Ceritasilat Novel Online

Tiga Maha Besar 12

Eps 12 Tiga Maha Besar - Khu Lung

Baca online Tiga Maha Besar - Khu Lung

Cersil Tiga Maha Besar - Khu Lung.

Berbicara soal kelincahan menggunakan tangan kiri, dikolong langit dewasa ini boleh dibilang tak seorangpun dapat menandingi kegesitan Hoa Thian-hong.

Baru saja serangan yang dilepaskan Tang Kwik-siu mencapai separuh jalan, serangan yang dilepaskan Hoa Thianhong tahu-tahu sudah mencapai sasaran lebih dahulu, ketika jari tangannya menyentuh pergelangan tangan Tang Kwik-siu, bagaikan dipagut ular berbisa cepat gembong iblis itu menarik kembali tangannya kebelakang.

Pada saat ini, dalam benak Hoa Thian-hong hanya mempunyai satu ingatan, yakni ia lebih suka mengorbankan selembar jiwanya daripada melepaskan cekatannya pada ikat pinggang berkepala naga emas itu....Ketika telapak tangan kirinya gagal mencengkeram pergelangan tangan Tang Kwiksiu, ia lantas membentak kerat dan menyusulkan dengan sebuah pukulan lagi.

Apabila dihari-hari biasa, niscaya Hoa Thian-hong akan menyerang dengan jurus Kun-siu-ci-tauw, akan tetapi saat ini yang terpikir diotaknya adalah soal kecepatan maka gerakan permulaan dari Kun-siu-ci-tauw yang seharusnya melakukan gerakan perputaran setengah lingkaran lebih dahulu didepan dada, telah dibuang dengan begitu saja, secara langsung dia dorong telapak tangannya mengancam dada musuh.

Keringat telah membasahi sekujur badan Tang Kwik-siu, dalam keadaan terancam bahaya, ia tak sempat berpikir panjang lagi, dalam gugupnya buru-buru ia angkat telapak tangannya dan langsung menebas pergelangan tangan si anak muda itu.

Hoa Thian-hong mendengus dingin, sekuat tenaga ia tarik ikat pinggang naga emas itu sementara telapak tangan kirinya yang tajam bagaikan golok menebas kebawah.

Posisi Tang Kwik-siu pada saat ini ibaratnya orang yang tertinggal disebuah batu karang ditengah samudra, mau menceburkan diri takut, mau tetap berdiam diri juga tak mungkin, keadaannya serba salah.

Telapak tangan kesannya sudah terasa panas dan kaku, nyaris ikat pinggang naga emasnya terampas lawan.

Ikat pinggang naga emas adalah benda mustika dari perguruan Seng sut pay, benda itu merupakan benda kehormatan dan keagungan dari seorang ciangbunjin, jangankan benda itu tahan dibacok oleh senjata mustika, cukup memandang dari ukirannya yang hiduppun sudah cukup membuat hati orang terkesima.

Pek Kun-gie sendiri pernah mengagumi keindahan sabuk naga emas tersebut dan ingin sekali memperolehnya, tentu saja sebagai ketua Seng sut pay, Tang Kwik-siu lebih rela hancur lebur tubuhnya daripada benda mustika keluarganya kena dirampas orang .

"Breeett!"

Karena mati-matian mempertahankan sabuk naga emasnya itu ujung baju targan kiri Tang Kwik-siu kena tertebas oleh bacokan telapak tangan Hoa Thian-hong sehingga kutung separuh, bekas kutungannya rata sekali bagaikan disayat dengan pisau.

Sementara itu kawanan jago yang berada ditempat kejahuan telah meluruk datang semua, pertarungan massal telah terhenti dan sebagian besar jago persilatan telah mengerubungi sekeliling gelanggang.

Pek Siau-thian yang berdiri disamping arena melotot besar dengan muka tajam membesi, kesengsaraan yang diderita Tang Kwikk Siu dapat dirasakan pula oleh dia sendiri, sementara kawanan jago lainpun rata-rata dibikin terkejut dan tercengang oleh kejadian yang sama sekali berada diluar dugaan ini, mereka cuma bisa berdiri dengan wajah kebingungan dan tak habis mengerti.

Sampai detik itu, baik Hoa Thian-hong maupun Tang Kwiksiu masih saling mencengkeram ikat pinggang naga emas itu dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya dipergunakan untuk melangsungkan pertarungan.

Bagi Hoa Thian-hong, pertarungan ini sama artinya dengan menggunakan kelebihan yang dimiliki untuk menyerang kelemahan dari lawan, posisinya tentu saja jauh lebih menguntungkan dirinya, karena posisinya yang baik maka sejurus demi sejurus ia meneter terus musuhnya habishabisan, jurus pukulan yang dipakaipun makin lama semakin dahsyat dan mematikan.

Sekuat tenaga Tang Kwik-siu melakukan perlawanan, makin bertempur hatinya semakin bergidik, makin lama ia merasa dirinya makin terjerumus kedalam lumpur yang tak terkirakan dalamnya dan kini ia betul-betul sudah terperosok kedalamnya.

Hong Liong jadi cemas bercampur kuatir, ia takut nama baik gurunya akan musnah dengan begitu saja ditangan lawan, tak kuasa lagi dia meraung keras, sambil putar sepasang telapak tangannya sekuat tenaga orang itu melepaskan beberapa puluh buah pukulan dahsyat.

Perubahan ini terjadi sangat mendadak, siapapun tak sempat untuk menghalanginya, terdengarlah serentetan bentakan nyaring bagaikan guntur membelah bumi menggema di angkasa.

Waktu itu tangan Hoa Thian-hong masih mencengkeram sabuk naga, sedangkan tangan kirinya melakukan serangan maut, bila diwaktu lampau si anak muda itu pasti akan kebingungan setengah mati.

Untungnya Hoa Thian-hong yang sekarang adalah Hoa Thian-hong berilmu tirggi sekilas pandangan ia lantas temukan titik kelemahan Hong Liong pada lambung serta dadanya yang terbuka.

Ia tak menyia-nyiakan kesempatan itu, sementara telapak tangannya masih menahan serangan musuh, tiba-tiba tubuhnya miring kesamping dan kaki kanannya melepaskan sebuah tendangan kilat kedepan!

"Enyah kau dari sini!"

Bentaknya.

Hong Liong menjerit kesakitan sambil memegang lambungnya ia melompat mundur sejauh beberapa kaki kebelakang, ketika terjatuh ketanah ia masih mengerang karena kesakitan.

Para penonton buru-buru menyingkir ke belakang oleh karena semua orang berada dalam keadaan kaget maka meskipun keadaan Hong Liong mengenaskan sekali, tak seorangpun yang mampu bersuara.

Kiu-tok Sianci sendiripun merasa amat terperanjat, serunya kemudian dengan lantang.

"Barang siapa berani menyergap lagi secara licik, jangan salahkan kalau kami akan suruh kamu semua rasakan lihaynya racun cuka Biau kami!"

Semua orang membungkam dalam seribu bahasa, sekarang setiap orang sudah mengetahui akan kelihayan Hoa Thianhong, jangan toh orang lain anak murid Seng sut pay sendiripun tak ada yang berani maju kemuka untuk membantu gurunya.

Tapi justru karena terjadinya peristiwa itu, maka pertarungan antara Thian-hong melawan Tang Kwik-siu juga berubah jadi seimbang, ini disebabkan oleh karena Tang Kwiksiu yang merupakan cikal bakal suatu perguruan besar berhasil memanfaatkan peluang yang sangat baik.

Ketika Hong Liong melancarkan sergapan tadi, Hoa Thianhong terpaksa harus memecahkan perhatiannya untuk menghadapi ancaman itu, dengan sendirinya gerakan tangannya jadi lebih lambat.

Sekalipun kelambatan tersebut hanya kecil sekali, tapi bagi pandangan mata jago lihay macam Tang Kwik-siu yang telah memiliki tenaga dalam sebesar enam puluh tahun hasil latihan merupakan peluang yang sangat besar.

Detik itulah tangan kanannya juga berputar dan melipatkan sabuk naga emasnya hingga melilit pada telapak tangannya dalam keadaan seperti ini kecuali isi perutnya terluka boleh dibilang ia tak usah kuntit kalau senjatanya sampai terlepas lagi dari genggamannya.

Selain itu menggunakan peluang yang sangat baik itu, tangan kirinya telah melancarkan serangan mematikan serta berusaha untuk memperbaiki posisinya yang terdesak, maka setelah bersusah payah berhasil pula ia mengimbangi permainan lawannya.

Dalam sekejap mata, telapak tangan kiri masing-masing pihak telah melepaskan empat puluh buah pukulan berantai sedangkan sabuk naga yang berada ditangan kanannya saling dibetot dan ditarik, untungnya sabuk itu adalah sebuah benda mustika yang luar biasa, berganti barang lain niscaya sejak ta di benda itu sudah putus jadi dua bagian oleh betotan tenaga sakti kedua orang itu.

Pertarungan sengit ini benar-benar merupakan suatu pertarungan seru yang mendebarkan hati, baik dalam menghimpun tenaga, melakukan serangan, menggunakan tipu muslihat, kesemuanya mempengaruhi kesuksessn dari serangan tersebut, kebanyakan penonton yang mengikuti jalannya pertarungan itu jadi tertegun dan bergidik rasanya.

Tiba-tiba terdengar seorang nyonya tua membentak dengan suara lantang.

"Minggir!"

Mendengar bentakan itu, Thian Ik-cu segera berpaling, ia saksikan ada tiga orang pria dan dua orang wanita munculkan diri dari arah belakang, perempuan tua itu adalah Tio Samkoh, sedangkan dua orang kakek tua itu adalah Hoa In dan Harimau pelarian liong Liau, Lau Cu cing, kakek ketiga tak dikenal olehnya, sementara nyonya muda yang bergaun hitam dengan wajah yang agung tak lain adalah Chin Wan-hong, nyonya muda dari perkampungan Liok Soat Sanceng.

Pepatah kuno mengatakan.

Posisi seorang istri terpengaruh oleh kedudukan sang suami.

Nama besar Hoa Thian-hong pada waktu itu kian hari kian membumbung tinggi, hal ini orang lain memandang tinggi pula terhadap istrinya, maka sewaktu Chin Wan-hong munculkan diri, Thian Ik-cu beserta anak buahnya tanpa sadar bersama-sama menyingkir kesamping jalan Dengan langkah yang lemah gemulai, Chin Wan-hong berjalan masuk kedalam ruangan, ia menyapu sekejap sekeliling gelanggang pertarungan, kemudian maju menghampiri gurunya.

"Tak usah banyak adat!"

Seru Kiu-tok Sianci dengan suara dalam.

Sementara mulutnya berbicara, sepasang mata yang tajam tak pernah beralih dari gelanggang pertarungan.

Chin Wan-hong memandang sekejap ke arah Cu Im Taysu kemudian sapanya dengan lembut.

"Lo siansu, para empek dan paman sekalian, apakah semuanya berada dalam keadaan baik-baik?"

"Tak usah banyak adat!"

Sahut Ciu Thian-hau dengan nada rendah.

Mendengar jawaban tersebut, Chin Wan-hong alihkan kembali sorot matanya ke arah gelanggang pertarungan, ia saksikan pertarungan itu meskipun masih berlangsung dengan seru namun siapa menang siapa kalah masih belum ditentukan, maka dia maju kedapan dan serunya dengan suara lantang.

"Harap saudara berdua hentikan dulu pertarungan itu, aku hendak menyampaikan beberapa patah kata lebih dahulu kepada semua jago. Hoa Thian-hong cukup mengenali tabiat dari istrinya, dalam keadaan seperti ini tak mungkin dia akan tampilkan diri untuk ber bicara seandainya ia tidak mendapat perintah dari ibunya. Maka setelah mendengar perkataan itu, timbullah niatnya untuk menghentikan pertarungan itu. Tang Kwik-siu sendiri sedari tadi sudah berniat untuk meng-hentikan pertarungan, maka ketika sorot mata mereka berdua saling terbentur satu sana lainnya serentak serangannya pun dihentikan Hoa Thian-hong melepaskan cekalannya pada sabuk naga emas itu dan mereka berdua dengan napas tersengkal mengundurkan diri kebelakang. Chin Wan-hong mendekati suaminya dengan wajah serius ia lantas berkata.

"Ibu memerintahkan kepadaku untuk menyampaikan beberapa patah kata kepada khalayak ramai, katanya harta karun yang tersimpan dalam istana Kiu ciu kiong merupakan hasil jerih payah dari leluhur kita semua, sepantasnya kalau benda-benda itu diselesaikan oleh khalayak ramai secara bersama-sama, siapa yang berhak mendapatkan benda itu dia harus diberi benda yang menja-di hak miliknya sedangkan benda yang tak ada pemiliknya akan menjadi milik setiap orang yang ikut dalam pekerjaan penggalian ini. Sudah terlalu lama benda-benda mustika tersebut terkubur didalam perut bumi, terlalu sayang rasanya kalau benda-benda itu dibiarkan terkubur untuk selamanya, maka menjadi kewajiban kitalah untuk bersama-sama menggali tanah dan menemukan kembali istana yang terpendam ini, kami akan berusaha dengan sejujur-jujurnya dan sebijaksana mungkin, bila ada diantara kami yang bertindak tak jujur ataupun mementingkan kebutuhan sendiri, kami bersedia menerima ganjaran dan hukuman dari setiap orang, demikian pula dengan saudara sekalian, bila diantara kalian ada yang tamak dan berusaha mencari keuntungan bagi diri sendiri tak segan-segan kami akan mengambil tindakan tegas untuk menjatuhkan hukuman yang setimpal kepadanya, harap saudara semua suka mencamkan kata-kata kami ini!"

Fajar baru saja menyingsing diufuk sebelah timur, sinar sang surya yang berwarna keemas-emasan memancar diatas wajahnya yang jeli dan agung.

Beratus-ratus pasang mata ditujukan keatas wajah dara itu, mendengarkan tiap patah kata yang merupakan suara hati dari Hoa Hujin, hampir tiap jago yang ada disana telah memusatkan perhatian serta mendengar kata-katanya dengan bersungguh-sungguh hati.

Tiba-tiba Tio Sam-koh berseru kembali dengan suara lantang.

"Sekali lagi aku harap saudara sekalian dengar baikbaik kata-kata kami ini, pertama kami sudah bertekad untuk turut serta dalam usaha penggalian harta ini, bila harta karun itu sudah ditemukan, kami akan mendapatkan benda-benda yang tak dimaui orang lain. Kedua setiap benda yang ada pemiliknya baik orang itu adalah orang baik mau pun orang jahat Sekalipun dia adalah manusia yang jahatnya bukan kepalang atau mempunyai dendam sakit hati dengan kami, benda yang menjadi hak miliknya tetap akan kami serahkan kepadanya!"

Setelah beberapa kata itu diutarakan keluar, para penggali harta yang terdiri dari aneka ragam manusia, diam-diam merasa ke-girangan, bahkan para jago dari golongan Hongim-hwie serta Thong-thian-kauw juga ikut merasakan jantungnya berdebar keras, mereka merasa ada harapan untuk ikut memperoleh harrta karun itu jika para jago dari golongan lurus yang memimpin usaha penggalian ini, apalagi setelah Hoa Thian-hong menghajar Tang Kwik-siu tadi berarti pula telah selamatkan puluhan lembar jiwa, seketika itu juga semua orang merasa tertarik sekali oleh usul ini....

Tiba-tiba Thian Ik-cu angkat muka dan berkata.

"Jika pekerjaan besar ini benar-benar dilaksanakan sesuai dengan dua cara tersebut, kami semua bersedia untuk menunggu perintah!"

Perkataan itu diutarakan tanpa ujung atau pun pangkalnya, apalagi berbicara sambil menghadap langit, orang tak tahu kata-kata itu sebenarnya ditujukan kepada siapa, tapi sementara jago dapat meraba pula kalau kata-kata itu sedang ditujukan kepada Hoa Thian-hong.

Bagi Hoa Thian-hong sendiri, ia lebih mengutamakan suksesnya pekerjaan itu dari pada mencari keuntungan bagi diri sendiri, cepat dia menjura kemudian sahutnya.

"Pekerjaan ini adalah pekerjaan besar dari kita umat manusia, kata perintah tak berani kuterima, kalau toh totiang sekalian be sedia turut serta dengan pekerjaan besar ini, hal tersebut tentu saja jauh lebih baik lagi...."

Tiba-tiba terdengar seseorang berseru dengan suara yang amat nyaring dan lantang.

"Apabila Hoa kongcu bersedia memimpin pekerjaan besar ini, kami semua bersedia untuk meleksanakan tugas yang dibebankan kepada kami, tak sepatah katapun kami berani membantah"

Hoa Thian-hong berpaling, ia lihat orang yang berbicara adalah seorang laki-laki kekar yang berwajah asing baginya, sebelum ini belum pernah ia temui orang tersebut.

Tio Ceng tang yang berada di sisinya segera memperkenalkan lelaki itu kepada Hoa Thian-hong.

"Orang ini she Huan bernama Thong, leluhurnya pukulan sakti Huan Teng adalah orang pertama yang kecurian kitab pusakanya oleh Kiu-ci Sinkun...."

"Oooh rupanya saudara Huan"

Sapa Hoa Thian-hong sambil menjura.

"kitab pusaka Po kia kun boh adalah benda pusaka milik keluarga Huan, bila benda-benda itu dapat ditemukan, sudah pasti akan kami serahkan kepada saudara Huan."

Berbicara sampai disitu, dengan sinar mata yang luar biasa tajamnya, ia menyapu sekejap wajah Kiu-im Kaucu, Tang Kwik-siu serta Pek Siau-thian, kemudian katanya lagi.

"Saudara sekalian, menurut pendapatku, mulai hari ini pekerjaan penggalian lebih baik dibagi jadi dua bagian, yaitu kerja pagi dan kerja malam, tiap bagian dikerjakan oleh dua kelompok manusia secara bergilir, biarlah aku dan saudara Huan Thong sekalian terhitung sebagai satu kelompok dan Jin lo enghiong serta Thian Ik totiang jadi kelompok kedua, kami akan kerjakan pada giliran yang partama ini...."

"Memang bagus sekali cara itu!"

Seru Kho Hong-bwee dengan lantang.

"orang-orang Sin-kie-pang merupakan satu kelompok tersendiri dan akan bekerja pada malam harinya"

Mendengar ucapan itu Hoa Thian-hong sejera berpikir dihati.

"Pada saat ini hati orang mulai goyah dan inilah kesempatan yang paling baik untuk mempengaruhi hati orang, setelah bibi memberikan persetujuannya, lebih baik aku tak usah mengurusi bagaimanakah sikap dari Pek Siau-thian lagi...."

Berpikir sampai disini, dia lantas berseru.

"Tang Kwik siangbunjin, partaimu bersedia bekerja disiang hari ataukah bekerja di malam hari?"

Sejak berakhirnya pertarungan tadi, Tang Kwik-siu merasa hatinya kalut dan uring-uringan, sekarang melihat ada kesempatan untuk mele-paskan diri dari keadaan yang serba kikuk ini, cepat sahutnya, Biarlah kami dan rombongan Sinkie-pang beristirahat disiang hari, giliran kerja kami malam nanti!"

Hoa Thian-hong berpaling ke arah Kiu-im Kaucu, lalu tanyanya dengan suara dalam.

"Kaucu berulangkali mengatakan bahwa kekuatan kalian selalu mendukung setiap usulku, untuk kesediaan tersebut aku merasa amat berterima kasih sekali, dikemadian hari budi kebaikan ini tentu akan kami balas, entah apakah kaucu bersedia kerja?"

Diam-diam Kiu-im Kaucu menghela napas panjang, pikirnya.

"Aaai....! Bocah ini bisa tampilkan diri dari sekian banyak jago yang ada, jelas kejadian ini bukan suatu kejadian secara kebetulan saja"

Selama ini ia selalu menggembor-gemborkan bahwa kedatangannya ketempat ini adalah untuk membantu Hoa Thian-hong, setelah ucapan itu diutarakan keluar tentu saja ia tak dapat menarik kembali kata katanya itu, apalagi tiap kelompok kekuatan sudah sanggup melakukan kewajibannya.

Kiu-im Kaucu tahu bila ia menampik pekerjaan tersebut, maka dia akan menjadi sasaran orang banyak, terutama posisi Hoa Thian-hong yang begitu baik disaat itu, asal ia beri komando niscaya setiap orang yang hadir disitu dengan senang hati akan bantu mengerubuti mereka, sebab bagaimana pun punahnya kelompok mereka berarti mengurangi satu saingan untuk mendapatkan harta karun.

Apalagi Hoa Thian-hong adalah pemimpin mereka yang tertinggi, perempuan itu sadar bahwa kepandaian silatnya masih bukan tandingan lawan.

Pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya, ia merasa dirinya harus pandai memutar kemudi dalam situasi seperti ini, karena itu sebelum Hoa Thian-hong menyelesaikan katakatanya, sambil tertawa dia telah menukas.

"Jumlah anggota kelompok Kiu-im-kauw sangat banyak, begini saja, biarlah aku berbuat kebaikan sampai pada dasarnya, kami orang-orang dari Kiu-im-kauw akan terbagi jadi dua kelompok yang akan bekerja secara bergilir baik siang maupun malam, bukankah hasilnya akan jauh lebih memuaskan?"

"Banyak bekerja malah mengundang kegagalan, lebih baik aku tak banyak bicara!"

Pikir Hoa Thian-hong dalam hati. Ia lantas memberi hormat dan berkata.

"Kami siap menerima pernyataan dari kaucu, kalau memang begitu sekarang juga pekerjaan ini akan kita mulai!"

Habis berkata ia memberi tanda kepada kawanan penggali harta yang aneka ragam itu, kemudian dengan langkah lebar menuju ke medan penggalian itu.

Diiringi tempik sorak dan suara teriakan yang gegap gempita, berangkatlah kawanan jago persilatan itu menuju kelokasi penggalian.

Orang-orang dari Hong-im-hwie serta Thong-thian-kauw adalah jago jago yang kalah perang sekalipun mereka dimusuhi oleh kaum lurus maupun dari kalangan rimba hijau, namun kekuatan mereka terhitung cukup lumayan untuk mempertahankan diri.

Justru kelompok aneka ragam manusia inilah merupakan jago-jago dari kalangan paling lemah, untuk menentang Sinkie-pang atau Kiu-im-kauw jelas bukan tandingan, meskipun mereka hadir disitu, toh yang bi sa dilakukan hanya melotot belaka, sedikit salah bertindak niscaya bencana akan menimpa diri mereka.

Sekarang Hoa Thian-hong telah memimpin mereka untuk bekerja, bisa dibayangkan betapa gembiranya semua orang atas kejadian ini.

Selama beberapa hari terakhir, orang orang orang Sin-kiepang dan Seng sut pay sudah membuat sebuah liang besar selebar sepuluh kaki lebih menuruti peta biru yang dilukis Tiangsun Pou, liang besar itu lebar di atas dan sempit dibawah, tangga dibuat disana sini, karena besarnya tempat yang harus digarap maka walaupun sudah empat hari bekerja, luas liang itu baru dua kaki.

Tiangsun Pou membagi rombongan pekerja itu menjadi dua bagian, orang-orang dari Hong im bwe dan Thong-thian-kauw bekerja disebelah kiri, sedangkan para jago dari aneka ragam manusia itu bekerja dikanan.

Hoa Thian-hong telah melepaskan jubahnya siap untuk bekerja, tapi ditolak oleh para jago lainnya.

Dengan suara lantang Tio Ceng tang berteriak, Hoa kongcu, engkau adalah pemimpin kita yang memikul tanggung jawab besar ini, tak pantas kalau engkau turun tangan sendiiri.

"Benar!"

Sambung yang lain.

"bagaimana pun juga Hoa kongcu harus simpan tenaga untuk bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan!"

"Waah kalau begitukan kasarannya aku sudah dijadikan tukang pukul oleh mereka"

Batin Hoa Thian-hong dihati. Sebelum dia sempat mengucapkan sesuatu, terdegar seseorang ber seru lagi dengan lantang.

