Ceritasilat Novel Online

Dendam Asmara 3

Eps 3 Dendam Asmara - Okt

Baca online Dendam Asmara - Okt

Cersil Dendam Asmara - Okt.

"Bukankah Tay-su telah melihat sendiri lebatnya pohon ini? Bukankah angin pun bertiup cukup keras hingga membuat daun-daun rontok secara berisik? Jangan katakan aku, sekalipun orang lain yang lebih bodoh dariku, jika dia memanjat waktu suara berisik siapakah yang bisa mendengar dan mengetahuinya? Siapa yang dapat melihat aku sedang bersembunyi?"

Keterangan ini melenyapkan kesangsian si pendeta.

Karena itu, ia tak lagi heran dan masgul seperti tadi.

Melihat demikian, si nona pun girang, la tidak tahu, benar seperti kata si nona, sukar orang mengetahui cara dia menyembunyikan diri itu.

Saat dia sedang bicara, di pohon pun ada seorang lain yang telah naik ke atasnya, tanpa terlihat dan terdengar olehnya begitupun oleh Bu Kin ...Tiang Keng menyusul ketiga nona itu begitu ia mendapat kenyataan nona-nona itu telah menghilang dari balik pohon.

Ia belum lari jauh ketika hatinya tercekat.

Segera ia lari dan kembali lagi ke tempat asal.

Ia tahu sia-sia belaka ia mengejar nona-nona itu, mungkin mereka sudah lari jauh sedangkan rimba itu lebat sekali, la pun khawatir terjebak atau dibokong oleh musuh.

Ketika ia baru menahan kakinya, ia mendengar suara bentakan.

Ia mengenali suara si pendeta sembrono.

Timbullah kecurigaannya.

Segera ia kembali, la lihat si Tauwto dan nona itu asyik bicara.

Tepat ia mendengar si nona berkata bahwa dia kalah jauh dari si pendeta.

Ia lantas melompat naik ke atas pohon.

Tentu saja ia dapat naik tanpa suara apa-apa.

Begitulah ia dapat menyaksikan semua yang terjadi di bawah.

Ia mendengar semua pembicaraan antara si pendeta dan si nona.

Tatkala si nona berkata pada si pendeta bahwa ia bukan wanita jahat, ia ingat tadi pun nona itu telah bertanya bahwa kedua tangannya tadi bukan kedua tangan yang dapat membunuh orang...

Hampir saja anak muda ini melompat turun dari pohon waktu ia mendengar si nona menyebut hal dirinya "orang yang terlebih bodoh" , ia batal turun karena ia tahu si pendeta sudah berhasil dikelabui oleh nona itu.

Jika ia turun, pendeta itu pasti bakal membantu nona tersebut mengeroyok dia.

Maka itu ia diam terus, pasang mata dan telinganya.

To-su Tauw-to berdiri sambil bersander pada senjatanya.

Dia agaknya sedang berpikir.

Sementara si nona pun diam, dia menggunakan kedua tangannya untuk mengusap-ngusap rambutnya.

"Tay-su,"

Kata si nona kemudian.

"Tay-su melakukan perjalanan mengembara, apakah Tay-su akan menyaksikan keramaian di gunung Thian-bak-san?"

Kedua mata si pendeta dipentang lebar.

"Bagaimana kau mengetahui hal itu?"

Tanyanya heran. Nona itu tertawa geli.

"Apakah Tay-su datang karena Tay-su menginginkan pedang yang tajam!"

Kata si nona lagi.

"Atau Tay-su berharap mendapatkan si nona manis?"

Pendeta itu tertawa terbahak-bahak, dia menepuk-nepuk dahinya.

"Semua orang menyebutku To-su, Nona, kau ternyata lebih to-su dariku!"

Kata si pendeta.

"Kau sampai mau ikut campur urusanku! Baiklah aku beritahukan kepadamu, kedatanganku bukan untuk mendapatkan pedang atau si nona manis tapi hanya untuk mencari uang!"

Sekarang datang giliran si nona, yang tercengang. Tauw-to ini sambil tertawa berkata lagi.

"Sejak aku tiba di Selatan ini, telah banyak urusan yang aku campuri. Baiklah aku tidak menyebut segala urusan itu kecuali satu, ialah aku telah berhutang kepada orang banyaknya selaksa tail perak! Nah, kau pikirlah, nona kecil! Kecuali hong-pian-san ini, apa ada barang berharga lain yang jadi milikku? Karena itu, cara bagaimana aku dapat melunaskan hutangku itu? Maka ... maka ... ha, ha! Ketika aku mendengar tentang luitay di Thian Bak San itu, segera aku menuju ke gunung itu."

Muka si nona menjadi merah dan dia nampak girang. Matanya lantas memain, mulutnya tersungging senyuman.

"Kalau begitu, Tay-su,"

Katanya.

"Andaikata aku dapat menolong Tay-su membayar hutangmu itu, apakah Tay-su dapat membantuku?"

Si biksu berdiri tegak.

"Jikalau urusan itu urusan lurus, tanpa uang pun aku suka membantu kau!"

Katanya gagah.

"Tapi jikalau kau menyuruh aku melakukan sesuatu yang sesat, hm, pasti terlebih dulu maka aku akan melabrakmu! Lihat hong-pian-sanku ini!"

Mendengar begitu. Tiang Keng memuji dalam hati.

"Dia sembrono tetapi dialah laki-laki sejati!"

Pikirnya mengenai tauwto itu. Ia terus mengawasi si nona, untuk mendengar kata-kata nona itu terlebih jauh. Ingin sekali ia mengetahuinya.

"Mana dapat aku minta Tay-su melakukan sesuatu yang sesat?"

Kata si nona tertawa. Ia maju dua tindak.

"Taysu, apakah Taysu pernah melihat tiga buah gambar lukisan? Di atas itu masing-masing ada terlukis pedang, banyak uang emas serta seorang nona manis ..."

Imam itu mengawasi si nona. Mendadak dia tertawa terbahak.

"Benar aku sembrono! Benar aku sembrono!"

Katanya berulang-ulang.

"Pantas aku merasa seperti mengenalimu. Nona! Kiranya kaulah si nona di dalam gambar itu! Bagus! Bagus sekali! Kebetulan, sekarang dapat aku tanya kau! Sebenarnya di atas gunung Thian Bak San itu kau hendak melakukan apa yang luar biasa? Benarkah kau dapat merobohkan orang-orang gagah di kolong langit ini? Dan pedang dan uang emas banyak itu dari mana kau dapatkannya? Juga. apa maksud yang sebenarnya?"

Pertanyaannya tauwto ini ialah pertanyaan dalam hati Tiang Keng dan mungkin itu juga pertanyaan semua jago yang bakal menhadiri pertemuan di Thian Bak San itu.

oo BAB 17.

GIM SOAN MENYURUH TIANG KENG MENINGGALKAN LIM-AN Si nona tertawa.

"Pertanyaanmu banyak sekali!"

Kata dia perlahan.

"Bagaimana aku menjawabnya? Begini saja! Mari aku ajak kau untuk melihat sendiri! Dengan begitu kau bakal tahu semuanya."

Tiang Keng mengawasi nona itu.

Nona itu benar-benar cantik.

Rambutnya pun bagus.

Ia pernah membaca kitab yang menyebut-nyebut tentang "wanita cantik" , tetapi ia tak tahu batas kecantikan itu, dan bagaimana wanita yang disebut elok itu.

Sekarang setelah ia melihat nona ini, barulah dia mengerti.

Agaknya sukar mencari nona yang melebihi kecantikan si nona serba merah ini.

Tiba-tiba Tiang Keng ingat nasihat ayahnya agar dia berlaku jujur, murah hati dan bijaksana seperti ajaran Nabi Khong Hu Cu dan Beng Cu.

"Ayahku telah menjadi manusia sempurna,"

Pikir Tiang Keng.

"Jadi Ayah tidak perlu malu. Kenapa Ayah meninggal dengan cara yang sangat menyedihkan. Oh, Ayah, kau selalu mengasihani orang lain, tetapi siapa yang bersedia berduka untukmu?"

Tiang Keng ingat pada ibunya.

Ia ingat saat ia masih anakanak, dan dia beerada di persembunyian di atas gunung.

Dia harus memeras keringat dan membanting tulang untuk memiliki ilmu silat seperti sekarang ini.

Selama itu ia telah kehilangan kasih sayang orang tuanya dan tidak pernah mencicipi masa bahagia sebagai seorang bocah ....

Melamun sampai di situ.

Tiang Keng ingat pada kata-kata si nona yang tadi menunjukkan tangannya sambil bertanya kepadanya, apakah tangan yang sehalus dan semulus itu dapat dipakai membunuh orang.

Baru berpikir sampai di situ, di depan mata Tiang Keng terbayang wajah ayahnya yang berlumuran darah sedang mendamprat kepadanya.

"Anak tidak berbakti! Aku mati, kau bukan membalas sakit hatiku, malah kau memikirkan murid musuh kita! Untuk apa kau memikirkan wanita cantik itu? Buat apa aku punya anak sepertimu?"

Tiba-tiba ayahTiang Keng menampar mukanya dengan keras.

Tiang Keng kaget, ia menjerit kesakitan.

Tubuhnya jatuh dari atas pohon., walau tidak jatuh terbanting keras.

Ketika ia memandang ke sekekelilingnya, rimba itu kosong dan sepi!

Di situ tak ada ayahnya, juga si nona maupun imam yang usil itu.

Ketika ia mengepalkan tangannya, telapak tangan itu basah oleh keringat.

la memang mengeluarkan keringat dingin tanpa terasa.

Jelas ia sedang ngelamun hebat!

"Ah, gila betul!"

Ia mengeluh.

Ia bingung.

Sekarang ke mana ia harus mencari si nona?

Bantuan apa yang ingin si nona minta dari tauw-to itu, entah bagaimana jawaban si nona atas pertanyaan tauw-to itu ....

Karena sulit memikirkan soal itu, Tiang Keng berdiri terpaku.

Meski pun ia termasuk orang yang cerdas, tetapi pada detik itu pikiran Tiang Keng memang sedang kusut.

Ia sangsi untuk menyusul si nona ke Thian Bak-san.

Jika ia berhasil menemui si nona, apa yang bisa ia lakukan?

"Sekarang lebih baik aku mencari In Loo-pee dan puteranya dulu,"

Pikir Tiang Keng, cepat ia mengambil keputusan.

Ia merasa seperti bocah yang membutuhkan pimpinan orang tua.

Ia tidak insaf bahwa di luar tahunya, ia sudah terlibat soal asmara ....

Sambil menghela napas Tiang Keng berjalan keluar dari dalam rimba.

Tiba-tiba ia mendengar suara tawa di belakangnya.

Dengan ceoat ia berpaling dengan cepat ia jadi heran ketika ia melihat si baju kuning yang tadi bertempur dengannya di atas tembok kota berdiri mengawasinya.

Pemuda itu memegang janggut dengan tangan kiri dan sementara tangan kanannya diletakkan di iga kiri sambil tersenyum mengawasinya.

Sikapnya tawar.

Tiang Keng heran, ia tidak kenal pada orang itu.

Tadi mereka bertempur tanpa sebab dan entah kenapa.

Karena pikirannya sedang kusut, ia tidak sudi melayani orang itu.

Ia memutar tubuh akan pergi.

Ia lebih suka memikirkan si nona yang cantik, murid si wanita jelek she Un musuh besarnya itu.

"Sungguh takabur!"

Kata si baju kuning sambil tertawa mengejek.

"Tapi tak berdaya hanya untuk mengejar seorang nona saja!"

Tiang Keng berpaling dengan cepat. Ia heran mengapa pemuda itu mencari gara-gara dan mengganggu terus padanya. Si baju kuning tertawa, matanya berputar-putar, lalu berkata dengan suara dingin.

"Tuan, kau masih muda, akan tetapi ilmu silatmu lihay! Sungguh orang sepertimu sukar didapat!"

Tiang Keng mengelak.

Ia merasa orang ini aneh dan jahil.

Apa salah dia hingga ia harus diejek terus?

Si baju kuning menggeser kedua tangannya ke punggungnya, ia menengadah mengawasi langit, lalu kakinya melangkah perlahan.

"Meski begitu, Tuan, jika kau ingin mendapatkan si Ratu Bunga, itu sangat sulit! Karena ilmu silatmu masih terlalu rendah!"

Mendengar ucapan itu, habis sudah kesabaran Tiang Keng terhadap pemuda berbaju kuning itu.

"Tuan!"

Kata Tiang Keng.

"Kita tidak saling mengenal satu sama lain. Kau berani menghinaku, apa maksud kata-katamu itu?"

Pemuda baju kuning yang jumawa itu, tanpa melihat ke arah Tiang Keng, menjawab dengan dingin.

"Maksudku ialah untuk minta agar kau jangan usil dan mengejar-ngejar nona itu! Dari mana Tuan datang, ke sana Tuan harus pergi selekasnya! Jika tidak ... Hm! Hm!"

Dia cuma bersuara "hm"

Kata-katanya tidak diteruskan.

"Aneh!"

Pikir Tiang Keng. Ia sadar pemuda baju kuning mengejek dia karena dia ingin memancing kema rahannya.

"Dari mana aku datang dan ke mana aku akan pergi, apa hubungannya denganmu, Tuan? Terlebih lagi dalam hal aku mencari gadis itu, itu bukan urusanmu! Itu urusanku sendiri!"

Mata pemuda baju kuning dipentang lebar dengan tajam, sinar matanya memandang ke arah Tiang Keng.

"Tuan!"

Kata dia pula.

"Jika dalam tempo dua hari kau tidak meninggalkan kota Lim-an ... hm! ... Aku khawatir, di saat kau hendak angkat kaki, waktunya sudah terlambat!"

Setelah berkata begitu dia mengibaskan tangan bajunya, lantas melangkah pergi.

Tiba-tiba matanya seperti berkunangkunang.

Dengan hanya sekali mencelat, dia telah dihadang oleh Tiang Keng.

Tiang Keng dengan roman dingin dan mata tajam mengawasi orang takabur itu.

"Apa katamu barusan?"

Tanya Tiang Keng. Pemuda baju kuning itu terkejut sebentar, kemudian dia sudah menunjukkan kembali keangkuhannya.

"Hm! Hm!"

Kembali dia mengejek.

"Di dalam tempo dua hari, jika Tuan tidak meninggalkan Kota Lim-an ini, hm......."

Tapi sebelum ia berhenti bicara atau tangan Tiang Keng sudah menyambar pada unjung bajunya!

"Bukankah dua hari yang lalu kau orang yang telah meninggalkan surat di kamar orang Hoay Too Hwee dan Ang Kin Hwee?"

Tanya Tiang Keng dengan bengis.

Pemuda baju kuning itu tidak menyangka ujung bajunya berhasil disambar oleh Tiang Keng.

Ia bengong sebentar, alisnya bangkit dan wajahnya berubah menjadi bengis, la tekuk tangan kanannya untuk dipakai menangkap tangan Tiang Keng, sedang tangan kirinya atau tiga buah jarinya yang kuat menusuk ke arah rusuk lawan.

Itu adalah jalan darah thian-tie Tiang Keng.

Sambil berbuat demikian, ia bertanya dengan bengis.

"Kalau aku, kau mau apa? Kalau bukan aku, kau juga mau apa?"

Tiang Keng menarik tangan kanannya, sambil menarik yangannya ia pun mengibas.

Gim Soan, si pemuda baju kuning itu terkejut, dia terhuyung tiga langkah mundur ke belakang.

Tiang Keng heran.

Ia tidak menyangka kibasannya mengenai tangan kiri lawan dan pemuda baju kuning itu terpaksa harus mundurdan hampir terguling.

Gim Soan mempertahankan tubuhnya, mukanya jadi pucat.

Dia hendak membuka mulurnya tetapi Tiang Keng sudah mendahuluinya.

Tiang Keng menegaskan.

"Jadi beberapa ratus jiwa orang-orang Koay Too Hwee dan Ang Kin Hwee itu, semua telah mati secara menyedihkan di tanganmu yang jahat? Jadi kau sendiri yang melakukan kekejaman itu?"

Kembali Gim Soan melengak. Begitu ia sadar, tanpa berkata-kata lagi, dia membentak sekali dan melompat menerjang. Dia menyerang dada lawannya. Ketika serangannya tiba, dia berseru.

"Mau apa kalau aku yang membunuhnya? Mau apa kalau bukan aku yang membunuhnya?"

"Kalau begitu, baiklah!"

Jawab Tiang Keng seraya menyedot dada dan perutnya, sedang kedua tangannya dimajukan menyerang dengan keras.

Sekali lagi mereka berdua beradu tangan.

Tiang Keng gusar, ia mengerahkan tenaga di tangannya.

Gim Soan terhuyung mundur satu tindak.

Tidak menanti orang sempat memperbaiki diri.

Tiang Keng menyusul serangan nya.dengan kedua tangan.

Mengetahui lawan itu tangguh, Gim Soan lantas melayani sambil selalu berkelit.

Dia gesit sekali, tubuhnya sangat ringan.

Baik berkelit maupun meloncat tinggi, ia membuat dirinya seperti berada di sekitar tubuh Tiang Keng.

Saat berbuat begitu, ia selalu mengirim pukulan-pukulan yang dahsyat.

Tadi di atas tembok kota, Tiang Keng sudah belajar kenal dengan pemuda baju kuning ini.

Ia tahu orang ini lihay, sekarang ia berkelahi dengan hati-hati dan waspada.

Ia kaget mendapatkan lawan yang demikian lincah, oleh sebab itu semakin kuat terkaan Tiang Keng bahwa pemuda baju kuning ini algojo orang-orang Koay Too Hwee dan Ang Kin Hwee.

Karena orang itu lihay, ia tidak dapat segera merobohkan pemuda itu.

Saat mereka di atas tembok kota, Gim Soan belum mengeluarkan seluruh kepan daiannya.

Sesudah bertempur beberapa puluh jurus lamanya, kedua pihak tampak sama unggulnya.

Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara tetabuhan yang terbawa angin, mereka sedang bertempur seru, keduanya tidak memperhatikan suara itu.

Baru kemudian, setelah suara itu terdengar semakin jelas dan dekat serta lagunya luar biasa, mereka jadi heran.

Itu bukan suara seruling, suara itu tajam dan sedap terdengar di telinga.

Keduanya tak dapat menerka, suara itu suara alat tetabuhan apa dan bagaimana macamnya.

Meskipun mereka mendengar suara itu, mereka tetap bertempur tak kurang serunya.

Konsentrasi kedua pihak tidak terpecah oleh suara merdu itu, jika konsentrasi mereka terpecah maka mereka bisa celaka.

Belasan jurus telah dilewatkan.

Mendadak mereka mendengar suara wanita yang suaranya tajam.

"Siapa yang berani bertempur di sini? Apa kalian tidak mau segera berhenti bertarung! Berapa banyak batok kepala kalian sehingga kalian berani mengganggu perjalanan pulang dari Nio-nio kalian?"

Suara itu tegas sekali. Tiang Keng jadi berpikir.

"Nio-nio kalian?"

Ia berpikir.

"Apa ini Permaisuri Raja yang sedang pesiar?"

Gim Soan juga mengira demikian.

"Nio-nio adalah panggilan mulia untuk seorang Ratu atau isteri raja.

Dengan sendirinya mereka sama-sama melompat mundur lima lamgkah jauhnya.

Mereka melompat secara bersama-sama untuk menghentikan pertarungan mereka.

Setelah itu semuanya menoleh dengan cepat.

Di situ terlihat rombongan nona-nona cantik berpakaian serba merah sedang mendatang ke arah mereka.

Langkah mereka elok, tangan mereka masing-masing memegang sepotong bambu berwarna hijau.

Ada yang panjang, dan ada yang pendek, semua tidak berlubang.

Rupanya itulah alat tetabuhan yang menerbitkan suara merdu tadi.

"Apa nama alat musik itu? Mengapa suaranya demikian merdu dan aneh?"

Pikir kedua pemuda itu.

Dalam benak mereka masing-masing, mereka bertanya-tanya.

Kedua pemuda ini masih hijau, mereka belum pemah merantau sampai ke wilayah Tiong-ciu.

Tak heran jika mereka jadi tidak tahu tentang seruling semacam itu, seruling yang menjadi alat tetabuhan istimewa suku bangsa Biauw di daerah Biauw-kiang.

Dari hanya mengawasi rombongan itu, kedua anak muda ini saling mengawasi satu sama lain.

Sesudah itu Gim Soan berpaling hingga ia tak menghiraukan lagi pada Tiang Keng.

Tiang Keng heran, ketika ia tahu orang itu tidak memperhatikan dia lagi.

Tiang Keng pun menoleh ke arah rombongan nona-nona itu.

Sesudah rombongan nona-nona pengiring itu lewat, tampak sebuah kereta yang dipajang indah sekali.

Semua perlengkapan kereta itu pasti mahal sekali.

Di kiri-kanan kereta itu terdapay empat orang nona berbaju merah, dan sebelah tangan mereka masing-masing mendorong kereta, sedang tangan yang lain mengipas dengan kipas bulu angsa.

Perlahan mereka mengipasi orang yang ada di kereta itu.

Nona-nona itu tersenyum ketika mereka melihat ada dua pemuda berdiri bengong mengawasi rombongan mereka di tepi jalan, tetapi mereka tidak ada yang berani tertawa.

Kemudian sambil berjalan, mereka mengangkat suling bambu itu ke mulut mereka dan meniupnya bersama-sama.

Maka terdengarlah suara bangsing yang merdu itu.

Saat melewati kedua pemuda itu, mereka masih mengawasi ke arah kedua pemuda itu sambil terenyum manis.

Gim Soan seorang yang sombong.

Adatnya tinggi hati, ia tidak mudah terpengaruh oleh paras cantik, akan tetapi kali ini dia jadi berbeda dari biasanya.

Sekarang malah dia mengawasi dengan bersemangat rombongan nona-nona cantik itu.

Sama sekali dia tak memperlihatkan sikap yang memandang enteng pada semua orang-orang itu.

Tiang Keng sebaliknya dari Gim Soan.

Mula-mula ia awasi mereka, ia heran, sesudah itu ia berdiri diam bagaikan orang yang sedang bersemedi.

Cuma otaknya saja yang bekerja keras memikirkan rombongan wanita cantik itu.

Dia jadi penasaran sekali, siapa wanita yang ada di dalam kereta indah yang mirip kereta seorang ratu itu.

Ia berdiri diam di tepi jalan sampai rombongan itu mulai lewat di depan dia.

jalan kereta dan rombongan nona-nona cantik itu tetap perlahan-lahan.

Tiba-tiba Tiang Keng ingat sesuatu.

Ia awasi kereta indah itu.

Ia lihat orang yang ada di dalam kereta itu sedang duduk dengan tenang.

Dia adalah seorang wanita tua, tubuh wanita itu kurus kering dan hanya tertutup oleh pakaian berwarna merah.

Tempat duduk wanita tua itu berwarna merah juga.

Dari jauh.

orang sukar melihat tubuh yang tua itu.

Empat orang nona yang mendorong kereta, mata mereka selalu diarahkan ke kedua anak muda yang berdiri di sisi jalan itu.

Mereka berempat bertubuh lebih besar dari nona-nona peniup bangsing.

Mereka semua cantik-cantik.

Sinar mata Tiang Keng berpindah dari wajah nona-nona cantik ke wajah si Nyonya Tua di dalam kereta itu yang jelek dan bengis.

Nyonya tua itu mengonde rambutnya menjadi konde "kuda jatuh".

mirip konde wanita atau nyonya-nyonya muda pada masa itu, suatu model rambut yang paling digemari pada zaman itu.

Ia sudah tua tetapi rambutnya masih hitam, perhiasan di kondenya lengkap, sedang di telinganya, si nenek memakai anting-anting emas.

Perhiasan kepa lanya bertabur mutiara, tampak terang berkilau.

Tapi selain rambutnya yang hitam dan dandanannya itu.

wajah sangat jelek, hingga orang sulit untuk terkecoh olehnya apalagi hanya karena dandanannya yang mewah itu Tiang Keng mengawasi nenek itu sambil melengak sekian lama.

dan dengan perlahan-lahan kereta itu lewat di depannya.

Mata Gim Soan terus mengikuti punggung si nona-nona berpakaian serba merah.

Pakaian mereka itu tertiup angin, berkibaran, indah dipandangnya oo BAB 18.

TIANG KENG BERTEMU MUSUH BESARNYA Anak muda berbaju kuning itu masih mengawasi rombongan itu.

Baru kemudian sambil menoleh dia tertawa dingin dia melangkah menghampiri Tiang Keng.

"Berhenti!"

Sekonyong-konyong pemuda she To membentak, suaranya keras seperti suara guntur.

Gim Soan terkejut hingga ia nierandek sejenak Begitu suara itu berhenti, tubuh Tiang Keng melesat untuk lari ke arah rombongan kereta yang mirip kereta permaisuri itu ...Semua nona mendengar bentakan Tiang Keng itu.

Mereka segera menoleh dan melihat ke arah pemuda yang sedang berlari-lari ke arah mereka.

Mereka heran dan mereka pun berhenti meniup seruling istimewa itu dan yang sedang mengipaspun berhenti mengipasi majikannya.

Gim Soan heran.

"Mau apa anak muda itu?"

Pikir Gim Soan.

Dia jadi ingin tahu, dia melompat dan berlari untuk menyusul Tiang Keng.

Tak lama Tiang Keng sudah ada di depan kereta sedang menghadang kereta itu.

Kedua mata Tiang Keng bersinar tajam mengawasi ke arah nyonya tua yang ada di dalam kereta itu.

Tiang Keng polos.

Ia belum tahu tentang asmara.

Meskipun nona-nona berpakaian indah itu cantik-cantik, ia tak menghiraukannya.

Malah Nyonya Tua itu yang menarik perhatiannya Padahal Nyonya Tua itu beroman jelek sekali.

"Mengapa mereka berpakaian merah semua?"

Pikir Tiang Keng.

"Siapa perempuan tua ini?"

Mendadak ia ingat pada perempuan jelek di kaki puncak Sie Sin-hong sepuluh tahun lalu.

"Apa mungkin dia ini si Jelek Un Jie Giok?"

Pikir Tiang Keng. Sekarang roman nyonya itu lebih tua dibanding dulu hingga Tiang Keng agak sangsi dibuatnya.

"Sepuluh tahun memang waktu yang lama, tapi Un Jie Giok memiliki tenaga dalam yang sempurna, tak pantas jika ia jadi rongsokan seperti ini....."

Pikir Tiang Keng. Mendadak Tiang Keng ingat kata-kata si Nyonya Tua itu. ia menyebut dirinya Nio-nio.

"Bukankah Un Jie Giok pun sudah biasa menyebut Nio-nio untuk pengganti sebutan dirinya?"

Ingatan ini membuat putera To Ho Jian berseru sambil melompat maju. Dugaan Gim Soan keliru, ia mengira dia disuruh berhenti oleh Tiang Keng.

"Nyonya, apa kau orang she Un?"

Tanya Tiang Keng dengan suara keras.

Nyonya Tua itu tetap duduk dengan tenang di bangku kereta, ia tak menghiraukan teguran Tiang keng dan matanya tetap dipejamkannya.

Ia mirip orang yang sedang tidur saja.

Dan yang bergerak-gerak hanya bajunya saja akibat tiupan angin.

Gim Soan mendengar pertanyaan itu.

Ia sudah mendekati rombongan itu semakin dekat.

Ia berpikir.

"Bukankah Ang-i Nio-cu, si Siluman yang namanya sangat terkenal itu sudah mati setengah tahun yang lalu?"

Oleh karena itu, ia mengawasi perempuan tua jelek di atas kereta itu dengan tajam.

Dua orang nona yang berjalan paling depan sudah berjalan ke belakang, mereka melompat ke samping Tiang Keng dan kini mereka berada di kedua sisi anak muda itu.

Mereka segera mengulurkan tangan mereka, kemudian menepuk bahu anak muda itu dengan bungbung bambu hijaunya perlahan, mereka menotok ke kedua jalan darah cun-chong di dekat kedua buah tetek Tiang Keng.

"Nio-nio sedang tidur! Mau apa kau berteriak-teriak membuat berisik saja?!"

"Hm!"

Seru Tiang Keng, kedua tangannya mengibas untuk menangkis serangan kedua nona itu.

Nona itu tak dapat menahan tangkisan Tiang Keng yang keras, hingga keduanya terpaksa harus mundur dan terhuyung tiga langkah ke belakang.

Wajah mereka pun berubah jadi pucat-pasi karena kagetnya.

Sementara si nyonya masih tetap tidak berkutik dari tempat duduknya.

Tiang Keng melompat maju setengah Jangkah, kedua tangannya ditekuk melingkar untuk mendorong ke depan.

Ia pun membentak.

"Orang she Un, apakah kau sudah melupakan peristiwa sepuluh tahun yang lampau di kaki puncak Sie Sin-hong?"

Kibasan tangan Tiang Keng membuat nona-nona di sisi kereta itu merasakan sambaran hawa dingin.

Sebaliknya si nyonya tua tidak membuka matanya dan tetap tak bergerak.

Tapi tangan bajunya melambai turun.

Mendadak dia menyambar tangan Tiang Keng dengan cepat!

Tiang Keng terkejut.

Ia tak dapat berkelit.

Lalu Tiang Keng meneruskan tangannya itu untuk dipakai menyambar tangan baju nyonya tua itu.

Itu tipu silat Eng Jiauw Mui (Kuku Garuda dari Hoay-lam).

Tipu silat ini hanya digunakan ketika sangat dibutuhkan.

Karena sekalipun ketua Eng Jiauw Mui sendiri, tak akan dapat mengerahkan tenaga sehebat itu.

Kedua tangan baju itu bagaikan punya mata dan keduanya lolos dari sambaran Tiang Keng.

Sebaliknya, setelah lolos, tangan baju itu kembali ke tempatnya semula ...

Keempat nona di kedua sisi kereta langsung bergerak maju.

Dengan empat batang kipas bulu angsa, mereka terus menepuk ke arah si pemuda.

Mata Tiang Keng jadi merah.

Sekarang dia tahu si Nyonya Tua benar-benar Un Jie Giok, musuh besarnya.

Sekarang si musuh besar sedang bercokol di hadapannya.

Meluaplah dendam selama sepuluh tahun yang ada di dada Tiang Keng.

Saking gusarnya di lain gebrakan, ia membuat lengan keempat nona itu terluka.

Keempat nona itu mundur.

Mereka merasakan nyeri.

Mereka tidak mengira Tiang Keng demikian gesit.

Tiang Keng tidak menghiraukan keempat nona yang kesakitan itu.

Kembali ia maju ke depan kereta.

Saat itu justru lima batang bangsing sudah menotok ke arahnya, tiga yang di tengah mencari jalan darah di dada Tiang Keng.

Dua yang lainnya ke kiri dan kanan.

Kembali ia tidak hiraukan serangan itu, dengan hanya satu gerakan, ia membuat lima batang bangsing itu gagal mengenai sasaran.

Tiga nona yang di depan mundur.

Yang di kedua sisi Tiang Keng mundur untuk menyerang lagi!

Sekarang Tiang Keng insaf ia sudah terkurung oleh semacam tin atau barisan rahasia.

Nona-nona itu tidak lihay tetapi karena gesitnya, mereka dapat berkelahi dengan teratur menuruti jalan tin itu.

Tiang Keng berpikir ia akan sulit meloloskan diri.

Maka ia harus berkelahi dengan sungguhsungguh.

Gim Soan menonton dari pinggir.

Sekarang ia yakin si Nyonya Tua, Ang-ie Nio-nio, Un Jie Giok.

Di kolong langit tidak ada orang yang dapat menggunakan tangan baju seperti senjata seperti yang diperlihatkan oleh nyonya tua ini.

Melihat Tiang Keng terkurung oleh nona-nona berbaju merah itu ia puas.

Ia baru tahu, meskipun cara bersilat nona-nona itu tidak lebih lihay, sekarang ia tahu Nie Tong Sian Bu tak sederhana.

"Jika dulu aku bertemu dengan rombongan mereka ini, pasti aku sudah roboh .. ."

Pikir Tiang Keng.

Gim Soan maju beberapa langkah.

Ia menonton sambil memperhatikan pertarungan itu.

Tiang Keng tidak mendapat kesulitan seperti dugaan pemuda berbaju kuning.

Benar ia sudah terkepung, tetapi ia bisa melayani dengan siasat membela diri.

Jika perlu, setiap kali ia mengibas sedikit keras, ia bisa membuat pengepungnya mundur teratur.

Gim Soan mendekati kereta.

Tiba-tiba telinganya mendengar bentakan keras.

"Berhenti!"

Gim Soan terkejut karena seolah ia merasa telinganya seperti tertusuk oleh sebuah jarum.

Nona-nona itu taat pada seruan itu, semua nona berbaju merah itu langsung berhenti menyerang Tiang Keng.

Mereka segera mengundurkan diri tetapi tidak bubar.

Mereka masih mengurung di empat penjuru pada si anak muda.

Tiang Keng pun diam, matanya mengawasi ke kereta.

Si Nyonya Tua sudah "bangun"

Dari tidurnya, ia berdiri di atas kereta.

Ketika ia membuka kedua matanya, sinar matanya itu tajam dan bengis.

Dia turun dari kereta, berjalan perlahan menghampiri si anak muda.

Bajunya yang gerombongan karena tubuhnya demikian kurus kering.

Ujung bajunya panjang, dia berjalan tetapi tak terlihat kakinya, hingga ia mirip orang yang sedang berjalan di tengah udara .

Tiang Keng mengawasi nyonya tua itu.

Tanpa tahu apa sebabnya, ia agak jeri.

Segera ia memusatkan pikirannya.

Ia hendak menegur nyonya tua itu karena ia takut didahului.

"Apa katamu barusan?"

Si Nyonya Tua bertanya dengan suaranya dingin. Tiang Keng membusungkan dadanya.

"Aku bertanya mengenai peristiwa di kaki Sie Sin-hong sepuluh tahun lalu!"

Sahut Tiang Keng.

"Apakah kau sudah lupa pada peristiwa itu?"

Si Nyonya Tua memandang tajam sekali ke arah Tiang Keng.

"Jadi kau turunan orang she To itu?"

Tanya si nenek dengan bengis.

"Tidak salah!"

Sahut si anak muda dengan gagah.

Mata si Nyonya Tua bercahaya.

Dia tertawa lama sekali.

Kepala si Nyonya Tua menengadah.

Suara tawanya mirip suara burung hantu.

Tak disangka dia dapat bersuara seperti itu.

Sesudah dia tertawa cukup lama, keadaan jadi sunyi.

Baru sesaat kemudian, dia membuka mulut lagi.

"Selama beberapa puluh tahun,"

Kata dia sabar.

"Orangorang yang telah binasa di tanganku, jumlahnya sudah masuk dalam hitungan ribuan banyaknya. Sungguh heran karena tak pernah ada anak cucu mereka yang datang mencariku untuk menuntut balas! Hari ini aku melihatnya juga satu di antara mereka, yaitu kau!"

Mata nyonya tua itu bersinar, tapi sekarang dia mengawasi Gim Soan untuk menegur si baju kuning.

"Kau ini siapa? Apa kau datang untuk membantu dia menuntut balas?"

Gim Soan terkejut, la langsung maju tiga langkah ke depan. Ia memberi hormat sambil membungkuk pada si Nyonya Tua dengan sikap hormat.

"Aku tak kenal dengannya, bahkan..."

Gim Soan menyahut. Tapi dia disela oleh si nyonya tua. Sambil menatap tajam nyonya tua itu berkata.

"Jadi kau di sini untuk menonton?"

Suara pertanyaan itu tak sebengis tadi, tapi Gim Soan tak puas mendengar sapaan yang dingin itu. Walau demikian, dia sedikit merasa jeri. Ia menjura sambil berkata lagi.

"Dengan dia aku yang rendah punya urusan yang harus dibereskan, maka itu ..."

Kembali dia disela oleh si Nyonya.

"Apakah kau hendak menanti selesainya urusanku ini dengan dia, baru kau hendak membereskan urusanmu itu?"

Gim Soan mengangguk. Nyonya tua itu tertawa, suaranya nyaring dan tak sedap didengar oleh siapapun.

"Bagus! Bagus!"

Seru si Nyonya Tua.

"Aku tidak sangka kau masih begini muda tetapi kau tahu aturan!"

Kata-kata itu punya arti lain Sebagai orang cerdik, Gim Soan dapat menerka maksud si tua.

Tertawa si nvonya menyatakan jika dia menanti urusan si nyonya dan si anak muda beres, itu artinya Tiang Keng sudah tak bernyawa.

Ia tidak bilang apa-apa.

hanya mengawasi nyonya tua itu.

yang sudah langsung berpaling ke arah Tiang Keng.

Sambil menyingkap rambutnya, Un Jie Gie berjalan mendekati pemuda itu.

Tangannya kurus seperti tubuhnya.

Angin silir meniup, Gim Soan bulu romannya berdiri.

Dia rasa dia bakal menyaksikan peristiwa berdarah yang hebat.

oo BAB 19.

TIANG KENG DIBUAT BINGUNG OLEH SIKAP MUSUH BESARNYA Darah Tiang Keng bergolak seperti sedang mendidih.

Sulit untuk menenangkan dirinya.

Selama sepuluh tahun tak ada sehari pun ia melupakan musuhnya itu.

Dia senantiasa ingat saja, sekarang saat ia berhadapan dengan musuh besarnya itu, ia hampir tak dapat menguasai diri.

Sakit hati yang mengeram di dadanya, akan segera menyembur keluar.

Akan tetapi tempo sepuluh tahun itu pun dapat membuat ia mampu melatih diri, hingga ia bisa bersikap sabar dan hati-hati.

Ia insaf inilah saat anatara mati dan hidup baginya.

Ia sadar sekali, jika ia berhasil, sakit hatinya bakal terlampiaskan, jika tidak, ajalnya bakal tiba.

Ia yakin Un Jie Giok tidak akan membiarkan dia hidup bebas setelah tahu bahwa dia adalah musuh besarnya ..

Maka sebisanya ia berlaku tenang.

Un Jie Giok sedang mengawasi dia dengan tajam ketika si anak muda mengangkat kepalanya memandang ke arahnya.

Kemudian nyonya jelek itu mengangguk berulang-ulang.

"Ah, bocah, kau mirip dengan orang she To,"

Kata dia, sabar.

"Kau cuma...."

Tiang Keng tidak puas, karena dipandang acuh tak acuh, sekarang si jelek itu menyebut ayahnya seperti sahabat perempuan itu, seolah perempuan jelek itu seperti tak pernah membinasakan ayah Tiang Keng.

Karena itu, Tiang Keng ingin menghajar orang jelek itu sampai mampus dalam sekali pukul.

Lalu hal yang aneh telah terjadi.

Sebelum Un Jie Giok menyelesaikan kata-katanya, dan bukan kata-katranya itu diteruskan, mendadak tangan bajunya mengebut ke atah kiri, lalu tubuhnya mencelat ke kanan, cepat seperti kilat.

Dia bergerak ke arah Gim Soan yang sedang berdiri di sebelah kanan dia.

Berbareng dengan itu tangan kanannya menjambak ke dada orang muda berbaju kuning itu!

Gim Soan kaget sekali.

Ia tidak menyangka akan ada serangan demikian cepatnya.

Justru saat itu ia sedang menunggu darah Tiang Keng bakal muncrat berhamburan dari tubuh atau lehernya.

Siapa tahu si nyonya justru menyerang dia.

Dalam kagetnya, ia berniat melompat untuk menyingkir Lagi-lagi di luar dugaannya, nyonya itu cepat luar biasa.

Tahutahu dadanya sudah terjambak oleh si Nyonya Tua.

Ia kaget bukan main Gim Soan.

Ini yang kedua kalinya orang berhasil menyambar bajunya.

Sebagai seorang keras kepala dan sombong, Gim Soan merasa malu, hatinya jadi sangat panas.

Tapi karena jeri, ia terpaksa berlaku sabar.

"Loo-cian-pwee, kau mau apa?"

Tanya Gim Soan perlahan. Ia tidak berani sembarangan bertindak. Ang-i Nio-nio tertawa dengan sangat menyeramkan.

"Pada sepuluh tahun yang lalu itu,"

Kata si Nyonya Tua perlahan.

"Ketika terjadi peristiwa di kaki puncak Sie Sin-hong, bukankah kau pun hadir bersamanya di sana?"

Hati Gim Soan bercekat, parasnya pun berubah pucat-pasi.

Dalam sekelebat, di benak Gim Soan terbayang dan ia ingat pada peristiwa sepuluh tahun yang lalu itu.

Ketika itu ia masih seorang bocah, anak dari satu keluarga hartawan, walau ia tak mendapat kasih sayang dari ayah dan ibunya, la bertabiat keras dan buruk waktu itu.

Di saat ia harus pergi bersekolah, ia justru malah madol dan pergi ke pekuburan atau sebuah tegalan dan menyianyiakan waktu dengan bermain-main tidak keruan.

Pada suatu hari ia mengalami pengalaman yang mengherankan.

Mendadak seorang imam muncul di depan dia.

Ia mengira imam itu seperti turun dari atas langit.

Ketika ia ditanya oleh si imam, apakah ia suka pergi dari rumahnya, dan dijanjikan akan diajari ilmu silat oleh si imam itu.

Ia langsung menyatakan bersedia, karena ia merasa tak puas pada sikap kedua orang tuanya.

Ia merasa ia bakal senang sekali jika ia bisa "terbang"

Seperti si imam barusan.

Di kemudian hari ia baru tahu bahwa imam itu bernama Ban Biauw Cin-jin yang tersohor gagah itu.

Tatkala itu ia bersama-sama dengan dua orang bocah lainnya, mereka ikut bersama si imam.

Dalam usia seperti itu, ia ingat padahal waktu peristiwa di kaki bukit Sie Sit-hong itu terjadi, ia belum tahu apa-apa.

Ia mendengar jeritan berbagai binatang buas dan jinak di rimba itu, ia juga melihat debu mengepul naik ke udara, lalu dayang seorang laki-laki berusia pertengahan yang romannya gagah dan seorang nyonya yang cantik.

Mereka muncul bersama dengan seorang bocah seperti dia.

Ia lihat sikap luar biasa gurunya saat melihat pria dan wanita itu.

la ingat pada si nyonya jelek berpakaian serba merah yang kurus kering serta nona cilik yang cantik manis berada bersamanya.

Setelah kejadian itu ia ingat semua, sekarang ia lihat pemuda yang tadi bertengkar dengannya, yaitu Tiang Keng.

Serta sikapnya terhadap si nenek jelek, tiba-tiba ia sadar.

"Kalau begitu pemuda ini ialah si bocah berumur sepuluh tahun yang bersama-sama dengan pria dan nyonya cantik itu!"

Pikir Gim Soan.

"Dan nyonya tua berbaju serba merah ini musuh pemuda yang orang tuanya telah dibinasakan oleh si perempuan tua jelek ini. Si nona cantik itu salah satu yang ia lihat pada tiga lukisan yang pernah ia lihat itu, dia si nona yang tadi bertempur di atas tembok kota. dia bocah elok yang dulu mendampingi si wanita jelek ini! Pantas saat melihat gambar nona itu, aku samar-samar langsung mengenali dia. Jadi urusan hari ini akibat dari peristiwa sepuluh tahun dulu itu..."

Saat Gim Soan sedang berpikir begitu, Tiang Keng saat itu sedang diliputi perasaan heran bukan main.

Di luar dugaannya, si Nenek Tua itu membekuk si baju kuning atau membekuk dia, malah orang yang diterjangnya justru si baju kuning.

Ia pun heran saat mendengar pertanyaan Un Jie Giok pada anak muda itu, tapi ia tak perlu berpikir lama untuk mengerti duduk persoalannya, mengerti seperti Gim Soan.

"'Ah, kiranya dia si bocah berbaju kuning yang sepuluh tahun yang lalu ada di puncak Sie Sin-hong..."

Begitu pikir Tiang Keng. Dengan demikian ia jadi ingat si bocah wanita cantik yang dibawa-bawa oleh Un Jie Giok.

"Sungguh luar biasa,"

Pikir Tiang Keng.

"Sepuluh tahun yang lalu mereka berkumpul di suatu tempat dan hari ini mereka berkumpul lagi di sini!"

Ang-ie Nio-nio heran melihat Gim Soan diam saja. Ia lak tahu apa yang sedang dipikirkan pemuda itu.

"Apakah kau ini murid Ban Biauw Cin-jin?"

Tanya si nyonya tua pada Gim Soan dengan bengis.

"Hm! Gurumu manusia licik, tidak disangka ia punya murid sepertimu, murid yang liciknya seperti dia!"

Sampai di situ baru Gim Soan membuka mulut.

"Benar Guruku Ban Biauw Cinjin?"

Ia mengaku.

"Aku sudah mendengar Suhu sering menyebut-nyebut namamu, Loo-cianpwee. Kata beliau Loo-cian-pwee sahabat baiknya, maka itu aku heran, sekarang Loo-cian-pwee bersikap begini terhadap aku......."

"Sahabat baik yang sudah bergaul lama, hm, sahabat kekal yang sudah bertahun-tahun!"

Kata si nenek berulang-ulang. Ia tertawa melenggak dan lama sekali.

"Ya, sahabat sudah beberapa tahun! Bahkan belasan tahun lamanya, dia puas! Pada sepuluh tahun yang lalu, aku telah berbuat salah pada orang she To, juga untuknya, si sahabat belasan tahun! Padahal dengan orang she To itu aku tidak bermusuhan...."

Mendadak dia menoleh ke arah Tiang Keng, ia berkata dengan dingin.

"Apa yang kukatakan barusan tidak ada hubungannya denganmu! Tapi bisa kujelaskan padamu. Ayahmu itu memang benar aku yang membunuhnya! Jika kau hendak menuntut balas, kau boleh melakukannya padaku!"

Kemudian tanpa menunggu jawaban Tiang Keng lagi. dia berkata pula pada Gim Soan dengan suara keras.

"Sejak hari itu, entah berapa banyak peristiwa yang dilakukan oleh gurumu, di kolong langit ini, orang yang paling licik, tidak ada yang menimpali Ban Biauw Cin-jin! Hm, siapa kira setan cilik, kau pun hampir mirip dengannya! Aku tanya kau! Barusan kau bilang kau tidak kenal pada turunan orang she To ini, lalu kenapa kau mengatakan bahwa kau punya urusan dengannya? Bisakah kau bermusuhan dengan orang yang tidak kau kenal ini? Kau bicara supaya aku mengerti!"

Gim Soan melengak.

"Permusuhan apa di antara aku dan orang she To?"

Ia bertanya pada diri sendiri.

Pertanyaan itu tak sanggup ia jawab sendiri.

Sebenarnya ia cuma benci pada Tiang Keng, ia tidak punya permusuhan atau persengketaan lain dengannya.

Melihat pemuda itu diam saja, Un Jie Giok tertawa tawar.

"Apa yang sedang kau pikirkan?"

Tegur Un Jie Giok.

"Lekas kau bicara terus terang kepadaku! Kalau tidak, awas!"

Sambil menutup kata-katanya itu, si Nyonya Tua memegang lebih keras, terus tangan Gim Soan dia angkat naik hingga tubuh anak muda itu turut terangkat ke atas.

"Apa yang aku bilang semuanya benar,"

Kata Gim Soan.

"Aku mengagumi Loo-cian-pwee! Mana berani aku berpikir yang tidak-tidak terhadapmu?"

Berbareng dengan kata-kata yang terakhir itu, Gim Soan menggerakkan tubuhnya, tangan dan kakinya.

Saat tubuhnya merapat ke tubuh si Nyonya Tua, kedua tangannya dipakai menotok dan menyikut lawan.

Dengan kaki kiri, ia menggedruk dengkul kanan si Nyonya Tua dengan keras.

Semua gerakan itu dilakukannya secara berbarengan.

Un Jie Giok kaget sekali.

Ia tidak mengira anak muda berberbaju kuning ini bernyali demikian besar, ia berani menyerang demikian rupa.

Bahkan serangannya sangat kejam dan berbahaya.

Untuk menolong diri dari ancaman bahaya itu, ia melepaskan jambakannya dan tubuhnya mencelat mundur beberapa langkah.

Syukur dia bisa bebas dari serangan berbahaya itu.

Gim Soan melompat ke depan lima kaki jauhnya.

Karena si nyonya tidak menendang, ia berpikir.

"Ah, kepandaian dia cuma sebegini saja!"

Karena itu, berkuranglah rasa jerihnya terhadap si nenek tua. Segera ia rapikan bajunya, dan berkata.

"Aku tidak mengerti, mengapa Loo-cian-pwee mencaciku? Taruhkata benar Guruku pernah berbuat salah pada Loo-cian-pwee, saat Guruku belum menutup mata, mengapa Loo-cian-pwee tidak segera membuat perhitungan sendiri dengannya?"

Kata-kata pancingan itu untuk memanasi hati si Nenek, supaya si Nyonya Tua itu pergi mencari Ban Biauw Cin-jin, gurunya.

Un Jie Giok seorang yang pintar luar biasa.

Gim Soan menduga tentu dia dapat membaca maksudnya, maka ia mengawasi dengan tajam pada perempuan jelek itu.

Ia mengira Un Jie Giok bakal tertawa seperti tadi atau dia akan melompat berjingkrakan saking dongkolnya.

Tapi ternyata dugaan Gim Soan meleset jauh.

Sampai sekian lama ia menantikan, ia dapatkan si nyonya bersikap tenang-tenang saja.

Wajahnya tenang, matanya yang tajam pun tenang.

Ia pikir lawannya ini sedang berpikir keras atau kata-katanya itu tak terdengar olehnya ....Kemudian murid Ban Biauw Cin-jin berpaling ke arah Tiang Keng.

Ia lihat pemuda itu diam saja, mungkin sedang berpikir, kepalanya ditundukkan.

Rupanya sang lawan sedang memikirkan sesuatu.

Ia jadi heran sekali.

"Aneh sekali dia orang,"

Pikir Gim Soan.

"Tadi dia sangat galak, kenapa sekarang tiba-tiba dia jadi diam saja?"

Gim Soan menoleh ke arah Un Jie Giok, si nyonya tua juga sedang menunduk diam tak berkutik.

"Eh, kenapa Jie Giok pun mematung begitu?"

Pikir Gim Soan.

"Lagaknya mirip nona muda-belia sedang memikirkan tunangannya...."

Kemudian Gim Soan menoleh ke arah belasan nona-nona cantik yang membawa bumbung bambu hijau dan kipas di tangan mereka masing-masing.

Walau mereka tetap berkumpul dan mengepung lawan mereka, mereka diam sedang mata mereka mengawasi tanah ..

Dasar cerdik.

Gim Soan menduga sesuatu.

"Mereka semua sedang terpaku, buat apa aku juga terpaku sini?"

Aku tidak bermusuhan dengan Un Jie Giok maupun Tiang Keng.

Aku cemburu pada Tiang Keng.

Karena aku pikir percuma saja aku diam saja di sini.

malah mungkin aku bisa mendapat bahaya.

Lagipula untuk angkat kaki, ini saat yang paling baik, aku sepertinya sedang tidak dihiraukan oleh mereka."

Oleh karena itu, ia segera memutar tubuhnya untuk berlalu dengan diam-diam.

Ia berharap Un Jie Giok tidak melihat dan tidak menghalangi gerakgeriknya.

Setelah berjalan beberapa langkah, Gim Soan mendapat kenyataan tidak ada gerakan apa-apa dari perempuan tua itu.

Ia heran karena tak dapat menahan rasa ingin tahunya, lantas ia menoleh ke belakang, pada saat ia menoleh ia lihat Un Jie Giok sudah berdiri di depan dia.

Wajah Ang-ie Nio-nio dingin sekali "Di mana gurumu sekarang berada?"

Tanya wanita tua itu. Saking kagetnya, Gim Soan melompat mundur sejauh tujuh kaki.

"Di mana gurumu sekarang?"

Tanya si nyonya dengan suara dingin.

Hati Gim Soan jadi tidak tenteram.

Ia duga pasti gurunya telah berbuat sesuatu yang tak selayaknya terhadap nyonya tua ini Ini bisa ia lihat dari sikap nyonya tua yang bengis sekali terhadapnya itu.

"Tak mustahil ada kisah asmara di antara Suhu dan wanita jelek ini?"

Pikir Gim Soan.

Oleh karena itu ia memandang dengan tajam pada si nyonya tua.

Ia lihat kecuali sangat jelek, usia nenek tua itu pun sudah lanjut sekal.

Karena itu, tak mungkin di dunia ini ada pria yang bisa jatuh cinta pada wanita jelek semacam ini ....

"Di mana guruku berada sekarang, aku pun tidak tahu,"

Jawab Gim Soan dengan licik. 'Loo-cian-pwee dan Guruku sahabat lama, kenapa Loo-cian-pwee justru menanyakan dia kepadaku?"

Sambil bicara begitu, Gim Soan terus ia awasi si nyonya tua jelek itu.

Wanita jelek dan bersikap dingin itu mendadak terlihat berubah sikap.

Matanya yang bersinar tajam berubah menjadi lunak.

Ketika ia bicara, suaranya pun perlahan sekali.

"Sudah hampir lima tahun aku tidak pernah bertemu dengannya..."

Kata dia."

Ah, aku tidak tahu kenapa dia tak mau menemuiku Ia diam, rupanya ia sedang berpikir keras.

Gim Soan jadi geli.

la yakin terkaannya tak meleset sama sekali.

Sekarang ia jadi merasa aneh terhadap gurunya.

Meski pun sudah berusia lanjut, gurunya itu masih termasuk ganteng, maka ia jadi heran kenapa gurunya itu mencintai wanita jelek ini Walaupun Gim Soan sangat cerdas, pemuda ini tak dapat menggunakan kecerdasannya itu.

Ia tak dapat menerka hati Ban Biauw Cin-kun, gurunya yang sangat licin itu.

Sesungguhnya, si imam tua punya maksud lain.

Ia sedang menjalankan siasat seolah menyukai perempuan jelek itu.

Sampai setua itu, Un Jie Giok belum pernah bertemu dengan pria yang jatuh hati kepadanya.

Ia berwajah luar biasa buruknya, tetapi toh ia seorang wanita, manusia biasa, maka ia pun berharap cinta seorang laki-laki.

In Hoan mengetahui hati si nyonya tua ini, dia gunakan keadaan ini dengan baik sekali.

Dia bersandiwara di depan si tua jelek, dia buat perempuan itu mencintainya.

Kemudian, sesudah dia tak mem butuhkannya lagi, dia depak si wanita jelek itu!

Maka itu, bukan main sengsara hati Un Jie Giok ini.

hingga dia jadi sakit hati.

Walaupun sangat benci pada In Hoan, ia tetap berharap pria itu akan berubah hatinya dan akan kembali menemuinya....

Karena Gim Soan tak mengetahui soal ini.

ia heran melihat sikap si Nyonya Tua telah berubah.

Keduanya berdiri diam, mereka sama-sama berpikir sendiri-sendiri.

Tiang Keng awasi mereka berdua, ia pun berpikir.

Mulamula ia mengawasi ke sekitarnya, kemudian ia melompat maju dan dari mulutnya keluar kata-kata keras.

"Orang she Un, tak peduli duduk persoalannya, kau tetap musuh yang telah membunuh Ayahku, walaupun ilmu silatmu lebih lihay dari padaku, hari ini aku harus membalas sakit hati Ayahku itu! Aku tidak takut dihajar sampai mati oiehmu! Kau harus menyerahkan kepalamu untuk kupakai upacara menyembah yangi roh Ayahku!"

Un Jie Giok sadar dari lamunannya yang manis. Ia mebngangkat kepalanya, hingga tampak wajahnya yang bengis. Terlihat senyumnya yang tak sedap dipandang, tapi ia menoleh ke arah Gim Soan.

"Apa kau akan pergi?"

Kata si nenek sambil mengawasi dengan tajam. Lalu ia berpaling ke arah Tiang Keng sambil berkata.

"Jika kuhajar kau sampai mampus, bukankah si orang she To itu jadi tidak punya turunan lagi? Dengan demikian, bukankah sakit hati Ayahmu jadi seperti tenggelam terus di dasar lautan yang dalam? Hm! Semula aku kira kau seorang anak berbakti, ternyata kau seorang manusia biasa yang tidak berguna!"

Tiang Keng heran mendengar kata-kata itu, ia diam.

Ia yakin wanita lihay itu bukan lawannya, karena itu jika sekarang ia membalas dendam, sulitnya sama dengan naik ke langit.

Tadi pada saat si nyonya Tua sedang bicara dengan Gim Soan, ia berpikir akan angkat kaki akan pulang ke Ong Ok-san.

Dia harus belajar lagi lebih jauh.

Tapi dia tidak menyesal jika ia pergi dari situ, ia bakal tak akan bisa bertemu lagi dengan musuhnya itu.

Tapi menurut penda patnya justru sekaranglah saat yang paling baik untuk mewujudkan rasa penasaran hatinya yang telah ia pendam selama sepuluh tahun.

"Jika aku pergi, apa aku masih dapat disebut seorang lakilaki sejati?"

Pikir Tiang Keng.

Tiang Keng hatinya keras, ia mengambil keputusan saat itu juga untuk mengadu jiwa dengan musuh besarnya itu.

Sampai ia lupa, jika ia mati siapa yang akan mewakili dia untuk membalas dendam ayahnya...

Setelah diam sejenak, putera To Ho Jian ini berkata nyaring.

"Jika aku sampai mati!"

Kata Tiang Keng sengit.

"Pasti ada orang yang akan mewakili aku menuntut balas padamu! Sahabat Ayahku ada di seluruh negara ini, pasti salah satu di antaranya ada yang akan membalaskan sakit hatinya! Jika kau bisa mampus di tanganku, baru aku puas!"

Kedua mata Un Jie Giok terbelalak lebar, sinar matanyanya berkilauan, dia tertawa nyaring.

"Sahabat-sahabat ayahmu di seluruh negara ini!"

Dia mengejek.

"Sekarangi aku tanya kau! Aku telah membunuh Ayahmu pada sepuluh tahun yang lalu, tapi kenapa sampai sekarang tidak ada seorang pun yang datang membalaskan sakit hatinya padaku?"

Tiang Keng melengak lagi. Si jelek itu kata-katanya memang benar. Tetapi Tiang Keng tidak mengerti, buat apa dia berkata begitu.

"Sudah, jangan banyak omong!"

Bentak Tiang Keng.

"Sekali pun kau lihay, aku tidak takut!"

"Bagus! Bagus!"

Kata si jelek sambil tertawa terbahak.

"Melihat semangatmu ini, aku si orang tua akan memberi kesempatan padamu!"

Ia berhenti tertawa, dengan suara dingin ia menambahkan.

"Sekarang jika kau bisa mengalahkan aku, akan kubiarkan kau memotong kepalaku untuk kau pakai menyembahyangi roh Ayahmu!"

Tiang Keng tertawa dingin.

"Kata orang kau orang tersohor, aku yakin kau tidak bakal ingkar janji!"

Kata Tiang Keng.

"Cuma ."

Un Jie Giok tidak senang mendengar kata-kata itu.

"Kau kira aku orang macam apa?"

Tanya dia dengan suara keras.

"Apa kau kira semua budakku bakal membantuku? Kau keliru! Kita akan bertempur berdua saja, satu lawan satu. siapa pun tak boleh membantu aku! Jika kau menang, pembalasanmu telah terwujud! Juga..."

Tiba-tiba suara wanita jelek itu jadi perlahan.

"... tidak bakal ada orang yang mencarimu untuk membalas sakit hatiku kepadamu!"

Tiang Keng membusungkan dadanya.

"Jika kau yang menang, kau pun bebas mengambil kepalaku!"

Kata Tiang Keng dengan gagah. Jie Giok melambaikan tangannya, dia tertawa dingin.

"Jadi kau pun ingin memberi kesempatan padaku? Hm!"

"Lalu?"

Tanya si anak muda heran. Nyonya jelek itu tertawa.

"Jika kau kalah olehku,"

Kata dia.

"Aku cuma menghendaki agar kau melakukan satu hal, supaya di kemudian hari sesudah kau belajar silat lebih jauh, kau bisa datang lagi mencariku untuk melanjutkan usaha menuntut balas padaku! Sampai itu waktu, aku tidak akan menyesal atau sakit hati padamu!"

Mendengar kata-kata demikian bukan hanya Tiang Keng yang keheranan tapi juga Gim Soan si anak muda berbaju kuning murid Ban Biauw Cin-jin.

"Apa yang si jelek ini minta pada si pemuda melakukannya?"

Pikir Gim Soan.

"Pasti itu urusan lebih hebat sepuluh lipat daripada kematian! Hm! Kalau dia berjanji begini padaku, aku tidak akan sudi menerimanya!"

Gim Soan lantas menoleh melihat ke arah si anak muda untuk menanti jawaban.

Ia lihat Tiang Keng mengepal keras kedua belah tangannya, matanya memandang ke bawah.

Jelas pemuda itu sedang berpikir keras.

Memang Tiang Keng pun menduga bahwa permintaan si nyonya tua pasti hebat luar biasa.

Akan tetapi ia ingin balas dendam dan ini adalah waktu yang baik, mana dapat ia lewatkan begitu saja?

Maka ia pun mengertakkan gigi dan menyahu.

"Baik! Kata-kata seorang kuncu harus bisa dipercaya!"

Un Jie Giok tertawa.

"Apakah kau sangka aku bakal menyangkal?"

Kata dia.

Gim Soan jadi geli juga.

Dia berpikir bocah she To ini bakal kena diakali.

Ia lantas menggendong kedua tangannya, untuk mendengarkan si nyonya bicara.

oo BAB 20.

UN JIE GIOK BERSIMPATI PADA TIANG KENG Tiba-tiba Tiang Keng berkata dengan suara nyaring.

"Nah, kau katakan apa permintaanmu itu!"

"Jika kau tidak sanggup, bagaimana?"

Tanya Un Jie Giok dingin. Gim Soan tersenyum geli ia berpikir.

"Benar-benar Ang-ie Nio-nio sulit dilayani! bagaimana jika dia mengajukan syarat yang tidak dapat melakukan oleh Tiang Keng, bukankah itu sama saja dengan ia ingin menyuruh Tiang Keng binasa?"

Tiang Keng tercengang.

"Apa yang kau minta?"

Kata Tiang Keng.

"Kalau itu benar tak dapat kulakukan, karena hanya akan menyulitkan aku saja, baiklah, tak perlu kau sebutkan! Aku To Tiang Keng, sebelum aku mati, hatiku sudah tenang! Untukku, mati atau hidup, sama saja tak akan kuhiraukan!"

"Tapi pasti permintaanku ini akan sanggup kau lakukan!"

Kata si Nyonya Tua kelihatan tak puas.

"Jika kau bilang begitu, pasti aku sanggup melakukannya!"

Kata Tiang Keng.

"Memang aku tidak percaya ada sesuatu yang tak dapat dikerjakan oleh manusia!"

Pada wajah dingin dari Jie Giok tampak senyumnya. Ia mengangguk.

"Bagus!"

Kata Jie Giok.

Tiba-tiba tubuh Jie Giok mencelat ke depan si anak muda, tangan kirinya menyerang, tangan kanannya membabat pinggang lawannya.

Kedua jago Khun Lun itu gerakannya berbareng dan gesit sekali.

Tiang Keng terkejut.

Syukur ia waspada dan tetap curiga.

Segera ia berkelit ke samping, sambil berkelit ia menegur.

"Kau belum menjelaskan syaratmu, kenapa kau sudah menyerang secara mendadak?"

Nyonya tua itu menjawab dengan suara tawar.

"Jika kau menang, soal itu tak usah disebutkan lagi! Jika kau kalah, akupun tidak ingin merampas jiwamu! Sampai kita selesai bertanding, baru aku akan bicara!"

Ujar seorang di antara mereka.

Sesudah berkata begitu, kembali Jie Giok menyerang.

Hebat orang tua ini.

dengan cepat ia sudah menyerang sebanyak belasan kali.

Dia sudah tua tetapi dia sangat gesit dan tenaganya pun kuat sekali.

Gim Soan ingin mendengar syarat orang itu, sekarang ia malah menyaksikan si nyonya tua menyerang lawannya, ia j adi heran.

"Benar-benar Ang-ie Nio-nio ini kejam! Dia pun aneh sekali! Kalau dia mau menyerang orang, buat apa dia bertanya banyak-banyak dan hendak mengajukan permintaannya itu? Toh tak nanti pemuda ini menyangkal kata-katanya? Sebenarnya apakah permintaannya itu?"

Pikir Gim Soan.

Aneh atau tidak, anak muda ini pun jadi tertarik hatinya, ia ingin mengetahui kesudahan pertempuran itu.

Tapi di lain pihak, tiba-tiba ia ingat si nyonya tua juga melarang ia pergi.

Mau apa dia?

Kenapa ia berlaku tolol menantinya?

Bukankah ini saat yang baik buat angkat kaki.

"Apa pun yang ingin si pemuda To melakukannya, itu tak ada hubungannya denganku, bukan?"

Pikir Gim Soan akhirnya.

Gim Soan lantas memutar tubuhnya untuk berlalu.

Ketika ia melihat ke depan, ia terperanjat.

Entah kapan bergeraknya, rombongan nona-nona itu telah mengepung dia.

Ia jadi menyesal sekali.

Terpaksa ia diam lagi, ia batal pergi.

Lantas ia awasi pertempuran itu.

Un Jie Giok bertempur dengan hebat.

Dengan cepat ia mendesak.

Meskipun begitu, setelah belasan jurus, maka tahulah ia bahwa si anak muda benar-benar lihay hingga ia tidak berani berlaku gegabah lagi.

Tiang Keng melayani lawan dengan sungguh-sungguh, jika tidak, ia bisa celaka.

Lewat belasan jurus sudah, ia jadi repot.

Hampir saja ia tak dapat melakukan serangan balasan.

Tapi ia murid Su-khong Giauw, tak sudi ia kalah mentah-mentah oleh musuh.

Mendadak ia berseru, kedua tangannya mencengkeram ke arah dada nyonya tua itu.

Jie Giok terkejut.

Itu adalah pukulan yang berbahaya.

Itu ia ketahui dengan baik.

Tapi ia tidak takut.

Dengan gesit ia berkelit mundur, lalu saat tangan orang meluncur, ia membalas dengan sangat cepat.

Kedua tangannya menyambar ke muka lawannya.

Tiang Keng terperanjat.

Ia repot untuk menyelamatkan diri.

Akhirnya ia berhasil lolos.

Ia jadi penasaran, lalu ia ulangi serangannya.

Sekarang ke atas dan ke bawah, tangan kanan ke pelipis kiri, tangan kiri ke iga kanan.

Itulah pukulan luar biasa miliknya.

Jie Giok seorang jago tua, ia toh jadi heran.

Ia tidak kenal ilmu yang luar biasa itu.

Tapi ia tidak gentar olehnya.

Ia juga tidak mau sembarangan menangkis, ia menjejak ke tanah untuk lompat mundur dua tombak jauhnya.

Tidak tanggung ia berkelit, hingga terlihat bajunya berkibar-kibar.

Tiang Keng kagum menyaksikan kegesitan lawannya yang tua itu.

akan tetapi tanpa sangsi ia melompat menyusul lawan, sambil menyerang.

Gim Soan menyaksikan adegan itu.

Dia heran dan kagum, la juga mendongkol.

"Dia begini lihay, kalau dia dapat pergi ke Thian Bak-san. dia bisa menjago! Siapa sanggup menjadi lawannya?"

Pikirnya. Karena mendongkol, timbul pula rasa iri pemuda ini.

"Tak ada jalan lain, dia harus disingkirkan!"

Demikian pikir Gim Soan.

Ia segera mengambil keputusan, hingga ia lupa bahwa ia sendiri sedang dikurung oleh barisan wanita!

Pertempuran masih berlangsung hebat.

Tiang Keng mencoba mendesak lawannya.

Jie Giok mundur.

Kepastian kalah menang belum terdapat.

Dia mundur tanpa terkalahkan.

Dengan begitu terlihat kelihayan tubuh si jelek itu.

Sudah banyak jurus dilewatkan, Jie Giok tetap gesit dan tenang.

Sesudah itu baru tampak dia mulai balas mendesak.

Dia berhasil dengan cepat.

Sekarang tampak Tiang Keng yang terdesak ...Ketika itu matahari sudah naik tinggi, hawa panas sekali.

Tiang Keng sudah bermandikan peluh.

Ia jadi khawatir.

Diamdiam ia menarik napas.

Ia tahu dengan baik sekali, jika ia terus terdesak demikian, ia bakal segera dikalahkan.

Kekalahan seperti hilang harapannya untuk membuat pembalasan...

Keduanya masih bergulat sengit.

Lewat pula belasan jurus.

"Ah, sudahlah!"

Pikir Tiang Keng akhirnya. Ia melompat mundur ke luar gelanggang untuk menurunkan kedua tangannya, lalu dengan air muka guram, ia berkata perlahan.

"Katalan syaratmu itu!"

Jie Giok mengebut tangan bajunya yang panjang. Ia melenggak untuk tertawa.

"Menang ya menang, kalah ya kalah!"

Kata dia.

"Nak kau benar-benar seorang laki-laki!"

Ia menoleh ke arah Gim Soan. Mengawasi si baju kuning, ia tak tertawa, tak tersenyum. Ia berkata.

"Dibanding dengan kau atau gurumu, dia ini menang jauh!"

Gim Soan malu dan mendongkol.

"Hm!"

Ia memperdengarkan suaranya.

Dia segera memutar rubuhnya.

Angkuh lagaknya.

Tapi ketika ia mengawasi salah seorang nona berbaju merah, sengaja ia tersenyum!

Un Jie Giok yang melihat lagaknya jadi mendongkol sekali.

Matanya sampai bersinar-sinar.

"Dia benar mirip dengan gurunya!"

Pikir Jie Giok sengit.

Lantas ia menepuk kedua tangannya satu sama lain.

Belasan nona itu tertawa serentak.

Itu tepukan tangan yang merupakan tanda untuk segera bergerak.

Gim Soan terperanjat.

Tahu-tahu ia sudah terkurung seraya dihujani serangan.

Matanya pun seperti kabur melihat cahaya serba merah.

Yang hebat ialah serangan bangsing dan kipas bulu angsa.

Ia mengerti dirinya sudah terkurung oleh barisan rahasia Nie Tong Sian Bu.

Dia pun merasa malu....

Kembali terdengar suara tawa dingin Un Jie Giok, disusul dengan tepukan tangannya dua kali.

Mendengar isyarat itu, kawanan nona-nona berbaju merah itu lantas bernyanyi, gerakannya menjadi semakin cepat.

Gim Soan melihat lawannya mendesak secara bergantian.

Yang satu berhasil diserang mundur, yang lain maju menggantikan.

Ia khawatir sekali.

Gim Soan yang melirik ke arah barisan nona-nona itu, jadi terkejut.

Jelas tadi ia belum terkepung benar-benar.

Sekarang baru ia melihat tegas lihaynya barisan itu.

Maka ia merasa bahwa sakit hatinya sukar dibalaskan...

Jie Giok pun mengawasi pengurungan atas diri Gim Soan.

Ia menunjukkan roman yang menandakan bahwa ia memikirkan sesuatu.

Untuk sejenak ia tunduk.

"Kalau aku menjelaskan syaratku,"

Kata ia kemudian pada si anak muda yang ia awasi.

"Bukan saja itu tak ada bahayanya untukmu bahkan-sebaliknya. Itu masalah jika orang lain memintanya pun sukar untuk mendapatkannya. Jika kau sama dengan itu..."

Ia menunjuk ke arah Gim Soan.

"Hm! Hm! Sekalipun kau memohon sambil berlutut di depanku, tidak nanti aku meluluskannya!"

Tiang Keng heran hingga ia melengak.

Pada parasnya ia tidak menunjukkan suatu apa.

Ia sedang menunduk karena merasa malu dan penasaran.

Bukankah ia sudah tercekal di tangan musuh?

Kalau ia tak ingat sakit hati orang tuanya belum terbalas, mungkin ia sudah bunuh diri.

Tentang syarat Un Jie Giok, ia tidak menghiraukannya.

Dengan sikap tawar ia mengawasi nyonya jelek itu.

Un Jie Giok menghela napas sendiri.

"Sudah sejak beberapa puluh tahun aku menggunakan segala dayaku mengumpulkan barang-barang berharga dan luar biasa,"

Katanya perlahan.

"Buat semua itu,... semuanya benda yang sampiran... entah telah berapa banyak dosa yang aku telah lakukan... Sekarang, di ini detik, semua barang itu masih tetap berharga, akan tetapi itu tak dapat dipakai untuk menarik atau mengembalikan usia mudaku yang telah lewat..."

Ia berhenti bicara, matanya dipentang lebar. Dengan sinar tak berkedip, ia menatap si anak muda di depannya.

"Memang semua benda itu berharga luar biasa,"

Lalu ia menambahkan.

"Maka itu, meskipun untukku sudah tidak ada harganya, buat orang lain, mencari sepotong pun sulit. Akhirakhir ini aku telah terperdaya oleh seseorang, akan tetapi meskipun demikian, sisanya masih tidak sedikit, bahkan harganya tetap luar biasa. Jangan dibicarakan yang lainnya buat menyebut pedang saja, umpamanya. Semua itu adalah pedang-pedang yang orang rimba persilatan ingin dapatkan! Tahukah kau?"

Tiang Keng mengangguk tanpa terasa.

"Selama hidupku, aku hidup menyendiri, tabiatku memang aneh."

Kata si nyonya.

"Maka jika ada orang yang menentang kehendakku, aku lantas menghajarnya sampai mampus! Demikian juga orang-orang rimba persilatan. Di depanku menyebut aku Ang-i Nio-nio atau Ang-i Sian-cu, sebaliknya di belakangku, tak seorang pun yang berani mencaciku! Hm! Semua manusia tak seperti anjing dan babi, bagaimana juga mereka mencaciku, aku tak menaruh di hatiku, aku tidak mempedulikannya!"

Tiang Keng heran dan jadi tak sabaran. Orang itu bicara melantur, berpindah jauh dari pokok persoalannya Tapi toh ia harus mendengarkan orang itu bercerita lebih jauh.

"Semua yang kuucapkan ini, belum pernah aku utarakan pada siapapun,"

Demikian kata si nyonya.

"Entah mengapa, hari ini aku mau menuturkannya padamu. Mungkin ini disebabkan semasa kecilku, tabiatku sama dengan tabiatmu, keras tak terpatahkan. Maka begitu aku melihatmu, aku jadi seperti berjodoh denganmu. Ya, ini aneh luar biasa!"

Un Jie Giok menghela napas, lantas ia berjalan perlahan ke arah keretanya yang terhias lengkap dan indah Tiang Keng mengawasi.

Bukan main herannya ia mendapatkan hantu wanita ini bicara demikian rupa.

Toh, Tiang Keng tetap memusuhinya dan hendak membinasakannya.

Ia lihat tubuh yang kurus tertutup pakaiannya.

Kalau ia ingat kesepian seperti yang dituturkan nyonya itu, ia jadi simpati.

Mendadak kesannya jadi baik, hingga hampir saja ia lupa bahwa si nyonya itu musuh besarnya.

Tanpa merasa, pemuda ini berjalan mengikutinya.

Ia pun berjalan dengan perlahan-lahan.

Nyonya itu naik ke keretanya untuk bercokol seperti tadi.

Ia tampak seperti telah letih oleh usia tuanya.

Tapi tak lama ia duduk lesu, mendadak tubuhnya ditegakkan, kedua matanya bersinar.

Dengan dingin dan berpengaruh, ia berkata.

"Jika kau tidak turut pada perintahku, aku tetap akan mengambil nyawamu! Hm! Jangan kau sangka aku benar-benar berlaku baik terhadapmu!"

Tiang Keng heran, ia tercengang.

Nyonya tua ini memang benar-benar aneh dan sulit untuk diterka hatinya.

Sesudah berkata dengan bengis, si nyonya menyandarkan tubuhnya.

Sekali lagi ia duduk lesu seperti tadi, hingga terlihat tanda-tanda dari usia tuanya dan lemah tak berdaya.

Saat itu, siapapun yang tidak kenal padanya tak akan menyangka dia adalah si hantu wanita yang ganas dan ditakuti.

Sambil membuka kedua matanya, nyonya itu mengawasi mega putih yang sedang melayang-layang.

Karena itu, ia pun diam saja.

"Seumurku, aku benci semua orang di kolong langit ini!"

Katanya dengan sengit.

"Sebaliknya, semua orang di kolong langit membenciku! Cuma ada seorang yang aku sangat sayangi, hingga untuknya, jika aku disuruh mati aku bersedia mati tanpa membantah lagi!"

Sesudah berkata begitu, roman si nyonya tua tampak seolah sedang penasaran.

Tiang Keng jadi semakin heran.

Ia memikirkan siapa orang itu yang dapat kasih sayang nyonya tua ini.

Hanya sedetik, ia berpikir.

"Buat apa aku memusingkan diri? Dia toh tak ada sangkut-pautnya denganku?"

Maka ia menegur dirinya sendiri.

"Kenapa kau berkesan baik kepada musuh Ayahku?"

Maka ia lantas mengawasi dengan tajam pada si nyonya, terus ia bertanya.

"Apakah itu yang hendak diberitahukan padaku?"

Un Jie Giok seperti tidak mendengar pertanyaan itu. Ia terus berkata seorang diri.

"Kaulah anak jujur dan keras kepala, maka itu aku suka memberitahukan kepadamu!"

Katanya lagi.

"Orang yang paling kusayangi itu juga muridku satu-satunya! Pasti kau telah melihatnya ketika ia berada bersama-sama di kaki puncak Sie Sin-hong! Asal matamu tidak buta, kau tentu telah melihat bagaimana cantiknya dia! Selama hidupku tidak sedikit aku telah melihat orang perempuan akan tetapi belum pernah aku mendapatkan yang cantiknya melebihi kecantikannya itu!"

Nyonya itu menghela nafas, tanpa memberi kesempatan dia berkata.

"Hanya, meski pun roman anak itu tampak halus dan sabar, sebenarnya hatinya keras sekali, dia sama bandelnya seperti aku. Itu tabiat asalnya! Barang siapa bertabiat demikian, sekalipun ilmu silatnya tinggi luar biasa, dia akan menderita... Aku sudah tua, aku rasa tidak bakal hidup lebih lama, karena itu aku mulai khawatir memikirkan dia. Aku tidak tahu bagaimana akhir peruntungannya kelak...."

Jago wanita itu bersandar di keretanya, tampak dia tenang sekali.

Dia bicara mengenai urusan pribadinya, urusan muridnya, manusia yang ia paling sayangi semasa hidupnya.

Sama sekali ia tidak mau menimbulkan urusan dengan si pemuda she To itu.

Tiang Keng jadi makin tidak sabaran, akan tetapi entah kenapa, ia tak tega memutus omongan orang itu.

Dengan demikian ia pun tidak tahu bagaimana "tidak sabarannya"

Gim Soan yang terkurung di dalam tarian silat Nie Tong Sian Bu.

Pemuda berbaju kuning itu sangat penasaran dan khawatir ia tak dapat meloloskan diri.

menyingkir dari bahaya, untuk dapat mendengar apa yang diucapkan si nyonya tua...

Tidak peduli dia gesit dan lihay, tapi murid Ban Biauw Cinjin tidak sanggup meloloskan diri dari kurungan.

Meskipun begitu ia masih sempat sewaktu-waktu mengawasi gerak-gerik si nyonya dan Tiang Keng, hingga ia lihat mereka seperti orang sedang ngobrol.

Setelah bertempur sekian lama, Gim Soan mendapat kenyataan bahwa ia diserang bukan untuk dicelakai, melainkan sedang dikurung.

Karena sekarang tidak bersungguh-sungguh seperti tadi.

Ia berani menyerang tanpa menghiraukan lagi pembelaan dirinya.

Dengan begitu ia jadi mendapat hati dan bersemangat lagi.

Tapi.

biar bagaimana, ia tetap terkurung...

"Ah, inilah hebat..."

Pikir Gim Soan. Ia jadi ingat pada Tiang Keng yang menyerah kalah pada si nyonya tua. Mulanya ia penasaran, ia tak suka mengaku kalah. Akan tetapi sesudah lewat beberapa jurus, ia kewalahan sendiri.

"Ah, sudahlah!"

Katanya sambil menghela napas.

Ia lantas berhenti bersilat.

Akan tetapi hebat baginya, saat ia berhenti itu, ia sudah diserang terus oleh nona-nona yang maju berbareng dari depan maupun belakang, kiri dan kanan.

Maka tanpa daya lagi berbagai jalan darahnya berhasil ditotok, tapi bukan jalan darah yang mematikan.

Waktu itu ia pun mendengar tawa riuh nona-nona itu mengejeknya.

"Eh. eh, mengapa kau begini tak berguna?"

Serangan perlahan dan tawa itu manis, tetapi Gim Soan merasakannya nyeri menusuk telinganya, sebab ia tengah dipermainkan.

Tiba-tiba ia jadi gusar sekali.

Mendadak ia berseru keras, bagaikan orang kalap, ia menyerang dengan hebat berulang-ulang!

Atas serangan Gim Soan itu kawanan nona-nona itu bergerak pula.

maka tetap jago muda ini tak berdaya melepaskan diri dari kepungan mereka...

oo BAB 21.

TIANG KENG DAPAT WEJANGAN DARI MUSUH BESARNYA Ketika Tiang Keng mendengar teriakan kalap Gim Soan, ia heran.

Namun saat ia hendak berpaling untuk melihatnya, tiba-tiba ia mendengar suara dingin dari si Nyonya Tua.

"Kau dengar tidak?"

"Aku dengar!"

Sahut Tiang Keng. Tuang Keng tak biasa mendengar suara tawar si Nyonya Tua akan tetapi ia bisa menahan amarahnya. Beberapa kali Un Jie Giok memperdengarkan ejekannya.

"Hm! Hm!"

Dingin suaranya itu. Lalu dia menarik napas dan berkata dengan duka.

"Ketika muridku itu masih kecil, ayah dan ibunya sudah menutup mata semua. Dia..."

Mendadak dia berhenti bicara.

Tiang Keng mengangkat kepalanya memandang ke arah nyonya tua itu, hingga ia melihat beberapa kali paras orang berubah-ubah dan yang paling tegas ialah penyesalannya.

Tentu saja ia kembali merasa aneh.

Maka berpikir.

"Mungkinkah dulu dia pernah susah hati?"

Pikir Tiang Keng. Jie Giok kembali menghela napas.

"Dia sampai tak tahu she dan nama ayah dan ibunya,"

Ia menyambung ceritanya.

"Oieh karena itu aku sendiri yang memberikan she dan nama padanya, yaitu Un Kin ... Coba kau katakan, nama itu bagus atau tidak?"

Lagi-lagi Tiang Keng melengak. Tapi walau ia ditanya hal yang ada di luar soal, toh ia mengangguk tanpa terasa. Jawaban itu membuat Jie Giok tersenyum.

"Sejak kutolong dia, Kin selalu ikut aku."

Ia meneruskan ceritanya.

"Tahun ketemu tahun, dia menjadi besar, tetapi tahun ketemu tahun, tawanya mulai lenyap sedikit demi sedikit. Dia belum seharusnya menemukan tahun-tahun kedukaan dan kesusahan hati. tetapi dia berduka melebihi orang lain. Ketika kutanya dia, kenapa berduka, ia tutup mulut, tidak mau memberitahuku. Tapi aku tahu, ia pasti mendukakan dirinya, tentang asal usulnya. Nah, coba kau pikir! Dia seorang anak gadis, usianya masih muda sekali, akan tetapi dia tak kenal ayah dan ibunya, iajuga tidak tahu she dan nama orang tuanya! Tidakkah hal itu sangat menyedihkan?"

Mau tak mau. Tiang Keng menghela napas.

"Kiranya nona berandalan itu punya riwayat yang begini menyedihkan..."

Pikir Tiang Keng.

Karena itu, tanpa merasa ia jadi simpati.

Ia ingat, bukankah ia pun bernasib sama, yaitu yatim piatu?

Cuma bedanya, ia tahu siapa ayah dan ibunya, siapa namanya, dan hal-ikhwal orang tua dan dirinya sendiri.

Bahkan sekarang ia berdiri di hadapan musuh besarnya!

Karena berpikir demikian, ia jadi bingung sendiri.

Un Jie Giok memandang ke sekelilingnya, lalu tatapannya jatuh pula ke muka si anak muda.

Sikapnya dingin, matanya tajam bagaikan pedang.

"'Eh, kau sedang memikirkan apa?"

Dia menegur keras. Tiang Keng yang sedang termenung jadi terperanjat.

"Apa kau sangka aku tidak tahu?"

Kata si nyonya tua.

"Hm! Hm! Seumurku, aku telah membinasakan orang banyak sekali, akan tetapi belum pernah ada seorang yang berani mencariku untuk menuntut balas! Tapi kau lain... kau ingin berbakti! Baiklah, nanti akan datang harinya yang aku akan membuat kau bisa mencapai cita-citamu itu...!"

Kembali Tiang Keng melengak.

"Apa artinya kata-katanya itu?"

Pikir Tiang Keng. Jie Giok tertawa dingin.

"Cuma sekarang kau sebaiknya mendengarkan katakataku!"

Kata dia.

"Saat kita bicara, bukan saja matamu tak selayaknya diarahkan ke lain jurusan, juga hatimu tak boleh kacau karena memikirkan yang bukan-bukan! Jika tidak... hm!"

Alis anak muda itu bangun, ia gusar sekali. Tapi cuma sedetik, ia j adi tenang kembali. Ia menghela napas. Lantas ia berkata.

"Riwayat Un Kin itu tidak ada sangkut pautnya dengan aku, oleh karena itu lebih dulu memberitahu aku apa yang harus kulakukan ..."

Un Jie Giok tiba-tiba tertawa aneh.

"Memang riwayat hidup Un Kin tidak ada sangkut-pautnya denganmu!"

Katanya.

"Tapi itu sekarang! Kalau nanti... maka sangkut-pautnya denganmu besar sekali! ..."

"Bagaimana itu bisa terjadi?"

Kata Tiang Keng heran. Un Jie Giok mengangkat tangannya yang kurus untuk merapikan rambutnya yang kusut tertiup angin. Ia tidak menjawab pertanyaan itu, tapi ia langsung berkata lagi.

"Sudah lama aku tinggal di Biauw-kiang."

Katanya lagi "Maka itu aku jarang sekali pergi ke Kang-lam.

Anak Kin selalu ikut aku, sampai sedemikian jauh belum pernah dia berpisah selangkahpun.

Maka itu, melihat dia tahun ketemu tahun bertambah duka, lantas aku mencari dan menggunakan segala dayaku agar dia terhibur.

Memang dia suka tertawa, akan tetapi hatinya tetap berduka ..."

Tiang Keng menghela napas. Ia berpikir pula.

"Un Jie Giok terkenal kejam. Siapa sangka terhadap anak pungutnya dia begini cintanya. Jadi benar seperti Suhu sering mengatakan, manusia itu walau bagaimana kejam pun, satu waktu atau di suatu tempat, ada rasa prikemanusiaannya. Tadinya aku tidak percaya itu, sekarang aku baru membuktikannya. Un Kin menderita tetapi dia masih mempunyai guru yang menyayanginya, ia masih beruntung..."

Lalu di depan pemuda itu terpeta bayangan wajahnya yang cantik manis si nona Un, yang tertawanya mirip bunga di musim semi.

Ketika ia membayangkan hal itu, ia jadi lupa pada pembicaraan yang belum jelas karena Jie Giok tetap belum memberikan penjelasan padanya.

Jie Giok mengangkat kepalanya, lalu ia berkata.

"Pada suatu hari anak Kin datang padaku, dia mengatakan ingin melihat orang-orang gagah di seluruh negeri. Dia minta pendapat dan bantuanku. Anak Kin sudah tinggal lama bersamaku, dia tahu dengan baik tabiatku, apa yang orang lain tak berani bicarakan, dia pun tak berani membicarakannya. Dari itu, permintaannya itu membuatku heran. Bagaimana aku dapat membantu dia? Bagaimana aku dapat mengumpulkan orang-orang gagah itu sedangkan semua orang membenciku? Tetapi belum pernah dia minta apa-apa dariku. Inilah yang pertama. Bagaimana aku dapat menolak permintaannya? Aku berpikir sekian lama, aku tak juga mendapatkan jalan..."

Jie Giok berhenti sebentar, tak lama ia melanjutkan lagi.

"Pada suatu hari saat aku sedang duduk diam sambil berpiki, mendadak aku ingat peristiwa di puncak Sie Sin-hong itu... Bukankah kau ingat dengan baik kejadian tersebut?"

"Hm!"

Tiang Keng memperdengarkan suaranya yang tawar.

"Meskipun tubuhku hancur lebur jadi abu, tak nanti aku melupakan peristiwa itu!"

Mata si nyonya tua bersinar, la terkejut. Ia lantas menatap wajah pemuda itu. Selang sejenak, ia mengangguk dan tersenyum.

"Nak, aku paling menyukai tabiatmu ini!"

Kata dia.

"Ah, meskipun ayahmu sudah meninggal dunia, jika dia mengetahui mengenai dirimu, bahwa dia mempunyai anak bersemangat seperti kau pasti dia tersenyum bangga di alam baka. ."

Nyonya tua ini agaknya menyesal dan berduka berbareng kagum.

Tiang Keng mengangkat kepalanya, ketika ia memandang muka si nenek, ia tidak melihat romannya yang kejam dan tawar.

Sebaliknya dia mirip seorang wanita tua yang murah hati.

Melihat demikian Tiang Keng tak tahu mesti gusar atau berduka "Ketika peristiwa aneh itu terjadi di Tiat-coan-tauw di puncak Sie Sin-hong, kau tentu menyaksikannya,"

Kata Un Jie Giok kemudian.

"Hari itu, tepatnya sekitar seratus lie di tanah pegunungan, semua binatang berbisa dan binatang liar berkumpul. Semua tahu bakal ada bencana tapi semua datang berbondong-bondong. Semua binatang itu datang untuk mengantarkan jiwa. Ilmu silatmu lihay kau tentu punya guru yang berilmu tinggi. Tapi, tahukah kau apa sebabnya terjadi keanehan itu?"

Tiang Keng diam untuk berpikir. Sebenarnya ia tak sudi bicara akan tetapi ia toh buka mulut juga.

"Ketika itu di Tiat-coan-tauw bersembunyi semacam binatang yang paling berbisa,"

Jawab Tiang Keng.

"Binatang itu berbisa tetapi dia dapat menghembuskan bau harum luar biasa hingga tidak ada binatang liar yang dapat menolak pengaruhnya."

Un Jie Giok tersenyum.

"Benar!"

Kata dia.

"Ketika itu aku mendapat pikiran jika aku mengundang orang-orang gagah, orang-orang tidak akan sudi datang. Tapi jika aku gunakan siasat seperti seng-cu atau katak itu, ia menggunakan umpan yang berbau harum, mungkin aku akan berhasil. Tak nanti orang-orang gagah itu menolak pancinganku itu, hingga meskipun mereka membenciku dan takut padaku, mereka pasti datang juga!"

Senang hati si nyonya ini. Dia tertawa.

"Aku tidak seperti kata Seng-cu itu,"

Kata dia lagi.

"Aku tak dapat mengeluarkan bau harum, akan tetapi aku punya sesuatu yang lain, melihat hal itu, siapapun pasti tertarik hatinya. Mustika itu hendak kujadikan sebagai bau harumku dan dengan mengandalkan bau harum itu pasti aku dapat mengumpulkan orang-orang gagah dari seluruh negeri, supaya mereka semua datang ke depan si Kin, anakku itu!"

Alis Tiang Keng berkerut. Sekarang ia mengerti duduk persoalannya.

"Ah, kiranya begini asal-usul lui-tay di Thian Bak-san itu...."

Pikir Tiang Keng. Mendadak sirna suara tawa Un Jie Giok. Kembali ia nampak berduka.

"Tapi si Kin tidak menyetujui seluruh pikiranku itu,"

Kata dia masgul.

"Si Kin berkata, walaupun mustikaku itu jadi mustika yang orang inginkan, sekalipun dalam mimpinya ingin memperolehnya, belum tentu ia dapat memancing semua orang gagah berkumpul. Bagaimana jika yang datang itu orang tak karuan? Jika itu terjadi, lebih baik dia tak melihat mereka! Si Kin benar juga. Maka aku harus berpikir lagi"

"Kelihatannya Un Kin cerdas dan jernih pikirannya,"

Ujar Tiang Keng dalam hati.

"Lewat tiga hari sejak pembicaraan kita itu,"

Demikian ujar Un Jie Giok.

"Si Kin datang padaku seraya membawa tiga helai gambar lukisan. Dia tunjukkan ketiga gambar padaku dia menerangkan bahwa dia hendak membangun lui-tay di gunung Thian Bak-san untuk mengadakan pertemuan mengadu ilmu silat. Kata dia, dengan caranya ini maka semua orang serakah pasti bakal datang dan selain itu bakal datang anak muda yang masih bujangan. Mungkin ada orang yang tertarik pada barang berharga, tetapi ada orang yang datang karena terpengaruh ingin mengadu kepandaian silat atau untuk menonton saja. Kata dia, manusia itu tak semuanya bebas dari pengaruh harta dan nama, dari paras elok dan gemar pada yang aneh-aneh...."

Mendengar demikian. Tiang Keng jengah sendiri.

"Sungguh memalukan ..."

Pikir Tiang Keng.

"Aku tak peduli pada harta maupun paras elok, tapi benar aku tertarik rasa aneh, rasa ingin tahu. Dengan demikian Un Kin ternyata dapat menerka dengan tepat hati manusia...."

Jie Giok melanjutkan ceritanya.

"Mendengar pikiran si Kin itu, aku heran. Lantas aku tanya dia, bagaimana jika di akhir pertandingan ternyata si pemenang seorang berkepala gundul? Apakah dia bersedia menikah dengannya? Dia hanya tersenyum, tak men jawab. Sebaliknya dia bertanya apakah aku setuju? Pikir punya pikir, akhirnya aku menerima permintaannya itu. Setelah memberi izin, aku jadi menyesal. Aku ingat, di kolong langit ini pasti tak banyak orang yang dapat mengalahkannya. Beberapa orang itu pasti usianya sudah lanjut atau mungkin tampangnya jelek. Jika si Kin menikah dengan orang semacam itu, apakah dia bukan jadi burung Hong yang mengikuti gagak?"

Berkata sampai di situ, si nyonya tua memandang ke arah si anak muda.

"Hari ini aku melihat kau,"

Kata dia lebih jauh.

"Maka aku tahu di kolong langit ini benar-benar ada orang-orang yang luar biasa. Orang yang berhasil mendidikmu menjadi begini lihay pasti kepandaiannya sukar dicari. Meskipun aku tidak tahu dia siapa dan kau pasti tak sudi memberitahu aku mengenai gurumu itu, toh aku mengaguminya! Aku kagum sebab bukan saja ia dapat mengajari ilmu silat yang sempurna, juga dia dapat mendidikmu menjadi seorang lakilaki sejati! Sedemikian jauh yang kuketahui, di dunia ini ada orang-orang yang lihay ilmu silatnya tapi rendah martabatnya!"

La lantas menunjuk ke arah Gim Soan, anak muda berbaju kuning yang tengah terkurung di dalam tarian silat Nie Tong Sian Bu.

Saat itu gerakan Gim Soan makin lama makin lemah, suatu tanda tenaganya sudah mulai habis.

Ia berkata.

"Dia bersama gurunya, masuk hitungan golongan yang rendah martabat itu!"

Lagu suara si nyonya menyatakan ia sangat jemu dan benci.

Pikiran Tiang Keng jadi kacau.

Ia jadi terbawa pergi terpisah jauh dari pokok masalahnya.

Ia pun heran Jie Giok sangat membenci pada Gim Soan.

Pikirnya.

"Bukankah Jie Giok sebangsa dengan pemuda itu serta guru si pemuda pun begitu? Kenapa sekarang dia bicara begini? Tidakkah ini aneh?"

Ia tidak tahu bagaimana bencinya Jie Giok terhadap Ban Biauw Cin-kun In Hoan.

Ia memandang ke arah si nyonya tua, yang terus menunduk mengawasi jari tangannya, seperti dia sedang memikirkan apa-apa yang mengganjal di hatinya.

Ia lantas berpura-pura batuk.

Tapi si nyonya tua diam saja, dia seperti tak mendengar suara batuk itu.

la jadi sangsi untuk menanyakan pada si nyonya itu, sebenarnya dia hendak menyuruh melakukan apa.

Ia lihat si nyonya itu jadi tenang sekali, lenyap roman bengisnya, hingga sebaliknya, dia tak lagi sebengis tadi.

"Dia pasti sedang berpikir sesuatu yang baik."

Pikir Tiang Keng lebih jauh.

"Dia jahat, mungkin dulu dia tak pernah setenang ini .. .""

Karena itu Tiang Keng batal menegur orang itu, ia berpaling ke arah Gim Soan, yang seperti terus terkurung di antara sinar merah.

Kawanan nona-nona itu tetap mengepungnya, tampaknya mereka ayal-ayalan, tapi sebenarnya mereka bergerak sama cepatnya seperti tadi!

Karena itu, tubuh si pemuda hampir lenyap dari penglihatan ...

oo BAB 22.

JIE GIOK MENGAJARI TIANG KENG KUNCI PENAKLUK NIE TONG SIAN BU Di mata Tiang Keng, meskipun jumawa dan angkuh, Gim Soan seorang yang berkepandaian silat tinggi dan jarang ada orang selihay dia.

Sungguh lacur baginya, hari ini dia bertemu dengan rombongan Nie Tong Sian Bu hingga dia terkurung tak berdaya.

Ini menunjukkan Hhaynya silat tari itu.

Karena itu, ia lantas mengawasi nona-nona itu untuk memperhatikan cara mereka bergerak, ternyata sangat serasi satu sama lain.

Saking cepatnya mereka bergerak, hingga sulit untuk dilihat dengan tegas.

Tiang Keng yang tertarik akhirnya terus mengawasi.

Ini cocok dengan sifatnya yang menggemari ilmu silat.

"Kelihatannya Nie Tong Sian Bu hampir mirip dengan Kiu Kiong Pat-kwa Tin dari Bu Tong Pay,"

Pikir Tiang Keng setelah menonton sekian lama.

"Cuma Pat-kwa Tin kalah cepat...."

Tiang Keng tertarik berbareng merasa heran. Ini karena ia belum mengerti dasar Nie Tong Sian Bu itu. Maka ia berpikir.

"Dengan begini jelas Un Jie Giok lihay luar biasa, dia melebihi kebanyakan orang. Kalau begini, bagaimana aku bisa menuntut balas terhadapnya?"

Berpikir begini, pikiran si anak muda jadi kacau. Hebat jika ia tidak sanggup melakukan pembalasan untuk ayahnya. Tengah ia diam itu, tiba-tiba ia mendengar suara tawa dingin dari Jie Giok.

"Tari silat Nie Tong Sian Bu ini bukan tari silat paling istimewa di kolong langit ini. Meski demikian, kau tak akan mengerti hanya dengan melihat sekelebatan saja!"

Tutur Jie Giok. Tiang Keng jadi terperanjat. Tak ia sangka kalau si nyonya tua memperhatikannya. Jie Giok berkata lagi.

"Tari silat ini mengutamakan langkah kaki. Kalau kau memperhatikan hanya gerak-gerik tangan, kau bakal gagal, jangan kata baru satu jam atau setengah harian, sekalipun satu tahun pun tidak bakal ada hasilnya!"

"Sungguh aku harus malu!"

Pikir Tiang Keng.

Memang benar dugaan si nyonya tua ia memang lebih mengutamakan mengawasi tangan nona-nona itu.

Jie Giok berhenti bicara, sebagai gantinya ia bertepuk tangan, satu kali tetapi nyaring, seperti suara batu kumala diketuk.

Atas ketukan itu maka semua nona-nona itu lantas bergerak dengan perlahan.

Tiang Keng heran.

"Apakah Jie Giok ingin menunjukkan keistimewaan tari silatnya ini padaku, supaya aku mengerti?"

Pikir Tiang Keng.

Itulah tak masuk di akal, sangat bertentangan dengan kenyataan.

Tak mungkin hantu yang telengas itu mau membuka rahasia kepandaiannya kepada orang lain, terutama kepada orang yang terang memusuhinya !

Heran atau tidak, Tiang Keng melihat bukti.

Nona-nona itu bertindak perlahan, menyerangnya pun perlahan juga, hingga tampak jelas cara mereka bergerak.

Dalam herannya, diamdiam ia girang.

Gim Soan pun heran kenapa semua orang yang mengepungnya mengendurkan gerakan.

Ia memang sudah kehabisan tenaga.

Perubahan ini membuat ia girang sekali, hingga semangatnya terempos lagi.

Tenaganya seperti pulih kembali.

Untuk dia setiap detik istirahat sangat berharga.

Ia menyalurkan nafasnya, ia lantas menyerang dengan hebat.

Ia ingin lolos dari kurungan itu!

Walaupun nona-nona itu bergerak secara perlahan, kuningannya tak dapat didobrak atau dipecahkan.

Mungkin Jie Giok sudah melihat aksi Gim Soan, atau mungkin ia sudah memperlihatkan cukup lama pada Tiang Keng maka ia bertepuk tangan lagi.

Atas tepukan itu dengan lantas nona-nona itu bergerak lagi dengan cepat seperti tadi!

Si jelek ini melirik ke arah Tiang Keng.

Ia mendapatkan pemuda itu sedang mengawasinya dengan perhatian penuh.

Ia batuk sekali.

"Apakah kau sudah melihatnya dengan jelas?"

Tanya wanita itu. Tiang Keng berpaling.

"Terima kasih!"

Ucapnya. Ia pun tertawa. Karena kecerdasannya, di dalam tempo yang singkat itu ia telah berhasil mengetahui lebih daripada separuh kelihayan tari silat itu.

"Jie Giok berbuat begini, apa mungkin ini disebabkan ada hubungannya dengan soal yang dia bakal berikan padaku?"

Tak sempat si anak muda berpikir lama, ia sudah mendengar suara Jie Giok, dingin.

"Sekarang masih ada tempo beberapa hari untuk tiba pada harian Pee-gwee Tiong Ciu (bulan delapan pertengahan Musim Ciu), maka itu di dalam tempo beberapa hari ini, kau harus telah berhasil mencari jalan untuk memukul barisan Nie Tong Sian Bu. Kau berlatihlah dengan sungguh-sungguh, kelak di hari itu kau boleh pergi ke Thian Bak-san!"

Tiang Keng melengak.

"Apakah ini soal yang hendak kau minta aku melakukannya?"

Tanya Tiang Keng tanpa sengaja. Paras Un Jie Giok tidak berubah, dia seperti tidak mendengar pertanyaan itu.

"Berhubung dengan urusan adu silat di Thian Bak San,"

Kata dia meneruskan.

"Orang bakal datang berduyun-duyun dari kedua tepi Sungai Besar (Tiang-kang) serta jago-jago dari selatan dan utara sungai Tiang Kang. Itu berarti sudah separuh lebih dari seluruh jago di negeri ini, maka di antaranya pasti tak sedikit orang yang lihay. Pada hari itu kau bisa merobohkan semua jago yang naik ke atas panggung pertandingan..."

Nenek itu tersenyum, tapi lantas dia menambahkan.

"Melihat ilmu silatmu, kecuali tidak terjadi sesuatu yang luar biasa, dalam sepuluh, delapan bagian kau pasti berhasil!"

Tiang Keng jadi semakin heran.

"Apa maksud Jie Giok ini?"

Jie Giok memandang pula, dia pun tersenyum.

"Sesudah itu kau harus sanggup memukul pecah Nie Tong Sian Bu...."

Dia melanjutkan dengan sabar.

"Di akhirnya, kau harus bertanding dengan si Kin, muridku itu. Bertanding di hadapan orang-orang gagah dari seluruh negeri. Asal kau dapat merobohkan dia, maka ..."

Ia berhenti untuk tertawa. Hati Tiang Keng terguncang. Ia membuka mulut tetapi suaranya tak keluar. Ia cuma melihat nyonya tua itu menatap pula padanya.

"Jika si Kin bisa menikah denganmu, legalah hatiku,"

Kata si hantu wanita.

"Dia bertabiat buruk, di dalam segala hal kau harus mengalah sedikit...."

Tiba-tiba suaranya berubah jadi keras dan berpengaruh.

"Jika kau memperlakukan dia dengan buruk, walaupun aku sudah mati, sebagai setan aku akan mencarimu untuk membuat perhitungan denganmu!"

Tiang Keng terkejut. Hebat ancaman itu. Karena itu, ia mengawasi dengan mendelong.

"Apa ini yang kau ingin kulakukan?"

Kemudian ia bertanya pula. Ia tak dapat menerka lain. Tapi ini membuatnya heran sekali. Tapi Un Jie Giok hanya tersenyum.

"Benar!"

Sahutnya.

"Jika aku tidak melihatmu sangat cerdas, meski kau berlutut di depanku tiga hari tiga malam untuk memohon, tidak nantinya aku meluluskan permintaanmu!"

Tiang Keng mencoba menenangkan diri, kemudian ia berkata dengan terang dan jelas.

"Barusan aku telah dikalahkan olehmu, maka itu, meskipun kau memerintahkan aku menyerbu ke dalam api yang berkobar-kobar, tidak nanti aku menolak, tak nanti aku mengerutkan alis, akan tetapi urusan ini...."

Jie Giok menyela sambil tertawa dingin.

"Urusan ini bagaimana?"

Dia bertanya.

"Apakah ini bertentangan dengan prikemanusiaan, .kehormatan atau kebijaksanaan? Apakah ini sesuatu yang tenaga manusia tak dapat melakukannya?"

Tiang Keng melengak.

la terus tunduk.

Ia tak dapat menjawab pertanyaan itu.

Sia-sia saja ia berpikir untuk membuka mulutnya.

Benar apa yang dikatakan Jie Giok.

Itulah hal yang manusia dapat melakukannya.

Seharusnya ia ingin menepati janjinya.

Tetapi, Un Kin itu murid musuh besarnya ...

Saat ia sedang kebingungan itu.

Tiang Keng mendengar nyonya itu kembali tertawa dingin dan berkata.

"Kau sudah berjanji padaku akan menerima dan melakukan apapun yang kumau! Maka kau harus mengerti, kata-kata seorang ksatria, sekali dikeluarkan, empat ekor kuda tak dapat mengejarnya! Itu kata-kata yang keluar dari mulutmu sendiri dan aku anggap apa yang kau ucapkan, harus kau wujudkan! Kau seorang laki-laki sejati! Hm! Siapa tahu... sekarang kau bicara begini! Tahukah kau, kau telah membuat aku si orang tua jadi putus asa!"

Tiang Keng mengangkat kepalanya, ia lihat mata Jie Giok, dua-duanya sedang mengawasi secara mengejek kepadanya.

Dadanya jadi bergolak sendiri Lantas ia ingat pada suatu lakon dulu, tentang seorang bernama Bwee Seng berjanji dengan seorang nona akan bertemu di kolong jembatan.

Sebelum si nona tiba, air bah telah mendahuluinya.

Bwee Seng tak ingin salah janji, ia tidak mau pergi dari jembatan, ia menanti terus.

Ia memeluki tiang jembatan dan mati karenanya.

Bwee Seng mati tetapi kepercayaannya tidak ikut mati atau diingkarinya.

Karena itu, namanya jadi harum untuk selama-lamanya.

"Maka itu aku To Tiang Keng, apakah aku harus merusak kepercayaanku?"

Ia bertanya pada dirinya sendiri.

Aku belum dapat berbuat setia pada negara, aku tak mampu merawat orang tua.

tetapi aku harus menjunjung kepercayaan!

Ayahku seorang gagah, Ayah tentu tak sudi aku jadi seorang yang tak dapat dipercaya!

Mana mungkin Ayah menghendaki aku ditertawakan oleh Un Jie Giok?

Tapi...."

Ia diam lagi. Urusan ini sangat sulit. Tetapi ia seorang laki-laki, lantas ia mengambil keputusan. Ia pun berkata dengan suara nyaring.

"Baiklah! Aku sudah mengeluarkan kata-kataku padamu, aku akan pegang itu, aku tak akan menyesal! Akan tetapi, meskipun aku menikah dengan muridmu, dalam tempo tiga tahun, pasti aku akan mencarimu untuk mewujudkan pembalasan sakit hatiku! Jika kau menganggap aku melupakan maksudku mencari balas, kau keliru besar!"

Jie Giok tidak kaget atau takut, sebaliknya dia tertawa lebar.

"Jangan kata baru tiga tahun, sekalipun tiga puluh tahun, pasti aku akan menantikan kau, asal kau bisa mewujudkan pembalasanmu itu!"

Katanya dengan dingin.

"Hanya aku khawatir. Hm! Hm!"

Lantas dia berhenti bicara. Itu sama artinya dengan kata-kata.

"Meski sampai seumur hidupmu, buat mencariku untuk membalas sakit hatimu, kau tidak mempunyai harapan"

Tiang Keng pintar, ia dapat membaca hati orang.

Maka alisnya bangun, la ingin mengeluarkan kata-kata, untuk balas mengejek.

Tapi mendadak ia lihat hantu wanita itu mengebutkan tangan bajunya sambil berdiri, matanya mengawasi tajam, sinarnya dingin.

Dia berkata lagi.

"'Pada hari Pee-gwee Tiong Ciu, tak peduli kau punya urusan penting apa pun, kau harus berada di Thian Bak-san!"

Tiang Keng melembungkan dadanya.

"Sekalipun aku To Tiang Keng harus lebur jadi abu, pada hari itu pasti aku akan datang ke Thian Bak-san!'"

Ia berseru. ''Kau boleh melegakan hatimu! Kami orang she To. belum pernah ada anggota keluarga kami yang menghilangkan kepercayaan!"

"Bagus kalau begitu!"

Seru si nyonya sambil tertawa dingin.

Sesudah itu, nyonya tua itu melirik ke gelanggang pertempuran.

Kembali romannya berubah.

Wajahnya menjadi dingin seperti semula.

Dengan langkah ayal, dia turun dari keretanya.

Sekali lagi dia bertepuk tangan perlahan.

Gim Soan tetap terkurung.

Dia sudah bermandikan keringat, rambutnya pun kusut.

Dia terkurung dengan nafas memburu.

Kalau tadi ia tampak sangat angkuh, sekarang dia menjadi tidak karuan macamnya.

Bahkan sinar matanya tak lagi tajam seperti tadi.

Matanya menjadi suram Dia memandang ke arah si nyonya tua untuk berkala dengan suara bergetar.

"Taruh kata guruku tidak akur denganmu, apa perlunya kau menghinaku begini rupa?"

Belum berhenti suara si anak muda ini atau mendadak.

"Bruk!"

Gim Soan jatuh di tanah, tenaganya habis sendiri.

Saat itu, meski orang biasa saja yang menghajar padanya, tak dapat ia melawan....

Tiang Keng tak tega walaupun orang itu musuhnya dan orang itu pun jumawa sekali.

Perlahan-lahan ia memutar diri untuk tak usah melihat keadaan orang yang menyedihkan itu.

Un Jie Giok tertawa, kedua tangannya diisyaratkan perlahan-lahan, terus dia kembali ke keretanya.

Beberapa orang nona menghampiri Gim Soan untuk dibangunkan dengan paksa.

Satu nona menotok jalan darah soan-kie di dadanya.

Sesudah itu mereka meninggalkannya, untuk menggiring kereta si hantu wanita.

Un Jie Giok berkata dingin.

"Tak lama lagi akan tiba hari Pee-gwee Tiong Ciu. maka pergilah kau mencari tempat yang cocok untuk berlatih secara sungguh-sungguh! Dengan kepandaianmu sekarang ini.... hm! Sekalipun kau sudah lihay. kau tidak bakal berhasil!"

Tiang Keng tahu kata-kata itu ditujukan kepadanya, ia mengawasi sambil melongo.

Walaupun perlahan jalannya, rombongan nona-nona berbaju merah itu toh akhirnya lenyap dari pandangan mata.

lenyap teraling oleh rimba raya.

Anak muda ini menghela nafas.

Ia berduka bukan main.

Tidak ia sangka bahwa ia bakal menemui kejadian seperti ini.

Yang ia paling tak duga ialah Un Jie Giok sudah mengorbankan permusuhan di antara mereka berdua dengan membeberkan rahasia Nie Tong Sian Bu supaya ia bisa menikah dengan muridnya yang sangat disayangnya itu....

"Ah. entahlah bagaimana akhirnya...."

Pikir Tiang Keng yang takut untuk memikirkan apa yang bakal terjadi di kemudian hari. la terus berdiri diam disinari matahari yang panas terik. Lewat sekian lama, baru ia tersadar.

"Entah siapa yang turun tangan atas kaum Koay Too Hwee itu?"

Pikir Tiang Keng ketika ia ingat nasib kaum Golok Cepat.

"Mungkinkah Un Kin hendak meniru perbuatan si katak bintang di puncak Sie Sin-hong itu, untuk memancing orangorang gagah ke Thian Bak-san dan menumpas mereka di atas gunung itu?"

Menduga demikian hati si anak muda jadi miris sendiri.

Tanpa terasa, terbayang pula di depan matanya peristiwa sepuluh tahun yang lalu di kaki puncak Sie Sin-hong waktu kawanan binatang berbisa dan beburonan berebutan lari berkumpul di Tiat-cian-tauw untuk menerima kematian....

"Bukankah semua binatang itu tahu mereka bakal mati?"

Ia berpikir.

"Kenapa mereka pergi juga? Bukankah besok lusa kawanan orang gagah pun bakal makan umpan Un Kin? Bukankah orang-orang gagah itu bakal bernasib sama seperti kawanan binatang yang tak secerdas manusia itu?"

Berpikir demikian, Tiang Keng yakin bahwa lui-tay di Thian Bak-san itu benar-benar perangkap untuk orang-orang gagah, baik yang kemaruk harta maupun yang cuma ingin menyaksikan pertandingan di sana.

"Aku tahu hal ini, aku harus berdaya,"

Pikir Tiang Keng kemudian.

"Aku mesti cegah bencana itu! Tapi, bagaimana caranya aku harus bekerja?"

Ia menjadi bingung sendiri...

Sementara itu dari arah belakang rimba, di luar tahu Tiang Keng, muncul seorang imam berjubah abu-abu kehitaman serta jenggotnya panjang.

Meski dia memakai sepatu dasar tebal, dia tidak menerbitkan suara sama sekali.

Dia pun muncul secara sangat mendadak.

Rupanya dia sudah berada lama di dalam rimba itu dan baru sekarang ia memperlihatkan diri.

Dia bertindak ke sisi si anak muda yang sedang menunduk dan berpikir keras.

Tiba-tiba dia tertawa nyaring dan berkata.

"Saudara, kenapa kau mengerutkan alis dan wajahmu agak suram? Apakah kau sedang dihinggapi urusan yang menyulitkanmu?"

Tiang Keng terkejut bukan main.

Ia berpaling dengan tubuh menggigil.

Tapi ketika ia sudah melihat jelas, ia mendapatkan seorang tua dengan kopiah tinggi dan wajah berseri-seri mengawasi padanya.

Kumis dan jenggot orang tua itu panjang dan hitam, matanya tajam.

Dia sudah tua tetapi dia sehat, bahkan dia mirip seorang petapa.

Ia pun mengawasinya sambil melongo.

Orang tua itu terus memandangnya, dia tertawa dan berkata lagi.

"Umumnya dari zaman dahulu, anak-anak muda tak biasanya mendapat kesusahan, tetapi kau lain. Aku lihat kau tampan, romanmu gagah, jika aku tidak salah, kau pasti memiliki ilmu silat yang tinggi. Kau bukan si mahasiswa yang dibikin pusing oleh segala syair! Kenapa kau berduka?"

Sikap dan kata-kata orang tua itu mendatangkan rasa suka, demikian juga kesan Tiang Keng. Akhirnya anak muda ini tersenyum, segera ia memberi hormat sambil menjura.

"Terima kasih, Loo-tiang."

Ia mengucap.

"Sebenarnya aku berduka karena suatu keruwetan yang belum dapat kuatasi..."

Orang tua itu tertawa nyaring, ia mengurut kumisnya.

"Jika kau percaya padaku dan tak mengatakan aku ini lancang, maukah kau menceritakan keruwetanmu itu padaku? Aku ini memang bodoh tetapi aku lebih tua darimu, mungkin aku dapat membantumu memikirkan masalahmu itu "

Kata si orang tua. Tiang Keng mengawasi orang tua itu. Ia lihat sinar mata orang tua itu sangat berpengaruh.

"Kau baik sekali, Loo-tiang, aku bersyukur,"

Kata Tiang Keng.

Ia lantas berhenti.

Mendadak timbul kesangsiannya.

si imam tak dikenal dan urusan demikian penting, urusan mengenai keselamatan kaum rimba persilatan!

Mana dapat ia membeber rahasia itu kepadanya?

oo BAB 23.

TIANG KENG DIBUJUK SUPAYA BALAS DENDAM Orang tua itu mengawasi, dia tertawa pula.

"Kalau kau tidak suka memberitahu, tidak mengapa,"

Kata si orang tua.

"Bukan begitu, Loo-tiang,"

Kata Tiang Keng, kelihatan agak jengah.

"Tetapi masalahnya sangat besar dan tak hanya mengenai pribadiku sendiri. Jika Loo-tiang ingin mengetahuinya juga. baiklah, nanti aku jelaskan."

Orang tua itu tersenyum.

"Kalau begitu, aku tak akan menanyakannya lagi,"

Kata orang tua itu seraya mengurut kumisnya.

"Tapi aku lihat sikapmu ini tidak sempurna. Urusan sangat besar tetapi kau diamkan saja, kau tidak mengajak orang lain untuk memecahkannya bersama..."

Ia mengurut kumisnya dan menambahkan.

"Perlu kau ingat, kecerdasan seseorang biar bagaimana ada batasnya. Lihat saja kau sendiri, kau sangat cerdas, toh kau tidak berdaya memecahkannya. Daripada kau diam saja, hingga pikiranmu jadi kusut, lebih baik kau cari orang yang dapat diajak berdamai untuk merundingkannya. Pergaulan kita singkat sekali, maaf aku telah berkata begini."

Ia tertawa, matanya yang tajam menatap ke arah si anak muda yang ada di depannya.

Tiang Keng menganggap omongan orang tua itu beralasan sekali.

Tetapi ia berusaha untuk berhati-hati.

Dia tak mau sembarang bicara pada orang yang belum dikenalnya dengan baik.

Tengah ia diam, orang tua itu berkata pula.

"Jangan khawatir, Saudara muda, aku tidak akan menanyakan rahasiamu!"

Demikian katanya.

"Kau tidak mau memberitahuku pun tak apa, sudah saja."

Diam-diam Tiang Keng menghela nafas.

Sebagai seorang yang jujur, ia merasa sulit sendiri, la merasa tak enak menampik permintaan orang tua itu.

Orang tua itu baik hati, dia bersedia membantu, tetapi ia malah menolaknya.

Seharusnya ia bersyukur dan mengucap terima kasih, terutama ia harus membalas kebaikan orang itu.

Orang tua itu masih menatap ke arahnya.

Dia lihat roman orang tua itu agaknya puas.

Demikian kelihatan dia bersenyum.

Tapi senyumnya terhalang kumis dan jenggotnya.

Tiang Keng diam.

Ia merasa terus diganggu oleh kesangsiannya.

Mau bicara, salah, tidak bicara, rasanya malu.

"Kau baik sekali, Loo-tiang,"

Kata Tiang Keng kemudian sambil menghela nafas.

"Aku menyesal telah menyia-nyiakan kebaikanmu...."

Orang tua itu tertawa seraya mengurut kumisnya lagi. Lalu ia potong kata-kata si anak muda.

"Dengan berkata demikian, kau memandang aku sebagai orang asing. Saudara muda!"

Kata dia sambil tertawa pula.

"Sekalipun kita baru berkenalan tetapi aku sangat mengagumimu. Apa kau setuju jika aku menjadi tuan rumah dan mengundangmu makan? Mari kita cari sebuah rumah makan di sana agar bisa duduk bersama. Aku berharap dapat membantu menghiburmu hingga hatimu tak terlalu ruwet lagi..."

Tiang Keng menjura memberi hormat sangat dalam "Terima kasih, Loo-tiang,"

Kata Tiang Keng.

"Aku hanya merepotkan Loo-tiang saja!"

Karena malu hati.

Tiang Keng akhirnya menerima undangan orang tua itu.

Kemudian keduanya berjalan meninggalkan tempat itu.

Di sepanjang jalan mereka berbincang-bincang.

Sikap orang tua ini halus dan sopan, di sepanjang jalan selama berbincang ia tak menyebut-nyebut mengenai rahasia Tiang Keng.

Saat mereka berjalan dan sudah dekat dengan tembok kota Lim-an, makin lama kesan Tiang Keng pada sahabat barunya ini semakin dalam.

Dari cara orang tua itu berjalan Tiang Keng segera mengetahui bahwa orang tua itu mengerti ilmu silat dan ilmu meringankan tubuhnya tinggi.

Tiang Keng bahkan berpendapat, mungkin dalam soal ilmu meringankan tubuh, dia kalah jauh dari si orang tua.

Bahkan Tiang Keng menduga bahwa orang tua ini seorang jago rimba persilatan yang ternama.

"Namaku To Tiang Keng,"

Ia memperkenalkan diri.

"Bolehkah aku mengetahui nama Loo-tiang siapa?"

Orang tua itu tersenyum manis.

"Aku seorang tua pengembara."

Sahut si orang tua.

"Telah lama sekali aku telah melupakan she dan namaku, tapi orang di kalangan Kang-ouw menyebutku Kho Koan I-su.

Sekalipun nama itu cocok untuk namaku, namun sebenarnya aku sendiri malu mendapat nama itu!

Karena aku tak mampu menampik, maka terpaksa aku terima panggilan itu.

Sebutan Kho Koan artinya Topi Tinggi dan itu cocok, karena kopiahnya tinggi.

Sedangkan I-su sebutan untuk seorang imam atau penganut agama Too atau Too Kauw Sesudah berkata demikian Kho Koan I-su menunjuk ke suatu arah.

"Lihat merk yang terbuat dari kain hijau yang digantung tinggi itu!"

Kata dia.

"Itu sebuah warung arak kecil. Mari kita ke sana! Warung arak kecil itu rasanya tepat daripada sebuah rumah makan besar berlauw-teng!"

"Baiklah,"

Kata Tiang Keng setuju.

Saat itu otak Tiang Keng sedang memikirkan nama imam yang luar biasa itu.

Seingat dia gurunya belum pernah menyebut-nyebut nama itu, padahal gurunya gemar berkelana dan luas pengetahuannya.

Malah gurunya itu sering memberi tahu nama-nama jago silat ternama di kalangan Kang-ouw.

Sekalipun demikian Tiang Keng merasa bersyukur dan bangga bisa berjalan bersama, sekalipun ia harus mengimbangi imam yang pandai berjalan cepat ini Tak lama mereka sudah tiba di warung arak itu.

Tiang Keng mempersilakan orang tua itu masuk lebih dahulu.

Dengan sikap hormat ia mengikutinya dari belakang.

Tak lama keduanya sudah duduk di sebuah meja saling berhadapan.

"Ah tak peduli apakah nama itu nama sebenarnya atau nama palsu, yang pasti orang tua ini sangat baik padaku,"

Pikir Tiang Keng.

"Siapa tahu diapun tak mau namanya diketahui orang lain. Sebaiknya aku tak memusingkannya."

Karena Tiang Keng berpikir begitu hatinya tenang dan lega.

Ketika itu sudah lewat tengah hari dan di warung arak sudah sepi sekali, tak ada tamu lain kecuali mereka.

Pelayan menyiapkan makanan mereka dengan tenang.

Tak lama pesanan mereka disajikan.

Setelah meneguk beberapa cawan arak, imam tua itu mengambil sepasang sumpit sambil berkata.

"Arak di tempat ini tidak harum, makanannya pun mungkin kurang lezat, apa aku tak dianggap kurang hormat?"

Kata Kho Koan I-su sambil tersenyum. Tiang Keng tersenyum saat ia hendak menjawab ucapan imam itu, tapi sudah didului."

Tapi tak apa, sekarang aku akan bercerita untukmu, mudah-mudahan bisa menjadi pengganti makanan lezat...? Imam itu tertawa riang, Tiang Keng pun ikut tertawa.

"Oh terima kasih, kalau begitu hari ini aku sangat beruntung?"

Kata Tiang Keng.

"Mulutku dapat makanan lezat dan arak harum, sekarang ditambah lagi telingaku bakal mendengar cerita yang menarik. Terima kasih Loo-tiang!"

Imam tua itu tertawa riang.

"Ceritanya tak terlalu menarik, tetapi jika kau sudah mendengarnya pasti kau senang!"

Kata s imam tua. Mendengar janji itu Tiang Keng heran juga. Segera ia letakkan sumpitnya.

"Apa barang kali cerita Loo-tiang ada hubungannya denganku?"

Kata Tiang Keng. Mata imam tua itu tampak bercahaya.

"Memang! Ceritaku itu memang ada hubungannya denganmu, malah erat dan penting sekali!"

Jawab dia. Mendengar jawaban itu Tiang Keng tercengang. Karena herannya ia berpikir.

"Aku tak kenal dengannya, bagaimana ia bisa tahu sesuatu yang ada sangkut-pautnya denganku? Malah dia bilang penting sekali. Bukankah aku masih muda dan baru muncul di kalangan Kang-ouw. Lalu masalah apa yang ada hubungannya denganku? Sungguh aneh sekali!"

Pikir Tiang Keng keheranan dan tertarik tak sabar ingin segera mendengar cerita imam tua itu.

Malah jadi penasaran siapa sebenarnya imam tua ini.

Kho Koan I-su mengawasi dia sambil tersenyum.

Sikapnya sabar sekali.

Tak lama ia mulai bercerita.

"Tigapuluh tahun yang lalu,"

Ia memulai ceritanya.

"Di kalangan Kang-ouw terdapat sepasang jago silat yang sangat termasyur. Pasti kau tak akan tahu karena kau masih muda!"

Kata imam itu sambil tertawa.

"Tetapi orang-orang yang sudah tua aku yakin semua tahu, mereka bergelar Nio Beng Sianghiap...."

Imam itu berhenti sejenak saat pelayan menyajikan hidangan baru ke meja mereka dan imam itu menyambar makanan itu dengan sumpitnya.

Sepotong ikan terjepit lalu ia masukkan ke mulutnya.

Tak lama ia sudah mulai mengunyah daging itu dan tertawa.

"Masakan yang lain di warung itu semua tak lezat, kecuali ikan masak tahu ini!"

Kata imam itu.

"Silakan kau coba, anak muda!"

Tiang Keng tak menolak, ia jepit ikan masak tahu itu.

Dia ikut merasakan enaknya masakan itu.

Sebenarnya ia tak tertarik pada makanan, apalagi ia tak yakin warung sekecil itu bisa menghidangkan masakan selezat masakan di rumah makan besar.

"Sekalipun Nio Beng Siang Hiap sangat terkenal, lalu apa hubungannya denganku?"

Pikir Tiang Keng. Sesudah menelan ikan masak tahunya, imam itu melanjutkan ceritanya.

"Nio Beng Siang Hiap sangat terkenal, namun sebenarnya ilmu silatnya tak terlalu lihay. Mereka memperoleh nama itu karena mereka suami isteri yang tampan dan cantik. suatu pasangan yang setimpal sekali! Kecantikan si isteri sungguh cocok dengan ucapan "

Ikan menyelam dan burung belibis jatuh, rembulan menghilang, bunga pun jengah saking malunya ". Sedang suaminya mirip dengan perumpamaan "

Pohon kumala di antara angin ".

Banyak pria maupun wanita yang keliru dan busuk hatinya, mencoba mengganggu suamiisteri tersebut, tapi usaha mereka gagal semua, karena pasangan itu saling mencintai dan hormat-menghormati satu sama lain.

Bertahun-tahun bahkan sampai belasan tahun mereka merantau, belum pernah mereka cekcok satu sama lain.

Apakah itu dari pihak Nio Tong Hong maupun dari pihak Beng Kie Kong."

Mendengar kisah itu Tiang Keng melengak, otaknya bekerja.

"Jika aku bisa memperoleh isteri seperti itu, alangkah bahagianya aku. Tapi apa hubunganku dengan mereka? Siasia kau menduga-duga, kau tak akan mampu menerka rahasiaku."

"Karena sifat suami-isteri itu.

"si imam tua melanjutkan.

"Maka lawan-lawannya itu terpaksa harus menunda niat jahatnya!"

Tiang Keng jadi penasaran karena cerita si imam belum sampai pada apa yang ingin ia ketahui.

Lalu ia angkat kepalanya ia awasi imam itu.

Justru saat itu pun si imam sedang mengawasi ke arahnya.

Hingga mau tak mau mata mereka jadi bentrok.

"Sesudah suami isteri itu puas mengembara di sungai Tiang-kang utara dan selatan, mereka lalu mengembara ke Biauw-kiang bersama putera mereka,"

Lanjut si imam "Sekalipun mereka berdua hidup damai, sungguh celaka, saat mereka berada di pegunungan Biauw-san mereka bertemu dengan seorang wanita hantu hingga mereka jadi cerai-berai dengan sangat penasaran...."

Mendengar cerita sampai di sini Tiang Keng tiba-tiba bangun dari kursinya sambil mendorong cawan arak di depannya.

"Apakah hantu wanita itu bernama Siu-jin Un Jie Giok?"

Tanya Tiang Keng dengan bernapsu Kho Koan I-su tertawa lebar, la teguk arak di cawannya.

"Benar sekali!"

Jawabnya.

"Memang orang rimba persilatan menamakannya Ang-i Nio-nio!"

Kata imam tua itu.

"Dia juga menyebut dirinya sebagai Siu-jin Un Jie Giok."

Mendengar jawaban itu Tiang Keng dongkol sekali.

Ia juga heran dan lupa bagaimana imam tua itu bisa tahu kalau dia dan Un Jie Giok ada sangkut-pautnya.

Ketika ia menyadari kekeliruannya itu, ia langsung mengubah pertanyaannya.

"Apakah Un Jie Giok mencelakakan suami-isteri tersebut?"

Kata Tiang Keng. Imam itu tersenyum. Ia mengangguk.

"Un Jie Giok menyebut dirinya Siu-jin, si orang jelek,"

Kata si imam.

"Tapi sebenarnya itu belum cukup jelas untuk melukiskan sifatnya yang buruk. Tapi justru dia jatuh hati kepada Nio Tong Hong. Kau bayangkan saja Tong Hong punya isteri cantik dan pandai juga lemah-lembut, mana tertarik Tong Hong pada Un Jie Giok yang jelek seperti Bu Yam,"

Tuturnya. Imam itu menghela nafas lalu menambahkan.

"Buruknya dari cinta akhirnya Un Jie Giok jadi cemburu,"

Kata si imam.

"Dia jadi membenci dan menganggap Tong Hong sebagai musuh besarnya! Begitulah, dia bunuh Tong Hong di depan isterinya yang saling kasih mengasihi itu....."

Oo BAB 24. TIANG KENG DIAJARI KHO KOAN I-SU SIASAT MELAWAN MUSUH BESARNYA Tubuh Tiang Keng gemetar dan telinganya seperti mendengar suara guntur.

"Ayah suka menolong orang, ia juga seorang Kun-cu (bijaksana) tetapi sayang ia celaka di tangan perempuan jahat di depan isterinya, yaitu Ibuku."

Pikir Tiang Keng.

Ingat nasib orang tuanya Tiang Keng jadi berduka.

Dia tak mampu mencegah air matanya yang menetes keluar dan meleleh di kedua pipinya....

Kho Koan I-su mengawasi ke arah Tiang Keng, diam-diam ia juga ikut berduka.

Saat ia lihat air mata Tiang Keng kini membasahi bajunya yang berwarna hitam, si imam kelihatan heran.

Ia heran melihat bahan pakaian si anak muda.

Ia terus mengawasi baju Tiang Keng, alisnya berkerut otaknya bekerja.

Ia ingat sesuatu, lalu ia segera melanjutkan ceritanya.

"Karena kematian Nio Tong Hong maka Beng Jie Kong tak mau hidup lebih lama lagi. Sungguh memilukan, karena saat itu ia pun sedang hamil lima bulan. Karena itu ia tak ingin bunuh diri dengan mengorbankan bayi yang masih ada di dalam perutnya...."

Suara si imam tua perlahan, tak lama terdengar ia menghela nafas. Tiang Keng sedang berduka dan dugaannya makin bertambah.

"Nak, kau masih muda,"

Kata si imam.

"Pengalamanmu masih kurang, dan kau lain dariku yang sudah tua.

Beng Jie Kong ingin bunuh diri tetapi tak mampu.

Kita bayangkan penderitaannya sungguh hebat.

Ketika itu kalau tak salah musim dingin, tetapi di pegunungan Biauw-san tidak terlalu dingin, angin bertiup kencang.

Jie Kong menelungkup di atas tubuh suaminya yang telah menjadi mayat, la menangis tersedu-sedu, suara tangisnya kadang-kadang terbawa angin.

Un Jie Giok memisahkan suami isteri itu.

Mayat Nio Tong Hong dikubur di kanan gunung Kong-lee-san sedang Beng Jie Kong dibawa ke sebuah rumah batu.

Jie Giok tidak membunuh isteri Nio Tong Hong karena ia ingin menyiksanya.

Saat itu Beng Jie Kong menahan derita dan pasrah menerima kesengsaraan demi anaknya yang ada di dalam perutnya..

Cara berceritanya Kho Koan I-su didramatisir hingga cerita itu bertambah dramatis dan menyedihkan.

Tiang Keng tak tahu jika cerita itu sebenarnya ada kaitannya dengan dirinya.

Tak lama imam itu meneruskan kisahnya.

"Akhirnya lahirlah bayi perempuan dari kandungan Beng Jie Kong.

Anak itu lalu diserahkan kepada wanita Biauw kenalan baiknya yang ia kenal beberapa bulan yang lalu di dalam kurungan.

Setelah berpesan pada wanita Biauw itu, ia lalu pergi akan mencari Un Jie Giok untuk membalas dendam.

Sayang kepandaiannya tak memadai hingga ia harus binasa juga di tangan Un Jie Giok....

Tiba-tiba emosi Tiang Keng memuncak, ia menggebrak meja hingga mangkuk dan cangkir arak serta sumpit melonjak.

"Saudara muda, sabar,"

Kata Kho Koan I-su sambil menghela napas.

"Dalam hidup manusia memang lebih banyak dukanya daripada senangnya, oleh sebab itu saat hidup kita harus tahu diri. Pepatah mengatakan bahwa dari sepuluh bagian hidup ada delapan bagian yang tak menyenangkan "

Jika semua orang berpendapat begitu,"

Kata Tiang Keng dengan sengit.

"Bukankah si jahat bisa malang-melintang tanpa rintangan. Jika demikian di mana orang yang jujur menempatkan dirinya?"

"Anak muda kau gagah aku kagum sekali!"

Kata si imam sambil tertawa. Setelah itu wajahnya biasa kembali dan ia menarik nafas panjang.

"Sekalipun demikian kemarahanku terhadap Un Jie Giok tak jauh berbeda dengan kemarahanmu. Setelah membunuh Jie Kong si wanita jahat Un Jie Giok membakar mayat Beng Jie Kong. lalu abunya ia sebar di atas gunung Kong-lee-san. Abu itu sengaja ditebar maksudnya agar Beng Jie Kong tak dapat menyatu kembali dengan suaminya Nio Tong Hong...."

"Perempuan hantu itu kejam dan jahat, apakah ia juga membiarkan anak perempuan suami isteri itu tetap hidup?"

Tanya Tiang Keng.

"Apa ia tak membasmi rumput sampai ke akar-akarnya?"

Ditanya demikian si imam tesenyum.

"Atas pertanyaanmu itu berarti kau terlalu memandang rendah pada Un Jie Giok,"

Kata si imam. Tiang Keng diam walau otaknya bekerja.

"Kalau begitu, perempuan Biauw yang dikatakan kenalan Beng Jie Kong itu masih orang Un Jie Giok. Apakah dia telah diatur oleh si perem-puan jahat sejak awal untuk menghabisi lawannya?"

Tanya Tiang Keng lagi. Imam itu mengangguk mengiyakan sambil tertawa.

"Aku bilang kau cerdas, sekarang memang terbukti,"

Kata si imam.

"Kiranya Un Jie Giok yang telah mengatur anak buahnya untuk terus mengawasi Beng Jie Kong. Sayang Jie Kong polos ia percaya saja pada orang yang berbuat baik padanya padahal kebaikannya palsu..."

Tiang Keng menghela nafas panjang.

"Jika demikian, bukankah anak itu jadi terancam jiwanya?"

Tanya Tiang Keng. Imam itu tertawa.

"Kali ini kau salah terka!"

Kata si imam. Tiang Keng keheranan mendengar jawaban itu. la awasi si imam.

"Ah barangkali anak itu tertolong oleh orang budiman sepertiku?"

Pikir Tiang Keng.

"Bukan saja Un Jie Giok tak membunuh anak itu malah ia sangat menyayanginya,"

Kata si imam. Mendengar keterangan itu Tiang Keng keheranan.

"Apa wajah anak itu mirip Nio Tong Hong hingga Un Jie Giok memindahkan cintanya pada anak itu?"

Kata Tiang Keng. Imam itu bertepuk tangan.

"Tepat sekali, anak muda! Kau memang seorang yang cerdas, aku takluk padamu!"

Ia diam sejenak, lalu melanjutkan lagi.

"Un Jie Giok membenci setiap orang, tetapi pada anak itu ia sangat sayang, tak heran ia menurunkan seluruh kepandaiannnya pada anak itu!"

Alis Tiang Keng berdiri.Ia juga tiba-tiba bangun.

"Bukankah anak itu murid Un Jie Giok yang bernama Un Kin?"

Tanya Tiang Keng.

Imam itu mengangguk perlahan, matanya menatap ke arah Tiang Keng.

Ia lihat Tiang Keng keheranan dan girang.

Karena masalah rumit yang sulit ia pecahkan tak ia duga sekarang terbuka sendiri.

Imam itu tertawa.

"Anak muda kau cerdas sekali,"

Puji si imam. Ia menghela napas panjang kemudian menambahkan.

"Benar anak yatimpiatu itu Un Kin yang kau sebutkan tadi. Sekarang Un Jie Giok telah menyerahkannya kepadamu."

Tiang Keng mengawasi imam itu dengan tajam.

"Kalau begitu Loo-tiang sudah lama berada di dalam rimba dan mendengarkan pembicaraanku dengan Un Jie Giok?"

Kata Tiang Keng. Imam itu tertawa terbahak-bahak.

"Aku tak membohongimu anak muda,"

Kata si imam.

"Hidupku tak menentu, ke mana aku sampai itulah rumahku! Tadi aku terlalu letih, maka aku beristirahat di rimba. Aku pilih pohon besar dan lebat. Tak kusangka aku malah mendengar pembicaraan kalian, aku minta maaf."

Seperti orang kehabisan tenaga Tiang Keng menjatuhkan diri duduk ke kursinya.

Sedang matanya terus menatap ke arah imam tua itu.

Pikiran Tiang Keng kacau sekali.

Di dadanya tercampur aduk berbagai perasaan, yaitu perasaan gusar, heran dan ragu-ragu.

Malah ia duga si imam telah sengaja mengatur cerita agar bisa menceritakan kepadanya.

"Kisah Un Jie Giok dan Nio Beng Siang Hiap semakin misterius, mengapa Kho Koan I-su mengetahuinya dengan jelas? Padahal ia bilang ia seorang pengembara, jika benar seharusnya ia tak tahu tentang kisah Un Jie Giok itu!"

Pikir Tiang Keng. Otak Tiang Keng bekerja keras untuk membuka tabir rahasia siapa imam tua ini sebenarnya.

"Siapa dia, mengapa ia baik padaku?"

Pikir Tiang Keng.

Tapi karena anak muda ini tak bisa menjawab pertanyaannya, ia tatap terus si imam tua itu.

Si imam mengusap-usap kumis dan jenggotnya yang berwarna hitam dan panjang itu.

Semula ia banyak tersenyum, tetapi sekarang senyumnya telah lenyap dan wajahnya tampak agung.

Tiang Keng jadi semakin heran dan menganggap imam ini luar biasa.

Sedang pada wajahnya tak kelihatan ia ini orang licik.

Imam itu menatap ke arah Tiang Keng.

'Masalah ini bukan saja misteri namun ada sangkut-pautnya dengan dunia Kang-ouw,"

Kata si imam bersungguh-sungguh.

"Tak banyak orang yang tahu tentang rahasia Un Jie Giok, bahkan suku Biauw yang bekerja sama dengannya pun sudah dibunuh semua, ini untuk menutup rahasianya. Pergaulan Nio Beng Siang Hiap sangat luas. sekalipun Un Jie Giok gagah sekali, ia tak berani buka rahasia sendiri. Rupanya Un Jie Giok khawatir kelak ada yang balas dendam. Hilangnya sepasang jago itu mengherankan, namun lama-lama masalah itu pun sudah dilupakan orang. Un Jie Giok tetap merahasiakan masalah itu sampai Un Kin dewasa karena ia takut kalau Un Kin mengetahui rahasianya. Bahkan ia sadar pasti Nio Beng Siang Hiap pun tak rela anaknya disandera oleh si jahat ini....."

Imam itu menghela nafas, ia sangat berduka. Tiang Keng masih mengawasi ke arah si imam.

"Loo-tiang, bagaimana kau bisa mengetahui rahasia ini?"

Tanya Tiang Keng penasaran. Itu pertanyaan dan keraguan yang baru ia sampaikan sekarang.

"'Satu saat aku pergi ke Biauw-kiang untuk mencari bahan obat."

Kata si imam.

"Suatu hari aku bertemu dengan seorang Biauw yang hampir mati. Kiranya dia anak buah Un Jie Giok yang lolos dari pembunuhan dan tahu banyak mengenai rahasia Un Jie Giok. Seebelum meninggal dia minta agar aku membalaskan sakit hatinya... ."

Sesudah itu si imam menghela nafas.

"Mana bisa aku membalaskan dendam orang Biauw itu, aku sadar kepandaianku tidak cukup untuk mengalahkan Un Jie Giok. Selain itu aku juga tak berani membuka rahasia ini pada sembarang orang, hingga rahasia ini tetap terpendam bertahun-tahun lamanya. Sebenarnya aku pun ingin sekali melupakan masalah yang mengganjal di hatiku ini. Tetaoi sekarang setelah aku bertemu dengan kau, semua aku ceritakan padamu. Nak. kau tahu apa sebabnya aku berterus terang kepadamu?"

Kata si imam.

"Justru soal itu yang sangat ingin kuketahui darimu,"

Kata Tiang Keng. Imam itu mengawasi Tiang Keng.

"Anak muda kau masih muda dan gagah, kau juga cerdas hingga aku kagum padamu,"

Kata si imam.

"Padahal aku sudah belasan tahun merantau, baru kali ini aku bertemu pemuda sepertimu. Sebagai contoh, bisa kau bayangkan sekalipun Un Jie Giok itu musuhmu, tetapi dia malah menitipkan muridnya itu kepadamu. Hingga sekalipun Un Jie Giok jahat, dia masih menghargaimu!"

Tiang Keng menggoyangkan tangannya, ia akan mengucapkan terima kasih pada si imam, tetapi si imam malah meneruskan kata-katanya.

"Kita berdua bertemu secara kebetulan. Jika sekarang aku bercerita tentang semua rahasia Un Jie Giok padamu, semua itu hanya karena aku ingin minta bantuanmu untuk membereskan masalah yang ruwet ini, agar sakit hati Nio Beng Siang Hiap tidak terpendam untuk selamanya. Paling tidak anak mereka bisa diselamatkan. Tak selayaknya anak itu berada dalam kegelapan seperti sekarang ini. Dan tak pantas untuk selamanya tetap berada di samping perempuan jahat itu. Aku sudah tua dan tak berdaya, tapi jika kau butuh bantuanku, aku bersedia bekerja sama denganmu!"

"Tentang masalah ini,"

Kata Tiang Keng.

"Jangankan ada hubungannya denganku, sekalipun tidak, pasti aku ikut campur, tetapi..."

Tiang Keng menghela nafas dan menunduk. Lalu ia meneruskan.

"Sayang Un Jie Giok terlalu tangguh, aku bukan tandingannya.... Lalu bagaimana aku bisa membantu Loo-tiang, sedangkan sakit hatiku pun belum terbalas?"

Mendengar jawaban Tiang Keng imam itu tertawa.

"Aku tahu kau kalah olehnya. Anak muda."

Kata si imam.

"Tetapi kau tak kalah banyak hanya selisih sedikit, asal kau memakai kecerdasanmu, aku yakin kau mampu menyingkirkannya...."

Alis Tiang Keng berkerut. Tak lama ia berkata dengan bersemangat.

"Ah apa Loo-tiang berharap agar aku membuka rahasia pada Un Kin dan ia bentrok dengan Un Jie Giok kemudian...."

Imam itu bertepuk tangan dan tertawa riang.

"Kau cerdas dan pandai. Anak muda,"

Puji si imam.

"Ternyata kau bisa menebak pikiranku. Aku yakin jika Un Kin sudah mengetahui bahwa gurunya yang mencintainya seperti ibu kandungnya itu adalah musuh besarnya, mustahil dia diam saja! Guru seperti ayah dan ibu, namun orang tua lebih tinggi nilainya. Aku juga tahu Un Jie Giok sangat sayang pada Un Kin, maka dalam pertarungan sekalipun Un Kin kalah, Un Jie Giok tak akan tega membinasakan murid yang ia sayangi bagai anak itu! Bahkan bukan tak mungkin malah karena ia sayang dan menyesali dosa karena telah membunuh orang tua muridnya, Un Jie Giok malah membiarkan Un Kin membunuhnya... ."

Mata Tiang Keng bersinar, ia anggap pendapat imam ini benar.

Ia juga melihat mata imam itu bersinar tanda gembira.

Tapi Tiang Keng pun heran, apakah imam ini bermusuhan dengan Un Jie Giok hingga ia sangat membenci dan bernapsu ingin membunuhnya.

"Loo-tiang,"

Kata Tiang Keng.

"Kau punya siasat demikian, mengapa kau tak bicara sendiri pada Un Kin?"

Imam itu mengangkat cawan araknya, ia menghirup arak itu. Dia tak heran bahkan tak marah ditanya demikian.

"Aku sudah berpikir ke arah sana. namun aku tak bisa melakukannya."

Kata si imam.

"Jika aku yang menemuinya dan membuka rahasia itu, setelah dia tahu dia tak akan melupakan aku... Ah, aku ini sudah tua, keberanian di masa mudaku sudah lenyap, sekarang aku jadi takut mati....Sebenarnya aku malu untuk mengatakan soal ini....."

Ia letakkan cangkir araknya di meja. Sebelum Tiang Keng bicara ia sudah menyambung kata-katanya.

"Ketika aku lihat kau berduka, maka aku menduga kau sedang dibuat susah oleh dua masalah yang tak dapat kau pecahkan..."

Ia tersenyum dan melanjutkan lagi.

"Kesulitan pertama karena Un Jie Giok berharap kau menikah dengan Un Kin. Aku pun maklum waktu itu kau belum mengetahui rahasia yang kubeberkan padamu. Jika sudah tahu pasti kau tak bersedia menikah dengan murid musuhmu. Tetapi kau telah berjanji, mau tak mau kau harus mewujudkan janjimu itu dan kau harus menikah dengan nona itu. Oleh karena itu kau jadi pusing. Memang masalah ini tak boleh tersiar atau diberitahukan pada orang lain. Kau pun tak boleh minta bantuan orang lain. Tetapi sekarang masalahnya lain. Sekarang kesulitan itu bukan kesulitan lagi. Benar Un Kin murid Un Jie Giok dan disayang, tetapi Un Kin bukan puterinya, bahkan dia musuh besarnya! Ini aneh tapi nyata!"

Tiang Keng menghela nafas.

"Loo-tiang. kau cerdas!* kata Tiang Keng.

"Kiranya kau lebih cerdas dariku."

Sesudah berkata begitu Tiang Keng berpikir.

"Sungguh aneh imam ini. Saat aku menghela nafas, dia bisa menebak isi hatiku. Tetapi setelah tahu isi hatiku, malah ia bertanya padaku. Tampaknya ia sangat jujur terhadapku, tapi mungkin juga ia memikirkan sesuatu, apa itu?"

Pikir Tiang Keng bingung. Ia lihat si imam mengurut-urut kumis dan janggutnya.

"Aku bisa menerka masalah orang bukan karena aku cerdas, tapi karena pengalamanku yang puluhan tahun."

Imam itu menjelaskan.

"Sebaliknya, kau cerdas karena bakatmu. Jika kau kelak telah tua sepertiku, setelah pengalamanmu bertambah banyak, aku yakin kecerdasanmu akan melebihi siapapun."

"Terima kasih atas pujianmu. Loo-tiang,"

Kata Tiang Keng.

"Heran imam ini senantiasa memujiku,"

Pikir Tiang Keng.

"Padahal usia maupun kepandaiannya melebihiku, mengapa dia begitu baik terhadapku? Apa sebenarnya yang ada di otaknya?"

Sekalipun pengalamannya masih rendah namun ia merasa curiga pada imam yang bersikap baik kepadanya ini.

Ia merasa yakin bahwa imam ini punya maksud tertentu atas dirinya.

Imam ini mengusap kumisnya saat ia lihat Tiang Keng mengawasinya, ia pun tersenyum.

"Apa kau sedang memikirkan masalah yang kedua?"

Kata si imam.

"Aku hanya menerka asal-asalan saja. jika terkaanku keliru, maka.."

Tiang Keng tersenyum.

"Apa Loo-tiang juga bisa memecahkan masalah yang kedua?"

Kata Tiang Keng Kho Koan I-su tertawa.

"Kau cerdas dan bijaksana, Anak muda,"

Katanya.

"Mengenai masalah yang kedua, aku kira ini bukan urusan pribadimu, tapi aku yakin kau sedang memikirkan Dunia Persilatan....."

Dia diam sejenak untuk menatap dengan tajam je arah Tiang Keng. Sesudah itu ia sambung lagi pembicaraannya.

"Apa yang kukatakan bukan pujian belaka, tapi keluar dari hatiku. Mataku tak lamur. Mengenai dirimu aku tak salah lihat, maka.....aku yakin dugaanku ini pun tak salah!"

Ia tertawa. Kembali ia mengawasi ke arah Tiang Keng yang diam saja sambil menunggu si imam melanjutkan katakatanya.

"Sudah 40 tahun lamanya Un Jie Giok berada di tengah suku Biauw,"

Kata si imam.

"Selama itu ia tak ikut campur dalam masalah dunia persilatan. Semua itu bukan karena dia sudah tak bersemangat atau tak ingin nama besar maupun harta! Bukan karena itu! Tetapi karena dia masih merasa jerih terhadap beberapa orang gagah, terutama kaum tuanya! Hingga ia tak berani lancang berbuat jahat. Tapi akhir-akhir ini ia tahu. dari sekian banyak jago tua selain yang telah meninggal, kebanyakan sudah ada yang mengundurka diri dari dunia persilatan. Tak heran kalau sekarang ia jadi gatal tangannya, maka ia muncul lagi. Demikian juga pertandingan di atas Lui-tai yang akan diselenggarakan di Thian-bak-san itu. Sebenarnya pertandingan itu diadakan untuk kepentingan Un Kin. Di samping itu Un Jie Giok pun mengambil kesempatan akan menyapu semua jago, agar dia menjadi jago nomor satu. Aku yakin kau sudah bisa menduga sendiri dari ucapan Un Jie Giok. Oleh karena itu kau jadi berduka sekali..."

"Jika benar demikian, apakah kau punya daya Loo-tiang?"

Kata Tiang Keng.

"Barang kali kau bisa membantuku mnghilangkan keruwetan hatiku itu!"

Imam itu tersenyum di matanya tampak bersinar puas. Setelah meneguk araknya ia tersenyum lagi.

"Jadi tepat dugaanku itu!"

Kata si imam. Ucapan Tiang Keng tadi membuktikan bahwa Tiang Keng mengakui ketepatan dugaan si imam Setelah meneguk lagi araknya si imam melanjutkan.

"Sebenarn>a masalah itu tidak mudah,"

Kata si imam.

"Memang pantas jika kau begitu berduka. Sedang umpan yang diumpankan di Thian-bak-san menarik hati para jago silat, hingga mereka rela berjalan jauh untuk ke sana. Mereka berdatangan secara bebondong-bondong. Keinginan mereka demikian keras untuk memiliki benda-benda itu. mana bisa kau cegah mereka itu! Mereka tak akan percaya padamu. Malah mungkin mereka mencurigaimu. kaulah yang hendak menguasai semua benda berharga itu!"

Keterangan itu membuat alis Tiang Keng berkerut.

"Benar!"

Kata Tiang Keng.

"Mana mau mereka percaya padaku!

Mana mau mereka melepaskan kesempatan ini.

Tapi entah apa yang disiapkan Un Jie Giok di Thian-bak-san?

Sungguh kasihan jika banyak orang terjebak dan celaka tanpa mereka sadari Mau tak mau anak muda yang masih hijau dan polos ini bicara seadanya Imam itu diam, ia seperti sedang berpikir keras.

Saat mengangkat kepalanya dia tertawa.

"Ceritaku yang pertama telah menghilangkan kesulitanmu yang pertama, oleh karena itu sebaiknya kau gunakan cerita itu untuk melenyapkan kesulitanmu yang kedua..."

Tiang Keng melengak.

"Bagaimana caranya, Loo-tiang?"

Kata Tiang Keng.

"Begini, kau harus pergi ke Thian-bak-san sebelum acara dimulai, temui Un Kin untuk menceritakan rahasia itu padanya. Kau ceritakan selengkapnya jangan ada yang terlewat. Sesudah itu....ha. ha...ha!"

Si imam tertawa. Kemudian ia meneruskan kata-katanya.

"Aku yakin, jika Un Kin percaya pada ceritamu tanpa sangsi sedikitpun, maka kau boleh membantu dia. Jika kau berdua mengepung Un Jie Giok, maka aku yakin Ang-i Nio-nio tak akan lolos sekalipun ia gagah luar biasa! Dulu Nio Beng Siang Hiap gagah dan bijaksana, orang pun kagum pada mereka. Sekarang kau dan Nona Un bisa menggantikannya. Maka selanjutnya bukan saja kau telah membunuh musuh kalian bersama, kau pun bisa mendapat isteri yang cantik. Jika kalian berdua behasil melenyapkan si jahat maka kalian akan dipuji seperti orang tua Un Kin!"

Imam itu tertawa terbahak-bahak karena girangnya.

"Dengan demikian,"

Si imam melanjutkan.

"Orang jahat berhasil kalian singkirkan dan pertandingan di lui-tai bisa dilanjutkan sesuai waktunya! Selain itu bencana yang akan menimpa kaum persilatan akan lenyap. Mari minum dan kuucapkan selamat!"

Imam itu kembali minum arak, tapi Tiang Keng diam saja.

Mata Tiang Keng mengawasi cawan araknya.

Dia tak menyentuh cawan itu atau digunakan untuk bersulang...

oo BAB 25.

KHO KOAN I-SU MELARANG TIANG KENG PERGI KE THIAN-BAK-SAN Kho Koan I-su tak segera meletakkan cawan arak yang tadi diangkatnya.

Ia diam, wajahnya berubah beberapa kali.

Sekarang terlihat wajahnya jadi suram dan bengis.

Wajahnya yang kusut tadi telah lenyap.

Saat itu Tiang Keng sedang menunduk, ia tak melihat perubahan wajah imam tua itu.

Saat ia menengadah dan mengawasi wajah si imam, wajah imam itu sudah berubah seperti sediakala.

Sekarang dia malah melihat imam itu sedang tersenyum.

Tak heran jika sampai saat itu To Tiang Keng tak tahu, siapa sebenarnya imam itu dan apa maksud orang itu...

Sesaat secara bersamaan mereka mengangkat muka dan mata mereka beradu, si imam tertawa "Aku lupa memberitahukan sesuatu padamu,"

Kata si imam.

Baca Juga: Si Racun Dari Barat 6

Baca Juga: Si Rase Terbang Pegunungan Salju 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert