Ceritasilat Novel Online

Legenda Kelelawar 3

Eps 3 Legenda Kelelawar - Khu Lung

Baca online Legenda Kelelawar - Khu Lung

Cersil Legenda Kelelawar - Khu Lung.

"Betul, pukulan Cu-seh-ciang memang meninggalkan bekas merah begini,"

Kata Oh Thi-hoa.

"Nama Cu-seh-ciang dikenal setiap orang, padahal cara berlatihnya sudah lama lenyap,"

Ujar Coh Liu-hiang.

"Selama dua tiga puluh tahun terakhir ini, hampir tidak pernah lagi terdengar ada tokoh ahli Cu-seh-ciang yang menonjol di dunia Kangouw."

"Pernah kudengar ada seorang 'Tan-ciang-tui-hun' (pukulan pemburu nyawa) Lim Bun, yang dilatihnya adalah Cu-seh-ciang,"

Tutur Oh Thi-hoa.

"Tapi itu pun sudah lama berselang, kini Lim Bun sudah mati dan tak diketahui apakah dia mempunyai keturunan atau tidak?"

"Betul Tan-ciang-tui-hun Lim Bun terkenal sebagai ahli Cuseh-ciang,"

Kata Coh Liu-hiang.

"Tapi yang dilatihnya juga cuma satu tangan saja. Sedangkan orang ini dapat menggunakan kedua tangan sekaligus, bahkan sudah terlatih sehebat ini, sungguh jarang ada."

"Konon orang yang berlatih Cu-seh-ciang akan dapat diketahui dari tangannya,"

Tiba-tiba Hay Koa-thian berkata.

"Waktu mula-mula berlatih memang telapak tangan akan bersemu merah,"

Kata Coh Liu-hiang.

"Tapi bila sudah sempurna, warna merah itu akan lenyap, hanya waktu melancarkan pukulan akan kelihatan telapak tangannya bersemu merah, dalam keadaan biasa takkan kelihatan sesuatu ciri apa-apa."

"Jika demikian, kecuali kita berempat yang berada di sini, orang selebihnya ada kemungkinan pembunuh mereka ini,"

Kata Hay Koa-thian dengan menghela napas.

"Kecuali seorang saja yang tak mungkin,"

Ujar Thio Sam.

"Oo?? Siapa?"

Tanya Hay Koa-thian.

"Kim Leng-ci,"

Jawab Thio Sam.

"Apa dasarnya?"

Tanya Hay Koa-thian pula.

"Coba kau lihat, bekas telapak tangan ini sangat besar, tidak mungkin tangan perempuan,"

Kata Thio Sam.

"Hm, dasar budak tetap budak,"

Jengek Oh Thi-hoa mendadak.

"Tampaknya Kim Leng-ci tidak sia-sia membuang uang membeli seorang budak seperti kau ini."

"Tapi tangan orang perempuan kan juga ada yang besar,"

Ujar Hay Koa-thian.

"Menurut ilmu nujum, perempuan yang bertangan besar pasti kaya dan jaya, bukankah nona Kim juga dari keluarga kaya dan jaya?"

"Hah, rupanya Hay-pangcu juga mahir menujum?"

Jengek Thio Sam.

"Konon air muka pembunuh juga ada tanda-tanda pembunuh, ini pun menurut ilmu nujum, entah Hay-pangcu dapat melihatnya atau tidak?"

Belum lag, Hay Koa-thian menanggapi, tiba-tiba terdengar jeritan ngeri.

Suara ini seperti datang dari geladak di atas sana, meski kedengaran sangat jauh, tapi suaranya tajam menyeramkan dan terdengar jelas.

Air muka Hay Koa-thian berubah pula, ia membalik tubuh terus menerobos ke atas.

Oh Thi-hoa menghela napas, katanya.

"Ai, tampaknya kapal ini tidak membawa kemujuran, banyak halangan dan rintangan, jika ingin meninggalkan kapal dengan hidup rasanya tidaklah mudah!"

Mendadak Coh Liu-hiang mengeluarkan sesuatu dari balik baju Ong Tek-ci, katanya tertahan.

"He, lihat, apa ini?"

Yang dipegang adalah satu biji mutiara sebesar gundu. Air muka Thio Sam berubah seketika, serunya.

"He, inilah mutiara yang pernah kucuri dari nona Kim itu."

"Kau tidak keliru?"

Tanya Coh Liu-hiang.

"Tidak, pasti tidak, aku kan ahli mutiara,"

Jawab Thio Sam tegas. Dia mengusap keringat dahinya, lalu berkata pula.

"Mengapa mutiara nona Kim bisa ada di tubuh orang mati ini?"

"Mungkin dia kurang hati-hati dan terjatuh di sini,"

Kata Coh Liu-hiang.

"Jika demikian, apakah Kim Leng-ci adalah pembunuhnya?"

Tanya Thio Sam dengan terkesima. Coh Liu-hiang tak menjawab, dia sedang berpikir, dengan hati-hati ia menyimpan mutiara itu lalu melangkah ke geladak. Oh Thi-hoa menepuk pundak Thio Sam, katanya.

"Kalau sang majikan adalah pembunuh, budaknya juga dapat dituduh sebagai pembantu pembunuh, kau harus hati-hati."

Waktu Oh Thi-hoa dan Thio Sam naik ke geladak, di buritan tampak berkerumun orang banyak, Kim Leng-ci, Ting Hong, Kau Cu-tiang, Kongsun Jiat-ih dan Pek-lak-cek, semua berada di situ.

Hiang Thian-hui yang tadi pegang kemudi di situ, sekarang sudah lenyap, hanya di geladak kapal bertambah secomot darah yang masih segar.

"Darah Hiang Thian-hui!"

Seru Oh Thi-hoa.

"Apakah dia terbunuh? Dimana mayatnya?"

Mata Hay-Koa-thian tampak merah, mendadak ia berteriak bengis.

"Ci Hong, Loh Kiat, apakah hari ini kalian yang dinas pegang kemudi?"

Di tengah kerumunan tampil dua orang dan memberi hormat, mereka mengiakan bersama.

"Kemana kalian tadi?"

Tanya Hay Koa-thian dengan gusar.

"Hiang-jiya yang menyuruh menyingkir, kami tidak mau pergi, Hiang-jiya lantas mendelik dan mau memukul, terpaksa kami pergi,"

Tutur orang yang bernama Ci Hong dengan gemetar. Segera yang bernama Loh Kiat menambahkan.

"Kami pun tidak berani pergi jauh tapi membantu Sim-losam menggulung tambang di sebelah sana."

"Tadi apakah kalian mendengar sesuatu suara?"

Tanya Hay Koa-thian.

"Ketika mendengar suara jeritan, segera kami memburu kemari,"

Tutur Ci Hong.

"Tapi sebelum tiba di sini, kami mendengar suara "plung"

Satu kali, waktu kami pandang Hiang-jiya, beliau ternyata sudah lenyap."

Semua orang saling pandang sekejap, mereka tahu suara "plung"

Itu tentu karena mayat Hiang Thian-hui tercebur ke sungai.

Sekarang mereka yakin orang she Hiang itu pasti banyak celaka daripada selamat.

Hay Koa thian sudah bersahabat cukup lama dengan Hiang Thian-hui, air matanya lantas berlinang, ucapnya dengan suara parau.

"O, jite, akulah yang membikin celaka dirimu, tidak seharusnya kuajak kau ke sini..."

"Kan belum lama mayatnya kecebur, biar aku menyelam ke bawah, mungkin dapat ditemukan,"

Kata Thio Sam. Waktu itu kapal sudah mendekati muara laut, ombak bergulung-gulung. Tapi tanpa pikir Thio Sam lantas terjun ke bawah mirip seekor ikan raksasa. Segera Hay Koa-thian berteriak.

"Kurangi kecepatan, kapal berhenti! Adakan penghitungan orang."

Di tengah suara teriakannya itu, para kelasi lantas berpencar, anak buah Ci-keng-pang memang sudah terlatih dan sangat disiplin, meski terjadi peristiwa gawat, semuanya tetap tenang.

Dalam waktu singkat kapal berhenti, segera terdengar suara mengabsen bergema susul-menyusul.

Selang sejenak, orang yang bernama Ci Hong berlari datang dan memberi hormat kepada Hay Koa-thian serta melapor.

"Kecuali Ong Tek-ci dan Li Tek-piau, yang lain masih ada."

Kalau orang lain masih ada, yang mati dengan sendirinya ialah Hiang Thian-hui.

Mendadak Hay Koa-thian berlutut di depan genangan darah itu.

Gemerdap sinar mata Ting Hong, ucapnya dengan suara tertahan.

"Betapa tinggi ilmu silat Hiang-jiya cukup kukenal, aku justru tak percaya dia dikerjai orang begitu saja, sebab orang Kangouw yang mampu membunuhnya juga sangat terbatas."

Waktu berkata demikian, sorot matanya menyapu muka para hadirin, dimulai dari Kau Cu-tiang, Coh Liu-hiang, Oh Thihoa dan Pek-lak-cek, tapi Kongsun Jiat-ih dan Kim Leng-ci tak dipandangnya sama sekali.

Jelas maksudnya orang yang mampu membunuh Hiang Thian-hui hanya keempat orang itu saja.

Oh Thi-hoa lantas menjengek.

"Betapa tinggi ilmu silat Ting-kongcu, bukan saja cukup kukenal, bahkan semua orang pun cukup jelas. Waktu peristiwa ini terjadi, entah Ting-kongcu berada dimana tadi?"

Maksud ucapannya ini sangat gamblang, hakikatnya dia hendak bilang Ting Hong adalah pembunuhnya. Tapi Ting Hong tenang-tenang saja, jawabnya dengan tak acuh.

"Pada waktu itu Cayhe sedang berbaring di ranjang."

"Kau-heng kan satu kamar dengannya, tentu kau melihatnya?"

Tanya Oh Thi-hoa. Sikap Kau Cu-tiang seperti agak susah, jawabnya dengan tergagap.

"Waktu itu aku sendiri sedang.... sedang pergi buang air, tidak berada di kamar."

Mendadak Coh Liu-hiang berkata.

"Padahal orang yang membunuh Hiang-jiya-tidak perlu ilmu silatnya lebih tinggi dari Hiang-jiya."

"Bila tidak lebih tinggi ilmu silatnya, apakah mampu membunuhnya?"

Ujar Oh Thi-hoa.

"Bisa jadi lantaran Hiang-jiya tidak menyangka orang itu akan membunuhnya, maka dia sama sekali tidak berjaga-jaga sehingga orang itu berhasil menyerangnya."

Hay Koa-thian menengadah, katanya dengan gemas.

"Betul, kalau tidak, waktu mereka bergebrak tentu akan menimbul kan suara, Ci Hong berdua tentu akan mendengar, tapi lantaran orang itu menyerang secara diam-diam, maka tidak terdengar sesuatu suara."

"Begitulah, makanya setiap orang yang berada di kapal ini mungkin adalah pembunuh Hiang-jiya,"

Kata Coh Liu-hiang.

"Tapi orang lain kan tiada permusuhan apa-apa dengan Hiang-jiya mengapa turun tangan keji kepadanya?"

Jengek Ting Hong sambil melototi Kau Cu-tiang.

"Untuk apa mendelik padaku? Memangnya aku bermusuhan dengannya?"

Tanya Kau Cu-tiang dengan gusar.

"Waktu Kau-heng bertengkar dengan Hiang-jiya di Samho-lau, kukira hampir semua orang ikut menyaksikan, bukan cuma aku sendiri,"

Jawab Ting Hong dengan tak acuh.

Seketika pandangan Hay Koa-thian beralih ke arah Kau-Cu-tiang, sorot matanya penuh rasa benci seakan-akan Kau Cu-tiang telah dianggap sebagai pembunuhnya.

Dengan muka merah Kau Cu-tiang berseru.

"Waktu itu aku cuma bilang ingin mencoba kepandaiannya dan tidak menyatakan akan mencabut nyawanya."

"Apakah Kau-heng hendak mencabut nyawanya atau tidak hanya Kau-heng sendiri yang tahu,"

Jengek Ting Hong pula.

"Apalagi setahuku, waktu Hiang-jiya terbunuh, Kau-heng sendiri entah pergi kemana?"

"Kan sudah kukatakan, waktu itu aku sedang buang air....."

"Buang air dimana?"

Tanya Ting Hong.

"Sudah tentu di kakus, masa boleh kukencing di hadapanmu?"

Jawab Kau Cu-tiang.

"Memangnya siapa yang melihat kau pergi ke kakus?"

Kata Ting Hong pula.

"Tidak ada, waktu itu tiada seorang pun yang berada di kakus,"

Jawab Kau Cu-tiang.

"Hm, masa begitu kebetulan, tidak cepat, tidak lambat, ketika Hiang-jiya terbunuh dan Kau-heng kebetulan ingin buang air, pula kebetulan di kakus juga tiada orang lain lagi.... hehehe, semua ini sungguh sangat kebetulan, serba kebetulan,"

Demikian jengek Ting Hong. Seketika Kau Cu-tiang meraung murka.

"Persetan kau! Darimana aku tahu air kencingku akan keluar mendadak dan cara bagaimana pula kutahu di kakus tidak ada orang."

"Jangan gelisah, Kau-heng,"

Tiba-tiba Coh Liu-hiang menyela.

"Bukti nyata dan lengkap, jelas Kau-heng bukan pembunuhnya."

"Bukti nyata? Dimana?"

Tanya Ting Hong.

"Bila pembunuhan ini dilakukan secara diam-diam, jarak si pembunuh dan Hiang-jiya pasti sangat dekat,"

Tutur Coh Liuhiang.

"Padahal Kau-heng dan Hiang-jiya jelas tidak akur mana mungkin Hiang-jiya membiarkan Kau-heng mendekatinya.

"Betul, jika dia melihat aku mendekat, mungkin dia akan segera melonjak,"

Tukas Kau Cu-tiang.

"Coba lihat noda darah di lantai ini."

Kata C oh Liu-hiang.

"Darah Hiang-jiya yang mengalir keluar amat banyak, jika pembunuh itu melakukan keganasannya dari dekat, tentu bajunya akan terciprat darah."

Dia pandang Kau Cu-tiang sekejap, lalu menyambung.

"Baju Kau-heng kering dan bersih, pakaian cukup rajin, bila dia habis membunuh lalu berganti pakaian, kukira juga takkan terjadi secepat ini."

"Betul, begitu mendengar jeritan, segera kuburu ke sini, mana sempat berganti pakaian segala,"

Tukas Kau Cu-tiang.

"Untuk ini aku dapat menjadi saksi,"

Tiba-tiba Kim Leng-ci menambahi.

"Waktu kudatang, dia sudah berada di sini."

"Dalam hal ini, siapa pun pembunuhnya jelas tidak keburu berganti pakaian,"

Kata Coh Liu-hiang pula.

"Yang bisa dilakukan dalam waktu sesingkat ini hanya menanggalkan baju yang berlepotan darah, lalu dilemparkan ke laut atau disembunyikan."

"Jika demikian, saat ini pakaian si pembunuh pasti masih rapi dan bersih?"

Jengek Ting Hong sambil melototi Kau Cutiang. Yang dikenakan Kau Cu-tiang sekarang hanya pakaian dalam dan tidak memakai baju luar. Namun Kau Cu-tiang tetap tenang, ucapnya.

"Cayhe memang tidak biasa tidur dengan memakai baju panjang."

"Betul, tidak mungkin orang tidur dengan pakaian rapi "

Kata Kim Leng-ci.

"Waktu kudengar suara jeritan tadi, segera kulari ke sini, aku pun tidak memakai baju luar, memangnya aku pun dianggap sebagai pembunuhnya?"

Si nona memang betul cuma memakai pakaian dalam saja, tidak memakai kaos kaki, sehingga kedua kakinya tampak putih mulus.

Segera pandangan Oh Thi-hoa beralih ke arah kaki yang putih itu, katanya pelahan.

"Sebelum pembunuhnya diketahui, setiap orang tak terhindar dari sangkaan, sekalipun orang kaya juga tak terkecuali. Orang kaya tidak pasti bukan pembunuh, bukankah begitu nona Kim?"

Sebenarnya Kim Leng-ci hendak meraung, tapi demi melihat mata Oh Thi-hoa yang melotot mengincar kakinya yang mulus itu, seketika mukanya menjadi merah dan tanpa terasa ia menyurut mundur hingga lupa membuka suara.

Sementara itu Thio Sam telah menongol di permukaan air dan berseru "Tidak ada, tidak kutemukan apapun, gelombang air cukup keras, ikan mati saja tiada, apalagi orang mati."

Segera Hay Koa-thian melempar seutas tambang, serunya.

"Apapun Thio-heng sudah berusaha sedapatnya, aku dan Hiang-jite merasa berterima kasih. Lekas Thio-heng naik ke atas." ********** Hari sudah terang, sekembalinya di kamar, segera Oh Thihoa menjambret leher baju Coh Liu-hiang dan berkata.

"Breng sek, sekarang kau pun tidak jujur lagi padaku. Memangnya kau kira dapat menipu tuan Oh ini?"

"Siapa yang menipu kau? Apakah penyakit gilamu sudah kumat?"

Tanya Coh Liu-hiang dengan tertawa.

"Masa kau tidak dusta padaku?"

Seru Oh Thi-hoa dengan mendelik.

"Sebelum mati In Ciong-liong minta kau mewakilkan dia minum araknya, dalam cawan itu jelas ada semacam benda, mengapa kau bilang tidak ada apa-apa?"

Sementara Thio Sam sudah ganti pakaian kering pemberian Hay Koa-thian dan sedang berbaring di tempat tidur, dengan tertawa ia menyela.

"Orang sering bilang Oh Thihoa adalah manusia yang paling goblok, tadinya aku tidak percaya, tapi sekarang baru kutahu olok-olok itu memang tidak salah."

"Kentut makmu,"

Demikian damprat Oh Thi-hoa dengan gusar.

"Kau tahu apa?" .

"Dan kau? Kau tahu apa?"

Jawab Thio Sam.

"Tahu kentut. Tadi dia tidak bicara sejujurnya adalah karena Hay Koa-thian juga hadir di sana, kenapa kau jadi marah-marah begini?"

"Kenapa kalau Hay Koa-thian hadir di sana?"

Kata Oh Thihoa penasaran.

"Kukira dia bukan orang busuk, pula dia berdiri satu garis di pihak kita, mengapa kita harus mengelabui kita?"

Thio Sam menghela napas gegetun, katanya.

"Tadinya kukira kau cuma tahu kentut, hakikatnya kentut saja kau tidak tahu. Padahal Hay Koa-thian hanya membawa kau ke gudangnya yang menyimpan beberapa guci arak dan kau lantas menganggap dia sebagai sahabatmu yang sejati."

"Hm, masa aku serupa kalian, selalu curiga kepada siapa pun,"

Jengek Oh Thi-hoa.

"Jika menuruti jalan pikiran kalian, di dunia ini mana ada orang yang dapat kalian percayai?"

"Tidak ada, memang tidak ada,"

Kata Thio Sam.

"Terkadang pada diri sendiripun aku tak percaya, apalagi orang lain."

"Paling sedikit kau masih suka berterus terang, tidak seperti si kutu busuk ini,"

Jengek Oh Thi-hoa.

"Kau benar-benar percaya penuh kepada Hay Koa-thian?"

Tanya Thio Sam.

"Dia kan sudah bicara segalanya, sedikitpun tidak meraha siakan apa-apa...."

"Hm, hendak memancing ikan harus pakai umpan, darimana kau tahu ucapan Hay Koa-thian itu bukan umpan?"

"Umpan? Maksudmu dia hendak memancing? Memangnya apa yang hendak dipancing?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Dia hendak memancing keterangan kita, tentu saja dia harus bicara dulu untuk menarik perhatian kita. Padahal apa yang diucapkannya itu tidak lebih hanya dugaan saja, kalau dia dapat menduga tentu orang lain juga bisa, jadi uraiannya yang panjang lebar itu hakikatnya sama dengan nol besar,"

Tanpa menunggu tanggapan Oh Thi-hoa, segera Thio Sam menyambung.

"Mengenai keenam peti mati itu, tiada yang tahu siapa yang mengirim, bukan mustahil perbuatan Hay Koa-thian sendiri."

Tangan Oh Thi-hoa yang mencengkeram leher baju Coh Liu-hiang lantas dikendurkan, baru sekarang Coh Liu-hiang berkata dengan tertawa.

"Betul, penumpang kapal ini kan tidak tuli dan buta, jika dikatakan ada orang membawa keenam peti itu ke atas kapal tanpa diketahui siapa pun juga, rasanya hal ini tidak mungkin terjadi, hanya dia sendiri...."

"Paling tidak dia bukan pembunuh Hiang Thian-hui."

Seru Oh Thi-hoa penasaran.

"Waktu Hiang Thian-hui mati, jelas dia berada bersama kita, betul tidak?"

"Ehmm,"'Coh Liu-hiang mengangguk.

"Menurut pendapatku, kalau Kau-Cu-tiang bukan pembunuhnya, maka yang paling mencurigakan ialah Kim Leng-ci, Ting Hong dan Kongsun Jiat-ih." ' "Betul,"

Kata Coh Liu-hiang pula.

"Untuk mengangkut peti mati ke atas kapal di luar tahu orang memang tidak mudah, ketiga orang itu kan punya uang dan berpengaruh. Kata orang 'setan juga doyan duit'. Asalkan punya uang, segala apapun dapat diperbuat,"

"Tapi selain ketiga orang itu, masih ada dua orang lagi yang harus dicurigai,"

Kata Coh Liu-hiang.

"O, siapa?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Yaitu Loh Kiat dan Ci Hong yang memegang kemudi kapal,"

Kata Coh Liu-hiang.

"Dengan kepandaian mereka itu, masa mampu membunuh Hiang Thian-hui?"

"Jika hari ini mereka yang dinas kerja dan mereka berada di samping sana tentu tidak dicurigai Hiang Thian-hui, apalagi orang yang angkuh seperti Hiang Thian-hui itu pasti tidak me naruh perhatian terhadap mereka. Jika hendak membunuh Hiang Thian-hui secara diam-diam, hanya mereka itulah yang punya kesempatan dan peluang terbesar."

"Ya, lantaran mereka bukan orang penting sehingga tiada orang yang memperhatikan mereka, maka setelah melakukan keganasan, dengan leluasa mereka dapat berganti pakaian dengan waktu yang cukup singkat,"

Kata Thio Sam.

"Waktu itu Hay Koa-thian kebetulan berada bersama kita, bukan mustahil tujuannya hendak menyuruh kita menjadi saksi bahwa waktu Hiang Thian-hui terbunuh, dia tak berada di tempat, dengan demikian akan terbukti dia bukan pembunuhnya."

"Tapi inipun tak dapat membuktikan ia tak pernah menyuruh orang lain membunuh Hiang Thian-hui,"

Kata Thio Sam.

"Jika demikian, kau anggap Hay Koa-thian adalah pembunuhnya?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Aku tidak menuduh dia adalah pembunuhnya, aku Cuma bilang dia juga harus dicurigai,"

Jawab Thio Sam.

"Menurut pendapatku, orang yang paling mencurigakan ialah Kim Leng-ci,"

Jengek Oh Thi-hoa.

"Sebab apa?"

Tanya Thio Sam.

"Jika dia bukan pembunuh, mengapa mutiara besar miliknya itu bisa berada di mayat Li Tek-piau?"

Kata Oh Thihoa.

"Setiap orang patut dicurigai, kukira terlalu dini bila menentukan siapa pembunuhnya sekarang,"

Ujar Coh Liuhiang.

"Memangnya harus menunggu sampai kapan kalau tidak sekarang?"

Kata Oh Thi-hoa.

"Siapa pun pembunuhnya, membunuh orang pasti ada tujuannya,"

Kata Coh Liu-hiang.

"Maka kita harus mencari tahu lebih dahulu apa maksud tujuan si pembunuh itu."

"Ehm, betul juga,"

Ujar Oh Thi-hoa.

"Betapapun lihainya sang pelaku, setelah membunuh, sedikit banyak akan meninggalkan jejak dan tanda-tanda, maka kita menunggu sampai dia sendiri memperlihatkan ciricirinya itu."

"Maksudmu, petunjuk yang ada sekarang belum cukup dan masih harus menunggu dia membunuh beberapa orang lagi, begitu?"

Jengek Oh Thi-hoa. Coh Liu-hiang menghela napas, katanya.

"Aku cuma berharap dia hendak membunuh pula, semoga kita dapat mendahului dan membekuknya."

"Bila selanjutnya dia tidak membunuh lagi, kan kita pun tak dapat membekuk dia?"

"Jangan lupa peti mati itu masih banyak yang kosong, sebelum peti mati itu terisi penuh, tidak nanti, dia berhenti bekerja,"

Kata Coh Liu-hiang dengan tersenyum. Oh Thi-hoa berpikir sejenak, katanya.

"Jika demikian, menurut perkiraanmu, siapa sasaran kedua yang akan diincarnya?"

"Ini sukar dikatakan..., bisa jadi kau, mungkin pula aku."

"Kalau begitu, sebelum mati lekaslah kau perlihatkan padaku barang yang kau simpan itu?"

Coh Liu-hiang tertawa, katanva.

"Paling tidak orang ini punya mata maling yang tajam. Dalam cawan arak yang kuterima dari In Ciong-liong memang betul ada sesuatu benda."

"Gambar apa?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Sudah kuperiksa hingga setengah harian dan tetap tidak tahu apa arti gambar itu,"

Jawab Coh Liu-hiang sambil mengeluarkan secarik kertas.

Di atas kertas itu terlukis seekor kelelawar atau kalong di sekitar kalong ada garis melengkung, banyak pula titik-titik hitam, lalu di pojok kiri atas dilukis satu lingkaran yang bergaris-garis seperti sinar.

"Garis-garis yang melengkung ini agaknya tanda air,"

Ujar Coh Liu-hiang.

"Ehm, benar,"

Kata Thio Sam.

"Dan lingkaran ini seperti tanda matahari,"

Kata Coh Liuhiang pula.

"Betul,"

Tukas Thio Sam.

"Dan tanda apa titik-titik hitam besar dan kecil ini?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Bisa jadi.... bisa jadi sebagai tanda batu karang di tengah air...."

"Matahari, air, batu karang, adalagi seekor kalong.... apa artinya semua ini?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Dengan sendirinya gambar ini mengandung arti yang sangat mendalam, dengan sendirinya juga suatu rahasia yang maha besar, kalau tidak, masakah sebelum ajal In Ciong-liong menyerahkannya padaku dengan cara misterius?"

"Mengapa tidak dia katakan terus terang saja, malah main teka-teki begini?"

Ujar Oh Thi-hoa.

"Waktu itu tiada peluang untuk bicara baginya..."

"Betul,"

Sela Oh Tht-hoa.

"Waktu di Sam-ho-lau, aku pun merasa cara bicara In Ciong-liong agak gelagapan dan tidak pantas sebagai seorang tokoh pimpinan suatu organisasi besar...."

Belum habis ucapannya, mendadak Coh Liu-hiang melompat ke pintu, dengan cepat ia menarik daun pintu.

Dan di depan pintu ternyata berdiri satu orang.

Ternyata Kim Leng-ci adanya.

Begitu Coh Liu-hiang membuka pintu, seketika muka si nona menjadi merah, kedua tangan disembunyikan di belakang, entah apa yang dipegang, tampaknya hendak bicara, tapi urung.

Segera Oh Thi-hoa berolok-olok.

"Kita asyik mengobrol di sini, tak tersangka nona Kim telah menjadi penjaga pintu bagi kita, sungguh kita harus berterima kasih kepadanya."

Kim Leng-ci menggigit bibir, ia melengos dan melangkah pergi dengan dongkol. Tapi baru dua-tiga tindak, mendadak ia menoleh dan berseru.

"Kemari kau, Thio Sam!"

Thio Sam mengiakan sambil melompat turun dari tempat tidur.

"Ada pesan apa nona?"

Tanyanya dengan mengiring tawa.

"Budak ini sungguh penurut, jika nona Kim menyuruhnya membunuh pasti akan dilaksanakannya,"

Jengek Oh Thi-hoa. Kim Leng-ci tidak menggubris ocehannya, ia mengeluarkan sebungkus barang yang disembunyikan di belakang punggung dan berkata pula.

"Bungkusan ini hendaklah kau simpan dan jaga dengan baik."

Thio Sam menerimanya sambil mengiakan.

"Bungkusan barang ini baru kutemukan, boleh kau buka di periksa isinya, tetapi awas jangan sampai hilang, akan kupenggal kepalamu sebagai gantinya,"

Kata si nona.

"Jangan khawatir nona,"

Jawab Thio Sam pula dengan tertawa "Barang apapun, jika sudah berada padaku, biarpun maling sakti nomor satu di dunia juga jangan harap dapat mencurinya."

Kim Leng-ci mendengus, segera ia melangkah menuju kamar depan.

"blang", dengan keras ia gabrukkan pintu kamarnya.

"Di kamar kita ini memang ada seorang maling sakti nomer satu di dunia,"

Kata Oh Thi-hoa.

"Maka kau harus simpan baikbaik barang itu, awas jika kepalamu terpaksa dijadikan gantinya, kan bisa konyol."

Belum habis ucapannya, mendadak daun pintu kamar yang satu lagi terbuka, Ting Hong tampak melongok keluar, sorot matanya seperti tidak sengaja melirik sekejap pada bungkusan yang dipegang Thio Sam, lalu menyapa dengan tertawa.

"Kalian belum tidur?"

"Ting-kongcu mungkin juga seperti kami, sukar pulas bila berada di tempat baru,"

Kata Coh Liu-hiang. Mata Ting Hong tampak berkedip-kedip, lalu mendesis.

"Ada sedikit urusan yang ingin kubicarakan dengan Cohhiangswe, entah sekarang boleh tidak?"

Belum lagi Coh Liu-hiang menjawab, pintu kamar sebelah juga mendadak terbuka, yang melangkah keluar ternyata bukan Pek-lak-cek, juga bukan Kongsun Jiat-ih, tapi Kau Cutiang.

Air muka Kau Cu-tiang tampak pucat kehijau-hijauan, sinar matanya buram, koper hitam tetap dibawanya.

Ketika melihat Coh Liu-hiang dan lain-lain sama berdiri di luar pintu, seketika ia melenggong kaget.

"Kukira Kau-heng lagi pergi buang air, sedang kupikirkan akan memperkenalkan seorang tabib sakti untuk memeriksa penyakit ginjalmu,"

Kata Ting Hong. Muka Kau Cu-tiang sebentar pucat sebentar merah, jawabnya dengan tergagap.

"Aku memang pergi buang air, waktu lewat sini, tiba-tiba timbul keinginanku untuk mengobrol."

"O, kiranya Kau-heng memang kenal mereka, sungguh tak terduga olehku,"

Kata Ting Hong sambil menatap orang dengan tajam. Lalu ia melirik Coh Liu-hiang sekejap dan berkata dengan tertawa.

"Mungkin tidak tersangka oleh Cohhiangswe bukan?"

Kau Cu-tiang berdehem beberapa kali, jawabnya.

"Aku dan mereka pernah bertemu sekali dua kali saja, tidak.... tidak terlalu karib...."

Sambil bicara ia terus menyelinap masuk kamar.

"Bila Ting-heng ingin memberi petunjuk, silakan kemari saja,"

Kata Coh Liu-hiang kemudian. Ting Hong berpikir sejenak, katanya.

"Rasanya kita sudah lelah dan perlu istirahat, kita bicarakan malam nanti saja."

Segera ia menyurut ke dalam dan menutup pintu.

Pintu kamar satunya juga sudah tertutup, tapi sejauh itu Kongsun Jiat-ih dan Pek-lak-cek sama sekali tidak menongol.

Oh Thi-hoa sudah tidak tahan, belum lagi Coh Liu-hiang merapatkan pintu kamarnya segera ia menggerutu.

"Zaman ini hati manusia memang sukar diraba, tak tersangka orang macam Kau Cu-tiang juga bisa berdusta. Jelas dia kenal Kongsun Jiat-ih dan Pek-lak-cek, tapi waktu naik kapal, mereka berlagak seperti tidak saling kenal."

"Ya, dia mengaku belum pernah mengembara di dunia Kangouw, kecuali Coh Liu-hiang. tiada yang dikenalnya, kiranya semua itu dusta belaka. Orang yang dia kenal jauh lebih banyak daripada kita,"

Demikian Thio Sam menggerutu.

"Semula kukira dia benar-benar masih hijau dan tidak paham seluk-beluk dunia Kangouw, bicaranya blak-blakan, tindakannya terang-terangan, siapa tahu semua ini kedok belaka,"

Demikian Oh Thi-hoa menambahkan.

"Apa yang diperbuatnya itu sengaja diperlihatkan agar kita menaruh curiga padanya, padahal bisa jadi sebelumnya sudah bersokongkol dengan Kongsun Jiat-ih."

"He, tidak, tidak betul, harus kuperiksa ke sana,"

Seru Oh Thi-hoa sambil melonjak bangun.

"Apa yang tidak betul? Periksa apa?"

Tanya Thio Sam.

"Bukan mustahil dia pembunuhnya, Kongsun Jiat-ih dan Pek-lak-cek adalah sasaran yang kedua, bisa jadi sekarang kedua orang itu sudah mati."

Sejak tadi Coh Liu-hiang termenung, baru sekarang ia mengangguk dan buka suara.

"Sesudah Kau Cu-tiang keluar tadi, pintu kamar lantas ditutup orang dari dalam, jika orang mati apakah dapat menutup pintu?"

"Oh Thi-hoa jadi melengak mau tak mau ia pun manggutmanggut dan bergumam.

"Tampaknya akupun ketularan kalian, jadi suka curiga."

Diapandang Thio Sam sekejap, lalu berkata pula.

"Mengapa tidak kau buka bungkusannya,"

"Untuk apa mesti dibuka?"

Jawab Thio Sam.

"Dia bilang sendiri, kau boleh membuka dan melihat isinya,"

Kata Oh Thi-hoa.

"Dan kalau aku tidak mau?"

"Masa kau tidak ingin tahu apa isi bungkusan itu?"

"Akan kubuka nanti bila kau telah tidur,"

Kata Thio Sam tak acuh. Kembali Oh Thi-hoa melengak, ia tertunduk dan terdiam sejenak, mendadak dengan gerakan kilat, ia rampas bungkusan yang dipegang Thio Sam itu, serunya sambil tertawa.

"Aku bukan Coh Liu-hiang, tidak dapat mencuri, tapi dapat kurebut...."

Dengan cepat ia membuka bungkusan itu, tapi suara tertawanya lantas berhenti seketika setelah melihat isi bungkusan itu.

Kiranya cuma berisi sepotong baju.

Baju panjang belepotan darah.

Warna baju itu hijau muda, kainnya dari kwalitas yang baik, halus dan enteng, kalau dipakai tentu sangat enak.

Tapi di bagian dada baju itu banyak terciprat darah.

"Kupernah melihat baju ini,"

Kata Oh Thi-hoa.

"Dimana?"

Tanya Thio Sam.

"Tempo hari, waktu Ting Hong menyambut kedatangan Koh-bwe Taysu, baju inilah yang dipakai,"

Jawab Oh Thi-hoa. Seketika air muka Thio Sam berubah, ucapnya.

"Dan bagaimana dengan darah ini? Apakah darah Hiang Thian-hui? Masa Ting Hong adalah pembunuhnya?"

"Sejak mula memang sudah kucurigai dia,"

Kata Oh Thihoa dengan gemas.

"Tapi Kim Leng-ci sangat penurut pada setiap ucapan Ting Hong, mengapa dia sengaja mengantarkan baju berdarah ini ke tempat kita?"

Thio Sam berpikir sejenak, katanya kemudian.

"Bisa jadi dia belum tahu baju ini milik Ting Hong, mungkin...."

"Mungkin Kim Leng-ci sengaja hendak mengirim bukti,"

Tiba-tiba Oh Thi-hoa menyela.

"Mengirim bukti apa?"

Tanya Thio Sam.

"Dia tahu kita menemukan mutiara di mayat itu dan tahu pula kita mencurigainya, maka sengaja mencuri pakaian Ting Hong serta dikotori dengan darah, dengan demikian perhatian kita dapat dialihkan pada baju berdarah ini,"

Setelah mendengus, Oh Thi-hoa menyambung pula.

"Padahal seumpama kau membunuh orang dengan memakai bajuku, apa aku pembunuhnya?"

"Tapi dalam soal ini masih ada dua hal yang mencurigakan,"

Kata Coh Liu-hiang.

"Dua hal apa?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Pertama, Kim Leng-ci adalah seorang puteri keluarga terhormat, kalau disuruh membunuh orang, memang dia juga bisa membunuh, tapi jika disuruh mencuri baju orang lain, mungkin dia takkan mampu mencurinya."

"Betul, darimana dia tahu dimana baju Ting Hong disimpan dan begitu saja dapat dicurinya?"

Cepat Thio Sam menukas.

"Kedua,"

Kata Coh Liu-hiang pula.

"Jika dia ingin mengalihkan perhatian kita, dia tak akan mengantar sendiri baju ini. Orang yang menjadi pencuri, betapapun khawatir konangan."

"Apa kau kira baju ini sengaja ditaruh di tempat yang mudah terlihat oleh Kim Leng-ci, dengan begitu si nona akan menemukannya dan diantar kepada kita?"

Kata Thio Sam.

"Inipun mungkin, tapi Ting Hong juga bisa jadi pembunuhnya, setelah membunuh, karena waktunya sangat mendesak maka dia tidak sempat menyembunyikan baju berdarah ini...."

"Kau Cu-tiang kan tinggal sekamar dengan Ting Hong"

Sambung Thio Sam.

"Jika dia mau mencuri pakaian Ting Hong, kukira dapat dilakukannya dengan mudah, sebab itulah si jangkung itu semakin mencurigakan bagiku."

"Mengapa tidak kau tanya pada majikanmu darimana dia mendapatkan baju ini?"

Ujar Oh Thi-hoa. Thio Sam menggeleng, katanya.

"Aku tidak berani,bisa jadi aku akan didamprat. Jika kau kau ingin tanya boleh silakan kau tanya sendiri, masa kau tidak berani?"

Serentak Oh Thi-hoa melompat bangun, jengeknya.

"Mengapa aku tidak berani? Masa dia akan mengigitku?"

Segera ia pun menerobos keluar dan mendekati pintu kamar Kim Leng-ci.

Tapi waktu tangannya terangkat dan hendak menggedor pintu mendadak keberaniannya lenyap.

Bila membayangkan betapa Kim Leng-ci akan mendelik padanya dengan bertolak pinggang, mau tak mau ia menjadi merinding.

"Mungkin dia sudah tidur, jika aku ribut dan dia terjaga bangun, adalah pantas jika dia marah padaku, sama halnya bila orang mengacau tidurku, tentu aku pun akan marah,"

Demikian Oh Thi-hoa menimang-nimang.

Untuk mengetuk pintu kamar perempuan juga diperlukan pengetahuan yang luas, selain ada tehniknya, juga diperlukan ke-beranian.

Akhirnya Oh Thi-hoa menghela napas, gumamnya.

"Ah, toh malam nanti semua orang akan bertemu, biarlah nanti saja kutanyai dia."

Kebanyakan lelaki juga mempunyai ciri khas, yakni bilamana mereka tidak berani berbuat sesuatu, maka selalu dapat mengemukakan sesuatu alasan yang tepat, tidak nanti mengakui dirinya tak punya keberanian.

Karena itulah, akhirnya Oh Thi-hoa melangkah kembali kekamarnya.

Di dalam kamar hanya ada dua tempat tidur, karena mereka tinggal bertiga, maka ditambah tikar lagi di lantai.

Waktu Oh Thi-hoa masuk kembali ke kamarnya, kedua tempat tidur itu sudah terisi penuh.

Thia Sam tampak berbaring dengan bertumpu kaki dan sedang bergumam.

"Sungguh aneh, mengapa tak kudengar suara ketukan pintu? Jangan-jangan nyali tuan Oh kita tidal lebih besar dari pada orang lain, hanya mulutnya saja yang omong besar, pada waktunya ternyata tidak berani mengetuk pintu. Dengan mendongkol Oh Thi-hoa lantas berteriak.

"Ini tempat tidurku, mengapa kau berada di situ?"

"Tempat tidurmu?"

Thio Sam menegas dengan terbelalak.

"Siapa yang menentukan tempat tidur ini bagimu? Apakah gubernur jenderal yang menentukan?"

Oh Thi-hoa menjadi gregetan, tapi apa daya, orang berbaring seenaknya di situ. Segera ia menjengek.

"Ah, tempat tidur kabin kapal hakikatnya seperti tempat tidur anak kecil, pendek lagi sempit, lelaki gagah kekar seperti diriku ini kan lebih enak tidur di lantai."

Tapi baru saja membaringkan diri, mendadak ia melompat bangun dan berseru.

"He, kau memang terlalu, diberi satu minta dua, dikasih hati minta ampela, kenapa kau ambil bantalku?"

"Tidur di lantai kan lebih leluasa dan lebih enak, lantaran kau khawatir tak mau bangun lagi saking enaknya tidur di lantai, maka Hay Koa-thian sengaja tidak menyediakan bantal bagimu,"

Kata Thio Sam dengan tertawa. Oh Thi-hoa tambah gregetan, tiba-tiba ia mendapat akal, mendadak ia berseru dengan tertawa.

"Hahaha, kiranya kau pun serupa si kutu busuk ini, hidungmu buntu sehingga tidak mengendus bau sedap."

"Bau sedap apa?"

Tanya Thio Sam.

"Tadi aku kan duduk di atas bantal dan aku telah kentut...."

Belum habis ucapan Oh Thi-hoa, serentak Thio Sam melemparkan bantal itu ke arah Oh Thi-hoa.

"Hahaha, kiranya kau mudah kena tipu,"

Seru Oh Thi-hoa dengan tergelak-gelak.

"Jika kau omong urusan lain, mungkin aku takkan percaya,"

Kata Thio Sam.

"Tapi bicara tentang kentut, kau memang nomor satu d, dunia, kentut seratus orang mungkin tidak sebanyak kentutmu." 00ooo00 Peristiwa yang terjadi selama dua hari ini sesungguhnya teralu banyak dan dan terlalu menakutkan, pula tidak diketahui akan terjadi peristiwa ngeri apalagi. Malam ini, Oh Thi-hoa mengira dirinya tidak dapat tidur Dia pernah mendengar cerita, orang yang sukar pulas, obat paling mujarab adalah berhitung, hitunglah sebanyakbanyaknya dan akhirnya akan tertidur tanpa terasa. Karena itu Oh Thi-hoa siap berhitung seribu atau selaksa, jika tetap tak dapat pulas, maka dia akan keluar minum arak. Siapa tahu, baru saja dia berhitung sampai dua puluh tujuh sudah tertidur nyenyak. Entah sudah berselang berapa lama, ketika mendadak Oh Thi-hoa terjaga bangun oleh suara ketukan pintu yang riuh. Suara ketukan itu sangat pelan.

"tuk-tuk-tuk" , terus berbunyi, agaknya sudah terketuk agak lama. Serentak Oh Thi-hoa merangkak bangun, kepala terasa pusing dan mata sepat, sekuatnya ia membuka pintu, rasa dongkolnya akan dilampiaskan kepada orang yang mengetuk pintu. Tak tahunya, begitu pintu terbuka, ternyata tiada bayangan setan pun, apalagi bayangan manusia. Akan tetapi suara "tuk-uk-tuk"

Itu masih terdengar. Setelah menenangkan diri baru diketahui Oh Thi-hoa bahwa suara itu bukanlah suara ketukan pintu, tapi dinding papan kamar sebelah yang sedang diketuk-ketuk orang.

"Brengsek,"

Gerutu Thi-hoa.

"Entah apa yang sedang dilakukan keparat itu? Apa sengaja hendak mengacau tidur orang?"

Segera ia pun mengetuk papan dinding dengan keras dan berteriak.

"Siapa itu?"

Penghuni kamar sebelah adalah Kongsun Jiat-ih danPeklak-cek, maka yang mengetuk dinding itu pasti salah seorang diantaranya Benar juga, segera ada suara orang di kamar sebelah, Oh Thi-hoa menempelkan telinganya ke dinding barulah dapat didengarnya suara orang yaitu Kongsun Jiat-ih.

Dengan suara tertahan, Kongsun Jiat-ih sedang bertanya.

"Apakah Coh Liu-hiang di situ? Bagaimana kalau kemari untuk bicara sebentar?"

Kiranya Kongsun Jiat-ih mengetuk papan dinding hanya karena ingin mencari Coh Liu-hiang.

Selama dua hari ini setiap orang seakan-akan ingin mencari dirinya.

Tentu saja Oh Thi-hoa sangat mendongkol, selagi hendak mengomel, sekilas dilihatnya kedua tempat tidur sudah kosong, Coh Liu-hiang dan Thio Sam entah sudah mengeluyur kemana.

Dalam pada itu orang di sebelah sedang berkata pula dengan suara tertahan.

"Bisa jadi Coh Liu-hiang belum tahu siapa Cayhe, tapi...."

"Tidak perlu kau katakan juga kutahu siapa kau,"

Seru Oh Thi-hoa dongkol.

"Saat ini Coh Liu-hiang tidak berada di sini."

"Oo, kemanakah dia?"

Tanya orang di sebelah.

"Orang ini shio Tho (kelinci, lambang kelahiran), karena itulah dia suka kelayapan kian kemari, saat ini dia entah berada dimana,"

Jawab Oh Thi-hoa.

"Dan anda...."

"Aku she Oh,"

Kata Oh Thi-hoa.

"Ada urusan apa kau cari Coh Liu-hiang? Katakan saja padaku, kukira sama saja."

"Oo!"

Hanya suara itu saja yang terdengar, lalu tidak ada lanjutan lagi.

Oh Thi-hoa menunggu pula sampai sekian lama, makin dipikir semakin merasa urusan ini agak ganjil.

Kongsun Jiat-ih dan Coh Liu-hiang jelas tiada sangkut-paut apa-apa, untuk apa mendadak ia mencari Coh Liu-hiang, pula tak mau mencarinya secara terang-terangan, tapi main sembunyi seperti maling takut konangan?

Sesunguhnya ada urunan rahasia apakah yang hendak dikatakannya kepada Coh Liu-hiang.

Teringat kepada Coh Liu-hiang, Oh Thi-hoa jadi mendongkol, omelnya .

"Kutu busuk tua ini makin lama makin brengsek. Diam-diam mengeluyur pergi tanpa memberitahu padaku." 00ooo00 Sementara itu Coh Liu-hiang dan Thio Sam lagi bersandar memandangi sinar sang surya di waktu senja yang gilang gemilang.

"Sebelum kujelajahi lautan, bagiku pemandangan di sungai sudah cukup mempesona, sesudah berada di lautan lepas, barulah kutahu betapa kecilnya sungai, aku menjadi tidak ingin pulang ke sana lagi,"

Kata Thio Sam dengan gegetun.

Coh Liu-hiang tersenyum, selagi ia hendak menanggapi, tiba-tiba dilihatnya Ting Hong sedang melangkah kemari dari haluan sana dengan sikap cemas, belum lagi dekat sudah berseru.

"Apakah hari ini kalian melihat Hay-pangcu?"

"Sejak berpisah tadi pagi, sampai saat ini belum berjumpa lagi,"

Jawab Coh Liu-hiang sambil mengerut kening.

"Sudah lelah seharian, bisa jadi dia kepulasan, mengapa Ting-kongcu tidak mencarinya ke kabin bawah?"

Ujar Thio Sam.

"Sudah kucari ke sana,"

Jawab Ting Hong.

"Tempat tidurnya masih rapi dan bersih, jelas belum pernah ditiduri orang "

Apakah orang lain juga tiada yang melihat?"

Tanya Coh Liu-hiang, mau tak mau ia menjadi tertarik juga. Air muka Ting Hong tampak pucat.senyum yang ramah itu lenyap, dengan suara berat ia berkata.

"Sudah kucari kemanamana, orang terakhir yang melihat Hay-pangcu ialah Ci Hong."

"Ci Hong?"

Coh Liu-hiang menegas sambil mengernyitkan dahi.

"Ya, menurut cerita Ci Hong, katanya waktu lohor ia meli hat Hay-pangcu berdiri sendirian di haluan kapal, memandang jauh ke lautan lepas sana dengan kesima, berulang-ulang mulutnya menyebut nama-Hiang-j iya. Ci Hong menyilakan dia dahar siang juga tidak digubris. Sejak itu tiada seorang pun yang melihat dia lagi."

"Apa waktu itu tiada orang lain di atas?"

Tanya Coh Liuhiang.

"Tatkala itu kebanyakan kelasi kapal sedang makan siang di kamar masing-masing, hanya di buritan ada dua pengemudi, tiga orang sedang pasang mata,"

Setelah menghela napas, lalu Ting Hong menyambung.

"Keenam orang inipun tidak melihat Hay-pangeu di haluan kapal."

"Jangan-jangan Ci Hong berdusta."

Ujar Thio Sam.

"Kukira tiada alasan baginya untuk berdusta,"

Kata Ting Hong.

"Bisa jadi orang lain lagi sibuk sehingga tidak memperhatikan Hay-pangcu naik ke geladak, waktu Haypangcu berdiri di haluan kapal juga tidak lama."

"Habis, kemanakah dia? Apakah mungkin terjun ke laut?"

Ujar Thio Sam.

"Aku pun khawatir, jangan-jangan Hay-pangcu terlalu berduka atas kematian Hiang-jiya, karena pikiran cupet, akhirnya dia bunuh diri,"

Kata Ting Hong dengan muram.

"Tapi Hay-pangcu bukan orang yang mau bertindak demikian,"

Kata Coh Liu-hiang tegas.

"Dimana Ci Hong, ingin kutanya dia?"

"Hari ini dia tidak bertugas, saat ini sedang istirahat di dek bawah,"

Jawab Ting Hong.

"Mari kita cari dia,"

Ajak Coh Liu-hiang.

00ooo00 Dek kapal itu tidak terlalu luas, belasan orang berjubel di suatu ruanngan,dengan sendirinya keadaannya kacau balau tidak teratur kotor dan berbau.

Tempat tidur C i Hong adalah ruangan ketiga pada deretan sebelah kanan, orangnya sedang berbaring di situ, selimut menutupi kepalanya, tapi kedua kaki terjulur keluar, malahan sepatunya juga tidak dibuka, sungguh aneh cara tidurnya ini.

Agaknya saking lelahnya, begitu menjatuhkan diri di ranjang terus terpulas sehingga sepatu pun tidak keburu dilepas.

Loh Kiat juga berdiri di situ dan tidak tidur, demi mendengar Ci Hong yang dicari, segera ia berteriak untuk membangunkan kawannya itu.

Sampai sekian lama Ci Hong tetap diam saja, Loh Kiat menjadi gregetan, ia lantas mengguncang-guncang badan sang kawan, tapi sebegitu jauh tidur Ci Hong nyenyak sekali.

Loh Kiat menyengir, katanya.

"Kalau sudah minum arak, tidur orang ini lantas seperti babi mampus."

Thio Sam melirik Coh Liu-hiang sekejap, katanya dengan tertawa.

"Penyakit orang ini rupanya tidak banyak berbeda dengan Siau Oh."

Tapi tertawanya mendadak jadi membeku ketika Loh Kiat menyingkap selimut yang menutupi kepala Ci Hong.

Tampak Ci Hong telentang di tempat tidur dengan sangat tenang, namun air mukanya sangat menakutkan.

Keadaannya serupa dengan mayat yang mereka temui di depan pintu kabin.

Kaki Loh Kiat terasa lemas dan tidak sangup berdiri lagi,"bruk", ia jatuh terduduk.

Siapa pun dapat melihat bahwa orang yang telentang di tempat tidur itu bukan lagi orang hidup.

Cepat Coh Liu-hiang melompat maju, segera ia menyingkap leher baju Ci Hong.

benar saja, di depan dadanya terdapat sebuah cap tangan warna merah.

Bekas telapak tangan kiri.

Jelas Ci Hong juga telah terbunuh, menjadi korban pukulan maut pembunuh gelap itu.

"Inilah Cu-seh-ciang!"

Seru Ting Hong. Thio Sam meliriknya sekejap dan menjengek.

"Tajam be nar padangan Ting-kongcu, agaknya engkau juga pernah berlatih Cu-seh-ciang."

Sinar mata Coh Liu-hiang tampak gemerdep. katanya kemudian.

"Entah siapakah yang datang ke sini tadi?"

Loh Kiat tampak berkeringat dingin, jawabnya gemetar.

"Aku.... aku baru saja turun ke sini, waktu itu Ci Hong sudah.... sudah berada di sini dan tidur. Orang yang bekerja kasar seperti kami, bila sudah terpulas memang sukar dibangunkan."

Apa yang dikatakan Loh Kiat memang benar, Thio Sam membangunkan kesembilan orang lain yang tidur nyenyak dan ditanyai, ternyata tiada seorang pun yang tahu ada orang luar masuk ke situ.

"Tapi baru saja kan Ting-kongcu datang ke sini untuk menanyai Ci Hong, masa kalian juga tidak melihatnya?"

Tanya Coh Liu-hiang dengan hambar. Namun para kelasi itu hanya menggeleng kepala. Sikap Ting Hong tetap tenang, katanya.

"Tadi aku memang pernah datang kemari, tapi waktu itu Ci Hong masih hidup, ketika kutanyai dia. nona Kim juga hadir di sini, dia bisa menjadi saksi."

Lalu ia menyambung pula.

"Habis itu lantas aku menuju ke kamar makan untuk menanyai keenam orang yang pagi tadi bertugas di geladak, barulah kucari Coh-hiangswe dan Thio-heng, semua ini berlangsung tidak lebih dari setengah jam."

"Dan dimanakah nona Kim sekarang?"

Tanya Thio Sam.

"Nona Kim berpisah denganku di tangga geladak sana, dia ingin mencari Oh-heng, Kau-heng dan Kongsun-siansing, entah sudah bertemu belum?"

Tutur Ting Hong. Coh Liu-hiang berpikir sejenak, katanya kemudian.

"Dimanakah letak kamar makanitu?" 00ooo00 Kamar makan yang dimaksud, terletak di samping dapur, tidak luas, hanya dua meja saja sudah hampir memenuhi ruangan itu. Rupanya tidak cuma soal tidur saja sangat sederhana, cara makan kaum kelasi juga sangat bersahaja. Di atas meja makan tampak tiga buah mangkuk besar, satu mangkuk berisi Ang-sio-bak, daging babi masak saus kecap. Semangkuk lagi adalah ikan goreng sayur, mangkuk yang ketiga adalah kuah yang warnanya mirip air cuci piring. Gentong nasinya sangat besar. Rupanya soal makan di kapal memang tiada pembatasan. Maklum memerlukan tenaga kasar yang bekerja keras, maka syarat utama harus memberi makan sekenyang-kenyangnya. Sekarang isi mangkuk, yaitu lauk-pauknya, hanya tersisa sebagian saja, isi gentong nasi juga hampir kosong. Keenam orang yang sedang makan, dua mendekap di meja, dua lagi rebah di samping kursi, dua orang yang lain menggeletak di dekat pintu, semuanya sudah menjadi mayat! Luka yang mengakibatkan kematian mereka pun serupa, yaitu bekas telapak tangan warna merah. Kembali korban Cu-seh-ciang! Kedua orang yang mendekap di meja mati paling dulu, dua orang lagi tampaknya baru saja berdiri lantas dipukul terkapar di samping kursi, dua orang terakhir sempat berlari ke pintu, tapi sebelum keluar mereka pun terpukul binasa. Keenam orang ini terbunuh dalam waktu sekejap saja. Thio Sam menggreget, ucupnya gemas.

"Cepat amat kerja pembunuh ini."

"Jika demikian, tampaknya Hay-pangcu juga lebih banyak celaka dari pada selamatnya,"

Ujar Coh Liu-hiang dengan menghela napas menyesal. Ting Hong juga menghela napas panjang, ucapnya.

"Betul, saat Hay-pangcu diserang, bisa jadi Ci Hong dan keenam orang ini menyaksikan, pembunuh ini terpaksa harus membunuh mereka pula untuk menghapus saksi."

Dia menggeleng, lalu berkata pula dengan pedih.

"Bilamana tadi mau menceritakan rahasianya mungkin mereka takkan mengalami nasib malang begini. Entah cara bagaimana si pembunuh itu dapat membuat orang-orang ini tutup mulut rapat?"

"Mungkin mereka tidak sempat berbicara,"

Dengus Thio Sam sambil melirik Ting Hong, lalu katanya pula.

"Begitu Tingheng menanyai mereka segera terbunuh, apakah tidak sangat kebetulan sekali?"

Namun Ting Hong tetap tenang saja, ucapnya dengan sedih.

"Ya, jika aku tidak menanyai mereka, mungkin takkan mati secepat ini... apa yang terjadi ini hanya berlangsung kurang dari setengah jam, dalam waktu sesingkat ini, siapa gerangan yang mampu rurun tangan keji secepat ini?"

"Hm, kukira setiap orang dapat berbuat,"

Jengek Thio Sam. Gemerdep sinar mata Ting Hong, katanya.

"Dalam waktu setengah jam ini, apakah kalian pernah melihat Kongsun Jiatih dan Kau Cu-tiang? 00ooo00 Sementara itu semua orang telah berkumpul lengkap. Dengan suara lantang Oh Thi-hoa lantas berkata.

"Aku dapat menjadi saksi, sejak tadi Kau Cu-tiang terus berbicara denganku, tidak nanti dia keluar untuk membunuh orang."

"Bagaimana dengan Kongsun-siansing,"

Tanya Ting Hong.

"Kami guru dan murid juga berada dalam kamar, hal ini pun diketahui oleh Oh-heng,"

Jawab Kongsun Jiat-ih. Oh Thi-hoa menjengek, katanya.

"Betul, aku memang berbicara denganmu dari balik dinding kamar, tapi sesudah itu lalu bagaimana'"

"Sesudah itu kami tetap berada dalam kamar,"

Kata Kongsun-Jiat-ih "Kemudian datang nona Kim mencari kami.."

"Betul, waktu kucarimemang betul berada di kamarnya,"

Tutur Km Leng-ci "Tapi kemana perginya kalian pada waktu setelah aku berbicara denganmu dan sebelum nona Kim datang ke kamarmu?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Waktu luang itu kukira cukup bagimu untuk membunuh beberapa orang."

"Hakikatnya seharian kami guru dan murid tidak keluar satu langkah pun,"

Kata Kongsun Jiat-ih "Tapi Kau-heng jelas melihat kalian kaluar, lalu cara bagaimana kau akan menjelaskan?"

Jengek Oh Thi-hoa Dengan sorot mata tajam Kongsun Jiat-ih menatap Kau Cu-tiang, tanyanya sekata demi sekata.

"Bilakah kau pernah melihat kami guru dan murid keluar kamar?"

Air muka Kau Cu-tiang tampak berubah, jawabnya.

"Kudengar di luar ada suara tindakan orang, maka aku lantas melongok keluar, kebetulan dapat kulihat ada seorang sedang mendaki tangga maka kukira Kongsn-siansing adanya."

"Kiranya kau hanya 'mengira' saja dan tidak benar-benar melihat diriku,"

Dengus Kongsun Jiat-ih. Kau Cu-tiang menyengir, katanya pula.

"Waktu itu orangnya sudah hampir sampai di atas geladak, aku cuma sempat melihat kakinya, sehingga tidak dapat memastikan siapa dia."

Oh Thi-hoa melototi sekejap, terpaksa ia pun tutup mulut. Semua orang bungkam, tiada yang bicara sehingga suasana dalam kabin mirip pekuburan. Tiba-tiba terdengar suara "plung"

Sekali di luar, sejenak kemudian terdengar pula suara yang sama. Semua orang sama paham suara apa itu. Jelas para kelasi sedang mengubur para kawannya yang meninggal itu ke lautan, suara "plung-plung"

Itu meski kedengarannya sangat biasa, tapi penuh rasa seram dan mengerikan laksana suara genta neraka yang sedang memanggil calon penghuni baru.

Belum lagi lewat satu hari, di atas kepal penumpang itu sudah mati sembilan orang.

Lantas sisanya dapat hidup berapa lama lagi?

Giliran siapa berikutnya yang akan direnggut jiwanya?

Si pembunuh sudah jelas berada di dalam kabin kapal ini, tapi semua orang justru tidak tahu siapa dia.

Mestinya Coli Liu-hiang berharap akan mendapatkan sedikit petunjuk yang berharga bilamana si pembunuh melakukan terornya lagi.

siapa tahu cara kerja si pembunuh ternyata sangat licin dan bersih, kejadian berikutnya ternyata tidak meninggalkan bekas apapun juga.

Semua orang sama termangu-mangu, siapa pun tidak berani memandang orang lain, setiap orang sama was-was, khawatir kalau dituduh sebagai pembunuh, juga seolah-olah takut akan dijadikan sasaran berikutnya oleh si pembunuh.

Entah sejak kapan di atas meja sudah tersedia hidangan, ta pi tiada seorang pun yang angkat sumpit dan mulai makan.

Selang agak lama, tiba-tiba Oh Thi-hoa berkata.

"Seorang kalau belum mati, maka dia harus makan nasi...."

Dan baru saja mereka mengangkat sumpit hendak dahar, mendadak Thio Sam menjengek.

"Tetapi sesudah makan, sukar diduga siapa yang akan mati dan siapa yang tetap hidup."

Seketika Oh Thi-hoa menaruh kembali sumpitnya. Maklum, siapa pun tidak berani menjamin bahwa di dalam santapan itu tiada diberi racun. Coh Liu-hiang tersenyum hambar, ucapnya.

"Tapi kalau tidak makan tentu akan mati kelaparan, mati kelaparan tentu tidak enak, mati keracunan kukira akan lebih baik daripada mati kelaparan."

Tanpa ragu-ragu lagi segera ia angkat sumpit dan benar-benar mulai mencicipi semua santapan yang tersedia, lalu arak diminumnya pula seteguk.

"Bagus, Coh-hiangswe memang benar-benar gagah perkasa dan tidak bernama kosong,"

Puji Kau Cu-tiang. Oh Thi-hoa tertawa, katanya.

"Jika kau kira dia berani mati, maka keliru besar kau. Dia hanya mempunyai semacam kepandaian khas, yakni dapat membedakan di dalam makanan ada racunnya atau tidak, malahan aku pun tahu darimana dia mendapatkan kepandaiannya khas itu."

Kongsun Jiat-ih menghela napas gegetun, katanya.

"Bisa berada bersama Coh-hiangswe, sungguh sangat beruntung."

"Jika kau pembunuhnya, mungkin takkan merasa beruntung lagi, tapi akan merasa sial,"

Jengek Oh Thi-hoa.

Kongsun Jiat-ih tidak menggubris, dia angkat cawan arak sendiri dan menegaknya hingga habis Siapa pun tidak tahu mengapa hari in, Oh Thi-hoa selalu mencari perkara kepada Kongsun Jiat-ih.

Tapi setelah menghabiskan beberapa cawan arak, perasaan setiap orang telah bertambah lebih tenang.

Tiba-tiba Ting Hong berkata.

"Keadaan luar biasa, kukira kita jangan minum terlalu banyak, meski nona Kim dan Ohheng sudah berjanji akan adu minum arak, kukira lebih baik ditunda pula sementara, apabila salah seorang di antara kalian sampai mabuk, urusan mungkin bisa runyam."

Mendingan kalau dia tidak menyinggung soal ini, begitu dikemukakan, seketika Kim Leng-ci tidak tahan, segera ia menjengek.

"Minum sekarang atau ditunda tidak menjadi soal bagiku, yang pasti, yang bakal mabuk pasti bukan diriku."

Tentu saja Oh Thi-hoa penasaran, ia pun mendengus.

"Memangnya aku yang bakal mabuk?"

Kim Leng-ci tidak omong lagi, segera ia berteriak.

"Bawakan poci arak...." 00ooo00 Orang yang sudah beberapa tahun berkecimpung di dunia Kangouw tentu tahu beberapa macam orang yang paling sulit dilayani, kalau bisa menyingkir sejauh-jauhnya. Orang-orang yang dimaksud, pertama ialah kaum Su-seng atau orang sekolahan yang kelihatan lemah lembut. Kedua, kaum Hwesio atau Tosu. Ketiga, kaum kakek-kakek berusia lanjut. Masih ada lagi yang paling sulit dihadapi ialah perempuan. Beberapa macam orang itu, bilamana berani berkecimpung di dunia Kangouw, tentu mempunyai kepandaian andalan. Pengalaman tempur Oh Thi-hoa sangat luas, sudah tentu ia cukup tahu apa yang disebut tadi. Akan tetapi dalam hal minum arak memang lain, betapapun kuatnya orang minum, jika sudah berusia lanjut, kekuatan minumnya pasti akan mundur. Apalagi perempuan, karena fisik dan juga kondisi lain, kekuatan minum araknya tentu tak dapat dibandingkan dengan lelaki. Pengalaman minum arak Oh Thi-hoa juga sangat banyak, tentu ia paham segala seluk-beluk minum arak, dia tidak gentar berlomba minum arak dengan perempuan atau kakekkakek. Tapi urusan apapun di dunia kadang ada kecualinya. Seperti adu minum arak sekarang, begitu Kim Leng-ci baru menghabiskan cawan arak pertama, segera Oh Thi-hoa menyadari dirinya telah terperangkap. Di dunia Kangouw terkenal pameo yang mengatakan, 'Sekali seorang ahli begerak, segera akan diketahui berisi atau tidak'. Pameo inipun cocok untuk melukiskan orang minum arak. Bagi orang yang sudah berpengalaman, cukup melihat caranya memegang cawan arak dapat dinilai kuat dan tidaknya minum arak. Seorang yang kuat minum, caranya memegang cawan sedemikian luwesnya dan enteng. Sebaliknya orang yang tidak sanggup minum, memegang cawan arak kecil saja rasanya seperti memegang benda beratus kati beratnya. Cuma apapun juga Kim Leng-ci tetap seoang perempuan, caranya minum arak tetap juga menggunakan cawan. Berbeda dengan Oh Thi-hoa, dia tidak sehalus itu. Dia angkat poci arak, corong poci menghadap mulut terus dituang begitu saja. Di depan perempuan, mati pun Oh Thi-hoa tak mau unjuk kelemahan. Belum lagi Kim Leng-ci menghabiskan isi poci pertama, Oh Thi-hoa sudah menghabiskan dua poci arak. Kau Cu-tiang berkeplok tertawa.

"Kekuatan minum Ohheng benar-benar hebat, melulu soal kecepatan saja sukar ditandingi oleh siapa pun juga."

Air muka Oh thi-hoa tak berubah sedikitpun, ia melirik Kim Leng-ci sekejap, lalu bergelak tertawa, katanya.

"Mengadu minum arak harus juga dilakukan dengan cepat, jika cara perlahan-lahan, satu poci baru habis selama tiga hari tiga malam, cara demikian biarpun anak kecil umur tiga juga bisa."

Kim Leng-ci balas menjengek.

"Hm, apa gunanya cepat, jika akhirnya toh mabuk, apakah terhitung hebat? Kalau mengadu mabuk, setiap orang pun mampu menenggak beberapa poci.....Betul tidak, Thio Sam?"

"Betul, sangat betul,"

Jawab Thio Sam cepat...

"Ada sementara orang orang sebenarnya tidak kuat minum, yang ada padanya cuma keberanian untuk mabuk. Kalau toh harus mabuk, biarpun menenggak sepuluh poci juga tidak soal. Padahal orang kalau sudah hampir mabuk, arak yang masuk mulutnya akan terasa cemplang seperti air putih, sedikitpun tiada rasanya. Maka minum banyak tidak terhitung kepandaian sejati, yang hebat ialah banyak minum tapi tidak mabuk."

"Hm, kalau benar aku sampai mabuk, maka kau yang pertama-tama harus hati-hati,"

Kata Oh Thi-hoa menarik muka.

"Aku perlu hati-hati apa?"

Jawab Thio Sam.

"Bila penyakit gila arakku sudah kumat, maka aku menjadi benci kepada kaum penjilat pantat seperti halnya kalau kulihat kutu busuk, satu per satu pasti akan kupites hingga mampus,"

Kata Oh Thi-hoa. Tiba-tiba ia tertawa terhadap Coh Liu-hiang dan menambahkan.

"Tapi kau tidak perlu khawatir, meski kau ini kutu busuk tua, tapi kau tidak pintar menjilat."

Coh Liu-hiang sedang bicara dengan Ting Hong, sama sekali ia tidak memperhatikan apa yang dikatakan Oh Thi-hoa. Thio Sam menghela napas, gumamnya.

"Wah, orang ini belum lagi mabuk, tapi sudah sembarangan menggigit orang seperti anjing gila. Jika benar mabuk, semua orang perlu hatihati sedikit." 00ooo00 Saat itu Ting Hong berduduk di samping Coh Liu-hiang dan sedang membisikinya.

"Apa yang dikatakan nona Kim itu memang beralasan. Cara minum seperti Oh-heng itu sesungguhnya sukar terhindar dari mabuk."

Coh Liu-hiang tersenyum, katanya.

"Tidak heran jika dia mabuk, kalau tidak mabuk barulah mengherankan."

"Tapi sekarang kan bukan waktunya minum arak, mengapa Coh-heng tidak menasehati dia?"

Kata Ting Hong.

"Apabila sudah minum arak, orang ini lupa daratan, tidak kenal sanak tidak peduli kadang, siapa pula yang dapat menasehati dia?"

Ujar Coh Liu-hiang menyesal. Lalu ia tertawa dan menatap Ting Hong, katanya.

"Apalagi kebanyakan orang di sini kan sedang menunggu dan ingin melihat bagaimana keadaannya sesudah mabuk, untuk apa kunasehati dia?"

Ting Hong terdiam sejenak, katanya kemudian.

"Janganjangan Coh-heng juga menganggap aku sedang menunggu dirinya mabuk?"

Coh Liu-hiang menjawab dengan hambar.

"Jika tadi Tingheng tidak menyinggung hal janji mereka, tentu sekarang mereka tidak perlu berlomba minum arak segala. Dan kalau sudah mengadu minum, mana bisa tidak mabuk?"

"Tapi.... tapi maksudku tadi kan menasehati mereka agar menunda janji mereka..."

"Mending bila Ting-heng tidak menasehati mereka, sekali menyinggung malah mengingatkan mereka,"

Kata Coh Liuhiang tertawa.

"Ting-heng sudah dua-tiga hari bergaul dengannya, masa belum tahu wataknya yang kepala batu dan bandel seperti keledai, ditarik tidak mau jalan, dihalau malah mundur."

Ting Hong terdiam sejenak, ia menghela napas panjang, katanya dengan tersenyum getir.

"Mungkin sampai saat ini Coh-heng masih salah sangka pada diriku, tapi cepat atau lambat pada akhirnya Coh-hengpasti paham akan kepribadianku....."

Mendadak Coh Liu-hiang memotong ucapannya, serunya.

"Hey, Thio Sam, mengapa benda itu tidak kau perlihatkan kepada Ting-heng?"

"Ya, kurena asyik menyaksikan mereka berlomba minum hingga hampir kulupakan urusan yang lebih penting,"

Kata Thio Sam dengan tertawa.

Sembari bicara ia terus menuju ke kamar kabin sana.

Gemerdep sinar mata Ting Hong, ia coba bertanya "Coh heng ingin memperlihatkan benda apa padaku'" ' "Barang ini memang sangat hebat, siapa saja yang menerimanya seketika rahasia hatinya akan diketahui oleh orang lain,"

Jawab Coh Liu-hiang. Ting Hong tertawa, katanya.

"Wah, jika begitu, janganjangan barang ini punya daya tarik sebangsa kekuatan gaib?"

"Ya, memang rada-rada gaib,"

Jawab Coh Liu-hiang.

Meski Ting Hong masih berlagak tertawa, tapi tertawanya tampak sangat dipaksakan.

Sementara itu Thio Sam muncul kembali dengan membawa sebuah bungkusan, tidak diserahkan kepada Ting Hong, tapi kepada Coh Liu-hiang.

Sambil memegang bungkusan itu, dengan tajam Coh Liuhiang menatapTing Hong, katanya sekata demi sekata.

"Apabila Ting-heng merasa mempunyai sesuatu isi hati yang tidak ingin diketahui orang lain, kukira lebih baik jangan menerima bungkusan ini."

Ting Hong tersenyum, katanya.

"Dengan ucapan Coh-heng ini, apakah diriku dianggap mempunyai sesuatu rahasia yang tidak boleh diketahui orang lain?"

Coh Liu-hiang hanya tersenyum saja tanpa menjawab, pelahan ia menyodorkan bungkusan itu kepada Ting Hong.

Tadinya semua orang tertarik pada adu minum arak antara Kim Leng-ci melawan Oh Thi-hoa, tapi sekarang pandangan semua orang lantas beralih ke sebelah sini, terkecuali Kim Leng-ci dan Oh Thi-hoa berdua.

Mereka sudah terpengaruh alkohol, kini selain arak, tiada urusan lain yang bisa menarik bagi mereka.

Akhirnya Ting Hong menerima bungkusan yang disodorkan oleh Cdh Liu-hiang.

Ia pun menjulurkan tangannya dengan sangat perlahan, seakan akan khawatir dari dalam bungkusan itu mendadak menerobos keluar seekor ular berbisa dan memagut tangannya.

Semua orang juga heran dan sangat tertarik, tiada yang tahu apa isi bungkusan itu dan misteri apa yang terkandung di dalamnya.

Padahal tidak ada sesuatu keanehan yang terdapat pada bungkusan ini.

Setelah memegang bungkusan itu, Ting Hong tertawa, katanya.

"Sekarang apakah Coh-heng telah dapat melihat sesuatu rahasia pada diriku?"

"Sedikit banyak sudah kulihat,"

Jawab Coh Liu-hiang.

"Oo?Apa yang terlihat olehmu?"

Tanya Ting Hong. Mencorong terang sinar mata Coh Liu-hiang, jawabnya.

"Sudah kulihat sekarang bahwa Ting-heng biasa menggunakan tangan kiri."

Ting Hong tetap tenang-tenang saja, jawabnya dengan tertawa.

"Betul, waktu masih kecil, aku memang kidal, makan atau menulis suka pakai tangan kiri, sebab itulah sering aku dimarahi ayahku. Sesudah dewasa barulah kebiasaan itu agak berubah, tapi masih sering juga tanpa terasa kugunakan tangan kiri."

"Jika demkian, tangan kiri Ting-heng sama lincahnya dengan tangan kananmu?"

Tanya Coh Liu-hiang pula.

"Mungkin malah lebih lincah daripada tangan kanan,"

Ujar Ting Hong. Coh Liu-hiang tertawa, katanya.

"Seharusnya rahasia ini tidak pantas Ting-heng katakan."

"Ini kan bukan suatu rahasia yang maha penting, kenapa tidak boleh kukatakan?"

"Tapi menurut pendapatku, rahasia ini sangat penting,"

Kata Coh Liu-hiang sungguh-sungguh.

"Oo? Penting bagaimana?"

Tanya Ting Hong.

"Coba, bila orang lain tahu tangan kiri Ting-heng terlebih lincah dari pada tangan kanan, kelak jika bergebrak degan Ting-heng, tentu orang itu akan berhati-hati terhada tangan kirimu,"

Ujar Coh l.iu-hiang.

"Pendapat Coh-heng memang benar,"kata Ting Hong.

"Untung Cayhe tiada maksud bergebrak dengan kalian, kalau tidak Cayhe bisa benar-benar rugi."

"Itupun belum tentu "

Tiba-tiba Thio Sam menyela.

"Kalau Ting-kongcu juga dapat membinasakan orang dengan tangan kanan, bila orang lain hanya berhati-hati terhadap tangan kiri Ting-kongcu, kan sama saja?"

Air muka Ting Hong tetap tidak berubah, ia tertawa dan berkata.

"Apakah Thio-heng menganggap Cayhe telah benyak membunuh orang?"

"Hm, maksudku adalah membunuh orang dengan dua tangan kan jauh lebih leluasa daripada satu tangan dan juga lebih cepat,"

Jengek Thio Sam. Dengan tersenyum Ting Hong menjawab.

"Jika demikian orang yang bertiga tangan kan lebih leluasa membunuh orang?"

Seketika Thio Sam tidak sanggup menjawab lagi.

'Orang bertiga tangan' artinya pencopet atau pencuri.

Sekalipun Thio Sam tahu Ting Hong sengaja memakinya sebagai 'pencopet', terpaksa ia cuma dapat mendengarkan saja.

Maklum, seorang bila pernah berbuat sesuatu yang memalukan, biarpun dicaci maki selama hidup terpaksa hanya dapat mendengarkan saja dan tidak berani menjawab.

Untung Ting Hong tidak berolok-olok lebih lanjut, sambil memegangi bungkusan itu, ia bertanya.

"Apakah Coh-heng melihat sesuatu rahasia lain lagi pada diriku?"

"Ada satu lagi, yakni terletak pada isi bungkusan ini, mengapa Ting-heng tidak membukanya?"

Jawab Coh Liuhiang.

"Baik, Cayhe memang berniat membuka,"

Kata Ting Hong.

Sesudah bungkusan dibuka, air muka Ting Hong berubah.

Isi bungkusan itu adalah baju berlepotan darah yang ditemukan Kim Leng-ci..Sorot mata CohLiu-hiang tidak pernah meninggalkan muka Ting Hong.

Dengan suara berat ia lantas bertanya.

"Apakah Ting-heng tahu baju ini milik siapa?"

"Sudah tentu tahu, baju ini milikku,"

Jawab Ting Hong.

"Darah yang mengotori baju ini, juga darah Ting-heng?"

"Cayhe tidak terluka, darimana bisa mengucurkan darah?"

Jawab Ting Hong. Kau Cu-tiang mendengus, katanya.

"Hm, darah orang lain mana bisa mengotori baju Ting-heng, ini benar-benar aneh?"

"Apakah bukan Kau-heng sendiri yang kurang pengetahuan dan banyak heran?"

Jengek Ting Hong.

"Kurang pengetahuan dan banyak heran apa?"

Kau Cutiang menegas.

"Jika ada orang ingin menfitnah diriku, lalu mencuri bajuku dan digunakan untuk membunuh orang, kejadian ini kan biasa, mengapa mesti diherankan? Apalagi...."

Ting Hong mendengus, lalu menyambung pula.

"Bila orang itu bertempat tinggal satu kamar denganku apa sukarnya jika mau mencuri pakaianku? Kan seperti mengambil barang di saku sendiri dan sama sekali tidak perlu diherankan."

Kau Cu-tiang menjadi gusar, jawabnya.

"Kau berbuat sendiri, tapi malah memfitnah orag lain?"

"Yang memfitnah mungkin bukan diriku, tapi anda sendiri,"

Jawab Ting Hong. Serentak Kau Cu-tiang berbangkit, sorot matanya membara saking murkanya. Namun Ting Hong tetap tenang, jengeknya pula.

"Apakah kau juga bermaksud mengotori baju ini dengan darahku?"

Sekonyong-konyong Kongsun Jiat-ih menyela dengan tertawa.

"Ah, kukira Ting-kongcu terlalu jauh berprasangka, Kau-heng berdiri karena ingin menyuguh satu cawan arak kepada Ting-kongcu."

Dia memandang Kau Cu-tiang dengan melotot dan berkata pula.

"Begitu bukan?"

Kau Cu-tiang menatap tajam pada Kongsun Jiat-ih dengan muka sebentar pucat sebentar hijau, mendadak ia mengakak dua tiga kali dan berkata.

"Haha, betul, memang begitu maksudku, tak tersangka Kongsun-siansing sudah tahu isi hatiku "

Lalu ia benar-benar ia mengangkat cawan kepada Ting Hong dan berkata.

"Mari silakan!"

Gemerdep sinar mata tajam Ting Hong memandang Kongsun Jiat-ih, lalu pandang Kau-Cu-tiang, akhirnya ia pun angkat cawan dan menenggaknya hingga habis, ucapnya dengan tersenyum.

"Padahal darah yang mengotori baju ini juga belum pasti darah Hiang Thian-hui, bisa jadi darah babi atau anjing untuk apa kita mesti merecoki hal yang belum pasti dan merusak persahabatan sendiri?"

Bicara sampai di sini, mendadak tubuhnya bergetar, kulit mukanya tampak berkerut-kerut "He, ada apa?"

Tanya Coh Liu-hiang khawatir. Sekujur badan Ting Hong tampak menggigil, ucapnya dengan parau.

"Di.... di dalam arak ber.... ber...."

Belum lagi kata "beracun"

Terucapkan, tahu-tahu ia sudah roboh terkapar.

Hanya dalam sekejap, muka Ting Hong dari pucat berubah menjadi kehijau-hijauan, lalu berubah lagi jadi kehitamhitaman, darah pun merembes dari mulutnya, darah berwarna hitam.

Terlihat sorot matanya yang penuh rasa dendam dan benci, ia mendelik kepada Kau Cu-tiang dan berteriak dengan bengis.

"Kau.... kau kejam amat!"

Kau Cu-tiang jadi terkesima, saking kagetnya sehingga tidak sanggup bersuara. Cepat Coh Liu-hiang menutuk beberapa Hiat-to penting di sekitar jantung Ting Hong, katanya.

"Sabar Ting-heng, asalkan racun tidak menyerang jantung, pasti akan tertolong."

Ting Hong menggeleng, ia tersenyum pedih, ucapnya.

"Ter .... terlambat, sudah.... sudah terlambat, meski kutahu peristiwa ini cepat atau lambat akan terjadi, tak tersangka tetap sukar ter-hindar dari kekejiannya..."

Suaranya mulai samar, setelah ganti napas, ia menyambung pula.

"Budi luhur Hiangswe terkenal di seluruh dunia, ku.... kumohon Cohhiangswe suka "

Jangan khawatir Ting-heng,"

Kata Coh Liu-hiang. ''Kalau pembunuh itu jelas berada di kapal ini, tidak nanti kubiarkan dia lolos dari tuntutan keadilan."

"Ini bukan soal,"

Ujar Ting Hong dengan sedih.

"Seorang kalau sudah dekat ajal, terhadap urusan apapun akan dipandang hambar. Hanya saja.... hanya saja di rumah aku masih punya ibu yang sudah lanjut usia, aku tak dapat menunaikan baktiku lagi kepada orangtua, maka kumohon Coh-heng sudi membawa abu tulangku ke rumah...."

Sampai di sini tenggorokan terasa tersumbat dan tak sanggup meneruskan lagi. Coh Liu-hiang menjadi terharu dan ikut berduka, katanya.

"Maksudmu sudah kupahami, pesanmu pasti kulaksanakan."

Ting Hong mengangguk perlahan, seperti mau tertawa, tapi belum lagi tersimpul terpejamlah matanya, senyum yang simpatik itu takkan terlihat lagi untuk selamanya.

Coh Liu-hiang termenung sejenak, perlahan-lahan sorot matanya beralih ke arah Kau Cu-tiang.

Pandangan setiap orang sekarang sama tertuju kepada si jangkung itu.

Muka Kau Cu-tiang tampak pucat seperti mayat, keringat membasahi jidatnya.

Mendadak ia berteriak histeris.

"Bukan aku, yang meracuni dia bukan diriku!"

"Tiada orang yang mengatakan kau yang meracuni dia,"

Jengek Kongsun Jiat-ih.

"Aku pun tidak ingin menyuguh arak padanya, tapi kau yang menghendaki kusuguh arak padanya,"

Kata Kau Cu-tiang Kembali Kongsun Jiat-ih menjengek.

"Dia sudah minum beberapa cawan dan tidak keracunan, biarpun tanganku bertambah panjang juga tak dapat menaruh racun dalam cawannya."

"Habis, apakah aku yang menaruh racun di cawannya?"

Kata Kau-Cu-tiang.

"Sekian banyak orang menyaksikan sendiri, mungkinkah kutaruh racun di cawannya? Dia snediri kan juga bukan orang bura?"

Coh Liu-hiang mengambil cawan arak Ting Hong itu, tibatiba ia menghela napas, katanya.

"Kalian sama-sama tidak menaruh racun, sebab memang tiada seorang pun dapat menaruh racun di cawan ini."

"Tapi arak di dalam poci kan juga tidak beracun, kalau beracun, tentu kita pun sudah mampus keracunan,"

Kata Thio Sam.

"Betul, hanya arak secawan terakhir yang diminumnya ini yang beracun, tapi racun tidak tertaruh di dalam arak,"

Ujar Coh Liu-hiang.

"Tidak di dalam arak? Habis tertaruh dimana racunnya?"tanya Thio Sam.

"Pada cawannya,"

Tutur Coh Liu-hiang. Perlahan-lahan ia menaruh kembali cawan itu, lalu menyambung.

"Ada orang memoles racun yang sangat keras di dalam cawan ini. Sebabnya Ting Hong tidak keracunan meski sudah minum beberapa cawan arak, soalnya waktu itu cairan racunnya belum lagi larut."

Baru sekarang Kau Cu-tiang menghela napas lega, gumamnya.

"Untung Coh-hiangswe hadir di sini, memang mujur benar dapat berada bersama Coh Liu-hiang."

"Tapi, apapun juga kan ada seorang yang menaruh racun,"

Kata Kongsun Jiat-ih.

"Nah, siapakah gerangan orang ini?"

"Setiap orang tahu cawan arak berada di dapur, siapa pun takkan menaruh perhatian pada cawan arak kosong."

Tutur Coh Liu-hiang.

"Adalah sangat mudah bagi siapa pun yang ingin memoles racun di cawan arak."

"Akan tetapi.... dari.... darimana si pembunuh itu tahu cawan arak beracun ini pasti akan dipakai oleh Ting Hong?"

Tanya Kau Cu-tiang.

"Dia memang tidak tahu, dia juga tidak peduli.... cawan arak beracun ini akan digunakan siapa pun, bagi si pembunuh itu sama saja,"

Kata Coh Liu-hiang. Kau Cu-tiang berpikir sejenak, ucapnya kemudian dengan menyengir.

"Ya, memang betul, menurut pandangannya kita ini cepat atau lambat toh harus mati semua, siapa yang akan mati lebih dahulu tiada bedanya baginya."

Thio Sam jemput baju berdarah itu dan ditutupkan pada muka Ting Hong, gumamnya.

"Sepuluh orang menumpang ka pal, sekarang telah mati tiga, berikutnya entah giliran siapa?"

Sekonyong-konyong terdengar suara "bluk", tahu-tahu Oh Thi-hoa jatuh terkulai berikut kursinya.

Namun robohnya bukan karena mati keracunan melainkan cuma mabuk saja.

00ooo00 Beberapa orang yang mati lebih dahulu itu jelas terkena pukulan Cu-seh-ciang, dan orang yang paling mungkin pernah berlatih Cu-seh-ciang adalah Ting Hong.

Orang yang sekaligus dapat menggunakan tangan kanan dan kiri dengan sama lincahnya ialah Ting Hong.

Orang yang mempunyai kesempatan paling banyak untuk membunuh orang ialah Ting Hong.

Baju berdarah itupun milik Ting Hong.

Si pembunuh itu hakikatnya tiada lain ialah Ting Hong.

Tapi sekarang Ting Hong justru mati keracunan....

00ooo00 Oh Thi-hoa berbaring di tempat tidur seperti babi mampus.

Satu-satunya perbedaan dengan babi mampus adalah babi tidak mengorok, sedangkan suara ngoroknya justru menggelegar seperti bunyi guntur dan dapat terdengar dari jarak jauh.

Thio Sam kucek-kucek telinganya sambil menggeleng, katanya dengan tertawa.

"Waktu orang ini ambruk tadi, kukira dia yang menjadi giliran berikutnya, sungguh aku terkejut."

Coh Liu-hiang tertawa, ucapnya.

"Sudah kuketahui sebelumnya dia takkan mati. Orang baik tidak panjang umur, kejahatan hidup sepanjang masa, masa kau tak pernah dengar pameo ini?"

Thio Sam tertawa, katanya.

"Meski tak terpikir olehku dia takkan mati, tapi juga tak terpikir olehku dia akan mabuk secepat ini, lebih-lebih tak terpikir olehku bahwa cara minum arak nona Kim itu memang hebat."

"Apakah kau kira dia tidak mabuk?"

Tanya Coh Liu hiang.

"Sampai nyawa Ting Hong amblas tak diketahuinya, malahan dia berulang-ulang menanyakan Ting Hong dan menyuruhnya menjadi juri."

"Sungguh bukan waktu yang tepat mabuknya kedua orang ini,"

Ujar Thio Sam dengan gegetun "Hah, keliru kau,"

Kata Coh Liu-hiang.

"Justru sangat tepat yang dia pilih untuk mabuk ini."

"Memangnya kenapa?"

Tanya Thio Sam.

"Karena dia mabuk, maka urusan apapun tidak perlu dirisaukan lagi, si pembunuh juga pasti takkan mencari dia, sebab dia tahu kita pasti akan berjaga di sampingnya."

"Hahaha, betul juga,"

Thio Sam jadi tertawa geli.

"Kukira dia ini orang tolol, padahal sebenarnya dia jauh lebih pintar dari siapa pun."

"Anehnya, orang yang pantas mati justru tidak mati, orang yang tidak seharusnya mati justru malah mati."

"Maksudnya Ting Hong tidak seharusnya mati?"

"Setelah kurenungkan, hanya dia saja yang harus dicurigai, pula cuma dia saja yang punya alasan untuk membunuh orang."

"Alasan? Alasan bagaimana?"

Tanya Thio Sam.

"Tanpa alasan, tentu tidak perlu membunuh orang,"

"Habis, apa alasan Ting Hong?"

"Dia tidak ingin kita menemukan gua emas di lautan sana."

"Jika dia tidak ingin begitu, mengapa mengundang orangorang ini ke atas kapal?"

"Sebab dia tahu, orang-orang ada kemungkinan dapat menemukan tempat itu, maka dia sengaja mengumpulkan mereka di suatu tempat begini, lalu satu per satu dibereskan olehnya."

"Dan sekarang dia sendiri malah mati lebih dulu,"

Kata Thio Sam.

"Makanya, kubilang apa yang kita percakapkan ini sama dengan kentut, omong kosong belaka."

Thio Sam termenung sejenak, katanya kemudian.

"Selain Ting Hong. apakah tidak ada orang lain yang mempunyai alasan membunuh?"

"Alasan membunuh orang ada beberapa macam, kebanyak an terdorong karena cinta, harta, dendam, ada juga yang sengaja membunuh untuk melenyapkan saksi. Kukira alasan Ting Hong adalah jenis yang terakhir ini,"

Coh Liuhiang merandek sejenak, lalu menyambung pula.

"Sekarang Ting Hong sudah mati, dasar ini tidak dapat digunakan lagi. Sebab orang-orang ini tidak saling kenal satu sama lain, siapa pun tidak tahu rahasia orang lain, ini suatu bukti tujuan si pembunuh pasti bukan untuk menghilangkan saksi."

"Habis, apa tujuannya? Karena cinta? Ini tidak mungkin, orang-orang ini kan tidak pernah merebut kekasih orang lain. Demi harta, inipun tidak mungkin, selain Kongsun Jiat-ih, yang lain jelas orang miskin."

Setelah berpikir sejenak, lalu dia menyambung pula.

"Meski Kim Leng-ci dan Hay Koa-thian terhitung orang kaya, tapi mereka kan tidak selalu membawa harta benda, umpama mereka dibunuh, apa pula yang bisa diperoleh si pembunuh?"

"Betul, Setelah kupikirkan, kecuali Ting Hong, hakikatnya tiada seorang pun yang mempunyai alasan membunuh orang, maka Ting Hong kupastikan sebagai pembunuhnya,"

Kata Coh Liu-hiang.

"Dan bagaimana dengan Kongsun Jiat-ih? Sampai sekarang tetap kuragukan asal-usul orang ini,"

Ujar Thio Sam. Coh Liu-hiang berpikir sejenak, lalu berkata.

"Di antara kesepuluh orang, bisa jadi ada satu-dua orang di antaranya yang bermusuhan dengannya, tapi sama sekali tiada alasan baginya untuk membunuh orang-orang ini."

"Namun bukti terpampang jelas, si pembunuhnya jika bukan dia tentulah Kau Cu-tiang, malahan dia harus lebih dicurigai daripada Kongsun Jiat-ih,"

Kata Thio Sam.

Saat pintu dibuka, yang muncul ternyala Kongsun Jiat-ih.

Dalam kamar sudah dinyalakan 1ampu, sinar mata Kongsun Jiat-ih seperti membawa semacam senyuman yang aneh, dia pandang Coh Liu-hiang dan berkata.

"Ada suatu urusan yang akan kubicarakan dengan Coh-hiangswe "

"Oo? Urusan apa?"

Tanya Coh Liu-hiang "Kedatanganku ke Kanglam ini kecuali ingin mencari gua emas di luar lautan, tujuanku juga ingin mencari satu orang,"

Tutur Kongsun Jiat-ih.

"Oo?"

Kembali Coh Liu-hiang bersuara singkat Sebelum paham tujuan pembicaraan pihak lawan, biasanya Coh Liuhiang memang tidak suka banyak omong.

"Sudah cukup lama kuselidiki orang ini dan sebegitu jauh tiada mendapatkan sesuatu keterangan, baru kemarin kuketahui dia berada di atas kapal ini,"

Tutur Kongsun Jiat-ih pula. Setelah berpikir sejenak, Coh Liu-hiang berkata.

"Yang kau maksudkan jangan-jangan Kau Cu-tiang?"

"Betul, memang dia,"

Kata Kongsun Jiat-ih.

"Sebenarnya dia itu orang macam apa? Apakah ada permusuhan lama denganmu?"

Sela Thio Sam.

"Sebelum ini, Cayhe sendiri tidak pernah melihat dia. darimana bisa ada permusuhan segala?"

Jawab Kongsun Jiatih.

"Habis untuk apa engkau mencari dia dengan susah payah?"

Tanya Thio Sam. Kongsun Jiat-ih tertawa, sikapnya tampak sangat senang, katanya.

"Sampai saat ini, apakah Hiangswe belum lagi dapat mengenali diriku?"

Coh Liu-hiang memandangnya lekat-lekat perlahan matanya bercahaya, katanya.

"Jangan-jangan engkau ini....."

Belum lanjut ucapannya, sekonyong-konyong terdengar jeritan ngeri di luar, itulah suara Kau Cu-tiang.

ritan ngeri di luar, itulah suara Kau Cu-tiang.

Kongsun Jiat-ih segera mendahului menerjang keluar.

Kau Cu-tiang tampak berdiri di bawah tangga sana dengan penuh rasa terkejut, lengan kirinya berlumuran darah, malahan sebilah belati menancap di bahunya.

"Cara bagaimana Kau-heng bisa terluka?"

Tanya Coh Liuhiang sambil mengerut dahi. Tangan kanan Kau Cu-tiang tetap membawa koper hitam itu dengan napas agak memburu ia menjawab.

"Baru saja aku turun sampai di sini, tiba-tiba belati ini menyambar, cepat lagi jitu. Untung cukup cepat aku berkelit kalau tidak, mungkin tengorokanku sudah tertembus oleh belati ini..."

"Siapa penyerangnya? Kau-heng melihatnya? tanya Coh Liu-hiang.

"Karena serangan tidak terduga. aku terkejut, kulihat bayangan orang berkelebat, ingin mengejar sudah tidak keburu lagi,"

Jawab Kau Cu-tiang.

"Ke arah mana larinya orang itu?"

Tanya Coh Liu-hiang.

Kau Cu-tiang melirik Kongsun Jiat-ih sekejap dan tidak menjawab.

Padahal dia memang tidak perlu menjelaskan.

Sebab orang yang berdiri di kapal sekarang, kecuali Coh Liu-hiang dan Oh Thi-hoa, yang mampu melukai dia hanya Pek-lak-cek saja.

Kongsun Jiat-ih lantas mendengus, katanya.

"Memangnya kau lihat sendiri orang itu berlari masuk ke kamarku?"

"Sep... seperti begitulah. tapi tidak. ,. tidak begitu jelas."

Jawab Kau Cu-tiang.

Kongsun Jiat-ih tak bicara lagi, ia melangkah ke pintu kamarnya dan menolak daun pintu.

Ternyata kamarnya kosong melompong tiada seorang pun.

Kau Cu-tiang jadi melenggong.

Dengan ketus Kongsun Jiat-ih lantas berkata.

"Pek-lak-cek adalah anak tolol, sifatnya juga aneh, seharusnya dia memang tinggal di dalam kamar, dengan demikian sukarlah baginya untuk menghindari tuduhan orang lain."

"Dan sekarang dia berada dimana?"

Tanya Thio Sam.

"Setelah nona Kim mabuk, dia selalu menjaga di sampingnya,"

Tutur Kongsun Jiat-ih.

"Tapi karena tidak pantas lelaki dan perempuan berada sendirian di dalam kamar, untuk menghindari prasangka jelek, maka sengaja kucari seorang lagi untuk menemani mereka."

Apa yang dikatakan Kongsun Jiat-ih memang betul, sejauh itu Pek lak-cek memang berjaga di samping Kim Leng-ci.

hal ini diperkuat kesaksian kelasi yang menemani mereka.

Satu langkah pun Pek-lak-cek tidak pernah meninggalkan kamar Kim Leng-ci.

Thio Sam mengerut kening.

katanya.

"Nona Kim dan Siau Oh sama-sama mabuk hingga lupa daratan. Kongsun Jiat-ih berada bersama kita pula, lalu siapakah gerangan yang menyerang Kau-heng ini?"

Tiba-tiba air mukanya berubah, katanya dengan was-was.

"Jangan-jangan selain kita bertujuh ini, di atas kapal masih ada orang kedelapan lagi? Mungkin si pembunuh ini adalah iblis yang dapat menghilang?" *** Padahal di atas kapal memang tidak cuma mereka bertujuh. Selain Coh Liu-hiang, Oh Thi-hoa. Kau Cu-tiang, Kim Leng-ci, Kongsun Jiat-ih, Pek-lak-cek dan Thio Sam. masih ada belasan kelasi kapal. Apakah mungkin salah satu kelasi itulah pembunuhnya? Belum lagi Coh Liu-hiang, Kau Cu-tiang, Kongsun Jiat-ih dan Thio Sam melangkah keluar kamar Kim Leng-cu mendadak terdengar suara teriakan keras. Suara teriakan itu jelas suara Oh Thi-hoa. Keruan kejut Thio Sam tidak kepalang, serunya dengan muka pucat.

"Wah, celaka Siau Oh dalam keadaan mabuk, tidak seharusnya kita meninggalkan dia sendirian di sana."

Belum habis ucapannya, segera ia memburu kembali ke kamarnya.

Terlihat Oh Thi-hoa sedang berduduk di atas tempat tidurnya dengan napas terengah.

Matanya terbelalak lebar penuh garis merah, tangannya mencengkeram sebuah topeng, topeng buatan dari kertas, sudah diremasnya hingga hancur.

Melihat Oh Thi-hoa masih hidup tanpa kekurangan sesuatu apa pun, seketika Thio Sam menjadi kheki malah, dampratnya.

"Apa yang kau teriakkan? Apakah kumat penyakit gilamu?"

Pandangan Oh Thi-hoa tampak kaku melototi dinding di depannya, seakan-akan di situ tumbuh beraneka warna bunga, meski Thio Sam berteriak keras, ternyata tak digubrisnya. Thio Sam menjengek pula.

"Hm, banyak minum beberapa cawan arak saja lantas mabuk sedemikian rupa, kukira selanjutnya jangan sok pamer lagi. jangan menantang minum arak lagi dengan orang lain."

Oh Thi-hoa tetap seperti tidak mendengar ucapannya, setelah termangu-mangu sekian lama, mendadak ia berjumpalitan di tempat tidur, lalu berkeplok tertawa dan berseru.

"Hahaha, si pengganas itu ternyata betul bocah ini. Hahaha, memang sudah kuduga pada suatu hari dia pasti akan kubekuk."

"Kau bilang siapa pengganasnya?"

Tanya Thio Sam.

"Ting Hong!"

Jawab Oh Thi-hoa sambil mendelik.

"Sudah tentu Ting Hong, siapa lagi kalau bukan dia."

Thio Sam memandangnya dari atas ke bawah, sedikitnya berulang tujuh kali, akhirnya ia menghela napas, katanya.

"Memang sudah kuduga bocah ini pasti belum sadar dari mabuknya, kalau tidak masakah bisa melihat setan?"

Seketika Oh Thi-hoa berjingkrak gusar, teriaknya.

"Kau sendiri melihat setan, setan alas!"

Gemerdep sinar mata Coh Liu-hiang. ia termenung sejenak, lalu bertanya.

"Apa benar barusan kau melihat Ting Hong?"

"Sudah tentu benar,"

Jawab Oh Thi-hoa.

"Dimana kau melihatnya?"

Tanya Coh Liu-hiang pula.

"Di sini, di dalam kamar ini,"

Kata Oh Thi-hoa. Thio Sam lantas menjengek.

"Tadi sudah jelas kau tertidur seperti babi mampus, cara bagaimana kau dapat melihat orang?"

"Bisa jadi lantaran aku terlalu banyak minum sehingga rasanya tidak enak, mendadak aku merasa mual dan ingin muntah, seketika aku tersadar, tetapi rasanya masih pusing, pula tenaga untuk merangkak bangun saja rasanya tidak ada."

Orang yang tidak sepenuhnya mabuk memang dapat tidur dengan sangat lelap, tapi bila mabuk, rasanya menjadi sukar untuk tidur dengan nyenyak.

Coh Liu-hiang mengangguk, sebab ia sendiri juga mempunyai pengalaman begitu.

"Pada waktu aku berbaring. dalam keadaan samar-samar itulah mendadak kurasakan ada seorang berada di kamar ini dan mendekati tempat tidurku, sayup-sayup orang ini seperfi memanggilku sekali."

"Kau membuka mata tidak?"

Tanya Coh Liu-hiang.

"Mataku memang setengah terpicing, maka dapat kulihat seraut wajah yang pucat. tak jelas siapa dia. waktu memanggil. aku pun malas untuk menjawab. Siapa tahu mendadak ia hendak mencekik leherku."

Tangan Oh Thi-hoa meraba leher sendiri, ia menghela napas panjang, lalu menyambung.

"Kuat sekali tangannya, aku tidak mampu melepaskan diri, ingin menjerit juga sukar, maka sekenanya tanganku mencakar mukanya."

"Dan mukanya lantas kena kau cakar lepas, begitu bukan?"

Tanya Coh Liu-hiang sambil menatap topeng yang dipegang Oh Thi-hoa.

"Betul, memang begitulah,"

Kata Oh Thi-hoa.

"Waktu itu dapat kulihat jelas orang itu ternyata Ting Hong adanya. Dia sendiri juga terkejut karena topengnya dapat kucengkeram lepas, kesempatan ini segera kugunakan untuk menggenjot perutnya."

Dia tertawa lalu melanjutkan.

"Kau tahu kepalanku ini cukup keras, jarang yang sanggup menahan genjotanku."

"Lalu mana orangnya?"

Tanya Coh Liu-hiang.

"Setelah kena kupukul perutnya, cekikannya. Lantas terlepas, ia jatuh di tempat tidur depan situ, tapi waktu aku melompat bangun hendak membekuknya. dia sudah menghilang."

Thio Sam tertawa, katanya.

"Apakah kau tahu mengapa bisa terjadi begitu?"

"Ya, aku memang tidak habis mengerti mengapa dia bisa menghilang mendadak,"

Jawab Oh Thi-hoa.

"Mau kuberitahukan kepadamu?"

Kata Thio Sam.

"Kau tahu?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Coba jelaskan."

"Sebab apa yang kau katakan itu tidak lebih hanya dalam impian belaka,"

Kata Thio Sam.

"Orang dalam mimpi sudah tentu bisa datang dan hilang mendadak..."

Belum habis ucapannya, serentak Oh Thi-hoa melompat bangun dan mencengkeram dada bajunya sambil berteriak murka.

"Masa kau tidak percaya pada ceritaku ini? Berdasarkan apa kau tidak percaya?"

Hampir-hampir Thio Sam tak dapat bernapas karena cengkeraman Oh Thi-hoa, dengan suara serak ia menjawab.

"Jika kau tidak mimpi. mana bisa kau melihat Ting Hong?"

"Mengapa aku tidak dapat melihat Ting Hong?"

"Karena Ting Hong sudah mati,"

Ujar Thio Sam. Baru sekarang Oh Thi-hoa terkejut tanyanya cepat.

"Apa? Ting Hong sudah mati? Kapan dia mati?"

"Sedikitnya sudah ada tiga-empat jam."

Jawab Thio Sam.

"Apa betul?"

Oh Thi-hoa menegas.

"Sudah tentu betul, bahkan aku dan Kau Cu-tiang yang menggotongnya ke dalam peti mati,"

Jawab Thio Sam. Perlahan Oh Thi-hoa berpaling dan menatap Kau Cu-tiang, Orang jangkung itu mengangguk, katanya.

"Betul, mayatnya masih berada di dalam peti mati, sedikitpun tidak dusta."

Air muka Oh 'Thi-hoa menjadi rada pucat, cengkeramannya lantas dikendurkan, gumamnya.

"Habis siapa orang tadi kalau bukan Ting Hong?.... Apa betul aku memang melihat setan?"

Melihat ketakuan Oh Thi-hoa yang bingung itu, Thio Sam menjadi tidak tega. katanya dengan suara halus.

"Seorang kalau banyak minum, mata memang suka kabur, mimpi buruk juga sering terjadi. Pernah satu kali dalam keadaan mabuk aku pun merasa bertemu dengan Kau-ce-thian dan Ti-pat kay, kau percaya tidak?"

Sekali ini Oh Thi-hoa tidak dapat omong lagi, ia menjatuhkankan diri di tempat tidur dan menutup mukanya dengan bantal.

"Lebih baik begini,"

Ujar Thio Sam tertawa.

"Sehabis minum arak. urusan apapun tak lebih menyenangkan dan tidur."

Mendadak Kau Cu-tiang berseru.

"Kutahu tempat sembunyi si pembunuh!"

"Oo? Kau tahu?"

Coh Liu-hiang merasa heran.

"Pembunuh itu tentu menyamar sebagai kelasi dan bercampur di antara mereka."

Jawab Kau Cu-tiang.

"Sayang sebelumnya kita tidak pernah berpikir tentang ini, makanya kita menjadi saling curiga. Kalau tidak, mungkin si pembunuh takkan mudah melakukan aksi terornya."

Coh Liu-hiang menganguk perlahan, katanya.

"Ya. ini pun mungkin terjadi." 'Bukan cuma mungkin. hakikatnya pasti demikian,"

Kata Kau Cu-tiang, dengan bernapsu lantas menyambung pula.

"Coba kau pikir. siapakah yang paling banyak kesempatan berdekatan dengan cawan arak?"

"Kelasi yang berdinas di dapur,"

Jawab Coh Liu-hiang.

"Betul,"

Seru Kau Cu-tiang.

"Ada lagi, justru lantaran menyamar sebagai kelasi, maka Hay Koa-thian dan Hiang Thian-hui tidak curiga sedikitpun"

"Ya, memang masuk akal,"

Kata Thio Sam.

"Mumpung urusan belum kasip (terlanjur), mari sekarang juga kita menyelidikinya."

Kata Kau Cu-tiang.

"Cara bagaimana menyelidikinya?"

Tanya Thio Sam.

Kau Cu-Tiang berpikir sejenak, katanya kemudian, kelasi kapal ini pasti terdaftar namanya.

lebih dulu kita periksa buku daftar nama mereka, lalu kita tanya satu per satu.

akhinya pasti dapat kita temukan orangnya."

Gagasan ini memang boleh juga, cuma kurang tenaga.

Terpaksa semua orang berbagi kerja dan melaksanakan tugas masing-masing.

Thio Sam tetap tinggal untuk menjaga Oh Thi-hoa.

Pek-lak-cek juga tetap menjaga Kim Leng-ci.

Pintu kedua kamar itu sama terbuka, bila perlu kedua pihak dapat saling memberi bantuan.

Kelasi yang menemani Pek-lak-cek itu bernama Tan Taytiong, seorang yang jujur.

ia tahu daftar nama para kelasi tersimpan di kamar Kim Leng-ci ini.

Sebab kamar ini terhitung paling baik, di sinilah Hay Koa-thian tinggal sebagai nakhoda.

Setelah menemukan daftar nama itu di almari.

Kau Cutiang lantas mengajukan usul.

"Sekarang Aku dan Cohhiangswe serta Kongsun-siansing menuju ke arah masingmasing untuk mencari para kelasi dan mengumpulkan mereka di sini. Paling lambat dalam setengah jam kita harus bertemu pula di sini."

Gagasan ini pun sangat baik, hakikatnya memang juga tiada gagasan yang lain.

ooo000ooo Dek kapal tempat tinggal para kelasi itu sangat suram, hanya sebuah pelita saja menerangi ruangan yang sumpek itu.

Agaknya para kelasi sudah tertidur nyenyak.

Coh Liu-hiang berseru memanggil.

tapi tiada jawaban.

ia coba menarik tangan salah seorang kelasi itu, ternyata tangan itu sudah dingin dan kaku.

Rupanya semua kelasi yang berada di dek situ telah menjadi mayat seluruhnya.

Tanda luka yang mematikan para kelasi itupun bekas pukulan Cu-seh-ciang.

Tangan Coh Liu-hiang menjadi rada dingin juga.

Ia melangkah mundur keluar dek, lalu memutar tubuh dan cepat berlalu ke atas geladak.

Di atas geladak terdapat empat orang.

tapi semuanya juga sudah mati.

Bintang tampak berkedap-kedip di langit, angin laut meniup berdesir, kapal sedang berputar perlahan di tengah lautan.

Maklum kapal tanpa juru-mudi.

sebab juru-mudinya juga mati.

Di bagian dada ada tanda bekas pukulan warna merah.

Kemanakah Kau Cu-tiang yang mendapat tugas memanggil kelasi?

Mengapa Kau Cu-tiang juga menghilang?

Jarang sekali Coh Liu-hiang gemetar.

Pernah satu kali dia dan Oh Thi-hoa mencuri arak simpanan orang, jika mereka tidak sembunyi di dalam guci arak raksasa, hampir saja mereka kepergok, waktu itu hawa sangat dingin sehingga arak di dalam gentong itu seakan-akan menjadi es.

Dia menggigil entah karena kedinginan atau karena ketakutan, yang jelas dia benar-benar menggigil.

Tapi itu adalah kejadian lebih dua puluh tahun yang lalu.

Waktu itu dia baru berumur tujuh tahun.

Sejak kejadian itu, dia tidak pernah menggigil lagi, hingga sekarang...

Sekarang ia menggigil pula tiada hentinya, sebab untuk pertama kalinya ia merasakan betapa luasnya dunia ini dan betapa kecilnya diri sendiri.

Untuk pertama kalinya ia merasakan betapa misteriusnya kejadian di dunia ini dan terbatasnya kecerdikan manusia.

Dia merapatkan leher bajunya, kemudian melangkah turun ke kabin.

Kongsun Jiat-ih sudah kembali.

Melihat air mukanya dapat diduga, dia tidak dapat menemukan seorang pun yang hidup.

Pertanyaan pertama yang diajukan Coh Liu-hiang adalah.

"Dimana Kau Cu-tiang? Sudah kembali ke sini belum?"

"Bukankah dia pergi mencari kawanan kelasi di atas geladak bersama Tan Tay-tiong?"

Kata Thio Sam. Coh Liu-hiang menghela napas. katanya.

"Tidak ada. dia tidak berada di sana."

"Jangan-jangan ia pun mengalami nasib malang seperti yang lain?"

Kata Thio Sam dengan was-was. Namun Coh Liu-hiang tidak menanggapi pertanyaannya. Dia memang tidak perlu memberi jawaban. Seketika Kongsun Jiat-ih berubah sikap, katanya.

"Orang ini...."

Belum lanjut ucapannya, mendadak Oh Thi-hoa melompat bangun dan mencengkeram leher bajunya sambil membentak.

"Jika Kau Cu-tiang mati pembunuhnya pasti dirimu dan bukan orang lain."

Sikap Kongsun Jiat-ih berubah pula, katanya sambil menyengir.

"Jangan-jangan mabuk Oh-heng belum lagi sembuh."

Cepat Thio Sam memburu maju dan menarik Oh Thi-hoa sambil berkata.

"Sekarang bukan waktunya kau bermain gila, lekas lepaskan tanganmu!"

Oh Thi-hoa menjadi gusar, teriaknya.

"Kau suruh aku melepaskan dia? Apakah kau tahu siapa dia? Tahukah kau bagaimana asal-usulnya?"

"Kau sendiri tahu?"

Tanya Thio Sam.

"Sudah tentu kutahu."

Jawab Oh Thi-hoa dengan suara lantang.

"Dia adalah bandit yang sekaligus membinasakan ratusan prajurit pengawal di Khay-hong-hu, sedangkan Kau Cu-tiang adalah utusan rahasia yang dikirim Him-ciangkun dari Kwan gwa untuk mengusut peristiwa itu. Karena menyadari perbuatannya bakal ketahuan, maka lebih dahulu dia bunuh Kau Cu-tiang untuk menghilangkan jejak."

Sekali ini Thio Sam benar-benar melengak.

Coh Liu-hiang juga merasa rada di luar dugaan.

Pek-lak-cek sudah memburu tiba, demi mendengar ucapan Oh Thi-hoa itu ia lantas berhenti di tempatnya malah.

Yang paling aneh ialah Kongsun Jiat-ih, tidak gusar atau takut, sebaliknya malah tertawa.

"Kau tertawa apa?"

Jengek Oh Thi-hoa dengan gusar.

"Biarpun tertawa|juga tiada gunanya, paling baik kau mengaku terus terang saja."

Dengan tetap tertawa, Kongsun Jiat-ih menjawab.

"Untung Coh-hiangswe kenal diriku, juga dapat menjadi saksi bagiku, kalau tidak, urusan bisa runyam."

Sembari bicaraa ia terus menarik rambut panjang yang menutupi kepalanya sehingga kelihatanlah kepalanya yang botak dan telinganya sepasang daun kuping palsu buatan dari sejenis logam yang peka.

Jadi tidak cuma rambutnya saja palsu, daun kupingnya juga palsu.

rambut palsu tidaklah mengherankan.

telinga palsu yang jarang terlihat.

"He, Pek-ih-sin-ni (Si baju putih bertelinga sakti)!"

Seru Oh Thi-hoa. (Baca Maling Romantis) Segera Thio Sam menukas.

"Jangan-jangan yang terkenal sebagai Pohthao (opas) nomor satu di dunia, Sin-eng Engloenghiong?"

"Ah, tak berani, Cayhe memang betul Eng Ban-li adanya,"

Jawab 'Kongsun Jiat-ih' dengan tertawa. Jelaslah sekarang bahwa nama Kongsun Jiat-ih juga nama palsu.

"Aha, sekali ini benar-benar telah salah wesel, opas terkenal keliru dianggap bandit,"

Seru Thio Sam dengan tertawa. Muka Oh Thi-hoa menjadi merah, katanya.

"Hal ini tak dapat menyalahkan diriku. tapi si kutu busuk tua inilah yang salah. Sudah sejak mula dia kenal Eng-losiansing, tapi dia justru tutup mulut dan tidak mau memberitahukan kepada kita."

Coh Liu-hiang tersenyum kecut. katanya.

"Padahal. hal ini pun tak dapat menyalahkan diriku. yang harus disalahkan adalah ilmu penyamaran Eng-losiansing sang teramat tinggi sehingga orang yang berpengalaman seperti diriku juga dapat dikelabui."

"Ah, mana Cayhe mempunyai kepandaian setinggi ini."

Ucap Eng Ban-li. Lalu ia menyambung pula dengan tertawa.

"Justru lantaran ingin menyamar. maka jauh-jauh kudatang ke tempat ahli rias nomor satu di dunia ini-WaJahku yang hebat ini adalah hasil karyanya."

"Ahli Rias nomor satu? Jangan-jangan......"

Thio Sam melirik Coh Liu hiang sekejap dan belum lagi menyambung, tiba-tiba Oh Thi-hoa menyela dengan tertawa.

"Orang lain mengira Coh Liu-hiang ahli rias nomor satu di dunia, kutahu bukan dia."

"Bukan dia, habis siapa ?"

Tanya Thio Sam.

"Ialah seorang nona cilik yang sangat cantik. kutu busuk tua ini tidak lebih hanya muridnya saja,"

Kata Oh Thi-hoa.

"Ah ingattah aku sekarang,"

Seru Thio Sam.

"Orang sering bilang Coh Liu-hiang mempunyai tiga teman cantik, yang satu berpengetahuan luas dan berdaya ingat kuat, seorang lagi mahir memasak. orang ketiga mahir merias, jangan-jangan yang kalian maksudkan ialah dia?"

"Betul, sedikitpun tidak salah, ialah nona So, So Yongyong,"

Seru Oh Thi-hoa. Tanpa terasa Coh Liu-hiang meraba hidungnya. katanya.

"O, jadi Eng-losiansing telah bertemu dengan Yong ji?"

"Sebenarnya maksud Cayhe hendak minta petunjuk kepada Coh-hiangswe."

Jawab Eng Ban-li.

"Tak tahunya Cohhiangswe tidak di tempat. yang kujumpai hanya nona So. nona Song dan nona Li di sana, tapi perjalananku tidak sia-sia."

Dia tertawa, lalu menyambung pula.

"Sesudah nona So merias wajahku, dia bilang bukan saja orang lain tidak dapat mengenali diriku lagi. bahkan Coh-hiangswe sendiri juga pasti akan pangling."

"Tangan perempuan memang lebih gesit daripada tangan lelaki,"

Kata Coh Liu-hiang dengan tertawa.

"Hati perempuan juga lebih lembut, makanya senjata rahasia sebangsa jarum serta ilmu merias dan sebagainya, selain kaum perempuan lebih berhasil menguasainya daripada kaum lelaki."

Dengan gemas Oh Thi-hoa berkata.

"Semula kukira Kau Cu-tiang orang baik-baik. siapa tahu caranya berdusta ternyata lebih licin daripada perempuan."

"Sudah sering kau tertipu oleh perempuan, kan pantas jika sekali tempo tertipu oleh lelaki,"

Ujar Thio Sam dengan tertawa. Oh Thi-hoa melototinya sekejap, lalu berpaling dan berkata kepada Eng Ban-li.

"Biarpun Coh Liu-hiang pangling padamu, seharusnya kan mesti kau katakan padanya."

Eng Ban-li menghela napas gegetun, katanya.

"Soalnya Cayhe khawatir kalau Kau Cu-tiang sudah bersekongkol dengan Hay Koa-thian dan Ting Hong, makanya tidak berani kukatakan terus terang di depan orang banyak. kupikir akan mengadakan kontak dengan Coh-hiangswe secara diamdiam."

"Ah. pahamlah aku sekarang."

Ujar Oh Thi-hoa.

"Pantas Kim Cu-tiang selalu mengalangi pertemuanmu dengan kami, kiranya ia khawatir rahasianya dibongkar olehmu..."

"Jika demikian, bahunya yang terluka itu tentu juga cuma pura-pura dan dilakukannya sendiri,"

Kata Thio Sam.

"Tujuannya hendak memancing keluar kita agar Englosiansmg tidak sempat bicara sendiri dengan Coh Liu-hiang."

"Betul, tatkala mana sudah kupikirkan hal ini,"

Kata Eng Ban-li.

"Cuma seketika belum dapat kubuktikan maksudnya itu. Apalagi kedatanganku ini tidak cuma hendak menangkap malingnya, tapi juga ingin mencari barang curiannya, sebab itulah aku tidak berani bertindak secara gegabah."

"Dan siapakah Pek-heng ini?"

Tanya Coh Liu-hiang.

"Cayhe Pek Lak,"

Kata Pek-lak-cek.

"Pek-heng inilah tokoh utama yang sesungguhnva di bawah Him-tayciangkun, Kun-goan-tong-cu-kang adalah ilmu andalannya, kekuatan Lwekangnya tiada bandingannya di daerah Kwan-gwa,"

Tukas Eng Ban-li.

"Jangankan Kwan-gwa, di daerah Kwan-lwe (dalam wilayah tembok besar) mungkin juga jarang ada bandingannya,"

Ujar Coh Liu-hiang dengan tertawa.

"Ah, mana berani,"

Kata Pek Lak dengan rendah hati.

Bisa jadi lantaran sudah lama berdiam di tengah pasukan yang berdisiplin keras, terutama di bawah Him-tayciangkun yang terkenal keren, atau mungkin karenawajahnya juga sudah dirias, maka apa pun yang diucapkannya tetap tanpa memperlihatkan sesuatu tanda perasaan.

"Sebelumnya tidak tahu, baru kami ketahui setelah berada di atas kapal,"

Jawab Pek Lak.

"Tadinya kukira Kau Cu-tiang sudah kabur keluar lautan,"

Tukas Eng Ban-li.

"Karena mencari Coh-hiangswe juga tidak bertemu. pula sudah lama kudengar nama kebesaran Thio-heng, maka kami lantas berkunjung kemari, tak tersangka secara kebetulan dapat menumpang di kapal ini."

"Cara bagaimana kalian mengenalinya? Apakah sebelumnya kalian sudah pernah melihatnya?"

Tanya Coh Liuhiang.

"Meski tak pernah melihatnya, tapi sudah pernah mendengar suaranya,"

Jawab Eng Ban-li.

"Waktu dia mengganas di tempat bermalam Tin-wan Ciangkun di Khay-hong-hu, kan tersisa seorang yang tak terbunuh olehnya."

"O, apakah gundik Ciangkun itu?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Betul, nona itu dahulunya adalah bunga penghibur di kota Kiuseng yang serba pintar, selain mahir memetik alat musik, juga pandai menyanyi, selain itu dia juga mempunyai semacam kepandaian khas."

"Kepandaian khas apa?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Yaitu menirukan suara orang,"

Tutur Eng Ban-li.

"Siapa pun asalkan suaranya pernah didengarnya satu kali saja, maka dapat ditirunya dengan persis. Konon bila dia menirukan suara bicara Him-tayciangkun sampai-sampai nyonya Him juga tak dapat membedakannya."

"O, jangan-jangan waktu Kau Cu-tiang melakukan keganasan, percakapannya didengar oleh dia?"

Tanya Oh Thihoa.

"Betul, justru lantaran itu, maka Him-tayciangkun memberi tugas sulit ini kepada tua bangka sialan seperti diriku ini."

Ucap Eng Ban-li dengan menyengir.

"Mungkin kalian belum tahu bahwa ketajaman pendengaran Eng-losiansing tiada tandingannya di dunia ini,"

Kata Coh Liu-hiang dengan tertawa.

"Kalau ada orang yang sekali pandang takkan lupa lagi, maka Eng-losiansing adalah sekali dengar takkan pernah lupa lagi."

"Sekali mendengar takkan lupa?"

Oh Thi-hoa menegas.

"Ya, siapa pun asalkan percakapannya didengar oleh Englosiansing maka selanjutnya sekalipun orang itu menyamar dalam bentuk apa pun juga pasti akan dikenali kembali oleh Eng-losiansing bila dia membuka suara."

"O, pahamlah aku sekarang,"

Kata Oh Thi-hoa.

"Jadi nona kesayangan Tin-wan ciangkun itu telah menirukan suara ucapan Kau Cu-tiang dan diperdengarkan kepada Eng losiansing, berdasarkan ciri suara yang didengarnya ini Englosiansing dapat mengenali Kau Cu-tiang di sini."

"Betul, kukira demikian adanya,"

Ujar Coh Liu-hiang. Oh Thi-hoa menghela napas gegetun, katanya.

"Bila urusan ini tak kualami sendiri, betapapun orang bercerita kepadaku pasti tak kupercaya. Tampaknya orang she Kau itu lagi sial, makanya bertemu dengan seorang ahli menirukan suara dan seorang lagi ahli membedakan suara."

"Ini namanya dosa tak berampun kejahatan pasti mendapatkan ganjaran yang setimpal,"

Kata Eng Ban-li.

"Bisa jadi Kau Cu-tiang memang seorang bandit ulung, tapi dia pasli bukan si pembunuh yang melakukan teror di sini,"

Kata Oh Thi-hoa pula setelah berpikir.

"O, apa dasarnya?"

Tanya Coh Liu-hiang.

"Ada beberapa hal dapat membuktikan dia pasti bukam si pembunuh,"

Tutur Oh Thi-hoa.

"Pertama, waktu dia dan kalian berada di luar, memang betul ada seorang yang masuk kamar kita hendak membunuhku. orang itu jelas bukan setan."

"Jika demikian, jadi di kapal ini masih ada orang kedelapan?"

Kata Eng Ban-li sambil mengerutkan kening.

"Kedua, bila dia adalah pembunuhnya, sekarang dia pasti takkan terbunuh,"

Kata Oh Thi-hoa pula. Siapa pun tidak melihat mayatnya, dari mana diketahui dia sudah mati atau masih hidup,"

Ujar Coh Liu-hiang.

"Bisa Jadi dia merasa berdosa dan telah kabur,"

Tiba-tiba Pek Lak menyela.

"Lautan seluas ini, dia mampu lari kemana?"

Kata Oh Thihoa.

"Jika dia berada di kapal ini, kemana pula dia akan bersembunyi? Apalagi dia kan tak mahir Cu-seh-ciang, juga tidak mampu menggunakan lengan kanan dan kiri sekaligus, mutiara yang kita temukan di tubuh mayat korban juga bukan miliknya..."

"Mutiara itu milikku!"

Tiba-tiba seorang mendengus.

Jelas suara Kim Leng-ci.

Air muka si nona masih kelihatan sisa-sisa habis mabuk, namun ucapannya itu cukup tegas dan jelas tampaknya pikirannya sudah lebih jernih daripada Oh Thi -hoa.

Oh Thi hoa menghela napas panjang.

lalu berkata.

"Mutiaramu mengapa bisa berada di tubuh orang mati? Memangnya orang mati juga bisa mencuri?"

Namun Kim Leng-ci tidak menggubris, bahkan meliriknya saja tidak. perlahan ia berkata pula.

"Malam kemarin, karena tak dapat tidur, mestinya kuingin naik ke geladak atas untuk cari angin. Tapi baru saja keluar pintu kamar, segera kulihat seorang sedang menuruni tangga dengan berjinjit seperti maling khawatir kepergok. Aku jadii heran dan tertarik, segera kubuntuti dia."

"Penyakit terbesar perempuan adalah segala urusan ingin tahu,"

Gumam Oh Thi-hoa. Kim Leng-ci tetap tidak menggubrisnya. Ia menutur pula.

"Waktu kuturun ke bawah, kulihat dua orang yang biasanya bertugas jaga di luar gudang telah mati terbunuh, sedangkan orang tadi sudah tidak kelihatan bayangannya."

"Masa begitu cepat menghilangnya?"

Kata Oh Thi-hoa.

"Siapa pun kalau habis membunuh orang, tidak nanti dia berjalan perlahan "

Jengek si nona.

"Kau tidak melihat jelas siapa dia?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Sudah tentu aku ti.... tidak melihatnya,"

Jawab si nona.

"Waktu itu pintu gudang tertutup rapat, mestinya aku hendak masuk ke sana, tapi segera kudengar suara bentakan Hay Koa-thian, khawatir menimbulkan salah paham, terpaksa kutinggal pergi, mengenai mutiara itu....."

Dia pelototi Thio Sam sekejap, lalu menyambung lagi.

"Sejak pernah dicuri orang satu kali, seterusnya tidak pernah tersimpan dengan baik. makanya dapat jatuh di tubuh kedua mayat itu. Kehilangan ini baru kuketahui setelah kukembali ke kamar."

"Bisa jadi lantaran waktu itu hatimu bingung dan pikiranmu kacau maka kehilangan mutiara tidak lantas diketahui,"

Ucap Oh Thi-hoa dengan tak acuh. Kim Leng-ci menjadi gusar, serunya.

"Yang membunuh kan bukan diriku, mengapa aku merasa bingung segala?"

"Meski pembunuhnya bukan kau. tapi kau kan rmelihat siapa si pembunuh itu,"

Ujar Oh Thi-hoa.

"Cuma ada sesuatu kelemahanmu tergenggam di tangan orang, makanya kau tidak berani bicara terus terang."

Muka Kim Leng-ci menjadi merah dan tidak sanggup bersuara lagi.

"Tapi sekarang Ting Hong kan sudah mati, mengapa kau juga masih tidak berani bicara?"

Ujar Oh Thi-hoa pula. Kim Leng-ci menggreget. ucapnya kemudian.

"Kalau dia bisa mati. ini menandakan si pembunuh pasti bukan dia, untuk apa pula kukatakan?"

Oh Thi-hoa berpikir sejenak. lalu berkata gegetun.

"Ucapanmu beralasan juga, paling sedikit si pembunuh pasti bukan orang mati, orang mati tak mungkin bisa menjadi pembunuh."

"Bila pembunuhnya bukan Ting Hong, juga bukau Kau Cutiang, pasti bukan Hay Koa-thian dan Hiang Thian-hui, juga bukan Eng-losiansiang atau Pek Siauhiap, lebih-lebih bukan nona Kim atau Coh Liu-hiang,"

Kata Thio Sam. Dia menghela napas lalu berkata pula kepada Oh Thi-hoa dengan menyengir.

"Wah, tampaknya si pembunuh itu kalau bukan kau tentulah aku."

"Jelas kau belum mempunyai kemampuan sebesar ini,"

Jengek Oh Thi-hoa.

"Seumpama kau mampu jadi pembunuhnya. apakah kau merasa gembira?"

Tanya Thio Sam. Maka bungkamlah Oh Thihoa.

"Sekarang isi kapal ini hanya tertinggal kita berenam, dengan sendirinya kita bukan si pembunuh, lalu siapakah gerangan si pembunuh itu?"

Kata Eng Ban-li. Tiba-tiba Coh Liu-hiang tertawa, katanya.

"Selain kita, di kapal ini memang betul masih ada seorang lagi."

"Kau tahu siapa dia?"

Tanya Eng Ban-li.

"Ehmm,"

Coh Liu-hiang mengangguk. Mendingan Eng Ban-li masih cukup sabar, tapi Oh Thi-hoa sudah tidak tahan lagi, serentak ia berjingkrak dan berteriak.

"Kau tahu dia berada di mana?"

Coh Liu Hiang tertawa tak acuh, katanya.

"Jika kau tidak tahu tentu takkan kukatakan."

Oooo000oooo Untuk membuktikan ucapannya, C oh Liu-hiang mulai dari kamarnya sendiri.

Kedua tempat tidur di kamarnya itu, satu di antaranya ternyata 'hidup'.

Tanpa susah payah Coh Liu-hiang dapat menemukan pegas yuang dapat memutar tempat tidur itu, di balik tempat tidur ternyata ada sebuah jalan rahasia.

Oh Thi-hoa jadi terbelalak, serunya.

"Sialan! Pantas dalam sekejap orang itu lantas menghilang setelah jatuh di tempat tidur, kiranya dia merat melalui lorong rahasia ini."

"Kebanyakan kapal memang ada jalan rahasia dan dinding rangkap, hal ini mungkin sudah terpikir juga oleh Thio Sam,"

Kata Coh Liu-hiang. Muka Thio Sam tampak rada merah, segera ia berkata.

"Tapi aku tidak paham lorong rahasia ini menuju kemana."

"Gudang barang di dek bawah,"

Kata Coh Liu-hiang.

Beramai-ramai menujulah mereka ke dek dasar kapal.

Suasana di situ tetap suram dan seram, bau apek menyesakkan napas.

Enam peti mati masih tetap berjajar di situ.

Eng Ban-li menghela napas gegetun, katanya.

"Dugaan Coh-hiangswe ternyata sangat tepat, lorong rahasia ini memang betul menembus ke gudang sini."

"Cuma sayang di sini tiada bayangan seorang pun, bahkan bayangan setan juga tidak nampak,"

Kata Oh Thi-hoa.

"Orang memang tidak ada, tapi setan paling sedikit ada satu,"

Ujar Coh Liu-hiang dengan tertawa. Mencorong terang sorot mata Oh Thi-hoa, serunya.

"He, apakah kau maksudkan Ting Hong?"

"Tapi Ting Hong kan cuma orang mati saja dan belum jadi setan, dengan tanganku sendiri kumasukkan dia ke dalam peti mati ini...."

Thio Sam berdiri di samping peti mati pertama, bicara sampai di sini ia sendiri jadi merinding, tanyanya.

"Apakah... apakah maksudmu dia hidup kembali?"

Coh Liu-hiang menghela napas, jawabnya.

"Orang mati hidup kembali sebenarnya sudah bukan hal baru bagiku..."

"Betul,"

Tukas Oh Thi-hoa.

"Misalnya si Paderi Sakti Buhoa, dia juga pernah mati dan kemudian hidup kembali."

"Orang mati benar-benar dapat hidup kembali?"

Saking heran Pek Lak ikut bertanya.

Maklum, dia seorang polos, lugu, sejak kecil hidup terpencil di tengah istana panglima perang, terhadap seluk beluk dan lika-liku dunia Kangouw, tentu saja kurang pengalaman.

"Bila benar-benar seseorang sudah mati, dengan sendirinya tidak dapat hidup kembali,"

Tutur Coh Liu-hiang.

"Tapi ada sementara orang bisa pura-pura mati dengan macam-macam akal."

"Pura-pura mati? Akal bagaimana pula?"

Tanya Pek Lak.

"Begini,"

Tutur Coh Luiu-hiang.

"Lwekang seseorang kalau sudah terlatih sampai satu tingkatan tertentu, maka dia mampu menahan pernapasan sendiri sekian lamanya, bahkan bisa menghentikan denyut jantung dan menutup urat nadi yang mengalir sehingga tubuh menjadi kaku dan dingin seperti mayat. Cuma cara inipun tak tahan terlalu lama, paling-paling juga cuma setengah jam saja. Pula, orang Kangouw yang ebrpengalaman juga akan segera mengetahui bahwa dia cuma pura-pura mati saja."

"Selain itu apakah masih ada cara lain?"

Tanya Pek Lak.

"Konon di dunia ini ada tiga macam obat ajaib, bila obat itu diminum, maka akan menghentikan seluruh aktivitas organis si tubuh manusia, seperti halnya ular yang tidur di musim dingin."

"Betul,"

Tukas Eng Ban-li.

"Kutahu satu di antaranya adalah sejenis kacang polong yang berasal dari sebuah pulau kecil di sektiar lautan antara negeri Hindu dan Persi."

"Tapi salah satu di antaranya yang paling terkenal adalah arak yang disebut 'arak pelarian cinta',"

Kata Coh Liu-hiang.

"Arak pelarian cinta? Aneh juga nama ini,"

Kata Pek Lak.

"Soalnya si pencipta arak obat ini memang seorang petualang cinta,"

Tutur Coh Liu-hiang. Ia tertawa, lalu menyambung pula.

"Mengenai arak pelarian cinta ini, juga ada ceritanya yang menarik."

"Silahkan Coh-hiangswe menjelaskan,"

Pinta Pek Lak.

"Konon petulang cinta ini memang sangat cakap dan pandai merayu, dimana-mana terdapat kekasihnya, tapi akhirnya datang juga kesukarannya."

"Kesukaran apa?"

Tanya Pek Lak.

"Kehidupan manusia ini sebenarnya sama saja antara lelaki dan perempuan, kalau perempuan takut tergoda oleh lelaki, sebenarnya lelaki juga khawatir tergoda oleh perempuan, lebih-lebih petualang cinta yang sudah biasa hidup bebas, baginya yang paling menyenangkan ialah ' sekali pakai, lalu tinggal',"

Coh Liu-hiang tertawa, sambungnya kemudian.

"Tapi akhirnya ia menjadi rada kelabakan, karena ada tiga perempuan yang terus lengket padanya dan tidak mau terlepas, kemana dia lari, ke situ juga ketiga perempuan itu mengejar. Dia sendiri adalah seorang Su-seng (sastrawan) lemah, sebaliknya ketiga perempuan itu justru memiliki Kungfu, berkelahi terang kalah, ingin lari juga tidak dapat, ia hampir gila karena tak dapat melepaskan diri."

Thio Sam mengerling sekejap ke arah Coh Liu-hiang dan Oh Thi-hoa, katanya tertawa.

"Ini namanya kualat. Orang yang suka makan nangka harus berani kena getahnya."

"Untung orang itu sangat luas pengetahuannya, bacaannya sangat banyak, ia masih ingat macam-macam catatan tentang obat racun dalam kitab-kitab kuno, karena sudah kepepet, dia lantas menuruti suatu resep kuno dan membuat semacam obat arak, setelah diminum, orangnya akan menggeletak seperti orang mati, betapapun kesengsemnya ketiga nona itu, orang mati tentu saja tidak menarik lagi bagi mereka. Akhirnya dia lolos dari godaan mereka dan dapat hidup dengan bebas dan tenteram."

Ia berhenti sejenak, lalu menyambung lagi dengan tersenyum.

"Maka arak itulah disebut Arak Pelarian Cinta."

Dengan tertawa Oh Thi-hoa berkata.

"Tampaknya kau pun perlu sedia sedikit arak begituan dan selalu harus kau bawa."

Sinar mata Eng Ban-li tampak gemerdep, katanya.

"Jangan-jangan Coh-hiangswe menganggap kematian TIng Hong juga cuma pura-pura saja."

Coh Liu-hiang tidak menjawab, tapi ia lantas mengangkat tutup peti mati itu.

Dimana ada mayat Ting Hong yang dikatakan sudah mati itu?

Dia memang betul sudah 'hidup kembali'!

Malahan di dalam peti mati kini tertulis sepuluh huruf besar, entah ditulis dengan darah atau tinda, bunyi tulisan ini adalah sebagai berikut .

Coh Liu-hiang, tempat ini kuberikan padamu!

Dengan mendongkol Oh Thi-hoa segera membongkar pula tutup peti mati myang lain, pada tiap-tiap peti mati itupun ada tulisan, semuanya nama orang, yakni Oh Thi-hoa, Kim Lengci, Eng Ban-li, Pek Lak dan Thio Sam.

"Bukan saja dia telah membagi rata peti mati ini kepada kita, bahkan sebelum ini dia juga sudah tahu jelas tentang asal-usul diri kita,"

Kata Eng Ban-li dengan menyengir. Coh Liu-hiang berpikir sejenak, katanya kemudian.

"Dia sendiri tidak tahu, Kau Cu-tiang yang memberitahu padanya."

"Hiangswe menganggap Kau Cu-tiang juga bersekongkol dengannya?"

Tanya Eng Ban-li.

"Kau Cu-tiang berkepentingan dan ingin mohon bantuannya, dengan sendirinya dia harus berkomplot dengannya,"

Tutur Coh Liu-hiang.

"Setelah Ting Hong tahu rahasia Kau Cu-tiang, kebetulan baginya untuk memperalat titik kelemahan Kau Cu-tiang agar orang she Kau itu bekerja baginya."

OH Thi-hoa meraba hidung, katanya.

"Meski urusan ini samar-samar dapat kupahami, tapi masih tetap belum jelas."

"Jika ingin tahu jelas duduk perkaranya harus diceritakan mulai awal,"

Ujar COh Liu-hiang.

"Baiklah, coba ceritakan,"

Pinta Oh Thi-hoa.

"Urusan yang begini ruwet dan penuh misterius, sebelum kubikin jelas persoalannya, tentu aku tak dapat tidur dengan nyenyak,"

Kata OH Thi-hoa dengan tertawa.

"Maka, sekalipun ceritamu akan berlanjut selama tiga tahun juga akan kudengarkan dengan asyik."

"Kunci persoalan ini terletak pada gua emas di laut lepas sana,"

Tutur Coh Liu-hiang. Tiba-tiba ia tertawa pada Kim Leng-ci dan berkata pula.

"Keadaan tempat yang dimaksudkan itu rasanya nona Kim pasti tahu lebih banyak daripada orang lain."

Kim Leng-ci menunduk, setelah lama berpikir akhirnya ia menjawab dengan mengigit bibir.

"Betul, di laut lepas sana memang ada suatu tempat begitu, tapi di sana tidak ada tetumbuhan, juga tiada arak dan daging segala."

"Habis apa yang ada di sana?"

Tanya Coh Liu-hiang.

"Di sana memang ada macam-macam, macam-macam rahasia yang sukar dibayangkan orang, bahkan setiap rahasia akan dijual menurut harga penawaran tertinggi,"

Tutur Kim Leng-ci.

"Dijual menurut harga penawaran tertinggi?"

Coh Liu-hiang mengulang keterangan itu dengan mengernyitkan kening.

"Ya, sebab rahasia-rahasia itu selain memang bernilai sangat tinggi jgua sangat besar dan penting sangkut pautnya, maka penguasa di tempat itu setiap setahun sekali pasti mengundang sementara orang yang bersangkutan agar berkunjung ke sana untuk membeli rahasia-rahasia yang berhasil mereka kumpulkan. Terkadang sebuah rahasia diperebutkan orang untuk membelinya, karena itulah lantas diadakan lelang, harga penawaran tertinggi yang mendapatkan rahasia itu."

"Ehm, umpamanya.... Jing-hong-cap-sah-sik Hoa-san-pay, begitu?"

Kata Coh Liu-hiang. Kembali Kim Leng-ci mengigit bibir, jawabnya.

"Betul, rahasia Jing-hong-cap-sah-sik itu memang kubeli dari mereka. Sebab seorang murid Hoa-san-pay pernah menghina diriku, yang digunakannya tiada lain adalah ilmu pedang Jing-hongcap-sah-sik, maka dengan segala daya upaya akupun berusaha membeli ilmu pedang itu, akan kubalas dendam supaya orang Hoa-san-pay itu juga terjungkal oleh ilmu pedang yang sama."

Ia merandek sejenak, lalu menyambung pula.

"Tapi penguasa Siau-kim-kut itupun pernah memperingatkan padaku agar ilmu pedang yang kubeli ini jangan sekali-sekali dipertunjukkan di depan umum, jika larangan itu kulanggar, maka ilmu pedang ini akan ditarik kembali."

Thio Sam mengerut kening, katanya.

"Ilmu pedang yang sudah dipelajari dengan baik, cara bagaimana dicabut kembali?"

Sudah tentu mereka mem... mempunyai cara sendiri,"

Kata Kim Leng-ci.

Sampai di sini, nona yang biasanya tidak takut pada langit dan tidak gentar pada bumi, sorot matanya menampilkan rasa jeri.

Jelas dia cukup kenal cara bagaimana orang itu memperlakukan orang lain yang dianggap bersalah.

"Tempo hari, karena kau marah, tanpa sadar kau mainkan Jing-hong-cap-sah-sik dan kebetulan dilihat Ting Hong, maka kau diancam olehnya dan terpaksa melakukan sesuatu perbuatan di luar kehendakmu, begitu bukan?"

Tanya Coh Liuhiang. Kim Leng-ci mengangguk, matanya tampak agak merah. Coh Liu-hiang menghela napas, katanya.

"Jika begitu, jadi nona Kim pernah mendatangi tempat itu?"

"Ehm,"

Si nona mengangguk.

"Sesungguhnya bagaimana bentuk pemimpin tempat itu?"

Tanya Coh Liu-hiang pula.

"Entah, aku sendiri tidak pernah melihatnya, siapa pun tidak dapat melihatnya,"

Jawab Kim Leng-ci.

"Sebab apa tak dapat melihatnya? Apakah dia dapat menghilang?"

Saking tak tahan, akhirnya Oh Thi-hoa bertanya. Kim Leng-ci melorotinya sekejap, jengeknya.

"Setiba di sana, kau tentu akan tahu sendiri apa sebabnya."

OH Thi-hoa menghela napas, ucapnya.

"Melihat gelagat sekarang ini, mungkin selamanya kita takkan datang ke sana, mengapa tidak kau ceritakan saja sekarang?"

"Aku tidak suka bercerita,"

Jawab Kim Leng-ci ketus.

Oh Thi-hoa ingin tanya pula, tapi Coh Liu-hiang tahu bilamana anak perempuan seperti Kim Leng-ci sudah bilang 'tidak suka', maka biarpun menyembah padanya dan membujuknya hingga mulut robek juga tidak dapat mengubah pendiriannya.

Sebab itu ia tahu bula tak dapat menanyai dia, tentu akan marah, dan dia justru menghendaki kemarahannya.

"Dan sekarang mungkin sudah tiba waktunya mereka melelang rahasia,"

Kata Coh Liu-hiang.

"Tentu Ting Hong adalah orang yang ditugaskan menyambut kedatangan para undangan. Sedangkan tamu-tamu yang tidak diundang seperti kita ini tentu saja tidak akan disambutnya dengan baik."

"Dia juga khawatir kalau kita pun akan mencari ke sana, maka jalan paling baik adlaah mencari akal untuk mengumpulkan orang-orang yang tidak disukai mereka pada suatu tempat, kemudian membunuhnya satu per satu,"

Kata Oh Thi-hoa.

"Dan tempat yang paling ideal adalah di atas kapal,"

Tukas Thio Sam.

"Di atas kapal, naik ke langit tak bisa, menyusup ke bumi tak mungkin, ingin lari juga tiada tempat berpijak, terkecuali terjun ke laut sebagai umpan ikan hiu."

"Tapi mengapa dia sengaja memasang beberapa peti mati di sini?"

Kata Oh Thi-hoa pula.

"Apakah karena khawatir ktia terlalu meremehkan dia, maka sengaja pamer kekuatan agar kita berjaga-jaga sebelumnya?"

"Sudah tentu bukan begitu maksudnya,"

Ujar Coh Liu-hiang dengan tertawa.

"Bukan begitu maksudnya, lalu apa maksudnya? Sungguh aku tidak mengerti,"

Kata OH Thi-hoa.

"Dia bertindak begini, tujuannya agar kita saling curiga, bila kita tidak saling percaya, tentu kesempatan akan lebih terbuka baginya untuk turun tangan,"

Tutur Coh Liu-hiang.

"Apalagi kalau seseorang sudah menaruh curiga terhadap sesuatu urusan, maka segala apa pun akan dicurigainya, reaksinya akan menjadi lamban, pikiran juga kacau."

"Betul, inilah siasat berdasarkan ilmu jiwa, yaitu bikin bingung lawan, dengan begitu jadi mudah turun tangan,"

Tukas Eng Ban-li sambil manggut-manggut. Dia tertawa, lalu menyambung pula.

"Cuma sayang, dia tetap salah hitung satu hal."

"Salah hitung hal apa?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Dia menilai rendah Coh-hiangswe, dia belum mahir memahami pihak lawan dan tidak tahu kekuatan sendiri,"

Jawab Eng Ban-li.

"Dia mengira segala sesuatunya telah diaturnya dengan rapi, tak tersangka tetap ada kelemahannya dan dapat diketahui oleh Coh-hiangswe."

"Rupanya dia menyadari ada hal-hal yang tak dapat mengelabui orang lain, maka dia lantas bertindak lebih dulu dengan pura-pura mati,"

Kata Thio Sam.

"Dia mengira tiada seorang pun akan menyangka bahwa orang mati adalah si pembunuhnya."

"Tindakan ini memang sangat lihai,"

Kata Coh Liu-hiang.

"Semula aku memang mencurigai dia, tapi begitu dia mati, aku menjadi bingung juga."

"Waktu itu mengapa tidak kau pikirkan mengapa dia meninggalkan pesan padaku agar membawa pulang abu tulangnya kepada ibunya?"

Kata Coh Liu-hiang dengan menyesal.

"Dia meninggalkan pesan begitu, sebab ia tidak mati sungguh-sungguh, dia cuma khawatir kalau mayatnya akan dibuang ke laut,"

Jengek Oh Thi-hoa.

"Tapi dalam sehari di kapal ini telah mati beberapa orang, apalagi semua orag tahu selekasnya akan menyusul orang mati pula, maka ketika dia mati mendadak, orang lain tidak menyangka dia cuma mati pura-pura saja, sebab menurut ilmu jiwa, setiap orang pasti mempunyai sifat kebiasaan."

"Sifat kebiasaan bagaimana?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Sifat kebiasaan, yakni karena sesuatu yagn sudah terbiasa,"

Tutur Coh Liu-hiang.

"Umpamanya segerombolan domba terkurung di suatu kandang, apabila kawanan domba itu akan keluar kandang, pintu kandang dipalang dengan sepotong kayu, maka domba-domba itu akan melompati palang kayu untuk keluar. Bil;a domba pertama sudah melompat, domba kedua juga melompat dan begitu seterusnya hingga domba keduapuluh juga sudah melompati palang itu, bila mendadak palang itu disingkirkan, meski sudah jelas pintu kandang tiada perintang lagi, namun domba yang kedua puluh satu tetap akan main lompat, seperti juga kawankawannya yang lebih dulu...."

Oh Thi-hoa menjadi dongkol, omelnya.

"Tapi kita kan manusia dan bukan domba."

"Inilah yang dinamai sifat kebiasaan, bukan hanya domba yang punya sifat demikian, manusia juga,"

Kata Coh Liu-hiang. Sampai lama Oh Thi-hoa meraba hidungnya ala Coh Liuhiang, ia menggeleng dan bergumam.

"Apa yang diucapkan orang ini terkadang sukar dipahami oleh siapa pun, tapi lebih sering ucapannya memang masuk di akal, mengapa bisa terjadi begini?"

Coh Liu-hiang tertawa, katanya pula.

"Ting Hong memang sudah memperhitungkan dengan baik setiap urusan, cuma sayang, pada akhirnya dia salah hitung lagi seseuatu."

"Salah hitung dalam hal apa?"

Tanya Thio Sam.

"Dia menilai rendah Oh Thi-hoa, dia mengira sekali Siau Oh jatuh mabuk, maka segalanya menjadi lupa daratan, maka kesempatan itu akan digunakannya untuk membereskan Siau Oh. Tak terduga orang yang sering mabuk, bila siuman, jauh lebih cepat daripada orang lain."

"Betul, cepat mabuk tentu juga cepat sadar kembali,"

Tukas Thio Sam dengan tertawa.

"Karena usahanya membunuh Siau Oh gagal, dengan sendirinya ia cepat melarikan diri melalui lorong di balik tempat tidur yang dapat menjeplak itu, namun wajahnya keburu dikenali Siau Oh, meski belum pasti kita mengetahui rahasianya pura-pura mati itu, tapi orang macam Ting Hong itu tak mau menanggung resiko, terpaksa ia gunakan cara terakhir, yaitu kabur."

"Betul, apapun juga yang diperbuatnya selalu disertai dengan jalan mundur teratur,"

Kata Eng Ban-li.

"Pura-pura mati juga jalan mundurnya yang pertama, ketika jalan ini pun buntu, terpaksa ia ganti jalan lain."

"Mungkin dia sudah berunding dengan Kau Cu-tiang, bila keadaan gawat, Kau Cu-tiang disuruh memancing menyingkirkan kita, dengan begitu ada kesempatan baginya untuk kabur."

"Lautan seluas ini, dia dapat kabur kemana?"

Ujar Pek Lak.

"Di atas geladak semula ada sebuah sampan, yaitu sampan pertolongan darurat bila terjadi kecelakaan,"

Kata Coh Liu-hiang.

"Waktu naik ke geladak tadi, kulihat sampan itu sudah tidak ada lagi pada tempatnya."

"Sampan macam begitu bisa meluncur berapa jauh di lautan lepas ebgini, sedikit gelombang besar saja dapat menelannya,"

Ujar Pek Lak.

"Kalau melihat cara kerja Ting Hong yang rapi, kukira di sekitar sini pasti ada kapal mereka yang siap memberi bantuan padanya,"

Ujar Eng Ban-li. Pek Lak terdiam sejenak, tiba-tiba tertawa dan berkata.

"Akhirnya dia sendiri kabur dan tetap tak bisa membunuh kita."

Mendadak Eng Ban-li tidak bersuara lagi. Coh Liu-hiang tersenyum getir, katanya.

"Dia meninggalkan kita, justru lantaran tahu kita tak dapat hidup lama lagi." *** Dalam keadaan yang betapa buruknya, Coh Liu-hiang senantiasa optimis dan penuh harapan. Dia seperti tidak pernah kenal apa artinya putus harapan. Akan tetapi kata-kata "tak dapat hidup lama"

Kini justru keluar dari mulutnya.

"Tak dapat hidup lama? Mengapa tak dapat hidup lama?"

Tanya Pek Lak dengan terkesiap.

"Lautan seluas ini, kita tak memiliki peralatan apa pun, tidak punya peta, tidak ada kompas. Entah dimana ada pulau dan dimana letak daratan,"

Kata Coh Liu-hiang.

"Sebelum dia meninggalkan kapal ini, lebih dahulu dia membinasakan semua kelasi, tujuannya untuk membuat kita menghadapi jalan buntu."

"Tapi kita kan dapat putar haluan kembali ke arah semula,"

Ujar Oh Thi-hoa.

"Kapal ini cukup besar,"

Kata Coh Liu-hiang dengan menyesal.

"Meski Thio Sam mahir ilmu pelayaran, sedikit banyak aku pun paham, tapi dengan tenaga kami berdua betapapun sulit untuk mengendalikan kapal sebesar ini apalagi...."

"Apalagi apa?"

Sela Oh Thi-hoa.

"Persoalan yang paling gawat adalah air minum dan perbekalan.."

"Itu tidak menjadi soal,"

Sela Oh Thi-hoa sebelum lanjut ucapan Coh Liu-hiang.

"Tadi sudah kuperiksa di bagian dapur sana, air dan makanan tersedia cukup."

"Jika tidak salah dugaanku. Ting Hong pasti tidak meninggalkan barang-barang itu,"

Ucap Coh Liu-hiang. Oh Thi-hoa jadi melengak, segera ia memutar tubuh dan berkata.

"Akan kulihat lagi ke sana. bisa jadi dia lupa...."

"Tidak perlu dilihat lagi. dia tidak lupa,"

Seru Eng Ban-li. Seketika Oh Thi-hoa mematung di tempat seperti terpaku.

"Waktu mencari orang."

Tutur Eng Ban-li sambil menghela napas panjang.

"Kulihat gentong air di sana sudah dihancurkan seluruhnya, satu cangkir pun tidak ketinggalan."

"Dan makanannya?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Makanan memang masih utuh, sebab dia tahu mati kehausan jauh lebih cepat mati daripada mati kelaparan, malahan jauh lebih menderita,"

Kata Eng Ban-li.

"Apa alangannya jika tidak ada air minum?"

Tiba-tiba Kim Leng-ci ikut bicara.

"Air laut begini banyak, diminum selama hidup juga takkan habis,"

Nona ini benar-benar masih hijau dan sama sekali tidak paham seluk beluk orang hidup, tentu saja semua orang merasa geli, hampir saja Oh Thi-hoa terbahak-bahak.

Sebaliknya Kim Leng-ci lantas mendelik, omelnya.

"Apa yang kau gelikan? Memangnya aku salah omong?"

Oh Thi-hoa menahan ketawanya dan menjawab.

"Omonganmu memang benar, sangat benar,"

Ia merandek sejenak, lalu menyambung pula.

"Dahulu ada seorang raja yang sangat arif. suatu hari beliau melakukan inspeksi kota, dilihatnya sebagian besar penduduk kota hampir mati kelaparan, beliau menjadi heran dan bertanya apa yang terjadi? Maka pembesar setempat lantas melapor bahwa karena musim kemarau yang panjang, panen terganggu, maka rakyat tak dapat makan nasi. Sang raja bertambah heran dan bertanya jika tak ada nasi, mengapa tidak makan daging babi atau daging sapi?"

Dalam keadaan demikian masih ada orang sempat mendongeng.

kecuali Oh Thi-hoa mungkin sukar dicari orang kedua.

Kim Leng-ci tampak terbelalak mendengar cerita Oh Thihoa itu, agaknya dia belum lagi paham kiasan ceritanya.

Melihat Kim Leng-ci sedemikian polos, dengan tersenyum Eng Ban-li menjelaskan.

"Air laut terlalu asin dan tak dapat diminum, jika diminum bisa jadi akan tumpah-tumpah dan juga menjangkitkan penyakit lain."

Muka Kim Leng-ci menjadi merah, ia mengigit bibir dengan rasa malu, baru sekarang ia menyadari kedangkalan pengetahuan umumnya. Mendadak ia berteriak.

"He, lihat, apa itu?"

Waktu semua orang memandang ke arah yang ditunjuk, kiranya di pojok sana ada sebuah kopor warna hitam.

Itulah kopor milik Kau Cu-tiang yang selalu dibawanya kemanapun dia pergi.

Oh Thi-hoa mendahului memburu ke sana, koper itu terus dijinjing dan diperiksanya dengan teliti, katanya kemudian.

"Betul, inilah koper Kau Cu-tiang."

"Koper itu tidak pernah lepas dari tangannya dan dipandang lebih penting daripada nyawanya, mengapa sekarang ditinggalkan di sini?"

Ujar Thio Sam.

"Jangan-jangan koper itu sudah kosong?"

Kata Pek Lak. Oh Thi-hoa mengangkat koper itu dan berkata.

"Tidak kosong, berat sekali rasanya. sedikitnya ada ratusan kati."

"Pertama kali kulihat dia, memang sudah timbul rasa heranku. apa isi koper yang selalu dibawanya kian kemari ini? Mengapa dia pandang koper ini sedemikian penting dan berharga?"

Thio Sam tertawa, lalu melanjutkan.

"Tapi sekarang tanpa membuka kopernya juga dapat kuterka apa sebabnya."

"O, bilakah kau pun berubah pintar?"

Tanya Oh Thi-hoa. Thio Sam tidak menghiraukan ejekan Oh Thi-hoa, ia berkata pula.

"Isi koper ini pasti barang berharga hasil rampokannya, makanya dia pandang koper ini sedemikian penting."

Seketika mata Pek Lak terbeliak, segera ia pun menjulurkan tangan hendak memegang koper itu. Tiba-tiba Coh Liu-hiang tertawa dan berkata.

"Mungkin kau salah terka."

"Masa salah terka?"

Tanya Thio Sam.

"Jika koper ini berisi harta benda yang tak ternilai, biarpun Kau Cu-tiang lupa membawanya kabur, tentu Ting Hong takkan lupa,"

Ujar Coh Liu-hiang.

"Betul, jika tidak membawa harta benda itu hakikatnya dia tidak memenuhi syarat untuk berkunjung ke sarang emas sana,"

Kata Eng Ban-li. Perlahan-lahan Pek Lak menarik kembali tangannya, mukanya menjadi rada merah. Oh Thi-hoa melirik Thio Sam sekejap, katanya tertawa.

"Huh, kukira kau sudah pintar, rupanya masih tetap goblok."

Thio Sam balas melototinya dan menjawab.

"Baik, coba kau terka, apa isi koper ini?"

"Aku tidak dapat menerkanya, juga tidak perlu terka,"

Jawab Oh Thi-hoa.

"Koper berada di tanganku, asalkan kubuka kan lantas tahu segalanya?"

Koper itu ada gemboknya, gembok yang kuat dan indah buatannya. Oh Thi-hoa bergumam.

"Jika koper saja ditinggalkan di sini, mengapa kuncinya tidak ditinggalkan sekalian?"

Segera ia bermaksud membuka gemboknya, tapi mendadak berhenti. ucapnya dengan tertawa.

"Kan ada seorang panglimanya tukang copet. untuk apa aku bersusah payah?"

Coh Liu-hiang tahu dirinya yang dimaksudkan Oh Thi-hoa. ia tertawa, koper diterimanya, lalu diperiksanya dengan teliti. Sejenak kemudian barulah ia berkata.

"gembok ini buatan Tio Moa-cu di gang Kunci di Pakkhia, aku pun belum tentu sanggup membukanya."

"Bolehkah aku coba membukanya?"

Tiba-tiba Pek Lak berkata, Betapapun dia merasa sangsi jika koper itu diserahkan kepada orang lain.

"Hendaklah engkau hati-hati sedikit."

Kata Coh Liu-hiang.

"Ada sementara koper yang dipasang pegas dan alat rahasia lain yang dapat membidikkan panah beracun, asap berbisa dan sebagainya. Pada hematku, kalau bisa janganlah membukanya."

Pek Lak tertawa. katanya.

"Toh kita sudah menghadapi jalan buntu, apa alangannya kalau menyerempet bahaya sedikit?"

Dengan tangan kiri memegang koper, tangan kanan segera melolos sebilah belati mengkilap dari laras sepatunya, sekali pandang saja orang akan tahu belati ini pasti senjata maha tajam.

Oh Thi-hoa yang pertama tidak tahan dan berseru memuji.

"Pisau bagus!"

Pek Lak tampak bangga, ucapnya.

"Ini hadiah dari Him tayciangkun. konon adalah benda berumur ribuan tahun."

Baca Juga: Pendekar Pemanah Rajawali 2

Baca Juga: Kemelut Blambangan 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert