Ceritasilat Novel Online

Tiga Maha Besar 3

Eps 3 Tiga Maha Besar - Khu Lung

Baca online Tiga Maha Besar - Khu Lung

Cersil Tiga Maha Besar - Khu Lung.

Beberapa orang ini semuanya merupakan jago-jago persilatan yang berkelana dalam Bu lim sejak muda sampai tua, boleh dibilang situasi persilatan sepanjang puluhan tahun diketahui mereka dengan jelas sekali, bahkan merekapun sempat mengalaminya sendiri, kalau dibilang diluar empat kelompok besar dalam dunia kangkou masih ada kekuatan lainnya lagi, siapapun merasa tidak percaya akan kenyataan tersebut.

Terdengar Cu Im taysu menghela napas panjang dan berkata.

"Yang paling aneh lagi, ternyata kawanan manusia aneh itu pada saat bersamaan sama-sama menemui ajalnya dengan darah mengalir keluar dari ketujuh lubang indera mereka, bagaimana penjelasannya tentang peristiwa ini?"

"Kalau dilihat keadaan mereka, semestinya mati lantaran keracunan hebat....!"

Sambung Li-hoa Siancu dari samping.

"cuma tidak diketahui siapakah yang melepaskan racun keji tersebut?"

Cu Im taysu segera berpaling ke arah Ci-wi Siancu dan bertanya.

"Nona ketiga racun itu semestinya bukan engkau yang melepaskan bukan....?"

Ci-wi Siancu terttegun lalu menggeleng.

"Bukan aku yang melepaskan!!"

Jawabnya. Tiba-tiba ia menggertak gigi dan berseru dengan gemas.

"Tadi aku sudah lupa kalau aku membawa racun. Hmm! kalau makhluk-makhluk aneh semacam itu berani munculkan diri lagi, perduli dia adalah manusia atau setan akan kusuruh mereka merasakan lebih dulu kelihayan dari kabut sembilan bisa!"

Tiba-tiba dari mulut lembah muncul cahaya lampu, dua orang dayang berdandan rapi dengan membawa lampu lentera berjalan, dipa ling depan seorang gadis baju putih yang berdandan agung bagaikan gadis keraton, berjalan dibelakangnya seorang gadis baju hijau mengikuti dibelakang gadis agung tadi dan bersama-sama masuk kedalam lembah tadi.

"Siapakah dia?"

Tanya Ci-wi Siancu dengan alis mata berkernyit.

"Perempuan yang agung dan berdandan keraton itu bukan lain adalah Giok Teng Hujin dari perkumpulan Thong-thiankauw, gadis yang mengikuti dibelakangnya itu bernama Pui Che-giok, dia adalah dayang kepercayaan dari perempuan tersebut,"

Cu Tong menerangkan.

Berhubung semua jago telah mengetahui bahwa Giok Teng Hujin bernama Siang Hoa dan merupakan putri dari It Kiam kay Tionggoan 'pedang sakti yang menyapu Tionggon' Siang Tang Lay, maka ketika mendengar akan kehadirannya, semua orang segera alihkan sorot matanya ke arah tengah gelanggang.

Dengan wajah yang agung, Giok Teng Hujin masuk gelanggang, biji matanya yang jeli ketika itu mengawasi barak yang dihuni para pendekar dengan tajam, ketika tidak menjumpai Hoa Thian-hong hadir disitu, air mukanya tampak berubah hebat.

Ci-wi Siancu segera mendengus dingin, sambil menarik ujung baju Hoa Hujin, katanya.

"Hujin, usia Giok Teng Hujin paling sedikit sudah mencapai dua puluh tahunan, sedang siau long baru berumur sembilan belas tahun, kedua orang itu sama sekali cocok satu sama lainnya!"

Mendengar perkataan itu diam-diam Hoa Hujin berpikir.

"Aaai....!sampai sekarang jejak Seng ji masih belum ketahuan, mati atau hidup sukar diramalkan, nona ini masih memikirkan tentang soal perkawinannya, benar-benar tak tahu keadaan...."

Ia segera tertawa paksa dan menjawab.

"Malam ini seluruh pikiran dan perhatian kita diputuskan untuk membunuh musuh, persoalan yang lain dibicarakan dilain waktu saja"

Tiba-tiba Cu Tong dengan wajah murung berkata.

"Hujin, aku hendak mencari Pek Siau-thian untuk menanyakan jejak dari Seng ji, entah bagaimanakah pendapat hujin itu.

"Biar aku saja yang pergi!"

Seru Ci-wi Siancu sambil bangkit berdiri dan siap berlalu. Hoa Hujin segera menarik pergelangan tangannya sambil berseru.

"Tunggu sebentar, biar aku yang menanyakan sendiri!"

Tiba-tiba suara genta yang ada diatas mimbar berdentang nyaring, diikuti suara tetabuhan dan pembacaan doa berhenti sama sekali, ha nya Thong-thian Kaucu seorang yang masih membaca doa tiada hentinya sambil membakar Lenghu, satu demi satu hingga akhirnya setelah membakar tiga belas lembar Lenghu ia baru berhenti.

Kemudian memerintahkan anak muridnya untuk pasang hio ganti lilin dan membakar uang kertas perak dan kertas emas.

Pada waktu itulah, puluhan orang imam berjubah kuning dengan lukisan pat kwa dam menyoren pedang dipunggung berjalan masuk kedalam lembah, usia para imam tersebut rata-rata empat puluh tahun keatas, tiga orang membentuk satu barisan berjalan masuk dengan teratur sekali, paling belakang berjalanlah tiga orang imam tua yang usianya sudah mencapai delapan puluh tahunan dengan rambut yang berwarna keperak-perakan, Cin Leng-cinjin berada dtantara ketiga orang itu.

Thong-thian Kaucu segera loncat turun dari atas mimbar dan lari menuju kemulut lembah untuk menyambut kedatangan ketiga orang imam tua tersebut dengan sikap sangat menghormat, ia mempersilahkan orang-orang tua tadi masuk kebarak untuk beristirahat.

Hoa Hujin takut orang-orang dipihaknya tidak mengenal akan kelihayan dari ketiga orang imam tua tersebut sehingga dalam pertarungan massal nanti salah mencari sasaran, maka segera ujarnya.

"Imam tua yang ada ditengah adalah Hian Leng, yang ada disebelah kiri bernama Pia Leng, sedang imam yang kecil dan kurus itu bernama Cin Leng-cinjin, ketiga orang itu merupakan paman guru dari Thian Ik-cu dan sudah puluhan tahun lamanya tak pernah munculkan diri didalam dania persilatan!"

Mendengar penjelasan itu, wajah para jago agak berubah, mereka tahu ketiga orang imam tua yang sudah lama mengasingkan diri dari keramaian dunia, ini pasti memiliki ilmu silat yang sangat mengerikan, tapi mereka sama sekali tidak merasa gentar atau takut, sebab mereka sudan menyadari bahwa keadaan pada saat itu pihak lawan jauh lebih tangguh kekuatannya daripada pihak sendiri, kecuali Biau-nia Sam-sian, rata-rata para pendekar yang lain sudah ambil keputusan untuk berjuang sampai titik darah penghabisan.

Tiba-tiba suasana dibarak bagian depan berubah jadi hening dan sepi, hal ini segera memancing perhatian orang

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com orang dari golongan pendekar dan perkumpulan Thong-thiankauw untuk bersama-sama menengok kedepan. Terdengar Cu Tong berkata dengan suara berat.

"Bu liang loo ji telah datang!"

Tampaklah seorang kakek tua berperawakan kekar, berikat kepala warna tua dan berjenggot perak sepanjang dada berjalan masuk kedalam lembah tersebut....

Bu Liang Sinkun dari gunung Buliang san sejak belasan tahun berselang telah dianggap umum sebegai jago lihay nomor satu dalam kalangan hek to tetapi sejak ia dikalahkan oleh Hoa Goan-siu ketika diselenggaranya pertemuan Pak beng hwee, dengan menahan rasa malu ia segera mengundurkan diri dan sepuluh tahun lamanya mengasingkan diri.

Ini hari telah muncul kembali dalam pertemuan besar Kian ciau tayhwee orang itu masih tetap dianggap sebagai seorang tokoh sakti dalam dunia persilatan.

Kok See-piauw murid ahli warisnya dengan kencang mengikuti disamping gurunya.

Thong-thian Kaucu dengan memimpin para anak muridnya buru-buru menyambut kedatangannya, sambil tertawa katanya.

"Kunjungan sinkun benar-benar merupakan suatu kehormatan bagi kami, apabila sambutan kami kurang memuaskan, harap siokun suka memberi maaf yang sebesarbesarnya"

Dengan sorot matanya yang tajam bagaikan kilat, Bu Liang Sinkun menyapu sekejap seluruh lembah lalu sambil tertawa, jawabnya.

"Aku bisa ikut menghadiri pertemuan ini sudah merupakan suatu kebanggaan, kaucu tak usah sungkansungkan!"

Kemudian tertawa tergelak dengan suara nyaring, suaranya keras bagaikan genta hingga mendengung dalam lembah tersebut.

Yan-san It-koay dan Liong bun siang san dari perkumpulan Hong-im-hwie segera menyapa sambil tersenyum dari tempat duduknya hanya Jin Hian seorang yang munculkan diri dari barak, sambil memberi hormat.

"Sinkun selamat berjumpa kembali!"

Sapanya.

"Jin heng, baik-baik kah selama ini?" , kemudian kakek tua itupun menjura ke arah Yan-san It-koay sekalian. Thong-thian Kaucu tertawa nyaring, serunya.

"Kunjungan Sinkun kedalam pertemuan ini boleh dibilang merupakan seorang tamu terhormat, bagaimana kalau pinto khusus si apkan meja perjamuan untuk menghormati dirimu?"

"Tujuan diselenggarakannya pertemuan Kian ciau tayhwee adalah untuk menghormati arwah yang telah tiada, lebih baik orang yang hadir dalam pertemuan ini tak usah dilayani secara istimewa....!"

Kedua orang itu saling pandangan dan tertawa, Bu Liang Sinkun segera memberi hormat oan meneruskan perjalanannya menuju kebarak dari perkumpulan Sin-kie-pang.

Sedari permulaan tadi, Pek Siau-thian telah keluar dari baraknya untuk menyambut kedatangannya orang itu, setelah saling me-ngucapkan kata-kata merendah, merekapun segera masuk kedalam barak untuk ambil tempat duduk.

Kok See-piauw maju memberi hormat, sapanya.

"Paman Pek!"

Sorot matanya dengan tajam menyapu sekeliling tempat itu untuk mencari Pek Kun-gie, ketika sinar matanya membentur wajah Pek Soh-gie pemuda itu agak tertegun.

Satu ingatan berkelebat dalam benak Bu lian sinkun, tegurnya.

"Eeei.... kenapa keponakan Kun Gie tidak nampak?"

Dengan sedih Pek Siau-thian menghela papas panjang.

"Aaai.... bocah itu berumur pendek, ia sudah tiada lagi di kolong langit....!"

Mendengar berita itu sekujur badan Kok See-piauw gemetar keras, dengan wajah berubah hebat, serunya.

"Kenapa dia bisa mati?"

Diam-diam Pek Siau-thian berpikir dalam hatinya.

"Walaupun orang ini kalah jauh kalau dibandingkan dengan binatang cilik dari keluarga Hoa, namun rasa cintanya terhadap Kun Gie sudah mendalam sekali, aaai! sayang keadaan tidak mengijinkan....!!"

Dalam hati ia berpikir dsmikian, diluar jawabnya dengan hambar.

"Ia mati ditangan Hoa Thian-hong, bagaimanakah duduknya perkara yang sebenarnya aku sendipun kurang begitu jelas...."

"Hoa Thian-hong, putra Hoa Goan-siu?!"

Seru Bu Liang Sinkun dengan sepasang alis mata berkenyit, dengan sorot mata tajam ia segera mengawasi para jago dibarak sebelah depan.

"Bajingan cilik itu sudah kuhajar masuk kedalam jurang setinggi sepuluh ribu tombak hingga kini masih belum ada kabar beritanya, aku rasa dia pasti sudah mampus!"

"Bagus! ini hari kita harus babat rumput sampai seakarakarnya, kalau berkerja harus sempurna daripada dalam dunia persilatan selalu terbagi antara golongan hitam dan putih."

Pek Siau-thian tersenyum, ia berpaling ke arah Pek Soh-gie yang berada disisinya dan berkata.

"Soh-gie, kemarilah! cepat memberi hormat untuk empek Lie dan Kok toako!"

Sepasang mata Pek Soh-gie masih merah membengkak dan basah oleh air mata, mendengar perkataan itu ia segera menghampiri kedua orang itu dan memberi hormat.

Bu Liang Sinkun segera berpaling ke arah Pek Siau-thian dan berseru dengan wajah tercengang.

"Dia adalah putri sulungmu?"

Pek Siau-thian menganguk.

"Ia bernama Soh-gie, jauh lebih jujur, dia polos daripada Kun Gie, budak liar yang sukar dikendalikan itu...."

Dengan pandangan tajam Bu Liang Sinkun memperhatikan sekejap wajah Pak Soh-gie, kemudian pikirnya.

"Ditengah kecantikan wajah gadis ini terpancar suatu daya tarik yang memikat hati, keayuannya tidak berada dibawah adiknya...."

Berbicara sampai disitu, sambil tersenyum segera ujarnya.

"Gadis yang mengutamakan kehalusan dan kelembutan memang sukar ditemukan di kolong langit, apalagi berwajah begini cantik...."

Ia menghela napas panjang, setelah berhenti sebentar sambungnya lebih jauh.

"Kita adalah sahabat lama, sedangkan See Piau dan keponakan Kun Gie juga boleh dibilang mempunyai hubungan yang erat antara yang satu dengan yang lain, sayang takdir menghendaki lain sehingga terjadi perubahan seperti ini. Aaai....! seandainya keponakan Kun Gie masih hidup di kolong langit dan kita bisa menjodohkan mereka berdua hingga kita saling berbesar, bukankah hal ini bagus sekali....??"

Mendengar perkataan ini, satu ingatan segera berkelebat dalam benak Pek Siau-thian, pikirnya.

"Ucapannya ini bukankah berarti bahwa ia sedang mengajukan pinangan kepadaku dan mengharapkan aku menjodohkan Soh-gie kepada muridnya. Sesudah berhenti sebentar, ia berpikir lebih jauh.

"Dalam pertempuran yang bakal langsung kali ini, melenyapkan kawanan pendekar dari golongan putih merupakan suatu pekerjaan gampang, tetapi kalau hendak menggunakan kesempatan ini untuk menumpas kekuatan golongan Hong-imhwie dan Thong-thian-kauw bukanlah suatu pekerjaan yang gampang, tapi seandainya aku bisa mendapat bantuan dari Bu Liang Sinkun, maka harapannya untuk mendapat kemenangan bukankah jauh lebih besar?"

Berpikir sampai disini, pikirannya segera bekerja, diamdiam ia memperhatikan sekejap diri Kok See-piauw, kemulian pikirnya.

"Paras muka orang ini tidak jelek, ilmu silat yang dimilikipun sangat bagus, memang tak ada salahnya kalau dijodohkan kepada Soh-gie. Dalam koiong langit dewasa ini tiada ada seberapa orang yang pantas mempersunting putri keluarga Pek, biar kuterima saja pinangannya ini...."

Setelah mengambil keputusan, ia segera tersenyum dan berkata.

"Keponakan See Piau memang tampan dan manusia hebat yang sukar didapati dalam kolong langit dewasa ini, sayang Kun Gie budak itu tidak punya rejeki baik. Aaai....!"

Dia menghela napas panjang dan tiba-tiba membungkam.

Ketika Bu Liang Sinkun mendengar Pek Siau-thian memuji anak muridnya, ia tahu bahwa urusan berjalan lancar, sambil mengelus jenggot dan tertawa segera ujarnya lagi.

"Pek Loo te, apakah Soh-gie bocah ini sudah dijodohkan kepada orang lain?"

Kembali Pek Siau-thian menghela napas panjang.

"Aaaiii....! sebenarnyaa ia selalu mendampingi ibunya hidup menyendiri sedangkan akupun sibuk dengan urusan perkumpulanku, sampai sekarang masih belum ada kesempatan untuk memikirkan soal jodoh mereka!"

Bu Liang Sinkun jadi sangat kegirangan.

"Kalau memang begitu, siau Leng ingin sekali mempererat hubunganku dengan diri Lo te, cuma sayang muridku See Piau mungkin terlalu jelek dan bodoh sehingga tidak dapat menerimanya?"

"Kita toh sahabat lama kenapa harus sungkan-sungkan"

Jawab Pek Siau-thian sambil tertawa.

"mungkin putriku yang tidak memadahi untuk mendampingi keponakan See Piau.

"Haahh.... haahh.... haaahhh"

Bu Liang Sinkun tertawa terbahak-bahak.

"ayoh cepat cepat memberi hormat kepada ayah mertuamu!"

Kok See Pitu jadi amat terperanjat.

"Suhu...."

Teriaknya. Bu Liang Sinkun jadi gusar, dengan ilmu menyampaikan suara buru-buru bisiknya.

"Goblok! budak ini sepuluh kali lipat lebih hebat daripada Pek Kun-gie, kalau engkau mengawini dirinya sebagai istrimu maka per kumpulan Sin-kie-pang merupakan hadiah bagi perkawinan itu, cepat atau lambat Pek loo ji akan mengundurkan diri dan ketika itu dunia persilatan akan menjadi kekuasaanmu"

Mula-mula Kok See-piauw merasa terperanjat kemudian tertegun dan akhirnya kegirangan, buru-buru ia bangkit berdiri dan berjalan kehadapan Pek Siau-thian lalu menjalankah penghoramatan besar.

"Ayah...."

Tiba-tiba terdengar Pek Soh-gie berseru sambil menangis. Pek Siau-thian merasakan hatinya bergetar keras, dengan rasa kejut bercampur gusar, serunya.

"Ada apa?"

Dengan air mata bercucuran, Pek Soh Gei berkata.

"Siau li telah bersumpah antuk menemani ibu sepanjang hidup, selamanya aku tak akan membicarakan tentang...."

Pek Siau-thian semakin gusar bentaknya.

"Kurang ajar, aku...."

Dengan sorot matanya yang tajam Bu Liang Sinkun segera mengamati wajah Pek Soh-gie, ia lihat wajahnya bersungguhsungguh dan sedikit pun tidak nampak berpura-pura, karena takut urusan jadi berabe dan malahan tidak karuan, buru-buru ia menukas sambil tertawa.

"Loo te tak usah marah, bocah ini meskipun bodoh tapi rasa baktinya kepada orang tua amat besar, engkau tak usah menegur di rinya lebih jauh...."

Sesudah berhenti sebentar, dengan ilmu menyampaikan suara segera ujarnya lagi.

"Hati kaum muda paling gampang berubah, paling bander sikapnya itu hanya berlangsung untuk sementara waktu belaka, biarlah mereka berdua bergaul lebih lama sehingga timbul perasaan yang mendalam da lam hati mereka masing-masing, setelah selesai menghadiri pertemuan besar Kian ciau tayhwee ini, aku dengan mengajak muridku akan berkunjung sendiri kegunung Hoan keng san, asalkan Hong hwee menyatakan persetujuannya dalam soal perkawinan ini, bukanlah urusan besar?"

Pek Siau-thian menghela napas panjang, ia segera teringat kembali akan keadaan dirinya yang telah berpisah deagan istrinya, putri bungsu Kun Gie yatg berada dibawah bimbingannya ternyata mendapat bencana dimasa muda, terhadap putri sulungnya yang jauh lebih luhur ia merasa tak tega untuk menggunakan cara yang keras.

Setelah termenung beberapa saat lamanya ia segera membangunkan Kok See-piauw yang sedang berlutut dihadapannya dengan muka merah padam, katanya.

"Ini hari seluruh orang gagah dari penjuru dunia berkumpul disini, inilah kesempatan ynng paling baik buat setiap pria sejati untuk unjukkan kehebatan, Hian tit! duduklah disisiku dan soal perkawinan kita bicarakan lagi di kemudian hari"

"Terima kasih atas perhatian dari paman!"

Jawab Kok Seepiauw sambil memberi hormat.

Ia segera maju kedepan dan duduk disamping Pek Soh-gie.

Tiba-tiba....

dari mulut lembah muncullah empat orang pemuda berbaju ringsas yang menggotong sebuah tandu berwarna hitam.

Paras muka keempat orang pemuda itu bersih dan tampan, usianya diantara lima enam belas tahunan, gerak-geriknya enteng dan cepat, sesudah memasuki mulut lembah tersebut tandu tadi langsung menuju kebawah persembahan.

Seorang murid perkumpulan Thong-thian-kauw segera maju menyongsong sambil bertanya.

"Yang datang adalah orang gagah dari mana?"

Empat orang pemuda berpakaian ringkas itu menurunkan tandunya keatas tanah, kemudian salah seorang yang berada dipaling depan menjawab dengan suara lantang.

"Siang Tang Lay dari wilayah See ih!"

Jawaban tersebut laksana guntur yang membelah bumi disiang hari bolong, menggetarkan hati semua jago yang hadir dalam lembah Cu bu-kok tersebut, seketika itu juga suasana jadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun.

Thong-thian Kaucu , Pek Siau-thian, Jin Hian, Bu Liang Sinkun dan para jago lainnya sama-sama merasa terperanjat, mereka semua segera bangkit berdiri tinggalkan tempat duduk.

Pedang sakti yang menyapa daratan Tionggoan, Siang Tang Lay adalah seorang tokoh sakti yang sudah tersohor namanya sejak dua puluh tahun berselang kemunculannya yang secara tiba-tiba sebelum pertemuan besar Kian ciau tayhwee diselenggarakan benar-benar sa ngat menggetarkan hati setiap orang.

Seorang pemuda berpakaian ringkas maju kedepan menyingkap horden yang menutupi tandu tersebut, dua orang lainnya segera maju kedepan dan mendorong keluar sebuah kursi beroda dari dalam tandu tadi, diatas kursi beroda duduk seorang pria bangsa Han yang memakai jubah putih, sepatu tebal dan kaos putih yang tinggi, sedikitpun tidak nampak dandanannya sebagai seorang suku Oh.

Rambut putih orang itu panjang terurai kepundak, jenggot peraknya sepanjang dada, menurut keadaan semestinya orang itu adalah seorang kakek tua, terapi mukanya ternyata masih kencang dan sedikitpun tidak nampak kerutan-kerutan, sekilas pandangan bahwa menyerupai seorang lelaki yang baru berusia tiga puluh tahunan.

Thong-thian Kaucu berada paling dekat dengan orang itu, ketika wajah orang itu diamatinya dengan lebih seksama maka kecuali rambut putih serta Jenggot putih yang telah tumpuh subur diwajah orang itu, paras mukanya sama sekali tidak berbeda, dia bukan lain adalah manusia aneh yang pernah mengobrak abrik dunia persilatan dengan an dalkan sebilah pedang emas kecil.

Untuk beberapa saat lamanya jantung terasa berdebar keras, ia tak dapat mengutarakan hatinya merasa terkejut atau takut, murung atau gembira.

Dalam sekejap mata dari dalam barak muncullah Pek Siauthian, Bu Liang Sinkun, Jin Hian dan lainnya, melihat hal itu Thong-thian Kaucu buru-buru maju pula kedepan.

Pedang sakti yang menyapu daratan Tionggoan Siang Tang Lay masih tetap duduk diatas kursi, sepasang tangannya diletakan di atas lutut dan membawa sebuah kotak kecil setengah depa lebarnya yang memancarkan sinar keemasemassan ketika itu dengan sorot matanya yang tajam, ia sedang menyapu empat orang jago yang sedang mendekati dirinya kemudian tegurnya dengan suara lantang.

"Dimanakah Ciu It-bong?"

Thong-thian-kauwca segera tertawa terbahak-babak.

"Haaahh.... haaahbh.... haaahhh.... kepergian Siang sicu telah meninggalkan bencana karena sebilah pedang emas itu, Ciu It-bong telah berangkat menuju neraka!"

"Hidung kerbau bau, engkau berani menyumpai diriku?"

Mendadak diri mulut lembah berkumandang teriakan seseorang.

Diiringi suara ketakutan yang nyaring tahu-tahu ditengah gelanggang telah bertambah dengan seorang marusia.

Ketika semua orang alihkan sorot matanya, maka tampaklah Ciu It-bong dengan andalkan sebuah lengan kirinya sambil membawa sebuah tongkat besi sepanjang lima depa sedang meluncur datang dari tengah udara, walaupun badannya sudah cacad namun semangat orang itu masih tinggi, hal ini membuat semua orang diam-diam merasa kagum.

Siang Tang Lay segera tersenyum, tanyanya.

"Ciu It-bong, senjata e"masku itu apakah masih berada ditanganmu?"

"Haaahh.... hahhh.... haaahhh.... tentang soal ini tanyakan saja kepada Jin Hian tua bangka tersebut karena sudah diambil olehnya,"

Jawab Ciu It-bong sambil tertawa tergelak, dengan alis berkenyit ia melirik sekejap ke arah pemimpin perkumpulan Hong-im-hwie tersebut.

Siang Tang Lay alihkan pandangnya ke arah Jin Hian dan ia bertanya kembali.

"Apakah pedang emas itu berada ditanganmu?"

Dalam hati Jin Hian segera berpikir.

"Tempo dulu kami semua telah memotong kutung seluruh otot dan sendi penting dari Siang Tang Lay, kalau dilihat dari kursi roda yang digunakan untuk mengganti kakinya, hal ini jelas menunjukkan bahwa badannya memang telah cacad, dengan badan yang cacad ia masih punya kemampuan apalagi yang bisa diandalkan?"

Berpikir sampai disitu ia segera mendengus dingin dan menjawab.

"Pedang emas memang berada ditangan aku orang she Jin, engkau mau apa?"

"Bagus sekali"

Teriak Cui It Bong dengan cepat "Jin loo ji dicuri orang, ternyata engkau sengaja melepaskan asap untuk membo hongi orang?"

"Heeehhh.... heeehhh.... heehhh.... kalau benar engkau mau apa?"

Jawab Jin Hian sambil tertawa dingin.

Haruslah diketahui, lantaran pedang emas tersebut putra tunggal Jin Hian telah dibunuh orang bahkan hingga saat ini pembunuhnya masih belum ketahuan, karena itulah kendatipun dalam kenyataan pedang emas tersebut telah dicuri orang tetapi ia mengakui masih berada disakunya untuk memanaskan hati orang.

Tetapi rahasia tentang Pedang emas adalah rahasia besar yang tak dapat dipecahkan oleh semua orang dalam persilatan, pedang emas justru merupakan titik perhatian semua orang, pada dasarnya para jago memang sudah menaruh curiga akan persoalan itu, setelah Jin Hian berkata demikian maka situasi pun seketika berubah.

Pek Siau-thian dengan sepasang matanya memancarkan cahaya tajam segera berseru.

"Jin heng, kalau memang pedang emas itu masih berada ditanganmu kenapa tidak engkau ambil keluar? mumpung sahabat Siang masih berada disini, kita bisa minta bantuanny untuk memecahkan teka teki mengenai pedang emas ini, agar dunia persilatanpun tak usah selalu diliputi pertikaian karena masalah tersebut!"

"Benar!"

Teriak Ciu It-bong.

"kalau rahasia pedang emas belum terbongkar aku tak alan mati dangan mata terpejam"

Thong-thian Kaucu tertawa terbahak-bahak.

"Haahh.... haah.... haahh.... Siang Sicu, engkau bersusah payah melakukan perjalanan sejauh sepuluh laksa li datang kemari, apakah tujuanmu adalah untuk melagukan duel sengit lagi dengan para orang gagah dari daratan Tioaggoan?"

Tegurnya. Siang Tang Lay berpaling dan memandang sekejap meja abu para orang gagah yang telah gugur dalam pertemuan Pak beng bwee diatas panggung persembahan, lalu menghela napas panjang, sahutnya.

"Dari mulut seseorang, aku pernah mendengar bahwa para orang gagah dari daratan Tionggoan kebanyakan sudan menemui ajalnya dalam pertemuan besar Pak beng hwee, kedatanganku ke Timur kali ini sama sekali bukan bermaksud untuk melakukan pertarungan melawan orang-orang persilatan daratan Tionggoan....!"

"Maksud dari perkataan itu sudah jelas sekali, yakni dalam pandangannya kelima orang jago lihay yang berada dihadapan mukanya sekarang ini sama sekali tidak terhitung sebagai manusia gagah dari daratan Tionggoan."

Mendengar sindiran tersebut, merah jengah selembar wajah Thong-thian Kaucu berlima.

"Haruslah diketahui sewaktu tempo hari, Siang Tang Lay mengacau daratan Tionggoan akhirnya ia telah menderita kekalahan ditangan tenaga gabungan dari kelima orang ini bahkan kelima orang tersebut telah menggunakan siasat licin, oleh sebab itulah sesudah mendengar sindiran yang amat pedas itu mereka semua merasa tersipu dan malu!"

Bu Liang Sinkun dari malu menjadi gusar dengan suara berat ia segera menukas.

"Walaupun semua orang gagah didaratan Tionggoan telah mampus, manusia-manusia bodoh yang masih hidup masih ada banyak sekali, akulah yang pertama-tama akan minta petunjuk darimu"

Sambil ayun telapaknya dari kejauhan dia lancarkan satu pukulan gencar ke arah depan.

Gulungan angin puyuh menderu-deru menembusi angkasa, begitu hebat serangan yang dilepaskan membuat orang-orang yang ada dibarak-barak kiri dan kanan merasakan telinganya mendengung keras.

Kekuatan tenaga pukulan yang dipancarkan Bu Liang Sinkun betul-betul luar biasa sekali, meskipun semua orang terperanjat namun mereka tidak merasa keheranan sebab dibawah nama besar tak mungkin ada manusia yang tak becus, semua orang hanya ingin tahu Siang Tang Lay yang sudah cacad akan menghadapi serangan tersebut dengan cara apa.

Terdengar bentakan keras menggeletar di angkasa, empat orang pemuda berpakaian ringkas yang berdiri dikedua belah sisi kursi roda tiba-tiba ayunkan tangannya, serentetan cahaya perak laksana sambaran petir berkelebat ke arah depan, seketika itu juga angin pukulan Bu liang Sinkun yang maha dahsyat itu terbagi menjadi dua dan menggulung lewat dari kedua belah sisi kursi roda itu....

Dengan ketajaman mata Bu Liang Sinkun, walaupun cahaya perak hanya berkelebat dalam waktu singkat, namun ia sempat melihat bahwa ditangan keempat orang pemuda itu masing-masing membawa sebilah pedang kecl berwarna perak, pedang kecil itu panjangnya lima cun dan tiada berbeda jauh antara yang satu dengan lainnya, hanya warnanya berbeda dan cahaya yang memancar keluar nampak aneh sekali.

Keempat orang pemuda berpakaian ringkas itu setelah menahan ancaman yang meluncur tadi segera turunkan kembali tangannya kebawah, pedang kecil yang berada digenggamannyapun seketika lenyap tak berbekas, sikap mereka tenang seolah-olah tak terjadi sesuatu apa pun, untuk beberapa saat lamanya keadaan iu menegunkan hati beberapa orang gembong iblis tersebnut.

Thong-thian Kaucu yang bisa membawa diri, setelah tertegun beberapa saat lamanya ia segera tergelak, serunya.

"Kiong hi.... kiong ni....!ilmu silat ampuh yang dimiliki Siang sincu telah mendapatkan ahli waris, sekarang sahabat-sahabat persilatan dapat membuka matanya kembali!"

Siang Tang Lay tersenyum dan gelengkan kepalanya, ia berkata.

"Dengan andalkan ilmu silat mereka yang tidak seberapa itu masih selisih jauh kalau ingin adu kekuatan dengan para jago lihay dan daratan Tionggoan"

Hmm! engkau berani datang kembali ke wilayah Timur sudah tentu tiada sesuatu yang kau segani bukan? apa yang kau andalkan lagi? ayoh cepat perlihatkan keluar!"

Seru Bu Liang Sinkun dengan suara dingin. Bukannya gusar, Siang Tang Lay malah tertawa, jawabnya.

"Aku tidak lebih hanya seorang manusia cacad yang sudah tak berguna lagi, ambisiku sudah lenyap tak berbekas sejak dahulu kala, kedatanganku ke wilayah timur kali ini tidak lebih hanyalah hendak menyelesaikan beberapa macamm persoalan kecil, soal arti nama dan kedudukan sudah tidak masuk dalam pikiranku lagi"

Mula-mula Bu Liang Sinkun nampak tertegun, kemudian pikirnya lebih lanjut.

"Meskipun beberapa orang bocah cilikmu tidak terlalu menarik perhatian, nampaknya kepandaian silat mereka cukup tangguh dan sulit dihadapi, sekalipun aku berhasil menang juga tidak gagah, aku harus baik-baik menjaga diri agar nama besarku yang dipupuk secara susah payah selama ini tidak hancur berantakan dengan begitu saja"

Karena berpikir demikian, diapun membungkam dan segera meagundurkan diri dari situ. Terdengar Thong-thian Kaucu berkata lagi.

"Siang sicu kalau memang engkau tidak berhasrat untuk cari nama dan kedudukan dalam dunia persilatan, itu berarti bahwa engkau adalah tamu terhormat dari perkumpulan kami, entah persoalan apakah yang hendak kau selesaikan? apabila membutuhkan bantuan, pinto bersedia untuk menyumbangkan tenagaku, Siang Tang Lay tertawa, sahutnya dengan suara lantang.

"Pertama aku hendak membongkar rahasia yang menyangkut tentang soal pedang emas, daripada kepandaian silat yang maha sakti itu ikut lenyap kedalam perut bumi bersama aku manusia cacad ini...."

"Mengutamakan kependekaran daripada keuntungan pribadi tindakanmu ini memang patut dipuji oleh setiap manusia di kolong langit, apakah persoalan kedua yang akan Siang sicu lakukan?"

Seru Thong-thian Kaucu dengan suara lantang.

"Dalam peti yang kubawa ini tersimpan suatu benda mustika yang tak ternilai harganya dan merupakan benda langka yang diimpikan oleh setiap umat persilatan dalam kolong langit, aku hendak mencari seseorang yang berjodoh serta menghadiahkan benda ini kepadanya"

Makin bicara orang itu semakin aneh membuat orang yang hadir dalam lembah itu merasakan jantungnya berdebar keras dan wajahnya berubah jadi merah padam, mereka menjadi tak sabar dan ingin cepat-cepat mengetahui rahasia yang menyulubunni pedang emas itu disamping juga ingin mengetahui benda apakah yang berada dalam peti itu.

Terdengar Jin Hiag menjengek dingin dan berkata.

"Sebuah pedang emas sudah cukup termasuk aneh dan luar biasa, aku tidak percaya kalau di kolong langit masih terdapat benda mustika lainnya yang jauh lebih aneh dan luar biasa"

Siang Tang Lay tersenyum.

"Kolong langit selebar ini siapa bilang tiada keanehan yang terdapat didalamnya? asal orang ada rejeki maka ia dapat merasa kannya dengan gembira"

"Siang Tang Lay,"

Seru Ciu It-bong pula.

"kita semua boleh dibilang bersikap kurang begitu baik terhadap dirimu, kenapa benda mustika yang begitu berharga engkau berikan kepada orang lain?"

"Dari mana engkau tahu benda mustika itu akan kuhadiahkan kepada siapa....? siapa tahu aku hendak menghadiahkan kepada seorang sahabat karibku atau keturunannya sebagai tanda penghargaan atas budi yang pernah diberikan kepadaku dimasa lampau"

Setelah perkataan itu diutarakan keluar, mau tak mau semua orang jadi mempercayainya, dalam sekejap mata meluruh pandangan mata yang tajam bersama-sama dialihkan ke arah kotak emas yang berada ditangan orang she Siang itu, seakan-akan hendak mengetahui apa isi kotak yang sebenarnya....

Thong-thian Kaucu diam-diam berpikir.

"Hoa Goan-siu pernah melepaskan budi kepadanya, dimana selembar jiwanya telah diselamatkan dari kematian, apabila dia memiliki benda mustika yang tak ternilai harganya, benda itu tentu akan dihadiahkan kepada keluarga Hoa, aaai! sayang peristiwa ini terjadi didepan umum, tak mungkin aku bisa merampas benda tersebut dengan keke rasan...."

Jin Hian telah kehilangan nyawa putra tunggalnya lantaran ia menyimpan benda mustika, atas terjadinya peristiwa tersebut ia merasa amat membenci terhadap pedang emasnya Siang Tang Lay, sekarang mendengar ada benda mustika yang akan dihadiahkan kepada orang lagi, timbullah rasa benci dalam hatinya.

Dengan penuh kegusaran ia membentak keras.

"Siang Tong Lay, engkau tak usah bermain licik, andaika masih ada persoalan yang ketiga, ayoh cepat diutarakan keluar kalau tidak perkumpulan Hong-im-hwie akan segera mengirim engkau untuk pulang keakhirat.

"Tentu saja masih ada masalah yang ketiga,"

Jawab Siang Tang Lay perlahan-lahan.

"Apakah persoalan itu?"

Bentak Jin Hian dengan kasar. Air muka Siang Tang Lay berubah jadi serius, dengan nada ber suagguh-sungguh ia berkata.

"Persoalanku yang ketiga adalah hendak menyambangi arwah-arwah yang telah tiada dalam pertemuan besar Kian ciau tayhwee ini, disamping itu aku akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk balaskan dendam bagi sababat-sahabat lamaku yang telah meninggal!"

Mendengar sampai disitu, Bu Liang Sinkun segera menengadah kea tas dan tertawa terbahak-bahak, sejenak kemudian dengan wajah menyeringai ia berkata.

"Haahh.... haahh.... haahh.... jadi kalau begitu bicara pulang pergi, kedatanganmu adalah mengandung maksud-maksud tertentu?"

Sorot matanya segera dialihkan keatas wajah Thong-thian Kaucu dan melanjutkan.

"Too teng, apakah upacara dalam pertemuan Kian ciau tayhwee ini telah selesai atau belum? jikalau tiada upacara lainnya lagi maka kami semua akan segera menyelesaikan perselisihan tentang urusan dunia persilatan"

OoooOoooo MENDENGAR ucapan tersebut, Thong-thian Kaucu jadi amat terperanjat, buru-buru katanya.

"Pinto beran-benar pikun, tengah malam sudah lewat tapi upacara resmi masih belum juga dimulai...."

Setelah memberi hormat, buru-buru ia balik lagi kedalam barak, setelah mengenakan pakaian upacara ia segera loncat naik keatas mimbar.

Terdengar suara genta kembali bergema nyaring, suara pembacaan doa berkumandang kembali memecahkan kesunyian.

Dengan kerdipan mata, Siang Tang Lay memberi tanda kepada keempat orang muridnya, mereka segera mendorong kursi beroda itu masuk Kedalam tandu lalu berjalan menuju kebarak yang dihuni para pendekar dari kalangan lurus.

Pek Siau-thian, Bu Liang Sinkun dan Jin Hiang kembali kebaraknya masing-masing, hanya Ciu It-bong seorang yang loncat keangkasa dan seorang diri duduk diatap barak.

Setelah semua orang mungundurkan diri, segerombolan imam dengan membawa orang-orangan kertas, kuda-kudaan kertas berjalan masuk ke dalam gelanggang, sambil berputar mengelilingi arena, mereka membaca doa tiada hentinya.

Tiba-tiba muncul kembali tiga orang imam cilik baju merah, ditangan mereka masing-masing membawa sebuah Leng pay berwarna putih dan naik keatas panggung persembahan, kemudian ketiga leng pay berwarna putih tadi di letakkan dibawah meja abu yang sangat be-sar ditengah panggung tersebut.

Dalam sekejap mata suasana dalam lembah jadi sangat gaduh, suara bisikan bergema jadi pembicaraan yang ramai, suasana benar-benar amat ramai dan ribut.

Ternyata ketiga buah leng pay warna putih yang terpancang diatas panggung itu yang tengah bertuliskan.

"Tempat abu dari Hoa Thian-hong kepala kampung muda perkampungan Liok Soat Sanceng"

Yang kiri bertuliskan.

"Tempat abu Jin Bong pimpinan muda perkumpulan Hongim-hwie"

Sedangkan yang ada disebelah kanan bertuliskan.

"Tempat abu dari Pek Kun-gie ketua muda perkumpulan Sin-kie-pang."

Siang Tang Lay setelah masuk kedalam barak baru saja sempat ber cakap-cakap beberapa patah kata dengan Hoa Hujin ketika menyaksikan munculnya tempat abu dari Hoa Thian-hong sekujur badannya bergetar keras, ia segera menegur.

"Hoa Hujin, sebenarnya apa yang telah terjadi?"

Hoa Hujin sendiri pun terbelalak matanya dengan mulut melongo, bagaikan disambar petir disiang hari bolong ia berdiri mendelong, beberapa saat kemudian ia mendusin dari lamunannya dan menggerakkan bibir seperti sedang mengucapkan sesuatu.

Tiba-tiba tampaklah bayangan manusia berkelebat lewat, Tio Sam-koh, Hoa In, Biau-nia Sam-sian dan tiga harimau dari keluarga Tiong bersama-sama loncat keluar dari dalam barak Menyaksikan kejadian itu, Hoa Hujin merasa amat terperanjat, dengan cepat tangannya bekerja menyambar lengan Tio Sam-koh, hardiknya dengan suara keras.

"Semuanya berhenti!"

Semua orang merasa terkesiap dan segera menghentikan langkah kakinya dan berdiri tertegun.

Sepasang mata Tio Sam-koh berubah jadi merah membara, sambil mengetukkan toyanya diatas tanah, teriaknya dengan suara lantang.

"Pek Siua Thian! apakah Hoa Thian-hong mati karena kau bunuh?"

"Kecuali aku yang lakukan, siapa lagi yang mampu membinasakan dirinya....?"

Jawab Pek Siau-thian dengan suara dingin.

"Bluuk....!"

Tiba-tiba Chin Wan-hong yang duduk dikursi roboh keatas tanah dan jatuh tak sadarkan diri.

Hoa Hujin merasakan hatinya amat sakit bagaikan diiris dengan pisau, tetapi ia masih tetap menaban diri, sepatah demi sepatah katanya dengan suara tegas.

"Manusia yang mana tidak dikandung selama sembilan bulan sepuluh hari sebelum dilahirkan? manusia semuanya dipelihara oleh ayah dan ibu, Seng ji tak akan mati dengan siasia, tetapi untuk membalas dendam kita harus menilai dahulu kekuatan kita masing-masing."

Tio Sam-koh berusaha meronta dengan sekuat tenaga tetapi ia tak behasil melepaskan diri dari cekalan lawan akhirnya dengan suara gamas serunya.

"Engkau mau menilai, nilailah tenagamu sendiri dan aku akan melakukan pekerjaan sendiri, masing-masing melakukan tugasnya sendiri dan tidak saling bersangkutan"

"Hmmm! Hoa Goan-siu adalah ayah dan Hoa Thian-hong adalan putra, sebelum dendam sakit angkatan sebelumnya dibalas, dendam angkatan yang lebih muda tak dapat dilakukan lebih dahulu!"

Seru Hoa Hujin dengan suara tegas.

"Tio lo thay!"

Ciu Thian-hau dari gunung Huang-san segera menimbrung dengan suara serak.

"seribu hutang piutang jadi satu per hitungan, belasan tahunpun kita dapat menunggu mengapa untuk sesaat saja engkau tak mampu?"

Dari atas panggung persembahan tiba-tiba berkumandang suara seruan seseorang dengan suara lantang.

"Thong-thian Kaucu telah resmikan pembukaan upacara pertemuan Kian ciau tayhwee, para enghiong dan orang gagah yang akan menghormati arwah-arwah dari perkampungan Liok Soat Sanceng dipersilahkan maju kedepan...."

Buru-buru Hoa Hujin menentramkan hatinya dan maju kedepan lebih dahulu, semua orang yang menyaksikan kejadian itu segera menyusul dari belakang dan bersamasama menuju kebawah panggung persembahan.

Terdengar panitia yang ada diatas panggung kembali berseru lantang.

"Persembahan untuk Hoa Goan-siu lo cung cu dari perkampungan Liok Soat Sanceng"

Hoa Hujin menahan air mata yang hampir meleleh keluar dan buru-buru jatuhkan diri berlutut didepan meja abu, Chin Wan-hong yang baru saja mendusin dari pingsannya dibawah bimbingan Tiong Lo poo cu ikut maju kedepan panggung.

Gadis itu sudah menganggap dirinya sebagai menantu keluarga Hoa, dalam sedihnya diapun tak kenal arti malu lagi, melihat Hoa Hujin berlutut keatas tanah diapun ikut berlutut memberi hormat, Hoa In sebagai pelayan keluarga Hoa, segera mengikuti majikannya belutut pula keatas tanah.

Selesai menjalankan penghormatan, ketiga orang itu menyingkir kesamping, para jagopun maju memberi hormat sedang ketiga orang tadi berlutut membalas hormat.

Ditengah dentingan alat tetabuhan, panitia kembaii berseru lantang.

"Persembahan untuk Oh Thian Siau ketua angkatan ketujuh perguruan keluarga Wi dari kota Wanciu...."

"Persembahan untuk In beng sam hiap Giu Huan Tiat Sio dan Ko Sau Po...."

"Persembahan untuk Dewa geledek Chin Goan Tay...."

Pek lek sian dewa geledak adalah guru dari Bong Pay, sebagai seorang lelaki berjiwa polos ketika mendengar nama guruaya disebut ia tak dapat menahan kesedihan hatinya lagi dan meledaklah isak tangis yang ramai.

Jilid 7 SETELAH pria itu menangis, maka Chin Wan-hong, Biau-nia Sam-sian, tiga harimau dari keluarga Tiong yang teringat akan kematian Hoa Thian-hong sama-sama tak dapat menahan diri dan ikut menangis pula.

Dewa yang suka pelancongan Cu Tong adalah salah seorang diantara sepasang dewa bersama-sama dengan Dewa geledek, sedang Suma Tiang-cing adalah saudara angkat diri Hoa Goan-siu, walaupun sanak namun mereka adalah sahabat karib, semua orang segera diliputi oleh kesedihan membuat suasana penuh diliputi kedukaan.

Dengan susah payah, akhirnya terdengar panitia berseru kembali.

"Dipersilahkan para orang gagah yang tergabung dalam kelompok perkampungan Liok Soat Sanceng mengundurkan diri...."

Semua orang dengan menahan sedih dan air mata, mengundurkan diri kembali kedalam barak, panitia segera mempersilahkan orang-orang dari perkumpulan Sin-kie-pang maju memberi hormat.

Dengan dipimpin oleh Pek Siau-thian, ratusan orang anggota perkumpulan Sin-kie-pang sama-sama maju kedepan untut memberi hormat kepada arwah-arwah anggota perkumpulan Sin-kie-pang yang gugur dalam pertemuan besar Pek beng hwee.

Haruslah diketahui, upacara penghormatan untuk arwah yang telah tiada merupakan adat yang dipegang teguh setiap orang pada masa itu, arwah yang telah tiada dianggap sebagai orang besar.

Karena itu meskipun Pek Siau-thian adaloh seorang ketua perkumpulan namun sikapnya selama upacara selalu serius dan bersungguh-sungguh, hal ini dimaksudkan asar menarik simpati dari anak buahnya.

Setelah perkumpulan mereka, maka giliran Hong-im-hwie maju memberi hormat.

Baru Saja pihak Perkumpulan Hong-im-hwie selesai melakukan penghormatan, tiba-tiba dari luar lembah Cu-bukok secara lapat-lapat dengaran tangisan setan.

Setelah itu, tampaklah para jago perkumpulan Sin-kiepang, Hong-im-hwie serta Thong-thian-kauw yang bertugas diluar lembah sama-sama lari terbirit-birit masuk kedalam lembah, dua orang imam dari Thong-thian-kauw dengann wajah pucat pias lari menuju kehadapan Thian Sengji, tangannya menuding keluar lembah dengan gemetar, beberapa saat kemudian mereka baru mampu bersuara.

"Lapor Tamcu, setan-setan penasaran yang telah mati dengan darah mengalir dari ketujuh lobang inderanya itu, te.... telah.... telah hidup kembali!"

Mendengar laporan itu, Thian Sengcu merasa terkejut bercampur gusar, bentaknya.

"Omong kosong!, dengan mata kepalaku sendiri telah kuperiksa bahwa mereka telah mampus semua, mana mungkin bisa hidup kembali?"

"Makhluk-makhluk aneh itu telah dibuang kedalam sebuah jurang di bukit sebelah kiri dan dikubur dalam satu liang, tapi.... tapi...."

"Tapi kenapa?"

Bentak Thian Sengcu dengan gusar.

"Mereka semua telah hidup kembali, sambil ribut dan menangis mereka menuju kemari dan agaknya segera akan tiba disini, aduh mak! itu mereka telah datang!"

Ditengah pembicaraan, suara isak tangis dan jeritan setan telah bergema memenuhi seluruh lembah, makhluk setan berwajah seram dan berambut awut-awutan itu sambil berdesak-desakan muncul kembali didalam lembah.

Setan-setan itu pada dasarnya berwajah menyeramkan, ditambah darah mengalir keluar dari tujuh lubang inderanya membuat wajah makhluk-makhluk itu nampak lebih seram.

Dalam waktu singkat, makhluk setan yang memakai belenggu kehilangan kaki tangan atau lidahnya menjulur keluar itu sudah ber kumpul semua dibawah panggung persembahan, mereka semua pada menjerit dan menangis hingga suasana jadi amat ribut.

Ci-wi Siancu jadi ketakutan setengah mati, dengan badan gemetar dan gigi saling beradu ia mendekati Hoa Hujin dan berbisik lirih.

"Hujin, suhu telah menghadiahkan sedikit kabut sembilan bisa ke padaku dengan pesan agar racun itu jangan digunakan sembarangan, bagaimana kalau sekarang kulepaskan racun itu agar makhluk-makhluk setan itu...."

Agaknya takut ia kalau perkataannya kedengaran oleh makhluk setan tersebut, perkataannya makin lama semakin lirih, Hoa Hujin termenung sebentar, kemudian menjawab.

"Engkau tak usah terburu nafsu lebih dahulu, selama mereka tidak mengganggu kita lebih baik kitapun tak usah mengganggu mereka"

Sementara pembicaraan masih berlangsung, Thong-thian Kaucu serta Thian Seng cu dengan memimpin sekelompok anak muridnya telah mengepung rapat-rapat ketujuh puluh dua orang makhluk setan itu, tetapi makhluk-makhluk aneh itu masih tetap menjerit dan menangis, terhadap pengepungan tersebut mereka sama sekali tidak ambil perduli.

Dengan muka penuh kegusaran Thian Seng cu segera menghardik.

"Pertemuan besar Kian cian tayhwee diadakan untuk mengenang arwah-arwah orang gagah yang semasa dalam dunia merupakan orang kenamaan, perduli kalian semua adalah setan atau manusia, ayoh cepat mengirim seorang pemimpin untuk berbicara, apabila kalian mengharapkan sesuatu maka perkumpulan Thong-thian-kauw kami pasti akan berusaha memenuhinya...."

Baru saja ucapan terebut diutarakan keluar, dari luar lembah Cu bo kok tiba-tiba berkumandang datang suara jeritan lengking yang amat menusuk pendengaran, diikuti suara gembrengan dan tambur bergema tiada hentinya.

Beberapa saat kemudian pekikkan lengking dan suara tetabuhan gembrengan dan tambur itu sudah tiba dimilut selat, tujuh puluh dua orang makhluk setan yang sedang menangis dan menjerit itu segera membungkam dalam seribu bahasa, semua berdiri kaku ditempat semula tanpa berkutik barang sedikitpun juga.

Bayangan hitam berkelebat memasuki lembah tersebut, sekelompok setan dan makhluk aneh dibawah iringan suara gembrengan dan tambur memosuki gelanggang dengan teratur.

Barisan tersebut adalah suatu barisan aneh yang tidak pernah nampak di kolong langit, berjalan dipaling depan adalah dua orang prajurit setan berbaju hitam yang membawa sebuah gembrengan sebesar lima depa, seorang setan berbaju merah dengan membawa sebuah alat pemukul gembrengan tersebut mengikuti irama langkah kaki.

Dibelakang gembrengan berjalanlah empat orang prajurit setan pembuka jalan yang memakai baju warna-warni, berwajah pucat pias, menyoren senjata garpu pada pundaknya dan menunggang kuda jempolan yang tinggi besar.

Yang paling mengerikan, ternyata keempat ekor kuda itu sama sekali tidak menimbulkan sedikit suarapun ketika berjalan, seakan-akan kuda itu adalah sukma-sukma Kuda yang tidak bernyawa lagi.

Dibelakang prajatit pembuka jalan adalah tiga puluh enam sosok arwah penasaran, diantaranya terdapat setan gantung, setan mati tenggelam, setan mati terbakar serta setan lainnya.

Ada setan yang mati secara mengerikan terlindas roda kereta, tubunnya penuh berlumuran darah dan isi perutnya bergelantungan diluar, ada pula setan yang mati karena dipenggal, batok kepalanya dipegang ditangan.

Yang lebih seram lagi adalah setan perempuan yang membopong bayi berusia satu dua tahunan, separuh bagian batok kepala bayi itu sudah hancur tidak karuan, otaknya pada mengalir keluar, namun matanya ma sih berputar tiada hentinya membuat orang yang menyaksikan kejadian itu merasa ngeri dan bulu kuduknya pada bangun berdiri.

Dibelakarg ketiga puluh enam sosok setan itu adalah lima orang setan pria yang sudah lanjut usia, didepannya berjalan seso-sok setan yang tinggi dan kurus, rambut dan janggutnya awut-awutan tidak karuan, matanya melotot keluar, sepasang lengannya mengenakan borgol sedang tengkuknya membawa rantai, rupanya setan tersebut adalah setan penasaran yang mati dalam penjara.

Dibelakang kelima sosok setan tua itu, mengikuti sekawanan prajurit setan yang menggotong delapan buah tandu berwarna hitam, empat buah tandu yang ada didepan duduklah empat setan pria yang kekar, sedangkan empat tandu yang ada dibelakang tertutup rapat, mungkin isinya adalah setan perempuan.

Dibelakarg kedelapan bush tandu tadi, mengikuti sebuah tandu besar yang megah, indah dan berukirkan burung hong dan naga, tandu tersebut digotong oleh delapan sosok prajurit setan, seorang bocah perempuan berusia sebelas dua belas tahunan dengan baju warna merah dan rambut dikepang mengikuti disisi tandu tersebut.

Sembilan buah tandu itu berjalan menuju kebawah mimbar, empat pria setan yang duduk ditandu loncat lebih dahulu diikuti dengan horden pada empat tandu lainnya terbuka dan perlahan-lahan melayang turun empat setan perempuan, hanya tandu indah yang nampak megah dan besar itu saja tiaak menunjukkan suatu gerakan apapun.

Jumlah rombongan setan itu seluruhnya melampaui seratus orang lebih, barisan sebesar ini benar-benar luar biasa, para jago dari Sin-kie-pang, Hong lm Hwee, Thong-thian-kauw dan pendekar dari golongan lurus tak berani memandang enteng lagi, untuk beb rapa saat lamanya suasana jadi hening dan diliputi keseriusan.

Thong-thian Kaucu yang berada diatas mimbar dan menunggu beberapa saat lamanya, namun dari balik tandu besar yang megah itu sama sekali tidak ada gerak-gerik apapun, hal ini menggusarkan hatinya, imam tua tersebut segera membentak.

"Pinto Thian Ik-cu mohon tanya, diantara rombongan para malaikat ini apakah ada seorang wakil untuk berbicara?"

Dari balik tandu yang terakhir melayang keluar sesosok setan perempuan, sambil maju kedepan jawabnya.

"Aku adalah Tiam cu dari istana neraka terimalah hormat dari kami....!"

Tiam cu dari istana neraka ini mengenakan jubah hitam yang lebar, rambutnya terurai sepanjang pinggang dengan sebuah bunga kertas sebesar mangkuk menghiasi kepalanya, diatas dada terukirlah sebuah uang kertas yang memancarkan cahaya keperak-perakan, mukanya pucat dan gerak-geriknya enteng sekali, nada suara ketus dan adem membawa hawa setan yang sangat tebal.

Dengan pandangan yang tajam, Thong-thian Kaucu mengamati Tiam cu dari istana neraka itu beberapa saat lamanya, kemudian dengan alis mata berkenyit, pikirnya.

"Ooooh.... aku benar-benar sudah bertemu dengan setan hidup!"

Imam tua itu segera mendongak dan tertawa terbahakbahak.

"Haaah.... haaah.... haaah.... rupanya Tiam cu yang telah tiba, maafkanlah kalau pinto tidak melakukan penyambutan"

"Tidak berani"

Jawab Tiam cu istana neraka.

"bila kedatangan kami terlalu gegabah harap engkau juga bersedia memaafkan"

Thong-thian Kaucu tersenyum, ia segera menuding ke arah makhluk-makhluk setan yang berada disekitarnya kemudian bertanya.

"Setan-setan penasaran itu apakah merupakan anak buah Tiam cu semua....?"

Tiam cu istana neraka adalah seorang gadis yang berparas cantik dan berpotongan badan menawan, usianya baru dua puluh tahunan, andaikata dia adalah seorang manusia maka sepantasnya kalau merupakan seorang gadis yang sangat menawan hati, sayang mukanya pucat, ucapannya kaku dan dingin serta dari tubuhnya memancarkan hawa setan yang tebal, membuat siapapun yang memandang merasakan hatinya bergidik.

Thong-thian Kaucu memandang sekejap ke arah tandu besar yang indah dan megah itu, kemudian bertanya lagi.

"Tandu tersebut berukirkan naga dan burung hong, bentuknya megah din indah, entah Tiam cu manakah yang berada dalam tandu tersebut?"

"Tandu itu berisikan kaucu kami!"

Semua pertanyaan yang diajukan segera dijawab, tapi jawabanya selalu singkat dan sederhana, seakan-akan perempuan itu segan untuk banyak berbicara.

Mendengar perkataan itu Thong-thian Kaucu segera tertawa terbahak-bahak, serunya.

"Haahh.... haahh.... hahhh.... sungguh tak kusangka kecuali kaucu dari sekte agama Thong-thian-kauw masih ada kaucu lainnya lagi, kalian Tong kaucu kalian berasal dari perkumpulan mana? dan siapa pula sebutan dari kaucu kalian itu?"

"Maaf, tak dapat diberitahukan!"

Tong Thian Kaacu mengerutkan dahinya.

"Mengapa kaucu kalian tidak turun dari tandu? apakah harus menunggu sampai aku turun tangan sendiri untuk membukakan tandu baginya?"

Ia menegur.

Diatas wajah Tiam cu istana mereka yang dingin dan pucat, tiba-tiba melintas nafsu membunuh yang tebal, engkau harus membukakan tandu dan mempersilahkan kaucu kKami untuk turun dari tandu!"

Thong-thian Kaucu merasa amat gusar sekali, sambil berpaling bentaknya "Pek Lian, maju dan bukalah tabir tandu tersebut!"

Seorang imam cilik berbaju merah mengiakan dan maju kedepan dengan langkah lebar.

Cing lian, Pek lian adalah dua orang murid kesayangan Thian Ik-cu, ilmu silat yang dimiliki kedua orang ini jauh melampaui kakak seperguruan lainnya, bukan saja kelicinan bahkan akalpun banyak sekali dan melebihi siapapun.

Sementara itu, Pek Lian dengan langkah lebar berjalan melewati kawanan makhluk setan itu dan mendekati tandu besar, meskipun wajahnya saram sekali tidak menampilkan perasaan takut, akan tetapi secara diam-diam ia telah melakukan siap siaga dan sedikit pun tidak berani bertindak secara gegabah.

Tong Taian Kaucu pun berjaga-jaga bila pihak lawan melakukan penyergapansecara tiba-tiba, sepasang matanya yang tajam mengawasi gerak-gerik Pek Lian tanpa berkedip.

Tampak Pek Lian berjalan menuju kedepan tandu besar itu kemudian menyingkap tabir yang menutupi tandu tersebut, siapa tahu sorot matanya menemui tandu yang kosong melompong, tidak ada manusia disitu pun tak ada bayangan barang sedikit pun jua.

Menyaksikan akan hal itu, Pek lian nampak tertegun, pada saat itukah seorang setan pria yang memakai kopiah kebesaran, berbaju orang pangkat dan bermuka warna hijau memetangkan mulutnya melakukan penyerbuan, segulung hawa dingin langsung meluncur ke arah tenggorokan Pek lian.

Sementara itu Pek lian sedang putar badan siap berlalu dari sana, ketika merasakan segulung hawa dingin secara tiba-tiba menyerang tengkuknya kemudian mengikuti bagian belakang menyerang tulang punggungnya, ia jadi amat terperanjat hingga tanpa terasa sekujur badannya gemetar keras.

Thong-thian Kaucu yang menyaksikan kejadian itu merasa terkejut bercampur gusar, sebenarnya ia hendak menghardik tetapi ingatan lain segera berkelebat dalam benaknya, ia merasa pihak lawan sama sekali tidak turun tangan kecuali meniup belaka, dalam anggapannya tiupan tersebut tidak mungkin akan melukai muridnya, apalagi kalau per soalan itu dibongkar malah tidak menguntungkan pihaknya, maka sambil menahan diri ia pura-pura tidak tahu.

Pek lian segera putar badan dan melotot sekejap ke arah setan berpakaian pembesar itu dengan penuh kegusaran, kemudian dengan langkah lebar ia berjalan balik ke arah mimbar.

Siapa tahu baru saja badannya maju selangkah, tubuhnya terasa makin dingin dan kian lama kian bertambah kaku, belum mencapai sepuluh langkah rasa dingin telah merasuk ketulang sumsumnya membuat giginya saling beradu dan badan menjadi kaku.

Pek lian tahu bahwa gelagat tidak menguntungkan pihaknya, buru-buru ia tarik napas dan bermaksud untuk mengatur perasaan, siapa lahu keadaan sudah terlambat, sebelum hawa murni sempat disalurkan, sekujur badannya sudah gemetar keras kemudian roboh terjengkang keatas tanah.

Thong-thian Kaucu yang menyaksikan kejadian itu merasa amat terperanjat, segera bentaknya.

"Thian seng...."

Sebelum mendapat perintah, Thian Sengcu laksana kilat telah malompat kedepan dan memayang tubuh Pek lian yang sedang roboh ketanah, ia rasakan tangan dan tubuh bocah itu sudah berubah jadi dingin bagaikan es, hawa dingin yang sangat aneh serasa menyusupi setiap tubuh imam cilik tersebut, dalam bingung dan tidak habis mengertinya buruburu ia loncat kembali kesisi tubuh Thian Ik-cu.

Thong-thian Kaucu segera mengamati pula imam cilik itu sekejap, ia lihat sepasang mata Pek Lian terpejam rapat-rapat, giginya menga tup kencang sementara bibirnya telah berubah jadi biru, mukanya pucat ke hijau-hijauan dan keadaan tersebut tidak jauh berbeda dengan orang yang mati karena kedinginan.

Maka nadi dan jantung Pek lian diperiksa dengan seksama, ia temukan bahwa denyutan nadi imam cilik itu sudah tiada dan jan tungnya telah berhenti berdetak, hal itu menunjukkan bahwa jiwanya sudah melayang dan tak tertolong lagi.

Peristiwa ini benar-benar suatu kejadian yang sangat mengerikan, sebuah tiupan mampu membinasakan jiwa manusia andaikata tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, siapapun tak akan percaya atas kejadian tersebut, tapi sekarang kenyataan sudah ada di depan mata membuat semua orang mau tak mau terpaksa harus mempercayai.

Thong-thian Kaucu merasa amat gusar sekali hingga seluruh wajahnya berubah jadi hijau membesi sambil ulapkan tangannya ia berseru.

"Hantar dia kepada tiga orang susiok untuk diteliti, coba diperiksa dimanakah letak mulut lukanya?"

Mendengar perkataan itu, Thian Seng cu segera membopong mayat Pek Lian dan balik kedalam barak.

Dengan sorot mata yang tajam bagaikan sambaran kilat sekali lagi, Thong-thian Kaucu menyapu sekejap kawanan manusia aneh dan makhluk-makhluk setan itu kemudian prkirnya.

"Diatas langit masib ada langit, diatas manusia masih ada manusia nampaknya kemunculan kelompok baru ini bukan suatu kelompok yang biasa...."

Berpikir demikian, ia berusaha keras untuk menekan hawa amarah yang bergolak dalam dadanya sambil memandang setan berdandan pembesar itu, tegurnya.

"Dan engkau.... Tiam cu apa lagi?"

"Aku adalah Tiam cu ruang penyiksaan"

Jawab setan berdandan pembesar itu dengan suara menyeramkan, bilamana kaucu ingin memberi petunjuk dengan senang hati akan kulayani keinginanmu itu.

Thong-thian Kaucu mendengus dingin, ia berpaling dan memandang sekejap ke arah Tiam cu istana neraka, lalu tegurnya.

"Kenapa kaucu kalian belum juga datang kemari?"

"Kaucu kami sudah lama sekali hadir di tempat ini, setiap orang yang punya mata dapat melihat dengan amat jelas"

Tang Thian Kaucu menjadi terkejut, sorot matanya segera berputar menyapu sekeliling tempat itu.

Pada waktu itu, bukan saja Thong-thian Kaucu merasa terperanjat, bahkan semua orang yang ada didalam gelanggangpun sama-sama merasa terkejut dan curiga, untuk beberapa saat lamanya sorot mata semua orang berputar kian kemari untuk mencari jejak pemimpin kelompok setan tersebut.

Tiba-tiba....

sorot mata Thong-thian Kaucu berhenti pada tandu kecil yang ditumpangi Siang Tang Lay, satu ingatan segera berkelebat dalam benaknya membuat ia seperti menyadari akan sesuatu, tak tahan lagi imam tua itu tertawa terbahak-bahak.

"Haaah.... haahh.... haaah.... Siang Tang Lay, rupanya kesemuanya ini adalah hasil permainan setanmu. Haahh.... haah.... haahh.... sudah sepantasnya sedari permulaan tadi pinto harus dapat berpikir sampai kesitu, badanmu cacad dan gerak-gerikmu tidak leluasa mana engkau berani andalkan kekuatan empat orang muridmu untuk berkunjung kedaratan Tionggoan guna mulakukan pembalasan dendam...."

Tetapi dengan cepat Siang Tang Lay gelengkan kepalanya berulang kali, sembari tertawa nyaring, jawabnya.

"Dugaan Kaucu keliru besar, dengan kemampuan yang kumiliki rasanya masih belum mampu menciptakan hasil karya sebesar itu haaa.... haaah.... haaaah."

Tertegun hati Thong-thian Kaucu , kembali ia berpikir.

"Kalau ditinjau dari gerak-gerik kedelapan orang makhluk aneh bertandu itu jelas mereka semua adalah jago-jago lihay yang berke pandaian amat tinggi, kecuali kakek tua ini siapa lagi yang bisa mendidik mereka jadi demikian lihay?"

Hoa Hujin serdiripun dibuat kebingungan dan tidak habis mengerti, dengan ilmu me-nyampaikan suara ia lantas berbisik.

"Siang heng.! sebenarnya manusia-manusia itu berasal dari mana?"

"Apakah engkau tahu?"

Siang Tang Lay mengerutkan dahinya, dengan ilmu menyampaikan suara pula dia menjawab.

"Sepanjang perjalananku menuju ketimur kali ini meskipun membawa pula sedikit anak buah, tetapi aku tidak mengetahui tentang asal usul dan kelompok manusia-manusia aneh tersebut"

Diam-diam Hoa Hujin merasa terperanjat, setelah termenung sebentar kembali ia bertanya.

"Entah putri kesayanganmu mengetahui tentang persoalan ini atau tidak....?"

"Apa?"

Seru Siang Tang Lay dengan hati terperanjat. Dalam pada itu, Thong-thian Kaucu yang berada diatas mimbar tiba-tiba berkata lagi sambil tertawa.

"Pinto tak akan ambil perduli kalian sebagai manusia atau setan, dan tak mau tahu.siapakah kaucu kalian, pinto hanya ingin mengetahui apa maksud kalian datang kemari? dan apa pula tujuannya?"

"Kami semua banya mendapat perintah untuk datang kemari"

Jawab Tiam cu istana neraka dengan suara dingin.

"dimanakah letak maksud dan tujuannya, lebih baik engkau tanyakan sendiri kepada kaucu kami"

Thong-thian Kaucu benar-benar dibikin gusar oleh sikap lawan yang ketus, ia ingin segera turun tangan untuk membinasakan setan perempuan yang rupanya merupakan pemimpin rombongan tersebut, tetapi menyaksikan jumlah mereka yang mencapai ratusan orang dan kekuatannya nampak mengerikan sekali, segera ia tekan hawa amarah yang berkobar dalam dadanya.

Sambil menuding barak disisi kiri, serunya.

"Kalau memang kedatangan kalian adalah sedang melaksanakan perintah maka tunggu sajalah disamping sebelah situ, bilamana kaucu kalian sudah munculkan diri, undanglah dia untuk berbicara dengan pinto"

Tiam cu istana neraka tidak banyak bicara lagi, dia segera ulapkan tangannya dan bergerak menuju kebarak lebih dahulu, kawanan setan lainnya segera mengikuti dari belakang.

Dalam sekejap mata kelompok makhluk setan tersebut sudah masuk kedalam barak semua dan menempati ruang kosong antara barak yang ditempati kawanan pendekar dari kalangan lurus pihak perkumpulan Hong-im-hwie....

Siang Tang Lay tidak ambil perduli terhadap gerak-gerik kawanan makhluk setan lagi diam-diam tanyanya kepada Hoa Hujin dengan wajah tercengang dan tidak habis mengerti.

"Hujin, barusan engkau mengatakan putri kesayanganku, jangan-jangan kau artikan aku masih mempunyai seorang putri?"

"Giok Teng Hujin yang berada diseberang sana apakah bukan putri kesayangan Siang heng?"

Tanya Hoa Hujin dengan dahi berkerut.

"Siapa?"

Seru Siang Tang Lay lagi sambil menahan rasa kejutnya. Hoa Hujin segera menuding ke arah Giok Teng Hujin yang berada dibarak seberang, sahutnya.

"Nona itu mengaku dirinya bernama Siang Hoa dan ia mengakui sebagai putri kesayangan Siang heng!"

Aneh....!

suatu kejadian yang sangat aneh seru Siang Tang Lay sambil gelengkan Kepalanya berulang kali, sepanjang hidup aku tak pernah kawin dan tak pernah pula mendekati kaum wanita darimana bisa muncul seorang nona yang mengakui sebagai putriku?

benar-benar kejadian yang lucu dan bikin orang tidak habis mengerti....

Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, semua jago merasa terperanjat, mula-mula dalam perkiraan para jago pastilah Siang Tang Lay yang menyuruh putrinya untuk menyusup kedalam tubuh Thong-thian-kauw sehingga dikemudian hari gerakannya itu banyak membantu usaha pembalasan dendamnya.

Siapa tahu kenyataan yang terpapar didepan mata menunjukkan lain, Siang Tang Lay tidak berputri dan ucapan Giok Teng Hujin tidak lebih hanya uniuk membohongi Hoa Thian-hong belaka.

Hoa Hujin makin berpikir semakin curiga, maka ia segera memaparkan kisah hubungan antara Hoa Thian-hong dengan Giok Teng Hujin kepada diri Siang Tang Lay.

Sehabis mendengar keputusan tersebut, Pedang sakti yang menyapu daratan Tionggoan ini segera tertawa dan berkata.

"Oooh....! kiranya begitu, bukan saja aku tidak berputri bahkan pedang emaspun hanya ada sebatang, tidak seperti apa yang dikatakan terdiri dari pedang jantan dan pedang betina, rupanya perempuan tersebut hanya berbohong untuk menggirangkan hati putramu belaka, perkataannya sama sekali tak boleh dipercaya"

Hoa Hujinpun segera tertawa.

"Persoalan ini sih tidak penting, katanya.

"cuma saja dengan adanya peristiwa tersebut maka jejak dari pedang emas itu jadi le bih sulit untuk ditemukan"

Tiba-tiba terdengar Ciu Thian-hau dari gunung Huang-san berseru sambil menuding kedepan.

"Saudara sekalian coba lihatlah kedepan, rupanya ketiga orang pentolan bajingan itu saling merundingkan sesuatu."

Semua orang segera berpaling ke arah ten ah gelanggang, tampaklah para imam dari Thong-thian-kauw ada yang berbisik-bisik dengan pihak Sin-kie-pang, sedang anak buah Sin-kie-pang ada yang berbisik-bisik kepada anggota Thongthian-kauw, sedangkan pada barak dekat mulut lembah sana, pihak perkumpulan Sin-kie-pang dengan Hong-im-hwie pun saling bertukar kurir untuk menyampaikan berita.

Tio Sam-koh segera mendengus dingin, ujarnya dengan suara berat.

"Saudara-saudara sekalian harap waspada dan perhatikan baik-baik, jika pertarungan massal terjidi maka kita semua harus ber-sama-sama menyerang pihak perkumpulan Sin-kiepang bunuh dahulu Pek Siau-thian dan Bu liang loojin kemuiian baru bergerak menuju kepi hak Hong-im-hwie...."

"Tidak, tukas Hoa Hujin dengan cepat,"

Kita harus bergerak menuju barak Thong-thian-kauw lebih dahulu dan berusaha untuk melenyapkan Hian Leng-cinjin. Pia Long cia jin, Cin Leng-cinjin serta imam-imam tua dari angkatan Thian!"

Mendengar ucapan tersebut, Tio Sam-koh jadi tercengang, serunya.

"Yan-san It-koay, Liong ban siangsat, nenek buta semuanya merupakan pembunuh dari Hoa Goan-siu, mengapa keempat orang itu tidak berusaha untuk dilenyapkan lebih dahulu?"

"Tiga bibit bencana dari dunia persilatan semuanya merugikan bagi umat persilatan di kolong langit, tetapi kalau berbicara tentang mencelakai rakyat kecil maka hanya pihak Sin-kie-pang serta Thong-thian-kauw saja yang sering melakukan perbuatan terkutuk itu, seandainya kedua perkumpulan ini bisa dibasmi, maka kendatipun kita semua harus mati dan dendam sakit hati Goan Siu tidak terbalaspun, kematian kita tak perlu disesalkan...."

"Hujin benar-benar seorang yang bijaksana, aku merasa sangat kagum...."

Puji Siang Tang Lay dengan sikap menghormat. Sesudah berhenti sebentar, cahaya berkilat memancar keluar dari wajahnya, ia melanjutkan.

"Begini saja, biarlah aku yang bertempur pada babak pertama, seandainya arwah Hoa tayhiap melindungi kita, siapa tahu kalau aku dapat membinasakan beberapa orang bajingan tua lebih dahulu sehingga bibit bencana bagi umat persilatan dapat dilenyapkan"

Berbicara sampai disitu, ia segera memerintahkan anak muridnya untuk menghantar dirinya menuju keluar barak.

Empat orang pemuda berpakaian ringkas itu segera mendorong kursi beroda tersebut dan menghantar Siang Tang Lay menuju ke bawah mimbar, mukanya menghadap kemulut selat dan empat orang pemuda tadi mundur kebelakang berdiri berdampingan dibelakang kursi.

Sambil meogempos hawa murninya, Siang Tang Lay segera berseru lantang.

"Pedang emas milikku sebenarnya telah terjatuh ketangan siapa? harap orang yang merasa membawa pedangku itu maju kedepan dan menjawab pertanyaanku!"

"Siang looji"

Seru Jin Hian dengan suara dingin dan ketus.

"engkau cumi bisa mengigau belaka disiang hari bolong, membuat aku jadi muak dan bosan!"

Siang Tang Lay tidak ambil gubris, ditunggunya beberapa saat lamanya disitu, tatkala tidak nampak seorang manusiapun yang mun culkan diri, maka ia berseru.

"Kalau ada orang yang pernah melihat pesan terakhir dari Malaikat pedang Gi Ko, harap segera tampil kedepan."

Thong-thian Kaucu yang duduk didalam barak segera tertawa dan menjawab.

"Siapapun tahu kalau kuburan pemendam pedang dari malaikat pedang Giok berada diatas puncak Ciat im hong, dan pedang mustikanya sejak ratusan tabun berselang telah di ambil orang, dalam kuburan kosong sama masih ada pesan terakhirnya lagi?"

Siang Tang Lay tertawa, sekali lagi ia berseru dengan suara lantang.

"Barang siapa yang pernah membaca pesan akhir yang tercatat dalam kuburan pemendam pedang harap segera tampil kedepan, kalau sampai menyia-nyiakan kesempatan yang sangat baik ini, maka menyesal kemudian tak ada gunanya...." 0000O0000 Tiba-tiba dari luar selat berkumandangdatang suara bentakan seseorang dengan suara yang amat nyaring.

"Siapa yang membicarakan pesan terakhir dari Gi Ko? serahkan nyawamu kepadaku....!"

Mendengar seruan itu, Siang Tang Lay nampak tertegun kemudian sorot matanya di alihkan ke arah mulut selat.

Tampaklah seorang pemuda berbadan kekar sambil mencekal pedang baja dengan langkah sempoyongan bergerak masuk kedalam lembah.

"Hoa Thian-hong....!!"

Jeritan kaget berkumandang memecahkan kesunyian, semua orang didalam barak kiri dan kanan hampir serentak pada bangkit berdiri. Ci-wi Siancu jadi girang bercampur kaget, segera teriaknya.

"Pek Siau-thian sialan, siapa bilang kalau siau long sudah mati!"

Ia larik tangan Chin Wan-hong dan segera maju menyongsong kedatangannya.

"Keras tapi lincah!"

Bentak Hoa Thian-hong dengan suara keras.

Pedang bajanya berputar dan langsung membabat ke arah batok kepala kedua orang gadis tersebut.

Serangan pedangnya itu cepat bagaikan sambaran kilat, namun sama sekali tidak disertai desiran angin tajam, dalam sekali ayunan cahaya hitam tahu-tahu sudah tiba diatas batok kepala Ci-wi Siancu.

"Aah....! Ci-wi Siancu berteriak kaget dengan hati terkesiap, dalam gugupnya dengan cepat ia angkat sepasang lengannya untuk melindungi batok kepalanya. Mimpipun gadis itu tak pernah menyang kakalau Hoa Thian-hong bakal mencabut jiwanya, lagipula serangan pedangnya itu dilancarkan dengan kecepatan bagaikan sambaran petir, kendatipun seseorang telah mengadakan persiapan pun susah untuk melepaskan diri dari ancaman tersebut. Untung Hoa Hujin sudah merasakan ketidak beresan yang menimpa putranya hingga dia ikut maju kedepan, pada saat yang kritis, dengan cepat Ci-wi Siancu ditarik kebelakang hingga lolos dari ancaman pedang maut tersebut. Ci-wi Siancu merasa malu bercampur gusar, dengan uringuringan bentaknya keras-keras.

"Siau Long! kau inngin mampus?"

Tampaklah pakaian yang dikenakan Hoa Thian-hong compang camping tak karuan, badannya berlumuran darah dan rambutnya awut-awutan tidak karuan dengan wajah yang mengenaskan ia berdiri tertegun.

Sepasang matanya liar sekali dan jauh berbeda dengan keadaan semula, setelah melotot sekejap ke arah Hoa Hujin ia segera putar badan menuju ke arah Siang Tang Lay.

Ci-wi Siancu yang menyaksikan kejadian itu jadi tertegun, segera teriaknya.

"Hujin, kenapa siau long sama sekali tidak kenali dirimu juga?"

"Kalian berdua kembalilah lebih dahulu kedalam barak, aku dapat menyelesaikan persoalan ini!"

Ci-wi Siancu segera mengiakan dan sambil menarik tangan Chin Wan-hong buru-buru mengundurkan diri dari gelanggang sedangkan Hoa Hujin sendiri dengan sorot mata yang tajam mengawasi gerak-gerik Hoa Thian-hong tanpa berkedip, ia kuatir kalau si anak muda itu melukai Siang Tang Lay.

Dengan langkah sempoyongan bagaikan orang mabuk, Hoa Thian-hong berjalan menuju kehadapan Siang Tang Lay, sambil menuding dengan pedang bajanya, ia membentak.

"Engkaukah yang sedang membicarakan soal pesan yang tertinggal dalam kuburan pemendam pedang?"

Dengan pandangan tajam Siang Tang Lay mengawasi sekejap wajah si anak muda itu, kemudian sambil gelengkan kepala dan tersenyum, jawabnya.

"Aku tidak mempunyai keberanian sebesar itu, Thong-thian Kaucu yang mengatakan akan hal itu"

Sinar mata Hoa Thian-hong segera berkeliaran memandang empat penjuru, teriaknya dengan gusar.

"Thong-thian Kaucu , ayoh gelinding keluar untuk menemui aku!"

Thong-thian Kaucu yang menjumpai peristiwa itu, diamdiam berpikir didalam hatinya.

"Kenapa peristiwa aneh terjadi berulang kali pada hari ini? aai.... suatu alamat yang kurang baik"

Perlahan-lahan ia turun dari mimbar dan menjawab sambil tertawa.

"Aku berada disini, ada urusan apa engkau mercari aku?"

Hoa Thian-hong mengamati sekejap imam tua tersebut, kemudian bentaknya lagi.

"Engkau adalah Thong-thian Kaucu ? bagaimana dengan pesan terakhir dalam kuburan pemendam pedang? bagaimana dengan malaikat pedang, Gi Ko?"

"Haah.... haahh.... haahh.... aku belum pernah melihat pesan terakhir dalam kuburan pemendam pedang...."

"Tolol!"

Bentak Hoa Thian-hong dengan penuh kegusaran.

Pergelangan berputar, lalu pedangnya secara tiba-tiba melancarkan sebuah sapuan kedepan Thong-thian Kaucu jadi amat terperanjat, buru-buru ia loncat mundur sejauh delapan depa kebelakang.

Ciu It-bong yang berada diatas atap barak segera tertawa tergelak sesudah menyaksikan kejadian itu, serunya.

"Haaah.... Haaah.... Haaah.... Hoa Thian-hong, engkau benarbenar gagah sekali!"

"Siapa engkau?"

Seru Hoa Thian-hong sambil menengadah keatas.

"Haaah.... Haaah.... Haaah aku adalah Ciu It-bong, sahabat karibmu! Pek Siau-thian bajingan tua itu benar-benar pandai mengibul dan omong besar, katanya engkau telah dibunuh olehnya sehingga membuat aku yang mendengar kabar ini jadi sedih sekali, hampir saja aku menggorok leher sendiri."

Hoa Thian-hong anggukkan kepalanya tanda mengerti, tiba-tiba ia berpaling dan membentak keras.

"Pek Siau-thian! enyah keluar dari tempat persembunyianmu...."

Wajahnya menghadap ke arah barak yang dihuni para pendekar dari kalangan lurus, hal ini membuktikan bahwa kesadaran otaknya sudah kacau hingga sama sekali tidak mengenali kembali siapakah yang bernama Pek Siau-thian itu.

Kok See-piauw yang menyaksikan kejadian tersebut, dengan alis mata berkenyit segera berkata.

"Paman Pek, boanpwee ingin maju untuk beradu kekuatan dengan bajingan itu sekalian balaskan dendam kematian adik Kun Gie!"

Terdengar Bu Liang Sinkun mendeogus berat hawa gusar berkobar dalam dadanya dan nampak jelas tertera didepan mata. Pek Siau-thian tertawa seram, jawabnya.

"Bocah keparat itu sudah memperoleh penemuan aneh ilmu silatnya sudah mencapai tingkat yang tinggi, sehingga akupun belum tentu bisa menangkan dirinya aku rasa hian tit lebih bukan tandingannya."

Selesai berkata perlahan-lahan ia bangkit berdiri.

Bun Siau-ih adalah perempuaa yang licik dan sukar diduga hatinya kata Bu Liang Sinkun secara tiba-tiba.

Aku akan menjaga disamping arena untuk mencegah sergapan secara tiba-tiba darinya.

Selama ini Pek Siau-thian tak berani maju lantaran persoalan ini, ketika mendengar kakek tua itu bersedia untuk membayangi dirinya dari samping gelanggang, ketua dari perkumpulan Sin-kie-pang ini segera menjura mengucapkan terima kasih dan segera ke luar dari barak.

Hoa Thian-hong melototkan sepasang matanya bulat-bulat, sambil mengawasi dua orang yang sedang mendekati ke arahnya itu, bentaknya.

"Pek Siau-thian!"

"Hmmm! coba bocah cilik, engkau benar-benar sudah gila atau sedang pura-pura gila? tegur Pek Siau-thian dengan suara dingin. Agaknya Hoa Thian-hong tak mengerti dengan perkataan tersebut, biji matanya berputar liar sedang mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa. Cu It Bong yang ada diatas atap barak segera berteriak.

"Hoa Thian-hong, Pek looji sedang memaki diri mu.

"Pek loo ji yang mana?"

Tanya Hoa Thian-hong sambil menengadah keatas atap.

"Pek Siau-thian!"

Hoa Thian-hong jadi amat gusar tubuhnya menerjang maju kedepan dan pedangnya segera melancarkan sebuah babatan.

Serangan pedang itu dilancarkan dengan gencar dan dahsyat sekali, dalam kejut dan gusarnya buru-buru Pek Siauthian loncat mun dur sejauh lima depa kebelakang.

"Bagus!"

Bentak Hoa Thian-hong.

"keras tapi lincah!"

Kembali ia lancarkan satu tusukan dahsyat. Melihat kelihayan musuhnya, Pek Siau-thian amat terperanjat, diam-diam pikirnya.

"Sungguh tak nyana bocah keparat ini berlatih rangkaian ilmu pedangnya yang keras dan kasar menjadi begitu enteng tak bersuara dan kecepatannya melebihi sambaran petir, untung otaknya sudah agak sinting, kalau masih segar bugar niscaya aku sudah bukan tandinganya lagi....!"

Berpikir sampai disitu, tangan kanannya segera berputar kencang melancarkan serangan balasan, sebentar menghantam sebentar membabat, sebentar lagi menusuk dan sebentar lagi menyodok, seluruh kepandaian silat yang dimilikinya dikerahkan keluar untuk melawan serangan

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com serangan dari pedang baja lawan, sementara tangan kirinya bagaikan hembusan angin puyuh memainkan jurus ampuh dari ilmu pukulan Ceng hoan sian hong toan hun ciangnya untuk meneter lawan.

Pertempuran sengit yang berlansung pada saat ini segera memikat hati setiap perhatian orang, kelihayan ilmu silat yang dimiliki kedua orang ini jauh diluar dugaan setiap orang, membuat Bu Liang Sinkun yang disebut sebagai manusia paling ampuh di kolong langit dewasa inipun mengerutkan dahinya, semangat ambisinya tanpa terasa ikut lenyap beberapa bagian.

Tiba-tiba terdengar Hoa Thian-hong membentak keras.

"Peraturan menurut langit, kerugian pasti tersisa, tenaga masih kurang, kekerasan bukanlah kekasaran, keras tapi lincah, lunak bukanlah lemah...."

Setiap kali mengucapkan sepatah kata pedang yang berada dalam genggamannya segera melancarkan satu serangan maut yang memaksa Pek Siau-thian mau tak mau harus terdesak mundur satu langkah lebar kebelakang, ketika pemuuda itu mengutarakan kata yang terakhir, secara beruntun enam buah serangan maut tersebut berhasil memaksa Pek Siau-thian untuk mundur sejauh satu dua tombak lebih dari tempat semula.

Peristiwa ini benar-benar merupakan suatu kejadian yang mengejutkan hati setiap orang, ketua perkumpulan Sin-kiepang yang tersohor akan kelihayannya ternyata didesak dibawah angin dan bahkan menderita kekalahan secara mengenaskan sekali.

Hoa Hujin, Bu Liang Sinkun maupun Thong-thian Kaucu ikut bergerak berbarengan dengan menggesernya tubuh kedua orang itu.

Siang Tang Lay pun memerintahkan anak muridnya untuk mendorong kursi rodanya mengikuti bergesernya arena pertarungan yang sedang berlangsung.

Semua jago dalam barak dikedua belah pihak pada bangkit berdiri dan keluar dari barak masing-masing, Cukat racun Yau Sut dengan memimpin ketiga orang tongcunya dan seluruh pelindung hukum dibawah panji kuning ikut terjun kedalam gelanggang dan membuat posisi setengah lingkaran.

Melihat posisi yang dilakukan pihak lawan, para pendekar dan golongan lurus segera terjun pula kedalam gelanggang membentuk posisi pada separuh lingkaran yang lain.

Situasi dalam gelanggang berubah jadi sangat tegang, setiap saat pertarungan massal bakal terjadi.

Beberapa kali Bu Liang ingin turun tangan untuk mengerubuti pemuda tersebut, tetapi menyaksikan Hoa Hujin mengawasi terus gerak-geriknya dengan tajam membuat jago tua ini tak berari bergerak secara sembarangan.

Cukat racun Yau Sut pun ikut bergerak mengikuti bergesernya gelanggang pertarungan, tetapi berhubung pihak Thong-thian Kaucu seria Hong-im-hwie masih tetap bersikap tenang belaka, ia tak berani bertindak secara gegabah.

Pertarungan sengit berlangsung entah beberapa lamanya, tiba-tiba terdengar Hoa Thian-hong membentak keras.

"Rendah diri harus mundur, mundur akibat rendah diri sendiri....!"

Setelah melancarkan sebuah tusukan, tiba-tiba ia lancarkan pula sebuah tusukan yang lain.

Dengan mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya, Pek Siau-thian hanya mampu menahan tujuh buah serangan pedang yang pertama, terhadap datangnya ancaman pedang yang terakhir ini, ia merasa tobat dan benarbenar tak mampu untuk mempertahankan diri lagi, dalam keadaan terdesak terpaksa ia jatuhkan diri keatas tanah dan berguling ke arah samping.

Menyaksikan keadaan ketuanya yang begitu mengenaskan, para anggora perkumpulan Sin-kie-pang jadi amat terperanjat untuk meng-hindari serangan Hoa Thian-hong lebih jauh, mereka segera membentak dengan suara yang keras bagaikan guntur.

Tenaga dalam yang dimiliki orang itu lihay sekali, bentakan yang dilakukan secara serentak oleh ratusan orang angagota perkumpulan Sin-kie-pang itu boleh dibilang benar-benar luar biasa sekali.

Hoa Thian-hong nampak terperanjat dan segera berdiri tertegun ditempat semula, seranganpun tidak dilancarkan Kembali.

Perlahan-lahan Pek Siau-thian bangkit berdiri lalu menghembuskan nafas panjang, tiba-tiba dari sorot matanya memancar cahaya yang sangat tajam, ia berbisik.

"Semua yang rahasia harus dijaga ketat, pedang baja asli bocorkan rahasia langit"

"Apa?"

Bentak Hoa Thian-hong sambil loncat mundur kebelakang.

"Hmmm! tak ada kedua kalinya lagi, pikirkan sendiri apa yang kukatakan barusan!"

Sahut Pek Siau-thian dengan dingin.

Telapaknya segera diputar melancarkan satu serangan, sedang tubuhnya dengan dahsyat menerjang kedepan.

Ulangi sekali lagi!

hardik Hoa Thian-hong.

Agaknya kegusaran pemuda ini sudah mencapai pada puncaknya, pedang baja berputar, dengan jurus Thian hoo san atau bintang menyebar dilangit terbuka, ia kirim sebuah tusukan kilat, cahaya hitam yang menyilaukan mata menyebar keseluruh udara.

Suatu serangan yang sangat bagus!

"teriak Ciu It-bong dari atap barak.

Hawa gusar yang bergolak dalam dada Pek Siau-thian betul-betul sudah memuncak, sambil menggertak gigi serunya.

"Ini hari kalau aku tak dapat membinasakan dirimu, aku bersumpah tak akan hidup sebagai manusia!"

Sepasang telapaknya bekerja bersama, dalam waktu singkat ia lancarkan belasan jurus serangan berantai, memaksa Hoa Thian-hong harus berputar secara kacau.

Hoa Hujin dan Bu Liang Sinkun sekalipun segera ikut bergerak mengikuti perubahan tersebut.

Dalam pertempuran yang sedang berlangsung pada saat ini, kedua belah pihak sama sama mengandung niat untuk membunuh pihak lawannya, masing-masing pihak berusaha sedapat mungkin dan tidak mengindahkan pertaruhan apapun.

Menurut keinginan masing-masing pihak, mereka ingin turun tangan serentak dan membunuh lawannya dalan waktu singkat, tetapi sebelum yakin dapat menangkan pertarungan tersebut, semua pihak tidak ingin bergerak secara gegabah, karena itulah untuk sementara waktu semua pihak tak berani bertindak secara ngawur.

Hoa Thian-hong sendiri yang pikirannya tidak beres, dalam waktu singkat terdesak di bawah angin, belum lama pertarungan berlangsung beberapa kali ia sudah menemui ancaman bahaya....

Para pendekar dari kalangan lurus yang menyaksikan kejadian itu secara bersiap siaga untuk memberi pertolongan setiap saat, sedangkan anak buah dari perkumpulan Sin-kiepang pun semakin mendesak kedepan semakin dekat, mereka siap sedia melakukan penyerangan secara serentak.

Selama terjadinya pertarungan itu, pihak Thong-thian-kauw dan Hong-im-hwie tetap berpeluk tangan belaka, sementara makhluk-makhluk aneh yang asal usulnya tidak jelas itupun tetap betdiam diri belaka.

Tiba-tiba terdengar Hoa Thian-hong membentak keras.

"Ulangi sekali lagi!"

Pek Siau-thian mendengus dingin, tubuhnya berputar secepat kilat, dalam waktu singkat ia sudah kurung tubuh pemuda itu dalam lingkaran angin pukulan Ceng hoan sian hong toan hun ciangnya.

Li-hoa Siancu yang menyaksikan gelagat tidak menguntungkan, buru-buru berseru dengan suara lantang.

"Semua yang rahasia harus dijaga ketat, pedang baja asli bocorkan rahasia langit"

"Tidak benar!"

Teriak Hoa Thian-hong dengan penuh kegusaran.

"ulangi sekali lagi!"

Diam-diam Hoa Hujin merasa amat terperanjat, pikirnya.

"Hong ji sudah berada dalam keadaan setengah gila, entah bencana atau rejeki yang diterima olehnya....!"

Belum habis ingatan tersebut berkelebat dalam benaknya, tiba-tiba ia saksikan Pek Siau-thian melancarkan pukulan secara berantai, membuat ilmu pedang dari Hoa Thian-hong kacau balau, ia jadi terkejut dan buru-buru menggerakkan tubuhnya siap menerjang ke depan.

"Bun Siau-ih!"

Bentak Bu Liang Sinkun dengan cepat. Badannya memotong tengah jalan, sebuah pukulan dahysat dilepaskan ke arah depan. Sejak permulaan Hoa Hujin telah menduga sampai disitu, diam-diam pikirnya.

"Biarpun hidupku sekarang lebih singkat sepuluh tahun, ini hari aku harus membereskan dahulu jiwa orang ini!"

Berpikir demikian, ia tidak memperdulikan keselamatan putranya lagi, tiba-tiba dengan gerakan yang dahsyat bagaikan geledek tubuh nya berhenti ditengah jalan dan sepasang kakinya memantek diatas tanah, sebuah pukulan yang maha dahsyat langsung dilepaskan ke arah depan.

Disinilah kelicikan dan kelihayan dari Pek Siau-thian, peristiwa Hoa Hujin melukai nenek bermata buta ketika sedang berlatih ilmu dalam gua kuno bukannya tidak diketahui olehnya, namun peristiwa tersebut sama sekali tidak disampaikan kepada Bu Liang Sinkun.

Menanti gembong iblis tersebut secara tiba-tiba menyaksikan diatas telapak tangan Hoa Hujin tersembur keluar cahaya hitam yang menyilaukan mata, ia baru terperanjat, untuk menghindarkan diri pada saat itu sudah tak sempat lagi.

"Blaaam! sepasang telapak saling membentur satu sama lainnya menimbulkan benturan dahsyat yang sangat memekikkan telinga, Hoa Hujin masih tetap berdiri ditempat semula, hawa hitam yang berada diantara alis matanya nampak berkelebat lewat dan menunjukkan rasa kesakitan, tapi sejenak ke mudian telah lenyap tak berbekas. Sebaliknya Bu Liang Sinkun menjerit ngeri, tubuhnya mundur kebelakang dengan sempoyongan, darah hitam memancar keluar dari mulutnya dan dalam waktu singkat hawa hitam sudah menyelimuti seluruh wajahnya, keadaan jago tua itu nampak kritis sekali. Meskipun ilmu pukulan Kiu pit sinciang amat lihay, tapi kalau dibandingkan dengan pukulan maut dari Hoa Hujin masih terpaut jauh sekali. Dalam pada itu, pada saat yang bersamaan Pek Siau-thian telah berhasil memaksa Hoa Thian-hong untuk membuka pertahanan tubuhnya, kemudian diiringi gelak tertawa seram, kepalanya langsung menghantam ke arah dada lawan. Bentakan keras bergeletar memecahkan kesunyian, Ciu Thian-hau dari gunung Huang-san serta jago pedang bernyawa rangkap sembilan Suma Tiang-cing bersama-sama menerjang kedepan, sedangkan Cukat racun Yau Sut berserta para jagonya ikut menerjang pula kemuka. Gerakan tubuh Ciu Thian-hau cepat bagaikan kilat dan tak ada orang yang melampaui dirinya, sekali enjot ia sudah rentangkan tangannya melancarkan satu pukulan ke arah Pek Siau-thian. Merasakan datangnya ancaman tersebut, Pek Siau-thian merasa amat terperanjat, segera pikirnya.

"Entah siapakah setan jelek ini?"

Sebuah tendangan dilancarkan mendepak tubuh Hoa Thian-hong dari hadapannya, jurus serangan dirubah dan ia sambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.

"Blaaamm....!"

Ditengah benturan keras, tubuh kedua orang jago itu sama-sama tergetar mundur kebelakang ketika saling berpandangan diatas wajah masing-masing pihak terlintas rasa kaget dan tertegun.

Mendadak terdengar Siang Tang Lay berseru dengan suara nyaring.

"Harap saudara semua berhenti bertempur, dengarkan dahulu perka taanku....!"

Pek Siau-thian ulapkan tangannya dan berseru.

"Semua anggota perkumpulan Sin-kie-pang mundur!"

Mendapat perintah dari ketuanya, Cukat racun Yau Sut serta para jago lainnya segera mengundurkan diri dari kalangan.

Semua kejadian itu berlangsung secara berurutan dan memakan waktu yang amat singkat, tubuh Bu Liang Sinkun yang terlukapun belum sampai roboh keatas tanah.

Kok See-piauw menjerit kaget, ia segera lari maju kedepan dan berteriak, Bu Liang Sinkun membuka sedikit kelopak matanya dan menjawab dengan nada sedih.

"Aku sudah tak kuat lagi...."

Setelah berbenti beberapa saat dengan amat lemah sambungnya lebih jauh.

"Cepatlah pergi dari sini, orang lain berhati licik dan tidak menguntungkan bagi kita.... pergilah...."

Belum habis kata-katanya, hawa hitam yang menyelimuti wajahnya semakin tebal, akhirnya tubuh orang itu berkelejit dan tak berkutik lagi.

"Suhu....!"

Jerit Kok See-piauw.

Ia segera membopong tubuh Bu Liang Sinkun keatas pundaknya kemudian setelah melotot sekejap ke arah Hoa Hujin dengan sinar kebencian, pemuda itu putar badan dan kabur dari situ Suasana yang kalut dan kacau perlahan-lahan berubah jadi tenang kembali, beberapa patah kata yaog diucapkan Bu Liang Sinkun sebelum ajalnya telah menimbulkan kewaspadaan dihati masinh-masing pihak.

Terdengar Siang Tang Lay dengan suara dingin berseru.

"Pek Siau-thian, benarkah engkau hendak langsungkan pertarungan masal dengan pihak kami?"

Pek Siau-thian memutar biji matanya dan melirik sekejap ke arah Thong-thian Kaucu , kemudian pikirnya.

"Menurut rencana yang telah disepakati, mereka akan menyerbu masuk kedalam gelanggang bersamaan waktunya, tapi dalam kenyataan kedua orang tua bangka tersebut masih tetap berpeluk tangan belaka.... Hmn! apa dianggapnya aku adalah seorang manusia bodoh?"

Berpikir sampai disini ia segera ulapkan tangannya dan berlalu dari gelanggang.

Dalam waktu singkat semua jago dari perkumpulan Sin-kiepang telah mengundurkan diri kedalam baraknya, sorot mata para pendekar dari golongan luruspun segera dialihkan ke arah Thian Ik-cu.

Teng Thian Kaucu yang ditatap seperti itu, dalam hati kecilnya merasa terkesiap, kemudian sambil tertawa terbahakbahak ia meloncat mundur tiga tombak kebelakang.

Setelah imam tua itu mengundurkan diri, perlahan-lahan Hoa Hujin tundukkan kepalanya melirik sekejap ke arah telapak sendiri, ia melihat hawa hitam yang tertanam dalam telapaknya telah tawar beberapa bagian, tanpa terasa lagi perempuan itu menghela napas panjang dan berpikir.

"Kalau dilihat keadaan ini rupanya setelah melancarkan dua kali pukulan lagi maka keadaanku akan menyerupai lampu lentera yang kenabisan minyak...."

Tiba-tiba terdengar Siang Tang Lay berseru.

"Kaucu tolong tanya pertemuan besar Kian ciau tayhwee yang kau selenggarakan ini akan dilangsungkan berapa hari?"

"Akan kuselenggarakan selama tujuh hari tujuh malam,"

Jawab Thong-thian Kaucu sambil tertawa nyaring. Siang Tang Lay menengadah memandang cuaca di angkasa lalu berkata lagi.

"Sekarang sudah jam sebelas siang satu hari satu malam telah lewat!"

Ternyata sang surya tak dapat memancarkan cahayanya kedalam lembah tersebut, meskipun udara cerah dan siang hari sudah menjelang tetapi suasana dalam lembah itu masih tetap samar.

Thong-thian Kaucu tertawa katanya.

"Siang sicu, engkau tanya-tanya waktu ada apa sih?"

Kami semua yang datang kemari adalah tamu, kalau memang upacara Kian ciau tayhwee akan diselenggarakan selama tujuh hari lamanya, bagaimanapun kaucu sudah sepantasnya kalau sediakan makanan dan mi numan buat kami, masa engkau akan suruh kami semua mati kelaparan disini?"

"Haah.... haah.... haah.... sayur berantakan, arak sih sudah kami persiapkan, tapi aku takut para orang gagah sama-sama menaruh curi ga karena itu tak berani kupersembahkan ke luar"

Siang Tang Lay tersenyum.

"Kaucu adalah seorang pemimpin suatu perkumpulan besar, masa engkau begitu rendah de-rajatnya hingga meracuni sayur dan arak? lagi pemberian itu toh dari pihak panitia, aku rasa tak pantas kalau engkau tidak menyediakan sayur dan arak buat tetamunya...."

"Perkataan Siang sicu memang tepat sekali!"

Habis berkata sambil tertawa imam tua itu segera mengundurkan diri. Sepeninggal Thong-thian Kaucu , Siang Tang Lay segera berpaling ke arah Hoa hujjn dan berkata sambil tertawa.

"Serangan yang hujin lancarkan sungguh dahsyat membuat aku merasa kagum sekali! Hoa Hujin tertawa getir.

"Siang heng adalah seorang maha guru, dalam hal ilmu silat aku rasa persoalan yang berhubungan dengan aku Bun si tak akan lolos dari ketajaman mata Siang heng bukan?"

Siang Tang Lay tersenyum, diantara kerutan dahinya terlintas rasa sedih yang tebal, katanya.

"Hujin dan para tayhiap sekalian harap segera mengundurkan diri kedalam barak, aku disini masih ada sedikit persoalan hendak diselesaikan lebih dahulu"

Hoa Hujin melirik sekejap ke arah putranya kemudian berjalan balik lebih dahulu kedalam barak.

Chin Wan-hong yang menyaksikan sikap Hoa Thian-hong kaku dan termangu-mangu tanpa berkutik barang sedikitpun jua, diam-diam segera menarik ujung baju Tio Sam-koh sambil berbisik.

"Popo coba lihatlah keadaannya...."

Tio Sam-koh sambil membawa toyanya segera melangkah maju dengan tindakan lebar, teriaknya.

"Seng ji, masih kenal dengan diriku?"

"Ulangi sekali lagi!"

Bentak Hoa Thian-hong dengan gusar. Tiba-tiba pedangnya berputar dan melancarkan sebuah bacokan searah tubuh nenek tua itu. Tio Sam-koh segera putar menangkis datangnya babatan pedang tadi, bentaknya.

"Binatang, rupanya engkau memang sudah sinting!"

Terdengar suara bentrokan Hoa Thian-hong tahu-tahu telah berhasil memapas kuntung toya baja dari Tio Sam-koh.

Menyaksikan senjatanya kutung, Tio Sam-koh nampak tertegun lalu makinya dengan marah-marah.

"Binatang cilik, rupanya engkau ingin mampus?"

Nenek tua ini ingin sekali maju kedepan untuk memberi gaplokan nyaring keatas pipinya, tetapi karena kuatir tersambar pedang bajanya, untuk beberapa saat lamanya ia malahan berdiri menjublek.

Siang Tang Lay tersenyum.

"Tio loo thay tak usah gusar, aku punya akal untuk menyelesaikan persoalan ini"

Kalau memang ada akal, cepatlah sadarkan bocah keparat ini, aku harus baik-baik memberi pelajaran kepadanya"

Seru Tio Sam-koh dengan sepasang alis berkernyit.

"Sam-koh, Hong ji, kembalilah kemari, jangan mengganggu lagi!"

Terdengar Hoa Hujin berteriak dan dalam barak.

Dengan gemas Tio Sam-koh melotot sekejap ke arah Hoa Thian-hong, sedang Chin Wan-hong memungut kutungan toya dari atas tanah dan bersama-sama kembali kedalam barak.

Sepeninggalnya kedua orang itu, Siang Tang Lay diamdiam berpikir dalam hatinya.

"Nyonya ini tidak malu disebut sebagai seorang pemimpin yang luar biasa, cukup ditinjau dari kejadian ini sudah terlihat jelas betapa besar jiwanya!"

Berpikir demikian, ia lantas membisik didalam telinga Hoa Thian-hong dengan ilmu menyampaikan suara.

"Berjaga ketat, sikap waspada dan rahasia pedang mengusir setan, bocorkan rahasia langit!"

Mendengar bisikan itu, Hoa Thian-hong merasakan sekujur badannya gemetar keras, ia segera berpaling dan menatap tajam wajah Siang Tang Lay. Melihat sikap pemuda itu, kembali Siang Tang Lay berpikir.

"Rupanya pemusatan pikiran yang keliru mengakibatkan bocah ini mengalami keadaan jalan api menuju neraka, kesadaran otaknya sama sekali belum punah"

Berpikir demikian, dengan ilmu menyampaikan suara ia segera berkata kembali.

"Tadi Pek Siau-thian telah membohongi dirimu, sekarang aku akan membacakan kembali uraian rahasia pedang yang asli dari depan hingga kebelakang, dengarkanlah baik-baik!"

Setelah berhenti sebentar, ia segera membaca dengan suara amat lirih....

"Peraturan menurut langit, kerugian pasti tersisa, tenaga masih kurang, kekerasan bukanlah kekasaran, keras tapi lincah, lunak bu kanlah lemah, rendah diri harus mundur, mundur akibat rendih diri untuk diri sendiri, berjaga ketat, sikap waspada dan rahasia pedang pengusir setan, bocorkan rahasia langit!"

Hoa Thian-hong membelalakkan sepasang matanya lebarlebar, sorot mata kaget dan tercengang terlintas diatas wajahnya, bibir bergerak seperti hendak mengucapkan sesuatu na-mun akhirnya niat tersebut dibatalkan.

Dengan ilmu menyampaikan suara, sekali lagi Sang Tang Lay mengulangi rahasia ilmu pedang tersebut, kemudian tanyanya.

"Sudah kau dengar jelas perkataanku? kau masih belum ingat, tanyakan kepadaku, kalau sudah hapal sama sekali, anggukkan lah kepalamu!"

Hoa Thian-hong menggetarkan bibirnya mengulangi pembacaan rahasia itu dengan suara lirih, kemudian ia mengangguk. Tiba-tiba terdengar Ciu It-bong yang berada diatap barak berteriak.

"Hoa Thian-hong, apa yang sedang kalian lakukan?"

"Jangan berisik!"

Bentak Hoa Thian-hong dengan gusar. Siang Tang Lay tertawa, diam-diam bisiknya lagi.

"Bocah baik, tempat ini sudah diliputi badai pembunuhan yang tiada taranya, kemungkinan besar baik buruk, cantik jelek akan binasa bersama-sama, tiada seorangpun yang bisa hidup keluar dari sini, usiamu masih muda dan masa depanmu masih cemerlang, guna kanlah kesempatan baik ini untuk berlalu dari sini, tinggalkan tempat ini sebaik-baiknya....!"

Mendengar bisikan itu, Hoa Thian-hong nampak tertegun, lalu per-lahan-lahan putar badan memandang sekejap ke arah semua orang yang berada didalam lembah tersebut, kebingungan dan kemurungan makin tebal menyelimuti wajahnya.

Siang Tang Lay menghela napas panjang, dengan ilmu menyampaikan suara ujarnya lagi dengan lembut.

"Anak baik, tempat ini tak ada yang perlu kau kenang kembali, cepatlah berlalu dari sini!"

Sekali lagi Hoa Thian-hong nampak tertegun dan memandang kembali semua orang yang ada didalam lembah itu, mukanya semakin sangsi seakan-akan masih ada sesuatu hal yang mencurigakan hatinya.

Siang Tang Lay mengerutkan dahinya, tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam benaknya, sambil berpaling ia segera berseru.

"Hoa In!"

Hoa In segera memburu maju kedepan sambil bertanya.

"Siang ya ada urusan apa?"

Dengan ilmu menyampaikan suara Siang Tang Lay berpesan.

"Siau Koan-jin kalian agak kurang waras otaknya, tetap berada dalam lembah hanya akan mendapatkan bencana kematian baginya, bawalah keluar dari lembah ini dan pergilah jauh-jauh menanti otaknya telah sadar kembali, kalian baru mengambil keputusan kembali"

Ucapan tersebut sesuai dengan kehendak hati Hoa In tapi sesudah berpikir sebentar ia jadi sedih kembali, dengan ilmu menyampaikan suara serunya.

"Perkataan yang diucapkan Siang ya memang tidak salah sayang majikan kami...."

"Aku yang akan bertanggung jawab dihadapan Cu bo mu itu"

Tukas Siang Tang Lay dengan cepat.

"pertemuan besar akan segera berlangsung persoalan ini tak boleh ditunda kembali, cepatlah pergi!"

Hoa In segera berpikir didalam hati kecilnya.

"Apabila tiga kekuatan besar dalam dunia persilatan bersatu padu dengan kekuatan kami beberapa puluh orang meskipun dapat membalas dendam rasanya untuk mempertahankan hidup bukanlah suatu pekerjaan yang gampang, aku Hoa In tidak takut mati, tapi Siau Koan-jin adalah satu-satunya keturunan keluarga Hoa, terlalu sayang kalau diapun jatuh jadi korban."

Berpikir sampai disini, ia segera ambil keputusan dan tanpa memperdulikan maksud hati Hoa Hujin lagi, ia segera memberi hormat kepada Siang Tang Lay sambil berkata.

"Hamba akan mendengarkan perintah dari Siau ya, berada dihadapan Cu bo harap Siau ya suka menasehati dengan beberapa patah kata...."

"Aku sudah tahu, kalian pergilah!"

Kata Siang Tang Lay sambil berseru. Hoa In tidak ragu-ragu lagi, sambil berpaling ke arah Hoa Thian-hong, teriaknya keras.

"Siau Koan-jin ikutlah hamba!"

Dengan langkah lambat ia berjalan munuju kemulut lembah.

Hoa Thian-hong nampak tertegun, sorot matanya segera dialihkan keatas wajah Siang Tang Lay.

Setelah jago pedang sakti yang menyapu daratan Tionggoan ini memberikan rahasia pedang kepadanya, dalam anggapan si anak muda itu Siang Tang Lay adalah manusia yang patut dipercaya.

Melihat sikap pemuda itu Siang Tang Lay segera tertawa dan berkata dengan ramah.

"Anak baik, ikutilah dia berlalu dari sini, malaikat pedang Gi Ko sedang menantikan kedatanganmu diluar lembah"

Air muka Hoa Thian-hong agak berubah, sambil membawa pedang bajanya dengan langkah lebar ia segera menyusul kedepan.

Cukat racun Yau Sut yang menyaksikan Hoa In dan Hoa Thian-hong keluar dari lembah itu, timbullah rasa curiga dalam hati kecilnya ia segera berbisik.

"Pangcu perlukah kita menghadang jalan pergi kedua orang itu?"

"Hmm...."

Pek Siau-thian termenung. Belum sempat ia memberi jawaban terdengar Siang Tang Lay tiba-tiba berseru.

"Pek Siau-thian!"

Ketua dari perkumpulan Sin-kie-pang itu segera bangkit berdiri serunya dengan nada tak senang.

"Ada urusan apa engkau memanggil diriku?"

"Haah.... haahh.... haahh, diantara kalangan hitam, engkau Pek Siau-thian adalah manusia yang paling gagah, cepatlah kemari, li hatlah aku akan membuat hatimu jadi terperanjat"

"Tua bangka itu sengaja mengulur waktu"

Bisik Cukat racun Yau Sut dengan suara lirih.

"tujuannya tidak lain adalah hendak melindungi bocah keparat itu keluar lembah, Pangcu jangan sampai tertipu oleh siasat licinnya"

Pek Siau-thian mengangguk, sebelum ia sempat memberi keputusan, Hoa Thian-hong telah berjalan keluar dari selat lembah tersebut.

Jilid 8 MELIHAT untuk dikejar tak sempat lagi, kakak she Pek itu terpaksa hanya bisa berkata dengan suara hambar.

Keparat cilik ini bukan seorang manusia yang takut mati, apalagi ibunya masih berada didalam selat ini, aku rasa setelah pergi ia pasti akan kembali lagi.

"Tetapi otaknya sudah tidak waras, sambung Cukat racun Yau Sut dengan cepat"

Aku rasa pasti akan dibawa kabur oleh Hoa In tua bangka itu dan tak akan kembali lagi.

Mendengar perkataan itu, Pek Siau-thian jadi amat terperanjat, dengan cepat ia berpaling, tapi Hoa Thian-hong sudah pergi jauh dan bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas.

Terdengar Siang Tang Lay tertawa terbahak-bahak sambil berkata.

"Haaah.... haah.... haah.... pek Siau-thian, cepatlah kemari. Dengarkan aku akan bicarakan soal malaikat pedang Gi Ko."

Tiba-tiba Thong-thian Kaucu berjalan keluar dari baraknya dan bertanya sambil tertawa.

"Siang sicu, sebenarnya apa yang telah terjadi? cepatlah katakan, pinto akan cuci telinga dan mendengarkan dengan seksama"

"Haaah.... haah.... haah.... Pek Siau-thian, sudah kau lihat batu peringatan yang ditinggalkan malaikat pedang Gi Ko?" 0000O0000

"AKU SIH pernah melihatnya, ada apa sih?"

Jawab Pek Siau-thian dengan dingin.

"Pek heng!"

Thong-thian Kaucu dengan alis berkenyit berseru.

"engkau dan aku toh sahabat karib bukan?"

"Kalau sahabat karib lantas kenapa?"

"Haahh.... haahh.... haahh.... pinto pernah mendengar mendiang guruku berkata, malaikat pedang Gi Ko adalah seorang manusia aneh dari dunia persilatan pada jaman akhir Tong, ilmu pedangnya sangat lihay, budi pekertinya juga hebat, sayang pada saat ia meninggal dunia tak seorang ahli warispun dimiliki, sehingga dengan begitu ilmu pedangnya lenyap tak berbekas...."

Pek Siau-thian tertawa dingin tukasnya.

"Sungguh tidak sedikit Too heng mengetahui perihal sejarah dunia persilatan, cuma sayang pertemuan Kian ciau tayhwee yang diselenggarakan pada saat ini bukanlah untuk membicarakan tentang sejarah."

"Aah! belum tentu begitu,"

Sambung Siang Tang Lay sambil tertawa. Sesudah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh.

"Bayangkan saja Lie Bu liang yang begitu angkuh dan sama sekali tidak pandang sebelah matapun kepada semua orang gagah di kolong langit, siapa tahu dalam satu ayunan telapak dari Hoa hujitn, ternyata jiwa nya telah berhasil dicabut, dari satu bisa diketahui bahwa gerak-gerik secara gegabah adalah suatu tindakan yang bodoh!"

"Ucapan ini sedikitpun tidak salah,"

Pikir Pek Siau-thian didalam hati.

"andaikata serangan yang dilancarkan Bun Siauih tadi di tujukan kepadaku, bukankah aku orang she Pek akan menemui ajalnya tanpa mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi? agaknya didalam peristiwa hari ini aku harus baik-baik menjaga diri...."

Teringat akan keadaannya pada saat itu, timbul rasa sangsi dan takut dalam hatinya tetapi bagaimanapun juga dia adalah seorang jago kawakan yang sudah kenyang dengan pengalaman pahit, kendatipun hati kecilnya merasa ngeri dan takut akan tetapi wajahnya tetap tenang dan golakan perasaan hatinya sama sekali tidak diperlihatkan diatas wajahnya.

Terdengar Thong-thian Kaucu berkata.

"Apa yang tertulis dalam catatan batu peringatan dari malaikat pedang Gi Ko? Pek heng mengapa tidak kau utarakan keluar agar kami semua mendapat tambahan pengetahuan?"

Pek Siau-thian mengerutkan dahinya, ia segera berseru.

"Aku tidak habis mengerti, rupanya too-heng lebih suka dipecah belah oleh Siang Tang Lay."

Thong-thian Kaucu putar biji matanya melirik sekejap ke arah kawanan manusia setan yang berkumpul dalam barak lalu sambil tertawa menjawab.

"Pek heng keliru besar, semua peristiwa yang terjadi dalam pertemuan besar Kian ciau tayhwee semuanya berada diluar dugaan, tindakan pinto ini justru hendak membongkar permainan setan dari Siang sicu"

Pek Siau-thian mendengus dingin, tiba-tiba ia mempertinggi suaranya dan berseru.

"Aku orang she Pek akan membaca semua isi tulisan yang berada diatas batu peringatan tersebut, siapa suka mendengar silahkan dengar baik-baik"

Setelah berhenti sebentar, dengan suara lantang ia berkata.

"Sesudah aku tamat belajar, dengan andalkan pedang baja berkelana dalam dunia persilatan, berkat keampuhan perguruan kami semuanya berjalan lancar tidak sampai sepuluh tahun para pendekarku sudah tersohor di kolong langit. Orang muda suka mencari kesenangan siapa tahu karena masalah kecil aku telah salah bertindak, dan salah membunuh pendekar budiman, hasil yang kupupuk selama sepuluh tahun hancur dalam sehari, dalam maluku, aku mengasingkan diri dan tak berani membicarakan soal silat lagi.... waktu berjalan cepat usiaku mencapai seratus tahun, aku merasa tak boleh melenyapkan ilmu silat perguruanku, karena pikiran yang salah maka kepandaian yang kumiliki telah kucatat dalam Kiam keng kitab pedang ini."

Membaca sampai disitu, tiba-tiba ia berhenti, sementara itu ssluruh lembah Cu bu koh telah diliputi kesunyian yang mencekam, semua perhatian para jago sama-sama ditujukan keatas badan Pek Siau-thian.

Tiba-tiba terdengar Ciu It-bong yang ada diatas atap barak berteriak keras.

"Pek loo ji, apa kira-kira selanjutnya?"

Pek Siau-thian menengadah memandang sekejap ke arah atap barak kemudian melanjutkan pembacaannya.

"Dengan pedang ditangan ternyata tak seorang manusiapun di kolong langit mampu menahan seranganku, tak ada benda apapun yang mampu menahan bacokanku, timbul rasa sedih dalam hatiku, dari pada hidup dengan pedang lebih baik hidup tanpa pedang tapi perguruanku turun tumurun mengutamakan pewaris pedang baji ini, berarti dibalik hal tersebut pasti ada maksud tertentu, maka aku tutup diri untuk memecahkan persoalan ini, sembilan belas tahun kemudian aku baru memahami apa artinya ada pedang menangkan tanpa pedang, pedang berat menangkan pedang enteng, agar kepandaian ini tidak lenyap dari pere daran maka kuwariskan ilmu tadi dalam catatan kitab pedang, siapa yang berjodoh akan menerima manfaatnya"

"Apa kata selanjutnya?"

Teriak Cu It Bong dengan suara keras.

"Ahli waris angkatan keempat dari perguruan pedang berat Gi Ko"

Sambung Pek Siau-thian hambar.

"Selanjutnya?"

"Apakah engkau tidak merasa bahwa caramu itu terlalu bernafsu?"

Ejek Pek Siau-thian sinis.

"Hmmm! engkau toh sudah mempunyai perkumpulan Sinkie-pang masa aku tak boleh mendapatkan sedikit saja?"

"Aku takut apa yang kau inginkan tak bakal tercapai sehingga apapun tidak akan kau dapatkan!"

Ciu It Hong segera tertawa seram.

"Heehh.... heehh.... heehhh.... kalau memang begitu aku akan beradu jiwa dengan dirimu sehingga siapapun jangan harap bisa memperoleh kegembiraan"

Thong-thian Kaucu segara tertawa tergelak, serunya.

"Haah.... haaaaah.... haah.... ide dari Ciu heng itu memang tidak jelek, cuma saja harus di coba lebih dulu!"

Pek Siau-thian melirik sekejap ke arah Thian Ik-cu, lalu sambil tertawa dingin katanya.

"Heeeh.... heeh.... heeh.... aku lihat, di kolong langit dewasa ini orang yang ditakuti too heng hanya aku seorang!"

Thong-thian Kaucu tertawa terbahak-bahak.

"Aah....! cuma bergurau belaka, kenapa Pek heng musti menganggap sungguhan?"

Dengan muka serius, ia melanjutkan.

"Peristiwa ini sudah berlangsung beberapa ratus tahun lamanya, aku rasa kitab Kiam keng tersebut tak mungkin bisa diketahui oleh Pek heng sendiri, tapi.... apa pula yang tercantum dalam catatan Kiam keng tadi?"

"Pertaruhan menurut langit, kerugian pasti tersisa, tenaga masih kurang, kekerasan bukanlah kekasaran, keras tapi lincah, lunak bukanlah lemah, rendah diri harus mundur, mundur akibat rendah diri untuk diri sendiri, berjaga yang ketat, sikap waspada dan rahasia, pedang pengusir setan, bocorkan rahasia langit."

Li-hoa Siancu yang mendengar pembacaan itu segera berteriak sambil tertawa.

"Bagus sekali Pek Siau-thian, rupanya engkau sengaja sedang membohongi Siau long, tidak aneh kalau ia selalu meneriakkan untuk ulangi sekali lagi."

Pek Siau-thian mendengus dingin, sebenarnya ia hendak membantah, tetapi ketika teringat olehnya bahwa dia adalah seorang ketua dari suatu perkumpulan besar, cekcok dengan angkatan muda hanya akan menurunkan derajatnya belaka, maka perkataan yang sudah mendekat sampai dibibir segera ditelan kembali.

Dalam pada itu, semua orang yang mengerti akan ilmu silat, diam-diam sedang mendalami beberapa patah kata yang mengandung arti mendalam itu, Thong-thian Kaucu sendiri sudah berpikir sebentar, tiba-tiba bertepuk tangan sambil berseru.

"Benar-benar luar biasa, setiap patah kata semuanya mengandung arti yang sangat dalam.... Dengan dahi berkerut, ia tertawa dan berkata.

"Pek heng, apa kata-kata selanjutnya?"

"Kata-kata selanjutnya telah dihapus orang hingga sama sekali tidak bisa terbaca lagi, kecuali kalau kita dapat menemukan orang yang menemukan batu peninggalan itu lebih dahulu rasanya siapapun tak akan tahu...."

Thong-thian Kaucu mengangguk tiada hentinya diam-diam ia berpikir.

"Perkataan ini sedikitpun tidak salah kalau aku yang pertama kali menemukan catatan kitab Kiam Keng tersebut maka beberapa patah katfa yang pertama pasti akan kuhapus lebih dahulu sehingga tak bisa dibaca orang."

Tampak bayangan manusia berkelebat lewat, Ciu It-bong tahu-tahu sudah melayang turun keatas tanah sambil memandang Siang Tang Lay, ujarnya sambil tertawa.

"Loo Siang, bagaimana kalau kita mengikat tali persahabatan?"

"Haahh.... haahh.... haaahhh.... bagus sekali!"

Sahut Siang Tang Lay sambil tertawa tergelak.

"tempo hari diantara lima orang yang mencelakai diriku meski terdapat pula engkau seorang, tetapi bagaimanapun juga engkau telah mendapat pembalasan yang setimpal, kita masing-masing telah cacad, semua itu berarti senasib sependeritaan, memang sudah sepantasnya kalau kita hapus semua ganjalan sakit hati dan mengikat tali hubungan persahabatan"

Benar ujar Ciu It-bong pula sambil tertawa.

"Siang Loo te engkau terangkan dahulu masalah mengenai batu peringatan tersebut, aku orang she Ciu tetap merasa bahwa persoalan ini mempunyai hubungan yang erat sekali dengan pedang emasmu itu"

Perasaan hati Thong-thian Kaucu pun agak tergerak, ia segera maju kedepan dan berkata.

"Perkataan dari Ciu heng sedikitpun tidak salah, Sian sicu obat yang kau jual dalam cupu-cupumu itu sudah tersimpan terlalu lama sekarang sudah sepantasnyalah kalau engkau bongkar rahasianya"

Siang Tang Lay tertawa keras, beberapa saat kemudian ia baru berkata.

"Kaucu, Ciu loo te tahukah kalian bahwa kuburan pememdam pedang sebenarnya kosong melompong tiada isinya apa pun kenapa secara tiba-tiba bisa muncul batu peringatan?"

"Itulah persoalan yang ingin kami ketahui!"

Jawab Ciu Itbong dengan cepat. Thong-thian Kaucu tertawa sambil mengelus jenggotnya, ia berkata.

"Kalau didengar dari nada ucapan siang sicu, rupanya kemunculan batu peringatan tersebut tidak lebih hanyalah permainan setan dari Siang sicu sendiri?"

Senyuman yang semula menghiasi bibir Siong Tang Lay seketika lenyap tak berbekas, dengan wajah serius sahutnya.

"Persoalan itu memang hasil perbuatanku, tetapi maksud serta tujuanku bukanlah permainan setan seperti apa yang kalian anggap"

Jin Hian yang selama membungkam terus, tiba-tiba berkata dengan suara seram.

"Hmm! apa lagi maksud dan tujuanmu itu kalau bukan untuk memecah belah umat persilatan dan memancing terjadinya pertumpahan darah di antara jago-jago Bu lim sendiri...."

Bersamaan dengan selesainya perkataan itu, tahu-tahu ia sudah berada kurang lebih delapan sembilan depa dihadapan Sing Tang Lay. Pedang sakti yang menyapu daratan Tionggoan tersenyum, ujarnya.

"Orang kuno pernah berkata, bahwa setiap benda akan hancur deggan sendirinya, kemudian muncul ulatnya, kalau seseorang tidak berhati tamak, sekalipun aku berniat jelek juga sukar diperlihatkan"

"Orang Buddha pantang berhati tamak"

Kata Thong-thian Kaucu sambil tertawa, tetapi kalau Thong-thian-kauw kami sama sekali tidak kenal akan kata pantangan, silahkan Siang sicu utarakan saja sebenarnya apa yang terjadi dengan batu peringatan tersebut?"

Siang Tang Lay tersenyum, dengan wajah bersungguhsungguh, katanya.

"Seratus tahun berselang, batu peringatan dan malaikat pedang Gi Ko telah muncul di wilayah See ih, disamping itu terdapat pula sebilah pedang baja, sebilah pedang kecil berwarna emas berserta kotak emas yang berada dalam genggamanku sekarang, keempat macam benda itu semuanya merupakan barang peninggalan dan Malaikat pedang Gi Ko, entah apa sebabnya ternyata semua benda mustika itu sudah terjatuh ketangan leluhurku...."

Ketika mendengar perkataan itu, sorot mata semua orang bersama-sama dialihkan ke arah kotak emas yang berada ditangan Siang Tang Lay tersebut.

Sepasang mata Thong-thian Kaucu benar-benar tajam, dengan wajah merah bercahaya ia tertawa terbahak-bahak, katanya.

"Haahh.... haahh.... haahh.... Malaikat pedang Gi Ko adalah suku bangsa Han, semua pedang peninggalannya didalam kuburan pemendam pedang diatas puncak Ciat in hong bukit Gan tong san, aku rasa hal ini merupakan suatu kenyataan yang tak bisa dibantah lagi"

"Perkataan ini sedikitpun tidak salah"

Sambung Ciu It-bong, mungkin ada orang dari See ih yang berkunjung kedaratan Tionggoan dan mencuri pulang benda mustika yang di sembunyikan leluhur bangsa Han kita dalam kuburan pemendam pedang, kalau tidak me-ngapa benda diatas bukit Gan tong san bisa lenyap tak berkekas dan tiba-tiba muncul di wilayah See Ih...."

"Haahh.... haahh.... haah.... jadi kalau begitu, leluhurku tak bisa menghindarkan diri lagi dari tuduhan mencuri barang mustika milik orang lain?"

Kata Siang Tang Lay. Thong-thian Kaucu tertawa.

"Sebenarnya menemukan benda orang lain yang terbuang bukanlah merupakan dosa besar, tetapi orang bangsa Han kita lebih memandang tinggi leluhur yang telah mati, membongkar peti mencuri barang merupakan dosa yang amat besar, sekalipun tidak tercantum dalam undang-undang tapi siapapun tak berani melanggar pantangan ini, kalau tidak bukankah barang peninggalan leluhur bangsa Han kita bakal dicuri s mua oleh orang lain?"

Ciu It-bong mengangguk.

"Perkataan dari kaucu memang sangat masuk diakal, tetapi orang suku Oh tidak kenal dengan peraturan adat suku bangsa Han, siapa tidak tahu dia tidak salah, hal ini masih dapat dimaafkan!"

Thong-thian Kaucu tertawa dan mengangguk, sambil berpaling ke arah Siang Tang Lay segera ujarnya lagi.

"Tiang sicu, harap teruskan perkataanmu, bagaimana selanjutnya?"

Siang Tang Lay tersenyum, sahutnya.

"Leluhurku segera melakukan penyelidikan yang seksama, setelah bersusah payah beberapa saat akhirnya beliau berhasil memahami kitab pedang yang disebut sebagai Kiam keng oleh malaikat pedang Gi Ko itu sebenarnya tersimpan dalam kotak yang ku bawa ini"

Mendengar perkataan itu, gemparlah suasana dalam lembah ter-sebut, semua orang dengan sorot matanya yang tajam bagaikan sambaran kilat sama-sama dialihkan keatas kotak emas itu tanpa berkedip.

Siang Tang Lay tertawa terbahak-bahak, mendadak ia berpaling dan serunya kepada anak murid yang ada dibelakang.

"Bawalah kotak mustika ini kedepan agar para enghiong serta orang gagah bisa ikut menikmatinya"

Seorang pemuda berpakaian ringkas segera mengiakan, dengan membawa kotak berwarna kuning emas yang berada dalam pangkuan Siang Tang Lay itu ia berjalan menuju kehadapan Thong-thian Kaucu .

"Tunggu sebentar...."

Tiba-tiba terdengar Lan-hoa Siancu membentak nyaring.

Mendengar bentakan tersebut, pemuda berpakaian ringkas itu segera berhenti dan berpaling ke arah Siang Tang Lay menantikan petunjuk.

Siang Tang Lay mengerutkan dahinya menyaksikan hal itu tegurnya.

"Nona ada petunjuk apa?"

Perlahan-lahan Lan Hhoa siancu maju kedepan sambil tertawa merdu jawabnya.

"Siang locianpwee, Gi Ko menyebut dirinya sebagai malaikat pedang, aku rasa ia pasti tersohor karena kepandaian ilmu pedangnya bukan?"

Siang Tang Lay termenung sebentar lalu menjawab.

"Tentang soal itu sih belum tentu demikian, menurut perkiraanku ia dapat disebut sebagai malaikat lantaran perbuatan selama hi dupnya adalah bijaksana dan ramah, oleh sebab itulah mendapatkan penghormatan dari orang lain"

"Hihhih hihhih hiiiih,"

Lan-hoa Siancu tertawa cekikikan.

"benar, bagi orang yang saleh dan berbudi seperti dia, sepantasnya kalau benda mustika peninggalannya dihadiahkan kepada orang yang saleh dan berbudi pula."

Ciu It-bong melotot dengan sepasang matanya bulat-bulat, dengan gusar bentaknya.

"Kalau engkau tidak ingin mati, lebih baik kalau bicara sedikit-lah tahu diri."

Lan-hoa Siancu pun melototkan matanya bulat-bulat, ia tertawa dingin dan balas membentak.

"Siapa yang kesudian berbicara dengan dirimu? Hmm! sekalipun engkau tidak berbicara akupun sudah tabu bahwa dirimu adalah seo rang manusia rendah yang tak tahu malu"

Ciu It-bong semakin gusar, telapak kiri nya segera diayun siap melancarkan serangan. Terdengar Siang Tang Lay tertawa terbahak-bahak dan berseru.

"Haahh.... haahhh.... haahhh.... Ciu loo te, kalau engkau tidak ingin mampus, lebih baik janganlah bertindak secara gegabah."

Ciu It-bong turunkan kembali tangannya dan berkata dengan nada dingin.

"Terima kasih atas perhatian dari Siang heng meskipun nama besar Kim tok sian cian tersohor sekali di kolong langit tetapi aku orang Ciu tua masih tidak memikirkannya di dalam hati"

Lan-hoa Siancu mencibirkan bibirnya dan mendengus dingin wajahnya menunjukkan sikap memandang hina pada lawannya. Siang Tang Lay tertawa, kembali ujarnya.

"Oooh.... yaa tadi aku lupa bertanya, nona dalah anak murid Kiu-tok Sianci yang ke berapa?"

"Kalau dibicarakan sungguh menyesal sekali, aku adalah Loo toa dan dibawahku masih ada dua belas orang sumoay, Hoa Thian-hong adalah kekasih dari siau sumoayku!"

Mendengar perkataan itu Siang Tang Lay segera tertawa terbahak-bahak.

"Haah.... haah.... haah.... rupanya Leng hoa siancu dari Biau-nia Sam-sian, hampir saja aku bersikap kurang hormat."

"Tidak berani,"

Jawab Leng hoa siancu tertawa.

"sungguh tidak sedikit orang persilatan yang diketahui oleh Siang locianpwee!"

"Aah! mana, mana...."

Sesudah berhenti sebentar, sambil tertawa sambungnya lebih jauh.

"Terus terang saja kukatan, sebenarnya kitab Kiam keng ini hendak kuhadiahkan kepada Hoa kongcu...."

Betul, seharuinya memang demikian tukas Leng hoa siancu dengan cepat. Siang Tang Lang menghela napas panjang, ujarnya kembali.

"Sayang sekali kesadaran otak Hoa kongcu belum pulih, sekalipun aku bermaksud hendak menghadiahkan kitab Kiam keng ini kepadanya, rasanya diperoleh Hoa kongcupun tak ada gunanya, bahkan kemungkinan besar karena membawa benda mustika malahan jiwanya akan ikut melayang!"

"Engkau telah membohongi dirinya pergi kemana?"

Tanya Lan-hoa Siancu dengan dahi berkerut.

"dia adalah saudara dari saudara seperguruan kami kalau engkau berani mencelakai jiwanya maka jangan salahkan kalau akupun akan bersikap kasar terhadap dirimu."

"Aku pernah berhutang budi kepada Hoa tayhiap, karena beliau telah menyelamatkan selembar jiwaku, tidak mungkin aku membalas air susu dengan air tuba dan malahan mencelakai jiwa Hoa kongcu."

Sesudah berhenti, sebentar sambungnya lebih jauh.

"Aku telah memberitahukan suatu tempat pada mereka dan sekarang Hoa kongcu telah pergi kesana untuk merawat penyakitnya."

"Kemana? engkau jangan membohongi dirinya hingga pergi ke wilayah See ih"

"Haahh.... haahh.... haahh.... tentu saja tidak,"

Jawab Siang Tang Lay sambil tertawa terbahak-bahak. Setelah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh.

"Ditempat ini banyak terdapat mata dan telinga yang ikut mendengarkan pembicaraan kita, tempat dimana Hoa kongcu sedang merawat penyakitnya nanti saja kuberitahukan kepada nona"

Lan-hoa Siancu segera mengangguk, tiba-tiba ia tuding ke arah kotak berwarna emas itu sambil bertanya.

"Benarkah isi diri kotak tersebut adalah Kiam Keng kitab ilmu pedang yang amat berharga itu?"

Sedikitpun tidak salah, Siang Tang Lay tertawa dan mengangguk jerih payah Malaikat pedang Gi Ko sepanjang hidupnya telah dicantumkan semua kedalam se

Jilid kitab yang sekarang berada di dalam kotak tersebut.

"Menurut pendapatku, daripada engkau serahkan kepada orang lain yang tidak genab, lebih baik serahkan saja kepada Hoa Hujin untuk menyimpannya kemudian baru diserahkan kepada Hoa Thian-hong...."

Siang Tang Lay gelengkan kepalanya, ia menukas sambil tertawa.

"Hoa Hujin telah mengambil keputusan untuk berjuang sampai titik darah penghabisan, kalau memang ia telah ambil keputusan untuk tidak keluar dari lembah Cu-bukok dalam keadaan hidup lagi, bukankah kitab Kiam Keng ini daripada disimpan olehnya sama saja kalau diserahkan kepada orang lain...."

Setelah berhenti sebentar sambungnya lebih jauh.

"Cuma.... aku hanya akan serahkan kotak ini kepada para jago untuk memandangnya belaka sedangkan kotak ini bakal diserahkan kepada siapa sampai sekarang masih belum dapat dipastikan"

Lan-hoa Siancu tertawa terkekekeh-kekeh mendengar perkataan itu.

"Kalau memang boleh dipandang aku harus melihat dahulu!"

Ia berseru.

"Haah.... haah.... haahh nona, engkau benar-benar seorang gadis yang tinggi hati!"

Kepada muridnya yang membawa kotak emas tersebut serunya.

"Hian cin serahkan Kiam keng tersebut kepada nona itu agar diberikan...."

Pemuda yang bernama Hian cing itu segera mengiakan dengan membawa kotak emas tadi ia segera maju kedepan dan mengangsurkan kedepan.

Lan-hoa Siancu segera menerimanya dan diperiksa dengan seksama, ia lihat kotak tersebut panjangnya delapan cun dengan lebar empat cun, kotak tadi persis untuk menyimpan se

Jilid kitab. Warna kotak kuning keemas-emasan dan memancarkan cahaya tajam, diatas kotak terukirlah dua buah huruf kuno yang berbunyi.

"Kiam Keng"

Atau kitab pedang.

Akan tetapi kotak emas itu seakan-akan sebuah kotak yang berbentuk persegi tanpa celah atau tempat membuka yang nyata, selu ruh kotak bersambungan antara yang satu dengan yang lain, dengan rapat, sehingga membuat orang susah untuk menentukan mana bagian atas mana bagian bawah, apalagi bagaimana cara untuk membukanya.

Dengan cermat Lan-hoa Siancu mengamatinya beberapa saat lamanya, akan tetapi ia gagal untuk menemukan tanda yang mencurigakan, akhirnya sambil tertawa cekikikan ujarnya.

"Bagus sekali! tidak aneh kalau locianpwee bersikap begitu sosial, benda berhala yang tak ternilai ini bersedia diberikan kepada orang lain dengan begitu saja, rupanya diatas kotak itu masih terpasang pula alat rahasia...."

Siang Tang Lay segera tertawa terbahak-bahak.

"Haahh.... haah.... haah.... hati manusia sukar diduga, aku toh bukan seorang manusia tolol"

Terdengar Ciu It-bong berteriak keras.

"Alat rahasia apa? bawa kemari, biar aku yang periksa!"

Lan-hoa Siancu mengerling sekejap ke arah jago tua itu dengan hati mendongkol, ejeknya.

"Huuuh....! kalau dilihat keadaanmu yang begitu gelisah macam monyet kepanasan, sedikitpun tidak mirip sebagai orang kenamaan dalam dunia persilatan....!!"

"Kurang ajar, engkau ingin mampus?"

Bentak Ciu It-bong dengan gusarnya, telapak kirinya diayun dan siap melancarkan sebuah serangan ke arah depan.

Lan-hoa Siancu berlagak pilon dan pura-pura tidak melihat akan datangnya ancaman tersebut, sambil menggoncangkan kotak berwarna kuning emas itu ujarnya kembali sambil tertawa.

"Hmmm.... nampaknya isi kotak ini benar-benar adalah se

Jilid kitab...."

"Barang asli dengan nilai yang tinggi, kenapa aku musti memalsukan keaslian kotak tersebut?"

Lan-hoa Siancu menutar biji matanya, tiba-tiba dengan wajah agak berubah serunya manja.

"Siang locianpwee, bagaimana sih caranya membuka kotak ini? aku pingin sekali kitab tersebut!"

Thong-thian Kaucu yang mendengarkan perkataan itu, segera merasakan hatinya agak bergerak, pikirnya.

"Gadis suku Biau paling romantis dan hangat, paras mukanya cantik jelita bagaikan bunga bahkan mempunyai daya rangsang yang luar biasa andaikata aku bisa mendapatkan gadis ini, ooh! betapa bahagianya dan nikmatnya hidupku...."

Berpikir sampai disini ia segera tertawa tergelak, serunya.

"Siang sicu anak murid Kiu-tok Sianci selamanya tidak pernah menggunakan pedang sekalipun kitab Kiam keng tersebut diperlihatkan kepadanya pinto rasa tidak menjadi soal bukan?"

"Huuuh....! siapa yang suruh membaiki diriku?"

Seru Lan hoa Sian cu dengan wajah berubah. Thong-thian Kaucu mengelus jeoggotnya dan kembali tertawa tergelak.

"Haahh haahh haahhh apakah engkau tidak ingin melihat sekejap kitab pedang tersebut?"

Serunya.

"Kitab pedang tersebut adalah suatu benda mustika yang diimpikan serta diinginkan oleh umat persilatan di kolong langit"

Ujar Siang Tang Lay.

"oleh karena itu kecuali majikannya yang terakhir siapapun dilarang untuk melihat kitab tersebut!"

"Mengapa?"

Tanya Lan-hoa Siancu tercengang.

"Perduli siapapun asalkan orang itu dapat melihat kitab Kiam Keng tadi serta membaca sepatah atau dua patah kata dari isinya maka kendatipun batok kepalanya bakal dipenggal ia tak akan melepaskan tangannya"

"Apakah engkau sendiri telah membaca kitab tersebut?"

Tanya Ciu It-bong dengan dahi berkerut. Siang Tang Lay gelengkan kepalanya dan tertawa Kalau aku pernah membaca kitab tersebut tak mungkin kitab ini kuhadiahkan kepada orang lain.

"Hmmm! kalau memang belum pernah membaca dirimana engkau bisa tahu kalau kitab pedang itu luar biasa isinya? siapa tahu kalau isinya cuma biasa saja dan tak ada yang hebat?"

Siang Tang Lay kembali gelengkan kepalanya berulang kali.

"Tahukah engkau, serangkaian ilmu silat yang kumiliki berasal dari mana?"

Ia bertanya.

"Bukankah ilmu silat dari Siang loo te berasal dari pelajaran gurumu....?"

Siang Tong Lay tersenyum dan menggelengkan kepalanya, walaupun ia tidak buka suara namun semua orang mengetahui bahha ilmu silatnya bukan hasil pelajaran diri gurunya.

Ciu It-bong segera melotolkan sepasang matya bulat-bulat.

Kalau begitu pastilah ibu gurumu yang secara diam-diam wariskan kepadamu!"

"Haaahh.... haah.... haahh.... hanya ilmu silat dari Ciu Loo le yang di ajarkan ibu guru secara diam-diam, rangkaian ilmu silat yang kumiliki tidak lain adalah hasil dari mempelajari catatan kitab pedang yang terdiri dari beberapa huruf belaka itu. Pek Siau-thian yang mendengar pembicaraan tersebut sampai disitu segera merasakan hatinya bergetar keras, pikirnya.

"Tua bangka ini pasti omong kosong dan ngaco belo tidak karuan, dari limapuluh delapan kata yang begitu singkat mana mungkin bisa menciptakan rangkaian ilmu silat yang begitu ampuh dan luar biasanya"

Berpikir sampai disitu, secara diam-diam dia mengulangi kembali kelima puluh delapan patah kata dari catatan ilmu pedang tersebut, ia merasa bahwa kelima puluh delapan patah kata itu memang mengandung dasar ilmu silat yang sangat tinggi dan mendalam, setiap patah kata mengandung perubahan dan pemecahan yang tak terhingga banyaknya, tetapi kalau dikatakan ilmu silat yang dimiliki Siang Tang Lay seluruhnya didapatkan dari sana, hal ini kedengarannya agak berlebihan.

Terdengar Ciu It-bong berkata.

"Siang Loo te, hanya berdasarkan catatan ilmu pedang saja engkau dapat memiliki ilmu silat selihay itu, kalau engkau mempelajari pula ilmu silat yang tercantum dalam kitab Pedang, bukankah ilmu silatmu akan tiada tandingannya di kolong langit? kenapa tidak sekalian kau pelajari kitab mustika tersebut?"

Siang Tang Lay mengerutkan dahinya lalu menjawab.

"Ciu Loo te sekalipun aku tidak mempelajari kitab pedang, dengan kepandaian silat yang dimiliki siapakah yang mampu menandingi dirinya.... Sesudah berhenti sebentan, sambil tertawa lanjutnya.

"Coba lihatlah Hoa Thian-hong, ia hanya mengetahui beberapa patah kata yang paling depan saja tetapi ilm u pedangnya sudah mencapai tarap yang sebegitu dahsyatnya sehin ga setiap jurus serangan yang dilepaskan mengandung daya penghancur yang maha besar membuat Pek lo pangcu pun tidak mampu mempertahankan diri!"

Diam-diam Ciu It-bong berpikir dalam hatinya.

"Perkataan dari orang tua ini sedikitpan tidak salah, kalau ditinjau dari peraturan yang berlangsung tadi, seandainya Pek Siau-thian tidak segera mengacaukan pikiran Hoa Thian-hong mungkin sedari tadi ia sudah menemui ajalnya diujung pedang bocah tersebut...."

Tiba-tiba terdengar Thong-thian Kaucu tertawa dan berkata.

"Siang sicu, ucapanmu membuat pinto jadi kegirangan sekali, aku rasa perkataan yang tak ada gunanya lebih baik tak usah dibicarakan lagi, sekarang sudah sepantasnya kalau kau perlihatkan kitab pedang itu kepada kami agar kami semua mengetahuii apakah kitab itu palsu atau tidak, kemudian persoalan lain baru dibereskan kembali...."

"Hal ini sudah tentu saja"

Jawab Siang Tang Lay, ia segera berpaling ke arah Lan-hoa Siancu dan berseru.

"Nona engkau toh sudah melihat kotak itu, sekarang sudah sepantasnya kalau engkau berikan kotak tadi kepada beberapa orang jago itu.

"Lan-hoa Siancu tertawa cekikikan.

"Hiih.... hiih.... hiih! aku merasa agak keberatan untuk melepaskan benda yang demikian indahnya"

"Haaah.... haah.... haah.... setiap benda mempunyai pemiliknya, sekalipun kau merasa sayang tapi apa boleh buat, benda itu toh bu kan menjadi milikmu.

"Hmmm! siapa yang kesudian dengan benda ini, sambil mencibirkan bibirnya Lan-hoa Siancu segera melemparkan kotak emas itu kehadapan muka Pek Siau-thian, kemudian dengan hati mendongkol kembali kedalam barak. Pek Siau-thian yang menyaksikan benda mustika itu terjatuh kehadapannya, ia segera merasakan jantungnya berdebar keras, pikirnya.

"Jangan-jangan inilah yang dinamakan takdir, mungkinkah aku memang sudah ditakdirkan untuk merajai seluruh kolong langit?"

Berpikir sampai disitu, jago tua tersebut tak dapat menahan golakan perasaan dalam hatinya lagi, ia segera berjongkok untuk mengambil kotak emas tersebut.

"Pek heng, jangan sentuh benda tersebut! tiba-tiba Thongthian Kaucu membentak keras. Sepasang telapak didorong kemuka, segulung angin pukulan yang dingin dan tajam dengan cepat meluncur kedepan. Ciu It-bong dengan tangan kirinya melancarkan pula sebuah pukulan yang maha dahsyat kedepan. Jin Hiang yang melihat kedua orang jago itu sudah turun tangan, ia segera ayun telapaknya melancarkan pula satu pukulan gencar kedepan. Tiga gulung angin pukulan yang maha dahsyat serentak menerjang ke arah Pek Siau-thian, dimana gulungan angin puyuh menyambar lewat, terdengarlah desingan angin t jam yang memekikan telinga. Pek Siau-thian merasa terkejut bercampur gusar, ia segera menjejakkan kakinya dan meloncat dua tombak ketengah udara untuk meloloskan diri dari serangan tersebut.

"Blaamm!"

Tiga gulung angin pukulan saling membentur satu sama lainnya menimbulkan pusaran angin puyuh yang maha dahsyat, begitu kencang gulungan angin tersebut hingga mengibarkan baju Pek Siau-thian.

Sementara kotak emas tadi masih tetap berada ditempat semula tanpa bergeser sedikit pun jua.

Pek Siau-thian melayang turun kembali keatas tanah dengan muka pucat bagaikan mayat, ia berseru penuh kegusaran.

"Thian Ik-cu kalau memang bernyali bagaoimana kalau kita berduel lebih dahulu satu babak?"

"Eeei hidang kerbau tua" , teriak Ciu It-bong dengan cepat "engkau ditantang oleh Pek loo ji hantam saja tua bangka itu masa engkau tidak berani?"

Thong-thian Kaucu tertawa terbahak-bahak.

"Haaah.... haah.... haahh Pek heng, hawa amarahmu benar-benar besar sekali, masa cuma begitu raja engkau harus marah-marah besar?"

Serunya.

"Hmm! meskipun tabiat aku orang she Pek baik, aku tak akan mengalah untuk kedua kalinya terhadap dirimu"

Sambil berkata kembali ia berjongkok untuk mengambil kotak emas tersebut.

Thong-thian Kaucu , Jin Hian dan Ciu It-bong saling bertukar pandangan sekejap, tiba-tiba mereka ayunkan telapaknya dan bersama-sama melancarkan sebuah pukulan dahsyat kedepan.

Ujung jari tangan Pek Siau-thian hampir saja menyentuh kotak emas tersebut ketika segera tiba-tiba terdengar desingan angin tajam meluncur tiba, ia tahu dalam keadaan demikian bila dirinya lanjutkan niat untuk mengambil kotak emas tersebut, kendatipun kotak tadi berhasil didapatkan akan tetapi ia pun bakal terluka dibawah serangan gabungan ketiga orang itu.

Dalam keadaan apa boleh, buat terpaksa ia enjotkan badannya dan menerobos keluar melewati celah antara angin pukulan yang di lancarkan Jin Hian dan Ciu It-bong.

Siang Tang Lay yang menyaksikan kejadian itu segera tertawa terbahak-bahak.

"Gerakan tubuh yang sangat indah, nama besar ketua perkumpulan Sin-kie-pang benar-benar bukan nama kosong belaka....!"

Air muka Pek Siau-thian berubah jadi hijau membesi, ia maju sambil melancarkan serangan, segulung angin puyuh yang tajam langsung menghantam keatas tubuh Thong-thian Kaucu .

"Pek heng, apakah engkau benar-benar ingin berkelahi"

Bentak Thong-thian Kaucu .

Tangan kirinya diayun memotong pergelangan musuh, tangan kanannya dengan jurus Im kay kian jit atau awan hilang muncullah sang surya melancarkan satu pukulan kedepan.

Serangan tersebut tersembunyi dibalik ujung jubah kirinya dan dilancarkan secara tiba-tiba, ancaman itu sangat bahaya dan luar biasa sekali.

Pek Siau-thian dalam gusarnya, penjagaan tubuhnya agak mengendor tapi dalam sekejap mata otaknya dapat didinginkan kembali, menyak sikan datangnya serangan yang begitu dahsyat ia tak berani menyambut dengan lawan keras, sepasang kakinya segera menjejak tanah dan berkelit ke arah samping Jin Hian yang berdiri dibelakangnya ketika menyaksikan Pek Siau-thian berdiri membelakangi dirinya dalam jarak lima enam depa merasa amar girang, pikirnya.

"Inilah kesempatan baik bagiku untuk melukai dirinya apa yang harus kutunggu lagi?"

Tanpa mengucapkan sepatah katapun, secara diam-diam dia ayun telapaknya melancarkan pukulan dahsyas.

0000O0000 SERANGAN yang dilancarkan ketiga orang itu tanya selisih waktu amat sedikit sekali.

Ciu It-bong ketika menyaksikan ada kesempatan baik segera memanfaatkan secara baik-baik, dengan badan menempel diatas tanah ia bergeser kedepan dan menyambar kotak emas diatas tanah.

Begitu Ciu It-bong bergerak, Pek Siau-thian sekalian segera menyadari akan hal itu, Jin Hian pertama-tama yang putar badan sambil melancarkan serangan ke arah Ciu It-bong, sedangkan Pek Siau-thian dan Thong-thian Kaucu satu dari kiri yang lain dari kanan bersamaan waktunya menubruk kedepan.

Ciu It-bong tertawa terbabak-bahak, setelah berhasil menyambar kotak emas tersebut, tubuhnya segera menggelinding kesamping menghindarkan diri dari hantaman ketiga orang itu.

Diantara keempat anggota badannya ada tiga diantaranya telah cacad, sisa sebuah tangan yang dimilikinya digunakan untuk memegang kotak emas tersebut, dengan sendirinya ia tak ada kemampuan untuk melakukan serangan lagi.

Maka telah lolos dari ancaman musuh, ia segera berdiri tegak ditempat semula tanpa berkutik, Thong-thian Kaucu , Pek Siau-thian dan Jin Hian pun secara otomatis menghentikan serangannya sambil mengurung Ciu It-bong rapat-rapat.

Haruslah diketahui tiga bibit bencana dari dunia persilatan ini dapat hidup berdampingan selama banyak tahun tanpa mengalami bentrokan, apapun hal ini disebabkan kekuatan dari ketiga belah pihak seimbang dan sama kuat, ilmu silat yang dimiliki ketiga orang pemimpin merekapun seimbang pula, andaikata ada satu pihak berhasil melampaui kekuatan pihak yang lain maka hal ini akan dianggap sebagai ancaman bahaya bagi kedua belah pihak yang lain, karena itulah rasa curiga dan was-was diantara sesama pihak sangat tebal dan kuat sekali.

Kotak tersebut berisikan kitab pedang yang tak ternilai harganya, seandainya benda berharga itu sampai terjatuh ketangan Pek Siau-thian dan berhasil dibawa kabur, maka kejadian ini akan merupakan mara bahaya yang besar sekali bagi keamanan dua golongan lainnya.

Sebaliknya kalau terjatuh ketangan Ciu It-bong, maka keadaannya lain sebab masing-masing pihak tidak usah merisaukan salah satu pihak diantara mereka akan melampaui kekuatan mereka.

Cui It Bong hanya ada musuh dan tak punya kawan, orang sendiripun tahu bahwa posisinya dalam lembah Cu-bu-kok pada saat ini sangat tidak menguntungkan, walaupun pada saat ini ia berhasil mendapatkan kotak emas tersebut, akan tetapi untuk membawa kabur kotak emas itu dari kepungan musuh jelas bukan suatu pekerjaan yang gampang.

Diam-diam ia segera berpikir didalam hatinya.

"Perduli amat bakal mati atau hidup, aku harus bertarung lebih dahulu dengan mereka kemudian baru diputuskan lagi...."

Berpikir sampai disini, ia segera mendongak dan tertawa ter-babak-bahak, serunya.

"Siang loo ji, seandainya isi kotak ini bukan kitab pedang, melainkan adalah seekor ular beracun...."

Belum habis ia berkata tiba-tiba air mukanya berubah hebat, kelima jarinya mengendor dan hampir saja kotak emas itu terjatuh dari genggamannya.

Thong-thian Kaucu yang menyaksikan hal itu segera tertawa, serunya.

"Ciu tua apakah tanganmu telah digigit ular beracun? cepat lemparkan kotak tersebut kemari"

Ciu It-bong memutar sepasang biji matanya kemudian berteriak keras.

"Jin Hian, engkau telah merampas pedang emasku, sekarang biarlah kotak ini kuserahkan pula kepadamu!"

Sambil berkata ia segera melemparkan kotak emas tersebut kedepan. Jin Hian bukan seorang yang bodoh mendengar seruan tersebut diam-diam pikirnya dalam hati.

"Ciu It-bong mempunyai hubungan dendam yang amat mendalam dengan diriku, tak mungkin ia berikan kotak tersebut kepadaku dengan rela hati, dibalik kejadian ini pasti ada permainan setannya."

Berpikir sampai disitu, sebelum ia sempat ambil keputusan, kotak emas tadi telah meluncur kehadapannya.

Terbayang bahwa benda itu adalah sebuah benda mustika yang sukar didapatkan kendatipun harus beradu jiwa, buruburu ia menggulung ujung bajunya dan menangkap kotak emas itu dengan dilapisi kain baju pada tangannya.

Ketika sorot matanya dialihkan kedepan maka tampaklah kelima jari tangan Ciu It-bong dalam waktu singkat telah berubah jadi hitam membekas, wajahnya yang semula berwarna merah bercahayapun kini dilapisi oleh hawa hitam, sekilas memandang dapat diketahui orang itu sudah terkena sejenis racun keji yang sangat lihay.

Pek Siau-thian yang menyaksikan kejadian itu diam-diam berpikir dalam hatinya.

"Sungguh berbahaya! sungguh berbahaya! tadi, seandainya benda tersebut berhasil kudapatkan, maka orang yang keracunan pada saat ini bukan Ciu tua melainkan adalah aku...."

Makin berpikir ia merasa semakin ngeri sehingga tanpa terasa keringat dingin mengucur keluar membasahi tubuhnya. Terdengar Thong-thian Kaucu tertawa dan berkata.

"Pek heng, jangan lupa dengan budi pertolongan yang kuberikan kepadamu lho"

"Hmm! Pek Siau-thian mendengus dingin, aku tak nyana kalau kaucu adalah orang yang berhati haik, kalau begttu aku telah salah menuduh orang!"

Sreeet....!

terdengar Jin Hian merobek ujung bajunya dan digunakan untuk membungkus kotak emas tersebut, setelah itu ia merobek pula ujung baju yang lain untuk melapisi bungkusan yang pertama tadi, setelah itulah dengan membawa kotak emas tadi ia berlalu dari gelanggang.

Thong-thian Kaucu dan Pek Siau-thian segera saling bertukar pandangan sekejap dua orang itu dengan cepat menggerakkan tubuhnya menghadang jalan pergi Jin Hian.

Melihat jalan pergi dihadang, ketua dari perkumpulan Hong-im-hwie itu segera melototkan matanya bulat-bulat sambil tertawa dingin, tegurnya.

"Apa maksud kau berdua menghalangi jalan pergi? apakah kalian hendak menantang aku untuk bergebrak?"

Thong-thian Kaucu segera tertawa terbahak-bahak, sahutnya.

"Haah haah haah.... Jin Hian jangan lupa, tiga maha besar dan dunia persilatan telah mengadakan perjanjian kerja sama"

"Heeh.... heeh.... heeh....! aku ssma sekali tidak melupakan akan hal itu"

Jawab Jin Hian sambil tertawa dingin, tetapi aku masih ingat bahwa perjanjian tersebut hanya menyangkut tentang pertahanan dan penyerangan, toh tidak ada larangan yang tidak memperkenankan aku untuk menerima hadiah dari sahabat.

"Orang Persilatan lebih mengutamakan soal setia kawan, kalau memang diantara kita sudah terikat oleh perjanjian maka itu berarti ada kesusahan dipikul bersama ada kebahagiaan dinikmati bersama, andaikata Jin heng begitu tamak dan lupa pada teman, apakah tindakan itu tak akan mengecewakan hati sahabat lainnya?"

Sreeet!

Sreeet!

desiran angin tajam berkelebat lewat, Yansan It-koay dan Liong-bun Siang-sat tiga jago din parkumpulan Hong-im-hwie segera menceburkan diri kedalam arena.

Menyaksikan tindakan musuh, Pek Siau-thian segera mendengus dingin, serunya.

"Orang-orang dari perkumpulan Hong-im-hwie banyak apakah dari pihak Sin-kie-pang kekurangan manusia?"

Sambil berkata ia segera ulapkan tangannya....

Cukat racun Yau Sut dengan cepat memimpin belasan orang pelindung hukum dari panji kuning terjunkan diri pula kedalam gelanggang dan mengepuug Yan-san It-koay serta Liong-bun Siang-sat erat-erat, suasana seketika berubah jadi tegang dan serius, salah bicara sepatah kata saja pasti akan menimbulkan benturan hebat.

Diam-diam Jin Hian segera berpikir.

"Kalau terjadi bentrokan saat ini, sudah jelas pihak Thong-thian-kauw akan membantu perkumpulan Sin-kie-pang, dalam keadaan tercekat perkumpulan Hong-im-hwie kami pasti akan mengalami kerugian besar. Berpikir sampai disini, terpaksa ia menahan hawa amarah yang berkobar dalam dadanya, ia berseru.

"Pek heng, apakah engkau siap bentrok lebih dahulu dengan perkumpulan Hong-im-hwie kami?"

Siaute sudah terdesak oleh keadaan, mau jadi sahabat atau musuh terserah pada pilihan Jin heng sendiri.

Pek Siau-thian adalah satu-satunya orang yang pernah menyaksikan sendiri kehebatan catatan kitab pedang, bagi dirinya daya tarik kitab pedang tersebut jauh melebihi siapapun juga, sekalipun harus terjadi bentrokan langsung dengan pihak lain, ia tak akan membiarkan Kitab Pedang tersebut terjatuh kepihak lain.

Sementara itu Thong-thian Kaucu telah tertawa keras dan berkata.

"Jin heng, semua orang gagah di kolong langit telah berkumpul semua dalam lembab Cu-bu-kok ini, mati hidup tiga kekuatan besar dalam dunia persilatan harus ditentukan didalam pertemuan besar Kian ciau tayhwee ini, aku harap engkau berpikir tiga kali sebelum bertindak. Jin Hian segera alihkan sorot matanya melirik sekejap ke arah rombongan yang dipimpin oleh Hoa Hujin, kemudian melirik pula ke arah kelompok makhluk setan tersebut secara tiba-tiba ia merasakan hatinya bergidik pada saat itu juga ia merasa betapa lemah dan kecilnya kekuatan dari perkumpulan Hong-im-hwie, dalam suasana menang kalah sulit diramalkan, menggunakan kekerasan hanya akan merugikan pihaknya sendiri. Sebagai seorang jJago kawakan yang berakal panjang, ia segera merasakan gelagat yang sangat tidak menguntungkan pihaknya, dengan wajah serius segera katanya.

"Isi kotak emas ini belum tentu adalah kitab pedang, bagaimanakah menurut pendapat too heng?"

"Menurut pendapat pinto, tidak mungkin Siang sicu menghadiahkan benda mustika kepada kita semua, apa salahnya kalau Jin heng berusaha untuk membuka kotak emas itu lebih dahulu serta melihat apakah isi kotak itu yang sebenarnya...."

"Hmm! diatas kotak emas ini terlapis racun yang sangat keji, dalam keadaan situasi seperti ini, aku tidak ingin menempuh bahaya yang sama sekali tak ada gunanya!"

Thong-thian Kaucu tersenyum.

"Kalau memang Jin heng tidak ingin menempuh bahaya, bagaimana kalau pinto saja yang mewakili? kalau isi kotak emas itu bukan kitab pedang yaa sudahlah tapi kalau isinya memang kitab pedang maka kita dapat membaginya jadi tiga bagian, setiap golongan mendapat satu bagian bukankah hal ini merupakan suatu kejadian yang sangat bagus?"

Diam-diam Jin Hian menilai keadaan disekitarnya, ia merasa kecuali bertindak demikian, rasanya meming tiada jalan lain lagi, maka koak emas tersebut segera dilemparkan kedapan, ujarnya dengan suara dingin.

"Kitab pedang tersebutt berada disini. Nah, benar atau tidaknya silahkan too beng periksa sendiri"

Ketika kotak tersebut dilemparkan ketanah, tenaga sambitan yang dipergunakan adalah tenaga Im yang lunak serta tenaga Yang yang kuat.

Ketika kotak emas tersebut dilemparkan ke arah depan Thong-thian Kaucu , sewaktu mencapai ditengah jalan mendadak berubah jadi kilatan cahaya emas dan meluncur makin dahsyat kedepan.

"Tua bangka ini benar-benar kejam!"

Maki Thong-thian Kaucu didalam hatinya.

Teringat akan racun keji yang berada di atas kotak emas tersebut, hingga mengakibatkan Ciu It-bong yang lihaypun kena dipecundangi, maka sebagai seorang manusia yang licik imam tua itu merasa bahwa lebih baik kehilangan muka danpada menempuh bahaya dengan percuma.

Menyaksikan kotak emas tersebut meluncur datang, tangannya dengan cepat berputar melancarkan satu pukulan berhawa lunak ke depan untuk menahan daya luncur kotak tadi....

Sreeet!

kotak emas tersebut dengan membentuk gerakan satu lingkaran busur segera terjatuh kembali keatas tanah.

Terdengar Siang Tang Lay tertawa terbabak-bahak dan mengejek.

"Haaah.... haah.... haah.... Tootiang, engkau musti berhati-hati, siapa tahu kalau isi kotak emas itu bukan kitab pedang malaikat adalah obat peledak yang maha dahsyat dan maha keji?"

"Ucapan Siang beng sedikitpun tidak salah, berhati-hati memang merupakan tindakan yang jitu"

Imam tua tersebut segera berpaling dan berseru keras.

"Cing liang, bukalah kotak emas itu dan coba periksa benda apa yang tersimpan dalam kotak tersebut!"

Dari dalam barak berjalan keluar seorang imam kecil berbaju merah, setelah memberi hormat kepada Thong-thian Kaucu , ia menge-nakan seperangkat sarung tangan terbuat dari kulit menjangan dan segera memungut kotak emas tadi.

Sarung tangan kulit menjangan itu adalah sarung tangan yang di pergunakan untuk melepaskan pasir beracun, Cing lian meminjam dari rekan seperguruannya sebelum maju ke tengah gelanggang, oleh karena itu dapatkah dipergunakan untuk menahan racun keji yang melekat diatas kotak emas tersebut, ia tak punya keyakinan.

Baru saja kotak emas itu dipegang ditangan, keringat dingin terasa mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, jantung berdebar keras dan hatinya bergidik.

Ketika kotak emas itu diteliti dengan seksama, ternyata kotak itu terdiri dari satu wadah yang utuh tanpa sambungan, persis bagaikan sekeping batang emas, ketika kotak tadi digoncangkan maka terasa isinya berupa se

Jilid kitab, cuma saja walaupun sudah dicari kian kemari letak tombol rahasia untuk membuka kotak tersebut belum ketemu juga.

Dalam pada itu sorot, mata semua orang yang ada didalam lembah bersama-sama ditujukan keatas tangan Cing lian, ketika melihat imam cilik itu membolak balikkan kotak emas tersebut tanpa berhasil menemukan alat rahasianya hingga hati jadi gelisah dan keringat mengucur tiada hentinya, para jago ditepi gelanggangpun ikut merasa gelisah.

Tiba-tiba dari dalam barak berkumandang suara teriakan seseorang.

"Coba gosoklah tulisan Kiam keng tersebut dengan jari tanganmu....!"

Mendengar teriakan tersebut Cing lian segera menggosok tulisan Kiam keng tadi dengan jari tangannya, tetapi keadaan kotak tersebut masih tetap seperti sedia kala, sedikitpun tiada berubah apapun jua.

Mendadak Thong-thian Kaucu berseru.

"Papas saja kotak emas itu dengan senjata, tapi engkau musti berhati-hati, jangan sampai merusak isi kotak tersebut...."

Cing lian letakkan kembali kotak emas tadi keatas tanah, kemudian cabut keluar sebilah pedang pendek yang memancarkan cahaya tajam.

Pedang pendek tersebut memancarkan sinar yang amat menyilaukan mata, membuat siapapun yang melihat segera akan mengetahui bahwa pedang tersebut adalah sebilah pedang mustika yang tajamnya bukan kepalang.

Cing lian segera menggerakkan pedang pendeknya membacok kotak emas itu....

Criiing!

cahaya tajam berkilauan, ketika ujung pedang tersebut menggurat diatas permukaan kotak, ternyata kotak tadi masih tetap utuh dan sedikitpun tidak meninggalkan bekas.

Menyaksikan hal itu para jago yang berada didalam barak sama-sama memperdengarkan jeritan kaget.

Jago lihay yang hadir dalam lembah Cu-bu-kok banyak sekali, semua orang dapat melihat betapa tepatnya babatan pedang yang dilancarkan oleh Cing liang tersebut, tetapi kenyataan membuktikan lain, ternyata kotak emas itu masih tetap utuh seperti sedia kala, dan pedang yang begitu tajam pun sama sekali tidak mempan, kejadian ini membuat orangorang tidak habis berpikir.

Merah padam selembar wajah Cing lian karena kegagalannya itu, dengan cepat ia tenangkan hatinya dan sekali lagi melancarkan babatan ke arah kotak emas tadi.

Ia merupakan murid kebanggaan dari Thong-thian Kaucu , baik ilmu pedang maupun tenaga dalamnya telah mencapai puncak kesempurnaan, benda sekeras dan sekuat apapun bila termakan babatan pedangaya ini niscaya akan terpapas dan kutung.

Siapa tahu ketika cahaya tajam berkelebat lewat, kotak emas itu masih tetap utuh sepeati sedia kala, sedikitpun tidak mengalami cedera apapun juga.

Pek Siau-thian merasakan jantungnya berdebar keras, pikirnya.

"Cukup melihat wadah kotak emas itu sudah menunjukkan suatu benda mustika yang tak ternilai harganya, benda yang tersimpan dalam kotak emas itu jelas jauh lebih tak ternilai harganya"

Jalan pikiran Jin Hian maupun Pek Siau Thiin tidak berbeda satu sama lainnya, dua orang itu sama-sama merasakan jangtungnya ber debar dan wajahnya berubah jadi merah padam, disamping itu otak merekapun bekerja keras untuk mengambil Keputusan tentang tindakan selanjutnya, mereka semua berpendapat bahwa kotak itu tak boleh sampai terjatuh ketangan pihak lain.

Tiba-tiba terdengar Thong-thian Kaucu membentak keras.

"Bawa kemari pedang mustika Boan liong poo kiam ku!"

Mendapat perintah tersebut, Cing lian buru-buru kembali kedalam barak dan sejenak ke-mudian telah muncul kembali sambil membawa sebilah pedang antik yang berkulit kuda, pada gagang pedang terukir seekor naga yang sangat indah dan mempersonakan hati.

Thong-thian Kaucu segera mencekal sarung pedang dengan tangan kiri, gagang pedang dengan tangan kanan....

Criing!

sekilas cahaya hijau memancar keempat penjuru dan tahu-tahu muncullah sebilah pedang mustika yang amat tajam.

"Pedang bagus!"

Puji Siang Tang Lay tanpa terasa.

Begitu pedang tadi dicabut keluar orang yang berdiri beberapa tombak disekelilingnya seketika merasakan hawa dingin yang merasuk ketulang sum sum.

Sudah lama orang kangou mendengar bahwa Thong-thian Kaucu memiliki sebilah pedang mustika Boan liong Poo kiam yang tajam tetapi semua orang selain anggota perkumpulan hanya pernah mendengar belum pernah melihat sendiri, sekarang setelah melihat ketajaman pedang tadi, diam-diam semua orang merasa kagum dan memuji tiada hentinya.

Thong-thian Kaucu tersenyum bangga, katanya.

"Pedang ini ketajamannya luar biasa dan tiada benda yang mampu menandingi ketajamannya, tapi kalau memang tusukan pedang ini pun tak berhasil, yaa.... apa boleh buat lagi!"

Perlahan-lahan ia maju kedepan, ujung pedangnya ditempelkan diatas kotak emas itu kemudian mengerahkan tenaganya dan menusuk kebawah. Siang Tang Lay tertawa katanya.

"Kaucu kau harus berhatihati, andaikata kitab pedang yang berada didalam kotak itu sampai hancur dan rusak waah kerugian yang harus diderita cukup besar...."

Thong-thian Kaucu tetap membungkam dalam seribu bahasa, ujung pedangnya perlaan-lahan ditusuk kebawah dengan bawa murni disalurkan kedalamnya, siapa tahu kotak emas itu tetap utuh tanpa cidera, entah terbuat dari bahan keras apa, tusukan pedang yang demikian tajampun sama sekali tidak berhasil melubanginya.

Peristiwa ini benar-benar merupakan suatu kejadian yang luar biaaa, semua orang diam-diam merasa terperanjat, dan tanpa terasa akibat pengaruh kotak emas tadi, nilai kitab pedang yang berada didalamnyapun secara tiba-tiba meningkat sampai sepuluh kali lipat.

Thong-thian Kaucu bukan manusia sembarangan, sekali mencoba saja ia sudah tahu bahwa dengan ketajaman pedang boan liong poo kiam-nya, kotak emas itu masih tetap tidak terbuka, daripada ditawarkan orang hingga dirinya jadi malu atau pedang kesayangannya makin rusak, imam tua itu segera masukkan kembali pedangnya kedalam sarungnya.

Setelah itu sambil acungkan jempolnya ia berseru kepada diri Siang Tang Lay.

"Siang heng, benda itu benar-benar luar biasa sekali, pinto merasa sangat kagum!"

"Benda peninggalan orang kuno memang hebat, engkau tak usah memuji diriku sebab benda itu bukan aku yang buat"

"Siang Tang Lay!"

Seru Pek Siau-thian pula sambil menyeringai seram.

"engkau pasti mengetahui bukan bagaimana caranya membuka kotak emas tersebut?"

"Tentu saja tahu!"

"Dan rahasia itu tak mungkin engkau bongkar dihadapan kami bukan....?"

Seru Pek Siau-thian lagi sambil tertawa dingin.

"Aaah! belum tentu demikian"

Setelah berhenti sebentar sambil tertawa, ujarnya lagi.

"Engkau pernah membaca seluruh isi dari catatan kitab pedang itu, berarti bahwa engkau termasuk juga anak murid dari malaikat pedang Gi Ko, bila kitab pedang ini diwariskan kepadamu rasanya pilihanku ini adalah paling tepat."

Thong-thian Kaucu yang mendengar perkataan itu segera tertawa terbahak-bahak, ejeknya.

"Haahh.... haahhh.... haahhh.... Pek heng, aku harus mengucapkan selamat kepadamu, kiong bi, kiong hi...."

Dengan gusar Pek Siau-thian mendengus sambil menengok ke arah Siang Tang Lay, kembali serunya.

"Engkau tak usah bermain licik, bagaimana caranya membuka kotak emas ini harap segera diutarakan keluar!"

Ia ingin tahu bagaimana caranya membuka kotak itu tapi tidak ingin Siang Tang Lay mengatakannya sekarang karena disitu ada dua orang musuhnya, pikiran ini membuat hatinya jadi serba salah.

Terdengar Siang Tang Lay berkata.

"Engkau pernah membaca kitab Kiam keng bu kui, asal isi dari catatan tersebut kau selami dan yakini dengan seksama, aku tanggung tidak sampai tiga tahun engkau sudah mampu jadi seorang tokoh maha sakti di kolong langit"

Mendengar ucapan tersebut, Thong-thian Kaucu dan Jin Hian saling bertukar pandangan, pikir mereka hampir berbareng.

"Kalau ini hari Pek Siau-thian berhasil kabur dari sini dalam keadaan selamat, itu berarti tiga tahun kemudian kami semua sudah bukan tandingannya lagi, pada waktu itu bukankah perkumpulan Sin-kie-pang dapat menguasai seluruh kolong langit tanpa seorangpun mampu menandingi kehebatannya....?"

Sementara itu Siang Tang Lay telah melanjutkan kembali, katanya.

"Berbicara tentang cara untuk membuka kotak emas tersebut sebenarnya amat sederhana sekali, cukup kalian...."

Tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat lewat, Ciu It-bong sambil menempel tanah menggelinding kemuka dan menyambar kotak emas tersebut kemudian setelah berhasil mendapatkan benda itu ia menggelinding kembali menjauhi tempat itu.

Baik Thong-thian Kaucu maupun Pek Siau-thian sekalian cuma bisa berdiri tertegun menyaksikan tindakan nekad itu untuk mencegah jelas sudah tak mungkin lagi terpaksa mereka tidak ambil tindakan apa-apa.

Ketika pertama kali berhasil merampas kotak emas itu, Ciu It-bong sama sekali tak menyangka kalau diatas kotak sudah dipolesi racun yang sangat keji sesudah keracunan hebat buru-buru dia salurkan hawa murninya dan memaksa racun keji yang bersarang dalam tubuhnya itu berkumpul didalam sepasang kakinya yang cacad dengan begitu untuk sementara waktu jiwanya berhasil diselamatkan.

Setelah kotak emas itu terjatuh ketanah dan Thong-thian Kaucu serta Pek Siau-thian sekalian saling berusaha untuk mendapatkan kotak tersebut tanpa seorangpun berhasil memperolehnya diam-diam kakek she Ciu ini menyusun rencana untuk merebut kembali.

Saat yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga, ketika perhatian semua orang sedang ditujukan ke arah Siang Tang la, dengan satu gerakan tubuh yang sangat cepat dan diluar dugaan ia menggelinding kesamping kotak emas itu dan merebutnya kembali tapi kali ini tak berani menyentuh kotak emas itu dengan jari tangannya lagi.

Dalam keadaan yang serba tergesa-gesa, ujung bajunya segera dikibaskan keatas tanah untuk menggulung kotak emas itu kemudian benda tadi barulah dipegang dengan alas kain.

Begitulah setelah menyaksikan kotak emas tadi terjatuh kembali ketangan Ciu It-bong, sambil tertawa Siang Tang Lay segera berkata.

"Eeei.... manusia yang bernama Ciu It-bong apakah engkau ingin tau bagaimana caranya membuka kotak emas tersebut?"

Ciu It-bong menyeringai dan tertawa seram.

"Heehh.... heehh.... heehh.... bagiku tahu juga boleh tidak tahupun tidak menjadi soal!"

"Jumlah yang banyak akan menangkan jumlah yang sedikit, seorang lelaki sejati tak akan sudi melayani kerubutan orang banyak, aku lihat dalam perebutan kitab Kiam keng kali ini, lebih baik engkau mengundurkan diri saja! ejek Siang Tang Lay sambil tertawa. Ciu It-bong tertawa terbahak-bahak, suaranya menyeramkan sekali, pikirnya dihati.

"Racun keji yang berada diatas kotak emas ini sudah pasti merupakan hasil perbuatan dari gadis-gadis suku Biau itu, tapi.... mereka toh merupakan orang-orang muda dari angkatan yang lebih rendah, aku malu kalau musti minta obat penawar dari mereka....!"

Otaknya berputar sebentar, kemudian dengan dingin, serunya.

"Meskipun kotak emas ini tidak mempan dibacok dengan pisau atau kampak, aku rasa ii tak akan mampu menahan hawa panas, tenaga dalamku sudah kusalurkan kedalam kotak emas ini, jika kalian berani berkutik secara gegabah maka perduli amat isi kotak ini adalah kiam keng yang asli atau tidak, aku tanggung isinya tentu akan hancur jadi abu dan sepatah katapun tak akan tersisa!"

Terperanjat hati Pek Siau-thian, setelah mendengar ancaman tersebut, ketiga orang itu segera bersiap sedia melancarkan tubrukan. Ciu It-bong melototkan sepasang matanya bulat-bulat, hardiknya.

"Barang siapa berani sembarangan bergerak, aku akan segera musnahkan kitab Kiam keng ini lebih dahulu, agar impian indah ka lian segera hancur dan musnah tanpa bekas!"

Thong-thian Kaucu tertawa terbahak-bahak.

"Haah.... haahh.... haah.... Pek heng, Jin heng"

Katanya.

"tua bangka ini mampu melakukan apa yang telah dia katakan, ia tidak akan memperdulikan apa dosanya menghancurkan khien, memegang burung bangau.... lebih baik kita mengalah satu tindak kepadanya!"

Mendengar perkataan itu, terpaksa Pek Siau-thian dan Jin Hian membuyarkan himpunan hawa murni mereka dalam telapak, dengan pandangan dingin mereka menatap wajah Ciu It-bong dan ingin melihat permainan setan apa lagi yang hendak ia lakukan.

Ciu It-bong tertawa seram.

"Heehh.... heehh.... heehhh Siang too ji serahkan obat pemunah kepadaku!"

Teriaknya Mendengar permintaan itu Siang Tang Lay tersenyum.

"Kenapa engkau minta obat pemunah kepadaku? toh kotak emas milikku itu sama sekali tidak mengandung racun!"

"Hmmm!.... aku tidak mau ambil peduli akan soal itu barang tersebut pokoknya milik mu maka aku hanya minta pertanggungan jawab dari dirimu saja"

Seru Ciu It-bong sambil tertawa dingin tiada hentinya.

"Engkau memang pandai sekali mencari gara gara.... Setelah berhenti sebentar, sambil tertawa Siang Tang Lay melanjutkan kembali kata-katanya.

"Aku pernah dengar orang berkata, menghadapi orang yang tamak akan harta sekali pun uang sudah berada ditangan akhirnya toh harus berkurang kembali.... Lan-hoa Siancu yang duduk dalam barak segera tertawa merdu, selanya dengan suara lantang.

"Siang loocianpwee rupanya engkau sedang menyindir kami? hati-hati dengan perkataanmu!"

"Haahh.... haahh.... haahh.... aku orang tua tidak berani melakukan perbuatan itu!"

Hoa Hujin segera berpaling ke arah Lan-hoa Siancu dan berbisik dengan suara rendah.

"Meninjau situasi yang terbentang pada saat ini, kehadiran Ciu It-bong ditempat ini sangat menguntungkan pihak kita, nona! berikan obat pemunah tersebut kepadanya!"

Lan-hoa Siancu mengangguk, dia bangkit berdiri dan melayang kehadapan Ciu It-bong katanya.

"Huuh....! engkau siorang tolol yang goblok dan berangasan, bisanya cuma merepotkan orang saja!"

Ia merogoh kesakunya dan ambil keluar sebutir pil obat berwarna merah kemudian dilemparkan kemuka.

Jilid 9 Ciu It-bong hendak menerima obat itu dengan tangannya tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia segera berpikir.

"Gadis dari suku Biau ini nampaknya saja berparas muka cantik jelita padahal sekujur badannya penuh dengan racun, aku tak boleh sampai menyentuh setiap benda miliknya."

Berpikir sampai disitu, dengan suara dingin ia lantas berkata.

"Aku hanya minta obat penawar dari Siang Tang Lay, kebaikan hati orang lain tidak sudi kuterima dengan begitu saja."

Mendengar perkataan itu, Lan-hoa siancu segera mengernyitkan sepasang alis matanya, ia berkata.

"Aku sih tak mau tahu apakah yang dinamakan kitab Kiam keng, obat penawar hanya ada sebutir kalau kau tak sudi menerimanya aku akan berikan kepada orang lain agar engkau terpaksa musti tunduk dibawah perintah dan gertakannya!"

"Bagus....! bagus sekali....!"

Sambung Tong tiang kaucu sambil tertawa.

"kalau memang begitu, harap nona serahkan obat pemunah tersebut kepada pinto!"

"Bagus! aku memang punya maksud untuk berbuat begitu"

Ciu It-bong jadi sangat terperanjat, ia segera membuka mulutnya dan mengisap ke tanah, obat penawar yang masih berada dalam genggaman Lan-hoa Siancu itu dengan cepat meluncur kedepan dan masuk kedalam perutnya.

Tapi, setelah obat itu masuk ke perut, ia baru teringat kembali bahwa perempuan dari suku Biau itu sangat beracun, andaikata pil itu mengandung racun yang jauh lebih keji, bukankah selembar jiwanya bakal mampus dengan lebih cepat?

Teringat akan mara bahaya yang mengancam jiwanya, jadi gugup dan gelagapan sendiri, paras mukanya berubah sangat hebat.

"Nona, kembali ketempat dudukmu!"

Tiba-tiba Hoa Hujin berseru kembali dengan suara lantang.

Hoa Hujin sama sekali tidak menunjukkan sikap marah tapi wibawanya besar sekali, kendatipun Biau-nia Sam-sian tiga dewi dari wilayah Biau termasuk manusia-manusia berwatak tinggi hati dan tak sudi tunduk kepada orang lain, namun mereka tak berani membangkang maksud hati perempuan berwajah agung itu.

Ketika mendengar namanya dipanggil, tanpa mengucapkan sepatah katapun Lan-hoa Siancu tergesa-gesa kembali ke baraknya.

Obat racun dari perguruan Kiu-tok Sianci memang tersohor akan kelihaiannya, namun seteleh menelan obat penawar itu,racun tersebut pun menyurut dengan cepatnya.

Setelah Ciu It-bong menelan obat penawar tadi, beberapa saat kemudian racun keji yang bersarang dalam tubuhnya telah lenyap tak berbekas, diam-diam ia bersyukur karena hal itu.

Setelah meletakkan kotak emas tadi didepan tubuhnya, dengan suara lantang kakek cacad ini berseru.

"Siang loo te, sebenarnya bagaimana sih caranya untuk membuka kotak emas ini?"

"Oooh....! baru saja engkau menyebut aku sebagai Looji atau tua bangka, sekarang engkau telah menyebut aku dengan panggilan Loo te, dingin panasnya perasaan manusia selalu memang begitu, aaai....! apa tidak membuat hati orang jadi bergidik?"

Ciu It-bong tertawa terbahak-bahak....Haahhh....

haahh....

haahhh....

itulah yang dinamakan harga barang pagi dan malam jauh berbeda, sudah!

engkau tak usah banyak bicara lagi cepatlah kita bicarakan persoalan pokok!"

Siang Tang Lay tersenyum, paras mukanya berubah jadi serius dan serunya.

"Dalam kotak emas itu sama sekali tidak terdapat alat rahasia apa-apa, benda itu merupakan satu kesatuan yang bulat dan tiada cara untuk membukanya!"

"Kentut busuk!"

Tukas Ciu It-bong dengan mendongkol.

Baca Juga: Pertikaian Tokoh Tokoh Persilatan 3

Baca Juga: Pedang Kiri Pedang Kanan 13

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert