira2 setengah dim, pada batang jarumnya lapat2 kelihatan terukir kembangan sangat bagus dan menarik.

Karena itu ia jemput sebuah jarum itu dan digenggam pada tangan kirinya.

Tetapi mendadak ia dapatkan sesuatu yang aneh, ia lihat pada samping jarum2 perak yang berserakan itu ada seekor kelabang besar yang telah mati dengan perut terbalik ia jadi lebih ketarik oleh kejadian ini, tatkala ia menunduk dan periksa lebih teliti, ia lihat pula di atas tanah itu terdapat banyak sekali sebangsa semut, tawon, belalang dan jangkrik, semuanya sudah mati Tentu saja anak muda ini merasa heran., waktu ia menyingkap semak-semak rumput bagian lain, sama saja keadaannya, di sekitar tempat yang terdapat jarum perak itu banyak kutu2 dan serangga2 yang mati, Tetapi setelah dia menjauh beberapa tindak di sana serangga2 kedapatan masih hidup segar, sebaliknya.

ketika ia gunakan jarum yang dia pegang itu untuk menyentuh serangga2 itu, luar biasa cepatnya, hanya sejenak saja segera bina-tang2 kecil itu mati kaku, Beberapa kali ia coba dengan beberapa jenis binatang kecil, keadaan serupa saja.

Akhirnya anak muda ini menjadi girang, ia pikir dengan jarum perak ini untuk alat perangkap nyamuk dan lalat, hasilnya tentu akan sangat memuaskan.

Di luar dugaan, sesaat kemudian, mendadak ia merasa tangan kiri sendiri telah kaku kejang, gerak-geriknya tidak leluasa.

Dasar anak muda ini memang punya kecerdasan otak yang luar biasa, se-konyong2 ia terkejut dan sadar.

"He, jarum perak ini beracun yang luar biasa jahatnya, sangat berbahaya bila aku memegangnya !"

Karena itu cepat ia buang semua jarum itu, segera ia lihat telapak tangan sendiri sudah berubah menjadi hitam semua, lebih2 tangan sebelah kiri, begitu hitam hingga seperti kena tinta, .

Saking takutnya hampir2 saja ia menangis, tangannya di-gosok2kan pada pahanya dengan kuat, namun pe!ahan2 ia merasa tangannya mulai kaku kesemutan dan menaik ke bagian lengan, bahkan tangan kiri sudah pegal sampai di siku.

Sejak kecil anak muda ini sudah biasa berkawan dengan ular berbisa, ia tahu bahayanya orang terkena racun, karena itu akhirnya ia menangis sedih.

"Nah, sudah tahu lihaynya bukan, nak ?"

Tiba2 di belakangnya ada suara teguran orang.

Suara orang ini nyaring, tetapi pecah dan sangat menusuk telinga, datangnya mendadak hingga se-akan2 timbul dari bawah tanah saja.

Maka dengan cepat si anak muda balik ke belakang.

Tetapi segera ia kaget hingga ternganga, karena apa yang dia lihat ialah seorang yang berdiri di belakangnya, tetapi cara "berdiri"

Orang.

ini aneh sekali bin ajaib, bukannya dia berdiri dengan kakinya, tetapi dengan kepalanya, jadi kepala yang menyanggah tubuhnya, sedang kedua kakinya rapat tegak ke atas.

Dalam kagetnya anak muda itu melompat mundur beberapa tindak.

"Kau... kau ini siapa ?"

Serunya kemudian dengan tak lancar. Tetapi aneh, entah cara bagaimana gerakanmu tahu2 orang itu telah enjot tubuhnya maju tiga kaki dan dengan tepat turun di depan si anak muda.

"Aku... aku ini siapa ? -Ha, jika aku tahu siapa aku ini tentu akan baik sekali,"

Demikian sahutnya.

Keruan anak muda itu semakin ketakutan oleh kelakuan orang, tanpa pikir lagi segera ia angkat kaki dan lari kesetanan cepatnya, namun ia dengar di belakangnya selalu diikuti dengan suara "tok-tok-tok"

Yang keras, ketika ia menoleh, tanpa terasa arwah hampir terbang dari raganya si-king kagetnya.

Kiranya orangku dh.

menggunakan kepala sebagai kaki, dengan menjungkir tubuhnya me-lompat2 dengan kecepatan yang tiada bandingannya, jarak jauhnya selalu tidak lebih dari be berapa kaki saja di belakangnya.

Tentu saja ia berlari semakin kencang dan mati-matian.

Akan tetapi tiba2 ia dengar menderunya angin, tahu2 orang aneh itu sudah melompat lewat di atas kepalanya dan turun di hadapan-nya.

"Mak !"

Dalam takutnya anak muda itu sampai berteriak memanggil ibu.

Segera ia putar tubuh hendak lari ke jurusan lain, tetapi percuma saja, tidak perduli kemana ia berlari, orang aneh itu selalu dengan kecepatan luar biasa tahu2 sudah melompat lewat dan turun!

di depannya.

Percuma saja ia mempunyai sepasang kaki, sebab ternyata tidak bisa lebih cepat dari pada orang yang berlari pakai kepala.

Kemudian ia mendapat akal, ia sengaja berputar dan be.r-ganti2 beberapa arah, ia tunggu orang aneh itu makin dekat, lalu mendadak ia ulur tangan hendak mendorong orang, Tak terduga, lengannya ternyata sudah kaku dan tidak, mau turut perintah lagi, keringatnya gemerobyos.

Ia menjadi bingung dan kehabisan akal, akhirnya ia merasakan kedua kakinya menjadi lemas dan jatuh terduduk.

"Semakin kau lari kian kemari, racun di tubuhmu semakin cepat pula kerjanya,"

Demikian ia dengar orang aneh itu berkata. Seperti orang yang dapat rejeki dan mendadak menjadi pintar sendiri, segera anak muda itu bertekuk lutut ke hadapan orang sambil berseru.

"Mohon Lo-kongkong (kakek) menolong jiwaku !"

Di luar dugaan, orang aneh itu hanya geleng2 kepala.

"Susah ditolong, susah ditolong !"

Demikian ia menjawab. Karena ia gunakan kepala untuk menahan tubuhnya, maka sekali menggeleng kepala, otomatis tubuhnya ikut menggeleng juga hingga bergoncang.

"Kepandaianmu begini tinggi, kau pasti bisa menolong aku,"

Kata anak muda itu pula. Rupanya kata2 umpakan ini membikin orang aneh itu menjadi senang sekali Karena itu, ia tersenyum.

"Darimana kau tahu kepandaianku tinggi ?"

Ia tanya, Mendengar lagu suara orang sudah berubah menjadi halus dan tampaknya umpakannya membawa hasil segera anak muda itu mengikuti arah angin, lekas ia tambahi pula pujian2nya.

"Ya, mengapa tidak tahu! Dengan jungkir-balik begini saja bisa berlari secepat ini, di kolong langit terang tiada orang kedua lagi yang bisa melebihi kau."

Kata umpakan terakhir ini sebenarnya terlalu berlebihan dan diucapkan semaunya saja, siapa duga kata2

"di kolong langit ini tiada orang kedua lagi yang melebihi kau"

Dengan tepat justru kena betul. di lubuk hati orang aneh itu, Maka terdengarlah suara ketawanya yang ter-bahak2.

"Baliki tubuhmu, biar aku pandang kau,"

Demikian ia berteriak kemudian. Anak muda itu pikir.

"Betul juga, aku berdiri tegak dan orang ini berjungkir-balik, memang benar tidak bisa terang melihatnya, dia tidak mau berdiri cara biasa, tiada jalan lain kecuali aku yang harus ikut menjungkir."

Tanpa berkata lagi ia lantas menjungkir tubuhnya, ia sanggah tubuhnya dengan kepala, tangan kanannya yang masih punya daya-rasa ia gunakan pula buat menahan.

Sementara sesudah orang aneh itu mengamat-amati dia beberapa lama, wajahnya tampak mengunjuk ragu dan sedang pikir2.

Kini setelah anak muda itu ikut menjungkir, maka iapun bisa melihat jelas muka orang, ia lihat orang aneh ini berhidung besar, matanya mendelong dalam, mukanya penuh bulu, berbeda sekali dengan manusia2 biasa, ia dengar pula orang itu kemat-kemit menggumam sendiri, ia tidak paham bahasa aneh apa yang diucapkan itu karena sukar didengar.

"Kongkong yang baik, tolonglah diriku,"

Demikian ia memohon pula, Dipihak lain, demi melihat anak muda ini bermuka cakap, cara bicaranya pun membawa semacam daya tarik yang sukar ditolak orang, hati orang aneh itu menjadi girang.

"Baik, tidak susah buat tolong kau, tetapi kau harus terima suatu permintaanku."

Sahutnya kemudian.

"Apa yang kau katakan pasti akan ku turut,"

Kata si anak muda.

"Permintaan apakah yang harus ku penuhi, katakanlah, Kongkong!"

"Haha, justru aku ingin kau terima permintaanku itu,"

Sahut orang aneh itu dengan tertawa lebar.

"Ialah segala apa yang kukatakan, kau harus menurut."

Mendengar syarat ini, mau-tak-mau anak muda ini berpikir, ia menjadi ragu2.

"Harus menurut semua apa yang dikatakannya ? Kalau dia suruh aku menjadi anjing dan makan kotoran, apa harus aku turuti juga ?"

Dalam pada itu demi nampak anak ini ragu2, orang aneh itu menjadi gusar.

"Baiklah, biar kau mati saja !"

Teriaknya segera, Habis ini sekali lehernya mengkeret dan menonjol lagi, tiba2 tubuhnya telah mencelat pergi sejauh beberapa kaki.

Karena kuatir ditinggal pergi orang, untuk mengubernya dan memohon pertolongannya tidak mungkin ia menirukan cara jalan dengan berjungkir maka dengan cepat anak muda itu berjumpalitan dan berdiri kembali, segera pula ia angkat kaki memburu.

"Kongkong, Kongkong!"

Ia ber-teriak2.

"baiklah, aku berjanji apa saja yang kau-katakan, pasti akan ku turut semua."

Mendengar syaratnya diterima, mendadak orang aneh itu berhenti dan putar balik.

"Baik.

"tetapi kau harus bersumpah dahulu,"

Katanya.

Tatkala itu si anak muda merasa kaku pegal di tangannya telah menanjak sampai di pundaknya, ia insyaf apabila sampai rasa kaku itu merembes sampai di dada, maka jiwanya pasti akan melayang, maka terpaksa ia menurut dan sumpah.

"Baiklah, aku bersumpah, jika Kongkong menolong jiwaku dan membersihkan semua racun di tubuhku, pasti aku akan menurut semua "

Kata'2 mu. Apabila aku membantah, biarlah racun jahat itu balik kembali pada tubuhku."

Pembawaan anak muda ini memang licin, maka sewaktu ia mengucapkan sumpahnya, dalam hati ia berpikir.

"Asal selanjutnya aku tidak menyentuh jarum perak itu lagi, cara bagaimana racun itu bisa balik kembali di tubuhku ? Entah orang aneh ini mau terima tidak sumpahku ini ?"

Ketika ia lirik orang, ternyata muka orang aneh itu mengunjuk rasa senang, suatu tanda merasa puas atas sumpahnya tadi Kemudian nampak ia manggut2, habis ini mendadak ia berjumpalitan bangun, lengan anak muda itu dia pegang dan dengan kuat ia pijat2 dan di-urut2 beberapa kali.

"Bagus, bagus, kau adalah anak baik" , demikian ia berkata. Karena dipijat dan diurut itu, segera si anak muda merasa lengannya menjadi berkurang rasa pegal kakunya.

"Kongkong, pijatlah beberapa kali lagi!"

Pintanya pula. Tiba2 orang aneh itu mengkerut kening demi mendengar panggilannya ini.

"Jangan kau panggil aku Kongkong (kakek), tetapi harus panggil ayah !"

Demikian ia membetulkan.

"Tidak, ayahku sudah mati, aku tak punya ayah,"

Sahut si anak muda. Jawaban ini membikin orang aneh itu menjadi gusar.

"Kurang ajar, baru pertama kali aku berkata kau sudah membantah, guna apa lagi mempunyai anak semacam kau ini ?"

Bentaknya segera.

"O, kiranya dia hendak terima aku sebagai anak,"

Pikir anak muda itu.

Oleh karena sejak kecil ia tak punya bapak, maka ia sangat iri apabila melihat anak lain mendapat kasih sayang ayah, ia menjadi pingin mempunyai ayah pula, tapi melihat kelakuan orang aneh yang berlainan dengan orang biasa ini dan seperti orang gila, maka kini berbalik ia tidak sudi mengaku ayah padanya.

"Kau tak mau panggil aku sebagai ayah ?"

Bentak orang aneh itu lagi "Baiklah ! hm, orang lain hendak panggil ayah padaku, belum tentu aku mau terima."

Namun anak muda itu masih tetap tidak mau memanggil, bahkan mulutnya menjengkit tanda mencemoohkan, iapun tidak gubris kata2 orang lagi, hanya dalam, hati ia sedang berpikir cara bagaimana supaya dapat mengakali orang agar mau menyembuhkan racun di badannya.

Dalam pada itu terdengar orang aneh itu komat-kamit entah apa yang dikatakan, berbareng bertindak pergi pula dengan cepat Keruan si anak muda menjadi gugup.

""Ayah, ayah!"

Terpaksa ia berseru memanggil "Hendak kemana, ayah ?"

Mendengar panggilan itu, orang aneh itu tertawa ngakak senang.

"Hahaha, anakku sayang, marilah kuajarkan kau cara melenyapkan hawa racun di dalam tubuhmu."

Dengan cepat anak muda itu mendekati.

"Racun yang kena dirimu itu adalah racun jarum Peng-pek-gin-ciam milik Li Bok-chiu, di jagat ini melulu dua orang saja yang mampu menyembuhkannya."

"demikian kata si orang aneh pula.

"Yang seorang ialah Hwesio tua, tetapi untuk menolong kau ia harus mengorbankan jerih-payah latihannya selama beberapa tahun, Dan seorang lagi ialah ayahmu ini."

Lalu ia ajarkan kunci ilmu penyembuhannya dengan lisan, anak muda itu disuruh menurut ajarannya itu untuk mengatur napas, Cara ini adalah cara bernapas yang terbalik dan harus dilakukan terbalik pula orangnya, yakni dengan berjungkir kepala di bawah dan kaki di atas, supaya hawa dan darah berjalan bertentangan arahnya, dengan demikian hawa racun itu lantas terdesak kembali dan keluar dari tempat masuk semula.

Tetapi karena baru belajar dan mulai berlatih, setiap hari hanya sedikit saja racun itu bisa didesak keluar, sedikitnya harus lebih sebulan baru bisa dikuras semua hawa berbisa itu.

Setelah orang aneh itu ajarkan cara2 melakukannya, si anak muda ternyata sangat pintar, sekali tunjuk saja ia sudah paham, begitu dengar sudah teringat baik2.

Oleh karena itu ia lantas kerjakan menurut cara yang diajarkan itu.

Betul juga rasa kaku pegal tadi lambat laun mulai berkurang ia atur jalan napasnya sejenak pula, akhirnya dari ujung jari kedua tangannya mengucurkan beberapa tetes air hitam.

"Nah, cukuplah sudah, hari ini tidak perlu berlatih lagi, biarlah besok kuajarkan cara baru padamu.

"ujar orang aneh itu dengan girang demi nampak menetesnya air hitam.

"Marilah, sekarang kita pergi !"

"Pergi ke mana ?"

Tanya anak itu dengan bingung.

"Kau adalah anakku, kemana saja sang ayah pergi, dengan sendirinya kau ikut ke sana,"

Sahut si orang aneh.

Sebelum anak itu menjawab, saat itu juga tiba-tiba terdengar beberapa kali suara mencicitnya burung, menyusul tertampak sepasang burung rajawali melayang lewat di angkasa dan disusul pula dengan suara seruan orang yang nyaring-keras yang sayup2 berkumandang dari jauh.

Seketika air muka orang aneh itu berubah demi mendadak mendengar suara tadi.

"Tidak, aku tidak mau bertemu dengan dia, tak mau bertemu dia !"

Se-konyong2 ia berteriak, berbareng itu iapun melangkah pergi dengan cepat.

Langkahnya begitu cepat hingga dalam beberapa tindak saja orang aneh itu sudah menghilang dibalik lereng gunung sana, Keruan si anak muda tadi yang kelabakan "Ayah, ayah!"

Ia ber-teriak2 sambil menguber.

Akan tetapi baru saja ia melewati satu pohon Yang-liu besar, tiba2 ia dengar samberan angin dari belakang, begitu keras angin itu hingga kulit kepalanya terasa sakit, menyusul ini pandangannya menjadi gelap se-akan2 tertutup selapis awan tebal.

Kiranya kedua burung rajawali tadi telah melayang dari belakang dan turun didepaknya.

Pada saat yang sama itu dari belakang pohon muncul seorang laki2 dan seorang perempuan, kedua rajawali itu menghinggap di pundak kedua orang itu sambil bercuat-cuit seperti sedang melaporkan sesuatu.

Laki2 itu bermata besar dan beralis tebal, dadanya lebar dan punggungnya tegak, umurnya antara 3435 tahun, di atas bibirnya terpelihara kumis tebal, wajahnya sedikitpun tidak menunjukkan perasaannya.

Sedang yang wanita usianya 30 tahunan, meski sudah setengah umur, tetapi diantara mata-alisnya masih jelas kelihatan sifat aleman yang menarik dan seperti masih polos, dengan tangannya ia sedang mengelus sayap burung rajawali dengan rasa sayang.

""Menurut pendapatmu, anak ini mirip siapa?"

Tiba2 wanita itu berkata pada lelaki disampingnya sesudah mengamat-amati si anak beberapa kali. Akan tetapi lelaki itu ternyata tidak menjawab, sebaliknya ia berkata ke jurusan lain;

"Kenapa Tiao-ji (si rajawali) bisa berada di sini ? jangan2 di atas pulau telah terjadi sesuatu ?"

Kiranya kedua orang ini ialah Kwe Ceng dan Ui Yong suami-isteri, mereka telah keluar pulau buat mencari Ui Yok-su, tetapi meski sudah mereka jelajahi antero kota2 di daerah Kanglam, belum juga mereka ketemukan jejak ayah dan ayah mertua mereka itu.

Ui Yong kenal watak ayahnya yang suka pada keindahan alam daerah Kanglam, apabila orang tua ini sampai mencari tempat tirakat lain, maka bisa dipastikan tidak akan melintasi utara sungai Tiangkang dan tentu pula tidak lebih selatan dari Sian-he-nia.

Kebetulan hari itu mereka berdua sampai di kota kecil Ling-oh dari kabupaten Oh-tjiu-hu, di sini tiba2 mereka melihat ada mengepulnya asap dan berkobarnya api yang meninggi ke langit Mereka dengar pula orang udik pada berteriak.

""He. Liok-keh-ceng kebakaran!"

Mendengar nama pedesaan yang disebut itu, hali Kwe Ceng tertarik, ia ingat bahwa di daerah Ling-oh ini terdapat seorang Liok Tian-goan, Liok-loeng-hiong, walaupun selama ini belum pernah bertemu, tapi sudah lama ia kagumi nama orang yang tersohor Ketika ia menanyakan, betul juga apa yang dikatakan orang udik tadi adalah rumah kediaman Liok Tian-goan.

Mereka berdua buru2 menuju ke tempat kebakaran, setiba di sana, perumahan2 yang terbakar itu sudah menjadi puing, hanya di antara sisa2 gundukan api terdapat beberapa mayat yang sudah hangus dengan bau yang sangit busuk.

"Engkoh Ceng, kukira dalam kejadian ini terdapat sesuatu yang aneh?"

Demikian kata Ui Yong pada sang suami.

"Kenapa ?"

Tanya Kwe Ceng.

"Ya, ingat saja itu Liok Tian-goan adalah seorang Enghiong yang namanya gilang-gemilang. kabarnya sang isteri Ho Wan-kun juga seorang pendekar wanita pada jaman ini, kalau hanya kebakaran biasa saja, mustahil tiada seorangpun keluarganya tak bisa menyelamatkan diri? Aku menduga tentu musuhnya yang tangguh telah datang menuntut balas padanya!"

Demikian pendapat Ui Yong.

Kwe Ceng pikir betul juga pendapat isteri nya ini, ia adalah golongan manusia yang berbudi luhur dan suka menolong, meski kini usiamu sudah menanjak, pengalamannya pun banyak bertambah, namun hatinya yang bajik dan mulia itu sedikitpun tidak berkurang daripada waktu mudanya.

Oleh karenanya segera ia menyatakan akur.

"Betul pendapatmu marilah kita periksa, coba lihat siapakah musuhnya, kenapa turun tangan secara begini keji ?"

Dan setelah mereka berdua mengitar sekali perkampungan yang terbakar itu, sedikitpun tiada tanda2 mencurigakan yang mereka dapat, Tetapi mata Ui Yong yang jeli tiba2 tertarik pada sesuatu, se-konyong2 ia berteriak sambil menuding pada dinding rumah yang tinggal separuh itu.

"Lihat, apakah itu ?"

Serunya.

Kwe Ceng memandang ke arah yang ditunjuk, tertampaklah di atas dinding itu terdapat bekas lima cap tangan, karena habis tergarang asap, maka cap tangan itu kelihatan bertambah seram.

Seperti diketahui, cap tangan yang berada di dinding itu semuanya ada sembilan buah, tetapi karena dinding temboknya sudah ambruk separoh, maka yang masih ketinggalan hanya lima buah.

Kwe Ceng kaget ketika mengenali tanda telapak tangan itu.

"Jik-lian Sian-cu !"

Tanpa terasa ia menyebut nama orang.

"Ya, betul dia,"

Ujar Ui Yong.

"Sudah lama kita dengar bahwa Jik-lian Sian-cu Li Bok-Chiu dari Hunlam memiliki ilmu silat yang maha hebat, caranya pun sangat keji tiada taranya dan tidak kalah dengan Se-tok Auyang IJong dahulu, jika dia berani menginjak Kanglam sini, kita boleh coba2 ukur tenaga padanya."

"Ya, tetapi iblis ini sangat ulet? dan tidak gampang dilawan"

Sahut Kwe Ceng memanggut.

"Paling baik kalau kita bisa ketemukan Gakhu (mertua)"

"He, semakin berumur, nyalimu jadi semakin kecil!"

Goda Ui Yong dengan tertawa.

"Memang,"

Sahut Kwe Ceng."

Kalau ingat dahulu, tanpa mengenal tingginya langit dan tebalnya bumi, kita berani naik ke Hoa-san untuk berebut gelar jago silat nomor satu dikolong langit ini, jika seperti aku sekarang ini, sekalipun aku digotong kesana dengan joli delapan orang, pasti aku tidak berani pergi"

"Huuh ? Harus digotong pakai joli segala!"

Goda sang isteri.

Begitulah sambil besenda-gurau, tapi dalam hati mereka diam2 berlaku waspada, mereka terus periksa, akhirnya di tepi sebuah kolam mereka melihat dua buah jarum Peng-pek-gin-ciam yang be-racun.

Ujung sebuah jarum diantaranya terendam air, karena itu, beberapa ratus ikan piaraan yang berada dalam kolam itu sama mati dengan perut terbalik ke atas, suatu tanda betapa jahat racun yang terdapat pada jarum itu.

Ui Yong melelet lidahnya, dari buntalannya ia keluarkan sepotong baju, ia lempit beberapa kali, dengan dialingi kain baju ini ia jemput jarum perak itu, ia bungkus baik2 dan dimasukkan ke dalam kantong rangsalnya.

Habis ini mereka berdua tidak bicara lagi melainkan percepat memeriksa dan mencari jejak orang pula, akhirnya di belakang pohon Liu tadi mereka dapatkan sepasang burung rajawali dan ketemu pula si anak tanggung itu.

Dari rajawali yang menclok di atas pundak mereka, tiba2 Ui Yong mencium bau yang aneh, berapa kali ia sedot, segera dadanya menjadi sesak dan rasanya menjadi nek.

Kwe Ceng pun mencium bau busuk itu, bau itu seperti datang dari tempat yang sangat dekat dengan hidungnya, waktu ia men-cari2 dari mana datangnya bau busuk itu, tiba2 ia melihat pada kaki kedua burungnya terdapat luka lecet, waktu ia dekatkan hidungnya, betul saja bau busuk itu datangnya dari luka ini.

Suami-isteri ini terkejut, lekas2 mereka periksa luka burung2 itu dengan teliti, meski luka itu sebenarnya hanya lecet kulit saja, tetapi sudah menimbulkan bengkak, pula sebagian kulit daging kakinya sudah mulai busuk.

"luka apakah ini, kenapa begini lihay?"

Demikian Kwe Ceng berpikir sambil menunduk Tiba2 pula ia lihat tangan kiri si anak muda tadi telah berubah menjadi hitam semua, keruan ia kaget pula.

"Kaupun terkena racun ini ?"

Serunya kuatir.

Dengan cepat Ui Yong mendekati anak muda itu ia angkat tangannya dan diperiksa, habis ini cepat2 ia gulung lengan bajunya, ia keluarkan pula sebuah pisau kecil, dengan senjata ini ia sayat tangan orang sebelah bawah, lalu dengan kuat ia pencet agar darah yang berbisa mengalir keluar.

Akan tetapi ia menjadi heran sekali ketika melihat darah yang menetes keluar dari tangan anak muda itu ternyata berwarna merah segar, padahal telapak tangannya je!as2 sudah berubah hitam seluruhnya, dan kenapa darah yang mengucur keluar tidak beracun ?

Nyata ia tidak tahu bahwa setelah si anak muda mendapatkan ilmu ajaib ajaran orang aneh yang suka menjungkir itu, kini darah berbisa dalam tubuhnya sudah didesak ke ujung jaring dan untuk sementara tidak akan menjalar Setelah ragu2 sejenak, kemudian Ui Yong keluarkan sebutir pil "Kiu-hoa-giok-lo-wan", obat pil yang terbuat dari sari sembilan macam bunga2 an.

"Kunyah dan telan ini,"

Katanya sambil memberikan pil itu pada si anak Anak muda itu tidak menolak, ia terima pemberian pil itu terus masukkan ke dalam mulut, rasanya manis dan harum.

Lalu Ui Yong keluarkan pula empat pil dan dibagikan kepada kedua burung rajawalinya yang terluka itu.

Sesudah memikir sebentar, mendadak Kwe Ceng bersiul panjang, Suara siulan ini berkumandang jauh sekali, begitu keras suaranya hingga menggema lembah pegunungan sampai dahan pohon Liu yang menjulur ikut tergoncang, Dalam pada itu belum lenyap suara siulan pertama, menyusul Kwe Ceng menggembor dengan suaranya yang keras, begitu hebat suara teriakan itu susul menyusul hingga bikin seluruh lembah gunung penuh dengan suara sahut-menyahut yang menggelegar Karena teriakan ini sama sekali di luar dugaan, si anak muda tadi dibikin kaget, tanpa tertahan air mukanya berubah hebat karena belum pernah mendengar suara yang luar biasa ini.

Sebaliknya Ui Yong mengerti maksud tujuan sang suami, ia tahu dengan suara itu suaminya bermaksud menantang tanding pada Li Bok-chiu.

Ketika pekikan ketiga sang suami dilontarkan, segera pula ia kumpulkan tenaga dan menyusuli dengan teriakannya.

Kalau suara pekikan Kwe Ceng agak rendah tetapi kuat, maka suara Ui Yong sebaliknya tinggi tetapi nyaring sekali, perpaduan suara yang hebat ini makin lama semakin jauh dan semakin keras, susul menyusul tiada putusnya, se-akan2 satu sama lain tidak ingin ketinggalan.

Kiranya Kwe Ceng dan Ui Yong sudah berlatih diri di Tho-hoa-to dengan giat, tenaga dalam mereka sudah terlatih sampai puncaknya kesempurnaan, dengan suara pekikan yang berkumandang jauh ini, orang2 yang berada dalam jarak belasan li sama terkejut dan ter-heran2 tidak mengerti suara aneh ini datang dari mana.

Sementara itu suara pekikan hebat ini telah didengar oleh beberapa orang tertentu.

Orang aneh yang suka menjungkir itu telah "tancap gas"

Mempercepat larinya demi mendengarnya.

Sebaliknya orang aneh berjubah hijau yang pondong Thia Eng itu ketawa waktu dengar suara "Haha, mereka telah datang juga, aku harus menyingkir jauh, supaya tidak banyak rewel."

Dalam pada itu Li Bok-chiu dengan mengempit Liok Bu-siang sedang lari dengan cepatnya, ketika mendadak dengar suara siulan pertama, se-konyong2 ia berhenti, ia ayun kebutnya dan memutar tubuh.

"Hm, nama Kwe-tayhiap menggoncangkan Bu-lim, aku justru ingin membuktikannya apakah namanya bukan bikinan belaka,"

Demikian katanya dengan ketawa dingin.

Tetapi tiba2 pula diantara suara pekikan panjang tadi diseling pula dengan suara siulan nyaring yang menimpali suara yang duluan hingga menambah keangkeran suara2 itu.

Hati li Bok-chiu menjadi jeri, teringat olehnya Kwe Ceng dan Ui Yong suami-isteri selama berkelana selalu berdampingan dan bahu-membahu, sebaliknya dirinya hanya sebatang-kara, seketika perasaannya menjadi hampa dan putus asa, ia menghela napas panjang, habis ini dengan mencengkeram punggung Liok Bu-siang terus bertindak pergi.

Pada kala itu Bu-sam-nio sedang memayang sang suami yang terluka dan membawa kedua puteranya pergi jauh setelah berpisah dengan Kwa Tin-ok.

Setelah mengalami pertarungan sengit tadi, kuatir kalau Li Bok-chiu balik kembali buat mencelakai Kwe Hu, maka lekas2 Kwa Tin-ok bawa lari dara cilik ini dengan maksud mencari satu tempat untuk bersembunyi, tetapi ia keburu mendengar suara siulan Kwe Ceng dan Ui Yong yang keras itu, maka hatinya menjadi girang.

"He, ayah, ibu !"

Kwe Hu berseru juga ketika mengenali suara orang tuanya. Habis ini segera ia angkat kaki terus lari menuju kearah datangnya suara, Tetapi tiba2 ia berpikir pula.

"Aku telah ngeluyur keluar, tentu nanti akan didamperat ayah, bagaimana baiknya ini ?"

Dalam bingungnya ia tarik2 lengan baju Kwa Tin-ok, ia coba membujuk orang tua ini.

"Kong-kong, nanti kalau bertemu dengan ayah, katakanlah kau yang bawa aku keluar buat memain, ya?"

Demikian ia memohon.

"Tidak, aku tidak mau berbohong untuk kau!"

Sahut Kwa Tin-ok dengan menggeleng kepala. Tetapi Kwe Hu tidak kurang akal, tiba2 ia meloncat dan merangkul leher si orang tua, dengan kata2 halus ia membujuk . lagi.

"Kongkong, sayanglah padaku sekali ini, seterusnya aku tak akan nakal lagi."

Namun masih tetap Kwa Tin-ok geleng2 kepala.

"Baiklah, biar aku minggat pergi,"

Teriak Kwe Hu tiba2 sambil lompat turun dari rang-kula.nnya.

"Selamanya aku tak akan menjumpai kau lagi, juga tidak akan menemui ayah-bunda."

Mendengar kata2 ini, Tin-ok menjadi kaget dan kuatir, ia kenal watak dara cilik ini berani berkata berani berbuat pula, sedang dirinya buta, kalau sampai sikecil ini pergi, maka susah lagi untuk mencarinya.

"Baik, baik, kululuskan keinginanmu,"

Terpaksa ia menyerah. Kwe Hu ketawa senang dengan kemenangannya ini.

"Memang aku sudah tahu kau bakal meluluskan, tidak nanti kau tega membiarkan aku diomeli ayah dan ibu,"

Kata si nakal ini.

Maka dua sejoli, satu tua dan satu bocah ini lantas berlari ke tempat beradanya Kwe Ceng dan isteri sesudah dekat, dengan serta-merta Kwe Hu menjatuhkan diri ke dalam pelukan ibunya dengan laku aleman.

"Bu, Kongkong yang membawa aku ke sini mencari kalian, kau tentu senang bukan?"

Demikian si nakal ini berkata pada sang ibu.

Akan tetapi Ui Yong yang kepintarannya tiada ban dingannya itu, hanya sedikit permainan sandiwara sang puteri ini mana bisa mengelabui dia, cuma bisa bertemu anaknya di sini, sebenarnya ia memang juga senang, maka ia hanya tertawa saja, lalu bersama sang suami mereka menjalankan penghormatan pada Kwa Tin-ok dan tanyakan kesehatan si orang tua.

Kwe Hu masih kuatir kalau disemprot ayahnya, maka sesudah menyapa sekali, lantas ia tarik tangan si anak muda tadi menyingkir pergi.

"Pergilah kau memetik bunga, buatkan lah mahkota bunga untukku"

Demikian pintanya.

Pemuda itu tidak menolak, ia ikut pergi bersama, perawakan Kwe Hu ternyata jauh lebih pendek, tingginya hanya sedada orang, maka dengan gampang saja ia dapat melihat telapak tangan pemuda itu yang hitam, mendadak sontak ia kipatkan tangan orang yang tadinya dia gandeng.

"Hiiii, tanganmu kotor, tak mau aku bermain dengan kau,"

Demikian ia meng-olok2. Watak pemuda itu ternyata tidak gampang mengalah, iapun tinggi hati, maka kontan ia jawab dengan ketus.

"Siapa pingin bermain dengan kau?"

Habis berkata dengan langkah lebar ia lantas bertindak pergi sendiri "Eh, eh, saudara cilik, jangan pergi dulu, sisa racun dalam tubuhmu masih belum hilang seluruhnya, kalau sampai kambuh pasti akan luar biasa lihaynya,"

Seru Kwe Ceng ketika melihat si anak muda ini hendak pergi.

Anak itu paling benci kalau orang katai dia jelek, oleh karena itu, olok2 Kwe Hu tadi telah menusuk perasaannya, maka dengan tegang leher ia masih jalan terus tanpa gubris teriakan Kwe Ceng, Tabiat Kwe Ceng memang welas-asih, maka buru2 ia menguber.

"Cara bagaimanakah kau terkena racun ?"

Demikian ia menanya pula.

"Marilah kami sembuhkan kau dulu."

"Aku toh tidak kenal kau, perduli apa dengan kau?"

Sahut anak muda itu dengan ketus.

Berbareng ia percepat langkahnya dan bermaksud menerobos lewat disamping Kwe Ceng.

Sekilas Kwe Ceng dapat melihat wajah si anak muda yang menunjukkan rasa marah ini, diantara mata-alis-nya tertampak sangat mirip seseorang, tiba2 hatinya tergerak.

"Eh, saudara cilik, kau she apa?"

Segera ia tanya.

Namun pemuda itu tidak menjawab, sebaliknya ia melolototi orang, lalu tubuhnya sedikit miring dengan maksud hendak menerobos lewat, Di luar dugaan secepat kilat Kwe Ceng sudah mencekal sebelah tangannya.

Dalam kagetnya si anak muda itupun menjadi gusar, ia me-ronta2 beberapa kali, sesudah tak berhasil mendadak ia angkat tangan kirinya terus menggenjot perut Kwe Ceng.

Kwe Ceng tidak urus pukulan ini, ia membiarkan perutnya kena dihantam dengan tersenyum saja.

Ketika anak muda itu bermaksud menghantam lagi, tahu2 kepalannya ambles di-tengah2 perut orang, bagaimanapun juga meski ia tarik2 tetap tak bisa melepaskan diri, ia tidak putus asa, masih terus ia tarik2, saking keras ia keluarkan tenaga hingga mukanya merah padam, tetapi tangannya seperti melengket saja diperut Kwe Ceng, sebaliknya ia rasakan lengan sendiri kesakitan karena di-betot2.

"Nah, beritahu padaku kau she apa dan segera ku lepaskan kau,"

Dengan tertawa Kwe Ceng tanya lagi.

Namun si anak muda memang sangat kepala batu, ia pikir tidak nanti aku mau omong, jika mau, akan kusebutkan she palsu dan nama bikinan saja, oleh karenanya ia lantas menjawab.

"Aku she Cin dan bernama Coa-ji, sianak ular, Lekas lepaskan aku."

Di lain pihak demi mendengar nama orang ini, Kwe Ceng merasa kecewa, ia lantas kendorkan tenaga.

perutnya yang menyedot kepalan pemuda itu.

Sesudah tangannya terlepas, pemuda itu pandang Kwe Ceng dengan luar biasa kagumnya atas kepandaian orang tadi.

Di sebelah sana Kwe Hu sedang asyik menceritakan pengalaman selama berpisah dengan ibunya, akhirnya ia ceritakan tentang bagaimana sepasang rajawalinya berkelahi dengan seorang wanita jahat, lalu datang seekor burung merah kecil telah membantu rajawali2nya.

Mendengar "burung merah kecil"

Itu, Ui Yong jadi ketarik sekali..

"Apa burung merah kecil itu Koko (kakak) inikah yang membawanya datang ?"

Ia tanya dengan cepat.

"Ya,"

Sahut Kwe Hu.

"Burung merah kecil itu menotol biji wanita jahat itu hingga buta, cuma sayang burung itupun kena digaplok mati oleh dia."

Mendengar penuturan ini, Ui Yong tidak ragu2 lagi, segera ia melompat maju dan memegang pundak si anak muda tadi dengan kedua tangannya, dengan tajam ia pandang orang.

"Kau she Nyo bernama Ko, ibumu yang she Cin, ya bukan ?"

Demikian ia menegas sekata demi sekata.

Pemuda ini memang benar she Nyo dan bernama Ko, Ketika mendadak nama aslinya disebut Ui Yong, darah di rongga dadanya menaik ke atas hingga hawa racun ditangannya se-konyong2 menjalar kembali, ia merasa kepala puyeng dan pikiran menjadi butek, akhirnya ia jatuh pingsan.

Dalam kejutnya lekas2 Ui Yong memegang tubuh orang supaya tidak sampai roboh.

"Dia... dia kiranya putera adikku Nyo Khong."

Kata Kwe Ceng terkejut bercampur girang.

Sementara itu kelihatan Ui Yong mengkerut alis, ia lihat racun menjalar terlalu hebat di tubuh Nyo Ko, ia kuatir, karena sesungguhnya ia sendiri tidak punya sesuatu pegangan untuk menyembuhkan orang.

"Marilah kita cari tempat pondokan dulu, kemudian kita cari pula beberapa racikan obat,"

Ajaknya kemudian dengan suara terharu.

Kwe Ceng lantas pondong Nyo Ko, bersama Kwa Tm-ok, Ui Yong dan si nakal Kwe Hu serta membawa pula sepasang burung Tiao mereka mencari hotel di-kota, bahan obat yang mereka perlukan ternyata sukar dicari, meski sudah dikumpulkan akhirnya masih kurang juga empat macam.

Melihat keadaan Nyo Ko yang masih tak sadar, Kwe Ceng merasa sedih dan kuatir sekali, sampai Ui Yong beberapa kali memanggilnya ternyata tidak di dengarnya.

Ui Yong cukup mengerti perasaan hati sang suami waktu itu, sejak terbinasanya Nyo Khong (tentang lelakon Kwe Ceng, Ui Yong dan hubungannya dengan Nyo Khong akan diceritakan tersendiri) pikirannya selalu sedih dan menyesal maka dengan sendirinya luar biasa girangnya kini demi bisa ketemukan anak keturunan saudara angkatnya itu, tetapi anak ini justeru terkena racun dan belum bisa diketahui bakal mati atau hidup.

"Ceng-koko, marilah kita coba keluar mencari pelengkapnya obat,"

Ia mengajak.

Kwe Ceng sendiri mengerti juga sifat2 Ui Yong, ia tahu bila ada sedikit harapan bisa mengobati, pasti sang isteri sudah menghibur padanya, kini nampak wajah isterinya sangat prihatin, hatinya semakin tak tenteram.

Segera ia pesan Kwe Hu jangan sembarangan ngeloyor pergi, lalu mereka suami-isteri keluar buat mencari obat2an.

Dalam pingsannya Nyo Ko masih terus tertidur, meski hari sudah gelap masih belum juga sadar.

Beberapa kali Kwa Tin-ok masuk kamar memeriksanya, namun orang tua inipun tak berdaya, iapun kuatir kalau si nakal Kwe Hu ngeluyur pergi, maka tiada hentinya ia bujuk dara cilik ini lekas tidur.

Dalam keadaan remang2 entah sudah lewat berapa lama, tiba2 Nyo Ko merasa ada orang me-mijat2 dan meng-urut2 dadanya, karena itu pelahan2 pikirannya jernih kembali, waktu ia buka matanya, ia lihat dalam kegelapan ada berkelebat satu bayangan entah apa meloncat keluar jendela dengan cepat.

Nyo Ko paksakan diri buat berdiri meski rasanya masih lemas, ia coba melongok keluar jendela, tertampaklah olehnya di atas emper rumah berdiri satu orang dengan kepala menjungkir di bawah, siapa lagi kalau bukan orang aneh yang siang hari tadi menerima dirinya sebagai anak angkat itu.

Kepala orang aneh yang menyanggah badannya itu ternyata ada separohnya menempel di luar emper, tubuhnya yang tegak terbalik ke atas itu kelihatan ber-goyang2, agaknya setiap waktu bisa terbanting jatuh ke bawah.

"He, kau!"

Seru Nyo Ko kaget tercampur girang.

"Kenapa tidak panggil ayah?"

Tegur orang aneh itu. Karenanya Nyo Ko lantas memanggil.

"Ayah!" -hanya lagu suara panggilannya sangat dipaksakan. Namun orang aneh itu sudah kegirangan "Naiklah sini,"

Katanya.

Nyo Ko menurut, ia merangkak ke ambang jendela untuk kemudian meloncat ke atas payon.

Tetapi karena badannya masih lemah, tenaganya menjadi tak cukup, maka sebelum tangannya memegang emper rumah atau dia sudah terjungkal ke bawah Dalam kagetnya sampai ia berteriak.

Orang aneh itu tadinya berjungkir di atas payon, tetapi demi nampak Nyo Ko terjungkal, mendadak manusia tubuhnya roboh ke bawah seperti batang kayu saja yang terbanting hanya kepalanya masih tetap melekat di atas emper rumah.

Dengan demikian secepat kilat tangannya menjambret punggung Nyo Ko, habis ini tubuhnya kembali menegak lagi ke atas, Nyo Ko diletakkannya ke atas payon dengan enteng saja.

Dan selagi ia hendak bicara, tiba2 ia dengar di kamar sebelah barat ada suara orang meniup memadamkan api.

ia tahu jejaknya telah diketahui orang, tanpa ayal lagi ia pondong Nyo Ko dan melangkah pergi dengan cepat, hanya sekejap saja beberapa deretan rumah penduduk sudah ia lintasi.

Waktu Kwa Tin-ok melompat ke atas rumah, namun di sekelilingnya sudah sepi nyenyak.

Setelah Nyo Ko dibawa sampai di suatu tempat sunyi di luar kota, orang aneh itu baru menurunkannya.

"Coba kau gunakan cara yang pernah kuajarkan padamu itu, hawa berbisa dipaksa keluar lagi sedikit."

Demikian ia memberi petunjuk pada Nyo Ko. Pemuda ini menurut, maka tidak antara lama, dari ujung jarinya menetes keluar beberapa titik darah hitam, berbareng rasa sesak di dadanya pun menjadi lega.

"Sungguh kau ini anak pintar, sekali tunjuk lantas paham, jauh lebih cerdas dibanding almarhum putera kandungku dahulu,"

Kata orang aneh itu. Teringat pada puteranya sendiri itu, tiba2 ia meratap.

"O, anakku, anakku"

Air matanya lantas berlinang juga karena terkencing puteranya sendiri yang sudah mati, ia elus2 kepala Nyo Ko sambil menghela napas pelahan.

Nyo Ko sendiri sejak belum lahir sudah ditinggal bapaknya, ibu pun tewas oleh pagutan ular berbisa dikala ia baru berumur lima tahun, selama 8 9 tahun paling belakang ini, ia terluntang-lantung sebatang kara di Kangouw, dj-mana2 ia dihina orang sehingga menjadikan tabiatnya yang eksentrik, benci pada sesama manusia serta cemburu pada keadaan sekitarnya, Kini meski orang aneh ini belum pernah kenal dia, namun ternyata begitu baik terhadap dirinya, ini boleh dikatakan belum pernah terjadi selama hidupnya.

Karena darah keturunan ayah-bundanya, maka watak Nyo Ko luar biasa pula anehnya, kalau dia sudah baik pada seseorang, maka dia bela mati2an tanpa pikirkan jiwa sendiri sebaliknya jika ada orang lain menghina dan pandang rendah padanya, maka selama hidup akan dia ingat2 terus dan dendam, dia pasti berusaha dengan segala daya-upaya untuk menuntut balas.

Kini si orang aneh itu mengunjuk rasa kasih sayang murni padanya, hati pemuda ini luar biasa terharunya hingga ia melompat terus merangkul leher orang sambil berulang kali memanggil "Ayah, ayah!"

Sejak Nyo Ko berumur 2 3 tahun ia sudah berharap mempunyai seorang ayah yang akan cinta dan melindungi dia.

Bahkan dalam mimpi kadang2 mendadak muncul seorang ayah yang gagah perkasa yang dia cintai, tapi bila terjaga dari tidurnya, ayah khayalan itu lantas hilang lagi tak berbekas, oleh karenanya seringkali ia suka menangis sendirian dengan sedih.

Kini harapan yang sudah lama ia impikan itu tiba2 berwujut, dua kali panggilan tadi keluar dari lubuk hatinya yang penuh cinta kasih seorang anak kepada bapaknya.

Jika hati Nyo Ko terharu sekali, maka dalam hati orang aneh itu ternyata jauh lebih girang daripada dia.

Waktu mereka mula2 berjumpa di mana Nyo Ko dipaksa memanggil ayah, dalam hati anak muda itu sesungguhnya seribu kali tidak sudi, tetapi kini dua hati telah kontak seperti ayah dan anak kandung.

"O, anak baik, anak manis, coba panggil ayah sekali lagi!"

Demikian kata orang aneh itu dengan bergelak ketawa.

Betul juga Nyo Ko lantas memanggil ayah, bukan hanya sekali, malahan dia panggil lagi dua kali, lalu ia menggelendot dibadan orang dengan laku yang aleman.

"Aha, anak baik, marilah kuajarkan kau ilmu silatku yang paling kubanggakan selama hidup ini,"

Dengan tertawa orang aneh itu berkata pula, Sambil berkata, lantas ia berjongkok, dari mulutnya terdengar suara "kuk-kuk-kuk"

Tiga kali, menyusul kedua tangannya dia dorong ke depan, maka terdengarlah suara gemuruh yang keras,, setengah tembok pagar yang berada di depannya telah ambruk seketika sehingga debu dan batu berhamburan.

Nampak orang memiliki ilmu silat selihay ini, girang sekali hati Nyo Ko.

"Ayah, ilmu apakah itu, dapatkah aku mempelajarinya ?"

Dengan cepat ia tanya.

"Ini namanya Ha mo-kang (ilmu weduk kodok),"

Sahut orang itu.

"Asal kau mau berlatih dengan giat, tentu kau dapat mempelajarinya."

"Setelah aku pandai, apakah tiada orang lain lagi yang berani menganiaya diriku ?"

Tanya Nyo Ko lagi.

"Tentu saja,"

Sahut orang aneh itu sambil menarik alis "Siapa yang berani menghina puteraku, biar aku patahkan tulangnya dan beset kulitnya."

Kiranya orang aneh yang kosen ini bernama Auwyang Hong yang namanya telah disinggung bagian atas tadi.

Sejak Hoa-san-lun-kiam atau pertandingan silat di atas Hoa-san (salah satu gunung tersohor di daerah propinsi Siamsay), Auwyang liong kena diakali Ui Yoeg hingga otaknya rada miring, selama belasan tahun, ini ia terluntang-lantung di daerah sunyi, yang dia selalu pikir adalah.

"Siapakah aku ini sebenarnya ?"

Tetapi tahun2 terakhir ini, sesudah dia berlatih Kiu-im-cin-keng, maka Lwekangnya sudah ada banyak kemajuan, otaknya juga banyak lebih terang, walaupun masih tetap tak beres kelakuannya dan suka gila2an.

Tetapi banyak kejadian lama pelahan2 dan satu persatu sudah mulai dia ingat, cuma saja tentang "siapakah dirinya sendiri"

Inilah yang tetap belum dia ingat pontang Hoa-san-lun-kian serta mengapa Auwyang Hong bisa diakali Ui Yong hingga menjadi gila dan sebab apa dia berlatih ilmu Kiu-im-cin-keng secara terbalik, pada kesempatan lain akan dibukukan tersendiri.

Begitulah, maka Auwyang Hong lantas mcngajar-Nyo Ko dasar2 permulaan ilmu Ha-mo-kang.

Hendaklah diketahui bahwa Ha-mo-kang yang menjadi ilmu kebanggaan Auwyang Hong ini terhitung ilmu silat kelas satu dalam dunia persilatan Dahulu meski putera kandung sendiri belum pernah Auwyang Hong mengajarkan padanya, tetapi kini karena guncangan perasaannya, ternyata pikir segalanya lagi diajarkannya pada anak angkatnya yang baru dia terima ini.

Ha-mo kang ini sangat sulit dan dalam sekali, Nyo Ko sendiri masih belum punya landasan, meski dia coba baik2 semua apa yang diuraikan Auwyang Hong, tetapi sama sekali ia tidak paham akan arti yang terkandung dalam rahasia ilmu yang dia terima itu.

Oleh karena itu, sesudah hampir setengah hari Auwyang Hong mengajar, tetapi ia lihat Nyo Ko masih ngawur saja kalau ditanya, sama sekali belum paham dasar yang diajarkan, akhirnya Auwyang Hong menjadi keki, dalam dongkolnya ia hendak menampar anak muda itu.

Namun sebelum tangannya menyentuh pipi orang, dibawah sinar sang dewi malam ia lihat muka Nyo Ko yang putih bersih dengan matanya yang jeli menarik itu, ia menjadi tidak tega menghajarnya.

"Sudahlah, kau tentu sudah letih, pulang saja sekarang, besok aku mengajarkan kau lagi,"

Katanya kemudian dengan menghela napas.

Tak tahunya, sejak Nyo Ko dikatai Kwe Hu bahwa tangannya kotor, terhadap anak dara itu telah timbul rasa benci dalam hatinya, maka demi mendengar dirinya disuruh kembali kepada Kwe Ceng, ia menjadi sedih.

"Tidak, ayah, aku ikut kau saja, aku tak mau pulang ke sana,"

Katanya.

Siapa dirinya sendiri, soal ini bagi Auwyang Hong masih belum jelas hingga kini, tetapi mengenai urusan umum pikirannya sudah cukup terang dan jernih, maka atas permintaan Nyo Ko itu ia menjawab.

"Jangan. otakku masih rada kurang beres, ku kuatir kau nanti ikut menderita. Kau pulang saja dahulu, nanti kalau aku sudah bikin terang sesuatu soal barulah kita berkumpul untuk selamanya."

Kata2 Auwyang Hong yang penuh kasih sayang ini meresap sekali ke lubuk hati Nyo Ko, boleh dikatakan sejak, ibunya mangkat, belum pernah ia mengenyam rasa simpatik seperti sekarang ini, maka dengan cepat ia merangkul orang..

"Kalau begitu harap lekas kau datang menjemput aku, ayah,"

Katan'ya.

"jangan kuatir, nak, sementara diam2 senantiasa akan kuikuti kau, kemanapun kau pergi, pasti aku mengetahuinya,"

Sahut Auwyang Hong manggut2.

Kemudian ia membopong Nyo Ko lagi dan diantar pulang ke dalam hotel.

Selama itu Kwa Tin-ok sudah pernah datang sekali mencari Nyo Ko, ia me-raba2 dan tidak mendapatkan anak muda ini di atas ranjangnya, Kwa Tin-ok menjadi kuatir sekali.

Tetapi tatkala untuk kedua kalinya ia datang mencari Nyo Ko lagi, ia mendapatkan pemuda ini sudah ada di situ, selagi ia hendak bertanya tadi kemana atau tiba2 ia dengar di atas wuwungan rumah ada suara mendesirnya angin.

Meski mata Kwa Tin-ok buta, tetapi daya pendengarannya luar biasa tajamnya, ia tahu ada dua orang "ya-heng-jin" (orang jalan diwaktu malam) yang berilmu silat sangat tinggi lewat di atas rumah, Untuk menjaga segala kemungkinan, lekas2 orang tua ini membopong Kwe Hu, sedang senjata tongkatnya segera ia siapkan kian berjaga di dekat jendela, ia kuatir kalau2 kedua tamu malam itu putar kembali lagi.

Betul saja, sejenak kemudian suara mendesirnya angin kembali kedengaran lagi dari jauh mendekat, begitu cepat hingga sekejap saja sudah sampai di atas rumah hotel, lalu ia dengar suatu diantaranya lagi berkata.

"Yong-ji, kau kira siapakah dia tadi ?"

Demikian sahut seorang lain. Mendengar suara percakapan ini, Kwa Tin-ok tahu Kwe Ceng dan Ui Yong suami isteri. Karena itulah ia merasa lega, segera ia membuka pintu agar kedua orang itu masuk.

"Baik2kah disini, Suhu?"

Segera Ui Yong tanya Kwa Tin-ok begitu melangkah masuk.

"Ya, tiada terjadi apa2,"

Sahut Kwa Tin-ok.

"Aneh, apa mungkin kita telah salah lihat ?"

Kata Ui Yong kepada sang suami.

"Tidak, tidak bisa, orang ini sembilan bagian pasti dia,"

Sahut Kwe Ceng sambil menggeleng kepala.

"Dia ? Dia siapa ?"

Tin-ok ikut bertanya.

Lekas Ui Yong me-narik2 lengan baju suaminya dengan maksud agar jangan mengatakan Akan tetapi tidak bisa menghormatnya Kwe Ceng terhadap gurunya yang banyak menanam budi padanya, tidak berani ia berdusta meski barang sedikit saja, maka.

ia lantas menerangkan.

"Dia Auwyang Hong !"

Justru seumur hidupnya paling takut pada orang ini karuan seketika air muka Kwa Tin-ok berubah hebat.

"Auwyang Hong?"

Ia menegas dengan suara tertahan.

"Betul! dia belum mampus ?"

"Tadi ketika kami kembali dari memetik obat2-an, di pinggir rumah kami melihat berkelebatnya bayangan orang, gerak tubuhnya sangat cepat lagi aneh, waktu kami mengejarnya, sayang tak tertampak bayangannya lagi. Cuma kelihatannya sangat mirip Auwyang Hong,"

Demikian Kwe Ceng ceritakan.

Kwa Tin-ok mengerti muridnya ini sangat jujur dan suka terus terang, semakin menanjak umurnya semakin tulus, kalau dia bilang Auwyang Hong, maka pasti bukan orang lain lagi.

Sementara itu karena kuatirkan diri Nyo Ko, Kwe Ceng telah memeriksanya ke tempat tidurnya dengan membawa lilin, ia lihat air muka pemuda ini merah segar, napasnya teratur dengan haik, tidurnya nyenyak, ia menjadi girang sekali oleh keadaan bocah ini.

"Dia sudah baik, Yong-ji !"

Saking girangnya ia teriaki isteri.

Padahal waktu itu Nyo Ko hanya pura2 tidur saja, ia pejamkan matanya buat mencuri dengar percakapan ketiga orang, Ketika lapat2 mendengar ayah angkatnya -orang aneh itu -bernama Auw-yang Hong, sedang ketiga orang ini sangat jeri padanya, tentu saja dalam hati kecilnya diam2 ia merasa bangga dan senang.

Dalam pada itu sesudah TJi Yong melihat kea.da-an Nyo Ko, menjadi ter-heran2, Terang ia lihat hawa racun di lengannya menjalar terus ke atas, sesudah lewat beberapa jam ini, semestinya bertambah hitam bengkak dan merembes lebih luas, siapa tahu hawa berbisa itu sebaliknya malah menghjlang, sungguh kejadian yang sukar dimengerti.

Setelah keluar bersama sang suami sekian lama, namun rumput obat2an yang dia cari tetap belum lengkap, terpaksa seadanya ia gilasi dan racik beberapa macam bahan obat, air perasannya lalu ia minum kan pada Nyo Ko.

Besok paginya, Kwa Tin-ok bersama Kwe Ceng dan Ui Yong melanjutkan perjalanan bersama dua anak kecil, mereka ambil keputusan buat pulang ke Tho-hoa-to dahulu untuk menyembuhkan lukanya Nyo Ko.

Malamnya terpaksa mereka harus menginap lagi di hotel, Kwa Tin-ok tinggal sekamar dengan Nyo Ko, sedang suami isteri Kwe Ceng dan Ui Yong sekamar dengan puteri mereka.

Tengah malam sedang enak2nya mereka tidur, mendadak terdengar suara "krak"

Yang keras di atas rumah, menyusul mana terdengar pula suara teriakan di kamar sebelah, rupanya ada orang merusak daun jendela dan melompat keluar. Cepat Kwe Ceng dan Uj Yong melompat "

Bangun, melalui jendela mereka lihat di atas rumah sudah ada dua orang yang sedang bergebrak dengan sengit.

Baru saja bisa lihat jelas bentuk tubuh kedua orang itu, tiba2 terdengar suara "plak" , berbareng itu satu diantaranya telah menjerit terus terbanting ke bawah itu sudah dalam keadaan lumpuh, kaki tangannya kelihatan kaku dan menjulai ke bawah dengan lurus.

Menurut kebiasaan, orang yang berilmu silat tinggi, sekalipun tergelincir jatuh dari tempat tinggi secara tiiba2 pasti akan menekuk badan dan tarik kaki, dengan demikian waktu sampai di tanah, tidak bakal terluka berat, akan tetapi orang itu sudah lebih dulu dihantam semaput di atas rumah, maka dengan tefbantingnya ini tulangnya pasti akan patah dan mungkin kepalanya akan remuk, Pada detik yang berbahaya itu, tiba2 dari jendela kamar sebelah melayang keluar seorang wanita, orang ini adalah Ui Yong, segera ia hendak menangkap tubuh orang, Namun ia masih kalah cepat, sebab Kwe Ceng sudah menyerobot di depannya dan dengan enteng sekali ia tarik tengkuk orang pada waktu hampir membentur tanah, terus diangkat ke atas dan kemudian dia turunkan pelahan, habis ini sekali ia enjot kakinya, segera ia melompat ke atas rumah.

Tetapi sekali ini ia yang ketinggalan ia lihat sang isteri sudah saling gebrak dengan serunya melawan satu orang, Lawannya berperawakan jangkung dan berjenggot pendek, kaki, hidungnya besar, matanya celong, siapa lagi kalau bukan musuh kebuyutan mereka yang sudah tak bertemu selama belasan tahan, Se-tok Auwyang Hong, Si racun dari Barat.

(Se-tok atau Si racun dari Barat adalah julukan Auwyang Hong sebagai satu diantara lima tokoh silat kelas wahid pada jamannya.

Empat rekannya yang juga menjadi musuhnya -masing2 adalah.

Tong-sia-Ui Yok-su, Si Latah dari Timur (ia adalah ayah Ui Yong), Lam-te Toan Hong-ya, Si raja dari Selatan, Pak-kay Ang Tjhit-kong, Si langit di Tengah.

Urut2an nama mereka berlima disebut.

Tong-sia, Se-tok, Lam-te, Pak-kay, Tiong-kian-khun).

Begitulah tadi, Ui Yong yang sudah banyak maju kepandaiannya, dalam belasan jurus itu tipu2 pukulannya ternyata sukar diraba, karena itu, sedikitpun Auwyang liong tidak lebih unggul.

"Aha, Auwyang-sianseng, baik2kah selama berpisah ini ?"

Demikian Kwe Ceng menyapa setelah tancapkan kakinya di atas wuwungan rumah.

"Apa kau bilang ? Kau panggil aku apa ?"

Tanya Auwyang Hong tiba-tiba.

Begitulah wajahnya mengunjuk rasa bingung, maka terhadap serangan Ui Yong ia hanya menangkis saja tanpa batas menyerang, sedang dalam hati .

ia sedang ingat2 nama yang diucapkan Kwe Ceng tadi, lapat2 ia merasa kata2

"Auwyang"

Seperti punya hubungan erat dengan dirinya.

Karena pertanyaan tadi, maka Kwe Ceng bermaksud akan menjelaskan namun betapa pintarnya Ui Yong, ketika melihat penyakit otak miring orang belum sembuh, lekas2 ia mencegah, Malahan ia sengaja berseru.

"Kau bernama Tio-Tji-Sun-Li, TJiu-Go-Tan-Ong !"

Auwyang Hong tampak terkejut dan semakin bingung.

"Apa ?"

Ia mengulangi "aku bernama Tio-Tji-Sun-Li dan Tjiu-Go-Tan-Ong ?"

"Ya, betul, namamu Pang-The-Tju-Wi dan Tjio-Sim-Ham-Yang,"

Sahut Ui Yong mengacau.

Apa yang-diucapkan Ui Yong itu semuanya adalah She atau nama keluarga umum.

Dasar pikiran Auwyang Hong memang belum waras, kini sekaligus Ui Yong melontarkan balasan she yang dikatakan adalah namanya, keruan pikiran Auwyang Hong menjadi semakin ruwet dan tambah butek otaknya.

Berlainan sekali dengan sang isteri, Kwe Ceng adalah orang yang baik budi dan jujur, ia menjadi kasihan melihat keadaan Auwyang Hong-yang hilang ingatan dan linglung itu.

"Sudahlah, lekaslah kau pergi saja, selanjutnya paling"

Baik kita jangan bertemu lagi untuk selama-nya,"

Katanya kemudian.

"He, siapa kau dan siapa aku ?"

Demikian Auwyang Hong masih bertanya.

"Kau adalah Si Racun tua yang telah membinasakan lima saudaraku !"

Mendadak suatu suara bentakan menjawabnya dari belakang.

Belum lenyap suara bentakan itu atau sebuah tingkat besi telah menyambar pula, itu adalah senjatanya Hui-thian-pian-hok Kwa Tin-ok.

Tetapi pada saat itu juga terdengar pula seruan Kwe Ceng.

"Awas, Suhu !"

Namun sudah terlambat, kemplangan tongkat Kwa Tin-ok itu dengan tepat kena di punggung Auwyang Hong, tetapi yang terdengar hanya "buk"

Se-kali, tahu2 tongkat malah membal balik, saking keras tenaga menbalnya hingga Tin-ok tak tahan memegangnya, maka baik tongkatnya maupun orangnya sama terperosot jatuh dari wuwungan rumah.

Luar biasa kerasnya hantaman tadi, pula tongkat itu mempunyai bobot beberapa puluh kati, ditambah lagi goncangan membalik, maka tongkat itu telah menyusup masuk ke bawah untuk kemudian dengan tepat menghantam di atas ranjang tamu hotel, Tamu itu sebenarnya lagi terombang-ambing di sorga impiannya, siapa tahu ketiban malang mendadak, sial baginya, tulang kakinya tertindih patah oleh tongkat yang tidak ringan itu, saking sakitnya ia men-jerit2 minta tolong !

Dalam pada itu Kwe Ceng tahu meski gurunya terbanting jatuh ke bawah tentu tidak bakal berhalangan, ia hanya kuatir kalau kesempatan itu digunakan Auwyang Hong untuk menguber dan menghantam, maka kejadiannya pasti akan luar biasa he-batnya, karenanya, tidak pikir lagi segera ia berteriak.

"Awas pukulan !"

Berbareng itu tangan kanan ia putar sekali terus didorong lurus ke depan, ini adalah satu diantara tipu pukulan Hang-liong-sip-pat-ciang yang disebut "Kong-liong-yu-hwe"

Atau Naga pembawa sesal, ilmu pukulan "Hang-liong-sip-pat-ciang" (delapan belas jurus ilmu pukulan penakluk naga) ini adalah ajaran guru Kwe Ceng yang lain, yakni Pak-kay Ang Tjhit-kong, itu pemimpin besar dari Kay-pang atau persatuan kaum jembel.

Selama ini tipu pukulan "Kong-liong-yu-hwe"

Ini dia latih dengan giat, apalagi ditambah kegiatan latihan selama belasan tahun ini, maka tekanan pukulan ini boleh dikata sudah sampai di Puncak yang paling sempurna.

Pada mula2 dia dorong ke depan tampaknya seperti seenaknya saja dan enteng sekali, tetapi bila ketemukan tenaga rintangan, maka dalam sekejap saja he-runtun2 bisa bertambah dengan tiga belas tenaga susulan yang satu lebih kuat dari pada yang lain secara ber-tumpuk2, sungguh tiada sesuatu yang tak bisa dihancurkan dan tiada lawan yang tak bisa dirobohkan.

Puncak kesempurnaan tipu pukulannya ini dipelajari dan diketemukan dia dari dalam kitab ilmu silat Kiu-im-cin-keng, suatu kitab yang selamanya dibuat sasaran perebutan diantara lima tokoh tersebut di atas, sekalipun Ang Tjhit-kong dahulu, kalau cuma tipu pukulan "Kong-liong-yu-hwe"

Ini saja juga tidak selihay seperti Kwe Ceng sekarang ini.

Dalam pada itu baru saja Auwyang Hong berhasil bikin terpental Kwa Tin-ok, segera terasa olehnya ada samberan angin yang datang dari muka, meski tenaga samberan angin itu tak begitu kerns, tetapi pernapasannya toh sesak hingga susah bernapas sebagai seorang jago kelas satu, ia tahu keadaan berbahaya, maka lekas2 ia sedikit berjongkok, menyusul kedua tangannya dia dorong ke depan sambil mulutnya mengeluarkan suara "kok", ini adalah ilmu "Ha-mo-kang", ilmu weduk kodok yang menjadi kebanggaan seumur hidupnya.

Oleh karena itu, saling beradunya tiga telapak tangan tak bisa dihindarkan lagi, namun tubuh kedua orang hanya sama2 tergetar saja dan tidak sampai ada yang terguling.

Tetapi Kwe Ceng tidak berhenti sampai di situ saja, dengan cepat ia tambahi tenaga pukulannya yang susu)-menyusul dan satu lebih kuat dari pada yang lain seperti gelombang ombak yang ber-gulung2 kepantai.

Sebaliknya dari mulut Auwyang Hong pun tiada hentinya terdengar suara "kok-kok-kok"

Yang keras, tubuhnya kelihatan ber-goyang2, agaknya setiap saat bisa terbanting roboh oleh daya tekanan Kwe Ceng.

Tapi sungguh aneh, semakin kuat dan semakin bertambah daya tekanan tenaga pukulan Kwe Ceng, maka tenaga tangkisannya yang membalik dari Auwyang Hong juga ikut bertambah menurut kebutuhan.

Sudah ada belasan tahun mereka berdua ini tidak ukur tenaga, kini bertemu kembali didaerah Kanglam, dengan sendirinya masing2 ingin bisa menjajal sampai di mana kemajuan pihak lain.

Dahulu ketika Hoa-san-lun-kiam atau pertandingan silat di Hoa-san tatkala itu Kwe Ceng masih bukan tandingan Auwyang Hong, tetapi sesudah sekian lama, berpisah dan kemajuannya yang pesat, ilmu silat Kwe Ceng boleh dikatakan telah sampai tarap yang paling masak, Namun demikian Auwyang Hong yang berlatih ilmu dari kitab "Kiu-im-cin-keng"

Secara terbalik (peristiwa diakali Ang Tjhit-kong hingga Auwyang Hong tertipu dan mempelajari Kiu-im cin-keng secara terbalik kelak akan diceritakan), dengan sendirinya juga ada kemajuan tertentu, yang satu betul dan yang lain terbalik, akhirnya tetap yang betul menangkan yang terbalik, maka dengan saling labraknya sekarang, Kwe Ceng sudah bisa melawan orang dengan sama kuat.

Supaya tahu bahwa atap rumah di daerah utara jauh berlainan dengan daerah selatan, Oleh karena harus menahan salju di musim dingin, maka atap rumah daerah utara dibuat dengan sangat kuat dan kokoh, tetapi di daerah aliran sungai Hoay karena genteng yang disusun secara tindih-menindih, maka atap yang genteng tetapi praktis.

Auwyang Hong saling ukur tenaga, mereka harus salurkan tenaga pada kedua kaki agar bisa berdiri dengan kokoh.

Diluar dugaan, selang beberapa lama terdengarlah suara "kreyat-kreyot"

Di bawah kaki mereka, menyusul mana terdengar pula suara "kraaak"

Yang keras secara tiba2, tahu2 beberapa usuk rumah telah patah hingga anjlok ke bawah, atap rumah itu berlubang hingga kedua orang yang saling adu tenaga itu sama2 kejeblos ke bawah.

Ui Yong kaget sekali oleh kejadian ini, lekas2 ia menyusul turun melalui lubang atap rumah itu, namun segera terlihat olehnya kedua orang itu masih tetap tangan beradu tangan, sedang kaki mereka menginjak pada beberapa usuk yang patah tadi, sebalik-!!

V usuk2 itu justru menindih di atas badan seorang tamu hotel penghuni kamar yang ketiban malapetaka itu.

Mungkin saking kaget dan saking sakitnya oleh "rejeki tiban"

Itu, tamu hotel yang sial itu telah jatuh pingsan.

Buat Kwe Ceng sebenarnya tidak sampai hati bikin celaka orang lain yang tak berdosa, tetapi Auwyang Hong tidak pusingkan mati hidup orang lain, Kekuatan mereka sebenarnya seimbang, tetapi kini Kwe Ceng harus pikirkan orang yang ketindih itu dan tak tega tambahi tenaga injakannya sehingga tenaga yang saling adu itu tidak mendapatkan tempat sandaran yang kuat, maka lambat laun ia mulai terdesak di bawah angin.

Melihat tubuh sang suami rada mendoyong ke belakang, meski hanya mundur sedikit saja, Ui Yong sudah tahu Kwe Ceng bakal kecundang.

"He, Thio-sam-Li-si, Tio-ngo-Ong-liok, awas pukulan!"

Demikian ia lantas berteriak Menyusul tampaknya ia ayun sebelah tangannya menabok ke pundak Auwyang Hong.

Meski tampaknya sangat enteng pukulannya ini, tetapi justru adalah pukulan lihay dari ilmu pukulan "Lok-eng-cio-hoat".

Bila sampai kena digebuk, maka tenaga pukulannya akan terus meresap sampai kebagian dalam tubuh, sekalipun jago silat kelas berat seperti Auwyang liong pasti juga akan terluka parah.

Akan tetapi Auwyang Hong bukan Se-tok kalau dia gampang dipukul.

Semula ia memang terkejut sejenak ketika mendengar orang menyebut namanya yang aneh dan tak keruan itu, tetapi demi mendadak nampak pukulan orang tiba, secepat kilat ia dorong tangannya sekuat tenaganva, ia desak tenaga tangan Kwe Ceng dahulu, habis ini ia putar tangannya dan berhasil mencengkeram pundak Ui Yong, ia kumpul tenaga dalam pada ujung jarinya untuk merobek kulit daging lawan.

Cengkeraman maut ini sekaligus telah bikin tiga orang terkejut berbareng, Yakni Auwyang Hong, Kwe Ceng dan Ui Yong.

Auwyang Hong segera merasakan ujung jarinya tidak kepalang sakitnya, kiranya ia telah kena menjambret pada duri lancip "kutang berduri landak"

Yang dipakai Ui Yong dibagian dalam.

Tetapi karena luar biasa kuat tenaga jarinya, dengan sekali jambret tak kurang duri landak yang terbuat dari anyaman benang emas dan tak mempan senjata itu kena terobek sepotong.

Pada waktu itu juga tenaga pukulan Kwe Ceng sudah mendatang lagi setelah didorong oleh Auwyang Hong tadi, dengan sendirinya Auwyang Hong kembali menyambut dengan telapak tangannya, maka terdengarlah suara "plak"

Yang keras, kedua orang sama2 mundur dengan cepat, menyusul tertampaklah debu pasir berhamburan, dinding roboh dan rumah ambruk.

Baca Juga: Badai Laut Selatan 5

Baca Juga: Si Rase Hitam 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert