Eps 2 Kembalinya Sang Pendekar Rajawali - Chin Yung
Baca online Kembalinya Sang Pendekar Rajawali - Chin Yung
Cersil Kembalinya Sang Pendekar Rajawali - Chin Yung.
Kiranya beradunya tangan kedua orang tadi benar2 keras lawan keras dengan sepenuh tenaga sehingga kedua pihak sania2 tersentak mundur, tetapi mundurnya mereka telah membobol dinding tembok sampai keluar, sebab itulah setengah dari atap rumah itu telah ambruk dan menerbitkan suara gemuruh.
Ui Yong sendiri yang pundaknya kena dijambret meski belum sampai terluka, namun tidak urung iapun terkejut sekali, dalam seribu kerepotannya syukur ia masih sempat melayang keluar dari rumah yang roboh separoh itu.
Setibanya di luar, terlihat olehnya jarak antara Auwyang Hong dan Kwe Ceng tidak lebih hanya setengah tombak saja, mereka sama2 berdiri tegak tanpa bergerak, terang mereka sudah terluka dalam semua.
Ui Yong tak pikirkan untuk menyerang musuh lagi lebih dulu ia mendekati sang suami untuk melindunginya.
Dalam pada itu ia lihat kedua orang ini sama2 pejamkan mata sedang menjalankan pernapasan.
lalu terdengar suara batuk dua kali, tanpa berjanji kedua orang itu sama muntahkan darah segar berbareng.
"Haha, sungguh hebat, sungguh hebat!"
Teriak Auwyang Hong tiba2.
Habis ini, disertai gelak-ketawa yang keras memanjang, ia lantas bertindak pergi dan sekejap saja sudah menghilang tanpa bekas.
Sementara itu berhubung terjadinya onar ini dan karena tetamu yang ketimpa malang tadi, di dalam hotel menjadi geger dan ribut.
Ui Yong tahu tempat ini tak bisa ditinggali terus, maka ia lantas gendong Kwe Hu, lalu kepada Tin-ok ia berkata.
"Suhu, harap kau payang engkoh Ceng, marilah kita berangkat saja!"
Sesudah tak lama mereka berialan, tiba2 Ui Yong teringat pada Nyo Ko, ia tidak tahu anak ini telah kabur kemana, karena kuatirkan luka yang diderita suaminya, urusan2 lain terpaka dikesampingkannya dahulu.
Pikiran Kwe Ceng pun cukup terang, lantaran pernapasannya kena tekanan tenaga pukulan Auwyang Hong, maka ia merasa sesak dan susah buat buka mulut, Setelah atur napas dengan menggemblok di atas pundak Kwa Tin-ok, sesudah jalan tujuh atau delapan li akhirnya semua urat nadinya berjalan lancar kembali.
"Sudah baik, Suhu,"
Katanya kemudian.
"Sudah tiada apa2?"
Tanya Kwa Tin-ok sambil melepaskannya.
"Ya, tidak apa2,"
Sahut Kwe Ceng.
"Sungguh lihay sekali!"
Dalam pada itu terlihat puterinya yang semalam suntuk tak tidur, mungkin saking letihnya kini sedang tertidur nyenyak di atas pundak sang ibu, hatinya menjadi terkesiap dan ingat sesuatu.
"He, di manakah Ko-ji?"
Ia tanya cepat. Meski Kwa Tin-ok mengerti adanya anak muda itu, tapi dia belum tahu siapa namanya, maka pertanyaan Kwe Ceng ini membuatnya bingung tak bisa menjawab.
"Jangan kuatir. kita cari suatu tempat dulu untuk mengaso, habis itu baru kita pergi mencarinya lagi,"
Sahut Ui Yong. Sementara itu fajar sudah menyingsing pemandangan sekitar jalan remang2 sudah kelihatan.
"Lukaku tak berhalangan, marilah kita pergi mencarinya,"
Ujar Kwe Ceng.
"Anak ini luar biasa cerdiknya, tak perlu kau kuatir baginya,"
Jawab Ui Yong mengkerut kening.
Baru berkata sampai di sini, se-konyong2 tertampak olehnya belakang tembok bobrok di tepi jalan sana bayangan orang berkelebat dengan cepat, hanya melongok terus mengkeret lagi.
Mana bisa Ui Yong dikelabui, gerak tubuhnya pun cepat luar biasa, dengan gesit ia melompat ke sana terus menjambret siapa lagi dia kalau bukan si Nyo Ko yang mereka bicarakan itu.
Meski sudah konangan, bocah ini hanya tertawa haha-hihi saja.
"Kalian baru sampai, bibi? Sudah lama aku me... menunggu di sini."
Nampak kelakuan anak muda ini, hati Ui Yong, merasa curiga, maka sekenanya ia menjawab.
"Ya,, marilah kau ikut berangkat!"
Nyo Ko ketawa terus ikut di belakang mereka.
"Kemana kau telah pergi ?"
Tiba2 Kwe Hu bertanya.
"Aku pergi mencari jangkerik, wah, senang sekali,"
Sahut Nyo Ko.
"Apanya yang menyenangkan ?"
Ujar Kwe Hu.
"Hm, siapa bilang tidak menyenangkan ?"
Nyo Ko menjengek "Ada seekor jangkerik besar telah tarung melawan tiga jengkerik kecil, kemudian datang pula dua jangkerik kecil lain membantu kawannya, pertandingan menjadi lima jangkerik kecil melawan satu jangkerik besar, Yang besar ini melompat kian kemari, yang ini diselentik dengan kakinya, yang sana digigit mulutnya."
Menutur sampai disini, tiba2 Nyo Ko berhenti, ia tidak melanjutkan lagi. Dilain pihak Kwe Hu rupanya menjadi ketarik oleh cerita itu hingga ia ternganga.
"Lalu, bagaimana ?"
Tanpa tertahan ia tanya ketika orang tidak melanjutkan ceritanya.
"Tadi kau bilang tidak menyenangkan, kenapa sekarang kau tanya?"
Sahut Nyo Ko.
Jawaban ini membuat Kwe Hu menjadi marah, segera ia berpaling ke jurusan lain dan tidak gubris Nyo Ko lagi.
Siapa tahu hati mudanya Ui Yong ternyata belum hilang sama sekali, ketika mendengar cerita Nyo Ko itu, cukup tegang dan menarik, pula Nyo Ko memang pandai bicara, maka iapun tak tahan dan lantas tanya.
"Coba terangkan pada bibi, akhirnya mana yang menang?"
Nyo Ko ketawa oleh pertanyaan orang. Dengan gampang dan secara diplomatis ia menjawab.
"Pada saat yang sangat menarik itu, kalian keburu datang hingga semua jangkerik itu lari."
Melihat lagak anak ini, Ui Yong tahu ia sengaja jual mahal, ia pikir anak ini memang pandai dan banyak akal, dari kejadian kecil ini saja kelihatan hal ini.
Tengah bicara, sementara mereka sudah sampai di suatu desa.
Meski Kwe Ceng terluka dalam, tapi ia masih gagah dan bisa bergerak leluasa, maka ia telah mohon bertemu dengan tuan rumah pada satu gedung besar.
Tuan rumah itu ternyata sangat simpatik dan suka terima tamu, ketika mendengar ada orang luka dan sakit, lekas ia perintahkan centingnya menyediakan kamar tamu.
Setelah makan, kemudian Kwe Ceng duduk bersila di pembaringannya buat merawat lukanya.
Melihat pernapasan sang suami teratur dan semangatnya segar, Ui Yong tahu sudah tiada bahaya lagi.
Waktu ia lepaskan baju luar dan diperiksa, ia lihat kutang lemas berduri landak yang dia pakai di lapis dalam itu terobek sebagian persis di atas pundaknya, sungguh sayang sekali dan terasa kaget pula, Kutang wasiat ini adalah pusaka Tho-hoa-to yang menjadi pusaka ayahnya pula, benda ini sudah beberapa kali telah menolong jiwanya dari ancaman maut, tak terduga hari ini bisa terusak ditangan Auwyang Hong.
Sambil duduk menjaga disamping suaminya, Ui Yong meng-ingat2 kelakuan Nyo Ko sejak bertemu, Entah mengapa, ia selalu merasa meski anak ini masih kecil usianya, tetapi banyak sekali terdapat hal2 aneh pada diri anak itu yang sukar dimengerti.
Teringat olehnya pada waktu Bu Sam-thong terjungkal ke bawah oleh hantaman Auwyang Hong, kalau tidak salah ia melihat Nyo Ko berdiri menonton di sebelah samping, kemudian ketika dirinya suami isteri bergebrak melawan Auwyang Hong, tertampak juga Nyo Ko masih berdiri di atas atap rumah, begitu juga pada waktu Kwe Ceng dan Auwyang liong terjeblos ke bawah, bocah itupun masih berdiri di ttmpatnya.
Kenapa anak ini punya nyali begitu be-s,ir?
Mengapa ia tidak takut ?
Dan kenapa Auwyang Hong pun tidak mencelakai dia?
Paling akhir sesudah Kwe Ceng dan Auwyang Hong menderita luka, dalam keadaan ribut2 anak itu mendadak menghilang untuk kemudian muncul l?gi ditengah jalan.
Ui Yong biasa berpikir secara teliti, ia pikir tidak perlu tanya dia sekarang, asal seterusnya ge-rafc-geriknya diawasi saja.
Begitulah, siang hari telah lalu, petangnya sesudah bersantap mereka lantas pergi mengaso sendiri2.
Nyo Ko tidur sekamar dengan Kwa Tin-ok, sampai tengah malam, diam2 ia bangun, ia membuka pintu kamar dan ngeluyur keluar.
Waktu ia menoleh, ia lihat Kwa Tin-ok sedang menggeros nyenyak.
Maka dengan berindap-indap ia mendekati pagar tembok, ia panjat ke atas satu pohon, dari sini ia melompat ke atas pagar tembok dan kemudian merosot turun keluar dengan pelahan.
Mencium bau manusia, dua ekor anjing di luar pagar itu menyalak, Tetapi Nyo Ko sudah siap sedia, dari bajunya dikeluarkan dua tulang daging yang dia sengaja simpan pada siang harinya, dia lemparkan pada anjing-2 itu.
Dapat tulang daging, anjing2 itu lupa, akan manusianya dan segera berhenti menyalahi untuk gerogoti tulang2 itu.
Setelah pilih jurusannya, kemudian Nyo Ko menuju ke arah barat-daya, setelah beberapa li ia tem-puh, akhirnya sampailah dia pada sebuah kelenteng bobrok, ia dorong pintu kelenteng itu dan masuk ke dalam.
"Ayah !"
Demikian ia lantas memanggil.
Maka terdengarlah suara sahutan yang berat dari dalam, yang ia kenali adalah suara Auwyang Hong.
Girang sekali Nyo Ko, ia mendekatinya, ia lihat Auwyang Hong rebah di atas beberapa kasuran bundar di depan patung pemujaan, keadaannya loyo dan napasnya lemah.
Kiranya keadaan luka yang diderita Auwyang Hong serupa dengan Kwe Ceng, cuma Kwe Ceng masih muda kuat, sebaliknya ia sudah lanjut usianya, dengan sendirinya daya tahannya jauh kalah daripada Kwe Ceng.
"Makanlah ini, ayah" , sementara Nyo Ko berkata lagi sambil mengeluarkan beberapa bakpau dan diserahkan pada Auwyang Hong. Memangnya Auwyang Hong sudah kelaparan sehari suntuk, ia hendak keluar, tapi kuatir kepergok musuh, maka sepanjang hari ia terus sembunyi di dalam kelenteng bobrok ini dengan kelaparan, kini sesudah beberapa bakpau ia jejalkan ke dalam perutnya, segera semangatnya terbangkit kembali.
"Dimanakah mereka berada kini ?"
Ia tanya.
Maka berceritalah Nyo Ko apa yang diketahuinya.
Ketika Nyo Ko bermalam di hotel bersama Kwe Ceng, tengah malam kembali Auwyang Hong datang menjenguk padanya.
Tak terduga malam itu Bu Sam-thong yang terluka oleh pukulan Li Bok chiu juga kebetulan menginap di hotel yang sama.
Oleh karena bekerjanya racun di tubuhnya akibat pukulan Li Bok-chiu itu, semalam suntuk ia kelabakan tak bisa tidur, ketika mendadak mendengar di atas rumah ada suara keresekan, Bu Sam-thong menyangka Li Bok-chiu telah menyusul datang lagi, maka tanpa menghiraukan luka yang sudah dideritanya segera ia lompat ke atas rumah untuk menghadapi musuh.
Di luar dugaan, musuh baru itu tidak datang, sebaliknya yang dihadapi adalah musuh kawakan.
Dahulu Auwyang Hong hendak menghancurkan ilmu silat Toan Hong-ya untuk itu pernah sengaja ia melukai Bu Sam-thong dengan pukulan yang berbisa.
Kini demi berhadapan lagi, musuh yang sudah lama ditunggu ini membikin mata Bu Sam-thong merah berapi, tanpa pikir lagi segera ia labrak maju.
Dengan sendirinya se-kali2 Bu Sam-thong bukan tandingan Auwyang Hong, baru bergebrak belasan jurus ia sudah kena dihantam sekali hingga terjungkal ke bawah rumah.
Waktu datangnya Auwyang Hong ke hoicl itu Nyo Ko memang sudah mendusin, tatkala ayah angkatnya ini ber-turut2 bergebrak dengan Bu Sam-thong dan suami isteri Kwe Ceng dan Ui Yong, selama itu Nyo Ko terus berdiri menonton di samping.
Kemudian setelah Auwyang Hong dan Kwe Ceng sama2 terluka dan ada orang yang memperhatikan dirinya, maka diam2 ia telah menyusul Auwyang Hong.
jalannya Auwyang Hong mula2 sangat cepat, sudah tentu Nyo Ko tak mampu menyandaknya, tetapi sesudah lukanya bekerja hingga melangkah saja terasa susah, maka dapatlah Nyo Ko menyusul dan memayangnya ke kelenteng bobrok.
Walaupun umur Nyo Ko masih kecil, tetapi segala hal ternyata ia paham, ia tahu kalau dirinya tidak kembali tentu Ui Yong dan Kwa Tin-ok cs.
akan mencarinya, jika terjadi begini tentu akan membahayakan jiwa Auwyang Hong yang terluka parah itu, maka lebih dulu ia telah tunggu orang di tepi jalan hingga akhirnya bertemu lagi dengan Kwe Ceng dan tengah malam ia datang pula menjenguk ajah angkatnya lagi, Begitulah sesudah dengar penuturan Njo Ko baru Auwyang Hong merasa lega, Tetapi bila teringat olehnya Kwa Tin-ok tidak berhasil dia binasakan pada siangnya, kembali ia menjadi kuatir.
"Orang she Kwe itu telah merasakan pukulanku, dalam tujuh hari terang dia tak akan bisa sembuh,"
Demikian katanya kemudian.
"lsterinya harus melayani suaminya. tentu tak berani sembarang tinggal pergi, maka kini kita hanya kuatirkan si buta she Kwa seorang saja. Kalau malam ini dia tidak datang, pasti besok dia akan mencari kesini, sungguh sayang sedikitpun aku tak bertenaga, Ai, aku sudah membunuh lima saudara angkatnya, kalau kini aku mati di tangannya rasanya juga... juga..."
Berkata sampai disini, ia lantas ter-batuk2.
Sementara itu Nyo Ko duduk di lantai dengan tangan menunjang janggut, sekejap itu saja timbul macam2 pikirannya.
ia lihat Auwyang Hong rebah dengan kedua tangan digunakan sebagai bantah meski rebah dengan melintang, tetapi kedua kaki orang tua ini masih tetap pasang kuda2 seperti biasanya kalau berlatih ilmu Ha-mo-kang, jadi kuda2nya mirip kodok saja.
"Ah, aku ada akal,"
Tiba2 Nyo Ko berpikir.
"biar aku taruh beberapa macam benda tajam di atas lantai, kalau si buta itu masuk begitu saja, biar dia merasakan sedikit luka dahulu."
Karena pikiran ini, segera ia turunkan empat buah Cektay, yakni tempat menancapkan lilin yang biasa dipakai di meja sembahyang, ia buang sisa lilinnya, ia pasang cektay di mulut pintu secara berjajar dengan bagian yang lancip tajam menghadap ke atas, Habis ini ia tutup pintu kelenteng itu dengan setengah rapat, lalu ia angkat sebuah Hio-lo (tempat abu) yang terbuat dari besi, ia manjat ke atas dan pasang Hio-lo itu di atas daun pintu yang setengah rapat itu, Kemudian ia memeriksa sekitarnya lagi, ia ingin mendapatkan jebakan lain yang bisa dipasang untuk pedayai orang, tetapi tiada yang terdapat lagi kecuali di atas ruangan kelenteng bagian timur dan barat m.ising2 tergantung sebuah genta raksasa.
Begitu besar genta itu hingga sedikitnya lebih dua ribu kati beratnya dan tidak cukup dirangkul tiga orang sejajar.
Di atas genta masing2 terdapat satu gantolan besi yang sangat besar pula dan terikat kencang di atas kerangka kayu yang terbuat dari balok2 besar.
Kelenteng ini rupanya sudah sangat tua dan bobrok, tetapi kedua genta raksasa ini karena pembikinannya sangat kokoh dan kuat maka masih dalam keadaan baik.
"Jika betul-betul si buta she Kwa itu masuk ke sini, aku nanti manjat ke atas kerangka genta itu, tanggung dia tak akan bisa ketemukan aku,"
Demikian Nyo Ko berkata dalam hati.
Waktu Nyo Ko hendak pergi ke bagian belakang untuk mencari sesuatu alat senjata yang cocok baginya, tiba2 terdengar dari jalan besar di luar berkumandang suara "tak-tek-tak-tek"
Yang diterbitkan oleh ketokan tongkat "besi".
Air muka Nyo Ko seketika berubah, ia tahu betul2 Kwa Tin-ok telah datang, maka cepat ia sirapkan api lilin.
Tapi segera ia ingat perbuatannya ini hanya berlebihan saja, ia pikir.
"Mata si buta itu tak bisa melihat sebenarnya tidak perlu aku padamkan lilin."
Dalam pada itu suara "tak-tek"
Tadi sudah makin dekat, mendadak Auwyang Hong bangkit berduduk, ia hendak kumpulkan seluruh tenaga yang masih ada padanya itu di tangan kanannya, ia hendak mendahului musuh dengan sekali pukul membinasakannya.
Nyo Ko sendiri juga ber-debar2, ia pegang Cek-tay itu dengan bagian lancip menghadap keluar, ia jaga disamping Auwyang Hong siap melawan musuh.
Memang tidak salah suara "tak-tek"
Tadi adalah suara tongkat Kwa Tia-ok yang meng-ketok2 tanah bila berjalan.
Meski mata Tin-ok buta, tetapi orangnya luar biasa cerdiknya, ia menduga sesudah Auwyang Hong terluka, pasti akan sembunyi di sekitar tempat ini, maka sebelum bersantap malam, di tempat pondok nya ia sudah mencari tahu dengan jelas bahwa di sekitar sini hanya terdapat sebuah kelenteng kuno yang bobrok, kecuali ini hanya rumah penduduk melulu, maka ia sudah menaksir sembilan bagian pasti Auwyang Hong sembunyi di dalam kelenteng ini.
Bila teringat olehnya kelima saudara angkatnya semua dibinasakan Auwyang Hong secara keji di pulau Tho-hoa, kini ada kesempatan bagus untuk menuntut balas, sudah tentu tidak dia lewatkan begitu saja.
Maka setelah tengah malam, dengan pelahan kemudian ia me-manggil2.
"Ko-ji, Ko-ji !"
Tetapi ia tidak mendapatkan jawaban, ia sangka tentu anak ini sedang nyenyak tidur, maka ia tidak mendekatinya lagi buat periksa melainkan terus keluar rumah pondok dengan melompati pagar tembok.
Kedua anjing tadi masih menggerogoti tulang yang dilempar Nyo Ko itu, maka munculnya Kwa, Tin-ok tidak di-gonggong mereka, hanya terdengar suara geraman saja beberapa kali untuk kemudian menggeragoti tulang lagi.
Pe-lahan2, akhirnya sampai juga di depan kelenteng itu, ketika Kwa Tin-ok pasang kuping, betul saja di ruangan dalam terdengar ada suara bernapasnva orang.
"Hayo, Auwyang Hong, Si buta she Kwa sudah berada di sini, kalau kau jantan, lekas keluar!"
Segera ia berteriak menantang.
Sambil berkata, ia ketok tongkatnya ke tanah dengan keras.
Akan tetapi Auwyang Hong tidak menyahut, ia kuatir tenaga yang sudah dikumpulkan sejak tadi itu gembos, maka tak berani ia buka suara.
Setelah ber-teriak2 beberapa kali lagi dan tetap tiada jawaban, akhirnya Kwa Tin-ok menjadi tak sabar, begitu ia angkat tongkatnya, segera ia dorong pintu kelenteng terus melangkah masuk.
Tak tersangka, mendadak terasa olehnya ada samberan angin yang berat, semacam benda antap tahu2, menghantam dari atas kepalanya, berbareng itu pula kaki kirinya yang melangkah masuk itu tepat menginjak pada tancapan lilin yang tajam itu hingga sol sepatunya tembus, telapak kakinya seketika kesakitan, Karena matanya buta, sesaat itu Kwa Tin-ok tidak mengerti apa yang terjadi, hanya lekas2 ia ayun tongkatnya ke atas, maka terdengarlah suara "trang"
Yang keras dan nyaring memekak telinga, Hio-lo yang jatuh dari atas itu kena dia hantam hingga terpental, menyusul ini ia jatuhkan diri pula agar kakinya tidak sampai tertancap tembus oleh benda tajam tadi.
Tak ia duga bahwa disamping lain masih terdapat beberapa Cektay pula yang sama tajamnya, keruan segera pundaknya terasa sakit sebuah tancapan lilin itu telah menusuk tubuhnya, Ketika ia pegang Cektay itu dan dicabut keluar, maka mengucurlah darah membasahi pakaiannya.
Ia tak berani lagi cerohoh, ia pasang kuping pula dan dapat mendengar suara bernapasnya Auwyang Kong, maka setindak demi setindak ia maju pelahan, sekira tiga kaki dihadapan orang, segera ia angkat tongkatnya ke atas.
"Ayo, Lo-ok but (Si binatang tua berbisa), sekarang apa yang hendak kau katakan lagi?"
Bentak Tin-ok.
Sementara itu Auwyang Hong sudah kumpulkan seluruh tenaga yang ada padanya dan dipusatkan pada telapak tangan kanannya, ia tunggu bila tongkat Hui-thian-pian-hok benar2 mengemplang, maka sekaligus iapun akan menghantamnya, dengan demikian supaya binasa ber-sama2.
Begitu!ah karena sama2 tidak mau serang lebih dulu, mereka berdua menjadi berdiri berhadapan saja dan sama2 tidak bergerak.
Kemudian dengan telinga Tin-ok yang tajam, akhirnya ia dengar suara napas orang yang berat dan sesak, tiba2 terkilas pula suara dan wajah kelima saudara angkatnya.
Cu Jong, Han Po-ki, Lam Hi-jin dan Han Siaueng, yang menjadi korban Auwyang Hong, yang se-olah2 muncul dan be-ramai2 sedang menganjurkan padanya agar lekas turun tangan, Oleh karena itu, tidak bisa tahan lagi, dengan sekali geraman yang keras, dengan gerak tipu "Cin-ong-pian-sek" (raja Cin merangket batu), Tin-ok ayun tongkatnya menggepruk ke atas kepala orang.
Namun Auwyang Hong masih keburu berkelit, dan selagi ia hendak lontarkan hantaman balasan, tetapi apa daya?
Keinginan ada, tenaga kurang.
Baru tangannya terangkat atau napasnya sudah tak bisa menyambung lagi, keruan ia menjadi lemas hingga ngusruk jatuh.
Maka terdengarlah suara "bang"
Yang keras dibarengi dengan muncratnya lelatu api, ujung tongkat Kwa Tin-ok telah menghancurkan beberapa ubin hingga hancur.
Kwa Tin-ok tidak memberi kelonggaran pada lawannya, sekali serang tidak kena, serangan kedua segera menyusul pula, kini tongkatnya menyerampang dari samping, jika dalam keadaan biasa, serangan Kwa Tin-ok ini cukup Auwyang Hong sambut dengan sedikit senggol saja pasti akan bikin tongkat terpental dari cekalan atau paling tidak dapat pula menghindar dengan melompat ke atas.
Tetapi kini seluruh badan Auwyang Hong lemas linu, tenaga sedikitpun tak bisa dikeluarkan, terpaksa untuk kedua kalinya ia harus robohkan diri dengan menggelinding kesamping.
Dalam pada itu dengan cepat Kwa Tin-ok sudah mainkan ilmu tongkat "Hang-mo-tiang-hoat" (ilmu tongkat penakluk iblis), ia menyerang dengan hebat, satu serangan lebih cepat dari serangan yang lain, sebaliknya gerak-gerik Auwyang liong makin lama semakin lamban dan kaku, hingga akhirnya mau-tak-mau ia kena digebuk sekali dipundak kirinya.
Menyaksikan pertarungan ini, hati Nyo Ko menjadi ber-debar2, maksud hatinya hendak maju membantu sang ayah angkat, tetapi apa daya, ia mengerti ilmu silat sendiri terlalu cetek dan tidak tahan sekali digebuk musuh, kalau berani ikut2 maju, maka tiada bagian lain kecuali antar nyawa belaka, Tetapi ia saksikan tongkat Kwa Tin-ok susul menyusul kena menghantam di atas badan Auswyang Hong, ia menjadi ngeri pula.
Agaknya memang sudah nasib Auwyang Hong yang harus alami ajaran ini, untung dia bukan jago silat sembarangan ia punya tenaga dalam yang terlatih tinggi sekali, meski dalam keadaan tak mampu membalas, tetapi ia masih mampu mematahkan serangan orang, tiap2 tenaga gebukan yang Kwa Tin-ok lontarkan selalu dia singkirkan kesamping, meski tubuhnya kena dihajar hingga babak-belur, tetapi jerohannya tiada yang terluka.
Diam2 Kwa Tin-ok menjadi heran, dalani hati ia pikir "Lo-tok-but"
Atau Si-binatang tua berbisa (julukan Auwyang Hoag) ini sungguh bukan main lihaynya, tiap2 hantaman tongkatnya ternyata seperti mengenai kasur saja, hanya mengeluarkan suara ""bluk"
Yang keras, tetapi Auwyang Hong seperti tidak berasa saja, ia pikir kalau tidak hantam bagian kepalanya, meski seribu kali gebuk lagi belum tentu bisa mampuskan dia.
Tidak ayal lagi Kwa Tin-ok lantas ayun tongkatnya semakin cepat, kini yang dia incar hanya kepala orang.
Bermula Auwyang Hong masih bisa mengkeret kepalanya untuk menghindar beberapa kali serangan itu, tetapi sekejap kemudian ia sudah terkurung rapat dibawah samberan angin tongkat musuh yang selalu berkisar di tepi telinganya saja, keruan ia me-ngeluh, ia mengerti kalau sampai kepalanya kena di-kemplang, dapat dipastikan akan mati seketika.
Sementara itu ia lihat tongkat Kwa Tin-ok telah mengemplang lagi, dalam keadaan kepepet terpaksa Auwyang Hong harus ambil risiko dan adu untung bukannya hindarkan diri lagi, sebaliknya mendadak ia menubruk maju, dengan kencang ia berhasil jam-bret dada orang.
Tentu saja tidak kepalang kaget Kwa Tin-ok, dalam gugupnya ia sempat gunakan gagang tongkatnya menyodok ke punggung orang, Tentu saja hantaman ini tak bisa dihindarkan Auwyang Hong.
Terdengar suara tertahan, Auwyang Hong terkena hantaman itu mentah2, luar biasa sakit punggungnya hingga hampir2 ia kelengar.
Sebaliknya Kwa Tin-ok mengira hantamannya itu tak berguna sama sekali dan tidak mampu melukai lawan lagi, seketika ia menjadi habis akal, terpaksa dengan tangan kiri ia jambret orang.
Harus diketahui bahwa sebelah kaki Kwa Tin-ok memang pincang, ia bisa menubruk dan menyerang karena bantuan imbangan tongkatnya, kini karena tubuhnya kena dirangkul orang, maka setelah sekali dua kali gebrak, akhirnya tak sanggup lagi ia berdiri tegak dan jatuh terguling.
Namun belum mau Auwyang Hong lepaskan jambretan di dadanya, bahkan sebelah tangan yang lain ia hendak merangkul pinggang Kwa Tin-ok, tetapi tiba2 ia merasa tangannya menyentuh sesuatu benda keras, tidak ayal lagi ia cabut dengan cepat, waktu dia tegasi, kiranya adalah sebilah belati tajam.
Belati ini adalah senjata tinggalan Thio A Seng, salah satu saudara angkat Kwa Tin-ok, namanya 'To-gu-to"
Atau belati jagal sapi, meski namanya belati jagal, tetapi sebenarnya tidak pernah dibuat sembelih sapi, Belati ini luar biasa tajamnya, Karena Thio A Seng tewas di tangan Tan Lip-hong di daerah monggol dahulu, belati ini lantas jatuh di tangan Kwa Tin-ok dan selalu dibawanya seperti selalu berdampingan dengan saudara angkatnya yang sudah tewas itu.
Mengetahui belati ini kena direbut Auwyang Hong dan justru mereka dalam pergulatan secara mati-matian, keruan ia terkejut, lekas2 ia ayun kepalan kiri menjotos sebelum tikaman Auwyang sampai, karena jototan ini Auwyang Hong terpelanting jatuh, menjusul mana tongkatnya Kwa Tjn-ok segera menghantam pula.
Jotosan yang tepat kena pelipisnya itu membikin Auwyang Hong merasa matanya ber-kunang2, lekas2 ia ayun tangannya, ia timpukan belati itu kepada musuh.
Kwa Tin-ok masih keburu berkelit, maka terdengarlah suara "Trang"
Yang nyaring, kiranya belati itu dengan tepat mengenai genta raksasa yang berada di tengah ruangan kelenteng itu.
Meski sambitan Auwyang Hong itu tidak membawa tenaga keras, tetapi saking tajamnya belati itu tingga menancap masuk setengah senti di atas genta itu, gagang belatinya sampai ter-goyang2 tiada hentinya.
Waktu itu kebetulan Nyo Ko berdiri di samping genta, belati itu menyamber lewat hingga hampir2 pipinya keserempet, dalam kagetnya lekas2 anak muda ini memanjat ke atas kerangka genta dengan cepat.
Dipihak lain, tiba2 Auwyang Hong mendapat akal juga, ia mertgitar ke belakang genta yang tergantung itu.
Pada waktu itu suara genta yang menggema masih belum lenyap, Kwa Tin-ok hendak mendengarkan di mana Auwyang Hong bernapas, maka dengan miring kepala dan pasang kuping ia sedang mendengarkan secara teliti.
Di bawah sorotan sinar bulan, tertampaklah rambut orang tua yang kusut ini sedang mendengarkan sambil menunjang tongkat, sikapnya sangat menakutkan.
Nyo Ko memiliki otak sangat tajam, sesaat itu ia sudah dapat mengetahui sebab musababnya, maka sekuatnya cabut belati jagal sapi yang menancap tadi, lalu ia tabuh sekali lagi genta itu dengan keras, maka terdengarlah suara "trang"
Yang nyaring hingga suara pernapasan mereka berdua -Nyo Ko dan Auwyang Hong -tertutup hilang.
Ketika mendadak mendengar suara genta lagi, dengan cepat Kwa Tin-ok menubruk maju, namun Auwyang Hong sudah memutar pergi lagi ke belakang genta, ketika Kwa Tin-ok memukul dengan tongkatnya, tongkat itu mengenai genta hingga kembali suara "trang"
Yang lebih keras menggema sampai memekak telinga.
Suara keras yang susul-menyusul itu membikin anak telinga Nyo Ko se-akan2 hendak pecah, maka sesaat itu iapun tidak dengar suara lain, dalam pada itu Kwa Tin-ok telah mengamuk, dengan ayun tongkatnya ia hantam genta terus-menerus hingga suara genta semakin keras.
Melihat perbuatan orang, Auwyang Hong pikir tidak menguntungkan dirinya, bila Kwa Tin-ok mengetok genta terus, meski Kwe Ceng menderita luka, tetapi dikuatirkan Ui Yong akan menyusul datang buat membantunya.
Oleh karenanya, pada saat suara genta berbunyi hebat itu, secara berindap-indap pelahan ia bermaksud menggeluyur pergi melalui pintu belakang.
Siapa duga telinga Kwa Tin-ok memang tajam sekali, walaupun dalam menggemanya suara genta, masih bisa juga ia membedakan suara yang lain, begitu ia dengar suara menggeser tindakan Auwyang Hong, ia pura2 tidak tahu, ia masih ayun tongkatnya menabuh genta, ia menanti orang sudah bertindak pergi beberapa tindak dan sudah agak jauh meninggalkan genta, mendadak ia lantas melompat maju, ia ajun tongkatnya terus mengemplang kepala orang , Meski Auwyang Hong sudah kehilangan daya tahannya, tetapi selama hidupnya entah sudah mengalami berapa banyak badai dan tipumenipu diwaktu bertempur dengan sendirinya ia sudah ber-jaga2.
Ma-ka begitu melihat tubuh orang bergerak, segera ia tahu maksud Kwa Tin-ok, belum sampai tongkat orang mengemplang atau lebih dulu ia sudah sembunyi kembali ke belakang genta.
Keruan Kwa Tin-ok menjadi gusar.
"Biarpun aku tak bisa pukul mampus kau, pasti juga aku akan bikin kau mati letih !"
Demikian teriaknya murka, Habis ini dengan mengitar genta segera ia mengudak.
Nampak kedua orang itu berkejaran mengitari genta, Nyo Ko insaf apabila waktu ber-Iarut2, pasti Auwyang Hong akan kehabisan tenaga, sedang keadaan sudah sangat berbahaya.
Tiba2 ia mendapat satu akal, dari atas kerangka genta ia geraki kedua tangannya memberi isyarat.
Waktu itu Auwyang Hong sedang curahkan seluruh perhatiannya untuk menghindari udakan musuh, maka ia belum lihat kode orang, setelah mengitar dua kalangan lagi baru kemudian ia lihat bayangan Nyo Ko di lantai yang lagi memberikan tanda supaya dia menyingkir semula ia tidak mengerti apa maksud anak muda ini, tetapi ia pikir kalau Nyo Ko berani suruh aku menyingkir tentu ada maksud tujuannya, maka dengan menghadapi bahaya ia lantas bertindak keluar.
Sementara itu Kwa Tin-ok telah berhenti dan tidak bergerak untuk mem-beda2kan ke jurusan mana perginya musuh.
Saat itu juga diam2 Nyo Ko copot sepatunya, lalu ia lemparkan ke bagian belakang ruangan, maka terdengarlah suara "blak-bluk"
Dua kali, suara jatuhnya benda di lantai.
Tentu saja Kwa Tin-ok ter-heran2 dan menjadi bingung pula, sudah terang ia dengar Auwyang Hong jalan menuju ke pintu depan, tapi mengapa di bagian belakang ada suara orang lagi.
Dan justru pada saat yang meragukan itu, Nyo Ko cepat angkat belatinya terus memotong tali gantolan yang menggantung genta raksasa itu.
Gantolan genta itu sebenarnya cukup kuat, meski belatinya sangat tajam toh sekali potong tidak nanti bisa terputus, tetapi karena beratnya genta yang tergantung, hanya setengah saja tali gantolan itu terpotong sudah tidak tahan lagi bobot genta.
Tanpa ampun lagi, dengan membawa samberan angin santer genta itu menutup ke atas kepala Kwa Tin-ok yang tepat berdiri di bawahnya.
Hebat sekali daya menurunnya genta ini hingga sewaktu Kwa Tin-ok mendengar suara angin sudah tak keburu buat melompat pergi, dalam seribu kerepotannya tiba2 ia tegakkan tongkatnya, maka terdengarlah suara "trang"
Pula, dengan persis genta itu menindih di atas tongkat, karena tangkisan ini, pada kesempatan mana Tin-ok berhasil meloncat keluar dari bawah genta.
Apabila lompatannya ini sedikit kasip saja dapat dipastikan tubuhnya akan ter-tindih genta hingga hancur.
Dalam pada itu lantas terdengar suara "dung...
gerubyak...klontang"
Secara susul -menyusul.
Tongkat tadi telah patah menjadi dua, genta pun menggelinding ke samping hingga menyeruduk bokong Kwa Tin-ok hingga orang cacat ini terlempar keluar dari pintu kelenteng, bahkan masih terguling beberapa kali, darah mengucur pula dari hidungnya dan batok kepalanya benjut.
Kasihan Kwa Tin-ok yang matanya tak bisa melihat, ia tidak tahu mengapa dan sebab apa kejadian yang mendadak itu, ia kuatir jangan2 dalam kelenteng itu terdapat pula makhluk2 aneh lain yang mengacau maka sesudah merangkak bangun, dengan ter-pincang2 lekas ia bertindak pergi.
Menyaksikan kejadian ini, mau-tak-mau hati Auwyang Hong terkesiap juga, ber-ulang2 ia mengatakan.
"Sayang !"
"Baiklah, sekarang si buta ini tak berani datang lagi ayah,"
Demikian kata Nyo Ko dengan senang sesudah merangkak turun dai atas kerangka genta. Di luar dugaan, Auwyang Hong masih geleng2 kepala saja.
"Orang ini setinggi gunung dendamnya padaku, asal dia masih bisa bernapas, pasti dia akan datang mencari aku lagi,"
Katanya kemudian.
"Kalau begitu lekas kita berangkat pergi,"
Ujar Nyo Ko.
"Percuma,"
Sahut Auwyang Hong sambil geleng kepala pula.
"Lukaku terlalu parah, tidak bisa jauh kita lari."
"Lantas bagaimana baiknya ?"
Kata Nyo Ko menjadi kuatir.
"Ada satu akal,"
Sahut Auwyang Hong sesudah berpikir "Kau potong putus lagi gantolan genta yang lain itu, biar aku tertutup di dalamnya."
"Dan cara bagaimana ayah akan keluar ?"
Tanya Nyo Ko.
"Aku akan sekap diriku selama tujuh hari di bawah genta, sesudah pulih tenaga asliku, aku sendiri sanggup keluar dengan membuka genta itu,"
Kata Auwyang Hong.
"Dalam tujuh hari ini, sekali pun si buta itu datang mencari aku lagi, kalau hanya dengan sedikit kepandaiannya saja tidak mungkin mampu membuka genta sebesar ini."
Nyo Ko pikir baik juga akal itu, tetapi ia masih ragu2, ia tanya lagi apa betul Auwyang Hong sanggup membuka genta buat keluar sendiri, sesudah yakin benar2 barulah ia panjat ke atas lagi buat melakukan apa yang diminta Auwyang Hong.
"Kau holeh ikut pergi saja dengan manusia she Kwe itu, kelak aku akan mencari kau ke sana,"
Demikian Auwyang Hong berpesan.
Nyo Ko mengiakan pesan itu.
Dan sesudah Auwyang Hong duduk tepat di bawah genta, lalu ia potong gantolan genta pula hingga Auwyang Hong tertutup rapat di dalamnya.
Dari luar Nyo Ko memanggil beberapa kali, tetapi ia tidak mendapat sahutan, ia tahu di dalam genta tidak dengar suara dari luar, maka ia lantas ber-kemas2 buat pergi, Tetapi sebelum itu, tiba2 lahir pula satu akalnya, ia pergi ke ruang belakang dan mendapatkan sebuah mangkok rusak dan sebuah sikat bobrok, ia isi penuh mangkok itu dengan air jernih.
Setelah mangkok ditaruk di lantai, kemudian ia sendiri berjungkir sambil tangan kiri dimasukkan ke dalam mangkok yang berisi air itu.
Kiranya ia telah lakukan ilmu menolak hawa berbisa dalam tubuhnya menurut ajaran Auwyang Hong, ia desak keluar beberapa tetes darah beracun dari tangannya.
Ilmu ini sangat makan tenaga, sedang Nyo Ko baru mempelajari dasar2nya saja, meski dapat juga ia desak keluar beberapa tetes darah hitam, tidak urung ia sudah mandi keringat.
Kemudian dengan sikat yang tersedia itu ia celup air itu untuk semir sekitar genta, ia pikir kalau padri2 kelenteng ini kembali atau si buta she Kwa itu berani datang lagi dan bermaksud menyongkel genta ini, begitu tubuh mereka menyentuh genta-pasti mereka akan merasakan jahatnya racun ini.
Selesai ia atur tipu jebakannya, dengan langkah lebar Nyo Ko lantas pulang kepondoknya, Pada waktu melintasi pagar tembok untuk masuk kamar, dalam hati ia rada kuatir kalau2 kepergok Kwa Tin-ok.
siapa tahu sesudah dia masuk kamar, Kwa Tin-ok sendiri, malah belum kembali, ini sama sekali di luar dugaannya.
Setelah rebah dipembaringannya, Nyo Ko hanya gulang-guling saja tak bisa tidur, keadaan ini berlangsung terus sampai hari sudah terang, baru kemudian ia dengar ada suara ketokan pintu kamar dengan pentung.
Dengan cepat Nyo Ko melompat bangun buat buka pintu, maka tertampaklah olehnya dengan mencekal sebatang pentung kayu muka Kwa Tin-ok pucat lesi, begitu orang buta ini melangkah masuk segera terbanting jatuh di lantai.
Demi nampak kedua tangan Tin-ok berwarna hitam, Nyo Ko tahu jebakan beracun yang dia pasang di genta itu telah kena sasarannya, maka diam2 ia merasa girang, tetapi ia pura2 kaget dan ber-teriak2.
"He, Kwa-kongkong, kenapakah kau?"
Ketika mendengar suara teriakan Nyo Ko, Kwe Ceng dan Ui Yong lantas datang memeriksanya dan setelah tahu Kwa Tin-ok menggeletak di lantai, keruan mereka terkejut.
Waktu itu Kwe Ceng sudah bisa bebas bergerak, hanya tenaganya yang masih kurang, maka Ui Yong yang dukung Tin-ok ke tempat tidurnya.
"Toa-suhu, Toa-suhu, kenapakah kau?"
Demikian ber-ulang2 ia tanya.
Tetapi Tin-ok hanya menggeleng kepala saja, ia tidak menjawab juga tidak menerangkan.
Sesudah Ui Yong melihat bengkak hitam pada telapak orang tua itu, tahulah dia apa yang telah terjadi "Kurangajar, kembali perbuatan itu perempuan hina-dina she Li lagi Ceng-koko, biar aku pergi melabraknya,"
Katanya dengan gemas, ia menyangka itu adalah perbuatan Li Bok-chiu. Habis berkata, setelah bikin ringkas pakaiannya, segera Ui Yong melangkah keluar.
"Bukan perempuan itu!"
Tiba2 Tin-ok berseru. Tentu saja Ui Yong heran, ia berhenti dan menoleh.
"Bukan dia? Lalu siapa lagi?"
Tanyanya tak mengerti.
Akan tetapi Kwa Tin-ok tidak menjelaskan lebih lanjut, ia merasa malu karena tak mampu melayani seorang yang boleh dikata sudah tak punya tenaga, bahkan dirinya sendiri kena dikibuli sehingga pulang menderita luka, sungguh boleh dikatakan terlalu tak becus.
Karena itu, turuti wataknya yang keras kepala, maka ia bungkam saja.
Di lain pihak Kwe Ceng dan Ui Yong cukup kenal tabiat orang tua ini, kalau mau bilang, sejak tadi ia sendiri sudah menutur, kalau dia sudah tak mau cerita, makin ditanya hanya akan makin menambah kegusarannya.
Baiknya luka yang keracunan hanya kulit tangan saja dan tidak lihay, meski orangnya kelengar sesaat, tetapi kelak tidak menjadi halangan.
Sementara itu Ui Yong telah ambil keputusan di dalam hati, Kwe Ceng dan Kwa Tin-ok sudah terluka, sedang kekejian Li Bok-chiu susah diukur, terpaksa angkut kedua orang luka dan antar pulang dahulu kedua bocah ini ke Tho-hoa-to, kemudian ia sendiri akan mencari Li Bok-chiu lagi dan melabraknya.
Sesudah mengaso setengah hari, sorenya mereka lantas sewa sebuah perahu kecil buat berlayar ke muara laut, Dekat magrib, perahu membuang sauh dan tukang perahunya hendak menanak nasi, Didalam perahu itu, karena Nyo Ko masih tetap tak gubris padanya, Kwe Hu menjadi dongkol dan melengos pula, ia bersandar di jendela perahu untuk memandang ke daratan, tiba2 ia lihat di bawah pohon Lui yang rindang sana ada dua anak kecil sedang menangis dengan sedih sekali, tampaknya kedua anak ini justru Bu Tun-si dan Bu Siu-bun berdua saudara.
Terhadap kedua bocah ini rupanya Kwe Hu lebih cocok, maka segera ia berseru menegur.
"Hai, apa yang kalian lakukan di situ?"
"Kami sedang menangis, tidakkah kau melihat ?"
Sahut Bu Siu-bun setelah berpaling dan mengenali Kwe Hu.
"Sebab apakah? Kalian telah di hajar ibumu bukan ?"
Tanya Kwe Ha lagi.
"Tidak, ibu telah mati!"
Sahut Siu-bun dengan menangis guguk.
Jawaban ini membikin Ui Yong ikut terkejut dengan cepat ia melompat ke-gili2.
Betul saja ia lihat kedua bocah itu menangis dengan sedih sambil meratapi mayat ibu mereka.
Waktu Ui Yong memeriksanya, ia lihat muka Bu-sam-nio hitam hangus, tampaknya sudah lama putus napasnya terang mukanya yang kena ditowel Li Bok-chiu tempo hari dengan Jik-lian-sin-ciang, meski bisa tahan beberapa hari, tetapi akhirnya mati karena bekerjanya racun.
Kemudian Ui Yong bertanya di mana beradanya Bu Sam-thong.
"Entahlah, tak tahu kemana ayah pergi."
Sahut Bu Tun-si dengan masih menangis.
"Melihat ibu rneninggal, pikiran ayah tiba2 ling-lung lagi,"
Demikian Bu Siu-bun menambahkan.
"Meski kami memanggil dia, namun sama sekali dia tidak menggubris kami."
Hahis menutur, kembali bocah ini menangis terguguk pula.
"Kalian tentu sudah lapar bukan ?"
Tanya Ui Yong.
Kedua saudara Bu ini mengangguk.
Maka Ui Yong lantas perintahkan tukang perahu bawa kedua bocah ini ke dalam perahu dan diberi makan, ia sendiri lantas pergi ke kota yang terdekat buat membeli sebuah peti mati buat Bu-samnio.
Karena hari sudah petang, besok paginya baru dicarikan sebidang tanah untuk menguburnya.
Meski masih bocah, tetapi kedua saudara she Bu itu menangis sesambatan sambil meng-gabruk2 peti mati ibunya, sungguh rasanya mereka ingin ikut mangkat sekalian.
Saking harunya Kwe Ceng, Ui Yong dan Kwa Tin-ok ikut mengucurkan air mata, Nyo Ko yang berperasaan halus dan gampang tergoncang, meski sedikitpun dia tiada hubungan dengan Bu-samnio, tetapi melihat orang2 lain pada mengalirkan air mata, tanpa tahan iapun ikut menangis meng-gerung2.
Hanya Kwe Hu seorang saja yang tidak ikut menangis, Kesatu karena anak ini memang masih belum kenal adat kehidupan, kedua dia memang mempunyai hati yang keras, maka ia hanya duduk disamping memain sendiri dengan sapu tangannya.
"Yong-ji,"
Kata Kwe Ceng kemudian pada sang isteri sesudah puas menangis.
"marilah kita bawa serta kedua anak ini ke Tho-hoa-to, cuma selanjutnya kau harus lebih banyak perhatian buat merawatnya."
Ui Yong angguk2 tanda setuju, lalu mereka menghibur kedua saudara Bu itu dan Nyo Ko agar berhenti menangis, mereka lantas lanjutkan perahunya sampai di laut, dari sini mereka ganti perahu yang besaran untuk berlayar ke arah Timur, menuju ke Tho-hoa-to atau pulau bunga Tho.
Kalau sekarang Kwe Ceng dan Ui Yong mau pelihara anak2 piatu ini adalah karena kemauan baik mereka, siapa tahu berkumpulnya keempat bocah ini di suatu tempat, kelak menimbulkan mala-petaka yang sukar diakhiri.
Begitulah rombongan mereka akhirnya sampai di Tho-hoa-to dengan selamat.
Waktu masih di atas perahu Kwe Ceng telah menyembuhkan sendiri dengan Lwekangnya yang tinggi, maka lukanya sebagian besar sudah sembuh, kini dirawat pula beberapa hari di atas pulau, maka keadaannya sudah pulih kembali seperti sediakala.
Ketika mereka suami isteri percakapkan diri Auwyang Hong yang sudah belasan tahun tak berjumpa, bukan saja tidak nampak loyo dan mundur ilmu silatnya, bahkan melebihi masa yang lalu, maka mereka menjadi heran dan ber-ulang2 menghela napas.
Berbicara tentang asal-usul diri Nyo Ko, segera Kwe Ceng keluar melihat bocah itu, ia lihat anak muda ini sedang bermain dengan puteri kesayangannya dan lagi mencari jangkerik di semak2 rumput, dia panggil anak muda itu dan diajak ke dalam kamar, ia tanya semua kejadian yang lalu padanya.
Kiranya selama itu Nyo Ko hidup berdampingan dengan ibunya, Cin Lam-khim dan tinggal di kaki bukit Tiang-nia di propinsi Kangsay, mereka hidup dari menangkap ular hingga lewat belasan tahun.
Selama itu pelahan2 Nyo Ko tumbuh besar juga, ibunya Cin Lam-khim, telah turunkan dasar2 Lwekang yang dahulu diperolehnya dari Kwe Ceng kepada puteranya ini.
Dasar Nyo Ko memang sangat pintar dan otaknya encer, serta banyak pula tipu akalnya, ketika berumur tujuh atau delapan tahun, kepandaiannya menangkap ular sudah melampaui sang ibu.
Pernah ia dengar cerita ibunya bahwa di jagat ini ada orang yang bisa mengerahkan ular hingga berwujut barisan, dalam hatinya diam2 ia sangat kagum dan ketarik, maka diwaktu senggang ia suka tangkap beberapa ekor ular hijau untuk memain dan dipelihara, lama kelamaan, dia paham betul watak ular, bila ia bersuit sekali, kawanan ular lantas menurut perintah dan berbaris sendiri.
Perlu diterangkan bahwa Auwyang Hong yang berjuluk Se-tok diperoleh dari keahliannya memelihara segala macam binatang berbisa terutama ular2 yang berbisa jahat, ia tinggal di gunung Pek-to-san (gunung Ohta putih) di daerah barat, banyak dia pelihara lelaki tukang angon ular, tetapi cara angon ular kaum Pek-to-san ini adalah turun temurun, sedangkan Nyo Ko mendapatkan kepandaian ini dari bakatnya sendiri, meski cara-nya berlainan, tetapi dasarnya sebenarnya sama.
Belakangan karena kurang hati2 ibu Nyo Ko telah dipagut oleh semacam ular aneh, obat pemunah racun yang selalu dibawanya ternyata tak mempan mengobati pagutan itu hingga mengakibatkan kematiannya.
Habis itu Nyo Ko menjadi sebatang-kara, seorang diri ia ter-lunta di Kangouw, kawan satu2nya yang selalu berdampingan dengan dia boleh dikatakan melulu burung merah yang bercucuk panjang itu, siapa duga hari itu kebentur Li Bok-chiu hingga burung merah itu terbinasa ditangannya.
Hendaklah diketahui bahwa burung merah bercucuk panjang itu dahulunya adalah piaraan Ui lcong, kini demi mendengar burung itu terbinasa, berulang-ulang Kwe Ceng menyatakan sayang, rasa gemasnya pada Li Bok-chiu menjadi bertambah juga.
Kemudian ia tanya Nyo Ko pula di mana anak ini berada ketika Bu Sam-thong bergebrak dengan Auwyang Hong, ia tanya pula apa Nyo Ko kenal dengan Auwyang Hong, Namun Nyo Ko sama sekali tidak memperlihatkan sesuatu tanda, bahkan ia berbalik tanya siapakah Auwyang Hong?
ini adalah akalnya Nyo Ko yang sengaja mendahului tanya supaya urusan ini bisa dia cuci bersih.
Tak terduga, Ui Yong adalah wanita terpandai dan cerdik dijagat ini dengan usia Nyo Ko yang masih muda dan meski air mukanya tidak unjuk sesuatu tanda, tetapi hendak mengelabui Ui Yong, itulah tidak gampang baginya.
"Baiklah, boleh kau pergi bermain dengan kedua saudara Bu,"
Kata Ui Yong kemudian, ia tidak ingin tanya lebih lanjut.
Jika di antara Ui Yong dan Nyo Ko diam2 telah adu kecerdasan maka Kwe Ceng yang berpembawaan sederhana otaknya sama sekali tidak mengetahuinya, ia tunggu sesudah Nyo Ko keluar, barulah ia berkata pada sang isteri.
"Yong-ji", demikian katanya.
"Sudah lama aku punya satu janji dalam hati, tentunya kau mengetahui, kini berkat kemurahan Thian bisa bertemu dengan anak Ko, maka janji hatiku dapatlah terlaksana."
Hendaklah diketahui bahwa mendiang ayah Kwe Ceng, Kwe Siau-thian, adalah saudara angkat Engkongnya Nyo Ko yang bernama Nyo Thi-sim.
Di waktu isteri kedua keluarga ini sama2 duduk perut, mereka berdua telah saling janji bahwa bila kelak yang dilahirkan itu adalah laki2 semua, maka mereka harus menjadi saudara angkat lagi, begitu pula kalau sama2 perempuan.
Tetapi kalau satu laki2 dan yang lain perempuan maka mereka harus menjadi suami-isteri.
Belakangan yang dilahirkan ternyata adalah laki2 semua, yakni Kwe Ceng dan Nyo Khong, ayah Nyo Ko, maka mereka mentaati sumpah itu dan bersaudara angkat.
Tetapi karena Nyo Khong telah khianat dan mengaku musuh sebagai bapak hingga nasibnya berakhir dengan mengenaskan ia tewas secara menyedihkan di suatu kelenteng di kota Ka-hin.
Mengingat akan hubungan orang tua itulah, maka Kwe Ceng tidak pernah melupakannya.
Kini ia berkata, segera pula Ui Yong tahu akan maksud suaminya.
"Tidak, aku tidak setuju,"
Demikian ia menjawab dengan menggeleng kepala. Keruan Kwe Ceng menjadi heran.
"Kenapa ?"
Tanyanya.
"Mana boleh anak Hu dapatkan jodoh bocah seperti dia ini,"
Sahut Ui Yong.
"Meski kelakuan ayahnya tidak baik, tetapi mengingat keluarga Kwe kita dengan keluarga Nyo yang turun temurun berhubungan dengan baik, asal kita mengajar dia dengan baik, menurut pendapatku, jika melihat tampangnya yang cakap dan tindak-tanduknya yang cerdik, kelak bukan tidak mungkin akan di atas orang lain,"
Ujar Kwe Ceng.
"Ya, justru aku kuatir dia terlalu pintar,"
Kata Ui Yong lagi.
"He, aneh, bukankah kau sendiri sangat pintar, kenapa kau malah cela orang pintar ?"
Sahut Kwe Ceng.
"Tetapi aku justru lebih menyukai Engkoh tolol seperti kau ini,"
Kata Ui Yong dengan tertawa.
"Tetapi kalau anak Hu sudah besar, belum tentu serupa dengan kau,"
Ujar Kwe Ceng ikut tertawa.
"kukira dia tidak menyukai seorang anak tolol. Lagi pula, orang tolol seperti aku ini, di jagat ini agaknya sukar dicari keduanya lagi."
"Waduh, tidak malu!"
Demikian Ui Yong meng-olok2. Begitulah sesudah bersenda-gurau, lalu Kwe Ceng mengulangi lagi pada maksudnya tadi.
"Ayahku pernah meninggalkan pesan, begitu pula sebelum mangkat paman Nyo Thi-sun juga pernah pesan wanti2 padaku, maka sekarang kalau aku tidak pandang anak Ko seperti anak sendiri, mana bisa aku menghadapi ayah dan paman Nyo dialam baka."
Habis berkata Kwe Ceng menghela napas panjang yang penuh mengandung rasa haru dan menyesal "Baiknya kedua bocah masih kecil, urusan inipun tidak perlu buru2 diselesaikan,"
Ujar Ui Yong kemudian dengan suara lunak.
"Kelak apabila betul Ko-ji tidak jelek kelakuannya, bagaimana kau suka boleh diputuskan sendiri."
Mendengar jawaban ini, tiba2 Kwe Ceng berdiri dan membungkuk memberi hormat pada sang isteri.
"Terima kasih Niocu (isteriku) telah setuju, sungguh tak terhingga rasa syukurku,"
Demikian ia berkata.
"Aku tidak bilang setuju,"
Tiba2 Ui Yong menjawab dengan sungguh2.
"Tetapi aku bilang harus melihat dahulu bagaimana kelakuan anak itu kelak."
Saat itu Kwe Ceng membungkuk dan belum tegak kembali, ketika dengar jawaban isterinya ini, ia melongo. Tetapi menyusul segera ia bilang lagi.
"Ayahnya berubah menjadi busuk karena sejak kecil ia dibesarkan dalam keraton negeri Kim, tetapi sekarang Ko-ji tinggal dipulau kita, tak mungkin ia berubah menjadi jelek, janganlah kau kuatir."
Maka tertawalah Ui Yong, segera ia alihkan pembicaraan ke urusan lain.
Kembali pada diri Nyo Ko yang tadi sedang mencari jangkerik bersama Kwe Hu.
Tatkala kedua bocah ini mulai berkenalan memang terjadi perselisihan paham, tetapi dasar watak kanak2, lewat beberapa hari saja perselisihan paham itu sudah terlupa semua maka sesudah Nyo Ko dipanggil Kwe Ceng, sekembalinya dia lantas mencari Kwe Hu lagi.
Tetapi pada waktu hampir sampai di-semak2 tadi, ia dengar suara tertawa ngikik yang ramai, kiranya kedua saudara Bu sedang berjongkok dan lagi bongkar batu dan singkap rumput untuk mencari jengkerik juga.
Setelah Nyo Ko mendekati, ia lihat tangan Bu Tun-si memegangi sebuah bumbung bambu, sedang Kwe Hu membawa sebuah belanga, Bu Siu-bun sendiri lagi membongkar dan membalik batu.
Dalam pada itu, tiba2 seekor jangkerik besar meloncat keluar dari tempat sembunyinya, lekas2 Siu-bun menubruk dan menangkapnya, maka bersoraklah dia kegirangan.
"Berikan padaku! Berikan padaku!"
Demikian Kwe Hu ber-teriak2.
"Baiklah, buat kau,"
Kata Siu-bun sambil membuka tutup belanga yang dipegang Kwe Hu dan memasukkannya ke dalam.
Ia lihat jangkerik yang baru ditangkap itu kepalanya bundar besar, kakinya panjang kuat, tubuhnya bulat dan gagah sekali.
"Ha, jangkerik ini pasti jagoan yang tiada tandingannya."
Demikian Bu Siu-bun berkata.
"Nyo-koko, semua jangkerikmu pasti tidak bisa menangkan dia."
Tentu saja Nyo Ko tidak mau menyerah, segera ia pilih satu di antara jangkerik tangkapannya yang paling besar dan paling berangasan untuk diadu.
Akan tetapi baru sekali gebrag saja, jangkerik Nyo Ko telah kena digigit jangkrik besar tadi dibagian tengah pinggang terus dilempar keluar dari belanga, atas kemenangan ini jangkerik itu lantas berbunyi "krik-krik"
Dengan senang sekali.
"Hura, aku punya yang menang", demikian Kwe Hu kegirangan sambil bertepuk tangan.
"Jangan senang2 dulu, ini masih ada yang lain,"
Kata Nyo Ko.
Lalu ia ajukan jagonya yang lain lagi.
Diluar dugaan, meski be-runtun2 tiga kali ia tukar jangkeriknya, tiap2 kali selalu dikalahkan jangkerik orang, bahkan jagonya yang ketiga malahan kena digigit jangkerik musuh yang besar itu hingga terkutung menjadi dua.
Dengan sendirinya Nyo Ko merasa kehilangan muka.
"Sudahlah, tidak mau lagi!"
Katanya terus bertindak pergi. Pada saat itu juga, tiba2 diantara semak2 rumput di belakang sana terdengar ada suara "krok-krok"
Yang aneh.
"Ha, ada satu lagi,"
Seru Bu Tun-si. Habis ini ia lantas singkap rumput yang lebat itu, di luar dugaan mendadak ia mencelat mundur sambil berteriak kaget.
"He ular, ada ular!"
Mendengar kata "ular" , Nyo Ko yang sudah melangkah pergi seketika berhenti, bahkan ia putar kembali buat melihatnya, Betul saja ia lihat disitu ada seekor ular belang-bonteng yang jelas kelihatan jenis ular berbisa, sedang melelet lidah dan tegak kepala sambil menyembur, hanya badannya yang masih meringkuk diantara semak2 rumput itu.
Sejak kecil Nyo Ko sudah tergolong ahli tangkap ular, sudah tentu ia tidak pandang sebelah mata pada binatang ini, segera ia maju dan begitu ulur tangannya, seketika leher ular dia tangkap terus dibanting ke atas batu dengan kuat, tanpa ampun lagi ular itu terbanting mati.
Diluar dugaan, tempat dimana ular tadi meringkuk ternyata ada lagi seekor jangkrik hitam kecil, rupanya aneh dan jelek, tapi sedang geraki sayapnya dan mengeluarkan suara "krik-krik"
Yang nyaring.
"Nah, tangkaplah setan hitam kecil itu saja, Nyo-koko" , dengan tertawa Kwe Hu mengejek Nyo Ko yang kalah beberapa kali tadi. Watak Nyo Ko justru paling tidak senang kalau dihina orang.
"Baik, tangkap ya tangkap,"
Sahutnya ketus.
Segera jangkerik hitam kecil itu ditangkapnya terus di lepaskan ke dalam belanga yang dipegang Kwe Hu.
Sungguh aneh bin ajaib, jangkrik yang besar tadi begitu melihat jangkrik hitam kecil ini seketika mengunjuk rasa jeri, bahkan terus mundur2 dan hendak lari.
Namun Kwe Hu dan kedua saudara Bu masih ber-teriak2 untuk membangkitkan semangat jagonya.
Sementara itu jangkrik hitam kecil itu telah melompat maju dengan tegang leher, sebaliknya jangkrik yang besar ternyata tak berani menyambut tantangan itu dan bermaksud melompat keluar dari tempurung, tak terduga gerak-gerik jangkrik hitam ternyata sebat dan aneh luar biasa, ia melompat maju dan gigit ekor jangkrik besar tadi, dengan kuat dia kunyah sekali, tahu2 jangkrik besar itu berkelejetan beberapa kali terus terbalik dan mati.
Kiranya diantara jangkrik itu terdapat semacam jangkrik yang suka tinggal bersama dengan binatang berbisa lain, kalau tinggal bersama kelabang disebut "jangkrik kelabang", kalau tinggal bersama ular disebut "jangkrik ular".
Oleh karenanya tubuh mereka terjalar hawa berbisa dari binatang yang tinggal bersama dia itu, maka jenis biasa tidak sanggup melawannya.
Jangkrik yang ditangkap Nyo ko tadi justru adalah seekor jangkrik ular.
Dilain pihak, sesudah Kwe Hu melihat jangkrik besarnya mati, ia menjadi kurang senang.
"Nyo-koko, kau punya setan hitam kecil ini berikan padaku saja,"
Katanya kemudian sesudah berpikir.
"Berikan padamu sebenarnya tidak menjadi soal, tapi kenapa kau memaki dia sebagai setan hitam kecil ?"
Sahut Nyo Ko. Kwe Hu menjadi jengkel oleh jawaban ini.
"Tak mau beri ya sudah, siapa kepingin ?"
Katanya dengan mulut menjengkit, Berbareng itu ia tuang belanganya dan banting jangkrik hitam kecil itu ke tanah, bahkan ia injak pula dengan kakinya hingga binatang kecil itu mecotot perutnya.
Nampak jangkriknya diinjak mati, Nyo Ko terkejut tercampur gusar, perasaan halus pemuda ini paling gampang tertusuk, seketika itu ia naik darah hingga mukanya merah padam, tanpa pikir lagi ia baliki telapak tangannya terus menampar pipi Kwe Hu.
Pukulan ini cukup keras hingga Kwe Hu merasa pipinya panas pedas, ia terlongong sesaat dan belum mengambil putusan apa harus menangis atau tidak, tiba2 ia dengar Bu Siu-bun sudah mendamperat.
"Kau berani pukul orang !"
Bentak anak itu, Berbareng ia lantas menjotos ke dada Nyo Ko.
Karena terlahir dalam keluarga jago silat, pula sejak kecil ia sudah peroleh ajaran dari ibunya sendiri, maka ilmu silat Siu-bun sudah mempunyai dasar yang kuat, jotosannya tadi dengan tepat kena sasarannya.
Dengan sendirinya Nyo Ko menjadi gusar, kontan ia balas meninju, Tetapi Siu-bun sempat berkelit hingga pukulannya luput Nyo Ko masih penasaran, ia mengudak maju terus menubruk dan menghantam pula.
Diluar dugaannya, se-konyong2 Bu Tun-si ulur kakinya men-jegal hingga Nyo Ko mencium tanah, ia jatuh ngusruk ke depan.
Kesempatan ini segera digunakan kedua saudara Bu itu dengan baik, dengan cepat Bu Siuhun menunggangi tubuh Nyo Ko, Bu Tun-si pun ikut maju dan menahan bokongnya dengan kencang, menyusul empat kepalan mereka terus menghujani tubuh Nyo Ko dengan gebukan2.
Sungguhpun usia Nyo Ko lebih tua dari kedua saudara Bu itu, tetapi karena satu lawan dua, pula Siu-hun dan Tun-si sudah pernah berlatih silat sebaliknya Nyo Ko hanya belajar sedikit dasar lwe-kang saja dari ibunya dan belum terlatih sempurna, dengan sendirinya ia bukan tandingan kedua lawan ciliknya.
Namun demikian, ia tidak menyerah mentah2, ia kertak gigi menahan sakit pukulan orang, sedikitpun ia tidak merintih.
"Lekas minta ampun, kami lantas lepaskan kau,"
Kata Bu Tun-si.
"Kentut !"
Sahut Nyo Ko dengan gusar.
Karena itu, susul-menyusul Bu Siu-hun menggebuk lagi dua kali di punggungnya.
Melihat kedua saudara Bu itu membela dirinya dan hajar Nyo Ko, Kwe Hu merasa senang sekali.
Siu-bun dan Tun-si juga cukup cerdik, mereka tahu kalau hantam orang di bagian kepala atau muka tentu akan meninggalkan bekas babak-belur, nanti kalau dilihat Kwe Ceng dan Ui Yong pasti akan didamperat, oleh karena itu kepalan dan kaki mereka selalu mengarah di atas badan Nyo Ko.
Dalam pada itu melihat makin hebat gebukan yang menghujani Nyo Ko itu, akhirnya Kwe Hu sendiri rada takut dan meresa ngeri, tetapi bila ia meraba pipi sendiri yang masih terasa sakit pedas, segera pula ia merasa belum puas hajaran itu.
"Hantam dia, hantam yang keras !"
Demikian dia ber-teriak2 pula.
Mendengar seruan Kwe Hu, benar juga Tun-si dan Siu-bun kerjakan kepalan mereka semakin cepat dan menjotos lebih ganas lagi.
Sudah tentu seruan Kwe Hu tadi didengar juga oleh Nyo Ko yang kena ditindih di atas tanah.
"Kau si budak ini sungguh kejam, kelak aku Nyo Ko pasti membalas "sakit hati ini,"
Demikian katanya dalam hati.
Tetapi segera ia merasakan pinggang, punggung dan bagian bokong tidak kepalang sakitnya, pelahan2 ia mulai tidak tahan.
Harus diketahui meski kecil, tapi kedua saudara Bu sudah berlatih silat sejak kecil, kalau mereka menjotos, meski orang tua sekalipun tak akan tahan, kalau bukan Nyo Ko yang sudah mempunyai dasar2 wekang tentu sejak tadi ia sudah semaput.
Dalam keadaan terpaksa Nyo Ko mengertak gigi menahan sakit sekuatnya, tiba2 pandangannya menjadi gelap, kedua tangannya meraba dan me-raup2 serakutan di atas tanah, mendadak pula sebelah tangannya menyentuh sesuatu benda yang licin dingin, seketika pikirannya tergerak, ia tahu itu adalah bangkai ular Berbisa tadi yang dia banting mati itu, tanpa ayal lagi segera ia cekal terus disabetkan ke belakang.
Nampak ular yang sudah mati dengan kulitnya yang belang-bonteng, kedua saudara Bu menjadi kaget dan menjerit ngeri.
Kesempatan mana segera digunakan Nyo Ko dengan baik, sekali membalik ia telah berdiri kembali, menyusul ia putar tinjunya terus manghantam, tepat sekali hidung Bu Tun-si kena dia genjot hingga keluar kecapnya, Habis ini, segera Nyo Ko angkat kaki dan lari ke belakang pulau sana.
Sudah tentu kedua saudara Bu menjadi gusar, segera mereka mengudak.
Kwe Hu memang suka dengan keonaran, iapun ingin tahu lanjutannya, maka ia menyusul dari belakang, bahkan tiada hentinya ia ber-teriak2 .
"Tangkap, tangkap dia !"
Sesudah ber-lari2, ketika ketika Nyo Ko menoleh, ia lihat muka Tun-si penuh darah, baju bagian dada lebih2 nyata lagi dengan bekas2 darah yang mengucur itu hingga rupanya sangat beringas sekali kelihatannya.
Nyo Ko insaf bila sampai dirinya kena ditangkap kedua saudara Bu lagi, maka pukulan2 yang bakal ia terima pasti akan jauh lebih lihay daripada tadi, oleh karenanya ia berlari semakin cepat, ia lari menuju tebing gunung dan memanjat ke atas.
Sesungguhnya meski hidung Bu Tun-si kena di-jotos, tetapi tidak begitu sakit, cuma demi melihat darah mengucur, ia menjadi panik dan gusar pula, maka ia menguber semakin kencang.
Makin lama makin tinggi Nyo Ko panjat ke atas, tapi sedikitpun kedua saudara Bu belum mau berhenti mengejar.
Sedang Kwe Hu sesudah sampai di tengah tebing gunung itu lantas berhenti, dari sini ia mengikuti orang udak2an dengan mendongak saja.
Dalanm pada itu Nyo Ko telah sampai di tempat buntu, di depannya adalah tebing curam dan tiada jalan lalu lagi buat lari terus, Pemuda ini mempunyai kecenderungan pikiran yang nekat, dalam keadaan kepepet ia pikir .
"Hm, sekalipun aku harus mati terjun ke dalam jurang, tidak nanti aku rela ditangkap kedua bocah itu untuk dihina mentah2."
Karena pikiran itulah, maka ia lantas putar balik dan membentak.
"Hayo berhenti, jika berani mengejar setapak lagi, segera aku terjun ke bawah !"
Gertakan ini bikin Bu Tun-si rada terkejut juga anak ini tertegun sejenak, berlainan dengan adiknya, Bu Siu-bun, bocah ini malah menantang akan!
"Hm, kalau mau terjun lekas terjun saja, siapa kena kau gertak ?"
Demikian ia mengejek, berkata ia mendesak maju lagi beberapa tindak.
Melihat ini, seketika Nyo Ko naik darah dan timbul pikiran pemdek, mendadak ia berjongkok hendak terjun ke dalam jurang, syukur sebelum itu sekilas terlihat olehnya di samping terdapat sebuah batu besar dan letaknya miring.
Dalam keadaan gusar, Nyo Ko sudah tidak memikirkan akibat2nya lagi segera ia dorong batu besar itu yang memang kelihatan miring, betul juga ia merasakan batu besar ini ber-goyang2, segera ia melompat mundar ke belakang batu, sekuatnya ia dorong, maka terdengarlah suara gemuruh hebat memecah angkasa, batu besar itu menggelinding ke bawah bukit dengan cepat luar biasa, batu, kedua saudara Bu menyadari juga gelagat jelek.
Di lain pihak demi melihat Nyo Ko mendorong muka mereka menjadi pucat, segera akan menyingkir namun sudah kasip, dengan mata terbelalak mereka lihat pasir berhamburan dari atas kepala, seketika mereka tidak tahu apa yang harus diperbuat.
Dalam detik yang sangat berbahaya itu, mendadak mereka merasa punggung mereka se-akan2 ditarik, tahu2 tubuh mereka mumbul ke udara, menyusul mana terdengarlah suara kaokan burung rajawali tubuh mereka sudah dibawa terbang melintasi bukit.
Kiranya sepasang burung rajawali itu lagi terbang memain di atas udara, menggelindingnya batu besar tadi telah dilihat mereka, syukurlah dengan cepat kedua burung ini masih sempat menolong jiwa Tun-si dan Siu-bun.
Sementara batu besar tadi dengan menerbitkan suara gemuruh keras, tidak sedikit pepohonan telah diterjangnya hingga akhirnya menggelinding masuk kelaut.
Ui Yong mendengar juga suara kaokan rajawali yang menandakan rasa kuatir tadi disusul pula suara gemuruh yang aneh, maka lekas2 ia berlari keluar dari rumah, tertampak olehnya debu pasir berhamburan puterinya kelihatan bersembunyi di semak2 pinggir gunung, dalam takutnya sampai anak perempuan ini tak sanggup mengeluarkan suara tangisan.
Dalam pada itu kedua burung rajawali yang mencengkeram kedua saudara Bu dengan pelahan kemudian turun kehadapan Ui Yong sambil tegang leher dan pentang sayap, kedua burung ini seperti lagi unjuk jasa mereka dihadapan sang majikan.
Dengan aleman Kwe Hu menjatuhkan diri ke dalam pangkuan sang ibu, lalu menangis ter-sedu2, sesudah menangis sejenak, kemudian baru ia ceritakan cara bagaimana ia telah dipukul Nyo Ko.
ia ceritakan juga bagaimana kedua saudara Bu telah membela dirinya dan Nyo Ko telah mendorong batu besar itu hendak menggilas mati kedua bocah itu.
Demikianlah ia tumplekkan semua kesalahan pada Nyo Ko, tetapi ia sendiri menginjak mati jangkerik orang dan cara bagaimana kedua saudara Bu memukul Nyo Ko, semua ini dia tutup dan tidak dituturkan Sehabis mendengar, Ui Yong kelihatan termangu2, ia tidak bersuara.
Dalam pada itu Kwe Ceng sudah menyusul datang juga, waktu ia lihat muka dan baju Tun-si berlepotan darah, ia kaget ia tanya sebab-musababnya, dalam hati iapun merasa marah.
Tetapi ia kuatir pula terjadi sesuatu atas diri Nyo Ko, maka lekas2 ia lari ke atas bukit buat mencarinya.
Akan tetapi meski ia sudah mencari kian kemari, dari depan sampai belakang bukit ternyata sama sekali tidak nampak bayangan bocah itu.
"Ko-ji, Ko-ji!"
Ia berteriak, Namun tetap tidak ada suara sahutan.
Teriakannya ini dia lakukan dengan keras dan di atas bukit, dalam lingkaran seluas belasan li pasti dengar akan suaranya, tetapi aneh, tetap Nyo Ko tidak kelihatan.
Sesudah menunggu lagi dan tetap masih belum berhasil, Kwe Ceng menjadi makin kuatir, segera ia dayung sebuah perahu kecil mengelilingi pulau buat mencari, tetapi sampai petang masih belum juga diketemukan jejak Nyo Ko.
Kiranya sehabis dorong batu pegunungan yang besar itu dan menyaksikan pula kedua rajawali berhasil menolong kedua saudara Bu, dari jauh Nyo Ko melihat pula Ui Yong keluar dari rumah, ia tahu sekali ini dirinya pasti akan didamperat habis2an, oleh karena itu ia lantas sembunyi di sela2 batu cadas yang besar dan tak berani keluar, ia dengar juga suara panggilan Kwe Ceng, namun ia tak berani menyahut.
Begitulah dengan menahan lapar Nyo Ko sembunyi di antara sela2 batu cadas, ia tak berani sembarang bergerak, ia lihat cuaca mulai remang2 hingga akhirnya menjadi gelap.
Selang tak lama, kerlipan bintang2 di langit diiringi pula hembusan angin laut yang silir semilir, Nyo Ko merasakan badannya rada menggigil.
Ia keluar dari tempat sembunyinya dan memandang ke bawah, ia lihat rumah yang terbangun bagus dibawah sana sudah ada sinar lampu, ia membayangkan saat itu tentunya Kwe Ceng dan Ui Yong suami isteri, Kwe Hu dan kedua saudara Bu sedang mengitari meja dan bersantap, terbayang pula olehnya diatas nnya yang penuh dengan lauk-pauk, daging ayam, itik dan lain2 yang enak2, tanpa terasa ia menelan liur beberapa kali.
Akan tetapi segera terpikir pula olehnya pasti mereka sedang mencaci maki habis2an padanya, teringat akan ini, tanpa tertahan Nyo Ko meluap juga amarahnya.
Bocah berusia sekecil dia ini, dalam malam gelap yang diselingi tiupan angin laut berdiri di atas bukit karang, dalam hatinya yang dipikir adalah nasibnya jing selalu dihina orang saja, maka terasalah olehnya se-akan2 setiap manusia di bumi ini semuanya memandang rendah padanya, perasaannya seketika bergolak, ia merasakan getirnya seorang anak piatu dan sesalkan akan nasib sendiri.
Padahal apa yang Nyo Ko bayangkan ini sebenarnya salah sama sekali justru karena tidak ketemukan Nyo Ko, Kwe Ceng tak bisa bersantap dengan hati tenteram ?
Nampak suaminya merasa kesal, Ui Yong tahu percuma saja meski dia menghiburnya, maka iapun tidak jadi makan sendirian melainkan terus kawani sang suami duduk terdiam saja menghadap meja.
Begitulah suami-isteri itu tidak bisa tidur semalaman, Besok paginya, belum terang tanah kedua orang sudah lantas keluar buat mencari Nyo Ko lagi.
Dilain pihak sesudah Nyo Ko menderita lapar sehari semalam, besoknya pagi2 sekali bocah ini sudah tak tahan lagi, ia mengeluyur turun, ditepi sungai ia berhasil menangkap beberapa ekor Swike atau kodok hijau, ia beset kulitnya dan kumpulkan kayu kering, ia bermaksud akan makan kodok panggang, ia sudah biasa bergelandangan maka cara makan sedemikian ini sudah biasa dilakukannya.
Tetapi karena kuatir asap apinya dilihat Kwe Ceng, maka ia membakar kayu kering itu di dalam sebuah gua, selesai paha kodok yang dia panggang segera ia sirapkan api terus menggerogoti kodok itu dengan lahap, mungkin saking laparnya, ia merasakan lezat dan nikmat sekali Swike panggang itu.
Selagi ia mengunyah daging kodoknya dengan penuh cita rasa, tiba2 ia dengar ada suara kresekan di luar gua dan disusul dengan suara yang mendesis, ia kenali itu adalah suara merayap dan menyemburnya sebangsa ular.
Sambil masih menggerogoti paha kodoknya, segera Nyo Ko jalan ke mulut gua, betul saja di sana ia lihat ada seekor katak sedang menghadapi seekor ular kembang yang panjangnya hampir tiga kaki, kedua binatang ini sedang saling pandang tanpa bergerak, Selang tak lama, mendadak ular kembang itu melonjak terus terjang katak itu.
Namun katak itu sudah siap sedia, tiba2 terdengar suara "kok-kok"
Dua kali, katak ini mengap mulutnya dan menyemburkan uap yang tipis, berbareng ini tubuhnya berkelit sedikit untuk hindarkan tubrukan ular tadi.
Karena kena uap berbisa yang disemburkan katak tadi, ular kembang itu lantas berjumpalitan terus jatuh terjungkal ke tanah, habis ini segera ular itu melingkar dan tegak kepala menghadapi lawannya pula.
Nyo Ko jadi ketarik oleh pertarungan katak lawan ular ini, ia pikir tubuh katak kasar dan berat, pula tidak punya gigi, akan tetapi ternyata berani bertarung melawan seekor ular yang tidak terbilang kecil itu, sungguh harus dibuat heran.
Ia lihat kedua binatang itu masih saling gebrak dengan ramainya, tiap2 kali ular kembang itu menyerang dan menubruk, pasti si katak ada jalan buat batas menyerang, Kalau yang menyerang aneka macam gaya perubahannya, maka yang bertahan pun banyak sekali tipu akalnya untuk menjaga diri.
Meski gigi ular kembang itu sangat tajam, namun tetap tak dapat mengalahkan si katak.
Tak lama lagi, karena ber-ulang2 kena disembur uap berbisa si katak, gerak-gerik ular kembang itu mulai lamban dan kaku, makin lama malah makin terdesak di bawah angin, sampai akhirnya rupanya insaf bukan tandingan lawannya lagi, mendadak ular itu putar tubuh terus menyelinap masuk ke dalam semak.
Katak itu ternyata tidak membiarkan musuhnya lari begitu saja, sambil mengeluarkan suara "kok-kok-kok", segera ia menguber.
Melihat gerak-gerik katak itu dan mendengar suaranya, hati Nyo Ko tergerak, ia merasa gerak-gerik katak ini meski sangat aneh, tetapi tanpa terasa dirinya seperti lebih suka padanya, apa sebabnya, inilah ia sendiri tidak mengerti.
Waktu duduk di dalam gua, iapun mendengar suara panggilan Kwe Ceng.
"Hm, kau panggil aku keluar untuk kemudian menghajarku, kalau aku mau keluar kan tolol!"
Demikian ia membatin. Begitulah malamnya ia tidur dalam gua itu sambil terduduk, dalam keadaan layap2 tiba2 ia lihat Auwyang Hong masuk ke dalam gua dan berkata padanya.
"Marilah anakku, biar aku ajar kau berlatih ilmu!"
Nyo Ko menjadi girang, ia ikut keluar gua, di sana ia lihat Auwyang Hong lantas berjongkok sambil bersuara "kok-kok"
Beberapa kali, lalu kedua telapak tangannya mendorong ke depan.
Entah mengapa, Nyo Ko merasakan seluruh tubuhnya luar biasa gesitnya, ia tiru cara2 orang dan berlatih, terasa olehnya tiap pukulan dan tendangannya tiada satupun yang keIiru.
Hingga suatu saat tiba2 Auwyang Hong memukulnya, karena tak keburu berkelit "plak" , ubun2 kepalang kena diketok hingga terasa sakit tidak kepalang, saking tak tahannya sampai ia menjerit dan melonjak.
Akan tetapi kembali terdengar suara "plok", lagi kepalanya kena diketok, dalam kagetnya Nyo Ko menjadi sadar dan...
busyet, hanya mimpi belaka.
Waktu ia raba2 kepalanya, ternyata sudah benjol benjut karena benturan pada dinding gua tadi.
ia menghela napas panjang dan keluar gua, ia lihat keadaan sunyi senyap, cakrawala yang membentang lebat di atas itu se-akan2 berlapiskan layar hitam, hanya beberapa bintik bintang yang berkelap-kelip sekedar penghias alam.
Nyo Ko coba merenungkan apa yang diajarkan Auwyang Hong dalam mimpi tadi, namun sedikitpun dia tidak ingat lagi, tatkala ia coba berjongkok sambil mulutnya menirukan suara "kok-kok"
Beberapa kali, ia bermaksud menggunakan Ha-mo-kang yang diperolehnya dari Auwyang Hong didekat kota Ling-oh-tin tempo hari untuk dipraktekkan sekarang, tapi bagaimanapun ia meng-ingat2nya tetap tidak dapat disalurkan melalui tangan atau kakinya.
Seorang diri ia berdiri dipuncak bukit sambil memandangi lautan yang begitu luas, terasa kekosongan hatinya semakin menjadi hampa.
Tiba2 dari arah lautan sana sayup2 terdengar suara teriakan orang yang keras panjang sedang memanggil-manggilnya.
"Ko-ji, Ko-ji!"
Mendengar suara panggilan yang penuh daya tarik ini, tanpa kuasa lagi Nyo Ko ber-lari2 turun ke bawah gunung.
"Aku berada disini, aku berada disini."
Demikian ia berseru menjawab.
Walaupun suara anak ini tidak begitu keras, tetapi Kwe Ceng sudah dapat mendengarnya, maka lekas2 perahunya didayung menuju ke tempat Nyo Ko berada, sesudah berjarak beberapa tombak dari pesisir, dengan sekali lompat segera Kwe Ceng meninggalkan perahunya, maka tertampaklah di bawah cahaya bintang yang remang2 dua sosok bayangan orang pe-lahan2 makin mendekat, dengan kencang kemudian Kwe Ceng telah berangkul Nyo Ko ke dalam pangkuannya.
"Marilah lekas pulang bersantap,"
Demikianlah kata2 yang tercetus dari mulut Kwe Ceng, Saking terharunya sampai suaranya rada serak dan gemetar.
Begitulah, setelah kedua orang berada kembali dalam rumah, segera Ui Yong siapkan nasi hangat dan lauk-pauk untuk Nyo Ko, terhadap kejadian yang telah lalu, sepatah-katapun tidak di-ungkat2nya.
Besok paginya, keempat anak.
Nyo Ko, Kwe Hu dan kedua saudara Bu, Tun-si dan Siu-bun, oleh Kwe Ceng telah dikumpulkan diruangan besar, lalu Kwa Tin-ok diundang hadir pula, kemudian keempat anak itu disuruh menjura di hadapan abu pemujaan Kanglam-lak-koay (enam orang kosen dari Kanglam) yang sudah dialam baka itu.
"Toa-suhu,"
Demikian Kwe Ceng berkata kepada Kwa Tin-ok.
"hari ini Tecu (anak murid) mohon idzin Suhu agar diperbolehkan menerima empat cucu muridmu ini."
"Bagus, bagus sekali,"
Sahut Kwa Tin-ok bergirang.
"Nah, terimalah ucapan selamatku ini!"
Nyo Ko bersama Tun-si dan Siu-bun lantas menjura pada Kwa Tin-ok. habis ini baru memberi hormat pada Kwe Ceng dan Ui Yong sebagai upacara pengangkatan guru.
"Apa akupun harus menjura, ibu?"
Dengan tertawa Kwe Hu bertanya.
"Sudah tentu,"
Sahut Ui Yong.
Karena itu, dengan tertawa haha-hihi anak nakal inipun menyembah pada ketiga orang tua itu.
Mulai hari ini kalian berempat adalah saudara seperguruan demikian Kwe Ceng memberi petuah dengan sungguh2 dan keren, oIeh karena itu juga seterusnya kalian harus hormat-menghormati daa cinta-mencintai, ada kesulitan sama2 dipikul.
Kalau kalian berempat berani berkelahi lagi, pasti tidak akan kuampuni."
Habis berkata ia pandang pula sekejap pada Nyo Ko.
"Tentu saja kau mengeloni anakmu sendiri,"
Demikian Nyo Ko membatin dalam hati.
"Biarlah selanjutnya aku tidak akan sentuh dia lagi."
MenyusuI sebagai kakek gurunya, Kwa Tin-ok ikut menjelaskan juga peraturan perguruan yang sudah umum, yakni tak boleh menganiaya orang yang lebih lemah, tak boleh membantu yang jahat sehingga semakin jahat, tak boleh mencelakai orang yang tak berdosa dan lain sebagainya.
"llmu silat yang kupelajari terlalu banyak macamnya,"
Demikian Kwe Ceng berkata lagi.
"kecuali dasar yang kudapat dari Kanglam-chit-koay (tujuh orang aneh dari Kanglam, Lak-koay tersebut di atas sudah wafat, ditambah Kwa Tin-ok), ilmu Lwekang dari Coan-cin-pay dan ilmu silat ketiga aliran persilatan terbesar dari Tang-Lam-Pak (Timur-Selatan-Utara, maksudnya, dari Tang-sia, Lam-te dan Pak-kay), tentang ini akan diceritakan tersendiri, kesemua meski hanya sedikit, tetapi kacang jangan lupa akan kulitnya, sebagai orang jangan lupa akan asalnya, biarlah hari ini aku ajarkan kalian kepandaian asal dari Kwa-suco (kakek guru she Kwa, maksudnya Kwa Tin-ok)."
Dan selagi ia hendak uraikan titik2 pokok ajarannya, tiba2 Ui Yong melihat Nyo Ko sedang menunduk dengan terkesima, pada wajah anak ini ada semacam tanda aneh yang sukar diucapkan, tanpa terasa ia jadi ingat pada berbagai kejadian yang mencurigakan tempo hari itu.
"Meski ayahnya bukan aku sendiri yang membunuhnya, tapi boleh dikatakan juga mati di tangan-ku, jangan2 piara macan mendatangkan bencana hingga menjadi bibit malabetaka yang besar,"
Demikian pikir Ui Yong. Setelah putar otak sejenak, segera ia mendapatkan suatu jalan.
"Seorang diri kau terlalu berat mengajar empat anak, biarlah aku yang mengajar Ko-ji,"
Katanya kemudian.
"Bagus, bagus sekali usulmu !"
Seru Kwa Tin-ok dengan ketawa sebelum Kwe Ceng menjawab.
"Dan kalian suami isteri boleh berlomba, lihat saja murid siapa kelak yang terpandai."
Mendengar usul isterinya ini, dalam hati Kwe Ceng bergirang juga, ia tahu kepintaran Ui Yong beratus kali di atas dirinya, cara mengajarnya pasti jauh lebih baik daripadanya, maka ber-ulang-2 ia pun menyatakan bagus dan akur.
"Tetapi kita harus menetapkan satu syarat,"
Demikian Ui Yong kemukakan pendapatnya lagi.
"Sekali-kali tak boleh kau mengajarkan Ko-ji, sebaliknya akupun tidak boleh mengajar mereka bertiga. Pula diantara keempat anak inipun tak boleh saling belajar, sebab kalau ilmu yang dilatihnya bercampur aduk, hanya ada jeleknya dan tiada paedahnya."
"Ya, sudah tentu."
Sahut Kwe Ceng setuju lagi.
"Nah, Ko-ji, ikutlah padaku,"
Kata Ui Yong.
Memang-nya Nyo Ko sedang benci pada Kwe Hu serta kedua saudara Bu itu, kini mendengar keinginan Ui Yong bahwa dirinya tidak akan berlatih setempat dengan mereka, ini justru cocok dengan pikirannya, maka ia lantas ikut Ui Yong masuk ke ruangan dalam.
Di luar dugaannya, bukannya Ui Yong membawanya ke lapangan berlatih silat melainkan ia dibawa ke kamar baea, disini Ui Yong-mengambil sebuah kitab dari rak buku dan berkata padanya.
"Gurumu mempunyai tujuh orang Suhu yang dijuluki Kanglam-chit-koay, Toasuhu ialah Kwa-kong-kong itu, Jisuhu (guru kedua) bernama Cu Jong dan berjuluk Biau-jiu-su-seng si sastrawan bertangan sakti), maka kini lebih dulu aku ingin ajarkan kepandaian Cu-suco saja."
Sembari berkata ia lantas buka kitab yang dia ambil dari rak tadi, dengan suara lantang segera ia membacanya.
Dalam hati Nya Ko menjadi heran, namun ia tak berani banyak bertanya, terpaksa ia ikut membaca dan belajar menulis, Begitulah be-runtun2 beberapa hari ia hanya di-ajar membaca oleh Ui Yong dan selamanya tidak pernah menyinggung tentang ilmu silat.
Suatu hari, sehabis berseko!ah, seorang diri Nyo Ko ber-jalan2 iseng ke atas gunung, tiba2 ia teringat pada nyali angkatnya yaitu Auyang Hong yang tidak diketahuinya berada dimana kini, Teringat pada sang ayah angkat tak tahan lagi ia lantas berjumpalitan dan menjungkir tubuh, ia menirukan cara yang pernah dipelajarinya itu, tubuhnya yang menjungkir itu segera berputar cepat Setelah ber-putar2 dengan menjungkir, kemudian ia ikuti petunjuk yang pernah diterimanya dari Auw-yang Hong untuk menjalankan jalan darah secara terbalik, terasa olehnya semakin berputar semakin lancar.
Kemudian waktu ia melompat bangun, mendadak ia berseru "kok"
Sekali berbareng kedua telapak tangannya dipukulkan ke depan, habis ini ia merasa seluruh badan menjadi segar dan enak sekali, segera pula mengeluarkan keringat hingga membasahi sekujur badan.
Nyata ia tidak tahu bahwa dengan latihannya ini tenaga dalamnya sudah maju jauh sekali.
Hendaklah diketahui bahwa ilmu yang diciptakan Auwyan Hong yang khas itu meski bukan tergolong ilmu yang baik, tetapi justru merupakan semacam ilmu kepandaian yang luar biasa lihaynya, pula pembawaan Nyo Ko memang berotak encer dan mudah menerima, apa yang dia pelajari dalam tempo yang singkat meski cuma sedikit, namun tanpa terasa dan diluar tahu ia sudah menuju ke aliran ilmu silat Pak to-san (gunung Onta putih).
Sejak itulah, maka tiap2 hari Nyo Ko lantas belajar sekolah dengan Ui Yong, kalau pagi atau petang-nya ada kesempatan segera ia pergi ke tempat sunyi di kaki bukit untuk melatih diri, sebenarnya bukan maksudnya ingin melatih diri agar bisa menjadikan seorang kosen yang disegani, tetapi entah mengapa, tiap2 kali sehabis ia berlatih, selalu dirasakannya luar biasa enak dan segar badannya.
Demikianlah secara diam2 Nyo Ko melatih ilmu sendiri, Kwe Ceng dan Ui Yong sedikitpun ternyata tidak tahu.
Maka tiada sebulan, kitab 'Lun-gi' (salah satu kitab ajaran Nabi Khongcu) yang Ui Yong jadikan mata pelajaran untuk Nyo Ko sudah selesai semua, Begitu apal isi kitab tsb, sampai Nyo Ko sanggup membaca-di luar kepala, cuma isi dan arti kitab yang diajarkan itu, sama sekali ia anti, tidak setuju, maka seringkali ia sengaja kemukakan bantahan2.
Padahal Ui Yong sendiripun seribu kali tidak sepaham dengan segala isi kitab yang diajarkan Khong-hucu itu, ia sendiri sesungguhnya juga jemu, hanya lapat2 perasaannya se-akan2 punya firasat.
"Kalau anak ini diberi pelajaran ilmu silat, kelak pasti akan menjadi bibit bencana saja, lebih baik kalau ajarkan dia ilmu sastra, biar dia kenyang dengan teori2 isi kitab saja, buat dia dan buat orang lain mungkin malah ada baiknya."
Dengan ketetapan itulah, dengan maksud baik ia mengajar Nyo Ko bersekolah, Maka sehabis kitab "Lun-gi"
Lantas disusul dengan kitab "Beng-cu".
Karenanya, beberapa bulan sudah lewat, selama itu tidak pernah Ui Yong berbicara sepatah-katapun tentang ilmu silat.
Nyo Ko cukup tahu diri juga, melihat orang tidak omong, iapun tidak mau tanya, hanya hidup di pulau ini dirasakan semakin hampa, ia tahu pula meski Kwe Ceng menerima dirinya sebagai murid, tetapi ilmu silat pasti tidak akan diajarkan padanya, Sedang kini saja ia bukan tandingan Bu Tun-si dan Bu Siu-bun, apalagi setahun atau dua tahun lagi jika mereka mendapat pelajaran silat dari Kwe Ceng, bila mereka berkelahi lagi pasti ia akan mampus ditangan mereka.
Karena pikiran inilah, ia ambil keputusan, apabila ada kesempatan segera ia akan berdaya-upaya buat meninggalkan pulau, Pada satu sore hari, sehabis Nyo Ko belajar membaca pada Ui Yong, seorang diri ia ber-jalan2 iseng di tepi laut, dengan memandangi ombak laut yang men-dampar2 berdeburan, dalam hati ia pikir entah kapan baru bisa melepaskan diri dari kurungan ini, bila terlihat olehnya burung laut yang terbang kian kemari, ia menjadi terharu dan kagum akan kebebasan burung2 yang tak terbatas itu.
Tengah ia ter-menung2, tiba2 ia dengar di balik hutan pohon Tho sana ada suara berkesiurnya angin, ia jadi tertarik, diam2 ia memutar ke sebelah sana dan mengintip, maka tertampaklah olehnya, Kwe Ceng sedang memberi pelajaran silat pada kedua saudara Bu disuatu tanah lapang.
Ia lihat Kwe Ceng sedang memberi petunjuk3 sambil kaki-tangannya memberi contoh dan menyuruh ketiga saudara Bu itu menirukannya.
Bagi Nyo Ko yang cerdas, hanya sekali lihat saja ia sudah tahu di mana letak intisari jurus tipu ini, tapi bagi Bu Tun-si dan Bu Siu-bun, walau sudah belajar pergi datang, masih belum juga mereka pahami.
Kwe Ceng sendiri memangnya juga berotak puntuI, pada waktu kecilnya ia sendiri sudah merasakan pahit-getirnya belajar, maka kini sedikitpun ia tidak merasa jemu dan masih terus memberi dengan petunjuk dengan penuh sabar.
"Hm, jika Kwe-pepek mau ajarkan padaku, tidak nanti aku begitu goblok seperti mereka,"
Kata Nyo Ko di dalam hati sambil menghela napas diam2.
Oleh karena kesal hati, dia lantas kembali ke kamarnya untuk tidur.
Petangnya sehabis bersantap dan setelah mengulangi pelajaran kitabnya terasa olehnya luar biasa isengnya, maka ia pergi ke tepi laut lagi, di sana ia menirukan gerak-gerik ilmu silat yang dimainkan Kwe Ceng siang tadi.
Namun tipu silat yang cuma dua tiga gerakan ini, sesudah dimainkan pergi datang, akhirnya ia merasa bosen juga.
Tiba2 hatinya tergerak.
"Mulai besok, diam2 akan mengintip dan mencuri belajar ilmu silatnya, siapa yang melarang aku?"
Demikian ia pikir.
Oleh karenanya rasa mendongkolnya yang tertahan sekian lamanya segera menjadi lapang, dengan berpeluk dengkul ia duduk bersandar batu karang tepi laut, akhirnya iapun tertidur.
Entah sudah berapa lama ia tenggelam dalam alam impiannya ketika tiba2 ia dikagetkan bunyi suara rantai besi yang gemerincing hingga ia terjaga dari tidurnya, waktu ia mengintai dari belakang batu karang itu, kiranya di tepi laut sana telah bertambah dengan sebuah perahu layar, suara gemerincing rantai tadi kiranya disebabkan perahu layar itu membuang sauh buat berlabuh.
Tak antara lama, dari perahu itu muncul dua orang terus melompat ke daratan, gerak tubuh mereka ternyata cepat dan sebat luar biasa.
Setelah berada di daratan, mula2 kedua orang itu mendekam dan melongak-longok dahulu ke sekeliling habis ini pe-lahan2 mereka merayap maju ke tengah pulau.
Melihat kelakuan kedua orang ini terang tidak mengandung maksud baik, Nyo Ko berpikir.
"Jalanan di pulau ini belak-belok dan lika-liku, kalian ini hanya antar kematian belaka."
Oleh karena itu, ia mengkeret tubuhnya supaya tidak dilihat kedua orang itu, ia tidak berani bergerak, dalam pada itu kedua orang tadi sudah merayap semakin jauh.
Ketika pandangannya mengikuti bayangan kedua orang itu, mendadak ia lihat sesuatu di tempat jauh, tanpa tertahan ia terkejut.
Kiranya dibawah satu pohon Liu ada sesosok bayangan orang yang kecil berbaju putih dengan berjungkir sedang memutar dengan cepat dengan cara sebagaimana biasanya kalau dirinya berlatih ilmu ajaran Auwyang Hong itu, melihat bentuk tubuh orang berjungkiran itu jelas bukan lain lagi dari pada Kwe Hu adanya.
Tentu saja Nyo Ko ter-heran2 melihat kelakuan dara cilik itu.
"Apa Kwe-pepek juga ajarkan ilmu kepandaian semacam ini ?"
Demikian ia ber-tanya2 dalam hati. Tetapi segera pula ia mengerti .
"Aha, tentu pada waktu aku sedang berlatih telah dapat dilihat dia dan sekarang dia menirukan caraku itu untuk main-main."
Dalam pada itu, kedua sosok bayangan tadi sudah makin dekat dengan Kwe Hu, Mungkin saking asyiknya berputar kayun dengan tubuhnya itu, sama sekali Kwe Hu tidak berasa kalau ada orang lain mendekatinya, sesaat kemudian, mendadak kedua orang itu melompat maju, tubuh anak perempuan ini terus dirangkul, seorang lagi dekap mulut yang mungil itu dengan tangannya, sedang yang satu lagi, keluarkan seutas tali terus meringkus seluruh badan Kwe Hu, bahkan mulutnya disumbat dengan sepotong saputangan.
Perbuatan kedua orang itu ternyata cepat dan berhasil dengan baik, hanya sekejap saja mereka sudah meletakkan Kwe Hu yang tak bisa berkutiik itu ke dalam semak2, habis ini mereka melanjutkan merayap ke depan.
Menyakksikan kejadian aneh ini, mulut Nyo Ko sampai ternganga, hatinya pun berdebar-debar dan kuatir pula, ia tidak tahu apa maunya kedua pendatang itu.
Mata Nyo Ko cukup tajam, meski dalam keadaan gelap ia masih bisa melihat jelas gerak-gerik kedua orang tadi, ia lihat sesudah merangikak-rangkak maju lagi, setelah hampir sampai di jalan masuk ke perkampungan, rupanya mereka mengerti juga lihaynya Tho-hoa-to yang sudah diatur oleh Ui Yok-sau, maka mereka tak berani maju lagi, mereka lantas keluarkan sehelai kertas putih, seorang lantas meng-gambar2 di atas kertas itu dengan menggunakan alat tulis, melihat kelakuan mereka, rupanya mereka sedang mencuri melukis peta keadaan pulau ini untuk digunakan kemudian kalau melakukan penyerbuan ke sini.
"Jika sekarang juga aku bertariak, sebelum Kwe-pepek sempat keluar tentu aku sudah dibunuh mereka lebih dulu,"
Demikian diam2 Nyo Ko membikin perhitungan dalam hati..Mendadak pikirannya tergerak, tiba2 ia ambil suatu keputusan yang luar biasa beraninya.
"Ya, biar diam2 aku masuk ke dalam perahu mereka, jika beruntung tidak konangan mereka, tentu aku akan berhasil melarikan diri dari pulau ini,"
Demikian ia berpikir.
Sesudah ambil keputusan ini, iapun tidak pusing apa perbuatannya ini berbahaya tidak, segera ia me-rayap2 mendekati perahu yang berlabuh itu.
Setelah dekat, selagi ia hendak merayap ke atas perahu, tiba2 terdengar suara "krak"
Dari dalam perahu, menyusul ini papan geladak perahu itu terbuka, dari dalamnya menongol satu orang untuk kemudian melompat ke pesisir.
Tidak kepalang kaget Nyo Ko oleh munculnya orang yang se-konyong2 ini, lekas2 ia mendekam ke bawah lagi.
Sementara kedua orang yang duluan tadi rupanya telah mendengar juga, yang seorang memondong Kwe Hu, satunya lagi lantas kembali ke perahu hendak memeriksa apa yang terjadi.
Akan tetapi orang yang muncul belakangan ini telah sembunyi di belakang gundukan pasir tepi laut, ia tidak memapaki kedua orang yang duluan, nyata mereka bukan kawan sendiri.
Waktu itu Nyo Ko berada di belakang orang yang muncul belakangan itu, maka ia bisa menyakitkan semua dengan terang, makin lihat ia semakin heran, ia lihat yang pondong Kwe Hu itu telah kembali ke dalam perahu, sedang kawannya menengok sekelilingnya dan mendekati gundukan pasir tadi, namun orang yang sembunyi itu masih belum ber-gerak, ia menunggu ketika orang sudah dekat, se-konyong2 ia melompat keluar, diantara berkelebatnya sinar putih, sekali serang saja ia telah tancapkan belatinya di atas dada orang.
Tidak ampun lagi tanpa bersuara sedikitpun, orang yang diserang itu roboh terguling.
Mendengar suara gedebukan karena jatuhnya tubuh itu, orang yang berada di atas perahu tadi rupanya menjadi curiga.
"Lo-toa, ada apa ?"
Ia coba tanya sang kawan. Lekas2 penyerang tadi mencabut belatinya, ia sembunyi pula ke belakang gundukan pasir dan menjawab dengan suara yang ditahan dan di-bikin2.
""Aneh, aneh !"
Mendengar suara yang samar2, tetapi lama juga tidak melihat kawannya kembali orang di dalam perahu menjadi khawatir, dengan langkah lebar segera ia menuju gundukan pasir tadi.
Melihat orang tinggalkan perahunya, Nyo Ko pikir jangan sia2kan kesempatan baik ini, maka dengan cepat ia merayap ke tepi perahu, ia niat mengangkat sauh untuk kemudian menjalankan perahunya.Pada saat itu juga terdengar olehnya suara jeritan ngeri, nyata belati si pembunuh tadi telah ambil korban lagi.
Sementara itu Nyo Ko lagi angkat rantai jangkar tapi sebelum jangkar kena ditarik, rantai besi itu sudah mengeluarkan suara gemerincing lebih dulu.
Karenanya ia tahu gelagat jelek, segera ia hendak melarikan diri, namun sudah terlambat, ia lihat si pembunuh tadi dengan mulut menggigit belati yang masih-teteskan darah telah melompat ke atas perahu.
Di bawah sinar bulan Nyo Ko dapat melihat pakaian orang yang compang-camping, mukanya penuh noda darah, rupanya beringas menakutkan.
Keruan Nyo Ko menjadi kelabakan bingung, Dalam keadaan demikian otomatis ia berjongkok, mulutnya bersuara "kak-kok"
Dua kali, kedua telapak tangannya mendadak didorong kedepan pula.
Tatkala itu kaki orang tadi belum sempat menancap di atas perahu, karena serangan Ha-mo-kang ini dalam keadaan masih terapung di udara orang itu mendadak jatuh terjengkang kebelakamg dan terbanting masuk laut habis ini sedikitpun tidak berkutik lagi.
Karena serangan ini, Nyo Ko berbalik terkesima malah, ia terpaku di tempatnya dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya lebih lanjut.
"He, Ha-mo-kang ini kau dapat belajar dari mana ? Dan Auwyang Hong mana dia ?"
Tiba2 terdengar suara teriakan Ui Yong dari jauh.
Ketika Nyo Ko angkat kepalanya, terlihat bagaikan terbang cepatnya Kwe Ceng dan Ui Yong sedang mendatangi.
Agaknya karena mendengar suara2 yang mencurigakan dan kehilangan Kwe Hu, maka mereka lekas2 datang mencarinya.
Dalam pada itu saking ketakutan tadi, semangat Nyo Ko masih belum pulih, lebih2 ia tidak mengerti Ha-mo-kang yang biasa dilatihnya untuk main2 belaka ternyata bisa begini lihay, oleh karena itulah ia masih ter-mangu2 dan tidak menjawab seruan Ui Yong tadi.
Waktu kemudian Kwe Ceng menarik dan memeriksa orang yang kecemplung ke laut itu, tiba2 ia berseru kaget.
"Yong-ji, ini kawan dari Kay-pang" (kaum pengemis)."
Pada dada orang itu terdapat noda darah, napasnya sudah lama putus.
Ui Yong menjadi gusar bercampur kaget, nampak keadaan luka orang itu, dengan sekali cengkeram ia pegang lengan Nyo Ko dan menanya dengan suara bengis .
"Hayo, katakan !"
Cengkeraman Ui Yong ini dirasakan sakit sekali pada lengan Nyo Ko, tetapi ia mengertak gigi dengan kencang, ia menahan sakit dan tetap tutup mulut tanpa menjawab.
Ketika Kwe Ceng menoleh, tertampak olehnya di belakang gundukan pasir sana menggeletak dua orang puIa, lekas ia melompat ke sana buat memeriksanya, ia dapatkan pula peta yang digambar kedua orang itu.
"He, Yong-ji, lekas sini!"
Serunya pada sang isteri.
Segera Ui Yong melepaskan Nyo Ko dan mendekati Kwe Ceng, di belakang gundukan pasir itu mereka berembuk dengan suara pelahan sampai lama.
Dalam pada itu kejadian ini telah diketahui Kwa Tin-ok juga, orang inipun menyusul tiba, maka mereka lantas berunding bertiga orang.
Sesudah bicara agak lama, kemudian Kwe Ceng melepaskan puterinya dahulu dari ringkusan musuh tadi, habis ini ia berkata pada Nyo Ko.
"Ko-ji, kau kurang cocok tinggal di pulau ini, biar aku antar kau ke Tiong-yang-kiong di Cong-lam-sam, di sana kau bisa belajar silat di bawah petunjuk Tiang-jim-cu Khu-cinjin dari Coan-cin-kau."
Keputusan yang diambil Kwe Ceng secara tiba2 ini, seketika Nyo Ko menjadi bingung se-akan2 kehilangan sesuatu, maka ia hanya mengangguk pelahan saja.
Maka besok paginya, setelah membekal perlengkapan seperlunya berangkatlah Kwe Ceng bersama Nyo Ko sesudah mohon diri pada Ui Yong serta Kwe Hu dan kedua saudara Bu, mereka berlayar menuju pantai timur daerah Tjiatkang.
Sesudah mendarat, Kwe Ceng beli dua ekor kuda dan melanjutkan perjalanan ke utara bersama Nyo Ko.
Selamanya belum pernah Nyo Ko menunggang kuda, tetapi karena Lwekang yang dia latih sudah ada dasarnya, maka setelah berlari beberapa hari sudah cukup pandai dan bisa menguasai binatang tunggangannya, Bahkan karena hati-mudanya, setiap hari ia malah melarikan kudanya didepan Kwe Ceng.
Tidak seberapa hari, sesudah menyeberangi Hong-ho (Huangho, sungai Kuning), mereka telah memasuki daerah Siamsay.
Tatkala itu negeri Kim (Chin) sudah dibasmi oleh bangsa Mongol (Jengis Khan beserta putera2nya), maka di utara Hong-ho boleh dikatakan merupakan dunianya bangsa Mongol.
Dimasa mudanya Kwe Ceng sendiri pernah menjabat sebagai panglima dalam pasukan Mongol (ia pernah diangkat menjadi menantu Tumujin yang kemudian terkenal sebagai Jengis Khan), ia kuatir kalau kesamplok dengan bekas bawahannya dan mungkin akan mendatangkan kesulitan, maka dia lantas tukarkan kuda mereka dengan keledai yang kurus dan jelek, ia ganti pakaian pula dengan baju yang terbuat dari kain kasar, ia menyamar seperti orang desa atau kaum petani saja.
Berlainan dengan Nyo Ko yang berhati muda, sesungguhnya dalam hati ia seribu kali tidak sudi memakai baju yang berbau kampungan seperti Kwe Ceng itu, tetapi selamanya ia tak berani bantah kata2 sang paman, maka terpaksa dia mengenakan baju kasar, kepalanya dibelebat pula dengan ikat kain biru.
dan menunggang keledai yang kurus jelek.
Justru keledai yang dia tunggangi ini buruk pula wataknya, jalannya sudah lambat, berulang kali masih ngambek lagi, maka sepanjang jalan selalu Nyo Ko cekcok saja dengan binatang tunggangannya ini.
Hari itu mereka telah sampai di daerah Hoanjoan, tempat ini indah permai pemandangan alamnya.
Melihat keindahan alam semesta yang menarik ini, meski sejak meninggalkan Tho-hoa-to dan karena mendongkol hatinya hingga selama ini tidak pernah Nyo Ko menyebut lagi tentang pulau bunga Tho itu, namun kini tanpa tertahan ia membuka suara.
"Kwe-pepek, tempat ini hampir mirip dengan Tho-hoa-to kita,"
Demikian ia bilang pada Kwe Ceng. Hati Kwe Ceng memang luhur dan berbudi, mendengar anak ini bilang "Tho-hoa-to kita", tanpa terasa ia jadi terharu.
"Ko-ji,"
Sahutnya kemudian.
"Cong-lam-san sudah tidak jauh lagi dari sini, ilmu silat Coan-cin-kau adalah ilmu kepandaian terkemuka di bumi ini, selanjutnya kau harus belajar secara baik2. Beberapa tahun lagi tentu aku akan datang lagi buat menjemput kau pulang ke Tho-hoa-to."
Mendengar kata2 terachir ini, cepat Nyo Ko melengos.
"Tidak, selama hidupku ini tidak akan kembali lagi ke Tho-hoa-to,"
Katanya kemudian. Sama sekali diluar dugaan Kwe Ceng bahwa anak semuda Nyo Ko ini bisa mengucapkan kata2 yang begitu ketus dan tegas, maka dia tertegun seketika tiada kata2 lain yang bisa dia ucapkan.
"Apa kau marah pada Kwe-pekbo (bibi)?"
Tanyanya kemudian.
"Mana Titji (keponakan) berani ?"
Sahut Nyo Ko.
"Malahan Titji selalu membikin Kwe-pekbo marah."
Jawaban yang tajam ini bikin Kwe Ceng bungkam, memangnya dia tidak pandai bicara, maka ia tidak menyambung lagi.
Perjalanan selanjutnya mulai menanjak, diwaktu lohor mereka sudah sampai di suatu kelenteng di atas bukit.
Waktu Kwe Ceng mendongak, ia lihat papan nama yang tergantung di atas pintu kelenteng itu tertulis tiga huruf besar 'Gu-tap-si"
Atau kelenteng kepala kerbau.
Mereka tambat keledai pada satu pohon di luar kelenteng, mereka masuk ke dalam untuk minta sedekah sekedar isi perut.
Didalam kelenteng itu ternyata ada tujuh-delapan paderi, nampak dandanan Kwe Ceng yang sederhana dan kotor, mereka mengunjuk sikap dingin, maka sedekah yang diberikan dua mangkok bubur dingin serta beberapa potong kue.
Namun Kwe Ceng menerima saja sedekah makanan seperti itu, bersama Nyo Ko mereka lantas duduk di atas bangku batu di bawah pohon cemara untuk makan.
Pada saat lain, ketika Kwe Ceng berpaling tiba2 ia lihat ada pilar batu di belakang pohon yang sebagian besar tertutup oleh rumput alang2 yang lebat, lapat2 hanya nampak dua huruf "Tiang-jun"
Pada pilar batu itu.
Kwe Ceng tergerak hatinya oleh tulisan itu, ia mendekati dan memeriksanya lebih jelas dengan menyingkap rumput alang2 yang menutupi batu itu, kemudian baru ia ketahui di atas batu itu terukir sebuah syair gubahan Tiang-jun-cu Khu Ju-ki, salah satu tokoh terkemuka angkatan kedua dari Coan-cin-kau yang hendak didatanginya sekarang ini.
Syair itu menyesalkan kehancuran negara yang terjatuh di tangan bangsa lain, Karenanya Kwe Ceng terbayang kembali pada kejadian di gurun Mongol belasan tahun yang lalu, ia terharu, sambil meraba pilar batu itu ia ter-mangu2 saja.
Ketika teringat tidak lama lagi bisa bertemu dengan Khu Ju-ki maka hatinya rada terhibur dan bergirang.
"Kwe-pepek, apakah maksud syair diatas batu ini ?"
Demikian Nyo Ko tanya.
"lni adalah syair buah karya kau punya Khu-cosu (kakek guru), Murid kesayangan Khu-cosu dahulu bukan lain adalah mendiang ayahmu,"
Sahut Kwe Ceng sambil menjelaskan sekadarnya arti yang terkandung pada syair itu.
"Mengingat ayahmu, tentu Khu-cosu akan layani kau baik2, maka kau harus belajar dengan giat pula agar kelak besar gunanya untuk nusa dan bangsa."
"Kwe-pepek, maukah kau beritahukan satu hal padaku,"
Tiba2 Nyo Ko berkata pula.
"Hal apa ?"
Tanya Kwe Ceng.
"Cara bagaimana meningggalnya ayahku ?"
Kata Nyo Ko.
Muka Kwe Ceng berubah seketika oleh pertanyaan ini, teringat olehnya peristiwa di dalam kelenteng Thi-cio-bio di Kahin di mana Nyo Khong -ayah Nyo Ko -telah tewas, maka tubuhnya gemetar sedikit ia tidak menjawabnya.
"Siapakah sebenarnya yang menewaskan ayah ?"
Tanya Nyo Ko pula. Tetapi Kwe Ceng tetap tidak menjawab.
"Kau dan Kwe-pekbo yang menewaskan dia, ya bukan ?"
Seru Nyo Ko tiba2 dengan bernapsu. Kwe Ceng menjadi gusar, ia angkat tangannya dan menggablok sekerasnya sambil membentak.
"Tutup mulut, siapa yang suruh kau sembarang omong ?"
Tenaga dalam Kwe Ceng sekarang entah sudah betapa lihaynya, maka gablokan dalam keadaan gusar itu seketika membikin pilar batu tadi yang kena digebuk itu berantakan, batu krikil pun berhamburan.
Kelihatan sang paman naik darah, Nyo Ko jadi mengkeret.
"Ya, Titji mengaku salah, selanjutnya tidak berani sembarangan omong lagi, harap paman jangan marah,"
Lekas2 ia minta maaf dengan kepala menunduk.
Sesungguhnya Kwe Ceng sangat sayang pada anak ini, kini demi mendengar ia mau mengaku salah, segera amarahnya lenyap.
Dan selagi ia hendak menghibur Nyo Ko agar jangan takut, tiba2 terdengar di belakang ada suara tindakan kaki yang pelahan, waktu ia menoleh, dilihatnya ada dua To-su (imam penganut Tao-isme) setengah umur berdiri di ambang pintu sedang memperhatikan gablokannya dipilar batu tadi, tentu perbuatannya tadi telah dilihat oleh kedua imam ini.
Sesudah saling pandang sekejap, cepat kedua To-su itu keluar meninggalkan kelenteng itu.
Tindakan kedua imam yang cepat dan gesit itu dapat dilihat Kwe Ceng dengan jelas, terang tidak lemah ilmu silat kedua orang itu.
Kwe Ceng pikir letak Tiong-yang-kiong dari gunung Cong-lam-san itu tidak jauh dari kelenteng di mana dia berada ini, maka ia menduga kedua imam ini pasti orang dari Tiong-yang-kiong.
Kalau melihat umur keduanya sudah kira2 empat puluhan, maka besar kemungkinan mereka adalah anak murid Coan-cin-chit-cu (tujuh tokoh dari Coan-cin-kau), itu aliran persilatan yang paling terkemuka dan disegani di kalangan Bu-lim.
Memang sudah lama Kwe Ceng tinggal di Tho-hoa-to dan tidak saling memberi kabar dengan Ma Giok bertujuh, (Ma Giok adalah orang pertama dari Coan-cin-chit-cu), oleh karenanya anak murid Coan-cin-kau itu hampir tidak dikenal seluruhnya, ia hanya tahu bahwa paling belakang ini penganut Coan-cin-kau semakin banyak dan maju dengan pesat, Ma Giok, Khu Ju-ki dan Ju-it cu, banyak menerima anak murid yang berbakat maka nama Coan-cin-kau di kalangan Bu-lim makin lama semakin cemerlang, tiada satupun orang kalangan Kangouw yang tidak menaruh hormat bila menyebut nama Coan-cin-kau.
Begitulah, karena Kwe Ceng pikir dirinya toh akan naik ke atas gunung untuk menemui Khu Ju-ki, Khu-cin-jin (cinjin adalah sebutan pada imam Taoisme yang berilmu), maka ia merasa kebetulan bisa jalan bersama dengan kedua imam tadi.
Karena itu, segera ia percepat langkahnya berlari keluar kelenteng ia lihat kedua imam tadi dengan langkah secepat terbang sudah berlari sejauh beberapa puluh tombak, sama sekali mereka tidak menoleh lagi.
"Hai, kedua Toheng (saudara yang berilmu), yang di depan itu berhentilah dahulu, ada sesuatu aku ingin tanya,"
Demikian Kwe Ceng teriaki mereka.
Suara Kwe Ceng memangnya lantang, pula tenaga dalamnya hebat, maka sekali menggembor suaranya se-akan2 menggetar lembah gunung.
Kedua imam itu rada terkejut mendengar suara tapi bukannya berhenti, sebaliknya mereka berlari lebih cepat.
"Eh, apa kedua orang ini tuIi?"
Demikian pikir Kwe Ceng. Sekali dia tutul kakinya, tiba2 ia melayang ke depan, hanya beberapa kali naik-turun saja tahu2 ia sudah mendahului di depan kedua imam itu.
"Baik2kah kedua To-heng,"
Kwe Ceng menyapa sambil saja (memberi hormat dengan mengepal kedua tangan) dan membungkuk pula.
Nampak gerak tubuh yang begini cepat, kedua imam itu kaget, ketika melihat Kwe Ceng membungkuk memberi hormat, mereka menyangka orang akan serang dengan tenaga dalam, maka dengan cepat pula mereka berkelit ke kanan dan kiri.
"Apa kau lakukan ?"
Demikian mereka membentak berbareng.
"Apa kalian adalah Toheng dari Tiong-yang-kiong di Cong-lam-san?"
Tanya Kwe Ceng.
"Kalau ya mau apa?"
Sahut salah satu imam itu dengan menarik muka.
"Cayhe (aku yang rendah) adalah kenalan lama Tiang-jun-cinjin Khu-totiang, maksud kedatanganku justru ingin ke atas gunung buat menemuinya, maka diharap Toheng suka menunjukkan jalannya,"
Kata Kwe Ceng pula.
"Kalau kau berani pergi sana sendiri! Hayo menyingkir!"
Sahut imam satunya lagi yang pendek gemuk.
Habis ini mendadak sebelah tangannya menyapu dari samping, serangan ini luar biasa cepatnya, terpaksa Kwe Ceng harus berkelit ke kanan.
Diluar dugaan, imam satunya yang kurus itu segera menyerang pula berbareng ia memukul dari sebelah kanan, dengan demikian Kwe Ceng jadi tergencet di tengah.
Kedua serangan yang dilontarkan ini disebut "Tay-kwan-bun-sik"
Atau gerakan menutup pintu, adalah tipu serangan yang lihay dari Coan-cin-pay, dengan sendirinya Kwe Ceng dapat mengetahuinya, cuma yang dia tidak mengerti ialah kenapa kedua imam ini mendadak menyerangnya dengan tipu yang mematikan, inilah yang bikin dia bingung, Oleh karena itu, dia tidak patahkan serangan orang2, juga tidak menghindar maka terdengarlah suara "plak-plok"
Yang keras, kedua telapak tangan imam itu kena menghantam di bawah bahunya, tetapi rasanya, seperti kena menghantam karung kosong saja.
Dengan menerima gebukan ini, segera Kwe Ceng dapat mengukur tinggi rendahnya ilmu silat lawan, ia pikir kalau bicara tentang kepandaian, kedua imam ini memang betul adalah anak murid Coan-cin-chit-cu dan masih terhitung seangkatan dengan dirinya pula, Tadi ia sudah kumpulkan tenaga untuk menahan pukulan kedua orang itu, ia bisa gunakan tenaga dalamnya dengan tepat sekali, ia bikin diri sendiri sedikitpun tindak terluka juga tidak sakit, sebaliknya ia pentalkan kembali tenaga pukulan lawan hingga tangan kedua imam itu terasa sakit dan bengkak.
Keruan tidak kepalang kejut kedua imam itu, sebab dengan keuletan silat mereka yang sudah dilatihnya lebih dua puluh tahun, ternyata pukulan mereka tadi hanya seperti kena di tempat kosong saja.
Maka mereka tidak berani ayal lagi, sekali teriak, mereka menerjang bersama, dua pasang kaki mereka segera menyamber mengarah dada Kwe Ceng.
Pembawaan Kwe Ceng memang sabar dan peramah, tidak gampang dia naik darah atau menjadi gusar, nampak kedua imam ini seruduk sini dan terjang sana tanpa sebab, diam2 ia menjadi heran.
"Coan-cin-chit-cu semuanya adalah imam berilmu, kenapa anak murid mereka bisa bersikap kasar?"
Demikian ia membatin.
Dalam pada itu tendangan orang secara berantai dengan lihay sudah dekat tubuhnya, namun Kwe Ceng masih tetap tidak bergerak seperti tidak gubris, Maka terdengarlah segera "plak-plok, plak-plok"
Berulang sampai belasan kali, dadanya bertambah debu kotoran bekas kaki.
Kalau Kwe Ceng tetap anggap sepi saja, sebaliknya kedua imam itu entah berlipat berapa kali ngerinya daripada tadi demi nampak tendangan mereka tidak bikin orang tergoyah sedikitpun, bahkan tendangan mereka sama saja seperti mengenai karung pasir.
"Orang ini sebenarnya manusia atau setan ? Meski tingkatan guru dan paman2 guru kamipun tidak mempunyai kepandaian setinggi ini?"
Demikian mereka berpikir dengan jeri Waktu mereka meng-amat2i orang, terlihat Kwe Ceng bermata besar, alisnya tebal, mukanya kotor dengan debu, pakaiannya terbikin dari kain kasar, serupa saja seperti orang udik, sedikitpun tidiik nampak sifat2 istimewa, keruan mereka menjadi kesima tanpa bisa bersuara, Di lain pihak Nyo Ko yang menyaksikan pamannya digebuk dan ditendang kedua imam itu, sedangkan Kwe Ceng sama sekali tidak membalas, diam2 ia menjadi gusar.
"Hai, kalian imam busuk ini kenapa memukuli pamanku?"
Segera ia membentak.
"Ko-ji, tutup mulut,"
Cepat Kwe Ceng mencegah anak ini mencaci maki lebih ianjut.
"Lekas kemari dan memberi hormat kepada Totiang ini."
Mendengar kata2 Kwe Ceng ini, Nyo Ko tercengang dan penasaran.
"Kwe-pepek sungguh aneh, masa takut pada mereka ?"
Pikirnya.
Dalam padu itu, kedua imam tadi agaknya belum kapok, sesudah saling pandang sekejap, mendadak mereka lolos pedang, dengan cepat mereka menyerang, imam yang pendek menusuk ke bagian bawah Kwe Ceng dengan tipu "tam-hai-to-liong"
Atau menjelajahi laut membunuh naga, sedang imam yang kurus membacok kaki Nyo Ko dengan gerakan "King-hong-sau-yap"
Atau angin lesus menyapu daun.
Sebenarnya Kwe Ceng masih pandang enteng serangan2 orang ini, tetapi demi melihat Nyo Ko yang tak berdosa ikut diserang juga dengan tipu yang cukup keji, mau-tak-mau hatinya jadi dongkol juga.
"Anak ini toh tiada permusuhan dengan kalian, kenapa harus diserang dengan tipu yang ganas ini? Dengan bacokanmu ini apa kakinya takkan menjadi buntung ?"
Demikian ia pikir dengan gemas. Karena itu segera ia tolong dulu Nyo Ko yang terancam itu, ia mengegos tubuh sedikit ke samping, berbareng ini dengan gerak tipu "sun-cui-tui-du"
Atau menurut arus air menyurung perahu, dengan tangan kiri ia tempel batang pedang imam pendek yang serang dia tadi, lalu dengan pelahan ia dorong ke kiri, dengan demikian imam pendek itu tidak mampu pegang kencang senjatanya higgga memutar balik, pedang yang membalik ini saling beradu dengan demikian terdengarlah suara "trang"
Yang nyaring, pedang kawannya sendiri, si-imam kurus, hingga dengan demikian tanpa ditangkis tipu serangan imam kurus itu kena digagalkan temannya sendiri.
Tentu saja kedua imam itu merasakan tangan mereka kaku kesemutan, kembali mereka pandang Kwe Ceng dengan mata melotot, dalam hati mereka lagi2 tidak kepalang terkejutnya, tapi juga kagum atas kepandaian orang yang tinggi itu, Meski demikian, toh mereka masih penasaran, dengan berteriak kembali mereka merangsak maju.
Nampak gerak serangan orang, diam2 Kwe Ceng pikir.
"Kepandaian kalian ini sungguhpun terhitung Kiam-hoat yang hebat, tetapi kalian hanya berdua, pula belum matang latihanmu, apa gunanya kalian pamer dihadapanku?"
Tetapi karena kuatir Nyo Ko akan keserempet senjata mereka, maka sambil hindarkan sabetan pedang lawan, segera pula ia samber tubuhnya Nyo Ko.
"Cayhe adalah kenalan lama Khu-cinjIn, hendaklah kalian jangan bergurau lagi,"
Ia berteriak. Akan tetapi kedua imam itu ternyata tidak kenal aturan.
"Kau bilang kenal Ma-cinjin juga percuma", kata imam yang kurus.
"Ya, Ma-cinjin memang pernah juga mengajarkan kepandaian pada Cayhe,"
Sahut Kwe Ceng. Imam yang kate tadi wataknya paling berangasan segera ia mendamperat lagi.
"Bangsat, jangan kau asal ngoceh, jangan2 nanti kau bilang Tiong-yang Cosu kami juga pernah ajarkan kepandaian padamu ?"
Teriaknya murka, Menyusul ini, dengan sekali tusuk, ujung pedangnya mengarah dada Kwe Ceng puIa.
Kwe Ceng yang berpikiran sederhana, jadi tidak habis mengerti, kedua imam ini sudah terang adalah anak murid Coan-cin-kau, tapi mengapa dia dianggap sebagai musuh besar saja?
Tetapi karena Kwe Ceng memang berbudi luhur, pula ia pikir Nyo Ko bakal belajar silat di Tiong-yang-kiong, maka sedapat mungkin jangan menyakiti hati imam2 itu, oleh karenanya, terus menerus ia hanya berkelit saja atas serangan lawan dan tidak pernah balas menyerang.
Oleh sebab tipu serangan mereka tetap tidak mampu mengenai sasarannya, akhirnya kedua imam tadi menjadi kewalahan sendiri, mereka menjadi gelisah, mereka insaf ilmu silat Kwe Ceng jauh diatas mereka, kalau hendak melukainya jelas tidak gampang, maka mereka lantas ganti siasat, tiba2 mereka ubah Kiam-hoat yang dimainkan tadi, be-runtun2 beberapa kali tusukan mereka dialihkan sasaran pada diri Nyo Ko.
Melihat kekurangajaran orang, sungguhpun Kwe Ceng orang sabar, akhirnya rada naik darah juga.
Sementara itu ia lihat imam yang kate sedang menusuk dengan gerakan yang cukup ganas, mendadak Kwe Ceng ulur tangan kanannya, dengan kedua jari-menjepit senjata orang, habis ini ia sodok batang hidung lawan dengan sikutnya.
Ketika senjata dijepit jari orang, imam pendek itu menarik2 sekuatnya, tetapi tidak berhasil, sebaliknya tahu2 sikut orang telah menyodok tiba, ia insaf kalau sampai mukanya dicium sikut orang, kalau tidak mampus sedikitnya akan luka parah juga, oleh karena itu terpaksa ia lepaskan senjatanya dan melompati mundur.
Kepandaian Kwe Ceng pada waktu ini boleh dikatakan sudah ditarap yang tiada taranya, ia bisa berbuat apa maunya, setiap kali tangannya bergerak atau kakinya melayang tentu kena sasaran dengan tepat dan hebat, maka ketika dengan pelahan ia menyentil dengan kedua jarinya, dengan mengeluarkan suara "creng"
Yang nyaring, tiba2 pedang yang dia rampas tadi menegak dan mental ke atas.
Dalam pada itu imam yang kurus sedang ayun pedangnya menusuk ke leher Nyo Ko, karena itu, ujung pedangnya telah kena ditumbuk oleh pedang yang disentil oleh Kwe Ceng ini, begitu keras benturan itu hingga si-imam kurus merasakan tangannya panas pedas, tubuhnya pun ikut tergetar, maka terpaksa iapun-melepaskan senjatanya terus melompat mundur.
"Maling cabul ini memang lihay, lekas lari!"
Seru kedua imam itu berbareng, Baru kini, mereka merasa kapok, Segera mereka putar tubuh terus angkat langkah seribu.
Mendengar cacian orang, semula Kwe Ceng tertegun sejenak, tetapi segera ia menjadi gusar, Selama hidupnya memang sering dia dimaki orang seperti "bangsat".
"jahanam".
"tolol".
"goblok"
Dan macam2 lagi, tetapi kata2
"maling cabul"
Selamanya belum pernah orang memaki padanya.
Dalam marahnya, iapun tidak turunkan Nyo Ko lagi, sambil menggendong anak ini segera ia mengudak dengan langkah cepat Setelah menyusul sampai di belakang kedua imam itu, begitu kakinya menutul, segera tubuhnya melayang lewat di atas kepala kedua To-su atau imam itu dan dalam keadaan masih terapung di udara segera ia membentak.
"He, tadi kalian memaki apa padaku ?"
Kedua imam itu luar biasa terperanjatnya imam pendek itu oleh kelihayan orang, walaupun jeri dalam hati, tapi mulutnya ternyata belum mau kalah, ia masih berani balas membentak.
"Bukankah kau ingin memiliki itu perempuan hina she Liong? Lalu untuk apa kau datang ke Ciong-lam-san?"
Demikian damperatnya.
Meski keras di mulut, tapi kuatir kalau Kwe Ceng menghajarnya, maka tanpa terasa ia malah mundur ke belakang.
Mendengar damperatan orang yang tak keruan juntrungnya ini, seketika Kwe Ceng hanya melongo.
"Aku ingin memiliki perempuan hina she Liong? siapakah perempuan she Liong itu? Kenapa aku ingin memiliki dia?"
Demikian serentetan pertanyaan timbul dalam hatinya hingga ia bingung sendiri.
Melihat orang ter-mangu2 seperti orang linglung, kedua imam itu pikir kesempatan baik jangan disia-siakan, maka sesudah saling memberi tanda, segera mereka menyerobot lewat di samping Kwe Ceng dengan langkah cepat terus lari pula ke atas gunung.
Melihat Kwe Ceng masih ter-mangu2, Nyo Ko lantas meronta turun dengan pelahan dari gendongannya.
"Kwe-pepek, kedua imam busuk itu sudah lari,"
Kata Nyo Ko. Karena itu, Kwe Ceng mengiakan sekali seperti orang baru sadar dari mimpi.
"Tadi mereka bilang aku ingin memiliki itu perempuan she Liong,"
Siapakah dia itu?"
Kata Kwe Ceng kemudian dengan masih bingung.
"Titji pun tidak tahu,"
Sahut Nyo Ko.
"Tetapi melihat kedua imam itu tanpa membedakan merah atau putih lantas menyerang kita, agaknya mereka telah salah wesel."
"Ya, ya, tentu begitu,"
Ujar Kwe Ceng dengan ketawa geli sendiri.
"Kenapa aku tidak pikir sampai disitu, Marilah kita naik ke atas gunung!"
Waktu Nyo Ko mengambil kedua pedang yang ditinggalkan kedua imam tadi, Kwe Ceng melihat pada batang pedang masing2 terukir tiga huruf kecil "Tiong-jang-kiong"
Mereka lantas mendaki ke atas gunung. setelah lebih satu jam, akhirnya mereka sampai di puncak "Bo-cu-giam"
Atau puncak ibu gendong anak, sesuai dengan namanya, puncak ini menonjol seperti seorang wanita yang membopong seorang anak. Di puncak ini mereka duduk mengaso.
"Apa kau letih, Ko-ji?"
Tanya Kwe Ceng. Nyo Ko tersenyum "Tidak,"
Sahutnya kemudian dengan geleng kepala.
"Baiklah kalau begitu, mari kita naik ke atas lagi,"
Kata Kwe Ceng.
Maka mereka lantas melanjutkan lagi perjalanan.
Tidak antara lama, tertampak oleh mereka di depan ada sebuah batu cadas yang sangat besar dengan corak yang seram, batu cadas raksasa ini setengah menggelantung di udara bagai seorang nenek yang sedang membungkuk melongok ke bawah.
Saking seramnya hati Nyo Ko terasa agak takut.
Dalam pada itu, tiba2 terdengar beberapa kali suitan kecil, lalu dari belakang batu besar itu melompat keluar empat Tosu atau imam, di tangan mereka masing2 menghunus pedang dan menghadang di tengah jalan, tetapi semuanya bungkam saja.
"Cayhe adalah Kwe Ceng dari Tho-hoa-to dan ingin naik ke atas gunung untuk menjumpai Khu-cin-jin,"
Demikian kata Kwe Ceng sambil maju memberi hormat. Untuk sementara tiada satupun dari empat imam itu menjawab. Kemudian satu di antaranya yang berperawakan jangkung lantas melangkah maju.
"Hm, Kwe-tayhiap namanya dikenal di seluruh jagat, dia adalah menantu Ui-locianpwe dari Tho-hoa-to, mana bisa dia begini tak kenal malu seperti kau ini, lekas2 kau enyah turun gunung saja."
Demikian kata imam itu dengan tertawa dingin.
"Aneh, dalam hal apakah aku tidak kenal malu?"
Demikian Kwe Ceng membatin, Akan tetapi ia coba sabarkan diri, lalu berkata lagi.
"Cayhe betul2 Kwe Ceng ada-nya harap kalian memberi jalan, soalnya tentu akan menjadi jelas kalau sudah berhadapan dengan Khu-cin-jin."
Namun imam jangkung ini masih tidak mau mengerti, bahkan ia membentak.
"Hm, kau berani main gila dan pamer kepandaian ke Cong-lam-san sini mungkin kau sudah bosan hidup,"
Damperatnya.
"Hm, kalau kau tidak diberi sedikit rasa, mungkin kau mengira semua imam yang tinggal di Tiong-yang-kiong adalah manusia2 tak berguna semua" . Ia mendamperat orang dengan kata2 yang menyinggung-juga kedua imam pendek dan kurus tadi, setelah berkata, segera ia melangkah maju, pedangnya bergerak dengan tipu hun-hoa hud liu> atau memetik bunga mengebut pohon Liu, tiba2 ia tusuk pinggang Kwe Ceng. Nampak orang tanpa sebab dan tanpa alasan terus menyerang, diam2 Kwe Ceng merasa aneh.
"Sudah belasan tahun aku tidak berkecimpung di kalangan Kangouw, semua peraturan rupanya sudah berubah ?"
Demikian ia heran.
Berbareng pula ia menghindar tusukan tadi, ia pikir berkelit saja dahulu untuk kemudian ajak orang bicara secara baik2.
Di luar dugaan, ketiga imam lainnya segera mengerubut maju juga, mereka kepung Kwe Ceng dan Nyo Ko di-tengah2.
"Apa yang Si-wi (tuan berempat) inginkan, cara bagaimana baru mau percaya Cayhe betul2 adalah Kwe Ceng?"
Seru Kwe Ceng sebelum balas serangan orang.
"Kecuali kalau kau mampu merebut pedang di tanganku ini,"
Bentak imam jangkung tadi, Sambil berkata, kembali ia menusuk pula, sekali ini ia arah dada Kwe Ceng, cara menyerangnya seenaknya saja se-akan2 tidak pandang sebelah mata pada lawannya.
Tentu saja akhirnya Kwe Ceng marah juga.
"Untuk merebut pedangmu, apa susahnya ?"
Demikian ia pikir.
Dalam pada itu, pedang orang sudah menusuk sampai di depan dadanya, cepat Kwe Ceng papaki senjata musuh dengan sekali jentikan jarinya, sungguh hebat sekali tenaga jarinya ini, dengan mengeluarkan suara "creng"
Yang nyaring, tiba2 imam jangkung itu merasakan genggamannya terguncang, tahu2 pedangnya mencelat ke udara.
Dalam kaget dan gugupnya lekas2 ia melompat keluar kalangan pertempuran.
Di lain pihak, tidak sampai menunggu pedangnya jatuh ke bawah, terdengar suara nyaring tiga kail lagi, susul-menyusul Kwe Ceng taiah menjentik, maka pedang ketiga Imam yang lain senasib pula dengan imam jangkung tadi, semuanya kena disentil terbang ke angkasa.
"Bagus !"
Teriak Nyo Ko kegirangan oleh kepandaian sang paman ini.
"Nah, sekarang kalian mau bercaya tidak ?"
Demikian ia tegur para imam itu..sebenarnya kalau Kwe Ceng bergebrak dengan brang selalu memberi kelonggaran dan berlaku murah hati pada pihak lawan, tetapi kini karena marah pada imam jangkung yang menyerang dengan kiam-hoat yang sifatnya rendah, maka ia telah unjuk tenaga sentilan jari yang lihay, ilmu kepandaian menjentik dengan jari ini sebenarnya adalah kepandaian tunggal yang sangat dirahasiakan oleh Ui Yok-su, ayah Ui Yong, tetapi Kwe Ceng sudah tinggal beberapa tahun di Tho-hoa-to bersama bapak mertua itu, maka ia sudah mewarisi seluruh kepandaiannya, ditambah pula tenaga Kwe Ceng sudah terlatih sedemikian tingginya, sudah tentu bukan main hebatnya temaga sentilannya tadi, sebaliknya ke-empat imam tadi meski pedang sudah terpental dari tangan mereka masih belum tahu pihak lawan menggunakan ilmu silat apa.
"Maling cabul ini bisa main ilmu sihir, hayo lari,"
Seru imam jangkung ketika melihat gelagat jelek, habis ini ia mendahului angkat kaki dan disusul oleh tiga kawannya, dalam sekejap saja mereka sudah menghilang di balik batu cadas tadi.
Tadi Kwe Ceng dimaki orang dengan kata2
"maling cabul" , kini ditambahi pula dituduh "bisa main ilmu sihir" , keruan ia merasa mendongkol dan terhina. Watak Kwe Ceng memang jujur dan polos, semakin tidak mengerti tapi juga semakin ingin jelas semua hal-ikhwalnya .
"Ko-ji, beberapa pedang ini letakkan di atas batu dengan baik,"
Katanya pada Nyo Ko.
Nyo Ko menurut, ia ambil keempat pedang yang ditinggal lari oleh imam2 itu, bersama dua pedang yang duluan tadi ia taruh di atas batu.
Dalam hati mudanya sungguh tidak habis kagumnya terhadap ilmu kepandaian sang paman, mulutnya sebenarnya sudah berulang-ulang tercetus kata2.
"Kwe-pepek, aku tidak ingin belajar silat pada imam busuk itu, tetapi ingin belajar padamu saja."
Akan tetapi bila teringat pada kejadian di Tho-hoa-to yang dialaminya, akhirnya ia telan kembali kata2 yang sebenarnya ingin dia ucapkan itu.
Begitulah sesudah mereka melanjutkan lagi, setelah membelok dua kali, tiba2 tanah di depan kelihatan rada lapang, tetapi segera terdengar pula suara nyaring beradunya senjata sebagai isyarat, menyusul dari hutan disamping jalan lantas keluar tujuh orang imam dengan pedang terhunus.
Melihat munculnya ketujuh imam ini dengan mengambil kedudukan di kiri empat orang dan di kanan tiga orang, segera Kwe Ceng kenal ini adalah "Thian-keng-pak-tau-tin"
Atau barisan ilmu bintang2 yang sengaja dipasang, dalam hati ia terperanjat.
"Kalau harus menggempur barisan ini, agaknya rada sulit juga,"
Demikian ia batin. Oleh karena itu ia tak berani gegabah, dengan suara pelahan ia pesan Nyo Ko.
"Kau sembunyi ke belakang batu besar sana, lebih jauh lebih baik, supaya perhatianku tidak terbagi dalam pertempuran nanti."
Nyo Ko mengangguk, tetapi anak ini memang cerdik, tidak sudi ia unjuk lemah di hadapan para imam itu, maka ia berlagak lepas kolor celana sambil berkata.
"Kwe-pepek, aku pergi kencing dahulu !"
Sambil berkata ia putar tubuh dan lari ke belakang satu batu besar.
Diam2 dalam hati Kwe Ceng bersyukur melihat kepintaran dan kecerdasan anak ini, ia mengharap hendaklah anak ini bisa menuju jalan yang benar dan jangan tersesat lagi seperti ayahnya.
Ketika ia menoleh, dibawah sinar bulan yang remang-2 ia lihat ketujuh imam itu, enam yang berada di depan, seperti memelihara jenggot usia merekapun tidak muda lagi, sedang orang ketujuh berperawakan kecil, agaknya seperti seorang Tokoh atau imam wanita.
Nampak barisan ini segera Kwe Ceng paham bahwa mereka telah menirukan cara Coan-cin-chit cu dahulu, di antara Coan-cin-chit-cu itu terdapat seorang imam wanita, yakni Jing-ceng Sanjin Sun Put-ji, kini kedudukan juga dipegang oleh seorang imam wanita.
"Apa gunanya aku terlibat dalam pertempuran dengan mereka, lebih baik lekas naik ke atas buat menemui Khu-cinjin untuk menjelaskan kesalahan paham ini."
Tiba2 pikiran Kwe Ceng tergerak.
Karenanya, begitu bergerak, segera ia mendahului menyerobot ke sebelah kiri, ia rebut kedudukan bintang "Pak-kek" (kutub utara).
Melihat orang mendadak berlari ke sebelah kiri, cepat imam yang menduduki tempat bintang "Thian-koan" (kekuasaan langit), berteriak dengan suara ter-tahan, ia kerahkan barisan bintang2nya terus memutar ke kiri dengan tujuan hendak kepung Kwe Ceng di tengah.
Siapa duga, begitu ketujuh imam ini bergerak, Kwe Ceng lantas ikut bergerak juga, selalu ia mendahului pihak lawan untuk menduduki tempatnya.
Dan begitulah seterusnya sampai beberapa kali meski para imam itu ber-ganti2 dengan beberapa tipu gerakan, tetapi selalu didahului Kwe Ceng, hingga mereka kewalahan dan serba salah.
Hendaklah diketahui bahwa "Thian-keng-pak-tau-tin"
Ini adalah suatu ilmu kepandaian tertinggi dari kaum Coan-cin-kau, barisan yang teratur rapi dan dilakukan tujuh orang ini, sekalipun lawannya beratus piau beribu orang dapat pula ditahan.
Akan tetapi dihadapan Kwe Ceng, barisan bintang2 yang hebat ini ternyata tiada gunanya, sebab Kwe Ceng sudah paham akan ilmu barisan bintang2 ini, apalagi ketujuh imam ini hanya anak murid Coan-cin-kau angkatan muda.
Kalau barisan ini dipasang dengan Coan-cin-chit-cu, mungkin Kwe Ceng tidak gampang merebut tempat kedudukan sesukanya.
Oleh karenanya, meski sudah ber-ubah2 beberapa kali gerak tipu barisan para imam itu, sebenarnya sekali pukul Kwe Ceng sudah bisa bikin kocar-kacir barisan lawan, namun ia sengaja membodoh dan pura2 tidak mengerti, dengan ke-tolol2an sengaja ia berdiri menjublek di tempatnya, hanya kalau barisan orang bergerak, maka segera pula ia ikut menggeser.
Begitulah sampai lama sekali walaupun si-imam menjadi poros barisan bintang2 itu telah beberapa kali bergerak dengan cepat, namun tetap tidak berhasil mengepung Kwe Ceng, Dalam terkejutnya imam itu menjadi gusar pula, ia tidak mau menyerah mentah2, segera ia putar barisannya pula dengan cepat.
Nampak pertarungan yang ramai ini, yang paling senang adalah Nyo Ko.
ia lihat ketujuh imam itu seperti orang gila saja ber-Iari2 cepat mengitari Kwe Ceng, sebaliknya dengan tenang saja Kwe Ceng melangkah beberapa tindak ke kiri atau ke kanan, ke timur atau ke barat menurut keadaan musuh, dari mula sampai akhir ketujuh imam itu ternyata tak berani sembarang menyerang dengan senjata mereka, makin menonton semakin ketarik hingga saking senangnya Nyo Ko bertepuk tangan.
Dalam pada itu tiba2 terdengar Kwe Ceng berseru.
"Maaf!"
Habis ini mendadak ia menyerobot cepat dua langkah ke kiri, sekarang barisan bintang2 itu berbalik berada di bawah ke arah maka Kwe Ceng menyerobot kalau ketujuh imam itu tidak ikut menggeser ke arah yang sama, tentu mereka harus menghadapi bahaya yang mengancam jiwa mereka, Oleh karena itu terpaksa ketujuh imam ini harus mengikuti gerak arah Kwe Ceng.
Dengan demikian, maka ketujuh imam ini sudah terjeblos dalam keadaan tak dapat melepaskan diri lagi, kemana Kwe Ceng pergi, ketujuh orang ikut ke sana, Kwe Ceng cepat, para imam pun cepat dan kalau lambat mereka turut lambat.
Diantara ketujuh imam ini rupanya To-koh atau imam wanita itu yang paling cetek kepandaiannya, setelah dibawa putar belasan kali oleh Kwe Ceng, ia sudah merasa kepala pusing dan napas ter-sengal2, tampaknya segera akan terbanting jatuh, Tetapi ia insaf kalau barisan bintang2 mereka kehilangan seorang saja, maka seketika akan menjadi pincang dan daya pertahanan mereka akan runtuh.
Dalam keadaan terpaksa ia hanya bisa mengertak gigi bertahan sekuatnya.
Walaupun usia Kwe Ceng boleh dibilang tidak muda lagi, tetapi semenjak ia tirakat di Tho-hoa-to.
bersama isterinya Ui Yong, paling akhir ini sudah jarang bergaul dengan dunia luar, selama itu pula hati kanak2-nya ternyata belum menjadi hilang, Kini nampak ketujuh imam itu dapat dipancing hingga lari2, ia menjadi senang dan timbul kembali hati mudanya.
"Hari ini tanpa sebab tanpa alasan kalian telah mendamperat padaku, kalian mencaci aku sebagai maling cabul, menuduh aku bisa gunakan ilmu sihir pula, kini kalau aku tidak betul2 unjuk sedikit ilmu sihir padamu, mungkin kalian sangka aku boleh dihina begitu saja ?"
Demikian ia pikir. Karena itu, ia lantas berteriak pada Nyo Ko.
"Lihat Ko-Ji, saksikan ilmu sihir yang aku keluarkan ini !"
Habis ini mendadak dengan sekali loncat, ia melompat ke atas satu batu cadas.
Ketujuh imam itu kini sudah berada di bawah pengaruh Kwe Ceng, maka begitu dia loncat ke atas batu, jika ketujuh imam ini tidak ikut meloncat, segera titik kelemahan barisan mereka akan kelihatan.
Oleh sebab itu diantaranya ada beberapa imam jadi ragu2, namun imam yang menduduki tempat Thian-toan atau pemimpinnya, dengan sekali bersuit, segera ia pimpin barisannya melompat ke-atas.
Di luar dugaan, belum sampai mereka menancap kaki di atas, sekoyong2 Kwe Ceng melompat turut lagi, habis ini ia lantas ganti tempat yang lain, keruan teraksa para imam itu memburu dan meniru pula dan begitu seterusnya terjadi uber2an.
Sampai akhirnya tiba2 Kwe Ceng meloncat ke atas puncak satu pohon.
"Sungguh celaka, entah darimana munculnya iblis seperti dia ini, pamor Coan-cin-kau hari ini pasti akan runtuh seturuhnya" , demikian diam2 para imam itu mengeluh. Sekalipun dalam hati mereka memikir, tetapi kaki mereka tidak berani berhenti, mereka masing2 mencari dahan pohon sendiri2 yang bisa dibuat singgah dan terus ikut meloncat ke atas.
"Lebih baik di bawah saja !"
Kwe Ceng menggoda dengan ketawa dan betul saja ia lantas lompat turun pula, bahkan berbareng ia ulur tangan hendak menjambret kaki imam yang menduduki tempat Khay-yang.
Sebenarnya letak kelihayan Pak-tau-tin atau barisan bintang2 itu adalah karena bisa bahu-membahu dengan kerja sama yang rapat sekali, kini Kwe Ceng menyerang pada satu tempat, otomatis dua imam yang menduduki tempat serangkaian terpaksa melompat turun buat membantu dan karena turunnya yang dua ini, mau tidak mau imam2 yang lain ikut turun pula dan dengan demikian seluruh barisan menjadi terpengaruh.
Yang paling senang oleh karena pertarungan ramai ini adalah Nyo Ko, ia terpesona dalam girang tercampur kejut, Katanya dalam hati.
"Apabila pada suatu hari aku bisa belajar hingga sehebat kepandaian Kwe-pepek sekalipun seumur hidupku harus menderita juga aku rela"
Tetapi lantas terpikir pula.
"Namun seumur hidupku ini mana bisa belajar kepandaian setinggi ini dari dia kecuali si budak Kwe Hu dan kedua saudara Bu yang beruntung itu, Hm, sudah jelas ia maksudnya Kwe Ceng) tahu kepandaian orang coan-cin-kau jauh dibawahnya, tapi ia justru sengaja kirim aku untuk belajar silat pada imam2 busuk ini."
Begitulah makin dipikir Nyo Ko semakin dongkol hingga ia berpaling ke jurusan lain, ia tidak mau lihat Kwe Ceng mempermainkan ketujuh imam tadi Akan tetapi sifat anak2 mana bisa tahan lama, tidak antara lama ia menjadi kepingin tahu apa jadinya dengan imam2 yang digoda itu, maka tidak tahan lagi ia berpaling kembali untuk menyaksikan pertempuran ramai dan lucu itu.
Sementara itu sesudah puas mempermainkan para imam, diam2 Kwe Ceng berpikir.
"Sesudah begini, tentunya mereka harus percaya bahwa aku betul2 adalah Kwe Ceng, Jadi orang hendaklah jangan keterlaluan harus jaga kebaikan di hadapan Khu-cin-jin nanti."
Dalam pada itu ia sedang goda ketujuh imam tadi hingga putar kayun dengan kencang, mendadak ia berdiri diam sambil Kiongciu serta berkata .
"Tujuh To-heng, maaf saja, sekarang silahkan menunjuk jalannya."
Diluar dugaan, imam yang menduduki tempat Thian-koan dan sebagai pemimpin tadi ternyata berwatak sangat keras, karena melihat ilmu silat lawannya semakin kuat, ia semakin yakin orang pasti tidak bermaksud baik terhadap perguruan mereka, maka meski menghadapi musuh setangguh ini, sama sekali ia pantang mundur.
"Hm, maling cabul."
Demikian segera ia menjawab dengan suara lantang.
"Coan-cin-kau kami paling benci pada segala perbuatan kejahatan, maka se-kali2 jangan kau harap bisa melakukan perbuatan2 yang tidak tahu malu di Cong-lam-san ini !"
Kwe Ceng bingung oleh damperatan yang tak keruan juntrungannya ini.
"Apa perbuatanku yang tidak kenal malu ?"
Demikian ia tanya.
""Hm, pura2 bodoh."
Jengek imam Thian-koan itu.
"Melihat kepandaianmu yang tinggi ini, tentunya kau bukan sebangsa manusia yang suka berbuat kotor, aku nasehati kau, lekas kau turun kembali, sana !"
Meski imam ini masih mendamperat, tetapi di balik kata-kata yang diucapkan ini ia telah unjuk juga rasa kagumnya terhadap ilmu kepandaian Kwe Ceng.
"Jauh2 Cayhe sengaja datang dari selatan dan ingin bertemu Khu-cinjin untuk sesuatu keperluan, sebelum bertemu mana boleh kembali turun gunung ?"
Demikian jawab Kwe Ceng. Mendengar jawaban ini, tiba2 air muka imam hian-koan itu berubah hebat.
"Hm, jadi kau ingin ketemu Khu-cinjin ? Baiklah, coba katakan, sebenarnya ada urusan apa ?"
Tanyanya dengan dingin.
"Sejak kecil Cayhe menerima budi besar dari Ma cinjin dan Khu-cinjin, karena sudah belasan tahun tidak bertemu, maka aku menjadi kangen sekali,"
Sahut Kwe Ceng. Namun jawaban ini ternyata makin menambah sikap permusuhan dari imam itu. Kiranya soal "budi"
Dan dendam"
Dalam kalangan Kangouw paling di-utamakan, sering kali karena soal sakit hati, di mulut dia bilang datang buat balas budi padahal yang benar maksudnya hendak membalas dendam, Imam Thian-koan itu suka pegang teguh pandangannya sendiri, maka kata2 Kwe Ceng yang diucapkan dengan setulus hati justru diterima kebalikannya.
"Jangan2 guruku Giok-yang Cinjin juga kau katakan ada budi padamu,"
Demikian ia menjengek lagi.
Karena kata2 ini, Kwe Ceng jadi ingat pada masa yang silam, masa mudanya dengan peristiwa yang terjadi dalam istana Thio-ong-hu, dimana Giok-yang-cu (atau Giok-yang Cinjin) Ong Ju-it tanpa pikirkan bahaya telah menandingi gerombolan musuh yang jauh lebih banyak untuk menolong dirinya, atas kejadian itu memang tidak sedikit budi yang dia terima dari Ong Ju-it.
Oleh sebab ini, tanpa ragu2 lagi ia lantas jawab .
"O, kiranya To-heng adalah murid Giok-yang Cinjin, memang betul juga 0ng-cinjin ada budi terhadap Cayhe, bila dia juga berada di atas gunung, sudah tentu akan lebih baik lagi."
Diluar dugaan, ketujuh imam ini malah menjadi gusar, dengan suara bentakan yang murka, senjata mereka segera menyamber, dengan cepat mereka menyerang tujuh tempat di tubuh Kwe Ceng secara serentak.
Akan tetapi mana bisa Kwe Ceng diserang dengan gampang dengan sedikit mengegos ia sudah melangkah ke samping, kembali ia duduki tempat bintang Pak-kek atau kutub utara yang menjadi kelemahan barisan para imam itu.
"He, bicara dulu,"
Demikian ia teriaki imam2 Coan-cin-kau ini.
"Cayhe Kwe Ceng sama sekali tidak mengandung maksud jahat kesini, dengan cara bagaimana baru-kalian mau percaya bahwa aku benar2 Kwe Ceng adanya ?"
"Kau sudah merebut enam pedang anak murid Coan-cin-kau yang duluan, kenapa tidak sekalian rampas lagi tujuh pedang kami ini ?"
Sahut imam Thian-coan tadi. Dalam pada itu imam yang menduduki tempat Thian-koan yang sejak tadi sebenarnya tutup mulut saja, kini mendadak ikut menyela dengan suara yang pecah.
"Maling cabul anjing, rupanya kau hendak pamer kepandaianmu di hadapan sundel kecil keluarga Liong itu ? Hm, apa kau kira Coan-cin-kau kami gampang kau hina ?"
Demikian ia mencaci maki Keruan Kwe Ceng menjadi gusar.
"Apa kau bilang ?"
Sahutnya dengan muka merah.
"Nona keluarga Liong ?"
Siapa dia ? aku Kwe Ceng selamanya tidak pernah kenal dia."
"Haha, jika kau berani, kenapa kau tidak memaki dia sebagai perempuan busuk, sebagai sundel cilik !"
Kata imam Thian-koan pula dengan bergelak tawa.
Mendengar orang mengumbar kata2 kotor, Kwe Ceng menjadi tertegun, dasarnya ia memang jujur dan patuh pula adat peraturan, ia pikir wanita she Liong yang disebut itu entah orang macam apakah, mana boleh tanpa sebab dan alasan aku mencaci makinya.
Karena pikiran ini, ia lantas menjawab.
"Kenapa aku harus memaki dia ?"
"Hahaha!"
Tertawa beberapa imam itu berbareng "Nah, bukankah kau sudah mengaku sendiri ?"
Dasar Kwe Ceng memang tidak pandai menggunakan otak, kini orang secara serampangan memaksakan suatu tuduhan padanya, semakin lama ia merasa semakin ruwet, ia hanya pikir dengan paksa terjang saja ke Tiong-yang-kiong untuk menemui Khu Ju-ki dan Ong Ju-it tentu segala urusan akan menjadi beres.
"Kini Cayhe akan naik ke atas, kalian merintangi lagi, jangan kalian menyesali Cayhe tidak segan2,"
Dengan dingin ia memberi peringatan. Tapi ketujuh imam itu tiba2 melangkah maju setindak dengan senjata siap sedia.
"Jangan kau pakai ilmu sihir, kita boleh coba ukur kepandaian dalam ilmu sejati,"
Dengan suara keras imam Thian-soan tadi menantang. Kwe Ceng hanya tertawa, segera ia ambil satu keputusan, maka ia lantas menjawab.
"Aku justru hendak unjuk --sedikit ilmu sihir pada kalian, tanpa tanganku menyenggol senjata kalian sedikitpun aku, sanggup merampas ketujuh pedang kalian,"
Ketujuh imam itu saling pandang, dari wajah mereka tertampak perasaan tidak percaya.
"Bagus, kami akan coba2 ilmu kepandaianmu dalam hal tendangan,"
Seru salah satu imam.
"Akupun tidak perlu gunakan kaki,"
Sahut Kwe Ceng..
"Pendeknya tidak nanti aku menyenggoI barang sedikitpun senjata maupun anggota badan kalian, tetapi senjata kalian akan kurampas, kalau sampai tersentuh, anggap saja aku kalah dan segera aku turun gunung untuk selamanya tidak akan naik ke sini lagi."
Mendengar orang buka mulut besar, ketujuh imam itu menjadi marah semua, Tanpa tunggu lagi, Begitu imam Thian-koan geraki pedangnya, segera ia bawa barisannya mengerubut maju.
Namun dengan kepala menunduk Kwe Ceng lantas menerjang dengan cepat, ia menduduki titik bintang Pak-kek lagi dan dengan langkah cepat mengarah ke kiri, ia menyerang sajap kiri barisan para imam.
Imam Thian-koan yang menjadi pemimpin barisan kenal lihaynya orang, maka lekas2 ia bawa barisannya memutar ke kanan, dengan demikian supaya bisa berhadapan dengan Kwe Ceng dan supaya kelemahan barisannya tidak kentara.
Diluar dugaan., sekali Kwe Ceng sudah mengincar sayap kiri, tetap ia serang bagian kiri dan tidak putar balik, meski tempo2 cepat dan kadang2 lambat, tetap ia berlari mengincar bagian kiri, oleh karena ia bisa menduduki tempat bintang Pak-kek dengan kukuh, mau tidak mau ketujuh imam itu harus ikut memutar ke kiri juga.
Begitulah makin lari semakin cepat Kwe Ceng juga menguber, sampai akhirnya kecepatannya boleh dikatakan melebihi kuda, makin lama makin luas pula tempat yang dibuat putar hingga berupa satu lingkaran selebar belasan tombak.
Tetapi ketujuh imam ini tergolong tidak lemah juga, meski mereka dipaksa dalam kedudukan yang terbalik dipengaruhi orang, namun barisan mereka sedikitpun belum kacau, mereka bertujuh masih menduduki tempatnya masing2 dengan kuat dan tetap, hanya tubuh mereka saja yang tidak bisa dikuasai lagi masih terus ikut lari terbawa oleh Kwe Ceng.
Diam2 Kwe Ceng harus puji juga keuletan tujuh imam Coan-cin-kau ini, maka langkahnya tidak pernah ia kendurkan, tiba2 dia malah pergiat kakinya hingga berlari memutar sebagai roda angin saja.
Mula2 ketujuh imam itu masih bisa paksakan diri ikut berlari terus, tetapi lama kelamaan Gin-kang atau ilmu entengkan tubuh imam2 itu lantas tertampak, imam Thian-koan paling tinggi Ginkangnya, ia lari paling depan dan disusul dengan imam yang menduduki tempat Thian-ki dan Thian-heng, sedang imam yang lain pe-lahan2 menjadi ketinggalan hingga barisan mereka lambat laun makin renggang, Tentu saja mereka terperanjat, pikir mereka.
"Jika musuh mau gempur barisan kita pada saat ini mungkin barisan bintang ini tidak bisa dipertahankan lagi."
Walaupun mereka sudah tahu bakal celaka, tapi karena sudah terlanjur, mereka tak pikirkan lain lagi, mereka hanya bisa berbuat sepenuh tenaga dan keluarkan seluruh kepandaian untuk lari lebih cepat mengikuti Kwe Ceng yang masih terus berputar.
Sebagai contoh dapat dilukiskan umpamanya kita ikat sepotong batu dengan seutas tali lalu kita putar secepat mungkin, diwaktu batu berputar kencang dan mendadak kita lepaskan, maka batu itu, pasti akan mencelat jauh dengan tali pengikatnya tadi.
Sama halnya sekarang dengan ketujuh imam itu, mereka telah dipengaruhi Kwe Ceng yang makin putar makin cepat sampai pedang mereka terangkat di atas kepala, makin cepat mereka berlari, makin tidak kuat memegang pedang mereka se-akan2 ada satu tenaga maha besar yang menariknya dan hendak merebut pedang dari tangan mereka.
"Lepas!"
Se-konyong2 terdengar Kwe Ceng membentak.
Berbareng ini ia meloncat cepat ke kiri.
Oleh karena tidak men-duga2 akan kejadian itu, ketika imam2 itu mendadak lihat Kwe Ceng meloncat ke atas, terpaksa mereka harus ikut melompat ke-atas juga.
Dan aneh, entah mengapa ketujuh pedang yang mereka pegang itu semuanya tidak bisa mereka pertahankan lagi, seluruhnya telah terlepas dari cekalan, seperti tujuh ular perak saja ketujuh pedang itu menyamber ke dalam hutan yang berjarak belasan tombak jauhnya.
Dalam pada itu mendadak pula Kwe Ceng berdiri tegak, dengan ketawa kemudian ia berpaling.
Sebaliknya wajah ke tujuh imam itu menjadi pucat seperti mayat, mereka berdiri terpaku di tempatnya, hanya masing masing tetap menduduki tempat barisannya, barisan mereka sama sekali belum menjadi kacau.
Melihat keadaan ini diam2 Kwe Ceng memuji juga atas kegigihan imam2 itu.
Sementara imam Thian-koat tadi tiba2 bersuit sekali, menyusul ini semuanya lantas mundur ke belakang batu2 cadas dan menghilang.
"Ko-ji, marilah kita naik gunung sekarang,"
Teriak Kwe Ceng.
Tapi meski sudah dua kali ia memanggil, belum juga ada sahutan dari Nyo Ko, waktu ia coba mencari namun bayangan Nyo Ko sudah tak tertampak lagi, yang dia ketemukan hanya sebuah sepatu kecil yang ketinggalan di semak2 di belakang pohon sana.
Tentu saja Kwe Ceng terkejut, ia mengerti ke-Tho-hoa-to, meski setiap hari ia tetap berlatih diri lain yang mengira di samping dan telah menculik si Nyo Ko.
Tetap bila ia pikir para imam tadi hanya salah paham saja terhadap dirinya, pula Coan-cing-kau selamanya suka bantu yang lemah dan berantas kejahatan, tidak nanti satu anak kecil dibikin susah oleh mereka, maka ia tidak menjadi kuatir lagi.
Dengan kumpulkan tenaganya, segera ia berlari cepat mendaki keatas.
Sudah ada belasan tahun Kwe Ceng tirakat di Thoa-hoa-to, meski setiap hari ia tetap berlatih diri, namun sudah sekian lamanya belum pernah ia bergebrak dengan orang, karena itu kadang2 terasa kesepian olehnya, kini kebetulan bisa bergebrak seru dengan para imam tadi, maka diam2 ia merasa cukup puas.
Sementara di jalannan pegunungan semakin sulit ditempuh, tak antara lama, bahkan awan hitam menutup raut sang dewi malam, mendadak udara-pegunungan cerah menjadi gelap guIita, Karena keadaan ini, Kwe Ceng menjadi ragu2, ia pikir.
"Tempat ini aku belum apal, jangan2 para To-heng itu main tipu muslihat, betapapun aku harus waspada."
Karenanya ia lantas lambatkan langkahnya, ia jalan pelahan saja.
sesudah maju lagi, tiba2 awan hitam tadi terpencar di tiup angit, rembulan memancarkan sinarnya dengan terang benderang, ia dengar di balik gunung sana sayup2 ada suara napas orang yang hampir ratusan banyaknya, meski suara napas itu sangat pelahan, namun karena jumlah orangnya banyak, maka Kwe Ceng dapat mengetahuinya.
Tetapi ia tidak menjadi gentar, sesudah kencangkan ikat pinggangnya, segera ia melanjutkan perjalanan pula, setelah melintasi satu lereng gunung, tiba-tiba ia menjadi kaget.
Kiranya di depannya terdapat satu lapangan yang sangat luas dengan sekelilingnya dikitari gunung2, keadaannya sangat angker dan bagus sekali, Di bawah gunung yang terdapat lapangan luas itu terdapat pula satu kolam besar, karena sorotan sinar bulan, maka air kolam menjadi berkelap-kelip kemilauan.
Di depan kolam besar kelihatan ratusan imam yang berdiri terpencar, para imam ini semuanya memakai kopiah kuning dan jubah kelabu, tangan menghunus pedang, sinar pedang yang gemerdepan menyilaukan mata.
Ketika Kwe Ceng mengawasi kiranya para imam itu tiap2 tujuh orang tergabung menjadi satu kelompok hingga seluruhnya ada empat belas barisan bintang Thian-keng-pak-tau-tin.
Tiap2 tujuh Pak-tau-tin kecil ini terbentuk pula menjadi satu Pak-tau-tin yang besar, sungguh hebat sekali keadaan barisan bintang raksasa ini, karena itu diam2 Kwe Ceng berkuwatir.
Dalam pada itu tiba2 terdengar satu imam dalam barisan raksasa itu bersuit, habis ini di 98 imam itu dengan cepat terpencar, ada yang di depan ada yang di belakang, sekaligus berubahlah barisan bintang mereka, segera Kwe Ceng terkurung di-tengah2.
Tiap-tiap imam itu siap sedia dengan pedang terhunus, mereka memandang dengan mata tak berkedip dan semuanya bungkam.
"Dengan hati tulus Cayhe mohon bertemu Khu-cin-jin, maka harap para To-heng jangan merintangi,"
Segera Kwe Ceng menyapa dengan memberi hormat kepada para imam itu.
"llmu kepandaianmu cukup hebat, kenapa kau tidak tahu harga diri dan mau berkomplot dengan kaum siluman ? Hendaklah kau lekas insaf bahwa selamanya wanita suka menyesatkan orang, sayang kalau puluhan tahun latihan kepandaianmu hanya dibuang dalam sekejap saja !"
Demikian imam berjenggot panjang dalam barisan itu menjawab Nada suaranya rendah, tetapi setiap, kata diucapkannya dengan jelas, suatu tanda tenaga dalamnya sudah kuat sekali, lagu kata2nya juga sungguh2 nyata ia menasihati orang dengan setulus hati.
Sudah tentu Kwe Ceng merasa geli dan mendongkol pikirnya dalam hati.
"Para imam hidung kerbau ini entah anggap aku ini manusia macam apa? Coba kalau Yong-ji berada didampingku, pasti tidak akan terjadi kesalahan paham seperti sekarang ini."
Oleh karena itu, dia lantas menyahut.
"Siluman apa dan wanita apa yang kau maksudkan ? Sungguh Cayhe sama sekali tidak tahu-menahu, jika Cayhe bertemu dulu dengan Khu-cinjin, tentu segalanya akan menjadi terang"
"Kau bisa ketemu beliau jika mampu boboIkan Pak-tau-tin dari Coan-cin-kau kami ini,"
Kata imam berjenggot pandang tadi.
"Cayhe hanya seorang diri, pula ilmu kepandaianku terlalu rendah, mana berani melawan ilmu mujijat kalian ? Harap saja anak yang aku bawa itu dibebaskan dan silakan memberi kesempatan padaku buat menemui Khu-cin-jin,"
Sahut Kwe Ceng.
"Hm, kau masih coba berlagak dan putar lidah? Di depan Tiong-yang-kiong di Cong-lam-san ini mana boleh kau maling cabul ini berbuat tidak se-mena2?"
Mendadak imam jenggot panjang membentak.
Habis ini pedangnya memutar ke atas dengan membawa samberan angin yang santar hingga menerbitkan suara ngaungan yang bergema.
Karena inilah imam yang lain serentak gerakan senjata mereka juga, sekaligus 98 batang pedang berputar kian kemari hingga menerbitkan angin yang keras, sinar pedang yang berpantulan tersusun seperti satu jaringan sinar perak Diam2 Kwe Ceng mengeluh oleh susunan barisan bintang2 ini, ia pikir dengan seorang diri mana mungkin bisa menandingi lawan yang begitu banyak?
Dalam pada itu sebelum dia bisa ambil sesuatu keputusan, ke-96 imam itu sudah lantas merubung maju dri kedua belah, sinar pedang mereka menyamber rapat hingga boleh dikatakan lalat saja sukar menerobos.
"Hayo, senjata apa yang kau pakai, lekas kau keluarkan!"
Terdengar si imam jenggot panjang membentak.
"Rupanya barisan Pak-tau-tin mereka tidak gampang dipecahkan, tetapi kalau hendak mencelakai aku, rasanya mereka juga tidak mampu, Biarlah aku melihat cara bagaimana permainan barisan mereka ini,"
Demikian Kwe Ceng membatin. Maka dengan se-konyong2 ia memutar pergi, ia lari menduduki tempat di ujung barat-daya, berbareng ia keluarkan tipu pukulan "ciam-liong-bat-yong"
Atau naga selulup jangan digunakan, satu tipu pukulan yang lihay dari ilmu pukulan "Hang-liong-sip-pat-ciang" (ilmu pukulan penakluk naga)"
Yang meliputi delapan belas jurus.
Sekali tangannya diulur lalu ditarik pula terus mendadak didorong lagi ke samping.
Karena serangan ini, ketujuh imam muda yang menjaga barisan ujung barat-daya itu lekas2 pindahkan pedang mereka ke tangan kiri, lalu sambil bergandengan tangan mereka ulur telapak tangan kanan untuk menyambut pukulan Kwe Ceng tadi.
Tak tahunya ilmu pukulan ini sudah dilatih Kwe Ceng sedemikian rupa sehingga di atas puncaknya kesempurnaan, tenaga dorongannya tadi luar biasa kerasnya, yang paling lihay justru terletak pada tenaga tarikan kembalinya tadi.
Oleh karena itu, sepenuh tenaga ketujuh imam itu menahan dorongannya, diluar dugaan menyusul satu kekuatan yang maha besar malah menarik lagi ke depan, keruan ketujuh imam muda ini tak bisa tancap kaki lebih kuat lagi, tanpa kuasa mereka terbanting jatuh, Meski segera mereka bisa melompat bangun, namun tidak urung muka mereka sudah kotor penuh debu hingga mereka merasa malu.
Nampak betapa lihaynya Kwe Ceng, sekali turun tangan tujuh anak muridnya kena dibanting roboh, tentu saja imam jenggot panjang tadi sangat terkejut, segera ia bersuit panjang, ia geraki ke-14 Pak-tau-tin mereka dan bergandeng menjadi satu secara ber-deret2.
Dalam keadaan demikian, sekalipun berlipat ganda pula tenaga pukulan Kwe Ceng juga tidak mungkin sanggup mendorong ke-98 imam yang banyak ini.
Maka ia tak berani menyerang secara keras lawan keras lagi, segera ia keluarkan Gin-kang atau ilmu entengi tubuh, ia menerobos ke sana kemari diantara barisan orang, ia pikir mencari lubang dahulu untuk kemudian baru turun tangan mematahkan barisan lawan.
Sesudah lari sini dan lompat sana, ia sengaja pancing barisan musuh supaya berubah tempat, namun segera ia tahu kalau hanya kekuatan seorang diri saja sungguh sulit untuk mematahkan barisan bintang2 ini, sementara itu makin lama barisan itu semakin ciut garis kepungan mereka, Kwe Ceng merasa hendak berkelit atau hindarkan diri makin lamapun semakin sulit.
Karenanya diam2 Kwe Ceng berusaha cara bagaimana untuk menerjang keluar kepungan musuh Ketika mendadak ia mendongak, ia lihat jauh di Iamping gunung sebelah kanan sana berdiri satu kuil yang sangat megah, ia taksir tentu itulah Tiong-yang-kiong, ia lihat kira2 belasan li jauhnya kuil itu, ia memperhitungkan suara teriakannya masih bisa mencapai istana itu, maka diam2 ia kumpulkan seluruh tenaga dalamnya, sesudah siap, mendadak ia berseru keras.
"Tecu (anak murid) Kwe Ceng mohon bertemu! Tecu Kwe Ceng mohon bertemu !"
Begitu keras suara teriakan hingga seperti bunyi guntur di siang hari sampai kuping para imam itu terasa pekak, bahkan tergetar sampai kepala pusing dan mata kabur, seketika daya serangan mereka menjadi kendor.
"Awas, jangan sampai kena dikibuli maling cabul ini,"
Lekas2 jenggot panjang tadi memberi semangat pada kawan-kawannya. Kwe Ceng menjadi gusar mendengar orang berulang kali memaki dirinya, ia pikir .
"Barisan bintang2 ini berada dibawah pimpinannya, asal aku hantam roboh orang ini, ular tanpa kepala, tentu barisan ini tidak sulit lagi untuk dihancurkan." -Karena itu, segera ia buka serangan lagi, ia selalu incar si-imam jenggot panjang. Di luar dugaannya, keistimewaan barisan bin-tang2 ini justru adalah memancing musuh untuk menggempur pucuk pimpinannya, dengan demikian barisan2 dalam kelompok kecil lainnya segera mengepung dari kedua sayap, kalau terjadi begini berarti musuh sudah terjebak ke dalam jaring2 mereka. Syukur Kwe Ceng bukan sembarang orang, baru beberapa langkah ia menguber imam jenggot panjang itu, segera ia merasa gelagat tidak menguntungkan, tiba2 ia merasakan daya tekanan dari belakang bertambah hebat, begitu pula dari kedua sayap mengerubut maju secara ber-bondong2. Satu kali ia hendak belok ke kanan, tetapi dua barisan kecil dari depan telah menyerang berbareng dengan 14 pedang. Tempat yang diarah ke 14 pedang para imam ini ternyata tepat dan bagus hingga Kwe Ceng hendak berkelit tak bisa, hendak mengegos pun tak sempat. Namun begitu menghadapi bahaya demikian ini, dalam hati Kwe Ceng bukannya menjadi takut, sebaliknya hawa amarahnya semakin memuncak, pikirnya dalam hati.
"Sekalipun kalian dakwa aku sebagai maling cabul segala, tapi sebagai orang beragama seharusnya berwelas-asih, kenapa tiap2 seranganmu begini keji? Apa memang sengaja hendak melenyapkan jiwaku ?"
Mendadak ia meloncat ke samping, berbareng sebelah kaki melayang, sekali tendang ia bikin satu imam muda terpental, sedang tangan kiri di-ulur pula buat merebut pedang orang, dengan senjata rampasan ini ia tangkis tujuh pedang yang sementara itu telah menyerang lagi dari sebelah kanan, Maka terdengarlah suara nyaring beradunya senjata, tahu2 ketujuh pedang musuh sudah ter-kutung semua, sebaliknya pedang yang Kwe Ceng pegang masih baik2 saja tanpa rusak.
Hendaklah diketahui bahwa pedang yang dirampas Kwe Ceng itu tiada bedanya dengan pedang para imam yang terkutung itu dan bukannya lebih tajam, soalnya karena tenaga dalamnya sengaja dia salurkan ke ujung pedangnya dan sekali gus bikin tujuh pedang musuh tergetar putus.
Mungkin saking kaget oleh ketangkasan Kwe Ceng ini hingga muka ketujuh imam tadi jadi pucat dan mulut temganga.
Nampak barisan kawannya bobol, lekas2 dari samping dua barisan kecil merubung maju untuk melindungi barisan yang duluan, Diam2 Kwe Ceng ingin men-coba2 lagi kekuatannya sendiri demi nampak 14 imam kedua kelompok barisan pendatang ini tangan bergandeng tangan, tenaga 14 orang telah tergabung menjadi satu.
Maka sengaja ia ajun pedang rampasannya, sekali tempel, senjata ke -14 imam itu segera melengket dengan pedang Kwe Ceng ini.
"Awas !"
Tiba2 Kwe Ceng berseru, berbareng tangannya sedikit diangkat, maka terdengar suara "krak"
Yang riuh, ternyata ada duabelas batang pedang para imam itu yang patah.
Masih dua batang lagi telah mencelat terbang ke udara.
Tentu saja luar biasa terperanjatnya imam2 itu, lekas2 mereka melompat mundur.
Walaupun sekaligus senjata para imam itu kena dipatahkan dan dilempar pergi, namun Kwe Ceng tidak merasa puas seluruhnya, pikirnya.
"Nyata kepandaianku masih belum sampai pada tingkatan yang paling tinggi, maka dua pedang tadi masih belum bisa kubikin patah sekalian."
Dalam pada itu, para imam sudah bertambah waspada, cara mereka menyerang pun lebih hati2, tetapi semakin kencang pula kepungan mereka, sebaliknya karena belum bisa membikin patah semua pedang tadi, Kwe Ceng merasa barisan musuh dijaga lebih kuat, dalam hati ia menjadi ragu2, ia pikir jangan sampai diriku akhirnya kecundang, urusan jangan sampai terlambat lebih baik turun tangan lebih dulu.
Habis ini dengan sedikit mendak tubuh, mendadak Kwe Ceng meloncat ke sudut timur laut, dengan tindakan ini ia tahu kedua kelompok barisan kecil dari jurusan barat-daya pasti akan putar maju, namun ia sudah siap, meski hanya sebatang pedang yang dia pegang, tapi dalam sekejap saja ia sudah menusuk empatbelas kali, 14 titik putih gemerdep menyamber berbareng, tiap2 tusukannya tepat mengenai "yang-kok-hiat"
Di pergelangan tangan ke -14 imam itu.
Meski cara menggeraki tangan Kwe Ceng tidak keras, tetapi para imam itu sudah rasakan tangan mereka tak bertenaga lagi, ke 14 pedang merekapun terjatuh ke tanah.
Luar biasa kejut para imam itu, dengan ter-sipu2 mereka melompat mundur, dan ketika pergelangan tangan mereka periksa, nyata "Yong-kok-hiat"
Yang kena ditutul tadi sedikit tanda merah, tetapi setetes darahpun tidak mengucur keluar, Sungguh hebat serangan Kwe Ceng ini, dia gunakan ujung pedang yang tajam itu untuk menusuk Hiat-to, tetapi sedikitpun tidak bikin lecet kulit daging, sungguh suatu kepandaian yang luar biasa.
Keruan para imam itu terperanjat, dalam hati mereka bisa membayangkan juga apabila Kwe Ceng mau tabas putus tangan mereka tadi sebenarnya bukan urusan sulit.
Kini sudah ada 5 kali 7 atau 35 pedang yang telah terlepas dari cekalan.
Imam yang berjenggot panjang tadi semakin gusar, ia tahu juga Kwe Ceng masih belum keluarkan seluruh kepandaiannya, tetapi untuk menjaga pamor Coan-cin-kau tidak merosot, berulang kali ia memberi perintah lagi, ia persempit pula lingkaran barisannya, ia pikir dengan kepungan 98 imam, secara desak-mendesak saja akan gencet mampus lawannya.
Sebaliknya hati Kwe Ceng menjadi gemas juga, batinnya .
"Para To-heng ini sungguh tidak kenal baik dan jelek, agaknya terpaksa aku harus hajar mereka supaya kapok."
Tanpa ayal lagi segera ia mulai buka serangan baru, dengan Ginkang yang lihay ia menyusur kesana dan memutar kemari, hanya sekejap saja barisan bintang para imam itu sudah tampak rada kacau.
Melihat gelagat jelek, lekas2 imam jenggot panjang tadi memberi perintah agar kambrat2nya berlaku tenang dan tetap jaga rapat kedudukan barisan mereka, ia insyaf apabila sampai ikut Kwe Ceng berlari, maka akhirnya barisan mereka pasti akan kocar-kacir dipatahkan.
Tetapi demi mereka berdiri tenang tak bergerak, Kwe Ceng sendiri jadi gagal usahanya.
"To-heng ini (maksudnya imam jenggot panjang) sangat paham akan rahasia barisannya, nyata dengan cepat ia bisa ambil tindakan,"
Demikian diam2 Kwe Ceng membatin.
"Biarlah aku berteriak beberapa kali lagi, coba ada suara sahutan dari Khu-totiang atau tidak"
Selagi ia mendongak hendak buka mulut, sekilas tertampak olehnya pada pojok kuil yang megah di atas gunung sana lapat2 ada berkelebatnya sinar putih, agaknya seperti ada orang sedang bertempur dengan senjata tajam, hanya sayang karena jaraknya terlalu jauh, maka gerak tubuh orangnya tidak jelas, lebih2 suara beradunya senjata tidak bisa kedengaran.
Hati Kwe Ceng tergerak "Siapakah yang bernyali begitu besar, berani dia ngacau ke Tiong-yang-kiong ?
Rupanya kejadian malam ini ada sesuatu yang mencurigakan"
Karena itu, ia ingin lekas memburu ke kuil di atas gunung untuk melihat apa yang terjadi, cuma para imam masih terus merintanginya dengan mati-matian.
Akhirnya Kwe Ceng menjadi tak sabar, tiba2 tangan kirinya memukul dengan gerak tipu "kian-liong-cay-thian" (melihat naga di sawah), sedang tangan kanan dengan tipu pukulan "kong-liong-yu-hwe" (naga pembawa sial), sekali serang ia keluarkan ilmu kepandaiannya hantam kanan-kiri dengan kedua tangannya.
Karena serangan kanan-kiri ini, maka barisan bintang raksasa itu terpaksa membagi 49 orang buat menahan serangan dari kiri dan 49 orang lainnya menahan hantaman dari sebelah kanan.
Diluar dugaan, belum penuh gerak serangan Kwe Ceng tadi dilontarkan, ditengah jalan tiba2 berubah, gerak tipu "kian-liong-tjay-thian"
Mendadak berubah menjadi "kong-liong-yu-hwe"
Dan sekaligus Kwe Ceng gerakkan kedua tangan dengan tipu pukulan Kian-liong-cay-dian dan Kong-liong-yu-hwe kekanan dan kiri lalu diputar balik secara berlawanan sebaliknya.
Sebenarnya ilmu pukulan, dari kanan-kiri, kedua tangan sekaligus mengeluarkan tipu serangan yang berlainan, bahkan ditengah jalan tipu serangan itu bisa berubah, sungguh orang tidak pernah dengar atau menyaksikannya (dari mana Kwe Ceng memperoleh ajaran ilmu pukulan kanan-kiri dengan serangan yang berlainan, pada kesempatan lain akan diceritakan tersendiri).
Padahal barisan Pak-tau-tin besar sebelah kiri sedang keluarkan tenaga buat menahan tipu "kian-liong-cay-thian"
Dan barisan sebelah kanan menangkis tipu "kong-liong-yu-hwe" , karena perubahan yang terbalik ini, maka tertampaklah bayangan Kwe Ceng berkelebat, tahu2 dia telah meloncat keluar dari celah2 himpitan kedua barisan besar itu, sebaliknya masing2 pihak dari ke-49 imam itu karena tidak pernah menyangka akan tindakan lawan itu, keruan lantas terdengar suara gedebukan yang ramai, kedua barisan itu telah saling tumbuk dan saling seruduk, banyak pedang yang patah dan tangan terluka, ada pula yang muka babak belur dan hidung mancur, beberapa puluh orang telah menderita luka semua.
Imam berjenggot panjang tadi meski sempat hindarkan diri lebih cepat, namun tidak urung ia ikut kelabakan juga, saking gemasnya, segera ia kerahkan seluruh barisannya terus mengudak pula.
Tetapi karena amarahnya ini justru telah melanggar pantangan ilmu silat dari golongan Coan-cin-kau yang mengutamakan ketenangan sementara itu Kwe Ceng berlari cepat di depan dan dari belakang ke-98 imam itu mengudak dengan kencang.
Tatkala sampai ditepi sebuah kolam besar, Kwe Ceng lihat di depan hanya air belaka, namun ia tidak kurang akal, mendadak ia lemparkan pedang rampasannya lurus kepermukaan air.
Meski pedang ini terbuat dari baja, namun kekuatan yang Kwe Ceng gunakan begitu tepat, maka batang pedang ini me-loncat2 terapung di atas air beberapa kali Kesempatan inilah digunakan Kwe Ceng dengan baik, ia melayang ke tengah kolam, dengan kaki kanan ia tutul pelahan di atas batang pedang, Pada saat pedang itu tenggelam kedalam kolam, namun Kwe Ceng sudah pinjam tenaga tutulan tadi untuk melompat sampai di seberang.
Sebaliknya para imam itu yang sial, mereka sedang mengudak dengan kencangnya dan tak keburu mengerem lagi, maka terdengarlah suara "plang-plung"
Yang ramai beberapa puluh kali, nyata ada 40-50 orang yang telah kecemplung ke dalam kolam.
Sedang beberapa puluh yang di belakang menginjak punggung imam2 yang depan, karena inilah mereka bisa berhenti ditepi kolam.
Sedang imam2 yang kecemplung tadi karena tak bisa berenang, banyak yang megap2 dan ber-teriak-teriak minta tolong, cepat imam2 lainnya yang bisa berenang memberi pertolongan dan dengan sendirinya tidak sempat buat menguber Kwe Ceng lagi.
Diwaktu para imam ini tunggang langgang, tiba2 Kwe Ceng dengar suara genta yang ditabuh keras berkumandang dari Tiong-yang-kiong, itu istana kaum Coan-cin-kau.
Suara genta itu dibunyikan secara titir, keras dan kerap, agaknya seperti tanda bahaya.
Waktu itu Kwe Ceng baru lepaskan diri dari rintangan para imam dan lagi berlari menuju Tiong-yang-kiong secepatnya, ketika ia dengar suara genta rada aneh, ia telah merandek dan mendongak maka terlihatlah olehnya di belakang kuil suci itu ada sinar api yang ber-kobar2 menjulang tinggi.
Tentu saja Kwe Ceng kaget, pikirnya .
"Kiranya hari ini memang benar ada orang hendak gempur Coan-cin-kau, aku harus lekas pergi menolongnya."
Dalam pada itu ia dengar suara teriakan para imam tadi telah menyusul dari belakang lagi.
Kini Kwe Ceng baru mengerti tentunya imam2 ini telah salah sangka dirinya adalah musuhnya, kuil mereka sedang terancam bahaya, sudah tentu mereka lebih kalap dan hendak adu jiwa dengan dirinya, Namun iapun tidak urus mereka lagi melainkan dengan cepat ia lari terus ke atas.
Dengan Ginkang atau ilmu entengi tubuh yang Kwe Ceng dapat belajar juga dari Coan-cin-kau, yakni ajaran Ma Giok, maka tidak sampai waktu satu tanakan nasi ia sudah tiba sampai di depan Tiong-yang-kiong, ia lihat api sudah berkobar dan menjalar hebat, Tetapi aneh, ratusan To-su atau imam dari Coan-cin-kau yang masing2 memiliki ilmu silat tinggi itu ternyata tiada satu-pun yang keluar buat memadamkan api.
Diam2 Kwe Ceng merasa kuatir.
Waktu ia mengamati lagi, kiranya api menjalar dari bagian belakang istana yang megah itu terbukti bagian depannya masih utuh.
Cepat ia melintasi pagar tembok yang tinggi itu dan melompat masuk pelataran depan kuil itu, maka terlihatlah olehnya dipendopo sana sudah ber-jubel2 orang yang lagi saling hantam dengan mati-matian.
Waktu Kwe Ceng menegasi pula, ia lihat ada 49 orang imam berjubah kuning yang tersusun menjadi tujuh barisan Pak-tau-tin sedang menandingi serangan 60 atau 70 orang musuh.
Para musuh pendatang itu ada yang tinggi ada yang pendek, gemuk atau kurus, seketikapun tak dapat dilihat dengan terang.
Hanya kepandaian silat dan golongan para pendatang ini masing2 berlainan, ada yang memakai senjata dan ada yang menggunakan tangan kosong, mereka terus merangsak dengan penuh tenaga.
Sebenarnya tidak lemah ilmu silat para penyerang ini pula jumlahnya lebih banyak, maka para imam Coan-cin-kau sudah mulai terdesak di bawah angin, cuma lawan mereka menyerang dan menghantam secara perseorangan, sebaliknya ke-tujuh barisan bintang para imam itu bisa bahu-membahu dan bantu membantu, mereka menjaga diri dengan sangat rapat, Meski para musuh sangat lihay tak mampu mendesak para imam itu barang selangkahpun.
Melihat pertarungan besar2an ini, Kwe Ceng menjadi heran, Selagi ia hendak membentak dan tanya, tiba2 ia dengar di dalam istana kuil itu ada suara samberan angin yang men-deru2, ternyata di dalam sana masih ada rombongan lain lagi yang sedang bertempur.
Dari angin pukulan yang kedengaran itu, agaknya orang yang bergebrak di dalam istana itu ilmu silatnya jauh lebih tinggi daripada para penyerang yang berada di luar.
Lekas2 Kwe Ceng memburu maju, ia mengegos dan menerobos masuk, ia berkelit ke kiri terus menyusup ke kanan, tahu2 ia sudah menyelip masuk melalui Pak-tau-tin para imam, Tentu saja imam2 Coan-cin-kau sangat kaget, berbareng mereka saling memperingatkan kawannya, tapi karena musuh dari luar terlalu hebat tekanannya, maka mereka tidak sanggup membagi sebagian untuk mengudak Kwe Ceng.
Di dalam istana itu sebenarnya terang benderang oleh belasan lilin yang besar, tatkala itu api yang berkobar dari ruangan belakang sudah menjalar ke depan, dari pancaran sinar api yang berkobar itu bercampurkan asap tebal yang menghembus terbawa angin, sinar lilin di dalam ruangan hanya kelihatan remang2 saja.
Sementara Kwe Ceng lihat di dalam istana itu ber-deret2 tujuh imam duduk sila di atas ka-suran yang bundar, telapak tangan kiri mereka saling tempel, hanya tangan kanan mereka yang dikeluarkan untuk menahan kepungan belasan orang musuh.
Begitu datang Kwe Ceng tidak periksa pihak musuh melainkan terus pandang dulu pada ketujuh imam Coan-cin-kau, ia lihat di antara tujuh orang itu yang tiga sudah berumur dan yang empat masih muda, yang tua itu masing2 ialah Ma Giok, Khu Ju-ki dan Ong Ju-it, sedang empat imam yang muda hanya seorang saja yang dia kenal, yakni In Ci-peng, murid Khu Ju-ki.
Ketujuh imam inipun memasang jaring2 barisan Pak-tau-tin, mereka berduduk saja tanpa bergerak Diantara tujuh imam ini ada satu di antaranya yang kepalanya menunduk dan sedikit membungkuk hingga mukanya tidak tertam-pak jelas.
Demi nampak Ma Giok bertujuh berada dalam keadaan terancam, seketika darah Kwe Ceng jadi panas, iapun tidak peduli lagi siapa dan darimana adanya musuh itu, dengan sekali bentakan yang menggeledek segera ia mendamperat .
"Kawanan bangsat yang kurangajar, berani kalian main gila ke Tiong-yang-kiong sini ?"
Berbareng itu kedua tangan mengulur, sekaligus ia dapat mencengkeram punggung dua orang musuh, selagi ia bermaksud membanting sasaran pertama ini, tak terduga kedua orang ini ternyata tergolong jagoan tinggi, walaupun punggung mereka kena dijamberet, namun kedua kaki mereka ternyata masih terpaku di lantai dan tidak kena dibanting.
Tentu saja Kwe Ceng terkejut, pikirannya.
"Darimanakah mendadak bisa datang lawan keras begini banyak ? Pantas kalau Coan-cin-kau hari ini harus menderita kekalahan."
Sambil berpikir iapun sembari kerjakan serangan lain, mendadak ia kendurkan jamberetan-nya tadi, menyusul kakinya lantas melayang, ia serampang kaki kedua orang lawannya.
Pada waktu itu kedua lawannya sedang mengeluarkan kepandaian "Cian-kin-tui"
Atau tindihan seberat ribuan kati, yakni semacam ilmu yang bikin tubuhnya menjadi berat untuk melawan tarikan pwe Ceng tadi, sama sekali tidak mereka duga bahwa Kwe Ceng bisa ubah serangannya secepat itu.
Tanpa ampun lagi mereka kena diserampang hingga tubuh mereka mencelat keluar pintu.
Tentu saja pihak penyerang itu terkejut tatkala mengetahui pihak lawan kedatangan bala bantuan, Akan tetapi karena mereka yakin pasti akan dipihak pemenang, maka datangnya Kwe Ceng tidak mereka perhatikan, hanya ada dua orang yang segera maju dan membentak "Siapa kau ?"
Namun Kwe Ceng tidak menggubris, tanpa berkata ia sambut kedua orang ini dengan gablokan kedua telapak tangannya secara susul-menyusul.
Sungguh tidak pernah diduga kedua orang itu, belum mereka mendekat atau mendadak tenaga pukulan Kwe Ceng sudah bikin tergetar mereka hingga tak bisa berdiri tegak, tanpa ampun lagi dupiali suara "bluk"
Terdengar, punggung mereka tertumpuk pada dinding tembok dengan keras hingga darah segar muncrat keluar dari mulut mereka.
Nampak empat kawan mereka roboh beruntun-runtun, keruan para musuh yang lain menjadi jeri, seketika tiada lagi yang berani maju buat mencegat.
Di lain pihak Ma Giok, Khu Ju-ki dan Ong Ju-it segera mengenali Kwe Ceng dalam hati mereka menjadi girang luar biasa.
"Orang ini datang, Coan-cin-kau kami tidak perlu kuatir lagi!"
Demikian kata mereka dalam hati.
Sementara Kwe Ceng sama sekali tidak pandang sebelah mata pada para musuh itu, bahkan ia lantas berlutut ke hadapan Ma Giok buat memberi hormat tanpa gubris musuh2 yang lain.
"Tecu Kwe Ceng memberi hormati"
Demikian ia berkata.
Tatkala itu rambut alis Ma Giok, Khu Ju-ki dan Ong Ju-it sudah putih karena usia mereka yang sudah menanjak, mereka hanya memanggut sambil bersenyum dan angkat tangan buat balas hormat.
"Awas, Kwe-heng!"
Tiba2 In Ci-peng berseru memperingatkan Kwe Ceng.
Dalam pada itu, Kwe Ceng sudah merasa di belakang kepalanya ada mendesisnya angin, ia tahu ada musuh melakukan pembokongan, tetapi iapun tidak menoleh atau berpaling, dengan tangan menahan di lantai, tubuhnya lantas terangkat ke atas dan diwaktu turunnya, kedua lututnya dengan tepat menindih di atas punggung kedua pembokong ini Dengan demikian Kwe Ceng masih tetap berlutut, hanya di bawah lututnya telah bertambah dengan dua orang pengganjel.
Kiranya dengan secara tepat dan hebat sekali Kwe Ceng telah gunakan lututnya untuk menumbuk jalan darah penyerang gelap tadi, keruan dengan lemas kedua orang itu terkulai ke lantai dan dipakai sebagai kasur pengganjel Kwe Ceng.
Ma Giok tersenyum melihat kejadian ini, katanya.
"Bangunlah, Ceng-ji, belasan tahun tak berjumpa, rupanya kepandaianmu sudah jauh lebih maju!"
"Cara bagaimana harus selesaikan beberapa orang ini, harap Totiang memberi petunjuk,"
Kata Kwe Ceng sambil berdiri.
Tetapi sebelum Ma Giok menjawab, tiba2 Kwe Ceng mendengar di belakangnya ada dua orang secara berbareng bersuara tertawa "haha" , suara tertawaan ini sangat aneh sekali, kalau yang satu tajam menusuk telinga, adalah yang lain sebaliknya nyaring menarik.
Cepat Kwe Ceng menoleh, maka tertampaklah olehnya di belakangnya sudah berdiri dua orang.
Kedua orang ini yang satu adalah paderi Tibet yang berjubah merah, kepalanya memakai kopiah berlapis emas, wajahnya kurus, Sedang yang satu lagi memakai baju kuning, tangan mencekal sebuah kipas lempit, angkuh dan tampan, nyata sekali seorang putera bangsawan.
Kedua orang ini berdiri dengan sikap yang tenang dan tidak banyak bicara, terang sekali mereka adalah dua musuh tangguh, sama sekali berbeda dengan para musuh yang lain.
Oleh karenanya Kwe Ceng tak berani pandang enteng kedua musuh yang lain.
Oleh karenanya Kwe Ceng tak berani pandang enteng kedua musuh ini, dengan membungkuk badan ia lantas memberi hormat dahulu.
"Siapakah kalian berdua? Ada keperluan apakah datang ke sini?"
Demikian ia menegur.
"Dan kau sendiri siapa? Untuk apa kau datang kemari ?"
Dengan tertawa putera bangsawan tadi balas bertanya.
"Tayhe (aku yang rendah) she Kwe bernama Ceng, adalah murid beberapa guru yang berada di sini ini,"
Sahut Kwe Ceng tetap dengan ramah.
"Sungguh tidak nyana dalam Coan-cin-kau ternyata masih ada tokoh seperti kau ini,"
Ujar si putera bangsawan itu dengan tertawa.
Meski umur putera bangsawan itu belum ada tiga puluhan, namun cara mengucapkan kata2nya ternyata berlagak seperti orang tua saja, seperti tidak pandang sebelah mata pada Kwe Ceng.
Sebenarnya Kwe Ceng hendak terangkan bahwa dirinya bukan anak murid Coan-cin-kau, tetapi karena kata2 orang yang pandang rendah padanya, mau-tak-mau rada panas juga hatinya.
Memangnya iapun tidak pandai bicara, maka ia tidak ingin banyak pmong, ia hanya menjawab singkat saja.
"Kalian berdua ada permusuhan apakah dengan Coan-cin-kau ? (Mengapa perlu mengerahkan kekuatan begini banyak dan kobarkan api membakar kuil ini ?"
"Siapakah kau ini ? Berdasarkan apa kau berani jikut campur urusan ?"
Sahut Kui-kong-cu (putera bangsawan) itu dengan ketawa.
"Aku justru ingin ikut campur tahu,"
Sahut Kwe Ceng ketus.
Dalam pada itu berkobarnya api semakin hebat dari telah menjalar lebih dekat lagi, tampaknya tidak lama lagi kuil Tiong-yang-kiong itu pasti akan terbakar menjadi tumpukan puing.
Tiba2 putera bangsawan itu geraki kipas lempitnya, dikembangkan terus ditutup lagi, maka sekilas tertampaklah pada kertas kipasnya yang putih itu terlukis setangkai bunga Bo-tan yang indah.
"Kawan2 ini aku yang bawa kemari,"
Kemudian ia berkata dengan ketawa sambil melangkah maju.
"asal kau mampu menerima tiga puluh gebrakan dari aku, segera aku mengampuni kawanan imam hidung kerbau ini!"
Mendengar kata2 orang yang sombong ini, Kwe Ceng pun sungkan bicara lebih banyak lagi, tiba2 ia ulur tangan kanannya, sekali bergerak ia pegang kipas lempit orang terus ditarik dengan keras.
Dengan tarikan ini, kalau putera bangsawan itu tidak melepaskan kipasnya, maka seluruh tubuhnya pasti akan ikut terseret.
Diluar dugaan, begitu Kwe Ceng membetot badan Kui-kong-tju itu hanya sempoyongan sedikit saja, sedang kipasnya masih belum terlepas dari cekalannya.
Tentu saja Kwe Ceng terkejut, pikirnya.
"Orang ini masih begini muda, namun sudah sanggup menahan tenaga tarikanku tadi, di jagat ini ternyata masih ada orang pandai seperti dia, kenapa selamanya aku belum pernah mendengarnya ?"
Oleh karena pikiran itu, segera pula ia tambah tenaga tarikannya terus menjambret lagi sambil membentak .
"Lepas !"
Se-konyong2 muka putera bangsawan itu bersemu guram, tetapi hanya sekilas saja lantas lenyap lagi, mukanya kembali sudah putih bersih pula.
Kwe Ceng mengerti orang lagi menahan tenaga tarikannya dengan Lwekang yang tinggi, jika pada saat ini juga ia tambahi tenaga tarikan-nya, asal muka orang tiga kali mengunjuk semu guram, maka dapat dipastikan jerohannya (isi perut) akan terluka parah.
Akan tetapi hati Kwe Ceng memang berbudi, ia pikir orang ini bisa berlatih diri sampai tingkatan sedemikian, sesungguhnya bukan soal gampang, maka ia tidak ingin melukai orang dengan tenaga berat, ia tersenyum dan mendadak lepaskan tangannya.
Meski Kwe Ceng sudah buka tangannya, tapi nyatanya kipas lempit itu masih terletak di telapak tangannya, pula tenaga Kui-kong-cu yang membetot kembali masih tetap besar, namun aneh, tenaga telapak tangan Kwe Ceng ternyata telah dia salurkan dari kipas ke tangan lawan, meski putera bangsawan itu sudah merebut dengan sekuat tenaga, toh tenaga menariknya selalu dipatahkan Kwe Ceng, dengan demikian kedua belah pihak menjadi bertahan, tidak maju dan tidak mundur, sungguhpun putera bangsawan itu sudah mengeluarkan seluruh kemahirannya, tetapi satu sentipun belum sanggup ia tarik kepihaknya.
Maka insaflah dia bahwa ilmu silat lawan masih jauh di atasnya, karena ingin memberi muka padanya, maka lawan tidak rebut kipasnya.
Mengingat akan ini, segera ia lepaskan tangannya terus melompat pergi, mukanya menjadi merah malu.
"Mohon tanya she dan nama tuan yang terhormat,"
Katanya kemudian sambil membungkuk badan.
"Ah, nama Tjayhe tiada harganya disebut, cuma Ma-cinjin, Khu-cinjin dan Ong-cinjin yang berada di sini ini memang semuanya adalah guru Tjayhe yang berbudi,"
Sahut Kwe Ceng.
Karena jawaban ini, Kui-kong-cu itu setengah percaya setengah sangsi, ia pikir tadi pihaknya sudah gempur Coan-cin-chit-to (tujuh imam Coan-cin-kau) dan yang tertampak lihay hanya barisan bintang Thian-keng-pak-tau-tin mereka, jika bergebrak satu lawan satu, maka tiada satupun Tosu itu mampu menandingi dirinya, kenapa anak muridnya malah bisa begini lihay ?
Dalam sangsinya, kembali ia mengamat-amati Kwe Ceng lagi, sudah tentu yang tertampak olehnya, Kwe Ceng memakai baju dari kain kasar yang tiada bedanya dengan petani biasa saja.
Dan selagi ia hendak buka mulut pula mengucapkan beberapa kata2 halus untuk kemudian membawa begundalnya buat mundur teratur, tiba2 dari luar terdengar suara mengaungnya tabuhan khim (kecapi), suara khim ini sangat lembut tetapi merdu, karena itu setiap orang yang mendengar sama tergetar hatinya.
Mendengar suara tabuhan khim itu, air muka Kui-kong-cu itu kelihatan rada berubah.
"llmu silatmu sungguh mengejutkan orang, aku merasa sangat kagum, sepuluh tahun lagi aku akan datang kembali minta petunjuk, karena masih ada urusan lain yang belum selesai, baiklah sekarang juga aku mohon diri,"
Demikian katanya pada Kwe Ceng. Habis berkata, kembali ia memberi hormat pula.
"Sepuluh tahun kemudian tentu aku tunggu kau disini,"
Sahut Kwe Ceng membalas hormat orang. Sementara itu putera bangsawan itu sudah putar tubuh dan jalan keluar, tetapi baru sampai depan pintu, tiba2 ia menoleh dan berkata pula.
"Urusanku dengan Coan-cin-kau hari ini aku terima mengaku kalah, hanya kuharap To-yu (kawan dalam agama) dari Coan-cin-kau janganlah ikut campur lagi atas urusan pribadiku."
Menurutt peraturan Kangouw, kalau seseorang sudah mengaku kalah dan terima menyerah, pula sudah menentukan harinya untuk kemudian adu kepandaian lagi, maka sebelum tiba hari yang dijanjikan meskipun saling pergok lagi di tengah jalan, sekali-kali tidak boleh saling labrak dulu.
Oleh karena itulah, maka Kwe Ceng lantas menjawab .
"Ya, sudah tentu."
Maka tersenyumlah Kui-hong-cu itu, segera ia hendak melangkah pergi pula. Diluar dugaan, mendadak Khu Ju-ki telah menyentaknya dengan suara keras.
"Tidak perlu sampai sepuluh tahun aku Khu Ju-ki pasti pergi mencari kau."
Mendengar suara bentakan yang kuat hingga anak telinga tergetar se-akan2 pecah, hati putera bangsawan itu menjadi keder, ia ragu2 apa orang tadi belum mengeluarkan seluruh kepandaian untuk melawannya?
Karenanya ia tak berani tinggal lebih lama lagi, segera ia bertindak pergi dengan cepat.
Sesudah memandang Kwe Ceng sekejap dengan mata melotot, paderi Tibet itu pun ikut pergi bersama kawan2nya yang lain.
Kwe Ceng lihat kawanan musuh ini berwajah lain dari biasanya, hidung besar dan berewokan, rambut keriting serta mata dekuk, tampaknya seperti bukan orang dari negeri sendiri maka dalam hati ia tidak habis mengerti serta menaruh curiga, sementara ia dengar suara saling adunya senjata dan suara bentakan di ruangan depan sudah mulai berhenti juga, ia tahu tentu musuh sudah mundur pergi Dalam pada itu ia lihat Ma Giok bertujuh sudah pada berdiri, disamping itu terdapat pula satu orang yang menggeletak terlentang di lantai, waktu Kwe Ceng maju melihatnya, ia kenal bukan lain dari Kong-ling-cu Hek Tay-thong, satu diantara Coan-cin-chit-cu atau tujuh tokoh dari Coan-cin-kau.
Kiranya Ma Giok dan lain meski terancam oleh bahaya api, tapi mereka tetap duduk tenang tanpa bergerak sebabnya karena ingin melindungi kawan yang terluka ini.
Waktu Kwe Ceng memeriksanya, ia lihat muka Hek Tay-thong pucat seperti kertas, napasnya lemah dan matanya tertutup rapat, terang sekali menderita luka berat, Ketika Kwe Ceng buka jubah orang, ia menjadi lebih terkejut lagi, ia lihat di dada imam terdapat bekas lima jari tangan dengan terang sekali, warna bekas jari ini matang biru dan dekuk ke dalam daging.
"Di kalangan Bu-lim belum pernah kudengar ada yang mempunyai ilmu kepandaian semacam ini. Apa karena belasan tahun aku terasing di Tho-hoa-to dan semua kejadian di bumi ini sudah berubah jauh?"
Demikian ia pikir, Maka segera ia berjongkok dan mengeluarkan ilmu It-yang-ci atau tutukan jari sakti, berulang dua kali ia tutuk bagian bawah bahu Hek Tay-thong.
Dua kali tutukan ini meski tidak bisa menyembuhkan luka dan hilangkan racun pada luka Hek Tay-thong itu, namun dalam duabelas jam keadaan luka boleh dipercaya tidak bakal meluas dan memburuk, Sementara itu api sudah makin hebat berkobarnya dan sukar ditolong lagi, lekas2 Khu Ju-ki angkat Hek Tay-thong.
"Hayo, lekas keluar !"
Demikian ajaknya cepat.
"He, dimanakah anak yang aku bawa ? siapakah yang menahan dia? jangan sampai ia dimakan api!"
Tanya Kwe Ceng tiba-tiba. Tadi Khu Ju-ki cs. sedang melawan musuh dengan segenap perhatian mereka, dengan sendirinya ia tidak tahu seluk-beluk urusan Nyo Ko yang dibawa kemari mereka menjadi bingung.
"Anak ? Anak siapa? Dimana dia?"
Demikian tanya mereka berbareng.
Dan sebelum Kwe Ceng menjawab, diantara sinar api yang ber-kobar2 itu, tiba2 ada berkelebatnya bayangan orang, sesosok tubuh yang kecil tahu2 telah melompat turun dari atas belandar rumah.
"Aku berada di sini, Kwe-pepek,"
Demikianlah seru anak kecil itu dengan ketawa. Siapa lagi dia kalau bukan Nyo Ko ? Tentu saja Kwe Ceng terkejut bercampur girang.
"Kenapa kau bisa sembunyi di atas belandar rumah ?"
Lekas ia tanya.
"Tadi, waktu aku dengan ketujuh imam busuk itu..."
"Hus, kurangajar !"
Bentak Kwe Ceng memotong sebelum Nyo Ko meneruskan "Hayo, lekas memberi hormat kepada para Co-su-ya (kakek guru)."
Karena bentakan itu, Nyo Ko me-lelet2 lidah-nya, ia tak berani membantah, segera ia berlutut ke hadapan Ma Giok, Khu Ju-ki dan Ong Ju-it bertiga untuk menjura.
Ketika sampai gilirannya harus menjura pada In Ci-peng, Nyo Ko lihat orang masih muda, maka lebih dulu ia berpaling menanya Kwe Ceng.
"Kwe-pepek, apakah dia Co-su-ya juga ? Agaknya tidak perlu lagi aku menjura, ya ?"
"Dia ini In-supek (paman guru), lekas menjura,"
Sahut Kwe Ceng.
Terpaksa Nyo Ko harus menjura lagi, sungguhpun dalam hati seribu kali tidak sudi.
Habis ini, Kwe Ceng lihat Nyo Ko lantas berdiri dan tidak menjura pula pada tiga imam setengah umur yang lain, maka kembali ia membentak.
"Ko-ji, kenapa kurangajar ? Hajo, menjura lagi!"
"Kalau harus menunggu aku selesai menjura, mungkin tidak keburu lagi, nanti jangan Kwe-pepek salahkan aku,"
Dengan tertawa Nyo Ko menjawab. Kwe Ceng sudah kenal anak ini kelakuannya sangat aneh dan nakal, banyak pula tipu akalnya, Maka ia lantas tanya .
"Soal apa yang tidak keburu lagi ?"
"ltu, di sana ada satu paman To-su diringkus orang dalam kamar, kalau tidak ditolong, mungkin akan terbakar mati oleh api,"
Sahut Nyo Ko.
"Kamar yang mana? Lekas katakan !"
Tanya Kwe Ceng dengan cepat.
"Eeeh, nanti dulu, coba aku ingat2 dulu, ai, kenapa aku jadi lupa,"
Demikian Nyo Ko menjawab dengan ketawa.
Tentu saja In Ci-peng menjadi gemas, ia melototi sekejap pada Nyo Ko, habis ini dengan langkah cepat ia berlari ke kamar sebelah timur, ia dobrak pintu kamar, tapi tiada seorangpun yang tertampak, kembali ia berlari ke kamar murid angkatan ketiga yang biasa buat melatih, ketika ia tendang terpentang pintu kamar ini, ternyata seluruh kamar sudah penuh dengan asap yang tebal, remang2 kelihatan pada satu imam yang teringkus di tiang ranjang, mulutnya menganga dan sedang ber-teriak2 minta tolong dengan suara yang serak, mungkin saking lamanya ia men-jerit2.
Melihat keadaan sudah mendesak, cepat In Ci-peng cabut pedangnya, dengan sekali tabas, ia potong tali pengikat dan bebaskan imam itu dari ancaman maut.
Sementara itu Khu Ju-ki, Kwe Ceng, Nyo Ko dan lain sudah selamatkan diri keluar kuil, mereka sudah berdiri di atas tanah tanjakan dan sedang menyaksikan mengamuknya jago merah yang men-jilat2 semakin hebat itu, oleh karena diatas gunung memang tidak gampang didapatkan air yang cukup, maka tanpa berdaya mereka menyaksikan kuil yang megah itu lambat laun ambruk untuk achirnya menjadi tumpukan puing belaka.
Watak Khu Ju-ki sangat keras dan berangasan kini menyaksikan kuil mereka yang bersejarah ini ditelan mentah2 oleh api, ia mengutuk tidak habisnya pada musuh yang mengobarkan api itu.
Selagi Kwe Ceng hendak tanya siapakah sebenarnya musuh yang datang itu dan kenapa turun tangan sejara keji begini, tiba2 ia lihat sebelah tangan In Ci-peng mengempit satu imam sedang menerobos keluar di antara gumpalan yang tebal.
Karena kepelepekan oleh asap tebal itu, imam yang dikempit In Ci-peng masih ter-batuk2 hingga kedua matanya mengucurkan air mata,tapi demi nampak Nyo Ko, dadanya hampir meledak saking gusarnya, tanpa pikir lagi segera ia ulur tangan terus menubruk bocah itu.
Akan tetapi perbuatan orang hanya diganda tertawa oleh Nyo Ko, ketika imam itu menubruk tiba, dengan cepat ia sembunyi kebelakang Kwe Ceng.
Rupanya imam itu belum kenal siapa adanya Kwe Ceng, maka dia telah mendorong dadanya dengan maksud kesampingkan orang agak lebih leluasa menangkap Nyo Ko, Siapa duga dorongannya itu laksana kena pada dinding saja, sedikitpun Kwe Ceng tidak bergerak Karena itu, sesaat imam itu menjadi kesima, tapi segera ia tuding Nyo Ko dan mencaci maki.
"Anak jadah, berani kau pedayai To-ya (tuan imam), hampir aku terbakar mampus karena perbuatanmu !"
Demikian teriaknya murka.
"Ceng-kong, apa yang kau katakan ?"
Tiba2 Ong Ju-it membentaknya dari samping. Kiranya Tosu atau imam yang kena "dikerjai"
Nyo Ko ini adalah cucu-murid Ong Ju-it dan bernama Ceng-kong, tadi ia beruntung bisa diselamatkan dari elmaut atas pertolongan In Ci-peng, dalam sengitnya begitu nampak Nyo Ko segera ia menubruk maju untuk adu jiwa, sama sekali tidak terpikir olehnya bahwa para paman guru dan kakek gurunya juga berada disitu.
Kini mendadak dibentak Ong Ju-it, baru dia ingat telah berlaku kurang sopan, keruan ia berkeringat dingin saking takutnya.
"Ya, Tecu patut mampus", katanya kemudian dengan tangan lurus ke bawah.
"Urusan apakah sebenarnya, katakan ?"
Bentak Ong Ju-it lagi.
"Semuanya karena Tecu sendiri yang tak becus, harap Cosuya memberi ampun,"
Sahut Ceng-kong. Karena jawaban yang lain daripada yang ditanya, Ong Ju-it mengkerut kening.
"Memangnya siapa yang bilang kau becus ? Aku hanya tanya ada urusan apakah sebenarnya?"
Ulangi Ong Ju-it.
"Tadi, Tecu diperintah Thio Ci-goan-Susiok menjaga di belakang, kemudian Thio-susiok membawa anak... anak..."
Sebenarnya Ceng-kong hendak berkata "anak jadah,"
Untung ia lantas ingat sedang berhadapan dengan Cosuya, maka tak berani ia keluarkan kata2 kotor, lekas ia ganti.
"anak... anak kecil ini dan diserahkan padaku, ia bilang anak ini ikut naik gunung bersama musuh tetapi dapat ditawan Thio-susiok, maka aku diperintahkan mengawasinya, dan jangan sampai anak ini melarikan diri. Oleh karena itu, Tecu lantas membawanya ke dalam kamar latihan di sebelah timur itu, Siapa duga, duduk tidak lama mendadak anak... anak kecil ini pakai tipu muslihat, katanya ingin kencing, dan minta aku lepaskan tali yang meringkus tangannya itu, Tecu tidak mau diakali, maka dengan tanganku sendiri kubukakan celananya biar kencing, Siapa tahu, bocah ini memang berhati jahat, habis kencing hingga bikin sebagian lantai basah kuyup, waktu aku mengikat celananya lagi, mendadak dia dorong aku dengan keras."
Bercerita sampai disini, mendadak terdengar Nyo Ko ketawa ngikik, karuan Ceng-kong menjadi gusar.
"Anak... anak apa yang kau tertawakan ?"
Damperatnya dengan gemas. Tetapi Nyo Ko hanya angkat kepala ke atas, pandang saja tidak ia menjawab .
"Aku tertawa sendiri, peduli apa dengan kau ?"
Sudah tentu Ceng-kong tidak menyerah mentah2, ia hendak adu mulut dengan bocah ini kalau saja Ong Ju-it tidak membentaknya.
"Tak perlu kau ribut2 dengan anak kecil, lekas teruskan ceritamu,"
Kata Ong Ju-it.
"Ya, ya,"
Sahut Ceng-kong ketakutan.
"Engkau tak tahu, Cosuya, anak ini licin luar biasa. Pada waktu aku didorong jatuh telentang di atas lantai yang basah kuyup dengan air kencingnya itu dan selagi aku hendak melompat bangun buat persen dia beberapa kali tamparan, tiba2 dengan cengar-cengir ia malah mendekati aku dan berkata .
"Wah, To-ya, aku telah bikin kotor pakaianmu !"
Mendengar cara Ceng-kong menirukan suara perkataan Nyo Ko yang masih kanak2 hingga kedengaran lucu sekali, semua orang diam-diam merasa geli.
Hanya Ong Ju-it yang mengkerut kening lagi, dalam hati ia damperat habis-habisan cucu-muridnya yang bikin malu di depan orang banyak ini.
"Mendengar kata2-nya itu, aku mengira dorongannya padaku tadi disebabkan tidak sengaja, maka akupun tidak menyalahkan dia lebih jauh,"
Demikian Ceng-kong melanjutkan ceritanya.
"Sementara itu ia mendekati aku, tampaknya seperti hendak bantu membangunkan aku, tapi kedua tangannya terikat, maka tidak bisa berbuat apa-apa, tak tahunya, mendadak dia melompat dan mencemplak ke atas tubuhku, ia menunggangi aku yang masih telentang, bahkan mulutnya terus ditempelkan keleherku dan menggigit tenggorokanku" . Bercerita sampai di sini, tanpa terasa Ceng-kong me-raba2 lehernya, agaknya masih terasa sakit oleh bekas gigitan tadi itu.
"Dengan sendirinya aku terperanjat,"
Sambungnya lagi.
"Aku berusaha membaliki tubuh buat banting dia, siapa duga, ia menggigit lebih kencang, kalau sekali lagi dia gigit mungkin jalan pernapasanku bisa putus, Karena terpaksa, aku tak berani berkutik, dengan jalan halus aku lantas memohon.
"Sudahlah, tentu kau ingin aku lepaskan tali pengikatmu, bukan ?"
Ia angguk2 atas pertanyaanku ini, sebaliknya aku masih ragu-ragu, maka kembali ia perkeras lagi gigitannya, saking sakitnya sampai aku ber-teriak2. Pikirku waktu itu.
"Biarlah aku lepaskan talinya, asal dia tidak menggigit lagi, masakan satu anak kecil saja aku kalah ?"
Maka aku lantas lepaskan tali pengikatnya, Tak terduga, begitu tangannya merdeka, segera ia cabut pedangku terus menodong ulu hatiku dan mengancam, bahkan senjata berbalik makan tuan, ia malah gunakan tali yang mengikat dia tadi untuk meringkus diriku pada tiang ranjang, ia mengiris sepotong kain bajuku pula dan menyumbat mulutku, belakangan kuil kita terbakar hendak lari aku tak dapat, ingin berteriak juga tak bisa, kalau bukan In-susiok tadi yang menolong, tentu Tecu sudah terbakar hidup2 karena anak kecil ini?"
Habis bercerita, dengan mata melotot ia pandang Nyo Ko dengan murka.
Sesudah mendengar penuturunnya, semua orang sebentar pandang Nyo Ko, saat lain memandang Ceng-kong pula, yang satu tubuhnya kurus kecil, sedang yang lain berperawakan tinggi besar, tetapi yang gede kena dikibuli hingga tak berdaya, saking gelinya, semua orang itu sama tertawa ter-bahak-bahak.
Ceng-kong menjadi bingung, ia cakar2 kuping dan garuk2 kepala dan tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.
"Ceng-ji,"
Kata Ma Giok kemudian dengan tertawa.
"apakah ini puteramu? Agaknya dia telah lengkap menurunkan tabiat sang ibu, oleh karena itu begini nakal dan cerdik."
"Bukan,"
Sahut Kwe Ceng.
"dia adalah putera tinggalan dalam perut dari adik angkatku, Nyo Khong."
Ketika mendadak dengar nama Nyo Khong disebut, hati Khu Ju-ki terkesiap, Kemudian ia coba mengamat-amati Nyo Ko, betul juga ia lihat wajah bocah ini rada2 mirip dengan Nyo Khong.
Khu Ju-ki ada hubungan guru dan murid dengan Nyo Khong, walaupun kemudian Nyo Khong berkelakuan kurang baik, tamak kedudukan dan serakah akan kemewahan, terima mengaku musuh sebagai bapak, namun bila Khu Ju-ki ingat semua itu, selalu ia merasa dirinya kurang sempurna mendidik anak muridnya itu, hingga akibatnya Nyo Khong tersesat, maka seringkali dalam hati ia merasa menyesal.
Kini demi mendengar Nyo Khong mempunyai keturunan tentu saja ia sangat girang, lekas2 ia bertanya lebih jelas.
Begitulah tanpa menghiraukan Tiong-yang-kiong mereka sudah habis ditelan api, sebaliknya Ma Giok dan Khu Ju-ki mendengarkan penuturan Kwe Ceng tentang diri Nyo Ko dengan penuh perhatian.
"Ceng-ji, dengan ilmu silatmu seperti sekarang ini boleh dikatakan sudah jauh di atas tingkatan kami, kenapa tidak kau sendiri mengajar dia?"
Demikian kata Khu Ju-ki kemudian setelah mendengar bahwa Kwe Ceng sengaja membawa Nyo Ko ke Cong-lam-san buat belajar silat.
"Hal ini akan kuterangkan kelak,"
Sahut Kwe Ceng.
"Hanya kedatangan Tecu sekarang telah banyak bikin ribut para To-heng, inilah, yang bikin hatiku terasa tidak enak sekali."
Habis ini ia lantas menuturkan pula tentang kesalahan paham sewaktu ia naik gunung tadi sehingga saling gebrak dengan para imam yang memasang jaring2 Pak-tau-tin buat mencegatnya.
Mendengar cerita ini, seketika Khu Ju-ki menjadi marah.
"Sungguh tak berguna, Ci-keng memimpin barisan luar, kenapa kawan atau lawan tidak bisa mem-beda2kan,"
Katanya.
"Memangnya aku merasa heran kenapa barisan yang kita pasang begitu kuat di luar itu bisa begitu cepat dibobol musuh hingga menerjang ke atas gunung, kita diserang dalam keadaan belum siap. Hm, kiranya dia telah kerahkan Pak-tau-tin yang dia pimpin untuk merintangi kedatanganmu."
Semakin berkata, tertampak Khu Ju-ki semakin menjadi gusar.
"Mungkin itu disebabkan salah paham,"
Ujar Kwe Ceng.
"ketika berada di bawah gunung, tanpa sengaja Tecu telah tepuk hancur batu pilar yang terukir syair buah tangan Totiang, mungkin inilah yang menimbulkan salah paham."
Mendengar keterangan ini, air muka Khu Ju-ki berubah menjadi tenang kembali.
"O, kiranya begitu, kalau demikian tidak bisa menyalahkan mereka,"
Ujarnya.
"Memangnya begitu kebetulan, sebab musuh yang hendak menyerang Tiong-yang-kiong kita hari ini justru diketahui memakai tanda serangan dengan menepuk pilar batu yang kau katakan itu."
"Siapakah sebenarnya orang2 yang datang tadi? Kenapa begitu besar nyali mereka?"
Tanya Kwe Ceng.
"Cerita ini terlalu panjang, Ceng-ji,"
Sahut Khu Ju-ki dengan menghela napas.
"lni, biar aku tunjukan sesuatu benda dulu padamu."
Habis ini ia lantas berjalan menuju ke belakang gunung.
"Ko-ji, kau tinggal disini, jangan sembarang pergi,"
Pesan Kwe Ceng pada Nyo Ko, Lalu ia ikut di belakang Kho Ju-ki.
Agak lama mereka menanjak, akhirnya mereka sampai di atas satu puncak yang tinggi, Khu Ju-ki membawa Kwe Ceng menuju belakang satu batu pegunungan yang besar.
"Disini juga terukir tulisan2,"
Katanya.
Waktu itu hari sudah magrib, di belakang batu besar ini terlebih gelap lagi, ketika Kwe Ceng meraba batu yang diunjuk, betul juga ia rasakan di atas batu itu terukir tulisan, ia meraba lagi tiap2 huruf, akhirnya tahulah dia, kiranya itu adalah sebaris syair.
Oleh karena ia meraba huruf2 itu menuruti goresan yang terukir di atas batu, mendadak Kwe Ceng terkejut, terasa olehnya bahwa goresan tulisan itu persis cocok dengan jari tangannya, seperti orang itu menulis di batu ini dengan jari tangan saja.
"Ditulis dengan tangan?"
Tanpa tertahan ia berseru.
"Ya, kejadian ini kalau diceritakan memang terlalu mengejutkan orang, memang betul ditulis dengan jari tangan !"
Kata Khu Ju-ki.
"Mana bisa? Apa di dunia ini terdapat dewa?"
Kata Kwe Ceng ragu2.
"Orang yang menulis ini bukan saja ilmu silatnya sangat tinggi tiada bandingannya, bahkan banyak tipu akalnya, meski bukan dewa, namun terhitung seorang luar biasa yang sukar diketemukan,"
Sahut Khu Ju-ki. Tentu saja Kwe Ceng menjadi sangat kagum.
"Siapakah dia? Dapatkah lotiang memperkenalkannya pada Tecu?"
Tanyanya cepat.
"Aku sendiri belum pernah melihat orang-nya,"
Sahut Ju-ki.
"Duduklah kau, biar aku ceritakan sebab musababnya sehingga terjadi peristiwa seperti hari ini."
Kwe Ceng menurut, ia duduk di atas batu itu.
"Arti bunyi syair ini apa kau paham?"
Tiba2 Khu Ju-ki menanya.
Waktu itu usia Kwe Ceng sudah menginjak setengah umur, tetapi lagu suara pertanyaan Khu Ju-ki masih tetap seperti belasan tahun yang lalu sewaktu Kwe Ceng masih muda, akan tetapi Kwe Ceng sedikitpun tidak pikirkan hal ini, ia tetap menjawabnya dengan sangat menghormat.
"Bagian depan Tecu masih paham, tetapi bagian belakang yang menguraikan urusan pribadi Tiong-yang Cosu, itulah Tecu tidak begitu mengerti,"
Demikian sahutnya.
"Tahukah kau orang macam apakah Tiong-yang Co-su itu?"
Tanya Khu Ju-ki lagi. Kwe Ceng jadi tercengang mendengar orang mendadak tanya tentang diri Ong Tiong-yang, itu cakal-bakal dari Coan-cin-kau.
"Tiong-yang Cosu adalah "
Khay-san-pi-co " (cakal-bakal) Coan-cin-kau, dahulu ketika Hoa-san-lun-kiam, ilmu silatnya diakui nmnor satu di jagad ini,"
Sahutnya kemudian.
"Itu memang tidak salah, tetapi waktu mudanya?"
Tanya Ju-ki pula.
"ltulah aku tidak tahu,"
Sahut Kwe Ceng sambil menggoyang kepala.
"Nah, tahulah kau bahwa asalnya Tiong-yang Co-su bukan imam,"
Kata Khu Ju-ki.
"Diwaktu mudanya dia sangat benci pada tentara Kim yang menjajah tanah air kita dan membunuhi rakyat kita, pernah dia kerahkan pasukan sukarela untuk melawan pasukan Kim hingga terjadi suatu pergerakan yang menggemparkan belakangan karena pasukan Kim terlalu kuat, beberapa kali ia mengalami kekalahan hingga banyak panglimanya tewas dan perajuritnya hancur, saking menyesalnya kemudian dia menjadi To-su (imam), Tatkala itu ia menyebut dirinya sebagai "
Hoat-su-jin " (orang mati yang masih hidup), terus-menerus beberapa tahun ia menetap di dalam satu kuburan kuno di atas gunung ini, selangkahpun tak pernah ia keluar dari pintu kuburan itu, maksud kiasannya, yalah meski orangnya masih hidup, namun tiada seperti orang yang sudah mati, ia hidup tidak sudi hidup berdampingan di tanah air sendiri dengan musuh bangsa Kim."
"O, kiranya begitu,"
Ujar Kwe Ceng.
"Kejadian itu berlangsung sampai beberapa tahun,"
Ju-ki melanjutkan pula.
"Tidak sedikit sobat-andai mendiang guruku itu telah datang mencari padanya, banyak yang minta dia keluar dari kuburan untuk membikin pergerakan yang lebih hebat lagi, Akan tetapi mendiang guruku rupanya sudah putus asa dan patah hati, iapun merasa tiada muka buat bertemu dengan bekasnya di kalangan Kangouw, maka ia tetap tidak mau keluar dari kuburan. Keadaan demikian itu berlangsung sampai delapan tahun kemudian, tiba2 kedatangan seorang lawan yang dianggapnya paling kuat, musuh ini telah mencaci-makinya dengan segala kata2 yang mencemoohkan dan menghina diluar kuburan, ber-turut2 musuh itu memancing selama tujuh hari tujuh malam, agaknya Sian-su (mendiang guruku) menjadi tak tahan, ia lantas keluar dari kuburan buat bergebrak dengan musuh tadi. Tak terduga, begitu dia keluar, segera orang itu menyambut padanya dengan bergelak ketawa.
"Haha, akhirnya kau keluar juga, maka tidak perlu lagi kau kembali kedalam!"
Karena itu Sian-su sadar bahwa dirinya telah kena tertipu, tetapi maksud tujuan orang itu adalah baik, yalah sayang terhadap kepandaian Siau-su yang begitu bagus harus terpendam lenyap di dalam kubur, oleh karenanya sengaja pakai kata2 yang pedas untuk memancingnya keluar dari kuburan.
Setelah mengalami kejadian itu, kedua orang dari lawan berubah menjadi kawan dan dengan bahu-membahu pergi mengembara Kangouw lagi.
"Siapakah gerangan cianpwe (orang angkatan tua) itu ?"
Tanya Kwe Ceng dengan kagum.
"Apa dia satu di antara Tong-sia, Se-tok, Lam-te atau Pak-kay ?"
"Bukan,"
Jawab Khu Ju-ki.
"Kalau soal ilmu silat, orang ini masih berada di atas keempat tokoh besar itu, cuma karena dia adalah wanita, biasanya tidak suka unjuk diri di kalangan umum, maka orang luar jarang yang tahu akan dia, namanya pun tidak tersohor."
"Ah, kiranya dia seorang wanita, itulah lebih hebat lagi,"
Ujar Kwe Ceng rada kaget.
"Ya, sebenarnya cianpwe ini menaruh hati terhadap Sian-su, ia sudah menyerahkan diri untuk mengikat perjodohan dengan Sian-su,"
Tutur Ju-ki lagi "
Tetapi Sian-su mengatakan bahwa musuh belum dihancurkan, mana boleh berumah tangga, Oleh karena itu, terhadap asmara yang dilontarkan Cianpwe itu ia hanya berlagak bodoh dan pura2 tidak tahu saja.
Tak tahunya cianpwe itu juga berambekan besar dan tinggi hati, ia menyangka Sian-su telah pandang rendah padanya, ia menjadi gusar sekali, Kedua orang yang tadinya lawan dan sudah berubah menjadi kawan itu, oleh karena cinta berbalik menjadi sakit hati lagi, mereka kemudian berjanji untuk bertanding di atas Cong lam-san ini untuk menentukan siapa yang lebih unggul "ltu sebenarnya tidak perlu,"
Kata Kwe Ceng.
"Memangnya !"
Ujar Khu Ju-ki.
"Sian-su pun tahu akan maksud baik orang, maka sepanjang jalan ia selalu mengalah, Siapa tahu cianpwe itu ternyata berwatak aneh, ia bilang. Semakin kau mengalah, semakin nyata kau pandang rendah padaku -Karena tiada jalan lain, terpaksa Sian-su bergebrak dengan dia, sampai beberapa ribu jurus mereka bertempur, selama itu Sian-su tidak keluarkan tipu serangan yang mematikan. Tak tahunya cianpwe itu menjadi gusar malah, katanya.
"Baik, memang kau tidak niat bertarung dengan aku, kau anggap aku ini orang macam apa?" -Tetapi kata Sian-su .
"Daripada bertanding secara kasar, tidakkah lebih baik bertanding secara halus ?" -jawab orang itu.
"Begitupun boleh, jika aku kalah, selamanya tidak akan kutemui kau lagi, dengan demikian biar kau merasa tenang dan senang"
Tetapi Sian-su balas menanya .
"Dan jika kau yang menang, lalu apa yang kau inginkan ?" -Karena pertanyaan guruku itu, cianpwe wanita itu menjadi merah mukanya, ia menjadi gelagapan tak bisa menjawab, akhirnya dengan kertak gigi ia menjawab .
"Jika aku me-nang, kau punya kuburan Hoat-su-jin-bong ini harus serahkan untuk aku tinggal."
Syarat ini bikin Sian-su menjadi serba susah, harus diketahui sekali tinggal dia sudah delapan tahun mendiami kuburan kuno itu, tidak sedikit tinggalan karya jeri-payahnya, kini jika begitu saja direbut orang, inilah yang dia sayangkan, tapi Sian-su membatin kepandaiannya masih sedikit lebih tinggi daripada orang, ia pikir terpaksa harus kalahkan dia agar kelak tidak banyak rewel dan di-goda tiada habisnya, maka ia lantas tanya.
Cara bagaimana akan bertanding.
"Hari ini kita sudah sama2 letih, biarlah besok malam kita tentukan siapa yang menang atau kalah,"
Demikian sahut Cianpwe itu.
"Besok malamnya, kembali kedua orang bersua lagi di sini, Kata orang itu.
"Sebelum kita bertanding, kita harus sama2 bersumpah dahulu."
Jawab guruku.
"Bersumpah apa lagi ?"
"Begini,"
Kata cianpwe itu,"
Jika kau bisa mengalahkan aku, segera juga aku bunuh diri di sini, dengan begitu pasti tidak akan bertemu dengan kau lagi, sebaliknya jika aku yang menang, kau harus sucikan diri, terserah kau mau menjadi Hwesio atau menjadi Tosu.
Tapi tidak peduli jadi Hwesio atau Tosu, kau harus mendirikan kuil di atas gunung ini dan mengawani aku selama sepuluh tahun."
Dalam hati mendiang guruku mengerti bahwa dengan syarat itu, dirinya disuruh menjadi Hwesio atau Tosu, itu berarti selama hidupnya diharuskan tidak beristri "Tetapi buat apa aku harus menangkan kau hingga memaksa kau bunuh diri ?
Dan kalau aku harus mengawani kau sepuluh tahun di atas gunung ini, hal inipun sulit,"
Demikianlah pikir guruku, Oleh karenanya ia menjadi ragu2 tidak bisa menjawab.
"Kemudian cianpwe itu lantas berkata pula.
"Pertandingan secara halus kita ini sangat mudah begini, kau gunakan jari tanganmu untuk mengukir beberapa tulisan di atas batu ini, demikian pula akupun mengukirnya beberapa huruf, lalu kita lihat tulisan siapa yang lebih baik, itulah dia yang menang."
Mendengar cara ini, Sian-su tercengang, katanya .
"Menulis di atas batu dengan jari tangan ?"
"Ya, itu namanya bertanding ilmu tenaga jari, kita boleh lihat siapa yang mengukir lebih dalam." -Namun Sian-su geleng2 kepala saja, jawabnya kemudian.
"Aku toh bukan dewa, mana sanggup aku mengukir tulisan di atas batu dengan jari tangan ?"
"Tetapi kalau aku bisa, apa kau mau mengaku kalah ?"
Tanya orang itu.
Dalam keadaan demikian Sian-su jadi di pojokkan pada keadaan yang serba susah, maju salah, mundurpun keliru, Tetapi kemudian ia pikir dijagad ini pasti tidak mungkin ada orang yang sanggup mengukir tulisan di atas batu dengan jari tangan, kebetulan urusan ini bisa di selesaikan sampai disini, dengan demikian pertandingan ini dapat dianggap tidak pernah ada, maka ia lantas berkata.
"Sudah tentu jika kau bisa, aku lantas ngaku kalah, Tetapi kalau kaupun tak bisa, kita boleh anggap seri, tiada yang menang dan tiada yang kalah, selanjutnya kita pun tidak perlu bertanding lagi."
Karena itu, tiba2 orang itu tertawa dengan rasa pedih .
"Bagus, kalau begitu sudah pasti kau akan jadi Tosu,"
Demikian katanya sambil dengan tangan kiri me-raba2 sejenak di atas batu, habis ini ia ulur jari telunjuk tangan kanan terus menggores di atas batu itu.
Sian-su menjadi ternganga ketika menyaksikan debu, batu itu bertebaran, betul saja orang telah menulis sehuruf demi sehuruf, dalam kagetnya sampai tak sanggup ia bicara lagi, Dan tulisan yang terukir dengan tangan itu bukan lain adalah bagian depan dari syair ini.
"Tentu saja Sian-su menjadi lesu dan terima kalah, ia tidak bisa bicara lagi, besoknya dia lantas sucikan diri menjadi Tosu, dia mendirikan sebuah kuil kecil di dekat kuburan itu, dan itu adalah Tiong-yang-kiong yang asli."
Kwe Ceng jadi ter-herah2 oleh cerita itu, waktu ia merabanya lebih terang, betul saja memang tulisan di atas batu itu bukannya ditatah, juga bukan ukiran, melainkan betul2 digores dengan jari tangan.
"Kalau begitu, ilmu kepandaian dalam hal tenaga jari cianpwe itu sesungguhnya sangat mengejutkan orang,"
Katanya kemudian. Karena ucapannya ini, tiba2 Khu Ju-ki mendongak dan ketawa ter-bahak2.
"Ceng-ji, kejadian ini bisa mengelabui mendiang guruku, bisa menipu aku, juga bisa menipu kau, tetapi kalau waktu itu isterimu berada disini, pasti tidak bisa mengelabui matanya,"
Demikian katanya. Kwe Ceng menjadi lebih heran hingga kedua matanya terpentang lebar.
"Apa? Apa didalam hal ini terdapat sesuatu yang tidak beres?"
Tanyanya.
"Sudah tentu, hal itu tak perlu dikatakan lagi,"
Sahut Khu Ju-ki.
"Coba kau pikir, pada jaman ini, kalau soal tenaga jari, siapa jago yang nomor satu?"
"Sudah tentu ialah Toan Hong-ya, It-teng Taysu punya It-yang-ci,"
Kata Kwe Ceng.
"Nah, dengan tenaga jari It-teng Taysu saja, sekalipun di atas kayu, belum tentu dia mampu menulis sesuka hatinya, apa lagi di atas batu? Lebih2 lagi orang lain?"
Ujar Khu Ju-ki.
Karena itu juga sesudah Sian-su menjadi imam, terhadap kejadian itu ia masih terus memikirnya dengan tidak habis mengerti.
Belakangan dia telah berjumpa dengan bapak mertuamu, Ui Yok-su Cianpwe, secara tak langsung guruku telah menyinggung kejadian itu, setelah Ui-tocu berpikir sebentar, kemudian ia bergelak ketawa, katanya.
"Kepandaian itu akupun bisa. Cuma sekarang aku belum melatihnya, sebulan lagi pasti aku datang kembali kesini,"
Habis berkata, dengan ter-bahak2 ia lantas mohon diri dari guruku.
"Betul saja sebulan kemudian Ui-tocu telah datang lagi, lalu bersama Sian-su mereka datang ke sini memeriksa batu ini. Tadinya syair yang ditulis cianpwe wanita itu sebenarnya masih belum selesai, baru bagian depan yang maksudnya menghendaki Sian-su tirakat saja meniru caranya Thio Liang di jaman ahala Han. Sesudah Ui-tocu pakai tangan kiri me-raba2 rada lama di atas batu, kemudian ia ulur tangan kanan terus menulis di atas batu, dia telah menyambung syair cianpwe wanita yang masih belum selesai itu yang artinya menghormat dan memuji diri guruku.
"Melihat jari tangan mertuamu bisa menulis diatas batu, sama halnya seperti dahulu dilakukan cianpwe wanita itu, Sian-su menjadi lebih2 heran dan terkejut, pikirnya dalam hati. ilmu silat Ui Yok-su jelas masih kalah setingkat di bawahku, kenapa diapun memiliki tenaga jari yang begini lihay?"
Begitulah sesaat itu guruku merasa tidak habis mengerti -Mendadak, iapun ulur jari tangannya menutul ke atas batu itu, sungguh aneh, batu itu ternyata lantas berlubang oleh tusukan jarinya, Tempatnya disini, coba kau boleh merabanya Berbareng itu Khu Ju-ki tarik tangan Kwe Ceng ke suatu tempat di tepi batu itu, Ketika Kwe Ceng meraba dan dapatkan satu lubang kecil, ia coba masukkan jari telunjuknya, betul saja seperti cetakan, persis dapat dimasuki jarinya, Tetapi Kwe Ceng masih sangsi, ia pikir jangan2 batu cadas ini memang lunak dan berlainan dengan batu umumnya, maka coba2 ia gunakan tenaga jarinya dan dikorek dengan keras, namun yang dia rasakan kesakitan belaka, sebaliknya batu itu sedikitpun tidak bergerak.
Khu Ju-ki tertawa berbahak-bahak.
"Memang, kalau kau tentu tak akan mengetahui rahasia yang tersembunyi di balik kejadian ini,"
Demikian katanya kemudian.
"Kiranya sebelum tangan cianpwe wanita itu menulis di atas batu, lebih dulu ia telah raba2 agak lama di atas batu dengan sebelah tangannya yang lain, tangan yang buat me-raba2 itu menggenggam "
Hoa-sek-tan (obat penglebur batu), ia telah bikin permukaan batu itu menjadi lunak dan dalam waktu sekira setengah jam, permukaan batu tidak akan mengeras kembali.
Rahasia ini rupanya dapat dipecahkan oleh Ui-tocu, ia bilang sebulan buat melatih kepandaian itu kepada guruku, sebenarnya ia turun gunung untuk mengumpulkan obat buat bikin "Hoa-sek-tan", habis itu baru ia datang lagi dan menirukan cara orang menulis di atas batu."
Kwe Ceng menjadi kagum sekali atas kecerdasan bapak mertuanya itu.
Tiba2 ia menjadi ingat orang tua itu telah lama tinggalkan Tho-hoa-to, ia menjadi rindu terhadap Ui Yok-su.
Sudah tentu Khu Ju-ki tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Kwe Ceng, maka ia telah menyambung lagi ceritanya.
"Ketika mula2 Sian-su menjadi Tosu, perasaannya sebenarnya sangat tertekan, tetapi setelah banyak membaca kitab2 ajaran To (Tao), akhirnya ia menjadi pandai dan menginsafi segala apa di dunia ini tergantung jodoh dan tidak, maka iapun lebih mendalam lagi mempelajari ilmu agama kita untuk lebih mengembangkannya. Kalau dipikir, jika bukan gara2 pancingan itu cianpwe wanita, mungkin dijagat ini tidak bakal terdapat Coan-cin-kau, aku Khu Ju-ki tentu pula tidak bisa seperti hari ini dan kau Kwe Ceng lebih2 tidak diketahui akan berada di mana."
Kwe Ceng angguk2 membenarkan ucapan itu.
"Entah cara bagaimana harus menyebut nama Licianpwe (wanita tingkatan tua) itu, apa dia masih hidup kini ?"
Tanyanya kemudian.
"Kecuali guruku sendiri, dijagat ini tiada orang lain lagi yang mengetahui nama aslinya, sedang Sian-su pun tidak pernah katakan pada orang,"
Sahut Ju-ki.
"Jauh sebelum terjadi Hoa-san-lun-kiam yang pertama kali cianpwe itu sudah meninggal kalau tidak, dengan ilmu silatnya yang tinggi serta wataknya yang tinggi hati itu, mana mungkin dia tidak ikut serta dalam pertandingan Hoa-san itu."
"Dan entah dia meninggalkan keturunan tidak?"
Ujar Kwe Ceng. Tiba2 Khu Ju-ki menghela napas panjang.
"Soalnya justru terletak disini,"
Katanya kemudian.
"Seumur hidup Locianpwe itu tidak pernah menerima murid, dia hanya punya satu dayang yang selalu mendampingi dan melayani segala keperluannya, kedua orang ini tinggal bersama di dalam kuburan kuno itu, selama belasan tahun ternyata tidak pernah melangkah keluar dan seluruh ilmu silat Locianpwe itupun diturunkan semua pada dayangnya, Dayangnya ini biasanya tidak pernah injakkan kakinya dikalangan Kangouw, di kalangan Bu-lim pun jarang yang kenal dia, tetapi ia malah mempunyai dua orang murid, yang besar she Li, mungkin kau pernah mendengar namanya, di kalangan Kangouw orang menyebut dia Jik-lian Sian-cu Li Bok-chiu."
"Ah, kiranya dia ini,"
Seru Kwe Ceng mendadak "Perempuan ini keji sekali, kiranya asalnya dari sini."
"Kau pernah ketemu dia ?"
Tanya Khu Ju-ki.
"Ya, beberapa bulan yang lalu pernah bergebrak sekali dengan dia di daerah Kanglam, ilmu silatnya memang sangat hebat,"
Sahut Kwe Ceng.
"Dan kau telah melukai dia ?"
Tanya Ju-ki lagi.
"Tidak,"
Jawab Kwe Ceng menggoyang kepala "Tapi dia yang turun tangan keji dan bunuh beberapa orang sekaligus, kelakuannya memang terlalu ganas dan keji, kalau dibandingkan Tang-si (Si-mayat tembaga) Bwe Ciau-hong dahulu, mungkin melebihi jahatnya,"
"Lebih baik kalau kau tidak melukai dia, kalau tidak, tentu akan banyak menimbulkan kesulitan saja,"
Ujar Khu Ju-ki.
"Dan dia punya Sumoay she Liong..."
"Ha, kiranya wanita she Liong itu ?"
Potong Kwe Ceng dengan hati terkesiap. Mendengar lagu suara Kwe Ceng ini, air muka Khu Ju-ki rada berubah juga.
"Kenapa ? Apa kau pernah lihat dia ? Apa telah terjadi sesuatu ?"
Tanyanya cepat.
"Tidak, Tecu tidak pernah bertemu dia,"
Sahut Kwe Ceng demi nampak wajah Khu Ju-ki rada aneh.
"Cuma waktu aku naik gunung tadi, para To-yu di sini ber-ulang2 memaki aku sebagai maling cabul, pula bilang kedatanganku ini disebabkan oleh wanita she Liong itu, keruan aku sendiri menjadi bingung."
Khu Ju-ki bergelak ketawa pula setelah tahu duduknya perkara, Tetapi segera ia menghela napas pula.
"Ya, rupanya memang Tiong-yang-kiong harus mengalami bencana seperti hari ini,"
Baca Juga: Kemelut Di Majapahit 8
Baca Juga: Sepasang Garuda Putih 4