Eps 4 Dendam Asmara - Okt
Baca online Dendam Asmara - Okt
Cersil Dendam Asmara - Okt.
"Sekarang di Thian-bak-san pasti telah diatur berbagai perangkap, hanya kita belum tahu perangkap apa itu? Tapi yang jelas itu pasti sangat berbahaya! Sepengetahuan-ku untuk membantu usaha Un Jie Giok ini, dia telah mengundang para jago kaum rimba hijau (kalangan penjahat) untuk membantunya. Mereka itu adalah orang-orang yang tak di terima di kalangan Kang-ouw sebagai golongan kaum persilatan \ ang lurus. Sudah sejak setahun yang lalu ia mengundang mereka untuk dipakai menghadapi jago-jago silat dari golongan lurus bersih. Tegasnya mereka akan diadu, setelah jago dari kalangan lurus habis dan mereka sudah kelelahan, saat itulah Un Jie Giok akan menumpas mereka yang sudah kelelahan itu...."
Mendengar keterangan itu Tiang Keng diam.
bermacammacam perasaan bercampur aduk di benaknya.
Ia gusar manakala ia ingat bahwa Un Jie Giok ini jahat.
Sebaliknya ia jadi berduka manakala ia ingat pada kesulitan yang dihadapinya.
"Saat masih kecil aku menyaksikan kejadian yang tak kumengerti."
Kata Tiang Keng.
"Kejadian yang terjadi di Sie Sin-hong tentang katak Seng-cu yang mengherankan. Mengapa katak itu demikian kejam. Setelah membunuh binatang buas. ia juga membunuh binatang jinak seperti kambing dan sebagainya. Pada-hal binatang-binatang itu lemah. Tidakkah itu aneh? Tapi sekarang aku baru mengerti, manusia pun ada yang jahat seperti katak Seng-cu itu!"
Suara Tiang Keng perlahan, la bicara seperti orang yang hatinya sedang kacau.
Imam itu tampak tertarik oleh cerita Tiang Keng.
Saat itu terlihat pelayan warung arak sedang berdiri di depan pintu, wajahnya tampak jemu dan kesal, mungkin karena kedua tamunya duduk makan minum terlalu lama.
Ia lihat mereka bicara, tertawa, dan menghela nafas panjangpendek.
kemudian diam membisu, hingga tingkahnya jadi tak karuan.
Tapi ada kalanya mereka juga gusar dan sengit.
Dari jemu sekarang ia jadi heran.
Kedua tamunya itu tak dikenalnya, siapa mereka itu dan apa pekerjaannya?
Ketika itu Kho Koan I-su mengawasi Tiang Keng.
"Sekarang aku ingin memberitahumu, anak muda,"
Kata si imam, ia kelihatan bersungguh-sungguh.
"Yaitu mengenai kepergianmu ke Thian-bak-san. Maka kuanjurkan sebaiknya kau pergi siang-siang ke sana, tidak perlu menunggu sampai pembukaan. Jika kau pergi ke sana pada hari pembukaan, aku khawatir saat itu kau sudah dianggap sebagai menantunya! Aku yakin dia tak akan mencelakai kau, tapi anak buahnya lain. mereka semua penjahat besar! Mereka tak tahu kau ini siapa. Bagaimana jika mereka turun tangan menyerangmu? Aku tahu kau gagah, tetapi ingat sepasang tangan tak mungkin dapat menghadapi empat buah tangan lawan....."
Si imam menghela nafas.
"Hari ini kita baru bertemu tetapi kau sudah kuanggap sahabat baikku. Malah menurutku sebaiknya kau jangan pergi ke Thian-bak-san..."
Sambil berkata imam itu melirik ke arah Tiang Keng. Tiang Keng menggebrak meja, kelihatan ia gusar sekali.
"Lo-tiang, mengapa Anda memandang demikian enteng padaku?"
Kata Tiang Keng.
"Sekalipun Thian-bak-san itu gunung golok dan lautan pedang, aku harus ke sana! Aku memang bodoh tetapi aku tak ingin keadilan diinjak-injak, maka itu aku harus menolong kaum Rimba Persilatan dari ancaman bahaya itu! Asal aku bisa berbuat baik. aku tidak takut mati!"
Si imam membungkuk untuk meletakkan cawan.
Tiang Keng yang tadi berbalik kembali menatap si imam.
Wajah si imam tersenyum puas, sayang Tiang Keng tak melihatnya.
oo Di kota Lim-an, In Kiam tak mengetahui kalau To Tiang Keng telah mendapat pengalaman dan sudah bertemu dengan musuh besarnya.
Bahkan sekarang Tiang Keng sedang menghadapi masalah sulit dan aneh.
Musuh besarnya menyayanginya bahkan akan menikahkan Tiang Keng dengan muridnya.
Yang aneh musuh besarnya ini bersedia membeberkan rahasia ilmu silatnya kepadanya.
Selain masalah pribadi, kini Tiang Keng pun berniat menyelamatkan kaum Rimba Persilatan dari bahaya....
Tiba-tiba imam itu bangun dari kursinya, rupanya si imam akan segera pergi.
Kejadian ini membuat pemilik rumah makan lega.
Ketika itu matahari sudah tenggelam ke arah barat.
Saat Tiang Keng bangun, imam minta diri.
"Kita sudah lama berbincangbincang, aku kagum padamu, anak muda! Syukurlah jika kau bisa menyelamatkan kaum Persilatan dari bahaya....."
Tiang Keng mengangguk sambil mengantar si imam berjalan keluar rumah makan.
Kemudian ia kembali ke meja tadi dan duduk sendirian.
Sedang kecurigaan dan kesangsiannya tak segera berlalu.....
Datangnya sang magrib membuat para tamu warung arak itu berdatangan untuk makan dan minum.
Mereka merasa heran melihat Tiang Keng duduk sendirian.
Mereka mengawasinya lama sekali.
Tiang Keng merasa ia sedang diawasi.
Ia bangun dan membayar makanan yang mereka pesan.
Kemudian berjalan keluar.
Ia berjalan perlahan-lahan.
"Imam itu mencurigakan, tetapi omongannya masuk akal juga,"
Pikir Tiang Keng.
"Sungguh tepat jika aku lebih awal datang ke Thian-bak-san untuk menyingkirkan Un Jie Giok. Sesudah itu tinggal masalah Un Kin..."
Ingat Nona Un Tiang Keng pun menghela nafas.
Saat itu ia seperti berhenti berpikir, ia memandang ke arah kota, ia lihat tembok kota seperti bayangan.
Ia berjalan terus.
Sekarang ia sudah dekat ke pintu kota.
Tak lama ia sudah masuk dan berjalan perlahan-lahan.
Rumah-rumah di dalam kota sudah memasang lampu, sebagai tanda liari ketika itu sudah malam.
Rupanya orang sudah melupakan peristiwa tadi malam.
Keadaan jadi seperti sediakala tak ada lagi yang ketakutan.
Malah di sana-sini terdengar suara tetabuhan serta nyanyian.
Di tengah jalan Tiang Keng berpapasan dengan orang yang sedang lewat, di pinggang mereka masing-masing terselip senjata tajam.
"Aku rasa mereka datang dari tempat yang jauhnya ribuan lie."
Pikir Tiang Keng melihat orang-orang itu.
"Aku tahu maksud mereka hanya karena uang, pedang dan wanita cantik. Atau malah mereka hanya ingin menonton keramaian saja! Tapi sadarkah mereka bahwa bencana sedang mengancam mereka?"
Ingat pada In Kiam, Tiang Keng berpikir.
"Aku kira In Loo-ya-cu berpandangan luas, tapi apakah dia sudah tahu pada ancaman bahaya itu? Aku perlu menemui beliau, masih ada waktu. Terlambat sehari tak apa..."
Pikir Tiang Keng. Tiba-tiba Tiang Keng menghentikan langkahnya.
"Oh celaka aku lupa"
Kata Tiang Keng.
"Tadi tak kutanyakan pada Kho Koan I-su di bagian mana perangkap Un Jie Giok dipasang, sedang gunung itu luas. Ke mana aku harus mencarinya? Selain akan buang waktu dengan sia-sia aku pun tak akan menemukan perangkap itu! Apalagi aku tidak tahu di mana In Loo-ya-cu bermalam? Sedangkan kota Lim-an begini besar, ke mana aku mencari beliau?"
Ia bingung sejenak. Tiba-tiba ia tertawa sendiri.
"Ah bodohnya aku, In Loo-ya-cu sangat terkenal. Jika aku mau bertanya pada orang-orang yang kutemui, pasti aku akan ditunjukkan penginapannya..."
Sesudah itu Tiang Keng berjalan lagi.
la mencari orang untuk menanyakan tempat bermalamnya In Kiam.
Tiba-tiba ia berhenti, telinganya mendengar suara musik hingga ia jadi berpikir.
Mula-mula suara musik itu sebentar terdengar sebentar menghilang.
Terpaksa Tiang Keng harus pasang kuping.
Suara kota berisik, tetapi ia segera menemukan suara itu.
Ternyata itu bukan tetabuhan biasa, tetapi suara seruling bambu hijau yang dikenalnya milik nona-nona berbaju merah itu.
"Heran?"
Pikir Tiang Keng melongo.
"Mungkinkah Un Jie Giok ada di dalam kota?"
Lalu Tiang Keng mencoba mencari tahu dan telinganya ia pasang untuk mendengarkan.
Suara seruling itu mula-mula terdengar sangat jauh, tetapi makin lama makin dekat.
Akhirnya bukan hanya Tiang Keng, orang lain pun mendengar suara seruling itu.
Tentu saja suara seruling itu menarik perhatian mereka.
Orang-orang yang berada dalam rumah makan dan di rumahrumah penduduk, semua keluar untuk mendengarkan datangnya suara seruling tersebut.
Bahkan orang yang sedang berjalan kaki pun menghentikan langkah mereka.
Sebaliknya orang kaum Rimba Hijau (golongan Sesat atau Hitam) yang juga disebut kaum Liok-lim dan kaum Rimba Persilatan (Golongan Putih-bersih) atau Bu-lim Eng-hiong mulai mencurigai suara seruling itu.
Mereka berpendapat, jangan-jangan akan tejadi sesuatu di kota Lim-an malam ini...
oo BAB 26.
TIANG KENG BERTEMU KEMBALI DENGAN IN KIAM Sebuah lampu terbuat dari kuningan tergeletak di sebuah meja panjang.
Cahaya lampu itu cukup bisa menerangi seluruh ruangan.
Di belakang ruangan itu terletak sebuah kamar tidur.
Kamar itu tak luas tetapi tidak gampang untuk mendapatkannya.
Untung nama To-pie Sin-kiam In Kiam cukup terkenal, maka mereka berhasil menempati kamar itu.
Saat itu In Kiam dan puteranya sedang duduk menghadap jendela, kadang-kadang mereka mendengar suara tawa tamu lain.
Tenyata sang malam tak bisa menghalangi orang bergembira.
Tapi In Kiam tampak murung.
"Sekarang hari sudah tak siang lagi, Ayah."
Kata Tiong Teng.
"Apakah Ayah akan keluar untuk mencari makanan?"
In Kiam menggelengkan kepalanya. Sinar lampu menyinari wajahnya yang mulai keriput. Tiong Teng menghela nafas, ia tahu ayahnya sedang kesal dan bingung memikirkan Tiang Keng yang belum juga kembali.
"Sekalipun dia masih muda, namun ilmu silatnya lihay sekali. Dia juga cerdas Ayah tak perlu mencemaskannya. Aku yakin biar bagaimana dia tak akan celaka!"
Kata In Tiong Teng.
"Aku tak sedang mengkhawatirkan Tiang Keng,"
Jawab sang ayah sambil menghela nafas.
"Tapi aku....."
In Kiam tak meneruskan kata-katanya.
"Tahukah kau Tiong Teng, ke mana perginya Kiauw Cian? Sudah beberapa hari dia tak muncul-muncul, aku ingin bicara dengannya, menanyakan sesuatu padanya....."
Mendengar pertanyaan ayahnya. Tiong Teng jadi heran. Tiba-tiba In Kiam berkata.
"Tiong Teng apa kau dengar, suara apa itu?"
Angin malam bertiup dan masuk lewat jendela.
Bersama angin ikut terbawa suara aneh.
Sebentar terdengar sebentar menghilang.....
Seperti juga ayahnya.
Tiong Teng pun heran.
Mereka saling mengawasi dan pasang telinga.
Saat Tiong Teng mau bicara ayahnya sudah mendahului.
"Rasanya aku pernah mendengar suara musik itu..."
Kata In Kiam agak ragu. Tapi sedetik kemudian ia menepuk jidatnya dan berkata.
"Ah tak salah lagi, itu suara tetabuhan ini aku dengar di Biauw-kiang tiga puluh tahun lalu. Itu suara orang meniup seruling bambu hijau... Tatkala itu aku masih seusiamu sekarang!"
Tiong Teng melengak dan In Kiam diam. Otaknya berpikir keras. Tiba-tiba Tiong Teng memutar tubuhnya dan berlari ke arah pintu.
"Ayah kau tunggu di sini, aku akan memeriksanya, mungkin....'"
Ia tak meneruskan kata-katanya karena agak sangsi.
Rupanya Tiong Teng tak sudi menyebut nama Siu-jin Un Jie Giok.
To-pie Sin-kiam In Kiam yang berpengalaman langsung teringat pada Ang-i Nio-nio, oleh karena itu ia tak mau diam di kamarnya.
"Mari kita lihat!"
Kata In Kiam.
Mereka segera keluar dari penginapan bersama-sama.
Keadaan di jalan raya terang benderang dan orang yang berlalu lalang masih banyak.
Namun keadaan agak sunyi karena sekarang sudah tak terdengar suara orang tertawa lagi.
Nyanyian pun sudah tak terdengar.
Suara yang terdengar hanyalah suara seruling bambu itu.
In Kiam dan Tiong Teng terus mengikuti suara seruling itu.
Di sepanjang jalan orang yang kenal pada mereka memberi hormat sambil membungkuk.
Sesudah melewati sebuah jalan, tiba-tiba Tiong Teng berpapasan dengan seorang berpakaian abu-abu, tapi dalam kegelapan malam jadi berwarna hitam.
Orang jangkung itu berdiri di antara orang-orang yang lainnya.
"Ayah lihat. Tiang Keng di sana!"
Kata In Tiong Teng.
In Kiam dengan cepat menoleh dan langsung bergegas ke arah yang ditunjuk.
Tiang Keng rupanya sedang melamun dan tak tahu In Kiam datang menghampirinya.
Tiang Keng baru sadar saat In Kiam menarik tangannya.
"Tiang Keng, kau tak apa-apa?"
Demikian In Kiam menegurnya. Tiang Keng menggelengkan kepalanya.
"Jangan cemas, Loo-pee aku tak apa-apa,"
Jawab Tiang Keng tetapi suaranya tak lancar.
Ia merasakan cekalan In Kiam hangat di tangannya, hatinya pun jadi girang.
Itu sebagai tanda kasih sayang In Kiam kepadanya.
Sambil tersenyum Tiang Keng meraih tangan Tiong Teng, kembali ia merasakan kehangatan tangan itu.
Mereka berdiri bertiga.
Hal ini membuat orang yang lewat jadi heran.
Mereka mengawasi ketiga orang itu.
Mungkin mereka akan terus mengawasi In Kiam dan kedua anak muda itu jika suara seruling tak terdengar lagi.
Mereka semua mengalihkan pandangan ke arah suara itu.
"Loo-pe, Toa-ko jangan cemas. Itu suara seruling yang ditabuh oleh nona-nona berpakaian merah. Mereka murid Un Jie Giok!"
Kata Tiang Keng.
"Kiranya dia sudah sampai di Liman...."
In Kiam berpaling ke arah putera-nya.
"Oh dia!"
Kata ln Kiam dengan alis berkerut. Kemudian ia menoleh ke arah Tiang Keng dan bertanya.
"Mengapa kau tahu itu?"
Tiang Keng sangsi.
Ia bukan tak ingin menjawab pertanyaan Loo-peenya, tapi ia berpikir tak baik ia bicara di jalan umum.
Rupanya ia khawatir orang lain bisa mendengarnya.
Tengah ia sedang diam sambil berpikir, ia lihat orang banyak bergerak.
Ketika itu orang-orang yang tadi berdiri di tepi jalan bergerak ke tengah jalan raya.
Sedang yang tadi berada di lauw-teng sudah turun.
Mereka berlarian keluar rumah.
Tak lama terdengar teriakan.
"Dia datang!"
In Kiam terperanjat.
Ia tahu beberapa puluh tahun yang lalu Ang-ie Nio-nio sangat terkenal.
Dia sering mendengar orang menyebut-nyebut namanya, namun wanita hantu itu tak pernah keluar dari daerah Biauw-kiang.
Kemudian karena namanya termasyur, setiap orang Kang-ouw jerih padanya.
To-pie Sin-kiam In Kiam pun tak terkecuali.
"Apa benar si hantu perempuan sudah ada di wilayah Kanglam dan kini ada di kota Lim-an?"
Pikir In Kiam.
In Kiam memandang ke depan.
Memang benar tak lama tampak datang rombongan nona berbaju merah.
Melihat datangnya rombongan ini orang-orang yang tadi telah maju ke tengah jalan dalam sekejap segera menepi.
Dari kedua tepi jalan, tampak sinar lampu menerangi pinggiran jalan raya.
Cahaya lampu-lampu itu menerangi rombongan nona-nona berpakaian merah.
Wajah mereka agung dan berpengaruh sekali.
Ditambah lagi nona-nona itu cantik semua, kulit mereka putih dan halus.
"Memang benar mereka!"
Kata Tiang Keng.
"Tapi mana kereta berhiasnya?"
Tiang Keng mengawasi rombongan nona-nona yang memakai konde tinggi, masing masing mereka sedang memegang seruling bambu berwarna hijau.
Pakaian nonanona itu sama seperti yang pernah Tiang Keng lihat Hanya sekarang di masing-masing tangan nona-nona itu terdapat naya (ayakan) bambu berisi bunga warna merah.
Mereka berjalan berbaris temui masing-masing dua-dua.
Di belakang iringan nona-nona cantik berbaju merah ini, terlihat rombongan yang sengaja mengikuti mereka dari belakang.
Mereka adalah orang yang kagum dan ingin terus menonton keindahan barisan nona-nona cantik itu.
Namun Tiang Keng heran, dia tak melihat kereta yang dihias indah yang biasa dinaiki oleh Ang-ie Nio-nio.
In Kiam terus mengkuti rombongan nona itu dengan kedua matanya tiba-tiba ia menoleh ke arah In Tiong Teng sambil berkata.
"Tiong Teng lihat bukankah mereka sudah kenal dengan kita?"
Tiong Teng coba menegasi rombongan itu.
"Ayah benar, semua nona itu memang sama seperti yang pernah datang ke rumah kita."
Jawab Tiong Teng.
"Tapi yang berbeda adalah bahwa sekarang nona-nona itu usianya lebih tua dari yang dulu datang ke rumah kita"
In Kiam mengelus kumisnya "Ya, dulu kuduga mereka muridUn Jie Giok, sekarang memang terbukti benar,"
Kata ln Kiam.
"tapi mengapa Ang-ie Nio-nionya tak kelihatan'? Ialu mau apa mereka ke sini? Oh mereka masing-masing membawa kemuning bunga. Apa mereka akan menabur bunga, tapi di mana?"
Mendengar kata-kata In Kum tersebut Tiang Keng tersenyum.
"Un Jie Giok tak datang, lalu mau apa nona-nona ini?"
Pikir Tiang Keng.
Mereka menduga maksud nona-nona itu.
Tiba-tiba suara seruling berhenti bersamaan dengan berhentinya langkah nona-nona itu.
Semua nona itu menyelipkan seruling bambu yang terlilit benang merah itu ke pinggang.
Sekarang yang berada di jalan raya tinggal orang-orang rimba persilatan.
Karena penduduk satu demi satu meninggalkan tempat itu.
Sekalipun mereka ingin menonton apa yang akan dilakukan oleh rombongan nona-nona cantik itu.
rupanya peristiwa beberapa malam lalu membuat penduduk ngeri.
Mereka yang tetap tinggal pun mematung tak bergerak.
Dua nona yang berada paling depan memberi hormat pada orang-orang yang masih berada di tepi jalan raya.
Sesudah itu mereka berkata dengan nyaring bersama-sama.
"'Kami para pelayan menerima perintah majikan kami untuk memberi hormat dan menyerahkan kartu nama pada Tuan-tuan sekalian!"
Suara kedua nona selain nyaring tampak kompak sekali. Selain merdu kedua nona itu berwajah cantik menarik hingga semua orang terpesona. To-pie Sin-kiam mengerutkan alisnya.
"Ang-ie Nio-nio benar-benar lihay! Lihat saja bagaimana ia pandai mendidik semua muridnya. Saat bicara pun mereka juga rapi sekali. Seolah yang bicara hanya seorang!"
Kata ln Kiam pada puteranya.
"Dulu saat mereka mengantar bingkisan untuk Ayah, bukankah ada juga dua nona yang bicara bersama-sama? Semula aku kira mereka saudara kembar....."
Kata Tiong Teng.
Dengan tak menunggu orang memberi jawaban, kedua nona itu memberi tanda hingga nona-nona yang lain segera menyebar ke empat penjuru.
Diam-diam Tiang Keng mencoba menghitung mereka, ternyata jumlahnya tiga belas orang.
Penonton mulai sadar ketika melihat nona-nona cantik itu mendatangi.
Tiang Keng mengawasi kedua nona yang menjadi pemimpin rombongan.
Mereka melangkah ke arahnya.
Mata mereka tajam.
Setelah dekat, mendadak mereka tertawa manis.
"Eh kau juga ada di sini!"
Kata mereka mendekati Tiang Keng. In Kiam keheranan.
"Kiranya kau mengenal mereka?"
Kata In Kiam pada Tiang Keng. Ditanya begitu. Tiang Keng melengak. Sebelum Tiang Keng menjawab pertanyaan In Kiam. nona di sebelah kanan langsung bicara.
"Bagaimana kami tak kenal, pagi tadi kami sudah saling berjumpa."
Sambil tertawa nona itu mengulur tangannya ke dalam naya bambu, mengambil sebuah sampul berwarna merah, lalu ia angsurkan pada Tiang Keng.
Setelah itu mata si nona memain, sesudah itu ia berputar dan berjalan ke tempatnya semula.
Sambil melongo heran Tiang Keng menyambut sampul merah itu dari tangan si nona.
Dengan bantuan cahaya lampu dia bisa membaca.
Itu adalah undangan untuk datang ke paseban It Liang Teng di luar kota Lim-an.
Kecuali hari, tanggal dan jam hadir, undangan itu tak mencantumkan alamat si pengirim.
Yang lainnya terlihat gambar konde "Kuda Jatuh"
Surat dan gambar itu tidak dilukis melainkan ditempel-tempelkan.
Bahannya dari benang emas.
Nona yang lain juga menyerahkan undangan pada orangorang yang hadir di tempat itu.
Mereka menyambut undangan yang sama itu dengan tercengang-cengang.
Setelah menyerahkan undangan, mereka undur seperti kedua nona tadi.
Orang-orang mengagumi undangan yang mewah itu.
Undangan semacam itu amat langka.
In Kiam sendiri mengamati undangan itu dengan sek lama.
"Tiang Keng,"
Kata In kiam.
"Tadi ,jagi kau pergi ke mana? Apa kau bertemu dengan Ang-ie Nio-nio?"
Tiang Keng menghela nafas. 'Aku menemui banyak sekali pengalaman, biar akan kuceritakan nanti nada Loo-pee!"
Kata Tiang Keng.
viat Tiang Keng bicara dengan In kiam, nona-nona itu sudah berbaris rapi kembali.
Kemudian dua nona yang menjadi pemimpin mulai bicara lagi "Kedatangan kami sangat terburu-buru dan para orang gagah di Lim-an mi jumlahnya banyak sekali.
Oleh karena itu kami tak bisa menemuinya satu persatu.
Kami mohon pada yang hadir di sini agar bersedia menyampaikan undangan pada yang lain!
Tolong beritahu hari, jam, dan tempat pertemuannya.
Kami tunggu kedatangan tuan-tuan sekalian!"
Kata si nona.
Setelah itu mereka memberi hormat sambil merangkapkan tangan.
Mata mereka bermain manis sekali, sambil menutup mulut dengan jari tangan, mereka tertawa perlahan.
Setelah itu mereka berbalik lalu pergi....
Semua yang hadir mengawasi sambil bengong ln Kiam batuk-batuk.
"Sungguh hebat Ang-ie Nio-nio'"
Kata In Kiam.
"Dia undang semua orang begini banyak, apa maksudnya? Apa benar dia akan memilih seorang menantu? Apa ini pesta orang gagah, tapi ah tak mungkin....!"
Orang-orang pun mulai ribut membicarakan masalah undangan istimewa itu, mereka pun sedang kasak-kusuk hingga mereka tak mendengar apa yang dikatakan ln Kiam tadi.
Di antara mereka ada yang girang luar biasa.
Ternyata pada setiap kartu nama mengandung emas seberat satu tail.
sesudah itu mereka lalu bubaran.
Sementara yang lain pun ikut gembira.
Bahkan ada yang bilang mereka harus pergi ke Thian-bak-san.
siapa tahu di sana mereka akan memperoleh keuntungan lebih banyak.
Saat nona-nona itu meninggalkan mereka, semua mata tertuju ke punggung nona manis itu sampai mereka lenyap dari pandangan, ln Kiam dan Tiong Teng mengawasi ke arah Tiang Keng yang diam bagaikan patung.
Rupanya ia sedang berpikir keras mengapa dia tak bisa menerka maunya Un Jie Giok Tak lama keadaan mulai ramai lagi.
seolah mereka telah melupakan peristiwa aneh yang barusan terjadi..
oo BAB 27.
TIANG KENG MENGUNTIT MURID-MURID UN JIE GIOK Saat In Kiam, Tiang Keng dan Tiong Teng masih berdiri diam, tiga orang melangkah mendekati mereka.
Ketiga orang itu dandanannya rapi sekali, sikap mereka pun halus namun tampak gesit.
Mereka memberi hormat.
"Semoga Tuan-tuan dalam keadaan baik-baik saja,"
Kata mereka. In Kiam sedang berpikir keras, melihat kedatangan mereka, In Kiam tertawa.
"Ah, rupanya kalian murid-murid yang pandai dari Cio Looya-cu!"
Kata In Kiam yang mengenali mereka itu. In Kiam menoleh ke arah puteranya.
"Tiong Teng, beri hormat pada mereka! Mereka ini murid-murid Cio Loo-ya-cu dari Yan Bu Piauw Kiok yang ternama. Sudah sepuluh tahun kita tak bertemu, aku girang melihat kalian begini gagah! Sudah lama Cio Loo-ya-cu tak meninggalkan kota, apa beliau sehat-sehat saja!"
Saat mendengar kata-kata In Kiam wajah ketiga orang itu berubah jadi murung.
"Eh mengapa kalian ini?"
Kata In Kiam. Salah seorang maju sambil memberi hormat.
"Suhu kami telah menutup mata tiga tahun yang lalu..."
Katanya. Mendengar jawaban itu I n Kiam terkejut.
"Ah benarkah?"
Kata In Kiam.
"Oh, sungguh tak kusangka, baru beberapa tahun, aku telah kehilangan lagi seorang sahabat kekalku... Pantas, setelah banyak yang tua-tua meninggal, dunia Kangouw jadi begini, setiap hari badai dan gelombang bermunculan!"
Tampak In Kiam berduka sekali Tiong Teng turut berduka, ia diam saja. Sesaat kemudian In Kiam mengangkat kepalanya.
"Hiantit, kalian bertiga meninggalkan Kotaraja, apakah akan pergi ke Thian-bak-san?"
Tanya In Kiam pada ketiga orang itu.
"Benar, Loo-ya-cu,"
Jawab mereka. In Kiam tersenyum, tapi saat ia menoleh ia kaget.
"Mana Tiang Keng?"
Tanyanya dengan suara keras dan heran.
Tiong Teng ikut terkejut.
Ia pun menoleh, ia tak melihat anak muda itu berada di situ.
Rupanya saat In Kiam bicara dengan tiga orang itu diam-diam Tiang Keng ngeloyor pergi.
In Kiam berduka alisnya berkerut.
"Ah Tiang Keng!"
Keluhnya.
"Ke mana dia?"
Sesudah berkata begitu In Kiam lari ke depan, ia lihat orang-orang masih berkerumun dan lalu-lalang di jalan raya.
Ia tak melihat keponakannya ada di sana.
Ia berbalik akan mencari di tempat lain, tapi tetap sia-sia.
"Mungkin Tiang Keng menemukan sesuatu,"
Tiong Teng menduga-duga.
Ia tahu Tiang Keng tak akan pergi begitu saja tanpa sebab.
Memang Tiang Keng masih muda namun anak itu cerdas dan cekatan.
Tiga murid Cio Loo-ya-cu tersenyum, mereka memberi hormat pada Tiong Teng seraya berkata.
"In Siauw-hiap, jika Anda ada urusan, silakan besok saja kami menemui kalian!"
Sesudah itu mereka pergi karena mereka mengira ayah dan anak itu sedang sibuk dan banyak urusan hingga mereka tak ingin mengganggunya.
"Terima kasih,"
Kata Tiong Teng sambil mengangguk.
Setelah mereka pergi Tiong Teng pun bergegas akan mencari ayahnya.
Setelah bertemu keduanya bersama-sama mencari Tiang Keng, tapi belum juga menemukan anak muda itu.
In Kiam bingung dan masgul.
"Ke mana perginya dia?"
Kata In Kiam bingung. oo Saat nona-nona berpakaian merah itu pergi. Tiang Keng sedang berpikir keras.
"Aku tahu Un Jie Giok memasang perangkap di Thianbaksan, tapi di mana perangkap itu diletakkan? Jika aku tunggu sampai saat pembukaan, aku rasa aku terlambat. Mereka akan menemui Un Jie Giok, sebaiknya aku kuniii mereka untuk mencuri dengar apa yang mereka bicarakan. Jika aku sudah tahu di mana perangkap itu diletakkan, aku bisa bertindak mendahuluinya. ..."
Saat berpikir begitu ia lihat nona-nona itu hampir lenyap dari pandangan Tak ayal lagi ia bergerak menyusul mereka tanpa memberitahu lagi In Kiam dan Tiong Teng.
Ia lari membuka jalan di antara kerumunan orang hingga ada yang terlanggar hampir jatuh.
Sebelum orang itu melihat siapa yang menabrak nya, Tiang Keng sudah lenyap menyusul nona-nona itu.
Nona-nona itu berjalan menuju Keluar kota, ketika itu langit pun agak gelap, berbeda dengan keadaan di dalam kota.
Apalagi saat itu sudah larut malam Karena itu Tiang Keng jadi kehilangan buruannya.
Padahal samar-samar ia lihat mereka menuju ke arah itu.
Ketika ia pasang telinga, yang terdengar hanya suara angin yang samar-samar bercampur dengan suara roda kereta Maka tak ayal lagi ia berlari ke arah suara itu.
Saat Tiang Keng sedang berlari kencang samar-samar ada bayangan berkelebat di sampingnya.
Tapi tak dihiraukannya, ia berlari terus hingga tak tahu itu bayangan apa.
Karena cepatnya Tiang Keng berlari tak lama samar-samar ia sudah melihat sosok sebuah kereta di depan dia.
Ia lari terus dan jaraknya semakin dekat hingga tampak jelas kereta itu bercat hitam mengkilap Sebuah kereta mewah yang ditarik oleh empat ekor kuda.
Di dalam kereta itu memancar cahaya dan terpeta bayangan orang yang duduk di kereta itu.
Samarsamar Tiang Keng mendengar suara tawa yang diseling oleh suara roda-roda kereta yang berisik.
Tiang Keng bisa mendengar suara tawa itu dengan jelas, hingga ia yakin ia tak salah kuntit.
Segera ia mempercepat larinya untuk menyusul, lalu melompat dengan gerakan yang ringan ke atas belakang kereta itu, hingga sekarang ia tak perlu berlari-lari lagi seperti tadi.
la menempel di belakang kereta itu, membonceng Kereta tetap dilarikan dengan kencang, debu mengepul ke udara.
Tiang Keng tak menghiraukan debu yang membubung di belakangnya.
Dia hanya berpikir bahwa dia sedang berusaha menyelamatkan orang banyak.
Jalan yang dilalui sangat jelek, kereta sering berguncang keras, hingga Tiang Keng harus berpegangan keras agar tubuhnya tak terpelanting dari atas kereta.
Tak lama dari dalam kereta terdengar suara tawa dan katakata.
"Coba bayangkan, lucu tidak, orang yang cecongornya seperti dia berniat mendapatkan Nona?"
Terdengar suara tawa.
"Ya."
Kata yang lain.
"Mereka semua undangan kita. memang di antara mereka banyak yang tak semenggah, tapi semuanya baik, hanya dia seorang yang paling menjemukan, maka tak heran kalau nona kita memotong hidungnya!"
Kembali terdengar suara tawa riang.
"Sungguh kejam!"
Pikir Tiang Keng. la mengerutkan alisnya tapi wajahnya tampak senang entah apa yang membuat dia senang.
"Memang dia menjemukan,"
Kata nona yang ketiga.
"Katanya duapuluh tahun yang lalu dia ternama. Sedang kita masih muda, tak heran kalau kita belum pernah mendengar nama Hoa-long Pit-ngo. Dulu ia terkenal, tapi sekarang lain! Kau lihat, tadi saat ia mendaki tanjakan menggunakan ilmu meringankan tubuh bernama "
Leng-po Sip-pat-coan! Untung Nona yang melayaninya, kalau orang lain. aku kuatir."
Nona ini bicara sambil tertawa la baru berhenti nona lain menyambung pembicaraannya.
"Kalau kau yang menghadapinya, mungkin kulitmu dikeset seperti kambing dan tubuhmu dilemparkan ke pembaringan!"
Kata nona lain. Wajah Tiang Keng berubah merah, tak lama ia mendengar suara tawa riuh dari nona-nona itu.
"Awas!"
Kata nona yang digoda.
"Sekali lagi kau ngaco-belo akan kurobek bacotmu!"
Sekali lagi terdengar suara tawa riuh. Nona yang lain sambil tertawa berkata.
"Kau...Aku tahu kau.. Hatimu telah tergoda.... Lihat saja ketika kau awasi si Jangkung yang bajunya berwarna gelap itu. ..Segera saja kau mendahului kami berlari ke arah dia dan menyerahkan kartu undangannya. Malah kau tak tahu malu berkulit muka tebal bicara padanya. -"
Aduh! -Ah, awas kau, kalau kau cubit lagi aku, akan kukatai kau tergila-gila padanya, sedangkan dia tak sudi padamu! Pantas kau bilang Hoa-long Pit-ngo ganteng, tapi dia tak menyukaimu...."
Kembali wajah Tiang Keng panas mungkin berubah merah.
Ia tak bisa mendengar senda-gurau.
Ia tahu dialah yang dimaksud dengan sebutan "si Jangkung berbaju warna gelap".
Sekalipun ia mendongkol tapi ia merasa geli juga.
Biar bagaimana senang juga ia mendengar dipuji-puji oleh si nona.
Nona yang digoda itu tak mau mengerti.
"Bagus kau ya, apakah kau kira aku tak tahu? Aku tahu siapa yang kau sukai! Tahukah kalian, yang ia sukai adalah pemuda yang ditangkap oleh Couw-koh, yaitu pemuda berbaju kuning yang dikurung di dalam goa. Saat pemuda itu kita kepung dengan Nie Tong Sian Bu, dia sudah menyukai pemuda itu, tak heran saat dia menotok ia totok dengan ringan sekali....."
Tiang Keng kaget rupanya Gim Soan tertangkap oleh Couwkoh (Nenek) dan dikurung di sebuah goa oleh Un Jie Giok.
"Guru Gim Soan ialah Ban Biauw Cin-jin,"
Pikir Tiang Keng.
"Padahal Ban Biauw dan Un Jie Giok segolongan, mengapa Jie Giok menahan muridnya? Aneh sekali!"
"Kalian berdua keterlaluan,"
Kata seorang nona.
"Di mana saja kalian bertemu, kalian adu lidah! Itu kebiasaan buruk! Belum pernah aku bertemu orang lebih buruk dari kalian. Awas jika kalian tak mau berhenti...."
Mendengar sampai di situ Tiang Keng geli sekali.
"Mereka ini semua baik, sayang mereka anak buah si wanita hantu."
Pikir Tiang Keng. Coba mereka tahu kalau undangan itu mirip dengan panggilan maut, entah bagaimana perasaan mereka?"
Saat cambuk dibunyikan tiba-tiba kereta berbelok. Tiang Keng sedikit terkejut, hingga pikirannya terganggu. Tiba-tiba ia mendengar suara nona lain.
"Tahukah kalian aku juga agak heran....."
Tapi suara itu berhenti sejenak. Kata-katanya serius. Mungkin si nona pikir tak layak ia meneruskan kata-katanya.
"Kau keterlaluan, Ci,"
Kata beberapa nona.
"Kau biasa bicara sepotong-sepotong, kau tak tahu perasaan orang lain....."
Nona yang tadi bicara itu agaknya kewalahan.
"Baiklah, nona-nona...."
Ia berkata pula.
"Baik aku berterus terang. Mari. kuberitahu, aku heran karena..."
Lagi-lagi ia tak meneruskan kata-katanya. Tiang Keng heran.
"Mengapa ia ragu-ragu?"
Pikir Tiang Keng. Tapi tak lama si nona mulai bicara, ia takut kawannya rewel.
"Tahukah kalian, siapa pemuda berbaju kuning itu?"
Katanya.
"Tahukah kalian murid siapa dia?"
"Mana kutahu!"
Kata seorang nona sambil tertawa.
"Sebaiknya Enci tanya dia, dia pasti tahu!"
Tiang Keng tersenyum.
"Ah nona ini Jenaka sekali, tapi bandel sekali. Dia mulai lagi membuat gara-gara."
Pikir Tiang Keng. Memang benar tak lama Tiang Keng mendengar si Enci ini bicara lagi.
"Kau ini memang bandel! Katanya.
"Orang sedang bicara serius kau malah bergurau. Awas, sekali lagi kau ngaco. aku tak mau bicara!"
"Baik, Ci! Baik aku tak akan bicara lagi..."
Kata si bandel. Nona yang lain tertawa riuh. oo BAB 28. TIANG KENG MENDENGARKAN SEBUAH RAHASIA BERHARGA Kemudian enci ini tertawa juga. Ia tak tahan melihat kejenakaan kawannya itu.
"Kalian ingat tidak?"
Katanya melanjutkan.
"Dulu saat kalian masih kecil, ada seorang imam sudah tua, tapi kelihatan tak terlalu tua, dia datang ke tempat kita hendak mencari Couw-koh!"
Tiang Keng tercekat.
"Apa yang si nona maksudkan Ban Biauw Cin-jin?"
Tiang Keng menduga-duga. Segera ia memperhatikan kata-kata nona itu. Di dalam kereta terdengar gumaman nona-nona itu agak perlahan.
"Aku sudah lupa."
Kata seorang nona. Ada juga yang berkata.
"Ya. aku ingat!"
"Saat itu usiaku lebih tua dua tahun dari kalian."
Kata si Enci.
"Dan aku masih ingat benar! Mengapa ia berani mencari Couw-koh? Apa ia tidak tahu kalau Couw-koh paling benci pada pria? Tapi imam itu kelihatannya baik, maka aku bersedia mengantarkannya ke kamar Couw-koh....."
Suara nona ini perlahan sekali, rupanya ia bicara sambil berpikir.
"Saat Couw-koh melihat imam itu. kelihatan dia sangat benci!"
Kata si nona melanjutkan.
"Aku tak berani masuk ke kamar Couw-koh, tapi aku pun serasa berat untuk meninggalkan kamar Couw-koh. Lalu aku mencuri dengar di balik pintu kamar.
"Ah kiranya Enci juga tak tahu aturan!"
Sela si nona bandel itu sambil tertawa.
"Ah, nona ini benar-benar bandel,"
Pikir Tiang Keng. Si Enci mendongkol tapi ia tak menghiraukan ucapan si bandel.
"Kudengar Couw-koh bertanya bengis. 'Mau apa kau datang ke mari?' si imam menyahut suaranya perlahan, hingga aku tak mendengar apa yang ia katakan. Aku dengar bentakan Couw-koh, 'Lekas pergi!"
Aku terus menunggu.
Aku tak mendengar suara apa-apa dan si imam pun tak keluar dari kamar Couw-koh.
Aku khawatir mungkin si imam telah dibunuh..
Kemudian di dalam kereta jadi sunyi.
Tak terdengar lagi suara tawa.
kecuali suara si nona bandel.
Rupanya ia tertarik oleh cerita si Enci.
Tiang Keng pun tertarik sekali.
Ia yakin cerita si nona sangat penting baginya.Ia coba mendengarkan lagi.
"Ketika itu nona kita ada di belakang gunung,"
Kata si enci yang ia maksudkan Un Kin.
"Sedang kalian entah ke mana, hingga tinggal aku sendiri di depan kamar Couw-koh. Aku dengar Couw-koh mencaci tak hentinya, suaranya keras. Kemudian perlahanlahan suara Couw-koh sirna. Sedang imam itu tetap berada di dalam kamar....."
Dia berhenti bicara sebentar, lalu melanjutkan lagi dengan suara berat.
"Kejadian itu terpendam dalam hatiku sampai saat ini. Sampai sekarang aku tetap heran. Sekarang kuberitahukan pada kalian, tapi ingat kalian jangan cerita lagi pada orang lain! Jika kalian cerita, jiwa kalian bisa melayang!"
Tiang Keng menghela nafas panjang.
"Begini sulitnya wanita menyimpan rahasia,"
Pikir Tiang Keng.
"Dia sendiri tak bisa menyimpan rahasia, bagaimana ia minta orang lain tak membuka rahasia?"
Terdengar suara enci yang rupanya puas dan lega hatinya karena bebannya selama ini telah buyar.
"Semula aku ingin mengintip ke dalam kamar,"
Ia melanjutkan.
"Tapi aku takut, selang tak berapa lama aku dengar lagi suara Couw-koh. Dia memanggilku, aku jadi terkejut dan ketakutan bukan main. Aku takut Couw-koh mengetahui aku menguping di luar kamar, aku juga tak berani tidak datang setelah dia memanggilku...."
Suara nona itu perlahan ditambah lagi suara roda kereta sangat berisik.
Hal ini membuat Tiang Keng harus bersusah payah memasang telinganya.
Keadaan di dalam kereta sunyi.
sampai ada nona yang bertanya.
"Lalu Couw-koh memanggilmu mau apa?"
Dan ada pula yang berkata.
"Kalau aku yang dipanggil, aku tak berani datang, bagaimana kalau Couw-koh menghukumku?"
Si Enci menghela nafas.
"Waktu itu aku juga berpikir sama denganmu,"
Kata dia.
"Tapi aku memberanikan diri, aku berjalan masuk. Aku lihat si Couw-koh sedang berbincang dengan si imam, aku tak melihat Couw-koh sedang gusar, malah dia tersenyum. Aku dibawa ke gunung sejak aku berumur tujuh tahun, belum pernah aku melihat Couw-koh tertawa. Aku tak mengira ia bisa bicara sambil tertawa dengan seorang pria. Ketika itu aku jadi heran sekali hingga aku diam saja."
Semua nona-nona itu menahan nafas. Tak lama terdengar mereka bertanya dengan bernafsu "Benarkah begitu? Apa benar?"
Kata mereka. Si Enci tidak langsung menjawab. Tak lama ia melanjutkan ceritanya.
"Aku heran, tapi keherananku tak kutunjukkan. Couwkoh menyuruhku menyiapkan makanan dan arak. Lalu aku disuruh menunggu di luar. Tak seorang pun boleh masuk, begitu pesan Couw-koh padaku. Si imam mengawasiku ia tertawa, agaknya dia sangat puas. Tadinya kesanku baik padanya entah mengapa aku jadi benci padanya."
Si nona menarik nafas dan melanjutkan.
"Saat si imam datang ketika itu lewat tengah hari. Itu saat nona kita belajar. Aku menunggu sampai keadaan gelap. Si imam tetap tak keluar juga. Aku lapar sekali. Mereka berbincang perlahan sekali, terkadang terdengar suara tawa mereka. Tapi suara mereka makin lama makin perlahan, bahkan sampai tak terdengar lagi. Aku heran, apa yang mereka lakukan berdua di dalam kamar itu?"
Di dalam kereta tak terdengar suara lagi, rupanya mereka sedang memikirkan sesuatu seperti si enci ini.
Mereka memikirkan dan ingin tahu apa yang dilakukan si nenek dan si imam di dalam kamar itu.
Tiang Keng pun berpikir ia hampir tak percaya pada katakata nona itu.
Tapi ketika Tiang Keng ingat ucapan si nenek tadi pagi Tiang Keng baru sadar.
"Bukankah Un Jie Giok membenci pria karena wajahnya jelek?"
Pikir Tiang Keng.
"Dia tahu tak akan ada pria yang menyukainya, sedang Ban Biauw bisa menggunakan kelemahannya itu. mungkin si imam bisa membujuk dan merayunya, hingga robohlah hati si nenek. Jika benar begitu, sungguh hina perbuatan Ban Biauw Cin-jin itu! Tapi mengapa Ban Biauw berbuat demikian?"
Tiang Keng berusaha memecahkan teka-teki itu dengan kemampuan otaknya. Namun, sebelum ia mendapat jawaban mengenai teka-teki itu, ia dengar si enci bicara kembali.
"Saat cuaca sudah gelap, si nona muncul dari ruang belakang,"
Kata dia.
"Lalu kuhadang si nona untuk mencegah agar dia tidak masuk ke kamar Couw-koh. Tapi si nona memaksa mau masuk juga, aku jadi ketakutan setengah mati. Kalian tahu adat nona kita. jadi mana mampu aku mencegahnya. Aku takut....Aku takut...."
Sampai dua kali kata-kata "aku takut"
Itu diulanginya, la diam.
Sekalipun dia tak mengatakannya, tapi orang sudah bisa menerkanya.
Kembali di dalam kereta jadi sunyi, jelas mereka mengkhawatirkan keselamatan si nona.
Sementara itu kereta sudah mendekati Thian-bak-san dan kota Lim-an sudah tertinggal jauh sekali.
Kereta dilarikan dengan kencang tapi sayang jalannya rusak berat, hingga kecepatan kereta agak terhambat.
Seandainya orang naik kuda pasti dia sudah sampai di atas gunung itu.
Setelah sunyi sekian lama si enci menghela nafas dan mulai bicara lagi.
"Aku takut dan bingung,"
Kata dia.
"Aku ingin menarik tangan nona kita.
Tapi bukan aku bisa menariknya malah aku tertarik dan masuk bersamanya.
Bukan main ngeri dan takutku hingga aku memejamkan mataku.
Tiba-tiba aku dengar suara Couw-koh.
"Hai sedang apa kalian main tarikmenarik? Lepaskan tangan kalian!"
Aku tercengang, lalu kubuka mataku...."
Ia berhenti sejenak.
Tiang Keng keheranan, ia jadi tegang dan ingin tahu kelanjutan cerita si nona.
Hampir ia bertanya, tapi untung ia bisa menahan diri.
Sebaliknya beberapa nona bertanya seperti yang akan dilakukannya.
"Bagaimana eh?"
Kata mereka. Yang ditanya menghela nafas.
"Di dalam kamar hanya ada Couw-koh sendirian,"
Kata si nona.
Couw-koh rebah sambil bersandar di pembaringan. Si imam tak ada entah kapan ia pergi Nona-nona itu menghela nafas lega, begitu pun si enci.
"Sejak saat itu,"
Dia melanjutkan lagi.
"Tabiat Couw-koh berubah sekali, mungkin kalian tak mengetahuinya, dia semakin aneh! Adakalanya dia ramah sekali, tapi terkadang galak sekali. Aku tahu sebabnya, tapi tetap kusimpan dalam hati, mana berani aku mengatakannya."
Sampai di sini Tiang Keng sadar bahwa antara Un Jie Giok dan Ban Biauw Cin-jin ada hubungan rahasia sangat istimewa.
Jika ia tak mendengar dari si enci, ia sulit percaya Ang-ie Nionio bisa berlaku seperti itu.
Sekarang ia sadar apa yang ia dengar tadi pagi dan belum jelas, sekarang menjadi jelas sejelas-jelasnya.
"Sejak itu, beberapa tahun terakhir ini,"
Si enci melanjutkan, ia jadi senang bicara.
"Diam-diam aku menaruh perhatian! Sejak itu aku sering melihat si imam kerap kali datang menemui Couw-koh. Mungkin di antara kalian pun pernah melihat kedatangannya. Tapi mungkin kalian tak tahu di antara Couw-koh dan si imam ada hubungan apa-apa. Setiap ia pergi aku pernah mengintai, si imam selalu membawa sebuah bungkusan. Aku juga tahu setiap saat barang simpanan milik Couw-koh makin berkurang dan semakin sedikit. Malah kadang-kadang Couw-koh turun gunung seorang diri dan lama tak pulang-pulang. Dia tak pernah bicara, tapi aku tahu dia sedang mencari siapa...."
Kemudian terdengar suara tawa nona-nona itu. Tak lama terdengar suara si nona bandel berkata sambil tertawa.
"Sekarang aku tahu, Ci. Imam itu bernama Ban Biauw Cinkun!"
Katanya.
oo BAB 29.
PENYUSUPAN TIANG KENG AKHIRNYA TERBONGKAR Kereta besar itu sudah memasuki wilayah pegunungan.
Jalan semakin sulit, tapi si kusir bisa mengendalikan kereta itu karena ia sudah tahu dan hafal jalannya, namun keretanya berjalan agak perlahan sedikit.
Tiang Keng sudah menduga orang itu Ban Biauw Cin-jin, tapi setelah mendengar suara si nona bandel ia jadi lebih yakin lagi.
"Kau benar-benar pintar,"
Kata si enci.
"Lalu apa kau kira selain kau orang lain tak tahu juga? Awas jika rahasia ini diketahui orang lain!"
"Jangan khawatir, Ci! Sekalipun aku diancam akan dibunuh, aku tak akan buka rahasia!"
Kata si bandel.
"Hm!"
Si enci berdehem.
"Tak kusangka, begitu gampang Couw-koh bisa dikelabuinya,"
Kata seorang nona yang tak pernah tedengar suaranya ikut bicara.
"Aku sudah menduga lama si imam bukan orang baik, seumur hidupku aku tak ingin kenal dengan segala pria"
Si enci kagum pada ucapan nona itu.
"Bukan aku tidak tahu orang she In itu mengincar baang-barang Couw-koh,"
Kata dia sambil menghela naFas.
"tapi apa yang bisa kita lakukan? Aku kira Couw-su kesepian seorang diri, hingga ada baiknya jika ada pria yang menghiburnya...."
"Aku tak berpikir sampai di situ,"
Kata si bandel.
"kau tahu banyak, Ci! Coba kau katakan apa lagi itu."
Si enci bicara perlahan.
"Tahukah kalian pemuda berbaju kuning itu murid siapa?"
Tanya dia.
"Oh!"
Semua nona mengeluarkan suara heran.
"Bukankah dia murid orang she In?"
Kata seorang nona.
"Benar,"
Kawab si enci. suaranya perlahan.
"Dia murid orang she In sahabat Couw-koh itu.... Nah kalian pikir saja sendiri, apakah itu tidak aneh. Mengapa Couw-koh mengurung pemuda itu?"
Tak lama terdengar bisik-bisik, mungkin orang sedang menerka-nerka.
Tiang Keng yang berada di atas kereta semakin mengerti.
Ia berpikir, setelah berhasil menguasai harta Un Jie Giok, si jelek, Ban Biauw tak sudi kencan dengan si jelek itu, lalu ia bersembunyi.
Karena itu Un Jie Giok jadi kesepian.
Ini berbahaya.
Cinta itu seperti air bah, setelah banjir hebat tak ada yang akan mampu membendungnya...
Setelah berpikir begitu, ia mengawasi ke sekelilingnya, terutama ke depan.
Ia sadar ia sudah tiba di tempat tujuan.
Itu berarti akan tiba saatnya ia berhadapan dengan bahaya baru.
Tak heran ia jadi tegang.
Sekian lama nona yang ada di kereta itu bungkam.
"Mengapa mereka diam?"
Pikir Tiang Keng.
"Apa mereka berduka memikirkan Couw-kohnya atau sedang memikirkan yang lain0"
Kereta terus melaju, guncangannya semakin terasa, suara roda semakin berisik.
Di seluruh tempat keadaannya sunyi, sampai suara kutu malam pun tak terdengar....
Saat sesunyi itu tiba-tiba terdengar suara nyaring.
"Berhenti!"
Suara itu bekumandang jauh di seluruh lembah, telinga Tiang Keng serasa mendengung.
"Berhenti! Berhenti!"
Kembali teriakan itu berkumandang berulang kali.
Sais langsung berseru dan menahan les kudanya.
Keempat kuda itu menahan langkah mereka, kaki depannya terangkat dan kereta pun mendadak berhenti sambil mundui sedikit.
"Siapa?"
Terdengar suara bentakan dari dalam kereta. Tak lama melompat beberapa bayangan dari dalam kereta. Dari dalam rimba sejenak sunyi, tak lama terdengar suara nyaring.
"Apa kalian sudah mati semua? Mengapa kalian sampai tak tahu ada orang yang membonceng di belakang kereta kalian? Apa benar-benar kalian tak mengetahuinya?"
Kata suara itu nyaring sekali.
Tiang Keng terkejut, ia sadar telah kepergok.
Tapi ia belum tahu siapa orang lihay itu, maka ia menoleh ke arah rimba untuk melihatnya Semua bayangan itu adalah bayangan nona-nona di kereta, mereka berdiri tegak di kedua sisi kereta, mata mereka mengawasi ke arah rimba.
Merekajuga kaget oleh suara bentakan peringatan itu.
Dari dalam rimba terdengar suara tawa, disusul suara nyaring bagaikan suara genta.
"Sahabat yang membonceng kereta, apa kau tetap ingin bersembunyi di sana dan tak mau turun?"
Kata suara itu. Tiang Keng sadar ia tak bisa bersembunyi terus, tapi ia tak turun dari kereta, malah melompat ke atas atap kereta. Kemudian ia mengawasi ke arah rimba dengan tajam, ia pun menegur.
"Sahabat yang ada di dalam rimba, kau juga sudah seharusnya keluar dari persembunyianmu!"
Kata Tiang Keng. Kawanan nona-nona itu kaget mendengar teriakan Tiang Keng itu Mereka berseru dan berniat melompat ke atas kereta.
"Tahan!"
Kata suara dari dalam rimba.
Tak lama terlihat dua orang muncul dari dalam rimba.
Mereka adalah seorang imam dan seorang pendeta.
Yang satu bertubuh pendek dan yang lainnya jangkung.
Yang satu kurus kering dan yang satunya gemuk sekali.
Yang kurus mirip rebung memakai Ka-see atau jubah pendeta, sedang yang seorang lagi mengenakan pakaian gerombongan dan di pinggangnya terselip golok Kay-too, golok istimewa gegaman (senjata) seorang pendeta.
Sedang wajahnya pucat tak mirip manusia yang masih hidup..
Si kate dan gemuk mengenakan jubah imam yang pendek dan ringkas, sedangkan rambutnya kusut.
Dia kelihatan seperti orang yang baru bangun tidur.
Di pinggang si kate tergantung sebuah pedang yang lebih pendek dari pedang biasa.
Sarung pedang itu hitam mengkilap, bukan dari kulit maupun logam.
Selain tubuh mereka yang berbeda, suara mereka pun berbeda, ada yang nyaring ada keras.
Mereka muncul secara bersamaan dan mereka pun jadi berendeng.
Hingga perbedaan mereka jadi makin mencolok, hebatnya suara mereka menyeramkan.
Melihat kedatangan kedua orang itu, Tiang Keng keheranan.
"Siapakah mereka ini?"
Pikir Tiang Keng.
Ketika nona-nona itu sudah melihat tegas siapa mereka, keadaan jadi sunyi dan nona-nona itu segera membungkuk memberi hormat.
Sikapnya hormat sekali.
Si pendeta dan si iman menghampiri Tiang Keng sambil tertawa dingin.
Sediktpun ia tak menghiraukan nona-nona berpakaian merah itu.
Mereka langsung berjalan ke arah kereta, kemudian mengawasi ke arah Tiang Keng.
Si imam tertawa geli, ia menoleh ke arah si pendeta sambil tertawa terus.
"Ah kiranya dia bocah yang tampan sekali,"
Kata si imam.
"Hwee-shio tua, pasti kau akan merasa kasihan. Tapi sayang nafsu membunuhku tak pernah hilang!"
Kata-kata itu tak sedap bagi telinga Tiang Keng. Dengan sangat dongkol Tiang Keng membentak.
"Kalian bersedia bersembunyi di dalam rimba, apa mau kalian?"
Kata Tiang Keng.
"Kalian orang Rimba Persilatan, tapi mengapa kelakuan kalian begini..."
Tiang Keng tak meneruskan kata-katanya.
Sebenarnya ia akan mengatakan tak tahu malu, tapi tak jadi ia katakan.
Imam itu tak menjawab malah tertawa.
Pendeta kurus kering itu maju sambil melambai-lambaikan tangannya yang kurus kering, mencegah si imam menjawab kata-kata anak muda itu.
Sedang matanya yang beralis pendek dengan tajam mengawasi ke arah Tiang Keng.
"Eh, bocah,"
Katanya.
"Mengapa kau bicara tanpa aturan? Bukankah kau yang bersembunyi di belakang kereta orang, mengapa kau malah menegur kami?"
Ia menggapai dua kali dan berkata lagi.
"Mari turun, Loo-kap ingin bertanya padamu! Mengapa kau bersembunyi di belakang kereta orang? Apa kau hendak berbuat busuk atau kau...."
Tapi sebelum kata-kata pendeta kurus itu selesai. Tiang Keng sudah membentak dengan keras.
"Tutup mulutmu!"
Bentak Tiang Keng. Nona-nona itu geli. Mereka ingin tertawa tapi mereka segera menutup mulut dengan tangan mereka. Pendeta kurus itu tak peduli kata-katanya dipotong oleh Tiang Keng, ia bicara terus.
"Bocah, bagaimana pun kau telah bersembunyi di belakang kereta orang, pasti kau berniat jahat! Jika aku menuruti adatku seperti dulu, kau sudah kubunuh. Sekarang aku penganut agama Buddha, hatiku sudah lemah, aku tak ingin menghinamu yang masih muda belia. Tak pantas kau yang masih semuda ini, harus kehilangan jiwa....."
Kata si pendeta kurus. Mendadak imam gemuk tertawa.
"Apa kubilang,"
Kata si imam.
"Kiranya kau menaruh belas kasihan padanya. Dasar hatimu lemah! Baiklah, aku pandang mukamu, maka akupun tak jadi membunuhnya!"
Kata si imam.
Tiang Keng mendongkol karena kedua orang itu bicara seenaknya seolah Tiang Keng sudah berada di tangan mereka.
Tiang Keng hendak menjawab kata-kata hinaan itu, tapi si pendeta kurus kering dengan matanya yang tajam mengawasi dia.
"Hai imam tua, makin tua kau makin tak karuan. Dengan begitu apakah kau masih seorang suci?"
Kata si pendeta kurus.
Mau tak mau seyelah mendengar ucapan si kurus, nonanona itu akhirnya tertawa juga, karena mereka anggap katakatanya lucu seperti juga tubuh mereka.
Imam gemuk mengawasi dengan bengis, lalu ia mengangkat bahu, pipinya bergerak-gerak.
Tak demikian dengan si kurus yang memang seolah tak berdaging.
Tiang Keng mengawasi ke arah kedua orang itu.
Ia tak kenal mereka, tapi dari gerak-geriknya ia yakin mereka ini lihay.
Pasti mereka ini dua orang undangan Un Jie Giok.
Dengan tajam ia awasi mereka dan sikap Tiang Keng tenang sekali.
Ia tak marah seperti tadi.
malah sekarang ia bersikap waspada dan siap sedia.
Ia tak ingin kedua orang itu jadi gusar.
Pendeta kurus memutar-mutar matanya.
Ia menatap tajam ke arah Tiang Keng dan berkata.
"Loo-lao berjodoh denganmu! Seharusnya kau kubunuh, tapi sekarang tidak! Tapi dengan cara kau harus mengangkat aku menjadi gurumu! Maka dengan demikian, selain kau akan mendapat ilmu silat yang istimewa, kau juga akan menikmati kesenangan yang istimewa!"
Tiang Keng berusaha menahan kemarahannya, lalu ia tertawa.
"Baik, baik. Kau akan kuangkat menjadi guruku!"
Kata Tiang Keng.
"Tapi ada syaratnya, kalian harus menyebutkan siapa kalian, setelah aku tahu siapa kalian, dengan demikian aku bisa menimbang-nimbang apakah kau pantas menjadi guruku atau tidak?"
Pendeta itu tertawa menyeramkan. Tempat itu sunyi karena terdengar tawa si pendeta itu. maka keadaan jadi menyeramkan.
"Kau masih begini muda, sudah jelas kau tak kenal siapa Loo-lap?"
Kata si pendeta.
"Apa gurumu tak pernah cerita tentang kami berdua?"
Berbareng dengan selesainya ucapan si pendeta, terdengar suara.
"Sreet!"
Tahu-yahu tangan si pendeta kurus sudah memegang golok Kay-too yang panjangnya lima kaki, tak lama ia memainkan golok yang panjangnya lebih panjang dari golok biasa.
Si imam gemuk tertawa sambil berkata,"
Jika kau belum juga mengenali kami, kau lihat ini!"
Tak lama terdengar suara orang menarik senjata dari sarungnya, ia kini telah memegang pedang pendek setelah ia hunus dan cahayanya berkilauan.
Itu pedang luar biasa, selain pendeknya yang istimewa, juga pipih sekali dan kedua sisinya tajam sedangkan lebar pedang dua kali lebih besar dari pedang biasa, hingga mirip dengan tameng Kun-goan-pay.
Sekarang muncul lagi keanehan lain selain kedua orang itu sudah aneh.
senjata mereka pun aneh sekali.
Tian-Keng mengawasi dengan tajam terutama pada senjata mereka.
oo BAB 30.
TIANG KENG BERTARUNG DENGAN DUA ORANG BEKAS MUSUH AYAHNYA Ketika semua orang diam dan keadaan jadi sunyi, si imam gemuk membaling-balingkan pedangnya sambil tertawa dingin.
"Kau belum bisa menerka, siapa kami?"
Kata si imam.
"Hm! Kalau begitu gurumu itu sangat tolol! Mengapa nama kami berdua tak disebut-sebut olehnya?"
Mendengar gurunya dihina, bukan main mendongkolnya Tiang Keng. Ia berusaha menahan diri, tapi tak urung ia mengeluarkan suara di hidung.
"Hm!"
Kemudian Tiang Keng menengadah mengawasi rembulan yang suram seolah ia tak menghiraukan kedua orang itu.
Imam gemuk dan pendeta kurus itu jadi gusar.
Tiga puluh tahun yang lalu, mereka sangat terkenal dan disegani oleh kalangan Rimba Hijau (Kalangan para Penjahat).
Tetapi golongan Rimba Persilatan (golong putih) banyak yang belum mengenalnya secara dekat.
Ketika itu mereka dikenal sebagai "Pay-kiam Pian-too Siu Hud Poan Sian" (Si Buddha Kurus dan Dewa Gemuk dengan pedang Pay-kiam, pedang seperti tameng dan pian-too, golok mirip cambuk).
Tegasnya mereka lebih dikenal dari senjata mereka masing-masing.
Mereka sebenarnya berbeda golongan tapi mereka bisa bersatu.
Si imam gemuk bernama Poan Sun Yang golongan Leng-cin-kiam-pay, sebuah partai berasal dari Propinsi Shoatang.
Ilmu pedangnya aliran keras.
Si pendeta kurus bernama Siu Bie To.
ia dari Ngo-tay-san.
Kegemaran mereka berdua juga berlainan.
Paon Sun Yang gemar minum arak dan mengumpulkan harta.
Siu Bie To sebaliknya, senang namanya terkenal dan wanita cantik.
Sesudah ternama mereka mendadak mengundurkan diri dari Rimba Hijau.
Ko.ion ketika mereka sedang bekerja di wilayah Thio-kee-lauw, mereka bertemu dengan To Ho Jian.
Sekalipun keduanya gagah, namun mereka tak mampu melawan To Ho Jian dan mereka dikalahkan lalu kabur.
Sepuluh tahun lamanya mereka menghilang dari dunia Kang-ouw.
Suatu ketika mereka bertemu dengan Un Jie Giok, mereka diajak bekerja sama.
Ketika To Ho Jian berhasil dibunuh oleh Un Jie Giok, mereka jadi berhutang budi kepada Jie Giok hingga mereka pun setia sekali, bahkan mereka bersedia mati untuk Un Jie Giok.
Tetapi saat mereka berhadapan dengan To Tiang Keng, mereka tak tahu kalau pemuda ini justru putera To Ho Jian, bekas musuhnya.
Poan Sun Yang kehilangan kesabarannya, ia menoleh ke arah kawannya lalu berkata.
"Hwee-shio tua, wajah anak ini tak bercela, namun lagaknya sangat menjemukan! Oleh sebab itu maafkan, aku akan melanggar pantangan membunuh orang...."
Sebelum ucapannya selesai, tangannya telah meluncur disusul dengan bentakan, la menikam Tiang Keng dengan jurus "Ngo Teng Kay San".
Untung Tiang Keng sudah waspada, la kelihatan sabar namun sangat benci pada lawannya itu.
Saat serangan lawan datang Tiang Keng langsung berkelit, sambil berkelit tangan kanannya menotok ke sikut lawan ke jalan darah hwee-tie.
Siu Bie To mengawasinya, ia tak benci pada si anak muda seperti si imam gemuk, sahabatnya.
Dia malah menganggap si imam terlalu kejam dan ganas.
Menyaksikan gerakan Tiang Keng yang gesit, ia terperanjat juga.
Sebagai seorang jagoan ia melihat si anak muda bukan orang sembarangan.
Ia tahu benar tentang pepatah yang mengatakan "Jika seorang ahli mengulur tangan, ia akan tahu kelihayan musuhnya".
Sekarang ia sadar bagaimana lihaynya Tiang Keng.
Poan Sun Yang, si imam juga kaget ketka ia sadar bahwa serangannya menemui tempat kosong.
Dia tak sempat berpikir lagi, lalu berseru sambil menarik tangannya.
Dia majukan kaki kirinya, kembali tangan kanannya menyerang.
Itujurus (Tiang Hong Koan Jit (Bianglala menutupi matahari).
Melihat serangan lawannya ini.
Tiang Keng yakin lawannya ini terkenal hanya namanya saja.
Tian Hong Koan Jit hanya pukulan biasa saja, dengan tak memperdulikan serangan lawannya itu.
Tiang Keng menyambar dada lawan dengan tangannya.
Tapi serangan Poan Sun Yang terhenti setengah jalan.
Secara mendadak ia mengubah gerakannya itu, pedangnya menyerang ke bagian bawah, ke arah perut Tiang Keng.
Perubahan itu cepat luar biasa.
"Omietoo-hud!"
Siu Bie To memuji menyaksikan aksi kawannya itu.
sedang nona-nona itu menjerit melihat bahaya sedang mengancam anak muda itu.
Mereka semua yakin tak lama lagi anak muda itu akan roboh tersungkur di ujung pedang yang sangat istimewa itu.
Tiang Keng melihat bahaya mengancam, ia kaget tapi tak gugup, la juga mengubah serangannya, ia tak jadi menotok sikut lawan, sebaliknya dengan jari tangannya ia sentil golok lawan "Trang!"
Terdengar suara sentilan itu nyaring sekali.
Si imam gemuk kaget saat serangannya dimentahkan, keras sentilan itu hingga hampir saja pedang di tangannya itu terlepas dari genggamannya.
Sedang tubuh si imam terhuyung-huyung, hampir roboh terguling.
Menyaksikan kesudahan dari serangannya itu tampak Tiang Keng puas sekali.
Ia tak mengejar dan menyerang lawannya lagi, tapi sambil tertawa dingin ia berkata.
"Kiranya kepandaianmu hanya begini saja!"
Mendengar hinaan itu bukan main sakit hati Poan Sun Yang.
Ia pun mendengar nona-noa manis itu menahan nafas.
Ia malu karena tak sempat melihat sentilan lawan, tahu-tahu pedangnya terhantam keras.
Sentilan itu pun sampai tak terlihat oleh Siu Bie To dan nona-nona berbaju merah itu.
Ia tak menghiraukan si imam gemuk, ia hanya menoleh ke arah pendeta kurus.
Sambil tertawa dingin dia berkata.
"Jika kau punya kepandaian lain, tak ada halangannya untuk kau pertunjukkan padaku! Sebentar lagi bisa kau lihat, siapa yang akan menjadi guru dan siapa yang akan menjadi murid!"
Sebelum Siu Bie To menjawab ejekan si anak muda, ia mendengar seman temannya yang langsung melompat maju.
Tiang Keng menoleh, ia lihat imam gemuk itu merobek jubahnya menjadi dua potong, suara robekan jubah itu terdengar nyaring.
Sekarang si imam gemuk jadi telanjang, dia hanya mengenakan celana pendek.
Kelihatan dagingnya bergerak-gerak....
Nona-nona itu berteriak dan segera mereka menutup mata.
"Mau apa kau dengan lagakmu ini?"
Tegur Tiang Keng sambil tertawa mengejek.
Tapi ia tetap waspada.
Siu Bie To tahu kawannya sedang marah luar biasa.
Tubuh si imam bernama Poan Sun Yang bergerak-gerak lebih cepat, matanya mengawasi bengis sekali.
Dia berteriak-teriak makin lama suaranya jadi perlahan.
Sebagai gantinya sekarang kakinya yang bergerak-gerak sampai perlahan.
Kelihatan kaki itu jadi berat saat diangkat...
Melihat gerakan lawan.
Tiang Keng jadi curiga.
Apalagi ia lihat bekas injakan kaki si imam gemuk membekas dalam sekali, mungkin setiap imam itu melangkah ia menekan dengan keras.
Poan Sun Yang melangkah perlahan, tapi lama-lama ia sudah dekat pada si anak muda.
Tampak wajahnya yang buruk itu memperlihatkan kegusarannya.
Semakin dekat Tiang Keng mendengar suara nafasnya yang makin keras.
Melihat demikian nona-nona yang tadi menutupi mata mereka dengan tangannya, sekarang membuka mata untuk menyaksikan...
Tiba-tiba imam gemuk itu menyerang dengan hebat ke arah Tiang Keng.
Berbareng dengan serangan itu, tubuh Su Bie To pun melompat ke arah Tiang Keng.
Dia menyerang dari belakang lawan.
Dia membacok punggung Tiang Keng.
Tiang Keng tidak menangkis serangan kedua musuhnya itu, ia berkelit dengan gesit.
Tiang Keng bebas dari serangan itu.
Tapi Poan Sun Yang lihay, ia sudah menduga.
Begitu serangannya tak mengenai sasaran, ia melompat maju dan menyerang lagi.
Kali ini goloknya mengarah ke dada kiri lawan.
Jika tadi ia menyerang dengan perlahan, sekarang serangannya cepat luar biasa.
Tiang Keng terkejut.
Serangan itu hebat sekali.
Tetapi lagi-lagi ia tak menangkis serangan itu dengan mengegoskan tubuhnya.
Di luar dugaan Su Bie To pun menyerang bersamaan dengan si imam gemuk.
Rupanya mereka berdua bisa bekerjasama dengan rapi.
Serangan mereka datang ber-gantian dari kiri dan kanan.
Tiang Keng jadi sibuk sendiri.
Ia sekarang tak bisa hanya berkelit saja.
Terpaksa ia menyampok dengan tangan kanannya.
Dua kali ia menyentil dengan saling susul.
Karena terburu-buru sentilan Tiang Keng kurang tepat mengenai sasaran, ia tak bisa membuat kedua lawannya terancam serangannya.
Kedua orang itu jadi heran.
Ternyata ilmu silat yang sepuluh tahun terakhir ini mereka ciptakan, dengan mudah bisa dimentahkan oleh To Tiang Keng yang masih sangat muda.
Mereka jadi penasaran sekali.
Kemudian si imam gemuk menyerang ke bagian bawah Tiang Keng dengan tipu .
"Masuk laut membunuh naga'"
Sedang golok si pendeta Siu Bie To menyambar ke bahu kiri dengan tipu "Badai merontokkan daun".
Serangan mereka gesit dan datangnya dari atas dan bawah.
Tiang Keng kelihatan sibuk dikepung oleh dua orang jago tua.
Nona-nona itu tak bisa melihat jelas kedua senjata si imam dan si pendeta, yang kelihatan hanya kilauan senjata mereka.
Mereka sayang dan girang, sayang karena lawan masih muda dan tampan, sedang girang karena pihaknya yang akan menang.
Sejak tadi Tiang Keng memperhatikan serangan kedua lawannya, karena gusar ia mengambil keputusan.
"Aku tak bermusuhan dengan kalian, mengapa kalian begitu kejam menyerangku. Rupanya kalian memang manusia kejam!"
Pikir Tiang Keng.
Sekarang Tiang Keng mulai berkelahi dengan bersungguhsungguh, tangan kanannya menyerang mata Poan Sun Yang, sedang tangan kirinya dipakai menekan gagang pedang lawan.
Dia tekan sambil didorong ke arah kiri.
Poan Sun Yang kaget.
Ia rasakan dorongan si anak muda keras sekali.
Mau tak mau senjatanya bentrok dengan senjata Siu Bie To.
Tiang Keng menggunakan tipu silat Thay-kek-pay yang diberi nama "Tangan Menuntun" , dengan demikian ia berhasil membuat pedang si gemuk bentrok dengan golok si pendeta kurus.
Ia juga menggunakan ilmu silat Bu-tong-pay, ilmu silat tangan kosong.
Dengan ilmu ini ia berhasil menghadapi dua lawan bersenjata.
Semua nona itu kagum melihat hal itu.
Mereka mengerti ilmu silat namun masih jauh dari mahir hingga mereka belum tahu betapa tingginya ilmu silat berbagai partai persilatan apabila digabungkan.
Hebat pertarungan itu, kuda kereta kaget karena mereka sering ke dekatnya.
Mendadak kudakuda itu meringkik dengan mengangkat kaki mereka dan berniat kabur sambil menarik kereta hingga si kusir kewalahan tak bisa mengendalikan untung belum jauh kuda bisa ditahan si kusir bengong karena kagetnya.
oo BAB 31.
TIANG KENG DIBANTU OLEH TIGA PENDEKAR KATE Saat nona-nona itu sedang keheranan dan kusir kereta sedang bengong saja, Poan Sun Yang dan Siu Bie To kaget dan mereka pun kuatir.
Beradunya senjata mereka membuat telapakan tangan mereka terasa nyeri sekali.
Syukur mereka masih sadar hingga keduanya melompat mundur teratur.
Sejak mereka muncul di kalangan Kang-ouw, mereka baru pernah dikalahkan oleh Tiong-goan Tay-hiap To Ho Jian.
mereka tak menyangka sekarang mereka dikalahkan oleh seorang anak muda yang mereka tak kenal.
Sambil melompat mundur mereka mengawasi Tiang Keng dengan tajam.
Mereka pun tak pernah menduga pemuda itu demikian lihay, hingga mereka jadi heran dan bertanya-tanya dalam hatinya.
"Siapakah anak muda ini? Mengapa masih demikian muda begitu lihay!"
Poan Sun Yang tabiatnya keras, hingga karena gusarnya dagingnya jadi bergerak-gerak, la ingin sekali menusukdada Tiang Keng hingga tewas.
Oleh sebab itu kembali ia menyerang.
Sejenak Siu Bie To tercengang, tak lama ia pun ikut maju pula.
Tiang Keng yang tadinya mengira kedua musuhnya otu akan menyerah kalah.tak di kira mereka malah bandel dan tak mau sudah.
Dengan nyaring Tiang Keng berseru.
"Aku telah bermurah hati pada kalian, ternyata kalian tak tahu diri. nah jangan kau salahkan aku sangat keterlaluan!"
Kata Tiang Keng.
Turunnya Tiang Keng ke kalangan Kang-ouw dengan tujuan untuk membalas dendam, namun ia tak ingin membunuh orang sembarangan saja, ia juga tak berniat membunuh kedua orang yang angkuh itu.
Tak demikian dengan si Dewa Gemuk dan si Buddha Kerempeng itu.
Mereka belum sadar bagaimana lihaynya si anak muda.
Mereka menganggap bahwa kekalahan mereka tadi hanya karena mereka kurang waspada saja.
Sekarang mereka berkelahi lebih bersungguh-sungguh dan waspada, sedang serangan mereka keras dan berbahaya.
Sekarang Tiang Keng jadi terkepung, hal ini membuat nona-nona yang menontonnya itu jadi kagum karena Tiang Keng seolah membiarkan dirinya terkepung oleh kedua lawannya itu.
Mereka tak tahu kalau Tiang Keng justru sedang berpikir lain.
Tiang Keng tahu mungkin mereka akan mendapat balabantuan, tapi ia tak ingin buru-buru menyelesaikan pertarungan itu.
Ia tertarik oleh cara mereka bersilat, hingga ia berpikir akan terus melayani mereka.
Lagipula ia ingin menyaksikan ilmu silat lawannya itu, sebab dengan melihat tipu-silat mereka pengetahuannya akan bertambah.
Jika lawannya bersikap bengis dan keras, ia hanya berkelit menghindar saja.
Lama-lama si imam gemuk dan si pendeta kurus jadi bingung sendiri.
Di gunung Thian-bak banyak jago silat.
Benar semua berhasil dikumpulkan oleh Un Jie Giok.
tetapi di antara mereka ada yang memusuhinya.
Jika mereka tak segera bisa mengalahkan Tiang Keng, mereka akan malu karena tak mampu dan akan ditertawakan oleh para penonton.
Karena berpikir demikian mereka langsung berseru dan maju bersama-sama dan mendesak ke arah Tiang Keng.
Pedang dan golok saling bergantian menyerang secara bertubi-tubi, sehingga anginnya menderu dan sinar pedang serta golok mereka itu berkilauan cahayanya.
Menyaksikan kedua orang itu demikian kejam dan hendak membunuhnya, Tiang Keng jadi dongkol juga, ia mencari celah untuk balas menyerang mereka, saat ia lihat si imam menyerang ke arah dadanya, ia ulur tangan kirinya.
Si imam terperanjat.
Ia kira Tiang Keng hendak menyentil pedangnya lagi seperti tadi.
Buru-buru ia berkelit ke sebelah kanan.
Tiang Keng memang gesit luar bias.
Ketika ia lihat lawannya berkelit ke kanan, ia susul dan tangan kanannya ia ulur.
Kedua tangan Tiang Keng maju secara bersamaan.
Tangan kanan menghadang tangan kiri menyusul menyerang.
Maka tak ampun lagi pedang si imam jadi terjepit di antara kedua telapak tangan Tiang Keng.
Dan Tiang Keng bergerak lebih jauh, tangan kanannya ia tekuk, sikut Tiang Keng bekerja dengan cepat menyikut hidung si imam.
Itu sebuah serangan yang cepat luar biasa.
Dari semula renggang Tiang Keng merapat.
Ia berani berbuat demikian karena mengira lawan sedang bingung karena pedangnya dijepit olehnya.
Itu merupakan tipu-silat yang sangat langka, yang tak ada di Bu-tong-pay, Siauw-lim-pay maupun di perguruan Kun-lun-pay.
Poan Sun Yang sudah sangat berpengalaman berkelahi, ia banyak mengenal berbagai tipu-silat dari berbagai partai, tapi sekarang ia dibuat bingung sekali.
Dia terperanjat Ia coba menarik pedangnya dari jepitan si anak muda.
Ia kembali terkejut.
Di luar dugaan pedangnya terjepit di antara telapak tangan Tiang Keng dengan keras sekali.
Pedang itu terjepit dan tak bisa bergerak hingga ia tak mampu menarik pedangnya.
Tiba-tiba siku Tiang Keng mengarah kan serangannya ke hidung lawan, karena takut kena sikut lawan, maka terpaksa ia lepaskan cekalan pada pedangnya, lalu melompat mundur.
Siu Bie To menyaksikan kawannya terancam bahaya, ia melompat sambil membacok hendak menolong sang kawan dari serangan lawan.
Semua berlangsung cepat tanpa dipikir lagi.
Saat itu Tiang Keng sedang menghadapi Poan Sun Yang, ia pun sedang menggunakan kedua tangannya, wajar kalau tubuhnya jadi terbuka tak terlindungi.
Tapi sedetik saja ia melihat bahaya mengancam atas dirinya, mau tak mau ia harus menyelamatkan dirinya.
Ia tak sempat berkelit atau menggeser kakinya.
Justru pada saat pedang yang ia jepit dilepaskan oleh Poan Sun Yang, pedang itu ia angkat untuk dipakai menangkis serangan dari Siu Bie To, saat itu pedang lawan masih ia jepit.
Serangan Siu BieTo yang keras mau tak mau beradu dengan pedang kawannya vang ada di tangan Tiang Keng.
Hingga akhirnya ia jadi kaget sekali.
Golok Siu Bie To terlempar, terlepas dari cekatannya, karena telapak tangannya terasa sangat nyeri.
Golok Siu Bie To pun melayang ke arah para nona berbaju merah.
Bukan main terkejutnya nona-nona itu, mereka menjerit dan membubarkan diri dari kerumunan, tak seorang pun ada yang berani menyambut atau menangkis golok yang berbahaya itu.
Pendeta dan imam itu berdiri dengan tercengang-cengang, mereka heran dan penasaran sekali ditambah malu.
Mereka berdua dikalahkan dengan cara luar biasa sekali.
Siu Bie To bungkam.
Sedang Poan Sun Yang mendelik matanya dan berkata dengan nyaring.
"Lekas kau bunuh kami. atau tinggalkan namamu, agar kelak kami bisa mencarimu dan membalas kekalahan kami hari ini!"
Kata Poan Sun Yang dengasn tegas.
Tiang Keng tertawa tawar.
Sebelum ia menjawab dari dalam rimba muncul tiga orang, mereka bertubuh pendek dan gemuk.
Tiang Keng mengawasi ke arah ketiga orang yang baru muncul itu.
Bukan saja tinggi dan gemuknya sama mereka juga mengenakan pakaian seragam.
Baju mereka loreng lima macam, pada malam hari baju itu seperti mengeluarkan cahaya berkeredepan, bergerak-gerak di antara tiupan sang angin.
Tak tahu pakaian itu dari bahan apa.
Di pinggang mereka masing-masing tergantung sebilah pedang, pada sarung pedang mereka itu tertabur batu permata, hingga batu permata itu berkilauan terkena cahaya pakaian mereka.
Poan Sun Yang sudah pendek atau kate, tapi ternyata ada yang lebih kate lagi dari Poan Sun Yang.
Hingga orang itu bundar mirip bola saja.
Mereka maju perlahan-lahan.
Setelah dekat yang di sebelah kanan berkata.
"Aku Lee To-toa!".
"Aku Lee To-jie!"
Kata yang di tengah.
"Aku Lee To-sam,"
Kata yang di sebelah kiri.
Suara mereka sama nadanya dan sama anehnya.
Mulamula Tiang Keng melengak, kemudian baru ia tahu orang memperkenalkan diri tanpa diminta.
Tiang Keng terus mengawasi ketiga orang kate yang baru tiba itu.
Bukankah Poan Sun Yang dan Su Bie To menyembunyikan nama mereka, sebaliknya mereka bertiga ini mengobral nama mereka.
Nama mereka pun tak kurang anehnya..
Jelas mereka she (bermarga) Lee-to.
dan usia mereka jadi rutan dan nama-nama mereka.
Toa berarti yang besar.
"Jie"
Yang kedua dan "Sam"
Yang ketiga. Sebenarnya itu bukan nama tapi panggilan sesuai urutan. Tiang Keng juga merasa heran karena ke Thian-bak-san telah berdatangan orang
KANG ZUSI website
http.//kangzusi.com orang aneh. Mereka masing-masing mengacungkan jempol mereka sambil berkata.
"Bagus! Bagus!"
Ucapan itu ditujukan ke arah Tiang Keng. Tiang Keng mengawasi mereka, ia tak mengerti apa maksudnya.
"Anak muda bagus ilmu silatmu!"
Kata mereka.
"Jelas kau telah berhasil mempelajari ilmu silat dari pulau Hu-song. Sejak aku melihat ilmu silat ini dipraktekkan oleh murid dari partai Ryugyo, belum pernah aku melihatnya lagi cukup lama, selain tadi itu...."
Sulit Tiang Keng mendengar dan mengerti maksud ucapan orang itu.
Tapi benar sekali ilmu silat itu adalah ajaran dari Sukhong Hoa yang dia peroleh dari Gu-song (Jepang), seorang Ronin (Ronin bahasa Jepang artinya pesilat, red) yang merantau ke Tiongkok.
Tapi ilmu silat itu telah diubah dan disempurnakan lagi oleh Su-khong Hoa.
Karena Ronin itu melanggar aturan gurunya, ia kabur ke Tiongkok, di Tiongkok ia mencoba mengangkat namanya, tapi ia bertemu dengan Su-khong Hoa, ia takluk dan kalah oleh ilmu silat Tionghoa.
Karena tipu-silat Ronin itu bagus, Su-khong Hoa mengambilnya sebagai dasar dan ia menciptakan jurus yang baru atas dasar ilmu silat itu.
Ketika Su-khong Hoa bercerita pada muridnya sambil tertawa.
"Di Tiongkok ini,cuma ada beberapa orang saja yang mengenal tipu-silatku ini."
Kata guru Tiang Keng.
Sekarang ternyata tiga orang kate itu mengenalnya.
Saat Tiang Keng sedang keheranan karena tiga orang kate itu mengenal tipu-silatnya, ia mendengar Lee-to Toa tertawa terkekeh-kekeh, ia awasi si pendeta dan si imam dengan tajam, la Ialu berkata.
"Pada mulanya aku kira ilmu silat kalian bagus sekali, tapi tak kukira hi hi hi. ternyata tak bermanfaat sama sekali! Untuk apa kalian banyak laga lagi? Lebih baik kalian segera pergi!"
Wajah Poan Sun Yang dan Siu Bie To jadi merah padam serta pucat-pasi.
Tubuh si imam bergerak-gerak lagi, keduanya diam saja.
Rupanya mereka sedang berpikir keras.
Marah salah tidak marah pun salah juga.
Gusar tapi mereka tak berdaya dan malu pula.
Tiang Keng mengawasi bekas kedua lawannya itu.
"Namaku To Tiang Keng,"
Ia memperkenalkan diri.
"Jika kalian ingin menuntut balas, kalian boleh mencariku!"
Mendengar nama Tiang Keng disebutkan Poan Sun Yang terperanjat.
"Kau pernah apa pada To Ho Jian?"
Kata dia.
"Dia ayahku!"
Jawab Tiang Keng terus terang dan sikapnya hormat sekali.
Kedua orang itu terkejut, mereka saling mengawasi satu sama lain, lalu kedua-duanya menarik napas.
Tampak mereka menyesal dan penasaran, karena sebagai jago mereka telah dua kali dikalahkan, baik oleh ayah anak muda ini maupun oleh anaknya.
Langsung hati merekajadi dingin.
Keduanya lalu mengawasi tiga orang aneh itu.
Akhirnya mereka pergi dengan tak memperdulikan golok dan pedang meeka lagi.
Tiga orang aneh itu tertawa menyeramkan.
Sedang Lee-to Sam berkata dengan nyaring.
"Segala manusia tidak berguna, mereka berani muncul di sini!"
Semula Tiang Keng mengira mereka berkomplot, ternyata tiga orang kate dan aneh itu malah mengejek Poan Sun Yang dan Siu Bie To berdua.
Ia juga heran mereka memuji dirinya dan mengejek lawan-lawannya.
Tiang Keng pun tak mengetahui, kalau ketiga orang kate aneh itu pernah belajar ke Hu-song dan mereka dari Hay-lam-pay, tak heran jika ia mengenal ilmu silat Jepang itu.
Saat mereka pulang dari Jepang, mereka diundang oleh Un Jie Giok yang membutuhkan tenaga mereka ini.
Sudah lama mereka tinggal di negeri asing, hingga ia jadi buta mengenal Dunia Persilatan di Tiongkok, malah mereka tak meremehkan pesilat Tiongkok, oleh karena itu mereka jadi tak menghargai Poan Sun Yang dan Siu Bie To yang banyak lagaknya itu.
Sudah beberapa hari mereka saling mengejek, namun karena bahasa Tionghoa mereka sudah tak mahir lagi, mereka kalah bicara sehingga mereka semakin benci kepada si imam gemuk dan si pendeta kurus.
Tadi mereka menyaksikan si imam dan pendeta itu dikalahkan oleh Tiang Keng.
Kesempatan itu mereka pergunakan untuk menghina lagi kedua orang itu.
Untung Poan Sun Yang dan Siu Bie To sudah kalah pamor dan mati kutu, jika tidak pasti akan terjadi pertarungan hebat di anatara mereka.
Saat mereka sedang mengawasi perginya si imam dan si pendeta kurus yang menghilang di tempat gelap, Tiang Keng pun sedang berpikir keras.
"Heran mereka ini! Mengapa bahasanya tak kumengerti, macamnya pun begitu aneh? Pasti mereka lihay. jika tidak mana berani mereka menghina si imam dan pendeta itu. Siapakah mereka ini, musuh atau kawan?"
Pikir Tiang Keng agak bingung.
Tiang Keng mengawasi ketiga orang kate itu.
Setelah mereka berhenti tertawa, wajah mereka berubah jadi dingin dan semuanya mengawasi ke arahnya dengan tajam.
Sekarang lenyap wajah yang tadi mengaguminya itu.
Melihat hal itu Tiang Keng terpaksa waspada kembali.
Ia juga balas mengawasi dengan tajam.
Ia kelihatan tak gentar, tapi ia merasa aneh benar-benar di Thian-bak-san terdapat banyak orang lihay.
Ini sangat berbahaya jika setiap saat bermunculan orang-orang dari Thian-bak-san satu persatu, jiwanya bisa terancam.
oo BAB 32.
LEE-TO-JIE DIKALAHKAN TIANG KENG DENGAN KELINGKING Lee-to Jie maju.
Dia hampiri si anak muda.
"Siapa namamu?"
Dia tanya Tiang Keng, sikapnya jumawa..
"Mau apa kau lari ke mari. nah?"
Dia diam sejenak karena sadar katakatanya tak jelas, ia menambahkan.
"Mau apa kau datang ke mari? Aku pikir sebaiknya kau mengikuti teladan kedua orang tadi, segera kau pulang ke rumahmu!"
Tiang Keng tak puas pada sikap Lee-yo Jie, sepasang alisnya berdiri.
"Jika aku mau ke sini, tak ada orang yang bisa melarangku!"
Kata Tiang Keng dengan suara nyaring.
Orang Hay-Iam (Hai-nan) itu tertawa.
Ia mengulur tangannya dan tiga buah jarinya ia tekuk, masing-masing telunjuk, jari tengah dan jari manisnya ke bawah jempol, kemudian ia menunjukkan kelingkingnya yang ia lambailambaikan ke muka Tiang Keng.
Kemudian ia tertawa aneh.
"Jangan kau anggap kau ini lihay, ya! Di depanku, kau tak lebih seperti ini!"
Kata Lee-to Jie. Tiang Keng melengak, kiranya orang menyamakan dirinya dengan kelingkingnya, ia jadi dongkol bukan main "Kau gila!"
Bentak Tiang Keng.
Sebelum tawa Lee-to Jie berhenti, tiba-tiba ia menghunus pedangnya, ia langsung meggeser kirinya ke samping, dan ia majukan kaki kanannya, langsung ia menikam muka orang dengan pedangnya itu.
Tetapi saat pedangnya tinggal tiga dim dari wajah Tiang Keng, ia menahan pedangnya.
"Kau mau turun gunung atau tidak?"
Ia mengancam. Bukan main dongkolnya Tiang Keng, tiba-tiba ia sentil pedang Lee-to Jie dengan kelingkingnya, lalu ia meniru perbuatan Lee-to Jie tadi. ia tunjukkan jari kelingkingnya dan berkata.
"Aku tak mau turun, kau mau apa? Kau yang seperti ini!"
Kata Tiang Keng.
Lee-to Jie melongo.
Semula ia kira orang melengak karena kagum pada gerakan pedang lawannya itu.
Saat dia menggerakkan pedang itu ia gunakan tenaga sepenuhnya.
Ia heran saat ia lihat Tiang Keng pun mengulurkan tangannya, Tiang Keng menyentil pedangnya lalu menunjukkan jari kelingkingnya.
"Tring!"
Terdengar sebuah suara yang nyaring.
Tangan Lee-to Jie terasa kesemutan oleh sentilan istimewa itu.
la mundur sambil terhuyung sejauh dua langkah.
Untung ia masih, bisa memegang pedangnya yang tersentil itu, hingga pedangnya tak sampai terlepas, tetapi telapak tangannya terasa panas dan nyeri.
Mau tak mau sekarang ia yang melengak kaget.
Tiang Keng tertawa.
"Tahukah kau apa nama sentilanku itu?"
Tanya Tiang Keng.
Lee-to Jie diam, mereka saling pandang dengan kedua saudaranya.
Jelas mereka tak tahu nama sentilan itu.
Menyaksikan mereka tercengang.
Tiang Keng tertawa pula, ia melangkah maju, lalu berjalan melewati Lee-to Jie.
Ia terus mendaki.
Ketika ia menoleh ke arah kereta, sekarang ia tak melihat apa-apa lagi.
Baik kusir maupun nona-nona berbaju merah itu telah lenyap semua.
Sekarang yang ada tinggal kereta kosong yang tetap nongkrong di tepi jalan.
Ia terus mendaki hingga hampir tiba di tempat tujuan.
Ia tak mau turun, jika ia turun pasti ia akan jadi bahan tertawaan.
Memang Tiang Keng ini besar kepala, ia tak pernah mau mengalah.
Perlahan-lahan ia terus mendaki.
Sambil mendaki ia berpikir, memikirkan cara menghadapi musuh andaikata ia dirintangi.
Sambil mendaki ia sering menoleh ke belakang, melirik ke arah tiga orang kate dari Hay-lam itu.
Lee-to Toa dan dua saudaranya masih saling mengawasi.
Otak mereka sedang berpikir.
"Bagaimana sekarang? Yang pasti Tiang Keng harus mereka rintangi atau tidak! Jika tak mereka rintangi, bagaimana dengan nama baik mereka? Nama "
Hay-lam Sam Kiam"
Atau "Tiga Jago Pedang Dari Hay-lam"
Jika mereka menghadang, bisakah mereka mengalahkan Tiang Keng?
Sungguh hebat!
Kalau mereka kalah mereka bakal mendapat malu besar.
Setelah saling pandang, mereka melihat ke sekelilingnya.
Keadaan gunung sunyi-sunyi saja.
Di tempat itu tak ada orang lain kecuali mereka bertiga, sedang Tiang Keng sedang mendaki dengan tenang.
Setelah berpikir dan saling mengawasi mereka diam.
"Di tempat ini tak ada orang lain jika kita kabur tak ada yang melihatnya habis perkara dan tak ada yang tahu..."
Pikir mereka.
Mereka bukan sahabat baik Un Jie Giok, jelas mereka tidak ingin mengorbankan jiwa mereka secara sia-sia di atas gunung itu.
Setelah mereka saling pandang kembali, ketiganya lalu berjalan turun meninggalkan gunung....
Tiang Keng berjalan perlahan, ia sadar ia bisa dibokong jika orang ingin membokongnya.
Ia heran dari arah belakangnya keadaan tetap sunyi.
Kembali ia menoleh ke belakang.
Ia heran ia tak melihat ketiga orang Hay-lam itu di sana.
Samarsamar ia melihat mereka sedang berjalan menuruni gunung di balik pohon-pohon.
"Lucu juga,"
Pikir Tiang Keng.
Tadi ketiga orang itu demikian galak tapi sekarang mereka pergi dengan diam-diam.
Ia mengawasi ke atas.
Ia diam.
Keadaan tempat itu sunyi hingga suasana di tempat itu menyeramkan.
Di tempat yang sesunyi itu bukan tak mungkin ada orang sedang bersembunyi di balik pepohonan.....
"Ke mana aku harus mencari Un Jie Giok?"
Pikir Tiang Keng.
"Aku tak boleh terus mendaki seperti ini... .Sedang nona-nona berbaju merah dan kusir itu entah ke mana perginya. Aku jadi tak punya penunjuk jalan lagi. Apa lebih baik aku turun gunung saja...."
Ia baru berpikir sampai di situ. tiba-tiba ia tertawa.
"Tidak bisa!"
Ia berpikir lagi.
"To Tiang Keng, kau tak boleh pergi. Jika kau tak berani naik gunung, dan kau akan pergi seperti ketiga orang itu, oh bodohnya. Kau jangan mencari alasan yang tidak-tidak! Jika kau sekarang tak mencari mereka, apa kau kira mereka kelak tak akan mencarimu?"
Tiang Keng lalu membusungkan dadanya, dan kakinya kembali melangkah naik.
Keadaan di sekitarnya tetap sunyi.
Tiang Keng jadi iseng sendiri.
Tanpa terasa ia bersenandung.
Ia berharap akan muncul seseorang, tak peduli siapa dia...
.Tapi kesunyian tetap menguasai tempat itu...
"Ah!"
Tak lama Tiang Keng bersenandung lagi, suaranya makin keras.
Di tempat yang mendaki itu ia tak bisa menggunakan ilmu berlari kencang.
Untuk mencari Ang-ie Nionio ia harus mendaki perlahan-lahan.
Ia berjalan terus dan akhirnya ia melihat beberapa bangunan di depannya.
Ia mempercepat langkahnya.
Sesudah dekat, ia lihat bangunan itu ternyata sebuah wihara (vihara).
Wihara itu dibangun di atas sebuah tanjakan, merknya "Thian Sian Sie"
Itu sebuah wihara yang sudah rusak, papan namanya pun sudah luntur dan tidak lagi.
"Ah, sayang,"
Kata Tiang Keng sambil menghela nafas.
Ia yakin wihara rusak ini tak ada sangkut-pautnya dengan Un Jie Giok.
Dengan tak acuh Tiang Keng masuk ke pendopo.
Samarsama ia lihat patung-patungnya masih lengkap.
Sebuah patung paling besar yang berada di tengah, tingginya setombak lebih, alis patung itu turun seolah ia sedang memuji demi keselamatan umat manusia...
Di empat penjuru ruangan penuh dengan gambar-gambar Sang Buddha saat beliau memperoleh penerangan di bawah pohon Bodhi.
Tiang Keng tak mengira hari itu ia bakal memasuki rumah suci.
Ia maskul.
Kembali ia menghela napas.
Kemudian ia bersihkan sebuah pou-toan dan di sana ia duduk.
Dalam kesunyian kembali ia berpikir.
Tak lama ia mendengar suara alat sembayang dibunyikan.
"Tok..tok...tok..."
Itu adalah suara bok-gie, alat sembahyang dari kayu mahoni yang biasa dipakai oleh seorang pendeta, suara itu datang dari arah belakang wihara.
"Heran?"
Pikir Tiang Keng.
Ia berusaha mendengarkan datangnya suara alat itu.
Tiba-tiba Tiang Keng melompat.
Ia masih mendengar suara tok-tok itu terus berbunyi.
Itu sebenarnya tak mengherankan terjadi di sebuah kuil, wihara atau kelenteng, yang mengherankannya ia dengar suara alat itu di Thian-bak-san dalam suasana sunyi seperti itu.
Untuk memastikan lebih jauh.
Tiang Keng berjalan cepat ke belakang wihara.
Di sebuah pekarangan dalam, ia lihat ada cahaya api, datangnya cahaya itu dari sebuah ruangan yang jendelanya masih utuh.
Ini sungguh luar biasa.
Ia jadi curiga dan ingin memperoleh kepastian.
Ia melompat naik ke payon.
Daun jendela kamar itu tertutup rapat, di bagian atasnya terdapat erang-erang atau kisi-kisi, dari sana Tiang Keng mengintai ke dalam kamar itu.
Di ruangan itu cuma ada sebuah meja terletak di tengah ruangan, di atas meja terletak sebuah Leng-pay (Papan nama yang biasa disembahyangi), di samping papan iyu ada sebuah pelita yang cahayanya suram.
Pada leng-pay itu terdapat tulisan yang tak terlihat jelas oleh Tiang Keng, entah apa bunyi tulisan itu.
karena dari atas payon hurufnya tak terbaca.
Apa yang luar biasa di situ berlutut seorang perempuan, tapi yang dilihat oleh Tiang Keng hanya bagian belakang atau punggungnya saja.
Rambut perempuan itu lebat hitam dan indah.
"Aneh. siapakah wanita ini?"
Pikir Tiang Keng.
"Mengapa ia sendirian saja di sini?"
Perempuan itu sedang membaca doa dan suaranya perlahan sekali.
Suara Bok-gie mendatangkan rasa haru....
oo BAB 33.
TIANG KENG DIBUAT HERAN DENGAN SIKAP UN KIN Setelah mengawasi sekian lama.
Tiang Keng melompat turun dari payon.
Kemudian dia terus mengawasi bayangan itu sambil berpikir.
"Entah siapa dia?"
Pikir Tiang Keng.
"Mengapa tengah malam begini ia datang ke wihara untuk bersembahyang?
Apa ia seorang pendeta yang memelihara rambut dan datang karena menyukai tempat sunyi ini?
Ah.
pasti orang ini tak tahu tentang keadaan Thian-bak-san vangjadi sarang penjahat ganas....
Jika telah tiba saatnya, dia bakal tak mendapatkan tempat setenang dan sesunyi ini untuk beribadat...
Tiang Keng berpikir keras.
"Dia tinggal di sini, tahukah dia tentang gerak-gerik Ang-ie Nio-nio?"
Tiang Keng pun melangkah ke arah pintu. Baru saja ia sampai di ambang pintu, ia mendengar suara perlahan dan dingin.
"Mari masuk!"
"Heran!"
Pikir Tiang Keng.
Memang ia tak menggunakan ilmu meringankan tubuh, namun langkahnya perlahan sekali, di luar dugaan perempuan itu bisa mendengar suara langkah kakinya, padahal waktu itu ia sedang sembahyang dan bokgienya sedang dibunyikan tak hentinya.
"Maafkan, aku yang rendah ingin menanyakan sesuatu. Aku minta maaf karena telah mengganggu..."
Kata Tiang Keng.
"Hm"
Terdengar suara dingin yang tak jelas.
Suara bok-gie pun berhenti.
Tiang Keng mendorong pintu kamar itu.
ia melangkah masuk, la lihat perempuan itu tetap berlutut membelakangi pintu.
Sedikitpun ia tak bergerak, hanya leng-pay yang tadi ada di atas meja sekarang sudah tak ada.
Kemudian dia batuk-batuk.
Setelah itu.
terlihat kepala perempuan itu bergerak, berbalik perlahan sekali.
Begitu ia lihat wajah perempuan itu Tiang Keng heran dan terperanjat, tapi tetap bungkam.
Perempuan itu juga sudah melihat siapa yang masuk ke kamar itu.
dia juga terperanjat, kemudian menghela nafas panjang...
"Kiranya kau!"
Kata dia perlahan.
Kecuali terperanjat dia tak menunjukkan roman atau sikap yang bermusuhan.
Tiang Keng mengawasi orang itu.
Kkini ia berhadapan dengan seorang nona.
itulah Un Kin.
Nona yang paling disayang oleh Un Jie Giok.
Tian Keng membayangkan saat mereka bertemu untuk pertama kalinya.
Pertama-tama sikap nona ini manis sekali, lalu ia besikap bengis sekali, tetapi sekarang ia mengenakan pakaian putih.
Alisnya berkerut, ia tampak lesu dan alim.
Dia kini bukan nona nakal dan berandalan lagi.....
"Kiranya kau Nona Un."
Kata Tiang Keng perlahan. Tiang Keng mundur sampai ke ambang pintu.
"Tiang Keng, ingat apa maksud kedatanganmu ke Thianbak-san? Bukankah kau ingin mencari perempuan ini? Mengapa sekarang kau mau pergi?"
Pikir Tiang Keng. Karena itu ia maju lagi selangkah, bertanya dengan suara dalam.
"Malam selarut ini. mengapa kau datang ke mari?"
Tanya Tiang Keng. Un Kin meletakkan bok-gienya. lalu ia menarik nafas.
"Beberapa hari yang lalu, kau dan aku bermusuhan satu sama lain,"
Kata Un Kin. suaranya perlahan.
"Tetapi sekarang aku tidak berpikir untuk memusuhimu lagi..Tapi soal aku ada di sini. itu tak ada hubungannya denganmu. Sebaiknya kau segera pergi dari sini...!"
Sekejap tampak mata si nona bercahaya. Tiang Keng menyaksikan sinar mata si nona. ia heran. Ia tak tahu bagaimana ia harus menghadapi nona ini. Diam sesaat kemudian ia bertanya.
"Nona, kau sedang menyembahyangi siapa?"
Nona Un mengawasi Tiang Keng.
matanya bercahaya kembali.
Sesaat kemudian Tiang Keng ingat cerita si imam berkopiah kuning.
Kemudian Tiang Keng ingat leng-pay yang tiba-tiba lenyap dari hadapan si nona.
Sebagai pemuda yang cerdas.
Tiang Keng segera sadar lalu menghela nafas.
"Aku ingat sekarang, aku pernah mendengar sebuah cerita."
Kata Tiang Keng akhirnya.
"Konon dulu di kalangan Kang-ouw hidup sepasang jago silat yang dikenal orang sebagai Nio Beng Siang Hiap. Nona apakah kau tahu nama pasangan yang gagah itu?"
Suara Tiang Keng perlahan saat ia berkata begitu, ia memperhatikan wajah si nona.
Ia lihat tubuh si nona gemetar saat mendengar Tiang Keng menyebut nama Nio Beng Siang Hiap.
Sinar mata si nona yang semula bercahaya, jadi suram dan sayu menunjukkan sinar mata duka dan penasaran..,, Nona itu tidak menjawab pertanyaan Tiang Keng.
malah ia balik bertanya.
"Apakah kau To Tiang Keng"
Sekarang Tiang Keng yang heran.
"Eh mengapa dia tahu she dan namaku?"
Pikir Tiang Keng.
Saat Tiang Keng akan menjawab, tiba-tiba di luar kamar itu terdengar bentakan keras, disusul dengan berkelebatnya sebuah bayangan manusia yang bertubuh tinggi besar.
Bersamaan dengan itu angin pun bertiup masuk seiring masuknya tubuh si bayangan yang disusul dengan suara beradunya logam.
Akibatnya api di kamar itu hampir padam.
Tiang Keng terkejut, saat ia lihat senjata panjang sedang menyerang ke arahnya.
"Siapa kau?!"
Ia melompat ke samping.
Segera terdengar suara benturan keras karena senjata itu tak mengenai sasaran melainkan mengenai lantai.
Lantai yang terhajar keras jadi berantakan.
Itu sebuah serangan yang sangat hebat.
Sebelum Tiang Keng sempat melihat tegas penyerangnya, senjata lawan sudah kembali menyerangnya.
Sekarang ke arah pinggang Tiang Keng.
Dari suaranya, sekalipun Tiang Keng tak melihat orangnya, ia tahu siapa orang itu.
Ia coba menghindar lalu menjejak lantai dan melompat tinggi, hingga senjata lawan tepat di bawah kakinya.
"Tay-su. tahan!"
Teriak Tiang Keng.
Tiang Keng tak meladeni penyerang itu.
Tadi dengan melompat ia telah sampai ke penglari.
lalu mengawasi ke bawah dan mengulangi kata-katanya.
Orang itu mengangkat kepalanya mengawasi dengan melongo.
Ia heran, dua kali serangannya yang berbahayanya bisa dihindarkan oleh anak muda itu.
Padahal serangan itu adalah serangan ilmu silat Siauw-lim-pay yang sangat lihay.
"Entah dari mana bocah ini, kenapa ia bisa muncul di sini?"
Pikirnya. Namun tabiat orang ini keras, ia jadi penasaran. Dengan tak menghiraukan ucapan Tiang Keng, ia berteriak.
"Hai. Nak! Jika berani turun, hadapi aku! Atau aku yang akan naik menghajarmu sampai mampus!"
Tiang Keng diam dan mengawasi. Un Kin sejak tadi diam saja agaknya ia tak sadar, ia mengangkat kepala ke atas.
"Kau turun."
Kata Un Kin sabar menoleh pada si penyerang dan berkata "Tay-su, kau jangan turun tangan"
Pendeta itu diam sejenak. Ialu berkata.
"Barusan aku sedang duduk di pouw-toan. kemudian aku pergi sebentar untuk buang air. Tak kukira secara lancang bocah ini masuk kemar "
"Pantas pouw-toan ini bersih rupanya tadi dipakai duduk oleh pendeta ini."
Pikir Tiang Keng Ternyata ia mengenali pendeta itu To-su Tauw-to Bu Kin.
pendeta itu senang ikut campur urusan orang.
Ia ikut Un Kin ke Thian-bak-san dan di Thian-bak-san ia tak kerasan kiranya di tempat ini banyak orang sesat maka tak cocok ia ingin segera turun gunung tapi Un Kin membujuknya kemudian pendeta itu menurut, la senang dengan sikap Un Kin yang hormat kepadanya maka ia tetap diam dan tak bercampur dengan orang-orang yang tak disukai itu.
Begitulah, saat Un Kin Ini bersembahyang ia menungguinya di situ bertugas mencegah kedatangan orang yang tak berkepentingan Namun Tian Keng masuk saat ia buang air, maka ia jadi gusar.
Dia tambah heran melihat pemuda yang dulu dikatakan oleh Un Kin orang jahat lalu tanpa berbicara lagi.
ia serang pemuda itu, ia diam saat diminta agar tidak menyerang anak muda itu.
Ia mengawasi dengan mata keheranan.
Ia berharap si nona memberi penjelasan padanya.
Un Kin menghela nafas panjang.
"Dia bukan orang jahat,"
Kata si nona.
"Sabar, aku.... Aku mau bicara dengannya... Aku minta Tay-su bersedia keluar sebentar dan jaga jangan sampai ada orang lain masuk ke mari!"
To-su Tauw-to heran ia melengak sejenak, kemudian ia banting-banting kakinya.
"Kalian orang muda sangat aneh!"
Kata dia. Sambil membawa senjata Hong-pian-san-nya. ia pergi. Tiang Keng geli melihat pendeta itu menurut pada si nona. Setelah pendeta itu pergi. Tiang Keng melompat turun.
"Kau benar To Tiang Keng?"
Kata si nona. Tiang Keng mengangguk.
"Ya."
Jawab Tiang Keng.
Si nona tampak berduka, ia menghela nafas.
Wajahnya lesu.
Sebelum ia berkata lagi ia mengeluarkan serupa benda.
Tiang Keng tahu itulah leng-pay yang tadi berada di atas meja.
Si nona meletakkan leng-pay itu ke dekat lilin, hingga sekarang Tiang Keng bisa melihat tegas.
"Sin-cie almarhum Ayah Beng Kong dan Ibu Thay-hu-jin"
Membaca tulisan itu hati Tiang Keng bergetar. Dia jadi heran.
"Mengapa si nona bisa mengetahui asal-usulnya?"
Pikir Tiang Keng.
"Barang kali sekarang ia belum tahu, siapa musuh besarnya. Orang yang membinasakan orang tuanya, justru gurunya sendiri..."
Pada mata si nona berlinang air matanya, air mata itu turun melalui pipinya yang putih halus. Ia tak bisa menahan turunnya air matanya, tapi buru-buru ia susut dengan tangannya yang putih mulus.
"Nasibku sangat malang...."
Kata si nona perlahan.
"Baru kemarin aku tahu siapa ayah dan ibuku.... Hanya aku belum mengetahui mengapa kedua orang tuaku itu meninggal dunia...."
La menangis tersedu-sedu. Tiang Keng jadi terharu, ia ikut berduka tapi ia diam saja. Si nona bangkit menghampiri Tiang Keng. la tetap berdiri diam sambil mengawasi si nona. ia kasihan pada si nona.
"Nona, sebaiknya kau...."
Ia tak meneruskan kata-katanya, la ingin menghibur nona itu, tapi tak bisa memilih kata-kata yang pantas. Un Kin terus menghampiri Tiang Keng, sesampai di depan si anak muda. ia berlutut.
"Nona... Nona..."
Kata Tiang Keng kaget.
"Apa artinya ini?"
Ia segera melompat ke samping.
Semula ia akan mengulurkan tangannya akan mengangkat si nona supaya bangun, tapi tak jadi.
Ia tak ingin berbuat lancang.
Lalu ia membalas hormat si nona sambil berlutut.
Pada saat yang sunyi kedua muda-mudi itu berlutut berhadapan, tapi mereka tetap diam tak bicara apa-apa.
Si nona tampak bingung, begitu pun Tiang Keng tak tahu harus bilang apa.
To-su Tauw-tu berjaga di luar sekian lama, ia tak mendengar suara apa pun di dalam kamar itu, karena heran ia ingin melihat ke dalam.
Begitu ia melangkah dan melihat apa yang terjadi di dalam, ia jadi keheranan dan mengawasi kedua anak muda itu.
"Dasar anak-anak muda yang aneh,"
Pikir si imam. Ia melangkah perlahan meninggalkan kamar itu. Tiang Keng tetap berdiam diri. Un Kin menangis dan matanya basah.
"Aku tahu, kau pun tahu,"
Kata si nona. Tiang Keng melongo, ia tak mengerti apa maksud kata-kata si nona itu "Tahu apa?"
Akhirnya Tiang Keng bertanya.
Si nona menyeka air matanya.
Ia juga kaget mendengar pertanyaan Tiang Keng.
Ia sadar kata-katanya tadi tak karuan, ia geli tapi tak bisa tertawa karena ia sedang berduka.
Ia hanya terisak-isak sedih.
"Aku tahu, hanya kau yang tahu mengenai meninggalnya orang tuaku itu tapi hanya kau yang tahu siapa pembunuh orang tuaku. Benarkah begitu?"
Kata si nona. Tiang Keng heran bukan main.
"Mengapa ia tahu kalau aku tahu asal-usul orang tuanya?"
Pikir Tiang Keng. Sebelum sempat menjawab pertanya an si nona, ia teringat sesuatu.
"Barangkali si nona sudah bertemu dengan si imam berkopiah kuning?"
Ia menduga-duga.
"Aku heran, jika si imam sudah bertemu dan memberitahu nama orang tua si nona. kenapa dia tak sekalian mengatakan musuh besarnya?"
Oo BAB 34. UN KIN MENCERITAKAN PENGALAMANNYA BERTEMU IN HOAN Dengan mata basah. Un Kin mengawasi Tiang Keng. Ia lihat anak muda itu diam saja. Ia terisak sedih dan berkata.
"Aku sadar, aku telah berbuat salah padamu. Aku menyesal, berharap kelakuanku itu tak kau taruh dalam hatimu. Jika kau mau menjelaskan padaku, aku sangat berterima kasih seumur hidupku..."
Tiang Keng menghela nafas.
"Benar, Nona. Aku tahu sedikit tentang kematian kedua orang tuamu itu,"
Kata Tiang Keng.
"Tapi ceritanya panjang sekali. Nona. Bagaimana kau tahu tentang orang tuamu itu. Apakah imam bernama Kho Koan Iesu yang memberitahumu? Kecuali dia siapa orang yang memberitahumu?"
Si nona terbelalak heran.
"Siapa Kho Koan Ie-su itu?"
Tanya si nona.
"Namanya pun baru sekarang aku dengar!"
Tiang Keng heran Tak lama ia dengar si nona berkata lagi dengan agak sangsi.
"Mengenai diriku,"
Kata si nona.
"Aku bersedia menceritakannya padamu. Hanya aku minta kau jangan menceritakannya lagi pada orang lain. Tadi malam aku sudah tidur. Tiba-tiba aku mendengar ada orang mengetuk jendela kamarku. Aku kaget. Saat itu aku tidur di kamar belakang, sedang di kamar depan tidur para jago silat. Yang aku heran orang itu bisa datang ke kamarku dan mengetuk jendela kamarku. Siapa orang yang bergitu berani...."
Tiang Keng mengawasi ke arah si nona ia heran.
Ia ingat cerita nona-nona berbaju merah di atas kereta tadi.
Kemudian Tiang Keng teringat pada orang yang disebut Hoa-long Pit-ngo oleh nona-nona itu.
Semula kata-kata nona-nona itu ia anggap lucu.
sekarang ia jadi serius.
Un Kin bicara agak likat.
Ia malu sendiri barang kali.
Tapi ia melanjutkan.
"Aku mendongkol, dengan hati-hati kukenakan pakaianku, perlahan-lahan aku turun dari pembaringan. Aku tak membuka pintu atau jendela, aku pun tak menjawab ketukan pada jendela kamar. Tapi dengan cepat aku melompat dari jendela yang lain. Aku akan menghajar orang yang iseng itu. Tiba di luar aku jadi melongo. Aku tak melihat apa-apa. Tengah aku keheranan, aku dengar suara tawa di belakangku, perlahan dan disusul dengan kata-kata bahwa dia ada di dekatku!" . Nona Un berhenti bicara, ia menarik nafas panjang.
"Saat itu aku kaget bukan kepalang."
Ia melanjutkan.
"Aku kaget karena aku pikir orang ini lihay sekali. Buru-buru aku menoleh. Setelah melihatnya hatiku jadi lega. Ternyata dia orang Rimba Persilatan yang ilmu silatnya sangat mahir. Pantas ia bisa masuk dengan leluasa ke kamarku. Aku kira guruku pun tak akan mampu menyentuh sekalipun hanya bayangannya saja!"
Mendengar itu alis Tiang Keng berkerut "Orang paling lihay di dunia Kang-ouw?"
Tanya Tiang Keng.
"Siapakah dia?"
Tiang Keng cuma tahu orang yang lihay itu gurunya, apa mungkin yang dimaksudkan Un Kin itu gurunya ' ' "Mungkin kau kenal pada orang itu."' kata Un Kin.
"Dia Ban Biauw Cin-kun In Hoan. Dia.."
Tubuh Tiang Keng gemetar "Ban Biauw Cin-kun In Hoan!"
Kata Tiang Keng terlepas bicara.
"Bukankah dia orang tua yang berkopiah imam dengan tubuh tinggi besar dan kumis serta jenggot panjang pecah lima. Dia selalu memakai jubah seorang imam?"
Un Kin mengangguk, tapi ia agaknya heran. 'Kau tak kenal dia. sebaliknya dia mengenalimu!"
Kata Un Kin.
Baru sekarang Tiang Keng ingat, orang berkopiah tinggi yang mengaku bernama Kho Koan le-su itu adalah Ban Biauw Cin-kun In Hoan.
Dia salah satu musuh ayah dan ibunya.
Sekejap saja perasaan Tiang Keng jadi tak enak.
Berbagai perasaan berkecamuk di otaknya.
Dia heran mengapa imam itu bersandiwara di depannya?
Sekalipun cerdas, karena Tiang Keng masih muda ia berhasil dibuat pusing kepala.
Un Kin tak mengetahui apa yang ada di pikiran anak muda ini Ia tak tahu masalah itu jadi sulit dan berbelit-belit.
"Ban Biauw Cin-kun kenal baik dengan guruku."
Kata si nona.
"Dulu ia sering datang ke mari.
Tapi kemudian ia tak pernah datang lagi.
hingga aku tak pernah melihatnya lagi.
Tentang dia kuketahui dari guruku dan beliau sedang mencarinya!
tiba-tiba ia muncul, tapi bukan mencari guruku, tapi justru dia datang menemuiku.
Bukankah itu aneh sekali?
Begitu dia berhadapan denganku, ia tertawa.
Kemudian dia bertanya kepadaku.
"Apakah kau tahu nama a\ah dan ibumu. Maukah kau kuberitahu?"
Sesudah itu Un Kin menghela nafas panjang.
Tak lama dia sudah melanjutkan ceritanya "Setelah aku dewasa, pertanyaan itu selalu ada di benakku.
Pertanyaan itu menggangguku, apakah aku sedang duduk atau kapan saja.
lak pernah sesaat pun aku melupakan masalah itu.
Sebenarnya aku curiga pada Ban Biauw Cin-kun.
namun pertanyaannya menggodaku.
Itu pertanyaan yang menusuk hatiku!"
Tiang Keng berpikir keras, ia juga jadi pusing oleh masalah si nona ini.
Oleh karena itu ia diam mendengarkan saja.
Sampai si nona berhenti bicara ia tetap diam Bahkan ia lupa saat itu mereka masih berlutut dan berhadapan mereka tak ada yang ingat untuk bangun.....
"Aku tertarik oleh pertanyaannya itu,"
Kata Un Kin.
"Maka aku minta agar dia memberitahuku. Tapi kembali ia tertawa. Dia bersedia memberitahuku, asal aku mau melakukan sesuatu untuknya. Dia minta agar aku melepaskan anak muda yang tertangkap oleh guruku. Aku kira anak muda itu telah berbuat salah pada guruku, jika tidak untuk apa guruku menangkap dia sebagai murid Ban Biauw. Aku tahu Ban Biauw lihay sekali, tapi ia takut menemui guruku. Malah dia minta bantuanku, untuk itu dia bersedia membuka rahasia tentang orang tuaku yang selama ini jadi rahasia bagiku. Ucapannya menarik hatiku. Jangankan hanya melepaskan pemuda itu. masalah yang berlipat ganda dari itu pun. aku bersedia melakukannya. Semua demi aku bisa mengetahui tentang kedua orang tuaku."
Tiang Keng mengerutkan alisnya.
"Jadi kau telah lepaskan anak muda she Gim itu?"
Tanya Tiang Keng. Un Kin mengangguk.
"Benar,"
Katanya.
"Kemudian?"
Kata Tiang Keng. Un Kin membuka kedua matanya, la tahan air matanya agar tak keluar, ia kembali menghela nafas.
"Lalu ia memberitahuku nama dan she kedua orang tuaku, ia juga bilang kedua orang tuaku itu binasa di tangan seseorang."
Kata si nona.
"Aku kaget dan berduka. Aku menyesal aku tak bisa segera menemui musuh besarku. Saat itu muridnya mengawasiku dan sinar matanya bermaksud buruk. Aku bersikap sabar. Lalu aku tanya siapa musuh besarku itu?"
Tiang Keng mengerutkan alisnya. Dia heran dan masgul.
"Apa ia memberitahukannya?"
Tanya Tiang Keng.
"Tidak!"
Jawab si nona.
"Mengapa ia tak memberitahumu?"
Tanya Tiang Keng lagi. Kembali Un Kin menarik nafas.
"Mendengar pertanyaanku itu. dia menunjukkan wajah berduka. Justru saat itu kami mendengar langkah kaki mendatangi. Dia kaget sekali, dia tarik tangan muridnya, sambil berkata, sebaiknya aku tanyakan hal ini pada To Tiang Keng! Kemudian ia kabur bersama muridnya. Ah sungguh hebat ilmu meringankan tubuhnya. Dia membawa orang tapi toh aku tak mampu mengejarnya. Di samping itu aku juga kuatir guru tahu. aku yang melepaskan anak muda itu. Dengan terpaksa aku kembali ke kamarku. Aku berduka, bingung dan menyesal. Aku juga penasaran sekali. Selain itu aku jadi berpikir, siapa To Tiang Keng? Ke mana aku harus mencarinya? Kepalaku jadi pusing. Sampai terang tanah (pagi) aku tak bisa tidur lagi."
Air mata si nona terus mengalir hingga setiap saat ia harus menghapus dengan tangannya.
"Tadi aku bertemu dengan guruku."
Kata si nona melanjutkan.
"Suhu sedang gusar karena pemuda tawanannya hilang. Aku tutup mulut. Tapi diam-diam aku membuat lengpay orang tuaku, agar rohnya tenang... Mulutku sembahyang tapi otakku bekerja keras. Tak habisnya aku memikirkan musuh besarku itu Aku juga berpikir, siapa To Tiang Keng? Ke mana aku mencarinya?"
Ia menatap ke arah si anak muda.
"Kau datang ke mari, hatiku jadi tak enak."
Kata si nona lagi.
"Aku tak ingin bermusuhan denganmu. Siapa sangka ... kau justru bernama To Tiang Keng!"
Si nona berhenti bicara, kepalanya ditundukkan. Tiang Keng mengawasi si nona. otaknya bekerja.
"Ban Biauw Cin-jin berbuat begitu. dengan demikian dia telah mengatur siasat."
Pikir Tiang Keng.
"Aku tahu maksud Ban Biauw. jelas ia ingin kami bersatu untuk bersama-sama menghadapi Un Jie Giok! Un Jie Giok benci pada Ban Biauw. karena itu Ban Biauw ingin membunuhnya dengan tangan orang lain. Tapi Ban Biauw licik, ia pikir aku bukan tandingan Un Jie Giok, maka ia berupaya agar aku bergabung dengan Un Kin. Barang kali juga dia senang jika aku bisa menyingkirkan Un Jie Giok. Rupanya dia takut aku gagal, maka dia berjaga-jaga. Dia juga takut Un Jie Giok tahu kalau yang membocorkan rahasia orang tua Un Kin itu dirinya. Maka diam-diam dia suruh Un Kin menanyakan padaku. Ah sungguh licin Ban Biauw ini. Dia mirip dengan ular berbisa dan kalajengking!"
Oo Biauw Cin-kun In Hoan tidak takut pada Tiang Keng.
tetapi yang dia takutkan adalah Un Jie Giok.
Lalu ia membuat rencana, la tak peduli seandainya Tiang Keng mati di tangan Un Jie Giok.
Sebenarnya dia pun berencana akan membunuh anak muda itu.
Bukankah pemuda itu pun musuhnya?
Hanya In Hoan belum tahu jelas siapa Tiang Keng sebenarnya.
Sudah biasa In Hoan membunuh orang dengan meminjam tangan orang lain.
begitu pun kali ini.
Apapun hasil siasatnya ia tak akan rugi.
Tiang Keng sadar, ia jadi benci pada In Hoan.
Ia anggap In Hoan jauh lebih jahat dari Un Jie Giok.
Nona Un menghela nafas.
"Semuanya telah kujelaskan padamu, sekarang tinggal kau menjelaskan padaku. .."
Kala si nona. Tiang Keng mengawasi si nona. ia lihat mata si nona sangat memohon. Saat Tiang Keng akan memberikan jawaban, tiba-tiba di luar terdengar suara bentakan.
"Tak peduli kau siapa, jika kau memaksa masuk, kau akan merasakan senjataku ini!"
Begitu suara itu.
Itu suara To-su Tauw-to.
Kedua muda-mudi itu kaget, sekarang mereka sadar mereka sedang berhadapan sambil berlutut.
Tiba-tiba keduanya bangun hampir bersamaan.
Keduanya saling mengawasi.
Mereka dengar suara ribut di luar serta suara beradunya senjata yang sedang bertempur....
Tak ayal lagi Tiang Keng mengibaskan tangannya memadamkan api.
pelita itu jatuh ke lantai.
Un Kin diam pikirannya kacau.
"Siapa? Siapa itu?"
Tanya Un Kin.
Suara pertempuran makin hebat, begitu juga bentakan si pendeta.
barangkali ia sedang bertarung dengan musuh yang tangguh.
Kemudian terdengar suara tawa dingin yang disusul oleh kata-kata nyaring dan tajam.
"Aku sudah tahu, kau bukan orang baik, pendeta. Aku tak mengira kalau kau mata-mata musuh dan seorang pengkhianat!"
Kata suara itu. Menyusul suara bentakan itu, ada suara bentakan yang lain. suaranya keras bagaikan suara gembreng pecah.
"Hai kalian kedua bocah, lekas keluar! Hm! Jika kalian berpikir akan main gila di sini. kau benar-benar buta!"
Kata suara itu. Tiang Keng kaget.
"Barang kali orang sudah tahu kita ada di sini?"
Kata Tiang Keng pada si nona. la jadi sangsi. Sebelum ia mengambil sikap, ia dengar lagi suara keras itu.
"Di sini! Di sini. Saudara Gu. saudara Siauw, lekas! Kedua bocah itu sudah kabur turun gunung!"
Mendengar suara itu Tiang Keng jadi bertambah heran.
"Siapa yang turun gunung?"
Pikir Tiang Keng.
"Jadi yang dimaksudkan orang-orang itu bukan kita berdua, lalu siapa mereka itu?"
Un Kin juga heran dan sangsi, la tahu orang-orang yang ada di luar sana adalah orang-orang gurunya.
Dia juga tahu yang mereka kejar-kejar bukan dia dan Tiang Keng tapi orang lain.
sekarang mereka tak terlihat.
Dia juga sangsi sambil berdiri diam dan tak tahu apa dia harus keluar untuk menyingkir atau tetap diam saja....
BAB 35.
DUA MURID IN HOAN DIBURU JAGO SILAT TANGGUH To-su Tauw-to menyaksikan Un Kin dan Tiang Keng berlutut berhadap-hadapan.
ia heran.
Entah apa yang sedang dilakukan kedua anak muda itu?
Sekalipun ia sudah pergi dari hadapan mereka, namun pikirannya tetap tergoda.
Ia ingin tahu apa yang sedang dilakukan kedua muda-mudi itu.
Ia polos dan sembrono, tapi ia juga usil.
Ia tak bisa diam saja.
Ia tahu itu rahasia orang, tapi ia tak bisa diam.
Saat ia berdiri di luar di depan pintu ia jadi serba salah.
Tak lama ia berjalan hilir-mudik.
Ia berharap jika kedua anak muda itu sudah keluar, ia berharap mereka akan memberi keterangan kepadanya.
Sang waktu berjalan terus, ia juga tetap gelisah.
Saat kesabarannya telah habis, ia melihat dua bayangan orang berkelebat masuk ke dalam ruangan itu.
la tak bisa melihat dengan tegas, maka ia gunakan hong-pian-san untuk menghalanginya sambil membentak.
"Siapa yang berani masuk ke mari. dia harus merasakan senjataku!"
Kata dia Itulah suaranya yang pertama didengar oleh Un Kin dan Tiang Keng.
Kedua bayangan itu kaget saat mereka tahu dihadang oleh si pendeta secara tiba-tiba.
Keduanya langsung berhenti dan mengawasinya.
Sekarang mereka kelihatan jelas, yang seorang jangkung-kurus membawa sebilah pedang, yang lain bungkuk membawa senjata ruyung tiok-ciat kong-pian.
Mereka saling mengawasi hingga tiga pasang mata saling pandang dekat sekali, ternyata mereka saling kenal.
Kiranya mereka adalah begal dari wilayah bagian barat sungai Tiangkang.
yaitu Cian-lie Beng-to Gu It San dan Eng Lo-sat Siauw Tiat Hong, mereka berdua orang gagah dari See-ouw (Telaga Barat).
Mereka berlainan tempat, satu di Barat satu di Selatan, tapi sekarang karena undangan dari Un Jie Giok mereka jadi berkumpul bersama.
Mereka berdua kenal pada si pendeta, hanya si usilan kurang cocok dengan mereka hingga mereka tak mau bergaul.
Mereka keheranan satu sama lain.Bu-eng Lo-sat jadi tak puas.
"Ada orang lancang datang ke mari. kami sedang mengejarnya. Mengapa Tay-su menghalangi kami?"
Kata Bueng Lo-sat.
To-su Tauw-to memang tak mengerti apa maksud Un Kin menugaskan dia agar melarang orang mendekat ke kamar itu.Tapi karena ia sudah berjanji pada si nona.
maka ia harus taat.
Oleh karena itu ia tak ambil pusing, ia tetap bandel.
"Di tempat ini tak ada orang!"
Bentaknya bengis.
"Jika kau mencari orang, kalian cari di tempat lain!"
Gu-it San berangasan, ia tak senang atas teguran dan hadangan si To-su Tauw-to ini.
Ia mendongkol atas cacian itu.
maka ia berseru sambil mengayunkan piannya.
Melihat dirinya diserang.
To-su Tauw-to tertawa.
"Kalian cari mati sendiri!"
Kata dia.
Memang ia senang keras lawan keras.
Maka serangan ruyung itu ia sambut dengan senjatanya yang berat.
Tak lama kedua senjata mereka beradu.
Tapi si To-su Tauw-to kaget, karena ia merasakan telapak tangannya bergetar dan nyeri.
"Tak kusangka binatang ini kuat sekali."
Pikir To-su Tauwto sejenak.
Lalu ia balas menyerang dengan tipu menghajar gunung Hoa-san.
Beng-to Cian-lie pun terperanjat.
Mereka terkenal bertenaga besar, sekarang ia berhadapan dengan lawan yang setimpal.
Saat ia tahu diserang, ia jadi makin sengit.
Ia tangkis serangan To-su Tauw-to dengan keras karena itu ia mengerahkan seluruh kekuatannya.
Kembali kedua senjata mereka bentrok hingga terpaksa mereka harus mundur sejauh tiga langkah.
To-su Tauw-to yang kuda-kudanya sudah teguh kembali takut didahului oleh lawan, maka itu ia kembali menyerang.
Gu-it San benar-benar pemberani, ia sengaja maju menangkis serangan itu dengan sama kerasnya.
Dia terperanjat, tangannya terasa nyeri sekali, hampir saja sepasang ruyungnya terlepas dari tangannya.
Si pendeta pun demikian, ia rasakan tangannya nyeri juga.
Bu-eng Lo-sat mendongkol berbareng geli menyaksikan kedua orang itu bertarung secara sembrono Mereka seolah sedang menguji tenaga masing-masing.
Ia mencaci kedua orang sembrono itu.
Karena mendongkol ia maju.
melompat melewati mereka, ia masuk ke pertempuran.
Sekalipun sembrono ilmu silat To-su Tauw-to cukup baik.
Melihat orang maju hendak menerobos, ia angkat senjatanya untuk merintanginya.
Siauw Tiat Hong tak ingin adu tenaga seperti sahabatnya tadi.
Maka ia berkelit menghindari serangan si To-su Tauw-to.
lalu membarengi dengan sebuah tikaman.
Menyaksikan lawannya lihay.
To-su Tauw-to Bu Kin meladeninya dengan sungguh-sungguh.
Ia gunakan ilmu Thung Mo Jie-ie Hong-pian-san-hoat atau tongkat pembasmi hantu la berkelahi sambil berseru.
Ia menghadapi Gu-it San yang tak segera mau mundur.
Siauw liat Hong yang menyaksikan perkelahian itu jadi heran dan curiga.
Ia yakin orang yang mereka kejar ada di dalam kamar itu.
Dia juga yakin Bu Kin, sahabat mereka akan ngotot bertahan, karena Bu Kinberkhianat.
Maka ia mencaci Bu Kin sebagai manusia busuk.
Akhirnya mereka saling mencaci hingga jadi berisik.
Caci-maki inilah yang didengar oleh Tiang Keng dan Un Kin dari dalam kamar.
To-su Tauw-to tangguh sekalipun ia dikepung berdua, ia tak mau menyerah dan melawan terus.
Saat itu dari jauh terdengar suara ribut.
Jelas itu suara orang sedang mengejar seseorang.
Mendengar di kaki gunung ada musuh.
Siauw Tiat Hong tak ingin meladeni To-su Tauwto lebih jauh.
ia gunakan akal.
Begitu ia menggertak, ia melompat mudur dan pergi.
Perbuatan SiauwTiat Hong ditiru oleh kawannya yang juga ikut pergi.
Bu Kin tertawa terbahak-bahak sambil membolak-balikan senjatanya.
"Segala kelinci tak berguna. Pergilah kalian!"
Kata dia. Karena taat kepada tugasnya ia tak mengejar mereka. Un Kin dan Tiang Keng bernafas lega.
"Mereka sudah pergi..."
Bisik si nona.
"Benar, mereka sudah pergi,"
Kata Tiang Keng. To-su Tauw-to berjalan ke ambang pintu kamar dan masuk.
"Mereka sudah kabur."
Katanya.
"To-su lihay!"
Kata Un Kin. Ia tertawa terbahak-bahak mendengar pujian itu. Tangan yang kanan memegang senjatanya, sedang tangan kirinya menepuk dadanya.
"Nona, kepandaianku jelek, hanya dengan mengandalkan senjataku ini, dua orang itu bukan apa-apa bagiku!"
Kata si pendeta. Tak lama terdengar ia tertawa lagi sambil menepuk dadanya.
"Nona jangan cemas, selama ada aku di sini, tak ada orang yang bisa masuk ke mari. Jika Nona masih ingin bicara, bteruskan saja dengan tenang...."
"Belum tentu, Tay-su..."
Kata Tiang Keng dingin.
To-su Tauw-to kaget.
Ia jadi gusar.
Kedua alisnya berdiri.
Saat ia akan bicara mendadak ia lihat kedua pasang mata anak muda itu bersinar tajam, mereka sedang mengawasi ke atas pintu.
Tak lama dari atas pintu meluncur turun dua sosok bayangan.
Tubuh mereka ada yang gemuk dan ada yang pendek, kedua orang itu berdiri berendeng di ambang pintu.
Mereka mengawasi secara bergantian pada ketiga orang yang berada di dalam.
Bu Kin keheranan, kedua matanya dibuka lebar-lebar.
"Sahabat, kalian ini siapa?"
Kata Tiang Keng.
"Silakan masuk, mari kita bicara!"
Di antara mereka bertiga Tiang Keng paling miskin pengalaman, namun matanya sangat jeli.
Saat Bu Kin tadi bicara.
Tiang Keng melihat ada dua bayangan melompat ke atas pintu, la pikir mereka sedang kebingungan.
Un Kin melihatnya belakangan.
Sekarang terlihat tegas dua orang yang masih muda berdiri di hadapan mereka.
Rupanya mereka sedang kebingungan.
Jelas mereka bukan anak buah Un Jie Giok.
Un Kin ingat pada keributan tadi.
Mungkin kedua orang inilah yang dicurigai dan kepergok, lalu dikejar-kejar serta dicari-cari.
Kedua orang itu terus mengawasinya, karena yakin.
Tiang Keng tak berniat jahat, keduanya masuk.
Tiang Keng mengawasi mereka dengan tajam.
namun kedua orang itu tak bisa melihat ke dalam kamar yang gelap itu.
Salah seorang dari mereka agak curiga, ia menyalakan api.
Sekarang mereka bisa saling mengawasi dengan jelas.
Kedua orang itu sama-sama tampan, tapi mereka kelihatan sedang gelisah.
Yang membuat Tiang Keng keheranan, kedua orang itu berpakaian serba kuning, pakaian yang sama yang dikenakan oleh Gim Soan.
Tiang Keng sudah lupa.
mereka berdua pernah bertemu di atas gunung, yaitu saat masih kecilkecil.
Mereka datang bersama Gim Soan dan gurunya Ban Biauw Cin-kun In Hoan.
Selang sepuluh tahun, mereka telah dewasa semua.
Sebenarnya mereka turun gunung bersama Gim Soan, tapi Gim Soan pergi ke Selatan, lalu mereka berdua berpisahan.
yang seorang ke tepi sungai besar dan yang satunya lagi ke Se-coan dan Siam-say.
Saat pesta di rumah To-pie Sin-kiam.
Souw Sie Peng pernah menyebut-nyebut, bahwa ia pernah bertemu dengan anak muda di kaki gunung Gan-tong-san.
Dia adalah salah seorang dari mereka berdua, yaitu Tiat Tat Jin.
Kepandaian ketiga murid Ban Biauw Cin-jin ini seimbang.
Mereka tak mengecewakan menjadi murid si imam.
Karena mendengar kabar tentang pi-bu yang akan diadakan di Thianbak-san, mereka yang tertarik datang ke Thian-bak-san.
Tiat Tat Jin dan saudara seperguruannya, Cio Peng, datang terlambat.
Tapi di kota Lim-an mereka menemukan tanda rahasia dari gurunya.
Itu sebabnya mereka langsung menyusul.
Di suatu tempat yang dijanjikan, mereka bertemu dengan gurumya.
Ternyata guru mereka telah berhasil menolong Gim Soan.
Saat itu gurunya melarang mereka ikut pertandingan di Thian-bak-san tanpa diberi tahu alasannya.
Karena Gim Soan sudah merasakan dihajar musuh, ia tak berani membantah pesan gurunya.
Tidak demikian dengan Tiat Tat Jin dan Cio Peng, diam-diam mereka berkasak-kusuk.
"Suhu melarang kita mengambil bagian, jika kita datang sebelum pertandingan dimulai, apa salahnya?"
Kata Tiat Tat Jin.
Karena kedua anak muda itu tak bisa menahan gejolak hatinya, diam-diam mereka mendaki gunung Thian-bak-san Mereka tak tahu kalau di atas gunung banyak orang gagah dan ternyata mereka kepergok.
Karena tak sanggup melawan orang-orang Un Jie Giok.
mereka berniat kabur.
Mengapa mereka bisa lolos, karena saat mereka tiba Tiang Keng sedang berhadapan dengan si imam dan pendeta, serta tiga jago dari Hay-lam.
Sedangkan Tiang Keng bisa naik tanpa gangguan, karena saat itu orang sedang sibuk menghadapi kedua pemuda itu.
Kedua pemuda ini cerdik, mereka bisa lolos dan meninggalkan Siauw Tiat Hong dan Gu-it San, mereka terlihat oleh Tiang Keng.
Semula mereka pikir mereka tak akan bisa lolos lagi.
Maka itu mereka berniat akan bertarung matimatian.
Mereka heran ternyata Tiang Keng baik hati dan sabar.
Ia menyaksikan To-su Tauw-to juga si cantik Un Kin.
Ketika diawasi demikian tajam oleh kedua pemuda itu, Un Kin tidak puas.
Saat itu hatinya memang sedang sumpek.
Sambil mengeluarkan suara "hm"
Ia kibaskan tangannya, tak ampun api di tangan salah satu pemuda itu pun padam.
Keadaan tempat itu jadi gelap seperti tadi.
Keadaan jadi sunyi, yang terdengar hanya nafas mereka masing-masing.
Mereka semua waspada karena belum tahu apa yang ada di hadapannya.
Tiat Jin dan Cio Peng diam.
mereka tak ingin menyalakan api lagi.
sekalipun sebenainya mereka sangat ingin melihat wajah Un Kin yang cantik.
Tapi tiba-tiba dari belakang Tiang Keng dan Un Kin terlihat sinar terang., hingga membuat mereka terperanjat.
oo BAB 36.
UN JIE GIOK MELUMPUHKAN DUA MURID IN HOAN Tiang Keng langsung berkelit ke samping.
Ia membalikkan tubuhnya lalu mengawasi ke arah datangnya sinar.
Ia kaget, di atas meja sudah bercokol seorang perempuan tua, wajahnya buruk sekali, ia mengonde rambutnya dan berpakaian serba merah.
Kiranya orang itu Ang-ie Nio-nio Un Jie Giok!
Un Kin juga sudah menoleh dan melihat orang itu.
"Suhu!"
Kata si nona.
Nona Un melompat ke depan meja.
Un Kin tak sadar kalau musuh besarnya adalah gurunya sendiri, tapi si guru menyayangi dirinya seperti menyayangi anaknya sendiri.
To-su Tauw-to pun terperanjat.
Tak ia kira si nenek bisa muncul demikan tiba-tiba.
Hanya sekejap hatinya tenteram kembali.
Ia melompat ke samping, karena tak mau mengawasi perempuan jelek itu lama-lama.
Tiat Tat Jin dan Cio Peng terperanjat juga.
mereka diam saja.
Mereka berdua keheranan, bagaimana caranya tiba-tiba perempuan jelek itu bisa berada di antara mereka..
Tapi mereka langsung bisa menebak, bahwa perempuan buruk itu Un Jie Giok adanya.
Mereka awasi tangan si nyonya yang sedang memegang sebutir mutiara yang menimbulkan sinar dan mengagetkan mereka.
Di lain saat mereka sadar harus segera pergi dari tempat itu.
Mereka awasi terus si nyonya jelek itu, hati mereka gentar bukan main.
Betapa tajam sinar mata perempuan jelek yang sejak tadi mengawasi mereka itu.
Serasa mereka sulit bernafas saat ditatap oleh si nyonya bengis itu.
Un Jie Giok duduk tak bergeming di atas meja, sinar matanya bercahaya, kelihatan wajahnya yang buruk dan bengis.
Kedua belah pipinya menonjol bagai sepasang tanduk ular naga yang jahat, sedang hidungnya bengkok bagaikan paruh burung garuda.
Ketika ia duduk begitu ia mirip dengan hantu perempuan.
Sesaat keadaan jadi sunyi sekali.
Tiat Tat Jin dan Cio Peng tampak jerih bukan main.
diam-diam dan perlahan sekali, kaki mereka bergerak mundur, setindak demi setindak.
Mereka tak ingin ada orang melihatnya.
Tapi tiba-tiba terdengar teriakan..
"Berhenti!"
Bentak si nyonya.
Suara si nyonya tua bengis dan berwibawa Tat Jin dan Cio Peng berhenti melangkah mendengar suara bentakan itu.
Ketika itu angin yang dingin berhembus masuk, mengenai punggung, tanpa terasa mereka menggigil.
"Kalian berduakah yang lancang naik gunung dan lari kianke mari?"
Tanya si nyonya tua dingin.
Mata kedua anak muda itu celingukan.
Punggung mereka terasa semakin dingin.
Mereka mirip seekor tikus yang ketakutan melihat kucing yang hendak menerkam mereka.
Suara Un Jie Giok tajam menusuk telinga.
Un Kin yang selama ini ikut dengan si nenek pun.
ikut ngeri hingga jantungnya berdebar-debar.
Apalagi saat ia lihat sinar mata gurunya.
Itu sinar mata yang tak penah ia lihat sebelumnya.
Sinar mata itu mengandung kemarahan.
Ia tak tahu sang guru gusar pada orang lain atau kepadanya.
"Barangkali ia sudah tahu aku yang melepaskan Gim Soan?"
Pikir si nona. Saat nona Un sedang khawatir ia mendengar suara tawa menyeramkan dan kata-kata ejekan.
"Aku kira dengan berani naik ke atas gunung, nyali kalian besar sekali! Kiranya nyali kalian kecil seperti nyali tikus!"
Wajah Tat Jin dan Cio Peng berubah merah.
Sejenak mereka ingin membusungkan dada mereka, tapi entah mengapa keberanian itu tak ada.
Mulut mereka saja yang komat-kamit tak keluar suara.
Un Jie Giok seperti menunggu jawaban, ia diam.
Akhirnya Tat Jin bisa melegakan hati dan perasaannya.
"Boan-pwee (aku yang rendah), bersama adik seperguruan Cio Peng datang ke mari atas suruhan Guru kami....."
Tat Jin berkata begitu karena ia tahu gurunya dengan nyonya jelek ini bersahabat dan saling kenal. Maka itu ia berharap orang akan memandang gurunya itu... Tapi Un Jie Giok memotong ucapan Tat Jin.
"Jadi semula kau ingin menemuiku, bukan hendak main gila?"
Kata Un Jie Giok. Kedua anak muda itu mengangguk membenarkan.
"Kalau begitu siapa gurumu itu?"
Tanya Un Jie Giok.
Suara si nyonya tetap dingin dan matanya tetap bengis.
Kedua anak muda itu tak melihat sinar mata si nyonya tua dan mereka tak bisa menerka hatinya.
Maka legalah hati mereka berdua.
Mereka seolah mendapat harapan.
"Guru kami bernama Ban Biauw Cin-jin In Hoan. beliau sahabat Loo-cian-pwee."
Jawab Tiat Tat Jin. Dalam keadaan terjepit demikian mereka terpaksa berani menyebutkan nama dan gelar guru mereka.
"Oh!"
Suara Jie Giok hampir tak terdengar. Sedang matanya terus menatap ke arah kedua anak muda itu. Ia seolah hendak menjajaki hati mereka berdua.
"Jadi kalian murid In Hoan ..."
Si nenek meneruskan.
"Tak heran.."
Suaranya begitu perlahan, seolah dia sangat baik, tapi mendadak ia melompat tangannya ia ulurkan.
Tangan kanan menyentil, dan tiba-tiba mutiara di tangannya itu melesat menyambar ke jalan darah ciang-tay di dada Cio Peng.
Di lain saat tubuh si nyonya tua sudah berada di depan Tat Jin, serta jari tangan kanannya menotok jalan darah ciang-tay anak muda itu.
Kedua murid In Hoan itu tidak berdaya sama sekali, mereka tertotok dan keduanya terguling rebah di lantai.
Sementara itu Tiang Keng hanya bisa menghela nafas.
"Jika aku yang ditotoknya. apakah aku bisa mengelak?"
Pikir Tiang Keng.
Sebelum pertanyaan di otaknya terjawab, mutiara yang tadi mengenai Cio Peng bergulir ke kakinya, la membungkuk, dan menjemput mutiara itu.
Kemudian ia menunggu serangan si nyonya tua agar ia tahu jawaban yang ada di otaknya itu.
Tapi Un Jie Giok tidak menyerangnya.
Ketika mutiara itu sudah berada di tangan Tiang Keng.
Un Jie Giok pun sudah kembali ke atas meja dan duduk lagi seperti tadi.
Mau tak mau Tiang Keng jadi melengak.
Saat menoleh ke arah Un Kin.
ia lihat si nona sedang mendelong di sisi meja.
matanya mengawasi ke bawah.
Kemudian Tiang Keng melirik ke arah To-su Tauw-to yang berdiri diam di pinggiran tembok, matanya sedang mengawasi Un Jie Giok.
Agaknya dia keheranan.
'"Aku yakin pendeta ini baru pertama kali ini melihat kepandaian Un Jie Giok?!"
Pikir Tiang Keng.
Tak lama ia melirik Tat Jin dan Cio Peng.
Tubuh mereka diam tak bergerak.
Keduanya mirip dua sosok mayat yang sudah kaku.
Tiang Keng menghela nafas lagi.
ia perhatikan mutiara yang ada di tangannya.
Itu sebutir mutiara yang indah...
Sekarang Tiang Keng tak banyak berpikir lagi, ia hanya melangkah ke arah meja untuk meletakan mutiara itu di atas meja.
dekat kaki si nyonya tua.
Ia menahan hati untuk tidak mengawasi nyonya tua buruk itu.
Tapi tak terasa ia angkat juga kepalanya.
Ia kaget ternyata nyonya tua itu pun sedang mengawasi dia.
Perempuan jelek yang ada di depannya ini.
musuh besarnya.
Tapi aneh sekarang Tiang Keng jadi tak menentu pikirannya.
Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan.
Lalu ia ingat janjinya pada Un Jie Giok.
Kemudian ia batuk sekali dan menoleh ke arah lain.
"Ternyata kau juga datang ke mari! Bagus!"
Kata si nyonya tua. Ia bicara seolah baru tahu anak muda itu ada di antara mereka.... Tiang Keng diam saja. seolah-olah ia tak mendengar katakata nyonya tua itu.
"Bu Kin Tay-su."
Kata Un Jie Giok.
"Aku dengar ilmu silat Siauwlim-pay hanya bagian luar saja. Aku kira ucapan itu hanya untuk mengelabui orang saja! Apa benar begitu?"
To-su Tauw-to melengak. Ia tak mengerti pertanyaan nyonya itu. Tapi ia jujur, ia lalu berkata.
"Benar, itu memang kata-kata untuk mengelabuhi orang. Partai Siauw-lim-pay sejak didirikan oleh Tatmo Couw-su sampai sekarang..."
Un Jie Giok memotong kata-kata orang sambil tersenyum.
"Partai Siauw-lim terkenal di kolong langit, mengenai riwayatnya aku sudah mengetahuinya."
To-su Tauw-to diam.
"Tay-su.
kau bertubuh sehat dan kekar, sekali lihat saja orang sudah tahu bahwa ilmu silat bagian luarmu telah sempurna benar.
Ilmu silat Siauw-lim-pay punya dua bagian, luar dan dalam, karena ilmu luarmu mahir sekali, maka ilmu tenaga dalamnya pun pasti tidak berbeda jauh.
Benarkah ucapanku itu?"
Mendengar pertanyaan Un Jie Giok itu. bukan hanya si pendeta tapi Tiang Keng dan Un Kin keheranan. Ternyata Cio Peng dan Tat Jin yang sekarang tak berdaya pun jadi heran dan merasa aneh.
"Aku belajar sejak masih muda, aku..."
Kata si pendeta, tapi langsung dipotong oleh Un Jie Giok.
"Sudah! Tak perlu Tay-su menceritakannya, aku sudah tahu."
Kata Jie Giok.
"Ilmu silat bagian dalammu pasti tak ada celanya. Oleh karena itu aku yakin kau pun mengenal ilmu totok. Benar bukan?"
Aneh sekali sikap nyonya ini. ia bertanya pada si pendeta, tapi ia selalu menyelak dan memotong pembicaraan orang. Hingga dengan demikian si pendeta hanya menyahut.
"Oh!"
Serta mengangguk saja.
"Sekarang, coba Tay-su totok pemuda yang berada di sebelah kiri, agar ia bebas dari totokanku. Aku yakin Tay-su bisa melakukannya. Benar, bukan?"
Kembali pendeta ini melengak.
la benar-benar tak mengerti sedang main sandiwara apa.
Si pendeta meletakkan senjatanya di tembok, ia melangkah menghampiri Tiat Tal Jin.
Ia membangunkannya dengan menggunakan telapak tangannya yang besar untuk menepuk sekali, disusul dengan dua kali totokan di sisi pinggang pemuda itu.
Siauw-lim-pay terkenal ilmu silat luar (Gwa-kang) dan dalam (Nui-kangnya).
Si pendeta bisa membuktikannya.
Ia bisa membebaskan Tat Jin yang tubuhnya ia dorong beberapa langkah, ia langsung berjalan menuju ke pinggir tembok.
Ia kelihatan tak puas terhadap pemuda yang lemah itu.
Tat Jin berjalan dua langkah, tapi tiba-tiba ia jadi limbung.
Ketika sudah berdiri kembali, mendadak ia muntah reak kental, lalu ia menoleh, mengawasi ke arah Un Jie Giok sambil melongo.
Akirnya ia menunduk, sambil berpikir karena heran.
"Aneh perempuan jelek ini. dia yang menotokku. mengapa orang lain yang ia suruh membebaskan aku? Mau apa dia sebenarnya?"
Pikir Tat Jin.
BAB 37.
Baca Juga: Rajawali Sakti Dari Langit Selatan 12
Baca Juga: Peristiwa Bulu Merak 2