"Lebih baik Hoa kongcu kita jadikan mandor saja!"

"Betul!"

Sambung yang lain.

"Hoa kongcu adalah mandor kita!"

Suara hiruk pikuk dan seruan para jago berkumandang dari sana sini mendukung usul tersebut.

Akhirnya setelah didesak pula oleh Tiang sun Pou dan empat datuk dari bukit Huang-san, mau tak mau Hoa Thianhong menerima juga tawaraanya ini, bahkan memerintahkan Hoa In dan Harimau pelarian Tiong Lian untuk bekerja lebih keras agar menutupi pekerjaan dari bagiannya.

Cu Im taysu, Ciu Thian-hau serta Suma Tiang cing tiga orang telah mengambil keputusan pula untuk tidak mengambil benda mustika apapun juga, karenanya mereka malas untuk bekerja.

Chin Pek-cuan yang sudah tua berhasrat untuk memberi sanjungan kepada menantunya, ia memaksa untuk turun tangan sendiri, ditemani Chin Giok-liong dan Bong pay merekapun ikut terjun ke tempat kaum penggali harta itu.

Sementara semua orang masih ribut-ribut, tiba-tiba Chin Wan-hong memanggil Bong Pay, lalu ujarnya.

"Bong toako, siau moay ada beberapa patah kata hendak dibicarakan dengan diri toako, bersediakah engkau untuk mendengar-kan perkataanku ini?"

"Ada arusan apa?"

Chin Wan-hong memandang sekejap sekeliling tempat itum ketika dilihatnya sekitar tempat itu banyak orang, bibirnya yang sudah bergerak segera dibatalkan kembali.

Bong pay adalah seorang jago muda yang berjiwa terbuka, menyak-sikan hal tersebut cepat serunya.

"Ditempat ini tak ada orang luar, mau bicara katakan saja secara blak-biakan!"

Chin Wan-hong tersenyum.

"Ketika siau moy lewat di wilayah Tian Cu, secara kebetulan telah berjumpa dengan Cu locianpwe!"

"Betul! Kami sedang kebingungan, padahal Cu locianpwe toh sudah berangkat keselatan kenapa sampai sekarang ia belum juga tiba ditempat ini?"

Sela Hoa Thian-hong.

"Cu locianpwe mengatakan akan pergi ke kota Teng yang untuk mengundang kehadiran seorang sahahat karibnya, katanya orang itu mempunyai sangkut paut yang sangat besar dengan pekerjaan penggalian harta karun ini!"

"Apakah Cu supek ada pesan yang akan disampaikan kepadaku?"

Tanya Bong Pay. Sambil tersenyum Chin Wan-hong mengangguk.

"Cu locianpwe berpesan kepadaku katanya usia toako sudah meningkat dewasa sepantasnya kalau dengan usia sedewasa itu toako harus mencari seorang istri untuk menyambung keturunan, katanya nona Pek dari Sin-kie-pang adalah pasangan yang ideal bagimu, maka beliau memerintahkan siau moay untuk menjodohkan kalian berdua!"

"Aaah! aku tak mau tahu tentang urusan ini!"

Seru Bong Pay dengan wajah merah padam, habis berkata ia lantas putar badan dan berlalu dari situ .

"Eeeh.... eeeh.... toako, tunggu sebentar!"

Seru Chin Wanhong lagi dengan gelisah.

Terpaksa Bong Pay berhenti katanya dengan gelisah.

Aku tak mau turut campur, bagaimana Cu supek memerintahkan dirimu, lebih baik engkau saja yang mengerjakan perintah itu.

Tiangsun Pou yang berdiri disambing tiba-tiba menyela.

"Eeh.... bukannya aku membantu sahabat lamaku untuk berbicara, hakekatnya keponakan perempuanku Soh-gie adalah seorang dara yang cantik jelita dan halus berbudi, dia merupakan calon istri yang paling bagus, siapa bisa memperistri dirinya yang banyak hok ki dan banyak rejeki bakalnya."

Hoa Thian-hong sendiripun berkata dengan wajah serius.

"Enci Soh-gie adalah pilihan yang paling tepat bagi saudara Bong, enci Hong! Bagaimanapun juga engkau harus mensukseskan perjodohan ini!"

Chin Wan-hong termenung dan berpikir sebentar, kemudian berkata.

"Aku cuma menguatirkan tentang satu urusan!"

"Apa yang kau kuatirkan? Bong toako dan enci Soh-gie adalah pasangan yang paling ideal, kedua belah pihak toh sudah menyetujui akan hubungan mereka itu!"

"Pek pangcu tidak berputra dan lagi tak pernah menerima murid, seandainya ia minta Bong toako untuk masuk kerumah pihak perempuan setelah menikah nanti, bagaimana jadinya?"

Berbicara sampai disini, sorot matanya lantas dialihkan keatas wajah Bong Pay. Sekali lagi merah padam selembar wajah Bong Pay lantaran jengah.

"Aku tak mau!"

Serunya lagi. Ia putar badan dan berlalu dengan langkah lebar. Tiba-tiba satu ingatan terlintas dalam benaknya, dia lantas berpikir dihati.

"Betul juga perkataannya, andaikata setelah kawin nanti aku di minta untuk masuk kerumah pihak perempuan, apa yang musti kulakukan untuk mengatasi persoalan ini?"

Berpikir sampai disitu, tanpa sadar dia lantas berhenti dan berdiri termangu-mangu....

Betapa susah dan sedihnya Chin Wan-hong karena tidak memperoleh jawaban yang memuaskan hati, ia lantas berpaling ke arah suaminya seraya bertanya.

"Engkoh Hong, menurut pendapatmu apa yang harus kita lakukan?"

"Aku juga tak turut campur!"

Sahut Hoa Thian-hong sambil tertawa. Selesai berkata dia lantas berjalan menuju ke arah kaum pekerja yang sudah mulai melakukan penggalian.

"Eeeh.... eeeh.... engkoh Hong tunggu sebentar!"

Buru-buru Chin Wan-hong berseru. Ia memburu maju kedepan kemudian bisiknya dengan lirih.

"Ibu memerintahkan aku untuk menyampaikan beberapa patah kata ke padamu, pada bagian yang terpenting aku belum sampai mengutarakannya dihadapan umum!"

"Apa petunjuk ibu yang lain?"

Tanya sang pemoda dengan wajah serius. Dengan suara rendah jawab Chin Wan-hong.

"Menurut ibu, bila ilmu silatmu tak bisa menandingi mereka maka berusahalah dengan sepenuh tenaga, asal engkau sudah berusaha dengan semampu mungkin, hal itu sudah lebih dari cukup, sebaliknya kalau ilmu silatmu dapat menangkan orang lain maka engkau musti menaklukan hati orang dengan budi kebaikan serta tindakan yang bijaksana!"

Agak tertegun Hoa Thian-hong setelah mendengar perkataan itu, serunya kemudian.

"Belum pernah ibu mengajarkan aku untuk menaklukan hati orang dengan budi kebaikan serta tindakan yang bijaksana!"

"Bila kekuatanmu sudah melampaui orang lain, saat itulah dengan budi kebaikan engkau baru bisa menaklukan hati orang, dulu ibu tidak pernah mengajarkan teori ini kepadamu, hal ini disebabkan ilmu silatmu belum berhasil mencapai pada puncaknya!"

OooooOooooo HOA THIAN-HONG berpikir sebentar lalu bertanya lagi.

"Apakah ibu tak akan datang kemari?"

Chin Wan-hong manggut tanda membenarkan.

"Pada waktu ini, ibu, Siau Ngo-ji serta Haputule sedang berlatih ilmu silat, bila datang kemari maka latihan mereka akan terganggu, dan lagi mereka kuatir orang muda gampang terpikat oleh harta karun, maka lebih baik sama sekali tidak muncul saja!"

Hoa Thian-hong menghela nafas panjang.

"Aaai....! Pengetahuan serta pengalaman ibu memang jauh lebih luas daripada aku, rupanya dia orang tua sudah tak mau mencampuri urusanku lagi, maka sengaja suruh aku merasakan pahit getirnya manusia."

"Tapi keadaan situasi pada saat ini toh tidak terlalu jelek!"

Seru Chin Wan-hong. Hoa Thian-hong tidak langsung menjawab, ia melirik sekejap sekeliling tempat itu, setelah melihat tak seorangpun berada disitu, barulah pemuda itu berkata lagi.

"Suasana tenang dan damai yang kau lihat pada saat ini hanya bersifat sementara, akhirnya toh persoalan ini harus diselesaikan diujung senjata, harta karun itu pasti akan dirampok mereka dengan menggunakan ilmu silat!"

"Aku dengar jumlah harta karun yang tersimpan dalam istana ini tak terhingga banyaknya!"

Bisik Chin wang hong. Hoa Thian-hong tertawa getir.

"Sampai dimanapun banyaknya benda tersebut, toh tetap tak akan lebih banyak dari kawanan jago yang berkumpul disini, sekalipun setiap orang bisa dibagi dengan satu macam barang, tapi nilai dari benda berharga itu kan tak sama, benda yang benar-benar bagus jumlahnya tentu sedikit sekali."

"Asalkan kita tak ambil satu macam bendapun dan membagi ke semuanya itu buat orang lain toh sama saja artinya!"

Hoa Thian-hong tertawa.

"Cara ini tidak akan dapat menyelesaikan persoalan tersebut, misalnya saja ada sebiji buah Cu ko, dimana barang siapa memakannya maka dia akan ewet muda dan panjang usia, kemudian Pek Siau-thian menginginkannya, Tang kwit Siu juga menginginkannya sedang Kiu-im Kaucu juga berharap bisa mendapatkannya, kalau tidak di selesaikan secara bertarung bagaimana persoalan ini bisa diatasi?"

Chin Wan-hong tersenyum "Asal benda itu bisa dibagi menjadi tiga bagian hingga semua orang dapat merasakannya bukankah urusan akan beres?"

Tersenyum getir Hoa Thian-hong setelah mendengar perkataan itu.

"Aaai! Kamu ini masa dalam keadan seperti inipun, masih punya kegembiraan untuk menggoda aku, andaikata benda itu adalah suatu benda yang tak bisa dibagi lantas bagimana caranya uatuk mengatasi persoalan itu?"

"Pokoknya kita akan berjuang demi kepentingan umum dan berbuat menurut kemampuan yang kita miliki"

Hoa Thian-hong menghela nafas panjang.

Yaa, setelah persoalan ini diurus kita, maka aku harap persoalan ini bisa diselesaikan dengan cara yang sebaikbaiknya, kalau toh masalah ini berakhir dengan bencana, dan keadaan yang kurang memuaskan, bukan saja kita akan sia

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com sia berjuang, malahan perasaan hati kita jadi sedih dan menyesal untuk selamanya.

Cbin Wan bong mengangguk, dengan wajah serius ia berkata, Kalau begitu biarlah kuikat dulu tali perkawinan antara Bong tosko dengan Pek toa sinciu, asalkan kita sudah punya hubungan famili dengan pihak Sin-kie-pang, maka andaikata terjadi suatu keributan niscaya Pek lo pangcu akan menjual muka kepadamu, bila tindakan ini kurang cukup maka engkau pun boleh mengikuti jejak Bong toako dengan mengikat tali hubungan dengan pihak Sin-kie-pang.

"Huuuss jangan sambarangan bicara"

Sela Hoa Thian-hong sambil tertawa.

"Pemuka dunia persilatan tak mungkin bersedia tundukkan kepala dihadapan Pek Siau-thian, mengenai perkawinan dari Bong Toa ko dan enci Soh-gie lebih baik engkau saja yang menjadi mak comblangnya, tak usah kau menanyakan soal pendapat dari jago-jago lain, dari pada terjadi hal-hal yang tak diinginkan yang akan mengakibatkan gagalnya persoalan ini!"

Chin Wan-hong menganggut seraya mengiakan maka Hoa Thian-hong kembali ke arena penggalian untuk menjadi mandor, sedangkan Chin Wan-hong kembali keatas bukit untuk memberi hormat kepada gurunya dan Cu Im taysu sekalian, setelah itu berbicara pula dengan saudara-saudara seperguruannya.

Dalam kerepotan akhirnya ia berhasil pula menyingkirkan sedikit waktu untuk berkunjung kerumah kayu yang dibuat orang-orang dari perkumpulan Kiu-im-kauw.

Ketika Kiu-im Kaucu melihat kedatangannya, ia segera menyambut kedatangan perempuan itu diluar pintu rumah, sapanya sambil tertawa.

"Sau hujin apakah kedatanganmu kemari adalah untuk menengok Ku Ing-ing?"

Cepat Chin Wan-hong memberi hormat dan menyahut.

"Selain menengok enci Ing ing, kedatanganku juga memberi hormat kepada kaucu!"

"Haahh.... haaahh.... haaahh, sau hujin tak usah sungkansungkan!"

Seru Kiu-im Kaucu sambil tertawa terbabak-bahak.

"aku tak berani menerima penghormatanmu itu, maaf! Tempat ini tak sesuai untuk menerima tamu"

Ia lantas berpaling ke arah Giok Teng Hujin dan melanjutkan.

"Sau hujin baru kali ini datang kemari, temanilah dia untuk berjalan-jalan keempat penjuru sembari menikmati keindahan alam."

"Ing ing terima perintah!"

Sahut Giok Teng Hujin sambil memberi hormat.

Chin Wan-hong sendiri memang kuatir kalau disitu terlalu banyak orang hingga ia tak leluasa untuk berbicara, mendangar perkataan itu dia lantas mohon diri dan mengajak Giok Teng Hujin berlalu dari sana.

Sejak dulu sampai sekarang antara kedua orang ini boleh dibilang sama sekali tak ada ganjalan hati, sekalipun Giok Teng Hujin mencintai diri Hoa Thian-hong, akan tetapi Chin Wan-hong sama sekali tidak menaruh rasa cemburu, maka setelah berjalan agak jauh, Chin Wan-hong buka suara sambil berkata.

"Enci, wajahmu!"

Giok Teng Hujin masih mengenakan kain cadar hitam diatas wajahnya, mendengar perkataan itu dia lantas tertawa.

"Wajahku telah berkeriput dan menjadi tua karena siksaan yang kuderita, apakah Thian-hong belum menceritakan kejadian ini kepadamu?"

Sahutnya lembut. Chin Wan-hong menggeleng.

"Mungkin karena banyak orang dan lagi Thian-hong sedang sibuk mengurusi soal penggalian harta, maka ia belum menceritakan sesuatu tentang diri enci"

Tiba-tiba dia menghela napas panjang, lanjutnya lebih jauh.

"Aku jadi teringat dengan Leng-ci berusia seribu tahun itu, bila benda mustika itu masih berada disakumu maka sekarang cici tak perlu menguatirkan soal keriput diatas wajah lagi"

Mendengar perkataan itu, Giok Teng Hujin tertawa.

"Benar, mustika yang berada didunia ini hunya bisa dinikmati oleh mereka yang punnya rejeki besar, encimu tak lebih cuma seorang perempuan buangan tak berguna, tidak terjerumus kedalam neraka sudah merupakan suatu keberuntungan, sekalipun Leng-ci itu masih ada, belum tentu aku bisa menikmatinya.

"Aaah.... enci pandai bergurau!"

Setelah berhenti sebentar, lanjutnya.

"Thian-hong sudah terlalu banyak memerima budi kebaikan dari cici, hutang kami kepadamu sudah tak terhitung jumlahnya, dan lagi kakakku Giok liong juga tertolong jiwanya lantaran Leng-ci mustika itu, boleh dibilang kami keluarga Hoa dan Chin merasa amat berterima kasih sekali atas budi dan pertolongan dari cici itu!"

Giok Teng Hujin tertawa.

Suma tayhiap juga bentrok dengan Kiu-im Kaucu lantaran Leng-ci berusia seribu tahun itu, sungguh tak kusangka demikian banyak orang yang berterima kasih kepadaku karena persoalan itu.

Chin Wan-hong tersenyum, dengan wajah serius ia berkata lagi.

"Mertuaku adalah seorang manusia yang luar biasa, dia orang tua sangat memikirkan tentang kehidupan cici, apa lagi setelah baru-baru ini memperbincangkan tentang diri cici, maka setelah dipikir pulang pergi beliau merasa bahwa daripada cici sekalian bercokol di perkumpulan Kiu-im-kauw serta berkeliaran dalam dunia persilatan alangkah baiknya kalau cici datang saja keperkampungan Liok Soat Sanceng dan berdiam disitu bersama kami, tentunya cici bersedia untuk memenuhi harapan kami ini bukan?"

Tertegun Giok Teng Hujin setelah mendengar perkataan itu, lama sekali dia tertegun dan untuk sesaat tak tahu apa yang musti diucapkan.

Ia tahu Chin Wan-hong sebagai seorang yang jujur tidak mungkin akan membohongi dirinya, padahal ucapan dari Hoa Hujin selalu sekokoh batu karang, apa yang telah diutarakan keluar berarti pula persoalan itu telah diputuskan olehnya, tak mungkin masalah itu hanya diutarakan karena basa basi belaka.

Tapi ingatan lain lantas terlintas dalam benaknya, yang di masudkan untuk berdiam di perkampungan Liok soat san ceng berarti pula pengakuan langsung dari Hoa Hujin atas hubungannya dengan Hoa Thian-hong, hal ini berarti pula kalau dia telah menyetujui hubungan perkawinan mereka berdua.

Kejadian semacam ini hampir boleh dikata sama sekali tak terduga, tentu saja untuk sesaat lamanya ia jadi kelabakan sendiri.

Namun bagaimanapun juga dia adalah jago silat kawakan yang sudah kenyang makan asam garam, setelah tertegun beberapa saat lamanya diapun menggeleng.

"Budi kebaikan dia orang tua tak akan kulupakan selamanya", ia berkata dengan suara berat.

"tapi aku hanya bisa menerima maksud baiknya itu didalam hati saja tak mungkin bisa kupenuhi harapan dari dia orang tua"

Setelah berhenti sebentar sambungnya lagi.

"Hian moay adalah seorang perempuan yang bijaksana, terus terang kukatakan bahwa akan tidak menolak maksud tersebut hanya aku malu dengan diriku sendiri, persoalanku ini jangan kau anggap sebagai suatu tindakan pura-pura, aku telah mengambil keputusan ini dengan bersungguh hati!"

Chin Wan-hong merasa sedih dan serba salah, setelah termenung sebentar iapun berkata.

"Kalau toh enci tidak memandang asing diriku, Siau moay juga tak akan menganggap kau sebagai orang luar, biarlah kujelaskan lebih dahulu duduknya persoalan ini sehingga engkau tahu dimanakah letak sumber dari keputusan ini."

Setelah berpikir sebentar, ia melanjutkan.

"Sejak dulu sampai sekarang keluarga Hoa adalah keluarga besar dunia persilatan, nama besar ini bukan direnggut lantaran mengandalkan ilmu silat belaka, ambillah contoh diri mertuaku, dia orang tua boleh dibilang merupakan pendekar besar diantara kaum wanita, perbuatan dan tindakannya lebih mengutamakan keadilan serta kejujuran, ia rela kehilangan rumah dan hidup sengsara daripada melakukan perbuatanperbuatan yang bertentangan dengan jiwa ksatria nya dan kini enci menaruh budi kebaikan kepada Thian-hong!"

Giok Teng Hujin menggerakkan bibirnya seperti mengucapkan sesuatu tapi sebelum kata-kata tersebut sempat diutarakan keluar, rupanya Chin Wan-hong sudah dapat menebak suara hatinya, cepat ia melanjutkan lebih jauh.

"Yang dimaksudkan sebagai budi disini bukanlah budi dari Leng-ci berusia seribu tahun itu, melainkan budi yang diterima Thian-hong sejak berkenalan dengan cici, soal Leng-ci mungkin saja bisa diganti dengan benda yang sama, tapi budi yang diterima karena bantuan dan cinta kasih cici, kalau tidak dibalas dengan cinta kasih pula, masakah bisa diganti dengan benda lain?"

"Tapi cinta kasih yang kuberikan kepada Thian-hong toh muncul karena kemauanku sendiri, aku sama sekali tidak mengharapkan balas jasa dari dirinya!"

"Mengharapkan pembalasan atau tidak adalah urusan cici sendiri"

Kata Chin Wan-hong dengan serius.

"tapi yang pasti orang persilatan memandang soal budi sebagai persoalan yang paling penting, mertuaku tak ingin Thian-hong menjadi orang yang lupa budi, tak mau melihat didunia ini ada kejadian yang tak adil, selain itu aku sendiripun berharap semua kekasih yang ada didunia ini bisa dilanjutkan ke jenjang perkawinan, aku tak ingin melihat didunia ini adalah laki-laki yang putus cinta, ada gadis yang merana.... maka aku harap engkau bersedia menerima tawaran kami ini!"

Giok Teng Hujin tertawa, katanya.

"Hatimu terlalu welas kasih dan halus bagaikan Pousat, apakah engkau tidak merasa bahwa perbuatanmu ini sedikit kelewat batas?"

Chin Wan-hong tersenyum.

"Soal itu lebih baik tak usah dibicarakan katanya, marilah kita bicarkan lagi soal tentang keluarga Hoa, sebagaimana engkau tahu meskipun keluarga Hoa adalah keluarga yang dihormati orang banyak.... toh keluarga ini hidup dari ilmu silat, berbeda jauh dengan kalangan keluarga hartawan atau pejabat yang turun temurun karena pangkat, kami menuruti peraturan persilatan yang di bicarakan adalah aoal cengli dan kami tak terikat oleh adat ataupun tata cara lain. Bagi pandangan kami asal hal itu terasa pantas dan tidak jelek maka sekalipun Thian-hong punya dua istri atau tambah lagi dengan tiga empat orang istri juga tak menjadi soal, lagi pula barang siapa yang sudah dinikahi olehnya kami anggap sebagai istri yang sah tak akan kami bedakan apakah dia adalah istri yang sah atau gurdik!"

Giok Teng Hujin tertawa.

"Sudahlah!"

Ia berseru.

"dahulu aku tidak kenal dengan kau tapi belakangan ini sering kudengar watak serta tabiatmu dari mulut Thian-hong dan akupun semakin memahami dirimu, aku dapat mengerti betapa besar jiwamu, coba bayangkan seandainya perempuan yang pertama kali dikawini Thian-hong bukan kau melainkan Pek Kun-gie, mungkin rumah tangganya akan bertambah rumit dan penuh dengan persoalan yang memusingkan kepala, Thian-hong tak akan punya niat untuk berlatih si at lagi apalagi menyelenggarakan usaha penggalian harta karun?"

Chin Wan-hong tersenyum.

"Sejak dilahirkan aku memang memiliki lidah yang kaku, bagaimanapun juga lidah yang kaku ini sudah mati rasa sehingga tak bisa kurasakan bagaimana rasanya orang cemburu atau iri....!"

"Betul, orang lain mungkin saja dapat membagi cinta kasih dari Thian-hong"

Ujar Giok Teng Hujin sambil tertawa.

"tapi siapa pun tak dapat membelah hatinya, sebab dia telah persembahkan hatinya hanya bagimu seorang."

Chin Wan-hong tertawa.

Kalau orang makan buah Tho maka yang dimakan adalah dagingnya, siapa yang suka makan bijinya?

Begitu pula dengan kaum perempuan, yang mereka butuhkan hanya cinta kasih, siapa yang memperdulikan hatinya bagaimana?

Sejak dilahirkan aku memang punya takaran yang kelewat kecil, kalau makan kebanyakan malahan tak bisa di cernakan"

Setelah berhenti sebentar lanjutnya lebih jauh, Lebih baik kita tak usah banyak membicarakan masalah yang tak berguna, biarlah siau moay bicarakan masalah yang lebih penting saja.

Oooh....

kiranya engkau sedang melaksanakan perintah, anggaplah enci sedih merasakan kelihayanmu hari ini"

Seru Giok Teng Hujin sambil meleletkan lidahnya. Chin Wan-hong ikut tersenyum, katanya dengan serius.

"Cici, kalau menyuruh Thian-hong memutuskan hubungan dengan engkau, maka kejadian ini kurang begitu bijaksana, tapi kalau membiarkan kalian berhubungan terus, padahal engkau masih keluyuran didepan, sudah pasti Thian-hong akan dicemooh dan ditertawakan orang. Engkau toh tahu betapa ketat dan kerasnya pendidikan mertua ku terhadap putranya? Bukan saja beliau akan dimaki orang karena tak becus, siau moay sendiripun akan diejek orang sebagai nyonya yang suka cemburuan.... waah, kalau sampai semua keluarga kena dicemooh orang, kan urusannya jadi berabe? Makanya hanya ada satu cara untuk mengatasi persoalan ini, yakni memboyong cici pularg kerumah, setelah upacara resmi diadakan, maka kita semua akan hidup dengan penuh kegembiraan."

Giok Teng Hujin tertawa.

"Waah! Engkau memang sangat lihay, berbicara pulang pergi akhirnya toh demi kepentingan dirimu sendiri."

Setelah berhenti sebentar, dengan serius dia melanjutkan.

"Aaaiii! Bila Thian-hong lanjutkan hubungannya dengan aku, lantas bagaimana dirimu? Tentang soal ini aku sudah memikirnya sedari dulu, cuma dahulu kita tak kenal maka tak bisa dikatakan lagi dan sekarang setelah kita berkenalan bagaimanapun Juga aku ikut memikirkan keadaanmu, biarlah maksud baikmu itu akan kubalas dike mudian hari!"

Cepat Chin Wan-hong geleng kepala.

"Cici,"

Katanya dengan serius.

"Thian-hong adalah seorang anak yang amat berbakti, bila ibunda telah melarang Thianhong untuk berhubungan dengan engkau maka bubungan cici dengan Thian-hong tak akan berlangsung sampai hari ini, dia orang tua bukan seorang manusia yang gampang mengambil keputusan akan tetapi bila ia sudah mengambil keputusan maka yang diharapkan adalah kesuksesan, bila cici bersungguh hati mencintai Thian-hong seharusnya dengan ke dudukanmu sebagai seorang angkatan muda keluarga Hoa engkau taati perkataan dari beliau, apa gunanya engkau melukai perasaan serta hubunganmu dengan dia orang tua?"

Ketika mendengar perkataan itu, Giok Teng Hujin berdiri tertegun sementara air matanya jatuh bercucuran.

"Cici merasa tak punya keberanian antuk melangkah masuk kepintu gerbang keluarga Hoa...."

Chin Wan-hong termenung sebentar, kemudian sambil menggenggam tangannya ia berkata dengan nada dalam.

"Cici, sau moay punya rencana bagus untuk mengatasi persoalan ini, tapi kalau cici menampik lagi, itu berarti engkau tak sudi berkelompok dengan siau moay"

"Katakanlah apa rencanamu itu!"

Bisik Giok Teng Hujin dengan sedih.

"Kurang lebih tiga ratus dua puluh li di sebelah timur laut pulau Tiang le to di samudra Tang bay, terdapat sebuab pulau ko song yang bernama In soat to, keluarga Hoa mempunyai sebuah pesanggrahan diatas pulau tersebut, dan sampai sekarang masin ada pelayan keluarga Hoa yang berdiam di situ, setelah urutan harta karun ini selesai, silahkan cici berdiam dipulau It soat to tersebut, urusan selanjutnya siau moay akan aturkan buat cici!"

Berbicara sampai disitu tanpa menunggu jawaban lagi, ia lantas memberi hormat dan berlalu dari situ.

Giok Teng Hujin cuma bisa berdiri termangu dengan air mata bercucuran, ia tak tahu apa yang musti dilakukan pada saat ini.

Dengan lemah gemulai Chin Wan-hong bergerak menuju perkemahan orang orang Sin-kie-pang, waktu itu keluarga Pek Siau-thian yang terdiri dari empat jiwa sedang berkumpul disebuah rumah kayu.

Ketika Kho Hong-bwee dan Pek Soh-gie melihat kedatangan perempuan itu, mereka cepat memburu kedepan dan menyambut kedatangan diluar pintu, sementara Pek Siauthian pura-pura tidak melihat dan Pek Kun-gie tetap duduk ditempat semula.

Selesai memberi hormat kepada Kho Hong-bwee berdua, Chin Wan-hong masuk kedalam ruangan dan memberi hormat kepada Pek Siau-thian seraya berkata.

"Wan hong menghaturkan hormat buat empek Pek!"

"Tak usah banyak adat!"

Sela Pek Siau-thian ketus. Sau hujin, sHahkaa duduk! cepat Kho Hong-bwee berseru sambil tertawa, Kun gie hidangkan air teh"

Dalam rumah itu tak ada pelayan maka menurut peraturan, orang yang paling mudalah bertindak sebagai pengganti pelayan.

Dengan perasaan apa boleh buat Pek Kun-gie segera bangkit dan menuang secawan air teh, sebab ia anggota termuda maka dialah yang berkewajiban untuk menghilangkan air teh bagi tamunya.

Chin Wan-hong menerima cawan air teh itu dan ditetakkan di meja, tiba-tiba ia tangkap tangan kiri dara itu kemudian menyingsingkan bajunya dan periksa pergelangan tangan tadi....

Melihat itu Kho Hong-bwee lantas berkata sambil tertawa.

"Tempo hari ia dipagut kelabang langit yang ganas, tapi setelah Thian-hong memberi pelajaran adat kepada murid tertuanya Tang Kwik-siu, beberapa hari berselang obat pemusnahnya telah ia minum, cuma tak tahu bagaimanakah perkembangan lukanya itu?"

Chin Wan-hong tertawa.

"Walaupun bekas gigitannya masih utuh, warna sembab sudah lenyap, itu tandanya ia sudah bebas dari pengaruh racun. Bibi tak usah kuatir, dengan ilmu tusuk jarum keponakan pernah memunahkan pula racun kelabang yang mengeram ditubuh Lau Cau cing, bila adik Kun gie masih kurang enak badan, tit li bersedia untuk memberikan pertolongan."

Tiba-tiba Pek Kun-gie meronta dan melepaskan diri dari cekalan, kemudian ujarnya dengan ketus.

"Hmmm! Sebelum datang kemari, engkau telah berkunjung dulu kepihak Kiu-imkauw, sekarang dengan mulut manis mencari muka kepada kami, sebenarnya apa maksud tujuanmu? Kalau ingin mengangkangi sendiri harta karun itu, boleh saja kita rundingkan secara blak blakan!"

Mendengar soal harta karun, tanpa sadar Chin Wan heng teringat kembali akan suaminya, ia lantas tersenyum dan menjawab.

"Meskipun harta karun memang suatu hal yang menawan hati, aku tiada bermaksud untuk mengangkanginya, lagipula waktunya belum tiba, sekalipun saatnya sudah sampai engkau belum berhak mendapat bagian!"

Mula-mula Pek Kun-gie agak tertegun, tapi setelah memahami maksud dari kata-kata itu, ia jadi malu bercampur mendongkol.

Akan tetapi sebelum ia sempat mengumbar amarahnya, sambil tersenyum Chin Wan-hong telah menarik Kun pie agar duduk di-sampingnya, kemudian kepada Kho Hong-bwee, ujarnya lagi.

"Bibi, tit li mendapat titipan dari dewa yang suka pelancongan Cu locianpwe untuk datang menyambangi, sekalian hendak membicarakan pula tentang satu urusan!"

"Cu tayhiap saat ini ada dimana? Urusan apa yang hendak dibicarakan dengan kami?"

Tanya Kho Hong-bwee dengan wajah tertarik. Dengan wajah serius dan nada keren jawab Chin Wanhong.

"Oleh karena ada urusan penting dikota Teng yang, Cu locianpwe tak dapat datang kemari! Hanya pesannya, mengingat Bong toako adalah seorang pemuda sebatang kara, sedangkan enci Soh-gie cantik dan berhalus budi, maka Cu locianpwe ingin mengikat tali hubungan dengan keluarga bibi dan tit li diperintahkan datang kemari serta ber tindak sebagai mak comblangnya!"

Kho Hong-bwee tertawa lebar, sesudah mendengar perkataan itu katanya dengan tenang.

"Bong Pay adalah seorang pendekar sejati, seorang lelaki berhati keras dan lagi punya bakat yang bagus, aku suka sekali dengan bocah lelaki ini!"

Watak paling bagus dari Bong toako adalah sifatnya yang terbuka dan jiwanya yang jantan, pendapat tit li yang bodoh, enci Soh-gie yang polos dan sederhana memang paling pantas kalau didampingi oleh seorang yang kasar seperti dia.

"Aaai....!"

Kho Hong-bwee menghela napas panjang.

"Sohgie amat tawar dalam soal pahala dan kedudukan, manusia macam begini hanya akan menderita dan tersiksa bila bertemu dengan orang yang tidak berbudi baik."

Bicara sampai disini ia lantas berpaling ke arah suaminya dan menambahkan.

"Sau that bagaimana pendapatmu?"

Semenjak semula Pek Siau-thian telah merundingkan persoalan ini dengan istrinya, oleh karena putrinya sangat jujur dia memang pantas menjadi istri laki-laki kasar yang berhati keras seperti Bong Pay.

Walaupun begitu, ia mempunyai kesan yang berbeda dengan orang orang dari grupnya Hoa Thian-hong, kalau menurut suara hatinya ingin sekali ia bikin jengkel orangorang itu, tapi diapun kuatir kalau perbuatanya ini akan melukai perasaan hati putrinya.

Dengan perasaan apa boleh buat, terpaksa ia harus menuruti rencana semua, sahutnya dengan sederhana.

"Besok suruh dia masuk kepihak perempuan, sekembalinya keatas gunung perkawinan baru diselenggarakan, nama sih boleh tetap dipakai cuma ajarannya musti menuruti perkataanku dan ia dilarang membang-kang semua ajaranku itu!"

Kho Hong-bwee lantas berpaling ke arah Chin Wan-hong, lalu tanyanya dengan lirih.

"Hian tit li bagaimana pendapatmu?"

Cepat Chin Wan-hong memberi hormat.

"Semua perkataan empek memang masuk diakal dan sudah umum, lagi pula tak meleset dari dugaan Cu locianpwe, menurut pendapat tit li, Bong toako masih muda dan lagi tiada bimbingan angkatan yang lebih tua, bila sekarang Bong toako bisa memperoleh kasih sayang dari bibi dan enci Soh-gie, memang sepantasnya kalau dia menerima prasyarat tersebut!"

"Kalau toh persoalan ini tidak meleset dari dugaan Cu tayhiap, maka berarti persoalan ini lebih gampang untuk diselesaikan, sekembalinya dari sini boleh kau tanyakan kepada Bong Pay, apakah ia bersedia untuk menerima syarat itu, kalau bersedia maka besok boleh datang ketempat kami."

Chin Wan-hong mengiakan berulang kali, maka diapun bangkit untuk mohon diri, ketika keluar dari ruangan ia gandeng tangan Pek Kun-gie dan diajaknya keluar bersama.

Sejak Chin Wan-hong menikah, pertama karena ia terpengaruh oleh kedudukan Hoa Hujin dan kedua diapun sudah punya kedudukan dimata masyarakat, tanpa sadar timbullah sikap yang agung dan berwibawa diatas wajahnya.

Sebaliknya Giok Teng Hujin serta Pek Kun-gie tidak lebih cuma burung-burung liar yang belum masuk sangkar semakin lama mereka bergaul dengan Chin Wan-hong, mereka merasakan dirinya semakin kecil dan tak ada artinya, tanpa mereka sadari perasaan tersebut segera mencekam seluruh benaknya.

Ketika Pek Kun-gie digandeng keluar oleh Chin Wan-hong, rasa sedih yang timbul dari lubuk hatinya sukar dilukiskan dengan kata kata, ia bermaksud untuk meronta lepas dari cekalannya namun ragu, dibiarkan begitu saja hati terasa tak puas, apalagi diapun tak berani menyalahi orang dihadapannya ini, maka setelah ditarik keluar agak jauh.

ia baru berani menegur sambil mencibirkan bibirnya.

"Eeeh.... aku kan bukan dayangmu, kau bawa aku pergi kemana?"

Chin Wan-hong tertawa, setelah berhenti sebentar bisiknya.

"Dapat kulihat bahwa engkau sedang cek cok dengan Thianhong, bukankah begitu?"

"Huuh! Hubunganku dengannya sudah buyar, antara kami berdua sudah tiada ikatan apa-apa lagi!"

Seru Pok Kun gie dengan nada ketus. Chin Wan-hong tersenyum.

"Ada permulaan tentu ada akhir, apakah engkau tidak takut ditertawakan orang? Ceritakanlah kepadaku persoalan sedih apakah yang telah kau alami selama ini?"

Mendengar pertanyaan itu, merahlah sepasang mata Pek Kun-gie, dengan sedih jawabnya.

"Setelah aku terjatuh ketangan Tang Kwik-siu, hidupku tiap hari bagaikan menemani gerombolan harimau dan serigala, tiap detik kuharapkan kedatangannya, tiap menit kuharapkan pertolongannya, tapi ia tetap berada di kota Cho ciu, bahkan sama sekali tak menganggap suatu persoalan atas peristiwa yang menimpa aku, mimpipun aku tak pernah mengira kalau kedudukanku jauh lebih rendah dari pada kedudukan Ing ing"

Sampai akhirnya karena sedihnya bukan kepalang, tak tahan lagi dia melelehkan air mata.

"Apakah Thian-hong tahu juga tentang persoalan ini?"

Tanya Chin Wan-hong dengan lembut.

"Perduli amat dia tahu atau tidak?"

Jawab Pek Kun-gie dengan penuh rasa mendongkol. Chin Wan-hong tertawa, ujarnya lagi.

"Ooooh! Rupanya engkau jengkel sendirian, tahukah kau bahwa benaknya cuma dipenuhi oleh masalah besar dunia persilatan? mungkin pikiranya tak pernah sampai memikirkan keadaanmu ini."

Dengan sehelai sapu tangan, ia menyeka air mata yang membasahi wajahnya, setelah itu sambungnya lebih jauh.

"Barusan akupun pergi menengok enci Ing ing lebih dahulu sebelum datang menengok dirimu, urutan ini musti diatur menurut enteng beratnya, dan bukan dibedakan karena hubungan yang lebih erat, tentang soal ini engkau bisa memahami tidak?"

"Aku ingin tahu, dalam hal apa Ku Ing-ing lebih berat dan Pek Kun-gie lebih enteng"

Jilid 32 .

Musibah di istana terpendam "ENCI Ku Ing hidup sebatang kara dalam dunia persilatan, ia tak punya sanak tak punya keluarga, didunia pada saat ini cuma Thian-hong satu-satunya sanak bagi nya"

Kata Chin Wan-hong sambil tertawa "sedangkan, engkau adalah mutiara dari perkumpulan Sin-kie-pang kekuasaan serta kekuatan kalian amat besar sekali, bila Tang Kwik-siu hendak mencelakai dirimu maka dia harus berpikir akan diri Hoa Thian-hong, iapun musti memperhitungkan pula kekuatan yang dipunyai perkumpulan Sin-kie-pang, mampukah untuk dilawan atau tidak karenanya walaupun engkau berada dalam keadaan bahaya pada hakekatnya keadaan belum mencapai pada puncak kekritisan yang memerlukan bantuan, berbeda dengan enci Ing ing, waktu itu dia sedang melakukan siksaan api dingin yang malelehkan sukma"

Pek Kun-gie termenung beberapa saat lamanya, tiba-tiba ia bertanya lagi.

"Kenapa siluman rase itu menutupi wajahnya dengan kain hitam?"

"Setelah mengalami siksaan berat, enci Ing ing menderita tekanan jiwa yang amat berat, wajahnya ikut berkeriput hingga mengalami perubahan besar, oleh sebab itu sampai sekarang ia menderita cacad muka. Aii! Kedatangan Thianhong waktu itu memang tepat sekali, bila dia datang setengah hari lebih lambat entah siksaan apa lagi yang akan diderita oleh enci Ing ing, dia adalah seorang manusia yang bernasib jelek, janganlah kau pandang dirinya sebagai seorang musuh!"

"Hmmm! Rejekimu besar nasibmu, sangat baik tentu saja sikapmu lebih terbuka dari pada orang lain?"

Seru Pek Kun-gie dengan mata amat dingin. Mendengar perkataan itu, Chin Wan-hong tertawa geli.

"Rejeki ada yang besar ada yang kecil, ada pula yang datangnya agak cepat dan ada pula yang agak lambat, belum tentu nasib mu jelek, cuma datangnya jauh lebih lambat daripada, sekalipun begitu janganlah menggeruti atau merasa terhadap Thian, daripada sikapmu iri akan menyalahi Pousat sehingga Pousat tak mau melindungi dirimu!"

"Aku tak sudi dilindungi oleh siapapun!"

Teriak dara she Pek dengan manja.

Chin Wan-hong tersenyum manis, hiburnya dengan suara lembut, Thian-hong sudah amat lelah karena tugasnya yang amat berat selama inii, janganlah membuat sedih hatinya lagi, besok kami akan menemani Bong toako datang kerumah, aku harap engkau jangan mengumbar hawa nafsu lagi.

Selesai berkata, ia lantas lepaskan tangannya dan turun dari bukit tersebut.

Li-hoa Siancu sedang mananti kedatangannya bagaikan semut diatas wajah yang panas, ketika perempuan itu munculkan diri ia langsung berseru lantang.

"Hong ji, permainan setan apa yang sedang kau lakukan? Ketahuilah dua orang perempuan itu sama-sama adalah siluman rase, buat apa engkau ribut-ribut dengan mereka?"

"Aaah! Kami adalah kenalan lama, berbicara soal kehidupan sehari hari memang menarik hati!"

Waktu itu Ciu Thian-hau sedang bermain catur dengan Suma Tiang cing, sedang Cu Im taysu duduk disampingnya, ia lantas berpaling seraya bertanya.

"Hong ji, bagaimana dengan tugasmu sebagai mak comblang?"

Chin Wan-hong menghampiri padri itu, kemudian menuturkan apa yang telah diucapkan oleh Pek Siau-thian. Setelah mendengar penuturan tersebut, Ciu Thian-hau segera tertawa dingin, katanya.

"Heeehh.... heeehh.... heeehh.... omong kosong! Pek Siau-thian itu manusia macam apa? Kog Bong pay harus menuruti ajarannya, bukankah dia akan ikut menjadi seorang bajingan cilik? Aku rasa jangan kita penuhi permintaan itu, bila perlu batalkan soal perkawinan ini dan kita carikan perempuan lain bagi pasangan Bong pay"

"Empek yang baik"

Ujar Chin Wan-hong sambil tertawa.

"emas murni tak takut dibakar dengan api, Boag Toako adalah seorang laki-laki sejati yang berjiwa kesatria, sewajarnya kalau ia bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, kalau toh Pek pangcu bisa mempengaruhi Bong toako, memangnya Bong toako tak dapat mempengaruhi Pek pangcu. Lagi pula bibi dari keluarga Pek adalah seorang perempuan yang bijaksana, selama Bong toako didampinginya aku rasa tak akan banyak halangan yang bakal ia temui."

Berbicara sampai disini, dia lantas berpaling ke arah Cu Im taysu dan diam-diam mohon bantuannya.

Cu Im taysu adalah padri, seorang yang saleh dan mengutamakan kasih sayang kalau mengikuti jalan pikirannya maka ia sangat berharap bisa membawa orang jahat untuk kembali kejalan yang benar.

Maka ketika ia mendengar ucapan terakhir dimana dikatakan kemungkinan juga Bong Pay bisa mempengaruhi Pek Siau-thian, satu ingatan segera terlintas dalam benaknya, buru-buru serunya.

"Perkataan dari Hong ji memang tak keliru, Bong Pay paling benci kejahatan, diapun bisa membedakan mana yang baik dan mana yang jahat, kakerasan hatinya melampaui siapapun dan ilmu silat yang dia miliki juga tak rendah, siapa tahu setelah Pek Siau-thian mempunyai menantu seperti Bong Pay dia lantas lepaskan golok pembunuh dan kembali kejalan yang benar? Inilah kesempatan yang terbaik untuk membawa iblis itu menuju jalan kebenaran, menurut pendapatku perkawinan ini jangan dilewatkan dengan begitu saja. Suma Tiang cing yang selama ini membungkam, tiba-tiba berkata.

"Kalau toh Cu toako sendiripnn tidak kuatir, kenapa kita musti menguatirkan dirinya? Apa lagi suatu hari Bong Pay jadi jahat, kita kan masih punya kesempatan untuk lenyapkan Pek Lo ji dan akar akarnya dari muka bumi. Ciu Thian-hau termenung dan berpikir sebentar, lalu sahutnya.

"Bagus juga cara ini, tapi kita bertiga musti menaruh perhatian khusus, sekali Bong Pay salah bertindak maka kita musti turun tangan dengan tegas. Perkawinan dari Bong Pay dan Pek Soh-gie pun ditetapkan, begitu malam harinya pihak Sin-kie-pang dan Seng sut pay mendapat giliran kerja, sedang keesokan harinya pekerjaan dilakukan oleh orang-orang dari Kiu-im-kauw. Siangnya Hoa Thian-hong suami istri di tambah dengan Chin Giok-liong dengan menemani Bong Pay menuju perkemahan dari orang-orang Sin-kie-pang. Oleh karena pihak laki masuk pihak perempuan, mereka tak perlu membawa mas kawin. Pek Siau-thian sebagai seorang ketua dari suatu perkumpulan besar tidak berdiam diri belaka, sekalipun berada diluar rumah namun ia tidak bertindak seenaknya. Kecuali arak dan daging dihidangkan untuk menjamu tamutamunya, iapun memberi persenan yang cukup besar buat anak buahnya, suasana riang gembira segera menyelimuti suasana di bukit Kiu ci san. Malam itu, Hoa Thian-hong memimpin jago-jago aneka ragamnya meneruskan penggalian, ketika kentongan keempat baru lewat dan karena suatu urusan, Hoa Thian-hong sedang keluar dari liang penggalian, tiba-tiba dari arah dasar liang terdengar seseorang berteriak keras. Hoa kongcu.... istana Kiu ci kiong telah munculkan diri.... istana Kiu ci kiong telah munculkan diri. Dengan hati terperanjat, Hoa Thian-hong berpaling ke arah mana berasalnya suara teriakan itu. Beberapa orang yang berada didalam liang penggalian sambil bersorak sorai dan menari dan teriaknya berulang kali.

"Istana Kiu ci kiong telah munculkan diri! Sobat-sobat semua dan lihatlah.... istana Kiu ci kiong telah muncul dari dasar per-mukaan tanah"

Teriakan-teriakan keras itu membelah kesunyian yang mencekam di malam buta itu, semua jago dibuat terkejut dan sadar dari tidurnya, dalam waktu singkat jago-jago lihay dari pelbagai pelosok tempat baik dari golongan putih maupun dari golongan hitam serentak ber larian masuk kedalam liang tersebut.

Luas liang yang sedang digali itu mencapai sepanjang dua puluh kaki dengan lebar empat puluh kaki, tiap lima depa digantung sebuah tangga dan dalamnya sudah mencapai sembilan puluh kaki.

Karena dalamnya liang tersebut maka orang-orang yang ada diatas liang menyaksikan orang yang sedang bekerja di bawah liang sebesar semut kecuali beberapa orang jago yang dapat melihat jelas keadaan tersebut sebagian besar mereka tak dapat melihat apa-apa.

Hoa Thian-hong dengan menemani Tiangsun Pou serta empat datuk dari bukit Huang-san memburu ke tempat kejadian, waktu itu dasar liang telah menjadi lautan manusia, tiap anak tangga penuh berjejal kawanan jago, lampu lentera menyinari seluruh penjuru membuat suasana jadi terang benderang Ketika Hoa Thian-hong dan Tiansun Pou sekalian tiba didasar lembah, hampir seluruh jago pada menyingkir ke samping untuk memberi jalan lewat.

Didasar liang terdapat sebuah atap tembaga sepanjang dua depa lebar satu depa enam cun dengan memancarkan sinar keemas-emasan, selain itu terdapat pula sebuah kepala patung binatang Kilin dan separuh potong papan nama yang luasnya empat depa masih terbaca, sebab huruf besar yang terbuat dari emas.

Tulisan itu adalah Huruf Ban atau sepuluh laksa.

Setelah beberapa orang itu mencapai tempat kejadian, Pek Siau-thian segera menunjuk ke arah separuh bagian papan nama itu seraya berseru.

"Tiangsun lote, cepatlah rundingkan dengan keempat datuk, tempat ini sebenarnya adalah bagian mana dari istana Kiu ci kiong?"

Po-yang Lojin maju melewati lautan manusia, seteah membaca tulisan Ban itu, ia lantas berseru, Oooh!

Tempat ini adalah istana Ban yo tian, sudah terhitung tempat penting didalam istana Kiu ci kiong, orang lain dilarang masuk keluar ditempat ini"

Li lojin yang berada disisinya melanjutkan, Menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan, ketika Kiu-ci Sinkun memberi nama untuk istananya ini, ia pernah berkata.

Barangsiapa dapat memasuki ruang istana ini dia adalah anak buah istana Kiu ci kiong, dan apa dia harapkan akan dipenuhi sampai puas, selama hidup tak akan menderita lagi"

Tiangsun pou membeberkan peta birunya dan membentangkan dihadapan kawanan jago, Po-yang Lojin lantas menunjuk ke arah sebidang tanah yang bertulisan Ban yo tian, ujarnya lagi, Disinilah letak istana Ban yu tian, belakang istana adalah sebuah kebun bunga, dibelakang kebun bunga adalah sebuah telaga kecil, setelah melewati jembatan batu maka kita akan sampai ditem pat tinggalnya Kiu-ci Sinkun.

Peta biru itu dibuat oleh Tiangsun Pou berasarkan keterangan dari empat datuk bukit Huang-san, catatan diatas peta itu amat jelas sekali, hampir semua pemimpin persilatan berkerumun dimuka dan meneliti peta itu.

Tiba-tiba Pek Kun-gie menerobos masuk dari kerumunan orang banyak, kemudian ia berdesakan dan berdiri disamping Hoa Thian-hong.

Kebetulan Kiu-tok Sianci berdiri disamping pemuda itu, karena didesak Pek Kun-gie, ia jadi terdorong kesamping, kejadian ini segera menggusarkan hatinya, Dengan dahi berkerut perempuan suku Biau ini siap mengumbar hawa amarahnya tapi oleh karena Pek Kun-gie adalah seorang anak muda ia malu untuk menurunkan gengsi sendiri.

Rupanya Pek Kun-gie tahu bahwa hubungannya dengan Hoa Thian-hong tak dapat berlangsung lantaran hadangan dan penampikan dari Kiu-tok Sianci beserta anak muridnya, karena itu dia sangat membenci orang orang dari wilayah Biau ini.

Oleh karena itu ia agak penasaran atas diri Kiu-tok Sianci, sebelum perempuan itu sempat mengumbar hawa amarahnya, ia sudah melotot seraya menegur.

"Heey, apa yang sedang kau pelototi? Memangnya mau makan orang ya?"

Kalau gadis itu berlagak sok maka Hoa Thian-hong yang paling panik, cepat-cepat ia tarik gadis itu kebelakang kemudian bentaknya dengan perlahan.

"Eih, bagaimana sih kamu ini? kenapa berani bersikap tak tahu sopan terhadap orang yang lebih tua dirimu? kalau sampai orang lainpun mengetahui tingkah lakumu ini bagaimana jadinya nanti?"

Pek Kun-gie tidak langsung menjawab, kembali ia melotot sekejap searah Kiu-tok Sianci dengan penuh perasaan dendam, setelah itu baru sahutnya dengan lirih.

"Kalian tak boleh bertindak gegabah, sampai sekarang Tang Kwik-siu beserta anak muridnya tidak pernah turun kemari, Kok Seepiauw bajingan cilik itupun lenyap tak ketahuan kemana perginya, aku lihat kejadian ini aneh sekali, kita musti waspada dan berjaga-jaga atas segala kemungkinan yang tak diinginkan!"

Sunggguh terperanjat hati Hoa Thian-hong setelah mendengar laporan tersebut, dengan pandangan tajam ia menyapu sekejap seke-liling tempat itu, betul juga perkataan itu, baik Pek Siau-thian maupun Kiu-im Kaucu, Jin Hian serta Thian Ik-cu, beberapa orang tokoh penting dalam dunia persilatan telah hadir semua didasar liang galian itu, tapi dari pihak Mo-kauw yakni Tang Kwik-siu beserta anak muridnya, tak seorang pun yang menampakkan diri disitu.

Sementara itu, Kho Hong-bwee merasa sangat tak senang hati lantaran Kiu-tok Sianci sentimen dengan putrinya, dalam keadaan seperti ini dia lantas manfaatkan kesempatan itu dengan sebaik baiknya, dengan menunjukkan lagaknya sebagai seorang angkatan yang lebih tua, ia menghardik.

"Peristiwa ini sangat mencurigakan hati, Thian-hong! Segera naik keatas dan selidiki persoalan ini sampai jelas!"

"Baik!"

Sahut Hoa Thian-hong, ia tak berani berayal lagi serentak tubuhnya melejit keatas.

Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki si anak muda ini sudah mencapai pada puncaknya, sambil menutul permukaan batu, dalam waktu singkat ia sudah mencapai permukaan liang tersebut.

Baru saja dia hendak melangkah keluar dari liang galian, tiba-tiba terdengar Tang Kwik-siu tertawa terbahak-bahak dengan seramnya, disusul ia berkata.

"Haaaah.... haaaahh.... haaaah....Hoa kongcu, betulkah harta karun itu sudah menampakkan diri?"

Seraya mengejek, segulung angin pukulan yang maha dahsyat ibaratnya gulungan ombak yang dimainkan taufan melanda datang dengan dahsyatnya, diantara desingan tajam tersebut terselip pula bau busuk yang sangat memualkan.

Kejut dan gusar Hoa Thian-hong menghadapi kejadian ini, disaat yang kritis dia mengepos tenaga, sepasang telapak tangannya lantas menekan permukaan tanah dan Sreet....!

dengan kecepatan seperti anak panah terlepas dari busurnya dia melejit ke udara, kemudian ber jumpalitan beberapa kali.

Lompatan keudara yang indah dan maha sakti ini tak mungkin bisa dilakukan orang lain didunia ini kecuali Hoa Thian-hong seorang, sebab bukan saja seseorang harus memiliki ilmu meringankan tubuh yang sempurna, diapun harus mempunyai keberanian yang luar biasa.

Meleset dengan serangan mautnya, Tang Kwik-siu jadi ketakutan setengah mati, nyalinya serasa jadi pecah, sambil berpekik nyaring dia putar badan dan kabur terbirit-birit.

Ketika masih berada ditengah udara mendadak telinganya yang tajam telah menangkap serentetan suara yang aneh sekali kede ngaranya, cepat dia alihkan perhatiannya ketempat berasalnya suara itu.

Apa yang telah terjadi?

Mendadak perasaan hatinya tercekat, jantungnya berdebar keras dan mukanya pucat pias seperti mayat, dengan perasaan ngeri jeritnya keras-keras.

"Awass....! Air bah telah datang, cepat kabur keatas.... cepat kabur dari sina,air bah telah datang!"

Ia membenci dan mendendam pada kekejaman serta kelicikan Tang Kwik-siu, setelah memberi peringatan kepada kawanan jago itu secepat kilat ia mengejar ke arah gembong iblis tersebut.

Semua kejadian itu berlangsung dalam sekejap mata, jerit ngeri terkumandang susul menyusul dari dalam liang galian itu menyusul mana jeritan kaget mendekati setengah kalap menggelegar dari balik liang tersebut.

"Ooooh.... ular.... ular beracun.... kelabang beracun.... laba-laba beracun!"

Jeritan ngeri demi jeritan ngeri berkumandang susul menyusul, suasana amat kalut setiap orang saling berdesakan dan berebutan untuk memanjati anak tangga, ada yang marangkak naik keatas ada pula yang merosot kebawah, apalagi mendengar suara gulungan air bah yang menggemuruh dengan kerasnya, semua orang semakin bergidik dan pecah nyali.

Dalam keadaan seperti ini, setiap orang yang masih berada dalam liang galian tersebut mati-matian berusaha untuk menerjang naik keatas permukaan sebaliknya mereka yang berilmu silat rendah, seketika terdesak kebawah dan berjatuhkan ke dasar liang tersebut.

Dalam waktu tingkat, suara gemuruh air bah yang memekikkan telinga menggelegar di udara, keras sekali suara itu, seakan-akan ada berjuta-juta orang pasukan berkuda yang meluncur datang bersamaan waktunya.

Begitu suara gemuruh yang keras bagaikan ledakan gunung berapi itn menggelegar diudara, suasana dalam liang galian itu jadi panik dan kacau balau tak karuan, setiap orang hanya memikirkan untuk menyelamatkan jiwa sendiri, obor yang mereka bawa pun pada dibuang ketanah, dengan begitu suasana jadi gelap gulita.

Ditengah kegelapan yang mencekam seluruh jagad, jeritan kaget dan teriakan panik berkumandang dari sana sini, seakan-akan mereka tertimpa bencana kiamat saja.

Terdengar Pek Siau-thian meneriakan nama "Hong bwe"

Kho Hong-bwee meneriakan nama "Kun gi"

Kiu-tok Sianci meneriakan nama dari anak muridnya, Kiu im kancu, Jin Hian serta Thian Ik-cu sekalian masing masing kabur secepatnya dari tempat celaka itu, mereka tak gubris bagaimana keadaan yang lain, yang dipikirkan hanya bagaimana caranya untuk meloloskan diri secepatnya dari sana.

Hampir sebagian besar kawanan jago yang hadir ditempat itu terlibat dalam peristiwa maut ini, tapi ada pula beberapa orang yang sama sekali tidak ikut mengalami kejadian tersebut, mereka adalah Chin Wan-hong, Cu Im taysu, Ciu Thian hay serta Suma Tiang cing empat orang.

Keempat orang ini ditinggal dalam markas untuk menjaga keamanan disitu, mereka tak pernah bergeser selangkahpun dari markasnya, maka ketika terjadi peristiwa yang sama sekali tak terduga itu, buru-buru mereka lari ketepi liang galian untuk berusaha menolong rekan-rekan sendiri.

Dalam waktu singkat air bah yang maha dahsyat itu sudah menggulung tiba ditepi galian tersebut, kawanan manusia yang begitu banyak seperti semut makin cepat lagi merangkak naik keatas tebing tersebut.

Mereka yang agak lambat larinya segera diterjang oleh kawanan jago lainnya sehinggaag terjatuh dan terinjak jadi daging hancuran, dalam keadaan seperti ini tiap orang hanya memikirkan bagaimana caranya untuk meloloskan diri serta menyelamatkan jiwa sendiri.

Malahan ada pula yang telah mencabut keluar senjata mereka, tanpa pandang bulu baik dia rekan atau musuh pokoknya mereka membacok sekenanya agar bisa terbuka sebuah jalan lewat dan mereka bisa lebih cepat lagi tinggalkan tempat celaka itu.

Selang sesaat kemudian, sang surya telak muncul di ufuk sebelah timur dan memamcarkan sinar keemas-emasannya enyoroti wajah kawanan jago yang baru lolos dari bencana itu.

Tiba-tiba terdengar seseorang berteriak keras.

"Coba lihat! Hoa kongcu berada disana"

Beratus-ratus pasang mata beralih ke arah mana yang ditunjuk, benar juga, dibawah sorotan cahaya sang surya, tampaklah Hoa Thian-hong dengan pedang terhunus sedang bertempur sengit melawan Tangkwik Siu serta belasan orang anak muridnya....Cahaya senjata berkilauan tertimpa sinar matahari dan membiaskan serentetan sinar yang menyilaukan mata, pertarungan itu berlangsung dengan sengitnya Kiu-im Kaucu yang sangat mendongkol bercampur gusar serentak acungkan kepalanya sambil berteriak lantang.

"Hayo berangkat, kita cingcing setiap orang dari Seng sut Pay menjadi perkedel, jangan biarkan diantara mereka berhasil kabur dari sini dalam keadaan selamat!"

Serentak kawanan jago itu menghadapi dengan teriakanteriakan kalap, dengan senjata terhunus mereka lantas menyerbu ketepi gelanggang.

oooooOooooo GELANGGANG pertarungan dimana Hoa Thian-hong sedang bertempur melawan Tang Kwik-siu beserta anak muridnya adalah sebuah tebing curam yang amat terjal dan sangat berbahaya.

Ciu Thian-hau serta Suma Tiang Cing paling menguatirkan keselamatan hidup si anak mada itu, dengan mengerahkan segenap ke kuatan yang dimilikinya kedua orang itu sudah berhasil mencapai puncak tebing yang amat curam itu, baru saja mereke hendak melayang kedepn untuk memberi bantuannya, tiba-tiba Hoa Thian-hong berseru dengan lantang.

"Kalian tak usah turun tangan membantu, biarlah kubereskan sendiri beberapa orang kurcaci ini"

Dua orang itu lantas alihkan sorot matanya ketengah gelanggang, mereka lihat sebatang pedang Hoa Thian-hong seperti naga sakti yang sedang bermain diudara menggelegar kesana kemari dengan entengnya, baik Tang Kwik-siu maupun Hong Liong keduanya sudah terkurung di tengah tengah kepungan.

Tang Kwik-siu mainkan ikat pinggang berukir naga emas sementara Hong Liong mainkan sebilah golok bergigi yang lebar dan besar ditangan kiri dan sebuah ikat pinggang emas ditangan kanan.

Ketika itu sekujur badan mereka berdua sudah penuh dengan luka bacokan, darah segar mengalir keluar membasahi sekujur badannya, paras muka mereka pucat pias seperti mayat, keadaannya mengenaskan sekali.

Dari delapan belas orang murid perguruan Seng sut pay yang dibawa serta dalam perjalanan kecuali Kok See-piauw seorang yang tidak kelihatan batang hidungnya, tujuh belas orang sisanya mengurung Hoa Thian-hong rapat-rapat dari luar gelanggang, kendatipun kepungan itu sangat ketat dan rapat tapi tak seorangpun manusia-manusia itu berhasil mendekati si anak muda itu.

Sungguh terharu dan gembira Ciu Thian-hau setelah menyaksikan betapa gagah perkasanya Hoa Thian-hong, kendatipun dikerubuti oleh sembilan belas orang jago tangguh, pemuda itu masih tampak sehat wal'afiat tanpa kekurangan suatu apapun, tubuhnya bersih dan bebas dari luka yang membuat ia cedera.

Saking terharu gembiranya, pendekar besar yang berhati setenang air telaga ini tak dapat menguasai emosinya lagi, titik-titik air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya, sambil goyangkan tangannya berulang kali kepada kawanan jago yang berlari datang dengan cepatnya itu, ia berteriak keras.

"Coba lihatlah kalian ke atas sana, jangan untuk maju ke situ biarkan mereka lanjutkan pertarungan!"

Kiranya selama ini kecuali memimpin rombongan pekerja untuk menggali tanah mencari harta, Hoa Thian-hong selalu manfaatkan setiap detik setiap menit yang dimilikinya untuk memperdalam ilmu silatnya hampir boleh dibilang jarang sekali ia beristirahat atau tidur, dan perbuatannya ini tentu saja hanya diketahui oleh sekelompok manusia yang mempunyai hubungan paling akrab dengannya.

Oleh karena tindakannya yang kelewat berani ini, tanpa disadari rambut Hoa Thian-hong yang hitam ikut berubah jadi putih beruban.

Untuk menghindari perhatian banyak orang, Chin Wanhong telah meminjam potlot alis dari sucinya untuk menghitamkan rambut Thian-hong yang telah putih beruban itu, mesti dalam hati merasa sedih namun dara itu tak banyak berbicara, sebab dia tahu banyak bicarapun tak ada gunanya.

Hanya orang-orang inilah tahu betapa besarnya pengorbanan yang telah dibayar Hoa Thian-hong untuk memiliki ilmu silat yang maha tinggi itu, karenanya hanya mereka pula yang merasa terharu dan melelehkan air mata setelah menyaksikan kesuksesan Hoa Thian-hong untuk membuat pontang-panting musuh yang dianggap sebagian besar orang sebagai momok yang ditakuti itu.

Dalam pada itu, semua jago persilatan yang lolos dari bencana telah berkumpul semua diatas tebing, semua perhatian mereka tertuju pada pertarungan yang sedang berlangsung dipuncak tebing yang curam itu.

Sementara air bah telah menggenangi seluruh liang galian yang besar dan dalam, hasil kerja para jago baik dari golongan putih maupun dari golongan hitam yang bersusah payah selama dua puluh harian itu sekarang lenyap tak berbekas disapu air bah.

Tiba-tiba Tang Kwik-siu menjerit dengan suara yang amat keras mendekati setengah kalap.

"Hoa Thian-hong! Memburu orang tak akan memburu sampai seratus langkah, sekarang engkau sudah berhasil menangkan pertarungan ini apa lagi yang kau inginkan?"

Sebelum Hoa Thian-hong menjawab, kawanan jago penasaran telah berteriak-teriak penuh kemarahan.

"Bangsat tua itu berhati kejam melebihi racunnya ular berbisa, dia hendak membasmi kawan-kawan jago dari daratan tionggoan tanpa berbekas, dosanya kelewat besar, manusia bangsat itu tak boleh dibiarkan hidup, jangan ampuni mereka!"

"Hoa kongcu, bunuh saja manusia-manusia itu, kau tak usah berbelas kasihan lagi bagi mereka, manusia-manusia terkutuk itu harus dibasmi dari muka bumi. Hoa kongcu, kalau engkau tak bersedia untuk turan tangan, serahkan saja bangsat-bangsat itu kepada kami, kamilah yang akan menjatuhkan hukuman yang setimpal untuk mereka. Jangan lepaskan bangsat-bangsat dari Seng sut pay, cincang mereka sampai hancur berkeping-keping. Sekejap mata, teriakan-teriakan gusar dan bentakanbentakan nyaring seperti guntur yang menggelegar di angkasa, menggema dise luruh lembah bukit itu, keadaan jadi amat genting. Pucat pias selembar wajah Tang Kwik-siu, dengan penuh ketakutan ia menjerit.

"Kalian jangan sembarangan menuduh, kalian jangan sembarangan melimpahkan dosa kepada kami, perbuatan itu dilakukan oleh Kok See-piauw seorang, dia adalah orang Tionggoan, dialah yang harus bertanggung jawab atas terjadinya peristiwa ini, jangan melibatkan Seng sut pay kami dengan kejadian tersebut!"

Hoa Thian-hong mendengus dingin, pergelangan tangannya digetarkan kedepan.

Sreet!

Ia melepaskan sebuah bacokan kilat kemuka.

Sebuah mulut luka yang panjang dan besar segera muncul didada sebelah kiri Tang Kwik-siu, darah segar berhamburan keluar membasahi sekujur badannya.

Tang Kwik-siu semakin ketakutan, nyalinya pecah dan tanpa sadar sekujur badannya gemetar keras, kendatipun ikat pinggang naga emasnya sudah diputar sedemikien rupa, toh babatan pedang dari pemuda itu gagal untuk dibendungnya.

Dalamm pada itu, tusukan pedang dari Hoa Thian-hong telah berputar kesamping dan membabat pula dada kiri Hong Liong hingga terluka panjang, sementara kaki kirinya melayangkan keatas dan seorang murid Seng sut pay kena tertendang sehingga mencelat dari tebing curam itu....

tercebur kedalam air bah.

Menyaksikan kehebatan si anak muda itu, Kho Hong-bwee yang berada dipuncak bukit itu, gelengkan kepalanya berulang kali, katanya dengan nada gegetun.

"Aaaai! Bocah ini memang hebat dan mengagumkan, sekalipun Kiu-ci Sinkun hidup kembali, belum tentu ia bisa menandingi kehebatan bocah muda ini!"

Paras muka Pek Siau-thian kaku tanpa emosi, mendengar ucapan istrinya, ia cuma, bisa mengeretak giginya keras-keras sehingga terdengar bunyi gemerutuk yang nyaring.

Haruslah diketahui, Tang Kwik-siu adalah seorang tokoh silat yang berilmu tinggi, jangankan orang lain sekalipun Kiuim Kaucu sendiripun merasa belum tentu bisa menandingi kelihayan gembong Mo-kauw itu, bisa dibayangkan bagaimana dengan lainnya.

Hong Liong telah memperoleh warisan langsung dari gurunya, golok bergigi ditangan kirinya memiliki bobot mencapai empat puluh kati, sedangkan ikat pinggang emas ditangan kanannya merupakan senjata lemas yang ampuh, kerja sama antara keras dan lunak ini boleh dibilang amat erat sehingga kedahsyatan yang ditimbulkan pun luar biasa sekali.

Kiu-im Kaucu maupun Pek Siau-thian sekalian jago-jago lihay tentu saja dapat melihat dengan jelas betapa lihaynya kemampuan Hong Liong dan Tang Kwik-siu, tapi kenyataannya bukan saja Hoa Thian-hong sanggup melayani kerubutan dua orang jago lihay itu, malahan dapat pula melayani kerubutan dari belasan orang jago lainnya, bukan saja pemuda itu berada diposisi yang tak terkalahkan, bahkan masih punya kemampuan untuk mempermainkan lawannya, tidak heran kalau kawanan tokoh silat itu jadi putus asa dan tak berani punya pikiran untuk menantang Hoa Thian-hong berduel.

Pada saat ini, Tang Kwik-siu hanya punya satu pikiran yaitu berharap agar ia di tendang oleh Hoa Thian-hong hingga tercebur ke dalam air, sebab dengan begitu maka ia akan mendapat kesempatan untuk melarikan diri dari tempat celaka itu.

Apa mau dikata, Hoa Thian-hong sama sekali tidak berbuat begitu, ia tak sudi memberi kesempatan kepada musuhnya untuk kabur, dia akan membekuk gembong ibis itu kemudian dijatuhi hukuman yang setimpal setelah diadili bersama oleh kawanan jago persilatan....

Perbuatan serta tindakan Tang Kwik-siu terlampau keji, sikapnya yang tidak menyenangkan itu telah menimbulkan kegusaran semua orang, sebagai manusia licik tentu saja ia diapun bisa membayangkan bagaimana jadinya andaikata ia sampai diadili oleh kawanan jago persilatan.

Segenap tenaga dan kemampuan telah dikerahkan keluar untuk mencoba kabur dari situ tapi permainan pedang Hoa Thian-hong terlampau dahsyat dan lihay, sekalipun ia sudag berusaha toh akhirnya gagal.

Pada hakekatnya dua kali tusukan kilat yang dilakukan Hoa Thian boes tadi terlampau aneh dan sakti, jangankan Tang Kwik-siu yang sedang bertempur, malahan Kiu-im Kaucu dan Pek Siau-thian yang mengikuti jalannya pertarungan dari sisi gelanggang pun dibuat tak habis mengerti.

Tiba-tiba terdengar Pek Kun-gie berseru lengking.

"Suruh dia serahkan keluar kitab pusaka Thian hua ca ki....!"

Begitu mendengar tentang soal Thian hua ca ki, sekilas harapan untuk hidup muncul dalam hati Kecil Tang Kwik-siu, ia merasa jiwanya mungkin bisa tertolong dengan pertukaran kitab pasaka itu....

Tapi ingatan lain dengan cepat melintas dalam benaknya, ia merasa perbuatan Seng sut pay sudah menimbulkan bencana bagi khalayak ramai, kendatipun kitab pusaka itu sudah ia serahkan kepada Hoa Thian-hong, untuk bersedia untuk melepaskannya, belum tentu kawanan jago persilatan lainnya menyetujui tindakan tersebut.

Dalam pada itu Hoa Thian-hong telah membentak dengan keras.

"Tang Kwik-siu serahkan kitab Thian hua ca ki itu kepadaku, aku orang she Hoa menjamin kehidupan untukmu...."

"Cepat serahkan kitab pusaka Thian hua ca ki untuk menebus dosa dosamu yang sudah nampak!"

Teriak Pek Kungie pula dengan lantang.

"kalau tidak kau penuhi permintaan itu sekarang juga kami akan beres kan kalian guru dan murid semua, kemudian berangkay ke Cia hay dan membumi ratakan sarang tikus Seng sut pay kalian agar cucu muridmu hancur berantakan dan tak seorang manusiapun tersisa."

Sorak sorai yang ramai dan gegap gempita segera berkumandang memenuhi angkasa, banyak orang medukung usul itu, bahkan banyak orang pula yang berteriak sambil acungkan kepalan siap bertempur, jelas semua orang sudah membenci rombongan dari Seng Sut pay itu hingga merasuk ketulang sum-sumnya.

Pucat pias selembar wajah Tang Kwik-siu, sepasang matanya merah darah, selama hidup mimpi pun ia tak pernah bayangkan, bahwa suatu ketika dia bakal menderita kekalahan sedemikian mengenaskannya.

Tapi bagaimanapun juga dia adalah seorang manusia yang bejad dan bermoral jahat, sekalipun berada diujung tanduk dan keselamatan jiwanya terancam, pikirannya tak sampai kalut ataupun bingung, sesudah berpikir sebentar mendadak bentaknya.

"Hoa Thian-hong, hentikan seranganmu, kuserahkan kitab pusaka ini kepadamu!"

Hoa Thian-hong menarik kembali serangannya dan melompat mundur ke sisi tebing, perlahan-lahan katanya.

"Saudara, kuperingatkan kepadamu, alangkah baiknya kalau berbuat jujur dan jangan mencoba untuk bermain licik lagi kalau tidak bisa-bisa khalayak ramai sampai marah dan menyergap dirimu. aku tak akan menjamin keselamatan jiwamu lagi!"

Napas Tang Kwik-siu tersengkal-sengkal, setelah mengatur kembali pernapasannya, dari saku dia ambil keluar se

Jilid kitab yang kumal, seraya menuding se

Jilid kitab yang terbuat dari kulit, katanya.

"Orang she Hoa, lihatlah baik-baik, inilah Kitab pusaka Thian hua ca ki, barang yang tulen dan sama sekali bukan barang tiruan!"

Pek Kun-gie mendengus dingin, timbrungnya dari samping.

"Bila engkau berani menghancurkan kitab tersebut, kami akan cincang tubuhmu menjadi berkeping-keping, akan kami hancur lumatkan tubuhmu kemudian disuguhkan kepada anjing!"

Tang Kwik-siu berlagak pilon, meskipun kata-kata itu tajam dan pedas, ia pura-pura tidak mendengar, seraya membalik pada halaman terakhir dari kitab Thian hua ca ki tersebut, ia menuding pada lukisan yang tertera disitu, lalu katanya lagi.

"Inilah peta rahasia yang menunjukkan letak penyimpanan harta pusaka itu, tanpa peta yang tertera dalam kitab ini, kendati pun kalian mengobrak-abrik seluruh kulit bumi yang menopang bangunan Kiu ci kiong, jangan harap barangbarang pusaka itu berhasil kalian temukan. Diam-diam Hoa Thian-hong merasa tak tega, ia lihat sekujur badan gembong iblis itu sudah penuh dengan luka yang menganga, keadaannya mengenaskan sekali, tanpa terasa ia berpikir, Bagaimanapun jasa orang ini toh sebagai seorang cikal bakal dari suatu perkumpulan besar, gerakan pencarian harta yang terjadi sekarangpun dia yang mulainya lebih dulu tapi sayang karena terlampau tamak, akhirnya harus mengalami nasib setragis ini, kalau dibicarakan kembali sebetulnya patut di kasihani. Karena berpendanganbegitu, paras muka nya jauh lebih lunak, ia berkata lagi.

"Dalam gerakan pencarian harta ini, jasa mu terhitung besar sekali, kendatipun Seng Sut pay bercokol ditepi perbatasan tapi apa bedanya dengan kami semua orang-orang Tionggoan? Walaupun bunga berwarna merah, daun berwarna hijau, tapi asalnya dari satu batang yang sama, bukan begitu?"

"Nah, andaikata dalam istana Kiu ci kiong benar-benar ada harta karunnya maka aku tidak keberatan untuk membaginya pula untuk kalian beberapa orang, dan bilamana engkau sekalian bersedia pula untuk tetap tinggal disini dan melanjutkan usaha penggalian ini, aku yang tak becus akan berusaha mohonkan pengertian dari saudara-saudara lainnya agar sudi memaafkan kalian!"

Tang Kwik-siu ulapkan tangannya menukas ucapan yang belum selasai itu, ia tertawa sedih, katanya.

"Sekalipun semua kitab pusaka ilmu silat yang berada dalam istana Kiu ci kiong berhasil kudapatkan, toh tak akan mampu untuk menandingi sebilah pedang saktimu, meskipun Tang Kwik-siu bodoh, tak akan ku lanjutkan kembali usahaku untuk melakukan percarian tersebut!"

Begitu perkataan itu diutarakan keluar, baik Kiu-im Kaucu maupun Pek Siau-thian sama-sama merasa tercekat, perasaan hati mereka jadi dingin separuh, pikirnya hampir berbareng.

"Benar juga ucapan itu! Kendatipun semua kitab pusaka ilmu silat yang tersimpan dalam istana Kiu ci kiong berhasil dirampas semua toh akhirnya tak akan berhasil menangkan kelihayan bocah she Hoa tersebut, lalu apa gunanya musti bersusah payah untuk membuang tenaga serta pikiran dengan percuma?"

Rupanya sampat detik itu dua orang pemuka persilatan yang berambisi besar itu masih juga memiliki pikiran jahat, mereka berencana bila harta karun itu ditemukan maka pada akhirnya mereka akan berusaha merampas serta mengangkangi semua kitab pusaka itu bagi kepentingan pribadi.

Tapi sekarang setelah mendengar perkataan dari Tang Kwik-siu, ibaratnya lonceng pagi yang menyadarkan orang dari tidurnya, seketika menyadarkan kembali dua orang tokoh silat ini bahwa pikiran mereka itu sebetulnya keliru dan sama sekali tak ada manfaatnya.

Serta-merta kegembiraan serta minat mereka berdua terhadap kitab pusaka ilmu silatpun mengalami kemerosotan total bahkan akhirnya boleh dibilang sama sekali tak berminat lagi.

Dalam pada itu, Hoa Thian-hong telah berkata lagi.

"Ilmu silat adalah suatu aliran air yang mengalir dari segala penjuru dimana akhirny terbentuk jadi samudra, kalau toh engkau ribut dan mempersoalkan diriku seorang, tidakkah terasa bahwa tindakanmu itu sebenarnya telah menodai maksud dan tujuan orang belajar silat?"

Sesudah berhenti sebentar, dia melanjutkan lebih jauh.

"Setiap manusia mempunyai cita-cita dan tujuan yang berbeda, tentu saja aku tak berani memaksa engkau untuk menuruti kehendakku, ketahuilah bahwa kitab pusaka Thian hua ca ki adalah benda milik orang Tionggoan, maka aku minta kitab tersebut agar ditinggalkan disini, bila Seng Sut pay ada benda yang tersimpan dalam istana Kiu Ci kiong, andaikata istana ini sudah terbuka dan benda itu kutemukan, pasti akan kuhatur sendiri benda itu ke Seng Sut pay!"

Tang Kwik-siu tertawa seram.

"Haaahh.... haahh.... haaah.... sekalipun Seng Sut pay kami mempunyai benda yang tersimpan dalam istana ini, tapi engkau tak perlu bersusah payah untuk mengembalikannya kepadaku, aku harap benda itu dimpan saja baik-baik, sepuluh tahun atau seratus tahun mendatang bilamana dari Seng sut pay kami sudah mempunyai orang berbakat, pasti akan kuutus orang itu untuk mengambilnya kembali. Mengenai kitab pusaka Thian hua ca ki ini, benda tersebut diperoleh cousu kami dari sini, maka Tang Kwik-siu tak ingin benda tersebut dirampas dari tanganku bila kalian menginginkan benda ini, silahkan untuk mencarinya sendiri"

Selesai berkata dia salurkan hawa murninya lalu menyambit kitab Thian hua ca ki tersebut ke dalam jurang.

Bagaimana anak panah yang terlepas dari busurnya kitab Thian hua ca ki itu meluncur kemuka dan tampaknya segera akan tercebur kedalam air bah yang ganas, Kawanan jago persilatan yang berkumpul diatas tebing tersebut jadi gempar, caci maki dan kutukan berkumandang dari sana sini semua orang jadi marah sekali melihat tindakan tengik dari gembong iblis tersebut.

Hoa Thian-hong tertawa dingin, tiba-tiba dia melambung ke udara dan Sreeet!

Dengan taktik hisapan, suatu kepandaian tingkat tinggi telapak tangannya diayun kemuka dan kitab Thian hua ca ki yang sudah tercebur kedalam air itu seketika terhisap kedalam gengamannya kemudian ia berjumpalitan diudara dan ibaratnya burung walet terbang di angkasa si anak muda itu kembali melayang keatas tebing.

Tempik sorak bergelegar diseluruh angkasa, kawanan jago persi-latan yang menyaksikan jalannya peristiwa itu samasama memuji, sampai-sampai Pek Siau-thian sendiri pun lupa keadaan, ia berteriak keras.

"Bagus!"

Sesudah memuji, caci maki dan kutukan kembali terlontar keluar ini membuat suasana diatas tebing curam itu jadi ramai dan gaduh sekali.

Tang Kwik-siu merasa malu, benci bercampur gusar, menggunakan kesempatan di kala Hoa Thian-hong melayang kembali ke arah tebing dan perhatian semua jago tertuju pada kitab pusaka Thian hua ca ki dia lantas menjajakkan kakinya seraya berseru.

"Hayo pergi!"

Ia tergerak lebih dulu menerjang turun dari tebing itu, para murid tentu saja tak berani berayal, mereka saling berebutan menyusul gurunya unyuk kabur dari tempat celaka itu.

Hong Liong tak dapat melupakan rasa bencinya, sebelum meninggalkan tempat itu, mendadak golok bergiginya yang ada dalam telapak tangan kitinya tiba-tiba di sambit ke udara dan menyergap tubuh Hoa Thian-hong yang sedang meluncur tiba.

Jeritan kaget dan makian kotor kembali berkumandang diatas tebing curam tersebut.

Hoa Thian-hong sama sekali tidak gugup ketika merasa tibanya angin desingan tajam, ia lantas tahu babwa Hong Liong telah menyergap tubuhnya dengan golok bergiginya yang berat itu.

Tanpa memandang barang sekejappun, tangan kanannya diayun kebelakang, pedangnya diputar lantas disambit ke arah datangnya golok bergigi itu, sementara tubuhnya sendiri berjumpalitan di udara dan melayang turun ditepi tebing.

Traanngg....!

Diiringi suara dentingan nyaring yang memekikkan telinga, bunga api bermuncratan keempat penjuru....

Termakan oleh sambitan pedang itu, golok bergigi tadi tertumpuk keras dan rontok kebawah, sementara pedang itu sendiri setelah memukul rontok senjata lawan, dengan membawa angin desingan tajam langsung meluncur ke arah punggung Hong Liong dengan kecepatan bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya.

Ketika mendengar suara desingan angin tajam menderuderu di belakang tubuhnya, dengan ketakutan setengah mati Hong Liong jatuh kan diri berguling ditanah lalu menceburkan diri kedalam air dan melarikan diri terbirit-birit.

Tang Kwik-siu tak berani kabur melalui gerombolan jago persilatan yang berkerumun diatas tebing, dengan membawa anak murid nya dia melarikan diri dengan menceburkan diri kedalam air.

Berhubung Hoa Thian-hong telah menyetujui untuk melepaskan rombongan Seng sut pay dari tempat itu, maka tak seorang jagopun yang melakukan pengejaran, kendatipun demikian, hujan senjata rahasia toh sempat berhamburan disekitar badan Tang Kwik-siu dengan rombongan, caci maki dan suara cemoohan berkumandang memecahkan kesunyian, keadaan cukup mengenaskan sekali.

Tang Kwik-siu dan anak muridnya tak berrani berpaling, dengan terbirit-birit mereka berenang mengikuti aliran air dan melarikan diri dari situ, sekejap mata kemudian bayangan tubuh mereka sudah lenyap dari pandangan.

Sepeninggalnya Tang Kwik-siu dan rombongan, Hoa Thianhong menghampiri kawanan jago persilatan itu, sambil mengangkat tinggi tinggi kitab pusaka Thian hua ca ki, serunya dengan lantang.

"Saudara-saudara sekalian, dihalaman terakhir kitab pusaka Thian hua ca ki ini terdapat selembar peta bumi yang erat sekali hubungannya dengan letak harta karun tersebut, sekarang kitab catatan ini akan kuserahkan kepada Tiangsun sianseng dan biarlah dia yang mempelajari isi peta ini dengan seksama, atau dengan perkataan lain, sejak kini kitab pusaka Thian hua ca ki akan disimpan oleh Tiangseng sianseng, andaikata saudara sekalian punya usul lain, silahkan diutarakan keluar sekarang juga, andaikata, tiada usul lain lagi, maka siapapun dilarang untuk melakukan perampasan atau pencurian kitab pusaka itu lagi!"

Dalam keadaan serta situasi ini, tentu saja tak seorang manusiapun berani mengucapkan kata-kata yang berada menentang, se rentak kawanan jago silat itu memberikan persetujuannya, maka urusanpun diputuskan demikian.

Hoa Thian-hong lantas menyerahkan kitab pusaka Thian hua ca ki tersebut kepada Tiangsun Pou, kemudian dari sana untuk mencari Huang-san su lo.

Setelah bertemu muka, pemuda itu menghela napas panjang, katanya dengan lirih.

"Aaai.... sungguh menyesal aku tak dapat melindungi keselamatan kalian berempat entah bagaimanakah caranya cianpwe berempat melarikan diri dari bencana tersebut?"

Po-yang Lojin tertawa berbahak bahak, sahutnya.

"Haahhh.... haaahah.... haaaah.... pada waktu itu suasana dalam liang galian gelap gulita, dimana tangan kami menyentuh, di situ hanya lautan manusia yang berjejal jejal, kemanapun kami coba berlalu semua jalan tersumbat dan tak tembus, akhirnya kami empat orang tua malahan tertinggal paling buncit, untunglah Jin tongkeh dan Thian Ik totiang datang membantu, kalau tidak begitu haaahah.... haaaah terpaksa kami hanya bisa duduk sambil menunggu tibanya saat kematian!"

Liu lojin ikut berbicara, katanya.

"Hoa kongcu, bila dikemudian hari barang pusaka itu berhasil ditemukan semua, maka bagian kami telah kami putuskan untuk di berikan untuk Jin tongkeh serta Thian Ik totiang!"

"Aaah....! Kami menolong orang hanya berdasarkan desakan suara hati, janganlah kalian mencampur baurkan dengan soal harta karun!"

Cepat-cepat Thian Ik-cu menampik. Hoa Thian-hong segera berkata.

"Totiang, Jin tongkeh! Tindakan kalian menolong orang dikala orang sedang menghadapi mara bahaya merupakan suatu tindakan yang terpuji, kami semua mengucapkan terima kasih atas pertolongan tersebut, seandainya dikemudian hari barangbarang pusaka itu benar benar berhasil ditemukan, sudah sepantasnya kalau kami harus memberi suatu balas jasa yang setimpal bagi kalian."

Kemudian sambil berpaling kepada Kho Hong-bwee, tanyanya.

"Bibi, apakah ada saudara-saudara dari perkumpulan Sin-kie-pang yang mengalami musibah?"

"Tang Kwik-siu telah menyebarkan sekawanan makhluk beracun yang dipeliharanya dipermukaan liang galian itu, belasan orang anggota perkumpulan kami yang kena digigit makhluk itu hingga keracunan, aku libat belasan orang dari Kiu-im-kauw juga mengalami nasib yang sama!"

Hoa Thian-hong sangat menguatirkan keselamatan jiwa orang-orang itu, cepat ia pergi mencari istrinya untuk memberi pertolongan. Chin Wan-hong datang mendekat, serunya dengan lantang.

"Harap bibi dan kaucu suka memerintahkan setiap orang yang keracunan agar supaya datang ketempat boanpwe sini"

Habis berkata ia putar badan dan kembali kebaraknya.

Kho Hong-bwee dan Kiu-im Kaucu tidak tingkat sungkansungkan lagi, dia lantas memerintahkan anak buahnya untuk menggotong mereka yang keracunan hebat guna peroleh pengobatan dari Chin Wan-hong.

Perlu diterangkan, malam itu giliran kerja dari orang-orang Thong-thian-kauw, Hong im bwe serta kawanan jago tanpa kelompok, sewaktu berita tentang ditemukannya istana Kiu ci kiong tersiar keluar, orang-orang dari Sin-kie-pang serta Kiuim-kauw segera berdatangan kesitu dan berdesakan dilapisan paling atas dari liang tersebut.

Oleh sebab itu makhluk beracun yang disebarkan Tang Kwik-siu hanya melukai orang-orang dari kedua golongan itu belaka.

Sebaliknya korban yang mati terpijak lebih banyak berasal dari jago-jago tanpa kelompok, mereka merupakan kelompok terlemah dengan ilmu silat paling cetek, apalagi sedang giliran kerja di dasar liang penggalian, maka sewaktu air bah melanda tiba, orang-orang Hong-im-hwie dan Thong-thiankauw serentak melarikan diri mendahului mereka, bahkan ada pula yang ditumpuk, di terjang temannya, tidaklah heran kalau banyak diantara mereka mati terpijak ataupun tergulung oleh air bah.

Sementara itu Hoa Thian-hong sudah memeriksa keadaan diseke-liling tempat itu, tatkala dilihatnya Bong Pay beserta kakak beradik dari keluarga Pek berada dalam keadaan sehat wal afiat, diapun mohon pamit kepada Kho Hong-bwee serta kembali ke dalam rombongannya, tapi sesaat melewati rombongan dari Kiu-im-kauw, tak tahan dia mampir disana.

Giok Teng Hujin masih mengenakan kain kerudung hitam untuk menu tupi raut wajahnya, ketika melihat kekasih hatinya menghampiri, dia tertawa rendah, serunya menegur.

"Berkat perlindungan Thian yang maha kuasa, sungguh beruntung aku tak sampai mati konyol!"

Hoa Thian-hong tersenyum, ketika melihat Soat ji yang berada dalam pelukan Pui Che-giok mendesis lirih, dia maju dan membelainya dengan penuh kasih sayang, kemudian baru menuju ke rombongan dari Kiu-tok Sianci, jago racun dari wilayah Biau.

Melihat kedatangan pemuda itu, Lan-hoa Siancu segera acungkan jempolnya, ia berkata sambil tertawa.

"Siau long, hari ini engkau betul-betul menunjukkan kelihayan, bila lain waktu ada kesempatan, aku pasti akan mengajak kau untuk berduel adu kepandaian!"

Hoa Thian-hong tersenyum, sorot matanya perlahan-lahan menyapu sekejap rombongan itu sementara mulutnya berkemak-kemik menghitung jumlah orangnya.

Melihat perbuatan si anak muda itu, Ci-wi Siancu tertawa dan berkata.

"Kau tak usah menghitung lagi, berikut suhu jumlahnya adalah tiga belas orang tak bakal keliru!"

Kiu-tok Sianci ikut berkata sambil tertawa.

"Keadaan pada waktu itu sungguh kalut, ketika engkau berteriak dari atas, suasana didasar liang itu seketika jadi gelap gulita, semua jalan lewat jadi buntu, dalam keadan begitu kamipun sama-sama berpegangan tangan antara satu dan lainnya, aku menarik tangan Lan hoa tanpa ambil pusing lagi keadaan disana sambil menyeret mereka, kami semua kabur melewati batok kepala orang banyak"

Murid yang kesembilan Bong Tin tin berkata pula sambil tertawa.

"Yaa, waktu itu memang gawat keadaannya, siapapun jadi gugup dan gelagapan, ada seorang tosu bau bahkan memeluk pinggangku kencang kencang dalam paniknya, aku lancarkan satu tinju keras keatas kepala tosu bau itu, mungkin batok kepalanya sudah kuhantam sampai remuk jadinya. Mendengar penuturan tersebut, Hoa Thian-hong hanya bisa meringis sambil tertawa getir, betapa tidak, dari rombongan jago yang datang dari wilayah Biau ini. kecuali Chin Wan-hong seorang boleh dibilang yang lain bertindak tanpa memandang bulu, mereka tidak ambil perduli apakah perbuatannya itu baik atau buruk, yang diutamakan adalah melindungi orang-orang goloagannya sendiri. Sekalipun sepanjang sejarah, mereka tak pernah melakukan perbuatan yang kelewat jahat, tapi kalau dibandingkan dengan cara kerja kaum pendekar dari daratan Tionggoan, maka perbuatan serta tindak laku mereka tak bisa dianggap benar. Kendatipnn begitu, Kiu-tok Sianci amat menyayangi Hoa Thian-hong, kasih sayangnya pada pemuda itu melebihi kasih sayangnya antara seorang ibu terhadap anaknya, dengan kawaaan muridnya pemuda itupun mempunyai hubungan yang lebih akrab dari pada saudara kandung sendiri, sebab itulah Hoa Thian-hong tak berani mengatakan apa-apa terhadap mereka. Kebetulan pada waktu itu lewat seorang anggota dari perkumpulan Sin kie pang, dia adalah seorang kakek berjubah hijau, sambil goyangkan tangannya menuding kesana kemari, terdengar dia berkata kepada rekannya yang ada disisinya.

"Hmm.... hmmmm.... untung ji siocia kita cukup cekatan dan cerdik, dalam peristiwa ini dan ia berhasil mengetahui rencana busuk dari Tang Kwik-siu, kalau terlambat sedetik lagi, entah berapa banyak orang lain yang bakal tewas didalam liang itu, bahkan mungkin saja jago-jago yang mengatakan dirinya lihaypun ikut terkubur untuk selamanya dalam liang yang tiada terkira dalamnya itu. Terdengar rekannya segara menanggapi pula.

"Ji siocia kita itu memang luar biasa sekali, andaikata tak ada dia, mungkin kitab Thian hua ca ki itupun tak diketahui kemana lenyapnya!"

"Hmm! ca ki apaan lagi...."

Orang ketiga menyela.

"mungkin kendatipun harta karun yang ada disini sudah diboyong pulang ke wilayah Ceng hay pun, kita semua masih tidur mendengkur disini"

Kakek berjubah hijau yang bicara paling dulu itu segera berkata lagi.

"Tentu saja begitu. Hmm! Hmm! Tang Kwik-siu itu manusia apa? Rahasia pencarian harta karun itu telah dibeli oleh Ji siocia kita dengan pertaruhan nyawa!"

Murid kedua belas dari Kiu-tok Sianci bernama Lan cui, usianya cuma setahun lebih tua daripada Chin Wan-hong, dia adalah seorang gadis suku Biau yang masih polos dan bersifat kekanak-kanakan, mendengar beberapa orang itu memujimuji kebaikan dan jasa Pek Kun-gie, hatinya jadi mangkel karena tak bisa mengolok-olok, maka sambil memandang bayangan punggung beberapa orang itu, ia lantas meludah keras-keras ke atas tanah.

Dalam sekejap mata, suara meludah berkumandang saling menyusul, kecuali Kiu-tok Sianci serta Biau-nia Sam-sian, sembilan orang suku Biau lainnya ikut meludah keatas tanah.

Tiba-tiba Lan-hoa Siancu berkata dengan jengkel.

"Siau long, kalau engkau berani berbicara lagi dengan Pek Kun-gie walau hanya sepatah katapun, aku akan menghukum kau untuk berlutut dihadapan orang banyak. Ketahuilau apa yang kukatakan dapat kulaksanakan, aku tak akan ambil peduli engkau sudah dewasa atau belum!"

Tertegun Hoa Thian-hong setelah mendengar perkataan itu tapi dengan cepat dia anggukan kepalanya berulang kali.

"Siaute akan mengingat selalu peringatan dari enci hoa!"

Katanya.

"Melirik sekejap kepadanya pun tak boleh tahu?"

Hardik Lan cui pula dengan lantang. Dengan muka pucat pias seperti mayat Hoa Thian-hong menganguk.

"Siaute akan mengingat selalu perkataan dari enci Cui!"

Kembali dia menyahut.

Haruslah diketahui hubungan batin antara manusia dengan manusia lain memang aneh sekali.

Sebagaimana telah diketahui, sewaktu Hoa Thian-hong telah makan Teratai racun empedu api sehingga jiwanya terancam, mereka inilah yang telah merenggut kembali jiwanya dari alam baka.

Waktu itu Lan cui bertugas untuk mengurusi makanan dan minuman Hoa Thian-hong selain itu membantu pula Chin Wan-hong untuk mengurusi soal membersihkan badan si anak muda itu selama banyak bulan, pekerjaan yang amat rendah dan kasar itu dilakukan olehnya dengan seksama dan senang hati, boleh dibilang budi kebaikan sebesar ini tak bisa dibayar dengan apapun jua.

Sekalipun Hoa Thian-hong berhasil merampas semua harta karun yang ada dalam istana Kiu ci kiong ini dan seluruhnya diserahkan kepadanya, belum tentu budi sebesar itu dapat terlunasi apalagi mereka anggap pemuda itu sebagai saudara sendiri dan Hoa Thian-hong pun menganggap mereka sebagai kakak sendiri, lama kelamaan hubungan batin mereka boleh dibilang sudah erat sekali.

Siapapun tak akan menyesal untuk saling menyayang dan Hoa Thian-hong yang merasa berhutang budi, tentu saja harus tunduk kepada mereka, kalau tidak maka kendatipun dari pihak Kiu-tok Sianci tak bisa berbuat apa-apa tapi sertamerta Hoa Thian-hong akan dianggap sebagai seorang manusia munafik, seorang manusia yang tak tahu budi....

Sepanjang anak muridnya berbicara, Kiu-tok Sianci sendiri membungkam dalam seribu bahasa, tanpa sadar pikirannya terbayang kembali kejadian pada malam tadi, sewaktu ada dalam liang penggalian dan ia melotot gusar kepada Pek Kungie, waktu itu bukan saja kegusarannya tak terlampiaskan, malahan ia sendiri yang rugi.

Ia tahu Pek tok keng, kitab pusaka perguruannya masih tersimpan dalam istana Kiu ci kiOng, bagai manapun juga kitab tersebut harus dimilikinya kembali, tapi dipikir kembali kesemuanya itu toh berkat bantuan dari Pek Kun-gie, ia sebagai seorang ketua suatu perguruan yang berjiwa angkuh merasa amat tak gembira dengan kejadian ini, sebab ia tak sudi dibantu orang lalu apalagi orang yang membantunya adalah orang yang paling tak disukai.

Hoa Thian-hong sendiripun tahu bahwa kawanan kakakkakak perempuannya ini adalah manusia yang tak bisa diajak berbicara, mereka tak mungkin bisa diajak untuk berbicara secara cengli, maka timbullah niatnya untuk cepat-cepat menyingkir saja dari sana.

Tiba-tiba dilihatnya Kiu-tok Sianci menunjukkan wajah murung dan kesepian, dia cepat tertawa paksa seraya berkata.

"Kian nio, enci Hong sedang mengobati luka-luka yang diderita sebagian jago, apakah engkau tak mempunyai kegembiraan untuk memberi petunjuk kepadanya?"

Menyinggung tentang muridnya yang terkecil semangat Kiu-tok Sianci berkobar kembali, sahutnya dengan cepat.

"Betul! Mari kita bersama-sama menengok Hong ji, jangan biarkan dia kurang mahir sehingga merusak nama baikku!"

"Betul, hayo kita kesana dan membantu adik Hong" , Lao hoa siancu segera memberi tanggapannya, habis berkata tanpa menunggu rekan rekannya ia kabur lebih dulu. Orang-orang suku Biau memang paling simpatik dan hangat, dalam waktu singkat dari gusar mereka jadi gembira, terentak berbondong bondong meninggalkan tempat itu, soal yang baru terpikirpun seketika lenyap dari benaknya. Tiga puluh orang lebih jago-jago persilatan yang keracunan ber-kumpul dalam sebuah rumah kayu, waktu itu Chin Wanhong sedang mengobati luka-luka keracunan mereka dengan tusukan jarum emas. Tapi oleh karena makhluk beracun yang dipelihara Tang Kwik-siu mencapai puluhan jenis dan lagi semuanya termasuk jenis-jenis aneh yang langka didunia ini, untuk pengobatanpun mengalami banyak kesulitan, Chin Wan-hong yang harus bekerja seorang diri, dibuat kerepotan setengah mati. Memunahkan racun dengan tusukan jarum emas merupakan sejenis ilmu khusus yang memerlukan pengetahuan serta pelajaran yang sangat mendalam, diantata sekian banyak murid Ki tok sian ci, hanya empat orang yang betul-betul menguasai kepandaian tersebut, diantaranya hanya Lan-hoa Siancu dan Li hoa siaccu yang sudah mencapai kesempurnaan. Sebaliknya murid-murid seperti Beng Tin tin dan Lan cui sekalian mereka lebih terterik untuk mempelajari menggunakan racun untuk melawan racun, sedang soal ilmu mengobati orang yang keracunan boleh dibilang selisih jauh sekali bila dibandingkan dengan siau sumoay mereka ini. Tatkala Kiu-tok Sianci tiba dalam rumah kayu itu, pertamatama dia mengawasi dahulu pekerjaan dari Lan-hoa Siancu serta Li-hoa Siancu, dia kuatir kalau muridnya berbuat salah sehingga menimbulkan korban yang tak diinginkan. Ketika itu Lan-hoa Siancu sedang menusuk jalan darah Hong bu hiat ditubuh seseorang yang tak sadarkan diri, sewaktu melihat gurunya datang, sambil tertawa segera katanya.

"Orang ini dipagut oleh seekor laba-laba bermata tiga, Hong ji telah mengobati seseorang dan sudah ada pengalaman, suhu! Kau tak usah kuatir kalau aku sampai salah tangan"

Kiu-tok Sianci pun mengawasi muridnya yang kedua yaitu Li hoa ciancu, ia lihat muridnya ini sedang mengobati seseorang yang dilukai oleh kelabang langit, kecuali mulut lukanya merah mem-bengkak, tak ada gejala lain yang tampak.

Chin Wan-hong pernah mengobati racun keji yang bersarang di tubuh Liu cu cing akibat dipagut kelabang langit, dan ia memberikan keterangan yang mendetail kepada Li-hoa Siancu, tak heran kalau kakak seperguruannya ini bisa memberikan pengobatan dengan gampang.

Perlu diterangkan sebelum seseorang memberikan pertolongannya untuk mengobati luka racun dengan tusukan jarum maka terlebih dahulu orang itu harus memahami sifat dari racun yang mengeram ditubu si-penderita kemudian baru menggunakan jarum emas untuk menembusi urat urat nadi penting dan memunahkan sari racun tersebut dengan tusukan jarum.

Tapi ada bahayanya pula pengobatan dengan cara ini, bilamana sifat racun yang di duganya ternyata keliru atau tusukan jarum itu tidak tepat pada sasarannya, bukannya sembuh, orang yang keracunan itu malahan akan semakin cepat menemui ajalnya, sebab hawa racun itu justru melambung lebih keatas lagi hingga menyerang jantung.

Dalam pada itu Chin Wan-hong sedang memeriksa sifat racun yang mengeram ditubuh seorang korban sedangkan Ciwi Siancu sekalian mengerubuti disekelilingnya, Kiu-tok Sianci berjalan mondar-mandir sambil bergendong tangan, diamdiam dia mengawasi muridnya yang terkecil ini menjalankan praktek.

Mendadak dari pintu luar berkumandang suara gaduh menyusul Dewa yang suka pelancongan, Cu Thong dengan membopong seseorang melangkah masuk dengan langkah lebar.

Dibelakang jago tua itu menyusul Ko Thay murid atas nama dari Ciu It Bong, dengan membawa bungkusan panjang disampingnya berjalan seorang kakek tua bemuka hitam, Bong pay berjalan dipaling belakang sendiri.

Buru-buru Hoa Thian-hong menyambut manusia ada dalam bopongan Cu Thong itu tegurnya.

"Locianpwe apa sebenarnya yang telah terjadi?"

Sambil menuding orang yang jatuh tak sadarkan diri itu, Dewa yang pelancongan Cu Thong menjawab.

"Orang ini bernama Cing Cu gan, seorang ahli tanah dan paling suka menggunakan bahan peledak, sudah tiga puluh tahun lamanya dia tak pernah melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, ketika kulihat Tang Kwik-siu datang kemari untuk mencari harta maka sengaja kuajak dia datang ke sini untuk diaduken langsung dengan Tang kwik tua bangka itu, siapa tahu ketika kami naik gunung kebetulan sekali kami jumpai Kok See-piauw bajingan cilik itu sedang menghancurkan berdungan"

Setelah berhenti sebentar, tambahnya lebih jauh dengan gelisah.

"Cerita selanjutnya nanti saja dibicarakon kembali, tatkala Ciang lote ini beradu satu pukulan dengan Kok Seepiauw bajingan cilik itu, sungguh tak nyana sepasang telapak tangan bajingan cilik itu penuh dengan racun. Sian ci! Cepatlah turus tangan memberi ban tuan, selamatkan dulu selembar jiwa tuanya. Cepat-cepat Chin Wan-hong mempersiapkan jarum emasnya untuk melakukan pertolongan. Kiu-tok Sianci yang berada disisinya lantas tersenyum, ia berkata.

"Anak Hong, engkau saja yang turun tangan, akan kuawasi pekerjaaamu ini dan samping!"

Chin Wan-hong tak banyak bicara lagi, secepat kilat dia menusukkan lima batang jarum emas sepanjang tujuh inci itu keseku jur dada Ciang cu gan, maksudnya untuk melindungi detak jantung dari jago tersebut, menyusul kemudian ia tusuk pula sepasang ibu jari tangan orang itu dengan dua batang jarum emas.

Kiu-tok Sianci rupanya tahu kecemasan orang, ia tertawa dan berkata sambil menghibur.

"Saudara Cu, kau tak kuatir, selama aku dan murid murid ku masih berada disini tak mungkin ada orang yang bakal mati karena keracunan, hayo lanjutkan ceritamu!"

Dewa yang suka pelacongann Cu Thong menghembuskan napas panjang, kemudian katanya.

"Aaaai! Sayang sekali kedatangan kami terlambat satu langkah, waktu itu bajingan cilik she Kok itu sudah berhasil menghancurkan sebagian dari bendungan air itu. Aku dan Ciang lotau segera maju untuk menghadang serta berusaha untuk menghalangi niatnya, bajingan Kok See-piauw cukup licik, rupanya dia tahu bahwa kekuatannya tak mungkin bisa menandingi kepandaian kami berdua, ia lantas kabur terbirit-birit ke arah Ciang lotau hendak memerseni sebiji telur kepadanya"

"Telur apa itu? Telur ayam, itik?"

Sela Ci-wi Siancu tiba-tiba.

"Bukan telur ayam, telur itu bersama Pek lek san, peluru guntur yang punya daya ledakan maha dahsyat. Tetapi oleh karena bendungan itu sudah bocor, kami buru-buru harus membendungnya kembali, terpaksa bajingan Kok See-piauw itu kami biarkan kabur dari sana.... aai.... sayang sungguh sayang, air bah yang tersimpan banyak dan tekanannya terlampau dahsyat, akhirnya toh kami gagal juga untuk membendungnya.... Bagaimana keadaan disini, apakah banyak korban yang jatuh?"

Dengan wajah menyesal Hoa Thian-hong mengangguk.

"Sampai kini kami semua masih terlelap dalam tidur, mimpipun tak pernah menyangka kalau jiwa kami sebetulnya nyaris akan melayang tersapu oleh air bah tersebut, aaii. Seandainya locianpwee tidak tiba tepat pada waktunya, Kok See-piauw bajingan terkutuk itu pasti telah berhasil menghancurkan semua bendungan tersebut, waktu itu air bah yang menyapu wilayah sekitar tempat ini pasti sepuluh kali lipat lebih dahsyat apa yang telah dialami selama ini, andaikata sampai terjadi keadaan seperti itu entah bagai mana akibatnya!"

Jilid 33 . Kursi kebesaran buat keluarga Hoa (Tamat) MAKLUMLAH, kalian memang kurang bisa memahami betapa busuknya hati Teng kwik Siu dan komplotannya! ujar Cu Thong.

"sejak menjumpai bendungan air itu, Ciang lotau sudah menyadari bahwa ada orang sedang mempersiapkan siasat air bah menyapu enam pasukan berkuda, sejak datang kesini pada hakekatnya Tang Kwik-siu telah mempunyai maksud jahat, tentu saja kalian semua tak akan mampu untuk menebak siasat busuknya yang amat dirahasiakannya itu"

Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan lagi.

"Bagaimana nasib bangsat tua itu? Apakah sadah kalian usir untuk pulang ke akherat?"

"Apanya yang di usir pulang keakherat? bangsat tua itu sudah dilepaskan hidup-hidup!"

Sahut Ci-wi Siancu dengan gusar.

Mendengar perkataan itu, Dewa yang suka pelancongan Cu Thong segera tertawa terbahak-bahak "Haaahh....

haahh....

haaahh dilepaskan memang jauh lebih baik daripada dibunuh, anggap saja kita sudah membeli kura-kura busuk dari pasar, karena kura-kura itu cuma beraninya sembunyi melulu maka kita buang kembali ke lain toh tak ada rugiuya bukan?

Baiklah tak usah kita bicarakbn soal ini, coba kau lihat seluruh bukit ini sudah dipenuhi oleh bapaknya bajingan, anaknya bajingan, dan cucunya bajingan, bagaimana caramu untuk menggali harta karun itu?"

Buru-buru Hoa Thian-hong menjawab dengan wajah serius.

"Locianpwe, dewasa ini kita harus membuang jauh-jauh semua kerugian kita di masa lampau, pada saat inilah segenap kekuatan yang ada dalam dunia persilatan harus bersatu padu dan bekerja sama untuk menyelesaikan pekerjaan maha besar ini. Kemarin malam istana Bin yu tiau dari Kiu ci kiong sudah tergali keluar tapi kini penemuan tersebut telah tenggelam oleh air bah yang maha dahsyat, boanpwe ada maksud untuk menunda pekerjaan ini dan berunding lebih dulu dengan pemimpin dari pelbagai pihak, setelah itu membendung kembali aliran air dan menghisap air bah yang menggenangi liang galian ini, sebab hanya dengan berbuat begitulah pekerjaan besar ini baru bisa dilanjutkan kembali."

Tertegun Dewa yang suka pelancongan Cu Thong setelah mendengar perkataan itu, lama sekali ia baru bisa berkata.

"Apa? Jadi setelah lolos dari terkaman air bah, kau masih punya keberanian untuk bekerja sama lagi dengan kawanan manusia telur busuk itu?"

Hoa Thian-hong kualir perkataannya yang amat pedas dan tak sedap didengar ini akan menyinggung perasaan halus orang lain, buru-buru menjawab.

"Locianpwe, sebusuk-busuknya seorang manusia, aku yakin dia masih mempunyai hati yang baik dan liangsim yang mulia, bila kita bersikap luhur dan percaya kepada orang lain, lama kelamaan orang itupun da pat menyelami pula perasaan tulus kita!"

Ia menunjuk ke arah Bong Pay, lalu sambil sambil lanjutnya lebih jauh.

"Sekarang toako sudah menjadi menantu kesayangan dari Sin-kie-pangcu, itu berarti orang-orang seperkumpulan sudah merupakan saudara pula dengannya, masa kita harus menganggap asing diri mereka pula?"

Dewa yang suka pelancongan Cu Thong melototkan sepasang matanya bulat-bulat, mendadak ia berpaling ke arah Bong Pay, rupanya orang tua ini ingin menyelami sikap pemuda itu.

Buru-buru Bong Pay bungkukan badan memberi hormat, katanya dengan suara lirih.

"Wan-hong mengatakan bahwa ini merupakan perintah dari supe, Pay ji tak berani membangkang perintah dari kau orang tua maka.... maka Pay ji telah...."

"Aduh, bagus.... bagus.... tata kesopananpun rupanya sudah kau kuasahi, nada perkataan pun lebih luwes dan sedap didengar, coba katakan, semuanya ini adalah hasil pelajaran dari Pek loji ataukah ajaran dari nona Soh-gie binimu itu?"

Teriak Cu Thong. Merah padam selembar wajah Bong Pay karena jengah, cepat-cepat dia memberi hormat lagi seraya menjawab.

"Apabila Pay ji mendapat sedikit kemajuan dalam segala bidang maka semuanya ini adalah hasil dari jasa supek sendiri!"

Sekali lagi Dewa yang suka pelancongan Cu Thong tertegun, akhirnya ia merasa bahwa tidak pantas untuk bicara sembarangan lagi, sesudah termangu-mangu beberapa saat lamanya, dengan suara agak gemetar dia berkata lagi.

"Baik! Engkaupun sudah pantas menjadi manusia, Pek Siau-thian memang tidak melantur matanya, ia maui kau sebagai menantlunya ini menandakan kalau pandangan matanya memang cukup tajam. Aku menghormati keagungan Pek hujin dan menganggap nona Soh-gie adalah seorang dara yang saleh dan dapat merawat serta memperhatikan engkau sepanjang hidup, karena itu aku beranikan diri untuk memesan kepada Wan hong untuk menjadi mak comblang dalam perkawinan ini, Dan sekarang perkawinan sudah terlaksana maka semuanya tergantung pada dirimu sendiri, kalau engkau tak dapat menjadi seorang enghiong hohan yang akan meneruskan warisan dari Pek Siau-thian maka hal ini akan merupakan penyesalan bagi Pek loji, sebaliknya kalau engkau tak bisa menjadi seorang kuncu, seorang lelaki sejati yarg akan menyemarakkan nama besar perguruanmu, maka inilah dosa serta kesalahan dari aku yang menja-di supekmu, aku dan gurumu sudah saha bat sehidup semati, maka sampai waktunya aku hanya bisa menggorok leher sendiri untuk menebus dosa pada gurumu. Sebaliknya hidup diantara manusia persilatan yang kasar dan tak beraturan tapi tak hilang sifat gagah dan jiwa pendekarnya, itulah perbuatan yang teramat sukar, semoga engkau dapat menguasainya!"

Air mata jatuh bercucuran membasahi wajah Bong Pay, dengan penuh rasa hormat dia memberi hormat kepada orang tua itu, katanya.

"Apa bila Pay ji tak dapat memenuhi apa yang supek harapkan tak usah supek memberi teguran, Pay ji dapat menyelesaikan kehidupanku sendiri untuk menebus dosa-dosaku kepada mendiang guruku!"

Dewa yang suka pelancongan Cu Thong merasa terbaru sekali setelah mendengar perkataan itu sampai-sampai sekujur badannya ikut gemetar keras, katanya kemudian.

"Bagus, bagus, bagus sekali, pulanglah dahulu, demi engkau aku Cu Thong rela untuk tundukkan kepala kepada Pek Siau-thian, pulang dan berilah kabar lebih dulu kepadanya, katakan sebentar lagi aku akan datang menyambanginya"

"Baik!"

Sahut Bong Pay dengan penuh perasaan hormat.

Selesai menjura, ia mengundurkan diri dari ruangan itu dan berlalu dari sana.

Pepatah kuno pernah mengatakan.

Jika seorang kuncu mempunyai kedudukan yang tinggi maka serta-merta akan muncullah suatu kewibawaan yang besar pada dirinya.

Ini berarti pula bila orang itu dahulunya hanya seorang manusia biasa saja, tapi ketika suatu ketika secara mendadak meningkat kedudukannya, secara otomatis pula akan muncullah suatu kewibawaan pada dirinya, yang mana membuat rekan-rekannya tak berani pandang remeh dirinya lagi.

Begitulah keadaan dari Bang Pay saat ini, selelah ia menjadi menautuaya keluarga Pek maka secara lapat

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com lapat iapun sudah menjadi satu-satunya ahli waris yang akan memimpin perkumpulan Sin-kie-pang yang maha besar dan maha pengaruh ini, berhadapan muka dengan anak buah anak buahnya yang rata-rata berilmu silat tinggi, tentu saja ia harus pandai membawa diri serta tahu kedudukan dan derajat sendiri pada waktu itu.

Karena itu tanpa ditegur atau diberi peringatan oleh Pek Siau thinn, dengan sendiri Bong pay telah berubah jadi seorang manusia yang lain.

Siapapun juga yang bertemu dengan Bong pay, maka tanpa disadari semua orang akan merasa bahwa tindak tanduk maupun cara berbicara pemuda itu ternyata membawa suatu pengaruh besar yang membuat orang mau tak mau harus mematuhinya.

Tentuu saja bila keadaan pada saat ini dibandingkan dengan keadaannya di masa lampau, boleh dibilang perbedaannya ibarat langit dan bumi, jauh sekali bedanya.

Suatu hari tatkala fajar baru saja menyingsing diufuk sebelah timur, semua orang yang berada dibukit Kui ci sa telah berkumpul diatas sebuah puncak tebing yang amat tinggi berhadapan dengan sebuah selokan besar.

Semua jago persilatan baik itu dari golongan hitam, dari golongan putih maupun dari empat samudera lima telagan semuanya telah berkumpul ditanah perbukitan tersebut.

Sinar mata mereka yang setajam sembilu bersama-sama tertuju pada sebuah liang besar yang menganga dibawah tebing tepat di seberangnya, setiap orang dengan membawa perasaan gembira, perasaan tegang dan perasaan bercampur aduk yang sukar dilukiskan dengan kata-kata menantikan tibanya saat yang telah ditunggutunggu sekian lama.

Tidak semua jago silat yang hadir ditempat itu datang dengan tujuan mencari harta ada yang datang kesana oleh karena demi orang orang dikasihi, karena ingin membantu orang yang dicintainya mereka rela menyumbang tenaga dan ikat menyingsingkan lengan baju serta bekerja keras.

Kendatipun demikian, oleh karena mereka sudah menyumbangkan tenaga dan waktu yang cukup lama untuk menyukseskan gerakan pencarian harta karun ini, maka menjelang detik-detik yang terakhir ini tak urung mereka ikut berdebar juga.

Malahan ketegangan serta kegembiraan yang mencekam perasaan hati orang-orang ini tak kalah hebatnya dengan mereka yang maksud kedatangannya memang khusus untuk mencari harta karun.

Liang penggalian yang tergenang air bah itu sudah dibikin kering setelah airnya di pompa keluar, sekarang kedalaman liang tersebut telah bertambah dua puluh kaki lagi.

Atas hasil pemikiran dari Hung san su lo, Tiang sun Pou, Ciang Cu gan, Hoa Thian-hong, Pek Siau-thian serta Kiu

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com im Kaucu akhirnya dugaan mereka dapat diseragamkan yakni letak tempat penyimpanan harta karun yang berada dalam istana Kiu ci kiong sebenarnya berada didalam lambung bukit karang itu.

Menurut hasil catatan peta yang tertera dalam halaman terakhir kitab puaska Thian hua ca ki letak tempat penyimpanan harta karun itu dikelilingi oleh pelbagai lereng dan jalan berliku-liku serta banyak cabangnya, selain itu pintu serta jalan tembusnya banyak, sukar dihitung jumlahnya, tempat itu ibaratnya dikelilingi oleh barisan pembingung sukma yang bisa membetot nyawa.

Tapi apa kenyataannya?

Kendatipun mereka telah bersusah payah selama berbulan-bulan lamanya, jangankan tempat penyimpanan harta karun itu, pintu serta jalan tembus yang dimaksudkan pun tak kelihaian sebuah pun.

Tanpa pintu tak mungkin orang bisa mencapai letak tempat penyimpanan harta karun itu dan percuma saja mereka berada di sekitar tanah perbukitan itu tanpa dapat mendekati tempat yang tertuju.

Setelah mengalami patah semangat dan kemurungan selama berhari hari lamanya, terakhir mereka putuskan untuk meledakkan tanah perbu-kitan tersebut untuk mencari pintu masuknya.

Setelah diambil keputusan yang bulat ini, maka oleh Tiangsun Pou beserta Ciang Cu gan, kedua orang itu mulai memenentukan letak daerah yang akan diledakkan.

Mula-mula mereka menggali dahulu sebuah tanah lorong yang menjorok masuk kedalam perut bumi dari dasar liang penggalian itu, setelah lorong itu dirasakan cukup dalam, maka bahan peledakpun ditutupi kedalam lorong tersebut, sumbunya diatur jauh diluar liang itu dan akan disulut oleh Hoa Thian-hong.

Hari inilah yang telah ditetapkan oleh kawanan jago itu untuk meledakkan tanah perbukitan itu.

Selang sesaat kemudian, dari dasar liang penggalian yang sangat dalam itu berkumandang suara suitan yang amat panjang dan nyaring, menyusul kemudian kabut yang berwarna hitam dan tebal menggulung keluar dari dasar liang itu.

"Blaaam!!"

Suatu ledakan dahsyat yang meenggoncangkan seluruh permukaan bumi menggelegar di angkasa, pasir, debu dan batu beterbangan di angkasa.

Li-hoa Siancu paling tak dapat menahan diri, begitu melihat kabut tebal muncul dari dasar lembah, ia segera goyangkan tangannya berulang kali sambil berteriakteriak keras.

"Siao long cepat lari.... ! Siau long cepat lari!"

Gadis-gadis suku Biau adalah gadis yang tak kenal apa arti malu, seorang mulai berteriak maka rekan-rekan yang lainpun ikut berteriak teriak keras.

Mendingan kalau gadis-gadis suku Biau ini tidak berteriak, begitu mereka berteriak serentak memancing pula kekuatiran dari kawanan jago lainnya.

Perlu diketahui, selama ini Hoa Thian-hong telah menunjukkan tekadnya yang besar untuk menemukan harta karun itu, kesediaannya untuk berkorban demi kepentingan orang banyak ini, telah menimbulkan rasa kagum dan haru dihati setiap jago, tanpa sadar perasaan tersebut tertanam pula dihati mereka dalam-dalam, siapapun tak mengharapkan terjadinya sesuatu atas diri si anak muda itu pada detik-detik yang terakhir ini....

Dalam waktu singkat, teriakan-teriakan keras dan jeritanjeritan peringatan berkumandang dari mulut setiap umat jago yang hadir diseputar tanah perbukitan itu, suaranya cukup keras dan menggema diseluruh angkasa.

Pada hal setiap orang tahu bahwa Hoa Thian-hong berilmu tinggi, dengan kecepatan gerakan tubuhnya tak mungkin ia bakal terpengaruh oleh gelombang ledakan yang keras itu.

Namun, kendati begitu toh mereka berseru agar pemuda itu lebih cepat lagi menyingkir dari sana, hal ini bisa menunjukkan betapa hormat dan kasih sayangnya kawanan jago tersebut pada pemuda itu.

Andaikata kejadian ini tidak berlangsung dalam keadaan begini melainkan berhadapan muka secara satu dan satu mungkin saja diantara mereka ada yang tak bisa melupakan dendam lama serta menghilangkan rasa dengki, benci serta dendamnya.

Tapi sekarang mereka dalam keadaan bersama-sama, dengan sendiri nya suasanapun jauh berbeda.

Dalam pada itu, Hoa Thian-hong setelah memegang sumbu bahan peledak itu dengan kecepatan penuh ia lantas melayang keluar dari lorong bawah tanah dan kabar menuju ketebing sebelah depan.

Waktu itu ia mendengar bahan peledak dalam lambung bukit sudah mulai meledak, kemudian terdengar teriakan-teriakan keras, ber kumandang diri atas puncak, ia tercekat dan kebingungan, pemuda itu tak tahu apa yang terjadi diatas puncak bukit itu.

Maka pemuda itu semakin tancap gas dengan kecepatan yang lebih luar biasa, ia menerjang naik keatas puncak tersebut.

Terdengarlah ledakan keras yang memekikkan telinga menggelegar di angkasa menyusul kawanan jago yang berada diatas puncak tersebut sama-sama berseru kaget dan menghela napas panjang.

Tampaklah bukit karang yang telah didiami oleh kawanan jago itu banyak hari, kini sudah meledak dan retak-retak pada bagian pinggangnya, malahan puncak bukit itu sudah ambruk longsor kebawah.

Dalam waktu singkat terjadilah gempa bumi yang sangat keras diatas tanah bukit tadi semua tanah yang dipinjak kawanan jago itu mulai bergoncang keras, pepohonan dan batu kurang bergetar keras sekali, lama....

lama sekali goncanggan itu bergetar tiada hentinya.

Semangkin banyak tanah dan batu karang yang longsor dan bertaburan kedalam jurang, pepohonan serta bangunan darurat yang dipakai oleh kawanan jago selama ini bertumbangan, keadaan betul-betul mengerikan sekali.

Mendadak dari antara celah-celah tanah bukit yang merekah dan longsor itu muncullab sebuah air terjun yang sangat besar dan deras, dengan disertai suara gemuruh yang sangat keras, gulungan air bah itu meluncur datang dengan cepatnya, dalam waktu singkat air terjun tersebut telah berada dihadapan muka mereka.

Dewa yang suka pelancongan Cu Thong sangat terkejut segera serunya dengan keras "Celaka jangan-jangan Kok See-piauw bajingan cilik itu bermain gila lagi dengan kita?"

Ciang Cu gan setera menggeleng.

"Tak mungkin bajingan cilik itu berani main gila lagi, aku rasa kejadian tersebut mungkin terjadi lantaran kerak bumi bergoncang keras yang mengakibatkan bendungan tersebut menjadi retak karena air bah pun mengalir kembali melalui saluran yang telah ada seperti sedia kala!"

Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan kembali.

"Oleh sebab kerak bumi mengalami menyusutan setelah terjadinya ledakan ditanah perbukitan seberang sana, tanah pada sekitar lambung bukit itu mengalami retakan

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com retakan yang hebat, aai! Sebelumnya aku tak pernah menghitung sampai kesitu, kalau tidak pasti akan ku kurangi kekuatan bahan peledak yang kita tanam disana!"

"Saudara Ciang, akibat dari ledakan yang kelewat takaran ini, mungkinkah bisa mengakibatkan hancurnya tempat penyimpanan harta karun itu?"

Tanya Thian Ik-cu secara tiba-tiba. Ciang Cu gan termenung dan berpikir sebentar, kemudian sabutnya.

"Pertanyaanmu itu sulit bagiku untuk menjawabnya pada saat ini. Aaaiiii....! seandainya harta karun itu mengalami kerusakan hebat semuanya itu adalah dosa dari aku Ciang Cu gan, mungkin aku akan merasa menyesal untuk selamanya!"

"Ciang locianpwe, apa gunanya kau mengucapkan katakata seperti itu?"

Tegur Hoa Thian-hong mendadak.

"sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya akan jatuh juga, secerdik-cerdiknya seseorang dalam suatu bidang, kegagalan bukanlah suatu kejadian yang aneh, lagipula masalah ini menyangkut tentang mengerutnya kerak bumi yang berada didalam tanah dan tak bisa dilihat manusia, siapa yang dapat menduganya sampai kesitu? Kalau toh harta karun tersebut akhirnya musnah, kita hanya bisa mengatakan bahwa takdir memang menghendaki demikian!"

Sementara pembicaraan masih berlangsung, aliran air tersebut telah memancar lewat dengan cepatnya, liang besar itu untuk kedua kalinya tergenang kembali oleh air bah.

Dalam pada itu, retakan-retakan pada dinding tebing masih berlangsung terus tiada hentinya, batu-batu cadas yang besar dan berukuran raksasa menggelinding jatuh kebawah dan lenyap dibalik genangan air yang menutupi seluruh liang penggalian tersebut.

Kurang lebih setengah jam kemudian, ledakan dan retakan-retakan dari tebing bukit seberang sana perlahan-lahan mulai mereda kembali, namun peredaran darah ditubuh kawanan jago itu malahan terasa berpu tar makin cepat, jantung mereka serasa berdebar keras.

Tiba-tiba Thian Ik-cu berseru dengan suara lantang.

"Hoa kongcu, aku rasa keadaan pada saat ini sudah mulai menjadi tenang kembali, bagaimana kalau kita bersama-sama menengok keadaan dibekas tanah ledakan tersebut?"

"Baik! mari kita maju bersama-sama kesitu, tapi sebelumnya aku harap saudara sekalian suka mencamkan beberapa patah kataku, ketahuilah peti mati lebarnya cuma enam depa, dan benda sekecil itu tak akan makan tempat selebar satu kaki, selama manusia masih hidup didunia ini maka semuanya takdirlah yang menentukan, ada manusia yang bernasib baik ada pula manusia yang bernasib jelek. Tentunya kalian mengetahui bukan tentang cerita Say-ang yang kehilangan kudanya? Siapa tahu kalau kudanya yang hilang justru mendatangkan rejeki padanya? Kemudian Say-ang mendapat kudanya kembali, tapi siapa yang mengira kalau ditemukannya kembali kuda tersebut justru merupakan bencana baginya?"

"Saudara-saudara sekalian, andaikata dalam bukit sebelah sana banar-benar terdapat harta karunnya maka kalian boleh mengambilnya, sebab itulah hasil dari jerih payah saudara sendiri, itulah buah yang harus kalian terima setelah memeras keringat dan tenaga.

"Kita semua tak ada yang menjadi pemimpin rombongan, tak ada seorangpua yang berhak untuk menentukan pilihan bagian saudara sekalian, lagipula berbicara tentang nilai dari harta pusaka itu setiap orang memiliki pandangan yang berbeda-beda, setiap orang mungkin saja bisa mengalami sengketa karena pilihan yarg sama, oleh karena itu untuk mengatasi segala hal yang tak diinginkan pada hari ini aku mohon kepada saudra sekalian untuk bertindak menuruti suara hati masingmasing, ambillah benda yang sudah menjadi hak bagi kalian dan bagi mereka yang telah mendapat bagian menyingkirlah dengan segera dan bagilah sisa bagi orang yang lain. Aku harap janganlah disebabkan karena harta yang tak ada harganya ini sehingga menimbulkan bibit bencana dan harus diakhiri dengan pertumpahan darah yang tak berguna, aku rasa saudara-saudara sekalian tentunya bisa menangkap serta memahami apa yang kumaksudkan dan apa yang ku katakan barusan bukan?"

Ketika Hoa Thian-hong menyelesaikan kata-katanya dengan suara keras tapi tegas, Kho Hong-bwee menambahkan pula.

"Apa yang barusan Hoa kongcu ucapkan semuanya merupakan kata kata mutiara yang besar dan dalam sekali artinya, semoga kalian dapat mencamkan kata-kata tersebut kemudian meresapi serta melaksana kannya secara baik-baik, dalam menghadapi segala persoalan lebih baik berpikirlah tiga kali sebelum akhirnya mengambil keputusan. Ia berpaling lantas membentak lagi.

"Saudara-saudara dari perkumpulan Sin-kie-pang harap dengarkan baikbaik kata-kata ku ini. 'Bila kami punya rejeki dan keuntungan maka semua anggota perkumpulan dari atas sampai tingkat paling bawah akan mendapat bagian bersama-sama meresapi keuntungan tersebut', Pangcu sekeluarga tidak akan memeras dan melupakan kesolidaritasan saudara-saudara sekalian, kendatipun demikian aku minta kalian jangan melupakan peraturan perkumpulan, siapapun asal dia anggota perkumpulan Sin-kie-pang, sebelum mendapat perintah dari pangcu dilarang untuk maju kedepan, barang siapa berani menentang peraturan ini maka akan dijatuhi hukuman setimpal dengan peraturan yang telah tercantum, aku minta peringatan ini suka diindahkan oleh saudara saudara sekalian, sehingga dapat dihindari segala hal yang tidak diinginkan. Begitu selesai mendengar perintah itu, para anggota perkumpulan Sin-kie-pang serentak menyahut, suaranya keras dan serentak ibarat guntur yang menggelegar di udara. Thian Ik-cu pun ikut berbicara dengan suara lantang.

"Hoa kongcu, kamipun hanya ingin cepat-cepat melihat harta karun itu tapi jangan kau artikan ingin cepat-cepat mendapatkan bagian dari harta karun tersebut, bilamana ada orang ingin menggunakan kesempatan ini untuk menguntungkan dan memperkaya diri sendiri, cukup Hoa kongco memberi komando, serentak kami akan se-kuat tenaga melawan manusia-manusia rakus itu, walau kepala bakal kutung, darah bakal mengalir, kami semua tidak akan merasa gentar atau mundur!"

"Akan ku ingat selalu perkataan dari totiang! ujar Hoa Thian-hong dengan wajah bersungguh-sungguh. Ia lantas berpaling ke arah Kiu-im-kauwcu, setelah memberi hormat ujarnya kembali.

"Kaucu, cianpwe dan para enghiong semua mari kita berangkat untuk menengok keadaan disana!"

Kiu-im Kaucu tertawa terbahak-bahak.

"Haaah.... haaah.... haaah.... saudara-saudara sekalian, silahkan berangkat!"

Katanya pula.

Padahal semenjak tadi semua orang sudah terburu nafsu ingin menuju ketempat penyimpanan harta itu, setelah dipersilahkan maka siapapan tidak ingin banyak berbicara lagi.

Maka ketika berangkat menuju kemuka sekalipun tidak diatur, secara otomatis kawanan jago itu membentuk barisan sendiri secara teratur dan rapi.

Tampaklah Hoa Thian-hong berjalan dipaling depan dengan Pek Siau-thian, Kiu im kancu, Jia Hian serta Thian Ik-cu mendampingi disisinya, dibelakang kelima orang itu menyusul pula para jago lainnya yang menyusun diri jadi lima orang tiap baris, memandang jauh sebelakang sana, barisan itu sangat teratur dan siapapun tiada bermaksud untuk saling mendahului ataupun saling berdesakan.

Pada aliran selokan yang muncul setelah terjadi tempa bumi itu penuh berserakan batu-batu cadas yang mencapai beberapa kaki diameternya, dengan melewati batu-batu cadas tersebut Hoa Thian-hong berlima memimpin kawanan jago lainnya mendaki bukit batu karang itu dan menuju kepuncak bukit yang sudah terbelah oleh ledakan bahan peledak serta goncangan gempa bumi itu.

ooooOoooo SETIBANYA dtatas puncak bukit yang terbelah itu, Hoa Thian-hong tak dapat menahan pergolakan emosinya lagi, timpaklah sekujur tubuhnya gemetar keras, helaan napas panjang segera berkumandang saling menyusul dari mulut kawanan jago tersebut.

Pemandangan yang terbentang di depan mata pada saat ini adalah suatu pemandangan yang aneh serta menakjubkan, puncak bukit yang sudah terbelah oleh ledakan bahan peledak serta goncangan gempa bumi itu sekarang telah berubah jadi sebidang tanah datar yang luasnya mencapai tiga ratus kaki persegi, diatas dataran itu penuh dengan jalan-jalan lorong yang berlika liku dan tak terhitung jumlahnya.

Luas lorong yang seolah-olah dipapas dengan pisau itu cuma beberapa kaki, tapi rata teratur dan rapi, panjangnya mencapai sepuluh li atau lebih.

Meskipun panjang lorong mencapai sepuluh li lebih naumn berlika liku kian kemari tak menentu, besar kecilnyapun berbeda satu dengan lainya, berderet-deret bangunan batu seperti sarang tawon berserakan disana sini, hanya saja pada waktu itu hampir separuh bagian bangunan ruang batu serta lorong rahasia itu terbentang diluaran sedang sisanya yang separuh masih terbenam dalam lambung bukit dan tertindih oleh bukit karang yang tinggi dan padat.

Beberapa orang diantara mereka yang merasa berilmu tinggi lantas melompat masuk kedalam lorong rahasia yang terbelah jadi dua itu, mereka mencoba untuk mendekati pusat bangunan tersebut dengan melalui lorong-lorong yang terbentang lebar itu.

Apa yang terjadi?

Kendatipun beberapa orang jago itu telah berusaha untuk berputar kesana kemari dengan mengikuti barisan pat kwa ataupun barisan ngo heng yang mereka kuasai, jangankan mendekati puing bangunan yang dimaksudkan untuk mendekati pun ternyata tak mampu.

Lama....

lama sekali....

akhirnya Pek Siau-thiang menuding ke arah tebing sebelah depan sana lalu berkata.

"Daripada saudara semua membuang waktu dan tenaga dengan percuma, bagaimana kalau kita jangan melalui jalan lorong yang membingungkan itu?"

"Asal melewati jalanan bekas sawah yang ada disebelah sana, kemudian meloncat ke pusat bangunan, toh dengan gampang sekali kita bisa masuk kedalam ruang batu itu?"

Oleh karena tak seorangpun yang memberikan tanggapan atau usul lain, maka kawanan jago itupun meninggalkan jalan lorong yang membingungkan dan menelusuri jalan perbukitan yang tinggi rendah tak menentu di samping lorong-lorong tadi, dengan sangat gampang semua orang dapat mencapai pusat ruang batu di tengah-tengah kurungan lorong rahasia tersebut.

Setelah tiba didekat bangunan tadi, sebagaimana tadinya maka kawanan jago itupun mengatur diri lima orang satu barisan untuk meneruskan perjalananya kedepan.

Semua orang tahu setelah tempat penyimpanan harta karun itu dilindungi oleh lorong-lorong rahasia yang amat membingungkan pikiran serta susah untuk dilewati itu, sebenarnya tanpa dipasangi alat jebakan di sekitar ruang penyimpananpun tak mengapa, sebab tidak gampang orang bisa mencapai ketempat itu.

Berdasarkan analisa inilah, maka setelah rombongan tiba diluar ruang batu itu, semua orang tidak kuatir akan tersesat atau terjebak lagi oleh alat-alat rahasia yang mengerikan, dengan mengatur diri menjadi barisan mereka lanjutkan perjalanan kedalam ruangan.

Perlu diketahui, pada saat ini rombongan kawanan jago itu berada di bukit karang yang letaknya jauh lebih tinggi daripada bangunan istana itu sendiri, ditambah pula separuh bagian bangunan tersebut sudah longsor oleh gempa sehingga boleh dibilang semua bangunan istana Kiu ci kiong seolah-olah terkupas separuh, maka siapapun dapat melihat jelas keadaan di dalam istana tersebut dengan amat jelas.

Tanpa menemui banyak kesulitan, mereka telah berhasil mencapai depan pintu sebuah ruang batu dan memasuki ruangan tersebut.

Ruangan itu panjang sekali dan terbuat dari batu-batu cadas yang sangat kuat, kurang lebih beberapa kaki kemudian sampailah mereka di depan sebuah pintu lagi.

Pintu batu itu tertutup rapat, Kiu-im Kaucu lantas maju kedepan dan mendorong pintu tadi kebelakang.

"Kraaakk!"

Pintu batu itu ternyata tak terkunci, sewaktu didorong lantas terbuka lebar, cahaya hijau yang menyilaukan mata seketika itu juga memancar keluar dari balik ruangan.

Apa isi ruangan ini?

Sinar mata semua orang tanpa terasa tertuju kedalam ruangan itu.

Luas sekali ruang batu disana, isinya adalah benda-benda terbuat dari batu kumala yang bertumpuk-tumpuk segudang penuh, terbesar benda kumala itu besarnya seperti pembaringan yang panjangnya delapan depa sedang terkecil sebesar biji kelereng untuk perhiasan.

Selain itu terdapat pula botol porselen, kaleng porselen, golok kumala, pedang kumala dan semua benda-benda lain yang terbuat dari kumala bertumpuk disana semua.

Suatu pemandangan yang indah, menawan dan mempersonakan hati, namun cukup membuat nafsu rakus, nafsu tamak pada manusia ber munculan diatas wajah masing-masing.

Setelah memandang sekejap benda-benda kumala itu, mendadak Kiu-im Kaucu berpaling lalu membentak keras.

"Sebelum mendapat perintah dariku, siapapun dilarang untuk menyentuh benda-benda yang ada disini!"

Sehabis berkata ia melanjutkan kembali perjalanannya menuju keruang yang lebih dalam.

Benda-benda kumala yang berhasil dikumpulkan Kiu-ci Sinkun didalam ruangan itu memang tak terhitung jumlahnya, barang siapa berhasil memiliki benda-benda tersebut, tak ragu lagi niscaya dia akan menjadi seorang manusia yang kaya raya.

Terlihatlah beberapa orang kawanan jago silat itu sudah mulai tak kuasa menahan diri, wajah mereka berubah hebat dan jantungnya serasa berdebar keras.

Tiba-tiba Cu Im taysu maju beberapa langkah kedepan lalu serunya dengan lantang.

"Thian-hong, aku rasa cukup bagiku untuk melihat sampai diruang ini saja!"

Selesai berkata, ia lantas putar badan dan berlalu dari ruangan penyimpanan benda-benda kumala ini. Ciu Thian-hau tertawa dia ikut berkata.

"Haaahh.... haahhh.... haahh aku juga kuatir tak dapat menguasai perasaan hati sendiri setelah melihat begitu banyak barang bagus, lebih baik tugaskan saja kami untuk berjaga-jaga disebelah atas sana. sekalian menjadi pengawal bagi kamu semua!"

"Betul,"

Cepat Suma Tiang cing menambahkan.

"sekalipun mata melihat seolah tidak memandang, hati berpikir seolah tidak merasakan namun yang terbaik adalah sama sekali tidak melihat dan sama sekali tidak merasakan. Aku juga mundur saja dari tempat ini."

Selesai berkata, tanpa banyak berbicara lagi, ketiga orang itu lantas mengundurkan diri dari dalam ruangan.

Sepeninggalnya ketiga orang jago itu yakni Cu Im taysu, Ciu Thian-hau serta Suma Tiang cing, rombongan melanjutkan kembali perjalanannya menembusi ruanganruangan batu berikutnya.

Setelah melewati gudang penyimpan barang-barang kumala, kawanan jago itu memasuki gudang tempat penyimpanan barang-barang antik.

Kemudian setelah keluar dari gudang penyimpanan barang-barang antik, mereka memasuki sebuah ruangan yang menyimpan pelbagai macam lukisan serta tulisan orang kenamaan, rata-rata tulisan maupun lukisan yang tersimpan dalam ruangan itu merupakan hasil karya dari orang-orang kenamaan banyak pula yang usianya sudah tua sekali, tentu saja barang-barang seperti ini tak ternilai harganya.

Ruangan berikutnya adalah sebuah ruangan luas tempat penyimpanan pelbagai macam alat musik, banyak alat musik yang ada disitu merupakan bentuk-bentuk yang aneh serta jarang sekali dijumpai didunia luaran, ada pula alat musik yang sudah langka didunia.

Dari seruling sampai khiem dan tambur tersimpan semua ditempat itu, malahan ada pula alat-alat musik yang terbuat dari emas murni.

Ruang selanjutnya adalah ruang batu tempat penyimpanan intan permata serta mutu manikam yang tak ternilai harganya, bukan saja jumlahnya bertumpuktumpuk segudang penuh, bahkan intan permata yang tersimpan disana rata-rata besar dan bercahaya tajam, paling kecil sebesar buah kelengkeng dan paling besar sebongkah batu, bisa dibayangkan sampai dimanakah nilai dsri barang-barang itu.

Rata-rata kawanan jago yang menyaksikan intan permata tersebut sama menjulurkan lidahnya, belum pernah mereka jumpai benda-benda mustika sebesar itu, tak heran kalau banyak diantara mereka yang mulai goyah imannya....

Sementara itu rombongan jago sudah memasuki ruang batu separuh yang terakhir, ruangan itu sudah tertutup oleh lapisan batu pada langit-langitnya karena letaknya sudah menjorok jauh dalam lambung bukit.

Sekalipun gelap suasananya, itu buka berarti sama sekali gelap gulita sehingga melihat kelima jari sendiri pun tak dapat, mutiara mutiara besar yang memancarkan sinar gemerlapan tercecer diantara dinding ruangan dan merupakan alat penerangan yang sangat bagus.

Setelah berjalan sekian lama, tiba-tiba dihadapan mereka muncul sebuah ruangan batu, pintu gerbangnya satu kali lipat lebih besar dari pintu-pintu ruangan lainnya, sebuah papan nama yang terbuat dari batu kumala tergantung diatas pintu gerbang tersebut dan berukirkan tiga huruf besar terbuat dari emas.

"Ciang keng cay! atau ruang penyimpan kitab"

Kontan saja kawanan jago itu merasakan hatinya tercekat dan jantung serasa berdebar keras.

Kiu-im Kaucu dan Pek Siau-thian serentak maju bersama kemuka, masing-masing melancarkan sebuah pukulun untuk mendorong pintu gerbang itu.

Pek Kun-gie maupun anak murid dari Kiu-im Kaucu selama ini selalu membuntuti di belakang beberapa orang pemimpin itu, begitu pintu batu terbuka, serentak mereka sama-sama melongok kedalam.

Masih mendingan kalau tidak melihat, begitu mereka mengintip kedalam seketika itu juga beberapa orang itu menjerit keras saking kagetnya, dengan rasa kaget dan gugup serentak mereka mengundurkan diri ke belakang.

Ruangan penyimpan kitab itu luasnya enam kaki persegi, disamping kiri dan kanannya masing-masing terdapat sebuah pintu gerbang.

Diatas pintu gerbang yang disebelah kiri tergantung sebuah papan nama bertulisian, Wan Si atau ruang obat.

Sedangkan diatas pintu sebelah kanran tergantung sebuah papan nama tertuliskan dua huruf besar, Bu Gu atau Gudang silat.

Kalau diruang sebelah kiri yang menurut catatan papan nama itu merupakan ruangan penyimpan obat terdapat kukusan-kukusan besar dan kukusan-kukusan kecil, maka dibalik ruangan yang bertuliskan gudang silat itu terdapatlah rak-rak buku yang bersusun-susun dengan banyaknya.

Sekilas pandangan saja, semua orang akan melihat dan mengetahui bahwa dalam rak-rak buku itulah tersimpan kitab-kitab pusaka ilmu silat yang diincar serta diidamkan oleh setiap umat persilatan.

Ruangan itu tidak kosong tapi ada penghuninya, sebuah tempat duduk yang bulat datar terbuat dari batu kumala hijau terletak ditengah ruangan itu, diatas tempat duduk bersila seorang kakek berambut perak sepanjang bahu dan berjenggot panjang sedada.

Kakek itu memakai jubah panjang berwarna merah darah, sepasang telapak tangannya berhenti ditengah udara dengan posisi jurus Hun hoa hud liu atau memisahkan bunga mengeburkan pohon liu, matanya terbelalak besar dan senyum manis menghiasi bibirnya, orang itu persis seperti manusia hidup lainya.

Disekitar tempat itu penuh berkerumun manusia-manusia dengan pelbagai dandanan yang aneh, ada yang sedang menjotos, ada yang sedang melepaskan pukulan, ada yang bersikap hendak menubruk, ada pula sedang melompat mundur kebelakang, rupanya orang-orang itu sedang mengerubuti kakek baju merah yang duduk bersila ditengah ruangan itu.

Diatas tanah tampak terkapar pula beberapa orang, tampaknya orang-orang itu menggeletak karena dilukai oleh kakek tersebut.

Setelah memandang sekejap pemandangan disekitar tempat itu, Po-yang Lojin lantas menuding ke arah kakek berbaju merah darah itu kemudian katanya dengan lantang, Orang inilah yang bernama Kiu-ci Sinkun sedang sisanya adalah anak murid orang itu kecuali Cho Thianhua, tiga puluh lima orang muridnya semua berkumpul disini.

Kiu-im Kaucu mengerutkan dahinya rapat-rapat kemudian berkata, Kalau dilihat dari keadaan disini, tampaknya dalam istana Kiu ci kiong sudah terjadi pemberontakan secara besar-besaran, kawanan anak muridnya telah bersatu padu untuk menghadapi gurunya serta berusaha untuk melenyapkannya dari muka bumi.

Pek Siau-thian mendengus dingin, katanya pula.

"Baik gurunya maupun muridnya semua bukan orang baikbaik, rasanya kita tak perlu untuk memikirkan tentang diri mereka lagi, lebih baik dari masing-masing pihak mengeluarkan dua orang wakil untuk menggotong pergi mayat-mayat dari mereka ini, bukankah urusanpun akan menjadi beres den an sendirinya?"

Pertama-tama orang orang dari Sin-kie-pang memberikan reaksinya lebih dulu, muncullah dua orang untuk menggotong pergi mayat yang bergelimpangan disana, menyusul kemudian dari empat penjuru bermunculan dua orang wakil untuk menyingkirkan semua mayat disana.

Kelompok mayat-mayat yang berserakan disana itu sudah mati seratus tahun lebih, sekalipun tampaknya masih utuh seperti sedia kala, akan tetapi begitu diangkat maka mayat itu lantas hancur menjadi abu dan tulang belulang mereka lantas berserakan di atas tanah.

Namun kawanan jago yang bertugas mengangkuti mayat itu tidak ambil pusing apakah kotor atau tidak, dalam keadaan seperti ini mereka hanya ingin cepat-cepat mendapat bagian dari harta karun itu, maka ada yang lantas melepaskan jubahnya untuk mengangkuti abu dan tulang belulang itu, ada pula yang manyapu dengan ujung bajunya lantas diangkut begitu saja dengan tangan.

Diantara sekian banyak jago yang bekerja terdapat pula Tio Ceng tang, ia mendapat tugas untuk mengangkut mayat dari Kiu-ci Sinkun.

Siapa tahu tatkala jari tangannya menyentuh tubuh Kiu-ci Sinkun, mendadak ia melompat mundur sejauh lima depa sembari berteriak keras.

"Aduh mak!!"

Apa yang terjadi?

Hoa Thian-hong segera menegur dengan perasaan terperanjat.

Sekujur badan Tio Ceng tang gemetar keras seperti orang ketakutan sambil menuding ke arah mayat Kiu-ci Sinkun dengan jari tangan yang gemetar ia berbisik.

"Ii.... ituu.... tubuhnya masih hangat mu.... mungkin dia dia masih hidup!"

Suaranya terbata-bata dan nadanya Kurang jelas. Hoa Thian-hong berkerut kening ia berpaling kepada Hoa In yang berada dibelakangnya, lalu memerintahkan.

"Coba engkau pergilah kesana dan periksalah apa yang sebenarnya telah terjadi"

Hoa in mengiakan dan lantas maju kedepan, sekali cengkeram dia sudah mengangkat mayat Kiu-ci Sinkun dari tempat duduknya kemudian sambil meraba tempat duduk bulat pipih yang terbuat dari batu kumala hijau itu, katanya.

"Aaai! Siapa bilang dia belum mati? Rupanya tempat duduknya ini terbuat dari batu kumala hangat yang telah berusia sepuluh laksa tahun, oleh karena hawa hangat yang terpancar keluar dari tempat duduk ini maka mayat Kiu-ci Sinkun selama ini tidak sampai mengalami kerusakan atau pembusukan!"

Hoa Thian-hong alihkan sinar matanya ke arah tempat duduk bulat pipih yang terbuat dari batu kumala hijau itu, terbaca olehnya empat huruf besar terukir diatas tempat duduk tersebut.

"BU LIM CI CUN"

Atau Maharaja dari dunia persilatan. Tanpa terasa diapun berpikir dihati.

"Orang ini memang sungguh jumawa dan berlagak sombong aaai! akhirnya toh dia tewas dalam keadaan begini tak ada harganya, inilah yang dinamakan mencari penyakit buat diri sendiri. Berpikir sampai disitu tak kuasa lagi dia menarik napas panjang panjang. Setelah berusaha dan bekerja keras, sebentar kemudian semua mayat yang berada dalam ruangan itu sudah disingkirkan, kawanan jago yang berbondong masuk keruangan inipun segera memenuhi setiap sudut ruangan yang ada disana. Luas ruangan batu itu kurang lebih enam kaki tapi untuk menghindari segala kemungkinan yang tidak diinginkan, beberapa orang pemimpin persilatan itu tak mau memasuki ruangan itu terlalu dalam maka orang-orang yang sempat ikut masuk ke dalam ruangan itupun cuma sebagian kecil belaka.... Sisanya yang berjumlah ratusan orang hanya bisa saling berhimpit dan berdesakan diluar ruangan, ada yang berdiri pada tu-mit ada yang menjulurkan lehernya, adapula yang mementangkan matanya lebar-lebar untuk mengawasi keadaan dalam ruangan itu. Semua sinar mata dan perhatian kawanan jago itu sudah tertuju pada kurungan-kurungan yang berisi obat mujarab serta rak-rak buku yang berisikan kitab-kitab pusaka ilmu silat. Mereka dapat melihat jelas bahwa kitab-kitab pusaka itu diatur dengan sangat rapi, setiap ujung kitab terdapat selembar kain kecil yang bertuliskan nama diri kitab itu karenanya tanpa harus menarik keluar kitab itu, orang akan tahu buku apakah yang tersimpan disana Hanya sayangnya tulisan diatas lembaran kain itu kecil sekali, dan lagi pula banyak sekali jumlahnya, kecuali beberapa orang jago silat yang memiliki ketajaman mata luar biasa, boleh dibilang yang lain tak mampu melihat apa-apa kecuali pandangan yang muram. Tiba-tiba Tio Sam-koh ambil keluar sebuah karung goni yang amat besar, sambil merentangkan tersebut lebarlebar ia berteriak dengan suara lantang.

"Heey! Ada yang mau turun tangan tidak? Kalau semua orang segan untuk mengambil kitab-kitab itu, aku si nenek tua segera akan mengambilkan semua!"

Hoa Thian-hong sangat terperanjat setelah mendengar perkataan itn, dengan cemas ia berkata.

"Nenek, engkau jangan bergurau, apa gunanya kita miliki kitab kitab pusaka ilmu silat itu?"

"Kalau engkau tidak mau apa salahnya kalau aku mau? Toh aku bisa menghadiahkan kembali kitab-kitab itu untuk orang lain!"

Sahut Tio Sam-koh dengan kasar.

Tanpa sungkan-sungkan lagi, selesai berbicara dia lantas meren-tangkan karung goninya lebar-lebar kemudian melangkah maju kedepan menghampiri rak-rak kitab itu.

Hoa Thian-hong jadi serba salah dibuatnya, ia cuma bisa merintis sambil mengerling dengan penuh kecemasan kepada istrinya.

Chin Wan-hong tentu saja mengetahui apa maksud dari suaminya itu, cepat dia memburu maju kedepan, sambil menyeret tangan Tio Sam-koh katanya seraya tertawa.

"Sam popo kita kan sudah berjanji bahwa kedatangan kita kemari hanya untuk jalan-jalan saja, kenapa kau angkuti semua kitab-kitab pusaka ilmu silat itu?"

"Sekalipun kedatanganku kesini hanya untuk jalan-jalan belaka, masakah aku tak boleh mengambil kitab itu? Toh orang lain tidak mau, apa salahnya kalau aku sinenek mengambilnya?"

Hoa Thian-hong semakin gelisah lagi setelah mendengar perkataan itu, cepat ia berseru lantang.

"Semua kitab pusaka ilmu silat telah berada didepan mata, barang siapa punya minat untuk mendapatkan kitab tersebut, silahkan maju untuk mengambilnya sendiri, tapi setiap orang terbatas hanya boleh mengambil se

Jilid saja, benda-benda yang ada pemiliknya lebih baik jangan diambil, ambil saja kitab yang tak punya tuan!"

Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, tiba-tiba terdengar seseorang berseru lantang.

"Dalam usaha pencarian harta karun, Ji sioca dari perkumpulan Sin-kiepang yang paling berjasa sepantasnya kalau ji sioca kami mendapat penghormatan untuk memilih pertama kali!"

Tentu saja Hoa Thian-hong tahu bahwa orang yang berbicara itu adalah anak buah dari perkumpulan Sin-kiepang, meskipun ia tahu bahwa alasannya memang tepat, namun pada hakekatnya ia tak ingin membiarkan Pek Kun-gie memilih nomor satu, hanya saja ia merasa tak enak untuk menolaknya secara terang-terangan, maka setelah termenung sebentar diapun berkata.

"Saudarasaudara sekalian, disebelah kiri sana terdapat kamar obat mujarab didalamnya mungkin saja terdapat obat mustika yang dapat membuat orang awet muda dan tetap sehat, disebelah belakang sana ada gudang senjata, didalamnya tentu tersimpan pelbagai senjata mustika yang luar biasa dahsyatnya, berhadapan dengan barang sebanyak ini siapa mengambil dulu belum tentu mendapat keuntungan apa-apa, sebaliknya mereka yang mengambil belakangan juga bukan berarti bakal rugi, bagaimanapun juga setiap orang hanya terbatas boleh memilih satu jenis barang saja, aku anjurkan kepada kalian agar memilihnya secara perlahan-lahan, tunggu saja lah sampai mereka yang punya barang terjerumus dalam istana ini mengambil kembali barangnya yang lainnya barulah mulai memilih!"

Benda mustika yang tersimpan dalam istana itu memang terlalu banyak jumlahnya, siapapun tak berani punya pikiran untuk membegal atau merampok maka siapapun akan memilih bagian yang terbaik dan terlihay untuk diri sendiri tapi oleh kerena jumlahnya terlalu banyak siapapun merasa sulit untuk menentukan pilihannya.

Tiba-tiba terdengar Pek Kun-gie berkata.

"Ayah bolehkah aku memilih lebih dahulu?"

"Tentu saja siapa berani menghalangi niat mu?"

Sahut Pek Siau-thian dengan angkuh.

Pek Kun-gie tertawa manis, dengan lemah gemulai dia maju kedepan dan menghampiri rak-rak buku itu.

Berbicara yang sesungguhnya Pek Kun-gie menang terhitung manusia yang paling berjasa dalam usaha pencarian harta karun kali ini, maka keputusan untuk mempersilahkan dia memilih lebih dahalu bukanlah suatu keputusan yang kelewat batas.

Sebab itulah baik Kiu-im Kaucu maupun Kiu-tok Sianci berlagak bodoh seolah-olah mereka tidak melihat akan kejadian itu.

Pek Siau-thian dengan sinar matanya setajam sembilu mulai menyapu sekejap ke arah rak-rak buku yang ada dihadapannya, dia berharap bisa menemukan se

Jilid kitab pusaka yang luar biasa dan dapat digunakan untuk menandingi kelihayan kitab Kiam keng yang berhasil dipelajari Hoa Thian-hong, kemudian memberi petunjuk kepada putrinya untuk mengambil.

Apa mau dikata,jumlah kitab pusaka yang tersimpan dalam ruangan itu tak terhitung jumlahnya, setiap

Jilid Kitab yang ada disana sudah cukup digunakan untuk merajai kolong langit, untuk sesaat ia jadi bingung tak tahu harus memilih yang mana.

Sungguh gelisah dan cemas perasaan Pek Siau-thian pada waktu itu terpaksa dengan ilmu menyampaikan suara ia memberi kisikan kepada putrinya agar mengulur waktu.

"Berlagaklah sedang memilih dengan perlahanlahan, jangan keburu nafsu menjatuhkan pilihannya, bila aku sudah menemukan pilihannya, segera kukirim kabar kepadamu untuk mengambilnya!"

Akan tetapi Pek Kun-gie berlagak pura-pura tidak mendengar, mendadak ia mengambil se

Jilid kitab pusaka yang amat tebal sekali dari rak buku itu, kemudian dengan suara manja serunya.

"Ayah, dalam perkumpulan Sin-kie-pang kita sudah terdapat banyak sekali kitab pusaka ilmu silat, aku lihat kitab racun Pek tok keng ini luar biasa sekali, bila kuambil rasanya tidak akan merugikan dirimu bukan?"

Mendengar perkataan itu, baik Hoa Thian-hong maupun Kiu-tok Sianci dan murid-muridnya meresa terperanjat.

Karena sudah diberi peringatan oleh Lan-hoa Siancu agar jangan bercakap-cakap dengan Pek Kun-gie, Hoa Thianhong tak berani melanggar pantangan tersebut, maka diapun menengadah keatas dan berseru dengan suara lantang.

"Saudara-saudara semua mohon perhatian! Bila benda yang diambil ternyata punya pemiliknya, lebih baik janganlah diambil toh isi ruangan ini banyak tak terhitung jumlahnya, ada yang bisa membuat di ri menjadi sakti dan luar biasa, ada pula yang bisa melatih diri sehingga tetap awet muda...."

Tiba-tiba Giok Teng Hujin mendehem berat dan menukas ucapan Hoa Thian-hong yang belum selesai.

Si anak muda itu segera tersadar kembali bahwa ia sudah salah berbicara, ia hanya berusaha mencegah Pek Kun-gie untuk mengambil kitab pusaka Pek tok keng tapi hampir saja sudah membengkalaikan urusan dari Giok Teng Hujin.

Pek Kun-gie bukan seorang manusia bodoh, dengan cepat ia dapat menangkap maksud dari deheman itu, tiba-tiba ia berpaling ke arah ayahnya kemudian bertanya.

"Ayah, kitab pusaka apakah yang bisa melatih diri menjadi cantik jelita dan tetap awet muda?"

Pek Siau-thian berpikir sebentar lalu menjawab.

"Sudah lama aku dengar orang berkata bahwa kitab pusaka Tuo li sim keng merupakan pelajaran sim hoat tenaga dalam yang membuat seseorang gadis tetap awet muda, katanya bila seseorang dapat melatih tenaga dalamnya hingga mencapai puncak kesempurnaan, maka bukan saja paras mukanya akan bertambah cantik, bahkan akan tetap awet mada dan segar bugar!"

"Ayah, bagaimana kalau kuambil saja kitab pusaka Pek tok keng ini?"

Pek Siau-thian menghela napas panjang, dalam hatinya ia berpikir.

"Aaai.... budak ini memang keterlaluan dianggapnya perempuan perempuan dan suku Biau itu bisa diganggu seenaknya?"

Berpikir demikian diapun menjawab dengan lantang.

"Kelompok kita adalah kelompok yang mengkhususkan diri berlatih ilmu silat apa bila ilmu yang kita pelajari sudah mencapai puncak kesempurnaan maka sekalipun orang memiliki racun yang lihay juga tak akan mampu mengapa-apakan kita buat apa kita musti mencabut gigi taring orang lain?"

Pek Kun-gie memutar sepasang biji matanya, kemudian menyahut.

"Baiklah, aku rasa perkataan ayah sudah pasti tak bakalan salah!"

Maka ia mengembalikan kitab Pek tok keng itu ketempat semula, lalu sambil berpaling kembali dia bertanya.

"Ayah, kitab pusaka Tuo li sim keng berada dimana?"

"Baris ketiga dinding sebelah kiri, dihitung dari bawah maka berada pada rak nomor dua!"

Pek Kun-gie lantas berjalan menuju ketempat yang ditunjuk dan mengambil keluar kitab Tuo li sim keng dari dalam rak tersebut.

Menyaksikan perbuatan putrinya, Pek Siau-thian jadi keheranan, dia lantas bertanya.

"Anak gie, engkau adalah seorang dara yang canik jelita, didunia dewasa ini sukar untuk mencari gadis yang lebih cantik daripada dirimu, apa gunanya kau ambil kitab tersebut, bukankah tindakanmu ini sama artinya dengan menyia-nyiakan hak pilihmu yang bagus ini?"

Pek Kun-gie sama sekali tidak tergerak hatinya oleh perkataan tersebut, ia menjawab dengan manja.

"Kecantikan sama dengan ilmu silat, sekalipun orang sudah berilmu tinggi pasti menginginkan ilmu yang lebih tinggi, begitu pula dengan kecantikan, sekalipun orang sudah cantik toh masih ingin lebih cantik lagi!"

Habis berkata, dengan wajah berseri dan penuh kegembiraan ia membawa kitab pusaka Tuo li sim keng itu kembali ketempat semula.

Sungguh gelisah dan panik Hoa Thian-hong menghadapi kejadian ini, mukanya telah berubah jadi merah padam, sepasaag matanya merah berapi-api, ia pernah menyanggupi permintaan Giok Teng Hujin untuk mencarikan ilmu yang dapat memulihkan kembali kecantikan wajahnya tapi sekarang setelah janjinya itu akan dipenuhi ternyata Pek Kun-gie telah mendahului dirinya, dengan begitu bukankah ia jadi tak dapat memenuhi janjinya?

Kendatipun begitu, berhubung Pek Kun-gie juga seorang gadis dan pantaslah bagi seorang dara untuk mengambil kitab pusaka Tuo li sim keng, maka walaupun dalam hati merasa gelisah, ia tak mampu untuk menghalangi niatnya itu.

Bagaimana pun juga Chin Wan-hong adalah seorang istri yang saleh, ia dapat merasakan kebingungan serta kepanikan suaminya, selain itu diapun dapat meresapi betapa pentingnya kitab tersebut bagi Giok Teng Hujin maka diapun tertawa.

"Adik Kun gie!"

Katanya dengan lembut.

"hayo cepat kembalikan kitab tim keng itu pada tempatnya semula!"

"Kenapa?"

Tanya Pek Kun-gie dengan wajah tercengang. Kembali Chin Wan-hong tertawa.

"Dengan wajahmu yang cantik jelita ini kutanggung engkau masih bisa kawin dengan seorang pemuda tampan, bila kecantikan mu bertambah lipat ganda, lagi pula mana ada lelaki tampam dikolong langit ini yang pantas uutuk mendampingimu? Bukankah selama hidup jangan harrap bisa kawin lagi"

Pek Kun-gie bukanlah gadis yang bodoh, sejak permulaan tadi ia sudah dapat meresapi betapa gusar dan paniknya Hoa Thian-hong, apa lagi sekarang sesudah mendengar bahwa ucapan dari Chin Wan-hong itu mengadung arti lain, ia tak berani bertindak gegabah lagi, terpaksa kitab pusaka Tio li sim keng itu dikembalikan ketempatnya semula.

Setelah itu sambil tertawa cekikikan katanya.

"Aaaai! Ini tidak cocok itu tidak jadi biarlah kupilih sembarangan saja!"

Habis berkata dia lantas membopong batu pipih terbuat dari batu kumala itu sambil tertawa cikikkan kembali ketempat semula.

Tindakannya ini sama sekali diluar dugaan Pek Siauthian, ia jadi tertegun dan tidak habis, mengerti pikirnya.

"Tolol amat budak ini, meskipun lohu adalah seorang ketua dari suatu perkumpulan besar, tak akan berani kududuki kursi singgasana yang berukiran kata-kata Maha raja dari dunia persilatan itu, apa gunanya kau ambil benda itu!"

Tentu saja ia tak akan tahu bahwa apa yang dipikirkan Pek Kun-gie bukanlah dirinya, gadis itu tak pernah melayangkan ingatannya untuk menukilkan kepentingan ayahnya.

Semenjak ia melangkah masuk kedalam ruangan tadi, sorot matanya sudah tertuju pada tempat duduk pipih kumala itu, pikirnya dihati.

"Kalau aku tidak menikah itu lain soal, andaikata menikah maka kursi kebesaran itu merupakan barang tanda mata yang terbaik dariku akan kusuruh dia mencicipi bagaimana rasanya menjadi Maharaja dari dunia persilatan, otomatis akupun akan menjadi nyonya maharaja alias ratonya.... tentu nikmat rasanya"

Baca Juga: Mustika Gaib 3

Baca Juga: Anak Naga 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert