Ceritasilat Novel Online

Peristiwa Bulu Merak 3

Eps 3 Peristiwa Bulu Merak - Gu Long

Baca online Peristiwa Bulu Merak - Gu Long

Cersil Peristiwa Bulu Merak - Gu Long.

Karena dia harus memusatkan seluruh tenaganya, bersiap menyambut timpukan pisau Siau Si-bu, tapi pisau Siau Si-bu tidak disambitkan.

Ketika Pho Ang-soat berada di luar pintu, dia menengadah menghela napas panjang, kelihatannya dia amat kecewa, bukan saja kecewa, juga mendelu.

Mendadak disadarinya bahwa pemuda ini jauh lebih menakutkan dari musuh mana pun yang pernah dihadapinya.

Tadi dia sudah tahu gaya mempermainkan pisau orang, maka dia memancingnya supaya pemuda ini turun tangan.

Kalau sekarang dia turun tangan, dia yakin dirinya masih mampu menyambut serangannya.

Siapa tahu ketenangan pemuda ini ternyata jauh lebih mantap dari pisau di tangannya itu, lebih menakutkan pula.

"Tiga tahun lagi, bila dia turun tangan, apakah aku masih mampu menyambut serangannya?"

Batin Pho Ang-soat.

Di depan berkumandang ringkik kuda, pekarangan kecil ini masih dalam suasana tenang, mendadak gemuruh emosi Pho Ang-soat, ingin rasanya dia berbalik membunuh pemuda itu.

Tapi dia tidak berpaling, perlahan dia melangkah keluar.

Yang berjalan paling depan adalah Yan Lam-hwi dan Kongsun To, pedang mawar masih mengancam tenggorokan Kongsun To, Yan Lam-hwi menghadap, ke arahnya, selangkah demi selangkah mundur ke belakang.

Kongsun To justru tidak mau berhadapan muka, matanya dipejamkan, keadaannya seperti seorang yang menggiring si buta dengan sebatang bambu.

Tapi si buta yang satu ini sungguh amat berbahaya, sedikit lena pun tidak boleh, karena sekilas saja akibatnya bisa fatal, maka dia tidak boleh mengendorkan kewaspadaan.

Yang terakhir keluar dari kamar semadi adalah Bing-gwatsim, baru saja hendak mempercepat langkah menyusul Pho Ang-soat, mendadak Nyo Bu-ki muncul di sampingnya, katanya.

"Tahukah kau tempat apa di belakang tembok itu?"

Bing-gwat-sim menggeleng. Nyo Bu-ki tertawa, katanya.

"Segera juga kau akan tahu."

Melihat orang ini tertawa, tangan Bing-gwat-sim berkeringat dingin.

Nyo Bu-ki malah menyurut mundur, dengan tersenyum dia mengangguk, pada saat itulah dari balik tembok pendek sana sekaligus muncul sembilan orang.

Sembilan orang tiga belas jenis Am-gi, setiap jenis sedikitnya ada tiga buah, suara jepretan gendewa atau bekerjanya alat-alat rahasia seperti berpadu, tiga puluhan bintik sinar dingin selebat hujan memberondong datang.

Reaksi Bing-gwat-sim tidak lamban, begitu jepretan gendewa berbunyi, dia pun sudah mengembangkan Ginkangnya.

Tabir cahaya golok datang laksana kilat cepatnya telah membantu merontokkan sebagian besar Am-gi yang menyerang.

Bing-gwat-sim kembangkan gerakannya berkelit ke kiri, sehingga sisa Am-gi yang masih menyambar tiada yang mengenai tubuhnya, baru saja dia menghela napas lega, sebilah pedang tahu-tahu sudah menusuk ketiak kanannya, hampir dia tidak merasakan sakit sama sekali.

Mata pedang dingin dan runcing, dia hanya merasa tubuhnya mendadak menjadi dingin, dilihatnya Pho Ang-soat yang pucat itu mendadak menampilkan mimik yang aneh dan lucu, mendadak tangannya diulur menarik dirinya.

Kejap lain dia sudah jatuh ke dalam pelukan Pho Ang-soat.

Nyo Bu-ki menggunakan sebatang pedang Siong-bun-kokiam, pedangnya itu sekarang sudah terlolos dari sarungnya, ujung pedang masih meneteskan darah.

Matanya menatap darah di ujung pedangnya, wajahnya mendadak berubah tidak berekspresi sama sekali.

Sekali sergap pasti kena.

Dia sudah memperhitungkan bahwa Pho Ang-soat pasti mencabut golok sudah diperhitungkan ke arah mana Binggwat-sim akan menyingkir, maka di sanalah pedangnya sudah menunggu, setiap gerakan, setiap posisi yang paling ruwet sekalipun sudah berada dalam perhitungannya yang cermat, dia sudah memperhitungkan satu kali tusuk pasti kena.

Sembilan orang yang barusan muncul dari balik tembok pendek kini sudah tidak kelihatan lagi, Pho Ang-soat tidak mengejar mereka, hanya memandang dingin kepada Nyo Buki.

Yan Lam-hwi juga sudah berhenti, tangannya yang memegang pedang tampak gemetar.

Mendadak Nyo Bu-ki berkata.

"Lebih baik kau berhati-hati, jangan kau melukainya, jika dia mati, Co Giok-cin juga pasti akan mati."

Yan Lam-hwi mengertak gigi, desisnya.

"Kau ini seorang jago pedang yang kenamaan, tempat ini adalah biara tetirahmu, dengan cara keji dan kotor kau membokong serta melukai seorang perempuan, sebetulnya kau ini barang apa?"

Tawar suara Nyo Bu-ki.

"Aku adalah Nyo Bu-ki, aku ingin membunuhnya."

Orang baju hijau berdiri jauh di samping pintu kamar semadi, katanya setelah menghela napas.

"Jika ingin membunuh orang, selalu tanpa pantangan, Nyo Bu-ki ternyata memang Nyo Bu-ki."

Kata Nyo Bu-ki pula.

"Kalau sekarang aku tidak membunuhnya, kesempatan baik ini terabaikan begini saja, kelak mungkin tiada kesempatan kedua."

Pho Ang-soat menatapnya, satu tangan menggenggam golok, tangan yang lain memeluk Bing-gwat-sim yang pingsan, terasa olehnya badan Bing-gwat-sim sudah mulai dingin.

"Kalian ingin menuntut balas kematiannya?"

Nyo Bu-ki menantang.

Sepatah kata pun Pho Ang-soat tidak bicara, dia mulai mundur ke belakang.

Yan Lam-hwi mengawasi Bing-gwat-sim dalam pelukan Pho Ang-soat, lalu menatap Kongsun To yang terancam di ujung pedangnya.

Kongsun To tetap memejamkan mata, mukanya yang penuh codet mirip selembar topeng.

Mendadak Yan Lam-hwi juga mulai mundur.

Ternyata Nyo Bu-ki tidak merasa heran, katanya tawar.

"Kereta kuda sudah disiapkan, Co Giok-cin sudah menunggu di atas kereta, semoga kalian selamat sepanjang jalan."

Yan Lam-hwi berseru.

"Kau tidak kuatir setelah naik kereta aku akan membunuh Kongsun To?"

Nyo Bu-ki berkata.

"Kenapa aku harus takut? Mati hidup Kongsun To ada sangkut-paut apa dengan diriku?"

Mendadak dia membalik tubuh terus beranjak ke arah kamar semadi, waktu tiba di depan pintu dia menarik orang baju hijau, katanya pula.

"Hayolah kita bermain catur lagi."

Orang baju hijau segera mengangguk, katanya sambil tersenyum.

"Aku kemari memang ingin main catur."

Kereta kuda memang sudah lengkap tersedia.

Seorang nyonya muda yang hamil, tengah duduk di pojok sambil menunduk sesenggukan.

Pho Ang-soat membawa Bing-gwat-sim naik ke atas kereta, pedang mawar masih mengancam tenggorokan Kongsun To.

"Buka matamu,"

Hardik Yan Lam-hwi beringas. Kongsun To segera membuka mata. Yan Lam-hwi menatapnya, katanya penuh kebencian.

"Sebetulnya ingin aku membunuhmu."

"Tapi kau tidak akan turun tangan,"

Kalem suara Kongsun To.

"karena kau adalah Yan Lam-hwi yang boleh dipercaya."

Lama Yan Lam-hwi menatapnya pula, mendadak kakinya melayang menendang perutnya.

"Huk" , Kongsun To segera meliuk badan, perlahan badannya menjungkir roboh seperti udang kepanasan. Air mata, ingus dan keringat dingin bercucuran bersama. Tanpa memandangnya lagi Yan Lam-hwi berputar menghadap sais kereta, katanya.

"Lajukan kereta ke depan, sekejap pun tidak boleh berhenti, jika kau berani main gila, jangan kau lupa bahwa pedangku berada di belakangmu."

Kabin kereta besar dan luas, tempat duduknya juga empuk, sais yang pegang kendali juga ahli pada bidangnya, kereta kuda ini memang cukup menyenangkan, siapa pun yang duduk di dalam kereta ini akan merasa nyaman, tapi sekarang mereka yang berada di dalam kereta tiada yang merasa gembira.

Mendadak Pho Ang-soat berkata.

"Seharusnya aku sudah membunuh Siau Si-bu."

"Tapi kau tidak turun tangan,"

Kata Yan Lam-hwi.

"Karena aku agak kuatir, maka "Maka kau terlambat."

Pho Ang-soat mengangguk, katanya.

"Kalau mau membunuh orang, tanpa pantangan kesempatan diabaikan, selamanya takkan kembali pula."

Perkataannya perlahan, setiap patah katanya seperti dikunyah lebih dulu. Lama Yan Lam-hwi menepekur, baru kemudian dia berkata.

"Kesempatanku untuk membunuh Kongsun To mungkin juga susah kucari lagi."

"Untung Bing-gwat-sim belum mati, nona Co juga selamat tidak kurang apa-apa."

Co Giok-cin yang duduk di pojok tiba-tiba menyeka air mata, menatapnya, lalu berkata.

"Kau inikah Pho Ang-soat?"

Pho Ang-soat manggut-manggut. Co Giok-cin terharu.

"Aku belum pernah melihatmu, tapi sering kudengar Jiu ... Jiu-toako bicara tentang dirimu, dia sering bilang kau adalah teman satu-satunya yang dapat dipercaya, dia pun sering bilang "

Bilang apa?"

"Selalu dia berpesan wanti-wanti, bila aku tertimpa suatu bencana di saat dia tidak mampu melindungi diriku, aku disuruh mencarimu, maka wajahmu dia lukiskan amat terperinci."

Kepalanya tertunduk serta terisak lagi.

"Yang tidak terduga, sekarang aku masih hidup, dia malah Sampai di sini isak tangisnya makin keras, lalu mendekam di tempat duduk dan menangis tergerung-gerung. Dia seorang perempuan cantik, kecantikannya termasuk anggun, lembut dan lemah, perempuan jenis inilah yang gampang menarik belas kasihan orang lain. Walaupun Binggwat-sim pintar dan keras hati, kalau Pho Ang-soat tidak segera menutuk Hiat-tonya mencegah darah mengalir terlalu banyak, sekarang mungkin jiwanya sudah melayang. Mengawasi mereka, Yan Lam-hwi menghela napas.

"Apa pun yang terjadi, jelek-jelek kita sudah bekerja sekuat tenaga sebagai pertanggungan jawab kita kepada Jiu-cengcu."

"Tiada pertanggungan jawab,"

Tiba-tiba Pho Ang-soat berkata.

"Tiada?"

Yan Lam-hwi berteriak setengah tidak percaya. Setajam pisau Pho Ang-soat menatap perempuan di sampingnya, suaranya dingin.

"Nona ini bukan Co Giok-cin, pasti bukan."

OoooOOoooo Bab 10. Perubahan Isak tangis mendadak berhenti, Co Giok-cin mengangkat kepala memandang Pho Ang-soat dengan pandangan kaget.

"Aku bukan Co Giok-cin? Kenapa kau bilang aku bukan Co Giok-cin?"

Pho Ang-soat tidak menjawab pertanyaannya, malah bertanya tentang persoalan yang tidak pantas dia ketahui.

"Sudah berapa bulan kau hamil?"

Co Giok-cin ragu-ragu, akhirnya menjawab.

"Tujuh bulan."

"Kau sudah hamil tujuh bulan, tapi ayahmu baru tahu hubungan gelapmu ini, memangnya dia buta?"

"Dia tidak buta, dia bukan ayah kandungku,"

Suaranya mengandung rasa benci dan penasaran.

"Aku sudah lama tahu akan hal ini, aku kenal Jiu Cui-jing juga dia yang mengatur, karena Jiu Cui-jing adalah tokoh besar dalam kalangan Kangouw, Cengcu dari Khong-jiok-san-ceng, seorang yang paling dikagumi oleh Lau-congpiauthau."

"Lau-congpiauthau?"

Yan Lam-hwi menimbrung.

"Lau Tinkok dari Tin-wan Piaukiok? Apakah ayahmu Piausu Tin-wan Piaukiok?"

"Semula memang betul,"

Sahut Co Giok-cin.

"Dan sekarang?"

Yan Lam-hwi mendesak.

"Dia terlalu banyak minum arak, Piaukiok mana pun pasti tidak mau mempunyai Piausu yang sering mabuk seperti dia."

"Jadi Lau Tin-kok telah memecatnya?"

Yan Lam-hwi bertanya. Co Giok-cin mengangguk, katanya.

"Lau-congpiauthau sih tidak melarang anak buahnya minum arak, tapi setelah minum arak seorang Piausu sejawatnya dianggap perampok yang mau membegal, sebelah tangannya dibacok buntung lagi, bukankah perbuatannya keterlaluan."

"Jadi hendak memperalat hubunganmu dengan Jiu Cui-jing, untuk memulihkan kedudukannya di Tin-wan Piaukiok?"

Tanya Yan Lam-hwi.

"Memang besar keinginannya sampai hampir gila, umpama aku ini putri kandungnya juga tidak segan-segan dia berbuat demikian."

"Sayang Jiu Cui-jing tidak sudi berbuat demikian, Lau Tinkok juga bukan manusia yang cupat pikiran, mementingkan hubungan tidak memikirkan kepentingan umum."

"Oleh karena itu walau setiap bulan Jiu Cui-jing menyokong seratus tahil perak untuk beli arak, dia masih belum puas, setiap kali mabuk, selalu berusaha menyiksa aku."

"Hingga pagi hari ini kau betul-betul tidak tahan lagi?"

"Aku ini seorang perempuan, namanya saja adalah putrinya, apa pun yang dia lakukan terhadapku, aku harus menerima dan menelan kegetiran ini, tapi pagi hari ini..."

"Pagi hari ini apa yang dilakukannya?"

"Dia hendak memukul anak dalam kandunganku supaya gugur, dia melarang aku melahirkan anak Jiu Cui-jing karena ... karena dia sudah mendengar berita buruk dari Khong-jioksan-ceng."

Yan Lam-hwi terkesiap, katanya dengan mata terbeliak.

"Peristiwa itu terjadi semalam, tidak mungkin dia bisa tahu secepat itu."

"Tapi kenyataan dia sudah tahu."

Masam muka Yan Lam-hwi, lebih pucat dari muka Pho Ang-soat.

Hanya sejenis orang yang bisa memperoleh berita dengan cepat, berita kilat.

Umpama semalam dia tidak ikut meluruk ke Khong-jiong-san-ceng, tidak menjadi algojo, pasti juga ikut penjaga atau kurir."

"Jika aku melihat orang sebanyak itu dibantai secara kejam, setelah pulang pasti juga ingin minum arak sampai mabuk,"

Demikian kata Yan Lam-hwi. Sejak tadi Pho Ang-soat diam saja, mendadak dia bertanya.

"Kau kenal Lau Tin-kok? Dia orang macam apa?"

"Usaha Tin-wan Piaukiok makin besar, cabangnya juga luas, untuk menjadi seorang Piausu Tin-wan Paukiok diperlukan ujian yang cukup berat."

"Dia pandai memilih orang."

"Pegawainya semua pilihan, jago-jago kelas satu,"

Sahut Yan Lam-hwi. Mengepal jari-jari Pho Ang-soat. Co Giok-cin berkata.

"Kungfu ayah angkatku tidak lemah, jikalau arak tidak membuatnya rusak, bukan mustahil suatu ketika dia bisa diangkat menjadi Congpiauthau."

Dingin perkataan Pho Ang-soat.

"Menjadi Congpiauthau sukar, membunuh orang mudah."

"Kau kira dia juga salah seorang pembunuhnya?"

Tanya Yan Lam-hwi.

"Kalau bukan pembunuh juga pembantu kejahatan."

"Kalau begitu, marilah kita mencarinya."

"Waktu naik kereta tadi sudah kuberi pesan, jalan yang kita tempuh sekarang juga menuju ke sana,"

Ujar Pho Ang-soat, lalu dipandangnya Co-Giok-cin.

"Karena itu aku harap apa yang kau katakan semuanya benar."

Co Giok-cin balas menatapnya, pembohong tidak akan berani balas menatap matanya, juga tidak akan memperlihatkan sikap yang wajar begini.

Yan Lam-hwi menatapnya, lalu menatap Pho Ang-soat, seperti ada pendapat yang ingin dia kemukakan.

Sebelum dia buka suara, seorang sudah berkata dengan keras.

"Sekarang jangan kita pulang ke rumah keluarga Co."

Ternyata Bing-gwat-sim sudah siuman, dia terlalu banyak mengeluarkan darah, badannya teramat lemah, kelihatannya dia harus mengerahkan sisa tenaganya untuk melontarkan perkataannya tadi.

Yan Lam-hwi meletakkan badannya supaya tidur lebih enak, lalu bertanya.

"Kenapa kita tidak boleh pulang ke rumah keluarga Co?"

Napas Bing-gwat-sim memburu, katanya.

"Karena di sana sekarang pasti sudah ada perangkap keji."

Besar hasratnya mengemukakan apa yang terkandung dalam hatinya, sehingga wajahnya yang pucat bersemu merah.

"Kongsun To tentu tidak berpeluk tangan, tentu dia juga menduga bahwa kita pasti akan pergi ke rumah Co Tang-lay, orang mereka banyak, semuanya jago-jago lihai, aku sendiri sudah terluka parah."

Yan Lam-hwi mencegahnya banyak bicara.

"Aku mengerti maksudmu, Pho Ang-soat juga pasti maklum."

"Kalian tidak mengerti,"

Kata Bing-gwat-sim ngotot.

"bukan demi diriku, aku juga tahu dengan kekuatan kalian berdua mungkin kuat menghadapi mereka, tapi bagaimana dengan nona Co? Kalian harus menghadapi pedang Nyo Bu-ki, gantolan Kongsun To, harus waspada pula pada pisau terbang Siau Si-bu, mana punya kesempatan untuk melindunginya?"

Pho Ang-soat tidak bersuara, juga tidak memberi reaksi. Bing-gwat-sim mengawasinya, katanya.

"Kali ini kau harus tunduk pada usulku, sekarang kau harus lekas menghentikan kereta ini dan putar balik."

"Tidak perlu,"

Pendek jawaban Pho Ang-soat.

"Dan ... kenapa tidak kau dengar usulku?"

Bing-gwat-sim amat menyesal. Wajah Pho Ang-soat tetap kaku, katanya tawar.

"Karena jalan raya ini bukan menuju ke rumah keluarga Co."

Bing-gwat-sim melengak, serunya.

"Bukan? Bagaimana bisa bukan?"

"Karena aku suruh dia membawa kereta ini keluar kota, mana berani dia menempuh jalan lain?"

Lega hati Bing-gwat-sim, katanya.

"Ternyata jalan pikiranmu sama dengan aku."

Dingin dan keras tegas suara Pho Ang-soat.

"Selamanya aku tidak pernah mempertaruhkan jiwa orang untuk menempuh bahaya."

"Tapi tadi kau......"

"Tadi aku bilang demikian hanya untuk mencoba dan menjajaki hati nona Co saja."

Sebelum dia bicara habis, kereta mendadak berhenti, sang kusir melongok ke belakang dan berkata dengan mengunjuk tawa berseri.

"Sekarang sudah berada di luar kota, kemana lagi Pho-tayhiap akan pergi?"

Dengan dingin Pho Ang-soat mengawasi wajah orang yang berseri itu, tiba-tiba dia bertanya.

"Bukankah yang kau latih kungfu dari Sian-thian-bu-kek-pay?"

Tawa si kusir mendadak kaku, sahutnya.

"Hakikatnya hamba tidak pernah latihan kungfu segala."

Pho Ang-soat tidak menghiraukan jawabannya, tanyanya pula.

"Tio Bu-kek, Tio Bu-liang bersaudara apakah ayah dan pamanmu? Atau gurumu?"

Si kusir menatapnya dengan terbelalak kaget, seperti mendadak melihat setan yang menakutkan.

Dia memang mahir sebagai kusir, sejak tadi duduk tenang memegang kendali, bukan saja tidak melakukan gerakan apa pun, dia pun tunduk pada perintah, sungguh dia tidak habis mengerti, makhluk aneh yang bermuka pucat ini, bagaimana bisa membongkar asal-usulnya.

Pho Ang-soat berkata.

"Kulit dagingmu mengkilap, poriporimu kelihatan lembut berhimpit, sehingga mirip sesuatu barang yang direndam dalam minyak, hanya seorang yang pernah meyakinkan Khikang tunggal dari Sian-thian-bu-kekpay saja baru memperlihatkan gejala-gejala kulit tangan yang berbeda."

Tajam benar pandangan makhluk aneh ini, akhirnya si kusir menghela napas, katanya tertawa getir.

"Cayhe Tio Ping, Tio Bu-kek adalah ayahku."

"Bukankah kau masih punya nama lain dan biasa dipanggil Jari telunjuk?"

Tanya Pho Ang-soat pula. Terpaksa Tio Ping mengangguk, dia insyaf di hadapan makhluk aneh ini hakikatnya dia tidak bisa berbohong lagi. Pho Ang-soat berkata.

"Menilai keluarga dan asal-usulmu, ternyata kau melakukan kejahatan yang memalukan, sepantasnya aku mewakili Sian-thian-bu-kek membersihkan nama baik perguruannya."

Berubah air muka Tio Ping, katanya tergagap.

"Tapi aku….."

Pho Ang-soat tidak memberi kesempatan dia bicara.

"Jika kau bukan putra tunggal Tio Bu-kek, sekarang kau sudah mampus di bawah kereta."

Dia duduk di dalam kereta, tidak bergerak.

Jari-jari yang paling lincah pada tangan setiap orang adalah jari telunjuk.

Seorang yang duduk di dalam kereta tidak bergerak, bagaimana mungkin bisa membunuh Tio Ping yang lincah seperti Jari telunjuk?

Akhirnya Tio Ping insyaf akan hal ini, maka tubuhnya sudah siap melambung.

Pho Ang-soat berkata.

"Hari ini aku tidak membunuhmu, aku hanya menuntut supaya kau tinggalkan jari tanganmu yang sering kau gunakan membunuh orang."

Mendadak Tio Ping tertawa lebar, katanya.

"Maaf saja, jari tanganku masih berguna, mana bisa kuberikan kepadamu."

Mendadak sinar golok berkelebat, darah pun muncrat.

Berbareng tubuh Tio Ping juga melambung pergi, mendadak dilihatnya sebuah tangan berlompatan darah melayang jatuh dari tengah udara.

Dia masih belum tahu bahwa kurungan tangan itu adalah tangannya sendiri, sambaran golok teramat cepat, dia masih belum merasakan sakit, dia malah sedang tertawa.

Bila tangan itu sudah jatuh di tanah, baru dia sadar bahwa tangannya sudah kurang satu.

Gelak tawa berubah jeritan, orangnya juga terbanting keras.

Sinar golok lenyap, golok sudah masuk ke sarung, Pho Ang-soat tetap duduk di dalam kereta, tidak tampak bergerak.

Pergelangan tangan yang buntung dimasukkan ke dalam lengan baju, dengan tangan yang masih utuh Tio Ping berpegang pada sisi kereta serta meronta berdiri, lalu menatapnya.

"Tidak lekas kau enyah,"

Desis Pho Ang-soat. Tio Ping mengertak gigi, katanya.

"Aku tidak akan pergi, aku ingin melihat golokmu."

"Golokku bukan untuk tontonan."

"Tanganku sudah buntung, berilah kesempatan padaku untuk melihat golokmu."

Lama Pho Ang-soat menatapnya, mendadak dia pun berkata.

"Baik, lihatlah."

Golok berkelebat, rambut bertebaran.

Itulah rambut Tio Ping.

Setelah dia melihat rambut itu berserakan di tanah, sinar golok pun telah lenyap.

Golok sudah kembali ke dalam sarung, dia tetap tidak melihat golok itu.

Saking ketakutan, kulit daging mukanya mendadak berkerut dan kedutan, dia menyurut mundur dengan sempoyongan, mulutnya memekik histeris.

"Kau bukan manusia, kau iblis laknat, yang kau pakai juga golok setan..."

Golok yang hitam, mata yang hitam pula.

Co Giok-cin juga sedang mengawasi golok itu, lama dia melamun, sorot matanya menampilkan ketakutan dan ngeri.

Golok hitam ini seolah-olah sudah bersenyawa dengan Pho Ang-soat, seperti salah satu anggota badannya saja.

Co Giok-cin coba bertanya.

"Pernahkah kau meletakkan golokmu ini?"

"Tidak."

"Bolehkah aku melihatnya?"

"Tidak boleh."

"Pernah kau perlihatkan kepada orang lain?"

Tanya Co Giok-cin.

"Apa betul itu golok iblis?"

Pho Ang-soat berkata.

"Iblisnya tidak di dalam golok, tapi di dalam hati, hanya orang yang hatinya ada iblis, maka dia tidak akan luput dari sambaran golokku ini."

Tiada orang bergerak, kereta itupun berhenti. Yan Lam-hwi menghela napas, katanya.

"Agaknya sekarang kita tiada tempat tujuan tertentu lagi."

"Ada saja,"

Sahut Pho Ang-soat.

"Kemana?"

"Kembali ke Khong-jiok-san-ceng."

Yan Lam-hwi tercengang, katanya.

"Kembali ke Khong-jioksan-ceng? Masih ada apa di sana?"

"Masih ada kamar rahasia di bawah tanah."

Yan Lam-hwi segera maklum, katanya.

"Maksudmu Binggwat-sim harus bersembunyi di sana untuk menyembuhkan luka-lukanya?"

"Tiada orang menyangka dia berada di sana, di sana hanya ada jalan buntu, tempat yang mematikan."

"Ya, tempat yang mematikan untuk bertahan hidup?"

"Begitulah."

"Kita tetap naik kereta ini?"

"Kereta kuda tidak akan membocorkan rahasia, juga tidak akan menjual jiwa kita."

"Benar, hanya manusia menjual manusia, maka kau mengusir Tio Ping. Sekarang siapa yang akan pegang kendali?"

"Engkau."

Dinding kamar bawah tanah itu meski berlubang oleh ledakan dahsyat itu, tempat lain masih tetap kokoh dan kuat, masih rapi dan tiada perubahan.

"Sekarang jalan keluar masuk satu-satunya kamar rahasia hanyalah lubang ini."

"Ya, hanya boleh keluar, tidak boleh masuk."

"Lho, kenapa?"

Tanya Lam-hwi.

"Karena Bing-gwat-sim masih punya Khong-jiok-ling."

"Khong-jiok-ling miliknya masih berguna?"

"Siapa bilang tidak berguna."

"Asal dia memegang Khong-jiok-ling dan berjaga di sini, siapa pun takkan berani masuk."

"Ya, pasti tidak ada yang berani."

"Bagaimanapun aku tetap mengharap tiada orang lain kemari."

Co Giok-cin tidak tahan, dia bertanya.

"Apakah kalian hendak meninggalkan dia di sini seorang diri?"

"Tidak,"

Sahut Pho Ang-soat pendek.

"Siapa yang akan menemani dia?"

"Kau."

"Dan Kalian? Kalian mau pergi kemana?"

"Pergi membunuh orang,"

Desis Pho Ang-soat.

"Membunuh orang-orang yang membunuh orang itu?"

Tanya Co Giok-cin.

"Kongsun To pasti akan menuntut balas, aku pun tidak akan membiarkan dia hidup."

Co Giok-cin mengawasi golok di tangannya, katanya.

"Orang yang membunuh orang bukankah di dalam hatinya juga dirangsang iblis?"

"Benar."

"Apakah dia pasti tidak akan mampu terhindar dari sambaran golokmu?"

"Pasti tidak."

Mendadak Co Giok-cin berlutut, air matanya bercucuran.

"Aku mohon kepadamu, bawalah jantung hatinya kembali, aku ingin bersembahyang kepada arwah ayah anak yang berada dalam kandunganku."

Pho Ang-soat menatapnya, katanya mendadak.

"Aku bisa melaksanakan hal itu, kau sebaliknya tidak pantas berkata demikian."

"Kenapa?"

"Karena omongan itupun mengandung hawa membunuh."

"Kau kuatir orok dalam kandunganku ketularan hawa membunuh itu?"

Pho Ang-soat mengangguk, katanya.

"Bocah yang punya hawa membunuh, setelah dewasa pasti gemar membunuh orang."

Gemeratak gigi Co Giok-cin, katanya pula.

"Kuharap dia bisa membunuh orang, membunuh kan lebih baik daripada dibunuh."

"Kau lupa satu hal."

"Katakan!"

"Orang yang membunuh orang, cepat atau lambat akhirnya juga dibunuh orang."

OoooOOoooo Kamar batu di bawah tanah itu bukan saja gelap, juga lembab, meja kursi terbuat dari batu, keras dan dingin.

Bing-gwat-sim ternyata duduk dengan enak, karena sebelum pergi, kasur bantal di dalam kereta sudah dipindahkan ke dalam kamar baru ini.

Co Giok-cin juga kebagian tempat duduk yang empuk.

Setelah Pho Ang-soat pergi, tak tertahan dia menghela napas.

"Sungguh tak nyana dia adalah seorang yang teliti dan cermat."

Bing-gwat-sim berkata.

"Dia memang orang aneh, Yan Lam-hwi juga aneh, tapi mereka adalah manusia, manusia jantan, laki-laki sejati."

"Kelihatannya mereka amat baik terhadapmu,"

Tanya Co Giok-cin. Bing-gwat-sim tertawa dipaksakan, katanya.

"Aku juga baik terhadap mereka."

"Tapi akhirnya kau harus menentukan pilihanmu, seorang perempuan tak mungkin sekaligus menikah dengan dua lakilaki."

"Aku sudah memilih."

"Siapa yang kau pilih?"

"Aku memilih diriku sendiri,"

Tawar suara Bing-gwat-sim, seorang perempuan memang tidak boleh sekaligus kawin dengan dua pria, tapi kan boleh tidak kawin dengan keduanya."

Co Giok-cin segera tutup mulut, dia tahu Bing-gwat-sim tidak ingin membicarakan soal jodoh lagi.

Bing-gwat-sim mengelus Khong-jiok-ling di tangannya, jarijari tangannya dingin, lebih dingin dari bumbung emas itu, hatinya sedang dirundung gejolak perasaan.

Apakah karena percakapannya dengan Co Giok-cin barusan sehingga mengorek isi hatinya?

Agak lama kemudian mendadak Co Giok-cin bertanya.

"Apakah yang kau pegang itu benar-benar Khong-jiok-ling?"

"Bukan yang asli."

"Bolehkah aku melihatnya?"

"Tidak boleh."

"Kenapa?"

"Walau Khong-jiok-ling ini bukan yang asli, tapi dia juga alat untuk membunuh orang, tetap punya hawa untuk membunuh orang, aku tidak ingin orok dalam kandunganmu ketularan hawa membunuh."

Co Ciok-cin mengawasinya, mendadak tertawa, katanya.

"Kau kenapa aku tertawa?"

"Entahlah."

"Mendadak kusadari nadamu bicara amat mirip Pho Angsoat, maka...."

"Maka kenapa?"

"Jika kau harus menikah, kupikir kau pasti menikah dengan dia."

Bing-gwat-sim tertawa, katanya.

"Untung aku tidak pasti harus menikah."

"Tapi aku harus menikah."

"Kenapa?"

"Karena anak dalam kandunganku, aku aku tidak akan membiarkan dia lahir tanpa ayah."

"Siapa yang kau pilih untuk menjadi ayahnya?"

"Sudah tentu harus seorang lelaki sejati, seorang lelaki yang mampu melindungi kami."

"Lelaki seperti Pho Ang-soat begitu?"

Ternyata Co Giok-cin tidak menyangkal.

"Tahukah kau, dia itu tidak punya belas kasihan."

Co Giok-cin tertawa sendu, katanya.

"Punya atau tidak belas kasihan, memangnya siapa yang dapat membedakan?"

"Kita tetap naik kereta ini?"

"Ya."

"Siapa pegang kendali?"

"Engkau."

"Kenapa aku lagi?"

"Karena aku tidak bisa."

"Kenapa setiap patah katamu selalu membuatku melenggong?"

"Karena aku selalu bicara jujur."

Terpaksa Yan Lam-hwi naik ke atas kereta, mengayun cemeti, katanya.

"Coba saksikan ini, bukan tugas berat atau sukar. Siapa pun bisa, kenapa kau tidak belajar?"

"Kalau setiap orang bisa, setiap orang bisa pegang kendali keretaku, buat apa aku belajar."

Kembali Yan Lam-hwi melenggong.

"Ucapanmu memang selalu jujur, selalu masuk akal, aku jadi ingin suatu ketika berbohong ala kadarnya."

"Kenapa?"

"Karena omongan jujur kedengarannya tidak seenak dan senikmat omongan bualan."

Kereta itu bergerak maju, lama sekali menempuh perjalanan, Pho Ang-soat masih terus terpekur, mendadak dia bertanya.

"Kau kenal orang yang menemani Nyo Bu-ki bermain catur itu?"

Yan Lam-hwi manggut-manggut, katanya.

"Dia bernama Ku Ki (catur sewaan), salah seorang panglima besar Kongcu Gi."

"Konon pembantunya ada empat tokoh besar, yaitu yang dinamai dengan harpa, catur, menulis dan menggambarkan."

"Bukan empat, tapi lima orang tokoh besar, yaitu Gi Khim, Ku Ki, Ong Su, Go Hoat dan Siau Kiam."

"Kau pernah melihat kelima orang itu?"

"Pernah kulihat tiga, waktu itu Kongcu Gi belum menemukan Gi Khim dan Siau Kiam."

"Waktu itu kapan?"

Yan Lam-hwi tutup mulut.

"Bukankah di saat kau sering bertemu dengan Kongcu Gi?"

Yan Lam-hwi tetap tutup mulut.

"Kau tahu rahasianya, siapa-siapa jago kosen yang dikuasainya kau juga hapal, jadi sebelum ini kalian sering berhubungan?"

Yan Lam-hwi tidak menyangkal, memang tidak bisa menyangkal.

"Sebetulnya pernah apa di antara kalian?"

"Orang lain selalu bilang setiap patah katamu bagai emas, kenapa hari ini aku menjadi bosan mendengar ocehanmu."

"Karena kau tidak bisa berbohong, juga tidak berani bicara jujur."

"Sekarang yang ingin kubicarakan adalah kau, bukan aku."

"Yang ingin kubicarakan justru dirimu."

"Apakah kita tak bisa berbincang persoalan lain? Sampai sekarang aku masih belum tahu kemana tujuanmu?"

"Kau tahu, untuk membunuh manusia, sudah tentu harus mencarinya ke tempat dimana dia mengatur perangkapnya."

"Maksudmu ke rumah Co Tang-lay?"

"Dahulu memang."

"Sekarang bukan?"

"Orang yang sudah mati takkan punya rumah."

"Jadi Co Tang-lay sekarang sudah mati?"

"Oleh karena itu tempat itu hanyalah sebuah perangkap belaka."

"Aku jadi mengharap semoga orang-orang buruan itu sekarang masih berada di sana."

"Pantasnya mereka belum pergi, untuk menjadi seorang pemburu, pelajaran pertama yang harus dihapalkan adalah bersabar."

Co Tang-lay memang sudah mati, mayatnya sudah kaku, sudah dingin.

Ini bukan kejadian di luar dugaan, bila membunuh untuk mencari sesuap nasi, pelajaran pertama yang harus diresapi adalah menutup mulutnya.

Bila kau pernah sekali ikut aksi mereka, sembarang waktu kemungkinan mulutmu bakal ditutup oleh mereka.

Dalam anggapan mereka, jiwa seseorang tidak lebih berharga dari seekor anjing liar.

Begitulah keadaan Co Tanglay sekarang, keadaannya lebih mengenaskan dari kematian seekor anjing liar di bawah pohon.

Pho Ang-soat mengawasi dari kejauhan, sorot matanya diliputi rasa duka dan kasihan.

Nyawa memang berharga, kenapa manusia justru banyak yang tidak bisa menghargai nyawa?

Dia merasa simpati kepada orang yang menjadi korban ini, mungkin karena dahulu dia pun hampir musnah karena "arak".

Arak itu tidak jelek, persoalannya terletak pada awakmu sendiri, jika kau suka tenggelam dalam air kata-kata yang berlimpah, tak bisa membangkitkan semangat juang sendiri, maka tiada manusia di dunia ini yang bisa menolongmu.

Kesan sanubari Yan Lam-hwi mungkin tidak sedalam dia, dia masih muda, hatinya masih diliputi cita-cita, angan-angan muluk.

Maka dia ingin bertanya.

"Perangkapnya di sini, mana pemburunya?"

Pho Ang-soat masih diam. Dari pojok rumah mendadak terdengar sebuah bentakan.

"Lihat pisau!"

Selarik sinar pisau laksana sambaran kilat meluncur lurus ke punggungnya. Pho Ang-soat tidak berkelit, tidak bergerak. Yang bergerak hanya goloknya.

"Ting" , kembang api pun berpijar, selarik sinar pisau melambung tinggi ke angkasa, kelihatannya seperti menembus tiga lapis mega dan lenyap ditelan angkasa. Golok Pho Ang-soat kembali ke sarungnya. Yan Lam-hwi menghela napas lega, katanya.

"Gelagatnya paling sedikit masih kurang seorang."

"Aku sudah tahu, dia telah belajar bersabar."

Setelah berlangsung percakapan ini, maka tampak sinar golok melayang jatuh, waktu jatuh, sinar yang semula satu berubah menjadi dua, seperti batu meteor jatuh di tanah.

Itulah sebilah pisau, pisau terbang.

Mata pisau beradu dengan mata golok, kekuatan benturan yang keras menyebabkan pisau kecil itu mencelat ke udara mencapai puluhan tombak.

Pisau terbang sepanjang empat dim sekarang telah putus menjadi dua keping.

Siapa dapat membayangkan atau mengukur betapa dahsyat kekuatan dan kecepatan luncuran pisau terbang itu?

Tapi Pho Ang-soat mengayun golok ke belakang, pisau terbang itu telah dipukulnya mencelat dan jatuh.

Pisau terbuat baja yang tajam luar biasa ternyata telah ditabasnya putus menjadi dua.

Di belakang rumah seorang menghela napas, katanya.

"Memang ilmu golok yang tiada keduanya di dunia, kau memang tidak membual."

Perlahan Pho Ang-soat membalik badan, katanya.

"Kenapa kau belum pergi?"

Begitu dia membalik, lantas melihat Siau Si-bu, Siau Si-bu beranjak keluar dengan tangan kosong, katanya dingin.

"Di antara empat 'tanpa' Siau-kongcu, tiada 'tanpa tahu malu', umpama aku harus pergi juga aku akan pergi secara terangterangan."

Tangannya sudah tidak memegang pisau, bagai gadis belia yang mendadak bertelanjang bulat, sehingga tangannya kerepotan bergerak naik turun entah harus diletakkan dimana.

Akan tetapi dia tidak lari.

Pho Ang-soat menatapnya, katanya.

"Kau hanya punya sebatang pisau?"

"Hari ini yang kuhadapi adalah kau, maka aku hanya membawa sebatang pisau."

"Kenapa?"

"Karena aku tahu pisau pertama juga pisau terakhir, maka serangan pisauku tadi harus menggunakan seluruh kemampuan, setakar tenagaku."

"Terlebih dulu kau menempatkan dirimu pada posisi yang mematikan, sehingga waktu turun tangan tidak menghiraukan segala akibatnya?"

"Ya, demikian,"

Kata Siau Si-bu.

"apalagi serangan pisauku itu pasti dan harus mengenai sasaran, jika sekali tidak kena, diulang seribu kali juga tidak berguna."

Pho Ang-soat menatapnya, mendadak dia mengulap tangan, katanya.

"Ucapanmu memang bagus, baiklah, kau boleh pergi."

"Kau membebaskan aku?"

Tanya Siau Si-bu.

"Kali ini aku tidak akan membunuhmu, karena kau mengucapkan dua patah kata."

"Dua patah kata apa?"

"Lihat pisau."

Sebelum pisau terbang disambitkan, bersuara memberi peringatan jelas ini bukan sepak terjang menusia rendah, manusia hina dina.

"Golokku hanya membunuh manusia yang hatinya disetir iblis, pisaumu juga ada setannya, tapi hatimu bersih."

Tangan Siau Si-bu mendadak saling genggam, sorot matanya mendadak menampilkan rona aneh, agak lama kemudian baru dia berkata perlahan.

"Jika aku tidak mengatakan kedua patah kata tadi, apakah kau mampu mematahkan pisau terbangku tadi?"

"Kau menyesal?"

"Bukan menyesal, tapi hanya ingin tahu duduk perkara sebenarnya saja."

Pho Ang-soat menatapnya pula, pandangannya penuh selidik, katanya dingin.

"Kalau kau tidak mengucap kedua patah kata tadi, sekarang kau sudah mati."

Sepatah kata tidak bicara lagi, Siau Si-bu segera putar badan beranjak pergi, bukan saja langkahnya cepat, dia pun tidak menoleh. Di pojok belakang rumah seorang menghela napas, katanya.

"Umpama dia tidak menyesal, kau justru yang akan menyesal."

Seorang berjalan keluar dengan langkah perlahan, berbaju hijau berkaos kaki putih, siapa lagi kalau bukan Ku Ki.

"Aku harus menyesal? Apa yang harus kusesalkan?"

Ku Ki berkata.

"Menyesal karena kau tidak membunuhnya."

Jari-jari Pho Ang-soat menggenggam kencang. Dua kesempatan dia dapat membunuh pemuda angkuh itu, tapi dua kesempatan baik itu dia abaikan begitu saja. Ku Ki berkata.

"Kesempatan baik diabaikan, selamanya tidak akan terulang lagi, jika ingin membunuh orang, sebaiknya tidak tanpa pantangan."

Setelah tertawa dia menambahkan.

"Kali ini kau tidak membunuhnya, lain kali mungkin kau yang akan mati di tangannya."

Pho Ang-soat mengawasinya, katanya tertawa dingin.

"Dan kau? Pantas tidak sekali ini aku membunuhmu?"

"Itu harus dinilai. Aku akan melihat apakah kau akan menggasak bagian tanganku atau ingin mencaplok naga di pojok kananku? Kunilai pula kau pegang biji putih atau biji hitam?"

Pho Ang-soat tidak paham, dia tidak pernah main catur.

Hanya orang yang suka iseng saja yang suka main catur, bila iseng Pho Ang-soat selalu mencabut golok.

Maka Ku Ki terpaksa tertawa sendiri, katanya.

"Maksudku, kau tidak akan bisa membunuhku, kau hanya bisa membunuh caturku, karena aku hanya pandai main catur, apalagi permainan inipun sudah kalian mainkan sebelumnya, hakikatnya kau tidak mampu mencaplok biji-biji caturku."

Dengan tersenyum dia menjura hormat, lalu berjalan lenggang-kangkung lewat di samping Pho Ang-soat.

Dia tahu Pho Ang-soat tidak akan membunuhnya, karena sedikit pun dia tidak bersiaga, siapa pun bisa membunuhnya, tapi Pho Ang-soat tidak termasuk "siapa pun", Pho Ang-soat tetap Pho Ang-soat.

Yan Lam-hwi mengawasi dia berlalu, mendadak dia tertawa, katanya.

"Agaknya langkahmu kali ini tidak meleset."

"Tapi hari ini beruntun aku dikalahkan tiga babak,"

Ujar Ku Ki.

"Dikalahkan Nyo Bu-ki?"

Tanya Yan Lam-hwi.

"Hanya dia yang dapat mengalahkan aku."

"Kenapa?"

"Karena main catur dia pun mirip membunuh manusia, tanpa pantangan, aku sebaliknya punya ganjalan hati, ada sesuatu yang kukuatirkan."

"Apa yang kau kuatirkan?"

"Aku kuatir kalah."

Hanya orang yang takut kalah saja setiap main catur akan selalu kalah dengan penasaran, makin kuatir kalah makin sering kalah, semakin kalah semakin takut main.

Hanya orang yang hatinya diliputi ketakutan baru akan membunuh orang yang tidak pantas dibunuh, takut terhadap keadilan, takut terhadap kebenaran.

ooooOOoooo Malam telah larut.

Malam selalu datang tanpa terasa, tabir malam tahu-tahu telah menyelimuti jagat raya.

Ku-ki beranjak keluar pintu, mendadak dia menoleh, katanya.

"Kuanjurkan kalian tidak usah lama-lama di sini."

"Di sini sudah tiada orang?"

Tanya Yan Lam-hwi.

"Yang hidup sudah tiada, yang mati ditinggalkan."

"Kongsun To dan lain-lain tidak berada di sini?"

"Bahwasanya mereka tidak pernah kemari, karena mereka tergesa-gesa hendak pergi ke suatu tempat."

"Kemana?"

"Darimana tadi kalian datang, ke sanalah mereka pergi."

Yan Lam-hwi masih ingin bertanya, dia sudah keluar pintu, Yan Lam-hwi mengejar keluar pintu, bayangannya sudah tidak kelihatan. Terdengar suaranya berkumandang di kejauhan.

"Konon di kala Merak mati, Bing-gwat-sim juga akan mengiringinya tenggelam, tenggelam ke dalam bumi, tenggelam ke lautan ..."

OoooOOoooo Bab 11.

Dimana-Mana Terang Bulan Larut malam, jagat raya gelap gulita.

Malam ini tiada rembulan (Bing-gwat), apakah Bing-gwat telah mati malam ini?

Yan Lam-hwi membedal kudanya, Pho Ang-soat justru duduk diam di sampingnya.

Kereta yang bagus, kabin kereta yang berat.

"Kenapa kita harus naik kereta."

"Karena kita punya kereta."

"Kudanya sudah letih, kuda yang sudah lelah tak kuat ditunggangi dua orang, tapi masih kuat menarik kereta."

"Karena kereta pakai roda?"

"Betul."

"Kita juga punya kaki, kenapa tidak lari?"

"Karena kita juga sudah lelah, tenaga kita harus dipertahankan."

"Dipertahankan untuk membunuh orang?"

"Asal ada orang yang patut dibunuh, tidak asal bunuh orang."

Merak memang sudah mati.

Khong-jiok-san-ceng bukan lagi Khong-jiok-san-ceng yang dulu.

Malam kelam masih dihiasi beberapa kerlipan bintang yang jarang-jarang, sinar bintang itulah yang menyinari puingpuing itu, kelihatannya sunyi dan seram.

Kuda yang dilarikan kencang sejauh ratusan li akhirnya roboh.

Kamar batu di bawah tanah itu sudah kosong, tidak dihuni seorang pun, kosong melompong, barang-barang yang bisa bergerak di sini seluruhnya telah diangkut.

Cahaya api tanpa bergerak, karena tangan Yan Lam-hwi yang memegang obor gemetar.

Konon di waktu Merak mati.

Bing-gwat-sim pun akan mengiringnya tenggelam.

Yan Lam-hwi mengertak gigi, katanya.

"Bagaimana mereka bisa tahu? Darimana tahu kalau orangnya ada di sini?"

Tangan Pho Ang-soat yang memegang golok tidak gemetar, kulit mukanya justru kedutan, wajah yang pucat merah membara, merah yang aneh, merah menakutkan.

"Waktu kita kemari, di belakang pasti tidak ada yang menguntit, siapakah..."

"Keluar,"

Mendadak Pho Ang-soat meraung.

"Kau suruh aku keluar,"

Yan Lam-hwi terbeliak.

Pho Ang-soat tidak bicara lagi, ujung mulutnya sudah berkerut-merut.

Yan Lam-hwi mengawasinya dengan kaget, mundur selangkah demi selangkah.

Pho Ang-soat sudah terkapar, begitu roboh sekujur badannya lantas mengejang dan menggelepar seperti dihajar cambuk yang tidak kelihatan, menghajar dan menghajar terus, karena kesakitan, tubuhnya itu sudah meringkel dan meronta seperti cacing kepanasan, seperti udang kering, tenggorokannya mengeluarkan gerangan rendah seperti binatang buas yang sekarat sebelum ajal.

"Aku salah, akulah yang salah…"

Sebelah tangannya mencengkeram dan mencakar tanah, bagai seorang yang hampir mati tenggelam berusaha menangkap sebatang kayu terapung yang hakikatnya tidak ada.

Tanah itu dilapisi batu, kukunya pecah, tangannya sudah mulai mengeluarkan darah.

Tangannya yang satu lagi tetap memegang kencang goloknya, golok masih tetap golok, golok tidak kenal balas kasihan, maka golok itu abadi.

Yan Lam-hwi tahu dia pasti pantang keadaannya yang menderita dan penyakit anehnya ini diketahui orang lain.

Tapi Yan Lam-hwi tidak keluar, karena dia tahu, walau golok masih tetap golok, namun Pho Ang-soat dalam keadaan seperti ini bukan lagi Pho Ang-soat biasanya.

Sekarang siapa pun yang masuk kemari, sekali bacok dengan mudah dapat membunuhnya.

Kenapa yang Maha Kuasa harus menyiksanya sedemikian rupa?

Kenapa manusia seperti dia harus mengidap penyakit seaneh ini?

Sekuat Yan Lam-hwi menekan emosinya supaya air mata tidak meleleh.

Obor sudah padam, karena dia tidak tega menyaksikan keadaannya.

Tangannya sudah menggenggam pedang di bawah bajunya.

Lubang di atas dinding itu kelihatannya seperti mata tunggal binatang buas yang jahat di kegelapan seperti dalam dongeng.

Dia bersumpah, sekarang siapa pun yang berani menerjang masuk dari lubang itu, maka dia harus mampus di bawah pedangnya, dia yakin dapat melakukan hal ini.

Tiada orang masuk dari lubang itu, namun di tengah kegelapan mendadak terbit sinar api.

Darimana datangnya sinar api?

Yan Lam-hwi mendadak menoleh, bara sekarang dilihatnya pintu besi yang terkunci tiga belas itu entah sejak kapan tanpa mengeluarkan suara telah merenggang.

Sinar api menyorot masuk dari luar pintu, perlahan pintu terbuka lebar, maka muncullah lima orang.

Dua orang mengangkat dua obor berdiri di luar pintu, tiga orang yang lain beranjak masuk dengan langkah lebar.

Orang pertama pergelangan kanannya dibalut kain putih, dengan kain sutra menggantungnya di depan dada, tangan kiri memegang terbalik sebatang Hou-sing-kiam, sorot matanya memancarkan dendam dan kebencian.

Seorang di sebelahnya mengenakan jubah Tosu dan bertopi keagamaan, langkahnya mantap dan tegap, jelas hatinya dilembari keyakinan.

Orang terakhir mukanya dihiasi codet bekas bacokan, ujung mulutnya mengulum senyum, namun kelihatannya culas dan kejam.

Serasa tenggelam hati Yan Lam-hwi, rasa getir dan pahit bergolak dalam perutnya seperti hendak muntah.

Seharusnya dia ingat orang lain tidak mungkin bisa membuka tiga belas kunci di pintu besi itu, namun Kongsun To pasti bisa, jadi lubang di atas dinding itu bukan lagi jalan keluar masuk satu-satunya di kamar batu ini.

Mereka tidak memikirkan hal ini, mereka terlalu terburu-buru oleh keyakinan sehingga melalaikan titik kelemahan ini, melakukan kesalahan yang amat fatal.

Mendadak Kongsun To mengulur sebelah tangannya, pelan-pelan membuka telapak tangannya, maka tampak Khong-jiok-ling yang mengkilap kuning itu di telapak tangannya.

Khong-jiok-ling terjatuh di tangannya, bagaimana dengan Bing-gwat-sim?

Sekuatnya Yan Lam-hwi menahan diri supaya tidak muntah.

Kongsun To tersenyum, katanya.

"Tidak pantas kalian suruh dia memegang Am-gi ini menghadap ke lubang di atas dinding, kami manusia bukan tikus, bukan saja tidak bisa membuat lubang, juga tidak akan menerobos dari lubang."

Tawanya amat riang, lalu melanjutkan.

"Jika dia tumplekkan seluruh perhatiannya menghadap ke lubang, mungkin tidak mudah bagi kami untuk masuk kemari."

Tak tahan Yan Lam-hwi menghela napas, katanya menyesal.

"Aku yang salah."

"Kau memang salah, seharusnya kau sudah membunuhku,"

Jengek Kongsun To. Nyo Bu-ki berkata tawar.

"Karena itu selanjutnya kau harus selalu ingat nasehatku. Jika ingin membunuh orang harus tanpa pantangan."

"Kenapa kau memberi nasehat kepadanya malah, kalau dia punya kesempatan lagi, bukankah aku bakal mampus."

"Apa mungkin dia memperoleh kesempatan kedua?"

Sinis suara Nyo Bu-ki.

"Tidak, pasti tidak."

Nyo Bu-Ki menggeleng kepala, katanya.

"Sekarang orang yang bisa dia bunuh hanyalah dirinya sendiri, tapi dia juga masih bisa membunuh Pho Ang-soat."

Kongsun To berkata.

"Pho Ang-soat bagian Tio Ping, dia bergerak saja tidak bisa."

Yan Lam-hwi mengawasi mereka, terasa suara mereka seperti berkumandang di tempat yang jauh.

Seharusnya dia memusatkan seluruh perhatian dan tenaga untuk menghadapi mereka.

Dia harus tahu detik-detik kritis yang menentukan mati hidup ini, musuh jelas tidak akan memberi kelonggaran dan mengampuni jiwanya, dia sendiri juga tidak boleh mundur, tidak boleh menyerah.

Umpama ada kesempatan mundur, dia pasti tidak akan mau mundur.

Mendadak dia justru merasa amat lelah, apakah lantaran dia sendiri insyaf bahwa kemampuannya sendiri jelas bukan tandingan kedua lawan tangguh ini?

Bing-gwat-sim sudah tenggelam, malaikat golok yang tidak pernah kalah kini juga sudah roboh, rebah dalam keadaan sekarat, adakah harapan yang dapat diraihnya?

Kongsun To sedang bertanya pada Tio Ping.

"Siapakah yang memotong tanganmu?"

"Pho Ang-soat,"

Desis Tio Ping penuh dendam.

"Ingin tidak kau menuntut balas?"

"Ingin sekali."

"Dengan cara apa kau ingin menghadapinya?"

"Aku punya caraku sendiri?"

"Kenapa sekarang tidak lekas kau turun tangan? Memangnya kau tidak tahu bahwa sekarang adalah kesempatan paling baik?"

Desak Kongsun To. Nyo Bu-Ki berkata.

"Kesempatan hanya datang sekali dan tidak akan terulang selamanya, bila Pho Ang-soat sudah siuman dan sadar berarti kau sudah terlambat bertindak."

"Sekarang kau tidak perlu kuatir terhadap Yan Lam-hwi,"

Kongsun To menghasut.

"Kenapa?"

Tio Ping percaya.

"Karena bila dia berani bergerak, Pho Ang-soat akan segera berubah jadi merak,"

Ujar Kongsun To.

"Jadi merak?"

"Bulu merak sebumbung penuh ini peduli menancap di badan siapa saja, maka orang itu akan segera menjadi merak, merak yang mati tentunya."

Tio Ping tertawa, ujarnya.

"Tapi aku tidak ingin dia lekas mati."

"Ya, aku pun demikian."

Mendadak Tio Ping meletakkan Hou-sing-kiam di tangannya terus menerjang maju, sekali jambak dia renggut rambut Pho Ang-soat, dengan lutut terangkat dia hajar jidat orang, menyusul telapak tangannya terayun membacok tengkuknya, begitu kepala Pho Ang-soat terkulai, kaki Tio Ping pun menendang Pho Ang-soat, bentaknya bengis.

"Buka matamu dan lihat siapa aku."

Otot hijau di atas jidat Pho Ang-soat tampak merongkol, bukan saja dia tidak bisa melawan, napasnya pun megapmegap. Tio Ping menyeringai dingin.

"Kau memotong tanganku, dengan tanganku ini akan kucekik putus lehermu."

Otot hijau di jidat Yan Lam-hwi juga merongkol, keadaannya juga hampir susah bernapas. Kongsun To menyeringai sadis katanya.

"Kenapa tidak kau tolong temanmu? Apakah kau ingin berdiri saja menonton kematiannya?"

Yan Lam-hwi tidak bergerak.

Yan Lam-hwi tahu kalau dia bergerak, Pho Ang-soat akan lebih cepat mati.

Tapi dia tidak boleh tidak harus bertindak.

Dengan sebelah tangannya yang utuh Tio Ping sedang menghajar muka Pho Ang-soat pergi datang, agaknya tidak akan segera mencabut jiwanya, tapi penghinaan ini akan terasa lebih menyiksa daripada mati.

Yan Lam-hwi menggenggam pedang di balik bajunya, keringat mengucur di mukanya, mendadak dia berkata.

"Umpama kalian bisa membunuh dia, belum tentu mampu membunuhku."

"Apa kehendakmu?"

"Kalian harus membebaskan dia."

"Dan kau?"

"Biar aku yang mati."

"Bukan saja kami ingin kau pun mampus, dia pun tidak boleh hidup."

"Kalau mau membunuh orang, tanpa pantangan,"

Jengek Nyo Bu-ki. Lenyap seringai sadis Kongsun To, mendadak dia menghardik.

"Tio Ping, bunuh dia sekarang juga."

Tio Ping mengertak gigi, seluruh tenaga dia kerahkan ke sikunya.

Pada saat itulah mendadak sinar golok berkelebat.

Itulah golok Pho Ang-soat, golok yang tiada bandingan di kolong langit.

Mereka mengira adu otak kali ini mereka pasti menang, karena mereka melupakan satu hal.

Tangan Pho Ang-soat masih menggenggam kencang goloknya.

Pada saat yang hampir sama, Yan Lam-hwi juga mendadak menyayun tangan, cahaya pedang yang merah menyala langsung mengulung ke arah Kongsun To.

Pedang Nyo Bu-Ki juga sudah keluar dari sarung, cara dia mencabut pedang sangat mahir dan lincah, serangannya telak dan manjur, pedangnya menusuk sasaran mematikan di tubuh Yan Lam-hwi.

Umpama Yan Lam-hwi dapat membunuh Kongsun To dengan pedangnya, dia sendiri juga pasti mati di bawah pedang Nyo Bu-ki.

Terpaksa dia harus membalikkan pedang menyelamatkan jiwa sendiri.

Sigap sekali Kongsun To, setelah lolos dari tabir cahaya pedang yang lebat bagai hujan darah, dia melambung ke udara bersalto beberapa kali kemudian meluncur keluar pintu.

Pedang panjang Nyo Bu-ki dituntun keluar, badan bergerak mengikuti gerak pedang, dia pun ikut melesat keluar.

Sudah tentu Yan Lam-hwi tidak membiarkan musuh merat, baru saja dia bergerak hendak mengudak keluar, mendadak didengarnya sebuah jeritan disusul bentakan bengis.

"Sambut."

Sesosok bayangan orang menubruk terbang ke dalam, rambut awut-awutan, mukanya berlepotan darah, siapa lagi kalau bukan Co Giok-cin.

Walau pedang Yan Lam-hwi secepat kilat, pandangannya pun tajam, baru saja pedangnya menusuk, segera dia kendorkan tenaga menarik tangan.

Setengah menjerit Co Giok-cin sudah menubruk badannya.

"Biang", pintu besi tebal itupun tertutup rapat. Di luar segera terdengar suara "klik, klik, klik"

Beruntun, tiga belas kunci telah dikunci seluruhnya, kecuali Kongsun To, tiada orang di dunia ini yang mampu membuka pintu besi itu.

Yan Lam-hwi membanting kaki, tidak menghiraukan Co Giok-cin yang roboh di tanah, dia membalik tubuh terus menerobos ke lubang dinding.

"Jagalah nona Co, akan kupenggal kepala Kongsun To dan kuserahkan kepadamu,"

Katanya.

Kalau golok Pho Ang-soat sudah keluar sarung, apa pula yang perlu dia kuatirkan di sini.

Sekarang hanya satu tekadnya, membunuh orang, membunuh orang yang membunuh.

Darah masih menetes dari ujung golok.

Tio Ping terkapar di bawah goloknya, Co Giok-cin rebah di sampingnya, asal dia mengangkat kepala, akan melihat darah yang menetes di ujung goloknya.

Darah segar menetes di atas batu, muncrat menjadi ceceran yang menggiriskan.

Pho Ang-soat berdiri tidak bergerak, mengawasi darah menetes di ujung goloknya, kali ini golok ternyata tidak langsung kembali ke sarungnya.

Co Giok-cin meronta bangun dan duduk di sampingnya, matanya lengang mengawasi goloknya.

Sungguh sangat besar keinginannya untuk melihat dimanakah letak kemujizatan golok ini?

Waktu gokok ini membunuh orang, seolah sudah diberi tuah oleh para malaikat di langit, tapi juga seperti pernah dikutuk oleh para iblis di neraka.

Tapi dia kecewa, batang pedang yang panjang sempit sedikit melengkung, mata golok yang tajam dan mengkilap dengan jalur lekukan darah yang tidak begitu dalam, kecuali gagang goloknya yang hitam, bentuk dari golok ini kelihatannya tiada beda dengan golok umumnya.

Co Giok-Cin menghela napas, katanya.

"Bagaimanapun juga, akhirnya aku toh melihat golokmu. Apakah aku harus berterima kasih kepada orang yang mati di bawah golokmu ini?"

Perkataannya kelam dan perlahan, seperti sedang menggumam sendiri.

Dia hanya ingin supaya Pho Ang-soat maklum, apa yang ingin dia lakukan, pasti bisa dilaksanakan dengan baik.

Tapi setelah dia melontarkan kata-katanya, segera dia sadar bahwa dirinya telah berbuat salah, karena dia sudah melihat mata Pho Ang-soat.

Sebelum ini sepasang mata ini kelihatannya amat lelah, amat berduka, sekarang ternyata berubah lebih tajam dan dingin dari mata pisau.

Tanpa sadar Co Giok-cin menurut mundur, tanyanya dengan suara memelas.

"Ada yang salah dengan ucapankanku?"

Pho Ang-soat menatapnya, seperti harimau kumbang menatap mangsanya, setiap saat akan menerkamnya. Tapi setelah semua merah di mukanya sirna, dia hanya menghela napas, katanya.

"Kita salah semua, kesalahanku lebih menakutkan dari kau, kenapa aku harus menyalahkanmu?"

"Kau pun salah?"

Co Giok-cin memancing keterangan.

"Kau salah omong, aku salah membunuh orang."

Co Giok-cin mengawasi mayat di tanah.

"Kau tidak pantas membunuhnya? Bukankah dia hendak membunuhmu?"

"Kalau dia benar ingin membunuh, yang menggeletak jadi mayat sekarang adalah aku."

Kepalanya tertunduk, sorot matanya diliputi duka dan sesal.

"Dia tidak membunuhmu, apakah membalas budi kebaikanmu, karena tempo hari kau tidak membunuh dia?"

Pho Ang-soat menggeleng.

Jelas ini bukan jawaban, peduli tangan siapa pun bila kau potong, cara yang tepat untuk membalas budi kebaikan orang itu terhadapmu adalah memotong buntung tanganmu.

Mungkin ini hanya suatu perasaan terima kasih yang ganjil, terima kasih kepadamu lantaran kau telah membuatnya sadar dan meresapi sesuatu yang sebelum ini tidak atau belum pernah dia pikirkan, berterima kasih kepadamu karena telah mempertahankan gengsi, harga dirinya.

Pho Ang-soat dapat meresapi perasaan hatinya, namun tak kuasa dia utarakan, sering terjadi adanya ikatan batin yang aneh dan ruwet, namun siapa pun sukar menjelaskan dimana anehnya, bagaimana pula ruwetnya.

Darah di ujung golok sudah kering.

Mendadak Pho Ang-soat berkata.

"Inilah yang pertama, juga yang terakhir."

"Aku tahu,"

Ucap Co Giok-cin.

"Pertama kali ini kau salah membunuh orang, juga yang terakhir."

"Kau keliru lagi, orang yang sering membunuh orang, setiap saat mungkin saja salah membunuh."

"Jadi maksudmu ..."

"Inilah pertama kali kau melihat golokku, juga yang terakhir,"

Ucap Pho Ang-soat tegas. Golok akhirnya masuk ke sarung. Co Giok-cin memberanikan diri berkata dengan tertawa.

"Golok itu tidak bagus, tidak lebih hanyalah sebatang golok biasa saja."

Pho Ang-soat tidak ingin bicara lagi, baru saja membalik tubuh, mukanya yang pucat mendadak berkerut dan kedutan lagi.

"Bagaimana kau bisa melihat golokku?"

Co Gok-cin segera menjawab.

"Golokmu berada di depan mataku, aku toh tidak buta kenapa tidak bisa melihatnya?"

Jawaban yang masuk akal, tapi dia melupakan satu hal.

Kamar batu ini hakikatnya gelap gulita, tiada setitik sinar api pun, gelap pekat.

Sejak umur lima tahun Pho Ang-soat sudah mulai latihan golok, kamar gelap yang rapat, pengap dan panas, sinar dupa yang menyala berkelap-kelip, berhari-hari hingga bertahuntahun.

Dia giat berlatih sepuluh tahun baru bisa melihat semut yang merambat di kamar gelap, sekarang walaupun dia melihat jelas wajah Co Giok-cin, karena dia pernah latihan, maka dia pun tahu hal ini jelas bukan pekerjaan yang gampang.

Lalu bagaimana mungkin Co Giok-cin bisa melihat goloknya?

Tanpa terasa tangan Pho Ang-soat menggenggam kencang goloknya.

Mendadak Co Giok-cin tertawa, katanya.

"Mungkin belum pernah kau pikir, ada sementara orang sejak lahir sudah dibekali mata malam."

"Dan kau satu di antaranya?"

"Bukan saja mataku dapat melihat di tempat gelap, aku pun bisa menembus rongga dada orang melihat apa isi hatinya,"

Senyumannya berubah pudar.

"Sekarang dalam hatimu tentu sedang berpikir, aku ini bukan Co Giok-cin asli, sudah tentu kau tidak menganggap aku ini siluman, tapi kemungkinan adalah mata-mata Kongsun To, bukan mustahil pula seorang pembunuh perempuan yang lihai dan terkenal, kemungkinan besar pula Bing-gwat-sim telah aku jual, karena tiada orang tahu kami berdua bersembunyi di sini."

Pho Ang-soat diam saja, berarti sependapat. Co Giok-cin mengawasinya, matanya berkaca-kaca, katanya.

"Kenapa kau selalu tidak percaya kepadaku? Kenapa?"

Lama Pho Ang-soat berdiam diri, katanya.

"Mungkin kau tidak pantas sepandai ini."

"Kenapa tidak pantas? Lagi-lagi seperti Jiu Cui-jing, mana bisa mencari bini yang bodoh untuk melahirkan keturunannya?"

Terkatup mulut Pho Ang-soat. Sebaliknya Co Giok-cin tak berhenti bicara.

"Anak yang kulahirkan pasti juga pintar, oleh karena itu aku tidak ingin begitu dia lahir sudah tidak punya ayah, aku tidak bisa membuatnya merana dan menderita, penuh penyesalan seumur hidupnya kelak."

Muka Pho Ang-soat kedutan pula.

Dia maklum pula apa maksud perkataannya, karena sejak dilahirkan dia pun tidak pernah punya ayah.

Seorang bocah pandai yang tidak punya ayah itu sudah merupakan tragedi, setelah dia tumbuh dewasa pasti akan membuat orang lain melakukan banyak peristiwa tragis.

Karena dendam dan kebencian yang bersemayam dalam sanubarinya jauh lebih besar dari rasa kasih sayang.

Akhirnya Pho Ang menghela napas, katanya.

"Kau bisa mencari seorang ayah untuk anakmu."

"Aku sudah menemukan."

"Siapa?"

"Engkau."

Kamar batu itu makin gelap, di tempat gelap pekat ini jawaban itu kedengarannya berkumadang di tempat yang teramat jauh.

"Hanya kau yang setimpal menjadi ayah anakku, hanya kau mampu melindungi bocah ini hingga tumbuh dewasa, kecuali kau tiada orang lain lagi yang setimpal."

Pho Ang-soat berdiri kaku ditelan kegelapan, terasa setiap jengkal kulit dagingnya seperti mengeras kaku.

Ternyata Co Giok-cin melakukian tindakan yang amat mengejutkan sanubarinya pula, mendadak dia meraih Housing-kiam milik Tio Ping, katanya.

"Kalau kau menolak, lebih baik anak dalam kandunganku ini mati dalam perut."

"Sekarang?"

Pekik Pho Ang-soat tertahan.

"Ya, sekarang juga, karena aku sudah merasakan dia akan segera lahir,"

Walau dia berusaha menahan diri, namun wajahnya sudah kelihatan pucat dan berkerut-kerut menahan sakit.

Derita seorang perempuan di kala melahirkan, memang merupakan salah satu derita yang tidak mungkin ditahan dalam kehidupan manusia.

Pho Ang-soat lebih kaget, serunya.

"Tapi kau pernah bilang, kandunganmu baru tujuh bulan, kan belum genap."

Co Giok-cin tertawa getir dengan menahan napas, katanya.

"Anak biasanya memang nakal dan tidak mau mendengar nasehat, apalagi anak yang masih dalam kandungan, bila dia mau lahir, siapa pun takkan bisa mencegahnya."

Tawa getirnya berubah menjadi seringai kesakitan, namun diliputi rasa hangat dan kasih sayang ibunda yang sukar dilukiskan. Dengan suara perlahan dia menyambung.

"Mungkin karena dia ingin lekas melihat dunia atau mungkin juga aku diguncangkan oleh orang-orang itu, maka...."

Dia tidak kuat meneruskan ucapannya, rasa sakit yang bergelombang di perutnya membuatnya merinding dan menggelepar.

Tangannya masih memegang kencang Housing-kiam, seperti Pho Ang-soat waktu menggenggam goloknya tadi.

Agaknya dia sudah bertekad bulat.

Pho Ang-soat tergagap.

"Aku ... aku boleh menjadi ayah angkatnya."

Seolah-olah dia sudah mengerahkan seluruh tenaga dan keberaniannya melontarkan kata-kata itu, suaranya pun serak.

"Ayah angkat tidak bisa mewakili ayah, jelas tidak bisa?"

"Lalu apa kehendakmu?"

"Aku ingin supaya kau mempersunting aku jadi istrimu. Anakku baru resmi menjadi anakmu,"

Rasa sakit merangsang pula. Dengan mengertak gigi dia unjuk tawa dipaksakan.

"Jika kau tidak setuju, aku juga tidak akan menyalahkan kau, cuma aku mohon kau kubur mayat kami di pekuburan Khong-jioksian-ceng."

Apakah ini pesan terakhir?

Jika Pho Ang-soat menolak lamarannya, dia akan segera mati?

Pho Ang-soat tertegun, dia sering berhadapan dengan musuh yang paling menakutkan, menghadapi bahaya besar yang hampir merenggut nyawanya, tapi belum pernah dia mengalami kesulitan seperti sekarang.

Kematian Jiu Cui-jing boleh dikata lantaran dirinya, Co Giok-cin boleh dianggap sebagai istri Jiu Cui-jing.

Tapi dilihat dari sudut lain, bahwa kematian Jiu Cui-jing juga lantaran dirinya hingga Khong-jiok-san-ceng yang sudah berdiri selama hampir empat ratus tahun hancur-lebur dalam sekejap, kini Jiu Cui-jing hanya meninggalkan satu keturunan, apa pun pengorbanannya adalah pantas kalau dia melindungi Co Giokcin, biarlah dia melahirkan secara wajar dan lancar, melindunginya hingga bocah tumbuh dewasa.

Mungkinkah dia menolaknya?

Gelombang sakit semakin sering dan pendek, rasa sakit itu juga makin parah, mata tajam Hou-sing-kiam sudah mengiris robek baju luarnya.

Akhirnya Pho Ang-soat mengambil keputusan yang menyiksa hatinya.

"Baiklah, aku terima."

"Kau bersedia manjadi suamiku."

"Ya, aku mau menjadi suamimu."

Apakah tetap keputusannya?

Tiada orang dapat memastikan, dia sendiri pun tidak bisa, namun dalam keadaan seperti itu dia sudah tidak punya pilihan lain.

Dengus napas, rintihan dan jerit kesakitan ...

mendadak seluruhnya berhenti, menjadi hening lelap seperti tiada kehidupan.

Selanjutnya meledaklah tangisan nyaring dan merdu dari jabang bayi yang memecah kesunyian, membawa kehidapan baru di jagat raya ini.

Tangan Pho Ang-soat berlepotan darah, namun darah kehidupan.

Kali ini dia membawa dengan tangannya, membawa kehidupan, bukan kematian, kehidupan yang menyala.

Mengawasi tangan sendiri, terasa hatinya pun melonjaklonjak menyambut kehidupan baru yang baru tumbuh.

Mayat Tio Ping masih di pinggir, dia mati di bawah golok Pho Ang-soat, hanya dalam sekejap dia sudah merenggut jiwa orang.

Tapi sekarang tumbuh pula jiwa baru, jiwa segar yang lebih bergairah.

Derita dan duka-lara seketika sirna setelah pecahnya tangis jabang bayi.

Bau darah yang penuh dosa tadi, sekarang sudah tercuci oleh darah kehidupan yang baru.

Dalam jangka yang pendek ini, dia mengantar jiwa seorang mangkat, namun lekas sekali menyambut pula datangnya nyawa baru di dunia ini.

Pengalaman serba aneh ini membawa reaksi yang keras dan segar dalam sanubarinya sehingga jiwanya sendiri juga jelas menampakkan perubahan, berubah lebih semangat, hidup dan bergairah.

Karena dia sudah mengalami suatu pencurian darah seumpama seekor merak yang sudah mengalami pencurian api dan memporeleh kehidupannya yang baru untuk kedua kalinya.

Walau pengalaman ini cukup menyiksa, namun merupakan proses pertumbuhan jiwa dan nyawa, merupakan syarat yang paling mahal, tak ternilai dan tidak boleh kurang.

Karena itulah kehidupan manusia.

Patah tumbuh hilang berganti, yang tua mati yang muda tumbuh, begitulah kehidupan.

Sampai detik ini baru Pho Angsoat terhitung paham, baru mengerti akan pengalamannya yang baru ini, meresapi betul-betul.

Mendengarkan tangis nyaring serta jiwa kecil yang meronta di tangannya, mendadak dia merasakan ketenangan jiwa dan rasa gembira yang selama ini belum pernah dia rasakan.

Akhirnya dia sadar bahwa keputusannya memang benar, tiada persoalan apa pun di dunia ini yang lebih penting dari lahirnya jiwa.

Makna kehidupan seseorang, bukankah merupakan penyambung kehidupan jiwa di mayapada ini?

Dengan suaranya yang lemah Co Giok-cin bertanya.

"Lelaki atau perempuan?"

"Lelaki juga perempuan,"

Sahut Pho Ang-soat, suaranya terdengar gembira, nadanya aneh.

"Kuhaturkan selamat kepadamu, kau melahirkan sepasang bayi dampit."

Co Giok-cin menghela napas puas dan lega, wajahnya yang lelah kelihatan rona bahagia, katanya dengan tersenyum.

"Aku pun harus memberi selamat kepadamu, jangan lupa kau adalah ayah mereka."

Ingin dia mengulur tangan membopong putra-putrinya, namun kondisinya masih terlalu lemah, tangan pun tak mampu diangkatnya.

Pada saat itulah terdengar suara gemuruh disertai getaran dahsyat seperti gunung ambruk, batu sebesar gajah berdentam memukul lantai kamar batu ini, pecahan batu laksana anak panah muncrat kemana-mana dari lubang dinding, satu-satunya jalan untuk keluar ternyata sudah tersumbat rapat dari luar.

Hampir tidak tahan Pho Ang-soat akan meraung keras.

Bayi baru lahir, jiwanya yang baru sedang tumbuh, apakah mereka harus ikut menyambut datangnya kematian.

ooooOOoooo Bab 12.

Antara Mati-Hidup Gelap pekat, sunyi senyap, tiada sinar tiada suara, semua ini tiada menakutkan, yang betul-betul amat menakutkan adalah tiada harapan.

Mereka suah terjeblos ke dalam jurang kematian.

Kedua bayi itu tidak menangis lagi, mereka sedang minum susu, hanya di saat mereka menetek, terasa betapa besar gairah hidupnya.

Akan tetapi berapa lama hidup mereka bisa bertahan?

Pho Ang-soat menggenggam kencang goloknya pula, namun menghadapi jurang kematian yang penuh jebakan ini, goloknya itu takkan mampu berbuat apa-apa, dalam keadaan seperti ini sepantasnya dia menghibur Co Giok-cin, namun dia tidak tahu apa yang harus diucapkan, pikirannya ruwet.

Biasa pandangannya terlalu tawar akan perbedaan mati dan hidup, namun dia tidak tega melihat kedua bayi kecil itu.

Walau dia bukan ayah kandung mereka, namun dalam sekejap tadi antara mereka sudah terjalin suatu ikatan yang aneh, ikatan yang lebih erat, lebih intim dan mesra dari hubungan ayah dan anak kandung sendiri, perasaan itu serba ruwet dan ganjil, lantaran perasaan itu yang hanya dimiliki manusia, maka dunia ini bisa tumbuh, bisa berkembang.

Mendadak Co Giok-cin berkata.

"Dari Bing-gwat-sim aku dengar kalian juga pernah terkurung di sini? Kalau dahulu kau punya akal untuk meloloskan diri, sekarang pasti kau punya akal untuk keluar."

Matanya memancarkan sinar, diliputi sinar harapan. Pho Ang-soat tidak tega membuat harapannya padam, namun dia pun tidak ingin supaya dia tahu akan kenyataan sebenarnya.

"Tempo hari kami dapat lolos, karena di dalam sini ada alat untuk merobohkan dinding,"

Batinnya.

Sekarang kamar batu ini sudah kosong, kecuali mereka berempat, ditambah sesosok mayat.

Mayat itu sudah kaku dingin, cepat atau lambat, mereka juga akan menjadi mayat juga.

Pandangan Co Giok-cin masih menampilkan setitik harapan, katanya.

"Sering aku dengar orang bilang, golokmu adalah senjata paling tajam dan ampuh di jagat ini."

Mengawasi golok di tangan sendiri, suara Pho Ang-soat mengandung kebencian.

"Inilah senjata untuk membunuh orang, bukan untuk menolong orang."

Yang dibencinya bukan orang lain tapi diri sendiri, asal kedua bayi cilik itu bisa bertahan hidup, dia rela mengorbankan apa pun, melakukan apa saja.

Tapi dia justru tidak bisa berbuat apa-apa.

Setitik harapan yang terkandung dalam benak Co Giok-cin terpaksa pudar, namun dia masih berusaha tertawa meski dipaksakan, katanya.

"Sedikitnya kita masih punya satu harapan."

Malah dia yang menghibur Pho Ang-soat.

"Yan Lam-hwi suruh kau menunggunya di sini, dia pasti kembali ke sini."

"Jika dia mau pulang, tentu sudah pulang sejak tadi, umpama sekarang dia sudah kembali, tentu beranggapan bahwa kita sudah tidak berada di sini."

Co Giok-cin tutup mulut, dia tahu apa yang dikatakan Pho Ang-soat memang kenyataan, Yan Lam-hwi pasti tidak menduga bahwa mereka cukup lama berada di dalam kamar batu ini, lebih tidak menduga bahwa Pho Ang-soat akan terkubur hidup-hidup di sini.

Ketajaman telinga Pho Ang-soat serta reaksinya memang hebat, siapa pun bila melakukan suatu aksi di sebelah atas, pasti tidak dapat mengelabuinya.

Lalu siapa bakal menduga bahwa saat itu dia sedang sibuk menyambut kelahiran dua nyawa cilik mungil sekaligus?

Siapa pula yang mau memikirkan bahwa di dalam sini ada jerit tangis orok yang baru lahir?

Banyak kejadian di dunia ini memang jarang terduga sebelumnya, kejadian nyata kadang-kadang justru lebih menakjubkan daripada dongeng.

Anak-anak mulai menangis lagi.

Telapak tangan Pho Ang-soat berkeringat, mendadak dia teringat dia bisa melakukan sesuatu untuk mereka.

Sesuatu yang sebetulnya tidak sudi dia lakukan meski jiwanya harus berkorban.

Tapi sekarang dia harus melakukan, dia dipaksa oleh keadaan untuk melakukan.

Tio Ping seorang kawakan Kangouw, setiap orang kawakan yang sering berkelana di Kangouw pasti banyak membekal barang-barang penting untuk memberikan pertolongan darurat.

Menguras barang milik seorang yang sudah mati, bila dipikir sebetulnya Pho Ang-soat sudah muntah-muntah, apalagi sekarang dia sendiri yang harus melakukan, tapi kenyataan sekarang dia sedang melakukannya.

Dia mengeluarkan sebuah obor kecil, segulung tali panjang, sekeping belerang untuk mengusir setan atau ular, sebotol obat untuk luka pukulan dan bacokan, Jinsom yang sudah pernah dikunyah, serenceng kunci, sekuntum kembang mutiara, beberapa keping uang emas, beberapa lembar cek dan sepucuk surat.

Mutiara dan emas adalah benda-benda berharga yang sering diperebutkan secara tidak halal oleh manusia umumnya, malah tidak segan-segan sementara orang mempertaruhkan jiwa raga sendiri untuk merebut barangbarang itu, namun sekarang benda berharga ini tidak berharga lagi.

Bukankah inipun semacam sindiran?

Kondisi yang lemah setelah kelahiran, bayi-bayi itupun perlu air susu ibu, siapa pun pasti tahu Co Giok-cin sekarang memerlukan Jinsom itu Tanpa bicara Pho Ang-soat melolos golok memotong bagian yang sudah terkunyah.

Pertama kali ini dia mencabut goloknya hanya untuk suatu benda yang tidak bernyawa, namun untuk kedua kalinya Co Giok-cin melihat goloknya Agaknya sekarang dia tidak peduli lagi, garis pemisah antara hubungannya dengan Co Giok-cin agaknya sudah putus sejak terjadinya kelahiran dua insan di dunia ini.

Sekarang antara kedua orang ini sudah terjalin suatu ikatan batin yang tak teraba, tak terlihat.

Co Giok-cin tidak menyinggung hal ini, tanpa bersuara dia terima Jinsom itu, matanya menatap kembang mutiara itu.

Itulah sekuntum Bo-tan, setiap mutiara mulus dan bercahaya, berkat keahlian si pembuat, meski di tempat gelap juga kelihatan betapa indah dan antiknya.

Matanya bercahaya pula, betapapun dia seorang perempuan.

Daya tarik mutu manikan memang tak bisa ditahan oleh perempuan mana pun.

Sesaat Pho Ang-soat bimbang, akhirnya dia mengangsurkan kepadanya.

Mungkin dia tidak harus berbuat demikian, tapi dalam keadaan seperti sekarang kenapa dia tidak memberi kesempatan supaya dia merasakan ketenteraman, riang dan senang?

Meski rasa senang itu hanya sedikit, hanya sekejap.

Co Giok-cin tertawa lebar, tawanya mirip tawa bocah mendapat permen yang sudah lama dia dambakan.

Di tengah isak tangisnya, kedua orok itu akhirnya tertidur pula.

"Kau pun harus tidur,"

Bujuk Pho Ang-soat.

"Aku tidak mengantuk."

"Asal kau pejamkan mata, pasti bisa tertidur."

Pho Ang-soat tahu dia amat lelah, lelah dalam kondisi yang lemah, dia banyak kehilangan darah, mengalami berbagai kejadian yang menakutkan lagi.

Akhirnya pelupuk matanya terpejam juga, dia tenggelam dalam tidur pulas di kegelapan yang manis dan tenteram.

Diam-diam Pho Ang-soat mengawasi mereka, ibu dan anaknya yang sedang tidur nyenyak, adalah gambaran bahagia yang amat mengesankan, lukisan yang indah, tapi sekarang ....

Dia menggigit bibir, bertekad untuk tidak mengucurkan air mata.

Dia memasang obor, pemandangan yang terlihat pertama adalah tulisan di sampul surat itu.

"Kepada yang terhormat, Yan Lam-hwi adikku, dari Gi."

Gi?

Kongcu Gi?

Apakah Kongcu Gi titip surat ini supaya diserahkan kepada Yan Lam-hwi?

Adikku?

Sebetulnya ada hubungan apakah di antara mereka?

Pho Ang-soat menekan keinginannya, melempit surat dan disimpan dalam kantong bajunya.

Tio Ping tidak punya kesempatan menyerahkan surat ini, selanjutnya dia mengharap dirinya masih ada kesempatan bertemu dengan Yan Lam-hwi.

Namun dia juga tahu harapan ini terlalu kecil.

Bagi Pho Ang-soat, kecuali surat dan Jinsom itu, barangbarang yang dia temukan dari badan Tio Ping hakikatnya tidak berharga.

Karena dia melalaikan satu hal dari badan lelaki seperti Tio Ping, semestinya tidak pantas menemukan kembang mutiara, bila dia teringat akan hal ini, ternyata sudah terlambat.

Ibu dan kedua anaknya masih tidur nyenyak, dalam kegelapan mendadak terdengar suatu suara yang aneh, suara gaib.

Lekas Pho Ang-soat menyalakan obor, maka tampak olehnya beberepa ekor ular menerobos ke pojok kiri yang gelap sana, agaknya mereka tidak tahan mencium bau belerang.

Kamar batu di bawah tanah ini sudah pasti tiada lubang anginnya lagi, maka hawa di sini makin pengap dan kotor, sehingga bau belerang terlalu menusuk hidung.

Seketika Pho Ang-soat menemukan satu hal yang menakutkan, mungkin sebelum mereka mati kelaparan, mereka sudah mati tercekik karena kehabisan hawa.

Terutama anak-anak, anak-anak belum mempunyai daya tahan untuk menyesuaikan diri dalam keadaan seperti ini.

Pada saat itu pula mendadak dia menemukan sesuatu kejadian, kejadian yang mengobarkan semangatnya.

Beberapa ekor ular itu setelah menerobos ke pojok kiri sana lantas lenyap, berarti di tempat ini pasti ada jalan keluar.

Di atas dinding batu di pojok kiri sana ternyata memang ada celah-celah retakan dinding, entah sebelum ini memang sudah ada atau retak karena terjadinya getaran dahsyat tadi?

Dia bukan ular, dia tidak tahu bagian luar dinding ini di permukaan tanah atau terpendam di dalam bumi.

Tapi setelah ada setitik harapan, maka dia tidak akan mengabaikannya, maka dia mencabut goloknya.

Waktu Co Giok-cin bangun, sudah lama Pho Ang-soat menggali dinding, lubang di dinding sudah semakin besar, umpama seekor kucing besar juga sudah bisa keluar masuk.

Sayang sekali mereka bukan kucing juga bukan tikus.

Anak-anak bangun dan menangis, setelah menangis, pulas pula.

Co Giok-cin membuka baju luarnya dan digelar di lantai, perlahan dia turunkan kedua anaknya yang pulas, lalu meronta berdiri secara diam-diam.

Pho Ang-soat sedang istirahat, napasnya agak memburu, pakaiannya basah-kuyup, bagi orang yang sudah tidur mungkin tidak merasakan, tapi tenaganya sudah terkuras terlalu banyak, udara yang pengap membuat napasnya megap-megap, hampir dia tidak tahan lagi.

Dia harus lekas meloloskan diri, maka dia kerahkan tenaga, bekerja lebih keras dan cepat, mendadak "Trang", goloknya gumpil sedikit karena terbentur batu.

Golok ini sudah menjadi salah satu anggota badannya, salah satu bagian dari jiwa raganya, tapi kedua tangannya tidak pernah berhenti.

Co Giok-cin menggigit sekerat Jinsom, tanpa bersuara dia angsurkan ke depannya.

Pho Ang-soat menggeleng, katanya.

"Anak-anak harus menetek, kau lebih memerlukan dari aku."

Pilu suara Co Giok-cin.

"Tapi jika kau ambruk, siapa pula yang bisa hidup?"

Pho Ang-soat mengertak gigi, goloknya gumpil pula.

Air mata Co Giok-cin bercucuran.

Semula senjata ini tiada bandingannya di seluruh jagat, cukup membuat siapa pun berubah air mukanya, nyali pendekar ciut, tapi sekarang kenyataan dia tidak lebih kuat dari pacul atau linggis.

Sungguh tragedi yang amat kejam, tragedi yang mengenaskan?

Sudah tentu Pho Ang-soat merasakan hal ini, kenyataan memang sudah hampir ambruk.

Tiba-tiba kedua tangan Co Giok-cin terulur maju, di kedua telapak tangannya berisi sumber air abadi.

Pho Ang-soat membuka mulut, air abadi lantas meluncur ke dalam perutnya, rasa harum dan manis yang tak bisa dilukiskan merasuk ke dalam sanubarinya.

Air abadi itu adalah air susu Co Giok-cin.

Padahal Pho Ang-soat sudah bersumpah tidak akan mengucurkan air mata, namun sekarang air matanya sudah tidak terbendung lagi.

Pada saat itulah, dari celah-celah lubang itu ada sesuatu benda menjulur masuk, ternyata itulah sebilah pedang, pedang merah segar.

Di ujung pedang terikat secarik kain, di atasnya tertulis huruf darah.

"Aku belum mati, kau pun tak boleh mati" . Kedua orok itu menangis lagi, suara tangisnya yang keras bergema, melambangkan kehidupan yang menggelora. ooooOOoooo Sinar surya menerangi jagat raya. Akhirnya kedua orok itu melihat sinar matahari. Terbit secercah harapan dalam benak Pho Ang-soat, semoga anak yang hidup dalam kegelapan bisa tumbuh dewasa di bawah cahaya matahari.

"Sebetulnya aku sudah pergi, aku sudah pergi tiga kali."

"Tapi tiga kali pula kau kembali."

"Aku sendiri tidak tahu kenapa aku kembali, semula aku kira kalian tidak mungkin berada di dalam,"

Yan Lam-hwi tertawa.

"tak pernah terbayang olehku meski dalam mimpi, bahwa suatu ketika Pho Ang-soat juga akan terkubur hiduphidup."

Tawanya ramah dan riang, bukan tawa sinis, karena hatinya benar-benar sedang gembira. Katanya pula.

"Terakhir kali sebenarnya aku sudah bertekad akan pergi."

"Kenapa kau tidak segera pergi?"

"Karena mendadak aku mendengar suatu suara yang amat aneh, suara seperti seorang yang lagi tersedak."

"Suara golok gumpil yag beradu dengan batu di dalam tanah."

"Golok siapa?"

"Golokku."

Berdiri alis Yan Lam-hwi, mulutnya ternganga, dengan terbelalak kaget dia mengawasi Pho Ang-soat, lebih kaget bila mendadak dia melihat bumi di bawah kakinya merekah.

Pho Ang-soat malah tertawa, katanya.

"Golokku kan juga sama seperti golok lain, golok biasa."

"Bagaimana tanganmu?"

Tanya Yan Lam-hwi.

"Tanganku masih utuh,"

Sahut Pho Ang-soat.

"Asal tanganmu masih utuh, golok yang gumpil sekalipun tetap dapat membunuh orang."

Seketika sirna tawa Pho Ang-soat.

"Orangnya?"

Yan Lam-hwi menghela napas, katanya tertawa getir.

"Orangnya masih ada, sayang aku tidak tahu dimana mereka."

Di kejauhan sana ada sebuah kereta kuda, namun tiada orang.

"Kau datang naik kereta itu?"

Tanya Pho Ang-soat.

"Tiga kali aku mondar-mandir naik kereta. Aku tidak suka jalan kaki, kalau bisa naik kereta, aku pasti tak pernah jalan."

"Hanya karena tidak suka jalan, bukan karena kakimu?"

Tanya Pho Ang-soat. Yan Lam-hwi menatapnya, tiba-tiba menghela napas.

"Kenapa aku selalu tak bisa mengelabui engkau?"

Kedua orok itu dibungkus dengan baju luar Pho Ang-soat, sejauh ini Yan Lam-hwi tetap menekan rasa ingin tahunya, dia tidak bertanya hal ini, karena Pho Ang-soat juga tidak menyinggungnya.

Dia tahu watak Pho Ang-soat, suatu hal bila tak ingin atau pernah dia singgung kepadamu, lebih baik kau pura-pura tidak tahu saja.

Dengan tersenyum manis Co Giok-cin menyapa kepadanya.

"Paman Yan, kenapa kau tidak melihat anak kami?"

Sungguh Yan Lam-hwi tidak tahan lagi, tanyanya bingung.

"Anak kalian?"

Co Giok-cin melirik ke arah Pho Ang-soat, katanya.

"Apakah dia tidak memberitahu kepadamu?"

"Memberitahu apa kepadaku?"

Makin manis senyum Co Giok-cin, katanya.

"Anak ini yang satu she Jiu, yang lain she Pho, yang laki mewarisi marga keluarga Jiu, bernama Jiu Sian-jing. Yang perempuan ini lahir lebih dulu, dia bernama Pho Siau-an."

Sorot matanya menampilkan rasa bangsa dan puas, hal ini sudah kami bicarakan bersama-sama, kami sudah..."

Dengan jengah akhirnya dia menunduk malu.

Yan Lam-hwi menatapnya, lalu mengawasi Pho Ang-soat pula, rasa kaget yang terbayang di wajahnya lebih besar dibanding waktu dia mendengar suara golok gumpil tadi.

Dengan kalem Pho Ang-soat menoleh, lalu menarik kencang popok orok-orok itu, katanya.

"Kenapa kalian tidak naik kereta lebih duhulu."

Co Giok-cin sudah naik dan duduk di dalam kereta, Yan Lam-hwi dan Pho Ang-soat baru berjalan menghampiri. Kedua orang ini cukup lama tidak buka suara, akhirnya Pho Ang-soat bertanya.

"Kau tidak mengira bukan?"

Terpaksa Yan Lam-hwi mengunjuk tawa, katanya.

"Masih banyak kejadian di dunia ini yang sering membuatku tidak mengira."

"Kau menentang?"

"Kurasa kau punya alasan, mungkin ..."

"Jika sang waktu bisa berputar balik, aku akan tetap berbuat demikian, anak-anak itu tidak boleh tidak punya ayah, apa pun seseorang harus menjadi ayahnya."

Lebar tawa Yan Lam-hwi, katanya.

"Kecuali kau, sungguh tak bisa terpikir olehku, siapa yang setimpal menjadi ayah kedua orok ini."

Langkahnya lambat, gaya berjalannya seperti berubah mirip Pho Ang-soat, malah sering terbatuk-batuk. Mendadak Pho Ang-soat berhenti, menatap dengan tajam, lalu katanya.

"Ada berapa banyak lukamu?"

"Tidak banyak."

Mendadak Pho Ang-soat turun tangan menarik pakaiannya, dadanya yang bidang dan kekar, ternyata terdapat dua jalur luka.

Luka merekah berwarna ungu, mirip gores lukisan yang dibubuhi warna.

Memicing mata Pho Ang-soat, katanya.

"Inilah Thian-coatte-biat Toa-jik-yang-jiu?"

"Oya,"

Yan Lam-hwi bersuara dalam mulut.

"Pahamu terkena Toh-kut-ting atau Soh-hun-ciam?"

Yan Lam-hwi tertawa getir, ujarnya.

"Jika Soh-hun-ciam, apakah sekarang aku masih bisa berdiri?"

"Ada orang Sing-siok-hay barat datang kemari?"

"Hanya datang satu."

"Yang datang To-jing-cu atau Bu-jing-cu?"

Tanya Pho Angsoat. Yan Lam-hwi menghela napas, katanya.

"Terluka di tangan To-jing-cu akhirnya pasti mampus."

"Toh-ku-ting itu masih menancap di pahamu?"

"Sekarang pahaku hanya bolong satu,"

Ujar Yan Lam-hwi, waktu tangannya merogoh kantong, sebuah senjata rahasia yang kemilau sudah berada di telapak tangannya, kalau seluruh senjata rahasia yang ada di dunia ini dipilih sepuluh di antaranya yang paling ganas dan menakutkan, maka Toh-kutting ini pasti satu di antaranya.

Ternyata Yan Lam-hwi masih tertawa-tawa, katanya.

"Untung nasibku masih mujur, dia menimpukkan tiga belas Toh-kut-ting, aku hanya kena satu, untungnya aku hanya terluka kulit daging, tidak mengenai Hiat-to atau sendi tulang, maka lariku masih lebih cepat dari mereka, kalau tidak, umpama To-jing-cu tidak membunuhku, Nyo Bu-ki juga pasti merenggut nyawaku."

Ternyata tawanya masih kelihatan riang.

"Boleh kuberitahu satu rahasia kepadamu, kemampuan untuk membunuh orang memang aku bukan tandinganmu, tapi kepandaian untuk melarikan diri, aku yakin nomor satu di dunia ini."

Tangan Pho Ang-soat juga sedang merogoh saku, setelah dia bicara habis, di ujung jarinya terselip sepucuk surat, katanya.

"Bacalah setelah duduk di dalam kereta."

"Siapa pegang kendali?"

"Aku."

Yan Lam-hwi tertawa, katanya.

"Seingatku dulu kau tidak pernah menjadi kusir."

"Sekarang aku sudah pandai."

"Kapan kau belajar menjadi kusir?"

Pho Ang-soat menatapnya, lalu balas bertanya.

"Apakah dulu kau sudah pandai melarikan diri?"

Yan Lam-hwi berpikir sejenak, lalu menggeleng kepala.

"Sejak kapan kau belajar melarikan diri?"

"Bila dipaksa untuk melarikan diri."

Pho Ang-soat menutup rapat mulutnya, dia yakin Yan Lamhwi sudah maklum akan maksudnya.

Seorang bila keadaan memaksa harus melakukan sesuatu, maka dia bisa melakukannya.

ooooOOoooo Surat itu cukup panjang, semuanya ada tiga lembar.

Sebelum naik kereta Yan Lam-hwi sudah merobek sampul suratnya, biasanya dia memang terburu napsu.

Ternyata Pho Ang-soat amat tabah dan sabar, dia tidak bertanya apa yang tertulis dalam surat itu.

Agaknya surat itu membawa berita yang amat menarik, karena sambil membaca, Yan Lam-hwi tertawa riang Tawa riang yang mengandung cemoohan.

Mendadak dia berkata.

"Agaknya Kongcu Gi seorang yang amat baik, perhatiannya terhadapku teramat besar."

Pho Ang-soat hanya bersuara dalam mulut.

"Dia membujukku supaya lekas meninggalkan engkau, karena sekarang kau sudah dipandang sebagai penyakit menular yang amat jahat, siapa pun tersentuh olehmu pasti dia tertimpa bencana dan akhirnya sekarat."

Yan Lam-hwi tertawa lebar.

"Malah dia pun mencantumkan sebuah daftar."

"Sebuah daftar?"

"Daftar nama-nama orang yang ingin membunuh kita, dalam daftar ini, orang-orang yang ingin membunuh kau satu orang lebih banyak dari yang ingin membunuh aku."

"Hanya seorang kan tidak banyak."

"Umumnya memang tidak dianggap banyak, tapi juga tidak sedikit, cuma harus dilihat siapa seorang yang kelebihan ini,"

Mimik tawanya kelihatan tidak senang.

"Kalau kunilai secara obyektif, orang yang ingin membunuh kau ini bahwasanya tidak boleh dihitung satu."

"Dihitung berapa?"

"Sedikitnya dihitung sepuluh orang."

"Apakah Bu-jing-cu dari Sing -siok-hay?"

"Kalau dibanding dengan orang yang satu ini, paling banyak Bu-jing-cu hanya boleh dianggap bocah yang baru pandai membunuh orang."

"Siapakah orang itu?"

Yan Lam-hwi sudah duduk di atas kereta, pintu ditutup seperti takut dirinya terjungkal jatuh, katanya.

"Orang ini juga menggunakan golok, golok istimewa."

"Golok apa?"

Tanya Pho Ang-soat. Yan Lam-hwi menutup pintu lebih rapat, lalu sepatah demi sepatah dia menyebut nama golok itu.

"Thian-ong-cam-kui-to."

Kabin kereta itu cukup lebar, Co Giok-cin merebahkan putrinya dipangkuannya, putranya dia peluk dengan kedua tangan, mata menatap Yan Lam-hwi, akhirnya tak tahan dia bertanya.

"Sebetulnya golok macam apakah Thian-ong-camkui-to itu!"

Yan Lam-hwi tertawa paksa, katanya.

"Terus terang, bahwasanya golok itu tidak boleh dianggap sebatang golok."

"Dianggap sepuluh batang?"

Co Giok-cin menegas. Yan Lam-hwi tidak langsung menjawab, dia malah balas bertanya.

"Kau pernah melihat pisau Siau Si-bu?"

Co Giok-cin berpikir sejenak, katanya sambil mengangguk.

"Aku pernah melihat orangnya, dia selalu membersihkan kuku jarinya dengan pisau."

"Sidikitnya harus ada lima ratus batang pisau seperti itu, baru bisa dibuat sebatang Thian-ong cam-kui-to."

Co Giok-cin merinding, serunya.

"Lima ratus batang pisau?"

"Kau tahu,"

Tanya Yan Lam-hwi.

"berapa banyak orang yang mati dalam segebrak oleh goloknya?"

"Dua? Tiga? Lima?"

Tanya Co Giok cin. Yan Lam-hwi menghela napas, katanya.

"Dalam segebrak pernah sekaligus dia membunuh dua puluh tujuh orang, batok kepala setiap korbannya terbelah dua."

Berubah air muka Co Giok-cin, orok dipeluknya lebih kencang, sorot matanya menatap keluar jendela, katanya dengan tersenyum menyengir.

"Apakah kau sengaja hendak menakuti aku?"

Yan Lam-hwi tertawa getir, katanya.

"Jika kau pernah melihat golok itu, pasti kau akan maklum apakah aku sengaja membuatmu takut atau tidak."

Mendadak dia menoleh, katanya pula dengan tertawa.

"Tapi kau pasti tidak akan bisa melihatnya, semoga Thian yang Maha kuasa melindungimu, apa pun jangan sampai kau melihatnya."

Co Giok-cin tidak bertanya lagi, karena dia sudah melihat suatu kejadian aneh, katanya.

"Coba lihat di sana, ada sebuah roda kereta."

Roda kereta sebetulnya tiada yang lucu atau mengherankan, tapi kenapa roda kereta yang satu ini bisa menggelinding sendiri ke depan?

Tak tahan Yan Lam-hwi melongok keluar, seketika berubah air mukanya, serunya.

"Itu roda kereta ini."

Belum habis dia bicara, kereta sudah mendoyong ke pinggir, terus menerjang miring keluar jalan raya. Kembali Co Giok-cin menjerit.

"Coba lihat. Kenapa di depan ada kuda buntung?"

Kuda buntung?

Mana ada kuda buntung di dunia ini, aneh bin ajaib, kenyataan yang mengerikan, karena kuda buntung itu masih terus berlari ke depan, lari hanya dengan dua kaki depannya.

Mendadak darahnya menyembur dan muncrat bagai sambaran panah, setelah lari tujuh langkah baru kuda buntung itu ambruk, isi perutnya tercecer dan terseret di jalan raya.

"Awas!"

Teriak Yan Lam-hwi.

Belum lenyap suaranya, tahutahu kereta itu sudah terpental mumbul ke udara dan terbalik seperti berakrobatik.

Yan Lam-hwi menubruk maju sambil memeluk seorang anak Co Giok-cin, berbareng sebelah kakinya menendang terbuka pintu kereta.

Sebuah tangan terulur ke dalam, didengarnya suara Pho Ang-soat berkata.

"Tarik kencang."

Dua tangan saling gendong dan tarik, Pho Ang-soat menarik Yan Lam-hwi, sementara Yan Lam-hwi memeluk Co Giok-cin dan seorang anaknya. Di tengah bentakan nyaring, mereka sudah mencelat terbang keluar.

"Biang" , suara keras menggetar bumi, kereta itu sudah hancur menubruk sebatang pohon. Lohor. Cuaca cerah, sinar matahari cemerlang. Sinar mentari yang menyegarkan menerangi jalan raya besar itu, mendadak segumpal mega tiba, sehingga cahaya mentari tertutup, seolah-olah sang surya pun tidak tega melihat peristiwa yang baru saja terjadi di jalan raya. Kereta itu sudah remuk, kuda penarik kereta pun terpotong menjadi dua, bagian belakang bangkai kuda itu masih terikat di depan kereta, bagian kepalanya ternyata sudah menggeletak di tengah jalan raya. Sebetulnya apakah yang telah terjadi? Dengan kencang Co Giok-cin memeluk kedua anaknya supaya tidak menangis. Walau dia masih bingung, tidak tahu apa yang telah terjadi, tapi sungguh dia teramat takut, begitu takutnya sehingga lupa sakit. Padahal sekujur badan dan tulang-tulangnya seperti dibetot dan copot, tapi rasa takut telah membuatnya pati rasa, maka selanjutnya dia mulai muntah-muntah. Seorang laki-laki penebang kayu yang masih muda sedang berdiri di pinggir jalan di bawah pohon, mendadak dia pun ikut muntah-muntah. Tadi dia pun sedang melangkah keluar dari dalam hutan, hendak menyeberang jalan raya ini, namun segera dia menyurut mundur dan menunggu, karena dilihatnya sebuah kereta berkuda sedang berlari kencang mendatangi. Yang memegang kendali adalah seorang bermuka pucat, seolah-olah begitu besar keinginannya supaya kereta kuda ini dalam sekejap menempuh delapan ratus li perjalanan.

"Memangnya orang ini buru-buru hendak melayat,"

Demikian gerutu penebang kayu muda itu dalam hati, namun sebelum dia bergerak lagi, mendadak dilihatnya sinar golok berkelebat.

Sebetulnya dia tidak melihat jelas dan tidak bisa membedakan apakah yang berkelebat barusan sinar golok atau kilat menyambar.

Tapi dia melihat selarik sinar terang melesat terbang dari dalam hutan di seberang sana, jatuh di punggung kuda yang menarik kereta.

Kuda gagah yang sedang berlari kencang menarik kereta, mendadak terpotong menjadi dua.

Bagian kepalanya ternyata berpisah dengan bagian pantatnya, bagian kepala masih bisa berlari dengan kedua kaki depannya.

Lalu apa pula yang terjadi selanjutnya hakikatnya penebang kayu ini tidak melihat, dia berdiri menjublek tidak percaya bahwa apa yang barusan disaksikan adalah kejadian nyata.

Dia hanya mengharap apa yang disaksikannya ini hanya sebuah impian, impian buruk.

Tapi dia sudah mulai muntah-muntah.

ooooOOoooo Bab 13.

Golok Raja Langit Pemenggal Setan Sekali bacok tepat membelah seekor kuda menjadi dua, golok apakah itu?

Tiada orang melihat.

Yang jelas sinar golok melesat keluar dari dalam hutan, padahal kereta sudah berlari sejauh tiga puluhan tombak, dipandang dari sini ke arah sana, tiada bayangan orang, juga tidak terlihat adanya golok.

Pho Ang-soat menghadang di depan Co Giok-cin dan kedua anaknya, matanya menatap hutan lebat di sebelah kiri, kulit wajahnya yang pucat seolah-olah menjadi bening.

Setelah menenangkan napas, segera Yan Lam-hwi bertanya.

"Kau lihat golok itu?"

Pho Ang-soat menggeleng.

"Tapi kau pasti sudah tahu golok macam apakah itu?"

Pho Ang-soat mengangguk Yan Lam-hwi menghela napas, katanya.

"Agaknya Kongcu Gi cukup cepat menyerap berita, Biau-thian-ong ternyata sudah tiba."

Golok milik Biau-thian-ong sudah tentu adalah Thian-ongcam-kui-to. Jari-jari Pho Ang-soat menggenggam kencang, katanya dingin.

"Yang datang mungkin tidak sedikit."

Pada saat itulah dari utara dan selatan jalan raya, dua kereta dilarikan sejajar mendatangi.

Jalan mundur atau maju sudah tersumbat.

Di atas kereta pertama sebelah kiri yang datang dari utara, dua orang sedang duduk bersimpul menghadapi meja sedang bermain catur.

Kereta kedua juga diduduki dua orang, seorang sedang membersihkan kuku, seorang lagi sedang minum arak.

Agaknya keempat orang ini sedang khusuk menghadapi pekerjaan masing-masing, siapa pun tiada yang mengangkat kepala atau menoleh ke depan.

Kereta pertama yang datang dari selatan tampak beberapa perempuan di dalamnya, ada tua ada muda, ada yang senang menyulam ada yang sedang makan kwaci, ada pula yang menyisir rambut.

Perempuan yang paling tua itu ternyata bukan lain adalah Kui-gwa-po.

Di atas kereta kedua menggeletak sebuah peti mati besar dan baru, di depannya tergantung sebuah wajan raksasa yang terbuat dari tembaga, kuping gelang sebanyak empat buah dari wajan ini terpasang di empat kaki besi.

Konon wajah terbesar di seluruh jagat ini adalah milik Siaulim-si, wajan untuk memasak nasi.

Maklum Hwesio Siau-lim-si banyak jumlahnya, sepanjang tahun tak pernah makan barang berjiwa, namun setiap hari mereka harus bekerja rajin, maka selera makannya pun amat besar.

Umpama saja setiap Hwesio setiap makan menghabiskan lima mangkuk nasi, lima ratus Hwesio menghabiskan berapa mangkuk?

Lalu untuk memberi makan sampai kenyang lima ratus Hwesio, berapa besar wajan yang harus digunakan untuk memasak nasi?

Yan Lam-hwi pernah bertamu ke Siau-lim-si, sengaja dia ingin menyaksikan wajan raksasa itu, karena dia memang seorang yang selalu tertarik akan sesuatu yang luar biasa.

Wajan tembaga di atas kereta ini ternyata tidak lebih kecil dari wajan Siau-lim-si itu.

Dan anehnya di dalam wajan ternyata ada dua orang, kepala besar kuping lebar, wajahnya bundar, di atas jidatnya terdapat codet merah bekas bacokan golok yang menggelantung ke bawah, dari atas alis menggaris turun sampai ujung mulut, sehingga wajah bundar gemuk yang kelihatan jenaka dan lucu ini mendadak berubah menjadi seram dan kejam.

Kereta dilarikan perlahan, wajah di atas kereta ternyata bergontai pergi datang, seperti mereka duduk di atas ayunan.

Mega sudah tertiup pergi, sang surya merayap makin tinggi, namun hati Yam lam-hwi justru makin tenggelam.

Tapi dia harus mengunjuk tawa meski dipaksakan, gumamnya.

"Tak nyana To-jing-cu ternyata tidak datang."

"Sekali sergap tidak berhasil, harus segera mundur,"

Demikian kata Pho Ang-soat dingin, itulah aturan lama pihak Sing-siok-hay mereka. Tawa Yan Lam-hwi seperti amat riang katanya.

"Kecuali dia, yang pantas datang agaknya sudah tiba, yang tidak patut datang ternyata juga sudah tiba."

Mengawasi si gembrot dengan codet di mukanya dalam wajan itu dia tersenyum, katanya.

"Koki Dol, kenapa kau pun datang?"

Codet di muka si gendut bergerak seperti ular. Dia sedang tertawa, tapi mimik tawanya kelihatan menjijikkan dan misterius, katanya.

"Kali ini aku datang mengerjai mayat."

"Mengerjai mayat siapa?"

Tanya Yan Lam-hwi.

"Mayat apa saja kukerjai!"

Dengan bergontai dia berdiri dan keluar dari wajan besar itu.

"Kuda mati dimasukkan ke perut, orang mati dimasukkan ke layon."

Kereta sudah berhenti seluruhnya.

Yang bermain catur tetap saja main catur, yang minum arak masih memegang cangkir, yang menyisir juga tetap menyisir rambut, masingmasing masih sibuk dengan tugasnya.

Koki Dol tertawa.

"Agaknya semua orang hari ini akan dapat rezeki mujur, kalian akan bisa berpesta sampai kenyang, daging kuda panca wangi yang diolah Koki Dol, tidak sembarang orang dapat menikmatinya."

Yan Lam-hwi berkata.

"Masakan keahlianmu kurasa bukan daging kuda panca wangi, betul tidak?"

"Bahan-bahan untuk membuat masakan keahlianku sukar dicari, bolehlah hari ini kalian menikmati daging kuda panca wangi saja,"

Sembari bicara badannya yang gendut itu tahutahu sudah menyelinap keluar dari bawah wajan, terus melompat turun, bagi yang tidak menyaksikan sendiri sungguh sukar percaya bahwa si gendut yang beratnya ratusan kati itu, gerak-geriknya ternyata enteng dan lincah.

Dan ternyata dia juga membawa pisau, pisau pendek tapi lebar, pisau untuk merajang sayur, pisau yang biasa digunakan koki di setiap restoran.

Tak tahan Co Giok-cin bertanya.

"Apa benar Koki Dol seorang koki?"

"Palsu,"

Sahut Yan Lam-hwi.

"Kenapa orang memanggilnya koki?"

"Karena dia senang memasak dan suka pakai golok sayur."

"Paling ahli dia masak apa?"

"Panggang jantung orang, dicampur saos daging panggang."

Penebang kayu itu sudah tidak muntah lagi, baru saja dia mengangkat kepala, menegakkan badan, seketika dia berdiri menjublek pula.

Tak pernah terbayang dalam benaknya bahwa tempat ini bakal ramai.

Pagi tadi dia hanya makan dua bakpao hangat dengan beberapa tangkai sayur asin, semula dia menyangka isi perutnya sudah terkuras habis, tiada yang bisa dimuntahkan lagi.

Tapi hanya sekejap dia melihat ke sana, tak tertahan dia memeluk perut muntah-muntah lagi, lebih keras dan banyak.

Sementara itu Koki Dol sudah mengeluarkan pisaunya membacok daging kuda, kulit daging bercampur tulangnya sekalian, dia membacok segumpal besar, seenaknya saja tangannya terayun melemparkan gumpalan daging itu ke dalam wajan besar itu.

Tangan kanan mengerjakan pisau, tangan kiri melempar daging, kedua tangannya naik turun secara cepat, gerakgeriknya cekatan dan amat mahir, kuda itu dalam sekejap telah diirisnya menjadi seratus tiga puluhan kerat daging.

Daging kuda sudah berada di dalam wajan, mana bahan panca wanginya?

Darah yang berlepotan di atas pisaunya dibersihkan dengan alas sepatu Koki Dol, lalu dia melangkah balik menghampiri peti mati besar dan tebal itu.

Di dalam peti mati ternyata tersimpan berbagai bahan masakan, minyak, garam, kecap, cuka, lada, jahe dan banyak lagi, tidak ketinggalan juga penyedap rasa, bahan-bahan masakan yang terpikir olehmu pasti dibawa oleh Koki Dol.

Koki Dol menggumam.

"Kereta bobrok ini kebetulan untuk bahan bakar, bila kereta ini terbakar habis, yakin dagingnya juga sudah empuk, sudah matang."

Nyo Bu-ki yang sedang main catur tiba-tiba berseru.

"Bagianku jangan terlalu empuk, gigiku masih utuh."

Koki Dol berkata dengan nada tinggi.

"Tosu yang beribadah juga berani makan daging?"

"Jangan kata daging kuda, daging manusia juga pernah kumakan."

Koki Dol bergelak tertawa, katanya.

"Jika Tosu ingin makan daging manusia, sebentar boleh kubikinkan, bahan-bahan sudah lengkap tersedia di sini."

"Memangnya aku sedang menunggu, biasanya aku tidak tergesa-gesa."

Koki Dol bergelak tawa, matanya melirik ke arah Pho Angsoat, katanya.

"Daging manusia untuk tambah darah, siapa mau makan sedikit daging orang, mukanya tanggung tidak pucat lagi."

Di tengah gelak tawanya, cukup dengan sebelah tangan dia mengangkat wajan raksasa seberat tiga ratusan kati itu bersama kaki besinya ke tengah jalan raya, lalu dengan pecahan kayu kereta dia mulai menyulut api di bawah wajan.

Lekas sekali api telah menyala, asap mengepul, kayu yang terjilat api meletup-letup lirih.

Orok di pelukan Co Giok-cin menangis, terpaksa Co Giokcin menarik bajunya, memberi minum air teteknya.

Kongsun To yang masih memegangi cangkir arak mendadak berseru.

"Waduh putihnya."

"Daging yang empuk dan gurih,"

Sela Koki Dol tertawa. Kwi-gwa-po yang sedang makan kwaci mendadak menghela napas, katanya.

"Orok yang harus dikasihani."

Terasa oleh Pho Ang-soat, perutnya seperti mengkeret, tak tertahan hampir saja dia pun muntah-muntah.

Otot hijau sudah merongkol di punggung tangannya yang memegang golok, agaknya sudah siap mencabut goloknya.

Tapi Yan Lam-hwi memegang pundaknya, katanya lirih.

"Sekarang tidak boleh bergerak."

Sudah tentu Pho Ang-soat juga tahu situasi sekarang belum mengizinkan dia beraksi.

Beberapa orang itu kelihatan bersikap santai, padahal hati mereka juga gugup, gelisah sepeti semut di dalam kuali yang panas, sedikit lena dan bergerak tanpa perhitungan, akibatnya pasti susah dibayangkan.

Lalu bagaimana kalau tidak beraksi?

Apakah harus diam begini saja sampai mereka habis gegares daging kuda, lalu makan daging manusia.

Dengan merendahkan suaranya, Yan Lam-hwi bertanya.

"Kau kenal tidak Toh Cap-jit yang punya delapan nyali dan delapan sukma?"

Pho Ang-soat geleng kepala.

"Orang ini bukan Tayhiap, bukan ksatria, tapi mempunyai jiwa pendekar melebihi para pendekar dan ksatria yang pernah kukenal. Aku sudah berjanji dengan dia untuk bertemu di kedai minum Thian-hiang-lau di kota sebelah depan, asal dapat menemukan dia, persoalan apa pun pasti dapat dibereskan, hubunganku dengan dia amat baik."

"Itu kan urusanmu."

"Tapi sekarang urusanku adalah urusanmu pula."

"Aku tidak mengenalnya."

"Tapi dia mengenalmu."

Yang main catur tetap asyik dengan permainannya, setiap orang masih tekun melakukan tugas masing-masing, hakikatnya tidak memperhatikan mereka, seolah-olah mereka sudah dianggap sebagai orang mati.

"Apakah kau ini seorang yang kenal aturan?"

Tanya Yan Lam-hwi.

"Kadang kala saja,"

Sahut Pho Ang-soat.

"Sekarang apakah sudah tiba saatnya kita tidak usah kenal aturan?"

"Agaknya memang demikian."

"Bolehkah Co Giok-cin dan kedua anaknya mati di sini?"

"Tidak boleh."

Yan Lam-hwi menghela napas, katanya.

"Syukurlah kalau kau selalu ingat perkataanku tadi, marilah pergi."

"Pergi? Pergi bagaimana?"

"Begitu kau mendengar aku mengucap 'anjing kecil', bawalah Co Giok-cin dan kedua anaknya ke atas kereta itu, sembunyikan ke dalam peti mati, urusan selanjutnya serahkan kepadaku."

Lalu dengan tertawa Yan Lam-hwi menambahkan.

"Jangan lupa kepandaianku melarikan diri nomor satu di seluruh jagat ini."

Terkancing mulut Pho Ang-soat, sudah tentu dia maklum apa maksud Yan Lam-hwi, sekarang dia tidak punya pilihan lain.

Apa pun yang akan terjadi dia harus berjuang dan berusaha supaya Co Giok-cin dan kedua anaknya tidak terjatuh ke tangan orang-orang itu.

Kereta dimana Kwi-gwa-po duduk seluruhnya berisi orang perempuan, kecuali nenek peyot ini, empat yang lain berwajah tidak jelek.

Tidak jelek maksudnya ayu jelita, yang paling jelita sedang menyisir rambut, rambutnya yang panjang terurai mayang dan hitam mengkilap.

Mendadak Yan Lam-hwi berkata.

"Konon dari yang tua sampai yang paling muda, Biau-thian-ong seluruh mempunyai delapan puluh bini."

"Ya, tepat delapan puluh, dia suka angka genap,"

Sahut Kwi-gwa-po.

"Kabarnya peduli kemana pun dia, paling sedikit akan membawa empat lima bininya, karena sembarang waktu dia memerlukan hiburan,"

Kata pula Yan Lam-hwi.

"Dia memang laki-laki yang selalu fit tenaganya, maka setiap bininya pasti merasa ketiban rezeki,"

Ujar Kwi-gwa-po.

"Apakah kau salah satu di antaranya?"

Kwi-gwa-po menghela napas, katanya,"Aku memang ingin, sayang dia menganggap aku terlalu tua."

"Siapa bilang kau sudah tua, menurut pandanganku, kau lebih muda sepuluh tahun dibanding nenek yang sedang menyisir rambut itu."

Kwi-gwa-po tertawa lebar, gadis yang sedang menyisir rambut berubah air mukanya, menatapnya dengan mata melotot. Yan Lam-hwi malah tertawa menyengir padanya, katanya.

"Sebetulnya kau belum terhitung tua, kecuali Kwi-gwa-po, kau terhitung yang paling muda."

Sekarang orang banyak sudah tahu kalau dia sengaja mencari setori, mencari kesulitan, tapi mereka tak habis mengerti, orang-orang sengaja tidak memperhatikan dia, sekarang terpaksa melirik atau menoleh ke arahnya.

Maka Yan Lam-hwi langsung menemui Koki Dol, katanya.

"Kecuali membacok daging mengiris sayur, pisaumu ini apa pula gunanya?"

"Untuk membunuh orang pula,"

Sahut Koki Dol. Codet di mukanya mulai bergerak pula.

"Membunuh seorang dengan golok antik yang dihiasi mutiara dan mutu manikam, apa bedanya dengan golok sayurku ini?"

"Kurasa ada sedikit perbedaannya."

"Dimana perbedaannya?"

Yan Lam-hwi tidak menghiraukan dia, setelah memutar tubuh dia membuka tutup peti mati, mulutnya menggumam.

"Eh, di sini juga ada bawang merah, ada merica, apa ada lombok?"

"Dimana perbedaannya?"

Teriak Koki Dol. Yan Lam-hwi tetap tidak mempedulikan dia, katanya.

"Ha, di sini memang ada lombok. Agaknya peti mati ini cukup untuk dibuat dapur."

Semula Koki Dol mendemprok di tanah, sekarang dia berdiri, katanya.

"Kenapa tidak kau jelaskan? Sebetulnya dimana letak perbedaannya?"

Akhirnya Yan Lam-hwi menoleh, katanya dengan tertawa.

"Sebetulnya dimana perbedaannya aku sendiri juga tidak tahu. Aku hanya tahu supaya daging kuda panca wangi terasa sedap, harus banyak dicampur lombok."

Lalu dia mencomot segenggam lombok, menghampiri wajan besar itu, katanya pula.

"Kukira di sini tiada orang yang tidak doyan lombok, yang tidak makan lombok adalah anjing cilik."

Saking gusar selebar muka Koki Dol yang gembrot sudah pucat-pias, pada saat itulah terdengar ringkik kuda disertai bentakan nyaring.

Pho Ang-soat sudah mengangkat Co Giokcin, Co Giok-cin memeluk kedua anaknya, dua orang besar dan dua orok meluncur pesat merebut kereta.

Co Giok cin langsung memasukkan kedua anaknya ke dalam peti mati, sementara Pho Ang-soat mengayun cambuk mengeprak kuda, pada waktu yang sama Yan Lam-hwi memegang kaki wajan, terus diangkatnya ke atas.

"Awas!"

Kongsun To berseru, menimpukkan cangkir seraya berjingkrak berdiri.

Sebelum hilang suaranya, Co Giok-cin sudah melompat masuk ke dalam peti mati serta menutup rapat tutupnya dari dalam.

Sementara Yan Lam-hwi mengayun wajan besar itu terus dilempar ke arah dua kereta di depan sana.

Kuah panas muncrat, daging kuda beterbangan, kuda berjingkrak kaget ketakutan, potongan daging kuda laksana hamburan senjata rahasia, sipaa pun yang terkena pasti kulit dagingnya melepuh kepanasan.

Orang-orang di atas kereta berlompatan turun sambil menutup muka dan kepala dengan kedua lengan bajunya.

Tangan kanan Pho Ang-soat memegang golok, tangan kiri mengayun cambuk, keretanya sudah menerobos pergi lewat tengah-tengah kedua kereta yang ambruk di kedua sisi jalan.

Tubuh Siau Si-bu terapung di udara, mendadak dia bersalto, seluruh kulit daging dan otot tangan kanannya penuh dilandasi kekuatan dalamnya, pisau terbang sudah terpegang di jari-jarinya.

Di sebelah sana Nyo Bu-ki juga melambung ke atas, tangannya juga memegang gagang pedang.

Pisau Siau Si-bu sudah disambitkan, kali ini sedikitpun tidak mengeluarkan suara, timpukannya itu menggunakan setaker tenaga, yang diincar adalah punggung Pho Ang-soat.

Punggung adalah sasaran paling empuk dan nyata, paling sukar dihindari.

Walau kedua kereta sudah ambruk ke pinggir, namun peluangnya juga tidak lebar.

Pho Ang-soat harus mencurahkan perhatian mengendalikan kuda keretanya, supaya kereta ini tidak menabrak atau terbalik.

Punggungnya juga tidak tumbuh mata, hakikatnya tidak tahu sambaran pisau yang melesat bagai kilat menyambar itu, umpama dia tahu juga tidak mampu berkelit.

Umpama dia berhasil meluputkan diri dari timpukan pisau, kereta tidak terkendali lagi dan pasti menumbuk kereta yang lain.

Di saat genting itulah, goloknya mendadak menyelonong keluar dari bawah ketiak.

"Ting" , sarung goloknya yang hitam gelap itu memercikkan lelatu api, pisau terbang sepanjang empat dim jatuh berkerontang di atas kereta. Pedang Nyo Bu-ki sudah keluar dari sarungnya, dengan jurus Giok-li-jeng-so (gadis cantik menyusup benang) menyerang sambil menukik turun. Sarung golok masih terkempit, Pho Ang-soat mencabut golok secara terbalik, dimana sinar goloknya berkelebat dia sambut kedatangan cahaya pedang, Golok dan pedang tidak beradu, namun gerak sinar golok lebih cepat lagi, ujung pedang Nyo Bu-ki sudah hampir menembus leher Pho Angsoat, jaraknya tinggal satu dim, tapi satu dim ini justru merupakan jarak yang menentukan. Terdengar jeritan mengalun di angkasa, darah pun berhamburan, dari udara melayang jatuh sebelah lengan orang, jari-jarinya masih memegang kencang gagang pedang, itulah Siong-bun-thi-kiam yang kuno dan antik. Waktu badan Nyo Bu-ki melayang turun, kebetulan dia kecemplung ke dalam wajan besar itu, masih ada sisa kuah dan daging kuda yang panas. Itulah kali pertama selama hidupnya berkesempatan membunuh Pho Ang-soat, kali ini pedangnya hampir menusuk tenggorokan Pho Ang-soat, hanya terpaut satu dim saja. Kuda meringkik panjang, kereta itu sudah dibawanya lari jauh meninggalkan kepulan asap. Cahaya pedang yang menyala bagai warna darah, terbang mendatang mencegat jalan di belakang kereta. Pho Ang-soat tidak menoleh, dia mendengar suara batuk Yan Lam-hwi, gerak pedang Yan Lam-hwi yang mencegat para musuhnya itu jelas sudah mengerahkan seluruh kekuatannya. Pho Ang-soat tidak berani menoleh, dia kuatir bila dirinya melihat ke belakang, pasti akan putar balik, berjuang berdampingan dengan Yan Lam-hwi sampai titik darah penghabisan. Sayang sekali ada sementara orang tidak boleh mati, pasti tidak boleh. Malam larut, hawa dingin. Di tanah pekuburan. Kereta itu akhirnya berhenti di tengah pekuburan. Bintang berkelap-kelip di angkasa, di tanah pekuburan yang belukar dengan batu-batu nisan berserakan, tiada tampak bayangan orang. Mendadak seorang bangun berduduk dari dalam peti mati di atas kereta itu, rambutnya panjang menyentuh pundak, sorot matanya bening laksana air. Umpama dia ini setan, pasti setan yang paling ayu di jagat ini. Sorot matanya mengerling kian kemari, agaknya dia sedang celingukan, entah apa yang dicarinya. Yang dicari bukan setan, bukan dedemit, tapi seorang yang memegang golok. Kemanakah Pho Ang-soat? Kenapa dia ditinggal seorang diri di sini? Sorot matanya menampilkan rasa ngeri dan takut, untunglah Pho Ang-soat sudah muncul di depannya. Kabut mulai menyelimuti tanah pekuburan itu, tabir malam kelihatan pucat, sepucat muka Pho Ang-soat. Walau Co Giok-cin menghela napas lega setelah melihat wajah pucat ini, namun dia kaget dan curiga.

"Kenapa kita harus berada di sini?"

Tidak menjawab malah balas bertanya.

"Sebutir beras, sembunyi dimana paling aman?"

Co Giok-cin berpikir sejenak, sahutnya.

"Sembunyi di tumpukan beras."

"Sebuah peti mati harus disembunyikan dimana supaya tidak menarik perhatian orang."

Akhirnya Co Giok-cin mengerti maksudnya, kalau sebutir beras sembunyi di dalam tumpukan beras, maka peti mati harus disembunyikan di tanah pekuburan. Tapi dia masih kurang jelas, tanyanya.

"Kenapa kita tidak mencari Toh Capjit, teman Yan Lam-hwi itu?"

"Tidak boleh kita ke sana."

"Kau tidak mempercayainya?"

"Orang yang dipercaya Yan Lam-hwi aku pun mau percaya kepadanya."

"Lalu kenapa tidak mencarinya?"

"Thian-hiang-lau adalah sebuah restoran besar, Toh Cap-jit adalah seorang terkenal, kalau hendak mencarinya, dalam jangka tiga jam, Kongsun To dan kambrat-kambratnya pasti segera tahu."

Co Giok-cin menghela napas, katanya lembut.

"Sungguh tak nyana, langkah kerjamu lebih teliti dari aku."

Pho Ang-soat menghindar dari kerlingan matanya, dari dalam bajunya dia merogoh keluar sebuah buntalan kertas minyak, katanya.

"Inilah panggang ayam yang sempat kubeli di tengah jalan, tak perlu kau bagikan kepadaku, aku sudah makan."

Tanpa bersuara Co Giok-cin menerima buntalan kertas itu serta membukanya, air matanya menetes di atas panggang ayam. Pho Ang-soat pura-pura tidak melihat, katanya.

"Aku sudah memeriksa daerah sekitar sini, dalam jarak tiga li di sini tidak berpenduduk, di belakang juga tiada orang yang menguntit kita, kau harus tidur, bila terang tanah aku ingin kau melakukan sesuatu untukku."

"Tugas apa?"

"Mencari tahu kalau malam dimana Toh Cap-jit menginap? Bila aku mencarinya, seorang pun tidak boleh tahu."

"Jadi aku harus mencarinya?"

"Tampangku gampang menarik perhatian orang, orang yang kenal kau amat sedikit, aku sedikit menguasai tata rias."

"Jangan kau kuatir, aku bukan perempuan lemah, aku bisa menjaga diriku sendiri."

"Kau bisa naik kuda?"

"Ya, pernah belajar sebentar."

"Baiklah, besok pagi kau boleh berangkat dengan naik kuda, setiba di tempat yang banyak orang, segera kau lepaskan kuda ini. Di tengah jalan kau mencegat kereta, bila pulang boleh kau membeli seekor keledai."

Sudah menjadi kebiasaan masyarakat di sebelah utara, tidak sedikit perempuan yang naik keledai.

"Aku pasti dapat bekerja hati-hati, cuma kedua bocah ini..."

"Serahkan kepadaku, teteki dulu sampai kenyang baru kau berangkat, karena itu malam ini kau harus tidur."

"Dan kau?"

"Jangan kau kuatirkan aku, bila perlu ada kalanya aku berjalan pun bisa tidur."

Co Giok-cin menatapnya, pandangannya lembut mesra, terbayang pula rasa iba, seperti banyak persoalan ingin dia bicarakan, ingin mencurahkan hati.

Namun Pho Ang-soat sudah putar tubuh, menghadapi tabir malam yang telah menyelimuti jagat raya, sekarang dia seperti sudah tidur.

Tepat tengah hari.

Kedua orok kecil itu akhirnya tertidur pulas, Co Giok-cin sudah pergi tiga jam lalu.

Pho Ang-soat duduk di tempat gelap di belakang gundukan tanah kuburan, dengan terlongong dia mengawasi tanah membukit di depan matanya, sudah lama dia tidak bergerak.

Pho Ang-soat lantas berpikir, siapa-siapa saja yang dikebumikan di kuburan ini?

Di antaranya ada berapa banyak orang-orang gagah, pahlawan bangsa yang tidak ternama?

Berapa banyak kaum gelandangan yang hidup terluntaterlunta?

Manusia yang hidupnya kesepian, apakah setelah mati dia tetap kesepian?

Setelah dia mati adakah sesama manusia mau mengebumikan dia?

Dikubur dimana?

Siapa yang mampu menjawab semua pertanyaan ini?

Tiada seorang pun.

Pho Ang-soat menarik napas panjang, perlahan dia bergerak berdiri, dilihatnya seekor keledai sedang menuruni tanah gundukan di kejauhan sana.

Seekor keledai yang kurus kelihatan amat letih, langkahnya bergontai seperti sudah kelaparan beberapa hari, penunggangnya adalah nyonya yang kurus dan pucat.

Dari kejauhan Pho Ang-soat sudah mengawasinya, dalam hati dia merasa puas akan tata rias buah tangannya.

Akhirnya Co Giok-cin kembali dengan selamat, tiada yang mengenalnya, juga tiada yang menguntit dia.

Begitu melihat Pho Ang-soat dan kedua anaknya, matanya lantas memancarkan cahaya seperti lazimnya seorang ibu yang bijaksana dan bijak terhadap putra-putrinya, dia memburu ke arah kedua anaknya, satu per satu dia cium pipinya yang montok, lalu mengeluarkan buntalan kertas minyak, katanya.

"Inilah panggang ayam dan daging sapi yang kubeli di dalam kota, kau tidak usah bagikan padaku, aku sudah makan."

Tanpa bersuara Pho Ang-soat mengulur tangannya menerima.

Waktu ujung jari Co Giok-cin menyentuh tangan Pho Ang-soat, terasa tangannya sedemikian dingin.

Seorang yang kepanasan tiga jam di bawah terik matahari, kalau telapak tangannya masih terasa dingin, maka hatinya pasti dirundung persoalan, pikirannya tidak tenteram.

Co Giok-cin mengawasinya, katanya lembut.

"Aku tahu kau pasti amat kuatir menungguku, akan begitu aku berhasil memperoleh berita, aku lantas pulang."

"Jadi kau sudah mencari tahu Toh Cap-jit..."

"Tiada orang yang tahu dimana Toh Cap-jit tidur kalau malam?"

Tukas Co Giok-cin.

"umpama ada orang tahu, dia juga tidak mau mengatakan."

Toh Cap-jit adalah seorang yang supel, orang yang suka berkawan dengan banyak teman, maka temannya tersebar dimana-mana.

"Tapi aku mendapat sebuah berita,"

Ucap Co Giok-cin. Pho Ang-soat dengan serius mendengarkan.

"Temannya memang banyak, tapi musuhnya juga tidak sedikit, satu di antaranya yang paling lihai bernama Ma Gun, setiap penduduk kota tiada yang tidak tahu, bahwa pada tanggal tujuh belas bulan yang akan datang, Ma Gun sudah siap membunuh Toh Cap-jit. Dan lagi agaknya dia sudah punya persiapan, kelihatannya yakin usahanya itu pasti berhasil."

"Hari ini kalau tidak salah sudah tanggal 8,"

Ucap Pho Angsoat. Co Giok-cin mengangguk, katanya.

"Maka aku pikir, dalam beberapa hari ini, dimana jejak Toh Cap-jit, pasti hanya Ma Gun saja yang tahu."

Jika kau ingin mencari jejak seseorang, daripada mencari temannya, lebih baik kau mencari musuhnya.

"Kau sudah menemui Ma Gun?"

"Aku tidak menemuinya,"

Ujar Co Giok-cin tertawa.

"tapi kau boleh pergi mencarinya, menemuinya secara terang-terangan, tak usah takut diketahui Kongsun To dan kambrat kambratnya, bila mereka tahu, bukan mustahil keedaan malah menguntungkan kita."

Senyumannya lembut dan juga manis. Pho Ang-soat menatapnya sesaat, mendadak dia sadar, dia tahu apa maksudnya, sorot matanya lantas memancarkan makna memuji dan kagum.

"Restoran tersebar di kota depan itu bukan Thian-hiang-lau, tapi adalah Teng-sian-lau."

"Ma Gun sering ke sana?"

"Setiap hari dia pasti ke sana, malah setiap pagi hingga malam dia pasti di sana, karena Teng-sian-lau adalah miliknya."

Malam telah tiba.

Pho Ang-soat meninggalkan Co Giok-cin dan anaknya di tengah tanah pekuburan, di antara gundukan tanah yang lembab, semak belukar yang lebat, gelap dan menyeramkan.

Bagaimana dia tega dan lega meninggalkan mereka di sini?

Karena tempat ini terlalu sepi, belukar lebat, gelap dan jarang dijelajahi manusia, maka dia yakin tiada orang mengira mereka bersembunyi di sini, maka dia boleh berlega hati.

Tapi apakah hatinya lega?

Tidak!

Tapi banyak persoalan harus dia bereskan dan atur untuk mereka, supaya bisa bertahan hidup dengan tenteram dan selamat.

Karena dia tahu dirinya takkan bisa selamanya mendampingi mereka.

Tiada seorang pun di dunia ini selamanya dapat mendampingi seorang yang lain.

Betapapun lama pergaulan antar sesama manusia, akhir dari pertemuan atau pergaulan itu pasti berpisah.

Kalau bukan berpisah untuk selamanya, maka berpisah untuk mencari jalan hidup sendiri.

Mendadak dia terkenang kepada Bing-gwat-sim.

Sejauh mana dia sudah berusaha menekan emosinya untuk tidak mengenangnya lagi, tapi di lereng nan sepi, di malam nan hening seperti ini, persoalan yang tidak ingin kau pikirkan, justru paling gampang kau pikirkan.

Karena itu bukan saja dia terkenang kepada Bing-gwat-sim, dia pun teringat kepada Yan Lam-hwi, terbayang olehnya waktu mereka berpisah.

Bing-gwat-sim menatap dengan kerlingan matanya, terbayang akan suara batuk-batuk kering Yan Lam-hwi di tengah cahaya pedangnya yang merah.

Sekarang dimana mereka berada?

Di ujung langit?

Atau di dalam tungku?

Pho Ang-soat tidak tahu, malah dia sendiri juga bingung, entah dimana sekarang dirinya berada?

Di ujung langit?

Atau di dalam tungku?

Golok tergenggam kencang di tangan, dia tahu goloknya itu pernah digembleng dari dalam tungku.

Bukankah sekarang jiwa raganya mirip goloknya yang tergembleng di dalam tungku dulu?

ooooOOoooo Bab 14.

Bayar Dulu Bunuh Kemudian Ma Gun berdiri di pinggir pagar berukir di atas loteng, terhadap sesuatunya kelihatan amat puas.

Tempat itu adalah gedung megah yang mcnterang dengan panjang dan hiasan yang cukup mewah dan antik.

Perabotnya serba kuno dan bernilai tinggi, setiap meja kursi terukir dari k.iyu pilihan, pecah-belah yang dipakai di sini seluruhnya terbuat dari pabrik keramik yang terkenal di kota King-tek-tin.

Tamu-tamu yang makan minum di sini semua adalah pejabat tinggi, hartawan atau orang-orang terkenal yang punya pengaruh.

Padahal tarip di restoran ini satu kali lipat lebih mahal dari restoran termahal manapun dalam kota ini, tapi Ma Gun tahu tamu-tamunya itu tidak memikirkan tarip tinggi, karena kemewahan adalah kegemaran mereka, foyafoya adalah kenikmatan hidup bagi mereka yang kantongnya tebal, asal mereka puas oleh service memuaskan, tidak sayang mereka merogoh kantong membayar mahal.

Seperti biasanya dia memang paling suka berdiri di tempat itu, mengawasi orang-orang yang kelihatannya berduit, punya pangkat dan terpandang mondar-mandir di bawah kakinya, sehingga selalu dia merasakan dirinya jauh berada di atas mereka.

Padahal perawakannya tidak genap lima kaki, namun perasaan bangga itu selalu membuatnya mabuk kepayang, beranggapan bahwa dirinya satu kepala lebih tinggi dari orang lain, karena dia suka menikmati perasaannya ini.

Ternyata Ma Gun juga senang melakukan tindakan atau perbuatan yang dipandang luhur dan disegani, seumpama dia amat senang memegang kekuasaan.

Tapi satu hal yang membuatnya selalu risau adalah Toh Cap-jit yang tidak mau mampus itu.

Bila Toh Cap-jit sudah minum arak, seperti tidak menghiraukan jiwanya lagi, bila dia berjudi, dia pun seperti tidak peduli akan raganya, apalagi bila berkelahi, jiwa raga pun dipertaruhkan seolah-olah dia punya jiwa rangkap sembilan.

"Umpama betul dia punya jiwa rangkap sembilan, aku tidak akan membiarkannya hidup lewat tanggal tujuh belas,"

Ma Gun sudah bertekad bulat, untuk melaksanakan tekadnya ini dia sudah mengatur rencana secara cermat.

Cuma sayang dia sendiri tidak punya pegangan bahwa rencana ini yakin pasti berhasil.

Bila memikirkan hal ini, selalu hatinya risau, masgul.

Untunglah pada saat itu, orang yang dinantikannya sudah datang.

Orang yang ditunggunya ini bernama To Ceng, untuk memanggil To Ceng dari kotaraja dia berani merogoh kantong sebanyak tiga laksa tahil perak, To Ceng diundang untuk membunuh Toh Cap-jit.

Nama To Ceng tidak begitu terkenal di kalangan Kangouw, karena terkenal merupakan pantangan besar bagi tugas dan profesinya.

Memang yang dikejarnya bukan terkenal, bukan nama, tapi kekayaan.

To Ceng adalah pembunuh bayaran, imbalan untuk setiap tugas yang harus dia lakukan paling rendah adalah tiga laksa tahil perak.

Pembunuh bayaran adalah suatu usaha misterius yang sudah menjadi tradisi sejak dahulu kala, bagi setiap pembunuh yang berprofesi dalam bidangnya ini, dia pun pantang publikasi atau mengagulkan diri di depan umum.

Maka di dalam kalangan mereka sendiri, To Ceng adalah orang yang ternama, seorang jagoan, maka tuntutan imbalannya jauh lebih tinggi dari orang lain, karena belum pernah dia gagal membunuh orang.

Perawakan To Ceng tujuh kaki, kulitnya hitam kurus, sepasang matanya bercahaya seperti tajamnya mata elang.

Baju yang dipakainya selalu dari bahan mahal, bikinan tukang jahit terkenal, namun warnanya tiada yang segar.

Sikapnya dingin tabah, tangannya menjinjing sebuah buntalan panjang berwarna kelabu.

Jari-jari tangannya kering bersih dan mantap, semua persyaratan ini amat mencocoki profesinya, sehingga orang akan merasa lega dan mantap meski megeluarkan tarip yang tinggi sebagai imbalannya.

Terhadap persoalan ini kelihatan Ma Gun juga amat puas.

To Ceng sudah mencari tempat duduk di sudut sana, jangan kata mengangkat kepala, melirik pun tidak.

Gerak-geriknya selalu dirahasiakan, pantang bagi dirinya bila orang tahu bahwa antara dirinya dengan Ma Gun sudah terikat oleh suatu kerja sama, maka besar pantangannya, supaya tiada orang tahu untuk apa dia datang kemari.

Ma Gun menghela napas lega, namun dengan napasnya yang berat.

Baru saja dia mau putar tubuh, pikirnya hendak kembali ke kamar kerjanya untuk minum dua cangkir, mendadak matanya tertumbuk pada bayangan seseorang yang sedang melangkah masuk, seorang yang berwajah pucat, gaya langkahnya amat aneh, jari tangannya menggenggam sebilah golok.

Golok yang hitam, golok masih berada di dalam sarungnya, namun kedatangannya sudah terasa mengancam dada setajam golok yang kemilau.

Sorot matanya pun setajam mata golok, sekilas matanya melirik, akhirnya menatap ke arah To Ceng, To Ceng sedang menunduk minum teh.

Orang asing ini menyeringai dingin, lalu duduk di kursi yang berada di dekatnya.

"Pletak" , mendadak kursi yang terbuat kayu pilihan telah patah karena tidak kuat ditindih pantatnya. Dia mengerut alis sambil berdiri, sebelah tangannya meneken meja, mendadak terdengar suara "pletak"

Pula, meja ukir dari kayu pilihan seharga dua puluh tahil perak itu ternyata merekah tepat di tengah.

Sekarang siapa pun sudah tahu bahwa si timpang ini sengaja membuat gara-gara.

Mata Ma Gun mulai mengkerut.

Apakah orang ini jago kosen yang diundang Toh Cap-jit dari tempat lain untuk menghadapi dirinya?

Pengawal dan tukang pukul sudah siap bertindak, tapi Ma Gun mencegah aksi mereka dengan ulapan tangannya.

Kalau To Ceng sudah berada di sini, kenapa tidak mencoba berapa tinggi kungfunya?

Sebagai pedagang, apalagi pedagang yang berhasil, pedagang yang pandai berhitung, maka dia selalu berpedoman satu tahil uang perak yang kukeluarkan harus dapat aku mengeruk sepuluh tahil perak.

Apalagi kedatangan orang asing yang timpang ini agaknya bukan melulu dirinya, tapi yang dihadapinya adalah To Ceng.

Orang asing ini sudah tentu adalah Pho Ang-soat.

To Ceng masih menunduk menikmati tehnya.

Mendadak Pho Ang-soat menghampirinya, katanya dingin.

"Bangun!"

To Ceng tetap tak bergeming, juga tidak bersuara, tapi tamu-tamu yang lain diam-diam sudah kabur dari tempat itu. Pho Ang-soat mengulangi.

"Berdiri!"

Akhirnya To Ceng mengangkat kepala, lagaknya seperti baru melihatnya, lalu sahutnya.

"Duduk lebih enak daripada berdiri, kenapa aku harus berdiri?"

"Karena aku ingin duduk di kursimu itu."

To Ceng menatapnya, perlahan dia turunkan cangkirnya, pelan-pelan mengulur tangan mengambil buntalan di atas meja.

Sudah jelas di dalam buntalan itulah gamannya.

Jari-jari Ma Gun mengepal, jantungnya berdebar lebih cepat lagi.

Dia senang melihat orang membunuh, senang melihat darah orang mengalir.

Belakangan ini jarang ada kejadian apa pun yang menarik perhatiannya, perempuan tidak membangkitkan seleranya lagi, hanya membunuh orang yang selalu dapat membangkitkan rasa puas, peristiwa yang mendebarkan hati.

Tapi hari ini dia kecewa, To Ceng sudah berdiri memegangi buntalannya itu, dia menyingkir tanpa bersuara.

Biasanya dia bekerja amat teliti, tdak mau sembarangan turun tangan di hadapan banyak orang.

Mendadak Ma Gun berkata.

"Hari ini restoran akan ditutup sebelum waktunya, kecuali yang ada perlu dengan aku, yang lain boleh silakan pergi."

Mereka yang ingin menonton keramaian juga terpaksa mengundurkan diri, ruang besar itu kini tinggal dua orang saja.

To Ceng menunduk minum teh, Pho Ang-soat mengangkat kepalanya, menatap Ma Gun yang berdiri di pinggir lankan berukir naga.

"Ada urusan apa kau mencariku?"

Tanya Ma Gun.

"Kau ini Ma Gun?"

Ma Gun mengangguk, katanya sambil tertawa dingin.

"Jika Toh Cap-jit menyuruhmu kemari untuk membunuhku, maka orang yang kau cari betul adalah diriku."

"Jika kau ingin mencari orang untuk membunuh Toh Cap-jit, kau pun tepat berhadapan dengan orangnya."

"Kau?"

Seru Ma Gun di luar dugaan.

"Apa aku tidak mirip pembunuh?"

Tanya Pho Ang-soat.

"Kalian bermusuhan?"

"Membunuh orang bukan pasti harus bermusuhan."

"Biasanya kau membunuh lantaran apa?"

"Lantaran senang."

"Cara bagaiamana baru kau bisa senang."

"Beberapa tahil perak biasanya cukup membuatku senang."

Bercahaya mata Ma Gun, katanya.

"Aku bisa membuatmu senang, maukah kau pergi membunuh Toh Cap-jit?"

"Kabarnya kau seorang cukong yang tidak kikir."

"Kau yakin dapat membunuh dia?"

"Aku berani tanggung dia tidak akan hidup lewat tanggal tujuh belas."

"Dapat membuat para kawan senang, aku sendiri pun ikut riang, sayang kau datang terlambat."

"Kau sudah memilih pembunuh lain?"

Ma Gun melirik ke arah To Ceng, sambil tersenyum dia mengangguk.

"Jika orang ini yang kau panggil, maka kau salah pilih orang."

"O, masa?"

"Orang mati mana bisa membunuh orang."

"Maksudmu dia orang mati?"

"Jika bukan orang mati, sekarang dia sudah membunuhku."

"Kenapa?"

"Karena bila kau tidak bisa membuatku senang, maka aku pasti akan mencari Toh Cap-jit."

"Jika kau mencari Toh Cap-jit maka kau akan suruh dia berhati-hati terhadap orang ini?"

"Aku akan membela Toh Cap-jit membunuhnya."

"Membunuhnya lalu membunuh aku."

"Selama Toh Cap-jit hidup, maka kau harus mati."

"Karena itu sekarang dia harus membunuhmu?"

"Sayang sekali orang takkan bisa membunuh lagi."

Ma Gun menghela napas, dia berputar ke arah To Ceng, katanya.

"Apa yang dikatakannya sudah kau mendengarkan bukan?"

"Aku tidak tuli."

"Kenapa kau tidak membunuhnya?"

"Aku sedang tidak senang."

"Bagaimana supaya kau senang?"

"Lima laksa tahil perak."

Ma Gun seperti terkejut, katanya.

"Membunuh Toh Cap-jit taripnya hanya tiga laksa tahil, membunuh dia kenapa lima laksa?"

"Toh Cap-jit tidak kenal aku, dia tahu aku."

"Karena itu kau bisa membokong Toh Cap-jit, namun harus berhadapan langsung dengan dia."

"Dan lagi dia membawa golok, bahaya yang kuhadapi lebih besar."

"Tapi kau tetap punya keyakinan dapat membunuhnya."

Dingin suara To Ceng.

"Selamanya aku membunuh orang belum pernah gagal."

Ma Gun menghamburkan napasnya, katanya.

"Baik, bunuhlah dia, kubayar lima laksa!"

"Bayar kontan sebelum membunuh."

Itulah lembaran uang kertas yang masih baru, setiap lembar bernilai seribu tahil, seluruhnya berjumlah lima puluh lembar.

Dua kali To Ceng menghitung lima puluh lembar uang baru itu, seperti ini lazimnya para penagih hutang, dua kali dia basahi jarinya dengan ludah, menghitung dua kali, lalu membungkusnya rapi, dia simpan buntalan uang itu ke dalam dompet uang di sabuk kulitnya.

Uang yang diperoleh dari jerih-payah mengucurkan keringat umumnya dipandang amat berharga, lain halnya dengan To Ceng, mencari uang biasanya dia jarang mengucurkan keringat, namun sering mengalirkan darah.

Sudah tentu darah jauh lebih berharga daripada keringat.

Pho Ang-soat memandangnya dingin, mukanya tidak menampilkan perasaan apa-apa, namun Ma Gun sedang tersenyum, katanya.

"Kau pasti sudah mempunyai banyak uang."

To Ceng tidak menyangkal.

"Kau sudah menikah?"

Tanya Ma Gun. To Ceng menggeleng. Makin ramah dan bersahabat senyum Ma Gun, katanya.

"Kenapa tidak kau titipkan uangmu kepadaku, kuberi bunga, setiap bulan tiga persen."

To Ceng geleng-geleng kepala.

"Kau tidak mau? Memangnya kau tidak percaya kepadaku?"

Dingin To ceng.

"Yang kupercaya hanya diriku sendiri."

Lalu dia tepuk dompet uangnya.

"Seluruh harta milikku ada di sini, hanya ada satu cara untuk mengambilnya."

Sudah tentu ma Gun tidak berani bertanya, namun sorot matanya seperti sedang menunggu penjelasan.

"Dengan cara apa?"

"Bunuhlah aku,"

Desis To Ceng, lalu dia menatap Ma Gun.

"Siapa bisa membunuhku, dompet ini akan menjadi miliknya, karena itu kau pun boleh mencobanya."

Ma Gun tertawa, tawa yang dipaksakan, ujarnya.

"Kau tahu aku takkan bisa mencoba, karena "Karena kau tidak punya keberanian, nyalimu kecil,"

Jengek To Ceng.

"Dan kau?"

Mendadak dia berputar menghadap Pho Ang-soat, jengeknya pula.

"Jika aku membunuhmu, apa yang kau tinggalkan untukku?"

"Hanya satu pelajaran."

"Pelajaran apa?"

"Jangan kau bungkus alatmu untuk membunuh dalam buntalan, seorang akan membunuh dan orang yang menjadi korban biasanya tidak sabar lagi menunggu, orang tidak akan memberi kesempatan kepadamu untuk membuka buntalan."

"Pelajaran yang bagus sekali, selanjutnya aku pasti akan selalu mengingatnya,"

Ucap To Ceng, mendadak dia tertawa.

"Sebetulnya aku sendiri pun tidak sabar membunuh orang, pasti hatiku juga gelisah setengah mati."

Akhirnya dia bekerja, mulai membuka bungkusan.

Gaman apakah yang dia sembunyikan dalam buntalannya itu?

Ma Gun ingin sekali melihat gaman apa yang dipakainya untuk membunuh, maka matanya menatap buntalan itu.

Siapa tahu sebelum buntalan terbuka, To Ceng sudah turun tangan.

Cuma gaman untuk membunuh orang ternyata tidak tersimpan di dalam buntalan, setiap anggota badannya ternyata merupakan gaman untuk membunuh orang.

Terdengar "Tak"

Sekali, dari sabuk kulit dan dari lengan bajunya berbareng melesat tujuh titik sinar dingin, dari kerah baju di belakang lehernya juga meluncur tiga batang panah bergantol, sepasang tangannya menimpukkan dua genggam biji teratai besi, ujung kakinya juga menendang keluar dua bilah pisau runcing.

Begitu Am-gi ditimpukkan, orangnya pun melompat ke atas, kedua kakinya menendang beruntun dengan gaya bebek berenang, hanya dalam sekejap, sekaligus dia menyerang dengan empat macam senjata rahasia berbeda yang mematikan.

Sementara buntalan yang menarik perhatian itu masih berada di atas meja.

Aksinya itu memang di luar dugaan, Ma Gun pun terkejut dibuatnya, dalam hati dia mengakui, dengan bekal kepandaian orang ini, dia rela membayar lima laksa perak.

Dia percaya kali ini To Ceng pasti berhasil, dia pun bilang tidak pernah gagal.

Tapi dugaannya keliru, karena dia tidak tahu orang asing yang bermuka pucat ini adalah Pho ang-soat.

Pho Ang-soat sudah mencabut goloknya, golok yang tiada keduanya di kolong langit, permainan golok yang luar biasa.

Betapapun banyak dan jahat serta keji senjata rahasia musuh, muslihat dan perangkap lihai macam apa pun bila berhadapan dengan golok yang satu ini, pasti lumer seperti salju atau es di bawah terik matahari.

Dimana sinar golok berkelebat, terdengarlah dering nyaring, senjata rahasia yang berhamburan di udara satu per satu rontok berjatuhan, setiap Am-gi terkurung menjadi dua, tepat tertabas di tengah, umpama seorang tukang pahat juga tidak akan mampu memotong menjadi dua persis seperti itu, apalagi sedemikian rajin dan rapi.

Baca Juga: Legenda Kelelawar 5

Baca Juga: Kaki Tiga Menjangan 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert