Eps 5 Legenda Kelelawar - Khu Lung
Baca online Legenda Kelelawar - Khu Lung
Cersil Legenda Kelelawar - Khu Lung.
Darah terasa bergolak di rongga dadanya, tanpa pikir lagi ia mendobrak pintu sekuatnya sehingga daun pintu terpentang.
Tapi ia jadi melengak sendiri.
Seorang tampak duduk di tempat tidur dan sedang menyisir rambut dengan santai, siapa lagi kalau bukan Kim Leng-ci?
Wajah si nona tampak pucat dan melotot!
Oh Thi-hoa dengan dingin.
Ko A-lam juga mendelik padanya dengan dongkol.
Oh Thihoa serba runyam, kalau bisa ingin bunuh diri saja.
Terpaksa ia menyengir dan menegur dengan ragu-ragu.
"Meng..... mengapa kau tidak membuka pintu?"
"Untuk apa tengah malam menggedor pintu kamar orang?"
Jengek Kim Leng-ci. Seketika Oh Thi-hoa seperti kena ditampar satu kali, mukanya terasa panas, hati juga panas. Ia termangu-mangu sejenak akhirnya bertanya.
"Jadi kau memang., memang tidak hadir?"
"Hadir kemana?"
Tanya Kim Leng-ci. Mau tak mau Oh Thi-hoa menjadi gemas juga.
"Kau sendiri yang berjanji padaku, mengapa berlagak tidak tahu?"
Kim Leng-ci tak memperlihatkan sesuatu perasaan, jawabnya hambar.
"Aku berjanji? Ah. barangkah aku lupa."
Mendadak ia bangkit.
"blang" , daun pintu terus digabrukkan dengan keras. Karena palang pintu patah lantaran didobrak Oh Thi-hoa tadi. ia lantas menyeret meja untuk menahan daun pintunya. Mendengar suara meja diseret itu. Oh Thi-hoa merasa dirinya seperti seekor anjing, anjing piaraan yang goblok, untung tiada orang lain yang menyaksikan, kalau tidak, mungkin dia bisa membenturkan kepalanya ke dinding untuk bunuh diri. Ia menunduk malu, baru disadarinya tangan Ko A-lam masih digandengnya. Si nona ternyata tidak melepaskan tangannya. Hati Oh Thi-hoa jadi sedih dan berterima kasih pula, katanya sambil menunduk.
"Aku salah.... aku salah menuduhmu."
"Ini kan sifatmu, sudah lama kutahu,"
Ujar Ko A-lam. suaranya lirih lembut dan sedang menatapnya lekat-lekat, lalu berkata dengan suara halus.
"Sebenarnya kau pun tidak perlu sedih, ucapan anak perempuan memang tidak boleh dianggap sungguh-sungguh Bisa jadi ia pun tidak sengaja hendak membohongimu, mungkin ia cuma merasa lucu saja mempermainkanmu."
Sudah tentu maksud Ko A-lam ingin menghibur agar perasaan Oh Thi-hoa tidak terlalu kikuk Tapi bagi pendengaran Oh Thi-hoa.
kata-kata Ko A-lam itu lebih menusuk daripada mencaci maki padanya.
Ko A-lam juga menunduk, katanya.
"Jika.... jika kau merasa kesal kuiringi kau minum barang dua-tiga cawan."
Dalam keadaan demikian Oh Thi-hoa memang memerlukan minum dua cawan arak.
Baru sekarang ia percaya 'teman lama' tetap lebih baik.
Diam-diam ia memaki kebrengsekan dirinya sendiri, punya teman sebaik ini, tapi malah mencari cewek lain, malahan hendak melukai hatinya.
Mata Oh Thi-hoa jadi rada merah, hidung juga rada basah.
Suara jeritan siapakah tadi?
Mengapa menjerit?
Dan suara "plung"
Itu suara apakah sebenarnya?
Mengapa Kim Leng-ci tidak datang memenuhi janjinya?
Urusan apa yang telah mengubah pendiriannya?
Pertanyaan-pertanyaan itu kini sudah dilupakan seluruhnya oleh Oh Thi-hoa.
Kini, asalkan didampingi teman lama seperti Ko A-lam, untuk apa pula dia memikirkan urusan lain?
Oh Thi-hoa kucek-kucek hidung dan berkata.
"Aku akan berusaha mencari arak, dimana akan kau tunggu?"
Ko A-lam tertawa, jawabnya.
"Kau masih tetap sama seperti tujuh delapan tahun yang lalu, tidak berubah sedikitpun."
"Kau pun tidak berubah,"
Kata Oh Thi-hoa sambil menatapnya lekat-lekat. Kepala Ko A-lam tertunduk semakin rendah, ia menghela napas perlahan lalu berkata pula.
"Aku........ aku sudah tua."
Pipinya bersemu merah, di bawah cahaya remangremang, tampaknya lebih muda daripada tujuh-delapan tahun yang lalu.
Seorang yang kesepian bilamana bertemu kembali dengan kekasih lama, mana bisa mengekang perasaannya.
Ko A-lam pun demikian, mustahil Oh Thi-hoa tidak demikian?
Oh Thi-hoa sudah melupakan peristiwa tadi, segera ia pegang tangan si nona dan berkata.
"Marilah kita...."
Belum habis ucapannya, sekonyong-konyong terdengar suara "blang"
Yang keras disertai guncangan yang dahsyat.
Seluruh kapal seakan-akan terlempar oleh suara benturan itu.
lampu tembaga yang menempel di dinding ikut bergoyanggoyang dan hampir padam.
Ko A-lam menjerit perlahan dan menjatuhkan diri ke pelukan Oh Thi-hoa.
Oh Thi-hoa sendiri pun tidak dapat berdiri tegak.
Ia terhuyung-huyung menumbuk tubuh seseorang.
Rupanya Thio Sam adanya, entah sejak kapan ia sudah keluar, bahkan muncul sedemkian cepat.
Jangan-jangan sejak tadi dia sudah berdiri dan mencuri dengar di situ?
Di tengah seribu kerepotannya, Oh Thi-hoa tidak melototi Thio Sam, desisnya.
"Keparat, nampaknya watakmu yang suka main sembunyi-sembunyi ini sukar berubah, hati-hati jika matamu timbul bisul besar."
Thio Sam menyengir, katanya.
"Aku tidak melihat apa-apa dan juga tidak mendengar apapun."
Belum lenyap suaranya ia angkat langkah seribu.
* * * * * * Alam gelap gulita, cahaya bulan maupun sinar bintang tertutup rapat awan tebal, sinar lampu sudah padam tertiup topan.
Badan kapal mulai miring, gelombang badai bergulunggulung mendampar ke atas geladak.
Kecuali topan dan ombak yang gemuruh, apa pun tidak kelihatan dan tidak terdengar.
Tiada seorang pun yang tahu apa yang telah terjadi.
Semua orang berkumpul di atas geladak, semua bermuka pucat ketakutan.
Perubahan alam ini tidak mungkin dilawan oleh siapa pun.
Setiap orang sama memegangi sesuatu, kuatir digulung ombak besar dan tertelan.
Hanya beberapa orang saja yang masih berdiri tegak di sana.
baju mereka pun sudah basah kuyup oleh air ombak, tapi sikap mereka masih tetap tenang.
Lebih-lebih Goan Sui-hun, tampaknya jauh lebih tenang daripada Coh Liu-hiang, ia berdiri tegak di sana dan mendengarkan dengan cermat.
Tiada yang tahu apa yang dapat didengar olehnya.
Tiba-tiba ombak besar mendampar.
seorang kelasi terlempar kemari.
untung Goan Sui-hun sempat menangkap tubuhnya.
Tanyanya dengan prihatin.
"Apa yang terjadi?"
Dengan suara serak kelasi itu menjawab.
"Kapal menumbuk karang. badan kapal pecah dan kemasukan air."
Goan Sui-hun berkerut kening, katanya.
"Dimana juru mudi yang memimpin pelayaran ini?"
"Tidak kelihatan, sudah kucari tidak ketemu. mungkin terhanyut ombak,"
Tutur kelasi itu. Sejak tadi Coh Liu-hiang berdiri di samping Goan Sui-hun, kini mendadak ia berkata.
"Kapal ini masih dapat bertahan berapa lama?"
"Sukar diramalkan,"
Jawab si kelasi.
"Tapi takkan lebih lama dari setengah jam."
Setelah berpikir. Coh Liu-hiang berkata pula.
"Akan kulihat ke depan sana."
Begitu berkelebat, segera tubuhnya seperti menghilang ditelan badai dan ombak yang mengamuk itu.
Batu karang bertebaran di permukaan laut.
dipandang dalam kegelapan malam yang pekat ini tampaknya seperti taring raksasa binatang purba.
Badan kapal seakan-akan tergigit oleh taring raksasa itu.
Mendadak Coh Liu-hiang melihat bayangan orang berkelebat di batu karang sana.
Di malam gelap begini, di tengah damparan ombak dan angin hadai.
tentu sukar baginya untuk membedakan wajah dan bentuk tubuh orang itu.
la cuma merasa Ginkang orang iru maha tinggi, bahkan seperti sudah dikenalnya.
Siapakah gerangan dia?
Mengapa meninggalkan kapal di tengah gelombang ombak sedahsyat ini?
Akan kemanakah dia?
Padahal di kejauhan cuma kegelapan belaka, apapun tak terlihat.
Dipandang ke sana melalui batu karang yang menyerupai deretan gigi raksasa binatang purba, tampaknya seperti berada di perbatasan neraka.
Apakah orang ini sengaja masuk neraka dengan sukarela?
Tiba-tiba terdengar seorang menegur.
"Apakah Coh hiangswe melihat sesuatu?"
Kiranya Goan Sui-hun sudah menyusul tiba, bahkan mengetahui Coh Liu-hiang berada di situ.
Meski matanya buta.
tapi perasaannya seperti mempunyai sebuah mata.
Setelah termenung sejenak, Coh Liu-hiang menjawab.
"Di batu karang sana seperti ada seseorang...."
"Orang? Dimana?"
Tanya Goan Sui-hun.
"Sudah lari ke sana,"
Tutur Coh Liu-hiang sambil memandang ke tempat gelap di kejauhan sana.
"Tempat apakah di sana?"
Tanya Goan Sui-hun pula.
"Entah, tidak kelihatan,"
Jawab Coh Liu-hiang.
"Jika ada orang menuju ke sana, kukira di sana pasti ada pulau."
Kata Goan Sui-hun setelah berpikir sejenak.
"Sekalipun ada, tentu juga pulau karang tanpa penghuni."
"Berdasarkan apa Coh-hiangswe menarik kesimpulan demikian?"
Tanya Goan Sui-hun.
"Kalau ada orang di sana, tentu ada cahaya lampu?"
"Apakah Hiangswe tidak melihat sinar lampu?"
"Tidak ada, apapun tidak kelihatan!"
Goan Sui-hun terdiam agak lama, lalu katanya.
"Apapun juga, di sana kan lebih aman daripada di sini, kalau tidak, mengapa dia kabur ke sana?"
Coh Liu-hiang mengangguk. katanya.
"Betul juga. Tapi dia tahu tempat apa di sana, sedangkan kita tidak tahu."
"Sebab itulah kita pun harus coba ke sana daripada bercokol di sini. yang jelas sebentar lagi akan mati konyol,"
Kata Goan Sui-hun. Sementara itu Oh Thi-hoa dan Thio Sam juga sudah menyusul. segera ia menyela.
"Baik, aku akan pergi dulu ke sana."
"Jika dalam keadaan biasa. tentu Cayhe tidak berani berebut dengan kalian, tapi dalam keadaan begini. apa yang dapat dilihat orang buta mungkin malah takkan terlihat oleh orang yang tidak buta,"
Habis berkata, sekonyong-konyong pemuda tuna netra itu terus melayang ke sana, kedua lengan bajunya mengebut hingga menjangkitkan deru angin.
Ketika suara angin lenyap.
jejaknya juga sudah menghilang dalam kegelapan.
Semua orang melenggong, sampai lama sekali baru Thio Sam menghela napas dan bergumam.
"Pendiam seperti anak perempuan, lincah seperti kelinci lepas. Melukiskan dia dengan kedua kalimat ini sungguh sangat cocok sekali. Biasanya kalian cuma melihat dia ramah tamah dan sangat pendiam. siapa yang menduga dia memiliki Kungfu setinggi itu?"
Oh Thi-hoa juga menghela napas gegetun. katanya.
"Jika Thian mengizinkan aku memilih seorang sahabat, maka aku pasti memilih dia daripada memilih si kutu busuk."
"He, tempaknya kau seperti perempuan bayaran yang lebih suka yang baru dan emoh pada yang lama,"
Jengek Thio Sam. Mendadak Coh Liu-hiang menyela.
"Jika aku, mungkin aku pun akan memilih dia."
"Sebab apa?"
Tanya Thio Sam sambil berkerut kening.
"Sebab aku lebih suka bermusuhan dengan siapa pun juga daripada dengannva."
Kata Coh Liu-hiang.
"Apakah kau anggap dia jauh lebih menakutkan dari musuh paling tangguh yang pernah kau kalahkan?"
Tanya Thio Sam. Dengan sungguh-sungguh Coh Liu-hiang menjawab.
"Terus terang. memang dia jauh lebih menakutkan dari siapa pun."
"Untung dia bukan musuh kita, tapi kawan kita,"
Ujar Oh Thi-hoa sambil menghela napas lega.
"Aku juga cuma berharap dia juga akan menganggap kita sebagai kawannya,"
Tukas Thio Sam. Tiba-tiba Oh Thi-hoa bertanya.
"Apakah tadi kau melihat orang di batu karang sana?"
"Ehm,"
Coh Liu-hiang mengangguk.
"Mengapa tidak segera kau kejar dia?"
"Ginkang orang itu jelas tidak di bawahku, waktu aku hendak mengejar, tahu-tahu dia sudah menghilang."
Oh Thi-hoa berkerut kening, katanya.
"Orang yang memiliki ginkang setaraf kau di dunia ini kuyakin dapat dihitung dengan jari, lantas siapakah orang itu?"
"Meski wajah dan bangun tubuhnya tidak jelas kulihat, tapi rasanya aku pernah melihatnya, seperti orang yang sudah kita kenal,"
Tutur Coh Liu-hiang.
"Katamu perawakannya tidak jelas kau lihat, cara bagaimana diketahui dia itu kenalan kita?"
Tanya Oh Thi-hoa.
"Sebab gaya Ginkangnya amat istimewa. pula dia...."
Coh Liu-hiang tidak melanjutkan, mendadak matanya mencorong terang, seperti teringat sesuatu.
"Dia.... dia apa?"
Tanya Oh Thi-hoa "Dia punya kaki.... Ya. tidak salah lagi kakinya itu,"
Gumam Con Liu-hiang.
"Kakinya kenapa?"
Tanya Oh Thi-hoa pula.
"Kakinya jauh lebih panjang daripada orang lain."
"Hah, yang kau maksudkan apakah... Kau Cu-tiang?"
Seru Oh Thi-hoa dengan terbeliak.
Tapi Coh Liu-hiang tidak menjawab.
Dia tidak suka memastikan sesuatu hal yang belum jelas sepenuhnya.
Ia tahu bilamana seseorang terlalu cepat menarik kesimpulan.
maka sukar menghindari kesalahan.
Padahal kesalahan betapapun kecilnya, sering mendatangkan bencana besar.
Sementara itu Eng Ban-li juga sudah berkumpul di sini, serunya terkejut.
"Wah, jika demikian, jangan-jangan Kau Cutiang memang berada di kapal ini, jangan-jangan Goan Suihun melindunginya selama ini"
"Betul."
Sambung Thio Sam.
"Kabin yang kosong ada empat, rombongan Koh-bwe Taysu menempati tiga kamar. masih sebuah lagi pasti tempat tinggalnya.... Memang sudah kuduga sejak mula pasti ada sesuatu yang tidak beres pada kabin itu." 'Tapi penyakitmu justru setiap kali terlalu cepat menarik kesimpulan,"
Ujar Coh Liu-hiang dengan tertawa.
"Namun sudah jelas aku....."
"Bisa jadi dia tidak turun dari kapal ini, tapi justru datang dari pulau sana,"
Sela Coh Liu-hiang.
"Betul bisa jadi dia sudah berada di pulau sana, ketika mendengar suara kapal menumbuk karang. dengan sendirinya Ia memeriksa ke sini,"
Tukas Oh Thi-hoa.
"Apalagi aku pun tidak tahu jelas sesungguhnya siapai dia. di dunia ini kan banyak orang yang berkaki panjang dan tidak cuma Kau Cu-tiang."
"Pula. seumpama betul dia Kau Cu-tiang. anggap betul dia berada di kapal ini, lalu bagaimana? Kan juga tak dapat membuktikan bahwa Goan Sui hun berkomplot dengannya."
Ujar Oh Thi-hoa.
"Apa betul tidak mungkin?"
Tanya Thio Sam.
"Sudah tentu tidak."
Jawab Oh Thi-hoa dengan mendelik.
"Coba jawab, jika kau menjadi Goan Sui-hun. ketika melihat orang terapung di lautan. apakah kau tak menanyai asal-usulnya, habis itu baru menolongnya?"
"Tidak."
Jawab Thio Sam tanpa pikir.
"Menolong orang seperti juga memadamkan kebakaran. sedetik pun tidak boleh tertunda."
"Itu dia, memang betul begitu,"
Seru Oh Thi-hoa.
"Makanya, sampai detik ini mungkin sekali Goan Sui-hun belum lagi tahu siapa dia."
"Tapi. tapi paling tidak kan harus diceritakannya kepada kita..."
"Cerita apa?"
Kata Oh Thi-hoa "Darimana dia tahu Kau Cutiang ada persoalan dengan kita?
Jika Kau Cu-tiang tidak suka bergaul.
apakah dia dapat memaksanya keluar kamar.
Orang baik seperti dia kan tidak mungkin memaksakan sesuatu kepada orang lain?"
Thio Sam menghela napas gegetun ucapnya.
"Wah. jika demikian, kita mengukur orang lain dengan baju kita sendiri."
"Tepat,"
Seru Oh Thi-hoa.
"Kalau ada sesuatu yang terpuji pada dirimu, maka hal itu adalah kau ini cukup tahu diri."
Ketika angin menderu pula.
Tahu-tahu Goan Sui-hun sudah muncul kembali di depan mereka.
Sekujur badan pemuda tuna netra itu basah kuyup.
tapi sikapnya seakan tak pernah meninggalkan tempatnya.
Segera Oh Thi-hoa mendahului, bertanya.
"Apakah Goankongcu menemukan sesuatu di sana?"
"Ya, daratan,"
Jawab Goan Sui-hun.
"Hah, di sana ada daratan?"
Seru Oh Thi-hoa girang.
"Bukan saja ada daratan, juga ada orang,"
Demikian Goan Sui-hun menambahkan.
"Orang? Ada berapa orang?"
Tanya Oh Thi-hoa pula.
"Seperti sangat banyak."
Oh Thi-hoa tambah heran. tanyanya pula.
"Orang-orang macam apa?"
"Aku cuma mendengar suara langkah orang banyak, lalu buru-buru kembali ke sini."
"Mengapa Goan-kongcu tak bertanya kepada mereka tempat apakah di sana?"
Eng Ban-li ikut bicara.
"Sebab mereka memang hendak mencari kita, mungkin sudah hampir tiba sekarang..."
Belum habis ucapan Goan Sui-hun.
di batu karang sudah muncul satu barisan bayangan orang.
Jumlahnya ada tujuh atau delapan orang, susul-menyusul mereka berjalan di pulau karang yang tandus dan terjal itu dalam kegelapan.
namun cara berjalan mereka sangat cepat dan ringan seperti di tanah datar saja.
Oh Thi-hoa menaruh perhatian penuh mengamati barisan orang itu.
apakah ada orang yang berkaki panjang.
Ternyata tidak ada, Perawakan orang-orang itu rata-rata kecil serupa kaum wanita.
Kini barisan orang itu sudah dekat tapi tetap belum terlihat jelas wajah mereka.
Orang yang berjalan paling depan sangat gesit, kira-kira empat-lima tombak jauhnya, dia lantas berhenti pada puncak sepotong batu karang yang menonjol.
Angin kencang disertai ombak mendampar, orang itu tampak bergoyang-goyang seperti setiap saat bisa ditelan ombak.
Tapi, setelah ombak besar mendampar beberapa kali, orang itu masih tetap berdiri tegak di tempatnya.
Sekali pandang Coh Liu-hiang lantas tahu Ginkang orang ini juga sangat tinggi.
bahkan pasti seorang perempuan.
Terdengar orang itu berseru.
"Apakah di situ kapal penumpang Goan-kongcu dari Tionggoan?"
Suaranya yang nyaring merdu jelas suara perempuan. Segera Goan Sui-hun menjawab.
"Betul. Cayhe memang Goan Sui-hun adanya. entah anda....'' Tidak sampai Goan Sui-hun habiskan ucapannya, orang itu lantas memberi hormat dan berkata.
"Akhirnya Goan kongcu tiba juga di sini dari tempat sekian jauhnya. hamba sekalian terlambat menyambut mohon dimaafkan."
"Apakah di sini Pian-hok-to?"
Tanya Goan Sui-hun.
"Betul!"
Jawab orang itu.
Mendengar itu.
semua orang menghela napas panjang, entah merasa lega.
girang atau cemas.
Meski sudah sampai di tempat tujuan.
tapi sesungguhnya apa yang akan terjadi di sini?
Berapa orang yang dapat pulang dengan hidup?
* * * * * Di kejauhan sana masih tetap gelap gulita dan misterius.
Pian-hok-to masih tetap terselubung kegelapan dan penuh rahasia.
Siapa pun tidak tahu di sana itu surga atau neraka?
Sedikitnya dalam bayangan pikiran setiap orang.
surga tentu tidak berbentuk demikian.
Orang yang berdiri di puncak karang itu mendadak melayang ke atas, sekali kakinya menutul haluan kapal, segera ia mengapung ke puncak tiang layar.
Baru sekarang semua orang dapat melihat jelas orang itu memakai baju hitam mulus muka juga tertutup oleh kain hitam Tangannya memegang seutas tali panjang.
ujung tali itu lantas diikat pada pucuk tiang layar.
Tali itu kelihatan melintang di udara menjurus ke tempat gelap sana, entuh ujung tali yang lain terikat dimana?
Dengan tertawa si baju hitam lantas berkata.
"Ombak sangat besar, batu karang juga sangat curam, silakan kalian melalui jembatan."
"Jembatan? Jembatan apa?"
Tanya Goan Sui-hun dengan kening berkerut.
"Jembatan tali ini,"
Jawab si baju hitam.
"Setelah berada di atas jembatan, asalkan tidak terperosok ke bawah, dapatlah langsung mencapai surga di tengah pulau kami. Tocu sedang menunggu kedatangan tuan-tuan sekalian."
Dia tertawa nyaring lalu menyambung pula.
"Dan setiba di sana. tentu tuan-tuan akan merasakan perjalanan ini tidaklah sia-sia."
"Tapi kalau terjatuh ke bawah jembatan. lantas bagaimana?"
Tanya Oh Thi-hoa.
"Bagi orang yang tidak yakin dapat melintasi jembatan ini, lebib baik tinggal saja di sini,"
Jawab si baju hitam dengan hambar.
"Meski jembatan ini dapat mengantar orang ke surga. tapi bila sampai terjatuh, mungkin akan terjerumus ke neraka dan tak dapat menitis lagi."
"Orang yang dapat melintasi jembatan ini mungkin sangat terbatas. apakah anda menyuruh aku hanya memikirkan kepentingan sendiri dan tidak menghiraukan keselamatan orang lain?"
Ujar Goan Sui-hun. Si baju hitam tertawa, jawabnya.
"Sudah tentu masih tersedia satu jalan lain. orang yang tidak mampu melintasi jembatan ini dipersilakan menempuh jalan satunya lagi."
"Jalan lain macam apakah itu?"
Tanya Oh Thi-hoa pula.
"Bila hari sudah terang, tentu tuan-tuan akan tahu sendiri bagaimana jalan itu,"
Kata si baju hitam.
******* Hari belum lagi terang tanah.
Orang pertama yang naik ke atas jembatan dengan sendirinya ialah Goan Sui-hun.
Sebelum melangkah pergi agaknya ia hendak bicara apa-apa kepada Coh Liu-hiang, tapi akhirnya diurungkan niatnya.
Dia seperti yakin Coh Liuhiang dapat memahami isi hatinya.
Ko A-lam melintasi jembatan itu, Ginkang murid Hoa-sanpay dengan sendirinya tidak lemah.
Sejak tadi ia berdiri di samping Oh Thi-hoa.
sebelum berangkat, dia sempat bertanya pada Oh Thi-hoa.
jalan mana yang akan ditempuhnya.
Belum lagi Oh Thi-hoa bersuara.
Coh Liu-hiang telah mewakilkan menjawab.
"Kami akan mengambil jalan yang lain."
Ko A-lam tak bicara apa-apa lagi.
sebab dia paham maksud ucapan Coh Liu-hiang itu.
Setelah Ko A-lam, giliran berikutnya adalah Hoa Cin-cin, mendadak dia menoleh dan memandang Coh Liu-hiang.
seperti ada yang hendak dikatakan.
tapi tidak berani diucapkannya.
Coh Liu-hiang tertawa.
katanya tersenyum.
"Jangan kuatir, aku pasti akan pergi juga ke sana. kupikir jalan yang lain akan jauh lebih aman dari perjalanan ini."
Muka Hoa Cin-cin menjadi merah.
Diam-diam Oh Thi-hoa menghela napas gegetun.
Ada sementara persoalan tau dapat dipahaminya.
Mengapa anak perempuan yang ditemukan Coh Liu-hiang selalu begitu mulus, murni dan lembut?
Sebaliknya anak perempuan yang dikenalnya kalau tidak angin-anginan dan judes, tentu galak seperti macan betina.
ooo000oooo Jembatan tali itu bergoyang-goyang di tengah tiupan angin kencang.
Dengan sendirinya orang yang berjalan di atas jembatan tali itupun bergoyang-goyang dan setiap saat dapat terjerumus ke bawah, terjerumus ke neraka dan tak mungkin menitis lagi.
Tampaknya mereka masih terus melangkah ke depan setindak demi setindak, dengan perlahan mereka melangkah ke tempat gelap.
Setiap orang sama menahan napas dan berkeringat dingin.
Seumpama akhirnya mereka dapat melintasi jembatan itu.
lalu akan tiba dimanakah mereka?
Yang sedang menanti kedatangan mereka di ujung jembatan tali sama bisa jadi iblis yang diutus datang dari neraka.
Tiba-tiba Oh Thi-hoa berkata pada Coh Liu-hiang.
"Seharusnya kita ikut pergi bersama mereka, mengapa kau tak mau?"
"Kita kan tidak memiliki kartu undangan. juga bukan tamu yang disukai, bila kita pergi bersama mereka, kukira cuma akan menambah susah dan takkan menguntungkan siapasiapa."
"Tapi cepat atau lambat kita kan harus ke sana juga, dari mana kau tahu jalan satunya lagi itu lebih aman daripada melintasi tali ini?"
"Dengan melalui jalan satunya. sedikitnya takkan menarik perhatian orang."
"Betul,"
Sela Thio Sam.
"Kita dapat masuk ke sana dengan menyamar sebagai kelasi, lalu bertindak menurut keadaan."
Tiba-tiba ia melihat Kim Leng-ci berdiri di samping segera ia bertanya.
"Dan kau. nona Kim, mengapa engkau tidak ikut pergi bersama mereka?"
"Aku tidak suka,"
Jawab Kim Leng-ci dengan ketus. Coh Liu-hiang berpikir sejenak, katanya kemudian.
"Maksud nona Kim seharusnya dapat dipahami kita."
"Sudah tentu kupaham mengapa dia tidak ikut pergi, sebab dia ingm mendampingi aku,"
Demikian hampir ucapan ini terlontar dari mulut Oh Thi-hoa. Untung Coh Liu-hiang lantas menyambung pula ucapannya tadi.
"Jika Kau Cu-tiang sudah muncul, tentu Ting Hong juga berada di sana Padahal dia sudah sirik terhadap nona Kim, bila sekarang nona Kim ikut ke sana, bukan mustahil akan mengalami bahaya."
Oh Thi-hoa meraba hidungnya, tiba-tiba ia merasa orang lain jauh lebih cerdik daripada dia dan jauh lebih realistis. Didengarnya Coh Liu-hiang berkata.
"Ada suatu hal ingin kuminta petunjuk kepada nona Kim."
"Kalian kan serba tahu, untuk apa minta petunjukku?"
Jengek Kim Leng-ci.
"Kami tidak tahu sesungguhnya Pian-hok-to ini pulau yang bagaimana keadaannya,"
Ujar Coh Liu-hiang dengan tertawa.
"Betul"
Sambung Thio Sam.
"Yang paling aneh ialah di pulau itu ternyata banyak penghuni. tapi mengapa tiada setitik sinar lampu apapun, apakah orang-orang yang tinggal di pulau itu dapat melihat dalam keadaan gelap?"
Tiba-tiba sorot mata Kim Leng-ci menampilkan perasaan takut. tanpa omong apa-apa, terus berputar pergi. Asalkan "Pian-hok-to"
Disebut, mulut nona itu lantas terkancing rapat seperti terjahit sama sekali tidak mau memberi keterangan.
"Tadinya kukira orang yang mempunyai penyakit sinting adalah Thio Sam. baru sekarang kutahu yang sakit adalah nona itu,"
Ujar Oh Thi-hoa dengan mendongkol. Coh Liu-hiang termenung sejenak, lalu katanya.
"Jika nona Kim tidak mau bicara tentang Pulau Kalong ini, tentu dia punya kesulitan sendiri."
"Kesulitan apa?"
Tanya Oh Thi-hoa.
"Bisa jadi...... bisa jadi Ia pernah diperingatkan orang dan dilarang mengeluarkan rahasia pulau ini,"
Kata Coh Liu-hiang. Oh Thi-hoa sengaja mengeraskan suaranya dan berlagak seperti orang mengancam.
"Jika kau berani membocorkan rahasia pulau ini kedua matamu akan kucungkil dan lidahmu akan kupotong..... begitu bukan ancamannya?"
"Bisa jadi lebih seram daripada itu,"
Ujar Coh Liu-hiang.
"Kau kira dia takut?"
Tanya Oh Thi-hoa.
"Jika ancaman itu datangnya darimu, tentu saja dia tidak takut. Tapi ada sementara orang yang berani berbuat, apa yang telah diucapkan akan dilakukannya,"
Ujar Coh Liu-hiang.
"Seumpama ia benar-benar takut, sekarang kan tiada orang Pian-hok-to di sini, siapa tahu dia membocorkan selukbeluk pulau ini atau tidak?"
"Apa kau yakin di atas kapal ini pasti tiada terdapat orang Pian-hok-to?"
Oh Thi-hoa jadi bungkam dan tidak dapat menjawab, selang agak lama barulah ia menghela napas, katanya sambil menyengir.
"Sekarang aku hanya mengharapkan sesuatu."
"Sesuatu apa?"
Tanya Thio Sam.
"Kuharap bilamana kita sudah berada di pulau itu, jangan sampai orang membual kita berubah menjadi kalong."
Sekuatnya ia kucek-kucek hidung. lalu bergumam.
"Sekalipun aku berubah menjadi seekor anjing juga kutahan, kalau berubah menjadi kalong, menjadi kelelawar, wah......" 00ooo00 Akhirnya ufuk timur mulai terang. bentuk sebuah pulau juga mulai nampak jelas di depan sana. Dengan kecepatan maksimal Oh Thi-hoa berganti pakaian sebagai kelasi, lalu berdiri di haluan kapal dan menunggu. Sesungguhnya bagaimana bentuk Pulau Kalong ini? Apakah terdapat beratus-ratus atau beribu-ribu ekor kalong yang terbang melayang di udara pulau itu? Karena ingin tahu itulah, maka dia menunggu dan menunggu lagj. Dan akhirnya dapatlah ia melihat apa yang diharapkannya. Cuma dia menjadi kecewa dan tercengang, Di atas pulau tiada terdapat seekor kalong pun, bukan saja kalong. bahkan tiada sesuatu apapun. Pulau Kalong ini tidak lebih hanya sebuah bukit karang tandus, tiada bunga, pohon, rumput, binatang dan tiada kehidupan. Orang-orang yang kelihatan semalam juga entah menghilang kemana. Oh Thi-hoa berkaok-kaok penasaran.
"Busyet! Jadi inilah Pulau Kalong. Inikah gua emasnya? Hah. tampaknya kita telah dibohongi bulat-bulat."
Coh Liu-hiang juga sangat prihatin. ia tidak memberi komentar apa-apa.
"Hah, malah diberitahukan di sini ada pemandangan indah. ada arak yang tak habis terminum. scmua itu ternyata cuma kentut maknya busuk. persetan semua hakikatnya tiada bayangan ^setan pun di sini,"
Demikian Oh Thi-hoa uringuringan sendiri.
"Lain-lain memang tidak ada. tapi setan kan jelas ada?"
Ujar Thio Sam.
"Mana ada setan? Kau melihatnya?"
Tanya Oh Thi-hoa.
"Beberapa orang yang datang semalam, apa kalau bukan setan? Orang-orang yang ikut pergi bersama mereka itu mungkin juga sudah dibawa masuk ke neraka."
Sudah tentu Thio Sam cuma berseloroh saja, tapi omong sampai di sini tanpa terasa ia sendiri jadi merinding. katanya pula sambil menyengir terhadap Coh Liu-hiang.
"Menurut pendapatmu, orang-orang itu bersembunyi kemana?"
Coh Liu-hiang tidak bersuara. Sebelum sesuatu persoalan dibikin terang. selamanya ia tidak banyak komentar. Dan jelas peristiwa inipun rada membingungkannya. Oh Thi-hoa membuka suara pula.
"Bisa jadi, sebelumnya mereka menyiapkan kapal lain dan menunggu di sini, begitu orang-orang itu dibawa ke sana, segera kapal diberangkatkan."
"Ehm.... masuk diakal."
Ujar Thio Sam sambil berkeplok.
"Mungkin pula tempat ini bukan Pian-hok-to, tujuan mereka hanya ingin meninggalkan kita di sini,"
Sambung Oh Thi-hoa.
"Bagus. masuk diakal juga."
Tukas Thio Sam pula.
"Dan peduli tempat ini Pian-hok-to atau bukan, yang jelas kita akan mati konyol di pulau karang ini,"
Kata Oh Thi-hoa dengan menghela napas.
"Betul,"
Kata Thio Sam.
"Untung kapal ini terjepit di tengah batu karang. maka tidak sampai tenggelam Tapi siapa pun tidak mampu memindahkan kapal yang kandas ini, terpaksa kita harus tinggal selama hidup di atas kapal."
"Bila di pulau ini ada pepohonan, betapapun kita masih dapat membuat kapal atau membikin sebuah rakit, tapi sayang pulau sialan ini sama sekali tiada tetumbuhan apapun, jangankan pohon."
"Kau tunggu sebentar,"
Kata Thio Sam tiba-tiba. Tiada yang tahu apa yang akan dilakukarnnya. Yang jelas dia terus berlari ke kabin kapal, ketika berlari balik lagi kelihatan dia membawa sebuah kaleng.
"Apakah kau mencarikan arak bagiku?"
Tanya Oh Thi-hoa.
"Dalam keadaan begini, arak pun tidak ingin kuminum lagi."
"Ini bukan arak tapi garam."
Jawab Thio Sam sambil membuka tutup kaleng itu.
"Garam?"
Oh Thi-hoa menegas.
"Untuk apa kau membawa garam sebanyak ini?"
"Kata orang. garam dapat digunakan menolak keangkeran, juga dapat menghilangkan sial,"
Tutur Thio Sam "Nah. silakan kau cicipi sedikit."
Dengan ragu-ragu Oh Thi-hoa memandangnya, akhirnya dicicipj juga setitik.
"Hayo, tambah lagi sedikit,"
Desak Thio Sam.
"Harus makan berapa banyak supaya bisa menghapus kesialan?"
Gumam Oh Thi-hoa.
"Sebaiknya satu kaleng penuh kau makan semua,"
Kata Thio Sam.
"Keparat, apa kau gila?!"
Serentak Oh Thi-hoa berteriak.
"Apakah kau sengaja hendak membunuhku?"
"Mungkin dia hendak membikin dirimu menjadi dendeng agar kelak dapat digunakan sebagai ransum bilamana sudah kehabisan bahan makanan."
Sela Coh Liu-hiang dengan tertawa.
"Hm. biarpun dia makan satu karung garam, dagingnya tetap kecut. aku lebih suka mati kelaparan daripada makan dagingnya."
Ujar Thio Sam dengan tertawa.
"Sesungguhnya apa artinya ini?"
Tanya Oh Thi-hoa gusar.
"Tiada arti apa-apa."
Kata Thio Sam tak acuh.
"Aku cuma pernah mendengar cerita orang. katanya..., katanya bila tikus sudah banyak makan garam. maka akan berubah menjadi kalong. Aku jadi ingin mencoba bila manusia kebanyakan makan garam, apa juga akan berubah jadi kalong seperti halnya tikus?"
Belum habis ucapannya. Oh Thi-hoa menggamparnya. Thio Sam sudah menduga akan tindakan Oh Thi-hoa, cepat ia melompat mundur. katanya sambil tertawa.
"Sebenarnya akan kugunakan diriku sendiri sebagai kelinci percobaan. tapi aku pun kelinci percobaan, tapi aku pun tidak ingin mati konyol di sini, sekalipun benar-benar berubah jadi kalong juga tiada artinya bagiku."
Sejenak Oh Thi-hoa menatap Thio Sam tajam-tajam. akhirnya ia bertanya.
"Apakah maksudmu hendak bilang tempat ini adalah Pulau Kalong?"
"Jika pulau ini bukan Pulau Kalong, maka aku pun bukan Thio Sam. tapi Thio sialan,"
Kata Thio Sam.
"Kalau betul tempat ini Pulau Kalong, lalu kemanakah perginya orang-orang itu?"
"Di dalam gua."
Jawab Thio Sam.
"Aha, betul juga."
Seru Oh Thi-hoa dengan terbeliak.
"Di antara batu karang ini pasti ada gua rahasianya, penghuni Pulau Kalong ini pasti bertempat tinggal di dalam gua, makanya tidak kelihatan sinar lampu apa pun."
Mendadak ia gaplok keras-keras pundak Thio Sam. lalu berkata pula dengan tertawa.
"Hahaha, kau keparat ini memang lebih pintar daripada bapakmu ini. mau tak mau aku mengaku kalah dan kagum padamu."
"Sudahlah. lebih baik kau tidak kagum saja padaku,"
Ujar Thio Sam sambil meringis kesakitan dan setengah berjongkok karena gaplokan keras Oh Thi-hoa itu.
"Jika kau tambah kagum lagi. bukan mustahil tulangku akan rontok seluruhnya."
"Eh. dimanakah Eng-siansing,"
Tiba-tiba Coh Liu-hiang menyela.
"Eng-siansing? Eng Ban-li maksudmu?"
Tanya Oh Thi-hoa.
"Ya rasanya sudah cukup lama tidak kulihat orang ini."
"Bisa jadi ia berada di bawah dan sedang bertukar pakaian,"
Ujar Thio Sam. Seperti tidak ada di sana, waktu kunaik kembali ke sini, kulihat pintu kamarnya terbuka,"
Tutur Oh Thi-hoa. Dengan tertawa lalu ia menyambung pula.
"Orang tua kebanyakan tidak tahan lapar, mungkin dia ke dapur mencari makanan."
"Di dapur juga tidak ada,"
Kata Thio Sam "Waktu kuambil garam tadi, di dapur tiada seorang pun."
Para kelasi kapal berkumpul di buritan, ada yang sedang berunding ada juga yang termenung bingung Dalam keadaan demikian, tiada seorang pun yang berpikir soal makanan lagi.
"Terakhir kalinya kalian melihat dia dimana?"
Tanya Coh Liu-hiang dengan mengernyitkan dahi.
"Jika tidak salah, semalam waktu makan."
Jawab Oh Thihoa.
"Tidak setelah kapal kandas. kulihat dia juga berada di geladak,"
Ujar Thio Sam.
"Lalu?"
Tanya Coh Liu-hiang.
"Selanjutnya tak kuperhatikan lagi."
Jawab Thio Sam. Waktu itu suasana sedang kacau-balau, tentu saja tiada yang sempat memperhatikan orang lain. Coh Liu-hiang tampak tambah prihatin, mendadak ia berkata pula.
"Asalkan dia masih berada di kapal ini, tentu takkan hilang. Mari kita mencarinya."
Tapi baru saja mereka bertiga berlari sampai di pintu kabin. terlihat Kim Leng-ci berdiri di sana dan mengalangi jalan.
"Nona Kim sudilah kau memberi jalan, kami harus mencari orang."
Pinta Thio Sam sambil tertawa.
"Mencari siapa?"
Tanya si nona. Tanpa menunggu jawaban. dengan hambar ia menambahkan.
"Jika Eng Ban-li yang akan kalian cari, kukira tidak perlu dicari lagi."
"Tidak perlu? Mengapa tidak perlu?"
Tanya Oh Thi-hoa tercengang. Tapi Kim Leng-ci sama sekali tidak menggubrisnya. Dengan mengiring tawa Thio Sam lantas berkata.
"Janganjangan nona Kim mengetahui dia berada dimana?"
"Dimana dia berada aku malah tidak tahu. namun jelas kutahu dia tidak lagi berada di atas kapal ini."
"Jadi ia sudah angkat kaki?!"
Teriak Oh Thi-hoa pula.
"Kapan dia pergi. mengapa aku tidak tahu?"
Tetap Kim Leng-ci tidak menggubrisnya. Dalam pandangannya sekarang, di dunia ini seolah-olah tiada terdapat lagi orang macam Oh Thi-hoa ini. Kim Leng-ci menjengek, katanya.
"Hm, aku kan tidak punya kelebihan mata, mengapa aku melihatnya, sebaliknya kalian tidak?"
Setelah melampiaskan rasa gemasnya, kemudian dia menyambung.
"Waktu Goan Sui-hun dijemput orang Pian-hokto, pada saat itulah diam-diam ia memberosot turun melalui samping kapal. Waktu ini aku pun berdiri di atas geladak, sebelum pergi malah titip pesan padaku agar disampaikan kepada kalian, katanya dia telah menemukan sesuatu dan harus cepat-cepat menguntitnya. Sesudah de Pian-hok-to nanti, dia akan berusaha menemui kalian."
Oh Thi-hoa menghela napas gegetun. ucapnya sambil menyengir.
"Bagus, sungguh pemberani. tampaknya nyali orang tua ini jauh lebih besar daripada kita."
Coh Liu-hiang berpikir sejenak, katanya kemudian.
"Engsiansing adalah detektif terkenal nomor satu di dunia ini, ketajaman indera pendengarannya bahkan tiada bandingannya. Ada sementara urusan yang bisa dikerjakan olehnya tapi tidak mungkin dapat dikerjakan oleh kita."
"Betul. Seperti suasana semalam, betapapun tajam penglihatanmu juga tidak ada gunanya. sebab lampu memang sama sekali tidak dapat dinyalakan, maka segala urusan harus didengarkan dengan telinga.
"Apalagi dia terkenal sebagai detektif paling terkenal. caranya mengusut dengan sendirinya lain daripada yang lain,"
Ujar Oh Thi-hoa.
"Cuma sayang, apapun yang didengarnya sekarang tak dapat diberitahukan kepada kita."
"Sekarang kita akan pergi ke pulau sana atau menunggu dijemput orang?"
Tanya Thio Sam.
"Kita sudah menunggu satu malam, menunggu lebih lama lagi juga tidak soal. supaya tidak diperhatikan orang. Eh, betul tidak, kutu busuk tua?"
Kata Oh Thi-hoa. Coh Liu-hiang seperti tidak mendengar pertanyaannya, sebaliknya ia malah bertanya.
"Mana saudara Pek kita?"
"Eh, ya. rasanya sudah lama tidak kulihat dia...."
Seru Oh Thi-hoa dengan melenggong.
"Jangan-jangan dia ikut berangkat bersama Eng Ban-li."
"Waktu kapal kandas, ia seperti tidak berada di geladak,"
Kata Thio Sam.
"Betul, Eng Ban-li memang berangkat sendirian."
Tukas Kim Leng-ci.
"Habis kemana dia? Masa sembunyi?"
Ujar Oh Thi-hoa sambil mengernyitkan dahi.
"Mari kita cari dia, tak peduli kemana dia. kita harus menemukan dia."
Ajak Thio Sam.
Beramai-ramai mereka lantas turun ke kabin.
kamar pertama di sebelah kiri adalah tempat tinggal Goan Sui-hun.
Di situ sudah kosong, tiada seorang pun.
Dengan sendirinya kamar ini cukup indah dan resik.
tapi warnanya boleh dikatakan kacau-balau dan membikin pusing kepala orang yang memandangnya.
Kamar orang buta memang tidak memerlukan perpaduan warna yang serasi, orang buta tak dapat melihat, cukup diraba dengan tangan saja, asalkan terasa halus lunak sudah merupakan kenikmatan baginya.
Kamar kedua adalah tempat tinggal Coh Liu-hiang bertiga.
Dengan sendirinya sekarang juga kosong.
Di kamar Kim Lengci dan Eng Ban-li tentu saja juga tidak terdapat siapa-siapa.
Waktu mereka mendatangi kamar pojok kanan.
kamar terakhir.
pintu ternyata masih dipalang dari dalam.
"Tentunya Kau Cu-tiang tinggal di sini, mungkinkah dia yang membunuh Pek Lak. lalu mayatnya disembunyikan di kolong ranjang?"
Kata Thio Sam, seakan-akan hal itu telah terjadi dan dilihatnya sendiri.
Air muka Oh Thi-hoa rada berubah.
cepat ia mendobrak pintu sekuatnya.
Pintu terbuka, tapi di dalam kosong melompong, apapun tidak ada sampai tempat tidur juga tidak ada.
Dengan mendongkol Oh Thi-hoa melototi Thio Sam.
terpaksa Thio Sam pura-pura tidak tahu.
Kamar tidur Ko A-lam dan Hoa Cin-cin terasa masih berbau harum, cuma penghuninya juga sudah pergi.
Kamar sebelahnya adalah tempat kecelakaan Koh-bwe Taysu.
Setiba di depan pintu, Thio Sam lantas mengkirik.
katanya.
"Kukira kamar ini tidak perlu diperiksa."
"Kenapa tidak?"
Tanya Oh Thi-hoa.
"Sejak beliau mengalami kecelakaan. kamar ini sudah dicuci bersih. siapa yang berani masuk ke sini?"
"Mengapa tidak berani?"
Tanya pula Oh Thi-hoa.
"Koh-bwe Taysu mati penasanan. arwah beliau tentu masih menunggu di dalam dan ingin menuntut balas,"
Kata Thio Sam pula dengan tertawa.
Sampai di sini kembali ia merinding lagi.
Orang yang suka menakut-nakuti orang, sering-sering akan ketakutan sendiri malah Apalagi kalau terbayang betapa lihainya ketika Koh-bwe Taysu masih hidup, setelah mati tentu juga akan menjadi setan yang bengis.
Air muka Kim Leng-ci tampak rada pucat, dengan menggigit bibir ia berkata.
"Kamar ini janganlah diperiksa."
Sebenarnya Oh Thi-hoa juga rada merinding, bisa jadi dia akan lewatkan kamar ini bila si nona tidak menambahkan ucapannya itu.
Tapi lantaran Kim Leng-ci menganjurkan jangan memeriksa kamar itu, Oh Thi-hoa jadi sengaja mau memeriksanya.
Pintu kamar itu tertampak digembok dari luar.
Thio Sam bergumam pula.
"Kalau kamar tergembok dari luar, orang lain mana bisa masuk ke situ?"
Belum habis ucapannya, sekali puntir, Oh Thi-hoa telah patahkan gemboknya dan menolak daun pintu.
Sekonyong-konyong terdengar suara ciat ciut yang menyeramkan.
Apakah ini suara setan?
Baru saja Oh Thi-hoa hendak mundur keluar, tahu-tahu sepotong benda hitam menyambar ke mukanya.
Secara otomatis Oh Thi-hoa menyampuk dengan tangannya, kontan benda hitam itu jatuh ke lantai sambil mengeluarkan suara mencicit.
Kelelawar, kalong!
Yang terpukul jatuh ke lantai itu kiranya cuma seekor kelelawar saja.
Tapi saat ini, bagi pandangannya di dunia ini mungkin tiada makhluk lain yang lebih menakutkan daripada kelelawar, seketika ia merasa seluruh ruas tulang tubuhnya seakan-akan linu.
Darimana datangnya kelelawar ini, datang dari neraka?
Bisa jadi kamar ini pun sudah berubah menjadi neraka Kalau tidak, mengapa kamar ini masih berbau anyir darah, padahal sudah tercuci bersih?
Mendadak Thio Sam menjerit "He, darah...
lihatlah di tubuh kelelawar ini ada darahnya!"
Kelelawar yang hitam itu tampak berlumuran darah merah.
"Kupukul mati dia, tentu saja berdarah,"
Oh Thi-hoa berusaha menjelaskan. tapi tidak urung suaranya menjadi rada keder. Thio Sam menggeleng, katanya.
"Kelelawar sekecil ini. mana bisa mengeluarkan darah sebanyak ini? Konon.... konon kelelawar suka mengisap darah manusia!"
Sambil bicara ia jadi menggigil sendiri.
Muka Kim Leng-ci berubah pucat dan menyurut mundur.
Mendadak Coh Liu-hiang mengalangi si nona dan berkata dengan suara tertahan.
'Tampaknya di kapal ini masih penuh bahaya, kita sama sekali tidak boleh terpencar."
"Tapi... tapi kelelawar... darimana.... darimana datangnya darah?"
Kata Kim Leng-ci dengan parau dan terputus-putus.
"Coba kuperiksa ke dalam kamar,"
Kata Coh Liu-hiang.
Dipelopori Coh Liu-hiang, barulah semua orang berani masuk.
Di dalam kamar sangat gelap.
bau darah bertambah menusuk hidung.
Pek Lak tampak menggeletak di tempat matinya Koh-bwe Taysu kemarin itu.
bahkan gaya membujurnya juga serupa.
Cuma pada dadanya bertambah sebuah cap tangan dan darah tampaknya masih mengalir.
Kim Leng-ci merasa mual, cepat dia memmutar tubuh dan tumpah-tumpah di pojok kamar.
Satu-satunva orang yang masih sanggup bersuara mungkin cuma Coh Liu-hiang.
Ia tercengang agak lama, kemudian baru berkata.
"Ti-sim-jiu ... Dia juga mati oleh serangan Ti-sim-jiu."
"Siapa. siapa yang membunuhnya? Dan apa sebabnya?"
Gumam Thio Sam. Mendadak Oh Thi-hoa membalik tubuh dan menghadap Kim Leng-ci, mukanya tampak pucat dan kelihatan menakutkan, sekata demi sekata ia tegur nona itu.
"Coba julurkan tanganmu!"
Kalau tadi Kim Leng-ci tidak menggubrisnya. sekarang dia menjawab dengan suara rada gemetar.
"Untuk.. untuk apa?"
"Aku ingin melihat tanganmu."
Kata Oh Thi-hoa. Tapi Kim Leng-ci malah menyembunyikan tangannya ke belakang. jawabnva sambit menggigit bibir.
"Tanganku tidak menarik, silakan kau lihat tangan orang lain saja."
"Orang lain sudah pergi semua, mana bisa menjadi pembunuh di sini!"
Jengek Oh Thi-hoa. Seketika Kim Leng-ci menjerit.
"Apa maksudmu? Kau kira akulah yang membunuh dia?"
"Siapa lagi kalau bukan kau?"
Jawab Oh Thi-hoa bengis. Suara teriakan Kim Leng-ci tambah keras, tidak kalah kerasnya daripada suara Oh Thi-hoa.
"Berdasarkan apa kau tuduh aku sebagai pembunuhnya?"
"Lebih dulu kau mengadang kami di sana, kemudian menyuruh kami jangan masuk kamar ini, jelas lantaran kau kuatir kami menemukan mayatnya. betul tidak?"
Tanpa menunggu jawaban si nona, segera Oh Thi-hoa menyambung pula.
"Apalagi sekarang Koh-bwe Taysu sudah meninggal, Ko A-lam dan Hoa Cin-cin juga sudah pergi, orang yang mahir Tisim-jiu di kapal ini hanya tinggal kau saja."
Sekujur badan Kim Leng-ci tampak gemetar saking menahan emosinya, serunya terputus-putus.
"Kau.... kau bilang aku mahir Ti-sim-jiu?"
"Jika kau dapat memainkan Jing-hong-cap-sah-sik kebanggaan Hoa-san-pay tentu kau pun dapat belajar Ti-simjiu."
Saking gemasnya, sampai bibir Kim Leng-ci berubah putih, jengeknya.
"Hm. anjing bisa kentut, kau pun pintar kentut, apakah itu berarti kau pun anjing?"
Oh Thi-hoa melengak, agak lama melototi si nona, tiba-tiba ia menghela napas katanya.
"Boleh terserah padamu, mau maki atau mau pukul diriku, betapapun kita adalah sahabat. Cuma, sahabat tinggal sahabat, keadilan tinggal keadilan. apapun juga aku harus menuntut keadilan bagi yang sudah mati."
Kim Leng-ci juga mendelik padanya.
air mata tampak berlinang-linang dan merembes keluar, meleleh di pipinya yang putih lalu menetes di leher bajunya yang berwarna ungu muda.
Pedih juga Oh Thi-hoa, tapi terpaksa ia keraskan hati dan pura-pura tidak tahu.
Kim Leng-ci membiarkan air matanya bercucuran tanpa mengusapnya, dia masih melototi Oh Thi-hoa, katanya dengan tegas.
"Jika kau yakin aku adalah pembunuhnya, apa pula yang dapat kukatakan. terserah padamu...."
Belum habis ucapannya, pecahlah tangisnya, ia mendekap muka dan tergerung-gerung.
Oh Thi-hoa mengepal tinjunya erat-crat, termangu-mangu sejenak.
lalu membalik tubuh perlahan.
Coh Liu-hiang masih berjongkok di samping mayat Pek Lak, entah apa yang dilihatnya.
Oh Thi hoa menggreget dongkol.
serunya.
"He. menurut kau. cara bagaimana harus kulakukan padanya."
Tanpa menoleh Coh Liu-hiang menjawab.
"Kukira lekas kau minta maaf padanya. lebih cepat lebih baik."
"Apa? Minta maaf? Kau suruh aku minta maaf?"
Oh Thihoa menegas dengan heran.
"Ya bahkan tidak cukup minta maaf saja, kau masih harus katakan padanya bahwa kau ini memang brengsek, si tolol yang sok pintar, habis itu gamparlah pipimu sendiri beberapa kali."
Oh Thi-hoa jadi melenggong, katanya sambil meraba hidung.
"Kau benar-benar menghendaki aku berbuat demikian?"
Coh Liu-hiang menghela napas, katanya.
"Sekalipun hal ini sudah kau lakukan. belum tentu nona Kim memaafkanmu."
"Masa kau anggap dia bukan pembunuhnya?"
Tanya Oh Thi-hoa ragu-ragu.
"Sudah tentu bukan,"
Jawab Coh Liu-hiang.
"Berdasarkan apa kau berkata demikian?"
"Pertama, mayat Pek Lak sudah dingin dan kaku, darahnya juga sudah lama membeku. kuku jarinya saja sudah biru hitam."
"Hal inipun sudah kulihat, setiap orang mati mempunyai tanda-tanda begitu."
"Tapi seorang mati sedikitnya harus tiga jam kemudian baru akan berubah begitu."
"Tiga jam.... maksudmu dia mati sebelum tengah malam?"
"Betul. saat itu kapal membentur karang dan kandas, nona Kim juga berada di atas geladak. bahkan berdiam di sana hingga lama, mana mungkin turun kemari membunuh orang?"
Oh Thi-hoa jadi melongo tak bisa omong lagi.
"Selain itu, dengan ilmu silat Pek Lak. sekalipun Koh-bwe Taysu hidup kembali juga tak bisa membunuhnya dengan sekali pukul. kecuali dia cuma berdiri melenggong dan lupa melawan."
"Bisa jadi dia tidak tidak mengira orang itu akan membunuhnya, maka dia sama sekali tidak berjaga-jaga."
Kata Oh Thi-hoa ragu-ragu.
"Tapi sampai sekarang wajah Pek Lak masih kelihatan menampilkan rasa terkejut dan seram, jelas sebelum mati dia melihat seseorang atau melihat sesuatu kejadian yang amat menakutkan,"
Setelah tertawa lalu Coh Liu-hiang melanjutkan.
"Dan setiap orang, tentu takkan merasakan nona Kim adalah orang yang menakutkan, betul tidak?"
Oh Thi-hoa melenggong pula, mendadak ia membalik tubuh dan menjura kepada Kim Leng-ci, ucapnya.
"Ya, aku.... aku bersalah. akulah yang kentut, harap engkau jangan marah lagi dan sudi memaafkan diriku."
Kim Leng-ci melengos ke sana dan menangis lebih sedih.
"Ya, aku memang berengsek, orang tolol yang sok pintar,"gumam Oh Thi-hoa menyengir.
"Aku memang pantas mampus, kepalaku dipenggal seratus dua puluh kali juga pantas."
Mendadak Kim Leng-ci berpaling dan bertanva.
"Kau bicara setulus hati?"
"Sudah tentu setulus hati,"
Jawab Oh Thi-hoa.
"Aku tidak ingin memenggal kepalamu, aku cuma ingin memotong lidahmu saja agar selanjutnya kau tidak dapat sembarangan omong,"
Ucap Kim Leng-ci.
"Sret, ia melolos belatinya dan berkata pula dengan melotot.
"Nah. berani tidak kau memberikan lidahmu?"
"Bisa menyelamatkan kepala sudah puas bagiku. cuma sebuah lidah saja apa artinya, masa kutolak?"
Ujar Oh Thi-hoa sambil menyengir.
"Baik, julurkan lidahmu!"
Seru Kim Leng-ci. Oh Thi-hoa benar-benar memejamkan mata dan menjulurkan lidahnya.
"Julurkan panjangan sedikit,"
Kata si nona. Ingin bicara. tapi lidah terjulur. tentu saja tidak mampu bersuara, terpaksa Oh Thi-hoa hanya menyengir saja. Dengan tertawa Thio Sam menambahkan.
"Nona Kim, jika mau potong lidahnya harus dipotong sebatas bongkot, agar nanti jika kita kehabisan makanan, lidah ini dapat dibuat bistik."
"Kurasa lidahnya tidak cukup panjang. lebih baik kalau ditambah lagi kedua daun telinganya,"
Ujar Thio Sam.
"Boleh ditambah pula batang hidungnya, toh cepat atau lambat hidungnya pasti akan terlepas dikucek-kucek sendiri olehnya,"
Sela Coh Liu-hiang tiba-tiba. Serentak Oh Thi-hoa berteriak.
"He. kalian anggap diriku ini apa? Babi panggang?"
Mendadak Kim Leng-ci tertawa meski air mata masih meleleh di wajahnya.
Perempuan yang menangis sambil tertawa memang jauh lebih mempesona, mirip setangkai bunga yang mekar dihiasi butiran embun.
Seketika Oh Thi-hoa terkesima memandang si nona.
Tibatiba ia merasa perempuan yang paling disukainya tetap Kim Leng-ci.
Nona ini tidak sok berlagak, tidak aleman dan juga tidak genit-genitan.
Tidak sirikan juga tidak suka dendam.
Suka terus terang, polos dan jujur.
Dalam keadaan betapa buruk, dia masih dapat bergurau untuk melonggarkan perasaan sendiri yang tertekan, berbareng juga untuk menghibur orang lain.
Perangainya yang suka marah-marah cepat datangnya, tapi lenyapnya juga cepat.
Sifat ini mirip benar dengan dirinya.
Singkat kata, Oh Thi-hoa merasa kebaikan si nona terlalu banyak untuk dihitung satu per satu.
Jika anak perempuan sebaik ini dikesampingkan begitu saja, kemana lagi akan mencarinya?
Maka diam-diam Oh Thi-hoa bertekad, selanjutnya akan baik-baik kepada si nona, tidak akan membuatnya marah lagi.
Dengan termangu-mangu Oh Thi-hoa memandangi Kim Leng-ci dan melupakan orang lain yang berada di sekitarnya.
Thio Sam menghela napas, katanya sambil menggeleng.
"Nona Kim tidak jadi memotong lidahnya. tapi tampaknya sukmanya suda kepotong."
"Bukan saja sukmaku, hatiku pun ikut terpotong,"
Gumam Oh Thi-hoa. Dengan pelahan, Kim Leng-ci mengetuk kepala Oh Thihoa dengan punggung belatinya sambil mengomel dengan tertawa.
"Maa kau masih punya hati? Kukira hatimu sudah lama dimakan anjing!?"
Tawa anak gadis sesudah menangis memang mirip cahaya matahari sesudah hujan gerimis.
Hal ini membuat 'plong' juga perasaan semua orang yang semula sangat tertekan.
Tapi ketika Kim Leng-ci melihat mayat Pek Lak.
seketika lenyap pula tertawanya, katanya.
"Mengerikan sekali kematiannya, siapa.... siapakah yang turun tangan sekeji ini?"
"Semalam ketika kapal menubruk karang dan kandas, rasanya setiap orang berada di geladak,"
Ujar Thio Sam.
"Waktu itu kuketahui Pek-siansing tidak... tidak ikut hadir di sana, tadinya kukira dia tidak" .. tidak berani bertemu denganku, maka..,. maka sengaja tinggal di kamarnya. Kalau.."
Kalau dia tak menghindari diriku, mungkin.....mungkin dia tak kan terbunuh,"
Kata Kim Leng-ci dengan mata merah dan pedih.
"Ini bukan salahmu,"
Seru Oh Thi-hoa.
"Yang membunuh dia kalau bukan Kau Cu-tiang pasti Ting Hong. Sebab hanya Kau Cu-tiang saja yang punya alasan untuk membunuhnya. Ketika dia mengetahui mereka juga berada di kapal ini, tentu saja dia terkejut dan takut, maka berusaha membunuhnya."
"Memang beralasan,"
Sela Thio Sam.
"Cuma sayang. waktu itu Kau Cu-tiang sudah pergi sebelumnya."
Oh Thi-hoa terkesiap, katanya pula dengan nada gelagapan.
"Bisa jadi.... bisajadi mereka kabur setelah membunuh, kita kan tidak dapat memastikan kapan matinya Pek Lak, betul tidak?"
"Tapi Kau Cu-tiang dan Ting Hong jelas tak dapat menggunakan Ti-sim-jiu,"
UjarCoh Liu-hiang.
"Darimana kau tahu?"
Tanya Oh Thi-hoa.
"Sebab Ti-sim-jiu yang diyakinkan Koh-bwe Taysu ini justru khusus digunakan untuk menghadapi orang di Pian-hok-to ini,"
Tutur Coh Liu-hiang.
"Inipun membuktikan bahwa Ti-sim-jiu yang lihai itu tidak sampai bocor keluar."
"Betul,"
Kata Oh Thi-hoa. Setelah berpikir.
"Menurut keterangan nona Hoa, katanya Koh-bwe Taysu juga baru saja berhasil meyakinkan Ti-sim-jiu."
"Jika demikian. orang yang mahir Ti-sim-jiu kan ada tiga orang?"
Kata Thio Sam.
"Memang betul ada tiga orang."
Sahut Oh Thi-hoa.
"Tidak, tinggal dua saja, sebab Koh-bwe Taysu sudah mati,"
Tukas Coh Liu-hiang.
"Aku berani menjamin pembunuhnya pasti bukan Ko A-lam sebab semalam dia berada bersamaku. tak mungkin bisa pergi membunuh orang,"
Kata Oh Thi-hoa pula. Kim Leng-ci seperti ingin ngomong apa-apa. tapi urung setelah memandangi Coh Liu-hiang sekejap. Thio Sam lantas berteriak.
"Aha. betul. semalam nona Hoa orang terakhir yang naik ke geladak, waktu dia datang, kebetulan kulihat dia, waktu itupun kulihat sikapnya rada-rada tak beres."
Oh Thi-hoa melotot. tanyanya.
"Maksudmu Hoa Cin-cin?"
"Siapa lagi kalau bukan dia?"
Jawab Thio Sam.
"Tak mungkin,"
Ujar Oh Thi-hoa sambil menggeleng.
"Jika kalian menuduh dia sebagai pembunuhnya. aku tidak percaya."
Kim Leng-ci meliriknya sambil mendengus.
"Hm. kau cuma percaya aku saja yang dapat membunuh orang?"
"Terkadang aku pun bisa pingsan bila melihat darah,"
Kata Thio Sam.
"Untuk mati mungkin sangat sulit, kalau ingin pingsan memang sangat mudah."
"Apapun juga, aku tidak percaya nona cilik selembut itu dapat membunuh orang,"
Kata Oh Thi-hoa.
"Jika benar dia menjadi pembunuh. kukira ada orang akan sedih setengah mati,"
Ia melirik Coh Liu-hiang sekejap, lalu bertanya.
"Betul tidak, kutu busuk tua?"
Tapi Coh Liu-hiang tidak memberi komentar apapun. Tibatiba Kun Leng-ci menghela napas dan berkata.
"Terus terang melihat kelembutan nona Hoa itu, aku pun tidak percaya dia sanggup membunuh Pek Lak."
"Benar, jangan lupa ilmu silat Pek Lak tergolong Jago kelas satu, bahkan Ko A-lam mungkin juga bukan tandingannya. Sedangkan Hoa Cin-cin masih muda belia, ilmu silatnya tak nanti lebih tinggi daripada Ko A-lam, mana bisa dia membunuh jagoan sehebat Pek Lak?"
Thio Sam melenggong juga, ucapnya kemudian.
"Sebenarnya aku pun tidak bilang nona Hoa itu pembunuhnya, aku cuma merasa ada kemungkinan begitu."
"Tapi aku merasa sama sekali tiada kemungkinan begitu,"
Ujar Oh Thi-hoa.
"Jika bukan dia, lalu siapa? Masa arwah Koh-bwe Taysu gentayangan mencari korban?"
Gumam Thio Sam. Kim Leng-ci jadi pucat dan takut lagi, ia tarik Oh Thi-hoa dan membisikinya.
"Tempat ini terasa seram, kalau mau bicara marilah bicara di atas saja."
"Betul, orang Pian-hok-to mungkin sudah datang menjemput kita,"
Kata Oh Thi-hoa.
Setelah mereka keluar semua, mendadak Coh Liu-hiang berjongkok dan mengorek sesuatu di lantai dengan kuku jarinya lalu dibungkusnya dengan secarik kertas kecil dengan hati-hati.
Memangnya apa pula yang diketemukannya?
ooooo00000ooooo Rombongan kelasi yang semula berkumpul di atas geladak, kini sudah tidak keiihatan lagi.
orang sebanyak itu telah menghilang dalam waktu singkat.
Keruan Kim Leng-ci melenggong bingung.
"He, jangan-jangan orang Pian-hok-to sudah datang tadi dan membawa mereka pergi?"
Seru Thio Sam. 'Tanpa dijemput orang. masa kita sendiri tak dapat pergi ke sana?"
Tiba-tiba Oh Thi-hoa berkata dengan gemas.
"Sedikitnya nona Kim tentu tahu jalan rahasia keluar masuk mereka?"
Thio Sam coba memancing. Kim Leng-ci tidak menjawab, mukanya semakin pucat.
"Tidak apa-apa. seandainya kau tidak tahu. kami tetap dapat mengetahuinya."
Ujar Oh Thi-hoa dengan suara lembut. Dia tertawa lalu menyambung pula.
"Sudah banyak kejadian aneh dan peristiwa rumit yang pernah kita alami dan semua dapat kita pecahkan dengan baik."
Mendadak Kim Leng-ci menarik tangan Oh Thi-hoa. katanya dengan gemetar.
"Bagaimana bila kita tidak pergi ke sana?"
"Sebab apa?"
Tanya Oh Thi-hoa heran.
"O, ti..... tidak.... tidak apa-apa..."
Jawab si nona dengan menunduk.
"Kalau kita sudah sammpai di sini, masa tidak jadi ke sana?"
Ujar Oh Thi-hoa.
"Apalagi kita pun tak dapat mundur kembali, hakikatnya tiada pilihan lain bagi kita,"
Tukas Thio Sam.
"Akan tetapi.... tahukah kalian betapa seram tempat itu,"
Kata Kim Leng-ci dengan badan menggigil. Semua orang termenung. Sejenak kemudian barulah Coh Liu-hiang berkata.
"Kalau nona Kim bilang begitu. kupercaya Pian-hok-to pasti suatu tempat yang menakutkan dan lain dari pada yang lain, bisa jadi sama sekali tak dapat kita bayangkan."
"O, nona Kim. kumohon dengan sangat, sudilah kau terangkan, sebenarnya macam apakah Pulau Kalong yang mengerikan itu? Sesungguhnya apanya yang begitu menakutkan?"
Tanya Thio Sam. Sampai lama Kim Leng-ci termenung, akhirnya ia bersuara sekata demi sekata,"Aku tidak tahu!"
"Hahahaha!"
Oh Thi-hoa tertawa geli.
"Aku benar-benar tidak tahu."
Teriak Kim Leng-ci mendadak dengan mendongkol.
"Sebab aku tak dapat melihat apapun."
"Aneh. kau tidak dapat melihat apapun?"
Oh Thi-hoa menegas dengan heran.
"Kalian tidak melihat apa-apa. mengapa merasa takut?"
Dengan gregetan Kim Leng-ci menjawab.
"Justru tidak dapat melihat apapun maka menakutkan."
"Sebab apa? Sungguh aku tidak paham."
Ujar Oh Thi-hoa.
"Aku paham,"
Tukas Thio Sam. ''Hm, kau paham kentut!"
Jengek Oh Thi-hoa. Thio Sam tidak marah. katanya pula.
"Coba jawab. hal apa yang paling menakutkan di dunia ini?"
Oh Thi-hoa berpikir sejenak, lalu jawabnya.
"Kesepian kukira yang paling menakutkan di dunia in. adalah kesunyian."
"Saat ini kita sedang bergulat dengan elmaut dan bukan waktunya berlibur dan membuat sajak!"
Kata Thio Sam dengan mendongkol.
"Habis apa yang paling menakutkan menurutmu?"
Jawab Oh Thi-hoa. Thio Sam memandang jauh ke sana, katanya kemudian.
"Kegelapan! Karena kegelapan maka tak dapat melihat apapun."
Dia menghela napas, lalu menyambung pula.
"Baru sekarang kupaham arti Pulau Kalong itu."
"Apa artinya?"
Tanya Oh Thi-hoa.
"Kau tahu tidak apa kekurangannya pada badan kalong atau kelelawar dan sejenisnya?"
Oh Thi-hoa menggeleng dengan bingung.
"Mata, kelelawar punya mata tapi tak dapat melihat. mereka adalah makhluk hidup yang buta!"
Tutur Thio Sam.
"Jadi kau maksudkan. orang-orang di Pulau Kalong adalah orang buta semua?"
Tanya Oh Thi-hoa.
"Kukira begitu."
Ujar Thio Sam.
"Tapi.... tapi apakah orang buta juga menakutkan?"
Gumam Oh Thi-hoa sambil berkerut kening.
"Orang buta sudah tentu tidak menakutkan. tapi kalau kita sendiri juga berubah buta. itulah yang menakutkan!"
Kata Thio Sam sambil menyeringai. Mau tak mau berubah juga air muka Oh Thi-hoa, katanya.
"Masa kau kira bila kita sampai di Pian-hok-to sana. kita juga akan berubah menjadi buta?"
"Ehmm,"
Thio Sam mengangguk.
"Persetan."
Jengek Oh Thi-hoa.
"Hm. ingin kulihat dengan cara bagaimana mereka akan membutakan matakut kecuali mereka mahir ilmu gaib."
Kim Leng-ci menghela napas katanya.
"Mereka tidak perlu menggunakan ilmu gaib. barangsiapa tiba di sana akan berubah menjadi buta dengan sendirinya."
Ooooooo00000ooooooooo Tandus, gersang!
Itulah keadaan pulau yang misterius ini.
Batunya berwarna kelabu pucat.
dingin keras, seram.
Ombak masih mendampar di pantai pulau dengan suaranya yang gemuryh.
Batu karang memenuhi sekeliling pulau.
hampir setiap arah ada bangkai kapal yang kandas di situ sehingga mirip sebangsa kambing atau kelinci yang tergigit binatang purba.
Betapapun kuat dan ringannya, kapal juga sukar berlabuh di situ.
Di tengah suasana seram itulah Oh Thi-hoa berdiri di atas sepotong batu karang di tepi pantai memandang sekelilingnya.
Akhirnya ia menghela napas panjang dan berkata.
"Sungguh suatu tempat yang mengerikan."
"Jika tidak menyaksikan sendiri biarpun dibunuh juga tidak kupercaya di dunia ini ada tempat begini, tapi ternyata ada manusia yang dapat hidup di tempat demikian."
Kata Thio Sam.
"Bisa jadi mereka bukan manusia, melainkan setan, sebab tempat ini hakikatnya mirip kuburan benda hidup tapi tidak kelihatan,"
Kata Oh Thi-hoa.
"Ya. bahkan kapal yang utuh saja tidak ada, tampaknya setiap yang berada di sini jangan harap lagi akan pergi."
"Apakah kau benar-benar pernah datang ke sini satu kali?"
Tiba-tiba Oh Thi-hoa bertanya kepada Kim Leng-ci.
"Ehm,"
Si nona mengangguk.
"Kemudian cara bagaimana kau meninggalkan tempat ini?"
Tanya Oh Thi-hoa pula.
"Pian-hok Kongcu menyuruh orang mengantar keberangkatanku,"
Jawab Kim Leng-ci.
"Dan kalau tidak diantar, dapatkah kiranya kau pergi sendiri?"
"Jika tidak diantar terpaksa aku harus mati di sini!"
Jawab Kim Leng-ci dengan menunduk.
Begitu berada di pulau ini, lidah si nona serasa begitu kaku sehingga setiap ucapannya seakan-akan sangat memakan tenaga.
Habis berkata tadi butiran keringat lantas menghiasi dahinya.
Mendengar keterangan itu, Oh Thi-hoa menjadi ngeri juga sehingga berkeringat dingin.
Kalau dulu dia pernah menghadapi musuh yang tangguh dan tempat yang betapapun bahayanya, tapi semua itu dapat dihadapinya dengan tenang, sebab tempat-tempat ini cukup banyak peluang untuk kabur bilamana perlu.
Tapi sekarang yang dihadapinya adalah sebuah pulau karang di tengah samudera raya.
Sebuah tempat yang buntu.
Coh Liu-hiang sejak tadi hanya termenung saja.
tiba-tiba ia bertanya.
"Pian-hok Kongcu (Tuan muda kelelawar) yang kau katakan itu apakah Tocu (penguasa pulau) di sini?"
"Ehm,"
Si nona mengangguk.
"Apakah kau tahu dia she apa dan siapa namanya?"
"Tidak.... tidak tahu.... tiada seorangpun tahu."
"Dan juga tiada seorang pun yang pernah melihatnya?"
Tanya Coh Liu-hiang pula.
"Tidak.... kan sudah kukatakan. setiap orang yang berkunjung ke sini akan berubah menjadi buta."
"Hah. jika demikian yang paling untung sekali ini jelas ialah Goan-kongcu."
Ujar Coh Liu-hiang dengan tertawa.
"Untung? Untung apa?"
Tanya Oh Thi-hoa.
"Dia kan orang buta?"
Jawab Coh Liu-hiang. Mendadak Kim Leng-ci menengadah dan berkata.
"Hiangswe.... lekas kita pergi saja, mungkin masih keburu..."
"Pergi dan sini? Kemana?"
Tanya Coh Liu-hiang.
"Kemanapun boleh. daripada di sini."
"Tapi apa yang dapat kita lakukan? Tempat ini tiada terdapat jalan lain."
"Kita dapat mencari sebuah kapal rusak dan sembunyi di situ, kita tunggu bila ada kapal lain datang kemari...."
"Harus tunggu berapa lama?"
Sela Oh Thi-hoa.
"Berapa lamapun jadi, daripada di sini,"
Jawab si nona. Oh Thi-hoa menghela napas, katanya.
"Bagiku tentu saja suka mengawanimu menunggu. tapi kau tidak kenal sifat kutu busuk tua ini."
"Tapi.... Hiangswe, apakah kau tak ingin pulang dengan hidup? Tempat ini sesungguhnya teramat berbahaya."
Seru Kim Leng-ci.
"Semakin seram ucapanmu, semakin dia tak mau pergi!"
Kata Oh Thi-hoa.
"Sebab apa?"
Tanya si nona.
"Sebab urusan semakin berbahaya semakin menarik baginya,"
Tutur Oh Thi-hoa.
"Selama hidup paling suka menyerempet bahaya. suka bertualang. suka perangsang, apakah nanti bisa pulang dengan hidup atau tidak adalah soal lain baginya."
Kembali Kim Leng-ci menunduk. ucapnya perlahan.
"Kutahu kalian tentu.... tentu mengira aku ini takut mati.... padahal yang kutakutkan bukanlah soal mati."
"Kutahu, di dunia ini memang ada hal-hal lain yang jauh lebih menakutkan daripada mati,"
Kata Coh Liu-hiang dengan tenang.
"Sebab itulah..., apabila nona Kim tidak mau tinggal di sini, kami pun tak bisa memaksa."
"Kau kan dapat menyuruh Thio Sam tetap tinggal di sini mengawanimu, ini memang kewajibannya,"
Ujar Oh Thi-hoa. Thio Sam melotot dan berkata.
"Asalkan nona Kim suka, dengan sendirinya akan kutemani dia, cuma dia tidak mau terima diriku, tapi minta kau..."
Mendadak Kim Leng-ci menatap Oh Thi-hoa dan bertanya.
"Apakah kau mau menemani aku?"
"Sudah........ sudah tentu,"
Jawab Oh Thi-hoa sambil mengusap keringat.
"Cuma...."
"Cuma apa?"
Tanya si nona. Oh Thi-hoa memandangnya sekejap, tertatap oleh sorot mata si nona, akhirnya ia menghela napas perlahan dan berkata.
"O, tidak apa-apa, akan kutemani kau."
Kim Leng-ci menatapnya lekat-lekat, sampai lama barulah ia berkata dengan perlahan.
"Bisa mendengar ucapanmu ini apalagi yang kutakuti?...."
Oooooooooo0000000ooooooooo Akhirnya mereka tiba di balik sepotong batu karang yang menyerupai pintu angin, di situ terikat seutas tali baja panjang dan di atas tali tergantung sebuah kereta luncur.
Tali baja itu menjurus ke dalam sebuah gua yang gelap gulita.
Ke sinilah Kim Leng-ci membawa mereka.
"Apakah tempat ini jalan masuknya?"
Tanya Oh Thi-hoa.
"Ya. ketika itu dari sinilah kumasuk ke sana."
Tutur Kim Leng-ci.
"Mengapa tiada terdapat seorang penjaga pun"'"
Tanya Oh Thi-hoa pula.
"Hakikatnya tidak perlu penjaga, sebab setiap orang yang berada di sini kan tiada jalan lain kecuali meluncur masuk ke sana,"
Kata Kim Leng-ci.
"Dan sekali sudah masuk ke sana. untuk keluar lagi boleh dikatakan sesulit...... sesulit naik ke langit."
"Tempat apakah pada akhir persinggahan kereta luncur ini?"
Tanya Coh Liu-hiang.
"Inilah tempat mereka menyambut tamu."
"Di sanakah Pian-hok Kongcu menyambut tamunya?"
"Terkadang Ting Hong yang berada di sana."
"Sesungguhnya Ting Hong itu pernah apanya Pian-hok Kongcu?"
Tanya Coh Liu-hiang.
"Seperti muridnya."
Setelah berpikir sejenak. lalu Coh Liu-hiang bertanya pula.
"Dari sini ke sana kira-kira berapa jauh?"
"Akupun tidak tahu persis berapa jauh,"
Jawab Kim Leng-ci.
"Aku cuma ingat, ketika aku berhitung sampai tujuh puluh sembilan, kereta luncur itu lantas berhenti."
"Tampaknya anak perernpuan memang lebih cermat daripada lelaki, andaikan aku pernah datang kemari, tidak nanti aku main hitung segala,"
Kata Oh Thi-hoa dengan tertawa.
"Seumpama berhitung juga takkan tepat hitunganmu,"
Sela Thio Sam.
"Hakikatnya kau tidak tahu hitungan, sampai berapa cawan arak yang kau minum juga tidak jelas..., terkadang sudah terang kau minum tiga puluh cawan, tapi kau mengaku sudah minum delapan puluh cawan."
"Kutahu kau pintar berhitung. sebab arak yang kau minum tidak pernah lebih dan tiga cawan,"
Ujar Oh Thi-hoa. Tiba-tiba Coh Liu-hiang tertawa, tanyanya.
"Eh. dapatkah kau berhitung sampai lima puluh?"
Dengan mendelik Oh Thi-hoa menjawab.
"Sudah tentu ..."
"Baik, begitu berada di atas kereta, kita lantas mulai berhitung, bila hitungan mencapai lima puluh, segera kita terjun ke bawah,"
Kata Coh Liu-hiang.
oooooo00000oooooo Baru saja hitungan mereka sampai sepuluh, kereta luncur sudah memasuki kegclapan.
Kegelapan yang tiada ujung pangkalnya, kegelapan yang tak diketahui cetek dan dalamnya, satu titik sinar saja tidak ada.
Juga tiada suara apapun.
Tubuh setiap orang meluncur mengikuti kereta gantung itu, hati mereka pun terasa tenggelam ke bawah.
Kalau ada sesuatu yang menakutkan di dunia ini, maka hal itu adalah kegelapan yang tidak nampak apapun.
Ketika mereka berhitung sampai dua puluh lima, cahaya pada mulut gua tempat masuk mereka pun tiada kelihatan lagi.
Setiap orang asemakin gerah, sesak napas dan cemas.
Apakah jalan ini benar-benar jalan masuk ke neraka?
Dengan erat Oh Thi-hoa menggenggam tangan Kim Lengci, ketika hitungannya sampai empat puluh enam, barulah ia melepaskan tangannya dan perlahan menepuk bahu si nona.
"Empat puluh tujuh.... empat puluh delapan....... empat puluh sembilan.... lima puluh....loncat!"
Seketika Thio Sam merasa dirinya seperti sepotong batu yang anjlok ke bawah.
Dan tempat apakah di bawah sana?
Bukit bergolok?
Wajan berminyak mendidih atau lautan api?
Apapun juga yang terdapat di bawah sana, terpaksa ia paSrah nasib.
Hakikatnya ia tak dapat berhenti lagi.
Dalam amat tempat ini, sampai sekian lama masih belum mencapai dasar....
Thio Sam sengaja memejamkan mata malah.
Pada saat itulah sekonyong-konyong ia merasa seperti menyentuh sesuatu.
Segera ia bermaksud menahan tubuhnya, tapi terlambat.
Sekalipun di bawah tidak libih hanya sepotong batu, tempat kakinya akan terbanting patah.
Syukurlah mendadak sebuah tangan mendadak terjulur dari samping dan menyanggahnya dengan perlahan.
Sudah tentu ia tidak dapat melihat tangan siapa itu, tapi selain Coh Liu-hiang rasanya tiada orang lain lagi.
"Ai. mempunyai kawan sebagai Coh Liu-hiang benar-benar beruntung bagiku,"
Demikian pikir Thio Sam.
Baru timbul pikiran begitu.
tiba-tiba tangan itupun beruntun menutuk beberapa Hiat-to di tubuhnya.
Sejenak suasana menjadi sunyi.
rasanya tambah panas dan menyesakkan napas.
Seperti seekor ikan mati saja.
Thio Sam dilemparkan orang ke tanah.
Dia mengertak gigi, menahan sakit dan tidak bersuara.
Orang itupun tidak bertanya, terdengar suara tindakannya yang perlahan meninggalkan tempai itu.
Keadaan gelap gulita, jari sendiri saja tak kelihatan.
Tempat apakah ini?
Apakah penjara?
Dimanakah Coh Liuhiang, Oh Thi-hoa dan Kim Leng-ci?
Thio Sam berharap nasib kawan-kawannya itu akan lebih baik daripada dirinya.
Pada saat itulah, terdengar suara langkah seseorang mendekatinya.
Lalu seorang dilempurkan pula ke tanah.
bahkan terbanting lebih keras.
Rupanva nasib Oh Thi-hoa tidak lebih mujur daripada Thio Sam.
waktu jatuh dia masuk ke sebuah jaring, tapi bukan jaring sembarang jaring, melainkan jaring kawat yang keras sehingga tulangnya tergentak sakit, bantingan tadi malahan hampir membuat tulangnya terlepas.
Kontan ia mencaci maki, tapi betapapun ia berkaok-kaok tetap tiada orang menggubris.
Langkah orang tadi sudah menjauh.
"blang" . terdengar pintu ditutup, dan suaranya dapat diduga kalau bukan pintu batu tentulah pintu besi.
"Siau Oh?..-"
Mendadak didengarnya suara seorang memanggilnya perlahan.
"He. Thio Samkah di situ?"
Jawab Oh Thi-hoa terkejut.
"Ya, tak tersangka kau pun datang kemari,"
Kata Thio Sam dengan gegetun.
"Keparat, sekali ini benar-benar terjungkal dengan penasaran, sampai bayangan lawan juga belum terlihat, tahutahu sudah kejeblos di tangan orang."
Omel Oh Thi-hoa dengan gemas.
Selama hidupnya sudah banyak menyerempet bahaya dan mengalami peristiwa yang menakutkan.
tapi setiap kali sedikitnya dia sempat mengadakan perlawanan.
Namun sekali ini kesempatan melawan saja tidak ada.
Thio Sam menghela napas, katanya.
"Baru sekarang kutahu apa sebabnya nona Kim merasa takut, agaknya kita seharusnya menuruti nasehatnya."
Dengan gregetan Oh Thi-hoa menanggapi.
"Baru sekarang juga kutahu Pian-hok Kongcu itu bukan manusia. sebab kalau dia manusia tentu takkan menggunakan cara sekeji ini."
Tampaknya begitu kita sampai di sini, segera diketahui oleh mereka,"
Ujar Thio Sam.
"Setiap gerak-gerik kita diawasi oleh mereka, sebaliknya kita tidak melihat mereka. Inilah yang benar-benar menakutkan."
"Mana nona Kim?"
Tiba-tiba ia bertanya pula. Oh Thi-hoa tak menjawab, sebaliknya balas bertanya.
"Dimanakah si kutu busuk tua itu? Mengapa tidak kelihatan?"
Belum habis ucapan Thio Sam, mendadak pintu terbuka lagi.
Kembali suara langkah seseorang mendatangi lalu membanting seseorang ke lantai.
Seketika hati Oh Thi-hoa dan Thio Sam tercekam.
Pintu tertutup lagi, segera Oh Thi-hoa berseru.
"Kutu busuk, apa kau?"
Tapi orang itu tidak menjawab. Thio Sam menjadi kuatir serunya.
"Jangan-jangan nasibnya memang lebih jelek daripada kita, dia telah tewas."
"Tidak mungkin. mana bisa orang mati digusur kemari?"
"Seumpama dia mati, tentu juga lukanya tidak ringan, kalau tidak, masa tidak dapat bersuara?"
Kata Thio Sam. Oh Thi-hoa berpikir sejenak, katanya kemudian.
"Kau dapat bergerak tidak? Coba mendekat ke sana dan periksa dia."
"Keadaanku mirip kepiting mampus..."
Kata Thio Sam dengan lesu.
"Kau sendiri bagaimana?"
"Wah, lebih konyol daripada kepiting mampus,"
Jawab Oh Thi-hoa.
"Bisa jadi orang.... orang ini bukan Coh Liu-hiang, tapi nona Kim?"
Asalkan Coh Liu-hiang tidak mati, maka mereka ada harapan akan tertolong. Sebab itulah mereka berharap orang yang baru digusur masuk ini ialah Kim Leng-ci. Tapi Oh Thi-hoa lantas berkata dengan tegas.
"Pasti bukan nona Kim."
"Masa? Darimana kau tahu?"
Tanya Thio Sam. Oh Thi-hoa tidak menjawab lagi.
"Kenapa kau diam saja? Urusan apa yang tak dapat kau ceritakan?"
Omel Thio Sam. Tapi Oh Thi-hoa bungkam. Setelah berpikir, akhirnya Thio Sam berkata dengan rawan.
"Jika Coh Liu-hiang juga terkurung di sini, maka nasib kita pasti tamat."
Sekonyong-konyong orang itu menanggapi.
"Aku bukan Coh Liu-hiang."
Jelas suara ini datangnya dari tempat orang yang baru dilempar masuk itu. Malahan suaranya kedengaran sudah dikenal.
"Siapa?"
Berbareng Oh Thi-hoa dan Thio Sam bertanya. Orang ini menghela napas panjang, jawabnya.
"Aku bukan manusia. Tapi binatang. hewan. hewan yang tidak tahu budi."
"Hah. Kau Cu-tiang. kiranya kau?"
Seru Thio Sam. Betul. memang suara Kau Cu-tiang. Sekarang Oh Thi-hoa juga ingat, serunya.
"He. mengapa kau pun masuk ke sini?"
"Inilah ganjaranku yang setimpal."
Jawab Kau Cu-tiang dengan sedih.
"Apakah Ting Hong..."
"Dia lebih-lebih bukan manusia. bahkan hewan pun bukan,"
Sela Kau Cu-tiang dengan gemas sebelum lanjut ucapan Thio Sam.
"Mengapa dia memperlakukan kau cara begini?"
Tanya Oh Thi-hoa.
Kau Cu-tiang lantas bungkam.
Tapi biarpun dia tidak mengaku.
dalam hati Oh Thi-hoa dapat membayangkan apa yang terjadi.
'Habis mams sepah dibuang'.
setelah tak terpakai.
maka konyollah nasib Kau Cu-tiang.
Seorang kalau suka mengkhianati kawan, tentu dia juga akan dikhianati orang lain.
Memang begitulah nasib penjilat di dunia ini, nasib konyol.
Sayup-sayup Kau Cu-tiang seperti sedang merintih, agaknya dia terluka.
Sebenarnya Oh Thi-hoa hendak menyindir dan mendampratnya, sekarang ia menjadi tidak tega, ia cuma menghela napas panjang dan berkata.
"Untung si kutu busuk itu belum sampai mengalami nasib seperti kita."
"Kan sudah kukatakan, dalam keadaan betapapun gawatnya, dia pasti sanggup..."
Belum habis ucapan Thio Sam, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka lagi dan ada suara tindakan orang pula.
Yang datang sekali ini ternyata dua orang......
Seketika hati Oh Thi-hoa dan Thio Sam tercekam pula.
Betapapun Coh Liu-hiang juga manusia dan bukan malaikat dewata, di tempat segelap ini, betapapun tinggi kepandaiannya juga tiada gunanya.
ooooooooo0000000ooooooooo Coh Liu-hiang memang mempunyai pengalaman tersendiri.
Begitu dia terjun ke bawah kereta luncur itu, segera ia merasakan keadaan yang tidak beres.
Pembawaannya mempunyai sesuatu kelebihan yang aneh, yaitu dapat merasakan dimana beradanya bahaya.
Dan sekarang bahaya itu berada di bawah kakinya.
Namun tubuhnya sudah kadung jatuh ke bawah dan tidak mungkin bisa balik ke atas lagi, juga tidak bisa berhenti.
Agaknya di dunia ini tiada seorang pun yang mampu mengubah nasibnya yang tragis.
Yang mampu mengubah nasibnya hanya dia sendiri.
Barang siapa kalau ingin nasib sendiri berubah.
maka orang yang paling dapat diandalkan ialah dirinya sendiri.
Sementara itu kereta gantung tadi sudah meluncur jauh ke sana.
Begitu terjun ke bawah dan timbul firasat tidak baik, seketika Coh Liu-hiang memancalkan kaki di udara sehingga dia terjungkir dan mengapung lebih tinggi ke atas, kedua kakinya bertekuk dan sempat menggantol Pada tali baja yang melintang di udara itu.
Legalah hati Coh Liu-hiang setelah usahanya berhasil.
Bilamana daya reaksinya sedetik terlambat dan kakinya tidak keburu menggantol pada tali baja, ia akan terjerumus ke bawah, terjerumus ke dalam perangkap seperti apa yang dialami Oh Thi-hoa dan Thio Sam.
Tidak lama kemudian, dapatlah ia mendengar teriakan terkejut dan raungan gusar Oh Thi-hoa, suaranya sangat singkat, lalu suasana kembali sunyi.
Tetapi kesunyian tidak identik dengan aman.
Dalam kegelapan, dimana-mana tersembunyi mara bahaya.
Sambil bergelantungan di kawat baja itu, Coh Liu-hiang harus mengambil keputusan maha penting dalam waktu sesingkatnya, yaitu keputusan yang menyangkut matihidupnya.
Dia dapat melompat ke atas kawat baja dan mundur keluar, ia pun dapat menuju ke pusat Pian-hok-to melalui kawat baja itu.
Tapi segera ia memastikan kedua jalan itu tidak dapat ditempuh.
Sebab pada kawat baja sana pasti ada perangkap lain yang lebih berbahaya sedang menunggu.
Lebih-lebih ia tidak dapat pergi dengan meninggalkan kawan-kawannya yang terjebak.
Kawat baja itu terasa mulai bergoyang.
kereta gantung itu seperti meluncur balik.
Segera Coh Liu-hiang mengayun kawat baja itu sehingga bergoyang kian kemari, jarak ayunan itu makin jauh dan tinggi.
Ketika tinggi ayunan kawat baja itu terasa cukup, mendadak Coh Liu-hiang melepaskan kakinya dan meluncur ke sana.
Ginkang Coh-hiangswe tiada bandingannya, bahkan burung yang bersayap juga tak dapat menandinginya.
Meski ini cuma isyu saja di dunia Kangouw, tapi memang tidak terlalu berlebihan dan mendekati kenyataan.
Berkat ayunan itu, sekali melayang dapatlah ia meluncur sejauh tujuh delapan tombak.
Jika orang lain mungkin luncuran sejauh dan sekeras ini akan membuat kepalanya pecah tertumbuk dinding batu.
Namun Ginkang Coh Liu-hiang memang tinggi luar biasa, ia meluncur dengan kepala di dep.an dan kaki di belakang.
maka begitu ujung jari menyentuh dinding karang, seketika tubuhnya dilemaskan, sekujur badan lantas menempel dinding terus merosot perlahan ke bawah.
Setelah merosot beberapa tombak, perlahan ia menahan tubuhnya sehingga mirip seekor cecak yang menempel di tembok.
Dengan cermat ia mendengarkan apa yang terdapat di bawah.
Tiada sesuatu suara pun yang terdengar, tapi penuh macam-macam bau, ada bau harum arak, buah-buahan dan teh, juga ada bau harum pupur wanita.
Tempat apakah ini?
Ia coba menempelkan telinganya di dinding, maka terdengar di bawah dinding sana seperti ada suara dengusan napas yang terputus-putus dan tertahan, lalu diselingi tawa ngikik perempuan.
Sebagai lelaki yang sudah berpengalaman, Coh Liu-hiang tahu jenis suara apa itu.
Ia tahu bilamana perempuan mengeluarkan suara tertawa geli dan puas seperti itu, sungguh ia tidak ingin mendengarkan suara tertawa begitu di tempat begini.
Lapat-lapat ia pun mendengar debaran jantungnya sendiri.
Ketika debar jantungnya sudah mulai agak tenang, perlahan ia mulai menggeser lagi ke kiri dengan 'Pia-houkang' atau ilmu cecak merayap di dinding.
Akhirnya ia dapat menemukan darimana datangnya suara tertawa tadi, ke situlah dia merayap turun.
Ia yakin, tempat yang ada suara tertawa seperti itu tentu akan jauh lebih aman daripada tempat lain.
Kegelapan memang menakutkan.
tapi sekarang kegelapan malah membantunya, asalkan tidak bersuara, tentu tiada seorang pun akan menemukan dia.
Dan Coh Liu-hiang memiliki Ginkang maha tinggi sudah tentu tidak nanti menimbulkan suara.
Dia merayap terus ke bawah.
ketika ia menyentuh sesuatu yang kemudian diketahuinya adalah daun pintu.
ternyata suara tertawa genit tadi keluar dari balik pintu ini.
Hanya saja suara tertawa tadi kini telah berganti menjadi suara keluhan yang mendebarkan jantung.
Setelah berpikir, akhirnya Coh Liu-hiang tidak jadi mendorong daun pintu itu.
"Ada yang harus dilakukan seseorang, ada pula yang tidak boleh diperbuat seseorang" . Dan untuk hal beginian, maka ia pun tidak ingin mengganggunya. Ia coba menggeser lagi ke kiri, ia menemukan satu sayap pintu pula. Di balik pintu itu tiada sesuatu suara apapun. Ia coba mendorong perlahan daun pintu dan ternyata terus dibuka. Segera di belakang pintu ada orang berseru.
"Silakan masuk!"
Suaranya merdu memikat sehingga sukar bagi orang untuk menolak undangannya.
Padahal Coh Liu-hiang tidak dapat melihat apa yang terdapat di belakang pintu dan juga tidak dapat menerka siapa perempuan itu serta ada berapa orang di situ?
Bisa jadi kalau dia masuk ke situ, untuk selamanya takkan keluar lagi dengan hidup.
Akan tetapi ia toh tetap masuk ke situ.
Sesuatu keputusan ditentukan hanya dalam sekejap saja, tapi akibat dari sesuatu keputusan sering-sering akan mempengaruhi selama hidup seseorang.
Bau harum di dalam rumah semakin semerbak dan memabukkan.
Begitu melangkah ke dalam, segera seseorang menjatuhkan diri ke pelukannya.
Tanpa memandang juga Coh Liu-hiang tahu itu adalah tubuh perempuan.
perempuan telanjang bulat.
Kulit badannya halus licin, buah dadanya tegak kenyal, segenap bagian tubuhnya seperti membara.
Sungguh luar biasa, tempat yang asing, perempuan yang tidak dikenalnya, kegelapan dan....
Berapa orang lelaki di dunia ini yang mampu melawan rangsangan yang memikat ini?
Dengan sendirinya timbul juga reaksi badaniah pada diri Coh Liu-hiang.
Perempuan itu tertawa cekakak cekikik.
malah terus menggerayangi badan Coh Liu-hiang yang timbul reaksi spontan itu.
Dengan suara manis memikat, perempuan itu berkata.
"Ehmmm, kau masih muda. sudah lama dan lama sekali aku tidak pernah berdekatan dengan orang muda. Yang datang ke sini hampir seluruhnya adalah roang tua, tua bangka, ya bau, ya kotor, ya..... ya tidak 'becus' lagi dan ......"
Ia terus merangkul Coh Liu-hiang erat-erat, seakan hendak menelannya bulat-bulat.
Sedemikian 'hot' perempuan itu, sampai Coh Liu-hiang sendiri terkejut.
Hakikatnya perempuan itu bukan lagi manusia tapi lebih mirip seekor srigala betina yang lagi birahi.
Tangan perempuan itu terus menggerayangi tubuh Coh Liu-hiang, kasarnya melebihi lelaki yang paling sadis, dengan napas terengah-engah ia berseru tak sabar.
"Hayolah, lekas tunggu apa lagi?!"
Rupanya 'serigala betina' ini sudah terlalu lama kelaparan dan kehausan begitu mendapat sasaran buruannya, ia sudah tidak tahan lagi.
tidak sabar lagi.
rasanya ingin segera merobek-robek dan mengoyak mangsanya.
Gerak-gerik perempuan itu memang sadis.
mendekati gila.
Diam-diam Coh Liu-hiang menghela napas.
Belum pernah ia menemui perempuan begini.
sebenamya ingin mencoba rasanya ''sadisme' cuma sayang, sekarang bukan waktu yang cocok.
Perempuan itu sedang meratap.
"O, sayang.."
Marilah ... kumohon dengan sangat, jangan.... jangan kau tunggu lagi. aku ... aku tidak tahan...."
Mendadak Coh Liu-hiang memotong ucapannya.
"Coba katakan dulu. sedikitnya aku mesti mengetahui siapa kau?"
"Aku tidak punya she, juga tidak punya nama. cukup asalkan kau tahu aku ini perempuan.... semua perempuan yang berada di sini kan sama saja."
"Tempat apakah ini?"
Tanya Coh Liu-hiang. Perempuan itu seperti terkejut, ia menegas.
"Masa.... masa kau tidak tahu tempat apa ini?"
"Ya, aku memang tidak tahu,"
Jawab Coh Liu-hiang.
"Kau..... kau tidak tahu. lalu cara bagaimana kau datang?"
Belum lagi Coh Liu-hiang menjawab, perempuan itu merangkulnya lagi sambil berkeluh.
"O, aku tidak ambil perduli siapa kau, tidak memusingkan cara bagaimana kau datang kemari. Cukup asalkan kau seorang lelaki, maka aku tidak peduli segalanya."
"Jika aku tidak mau membuktikan?"
Jawab Coh Liu-hiang. Perempuan itu menghela napas panjang, katanya.
"Maka kau harus mati!"
Coh Liu-hiang tahu ucapan itu bukan ancaman, seorang kalau sudah datang di sini memang setiap saat dan dimana pun bisa mati.
bahkan dapat mati dengan sangat cepat.
Jika Coh Liu-hiang ingin selamat, ingin mencari tahu rahasia tempai ini.
maka lebih dulu harus menaklukkannya.
Untuk menaklukkan perempuan jenis ini hanya ada satu cara.
Tapi Coh Liu-hiang ingin menggunakan cara lain.
Mendadak ia pencet Hiat-to mematikan di tubuh perempuan itu sambil menggertak.
"Jika aku mati, maka kau harus mati lebih dahulu. Jika kau ingin hidup, maka kau harus berdaya lebih dahulu agar aku tetap hidup."
Tapi perempuan itu tidak takut, sebaliknya dia malah tertawa, jawabnya.
"Mati? Kau kira aku takut mati?"
"Orang yang bilang di mulut tidak takut mati sudah banyak kujumpai, tapi orang yang benar-benar tidak takut mati belum pernah kulihat,"
Ujar Coh Liu-hiang.
"Jika begitu, sekarang kau sudah melihat satu,"
Kata perempuan itu dengan tertawa.
"Tapi aku pun dapat menyiksa kau hingga jauh lebih menderita daripada mati."
"Menderita?"
Perempuan itu menegas.
"Orang macam diriku ini masa ada penderitaan lain lagi yang dapat menyiksaku?"
Coh Liu-hiaing tidak dapat bersuara lagi, seban ia tahu apa yang diucapkan perempuan itu memang betul.
"Dengan cara apapun tidak dapat kau gertak diriku, sebab hakikatnya aku bukan manusia lagi,"
Kata perempuan itu.
"Asalkan kau bantu aku, maka aku pun akan membantumu,"
Kata Coh Liu-hiang sambil menghela napas.
"Apapun kehendakmu juga akan kupenuhi."
"Aku cuma menghendaki lelaki, menghendaki kau,"
Kata si perempuan tegas.
Kalau hendak menaklukkan perempuan jenis ini, hanya ada satu cara, hakikatnya tiada pilihan lain.
ooooooooo0000000000ooooooooo Betapapun besarnya gelombang ombak akan segera berlalu, datangnya cepat, perginya juga cepat.
Sekarang badai sudah reda dan akhirnya lenyap.
Perempuan itu berbaring lemas di sana.
seolah-olah runtuh seluruhnva.
Hidupnya seakan-akan hanya untuk kepuasan sejenak.
Seorang kalau hidupnya hanya untuk kesenangan sekejap.
maka betapa tragis hidupnya itu.
Tiba-tiba Coh Liu-hiang merasa dia jauh lebih malang dari perempuan mana pun yang pernah dijumpainya, sebab kehidupannya sudah kehilangan arti, tiada kemarin, juga tiada esok.
Kemarin hanya kegelapan belaka, esok bahkan bertambah gelap, hidupnya sama dengan menanti kematian.
Coh Liu-hiang menghela napas, katanya.
"Asal aku dapat keluar dengan hidup. tentu akan kubawa serta dirimu."
"Tidak perlu,"
Jawab perempuan itu.
"Apakah kau ingin tinggal selamanya di sini?"
Perempuan itu mengiakan.
"Mungkin kau sudah lupa keadaan dunia luar sana, di sana tidak segelap ini, di sana ada cahaya. juga ada bahagia."
"Tidak, aku tidak mau. tidak suka cahaya. tidak mau bahagia, aku suka kegelapan,"
Jawab si perempuan.
Apapun yang diucapkannya selalu dengan nada yang sama, selalu manis dan genit, bahwa perempuan yang hidup dalam kegelapan begini bisa mengucapkan kata-kata demikian.
sungguh sukar dibayangkan siapa pun.
Dia sudah kehilangan perasaan sama sekali, katanya pula.
"Yang kuinginkan sudah kau berikan padaku. Kau sendiri menghendaki apa?"
"Aku... aku cuma ingin tanya beberapa soal padamu."
"Tidak perlu kau tanya siapa diriku. hakikatnya aku bukan manusia. aku cuma perempuan jalang. Setiap orang yang datang ke sini boleh mencari aku dan akan kusambut dengan gembira."
Di ruangan yang sempit dan gelap inilah seluruh kehidupannya, seluruh dunianya Di sini tidak kenal tahun, bulan.
juga tak dapat dibedakan siang atau malam.
Dia hanya dapat menunggu selamanya dalam kegelapan, Menunggu dengan telanjang bulat, menunggu sampai dia mati.
Kehidupan ini hakikatnya bukan kehidupan manusia.
siapa pun tidak tahan.
Tapi perempuan ini justru sanggup dan tahan.
Kehidupan begini cukup satu hari saja sudah dapat membuat orang gila, membuat orang kalap dan berubah menjadi hewan yang buas dan rakus.
Sebab itulah apa yang diperbuat perempuan ini dapatlah dimaklumi dan dapat dimaafkan.
Tiba-tiba Coh Liu-hiang memberosot turun dari tempat tidur serta mengenakan bajunya.
Perempuan itupun tidak menahannya, ia cuma tanya.
"Kau akan pergi?"
"Mau tak mau aku harus pergi,"
Jawab Coh Liu-hiang.
"Akan kemana?"
Tanya pula perempuan itu. Coh Liu-hiang menghcla napas, jawabnya.
"Sampai saat ini aku sendiri tidak tahu."
"Kau tahu tempat apakah di luar sana?"
"Tidak tahu."
"Jika tidak tahu. hakikatnya satu langkah saja tidak boleh kau pergi. Bisa jadi, begitu kau keluar dari rumah ini, seketika kau akan mati."
"Ya, bisa jadi...... tapi apapun juga aku harus mencobanya."
"Mengapa kau tak meminta bantuanku?"
Tibatiba perempuan itu bertanya.
Coh Liu-hiang tertegun, sebab ia tidak sampai hati.
Ia tidak tega omong, juga tidak sampai hati meminta dia berbuat sesuatu.
lebih-lebih memperalat dia, sebab sekarang telah timbul semacam perasaan dosa dalam benaknya.
Kalau ada orang yang sampai hati memperalat perempuan malang iini, maka dosanya sungguh boleh dikatakan tak terampuni.
Sampai lama Coh Liu-hiang diam saja, ia menghela napas, kemudian berkata.
"Pokoknya asalkan aku dapat keluar dengan hidup. tentu aku akan kembali kesini untuk mengeluarkanmu."
Perempuan itupun termenung hingga lama, lalu berkata.
"Engkau.... engkau sangat baik."
Tiba-tiba suaranya penuh perasaan halus ia menyambung pula.
"Kau ingin kemana, dapat kubawa kau ke sana."
"Tidak.... tidak, besar sekali bahayanya jika kau ikut padaku,"
Kata Coh Liu-hiang.
"Bahaya?"
Perempuan itu tertawa.
"Mati saja aku tidak takut, masa kutakut bahaya segala?"
"Tapi aku...."
"Aku sendirilah yang mau mengantar suka rela,"
Ujar perempuan itu.
"Hampir tak pernah kulakukan sesuatu dengan suka rela. sedikitnya kau harus memberi kesempatan padaku." 00ooo00 Di dunia ini meski tiada kegelapan yang kekal, tapi juga tidak ada terang yang abadi. Sebab itulah kehidupan manusia selalu diliputi banyak kejadian yang tragis. banyak melahirkan puisi yang menyedihkan dan nyanyian yang mengharukan. Tapi betapa sedih dan harunya sajak, rasanya tak dapat menandingi kalimal sangat sederhana tadi, kalimat yang memilukan hati.
"Hampir tak pernah kulakukan sesuatu dengan suka rela."
Mungkin sangat sedikit orang yang benar-benar dapat memahami isi dan arti yang terkandung pada kalimat yang memilukan ini, sebab memang jarang ada yang mengalami nasib tragis begini.
Apalagi, umumnya manusia hanya tahu pada penderitaan sendiri saja, tapi tak mau tah penderitaan orang lain.
Tapi Coh Liu-hiang justru sangat memahami hal-hal ini.
Dia paham cara bagaimana ikut merasakan kegembiraan dan kesuksesan orang lain, ia pun sangat memahami kemalangan orang lain.
Selalu ia berusaha membagi kelebihan kegembiraan seseorang kepada orang lain yang memerlukannya.
Sebab itulah Coh Liu-hiang selalu bertualang, berkelana, menyerempet bahaya dan ingin ikut campur urusan apapun juga.
Bila perlu ia juga mencuri, bahkan merampas dengan kekerasan.
Itulah Coh Liu-hiang, panglimanya maling, si bagus bangsat.
Dalam kegelapan, Coh Liu-hiang digandeng perempuan itu dan berjalan ke depan dengan perasaan menyesal dan terharu.
"Siapa namamu?"
Tanya Coh L iu-hiang.
"Aku tidak punya nama.... aku cuma sebuah alat... alat pelampiasan,"
Jawab perempuan itu hambar.
"Jika kau berkeras ingin tahu, maka bolehlah kau panggil diriku Tang-sam-nio (si perempuan ketiga sebelah timur), sebab kamarku terletak pada nomor tiga di sebelah timur."
Padahal tiap orang, betapapun rendahnya dia, tentu mempunyai nama.
Bahkan kucing dan anjing terkadang juga diberi nama.
Tapi aneh, mengapa perempuan ini tidak punya nama?
"Kau ingin kubawa ke sana?
Lari keluar?"
Tanya perempuan itu.
"Atau ingin mencari Pian-hok Kongcu?"
"Tidak,"
Jawab Coh Liu-hiang.
"Sekarang aku ingin menolong dulu kawan-kawanku."
Kawan nomor satu.
Urusan kawan lebih penting, kadang orang mengira hidup Coh Liu-hiang hanya untuk orang lain.
Akan tetapi dia suka, dia cuma berbuat apa yang disukainya.
Tiada orang yang dapat memaksa dia.
"Kutahu di sebelah sana ada sebuah penjara,"
Tutur perempuan itu.
"Tapi entah kawan-kawanmu dikurung dimana. bisa jadi mereka sudah terbunuh."
Hal ini memang sama sekali tak berani dipikirkan oleh Coh Liu-hiang.
"Tempat ini terdiri dari tiga tingkat,"
Tutur perempuan itu pula.
"Sekarang kita berada di tingkat paling bawah."
Nyata hidupnya memang benar-benar di nerakanya neraka.
"Tingkat terbawah ini ada tiga deret rumah timur, barat dan selatan. Bagian tengah adalah ruangan duduk, sering kami mengiringi orang minum arak di situ."
Seketika Coh Liu-hiang ingat pada rumah pelacuran yang pernah dikunjunginya.
Di tempat-tempat begitu juga ada sebuah ruangan duduk dan para nona tinggal di kamar-kamar sempit sekelilingnya.
mereka menunggu.
menunggu tamu, menunggu uang yang akan membeli masa remaja mereka.
Kalau dibandingkan tempat ini, jelas mereka jauh lebih beruntung.
Tapi berapa banyak bedanya?
Memangnya siapa yang benar-benar suka melakukan perbuatan mesum begitu?
Siapa pula yang dapat melihat bekas air mata di bawah pupur mereka?
Biasanya.
perempuan yang sudah bercokol lama di tempat begituan juga bisa berubah kaku, pati rasa, tapi juga bisa lelah.
Tentu saja mereka pun ingin kabur, tapi bisa kabur kemana?
"Kedua tingkat di atas sana, selama ini baru satu-dua kali kulihat."
Demikian tutur perempuan itu.
"Untung penjaranya terletak di tingkat paling bawah ini. setelah keluar pintu dan mengikuti dinding kanan, lalu belok ke belakang. tibalah di sana."
Kedengarannya penjara ini terletak sangat dekat, tapi sekarang Coh Liu-hiang merasa jaraknya sedemikian jauh, seolah-olah sukar dicapai.
oooooooo0000000000oooooooooo "Hanya di dalam rumah ini kita boleh bicara, sekeluarnya dari sini tidak boleh lagi mengeluarkan suara apapun juga.
Dimana-mana terpasang perangkap maut.
Kita berjalan dengan perlahan dan hati-hati daripada gagal mencapai tempat tujuan."
Demikian sebelum meninggalkan tempat sempit itu si perempuan berpesan kepada Coh Liu-hiang.
Kini mereka terus mennggeremet ke depan dengan sangat perlahan dan hening.
Coh Liu-hiang merasa tangan perempuan itu mulai basah, jelas berkeringat dingin.
Mau tak mau ia pun merasa sesuatu firasat yang tidak enak.
Pada saat itulah Tang-sam-nio tiba-tiba berhenti, genggamannya bertambah erat.
Meski tidak dapat melihat apa-apa, tapi Coh Liu-hiang merasa ada orang datang.
Yang datang dua orang, meski cara berjalan mereka hatihati, tapi tetap menimbulkan suara yang sangat lirih.
Sudah tentu tidak setiap orang di Pian-hok-to ini memiliki Ginkang tinggi, tapi bilamana dipergoki kedua orang ini, maka akibatnya sukar dibayangkan.
Coh Liu-hiang menempel rapat pada dinding sambil menahan napas.
Kedua orang itu terus maju ke sini dengan perlahan, seperti sedang ronda.
juga seperti sedang mencari apa-apa.
Bilamana ada setitik sinar saja, segera mereka akan mengetahui.
jarak mereka dengan Coh Liu-hiang tidak lebih hanya dua-tiga kaki saja jauhnya.
Tapi di Pulau Kalong ini tidak boleh ada setitik sinar pun, siapa pun dilarang membawa sesuatu benda yang dapat menerbitkan cahaya ke pulau itu.
Begitu ketatnya larangan itu.
sampai barang makanan juga dimakan dingin dan mentah.
sebab kalau ada api tentu juga akan ada sinar.
"Pulau ini mutlak harus selalu gelap!"
Inilah perintah Pianhok Kongcu.
Perintah ini dipegang teguh dan dipatuhi dengan baik.
Kedua orang ini tak bersuara, tapi tiba-tiba Coh Liu-hiang mendengar suara orang.
Kiranya tepat di sampingnya adalah sebuah pintu.
dari balik pintu itulah suara tadi tersiar keluar.
Entah sejak kapan daun pintu sudah terbuka.
Suara seorang lelaki sedang berkata.
"Untuk apa kau tarik diriku? Apakah kau masih ingin minta Pit-hun-oh (sejenis pipa tembakau yang berbentuk seperti botol yang diberi air, kalau dihisap akan timbul suara bunyi air) jamrud ini?"
Seorang perempuan lantas memohon dengan suara halus.
"Ya, sudilah engkau memberikannya kepadaku, bila kau berikan, apapun akan kuserahkan padamu."
"Kan sudah kau serahkan segalanya padaku tadi?"
Ujar lelaki tadi dengan hambar. Tambah lunak suara perempuan itu, katanya.
"Tapi...... tapi lain kali bila......"
"Lain kali?"
Jengek lelaki itu.
"Darimana kau tahu lain kali akan kucari lagi? Perempuan di sini kan tidak cuma kau seorang saja?"
Seketika perempuan itu bungkam dan persoalan ini seperti sudah berakhir. Tiba-tiba lelaki tadi berkata pula.
"Kau kan tidak isap tembakau, mengapa kau berkeras minta pipa tembakau ini?"
"Sebab aku.,. aku menyukainya,"
Jawab perempuan itu perlahan.
"Aku suka.... suka pada lukisan yang terukir di situ."
"Kau dapat melihatnya?"
Lelaki itu tertawa.
"Tapi dapat kuraba. Kutahu lukisan itu melukiskan pemandangan alam. serupa panorama yang ada di kampung halamanku, bila aku merabanya, rasanya seperti pulang ke rumah..."
Suaranya sangat perlahan sehingga seperti orang mengigau, mendadak ia pegang lelaki itu pula dan memohon dengan sangat.
"Sudi.... sudilah engkau memberikan pipa itu kepadaku. sebenarnya aku anggap diriku ini orang mati. tapi bila kuraba ukirannya. seketika aku seperti hidup kembali. Bila meraba ukirannya. aku merasa dapat menahan segala penderitaan apa pun. Selamanya aku tak pernah menyukai sesuatu benda apapun. kumohon dengan sangat. sudilah engkau memberikannya padaku. Lain kali bila.... bila kau datang lagi, tentu aku akan....."
Ratapan itu sama memilukannva seperti apa yang diucapkan Tang-sam-nio. Hampir saja Coh Liu-hiang tidak tahan dan ikut memohon baginya. Tapi belum lagi habis ucapan perempuan itu.
"Plak"
Sekonyong-konyong terdengar suara tamparan keras, agaknya perempuan itu telah digampar hingga jatuh. Lalu terdengar lelaki itu mendengus.
"Hm, lebih baik tanganmu digunakan meraba lelaki saja. perempuan hina macam kau juga berani..."
Mendadak Tang-sam-nio melepaskan pegangan Coh Liuhiang terus menubruk ke arah lelaki itu.
Murka!
Hanya kemurkaan saja yang dapat menyadarkan orang dari pati rasa.
Hanya kemurkaan saja yang dapat membuat orang melupakan segalanya.
Dan Tang-sam-nio telah kalap dan tidak pedulikan apapun juga ketika menubruk orang itu.
Ia merasa tamparan orang itu seakan menampar mukanya.
Sudah tentu mimpi pun lelaki itu tidak tahu akan ditubruk orang dari samping, ia menjerit kaget dan "tring", sesuatu benda terjatuh ke lantai, jelas itulah pipa tembakau yang dimaksudkan.
Kedua orang yang sedang ronda tadi segera berhenti begitu mendengar suara orang dan berdiri diam di samping, setelah mendengar jeritan kaget itu, serentak mereka menubruk maju.
Bisa jadi pada detik itu juga semua perangkap akan digerakkan.
Mungkin Coh Liu-hiang juga akan terjebak ke dalam cengkeraman 'kalong', segala daya upaya tampaknya akan gagal total.
Gagal hanva oleh sebuah pipa tembakau saja.
Padahal untuk sampai di sini, entah sudah berapa banyak kfesukaran yang ditempuh Coh Liu-hiang dan berapa imbalan yang telah dibayarnya.
sekarang dia harus berkorban cuma lantaran sebuah pipa tembakau.
Bilamana ada orang mengetahui akan nasibnya, tentu orang akan menyesal dan mungkin akan menangis baginya.
Akan tetapi Coh Liu-hiang sendiri tidak menyesal.
Sebab ia tahu persoalannya bukan lantaran sebuah pipa tembakau, melainkan kehormatan insani, harkat manusia.
Betapapun harga yang harus dibayarnya ia pun rela, sekalipun harus mengorbankan jiwa juga dia tidak sayang.
Segera Coh Liu-hiang juga bergerak, memapak ke arah kedua peronda tadi, seketika kedua orang itu merasa ada prang menyongsong mereka, namun terlambat, sikut Coh Liu hiang dengan telak menyodok lambung mereka.
Gerakan Coh Liu-hiang sungguh cepat luar biasa, kecepatan maksimal yang dapat dicapai oleh manusia dan tidak nanti dapat dibayangkan orang lain.
Habis itu terus memutar balik dan menghadapi lelaki tadi.
Tang-sam-nio sudah terpental karena hantaman orang itu.
Terdengar orang itu sedang membentak.
"Siapa kau?........."
Belum habis ucapannya.
tahu-tahu pukulan dahsyat Coh Liu-hiang sudah menyambar tiba.
Sekali ini orang itu sudah waspada.
ia sempat menghindarkan serangan Coh Liu-hiang, orang yang bisa datang ke Pian-hok-to sudah tentu bukan sembarang orang.
Segera ia menggeser langkah dan menampar pula.
yang digunakan adalah gerakan 'Toa-sui-pi-jiu' (gerakan membanting dan melempar) yang lihai.
Akan tetapi dia keliru.
Dalam kegelapan begini, mestinya dia tidak perlu mengeluarkan tenaga pukulan sedahsyat itu sebab deru angin pukulannya berbalik menunjukkan tempat dimana dia berada.
Karena itulah, begitu tangannya bergerak, seketika urat nadi pergelangan tanganjuga lantas terpencet lawan.
Mimpi pun tak tersangka olehnya bahwa musuh yang dihadapi sedemikian hebat.
Padahal ia sendiri tergolong tokoh terkenal, sudah banyak pengalaman.
tentu lebih sering menang daripada kalah, maka dia masih dapat hidup jaya sampai sekarang.
Tapi mati pun dia tidak percaya bahwa di dunia ini ada seseorang dapat memegang urat nadinya hanya dalam satu gebrakan saja.
Keruan ia kaget dan membentak.
"siapa kau?..... Tetapi belum habis ucapannya, sekujur badan lantas lemas. beberapa Hiat-to penting telah tertutuk hingga tak bisa berkutik lagi. Tangan yang menutuknya itu bergerak sangat cepat dan enteng. ternyata jauh lebih berguna daripada gerak 'Toa-suipi-jiu'nya yang maha kuat. Segera ia mendengar seorang membisikinya.
"Ingat, mereka juga manusia, jangan kau aniaya mereka!"
Asalkan manusia maka dia harus diperlakukan sama adil.
Siapapun tidak berhak merampas harkat dan jiwa orang lain.
ooooo00000oooooooo Makhluk hidup di dunia ini hanya sebangsa kalong dan kelelawar saja yang dapat terbang berdasar daya perasa sendiri.
Waktu terbang, kelelawar membawa semacam suara aneh dan khas.
bilamana suara ini menyentuh sesuatu benda, seketika akan diketahui oleh kelelawar itu.
Jadi semacam sistem radar zaman sekarang.
Sekarang Coh Liu-hiang mendengar semacam suara yang aneh, segenap penjuru seakan-akan penuh dengan suara khas ini.
Ia tahu manusia kelelawar dari neraka mulai datang.
Alat perangkap belum lagi digerakkan, juga tidak ada senjata rahasia yang terbidik, sebab di sini masih banyak tetamu undangan.
hakikatnya mereka pun belum jelas apa yang terjadi di sini.
Akan tetapi selekasnya mereka pasti akan tahu.
Tidak ada orang yang dapat melawan mereka dalam kegelapan yang tiada harapan ini.
Sebaliknya mereka sudah terbiasa dalam kegelapan, ilmu silat dan serangan mereka mungkin tidak menakutkan jika dilakukan di tempat yang terang, tapi dalam kegelapan jiwa setiap orang dapat direnggutnya.
Coh Liu-hiang juga manusia.
ia pun tidak terkecuali dan sukar terhindar dari nasib buruk itu.
Cuma segala apa memang selalu terjadi dalam sedetik yang sangat singkat.
Jika sekarang Coh liu-hiang mau kabur atau merayap ke atas dinding umpamanya, tentu tiada orang yang mampu mengejarnya, sedikitnya ia dapat menyelamatkan diri dari ancaman maut ini.
Tapi di dunia ini ada juga orang yang benar 'tam-su-ya', artinya konsekuen terhadap sesuatu, terhadap orang atau urusan Dalam keadaan bagaimanapun gawatnya, tidak nanti ia meninggalkan kawan.
Dan begitulah pribadi Coh Liu-hiang.
Didengarnya Tang-sam-nio membisikinya.
"Lekas lari, belok ke kanan, di depan sana...."
Tapi baru sampai di sini, Coh Liu-hiang menarik tangannya dan berseru tertahan.
"Hayo, lari....."
"Tidak aku tidak mau pergi,"
Jawab Tang-sam-nio.
"Harus kutemukan dulu pipa tembakau itu dan kuberikan padanya ."
Coh Liu-hiang menghela napas gegetun dan hendak bicara lagi.
Dalam keadaan demikian, jiwa sendiri juga sukar diselamatkan, tapi perempuan ini malah ingin menemukan pipa tembakau yang jatuh itu, seakan-akan pipa tembakau itu jauh lebih penting daripada jiwa sendiri Jika orang lain tentu akan menganggap perempuan itu sudah gila.
atau paling tidak tentu tolol andaikan tidak ditinggalkan, tentu akan menyeretnya pergi secara paksa.
Tapi Coh Liu-hiang tidak berbuat begitu.
Ia tidak pergi sendiri, juga tidak menyeretnya secara paksa, ia pun tidak merintangi kehendak perempuan itu.
Sebaliknya ia malah membantunya mencari.
Sementara ia tahu yang dicari sesungguhnya bukan pipa tembakau segala, yang dicarinya adalah peri kemanusiaan yang sudah jatuh.
harkat manusia yang hilang.
Untuk ini Coh Liu-hiang harus bantu menemukannya.
Memang begitulah pribadi Coh Liu-hiang.
Demi berbuat sesuatu yang dia anggap harus dikerjakan maka dia tak peduli segala akibatnya, sekalipun golok mengancam di atas kuduknya juga takkan mengubah pendiriannya.
ooooooooo000000000ooooooooooo "Akhirnya pipa tembakau itu ditemukan tidak?"
Inilah pertanyaan Oh Thi-hoa kepada Coh Liu-hiang setelah mendengar ceritanya.
"Sudah tentu ketemu."
Jawab Coh Liu-hiang.
"Dan bila pipa tembakau itu ditemukan. bisa jadi saat itu jiwamu yang akan hilang "
"Bukankah sekarang aku masih hidup segar bugar?"
Oh Thi-hoa menghela napas gegetun, katanya.
"Kau keparat ini memang selalu mujur. Tapi dalam kegelapan begini, cara bagaimana kau menemukan pipa tembakau itu? Itu kan sama saja seperti menggagap jarum di dasar lautan?"
Coh Liu-hiang tertawa. jawabnya secara aneh.
"Jarum kan tidak berbau?"
"Jarum tak berbau, sedang pipa tembakau berbau. Waktu pipa tembakau jatuh ke dasar lantai, tutupnya terlepas. dan baunya tersebar, meski kami tak dapat melihatnya, tapi dapat mencium baunya sehingga ketahuan dimana letak benda itu."
Sekarang Oh Thi-hoa benar-benar menyerah, ia menghela napas panjang. katanya.
"Ehm, kau benar-benar anak yang berbakat tinggi, jika diriku, dalam keadaan begitu tak nanti timbul pikiran semacam ini. Jika aku yang disuruh mencari, mungkin tiga hari juga tak dapat menemukannya."
"Ya, terus terang. aku pun rada kagum terhadap diriku sendiri,"
Kata Coh Liu-hiang.
"Padahal, meski otakmu sangat encer. tapi hidungmu kan cacat. mengapa mendadak jadi tajam juga daya kerjanya?"
"Justru lantaran ciri hidungku ini bila mengendus bau tembakau lantas bersin. maka untuk mencari pipa tembakau itu menjadi lebih mudah."
Mau tak mau Oh Thi-hoa menggeleng kepala dan menghela napas pula, katanya.
"Terkadang aku pun tidak paham, mengapa setiap kali menghadapi bahaya, selalu timbul pikiranmu yang baik dan mendapat akal yang paling bagus hingga segala bahaya berubah menjadi aman....... sesungguhnya ini memang keahlianmu atau cuma mujur saja?"
Oooo000oooo Waktu Coh Liu-hiang menyerahkan pipa tembakau kepada perempuan yang malang itu, saking terharunya, perempuan itu mencucurkan air mata.
Sungguh tak tersangka oleh perempuan itu bahwa dia masih mempunyai air mata untuk dicucurkan.
Sekarang, sekalipun dia mati juga bukan soal lagi, sedikitnya ia sudah menemukan sesuatu yang paling berharga pada sifat manusia, betapapun masih ada orang yang menganggapnya sebagai manusia dan mau memperhatikan dia.
Tapi bagi Coh Liu-hiang, setelah pipa tembakau itu ditemukan, mau tak mau ia harus tetap tinggal di situ.
Tiada jalan lagi baginya untuk pergi.
Suara aneh tadi kini telah memenuhi segenap penjuru dan membuat orang mengkirik.
jelas tempat ini sudah terkepung, entah berapa banyak orang yang datang, juga tak diketahui orang-orang macam apa yang datang ini.
Sampai dinding batu juga timbul suara aneh dan khas, kepungan mereka rasanya seperti sebuah jaring yang mencakup segala penjuru dan tiada sesuatu lubang apapun.
Rasanya Coh Liu-hiang tidak bisa kabur, kemana pun dia pergi pasti akan terjaring.
Tapi jika dia tinggal diam saja di sini, kan juga akan ditemukan oleh mereka?
Dia seperti sudah buntu, tiada jalan lolos lagi.
Jika Oh Thihoa sejak tadi tentu dia sudah menerjang dan mengadu jiwa dengan mereka.
Tapi Coh Liu-hiang tidak bertindak demikian.
Coh Liu-hiang mempunyai cara kerja sendiri.
Dia selalu mendapatkan akal yang paling baik pada saat yang paling gawat.
Ruangan ini paling-palng dua-tiga tombak persegi, hanya ada sebuah meja.
sebuah bangku dan sebuah ranjang, tiada jendela juga tiada pintu tembus lain.
Ruangan ini jadi seperti sebuah gentong dan Coh Liu-hiang justru berada di dalam gentong.
Orang yang datang jelas sangat banyak, sedikitnya ratusan, yang masuk menggeledah ke situ juga ada tujuhdelapan orang.
Setiap orang memegang sepotong pentung kecil panjang.
Pentung ini seperti sungut pada bangsa serangga, digunakan untuk mencari barang yang mencurigakan.
Jadi pentung ini sama dengan mata mereka dalam kegelapan.
Untuk mencari dua orang di dalam sebuah kamar yang begitu kecil, sudah tentu tidak sulit, asalkan 'sungut' mereka menyentuh tubuh Coh Liu-hiang, maka pasti akan tertangkap.
Dengan pentung itu.
orang-orang itu telah memeriksa setiap pelosok ruangan itu, sampai kolong tempat tidur, di bawah meja.
bagian langit-langit, tiada sesuatu tempatpun yang dilewatkan Tapi sebegitu jauh Coh Liu-hiang tidak ditemukan.
Kemanakah Coh Liu-hiang bersembunyi?
Dia bukan dewa, bukan ahli sulap, apakah dia benar-benar dapat menjadi seekor kutu busuk dan sembunyi di sela-sela tempat tidur?
Apalagi dia membawa serta Tang-sam-nio.
Dua orang sebesar itu dan bersembunyi di dalam ruangan sekecil itu, mengapa tak bisa ditemukan oleh mereka?
Sungguh aneh, sungguh sukar dimengerti?
Agaknya orang-orang yang masuk menggeledah itupun rada terkejut dan heran, mereka mulai menyiksa perempuan malang tadi dan menanyai dia.
"Kemana orang tadi?"
"Orang apa? Hakikatnya tiada kedatangan siapapun."
"Jika tak ada yang datang. cara bagaimana ketiga orang itu bisa mati?"
"Entah, sama seka1i aku tidak melihat apa-apa, cuma kudengar suara jeritan. bisa jadi mereka saling membunuh sendiri."
Suara perempuan itu kedengaran gemetar sambil merintih, jelas dia mengalami siksaan yang amat berat.
Tapi dia tetap mengertak gigi dan bertahan, mati pun dia tidak mau mengaku.
Mendadak seseorang bertanya.
"Yang mati itu siapa?"
Suaranya seperti sudah dikenal, itulah suara Ting Hong. Segera ada yang menjawab dengan sangat hormat.
"Yang mati Tio Kang, tokoh ternama dari Toa-beng-hu. Selain itu ada lagi kedua saudara kita dari peronda keenam puluh sembilan."
Keterangan ini membuat Coh Liu-hiang ikut terkejut. Ia tahu Tio Kang berjuluk "Tan-cing-khay-pi"
Atau satu tangan menghancurkan pilar.
Ilmu silatnya tergolong jago kelas satu di dunia Kangouw, Coh Liu-hiang sendiri juga tidak mengira dapat merobohkannya hanya dalam satu kali gebrak saja.
Manusia baru dapat mengerahkan kesanggupannya yang paling besar apabila dalam keadaan kepepet.
Setelah berpikir sejenak baru Ting Hong berkata pula.
"Ketiga orang ini tidak mati. masa orang hidup atau mati tak dapat kalian bedakan?"
Tiada seorang pun yang berani menjawab. Habis itu lantas terdengar suara keluh perlahan Tio Kang.
"Apa-apaan ini? Siapa yang menutuk Hiat-tomu?"
Tanya Ting Hong.
"Siapa tahu?"
Jawab Tio Kang dengan penasaran Hakikatnya bayangan setan saja tak kulihat."
"Cara bagaimana ia menutuk Hiat-tomu?"
Tanya pula Ting Hong setelah termenung sejenak.
"Entah, darimana dapat kulihat? Tahu-tahu Hiat-toku tertutuk begitu saja,"
Jawab Tio Kang.
"Apakah.... apakah kalian tidak menangkapnya?"
"Tidak,"
Jawab Ting Hong. Salah seorang menukas.
"Sejak tadi kami mengepung tempat ini, biarpun seekor lalat pun tak dapat terbang keluar."
"Hm, lalat mungkin tak dapat kabur keluar tapi orang ini pasti dapat lolos,"
Jengek Ting Hong. Tio Kang menghela napas gegetun, gumamnya.
"Dia hakikatnya bukan manusia, tapi setan, selama hidupku ini belum pernah kulihat gerak tangan yang begitu cepat."
"Tentunya kau dapat menerka siapa dia?"
Ujar Ting Hong.
"Engkau sendiri tahu siapa dia?"
Tanya Tio Kang.
"Ehmm,"
Agaknya Ting Hong mengangguk.
"Siapa?"
"Coh Liu-hiang!"
Mendengar nama ini, seketika Tio Kang tertegun, ia termenung sejenak, lalu berkata.
"Darimana kau tahu dia itu Coh Liu-hiang?"
"Jika dia bukan Coh Liu-hiang, sejak tadi jiwa kalian tentu sudah melayang, kalian pasti terbunuh agar tidak memberi keterangan!"
Tio Kang tidak bersuara lagi, air mukanya sangat lucu, sedikitnya pasti menyengir.
'To Swe' Coh Liu-hiang, panglimanya pencuri, si maling budiman, selama ini dalam keadaan bagaimanapun, belum pernah dia membunuh pecundangnya.
Selama beratus tahun ini, di antara pendekar-pendekar ternama di dunia persilatan yang tangannya tak berbau darah.
mungkin cuma Coh Liuhiang.
Hal ini sudah lama tersiar di dunia Kangouw dan menjadi cerita, dengan sendirinya Tio Kang sendiri pernah mendengar.
Bahwa dia ternyata kebentur Coh Liu-hiang, untuk ini ia sendiri tidak tahu apakah mujur atau malang, untung atau sial.
Ting Hong termenung sejenak, katanya kemudian.
"Sekarang kalian mundur ke tempat penjagaan masingmasing."
"Mundur? Akan.,., akan tetapi..."
Ada yang ragu-ragu.
"Mau apa jika tak mundur?"
Jengek Ting Hong.
"Memangnya Coh Liu-hiang akan tinggal di sini menunggu kalian?"
Terpaksa orang itu mengiakan dan memerintahkan kawankawannya agar mundur ke pos penjagaan masing-masing.
"Dimulai pada peronda ketujuh puluh nanti. setiap jam ditambah lagi dengan enam regu peronda,"
Demikian Ting Hong menambahkan perintahnya.
"Asalkan ketemu orang yang tidak membawa tanda pengenal, bunuh saja habis perkara."
Ooo0000oooo "Sesungguhnya kau sembunyi dimana waktu itu?"
Demikian pertanyaan Oh Thi-hoa kepada Coh Liu-hiang ketika diceritakan pengalamannya, serupa orang lain, ia pun tak dapat menerkanya.
"Di tempat tidur, sejauh itu kami berbaring saja di tempat tidur,"
Demikian tutur Coh Liu-hiang dengan tertawa.
"Di tempat tidur?"
Teriak Oh Thi-hoa tertawa.
"Dua orang sebesar kalian berbaring di tempat tidur dan tidak ditemukan mereka? Apakah mereka orang tolol atau memang goblok?"
"Sudah tentu aku memakai akal."
"Akal apa? Masa di tempat tidur itu ada alat rahasianya?"
"Tidak ada, di tempat tidur itu tidak ada apa-apanya selain selimut saja."
"Habis menggunakan akal apa? Masa kau benar-benar berubah jadi kutu busuk dan menyusup ke sela-sela tempat tidur?"
"Coba kau terka akal apa yang kugunakan?"
"Persetan! Siapa yang dapat menerka akal setan apa yang kau gunakan?"
Coh Liu-hiang tertawa. lalu berkata.
"Sebenarnya akal yang kugunakan sedikitpun tidak aneh. Begini caranya, kusuruh perempuan itu tidur di satu sisi dan menarik kencang selimutnya, sedangkan aku berbaring di sisi yang lain dan juga menarik kedua ujung selimut, ketika pentung mereka menyapu lewat di atas selimut tentu saja di atas tempat tidur tiada terdapat apa-apa, tak tahunya kami justru berbaring di bawah selimut."
Oh Thi-hoa tercengang hingga lama, lalu menghela napas panjang dan bergumam.
"Busyet. akalmu ini memang sama sekali tidak aneh. Tapi hanya kau setan alas ini saja yang mampu memikirkan akal yang tidak aneh ini."
"Sudah tentu telah kuperhitungkan, mereka pasti tak menyangka kami berbaring di tempat tidur, apalagi selimutnya sudah kami bentang rata di atas,"
Ujar Coh Liu-hiang.
"Tapi saat itu cukup asalkan ada setitik cahaya saja, maka tamatlah riwayatmu."
Kata Oh Thi-hoa.
"Jangan lupa, di Pulau Kalong ini sama sekali tidak boleh ada setitik cahaya apapun,"
Kata Coh Liu-hiang.
"Segala sesuatu di dunia ini ada faedahnya tentu juga ada cirinya. Mungkin Pian-hok Kongcu tak pernah menyangka bahwa kegelapan di pulaunya ini malah banyak membantu kesukaranku."
"Tapi mereka beronda seketat itu, cara bagaimana kau dapat lolos?"
"Begitu mereka mundur pergi, segera pula kukabur. Sebab aku pun tahu penjagaan mereka pasti bertambah ketat setelah kejadian itu. tapi waktu mereka mundur bersama tentu juga agak kacau. jika kesempatan baik itu tidak kugunakan, selanjutnya jangan harap akan dapat lolos." 'Tidak boleh menyia-nyiakan setiap kesempatan', inilah pedoman hidup Coh Liu-hiang yang selalu ditaatinya. ooooo000ooooo Dalam kegelapan. Oh Thi-hoa dan Thio Sam benar-benar mati kutu. Selagi mereka menggerutu panjang-pendek. tiba-tiba terdengar suara tindakan orang datang ke arah mereka. Suara tindakan dua orang. Suara langkah seorang lebih berat, tapi langkah yang seorang lagi sangat enteng, seenteng setan iblis atau badan halus, jika Oh Thi-hoa tidak menempelkan telinganya ke lantai, hakikatnya tidak dapat mendengarnya. Siapa lagi yang mempunyai suara langkah kaki seringan itu kecuali Coh Liu-hiang. Ginkang Coh Liu-hiang memang terkenal tiada bandingannya di dunia ini. Tinggal setitik harapan yang masih tersisa dalam hati Oh Thi-hoa, segera ia mencoba menegur.
"Kutu busuk tua!"
Pendatang lantas menjawab.
"Siau Oh"
Seketika Oh Thi-hoa melenggong.
setitik harapannya yang terakhir rupanya juga hanyut sekarang.
Dia berharap Coh Liuhiang masih bebas di luar dan akan berusaha menolongnya, siapa tahu kini si 'kutu busuk' itupun tergusur ke dalam penjara.
Dengan gemas ia lantas berkata.
"Keparat, mengapa kau pun datang kemari?' Selama ini kepandaianmu kan maha hebat? Coh Liu-hiang tidak bicara lagi, ia mendekati Oh Thi-hoa.
"Kau masuk sendiri ke sini?"
Tanya Oh Thi-hoa bingung.
"Sudah tentu kumasuk sendiri, aku kan bukan ikan?"
Ujar Coh Liu-hiang dengan tertawa. Lalu ia membuka jaring dan melepaskan Hiat-to Oh Thi-hoa yang tertutuk. Oh Thi-hoa menghela napas ucapnya sambil menyengir.
"Aku memang ikan, ikan sialan, kepandaianmu memang jauh lebih tinggi daripadaku."
Dalam pada itu Hiat-to Thio Sam sudah dibuka Coh Liuhiang, ia bertanya.
"Darimana kau tahu kami berada di sini?"
"Berkat bantuan sahabatku ini, dia yang mengantarku ke sini,"
Kata Coh Liu-hiang.
"Sahabatmu? Siapa dia?"
Tanya Thio Sam heran.
"Dia bernama Tang-sam-nio.... kuyakin kelak kalian pun dapat bersahabat dengan baik."
"Sudah tentu. kawanmu adalah juga kawanku. Cuma sayang, sekarang kita tak dapat melihatnya,"
Kata Oh Thi-hoa dengan tertawa. Lalu ia menyambung.
"Eh. Tang-sam-nio. baik-baikkah kau? Aku bernama Oh Thi-hoa, ada lagi seorang temanku bernama Thio Sam."
"Baik..."
Suara Tang-sam-nio rada gemetar. bisa jadi lantaran dia tak pernah mempunyai sahabat. Maklum. selama ini tiada seorang pun yang mau menganggapnya sebagai sahabat.
"Mana nona Kim?"
Tanya Coh Liu-hiang.
"Entahlah......"
Cepat Thio Sam mendahului menjawab.
"Bisa jadi Siau Oh tahu, tapi dia tidak mau omong."
"Sebab apa?"
Tanya Coh Liu-hiang.
"Setan yang tahu apa sebabnya,"
Jawab Thio Sam. Oh Thi-hoa termenung agak lama, habis itu baru berkata dengan geregetan.
"Sudahlah, kita tak perlu mencarinya."
Coh Liu-hiang jadi terkejut.
"Kenapa? Masa dia sudah....."
"Hakikatnya dia tidak terjun ke bawah,"
Kata Oh Thi-hoa.
"Apa betul?"
Seru Thio Sam.
"Sejak mula kuberdiri di sampingnya, ketika hitungan sudah genap lima puluh. Segera kuterjun ke bawah tapi dia tetap diam saja di atas kereta. pasti tidak keliru lagi."
"Mengapa dia tidak ikut terjun?"
Tanya Thio Sam bingung.
"Dia memang sahabat lama orang di Pian-hok-to ini. untuk apa dia ikut terjun bersama kita? Bukan mustahil kereta luncur itupun perangkap yang sengaja dipasang untuk menjebak kita,"
Kata Oh Thi-hoa dengan gemas. Coh Liu-hiang menghela napas, katanya.
"Sudah dua kali kau salah menuduh dia. hendaklah jangan sampai terjadi lagi ketiga kalinya."
"Kau bilang salah menuduh dia, memfitnah belaka?"
Tanya Oh Thi-hoa dengan mendongkol.
"Ehm."
Coh Liu-hiang mengangguk.
"Jika begitu, coba jelaskan. mengapa dia tidak ikut terjun bersama kita?"
Apakah berhitung sampai lima puluh saja dia tidak mampu ?"
"Apa yang dilakukannya itu justru demi kita, demi kau."
Ujar Coh Liu-hiang. Hampir saja Oh Thi-hoa berteriak lagi. katanya.
"Demi diriku? Demi supaya aku terjun ke dalam jaring ini?"
"Dia pasti tidak tahu di bawah ada perangkapnya,"
Kata Coh Liu-hiang.
"Jika begitu kan seharusnya dia ikut terjun ke sini!"
"Bila dia ikut terjun juga, bukankah kereta luncur itu akan kosong?"
"Memangnya kenapa kalau kosong?"
Tanya Oh Thi-hoa.
"Kalau Pian-hok Kongcu tahu kereta gantung itu meluncur ke sana tanpa suatu sebab, tentu akan menduga pasti ada orang menyusup masuk ke sini dan dia pasti juga akan memperketat penjagaan. Sebab itulah nona Kim sengaja tinggal di atas kereta, ia lebih suka mengorbankan diri sendiri demi keselamatan kita."
Tiba-tiba Tang-sam-nio menghela napas panjaang, ucapnya dengan rawan.
"Engkau seakan-akan selalu memikirkan kebaikan orang dan selalu berpikir jauh......."
"Makanya banyak orang yang menganggap dia sangat menyenangkan,"
Kata Thi0 Sam dengan tertawa. Oh Thi-hoa juga menghela napas, katanya.
"Jika dia bertekad berbuat begitu, mengapa sebelumnya aku tidak diberitahu?"
"Jika kau diberitahu, apakah kau akan tinggal diam dan membiarkan dia berbuat ebgitu?"
Tanya Coh Liu-hiang. Oh Thi-hoa menggentakkan kaki dan bergumam.
"Ai, tampaknya aku memang benar-benar brengsek dan konyol."
Di sini seperti masih ada seorang teman lagi, siapa dia?"
Tanya Coh Liu-hiang tiba-tiba.
"Kau pasti tak dapat menerka siapa dia,"
Ujar Thio Sam. Tapi Coh Liu-hiang lantas berucap dengan tak acuh.
"Jangan-jangan Kau-heng?"
Seketika Thio Sam melengak, katanya sambil menyengir.
"Wah, tampaknya kau seperti dewa saja. cara bagaimana kau tahu akan dia?"
Sudah tentu Coh Liu-hiang tahu. sebelumnya sudah diduganya orang macam Kau Cu-tiang itu pasti akan mengalami nasib demikian.
"Apakah Kau-heng terluka parah?"
Tanya Coh Liu-hiang. Kau Cu-tiang merintih perlahan, katanya.
"Hiangswe tidak perlu mengurus diriku. memang inilah ganjaranku yang setimpal. Engkau... kalian silakan pergi, Pian-hok Kongcu berada di tingkat teratas saat ini mungkin sedang menjamu tetamunya."
Mendadak seseorang menanggapi dengan nada dingin.
"Mereka juga takkan pergi. mereka akan tinggal di sini untuk menemani kau, menemani kematianmu."
Suara orang itu datang dari luar pintu, sukar untuk dilukiskan betapa menakutkan.
betapa mengerikan nada suaranya itu, hakikatnya mirip suara tangisan setan di kuburan sunyi di tengah malam buta.
Belum habis ucapan orang, serentak Oh Thi-hoa menerjang ke sana.
Tapi baru saja Oh Thi-hoa bergerak, pintu penjara sudah tertutup rapat.
Pintu itu adalah pintu batu, tebalnya hampir satu meter, dindingnya jangan ditanya lagi, jauh lebih tebal.
Bila pintu batu itu digembok dari luar.
maka tempat ini akan berubah menjadi sebuah kuburan dan rombongan Coh Liuhiang akan terkubur hidup-hidup di sini.
"Cara bagaimana kau masuk ke sini tadi?"
Tanya Oh Thihoa kepada Coh Liu-hiang.
"Di luar memang ada gemboknya, tapi gembok telah kurusak,"
Jawab Coh Liu-hiang.
"Setelah kau masuk kemari, pintunya kau tutup kembali?" 'Sudah tentu kututup kembali. mana boleh kubiarkan ada orang mengetahui pintunya terbuka?"
"Dan adakah orang tahu kalian masuk ke sini?"
"Di luar tiada penjaga. mungkin mereka yakin tiada orang yang mampu kabur dan penjara yang tertutup rapat ini."
"Jika demikian, darimana datangnya orang tadi?"
Maka Coh Liuhiang tak dapat bicara lagi.
"Bisa jadi... bisa jadi orang itu sejak mula sudah menguntit di belakang kalian,"
Tiba-tiba Thio Sam berkata.
"Ai, mungkin....."
Gumam Coh Liu-hiang. Kembali Oh Thi hoa menjerit.
"Mustahil, mana mungkin Coh Liu-hiang tidak tahu dikuntit orang dari belakang. kecuali orang itu adalah badan halus."
"Kau berteriak apa? Di sini memang ada setan, kalau kau menjerit-jerit lagi, mungkin setannya akan mencarimu."
Kata Thio Sam.
"Aku sendiri hampir berubah menjadi setan, masa kutakut pada setan? jawab Oh Thi-hoa dengan geregetan.
"Eh, siapakah yang masih menyimpan geretan api?"
Tibatiba Thio Sam bertanya.
"Darimana ada geretan api? Jangan lupa, kita ini diciduk orang dari dalam laut,"
Kata Oh Thi-hoa dengan mendongkol.
"Aku punya,"
Tiba-tiba Kau Cu-tiang berkata.
"Aku masih menyembunyikan sebuah geretan api di balik kaos kakiku."
"Hah, tidak digeledah mereka?"
Seru Thio Sam girang.
"Geretan ini buatan 'Pi-lik-tong' (nama pabrik korek api) di kotaraja yang biasa melayani pesanan pihak kerajaan, bentuknya kecil mungil dan tidak takut air,"
Tutur Kau Cu-tiang.
"Betul, aku pun pernah mendengar, konon geretan api sekecil ini bernilai ribuan tahil perak, jarang ada orang yang mampu membelinya,"
Tukas thio Sam.
"Aha, sudah kutemukan, inilah geretannya,"
Seru Kau Cutiang. Tapi mendadak Tang-sam-nio berteriak.
"Jangan, tidak boleh menyalakan api di sini."
"Tidak boleh? Apakah kuatir diketahui musuh?"
Tanya Oh Thi-hoa.
"Kita terkurung di sini, apa yang perlu ditakutkan?"
Lalu ia menyambung pula dengan tertawa.
"Apalagi aku pun ingin melihat wajahmu, setiap teman baik si kutu busuk mesti kulihat"""
Kembali Tang-sam-nio berteriak parau.
"Tidak, jangan, kumohon dengan sangat, janganlah menyalakan api. jangan!"
Suaranya penuh rasa seram dan takut.
Padahal mati saja dia tidak takut.
mengapa takut pada cahaya api?
Tiba-tiba Coh Liu-hiang ingat tubuh Tang-sam-nio masih telanjang bulat tanpa sehelai benang pun, Maka diam-diam ia menanggalkan baju luar sendiri dan menyelampirkan di tubuh perempuan itu.
Dengan gemetar Tang-sam-nio berkata pula.
"Kumohon dengan sangat, janganlah menyalakan api, aku..... aku takut."
Tapi, waktu itu cahaya api sudah terang.
Begitu sinar api menyala.
seketika semua orang terkesiap dan melenggong.
Padahal di tengah kegelapan yang mendekati keabadian ini, sekalipun setitik sinar sudah cukup membuat orang kehirangan setengah mati.
Tapi sekarang wajah setiap orang mengunjuk rasa kaget, heran, ngeri dan haru yang tak terkatakan.
Apa yang menyebabkan timbulnya macam-macam perasaan itu?
Pandangan semua orang sama tertuju pada Tang-sam-nio.
Meski tubuhnya sudah dilampiri baju luar Coh Liu-hiang, tapi tetap tak dapat menutupi garis tubuhnya yang gempal dan menarik serta pahanya yang indah itu.
Di bawah cahaya api, kulit badannya terlihat seputih salju.
Air mukanya putih pucat seperti kertas, mungkin lantaran sepanjang tahun tidak pernah melihat sinar matahari.
Tapi wajah yang pucat itu tampaknya menjadi lebih menggiurkan.
Hidungnya mancung, bibirnya tipis dan mungil, pada waktu bicara juga kelihatan sangat menarik.
Dia benar-benar seorang perempuan cantik.
Siapa yang melihatnya pasti akan tertarik.
mana bisa merasa takut malah?
Sebabnya adalah karena matanya.
Dia tidak punya mata, hakikatnya tidak kelihatan matanya.
Kelopak matanya seakan-akan terjahit oleh semacam cara yang ajaib sehingga bagian matannya cuma kelihatan kulit yang rata, kosong, kosongnya keputus-asaan.
Jika dia seorang perempuan yang jamak, perempuan yang buruk rupa, sekalipun tidak bermata tentu orang lain takkan merasa ngeri dan takut.
Tapi dia justru sedemikian cantik sehingga membuat bagian matanya yang kosong dan rata itu menimbulkan semacam perasaan bingung, heran, ajaib dan seram.
Tangan Oh Thi-hoa sampai gemetar.
Dia yang menyalakan geretan api tadi.
tapi tangkai geretan api itu seakan-akan tidak kuat dipegangnya lagi.
Baru sekarang Coh Liu-hiang paham sebab apa Tangsam-nio takut cahaya.
Baru sekarang ia tahu mengapa perempuan itu lebih suka mati di sini.
Sebab dia memang tak mungkin mendapatkan terang lagi.
Seketika tiada seorang pun yang sanggup bicara, tenggorokan setiap orang seolah-olah tersumbat.
"Meng.... mengapa kalian tidak bicara?"
Dengan suara gemetar Tang-sam-nio bertanya.
"apakah..... apakah apinya sudah dinyalakan?"
"O, tidak, belum..."
Coh Liu-hiang.menghiburnya dengan suara lembut Hatinva juga gemetar, tapi sedapatnya ia bicara dengan suara tenang. Sebab, dia tidak tega melukai perasaannya. Mendadak Oh Thi-hoa berteriak.
"Sialan, geretan ini, seperti sepotong batu saja, jika bisa meletikkan api, aku mau memakannya bulat-bulat."
Segera Thio Sam menyambung.
"Ya, masa geretan begini juga bernilai ratusan tahil perak. sungguh tipuan belaka."
"Tampaknya aku memang tertipu,"
Kau Cu-tiang menyambung.
"Untung aku juga mendapatkannya dari mencuri, umpama tidak berguna juga tidak soal lagi."
Coh Liu-hiang sangat berterima kasih kepada mereka. Betapapun hati manusia memang baik. Dunia ini memang masih hangat. Barulah Tang-sam-nio menghela napas lega. katanya.
"Untunglah di tempat ini tanpa api juga tidak menjadi soal. kutahu tempat ini memang tiada jalan tembus lain. seumpama ada api juga takkan terlihat apa-apa."
Tersembul senyuman manis di ujung mulutnya, tampaknya menjadi semakin lembut.
Meski dia tahu tempat ini sudah buntu, tapi dia tidak gentar.
Dia memang tidak takut mati, yang ditakutinya hanya kalau Coh Liu-hiang mengetahui 'matanya'.
Seketika darah panas merangsang dalam hatinya, Coh Liu-hiang terus memeluknya erat-erat, katanya dengan suara halus.
"Asalkan dapat berada bersamamu, berada bersama kawan-kawanku, tanpa api juga tidak menjadi soal."
Tang-sam-nio mendekap di dada Coh Liu-hiang dan perlahan-lahan meraba mukanya, ucapnya lembut.
"Aku juga menyesali sesuatu...... aku menyesal tak dapat melihatmu."
Baca Juga: Bangau Sakti 25
Baca Juga: Pedang Kiri Pedang Kanan 9