Eps 1 Tiga Maha Besar - Khu Lung
Baca online Tiga Maha Besar - Khu Lung
Cersil Tiga Maha Besar - Khu Lung.
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com Tiga maha besar Karya . Khu Lung Diceritakan oleh Tjan ID
Jilid 1 DITENGAH arena berdirilah seorang perempuan cantik berusia pertengahan yang berpakaian sederhana tapi bersih, wajahnya tenang tapi penuh berwibawa, seakan-akan baru saja melayang turun dari atas langit, berdiri dengan gagahnya ditengah gelanggang.
Dalam waktu yang sangat singkat itu pula Liong-bun Siangsat serta Yan-san It-koay yang merupakan gembong-gembong iblis kalangan hitam, Jin Hian serta Yau Sut sekalian yang merupakan jago-jago kangouw yang membunuh orang tanpa berkedip, secara tiba-tiba berubah jadi jinak dan sama sekali tak berani berkutik secara sembarangan.
Perempuan cantik berusia pertengahan itu bukan lain adalah majikan muda dari perkampungan, atau Hoa Hujin yang namanya pernah menggemparkan seluruh kolong langit sejak belasan tahun berselang.
Dengan cepat Hoa Thian-hong alihkan pula sorot matanya ke arah perempuan setengah baya itu, setelah mengetahui bahwa orang yang merampas pedang bajanya bukan lain adalah ibunya sendiri, ia jadi girang bercampur sedih, jantungnya terasa berdebat amat keras.
Tampaklah ibunya berpakaian amat bersih dan rapi sekali, seakan akan bukan muncul dari dalam goa yang kotor dan gelap itu, untuk beberapa saat lamanya ia berdiri tertegun sehingga rasa sakit akibat kambuhnya racun terataipun terlupakan olehnya.
Dalam pada itu, air muka Cukat racun Yau Sut berubah jadi pucat kehijau-hijauan, beberapa kali bibirnya bergerak seperti mau mengucapkan sesuatu akan tetapi setiap kali maksudnya itu diurungkan.
Liong-bun Siang-sat serta Yan-san It-koay berdiri kaku seperti patung.
Jin Hian tundukkan kepala memandang kebawah, Pek Soh-gie berdiri dengan wajah penuh kekaguman sedangkan Pek Kun-gie membelalakkan matanya lebar-lebar sambil mengawasi wajah Hoa hujin secara diamdiam, sikapnya tidak menentu dan tak dapat diketahui apakah ia sedang merasa girang ataukah murung.
Semua orang membungkam dalam seribu bahasa, Tio Samkoh juga tidak buka suara serta menunggu Hoa hujin berbicara, sedangkan Hoa hujin sendiri sambil mencekal pedang baja berdiri gagah ditengah arena, sepasang matanya yang tajam perlahan-lahan menyapu sekejap keatas wajah para jago, akhirnya berhenti diatas wajah malaikat kedua Sim Ciu.
Gembong iblis itu sebenarnya keder pada kegagahan Hoa Hujin serta kelihayan ilmu silatnya, karena itu sejak kemunculan perempuan itu, watak buasnya agak terkendali.
Tetapi bagaimanapun juga dia adalah seorang jago yang sudah sering kali mengalami kejadian besar, ketika dilihatnya Hoa hujin mencari gara-gara kepadanya, timbul kembali sifat buas dalam hatinya, ia segera berpikir.
"Hoa Goan-siu yang begitu lihaypun berhasil kami jagal secara bersama-sama, apalagi sekarang akupun bukan sebatang kara, kendatipun engkau lihay, belum tentu serangan gabungan dari Liong-bun Siang-sat serta Yan-san It-koay dapat kau bendung..."
Berpikir sampai disini keberaniannya segera timbul kembali, sambil tertawa serunya.
"Hoa Hujin, sudah belasan tahun engkau mengasingkan diri dari keramaian dunia persilatan, aku rasa ilmu silatmu tentu sudah berhasil dilatih hingga mencapai puncak kesempurnaan bukan? aku boleh tahu apa maksudmu untuk munculkan diri kembali didalam dunia persilatan?"
Gembong iblis dari kalangan Hek to itu kelihatan kasar dan bodoh, dihari-hari biasa ternyata bilamana perlu ucapannya sopan dan tahu diri juga, hal ini merupakan suatu kejadian yang tak pernah diduga oleh setiap orang.
Dengan wajah serius dan suara yang tenang dan datar, Hoa Hujin menjawab.
"Bun Siau-ih munculkan diri kembali dalam dunia persilatan dengan tubuh sebagai janda, tentu saja tujuanku adalah menuntut balas bagi kematian suamiku serta menuntut keadilan dari umat Bu lim lainnya!"
Malaikat pertama Sim Kiam segera tertawa terbahak-bahak, tukasnya.
"Haaaahh.... haaahh..... haaahh... sejarah pada masa dahulu merupakan contoh yang paling tepat bagi engkau, meskipun memiliki ilmu silat yang sangat tinggi belum tentu apa yang kau harapkan itu bisa terlaksana sebagaimana mestinya!"
Maksud dari ucapan itu bukan lain adalah menyinggung tentang peristiwa yang terjadi di pertemuan besar Pek Beng Tayhwee dimasa lampau, kemungkinan besar hari ini dapat terulang kembali.
Perlahan-lahan Hoa Hujin alihkan sorot matanya dan memandang sekejap ke arahnya dengan pandangan dingin, lalu berkata.
"Kejadian yang berlangsung dimasa lampau belum tentu bisa terulang kembali, bagaimanakah nasib manusia siapa yang tahu? itu berhasil atau tidaknya siapa pula yang dapat menduga lebih dahulu?"
Tiba-tiba sorot matanya dialihkan keatas wajah Pek Kungie.
Pada waktu itu secara diam-diam Pek Kun-gie sedang mengawasi pula wajah Hoa hujin, ia merasa biji mata perempuan cantik itu bening bagaikan bintang timur ditengah kegelapan, kecantikan wajahnya benar-benar sukar di lukiskan dengan kata-kata.
Ketika biji mata yang jeli beralih ke arahnya, ditengah sorot mata yang serius terselip kegagahan yang luar biasa, ketika sorot mata Pek Kun-gie terbentur dengan sinar matanya, seketika itu juga ia merasakan pikirannya kalut dan tanpa sadar ia tundukkan kepalanya rendah-rendah.
"Apakah nona yang bernama Pek Kun-gie?"
Terdengar Hoa Hujin bertanya dengan suara nyaring. Buru-buru Pek Kun-gie menengadah keatas dan menjawab.
"Boanpwee Pek Kun-gie...."
Biji matanya berputar dan dengan cepat melirik sekejap ke arah Hoa Thian-hong.
Air muka Hoa Hujin tiba-tiba berubah jadi sedih, seakanakan didalam hatinya terdapat banyak persoalan yang tak dapat diputuskan olehnya, tetapi hanya sebentar saja wajahnya telah pulih kembali seperti sedia kala, tiba-tiba ia bertanya kembali.
"Nona apakah engkau takut mati?"
Tertegun hati Pek Kun-gie mendengar pertanyaan itu, tidak sempat berpikir panjang, lagi ia segera menjawab.
"Boanpwee tidak takut mati!"
Hoa Hujin mengangguk, ujarnya kembali.
"Mati atau hidup sudah digariskan menurut takdir, memang tiada yang perlu ditakutkan"
Ia berpaling ke arah malaikat kedua Sim Ciu, kemudian ujarnya.
"Sudah lama aku dengar Liong-bun Siang-sat adalah manusia yang berhati kejam dan bertangan telengas, beranikah engkau membinasakan nona itu detik ini juga?"
"Dengan seorang angkatan yang lebih muda aku tak punya hubungan dendam ataupun sakit hati, kenapa aku musti membinasakan dirinya?"
"Hmm! Putri dari Pek Siau-thian memang tak dapat dibunuh dengan sesuka hati sendiri"
Setelah berhenti sebentar, dari balik mata Hoa Hujin memancar keluar serentetan cahaya tajam yang menggidikkan hati, ujarnya lebih jauh sambil tertawa.
"Kalau engkau menganggap dirimu sebagai angkatan tua kenapa tidak kau lepaskan baju nona itu?"
Mula-mula malaikat kedua Sim Ciu agak tertegun, kemudian sambil tertawa terbahak-bahak serunya.
"Haaahh....haaahh..... haaahh.... Hoa Hujin suruh aku orang she Sim melepaskan nona ini, apakah tujuanmu hendak pungut dia sebagai menantumu....??"
"Barang siapa yang bercita-cita merebut kolong langit, dia tak akan mengurusi keluarganya, Pek Siau-thian mempunyai ambisi yang amat besar dan ingin menguasai seluruh kolong langit, dia tak akan bersedia mengawinkan putrinya kepada pihak lawan sehingga perbuatannya mengalami gangguan, aku Bun Siau-ih tiada berminat untuk pungut dia sebagai menantuku, dan bagimu tetap menahan nona itupun tak akan mendatangkan manfaat apa-apa...."
Ketika Pek Kun-gie mendengar bahwa Hoa Hujin tidak berminat mengambil dirinya sebagai menantu, tercekatlah hati gadis itu, ia jadi lemas dan sama sekali tak bersemangat lagi, ia tahu semua perkataan dari Hoa Hujin itu tujuannya bukan lain adalah hendak memaksa Sim Ciu untuk melepaskan dirinya dari cekalan orang.
Dengan pikiran yang kalut dan hati yang sedih, sorot matanya segera dialihkan ke arah Hoa Thian-hong.
Kebetulan sekali sepasang mata Hoa Thian-hong yang tajam dan menawan hati itu sedang memandang ke arahnya, ketika empat mata saling bertemu, air muka kedua orang itu sama-sama berubah hebat, rasa sedihpun terlintas diatas raut wajah masing-masing.
Semua tingkah laku dari dua orang muda mudi itu tidak terlepas dari pengawasan malaikat kedua Sim Ciu, dalam hati ia segera berpikir.
"Rupanya kedua orang bocah itu memang saling menaruh hati antara yang satu dengan yang lain, akan tetapi golongan putih dan golongan hitam selamanya berhadapan bagaikan api dan air, belum tentu Pek Loo ji suka menyetujui perkawinan itu, sedangkan perempuan dari keluarga Hoa ini selamanya tegas dalam pendirian, iapun belum tentu akan menyetujui perkawinan ini.....
"Waah....! urusannya tentu ramai" . Tindakannya menangkap kakak beradik dari keluarga Pek tadi sebenarnya dilakukan karena terdorong oleh suara hatinya belaka dia tahu tindakannya ini sama sekali tak akan mendatangkan manfaat apapun juga baginya, apa lagi tiga puluh orang jago dari per kumpulan Sin-kie-pang berjaga-jaga disana, untuk membawa pergi Pek Kun-gie jelas bukan suatu pekerjaan yang mudah maka dengan cepat dia mengambil keputusan didalam hatinya. Kepada Hoa hujin sambil tertawa ujarnya.
"Aku lihat kesan Pek Kun-gie terhadap putramu tidak jelek, memandang diatas wajah emas Hoa Hujin rasanya sudah sepantasnya kalau aku orang she Sim harus memenuhi keinginanmu itu, tapi bagaimana kalau Hujin mendemonstrasi lebih dahulu kelihayanmu sehingga kami sekelompok manusia-manusia kasar dapat menambah pengetahuan kami"
"Benar!"
Sambung Yan-san It-koay sambil tertawa.
"aku dengar ilmu silat yang di miliki It kiam kay Tionggoan Siang Tang Lay lihay dan luar biasa sekali, sayang rejekiku kurang begitu baik dan tak sempat menyaksikan dengan mata kepala sendiri, selama belasan tahun belakangan ini akupun belum pernah menyaksikan ilmu silat yang benar-benar luar biasa, jikalau Hoa hujin bersedia mendemonstrasikan keampuhanmu, niscaya kami semua akan merasa puas sekali!"
Sejak memperlihatkan kelihayannya dalam pertemuan besar Pak Beng Tayhwee dan mendapat pujian dari Pek Siauthian sehingga di beri kedudukan sebagai Kunsu, boleh dibilang selama belasan tahun belakangan ini setiap perbuatan dari Cukat racun Yau Sut pasti mendatangkan hasil yang memuaskan, ini hari setelah mengalami kekalahan total ditangan sekawanan jago lihay yang ilmu silat serta kecerdikannya satu tingkat lebih tinggi darinya sehingga membuat ia berulang kali jadi malu, rasa bencinya terhadap Hoa Hujin maupun Liong-bun Siang-sat sekalian boleh dibilang sudah merasuk ke tulang sumsum.
Kini mendengar Yan-san It-koay mengungkap kembali persoalan mengenai Siang Tang Lay, ia segera tertawa dingin dan menyela.
"Heeehh.... heeehh.... heeeh.... Siang Tang Lay bisa termasyhur namanya di kolong langit tidak lebih karena ia mampu mengalahkan lima orang jago, sewaktu dilangsungkannya pertemuan besar Pak Beng hwee, bukankah pernah terjadi pula peristiwa dikerubutnya seorang jago oleh lima orang jago lihay lainnya?"
Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar suasana jadi amat gempar.
Air muka Hoa Hujin, Liong-bun Siang-sat, Yan-san It-koay serta Jin Hian seketika berubah hebat, lima pasang sorot mata dengan pandangan gusar sama-sama dialihkan keatas wajah Cukat racun.
Diam-diam Yau Sut merasa amat terperanjat, akan tetapi diluaran ia segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh.... haaaahh.... kebetulan sekali..! sungguh kebetulan sekali, saat inipun terdapat lima orang, kalau aku orang she Yau bisa mendapat kehormatan untuk mati dibawah kerubutan kalian lima orang jago lihay, kejadian ini boleh dihitung merupakan rejeki bagiku"
Air muka malaikat pertama Sim Ciu berubah jadi hebat, sambil menyeringai seram serunya.
"Keparat yang tak tahu diri, engkau masih belum mempunyai rejeki sebesar itu, cukup aku seorang sudah dapat mengirim engkau pulang kelangit sebelah barat"
Selesai berkata, selangkah demi selangkah ia berjalan maju kedepan. Cukat racun Yau Sut segera berpikir di dalam hati.
"Liongbun siang sat maupun Yan-san It-koay sama-sama merupakan pembunuh dari Hoa Goan-siu, tidak mungkin Bun Siau-ih akan berpeluk tangan belaka dengan melupakan dendam kematian suaminya, kalau ini hari tidak sampai terjadi pertarungan massal, keadaan masih mendingan, asal terjadi pertarungan maka dia tak akan berpeluk tangan belaka, ditambah Tio Samkoh serta Hoa In si tua bangka itu, bagi tiga orang makhluk tua itu untuk melarikan diri jauh lebih sulit dari pada naik ke langit, bahkan inti kekuatan dari perkumpulan Hong-im-hwie pun akan mengalami kehancuran total. Berpikir sampai disini, tanpa terasa semangatnya berkobar, ketika dilihatnya malaikat pertama Sim Kian maju menghampiri dirinya, ia segera tertawa lebar sambil serunya.
"Haaahh.... haaaah.... haahh.... bagus sekali, aku orang she Yau akan mengikuti jejak orang dulu, dengan melawan lima jago mengorbankan diri sendiri"
Ia ulapkan tangannya kemudian maju menyongsong kedepan!
Bayangan manusia berkelebat lewat, Kiu im sam kui ikut meloncat maju pula kedepan, seorang pria setengah baya yang berwajah buruk dengan panca indranya yang tidak genah, berbadan kurus tinggi serta memakai jubah pajang yang nampak lututnya tanpa mengeluarkan sedikit suarapun membuntuti di belakang Cukat racun Yau Sut.
Malaikat pertama Sim Kian tak pernah menyangka kalau Cukat racun Yau Sut bakal mengambil tindakan seperti ini, keadaannya pada saat ini boleh dibilang ibaratnya menunggang dialas punggung harimau, membuat ia sangat mendongkol sehingga sorot matanya memancarkan sinar berapi-api.
Terdengar malaikat kedua Sim Ciu berseru dengan suara menyeramkan.
"Loo toa, bertemu dimana kita selesaikan dimana, tak usah kita tunggu sampai pertemuan Kian ciau tayhwee lagi!"
Tangan kirinya digulung menggempit tubuh Pek Kun-gie yang lemas itu dibawah ketiaknya, kalau ditinjau dari keadaannya mungkin ia ber siap-siap untuk menerjang keluar dari kepungan.
Jin Hian serta Yan-san It-koay dengan cepat saling bertukar pandangan sekejap, kedua orang itu mengetahui bahwa situasi telah berubah jadi amat serius.
Jin Hian segera menyingkap jubahnya dan cabut keluar sebilah pedang pendek yang memancarkan cahaya tajam, sedangkan Yan-san It-koay dari balik lengannya mengambil pula sebuah gelang tangan yang berwarna hitam emas, belasan pengawal golok emaspun sama-sama meloloskan senjatanya.
Melihat pihak lawan melakukan persiapan untuk menerjang keluar dari tempat itu, para jago dari pihak perkumpulan Sinkie-pangpun sama-sama meloloskan pula senjata tajamnya, mereka semua bersiap sedia dan kalau ditinjau keadaannya jelas mereka telah mempersiapkan diri untuk melakukan pertarungan secara massal.
Dipihak lain, Hoa Thian-hong serta Tio Sam-koh merasakan semangatnya berkobar kembali, pertumpahan darah yang terjadi antara dua kekuatan besar ini justru merupakan apa yang diharapkan oleh mereka, sebab hancurnya dua perkumpulan tersebut berarti suatu keuntungan bagi seluruh umat manusia dalam dunia persilatan.
Dengan sorot mata yang tajam, diam-diam Hoa Thian-hong melirik sekejap ke arah malaikat kedua Sim Ciu, setelah itu sambil mendekati ibunya ia berbisik lirih.
"Ibu, pedangku!".
"Bagaimana dengan luka dialas dadamu?"
Tanya Hoa Hujin sambil melirik sekejap ke arah dada putra kesayangannya yang berlepotan darah.
"Jalan darahnya sudah kutotok, darah telah berhenti mengalir!"
"Bagaimana dengan luka racunnya?"
"Ini hari sudah tidak terlalu mengganas seperti hari-hari biasa, hanya setengah jam saja kemudian telah lenyap"
Diam-diam Hoa hujin menghela napas panjang, ujarnya.
"Darah segar yang mengalir keluar dari tubuhmu terlalu banyak, tentu....saja daya kerja racun itupun bertambah kecil...."
"Tapi ananda sama sekali tidak merasakan sesuatu yang tak beres!"
Sambung Hoa Thian-hong dengan cepat sambil tertawa.
Sementara pembicaraan masih berlangsung, orang-orang dari perkumpulan Sin-kie-pang serta Hong-im-hwie telah menjadi tenang kembali, kedua belah pihak sama-sama mempersiapkan diri untuk melakukan pertarungan, suasana amat tegang, cahaya tajam memantulkan sinar yang menyilaukan mata, hawa pembunuh tersebar di empat penjuru, rupanya suatu pertempuran yang sengit setiap saat dapat terjadi.
Kiranya It kiam kay Tionggoan Siang Tang Hay menemui ajalnya ditangan Pek Siau-thian, Jin Thian, Thian Ik-cu, Ciu Itbong serta Bu Liang Sinkun sebaliknya Hoa Goan-siu menemui ajalnya karena dikerubuti oleh Liong-bun Siang-sat, Yan-san It-koay, nenek dewa bermata buta serta Thian Ik-cu, diantara kelima orang itu ada empat orang diantaranya merupakan anggota dari perkumpulan Hong-im-hwie, kecuali nenek buta tiga orang yang lain hadir pula disana, dendam berdarah seperti ini tentu saja Hoa hujin tak akan membiarkannya berlalu dengan begitu saja!
Seandainya tiada orang yang mengungkap, mungkin masing-masing pihak masih mempunyai perhitungannya sendiri dan urusan bisa dilewatkan dengan begitu saja, tapi justru Cukat racun Yau Sut telah mengungkapnya hingga menimbulkan suasana yang kalut, dalam keadaan begini sudah sepantasnya kalau Hoa hujin akan mempergunakan kesempatan ini secara baik-baik, jika demikian keadaannya maka posisi Hong-im-hwie semakin terdesak dan lemah, bahkan kemungkinan besar akan terancam kemusnahan.
Malaikat pertama Sim Kian telah membenci Cukat racun Yau Sut hingga merasuk ke tulang sumsum, pada saat itu sorot mata yang bengis memancar keluar dari matanya, ilmu cakar Tay im sin jiau telah dikerahkan hingga mencapai dua belas bagian, rupanya dia ada maksud untuk membinasakan Cukat racun dalam suatu serangan mendadak.
Yau Sut sendiri sama sekali tidak gentar, rupanya ia sudah mempunyai rencana yang matang sekali, sorot mata yang memancar keluar dari balik matanya nampak dingin menyeramkan, diapun menatap tajam wajah Sim Kian tanpa berkedip, ia tak berani bertindak gegabah menghadapi musuh yang sangat tangguh itu.
Kedua belah pihak sama-sama tak berani bergerak, tetapi begitu bergerak niscaya serangan akan dilancarkan dengan sepenuh tenaga, menang kalahpun dengan cepat akan ditentukan.
000O000 PADA saat itu suasana diseluruh arena jadi sunyi senyap tak kedengaran sedikitpun suara, seolah-olah ditengah gunung yang tak ada manusianya.
Hoa Hujin berdiri diantara kedua belah pihak, dengan sikap yang tenang ia menyaksikan perubahan yang terjadi didepan matanya, mendadak dengan dahi berkerut ia termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, tiba-tiba ia serahkan kembali pedang baja itu ke tangan Hoa Thian-hong, lalu pesannya.
"Jangan bergerak secara sembarangan, selama aku berada disini. engkau tak usah pertaruhkan jiwamu secara sembarangan!"
Beberapa patah kata itu diutarakan keluar dengan suara yang tak begitu keras tetapi juga tidak terlalu rendah, hampir boleh di katakan setiap orang yang berada dalam arena dapat mendengar perkataan itu dengan jelas.
Bagi orang lain keadaannya masih agak mendingan, lain halnya dengan malaikat pertama Sim Kian yang berada di paling depan, pada waktu itu sebenarnya dia sedang pusatkan perhatiannya untuk melakukan penyerbuan, tetapi sesudah mendengar ucapan dari Hoa hujin itu, semangatnya segera mengendor, timbullah niat dalam hati kecilnya menyerang lalu kabur dari sana.
Pada saat semangatnya mengendor tadi hatinya sudah mulai goncang, seharusnya Cukat racun Yau Sut menggunakan kesempatan ini secara baik-baik untuk melancarkan serangan, tetapi ia sudah dibikin gentar oleh nama besar Sim Kian dan bertindak sok serius, karena itulah suatu kesempatan yang sangat baik telah dibuang dengan sia sia.
Sementara Hoa Hujin masih berputar otak untuk memancing terjadinya pertarungan antara dua kelompok kekuatan besar dalam dunia persilatan, tiba-tiba ia merasakan dari arah jembatan batu seberang muncul sesosok bayangan manusia yang dengan cepatnya meluncur ke arah mereka.
Ia segera alihkan sorot matanya ke arah mana berasalnya bayangan manusia itu, tampaklah dua bayangan manusi bagaikan gulungan asap ringan sedang melayang mendekat dengan cepatnya, sekali kelebatan tubuhnya sudah mencapai tempat yang jauh dan cepatnya luar biasa.
Air muka Hoa Hujin agak bergerak, tanpa ragu-ragu lagi ujung bajunya diam-diam dikebaskan kedepan, segulung angin pukulan yang dahsyat dan sama sekali tidak menimbulkan sedikit suarapun langsung menggulung ke arah tubuh Cukat racun yang berada kurang lebih dua tombak dihadapannya.
Seluruh perhatian dari Cukat racun Yau Sut sedang dicurahkan ke arah badan Malaikat pertama Sim Kiau, ketika secara tiba-tiba muncul segulung angin pukulan yaug amat dahsyat serta menghajar tubuhnya, kuda-kuda orang itu seketika tergempur, tak dapat ditahan lagi seolah-olah tergulung oleh ombak dahsyat, badannya mundur ke belakang dengan sempoyongan.
Malaikat pertama Sim Kian adalah seorang manusia yang sangat lihay, menyaksikan air muka Yau Sut berubah hebat, ia segera memperdengarkan suara pekikan tajamnya yang membetot sukma, tubuhnya laksana kilat menerjang maju kedepan.
Dalam waktu singkat bentakan keras berkumandang diri empat penjuru, bayangan manusia pun saling menyebarkan diri untuk mencari lawan tandingnya masing-masing.
Pada saat itulah terdengar suara seseorang yang tajam amat menusuk pendengaran berkumandang datang.
"Sicu sekalian harap tahan.... harap kalian suka mendengarkan sepatah dua patah dari aku orang Thian Ik-cu!"
Bersama dengan selesainya ucapan itu, dua sosok bayangan manusia bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya dalam waktu singkat telah menyeberangi jembatan batu dan mendaki keatas bukit.
Sekarang Hoa Hujin telah melihat jelas bahwa pendatang yang baru saja munculkan diri bukan lain adalah dua orang imam tua yang rambutnya telah beruban semua, salah satu diantaranya adalah Thong-thian kaucu, sadarlah perempuan itu kalau siasatnya 'memasang perangkap menusuk harimau' susah untuk diwujudkan kembali, tak terasa ia menghela napas panjang, membuyarkan kembali tenaga dalamnya dan berdiri membungkam ditempai semula.
Ditengah suasana yang amat kalut, terlihat malaikat Pertama Sim Kian berdiri saling berhadapan dengan lima orang jago lihay, keenam orang itu sama-sama kaku seakanakan sebuah buah patung arca, hanya saja pada waktu itu malaikat pertama Sim kian memejamkan sepasang matanya dengan wajah pucat pias, dadanya berombak naik turun tiada hentinya, sebuah bekas telapak yang amat jelas tertera di bagian bawah iga kirinya, dilihat dari keadaan jelas ia telah menderita luka dalam yang cukup parah.
Cukat racun Yau Sut cerdik dan licik, pada saat yeng amat kritis ia berhasil meloloskan diri dari mara bahaya yang mengancam jiwanya, sekalipun begitu keringat dingin telah membasahi seluruh tubuhnya, mukanya pucat pias seperti mayat sedang jantungnya berdebar keras, lama sekali debaran jantungnya baru agak reda.
Keadaan dari Kiu im Sam Kui, tiga setan Kiu im tetap seperti sedia kala, dalam benrokan yang terjadi amat singkat itu mereka bertiga tidak merasa kaget, pun tidak mengalami bencana apa-apa.
Sebaliknya air muka pria setengah baya bermuka jelek berpanca indera tak lengkap serta memakai jubah panjang yang kelihatan lututnya itu nampak berubah agak aneh, orang ini bentuknya sama sekali tidak menyolok tetapi pada waktu itu sorot matanya yang terpancar keluar nampak tajam sekali, sikapnya jauh lebih angkuh dari pada siapa pun.
Dalam waktu singkat Thong-thian kaucu telah tiba didepan mata para jago, tampaklah disamping tubuhnya mengikuti pula seorang imam tua berbaju kuning berambut putih serta memiliki sepasang mata yang amat tajam.
Dengan kejelian mata Hoa Hujin, sekilas memandang ia telah tahu bahwa tenaga dalam yang dimiliki imam tua berbaju kuning itu jauh diatas keampuhan diri Thian Ik-cu sendiri, tanpa terasa ia memperhatikan imam tua baju kuning itu beberapa kejap lagi.
Rupanya imam tua baju kuning itupun sudah mengetahui siapakah Hoa Hujin, setelah tiba ditengah gelanggang, sepasang matanya yang tajam segera dialihkan ke arah Hoa Hu Jin.
Dalam pada itu, Thian Ik-cu ketua dari perkumpulan Thong-thian-kauw telah menyapu sekejap seluruh kalangan kemudian sambil tertawa, serunya lantang.
"Saudara-saudara sekalian, selamat bertemu kembali! terimalah hormat dari Thian Ik-cu!"
Jin Hian adalah ketua dari perkumpulan Hong-im-hwie, ia segera tampil kedepan dan menjawab dengan suara dingin.
"Kaucu, selamat bertemu!"
Ia memandang sekejap ke arah imam tua baju kuning itu, kemudian dengan alis mata berkernyit, ia melanjutkan.
"Bila pandangan mata aku orang she Jin belum melamur, bukankah imam tua itu adalah Cin Ling cinjin?"
"Haaaahh...... haaaahhh..... daya ingat Jin Tang-kee memang tajam sekali,"
Sambung Thian Ik-cu sambil tertawa.
"sedikitpun tidak salah, dia bukan lain adalah paman guru pinto yang bernama Cin Ling loohu, sudah hampir dua tiga puluh tahun lamanya dia orang tua mengasingkan diri dari keramaian dunia serta tak pernah muncul dalam dunia persilatan!"
Diam-diam Hoa hujin berpikir dalam hatinya.
"Menurut kabar berita yang tersiar di dalam dunia persilatan, katanya beberapa orang siluman tosu tua itu sudah pada mampus, rupanya mereka cuma mengasingkan diri belaka, kalau begitu kekuatan dari perkumpulan Tong thian Kau masih berada diatas dari perkumpulan Hong-im-hwie."
Dengan pandangan dingin, Cin Ling cinjin melirik sekejap ke arah Jin Hian, kemudian sorot matanya dialihkan kembali ke arah lain, wajahnya dingin dan kaku sehingga nampak angkuh sekali.
Terdengar Thian Ik-cu tertawa terbahak-bahak, lalu berkata lagi.
"Haaaahh.... haaah.... haaahh... pertemuan besar Kian Ciau tayhwee dalam waktu singkat akan berlangsung, semula pinto masih mengira Hoa hujin yang sedang mengasingkan diri tak mungkin bisa ikut menghadirinya..."
Tidak menunggu imam tersebut menyelesaikan katakatanya, dengan cepat Hoa Hujin menukas.
"Setelah mendapat perhatian yang begitu khusus dari kaucu, tentu saja aku tak berani menyia-nyiakan harapanmu, kaucu tak usah kuatir, pada saat diselenggarakannya pertemuan besar Kian ciau tayhwee, aku Bun Siau-ih pasti akan datang"
"Kehadiran hujin pasti akan menambah semaraknya pertemuan besar itu, atas kesediaan hujin, sebelumnya pinto ucapkan banyak terima kasih terlebih dahulu"
Setelah memberi hormat, dia alihkan sinar matanya ke arah Cukat racun Yau Sut serta malaikat pertama Sim Kian, lanjutnya.
"Selamanya antara Sin-kie-pang dan Hong-im-hwie hidup secara damai dan tak pernah bentrok antara yang satu dengan yang lain, bolehkah aku tahu apa sebabnya sampai kalian saling bertempur sendiri ditempat ini?"
Dalam hati Cukat racun Yau Sut segera berpikir.
"Bila perkumpulan Sin-kie-pang dan Hong-im-hwie tidak akur, pihak sekte agama Thong-thian-kauw lah yang akan berada pada posisi yang paling menguntungkan, Hoa hujin merupakan bibit bencana yang bisa mendatangkan bahaya besar bagi kita semua, kalau hendak turun tangan maka dialah yang harus pertama-tama dibasmi lebih dahulu, dalam keadaan begini pihak Sin-kie-pang harus bekerja sama dengan Hong-im-hwie serta Thong-thian-kauw untuk menghadapi serangan dari luar, sebab inilah tugas pertama paling penting yang harus segera diselesaikan"
Serangan Hoa hujin yang dilancarkan secepat geledek tadi membuat juru pikir dari perkumpulan Sin-kie-pang ini merasakan hatinya bergidik, ia tak berani bertindak sok pintar lagi, apa lagi mengambil tindakan yang berbahaya.
Setelah mengambil keputusan didalam hati, wajahnya segera berubah jadi amat serius, katanya dengan suara nyaring.
"Sahabat! dari perkumpulan Hong-im-hwie telah menangkap putri kesayangan dari Pek lo pangcu kami, apakah anak buah kumpulan Sin-kie-pang tidak berhak untuk merampasnya kembali?"
Ucapan ini sangat beralasan tetapi nadanya sudah lunak sekali, bukan saja semua orang dapat menangkap nada ucapannya itu bahkan malaikat pertama Sim Kian pun merasakan hawa amarahnya jauh berkurang.
Thian Ik-cu segera tertawa terbahak-bahak, setelah mengebutkan senjata Hudtimnya ia berpaling ke arah Jin Hian dan berkata.
"Ketua Jin kalau memang begitu, kesalahannya terletak pada diri kalian"
"Kalau salah habis mau apa?"
Bentak Jin Hian dengan penuh kegusaran, sepasang matanya melotot besar.
"selamanya perkumpulan Hong-im-hwie bekerja menurut suara hati sendiri dan tak sudi terikat oleh siapapun, kalau ada diantara kalian yang merasa tidak leluasa untuk menyaksikan perbuatan kami, tak ada halangannya untuk menantang kami guna mengadu tenaga"
Bukan gusar, Thian Ik-cu malah tertawa.
"Ketua Jin, pendapatmu itu keliru besar, kalau perkumpulan Sin-kie-pang serta Hong-im-hwie bisa bekerja sama tanpa selisih paham maka semua bencana bisa disingkirkan dengan mudah, bukankah masalah ini gampang sekali dibayangankan......"
"Hmmm! belum tentu begitu"
Tukas Jin Hian dengan suara dingin.
"sahabat saling menggigit, saudara sekandung saling membunuh sudah seringkali terjadi di kolong langit, kerja sama bukan suatu perbuatan yang bisa dipercayai seratus persen"
Diam-diam Thian Ik-cu jadi mendongkol, makinya didalam hati.
"Tua bangka sialan! engkau tak usah berlagak sok dan bersikap takabur dihadapanku, dalam pertemuan besar Kian cian tayhwee nanti kami akan lenyapkan kaum pendekar dari kalangan lurus lebih dahulu kemudian membasmi perkumpulan Hong-im-hwie, rencana bagus ini sekarang sudah berada didalam saku Pek lo ji serta kaucumu. Hmm! tunggu saja sampai tang-gal mainnya"
Didalam hati ia berpikir demikian, sementara air mukanya berubah jadi keren, ujarnya lagi dengan serius.
"Beberapa waktu berselang pinto pernah membekuk Pek Soh-gie pula, hal ini dikarenakan Pek Soh-gie amat angkuh dan tinggi hati, ia tak pandang sebelah matapun kepada orang lain. maka dari itu pinto sengaja mempermainkan dirinya agar keangkuhan Pek Soh-gie bisa agak berkurang, sekarang ketua Jin menggunakan pula cara yang sama dengan perbuatanku itu, atau mungkin engkau memang sengaja menjiplak cara kerja pinto itu?"
"Kaucu pandai sekali bersilat lidah, ketajaman selembar lidahmu boleh dibilang nomor satu di kolong langit, aku merasa tak mampu menangkan dirimu"
Ejek Jin Hian ketus. Thong-thian kaucu tertawa.
"Aaah...! terima kasih atas pujianmu...terima kasih banyak atas pujianmu!"
Sambil berpaling ke arah malaikat kedua, Sim Ciu, ia berkata kembali.
"Sim loo ji, bersediakah engkau menjual muka untuk pinto serta melepaskan budak cilik itu dari cengkeramanmu?"
Malaikat kedua Sim Ciu tertawa seram "Hmm... hmm... kalau cuma Thong-thian kaucu belaka, aku rasa belum punya muka sebesar itu sehingga kita harus jual muka ke padanya"
Tiba-tiba Cin Ling cinjin berpaling, sepasang matanya yang tajam bagaikan pisau belati memancar keluar seakan-akan hendak menembusi ulu hati dari Sim Ciu.
Thian Ik-cu yang berada di sisinya segera tertawa dan berkata.
"Susiok, engkau tak usah marah, Sim loo ji memang orangnya binal serta sukar diatur, sejak dilahirkan dia berwatak seperti itu!"
Selama ini Hoa hujin hanya menonton saja dari samping arena, melihat tingkah laku orang-orang itu, dalam hati kecilnya segera berpikir.
Selama tiga bibit bencana dari dunia persilatan saling bersaing dalam menguasai kolong langit, hasut menghasut serta saling mengadu domba sudah merupakan kejadian yang lumrah entah apakah maksud serta tujuan dari siluman tosu ini dengan mengucapkan kata-kata yang begitu enak didengar?
Terdengar Thian Ik-cu sambil tertawa telah berkata kembali.
"Beberapa waktu berselang ketika aku berhasil menangkap Pek Soh-gie, mau bunuh tak berani bunuh, mau lepas merasa keberatan untuk dilepas dengan begitu saja, batin ku benar-benar tersiksa sekali, Sim Loo ji."
"Kata engkau mengatakan aku tak tega untuk turun tangan, sekarang juga akan kubunuh budak ini dihadapanmu!"
Bentak Sim Ciu sicara tiba-tiba dengan suara keras.
Telapak tangannya segera diangkat dan ditekan diatas batok kepala dari Pek Kun-gie.
Tindakan ini sama sekali berada diluar dugaan semua orang para jago mengira Sim Ciu sudah terpengaruh oleh watak bengisnya hingga tak dapat menguasai diri.
Hoa Thian-hong merasakan darah panas dalam dadanya bergelora, ia membentak keras, sambil memutar pedang bajanya ia menerjang maju ke arah depan.
Hoa Hujin menyaksikan kejadian segera mengerutkan dahinya, dengan cepat ia menggerakkan pergelangannya untuk menyambar lengan putra kesayangannya itu, tetapi ketika mencapai tengah jalan tiba-tiba ia berubah pikiran, sambil menghela napas panjang, pemuda itu dibiarkan melanjutkan terjangannya kedepan.
Para jago dari perkumpulan Sin-kie-pang juga dibuat gempar oleh tindakan lawannya itu, semua orang menggerakkan badannya siap melakukan pertolongan, akan tetapi karena jaraknya terpaut amat jauh maka reaksi dari mereka pun jauh lebih lambat.
Sementara itu dengan gerakan yang cepat sekali, Hong Thian Hong telah menerjang maju kedepan, pedangnya dengan disertai desiran angin tajam langsung membacok keatas tubuh gembong iblis itu.
Malalaikat kedua Sim Ciu mendengus dingin, telapak tangan yang semula menekan diatas batok kepala Pek Kun-gie itu tiba-tiba dibalik mencengkeraman badan gadis itu, kemudian mengangkat badannya dan dipapakan ke arah datangnya bacokan pedang itu.
Hoa Thian-hong merasa amat terperanjat, pada saat yang amat kritis, ia tarik kembali pedang panjangnya dan melayang turun keatas tanah, teringat kalau pedang panjangnya hampir saja melukai gadis she Pek itu, diam-diam ia bersyukur didalam hati.
"Oooh...sungguh berbahaya!"
Terdengar malaikat kedua Sim Ciu sambil tertawa keras berkata.
"Hoa Thian-hong! aku toh hendak membinasakan putri dari Pek Siau-thian, apa sangkut pautnya urusan ini dengan dirimu?"
Merah padam selembar wajah Hoa Thian-hong setelah mendengar perkataan itu, buru-buru jawabnya.
"Selamanya sau ya paling suka mencampuri urusan orang lain, engkau mau apa?"
Selama ini kesadaran Pek Kun-gie sama sekali belum hilang, tentu saja terhadap peristiwa yang baru saja berlangsung dapat di ikuti dengan amat jelas, rasa girang dan lega timbul dalam hati kecilnya, dengan biji matanya yang jeli dan penuh mengandung rasa cinta yang mesra, ditatapnya tanpa berkedip, kerlingan matanya yang indah seakan-akan sedang mengutarakan rasa terima kasihnya yang tak terhingga, seakan-akan ia sedang memohon kepada Hoa Thian-hong agar mengundurkan diri ke tempat semula dan tak usah menempuh bahaya bagi dirinya.
Secara diam-diam Malaikat kedua Sim Ciu mengawasi terus tingkah laku dari kedua orang muda-mudi itu, pikirnya didalam hati.
"Seandainya hubungan Thong-thian-kauw dengan Sinkie-pang berlangsung amat akrab dan mesra, maka persekutuan ini jelas tidak menguntungkan bagi pihak perkumpulan Hong-im-hwie kami, sebaliknya kalau Pek Siauthian telah berhubungan dengan para pendekar dari kalangan lurus, maka secara otomatis pihak Thong-thian-kauw akan bersekongkol dengan Hong-im-hwie untuk bersama-sama turun tangan menghadapi Sin-kie-pang. Hubungan diantara perkumpulan Sin-kie-pang, Hong-imhwie serta Thong-thian-kauw berkaitan dengan suatu keadaan yang sangat sensitip, pertikaian dan persengketaan mudah terjadi diantara mereka, suatu tindakan yang keliru akan mengakibatkan keadaan yang luar biasa sekali. Sim Ciu malaikat kedua dari Liong-bun Siang-sat termasuk seorang siluman tua yang banyak akal dan mudah menaruh curiga, setelah berpikir sebentar ia segera tepuk bebas jalan darah diatas tubuh Pek Kun-gie, kemudian sambil tertawa ujarnya.
"Pek Kun-gie aku hendak memberitahukan tentang suatu urusan kepadamu!...."
Diam-diam Pek Kun-gie salurkan hawa murninya mengelilingi seluruh badan, setelah mengetahui bahwa jalan darahnya telah berjalan lancar kembali, ia bertanya hambar.
"Ada petunjuk apa yang hendak kau sampaikan kepadaku?"
"Sewaktu aku bersiap sedia untuk melancarkan serangan guna menghabisi jiwamu tadi, sorot mataku berhasil menangkap mimik wajah beberapa orang yang saling berbeda satu sama lainnya"
"Hmmm! persoalan itu bukan suatu kejadian yang terlalu serius...... kenapa musti kau ributkan?"
"Engkau keliru besar, pada saat itu aku saksikan air muka Hoa Hujin kelihatan amat gelisah dan seakan-akan merasa sayang sekali dengan kematianmu itu, jelas ia tak tega membiarkan engkau mati"
Pek Kun-gie melirik sekejap ke arah Hoa hujin, wajahnya yang cantik segera berubah jadi lembut dan halus, rasa hormat dan penuh pengharapan tertera jelas diatas wajahnya.
Ia tahu Hoa Thian-hong adalah seorang bocah yang berbakti sekali kepada ibunya, bisakah impian indahnya terwujud dimasa mendatang keputusan terakhir tetap berada ditangan Hoa Hujin, karena itu perkataan dari Sim Ciu merupakan warta yang paling digirangkan olehnya.
Hoa Hujin sendiri adalah seorang jago yang amat berpengalaman, apalagi terhadap perasaan hati seorang gadis muda, boleh di bilang dia mengetahui dengan amat jelas sekali, dalam hati kecilnya ia segera berpikir.
"Meskipun aku mempunyai perasaan tak tega, akan tetapi sama sekali tidak menampakkan sikap gelisah atau kuatir, ocehan iblis tersebut bukankah sama artinya telah mencelakai kehidupan Pek Kungie?"
Sementara itu Sim Ciu telah berkata kembali.
"Ketika Thian Ik-cu menyaksikan aku hendak membinasakan dirimu, wajahnya segera menampilkan rasa girang, apa yang sedang ia pikirkan aku rasa tak usah kuterangkan lebih lanjut bukan?"
Thian Ik-cu segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaah..... haaahh..... haaahh... Sim loo ji, aku adalah manusia seperti apa? tak mungkin aku bakal terpengaruh oleh perkataanmu itu, kau suka bicara apa, silahkan diutarakan keluar saja..."
Sim Ciu pura-pura tidak mendengar, lanjutnya.
"Pek Kungie, tahukah engkau bagaimana mimik wajah dari Cukat racun? ketika ia saksikan engkau bakal mati, wajahnya menampilkan pula rasa kegirangan seakan-akan dia bersyukur karena engkau tertimpa bencana besar ini....."
"Haaah..... haaaa.... haaah.... kalau tidak begitu, bukankah sama artinya namaku Cukat racun hanya nama kosong belaka tanpa ada bukti yang jelas?"
Sambung Yau Sut sambil tertawa. Sim Ciu sama sekali tidak ambil perduli, sambungnya lebih jauh.
"Tanpa angin tak akan menimbulkan ombak, persoalan tentang pengkhianatannya Yau Sut dari ayahmu harus engkau selidiki sampai sejelas-jelasnya!"
"Tentang soal ini engkau tak usah risau ataupun cemas"
Jawab Pek Kun-gie dengan suara dingin.
"anak buah perkumpulan Sio Kie Pang semuanya adalah manusia yang setia dengan perkumpulan, mereka merupakan orang-orang yang bisa dipercaya"
Setelah memberi hormat, ia segera berjalan kembali ke arah barisan perkumpulannya.
Menyaksikan Pek Kun-gie telah kembali dalam keadaan selamat, lagipula perkumpulan Sin-kie-pang berhasil merebut kemenangan pula didalam pertarungan hari ini, diam-diam Cukat racun Yau Sut merasa amat bangga sekali, ia segera memberi hormat kepada semua orang dan membentak.
"Ayoh berangkat!"
Tapi sebelum rombongan dari perkumpulan Sin-kie-pang sempat berlalu, tiba-tiba malaikat pertama Sim Kian membuka matanya lebar-lebar, lalu sambil menyeringai seram serunya.
"Ilmu pukulan pek kut cui sim ciang atau tulang putih penghancur hati sudah seratus tahun lamanya musnah dari dunia persilatan, ini hari bisa muncul kembali dalam sungai telaga, kejadian ini benar-benar merupakan suatu peristiwa yang amat besar"
Pria jelek yang berada di sisi tubuh Yau Sut kelihatan agak tertegun, kemudian menjawab.
"Jadi kalau begitu engkau yang merupakan orang pertama merasakan kelihayan ilmu telapak tersebut boleh merasa berbangga hati"
Sim Kian jadi gusar sekali, sambil tertawa seram ia berteriak.
"Heeeh... heeehhh... heeehh.... bagus sekali, bagus sekali, boleh aku tahu siapakah namamu?"
"Aku hanya seorang prajurit tak bernama di kolong langit, tapi kalau engkau ingin tahu juga, aku orang she Si bernama Jin-kiu!"
"Apakah engkau juga termasuk salah seorang pelindung hukum dalam barisan panji kuning?"
Tanya Sim Kian lagi sambil menekan hawa amarah yang berkobar dalam dadanya. Si Jin-kiu mengangguk, dengan seenaknya ia berkata.
"Pelindung hukum dari barisan panji kuning disebut pula pelindung hukum tingkat atas, kami langsung berada dibawah perintah pangcu dan tidak terikat oleh kekuasaan tiga bagian dalam tubuh perkumpulan, tetapi kalau pangcu ada perintah maka Kunsu pun...."
"Luar biasa!...sungguh luar biasa....!"
Tukas Sim Kian sambil tertawa menyeringai.
"bila kita sempat berjumpa lagi, aku akan mohon petunjukmu lebih jauh"
"Baik! setiap saat aku akan melayani kehendakmu"
Teriak Si Jin-kiu.
Meskipun orang ini memiliki ilmu silat yang sangat lihay, namun dalam pembicaraan kadang kala sengaja menyembunyikan kelihayannya tapi kadang kala membingungkan hati, sejak terkena oleh pukulannya hingga menderita luka dalam yang cukup parah, Sim Kian tak berani bertindak secara gegabah lagi, kerena itu diapun tak mau banyak bicara lagi.
Diam-diam Sim Kian berpikir didalam hati kecilnya.
"Kita selalu kalah kalau dibandingkan dengan kekuatan dari pihak perkumpulan Sin-kie-pang! dan sekarang berapa orang hidung kerbau tua dari perkumpulan Thong-thian-kauw ternyata masih hidup di kolong langit, jika dibandingkan, kekuatan Hong-im-hwie paling lemah sekali, apalagi sekarang Lootoa serta nenek buta sedang menderita luka parah, andaikata pihak kami tidak segera menyusun kekuatan serta mengatur persiapan lain, mungkin pihak kami bakal dimusnahkan oleh kekuatan-kekuatan lain...."
Rupanya Jin Hian maupun Yan-san It-koay mempunyai perasaan yang sama, ketiga orang itu segera saling bertukar pandangan sekejap dan sama-sama bermaksud untuk mengundurkan diri Jin Hian pun memberi hormat kepada semua jago yang ada disana, kemudian berkata.
"Pertemuan besar Kian ciu Tayhwee sudah berada di ambang pintu, selamat tinggal dan sambil bersama-sama dengan Liong-bun Siang-sat, Yan-san It-koay serta puluhan orang pengawal golok emas, mereka segera berlalu dari tempat itu. Cukat racun Yau Sut sendiri juga mempunyai rencana lain, dia ingin segera bertemu dengan Pek Siau-thian, maka ia ulapkan tangannya dan membawa para jago dari perkumpulan Sin-kie-pang untuk berlalu dari situ. Sebenarnya Pek Kun-gie ada banyak persoalan yang hendak disampaikan kepada Hoa Thian-hong, akan tetapi situasi tidak mengijinkan bagi dirinya untuk tetap tinggal disana, karenanya setelah melirik sekejap kepada kekasih hatinya dengan mulut mem bungkam, ia berlalu mengikuti di belakang para jago lainnya. Dalam sekejap mata para jago dari perkumpulan Hong-imhwie serta Sin-kie-pang telah berlalu semua dari sana tinggal Thong-thian kaucu serta Cin Ling cinji dua orang yang masih tetap berada ditempat semula. Hoa Hujin tampak termenung sebentar, tiba-tiba sambil berpaling ke arah Thian Ik-cu ujarnya.
"Tootiang, setelah engkau buru-buru datang kemari dan sekarang belum juga berlalu dari sini, apakah kecuali hendak membereskan pertikaian diantara dua kekuatan besar, engkau masih ada urusan lain?"
Thian Ik-cu tertawa.
"Hujin memang cerdik sekali, bila pinto tak ada urusan lainnya tidak mungkin aku datang kemari untuk mengganggu ketenangan kalian!"
"Ada urusan apa tootiang datang kemari?"
Air muka Thian Ik-cu berubah jadi amat serius, katanya.
"Selama ini putramu selalu menyiarkan ditempat luaran bahwasanya pedang emas dari Siang Teng Lay itu sudah terjatuh ke tangan pinto, persoalan ini membuat pinto jadi pusing tujuh keliling dan tak tahu apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh putramu itu, karenanya sengaja aku datang kemari untuk mohon penjelasan!"
Sementara itu, Tio Sam-koh sedang berpikir dalam hati.
"Sian Ih hanya berbicara terus terang, apakah dia lupa kalau dewasa ini dunia sedang kacau dan kaum iblis merajalela dimana-mana, apakah dia tahu kalau sekarang adalah jamannya yang lemah ditindas yang kuat, yang besar mencaplok yang kecil, kini cuma tinggal dua orang tosu siluman yang berada disini sedangkan pihak kita ada empat orang, bukankah kesempatan ini merupakan peluang yang sangat baik untuk menundukkan kaum iblis itu...?"
Sesudah beristirahat sebentar ia merasa kekuatan tubuhnya telah pulih kembali seperti sedia kala, berpikir sampai disitu semangatnya segera timbul kembali, dia segera melangkah maju kedepan dan berseru dengan suara lantang.
"Thian Ik-cu, tak ada salahnya kalau engkau ingin minta penjelasan, tapi sayang waktunya tidak tepat!"
Thian Ik-cu mengerutkan dahinya, kemudian tertawa.
"Tio Loo thay, engkau benar-benar panjang umur, bolehkah aku tahu apa sebabnya kesempatan ini bukan waktunya yang tepat? "
Hmmm!"
Tio Sam-koh mendengus dingin.
"ketika berada dalam pertemuan besar Pak Beng Hee tempo hari, engkau termasuk salah seorang penjahat yang ikut mengerubuti Hoa Goan-siu, setelah ini hari kita saling berjumpa kembali, inilah kesempatan yang paling baik untuk sang janda dan sang anak yatim untuk membuat selembar jiwamu, coba bayangkan bukankah kesempatan bagimu untuk mengajukan pertanyaan kurang tepat?"
Thian Ik-cu mengeratkan dahinya lalu tertawa serak, katanya.
"Hey nenek tua, engkau memang terlalu berangasan kenapa untuk bersabar selama beberapa hari pun tak dapat?"
Setelah terhenti sebentar, kepada Hoa hujin ujarnya lebih jauh.
"Hoa hujin, bagaimana pendapatmu? dendam permusuhan sebagai ekor dari peristiwa berdarah dipertemuan Pek Beng hwee tempo hari akan diselesaikan pada hari ini juga, ataukah akan ditunda sampai diselenggaranya pertemuan besar Kian ciu tayhwee?"
Hoa Hujin membungkam dalam seribu bahasa, sepasang matanya yang tajam menyapu sekejap keatas wajah Ci Ling ci jim, kemudian secara tiba-tiba dialihkan ke arah wajah Hoa Thian-hong.
Thian Ik-cu yang mengikuti perubahan tersebut jadi tercengang, segera pikirnya di dalam hati.
"Siapapun tahu kalau perempuan ini berwatak keras hati dan tegas didalam mengambil keputusan, selamanya tak berhak kalah dari kaum lelaki tapi aneh sekali kenapa masalah membalas dendam malahan suruh putranya yang mengambil keputusan?"
Sementara itu sambil menggertakkan gigi, Hoa Thian-hong telah berkata.
"Ibu, ayah mati selama berlangsungnya pertemuan Pak Beng hwee, mari kita tunggu saja sampai diselenggarakannya pertemuan Kian ciau tayhwee dan berada di hadapan para enghiong dari selurah kolong langit untuk membalaskan dendam bagi kematian ayah"
Tio Sam-koh yang mendengar perkataan itu jadi teramat gusar, dengan mata melotot besar ia menghardik.
"Goblok, dalam pertemuan Kian ciau tayhwee yang hadir kebanyakan adalah gerombolan srigala atau komplotan anjing, dari mana munculnya kaum enghiong disitu?"
Merah padam selembar wajah Hoa Thian-hong mendengar perkataan itu, buru-buru serunya lagi.
"Boanpwee mengerti!"
Thian Ik-cu tertawa terbahak-bahak sambil acungkan jempolnya, ia berseru memuji.
"Haaahh.... haaahh.... haaah... bagus! begitulah baru patut disebut sebagai seorang enghiong di kalangan kaum muda!"
Selelah berhenti sebentar, ia bertanya lebih jauh dengan suara menyeramkan.
"Engkau menyiarkan kabar berita diempat penjuru yang mengatakan pedang emas itu ditanganku, sekarang aku ingin tahu apa sebabnya engkau menodai nama baik kaucu mu?"
"Hmmm! selama bertempur jangan jemu menggunakan siasat, perbuatan itu termasuk salah satu siasat mengadu domba, buat apa sih kau banyak bertanya lagi?"
Sahut Hoa Thian-hong ketus. Thian Ik-cu gelengkan kepalanya dan tertawa dingin, ia berseru.
"Bagi seorang manusia yang cerdik tak nanti akan mempergunakan siasat jelek yang begitu bodoh dan sama sekali tak ada manfaatnya, tiada angin tiada awan tak mungkin hujan turun dengan begitu saja, aku merasa dibalik perbuatanmu itu tentu terselip suatu rahasia yang amat besar"
Diam-diam Hoa Thian-hong merasa amat terperanjat mendengar ucapan itu, pikirnya didalam hati.
"Giok teng hujin yang sebenarnya adalah enci Siang, mempunyai hubungan yang tidak jelek dengan diriku, siapa tahu kalau Thian Ik-cu telah menaruh curiga terhadap dirinya? tapi aneh, secara bagaimana enci Siang bisa menjaga diri sehingga rahasianya itu tidak sampai ketahuan orang?"
Didalam hari ia berpikir demikian, diluaran ia berkata dengan nada ketus.
"Pentang busur membidik bayangan, gua kosong berhembus angin, aku lihat tootiang tak usah pusingpusing kepala memikirkan persoalan ini lagi, lebih baik cepatcepatlah pulang untuk mempersiapkan diri didalam menyelenggarakan pertemuan besar Kian ciau tayhwee!"
Dalam hati Thian Ik-cu merasa amat gusar, tapi ia menyadari bahwa bertempur dalam keadaan serta situasi seperti ini kemenangan belum tentu berada di pihaknya, maka ia segera berpaling ke arah Cin Ling Cinjin untuk menanyakan maksud hatinya.
Cin Ling Cinjin membungkam dalam seribu bahasa, setelah hening sesaat mendadak dia ayunkan telapak kanannya melancarkan sebuah serangan ke arah Hoa Hujin dari tempat kejauhan.
Hoa Hujin mendengus dingin, ujung bajunya dikebaskan ke arah depan lalu dengan tangan sebelah ia mengirim pula satu pukulan untuk menyongsong datangnya ancaman tadi.
Dalam sekejap mata suara gemuruh yang berkumandang secara lapat-lapat muncul dari balik telapak Hoa Hujin meskipun suara gemuruh itu tidak begitu nyaring akan tetapi mempunyai daya kekuatan yang cukup membetot hati setiap orang.
Semua jago yang hadir dikalangan merasa terperanjat dan berubah air mukanya, Cin Ling Cinjin serta Thian Ik-cu yang saling berhadapan dengan Hoa hujin menemukan bahwa diatas telapak perempuan itu yang berwarna putih kemerahmerahan terlihat nyata pemunculan segumpal warna hitam pekat sebesar mulut cawan gumpalan cahaya hitam itu amat menyilaukan mata terutama sekali dikala melepaskan serangan, gumpalan hitam itu seolah-olah ikut meluncur kedepan.
Thian Ik-cu terperanjat, ia tahu bahwa ilmu silat yang dipelajari Hoa hujin sebagian besar adalah warisan dari Soat san Sin Ik yang telah menutup usia ia tak mengira dalam keadaan begini, perempuan tersebut bisa mengeluarkan ilmu pukulan yang begitu aneh dan jelas merupakan suatu ilmu pukulan dari kalangan sesat.
"Bu... liang... siu... Hud..!"
Seru Cin Ling Cinjin dengan suara nyaring.
Suara itu membubung tinggi ke angkasa dan mendengung di seluruh penjuru, tangan kanannya diluruskan kaku ke arah depan seakan-akan sedang mendorong bukit yang berat, tangan kirinya ditaruh keatas tangan kanannya mencekal eraterat, air muka berubah jadi berat dan kelihatan tegang sekali.
Hoa Hujin sendiri menjulurkan telapaknya tak bergerak, air mukanya berubah jadi amat serius pula, suara gemuruh yang berat itu berlangsung tiada hentinya di angkasa sebentar perlahan sebentar mengencang membuat air muka Cin Ling Cinjin berubah-ubah pula mengikuti bergemanya suara gemuruh tersebut.
Hoa Thian-hong merasa gelisah dan tidak tenang, tetapi setelah teringat bahwa suara gemuruh itu berasal dari telapak tangan ibunya ia merasa jauh lebih berlega hati.
Tiba-tiba terjadi ledakan dahsyat yang amat memekikkan telinga, baik Hoa Hujin maupun Cin Ling Cinjin sama-sama menarik kembali telapaknya, pasir dan deru segera beterbangan memenuhi seluruh angkasa, pusaran angin puyuh menggulung diatas permukaan bumi menerbangkan benda apapun juga yang berada di sekitar sana.
Dengan sorot mata yang tajam, Thian Ik-cu mengamati perubahan wajah kedua orang itu, akan tetapi ia tak berhasil mengetahui siapakah yang berhasil memenangkan pertarungan tersebut.
Sebagai orang yang licik diapun tahu bahwa berada disitu lebih lama sama sekali tak ada manfaatnya, maka dengan serius dia berkata.
"Kelihayan ilmu silat yang dimiliki hujin sangat mengagumkan hati pinto, aku harap dalam pertemuan besar Kian Ciau tayhwee nanti aku bisa melayani hujin dengan sebaiknya, agar kehadiran hujin bisa menyenangkan semua enghiong dilolong langit"
Sesudah berhenti sebentar, dia melanjutkan.
"Di ruang bawah dalam kuil kami di wilayah Ci tang berhasil menawan dua orang pemuda, sedangkan pada kuil It-goan-koan di kota Hang-ciu banyak anak murid kami yang terkena racun keji dari wilayah Biau, kedua belah pihak sama-sama angkatan muda, setiap saat hujin memberi obat pemunah kepadaku, setiap saat pula pinto akan melepaskan dua orang pemuda itu, sementara persengketaan dalam soal lain kita selesaikan dikemudian hari saja....."
Diam-diam Hoa Thian-hong terkejut mendengar perkataan itu, dia segera menyela dari samping.
"Orang yang berhasil tootiang tangkap, apakah bernama Bong Pay? Senyum yang penuh arti tersungging diujung bibir Thian Ikcu, sesudah termenung sebentar dia baru menjawab.
"Yang satu bernama Bong Pay sedang yang lain bernama Tiong Long, sebaliknya kawanan gadis yang sedang melakukan pengacauan dalam kuil It-goan-koan di kota Hang-ciu katanya sedang mencari jejak engkau engkoh cilik!"
Habis berkata dia memberi hormat kepada Hoa hujin dan bersama-sama Cin Ling Cinjin putar badan berlalu dan situ, dalam sekejap mata bayangan tubuh mereka sudah lenyap dari pandangan.
Sepeninggalnya kedua orang itu Hoa Thian-hong jadi amat gelisah, buru-buru serunya.
"Ibu biarlah ananda melakukan perjalanan..."
"Tak usah tukas Hoa hujin dengan cepat, aku rasa baik Bong Pay maupun Tiong Long tak akan menemui mara bahaya, tentang kejadian ini kau tak perlu gelisah ataupun cemas"
"Kawanan gadis yang sedang mengacu di kota Hang-ciu tentulah beberapa orang cici dari wilayah Biau, pengalaman mereka masih kurang cukup aku kuatir..."
"Kau tak usah kuatir, kembali Hoa hujin menyela. Kiu-tok Sianci adalah seorang tokoh silat yang paling susah dilayani, bilamana keadaan tidak terlalu terpaksa tak seorangpun manusia bersedia melukai anak muridnya, kalau tidak begitu Thian Ik-cu tak mungkin datang kemari untuk melukai diriku"
"Kalau begitu...."
Tiba-tiba terdengar Tio Sam-koh berseru dengan suara dingin.
"Hmm! sikapmu benar-benar tenang dan wajar kami kuatir tentang keselamatanmu, sebaliknya engkau masih punya kegembiraan untuk tukar pakaian sambil menyisir rambut, benar-benar kurang ajar..."
Hoa Hujin yang ikut mendengar perkataan itu segera tertawa.
"Jumlah musuh jauh lebih banyak dari kita, dalam keadaan begini apa yang bisa kita lakukan lagi kecuali berusaha membatasi diri oleh pengaruh emosi....."
"Barusan, apa sebabnya kita tidak bekerja sama untuk membereskan dua orang iman siluman itu lebih dahulu?"
Teriak Tio Sam-koh dengan penuh kegusaran. Hoa Hujin tertawa getir.
"Persoalannya tidak semudah itu, kalau engkau ingin tanya, tanyalah saja kepada Seng ji!"
"Sam poo!"
Ujar Hoa Thian-hong dengan cepat.
"membunuh dua orang imam tua itu memang tak sulit, tapi bila Thian Ik-cu mau maka pertemuan besar Kian ciau tayhwee pasti akan mati sebelum melahirkan.
"dalam keadaan begitu pihak lawan tentu akan menjadi kalap dan menerjang pihak kita, sedangkan Pek Siau-thian serta Jin Hian sekalianpun pasti akan bekerja sama pula untuk menghadapi kita karena kuatir peristiwa tragis yang sama bakal dialami pula oleh mereka"
"Hmmm! berlagak sok pintar, kalau Thian Ik-cu tidak dibunuh, apakah ketiga kekuatan besar itu tak dapat bekerja sama untuk menghadapi kita?"
"Tentu saja masih ada kemungkinan untuk bekerja sama bagi mereka. Cuma saja pikiran mereka masih tetap ragu-ragu dan dasar kerja sama itu tidak kokoh, sekalipun bekerja sama belum tentu bisa benar-benar bersatu padu...."
Tio Sam-koh jadi tidak sabaran, ia segera goyangkan tangannya berulang kali sambil berkata.
"Lebih baik tak usah terlalu banyak membicarakan soal itu, bicara pulang pergi yang penting toh engkau sudah terlalu percaya dengan perkataan dari perempuan genit itu, dan kau mempercayai kalau sebilah pedang emas telah disembunyikan didalam pedang mustika Poan-long-poo-kiam milik Thian Ik-cu, bukankah begitu?"
Merah padam selembar wajah Hoa Thian-hong mendengar perkataan itu.
"Didalam persoalan ini terdapat banyak hal yang bisa dipercayai karena terpaksa kita harus mempercayainya"
Ia menjawab.
"Andaikata sampai waktunya tiba, engkau menemukan bahwa dirimu sedang tertipu, apa yang hendak kau lakukan?"
"Tio Loo thay"
Tiba-tiba Hoa In menyela.
"Siau Koan-jin harus beristirahat!"
Tio Sam-koh semakin naik pitam, bentaknya dengan penuh kegusaran.
"Kurang ajar, selama aku si nenek tua sedang berbicara, engkau berani mengganggu?"
Ia segera berpaling ke arah Hoa Thian-hong, ketika dilihatnya noda darah diatas dadanya belum kering, wajahnya berubah jadi begitu pucat dan mukanya nampak amat lesu, nenek itu jadi tak tega.
Tampak Hoa Thian-hong tersenyum dan berkata.
"Sam poo, keadaan kita ini ibaratnya sudah tahu kesempatan baik namun tidak mampu melakukannya..."
"Hmm! ucapan dari ibumu sudah cukup muak masuk kedalam telingaku, aku si nenek tua segan untuk mendengarkannya lebih lanjut"
Selesai betkata dia segera putar badan dan berlalu. 0000O0000 DIAM-diam Hoa Hujin menghela napas panjang, setelah termenung berpikir beberapa saat lamanya, tiba-tiba kepada Hoa In dia berkata.
"Tempat ini letaknya strategis dan gampang untuk digunakan sebagai tempat pertemuan, untuk menunggu terselenggaranya per temuan besar Kian ciu tayhwee biarlah kita tetap tinggal disini saja, sekarang engkau pergilah untuk mempersiapkan rangsum kering untuk beberapa hari lamanya, dari pada setiap hari kita harus merisaukan soal makanan"
"Budak segera akan melaksanakan perintah ini"
Jawab Hoa In, setelah melirik sekejap ke arah Hoa Thian-hong, diapun berlalu. Sepeninggalnya Hoa In, Hoa hujin memilih sebuah batu gunung untuk duduk kemudian berkata.
"Seng ji, datanglah kemari dan duduk bersilalah disini!"
Hoa Thian mengiakan dan maju menghampiri ibunya, tetapi sewaktu dilihatnya asap hitam telah menyumbat mati gua kuno itu ia jadi terperanjat dan segera berseru.
"Ibu, dimanakah Leng-ci berusia seribu tahun itu?"
"Dalam sakuku! "
Hoa Thian-hong berjalan kehadapan ibunya dan duduk bersila keatas tanah, siapa tahu karena hatinya lega dan pikirannya jadi kosong itulah, mendadak kepalanya terasa pusing tujuh keliling, badannya segera roboh terjengkang keatas tanah.
Dengan cepat Hoa hujin mencekal urat nadi pada pergelangan putranya lalu diperiksa dengan teliti sekali, ia temukan denyutan nadi putranya telah berubah jadi lemah sekali hal ini menunjukkan bahwa pemuda itu kekurangan darah.
Hoa Thian-hong buru-buru tertawa ketika melihat ibunya menunjukkan rasa kuatir bercampur sedih, ujarnya.
"Ini hari kalau tiada racun teratai yang tetap mempertahankan diri, sejak tadi ananda sudah kehabisan tenaga dan lak mampu untuk mempertahankan diri lebih jauh, aaai, sungguh tak nyana bencana akhirnya malah berubah jadi rejeki!"
Hoa Hujin tertawa sedih.
"Engkau sudah kehilangan banyak darah dalam sepuluh sampai setengah bulan kemudian badanmu belum tentu bisa pulih kembali seperti sedia kala dalam keadaan yang amat menderita seperti ini terpaksa kita harus menggunakan Lengci ini Bagaimana dengan ibu Sendiri? tanya Hoa Thian-hong dengan alis mata berkernyit, bukankah engkau pernah mengatakan bahwa luka racun yang engkau derita belum tentu bisa disembuhkan oleh tenaga dalam? Hoa Hujin tidak langsung menjawab, dalam hati ia segera berpikir.
"Bagaimanakah nasibku di kemudian hari dan bencana apa yang bakal ku alami masih sukar ditentukan, mulai sekarang lebih baik keadaanku yang sebenarnya jangan sampai di ketahui olehnya."
Berpikir sampai disini ia lantas tertawa dan menjawab.
"Luka racun yang aku derita sudah sembuh sekarang, setelah bencana lewat mungkin usiaku 'kan mencapai ratusan tahun."
Dari sakunya dia ambil keluar sebuah kotak kumala dan penutup kotak itu segera di buka.
Hoa Thian-hong maju mendekat serta tarik napas kuatkuat, bau harum semerbak mengalir masuk kedalam dadanya membuat ia merasa segar dan pikirannya jadi terang, tanpa terasa ia memuji dengan suara lantang.
"Waaah....! Lengci berusia seribu tahun ini benar-benar suatu obat mujarab yang langka dan sukar ditemukan di kolong langit, ibu! gunakanlah secara hemat dan jangan dipakai secara sembarangan"
Hoa hujin mengangguk.
"Untuk mempergunakan Leng-ci berusia seribu tahun ini sebenarnya harus disertai pula dengan bahan obat-obatan sampingan lainnya, sayang kita berada ditengah pegunungan yang sunyi sehingga untuk mencari bahan obat-obatan tersebut kita akan mengalami banyak kesulitan Tiba-tiba ia menghela napas panjang dan lebih jauh.
"Nona Siang dapat menghadiahkan benda mujarab yang begini berharganya kepadamu, tujuan serta maksud baiknya tak perlu kita curigai lagi, sedangkan mengenai soal pedang emas yang dikatakan olehnya, belum tentu semuanya tidak benar, cuma sayang pedang jantan miliknya itu sekarang tidak berada disini"
"Ibu, buat apa engkau mendapatkan pedang emas itu?"
Tanya Hoa Thian-hong tercengang. Hoa hujin termenung dan berpikir sebentar, kemudian menjawab.
"Pokoknya kegunaannya besar sekali, dibicarakan pada saat ini sama sekali tak ada gunanya bagimu, lebih baik tak usia aku katakan saja"
Dia membalik kotak kumala itu untuk mengeluarkan akar dari tumbuhan Leng-ci tersebut, kemudian perintahnya.
"Sekarang pentang mulutmu leba-lebar2!"
Buru-buru Hoa Thian-hong membuka mulutnya, dengan ujung jari kelingking tangan kanannya dia membuat sebuah guratan diujung daun Leng-ci tadi, dengan cepat muncullah setitik lubang kecil pada ujung daun tadi dan meneteslah cairan kental berwarna putih mengalir masuk kedalam tenggorokan Hoa Thian-hong.
Leng-ci berusia seribu tahun itu panjangnya cuma beberapa senti dan terdiri dari tiga buah akar, sedang cairan kental warna putih itu semuanya hanya berjumlah sepuluh tetes belaka, dalam sekejap mata cairan itu sudah habis semua dan Leng-ci yang semula berwarna hijau segar itupun seketika berubah jadi layu dan berwarna kuning, keadaannya tidak jauh berbeda dengan rumput kering biasa.
Dalam hati kecilnya kembali Hoa hujin berpikir.
"Dengan bantuan diri Leng-ci yang berumur ribuan tahun ini, sekalipun tidak dapat memunahkan racun yang bersarang dalam tubuhnya, paling sedikit selembar jiwanya dapat tertolong."
Tiba-tiba Tio Sam-koh maju menghampiri, setelah merampas kotak kumala itu, kepada Hoa Thian-hong perintahnya.
"Pentang mulutmu lebar-lebar!"
Jilid 2
"SAM-KOH!"
Seru Hoa Hujin dengan alis mata berkenyit.
"benda mujarab yang amat langka itu jangan dibuang dengan percuma!"
"Hmmm.... semua orang mengatakan bahwa benda ini dapat ganti tulang ganti kulit serta menambah umur, aku si nenek tua tidak percaya dengan kabar berita semacam itu...."
"Kalau memang tidak percaya, apa yang hendak kau lakukan?"
"Akan kucoba!"
Tio Sam-koh berpaling ke arah Hoa Thianhong dengan mata melotot besar, lalu membentak.
"Hey, bukankah aku suruh engkau pentang lebar mulutmu? apakah telinga mu sudah tuli?"
Hoa Thian-hong menggerakkan bibirnya seperti mau mengucapkan sesuatu, tapi ujung kuku Tio Sam-koh telah menggurat diatas daun Leng-ci itu, karena terpaksa ia buka mulut untuk menerimanya.
Cairan yang dingin dan membawa rasa getir masuk lewat tenggorokannya masuk ke dalam perut.
Ketika Hoa Hujin menyaksikan Tio Sam-koh kurang terima dan kembali akan menyobek pula daun terakhir yang masih tersisa, buru-buru ia cekal pergelangan tangannya segera merampas kembali kotak kumala itu, ujarnya sambil menghela napas panjang.
"Badan kulit rambut berasal dari orang tua, kenapa pasti ganti kulit lagi? sekarang kaum iblis sedang merajalela manusia dibuat permainan dan banyak yang mati karena sengsara meskipun ada obat mujarab nasib manusia sudah ditentukan takdir"
Habis berkata ia tutup kotak kumala itu dan bermaksud dimasukkan kedalam sakunya. Tio Sam-koh sama sekali tidak menggubris ucapan itu sambil tertawa dingin kembali ia berkata.
"Benda itu toh miliknya pribadi kenapa engkau menghematnya? hendak buat apa benda itu? Hoa Thian-hong segera tertawa dan menubruk.
"Sam poo boanpwee...."
"Tutup mulut!"
Bentak Tio Sam-koh dengan gusar. Hoa Hujin tersenyum, dia serahkan kembali kotak kumala itu ke tangan Hoa Thian-hong sambil pesannya.
"Simpan baikbaik benda ini, sekarang duduklah bersemedi serta mengatur pernapasan"
Buru-buru Hoa Thian-hong menerima kembali kotak kumala itu dan dimasukkan kedalam saku, kemudian pejamkan mata dan duduk bersemedi.
Tio Sam-koh memperhatikan pemuda itu beberapa saat lamanya, lalu duduk pula di sampingnya sedangkan Hoa Hujin ambil beberapa lembar kitab yang sudah rusak dan pusatkan perhatiannya untuk mempelajari isi buku tersebut.
Kurang lebih setengah jam kemudian, air muka Hoa Thianhong yang pucat pias telah berubah jadi merah kembali, dengusan napas pun kian lama kian bertambah berat, sedikit pun tidak mirip seorang jago silat yang memiliki tenaga dalam.
Walaupun Tio Sam-koh duduk agak jauh dari pemuda itu, namun sepasang matanya menatap wajah Hoa Thian-hong tanpa berkedip, dia awasi terus semua perubahan wajah.
Sedangkan Hoa Hujin sama sekali tidak menggubris putranya yang sedang duduk bersemedi itu bahkan melirik barang sekejappun tidak, dia hanya pusatkan perhatiannya untuk membaca buku.
Buku tadi bukan lain adalah kitab catatan Ci yu jit ciat yang berhasil dirampas oleh Tio Sam-koh dari saku Hoa Thian-hong.
Menyaksikan Hoa Hujin pusatkan perhatiannya untuk membaca buku dan sama sekali tidak mengurusi putranya, Tio Sam kong naik pitam dan merasa mendongkol sekali, dia ingin sekali membentak perempuan tersebut, tapi diapun takut bentakan itu akan mengganggu ketenangan Hoa Thian-hong dalam melakukan semedinya.
Setelah bersabar beberapa saat lamanya, lama-kelamaan ia tak kuat menahan diri lagi, dengan ilmu menyampaikan suara segera tegurnya terhadap diri Hoa Hujin.
"Obat itu mulai bekerja, coba tengoklah sebentar wajah Seng ji"
Hoa Hujin menengadah memandang sekejap ke arah Hoa Thian-hong kemudian menjawab.
"Kita tak tahu setelah Lengci itu dimakan bagaimanakah reaksinya apabila bertemu dengan sari racun dari teratai racun empedu api yang bersarang didalam tubuhnya, dan lagi akupun tak tahu bagimana akibatnya nanti?"
"Apakah engkau tak dapat menggerakan tangan untuk memeriksa sebentar denyutan nadinya?"
Seru Tio Sam-koh dengan gusar. Hoa Hujin tersenyum.
"Seng ji bisa mendapat perhatian yang begitu serius dari engkau, boleh dibilang dia memang punya rejeki yang amat besar"
Telapak kanannya segera ditempelkan keatas batok kepala Hoa Thian-hong, terasalah aliran darah didalam tubuh pemuda itu bergerak amat cepat sekali, kecuali itu tiada tanda lain yang mencurigakan.
Lewat beberapa waktu kemudian, tiba-tiba Hoa Thian-hong menggerakkan bulu matanya dan berkata dengan suara seperti sedang mengigau.
"Ibu, aku ingin tidur...."
"Kalau ingin tidur, pergilah tidur!"
Jawab Hoa Hujin berpikir sebentar.
"Tio Sam-koh segera memburu kedepan, omelnya.
"Engkau memang seorang manusia yang berhati keras seperti baja, aku nenek tua merasa takluk padamu"
"Orang kuno memang lebih tahan uji dan banyak merasakan pahit getirnya kehidupan daripada orang sekarang...."
Tiba-tiba ia membungkam dan segera alihkan sorot matanya ke arah jembatan batu bagian seberang.
Tio Sam-koh segera mengalihkan pula sorot matanya ke arah jembatan batu itu, tampaklah dari arah Timur, laut muncul serombongan manusia sedang bergerak mendekat, berhubung jaraknya masih jauh maka raut wajah orang-orang itu tidak nampak begitu jelas.
Tanpa terasa lagi ia meryumpah didalam hati.
"Hmmm! kalau ini hari aku nenek tua tidak melakukan pembunuhan secara besar-besaran, aku bersumpah tak mau menjadi manusia!"
"Diantara mereka terdapat pula Hoa In, aku pikir rombongan itu pastilah sahabat-sahabat dari Bu Lim"
Sambung Hoa Hujin dengan cepat.
Tio Sam-koh alihkan kembali sorot matanya ke arah orangorang itu, sesaat kemudian ia baru melihat bahwa orang yang berjalan di paling depan bukan lain adalah Hoa In, sedang dibelakangnya mengikuti belasan orang baik pria maupun wanita baik tua maupun muda.
Lewat beberapa saat kemudian semua orang sudah tiba di tepi sebrang jembatan batu, tampaklah Hoa In sambil menggendong sebuah keranjang amat besar berjalan di paling depan, dibelakangnya mengikuti Cu Im taysu yang pelihara rambut berwarna keperak-perakan, memakai jubah warna putih serta membawa senjata sekop, disamping itu terdapat pula Ciong liang kek yang bertangan tunggal, si telapak pasir emas Chin Pek-cuan serta putranya Chin Giok-liong....
Selain itu terdapat pula tiga orang gadis berdandan suku Biau mengelilingi seorang dara berbaju hitam.
Harimau berlarian Tiong Liau serta Harimau Ompong Tiong Lo poo cu dari tiga harimau keluarga Tiong menguntil dipaling belakang.
Sepanjang jalan ketiga orang dara suku Biau itu "Kuku....
kakakk....kaak ", bicara tiada hentinya, sedangkan air muka dara baju hitam itu tetap tenang namun serius sekali.
Dalam sekejap mata rombongan para jago telah tiba diatas bukit, belasan pasang mata bersama-sama dialihkan ke arah dalam gua.
Hoa Hujin segera bangkit berdiri untuk menyambut kedatangan mereka, dari mulut Hoa Thian-hong telah mengetahui asal usul dari rombongan orang itu, apa lagi sebagian besar merupakan sahabat-sahabat lamanya tentu saja perempuan itu mengenali siapakah mereka.
Teringat bahwa pertarungan sengit sudah hampir berlangsung dan para jago persilalatan itu sudah berdatangan tepat pada saatnya dengan perasaan terharu bercampur terima kasih Hoa Hujin memunculkan diri dan berteriak dengan suara lantang.
"Taysu, Cion liang hin heng...."
"Hujin, baik engkau?"
Tegur Cu Ing taysu pula dengan suara lantang.
"gunung thay san belum ambruk, akarnya masih berada dalam tanah, rupanya kami sekelompok sukma sukma gentayangan akhirnya dapat melegakan hati!"
Tiba-tiba terdengar para gadis berdandan sukma Biau itu kemudian memanggil dengan suara lantang.
"Siaulong...."
"Telur busuk cilik!"
Omel Tio Sam-koh didalam hati.
"dimana-mana meninggalkan bibit bencana, teman gadisnya terlalu banyak...."
Hoa Hujin tersenyum, sambil menyapa gadis muda itu sahutnya.
"Putra sedang merasa kurang enak badan, maafkanlah kalau ia tak dapat bangkit berdiri untuk menyambut kedatangan kalian"
Mendengar Hoa Thian-hong tidak enak badan, tanpa sadar kawanan gadis muda itu mempercepat langkahnya dan didalam waktu singkat telah meluruk tiba semua.
Adat istiadat suku Biau jauh lebih bebas daripada suku bangsa Han yang kolot dan banyak tata cara itu, ketika mereka saksikan Hoa Thian-hong tertidur amat nyenyak diatas tanah dengan cepat gadis-gadis itu mengelilingi tubuhnya, ada yang memegang kepala, ada yang memeriksa denyutan nadinya, dan ada pula yang membuka pakaian untuk memeriksa luka diatas dadanya, suara pembicaraan terdengar amat gaduh sekali membuat suasana jadi amat ramai.
Sementara itu Harimau pelarian Tiong Liau serta nenek tua she Tiong secara diam-diam ikut mengelilingi pula si anak muda itu.
Cu Im taysu tidak kenal bahasa Biau, ia takut Hoa Thianhong mengalami luka yang cukup parah, tidak sempat ia memberi hormat lagi segera tegurnya.
"Hoa Hujin kenapa dengan putramu itu?"
Hoa Hujin tersenyum.
"Sebetulnya luka yang diderita tidak terlalu ringan untung kita memperoleh sebatang Leng-ci berusia seribu tahun, baru saja ia makan Leng-ci itu kemudian tertidur pulas. Seperti baru saja menurunkan beban yang berat dari atas bahunya, Cu In taysu jadi amat girang kembali ia berkata.
"Leng-ci berusia seribu tahun apalah benda langka yang amat berharga sekali dalam kolong langit, pemuda itu bisa memperoleh obat semujarab itu hal tersebut menunjukkan kalau dia memang punya rejeki besar"
Setelah berhenti sebentar, sambungnya lagi.
"Silahkan hujin bercakap-cakap dengan saudara yang lain, pinceng akan pergi kesana untuk menengok keadaan dari Hoa kungcu"
Habis berkata ia segera berjalan menuju ke arah Hoa Thian-hong. Hoa Hujin tersenyum, sambil berpaling ke arah Ciong Liankhek serta Chin Pek Cain, ujarnya.
"Putraku bodoh dan tak banyak pengalaman, dimana-mana selalu menimbulkan keonaran aku sangat berterima kasih karena engkau berdua sering kali membantu dirinya. Dengan wajah murung Ciong Lian-khek tetap membungkam, senyumnya tersungging di ujung bibirnya. Sedangkan Chin Pek-cuan segera goyangkan tangannya berulang kali, sambil tertawa ia berkata.
"Hujin tak usah sungkan-sungkan, seorang pimpinan tidak melihat berapakah usianya, aku sekeluarga sudah kerap kali mendapat bantuan dari Seng ji, aaaai....! mengingat kita adalah sahabat lama rasanya aku pun tak perlu mengucapkan terima kasih padamu"
Ia berpaling lalu membentak keras.
"Giok Liong Hong ji cepat datang kemari dan memberi hormat kepada Tio loocianwee serta Hoa Hujin. Chi Giok liong serta dara baju hitam itu mengiakan, mereka segera maju kemuka dan memberi hormat kepada Hoa Hujin serta Tio Sam-koh. Dengan sorot matanya yang tajam, Tio Sam-koh mengawasi terus gerak-gerik dari dara baju hitam itu, Pikirnya dalam hati.
"Budak ini halus, sederhana dan merupakan seorang calon istri dan ibu yang amat baik sedang Pek Kun-gie kecuali dalam hal kecantikan, tak satupun yang bisa menangkan dirinya.... aku setuju sekali kalau dia dijadikan bakal istrinya Hoa Thian-hong....!"
Rupanya Hoa Hujin sendiri pun menaruh perhatian khusus kepada Chin Wan-hong, hanya saja karena ia sedang merisaukan keadaan dalam dunia persilatan maka untuk sementara waktu masalah mengenai putranya ini belum sempat ditangani.
Setelah membalas hormat, sambil tertawa ujarnya.
"Gurumu paling suka mengasingkan diri dan selamanya tak pernah mencampuri urusan dunia persilatan, kedatangan nona kesini apakah telah memperoleh izin gurumu?"
"Sudah lama suhu mengagumi akan kebesaran jiwa hujin,"
Sahut Chin Wan-hong dengan rasa hormat.
"kali ini beliau mengijinkan Hong ji serta tiga orang suci untuk turun gunung karena pertama suci bertiga yang selalu memohon ijin kepada suhu, dan kedua karena suhu amat menyayangi Hoa si heng serta menguatirkan soal racun teratai empedu apinya, walaupun banyak nasehat harus kami dengar namun akhirnya beliau mengijinkan suci sekalian datang kemari guna membantu hujin."
Hoa Hujin tertawa.
"Orang-orang persilatan didaratan Tionggoan mengira gurumu adalah seorang tokoh sakti yang suka menyendiri, sungguh tak nyana suhumu adalah seorang manusia yang berjiwa besar dan begitu saleh hatinya"
Sementara itu Chin Pek-cuan telah melirik sekejap ke arah tiga orang gadis suku Biau yang sedang mengelilingi tubuh Hoa Thian-hong, sambil tertawa katanya.
"Ketiga orang nona itu adalah Biau nia sam sian tiga dewa dari wilayah biau, meski pun usianya nampak masih muda namun ilmu silatnya luar biasa sekali, terutama dalam hal menggunakan ilmu racun boleh dikata luar biasa sekali, dua hari berselang mereka telah mendemonstrasikan kelihayannya, membuat satu sarang srigala dan tikus dari sekte agama Thong-thian-kauw kocar kacir serta kacau tak karuan, bahkan sampai ini haripun mereka masih muntah berak tiada hentinya!"
Bicara sampai disini jago tua tersebut tak dapat menahan rasa gelinya lagi dan segera tertawa terbahak-bahak. Tio Sam-koh pun ikut tertawa, tiba-tiba ia bertanya.
"Chin Wan-hong, selama satu tahun lebih belajar ilmu, aku rasa kepandaianmu didalam menggunakan racun pasti tidak lemah bukan?"
Dengan cepat Chin Wan-hong gelengkan kepalanya.
"Hong ji belum pernah belajar ilmu melepaskan racun!"
"Pertama kali angkat guru dan menjadi murid orang, seharusnya rajin belajar ilmu silat, dengan begitu dasarnya baru dapat kokoh,"
Ujar Hoa Hujin pula. Merah jengah selembar wajah Chin Wan-hong mendengar nasehat itu, ia tundukkan kepalanya rendah-rendah dan menjawad.
"Hong ji juga tidak belajar ilmu silat....!"
Chin Pek-cuan yang berada disisinya segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh....haaaahh....haaah.... budak ini khusus belajar ilmu ilmu obat-obatan, dikemudian hari dia bakal menjadi seorang ahli dalam memunahkan pelbagai macam racun!"
Air muka Chin Wan-hong berubah semakin merah padam selesai mendengar perkataan itu kepalanya ditundukan semakin rendah dan saking malunya sehingga tak berani angkat kepalanya lagi.
Hoa Hujin yang menyaksikan kejadian itu, diam-diam segera berpikir didalam hati.
"Teratai racun empedu api merupakan sejenis racun yang tak dapat dipunahkan oleh obat mujarab apapun, bocah ini melepaskan niatnya belajar silat dan mengkhususkan diri dari ilmu obat-obatan tujuannya pistilah demi Seng ji, rasa cinta yang bersemi dalam hati benar-benar suci bersih membuat hatiku amat terharu...."
Berpikir simpai disitu, ketika dilihatnya ia masih tersipu-sipu maka segera ujarnya.
"Ada dua orang rekan kita terjebak didalam perkumpulan Thong-thian-kauw, barusan Thian Ik-cu datang kemari mencari aku merundingkan untuk membebaskan kedua orang itu dengan syarat obat pemunah bagi anak buahnya, Hong ji pergilah temui sucimu serta mintakan obat pemunah, kita segera mengutus orang untuk membebaskan orang-orang kita yang tertawan!"
Semenjak tadi pikiran maupun perasaan Chin Wan-hong telah dicurahkan keatas tubuh Hoa Thian-hong, tetapi berhubung ia takut kurang hormat dihadapan Hoa Hujin maka sekuat tenaga ia berusaha untuk mempertahankan diri.
Kini setelah mendapat perintah, gadis itu sepera mengangguk dan berlalu dengan riang hati.
Li hoa siancu sedang berjongkok disamping tubuh Hoa Thian-hong, ketika dilihatnya Chin Wan-hong datang, ia segera berteriak.
"Hong ji, cepat datang lemari! benarkah siau long baru saja makan rumput mustajab Leng-ci usia seribu tahun?"
Rupanya selama ini Hoa Thian-hong tertidur dengan pulasnya, dipandang dari mukanya yang merah padam persis sekali seperti obat yang mabok oleh arak, tiga dewi dari wilayah Biau telah membolak-balikkan tubuhnya akan tetapi dia tetap tidak merasa, bahkan kelopak matanya sedikitpun tidak bergoyang.
Chin Wan-hong segera berjongkok dan memegang urat nadi Hoa Thian-hong setelah termenung sebentar dia periksa pula pernapasannya, lidah serta kutu, setelah itu jawabnya.
"Kalau dilihat dari denyutan nadinya yang teratur serta hawa murninya yang bergerak lancar.... rupanya ia sama sekali tidak menderita keracunan"
"Tentang soal itu aku tahu, jawab Li hoa Siancu tapi kenapa tidur dengan pulasnya?"
"Aku rasa hal ini disebabkan karena, reaksi daya kerja obat mujarab itu...."
"Aku dengar dari suhu, katanya bagi yang makan Leng-ci berusia seribu tahun keadaannya tidak seperti ini"
Sela Ci Wi siancu sambil tertawa.
"Hong ji, seru Li hoa siancu pula benarkah pemeriksaanmu itu? jangan-jangan siau long sudah kena ditipu orang sehingga yang dimakan bukan Leng-ci tapi yang dimakan benda jahat lainnya? Mendengar perkataan itu air muka Chin Wan-hong berubah sangat hebat, dengan gugup segera serunya.
"Coba kutanyakan pada hujin....!"
Lan hoa siancu yang berada disisinya segera tertawa tergelak.
"Hiiiihh....hiiiih....hiiih Hong ji, tak usah takut! mereka sedang menggoda dirimu serunya, didalam saku siau long masih ada sisa separoh batang Leng-ci seribu tahun, yang dia makan memang benar benar Leng-ci mujarab. Li hoa sincu serta Ci wi siancu segera tertawa cekikikan, terdengar Hoa siancu berkata.
"Hong ji ilmu obat-obatan apa yany kau pelajari? mungkin engkau belum berhasil mempelajari segenap kepandaian dari suhu!"
Merah jengah selembar wajah Chin Wan-hong, sahutnya dengan suara lirih.
"Aku memang tak tahu apa-apa, aku baru belajar satu tahun saja!"
Tiba-tiba ia lihat Hoa Hujin sekalian berjalan menghampiri mereka, buru-buru ia ceritakan kepada Lan Ho siancu bahwasanya Bong pay serta Tiong Long telah tertangkap pihak lawan serta masalah tentang tukar oragp dengan obat pemunah.
Mendengar perkataan itu, dari sakunya Lan Hoa Siancu ambil keluar sebuah botol porselen mengeluarkan sedikit bubuk obat warna putih yang dibungkusnya dengan kertas lalu diserahkannya ke tangan Chin Wan-hong.
Harimau pelarian Tong Liau setelah mengetahui bahwa putranya tertangkap, segera mengajukan diri sebagai wakil untuk tukar orang dengan obat pemunah tersebut.
Chin Wan-hong tak berani mengambil keputusan, ia sampaikan hal tersebut kepada Hoa Hujin, Ciong Lian-khek yang mendengar laporan itu menyatakan kesediaannya untuk mendampingi Harimau Pelarian Tong Liau.
Hoa Hujin berpikir sebentar, akhirnya dia perintahkan Hoa In serta Tong Liau yang melaksanakan tugas tersebut, setelah Chin Wan-hong menerangkan bagaimana caranya menggunakan obat pemunah tersebut, berangkatlah kedua orang itu dengan terburu-buru.
Sepeninggalnya dua orang jago itu, Hoa Hujin segera menanyakan kabar berita tentang dewa yang suka pelancongan Cu Tong.
Cu Im taysu menjawab.
"Sebagian besar para jago persilatan yang berhasil menyelamatkan diri dari pertempuran Pak beng hwee tempo hari dan selama ini mengasingkan diri telah bermunculan semua untuk menggabungkan diri dengan mereka. Dewa yang suka pelancongan Cu Tong sedang mencari kabar berita serta mengadakan hubungan kesana kemari untuk memperkuat posisi pihak golongan kaum lurus yang dipimpin oleh Hoa Thian-hong."
Berbicara pulang pergi akhirnya beberapa tokoh silat kawakan itupun membicarakan menang kalah yang bakal terjadi sesudah terjadinya pertarungan di masa mendatang.
Kawanan jago tua itu kebanyakan adalah mereka-mereka yang berhasil meloloskan diri dari pertemuan berdarah Pak beng hwee, siapa pun sudah tidak mempersoalkan hidup atau mati mereka lagi, demi tegaknya keadilan dalam dunia persilatan, demi dendam pribadi mereka semua telah berbulat tekad untuk melawan kaum iblis dari golongan sesat hingga titik darah penghabisan.
Akan tetapi kendatipun semangat semua orang berkobar dan semangat bertempur yang mereka miliki sangat kuat namun dalam hati kecil semua orang mengetahui bahwa belasan tahun belakangan ini kekuatan di pihak kaum pendekar kaum lurus sama sekali belum pulih kembali, sebaliknya kaum iblis dari golongan sesat semakin kuat menghimpun kekuatannya, pengaruh merekapun kian lama kian bertambah besar, jika kedua belah pihak dibandingkan maka tampak perbedaan yang amat menyolok.
Pihak kaum lurus hanya mengandalkan bekas-bekas panglima yang pernah kalah perang, sebaliknya kaum sesat bukan saja andalkan jago-jago tuanya bahkan jago-jago mudapun tak terhitung banyaknya, sekilas memandang bisa diketahui betapa suramnya masa depan kaum lurus dalam dunia persilatan.
Sekalipun begitu dalam tubuh perkumpulan Thong-thiankauw telah tersembunyi seorang jago perempuan, yakni Giok Teng Hujin, pengakuannya sebagai keturunan dari It kiam kay Tionggoan Pedang sakti menyapu Tionggoan Siang Tang Lay telah membuat pandangan orang terhadap dirinya sama sekali berubah.
Peristiwa berdarah tentang kematian dari Jin Bong putra Jin Hian hingga kini belum dapat terselesaikan, andaikata Giok Teng Hujin betul-betul dapat menyulut api peperangan antara pihak perkumpulan Hong-im-hwie melawan sekte agama Thong-thian-kauw, maka kendatipun pihak kaum lurus hanya mengandakan sisa-sisa laskar yang pernah kalah perang, siapa tahu akan timbul suatu kemukjijatan?
Oleh karena itulah Pedang emas yang kecil dan kabar beritanya sudah amat meluas di kolong langit namun jarang sekali ada orang yang pernah melihat sendiri itu telah menjadi satu-satunya titik harapan bagi kaum pendekar dari kalangan lurus asalkan pihak lurus berhasil menangkap titik harapan tersebut maka besarlah kemungkinan bagi mereka untuk munculkan diri kembali dalam kolong langit.
Bicara pulang pergi akhirnya masalah terhenti pada soal pedang emas, rahasia tentang Pedang emas itu muncul diri mulut Giok Teng Hujin dan hanya Hoa Thian-hong seorang yang mendengar dengan mata kepala sendiri kini pemuda tersebut sedang tidur nyenyak dan semua orang tidak ingin menunggu sampai Hoa Thian-hong mendusin menanyai secara jelas kemudian barulah mengambil keputusan.
Saat itu Hoa In, Bong Pay serta Tiong Lian, Tiong Ling telah kembali keatas bukit bahkan mereka membawa pula bahan makanan dalam jumlah besar.
Selesai bersantap, Hoa Hujin berpesan kepada Hoa In.
"Engkau berdiamlah pada ujung jembatan batu itu, mulai sekarang kita harus memelihara tenaga serta menghimpun hawa murni kita masing-masing dengan sebaik-baiknya, dalam empat lima hari mendatang bilamana ada musuh yang menyerang datang, engkau segera mengirim tanda bahaya, kami akan menggunakan jembatan batu itu sebagai tempat pertahanan serta menghindari pertarungan-pertarungan yang tak berguna"
"Budak terima perintah"
Jawab Hoa Itu dia melirik sekejap ke arah Hoa Thian-hong yang berbaring diatas tanah, lalu tanyanya.
"Benarkah Siau Koan-jin tidak apa-apa?"
"Engkau tak usah kuatir, beberapa orang nona itu kesemuanya adalah murid-murid orang kenamaan yang memiliki kepandaian mendalam tentang ilmu obat-obatan serta pertabiban, dengan kehadiran mereka ditempat ini, aku rasa Seng ji tak akan menemui kejadian yang tidak diharapkan lagi"
Li Hoi siancu yang berada disana segera ikut menimbrung sambil tertawa.
"Pengurus tua, cairan kumala dari tumbuhan Leng-ci berusia seribu tahun adalah benda yang mamabukkan, apalagi cairan tersebut digunakan dalam jumlah yang besar, maka orang akan mabuk dan tidur terus dengan nyenyak, walaupun aku tak tahu Leng-ci berusia seribu tahun itu mampukah untuk memunahkan racun teratai, akan tetapi kedua kekuatan tersebut tidaklah saling bertentangan satu sama lainnya, Siau Koan-jin mu itu pasti tak akan menemui kesulitan apapun"
Hoa In jadi berlega hati setelah mendengar penjelasan itu, katanya kemudian.
"Terima kasih atas petunjuk dari nona!"
Dan diapun putar badan mengundurkan diri dari situ. Tiba-tiba Lam hoa siancu tertawa merdu sambil berkata.
"Hoa Hujin, daripada kita harus meronda dan jaga malam hingga melelahkan sang badan, bagaimana kalau kami gunakan sedikit kepandaian untuk mengatur suatu penjagaan yang kuat disekitar tempat ini? dengan begitu kitapun bisa menghemat tenaga kita dengan percuma!"
"Nona adalah murid tertua dari Kiu-tok Sianci"
Sahut Hoa Hujin sambil tertawa.
"sebagaimana gurunya, sang muridpun sudah bisa diraba sampai dimanakah kelihayannya, kalau memang hendak tunjukan kepandaian, ayohlah cepat dilakukan, agar kita semuanya dapat ikut menyaksikan!"
Biau nia sam sian tiga dewi dari wilayah Biau yang mendengar ucapan itu jadi sangat gembira mereka bersamasama bangkit berdiri dan berjalan menuju ke tepi jembatan batu kurang lebih sepuluh tombak jauhnya dari ujung jembatan sebelah sana, semua orang dengan keheranan ikut turun pula kebawah hanya Chin Wan-hong serta tiga harimau dari keluarga Tiong yang masih tetap menjaga disisi Hoa Thian-hong.
Tempat itu merupakan dua buah bukit yang dipisahkan oleh sebuah jurang yang sangat dalam, pada jurang itu terbentanglah sebuah jembatan batu yang terputus-putus dengan lebar beberapa depa, setelah memperhatikan sejenak keadaan medan, Biau nia sam sian segera melayang naik keatas jembatan batu itu dengan langkah yang enteng.
Semua orang yang mengikuti dibelakangaya segera berhenti pada tepi jurang tersebut, tampaknya Lam hoa siancu berjalan beberapa depa jauhnya ketengah jambatan dan berhenti diatas tonggak batu yang luasnya dua depa ditengah dua lekukan batu yang terpatah, sedangkan Li hoa siancu berjalan menuju kesamping jembatan tadi sebaliknya Ci wi siancu berdiri pada jarak dua tiga tombak dari tepi seberang, sesudah merciri posisinya, masing-masing berdiri tegak.
Cu Im taysu yang menyaksikan posisi dari ketiga dewi tersebut sambil mengelus jenggotnya segera tertawa seraya berkata.
"Makin dekat ke ujung jembatan sebelah sini pertahanan yang dipasang semakin lihay, benar juga cara seperti ini!"
Tiba-tiba terdengarlah Ci wi siancu yang ada diujung jembatan batu itu berseru dengan suara lantang.
"Toa suci, ji suci! apakah sudah siap?"
Angin gunung terlalu besar, terpaksa kita harus bekerja sekenanya saja!
jawab Li hoa siancu yang berada ditengah jembatan.
Dia ulapkan tangannya, dan tiga dewi dari wilayah Biau pun bagaikan burung walet pulang tahu-tahu sudah balik kembali ketempat semula.
Hoa Hujin serta Cu Im taysu yang menyaksikan perbuatan tiga dewi tersebut segera saling bertukar pandangan dengan mulut membungkam, Ciong Lian-khek yang di hari-hari biasa selalu murung dan tak pernah menunjukkan suatu perubahan sikappun pada saat ini wajahnya agak berubah, dengan ketajaman mata beberapa orang ini ternyata mereka hanya sempat melihat Biau nia Sam sian berdiri sebentar ditempat dituju kemudian tanpa menggerakkan tangannya telah balik kembali ketempat semula, siapapun tak sempat melihat persiapan apakah yang telah diatur oleh beberapa orang itu.
Sesudah tiga dewi dari wilayah Biau melayang kembali ketempat semula, sambil tersenyum Li hoa siancu segera berkata.
"Hujin! kami telah mendemonstrasikan kejelekan, harap engkau jangan mentertawakan"
Hoa Hujin tertawa merah, sementara dalam hati kecilnya ia berpikir.
"Mereka sama-sama mengenakan pakaian adat suku Biau yang sama sekali tak berlengan panjang, namun gerakan tangannya sedikit pun tidak meninggalkan jejak bahkan kecepatannya membuat orang sukar untuk mempercayainya, kepandaian tersebut benar-benar luar biasa dan sangat mengagumkan!"
Perempuan yang berpengalaman ini tahu bahwa ilmu melepaskan racun yang mereka miliki merupakan kepandaian rahasia yang tidak diwariskan kepada orang lain, meskipun hati kecilnya ingin tahu namun perasaan tersebut hanya diangan dalam hati belaka.
Sementara itu Tio Sam-koh dengan perasaan ingin tahu segera bertanya.
"Eeei....sebenarnya apa sih yang telah kalian kerjakan? seandainya ada orang menyebrangi jembatan batu ini, apa yang bakal terjadi?"
Ci wi Siancu tertawa cekikikan.
"Kami telah melepaskan diatas jembatan batu tersebut, apabila seorang yang memiliki kepandaian agak rendah berani melangkah diatas jembatan itu mula-mula kepalanya langsung akan menjadi pusing dan pandangan matanya berkunangkunang, tubuh pun jadi lemas hingga gontai!"
"Dibawah jembatan merupakan jurang yang dalamnya mencapai ratusan tombak, apabila terjatuh sedalam jurang, bukankah tubuhnya akan hancur lebur....?"
Seru Tio Sam-koh sambil menjulurkan lidahnya. Ci wi siancu menutupi mulutnya menahan geli, sahutnya.
"Kalau seorang memiliki tenaga dalam yang amat sempurna atau lebih tinggi kewaspadaan dan mungkin saja pada pertahanan yang pertama itu tubuhnya tak akan sempai roboh"
Setelah berhenti sebentar, tambahnya.
"Angin gunung terlalu besar, daya kerja obat itu hanya mampu bertahan suatu saat yang tertentu saja, besok kita harus mengaturnya kembali"
"Bagaimana dengan nona yang lain?"
Tanya Tio Sam-koh kembali sambil alihkan sorot matanya. Li hoa siancu tertawa, sahutnya.
"Bila ada orang berani melewati tempat pertahananku itu, kecuali dia meniliki kepandaian silat setaraf dengan Hoa Hujin, bila tidak ingin roboh maka hal itu merupakan suatu perkerjaan yang amat sulit!"
Ia tertawa cekikikan, kemudian sambungnya lebih jauh.
"Asalkan orang mengerti tutup napas maka pos pertahanan yang pertama bisa di lewati, namun untuk melewati pos pertahanan yang kedua, sekalipun menutup napas juga sama sekali tak tak ada gunanya"
Tio Sam-koh segera alihkan sinar matanya ke arah Lan hoa siancu namun bibirnya yang telah bergetar, tiba-tiba ditutup kembali. Hob hujin termenung sebentar, lalu bertanya.
"Bagaimana dengan nona Lan hoa?"
Lan hoa siancu tersenyum, jawabnya.
"Kepandaian tak seberapa yang jelek mungkin cuma akan mentertawakan semua orang belaka, aku hanya mencuri belajar cara guruku saja yakni menyebarkan sedikit kabut sembilan bisa bikinan guruku disekitar tempat itu....!"
"Kalau memang racun itu hasil bikinan gurumu, kurasa kelihayannya pasti luar biasa sekali"
Ujar Hoa Hujin dengan alis mata berkernyit. Sesudah termenung beberapa saat lamanya, ia menyambung lebih jauh.
"Cuma saja, dengan demikian ada sahabat dari aliran kita yang tak tahu duduknya perkara berjalan melewati jembatan itu, kemungkinan besar mereka korbankan jiwanya dengan percuma, bagaimana baiknya? Lan hoa siancu segera tertawa.
"Menurut hujin apa yang harus kita lakukan?"
Serunya.
"apakah perlu kita bubarkan pertahanan itu?"
"Tidak usah!"
Jawab Cio Sam-koh dengan cepat.
"lebih baik beberapa orang budiman ikut mati daripada kita tak mampu membinasakan beberapa orang bajingan...."
Semua orang tertawa geli sehabis mendengar perkataan itu. Hoa In segera berkata.
"Bagaimana kalau budak berjagajaga ditepi seberang sana? apabila yang datang adalah orangorang pihak kita maka budak akan sambut kedatangan orangorang itu?"
"Kalau sampai berbuat dimikian maka kitapun akan kehilangan tujuan yang semula dalam melakukan pertahanan tersebut yakni menghemat tenaga"
Kata Hoa Hujin sambil gelengkan kepalanya.
"begini saja, buatlah sebuah batu peringatan pada ujung jembatan batu sebelah sana dan cantumkan tulisan di atas batu peringatan tersebut yang berbunyi demikian. Barang siapa merasa sahabat harap laporkan dahulu kedatangannya, dengan begitu aku rasa pihak mereka pasti akan memberi kabar lebih dahulu"
Hoa In segera mengiakan dengan membawa pedang baja milik Hoa Thian-hong serta mendapat obat pemunah dari Biau nia sam sian berangkatlah pelayan tua itu menyebrangi jembatan.
"Hoa In, engkau jangan mencoba-coba daya kerja racun yang diserangkan oleh Sam sian!"
Tiba-tiba Hoa Hujin memperingatkan. Hoa In segera berhenti dan menyahut.
"Hamba tidak berani!"
Tio Sam-koh yang berada disisi perempuan itu segera tertawa terbahak-bahak, serunya.
"Haaahh....haaahh....haaahh.... dalam hati aku nenek tua sedang berpikir perlukah untuk mencoba kelihayan dari kabut sembilan bisa, eeei....! tahu-tahu engkau sudah berteriak lebih dahulu, dengan demikian aku jadi urungkan maksudku semula...."
"Apa yang sedang kita hadapi saat ini bukanlah permainan kanak-kanak"
Kata Hoa Hujin dengan serius.
"kita tunggu saja sampai tiba saatnya ada musuh yang masuk perangkap, pada waktu itulah kalian baru akan saksikan sampai dimana kelihayan yang dimiliki Kiu-tok Sianci!"
Malam amat Sunyi rembulan bersinar dengan terangnya diangkasa, segerombolan laki perempuan tua muda yang berkumpul diatas bukit sama-sama duduk bersila mengatur pernapasan hanya Hoa Thian-hong seorang yang tidur terlentang diatas tanah dengan nyenyaknya.
Tengah malam baru saja lewat, tiga harimau dari keluarga Tiong, ayah dan anak dari keluarga Chin serta Bong Pay yang merupakan jago-jago dengan tenaga dalam agak rendah telah menyelesaikan semedinya dan secara beruntun sudah tertidur diatas tanah, Chin Wan-hong sendiri selelah melirik sekejap ke arah Hoa Thian-hong yang tertidur pulas segera ikut membaringkan diri pula diatas tanah.
Lewat beberapa saat kemudian Hoa Thian-hong yang tertidur pulas tiba -iba menghembuskan napas panjang meskipun hembusan napas itu tidak terlalu keras namun beberapa orang yang sedang duduk bersemedi itu sama-sama mementangkan matanya lebar-lebar dan alihkan sorot matanya ke arah pemuda itu bahkan Hoa In yang berada didekat jembatan batupun ikut berpaling kebelakang.
Tampaklah Hoa Thian-hong menggerakkan keempat buah anggota badannya kemudian bangun duduk dan bersila, meskipun dia belum sadar dari tidurnya namun secara otomatis telah melakukan semedi sendiri.
Semua orang saling bertukar pandangan sekejap, tetapi melihat Hoa Hujin tidak berbicara, semua orangpun tak berani buka suara, lewat beberapa saat kemudian Hoa Thian-hong masih tetap tidak menunjukkan perubahan apa-apa, Hoa Hujin pun segera mejamkan matanya kembali dan meneruskan semedinya, sedangkan orang lainpun sama-sama meneruskan semedinya pula.
Kurang lebih satu jam kemudian, Hoa Thian-hong yang sedang duduk bersemedi mendadak mementangkan bibirnya dan memperdengarkan suara suitan panjang yang ringan namun memanjang dan berkumandang tiada hentinya.
Semua orang dibikin terkejut hingga bangkit dari semedinya dan menengok ke arah pemuda itu.
Bong Pay pun meloncat bangun sambil menggerakkan bibirnya seperti mau mengucapkan sesuatu, namun Ciong Lian-khek segera goyangkan tangannya mencegah dia untuk berbicara.
Suara suitan terpait panjang bagaikan serat yang diludahkan oleh ulat sutera, panjang tiada putusnya hingga berlangsung selama seperminum teh lamanya, saat itulah Hoa Thian-hong baru hentikan suitannya dan membungkam.
Seluruh lembah dan bukit segera mendengung suara pantulan yang nyaring bagaikan Pekikan naga, lama sekali baru membuyar.
0000O0000 SEMUA orang saling bertukar pandangan dengan wajah tercengang, sebaliknya Hoa Thian-hong masih tetap duduk tenang seperti semula, terhadap suitan yang dipancarkan barusan sedikitpun tidak merasakannya.
Cu Im taysu tak dapat menahan diri lagi, dengan ilmu menyampaikan suara ia lantas berbisik.
"Hoa Hujin, pinceng menyadari bahwa emposan tenaga dalamku tidak mampu menandingi panjangnya suitan yang dipancarkan oleh putramu itu, menurut pendapat hujin apakah hal ini merupakan hasil dari kemujaraban Leng-ci berusia seribu tahun itu?"
Hoa Hujin termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian dengan suara rendah ia menghela napas panjang, sahutnya.
"Bocah ini mula-mula makan Teratai racun empedu api lebih dahulu, kemudian menelan Leng-ci berusia seribu tahun, bagaimanakah akibatnya bilamana dua macam benda langka itu bercampur menjadi satu, aku orang she Bun pun kurang begitu paham"
"Menurut pendapatku"
Jawab Chin Pek-cuan tiba-tiba.
"Thian pasti akan melindungi kaum budiman, karena bencana Thian Hong tentu bakal mendapat rejeki"
"Pada saat ini Seng ji sedang bersemedi dalam keadaan lupa segala-galanya, lebih baik kita semua tutup mulut daripada mengganggu konsentrasinya....!"
Tiba-tiba Tio Samkoh menggerutu dengan suara lirih.
"Benar"
Buru-buru Chin Pek-cuan menyahut.
"kalau ada persoalan kita bicarakan besok pagi saja!"
Hoa Hujin tersenyum, sementara dia hendak meneruskan kembali semedinya tiba-tiba sorot matenya berhasil menangkap berkelebatnya dua sosok bayangan manusia ditepi pantai seberang, Gerak-gerik dari dua sosok bayangan manusia itu amat hati-hati dan cermat, mereka gunakan batu cadas atau semak belukar sebagai tempat persembunyian dan sebentar berjongkok sebentar bergerak, gerakan tubuhnya lincah dan cekatan sekali andaikata pada saat terang-terang bulan ditambah pula ketajaman mata Hoa Hujin yang melebih orang lain, mungkin jejak itu sulit untuk ditemukan.
Dalam sekejap mata kedua sosok bayangan manusia itu sudah berkelebat sampai diatas jembatan batu dan menyembunyikan diri di belakang batu peringatan yang didirikan belum lama berselang itu, kemudian mereka tidak menunjukkan gerak-gerik apa-apa lagi.
Ketika semua orang menyaksikan sorot mata Hoa Hujin dialihkan ke arah tebing seberang, mereka dapat menduga apa yang sudah terjadi, sorot mata orang-orang itupun segera dialihkan pula ke tebing seberang.
Hoa In yang berjaga-jaga diujung jembatan batu sedang memikirkan keselamatan Hoa Thian-hong, dia malah justru tak merasakan sesuatu apapun.
Setelah memandang beberapa saat lamanya namun tidak menemukan sesuatu apapun, Li hoa siancu tak tahan lagi segera berbisik.
"Hoa Hujin, apakah kedatangan musuh?"
Hoa Hujin mengangguk, jawabnya dengan berbisik.
"Ada dua orang manusia menyembunyikan diri dibelakang batu peringatan itu....!"
Tio Sam-koh segera tertawa dingin, ujarnya.
"Gerakgeriknya tersembunyi dan main kucing-kucingan, pastilah yang datang hanyalah dua orang kurcaci belaka. Hmm! besar amat nya li orang-orang itu!"
"Kedua oraug itu pastilah mata-mata dari perkumpulan Thong-thian-kauw yang secara kebetulan berada disekitar tempat ini"
Ujar Chin Pek-cuan mengemukakan pendapatnya.
"karena mendengar suitan dari Thian Hong, mereka datang untuk menyelidiki duduknya perkara...."
"Benar!"
Sambung Ci wi siancu sambil tertawa.
"pekikan dari Siau long itu paling sedikit dapat mencapai kejauhan sepuluh li lebih, mereka pasti terpancing datang oleh pekikan tersebut"
Cu In taysu alihkan sorot matanya ke arah tepi seberang, kemudian berkata.
"Kalau kedua orang ini tahu diri, setelah membaca tulisan diatas batu peringatan tersebut semestinya segera mengundurkan diri dari sana.... karena dengan berbuat begitulah jiwanya baru bisa diselamatkan"
"Hmmm! hweesio tua, apakah dalam hatimu telah muncul kembali perasaan welas kasihmu?"
Ejek Tio Sam-koh. Sorot matanya beralih dan melirik sekejap ke arah Hoa Thian-hong, tiba-tiba bentaknya.
"Bagaimana kalau kalian semua jangan berbicara lebih dahulu??"
Diam-diam semua orang tertawa geli, mendadak dari bilik batu peringatan muncul sesosok bayangan manusia, sambil menempel jembatan batu sekali berkelebat tubuhnya sudah mencapai beberapa tombak jauhnya dari tempat semula dan tepat berhenti diatas batu cadas dimana Ci wi siancu melepaskan racunnya pada pos pertahanan yang pertama.
Baru saja orang itu melangkah maju kedepan, hidungnya segera mencium bau harum aneh yang amat tipis, dalam waktu singkat kepalanya terasa pusing tujuh keliling dan pandangan matanya berkurang, kejadian ini sangat mengejutkan hatinya, buru-buru ia tutup pernapasan putar badan dan siap mengundurkan diri dari tempat itu.
Hoa In yang berjaga-jaga ditepi jembatan batu segera menemukan jejak orang itu, menyaksikan musuhnya siap meloncat mundur dari sana ia segera meloncat bangun sambil membentak keras.
"Bajingan yang tak tahu diri, cepat berhenti!"
Buru-buru ia menelan sebutir pil pemunah dan mengejar ke arah depan.
Dalam pada itu, orang tadi baru saja akan loncat mundur dengan sepenuh tenaga, ketika secara tiba-tiba mendengar suara bentakan keras sepasang kakinya kontak jadi lemas dan tak dapat dihindari lagi tubuhnya segera tergelincir dan roboh kebawah.
Terdengarlah jeritan kaget yang menyayat kata hati berkumandang memecahkan kesunyian, sesosok bayangan manusia berjumpalitan beberapa kali ditengah udara kemudian terjatuh kedalam jurang yang dalamnya mencapai ratusan tombak itu.
Mendengar jeritan tersebut, dengan cepat Hoa In berhenti mengejar merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri.
Sedangkan bayangan manusia yang masih menyembunyikan diri dibelakang batu peringatan itu segera melarikan diri terbirit-birit setelah menyaksikan rekannya mati terjatuh kedalam jurang.
Hoa Thian-hong sedang bersemedi di punggung bukit tersentak kaget dan sadar dari semedinya, ia segera berteriak.
"Ibu, apa yang sudah terjadi?"
"Ada seorang bandit terjatuh kedalam jurang!"
Sahut Hoa Hujin sambil berpaling. Tio Sam-koh pun buru-buru berseru.
"Seng ji, hawa murnimu tidak sampai tersumbat bukan? cobalah mengepos tenaga lagi...."
Nada suaranya penuh mengandung perasaan sayang dan kuatir.
"Terima kasih Sam po...."
Sahut Hoa Thian-hong sambil tertawa.
Tiba-tiba ia temukan bahwa disekitar tubuhnya berdirilah beberapa orang pria dan wanita yang semuanya merupakan orang-orang yang dia rindukan dan kuatirkan selama ini, hatinya jadi terkejut bercampur girang hingga tanpa terasa ia menjejakkan kakinya bangun berdiri.
Jejakan kaki yang sama sekali dilakukan tanpa maksud apa-apa itu ternyata sudah memantulkan badannya hingga mencelat setinggi tombak lebih ketengah udara....
Cu Im taysu yang menyaksikan kejadian itu sambil tertawa terbahak-bahak segera berkata.
"Budha maha pengasih, ternyata Hoa kongcu telah sehat walafiat kembali bahkan karena bencana mendapat rejeki"
Hoa Thian sendiri merasa amat gembira karena dapat berkumpul kembali dengan rekan-rekan lamanya, ia sama sekali tidak memperdulikan arti dari perkataan Cu Im taysu itu, sambil memberi hormat ujarnya beulang kali.
"Taysu, baik-baikkah engkau? Chin locianpwee Ciou Lian cianpwee baik-baikkah engkau? Chin locianpwee, Ciong lian cianpwee baik-baikkah selama ini, kakak dan enci sekalian?"
"Hooree.... Sian long, baik-baiklah engkau sendiri?"
Teriak tiga dewi dari wilayah Biau sambil bersorak.
"setiap kali kami berjumpa dengan dirimu, engkau pasti sedang tertidur pulas dan belum bangun!"
Hoa Thian-hong tertawa cekikikan "Haaah....haaa.... haaahhh.... baik-baikkah Sian nio? selama satu tahun belakangan ini aku selalu kangen dan rindu kepada dia orang tua"
"Suhu pun sangat memperhatikan dirimu,"
Jawab Lan Hoa siancu sambil tertawa.
"kalau tidak, kali ini kamipun tak dapat ikut keluar ontuk bermain...."
"Siou long!"
Seru Li hoa siancu pula.
"Hong ji dengan rajin dan tekun mempelajari ilmu pertabiban dan ilmu obat-obatan, ia selalu berusaha agar bisa menyembuhkan racun teratai yang mengeram dalam tubuhmu, siapa tahu engkau telah menemukan kejadian aneh hingga aman tiada urusan, waah.... kalau begitu perjuangannya selama ini hanya sia-sia belaka"
Hoa Thian-hong serta Chin Wan Hoa saling bertukar pandangan sekejap lalu tersenyum, beribu-ribu patah kata yang ingin diucapkan masing-masing pihakpun lenyap dibalik senyuman tersebut.
Tiba-tiba terdengar Ciong Lian-khek berkata.
"Thian Hong, aku dengar engkau sudah kehilangan banyak darah, sekarang cobalah lebih dahulu racun teratai itu sudah punah atau belum, dan bagaimana pula tenaga dalammu kalau dibandingkan dengan keadaan tempo dulu....?"
Hoa Thian-hong pejamkan mata dan mencoba sebentar, kemudian sambil tertawa jawabnya.
"Racun teratai kambuh setiap tengah hari, biasanya didalam pusar terdapat segumpal hawa hangat yang bersarang terus disana, kini hawa hangat tersebut telah punah, aku rasa racun teratai itu semestinya sudah punah!"
Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba sambil tertawa cekikikan katanya kembali.
"Aku mempunyai satu cara untuk mencoba apakah racun teratai itu masih bersarang di dalam tubuhku atau tidak"
"Bagaimanakah caramu itu? dan bagaimana cara untuk mencobanya?"
Tanya Chin Pek Cuin dengan penuh perhatian.
Pada dasarnya ia memang merasa amat senang dengan pemuda ini, ditambah pula mengetahui kalau putrinya mempunyai hubungan cinta dengan si anak muda tersebut, dalam hati kecilnya diam-diam ia sudah mengambil keputusan untuk menerima dia sebagai calon menantunya.
Dengan wajah berseri-seri, Hoa Thian-hong berpaling ke arah Tiga dewi dari wilayah Biau, kemudian sambil angsurkan tangannya kedepan ia berkata.
"Ketika aku masih mengidap racun teratai, serangan obat beracun yang bagaimanapun lihaynya tak mampu untuk menyerang tubuhku, cici bertiga, asal kalian berikan sedikit obat racun kepadaku untuk dicoba maka andaikata wajahku menunjukkan tanda-tanda keracunan, hal itu membuktikan kalau racun teratai tersebut sudah tidak berada di dalam tubuhku lagi"
"Cara apa itu? caramu itu adalah cara yang goblok"
Teriak Tio Sam-koh dengan keras.
"Sudah jangan dicoba lagi!"
Lam hoa siancu tertawa.
"Obat racun bukanlah gula!, mana boleh kau makan sebagai barang mainan, Hong ji adalah seorang ahli dalam hal racun teratai, mintalah petunjuk darinya untuk mengetahui bagaimana gejalanya kalau racun teratai masih bersarang didalam tubuhmu"
Hoa Thian-hong segera berpaling dan serunya.
"Hong ji...."
Chin Wan-hong tertawa, ujarnya.
"Racun teratai itu kecuali kambuh satu kali setiap tengah hari, racun itupun mempengaruhi urat syaraf Tay yang simkeng....!"
"Aah! kenapa aku tidak berpikir sampai kesitu"
Teriak Hoa Thian-hong seperti menyadari akan sesuatu.
Diam-diam ia mengerahkan hawa murninya untuk menggerakkan jalan darah darah Tay yang sim keng, mendadak ia teringat akan sesuatu dan buru-buru membuyarkan kembali hawa murninya.
Kiranya racun teratai itu kecuali tiap tengah hari bekerja satu kali, kalau badan nya terpengaruh oleh nafsu birahi maka daya kerja racun itupun akan kambuh pula, itulah sebabnya selama racun treratai masih mengeram dalam rubuhnya ia tak dapat mempunyai bini.
Dengan menggerakan hawa murninya kedalam urat Tay yang sim keng bisa mengobarkan nafsu birahinya, dan dari sanapun bisa digunakan untuk memeriksa apakah racun teratai itu masih bersarang didalam tubuhnya atau tidak, akan tetapi dengan begitu maka alat kelaminnya akan menjadi tegang dan berdiri kaku seperti tongkat besi, dalam pandangan banyak orang tentu saja pemuda itu merasa malu untuk berbuat begitu.
Bong Pay yang tak tahu duduknya perkara, ketika menyaksikan kerikuan yang menyelimuti wajah si anak muda itu jadi merasa keheraran, segera ia berseru.
"Permainan apa sih yang sedang kau lakukan? pekerjaan yang menyangkut dirimu sendiri kenapa tidak dilakukan secara blak-blakan dan tanpa ragu-ragu?"
Merah padam selembar wajah Hoa Thian-hong sehabis mendengar perkataan itu, jawabnya.
"Tenaga dalam yang siau te miliki masih kurang sempurna, aku tak berani secara sembarangan urat penting!"
"Kalau memang begitu, tunggu saja sampai besok tengah hari bukankah beres....?"
Seru Bong Pay.
"Sedikiipun tidak salah!"
Sahut Hoa Thian-hong buru-buru sambil tertawa. Ia mendongak memandang cuaca, dari ufuk sebelah timur tampaklah sang surya mulai memancarkan sinar keemas
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com emasannya, buru-buru ia bertanya.
"Ini hari sudah tanggal berapa?"
"Ini hari tanggal sebelas!"
Sahut Tio Sam-koh dengan cepat. Air muka Hoa Thian-hong berubah hebat, sambil berpaling ke arah ibunya dia segera berseru.
"Ibu, waktunya mulai sekarang sampai di selenggaranya pertemuan besar Kian ciau tayhwee tinggal tiga hari lagi, bagaimana caranya kita untuk menyerang dan bagaimana pula caranya untuk mempertahankan diri, harus mulai dibicarakan mulai sekarang"
Hoa Hujm tertawa, katanya.
"Dalam perundingan kemarin malam kita semua belum mengambil keputusan, sekarang kemukakan lebih dahulu bagaimanakah pendapatmu, setelah itu barulah kita rundingkan kembali!"
"Kalau kita harus berduel melawan salah satu diantara perkumpulan Sia Kin Pang, atau Hong-im-hwie atau Thongthian-kauw, kelompok kita meskipun masih bukan tandingannya, aku rasa masih mampu untuk mempertahankan diri...."
Kata Hoa Thian-hong sesudah termenung sebentar.
"Menurut penglihatan aku nenek tua"
Ujar Tio Sam-koh dengan cepat.
"Tiga bibit bencana pasti akan bersatu padu pada saat yang terakhir untuk menghadapi kita"
"Kalau sampai tiga bibitbencana bersatu padu.... sekalipun pihak kita lebih banyak beberapa orangpun, pasti bukan tandingan mereka"
"Omong kosong! bentak Tio Sam-koh dengan gusar telah mendengar perkataan itu.
"tentang soal ini buat apa engkau katakan lagi?"
Hoa Thian-hong tersenyum, kembali dia berkata.
"Maksud boanpwee, apabila mulai sekarang juga kita sudah dapat menduga kalau pihak perkumpulan Sin-kie-pang, Hong In Hwee dan Tong Thiau kau pasti akan bekerja sama untuk menghadapi kita, itu berani siapa tangguh siapa lemah sudah tertera dengan jelas sekali, dalam keadaan demikian lebih baik kita mundurkan diri mulai sekarang juga, lebih baik menerima ejekan dari musuh daripada menghindari pertemuan besar Kian citau tayhwee tersebut...."
"Kentut busuk!"
Bentak Tio Sam-koh dengan gusar.
"paling banter kita mati semua, kenapa harus mengundurkan diri sambil menahan malu....??"
Air muka Hoa Thian-hong berubah jadi amat serius, katanya dengan nada sungguh-sungguh.
"Boanpwee bukanlah seorang manusia yang takut mati, tapi aku menguatirkan kalau sumber kekuatan dari golongan lurus kita terbasmi semua sehingga lenyap tak berbekas, andaikata sampai terjadi keadaan seperti ini sampai kapankah kita baru akan melihat cahaya sang surya lagi?"
Tiba-tiba dia menghela napas panjang, dengan suara tegas dan tandas ia meneruskan.
"Kejadian dalam pertemuan Pak beng hwee tidak boleh sampai terulang kembali pada saat ini!"
Mengungkap kembali tentang peristiwa berdarah dalam pertemuan Pak beng hwee, air muka semua orang berubah jadi sedih, Tio Sam-koh sendiri yang segera teringat kembali akan cita-citanya selama ini adalah membalas dendam serta menuntut sakit hati yang pernah dialaminya dimana lampau, terpaksa menekan hawa amarah dan berangasan nya dalam seribu bahasa.
"Hoa kongcu!"
Beberapa saat kemudian Cu Im taysu berkata dengan suara lirih.
"menurut pendapatmu, mungkinkah tiga bibit bercana bagi umat persilatan itu dapat bekerja sama kembali untuk menghadapi pihak kita?"
"Dalam keadaan yang terdesak dan mengenaskan, persekutuan mungkin bisa muncul dan janji kerja samapun pasti akan terjadi"
Cu Im taysu mengerutkan dahinya sehabis mendengar perkataan itu, katanya.
"Hoa kongcu berpengetahuan luas, perkataan ini pasti didasarkan olen alasan-lasan tertentu, pinceng bersedia untuk mendengarkan keteranganmu lebib jauh"
"Boanpwee masih muda dan pengalamanku masih cetek, dalam kenyataan apa alasannya aku rasa taysu serta locianpwee sekalian pasti jauh lebih memahami daripada diriku"
Bicara sampai disiiu sorot matanya segera dialihkan ke arah ibunya. Dengan wajah serius Hoa bu jin segera berkata.
"Locianpwee sekalipun mempunyai pandangan yang sama seperti jalan pikiranmu itu, coba beberkanlan rencanmu itu agar para cianpwee bisa ikut menilai serta mempertimbangkannya"
Hoa Thian-hong berpikir sebentar, kemudian setelah menyapu sekejap sekeliling tempat itu, katanya.
"Diantara tiga kekuatan besar yang berkuasa dalam kolong langit dewasa ini sebenarnya terselip pula hubungan-hubungan yang terasa serba salah dan diantara kesemuanya itu tentu saja pokok persoalan yang paling penting adalah kasus terbunuh nya Jin Bong secara misterius serta soal pedang emas tersebut, dasar daripada pandang anku ini adalah mengikuti perkataan dari Giok Teng Hujin, aku percaya masih terdapat sebilah pedarg emas lain yang disembunyikan didalam pedang mustika Poan liong poo kiam Tong Thiang kaucu"
"Seandainya apa yang terjadi memang demikian, lalu apa yang harus kita lakukan?"
Tanya Cu Im taysu.
"Didalam pembukaan pertemuan besar Kian ciau tayhwee tersebut, pertama-tama kita bongkar dahulu rahasia tersebut didepan umum, dalam suasana para jago dari kolong langit bersama-sama kumpul jadi satu, asalkan redang emas itu munculkan diri maka Thian Ik-cu sekalipun hendak menyangkal juga tak akan berhasil, suasana pasti akan kacau balau"
Cu Im taysu mengangguk, katanya.
"Pendapat Hoa kongcu memang tinggi, asalkan terjadi peristiwa semacam ini lalu apa yang harus kita lakukan?"
"Sebagian besar orang dalam dunia persilatan telah terpengaruh oleh kabar berita yang tersiar diluaran dan mempercayai kalau pedang emas itu mempunyai hubungan yang erat sekali dengan se
Jilid kitab pusaka ilmu silat, seandainya ada orang berbasil mendapatkan kitab pusaka itu maka ilmu silat It kiam kay Tionggoan Siang Teng Lay, dan tiada tandingannya di kolong langit, oleh sebab itulah sajak dahulu pedang emas sudah dianggap sebagai benda mustika, asal pedang itu munculkan diri maka para jago pasti akan saling berusaha untuk memperebutkan dan pertarungan untuk merebut mustikapun pasti akan berkobar...."
"Aaah! belum tentu begitu"
Tiba-tiba Tio Sam-koh berteriak keras.
"aku nenek tua tidak percaya dengan kabar berita yang tersiar dalam dunia persilatan, sekalipun pedang emas itu munculkan diri didepan mata, aku sinenek tua tak akan ikut untuk memperebutkannya"
Cu Im taysu yang mendengar perkataan itu segera tertawa, ujarnya.
"Tio lo tay, orang kuno ada satu cerita...."
"Hweesio tua tidak membicarakan tentang pelajaran agama Buddha, cerita apa yana hendak kau tuturkan kepadaku?"
Seru Tio Sam-koh dengan mata melotot besar.
"Seorang pelayan datang melapor, katanya diluar pintu muncul seekor harimau, sang majikan tidak percaya. Kembali seorang pelayan datang melapor katanya diluar pintu muncul seekor harimau, sang majikan setengah percaya setengah tidak, seorang pelayan kembali datang melapor...."
"Aku nenek tua lebih tidak percaya!"
Teriak Tio Sam-koh dengan penuh kegusaran. Melihat kekerasan nenek tua itu, dengan gusar Ciong Liankhek segera membentak keras.
"Sang harimau telah masuk kedalam pintu!"
"Aku nenek tua sekali hajar membinasakan binatang itu!"
Seru Tio Sam-koh kembali setengah berteriak. Mendengar jawaban tersebut, Cu Im taysu segera tertawa ter-bahak-bahak.
"Haah....haaahh....haaahh.... kalau begitu, Tio lo tay tetap percaya kalau diluar pintu ada harimaunaya bukan?"
Serunya. Sementara itu terdengar Chin Pek-cuan telah berkata.
"Thian Hong, lanjutkan perkataanmu itu!"
Hoa Thian-hong mengangguk, katanya.
"Karena sebilah pedang emas. Ciu It-bong sudah merasakan penderitaan hidup yang tidak menyerupai kehidupan seorang manusia selama belasan tahun lamanya, setelah pedang emas itu munculkan diri, perduli sudah terjatuh ketangan siapapun, dia pasti akan mempertaruhkan nyawanya untuk merebut kembali"
Cu Im taysu menghela napas panjang, katanya.
"Memang disinilah terletak kelemahan watak manusia, Hong kongcu bisa menyelaminya, hal itu membuat pinceng merasa amat kagum"
Merah jengah selembar wajah Hoa Thian-hong, ujarnya kembali.
"Pek Siau-thian berdaya upaya menyekap Ciu It-bong sampai belasan tahun lamanya, itu berarti diapun menaruh perhatian khusus terhadap pedang emas serta berusaha untuk mendapatkannya, dendam sakit hati selaa belasan tahun tak mungkin dibiarkan berlalu dengan begitu saja oleh Ciu Itbong, ia pasti akan berusaha untuk membina sakan Pek Siauthian serta melampiaskan rasa mendongkol yang disiap kannya selama ini di dalam hati. Andaikata pedang emas benar-benar berada ditangan Thian Ik-cu, sekalipun antara pihak Sin-kie-pang ser ta Thong-thian-kauw sudah ada perjanjian untuk bersekutu, Pek Siau-thian tak mungkin mengerahkan segenap kekuatannya untuk turun gelanggang, dia pasti akan berusaha untuk menjauhkan diri dari pertentangan tersebut"
"Bandit-bandit dari kalangan hitam memang merupakan manusia bangsa kurcaci yang gampang melupakan budi, untuk kepentingan diri sendiri mudah saja mereka berganti haluan"
Ujar Ciong Lian-khek.
"Itulah dia,"
Sambung Hoa Thian-hong lebih jauh.
"kalau pedang emas benar-benar muncul didalam pedang mustika Poan liong poo kiam milik Thian Ik-cu, Jin Hian pasti akan menuduh Thian Ik-cu sebagai pembunuh putranya, sekalipun dia adalah seorang pimpinan suatu perkumpulan besar, dalam keadaan begini tak mungkin ia bisa berpeluk tangan belaka. Asal situasinya sudah berubah jadi begini maka persekongkolan Sin-kie-pang, Hong In Hwee serta Thongthian-kauw untuk menghadapi golongan kitapun tak mungkin bisa diwujudkan kembali!"
"Andaikata pedang emas itu tidak berada didalam pedang pusaka Poan liong poo kiam milik Thian Ik-cu, dan apa yang diucapkan Giok Teng Hujin adalah ucapan yang kosong belaka, apa yang harus kita lakukan?"
Sela Tio Sam-koh dari samping. Mendengar perkataan itu Hoa Thian-hong menghela napas panjang.
"Aaaai....! pembicaraan boanpwee dilakukan dengan dasar mempercayai perkataan dari nona Siang, andaikata perkataan yang di ucapkan adalah kata-kata yang kosong belaka, maka rencana besar kita dalam menghadapi pertarungan besar ini tak berani kukatakan lagi"
Tiba-tiba Li hoa siancu berkata.
"Leng-ci berusia seribu tahun adalah benda langka yang sukar ditemukan didalam kolong langit, kalau aku bersedia menghadiahkan benda tersebut kepada seorang, itu berarti bahwa akupun bersedia untuk memberikau pula selembar jiwaku kepadanya"
"Akupun berpendapat demikian"
Sambung Ci wi siancu pula.
"Giok Teng Hujin tidak mungkin mempunyai hasrat untuk mencelakai jiwa Siau long, masalah ini adalah suatu masalah yang besar dan serius, tak mungkin ia berani bicara secara ngawur dan sembarangan"
"Thian Hong,"
Tiba-tiba Chin Wan-hong bertanya.
"berapakah usia Giok Teng Hujin itu?"
Hoa Thian-hong tertegun, kemudian jawabnya.
"Sekilas memandang usianya diantara dua puluh satu, dua tahunan, yang benar berapa dia tak pernah mengakuinya sendiri, ada apa sih engkau tanyakan tentang persoalan ini?"
Chin Wan-hong tersenyum.
"Aku sedang menyelidiki apakah pertanyaannya itu bisa dipercaya atau tidak...."
Setelah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh.
"Ia menyebut diriya sebagai hujin, apakah ia telah mempunyai suami....?"
"Aku rasa tidak!"
Tio Sam-koh yang mendengarkan pembicaraan itu, diamdiam berpikir didalam hatinya.
"Hmmm! anak perempuan benar-benar musingkan kepala, dunia mau ambruk tidak digubris, yang dipikirkan cuma merebut orang laki saja...."
Berpikir sampai disini, ia segera berpaling ke arah Hoa Hujin yang berada disisinya dan bertanya.
"Sebenarnya Siang Tang Lay sudah mati atau masih hidup?"
"Setelah berhasil kami selamatkan jiwanya tempo dulu, keadaannya amat payah, empat otot besar pada anggota badannya sudah putus, ilmu silatnya punah dan tubuhnya telah menjadi cacat, setelah Goan Siu menghantar dirinya pulang ke wilayah See Ih, kabar beritanya tiba-tiba terputus dan aku sendiri pun tak tahu apakah dia masih hidup di kolong langit atau tidak"
"Kecuali mempunyai seorang Putri, masih ada siapa lagi yang punya bubungan dengan dirinya? apakah dia mempunyai anak murid?"
Hoa Hujin segera menggeleng.
"Pada waktu itu Siang Tang Lay sudah berputus asa dan orangnya jadi pemurung sekali, ketika Goan Siu mengantar dirinya melakukan perjalanau sejauh puluhan laksa li dalam waktu empat bulan, dan sendiripun masih belum dapat menyelami perasaan hatinya"
Setelah berpikir sebentar, sambungnya lebih jauh.
"Setelah Goan Siu menghantar dia sampai diwilayah See Ih, diapun menghadiahkan pedang berat terbuat dari baja itu untuk dirinya dan sejak itulah mereka berpisah, untuk selanjutnya apakah Siang Tang Lay beristri dan beranak, apakah dia mempunyai murid? Goan Siu sama sekali tidak tahu"
"Oooh....! rupanya pedang baja yang amat berat milik Sang ji adalah hadiah dari Siang Tang Lay, barang pusaka yang dia miliki benar-benar amat banyak, bukan saja ada pedang emas bahkan Leng-ci berusia seribu tahun pun dimiliki olehnya"
Setelah tertegun sebentar, sambungnya kembali.
"Kalau memang putri Siang Tang Lay bisa menghadiakan Leng-ci berusia seribu tahun itu untuk orang lain, bukankah itu berarti bahwa penyakit cacad yang diderita Siang Tang Lay telah sembuh?"
"Itu belum tentu"
Jawab Chin Pek-cuan sambil tertawa.
"bukankah didalam cupu-cupunya manusia pincang she Lie penuh berisikan obat mujarab yang bisa menghidupkan kembali orang mati? namun justru kakinya yang pincang tak mampu untuk disembuhkan"
"Chin loo ji, apakah engkau ada maksud untuk mencari gara-gara dan ribut dengan aku nenek tua?"
Bentak Tio Samkoh dengan gusar.
"Aku tidask berani! buru-buru Chin Pek-cuan berseru sambil tertawa. Dengan suara berat Ciong Lian-khek pun berkata.
"Thin Hong, kalau keadaannya memang begitu, terpaksa kita harus maju terus pantang mundur, tapi pedang emas disembunyikan didalam pedang mustika Poan lio ng poo kiam milik Thian Ikcu, menurut pendapat mu apa yang harus Kita lakukan untuk membongkar rahasia tersebut?"
"Boanpwee pernah memikirkan persoalan ini, aku merasa andaikata kita bongkar dengan menggunakan kata-kata, maka orang lain malah justru akan menaruh cunga bahwasanya sengaja Kita sedang mengadu domba dan menggunakan siasat"
Jilid 3 SEMUA orang menganggut dengan mulut membungkam, mereka menantikan perkataan pemuda itu lebih jauh.
Dengan sorot mata yang tajam, Hoa Thian-hong menyapu sekejap wajah para jaga, kemudian katanya lebih jauh.
"Menurut pendapat boanpwce, lebih baik sebelum kejadian kita tentukan lebih dahulu seseorang, sebelum pertarungan massal berkobar kita tantang Thian Ik-cu lebih dahulu serta berusaha keras untuk menggetar kutungkan pedang Poan liong Poo kiam miliknya itu!"
Mendengar perkataan ini semua orang segera saling berpandangan dengan mulut membungkam, dalam hati mereka pun memikirkan siapakah orang yang cocok untuk maju pada babak pertama ini serta mengambil oper tugas tersebut.
Tiba-tiba Cu Im taysu berkata.
"Hoa Hujin, pekerjaan itu merupakan suatu pekerjaan yang berat dan maha penting, aku lihat terpaksa hujin harus turun tangan sendiri"
Hoa Hujin termenung beberapa saat lamanya, kemudian sambil menghela napas, ia gelengkan kepalanya berulang kali.
"Sejak permulaan sampai sekarang, aku orang Bun Siau-ih tak pernah menggunakan senjata, kalau dikatakan untuk membereskan jiwa Thian Ik-cu memang gampang sekali, tapi untuk menggetarkan pedang mustikanya sampai kuntung pekerjaan ini terlalu sulit"
"Aneh benar!"
Teriak Tio Sam-koh dengan dahi berkerut.
"kalau memang untuk membereskan jiwa Thian Ik-cu gampang sekali, apa salahnya kalau sekali hantam kau bereskan saja bajingan-bajingan itu?"
Hoa Hujin tertawa getir.
"Sam-koh, terus terang saja kukatakan bahwa tenaga pukulan yang kumiliki pada saat ini mungkin tak akan mampu ditahan oleh siapapun juga di kolong langit dewasa ini"
"Bagus sekali, kalau memang begtu kenapa engkau harus sungkan-sungkan lagi?"
"Aaai....! Sam-koh dengarkan dahulu perkataanku!"
"Katakanlah! aku nenek tua akan mendengarkan."
Hoa Hujin menghela nafas panjang ujarnya.
"Tenaga pukulan yang kumiliki bagaikan air dalam gentong saja lebih banyak serangan yang dipergunakan makin berkurang tenaga pukulanku jumlah pukulan yang bisa kupergunakanpun tertentu sekali jumlahnya"
"Lalu berapa banyak pukulan yang mampu kau lancarkan?"
Tanya Tio Sam-koh dengan hati tercengang.
"Itu sih tidak menentu, tenaga pukulanku bisa digunakan dalam satu kali pukulan belaka dapat pula dipergunakan secara menghemat dan sampai beberapa puluh pukulan"
"Heeehh.... heeehh.... heeehhh....selamanya engkau memang paling suka memperhatikan segala macam keanehan!"
Seru Tio Sam-koh sambil gelengkan kepalanya berulang kali.
"Ibu!"
Tiba-tiba Hoa Thian-hong berseru.
"bila tenaga pukulanmu telah habis dipergunakan maka bagaimanakah dengan kesehatan badanmu?"
Cu Im taysu menghela napas panjang, pikirnya.
"Kebaktian bocah ini terhadap ibunya benar-benar tak dapat dibandingkan dengan orang lain"
Tampak Hoa Hujin tersanyum, sambil memandang ke arah putra kesayangannya, ia berkata.
"Semua harapan pada saat ini terletak di atas pundak kita, sudah sepantasnya kalau kita berusaha untuk menghindarkan diri dari pertanyaan itu, timbullah perasaan curiga dalam hati Hoa Thian-hong, tanyanya lebih jauh.
"Bagaimana dengan luka lama yang ibu derita? dan pukulan beracun itu...."
"Engkau tak usah banyak bertanya!"
Tukas Hoa Hujin cepat. Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba ujarnya lagi dengan suara lembut.
"Akupun tak akan mengelabuhi dirimu, luka racun yang kuderita akibat serangan tempo hari berhasil kusanding dengan tenaga da lamku, jikala tenaga murniku habis digunakan maka luka racun itu akan kambuh kembali"
Hoa Thian-hong jadi amat terperanjat.
"Bukankah pada waktu itu keadaan jadi payah sekali....!"
Tiba-tiba ia temukan wajah ibunya diliputi perasaan tak senang hati, buru-buru ia tutup mulut tidak berbicara lagi.
"Hujin, ilmu pukulan apa sih yang kau pelajari? kenapa gejalanya sama sekali bertolak belakang dalam keadaan pada umumnya?"
Tanya Cu Im taysu kemudian.
"apakah engkau dapat memberi keterangan sehingga pin ceng sekalipun dapat menambah pengetahuan?"
"Ilmu telapak yang aku pelajari adalah peleburan antara ilmu telapak Thian lui ciang pukulan geledek dengan Hek sat ciang ilmu pukulan malaikat hitam ilmu sesat aliran kiri bukanlah suatu kepandaian yang patut dibanggakan"
Cu Im taysu mengerutkan dahinya mendengar ucapan tersebut katanya.
"Seringkali aku dengar orang berkata bahwa ilmu Thian lui ciang ialah ilmu pukulan yang paling keras di kolong langit sebaliknya ilmu pukulan Hek sat ciang adalah...."
Hoa Hujin menangkap tangannya dan tertawa.
"Ilmu pukulan Hek sat ciang terdiri dari banyak ragamnya, sifat racun yang dìgunungpun berbeda-beda, dan yang mengandalkan racun bangkai, racun ular, racun tumbuhtumbuhan dan juga racun yang bersipat dingin, meskipun begitu kebanyakan racun yang dipakai adalah racun yang ada dalam jagad, dengan dilatih secara tekun maka racun itu mencampur baur dengan angin pukulan, siapa yang terhantam isi perutnya pasti luka keracunan, sebaliknya racun yang kugunakan adalah racun batu yang ada didaftar perut bumi!"
Setelah berhenti sebentar, sambil tertawa getir sambungnya lagi.
"Racun ini ganas sekali, siapa yang terkena pasti mati.... Harimau ganas mengandalkan air sungai.... kalau dibicarakan benar-benar memalukan sekali!"
Tanpa sadar sorot mata semua orang dialihkan ke arah telapak tangannya yang putih mulus itu, tampaklah sekilas gumpalan hitam tercekat pada telapak tangannya, gumpalan hitam itu melompat-lompat seperti mau loncat keluar, membuat orang yang melihat jadi ngeri rasanya.
Setelah suasana hening beberapa saat lamanya, tiba-tiba Ciong Lian-khek berkata kembali dengan suara lantang.
"Taysu, engkau gunakan senjata sekop menggantikan senjata toya, setelah berlatih sepuluh tahun pasti sudah mendapatkan kemajuan yang pesat bukan....? bagaimana kalau tugas berat pada pertarungan babak pertama ini kubebankan kepadamu?"
Mendengar pertanyaan tersebut, mula-mula Cu Im taysu nampak agak tertegun kemudian dengan kepala tertunduk termenung beberapa saat lamanya. Seperminum teh kemudian dia angkat kepala dan menjura.
"Sejak kekalahan dalam pertemuan besar Pak beng hwee, pinceng telah mengasingkan diri selama sepuluh tahun lamanya tanpa seharipun berani angkat kepala, dalam pertemuan Kian ciau tayhwee nanti, walaupun aku masih belum mampu untuk membebaskan jiwa Thian Ik-cu, namun untuk mempertaruhkan jiwa guna menggetar kutung pedang mustika milik imam tua itu, pinceng yakin masih mampu untuk melakukannya"
"Luar biasa! apakah engkau ingin melatih dirimu jadi Budha dan selamanya tidak mati?"
Teriak Tio Sam-koh "Demi keadilan serta kebenaran pinceng tidak takut mengorbankan jiwa ragaku, cuma saja Thian Ik-cu adalah seorang ketua perkumpulan besar, lagi pula tuan rumah penyelenggaraan pertemuan besar Kian ciau tayhwee, sedangkan pinceng bukan seorang jagoan yang kenamaan, berada dihadapan para jago dari seluruh jagad, kendatipun pinceng mengajukan tantangan untuk berduel, belum tentu Thian Ik-cu bersedia untuk melayaninya"
"Kau maki saja nenek moyang delapan belas turunanya, masa dia tetap tidak akan ambil perduli!"
Seru Tio Sam-koh dengan gusar. Cu Im taysu agak tertegun mendengar perkataan itu, sambil tertawa segera ujarnya.
"Thian Ik-cu adalah seorang pemimpin tertinggi dari perkumpulannya, ia pasti akan mengutus jago lihay lainnya untuk melayani tantanganku itu, aku lihat ilmu silat yang dimiliki Tio lo tay jauh lebih tinggi daripada kepandaian pinceng...."
Lihay atau tidak kenapa!"
Seru Tio Sam-koh dengan mata melotot besar, apakah aku nenek tua kalah dengan dirimu?"
Hoa Hujin segera goyangkan tangannya berulang kali, serunya agak keras.
"Sam-koh, buat apa sih musii bersilat lidah? persoalan ini amat serius sekali."
"Thian Ik-cu sebagai tuan rumah bagi diselenggaranya pertemuan besar Kian ciau tayhwee, sebelum mencapai babak terakhir tak mungkin ia bersedia untuk turun tangan sendiri...."
"Kalau memang begitu, apa itu pedang emas pedang perak, bukankah kita sudah bicarakan persoalan itu dengan percuma saja?"
Teriak Tio Sam-koh kembali.
"Engkau tak usah terburu nafsu, sebodoh-bodohnya manusia pasti akan berhasil juga, mari kita berunding kembali persoalan ini secara masak, akhirnya kita pasti akan berhasil mendapatkan suatu cara yang baik!"
"Siau long, mampukah engkau menangkan Thong-thiankauwcu?"
Tiba-tiba Li hoa siancu bertanya.
"Aku sama sekali tak becus!"
Jawab Hoa Thian-hong dengan wajah agak jengah.
"bicara yang sesungguhnya aku masih bukan tandingan dari Thian Ik-cu...."
Li hoa siancu segera menghela napas panjang, ujarnya.
"Thian Ik-cu adalah salah seorang diantara musuh-musuh besar pembunuh ayahmu, jikalau engkau menggunakan dalih hendak menuntut balas bagi kematian ayahmu, berada dihadapan umum mungkin saja Thian Ik-cu terpaksa harus munculkan diri untuk melayani dirimu, lagipula engkau masih muda dan merupakan angkatan yang lebih muda, siapa tahu kalau Thian Ik-cu merasa yakin dapat menangkan dirimu dan segera turun tangan melayani tantanganmu itu...."
"Perkataan ji suci sedikitpun tidak salah"
Sahut Hoa Thianhong. Sambil menggertak gigi, ujarnya kembali.
"Sebenarnya aku ingin sekali mengatakan imam siluman itu untuk berduel satu lawan satu, aku hanya kuatir kekalahanku bakal mempengaruhi semua keadaan!"
Tio Sam-koh yang semakin berpikir semakin kesal, tiba-tiba loncat bangun dari atas tanah dan beteriak sambil menghantamkan tongkat besinya keatas tanah.
"Perahu yang tiba diujung jembatan tentu akan lurus sendiri! siapa kalau berani bicara tidak keruan lagi, jangan salahkan kalau aku nenek tua segera akan memberi hadiah satu pukulan yang keras"
OoooOoooo "PERKATAAN dari Tio lo tay tidak salah!"
Seru Chin Pekcuan pula dengan suara keras.
"daripada duduk sambil berbicara lebih baik kita gunakan kesempatan ini untuk berlatih ilmu silatnya sendiri-sendiri...."
Pada saat itu fajar telah menyingsing diufuk sebelah timur, diatas bukit tampaklah jago-jago dari kalangan lurus itu sedang melatih ilmu silatnya masing-masing dengan tekun dan rajin.
Hoa Hujin duduk diatas batu gunung sambil menyaksikan putranya berlatih ilmu pedang, Hoa Thian-hong sendiri dengan gerak naga langkah harimau memainkan pedang bajanya dengan penuh bersemangat, dibawah sinar matahari tampaklah cahaya tajam memancar keempat penjuru menyilaukan mata orang, angin pedang menderu-deru amat memekikkan telinga.
Li hoa siancu maju mendekati, lalu berkata sambil tertawa.
"Sewaktu masih berada diselat Bu hiang kok tahun berselang, ilmu silat yang dimiliki siau long masih belum dapat menangkan diriku, tapi sekarang agaknya lima puluh gebrakanpun aku sudah tak mampu untuk melayani dirinya...."
Tiga dewi dari wilayah Biau adalah tamu terhormat, Hoa Hujin tak berani bersikap ayal, segera ia tersenyum sambil menjawab.
"Nona memiliki kepandaian ahli dibidang lain, tentu saja kemajuan yang diperoleh dalam bidang ilmu silat agak lambat!"
Ci wi siancu pun berjalan mendekat, lalu menimbrung dari samping.
"Hujin, ilmu pedang siau long meskipun hanya terdiri dari enam belas jurus belaka akan tetapi setiap kali tampaklah muncul gerakan-gerakan baru yang serba aneh dan belum pernah terlihat sebelumnya, setelah kuamati dengan lebih seksama terasa olehku bahwasanya keenam belas jurus ilmu pedang itu merupakan serangkaian garis besar dari suatu kepandaian belaka, sedangkan isinya sebenar nya amat luas dan memiliki perubahan yang tak terhitung banyaknya"
Hoa Hujin menghela napas panjang katanya.
"Rangkaian ilmu pedang itu sebenarnya merupakan hasil ciptaan dari mediang ayahku, sayang sekali waktu berlatih terlalu singkat sehingga seng ji tak mampu untuk melatih inti sari yang sebenarnya"
Ditengah pembicaraan, Hoa Thian-hong telah selesai memainkan jurus pedangnya, baru saja tarik kembali senjatanya untuk minta petunjuk pada ibunya, tiba-tiba terdengar Ciong liang kek membentak keras.
"Thian Hong, lihat pedang!"
Hoa Thian-hong tertegun, bayangan manusia berkelebat dan cahaya tajam pun tahu-tahu sudah muncul didepan mata, membuat si anak muda itu terpaksa harus cepat-cepat menggerakkan pedangnya untuk menyambut datangnya serangan tersebut.
"Lihat pedang, lihat pedang!"
Bentak Ciong liang kek berulang kali.
Ditengah bentakan keras pedangnya laksana sambaran dan ledakan guntur berkilauan memenuhi angkasa, seranganserangan gencar yang dilancarkan semuanya ditujukan ke arah jalan darah penting diseluruh badan Hoa Thian-hong.
Dalam keadaan begitu, terpaksa pemria she Hoa itu harus putar pedangnya untuk menyambut serangan musuh namun lama kelamaan ia merasa kepayahan, segera pikirnya.
"Locianpwee turun tangan begini gencar, aku mana sanggup untuk melayaninya....?"
"Ayolah menyarang secara benar-benar....!"
Tiba-tibaa Ciong Lian-khek membentak dengan penuh kegusaran. Hoa Hujin termenung sebentar, kemudian iapun ikut berseru dengan suara lantang.
"Ciong lian cianpwee ada maksud untuk menggembleng dirimu Seng ji! layanilah dengan sepenuh tenaga"
Hoa Thian-hong merasakan semangatnya berkobar, ia membentak keras dan pedangnya segera disapu kedepan untuk menolong posisinya.
"Bukankah engkau berhasrat untuk menggetarkan pedang pusaka Poan liong poo kian milik Thian Ik-cu sewaktu diselenggarakannya pertemuan besar Hian ciau tayhwee? Nah! layani dulu serangan pedangku ini!"
Seru Ciong Lian-khek dengan suara lantang.
"Boanpwee tak berani bertindak kurang ajar"
Sahut Hoa Thian-hong sambil putar senjata untuk menyambut datangnya ancaman musuh.
"Hmm! tak usah bicara begitu, belum tentu engkau mampu untuk menggetarkan pedang ku ini...."
"Sungguh gagah dan bersemangat locianpwee ini"
Pikir Hoa Thian-hong didalam hati.
"kalau aku bertindak sungkansungkan terus, justru tindakanku ini malahan akan bangkitkan kemarahannya...."
Berpikir demikian, ia segera menggetarkan pedangnya dan langsung menerjang ke arah pedang lawan.
"Kurang ajar!"
Bentak Ciong Lian-khek.
Ujung pedangnya segera menggetarkan berpuluh-puluh bunga perak yang menyiliaukan mata, dengan suatu gerakan cepat, ia serang dada pemuda itu.
Hoa Thian-hong terkesiap, sekuat tenaga ia loncat kebelakang sejauh beberapa tombak dari tempat semula, ketika ia menengok ke atas dadanya maka tampaklah pakaian yang dia kenakan telah bertambah dengan dua puluh buah lubang kecil yang rumit dan rapi.
Hoa Hujin segera tertawa dan memuji.
"Suatu jurus Cu sian tiau keng atau para dewa menghadap atasan yang sangat indah, aku rasa kesempurnaan ilmu pedang yang dimiliki Thian Ik-cu tak akan jauh lebih ampuh daripada serangan tersebut.
"Hujin memahami bukan, bahwa kepandaian yang dimiliki bajingan Thian Ik-cu bukan hanya terbatas pada jurus pedang belaka?"
Kata Ciong Lian-khek dengan nada tertawa.
"Untuk menggetarkan pedang lawan hingga patah, engkau harus menyerang ke arah bagian tubuh lawan yang penting dan lemah, kalau menyerang pedang lawan secara ngawur begitu, bukan sama artinya mencari jalan kematian buat diri sendiri?"
Merah padam selembar wajah Hoa Thian-hong setelah mendengar perkiraan itu, sahutnya kemudian.
"Boanpwee memang sangat bodoh, sekarang aku telah mengerti!"
Tiba-tiba Cu Im taysu maju menghampiri dan berkata.
"Hoa Hujin, setelah pinceng berpikir pulang pergi, aku segera merasa kendatipun setiap saat dan setiap detik kita melatih ilmu silat kita secara tekun dan rajin setetes demi setetes dikumpulkan hal itu tidaklah mendatangkan manfaat yang terlalu banyak, lain halnya dengan Thian Hong, mula-mula tenaga dalamnya memperoleh kemajuan pesat karena pengaruh racun teratai empedu api kemudian badannya jadi enteng karena pengaruh Leng-ci berusia seribu tahun, hal ini membuat dia memiliki dasar kekuatan yang benar-benar sangat tangguh, sepantasnya kalau kita gembleng dirinya secara tekun dan rajin sebab dialah satu-satunya kekuatan yang bisa kita harapkan serta andalkan"
"Budi kebaikan taysu sangat mengharukan hati kami berdua"
Ujar Hoa Hujin dengan serius. Setelah termenung beberapa saat lamanya, tiba-tiba ia berpaling ke arah Hoa Thian-hong dan berseru.
"Seng Ji, berlutut!!"
Buru-buru Hoa Thian-hong maju kedepan dan jatuhkan diri berlutut diatas tanah, katanya.
"Ananda siap mendengarkan nasihat ibu!"
Dengan suara dalam Hoa Hujin segera berkata.
"Cu Im taysu serta Ciong lian cianpwee adalah sahabat karib mendiang ayahmu, setelah cianpwee berdua maksud untuk menggembleng engkau jadi naga maka engkau harus berjuang secara tekun dan rajin untuk mencapai tingkat seperti yang diharapkan, janganlah sampai engkau menyianyiakan maksud baik dari kedua orang cianpwee itu"
Hoa Thian-hong mengiakan, ia segera memberi hormat kepada Cu Im taysu serta Ciong Lian-khek sambil berkata.
"Terima kasih banyak atas kesediaan locianpwee untuk membimbing seria membina diriku"
"Tak usah banyak adat!"
Seru Ciong lian-kek sambil ulapkan tangannya.
"keluarkan segenap kepandaian yang kau miliki, lebih cepat ia mampu mengalahkan kami berarti kekuatan bagi rombongan kita jauh lebih kuat dan ini berarti harapan kita untuk melanjutkan hidupun semakin besar!"
Hoa Thian segera bangkit berdiri, sambil memberi hormat, serunya kembali.
"Boanpwee akan berusaha dengan sepenuh tenaga, aku tak akan berani bermalas-malasan!"
Air muka Ciong Lian-khek tetap hambar, pedangnya direntangkan kedepan menerjang maju kedepan.
Buru-buru Hoa Thian-hong putar pedang menyambut datangnya serangan, seluruh perhatiannya dicurahkan jadi satu untuk mengha dapi pertempuran itu, sedikitpun ia tak berani berayal.
Ilmu pedang yang dimiliki Ciong Lian-khek mengutamakan keganasan serta ketelengasan, dengan bantuan tenaga dalamnya yang amat sempurna, boleh dibilang setiap serangannya disertai desingan angin tajam.
Sebaliknya ilmu pedang yang dipergunakan Hoa Thianhong lebih bersifat terbuka namun kokoh dalam pertahanan dan tajam dalam serangan, meskipun sudah bertempur lima enam puluh jurus lebih, namun kedua belah pihak masih tetap bertahan dalam posisi seimbang.
Hoa Hujin yang mengikuti jalannya pertempuran dari sisi arena, tiba-tiba berseru dengan suara berat.
"Keluar dari posisi Bu wong menuju ke tempat kedudukan Kui wi, gunakan jurus Hang hui ciy thian atau pelangi melayang diangkasa serta Liong Can ek ya atau naga bertarung ditanah liat"
Beberapa patah kata itu diutarakan amat cepat, Hoa Thianhong tak sempat berpikir panjang lagi segera geserkan langkahnya dua tindak kesamping, pedang digetarkan keatas dan....
Sreeeet!
Sreeet!
secara beruntun melancarkan dua babatan kilat.
Kedua jurus serangan tersehat merupakan jurus kesebelas dan kedua belas dari rangkaian ilmu pedang yang dipelajari Hoa Thian-hong serta entah berapa ribu kali, sekali bergerak serangannya secara otomatis meluncur keluar dengan sedirinya.
Ciong Lian-khek sendiri ketika mendengar Hoa Hujin memberi petunjuk kepada putranya, satu ingatan segera berkelebat dalam benaknya, pedang panjang dengan cepat menerjang maju kedepan.
Tampaklah pedang baja Hoa Thian-hong mencuak keatas, mula-mula memunahkan serangan yang dilancarkan olehnya, baru saja dia akan berubah jurus serangan mendadak pedang si anak muda itu dengan jurus Liong can ek ya telah membabat pinggangnya.
Dalam keadaan begini, bagi Ciong Lian-khek kecuali menangkis datangnya ancaman tersebut satu-satunya jalan loncat mundur keluar gelanggang.
Namun rupanya ia sudah mempunyai perhitungan, disaat yang kritis pedangnya segera di ayun kesamping dan berpapasan dengan pedang baja Hoan Thian Hong, meskipun begitu senjatanya sama sekali tidak terbentur olehnya.
Cu Im taysu segera tertawa dan berseru.
"Hujin benarbenar sangat lihay, Cong liang heng pun hebat sekali!"
Sambil siapkan senjata sekopnya, ia segera berseru.
"Bersiap-siaplah, pinceng akan turut terjun ke dalam gelanggang!"
Setelah mendapat petunjuk dari ibunya, Hoa Thian-hong berhasil memperbaiki posisinya tetapi baru saja menghembuskan napas lega mendadak terasalah cahaya perak berkilauan diangkasa, segulung desiran angin tajam tahu-tahu sudah menghantam batok kepalanya.
Ia sudah pernah merasakan kelihayan dari Cu Im laysu dan mengetahui pula kalau di balik senjata sekopnya itu tersimpan tenaga raksasa seberat ribuan kali, ia tak menerima keras lawan keras, badannya segera berkelit kesamping dan menerjang Ciong Lian-khek.
Terdengar Co Im taysu membentak keras, angin tajam berhembus lewat sekali lagi, senjata sekop yang berat meluncur datang kembali, sedangkan Ciong Lian-khek pun ambil kesempatan itu mengirim satu pukulan kembali ke arah depan.
Dengan kerja sama dari kedua orang ini, boleh dibilang serangan-serangan yang dilancarkan termasuk kuat dan ampuh, Hoa Thitan Hong yang harus menghadapi serangan dua orang sekaligus jadi keteter hebat.
"Criiing....! senjata sekop Cu Im taysu menyambar lewat menggetarkan pedang baja dari Hoa Thian-hong hingga mencelat keang kasa, sementara Ciong Lian-khek dengan tak kenal ampun segera melancatkan satu tusukan kilat ke arah tubuhnya. Hoa Thian-hong malu bercampur cemas, sekuat tenaga ia loncat ke tengah udara dan menyambar kembali pedang bajanya.
"Hmm! engkau begitu tak becus, namun ambisinya besar sekali"
Seru Ciong Lian-khek dengan ketus.
"dengan andalkan kepandaian seperti itu engkau ingin merebut kekuasaan dengan Thian Ik imam? bajingan itu. Heeh....heeh....heeh. benar-benar omong kosong"
"Dalam menghadapi pertarungan seseorang tidak boleh mempunyai perasaan mengalah, kepandaian silat apa saja yang kau miliki? ayoh keluarkan semua....!"
"Maaf kalau boanpwee tak tahu adat!"
Seru Hoa Thianhong dengan wajah jengah. Ia segera menerjang maju kedepan, pedar nya langsung menerjang tubuh Cu Im taysu.
"Hmm! kalau engkau tak mampu menangkan taysu serta diriku, dalam pertemuan besar Kian ciau tayhwee, engkau tak ada kesempatan untuk tampil kedepan!"
Seru Ciong Lian-khek kembali dengan dingin.
Sembari berkata, pedangnya berputar kencang, dalam waktu singkat ia sudah melancarkan tujuh buah serangan kilat.
Hoa Thian-hong segera mengerahkan segenap kemampuannya untuk menangkis datangnya seranganserangan kilat dari Cu Im taysu serta Ciong Lian-khek, walaupun begitu posisinya masih tetap terdesak dan kalang kabut.
Tiba-tiba terdengar Li hoa siansu berkata sambil tertawa.
"Hoa Hujin, usia siaulong masih terlalu muda, mana dia mampu untuk menghadapi serangan gabungan dari dua orang cianpwee? lebih baik biarlah kami kakak beradik yang melayani dirinya saja, sedang hujin memberi petunjuk dari samping, dengan begitu mungkin hal ini akan jauh lebih bermanfaat bagi dirinya."
"Bagus sekali!"
Pikir Hoa Thian-hong di dalam hati.
"sampai-sampai Li hoa cicipun tidak pandang sebelah matapun terhadap diriku!"
Meskipun pendidikan yang diberikan Hoa Hujin terhadap putranya sangat keras, akan tetapi Hoa Thian-hong sebagai pemuda yang berdarah panas, ia tak tahan mendengar rangsangan dan akhirnya timbullah perasaan ingin menang dalam hati kecilnya, tanpa sadar pula semangat bertempurpun semakin meningkat, tidak menggubris apa yang diucapkan oleh Hoa Hujin lagi, ia segera membentak keras berulang kali dan pedang bajanya melancarkan serangan balasan dengan sepenuh tenaga.
Dalam sekejap mata, cahaya tajam membumbung tinggi diangkasa, dari posisi bertahan ia berubah jadi posisi menyerang.
Sekalipun begitu, namun sayang sekali dalam beberapa saat kemudian ia sudah terdesak kembali oleh seranganserangan gabungan sekop dan pedang itu hingga terdesak diatas tanah.
Dengan saksama Hoa Hujin mengikuti terus jalannya pertarungan antara ketiga orang itu, melihat Hoa Thian-hong sudah lemah tak bertenaga lagi ia segera berseru.
"Gunakan jurus Hok tok han tong bangau sakti terbang dikolam, Sa in cion bong em empat penjuru sunyi senyap, Im yang ji kek dua kekuatan Im yang serta Po goan siu it pusat pikiran jadi satu!"
Keempat jurus tersebut merupakan jurus-jurus ampuh dalam ilmu pedang yang dipelajari Hoa Thian-hong begitu cepatnya Hoa Hujin menyebutkan nama dari jurus-jurus serangan itu membuat orang yang berada disampingnya boleh dibilang sama sekali tak sempat mendengar dengan jelas.
Tetapi bagi Hoa Thian-hong yang mempelajari ilmu silat tersebut dari Hoa Hujin, boleh dibilang antara kedua orang itu sudah memiliki ikatan batin yang kuat, mendengar seruan tersebut pedang baja ditangan Hoa Thian-hong segera berputar cepat dalam waktu singkat keempat buah jurus serangan tersebut sudah dikerahkan keluar semua.
Ketika ia gunakan jurus Im yang ji kek, pedang ditangannya berputar dari arah kiri menuju ke arah kanan, begitu tepat dan manis penggunaan jurus pedang tersebut membuat dua orang lawannya terdesak mundur satu langkah kebelakang.
Ciong Lian-khek yang berada disebelah kiri, setelah mundur segera maju kembali kedepan, pedangpun ikut menyerang kedepan.
Siapa tahu, setelah melancarkan tiga jurus serangan tadi, mendadak Hoa Thian-hong silangkan pedangnya didepan dada, tubuhnya berputar kencang dan pedangnya menerjang kedepan, nampaknya pedang baja itu segera akan saling membentur dengan senjata lawan.
Selama hidup Ciong Lian-khek membenamkan diri untuk mendalami ilmu pedangnya, tenaga dalam yang dimilili boleh dibilang sudah mencapai kesempurnaan yang luar biasa, ketika menyaksikan gelagat kurang baik, dia segera buyarkan serangan sambil menahan diri.
Hoa Hujin yantg menyaksikan kejadian itu, bersiap untuk memberi perintah kepada Hoa Thian-hong untuk menggunakan jurus Lak hoo kui it atau enam bergabung satu untuk mengobrak-abrik pertahanan.
Ciong Lian-khek mendadak teringat olehnya bahwa tenaga dalam yang dimiliki Hoa Thian-hong belum mencapai puncaknya serangan yang dilancarkan secara paksa belum tentu mampu hasilkan tenaga sebesar sepuluh bagian, maka ingatan lain berkelebat dalam benaknya, ia segera membentak keras.
"Gunakan jurus Kiu thian cu lay atau sembilan langit menutup seruling serta Kun siu ci tau!"
Sementara itu, ketika menyaksikan datangnya ancaman sekop yang dilancarkan Cu im taysu, Hoa Thian-hong memang berhasrat untuk mempergunakan jurus serangan Kiu thian cu lay, mendengar seruan tersebut ia jadi semakin bersemangat, pedang bajanya segera diayun kedepan membabat sepasang lengan Cu Im taysu sedangkan telapak kirinya menghajar Ciong Lian-khek.
Traaang....!
Pedang baja saling membentur dengan senjata sekop hingga menimbulkan suara dentingan yang amat nyaring, tubuh Cu Im taysu terbendung kebelakang sebaliknya Hoa Thian-hong terdorong mundur satu langkah kebelakang dengan sempoyongan.
Meskipun pedang bajamerupakan benda yang keras namun senjata sekop dari Cu Im taysu pun merupakan tenaga raksasa yang luar biasa, dalam bentrokan tersebut sama sekali tak cedera sebaliknya tubuh Hoa Thiang Hong malahan tergetar keras.
Dengan termakannya oleh getaran tersebut, serangan yang dilancarkan dengan tangan kirinya pun melesat....
Kraaak!
serangan tadi menghajar diatas bahu Ciong Lian-khek.
Ketika ujang telapaknya menempel diatas pakaian, buruburu Hoa Thian-hong menarik kembali serangannya dengan perasaan tak tenang, Cu Im taysu sendiripun menarik kembali senjatanya dan berhenti menyerang hanya Ciong Lian-khek yang membentak kembali.
"Ayo teruskan seranganmu!"
Pedang panjangnya laksana kilat melancarkan serangan kembali. Dalam waktu singkat kedua orang itu sudah terlibat kembali dalam suatu pertempuran yang amat sengit. Diam-diam Hoa Thian-hong berpikir.
"Orang lain tak dapat maju karena susah mendapat bimbingan guru pandai serta kesempatan untuk memperdalam ilmunya, sedangkan aku sudah mendapatkan kasih sayang dari orang tuaku, bisa mempelajari il mu silat tangguh dan lagi ada pula para cianpwee yang bersedia mengobankan waktu serta tenaga untuk menggembleng diriku, kalau aku tidak dapat memanfaatkan kesempatan ini serta mencapai tingkat ilmu silat yang tinggi, bukankah kemampuanku ini ibaratnya kentut anjing yang busuk dan sama sekali tak ada gunanya?"
Berpikir sampai disini, semangatnya segera berkobar, pedang bajanya berputar makin kencang dan berusaha untuk menyerobot posisi yang menguntungkan, hal ini memancing berkobarnya semangar Cu Im taysu serta Ciong Lian-khek untuk lebih memusatkan perhatiannya pada permainsn senjata, jurus demi jurus dilancarkan semakin gencar dan sedikitpun tiada maksud untuk mengendorkan serangan.
Hoa Hujin sendiripan lebih bersemangat serta lebih sering memberi petunjuk kepada putranya, hal ini membuat Hoa Thian-hong tak bisa menang juga tak dapat kalah, pertarungan sengit berlangsung terus dengan ramainya.
Ditengah berlangsungnya pertarungan sengit, tiba-tiba senjata sekop dari Cu Im taysu menggunakan jurus-jurus ampuh yang paling rahasia, secara beruntun ia memaksa Thian Hong jadi gugup dan kalang Kabut tak karuan, terdesak hebat hingga kacau dalam pertahanan.
Menggunakan kesempatan yang sangat baik itu, Ciong Lian-khek segera menyerang dengan serangan-serangan ampuh, memaksa Hoa Thian-hong harus merghindar berulangkali, tanpa sadar ia mundur semakin mendekati ibunya.
Tiba-tiba terdengar Cu Im taysu membentak keras, cahaya perak berkilauan memenuhi seluruh angkasa, dan tahu-tahu senjata sekop itu sudah muncul diatas pinggang Hoa Thianhong memaksa si anak muda itu sama sekali tak berkutik lagi.
Sambil menarik kembali senjata sekopnya, Cu Im taysu berkata.
"Untuk menyaksikan jurus Budbi bertanya soal agama, pinceng harus membutuhkan waktu selama dua bulan lebih sebelum berhasil menggunakan serangan itu dengan leluasa, coba pikirkanlah dengan seksama, apakah engkau mempunyai kepandaian untuk mencegah jurus serangan tersebut?"
Merah padam selembar wajah Hoa Thian-hong setelah mendengar pekataan itu, sambil menyeka air keringat yang membasahi keningnya ia berkata.
"Boanpwee tak dapat memikirkan dengan jurus serangan apakah aku baru bisa memecahkan jurus seranaan tersebut...."
Bicara sampai disini, sorot matanya segera dialihkan ke arah ibunya. Hoa Hujin termenung dan berpikir beberapa saat kemudian, kemudian ujarnya dengan lirih.
"Jurus serangan Budhi menanyakan soal agama dari taysu memang betul-betul hebat dan luar biasa sekali, akupun tak mampu untuk menemukan jurus pemecahan yang jitu"
"Haahhh....haahah....haaahh.... kita toh sesama kawan sealiran, kenapa hujin musti merendahkan diri?"
Seru Ciu Im taysu sambil tertawa terbahak-bahak. Mendadak seperti menyadari akan sesuatu sambil menatap tajam wajah Hoa Thian-hong, katanya.
"Nak, keenam belas jurus ilmu pelang yang kau miliki merupakan kepandaian silat maha ampuh yang ada di kolong langit, engkau harus merubahnya secara teliti dan seksama, janganlah selalu menggantung-kan pada kecerdasan ibumu"
Tiba-tiba terdengar Han In menimbrung dari samping arena.
"Sekarang tengah hari sudah menjelang tiba, bagaimana kalau kalian beristirahat lebih dahulu? setelah bersantap nanti latihan baru dilanjutkan kembali!"
Li hoa siansu pun memandang cuaca sebentar, kemudian teriaknya.
"Sian long, apakah ini hari engkau sudah tidak merasakan lagi gejalagejala mau kambuhnya racun teratai?"
Hoa Thian-hong segera gelengkan kepalanya berulang kali.
"Sama sekali tidak merasakan apa-apa, aku rasa racun teratai itu sudah dicairkan oleh getah Leng-ci berusia seribu tahun"
Mendengar jawab n tersebut, semua orang jadi sangat gembira dan merekapun bersantap siang.
Ternyata latihan pertarungan yang dilangsungkan oleh ketiga orang itu sudah menarik perhatian para jago lainnya sehingga ber sama-sama berkumpul disekitar arena, tanpa terasa setengah hari sudah lewat dengan cepatnya.
Selesai bersantap, Hoa Thian-hong segera menyambar kembali pedang bajanya dan loncat bangun dari atas tanah, serunya sambil memberi hormat.
"Locianpwee berdua, bagaimana kalau kita lanjutkan pertarungan ini?"
"Apakah engkau telah berhasil menemukan bagaimana caranya untuk memunahkan jurus serangan Budhi menanyakan soal agama dari Cu Im taysu itu?"
"Setelah boanpwee berpikir beberapa saat, boanpwee rasa untuk menghadapi jurus serangan Budhi menanyakan soal agama dari taysu, aku dapat mempergunakan jurus Hi Cweng ciu atau ikan lompat ke-dalam sungai untuk mempertahankan diri, cuma saja tenaga dalamku terlalu cetek, gerakan selanjutnya susah untuk dikerjakan, oleh sebab itulah jikalau pedang panjang dari cianpwee menyerang tiba tepat pada waktunya, boanpwee masih tetap tak mampu mempertahankan diri"
"Kalau memang begitu, bukankah engkau sudah pasti bakal menderita luka kekalahan?"
Kata Ciong Lian-khek dengan nada tawar.
"Seandainya benar-benar sedang menghadapi serangan musuh, maka boanpwee akan mempergunakan jurus Thian hoo seng San atau bintang buyar disungai langit untuk mengadu jiwa dengan taysu, sebaliknya andaikata taysu buyarkan serangan maka pedang baja dari boanpwee akan berputar mengancam cianpwee"
"Bintang buyar sungai adalah jurus yang keberapa?"
Tanya Ciong Lian-khek dengan dahi berkerut.
"Jurus terakhir dalam ilmu pedangku"
Jawab Hoa Thianhong, setelah berhenti sebentar sambungnya lebih jauh.
"Cuma saja, berada dihadapan taysu serta cianpwee yang berkepandaian tinggi, dalam keadaan tenaga dalam tak cukup tentu saja sukar untuk mewujudkan harapanku itu"
Rasa sedih melintas diatas wajah Ciong Lian-khek, keluhnya.
"Bicara pulang pergi yang paling penting adalah tenaga dalammu tidak mencukupi, aaai....! seratus hari berlatih golok, seribu hari berlatih pedang, sebenarnya hanya suatu pekerjaan yang terlalu dipaksakan...."
"Boanpwee akan berlatih dengan tekun!"
"Engkau tidak lelah?"
"Tidak, boanpwee sama sekali tidak merasa lelah...."
Jawab Hoa Thian-hong sambil gelengkan kepalanya. Cu Im taysu yang berada disisinya segera tertawa.
"Kalau dilihat keadaan yang begitu semangat, agaknya tenagamu memang betul-betul luar biasa sekali"
Serunya. Ia segera bangkit berdiri dan menyambung lebih jauh.
"Ciong lian heng! membakar dupa bakar sampai habis, mengantar Buddha mengantar sampai langit, kitapun tak boleh menunjukkan sikap lelah!"
Ciong Lian-khek adalah seorang manusia Varg bersemangat baja, sebelum suatu pekerjaan berhasil dilesaikan, ia bersumpah tak akan berhenti, sekarang setelah dilihatnya Hoa Thian-hong masih mempunyai kekuatan untuk bertempur lebih jauh, dia segera mempersiapkan pedangnya dan berjalan menuju ketengah gelanggang.
Tiba-tiba Hoa Hujin berpaling ke arah Chin Giok-liong serta Bong Pay lalu ujarnya.
"Hian tit berdua bagaimana dengan hasil latihan kalian selama belakangan ini?"
Buru-buru Chin Giok-liong memberi hormat dan menjawab.
"Sebenarnya boanpwee sedang mengikuti Ciong lian cianpwee belajar ilmu pedang, dan belakangan ini mendapatkan pula serangkaian ilmu langkah dari ayahku, cuma sayang bakatnya kurang baik sehingga kemajuan yang berhasil dicapai pun lambat sekali"
Hoa Hujin mengangguk.
"Dalam soal ilmu silat, memang tak dapat menghiasi dalam satu dua hari belaka, meskipun aku mempunyai hasrat untuk membimbing dirimu, sayang sekali aliran ilmu silat yang kita anut sama sekali berbeda, sekalipun kuwariskan kepada hian tit juga sama sekali tak ada manfaatnya "
Bibi demikian memperhatikan boanpwee, membuat hian tit merasa amat berierima kasih sekali. Hoa Hujin menghela napas panjang, serunya kemudian.
"Bagaimana dengan Bong hian tit?"
"Boanpwee tetap mempelajari ilmu pukulan Pek lek ciang warisan dari mendiang guruku!"
"Ehmm! guruku adalah seorang pendekar besar yang namanya amat tersohor di kolong langit"
Kata Hoa Hujin sambil manggut.
"asalkan engkau dapat meneruskan cita-cita gurumu serta menegakkan terus garis hidup yang telah diterapkan oleh mendiang gurumu, bila mana suka gurumu dialam baka mengetahui akan hal ini, dia pasti akan merasa amat gembira sekali."
Setelah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh.
"Dewa yang suka melancong dengan mendiang gurumu adalah sahabat yang sangat akrab, ia sangat mengharapkan akan kesuksesanmu dalam mewujudkan cita-cita mendiang gurumu, karena itu separoh dari
Jilid kitab ilmu silat telah ia serahkan kepadaku dengan harapan aku bisa mewariskannya kepadamu kalau berhasrat untuk maju, sekarang juga a kan kuwariskan kepandaian itu padamu"
Bong Pay tertegun mendengar perkataan itu, dia melirik sekejap ke arah Hoa Thian-hong kemudian jawabnya dengan kepala ter tunduk.
"Kepandian silat yang boanpwee miliki sangat cetek, setiap kali bertempur pasti kalah, jikalau bibi bersedia untuk memberi pelajaran tentu, saja boanpwee pun bersedia untuk mempelajarinya"
Hoa Hujin menghela napas panjang, katanya.
"Kami semua adalah bekas panglima perang yang kalah tempur ditangan musuh namun tetap semangat, maka suatu saat semua sakit hati dan dendam kesumat akan berhasil kita tuntut balas"
Bong Pay segera mengangguk.
"Asalkan boanpwee dapat membalaskan dendam bagi kematian guruku, perbuatan macam apapun aku bersedia untuk melakukannya"
Mendengar ucapan itu, Hoa Hujin pun berpikir dalam hati kecilnya.
"Meskipun orang ini kasar dan berangasan namun dia adalah seorang manusia yang berperasaan...."
Ia segera bangkit berdiri dan membawa Bong Pay menuju ke puncak bukit dimana ilmu sakti Cu yu jit ciat segera diwariskan padanya.
Siapa sangka, sisa laskar golongan lurus yang berjumlah kecil ini benar-benar berhasrat sekali untuk menggunakan kekuatan mereka yang kecil untuk menumbangkan tiga kekuatan besar yang ada di kolong langit dewasa itu, setiap orang berlatih diri dengan tekun dan semua orang mengharap kemajuan yang pesat dalam kepandaian silatnya masingmasing.
Dalam waktu singkat, tiga hari sudah lewat tanpa terasa dan haripun sudah menunjukkan bulan tujuh tanggal tujuh belas malam, berhubung usaha mati-matian dari Hoa Hujin serta Cu Im taysu sekalian, dalam tiga hari yang penuh dengan latihan itu tenaga dalam yang dimiliki Hoa Thian-hong telah memperoleh kemajuan yang pesat dan permainan pedang boleh dibilang hampir melampui beberapa orang jago tua itu.
Sekarang ia mampu bertempur melawan Cu Im taysu serta Ciong Lian-khek sebanyak ribuan gebrakkan tanpa kalah, cuma saja ke dua orang tokoh silat itupun sudah memahami ilmu pedangnya maka pemuda itu sendiripun tak mampu untuk merebut kemenangan Tio Sam-koh serta Hoa In segera ikut menerjunkan diri pula kedalam arena untuk bertarung melawan Hoa Thian-hong, namun pertempuran selama setengah harian akhirnya tetap seri.
Adakalanya empat orang jago itu turun tangan bersamasama untuk mengerubuti pemuda itu selama setengah harian lamanya membuat pemuda itu kehabisan tenaga dan lelah, namun posisi masih masih tetap dipertahankan dalam keadaan seimbang.
Keempat orang jago itu bagaikan sebuah tungku api yang menggembleng serta menempa tubuh Hoa Thian-hong dengan ketatnya, latihan demi latihan yang berat serta melelahkan membuat langsung berhasil dicapai benar-benar menakjubkan, sayang waktunya tidak terlalu banyak lagi sebab waktu sudah menunjukkan tanggal tiga belas malam, besok malam adalah saat diselenggarakannya pertemuan besar itu.
Selesai bersantap malam, sambil membawa pedangnya, Hoa Thian-hong segera memberi hormat kepada Cu Im taysu sekalian sambil ujarnya.
"Besok kita harus memelihara tenaga secara baik-baik dan beristirahat semalam suntuk, menggunakan kesempatan yang terakhir pa da malam ini, harap para cianpwee sekalian suka bersusah payah lagi...."
"Aaaai....! apa itu soal susah payah? asal engkau mampu untuk meningkat lebih tinggi setaraf, aku rasa Thian Ik-cu pun tidak akan mampu untuk menahan pedang bajamu"
Kata Cu Im taysu dengan cepat.
Ciong Lian-khek, Tio Sam-koh maupun Hoa In sama-sama membungkam dalam seribu bahasa, Cu Im taysu serta Hoa Thian-hong, lima orang mereka bersama-sama menuju keatas bukit.
Sementara kemudian, Chin Pek-cuan pun membawa Chin Giok-liong berlalu dari situ.
Sedang Bong Pay seorang diri menuju keatas puncak bukit.
Pertemuan besar Kian cian tayhwee sudah kian lama kian semakin dekat, perasaan hati semua orangpun tersadar bertambah tegang, gelak tertawa sudah jarang kedengaran lagi.
Ci wi siancu menengadah memandang rembulan, kemudian kepada Hoa Hujin ujarnya.
"Hujin, ketiga jurus ilmu jari itu bilamana dilatih Siau long pada tangan sebelah kiri dan diimbangi dengan permainan jurus pedang, bukankah daya tekanannya akas bertambah kuat?"
Sejak permulaan ia sudah melatih kepandaian tersebut dengan tangan kanan, sekarang sudah tiada waktu lagi untuk merubahnya"
"Ciu It-bong dapat mengandalkau jurus Kun siu ci tau yang terdiri hanya satu jurus sebagai kepandaian andalannya, hal ini membuktikan kalau dibalik permainan jurus itu terkandung perubahan yang sakti serta daya kekuatan yang luar biasa"
Sela Lam hoa siancu dari samping.
Baca Juga: Hina Kelana Balada Kaum Kelana 20
Baca Juga: Medali Wasiat 8