Ceritasilat Novel Online

Tiga Maha Besar 2

Eps 2 Tiga Maha Besar - Khu Lung

Baca online Tiga Maha Besar - Khu Lung

Cersil Tiga Maha Besar - Khu Lung.

"tetapi berhubung ilmu pedang serta telapak dari Siau long belum berhasil mencapai pada puncaknya maka ia susah untuk menggabungkan permainan kedua macam kepandaian itu menjadi satu, seandainya ilmu itu sudah mencapai puncak kesempurnaan dan bisa dipergunakan menurut kehendak hati, aku rasa kalau dibandingkan dengan kekuatan ilmu jari Ci yu jit ciat pun akan jauh lebih tangguh lagi"

"Perkataan nona sedikitpun tidak salah"

Sahut Hoa Hujin sambil mengangguk, tombak panjang golok pendek, itu bukan berarti golok tak dapat menangkan tombak, melainkan kesempurnaan dalam kepandaian silatlah yang lebih diutamakan"

Lam hoa siancu tersenyum, setelah berhenti sebentar katanya lagi.

"Hujin, lebih baik engkau mengurusi tentang dari Sian long saja, biarlah kami beberapa orang yang berjaga-jaga dijembatan batu ini, dan aku rasa tak mungkin akan terjadi suatu kesalahan, andaikata terjadi peristiwa yang tidak diinginkan biarlah kami akan suruh Tiong Hau untuk memberi laporan kepada nyonya!"

Hoa Hujin berpikir sebentar, kemudian jawabnya.

"Kalau memang begitu, terpaksa aku harus merepotkan nona bertiga....!"

Setelah berjalan maju beberapa langkah, tiba-tiba ia berpaling dan berkata kembali.

"Saat dibukanya pertemuan Kian ciau tayhwee sudah semakin dekat, mungkin saja ada sahabat dari satu aliran yang akan menyusul kemari, harap nona bertiga jangan sampai berayal menyambut kedatangan sahabat-sahabat kita itu....!"

Tiga dewi dari wilayah Biau mengiakan dan Hoa Hujin pun segera meneruskan perjalanannya menuju kebelakang bukit dan lenyap dibalik bebatuan.

Li Hoa siancu memandang sekejap ke arah Chin Wan-hong, lalu sambil mengerdipkan matanya ia tertawa dan berkata.

"Hong ji, bukanlah engkau ingin melihat siau long? kenapa tidak ikut serta bersama sama hujin?"

"Siapa sih yang mengatakan kalau aku hendak meliat Siau long? dia sedang berlatih ilmu silat, aku tak ingin mengganggu ketenangannya selama latihan!"

Jawab Chin Wan-hong sambil tertawa.

"Hong ji!"

Seru Ci wi siancu pula sambil tertawa, aku lihat sesudah tak berjumpa selama satu tahun, sikap siau long terhadap dirimu sudah tidak menyerupai keadaannya pada tempo dulu, coba lihatlah selama beberapa hari ini, dia sama sekali tak mengucapkan sepatah katapun terhadap dirimu.

Chin Wan-hong tertawa, jawabnya.

"Pertemuan besar Kian ciau tayhwee sudah hampir tiba, perasaan hatinya sedang berat, murung dan lagi pula sibuk berlatih ilmu silat, mana dia punya waktu untuk bercakap-cakap dengan aku?"

Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba ujarnya lagi dengan nada sedih.

"Selama ini dia selalu memikirkan tentang dendam kematian ayahnya, cuma perasaan tersebut selamanya tak pernah diutarakan keluar, dalam penemuan Kian ciau tayhwee nanti dia bakal bertemu dengan musuh besarnya, pertarungan sengitpun tak mungkin bisa dihindari lagi"

"Dengan kesumat atas kematian ayahnya adalah suatu dendam yang dalamnya melebihi samudra, kenapa ia tak berani mengutarakannya keluar?"

Kata Ci wi siancu.

"Hujin melarang dirinya untuk mengatakan soal dendam karena takut melemahkan semangat persatuan diantara para pendekar serta melemahkan daya pikiran setiap orang dalam menghadapi masalah besar ini"

"Kenapa?"

"Suci coba bayangkan seadainya yang dipikirkan terus olehnya hanyalah membalas dendam, manusia-manusia gagah seperti Cu Im taysu sekalian yang sama sekali tidak mengutamakan soal dendam pribadi bukankah bakal putus asa dan seandainya sampai terjadi keadaan seperti ini bukankah akan mematahkan semangat tempur mereka sendiri? "

Ooooh....!

rupanya terdapat juga masalah yang demikian peliknya seru Ci wi siansu sambil tertawa, yang akan kita bantu hanya lah siau long seorang diri perduli amat siapa lurus siapa sesat mau bertempur kita turun tangan dan mau bunuh kita bunuh saja bukankah lebih beres?"

Tiba-tiba Li hoa siancu tertawa dan berkata.

"Hong ji, engkau mengatakan bahwa Siau long selalu memikirkan tentang dendam kematian ayahnya, apakah secara diam-diam ia berita-hukan kepadamu?"

Chin Wan-hong segera menggeleng.

"Dia adalah seorang anak yang berbakti, setelah ibunya melarang dia untuk berbuat demikian maka sekalipin hanya mencuri untuk berpikirpun, tak akan berani apalagi mengutarakannya keluar, cuma saja.... ia bisa berbakti terhadap ibunya masa tidak berbakti terhadap ayahnya? dan masa ia dapat melupakan soal kematian ayahnya?"

Li hoa siancu mengangguk tanda membenarkan, tiba-tiba ia berpaling dan serunya.

"Tong Long, engkau mengatakan bagaimana hubungan antara siau long dengan Giok Teng Hujin dari sekte agama Thong-thian-kauw?"

"Oooh.... aku hanya secara kebetulan saja mendengar percakapan antara dua orang imam cilik ketika masih berada didalam kuil It goan hoan tempo hari...."

Kata Harimau bisu Tong Long.

"Apa yang dia katakan?"

Harimau bisu Tong Long itu agak tertegun sebentar, kemudian jawabnya.

"Kedua orang imam cilik itu membicarakan tentang bagaimanakah hubungan yang intim antara Hoa kongcu dengan Giok Teng Hujin, kemudian membicarakan pula bagaimana Thong-thian-kauwcu cemburu!"

"Sebenarnya bagaimana sih yang tepatnya?"

Tanya Li hoa siancu dengan wajah cemberut.

"Aku sendiripun kurang begitu jelas"

Sesudah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh.

"Kedua orang imam cilik itu tidak membicarakan sampai jelas, tentu saja aku sendiripun kurang begitu jelas."

"Persoalan ini toh menyangkut tentang nona Hong, masa engkau tidak bisa menanyai mereka?"

Seru Li hoa siancu dengan marah. Chin Wan-hong yang berada disampingnya segera menimbrung.

"Pada saat itu dia adalah seorang tawanan, sedangkan kedua orang imam cilik itu pun membicarakannya secara diam-diam, Ji sicu! coba engkau suruh dia bagaimana caranya untuk mengajukan pertanyaan tersebut, padahal tak usah ditanyakan lagipula urusan sudah sangat jelas"

Kata Lam hoa siancu dengan cepat.

"perempuan itu toh bersedia menghadiahkan Leng-ci berusia seribu tahun kepada Siau long, apa yang harus dibicarakan lagi....?"

Tiba-tiba terdengar Harimau ompong Tiong Lo poo cu berkata.

"Perempuan itu benar-benar ibarat pungguk merindukan bulan, Hoa sauya masih muda dan gampang terpengaruh oleh nafsu birahi.... tentu saja ia gampang mempengaruhi sauya kita. Hmmm! Siancu, dalam pertemuan besar Kian ciau tayhwee besok pagi engkau harus mengeluarkan sedikit kepandaian dan racuni perempuan itu sampai mampus!"

Dalam pandangan tiga harimau dari keluarga Tiong, Hoa Thian-hong serta Chin Wan-hong adalah pasangan yang paling ideal dan lagi ke dua-duanya merupakan majikan mereka tentu saja dalam pandangan ketiga orang itu mereka tak rela membiarkan orang ketiga turut campur dalam hubungan tersebut, sekali pun Hoa Thian-hong serta Chin Wan-hong bersedia, tiga harimau dari keluarga Tiong tetap tidak setuju.

Cin wi siancu yang mendengar perkataan itu segera menimbrung.

"Toa Suci, ide ini sangat bagus sekali! Hong ji jadi orang terlalu jujur dan lagi tak bersedia melatih ilmu silat bukan saja sekarang tidak merasa iri atau cemburu sebaliknya malah dipermainkan oleh perempuan lain, aku rasa untuk berjaga terhadap segala kemungkinan yang tidak diinginkan lebih baik kita cepat-cepat bikin mampus perempuan itu lebih dahulu....!"

"Suci bertiga, janganlah bikin huru hara yang sama sekali tak ada artinya"

Seru Chin Wan-hong dengan gelisah, Giok Teng Hujin adalah putri kesayangan dari Siang Tang Lay dan lagi kitapun sedang menghadap musuh yang amat tangguh...."

"Bikin huru hara apa omel Ci wi siansu, budak yang tak berguna, pembaringan yang hanya muat ditiduri dua orang masa kau biarkan orang lain untuk menidurinya? kami bersusah payah untuk membantu engkau malah bicara seenaknya.... benar-benar bodoh!"

Gadis suku Biau paling tebal rasa cemburunya, sering mereka lepaskan racun jahat untuk mempengaruhi perasaan kekasihnya, apabila ada musuh dalam cinta merekapun tak segan-segan untuk turun tangan keji guna menyingkirkan saingannya itu, seringkali apa yang dibicarakan dilakukan dengan segera, karena itulah sesudah mereka mengancam akan bikin mati Giok Teng Hujin maka ancaman itu pasti akan dilakukannya pada suatu ketika.

Sebaliknya Chin Wan-hong adalah seorang gadis yang berbudi luhur serta memahami keadaan situasi, dan lagi diapun jerih sekali terhadap wibawa dari Hoa Hujin, karena itulah meski pun perbuatan dari ketiga orang sucinya itu adalah demi kebaikan dirinya, namun sang hati merasa ngeri dan kuatir.

ooooooooo DALAM pada itu, dari tepi pantai seberang berkelebat datang sesosok bayangan manusia yang ramping, disorot sinar rembulan tampaklah gerakan tubuh orang itu cepat bagaikan kilat dan tergesa-gesa sekali, dalam beberapa kali lompatan ia sudah berada dibelakang batu peringatan tersebut.

Tatkala tiba didepan batu peringatan itu, bayangan manusia yang ramping tadi nampak tertegun dan segera membaca tulisan yang tertera disana.

Ia termenung sambil memandang keangkasa, lama sekali....

kemudian baru bergumam dengan suara sedih.

"Apakah aku terhitung sebagai sahabat mereka....? kalau aku mengaku sebagai sahabatnya, apakah ia bersedia untuk menerimanya? dan orang lain apakah bersedia pula untuk menerimanya? apakah tiada orang lain yang akan mentertawakan diriku?"

Lama sekali ia berdiri termangu-mangu, kemudian alihkan kembali rorot matanya ke arah tepi seberang.

Dibawah sorot rembulan, secara lapat-lapat ia temukan pula ada beberapa orang sedang duduk diatas bukit, dan orang-orang itu bukan lain adalah sekawanan perempuan.

Bayangan ramping itu kembali tertegun, akhirnya sambil menggertak gigi ia loncat naik seatas jembatan batu dan bergerak ke depan.

Tiga dewi dari wilayah Biau sekalian yang berada diatas bukitpun sudah mengetahui kalau ditepi seberang telah kedatangan seseorang, hanya saja berhubung jaraknya masih jauh dan lagi membelakangi cahaya rembulan maka raut wajahnya tidak terlibat jelas.

Tiba-tiba Li hoa siancu tertawa dan berbisik lirih.

"Bagus sekali, baru saja kita bicarakan soal Co Cho, eei....! tak tahunya Co Cho sudah tiba, rupanya Giok Teng Hujin itu sudah tidak sabar menunggu sampai diselenggarakannya pertemuan besar Kian ciau tayhwee dan datang menghantar kematiannya lebih dahulu"

"Tidak aneh kalau siau long terpikat oleh dirinya"

Ujar Lan hoa siancu pula sambil tertawa.

"cukup ditinjau dari potongannya badannya memang sudah cukup membuat orang tergiur"

"Lebih baik kita binasakan dirinya dengan bubuk racun pemabok ataukah ditangkap dulu dalam keadaan hidup-hidup setelah disiksa ba ru dibunuh mati?"

Tanya Ci wi siancu.

"Kalau berbuat begitu rasanya kurang baik tungkas harimau ompong Tiong lo po cu secara tiba-tiba, perempuan ini adalah putrinya Siong Tang Lay dan lagi telah meluaskan budi terhadap sauya kita, seandainya kita hukum mati setelah berhasil menangkapnya hidup-hidup bila Hoa Hujin akan mengetahui peristiwa ini, lain kali dia akan menyalahkan kita, sedang Hoa sauya yang sudah tergila-gila oleh kecantikannya...."

"Hmm! bicara tanpa bukti tukas harimau pelarian Toang Lian dengan cepat, dengan alasan apa engkau mengatakan kalau Siau Koan-jin telah tergila-gila oleh kecantikannya?"

"Peduli bagaimanapun, kaum pria memang suka sekali mengganti yang baru dan bosan terhadap yang lama, kata Harimau ompong Tiong Lo Po cu dengan perasaan tak puas, dari julukan yang dipergunakan perempuan itu sudah dapat diketahui kalau dia bukan manusia baik-baik, lebih baik kita pura-pura tidak tahu saja, agar ia tercebur ke dalam jurang dan mati dengan badan hancur"

"Cara berpikir Lo popo memang jauh lebih tepat!"

Seru Lan hoa si ancu kemudian sambil tertawa.

"kematian manusia bagaikan padamnya lampu, sekalipua Siau long merasa bersedih itupun hanya bersifat sementara untuk kemudian akan melupakan untuk selamanya, dan asal kita tidak turun tangan maka Hoa Hujin pun tak dapat menyalahkan kita"

Sementara pembicaraan masih berlangsung, gadis yang tinggi semampai dan amat ramping itu sudah melewati batu peringatan dan meluncur ketengah jembatan. Li Hoa siancu segera tertawa dan berkata lagi.

"Coba kalian liat gerak-geriknya yang tersipu-sipu dan diliputi rasa malu, bukan saja tak mau sebutkan nama bahkan menganggap dirinya sebagai kekasih siau long, dengan langkah lebar ia berjalan kedepan tanpa perasaan takut barang sedikitpun juga"

Berbicara sampai di situ, perempuan tadi sudah tiba pada lapisan batu pertama dimana Ci wi siancu melepaskan racunnya pada pos pertahanan yang pertama.

Berhubung semakin dekatnya dengan hari diadakannya pertemuan besar, penjagaan diatas jembatan batu itu sudah diperbaharui, dan tiga dewi dari wilayah Biau pun belum lama berselang menaburkan kembali bubuk racunnya, baru saja ujung kaki perempuan itu menginjak diatas lapisan batu yang pertama, lubang hidungnya telah mencium bau racun pemabok yang lihay dari perguruan Kiu-tok Sianci tersebut.

Meskipun obat pemabok itu tidak lebih lihay dari Mi hun san yang berada pada pos pertahanan kedua, akan tetapi perempuan itu sudah tak tahan, tubuhnya gontai dan hampir saja roboh kedalam jurang.

Menyaksikan kejadian itu Chin Wan-hong segera menjerit kaget, ketika terbayang kembali oleh jeritan ngeri yang pernah didengarnya beberapa hari berselang, ia tak tega dan buruburu serunya.

"Suci bertiga, mari kita kesana dan memeriksa keadaannya, setelah menanyakan maksud tujuannya lebih baik kita usir dirinya pergi saja"

"Budak bodoh, apa yang perlu kita tanyakan lagi? apakah engkau bersedia untuk angkat saudara dengan dirinya serta menjadi istri seorang suami yang sama?"

Chin Wan-hong terbungkam dan menunduk. Tiba-tiba Lan hoa siancu berseru keras.

"Eeeei....! Giok Teng Hujin itu benar-benar luar biasa.... coba lihatlah!"

Ternyata gadis berbadan ramping itu berhasil menguasai diri, setelah masukkan sebutir obat kedalam mulutnya dan mengatur pernafasan sebentar, ia lanjutkan perjalanannya menuju kedepan.

"Aaih!"

Teriak Li hoa siancu dencan gemas.

"kalau engkau mampu untuk melawan bubuk Mi hun san milikku itu maka aku akan takluk kepadamu"

Chin Wan-hong membelalakan matanya dan menatap wajah perempuan itu tanpa berkedip barang sedikitpun jua, ketika ia saksikan perempuan itu sudah tiba dipunggung jembatan dan teringat kembali akan kelihayan bubuk mi hun san milik ji suci nya itu ia jadi sangat gugup dan segera teriaknya keras-keras.

"Giok Teng Hujin, cepat berhenti!"

Mendengar teriakan tersebut perempuan itu benar-benar berhenti dan segera menengadah keatas. Li hoa siancu jadi gemas, sambil menuding dahi Chin Wanhong serunya dengan nada getun.

"Budak bodoh, rupanya engkau lebih suka mencari penyakit buat diri sendiri....!"

Sedangkan Lam hoa siancu sambil tertawa cekikikan segera menggandeng tangan Chin Wan-hong seraya berkata.

"Ayoh jalan, mari kita saksikan sampai dimanakah kecantikan wajah dari hujin ini, mari kita kesana bersama-sama."

Semua orang segera loncat turun dari atas bukit dan menuju ketepi jembatan itu. Baru saja mereka tiba ditempat tujuan, tiba-tiba Chin Wanhong celah menjerit tertahan.

"Oooh....! dia...."

"Siapa?"

Tanya Lam hoa siancu.

"Pek Kun-gie!"

"Pucuk dicinta ulam tiba, kebetulan sekalii!"

Seru Li hoa siancu dengan alis berkerut.

Ia segera menjejakkan kakinya dan bergerak lebih dahulu menuju kedepan, sedangkan Lam hoa siancu serta Ci wi siancu pun segera berkelebat kedepan setelah mengetahui bahwa perempuan yang munculkan diri itu bukan lain adalah Pek Kun-gie.

Tiba-tiba terdengar harimau ompong Tiong lo po cu lantang.

"Sian cu bertiga, malam ini sekalian langit bakal ambruk jangan kita lepaskan perempuan rendah itu dalam keadaan hidup"

"Kau tak usah bicara, kami sudah tahu,"

Jawab Li hoa siancu.

Dalam sekejap mata ketiga orang itu sudah tiba di tengah jembatan batu dan berdiri saling berhadapan dengan Pek Kungie dalam jarak hanya tiga tombak belaka.

Dibawah sorot rembulan, Pek Kun-gie yang angkuh dan agung berdiri dengan angkernya diatas jembatan, pakaiannya yang berwarna putih salju terhembus angin gunung, membuat wajahnya nampak begitu cantik jelita hingga ibaratnya bidadari yang baru turun dari kahyangan.

Pek Kun-gie memang sangat cantik, begitu cantiknya sehingga menimbulkan perasaan iri dan cemburu dalam hati kecil Biau nia sam sian, Pek Kun-gie terlalu angkuh sehingga menimbulkan kesan yang jelek dalam ketiga dewi dari wilayah Biau itu.

Dalam waktu singkat seluruh udara diliputi oleh nafsu pembunuh yang amat tebal, suasana jadi tegang dan setiap saat pertumpahan yang bakal terjadi.

Terdengar Li hoa siancu bertanya dengan nada dingin bagaikan es.

"Apakah engkau putri dari Sin-kie-pangcu yang bernama Pek Kun-gie...."

"Ucapanmu sedikitpun tidak salah"

Jawaban dari Pek Kungie lebih dingin begitu dinginnya hingga menggidikan hati orang, kalau kulihat dari dandananmu yang menyerupai orang dari suku Biau, aku rasa kalian tentulah anak murid dari Kiutok Sianci bukan?"

"Tiga dewi dari wilayah Biau suatu nama yang tak dikenal di kolong langit"

Jawab Li hoa siancu dengan hawa nafsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya. Setelah berhenti sebentar sambil tertawa dingin, sambungnya lebih jauh.

"Engkau bukannya berdiam dilindungan ayahmu mau apa seorang diri datang kemari?"

"Manusia liar yang belum beradab, buat apa menyampuri urusan orang lain?"

Ejek Pek Kun-gie sinis. Ia segera menengadah dan berteriak keras.

"Chin Wanhong mengapa engkau tak berani datang kemari untuk berjumpa dengan aku?"

"Perempuan bajingan!"

Seru harimau ompong Tiong lo po cu dengan penuh kebencian, engkau sendiri manusia macam apa? kenapa nona kami harus berjumpa dengan dirimu?"

Chin Wan-hong sendiri mengerdipkan matanya lalu melayang turun diatas jembatan batu dan berkelebat ke arah depan.

Luas jembatan batu amat sempit, tiga dewi dari wilayah Biau pun secara memaksakan diri bisa berdiri sejajar, setelah Chin Wan-hong menyusul maju kedepan maka diapun hanya dapat berdiri di belakang tubuh ketiga orang sucinya belaka.

"Pek Kun-gie ada urusan apa engkau mencari aku?"

Serunya.

"Hmm! engkau tak usah terlalu meninggikan kedudukanmu sendiri, sekalipun aku ada urusan tidak mungkin aku bakal datang sendiri untuk mencari dirimu"

Setelah berhenti sebentar, tambahnya.

"Undangan Thing Hong untuk berbicara dengan aku, ada rahasia penting yang hendak disampaikan sendiri kepadanya"

Chin Wan-hong maupun Biau nia sam san sama-sama berdiri tertegun, Li hoa siancu kuatir pendengarannya keliru, dengan wajah tercengang ia segera berkata.

"Thian Hong? engkau sedang memanggil siapa? engkau anggap nama Thian Hong boleh kau sebut dengan seenaknya?"

Haruslah diketahui, dalam pandangan Pek Kun-gie, musuh cintanya yang terutama adalah Chin Wan-hong dan selamanya dia menaruh rasa permusuhan yang amat besar terhadap dirinya.

Sedangkan dalam pandangin Chin Wan-hong serta Bau nia sam sian, mereka menganggap Pek Kun-gie sudah berulang kali mencelakai jiwa Hoa Thian-hong membuat pemuda itu menderita rasa malu dan penghi naan, membuat pemuda itu harus merasakan jarum racun Soh hun tok ciam dari Pek Siauthian serta memaksa dia untuk menelan Racun teratai empedu api.

Tetapi setelah, Hoa Thian-hong berubah muka serta munculkan diri kembali dalam dunia persilatan, dari bencinya Pek Kun-gie malahan jatuh cinta dan tergila-gila terhadap Hoa Thian-hong, tentu persoalan belakangan ini baik Chin Wanhong maupun Biau nia sam sian sama sekali tidak mengetahuinya, apalagi selama beberapa hari ini tiada orang yang menganggap tentang persoalan itu maka merekapun semakin tak tahu.

Dalam pada itu dengan pandangan dingin Pek Kun-gie melirik sekejap ke arah Li hoa siancu, kemudian ia menatap wajah Chin Wan-hong sambil katanya.

"Aku suruh engkau mengundang datang Thian Hong, sudah kau dengar belum?"

Jilid 4 WALAUPUN Chin Wan-hong masih merasa curiga, tetapi dia adalah seorang perempuan yang halus budi dan ramah, karena itu sambil menahan hawa gusar yang berkobar dalam dadanya ia berkata dengan tawa.

"Thian-hong sedang ada urusan, sekarang ia tak berada disini, kalau engkau ada perkataan, katakan dahulu garis besarnya, kemudian aku akan mengutus orang untuk mengundang kedatangannya"

"Eeei, bagaimana sih kamu ini?"

Teriak Pek Kun-gie tak sabaran.

"Bukankah sudah kukatakan bahwa persoalan ini menyangkut suatu rahasia besar....? apa yang kau tanyakan lagi?"

"Nona, buat apa sih berbicara dengan perempuan rendah itu?"

Tib-tiba Harimau ompong Tiong Lo pocu.

"perduli urusan besar atau urusan kecil, mari kita hajar saja perempuan rendah itu hingga terjatuh kedalam jurang!"

Tiga harimau dari keluarga Tiong pernah mendapat siksaan serta penganiayaan berat dari pihak perkumpulan Sin-kie-pang terhadap mereka, boleh dibilang rasa bencinya luar biasa sekali dan sukar dilukiskan dengan kata-kata meskipun dalam hal ilmu silat Tiong Loo po cu masih bukan tandingannya akan tetapi dalam silat lidah dia sama sekali tak mau mengalah.

Lan hoa siancu dengan merasa curiga termenung dan berpikir beberapa saat lamanya tiba-tiba ia berseru.

"Pek Kungie, Hoa Thian-hong amat membenci terhadap dirimu mana ia sudi untuk datang menemui dirimu? aku lihat lebih baik sedikitlah tahu diri dan cepatlah mengundurkan diri dari sini!"

Mendengar perkataan itu diam-diam sekujur badan Pek Kun-gie gemetar amat keras, pikirnya.

"Dia membenci aku.... dia.... tidak! dia adalah seorang pendekar besar, seorang lelaki perkasa, dia tak akan membenci dan mendendam terhadap kesalahan yang pernah dilakukan oleh seorang perempuan.... dia.... dia sudah tidak membenci diriku lagi."

Berbicara sampai disini dengan suara gemetar ujarnya lagi.

"Chin Wan-hong, Thia Hong sudah mengeluarkan banyak darah lukanya.... lukanya...."

Mendadak Li-hoa Siancu membentak keras.

"Racun terantai empedu api yang bersarang ditubuh sudah kambuh dia sudah mati!"

Bagaikan disambar petir dihari siang bolong sekujur badan Pak Kun Gie gemetar keras dan hampir saja ia jatuh terjungkal keatas tanah.

Tiga dewi dari wilayah Biau saling bertukar pandangan sekejap, mereka tidak habis mengerti terhadap kejadian yang berlangsung didepan matanya, Chin Wan-hong sendiripun berdiri terbelalak dengan mulut melongo, ia sendiripun dibuat tak habis mengerti.

Terdengar Pek Kun-gie bergunam seorang diri.

"Ia pasti sudah mengalami kejadian, kalau tidak tentu sedari tadi ia sudah datang menemui diriku, dia tak mungkin sengaja menyembunyikan diri"

Tiba-tiba jeritnya dengan suara lengking.

"Minggir! siapa berani menghalangi perjalananku, mati!"

Sepasang telapak disiapkan didepan dada dan siap maju ke arah depan. Chin Wan-hong jadi amat terperanjat, teriaknya keraskeras.

"Tunggu sebentar....! berhenti! cepat berhenti!"

Pek Kun-gie segera menghentikan gerakan tubuhnya, jarak antara tubuhnya dengan tepat dimana tersebar bubuk Mi hun sang, hanya terpaut beberapa depa saja namun sama sekali tidak merasakan akan datangnya marabahaya.

Sambil menatap tajam Biau-nia Sam-sian dengan pandangan mata bagaikan pisau, serunya.

"Ayoh cepat nyingkir kesamping, memandang diatas wajah Thian-hong aku tak akan mencari urusan dengan kalian"

"Hmmm! bicaranya saja gede sekali, jengek Li-hoa Siancu sambil tertawa dingin, kalau engkau berani maju selangkah lagi, aku akan suruh engkau maiti tanpa tempat kubur"

Chin Wan Hoag takut kalau Pek Kun-gie dipengaruhi emosi dan benar-benar maju kedepan, bila salah tindak maka semua rombongan ba kal tercebur dalam jurang, buru-buru serunya kepada Pek Kun-gie.

"Ada persoalan mari kita bicarakan secara baik-baik, engkau jangan bertindak secara gegabah, Thian-hong sedang berlatih ilmu pedang dibelakang bukit sana, urusan apapun tak boleh mengganggu ketenangannya, coba katakan lah dahulu rahasia besar apa yang hendak kau sampaikan kepadanya, kemudian aku baru akan mengundang kedatangannya."

"Aaab! benar"

Pikir Pek Kun-gie didalam hati.

"ketika Thian-hong bunuh diri dengan menelan racun ketika berada ditepi sungai Huang-ho tempo hari, Chin Wan-hong begitu sedihnya sehingga selama beberepa bulan lamanya ia kehilangan semangat dan pikirannya tidak waras hingga sampai wilayah Biau pun ia tak tahu, andaikata Thian-hong mengalami sesuatu hal masa ia dapat begitu te nang?"

Berpikir sampai disini, perasaan hatinya jadi agak lega dan wajah yang semula pucat pun kini jadi merah kembali.

Li-hoa Siancu diam-diam mengawasi perubahan wajah gadis itu, tiba-tiba ia temukan bahwa rasa cinta Pek Kun-gie terhadap Hoa Thian-hong ternyata tidak berada dibawah cinta kasih adik Seperguruannya, delamm keadaan tercengang dan tak habis mengerti, ia segera tertawa keras sambil serunya.

"Pek Kun-gie, sungguh tak nyana engkau dapat berubah jadi begini rupa, benar-benar pe-rubahan cuaca sukar diramalkan, membuat orang merasa tak dapat untuk mempercayainya"

"Kalian cepatlah mengundang datang Thian-hong, aku tak dapat menunggu terlalu lama lagi"

Seru Pek Kun-gie dengan tegas.

"sele watnya malam ini, dimana kita berjumpa disitulah kita bikin perhitungan, aku ingin membuktikau ilmu beracun dari wilayah Biau yang lebih lihay ataukah ilmu silat dari daratan Tionggoan yang lebih ampuh"

Li hoa siansu tertawa terkekeh-kekeh.

"Haaahh.... haaahh.... haaahh.... tentang persoalan itu lebih baik dibicarakan dikemudian hari saja, sudah lama aku dengar orang berkata bahwa bangsa Han memegang teguh tata cara, aku ingin bertanya kepadamu, engkau selalu mengatakan hendak berjumpa dengan Thian-hong, apakah eagkau tidak takut ditertawakan orang lain?"

Pek Kun-gie agak tertegan kemudian dengan gusar serunya.

"Perempuan suku Biau yang tak tahu diri, Pek Kungie adalah seorang gadis suci bersih perbuatan apakah yang kutakuti hingga ditertawakan orang lain?"

"Seorang gadis suci bersih?"

Li-hoa Siancu bukannya gusar malahan tertawa sinis, tahukah engkau bahwa Hoa Thianhong sudah ditunangkan dengan orang lain?

malam-malam buta untuk berjumpa bahkan telah pandang calon istrinya sebagai manusia apa?"

Seakan-akan kena dihajar dengan pentungan, Pek Kun-gie nampak tertegun kemudian membungkam dalam seribu bahasa.

Lan hoa siancu sekalian mula-mula juga nampak tertegun tapi dengan cepat mereka menyadari apa yang telah terjadi dan mengetahui pula kalau Li-hoa Siancu hanya bicara sembarangan untuk menggoda serta mempermainkan Pek Kun-gie.

Putri bungsu dari Pek Siau-thian ini sebenarnya juga seorang gadis yang cerdik tetapi sayang ia terpengaruh oleh rasa cinta hingga pikirannya jadi tersumbat pada dasarnya ia sedang menguatirkan pesoalan itu maka perkataan dari Li-hoa Siancu justru dengan tepat telah mengena pada titik kelemahan.

Chin Wan-hong sendiri juga merupakan seorang gadis yang berperasaan halus menyaksikan Pek Kun-gie terkena pukulan batin hingga termangu-mangu, dara itu merasa tak tega.

Akan tetapi sebelum ia sempat membongkar rahasia tersebut, terdengarlah Li-hoa Siancu dengan gusar membentak.

"Pek Kun-gie, ayoh cepat enyah dari sini, benarkah engkau mau tunggu sampai Hoa Thian-hong datang serta memberi pelajaran ke padamu?"

Sepasang mata Pek Kun-gie pudar dan sayu, wajahnya kosong dan termangu-mangu, ia mengangguk dan benarbenar berlalu dari sana.

Tiga dewi dari wilayah Biau jadi amat bangga mereka tak mengira hanya sepatah dua patah katanya telah mengalahkan Pek Kun-gie bahkan mengalahkan dirinya dalam keadaan yang mengenaskan sekali jauh lebih mengenaskan dari pada mati.

Pek Kue Gie berlalu beberapa langkah dari sana.

Mendadak ia putar badan dun bertanya dengan bimbang.

"Apakah calon istrinya adalah Chin Wan-hong?"

"Kecuali Chin Wan-hong siapa lagi yang pantas mendamping Hoa kongcu....?"

Teriak Li-hoa Siancu.

"Aku sudah tahu, Giok Teng Hujin memang tidak pantas untuk mendampingi dirinya,"

Gumam Pek Kun-gie, tiba-tiba ia berkata kembali.

"Apa Hoa Hujin menjodohkan mereka?"

Makin menyaksikan kejadian itu Ci-wi Siancu semakin kegirangan tak tahan ia berteriak keras.

"Tentu saja Hoa Hujin sendiri yang menjodohkan pihak pria diwakili oleh Ciong Liankhek sedangkan pihak wanita kami bertiga lah yang mewakili sedangkan Cu Im tasyu bertindak sebagai saksi, bukankah semuanya sudah komplit? masa engkau masih belum paham?"

Pek Kun-gie gelengkan kepalanya dan bergumam kembali.

"Dengan apa yang kuduga, sedikitpun tidak meleset taysu itu adalah orang beribadah ia hanya bertindak sebagai saksi dan tidak pantas jadi mak comblang diri pihak perempuan memang kalian bertiga yang pantas sebagai wakil."

Lan hoa siancu yang melihat kesemuanya itu segera berpikir didalam hati.

"Pek Kun-gie cantik jelita bagaikan bidadari, setiap pria yang bertemu dengan dirinya pasti akan tertarik hatinya, persoalan ini menyangkut kebahagiaan hidup Hong ji selamanya daripada membinasakan perempuan she Pek ini sehingga mengikat tali permusuhan dengan pihak perkumpulan Sin-kie-pang lebih baik kubikin jengkel saja hatinya sehingga ia jadi gila dengan begitu akupun tak usah menanggung resiko musti mengikat tali permusuhan dengan orang...."

Berpikir sampai disini, ia segera mengambil keputusan dan dengan cepai ia sambar sebuah kantong kain yang tergantung dibalik baju yang dikenakan Chin Wan-hong.

Gadis she Chin itu jadi amat gelisah, sambil menangis serunya.

"Toa suci, benda itu adalah...."

"Bocah cilik, kenapa sih musti ribut terus!"

Hardik Lan hoa siancu, ia segera berpaling dan teriaknya.

"Pek Kun-gie, apakah engkau ingin melihat tanda mata apakah yang diberikan Hoa kongcu untuk Hong ji?"

Pek Kun-gie melenggak kemudian mengangguk.

"Tentu saja saya ingin lhat!"

Lan boa siancu segera melemparkan bungkusan yang berhasil didapatkan dari dalam saku Chin Wan-hong itu ke arah depan, serunya.

"Tanda mata itu berada dalam kantong kain itu lihatlah sendiri dengan jelas!"

Kantong itu kecil dan enteng sekali, Pek Kun-gie segera menerimanya dan merobek dengan menggunakan ujung jarinya, tetapi kan tong itu terbuat dari ulat sutera yang ada di wilayah Biau, sekalipun coba dirobek berulangkali ternyata usahanya gagal.

Sesudah bersusah payah akhirnya tutup kantong itu terbuka juga dan isi kantong tadipun muncul didepan mata.

Dalam sekenjap mata, wajah Pek Kun-gie yang pada dasarnya sudah pucat kini berubah jadi semakin pucat hingga menyerupai mayat, sepasang tangannya gemetar keras sementara sepasang giginya saling beradu dengan ketasnya.

Ternyata isi dalam kantong kain milik Chin Wan-hong itu bukan lain adalah tiga biji gigi yang kuning dan tiada sesuatu yang aneh, namun bagi pandangan Pek Kun-gie ketiga biji gigi itu justru telah menghancur luluhkan perasaan hatinya.

Keadaan seperti ini seketika menggetarkan perasaan hati tiga dewi dari wilayah Biau, Chin Wan-hong yang bersembunyi dibelakang tubuh ketiga orang suci nya pun mengucurkan air mata sambil tiada hentinya memanggil.

"Suci.... suci!"

Tiba-tiba....

Pek Kun-gie membuka sepasang matanya, dua titik butiran darah mengalir keluar membasahi pipinya.

Chin Wan-hong tak dapat menahan diri lagi, ia segera maju kedepan sambit teriaknya diiringi isak tangis.

"Pek Kun-gie! engkau sedang dibohongi oleh suciku, Thian-hong sama sekali belum dijodohkan dengan diriku, ia belum dijodohkan dengan aku!"

Tetapi pikiran maupun perasaan hati Pek Kun-gie sudah kacau, ia sudah tak dapat menangkap maksud dari perkataan Chin Wan-hong lagi.

sorot matanya hanya bisa memandang tempat kejauhan dengan pandangan kosong, sementara mulutnya bergumam terus.

"Gigi ini adalah gigi milik Thianhong.... gigi.... gigi itu milik.... milik Thian-hong, ketika ia berlutut di hadapanku.... aku.... akulah yang menghantam sampai rontok...."

Melihat air mata yang mengucur keluar dari balik mata Pek Kun-gie telah bercampur dengan darah, Chin Wan-hong semakin terperanjat hingga sambil menangis serunya.

"Pek Kun-gie, benda itu bukan suatu tanda mata sebagai pengikat perkawinan kami, benda itu kusimpan sendiri tanpo diketahui oleh Thian-hong sendiri!"

Tetapi Pek Kun-gie tidak menggubris perkataannya lagi dengan suara yang kosong ia berseru.

"Buat apa dia tinggalkan benda ini? dia.... dia.... ternyata ia masih amat membenci terhadap diriku ia telah menggunakan benda itu sebagai tanda mata pengikat tali perkawinan"

"Bukan.... bukan...."

Teriak Chin Wan-hong sambil menangis.

"tempo hari ketika aku mengejar kereta kudamu, kalianlah yang membuang pakaian bercampur darah dari Thian-hong ketika kubuka pakaian itu, kulihat benda tersebut...."

Belum habis dia berkata, tiba-tiba Pek Kun-gie mendekatkan tangannya yang gemetar tiada hentinya itu kesisi bibirnya, kemudian memasukkan ketiga biji gigi tadi kedalam mulutnya dan ditelan kedalam perut.

Suara gemeretak berbunyi keras, darah mengalir keluar membasahi bibir Pek Kun-gie, keadaannya mengenaskan sekali membuat siapapun yang menyaksikan merasa tidak tega.

Chin Wan-hong menangis tersedu, serunya.

"Toa suci, Ji suci, Sam suci, carilah akal untuk menolong dirinya!"

"Hmm! siapa suruh dia mencari penyakit buat diri sendiri"

Kata Li-hoa Siancu sesudah berhasil menenangkan hatinya.

"apakah gigi milik siau long bukanlah gigi manusia?"

"Hong ji!"

Ujar Ci-wi Siancu pula.

"bukankah kalian seringkali menceritakan tentang bagaimana kejam serta ganasnya orang-orang dari perkumpulan Sin-kie-pang? bukankah kalian sering bercerita tentang ketelengasan serta kejahatan mereka menindas kaum yang lemah? selama ini entah sudah berapi banyak kejahilan yang telah dilakukan oleh Pek Kun-gie....? Sudah sepantasnya kalau sekarang ia mendapat hukum karma serta pembalasan atas perbuatanperbuatannya itu, kenapa engkau malah menggerutu terhadap kami?"

"Dia mencintai Hoa long! mungkin siau long pun mencintai dirinya...."

Bisik Chin Wan-hong dengan air mata bercucuran.

"Omong kosong!"

Hardik Li-hoa Siancu dengan gusar.

"apakah engkau tidak mencintai Siau long? apakah engkau bersedia me-nyerahkan kembali siau long ketangan orang lain?"

Tiba-tiba tampaklah Pek Kun-gie merapatkan bibirnya dan menelan kehancuran gigi beserta darah itu kedalam perutnya, sinar mata nya pudar dan kepalanya tertunduk kebawah jurang seolah-olah sedang mencari sesuatu.

Chin Wan-hong jadi amat terperanjat, segera teriaknya keras-keras.

"Pek Kun-gie!"

Sambil berteriak, tubuhnya segera menerjang kedepan. Dengan cepat Lan hoa sianca menyambar tangannya serta mencengkeramnya erat-erat, hardiknya.

"Engkau cari mati? kesadarannya sudah kabur, dia dapat menyeret engkau untuk terjun kedalam jurang!"

Chin Wan-hong semakin gelisah air matanya jatuh berlinang makin deras, tiba-tiba ia berpaling dan teriaknya keras-keras.

"Tiong Long, cepat undang kemari Siau long cepat!"

Harimau bisu Tiong Long tertegun dan untuk beberapa saat lamanya tak tahu apa yang barus dilakukan akhirnya ia putar badan siap berlalu dari sana.

Tiba-tiba harimau ompong Tiong Lo Poo cu membentak lirih.

"Tak boleh pergi! biarkan perempuan rendah itu mati konyol!"

"Kentut busuk!"

Bentak Harimau pelarian Tiong Liau dengan gusar.

"Engkau berani membangkang perintah nona?"

"Ploook!"

Dia hajar punggung putranya. Tubuh Harimau bisu Tiong Long segera terpental sejauh beberapa tombak dan tempat semula, ia cepat-cepat merangkak bangun dan segera berlarian menuju ke arah depan.

"Kalau lari perlahan sedikit!"

Kembali harimau ompong Tiong Lo poo cu menghardik.

Harimau bisu Tiong Long tak tahu apa yang musti dilakukan, beberapa langkah ia berlalu cepat beberapa langkah kemudian agak lambat kemudian beberapa tombak lagi ia berpaling kabelakang.

Tiba-tiba Pek Kun-gie mengurut dada sambil berteriak keras.

"Thian-hong....! ooouh, Thian-hong....! kenapa engkau begitu membenci akan diriku? engkau boleh pukul aku maki aku dan membinasakan diriku! janganglah membenci aku...."

Setelah berhenti sebentar gumannya kembali.

"Kalian cepatlah melarikan diri! Thian-hong kalian cepatlah melarikan diri jangan menghadiri pertemuan Kian ciau tayhwee"

Mendengar seruan tersebut, sekujur badan Chin Wan-hong gemetar keras tanpa terasa ia berpaling ke arah belakang gunung sambil berteriak dengan suara lantang.

"Thian-hong Thian-hong cepat datang kemari!"

Air muka Pek Kun-gie berubah jadi hijau membesi, tiba-tiba iapun membentak keras.

"Jangan berteriak! jangan berteriak aku tak dapat berjumpa dengan dirinya!"

Sambil berteriak tubuhnya menerjang maju kedepan bagaikan seekor harimau betina yang terluka.

Ketika itu baik Chin Wan-hong maupun Biau-nia Sam-sian sama-sama berdiri berjejar di atas jembatan batu yang sempit, menyaksikan gadis itu menerjang maju kedepan dengan wajah menyeringai seram, mereka jadi amat terperanjat sekali.

Karena takut kena ditumbuk sehingga bersama-sama jatuh kedalam jurang, tanpa terasa Biau-nia Sam-sian bersamasama ayunkan telapak nya dan melancarkan satu babatan dari tempat kejauhan.

Ketika angin pukulan itu menggulung ke arah depan, teriak Pek Kun-gie yang serak hanya sempat berteriak sampai ditengah jalan, tubuhnya segera terjungkal diatas jembatan batu dimana obat Mi hun san ditaburkan dan tak dapat dicegah lagi tubuhnya segera terjatuh kedalam jurang.

Jurang itu dalamnya mencapai ratusan tombak dan sukar melihat dasarnya, setelah terjatuh kedalam jurang, tubuh Pek Kun-gie segera tertelan dibalik kegelapan, dari dasar jurang tak kedengaran sedikit suarapun.

Sedang Chin Wan-hong serta Biau-nia Sam-sian yang ada diatas jembatan batu berteriak kaget, dari arah lain berkumandang teriakan Oh Sam pelayan dari Pek Kun-gie sedang dari sebelahnya bergema ben takan dari Hoa Thianhong.

Bluummm....!

Bluuumm....!

cahaya api berkilauan di angkasa dan bom udarapun berdentuman, cahaya warnawarni yang membentuk panji besar tersebar di angkasa membuat udara jadi terang benderang.

Hoa Thian-hong dengan gerakan tubuh yang enteng bagaikan segulung angin berkelebat datang serunya.

"Hong ji, apa yang telah terjadi?"

Sementara itu Biau-nia serta Chin Wan-hong sudah berada diatas bukit sambil memandang kebawah jurang dan menangis terisak, Chin Wan-hong berseru.

"Pek Kun-gie dia.... dia terjatuh kedalam jurang...."

Hoa Thian-hong merasakan pandangan matanya jadi gelap dengan cepat ia berkelebat menuju ke arah jembatan batu itu.

Lin hoa siancu serta Li-hoa Siancu yang berada disampingnya menyambar pergelargan tangannya sambil berseru.

"Diatas jembatan batu terdapat kabut sembilan bisa...."

"Aku mau turun kedasar jarang!"

Seru Hoa Thian-hong dengan suara gemetar, cepat ia merenggut kembali dari cekalan. Tiba-tiba Hoa Hujin munculkan diri didepan mata, teriaknya dengaa suara tajam.

"Jurang ini dalamnya seratus tombak dengan dinding yang tegak lurus, sekalipun malaikat juga tak dapat menuruninya, engkau jangan bertindak gegabah!"

Hoa Thian-hong merasa gelisah sekali, serunya dengan tegap.

"Ananda yakin masih bisa menuruni jurang ini.... jangan menghawatirirkan keselamatan jiwaku...."

Hoa Hujin mengerutkan dahinya, setelah termenung jawabnya dengan suara berat.

"Baiklah, sebenarnya perbuatanmu tak ada gunanya tetapi agar engkau puas turunlah kebawah tapi kau harus berhati-hati!"

Buru-buru Hoa Thian-hong mengangguk dalam sekejap mata tubuhnya lenyap tak berbekas, Biau-nia Sam-sian serta Chin Wan-hong buru-buru menyusul ketepi jurang untuk mengikuti gerakan si anak muda itu.

Mendadak Hoa Hujin seakan-akan mendengar suara derap kaki manusia yang amat ramai, hal ini membuat hatinya amat terperanjat segera serunya kepada Biau-nia Sam-sian.

"Nona bertiga, perketat penjagaan disekitar tempat ini, bagaimanapun juga malam ini jangan biarkan orang-orang dari perkumpulan Sin-kie-pang berhasil menyerbu keatas jembatan batu tersebut"

Merdengar perkataan itu, Biau-nia Sam-sian segera bertindak cepat dan berdri diatas jembatan batu, setelah memeriksa keadaan disekelilingnya mereka mulai mendemonstrasikan kelihayan dari Kiu-tok Sianci.

Dalam pada itu, Hoa Thian-hong yang melompat turun kedalam jurang, dengan mengandalkan hawa murninya yang panjang dan sempurna, perlahan-lahan ia merambat turun kebawah.

Jurang itu dalamnya ratusan tombak, dinding tebing tegak lurus dan keadaan medan amat berbahaya, bagi Hoa Hujin yang memiliki tenaga dalam amat sempurna pun belum tentu mampu untuk menuruni jurang itu.

Akan tetapi Hoa Thian-hong secara beruntun telah menemukan kejadian aneh, mula-mula dia makan Teratai racun empedu api ke mudian makan Leng-ci berusia seribu tahun, hal ini membuat hawa murninya semakin panjang dan tubuhnya enteng bagaikan burung walet.

Ketika tubuhnya sudah meluncur tiga empat puluh tombak jauhnya kedalam jurang, tiba-tiba daya luncurnya kian lama kian bertambah cepat, menyaksikan gelagat kurang menguntungkan buru-buru ia berjumpalitan ditengah udara kemudian lancarkan satu babatan keatas tebing.

Menggunakan daya pantul yang dihasilkan karena pukulannya itu, pemuda she Hoa tersebut segera mengepos tenaga serta memperlambat gerakan luncurnya kebawah, kejadian itu diulangi sampai dua kali.

Suatu ketika mendadak pandangan matanya jadi kabur, kecepatan daya luncur badannya kebawah jurang pun tak terkendalikan lagi.

Untung dari arah bawah ia mendengar suara percikan air, buru-buru tubuhnya berjumpalitan kembali beberapa kali sebelum tubuhnya mencapai permukaan tanah, ia lancarkan pukulan dahsyat dahulu ke arah bawah, dengan daya pantul itu ia berhasil mengurangi kecepatan daya luncur tubuhnya hingga kemudian Bluuum!

badannya berhasil mendarat diatas dasar jurang.

Bantingan ini cukup keras, membuat pemuda itu mendengus berat dan pandangan matanya berkunangkunang, tulang disekujur badannya linu dan sakit, pakaiannya menjadi compang-camping sedangkan kakinya terluka.

"Kun Gie....!"

"Kun Gie....!"

Sekali lagi Hoa Thian-hong berteriak keras.

Sorot cahaya rembulan yang redup memancar diatas dasar jurang itu, membuat suasana disana dapat dilihat secara samar-samar, batu cadas berserakan di mana-mana, air mengalir tenang dan suasana sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarupun.

Dalam air mencapai batas lutut, Hoa Thian-hong yang separoh badannya terendam dalam air jadi amat gelisah ketika mendengar suara teriakan sama sekali tak mendapat jawaban, ia segera loncat bangun dan lari menuju kebawah jembatan batu untuk mencari jenasah dari Pek Kun-gie.

oooOooo PEMUDA itu berlarian mengelilingi seluruh daerah diatas jembatan batu itu kemudian balik lagi ketempat semula, namun bayangan tubuh Pek Kun-gie sama sekali tak terlihat, hal ini membuat dia jadi tercengang dan tak habis mengerti.

"Kun-gie....!"

Kembali teriaknya. Tiba-tiba sesosok bayangan manusia muncul dibelakang tubuhnya, dengan nada suara yang hambar dan sama sekali tidak membawa perasaan apapun menjawab dengan lirih.

"Pek Kun-gie telah mati, siapapun tak dapat memanggilnya lagi.... dan dia pun tak dapat mendengar suara panggilanmu lagi!"

Sekujur badan Hoa Thian-hong gemetar keras, tiba-tiba ia putar badan dan menengok ke arah orang yang berbicara itu.

Dibawah sorot cahaya rembulan, tampaklah seorang rahib berpotongan badan ramping berbaju warna hijau dan memakai cadar kain hitam diatas wajahnya, berdiri angker diatas sebuah batu besar, dalam bopongannya menggendong tubuh seorang gadis dia bukan lain adalah Pek Kun-gie yang terjatuh kedalam jurang.

Karena rahib itu memakai kain cadar, maka sulitlah untuk diperkirakan masih muda atau sudah tua, ditinjau dan suaranya yang merdu dan rambutnya yang hitam pekat semestinya dia adalah seorang yang masih muda namun kalau dilihat kewibawaan serta keagungannya menunjukkan kalau orang itu sudah punya umur.

Rasa sedih, menyesal, gugup dan pedih bercampur aduk jadi satu dalam hati kecil Hoa Thian-hong, setelah tertegun sebentar ia tu ding tubuh Pek Kun-gie yang berada dalam bopongan rahib itu dan bertanya dengan suara gemetar.

"Sian koh, nona Pek...., dia...."

Titik air mata berlinang membasahi pipi rahib bercadar kain hitam itu, dia mengangguk dan menjawab lirih.

"Sejak jaman dahulu gadis cantik bagaikan panglima perang, jarang sekali ada yang bisa hidup hingga akhir tua.... aaaai!"

Ia menghela napas panjang suaranya lirih dan lemah terdengarlah betapa pedihnya hati orang itu.

Hoa Thian-hong merasa amat sedih sekali, air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya, tiba-tiba ia saksikan wajah Pek Kun-gie yang pucat pias bagaikan mayat, darah kental masih menodahi bibirnya, dengan penasaan hati seperti diirisiris, ia menubruk kedepan.

Rahib berpakaian cadar hitam ini segera mengegos kesamping dan melayang mundur beberapa rombak kebelakang serunya dengan gemetar.

"Yang sudah mati yaa sudahlah, engkau mau berbuat apa?"

Hoa Thian-hong tertegun, dengan air mata berlinang sahutnya.

"Aku...."

Mendadak ia teringat kembali akan sebatang Leng-ci yang masih tertinggal dalam sakunya, dengan cepat kotak kumala itu diambil keluar dan berkata.

"Aku mempunyai sebatang Leng-ci berusia seribu tahun, kasiatnya dapat menghidupkan kembali mereka yang telah mati...."

Tidak menunggu pemuda itu menyelesaikan kata-katanya, rahib bercadar kain bitam itu sudah menukas sambil gelengkan kepalanya.

"Dikoloog langit tiada obat mujarab yang dapat menghidupkan kembali orang yang telah mati, nyawa Pek Kun-gie sudah melaoyang tinggalkan raganya, sekalipun ada Leng-ci berusia sepuluh laksa tahun, jiwanya juga tak dapat diselamatkan lagi"

"Meskipun demikian, aku hendak berusaha dengan segala kemampuan yang kumiliki!"

Rahib berkain cadar hitam itu kembali gelengkan kepalanya berulang kali, tukasnya.

"Percuma.... sekalipun engkau berhasil selamatkan jiwa Pek Kun-gie, apa yang hendak kau lakukan selanjutnya?"

Mula-mula Hoa Thian-hong agak tertegun, kemudian dengan perasaan tak senang hati menjawab.

"Perkataan sian koh! mengandung arti yang sangat dalam seakan-akan engkau telah mengetahui akan hubungan budi serta dendam antara aku dengan Pek Kun-gie?"

"Persoalan itu sudah tersebar luas diseluruh kolong langit, setiap jago dalam persilatan telah mengetahuinya, tentu saja pin ni juga mengetahui akan masalah ini!"

"Bolehkah aku mengetahui sebutan sian koh dan apa pula hubunganmu dengan Pek Kun-gie?"

Tegur Hoa Thian-hong dengan sepasang alis mata berkenyit.

"Sudah lama tidak kupergunakan lagi namaku, maka engkaupun tak usah tahu siapakah aku, dengan Pek Kun-gie bukan sanak bukan keluarga, tiada hubungan apa-apa yang bisa dibicarakan diantara kami berdua"

Diam-diam Hoa Thian-hong merasa amat gusar sekali mendengar jawaban tersebut, pikirnya.

"Bukan sanak bukan keluarga, kenapa engkau harus mencampuri urusan orang lain?"

Sementara itu Rahib bercadar hitam itu telah berkata kembali dengan nada dingin.

"Pek Kun-gie menjadi korban karena cinta, pinni merasa kasihan terhadap nasibnya yang buruk itu, maka aku berhasrat untuk carikan sebuah tempat yang indah panoramanya umuk mengubur jenasahnya disana, agar muda mudi di kolong langit dapat mengetahui serta berjiarah pula kedepan kuburannya"

"Hehh.... heeeh.... heeeh.... sian koa benar-benar seorang manusia yang suka mencampuri urusan orang lain"

Sindir Hoa Thian-hong sambil tertawa dingin.

"jikalau Pek Siau-thian mengetahui akan persoalan ini, dia pasti akan berterima kasih kepadamu, dan seandainya sukma Pek Kun-gie dialam baka mengetahui akan hal ini, dia pun akan ikut tersenyum kerena gembira"

Rahib bercadar hitam itu sama sekali tidak menggubris atas sindiran tersebut, kembali ujarnya lebih jauh.

"Pek Kun-gie adalah seorang gadis suci yang belum pernah dikawini orang, kalau memang engkau tidak menaruh perasaan cinta terhadap dirinya, buat apa kau sentuh jenasahnya sehingga membuat sukmanya di alam baka menjadi tak tenang?"

Setelah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh.

"Cuma saja, kalau engkau bersedia untuk mengakui bahwa kau mencintai dirinya maka pin ni akan serahkan jenasahnya kepada mu dan terserah apa yang hendak kau lakukan terhadap dirinya"

Beberapa patah kata itu sungguh jauh di luar dugaan Hoa Thian-hong, sebagai seorang pemuda yang jujur dan berjiwa lelaki meskipun terhadap orang yang sudah mati namun ia tak bersedia bicara sembarangan.

Karenanya setelah mendengar perkataan dari Too koh tersebut, buhungan budi dan dendam antara dia dengan Pek Kun-gie segera berkecamuk kembali didalam benaknya, ia merasa tidak sepantasnya kalau ia korbankan kepentingan umum demi menjalin hubungan cinta kasih dengan Pek Kungie, lagi pula seandainya ia sampai menjalin hubungan kasih dengan gadis tersebut bagaimana penyelesaiannya dengan diri Chin Wan-hong.

Hubungan yang rumit serta seluk beluk persoalan yang kacau balau membuat Hoa Thian-hong jadi Kebingungan dan tak tahu apa yang musti diucapkan keluar pada waktu itu.

Ketika ditunggunya beberapa waktu namun pemuda itu belum juga bersedia untuk menjawab.

Too koh atau rahib bercadar kain hitam itu menghela napas panjang lalu berkata.

"Sejak dulu sampai sekarang cinta yang berpihak memang tidak mendatangkan kebahagiaan, dalam peristiwa ini aku tak dapat menyalahkan dirimu!"

Habis berkata, ia putar badan kemudian dengan membopong jenasah dari Pek Kun-gie segera berlalu dari situ.

Hoa Thian-hong yang menyaksikan kejadian itu tiba-tiba merasakan kehilangan sesuatu, dengan air mata jatuh berlinang segera ben taknya dengan keras.

"Berhenti!!"

Mendengar bentakan itu, sang rahib bercadar hitam hentikan langkah kakinya kemudian seraya berpaling ia berkata.

"Apa yang hendak kau katakan?"

"Apakah engkau anak buah dari perkumpulan Sin-kiepang?"

"Boleh dibilang begitu boleh juga dibilang tidak!"

Jawab Too koh bercadar hitam itu hambar. Hoa Thian-hong jadi amat gusar, serunya.

"Mula-mula pertama tadi engkau mengatakan bahwa antara dirimu dengan Pek Kun-gie sama sekali tak ada hubungan sanak ataupun kelu arga dan sama sekali tidak kenal satu sama lainnya sekarang engkau mengakui bahwa dirimu lain adalah anggota dan perkumpulan Sin-kie-pang, bicara mencla-mencle sebenarnya mana yang benar?"

Bicara sampai kesitu, dari atas jurang berkumandang datang suara bentakaa keras yang terdengar samar-samar, baik Hoa Thian-hong ma upun too koh bercadar hitam itu sama-sama menengadah keatas.

Tiba-tiba terdengarlah suara teriakan keras bergema datang.

"Kun ji....! Kun Gi....!"

Kian lama suara itu kian mendekat hingga menggema diseluruh jurang tersebut.

Dengan pandangan dingin, too koh bercadar hitam itu melirik sekejap ke arah Hoa Thian-hong kemudian ujarnya, Pek Siau-thian telah turun kebawah tebing, kalau engkau ingin hidup dengan selamat maka hal ini lebih sukar daripada mendaki keatas langit....!"

Selesai berkata, dengan mengikuti dasar jurang tersebut ia segera berkelebat menuju ke arah utara. Hoa Thian-hong jadi gelisah bercampur gusar, ia ikut mengejar dari belakang sambil bentaknya.

"Cepat letakan jerasah itu diatas tanah, kalau tidak jangan salahkan aku tak akan bertindak sungkan-sungkan terhadap dirimu!"

"Hmmm! pada dasarnya engkau memang seorang lelaki tak kenal budi, seorang lelaki yang tak bertanggung jawab kenapa engkau musti sungkan terhadap diriku?"

Tiba-tiba terdengar Pek Siau-thian dengan suara yang penuh emosi berkumandang datang.

"Hoa Thian-hong! engkau berada dimana?"

Walaupun Hoa Thian Hoag mengetahui bahwa Pek Siauthian masih berada diatas tebing namun mendengar suara tersebut seakan-akan berkumandang datang dari punggungnya, ia jadi amat gelisah tanpa terasa serunya kepada too koh bercadar hitam itu.

"Kalau jenasah tersebut tidak kau letakan diatas tanah, aku orang she Hoa segera akan turun tangan"

"Jenasah Pek Kun-gie sudah sewajarnya di selesaikan oleh orang-orang dari perkumpulan Sin-kie-pang sendiri, apa sangkut pautnya urusan itu dengan dirimu?"

Sementara pembicaraan masih berlangsung, kedua belah pihak sama sekali tidak meng-hentikan gerakan tubuhnya, laksana sambaran kilat meresa saling menjejar satu sama lainnya.

Diam-diam kedua belah pihak sama-sama merasa terperanjat, mereka tidak mengira kalau gerakan tubah lawannya ternyata begitu cepat sehingga hampir melampui kemampuan sendiri.

"Benarkah di kolong langit terdapat banyak sekali jago lihay?"

Pikir Hoa Thian-hong dalam hati kecilnya.

Sementara ia masih berpikir, desiran angin tajam sudah menyambar datang, tiba-tiba si anak muda itu berkelebat dua langkah lebih ke depan, jari tangannya bagaikan tombak langsung menotok jalan darah Leng tay hiat di atas punggung too koh bercadar hitam itu.

Tak kala merasakan datangnya acaman yang begitu tajam dari pihak lawan, too koh bercadar hitam itu merasa terperanjat, segera pikirnya.

"Sungguh lihay! ia tak malu menjadi sukma dari kaum pendekar dari kalangan lurus...."

Berpikir sampai disini, dengan menempuh bahaya dia membiarkan totokan tersebut mengancam tubuhnya, sedang dia sendiri sama sekali tidak menggubris ataupun memperdulikan.

Serangan kilat yang dilancarkan Hoa Thian-hong nampaknya sebentar lagi bakal bersarang diatas tubuh too koh bercadas hitam itu akan tetapi pemudu itu buru-buru menarik kembali ancamannya ketika menyaksikan pihak lawan sama sekali tiada maksud untuk menghindar, serunya dengan gusar.

"Aku orang she Hoa tidak ingin melukai orang dari belakang, kalau engkau masih saja tak tahu diri, jangan salahkan kalau aku tak akan berlaku sungkan-sungkan lagi terhadap dirimu!"

Melihat pemuda itu batalkan serangannya, Too koh bercadar hitam itu kembali berpikir dalam hati kecilnya.

"Hoa Goan-siu dapat memiliki seorang bocah segagah ini.... sekalipun mati, ia tak akan menyesa. Aaai.... sayang sekali Kun ji tidak mempunyai rejeki sebaik ini...."

Berpikir sampai disitu, dengan suara dingin ia segera berseru.

"Kalau engkau benar-benar ingin bertempur mari kita cari suatu tempat terpencil yang jauh dari keramaian dunia, mari kita bertempur sepenuh tenaga seindainya engkau mampu menangkan diriku maka jenasah diri Pek Kun-gie boleh kau ambil."

"Aaah! jelaslah sudah kalau Too koh ini adalah seorang anggota perkumpulan Sin-kie-pang, dengan kematian Pek Kun-gie secara mengenaskan, Pek Siau-thian pasti akan gusar bercampur sedih, dalam dendamnya ia tak akan mengampuni jiwaku, andaikata kedua orang ini sampai bekerja sama, jelaslah sudah bahwa aku bukan tandingannya lagi...."

Berpikir sampai disini, ia segera mengambil keputusan untuk menguntit terus dibelakang tubuh Too koh bercadar hitam itu dan sedikitpun tidak mengendorkan pengejarannya.

Rupanya Too koj bercadar hitam itu hafal sekali dengan keadaan medan dalam jurang tersebut, dengan kecepatan bagaikan sambaran kilati ia bergerak terus menuju ke depan, sedangkan Hoa Thian-hong bagaikan sukma gentayangan membuntuti dibelakangnya.

Setelah berlarian kurang lebih setengah jam lamanya, keadaan tanah kian lama kian bertambah tinggi tanpa terasa mereka sudah tinggalkan dasar jurang dan berlarian mendaki keatas sebuah punggung bukit.

Pada waktu itu rembulan sudah tenggelam diarah barat, suasana disekitar bukit itu sunnyi sepi dan gelap tak bercahaya, ketika Hoa Thian-hong masih menguntil dengan kencangnya dibelakang tubuh Too koh bercadar hitam itu, tiba-tiba terdengar rahib tersebut mem bentak keras.

"Hati hati....!"

Hoa Thian-hong terkesiap, tampaklah tubuh rahib itu bagaikan seekor kera dengan lincahnya meloncat naik kesebuah bukit, buru-buru ia pertajam pandangan matanya, setelah mengincar tempat berpinjak tempat yang dipergunakan rahib itu ia segera menyusul dari belakangnya.

Seandainya pada waktu itu ada orang menyaksikan tingkah laku dari mereka berdua maka orang itu akan terkesiap dan kaget.

Hoa Thian-hong sendiri sama sekali tidak menyadari kalau ia berada dalam keadaan bahaya, ia melompat dan melompat terus mem buntuti dibelakang rahib tersebut, kurang lebih setengah jam kemudian mereka sudah mencapai diatas sebuah bukit yang tinggi dan Too koh bercadar hitam itupun segera menghentikan langkah kakinya.

Dengan cepat Too koh bercadar hitam itu membaringkan jenasah Pek Kun-gie diatas tanah, kemudian sesudah mengatur pernafasan perlahan-laha maju kedepan.

Hoa Thian-hong sendiri sambil menyeka keringat yang membasahi keningnya, ia awasi sebentar suasana disekeliling tempat itu ketika dilihatnya Too koh bercadar hitam iiu sudah membaringkan tubuh Pek Kun-gie ke atas tanah ia segera menerjang maju kedepan.

Terlihatlah Pek Kun-gie memejamkan matanya rapat-rapat, wajahnya pucat pias bagaikan mayat, nafasnya sudah berhenti dan sekujur ba dannya jadi dingin dan kaku, rupanya gadis itu benar-benar sudah putus nyawa.

Hoa Thian-hong sendiri sebenarnya adalah seorang pemuda yang romantis, akan tetapi berhubung pendidikan rumah tangganya amat ketat maka sejak kecil ia sudah terdidik untuk bisa menguasai perasaan sendiri.

Ketika Pek Kun-gie memperlihatkan rasa cintanya yang mendalam, dia sendiripun tertarik hatinya pada gadis itu, apa lacur dendam kesumat yang tertanam antara golongan putih dan golongan hitam sudah terlalu mendalam hingga ibaratnya api dan air.

Sebagai seorang pemuda yang bercita-cita untuk mewujudkan pesan terakhir dari mendiang ayahnya yakni membasmi kaum iblis serta menyelamatkan umat persilatan dari badai pembunuaan membuat ia harus mengeraskan hati serta mengabaikan rasa cinta gadis she Pek itu.

Sebaliknya kini setelah orang yang dihadapannya telah berubah jadi mayat, pelbagai rasa sedih, cinta dan aneka ragam perasaan lainnya segera berkecambuk jadi satu membuat ia jadi amat terharu dan air mata jatuh bercucuran dengan derasnya.

Diam-diam ia berdoa.

"Oooooh....! Kun Gie orang yang sudah mati tak akan terikat oleh dendam andaikata diantata kita terdapat dendam atau sakit hati kesemuanya itu telah terhapus sampai disini saja, kalau selama ini aku telah mengabaikan dirimu, hal ini kulakukan karena keadaan terpaksa kalau engkau benar-benar mencictai aku semestinya engkau da pat memahami keadaanku serta memaafkan kesalahanku itu...."

Mendadak terdengar suara dari Too koh bercadar itu berkumandang datang.

"Tiga depa dari hadapanmu ada Sin leng, kalau engkau berpura-pura menyatakan cinta dihadapan orang yang telah mati maka suatu ketika engkau akan mendapat ganjaran yang setimpal!"

Mendengar perkataan itu, Hoa Thian-hong merasa amat gusar ia segera menengadah dan berseru.

"Menyindir orang tanpa bukti Sian koh! apakah engkau tidak merasa bahwa caramu itu terlalu kejam?"

"Tidak berbudi, perasaan beku! apakah pin ni tak boleh mendongkol terhadap manusia seperti itu!"

Hoa Thian-hong benar-benar merasa amat gusar sambil membopong jenasah Pek Kun-gie, ia bangkit berdiri lalu memandang sekejap sekeliling tempat itu untuk mencari tempat yang baik untuk menyimpan jenasah Pek Kun-gie, kemudian baru berusaha untuk mengusir Too koh bercadar hitam itu.

Tiba-tiba sorot matanya terbentur dengan sebuah kuburan kecil tiada jauh dihadapannya, didepan kuburan berdirilah sebuah batu per ingatan, baik batu nisan maupun batu peringatan nampak antik sekali dan agaknya sudah berusia ratusan tahun.

Hoa Thian-hong tertegun ia segera berkelebat kehadapan kuburan itu, ia temukan di atas batu peringatan terukir tiga hurup besar yang terdiri dari rangkaian hurup kuno dan berbunyi demikian, Kuburan pemendam pedang!

Dalam pada itu, dengan suara dingin Too koh bercadar hitam itu telah berkata dengan suara dingin, Hoa Thian-hong, andaikata engkau merasa tidak yakin untuk menangkan diriku, cepat lepaskan jenasah Pek Kun-gie dari bopongan mu dan segera mengundurkan diri dari puncak ini, memandang diatas rasa cinta yang pernah diberikan Pek Kun-gie kepadamu, aku tak akan melukai selembar jiwamu.

Hoa Thian-hong mengerutkan sepasang alis matanya yang tebal sebelum bibirnya sempat membantah matanya yang tajam telah menyapu sekejap disekeliling tempat itu ternyata dimana ia berdiri pada saat ini adalah sebuah puncak gunung yang tinggi menjulang ke angkasa, sekeliling puncak itu merupakan rentetan pegunungan yang tinggi, kabut tebal menyelimuti hampir seluruh permukaan tanah.

la sendiri tak tahu bigaimana caranya hingga dirinya berada diatas puncak bukit yang begitu tinggi, setelah mengetahui jelas keadaan disekelilingnya ia merasa bergidik dan bulu kuduknya pada bangun berdiri, dipandangnya sekejap wajah Pek Kun-gie yang pucat pias itu tampaklah gadis itu semakin putih mukanya hingga menyerupai kertas.

Agaknya Too koh bercadar hitam itu sudah tak sabar untuk menanti lebih lama lagi, sambil kebaskan senjata hud tim ia berseru.

"Hoa Thim Hong, engkau yang akan pergi dari sini atau pin ni yang harus tinggalkan tempat ini, ayoh cepat ambil keputusan."

"Engkau yang pergi!"

Bentak Hoa Thian-hong dengan gusar.

Too koh bercadar hitam itu mendengus dingin badannya melayang maju kedepan dan....

Sreet!!

senjata hud tim nya menyapu kemuka.

Hoa Thian-hong semakin mendongkol menyaksikan datangnya ancaman dari lawan, dengan cepat ia loncat bangun dari atas tanah telapak kirinya menghajar senjata musuh sedangkan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya menotok kedepan.

Terdengar desiran tajam yang amat memekikkan telinga disertai segulung angin serangan yang maha dahsyat, laksana kilat cepatnya menerobos kedepan mengancam jalan darah sian ki hiat ditubuh Too koh bercadar hitam itu, begitu dahsyat serangannya hingga sangat mengejutkan hati orang.

Diam-diam Too koh becadar itu merasa amat terperanjat, buru-buru ia berubah jurus senjata Hud tim nya balik menyerang pergelangan ta ngan musuh sementara telapak kirinya melancarkan satu pukulan berhawa lunak yang hebat menghantam dada si anak muda itu.

"Sungguh lihay Too koh ini,"

Pikir Hoa Thian-hong dengan kaget.

"jurus demi jurus serangan yang dilancarkan Too koh ini penuh berisi tenaga, jelas dia adalah seorang jago kenamaan, mungkinkah dalam perkumpulan Sin-kie-pang benar-benar terdapat bagitu banyak jago kenamaan?"

Berpikir sampai disitu, tubuhnya segera menerjang maju kedepan secara beruntun dia lancarkan delapan buah pukulan dan kesemuanya merupakan satu jurus yang sama yakni jurus Kun-siu-ci-tauw.

Delapan buah serangan tersebut ibaratnya gulungan air sungai Tiang kang yang tiada berputusan, seandainya musuh yang dihadapi bukan seorang tokoh persilatan yang ampuh, tak mungkin akan mampu urtuk menghadapi datangnya ancaman tersebut.

Too koh bercadar hitam itu sendiri, dengan sebilah senjata hud tim nya yang maha dahsyat, terutama sekali kepandaian Liu in bui siu atau awan mengalir ujung baju beterbangan merupakan kepandaian terampuh di kolong langit kendatipun pada mula-mulanya masih bisa bertahan dengan seenaknya namun lama kelamaan dia harus menghadapi nya dengan sepenuh tenaga dan sedikitpun tidak berani berayal.

Selelah berhasil memunahkan delapan buah serangan tersebut, diam diam too koh bercadar hitam itu menghembuskan napas lega, menggunakan kesenpatan itu ia lancarkan serangan balasan.

"Hoa Thian-hong!"

Serunya sambil tertawa dingin.

"mengapa engkau tidak cabut keluar pedangmu?"

"Bertempur dengan tangan kosongpun belum tentu engkau mampu untuk mempertahankan diri!"

Jawab Hoa Thian-hong angkuh.

"Hmmm! bicara takabur dan pandai omong besar, engkau benar-benar seorang manusia yang tak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi!"

"Hmm! kalau memang begitu, cobalah terima pukulanku ini!"

Hardik Hoa Thian-hong dengan gusar.

Dari posisi Tiong kiong ia bergerak menuju kepintu hong bun dengan jari tangan menggantikan pedang, sebuah totokan maut dengan ilmu menyerang sampai mati segera dilepaskan.

"Bocah tak tahu diri, engkau memang benar-benar kurang ajar....!"

Maki Too koh itu dengan gusar.

Tubuhnya berkelebat kesamping, telapak kirinya dengan jurus Toa mo hui sah atau pasir beterbangan ditengah gurun melancarkan sebuah gulungan maut kedepan, sementara hud tim ditangan kanannya berputar membabat wajah lawannya.

Ketika dalam gerakan menyambar gagang hud tim mengurat dan tiba-tiba mengancam urat nadi pada pergelangan Hoa Thian-hong dalam satu jurus tersembunyi tiga gerakan yang penuh dengan nafsu membunuh, serangan tersebut betul-betul mengerikan sekali.

Diam-diam Hoa Thian-hong merasa terkesiap, satu ingatan segera berkelebat dalam benaknya, dia merasa bahwa gerakan tubuh Too koh berkeruedurg hitam ini seperti pernah dikenal dan dilihatnya disuatu tempat.

Tiba-tiba terdengar Too koh bercadar hitam berseru dingin.

"Hoa Thian-hong apabila engkau mampu mempertahankan diri terhadap seranganku dengan jurus In mao sam wu atau mega menari-nari, pin ni akan tunduk seratus persen dan segera mengundurkan diri dari tempat ini."

Secara tiba-tiba Hoa Thian-hong telah menyadari bahwa gerakan tubuh Too koh tersebut mirip sekali dengan seseorang dan tanpa terasa diapun teringat akan seseorang yang lain.

Dengan keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya pemuda itu segera meloncat mundur kebelakang, serunya dengan gelisah.

"Cianpwee harap tunggu sebentar, aku ada perkataan hendak kusampaikan padamu!"

"Manusia yang telah mati tak dapat hidup kembali, bicara omong kosong apa gunanya"

Sahut Too koh bercadar hitam dengan sinis.

Senjata hud tim nya dikebaskan ke arah depan, cahaya hijau segera tersebar keempat penjuru beratus-ratus lembar bulu Hud tim yang menyebar kebawah, serentak mengancam jalan darah penting diseluruh badan lawannya.

Hoa Thian-hong terkejut bercampur cemas, dalam waktu singkat pelbagi ingatan berkelebat dalam benaknya bagaimanapun juga ia tak berani melancarkan serangan balasan, dalam keadaan yang amat kritis sekuat tenaga badannya loncat mundur kebelakang.

Menyaksikan serangannya tidak mengenai sasaran, Too koh bercadar hitam itu segera mengejar kedepan, senjata Hud tim nya sekali lagi menyerang kemuka bentaknya dengan gusar.

"Mengapa engkau tidak lancarkan serangan balasan?"

"Menteri setia pendekar sejati, anak berbakti cucu budiman...."

Sahut Hoa Thian-hong sambil menyusup kesamping dan sekali lagi meloloskan diri dari ancaman kedua.

Too koh bercadar hitam itu merasa amat terharu akan tetapi diluar sama sekali tidak mengendorkan pengejaranya, sambil mendesak maju kedepan serunya sambil tertawa dingin.

"Hoa Thian-hong engkau menghormati pin ni sebagai apa?"

"Aku menghormati cianpwee sebagai pendekar sejati...."

Jawab si anak muda itu dengan gelisah.

Belum habis dia berkata, Too koh bercadar hitam itu mendengus dingin senjata Hud timnya dikibaskan kemuka dan untuk ketiga kalinya dia melancarkan sebuah serangan kilat.

Hoa Thian-hong merasa amat gelisah pikirnya.

"Sudah sewajarnya kalau dia merasa sedih karena menyaksikan darah dagingnya mengalami musibah, baiklah! akan kusambut sebuah serangannya agar rasa mangkel dan mendongkolnya yang berkecambuk dalam dadanya bisa keluar...."

Berpikir sampai disini, ia segera salurkan hawa murninya keseluruh badan terutama sekali disekitar punggungnya kemudian dengan cepat maju kedepan.

Ketika pemuda itu berkelebat ke arah sisi kiri, Too koh bercadar hitam itu merasa curiga bercampur sangsi akan tetapi anak panah sudah ada dibusur mau tak mau harus dilepaskan juga.

Sambil membentak keras, senjata hud timnya segera dibabat ke arah bawah dengan amat dahsyat.

"Aduuuh....! Hoa Thian-hong mendengus dingin, belasan jalur luka yang mengucurkan darah segar muncul diatas punggungnya, daging merekah dan keadaannya mengerikan sekali, tubuhnya segera terlempar hingga mencapai sejauh dua tombak dari tempat semula. Tertegun hati Too koh bercadar hitam itu menyaksikan kejadian tersebut, dengan cepat ia membopong maju Pek Kun-gie kemudian kabur turun bukit dan sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan Hoa Thian-hong berdiri termangu-mangu, beberapa saat kemudian ia menghela napas panjang dan bergumam seorang diri.

"Ataai....! manusia yang telah mati tak bakal hidup kembali, bicara kosong apa gunanya?"

Untuk beberapa saat lamanya karena murung, pemuda itu telah melupakan rasa sakit diatas punggungnya.

Baru saja dia akan menuruni bukit itu untuk kembali pada ibunya, mendadak pemuda itu teringat kembali akan kuburan pemegang pedang, segera pikirnya.

"Dalam dunia persilatan memang sering kali terdapat manusia yang berwatak aneh dan suka menyendiri, orang itu menggunakan kuburan untuk memendam pedangnya, aku rasa dia pastilah seorang manusia yang luar biasa. Perlahan-lahan ia dekati kuburan tersebut, ketika diperiksa dengan seksama mendadak di-temuinya bahwa kuburan pemegang pedang sudah pernah dibongkar orang bahkan kalau ditinjau dari keadaan disekeliling tempat itu jelas pembongkaran itu terjadi belum lama berselang. Diam-diam segera pikirnya.

"Orang persilatan kebanyakan pada menyukai senjata tajam apa lagi kuburan pemendam pedang ini tiada pemilik, tidak aneh kalau tempat seperti ini paling sudah memancing kedatangannya orang tapi batu peringatan itu sudah kuno dan hurufnya sudah kabur semestinya usia kuburan ini sudah mencapai dua tiga ratus tahun lamanya, pedang didalam kuburan ini semestinya sedari dulu sudah diambil orang kenapa belakangan ini masih nampak juga bekas-bekas digali?"

Berpikir sampai disini, timbullah perasaan ingin tahu dalam hati kecilnya, ia meyingkirkan batu besar diatas kuburan itu dan segera ditelitinya dengan seksama.

Luas kuburan pemendam pedang itu hanya empat depa, lapisan kuburan terdiri dari petak-petak batu persegi empat, berhubung tempat itu pernah digali orang maka sewaktu menyingkirkan petak-petak batu itu dapat dilakukan dengan mudah sekali, dalam waktu singkat seluruh lapisan kuburan bagian depan sudah terbongkar hingga muncullah sebuah papan batu cadas yang berbentuk panjang.

Diam-diam Hoa Thian-hong berpikir didalam hatinya.

"Meskipun kuburan ini kecil akan tetapi bangunannya megah sekali, nampaknya kuburan ini adalah kuburan orang kaya...."

Dalam hati masih berpikir, tangannya telah bekerja membongkar lapisan batu cadas tersebut.

Dibawah lapisan batu itu merupakan sebuah liang kosong berbentuk panjang, pada lapisan liang itu membujurlah sebuah lapisan batu lain yang panjangnya tiga depa dengan luas beberapa depa diatas lapisan itu terukirlah hurup-hurup lembut yang amat rapat kecuali itu tiada benda lainnya lagi.

Waktu itu fajar baru saja menyingsing di ufuk disebelah timur, dengan mata yang tajam Hoa Thian-hong mengamati tulisan itu terbacalah tulisan itu berbunyi demikian.

"Setelah tamat belajar ilmu aku terjun kedunia persilatan dengan andalkan sebilah pedang yang berat!"

Hoa Thian-hong terperanjat sambil meraba pedang baja yang tergantung dipinggangnya, ia berpikir.

"Mungkinkah pedang baja yang dimaksud adalah pedang bajaku ini.... Ia membaca tulisan itu lebih jauh.

"Berkat perlindungan dari perguruan, semuanya berjalan lancar dan berjalan sepuluh tahun nama besarku telah tersohor diseluruh kolong langit dalam usia semuda ini tentu saja hasil itu membuat hatiku sangat gembira.... tapi sayang suatu ketika karena kurang ber hati-hati aku telah salah membunuh seorang pendekar sejati, hasil jerih payahku selama sepuluh tahun punah dan hancur dalam sehari dalam malu dan putus asa, kupendam pedang bajaku, mengasingkan diri dan tak bersedia membicarakan soal ilmu silat lagi...."

Membaca sampai disini Hoa Thian-hong menghela napas panjang, pikirnya.

"Seringkali orang menang silat dan lupa daratan memang akibatnya adalah penyesalan yang tiada akhirnya...."

Kemudian pemuda itu teruskan kembali pembacaannya.

"Dalam ketenangan, timbullah satu ingatan dalam benakku, aku berhasrat munculkan diri kembali dalam dunia persilatan, aku berusaha berbuat amal dan kebajikan untuk menebus kesalahan yang pernah kulakukan dimasa lampau, puluhan tahun telah berlalu bagaikan sehari. Timbul perasaan kagum dan hormat dalam hati Hoa Thianhong dengan semangat berkobar, ia melanjutkan membaca tulisan itu.

"Walaupun pada saat ini aku tidak pernah dibantu oleh pedang berat, namun dengan andalkan tenaga dalam yang tinggi walaupun dengan kayu ataupun rumput tetap tidak ada tandingannya di kolong langit, lama kelamaan sadarlah aku tentang arti yang sebenarnya dari pada kata yang mengatakan, pedang enteng menangkan pedang berat, pedang kayu menangkan pedang baja, latihankusemakin rajin dan perbuatan amalku semakin besar...."

Hoa Thian-hong cabut keluar pedang bajanya dan menimang-nimang, lalu gumannya seorang diri.

"Pedang enteng menangkan pedang berat, pedang kayu menangkan pedang baja....?"

Ia gelengkan kepalanya dan segera alihkan kembali sorot matanya keatas lapisan batu tersebut.

Setelah hidup seratus tahun, kepandaian silat yang kumiliki semakin meningkat terus, aku menyadari bahwa perguruanku tak boleh putus dengan begitu saja lantaran aku karena itu selain pedang baja yang berat kusertakan pula sebait "Kiam keng"

Ditempat ini.

Membaca sampai disini, sorot matanya dengan tajam menyapu sekejap sekeliling liang pedang itu dengan harapan bisa menemukan 'Kiam keng' atau catatan pedang seperti yang dimaksudkan namun liang batu itu kosong melompong kecuali batu cadas tersebut tiada benda yang lain lagi.

Dengan hati terkejut ia melanjutkan membaca tulisan itu.

"Selama membawa pedang ditangan, ternyata di kolong langit tiada seorang manusiapun yang mampu menandingi diriku, tiada benda yang mampu menahan pukulanku, dalam keadaan begini timbullah ingatan dalam benakku, hidup dengan pedang lebih baik hidup tanpa pedang, tapi perguruan turun temurun mewariskan pedang tersebut, itu berarti dibalik hal itu pastilah terdapat sesuatu maksud yang tertentu maka aku segera menutup diri untuk memecahkan rahasia ini, setelah menghabiskan waktu sembilan belas tahun, akhirnya dapat aku resapi apa artinya ada pedang menangkan tanpa pedang berat meranakan pedang ringan karena itu dengan sepenuh tenaga kuciptakan serangkaian catatan Kiam keng sebagai pembantu mereka yang ingin memperdalam ilmu pedangnya cataitan terlampir dibawah dan siapa yang berjodoh boleh mempelajarinya!"

Dibawah tulisan tersebut tertulis kembali nama dari pemilik kuburan tersebut yakni"

"Ahli waris angkatan keempat puluh empat dari perguruan pedang Gi Ko"

Dan tulisan dipaling bawah adalah Catatan Kiam keng. Hoa Thian-hong merasakan hatinya bergolak keras setelah membaca sampai disitu, dengan suara lantang segera bacanya.

"Peraturan menurut langit, kerugian pasti bersisa tenaga masih kurang kekerasan bukanlah...."

Baru saja ia berbicara sampai disitu mendadak dari belakang tubuhnya berkumandang datang suara bentakan keras disusul segulung angin pukulan yang maha dahsyat menggulung datang.

Hoa Thian-hong merasa amat terperanjat, ia tak menyangka siapakah jago lihay dalam dunia persilatan yang memiliki tenaga pukuln yang begitu dahsyat?

Ditengah desingan angin tajam, pemuda itu buru-buru menjejakan kakinya keatas tanah dan membumbung keangkasa tinggi hingga menca pai ketinggian tiga tombak dari permukaan.

Blaaaamm!

ditengah benturan keras yang menggelegar di angkasa, batu nisan didepan kuburan pemendam pedang serta papan batu dalam liang terhajar hingga hancur jadi berkeping-keping kemudian tersebar kemana-mana....

Hoa Thian-hong merasa terkejut bercampur gusar ketika ia melayang turun keatas tanah dan menengok ke arah orang yang melan carkan serangan itu maka tampaklah Pek Siauthian ketua dari perkumpulan Sin-kie-pang yang amat tersohor itu sudah berdiri angker dihadapannya.

Pek Siau-thian berdiri kaku dihadapannya dengan mulut terkatup rapat-rapat, jubahnya yang lebar berkibar terhembus angin sikapnya yang begitu mengerikan membuat orang jadi segan dan tak berani memandang rendah dirinya.

Hoa Thian-hong teramat gusar, pada saat itu dia sudah lupa akan arti jeri ataupun takut sambil mempersiapkan pedang bajanya ia berseru dengan gusar.

"Pek Siau-thian! persoalan lain tak usah kita bicarakan lagi, mari kita berduel untuk menentukan siapa menang siapa kalah, kita bereskan semua hutang lama maupun hutang baru!"

Air muka Pek Siau-thian berubah hebat, perlahan-lahan katanya.

"Kalau didengar dari pada ucapanmu, apakah putriku benar-benar telah mati?"

Wajahnya penuh emosi, suaranya gemetar dan ia tak dapat mengua-sahi perasaan ngeri serta kecewa yang berkecamuk dalam benaknya.

Kematian dari Pek Kun-gie merupakan suatu kejadian yang amat menyesalkan hati Hoa Thian-hong, rasa sedih yang dialaminya sukar untuk dilukiskan dengan kata-kata, tetapi bara kebencian yang masih tertanam didasar hatinya membuat pemuda itu tak sudi memperlihatkan perasaan hati yang sebenarnya dihadapan Pek Siau-thian.

Mendengar pertanyaan itu, dia segera mengangguk sebagai tanda membenarkan ucapan itu.

Sekujur badan Pek Siau-thian gemetar keras sesudah termenung beberapa saat, tiba-tiba ia menengadah keatas dan memperdengarkan suara gelak tertawa yang amat menyeramkan.

"Heeehh.... heeehh dimanakah jenasahnya?"

Hoa Thian-hong tidak langsung menjawab, diam-diam pikirnya didalam hati.

"Ilmu silat yang dimiliki too koh bercadar hitam itu berasal satu aliran dengan kepandaian yang dimiliki Pek Kun-gie kalau kutinjau dari sikapnya sewaktu membopong jenasah Pek Kun-gie tanpa bersedia untuk melepaskannya, mungkin dia adalah bininya Pek Siau-thian atau ibu kandung dari kakak beradik itu, tapi itu hanya menurut dugaanku belaka belum tentu dugaanku itu tepat."

Sementara itu ketika Pek Siau-thian menyaksikan pemuda itu hanya membungkam terus tanpa menjawab, hatinya kembali tercekat, tegurnya dengan nada agak gemetar.

"Kenapa? apakah engkau takut terjadi urusan maka kau lenyapkan jenasah itu dari muka bumi?"

"Engkau tak usah menggunakan pikiran seseorang manusia rendah untuk menilai seorang kuncu, aku orang she Hoa bukan manusia semacam itu, aku tak dapat melakukan pekerjaan seperti itu"

"Dimanakah jenasahnya?"

Bentak Pek Siau-thian tiba-tiba dengan suara keras. Mula-mula hawa gusar menyelinap diatas wajah Hoa Thianhong kemudian dengan dingin dan hambar jawabnya.

"Tak usah banyak bertanya, aku orang she Hoa sudah cukup menerima penghinaan serta pencemoohan dari kalian dan akupun tahu persoalan yang terjadi pada hari ini tak dapat diakhiri secara damai, daripada buang waktu dengan percuma lebih baik kita tetapkan saja mati hidup kita dengan ilmu silat."

Mendengar perkataan itu, Pek Siau-thian segera menengadah keatas dan tertawa seram suaranya mengandung perasaan sedih, gusar, benci, mendendam serta pelbagai perasaan lain, begitu seramnya suara tertawa itu hingga jauh lebih tak enak di dengar dari pada suara tertawa.

Seluruh bukit dan udara segera menggema dan mengalunkan tertawanya yang mengerikan itu....

Hoa Thian-hong merasa bergidik hingga bulu kuduknya pada bangun berdiri, pikirnya.

"Cinta kasih ayah anaknya selalu sama meskipun Pek Siau-thian adalah seorang jagoan yang amat lihay namun kesedihannya karena kehilangan putrinya yang tercinta benar-benar memilukan."

"Aaaai....! dalam pertempuran yang bakal terjadi hari ini mungkin salah satu diantara kita berdua bakal menemui ajalnya...."

Berpikir sampai disini, sengaja ia berseru dengan suara dingin.

"Hmmm! sebagai seorang pangcu dari perkumpulan Sin-kie-pang mengapa tidak bersikap lebih terbuka sedikit?"

Gelak tertawa Pek Siau-thian segera sirap, sepatah demi sepatah ujarnya dengan nada menyeramkan.

"Kalau hari ini aku tak mampu membinasakan dirimu maka perkumpulan Sinkie-pang akan buyar dengan begitu saja, besok malam pertarungan besar Kian ciau tayhwee pun tak ada manusia yang bernama Pek Siau-thian lagi."

Hoa Thian-hong merasakan semangatnya berkobar dengan sikap bertempur ia berteriak keras.

"Bagus sekali! selama aku orang she Hoa masih dapat bernapas, aku pasti akan bertempur dengan dirimu hingga titik darah penghabisan, aku tak mungkin akan tinggalkan bukit ini dengan begitu saja."

OoooooOoooooo NAFSU membunuh yang amat tebal dengan cepet menyelimuti seluruh wajah Pek Siau-thian, sambil tertawa dingin tubuhnya bergerak maju kedepan, telapak tangannya laksana kilat melancarkan sebuah pukulan dahsyat ke arah dada lawan.

Hoa Thian-hong tetap bersikap angkuh dan sama sekali tak bermaksud menghindarkan diri kesamping, tubuhnya tetap berdiri tegak ditempat semula sementara pedang bajanya diayun kedepan....

Sreeet!

sebuah serangan balasan telah dilepaskan.

Pek Siau-thian merasa amat terperanjat dan hatinya bergentar keras dan perasaan tersebut belum pernah dialami selama hidup.

Sejak mendirikan perkumpulan Sin-kie-pang, hampir separoh jagad telah berada dalam genggamannya tidak membicarakan soal kepandaian silatnya, cukup meninjau kepandaiannya mengendalikan serta menguasai anak buahnya sudah bisa diketahui bahwa dia adalah sseorang manusia yang luar biasa.

Dalam sekilas pandangan, ia sudah tau bahwa Hoa Thianhong memiliki bakat yang bagus dan dikemudian hari bakal mencapai puncak kesempurnaan karena itu kemauan yang dicapai oleh Hoa Thian-hong sudah berada dalam dugaannya namun kemajuan yang sangat mendadak itulah justru membuat hatinya bergetar keras ia tak dapat menemukan dimanakah letak alasannya hingga pemuda itu berhasil memperoleh kemajuan secepat itu.

Jilid 5 HARUSLAH diketahui serangan yang dilancarkan oleh Hoa Thian-hong barusan sama sekali tidak memperlihatkan kesempurnaan dalam tenaga dalam juga bukan keampuhan dalam jurus serangan melainkan kegagahan keberanian serta hasil latihan yang semestinya sudah mencapai puluhan tahun lamanya dan pengalamanya dalam menghadapi ratusan pertarungan itulah yang menggetarkan kesempurnaan tersebut tak dapat diciptakan baik dengan obat-obatan maupun dengan kecerdasan, kematangan itu hanya bisa dihasilkan karena latihan yang lama serta seringnya bertempur.

Diam-diam Pek Siau-thian merasa amat terperanjat, dengan cepat menyingkir kesamping kiri pemuda itu kemudian melancarkan sebuah serangan lagi.

Hoa Thian-hong menggetarkan pedang bajanya kebawah untuk memunahkan serangan tersebut, pikirnya.

"Kun Gie sudah mati, dendam kesumat inipun tak dapat dihindari lagi, Pek Siaiu Thian sebagai seorang pemimpin persilatan pasti akan berusaha keras untuk membalas dendam sakit hati akan kematian putrinya itu, tapi aku merasa bersalah meskipun kematiannya membuat aku menyesal namun aku tak dapat mengorbankan jiwaku demi mensukseskan harapan Pek Siauthian untuk membalas dendam...."

Berpikir sampai disini ia segera membentak keras....

Sreett!

sreett!

secara beruntun ia lepaskan dua buah serangan dengan kedu dukan menyerang menggantikan posisi lawan dan ia berusaha merebut diatas angin.

Desiran angin pedang menggetarkan telinga Pek Siau-thian, hawa pedang yang terpancar keluar dari senjata tersebut mampu melukai orang tanpa berwujud.

Sementara itu Pek Siau-thian sendiri sambil melayani serangan-serangan lawan, dalam hati diam-diam membuat perhitungan, pikirnya.

"Tindak tanduk ini seringkali berada diluar dugaanku, rupanya ia sudah berhasil mencapai kesempurnaan dalam ilmu silatnya dan jelas merupakan ancaman terbesar bagi dunia persilatan, Kun Gie sudah mati dan perduli bagaimanapun juga hari ini aku harus membinasakan bocah keparat ini tapi.... besok pertemuan besar Kian ciau tayhwee bakal diselenggerakan, aku harus menghindari pertempuran-pertempuran yang terlalu membuang tenaga serta berusaha keras untuk menghemat tenaga...."

Berpikir sampai disini secara tiba-tiba ia lancarkan tiga buah serangan berantai kemudian bentaknya keras-keras.

"Tahan!"

Hoa Thian-hong menghindar satu langkah kebelakang sambil silangkan pedangnya didepan dada, ia menegur.

"Engkau ada urusan apa?"

Wajah Pek Siau-thian Kaku dan sedikitpun tidak menunjukkan perasaan apapun, ujarnya.

"Tahukah engkau, kemarin malam ada urusan apa putriku yang tidak berbakti itu datang mencari dirimu?"

Dengan penuh perasaan sedih, Hoa Thian-hong menggeleng lalu jawabnya lirih.

"Pada saat itu aku sedang berlatih pedang dibelakang bukit, aku tak sempat berjumpa muka dengan dirinya ketika aku menyusul kesini dia...."

Terbayang kembali kejadian tatkala ia di kerubuti orang tempo hari, Pek Kau Gie begitu kuatir, cemas bercampur gelisah memandang ke arahnya membuat ia merasa amat sedih sehingga tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Terdengar Pek Siau-thian tertawa dingin dan berseru.

"Orang she Hoa, terus terang kuberitahukan kepadamu, pihak perkumpulan Sin-kie-pang, Hong-im-hwie, Thong-thian-kauw untuk sementara waktu telah melupakan perselisihan pribadinya dan telah membentuk persekutuan untuk bersamasama membentuk jebakan maut disekitar tempat terselenggaranya pertemuan besar itu, asal kalian besok pagi berani menghadiri pertemuan besar Kian ciau tayhwee maka kalian manusia-manusia yang berlagak sok mulia akan dibasmi semua dan dibunuh habis dari muka bumi!"

Walaupun kejadian ini sudah berada dalam dugaan para jago, akan tetapi setelah perkataan itu diutarakan dari mulut Pek Siau-thian sendiri, tak urung membuat Hoa Thian-hong terkesiap juga hingga air mukanya berubah sangat hebat.

Terdengar Pek Siau-thian menghela napas panjang, kemudian menyambung lebih jauh.

"Siapa tahu putriku yang tak berbakti itu mencari kematian buat diri sendiri, matanya sudah buta dan menganggap engkau seorang pria yang suka memandang tinggi soal cinta, ia berharap bisa mendampingi dirimu sepanjang hidup setelah dia mengetahui akan rahasia ini dan menyaksikan kalian terancam kepunahan, maka dengan menempuh bahaya ia memohon kepadaku agar memberi petunjuk untuk menghindarkan kalian dari bencana maut, ia telah berlutut satu hari satu malam lamanya. Aaaai.... sungguh menyesal kukabulkan permintaannya"

Berbicara sampai disini seluruh kulit tubuhnya berkerut kencang sambil memandang keangkasa, ia membungkam dalam seribu bahasa, dalam waktu singkat itulah belbagai macam kesedihan berkecamuk dalam benak Pek Siau-thian membuat ia berdiri termangu-mangu.

Hoa Thian-hong tak dapat menahan diri, dua titik air mata jatuh membasahi pipinya diam-diam is berpikir.

"Sungguh tak kusangka, tanpa kusadari aku telah berhutang budi yang demikian besarnya terhadap dia. Aaaai....! takdir telah menentukan segala-galanya apa yang dapat kulakukan lagi?"

Tiba-tiba Pek Siau-thian berkata lagi dengan suara keras.

"Hoa Thian-hong tahukah engkau tiba-tiba hatiku berubah jadi lunak dan aku bersedia mengkhianati persekutuan dengan pihak lain sebaliknya malah membantu musuh dengan mengabulkan permintaan putriku itu?"

Hoa Thian-hong tertegun kemudian jawabnya.

"Sadar akan kesalahan yang dilakukan selama ini dan engkau bermaksud meninggalkan yang sesat kembali kejalan yang benar"

"Kentut!!"

Bentak Pek Siau-thian dengan penuh kegusaran. Dalam hati Hoa Thian Hoag segera berpikir.

"Rupanya Pek Siau-thian sudah terlanjur tersesat sehingga meskipun sang Budha turun keatas bumi sendiripun belum tentu membu at ia bertobat diri segala dosanya. Sesudah berpikir sebentar, diapun berkata.

"Sejak kecil Kun Gie dibesarkan dibawah perawatanmu, kalian berdua sudah hidup berdampingan selama banyak tahun membuat cinta kasihmu terhadap dirinya dalam bagaikan samudra...."

Makin mendengar, Pek Siau-thian merasa semakin kesal, ia segera ulapkan tangannya memotong perkataannya yang belum selesai itu, serunya.

"Engkau jangan menyamkan diri orang lain bagaikan dirimu, engkau adalah seorang anak yang berbakti apa yang diucapkan ibumu selalu kau turuti, engkau tak pernah membangkang perkataan ibumu, sebaliknya putriku itu bukanlah seorang putri yang berbakti, aku melarang dia untuk mencintai dirimu sebaliknya dia malah justru tak mau dengarkan perkataanku, mencari penyakit buat diri sendiri sehingga membuat akupun harus menanggung rasa malu karena ditertawakan oleh setiap orang di kolong langit!"

Hoa Thian-hong merasa tak tega membiarkan Pek Kun-gie yang sudah meninggal dunia dicaci maki oleh ayahnya, tanpa terasa ia segera menimbrung dari samping.

"Ucapanmu itu terlalu serius, andaikata keadaan tidak melarang aku untuk membatasi diri dalam pergaulan, siapa tahu kalau aku dapat berhubungan lebih mendalam lagi dengan putrimu hingga membawanya kejenjang perkawinan? siapa yang akan mentertawakan kami?"

Pek Siau-thian tertawa dingin.

"Engkau tak usah mengatakan persoalan itu meskipun engkau berbakti pada orang tuamu belum tentu ibumu bertindak bijaksana, aku bukanlah manusia sembarangan, sekalipun putriku yang tak berbakti itu kupelihara sendiri sampai dewasa akan tetapi aku tak akan mengorbankan keselamatan anggota Sin Kie Hong yang mencapai jumlah seratus laksa orang itu hanya dikerahkan ingin mewujudkan hubungan kalian berdua.

"Seratus laksa orang?"

Seru Hoa Thian-hong dengan hati terperanjat, hampir saja tak percaya dengan pendengaran sendiri.

"Hmm! mimpi pun engkau tak pernah menyangka bukan?"

Sahut Pek Siau-thian dengan wajah penuh ejekan.

"Aaah....! mungkin ia memperhitungkan pula keluarga mereka semua.... pikir Hoa Thian-hong didalam hati, akan tetapi kalau satu keluarga terdiri dari sepuluh orang itu berati anggota perkumpulan Sin-kie-pang semuanya berjumlah sepuluh laska orang, kemampuan Pek Siau-thian untuk memimpin anggota sebanyak itu memang benar-benar luar biasa serta mengagumkan sekali.... Berpikir Sampai disini, ia lantas berkata.

"Caramu bertindak memang amat sukar diduga, sebenarnya apa sih alasanmu sehingga membuat hatimu jadi lemah serta mengabulkan permintaan diri Kun Gie? aku tak dapat menduganya...."

"Aiaai....!"

Pek Siau-thian menghela napas panjang.

"aku teringat akan keretakan keluarga kami berhubung dengan hidup berpisahnya dengan istriku, sejak kecil Kun Gie sudah kehilangan kasih sayang ibunya, ia dibesarkan dibawah lingkungan para jago yang beraneka ragam watak serta perbuatannya, aku tak tega menyaksikan ia menjadi sedih karena pengaruh cinta, akupan tak ingin membiarkan dia mati karena kesedihan karena itu ditengah jalan aku telah berubah pikiran dan mengijinkan dirinya untuk pergi memberi kabar kepada kalian serta menunjukkan pula satu jalan keluar bagi kamu semua, tapi.... siapa tahu...."

Ia berhenti sebentar, dari balik matanya tiba-tiba memancarkan cahaya berapi-api, sambungnya lebih jauh.

"Siapa tahu kalian manusia-manusia yang mengaku sebagai kaum pendekar dari kolong langit ternyata tidak lebih hanya sekawanan manusia yang tak tahu diri manusia yang tak mengenal budi.... bukannya berterima kasih atas jerih payahnya, kalian malah mencelakai jiwa putriku yang tolol itu.... kau.... Hoa Thian-hong, apakah masih punya muka untuk berjumpa dengan para enghiong di kolong langit? kenapa engkau tidak bunuh diri saja untuk menebus dosadosamu itu? apakah engkau hendak menunggu sampai aku turun tangan sendiri?"

Air muka Hoa Thian-hong pucat pias bagaikan mayat, ia berdiri kaku dan membungkam seribu bahasa lama.... lama sekali baru jawabnya.

"Latar belakang yang sebenarnya aku tak usah terangkan lagi, pokoknya hutangku terhadap Kun Gie dikemudian hari pasti akan kubayar!"

"Tapi dia sudah mati!"

Bentak Pek Siau-thian dengan mata melotot.

"Apa aku bisa menggunakan kematianku untuk membalas budinya itu? atau juga dalam penitisan yang akan datang aku toh dapat pula membalas budi kebaikannya itu!"

"Perkataan tentang Penitisan yang akan datang terlalu khayal dan kosong, menurut penglihatanku lebih baik engkau balaa saja kebaikan budi Kun Gie dengan satu kematian!"

Hoa Thian-hong agak tertegun, lalu jawabnya dengan sedih.

"Sekalipun aku tersedia namun harus menunggu sampai pekerjaanku telah selesai lebih dahulu!"

"Heeeehhh.... heeehhh.... heeehhb engkau bersedia menunggu tapi aku tak bersedia untuk menunggu lebih jauh!"

Sahut Pei Siau Thiang sambil tertawa dingin.

Tubuhnya segera menerjang maju kedepan telapak tangannya lak sana kilat melancarkan sebuah serangan dahsyat kedepan.

Hoa Thian-hong segera putar pedang bajanya untuk mengunci datangnya ancaman tersebut namun Pek Siau-thian adalah seorang manusia yang amat lihay, setelah berhasil menduduki posisi diatas angin sepasang telapaknya segera melancarkan serangan-serangan berantai secepat kilat sampai si anak muda itu sama sekali tak mempunyai kesempatan untuk melakukan pembalasan.

Dengan waktu singkat segulung angin pukulan bagaikan gulungan ombak ditengah samudra membungkus Hoa Thianhong dalam kepungan, Pek Siau-thian senderi seakan-akan telah berubah jadi gulungan angin pukulan yang maha dahsyat, jejaknya tiba-tiba lenyap tak berbekas.

Hoa Thian-hong dengan sepenuh tenaga memutar pedang bajanya untuk menahan gempuran-gempuran dari lawannya, cahaya hitam tampak meronta diantara angin pukulan sebentar cahaya hitam itu muncul sebentar lagi lenyap seakan-akan permainkan pedangnya sudah terbungkus ditengah gulungan pukulan angin pukulan lawan.

Perkataan yang diucapkan Pek Tiau Thian barusan telah menggetarkan hati Hoa Thian-hong membuat pemuda itu merasa menyesal hingga permainan pedangpun menjadi lunak.

Setelah kehilangan posisi yang menguntungkan, dalam sekejap mata tubuhnya sudah tertelan ditengah gelombang angin pukulan yang dahsyat bagaikan hembusan angin puyuh itu, kendatipun ia telah berusaha untuk meronta dan melakukan perlawanan akan tetapi selalu gagal untuk menemukan kesempatan guna membenahi diri sendiri, ia sadar jika keadaannya begini terus menerus maka pada akhirnya dia bakal menemui ajalnya ditangan lawan.

Pek Siau-thian sendiri berhasrat untuk membinasakan Hoa Thian-hong dalam sebuah se-rangan mautnya, siapa tabu kendatipun sudah melancarkan ratusan jurus serangan dan me-maksa Hoa Thian-hong berada dalam posisi yang sangat berbahaya dan kritis bahkan sering kali jiwanya nyaris melayang namun maksud tujuannya belum pernah bisa tercapai.

Pertempuran ini benar-benar merupakan suatu pertempuran yang sengit dan jarang terjadi di kolong langit.

Makin bertempur Pek Siau-thian merasa makin terperanjat ia tak pernah menyangka kalau di kolong langit masih terdapat seorang jago yang mampu bertahan sebanyak ratusan jurus tanpa menderita kalah dibawah kurungan ilmu pukulan Ceng boan ngo heng sian ong toan hun ciang nya itu.

Sudah terlalu banyak jago lihay di kolong langit yang penrah dihadapi olehnya manusia lihay sebangsa Ciu It-bong dan lain-lainnya asal sudah terjebak dibawah serangan rangkaian ilmu telapak yang jarang sekali dipergunakan olehnya ini, maka dalam seratus jurus pasti akan keok dan menderita kekalahan ditangannya.

Siapa tahu ketika ilmu telapaknya yang ampuh itu dipergunakan untuk menghadapi Hoa Thian-hong, walaupun sudah bertahan sampai ratusan jurus akan tetapi pemuda itu masih belum juga mampu dikalahkan.

Tak tertahan lagi, ia berpikir dalam hati kecilnya.

"Kun ji, engkau memang tak punya rejeki dan keluarga Pek kitapun tak punya rejeki andaikata bocah ini dapat menjadi pasanganmu dan aku bisa mendapat bantuannya maka para jago persilatan baik dari go longan putih maupun dari golongan hitam yang ada dilima telaga empat samudra bukankah akan tunduk dan berada dibawah kekuasaan per kumpulan Sin-kie-pang kita."

Karena terpengaruh emosi, serangan yang dilancarkan semakin dahsyat dan daya tekanan yang terpancar keluar dari ilmu telapak Ceng hoan sian hong toan hun ciang itupun makin menggetarkan seluruh permukaan bumi.

Hoa Thian-hong mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya untuk melindungi keselamatan sendiri, dalam keadaan begini otaknya tak sempat untuk dipakai lagi terpaksa ia harus punahkan jurus bila bertemu jurus, punahkan gerakan bila bertemu gerakan pertarungan diteruskan dengan mengikuti semua gerakan lawan.

Adaikata Pek Siau-thian tidak menghentikan serangannya maka diapun terpaksa harus bertahan terus dengan cara demikian sekalianpun tidak sampai menderita kekalahan diapun tak memiliki kekuatan untuk merebut kemenangan.

Dalam waktu singkat Pek Siau-thian telah melancarkan empat lima puluh jurus serangan lagi, ketika dilihatnya tenaga dalam yang terpancar keluar dari ujung pedang Hoa Thianhong sama sekali tidak menunjukkan kelemahan, diam-diam ia merasa amat gelisah pikirnya.

"Kalau penarungan berlangsung dalam keadaan begini terus, sekalipun bergebrak tiga sampai lima ratus jurus lagipun belum tentu aku mampu untuk melukai bocah keparat ini, apalagi kalau sampai membiarkan dia hapal dengan gerakan ilmu telapakku ini bisa-bisa akan muncul suatu kejadian yang sama sekali tak terduga...." ' Berhubung besok adalah hari pembukaan pertemuan besar Kian ciau tayhwee atau dengan perkataan lain saat terakhir bagi kaum jago untuk menentukan siapa tangguh dan siapa lemah, siapa berkuasa siapa tidak lagi pula mempengaruhi mati hidup perkumpulan Sin-kie-pang maka Pek Siau-thian tidak ingin menggunakan hasil latihannya selama puluhan tahun ini sebelum tiba pada saatnya yang tepat, sebelum pertarungan massal berlangsung ia tak ingin mengorbankan tenaganya dengan percuma hingga mempengaruhi kelangsungan pertemuan besok pagi. Disamping itu, diapun mengerti setelah Hon Thian-hong dibunuh maka Hoa Hujin pasti bersiap sedia untuk membalaskan dendam bagi kematian putranya, iapun harus bersiap sedia untuk menghadapi pertentangan yang paling berat itu. Berpikir sampai disana, diapun segera mengambil keputusan untuk merubah siasat, ia berusaha mencari kemenangan dengan andalkan kepandaian yang dimilikinya selama ini. Terdengar orang she Pek itu mendengus dingin, gerakan telapaknya tiba-tiba berubah, telapak kiri menyapu keatas pinggang musuh sementara kepalan kanannya langsung menghantam dada Hoa Thian-hong. Perubahan yang sama sekali tak terduga itu membuat jago muda she Hoa itu jadi amat terperanjat, disaat yang kritis pedang bajanya buru-buru berputar dengan gerakan Po goan siu it atau berjaga-jaga dalam satu titik, badannya secepat kilat berputar kencang. Menghadapi serangan musuh dengan badan berputar, pedang disilangkan didepan dada merupakan jurus pertama dari antara enam belas jurus pedang yang dipelajari oleh Hoa Thian-hong, gerakan itu mengandung unsur Pat kwa serta Tay kek membuat pihak lawan susah untuk menduga arah manakah yang bakal diancam.... Pek Siau-thian merasa amat kagum sekali ketika menyaksikan kepalannya ketiga menyapu kedepan, tiba-tiba berkelebat cahaya hitam dan tahu-tahu sepasang pergelangannya hampir membentur diatas pedang lawan, ia memuji kelihayan ilmu pedang yang diciptakan oleh Hoa Goan-siu tersebut serta kesempurnaan Hoa Thian-hong didalam permainan pedangnya. Tetapi setelah berhasil merebut kedudukan diatas angin, ia tak mau membuang kesempatan itu dengan begitu saja, telapak kirinya dengan suatu gerakan yang sangat aneh tibatiba menotok jalan darah Ki huo hiat diatas badan Hoa Thianhong sedangkan tangan kanannya yang mengandung kekuatan inti mendadak diluncurkan kedepan. Hoa Thian-hong tak sempat berpikir panjang lagi, pedang bajanya dikembangkan dengan jurus Hok lay cing beng atau pekikan bangau membumbung keangkasa, ia balik membabat lengan kiri Pek Siau-thian sedangkan telapak kirinya dengan jurus Kun ciu ci tau menyambut datangnya serangan lawan. Siau tahu serangan tangan kiri Pek Siau-thian adalah gerak tipu belaka, sedang serangan telapak kanan adalah serangan yang sesungguhnya, terutama sekali gerakan ini merupakan hasil ciptaannya setelah belasan tahun lamanya bertempur melawan Ciu It-bong, bisa dibayangkan betapa jitu dan hebatnya serangan tersebut.

"Ploook....!"

Sepasang telapak saling membentur satu sama lainnya menimbulkan suara benturan keras, tubuh kedua orang itu sama sama bergetar keras dan seranganpun terhenti untuk beberapa saat.

Terdengar Pek Siau-thian tertawa terbahak-bahak, lengannya berkelebat kedepan melancarkan satu pukulan.

Ketika terjadi bentrokan tersebut kedua duanya berada dalam posisi serangan yang mencapai setengah jalan, dengan begitu serangan susulan yang dilancarkan oleh Pek Siau-thian ini boleh dibilang jauh menyimpang dari kebiasaan dunia persilatan dan siapapun tak akan menduganya.

Hoa Thian-hong merasa amat terperanjat melihat gelagat tidak menguntungkan itu, keputusan diambil dalam benaknya dia mengepos tenaga kemudian menghimpun segenap kekuatannya diatas bahu dan tubuhnya dengan cepat miring kesamping.

Semua peritiwa itu berjalan dalam sekejap mata ketika serangan dari Pek Siau-thian meluncur datang tiba-tiba, Hoa Thian-hong miringkan badannya kesamping tak sempat untuk mengganti jurus lagi....

Kraaak!

telapak tangannya sudah mampir diatas bahu Hoa Thian-hong membuat tubuhnya terpental sejauh dua tombak lebih dari tempat semula.

Pek Siau-thian sendiri ketika telapak tangannya dengan telak bersarang diatas bahu lawan ia merasakan timbulnya tenaga tolakan yang amat besar menggetarkan tangannya hal itu membuat dirinya amat terperanjat.

Ia tak menyangka kalau serangannya yang dilancarkan dengan melanggar kebiasaan Bu Lim itu ternyata sudah disambut oleh Hoa Thian-hong dengan persiapan yang penuh, hal ini membuat luka yang diderita oleh lawan boleh dibilang enteng sekali.

Jago tua she Pek itu jadi penasaran, ia segera berkelebat maju kedepan siap melancarkan serangan berikutnya yang mematikan.

Terlihatlah Hoa Thian-hong berdiri angkernya didepan dengan pedang disilangkan didepan dada, sorot matanya memancarkan cahaya kilat dengan tajam, ia awasi gerak-gerik Pek Siau-thian dengan kesiap siagaan penuh, dari sikapnya seakan-akan ia telah bersiap sedia untuk menghadapi serangan musuh sampai dimanapun juga.

Tercekat hati Pek Siau-thian menyaksikan hal itu, ia hentikan gerakan tubuhnya sambil berpikir.

"Aku harus bersikap lebih tenang gerakan yang ngawur dan gegabah tak mungkin berhasil membinasakan bocah itu...."

Dalam pada itu, Hoa Thian-hong telah berkata dengan nada dingin.

"Engkau telah tunjukan kegagahanmu selama beberapa waktu, sayang sekali tujuanmu tak dapat tercapai, sekarang tibalah giliranku untuk menunjukkan kelihayan"

Pek Siau-thian tertawa dingin.

"Heeehh.... heehhh.... heehh dengan andalkan sedikit kepandaianmu itu masih belum cukup untuk membinasakan diriku"

"Hmm! kalau bukan engkau yang mati akulah yang binasa, aku akan berusaha sekuat teraga...."

Sambil menerjang maju kedepan, pedangnya segera melancarkan satu babatan.

Pek Siau-thian mengerutkan dahinya, baru saja bisa memunahkan serangan tersebut, Hoa Thian-hong telah tertawa dingin tiada hentinya, pedang bajanya berputar melancarkan serangan berantai bagaikan gulungan ombak sungai Tiang kang ia mengirim serangan-serangan yang mematikan.

Setelah permainan pedang bajanya dikembangkan, sekali pun Cui Im taysu bekerja sama dengan Ciong Lian-khek pun merasakan tekanan yang maha berat dan dalam seratus jurus belum tentu bisa merobah posisinya jadi seimbang, apa lagi Pek Sau Thian hanya seorang diri, dalam waktu singkat ia sudah dipaksa dalam situasi yang serba menyulitkan Makin bertempur makin bersemangat, Hoa Thian-hong membentak berulang kali pedang bajanya disertai deruan angin tajam menggulung diseluruh angkasa, sekalipun Pek Siau-thian sudah berusaha keras untuk mengarahkan pelbagai macam jurus aneh namun ia tak mau membendung rangkaian serangan yang bertubi-tubi itu untuk merebut po sisi yang lebih menguntungkan, sekalipun begitu bukanlah suatu pekerjaan gampang bagi Hoa Thian-hong untuk mengalahkan dirinya.

Ditengah berlangsungnya pertempuran sengit, diam-diam Pek Siau-thian berpikir dalam hatinya.

"Perpisahan yang sangat singkat, diri mana bocah ini berhasil melompat jadi jago lihay yang mampu menandingi kepandaian silatku? benar-benar mengherankan...."

Tiba-tiba ia membentak keras.

"Tahan!!"

Hoa Thian-hong sendiripun menyadari bahwa sulit baginya untuk merebut kemenangan, mendengar ia berseru keras, terpaksa sambil menghela napas mengundurkan diri kebelakang.

Pek Siau-thian menengadah memandang cuaca, kemudian ujarnya dingin.

"Tengah hari sudah hampir tiba kalau racun teratai empedu api yang mengeram di dalam tubuhmu sudah mulai kambuh kita boleh beristirahat lebih dahulu kemudian baru bergebrak kembali"

Mendengar perkataan itu Hoa Thian-hong jadi amat terperanjat, ia tak menyangka kalau pertarungan iiu sudah berlangsung setengah harian lamanya dalam hati segera pikirnya.

"Ketika aku menuruni jurang ini ibu menunjukkan perasaan kuatir Pek Siau-thian dapat menemukan tempat ini, berarti ibukupun bisa juga berbuat demikian dibalik peristiwa tersebut tentu ada sebab sebabnya...."

Pek Siau-thian jadi girang ketika dilihatnya pemuda itu murung dan sedih, sambil tertawa dingin katanya.

"Engkau tak usah bermuram durja, aku akan memberi kesempatan kepadamu untuk beristirahat dahulu kemudian baru melanjutkan kembali pertarungan ini, bagaimanapun toh bala bantuanmu tak mungkin bisa tiba disini, aku dapat suruh engkau mati dengan mata meram."

Mendengar perkataan itu Hoa Thian-hong merasa semakin gelisah ia mengambil keputusan untuk menyelesaikan pertarungan ini dengan secepatnya hingga diapun bisa cepatcepat melepaskan diri dari cengkeraman jago tua itu, sambil ayun pedang bajanya ia berseru.

"Dalam tubuhku sudah tidak terdapat racun teratai lagi engkau tak usah pura-pura berlagak alim dan baik hati kalau engkau tak mau bertempur lagi maaf kalau aku tak bisa melayani dirimu lebih jauh"

"Jadi kalau begitu racun teratai yang mengeram didalam tubuhmu sudah punah?"

"Engkau kecewa?"

Jengek Hoa Thian-hong sambil tertawa dingin. Pek Siau-thian tertawa seram.

"Heeehh.... heehh.... heeeh.... tempo hari aku penuju kepadamu dan ajukan pinangan kepadamu untuk mengawinkan engkau dengan putriku, pada waktu itu engkau mengatakan tubuhmu masih mergeram racun dan tak dapat beristri, kini racun yang mengeram dalam tubuhmu telah punah, rupanya untuk menjaga kemungkinan engkau telah turun keji dahulu dengan membinasakan putriku...."

Hoa Thian-hong jadi amat gusar sehingga sekujur badannya gemetar keras, sehabis mendengar perkataan itu teringat cinta kasih yang ditujukan Pek Kun-gie terhadap dirinya, saking sedihnya dia mencucurkan air mata serunya dengan gemas.

"Pek Siau, putri kandungmu sudah tiada lagi di kolong langit, kenapa engkau memandang begitu rendah akan dirinya?"

"Oooh....! engkau merasa tak tega? aku mengira engkau benar-benar adalah seorang lelaki berhati baik!"

"Sebenarnya apa maksudmu mengucapkan kata-kata yang sama sekali tak ada gunanya itu?"

Senyuman licik yang menyeramkan melintas diujung bibir Pek Siau-thian, pikirnya.

"Aku akan membuat pikiranmu jadi kalut dan bingung tak karuan, akan kulenyapkan semangat bertempurmu hingga sebelum ajalnya engkau rasakan lebih dahulu bagaimana rasanya jadi orang gila...."

Sinar matanya berkelebat memandang sekejap ke arah Kuburan pemendam pedang yang telah dihancurkan oleh angin pukulannya itu, tiba-tiba berkelebat lewat satu akal licik, sambil tertawa tergelak segera serunya.

"Hoa Thian-hong, tahukah engkau dirimu adalah anak murid siapa?"

Meskipun Hoa Thian-hong cerdik namun ia masih bukan tandingan dari Pek Siau-thian yang licik, mendengar pertanyaan tersebut segera jawabnya.

"Siapapun mengetahui kalau ilmu silat aku orang she Hoa adalah kepandaian keluarga buat apa engkau banyak bertanya lagi?"

"Lupa pada soal perguruannya engkau memang seorang manusia lupa budi!"

Tiba-tiba Hoa Thian-hong teringat akan sesuatu tanpa sadar ia berseru.

"Katakanlah semestinya aku orang she Hoa adalah anggota perguruan mana....?"

"Kiam seng malaikat pedang Gi Ko!"

Hoa Thian-hong berpaling dan memandang sekejap ke arah kuburan pemendam pedang kemudian pikirnya.

"Cianpwee ini selama hidupnya banyak berbuat kebaikan, ilmu pedangnya tiada tandingannya di kolong langit dia memang pantas disebut malaikat pedang sayang aku hanya mendapatkan pedangnya dan gagal menemukan Kiam keng tersebut"

Teringat kalau catatan Kiam keng tersebut telah dihancurkan oleh tenaga pukulan Pek Siau-thian sehingga pusaka yang tak ternilai harganya lenyap tak berbekas, tanpa terasa ia menaruh benci terhadap jago tua itu, sambil menggertak giginya serunya.

"Sebenarnya aku tidak berhasrat untuk membinasakan dirimu akan tetapi setelah engkau mengungkap persoalan ini, andaikata aku tidak mencabut selembar jiwamu rasanya sulit untuk melampiskan rasa dendam didalam hatiku...."

Sambil putar senjata, ia segera menerjang maju kedepan.

Tampak Pek Siau-thian mengelus jenggotnya sambil tertawa terbahak-bahak, diantara gelak tertawanya penuh mengandung perasaan bang ga.

Bagaimanapun juga Hoa Thian-hong adalah seorang pendekar sejati melihat pihak lawan tiada bermaksud untuk melakukan perlawananan terpaksa ia tarik kembali serangannya sambil berseru dengan nada gemas.

"Pek Siau-thian tingkah lakumu yang licik serta gelak tertawamu yang seram bagaikan setan membuat aku teringat pada seseorang"

"Siapa?"

Tanya Pek Siau-thian sambil tertawa.

"Co Cho!!"

"Haahhh.... haaahhh.... haaahhh.... terima kasih atas sanjunganmu itu aku orang she Pek tak berani menerimanya!"

Haruslah diketahui, dalam pandangan Hoa Thian-hong, manusia yang paling licik dan berbahaya dalam sejarah adalah Co Cho, sebaliknya dalam pandangan Pek Siau-thian maka Co Cho dianggap sebagai seorang pahlawan yang luar biasa, dan dia menganggap orang itu sebagai pahlawan yang paling dikagumi olehnya, karena itu makian Hoa Thian Hoag telah disalah tafsirkan olehnya....

Dengan wajah serius dan penuh penghinaan, Pek Siauthian berseru membaca isi dari Kiam keng yang telah dihancurkan olehnya itu.

"Peraturan menurut langit, kerugian pasti tersisa, tenaga masih kurang, kekerasan bukanlah kekerasan, keras tapi lincah, lunak bu kanlah lemah...."

Membaca sampai disini mendadak ia membungkam.

Hoa Thian-hong mendengarkan dengan seksama, tetapi ketika ditunggunya sangat lama namun ia tidak meneruskan pembacaannya pemuda itu jadi mendongkol bercampur gusar tentu saja ia tak dapat mengajukan permintaan kepada lawannya untuk meneruskan pembacaan tersebut, dengan hati terbakar oleh hawa amarah ingin sekali ia bacok lawannya sampai mati.

"Bagaimana?"

Terdengar Pek Siau-thian mengejek sambil tertawa.

"meskipun aku tak mampu membaca sepuluh kata dalam sekali pandangan namun tulisan diatas lapisan batu cadas itu telab kubaca sampai selesai, engkau berbakat bagus dan lagi masih muda masa tulisan itr"

Belum sempat kau baca sampai habis?"

Diam-diam Hoa Thian-hong merasa menyesal, menyesal karena sudah terpikat oleh masa hidup Gi ko yang tertera diatas lapisan batu itu hingga ketajaman telinganya berkurang dan memberi kesempatan kepada Pek Siau-thian untuk menghapalkan isi dari Kiam Keng sebelum menghancurnya hingga jadi abu.

Haruslah diketahui bagi orang yang belajar ilmu silat, catatan ilmu yang sangat mendalam itu kadangkala dipandang jauh lebih berharga daripada jiwa sendiri apalagi sejak kecil Hoa Thian-hong sudah mempelajari ilmu pedang dengan pedang baja tersebut boleh dibi lang dengan malaikat pedang, Gi Ko mempunyai jodoh karena itu bagi pandangan nya Kiam Keng tersebut jauh lebih berharga daripada apapun juga.

Mula-mula ia tidak berpikir sampai kesitu, semakin setelah dipikir lebih jauh makin lama hatinya semakin mendongkol sehingga akhirnya amarahnya berkobar dalam dadanya, sambil menyeringai seram, segera serunya.

"Pek Siau-thian, ini hari kalau bukan engkau yang mati akulah yang binasa kalau aku Hoa Thian-hong yang mati maka pembaca Kiam keng atau tidak bagiku sama saja sebaliknya kalau engkau yang mati...."

"Aku akan membawa pergi catatan itu kealam baka,"

Sahut Pek Siau-thian sambil tertawa terbahak-bahak.

"dan sejak kini di kolong langit tiada orang lain mengetahui apa isi dari catatan Kiam keng tersebut...."

Tiba-tiba ia menghela napas panjang, sambungnya lebih jauh.

"Sungguh kasihan Malaikat pedang Gi Ko, dengan usianya sebesar seratus tahun dia harus semedi selama sembilan belas tahun lamanya sebelum berbasil menemukan rahasia ilmu pedaag itu serta menciptakan Kiam keng sayang usahanya itu hanya sia-sia belaka dan akhirnya harus musnah dan muka bumi...."

"Engkau jangan keburu merasa bangga lebih dahulu!"

Bentak Hoa Thian-hong dengan gusar.

"lihat aku akan segera membacok tubuhmu hingga hancur berkeping-keping!"

Sambil menerjang maju kedepan, pedagnya segera dibabat secara gencar.

Menyaksikan pemuda itu mulai dibakar oleh hawa amarah sehingga konsentrasinya buyar, diam-diam Pek Siau-thian merasa bangga, dengan cepat ia bergeser kesamping, lalu sambil tertawa ujarnya.

"Hoa Thian-hong malaikat pedang Gi Ko membutuhkan waktu selama sembilan belas tahun untuk menciptakan kelima puluh delapan kata catatan Kiam keng tersebut, coba pikirkanlah sendiri dia membutuhkan waktu berapa lama untuk mendapatkan satu patah kata?"

Mendengar perkataan itu, diam-diam Hoa Thian-hong menghitung, ia merasa malaikat pedang tersebut membutuhkan waktu selama empat lima bulan untuk mendapatkan setiap patah kata tersebut, hal ini membuat hatinya semakin mendongkol, serunya dengan gemas.

"Semoga saja engkau jangan sampai terjatuh ditanganku, kalau aku orang she Hoa berhasil menangkap dirimu, aku akan menusukkan pedangku kedalam tubuhmu untuk memperoleh setiap patah kata, suatu ketika aku pasti akan berbasil memaksa engkau untuk mengucapkan kelima puluh delapan patah kata tadi"

Dengan cepat Pek Siau-thian berkelebat delapan depa kesampinag, sesudah berhasil meloloskan diri dari serangan tersebut, katanya sambil tertawa.

"Seandainya engkau telah selesai membaca kelima puluh delapan patah kata yang tercantum dalam catatan Kiam Keng tersebut, suatu ketika engkau memang besar kemungkinan bisa menangkap diriku, tapi sayang engkau tidak berhasil menyelesaikan bacaan itu maka sepanjang hiduppun jangan harap akan berhasil untuk menawan aku!"

Hoa Thian-hong merasa amat gusar....

Sreet!

Sreet!

Sreet!

secara beruntun ia lancarkan tiga buah serangan berantai, namun dengan ilmu meringankan tubuh yang sempurna Pek Siau-thian berhasil mundur tiga langkah kebelakang, biji matanya berputar dan secara tiba-tiba ia sengaja memperlihatkan satu titik kelemahan.

Hoa Thian-hong pada saat ini sudah termasuk diantara deretan kaum jago lihay di kolong langit, memperlihatkan titik kelemahan secara sengaja merupakan suatu tindakan yang berbahaya sekali.

Pek Siau-thian mengeluarkan ilmu telapak Im yang ciang untuk memancing musuhnya tujuan yang lebih utama tidak lebih hanyalah untuk mengejek pemuda itu bahkan Hoa Thianhong jadi amat kegirangan, pedangnya laksana sambaran kilat segera membabat keatas pinggang jago tua itu.

Ketika ujung pedangnya menyentuh lawan tiba-tiba dalam benak Hoa Thian-hong terlintas catatan Kiam keng, pedangnya dibabat sejajar dada lalu menabok keatas sedangkan tangan kirinya dengan suatu gerakan secepat kilat melancarkan sebuah totokan.

Pek Siau-thian tertawa ringan, tubuhnya berkelebat delapan depa dari tempat semula, sengaja ia mengambil bahaya ini untuk menilai perasaan hati Hoa Thian-hong, karena ada persiapan lebih dahulu maka ia tidak merasa selalu jeri.

Siapa tau setelah tubuhnya berkelebat kesamping, ia baru merasa terjelos hatinya sehingga air mukanya jadi pucat pias bagaikan mayat.

Kiranya padi saat terakhir ujung pedang si anak muda itu masih berhasil juga menempel diatas pinggangnya, kendatipun sentuhan tersebut enteng sekali akan tetapi cukup mengejutkan hatinya sehingga keringat dingin menguncur keluar membasahi seluruh tubuhnya.

Suatu ingatan berkelebat dalam benak Hoa Thian-hong sekarang ia baru mengerti kalau Pek Siau-thian sengaja memperlihatkan titik kelemahan tersebut kepadanya, hal ini membuat pemuda itu jadi mendongkol dan menyesal, menyesal karena ia tak dapat memanfaatkan kesempatan baik yang sukar ditemukan selama hidupnya itu.

Sambil menjejakan kakinya keatas tanah, karena gemas teriaknya.

"Aaaai....! sialan....!"

Sambil putar pedang ia lancarkan kembali satu serangan kilat.

Kali ini Pek Siau-thian tidak berani bertindak gegabah lagi, sambil berkeliaran kesana kemari menghindari ancaman musuh otaknya berputar cepat untuk menyusun siasat guna mencari kemenangan....

Bila pertarungan ini sampai diketahui orang dan tersiar luas dalam dunia persilatan maka seluruh sungai telaga pasti akan jadi gempar.

Kedua orang itu sama-sama saling mengadu tenaga serta kecerdikan, kedua belah pihak sama-sama lihaynya, siapapun tidak ingin melepaskan lawannya dengan begitu saja, siapa pun tak bersedia menghentikan pertarungan sampai di situ saja.

Setelah bertempur beberapa saat lagi, tiba-tiba Pek Siauthian berseru dengan nada dingin.

"Hoa Thian-hong catatan Kiam keng semuanya terdiri dari lima puluh delapan kata, pernahkah engkau pikirkan arti dari setiap patah kata itu....? ketahuilah bahwa dalam tiap kata itu terkandung suatu arti yang sangat bermanfaat bagi ilmu silat asal engkau dapat memahaminya maka sepanjang hidup engkau akan menikmati hasilnya...."

"Pikirkan saja dialam baka nanti!"

Tungkas Hoa Thian-hong dengan penuh kebercian. Pek Siau Thim mengirimkan satu pukulan keudara kosong lalu melayang mundur kebelakang, serunya.

"Pertarungan menurut langit kerugian pasti tersisa.... pernahkah kau bayangkan apa arti yang sebenarnya?"

Satu ingatan berkelebar dalam benak Hoa Thian-hong, segera pikirnya.

"Peraturan menurut langit kerugian pasti tersisa...."

OooooOooooo Dia adalah seorang jago lihay yang sudah memiliki ilmu silat yang sangat mendalam, hanya saja selama ini tak ada kesempatan untuk menyelaminya, kini setelah dipikir lebih jauh segera terasalah olehnya meskipun beberapa patah kata itu amat sederhana sekali namun arti yang sebenarnya sangat dalam sekali.

Dengan cepat tubuhnya melayang beberapa tombak kebelakang, sambil menatap tajam wajah Pek Siau-thian mulutnya membungkam dalam seribu bahasa.

Pek Siau-thian sendiri diam-diam merasa amat girang tatkala dilihatnya si anak muda itu mulai terjebak dalam siasatnya, sambil mengelus jenggot ia berkata lebih jauh.

"Tidak salah bukan? daya tekanan yang terpancar dari pedangmu berlebihan, kesalahannya justru terletak pada kekasaran, andai kata engkau dapat menyelami kekerasan tapi lincah maka aku bukan tandinganmu lagi. Hoa Thian-hong merasa perkataan itu masuk diakal juga, diam-diam ia lantas mengulangi kembali rahasia Kiam keng itu didalam hati.

"Peraturan menurut langit, kerugian pasti tersisa, tenaga masih kurang kekerasan bukanlah kekerasan, keras tapi lincah, lunak bukanlah lemah...."

Sambil berpikir tanpa disadari pedang bajanya segera dibabat ke arah depan dengan hebatnya. Pek Siau-thian tertawa sambil menganguk, sahutnya.

"Tepat sekali, serangan pedang bajamu ini kalau tidak disertai suara itu berani bahwa tenaga seranganya sepuluh Kali lipat dari ke adaan biasa dan akupun tak mampu menandingi dirimu lagi...."

Hoa Thian-hong melototkan matanya bulat-bulat sambil menatap tajam wajah Pek Siau-thian, tiba-tiba pedang bajanya melancarkan babatan demi babatan lagi.

Hawa murninya diam-diam dikendalikan, pedang bajanya berputar kencang semakin kecil bawa murninya desingan udarapun Semakin kecil, tiba-tiba ia lancarkan satu babatan keatas tanah.

Traaang....!

percikan bunga api menyebar keempat penjuru sebuah, batu cadas yang keras telah terbacok hingga muncul sebuah liang besar, setelah berhenti sebentar, tiba-tiba ia lancarkan sebuah bacokan kembali, kali ini tenaga yang dipergunakan jauh lebih kecil hingga tak dapat kecil lagi ketika pedang baja itu menusuk diatas batu segera muncullah sebuah celah diatas batu gunung itu hingga mencapai dua depa dalamnya.

Sambil tersenyum Pek Siau-thian menyaksikan kesemuanya itu dengan penuh kegembiraan tiba-tiba ia temukan dari balik mata Hoa Thian-hong memancarkan cahaya aneh, sepasang pipinya berubah jadi merah dan rupanya ia terpengaruh oleh emosi, hal ini membuat hatinya jadi terperanjat hingga tanpa terasa pikirnya.

"Aku tak boleh berbuat bodoh sehingga menggali liang kubur untuk mengubur tubuhku sendiri....!"

Berpikir sampai disini ia segera membentak keras.

"Lunak bukanlah lemah, rendah diri harus mundur, mundur karena rendah diri, diri untuk diri sendiri!"

Hoa Thian-hong merasakan hatinya bergetar keras.... Sreeet!! ia putar pedang melancarkan satu babatan kembali.

"Seranganmu itu menggunakan tenaga terlalu besar!"

Bentak Pek Siau-thian, sembari berkata sepasang tangannya laksana sambaran petir melancarkan tiga buah serangan gencar.

Hoa Thian-hong tahu bahwa keadaan yang sedang dihadapinya sangat gawat dan bahaya, dalam keadaan begini pikirannya tak boleh bercabang akan tetapi beberapa patah kata yang tercatat dalam Catatan Kiam keng bu kui terlalu menarik hatinya, setiap kata yang tercantum dalam caatan tersebut seakan-akan sebatang jarum yang menusuk perasaan hatinya semuanya tepat menunjukkan penyakit yang dideritanya dalam permainan pedang itu ia tak tahan untuk memecahkan rahsia itu serta menutupi kekurangan yang dideritanya dalam permainan pedang tersebut.

Terdengar Pek Siau-thian membentak nyaring, telapak tangannya melancarkan serangan hebatnya luar biasa.

Hoa Thian-hong terdesak hebat dan mundur kebelakang terus tiada hentinya, dengan jurus Su ku ciong hong atau bunyi senyap diempat penjuru ia lancarkan serangan balasan, pedangnya sebentar menyapu kekiri sebentar menyapu kekanan, semuanya mengancam untuk membabat telapak musuh.

Desingan angin serangan sebentar ringan sebentar berat dan sangat tidak beraturan kekuatan yang terpancar dari senjata itupun seketika berkurang dan sama sekali tak mampu mencapai puncak kehebatannya, hal ini memberi peluang bagi Pek Siau-thian untuk menerjang masuk kedalam lingkaran pertahanannya, jurus demi jurus dilancarkan dengan mantap dan leluasa sedang tenaga pukulanpun berhasil ditingkatkan menjadi dua belas bagian.

Kendatipun begitu, diam-diam Pek Siau-thian merasa terperanjat juga sebab didalam per-tarungan singkat yang sedang berlangsung ke lika itu, rupanya Hoa Thian-hong lelah berhasil mendapatkan sedikit pemecahan rahasia ilmu pedangnya, walaupun jurus permainan pedangnya sudah berubah menjadi tak karuan, tetapi terpancar pula sejenis kekuatan yang luar biasa.

Dendam kematian putrinya membara bagaikan api, rasa iri dan dengki bagaikan minyak, api bercampur minyak mengakibatkan darah panas dalam rongga dada Pek Siauthian mendidih, watak jahatnya muncul dan menyelimuti seluruh benaknya, dia ingin sekali satu kali menghajar berhasil membinasakan si anak muda itu.

Apa daya, dasar ilmu silat yang dimiliki Hoa Thian-hong terlalu kokoh dan daya tenaganya luar biasa sekali, serutama ilmu silat yang dimilikinya sekarang bagian besar didapatkan dari hasil latihannya yang tekun dalam menghadapi pertarungan-pertarungan sengit, oleh sebab itulah walaupun kesadaran otaknya sudah mulai samar, namun dengan andalkan kemampuan yang dimilikinya ia masih mampu untuk bergebrak melawan musuh selama setengah harian lamanya.

Pertempuran ini benar-benar merupakan suatu pertarungan yang sengit dan mendebarkan hati, tanpa terasa sang surya sudah condong ke arah barat dan senjapun menjelang tiba, dari arah sebelah Timur muncullah rembulan dengan cahayanya yang samar menyinari kabut yang menyelimuti puncak bukit yang berjejer, suatu pemandangan yang indah sekali.

Pada saat itu yang terdengar hanyalah suara tertawa menyeringai dari Pek Siau-thian serta raungan gusar dari Hoa Thian-hong, pukulan demi pukulan dilancarkan tiada hentinya, sementara cahaya hitam menggulung kian kemari melakukan terjangan-terjangan maut.

Tiba tiba....

Pek Siau-thian membentak keras.

"Hoa Thianhong, tempat ini adalah puncak Ciat in hong, besok adalah hari Tionggoan, ingat baik-baik...."

"Aku bersumpah akan membinasakan dirimu!"

Teriak Hoa Thian-hong setengah mendesis.

Pek Siau-thian tertawa keras, ditengah gelak tertawanya sepasang tangan secara beruntun melancarkan serangan mematikan, sebentar menghantam sebentar menyodok, jurusjurus serangan berantai yang dilepaskan memaksa Hoa Thianhong harus memutar senjatanya sambil mundur terus tujuh delapan belas langkah kebelakang.

"Keras tapi lincah!"

Tiba-tiba Hoa Thian-hong membentak keras.

Tanpa memperdulikan serangan musuh yang sedang meluncur datang, tiba-tiba ia lancarkan sebuah babatan.

Serangan pedang itu dilancarkan tanpa mengeluarkan sedikit suarapun ketika mencapai ditengah jalan, tiba-tiba dari balik tubuh pedang itu memperdengarkan suara desingan yang amat tajam, gerakannya miring kesamping dan langsung membabat sisi tubuh lawan, Pek Siau-thian yang menyaksikan kejadian itu jadi sangat kegirangan sambil putar telapak bentaknya.

"Kun ji sedang menantikan kedatanganmu, pergilah!"

Bersamaan dengan selesainya perkataan itu....

Blaaam!

sebuah pukulan dengan telapak bersarang diatas punggung Hoa Thian-hong.

Terdengar pemuda itu melengking panjang, darah segar muncrat keluar dari mulutnya, tubuhnya terjungkal kebawah puncak dan dalam waktu singkat bersama dengan pedang bajanya lenyap dibalik awan tebal yang menyelimuti punggung bukit.

Suasana diatas bukit pulih kembali dalam kesunyian, sinar mata Pek Siau-thian liar dan kacau, mukanya pucat pias sementara tubuhnya yang tinggi kekar berdiri ditepi tebing dan sempoyongan tiada hentinya, seakan-akan sebatang pohon yang kosong dimakan ulat.

Sebentar kemudian kegelapan telah menyelimuti jagad, udara bersih tak berawan sang rembulan bersinar dengan terangnya membuat suasana jadi terang benderang.

Angin malam menghembus lewat membuat Pek Siau-thian bersin tiada hentinya, sekujur badan bergentar keras dengan ujung bajunya ia menyeka keringat yang membasahi pipinya.

Tiba-tiba berguman seorang diri.

"Kalau rejeki bukan bencana, kalau bencana tak akan bisa dihindari, keadaan sudah berlangsung demikian, apa yang musti kuta kuti lagi?"

Ia putar badan dan berjalan menuruni bukit tersebut.

Dalam pada itu, Hoa Hujin masih tetap duduk diatas bukit tersebut, sepanjang hari ia tak pernah bergeser barang setengah langkah pun dari tempat semula.

Cu Im taysu, Ciong Lian-khek, Chin Pek-cuan, Biau-nia Sam-sian serta jago-jago lainnya hampir semua duduk disekitar sana, cuma sa ja air muka Hoa Hujin serius dan keren sedikitpun tidak menunjukkan wajah murung sebaliknya mereka yang lain gelisah dan merasa tidak tenang.

Dipihak lain pada, seberang jembatan batu berdiri lautan manusia yang bersenjata lengkap, sekilas memandang cahaya tajam memenuhi seluruh angkasa suasana sunyi sepi menegangkan kecuali ringkikan kuda tiada suara lain yang kedengaran.

Rupanya seluruh pasukan dari perkumpulan Sin-kie-pang telah membuat barisan ditepi seberang jembatan batu walau pun saling berhadapan dengan golongan Hoa Hujin akan tetapi kedua belah pihak belum sampai melakukan bentrokan langsung.

Disamping itu, pada bukit sebelah utara merupakan pasukan besar dari perkumpulan Hon im hwee dibukit sebelah selatan ada para iman dari sekte agama Thong-thian-kauw, rupanya ketiga kekuatan besar dalam dunia persilatan sudah bersatu padu dan siap menghadapi orang-orang dari golongan pendekar.

Waktu berlalu dengan cepat suasana tetap tenang diliputi keheningan yang mencekam hingga mencapai tengah malam dari balik pa sukan besar perkumpulan Sin kie psng tiba-tiba kedengaran demtuman yang amat keras, ditengah-ditengah udara muncullah sebuah bunga api berbentuk sebuah panji yang amat besar.

Mengikuti suara dentuman tadi diri arah bukit sebelah utara terdengar suara peluit yang dibunyikan memekakkan telinga.

Ci-wi Siancu yang mendengar suara itu segera menengadah dan bertanya keheranan.

"Hujin apakah yang terjadi?"

Hoa Hujin tersenyum.

"Berangkat! jarak tempat ini dengan tempat diselenggarakannya pertemuan besar Kian ciau tayhwee toh tidak dekat!"

Kemudian sambil menyapu sekejap ke arah jago, ujarnya lagi sambil tertawa.

"Kitapun harus segera mempersiapkan diri untuk berangkat pula"

"Bagaimana dengan Seng ji?"

Sam-koh mendadak berkata dengan penuh kegusaran Senyuman yang semula menghiasi ujung bibir Hoa Hujin seketika lenyap tak berbekas, jawabnya.

"Kalau ia tidak cedera maka besok pasti akan datang sendiri dibukit Thian bok sebelah barat kalau tidak beruntung dan mendapat celaka itulah takdirnya sudah tiba!"

Mendengar perkataan ini, Tio Sam-koh jadi gusar sekali hingga tubuhnya gemetar keras, serunya.

"Engkau keja, engkau kejam, akan kulihat engkau bakal mampus ditangan siapa? akan kulihat bagaimana tenangnya engkau menerima kematianmu itu!"

Cu Im taysu menghela napas panjang, hiburnya.

"Tio lo tay, urusan toh sudah jadi begini, mengapa engkau harus mengumbar hawa amarah?"

Tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda berkumandang dari tepi seberang, rupanya orang-orang dari perkumpulan Sin-kie-pang sudah mulai berangkat tinggalkan tempat itu.

Tio Sam-koh masih belum dapat menekam hawa amarah yang berkobar dalam dadanya, dengan gemas kembali dia berseru.

"Kalau engkau mencegah dia untuk menuruni jurang ini, tak mungkin ia tinggalkan kita semua, kalau engkau tidak bersikeras untuk melakukan perundingan, kita semua telah berhasil mengurung dirinya dan tidak akan sampai terjadi hal seperti ini...."

Makin berbicara ia semakin mendongkol, ketika sampai ditengah jalan mendadak mulutnya tergagap dan tak mampu melanjutkan kembali kata-katanya.

"Kami semualah yang salah!"

Tiba tiba Lan-hoa Siancu berkata dengan sedih.

"kalau bukan kami yang mencelakai jiwa Pek Kun-gie lebih dahulu, tak mungkin pula bakal terjadi peristiwa tragis seperti ini."

Hoa Hujin tersenyum.

"Nona tak usah menyalahkan diri sendiri,"

Katanya.

"kehidupan manusia di kolong langit telah ditentukan oleh takdir, siapa yang bisa mempertahankan kehidupannya sampai beberapa ratus tahun? apalagi dewasa ini kaum lurus tak dapat hidup bersama kaum sesat. Siapa tahu kalau sekarang kita masih hidup dan besok malam sudah tinggalkan dunia yang fana ini....?"

"Kalau kita bisa mempertahankan diri sampai diselenggaranya pertemuan besar Kian ciau tayhwee, bagaimanapun juga saat yang dipilih untuk mengorbankan diri jauh lebih tepat, membunuh beberapa orang banditpun sudah dapat menarik kembabli modal sendiri!"

Seru Tio Sam-koh dengan penuh kemarahan. Kembali Hoa Hujin tersenyum.

"Oleh sebab itulah aku tidak setuju untuk bentrok secara kekerasan pada kesempatan yang tidak benar, dan aku tidak bersedia mengorbankan diri tanpa sebab musabab yang nyata dalam pertarungan massal."

"Aku maksudkan Seng ji kita!"

Tukas Tio Sam-koh marahmarah.

"Darimana engkau tahu kalau Seng ji pasti mati? dan darimana engkau bisa tahu kalau dia mati secara konyol!"

Bicara sampai disitu perempuan she Hoa itu bangkit berdiri dan melanjutkan sambil tertawa.

"Mari kitapun berangkat, bagaimanapun juga pertarungan bakal kita temui, lebih cepat tiba ditempat tujuan rasanya jauh lebih baik."

Semua orang memang sudah merasa tak sabar, mendengar perkataan itu para jago pun segera bangkit berdiri dan melakukan perjalanan.

Gerakan orang-orang dari perkumpulan Sin-kie-pang sewaktu datang tadi cepat bagaikan hembusan angin, tapi dalam waktu singkat pula sudah berlalu tanpa bekas, maka dibawah pimpinan Biau-nia Sam-sian yang menyapu bersih racun keji diatas jembatan batu lebih dahulu, berangkatlah para jago untuk menghadiri pertemuan besar yang mempengaruhi mati hidup mereka itu....

Sekte agama Thong-thian-kauw mendirikan pertemuan besar Kian ciau Tayhwee dibukit See thian bok dengan tujuan untuk mendoakan arwah-arwah yang telah tiada serta sukmasukma gentayangan, meja sembahyang didirikan didalam lembah Cu-bu-kok dan dipimpin langsung oleh kaucu nya yakni Thian Ik-cu sedang ratusan anggota perkumpulannya ikut hadir untuk memeriahkan upacara besar tadi.

Sejak pagi hari bulan tujuh tanggal lima belas, lembah Cubu-kok telah diterangi oleh cahaya lilin, asap dupa mengepul keudara ba gaikan kabut putih, bunyi alat sembahyangan bertalu-talu memekakan telinga, pada meja altar yang dibangun tiga tingkat dengan bersandar pada sebuah dinding bukit teraturlah berpuluh-puluh buah meja abu kecil yang bertuliskan nama-nama para pahlawan yang telah gugur, sedang tepat ditengah altar berdirilah sebuah meja abu yang luar biasa besarnya sehingga dapat dilihat sejak dari mulut selat.

Pada meja abu itu terpancang papan nama yang lebarnya dua depa dengan tinggi mencapai satu tombak, diluarnya terselubung kain warna kuning, diatas kain kuning terpancang beberapa hurup besar yang berbunyi demikian.

"Meja abu para jago yang gugur di medan perang pertempuran Pak beng hwee"

Dibawah meja abu bertumpuklah buah sajian dan bunga, Thong-thian Kaucu sendiri dengan memakai kopiah kebesaran dengan jubah imam berwarna merah bersulam pat kwa dan benang emas dan mantel warna ku ning sedang memimpin anak muridnya membaca doa di meja abu tersebut suasana ramai sekali.

Disamping itu, sepanjang kedua belah dinding bukit telah didirikan tempat berteduh yang berdempet empat, dalam barak tersebut tempat meja dan bangku, air teh, teko, tunggu dan alat untuk memasak semuanya sudah tersedia lengkap.

Perlu diketahui lembab Cu-bu-kok adalah sebuah lembah buntu yang berbentuk gentong dan dalam mulut lembah hanya terdapat sebuah jalan keluar saja yang berhubungan dengan luar, berhubung tempat itu lembah dan kalau siang tidak melihat sang surya kalau malam sunyi menyeramkan karena itu selat tadi disebut orang sebagai lembah Cu-bu-kok.

Kurang lebih antara jam tiga sore, orang-orang dari perkumpulan Hong im bwee masuk ke dalam selat lebih dahulu, Jin Hian dengan sorot matanya yang tajam segera mengawasi kedalam lembah tersebut, ketika melihatnya barak yang didirikan dikedua belah sisi dinding dibagi jadi empat bagian dan pihak sekte agama Thong-thian-kauw sendiri sudah menempati barak sebelah kiri dekat meja sembahyangan, maka dia segera memilih barak sebelah kiri yang dekat mulut lembah walaupun jumlah anak buahnya ada sembilan puluh orang namun setelah masuk kedalamm barak yang lebar itu kelihatannya sedikit dan sepi.

Sebentar kemudian pasukan induk dari perkumpulan Sinkie-pang pun telah tiba dan bergerak masuk kedalam lembah, mereka segera menempati barak sebelah kanan dekat mulut lembah.

Pek Siau-thian benar-benar seorang ahli setrategi perang, ia tidak memimpin seluruh pasukannya masuk kedalam lembah, melainkan hanya kurang lebih lima ratus orang jago saja yang dipimpin masuk kedalam barak tempat beristirahat, sedangkan sebagian besar lainnya tetap tinggal diluar lembah tersebut, ada yang berjaga-jaga di mulut lembah dan ada pula yang meronda disekitar bukit, tidak selang beberapa saat kemudian diatas purcak bukit yang mengitari selat Cu-bu-kok telah mucul para peronda dari perkumpulan Sin kei pang.

Kurang lebih pukul lima sore, rombongan yang dipimpin Hoa Hujin muucul dimulut lembah, tetapi sebelum mereka memasuki selat tersebut tiba-tiba dari balik tikungan bukit muncul dua belas orang, orang pertama bukan lain adalah Siau yau sian dewa yang suka pelancongan Cu Tong, sambil menggoyangkan kipasnya dan tertawa terbahak-bahak, ia maju menghampiri rombongan yang dipimpin Hoa Hujin kemudian memberi hormat.

Buru-buru Hoa Hujin menyongsong kedepan, sekilas memandang terlihat olehnya bahwa hampir semuanya adalah sahabat-sahabat lama, dengan cepat ia menyapa dan melepaskan rindu diantara mereka, suasana diliputi keharuan dan kegembiraan Dengan air mata meleleh keluar karena terharu, dewa yang suka pelancongan Cu Tong berkata.

"Mungkin semua orang yang masih hidup di kolong langit ini hari telah berdatangan" , semua disini banyak perkataan yang hendak kita bicarakan bagaimana kalau kita masuk dulu kedalam lembah kemudian baru dibicarakan secara perlahan-lahan"

"Cu toako, dandanan maupun potongan wajahmu sama sekali telah berubah...."

Kata Hoa Hujin sambil tertawa paksa.

"andaikata aku tidak mendengar penuturan orang lebih dahulu mungkin aku tak dapat mengenali dirimu kembali, sedang dua orang lainnya aku tak bisa ingat kembali siapakah mereka gerangan?"

Dewa yang suka melancong Cu Tong segera menuding ke arah manusia jelek bertubuh seperti beruk itu, ia memperkenalkan.

"Dia adalah Ciu tayhiap dari gunung Huangsan berhubung hatinya selalu gelisah ketika berlatih ilmu, mengakibatkan dia mengalami jalan api menuju neraka dan berubah potongan tubuhnya jadi begini rupa"

"Cui heng....? "seru Hoa Hujin dengan terperanjat "aku masih amat jelas ketika itu engkau...."

Ciu Thian-hau dari gunung Huang-san segera tertawa.

"Ketika itu tubuhku memang sudah termakan oleh enam buah tusukan pedang dan satu buah pukulan berat yang bersarang didada ku membuat aku roboh terkapar diatas genangan darah dan kemudian tertindih pula oleh dua sosok mayat sampai aku sendiripun telah mengira bahwa diriku telah mati, siapa tahu nyawaku ternyata belum putus, lewat dua hari kemudian aku telah hidup kembali di kolong langit"

Mendengar ucapan tersebut Hoa Hujin segera menghela napas panjang.

"Aaaai....!Cui heng tidak mati itu berarti bahwa beberapa orang gembong iblis tersebut sudah tiba pada waktunya untuk mampus"

Sorot matanya segera dialihkan keatas wajah seorang padri berusia empat puluh tahunan. Padri itu segera merangkap kedua tangannya didepan dada untuk memberi hormat sambil tersenyum katanya.

"Ti Kiam Hui yang hujin kenal tempo dahulu, sekarang telah berubah menjadi It sim hweesio!"

"Kiam Hui hen? bagaimana caranya engkau merawat diri hingga awet muda? rupanya semakin latihan muka mu berubah semakin muda dan semakin bercahaya?"

It sim hweesio menghela napas, kemudian ujarnya.

"Pahit getir yang kualami selama ini sukar dilukiskan dengan katakata, aku harus cukur rambut menjadi pendeta karena itu kuguna kan gelar It sim sebagai pengganti namaku yaitu agar aku selalu ingat untuk membalas dendam selalu ingat pada dendam kesumat yang tertanam dalam hatiku, aku tak bisa bertemu dengan leluhurku tak apa, tak bisa bertemu dengan orang suci juga tak apa, sekalipun harus masuk neraka asal sakit hati ku bisa terbalas hal itu sudah cukup menggirangkan hatiku....!"

Hoa Hujin diam-diam berpikir dalam hatinya.

"Walaupun setiap orang mempunyai kesedihannya sendiri-sendiri, tetapi kesediaan yang dialami Ti Kiam hui rupanya jauh lebih dalam daripada siapa pun juga....!"

Tiba-tiba Dewa yang suka melancong Cu Tong tidak menemukan Hoa Thian-hong ada dalam rombongan, dengan dahi berkerut, segera tegur nya.

"Hoa Hujin, di manakah putramu?"

"Pek Kun-gie putri Pek Siau-thian dari perkumpulan Sin-kiepang telah mati, putra itu telah meloncat kedalam jurang untuk menolong tapi akhirnya hingga kini tiada kabar beritanya lagi, aku sendiri pun tak tahu bagaimanakah nasibnya kini...."

Ujar Hoa Hujin dengan wajah sedih. Menyengat berita tersebut, air muka Cu Tong sekalian dua belas orang seketika itu juga berubah hebat, Ciu Thian-hau dari gunung Huang-san dengan cepat bertanya.

"Kapan terjadinya peristiwa ini?"

"Tengah malam tanggal tiga belas jadi sudah tiga hari lamanya....!"

"Waktu itu apakah hujin tidak hadir disana"

Timbrung It sim hweesio dari samping.

Beberapa pertanyaan yang dilontarkan beberapa orang jago itu penuh mengandung nada cemas dan kuatir, hal ini membuat Hoa Hujin terpaksa harus menghela napas berulang kali, jawabnya.

"Pada waktu itu aku hadir ditempat kejadian tetapi berhubung jurang tersebut tegak lurus dan dalamnya mencapai ratusan tombak diantara kami hanya ilmu meringankan tubuhnya saja yang secara paksakan diri bisa dipergunakan, karena itu aku biarkan dia untuk menuruni jurang tadi guna memberikan pertolongan. Kemudian para jago dari perkumpulan Sin-kie-pang menyusul disitu, Pek Siauthian dengan mempergunakan seutas tali menuruni pula jurang tersebut, karena aku kuatir Seng ji menemui bahaya, buru-buru aku menuruni jurang itu dari sisi kiri bukit tadi, tapi semalam suntuk sudah berlalu, didasar jurang tidak nampak sesosok bayangan manusiapun, bahkan jejak Pek Siau-thian pun tidak kelihatan lagi"

Ciu Thian-hau dari gunung Huang-san mengerutkan dahinya rapat-rapat, dengan nada me-negur katanya.

"Manusia terdiri dari darah dan daging, tidak mungkin tubuh mereka bisa lenyap dengan begitu saja, menurut dugaanku dibawah jurang pasti ada jalan tembus lainnya, dengan kepandaian yang hujin miliki seharusnya engkau dapat menyusul mereka"

Tio Sam-koh yang selama ini memang merasa mendongkol terus, tiba-tiba mendengus dingin dan menyindir.

"Hmmm! orang lain toh punya semangat gagah yang membubung tinggi kelangit seorang putra apa harganya? mau kejar atau tidak siapa yang dapat mengurusi?"

Hoa Hujin menghela napas panjang.

"Aaaai.... bukannya aku tidak menaruh perhatian atas nasib putraku, tapi dalam kenyataan situasi yang sedang kita hadapi pada saat itu genting sekali setiap saat suatu pertarungan terbuka bakal terjadi menurut pendapatku Pek Siau-thian toh hanya seorang diri sekalipun dapat menyusul Seng ji belum tentu ia dapat melukai jiwanya."

"Dengan kepandaian silat yang dimiliki Pek Siau-thian, ia belum mampu untuk melukai jiwa Seng ji....?"

Seru It sim Hweesio dengan perasaan hati sangsi. Hoa Hujin mengangguk.

"Kepandaian silat yang dimiliki Seng ji tidak lemah, bilamana ia ada maksud untuk melarikan diri maka Pek Siauthian tak mungkin bisa mengapa-apakan dirinya."

"Orang muda selamanya berdarah panas"

Sela Ciu Thianhau dari gunung Huang-san dengan nada tak senang hati, seandainya ia tak sudi untuk melarikan diri, bukankah selembar jiwa dikorbankan dengan percuma....??"

"Dalam pertemuan besar Pak beng hwee tempo hari, kita semua bilamana tidak melarikan diri, siapakah yang mampu hidup hingga ini hari? walaupun Seng ji masih muda belia, tapi aku sudah belasan tahun mempelajari dirinya untuk menahan emosi dan tebalkan iman, andaikata ia masih juga tak tahu diri dan tidak bisa mengambil keputusan yang bijaksana maka keadaannya bagaikan seorang manusia tolol yang tak bisa dibimbing, ini hari kita berhasil melindungi keselamatan jiwanya toh dilain hari kita belum tentu dapat menolong jiwanya!?"

Pandangan perempuan ini terhadap kehidupan manusia boleh dibilang melewati jangkauan daya pikir orang biasa, jalan pikiran semacam itu bukan bisa diterima oleh sekawanan manusia biasa, apalagi diantara Ciu Thian-hau sekalian ada yang didasarkan karena persahabatan, ada yang pada perasaan, dan ada pula yang karena pernah bertemu atau mendengar, semuanya menaruh perasaan sayang dan kagum terhadap diri Hoa Thian-hong, oleh karena itu sehabis mendengar perkataan dari Hoa Hujin, rata-rata mereka menunjukkan wajah tidak puas.

Kawanan jago tersebut adalah para pendekar yang berjiwa lurus serta terus terang, dalam hati merasa tak senang perasaan tersebut segera terpancar diatas wajahnya, kalau dilihat gelagatnya nampak jelas bahwa semua orang akan menunjukkan protesnya.

Cu Im Taysu segera memuji keagungan sang Buddba dan berkata setelah menghela napas panjang.

"Aaai....! sesungguhnya persoalan ini amat sulit untuk diatasi, hati siapa tidak lara melihat darah daging sendiri terancam bahaya? perasaan hati hujin sudah cukup tersiksa, aku harap saudara sekalian dapatlah bersabar sedikit!"

Hoa Hujin tertawa paksa, sambil membeli hormat dia berkata.

"Kejadian telah berlangsung jadi begini, merasa murung juga tak ada gunanya, lebih baik kita segera masuk kelembah Cu-bu-kok untuk menyelesaikan masalah besar yang menyangkut kepentingan dunia persilatan saja!"

Semua orang membungkam dalam seribu bahasa, setelah hening beberapa waktu lamanya, berangkatlah mereka mengikuti Hoa Hujin ma suk kedalam lembah tersebut.

Seorang pemuda baju hijau yang menyoren pedang di pinggangnya tiba-tiba munculkan diri dari rombongan para jago, tegurnya dengan suara dingin.

"Enso, kejadian itu berlangsung dimana? siaute bermaksud melakukan pemeriksaan disana"

Hoa Hujin berpaling ketika diketahui bahwa orang itu bukan lain adalah adik angkat mendiang suaminya yang bernama Suma Tiang-cing, ia segera termenung sebentar lalu menjawab.

Pulang pergi ada empat ratus li jauhnya, daripada buang waktu dalam perjalanan, lebih baik himpun saja tenagamu untuk membunuh musuh.

Jilid 6 Air muka Suma Tiang Ciang berubah jadi hijau membesi, katanya.

"Pek Siau-thian telah memasuki selat ini, apa bila Seng ji tidak menemui musibah, sepantasnya kalau iapun sudah sampai disini.

"Apakah engkau punya rencana untuk keluar dari lembah Cu-bu-kok ini dalam keadaan hidup?"

Seru Hoa Hujin secara tiba-tiba dengan wajah yang berat.

"Selama hidup siaute tak pernah melarikan diri untuk kedua kalinya....!"

"Kalau memang begitu apa yang hendak kukatakan lagi?"

Kata Hoa Hujin dengan sepasang matanya memancarkan cahaya berkilat.

"sekalipun engkau berhasil menemukan Seng ji belum tentu ia dapat lolos dari lembah Co bu kok dalam keadaan hidup, kalau memang di mana-mana pun jiwanya terancam bahaya kematian apa gunanya engkau cari dirinya?"

Suma Tiang Cin adalah saudara angkat dari Hoa Goan-siu, dia merupakan satu-satunya orang yang berusia paling muda diantara angkatan yang setaraf dengan Hoa Hujin, wataknya berangasan dan kasar dalam menghadapi musuh, tindakannya selalu keji dan telengas karena kekejamannya dan sikapnya yang sama sekali tidak kenal ampun di tambah pula kepandaian silat yang dimiliki sangat lihay maka beberapa gembong iblis tidak bersedia untuk melakukan pertempuran melawan dirinya oleh sebab itulah dalam beberapa kali pertarungan sengit jiwanya selalu selamat dari kematian.

Karena keistimewaannya itu, orang-orang kangcu memberi julukan Kiu mia kiam kek atau jago pedang bernyawa rangkap sembilan kepada orang ini, selama melakukan perjalanan dalam dunia persilatan dia merupakan momok yang paling memusingkan kepala bagi orang-orang kalangan hitam dan oleh karena wataknya yang sukar diatur itulah Hoa Hujin dengan kedudukannya sebagai kakak ipar selalu bersikap tegas dan keras terhadap dirinya.

Sementara pembicaraan masih berlangsung, semua orang telah memasuk kedalam lembah tersebut.

Suma Tiang Ting merasa sangat tidak puas, belum sempat ia berbicara tiba-tiba sorot matanya yang tajam telah menangkap tulisan besar yang terpancang diatas meja abu pada panggung persembahan, air matanya kontan berubah hebat dan darahnya mendidih.

Sesaat kemudian semuajagopun dapat melihat tulisan tadi, air muka mereka semua kontan berubah sangat hebat.

Terdengar Chin Pek-cuan sambil menggertak gigi berseru.

"Anjing bangsat.... manusia laknat....!Rupanya tujuan mereka menyelenggarakan pertemuan besar Kian ciau tayhwee adalah untuk mendoakan arwah-arwah yang telah berpulang dalam pertemuan Pak beng Tay bwee tempo hari...."

Baru saja perkataan itu selesai diutarakan keluar, Thongthian Kaucu dengan memimpin anak muridnya telah turun dari panggung persembahan dan menyambut kedatangan mereka.

Ketika Hoa Hujin menyaksikan Suma Tiangg Cing telah meraba gagang pedangnya siap menerjang kedepan, ia segera menyapu sekejap wajah para jago dan menegur dengan suara berat.

"Siapa yang akan munculkan diri untuk berbicara?"

"Berada dihadapan musuh tangguh, hujin jangan mengacaukan barisan sendiri, engkau saja yang buka suara"

Kata Cu Tong dewa yang suka pelancongan dengan gelisah. It Sim hweesio yang berada disisinya segera menimbung pula.

"Pinceng tidak ada komentar apa-apa, aku bersedia menerima perintah...."

Seraya berkata ia menggeserkan badannya mundur selang-kah ke arah belakang.

Cu Im taysu yang melihat sikap rekannya segera ikut pula mundur kebelakang sedang Ciu Thian Huu dari gunung Huang-san bergeser tiga depa kebelakang.

Suma Thian Cing amat membenci terhadap diri Thian Ik-cu, dia ingin sesaki membinasakan imam tua tersebut dalam satu tusukan kilat akan tetapi setalah dilihatnya para jago yang berjalan disamping Hoa Hujin telah mengundurkan diri semua kebelakang terpaksa diapun ikut melangka mundur setindak kebelakang, sepasang matanya yang tajam dengan memancarkan cahaya penuh nafsuh membunuh menatap wajah Thong-thian Kaucu tanpa berkedip.

Thong-thian Kaucu buru-buru maju kedepan, sesudah memberi hormat serunya dengan lantang.

"Kehadiran Hujin dan para tayhiap lainnya sungguh merupakan suatu kehormatan bagi perkumpulan Tiong Thian Kau kami dan merupakan kebanggaan pula bagi umat persilatan di kolong langit...."

Sementara itu suasana dalam lembah Cu-bu-kok diliputi keheningan dan kesunyian, suara bunyi-bunyian alat sembahyang telah berhenti berdenting dan suara pembicaraan manusiapun telah sirap dalam lembah seluas itu, hanya kedengaran suara lantang dari Thian Ik-cu seorang....

Dari balik mata Hoa Hujin memancar keluar cahaya kilat yang menggidikkan hati, membuat wajahnya yang keren dan penuh berwibawa kelihatan semakin gagah dan menyeramkan membuat siapapun tak berani memandang enteng perempuan ini.

Ia balas memberi hormat kemudian menjawab dengan suara yang keras dan tegas.

"Tujuan dari pertemuan besar Kian ciau tayhwee adalah untuk mengenang kembali arwaharwah para jago persilatan yang sudah tiada, aku orang she Bun sekalian termasuk anggota persilatan, sudah sepantasnya kalau kami semua ikut menghadiri upacara besar seperti ini."

Sesudah berhenti sebentar, sorot matanya dialihkan sekejap ke arah meja abu yang berjajar diatas panggung persembahan, setelah itu sambungnya lebih jauh.

"Mendiang suamiku dan rekan-rekan kami lainnya telah mati binasa dalam pertemuan besar Pak beng tayhwee tempo dulu, atas kebaikan ha ti kaucu untuk mendoakan arwah-arwah mereka yang sudah tiada, aku orang she Bun sekalian mengucapkan banyak terima kasih lebih dahulu"

Perkumpulan Thong-thian-kauw adalah sekte agama yang didirikan diatas kehendak Thian, tujuan kami adalah mendoakan arwah-arwah yang telah tiada agar segera masuk ke nirwana dan mendapat ketenangan untuk selamanya, tugas berdoa adalah pekerjaan kami, buat apa engkau musti berterima kasih kepada kami?

sahut Thong-thian Kaucu dengan wajah serius.

Kegagahan Hoa Hujin membuat Thong-thian Kaucu diamdiam merasa kecil hati dan malu, karena itu setelah mengucapkan kata-kata yang merendah dan saling memberi hormat, ia segera mengiringi Hoa Hujin memasuki lembah dan ambil tempat dibarak sebelah kanan.

Setelah masuk kedalam barak, Hoa Hujin pun lantas bertanya.

"Pertemuan besar Kian ciau tayhwee akan diselenggarakan mulai kapan....? dapatkah kaucu memberi keterangan?"

"Jam sebelas malam upacara dimulai dan jam dua belas tengah malam pintu akhirat akan terbuka, pada saat itulah upacara penghormatan untuk arwah-arwah yang telah tiada dalam pertemuan Pak beng hwee akan diselenggarakan!"

Hoa Hujin mengangguk.

Upacara sudah akan diselenggarakan, dalam keadaan demikian kaucu pasti repot sekali, silahkan engkau menyelesaikan pekerjaanmu, tolong saja apabila waktunya sudah tiba engkau bersedia memberi kabar agar aku orang she Bun sekalian dapat memberi hormat untuk arwah rekanrekan kami"

"Tak usah kuatir....!"

Setelah memberi hormat kaucu dari Thong-thian-kauw itu segera mengundurkan diri.

Beberapa saat kemudian alat tetabuhan berkumandang kembali dan pembacaan doa pun dimulai lagi, dari balik barakbarak disisi kanan dan kiri ramai pula oleh suara pembicaraan manusia.

Pertemuan ini adalah suatu pertemuan besar yang jarang terjatdi di kolong langit, suatu saat sebelum datangnya hujan badai.

Sebentar lagi pembunuhan besar-besaran akan dimulai namun pada saat ini suasana sama sekali tidak diliputi oleh bentrokan, tidak tercium pula nafsu membunuh yang menyelimuti angkasa....

Perkumpulan Sin-kie-pang, Hong-im-hwie, Thong-thiankauw dan para pendekar dari golOngan lurus salingmenempati suatu barak yang berbeda, walaupun tiada hubungan namun suasana tetap tenang dan damai, bahkan sorot mata yang memancarkan sinar bengis pun tertutup untuk sementara, yang ada hanya sikap yang dingin serta dugaan-dugaan yang tersembunyi untuk menilai kekuatan pihak lawan.

Waktu berlalu dengan cepatnya, tanpa terasa senja telah menjelang tiba, sang surya telah lenyap dibalik bukit dan kegelapan mulai menyelimuti seluruh jagad.

Pada saat itulah, tiba-tiba dari luar lembah Cu-bu-kok berkumandang datang suara tangisan setan yang mendirikan bulu roma, pekikan dan jeritan yang memilukan hati itu bergema tidak menentu, sebentar ke kiri sebenar kekanan seakan-akan diluar lembah telah berkumpul berpuluh-puluh sosok arwah gertayangan yang sedang menangis dan menjerit....

Begitu suara tangisan setan itu berkumandang, suara tetabuhan dan pembacaan doa seketika tertumpuk lenyap, suara pembicaraan dalam barak-barak pun tak kedengaran lagi.

Dalam lembah Cu-bu-kok, semua bagian telah ditutup oleh kain putih sebagai tanda berkabung, rumah-rumahan dari kertas, kuda-kudaan dari kertas telah bersusun dibawah meja sembahyang, ditambah pula dengan meja abu yang berpuluhpuluh banyaknya menambah seram nya suasana disitu, kini ditambah pula dengan suara jeritan dan tangisan setan yang menggidikkan hati membuat suasana bertambah seram, hawa setan menyelimuti seluruh lembah membuat bulu kuduk orang pada bangun berdiri.

Tiba-tiba segulung angin dingin menghembus lewat, membuat udara jadi dingin dan menusuk tulang, bunyi desiran tajam menambah seramnya isak tangis sukma gentayangan tersebut.

Ci-wi Siancu paling takut dengan setan, ia jadi ketakutan setengah mati hingga keringat dingin mengucur tiada hentinya, tanpa terasa ia menggenggam tangan Hoa Hujin sambil bisiknya dengan suara gemetar.

"Hujin....! buu.... bukankah pintu gerbang akhirat baa.... baru dibuka selewatnya jam dua belas tengah malam....??"

Melihat gadis itu ketakutan setengah mati sehingga air mukanya pucat pias dan bibirnya membiru, buru-buru Hoa Hujin menghibur sambil berkata.

"Engkau tak usah takut.... pastilah hal ini merupakan permainan setan dari pihak Thongthian-kauw, di kolong langit tidak mungkin ada setan benarbenar...."

"Tidak, setan itu pasti ada!"

Seru Ci-wi Siancu dengan hati amat gelisah. Hoa Hujin tersenyum.

"Kalau begitu duduklah disisiku!"

Dalam pada itu.... tiba-tiba terdengar Dewa yang suka melancong Cu Tong berseru tertahan.

"Aaah! sungguh aneh, kenapa siluman-siluman tosu itu pada gugup semua....??"

Hoa Hujin segera menengok ke arah depan, sedikitpun tidak salah tampaklah Thian Ik-cu dengan wajah gusar sedang membisikkan sesuatu kesisi telinga dua orang muridnya, dua orang imam tersebut buru-buru lari keluar lembah dengan wajah aagk gugup.

Pada saat itulah orang-orang perkumpulan Sin-kie-pang dan Hong-im-hwie yang berada dimulut lembah tiba-tiba memperdengarkan seruan kaget dan sama-sama bangkit berdiri untuk menengok ke arah luar lembah tersebut....

ooooOoooo DALAM sekejap mata, dari mulut lembah Cu-bu-kok muncul segerombolan setan berwajah menyeringai seram dengan rambut yang awut-awutan terurai kebawah.

Setan-setan bermuka seram itu ada yang tua ada yang muda ada yang wanita ada pula yang pria, dandanan seta pakaian yang mereka pakai berbeda-beda satu sama lainnya ada yang memakai baju model sekarang ada yang berdandan seperti orang pada masa Tong tiau atau pula yang mamakai baju model Han semuanya menjerit-jerit dan menangis menggerung dengan suara yang keras mereka saling dorong mendorong membuat suasana jadi ribut....

Dua orang imam dari perkumpulan Thong-thian-kauw yang mendapat perintah untuk melakukan pemeriksaan Keluar lembah telah berpapasan dengan rombongan setan penasaran itu, untuk sesaat mereka jadi gugup....

pedangnya buru-buru dicabut keluar.

Terdengar diantara rombongan setan-setan penasaran itu, tiba-tiba terdengar keluhan seram yang menggidikkan hati.

"Oooh.... anakku!"

Seorang setan perempuan yang bermuka seram dan berlidah menjulur keluar melewati rombongannya dan langsung menubruk ke arah tosu tersebut.

Pada waktu itu kegelapan telah mencekam seluruh jagad, dibawah remang-remangnya cuaca sulit bagi para jago untuk memeriksa apakah setan-setan itu adalah setan asli atau gadungan, keadaan mereka benar-benar mengerikan sekali.

Dua orang imam tersebut ketakutan setengah mati, dengan jantung berdebar keras mereka membentak keras kemudian melancarkan sebuah serangan dahsyat kedepan.

Tetapi....

sebelum serangan itu mencapai sasarannya, mendadak mereka rasakan geng-gamannya jadi enteng dan tahu-tahu kedua batang pedang tersebut telah lenyap tak berbekas.

Setan perempuan yang lidahnya menjulur keluar bagaikan setan gantung itu segera berpekik nyaring.

"Ooooh.... anakku!"

Sambil rentangkan sepasang tangannya, ia segera memeluk salah satu diantara dua orang imam itu.

Dua orang tosu tersebut semakin ketakutan hingga serasa sukma melayang tinggalkan raganya, mereka sipat telinga dan melarikan diri terbirit-birit.

"Criing....! tiba-tiba kaki mereka disapu oleh seorang setan pria dengan rantai yang membelenggu tangannya hingga jatuh tersungkur diatas tanah, sedang seorang lainnya yang melarikan diri agak lambat kena dipeluk oleh setan tua berambut putih. Dalam waktu singkat imam tersebut dibikin bulanbulanan oleh rombongan setan penasaran tersebut, kau rebut aku rampas jeritan isak tangis menggema memenuhi angkasa, seluruh jubah yang dikenakan tosu itu jadi koyak tak ada juntrungnya karena ketakutan akhirnya imam tadi jatuh tak sadarkan diri. Semua peristiwa tersebut berlangsung dalam sekejap mata, para jago yang hadir dalam lembah Cu-bu-kok dan rata-rata merupakan jago kangou berkepandaian lihay dan membunuh orang tak berkedip itu seketika dibuat berubah wajahnya dan merasa amat terperanjat. Thong-thian Kaucu yang berada diatas panggung persembahan dapat menyaksikan jalannya peristiwa tersebut dengan amat jelas, mulutnya yang membaca doa segera diperkeras, tangan kiri berputar-putar diudara sedang pedang ditangan kanannya menepuk meja keras-keras. Anak murid diatas pangguug sama-sama jadi gugup dan gelagapan, suara pembacaan doa semakin nyaring dan tetabuhan alat sembah yang pun semakin memekikkan telinga. Thian Seng cu dengan wajah penuh kegusaran segera loncat keluar dari dari dalam barak, hardiknya keras-keras.

"Hian cing, tenangkan hatimu!"

Imam yang bergelar Hian cing itu sambil mengguling dan merangkak sedang melarikan diri dari kejaran setan-setan penasaran itu, mendengar bentakan dan Thian Seng cu, ia jadi semakin gugup sehingga sepasang kakinya jadi lemas.

Terdengarlah jeritan dan tangisan setan makin memekikkan telinga, orang itu kena ditumbuk oleh rombongan setan tadi hingga jatuh terjungkal keatas tahan.

Rombongan setan penasaran itu bergerak bagaikan hembusan angin, diiringi jeritan dan pekikan ngeri mereka lari menuju kebawah panggung persembahan, kemudian sambil depak kaki memukul dada menangis mengerang-erang....

Air muka Thian Seng cu berubah jadi hijau membesi, dia ulapkan tangannya, dari balik barak segera berlompatan puluhan orang jago berbaju merah, dengan senjata terhunus mereka mengurung rombongan setan penasaran itu rapatrapat.

Rombongan setan penasaran itu tetap tidak menggubris atas kepungan tersebut, mereka sama-sama menengadah memandang Thong-thian Kaucu yang berada diatas panggung, isak tangis bergema tiada hentinya membuat hati orang semakin kalut.

Ci-wi Siancu paling ketakutan, sekujur badannya gemetar keras dan giginya saling beradu keras, lengannya memeluk tubuh Hoa Hujin kencang-kencang.

Hoa Hujin merasa tak tega, bisiknya dengan suara lirih.

"Jangan takut, mereka adalah menusia dan jumlahnya tujuh puluh dua orang...."

Sementara itu Thian Seng cu telah membentak dengan suara keras.

"Kalian kawanan setan darimana? siapa pemimpin kalian? ayoh jawab!"

Kawanan setan penasaran itu tetap melompat dan menangis tersedu-sedu tiada hentinya. Li-hoa Siancu segera mendekati tubuh Hoa Hujin dan berbisik dengan gemetar.

"Hujin rombongan itu benar-benar adalah setan asli, kalau manusia yang menyaru jadi setan kenapa tujuh delapan puluh orang loncat bersama sedikitpun tidak menimbulkan suara.

"Aduuuh.... sungguh tak enak didengar suara tangisan mereka seru Ci-wi Siancu pula, suara mereka sedikitpun tidak mirip suara manusia...."

Tiba-tiba Thong-thian Kaucu yang berada diatas panggung menepukkan pedangnya keras-keras dan membentak keras.

"Pertemuan Kian ciau tayhwee adalah untuk mendoakan arwah-arwah yang telah tiada, kawanan setan penasaran tiada tempat disini enyah kalian dari tempat ini"

Bersamaan dengan selesainya perkataan itu mendadak kawanan setan penasaran itu menengadah dan mengeluh, dalam waktu singkat dari tujuh lobang indera mereka mengucur keluar darah segar dan setan-setan itupun roboh terkapar diatas tanah tak berkutik lagi.

Suasana dalam lembah Cu-bu-kok segera diselimuti oleh suasana yang menyeramkan.

Pembacaan doa, suara tetabuhan berhenti berdentang, suasana diliputi keheningan dan kesunyian....

Pemandangan yang terpapar didepan mata pada saat itu benar-benar mengerikan dan mendebarkah hati, diatas tanah penuh berserakan tubuh makhluk-makhluk setan berambut panjang dan menyeringai seram, darah yang mengalir ke luar dari tujuh lobang indera mereka membuat wajah setan-setan itu bertambah mengerikan, jangan dikata setan, sekalipun manusia pun cukup mendirikan bulu roma dan menggidikkan hati orang.

Perubahan yang terjadi sangat tiba-tiba ini jauh diluar dugaan semua orang dan cukup mengejutkan hati para jago, Thong-thian Kaucu yang berada diatas mimbar pun berdiri kaku bagaikan patung, karena terperanjat air mukanya berubah jadi amat jelek.

Tetapi, bagaimanapun juga dia adalah seorang ketua dari suatu perkumpulan besar, sesudah tertegun beberapa saat lamanya, ia segera tersadar kembali dari lamunannya.

"Ploook...."

Pedang mustikanya dipukulkan keatas meja keras-keras kemudian lanjutkan pembacaan doanya dengan suara lantang.

Para anak murid perkumpulan Thong-thian-kauw yang berada di mimbar nampak tertegun, diikuti suara tetabuhan dan pembacaan doapun dilanjutkan lebih jauh, mula-mula suaranya masih lirih dan terpotong-potong, tapi sebentar kemudian suasana berubah jadi ramai kembali.

Thian Seng cu mendekati makhluk-makhluk aneh yang tidak mirip manusia dan setan itu, setelah mengetahui bahwa tubuh mereka telah mendingin dan napasnya telah putus, buru-buru ia perintahkan anak muridnya untuk menggotong mayat tadi keluar dari lembah, noda darah diatus tanahpun segera dibersihkan.

Thong-thian Kaucu yang berdasarkan ajaran agamanya pada soal kebatinan seringkali menyaru jadi setan atau malaikat untuk menakut nakuti kaum rakyat kecil yang bodoh, sekarang setelah benar-benar menghadapi kejadian semacam itu, walaupun sudah tahu bahwa setan itu adalah setan gadungan semua namun ia tidak membongkar rahasia tersebut.

Sekalipun demikian, kedatangan makhluk aneh yang tibatiba dan kematiannya secara mengerikan menimbulkan kecurigaan dalam hati semua orang, tak seorangpun yang berani unjukkan sikap mengejek atau mentertawakan atas terjadinya peristiwa itu.

Setelah kejadian yang menegangkan telah lewat, suara hiruk pikuk manusia berbicara pun mulai muncul dari barakbarak dikiri maupun kanan, rata-rata mereka semua membicarakan peristiwa aneh yang barusan berlangsung itu.

Siau yau siau Cu Tong dengan penuh semangat berkata.

"Kalau dilihat dari sikap Thian Ik-cu yang jengah dan tersipusipu, rupanya apa yang terjadi tadi bukanlah permainan setan dari pihak perkumpulan Thong-thian-kauw sendiri, ditinjau dari hal ini dapat diketahui bahwa diantara tiga bibit bencana dunia persilatan masih terdapat perselisihan yang belum dapat diselesaikan, itu berarti belum tentu mereka benar-benar bisa bekerja sama untuk meghadapi kita!"

Hoa Hujin mengerutkan dahinya rapat-rapat.

"Aku rasa perbuatan semacam ini tidak mirip perbuatan dari Sin-kie-pang ataupun Hong-im-hwie!"

Katanya.

"Perkataan hujin sedikitpun tidak salah"

Ciu Thian-hau dari gunung Huang-san mengangguk tanda membenarkan.

"kawanan makhluk aneh itu sudah jelas bukan berasal dari orang-orang gabungan tiga kekuatan besar tersebut, kalau dilihat dari ilmu meringankan tubuh mereka yang aneh dan ampuh, sudah jelas orang-orang tadi berasal dari satu golongan yang sama, tidak mungkin perkumpulan Sin-kiepang dan Hong im bwee mampu melatih manusia aneh sebanyak itu!"

"Kecuali tiga bibit, bencana dari dunia persilatan dan golongan kita, masa dalam dunia persilatan masih terdapat kelompok kelima?"

Seru Im sim hweesio dengan wajah tercengang.

Baca Juga: Pedang Darah Bunga Iblis 1

Baca Juga: Bakti Pendekar Binal 6

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert