Ceritasilat Novel Online

Legenda Kelelawar 4

Eps 4 Legenda Kelelawar - Khu Lung

Baca online Legenda Kelelawar - Khu Lung

Cersil Legenda Kelelawar - Khu Lung.

Selagi ia hendak memotong gembok dengan belatinya, sekonyong-konyong sikunya diangkat orang perlahan, tahutahu koper itu sudah berpindah ke tangan Coh Liu-hiang. Air muka Pek Lak berubah. katanya.

"Apa Hiangswe...."

"Biasanya Hiangswe sangat hati-hati dalam setiap urusan, turuti kata-katanya, pasti tidak salah,"

Demikian Eng Ban-li memotong ucapan Pek Lak. Maka Pek Lak tidak berkata lagi. namun sikapnya jelas kelihatan penasaran. Coh Liu-hiang lantas berkata pula.

"Kukira tidak mungkin mereka meninggalkan koper ini tanpa sebab, karena itulah. sekalipun kita ingin melihat isi koper. juga perlu berhati-hati."

Sembari bicara ia menaruh koper itu di pojok kejauhan sana.

"Apakah Coh-hiangswe mahir bermain sulap dan dapat membuka koper dan jarak jauh?"

Jengek Pek Lak. Coh Liu-hiang tersenyum, katanya.

"Bolehkah kupinjam pisaumu itu?"

Pek Lak tampak ragu-ragu, tapi akhirnya belati itupun disodorkan kepada Coh Liu-hiang. Perlahan Coh Liu-hiang meraba mata belati itu. ucapnya dengan gegetun.

"Benar-benar senjata pusaka yang maha tajam."

Begitu kata-kata terakhir terucapkan. belati itupun disambitkan. Sinar perak berkelebat "krek", gembok di atas koper dengan tepat terpotong putus. Terkesiap juga Pek Lak, serunya tanpa terasa.

"Bagus......."

Baru saja dia berucap satu kata.

mendadak terdengar pula suara letusan yang menggelegar.

seluruh kabin tergetar hingga bergoyang-goyang.

Koper hitam itu ternyata sudah meledak.

Badan kapal seketika berlubang karena ledakan itu.

air laut segera pula membanjir masuk.

Pek Lak melongo kaget.

keringat dingin memenuhi dahinya.

Coba kalau tadi dia membuka koper itu.

saat ini tubuhnya pasti sudah hancur lebur menjadi abu.

Dengan gemas Oh Thi-hoa memaki.

"Keparat, jahanam. apakah dia khawatir kematian kita tidak cukup cepat?"

Dia ingin memaki pula, tapi sekarang waktu untuk memaki orang pun tiada lagi. air laut telah menggenangi tempat mereka berdiri hingga batas dengkul, bahkan masih terus naik.

"Lekas mundur, naik ke geladak,"

Seru Eng Ban-li.

"Dalam waktu singkat, kapal ini akan tenggelam ke dasar laut, apa gunanya ke geladak?"

Ujar Thio Sam menyengir.

"Keji amat hati keparat itu, maki Oh Thi-hoa pula dengan gemas.

"Sampai-sampai. sampan itu dibawanya kabur."

"Tampaknya dia lari dengan menumpang sampan, itupun termasuk dalam rencananya,"

Ujar Thio Sam dengan gegetun.

"Ya, perhitungan orang itu boleh dikata sangat rapi, sungguh membuat orang merasa kagum,"

Kata Eng Ban-li gegetun. Sesudah koper itu meledak. Coh Liu-hiang hanya berdiri saja di situ seperti juga melenggong. kini mendadak ia berkata.

"Tapi dia tetap salah hitung sesuatu."

"Salah hitung apa?"

Tanya Oh Thi-hoa cepat.

"Peti mati!"

Jawab Coh Liu-hiang.

oooo0000oooo Memang betul.

peti mati itu mirip sebuah sampan.

Dengan cepat keenam peti mati itu digotong ke atas geladak, lalu diturunkan ke laut kebetulan enam orang.

enam peti mati.

terbagi dengan rata.

Berduduk di dalam peti mati dan menyaksikan kapal itu tenggelam dengan perlahan-lahan.

Perasaan demikian kecuali mengalami sendiri mungkin sukar dirasakan orang lain.

Maka tidak lama kemudian, lautan lepas sejauh pandang mata tak bertepi itu hanya tersisa enam peti mati dengan penumpangnya saja.

Pemandangan ini bila tidak dsaksikan.

dengan mata kepala sendiri mungkin sukar dibayangkan siapapun.

Mendadak Oh Thi-hoa tertawa, katanya.

"Keenam peti mati ini sebenarnya hendak digunakan untuk mengakhiri kematian kiita, siapa tahu sekarang malah menyelamatkan jiwa kita."

Thio sam juga tertawa, katanya.

"Anehnya dia seperti khawatir kita berjubelan, maka setiap orang disediakan sebuah."

"Ya, mimpipun dia tidak pernah membayangkan hal ini,"

Seru Oh Thi-hoa dengan tertawa.

"Kuharap kelak akan bertemu lagi dengannya. dan akan kuberitahukan apa yang terjadi ini. ingin kulihat bagaimana perubahan air mukanya,"

Kata Thio Sam.

"Tidak perlu lihat juga dapat kubayangkan air mukanya pasti sangat lucu. seperti menyengir dan juga seperti menangis,"

Tukas Oh Thi-hoa.

Pek Lak memandangi mereka dengan melenggong.

Laut seluas ini dan tidak dapat membedakan arah.

kapal sudah tenggelam makan minum tiada lagi.

jalan satu-satunya sekarang cuma menanti ajal di dalam peti mati, Tapi kedua orang itu ternvata masih dapat bersenda gurau dan tertawa, seakan-akan apa yang terjadi ini sangat lucu bagi mereka.

Pek Lak benar-benar rada bingung, Ia tidak tahu bahwa seseorang asalkan masih dapat tertawa.

ini tandanya dia masih mempunyai semangat dan gairah.

Seseorang kalau masih punya semangat dan gairah, maka dia pasti dapat hidup terus.

Di sinilah letaknya kekuatan mereka.

inilah keunggulan mereka dari orang lain.

Mendadak Coh Liu-hiang mengangkat beberapa ikat tali dari peti mati dan berseru.

"Jika kalian sudah cukup bergurau. sekarang lekas berdaya mengikat keenam peti mati menjadi satu. Lautan seluas ini. betapapun kita tak boleh terpencar."

"Hah, sempat juga kau membawa talinya, sungguh rapi pemikiranmu,"

Jawab Oh Thi-hoa dengan tertawa.

"Tapi apa pula gunanya tutup peti mati ini? Mengapa kita harus membawanya?"

Tanya Thio Sam.

"Lewat lohor nanti, sinar matahari sangat terik. kita tidak punya air minum, bila kepanasan, mana tahan lagi?"

Kata Coh Liu-hiang.

"Maka tutup peti mati, dapatlah kita tutupkan dan tidurlah kita di dalam peti mati."

Mau tak mau Pek Lak menghela napas gegetun, ucapnya.

"Cara berpikir hiangswe benar-benar sangat rapi dan sukar dibandingi orang lain. Sekalipun Ting Hong berhati keji dan pintar mengatur perangkap, tapi masih selisih satu tingkat jika dibandingkan dengan Hiangswe."

Sampai di sini barulah dia mengagumi Coh Liu-hiang.

"Kutu busuk tua ini memang bukan manusia, sampai aku pun rada-rada kagum,"

Oh Thi-hoa juga merasa gegetun. Tak peduli siapa pun Juga, lambat atau cepat, akhirnya pasti akan kagum kepada COh Liu-hiang.

"Dalam keadaan luar biasa baru dapat dilihat keluarbiasaan Coh-hiangswe,"

Eng Ban-li ikut bicara.

"Pada detik yang paling gawat antara mati dan hidup. barulab diketahui bahwa Coh-hiangswe tetap Coh-hiangswe, betapapun tak dapat ditandingi oleh siapa pun juga."

Coh Liu-hiang sendiri hanya duduk termenung saja.

apa yang dikatakan mereka seolah-olah tak didengarnya.

Hanya satu hal yang sedang dipikir Coh Liu-hiang, yaitu cara bagaimana dapat menginjak daratan lagu dengan hidup?

oooo000oooo Lautan seakan bersambung dengan ujung langit.

siapa pula yang tahu dimana letak daratan yang diharapkan.

Sang surya baru saja menyingsing di ufuk timur sana, air laut berkilauan karena sinar matahari yang gemilang itu.

Oh Thi-hoa kucek-kucek matanya, ucapnya sambil menyengir.

"Tampaknva jiwa kita tidak perlu diserahkan kepada air laut. Nasibku biasanya tidak jelek. bisa jadi air laut akan membawa kita ke daratan."

Thio Sam menghela napas, katanya.

"Coba kalian lihat, orang ini belum lagi tidur, sudah mimpi lebih dahulu."

"Mimpi?"

Oh Thi-hoa jadi mendelik.

"Memangnya tidak mungkin terjadi?"

"Sudah tentu tidak mungkin"

Kata Thio Sam.

"Sebab apa?"

Tanya Oh Thi-hoa. Pertanyaannya itu secara tidak langsung ditujukan pada Coh Liu-hiang, sebab ia tahu Thio Sam takkan memberi jawaban, paling-paling memakinya lagi. Maka berkatalah Coh Liu-hiang.

"Air laut tidak sama dengan air sungai. tidak mengalir ke suatu jurusan tertentu, sebab itulah bila kita cuma berduduk saja tanpa bergerak. biarpun tiga bulan lagi kita tetap akan terapung di sekitai sini."

Untuk sejenak Oh Thi-hoa melenggong, katanya kemudian.

"Lalu, apa yang harus kita lakukan?"

"Air laut tidak bergerak. terpaksa kita sendiri yang harus bergerak,"

Ujar Coh Liu-hiang.

"Bergerak cara bagaimana?"

Tanya Oh Thi-hoa pula.

"Tutup peti mati ini masih ada gunanya, yakni dapat kita manfaatkan sebagai pengayuh."

Kata Coh Liu-hiang.

"Selain nona Kim, sekarang kita berlima harus bekerja keras."

"Mengapa aku harus dikecualikan?"

Teriak Kim Leng-ci. Coh Liu-hiang tertawa dan tidak menjawab. Oh Thi-hoa tidak tahan. ia berkata.

"Sebab kaum perempuan, terhadap perempuan dia suka memberi servis istimewa."

Kim Leng-ci melototinya sekejap. tanpa bicara lagi ia mendahului angkat tutup peti mati terus mulai mendayung. Oh Thi-hoa melirik Coh Liu-hiang sekejap, katanya dengan tertawa.

"Haha, tampaknya sekali ini kau telah salah jilat. Ada sementara perempuan merasa dirinya terlebih unggul dari lelaki, maka seharusnya kau perlakukan dia seperti lelaki. Cuma saja..."

Dengan hambar ia menyambung.

"Jika ada orang disuruh hidup nikmat dan tidak mau, maka sekalipun orangnya mengaku pintar pasti juga sangat terbatas."

Tampak Kim Leng-ci hendak meraung pula. Pek Lak menyela.

"Nona Kim adalah ksatrianya kaum wanita. tidaklah pantas jika kita pandang dia sebagai perempuan biasa."

"Baiklah jika demikian. kita berenam dapat dibagi menjadi dua regu,"

Kata Coh Liu-hiang.

"Nona Kim, Pek-heng dan Englosiansing satu regu, kemudian aku, Thio Sam dan Siau Oh akan menggantikan kalian."

"Mendayung ke arah mana?"

Tanya Pek Lak. Coh Liu-hiang berpikir sejenak, lalu katanya.

"Tenggara!"

Pek Lak merasa heran, tanyanya pula.

"Arah tenggara ini akan menyongsong sinar matahari, sangat silau, mengapa tidak menuju barat laut saja? Apalagi kita kan datang dari arah sana, di sebelah sana pasti ada daratan."

"Tapi kapal kita sudah berlayar dua hari dan baru sampai di sini,"

Jawab Coh Liu-hiang.

"Dengan kekuatan kita sekarang jelas tidak mampu mendayung pulang ke sana."

"Tapi tenggara..."

Belum lanjut ucapan Pek Lak, cepat Coh Liu-hiang memotong.

"Konon di daerah tenggara sana banyak terdapat pulau-pulau kecil yang tak dikenali namanya, apalagi jurusan ini banyak dilalui kapal dagang yang menuju ke negeri timur sana (kepulauan Okinawa Jepang sekarang). Apabila kita bisa bertemu dengan sebuah kapal atau mendarat di suatu pulau kecil. tertolonglah kita."

Pek Lak berpikir sejenak, ucapnya kemudian dengan menyesal.

"Ya. Coh-hiangswe memang jauh lebih cerdik daripadaku, kembali aku tunduk dan kagum padamu."

Tutup peti mati itu sudah tentu sangat berat dan sangat makan tenaga, mestinya tidak cocok digunakan sebagai pengayuh.

Syukur mereka adalah tokoh kelas tinggi dunia persilatan.

tenaga mereka pun jauh lebih kuat dan orang biasa.

Serentak tiga orang mendayung sekuatnya 'rakit' yang terbuat dan enam buah peti mati itu, ternyata dapat laju dengan cukup pesat.

Yang paling giat mendayung adalah Kim Leng-ci.

Nyata dia sengaja hendak memperlihatkan bukti kepada Oh Thi-hoa bahwa perempuan bukanlah kaum lemah seperti disangkanya.

Pandangan Pek Lak tidak pernah meninggalkan diri si nona dengan tertawa ia berkata.

"Tampaknya dalam segala hal nona Kim tidak kalah daripada kaum lelaki, bahkan boleh dikata lebih unggul."

Oh Thi-hoa berbaring di dalam peti mati dengan memejamkan matanya dengan santai.

"Dia memang cekatan, cuma.... perempuan yang tak becus, jelas membuat pusing kepala kaum lelaki perempuan yang terlalu cekatan juga sama memusingkan bagi lelaki."

Ucapan Oh Thi-hoa ini beralasan.

Pada umumnya, lelaki memang suka menonjolkan diri di depan kaum wanita sebagai 'pelindung' dan selalu 'kaum kuat'.

Terkadang meski di mulut mereka mengomeli kaum perempuan dan dikatakan tak becus.

padahal di dalam hati, diam-diam mereka senang.

Sebab itulah.

perempuan yang pintar selalu akan berlagak lemah di depon kaum lelaki, dengan demikian segala sesuatu biar dikerjakan saja oleh kaum lelaki.

Sekali ini ternyata Kim Leng-ci tak mendelik dan muringmuring, Maklum ia sedang kepayahan, tenaga untuk muringmuring saja rasanya tidak ada lagi.

Tangannya sampai melepuh, sakitnya tak terkatakan.

lengannya juga kemeng dan pegal, kaku rasanya Meski dia tetap mendayung dengan menggreget.

tapi gerakannya jelas sudah mulai lambat.

Sungguh malang si nona jelita ini.

biasanya di rumah disanjung puji.

makan-minum selalu diladeni.

bilakah dia pernah bekerja keras seperti sekarang ini?

Sejak tadi Oh Thi-hoa selalu melirik pada si nona.

sekarang mendadak ia melompat bangun.

katanya.

"Sudah waktunya bergilir bukan?"

Pek Lak melirik Kim Leng~ci sekejap, ucapnya tertawa.

"Baiklah, memang sudah waktunya bergilir. aku sudah lelah."

Eng Ban-1i memandang Pek Lak, lalu dipandangnya Kim Leng-ci, sorot matanya menampilkan senyuman tapi rada sedih.

Sebagai orang tua yang sudah kenyang asam garam kehidupan manusia, matanya sudah terlalu banyak melihat, tentu saja ia dapat meraba hati para muda-mudi ini.

Yang menggirangkan dia adalah pandangan Pek Lak selamanya sangat tinggi, tak tersangka sekarang dia dapat jatuh hati.

Yang dikhawatirkannya ialah hasrat Pek Lak ini akhirnya mungkin akan menemui kegagalan.

Sebab ia melihat juga, biarpun Kim Leng-ci sedang marah-marah dan mendeliki Oh Thi-hoa, tapi sorot matanya itu sangat berbeda daripada waktu memandang orang lain.

Ia paham, benci, dan cinta perempuan sukar dipisahkan.

oooo0000oooo Setelah bergilir, tutup peti mati yang berada di tangan Coh Liu-hiang.

Oh Thi-hoa dan Thio Sam itu lantas banyak berbeda.

Seketika rakit gabungan enam peti mati itu meluncur dengan cepat laksana sebuah perahu gesit.

Kim Leng-ci duduk dengan kepala tertunduk, dipandangnya tangan kiri yang putih halus itu kini berubah menjadi merah melepuh.

Pandang punya pandang air matanya lantas berlinang.

Tapi siksaan ini adalah kehendak sendiri, siapa yang mesti disesali?

Terpaksa ia harus menelan kembali air matanya.

Oh Thi-hoa seperti tidak memperhatikan si nona, ia bergumam.

"Perempuan tetap perempuan dan tetap berbeda daripada lelaki. Paling tidak. tangan pasti lebih halus daripada tangan lelaki. makanya kalau seorang perempuan menganggap dirinya sama seperti lelaki. itu berarti dia mencari penyakit sendiri."

Mendadak Pek Lak melonjak bangun, serunya sambil melototi Oh Thi-hoa.

"Bicara kan juga sangat makan tenaga. mengapa Oh-heng tidak hemat tenaga untuk mendayung?"

Oh Thi-hioa hanya tersenvum hambar sama sekali, ia tidak menggubrisnya. Pek Lak menjadi kikuk sendiri, makanya menjadi merah, ia berpaling dan berkata kepada Kim Leng-ci.

"Janganlah nona marah, ocehan orang sebaiknya jangan kau gubris."

Ucapan Pek Lak ini sebenarnya bertujuan baik, siapa tahu Kim Leng-ci mendelik, teriaknya dengan bengis.

"Kugubris ocehan orang atau tidak, peduli apa denganmu? Kenapa kau ikut campur urusan orang lain?"

Pek Lak jadi melengak, mukanya merah seperti kepiting rebus, malunya tidak kepalang. Eng Ban-li berdehem beberapa kali, ucapnya dengan tertawa.

"Wah, terik sekali sinar matahari, tiada air minum lagi, dalam keadaan demikian setiap orang tentu akan gopoh dan sedikit-sedikit suka marah. Kukira lebih baik kita tutup saja peti mati dan tidur, ada persoalan apa boleh kita bicarakan petang nanti."

Coh Liu-hiang menjilat bibirnya yang kering dan pecahpecah itu, katanya.

"Betul, jika kita terus begini, mungkin aku pun tidak tahan lagi."

"Blang,"

Kim Leng-ci yang pertama-tama merebahkan diri dan menutup peti matinya. Segera Eng Ban-li menarik Pek Lak berbaring, katanya.

"Jangan terlalu rapat, beri peluang sedikit agar tembus cahaya."

Thio Sam menguap ngantuk, gumamnya.

"Jika sekarang aku diberi semangkuk air, wah, biarpun aku harus menjual diri lagi juga tidak soal."

Oh Thi-hoa juga menjilat bibirnya, omelnya dengan tertawa.

"Jangan lupa, kau sudah pernah terjual satu kali."

"Terjual satu kali atau dua kali kan sama saja,"

Jawab Thio Sam dengan melotot.

"Yang penting barang baik, kualitas tinggi, dijual berapa kali juga tetap laku."

Oh Thi-hoa menghela napas, ucapnya.

"Syukurlah kau bukan perempuan..."

Berbaring dalam peti mati sebenarnya tidak seenak seperti yang dibayangkan.

Meski cahaya matahari tidak langsung menyinari.

tapi rasanya seperti dipanggang, jauh lebih tersiksa.

Oh Thi-hoa benar-benar tidak tahan lagi, ia mendorong tutup peti mati dan berduduk.

Dilihatnya Thio Sam sudah lebih dulu berduduk di sana dengan telanjang dada, sedang mengipasi tubuhnya dengan baju yang ditanggalkan.

"Kiranya kau pun tak tahan,"

Kata Oh Thi-hoa tertawa. Thio Sam menghela napas, lalu katanya sambil menyengir.

"Ya, aku benar-benar tidak tahan lagi, hampir saja kukira diriku telah berubah menjadi ikan panggang."

OH Thi-hoa tertawa, katanya.

"Orang yang suka memanggang terkadang juga perlu dipanggang, sudah terlalu banyak kau memanggang ikan, kau memang perlu mencicipi sendiri bagaimana rasanya kalau dipanggang."

Mendadak ia celingukan dan bertanya.

"He, dimanakah si kutu busuk tua itu?"

"Mungkin sudah tidur,"

Jawab Thio Sam.

"Selain orang mati, jika ada orang hidup yang dapat tidur dalam peti mati, maka orang itu tiada lain pasti si kutu busuk adanya,"

Kata Oh Thi-hoa. Thio Sam tertawa geli, katanya.

"Betul, biarpun di dalam kakus juga orang ini dapat tidur dengan nyenyak."

Oh Thi-hoa memandang sekelilingnya, namun tiada setitik bayangan daratan yang terlihat. Sinar matahari mulai suram, hari menjelang petang. Tiba-tiba Thio Sam berkata pula.

"Waktu berbaring di dalam peti mati tadi, kurenungkan apa yang telah terjadi, rasanya ada sesuatu yang tak kupahami."

"Urusan apa? Coba katakan, biar kuberi petunjuk kepadamu,"

Ujar Oh Thi-hoa.

"Bahwa Ting Hong hendak membunuh kita masih dapat dimengerti, tapi mengapa Hay Koa-thian juga dibunuhnya?"

Kata Thio Sam.

"Bukankah Hay Koa-thian komplotannya?"

Oh Thi-hoa meraba hidungnya dan berkata dengan sungguh-sungguh.

"Bisa jadi tengah malam Hay Koa-thian telah memperkosanya, maka Ting Hong dendam kepadanya."

"Kentut makmu, apa ini namanya petunjuk?"

Damprat Thio Sam dengan tertawa.

"Awas, jika mulutmu tidak disikat lebih bersih, sekali tempo bisa kugunakan sebagai pispot tadah air kencingku,"

Oh Thihoa juga mengomel. Mendadak seseorang menimbrung.

"Dua buah mulut busuk bergabung menjadi satu tentu saja lebih berbau daripada jamban, mana aku bisa tidur nyenyak lagi?"

Maka Coh Liu-hiang lantas membuka tutup peti mati dan berduduk juga.

"Telinga orang ini benar-benar lebih panjang daripada kelinci, harus hati-hati jika kau hendak mencaci-maki dia,"

Ujar Oh Thi-hoa dengan tertawa. Coh Liu-hiang meraup air laut dan disiramkan ke tubuh sendiri, tiba-tiba ia berkata pula.

"Sebabnya Ting Hong membunuh Hay Koa-thian, hanya ada satu alasan."

"Alasan apa?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Setiap tahun sekali mereka mengundang dan mengantar tamu, dengan sendirinya memerlukan kendaraan air yang cukup,"

Tutur Coh Liu-hiang.

"Biarpun Hay Koa-thian sudah dibeli dan menjadi antek mereka, tapi apa pun juga kan lebih bebas jika mereka mengendarai kapal sendiri."

Thio Sam manggut-manggut, katanya.

"Betul. Setelah Hay Koa-thian dibunuh, beberapa puluh kapal Ci-keng-pang akan berubah menjadi milik sendiri."

"Sedang Hiang Thian-hui adalah sahabat karib Hay Koathian, jika ingin membunuh Hay Koat-hian, harus membunuh Hiang Thian-hui dulu."

Oh Thi-hoa juga manggut-manggut, katanya.

"Betul, masuk diakal."

"Tapi daerah operasi Ci-keng-pang berada di lautan, sedangkan tamu udnangan mereka kebanyakan datang dari daratan, untuk pergi ke lautan harus melalui Tiangkang."

"Betul juga,"

Kata Thio Sam.

"Dan untuk melalui Tiangkang kan harus mengerahkan kapal-kapal di bawah pimpinan Bu Wi-yang dan In Ciongliong,"

Sambung Coh Liu-hiang.

"Makanya sebelum membunuh Hay Koa-thian, lebih dulu kedua tokoh bajak yang malang melintang di sungai Panjang (Tiangkang) itupun harus dibinasakan."

Oh Thi-hoa merasa tidak paham, tanyanya.

"Tapi Bu Wiyang kian tidak mati, bahkan merangkap menjadi pemimpin kedua Pang besar di sungai itu?"

"Siapa bilang Bu Wi-yang tidak mati?"

Tanya Coh Liu-hiang.

"Bukankah tempo hari kita saksikan Bu Wi-yang membunuh In Ciong-liong di restoran itu?"

Kata Oh Thi-hoa.

"Orang itu adalah Bu Wi-yang palsu,"

Kata Coh Liu-hiang.

"Palsu?"

Oh Thi-hoa menegas dengan melengak.

"Ya, sebelumnya Ting Hong membunuh Bu Wi-yang lebih dulu, lalu mencari seorang yang mirip gembong bajak itu untuk menyamar,"

Coh Liu-hiang merandek sejenak, lalu menyambung pula.

"Mereka sengaja menggunakan panah Bu Wi-yang untuk membunuh kedua orang di tepi sungai, tujuannya supaya kita pun mengira Bu Wi-yang belum mati."

Oh Thi-hoa meraba hidung pula, katanya.

"Tapi aku tidak mengerti."

"Tempo hari waktu di restoran itu, kita tidak tahu bahwa Bu Wi-yang itu palsu, sebab kita memang tidak berhubungan akrab dengannya, tapi seseorang telah mengenali kepalsuannya."

"Oo, siapa dia?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"In Ciong-liong,"

Jawab Coh Liu-hiang.

"Justru lantaran dia tahu Bu Wi-yang itu palsu, maka dia tampak terperanjat."

"Tapi... tapi kita tak dapat mengetahuinya, masa dia malah tahu?"

Kata Oh Thi-hoa.

"Sebab berita yang tersiar di Kangouw memang tidak salah, selama beberapa tahun terakhir ini In Ciong-liong dan Bu Wi-yang, dari lawan telah berubah menjadi kawan, sebab itulah dalam surat wasiat In Ciong-liong disebutkan, kedudukan Pangcu diwariskan kepada Bu Wi-yang. Inipun suatu tanda bahwa hubungan In Ciong-liong dan Bu Wi-yang sangat baik, bahkan percaya penuh kepadanya."

Oh Thi-hoa meraba hidung pula, ucapnya sambil menyengir.

"Bukan saja aku tidak mengerti, bahkan semakin bertambah bingung."

"Mungkin In Ciong-liong sudah tahu Ting Hong dan komplotannyaberm aksud membunuhnya, maka sebelumnya dia telah meninggalkan surat wasiat,"

Tutur Coh Liu-hiang.

"Kedua orang yang mati terpanah di tepi sungai itu memang betul anak buah In Ciong-liong, tapi lantaran dia dan Bu Wiyang sudah menjadi kawan baik, maka anak buahnya memang betul diperbantukan ke tempat Bu Wi-yang."

"Maksudmu... Bu Wi-yang tahu kedua orang itu anak buah In Ciong-liong?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Betul, sebab itulah saat di restoran sana Bu Wi-yang palsu menuduh mereka sengaja diselundupkan ke tempatnya, maka In Ciong-liong tambah yakin akan kepalsuannya."

"Coba uraikan lebih jelas lagi,"

Pinta Oh Thi-hoa.

"Karena selama beberapa tahun terakhir ini In Cionglionmg sering bertemu Bu Wi-yang, maka begitu berhadapan, segera In Ciong-liong melihat adanya kelainan pada Bu Wiyang palsu it. Maklumlah, ilmu rias sangat sukar mengelabui kenalan dekat."

"Tapi penyamaran Eng Ban-li dapat mengelabui kau?"

Ujar Oh Thi-hoa. Coh Liu-hiang tertawa, katanya.

"Soalnya dia menyamar sebagai orang yang tidak kita kenal, pula bentuknya sangat aneh. Apabila dia menyamar sebagai dirimu, sekali pandang saja dapat kukenali dia."

"Jika demikian, bukankah ilmu rias tiada gunanya lagi?"

"Kegunaan ilmu rias hanya untuk menutupi wajah aslinya sendiri agar orang lain tidak dapat mengenalinya, tapi sama sekali tak dapat membuatnya berubah menjadi orang lain."

"Jika In Ciong-liong tahu Bu Wi-yang itu palsu, mengapa tidak dia bongkar saja waktu itu?"

Tanya Oh Thi-hoa pula.

"Sebab waktu itu Ting Hong berada di sampingnya, hakikatnya dia tak mendapat kesempatan untuk berbicara, cuma...."

"Cuma apa?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Akhirnya In Ciong-liong sempat memberi isyarat kepada kita, sayang, waktu itu kalian sama sekali tak menaruh perhatian."

"Cara bagaimana dia memberi isyarat?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Dia sengaja mencukil mata ikan sehingga mata ikan itu jatuh ke piringku, maksudnya supaya kita tahu bahwa Bu Wiyang itu adalah 'Hi-bok-kun-cu' (mata ikan dicampurkan dalam mutiara), kiasan orang palsu."

Oh Thi-hoa menghela napas gegetun, ucapnya dengtan tertawa.

"Meski isyarat itu sangat bagus daan cerdik, tapi terlalu sulit untuk dipahami."

"Jika mudah dipahami, tidak terhitung isyarat lagi,"

Ujar Coh Liu-hiang.

"Setelah mengetahui Bu Wi-yang itu palsu, maka sebelum bertempur, In Ciong-liong merasa dirinya pasti tak terhindar dari kematian, sebab itulah dia memberi isyarat agar kita tahu bahwa kematiannya sedikit banyak ada harganya."

"Pantas waktu dia melangkah keluar, tampaknya dia sangat penasaran dan masgul,"

Kata Thio Sam.

"Ya, aku pun heran, padahal ilmu silat In Ciong-liong tidak banyak berselisih dengan Bu Wi-yang, mana bisa sekali gebrak Bu Wi-yang membunuhnya?"

Kata Oh Thi-hoa.

"Ting Hong memperalat Bu Wi-yang palsu untuk membunuh In Ciong-liong, lalu membiarkan Bu Wi-yang palsu memimpin Sin-liong-pang, selanjutnya Hong-bwe-pang dan Sin-liong-0pang akan bergabung. Semua kapal milik kedua Pang itu akan dapat dikuasai dan digunakan sesukanya, seluruh lembah perairan Tiangkang juga akan berada di bawah pengaruh mereka..."

"Jika demikian Ting Hong benar-benar seorang tokoh yang maha lihai, akal 'sekali tembak dua burung' berlangsung dengan sangat lancar dan juga keji,"

Kata Thio Sam dengan menyesal. Coh Liu-hiang berpikir sejenak, katanya kemudian.

"Jika tidak salah perkiraanku, mungkin Ting Hong tidak selihai itu, di belakang layar pasti masih ada pengemudinya yang jauh lebih lihai dan menakutkan."

"Tak peduli siapa orang ini, yang jelas kita tak dapat lagi melihatnya,"

Ujar Oh Thi-hoa dengan menyengir.

"Masih ada satu hal yang tidak kupahami,"

Tiba-tiba Thio Sam berkata pula.

"Hal apa?"

Tanya Coh Liu-hiang.

"Jika In Ciong-liong saja dapat mengenali penyamaran Bu Wi-yang palsu itu, anak buah Hong-bwe-pang sendiri yang senantiasa berdampingan dengan sang ketua, masa tak dapat mengenalinya malah? Bukankah rahasia penyamarannya cepat atau lambat pasti juga akan ketahuan?"

"Kau salah,"

Kata Coh Liu-hiang.

"Pribadi Bu Wi-yang terkenal sangat kereng dan disiplin, setiap anak buah Hongbwe-pang sangat patuh dan setia padanya, di samping rasa hormat dan segan, siapa nyang berani mengawasi dia dengan cermat?"

"Betul juga,"

Kata Thio Sam setelah berpikir.

"Urusan yang membingungkan, biloa diserahkan kepadamu, semuanya akan berubah menjadi jelas dan beralasan."

Coh Liu-hiang menghela napas gegetun, katanya.

"Urusan ini sebenarnya sangat ruwet dan juga misterius, sedikitnya menyangkut tujuh atau delapan persoalan, bila sedikit kurang cermat saja pasti suka memecahkannya."

"Sungguh aku tidak tahu cara bagaimana kau memecahkan persoalan ini? Apakah bentuk otakmu berbeda dengan orang lain?"

Kata Oh Thi-hoa. Coh Liu-hiang tertawa, katanya.

"Sebenarnya ada juga beberapa bagian yang tak dapat kupecahkan, tapi setelah kurenungkan ketika berbaring di dalam peti mati tadi, sedikit demi sedikit dapatlah kugabung lalu kupecahkan seluruhnya."

"Kiranya peti mati ini mendatangkan inspirasi bagimu,"

Kata Oh Thi-hoa dengan tertawa.

"Inipun ada betulnya,"

Ujar Coh Liu-hiang sungguhsungguh.

"Jika orang ingin mencari sesuatu tempat tenang untuk memikirkan sesuatu, maka di dalam peti mati adalah tempat yang paling ideal."

"O, masa?"

Kata Oh Thi-hoa.

"Sebab seseorang bila sudah membujur dalam peti mati, maka akan terasa dirinya terputus hubungan sama sekali dengan dunia ramai, akan berubah tenang tenteram, banyak hal yang tak pernah terpikir akan timbul pada saat demikian. Banyak urusan yang mestinya sudah terlupakan akan terbayang semuanya."

"Jika demikian, seharusnya Siau Oh sepanjangm hari berbaring di dalam peti mati saja, sebab yangf dia minum sesungguhnya terlalu banyak dan yang dipikirkannya terlalu sedikit."

Oh Thi-hoa melotot sekajap, katanya sambil mengerut kening.

"Memang ada suatu hal yang belum dapat kupecahkan."

"Apakah mengenai peta itu?"

Tanya Coh Liu-hiang.

"Betul, sebelum ajalnya In Ciong-liong diam-diam memberikan peta ituj kepadamu, kuyakin peta itu pasti menyangkut suatu urusan maha penting. Betul tidak?"

"Betul,"

Jawab Coh Liu-hiang.

"Akan tetapi yang terlukis di peta itu hanya gambar kalong melulu,"

Ujar Oh Thi-hoa dengan menghela napas.

"Kukira pada gambar kalong itulah terletak kunci rahasianya, pasti mengandung arti yagn sangat dalam, ucap Coh Liu-hiang setelah berpikir.

"Dan sudah dapat kau pikirkan belum?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Belum,"

Jawab Coh Liu-hiang cepat dan tegas. Maka tertawalah OPh Thi-hoa, tampaknya dia hendak berolok-olok pula. Mendadak terdengar seseorang berseru.

"Kutahu arti gambar kalong itu."

Waktu semua menoleh, yang bicara kirianya adalah Kim Leng-ci. Thio Sam tertawa, bisiknya.

"Kiranya telinganya juga cukup panjang."

"Anggota badan perempuan memang ada dua yang lebih panjang daripada lelaki, satu di antaranya adalah telinga,"

Kata Oh Thi-hoa.

"Dan yang satu lagi,"

Tanya Thio Sam.

"Lidah,"

Jawab Oh Thi-hoa.

Dia berkata dengan suara tertahan, sebab waktu itu Kim Leng-ci sudah bangun berduduk dari peti matinya.

Sejak nona itu bersikap kasar kepada Pek Lak.

Aneh, sikap Oh Thi-hoa terhadap nona itu menjadi jauh lebih halus.

"Nona Kim tahu arti yang terkandung pada gambar kalong itu?"

Tanya Coh Liu-hiang.

"Ehm."

Kini Leng-ci mengangguk. Matanya kelihatan rada bendol seperti habis menangis.

"Gambar kalong itu apakah melambangkan satu orang?"

Tanya Coh Liu-hiang pula.

"Bukan, tapi melambangkan tempat."

Jawab Kim Leng-ci.

"Tempat?"

Coh Liu-hiang menegas.

"Tempat apa itu?"

"Pian-hok-to (Pulau Kalong), dimana terletak gua emas itulah namanya Pian-hok-to,"

Tutur Kim Leng-ci. Terbeliak mata Coh Liu-hiang. serunya.

"Jika begitu, garisgaris melengkung pada peta itu melambangkan air laut. .."

"Dan lingkaran itu melambangkan matahari, menunjukkan arah ke Pulau Kalong itu."

Tukas Thio Sam. Oh Thi-hoa juga lantas berseru.

"Kalau begitu, asalkan kita mengikuti arahnya, kita akan menemukan Pulau Kalong itu dan asalkan dapat menemukan pulau itu. segala persoalan pun akan dapat dipecahkan."

"Tapi mungkin setiba di pulau itu, persoalan dirimu juga sudah dapat dibereskan seluruhnya!"

Jengek Kim Leng-ci.

"Apa artinya ucapanmu?"

Tanya Oh Thi-hoa. Tapi si nona diam saja tanpa menggubrisnya.

"Kalau orang sudah mati. tentu segala persoalan menjadi beres...... begitu bukan maksud nona Kim?"

Kata Coh Liuhiang. Akhirnya Kim Leng-ci mengangguk juga, katanya.

"Dahulu setelah berada di lautan lepas, selama lima enam hari berlayar baru kucapai Pulau Kalong. Sekarang biarpun kita menumpang kapal yang lebih besar. sedikitnya juga perlu berlayar selama tiga empat hari. apalagi......"

Sampai di sini dia tidak melanjutkan lagi, akan tetapi bagaimana maksud ucapannya itu cukup jelas.

Maklumlah, sekarang mereka hanya berakitkan peti mati, seumpama dapat berlayar dengan lancar, tiada hujan tiada badai, juga tak kehilangan arah, sekalipun mereka berenam orang baja dan sanggup mendayung terus menerus....

katakanlah mereka dapat menempuh perjalanan dengan kecepatan maksimal, paling sedikit juga diperlukan waktu tujuh delapan hari.

Padahal masih harus disoalkan makanan dan minum air, dapatkah mereka bertahan selama tujuh delapan hari?

Oh Thi-hoa kucek-kucek hidungnya dan berkata.

"Tujuh delapan hari tanpa makan mungkin masih tahan, tapi tanpa minum. siapa pun pasti tak sanggup."

"Jangankan bertahan tujuh delapan hari. sekarang pun aku sudah kehausan setengah mati,"

Ujar Thio Sam menyengir.

"Mungkin disebabkan mulutmu terlalu banyak bergerak, maka juga cepat haus,"

Jengek Oh Thi-hoa. Thio Sam menarik muka. jawabnya.

"Mati kehausan adalah urusan kecil, mati konyol membikin penasaran Biarpun mati kehausan, mulut tetap harus kugunakan untuk bicara."

Saat itu Eng Ban-li sedang memandangi langit, tiba-tiba ia berkata dengan tertawa.

"Mungkin kita takkan mati kehausan."

"Sebab apa?"

Tanya Oh Thi-hoa. Eng Ban-li tersenyum, senyuman kecut, katanya perlahan.

"Langit seperti makin rendah, mungkin selekasnya akan hujan angin."

Langit memang terasa sangat rendah, awan tebal seakanakan hendak menindih di atas kepala mereka Mendadak mereka merasa hawa udara sangat menyesakkan hingga hampir tak dapat bernapas.

Thio Sam menengadah memandang cuaca, alisnya berkerut rapat, katanya.

"Ya, tampaknya seperti mau hujan angin."

"Hujan angin atau hujan badai,"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Baik hujan angin biasa atau hujan badai, kita tetap sangat sukar bertahan."

Jawab Thio Sam menunduk.

Semua orang termenung, tanpa terasa sama menunduk memandangi peti mati yang diduduki itu.

Peti mati terbuat dari kayu jati, buatannya sangat kukuh, sebab itulah sampai sekarang tiada yang bocor.

Tapi peti mati tetap peti mati dan bukan kapal.

Bilamana terjadi angin badai, keenam peti mati itu pasti akan terdampar berantakan oleh gelombang laut.

Tiba-tiba Oh Thi-hoa tertawa, katanya.

"Kita kan punya seorang ahli pikir di sini, urusan apapun pasti dapat dihadapinya, kenapa kita mesti khawatir?"

Dia berharap orang lain akan ikut tertawa, tapi ternyata tiada seorang pun yang tertawa.

Dalam keadaan demikian, biarpun dia adalah seorang badut yang paling jempolan, barangkali tiada seorang pun yang mau menikmati lawakannya.

Lawakannya itu tiada sesuatu yang menggelikan.

Sebab setiap orang tahu Coh Liu-hiang bukan dewa.

menghadapi manusia mungkin bisa selalu menang, tapi menghadapi Thian, menghadapi alam sama saja.

ia pun tidak berdaya sama sekali.

Sang surya entah sejak kapan sudah tertelan oleh samudera raya, cuaca menjadi gelap gulita.

Hanya sepasang mata Coh Liu-hiang saja yang masih berkelip-kelip Oh Thi-hoa tidak tahan, ia buka suara pula.

"Apakah sekarang kau sudah mempunyai sesuatu jalan keluar?"

"Sekarang aku memang punya suatu gagasan."

Jawab Coh Liu-hiang dengan tenang. Tentu saja Oh Thi-hoa kegirangan, cepat ia berseru.

"Bagus, lekas katakan, bagaimana gagasanmu, supaya semua tahu."

"Tunggu,"

Kata Coh Liu-hiang singkat. Oh Thihoa melengak. segera ia berteriak pula.

"Tunggu! Inikah gagasanmu?"

Coh Liu-hiang menghela napas gegetun, ucapnya.

"Ya, hanya inilah gagasanku."

"Betul, tiada jalan lain, terpaksa kita hanya dapat menunggu saja,"

Tukas Eng Ban-li.

"Dalam keadaan demikian memangnya siapa yang mampu mengemukakan gagasan lain?"

"Habis apa yang hendak ditunggu?"

Teriak Oh Thi-hoa.

"Tunggu kematian?"

Coh Liu-hiang dan Eng Ban-li diam saja. Biasanya kalau diam berarti membenarkan. Oh Thi-hoa jadi melengak sendiri, tiba-tiba "ia merebahkan diri dan bergumam.

"baiklah, jika harus tunggu kematian, paling sedikit kita harus menunggu dengan rileks. Nah, kenapa kalian tidak berbaring saja.... Rasanya orang menunggu kematian tidak dapat dialami oleh setiap orang."

Oooo0000oooo Menunggu kematian memang tidak enak rasanya Baik cara menunggunya itu dengan berdiri, berduduk atau berbaring.

Tapi terpaksa mereka harus menunggu, sebab selam menunggu memang tiada jalan lain.

Selama hidup Coh Liu-hiang, entah sudah berapa banyak menghadapi lawan yang menakutkan, tapi siapa pun juga yang dihadapi dan urusan apapun, tak pernah ia kehilangan keberanian dan tidak pernah putus asa.

Semakin menakutkan musuh yang dihadapinya, semakin besar pula keberaniannya, otaknya juga bekerja terlebih cepat dan tajam, ia yakin segala persoalan di dunia ini pasti dapai dipecahkannya.

Hanya sekali ini.

otaknya seperti kosong blong, apapun tak dapat dipikirnya.

Angin semakin kencang, ombak pun semakin tinggi.

Rakit peti mati mereka itu terlempar naik turun, selain memegangnya erat-erat, apapun tak dapat dilakukan oleh mereka.

Malahan kalau kurang erat berpegangan, bisa jadi akan terlempar ke laut.

Tapi kalau benar-benar bisa terlempar ke laut, mungkin akan terasa puas malah.

'Mati' sendiri tidak menyakitkan, yang menyiksa adalah detik sebelum mati itulah.

Seseorang kalau masih dapat berontak, masih dapat berjuang masih dapat melawan, maka takkan takut menghadapi persoalan apa pun iuga.

Tapi jika apa yang bisa dilakukannya tiada lain kecuali menunggu saja, inilah yang sangat menakutkan.

Hanya dalam keadaan mencekam beginilah akan kentara betapa keberanian seseorang Meski wajah Coh Liu-hiang juga pucat, tapi masih tetap tenang dan sabar, hampir tiada berbeda seperti biasanya.

Dan Oh Thi-hoa ternyata benar-benar telah tidur, malahan kelihatan sangat nyenyak.

Eng Ban-li lagi menunduk.

Kim Leng-ci menggigit bibir, Thio Sam berkomat-kamit seperti lagi bergumam sendiri, seperti juga sedang berdendang.

Hanya Pek Lak saja.

dia tetap berduduk di tempatnya dengan membusungkan dada, dengan mata terbelalak ia pandang Kim Leng-ci butiran keringat memenuhi dahinya.

Entah sudah berapa lama, sekonyong-konyong Pek Lak berbangkit ditatapnya Kim Leng-ci.

katanya.

"Nona Kim, aku berangkat lebih dahulu, aku., aku.."

Belum habis ucapannya ia terus melompat seperti hendak terjun ke laut.

Kim Leng-ci menjerit, tapi tangan Coh Liu-hiang secepat kilat dapat meraih ikat pinggang Pek Lak.

Pada saat itu juga mendadak Thio Sam juga berteriak.

"He, apakah itu?"

Di permukaan laut yang gelap gulita itu. tiba-tiba muncul setitik sinar. Kalau hujan badai sudah hampir tiba, darimana bisa ada kerlipan bintang? Oh Thi-hoa kegirangan dan berteriak teriak.

"Aha, itulah lampu."

Tempat yang ada lampunya kalau bukan daratan tentulah di atas kapal.

Kerlipan sinar lampu itu memang betul bintang, bintang penolong.

Mereka berusaha mendayung sekuatnya ke arah kerlipan lampu.

Meski angin meniup kencang dan gelombang ombak sangat besar, tapi semua itu bukan apa-apa lagi bagi mereka.

Sinar lampu itu semakin terang dan semakin jelas.

Mereka mendayung dengan terlebih cepat, lambat laun suara orang di kapal sana sudah dapat terdengar.

Coh Liu-hiang melirik Pek Lak sekejap, ucapnya dengan tegas.

"Seseorang asalkan tidak mati, dalam keadaan apapun juga harus tahan uji. Kukira inilah pokok dasar kehidupan manusia."

"Betul,"

Tukas Eng Ban-li.

"Ada ucapan Coh-hiangswe yang paling tepat, yaitu manusia tidak berhak membunuh orang lain, tapi juga tidak berhak membunuh diri sendiri."

Ooo000ooo Kapal itu sangat besar, setiap orang yang berada di kapal itupun sangat sopan, halus tingkah lakunya, cara bicaranya juga lemah lembut.

Ketika Coh Liu-hiang sudah berada di atas kapal, segera ia merasakan kapal ini sangat istimewa.

Menurut pengalaman mereka, kelasi kapal kebanyakan kasar dan kotor.

Maklum, di tengah lautan, air tawar jauh lebih berharga daripada arak yang paling enak.

dengan sendirinya kesempatan mandi mereka tidak banyak.

Meski hujan badai sudah hampir tiba, setiap orang di kapal itu tetap tenang, terhadap Coh Liu-hiang dan kawan-kawan iuga sangat sopan santun.

Siapa pun dapat melihat bahwa kelasi-kelasi kapal ini pasti mengalami latihan yang sangat baik, dari gerak-gerik mereka dapat diketahui juragan kapal ini pasti luar biasa.

Dan dengan cepat sekali Coh Liu-hiang sudah dapat membuktikan kebenaran dugaannya itu.

Cuma juragan kapal ini jauh lebih muda daripada dugaannya, seorang pemuda yang dan lembut, berpakaian perlente, tapi tidak berlebihan.

Terdengar suara kecapi yang merdu sayup-sayup terbawa angin.

Dari kejauhan melalui jendela kabin.

Coh Liu-hiang dapat melihat pemuda itu sedang memetik kecapi.

Tapi ketika mereka hampir mendekati kabin, suara kecapi itu lantas berhenti.

Tahu-tahu pemuda itu muncul menyambut kedatangan mereka dengan tersenyum simpul.

Senyuman pemuda itu sangat simpatik, tapi sepasang matanya menampilkan perasaan hampa dan kesepian.

Dia menjura kepada Coh Liu-hiang dan kawan-kawannya, ucapnya dengan tersenyum.

"Maaf jika kedatangan para tamu terhormat tidak dilakukan sambutan selayaknya."

"Ah, berkat pertolongan anda sehingga kami terhindar dari malapetaka, kalau bisa berteduh sekedarnya, mana berani kami mengharapkan apa-apa lagi. jika tuan rumah sungkansungkan begitu, sungguh kami menjadi bingung malah,"

Demikian Coh Liu-hiang balas menjura.

"Ah, bilamana dapat membantu sesuatu, beruntunglah bagiku, jika anda juga sungkan-sungkan begini. Cayhe sendiri pun merasa rikuh,"

Kata pemuda ini dengan ramah.

"Tadi kami mendengar petikan kecapi yang merdu, maaf jika kedatangan kami justru mengganggu keasyikan anda,"

Kata Coh Liu-hiang.

"Dari ucapan anda ini, agaknya anda seorang ahli seni musik, sebentar akan kumohon petunjuk."

Ujar pemuda itu tertawa.

Dalam pada itu Oh Thi-hoa menjadi tidak sabar Dia sudah lelah, lapar dan haus, diliriknya poci arak yang tertaruh di atas meja sana.

sungguh kalau bisa poci itu akan ditubruknya terus ditenggak sepuas-puasnya.

Tapi Coh Liu-hiang justru melayani pemuda itu bicara tetek bengek, tentu saja ia merasa sebal, segera ia berseru.

"Aha, bagus, di samping kecapi ada arak, memetik kecapi sambil minum arak sungguh asyik dan menyenangkan. Apabila bisa mendengarkan suara kecapi anda. sungguh menyenangkan."

Padahal yang diincar araknya, tapi dia justru omong tentang kecapi segala. Tentu orang lain dapat meraba isi hatinya. Coh Liu-hiang tertawa, katanya.

"Kawanku ini bukan saja mahir mengenai seni suara, juga ahli arak...."

Oh Thi-hoa melototinya dan memotong.

"Terus terang meski telingaku sekarang tak mendengarkan suara kecapi, tapi di mataku sudah terlihat adanya arak."

Pemuda itu tertawa, katanya.

"Dari nadanya, masa tak dapat dibedakan maksud tujuannya? Bahwasanya Oh-tayhiap adalah jago minum arak, hal ini sudah lama kudengar."

Baru Oh Thi-hoa mau tertawa, seketika ia jadi melengak. katanya.

"He, kau kenal diriku?"

"Maaf, belum pernah kenal,"

Jawab pemuda itu.

"Lalu darimana kau tahu aku she Oh?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Kupu-kupu terbang menari, harum bunga memabukkan. Orang yang dapat selalu berdampingan dengan Cohhiangswe, siapa lagi kecuali 'Oh-tiap-hoa' (si kupu kembang, julukan Oh Thi-hoa) Oh-tay-hiap?"

Coh Liu Hiang jadi melengak juga.

"Kiranya yang kau kenal bukan diriku melainkan si ku... Coh Liu-hiang."

Kata Oh Thi-hoa.

"Nama kebesaran Coh-hiangswe sudah kukagumi. cuma sayang selama ini belum pernah berjumpa."

Kata pemuda itu. Kembali Oh Thi-hoa melenggong. katanya.

"Jika kau tidak pernah melihat dia. darimana kau tahu dia ini Coh Liu-hiang?"

Pemuda itu tidak langsung menjawab pertanyaan ini, dia tersenyum dan bertanya pula.

"Angin kencang dan ombak besar, air laut bergolak, berdiri kalian tentunya tidak anteng, sedangkan tinggi geladak kapal ini kira-kira dua tombak dari permukaan air, bila naik ke sini dengan melompat, waktu hinggap di atas geladak tentu akan menimbulkan suara."

"Betul, jika di daratan lompatan setinggi dua tombak bukan soal di atas air memang lain halnya,"

Ujar Oh Thi-hoa.

"Tapi waktu kalian berenam melompat ke sini, cayhe hanya mendengar suara kaki lima orang. Sekali lompat dua tombak di atas air dan tidak menimbulkan suara ketika hinggap ke bawah, betapa tinggi Ginkangnya ini. sungguh tiada bandingannya di dunia ini."

Dia tertawa, lalu menyambung pula.

"Ginkang Cohhiangswe benar-benar tiada taranya, sungguh Cayhe tunduk dan kagum lahir batin."

"Tapi cara bagaimana pula kau tahu orang keenam yang melompat ke atas kapal tanpa menimbulkan suara itu ialah dia dan dia ini pula Coh Liu-hiang?"

Tanya Oh Thi-hoa penasaran. Pemuda itu tertawa pula. jawabnya.

"Perahu terombangambing di tengah laut yang bergolak, hujan badai sudah hampir tiba, setelah mengalami bencana tapi masih sanggup bicara dan tertawa sewajarnya seperti tak terjadi apa-apa. pandanglah ke seluruh dunia ini, kecuali Coh-hiangswe ada berapa orang lagi?"

Lalu dia berpaling kepada Coh Liu-hiang dan berkata.

"Sebab itulah Cayhe berani mengenali Coh-hiangswe. jika tindakanku ini agak semberono, mohon dimaafkan."

Oh Thi-hoa melongo dan tak sanggup buka suara lagi.

Pemuda itu benar-benar seorang tokoh yang luar biasa, jauh lebih hebat daripada sangkaannya.

oooo0000ooooo Arak pun disuguhkan.

Arak pilihan, arak sedap.

Untuk menghibur hati yang kesal, biasanya tiga cawan arak enak sudah cukup membuat orang lupa daratan.

Kini, Oh Thi-hoa sudah menghabiskan lima cawan, sedikit banyak ia rada mabuk, karena itu kata-katanya mulai banyak.

Seseorang kalau dalam keadaan lelah dan lapar, daya tahan minum araknya sudah tentu jauh lebih lemah daripada biasanya.

Sementara itu, masing-masing sudah saling memperkenalkan nama.

Hanya Eng Ban-li saja tetap menggunakan nama samaran, yakni "Kongsun Jiat-ih" , Maklum, puluhan tahun jadi opas, rasa curiganya terhadap orang lain selalu timbul, terutama terhadap orang yang baru dikenalnya.

Dengan tertawa pemuda itu berkata pula.

"Kiranya anda adalah orang ternama semua, kehadiran kalian sungguh menambah semarak suasana di kapalku, sungguh sangat beruntung."

"Bila orang sepertimu mengaku sebagai orang tak terkenal, akulah orang pertama yang tidak percaya,"

Seru Oh Thi-hoa. Cepat Eng Ban-li bertanya dengan tertawa.

"Betul, kami pun ingin mohon diberitahu nama tuan rumah yang mulia."

"Cayhe she Goan bernama Sui-hun,"

Jawab si pemuda.

"Jarang sekali ada orang she begini."

Ujar Oh Thi-hoa dengan tertawa.

"Dan entah dimanakah kediaman anda?"

Tanya Eng Ban-li.

"Kwantiong,"

Jawab Goan Sui-hun. Gemerdep sinar mata Eng Ban-li, katanya.

"Keluarga Goan dari Kwantiong memang termashur, nama Bu-ceng-san-ceng begitu terkenal, keluarga terhormat nomor satu di dunia persilatan. Entah apa hubungan antara Goan-kongcu dengan Goan-locengcu Goan Tong-wan dari Bu-ceng-san-ceng sekarang?"

"Beliau adalah ayahku."

Jawab Goan Sui-hun.

Keterangan ini membuat semua orang tercengang.

Bahkan Coh Liu-hiang juga merasa tertegun, seperti mendengar sesuatu berita yang aneh dan mengejutkan.

Bu-ceng-san-ceng atau perkampungan tanpa sengketa' dibangun di Goan-jing-kok di barat kota Thaygoan pada tiga ratus tahun yang lalu.

Nama 'Bu-ceng tanpa sengketa alias damai itu bukan dicetuskan oleh pendiri perkampungan itu.

tapi pemberian para ksatria dunia persilatan.

Sebab pada waktu itu.

boleh dikata nada seorang pun di dunia ini yang mampu melawan penguasa perkampungan itu.

Sejak itu Bu-ceng-san-ceng selalu melahirkan pendekar ternama dan banyak melakukan hal-hal yang menggemparkan dan mengagumkan di dunia Kangouw.

Selama lima puluh tahun terakhir ini memang tidak ada kejutan yang dilakukan orang Bu-ceng-san-ceng.

tapi wibawa selama tiga ratus tahun masih tetap bertahan, bila orang Bulim menyebut 'Bu-ceng-san-ceng' akan tetap merasa segan dan menghormat.

Penguasa Bu-ceng-san-ceng sekarang, yaitu Goan Tongwan, berwatak tak acuh terhadap dunia Kangouw.

Jarang muncul di dunia persilatan dan juga tak pernah bergebrak dengan orang.

Meski ada kabar yang mengatakan dia sengaja menyimpan kepandaian ilmu silatnya yang sangat tinggi dan sukar dijajagi.

Tapi ada juga orang bilang Goan Tong-wan bertubuh lemah, tidak mahir ilmu silat, hanya seorang sekolahan yang terpelajar dan cuma gemar minum arak dan mengarang syair saja.

Tapi apapun juga, kedudukan dan nama Goan-locengcu di dunia Kangouw masih tetap tinggi dan terhormat, perselisihan betapa besarnya, bilamana Goan-locengcu sudi memberi satu kata keputusan saja.

maka segala persoalan dapat diselesaikan Sampai-sampai Sih Ih-jin yang terkenal sebagai jago pedang nomor satu di dunia itupun tidak berani mengusik Bu-ceng-san-ceng.

sekalipun pada masa jaya-jayanya Sih Ihjin.

Goan Tong-wan hidup sampai lebih lima puluh tahun, baru mendapatkan seorang anak lelaki, karena itulah sayangnya terhadap putera tunggalnya itu tidak perlu diterangkan lagi.

Goan-siaucengcu (juragan muda Goan) itupun tak mengecewakan harapan orang tua.

Setiap orang Kangouw tahu Goan Sui-hun, Goan-siaucengcu, adalah anak ajaib, sesudah dewasa bahkan tambah pintar, baik Bun maupun Bu (sastra maupun silat).

Malahan tingkah lakunya sopan santun dan berbudi halus.

Bilamana para tokoh dunia Kangouw menyinggung tentang Goan-siaucengcu ini, selain di mulut mereka tidak habishabisnya memberi pujian, dalam hati mereka pun sangat menyesal bersimpati kepadanya.

Sebabnya.

Goan Sui-hun yang cakap dan sopan itu sejak menderita sakit keras pada usia tiga tahun akhirnya menjadi buta.

Jadi Goan Sui-hun adalah seorang buta.

Orang yang sekali pandang mengenali Coh Liu-hiang ternyata seorang buta.

Keruan semua orang jadi melenggong.

Mereka semua punya mata, mata vang sehat dan tajam, tapi setelah berbicara sekian lama, bukan saja tiada seorang pun yang tahu lawan bicaranya itu buta.

bahkan terpikir pun tidak.

Maklum, gerak-gerik pemuda itu sedemikian tenang dan wajar jalannya juga begitu mantap, waktu menuangkan arak bagi tetamunya juga tak tercecer setetes pun.

malahan asal-usul tetamunya dapat diketahuinya dengan jelas.

Coba, siapakah yang pernah membayangkan bahwa pemuda demikian adalah seorang buta?

Baru sekarang semua orang tahu apa sebabnya sorot mata pemuda itu tampak sedemikian hampa dan kesepian.

Di samping merasa menyesal, tanpa terasa semua orang menjadi kasihan pula.

Pemuda ini sedemikian ganteng, sedemikian cakap, berasal dari keluarga Bu-lim terpuja pula, boleh dikata putera kebanggaan zaman, hidupnya pasti tidak kekurangan apapun.

Tetapi Thian justru menjadikan dia seorang buta.

Apakah Thian juga iri terhadap manusia dan tidak ingin melihat lelaki yang sempurna tanpa cacat?

Tanpa terasa Oh Thi-hoa menenggak tiga cawan arak lagi.

Dia menenggak sebanyaknya pada wakru hati gembira, pada saat hati masgul pun suka minum lebih banyak.

Dengan tertawa hambar kemudian Goan Sui-hun berkata.

"Kini para hadirin tentu dapat memaafkan penyambutanku yang kurang baik tadi. Meski cuma basa basi saja ucapan ini tapi membuat orang merasa terharu dan sukar menanggapinya. Tiba-tiba Oh Thi-hoa berkata.

"Caramu membedakan kejadian tadi apakah hasil pendengaran telingamu seluruhnya?"

"Betul,"

Jawab Goan Sui-hun. Oh Thi-hoa menghela napas gegetun, katanya.

"Meski indera penglihatan Goan-kongcu kurang baik, tapi jauh lebih tajam daripada kami yang mempunyai telinga lengkap ini."

Sambil omong, kembali ia habiskan tiga cawan arak pula. Mendadak Eng Ban-li juga berkata.

"Tadinya kukira indera pendengaran Eng Ban-li, itu opas kotaraja terkenal, sukar ditandingi siapa pun juga, setelah berjumpa dengan Goankongcu sekarang, baru kutahu di atas langit masih ada langit, di atas orang pandai masih ada yang lebih pandai."

"Ah, terima kasih atas pujianmu,"

Jawab Goan Sui-hun.

"Jangan-jangan anda juga kenal Eng-locianpwe?"

Eng Ban-li tenang-tenang saja, jawabnya.

"Hanya pernah bertemu beberapa kali saja."

Goan Sui-hun tertawa, katanya pula.

"Pek-ih-sin-ni Englocianpwe boleh dikata tiada bandingannya sejak dulu hingga sekarang, memang sudah lama ingin kutemui beliau untuk minta pengajaran. Kelak bila ada kesempatan masih berharap anda sudi memperkenalkan diriku kepada beliau."

Gemerdep sinar mata Eng Ban-li. dengan perlahan ia menjawab.

"Baik. bila kelak ada kesempatan, pasti akan kupenuhi kehendakmu."

Tanya jawab ini nampaknya cuma basa-basi belaka tanpa mengandung arti, seperti sengaja dilakukan Eng Ban-li untuk menutupi asal-usul dirinya saja.

Tapi entah mengapa, Coh Liuhiang merasa di balik persoalan ini seperti mengandung pertentangan dan maksud tertentu dan kedua orang yang bicara ini.

Cuma apa maksud tujuan mereka, seketika tak dapat diterka oleh Coh Liu-hiang.

Tiba-tiba Goan Sui-hun mengalihkan pokok pembicaraan, tanyanya.

"Bahwasanya Thio-heng adalah jago berlayar, konon C oh-hiangswe juga berpengalaman mengarungi samudera raya, dengan kemahiran kalian berdua masa sampai mengalami bencana di lautan?"

Belum lagi Thio Sam dan Coh Liu-hiang menjawab, cepat Oh Thi-hoa menyela.

"Jika kapalnya mau tenggelam, mereka berdua mampu berbuat apa?"

"Dua tiga hari ini kan tiada badai. mengapa kapal penumpang kalian bisa tenggelam mendadak?"

Tanva Goan Sui-hun. Oh Thi-hoa kucek-kucek hidungnya dan berkata.

"Jika kami tahu sebab apa kapal itu tenggelam, tentu takkan kami biarkan kapal itu tenggelam."

Jawaban ini cukup diplomatis, menjawab seperti halnya tidak menjawab, kecuali Oh Thi-hoa, barangkali tiada orang yang mampu berkata demikian.

Maka tertawalah Goan Sui-hun, ia mengangguk dan berkata pula.

"Betul juga. datangnya bencana seringkali secara mendadak dan di luar dugaan, siapa pun tidak dapat meramalkan sebelumnya,"

Mendadak Oh Thi-hoa merasa pemuda tuna netra ini ada suatu kebaikan, yaitu apapun yang dikatakan orang lain.

selalu disetujui olehnya.

Tidak lama kemudian, kapal sudah mulai berguncang, jelas hujan badai sudah hampir tiba.

Mendadak Eng Ban-li bertanya.

"Goan-kongcu sudah lama berdiam di Kwantiong, mengapa pergi ke lautan lepas sini?"

Goan Sui-hun termenung sejenak, lalu jawabnya.

"Terhadap orang lain tentu akan kukatakan tujuanku hanya untuk pesiar saja, tapi di depan kalian, mana Cayhe berani berdusta."

"Ya, Goan-kongcu adalah seorang ksatria yang polos. hal ini sudah dapat kami lihat,"

Kata Oh Thi-hoa.

"Ah terima kasih atas pujianmu,"

Kata Goan Sui-hun.

"Bicara terus terang, maksud tujuan perjalananku mi mungkin juga serupa dengan kalian."

"O, apakah Goan-kongcu sudah tahu kami hendak pergi kemana?"

Tanya Eng Ban-li. Goan Sui-hun tertawa, katanya.

"Selama beberapa hari ini banyak berkumpul beberapa tokoh terkemuka di sekitar lautan sini, kemana tempat tujuan para ksatria itu. mungkin juga sama seperti kita sekarang."

Gemerdep sinar mata Eng Ban-li. tanyanya.

"Tempat mana yang dimaksudkan Goan-kongcu?"

"Kita tahu sama tahu, masakah anda mesti menghendaki kukatakan terus terang?"

Ujar Goan Sui-hun dengan tertawa. Oh Thi-hoa menyela pula.

"Tempat yang Kongcu maksud apakah Pian-hok-to yang disebut juga gua emas di lautan sana?"

"Aha, betapapun juga, Oh-tayhiap tetap orang yang suka berterus terang,"

Seru Goan Sui-hun sambil berkeplok.

"Bagus, bagus sekali jika demikian,"

Kata Oh Thi-hoa dengan girang.

"Kebetulan kita dapat menumpang kapal Goan-kongcu, hemat waktu dan tenaga tentunya."

Thio Sam melototinya dan mendengus.

"Hm, jangan keburu gembira dulu, apakah Goan-kongcu mengizinkan kita menumpang kapalnva atau tidak, kan belum pasti?"

"Kukira Goan kongcu seorang yang suka terima tamu, tidak nanti kita dihalau pergi dari kapalnya,"

Kata Oh Thi-hoa. Goan Sui-hun bergelak tertawa, katanya.

"Haha, padahal kita baru saja kenal di tengah perjalanan, tak tersangka dapat bertemu dengan kawan setia dan simpatik seperti Oh-tayhiap."

Segera ia angkat cawan pula dan mengajak minum.

"Hayolah. silakan habiskan satu cawan lagi "

Oooo000oooo Kapal Goan Sui-hun mi bukan saja jauh lebih mewah, pelayanannya juga jauh lebih lengkap.

Dalam kamar sudah tersedia pakaian kering, juga ada arak.

Sambil berbaring di tempat tidurnya.

Oh Thi-hoa menghela napas gegetun dan berkata.

"Betapapun putera keluarga ternama tetap terhormat, tetap lain daripada yang lain."

"Apa yang lain? Memangnya hidungnya tumbuh di bawah telinganya?"

Tanya Thio Sam.

"Biarpun tak punya hidung juga tetap cocok dengan seleraku,"

Jawab Oh Thi-hoa.

"Lihat saja, tutur katanya sopan, sikapnya jujur, lima kali lebih baik daripadamu."

"Buaya bersua biawak, tentu cocok."

Jengek Thio Sam. Oh Thi-hoa menggeleng-geleng, katanya.

"Bocah ini barangkali rada miring nada bicaranya selalu menusuk perasaan, memangnya dalam hal apa orang menyinggungnya?"

"Sudah tentu dia tak menyinggung diriku, hanya aku yang merasa muak kepadanya,"

Ujar Thio Sam.

"Muak?"

Oh Thi-hoa berjingkrak gusar.

"Kau muak padanya? Dalam hal apa dia memuakkan?"

"Cara bicaranya yang sok lemah lembut dan sopan santun seperti katamu itu,"

Jawab Thio Sam "Pokoknya aku muak, merasa cara bicaranya tidak jujur."

"Dalam hal apa dia telah menipu kita? Coba katakan?"

Kata Oh Thi-hoa dengan mendelik.

"Aku memang tidak dapat menerangkan,"

Kata Thio Sam. Mata Oh Thi-hoa seperti telur ayam besarnya, setelah melotot sekian lama. mendadak ia tertawa dan berkata pula sambil menggeleng.

"Coba lihat kutu busuk tua, orang ini bukankah sedang sakit, bahkan sakit parah?"

Setiap kali bilamana Thio Sam dan Oh Thi-hoa ribut mulut, selalu Coh Liu-hiang berlagak tuli dan tidak mau ikut bicara. Tapi sekarang ia berkata dengan tertawa.

"Goan-kongcu memang memiliki segi-segi yang tak dapat dibandingi orang lain. Jika dia tidak cacat fisik, mungkin tokoh Kangouw sekarang tiada seorang pun yang mampu menandingi dia."

Oh Thi-hoa melirik Thio Sam sekejap, jengeknya.

"Nah, kau dengar tidak?"

"Aku tak mempersoalkan kepandaiannya."

Ujar Thio Sam "Yang kumaksud adalah sikapnya yang kelewat simpatik dan kelewat jujur itu."

"Memangnya apa jeleknya simpatik dan jujur?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Baiknya memang baik, tapi kalau keterlaluan kan berubah munafik jadinya?"

Tanpa memberi kesempatan bicara pada Oh Thi-hoa, cepat Thio Sam menyambung pula.

"Orang semacam dia seharusnya dapat berpikir panjang, tidak layak dia bicara secara blak-blakan begitu terhadap orang yang baru dikenalnya. Apalagi perjalanannya ini kan sangat dirahasiakan."

"Itu kan tandanya dia menghargai kita dan memandang kita sebagai kawan."

Teriak Oh Thi-hoa.

"Memangnya kau kira setiap orang di dunia ini serupa kau, tidak dapat membedakan baik dan jelek, juga tidak tahu hitam dan putih."

"Paling sedikit aku tidak sama denganmu,"

Jengek Thio Sam.

"Baru diberi minum beberapa cawan arak dan disanjung puji sedikit, kontan kau lantas menganggapnya kawan baik dan percaya penuh padanya."

Oh Thi-hoa seperti marah, katanya.

"Antara kawan harus bicara secara jujur dan setia. Hanya orang berjiwa kerdil macam kau saja yang suka mengukur orang lain dengan bajumu sendiri. Padahal, menipu orang kan harus ada maksud tujuan, lantas untuk apa dia menipu kita? Bicara tentang asalusul keluarga, bicara tentang kedudukan dan nama baik adakah setitik saja kita dapat membandingi dia? Lalu apa yang diincarnya?"

"Bisa jadi... bisa jadi dia memusuhi salah seorang di antara kita,"

Kata Thio Sam.

"Hakikatnya dia tak pernah berkecimpung di dunia Kangouw, seorang pun tidak pernah dikenalnya, memangnya dia memusuhi siapa?"

Maka Thio Sam lantas meraba hidung juga. Agaknya penyakit meraba hidung ala Coh Liu-hiang telah mulai menular juga atas diri Thio Sam.

"Sekalipun hidungmu kau kucek hingga pecah juga tak dapat kau katakan suatu alasan pun, betul tidak kutu busuk?"

Kata Oh Thi-hoa dengan tertawa.

"Betul, memang betul,"

Ujar Coh Liu-hiang.

"Cuma apa yang dikatakan Thio Sam juga tidak salah. Kita habis lolos dari bencana, ada baiknya jika berlaku waspada sedikit."

Tiba-tiba Thio Sam berkata pula.

"Kapal ini ternyata cukup mulus, tiada jalan rahasia, juga tiada dinding rangkap. Sudah kuperiksa dengan betul."

"Akhirnya bocah ini bicara juga menurut Hati nurani,"

Kata Oh Thi-hoa dengan tertawa.

"Tapi, masih ada yang kuherankan,"

Sambung Thio Sam.

"Urusan apa?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Bangun setiap kapal biasanya tidak banyak berbeda, cuma kapal ini agak besaran, maka kamar kabinnya ada delapan seluruhnya,"

Tutur Thio Sam.

"Ya. betul,"

Kata Oh Thi-hoa.

"Sekarang nona Kim mendiami sebuah, Eng-lothau dan bocah she Pek itu satu kamar, kita bertiga berjubal dalam satu kamar."

"Bicara bocah ini mulai bertele-tele."

"Coba dengarkan lagi. Jika ada delapan kamar, seharusnya Goan Sui-hun menyilakan kita masing-masing ambil satu kamar agar bisa lebih nikmat, tapi mengapa dia sengaja mengumpulkan kita bertiga?"

"Bisa jadi....... bisa jadi dia tahu kita bertiga ini biasanya tidak dapat dipisahkan,"

Kata Oh Thi-hoa.

"Akan tetapi..."

"Inipun membuktikan bahwa dia tidak bermaksud jahat kepada kita,"

Sela Oh Thi-hoa.

"Sebab kalau kita terpisah, kan lebih mudah untuk dikerjai. Tentunya kau belum lupa cara Ting Hong melayani kita?"

"Akan tetapi, sisa kelima kamar itu dihuni oleh siapa?"

Tanya Thio Sam.

"Dengan sendirinya digunakan dia,"

Jawab Oh Thi-hoa.

"Dia cuma sendirian, masa dia sekaligus menggunakan lima kamar?"

"Keempat kamar lainnya mungkin kosong."

"Sama sekali tidak kosong,"

Kata Thio Sam.

"Mengapa tidak bisa kosong' Sebelum kita datang, ketiga kamar yang terpakai sekarang kan juga kosong?"

"Yang tiga ini mungkin betul kosong, tapi yang empat itu pasti tidak,"

Jawab Thio Sam.

"Memangnya kenapa?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Tadi sudah kuperhatikan, pintu keempat kamar itu dipalang dari dalam."

"Sekalipun benar ada penghuninya, lantas kenapa lagi? Kamar harus ditinggali manusia, apanya yang mengherankan?"

"Akan tetapi penghuni keempat kamar itu sebegitu jauh belum penuh unjuk muka. seakan-akan tidak mau bertemu dengan orang lain."

Oh Thi-hoa berkedip-kedip, katanya kemudian.

"Bisa jadi penghuni kamar-kamar itu perempuan, lantaran tahu kapal ini baru saja kedatangan beberapa ekor serigala. dengan sendirinya mereka menutup pintu kamar agar tidak kemasukan serigala."

"Goan Suii-hun adalah seorang lelaki sejati, seorang Kuncu, mana bisa menyembunyikan perempuan?"

Kala Thio Sam.

"Memangnya kenapa kalau Kuncu? kuncu kan juga manusia yang mesti minum arak dan perlu wanita?"

Kata Oh Thi-hoa dengan tertawa Thio Sam juga tertawa, omelnya.

"Makanya kau pun merasa dirimu juga seorang Kuncu. begitu bukan?"

"Ya, tuan Oh ini memang seorang Kuncu tulen,"

Jawab Oh Thi-hoa tertawa.

"Si kutu busuk inipun....."

Tapi waktu dia berpaling ke sana, dilihatnya Coh Liu-hiang sudah tertidur.

00ooo00 Kecuali mabuk, biasanya Oh Thi-hoa tidur paling lambat.

Terkadang dia malah sukar pulas sepanjang malam, sebab itulah sering dia bangun tengah malam untuk minum arak.

Jika orang lain bilang dia setan arak.

dia hanya tertawa saja, Orang katakan dia petualang, ia pun tertawa pula.

"Melihat dia sepanjang hari hanya tertawa dan omong kosong melulu. orang mengira dia adalah manusia paling gembira, paling iseng, tidak menanggung sesuatu pikiran apapun. Padahal isi hatinya hanya diketahui Oh Thi-hoa sendiri. Dengan segala daya upaya dia telah melepaskan diri dari keterikatannya pada Ko A-Lam, lalu bebaslah dia berkelana kian kemari, bertualang sesuka hatinya, terutama dalam hal main perempuan, orang lain sama menganggap dia 'ahli', ia sendiri pun merasa bangga. Akan tetapi hatinya masih tetap kosong dan hampa. Lebihlebih bila malam telah tiba dalam keadaan sunyi senyap, dia benar-benar merasakan kesepian yang mencekam Ia pun ingin mencari teman yang sekiranya dapat diajak bicara, yang bisa saling memahami, lalu saling menghibur. Akan tetapi sebegitu jauh ia belum berani menyerahkan cintanya kepada siapa pun juga. Sebaliknya ia sendiri telah membuat suatu dinding yang cukup kuat di luar hatinya sehingga cinta orang lain hakikatnya tak dapat menembusnya! Jadi terpaksa ia tetap bertualang ke sana sini, masih tetap mencari-cari. Sesungguhnya apa yang dicari? Ia sendiri pun tidak tahu. Dia sering menyesal, menyesali dirinya sendiri. mengapa bersikap sekejam itu terhadap Ko A-lam. Bisa jadi sebegitu jauh dia masih tetap cinta kepada Ko Alam. Akan tetapi ia tidak mau mengakui kebenarannya.

"Mengapa pada umumnya manusia tak dapat menyayangi cinta yang telah didapatkan, tapi baru menyesal apabila sudah kehilangan dia?"

Penderitaan demikian bisa jadi cuma Coh Liu-hiang saja yang paham.

Sebab Coh Liu-hiang punya penderitaan serupa, cuma saja dia lebih dapat mengekang diri daripada Oh Thihoa.

Tapi semakin dikekang semakin keras pula rontaannya.

Diam-diam Oh Thi-hoa memberitahu diri sendiri.

"Aku memang sudah letih, bahkan sudah rada mabuk, seharusnya lekas kutidur saja."

Penderitaan batin memang menimbulkan macam-macam kesukaran lain, terutama dalam hal tidur.

Semakin ingin cepat pulas, seringkali malah sebaliknya, tidak dapat tidur.

Thio Sam sudah tidur nyenyak, malah sudah mulai ngorok.

Diam-diam Oh Thi hoa turun dari pembaringan, ia bawa sebotol arak, mestinya ia ingin membangunkan Thio Sam agar mengiringi dia minum tapi pada saat itu juga, tiba-tiba didengarnya di luar ada langkah kaki orang Suara itu sangat perlahan sehingga membuat mengkirik.

Sudah jauh malam siapakah yang berjalan di luar?

Jangan-jangan seorang yang tak dapat tidur seperti Oh Thihoa?

Tapi entah apakah orang itupun suka minum arak seperti Oh Thi-hoa?

Minum arak serupa juga berjudi, makin banyak orang semakin baik.

Terkadang orang yang belum dikenal juga tidak menjadi alangan, asalkan arak sudah masuk perut, orang tak diKenal akan segera menjadi kenalan.

"Peduli siapa dia biar kucari dia untuk minum bersama."

Baru timbul pikiran ini. segera terpikir oleh Oh Thi-hoa kepada apa yang terjadi di kapal Hay Koa-thian serta apa yang dikatakan Thio Sam tadi.

"Jangan-jangan di kapal ini benar bersembunyi orang yang tidak bermaksud baik terhadap kita?"

Berpikir sampai di sini, segera Oh I hi-hoa membuka pintu terus menyelinap keluar.

Tiada bayangan seorang pun di lorong kabin, langkah kaki tadipun tak terdengar lagi.

Keempat kamar di depan sana memang ada penghuninya seperti apa yang dikatakan Thio Sam, hal ini terbukti dan sinar lampu yang terlihat dan celah bawah pintu.

Kalau bisa sungguh Oh Thi hoa ingin mendobrak ke dalam kamar-kamar Itu agar diketahui siapa penghuninya tapi kalau yang tinggal di kamar-kamar itu adalah anggota keluarga Goan Sui-hun.

istrinya atau gundiknya, kan bisa runyam urusannya?

Berpikir demikian, tangan Oh Thi hoa yang sudah diangkat hendak mengetuk pintu segera ditariknya kembali.

Ia merasa langkah orang tadi seperti menuju ke atas geladak, maka ia lantas menyusul ke sana.

00ooo00 Hujan badai ternyata tidak sehebat dugaan mereka, syukur sekarang sudah berlalu, cuaca sudah baik.

bintang-bintang bertaburan di langit, laut tenang dan angin meniup sejuk, kerlip bintang kelihatan membayang di permukaan laut yang kelam.

Di pagar geladak kapal tampak berdiri seorang dengan termangu-mangu, seakan-akan sedang menghitung bayangan bintang di dalam laut.

Angin meniup semilir mengusap rambutnya yang bertebaran terurai di pundak.

Aneh.

siapakah dia?

Jauh malam begini berdiri melamun?

Perlahan-lahan Oh Thi-hoa mendekatinya, setiba di belakang orang barulah ia berdehem Orang itu membalik tubuh.

Kiranya Kim Leng-ci adanya.

Kerlipan bintang menyinari mukanya, juga memantulkan cahaya air mata yang mengembeng di bola matanya.

Kiranya si nona sedang menangis.

Nona yang berwatak keras, nona yang dianggap lebih gagah daripada kaum pria ini ternyata diam-diam mencucurkan air mata di tengah malam buta begini.

Oh Thi-hoa jadi melengak heran.

Dalam pada itu Kim Leng-ci telah membalik ke sana lagi sambil mengomel dengan suara bengis.

"'Kau ini mengapa selalu gentayangan seperti setan, tengah malam buta tidak tidur, tapi keliaran ke sini untuk apa?"

Meski suaranya masih tetap galak seperti biasa tapi sekarang ia tidak dapat menakutkan Oh Thi-hoa lagi. Oh Thi-hoa tertawa dan menjawab.

"Engkau sendiri mengapa juga tiak tidur dan berada di sini?"

"Urusanku sendiri tidak perlu kau ikut urus. pergi sana!"

Bentak Kim Leng-ci. Tapi kaki Oh Thi-hoa sebaliknya seperti terpaku di geladak situ, selangkah pun tidak menggeser.

"Apa yang kau tunggu di sini?"

Omel lagi Kim Leng-ci. Oh Thi-hoa menghela napas, katanya.

"Aku pun tidak dapat tidur seperti engkau dan ingin mencari seorang teman ngobrol."

"Aku.... aku tiada yang dapat diobrolkan denganmu,"

Jawab si nona. Sambil memandang botol arak yang dibawa Oh Thi-hoa, ia berkata pula.

"Sekalipun tiada yang dapat diobrolkan, minum dua cawan kiranya dapat bukan?"

Mendadak Kim leng-ci berdiam, selang agak lama ia berpaling dan berkata.

"Baik, minum juga boleh"

Oooo0000oooo Kerlipan bintang terasa semakin terang, hembusan angin pun semakin kencang.

Tapi Oh Thi-hoa merasa bertambah hangat malah, walau pun tiada separah kata pun sang diucapkan kedua orang ini.

Dengan cepat isi satu botol arak pun habis.

Baru sekajang Oh Thi-hoa membuka suara.

"Apakah masih berminat minum lagi?"

Sambil memandang jauh ke depan sana, Kim Leng-ci menjawab.

"Ambil lagi, akan kuminum nanti."

Kepandaian Oh Thi-hoa mencari arak sungguh jauh lebih besar dan cara kucing mencari tikus.

Sekali ini dia membawa tiga botol sekaligus.

Waktu isi botol kedua sudah habis, kerlingan mata Kim Leng-ci tampak mulai buram laksana bayangan bintang yang bergerak-gerak di lautan.

Mendadak si nona berkata.

"Urusan sekarang ini jangan kau katakan kepada orang lain "

Oh Thi-hoa berkedip, katanya.

"Urusan apa? Cerita apa?"

Si nona menggigit bibir, jawabnya kemudian.

"Aku mempunyai keluarga yang terhormat, mempunyai saudara yang tidak sedikit, kehidupunku selama ini sangat tenteram, orang lainpun menganggap hidupku sangat senang, betul tidak?"

"Ehmm."

Oh Thi hoa mengangguk.

"Nah. maka aku ingin selalu dianggap bahagia oleh orang lain, tentunya kau paham sekarang?"

"Ya, aku paham."

Jawah Oh Thi-hoa manggut-manggut.

"Tadi kau cuma sedang memandang bintang yang bertaburan di langit, hakikatnya tidak pernah meneteskan air mata."

Kim Leng-ci melengos ke sana, katanya.

"Baiklah, asalkan kau tahu saja."

Oh Thi-hoa menghela napas panjang, katanya pula.

"Aku pun berharap orang lain akan menganggap aku sangat gembira dan bahagia, tapi apa pula artinya bahagia?"

"Masa kau tidak.... tidak bahagia?"

Tanya si nona. Oh Thi-hoa tertawa, tawa yang hampa dan pedih, ucapnya perlahan.

"Aku cuma tahu, orang yang lahirnya kelihatan sangat bahagia, sering justru sangat kesepian hidupnya."

Mendadak Kim Leng-ci berpaling ke sini pula dan menatapnya lekat-lekat.

Sorot matanya tampak buram, tapi juga dalam dan sukar dijajaki.

Dia seperti baru pertama kali kenal orang yang bernama Oh Thi-hoa ini Oh Thi-hoa juga seperti baru melihat jelas nona yang bernama Kim Leng-ci ini.

baru sekarang ia merasa nona ini adalah seorang perempuan sungguh-sungguh, perempuan yang cantik Rupanya di buritan kapal ada orang yang sedang memutar roda kemudi, haluan kapal mendadak berubah, badan kapal terasa rada miring.

Dengan sendirinya tubuh Kim Leng-ci juga ikut mendoyong, ia menjulurkan tangan hendak memegang pagar geladak, tapi yang terpegang adalah tangan Oh Thi-hoa.

Sekarang sinar bintang pun tampak rada buram, kerlipan bintang yang buram, bayangan orang yang buram pula.

Tiada orang lain.

tiada suara lain, yang terdengar cuma suara napas yang halus.

Segala apa memang tidak perlu lagi diucapkan sekarang, apapun yang hendak dikatakan hanya akan berlebihan saja.....

Entah sudah berapa lama akhirnya Kim Leng-ci bersuara rawan.

"Sebegitu jauh kukira kau sangat..... sangat jemu padaku."

"Aku pun mengira kau muak padaku,"

Ujar Oh Thi-hoa.

Pandangan kedua orang beradu, keduanya sama-sama tertawa, tawa yang penuh arti.

Cahaya bintang yang berkerlipan di tengah cakrawala itu seakan-akan sudah terlebur seluruhnya ke dalam tertawa mereka.

Perlahan-lahan Kim Leng-ci mengangkat botol arak dan menuangnya ke laut.

Kalau sudah ada cinta, untuk apa pula arak?

"Kutuang arakmu, kau menyesal tidak?"

Tanya Kim Leng-ci sambil berkedip-kedip.

"Apakah kau kira aku ini setan arak benar-benar?"

Jawab Oh Thi-hoa.

"Kutahu, bilamana seseorang benar-benar emrasa bahagia, tentu saja tidak mau dianggap sebagai setan arak,"

Ujar Kim Leng-ci dengan suara lembut. Oh Thi-hoa memandangnya lekat-lekat, tiba-tiba ia tertawa katanya.

"Si kutu busuk tua itu sok anggap dirinya mengetahui segala hal dan orang lainpun tidak dapat mengelabui dia, tapi ada sementara urusan pasti takkan terpikir olehnya."

"Urusan apa?"

Tanya Kim Leng-ci. Semakin erat genggaman Oh Thi-hoa, jawabnya dengan suara halus.

"Dia pasti tidak menyangka engkau dapat berubah selembut ini."

"Dia tentu menganggap aku ini macan betina,"

Ucap si nona sambil mengigit bibir.

"Padahal...."

Mendadak ia menghela napas, lalu menyambung dengan rawan.

"Jika seorang benar-benar merasa bahagia, siapa pun tak suka jadi macan betina."

Pada saat itulah sekonyong-konyong seseorang menjengek.

"Hm, macan betina mendapatkan setan arak, sungguh pasangan yang setimpal."

Daun pintu kabin terbuka ke bagian luar, kini di balik pintu tampak ada sesosok bayangan orang dan suara jengekan itu justru keluar dari bayangan di balik pintu itu.

Dengan cepat Kim Leng-ci membalik tubuh, sekali ayun tangan, botol arak yang sudah kosong itu terus disambitkan.

Mendadak dari balik tempat gelap, terjulur sebuah tangan, hanya sekali mraup saja botol arak itu telah ditangkapnya.

Di bawah sinar bintang yang remang-remang kelihatan tangan itu pun sangat putih dengan jari yang lentik.

Gerakannya juga sangat cepat dan lincah.

Seperti burung terbang saja, segera Oh Thi-hoa menubruk ke sana.

Tapi mendadak botol arak disambitkan kembali, langsung mengarah muka Oh Thi-hoa.

"Brak,"

Sekali sampuk, Oh Thi-hoa hancurkan botol arak itu, dia masih terus menubruk ke sana.

Maka berkelebatlah sesosok bayangan orang dari tempat gelap itu.

Mestinya Oh Thi-hoa dapat mencegatnya, tapi entah mengapa, mendadak ia seperti tgercengang.

Hanya sekejap saja bayangan orang itu pun berkelebat lagi terus menghilang.

Cepat Kim Leng-ci memburu ke sana, dilihatnya Oh Thihoa masih mematung di sana dengan mata terbelalak ke depan penuh rasa kaget dan heran, seperti mendadak melihat setan dan tidak percaya kepada pandangan sendiri.

Kim Leng-ci terus memburu ke belakang sana.

Tapi kelasi yang dinas menjaga kemudi di buritan sana tiada melihat siapa pun juga.

Lalu kemanakah bayangan orang tadi?

Jangan-jangan menyusup dan bersembunyi di kabin kapal?

Setelah memutar satu keliling, lalu Kim Leng-ci balik ke tempat tadi, dilihatnya Oh Thi-hoa masih termangu-mangu di situ tanpa bergerak sedikit pun.

"He, kau melihat orang itu, bukan?"

Tanya Kim Leng-ci.

"Ehmmm,"

Akhirnya Oh Thi-hoa mengangguk.

"Siapakah dia?"

Tanya si nona pula. Tapi Oh Thi-hoa menggeleng saja.

"Kau kenal dia bukan?"

Tanya Kim Leng-ci.

"Seperti.... seperti..."

Hanya sepatah kata ucapannya, segera ia ubah haluan.

"Aku tidak melihat jelas."

Kim Leng-ci melototinya hingga lama sekali, lalu katanya hambar.

"Suaranya terasa merdu juga. cuma sayang katakatanya itu tidak seharusnya diucapkan orang perempuan."

"O, masa?"

Ucap Oh Thi-hoa.

"Hm,"

Jengek Kim Leng-ci.

"Ada sementara orang memang sangat hebat, kemana pun dia pergi selalu bertemu dengan kenalan lama. Orang begini kalau mengaku hidupnya juga kesepian, hm. setan yang mau percaya!"

Belum habis ucapannya, segera ia melengos dan tinggal pergi ke dalam kabin. Oh Thi-hoa ingin menyusul, tapi urung. Ia mengerut kening dan bergumam.

"Apakah betul dia?... Kenapa ada di sini?" 00ooo00 Pagi sudah tiba. hari sudah terang. Tapi keempat kamar kabin itu masih tetap tertutup. tiada orang masuk. juga tiada orang keluar, pula tiada terdengar suara percakapan orang. Oh Thi-hoa masih terus duduk di ujung tangga dan mengincar keempat daun pintu kamar itu. Dia seperti berubah linglung, terkadang tersenyum sendiri seakan-akan teringat kepada hal-hal yang menggelikan, lain saat berkerut kening dan bergumam sendiri.

"Mungkinkah dia?..... Apa yang telah dilihatnya?"

Orang pertama yang keluar dari kamar ialah Thio Sam.

Orang yang hidup di perairan sama seperti ikan, lebih banyak waktu bergerak daripada istirahat.

maka juga lebih dini bangun tidur daripada orang lain.

Ketika melihat Oh Thi-hoa duduk di anak tangga sana.

Thio Sam tercengang.

dengan tertawa ia menegur.

"Kukira kau pergi mencuri arak dan jatuh mabuk, tak tersangka kau duduk di sini dengan pikiran jernih, sungguh jarang terjadi."

"Hmk,"

Oh Thi-hoa hanya mendengus saja.

"Kau melamun apa di sini?"

Tanya Thio Sam. Memangnya sedang mendongkol, hampir saja Oh Thi-hoa meraung gusar. ===== missing ========= Padahal jarang Oh Thi-hoa bertingkah misterius begini. Dengan heran Coh Liu-hiang bertanya.

"Sesungguhnya kejadian apa yang kau lihat semalam?"

"Aku tidak melihat apa-apa, hanya melihat bayangan setan saja."

Jawab Oh Thi-hoa sambil menghela napas. Melihat sikapnya yang limbung itu mirip orang yang melihat setan. Coh Liu-hiang jadi heran, tanyanya.

"Setan? Setan apa?"

"Setan kepala besar, setan perempuan....."

Tanpa terasa Coh Liu-hiang meraba hidung. ucapnya dengan menyengir.

"Ai, tampaknya setiap dua hari sekali kau selalu kepergok setan perempuan agaknya tidak sedikit setan perempuan yang terpikat olehmu."

"Tapi setan perempuan yang kupergoki sekali ini, biarpun pecah kepalamu juga tak dapat menerkanya,"

Ujar Oh Thi-hoa. Coh Liu-hiang termenung sejenak, lalu katanya.

"Oo. apa setan perempuan itupun pernah kukenal?"

"Sudah tentu kau kenal, bahkan sahabat lama,"

Kata Oh Thi-hoa.

"Oo, memangnya Ko A-lam maksudmu?"

"Betul, memang Ko A-lam,"

Kata Oh Thi-hoa. Coh Liu-hiang jadi melengak, gumamnya.

"Betul dia? Mengapa dia berada di kapal ini? Kau tidak salah lihat?"

Oh Thi-hoa berteriak.

"Mana bisa kusalah lihat? Orang lain mungkin bisa salah. tapi dia..... biarpun dia terbakar jadi abu, juga kukenali dia."

Sejenak Coh Liu-hiang termenung, katanya kemudian.

"Jika betul dia berada di kapal ini, Koh bwe Taysu pasti juga berada di sini."

"Ya, sudah tentu kupikirkan hal ini. aku pun merasa hal ini sangat mungkin sebab kapal mereka pun tenggelam. bisa Jadi mereka ditolong Goan Sui-hun."

"Watak si tua itu sangat aneh, maka sepanjang hari pintu kamar selalu tertutup dan tidak mau menemui siapa pun juga."

Coh Liu-hiang mengangguk perlahan sebagai tanda sependapat.

"Mungkin Goan Sui-hun juga sudah tahu penyakit si tua ini, maka dia tidak memperkenalkan kita kepadanya."

"He...... ketika melihatmu. dia bicara sesuatu tidak?"

Tanya Coh Liu-hiang tiba-tiba.

"Tak bicara apapun......... dia cuma omong satu kalimat."

"Omong apa?"

Tanya Coh Liu-hiang. Wajah Oh Thi-hoa menjadi rada merah. katanya.

"Dia bilang macan betina mendapatkan setan arak memang pasangan yang setimpal."

Kembali Coh Liu-hiang melengak, tanyanya.

"Macan betina?.... siapa macan betina?"

"Terserah kau, siapa yang kau anggap mirip macan betina maka dia itulah macan betina,"

Kata Oh Thi-hoa. Coh Liu-hiang tambah tercengang. ucapnya.

"Masa yang dimaksud Kim Leng-ci?"

Oh Thi-hoa menghela napas, katanya kemudian.

"Sebenarnya ia pun bukan macan betina sungguh-sungguh, bila dia mau lemah lembut, mungkin sukar kau bayangkan selamanya."

Coh Liu-hiang menatapnya tajam, katanya.

"Apakah semalam kau berada bersama dia? Apa yang kalian lakukan?"

"Tidak melakukan apa-apa, hanya kepergok Ko A-lam,"

Jawab Oh Thi-hoa gegetun.

"Wah. hebat juga kau."

Kata Coh Liu-hiang dengan tertawa sambil menggeleng.

"Kutahu kau pasti akan cemburu,"

Ujar Oh Thi-hoa.

"Yang cemburu mungkin bukan diriku. tapi orang lain."

Oh Thi-hoa berkedip, tanyanya.

"Maksudmu di.... dia?"

"Masa bau cuka dari ucapannya tak tercium olehmu?"

Ujar Coh Liu-hiang dengan tertawa. Oh Thi-hoa meraba hidungnya lagi.

"Jika dia masih cemburu padamu, itu tandanya dia belum pernah melupakan dirimu,"

Kata Coh Liu-hiang. Oh Thi-hoa menghela napas panjang. katanya.

"Bicara terus terang, aku pun tidak pernah melupakan dia."

Coh Liu-hiang meliriknya sekejap. ucapnya dengan hambar.

"Dia juga seekor macan betina, pasangan yang setimpal juga denganmu. cuma saja......"

Dia menghela napas. lalu menyambung.

"Bilamana seorang lelaki sekaligus menghadapi dua ekor harimau betina, kalau dia masih meninggalkan beberapa kerat tulangnya, maka untunglah dia."

Oh Thi-hoa menjadi dongkol, katanya.

"Sialan. maksudku hendak berunding denganmu, tapi kau malah berolok-olok."

"Bicara sesungguhnya, aku memang ingin melihat cara bagaimana berakhirnya sandiwara yang kalian lakonkan ini."

Oh Thi-hoa berdiam sejenak tiba-tiba ia berkata.

"Apapun juga, aku harus menemui dia satu kali."

"Untuk apa menemui dia?"

Tanya Coh Liu-hiang.

"Memberi penjelasan kepadanya."

"Cara bagaimana akan kau jelaskan?"

Oh Thi-hoa jadi melengak dan tak dapat menjawab.

"Urusan begini, makin dibicarakan makin ruwet, semakin kau jelaskan duduk perkaranya, semakin marah dia."

Oh Thi-hoa manggut-manggut, gumamnya.

"Betul, pada dasarnya perempuan memang sukar diyakinkan, sedangkan kepandaianku berdusta tak lebih mahir daripadamu. maka kukira .... kukira kau saja yang memberi penjelasan padanya."

"Sekali ini tidak nanti aku mau menjadi sasaran dampratan bagimu,"

Jawab Coh Liu-hiaung.

"Apalagi saat ini Koh-bwe taysu pasti tidak ingin memperlihatkan asal usulnva. jika kita ingin menemui dia, kan malah melanggar sirikannya. Kau tahu terhadap Nikoh tua ini aku pun kewalahan."

Hidung Oh Thi-hoa menjadi merah dikucek-kucek. katanya dengan menyesal.

"Wah. lantas bagaimana baiknya?"

"Coba jawab, yang kau sukai sesungguhnya siapa? Nona Kim atau nona Ko?"

"Aku tak dapat menjawab, aku sendiri pun tidak tahu."

Coh Liu-hiang jadi geli dan rnendongkol, katanya pula.

"Jika demikian, aku tak berdaya dan tak sanggup ikut campur."

"Tidak, betapapun kau mesti ikut campur."

Segera Oh Thihoa menariknya pula.

"Cara bagaimana aku ikut campur? Aku kan bukan bapakmu? Masa aku harus memilihkan bini bagimu?"

Jawab Coh Liu-hiang dengan menyengir.

"Habis bagaimana... habis bagaimana? Kau kira mereka akan berbuat apa terhadapku?"

Tanya Oh Thi-hoa dengan muka murung.

"Jangan kuatir."

Kata Coh Liu-hiang geli.

"Mereka bukan macan betina sungguh-sungguh, kau takkan dicaplok mereka."

"Namun.... namun mereka takkan gubris lagi padaku."

"Sekarang tentu mereka takkan gubris padamu, tapi kalau kau dapat bersabar dan tak gubris mereka juga, akhirnya mereka pasti akan mencarimu,"

Setelah tertawa, Coh Liu-hiang menyambung pula.

"ltulah sifat perempuan yang sebenarnya. bila dapat kau raba sifat mereka, betapapun garangnya perempuan. akan mudah kau layani." 00ooo00 Saat itu Goan Sui-hun lagi berdiri di atas tangga sana. Di luar kabin terdengar kumandang suara yang sangai lirih dan samar-samar. tiada seorang pun yang mampu rnendengar dengan jelas suara percakapan yang begitu lirih. Akan tetapi Goan Sui-hun justru sedang pasang telinga dan mendengarkan dengan cermat. Apakah pemuda tuna netra ini mempunyai kelebihan daripada orang lain? Apakah dia dapat mendengar sesuatu dengan jelas, sesuatu yang tidak mungkin dapat didengar orang lain? oooo0000oooo Dugaan Coh Liu-hiang memang tidak salah. Oh Thi-hoa ternyata cukup tahu diri. Bukan saja tidak menggubrisnya, bahkan Kim Leng-ci sama sekali tidak memandangnya barang sekejap, dianggapnya di dunia ini seakan tiada Oh Thi-hoa lagi. Waktu makan, sengaja si nona berduduk di samping Pek Lak, malahan memberi senyum manis padanya. Keruan sukma Pek Lak serasa terbang ke awang-awang. Ketika Oh Thi-hoa muncul, Kim Leng-ci sengaja berkata kepada Pek Lak dengan tersenyum.

"Kerang ini sangat lezat, maukah kuambilkan sedikit, coba cicipi."

Tentu saja mau.

sekalipun yang diberikan Kim Leng-ci sekarang adalah sepotong batu, pasti akan ditelan mentahmentah oleh Pek Lak.

Si nona benar-benar menyumpitkan kerang rebus padanya, hampir saja Pek Lak menelannya bulat-bulat bersama kulitnya.

Bilamana perempuan ingin membuat cemburu lelaki, segala daya upaya dapat dilakukannya.

Padahal inipun menandakan si perempuan lagi cemburu pada lelaki itu.

Hal ini cukup dipahami Oh Thi-hoa.

Maka meski di dalam hati merasa sangat penasaran karena tingkah laku Kim Lengci itu, lahirnya tetap tenang saja tanpa memperlihatkan cemburu sedikitpun.

Sandiwara Kim Leng-ci itupun tak dapat berlangsung lagi.

Ketika Pek Lak balas menghormati dengan sepotong telur pindang.

mendadak si nona berteriak.

"Sekalipun kau bermaksud baik menyuguh orang. paling tidak harus kau gunakan sumpitmu yang belum terpakai. Kau tidak tahu kebersihan? Apakah orang lain harus ikut-ikutan jorok? Masa kau tidak tahu aturan ini?"

Belum habis ucapannya, serentak ia berbangkit terus melangkah pergi tanpa berpaling lagi.

Keruan Pek Lak melenggong.

mukanya menjadi lebih merah daripada kepiting rebus yang berada di atas meja.

Diam-diam Oh Thi-hoa merasa geli.

Pada saat itu juga, sekonyong-konyong dari atas geladak sana berkumandang suara sorak gembira orang banyak.

Kiranya ada pawai ikan.

Berbondong-bondong orang berkerumun di pagar geladak kapal.

Air laut di bawah cahaya sang surya di waktu pagi tampak hijau jernih, serombongan ikan yang tak terhitung jumlahnya berpawai dari utara menuju selatan.

Kapal mereka tepat menyusur di tengah-tengah pawai ikan itu.

Oh Thi-hoa tercengang menyaksikan jumlah ikan yang sukar dihitung itu, gumamnya.

"Ikan yang pernah kulihat selama hidup tiada separohnya dari yang kulihat sekarang ini. Apakah ikan ini sudah gila. untuk apa berpawai ramai-ramai begini?"

"Pindah rumah!"

Ujar Thio Sam. Tentu saja Oh Thi-hoa tambah heran, tanyanya.

"Pindah rumah? Ikan juga tahu pindah rumah segala? Pindah kemana?"

"Katanya kau pintar, kenapa sekarang jadi goblok?"

Dengan tertawa Thio Sam berolok-olok.

"Ikan juga takut dingin seperti manusia, maka bilamana musim dingin akan tiba. mereka lantas boyong ke selatan, ke daerah tropik. Bisa jadi gerombolan ikan ini sudah berenang beribu mil jauhnya. Maka daging ikan ini pasti lebih keras dan lezat, kaum nelayan biasanya menantikan panen ikan pada musim boyongan ikan begini."

Oh Thi-hoa menghela napas gegetun, katanya.

"Ai, banyak juga pengetahuanmu mengenai perikanan. cuma sayang. pengetahuanmu mengenai kemanusiaan terlalu sedikit."

Sejak tadi Goan Sui-hun berdiri jauh di sana dengan senyum selalu dikulum. kini mendadak ia berkata.

"Sudah lama jaring kilat Thio-siansing terkenal dan tiada bandingannya, entah sekarang sudilah engkau mempertontonkan kemahiranmu untuk menambah pengetahuan dan pengalaman kami?"

Meski dia tidak dapat melihat apapun tapi membikin gembira orang lain, dianggapnya seperti kegembiraan sendiri.

Thio Sam ragu-ragu.

tapi segera ada orang membawakan jaring baginya.

Menjaring, menangkap ikan, tampaknya pekerjaan sederhana, tidak memerlukan kepintaran, apalagi soal teknis segala.

Padahal letak kegesitan orang mungkin hanya dapat dirasakan oleh ikan sendiri.

Seperti halnya ilmu silat.

jelas cuma satu jurus Poat-causun-coa' (menyingkap rumput mencari ular) yang sangat sederhana dan jamak, bila dimainkan sementara orang takkan mendapatkan hasil apa-apa.

tapi orang lain bisa memainkan jurus yang sama dengan sangat lihai dan dapat mematikan lawan.

Letak perbedaan ini adalah karena orang itu dapat menguasai dengan tepat, baik waktu maupun kecepatannya.

jadi tidak melewatkan setiap kesempatan yang terbuka.

Kesempatan akan lenyap dalam sekejap.

sebab itulah kesempatan harus digunakan tepat pada waktunya, harus cepat.

Dalam pada itu, unsur 'mujur' atau 'hok-khi' juga tidak boleh dikesampingkan.

Untuk berbuat sesuatu urusan agar berhasil dengan baik diperlukan juga sedikit kemujuran.

Tapi kemujuran juga tidak jatuh dengan sendirinya dari langit, bilamana orang selalu dapat mempergunakan kesempatan yang terbuka baginya dengan cepat dan tepat.

maka kemujuran akan selalu berada bersamanya.

Laju kapal terasa mulai lambat.

Di buritan ada suara orang berteriak.

"Turunkan layar....!"

Kapal lantas melambat dan berhenti perlahan-lahan. Sekonyong-konyong jaring di tangan Thio Sam ditebarkan bagai segumpal awan.

"Jaring kilat yang hebat,"

Kata Goan Sui-hun tertawa.

"Manusia saja tidak mampu menghindar, apalagi ikan."

Rupanya dari deru suara anginnya, dapatlah dia memperkirakan betapa cepat gerak tangan orang itu.

Thio Sam sendiri berdiri tegak, kakinya seperti terpantek di geladak kapal, kukuh tak tergoyahkan sedikitpun.

Sinar matanya gemerdep penuh daya tarik, seseorang yang sebenarnya sangat jamak itu kini mendadak seperti penuh daya tarik dan ebrjaya, seperti berubah jadi seorang Thio Sam yang lain.

Oh Thi-hoa menghela napas, gumamnya.

"Sungguh aku tidak paham, mengapa setiap kali Thio Sam menebarkan jaring, rasanya menjadi jauh lebih menyenangkan daripada biasanya."

"Ini sama halnya seperti Ong Ging,"

Ujar Coh Liu-hiang dengan tersenyum.

"Siapa itu Ong Ging?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Seorang pendekar pedang yang sangat termashur di masa lalu. tapi tidak banyak orang Kangouw yang tahu namanya."

"Sebab apa? Apa sangkut-pautnya dengan Thio Sam?"

"Orang ini kotor lagi malas, juga sangat miskin. bahkan cacat badaniah, sebab itulah dia tidak suka menemui orang lain. hanya bila terpaksa. baru dia mau melolos pedang."

"Memangnya kenapa kalau sudah melolos pedang?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Asalkan pedangnya terlolos, maka orangnya seakan berubah sama sekali. berubah menjadi bersemangat dan gagah perkasa, dalam keadaan begitu orang takkan merasa dia kotor lagi dan juga melupakan dia cacat badan."

Oh Thi-hoa berpikir sejenak, katanya sambil mengangguk.

"Ya, pahamlah aku sekarang, sebab hidupnya itu lantaran pedang, dia telah mencurahkan segenap jiwanya pada pedangnya. pedang sama dengan kehidupannya."

"Penjelasanmu ini tidak terlalu tepat, tapi sudah mendekati,"

Ujar Coh Liu-hiang dengan tertawa.

Dalam pada itu pernapasan Thio Sam tampak memburu, telapak kakinya berkeriutan bergesekan dengan geladak, urat hijau pada telapak tangannya juga tampak menonjol, nyata dia sedang mengerahkan tenaga untuk menarik jaringnya yang kelihatan tidak ringan.

Dengan tertawa Goan Sui-hun berkata.

"Wah, kepandaian jaring Thio-siansing memang luar biasa, jaringan pertama saja sudah berhasil sangat memuaskan."

"Hayo, kubantu!"

Seru Oh Thi-hoa mendekati Thio Sam. Ketika jaring ditarik sekuatnya, terdengar suara gemerasak muncratnya air. jaring meninggalkan air laut dan melayang ke atas kapal.

"blang"

Dengan keras jaring yang padat isinya itu jatuh di atas geladak.

Seketika semua tercengang ketika diketahui di dalam jaring tidak terdapat satu ikan pun, yang ada cuma empat sosok tubuh perempuan, semua telanjang bulat.

Empat sosok tubuh perempuan yang bernas dan penuh daya tarik.

Mcski meringkuk di dalam jaring.

namun jaring ikan yang tipis dan renggang itu tak dapat menutupi keindahan badan mereka yang menggiurkan.

malah menambah daya tariknya.

Setiap lelaki yang berada di atas kapal berdebar keras jantungnya.

sudah tentu terkecuali orang yang tak dapat melihat.

Dengan tersenyum Goan Sui-hun lantas bertanya.

"Ikan apakah yang berhasil dijaring?"

Oh Thi-hoa meraba hidung. jawabnya.

"ikan manusia."

"Hah. ikan manusia? Ikan duyung maksudmu?"

Terkejut juga Goan Sui-hun.

"Sungguh tidak tersangka di dunia benarbenar ada ikan manusia."

"Bukan ikan manusia, tapi manusia ikan.... manusia perempuan."

Kata Coh Liu-hiang.

"Perempuan? Hidup atau mati?"

Tanya Goan Sui-hun pula.

"Tentu hidup. di dunia pasti tiada orang mati sebagus ini."

Kata Oh Thi-hoa sambil bicara segera ia hendak membuka jaring ikan itu, tapi mendadak urung sebab tiba-tiba dilihatnya Kim Leng-ci sedang melototinya di sebelah sana.

Kalau ada lelaki tidak suka memandangi wanita bugil.

maka lelaki itu tentu mempunyai kelainan jiwa.

Namun begitu, untuk menjaga gengsi, tiada seorang pun yang berani mendahului mendekati keempat sosok tubuh yang menggiurkan ini.

Malahan ada di antaranya berpaling ke arah lain, merasa kikuk sendiri.

Dengan tertawa Coh Liu-hiang berkata .

"Goan-kongcu, tampaknya kita berdua yang harus kerja bakti."

"Betul, kalau Cayhe buta mata mengenai perempuan, maka Coh-hiangswe buta hati terhadap perempuan,"

Ujar Goan Sui-hun dengan tersenyum.

"Mari, silakan."

Meski matanya buta, tapi gerakan Goan Sui-hun tidak lebih lambat daripada Coh Liu-hiang.

Begitu tangan kedua orang menggentak.

seketika jaring ikan mengendur dan terbuka.

Pandangan setiap orang jadi terbelalak, orang yang sudah berpaling ke sana tanpa terasa menoleh pula ke sini.

Keempat sosok tubuh itu kelihatan sehalus sutera tersorot oleh sinar matahari.

Halus, kenyal dan mengkilap.

Kulit tubuhnya tidak terlalu putih, kecoklatan karena dijemur sinar matahari, mempunyai daya khas.

cukup untuk membakar hati kebanyakan lelaki.

Sehat juga tergolong salah satu di antara kecantikan.

Apalagi tubuh mereka hampir tiada cirinya, kaki panjang keras, dada padat indah, pinggang ramping, setiap bagian tubuh membawa daya pikat yang cukup memikat sukma setiap lelaki.

Tapi Goan Sui-hun lantas menghela napas gegetun, katanya.

"Sudah mati semua."

Oh Thi-hoa tidak tahan. katanya.

"Perempuan sebagus ini sulit dicari. kalau mereka mati kurela biji mataku dicungkil."

"Mereka benar-benar sudah mati, sudah putus napas,"

Kata Goan Sui-hun pula.

Oh Thi-hoa berkerut kening dan segera bermaksud mendekati.

Tapi Kim Leng-ci lantas memburu maju, seperti tidak sengaja ia mengadang di depan Oh Thi-hoa, lalu ia meraba dada keempat tubuh perempuan itu.

"Bagaimana?"

Tanya Coh Liu-hiang.

"Memang betul, sudah putus napas, tapi jantungnya masih berdenyut,"

Jawab Kim Leng-ci.

"Apa masih dapat ditolong?"

Tanya Coh Liu-hiang pula.

"Jika jantung masih berdenyut tentu dapat diselamatkan,"

Seru Oh Thi-hoa. Tapi Kim Leng-ci melototinya dan berteriak.

"Apa kau tahu mereka terluka atau mati sakit? Kau yakin bisa menolong?"

Oh Thi-hoa kucek-kucek hidungnya dan tak bicara lagi. Sejak tadi Thio Sam hanya melenggong saja, baru sekarang ia bergumam.

"Sungguh aneh, darimanakah datangnva mereka? Mengapa bisa menyusup ke dalam jaringku, padahal ketika kutebarkan jaring jelas-jelas yang kulihat adalah ikan."

"Persoalan ini boleh kita perbincangkan nanti, yang paling penting sekarang adalah menolong orang,"

Ujar Coh Liu-hiang.

"Apakah Hiangswe dapat mengetahui sebab apa pernapasan mereka berhenti?"

Tanya Kongsun Jiat-ih alias Eng Ban-li.

"Napas berhenti, tapi jantung berdenyut. keadaan demikian belum pernah kutemui sebelum ini,"

Ujar Coh Liu-hiang sambil menggeleng.

"Bisa.... bisa jadi mereka sengaja menahan napas?"

Kata Kongsun Jiat-ih setelah berpikir sejenak.

"Rasanya mereka tidak perlu berbuat demikian,"

Ujar Goan Sui-hun dengan hambar.

"Pula. keempat nona ini pasti tidak memiliki Lwekang sehebat itu. tidak nanti sanggup menahan napas sedemikian lama."

"Kalau sebab musabab penyakit mereka tak dapat diketahui, lalu cara bagaimana menolong mereka?"

Kata Kongsun Jiat-ih sambil mengerut kening.

"Mungkin hanya ada satu orang yang dapat menolong mereka,"

Ujar Goan Sui-hun.

"O, dimana orang itu?"

Cepat Oh Thi-hoa bertanya.

"Syukur, dia berada di kapal ini,"

Jawab Goan Sui-hun.

"Siapa?"

Taya Oh Thi-hoa pula.

"Na-lohujin,"

Jawab Goan Sui-hun. Oh Thi-hoa melenggong, sejenak kemudian baru ia bertanya pula.

"Siapakah Na-lohujin ini?"

Padahal ia tahu Na-lohujin (nyonya tua Na) yang dimaksud tentu Koh-bwe Taysu.

"Keluarga Na di Kangcoh terkenal ilmu pertabibannya, tentu kalian pernah mendengar namanya,"

Tutur Goan Suihun.

"Tapi Na-locianpwe konon sudah lama meninggal, kabarnya juga tidak punya keturunan."

Kata Kongsun Jiat-ih. Goan Sui-hun tertawa. tuturnya pula.

"Ilmu pertabiban keluarga Na biasanya cuma diturunkan kepada anak menantu dan tidak kepada anak perempuannya, Na-lohujin satusatunya ahli waris ilmu pertabiban keluarga Na yang masih ada di zaman ini. cuma...."

Dia menghela napas. lalu menyambung pula.

"Entah beliau sudi memberi pertolongan atau tidak?"

Oh Thi-hoa teringat pada Koh-bwe Taysu yang juga memiliki ilmu pertabiban tinggi, segera ia menukas.

"Biar kita memohon beramai-ramai. kukira beliau sungkan untuk menolak."

Pada saat itulah tiba-tiba seseorang berkata dengan perlahan.

"Kejadian ini sudah diketahui guruku, silakan kalian membawa keempat nona ini ke bawah."

Oh Thi-hoa melengak.

yang bicara ternyata Ko A-lam.

Kim Leng-ci melirik si nona yang bicara ini.

lalu melototi Oh Thi-hoa, habis itu melengos ke sana dan memandangi laut.

00ooo00 Akhirnya keempat 'manusia ikan' mulus itu dibawa ke bawah.

Kamar kabin yang berderet menjadi dua sisi itu hampir sama besarnya.

Tapi kamar kabin ini terasa lebih dingin.

siapa pun yang melihat Koh-bwe Tavsu.

pasti akan timbul perasaan seram.

lebih-lebih Oh Thi-hoa, hampir ia tak berani masuk ke kamar itu.

Meski yang dikenakan Koh-bwe Taysu sekarang dandanan preman.

cukup mewah dan juga kereng.

sorot matanya yang tajam dingin membuat orang tidak berani menatapnya.

Waktu pandangannya menyapu lewat muka Oh Thi-hoa, tanpa terasa Oh Thi-hoa merinding.

Syukurlah keempat 'manusia ikan' itu kini sudah dibalut selapis selimut dan terbaring di depan Koh-bwe Taysu.

Dengan sendirinya kamar kabin tidak dapat memuat orang sebanyak itu.

Oh Thi-hoa merasa kebetulan dan ebrdiri saja di luar pintu, tapi juga merasa berat untuk tinggal pergi.

Hakikatnya Ko A-lam tidak memandang sekejap kepadanya, tapi sering Oh Thi-hoa melirik si nona.

Apalagi dalam kamar masih ada empat 'ikan duyung' yang menggiurkan dan misterius, Darimanakah datangnya mereka?

Apakah muncul dan dasar laut?

Apakah dasar laut adalah istana raja naga seperti dalam dongeng?

Apakah mereka penduduk pulau sekitar sini.

mungkin sedang menyelam dan tanpa sengaja terjaring?

Asalkan lelaki.

tentu akan tertarik oleh kejadian aneh ini.

Dengan sendirinya Oh Thi-hoa merasa berat tinggal pergi.

Kalau tak mau pergi dan tak berani masuk.

terpaksa ia cuma mengintip saja dan luar pintu.

Di dalam kamar kabin tetap sunyi, tiada seorang pun berani buka suara.

Mendadak seorang berbisik di belakangnya.

"Tampaknya kau sangat berminat terhadap kejadian ini?"

Tanpa menoleh juga Oh Thi-hoa tahu yang bicara itu Kim Leng-ci, sambil menyengir ia menjawab.

"Aku memang orang yang sangat simpatik."

"Tapi kalau yang terjaring itu lelaki, tentunya kau takkan simpatik?"

Jengek si nona. Tiba-tiba Oh Thi-hoa teringat pada ucapan Coh Liu-hiang.

"Asalkan kau bisa bersabar, cepat atau lambat mereka pasti mencari dirimu. Asalkan kau dapat meraba watak perempuan, betapapun garangnya perempuan itu pasti mudah dihadapi" . Teringat kepada petuah yang diucapkan Coh Liu-hiang itu, seketika tegaklah cara berdiri Oh Thi-hoa. ia pun lantas menjengek.

"Hm, jika kau pandang aku sebagai lelaki demikian, untuk apa kau cari aku?"

Kim Leng-ci menggigit bibir dan termenung sejenak, tibatiba ia berkata.

"Malam nanti, di tempat dan waktu yang sama......"

Ia tidak menuuggu jawaban Oh Thi-hoa, juga tidak memberi kesempatan padanya untuk menolak, belum habis ucapannya segera ia tinggal pergi.

Waktu Oh Thi-hoa menoleh, si nona sudah tak tampak pula.

Ia menghela napas dan bergumam.

"Perempuan, o perempuan. Tanpa perempuan. sunyi senyap, bila ada perempuan, porak poranda. Tampaknya ujar-ujar orang tua ini tidak salah....." 00ooo00 Di kamar kabin yang sunyi dan dingin itu, yang terasa hangat hanyalah seorang nona cilik yang berdiri di pojok. Sejak melihatnya sekali dari kejauhan tempo hari, selama ini pula Coh Liu-hiang tak lupa Meski nona cilik ini tertunduk. tapi jelas sedang melirik ke arah Coh Liu-hiang ketika beradu dengan sorot mata Coh Liu-hiang, muka nona cilik itu menjadi merah dan kepalanya menunduk terlebih rendah. Coh Liu-hiang berharap nona itu akan mengangkat kepalanya lagi. Tapi sayang. Koh-bwe Taysu telah berkata dengan dingin dan ketus.

"Semua lelaki hendaklah keluar."

Setiap ucapan Koh-bwe Taysu selalu sederhana. pula tidak pernah memberi penjelasan apa alasannya. Apa yang dikatakannya sama dengan perintah.

"Blang" , pintu ditutup, hampir saja hidung Oh Thi-hoa terbentur daun pintu. Diam-diam Thio Sam tertawa geli. bisiknya.

"Seumpama ingin mengintip, kan tidak perlu berdiri sedekat itu. jika hidung terbentur peyot, kan rugi sendiri."

Tampaknya kedua orang akan ribut mulut lagi, cepat Coh Liu-hiang menyela.

"Goan-kongcu. apakahjarak Pian-hok-to dari sini sudah dekat?"

Goan Sui-hun berpikir sejenak, jawabnya kemudian.

"Hanya juru mudi saja yang tahu arah pelayaran ini, menurut keterangannya, diperlukan satu dua hari baru bisa sampai di sana."

"Jika demikian apakah di sekitar sini tiada sesuatu pulau?"

Tanya Coh Liu-hiang pula.

"Kapal ini berada di tengah samudera, di sekitar sini tiada sesuatu pulau,"

Jawab Goan Sui-hun.

"Menurut dugaan Kongcu, darimana datangnya keempat nona tadi?"

Tanya Coh l.iu-hiang.

"Hal ini memang membingungkanku,"

Pemuda tuna netra itu menghela napas, lalu menyambung.

"Menurut dongeng kuno, di lautan lepas begini memang banyak hal misterius dan kejadian yang sukar dijeaskan akal sehat."

Oh Thi-hoa menghela napas katanya "Jika begitu, janganjangan kita ketemu setan lagi, malahan setan perempuan pula."

"Jika mereka benar setan perempuan. tentu kau yang dicari,"

Kata Thio Sam.

Oh Thi-hoa mendelik.

belum lagi dia bicara, sekonyongkonyong dari dalam kamar tadi berkumandang suara jeritan.

Jeritan itu sangat singkat, melengking tajam penuh rasa takut dan seram.

Seketika berubah air muka setiap orang.

"Seperti suara si nona yang naik ke geladak kapal tadi,"

Ujar Eng Ban-li.

"Betul,"

Tukas Goan Sui-hun.

Betapapun pendengaran kedua orang ini tidak nanti keliru.

Nona yang naik ke geladak tadi ialah Ko A-lam.

mengapa dia mengeluarkan jeritan setajam itu, padahal dia bukan seorang nona yang suka berteriak-teriak begitu.

Oh Thi-hoa juga tidak pernah mendengar jeritannya yang begitu seram.

Apa yang terjadi di dalam kamar?

Apakah keempat nona telanjang tadi memang betul siluman yang datang dari dasar laut dan sekarang hendak merenggut nyawa orang?

Oh Thi-hoa orang pertama yang tidak tahan, ia menggedor pintu sekuatnya dan berteriak.

"Ada apa? Lekas buka pintu!"

Tapi tiada jawaban apapun, malahan yang terdengar suara orang menangis. Air muka Oh Thi-hoa berubah pula, serunya.

"Itulah suara Ko A-lam, dia sedang menangis."

Mengapa Ko A-lam menangis, lalu bagaimana orang lainh yang juga berada di dalam kamar?

Oh Thi-hoa tak sabar lag,i segera ia mendobrak pintu ,daun pintu terpentang, berbareng ia pun menerjang ke dalam.

Tapi ia segera berdiri tegak seperti patung seakan-akan berubah seketika.

*^ -Napas setiap orang juga seperti berhenti melihat keadaan di dalam kamar.

Siapa pun tak dapat membayangkan apa sesungguhnya yang terjadi?

Siapa pun tidak dapat melukiskan betapa seramnya di dalam kamar ini.

Darah!!!

Dimana-mana darah melulu.

Yang rebah bergelimang darah ternyata Koh-bweTaysu.

Ko A-lam sedang menangis sedih mendekap tubuh sang gurur seorang nona lain tampak ketakutan sehingga jatuh pingsan.

maka tidak terdengar suaranya.

"Manusia ikan tadi semula dibaringkan sejajar tapi sekarang sudah terpencar. garis tubuh yang menggiurkan itu kini rusak, kedelapan lengan telah putus semua. Yang paling menakutkan adalah pada dada masing-masing telah bertambah sebuah lubang. Lubang berdarah! Tangan Koh-bww Taysu yang kurus juga berlumur darah. Mendadak Kim Leng-ci membalik tubuh terus berlari pergi, belum tiba di geladak sudah muntah-muntah. Air muka Goan Sui-hun juga berubah. gumamnya.

"Apa yang terjadi di sini? Mengapa begitu terasa bau anyirnya darah?"

Tiada seorang pun yang dapat menjawab pertanyaannya.

Perubahan ini sungguh terlalu mengejutkan dan mengerikan, siapa pun tidak pernah membayangkannya.

Padahal ilmu silat Koh-bwe Taysu jarang ada bandingannya, mana bisa terbunuh mendadak secara mengerikan begini?

Lalu siapakah pembunuhnya?

Goan sui-hun berkata.

"Mana Na-lohujin? Apakah dia...."

Mendadak Ko A-lam mendongak dan melotot padanya, teriaknya dengan parau.

"Kau yang mencelakai beliau, pasti kau!"

"Aku?"

Goan Sui-hun melongo.

"Ya,"

Terak Ko A-lam.

"Sejak awal hingga akhir, semua ini adalah muslihatmu, perangkapmu."

Mata si nona sebenarnya sangat indah, tapi sekarang menjadi merah bendul karena menangis, bahkan penuh rasa benci dan dendam, tampaknya sangat menakutkan tapi sayang.

Goan Sui-hun tak dapat melihatnya.

Pemuda tuna netra ini tetap tenang, satu kata pun tidak membantah.

Apakah diam berarti mengakui?

Dengan menggreget Ko A-lam lantas berteriak pula.

"Ganti jiwamu!"

Baru habis ucapannya, serentak dia menubruk maju dengan kalap.

Kelima jarinya terpentang laksana cakar terus mencengkeram ke hulu hati Goan Sui-hun.

Serangan ini sangat aneh dan ganas, mengerikan bagi yang menyaksikan.

Padahal setiap orang Kangouw tahu, permainan silat Hoasan-pay mengutamakan kelincahan dan kebersihan, siapa pun tidak menduga si nona akan mengeluarkan jurus serangan maut yang ganas dan keji begini.

Jurus serangan ini jelas tidak sama dengan jurus serangan Hoa-san-pay yang lain.

"Jangan-jangan cara beginilah Koh-bwe Taysu mengorek keluar ulu hati keempat manusia ikan tadi!?"

Demikian semua orang membatin.

Yang jelas Ko A-lam tampaknya juga ingin mengorek hulu hati Goan Sui-hun dengan serangan mautnya itu.

Tapi Goan Sui-hun masih tetap berdiri tenang di tempat, seakan tidak pernah merasakan betapa lihainya serangan itu.

Apapun juga dia buta, tentu tak menguntungkan jika bertempur dengan orang, bila Ko A-lam tak kelewat benci, tidak nanti melancarkan serangan maut terhadap seorang tuna netra.

Oh Thi-hoa merasa tidak tega, cepat ia berteriak.

"Jangan, tunggu belum habis ucapannya, tahu-tahu Ko A-lam sendiri telah mencelat ke sana. Hanya perlahan Goan Sui-hun mengebaskan lengan bajunya dan Ko A-lam telah tersengkelit mencelat, tampaknya si nona akan menumbuk dinding dan bisa jadi akan patah tulang. Siapa tahu baru saja tubuhnya menyentuh dinding seketika tenaga sengkelitan itupun punah, maka dengan perlahan ia terperosot ke bawah. Rupanya tenaga kebasan lengan baju Goan Sui-hun dapat dilakukan dengan sempurna, perlahan atau keras dapat dilakukan sesuka hatinya. gerakannya juga sedemikian wajar, sikapnva tetap tenang dan luwes, sedikitpun tidak nampak marah. Nyata biarpun ilmu kebasan lengan baju "

Liu-in-siu"

Yang paling terkenal dari Bu-tong-pay, juga tak selihai kebasan Goan Sui-hun ini.

Tapi setelah tubuhnya terperosot ke bawah, Ko A-lam tidak berdiri lagi, rupanya dia jatuh pingsan.

Keruan Oh Thi-hoa kuatir, segera ia memburu maju dan memeriksa keadaan denyut nadinya.

"Jangan kuatir Oh-heng."

Kata Goan Sui-hun.

"Nona ini jatuh pingsan karena cemas dan sedihnya. Cayhe sendiri sama sekali tidak melukainya."

Mendadak Oh Thi-hoa membalik tubuh dan berteriak bengis.

"Sebenarnya tipu muslihatmu atau bukan?"

Goan Sui-hun menghela napas panjang, jawabnya.

"Sampai saat ini Cayhe belum lagi tahu apa yang terjadi di sini."

"Tapi tadi mengapa kau diam-diam mengakui?"

Tanya Oh Thi-hoa pula.

"Cayhe tidak diam-diam mengakui. hanya tak ingin membantahnya saja."

Jawab pemuda tuna netra itu.

"Mengapa tidak ingin membantah?"

Tanva Oh Thi-hoa.

"Bila lelaki berdebat dengan perempuan, kau cuma mencari susah sendiri?"

Ujar Goan Sui-hun dengan tersenyum hambar.

Agaknya ia pun cukup paham jiwa perempuan.

Apabila seorang perempuan menganggap benar suatu urusan.

biarpun punya seribu alasan juga jangan harap dapat mengubah pendiriannya.

Maka Oh Thi-hoa tidak bertanya pula.

sebab ia pun sangat paham akan hal ini.

Dalam pada itu, nona cilik yang pingsan di pojok sana sudah mulai berkeluh.

Coh Liu-hiang menarik kedua tangannya dan menyalurkan tenaga dalamnya.

Seketika denyut jantung si nona itu bertambah kuat.

Lalu dia membuka mata saat melihat Coh Liu-hiang.

mendadak ia memekik perlahan terus menubruk ke dalam pelukan Coh Liu-hiang.

Tubuhnya tampak menggidik ucapnya dengan suara gemetar.

"Aku.,., aku takut.,, sangat takut..."

Perlahan Coh Liu-hiang menepuk pundak si nona dan berkata.

"Jangan takut, kejadian yang menakutkan sudah berlalu."

Suara Coh Liu-hiang seperti mengandung tenaga penenang, meski cuma satu-dua kalimat saja, tapi guncangan perasaan si nona sudah dapat ditenangkan.

"Sesungguhnya apa yang terjadi?"

Tanya Coh Liu-hiang. Pertanyaan ini memang ingin diketahui setiap orang, sudah sejak tadi mereka menantikan penjelasan. Dengan suara gemetar si nona menjawab.

"Orang ... orang-orang perempuan tadi........."

Mendadak ia terguguk sehingga sukar melanjutkan ucapannya.

"Kenapa orang-orang perempuan tadi?"

Tanya Oh Thi-hoa. Nona itu kelihatan ngeri, tuturnya dengan terputus-putus.

"Semula mereka tampak sudah mati dan... dan terbaring di lantai. Suhu ingin menolong mereka, selagi beliau memeriksa penyakit mereka, siapa tahu.....siapa tahu mendadak............."

Sampai di sini, kembali ia menangis tergerung-gerung pula.

Jika perempuan sudah menangis, maka sama halnya turun hujan, siapa pun tak dapat mencegah.

Terpaksa semua menunggunya.

Tapi lapat-lapat dalam hati sudah dapat menerkan apa yang terjadi.

Muka si nona masih terbenam di dada Coh Liu-hiang, bajunya basah oleh cucuran air mata.

Dadanya terasa hangat, bidang dan kuat.

Tapi air mata anak gadis terlebih harus disayangi daripada mestika Mutiara.

Seorang lelaki kalau dadanya tidak pernah dibasahi air mata anak gadis, mungkin dia belum dapat dianggap sebagai lelaki tulen, sebab dada orang lelaki adalah tempat pelipur hati yang paling baik bilamana anak gadis sedang menangis.

Suara tangisan anak dara tadi perlahan-lahan mereda.

Selang sejenak, barulah ia bercerita pula dengan terguguk.

"Siapa tahu. mereka itu hakikatnya tidak sakit apapun, haru saja Suhu meraba nadi mereka, tiba-tiba mereka melompat bangun, empat orang serentak menyerang sekaligus, laksana ikan gurita, keempat orang itu terus memegang Suhu eraterat."

Goan Sui-hun berkerut kening, katanya.

"Dengan ilmu silat Na-lohujin. seumpama dia dipegang orang, kan juga sangat mudah untuk melepaskan diri. Apalagi keempat orang itu pasti tidak mempunyai tenaga yang kuat."

"Tapi tenaga mereka justru sangat mengejutkan, pula tubuh mereka sangat licin seperti dilumuri minyak, aku ingin menarik mereka, tapi memegangnya saja sukar,"

Tutur si nona pula.

"Jadi mereka hendak mencelakai gurumu, mengapa tidak kau bunuh mereka lebih dahulu?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Sudah tidak keburu lagi."

Jawab si nona.

"Tidak keburu?"

Oh Thi-hoa menegas.

"Ya. sebab mereka seperti sudah mengalami latihan yang sangat keras, mereka dapat bekerja sama dengan sangat rapi, begitu keempat orang itu menerjang maju, ada yang menindih, ada yang menghimpit, dalam sekejap saja ruas tulang Suhu seakan retak dan patah semua."

Sampai di sini, tubuh si nona menggigil lagi, seperti ngeri membayangkan ruas tulang gurunya diremukkan waktu itu.

Suara itu memang sukar dilupakan siapa pun yang pernah mendengarkannya.

Goan Sui-hun menghela napas, katanya.

"Kejadian ini tak pernah dibayangkan oleh siapa pun. pantas tokoh seperti gurumu juga kena disergap mereka."

"Tapi mereka pun jangan harap bisa hidup,"

Ujar si nona gemas.

"Sebelum ajal, suhu membalas sakit hatinya sendiri."

"Oo?!"

Goan Sui-hun bersuara heran.

"Setelah berhasil mengerjai Suhu, segera mereka bermaksud kabur, tak tersangka akhir-akhir ini Suhu berhasil meyakinkan ilmu Ti-sim-jiu (tangan mengorek hati),"

Tutur si nona.

"Ti-sim-jiu?"

Goan Sui-hun mengulang nama itu.

"Ya, Tisim-jiu."

Kata si nona.

"Suhu merasa orang jahat di dunia Kangouw makin lama makin merajalela, beliau meyakinkan ilmu sakti ini khusus untuk menghadapi kawanan penjahat."

"Konon Ti-sim-jiu adalah ciptaan Hoa Khing-hong, ketua Hoa-san-pay angkatan keempat, setelah lanjut usia, dia merasa Kungfunya terlalu keji, maka anak muridnya dilarang melatihnya. Sejak itu ilmu sakti itu putus keturunan. Entah cara bagaimana gurumu bisa memperoleh rahasia ilmu itu?"

Nona cilik itu seperti menyadari telah kelepasan omong, ia lantas tutup mulut. Tapi Oh Thi-hoa menyambungnya.

"Konon Na-lohujin sahabat karib Koh-bwe Taysu. masa Goan Sui-hun tidak tahu?"

Ternyata Oh Thi-hoa juga bisa berdusta bagi orang lain, cuma caranya berdusta mi tidak terlalu pintar.

Sejak kecil Koh-bwe Taysu sudah cukur rambut dan menjadi Nikoh, wataknya dingin menyendiri, bicara saja sungkan, terkadang malah sepanjang hari tidak buka mulut, mana bisa dia bersahabat dengan Na-lohujin yang tempat tinggalnya berjauhan.

Apalagi peraturan Hoa-san-pay amat keras, Koh-bwe Taysu juga terkenal sangat disiplin dan memegang teguh hukum perguruan, adil tanpa pilih kasih, mana mungkin dia mengajarkan ilmu sakti perguruan sendiri kepada orang luar.

Untung Goan Sui-hun tidak bertanya lebih lanjut Agaknya putera keluarga penilaian yang terkenal ini jarang bergerak di dunia Kangouw.

maka pengetahuannya terhadap seluk-beluk dunia persilatan tidaklah banyak.

Dia hanya manggut-manggut saja, lalu berkata.

"Ilmu Tisim-jiu ini memang keji, tapi kalau digunakan terhadap kaum durjana dunia Kangouw kiranya juga sangat tepat..... Orang yang biasa berbuat jahat dan keji harus dibalas dengan sama kejinya."

Coh Liu-hiang menghela napas gegetun, katanya.

"Jika beliau tak memiliki ilmu sakti ini, mungkin keempat manusia itu akan sempat melarikan diri."

"Memangnya kenapa? Apakah dengan Kungfu jenis lain tak mampu membinasakan mereka?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Ilmu lain kebanyakan berdasarkan tenaga dalam yang kuat baru dapat memperlihatkan daya serangannya,"

Tutur Coh Liu-hiang.

"Dalam keadaan seluruh ruas tulang tercerai berai, cara bagaimana beliau sanggup mengerahkan tenaga murni pula?"

"Betul,"

Kata Goan Sui-hun.

"Ti-sim-jiu adalah semacam Kungfu khas yang mengutamakan tenaga luar, intisarinya terletak pada gerakan yang tepat, makanya pada saat terakhir beliau sempat membinasakan mereka dengan sekali serang."

"Pengetahuan Hiangswe yang luas benar-benar sangat mengagumkan,"

Ujar Goan Sui-hun. 'Walaupun begitu, andaikan mereka mau lari juga tidak mungkin."

Ujar Oh Thi-hoa.

"Oo? Dasarnya?"

Tanya Coh Liu-hiang.

"Kita kan bukan orang mampus, masa kita menyaksikan mereka kabur begitu saja?"

Jengek Oh Thi-hoa.

"Betul juga,"

Kata Coh Liu-hiang.

"Tapi mereka telanjang bulat tanpa sehelai benang pun d. tubuhnya, jika empat perempuan bugil menerjang keluar mendadak, siapa yang mampu menahan mereka? Apalagi, seperti cerita nona tadi, tubuh mereka licin berminyak, andaikan dipegang juga belum tentu kena."

"Tidak dapat memegangnya, sedikitnya dapat menahan lari mereka,"

Jengek Oh Thi-hoa pula.

"Tapi bilamana mereka menerjang keluar mendadak, sebelum kita tahu apa yang terjadi, masa kita akan membunuh mereka begitu saja? Apalagi kamar ini kan tidak cuma ada sebuah pintu saja."

Kamar kabin ini memang betul ada dua pintu, sebuah sebuah pintu menembus ke kamar sebelah, yaitu kamar tempat tinggal Ko A-lam, sudah tentu sekarang di kamar itu tiada seorang pun.

Oh Thi-hoa tak dapat bicara pula, terpaksa tutup mulut.

"Dari situ dapat diketahui bahwa peristiwa ini sejak awal hingga akhir memang telah direncanakan dengan rapi,"

Kata Coh Liu-hiang pula.

"Malahan bertelanjang bulat juga termasuk sebagian rencana mereka."

"Ya, mereka sengaja menyusup ke dalam jaring agar diseret ke atas, sejak semula mereka sudah menggunakan cara yang mengejutkan sehingga sukar diraba, malah sengaja telanjang bulat sehingga orang tidak berani memandang mereka dengan cermat, lebih-lebih tidak berani menjamah mereka,"

Goan Sui-hun menghela napas gegetun, lalu melanjutkan.

"Perencanaan mereka bukan saja sangat rapi. bahkan sangat aneh. misterius, lucu dan sukar dibayangkan."

"Hanya satu hal yang tidak dapat kuselami hingga sekarang,"

Tiba-tiba Eng Ban-li menyela.

"Hal apa?"

Tanya Coh Liu-hiang.

"Aku melihat Lwekang mereka tidak tinggi, tapi mengapa bisa menahan napas selama itu di dalam laut,"

Kata Eng Banli. Selagi Coh Liu-hiang berpikir, tiba-tiba Goan Sui-hun berkata.

"Hal ini mungkin dapat kujelaskan."

"Silakan,"

Kata Eng Ban-li.

"Konon di lautan selatan sana, banyak penghuni pulau yang mahir menyelam dan ada gadis-gadis pencuri mutiara yang terlatih sejak kecil, sekali menyelam sanggup bertahan cukup lama tanpa ganti napas. Oleh karena tenaga badan harus banyak digunakan waktu menyelam, maka rata-rata tubuh gadis pencari mutiara itu sangat kekar dan kuat."

"Jika demikian, keempat nona telanjang itu pasti gadis pencari mutiara di lautan selatan sana?"

Ujar Eng Ban-li.

"Bila Goan-kongcu mengetahui di dunia ada orang macam begitu, tak kau katakan sejak tadi?"

Kata Oh Thi-hoa.

"Soalnya urusan ini sukar untuk dibayangkan, sebelum ini aku pun tidak pernah memikirkannya,"

Jawab Goan Sui-hun.

"Tapi kau bilang di sekitar sini tiada sesuatu pulau, lalu darimana datangnya mereka?"

Tanya Eng Ban-li.

"Dan darimana pula mereka mengetahui Na-lohujin berada di kapal ini, darimana pula mereka tahu Na-lohujin mau menyembuhkan mereka?"

Tukas Thio Sam.

"Ya, pertanyaan-pertanyaan ini hanya mereka sendiri yang dapat memberi jawaban."

Ujar Goan Sui-hun. Setelah menghela napas, mendadak ,a berkata pula.

"Sebelum meninggal, apakah gurumu meninggalkan pesan?"

"Aku.... aku tidak tahu,"

Jawab si nona cilik tadi.

"Tak tahu?"

Oh Thi-hoa menegas dengan berkerut kening.

"Ya. sebab begitu melihat darah, seketika.... seketika aku jatuh pingsan,"

Jawab si nona.

"Kukira Na-lohujin juga tak sempat omong apa-apa, sebab beliau pasti juga tidak tahu asal-usul mereka, kalau tahu, masakah sampai kena disergap?"

Kata Coh Liu-hiang. Goan Sui-hun menghela napas, katanya.

"Sudah berpuluh tahun beliau tidak bergerak di dunia Kangouw, dengan sendirinya tidak pernah mengikat permusuhan dengan siapa pun juga, lalu mengapa orang-orang itu sengaja menyergapnya dengan perencanaan serapi ini? Apa sebabnya?"

Memang di sinilah kunci rahasia ini. Apa sebabnya? Tanpa sebab mustahil membunuh orang? Coh Liu-hiang tidak menjawab pertanyaannya, ia termenung cukup lama. katanya kemudian dengan menghela napas.

"Apapun juga. rahasia ini pada suatu hari pasti akan terbongkar. tapi sekarang aku cuma berharap kejadiankejadian menakutkan ini selanjutnya takkan terjadi lagi."

Sudah tentu tak pernah terpikir olehnya.

betapa besar imbalannya bila dia ingin membongkar rahasia ini, lebih-lebih tak terpikir olehnya bahwa kejadian-kejadian beberapa hari berikutnya akan akan jauh lebih seram dan menakutkan dari sebelumnya.

00ooo00 Upacara pemakaman berlangsung sederhana, tapi khidmat.

Pemakaman secara dilarung, yakni dihanyutkan ke laut.

Meski murid pemeluk agama Budha mengutamakan pembakaran mayat tapi Ko A-lam dan nona cilik itu tidak berkeras minta guru mereka dibakar, dengan sendirinya orang lain tidak perlu banyak bicara.

Sekarang Coh Liu-hiang mengetahui si nona cilik itu bernama Hoa Cin-cin.

Hoa Cin-cin!

Bukan saja namanya indah, anak dara ini juga cantik.

Hanya nyalinya saja terlalu kecil serta pemalu.

Sejak dia meninggalkan pelukan Coh Liu-hiang, sama sekali ia tak berani memandangnya lagi barang sekejap.

Apabila sorot mata Coh Liu-hiang tertuju kepadanya, seketika mukanya meniadi merah.

Baju Coh Liu-hiang masih tertinggal bekas air mata si nona, tapi dalam hati Coh Liu-hiang terasa rada kesal, ia tidak tahu bilakah akan datang kesempatan untuk memeluk anak dara itu.

Ko A-lam juga tidak memandang pada Oh Thi-hoa, juga tidak bicara.

Goan Sui-hun bertanya padanya, apakah gurunya meninggalkan pesan sebelum mengembuskan napas penghabisan, tapi Ko A-lam menggeleng kepala dengan mimik aneh, ujung jarinya agak gemetar, seperti kuatir dan rada-rada takut.

Mengapa bisa begitu?

Apa sebabnya?

Apakah sebelumnya Koh-bwe Taysu telah membeberkan sesuatu rahasia kepadanya, tapi dia tidak mau memberitahukan kepada orang lain atau memang tidak berani buka mulut?

00ooo00 Cuaca gelap dan mendung, agaknya akan hujan angin lagi.

Pendek kata, seharian ini tiada terjadi sesuatu yang menyenangkan, benar-benar membuat orang merasa cemas dan gelisah, hampir membuat orang jadi gila.

Yang paling kesal tentu Oh Thi-hoa, banyak urusan yang hendak ditanyakan pada Coh Liu-hiang, tapi belum ada kesempatan.

Setelah malam tiba.

habis makan dan kembali ke kabin segera Oh Thi-hoa menutup pintu kamar dan berseru.

"Baik. sekarang tentu dapat kau ceritakan."

"Cerita apa?"

Tanya Coh Liu-hiang.

"Koh-bwe Taysu mati begitu saja. masa kau tidak berkomentar apa-apa?"

"Betul, kukira sedikit banyak kau pasti melihat sesuatu yang mencurigakan?"

Kata Thio Sam. Coh Liu-hiang tak menjawab, ia termenung sejenak, ucapnya kemudian.

"Jika ada sesuatu yang kutemukan, tentu kalian pun sudah melihatnya."

"Mengapa tidak kau ceritakan, coba?"

Kata Oh Thi-hoa.

"Pertama, para gadis pencari mutiara itu pasti bukan pelaku utamanya."

"Betul Inipun sudah kuduga, tapi siapa gerangan pelaku utamanya?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Meski aku tidak tahu siapa dia, tetapi mereka tahu Nalohujin sama dengan Koh-bwe Taysu."

"Betul,"

Oh Thi-hoa mengangguk.

"Sudah kuduga yang hendak mereka bunuh sesungguhnya ialah Koh-bwe Taysu."

"Tapi Koh-bwe Taysu juga serupa Na-lohujin. berpuluhpuluh tahun tidak berkecimpung di dunia Kangouw, musuhnya di masa lalu juga sudah mati semua."

"Sebab itulah kunci persoalan ini. tepat seperti apa yang dikatakan Goan Sui-hun. yaitu sebab apa orang-orang ini hendak membunuh Koh-bwe Taysu? Apa maksud tujuannya?"

"Maksud tujuan membunuh kebanyakan menyangkut dendam, duit perempuan,"

Kata Coh Liu-hiang.

"Tapi beberapa soal ini pasti tiada sangkut pautnya dengan Koh-bwe Taysu."

"Betul,"

Tukas Oh Th i-hoa.

"Koh-bwe Taysu tidak punya musuh juga bukan hartawan, lebih-lebih tidak mungkin tersangkut urusan percintaan."

"Sebab itulah kecuali beberapa sebab itu, sisanya cuma tinggal satu kemungkinan."

Kata Coh Liu-hiang.

"Kemungkinan apa?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Yaitu antara membunuh atau dibunuh,"

Tutur C oh Liu-hiang "Sebab biang keladi persoalan ini tahu, bila tak membunuh Koh-bwe Taysu". maka dialah yang akan dibunuh."

Oh Thi-hoa meraba hidung, katanya.

"Apa maksudmu pelaku ulama ini yang menjual rahasia Jing-hong-cap-sah-sik itu?"

"Betul,"

Jawab Coh Liu-hiang.

"Artinya orang yang berada di Pian-hok-to, begitu bukan?"

"Betul."

Kata Coh Liu-hiang.

"Mereka tahu, Na-lohujin ini-pun Koh-bwe Taysu adanya. mereka tahu perjalanan Koh-bwe Taysu adalah untuk membongkar rahasia mereka, maka harus turun tangan lebih dulu dengan cara apapun, betapapun Kohbwe Taysu tidak boleh menginjak Pan-hok-to dalam keadaan hidup,"

"Jika begitu, tentu mereka pun sudah tahu siapa kita? Seyogyanya mereka pun akan membinasakan kita sekaligus, tapi mengapa kita tidak diganggu sama sekali?"

"Bisa jadi mereka pun tahu bukan pekerjaan mudah jika hendak membunuh kita, atau mungkin juga...,"

Belum habis ucapan Thio Sam. segera Coh Liu-hiang menyambungnya.

"Mungkin mereka mempunyai rencana tertentu, mereka yakin dapat membunuh kita. maka sekarang tak perlu terburu-buru turun tangan."

"Apakah mereka baru akan turun tangan bila kita sudah tiba di Pian-hok-to?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Hal ini sangat mungkin,"

Kata Coh Liu-hiang.

"Sebab di sanalah daerah kekuasaan mereka, segala apapun lebih menguntungkan mereka, sebaliknya kita....."

Ia menghela napas, lalu mnyambung sambil menyengir.

"Bagaimana bentuk Pian-hok-to itu sampai detik inipun belum lagi tahu."

Thio Sam tampak termenung, ucapnya kemudian.

"Jika kita ingin tahu bagaimana keadaan pulau itu, hanya satu orang yang dapat kita tanyai."

"Siapa?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Kau!"

Jawab Thio Sam. Oh Thi-hoa melengak dan tertawa geli, katanya.

"Apakah kau melihat setan? Mimpi pun belum pernah kulihat pulau kalong segala."

Thio Sam berkedip-kedip, katanya tertawa.

"Kau sendiri memang belum pernah berkunjung ke sana, tapi nona Kim kan pernah? Jika sekarang kau tanya padanya, tentu dia akan memberi keterangan padamu."

"Aha betul!"

Teriak Oh Thi-hoa mendadak sambil melompat bangun dengan tertawa.

"Aku memang ada janji, hampir saja kulupa jika kau tidak mengingatkan."

Oooo0000oooo Setelah keluar dari kamar baru Oh Thi-hoa ingat seharian ini Kim Leng-ci tidak kelihatan, entah sengaja menghindari Ko A-lam atau tidur di kamarnya.

Yang dia harapkan adalah semoga Kim Leng-ci tidak melupakan janji pertemuan ini.

Mungkin dia sendiri sangat mementingkan janji pertemuan ini.

maka bisa lupa.

Tapi kalau Kim Leng-ci juga lupa.

tentu dia akan sangat sedih.

Antara lelaki dan perempuan bila mulai mengadakan janji berkencan, maka hatinya akan berdebar-debar, di samping gembira juga cemas, kedua pihak kuatir kalau pihak lain tidak menepati janji maka ia sendiri malah tidak mau hadir lebih dahulu.

Begitu pula perasaan Oh Thi-hoa pada saat itu hampir saja putar balik.

saat itu ia telah mendaki tangga.

Mendadak terdengar suara jeritan.

Suara perempuan, apakah suara Kim Leng-ci?

Suara jeritan itu penuh mengandung rasa kaget dan takut, menyusul lantas terdengar suara "plung"

Yang keras, seperti benda berat yang tercebur ke laut.

Jantung Oh Thi-hoa hampir saja berhenti berdetak, Apakah mungkin kapal inipun serupa kapal Hay Koa-thian?

Di kapal ini pun bersembunyi si pengganas?

Apakah Kim Leng-ci juga serupa Hiang Thian-hui, telah dibunuh orang lebih dahulu, lalu diceburkan ke laut?

Dengan gerak cepat Oh Thi-hoa menerjang ke atas, ke geladak kapal.

Ia menghela napas lega setiba di atas.

Sebab dilihatnya Kim Leng-ci berdiri di sana, berdiri di tempat yang sama seperti kemarin, berdiri menghadap ke laut.

Rambutnya yang panjang tampak bergoyang-goyang tertiup angin, tampaknya begitu lembut dan luwes.

Di sekitar situ tiada nampak orang lain, juga tiada suara orang.

Tapi mengapa tadi dia menjerit?

Apakah dia melihat sesuatu yang sangat menakutkan?

Perlahan-lahan Oh Thi-hoa mendekati, setiba di belakangnya barulah ia menyapa dengan tersenyum.

"Apakah kudatang terlambat?"

Namun si nona tidak menoleh, juga tidak menjawab.

"Tadi seperti terdengar ada sesuatu benda jatuh ke laut, barang apakah?"

Tanya Oh Thi-hoa pula.

Kim Leng-ci hanya menggeleng tanpa menjawab.

Rambutnya bergerak-gerak membawa bau harum.

Tanpa terasa Oh Thi-hoa membelai rambut si nona, katanya dengan suara lembut "Kau bilang ingin bicara denganku, mengapa tidak kau katakan sekarang?"

Si nona lantas menunduk, tubuhnya rada gemetar.

Malam di lautan lepas seakan-akan jauh lebih hangat, lebih mudah menggetar sukma.

Oh Thi-hoa merasa si nona sedemikian lembut, menyenangkan, dirinya wajib melindunginya, menyukainya.

Tanpa terasa merangkul pinggangnya dan berbisik perlahan.

"Di depanku, apapun boleh kau katakan, sesungguhnya aku dan nona Ko tiada hubungan apa-apa. hanya......."

Sekonyong-konyong 'Kim Leng-ci' mendorongnya, terus membalik tubuh sambil menatapnya dengan tajam. Muka si nona kelihatan pucat pasi, bibirnya juga pucat.

"Hanya...... hanya apa?"

Dengan suara gemetar si nona bertanya.

Seketika Oh Thi-hoa jadi melenggong.

melenggong seperti patung.

Nona yang berdiri di depannya ini ternyata bukan Kim Leng-ci melainkan Ko A-lam adanya.

Sungguh runyam!

Rupanya karena pikiran kacau, yang dipikir Oh Thi-hoa hanya Kim Leng-ci dan janji penemuan mereka, ia lupa antara Ko A-lam dan Kim Leng-ci punya perawakan sama, rambut juga sama panjangnya.

Maka siapa pun yang berdiri di situ hakikatnya tak diperhatikan olehnya.

Tanpa berkedip Ko A-lam melototi Oh Thi-hoa, lalu ia menegas pula.

"Hanya apa maksudmu?"

Oh Thi-hoa gelagapan dan kikuk, akhirnya menjawab pula.

"Hanya teman saja..., bukankah kita memang teman?"

Mendadak Ko A-lam membalik tubuh ke sana. menghadap ke laut. Dia tidak bicara lagi, tapi tubuhnya gemetar, entah karena rasa takut atau berduka.

"Sejak.... sejak tadi kau berada di sini?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Ehm,"

Jawab Ko A-lam.

"Di sini tiada terjadi sesuatu?"

"Tidak."

Oh Ihi-hoa jadi ragu-ragu, ucapnya.

"Juga tiada kedatangan orang lain?"

Ko A-lam terdiam sejenak, mendadak ia mengejek "Jika kau berjanji dengan seorang untuk bertemu di sini. maka boleh kukatakan padamu bahwa sama sekali dia tidak muncul."

Oh Thi-hoa ragu-ragu hingga lama, akhirnya tak tahan dan berkata.

"Tapi tadi ku.... kudengar seperti ada suara sesuatu."

"Suara apa?"

Tanya Ko A-lam.

"Suara benda jatuh ke laut? Juga ada suara jeritan orang,"jawab Oh Thi-hoa.

"Hm, barangkali kau mimpi,"

Jengek Ko A-lam. Oh Thi-hoa tidak berani bertanya lagi. tetapi ia percaya telinga sendiri pasti tidak keliru dengar. Sungguh ia ingin bertanya suara jeritan siapakah tadi? Suara "plung"

Tadi sebenarnya suara apa?

Ia pun percaya Kim Leng-ci pasti tidak ingkar janji, sebab janji bertemu datang dan si nona sendiri, jika begitu, mengapa dia tidak hadir?

Kemanakah dia pergi?

Sekonyong-konyong timbul bayangan adegan yang menakutkan di depan mata Oh Thi-hoa, ia seperti melihat dua anak perempuan yang berambut panjang sedang bertengkar, seorang di antaranya telah didorong masuk ke laut.

Seketika tangan Oh Thi-hoa berkeringat dingin, mendadak ia tarik tangan Ko A-lam dan dibawa lari kembali ke kabin.

Ko A-lam terkejut dan gusar, katanya.

"He, apa-apaan?"

Oh Thi-hoa tidak menjawab, ia menyeretnya ke depan pintu kabin Kim Leng-ci.

lalu menggedor pintu sekeraskerasnya.

Tidak terdengar suara jawaban dan dalam, jelas Kim Lengci tidak berada di kamarnya.

Mata Oh Thi-hoa menjadi merah, ia seperti melihat mayat nona itu mengambang di permukaan laut.

Baca Juga: Pendekar Pemanah Rajawali 3

Baca Juga: Kisah Para Pendekar Pulau Es Kho Ping

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert