Ceritasilat Novel Online

Peristiwa Bulu Merak 2

Eps 2 Peristiwa Bulu Merak - Gu Long

Baca online Peristiwa Bulu Merak - Gu Long

Cersil Peristiwa Bulu Merak - Gu Long.

"Insan persilatan yang ada di Kangouw sekarang, siapa yang berani mencegat kau?"

"Sedikitnya ada seorang."

"Siapa?"

"Merak yang membawa Bulu merak."

"Dia pasti tidak akan berani turun tangan."

"Kenapa?"

"Walau Bulu merak adalah Am-gi yang tiada keduanya di kolong langit ini, tapi orang itu bukan tokoh kosen yang tiada bandingannya di dunia, dia takut golokmu lebih cepat dari dia."

Betapapun lihainya sesuatu Am-gi, bila tidak sempat dilancarkan, apa bedanya dengan barang rongsokan, hal ini memang benar, Pho Ang-soat terkancing mulurnya.

"Kalau kau tidak ingin dia mati di tangan orang lain, maka sekarang juga kau harus membawa kami ke sana."

Akhirnya Pho Ang-soat mengambil keputusan.

"Aku boleh saja membawa kalian ke sana, tapi ada satu hal ingin aku tanya kau."

"Silakan bertanya."

Dingin suara Pho Ang-soat.

"Jika kau benar-benar memperhatikan dia, kenapa obat itu kau lemparkan ke dalam lengan baju orang lain?"

Tanpa menoleh dia lantas menduga bahwa Bing-gwat-sim tidak akan mampu menjawabnya.

Bing-gwat-sim memang terlongong, dia memang tidak menjawab, juga tidak mau menjawab.

Dengan mendelong terpaksa dia mengawasi Pho Ang-soat yang beranjak keluar, meski jalannya lambat, namun tidak berhenti.

Bila dia sudah mulai berjalan, pasti tidak akan berhenti.

Sinar surya sudah makin guram seterang sinar rembulan.

Sinar mentari yang guram kebetulan menyinari wajah Yan Lam-hwi.

Angin menghembus datang dari puncak gunung, membawa bau harumnya kayu dan daun.

Dari tempat Binggwat-sim berdiri memandang keluar, pemandangan tampak menghijau permai di alam pegunungan nan jauh di sana, tapi pandangannya sekarang tertuju ke wajah Yan Lam-hwi.

Yan Lam-hwi sudah keracunan parah dan selama ini masih tetap pingsan, tak terduga mendadak membuka kedua matanya, balas menatapnya, ternyata Bing-gwat-sim sedikitpun tidak merasa heran.

Yan Lam-hwi tertawa, katanya.

"Sudah kubilang, sejak mula sudah kukatakan, bukan soal mudah untuk menipu dia."

"Aku tahu memang tidak mudah, tapi aku ingin mencobanya."

"Sekarang kau sudah mencobanya."

"Ya, aku sudah mencobanya."

"Bagaimana pendapatmu?"

Bing-gwat-sim menghela napas, katanya dengan tertawa getir.

"Aku hanya merasa untuk menipunya memang bukan soal gampang."

"Tapi aku justru ingin mencobanya sekali lagi,"

Demikian ujar Yan Lam-hwi.

Bersinar mata Bing-gwat-sim, mata Yan Lam-hwi juga menyala.

Kenapa mereka mau menipu Pho Ang-soat?

Apa tujuan mereka?

Mentari sudah hampir tenggelam.

Pho Ang-soat berdiri di bawah pancaran sinar surya, seolah-olah di mayapada ini hanya tinggal dia seorang yang masih hidup.

Memangnya Pho Ang-soat adalah seorang yang sebatangkara, orang yang suka menyendiri.

Bab 6.

Sebelum Duel Pho Ang-soat.

Usia.

Sekitar tiga puluh tujuh tahun.

Ciri.

Kaki kanan timpang, golok tak pernah lepas dari tangan.

Kungfu.

Tanpa guru atau aliran mana pun, merupakan aliran tersendiri.

Gamannya golok, serangannya bagai kilat, di kalangan Kangouw diakui sebagai golok kilat nomor satu.

Riwayat.

Kelahiran kurang jelas, sejak dilahirkan diasuh oleh Pek-hong Kongcu dari Mo-kau, maka dia mahir cara membunuh, menggunakan racun dan senjata gelap, sejauh ini masih bujangan, empat penjuru lautan adalah rumahnya, berkelana ke seluruh dunia.

Sifat.

Kaku dingin dan nyentrik, malang melintang seorang diri.

Bahan-bahan yang ditulis Toh Lui di atas secarik kertas dia sodorkan ke hadapan Ibu jari, wajahnya tidak memperlihatkan perubahan perasaan.

"Kau sudah membacanya?"

Tanya Ibu jari.

"Ehm, sudah,"

Sahut Toh Lui. Ibu jari menghela napas, katanya.

"Aku tahu, kau tidak akan puas dengan keterangan yang kudapat ini, tapi bahan itu saja yang dapat kami peroleh, maklum tiada seorang lain pun yang bisa tahu lebih banyak dari bahan-bahan yang kami dapatkan ini."

"Bagus sekali."

Ibu jari mengedipkan mata, tanyanya memancing.

"Berguna tidak bahan-bahan itu untukmu?"

"Tidak."

"Sedikitpun tidak berguna?"

Toh Lui mengangguk, berdiri lalu mondar-mandir sekejap, lalu duduk pula, katanya dingin.

"Masih ada dua hal yang paling penting."

"Ah, masa betul?"

Seru Ibu jari.

"Dulu pernah dia tertipu oleh seorang perempuan, sehingga nasibnya begitu mengenaskan."

"Siapakah perempuan itu?"

"Seorang pelacur bernama Jui Nong,"

Sahut Toh Lui. Ibu jari menghela napas, katanya.

"Selalu aku merasa heran, kenapa lelaki yang pintar selalu tertipu oleh pelacur?"

Merak tiba-tiba menyela.

"Karena lelaki yang pintar hanya menyukai perempuan yang cerdik, perempuan yang cerdik kebanyakan suka jadi pelacur."

Toh Lui menjengek.

"Kukira dia ini pasti pernah tertipu juga oleh pelacur."

Berubah air muka Merak, namun dia masih bisa tertawa, tanya.

"Apa pula hal kedua yang tidak lengkap dalam data itu?"

"Dia mengidap penyakit,"

Ujar Toh Lui.

"Penyakit apa?"

"Penyakit ayan."

Bersinar mata Ibu jari, katanya.

"Bila penyakitnya itu kumat, apakah dia juga bergelimpangan dan mengejang serta berbuih mulutnya?"

"Ya, penyakit ayan hanya satu macam,"

Ucap Toh Lui. Ibu jari menghela napas gegetun, katanya.

"Seorang timpang yang berpenyakit ayan ternyata mampu meyakinkan golok kilat yang tiada bandingannya di jagat ini."

Toh Lui berkata.

"Dia pernah menggembleng diri, konon sedikitnya empat jam waktu yang digunakan untuk berlatih golok, sejak berusia lima tahun setiap hari sedikitnya dia mencabut goloknya sebanyak dua belas ribu kali."

Ibu jari menyengir kuda, katanya.

"Sungguh tak nyana kau lebih jelas tentang seluk-beluknya daripada kami."

Tawar suara Toh Lui.

"Setiap tokoh yang tercantum di dalam daftar nama tokoh tersohor sudah kuketahui selukbeluk mereka dengan jelas, karena aku sudah menghabiskan lima bulan untuk mencari bahan-bahan tentang mereka, lima bulan aku menyelidiki dan menyelami seluk-beluknya."

"Jerih payahmu untuk menyelidiki riwayat Pho Ang-soat aku yakin lebih besar daripada yang lain."

Toh Lui mengakui.

"Apa hasil jerih payahmu itu?"

Tanya Ibu jari.

"Golok itu tidak pernah terlepas karena golok itulah gamannya. Paling sedikit sudah dua puluh tahun dia menggunakan golok itu sehingga golok itu seolah-olah sudah menjadi salah satu anggota badannya, sedemikian lincah dan leluasa dia menggunakan golok itu, jauh lebih leluasa dari jari orang lain menggunakan jari-jari tangan sendiri,"

Demikian ucap Toh Lui.

"Tapi aku tahu,"

Ujar Ibu jari.

"golok yang dia gunakan itu tidak terlalu bagus."

"Golok yang dapat membunuh manusia pasti adalah golok baik,"

Toh Lui menegaskan.

Bagi Pho Ang-soat golok itu bukan lagi sebatang golok biasa, karena antara golok dan jiwanya itu senyawa, sudah punya ikatan batin yang tidak mungkin dirasakan dan diselami orang lain.

Walau Toh Lui tidak menjelaskan hal ini lebih jauh, tapi Ibu jari sudah maklum apa yang dimaksud.

Sejak tadi Merak menepekur, katanya tiba-tiba.

"Jikalau kita bisa mendapatkan goloknya itu ..."

"Tiada manusia yang mampu memegang goloknya itu,"

Ujar Toh Lui.

"Segala sesuatu di dunia ini pasti ada kecualinya,"

Merak tertawa.

"Tapi untuk yang satu ini tidak ada,"

Toh Lui menjawab tegas. Merak tidak mendebatnya lagi, tanyanya malah.

"Kapan penyakitnya itu sering kumat?"

"Bila amarah dan rasa pilu hatinya tidak terbendung lagi, penyakitnya akan kumat."

"Jika kau bisa turun tangan di saat penyakitnya itu kumat...."

Toh Lui menarik muka, katanya menjengek dingin.

"Memangnya kau kira aku ini orang apa!"

Merak tertawa tergelak, katanya.

"Aku tahu kau tidak sudi melakukan hal serendah itu, tapi apa salahnya kita suruh orang lain melakukannya, umpamanya kita mencari seorang untuk membuatnya marah supaya dia..."

Toh Lui berjingkrak berdiri, katanya dingin.

"Aku hanya ingin supaya kalian tahu akan satu hal."

Merak pasang kuping, Ibu jari juga siap mendengarkan.

"Inilah duel antara aku dan dia, duel antara dua lelaki jantan, lelaki sejati, siapa pun yang akan menang atau kalah dalam duel ini tiada sangkut-pautnya dengan orang lain."

Mendadak Ibu jari bertanya.

"Apa tiada sangkut-pautnya dengan Kongcu?"

Tangan Toh Lui yang memegang golok mendadak mencengkeram kencang. Ibu jari segera mendesak.

"Bila kau belum melupakan Kongcu, maka kau harus melakukan satu hal."

"Satu hal apa?"

Toh Lui menegas.

"Biarkan dia menunggu, menunggu lebih lama beberapa kejap, biar menunggu hingga hatinya risau dan pikiran ruwet baru kau muncul,"

Dengan tersenyum lalu menambahkan.

"dalam duel ini kau akan menang atau bakal mampus memang tiada sangkut-pautnya dengan kami, kami pun tidak ambil peduli, namun kami tidak ingin mengubur jenazahmu."

Tengah hari di taman bobrok keluarga Ni.

Cahaya mentari tepat menyinari atap gardu, di luar gardu berdiri seseorang dengan sebilah golok hitam, sarung yang legam.

Perlahan Pho Ang-soat menyusuri jalanan kecil di dalam taman yang sudah ditumbuhi rumput liar, tangannya menggenggam kencang gagang golok.

Cat gardu sudah luntur dan banyak yang mengelupas, namun paya-paya kembang di pinggir sana masih utuh, di siang hari bolong yang benderang ini kelihatan masih kokoh dan semarak.

Tempat ini dahulu memang punya masa depan yang cemerlang, masa jaya dan semarak, kenapa sekarang berubah menjadi belukar dan tidak terurus?

Sepasang burung walet terbang dari tempat jauh, hinggap di atas pohon tak jauh di luar gardu, seolah-olah sedang mencari dan berusaha menemukan impian lama yang masih menjadi kenangan terukir dalam kalbu.

Sayang sekali pohon ini masih tumbuh subur, namun keadaan sekelilingnya sudah banyak berubah, walet datang pergi pula, entah berapa kali dia pulang-pergi?

Pohon subur itu tidak bisa bersuara, pohon itu tidak kenal cinta kasih, tidak tahu apa artinya belas kasihan.

Mendadak Pho Ang-soat merasakan jantungnya sakit.

Sejak lama dia sudah mempelajari sifat pohon yang diam, kalem dan meyakinkan, namun dia selalu bertanya-tanya kapan baru dia bisa belajar pada sifat pohon yang tidak kenal belas kasihan.

Walet itu terbang jauh pula.

Darimanakah walet itu kemari?

Taman ini sudah telantar, lalu milik siapakah taman ini?

Pho Ang-soat berdiri menjublek, seolah-olah dia sudah lupa akan kehidupan dirinya.

Dimana?

Dan darimana?

Hal Ini tak sempat dipikirnya pula, karena mendadak dia mendengar seseorang sedang tertawa, tawa cekikikan genit yang merdu nyaring laksana kicau burung kenari, berkumandang dari semak rumput yang tumbuh tinggi.

Seorang anak perempuan mendadak berdiri di semak rumput yang tinggit itu, mengawasi Pho Ang-soat sambil tertawa manis cekikikan.

Begitu elok senyuman, wajahnya lebih cantik lagi, rambutnya yang panjang terurai mayang hitam legam dan mengkilap selembut sutra.

Rambut yang terurai mayang ternyata tidak disisir, dia biarkan begitu saja rambutnya yang panjang menjuntai lemas dan tersebar di kedua pundaknya.

Gadis rupawan ini ternyata juga tidak bersolek, seenaknya saja dia mengenakan seperangkat jubah panjang, entah terbuat dari kain apa, yang terang bukan sutra juga bukan satin, justru mirip rambutnya yang panjang.

Mengawasi Pho Ang-soat, sorot matanya ternyata mengandung senyum lebar dan ramah, katanya mendadak.

"Tidak kau tanya kenapa aku tertawa?"

Pho Ang-soat diam saja, tidak bertanya.

"Aku geli melihatmu,"

Senyumannya makin manis.

"Melihat kau berdiri di sini, aku jadi geli, karena kau mirip seorang pikun, seorang linglung."

Pho Ang-soat tidak bersuara.

"Kau juga tidak tanya siapakah aku?"

"Siapa kau?"

Ternyata Pho Ang-soat bertanya, sebetulnya dia tidak ingin bertanya. Tak nyana baru saja dia ingin bertanya, anak perempuan itu sudah melompat dan bersorak.

"Memangnya aku sedang menunggu pertanyaanmu ini,"

Waktu dia melompat, garangnya seperti seekor kucing yang marah.

"Tahukah kau, tanah dimana kau sekarang berdiri milik siapa? Berdasarkan apa kau berani mondar-mandir seenak udelmu di tanah ini?"

Pho Ang-soat menatapnya dingin, menunggu ocehannya lebih lanjut.

"Tempat ini milik keluarga Ni,"

Dengan jari telunjuknya menuding hidung sendiri.

"aku inilah nona kedua dari keluarga Ni, bila aku mau, sembarang waktu bisa saja mengusirmu."

Terpaksa Pho Ang-soat hanya bungkam, seorang keluyuran di rumah orang, mendadak kepergok oleh tuan rumah, apa pula yang bisa dia katakan.

Ni-jisiocia melototinya dengan gemas, mendadak dia tertawa, tertawa manis.

"Tapi aku tentu tidak akan mengusirmu, karena Matanya berkedip-kedip.

"Karena aku menyukaimu."

Pho Ang-soat hanya mendengarkan. Boleh saja kau tidak menyukai orang lain, tapi tak dapat melarang orang lain menyukaimu. Tapi cepat Ni-jisiocia telah berubah hatinya.

"Aku bilang aku menyukaimu, sebenarnya hanya omong kosong saja."

Setelah menghela napas, lanjutnya.

"Aku tidak segera mengusirmu karena aku tahu aku bukan tandinganmu."

Tak tertahan Pho Ang-soat bertanya.

"Kau tahu diriku?"

"Sudah tentu tahu."

"Apa saja yang kau ketahui?"

"Bukan saja aku tahu kau mahir kungfu, aku juga tahu siapa namamu? Pokoknya jelas deh,"

Dengan menggendong kedua tangan, dia melangkah keluar dari semak rumput dengan sikap angkuh, matanya plirak-plirik mengawasi Pho Ang-soat dari atas ke bawah, lalu dari bawah ke atas.

"Orang lain bilang kau ini makhluk aneh, tapi pendapatku sebaliknya, bukan saja kau ini tidak aneh, malah tampangmu cukup ganteng."

Perlahan Pho Ang-soat memutar badan berjalan ke arah gardu yang disinari matahari, tiba-tiba dia bertanya.

"Hanya kau seorang di tempat ini?"

"Kalau seorang diri memangnya kenapa?"

Bantahnya dengan mata berputar.

"apa kau berani menganiaya aku?"

"Biasanya kau tidak berada di sini?"

"Kenapa seorang diri aku harus berada di tempat seperti sarang setan ini?"

Mendadak Pho Ang-soat menoleh, katanya menatap tajam.

"Sekarang kenapa tidak lekas kau menyingkir?"

Ni-jisiocia berjingkrak dan berteriak.

"Ini kan rumahku, terserah aku mau di sini atau mau pergi, memangnya perlu aku runduk kepada orang lain?"

Kembali Pho Ang-soat bungkam. Ni-jisiocia melotot gusar sambil bertolak pinggang, namun kejap lain mendadak dia tertawa sendiri, katanya.

"Sebetulnya tidak pantas aku bertengkar dengan kau, kalau baru permulaan aku sudah bertengkar dengan kau, bagaimana kelak?"

Kelak?

Tahukah kau ada sementara orang yang tidak punya kelak?

Perlahan langkah Pho Ang-soat waktu menaiki undakan, pandangannya tertuju ke tempat jauh walau sinar mentari menimpa wajahnya, wajahnya masih kelihatan pucat sekali.

Hanya satu harapannya, yaitu semoga Toh Lui lekas datang.

Tapi Ni-jisiocia bertanya lagi.

"Aku tahu kau bernama Pho Ang-soat, kenapa tidak kau tanya siapa namaku?"

Karena Pho Ang-soat diam saja, terpaksa dia memperkenalkan diri sendiri.

"Aku bernama Ni Hwi."

Mendadak dia melompati pagar dan berdiri di depan Pho Angsoat, lalu ucapnya agak aseran.

"Ayahku memberi nama Hwi berarti cerdik, karena sejak kecil aku paling pintar dan banyak akal."

Pho Ang-soat tidak menghiraukan ocehannya.

"Kau tidak percaya?"

Tangannya bertolak pinggang, sanggulnya hampir menyentuh hidung Pho Ang-soat.

"Bukan saja aku tahu apa maksudmu datang kemari, aku malah tahu siapa yang sedang kau tungggu di sini. Kau kemari pasti ingin mengadu jiwa dengan seorang, melihat rona mukamu, aku lantas dapat menebaknya."

"Ah, masa?"

"Ya, karena kau membawa hawa membunuh."

Bocah cilik centil yang cerewet ini apa benar tahu apa artinya hawa membunuh? "Aku juga tahu yang sedang kau tunggu pasti Toh Lui,"

Nada Ni Hwi seperti yakin bahwa ucapannya pasti betul.

"Karena dalam lingkungan ratusan li di daerah ini, orang yang mampu dan setimpal berduel dengan Pho Ang-soat hanya Toh Lui seorang saja."

Memang tidak sedikit yang diketahui cewek cilik ini. Mengawasi mata orang yang lincah, Pho Ang-soat bertanya dingin.

"Kalau kau tahu, seharusnya kau lekas pergi."

Nadanya tetap dingin, tapi tatapan matanya tidak sedingin biasanya, bentuk matanya seolah-olah telah berubah lembut dan hangat. Ni Hwi tertawa, katanya lembut.

"Apakah kau sudah mulai memperhatikan aku?"

Pho Ang-soat menarik muka, katanya.

"Aku suruh kau pergi karena aku membunuh orang bukan untuk ditonton."

Ni Hwi mencibir bibir, katanya.

"Umpama kau mau mengusirku juga tidak perlu tergesa-gesa. Toh Lui tidak akan datang lebih dini."

Pho Ang-soat mengangkat kepala, mentari tepat di tengah angkasa.

"Dia pasti berbuat seenaknya supaya kau menunggu, menunggu dan menunggu sehingga hatimu risau, semakin risau hatimu, kesempatannya menggorok lehermu menjadi lebih besar."

Dengan tertawa dia berkata pula.

"Ini termasuk strategi perang, jagoan tukang berkelahi seperti dirimu seharusnya sudah memikirkan hal ini."

Tapi mendadak dia menggeleng, lalu melanjutkan.

"Tapi kau pasti tidak mau memikirkan hal ini, karena kau seorang Kungcu, laki-laki sejati, aku bukan, maka boleh aku memberi sebuah akal kepadamu, cara yang tepat untuk menghadapi musuh serendah dia."

Cara apa? Pho Ang-soat tidak bertanya, namun dia juga tidak pantang mendengar.

"Kalau dia ingin kau menunggu, maka kau pun bisa membuat dia menunggu,"

Ni Hwi berkata.

Gigit menggigit, dengan cara orang memperlakukan dirimu, maka kau pun bisa menggunakan cara itu untuk memperlakukan orang itu.

Itulah cara yang paling kuno, cara kuno umumnya amat manjur.

Ni Hwi berkata pula.

"Marilah kita bertamasya di taman ini atau boleh juga kita bermain catur, sambil minum dua poci arak supaya dia menunggumu di sini, menunggumu sampai mampus saking gelisah."

Pho Ang-soat tidak memberi reaksi.

"Akan kubawa kau ke tempat kami menyimpan arak, bila nasib kita lagi mujur, bukan mustahil dapat menemukan seguci Li-ji-ang peninggalan bibi waktu dia menikah dahulu,"

Agaknya minatnya terlalu besar minum arak, sebelum Pho Ang-soat memberi reaksi, dia sudah mengulur tangan menarik lengannya, lengan tangan yang memegang golok.

Tiada orang bisa menyentuh tangannya itu.

Jari-jarinya yang halus baru saja menyentuh tangannya, mendadak terasa ada suatu tenaga besar yang aneh menggetar pergi jari tangannya.

Begitu hebat arus getaran tenaga itu sehingga tubuhnya melenting seperti digontok, ingin berdiri juga tidak kuasa lagi, akhirnya dia jatuh terduduk, pantatnya terbanting cukup keras.

Kali ini mulutnya ternyata tidak ribut karena matanya merah dan berkaca-kaca, suaranya terisak.

"Aku hanya ingin bersahabat dengan kau, ingin melakukan sesuatu, kenapa kau bersikap sekasar ini terhadapku."

Punggung tangannya mengucek-ngucek hidung seperti akan pecah tangisnya.

Kelihatannya dia memang seperti anak perempuan yang harus dikasihani, aleman tapi juga jenaka.

Pho Ang-soat tidak mengawasinya, melirik pun tidak, namun suaranya dingin.

"Bangun, dalam rumput ada ular."

Ni Hwi makin memelas, katanya.

"Tulang seluruh badanku seperti remuk, bagaimana aku bisa berdiri."

Dengan tangan mengucek hidung dan mata, ia melanjutkan.

"Biarlah aku digigit ular di sini saja."

Wajah Pho Ang-soat yang pucat tetap tidak berubah, tapi dia sudah beranjak menghampiri.

Dia tahu tenaga yang dia salurkan tadi, bukan seluruhnya tenaga yang tersalur dari badannya, karena tangannya memegang golok, dari batang goloknya itupun bisa mengeluarkan kekuatan, golok itu berada di tangannya, golok itu seperti memiliki jiwa, ada sukmanya, ada jiwa pasti ada tenaga, tenaga terpendam untuk menunjang jimat.

Perbawa kekuatannya itu boleh dikata sudah hampir mirip dengan Kiam-khi (hawa pedang) yang amat menakutkan, hawa pedang yang tak mungkin ditahan atau dilawan apa pun.

Memang pantas bila dia tidak menggunakan tenaga itu untuk menghadapi cewek jenaka ini.

Ni Hwi duduk meronta-ronta di atas rumput, kedua tangannya menutup muka, jari-jari tangan yang halus dan putih.

Akhirnya Pho Ang-soat mengulur tangan menariknya, tangan yang tidak memegang golok.

Ternyata Ni Hwi tidak melawan, juga tidak menyingkir, tangannya terasa empuk hangat.

Sudah lama Pho Ang-soat tidak menyentuh tangan seorang perempuan.

Dia menekan hawa nafsu jauh lebih tuntas dari setiap padri saleh yang suci, menderita dalam ajaran agamanya.

Akan tetapi dia adalah lelaki, laki-laki tulen, lakilaki yang belum tua.

Seperti anak domba yang penurut dia merangkak bangun sambil merintih perlahan, waktu Pho Ang-soat hendak membimbingnya, tiba-tiba dia menjatuhkan diri ke dalam pelukannya malah, badannya yang montok padat lebih hangat, lebih menggairahkan, lebih empuk.

Pho Ang-soat merasakan jantungnya berdebar kencang, sudah tentu Ni Hwi juga merasakan detak jantungnya yang memburu.

Anehnya pada sekejap itulah, mendadak timbul suatu firasat yang aneh.

Terasa adanya nafsu membunuh, firasatnya memang tajam, pada saat itulah Ni Hwi telah mencabut sebilah pisau, pisau panjang tujuh dim, langsung ditusukkan ke lambung samping bawah ketiaknya.

Wajah nan molek jenaka mirip cewek kecil yang mungil, namun serangan yang dilancarkan jauh lebih jahat dari pagutan ular beracun.

Sayang tusukannya gagal, pisaunya menusuk angin.

Entah bagaimana mendadak tubuh Pho Ang-soat mengkeret, jelas dan yakin bahwa pisau tajamnya itu sudah menusuk ke perut orang, namun kenyataannya hanya menyerempet pinggir kulitnya.

Sedetik itu pula Ni Hwi juga menyadari bahwa tusukan pisaunya gagal, maka kakinya menjejak, tubuhnya pun sudah melejit ke atas.

Seperti ular berbisa yang sembarang waktu mampu melenting ke udara dari semak rumput, baru saja tubuhnya melejit di tengah udara sudah bersalto.

Sekali bersalto disusul salto yang kedua, ujung kakinya sudah menutul atap gardu.

Begitu ujung kakinya meminjam tenaga, tubuhnya sudah melambung pula ke belakang, kini sudah berada di pucuk pohon sejauh lima tombak.

Sebetulnya Ni Hwi ingin menyingkir lebih jauh, tapi karena Pho Ang-soat tidak mengejar, maka dia tidak berlari lebih jauh, dengan sebelah kakinya dia berdiri di pucuk sebatang dahan yang memantul enteng, mulutnya ternyata masih menerocos bagai burung berkicau.

Ginkangnya memang tinggi, cara dia memaki orang juga tidak rendah.

"Baru sekarang aku tahu kenapa cewekmu dulu itu meninggalkan engkau, karena hakikatnya kau bukan laki-laki, bukan saja kakimu cacad, jiwamu ternyata juga tidak normal,"

Caci-makinya tidak kasar, namun setiap patah katanya laksana jarum yang menusuk ke hulu hati Pho Ang-soat.

Wajah Pho Ang-soat yang merah mendadak bersemu merah, warna merah yang ganjil, jari-jari tangannya tergenggam kencang.

Hampir saja dia mencabut golok, tapi dia tidak bergerak, karena mendadak dia menyadari derita batinnya sekarang tidak lagi separah dan seberat apa yang dipikirnya.

Setiap senyumannya, setiap tetas air matanya, setiap limpahan cinta dan setiap patah katanya yang bohong, sudah terukir dalam sanubarinya.

Segala perasaan itu sudah lama terpendam dalam sanubarinya.

Hingga dia berhadapan dengan Bing-gwat-sim, seluruh derita yang terbenam dalam kenangan itu kembali terpampang di depan matanya secara hidup-hidup.

Maka pukulan batin yang dideritanya pada saat itu, pasti takkan bisa dibayangkan, tak bisa diresapi oleh siapa pun dan satu hal yang tidak terduga adalah setelah mengalami siksa derita ini, penderitaan batinnya malah menjadi tawar, penderitaan yang semula tidak berani dipikirkan, dibayangkan atau dihadapi sekarang sudah dapat ditantangnya dengan tabah.

Penderitaan manusia memang mirip borok yang sudah membusuk, bila kau diamkan saja borok itu makin parah, makin membusuk.

Bila kau tega mengoreknya dengan pisau sehingga darah dan nanah meleleh keluar, bukan mustahil dia malah akan segera sembuh.

Waktu Pho Ang-soat mengangkat kepala, keadaannya sudah pulih seperti sedia kala, tenang, mantap dan dingin.

Ni Hwi masih berpantul di pucuk pohon, pandangannya tampak kaget dan heran, Pho Ang-soat tidak mencabut goloknya, suaranya terdengar tawar.

"Pergilah kau."

Sang surya sudah doyong ke barat, bayangan gardu itu sudah terpeta di atas tanah berumput liar.

Pho Ang-soat tidak bergerak, gayanya pun tidak berubah.

Dia tetap berdiri di tempat semula, bayangannya makin panjang dan panjang, Pho Ang-soat tetap tidak bergerak, orangnya tidak bergerak, hatinya pun tidak tergerak.

Bila seseorang sudah biasa hidup dalam kesunyian seorang diri, maka menunggu dan menunggu itu baginya sudah bukan suatu penderitaan, suatu hal yang tidak perlu dirisaukan.

Untuk menunggu golok tercabut pertama kali, dia sudah menunggu tujuh belas tahun, padahal pertama kali dia mencabut golok dahulu, hakikatnya tiada faedahnya, tidak punya arti dan tidak membawa akibat apa pun.

Selama tujuh belas tahun dia menunggu hanya untuk membunuh, ya, membunuh demi menuntut balas kematian ayah bundanya.

Akan tetapi setelah dia mencabut golok, baru dia sadar bahwa dirinya hakikatnya bukan keturunan keluarga itu, bahwasanya tiada sangkut-pautnya dengan persoalan dan pertikaian itu.

Ini bukan melulu merupakan suatu sindiran pedas.

Bagi siapa pun, sindiran seperti ini terlampau tajam, terlampau keji.

Tapi Pho Ang-soat telah mengalami dan menerima sebab akibatnya, karena dia dipaksa harus menerima tempaan hidup ini.

Maka selanjutnya dia pun belajar bertahan, berhasil menahan sabar.

Bila Toh Lui maklum akan hal ini, mungkin dia tidak akan membiarkan Pho Ang-soat menunggu terlalu lama.

Bila kau ingin aku menunggu, bukanlah kau sendiri juga sedang menunggu.

Banyak persoalan di dunia ini memang mirip dua mata pedang yang sama tajamnya, bila kau ingin melukai orang lain, sering kali kau sendiri pun bisa terluka.

Celakanya lukaluka yang kau derita kemungkinan justru lebih berat dari lawanmu.

Perlahan Pho Ang-soat menghembuskan napas dari mulutnya, terasa hati tenang, dada lapang, pikiran jernih.

Sekarang jam sudah menunjukkan angka tiga.

Gubuk yang lembab itu terletak di ujung gang yang gelap, pemiliknya semula adalah seorang tua kikir yang berpenyakitan, konon setelah mayatnya membusuk baru diketahui orang.

Sekarang Merak justru menyewa rumah ini, bukan karena dia pun kikir.

Padahal dia cukup mampu menginap di hotel kelas satu, namun dia rela tinggal di tempat yang jorok ini.

Merak, julukan ini sebetulnya juga suatu sindiran bagi dirinya, Karena pribadinya bukan seorang yang berharga untuk disanjung dan dikagumi seperti indahnya bulu merak yang sedang mekar, sebaliknya dia justru lebih mirip seekor kelelawar yang takut dan tak berani terkena sinar matahari.

Waktu Ibu jari berjalan masuk, dia sedang rebah di atas dipan yang keras dan dingin.

Sebuah jendela kecil satusatunya yang ada dari bilik ini sudah dipaku kencang dan dipalang selembar papan sehingga bilik ini bukan saja lembab dan guram, juga berbau apek mirip liang kelelawar yang busuk.

Begitu duduk Ibu jari lantas menghela napas, tak pernah dia mau tahu kenapa Merak mau dan sudi tinggal di tempat seperti ini.

Jangankan menoleh, melirik pun tidak, Merak tidak menyambut kehadirannya.

Setelah dengus napasnya mulai mereda baru dia bertanya.

"Mana Toh Lui?"

"Dia masih menunggu,"

Sahut Ibu jari.

"Waktu berpisah dengan aku tadi kira-kira sudah jam tiga, berapa lama lagi dia ingin Pho Ang-soat menunggunya?"

Kata Merak.

"Sudah kuberitahu kepadanya, paling cepat jam 4 baru boleh dia berangkat,"

Ujar Ibu jari. Ujung mulut Merak menampilkan senyuman sadis, katanya.

"Berdiri beberapa jam di tempat seperti sarang setan itu rasanya pasti juga cukup menyiksa batinnya."

Ibu jari justru mengerut kening, katanya.

"Aku justru menguatirkan satu hal."

"Hal apa?"

"Walau Pho Ang-soat sedang menunggu, Toh Lui sendiri juga sedang menunggu, aku justru kuatir dia lebih tidak bisa menahan emosi daripada Pho Ang-soat."

"Jika dia mampus di bawah golok Pho Ang-soat. Apakah kau menderita rugi?"

"Tidak."

"Lalu apa yang kau harus kau kuatirkan?"

Ibu jari tertawa, dengan ujung lengan bajunya dia menyeka keringat, katanya pula.

"Masih ada sebuah berita baik ingin kusampaikan kepadamu."

Merak diam saja, dia sedang mendengarkan.

"Yan Lam-hwi memang betul keracunan, malah racunnya amat jahat."

"Darimana kau peroleh berita ini?"

"Kubeli dengan harga lima ratus tahil perak."

Mencorong mata Merak, katanya.

"Berita senilai lima ratus tahil perak umumnya memang patut dipercaya."

"Karena itu setiap saat boleh kita pergi membunuhnya."

"Sekarang juga kita boleh berangkat."

Saat itu tepat menunjukan jam tiga sore.

Meski lewat lohor, tapi cahaya mentari masih terasa terik, musim semi akan segera berlalu, musim panas sudah di ambang pintu.

Pho Ang-soat paling benci musim panas, musim panas umumnya milik anak-anak, sejak pagi hari mereka bertelanjang mandi di sungai atau di empang, berguling dan bergelut di tanah rumput, menangkap kupu-kupu, bermain kucing-kucingan.

Bila malam tiba, duduk berkerumun di bawah barak sambil makan semangka yang sudah direndam di dalam sumur, mendengar cerita orang-orang tua tentang kaum pendekar menangkap setan, mengantongi kunang-kunang sebanyak mungkin untuk ditukar dengan beberapa biji permen.

Musim panas laksana emas, masa keemasan di waktu anak-anak, selalu diliputi kegembiraan, tidak pernah tahu apa artinya duka dan lara.

Pho Ang-soat justru tidak pernah mengalami kehidupan yang senang dan gembira di musim panas, sehari pun tak pernah menjadi miliknya untuk hidup dalam ketenteraman.

Dalam kenangannya, musim panas hanya cucuran keringat atau darah, kalau tidak bersembunyi di dalam hutan dengan pepohonan pendek, tentu berlatih mencabut golok, maka dia pasti berada di tengah padang rumput di bawah terik matahari bersiap mencabut goloknya.

Mencabut golok, sekali dua kali, mencabut dan mencabut lagi, tak pernah berhenti, gerakan yang aneh, gerakan sederhana ini ternyata menjadi salah satu segi kehidupannya, segi kejiwaan yang paling penting.

Kapan pula gogok akan dicabut?

Golok itu perlambang kematian.

Di saat golok tercabut, saat itulah kematian tiba.

Bila goloknya tercabut pula, siapa pula yang akan ajal?

Pho Ang-soat menunduk, menatap jari-jari tangan sendiri yang memegang golok, jari-jari yang pucat dan dingin, golok itu lebih dingin, tangan makin putih, golok makin legam.

Jam tiga sore pun tiba.

ooooOOoooo Bab 7.

Duel Di pojok taman sebelah timur ada sebuah pintu kecil.

Tadi Pho Ang-soat masuk dari sana.

Sekarang Toh Lui pun masuk dari pintu kecil itu.

Mereka tidak melompati tembok.

Jalanan kecil berliku sudah lenyap ditelan suburnya rumput-rumput liar, bila beranjak melewati rerumputan, jaraknya pun akan lebih pendek, tapi mereka justru lebih suka menyusuri jalanan kecil yang berliku-liku.

Langkah mereka perlahan, begitu berjalan pasti tidak akan berhenti.

Dipandang dari berbagai sudut, kedua orang ini mempunyai beberapa persamaan, tapi jelas mereka bukan manusia sejenis, ini terbukti dari golok mereka, bila melihat golok mereka, maka tampak jelas perbedaannya.

Sarung golok Toh Lui dihiasi zamrud dan permata yang kemilau, golok Pho Ang-soat berwarna hitam legam.

Tapi masih ada titik persamaan dari kedua golok ini, keduanya adalah golok, golok untuk membunuh orang.

Lalu adakah persamaan pula di antara kedua orang ini?

Ada, keduanya adalah manusia, manusia yang ingin membunuh manusia.

Jam empat belum tiba, namun saat mencabut golok sudah tiba.

Golok tercabut jiwa pun melayang, kalau bukan kau yang mampus, akulah yang mati.

Langkah Toh Lui akhirnya berhenti, berhadapan dengan Pho Ang-soat, berhadapan dengan golok Pho Ang-soat yang tiada bandingannya di kolong langit ini.

Besar tekadnya untuk membunuh orang yang satu ini di bawah goloknya, namun satu-satunya orang yang dihormati, dikagumi juga adalah musuh yang dihadapinya sekarang.

Seolah-olah Pho Ang-soat berada di suatu tempat yang amat jauh, jauh di ufuk langit, saat segumpal mega kebetulan menutupi matahari, sang surya telah lenyap, tidak kelihatan, tapi matahari selamanya tidak pernah mati.

Bagaimana dengan manusia?

Akhirnya Toh Lui bersuara.

"Aku she Toh bernama Lui."

"Aku tahu,"

Sahut Pho Ang-soat.

"Aku datang terlambat."

"Aku tahu."

"Aku sengaja supaya kau menunggu, supaya kau tidak sabar dan risau sehingga aku lebih leluasa membunuhmu."

"Aku tahu."

Mendadak Toh Lui tertawa, katanya.

"Sayang aku melupakan satu hal."

Tawanya getir, katanya pula.

"Waktu aku membuat kau menunggu kedatanganku, aku sendiri juga menunggu."

"Aku tahu."

"Apa pun kau tahu?"

"Paling sedikit aku masih tahu satu hal."

"Coba katakan."

"Sekali golokku berkelebat, jiwamu pasti melayang."

Jarijari Toh Lui mendadak mengencang, kelopak matanya juga mengkerut, lama kemudian baru ia bertanya.

"Kau yakin?"

"Yakin sekali."

"Kalau begitu kenapa kau tidak segera mencabut golokmu?"

Beberapa menit telah berselang, mega mendung sehingga cahaya mentari tidak kelihatan lagi, cuaca buruk menjadikan hawa menjadi lembab dan dingin.

Inilah saat yang paling tepat untuk membunuh orang.

Bing-gwat-sim berada di Bing-gwat-lau, berada di Binggwat-kong (jalan bulan purnama).

Waktu Ibu jari dan Merak memasuki Bing-gwat-kong, kebetulan serangkum angin menyampuk muka mereka, angin yang dingin namun menyejukkan.

Ibu jari menarik napas dalam, katanya tersenyum.

"Cuaca hari ini sungguh bagus sekali untuk membunuh orang, sekarang juga saat yang paling baik untuk melaksanakan pembunuhan itu. Setelah membunuh orang, aku masih bisa mandi air panas dengan santai, lalu minum arak sepuasnya,"

Merak berkata.

"Lalu mencari pelacur untuk diajak tidur."

Ibu jari tertawa riang, matanya menyipit.

"Ada kalanya aku sampai perlu ditemani dua tiga orang sekaligus."

Merak ikut tertawa, katanya.

"Kau pernah bilang Bing-gwatsim juga seorang pelacur."

"Siapa bilang dia bukan?"

"Malam ini apakah kau tidak ingin mencarinya."

"Malam ini tidak."

"Lho, kenapa?"

Ibu jari tidak menjawab secara langsung, katanya.

"Pelacur itu ada bermacam-macam."

"Dia termasuk macam yang mana?"

"Kebetulan dia termasuk macam yang tidak kusukai. Aku tidak punya selera terhadapnya."

"Wah, kenapa?"

Merak menegas. Ibu jari menghela napas, katanya sambil tertawa getir.

"Karena di antara banyak perempuan yang pernah kulihat, pernah kuajak main di ranjang, yang paling menakutkan justru dia, bila aku memejamkan mata, dia pasti akan membunuhku."

"Kalau kau tidak memejamkan mata?"

"Umpama aku tidak memejamkan mata, dia tetap akan membunuhku."

"Aku tahu kungfumu amat hebat."

"Akan tetapi sedikitnya masih ada dua perempuan di dunia ini yang mampu membunuhku."

"Bing-gwat-sim satu di antaranya? Lalu siapa yang kedua?"

"Ni-jisioca, Ni Hwi."

Baru saja dia habis bicara, lantas terdengar suara tertawa nyaring yang menghambur merdu laksana kelintingan.

Gang panjang ini dipagari tembok tinggi, di atas tembok tumbuh rerumputan dan pohon-pohon mini.

Musim semi belum lewat, maka tetumbuhan pun subur meski tumbuh di atas tembok.

Tawa nyaring berkumandang dari balik pepohonan mini sana.

"Gendut edan, bagaimana kau tahu kalau aku mendengar percakapanmu?"

"Aku tidak tahu,"

Segera Ibu jari menyangkal.

"Eh, lalu kenapa kau menjilat pantat?"

Suaranya merdu, orangnya cantik, gerakan Ginkangnya jauh lebih indah, mempesona lagi.

Waktu dia melangkah turun dari atas tembok laksana segumpal mega, seperti kelopak kembang.

Kelopak kembang mawar yang baru saja melayang jatuh karena hembusan angin sejuk.

Waktu Ibu jari melihat bayangannya, tahu-tahu orangnya telah lenyap.

Bayangan Ni-jisiocia menyelinap hilang di balik rimbunnya pepohonan, Ibu jari tetap memicingkan mata, namun senyumnya makin lebar, tambah riang.

"Dia itukah Ni-jisiocia?"

Ibu jari memperkenalkan.

"Kenapa dia mendadak muncul lalu lenyap pula,"

Tanya Merak.

"Karena dia ingin memberitahu, dia lebih tinggi, lebih unggul dari Bing-gwat-sim,"

Sorot mata Ibu jari masih tertuju ke arah dimana bayangan tadi lenyap.

"oleh karena itu selanjutnya kita boleh tak usah kuatir berhadapan dengan Yan Lam-hwi."

"Masih ada satu hal aku tidak mengerti."

"Hal apa?"

"Kenapa kita harus membunuh Yan Lam-hwi?"

Merak seperti mengorek keterangan.

"Siapakah dia sebetulnya? Kenapa tiada insan persilatan di Kangouw yang jelas tentang asal-usulnya?"

"Lebih baik kau jangan banyak bertanya,"

Sikap Ibu jari mendadak serius.

"jika kau betul-betul ingin tahu, kuanjurkan sebelumnya kau mempersiapkan satu barang."

"Aku harus mempersiapkan apa?"

"Peti mati."

Merak tidak bertanya lagi, waktu dia mengangkat kepala, kebetulan mega hitam menutupi bulan purnama.

Waktu mega itu menyelimuti gang putri malam, Bing-gwatsim juga sedang duduk menghadap jendela menyulam kembang.

Yang disulam juga kembang mawar, seperti mawar yang lagi mekar di luar jendela, mawar yang mekar di musim semi, memang kelihatan segar semerbak.

Yan Lam-hwi tidur telentang di atas ranjang tanpa bergerak, wajahnya kelihatan pucat seperti muka Pho Angsoat.

Angin menghembus di luar jendela, angin malam mulai dingin.

Mendadak Bing-gwat-sim mendengar suara mereka, langkah mereka lebih ringan dari angin, suara mereka lebih dingin dari angin malam.

"Lekas suruh Yan Lam-hwi turun, kalau dia tidak turun, biar kami yang ke atas."

Bing-gwat-sim menghela napas, dia tahu Yan Lam-hwi tidak mungkin turun, maka dia tahu mereka pasti akan naik ke atas loteng.

Karena bukan Yan Lam-hwi yang ingin membunuh mereka, justru mereka yang ingin membunuh Yan Lam-hwi, karena itu Yan Lam-hwi boleh tidur santai dan nyaman di atas ranjang, mereka justru harus membawa senjata, menyusuri jalan raya memasuki gang, mengetuk pintu dan naik tangga ke loteng, supaya tidak kehilangan kesempatan baik membunuh orang, mereka harus bekerja kilat.

Siapakah sebetulnya yang lebih agung antara yang membunuh dan yang dibunuh?

Siapa pula yang yang lebih kotor dan hina?

Siapa pun tiada yang bisa menjawab.

Bing-gwat-sim menunduk melanjutkan sulamannya.

Dia tidak mendengar suara langkah, juga tidak mendengar ketukan pintu, namun dia sudah tahu ada orang di luar pintu.

"Silakan masuk!"

Kepala tidak terangkat, badannya tidak bergerak.

"pintu tidak terpalang, dorong saja."

Pintu hanya dirapatkan, jelas sekali dorong pun akan terpentang lebar, tapi orang justru tidak berani mendorongnya.

"Kalian kemari hendak membunuh orang, memangnya orang yang bakal menjadi korban kalian yang harus membukakan pintu menyambut kalian?"

Suaranya lembut, namun bagi pendengaran Ibu jari dan Merak ternyata setajam jarum.

Cuaca hari ini baik untuk membunuh orang, saat inipun tepat untuk membunuh orang, hati mereka memang sedang riang, sedang berselera.

Akan tetapi sekarang mereka justru seperti tidak senang, karena korban yang akan mereka bunuh justru kelihatan lebih kalem, tidak ambil peduli, sikapnya lebih luwes, maka mereka berdiri mematung seperti orang linglung di luar pintu, jantung mereka pun berdetak satu kali lipat lebih cepat.

Kenyataan membunuh orang bukan suatu tugas yang menyenangkan.

Merak menatap Ibu jari, Ibu jari juga mengawasi Merak, kedua orang ini seperti sedang bertanya kepada diri sendiri.

"Apakah benar Yan Lam-hwi keracunan? Apakah dalam rumah ada perangkap untuk menjebloskan mereka?"

Padahal mereka tahu, asal pintu didorong terbuka, segala persoalan juga akan segera terjawab dan beres. Akan tetapi mereka tidak mengulur tangan.

"Bila kalian masuk, tolong jangan membuat ribut,"

Suara Bing-gwat-sim lebih lembut.

"Yan-kongcu sudah keracunan, sekarang sedang tidur nyenyak, jangan sampai kalian membuatnya siuman."

Mendadak Ibu jari tertawa, katanya.

"Dia teman Yan Lamhwi, dia tahu kita datang untuk membunuh Yan Lam-hwi, agaknya justru kuatir bila kita tidak berani masuk membunuh Yan Lam-hwi, coba katakan bagaimana pendapatmu?"

Dingin suara Merak.

"Karena dia seorang perempuan, kapan saja perempuan siap menjual atau mengingkari lelaki yang dicintainya."

"Tidak benar."

"Coba katakan apa sebabnya?"

"Karena dia tahu semakin dia mengoceh begitu, kita semakin curiga dan tidak berani masuk malah."

"Ya, masuk akal, agaknya kau selalu lebih unggul tentang perempuan."

"Lalu apa pula yang kita tunggu?"

"Kutunggu kau membuka pintu."

"Kau yang ingin membunuh orang,"

Kata Ibu jari.

"Kau yang membuka pintu."

"Apakah selamanya kau tidak mau menempuh bahaya?"

Tanya Ibu jari sambil tertawa.

"Ya, memang begitu."

Sahut Merak.

"Kerja sama dengan orang sejenismu memang menyenangkan, karena kelak kau pasti lebih panjang umur, bila aku sudah mati, paling tidak kau masih bisa mengubur mayatku."

Sembari tersenyum dia mengulur tangan dan mendorong perlahan, pintu pun terbuka.

Bing-gwat-sim tetap menyulam di pinggir jendela, seperti orang mampus Yan Lamhwi rebah di atas ranjang.

Ibu jari menghela napas lega, katanya.

"Silakan masuk."

"Kau tidak mau masuk?"

"Tugasku hanya membuka pintu, kaulah yang ingin membunuh orang, tugasku sudah selesai, sekarang tiba giliranmu bekerja."

Merak menatapnya lama, katanya tiba-tiba.

"Ada satu hal ingin aku beritahukan kepadamu."

"Sekarang boleh kau katakan,"

Ujar Ibu jari. Dingin suara Merak.

"Setiap kali melihat tampangmu, hatiku lantas jijik, ingin muntah, paling sedikit tiga kali pernah timbul hasratku ingin membunuhmu."

Ternyata Ibu jari masih bisa tertawa, katanya.

"Syukur yang hendak kau bunuh sekarang bukan aku, tapi adalah Yan Lamhwi."

Merak diam saja. Maka Ibu jari memperlebar daun pintu dan mendesak.

"Silakan."

Ketenangan menyelimuti rumah ini, cuaca agak guram, rembulan pun bersembunyi-di balik mega.

Sekarang jam empat hampir tiba.

Akhirnya Merak melangkah masuk, waktu kakinya beranjak ke dalam, tangannya sudah tersembunyi di dalam lengan baju, jari-jarinya sudah menyiapkan Khong-jiok-ling.

Khong-jiok-ling yang halus mengkilap dan dingin, senjata rahasia terampuh di dunia untuk membunuh manusia.

Mendadak keyakinan menambah tebal kepercayaan pada diri sendiri.

Mendadak Bing-gwat-sim mengangkat kepala menatapnya, senyum manis menghiasi wajahnya waktu dia menyapa.

"Kau inikah Merak?"

"Apakah Merak menggelikan?"

Jengek Merak.

"Tapi kau tidak mirip merak, betul-betul tidak mirip."

"Kau juga tak mirip pelacur."

Bing-gwat-sim tertawa manis.

"Menjadi pelacur juga bukan sesuatu yang menggelikan."

"Kecuali itu justru ada satu hal yang menggelikan."

"Apakah itu?"

"Kau tidak mirip Khong-jiok (Merak), tapi kau adalah Khongjiok. Aku tidak mirip pelacur, tapi aku tulen adalah pelacur, keledai memang mirip kuda, tapi bukan kuda,"

Lalu dengan tersenyum dia menambahkan.

"masih banyak kemiripankemiripan yang sama di dunia ini."

"Sebetulnya apa yang ingin kau katakan?"

Ujar Merak.

"Umpamnya,"

Kata Bing-gwat-sim.

"Am-gi yang kau bawa jelas mirip Khong-jiok-ling (bulu merak), tapi kenyataan justru bukan."

Merak tertawa lebar, tertawa tergelak-gelak.

Hanya seseorang yang mendengar sesuatu yang benar-benar menggelikan, sesuatu yang brutal dan tidak masuk akal baru akan tertawa sebinggar ini.

Bing-gwat-sim berkata.

"Sebetulnya hatimu sendiri juga curiga akan hal ini, karena sejak mula kau sudah merasakan kekuatan dan perbawanya tidak sehebat itu dan lebih menakutkan seperti yang tersiar luas di luaran, karena itu tidak berani kau gunakan Am-gimu itu untuk menghadapi Pho Angsoat."

Kalau Merak masih tertawa, tapi mimik tawanya kelihatan kaku, tawa yang dipaksakan. Bing-gwat-sim berkata pula.

"Sayang sekali, curiga yang terpendam di dalam benakmu itu selama ini tidak bisa dibuktikan, tidak berani dibuktikan."

Merak bertanya.

"Apakah kau mampu?"

"Aku bisa membuktikan, hanya aku yang bisa, karena..."

"Karena apa?"

Tawar suara Bing-gwat-sim.

"Khong-jiok-ling seperti yang kau bawa itu, di sini aku masih punya beberapa biji, setiap saat bila kau mau, masih bisa kuberi satu atau dua kepadamu."

Berubah air muka Khong-jiok atau Merak. Ibu jari yang di luar pintu juga berubah air mukanya.

"Sekarang juga aku bisa memberimu satu biji, nah ambil,"

Dari dalam lengan bajunya sekali ulur tangan memang dikeluarkan sebuah bumbung bundar kuning emas yang mengkilap, seenaknya saja dia lempar bumbung emas itu kepada Merak, serupa orang yang banyak duit melempar sekeping uang kepada pengemis yang minta sedekah.

Merak mengulur tangan meraihnya, hanya dipandang dua kali dan dibolak-balik tiga kali, mimik mukanya seperti seorang yang perutnya ditendang secara telak.

"Coba kau periksa apakah Khong-jiok-ling yang kau pegang itu mirip dengan milikmu yang kau simpan itu?"

Khong-jiok tidak menjawab, tidak usah menjawab.

Siapa pun bila melihat tampangnya sekarang, pasti dapat meraba jawabannya.

Diam-diam Ibu jari menyurut mundur.

Mendadak Merak menoleh, katanya sambil menatap tajam.

"Kenapa tidak kau turun tangan membunuhku?"

Ibu jari tertawa meringis, katanya.

"Kita kan kawan sehaluan, kenapa aku harus membunuh engkau?"

"Karena aku hendak membunuhmu, sebetulnya aku ingin membunuhmu, maka sekarang kau harus kubunuh."

"Tapi sebaliknya aku justru tidak ingin membunuhmu, karena bahwasanya aku sendiri tidak perlu turun tangan,"

Ternyata Ibu jari masih bisa tertawa, tertawa sambil memicingkan mata.

"Di kalangan Kangouw hanya ada seorang yang tahu bahwa kau bukan Merak asli, tidak lebih dari tiga jam, kau akan menjadi Merak yang sudah mati."

"Sayang sekali kau melupakan satu hal,"

Sinis suara Merak.

"Aku melupakan apa?"

Ibu jari melengak.

"Umpama benar Khong-jiok-ling di tanganku ini tiruan, tapi untuk membunuhmu kurasa cukup berlebihan."

Seketika mengejang tawa Ibu jari, mendadak tubuhnya menerobos keluar, reaksinya sudah amat cepat, sayang masih terlambat sedetik.

Bumbung kuning emas di tangan Merak tiba-tiba menyemburkan cahaya benderang yang menyilaukan mata.

Laksana pancaran mentari sebelum terbenam, seindah lembayung yang menghias angkasa sehabis hujan.

Tubuh Ibu jari yang buntak itu masih terapung di udara sudah terbenam ditelan cahaya yang indah semarak itu, seumpama segulung pasir yang jelek mendadak tergulung oleh damparan ombak yang indah mempesona.

Bila cahaya benderang menakjubkan itu sirna, jiwanya pun melayang.

Umpama guntur menggelegar di angkasa, rintik hujan pun berhamburan dari tengah mega.

Akhirnya Bing-gwat-sim menghela napas, katanya.

"Ucapanmu memang benar, meski Khong-jiok-ling ini palsu, kekuatannya masih mampu untuk membunuh orang."

Merak membalik badan, menatapnya dan berkata.

"Oleh karena itu aku pun bisa membunuhmu dengan bulu merak ini."

"Aku tahu, Ibu jari pun telah kau bunuh untuk menyumbat mulutnya, maka kau pun tidak akan membebaskan diriku."

"Bila kau sudah mati, tiada orang tahu bahwa Khong-jiokling ini adalah tiruan."

"Kecuali aku memang tiada orang tahu rahasia ini."

"Toh Lui akan menepati janji setelah jam tiga, setelah kubunuh kau, masih ada waktu bagiku memburu ke sana, siapa yang bakal menang dalam duel itu tidak menjadi soal, dia pun akan mati di tanganku."

Bing-gwat-sim menghela napas, katanya.

"Rencanamu memang cermat, sayang sekali aku pun melupakan satu hal."

Merak tutup mulut, dia sedang menunggu keterangan lebih lanjut.

"Kenapa kau lupa tanya kepadaku bagaimana aku bisa tahu kalau Khong-jiok-ling itu tiruan?"

"Ya, bagaimanan aku bisa tahu?"

Merak segera bertanya. Tawar suara Bing-gwat-sim.

"Hanya aku yang tahu rahasia ini, karena pencipta Khong-jiok-ling tiruan ini adalah aku."

Merak terlongong.

"Kalau aku mampu menciptakan Khong-jiok-ling tiruan dan sembarangan kuserahkan sebuah kepadamu, sudah tentu aku punya cara yang manjur untuk memecahkannya."

Pucat muka Merak, tangan pun mulai gemetar.

Dia bisa membunuh orang, mungkin bukan lantaran dia mempunyai Khong-jiok-ling, tapi lantaran dia mempunyai keyakinan hati dan tangan yang mantap.

Sekarang kedua bekalnya ini sudah hancur.

"Sengaja aku membiarkan kesempatan itu supaya kau menemukan Khong-jiok-ling yang pertama itu, sudah lama aku memilih beberapa calon, pilihan akhirnya jatuh pada dirimu untuk kujadikan Merak, karena tidak banyak insan persilatan di Kangouw yang memenuhi syarat untuk kujadikan Merak, dan kau orang yang terbanyak memenuhi beberapa syarat itu, karena itu aku pun tidak akan membiarkan kau mati begitu saja, namun sorot matanya mendadak berubah setajam pisau.

"Bila kau ingin melanjutkan menjadi Merak, maka kau harus tunduk kepadaku, seperti Merak patuh kepada majikannya, Jika kau sangsi, sekarang boleh kau coba menyerangku."

Kedua tangan Merak saling genggam memegang bumbung kuning emas itu, namun masih terus gemetar. Mengawasi kedua tangan sendiri, mendadak dia membungkuk dan muntah-muntah.

"Aku tidak mencabut golok, karena aku yakin aku pasti menang,"

Suara Pho Ang-soat seperti berkumandang dari balik mega yang jauh di angkasa.

"seseorang bila mau membunuh orang, sering kali dia seperti memohon sesuatu kepada orang, perbuatannya menjadi hina dan kotor, karena dia tidak betul-betul yakin pasti menang, maka dia akan gugup dan gelisah, kuatir kehilangan kesempatan."

Jarang dia bicara sebanyak dan sepanjang ini, sepatah demi sepatah diucapkan perlahan seperti kuatir Toh Lui tidak tahu artinya, karena dia tahu setiap patah kata yang diucapkan laksana sebilah pisau mengiris sanubari Toh Lui.

Tubuh Toh Lui memang mengejang, sampai pun suaranya juga serak.

"Jadi kau yakin pasti menang, maka kau tidak gelisah?"

Pho Ang-soat mengangguk.

"Lalu sampai kapan baru kau akan mencabut golokmu?"

Tanya Toh Lui.

"Bila kau mencabut golokmu."

"Jika aku tidak mencabut golokku?"

"Kau pasti akan mencabut golokmu, malah besar hasratmu untuk segera mencabutnya."

Karena kau yang ingin membunuh aku, bukan aku yang ingin membunuh kau, maka kau akan benar-benar mati, jiwamu akan melayang seketika bukan di saat aku mencabut golok, tapi di saat kau mencabut golokmu sendiri.

Otot hijau sudah menghias punggung tangan Toh Lui yang menggenggam golok.

Sekarang dia belum mencabut golok, namun dia tahu, cepat atau lambat dia pasti akan mencabutnya.

Air hujan yang dingin menetes di atas badannya, menetes di mukanya, dia berhadapan dengan Pho Ang-soat, berhadapan dengan jago golok sakti yang tiada bandingannya di kolong langit ini, alam pikirannya mendadak terbayang pula akan masa lalu, masa kanak-kanaknya dulu, masa kanakkanak yang jorok penuh kemiskinan.

Bila hujan turun, jalanan becek, dengan kaki telanjang dia harus berlari-lari di tanah becek itu, karena di belakangnya ada orang sedang mengejarnya.

Waktu itu dia lari dari sebuah Piau-kiok, karena dia mencuri sepasang sepatu milik seorang Piausu yang baru saja dibeli, sepatu itu teramat besar bagi dia, belum jauh dia melarikan diri, sepatu itu sudah terlepas terbang dan tertinggal.

Namun Piausu itu memberi ampun kepadanya, begitu kecandak, dirinya lantas dibelejeti dan digantung di atas pohon, dengan rotan sekujur badannya dihajar babak-belur.

Sekarang dia berhadapan dengan Pho Ang-soat, kembali hatinya merasakan derita yang menyiksa seperti waktu dirinya dihajar dulu.

Derita dan gejolak hati yang tidak akan bisa terlupakan selama hidup.

Hujan makin lebat, tanah di sekitar mereka sudah mulai becek.

Mendadak dia mencopot sepasang sepatu yang baru dibelinya seharga delapan belas tahil, dengan telanjang kaki dia berdiri di tengah tanah yang becek.

Pho Ang-soat seolah-olah sudah berubah menjadi Piausu yang menghajarnya dengan rotan dulu, merupakan perlambang derita dan gejolak perasaan.

Mendadak dia berteriak, menyobek hancur pakaian sendiri, keadaannya mirip orang gila.

Dengan bertelanjang dada ia mencak-mencak dan berteriak-teriak kalap di tengah tanah becek.

Belenggu dan tekanan batin yang selama ini terbenam dalam sanubarinya, dalam sekejap ini telah bebas dan lepas, maka dia mencabut golok.

Saat dia mencabut golok adalah saatnya kematian, maka dia pun mati.

Mati bukan saja suatu gejolak, suatu derita dan tak mungkin selama hidup bakal diperolehnya sekaligus, hanya setelah dia mengalami kematian baru akan mendapatkan segalanya.

ooooOOoooo Hujan sudah reda.

Jalanan kecil itu tetap becek, Pho Ang-soat beranjak di atas jalanan kecil, tangannya tetap memegang golok.

Golok sudah kembali ke sarungnya, darah sudah dibersihkan, golok tetap hitam legam.

Matanya juga gelap, pekat dan dalam, cukup untuk menyembunyikan rasa kasihan dan duka-lara hatinya.

Secercah sinar mentari menembus gumpalan mega, mungkin itulah secercah cahaya terakhir untuk hari ini.

Cahaya mentari menyinari pucuk tembok, seorang terdengar tertawa cekikikan di balik tembok, suaranya merdu nyaring, namun membawa nada sindiran.

Ni Hwi muncul di bawah pancaran mentari.

"Tidak baik, jelek."

Apa yang jelek? Pho Ang-soat tidak bertanya, langkahnya pun tidak berhenti. Tapi kemana dia pergi, Ni Hwi selalu mengintil.

"Duel kalian pun tidak menarik, sebetulnya ingin kusaksikan permainan golokmu, tak nyana kau justru menggunakan muslihat."

Tanpa ditanya dia langsung menjelaskan.

"Kau suruh Toh Lui mencabut goloknya lebih dulu, kelihatannya kau mengalah kepadanya, padahal itu adalah muslihatmu."

Kenapa dikatakan muslihat? Walau tidak bertanya, namun langkah Pho Ang-soat sudah berhenti.

"Golok terbenam di dalam sarung dan jarang terlihat, siapa pun tiada yang tahu apakah golokmu tajam atau tumpul, bila golok sudah keluar, ketajamannya pun telah nyata, siapa pun tak berani melawan ketajamannya, karena itu sebilah golok hanya akan terasa bobotnya di saat dia akan dicabut dan belum tercabut."

Lekas dia menambahkan pula.

"Tentu kau jelas dan mengerti akan hal ini, maka kau suruh Toh Lui mencabut lebih dulu ..."

Pho Ang-soat mendengarkan dengan cermat, mendadak dia menukas.

"Itupun ilmu golok, bukan muslihat."

"Bukan. Kau bilang bukan?"

"Ilmu golok berbeda dan masing-masing memiliki keunggulan, namun kegunaannya justru sama dan hanya satu."

Sikap Ni Hwi serius, katanya.

"Apakah begitu puncak kemahiran ilmu golok?"

"Kurasa bukan."

"Harus mencapai taraf apa baru terhitung mencapai puncak kemahiran ilmu golok?"

Pho Ang-soat mengancing mulut, beranjak lebih jauh.

Sinar surya benderang, hanya sinar mentari terakhir terasa paling cemerlang, demikian pula jiwa manusia.

Lama Ni Hwi terlongong di atas tembok, lalu menggumam sendiri.

"Apakah ilmu goloknya telah mencapai taraf tanpa perubahan?"

Sinar surya yang benderang mendadak menjadi guram pula.

Tanpa perubahan, bukankah berarti telah mencapai taraf tertinggi adanya perubahan itu?

Maka golok itu sendiri apakah masih ada harganya untuk dipertahankan?

Pho Ang-soat menghela napas, karena soal ini dia pun tidak mampu menjawab.

Kalau sang surya sudah terbenam di ujung barat, bayangan Ni Hwi telah lenyap tak keruan parannya.

Tapi surya tetap ada, demikian pula Ni Hwi tetap hidup, yang lenyap dalam sekejap ini hanyalah kesannya saja, kesan dalam benak Pho Ang-soat secara pribadi.

Pho Ang-soat mendorong daun pintu kecil di pojok tembok sana, lalu melangkah keluar perlahan, baru saja dia mengangkat kepala, dilihatnya Bing-gwat-soat di atas loteng.

Lekas Pho Ang-soat menunduk pula.

"Kau menang?"

Mendadak Bing-gwat-sim bertanya. Pho Ang-soat tidak menjawab, dia masih hidup, itulah jawabannya. Bing-gwat-sim menghela napas, katanya.

"Buat apa, ya, buat apa?"

"Buat apa?"

Pho Ang-soat tidak mengerti.

"Kau tahu kau pasti menang, buat apa kau pergi? Dia tahu jiwanya bakal mampus, buat apa dia datang?"

Persoalan yang perlu dipecahkan dengan memeras keringat dan mengencerkan otak ini, ternyata mampu dijawab oleh Pho Ang-soat.

"Karena dia adalah Toh Lui dan aku adalah Pho Ang-soat."

Penjelasannya seumpama golok miliknya, sekali tabas telak mengenai sasaran yang tepat dari persoalan ini. Bing-gwat-sim ternyata belum puas, katanya.

"Apakah lantaran di dunia ini ada Pho Ang-soat, maka Toh Lui harus mati,"

"Bukan,"

Pendek dan tegas jawaban Pho Ang-soat.

"Jadi maksudmu....."

"Kalau di dunia ini ada Toh Lui, maka Toh Lui harus mati."

Walau jawabannya kelihatannya susah dimengerti, sebenarnya justru teramat sederhana, tapi juga masuk akal.

Kalau tiada kehidupan, darimana datangnya kematian?

Kalau sudah ada kehidupan pasti juga akan terjadi kematian?

Bing-gwat-sim menghela napas, katanya.

"Agaknya terhadap persoalan mati hidup manusia, pandanganmu terlalu tawar."

Pho Ang-soat tidak menyangkal.

"Hidup mati orang lain sudah tentu kau memandangnya tawar, maka kau tinggalkan Yan Lam-hwi di sini."

Lama Pho Ang-soat berdiam diri, baru perlahan dia bertanya.

"Apakah Merak pernah kemari."

"Ehm,"

Bing-gwat-sim bersuara dalam mulut.

"Bukankah Yan Lam-hwi masih hidup?"

Kembali Bing-gwat-sim mengiakan.

"Kutinggalkan dia di sini, mungkin karena aku tahu bahwa dia tidak akan mati."

"Tapi kau ...."

"Asal maksud kalian semula belum berubah, janjiku semula juga tidak akan berubah."

"Janji apa yang pernah kau berikan kepadaku?"

"Akan kubawa kalian ke Khong-jiok-san-ceng."

Bersinar mata Bing-gwat-sim.

"Sekarang juga berangkat?"

"Sekarang juga berangkat."

Bing-gwat-sim berjingkrak, berpaling pula dan berkata dengan tertawa manis.

"Apakah aku harus tetap mengenakan topeng ini?"

Dingin suara Pho Ang-soat.

"Bukankah sekarang kau sudah mengenakan topengmu?"

OoooOOoooo Bab 8.

Khong-Jiok-San-Ceng Wajah manusia memangnya juga sebuah topeng, topeng yang mudah berubah menyesuaikan situasi dari yang empunya.

Siapa pula yang dapat menebak rahasia yang terbenam di dalam sanubari orang dari mimik mukanya?

Adakah topeng yang benar-benar bagus sebagus wajah manusia?

Manusia yang punya kedudukan makin tinggi yang terpandang dan diagungkan, dengan adanya topeng yang dikenakan di wajahnya justru makin sukar orang melihatnya.

Waktu berhadapan dengan Jiu Cui-jing, dalam hati Binggwat-sim bertanya kepada diri sendiri.

"Topeng macam apakah yang dikenakan di mukanya?"

Peduli topeng apa yang dipakainya, bahwa majikan Khongjiok-san-ceng sendiri keluar menyambut kedatangan mereka, betapapun adalah suatu hal yang menggembirakan.

Bulu merak yang indah, Khong-jiok-san-ceng nan megah.

Gentingnya berwarna hijau pupus, ditimpa sinar mentari menjelang magrib kelihatan lebih mengkilap laksana zamrud, undakan panjang yang bersusun seindah batu jade masuk melalui tembok-tembok tinggi laksana emas, tempat ini seolah-olah tersusun dari kepingan-kepingan mutiara atau permata lainnya.

Di bawah pohon dalam taman, beberapa ekor merak sedang mondar-mandir, di tengah empang angsa sedang berenang santai.

Beberapa gadis berpakaian kain kembang warna-warni berjalan-jalan di atas rerumputan yang empuk, menghilang di tengah gerombolan kembang, lenyap ditelan keindahan taman yang berwarna-warni.

Hembusan angin membawa bau harum yang memabukkan, di kejauhan seperti ada seorang meniup seruling, mayapada ini seperti diliputi kedamaian.

Tiga lapis pintu besar di luar maupun di dalam perkampungan terpentang lebar, tiada seorang pun yang menjaganya.

Jiu Cui-jing berdiri di undakan terbawah di depan pintu, mengawasi Pho Ang-soat dengan tenang.

Dia seorang yang serba hati-hati, serba kolot, bicara atau bekerja pantang membocorkan rahasia, umpama hatinya amat senang, juga tidak pernah diperlihatkan di wajahnya.

Melihat kedatangan Pho Ang-soat, dia hanya tertawa tawar, sapanya.

"Aku tidak menduga kau bakal kemari, tapi kedatanganmu memang kebetulan."

"Kenapa kebetulan?"

Tanya Pho Ang-soat.

"Malam ini tempat ini akan kedatangan tamu, kebetulan bukan tamu sembarangan."

"Siapa?"

"Kongcu Gi."

Pho Ang-sot mengancing mulut, wajahnya tidak menampilkan perubahan perasaan, demikian pula Bing-gwatsim ternyata juga adem-ayem.

Jiu Cui-jing meliriknya sekali lalu mengawasi Yan Lam-hwi yang digotong masuk.

"Mereka ini temanmu?"

Tanyanya.

Pho Ang-soat tidak menjawab, tapi juga tidak menyangkal.

Bahwasanya mereka kawan atau lawan?

Mereka sendiri pun sukar membedakan.

Ternyata Jiu Cui-jing juga tidak banyak bertanya, sedikit miringkan tubuh dia berkata.

"Silakan, silakan masuk."

Dua orang menggotong Yan Lam-hwi menaiki undakan panjang, Bing-gwat-sim mengikut di belakang, tiba-tiba dia berhenti menatap Jiu Cui-jing, katanya.

"Kenapa Cengcu tidak bertanya untuk apa kami kemari?"

Jiu Cui-jing menggeleng kepala.

Kalau kalian adalah teman Pho Ang-soat, maka aku tidak perlu bertanya, kalau tidak mau bertanya, maka tak usah buka mulut.

Biasanya dia memang tidak suka berbicara.

Bing-gwat-sim justru tidak mau menutup mulut, katanya.

"Umpama Cengcu tidak bertanya, akulah yang akan menerangkan."

Karena dia bicara, terpaksa Jiu Cui-jing mendengarkan.

"Kedatangan kami kemari, pertama, untuk menyembunyikan diri dari bencana, kedua, mohon pengobatan, entah Cengcu sudi tidak memeriksa dulu penyakitnya?"

Akhirnya Jiu Cui-jing bertanya.

"Penyakit apa?"

"Penyakit hati."

Jiu Cui-jing mendadak menoleh dan menatapnya.

"Sakit hati hanya dapat disembuhkan dengan kebatinan."

"Aku tahu Baru dua patah kata terucap dari mulut Bing-gwat-sim, Yan Lam-hwi yang berada di atas gotongan mendadak melompat bangun terus menerjang dengan kecepatan kilat. Demikian pula Bing-gwat-sim pun turun tangan. Seorang berdiri di depan Jiu Cui-jing yang lain berdiri di belakangnya, jadi dari depan dan belakang menyergap, sekali turun tangan jalan mundur Jiu Cui-jing telah dicegatnya buntu. Bahwasanya tiada jurus silat apa pun di dunia ini yang serba sempurna, namun sergapan kedua orang ini justru amat sempurna, amat tepat dan telak. Tiada seorang pun yang mampu melawan atau menyingkir, bahwasanya tiada seorang pun yang mengira bahwa mereka mendadak bakal menyergap. Gerakan mereka sudah menjamin bahwa sergapan ini tak lain merupakan suatu rencana yang sudah dipikir masakmasak dan teliti, sergapan itu sendiri pasti juga sudah dilatih bersama berulangkali sehingga mahir betul. Oleh karena itu majikan Khong-jiok-san-ceng yang menggetar dunia ini tak memiliki kesempatan untuk bergerak, tahu-tahu sudah dibekuk di depan pintu gerbang rumah sendiri. Hanya dalam sekejap mata mereka sudah menutuk delapan Hiat-to penting di sendi tulang antara kedua lengan dan kakinya. Jiu Cui-jing juga tidak terjungkal jatuh, karena mereka memapahnya berdiri. Walau tubuhnya kaku mengejang, sikapnya ternyata masih tenang, orang yang masih bisa bersikap setenang ini dalam keadaan seperti ini, dicari di seluruh pelosok dunia juga sukar menemukan sepuluh orang. Sergapan mereka berhasil gemilang namun telapak tangan Bing-gwat-sim berkeringat dingin, perlahan dia menghembuskan napas, lalu melanjutkan perkataannya yang belum selesai tadi.

"Karena aku juga tahu cara pengobatan seperti apa yang kau ucapkan tadi, maka kami kemari mencarimu."

Ternyata melirik pun Jiu Cui-jing tidak ke arahnya, matanya mantap dingin ke arah Pho Ang-soat. Pho Ang-soat sendiri juga diam tidak menunjukkan reaksi.

"Kau tahu untuk apa mereka kemari?"

Tanya Jiu Cui-jing. Pho Ang-soat menggeleng kepala.

"Tapi kau justru membawa mereka kemari."

"Karena aku juga ingin melihat untuk apakah sebetulnya mereka kemari."

Hanya beberapa patah tanya jawab ini, suasana yang semula diliputi kedamaian di dalam taman ini seketika berubah diliputi hawa membunuh.

Hawa membunuh yang keluar dari empat puluh sembilan batang pedang dan golok, bayangan pedang dan golok tampak bergerak, namun orangnya tiada yang bergeming.

Kalau Cengcu mereka sudah dibekuk musuh, dijadikan sandera, siapa berani bertindak secara gegabah.

Tiba-tiba Jiu Cui-jing menghela napas, katanya;

"Yan Lamhwi, Yan Lam-hwi, kenapa kau melakukan perbuatan ini?"

Di luar dugaan Yan Lam-hwi melengak, katanya.

"Kau sudah tahu siapa diriku?"

"Delapan puluh li daerah sekitar perkampungan merupakan daerah terlarang perkampungan merak, begitu kau memasuki daerah terlarang, aku lantas tahu asal-usul dan riwayatmu."

Yan Lam-hwi menghela napas, katanya.

"Kelihatannya Khong-jiok-san-ceng memang bukan tempat yang boleh sembarangan dibuat mondar-mandir."

"Karena aku tahu jelas seluk-belukmu, maka kau bertindak."

"Kau tidak menduga, bukan?"

"Sesungguhnya memang tidak kuduga."

"Sebenarnya aku sendiri tidak menduga,"

Ucap Yan Lamhwi tertawa getir. Lekas Bing-gwat-sim menimbrung.

"Soalnya juga terpaksa, penyakitnya memang cukup parah."

"Aku punya obat untuk menyembuhkan dia?"

Tanya Jiu Cuijing.

"Kau punya, hanya kau yang punya,"

Sahut Bing-gwat-sim.

"Obat apakah itu?"

"Sebuah rahasia."

"Rahasia? Rahasia apa?"

"Rahasia Bulu merak."

Terkancing mulut Jiu Cui-jing.

"Bukan maksud kami hendak mengancam dan menekan kau, kami hanya ingin barter."

"Dengan apa kau hendak barter?"

"Juga sebuah rahasia, rahasia tentang Bulu merak."

OoooOOoooo Malam telah tiba, lampu pun menyala.

Rumah itu amat tenang dan bersih serba rapi, ini menandakan bahwa Jiu Cui-jing seorang pengagum seni, seni dekorasi, perabotnya serba antik dan mewah.

Sayang sekali para tamunya ini tiada yang punya hasrat menikmati dekorasi rumahnya yang megah ini.

Begitu masuk rumah, Bing-gwat-sim lantas bicara ke titik persoalan.

"Sebenarnya aku juga tahu, Khong-jiok-ling (bulu merak) sudah hilang sejak moyangmu pada generasi Jiu Hong-go."

Inipun sebuah rahasia, rahasia yang tidak diketahui oleh insan persilatan mana pun di dunia ini. Pertama kali melihat Jiu Cui-jing terkesiap, katanya.

"Darimana kau tahu?"

Bing-gwat-sim berkata.

"Karena Jiu Hong-go pernah membawa sketsa gambar Khong-jiok-ling mencari seorang, minta bantuannya untuk membikin sebuah Khong-jiok-ling."

Sketsa gambar Khong-jiok-ling itu sendiri juga merupakan suatu rahasia, karena dalam sketsa itu dilukiskan bentuk dan rahasia pembuatan Khong-jiok-ling.

Tiada orang tahu Khong-jiok-ling ada lebih dulu atau sketsa gambar merak itu ada lebih dulu?

Tapi siapa pun akan berpendapat dengan adanya sketsa gambar merak itu, dengan mudah akan bisa dibuat pula sebuah atau berapa saja yang dikehendaki Khong-jiok-ling yang sama.

"Tapi cara berpikir demikian sebetulnya keliru,"

Ujar Binggwat-sim.

"Darimana kau tahu kalau cara berpikir begitu salah?"

"Menciptakan Am-gi yang menggunakan peralatan rahasia merupakan ilmu yang rumit, tinggi dan mendalam. Bukan saja penciptanya harus mempunyai jari-jari tangan yang tahu cara bagaimana mencampur kadar logam dan seluk-beluk tentang Am-gi yang akan dibuatnya."

"Yang dicari Jiu Hong-go sudah tentu adalah seorang pandai besi yang ahli, malah pandai besi nomor satu di jagat ini,"

Ujar Bing-gwat-sim. Jiu Cui-jing berkata.

"Pandai besi nomor satu sejagat pada masa itu, konon justru seorang perempuan, yaitu Ji-hujin dari keluarga Tong dari Sujwan.

"Racun dan Am-gi keluarga Tong konon sudah menjagoi dunia selama empat ratus tahun, kepandaiannya sudah menjadi tradisi yang diturunkan kepada menantu, tidak kepada putri kandung sendiri. Ji-hujin adalah menantu tertua keluarga Tong masa itu, karya sulamannya dan buatan Am-ginya waktu itu diagulkan sebagai kepandaian tunggal yang tiada taranya, maka waktu itu dia dijuluki Siang-coat."

Bing-gwat-sim berkata.

"Namun Ji-hujin berjerih-payah selama enam tahun hingga rambut kepalanya pun ubanan karena terlalu banyak memeras otak, namun tidak mampu dia membikin sebuah Khong-jiok-ling yang mirip aslinya."

Jiu Cui-jing mengawasinya, menunggu ceritanya lebih lanjut. Bing-gwat-sim mengeluarkan sebuah bumbung bundar mengkilap kuning emas, lalu melanjutkan.

"Selama enam tahun, walau dia berhasil membuat empat pasang Khong-jiokling, luarnya dan susunan peralatan di dalamnya meski mirip dengan gambar aslinya, sayang sekali hasil karyanya itu tidak digdaya seperti Khong-jiok-ling yang tulen, karena Khong-jiokling yang tulen mempunyai kekuatan hebat yang tidak mungkin bisa diterima oleh nalar manusia lumrah, kekuatan magis."

"Itukah salah satu di antaranya?"

Tanya Jiu Cui-jing mengawasi bumbung kuning di tangan Bing-gwat-sim. Bing-gwat-sim mengangguk sambil mengiakan.

"Belakangan ini di kalangan Kangouw muncul seorang yang menamakan diri Merak."

"Bulu merak miliknya itu juga salah satu di antaranya."

"Kaukah yang memberikan kepadanya?"

"Secara tidak langsung kuberikan kepadanya, namun secara kebetulan saja kubiarkan dia menemukan."

"Karena kau sengaja supaya orang-orang Kangouw tahu rahasia tentang hilangnya bulu merak itu."

Bing-gwat-sim mengaku. Jika Khong-jiok-ling muncul di tangan orang, sudah tentu bulu merak itu sudah tidak berada di perkampungan merak pula.

"Kenapa kau berbuat demikian?"

Tanya Jiu Cui-jing.

"Karena sejak mula aku curiga akan satu hal."

"Hal apa yang kau curigai?"

"Bulu merak merupakan urat jantung kehidupan, kejayaan perkampungan merak, para Cengcu Khong-jiok-san-ceng turun-temurun beberapa generasi semuanya adalah orang teliti, tabah dan cakap, maka……."

"Maka kau tidak percaya bahwa Khong-jiok-ling itu hilang."

Bing-gwat-sim mengangguk.

"Konon bulu merak itu hilang dari tangan Jiu It-hong, ayah kandung Jiu Hong-go, Jiu It-hong berbakat besar, berilmu tinggi serba pandai, bagaimana mungkin dia melakukan kecerobohan yang berakibat fatal ini? Dia sengaja berbuat demikian, mungkin hanya untuk menguji sampai dimana taraf reaksi putranya."

Walau analisanya masuk akal, namun tak mungkin bisa dibuktikan. Maka dia berkata lebih lanjut.

"Sengaja aku membocorkan rahasia ini, supaya musuh-musuh Khong-jioksan-ceng yang sudah turun-temurun itu berlomba datang menyerbu kemari."

"Yang datang tetap tiada yang bisa hidup dan keluar dari sini,"

Dingin suara Jiu Cui-jing, bangga namun juga sinis.

"Oleh karana itu aku yakin bahwa dugaanku tidak meleset, Khong-jiok-ling pasti masih berada di tanganmu."

Jiu Cui-jing tutup mulut, namun sepasang matanya setajam mata burung elang menatap wajah Bing-gwat-sim. Bing-gwat-sim segera menambahkan.

"Kemudian Jiu Honggo tidak menemui Ji-hujin lagi, karena dia sudah menemukan pula Khong-jiok-ling yang asli."

Lama Jiu Cui-jing menepekur, katanya kemudian perlahan.

"Semestinya dia tidak perlu menemui Ji-hujin."

"Tapi Jiu Hong-go percaya kepada Ji-hujin, sebelum Jihujin menikah, mereka sudah lama berhubungan sebagai kawan."

Jiu Cui-jing tertawa dingin, jengeknya.

"Memang tidak sedikit orang yang mau menjual kawan sendiri dalam dunia ini."

"Tapi Ji-hujin tidak mengingkari persahabatan mereka, kecuali beberapa tertua dari keluarga Tong yang lurus, tiada orang lain tahu akan rahsia ini."

Makin mencorong cahaya mata Jiu Cui-jing, katanya.

"Dan kau? Pernah apa pula kau dengan keluarga Tong?"

Bing-gwat-sim tertawa, katanya.

"Waktu aku membeberkan rahasia ini, memang aku sudah siap membeber pula rahasia diriku."

Lalu perlahan dia menyambung.

"Aku adalah putri sulung keluarga Tong angkatan tertua, nama asliku adalah Tong Lam."

"Anak keturunan keluarga Tong kenapa sudi hidup di kalangan pelacuran?"

"Walau keluarga Tong kami menggunakan racun dan Amgi, namun peraturan keluarga kami jauh lebih ketat, lebih keras dan disiplin dibanding tujuh perguruan besar dari aliran lurus, putra-putri keluarga Tong, selamanya suka mencampuri urusan Bu-lim yang tidak semestinya,"

Suaranya tenang tapi tegas.

"Tapi kami sudah bertekad untuk melakukan sesuatu yang menggemparkan."

"Apa tujuan kalian?"

"Kelaliman, hanya itu tujuan kami."

"Menentang kelaliman?"

"Betul, menentang kelaliman."

"Kami tidak berani melanggar peraturan keluarga, supaya gerakan kita leluasa, terpaksa aku bersembunyi dalam kalangan pelacuran, selama tiga tahun ini, kami sudah menghimpun suatu kekuatan besar untuk menentang kelaliman, sayang sekali sejauh ini kekuatan kita pun belum memadai."

Yan Lam-hwi tiba-tiba menimbrung.

"Karena organisasi lawan lebih ketat dan keras, kekuatan mereka pun lebih besar."

"Siapa pemimpin mereka?"

Tanya Jiu Cui-jing.

"Seorang yang pantas dibunuh."

"Dia itulah penyakit hatimu."

Yan Lam-hwi diam, diam artinya mengakui.

"Kau hendak memakai Khong-jiok-ling milikku untuk membunuhnya?"

"Kelaliman ditumpas dengan kelaliman, pembunuhan dicegah dengan membunuh."

Jiu Cui-jing menatapnya, lalu menatap Pho Ang-soat pula, mendadak dia berkata.

"Bukalah Hiat-to di kakiku, mari ikuti aku."

Setelah melewati gambar dinding besar dan indah itu, mereka menerobos hutan bambu serta rumpun kembang anggrek, melewati jembatan bambu sembilan liku, maju lebih jauh pula, sinar pelita mulai jarang-jarang.

Taman yang gelap terasa sepi lengang dan seram, sehingga sinar api pun menjadi guram gelap.

Dibanding gedung-gedung berloteng yang megah dan angker di bilangan depan, di sini seperti berada di dunia yang lain.

Rumah besar di sini juga serba gelap, dingin lembab dan menggiriskan.

Di dalam rumah dipasang ratusan dian, sinar api yang kelap-kelip seumpama api setan, di belakang setiap dian berdiri sebuah Ling-pay, di atas Ling-pay tertulis namanama almarhum, nama tokoh besar yang belum lama ini masih malang melintang di Kangouw.

Melihat deretan Lingpay ini, sikap Bing-gwat-sim kelihatan serius dan khidmat.

Dia tahu mereka adalah para korban yang mati di bawah Khong-jiok-ling, dia mengharap di sini akan ditambah lagi sebuah Ling-pay dengan satu nama.

"Kongcu Gi".

"Leluhur kita kuatir bila anak cucunya terlalu ganas membunuh manusia, maka di sini didirikan tempat penyimpanan perabuan mereka, supaya arwah mereka tenteram dan masuk surga."

Maka selanjutnya mereka mulai memasuki urat nadi Khong-jiok-san-ceng, mereka masuk lewat sebuah lorong, lorong yang berbelak-belok, terali besi yang mereka lewati entah ada berapa lapis.

Tanpa bersuara mereka terus beranjak di belakangnya, seolah-olah mereka sedang memasuki sebuah kuburan raksasa peninggalan raja-raja pada dinasti ribuan tahun yang lampau, gelap dingin, lembab juga serba misterius.

Pintu besi terakhir ternyata terbuat dari papan baja setebal tiga kaki, beratnya ada laksaan kati.

Di atas pintu ini terdapat tiga belas lubang kunci.

"Semula tiga belas kunci berada di tangan tiga belas orang, tapi sekarang teman yang patut dipercaya betul-betul makin jarang. Maka sekarang mereka tinggal enam orang, semua adalah orang-orang tua yang sudah beruban, di antaranya ada keturunan dekat atau famili keluarga Khong-jiok-san-ceng sendiri, ada pula sesepuh dunia persilatan yang sudah kenamaan di Bu-lim. Asal-usul dan kedudukan mereka berbeda, namun persahabatan mereka serta loyalitasnya terhadap Khong-jiok-san-ceng cukup membuat Jiu Cui-jing percaya kepada mereka. Demikian pula kungfu kalian lebih meyakinkan lagi,"

Jiu Cui-jing menjelaskan.

Cukup Jiu Cui-jing menepuk tangannya dua kali, enam orang segera muncul seperti gerakan setan, pendatang yang paling cepat ternyata bermata tajam bagai mata elang, gerakgeriknya juga seringan dan setangkas elang, mukanya yang sudah tergembleng di bawah hujan dan terik matahari penuh dihiasi codet bekas bacokan yang malang melintang tidak keruan, kalau tidak salah, dia bukan lain adalah Put-si-sin-eng Kongsun To yang dahulu pernah menggetarkan padang pasir di luar perbatasan.

Kunci terikat pada rantai di atas badannya, kunci terakhir ternyata berada di tangan Jiu Cui-jing.

Dengan cermat Bing-gwat-sim memperhatikan dia membuka kunci terakhir, waktu dia menoleh pula, bayangan keenam orang itu sudah tidak kelihatan, seumpama setan dedemit yang sengaja diutus dari neraka oleh para leluhur keluarga Jiu yang berkuasa di perkampungan ini.

Di belakang pintu besi tebal ternyata adalah sebuah rumah batu, dindingnya sudah lumutan, di sini tersulut enam lentera.

Cahaya api guram dingin dan menyeramkan, di empat penjuru terdapat rak senjata, seperti pajangan saja terdapat berbagai jenis senjata tajam, di antaranya malah ada yang belum pernah terlihat oleh Yan Lam-hwi, entah itu senjata yang pernah digunakan leluhur keluarga Jiu atau gaman yang dipakai musuh mereka, bahwa senjata itu masih utuh dan tersimpan di sini, namun jiwa raga mereka sudah tiada, tulangbelulangnya pun sudah tak tersisa lagi.

Jiu Cui-jing mendorong sebuah batu raksasa pula, di dalam dinding batu ternyata tersembunyi sebuah almari besi, apakah Khong-jiok-ling tersimpan di dalam almari besi ini?

Semua menahan napas, mengawasinya membuka almari besi itu, lalu dengan laku hormat mengeluarkan sebuah kotak kayu cendana yang berukir indah dan kuno.

Tiada yang menduga bahwa yang tersimpan di dalam kotak kayu bukan Khong-jiok-ling, tapi adalah selembar kulit tipis yang sudah kuning seperti malam.

Bing-gwat-sim tidak ingin menyimpan rasa kecewanya, katanya sambil mengerut alis.

"Apakah ini?"

Sikap Jiu Cui-jing serius dan hormat, sahutnya kereng.

"Inilah wajah seorang."

Bing-gwat-sim terkesiap, tanyanya.

"Apakah kulit yang dibeset dari wajah seseorang?"

Jiu Cui-jing manggut-manggut, sorot matanya diliputi kedukaan, katanya rawan.

"Karena orang ini kehilangan suatu barang yang amat penting, merasa malu untuk hidup lebih lanjut, sebelum bunuh diri dia meninggalkan pesan, menyuruh orang membeset kulit mukanya sebagai peringatan bagi anak keturunannya kelak."

Dia tidak menjelaskan nama orang itu namun semua tahu siapa yang dia maksud.

Bahwa Jiu It-hong dikabarkan mendadak mati, peristiwa ini pernah menimbulkan rasa curiga kaum persilatan masa itu, sampai sekarang baru rahasia itu dibongkar oleh Jiu Cui-jing.

Merinding sekujur badan Bing-gwat-sim, agak lama kemudian baru dia menghela napas panjang, katanya.

"Peristiwa ini sebetulnya tidak perlu kau beberkan di hadapan kita."

"Sebetulnya memang pantang untuk kubeberkan,"

Ucap Jiu Cui-jing dengan suara berat.

"tapi aku ingin supaya kalian percaya, bahwa sejak lama Khong-jiok-ling sudah tidak berada di Khong-jiok-san-ceng."

Bing-gwat-sim bertanya.

"Tapi bagaimana dengan orangorang yang mati di perkampungan merak ini."

"Membunuh orang banyak caranya,"

Jiu Cui-jing menukas dingin.

"tidak pasti harus menggunakan Khong-jiok-ling."

Mengawasi kulit manusia di dalam kotak kayu cendana, terbayang dalam benak Bing-gwat-sim bagaimana orang itu gugur secara ksatria untuk menebus dosa kesalahannya, lalu timbul penyesalan dalam hatinya, semestinya dirinya tidak kemari saja.

Demikian pula Yan Lam-hwi, dia kelihatan juga amat menyesal.

Pada saat itulah terdengar suara "Blam"

Yang cukup keras, pintu besi setebal itu telah menutup sendiri. Menyusul terdengar pula suara "Klik, klik, klik"

Secara beruntun tiga belas kali, tiga belas lubang kunci di sebelah luar ternyata sudah digembok. Berubah air muka Bing-gwat-sim. Yan Lam-hwi juga menghela napas, katanya.

"Bukan saja tidak pantas kami kemari, juga tidak patut tahu rahasia ini, lebih tidak pantas lagi secara sembrono main terobos di hadapan arwah para Cianpwe yang menghuni tempat ini, kami memang patut mampus."

Jiu Cui-ing mendengarkan dengan tenang, tiada perubahan di wajahnya. Yan Lam-hwi berkata pula.

"Tapi jiwaku ini sudah menjadi milik Pho Ang-soat, Pho Ang-soat tidak pantas ikut mati sini."

"Aku juga tidak harus mati,"

Jengek Jui Cui-jing tiba-tiba. Yan Lam-hwi melotot dengan kaget. Bing-gwat-sim menyela.

"Ini bukan kehendakmu?"

"Bukan,"

Sahut Jiu Cui-jing tegas. Bing-gwat-sim makin kaget, serunya.

"Lalu siapa yang mengunci pintu dari luar? Tempat serahasia ini, orang luar mana bisa masuk kemari?"

"Sedikitnya masih ada enam orang,"

Sahut Jiu Cui-jing.

"Tapi mereka adalah sahabatmu."

"Aku pernah bilang, tidak sedikit manusia di dunia ini yang mau menjual kawan."

Sekarang baru Pho Ang-soat bersuara.

"Satu di antara keenam orang itu pasti adalah pengkhianat."

"Siapa yang kau maksud?"

Tanya Bing-gwat-sim. Pho Ang-soat tidak menjawab, malah bertanya pada Jiu Cui-jing.

"Yang membuka kunci pertama apakah Kongsun To?"

Jiu Cui-jing mengangguk, mulutnya mengiakan. Baru sekarang Bing-gwat-sim bertanya.

"Apakah Put-si-sineng (elang sakti yang tidak pernah mati) Kongsun To yang sudah hampir mati beberapa kali itu?"

Jiu Cui-jing mengiakan saja. Yan Lam-hwi bertanya.

"Lawan duelnya yang terakhir bukankah Kongcu Gi?"

"Betul,"

Sahut Jiu Cui-jing.

Yan Lam-hwi memandang Bing-gwat-sim, Bing-gwat-sim menatap Pho Ang-soat, ketiga orang ini terkancing mulutnya.

Soal ini tidak perlu ditanyakan lagi.

Bahwa Kongsun To lolos dari tangan Kongcu Gi, kejadian itu memang sudah dianggap kejadian ajaib dunia persilatan.

Baru sekarang mereka sadar kejadian itu bukan lagi ajaib, karena Kongcu Gi sengaja mengampuni jiwa Kongsun To, sekaligus merangkulnya untuk dijadikan kambrat di dalam melaksanakan tipu dayanya.

Sekarang persoalan terpenting satu-satunya adalah adakah jalan keluar kedua dari tempat ini?

"Tidak ada,"

Jawaban Jiu Cui-jing cekak tapi jelas, gudang harta mana mungkin dibuatkan pintu kedua?

Setelah menghela napas panjang pula, sekujur tubuh Binggwat-sim terasa lemas lunglai, arwahnya seolah-olah meninggalkan jazad kasarnya.

Kamar ini ditutup oleh daun pintu besi setebal tiga kaki dengan dinding tebal enam kaki, peduli manusia mana pun yang terkurung di dalam kamar batu seperti ini, satu hal yang masih bisa mereka lakukan adalah menunggu kematian.

Mendadak Yan Lam-hwi bertanya pula.

"Apakah di sini ada arak?"

"Ada,"

Sahut Jiu Cui-jing.

"Hanya seguci, seguci arak beracun."

"Arak beracun juga mending daripada tiada arak?"

Ujar Yan Lam-hwi tertawa.

Bagi seorang yang kerjanya hanya menunggu kematian, apa salahnya minum arak beracun?

Maka Yan Lam-hwi menemukan guci arak itu, dengan bernafsu dia membuka tutupnya yang tersegel, mendadak sinar golok berkelebat, guci arak itupun hancur.

Pho Ang-soat berkata dingin.

"Jangan lupa jiwamu ini milikku, mau mati akulah yang harus turun tangan."

"Kapan kau akan turun tangan?"

Tanya Yan Lam-hwi.

"Kalau betul-betul sudah putus asa,"

Sahut Pho Ang-soat.

"Sekarang masih adakah harapan hidup bagi kita?"

"Bila manusia masih hidup, maka harapan itu tetap ada."

Yan Lam-hwi tertawa lebar, serunya.

"Bagus, baiklah, selama aku masih hidup, tidak akan kulupakan nasehatmu ini."

Pho Ang-soat tidak banyak bicara lagi, perhatiannya tertuju ke rak-rak senjata yang berada di empat penjuru itu, entah apa sebabnya dia kelihatan tertarik sekali.

Perlahan dia beranjak ke sana, setiap senjata pasti diperiksa dan ditelitinya dengan seksama.

ooooOOoooo Kamar batu yang lembab basah ini lambat-laun terasa pengap dan gerah, Jiu Cui-jing meniup padam tiga lentera, mendadak dilihatnya Pho Ang-soat menarik keluar sebatang Cu-coat-pian (ruyung ruas bambu) dari rak senjata.

Ruyung tiga ruas seperti bambu ini terbuat dari baja murni, bobotnya teramat berat, namun bentuknya kelihatan tidak seberat bobotnya.

Lama Pho Ang-soat menimang-nimang ruyung itu, tanyanya kemudian.

"Darimanakah senjata ini?"

Jiu Cui-jing tidak lantas menjawab, dari dalam almari dia mencari se

Jilid buku catatan yang cukup tebal, setelah meniup debunya, mulai dia membalik halaman demi halaman sampai belasan lembar, baru perlahan dia bersuara.

"Itulah peninggalan Hay Tang-kay."

"Hay Tang-kay dari Pi-lik-tong di Kanglam?"

Pho Ang-soat menegas. Jiu Cui-jing mengangguk, katanya.

"Senjata api dari Pi-liktong menjagoi segala macam senjata rahasia di dunia ini, namun sejak Khong-jiok-ling muncul dalam percaturan dunia persilatan, perbawa mereka semakin pudar dan menurun, karena itu Hay Tang-kay mengumpulkan kambrat-kambratnya menyerbu kemari, maksudnya hendak menghancurkan Khong-jiok-san-ceng, sayang sekali sebelum dia bertindak, jiwanya sudah melayang oleh bulu merak."

Mendadak bercahaya mata Pho Ang-soat, tanyanya menegas.

"Dia belum turun tangan sudah mati di bawah Khong-jiok-ling."

Jiu Cui-jing manggut-manggut, katanya.

"Kejadian meski sudah seratus tahun yang lampau, namun di dalam buku ini peristiwa itu dicatat dengan jelas."

Bing-gwat-sim berkata.

"Pernah juga aku mendengar tentang Bu-lim Cianpwe ini, kuingat nama julukannya adalah Pi-lik-pian (ruyung geledek)."

Perlahan Pho Ang-soat mengangguk, kembali dia mulai beranjak menyusuri dinding.

Tangan kanan memegang golok, tangan kiri menggenggam ruyung, namun matanya terpejam, gayanya berjalan meski lucu, rona mukanya justru setenang padri agung yang sedang semadi.

Semua menahan napas, mengawasi gerak-geriknya, keheningan mencekam seluruh kamar batu ini.

Mendadak sinar golok berkelebat pula, cahayanya kelihatan lebih terang dari tabasan di waktu menghancurkan guci di tangan Yan Lam-hwi tadi.

Jelas untuk bacokan kali ini Pho Ang-soat telah mengerahkan tenaga sepenuhnya, walau matanya terpejam, goloknya ternyata tepat menusuk celahcelah batu di atas dinding.

Dia tidak melihat dengan mata, namun melihat dengan hati, dengan perasaan, dengan insting.

Sekali tusuk, seluruh batang goloknya ternyata amblas ke dalam dinding.

Pho Ang-soat menarik napas panjang, golok segera dicabut, setelah dia ganti Cu-coat-pian di tangan kirinya sekarang yang menusuk, amblas pula ke lubang dimana tadi goloknya membuat lubang di atas dinding.

Pada saat itulah terdengar ledakan menggelegar, Cu-coatpian ternyata meledak di dalam celah-celah dinding.

Dinding yang dibangun dengan batu-batu persegi sebesar enam kaki itu ternyata berguguran dan ambruk oleh getaran dahsyat dari ledakan itu.

Lekas sekali keadaan kembali menjadi tenang, sepi lengang, dinding yang semula rapi kini sudah ambrol dan bolong.

Golok Pho Ang-soat sudah kembali ke sarungnya, dengan suara tawar dia berkata.

"Senjata api buatan Pi-lik-tong dari Kanglam memang nyata tiada bandingannya di dunia."

Jiu Cui-jing, Bing-gwat-sim dan Yan Lam-hwi mengawasinya diam saja, sorot mata mereka diliputi rasa kagum dan hormat.

"Darimana kau tahu kalau di dalam Cu-coat-pian ada tersimpan bahan peledak?"

"Aku tidak tahu,"

Sahut Pho Ang-soat.

"Aku hanya merasa bobotnya tidak semestinya seringan itu, oleh karena itu aku menduga di dalamnya tentu kosong, kebetulan aku teringat pula pada nama Hay Tang-kay."

Pertempuran besar yang terjadi waktu Hay Tang-kay bersama kawan-kawannya menyerbu Khong-jiok-san-ceng memang terkenal sebagai pertempuran paling besar di Bu-lim kala itu.

Seluruhnya ada tujuh puluh dua pertempuran dahsyat yang terkenal di kalangan persilatan masa itu, paling sedikit ada tujuh kali terjadi di Khong-jiok-san-ceng.

Kenyataan sampai sekarang Khong-jiok-san-ceng masih berdiri sampai sekarang, masih jaya dan digdaya.

Akan tetapi begitu mereka keluar dari lubang bekas ledakan itu, segera mereka melihat Khong-jiok-san-ceng yang tak pernah ambruk meski sudah mengalami beberapa kali bencana ini sekarang sudah menjadi puing-puing yang rata dengan bumi, sembilan lapis bangunan beruntun, tiga puluh enam gedung berloteng seluas delapan puluh li, seluruhnya sudah terbakar habis tinggal puing-puing saja yang masih mengepulkan asap.

Aliran darah masih belum kering, Jiu Cui-jing sekarang sedang berdiri di antara genangan darah tak jauh dari puingpuing itu.

Bangunan seluas delapan puluh li jauhnya yang sudah bertahan selama tiga puluh turunan dengan lima ratus jiwa manusia, kini sudah hancur lebur.

Hancur secara aneh, lenyap secara mesterius.

Jiu Cui-jing tidak bergerak, juga tidak mengucurkan air mata, dendam kesumat ini sudah tidak bisa ditawarkan dengan hanya cucuran air mata.

Sekarang yang terpikir hanyalah ingin mengucurkan darah.

Sayang dia tidak melihat dan tidak tahu siapa penyebab bencana ini.

Cuaca buruk, tanah seluas ribuan li kecuali mereka berempat, seolah-olah tiada kehidupan lain.

Yan Lam-hwi berdiri jauh di sana, sikapnya kelihatan lebih menderita dan duka daripada Jiu Cui-jing.

Sudah lama Pho Ang-soat menatapnya, katanya dingin.

"Kau sedang menyesal dan bertobat, semua adalah garagaramu sehingga bencana ini terjadi?"

Yan Lam-hwi manggut-manggut, beberapa kali ingin bicara namun selalu batal, kontradiksi dalam sanubarinya sedang bergelut dengan batinnya sehingga dia merasa amat menderita.

Akhirnya dia tidak tahan dan tercetuslah perkataannya.

"Inilah yang ketiga."

"Yang ketiga?"

Pho Ang-soat menegas.

"Pertama di Hong hong-kip, kedua, di taman kembang keluarga Ni dan sekarang adalah yang ketiga,"

Yan Lam-hwi bicara cepat karena dia sudah berkeputusan untuk membeberkan segala rahasia ini secara terbuka.

"Di dunia sekarang ini, orang yang memiliki kungfu paling tinggi bukan kau, tapi adalah Kongcu Gi,"

Dia bicara secara jujur.

"golokmu memang sudah hampir mencapai tiada taranya, tapi ini mempunyai satu ciri."

"Dan kau?"

Pho Ang-soat balas bertanya.

"Yang kuyakinkan adalah Sim-kiam (hati pedang), Gi-kiam (arti pedang), dimana hati mempunyai selera, apa pun tiada yang dapat membendungnya. Itulah salah satu jenis puncak kesempurnaan dari ilmu pedang, jika latihan berhasil mencapai taraf yang tiada taranya, maka ilmunya itu tidak akan mendapat tandingan di seluruh jagat."

"Dan kau gagal melatihnya?"

"Ilmu pedang itu laksana sebuah pintu yang mempunyai tiga belas kunci... jelas aku sudah memperoleh seluruh kuncinya, tapi setelah aku membuka kunci kedua belas, kunci terakhir justru tidak kutemukan,"

Dengan tertawa getir Yan Lam-hwi berkata lebih lanjut.

"oleh karena itu, setiap kali turun tangan, aku selalu merasa tenaga tidak memadai dengan hasrat keinginan. Ada kalanya sekali tusuk jelas telak mengenai sasaran, namun pada detik terakhir ternyata meleset hampir satu dim."

"Bagaimana dengan Kongcu Gi?"

Tanya Pho Ang-soat.

"Bukan saja kungfunya sudah sempurna, malah tiada titik kelemahan yang dapat dibuat sasaran. Di kolong langit ini, mungkin hanya ada dua benda yang dapat menandingi dia."

"Pertama ialah Khong-jiok-ling?"

Pho Ang-soat menegas.

"Kedua ialah Thian-te-kiau-ceng-im-yang-tay-pi-bu."

Dalam buku ini tercatat tujuh jenis kungfu yang paling hebat, jahat dan lihai sejak zaman dulu hingga sekarang.

Konon waktu buku ini selesai ditulis, dari langit hujan darah, tengah malam setan pun menjerit tangis, penulisnya setelah mengakhiri huruf terakhir juga mati dengan tumpah darah.

Sudah tentu Pho Ang-soat juga pernah mendengar legenda ini.

"Tapi setelah buku itu berhasil ditulis lantas lenyap tak keruan parannya, bahwasanya tiada kaum persilatan di Kangouw yang pernah melihat atau membacanya."

Yan Lam-hwi berkata.

"Memang sudah lama buku ini putus turunan, artinya tidak keruan parannya, tapi belakangan ini memang betul-betul telah muncul."

"Muncul dimana?"

Pho Ang-soat menegas.

"Di Hong-hong-kip."

Setahun yang lalu dia pun pernah ke Hong-hong-kip untuk mencari buku itu, kebetulan waktu itu Pho Ang-soat juga berada di sana.

"Waktu itu aku juga mengira kehadiranmu di sana juga lantaran buku itu, maka aku beranggapan bahwa kau juga sudah mau diperalat serta menjadi antek Kongcu Gi, maka aku tidak segan turun tangan kepadamu."

Tapi dia yang kalah, kalau dia ingin membunuh Pho Angsoat, Pho Ang-soat justru tidak membunuhnya, karena itu terjadilah rangkaian cerita yang berkepanjangan ini.

"Setelah pertempuran dengan kau itu, hati luluh semangat lumpuh, dua jam kemudian baru aku putar balik ke Honghong-kip."

Waktu itu Hong-hong-kip ternyata sudah menjadi kota mati, Kongcu Gi telah menyikat dan membantai seluruh penghuni kota kecil itu, agaknya dia pun tidak berhasil, sehingga terjadilah peristiwa kedua yang mengerikan.

"Pagi hari itu, empat di antara Ni-si-jit-kiat (tujuh ksatria keluarga Ni) juga berada di Hong-hong-kip, mereka datang secara terburu-buru dan pergi dengan tergesa-gesa, sebetulnya tidak menarik perhatian orang lain, namun aku tidak tahan untuk tidak menemui mereka, ingin aku mencari berita, tak nyana karena kedatanganku, terjadi perubahan pada taman besar yang tersohor sejak tiga belas turunan kakek-moyang mereka, taman itu telah hancur-lebur menjadi tempat yang tak berguna lagi."

Sesaat dia berpikir, lalu menambahkan.

"Pada hari itu juga, pertama kali aku bertemu dengan Bing-gwat-sim, waktu itu dia baru pindah ke sana belum genap lima hari."

Mengepal kedua tinju Pho Ang-soat, agak lama kemudian dia berkata perlahan.

"Walau sampai sekarang kau sendiri belum pernah melihat buku Tay-pi-bu itu, namun akibatnya justru teramat fatal, entah berapa jiwa dan harta telah hancur karenanya."

Yan Lam-hwi juga mengepal tinju, desisnya geram.

"Oleh karena itu aku harus mengganyang Kongcu Gi, untuk membalaskan sakit hati para korban itu."

"Karena itu pula dia pun harus membunuhmu."

Mereka tidak melanjutkan pembicaraan ini, karena Jiu Cuijing sudah beranjak perlahan mendekat.

Wajahnya tetap tidak menunjukkan perasaan apa-apa, demikian pula sepasang matanya yang semula tajam berkilat kelihatan hambar dan lengang.

Berdiri di hadapan mereka, lama dia diam saja seperti patung, lalu dengan suara seperti mengigau berkata.

"Seluruh warga keluarga Jiu sudah mati, namun mayat mereka seluruhnya lengkap, hanya kurang satu saja."

"Kongsun To?"

Pho Ang-soat menegas. Jiu Cui-jing mengangguk, katanya.

"Untuk menyikat habis keluarga Jiu bukan pekerjaan yang gampang, pihak mereka juga pasti akan jatuh korban, namun korban musuh seluruhnya sudah disingkirkan."

Yan Lam-hwi menyelutuk.

"Sepak terjang mereka memang bersih dan cekatan, tidak meninggalkan bekas dan jejak."

"Tapi orang sebanyak itu tak mungkin bisa lenyap begitu cepat, peduli dengan cara apa pun mereka menyingkir, sedikit banyak pasti akan meninggalkan jejak, jejak itulah sumber penyelidikan kita,"

Demikian Pho Ang-soat mengutarakan pendapatnya. Jiu Cui-jing menatapnya, sorot matanya menampilkan rasa kagum, katanya mendadak.

"Istriku sering sakit, di dalam kota ada pula seorang biniku, sekarang dia sedang hamil, jika dia melahirkan seorang putra, maka dialah keturunan keluarga Jiu kami satu-satunya."

Perlahan dia melanjutkan.

"Dia she Co bernama Giok-cin, ayahnya bernama Co Tong-lay, seorang Piausu."

Pho Ang-soat diam mendengarkan, setiap patah kata didengarnya dengan penuh perhatian. Setelah menghela napas panjang Jiu Cui jing berkata pula.

"Persoalan ini sepantasnya kubereskan sendiri, tapi aku sudah tidak mampu lagi, bila aku harus bertahan hidup, kelak di alam baka aku tetap malu bertemu dengan para leluhur Jiu kita."

Yan Lam-hwi segera meraung galak, serunya beringas.

"Kau tidak boleh mati, memangnya kau tidak ingin menuntut balas?"

Mendadak Jiu Cui-jing tertawa, tawa yang lebih mengenaskan dari tangisan.

"Menuntut balas? Kau suruh aku menuntut balas? Tahukah kau orang macam apa Kongcu Gi sebetulnya? Tahukah kau berapa kekuatan yang tergenggam di tangannya?"

Sudah tentu Yan Lam-hwi tahu, tiada orang lain yang tahu sejelas dirinya.

Kecuali Jit-toa-kiam-pay yang sudah punya sejarah keemasan, mereka bersama Kay-pang dalam kalangan Kangouw, masih ada tiga puluh sembilan organisasi yang mempunyai kekuatan besar.

Paling sedikit separo di antaranya mempunyai ikatan atau hubungan erat dengan Kongcu Gi, di antaranya pula sedikitnya ada sembilan organisasi yang langsung berada di bawah kekuasaan Kongcu Gi.

Jago-jago kosen dalam Bu-lim, entah betapa banyak yang telah diperalat dan sudi menjadi anteknya.

Di antara para pengawal pribadinya, ada dua orang yang memiliki kungfu yang susah diukur.

Sudah siap Yan Lam-hwi menuturkan apa yang dirinya ketahui, namun Jiu Cui-jing sudah tidak ingin mendengar.

Dia masih berdiri tidak bergerak, namun dari tujuh lubang panca indranya mendadak mengucurkan darah segar.

Waktu dia terjungkal roboh, kebetulan di kejauhan berkumandang kokok ayam yang pertama.

Letak Khong-jiok-san-ceng diapit dua gunung, sungai lebar terbentang luas di belakangnya.

Gunung cukup tinggi, keadaan belukar jelas tidak mungkin dilalui mereka yang menggotong para korban, arus sungai juga jelas, ombak bergolak, perahu tak mungkin bisa menyeberang.

Perkampungan merak terjaga ketat dan keras, semuanya berkepandaian tinggi, untuk mengganyang mereka seluruhnya, paling sedikit memerlukan lima puluhan tenaga jago-jago silat kelas wahid.

Umpama benar orang-orang itu datang dari arah gunung dan menyeberang sungai, untuk mengundurkan diri jelas hanya arah depan paling leluasa.

Di depan adalah hutan lebat, jalan raya lapang dan lebar, namun kenyataan tiada bekas tapak kaki kuda atau bekas tergilasnya roda kereta, tapak kaki manusia juga tidak kelihatan.

Bing-gwat-sim mengertak gigi, katanya.

"Apa pun hari ini kita harus dapat menemukan orang ketiga."

"Kecuali Co Giok-cin dan Kongsun To, masih ada siapa lagi?"

Tanya Pho Ang-soat.

"Merak,"

Sahut Bing-gwat-sim.

"dia sudah tunduk kepadaku, kusuruh dia kembali menjadi agen rahasia pihak kita, dia pasti dapat memberi sedikit keterangan kepada kita."

Yan Lam-hwi menjengek, katanya.

"Sayang sekali setiap keterangan yang.dia berikan bukan mustahil merupakan perangkap."

"Perangkap?"

Bing-gwat-sim menegas.

"Kau bilang dia jeri terhadapmu, tapi aku berani bertaruh dia pasti lebih takut terhadap Kongcu Gi, jika bukan dia yang membocorkan rahasia kami, bagaimana mungkin Kongcu Gi secepat ini tahu kami berada di Khong-jiok-san-ceng, mungkinkah serbuan mereka juga begini kebetulan."

Bing-gwat-sim menggreget gemas, desisnya.

"Bila analisamu benar, lebih besar hasratku untuk mencarinya."

"Tapi orang pertama yang kita cari bukan dia?"

Ujar Pho Ang-soat.

"tapi Co Giok-cin."

Tiada orang kenal Co Giok-cin, tapi Co Tang-lay justru seorang yang terkenal sebagai setan arak.

Saat itu dia sedang mabuk, tubuhnya meringkuk di bawah pohon yang rindang dalam pekarangan, namun begitu mendengar nama Jiu Cui-jing, mendadak dia berteriak dan memaki.

"Bintang tua itu, kuanggap dia sebagai teman. Sekarang diam-diam dia justru malah menggremet putriku..."

Mereka tidak menyumbat mulutnya, makin kotor cacimakinya, makin membuktikan bahwa persoalan ini memang benar terjadi, asal dapat mempertahankan anak keturunan Jiu Cui-jing ini, umpama dia harus mencaci tiga hari tiga malam juga tidak jadi soal.

Tapi putrinya justru tidak betah tinggal di rumah lagi, dia minggat tak keruan parannya, secarik kertas dia taruh di atas meja riasnya, seorang nona cilik yang menguncir rambut panjangnya sedang mendekap meja menangis terisak-isak.

Surat di atas kertas itu berbunyi.

"Putrimu tidak berbakti, membikin kotor nama baik keluarga, demi orok yang kukandung ini, tak mungkin aku menebus dosa dengan kematian ...." . Nona cilik itu memberi keterangan.

"Terpaksa Siocia minggat, aku tak berhasil menahannya."

"Kau tahu dia pergi kemana?"

"Kalau aku tahu, sudah tentu aku menyusulnya, buat apa aku berada di sini sendirian."

Kalau dalam rumah ada setan arak, siapa pun takkan sudi tinggal di sana, maka terpaksa mereka meninggalkan rumah itu.

Tapi mereka harus menemukan Co Giok-cin, dunia seluas ini kemana mereka harus mencari seorang?

Mendadak Bing-gwat-sim berkata.

"Ada satu tempat pasti dapat menemukan dia."

Yan Lam-hwi segera bertanya.

"Di tempat mana?"

"Kalau ayahnya tidak tahu tentang hubungan gelap ini, Jiu Cui-jing tentu sudah menyediakan suatu tempat untuk pertemuan mereka secara tetap."

Kalau majikan sebuah toko kain yang berdagang kecilkecilan dapat memelihara seorang gundik yang cantik, masih muda lagi apalagi seorang Cengcu Khong-jiok-san-ceng.

Sayang sekali tempat pertemuan gelap itu pasti amat rahasia, Jiu Cui-jing biasanya juga bekerja amat teliti dan hatihati, kecuali mereka sendiri yang tahu, lalu siapa pula yang mengetahui?

"Pasti ada orang lain yang tahu."

"Siapa?"

"Nona cilik berkuncir itu,"

Bing-gwat-sim bicara dengan penuh keyakinan.

"Hubungan antara Siocia dengan pelayan pribadinya ada kalanya seperti hubungan kakak beradik yang intim, kalau aku yang melakukan perbuatan itu, jelas tidak akan bisa mengelabui Sing-song."

Sing-song adalah nama nona cilik berkuncir itu."

Dilihat wajahnya serta lirikan matanya, kelihatan bahwa nona cilik itu cerdik pandai, tadi dia hanya bersandiwara dan sengaja ditunjukkan di depan kita, dalam jangka setengah jam, secara diam-diam dia pasti akan pergi menemuinya.

Inilah rekaan Bing-gwat-sim dalam hati, jadi pikirannya ini tidak dia utarakan.

Kenyataan memang demikian, setengah jam kemudian nona cilik itu diam-diam menyelinap keluar dari pintu belakang, secara sembunyi-sembunyi berlari memasuki sebuah gang sempit di sebelah kiri.

Diam-diam Bing-gwat-sim menguntitnya, Pho Ang-soat dan Yan Lam-hwi juga menguntit Bing-gwat-sim.

"Seorang gadis perawan apa pun tidak leluasa bergerak, oleh karena itu tempat dimana dia sering mengadakan pertemuan gelap dengan kekasihnya pasti tempat yang tak jauh dari rumahnya,"

Dugaan Bing-gwat-sim memang tidak keliru, tempat itu memang terletak di sebuah gang sempit yang terletak di ujung jalan raya sebelah timur, tembok tinggi pintu sempit, dimana ada sebuah pekarangan kecil yang sepi bersih, di dalam pekarangan tumbuh sepucuk pohon murbai, di pinggir tembok sana berderet belasan vas kembang dengan bunga beraneka warna yang sedang mekar.

Pintu sempit itu tidak terkunci atau terpalang dari dalam, hanya dirapatkan saja seperti sengaja menunggu kedatangan nona cilik ini, setelah longak-longok ke sekelilingnya, lalu mendorong pintu menyelinap masuk, dari sebelah dalam dia tutup serta dipalang lagi.

Kembang yang mekar itu seperti berlomba kecantikan memancarkan bau harum semerbak, daun pohon gemersik ditiup angin, tiada bayangan orang di dalam pekarangan bersih ini.

"Kau masuk dulu, kami menunggu di luar."

Bing-gwat-sim tahu kedua lelaki ini pasti tidak mau ikut terobosan di kamar seorang gadis, karena mereka adalah lelaki sejati, lelaki tulen, lelaki di antara lelaki.

Mereka mengawasi Bing-gwat-sim melompati tembok terus masuk ke dalam, menunggu sekian lamanya, harum kembang merangsang hidung menyegarkan badan.

Pekarangan ini sepi dan lengang, namun mendadak terdengar sebuah jeritan, itulah jeritan Bing-gwat-sim.

Bing-gwat-sim bukan jenis perempuan yang mau sembarangan menjerit kecuali menghadapi sesuatu yang mengerikan.

Penerangan dalam rumah agak guram, nona cilik yang menguncir rambutnya tampak mendekam di meja, kuncir rambutnya yang panjang dan legam itu melingkar di lehernya, menjerat tenggorokannya, kaki tangannya sudah dingin.

Kaki tangan Bing-gwat-sim juga dingin berkeringat, katanya gegetun.

"Kita datang terlambat."

Nona cilik itu sudah mati terjerat lehernya, Co Giok-cin pun tidak kelihatan bayangannya.

Tiada orang yang bisa bunuh diri dengan menjerat leher dengan kuncir rambutnya sendiri, lalu siapakah pembunuhnya?

Kedua tangan Yan Lam-hwi saling genggam, desisnya.

"Hubungan rahasia Jiu Cui-jing dengan Co-Giok-cin agaknya bukan rahasia yang tidak diketahui orang lain."

Karena itu anak buah Kongcu Gi bertindak selangkah lebih cepat dari mereka.

Wajah Pho Ang-soat masih pucat, namun matanya mulai membara, dengan teliti dia mencari, dia berharap pembunuh itu meninggalkan bekas atau sesuatu yang tidak disengaja karena tergesa-gesa meninggalkan tempat ini.

Sedikit kelalaian musuh merupakan sumber penyelidikan yang berharga dan itu cukup sebagai bekal yang tidak akan diabaikan oleh Pho Ang-soat, kali ini hampir saja dia mengabaikan kesempatan itu, karena kelalaian musuh atau sumber penyelidikan itu terlampau nyata, seperti sengaja dipaparkan di depan mata.

Di atas meja rias berdiri sebuah cermin berbentuk hati, seseorang menggores tiga huruf yang ditulis dengan gincu di permukaan kaca, tulisannya terlalu kasar, jelas Co Giok-cin meninggalkan tulisan itu dalam keadaan gugup dan terburuburu, sementara penculiknya juga tidak memperhatikan tulisan tangan di kaca itu.

Kenapa sesuatu yang nyata justru jarang diperhatikan oleh orang?

Padahal gincu itu berwarna merah, merah seperti darah, tiga huruf itu berbunyi "Jik-yang-koan".

Jik-yang-koan adalah nama yang terlalu umum, banyak biara yang dihuni kawanan Tosu bernama Jik-yang-koan, kebetulan di kota ini hanya ada satu Jik-yang-koan.

"Darimana dia bisa tahu kalau mereka hendak membawanya ke Jik-yang-koan?"

"Mungkin secara tidak sengaja dia mencuri dengar percakapan musuh, atau di antara penculiknya itu ada Tosu dari Jik-yang-koan, dia dilahirkan di sini, sejak kecil dan tumbuh dewasa di sini pula, tidak heran kalau dia betul kenal mereka. Betul atau tidak, mereka harus ke sana, umpama musuh mengatur jebakan di sana, mereka juga harus coba meluruk ke sana. Di pekarangan luar Jik-yang-koan ternyata juga tumbuh sepucuk pohon yang rindang, pohon yang sama yang tumbuh di pekarangan kecil itu, sama tinggi sama besar dan sama rimbunnya. Asap dupa tampak mengepul di ruang pemujaan, tiada bayangan orang, tapi mereka tiba di pekarangan belakang, mereka mendengar percakapan orang. Pekarangan yang sepi, suara orang yang dingin, hanya mengucap dua patah kata.

"Silakan masuk."

Suara itu berkumandang dari kamar semadi di sebelah kiri, orang yang di dalam kamar seperti sengaja sedang menunggu kedatangan mereka.

Agaknya di sini memang ada perangkap, namun kapan mereka pernah gentar menghadapi perangkap musuh?

Tanpa pikir Pho Ang-soat langsung beranjak ke sana, pintu setengah dirapatkan, hanya sekali dorong lantas terbuka.

Di dalam kamar ada empat orang.

Asal dia berpendapat harus melakukan tugasnya, asal golok berada di tangannya, meski di depan ada barisan berkuda laksaan jumlahnya juga dia tidak akan mundur selangkah pun, apalagi hanya empat orang.

Keempat orang itu, seorang sedang minum arak, dua orang sedang main catur, seorang lagi pemuda berbaju merah darah dengan sebilah pisau kecil sedang mengerik dan membersihkan kuku jarinya.

Dalam kamar tidak dinyalakan lampu, rona muka pemuda ini mirip pisau di tangannya, putih semu hijau, warna hijau itulah yang mengerikan.

Salah satu dari dua orang yang bermain catur, ternyata memang seorang Tosu, rambut dan jenggotnya sudah ubanan, namun raut mukanya ternyata masih segar dan memerah seperti wajah anak kecil.

Lawan bermainnya berpakaian hijau berkaos kaki putih, dandanannya sederhana, sebentuk cincin yang dipakai di jarinya ternyata adalah sebuah batu jade dengan permata yang tak ternilai harganya.

Mendadak Pho Ang-soat memicingkan mata, ujung matanya kedutan, wajahnya yang pucat mendadak bersemu merah yang ganjil.

Karena orang yang sedang minum arak sambil menundukkan kepala sekarang perlahan mengangkat kepalanya.

Melihat wajah orang ini, kaki tangan Bing-gwat-sim seketika dingin berkeringat.

Seraut wajahnya yang penuh codet bekas bacokan senjata tajam, mata elang hidung betet, siapa lagi kalau bukan Put-sisin-eng Kongsun To.

Kongsun To juga sedang mengawasi mereka, mata elangnya yang mencorong seperti membayangkan senyum sinis yang sadis, serunya.

"Silakan duduk."

Dalam kamar semadi ini ternyata masih ada tiga kursi kosong, Pho Ang-soat juga tidak sungkan, langsung dia berduduk.

Menjelang pertempuran antara mati hidup, kalau bisa menyimpan sedikit tenaga juga pasti bermanfaat sekali.

Karena itu Yan Lam-hwi dan Bing-gwat-sim juga duduk, mereka juga insyaf sekarang sudah tiba saatnya detik-detik yang bakal menentukan antara mati dan hidup.

ooooOOoooo Bab 9.

Satu Bacokan Mempertaruhkan Nyawa Keheningan mencekam, hanya terdengar hembusan angin lalu di pekarangan, pemuda yang sedang membersihkan kuku jarinya tetap berdiri tidak memperlihatkan perubahan mimik mukanya, yang sedang main catur juga asyik dengan biji-biji caturnya, jangan kata melirik, mengangkat kepala pun tidak.

Bing-gwat-sim tidak sabar lagi, serunya.

"Kedatangan kami bukan ingin menonton orang main catur."

Kongsun To menjadi juru bicara mereka, katanya.

"Aku tahu kalian mencari diriku, akulah yang mencuci bersih Khongjiok-san-ceng dengan darah, kalian tidak salah mencariku."

Jari tangan Bing-gwat-sim menggenggam kencang, kuku jarinya sudah amblas ke kulit dagingnya, katanya.

"Dan mereka bertiga?"

Kongsun To tidak menjawab langsung, tapi dia memperkenalkan dulu pemuda yang sedang membersihkan kuku jarinya.

"Inilah Si-bu Kongcu dari keluarga Siau di Lokyang."

Seperti sengaja mau pamer, dia menjelaskan lebih terperinci.

"Maksud dari Si-bu (empat tanpa) adalah pisau terbangnya tanpa tandingan, membunuh orang tanpa hitungan, bila sudah bermusuhan tanpa kenal belas kasihan."

"Masih ada satu lagi, tanpa apa?"

"Umpama tidak bermusuhan juga tanpa kenal kasihan,"

Kongsun To menjelaskan lebih lanjut.

"dia masih punya julukan aneh yang cukup panjang yaitu, naik ke langit masuk ke bumi mencari Siau Li, bertekad bulat membunuh Yap Kay."

Dahulu Li cilik si pisau terbang Li Sun-hoan pernah menggetarkan dunia, setiap kali pisau terbangnya disambitkan, selamanya tidak pernah ditimpukkan sia-sia, kebesaran jiwanya, kecemerlangan namanya, sampai sekarang belum ada orang yang bisa melampaui, Yap Kay memperoleh ajaran murninya, mewarisi kepandaianya, malang melintang di Bu-lim selama tiga puluh tahun, walau tidak pernah salah membunuh seorang pun, tapi tiada orang yang berani mengusiknya.

Bing-gwat-sim berkata.

"Pemuda yang berdarah dingin ini bukan saja yakin dapat membunuh Yap Kay, malah dia pun ingin bertanding dengan Li Sun-hoan?"

"Agaknya memang demikian,"

Ujar Kongsun To.

"Besar juga pambeknya,"

Ucap Bing-gwat-sim tertawa.

"Orang yang pambeknya besar, umumnya tidak berkecil hati."

"Agaknya memang demikian,"

Giliran Bing-gwat-sim mengiakan.

"Sebetulnya keliru,"

Kata Kongsun To sambil tertawa. Bing-gwat-sim tertawa, katanya.

"Makin besar mulut kepandaiannya makin rendah, bukankah banyak orang-orang kerdil seperti itu di kalangan Kangouw?"

Gelak tawa Kongsun To seperti bernada mengadu domba, namun tawa Bing-gwat-sim justru bernada menantang, ucapannya itu sengaja dia lontarkan kepada Siau Si-bu.

Pemuda jumawa itu justru seperti tidak mendengar ucapannya, wajahnya tetap dingin kaku seperti tidak ambil peduli akan ocehan orang lain.

Pisau di tangannya bergerak amat lamban, setiap gerakan dilakukan teramat hati-hati, seperti kuatir pisau yang tajam itu mengiris luka jari tangannya.

Tangannya kelihatan bersih dan tenang, jarijarinya tumbuh panjang terpelihara dan mantap.

Selamanya tidak pernah Pho Ang-soat memperhatikan tangan orang lain, sekarang dia justru sedang memperhatikan jari-jari orang, setiap gerakan jari orang diperhatikan dengan seksama.

Mengiris dan membersihkan kuku bukan suatu yang menarik, tidak patut dibuat tontonan.

Tapi Siau Si-bu kelihatan menjadi tidak tenang karena diawasi, mendadak dia.

berkata dingin.

"Melihat orang mengiris kuku, mendingan kau melihat orang bermain catur."

Kongsun To tertawa lebar, serunya.

"Apalagi yang sedang bermain catur adalah juara catur di seluruh negeri periode tahun ini."

Bing-gwat-sim mengedipkan mata, katanya.

"Apakah Totiang ini pemilik Jik-yang-koan?"

Kongsun To seperti ingin mengadu domba pula, sengaja dia bertanya.

"Dalam biara mana ada Toa-lopan (jurangan) segala?"

Bing-gwat-sim tertawa, katanya.

"Koancu (pemimpin biara) di dalam sebuah biara adalah Toa-lopan, mucikari adalah Toalopannya para pelacur. Nama Toa-lopan, siapa pun boleh saja menggunakannya."

Tojin rambut putih sedang memegang sebuah biji catur, sebelum meletakkan biji caturnya, mendadak dia mengangkat kepala, tertawa kepadanya, katanya.

"Betul aku adalah Toalopan tempat ini."

Bing-gwat-sim tertawa manis, katanya.

"Bagaimana dagangan di sini belakangan ini?"

"Ya, masih mending, cukup lumayan, sembarangan waktu selalu ada saja nyonya-nyonya pikun atau lelaki goblok bergerombol atau perseorangan yang datang bersembahyang di sini, tidak jarang mereka memberi derma untuk keperluan biara kami, terutama setiap hari raya di musim semi, wah, keuntungan yang masuk sungguh luar biasa,"

Nada bicaranya betul-betul mirip seorang juragan. Bing-gwat-sim tertawa riang, katanya.

"Toa-lopan umumnya memang suka berkelakar, suka humor, siapa nyana Toa-lopan yang satu ini juga amat jenaka."

Tojin ubanan berkata.

"Yah, aku ini memang seorang yang tidak punya pantangan."

Dia pun tertawa riang. Tawa Bing-gwat-sim justru mendadak seperti dipaksakan.

"Tanpa pantangan? Toa-lopan, kau she apa?"

"Aku she Nyo,"

Sahut Tojin ubanan.

"Nyo Bu-ki?"

Seru Bing-gwat-sim.

"Agaknya benar."

Bing-gwat-sim tidak bisa tertawa lagi.

Dia tahu tentang orang ini.

Tiga puluh tahun yang lalu, Nyo Bu-ki pernah sejajar dengan Butong Ciangbun, dan ternama bersama Pa-san Tocu, sebagai salah satu dari Jit-toa-khiam-khek (tujuh jago besar ilmu pedang) tanpa aliran.

Dia juga tahu empat kata pameo untuk menjuluki Tojin yang satu ini, pertama berbunyi 'tanpa pantangan' dan diakhiri dengan 'tanpa pantangan' pula.

Jarang orang tahu keempat patah pameo itu.

'Tanpa pantangan, tertawa membunuh orang, kalau ingin membunuh orang, tanpa pantangan'.

Konon bila orang ini bersikap dingin kepadamu, dia malah menganggap kau sebagai sahabat, bila dia ramah-tamah dan tertawa sopan kepadamu, umumnya hanya ada satu maksud, yaitu dia hendak membunuhmu.

Konon bila dia mau membunuh orang, bukan saja tanpa pantangan, peduli famili atau saudara kandung sendiri juga tidak terkecuali, umpama naik ke langit masuk ke bumi juga kau akan dikejar sampai jiwamu melayang.

Tadi dia sudah tertawa, sekarang juga masih tertawa.

Lalu kapan dia siap turun tangan?

Maka Bing-gwat-sim mengawasinya, sekejap pun tidak berani lena.

Tak nyana Nyo Bu-ki malah menoleh pula.

"Tak" , biji catur yang dipegangnya itu ditaruh di papan catur, namun begitu biji catur itu dia taruh, lekas sekali dia mengebaskan lengan bajunya menyapu minggir semua biji-biji catur itu, serunya sambil menghela napas.

"Kenyataan kau memang seorang juara, Pinto mengaku kalah saja."

Lelaki setengah umur berbaju hijau dan berkaos putih berkata.

"Permainan kali ini karena terpencar perhatianmu oleh gangguan orang, mana boleh mengaku kalah begitu saja?"

Nyo Bu-ki berkata.

"Sekali salah langkah, seluruhnya berantakan, kenapa tidak boleh dianggap kalah?"

Lalu dia menghela napas serta menambahkan.

"Apalagi main catur seperti juga latihan pedang, pikiran harus konsentrasi, tidak boleh membagi perhatian, bila pikiran terpencar, mana boleh diagulkan sebagai jago kosen?"

Kongsun To tertawa, katanya.

"Untunglah meski Totiang waktu main catur dapat diganggu konsentrasinya, namun di kala main pedang pasti akan penuh keyakinan."

Nyo Bu-ki berkata tawar.

"Syukurlah memang demikian, maka Pinto sampai sekarang masih dapat mencari hidup di dunia ini."

Laki-laki baju hijau menghela napas, katanya.

"Celakanya meski dalam bermain catur aku dapat mencurahkan seluruh perhatian, bila bertanding pedang justru pikiranku tidak keruan."

Bing-gwat-sim bertanya.

"Kau she apa?"

"Tidak boleh tahu, tidak boleh tahu,"

Kata orang baju hijau.

"Kenapa tidak boleh dikatakan?"

Bing-gwat-sim menegas.

"Karena aku sebenarnya seorang keroco, aku hanya seorang kacung catur belaka."

"Kacung catur? Kacung catur siapa?"

Yan Lam-hwi tertawa, selanya.

"Majikan kacung sudah tentu adalah Kongcu."

Orang baju hijau itu seperti baru melihatnya, segera dia tertawa, katanya sambil menjura.

"Kiranya Yan-kongcu."

"Sayang aku bukan Kongcumu."

"Apakah belakangan ini Kongcu masih sering bermain catur?"

"Menyelamatkan jiwa juga masih terburu-buru, mana ada tempo bermain catur?"

"Cayhe justru ingin main catur, jiwa pun boleh dikorbankan, buat apa harus melarikan diri?"

Yan Lam-hwi tertawa lebar, orang baju hijau tersenyum, ternyata kedua orang ini sebelumnya sudah kenal satu dengan yang lain.

Kalau begini tampang si kacung, lalu orang macam apa pula sang majikan (Kongcu)?

"Apakah kongcumu belakangan ini masih sering main catur?"

Yan Lam-hwi bertanya.

"Sudah tidak pernah lagi."

"Dia tidak main catur lagi, tentu bukan untuk menyelamatkan jiwa, sebaliknya dia menuntut jiwa orang lain."

Orang baju hijau tertawa lebar, Yan Lam-hwi tersenyum, apakah orang yang mereka perbincangkan ini Kongcu Gi?

Apakah Yan Lam-hwi dan Kongcu Gi sebetulnya juga teman?

Orang baju hijau menjura pula, katanya.

"Silakan Kongcu duduk lagi, Cayhe mohon diri."

"Kenapa kau tidak duduk lagi?"

"Aku datang untuk main catur, bila catur tidak bisa dimainkan, buat apa aku tinggal?"

"Buat membunuh orang?"

"Membunuh orang? Siapa yang mau membunuh orang?"

"Aku,"

Mendadak Yan Lam-hwi menarik muka, matanya menatap dingin kepada Kongsun To.

"Orang yang ingin kubunuh adalah kau."

Sedikitpun Kongsun To tidak merasa di luar dugaan, dia menghela napas malah, katanya.

"Kenapa setiap orang ingin membunuh aku?"

"Karena terlalu banyak manusia yang jadi korban keganasanmu."

"Orang yang ingin membunuh aku juga tidak sedikit, namun sampai sekarang aku masih hidup, masih segar bugar, masih panjang umur."

"Ya kau sudah terlalui tua, mungkin hari inilah saat tibanya kematianmu."

"Hari ini memang saat kematian, namun entah saat kematian siapa?"

Kongsun To bicara dengan nada memelas, sikapnya tetap tenang, namun nada bicaranya mengandung hasutan, membakar amarah orang, membangkitkan emosi lawan, sengaja menyakiti hati orang.

Mungkin karena dia pandai membawa diri dan berbuat demikian, maka sampai sekarang dia masih hidup.

Atau mungkin pula dia seorang yang semestinya sudah mati puluhan kali, tapi tetap hidup, maka dalam menghadapi kematian dia tetap berlaku tenang dan tabah.

Jelas Yan Lam-hwi bukan tandingannya dalam hal ini, perlahan dia melolos pedang dari balik bajunya.

Jong-hwikiam (Pedang mawar).

Pedang mawar adalah pedang lemas, biasanya melilit pinggang di dalam balik pakaiannya, sarung pedangnya yang juga lemas entah terbuat dari anyaman apa dan diwarnai dengan apa pula?

Yang jelas warnanya juga merah, merah seperti sekuntum mawar merah yang mekar, merah laksana darah musuh.

Melihat pedang ini, terunjuk rasa kagum dan hormat Kongsun To dari sinar matanya, katanya.

"Aku tahu tentang pedang ini, digembleng ratusan kali, ditempa ribuan kali pula, bisa lemas dapat kaku, senjata tajam yang jarang ada di dunia."

"Aku juga tahu gantolanmu,"

Ucap Yan Lam-hwi.

Cakar elang memang menakutkan, namun senjata elang yang paling ampuh justru bukan cakarnya, tapi paruhnya.

Gantolan yang dipakai Kongsun To dinamakan paruh elang, entah bentuk, bobot dan cara penggunaannya jauh berbeda dengan gantolan yang sering terlihat di kalangan Kangouw.

Yan Lam-hwi tahu orang bersenjata paruh elang, namun dia belum pernah melihatnya.

"Mana gantolanmu?"

Tanyanya. Kongsun To tertawa, katanya.

"Kapan kau pernah melihat seorang memetik kembang dengan gantolan?"

"Memetik kembang?"

Yan Lam-hwi menegas.

"Apakah mawar bukan kembang?"

Orang baju hijau mendadak menyelutuk.

"Jika kau ingin memetik mawar, maka jangan kau lupa kalau mawar ada durinya, bukan saja dapat menusuk tangan, juga dapat menusuk hati orang."

Kongsun To berkata.

"Aku sudah tidak punya hati untuk ditusuk."

"Tapi tanganmu masih ada dan tanganmu boleh ditusuk,"

Orang baju hijau mendesak.

"Kalau dia melukai tanganku, akan kulukai hatinya."

"Dengan apa kau hendak melukai hatinya?"

"Dengan orang."

"Orang? Siapa?"

"Co Giok-cin."

"Jadi kalau dia melukai kau, kau akan membunuh Co Giokcin?"

Kongsun To mengangguk, katanya.

"Co Giok-cin tidak boleh mati, maka aku pun belum saatnya mampus, hanya dia saja yang boleh mati."

Orang baju hijau berkata.

"Dalam duel nanti, kau sudah menempatkan diri pada posisi yang tidak terkalahkan?"

"Memangnya perlu diragukan?"

Ujar Kongsun To sambil mengawasi Yan Lam-hwi dengan tersenyum.

"Oleh karena itu sekarang kau harus mengerti, hari ini saat kematian siapa?"

"Saat kematianmu,"

Bentak Yan Lim-hwi, suaranya lebih dingin.

"Orang mati takkan bisa membunuh orang, aku ingin mempertahankan jiwa Co Giok-cin, maka jiwamu harus melayang lebih dulu."

Kongsun To menghela napas, katanya.

"Agaknya kau belum jelas duduk persoalannya, karena tadi aku sudah mengucapkan sepatah kata, kau tidak mendengar."

"Aku sudah mendengar,"

Orang baju hijau berkata.

"Apa yang kukatakan?"

Tanya Kongsun To.

"Tadi kau bilang, begitu kau melihat darah, Co Giok-cin akan segera kau bunuh,"

Orang baju hijau menjelaskan.

"Kepada siapa tadi aku bilang?"

"Aku tidak kenal siapa dia, hanya tahu kau memanggilnya Jari telunjuk."

"Dimana dia sekarang?"

"Sudah pergi membawa Co Giok-cin."

"Kemana mereka?"

"Aku tidak tahu."

"Siapa yang tahu?"

"Agaknya tiada yang tahu,"

Ujar orang baju hijau.

"Memang tiada seorang pun yang tahu,"

Kongsun To tersenyum mengawasi Yan Lam-hwi.

"Sekarang apakah kau sudah paham seluruhnya."

Yan Lam-hwi mengangguk, ternyata sikapnya tetap tenang dan wajar. Maka Kongsun To bertanya.

"Hari ini saat kematian siapa?"

"Saat kematianmu,"

Yan Lam-hwi menjawab tegas. Kongsun To menggeleng kepala dengan tersenyum getir.

"Agaknya bukan saja orang ini keras kepala, kukuh dan juga goblok, ternyata sejauh ini dia masih belum mengerti."

"Kaulah yang belum mengerti, karena dihitung seribu kali, diulang selaksa kali, kau tetap melupakan satu hal."

"Ah, apa begitu?"

"Kau lupa aku tidak boleh mati dan tidak ingin mati, apalagi jika aku mati, Co Giok-cin tetap tidak bisa tertolong, karena itu kenapa aku harus mandah kau bunuh? Kenapa tidak aku saja yang membunuhmu?"

Kongsun To melenggong, katanya kemudian.

"Kalau kedua pihak sama-sama tidak boleh mati, coba katakan, lalu bagaimana baiknya?"

"Keluarkan gantolanmu, lawanlah pedangku, dalam sepuluh jurus, jika aku tidak bisa mengalahkan engkau, akan kuserahkan satu jiwa kepadamu."

"Jiwa siapa?"

"Jiwaku."

"Bagus, kalau kau dapat mengalahkan aku, aku berikan berikan satu jiwa kepadamu?"

"Sudah tentu, imbalan harus setimpal."

"Jiwa siapa yang kau kehendaki? Jiwa Co Giok-cin?"

"Akan kusaksikan kau menyerahkan dia di hadapanku dengan laku hormat dan sopan."

Kongsun To menepekur sebentar, lalu tanyanya kepada orang baju hijau.

"Apakah perkataan ini langsung diucapkan oleh mulut Yan Lam-hwi?"

Orang baju hijau mengangguk sambil mengiakan.

"Apakah Yan Lam-hwi seorang yang dapat dipercaya?"

"Sepatah katanya senilai ribuan tahil emas, mati pun dia tidak menyesal."

Tiba-tiba Kongsun To tertawa, tertawa lebar.

"Sebenarnya obrolan panjang lebarku ini memang menunggu pernyataannya ini."

Ketika gelak tawanya terhenti, gantolan pun sudah berada di tangannya.

Gantolan yang mengkilap terang, seterang mata elang, setajam paruh elang, walau bobotnya cukup berat, namun gerak perubahannya teramat lincah dan enteng.

Kongsun To tersenyum, katanya.

"Tahukah kau dimana kegunaan gantolanku ini?"

"Coba terangkan,"

Tantang Yan Lam-hwi. Kongsun To mengelus pucuk gantolannya yang runcing, katanya.

"Walau bobot gantolan ini cukup berat, di dalam rumah juga dapat dimainkan secara wajar, entah bagaimana dengan pedangmu?"

"Jika aku terdesak keluar kamar ini, anggaplah aku yang kalah."

Kongsun To tertawa lebar, serunya.

"Bagus, tidak lekas kau cabut pedangmu, mau tunggu apa lagi?"

"Tidak perlu."

"Tidak perlu?"

"Pedang di dalam sarung juga dapat membunuh orang, lalu kenapa harus dicabut? Setelah tercabut, kemungkinan malah tidak bisa untuk membunuh orang."

"Lho, kenapa?"

"Karena letak yang paling menakutkan dari pedang ini bukan pada mata pedangnya, tapi terletak pada sarung pedangnya."

Kongsun To tidak mengerti.

"Apakah sarung pedang lebih tajam dari mata pedang?"

Yan Lam-hwi mengelus sarung pedangnya yang merah, katanya.

"Tahukah kau dengan apa aku mewarnai sarung pedangku ini?"

Kongsun To tidak tahu.

"Dengan getah mawar darah."

Agaknya Kongsun To juga tidak tahu apa itu mawar darah, bahwasanya belum pernah dia mendengar jenis kembang ini. Maka Yan Lam-hwi menerangkan.

"Mawar darah adalah kembang mawar yang selalu kusiram dengan lima jenis darah beracun."

"Lima jenis darah beracun? Jenis panca bisa apakah itu?"

"Jit-jun-im-coa, Pek-coat-bu-siong, Jian-lian-ham-hian, Jikhwe-tok-koat."

"Dan satu lagi?"

"Satu lagi ialah darah dari durjana yang khianat."

Kali ini Kongsun To ternyata tidak bisa tertawa lagi. Yan Lam-hwi berkata lebih lanjut.

"Lima jenis kejahatan itulah yang akan ditumpas oleh pedang mawar, jika berhadapan dengan orang yang berbakti, pembesar setia, ksatria dan pahlawan bangsa, pedang ini justru tidak mampu dikembangkan."

"Lalu perbawa sarung pedang?"

Tanya Kongsun To. Yan Lam-hwi tidak menyangkal.

"Bila berhadapan dengan kelima bisa, sukma kembang dari mawar darah akan hidup di atas pedang."

Dia menatap Kongsun To, lalu meneruskan.

"Bila kau salah satu dari panca bisa itu, kau akan mencium suatu aroma wangi secara aneh, maka sukma kembang dari mawar darah secara di luar sadarmu akan mencabut sukmamu."

Kongsun To tertawa lebar, codet bekas bacokan di mukanya tampak berkerut laksana ulat yang meringkel, seperti ular yang saling lilit.

"Kau tidak percaya?"

Yan Lam-hwi mengancam.

"Kalau pedangmu ada sukma kembang, gantolanku juga ada."

"Ada apa?"

"Setan gentayangan perenggut sukma,"

Gelak tawanya berderai seram, wajahnya menyeringai sadis.

"Entah berapa banyak setan gentayangan hasil gantolanku ini, kini seluruhnya sedang menunggu aku mencarikan korban pengganti mereka, supaya mereka lekas menitis kembali."

"Aku percaya, aku pun bisa membayangkan, yang paling mereka harapkan untuk ditemukan adalah sukmamu."

"Kenapa tidak segera kau turun tangan?"

Tantang Kongsun To.

"Sekarang aku sudah turun tangan."

Tawa Kongsun To seketika sirna, ular-ular di kulit mukanya itu seperti mendadak dicekik lehernya, dan sekali betot jiwanya seketika melayang.

Pedang Yan Lam-hwi memang sudah mulai bergerak, gerakannya amat lambat, gerakannya seperti membawa irama yang aneh menakjubkan, seolah-olah kelopak kembang mawar yang bertaburan ditiup angin musim semi.

Gerakan pedang ini bukan saja tidak tepat, juga tidak punya kecepatan yang menggiriskan, seluruhnya tidak memperlihatkan setitik pun perbawanya yang mampu membunuh jiwa orang.

Kongsun To tertawa dingin, gantolannya menyerang, serangannya cepat dan tepat.

Pertempuran besar kecil menentukan mati-hidup selama beberapa tahun ini menjadikan dia menyederhanakan gantolannya, maka setiap kali menyerang dia yakin berhasil.

Tapi sekali ini, serangan gantolannya itu justru tergulung ke dalam irama pedang mawar yang mengandung nada aneh mengalun, seumpama kulit kerang yang tajam tergulung ombak dan tenggelam di dalam lautan.

Bila ombak menyurut, maka perbawa serangannya pun sirna tak berbekas.

Maka hidungnya lantas mengendus serangkum bau wangi yang magis, pandangannya mendadak berubah serba merah segar, kecuali warna merah yang menyala itu, tiada warna lain, seperti tabir merah yang mendadak terbentang di depan matanya.

Jantungnya bergetar, dengan gantolan di tangan, dia menyingkap tabir merah itu, lalu menusuknya agar berlubang bolong, namun reaksinya sudah terlalu lamban, gerakannya berat.

Ketika tabir merah itu sirna, pedang mawar sudah mengancam tenggorokannya.

Baru sekarang dia merasa tenggorokannya mendadak kering, mulutnya getir, rasa letih juga merangsang sekujur badan, begitu lelahnya sampai badan lemas dan hampir muntah-muntah.

"Trang" , gantolannya jatuh di tanah. Nyo Bu-ki menarik napas panjang, jelas barusan dia pun seperti mengalami sendiri apa yang dirasakan oleh Kongsun To, akan tekanan misterius yang terpancar dari pedang mawar. Empat puluh tahun dia belajar dan meyakinkan pedang, ternyata tidak tahu dan tak mampu melihat jelas ilmu pedang apa yang dikembangkan Yan Lam-hwi. Orang baju putih juga menghembus napas pendek, gumamnya.

"Inikah Sin-kiam (pedang hati)? Betul-betul tumbuh sukma kembang di atas pedang?"

Yan Lam-hwi berkata.

"Belum lagi tumbuh, hanya siuman sekilas saja,"

Ujar Yan Lam-hwi.

"Jika betul-betul tumbuh?"

Tanya orang baju hijau. Sikap Yan Lam-hwi tampak serius, katanya perlahan.

"Sukma kembang hidup, keinginan pun pasti tercapai, umpama harus mati, aku pun boleh berlega hati."

Orang baju hijau berkata.

"Bila sukma kembang tumbuh, pasti ada orang mati?"

"Ya, pasti mati."

"Siapa yang mati?"

"Sedikitnya ada dua orang, yang satu aku, seorang lagi adalah dia tidak melanjutkan, orang baju hijau juga tidak mendesak. Kedua orang ini mendadak menampilkan rona aneh di muka mereka, mendadak keduanya tertawa bersama. Yan Lam-hwi tertawa gembira, pedang mawar tetap mengancam tenggorokan Kongsun To, dia tahu, segera dia akan bertemu dan melihat Co Ciok-cin.

"Siapkan kereta dan kedua, suruh orangmu mengantar nona Co naik kereta, lalu antar kami keluar."

Syarat yang diajukan diterima oleh Kongsun To.

Dengan tersenyum lebar Bing-gwat-sim berdiri, dalam hati dia menghela napas, syukur sekali mereka tidak gagal.

Siau Si-bu tetap membersihkan kuku jarinya, jari-jari tangannya tetap tenang, tidak goyah, sorot matanya yang semula dingin ternyata sudah menampilkan rasa gelisah.

Karena Pho Ang-soat terus mengawasinya, di waktu Yan Lam-hwi bergebrak, sorot matanya tidak berkedip, berpaling pun tidak.

Kecuali sepasang tangan pemuda ini, seolah-olah tiada sesuatu persoalan di dunia ini yang patut dipandangnya.

Otot hijau sudah merongkol di punggung tangan Siau Si-bu, seakan-akan dia sudah mengerahkan banyak tenaga baru mempertahankan ketenangan kedua tangannya itu.

Gerak geriknya masih lamban, gayanya pun tidak berubah, bisa berbuat seperti apa yang dilakukan sekarang sebetulnya juga bukan soal sepele.

Mendadak Pho Ang-soat berkata.

"Tanganmu amat tenang dan mantap."

"Selamanya tidak pernah goyah,"

Tawar suara Siau Si-bu.

"Gerakanmu pasti juga cepat, dan lagi begitu pisau lepas dari tangan, kemampuan pisau itu sendiri masih mengandung perubahan."

"Kau bisa melihatnya?"

"Kulihat kau melempar pisau dengan tiga jari tanganmu, maka di atas mata pisaumu itu kau tinggalkan tenaga pusaran, aku juga dapat melihat kau melempar pisau dengan tangan kiri mengarah ke samping baru menyerang sasaran."

"Bagaimana kau bisa melihatnya?"

"Ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah tangan kirimu amat besar tenaganya."

"Pandangan tajam, patut dipuji,"

Dingin nada Siau Si-bu, namun wajahnya tampak kelam.

"Pisau bagus,"

Puji Pho Ang-soat.

"Memang pisau bagus,"

Jumawa sikap Siau Si-bu.

"Walau pisaumu bagus, tapi masih bukan tandingan Yap Kay."

Gerak-gerik Siau Si-bu mendadak berhenti. Akhirnya Pho Ang-soat pun berdiri, katanya.

"Bila pisau terbang Yap Kay disambitkan, di dunia ini paling hanya seorang yang dapat menggagalkannya."

Merongkol pula otot di punggung tangan Siau Si-bu, desisnya tajam.

"Bagaimana pisauku?"

Tawar suara Pho Ang-soat.

"Dalam rumah ini sedikitnya ada tiga orang yang dapat menggagalkan serangan pisaumu."

"Kau salah satu di antaranya?"

"Sudah tentu, memangnya harus disangsikan?"

Tegas jawaban Pho Ang-soat, perlahan dia membalik badan, tanpa berpaling dia beranjak keluar.

Siau Si-bu mengawasi dia keluar, ternyata dia tidak bergerak, juga tidak bicara.

Pisau masih berada di tangan, namun pisaunya pasti tidak sembarangan disambitkan.

Dia tertawa dingin sambil mengawasi tapak kaki di atas tanah.

Tapak yang ditinggalkan kaki Pho Ang-soat cukup dalam, waktu dia melangkah keluar dari pintu itu, seluruh kekuatan badannya telah terpusatkan.

Baca Juga: Pendekar Pendekar Negeri Tayli 4

Baca Juga: Pendekar Patung Emas 10

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert