Eps 2 Pendekar Pemanah Rajawali - Jin Yong
Baca online Pendekar Pemanah Rajawali - Jin Yong
Cersil Pendekar Pemanah Rajawali - Jin Yong.
"Kau tinggal di tangsi tentera, kau memangku pankat, siapa berani perhina padamu?"
Paman itu tanya pula. Terus Thian Tek kasih lihat roman sangat berduka.
"Aku diperhina satu imam,"
Dia menyahut dengan cerita karangannya.
"Imam itu kepung-kepung aku hingga tak tahu kemana aku mesti singkirkan diri. Peehu, dengan memandang kepada muka ayah, aku minta kau suka tolongi keponakanmu ini…."
Melihat roman orang, Kouw Bok merasa berkasihan juga.
"Kenapa itu imam kepung-kepung padamu?"
Ia tanya. Thian Tek sudah bangun berdiri, lekas-lekas dia berlutut pula.
"Celaka, keponakanmu celaka,"
Dia menjawab.
"Kemarin dulu aku pergi ke barat jembatan Ceng Leng Kio. Aku turur beberapa kawan. Disana kami bermain-main di Lam-wa-cu di bawah rangon Hie Cun Lauw…."
"Hm…!"
Sang paman perdengarkan suara di hidung. Lam-wa-cu itu diambil dari kata-kata wa-sia, dan wa-sia berarti "rumah genting". Lebih jauh, wa-sie itu diambil sebagai arti ringkas dari sebutan.
"Diwaktu datang, genting utuh; diwajtu pergi genting pecah". Lebih tegas lagi bermaksud.
"gampang berkumpul, gampang bubar" . Tapi maksudnya nag paling jelas ialah. Di jaman Song itu, setelah pemerintahan dipindah ke selatang, untuk mengikat hati tentera, pemerintah mengadakan apa yang dinamakan wa-sia itu di dalam dan di luar kota Hangciu. Itulah tempat pelesiran serdadu. Penghuni wan-sia adalah wanita-wanita melarat yang tidak punya sanak kandung. Mulanya itu mereka jadi barang permainan tentera, belakangan orang berpangkat atau sembarang hartawan pun dapat permainkan mereka. Thian Tek pura-pura tuli untuk ejekan pamannya itu. Ia omong terus.
"Aku ada punya satu nona kenalan, hari itu aku minum arak bersamanya. Tiba-tiba muncul imam itu, dia memaksa si nona melayani padanya…"
"Mustahil seorang suci pergi ke tempat semacam itu!"
Kouw Bok menyela.
"Tapi kejadiannya benar demikian. Maka itu aku telah singkirkan dia, aku suruh dia pergi. Nyata dia sangat galak. Dia damprat aku, dia katakan aku bakal terpisah kepala dari badanku, hingga tak perlu aku main gila."
"Apa maksudnya dengan kata-katanya kepala terpisah dari badan?"
Tanya Kouw Bok lagi.
"Dia menjelaskan, tak lama lagi tentera bangsa Kim akan datang menyeberang ke sini, tentera itu bakal membunuh habis semua pembesar dan tentera kita…"
Kouw Bok lantas saja menjadi gusar.
"Dia berani mengatakan demikian?!"
"Benar, dasar tabiatku jelek, aku tegur dia dan jadi berkelahi karenanya. Sayang aku bukan tandingan dia itu. Aku lari, dia mengejar, mengejar terus-terusan, karena habis jalan, terpaksa aku lari ke mari. Aku minta peehu suka tolongi aku…."
Thian Tek pura-pura merengek.
"Aku adalah seorang suci, tak dapat aku urus perkara main perempuan kamu ini,"
Berkata paderi itu.
"Tolong, peehu,"
Thian Tek merintih.
"Tolong untuk kali ini saja. Aku tak berani main gila lagi…."
Dasar orang suci dan mengingat juga kepada almarhum saudaranya, hati Kouw Bok tergerak.
"baik,"
Kata dia akhirnya.
"Untuk beberapa hari kau boleh berdiam di sini. Aku larang kau main gila pula!"
Thian Tek menghanturkan terima kasih berulangulang.
"Satu pembesar tentera begini tidak punya guna, ah…."
Kouw Bok mengeluh.
Ia menghela napas panjang.
Lie Peng sudah diancam oleh Thian Tek, walaupun ia tahu orang sudah mendusta, ia tutup mulut.
Lewat lhor itu hari, tie-kek-cung, yaitu paderi tukang layani tetamu, lari masuk dengan tegesa-gesa, ia menemui Kouw Bok dan melaporkannya dengan gugup.
"Di luar ada satu imam, galak dia, dan dia minta Toan Tiang-khoa keluar menemui padanya…."
Thian Tek adalah satu perwira, maka itu dia dipanggil tiang-khoa.
"Panggil Thian Tek,"
Kouw Bok menitah.
"Dia, benar dia…"
Kata Thian Tek, semunculnya dia.
"Imam itu sangat galak, dia adalah paderi dari partai mana?"
Tanya sang paman.
"Entahlah dia imam dari desa mana,"
Thian Tek mendusta tak kepalang tanggung.
"Sebenarnya tak seberapa ilmu silatnya, dia Cuma bertenaga besar, dasar aku yang tidak punya guna, aku tak sangggup lawan dia…"
"Baiklah, nanti aku temui dia."
Kouw Bok pakai jubahnya, terus ia pergi keluar.
Ia lantas bertemu sama si imam, ialah Khu Cie Kee, selagi imam itu hendak memaksa memasuki pendopo walaupun paderi penjaga pendopo mencegah padanya.
Ia maju mendekati, ia terus tolak bahu si imam itu.
Ia nampaknya menggeraki tangan dengan perlahan tetapi ia menggunai tenaga dalam.
Ia ingin mendorong imam itu keluar pendopo.
tapi begitu ia kena langgar bahu si imam, ia kaget sekali.
Ia kena langgar daging yang empuk bagaikan kapas.
Celakanya, waktu ia hendak tarik pulang tangannya, ia telah terlambat, diluar kendalinya, tubuhnya tertolak mundur keras sekali, tidak ampun lagi ia terlempar membentur patung Wie Hok di pendopo itu, sudah tentu benturan itu menimbulkan suara yang keras, separuh patung pun gempur!
Dalam kagetnya yang tak terkira, Kouw Bok berpikir.
"Dia lihay sekali, ia bukan Cuma besar tenaganya…"
Lekas-lekas ia rangkap kedua tangannya untuk memberi hormat seraya menanya.
"Ada pengajaran apakah maka totiang datang berkunjung ke kuil kami ini?"
"Aku datang mencari satu bangsat busuk she Toan!"
Cie Kee menjawab ringkas. Kouw Bok insyaf bahwa ia bukan tandingan ini imam, ia berlaku sabar.
"Seorang pertapa perpokok kepada belas kasihan dan murah hati, kenapa totiang berpandangan sama dengan seorang biasa saja?"
Ia tanya.
Cie Kee tidak menjawab pertanyaan itu, ia hanya bertimdak masuk.
Lebar tindakannya itu.
Ketika itu, dengan seret Lie Peng, Thian Tek sudah umpatkan diri ke dalam sebuah kamar, karenanya tentu saja ia tak dapat dicari.
Cie Kee juga tidak berani menggeledah, sebab ia dapatkan kenyataan, di hari-hari dari musim semi itu Kong Hauw Sie kedatangan banyak penduduk yang bersujud, penduduk pria dan wanita.
Sebagai seorang yang beribadat, ia tak mau mengganggu kesujudan banyak orang itu.
Dengan tertawa dingin, terpaksa ia berlalu.
Kouw Bok lirik tie-kek-ceng untuk suruh muridnya itu antar tetamu tak diundang itu.
Setelah mengetahui orang sudah pergi, Thian Tek keluar dari persembunyiannya.
"Mana dia hanya satu imam dusun!"
Kata Kouw Bok dengan mendongkol.
"coba kalau dia tidak berlaku murah, jiwaku pasti sudah melayang!"
Thian Tek membungkam, ia tak berani membuka mulut.
"Dia sudah pergi jauh,"
Kata tie-kek-ceng, yang muncul di depan gurunya.
"Apakah dia mengucapkan sesuatu?"
Tanya Kouw Bok setelah berdiam sesaat.
"Dia tak bilang suatu apa,"
Jawab muridnya itu.
"Inilah aneh,"
Mengatakan Kouw Bok.
"Apakah ada sikapnya yang aneh selagi dia hendak berlalu?"
Tanya lagi.
"Tidak, kecuali setibanya ia di mulut pintu pekarangan, dia sendarkan diri di dua singa-singaan batu, agaknya ia sangat letih,"
Sahut tie-kek-ceng.
"Dia membuang napas, habis itu dia angkat kaki sambil tertawa haha-hihi."
Lanjut muridnya lagi.
"Ah, celaka, celaka…."
Kouw Bok lantas mengeluh.
"Celakalah singa-singaan kita itu, yang usianya tetelah beberapa ratus tahun…"
Dan tangannya melayang ke muka Thian Tek.
"Singa-singaan itu musnah di tanganmu!"
Katanya, habis mana ia lari keluar.
Thian Tek dan tie-kek-ceng menjadi heran, lebih-lebih Thian Tek yang mukanya menjadi bengap dan merah, hingga ia mesti bekapi mukanya itu.
Keduanya turut lari keluar, akan susul Kouw Bok.
Di pintu pekarangan, Kouw Bok Hweshio berdiri bengong mengawasi sepasang cio-say, singa-singaan batu, yang disebutkan tadi.
Nampak romannya yang sangat berduka dan menyayangi singa-singaan itu.
"Kenapa peehu?"
Sang keponakan tanya.
"Inilah takdir…"
Sahut si paderi dengan masgul.
"Aku keliru sudah menyalahkan kau…. Kau tahu, sepasang cio-say ini adalah barang peninggalan jaman Lam Pak Tiauw, ketika itu Kaisar Liang Bu Tee telah memanggil tukang yang pandai untuk membuatnya. Sampai sebegitu jauh, aku pandang Cio-sang itu sebagai mustikanya Kong Hauw Sie. Sekarang….ah!"
Ia menghela napas panjang.
Thian Tek masih tidak mengerti.
Ia awasi cio-say itu, yang tidak kurang suatu apa.
Oleh karena penasaran, ia dekati singa-singaan batu itu, ia raba kepalanya.
Tiba-tiba saja ia menjadi kaget.
Seperti tanpa merasa, begitu kena diraba, kuping dan hidungnya cio-say itu runtuh jatuh.
Ia segera tarik pulang tangannya itu, matanya mengawasi pamannya.
Kouw Bok menghela napas pula.
"Cio-say ini telah dirusak si imam dengan menggunai tenaga dalamnya…"
Katanya. Tie-kek-ceng heran, ia pergi tolak tubuh cio-say yang satunya lagi. Tiba-tiba saja, singa batu itu gempur dan rubuh, bertumpuk bagaikan puing. Tentu saja ia kaget hingga mukanya pucat.
"Eh…kenapa jadi beini…? katanya.
"Luar biasa sempurnya tenaga dalam dari imam itu,"
Kata Kouw Bok, suaranya perlahan dan penuh rasa sangat menyesal.
"Cio-say, cio-say, untuk beberapa ratus tahun kamu bercape lelah menjaga pintu kuil ini, maka sekarang, pergilah kamu dengan baik-baik…"
Kemudian dia berpaling kepada Toan Thian Tek. Ia berkata pula.
"Dia demikian lihay, apa mungkin ia sudi layani kau yang begini hina memperebuti segala bunga berjiwa?"
Thian Tek kaget, tidak berani dia membuka mulutnya.
"Adikku seperguruan, Ciauw Bok Taysu, lebih pandai sepuluh lipat daripada aku, mungkin dia sanggup melayani imam itu,"
Kata Kouw Bok kemudian.
"Pergilah kau kesana, kepada suteeku itu."
Meyaksikan lihaynya Khu Cie Kee, Thian Tek tahu tidak selamat ia berdiam terus di Kong Hauw Sie ini, dari itu ia tidak bantah pamannya itu, ia cuma minta surat perantara, lalu dengan menyewa perahu, malam itu ia ajak Lie Peng berlayar ke Kee-hin, untuk pergi menumpang pada Ciauw Bok Taysu.
Paderi dari Hoat Hoa Sian Sie tidak menduga apa-apa, ia tidak sangka yang kawannya Thian Tek adalah satu wanita dalam penyamaran, ia terima mereka itu menumpang.
Keras adalah hatinya Khu Cie Kee, ia berhasil menyusul Thian Tek.
Kebetulan ia lihat Lie Peng di dalam tamannya kuil.
Ia mengawasi, kecurigaannya timbul.
Sayang ia terlambat.
Ketika kemudian ia lompat masuk ke dalam pekarangan, Lie Peng sudah disembunyikan Thian Tek dalam ruang bawah tanah.
Ingat Lie Peng, Khu Cie Kee ingat Pauw-sie.
Ia mau percaya, Pauw-sie pun disembunyikan di dalam kuil Hoat Hoa Sian Sie itu.
Maka itu ia ketemukan Ciauw Bok Taysu, ia minta supaya Lie-sie dan Pauw-sie diserahkan kepadanya.
Karena ia telah lihat Lie-sie dan Pauw-sie diserahkan kepadanya.
Karena ia telah lihat Lie-sie dengan matanya sendiri, ia tidak mau percaya sangkalannya paderi itu, ia berkeras.
Ciauw Bok Taysu merasa tidak ungkulan melawan imam itu, begitu ia ingat pada Kanglam Cit Koay, ia pergi minta bantuannya tujuh Manusia Aneh dari kanglam itu.
Demikianlah mereka berkumpul di restoran Cui Sian Lauw, sampai setiba Tiang Cun Cu dengan jambangan araknya yang istimewa itu.
Habis menutur Ciauw Bok Taysu menambahkan.
"Telah lama aku dengar Tiang Cun Cu lihay, sekarang kita dapat buktikan itu. Turut penglihatanku, dia seperzi bukan hendak mengacau, maka aku mau percaya, pada ini mesti terselip salah mengerti."
"Aku pikir baiklah minta datang dua orang yang kakakmu itu perkenalkan,"
Kim Hoat menyarankan.
"Coba kita tanyakan keterangannya."
"Benar,"
Ciauw Bok Taysu menyatakan akur.
"Aku memang bekum pernah tanyakan sesuatu kepada mereka."
Paderi ini hendak suruh panggil Thian Tek tempo Tin Ok peringatkan.
"Ciauw Bok Suheng, mungkin imam itu menyusul kita, maka kalau kita bertempur pula, mestinya jalannya tak sama dengan yang di rumah makan, dia tidak bakal berlaku murah hati lagi. Pastilah dia menyangka kita telah bekerja sama dengan pihak Kim."
"Kwa Toako betul, maka itu mesti kita cari jalan untuk mengerti satu pada lain,"
Berkata si pederi.
"Yang dikhawatirkan justru salah mengerti ini sukar dijelaskan…"
Kata Tin Ok pula.
"Kalau terpaksa kita maju berdelapan…"
Cu Cong turut berbicara.
"Delapan orang lawan satu orang, itulah tidak benar…"
Menyangsikan Han Po Kie.
"Aku pikir tak apa,"
Kata Coan Kim Hoat.
"Kita tidak berniat binasakan dia, melainkan kita menghendaki dia sabar mendengarkan penjelasan Ciauw Bok Taysu."
"Apakah nama kita tidak bercacat seumpama tersiar diluaran Ciauw Bok Taysu bersama Kanglam Cit Koay mengepung satu orang?"
Han Siauw Eng pun bersangsi.
Belum putus pembicaraan mereka, mereka telah dikagetkan suara keras yang datangnya dari toan-thian, pendopo besar.
Suara itu seperti suaranya dua genta beradu keras, suara itu lalu mengaung, mengalun.
"Nah, si imam datang!"
Seru Kwa Tin Ok, sambil ia melompat.
Berdelapan mereka memburu ke depan.
Lagi sekali mereka dengar suara nyaring seperti tadi, hanya kali ini disusul sama campuran suara rengatnya barang logam.
Seperti terlihat Khu Cie Kee, dengan jambangan arak di tangannya, sedang menggempur genta di toa-thian itu.
Dia menyerang beberapa kali, sampai jambangan perunggu itu retak.
"Citmoay, mari kita maju lebih dahulu!"
Ho Po Kie teiaki adiknya.
Ia dan adiknya itu memang yang paling aseran diantara Cit Koay.
Ia pun lantas tarik Kim-liong-pian-cambuk Naga Emas, dari pinggangnya, dengan sabetan "Naga hitam menggoyang ekor", dia mencoba melilit lengan si imam yang memegang jambangan.
Di pihak lain Han Siauw Eng sudah hunus pedangnya, yang tajam mengkilap, dengan itu ia lompat menikam bebokong imam itu.
Diserang dari depan dan belakang, Khu Cie Kee tidak menjadi gugup.
dengan satu gerakan tangan kanannya, ia membuat terbitnya suatu suara nyaring.
Cambuk Naga Emas bukannya melilit tangan, hanya menghajar jambangan perunggu itu.
Berbareng dengan itu, dengan satu egosan tubuh, si imam juga bebaskan diri dari ujung pedangnya si nona.
Lincah sekali caranya ia berkelit.
Siauw Eng menjadi penasaran, ia ulangi serangannya, beruntun beberapa kali.
Ia kembali gagal.
Cepat sekali Khu Cie Kee ketahui ilmu silat pedang si nona.
Di jaman dahulu, negeri Gouw bermusuh dengan negeri Wat.
Untuk dapat menelan negeri Gouw itu, Raja Wat, yang bernama Kouw Cian, melatih keuletan diri dengan tidur sambil mencicipi nyali yang pahit.
Sayang untuknya, ia mesti menghadapi Ngow Cu Sih, panglima sangat tangguh dari negeri Gouw itu, yang pandai sekali mengatur tentera.
Ia menjadi sangat tidak puas dan berduka.
Pada suatu hari ia kedatangan satu gadis yang cantik, yang pandai ilmu silat pedang.
Ia menjadi sangat girang, ia minta si gadis ajari ia ilmu silat itu.
Kali ini ia berhasil, negeri Gouw dapat dimusnahkan.
Kota Kee-hin adalah tapal batas kedua negeri Gouw dan Wat itu, di situ kedua negara biasa berperang.
Oleh karena disitulah tersiar luas perihal ilmu pedangnya si gadis Wat itu, yang sekarang dipunyai Han Siauw Eng.
Ilmu silat itu asalnya tigapuluh enam jurus, di tangan nona Han, ia perbaiki, ditambah hingga menjadi empatpuluh sembilan jurus.
Penambahan ini penting untuk si nona, karena ia berkecimpung di dunia kang-ouw -Sungai Telaga – sedang raja Wat pakai ilmu itu dalam peperangan, untuk membinasakan panglima dan merubuhkan kuda perang.
Oleh karenanya, orang kang-ouw juluki si nona Wat Lie Kiam – Akhli pednag Gadis Wat – Begitu lekas mengenali ilmu silatnya si nona, sambil di lain pihak melayani Han Po Kie, Tiang Cun Cu mendesak Siauw Eng, hendak ia merampas pedang si nona.
Karena ini ia membuat si nona Han menjadi repot, beberapa kali Han Siauw Eng menghindari nacaman bahaya, sampai ia terdsak mundur ke tepinya patung Buddha.
Mendapatkan adik angkatnya terancam bahaya, Lam Han Jin dan Thio A Seng maju dengan berbareng, yang satu geraki pikulannya yang istimewa, yang lain mainkan "golok jagalnya"
Yang ujungnya lancip.
Sikap kedua saudara ini sangat berbeda satu sama lain.
Kalau Lam San Ciauw-cu si Tukang Kayu dari Gunung Selatan bungkam mulutnya, Siauw Mie To si Buddha tertawa terus-terusan mengoceh tidak karuan juntrungannya, hingga Khu Cie Kee tak ketahui apa yang diucapkannya.
Segera si imam serang tukang pentang bacot itu.
tangan kirinya yang menyambar.
A Seng berkelit seraya melengak, ia tidak menyangka orang akali padanya.
Justru ia melengak itu, kakinya Cie Kee melayang, tepat mengenai lengannya.
Tidak ampun lagi, goloknya terlepas dan melayang.
Tendangan itu mendatangkan rasa sakit dan akget.
Walaupun begitu, sebagai jago ia tidak menghiraukan pedangnya yang terbang malah membarengi itu, ia membalas menyerang dengan tangan kirinya, setelah ia menganca, dengan tangan kanan!
Sebab sebat sekali, ia sudah lantas pernahkan diri.
"Bagus!"
Tiang Cun Cu puji lawannya ini. Ia berkelit untuk serangan membalas sambil berkelit, ia mengatakannya.
"Sayang! Sayang!"
"Eh, sayang! Sayang apanya?!"
Tegaskan Siauw Mie To "Sayang ilmu silatmu yang sempurna ini!"
Sahut Cie Kee sambil ia layani terus musuh-musuhnya.
"Kau begini lihay tetapi kau rendahkan dirimu dengan jalan menakluk kepada musuh negara!"
"Hai, imam bangsat, kau ngaco belo!"
Mendamprat A Seng sangking murkanya.
Mana ia mau mengerti dikatakan menakluk pada musuh, dalam hal ini, musuh bangsa Kim.
Beruntun tiga kali, ia menyerang lawannya.
Cie Kee melawan sambil berkelit, akan tetapi untuk dua serangan yang belakangan, ia menangkis dengan jambangannya.
Atau lebih benar, ia pasang jambangan itu sebagai sasaran, maka dua kali kepalannya A seng membuatanya jambangan itu bersuara nyaring.
Biauw Ciu Sie-seng merasa tidak enak karena berempat mereka mengepung, nyatanya mereka berada di bawah angin.
Menampak demikian Coan Kim Hoat tapinya menjadi penasaran, dengan memberi tanda kepada kakaknya yang kedua, ia lompat menerjang, diturut oleh kakak angkatnya itu.
Keduanya maju dari samping.
Genggamannya Lauw-sie In Hiap adalah sebatang bacin, yaitu alat peranti menimbangan barang, maka itu senjata bisa dipakai berbareng sebagai toya, gaetan dan gembolan, sedang Biauw Ciu Sie-seng si Mahasiswa Tangan Lihay, yang pandai ilmu menotok, dengan kipasnya senantiasa mencari jalan darah lawannya.
Khu Cie Kee tidak peduli ia dikepung berenam, ia tetap mainkan jambangannya sebagai senjata, sebagai tameng, karena dengan itu ia lebih banyak membela dirinya.
Untuk membalas menyerang, ia pakai tangan kirinya yang bebas yang tidak bersenjatakan apa juga.
Ciauw Bok Taysu menjadi bergelisah menyaksikan jalannya pertempuran itu yang makin lama jadi makin hebat.
Dia akhirnya tidak dapat bersabar lagi.
"Tahan! Tahan!"
Ia berseru-seru.
"Tuan-tuan tahan! Dengar, hendak aku bicara!"
Dalam waktu pertempuran yang hebat itu, tidak ada orang yang sudi dengar cegahannya itu. Malah Khu Cie Kee perdengarkan seruannya.
"Kawanan pengkhianat tidak tahu malu, lihat!"
Dan lantas ia mendesak dengan serangan tangan kirinya, dengan jari-jari tangan terbuka, juga dengan kepalan.
Satu serangannya yang mengancam Thio A Seng hebat sekali, sebab Siauw Mie To tengan terdesak.
"Totiang, jangan turunkan tangan kejam!"
Ciauw Bok Taysu berseru dalam kegelisahannya yang hebat.
Ia merasa A Seng tidak akan luput dari bahaya.
Cie Kee memang menyerang dengan hebat sekali.
Ia lihat ia dikepung berenam, ia merasa bahwa ia telah mesti menggunai tenaga banyak.
Disana masih ada dua musuh segar Kwa Tin OK dan Ciauw Bok Taysu – inilah berbahaya untuknya.
Jikalau mereka ini meluruk juga?
Dari itu, ingin ia lekas-lekas menyudahi pertempuran itu.
Ia khwatir juga, lama-lama nanti ia kalah ulet.
Thio A Seng ada punya ilmu kedot, ialah tubuhnya tidak mempan senjata tajam.
Kekebalannya itu ditambah sama tenaganya yang besar, karena ia biasa berlatih mengadu tenaga dengan kerbau – sudah dagingnya keras dan kulitnya pun tebal.
Maka itu, menampak ancaman bahaya, ia manjadi nekat.
"Biarlah!"
Dia berseru, dan ia sambuti serangannya si imam untuk keras lawan keras.
Tapi ia salah menaksir ketangguhannya sendiri.
Di antara satu suara keras, lengannya itu terhajar patah tangannya Khu Cie Kee.
Cu Cong kaget bukan kepalang, ia berlompat menotok jalan darah soan-kie-hiat dari Tiang Cu Cu.
Totokan ini bukan untuk menolongi Thio A Seng, yang telah menjadi korban, hanya guna mencegah si imam ulangi serangannya yang lihay itu.
Khu Cie Kee memang tidak berhenti sampai disitu.
Rupanya ia anggap belum cukup dengan korban Thio A Seng itu.
Dengan tidak kurang bengisnya, ia ulangi serangan-serangannya yang dikhawatirkan Biauw Ciu Sie-seng.
Segera juga terdengar jeritannya Coan Kim Hoat.
Batu dacinnya Lauw-sie In Hiap telah kena disambar oleh si imam, dacin itu terus ditarik dengan keras.
Tidak dapat Kim Hoat pertahankan diri, kuda-kudanya gempur, tubuhnya terbetot.
Menyusul tarikannya itu, Khu Cie Kee ayun terus tangan kirinya, guna menhajar batok kepala lawannya itu.
Untuk cegah Lam Hie Jin dan Cu Cong, yang berada paling dekat, ia tolak jambangannya ke arah mereka itu.
Han Po Kie dan Han Siauw Eng kaget tidak terkira.
Kim Hoat itu adalah saudara angkat mereka.
Yang mereka sayangi sebagai saudara betul.
Keduanya apungi tubuh mereka, untuk hampiri si imam, yang mereka terjang dengan berbareng.
Cuma ini jalan untuk tolongi saudara angkat mereka itu.
Mau tidak mau, Khu Cie Kee mesti berkelit.
Atas itu, Coan Kim Hoat lompat melejit.
Ia lolos dari gempuran kepada batok kepalanya, ia mandi keringat.
Mesti begitu, ia tidak lolos seluruhnya.
Selagi melejit, kakinya si imam kena sambar pinggangnya, hingga ia lantas saja rubuh terguling, tidak dapat lantas bangun.
Ciauw Bok Taysu lihat keadaan hebat, ia tidak dapat tinggal peluk tanagn terlebih lama pula, meskipun sebenarnya ia tidak menghendaki pertempuran, ia sungkan turun tangan.
Begitulah ia maju denagn sepotong kayunya yang mirip ruyung, yang ujungnya hitam hangus.
Ia menotok ke bawah ketiak.
"Dia ahli menotok, dia lihay,"
Pikir Khu Cie Kee, yang berkelit, setelah mana, ia juga layani paderi itu.
Setelah turun tangannya paderi itu, Kwa Tin Ok tidak dapat berdiam terlebih lama lagi.
Ia buta tetapi ia tahu dua saudaranya telah rubuh, adiknya yang kelima dan yang keenam.
Ia perhatikan suara anginnya, suara beradunya setiap senjata.
Di saat ia hendak gerakkan tongkat besinya, Coan Kim Hoat teriaki dia.
"Toako, kau gunai thie-leng! Hajar dulu kedudukan cin, lalu kedudukan siauw-ko!"
Menyusul anjuran itu, dua rupa senjata rahasia menyambar sar! ser! kearah si imam. Yang satu menuju ke alis dan yang lain ke paha kanan sebelah dalam. Cie Kee terkejut.
"Dia hebat sekali!"
Pikirnya.
"Dia buta tetapi dia bisa mengincar dengan tepat. Sebenarnya ada sulit walaupun ada orang luar yang memberi petunjuk menurut garis-garus patkwa…"
Ia lihat datangnya dua serangan itu, ia menangkis dengan jambangannya, maka setelah suara ting-tong, kedua senjata rahasia itu – thie-leng, atau lengkak besi – jatuh ke lantai.
Thie-leng adalah senkata rahasianya Hui Thian Pian-hok, mirip lengkak tetapi ujung tajamnya ada empat.
Coan Kim Hoat sudah berseru-seru pula.
"Hajar tionghu, hajar lie! Bagus, bagus! Sekarang serang beng-ie!"
Setiap kali ia berseru, setiap kali juga lengkak besi dari Kwa Tin Ok menyambar.
Maka sebentar saja belasan lengkak telah membuatnya Cie Kee terpaksa main mundur saja.
Imam ini lihay, biar ia tidak terluka, dia toh tidak kalah, ia melainkan tidak sempat membalas menyerang.
Sebagai seorang yang cerdik dan gesit, ia dapat bersedia setiap kali Kom Hoat perdengarkan petunjuknya.
Lauw-sie In Hiap sendiri terancam lukanya, ia dapat menunjuki sasaran kepada toakonya, tetapi semakin lama, suaranya makin lemah, makin perlahan, pada itu tercampur rintihan juga, dan beda dengan dia adalah Thio A Seng, tidak terdengar suaranya sama sekali, hingga orang tidak tahu dia masih hidup atau sudah mati… "Serang!
Serang!"
Coan Kim Hoat masih bersuara lagi.
"Hajar tongjin…!"
Yang terakhir ini Kwa Tin Ok tidak turuti tetap sasarannya Kim Hoat itu.
Ia juga tidak gunai satu-satu biji lengkak sebagaimana bermula tadi.
Sekarang ia menimpuk berbareng dengan empat buah senjata rahasianya itu.
Bukan anggota tongjin yang ia incar, hanya kedua bagian kiri dan kanan dari tongjin itu.
Di kanan ialah bagian ciat dan sun, dan di kiri, bagian hong dan lie.
Berbareng dengan itu, Ciauw Bok Taysu dan Han Siauw Eng menyerang dari kanan.
Kalut kedudukan mereka, semua sebab hampir berbareng, Cie Kee pun berkelit dari anggota tongjin sebagaimana diteriaki Kim Hoat.
Karena itu dengan berbareng dua orang perdengaran jeritan kaget.
Jeritan itu menandakan adanya dua korban!
Jitu serangan Tin Ok kali ini, Cie Kee terlalu perhatikan tongjin, ia kena tertipu si buta, yang menyerang ke lain jurusan.
Ia tidak lolos dari semua empat lengkak, yang satu mengenai pundak kanannya, hingga ia menjadi kaget dan menjerit karenanya.
Jeritan yang lain dikeluarkan oleh Han Siauw Eng.
Selagi nona ini maju menyerang, lengkak yang mengarah bagian sun tepat mengenai pundaknya tanpa ia ketahui atau dapat berdaya mengelakkannya.
Kwa Tin Ok kaget berbareng girang.
"Citmoay, lekas kemari!"
Ia memanggil.
Ia tahu, lengkaknya sudah nyasar di tubuh adik bungsunya itu.
Inilah yang membikin ia kaget.
Ia girang sebab ia dengar suaranya si imam.
Han Siauw Eng tahu senjata rahasia kakaknya ada racunnya, benar sementara itu ia cuma merasai sakit sedikit, lama-lama sang racun akan bekerja mencelakai ia, justru ia lagi ketakutan, ia dengar teriakannya kakak itu, tanpa sangsi lagi, ia lari kepada itu kakak.
"Toako!"
Ia memanggil. Tin Ok lantas rogoh sakunya, ia keluarkan sebutir pil kuning, dengan lantas ia jejalkan itu ke mulut adiknya.
"Lekas kau rebahkan diri di taman belakang, di tanah!"
Kakak ini beri petunjuk.
"Kau tidak boleh bergerak sedikit juga. Kau mesti tunggu sampai aku datang untuk mengobati!"
Sebenarnya Siauw Eng keras kepala, tetapi ia dengar kata, ia terus lari ke belakang.
"Jangan lari, jangan lari!"
Tin Ok teriaki.
"Tenangi hati, jalan perlahan-lahan saja!"
Siauw Eng mendusin, ia lantas damprat dirinya sendiri.
Siapa terkena senjata rahasia yang beracun itu, dia tidak boleh keluarkan tenaga, racun bisa mengikuti jalan darah segera menyerang ke ulu hati, kalau sampai itu terjadi, maka tidak ada obat lagi untuk menolong.
Maka ia lantas berjalan dengan berpalahn tetapi tetap.
Cie Kee terkena senjata rahasia, ia tidak perhatikan itu, ia baru sadar kapan ia dengar teriakannya Tin Ok kepada Siauw Eng, yang dilarang lari.
Justru itu, ia merasakan pundaknya sedikit kebas.
Lantas ia menduga bahwa senajata rahasia itu ada racunnya.
Niscaya sekali ia menginsyafi bahaya yang mengancam dirinya.
Karena ini ia lantas tak berani melanjuti pertempuran itu.
Dengan tiba-tiba ia rangsak Lam Hie Jin, muka siapa ia hajar.
Lam San Ciauw-cu lihat bahaya datang, ia tidak mau singkirkan diri, sambil pasang kuda-kudanya, ia lintangi pikulannya di depan mukanya.
Itulah gerak "Tiat so heng kang"
Atau "
Rantai besi dilintagi di sungai".
Dengan senjatanya itu hendak ia sambut pukulan musuh.
Khu Cie Kee tahu maksudnya lawan itu, ia tidak batalkan serangannya, ia melangsungkannya.
Maka pikulannya Hie Jin kena terhajar, begitu jeras, hingga tubuhnya si Tukang Kayu dari Gunung Selatan menjadi tergetar dan kedua tangannya dirasakan sangat sakit.
Sebab telapakan tangannya pecah dan mengeluarkan darah, hingga genggamannya terlepas dan jatuh ke lantai.
Tidak begitu saja, akibat lainnya menyusul.
Hie Jin lantas merasa tubuhnya enteng, kedua matanya kabur, mulutnya manis, terus ia muntahkan darah hidup!
Cie Kee telah dapat melukakan lawan yang menghalangi ia, ia sendiri pun rasai pundaknya semakin kebas dan kaku.
Sekarang ia merasakan bahwa jambangan di tangannya itu menjadi berat.
Ia jadi berkhawatir.
Maka sambil membentak keras, ia menyapu kepada Han Po Kie yang maju untuk serang padanya.
Si cebol lari berkelit.
"Ke mana kau hendak lari?!"
Bentak Tiang Cun Cu yang terus tolak tangan kanannya, sekalian diputar, dikasih turun.
Dengan begitu, jambangannya jadi menungkrap dari atas, menyambar si cebol itu, selagi dia ini belum tiba di lantai, sehingga ia tidak bisa berkelit.
Untuk tolong diri, ia pengkeratkan tubuhnya.
Ketika mulut jambangan tiba di lantai, si cebol kena ketutup!
Setelah itu Cie Kee lepaskan tangannya dari jambangan itu, sebaliknya, ia hunus pedangnya.
Ia lantas lompat mencelat ke arah genta, untuk membabat rantai gantungannya, berbareng tangan kirinya menolak tubuh genta itu yang beratnya mungkin ratusan seribu kati.
begitu rantai putus, genta jatuh menimpa jambangan, kerena mana meski ia bertenaga besar, Han Po Kie tidak sempat berdaya untuk membalikkan jambangan itu, untuk keluar dari kurungan.
Sementara itu pucat mukanya Khu Cie Kee, peluhnya lantas turun menetes.
"Lekas lemparkan pedangmu, menyerah!"
Kwa Tin Ok teriaki lawan itu. Berayal sedikit saja, jiwamu bakal tidak tertolong!"
Si buta ini merasa pasti mengenai lawannya itu.
Cie Kee tidak mau serahkan diri.
Ia percaya, menyerah berarti celaka.
Maka ia putar pedangnya, ia mau membuka jalan.
Tapi Tin Ok dan Cu Cong merintangi padanya.
Bab 6.
Pengejaran Tidak ada jalan lain, Cie Kee terjang musuhnya, si buta itu, ujung pedangnya menikam ke arah muka.
Tin Ok dengar anginnya senjata, ia menangkis.
Keras kedua senjata beradu, lalu Cie Kee menjadi kaget sekali.
Dia hampir membikin terlepas pedangnya.
"Lihay tenaga dalam si buta ini! Mungkinkah ia melebihi aku?"
Pikirnya.
Ia penasaran, maka lagi sekali, ia menikam.
Kali ini, ia insyaf kenapa ia kalah kuat.
Nyatanya luka di pundaknya itu menyebabkan tenaganya jadi berkurang hingga separuhnya.
Oleh karena ini, ia lantas pindahkan pedangnya ke tangan kiri.
Dengan tangan kiri ini, ia bersilat dengan ilmu silatnya "Kie Siang Kim-hoat"
Atau "Melukai Semua".
Inilah ilmu silat yang sejak ia yakinkan belum pernah ia pakai untuk melawan musuh.
Dengan menggunai ini ia telah menjadi nekat.
Dengan ini, di sebelah musuh ia sendiri pun bisa celaka.
dengan "melukai semua"
Hendak diartikan "mati bersama".
Segera juga Kwa Tin Ok, Cu Cong dan Ciauw Bok terarah semua bagian tubuhnya yang berbahaya.
Maka repotlah mereka membuat perlawanan.
Sejak turun gunung, Cie Kee belum pernah menemui lawan setimpal, inilah pertama kalinya.
Tidak peduli tenaganya kurang, dengan berlaku nekat ia tetap berbahaya..
Baharu belasan jurus paha Tin Ok telah tertikam pedang.
"Kwa Toako, Cu Jieko, biarkan si imam berlalu!"
Berseru Ciauw Bok Taysu.
Paderi ini lihat ancaman bahaya, ia memikir untuk mengalah tetapi justru ia serukan kawannya, ujung pedang Cie Kee mengenai iga kanannya hingga ia kaget dan menjerit, tubuhnya rubuh seketika!
"Imam anjing!"
Cu Cong mencaci.
"Imam bangsat! Racun ditubuhmu telah menyerang hatimu! Kau tikamlah pula tiga kali!"
Bangkit kumisnya si imam, mendelik sepasang matanya, tanpa bilang suatu apa, ia melompat kepada Manusia Aneh yang kedua itu.
Cu Cong tidak melayani, ia hanya berlari-lari berputaran di pendopo kuil.
Sembari berlari, Cie Kee insyaf bahwa tak dapat ia menyandak lawan itu.
Ia pun mulai terhuyung.
Maka sambil menghela napas, ia berhenti mengejar.
Tiba-tiba ia rasai matanya kabur, lekas-lekas ia pusatkan semangatnya.
Sekarang ia baru ingat untuk angkat kaki saja.
tetapi terlambat.
Mendadak bebokongnya mengasi dengar suara keras!
Ia merasa sakit sekali, tubuhnya pun terhuyung!
Cu Cong yang cerdik itu telah timpuk imam itu dengan sepatunya, cukup keras timpukannya itu.
Cie Kee merasai pikirannya kacau tetapi kembali ia memusatkannya.
Justru itu, batok kepalanya telah terpukul keras.
Kali ini Cu Cong menimpuk dengan bok-hie, itu tambur teroktok peranti mambaca doa.
"Sudah, sudah, hari ini Tiang Cun Cu mesti terbinasa di tangannya bangsat-bangsat licik…"
Ia mengeluh. Ia menahan sakit, ia melompat ke depan, akan tetapi ketika kakinya menyentuh tanah, kedua kakinya itu lemas, tubuhnya terus terguling! "Bekuk dia dulu, baru kita bicara!"
Berseru Cu Cong.
Ia dekati imam itu, yang rebah diam saja.
Ia geraki kipasnya untuk menotok jalan darah di dada si imam.
Tiba-tiba ia lihat tangan kiri Cie Kee bergerak, ia kaget.
Ia menginsyafi bahaya, dengan cepat ia menangkis dengan tangan kanannya.
Tidak urung, ia merasakan dorongan suatu tenaga keras sekali, tubuhnya terpental ke belakang, belum lagi tubuh itu tiba di tanah, ia sudah muntahkan darah hidup!
Cie Kee telah gunai tenaganya yang terakhir untuk serang lawannya itu.
Paderi-paderi dari Hoat Hoa Sian Sie tidak mengerti ilmu silat, mereka juga tidak tahu bahwa guru mereka mengerti ilmu itu, dari itu selama pertempuran mengambil tempat, mereka semua pada sembunyikan diri.
Sampai keadaan sunyi, baru mereka keluar dari tempat persembunyian mereka, akan saksikan segala apa kacau dan orang rebah di sana sini, darah pun berhamburan.
Mereka jadi ketakutan, mereka lantas pergi mencari Toan Thian Tek.
Orang she Toan itu terus sembunyi di dalam ruang dalam tanah, takutnya bukan main.
Tempo ia diberitahu orang telah pada rubuh semua, ia masih khawatirkan tidak ada Khu Cie Kee di antara korban-korban itu.
Ia suruh dulu sat kacung paderi untuk melihatnya, kemudian barulah ia keluar, hatinya lega.
Ia telah diberitahu si imam lagi rebah diam dengan kedua mata tertutup.
Dengan tarik tangan Lie Peng, Thian Tek pergi cepat-cepat ke pendopo.
Ia lantas hampirkan Cie Kee, tubuh siapa dia dupak.
Imam itu masih belum putus jiwanya, ia bernapas berlahan sekali.
Thian Tek cabut goloknya.
"Imam bangsat, kau kejar aku hingga aku bersengsara, sekarang hendak aku kirim kau pulang ke Langit Barat!"
Ia kata, lalu ia ayunkan goloknya.
"Jangan….jangan bunuh dia…!"
Berseru Ciauw Bok Taysu, tapi suaranya sangat lemah. Ia rebah dengan terluka parah tapi ia dapat lihat perbuatan si keponakan murid.
"Kenapa?"
Thian Tek tanya.
"Dia adalah satu imam yang baik…"
Sahut Ciauw Bok.
"Dia Cuma berhati keras… Di sini telah terbit salah mengerti…"
"Orang baik apa!"
Kata Thian Tek.
"Dia perlu dibunuh dulu…!"
Ciauw Bok menjadi gusar.
"Kau tidak mau dengar perkataanku?!"
Dia membentak.
"Letaki golokmu…!"
Thian Tek tertawa tergelak.
"Kau ingin aku meletaki golokku? Hahaha!"
Ia tertawa mengejek. Ia ayunkan pula goloknya, ia arahkan ke kepalanya si imam. Dengan mendadak Lie Peng berteriak.
"Kau…kau hendak lagi membunuh orang!"
Tanyanya.
Ciauw Bok Taysu juga gusar bukan main, dengan sisa tenaganya ia timpuk Thian Tek dengan sepotong kayu di tangannya.
Thian Tek berkelit tetapi ia terlambat, mukanya kena terhajar hingga rontok ziga buah giginya.
Ia merasakan sangat sakit, ia jadi kalap, tanpa ingat budinya Ciauw Bok, ia lantas menyerang.
Di situ ada beberapa kacung paderi, mereka ini kaget.
Satu kacung langsung tubruk Thian Tek untuk tarik lengannya, yang lainnya mengigit.
Thian Tek gusar bukan kepalang, dengan kejam, dengan dua bacokan ia bikin kedua kacung itu rubuh.
Tiang Cun Cun, Ciauw Bok dan Kanglam Cit Koay adalah orang-orang yang lihay, akan tetapi di saat seperti ini, justru jiwa mereka sendiri terancam bahaya, mereka Cuma bisa membuka mata menyaksikan kejadian hebat itu.
Lie Peng berteriak-teriak pula.
"Hai, manusia jahat, tahan!"
Tidak ada orang yang kenali Lie Peng, walaupun suaranya nyaring.
Ini nyonya tetap mengenakan seragam, orang sangka ia adalah serdadu sebawahannya Thian Tek.
Cuma Tin Ok, walaupun ia buta, mendengar suara orang, dia tahu pasti orang adalah seorang wanita.
Maka itu sembari menghela napas, dia berkata.
"Ciauw Bok Hweshio, kami semua telah kau aniaya! Benar saja di dalam kuilmu ini kau ada sembunyikan orang perempuan….!"
Ciauw Bok terkejut, hatinya mencekat. Ia bukannya seorang tolol, segera ia pun sadar. Maka itu bukan main menyesalnya ia untuk kealpaannya itu.
"Binatang ini telah jual aku, dia membikin aku mencelakai sahabat-sahabatku,"
Katanya dalam hati.
Hampir ia pingsan saking kerasnya ia melawan kemendongkolannya.
Ia kerahkan tenaganya dengan kedua tangannya menekan lantai, ia lompat kepada Thian Tek.
Orang she Toan itu tidak menangkis, dia hanya menyingkir sambil egos tubuhnya.
Tubuh paderi itu lewat terus, dengan cepat, tepat mengenai tiang pendopo, maka tubuhnya rubuh dengan kepala pecah, tubuh itu tidak berkutik lagi.
Toan Thian Tek kaget, hatinya menjadi ciut, dari itu dengan sambar tangannya Lie Peng, ia lari keluar kuil.
"Tolong! Tolong!"
Lie Peng berteriak-teriak.
"Tidak, aku tidak mau pergi….!"
Tapi ia ditarik terus, hingga suaranya tidak terdengar lagi.
Kuil itu menjadi berisik, semua paderi menangis karena kebinasaan guru mereka.
Mereka pun menjadi repot, akan tolongi orang-orang yang terluka, guna pindahkan mayat.
Selagi mereka bekerja, tiba-tiba mereka dengar suara apa-apa dari arah genta, hingga mereka kaget.
Kemudian belasan paderi itu menggunai dadung, akan tarik genta itu untuk dibikin terbalik, setelah mana mereka dapatkan satu tubuh tergelumuk menggelinding keluar.
Mereka kaget, mereka lari serabutan.
Tubuh bergelumbuk itu sudah lantas lompat bangun, ia mengeluarkan napas lega.
Ia bukan lain daripada Ma Ong Sin Han Po Kie yang tadi kena ditungkrap Khu Cie Kee, hingga ia tak mampu keluar dari jambangan dan genta itu.
Ia heran dan kaget saksikan pendopo itu, hingga ia berkoak-koak.
Kwa Tin Ok masih sadar walaupun ia terluka, ia panggil Po Kie, untuk sabarkan padanya.
Ia pun keluarkan obatnya untuk suruh satu paderi pergi obat Khu Cie Kee dan Han Siauw Eng, ia sendiri memberi keterangan pada Po Kie perihal jalannya pertempuran, tentang Toan Thian Tek dan si wanita yang menyamar sebagai serdadu.
"Nanti aku susul dia!"
Teriak Po Kie sangkin gusarnya.
"Jangan!"
Tin Ok mencegah.
"Nanti ada ketikanya untuk menghukum dia, sekarang kau perlu rawat dulu saudara-saudaramu yang terluka."
Po Kie dapat dibikin sadar.
Cu Cong dan Lam Hie Jin adalah yang terluka paling parah.
Thio A Seng patah lengannya, setelah pingsan, ia sadar, ia tidak terancam bahaya.
Po Kie lantaa rawat semua saudaranya itu.
Paderi pengurus dari Hoat Hoa Sian Sie telah bekerja, disatu pihak ia ajukan pengaduan kepada pembesar negeri, di lain pihak ia kirim kabar pada Kouw Bok Taysu di Kong Hauw Sie, Hangciu.
Jenazahnya Ciauw Bok Taysu pun lantas diurus.
Selang beberapa hari, Cie Kee dan Siauw Eng telah dapat ditolong dari racun.
Cie Kee mengerti ilmu obat-obatan, ia lantas obati Tin Ok semua, ia pun uruti mereka, hingga selang beberapa hari, semuanya telah dapat bangun dari pembaringan.
Pada suatu hari, semua orang duduk berkumpul dengan dirundung kemasgulan hingga mereka pada berdiam saja.
Mereka menyesal sekali sudah jadi korbannya Toan Thian Tek, hingga Ciauw Bok Taysu menjadi korban.
"Totiang, bagaimana sekarang?"
Siauw Eng tanya Khu Cie Kee. Ia memangnya polos.
"Totiang berkenamaan dan kami pun bukannya orang-orang yang masih hijau, kita sekarang rubuh di tangannya satu kurcaci, apa kata kaum kang-ouw bila peristiwa disini sampai tersiar? Tidakkah itu sangat memalukan? Tolong Totiang tunjuki kami bagaimana kami harus berbuat."
"Kwa Toako, kau saja yang bicara,"
Kata Cie Kee menyahuti si nona.
Ia sendiri pun bukan main masgul, menyesal dan mendongkolnya.
Ia merasakan kesembronoannya.
Coba ia tidak turuti hawa amarahnya dan berbicara dengan tenang sama Ciauw Bok, peristiwa celaka itu pasti dapat dicegah.
Tin Ok tertawa dingin.
Ia memang aneh tabiatnya.
Ia malu sekali yang ia bertujuh saudara kena dikalahi Cie Kee, terutama dirinya sendiri, yang kena ditikam kakinya hingga tak dapat dia berjalan dengan leluasa.
"Totiang biasa malang melintang, mana kau melihat mata kepada kami!"
Katanya tawar.
"Tentang ini untuk apa kau menanya pula kami…"
Cie Kee tahu orang masih mendongkol, ia lantas bangkit berbnagkit untuk menjura kepada tujuh saudara itu.
"Pinto sangat menyesal, aku mohon maaf,"
Dia bilang. Cu Cong semua membalas hormat, Cuma Tin Ok yang diam saja, ia berpura-pura tidak tahu.
"Segala urusan kaum kang-ouw, kami tidak ada muka untuk mencampuri tahu lagi,"
Kata ini ketua Kanglam Cit Koay.
"Selanjutnya kami akan berdiam di sini, untuk menangkap ikan atau mencari kayu. Asal Totiang tidak mengganggu kami, kami akan melewati sisa hidup kami…"
Mukanya Cie Kee menjadi merah, ia jengah hingga tak dapat ia membuka mulutnya. Selang sesaat baru ia dapat bicara.
"Aku telah menerbitkan malapetaka, lain kali tak nanti aku datang kemari untuk membuat onar pula,"
Katanya seraya berbangkit.
"Tentang sakit hatinya Ciauw Bok Taysu serahkan itu padaku, dengan tanganku sendiri, akan aku bunuh jahanaman itu! Sekarang aku mohon diri…"
Ia menjura pula, lantas ia ngeloyor keluar.
"Tahan!"
Tin Ok berseru. Imam itu memutar tubuhnya.
"Kwa Toako hendak menitah apa?"
Ia tanya. Tetap ia sadar.
"Kau telah lukakan parah saudara-saudaraku ini, apakah itu cukup dengan hanya kata-katamu barusan?"
Tanya Tin Ok.
"Habis Kwa Toako memikir bagaimana?"
Menegaskan Cie Kee.
"Apa saja yang tenagaku dapat kerjakan, suka aku menuruti titahmu."
"Tak sanggup aku menelan peristiwa ini,"
Tin Ok bilang.
"Aku masih ingin menerima pengajaran dari Totiang!"
Kanglam Cit Koay gemar melakukan amal akan tetapi mereka berkepala besar, sepak terjang mereka biasanya luar biasa, kalau tidak, tidak nanti mereka disebut "Cit Koay" – tujuh Manusia Aneh.
Mereka semua lihay, jumlah mereka pun banyak – bertujuh – dari itu, orang malui mereka.
Mereka sendiri belum pernah nampak kegagalan, malah dengan pernah mengalahkan seratus lebih jago Hoay Yang Pang, nama mereka jadi menggemparkan dunia Kang-ouw.
Sekarang mereka kalah di tangan Khu Cie Kee satu orang, bagaimana mereka tidak menjadi penasaran?
Cie Kee terkejut.
"Pinto telah terkena senjata rahasiamu, Kwa Toako,"
Kata ia, tetap tenang.
"Tanpa pertolonganmu, pasti sekarang aku telah berada di Negara Setan. Di dalam urusan kita ini, walaupun benar pinto telah lukai kamu, kenyataannya adalah pinto telah rubuh, maka itu pinto menyerah kalah…"
"Kalau begitu, letaki pedang di bebokongmu itu!"
Bentak Tin Ok.
"Dengan meninggalkan pedangmu, suka aku melepas kau pergi!"
Bukan main mendongkolnya Cie Kee, di dalam hati ia berkata.
"Aku telah beri muka kepada kamu, aku telah menghanturkan maaf dan mengaku kalah, kenapa kamu masih merasa belum cukup?"
Ia lantas menjawab.
"Pedang ini adalah alat pembela diriku, sama saja dengan tongkat Kwa Toako…"
Tin Ok tapi tetap murka.
"Kau pandang entang kakiku pengkor?!"
Ia membentak.
"Pinto tidak berani,"
Sahut si imam itu. Dalam murkanya, Tin Ok bilang.
"sekarang kita sama-sama terluka, sulit untuk kita bertempur lagi, maka itu baiklah lain tahun pada hari ini, aku minta totiang membuat pertemuan pula di Cui Siang Lauw!"
Cie Kee mengerutkan keningnya.
Ia sangat masgul.
Ia tahu Cit Koay bukan orang busuk, tak dapat ia layani mereka.
Bagaimana ia bisa loloskan diri dari mereka itu?
Pula ada sulit untuk melayani mereka bertempur pada lain tahun.
Ia bersendirian dan mereka bertujuh.
Mungkin sekali, selama tempo satu tahun, mereka itu akan tambah kepandaiannya.
Ia pun bisa berlatih diri tapi barangkali sukar untuk beroleh kemajuan.
Ia terus berpikir, sampai ia dapat satu pikiran.
"Tuan-tuan, kamu hendak adu kepandaian yang memutuskan denganku, tidak ada halangannya,"
Ia berkata.
"Hanya untuk itu, syaratnya haruslah pinto yang menetapkannya. Kalau tidak, pinto suka menyerah kalah saja."
Han Po Kie bersama Siauw Aeng dan A Seng bnagkit berdiri, dan CU Cong dan lainnya yang terluka mengangkat kepalanya dari pembaringan. Hampir berbareng mereka itu kata.
"Kalau Kanglam Cit Koay bertaruh selamanya adalah pihak sana yang memilih tempat dan waktunya!"
Cie Kee tersenyum dapatkan orang demikian gemar menang sendiri.
"Apakah kamu suka terima syarat apapun?"
Dia tanya. Cu Cong dan Coan Kim Hoat adalah yang tercerdik di antara saudara-saudaranya, mereka tidak jeri.
"Kau sebutkan saja syaratmu!"
Kata mereka. Di dalam hatinya mereka berkata.
"Tidak peduli kau pakai akal licin apa juga, mustahil kami nanti kalah…"
"Kata-katanya satu kuncu?"
Berkata imam itu.
"Sama cepatnya dengan satu cambukan kuda!"
Sahut Siauw Eng lantas. Kwa Tin Ok masih sedang memikir ketika Khu Cie Kee berkata pula.
"Mengenai syaratku ini, masih tetap berlaku kata-kataku tadi. Ialah umpama kata tuan-tuan anggap tidak sempurna, pinto tetap suka menyerah kalah!"
Dengan ini, imam itu memancing hawa amarah ke tujuh Manusia Aneh itu. Ia tahu benar Cit Koay adalah sangat besar kepala.
"Jangan kau coba pancing hawa amarah kami!"
Tin Ok memotong.
"Lekas kau bicara!"
Cie Kee lantas berduduk.
"Syaratku ini ada meminta tempo yang lama,"
Ia menyahut dengan sabar.
"Tapi apa yang kita akan adu adalah kepandaian sejati. Aku sendiri tidak menghendaki cara mengandali kekosenan saja, dengan menggunai alat senjata atau kepalan dan tendangan. Kepandaian semacam itu, siapa menyakinkan ilmu silat tentunya semua mengerti. Bukankah kita, kaum Rimba Persilatan yang kenamaan tak dapat berlaku demikian cupat sebagai anak-anak muda yang terlahir belakangan?"
Kanglam Cit Koay saling mengawasi, hati mereka masing-masing menduga.
"Kau tidak hendak menggunai senjata, tangan dan kaki, habis apakah syaratmu itu?"
Maka mereka menanti penjelasan. Cie Kee berkata pula, dengan sikapnya yang agung.
"Biar bagaimana, kita mesti melakukan suatu pertempuran yang memutuskan. Aku akan menghadapi kalian bertujuh, tuan-tuan! Kita bukan Cuma mengadu kepandaian, juga mengadu kesabaran, kita memakai akal budi. Marilah kita lihat, siapakah yang paling gagah – satu enghiong sajati!"
Kata-kata ini membuat darahnya Kanglam Cit Koay mengalir deras.
"Lekas bilang, lekas!"
Han Siauw Eng.
"Semakin sulit adanya syarat, semakin baik!"
Cu Cong tapinya tertawa. Ia berkata.
"Kalau syaratmu itu adalah untuk mengadu bertapa atau membikin obat mujarab atau membikin surat jimat guna menangkap roh-roh jahat, maka kami bukanlah tandingan kamu bangsa imam!"
Khu Cie Kee pun tertawa.
"Pinto juga tidak berpikir untuk adu kepandaian sama Cu Jieko dalam hal mencuri ayam atau meraba-raba anjing atau mengulur tangan menuntun kambing!"
Ia maksudkan ilmu mencopet. Mendengar itu Siauw Eng pun tertawa.
"Lekas bicara, lekas!"
Ia mendesak pula.
"Jikalau kita mencari pokok sebabnya,"
Kata Tiang Cun Cu dengan tenang.
"Biangnya gara-gara hingga kita bertempur dan saling melukai adalah urusan menolongi turunannya orang-orang gagah, oleh karena itu, baiklah kita kembali kepada sebab musabab itu."
Dengan "orang gagah"
Imam itu maksudkan "ho-kiat"
Atau "enghiong".
Lalu ia menjelaskan tentang persahabatannya sama Kwee Siauw Thian dan Yo Tiat Sim – yang ia maksudkan si orang-orang gagah itu – yang mengalami nasib celaka, karena itu ia telah ubar-ubar Toan Thian Tek.
Ia juga tuturkan bagaimana caranya ia kejar Thian Tek itu, tetapi sangkin licinnya, Thian Tek saban-saban dapat meloloskan diri.
Selagi memasang kuping, beberapa kali Kanglam Cit Koay mengutuk bangsa Kim serta pemerintah Song yang sewenang-wenang dan kejam.
Habis menutur, Cie Kee tambahkan.
"Orang yang Toan Thian Tek bawa lari itu adalah Lie-sie, istrinya Kwee Siauw Thian. Kecuali Kwa Toako bersama saudara Han, empat saudara lainnya telah pernah lihat mereka itu"
"Aku ingat suaranya Lie-sie itu,"
Kata Kwa Tin Ok.
"Umpama berselang lagi tiga puluh tahun, tidak nanti aku dapat melupakannya."
"Tentang istri Yo Tiat Sim, yaitu Pauw-sie,"
Cie Kee menambahkan.
"Aku masih belum tahu dia ada dimana. Pernah pinto melihat romanya Pauw-sie, tidak dengan demikian tuan-tuan. Inilah yang pinto hendak gunai sebagai syarat pertaruhan kita…"
Siauw Eng segera menyela.
"Kami pergi tolongi Lie-sie, kau pergi tolong Pauw-sie! Siapa yang lebih dulu berhasil, dia yang menang, bukankah?"
Khu Cie Kee tersenyum.
"Cuma menolongi saja?"
Ia ulangi.
"Untuk pergi mencari dan menolongi, itu memang benar bukannya kerjaan terlalu gampang, akan tetapi selain itu, masih ada hal yang terlebih sukar lagi, yang meminta banyak waktu, tenaga dan pikiran.."
"Apakah adanya itu?"
Kwa Tin Ok bertanya.
"Akan aku jelaskan,"
Jawab si imam.
"Dua-duanya Pauw-sie dan Lie-sie itu sama-sama lagi mengandung. Pinto ingin setelah dapat cari dan tolong mereka, kita mesti pernahkan mereka itu. Kita tunggu sampai mereka telah melahirkan anak, lalu anak-anak mereka itu kita rawat dan didik dalam ilmu silat. Pinto akan didik anak Yo Tiat Sim dan tuan-tuan bertujuh merawat anaknya Kwee Siauw Thian…"
Tujuh bersaudara itu membuka mulut mereka. Heran untuk kata-kata si imam.
"Bagaimana sebenarnya?"
Han Po Kie tanya "Kita menanti sampai lagi delapan belas tahun,"
Menerangkan Tiang Cun Cu.
"Itu waktu, anak-naka itu telah berumur delapan belas tahun, lalu kita ajak mereka ke Kee-hin, untuk membuat pertemuan di Cui Sian Lauw. Berbareng dengan itu, kita undang sejumlah orang gagah lainnya untuk menjadi saksi. Kita membuatnya pesta, sesudah puas makan minum, baru kita suruh kedua anak itu adu kepandaian. Di situ nanti kita lihat, murid pinto yang berhasil atau muridnya tuan-tuan bertujuh!"
Tjuh bersaudara itu saling memandang, tidak ada satu jua yang segara menjawab imam itu.
Bukankah syarat itu ada sangat luar biasa?
"Jikalau tuan-tuan bertujuh yang bertempur sama aku, umpama kata kamu yang menang, itu tidak ada artinya,"
Cie Kee berkata pula.
"Bukankah tuan-tuan menang karena jumlah yang banyak lawan jumlah yang sedikit? Kemenangan itu bukan kemenangan yang mentereng! Dengan syarat kita ini aku nanti turunkan kepandaianku kepada satu orang, tuan-tuan pun mewariskan kepandaian kamu kepada satu orang juga, setelah itu mereka bertanding satu lawan satu, sampai itu waktu, andaikata muridku yang menang, bukankah tuan-tuan akan merasa puas?"
Akhirnya Tin Ok ketruki tongkat besinya ke lantai.
"Baiklah, secara demikian kita bertaruh! katanya. Tapi Coan Kim Hoat campur bicara. Ia tanya.
"Bagaimana kalau pertolongan kami terlambat, dan Lie-sie keburu dibikin binasa oleh Toan Thian Tek?"
"Biarlah kita sekalian adu keberuntungan juga!"
Sahut Cie Kee.
"Jikalau Thian menghendaki aku yang menang, apa hendak dibilang?"
"Baik!"
Han Po Kie juga turut bicara.
"Memang menolong anak piatu dan janda juga adalah perbuatan yang mulia, umpama kami tak dapat lawan kamu, kami toh telah lakukan juga satu perbuatan yang baik."
Cie Kee tonjolkan jempolnya.
"Han Samya benar!"
Pujinya.
"Tuan-tuan berkenan menolongi abak yatim piatu dari keluarga Kwee itu, untuk ini sekarang pinto wakilkan saudara Kwee menghanturkan terima kasih terlebih dahulu!"
Dan ia lantas menjura dalam.
"Cara pertaruhan ini adalah terlalu licin,"
Berkata Cu Cong kemudian.
"Cuma dengan beberapa kata-katamu ini, kau hendak membikin kamu bercapek lelah selama delapan belas tahun!"
Wajahnya Khu Cie Kee berubah, akan tetapi ia berdongak dan tertawa besar.
"Apakah yang lucu?"
Tanya Han Siauw Eng.
"Selama dalam dunia kang-ouw telah aku dengar nama besar dari Kanglam Cit Koay,"
Sahut si imam yang ditanya.
"Orang umumnya bilang mereka itu gemar sekali menolong sesamanya, mereka gagah perkasa dan mulia, tetapi hari ini bertemu dengan kamu – hahaha!"
Kanglam Cit Koay menjadi panas hatinya. Han Po Kie segera menghajar bangku dengan tangannya. Ia hendak bicara tetapi si imam dului dia.
"Sejak zaman dahulu hingga sekarang ini,"
Kata Cie Kee.
"Kalau satu orang gagah sejati bersahabt, dia bersahabat untuk menjual jiwanya, ialah denagn segala urusan ia bersedia untuk mengorbankan dirinya. Pengorbanan itu tidak ada artinya! Bukankah kita belum pernah dengar bahwa di jaman dahulu ada Keng Ko dan Liap Ceng berhitungan?"
Wajahnya Cu Cong menjadi pucat, tak ada sinarnya.
"Tidak salah apa yang totiang bilang!"
Katanya sambil goyang kipasnya.
"Aku mengaku keliru! Baiklah, kita bertujuh akan terima tanggung jawab kita ini!"
Khu Cie Kee lantas berbangkit.
"Hari ini adalah tanggal dua puluh empat bulan tiga,"
Ia berkata pula.
"Maka itu lagi delapan belas tahun, kita akan bertemun pula di rumah makan Cui Siang Lauw, untuk orang-orang gagah di kolong langit ini menyaksikan siapa sebenarnya laki-laki sejati!"
Habis berkata, seraya kibaskan tangannya, ia bertindak pergi.
"Nanti aku susul Toan Thian Tek!"
Kata Han Po Kie.
"Dia tak dapat dibiarkan menghilang, hingga pastilah sulit kita mencari padanya!"
Di antara Cit Koay, dialah yang tidak terluka. Setelah berkata begitu, ia lantas lari keluar, untuk terus menaiki kudanya, guna susul Thian Tek.
"Sha-tee! Sha-tee! Cu Cong memanggil-manggil.
"Kau tidak kenal mereka itu!" . Dengan mereka, orang she Cu ini menyebutkannya Thian Tek dan Lie Peng. Tetapi Po Kie si tak sabaran telah pergi jauh. Thian Tek telah angkat kaki dengan naik perahu. Ketika ia tarik Lie Peng keluar dari tempat berbahaya itu, lega hatinya apabila ia menoleh ke belakang, ia tak tampak ada orang yang kejar atau susul padanya. Ia cerdik, maka itu segera ia menuju ke sungai, malah tanpa memilih kenderaan air lagi, ia lompat naik ke sebuah perahu, ia ajak Lie Peng bersama.
"Lekas berangkat!"
Ia membentak tukang perahu sambil ia cabut goloknya.
Kanglam adalah daerah air, disana ada banyak sungai atau kali, dari itu, kendaraan air adalah alat penghubung atau pengangkut yang paling umum, sama saja dengan kuda atau keledai di Utara.
begitu muncul kata-kata.
"Orang Utara naik kuda, orang Selatan naik perahu."
Tukang perahu itu ketakutan lihat orang demikian galak., ia buka tambatan perahunya, ia lantas mengayuh. Dengan lekas ia keluar dari daerah kota. Thian Tek lantas asah otaknya.
"Aku telah terbitkan onar besar, tak dapat aku pulang untuk pangku pula jabatanku. Baiklah aku pergi ke Utara untuk menyingkir dulu dari ancaman bahaya. Semoga itu imam bangsat dan tujuh siluman dari Kanglam itu bertempur hingga mampus semuanya, supaya aku dapat kembali ke Liman."
Kudanya Po Kie lari pesat, tetapi ia hanya mondar-mandir di darat, tentu sekali ia tak dapat cari Thian Tek, apapula ia kenali roman orang itu.
Ia tanya-tanya orang akan tetapi pertanyaannya tidak jelas.
Thian Tek tunjuki terus kelicinannya.
ia menukar perahu beberapa kali.
Berselang belasan hari, tibalah ia di Yangciu.
Paling dulu ia mencari rumah penginapan.
Ia telah memikir untuk cari suatu tempat untuk bertinggal buat sementara waktu.
Sebab bukanlah soal yang sempurna untuk terus-terusan berkelana dengan hati tidak tentram.
Itu hari selagi berada di dalam kamar, ia dengar suara Han Po Kie tengah berbicara sama pemilik penginapan, menanyakan tentang dia dan Lie Peng.
Ia kaget tetapi ia berlaku tenang.
Dari dalam kamarnya ia mengintai, memasang mata.
Ia lihat tegas seorang kate dampak yang romannya jelek sekali yang berbicara dengan lidah Kee-hin.
Setelah merasa pasti bahwa orang adalah salah satu Cit Koay, ia tarik tangannya Lie Peng untuk diajak segera menyingkir dari pintu belakang.
Kembali ia menyewa sebuah perahu.
tak sudi ia berjalan sedikit juga.
Ia berlayar terus ke Utara, hingga mereka sampai di perhentian Lie-kok-ek, di tepi telaga Bie San Ouw di wilayah propinsi Shoatang.
Belum sampai setengah bulan ia berdiam di tepi telaga itu, Han Po Kie dapat susul ia.
Malah Po Kie ada bersama denagn satu nona.
Adalah pikirannya Thian Tek, untuk keram diri di dalam kamarnya , akan tetapi Lie Peng, yang merasa ada bintang penolongnya, sudah lantas menjerit-jerit.
Akan tetapi ia adalah satu wanita lemah, ia diringkus Thian Tek, dibekap mulutnya dengan selimut.
Ia pun telah dipukuli.
Setiap kali ia berlepas tangan atau mulutnya, ia terus berontak dan berteriak-teriak.
Syukur untuk Thian Tek, Po Kie bersama kawannya yaitu Siuaw Eng, adiknya, tidak mendengar apa-apa.
Dalam sengitnya, saking khawatirnya, Thian Tek berniat membunuh Nyonya Kwee itu.
Ia telah hunus pedangnya, ia dekati Lie-sie.
Nyonya Kwee telah tawar hatinya sejak kebinasaan suaminya, ia sebenarnya sudah memikir untuk bunuh diri, lebih baik bia ia bisa binasa bersama musuhnya itu, maka itu, menampak sikapnya Thian Tek itu, ia tidak takut, ia justru diam-diam memuji kepada roh suaminya.
"Engko Siauw, engko Siauw, aku mohon kepadamu, ingin aku supaya sebelum datang saatnya, aku bertemu pula denganmu, kau lindungi kepadaku, agar dapat aku membinasakan manusia jahat ini!"
Lalu dengan diam-diam, ia siapkan pisau belati atau badik yang Cie Kee hadiahkan kepadanya.
Thian Tek tersenyum aneh, ia angkat tangannya untuk dikasih turun denagn bacokannya.
Lie Peng tidak mengerti silat, tetapi telah bulat tekadnya, maka itu sebaliknya dari ketakutan, ia justru mendahului sambil menubruk, ia menikam!
Thian Tek kaget dan heran.
Inilah ia tidak sangka.
Maka terpaksa ia gunai goloknya untuk menangkis.
"Trang!"
Demikian satu suara nyaring.
Untuk kagetnya manusia busuk ini, ujung goloknya putus dan jatuh ke tanah dan ujung pisau belati menyambar terus ke dadanya.
Dalam kagetnya ia buang diri ke belakang, tetapi tak urung, bajunya kena terobek, dadanya kena tergurat, hingga darahnya lantas mengucur keluar.
Coba Lie-sie bertenaga cukup, dadanya itu pasti telah tertancap pisau belati itu.
Untuk bela diri terlebih jauh, Thian Tek sambar sebuah kursi.
"Simpan senjatamu!"
Ia membentak.
"Aku tak akan membunuh padamu!"
Lie Peng sendiri telah lemas kaki dan tangan dan tubuhnya, ia telah keluarkan tenaga terlalu besar, ia sudah umbar hebat hawa amarahnya tanpa merasa ia membuat kandungannya tergerak, hingga bayi di dalam perutnya itu meronta-ronta.
Dengan letih ia jatuhkan diri ke kursi, napasnya memburu.
Tapi ia masih ingat akan pisau belatinya yang ia pegangi keras-keras.
Thian Tek tetap jerih untuk Han Po Kie beramai, ia juga tak dapat lari seorang diri, sudah kepalang tanggung, ia terus membawa Lie Peng.
Kali ini ia kembali naik perahu, tetap ia menuju ke Utara.
Ia melalui Lim-ceng dan Tek-ciu dan tiba di propinsi Hoopak.
Selama itu rasa takutnya tak jadi berkurang.
Setiap ia mendarat, selama tinggal di penginapan, saban-saban ada orang mencari dia.
Syukur ia waspada dan cerdik, selalu dapat ia menjauhkan diri dari mereka itu.
Ia peroleh kenyataan, kecuali si kate terokmok dan si nona, ada lagi seorang lain yang cari padanya, ialah seorang pincang dan bermata buta yang membawa-bawa sebatang tongkat besi.
Syukur untuknya, tiga orang itu tidak kenali dia, walaupun kedua pihak bertemu muka, mereka itu tidak kenali padanya.
Ini yang menyebabkan ia selamanya dapat lolos.
Tidak lama kemudian, Thian Tek dapat godaan lain.
Dengan tiba-tiba otaknya Lie Peng terganggu, baik selama di penginapan, maupun di tengah perjalanan, nyonya Kwee suka ngoceh tidak karuan, ada kalanya ia robek bajunya atau bikin kusut rambutnya, hingga mereka jadi menarik perhatian orang.
Ia menjadi masgul dan bingung sekali.
Kelakuan si nyonya itu gampang menimbulkan kecurigaan orang.
Kemudian ia menjadi mendongkol.
Ia dapat kenyataan si nyonya si nyonya bukan gila benar-benar, ia hanya berpura-pura edan, untuk sengaja menarik perhatian orang, supaya tentang perjalanan mereka – ke mana saja mereka menuju – ada menimbulkan bekas.
Ia marah tetapi ia tidak bisa berlaku keras kepada nyonya itu kecuali ia mengancam agar si nyonya terus ikut padanya.
Ia jadi semkin hati-hati.
Ketika itu hawa udara telah mulai berubah.
Hawa panas mulai lenyap, sang angin sejuk telah mulai menghembus.
Udara begini tidak terlalu mengganggu orang-orang yang membuat perjalanan, malah menyenangkan.
Thian Tek telah menyingkir jauh ke utara, akan tetapi ia tetap dibayangi pengejar-pengejarnya.
Celaka untuknya, setelah berjalan jauh dan melewatkan banyak hari, bekalan uangnya mulai habis.
Pada suatu, saking uring-uringan, ia ngoceh seorang diri.
"Selama aku pangku pangku di Hangciu, bagaimana senangnya aku. Setiap hari aku bisa dahar dan minum enak, dapat ku bersenang-senang dengan wanita-wanita cantik, tetapi dasar pangeran Kim yang keenam itu yang kemaruk sama istri orang, dia telah celakai aku hingga begini…"
Justru ia ngoceh ini, mendadak ia dapat ingat suatu apa.
"Bukankah aku telah tidak jauh dari Yan-khia?"
Demikian ia ingat.
"Kenapa aku tidak pergi kepada Liok-taycu?"
Liok-taycu itu adalah putra keenam dari raja Kim, itu pangeran Kim yang ia maksudkan.
Tanpa ragu-ragu lagi, ia bernagkat menuju ke Yan-khia, ibukota kerjaan Kim itu.
Ibukota Yan-khia itu disebut juga Tiong-touw atau Chungtu, artinya "Kota Tengah".
Sekarang ini ialah kota Pakkhia (Peking).
Di sana Thian Tek langsung mencari istananya pangeran itu, ialah Tio Ong atau Chao Wang (Pangeran Tio atau Chao) Kapan Wanyen Lieh dengar tentang kedatangannya satu perwira dari selatan, ia lantas ijinkan orang menemui dia.
Ia terkejut akan ketahui, tetamunya adalah Toan Thian Tek dan orang ingin numpangi diri kepadanya.
Ia lantas mengerutkan kening, mulutnya mengeluarkan kata-kata yang tak nyata.
Didalam hatinya, ia berpikir.
"Tentang Pauw-sie, aku masih belum dapat mempernahkannya, bagaimana aku bisa menerima Thian Tek? Ia tahu rahasiaku, kalau ia membocorkannya, urusan bisa menjadi rewel. Kenapa aku mesti meninggalkan satu , mulut hidup? Bukankah ada peribahasa kuno yang mengatakannya.
"Yang cupat pikirannya kuncu, yang tak kejam bukannya satu laki-laki?"
Karena ini ia lantas tersenyum.
"Kau baru sampai dari satu perjalanan jauh, kau tentunya letih, pergilah beristirahat dulu,"
Katanya dengan manis.
Thian Tek mengucap terima kasih.
Ia sebenarnya hendak beritahu juga bahwa ia datang bersama Lie Peng, tetapi satu hambanya pangeran itu muncul dengan tiba-tiba mengabarkan ‘kunjungannya Sam-ongya’ – pangeran yang ketiga.
Wanyen Lieh bangkit dari kursinya.
"Pergilah kau beristirahat!"
Katanya sambil ia mengibaskan tangannya, setelah mana ia bertindak untuk sambut tetamunya.
Sam-ongya itu adalah Wanyen Yung Chi, putra yang ketiga dari Wanyen Ching, raja Kim.
Ia bergelar Wei Wang atau Wee Ong, pangeran Wei atau Wee.
Di antara saudara-saudaranya, ia bergaul paling erat dengan Wanyen Lieh, sang adik.
Ia ada lemah, maka itu, dalam segala hal, ia suka dengari adiknya yang cerdik dan tangkas.
Pada masa itu pemimpin bangsa Mongolia, Temuchin sudah mulai kuat kedudukannya, tetapi ia takluk kepada bangsa Kim, ia malah membantui negara Kim memusnahkan bnagsa Tartar, oleh karena mana, guna menghargai jasanya itu, raja Kim utus Wanyen Yung Chi, sang putra pergi menganugerahkan Temuchin sebagai Pak Kiang Ciauw-touw-su, semacam kommissaris tinggi.
Di samping itu, kepergian putra ini sebenarnya guna melihat sendiri keadaan bangsa Monglia itu.
Karena tugasnya ini, Wee Ong telah datang menemui Tio Ong, untuk memohon pikiran.
"Bangsa Monglia itu tak tetap tempat tinggalnya,"
Berkata Wanyen Lieh.
"Mereka juga bertabiat kasar, gemar mereka menghina yang lemah tetapi jerih terhadap yang kuat, untuk pergi ke sana, kakak harus membawa satu pasukan tentera yang terpilih, supaya melihat keangkeran kita, hatinya menjadi ciut. Denagn begitu, selanjutnya mereka tidak akan berani berontak."
Wanyen Yung Chi terima baik nasehat itu, ia mengucapkan terima kasih, setelah omong-omong lagi sebentar ia pamitan. Ketika ia hendak berbnagkit, adik itu berkata kepadanya.
"Hari ini ada datang padaku satu mata-mata dari kerajaan Selatan."
"Begitu?"
Tanya sang kakak, heran.
"Habis?"
"Dia datang untuk tumpangkan diri padaku,"
Sahut adik itu.
"Itulah alasannya belaka, sebenarnya ia hendak mencari tahu keadaan kita bangsa Kim."
"Kalau begitu, bunuh saja padanya!"
Kata sang kakak.
"Tindakan itu tidak sempurna,"
Wanyen Lieh bilang.
"Kakak tahu sendiri kecerdikan bangsa Selatan itu. Mungkin mata-mata yang datang bukan dia satu orang, kalau dia ini dibunuh, yang lainnya pasti bakal jadi waspada. Aku pikir hendak mohon kakak bawa ia pergi ke utara."
"Bawa ia ke Utara?"
Yung Chi tanya.
"Ya"
Sahut Wanyen Lieh.
"Di sana, di padang gurun, di mana tidak ada lain orang, dengan cari satu alasan kakak boleh hukum mati padanya. Di sini aku nanti layani lain-lainnya mata-mata."
"Bagus!"
Yung Chi bertepuk tangan, dia tertawa riang.
"Sebentar kau kirim dia padaku, bilang saja dia hendak dijadikan pengiringku."
Sang adik menjadi girang.
"Baik!"
Katanya.
Sore itu Wanyen Lieh tidak panggil Toan Thian Tek menghadap lagi padanya, hanya sambil dibekali uang perak dua potong, dia suruh Thian Tek pergi ke istana Wei Wang untuk bantu pangeran itu, katanya.
Thian Tek tidak tahu rencana orang, ia menurut saja.
Ia khawatir Lie Peng nanti buka rahasianya, ia tetap ajak nyonya itu.
Ia mempengaruhinya hingga si nyonya diam saja.
Sedang si nyonya ini masih mengharapkan datangnya pertolongan padanya……..
Berselang beberapa hari, Wanyen Yung Chi berangkat ke Monglia, dia ajak Thian Tek bersama.
Sementara itu perutnya Lie Peng makin menjadi besar, perjalanan jauh denagn menunggang kuda, sangat meletihkan dia.
Tapi ia telah bertekad untuk membalas sakit hatinya, dia kuatkan hati dan tubuhnya untuk lawan penderitaan ini.
Di lain pihak ia jaga diri baik-baik agar tentara Kim tidak tahu siapa dia.
Demikian untuk beberapa puluh hari, dia terus menderita.
Wanyen Yung chi berangkat bersama seribu serdadu pilihan yang semua kelihatan gagah dan mentereng.
Dia sengaja menunjuki pengaruh menurut nasihat Wanyen Lieh.
Pada suatu hari tibalah barisan ini di satu tempat dekat dengan perkemahan Temuchin.
Wanyen Yung Chi lantas kirim belasan serdadunya untuk memberi warta terlebih dahulu tentang tibanya itu sekalian menitahkan Temuchin datang menyambut utusan Kim.
Tatkala itu bulan kedelapan untuk di Utara, hawa ada dingin luar biasa.
kapan sang malam tiba, salju beterbangan turun bagaikan lembaran-lembaran unga.
Diwaktu begini, barisan dari seribu serdadu pilihan dari bangsa Kim berjalan berlerot bagaikan seekor ular panjang, berjalan di padang pasir yang seperti tak ada ujung pangkalnya.
Selagi pasukan ini berjalan terus, sekonyong-konyong orang mendapat dengar suara berisik yang datangnya dari arah utara, suara seperti satu pertempuran.
Selagi Wanyen Yung Chi terheran-heran, ia lantas tampak lari mendatangi satu pasukan kecil serdadu.
"Sam-ongya, lekas kasih perintah untuk bersiap untuk berperang!"
Demikian kata perwiranya yang pimpin pasukan kecil itu setibanya dia di depan pangeran Kim itu. Dialah Ouw See Houw. Yung Chi menjadi kaget.
"Pasukan musuh manakah itu?"
Dia bertanya.
"Mana aku tahu?!"
Sahut si perwira yang lantas saja mengatur barisannya.
Ia keprak kudanya untuk maju ke depan.
Hampir itu waktu, apa yang disebutkan tentara musuh itu, sudah datang dekat sekali.
Mereka itu terpencar si segala penjuru, memenuhi bukit dan tegalan di hadapan angaktan perang Kim itu.
Ouw See Houw ada satu panglima yang berpengalaman yang diandalkan negeranya, sebaliknya Wanyen Yung Chi lemah, dia tak dapat berpikir, maka itu kepala perang ini telah melancangi pangeran itu untuk mengatur persiapan.
Segera juga terlihat suatu keanehan.
Tentara ‘musuh’ itu bukan terus menerjang pasukan Kim, hanya mereka kabur keempat penjuru.
Kapan Ouw See Houw sudah mengawasi sekian lama, ia dapat kenyataan, itulah pasukan sisa yang habis kalah perang, yang telah membuang panah dan tombak mereka, semua tidak menunggang kuda, roman mereka ketakutan.
Disamping itu di belakang mereka menerjang sejumlah pasukan berkuda, hingga banyak serdadu yang kena terinjak-injak.
Ouw See Houw berlaku tabah.
ia beri perintah akan tenteranya mengurung pangerang mereka, untuk melindungi.
Mereka bersiap tanpa bersuara.
Tentera musuh yang kabur itu melihat pasukan Kim, mereka lari tanpa berani datang mendekati, mereka kabur jauh-jauh.
Tiba-tiba dari arah kiri terdengar ramai suara terompet tanduk, di situ muncvul satu pasukan serdadu, yang terus menerjang tentera sisa.
Tentera sisa ini berjumlah lebih besar tapi mereka tidak berdaya terhadap pasukan berkuda ynag jauh lebih kecil itu.
Terpaksa untuk menyingkir, tentara sisa ini meluruk ke arah pasukan Kim.
"Lepaskan panah"
Ouw See Houw memberi titah.
Tentara sisa itu segera diserang, sejumlah diantaranya lantas rubuh, akan tetapi jumlah mereka banyak, mereka pun lagi ketakutan, mereka menerobos terus.
Dengan sendirinya mereka jadi bertempur sama tentara Kim.
Hebat akibatnya untuk tentara Kim itu, yang berjumlah lebih sedikit.
Kekalutan sudah lantas terjadi, musuh dan kawan bercampur menjadi satu, bergumul.
Ouw See Houw kewalahan, maka bersama sejumlah serdadu ia lindungi Wanyen Yung Chi mundur ke arah selatan.
Bab 7.
Adu Panah Lie Peng ada bersama Toan Thian Tek, mereka masing-masing menunggang satu kuda, tetapi serbuan sisa tentera "musuh"
Itu demikian hebat, mereka ke dibikin terpencar, terpaksa nyonya Kwee lari sendirian.
Syukur untuknya, karena sisa tentera itu main saling selamatan diri sendiri, ia tidak mendapat gangguan.
Hanya sesudah lari serintasan, ia merasakan perutnya mulas, sakit sekali, hingga tanpa dapat ditahan lagi, ia rubuh dari kudanya.
Ia pingsan.
Entah sudah lewat berapa lama, ia sadar sendirinya dengan perlahan-lahan.
Untuk kagetnya, samar-samar ia dengar tangisan bayi.
Ia belum sadar betul, tak tahu ia dirinya berada di dunia baka atau masih hidup.
Ia hanya dengar tangisan itu makin lama makin keras.
Ia geraki tubuhnya, tapi ia merasa ada benda yang membanduli perutnya.
Ketika itu masih malam, sang rembulan mengencang di atas langit, muncul di antara sang awan.
Sekarang baru Lie Peng sadar betul, setelah ia melihat dengan tegas, tanpa merasa ia menangis menggerung-gerung.
Nyatalah dalam keadaan seperti itu, ia telah melahirkan anak…….
Cepat nyonya itu berduduk, ia angkat bayinya itu, untuk kegirangannya, ia dapatkan satu bayi laki-laki.
Ia mengeluarkan air mata kegirangan yang berlimmpah-limpah.
Dengan gigitan ia bikin putus tali pusar, setelah mana ia peluki anaknya.
Di bawah terangnya sang rembulan, bayi itu nampak cakap, suaranya pun nyaring, potongan wajahnya mirip dengan suaminya Kwee Siauw Thian.
Roman anak ini telah membantu menguatkan semangatnya, kalau tadinya ia telah berputus asa, sekarang timbullah harapannya.
Entah dari mana datangnya tenaganya, Lie-sie mencoba menggunai kedua tangannya, akan menggali pasir, untuk membuat sebuah liang yang besar dimana bersama bayinya ia bisa menyingkir dari angin dan salju.
Dari situ ia bisa dengar rintihan serdadu-serdadu yang terluka parah atau hendak mati dan ringkikannya banyak kuda perang.
Buat dua malam satu hari, Lie Peng mendekam di liangnya itu, lalu dihari ketiga, tak tahan ia akan rasa laparnya.
Air ada air salju tapi barang daharan, tidak ada sama sekali.
Terpaksa ia merayap keluar.
Di sekitarnya tidak ada seorang juga kecuali mayat-mayat serdadu dan kuda-kuda.
Karena hawa dingin, semua mayat serdadu dan bangkai itu belum busuk.
Cuma pemandangannya yang sangat menggiriskan hati.
mau tidak mau, Lie-sie mesti kuatkan hati.
Lie-sie coba geledah tubuhnya myat-mayat itu untk cari rangsum kering.
Ia dapatkan sejumlah sisa.
Lalu ia coba menyalakan api, dengan itu ia pun dapat bakar daging kuda.
Ia dapatkan golok dengan gampang karena di situ bergeletakan banyak alat senjata.
Buat tujuh atau delapan hari, Lie-sie dapat berdiam disitu bersama bayinya, setelah ia mulai dapat pulang kesegarannya, ia gendong bayinya untuk di bawa pergi ke araha timur.
Ia mesti terus berjalan di tempat yang sepi dimana ada terdapat pepohonan dan tegalan rumput.
Sampai tiba-tiba ia mendengar anak panah mengaung di atasan kepalanya.
Kaget ia, hingga keras sekali ia rangkul bayinya.
Segera terlihat dua penunggang kuda, mendatangi dari arah depan.
"Siapa kau?"
Tanya salah satu diantara dua penunggang kuda itu.
Lie Peng tidak buka rahasia, ia Cuma kata ia lagi lewat di situ tempo ia terhalang oleh pertempuran tentera, hingga ia mesti melahirkan anak seorang diri.
Dua penunggang kuda itu adalah orang Monglia, mereka itu berbaik hati, walaupun mereka tidak tahu jelas, apa katanya Lie.sie, mereka jaka si nyonya ke tendanya, untuk dikasih tempat meneduh dan barang makanan, untuk kemudian ibu dan bayinya itu tidur guna melepaskan lelah dan kantuknya.
Orang Monglia itu tidak berumah tangga, sebagai pengembala tak tentu tempat tinggalnya, dengan mengiring binatang piarannya, mereka biasa pergi ke timur atau ke barat untuk mencari makanan binatang, guna mencari air, sebagai rumah adalah tenda yang bertenung daripada bulu binatang, guna melindungi diri dari gangguan angin dan hujan.
Demikian telah terjadi dengan Lie-sie, ketika kedua penolongnya hendak berpindah tempat, terpaksa ia ditinggal pergi.
Akan tetapi dua orang itu tidak menolong kepalang tanggung, diwaktu hendak berangkat, mereka meninggalkan tiga ekor kambing.
Maka mulailah Lie Peng mesti bercape lelah, untuk hidup sendiri.
Hidup sendiri, sebab bayinya masih belum mengerti suatu apa pun.
Ia mesti membangun satu gubuk dengan beratap daun.
Untuk hidupnya, ia mulai bertenun yang hasilnya ia dengan barang makanan.
Bisalah dibayangi, bagaimana hebat penderitaannya itu.
Oleh karena kebiasaan, ia pun dapat hidup sebagai orang Mongolia, malah tanpa terasa enam tahun telah lewat.
Ia tidak hendak melupakan peasn suaminya, ia beri nama Ceng kepada putranya.
untuk kelegaan hatinya, anak itu bertubuh kuat dan cerdik, ia bisa membantu ibunya menggembala kambing.
Selama tempo bertahun-tahun hidupnya Lie Peng ada lumayan.
Pada suatu hari dari bulan tiga, selagi uadra hangat, Kwee ceng giring kambingnya untuk diangon.
Ia sekarang memelihara anjing sebagi pembantunya, dan untuk menempuh perjalanan jauh, ia menunggang kuda kecilnya.
Tepat tengah hari, selagi ia menjagai kambing-kambingnya, tiba-tiba kwee Ceng lihat seekkor burung elang yang besar sekali menyambar kepada rombongan kambingnya.
Semua binatang itu kaget.
Malah yang seekor – anak kambing – kabur ke timur.
Ia memanggil dengan berteriak-teriak, anak kambing itu lari terus.
Maka ia naiki kudanya untuk mengejar.
Sekitar tujuh lie, baru ia dapat tangkap anak kambing itu, tapi selagi ia hendak menuntun pulang, mendadak ia dengar susra keras dan nyaring, hingga ia terperanjat.
Ia mulanya menyangka kepada guntur, sampai setelah memasang kuping sekian lama, ia dengar suara seperti tambur berikut meringkiknya kuda serta suara orang banyak.
Ia menjadi takut, belum pernah ia dengar suara semacam itu.
Tidak ayal lagi, Kwee Ceng tuntun kambingnya buat diajak mendaki suatu tanjakan, untuk bersembunyi didalam rujuk.
Tapi ia ingin mengetahui sesuatu, ia keluarkan kepalanya untuk mengintai.
Jauh di sebelah depan nampak debu mengepul naik, lalu muncullah pasukan tentera, yang ia tidak tahu berapa jumlahnya, ia cuma dapatkan, yang menjadi kepala perang telah memberikan belbagai titahnya, maka tentera itu lantas memecah diri dalam dua barisan, timur dan barat.
Ada serdadu yang kepalanya digabut pelangi putih, ada yang ditancapkan bulu burung warna lima.
Sekarang, sebaliknya daripada takut, hati Kwee ceng menjadi tertarik.
Ia mengintai terus.
Tidak lama setelah barisan teraur rapi, segera terdengar suara terompet dari sebelah belakang, dari sana muncul beberapa barisan lain yang dikepalai oelh satu perwira muda jangkkung dan kkurus, tubuhnya ditutupi dengan mantel merah.
Ia memegang sebatang golok panjang, lantas ia pimpin tentaranya menyerbu, dari itu di situ sudah lantas terjadi suatu pertempuran.
Pihak penyerang ini berjumlah lebih sedikit, walaupun tampaknya mereka kosen, tidak lama mereka mesti mundur sendirinya.
Tapi di belakang mereka lantas tiba bala bantuan, mereka menyerang pula.
Meski begitu, agaknya mereka ini tidak dapat bertahan lama.
Sekoyong-konyong terdengar suara terompet riuh, dibantu sama suara tambur, mendengar itu tentera penyerang lantas berseru-seru kegirangan.
"Kha Khan Temuchin telah datang! Kha Khan telah datang!"
Atas itu orang-orang yang lagi bertempur lantas menoleh ke arah timur selatan, dari mana datangnya suara terompet dan tambur tadi.
Juga Kwee Ceng turut beralih pandangannya.
Ia tampak satu pasukan besar, yang mendatangi dengan cepat.
Di tengah pasukan di panjar sebuah tiang yang tinggi di mana ada tergantung beberapa lapis bulu putih.
Dari sana pun datang seruan-seruan kegirangan.
Atas ini, tentera penyerang jadi dapat semangat, mereka menyerang pula dengan seru, hingga mereka dapat mengacaukan lawannya.
Tiang yang tinggi itu bergerak ke arah tanjakan bukit, Kwee Ceng dengan matanya yang jeli, dari tempat sembunyinya, mengawasi ke arah tiang itu.
Dengan begitu ia dapat lihat satu perwira yang menunggang kuda, yang larikan kudanya itu naik ke tanjakan.
Dia ada memakai kopiah perang dari besi, janggutnya merah, dari atas kudanya ia memandang ke medan pertempuran.
Disamping dia ada beberapa pengiringnya.
Tidak antara lama panglima muda yang bermantel merah larikan kudanya naik ke tanjakan.
"Ayah, musuh berjumlah lebih banyak berlipat ganda, mari kita mundur dulu!"
Berseru ia kepada orang di bawah tiang bendera itu.
Temuchin, demikian panglima yang dipanggil ayah itu, sudah melihat tegas keadaan pertempuran itu, ia Cuma berdiam sebentar, lantas ia berikan titahnya.
"Kau bawa selaksa serdadu mundur ke timur!"
Demikian titahnya itu. Sambil berbuat begitu, ia tetap mengawasi medan perang. Lalu ia memberi perintah pula.
"Mukhali, kau bersama pangeran kedua serta selaksa serdadu mundur ke barat, kau Borchu, bersama Chilaun serta selaksa serdadumu mundur ke utara! Dan kau, Kubilai, bersama Subotai serta selaksa serdadu, lekas mundur ke selatan! Kapan kau lihat bendera besar di kerak tinggi dan dengar terompet dibunyikan, kau mesti kembali untuk melakukan penyerangan membalas!"
Semua perwira itu menyahuti tanda mereka menerima titah, habis itu semua bawa barisannya menyingkir ke arah yang telah disebutkan tadi, maka sebentar saja, tentera Mongolia itu nampaknya lati serabutan keempat penjuru arah.
Tentara musuh bersorak-sorai menampak lawannya lari tumpang siur, mereka pun segera melihat bendera putih besar dari Temuchin di atas bukit, mereka lantas saja berkoak-koak.
"Tangkap hidup Temuchin! Tangkap hidup Temuchin!"
Lalu tentara itu dengan rapat sekali, berlomba mendaki bukit, mereka tidak ambil peduli lagi kepada musuh yang lari tunggang-langgang.
Temuchin tetap berdiam tegak di tempatnya, ia dikitari belasan pengiringnya yang dengan memasang tameng mereka itu, melindungiini pemimpin dari sambarannya berbagai anak panah.
Dilain pihak adik angkat Temuchin, yaitu Sigi Kutuku, bersama Jelmi panglima yang kosen, dengan lima ribu jiwa serdadu mereka, melakukan pembelaan si sekitar bukit itu, tak sudi mereka mundur dari serangan musuh, mereka tidak menghiraukan anak panah dan golok.
Kwee Ceng saksikan itu semua, ia gembira berbareng negri.
Setelah bertempur sekitar satu jam lebih, dari lima ribu serdadunya Temuchin itu, seribu lebih telah terbinasa, akan tetapi juga serdadu musuh, banyak yang telah rubuh, jumlahnya bebearap ribu jiwa, hanya karena jumlah mereka jauh lebih besar, mereka menang di atas angin, apa pula penyerang di pojok timur utara tampak lebih garang.
Musuh telah mendesak hingga hampir sukar untuk dicegah lagi.
Putra ketiga dari Temuchin, yaitu Ogatai yang berada di samping ayahnya, menjadi cemas hatinya.
"Ayah, apa boleh kita kerek bendera dan membunyikan terompet?"
Dia bertanya. Dengan matanya yang tajam bagai mata burung elang, Temuchin mengawasi ke bawah kepada tentara musuh, lalu dengan suara dalam, ia menyahuti.
"Musuh masih belum lelah."
Ketika itu penyerangan musuh di timur laut bertambah hebat.
Di sana pun dikerek batang bendera besar.
Itu ada tanda bahwa di sana ada tiga kepala perang yang memegang pimpinan.
Di pihak Mongolia, orang terpaksa main mundur.
Jelmi lari naik ke atas bukit.
"Kha Khan, anak-anak tak sanggup bertahan!"
Dia teriaki junjungannya.
"Tak sanggup bertahan?!"
Berseru Temuchin dengan gusar.
"Bagaimana dapat kau banggakan diri sebagai satu pendekar gagah perkasa?!"
Air mukanya Jelmi menjadi berubah, lantas ia rampas sebatang golok besar dari tangannya satu serdadu, dengan bawa itu sambil serukan seruan-seruan peperangan bangsanya, ia menerjang barisan musuh, ia membuka jalan hingga di depan satu bendera hitam.
Sejumlah serdadu mush mundur melihat orang demikian bengis.
Jelmi maju menyerang tiga serdadu musuh yang bertubuh besar, ia binasakan satu demi satu, kemudian dengan lemparkan goloknya, ia rangkul ketiga bendera besar itu untuk dibawa lari mendaki bukit, setibanya di atas, ia tancap tiga batang bendera itu di tanah!
Kaget nusuh menyaksikan lawannya demikian kosen.
Dilain pihak, tentara Mongolia bertempik sorak, mereka lantas tutup pula kebocoran di timur utara itu.
Berselang lagi satu jam, dipihak musuh, di pojok barat selatan, tampak satu panglima dengan pakaian perang hitam, hebat ilmu panahnya, sebentar saja ia telah rubuhkan belasan tentera Mongolia.
Dua perwira Mongolia maju hendak menerjang tetapi mereka disambut oleh anak panah dan rubuh karenanya.
"Bagus ilmu panahnya!"
Temuchin puji musuh itu. Justru itu.
"Ser!"
Sebatang anak panah menyambar sebelum pimpinan Mongol ini dapat berdaya, lehernya telah terkena anak panah itu, sedang satu anak panah lainnya menyambar ke arah perutnya.
Biar bagaimana juga, Temuchin adalah satu orang peperangan yang ulung, walaupun lehernya terluka dan sakit sekali rasanya, ia tidak menjadi gugup, dengan kedut lesnya, ia membuat kudanya berjingkrak berdiri dengan dua kaki belakangnya.
Dengan begitu, anak panah tidak lagi menyambar ke perut orang, hanya nancap di dadanya kuda, nacap sampai di batas bulu.
Maka tidak ampun lagi, rubuhlah binatang tunggangannya itu berikut penunggangnya.
Semua serdadu Mongol kaget, semua lantas meluruh untuk tolongi kepala perang mereka.
Musuh gunai ketika baik ini untuk menerjang naik dengan hebat.
Kutuku di arah barat telah pimpin tentaranya melawan musuh, ia kehabisan anak panah dan tobaknya pun telah patah, terpaksa ia balik mundur.
Merah matanya Jelmi melihat kawannya itu mundur.
"Kutuku, apakah kau ngiprit sebagai kelinci?"
Ia menegur dengan ejekannya. Kutuku tidak gusar, sebaliknya ia tertawa.
"Siapa lari ngiprit?"
Katanya.
"Aku kehabisan anak panah!"
Temuchin yang rebah di tanah telah tarik keluar anak panahnya dari kantong panahnya yang tersulam, ia lemparkan itu kepada adik angkatnya itu.
Mendapatkan anak panah, Kutuku segera beraksi.
Beruntun tiga kali ia memanah kepada musuh yang berada dibawahnya sebuah bendera hitam, sebatang busur membuat musuh itu rubuh, sesudah mana, ia memburu ke bawah bukit, untuk rampas kuda musuh, akan kemudian ia lari pula naik ke atas.
"Saudaraku yang baik, hebat kau!"
Temuchin puji adik angkatnya itu. Kutuku mandi keringat.
"Apakah sekarang sudah boleh kita menaikkan bendera dan membunyikan terompet?"
Ia tanya, suaranya perlahan. Temuchin tutup lukanya dengan telapakn tangannya, darah molos keluar dari sela-sela jari tangannya itu, dalam keadaan terluka, ia memandang ke arah musuh.
"Musuh masih belum lelah,"
Sahutnya.
"Kita tunggu sebentar lagi."
Kutuku lantas berlutut di depan kakak angkatnya itu, yang berbareng menjadi pemimpinnya.
"Kami semua rela berkorban untuk kau,"
Katanya.
"Tapi Kha Khan, tubuhmu penting sekali!"
Mendengar itu, melihat sikap orang, Temuchin lantas berlompat untuk naik ke atas seekor kuda.
"Semuanya membela mati bukit ini!"
Ia berseru.
Dengan goloknya yang panjang, ia bunuh tiga musuh yang menerjang ke arahnya.
Musuh yang tengah merangsak naik, kaget melihat kepala perang lawannya dapat naik kuda pula, sendirinya mereka mundur, hingga penyerangan mereka menjadi reda.
Temuchin lihat keadaan itu, ia gunai ketikanya yang baik.
"Naikkan bendera! Tiup terompet!"
Dia berteriak dengan titahnya.
Tentara Mongolia bertempik sorak, lalu bendera putih yang besar dikerek naik, disusul sama bunyi terompet ynag riuh.
Serempak dengan itu, tentera Mongolia dengan bersemangat menyerang dari segala penjuru, dimana mereka berada.
Musuh berjumlah besar, barisan mereka tengah kacau, maka itu diserang demikian mendadak, mereka menjadi bertambah kacau.
Panglima dengan seragam hitam itu nampak keadaan jelek, ia berteriak-teriak untuk mencegah kekacauan, akan tetapi sia-sia saja percobaannya itu, tentaranya tak dapat dikendalikan lagi.
Maka itu tidak usah berselang dua jam, runtuhlah pasukan perang yang besar itu, termusnahkan pasukan Mongolia yang jumlahnya lebih sedikit tetapi yang semangatnya berapi-api.
Sisa tentara lantas lari serabutan, si panglima seragam hitam sendiri terpaksa kaburkan kudanya.
"Tangkap musuh itu!"
Temuchin memberi titah.
"Hadiahnya sepuluh kati emas!"
Beberapa puluh serdadu Mongol sudah lantas kaburkan kuda mereka, akan kejar panglima berbaju hitam itu.
Mereka itu mendekati saling susul.
Akan tetapi lihay panah si panglima, tak pernah gagal, maka itu belasan serdadu lantas saja terjungkal dari kuda mereka, hingga yang lainnya menjadi terhalang.
Dengan begitu pula pada akhirnya, panglima itu dapat meloloskan diri.
Kwee Ceng dari tempat sembunyinya sangat mengagumi panglima berbaju hitam itu.
Dengan pertempuran ini Temuchin, ialah pihak Mongolia, telah peroleh kemenangan besar dan musuhnya ialah bangsa Taijiut, telah musnah lebih daripada separuhnya.
Maka sejak itu, Temuchin tidak usah khawatirkan lagi ancaman dari pihak musuhnya itu.
Dengan kegirangan, sambil bersorak-sorak, tentara Mongolia iringi kepala perangnya berangkat pulang.
Kwee Ceng tunggu sampai orang sudah pergi semua, tak kecuali mereka yang mengurus korban-korban, baharu ia keluar dari tempat sembunyinya.
Ketika ia tiba dirumahnya, waktu sudah tengah malam, justru ibunya sedang berdebar-debar hatinya memikirkan anaknya yang dikhawatirkan menghadapi ancaman bahaya.
Kwee Ceng segera terangkan kepada ibunya kenapa ia pulang lambat sekali.
Senang Lie Peng akan saksikan anaknya bercerita dengan cara sangat gembira, anak ini tidak sedikit juga menunjukkan hati jeri, maka itu ia menjadi teringat kepada suaminya.
"Dasar turunan orang peperangan, ia mirip dengan ayahnya…"
Pikir ibu ini.
Maka diam-diam ia pun bergirang.
Tiga hari kemudian, pagi-pagi sekali, Lie Peng berangkat ke pasar yang terpisahnya kira-kira tigapuluh lie lebih dari rumahnya untuk menukar tenunannya, -dua helai permadani – dengan barang-barang makanan.
Kwee Ceng ditinggal di rumah untuk menjagai binatang piaraan mereka.
Anak ini ingat akan peperangan yang ia saksikan, ia jadi gembira sekali, ia anggap peperangan itu dapat dibuat permainan, maka dengan mainkan cambuknya, sambil ia duduk di atas kudanya, ia mencoba menggiring kambingnya pulang pergi.
Ia mau anggap dirinya adalah satu panglima perang!
Tengah anak ini main jenderal-jenderalan itu, tiba-tiba ia dengar tindakan kaki kuda di arah timur, apabila ia menoleh, ia tampak seekor kuda lari mendatangi, di bebokong kuda ada satu tubuh manusia yang mendekam.
Begitu datang dekat, kuda itu kendorkan larinya.
Penunggang kuda itu yang mendekat, treus angkat kepalanya, memandang kepada si bocah itu, siapa lantas menjadi kaget sekali, hingga ia keluarkan teriakan tertahan.
Penunggang kuda itu mukanya penuh debu bercampur darah, adalah si panglima perang berbaju hitam yang gagah, yang Kwee Ceng saksikan dan mengaguminya, ditangan kirinya ia mencekal goloknya yang telah buntung, golok yang mana pun ada darah yang sudah mengental, sedang panahnya tidak kedapatan padanya.
Mungkin ia yang tengah melarikan diri telah bertemu pula dengan musuh.
Di pipi kanannya ada sebuah luka besar dan masih mengucurkan darah.
Paha kudanya pun terluka, darahnya masih mengalir.
Tubuh panglim aitu bergoyang-goyang, matanya bersinar merah.
"Air…air…lekas bagi air…"
Katanya, suaranya parau. Kwee ceng lantas lari mengambil air dingin dari jambangannya, yang mana si panglima lantas saja sambar untuk digelogoki.
"Mari lagi satu mangkok!"
Dia meminta pula.
Panglima itu baharu minum setengah mangkok, air itu sudah bercampur dengan darah yang mengalir dari lukanya, tetapi ia rupanya telah puas telah dapat air, tiba-tiba ia tertawa, hanya habis itu wajahnya berjengit, tubuhnya terus rubuh dari atas kudanya itu.
Dia jatuh pingsan.
Kwee Ceng kaget dan bingung, ia menjerit.
Tak tahu ia mesti berbuat apa.
Selang sekian lama, orang itu sadar dengan sendirinya.
"Lapar! Lapar!"
Kali ini ia bersuara.
Kwee Ceng lekas-lekas mengambilkan beberapa potong daging kambing, orang itu memakannya dengan sangat bernafsu, setelah itu ia dapat pulang tenaganya.
Demikian dia bisa geraki tubuhnya untuk berduduk.
"Adik yang baik, banyak-banyak terima kasih kepadamu!"
Dia mengucap. Dari lengannya ia tarik sebuah gelang emas yang kasar dan berat.
"Untukmu!"
Dia tambhakan seraya dia angsurkan barang permata itu kepada bocah itu. Kwee Ceng menggeleng-gelengkan kepala.
"Ibu telah pesan, kami harus membantu tetamu tetapi tidak boleh menginginkan barang tetamu,"
Ia bilang. Orang itu tercengang, lalu ia tertawa terbahak-bahak.
"Anak yang baik! Anak yang baik!"
Ia memuji.
Ia lantas sobek ujung bajunya, untuk dipakai membalut lukanya.
Ia pun balut luka kudanya.
Itu waktu samar-samar terdengar suara larinya banyak kuda di arah timur, mendengar itu tetamunya Kwee Ceng ini menjadi gusar sekali.
"Hm, dia tak hendak melepaskan aku!"
Serunya sengit.
Ia pun lantas memandang ke arah timur itu.
Kwee Ceng pun lantas ikut memandang juga.
Sekarang di sebelah suara berisik itu terlihat debu mengepul.
Rupanya banyak sekali serdadu barisan berkuda temgah mendatangi.
"Anak yang baik, apakah kau ada punya panah?"
Tanya si tetamu.
"Ada!"
Sahut Kwee Ceng yang terus lari ke dalam untuk ambil panahnya.
Orang itu perlihatkan roman girang, hanya tempo si bocah itu kembali, ia menjadi lesu.
Tapi lekas sekali ia tertawa berkakakkan.
Kwee Ceng telah bawa gendewa dan anak panahnya yang kecil.
"Aku hendak bertempur, aku ingin panah yang besar…."
Katanya panglim aitu kemudian, alisnya lantas menjadi ciut.
"Yang besar tidak ada…."
Sahut Kwee Ceng. Ketika itu pasukan yang mendatangi telah tampak semakin tegas, benderanya pun berkibar-kibar.
"Seorang diri tak dapat kau lawan mereka, lebih baik kau sembunyi,"
Kata Kwee Ceng kemudian.
"Sembunyi di mana?"
Orang itu tanya. Kwee Ceng menunjuki tumpukan rumput kering di belakang rumahnya.
"Aku tidak akan mengasih tahu kepada mereka,"
Ia berjanji tanpa diminta.
Orang itu mengambil putusan denagn segera.
Ia insyaf, walaupun ia sudah dapat pulang tenaganya, dengan kudanya yang terluka, tak dapat ia lari lebih jauh.
Jadi ada lebih selamat untuk sembunyikan diri.
Lain jalan tidak ada.
"Baik, aku serahkan jiwaku kepadamu!"
Katanya.
"Pergi kau usir kudaku!"
Setelah berkata demikian, ia pun lari ke tumpukan kering itu dan menyelusup kedalamnya.
Kwee Ceng mencambuk kuda itu, dua kali atas mana kuda yang hitam bulunya itu segera lompat kabur, sesudah lari cukup jauh, bahar ia berhenti untuk makan rumput.
Kwee Ceng naik ke atas kudanya, ia laikan kuda itu bolak balik.
Ia bisa berlaku tenang, seperti tak pernah terjadi sesuatu.
Tidak lama tibalah barisan berkuda itu.
Mereka rupanya lihat bocah yang menunggang kuda itu, dua serdadu lantas menghampirinya.
"Eh, bocah, kau lihat tidak satu orang yang menunggang kuda hitam?"
Itulah teguran dari satu diantara dua serdadu itu, suaranya kasar.
"Ya, aku dapat lihat,"
Kwee ceng menjawab.
"Di mana?"
Tanya serdadu yang kedua. Kwee Ceng menunjuk ke barat.
"Dia sudah pergi lama sekali,"
Ia menerangkan "Bawa dia kemari"
Berseru perwira yang mengepalai pasukan itu. Ia tidak dengar pembicaraan di antara dua orangnya dengan si bocah.
"Mari ketemu pangeran!"
Berkata dua serdadu itu, yang lantas terus tarik les kuda orang untuk dibawa kepada sang pangeran. Si pangeran telah sampai di depan rumah "Aku tidak akan bicara!"
Kwee Ceng telah mabil keputusan dalam hatinya.
Ia lihat banyak serdadu sedang mengiringi satu anak muda yang kurus dan jangkung, yang tubuhnya ditutupi denagn mantel merah.
Ia lantas kenali itu adalah panglima yang pimpin tentera.
Dia adalah putra sulung dari Temuchin.
"Apakah katanya bocah ini?"
Tanya ia membentak.
Dua serdadu itu sampaikan jawabannya Kwee Ceng.
Dengan matanya mengandung kecurigaan, putra sulung itu memandang ke sekitarnya.
Ia lantas dapat lihat itu kuda hitam yang lagi makan rumput di kejauhan.
"Bukankah itu kudanya?"
Ia tanya, suaranya dalam.
"Coba bawa kuda itu kemari!"
Begitu keluar perintah itu, sepuluh serdadu lanats bergerak dengan mereka memecah diri dalam lima rombongan, untuk hampirkan itu kuda denagn dikurung, hingga walaupun binatang itu berniat lari, jalannya sudah tertutup.
Dengan gampang ia kena ditangkap dan dituntun.
"Hm! Bukankah itu kudanya Jebe?"
Putra itu tanya.
"Benar!"
Sahut banyak serdadu, suara mereka riuh. Putra sulung itu ayunkan cambuknya ke arah kepalanya Kwee Ceng.
"Dia sembunyi di mana, hai, setan cilik?!"
Tanya dengan bengis.
"Jangan kau harap dapat mendustai aku!"
Jebe, itu panglima berseragam hitam yang sembunyi di dalam tumpukan rumput, bersembunyi sambil memasang mata, tangannya mencekal keras goloknya yang panjang.
Ia lihat penganiayaan itu yang menyebabkan jidatnya Kwee ceng memebri tanda baret merah, hatinya menjdai memukul keras.
Ia kenal si putra sulung – putra Temuchin itu – ialah Juji yang tabiatnya keras dan kejam.
Ia memikir.
"Pasti bocah itu tak tahan sakit dan ektakutan. Tidak ada jalan lain, aku terpaksa mesti keluar untuk adu jiwaku…."
Kwee Ceng kesakitan bukan main, mau ia menangis akan tetapi ia menahan sakit, ia cegah keluarnya air matanya. Dia angkat kepalanya dan menanya dengan berani.
"Kenapa kau pukul aku? Mana aku ketahui dia bersembunyi di mana!"
"Kau membandel?!"
Bentak Juji. Lagi sekali ia mencambuk. Kali ini Kwee Ceng tak dapat tak menangkis. Tapinya ia lantas berteriak .
"Aku tidak tahu! Aku tidak tahu!"
Ketika itu sejumlah serdadu sudah geledah rumahnya Kwee ceng, sedang dua yang lain menusuk-nusuk ke dalam tumpukan rumput kering itu.
Kwee Ceng lihat orang hendak tusuk bagian dimana panglima nelusup, tiba-tiba tangannya menunjuk ke tumpukan rumput yang jauh sambil ia berteriak.
"Lihat di sana, benda apakah itu yang bergerak-gerak?"
Semua serdadu lantas berpaling mengawasi, mereka tidak lihat suatu apa yang bergerak. Kedua serdadu tadi pun sampai lupa untuk menusuk-nusuk terlebih jauh.
"Kudanya ada disini, dia mestinya tidak lari jauh!"
Juji berkata pula.
"Eh, setan cilik, kau hendak bicara atau tidak?!" . Dia mengancam pula Kwee Ceng dengan cambuknya diayun tiga kali beruntun. Hampir di itu waktu dari kejauhan terdengar suara terompet.
"Kha Khan datang!"
Sejumlah serdadu berteriak. Juji lantas berhenti mencambuk, ia putar kudanya untuk menyambut ayahnya, Temuchin, Kha Khan – Khan yang terbesar.
"Ayah!"
Demikian ia menyambut.
Ayahnya itu dirubungi banyak pengiringnya.
Berat lukanya Temuchin bekas terpanah Jebe, tetapi di medan perang, ia coba sebisanya akan menahan sakit, adalah sehabisnya pertempuran, ia pingsan beberapa kali, hingga ia perlu ditolongi dengan Jelmi panglimanya serta Ogotai putranya yang ketiga, mesti isap darah – hingga darahnya itu ada yang kena ketelan dan dimuntahkan.
Satu malam dia gadangi semua panglimanya serta keempat putranya.
Baharu keesokan harinya, di hari kedua, dia lolos dari ancaman bahaya maut.
Oleh karena itu, tentera Mongolia dikirim ke empat penjuru untuk cari Jebe, yang hendak ditawan, untuk hukum dia dengan dibeset empat kuda dan dicincang tubuhnya guna membalaskan sakit hatinya Khan yang terbesar itu.
Dihari kedua pada wkatu sore, sepasukan serdadu berhasil menemukan Jebe.
Musuh itu dikepung tetapi ia dapat meloloskan diri sambil membinasakan beberapa jiwa serdadu Mongol.
Ia sendiri pun telah terluka.
Kapan Temuchin dengar kabar itu, lebih dahulu ia kirim putra sulungnya, Juji, pergi menyusul dan mengejar, kemudian ia sendiri mengajak putranya yang kedua, Jagati, putranya yang ketiga, Ogotai dan putra sulungnya, Tuli, cepat menyusul.
Inilah sebabnya kenapa ia datang belakangan.
"Ayah, kuda hitamnya bangsat itu telah dapat ditemukan!"
Ia memberitahukan.
"Aku tidak menghendaki kuda tetapi orangnya!"
Ayahnya itu menjawab.
"Ya!"
Sahut putra itu.
"Pasti kita akan mendapatkannya!"
Ia balik kepada Kwee Ceng . Kali ini ia hunus goloknya, ia bolang-balingkan itu ke udara.
"Kau hendak berbicara atau tidak!"
Ia mengancam. Kwee Ceng telah mandi darah pada mukanya, ia jadi terlebih berani.
"Aku tidak mau bicara! Aku tidak mau bicara!"
Ia berteriak berulang-ulang. Mendengar itu, Temuchin berpikir, kenapa bocah itu mengatakan.
"Tidak mau bicara"
Dan bukannya "Aku tidak tahu?"
Maka ia lantas berbisik kepada Ogotai.
"Pergi kau bujuki ia hingga ia suka berbicara."
Putra ketiga itu menurut sambil tertawa, muka ramai dengan senyuman, ia hampiri Kwee Ceng. Dari kopiah perangnya ia pun cabut dua batang bulu merak yang berkilauan.
"Kau bicaralah, akan aku berikan ini padamu…"
Ia kata seraya angsurkan bulu merak itu.
"Aku tidak mau bicara!"
Kwee Ceng ulangi jawabannya. Putra kedua dari Temuchin menjadi habis sabar.
"Lepas anjing!"
Ia menitahkan.
Lantas pengiringnya muncul dengan enam ekor anjing yang besar.
Bangsa Mongol paling gemar berburu, maka itu setiap keluarga bangsawan atau panglima perang mesti memelihara anjing-anjing peranti berburu, begitupun burung elang besar.
Jagatai adalah putra paling gemar berburu, kapan ia pergi berburu, dia tentu bawa enam ekor anjingnya itu.
Sekarang anjing itu diperintah dibawa mengitari kuda hitam, untuk diberi bercium bau, habis itu baru semuanya dilepaskan dari rantainya.
Kwee Ceng dengan Jebe tidak saling mengenal, hanya kegagahan panglima berseragam hitam itu sangat mengesankan kepadanya, hingga dengan lantas ia suka memberikan pertolongannya.
Sekarang setelah ia dianiaya Juji, timbul kemarahannya, bangkit keangkuhannya dan tidak sudi ia menyerah.
Kapan ia lihat orang melepas anjing, tahu ia panglima itu terancam akan ketahuan tempat persembunyiannya, untuk mencegah ia lantas bersiul memanggil anjingnya sendiri, anjing pembantu penggembala.
Enam ekor anjingnya Jagati sudah mulai mencium-cium ke tumpukan rumput kering, kapan anjing Kwee Ceng dengar panggilan majikannya, tahu ia akan tugasnya, ia mendahului menghalang di depan tumpukan rumput kering itu dan melarang enam ekor anjing itu menghampirinya.
Jagati menjadi tidak senang, ia perintah anjingnya maju, maka sekejap saja terjadilah pertarungan yang sengit sekali, gonggongan mereka sangat berisik.
Sayang anjing penggembala itu jauh lebih kecil dan ia pun bersendirian, ia lanats digigit di sana sini, banyak lukanya.
Tapi ia gagah, dia tak mau mundur.
Hati Kwee Ceng menjadi kecil, tetapi ia pensaran dan marah, ia perdengarkan suaranya berulang-ulang menganjuri anjingnya melawan terus.
Hati Juji menjadi sangat dongkol, ia ayunkan pula cambuknya berulangkali hingga Kwee Ceng merasakan sakit ke ulu hatinya, hingga ia rubuh bergulingan, tempo ia berguling sampai di kaki si putra sulung, mendadak ia angkat tubuhnya untuk sambar pahanya si Juji yang terus ia gigit.
Juji berontak tetapi ia tak dapat lepaskan pelukannya anak itu yang memegang ia dengan keras sekali.
Menampak sang kakak kelabakan, Jagatai, Ogotai dan Tuli menjadi tertawa bergelak-gelak.
Mukanya Juji menjadi merah, ia ayunkan goloknya ke lehernya si Kwee Ceng.
Disaat batang lehernya bocah yang bernyali besar itu bakal menjadi putus, tiba-tiba sebuah golok buntung menyambar, mengenai tepat goloknya Juji itu.
Nyaring bentroknya kedua senjata itu.
Juji terperanjat, sebab goloknya hampir terlepas dari cekalannya.
Semua orang terkejut, antaranya ada yang berseru kaget.
Menyusuli goloknya itu, Jebe lompat keluar dari tempatnya bersembunyi.
Ia sambar Kwee Ceng, yang ia tarik tubuhnya dengan tangan kiri untuk disingkirkan ke belakangnya, terus dengan tertawa dingin, dia berkata.
"Menghina anak kecil, tak malukah?!"
Lantas saja Jebe dikurung oleh serdadu Mongol, yang bersenjatakan golok dan tombak.
Ia lemparkan goloknya.
Juji menjadi sangat gusar, ia meninju dada orang.
Atas itu Jebe tidak membalas menyerang.
Sebaliknya ia berseu.
"Lekas bunuh aku!"
Kemudian, dengan suara mendalam, ia menambahkan.
"Sayang aku tak dapat terbinasa di tangannya satu orang gagah perkasa…!"
"Apakah kau bilang?"
Tanya Temuchin.
"Jikalau aku dibinasakan di medan perang oleh orang yang dapat menangi aku, aku akan mati dengan puas,"
Sahut Jebe.
"Sekarang ini burung elang jatuh di tanah, dia mati digerumuti semut!"
Habis mengucap begitu, terbuka lebar matanya ini panglima, dia berseru dengan keras.
Enam anjingnya Jagatai yang lagi gigiti anjingnya Kwee Ceng menjadi kaget, semuanya lompat mundur dengan ketakutan, ekornya diselipkan ke selangkangannya.
Disampingnya Temuchin muncul satu orang.
"Kha Khan, jangan kasih bocah ini pentang mulut besar!"
Dia berseru.
"Nanti aku layani dia!"
Temuchin lihat orang itu adalah panglimanya, Borchu. Ia girang sekali.
"Baik, pergi kau layani dia!"
Ia menganjurkan. Borchu maju beberapa tindak.
"Seorang diri akan aku bunuh kau, supaya kau puas!"
Katanya nyaring. Jebe awasi orang itu, yang tubuhnya besar dan suaranya nyaring.
"Siapa kau?!"
Ia tanya.
"Aku Borchu!"
Panglima itu membentak. Jebe berpikir.
"Memang pernah aku dengar Borchu adalah orang kosen bangsa Mongolia, kiranya dia inilah orangnya…"
Ia tidak menjawab, ia cuma perdengarkan suara dingin.
"Hm!"
"Kau andalkan ilmumu memanah, orang sampai menyebut kau Jebe,"
Berkata Temuchin.
"Maka sekarang, pergilah kau bertanding dengan sahabatku ini!"
"Jebe"
Itu memang berarti "Ahli memanah". Jebe ada punya namanya sendiri tetapi nama itu kalah dengan gelarannya, hingga orang tidak mengetahuinya lagi. Mendengar orang adalah "sahabatnya"
Temuchin, Jebe berkata.
"Kau adalah sahabatnya Khan yang terbesar, aku akan lebih dahulu binasakan padamu!"
Tertawa Mongol tertawa riuh.
Mereka anggap orang ini tidak tahu diri.
Borchu itu kosen dan belum pernah ada tandingannya.
Ketika dahulu Temuchin belum menjadi kepala bangsa Mongol, dia pernah ditawan bangsa Taijiut, musuhnya, lehernya dipakaikan kalung kayu.
Bangsa Taijiut itu membikin pesta di tepinya sungai Onan, sembari minum koumiss, mereka saban-saban mencaci Temuchin, yang mereka hinakan sesudah mana mereka berniat membunuhnya.
Setelah pesta bubaran, Temuchin berhasil menghajar penjaganya dengan kalung kayunya itu, ia lari ke dalam rimba, siasia bangsa Taijiut mencari dia.
Satu anak muda yang bernama Chila’un tidak takut bahaya, dia tolongi Temuchin, kalung kayunya dirusaki dan dibakar.
Ia dinaiki ke atas sebuah kereta besar yang muat bulu kambing.
Ketika musuh Taijiut datang mencari dan rumah Chila’un digeledah, digeledah juga kereta itu.
Hampir Temuchin kepergok tapi ayahnya Chila’un pintar, dia berkata.
"Hari begini panas mengendus, mustahil orang dapat sembunyi di dalam bulu kambing"
Memang hawa ada sangat panas, setiap orang seperti bermandikan keringat.
Alasan itu kuat, kereta itu batal digeledah.
Setelah lolos ini, sengsara hidupnya Temuchin.
Bersama ibu dan adik-adiknya ia mesti hidup dari daging tikus hutan.
Sudah itu pada suatu hari, delapan ekor kudanya yang putih pun kena orang curi.
Ia penasaran, ia pergi mencari pencuri kuda itu.
Ia ketemu satu anak muda yang lagi peras susu kuda.
Ia tanya kalau-kalau pemuda itu lihat pencuri kudanya.
Pemuda itu ialah Borchu.
Dia berkata.
"Penderitaannya bangsa pria sama saja, mari kita ikat persahabatan."
Temuchin sambut itu ajakan.
Maka kemudian, mereka berdua pergi mencari bersama.
Tiga hari mereka menyusul, baharu mareka dapat menyandak si pencuri kuda.
Dengan panah mereka yang lihay, mereka bubarkan rombongan pencuri kuda itu dan berhasil merampas pulang ke delapan kuda yang dicuri itu.
Temuchin hendak membalas budi dengan membagi kudanya.
Ia tanya sahabatnya itu menghendaki berapa ekor.
Borchu menjawab.
"Aku keluarkan tenaga untuk sahabatku, seekor juga aku tidak menginginkannya!"
Sejak itu keduanya bekerjasama, sampai Temuchin berhasil mengangkat dirinya.
Borchu tetap menjadi sahabatnya dengan berbareng menjadi panglimanya, hingga bersama Chila’un ia menjadi empat di antara menteri besar dan berjasa dari Jenghiz Khan (nama Temuchin setelah ia menaklukan bangsa-bangsa yang lain).
Temuchin tahu kegagahannya Borchu, ia serahkan panahnya sendiri.
Ia pun lompat turun dari kudanya.
"Kau naik atas kudaku, kau pakai panahku,"
Katanya.
"Itu sama saja dengan aku sendiri yang memanah dia!"
"Baik!"
Borchu menyahuti. Dengan tangan kiri mencekal gendewa dan tangan kanan memegang naka panah, dia lompat ke atas kudanya Temuchin.
"Kau kasihkan kudamu pada Jebe!"
Temuchin berkata pada Ogotai, putranya yang ketiga.
"Sungguh dia beruntung!"
Kata Ogotai, yang suruh orang serahkan kudanya. Jebe naik ke bebokong kuda, dia berkata pada Temuchin.
"Aku telah terkurung olehmu, sekarang kau beri ketika untuk aku adu panah dengannya, aku bukannya seorang yang tak tahu diri, tak dapat aku layani dia cara seimbang. Aku menghendaki hanya sebuah gendewa, tak usah anak panahnya!"
"Kau tak pakai anak panah?!"
Tanya Borchu gusar.
"Tidak salah!"
Sahut Jebe.
"Dengan sebuah gendewa saja, aku pun dapat membunuh kau!"
Tentara Mongol menjadi berisik.
"Binatang ini sangat sombong!"
Seru mereka.
Borchu tahu Jebe memang lihay, dia tidak berani memandang enteng.
Ia jepit perut kudanya akan bikin kuda itu lari.
Binatang itu yang telah berpengalaman, tahu akan tugasnya.
Jebe lihat kuda lawan gesit, ia pun larikan kudanya ke lain arah.
Borchu lantas bersiap, lalu "Ser!"
Maka sebuah anak panah menyambar ke arah Jebe.
Jebe berkelit dan sambil berkelit tangannya menyambar, menangkap anak panah itu.
Borchu terkejut, ia memanah lagi pula.
Jebe tidak sempat menangkap pula, ia mendekam akan aksih lewat anak panah itu.
Ia selamat.
Tapi Borchu tidak berhenti sampai disitu, lagi dua kali ia memanah dengan saling susul.
Kali ini Jebe kaget.
Inilah ia tidak sangka.
Tidak lagi ia mendekam, ia hanya bawa tubuhnya turun dari bebokong kuda, kaki kanannya nyangkel pada sanggurdi, tubuhnya meroyot hampir mengenao tanah.
Ia tidak cuma menolong diri, kesempatan ini dipakai untuk membalas menyerang, mengarah perut Borchu, habis mana ia angkat tubuhnya, untuk duduk pula atas kudanya!
"Bagus!"
Borchu memuji lawannya itu.
Ia terus memanah, untuk papaki anak panah lawan.
Maka kedua anak panah itu saling bentrok lalu mental, jatuh nancap di tanah.
Temuchin dan semua orangnya bersorak memuji.
Borchu memanah pula.
Mulanya ia cuma mengancam, setelah itu ia memanah betul-betul.
Ia mengincar ke sebelah kanan.
Jebe lihat anak panah datang, ia menyambok dengan gendewanya, hingga anak panah itu jatuh ke tanah.
Ketika ia diserang pula, beruntun tiga kali, terus ia main berkelit.
Kemudian ia larikan kudanya, selagi kuda itu lari, ia cenderungkan tubuh ke bawah untuk jemput tiga anak panah yang tergeletak di tanah.
Cepat sekali ia membalas memanah, satu kali.
Borchu perlihatkan kepandaiannya.
dengan enjot diri, ia berdiri di atas kudanya, lalu dengan sebelah kakinya ia sampok anak panah yang menyambar kepadanya itu.
Dilain pihak, ia berbareng membalas memanah.
Jebe berkelit, sambil berkelit ia memanah pula.
Tapi ia panah anak panahnya Borchu, hingga anak panah itu terpanah dua.
Borchu menjadi berpikir.
"Aku ada punya anak panah, dia tidak, sekarang kita seri, dengan begini mana bisa aku membalaskan sakit hatinya Khan yang terbesar?"
Ia menjadi bergelisah.
Lantas ia memanah pula beruntun beberapa kali, terus-menerus.
Selagi mata orang banyak seperti di bikin kabur, Jebe pun berkelit tak hentinya.
Tapi anak panah datang demikian cepat, hingga akhirnya pundaknya yang kiri kena juga terpanah, hingga ia merasakan sangat sakit.
Semua penonton bersorak.
Borchu menjadi girang sekali.
Tapi ia belum puas, hendak ia memanah lebih jauh, untuk rampas jiwa orang.
Maka ia lantas merogoh ke kantung panahnya, tiba-tiba ia menjadi terkejut.
Tanpa merasa, ia telah gunai habis semua anak panahnya, anak panah yang diberikan oleh Temuchin kepadanya.
Sebenarnya ia biasa berbekal banyak anak panah, kali ini ia pakai kantong panah Temuchin, yang anak panahnya ada batasnya.
Dalam kagetnya ia putar kudanya untuk balik, sambil turunkan tubuhnya, ia pungut anak panah di tanah.
Jebe telah lihat tegas musuhnya itu, ia gunai ketikanya.
Ia panah bebokong musuh itu, dan tepat mengenai.
Semua penonton kaget, mereka menjerit.
Hanya aneh, walaupun sambaran anak panah itu keras sekali, itu cuma menyebabkan Borchu merasa sakit pada bebokongnya, ujung panah tidak menancap, anak panah itu jatuh ke tanah!
Dengan keheranan, ia pungut anak panah itu.
Segera ia ketahui sebabnya ia tidak terluka.
Anak panah itu tidak ada ujungnya yang tajam!
Jebe telah singkirkan itu.
Jadi terang, Jebe hendak mengasih ampun padanya.
"Siapa menghendaki kamu jual kebaikanmu!"
Teriak Borchu.
"Jikalau kau benar ada punya kepandaian, kau panah mati padaku!"
Jebe menjawab.
"Biasanya Jebe tidak pernah mengasih ampun pada musuhnya! Panahku barusan berarti, satu jiwa tukar dengan satu jiwa!"
Temuchin kaget dan berkhawatir menampak Borchu kena terpanah, kemudian mendapatkan orang tidak terbinasa atau terluka parah, ia menjadi girang.
Kapan ia dengar perkataan Jebe itu, ia talangi Borchu menyahut.
"Baik! Sudah, kamu jangan adu panah pula! Biar, jiwanya ditukar dengan jiwamu!"
Ia mengatakannya pada Borchu.
"Bukannya untuk ditukar dengan jiwaku!"
Jebe berseru.
"Apa!"
Temuchin menegaskan. Jebe menunjuk kepada Kwee Ceng, yang berdiri di depan pintu.
"Aku hendak menukarnya dengan jiwa anak ini!"
Katanya.
"Aku minta Khan yang mulia jangan ganggu itu anak. Tentang aku sendiri...."
Sepasang alisnya bangkit bangun.
"Aku telah panah kepada Khan yang mulia, aku harus mendapatkan hukumanku!"
Ia cabut anak panah di pundaknya, anak panah yang berdarah itu ia pasang di gendewanya. Sementara itu serdadunya Borchu sudah hanturkan beberapa puluh batang anak panah kepala kepala perangnya itu.
"Baiklah!"
Kata Borchu.
"Mari kita mengadu pula!"
Ia lantas memanah pula, dengan saling susul.
Jebe lihat serangan berbahaya, ia lindungi diri di perut kudanya, sambil bersembunyi, ia membalas menyerang.
Kudanya Borchu sangat lihay, melihat serangan datang, tanpa tanda dari penunggangnya, ia lompat berkelit ke kiri.
Tapi Jebe lihay, incarannya luar biasa, anak panahnya justru mengenai batok kepalanya kuda, maka tidak ampun lagi, rubuhlah binatang itu!
Borchu turut rubuh, terguling ke tanah.
Ia khawatir ia nanti dipanah terus, ia mendahului membalas menyerang.
Kali ini ia kena hajar gendewanya Jebe, hingga gendewa itu panah menjadi dua potong.
Kehilangan senjatanya, Jebe kasih kudanya lari berputaran.
Tentara Mongol bertempik sorak, untuk memberi semangat kepada Borchu.
"Dia satu laki-laki sejati!"
Borchu sebaliknya berpikir.
Ia menjadi si orang gagah yang menyayangi sesama orang gagah, tak ingin ia mengambil jiwa orang.
Maka ketika ia memanah, walaupun ia incar tenggorokkan, ia menggeser sedikit.
Jebe gagal mengelakkan diri, anak panah lewat menyempret di pinggiran tenggorokkannya, darahnya lantas mengucur dengan keluar.
Ia merasa sakit dan kaget.
"Habislah aku hari ini…."
Ia mengeluh dalam hatinya. Borchu siapkan pula anak panahnya, tetapi ketika ia menoleh kepada Temuchin, ia berkata.
"Kha Khan, berilah ampun kepadanya!"
Temuchin pun menyayangi Jebe.
"Eh, apakah kau masih tetap tidak mau menyerah?!"
Ia tanya panglima musuh itu. Jebe lihat Temuchin demikian angker, ia menjadi kagum sekali, maka ia lompat turun dari kudanya untuk terus bertekuk lutut. Temuchin tertawa berbahak-bahak.
"Bagus! Bagus!"
Katanya.
"Selanjutnya kau ikutlah aku!"
Orang Mongol polos dan sangat gemar bernyanyi, demikian Jebe, sambil mendekam, ia lantas perdengarkan nyanyiannya.
Khan yang terbesar mengampunkan selembar jiwaku, di belakang hari walaupun mesti menyerbu api berkobar-kobar, aku rela.
Akan aku memotong Sungai hitam menggempur batu gunung, akan aku tunjang Khan yang maha besar!
Aku akan menghajar musuh, untuk ambil hatinya!
Ke mana aku diperintah pergi, kesana aku pergi!
Temuchin menjadi sangat girang.
Ia ambil dua potong emas, yang sepotong ia berikan kepada Borchu, yang sepotongnya pula kepada Jebe.
Jebe menghanturkan terima kasih.
Tapi ia terus menambahkan.
"Khan yang mulia, hendak aku berikan emas ini kepada itu bocah, bolehkah?"
Temuchin tertawa.
"Kalau emas itu adalah emasku, aku boleh kasihkan itu kepada siapa aku suka!"
Katanya.
"Emas adalah kepunyaanmu, kau boleh berikan kepada siapa kau suka!"
Jebe angsurkan emas itu kepada Kwee Ceng. Bocah itu menggoyangi kepala, tak mau ia menerimanya.
"Ibu bilang, kalau kita membnatu tetamu kita, jangan kita termahai uangnya,"
Katanya. Temuchin telah sukai bocah ini, sekarang mendengar perkataan orang, rasa sukanya menjadi bertambah-tambah.
"Sebentar kau bawalah bocah ini kepadaku!"
Katanya kepada Jebe.
Lantas ia ajak pasukan perangnya balik ke arah darimana tadi ia datang.
Beberapa serdadu angkat naik bangkai kuda putihnya ke bebokong dua kuda lainnya, untuk dibawa bersama, mengikuti di sebelah belakang.
Jebe menjadi girang sekali.
Ia lolos dari kematian dan mendapati tuan yang bijaksana.
Sambil rebahkan diri di atas rumput, ia beristirahat.
Ia tunggu pulangnya Lie Peng, ibunya bocah itu, akan tuturkan kejadian barusan.
Lie Peng lantas berpikir.
Dengan hidup terus sebagai penggembala, tidak tahu sampai kapan Kwee Ceng dapat membalas dendamnya.
Ia percaya, kalau ia turut Temuchin, mungkin ketikanya akan lebih baik.
Di dalam pasukan perang, Kwee Ceng pun dapat berlatih ilmu perang.
Maka kesudahannya, ia ajak putranya ikut Jebe kepada Temuchin.
Bab 8.
Pedang Mustika Girang Temuchin melihat kedatangan Jebe.
Ia menempatkan orang gagah itu dibawah Ogotai, putranya yang ketiga yang menjadi satu siphu-thio, kepala komponi yang memimpin sepuluh serdadu.
Setelah menemui tiga putra Temuchin, Jebe mencari Borchu untuk menghanturkan terima kasih.
Borchu menyambut dengan baik, karena keduanya saling menghormati dan menghargai, lantas saja mereka menjdia sahabat kental.
Jebe ingat budinya Kwee Ceng, ia perlakukan itu bocah dan ibunya dengan baik.
Ia telah pikir, setelah Kwee Ceng tambah umurnya akan ia wariskan ilmu panah dan ilmu silat kepadanya.
* * * Pada suatu hari selagi Kwee Ceng memain timpuk-timpukan batu bersama beberapa kawannya anak-anak Mongol di depan markas Temuchin, ia dapat lihat mendatanginya dari kejauhan dua penunggang kuda yang larikan binatangnya tunggangannya dengan kencang sekali.
Ia menduga kepada berita penting yang mesti disampaikan kepada Khan yang terbesar itu.
Tidak lama sejak masuknya dua orang itu ke dalam markas, lalu terdengar ramai suara terompet, menyusul mana dari pelbagai tangsi terlihat munculnya orang-orang peperangan.
Keras disiplin tentaranya Temuchin yang mengatir barisannya dalam empat rombongan.
Yang pertama ialah sepuluh jiwa serdadu menjadi satu barisan kecil, komponi yang dikepalai oleh datu opsir disebut siphu-thio, lalu sepuluh komponi, atau satu eskadron, terdiri dari seratus jiwa dipimpin oleh satu pekhu-thio, kemudian lagi sepuluh eskadron, atau satu resimen, dikepalai satu cianhu-thio, dan sepuluh resimen, atau satu devisi, dipimpin oleh satu banhu-thio.
Mereka itu terlatih sempurna, merupakan sebagai satu badan, kalau ada titah dari Temuchin, mereka menjadi bersatu, dari itu hebat penyerangan mereka.
Kwee ceng bersama kawan-kawannya berdiri menonton.
Mereka lihat, setelah terompet yang pertama, semua serdadu sudah siap dengan senjata mereka dan naik kuda, setelah terompet yang kedua, kaki kuda mereka berbunyi tak hentinya, tubuh setiap serdadu bergoyang-goyang.
Begitu terdengar terompet yang ketiga kali, sunyi senyap semuanya, kecuali napasnya kuda, yang nampak adalah satu angkatan perang besar yang terdiri dari lima pasukan dari setiap sepuluh ribu jiwa.
Dengan diiringi putra-putranya, Temuchin muncul dari dalam kemah.
"Kita telah kalahkan banyak musuh, negeri Kim pun telah tahu itu,"
Berkata ini pemimpin besar.
"Begitulah negeri Kim itu sudah utus putranya yang ketiga bersama putranya yang keenam datang kemari untuk menganugrahkan pangkat kepada Kha Khan kamu!"
Dengan angkat tinggi golok mereka, tentara Mongol bersorak.
Tatkala itu bangsa Kim telah menduduki Tiongkok Utara, pengaruhnya tersiar luas dan jauh, sebaliknya bangsa Mongol adalah suatu suku kecil di tanah datar atau padang pasir, maka itu Temuchin anggap adalah suatu kehormatan yang ia dianugrahkan pangkat oleh kerajaan Kim itu.
Dengan satu titah dari ayahnya, Juji si putra pertama maju bersama selaksa serdadunya untuk sambut utusan Kim, sedang empat laksa serdadu lainnya mengatur diri dengan rapi untuk menanti.
Beberapa tahun yang lalu Wanyen Yung Chi telag diutus menganugrahkan pangkat kepada Wang Khan dan Temuchin, kebetulan Temuchin lagi berperang, tentara musuh yang dikalahkan sudah menyerbu dan membikin bubarnya pasukan pengiringnya Wanyen Yung Chi, hingga Yung Chi mesti lari pulang ke Chungtu, Yangkhia.
Lewat beberapa tahun setelah itu, raja Kim dengar Temuchin jadi semakin kuat, ia khawatir Temuchin itu menjadi bahaya untuknya di bagian utara, maka sekarang dia utus putranya itu dengan dibantu Wanyen Lieh, putranya yang keenam, yang ia tahu cerdik.
Ia ingin Temuchin dapat dipengaruhi dengan keangkerannya atau dengan cara halus, tinggal lihat gelagat saja untuk mewujudkan politik itu.
Kwee Ceng dan kawan-kawannya terus tinggal menonton, sampai mereka nampak debu mengepul naik, tandanya Juji telah dapat memapak dan menyambut utusan bangsa Kim itu, yaitu wanyen Yung Chi dan Wanyen Lieh.
Kedua saudara itu membawa selaksa serdadu pilihan, yang berseragam lapis baja, senjatanya tombak panjang, kudanya tinggi dan besar, hingga tampaknya jadi angker sekali.
Belum lagi pasukan perang itu datang dekat, lebih dulu sudah terdengar suara beradunya pakaian baja mereka.
Wanyen Yung Chi datang berendeng bersama adiknya.
Temuchin bersama putra-putranya ambil tempat di samping untuk menyambut.
Wanyen Yung Chi lihat Kwee Ceng beramai, itu anak-anak Mongol yang dengan membuka matanya lebar-lebar mengawasi kepadanya tanpa berkedip, ia lantas tertawa dan merogoh ke dalam sakunya, untuk meraup sejumlah uang emas, yang mana terus ia lemparkan ke arah anak-anak itu.
Sambil tertawa terus, ia berkata.
"Itulah persenan untuk kalian!"
Yung Chin tidak tinggi ilmu silatnya akan tetapi uang emas hancur itu dapat ia lempar cukup jauh.
Ia mengharap anak-anak itu nanti berebut memungutinya, dan berteriakan.
Dengan berbuat begitu, pertama ia hendak unjuk keagungannya, dan kedua itulah sebagai pelesiran.
Akan tetapi kesudahannya ia menjadi kecewa.
Bangsa Mongol paling mengutamakan menghormati tetamu, perbuatan Yung Chi ini justru perbuatan yang memandang enteng, tidak menghargai tuan rumah, maka itu semua serdadu Mongol saling memandang satu dengan lainnya.
Anak-anak Mongol itu juga terdidik menghormati tetamu mereka, walaupun masih kecil, mereka dapat menghargai diri sendiri, demikian menampak perbuatan Yung Chi itu, mereka tidak memperdulikannya.
Yung Chi menjadi penasaran.
Ia merogoh pula sakunya untuk mengambil uang emas lainnya, ia melemparkannya kembali sekalian ia beseru.
"Hayo anak-anak, ramai-ramai kamu merebutnya! Hayo rebut, setan-setan cilik!"
Mendengar itu semua orang Mongol berubah air mukanya.
Dimasa itu bangsa Mongol belum kenal mata surat, adat kebiasaan mereka masih "kasar" , akan tetapi mereka biasa menaati adat istiadat, mereka polos dan pegang derajat, terutama terhadap tetapi, mereka sangat menghormati, dari mulut mereka tidak pernah keluar kata-kata kotor, dan terhadap musuh, atau tengah bergurau, tidak pernah mereka mengutuk atau mencaci.
Umpama ada tetamu mendatangi tenda mereka, kenal atau tidak, tetamunya tentu disambut dan dilayani dengan baik.
Sebaliknya pihak tetamu tidak selayaknya berlaku tidak hormat atau memandang enteng.
Kalau tetamu berbuat tidak mengindahkan kehormatan diantara tuan rumah dan tetamu, perbuatan itu dipandang sebagai kejahatan paling besar.
Kwee Ceng bukan orang Mongol, selama berada bersama ibunya, sering ia dengar ibunya itu bercerita tentang kajahatan bangsa Kim yang di Tiongkok, mereka suka merampas dan memperkosa wanita, menganiaya dan membunuh rakyat jelata, bagaimana bangsa Kim itu telah bersekongkol dengan pengkhianat-pengkhianat Han untuk membinasakan Gak Hui dan lainnya, maka sekarang melihat orang Kim itu demikian kurang ajar, ia lantas pungut beberapa potong emas, ia lari mendekati Yung Chi kepada muka siapa ia menimpuk sambil ia berseru.
"Siapa sudi mengambil emasmu yang bau!"
Yung Chi berkelit tapi ada juga uang yang mengenai pipinya, meski ia tidak merasakan terlalu sakit, ia toh malu bukan main.
Bukankah ia telah diperhina di depan orang banyak?
Adalah orang Mongol sendiri, dari Temuchin sampai pada semua bawahannya pada merasa puas "Setan cilik, kau cari mampus?"
Yung Chi membentak.
Ia mendongkol bukan main.
Biasanya di Tiongkok, sedikit saja ia merasa tidak puas, ia main bunuh orang.
Belum pernah ada yang berani menghina dia.
Ia lantas rampas sebatang tombak panjang dari satu pengiringnya, dengan itu ia hendak menimpuk kepada bocah she Kwee itu.
"Tahan, shako!"
Wanyen Lieh mencegah.
Ia lihat gelagat jelek, tetapi tombak sudah melayang.
Disaat Kwee Ceng menghadapi saat ajalnya, tiba-tiba sebatang anak panah menyambar dari pasukan Mongol yang kiri, tombak itu kena terserang tepat sekali dan jatuh bersama anak panah itu.
Kwee Ceng ketolongan tetapi ia telah bermandikan keringat dingin, dengan ketakutan ia mengangkat kaki.
Sebaliknya tentara Mongol perdengarkan gemuruh seruan memuji penyerangan panah itu.
"Shako, jangan layani dia!"
Wanyen Lieh berkata kepada kakaknya. Yung Chi jeri akan saksikan keangkeran tentara Mongolia itu, akan tetapi memandang Kwee Ceng, ia tetap panas hatinya, maka ia mendelik kepada bocah itu.
"Bocah haram jadah!"
Ia mencaci dengan perlahan.
Temuchin bersikap tenang, bersama putra-putranya ia sambut kedua tetamu itu dengan menyuguhkan koumiss dan daging kambing dan kuda.
Wanyen Yung Chi membacakan firman dengan apa Temuchin diangkat menjadi Pak-kiang Ciauwtouwsu dari negeri Kim, pangkat turun temurun, untuk dia selamanya menjadi seperti alingan di utara dari negeri Kim itu.
Temuchin terima pengangkatannya sambil berlutut, ia menyambuti firman dan pelat emas itu.
Malam itu bangsa Mongol jamu tetamu-tetamunya yang dilayani dengan hormat dan telaten.
Selagi minum, Wanyen Yung Chi berkata,.
"Besok kami hendak pergi menganugrahkan Wang Khan, apakah Ciauwtouwsu suka turut pergi bersama?"
Temuchin senang dengan ajakan itu, ia menyatakan suka turut.
Wang Khan itu adalah pemimpin dari pelbagai suku di tanah datar, angkatan perangnya besar dan kuat.
Ia berasal dari suku Kerait, ia pun disebut Togrul Khan.
Ia adalah saudara angkat dari Yesukai, ayahnya Temuchin.
Ketika dahulu hari Yesukai mati diracuni musuhnya, Temuchin terlunta-lunta dan ia kemudian pergi ke Wang Khan untuk menumpang.
Lalu Wang Khan angkat ia jadi anak pungut.
Kemudian tempo istrinya Temuchin dirampas bangsa Merkit, musuhnya, ia dapat rampas pulang istrinya itu adalah dengan bantuan Wang Khan dan adik angkatnya, yaitu Jamukha.
Itu waktu Temuchin menikah belum lama dan Juji, putranya masih belum lahir.
Girang Temuchin akan ketahui ayah angkatnya pun dianugerahkan pangkat.
"Siapakah lagi yang dianugerahkan negara Kim yang besar?"
Ia tanya.
"Tidak ada lagi,"
Jawab Wanyen Yung Chi Wanyen Lieh segera menambahkan.
"Untuk di utara ini, Khan sendiri serta Wang Khan adalah orang-orang gagah perkasa, orang lain tidak ada yang dapat disamakannya."
"Kami disini masih ada punya seorang gagah yang lain, liok-ongya mungkin belum pernah mendengarnya,"
Berkata Temuchin. Ia membasakan "liok-ongya", pangeran keenam kepada Wanyen Lieh.
"Apakah benar?"
Wanyen Lieh berkata dengan cepat.
"Siapakah dia?"
"Dialah adik angkatku, Jamukha,"
Jawab Temuchin.
"Dia jujur dan berbudi tinggi, dia pandai memimpin angkatan perang. Aku mohon sukalah sam-ongya dan liok-ongya juga menganugerahkan dia sesuatu pangkat."
Erat sekali pergaulannya Temuchin dengan Jamukha, tempo mereka angkat saudara, Temuchin baru berumur sebelas tahun.
Adalah kebiasaan bangsa Mongolia, diawaktu angkat saudara mereka saling mengasih barang tanda mata.
Ketika itu Jamukha memberikan Temuchin biji pie-sek yang terbuat dari tulang binatang, dan Temuchin membalas dengan biji pie-sek yang terbuat dari tembaga.
Pie-sek itu adalah biji yang orang Mongol biasa pakai untuk menimpuk kelinci, tetapi anak-anak gunakan itu untuk main timpuk-timpukan.
Maka setelah angkat saudara, keduanya bermain timpuk-timpukan di sungai Onon, yang airnya telah membeku menjadi es.
Ditahun kedua, selagi main panah-panahan dengan panah kecil yang terbuat dari kayu, Jamukha hadiahkan kepada Temuchin kepala panah yang terbuat dari tulang mata kerbau dan Temuchin sebaliknya menghadiahkan kepala panah yang terbuat dari kau pek.
Lagi sekali mereka mengangkat suadara.
Kemudian setelah keduanya dewasa, berdua mereka tinggal bersama-sama dengan Wang Khan, selalu mereka saling menyayangi, setipa pagi mereka berlomba bangun pagi, siapa yang menang, ia diberi minum susu dari gelas kumala dari Wang Khan.
Maka tidak heran, tempo istrinya Temuchin dirampas orang, Wang Khan dan Jamukha bekerja sama membantu merampasnya pulang.
Kali ini Temuchin dan Jamukha saling menghadiahkan ban emas dan kuda.
Inilah untuk ketiga kalinya mereka angkat saudara.
Sekarang saling mereka minum arak dari satu cawan, malam tidur berkerubung sehelai selimut.
Adalah kemudian karena masing-masing mencari air dan rumput sendiri dan memimpin barisan sendiri-sendiri, mereka jadi berpencaran, tetapi hubungan mereka masih tetap kekal.
Demikian ingat saudara angkatnya itu, Temuchin timbulkan usul ini.
Wanyen Yung Chi telah minum hingga separuh mabuk, tanpa pikir ia langsung menjawab.
"Bangsa Mongolia berjumlah banyak, kalau semuanya diberi pangkat, mana kami negeri Kim yang besar dapat punyakan demikian banyak pembesar?"
Wanyen Lieh mengedipkan mata kepada kakaknya, sang kakak tetapi tidak memperdulikannya. Temuchin tidak senang dengan jawaban itu.
"Kalau begitu tidak apa, serahkan saja pangkatku kepadanya!"
Ia bilang. Yung Chi tepuk pahanya, ia berseru.
"Apakah kau pandang enteng pangkat yang diberikan kerajaan Kim yang besar?!"
Temuchin tahu diri, ia tutup mulutnya.
Wanyen Lieh pun lantas menyelak dengan ia berbicara sambil tertawa, untuk simpangkan soal.
Di hari kedua, pagi Temuchin berangkat dengan ajak keempat putranya serta lima ribu serdadunya, untuk mengantari Wangyen Yung Chi dan Wanyen Lieh pergi menganugrahkan pangkat kepada Wang Khan.
Matahari telah memancarkan cahaya ketika Temuchin telah berada di atas kudanya dan lima ribu serdadunya telah siap dengan rapi.
Akan tetapi itu waktu, tentara Kim masih tidur nyenyak di kemahnya.
Tadinya Temchin gentar menyaksikan roman gagah tentara Kim itu, mentereng seragam dan alat senjatanya, besar-besar kuda tunggangannya, tetapi sekarang menyaksikan doyannya tidur mereka, berulang kali ia kasih dengar suara di hidung.
Pada Mukhali ia tanya.
"Bagaimana pandanganmu terhadap tentara Kim itu?"
"Seribu serdau kita dapat lawan lima ribu serdadu mereka!"
Sahut Mukhali. Temuchin girang sekali dengan jawaban itu.
"Pandanganmu sering cocok dengan pandanganku,"
Ia bilang.
"Katanya negeri Kim ada punya dua juta serdadu, kita hanya lima puluh laksa."
Ketika itu ia menoleh, ia tampak kudanya Tuli, tetapi Tuli sendiri tidak kelihatan orangnya.
"Mana Tuli?!"
Ia tanya dengan gusar.
Tuli itu putra yang keempat, masih kecil, akan tetapi dalam hal mendidik anak atau melatih tentara, Temuchin pakai aturan keras, maka itu tak senang ia tidak melihat anaknya itu.
Semua orang menjadi cemas hatinya.
"Dia biasanya tidak berani bangun sampai siang, nanti aku tengok,"
Berkata Boroul, yang menjadi gurunya Tuli, yang khawatir pemimpin itu gusari putranya.
Tapi baru ia hendak putar kudanya, di sana kelihatan dua bocah berlari-lari mendatangi sambil berpegangan tangan.
Mereka ialah Tuli bersama Kwee Ceng.
"Ayah!"
Panggil Tuli kapan ia tiba di depan ayahnya itu.
"Kema kau pergi?!"
Tanya Temuchin.
"Barusan aku membuat anda bersama saudar Kwee di tepi sungai,"
Sahut Tuli.
"Dan dia menghadiahkan ini padaku."
Membuat "anda"
Itu berarti mengangkat sudara.
"Anda"
Itu kata-kata Mongol.
Sambil mengatakan demikian, Tuli ulapkan tangannya yang mencekal sepotong handuk merah yang tersulam bunga-bungaan indah, ialah handuk buatan Lie Peng untuk putranya.
Temuchin segera ingat halnya sendiri bersama Jamukha, tempo masih sangat muda mereka juga telah mengangkat saudara, hatinya menjadi tergerak, ia menajdi tenang.
"Kau sendiri, kau menghadiahkan apa padanya?"
Ia tanya denagn sabar.
"Ini!"
Kwee Ceng mendahulukan menyahut seraya ia tunjuk lehernya. Temuchin lihat kalung emas yang biasa dipakai oleh putra itu. Ia tersenyum.
"Baik,"
Katanya.
"Selanjutnya kamu berdua mesti saling mencintai dan saling menyayangi serta saling membantu!"
Tuli bersama Kwee Ceng menyahuti menerima pesan itu.
"Sekarang semua naik kuda!"
Temuchin lalu memerintah.
"Kwee Ceng, kau juga turut kami!"
Tuli dan Kwee Ceng girang sekali, sama-sama mereka naiki kuda mereka.
Orang mesti lagi menanti setangah jam barulah Wanyen Yung Chi dan saudaranya selesai dandan dan keluar dari kemahnya.
Wanyen Lieh lihat tentaranya Mongolia demikian rapi, ia lantas perintahkan tentaranya lekas siap.
Wanyen Yung Chi sebaliknya tunjuki tingkah polahnya satu putra raja, denagn ayal-ayalan ia minum araknya dan dahar kue, habis mana dengan perlahan-lahan juga ia naik ke atas kudanya.
Maka itu, lagi kira setengah jam barulah tentara Kim itu siap berangkat.
Pasukan perang itu menuju ke utara, sesudah jalan enam hari, barulah mereka dipapak oleh wakilnya Wang Khan, yang mengutus putranya, Sangum bersama Jamukha.
Kapan Temuchin dengar Jamukha ada bersama Sangum, ia lantas maju ke depan, akan temui saudara angkatnya itu, maka keduanya lantas berpelukan.
Hbais itu semua putra Temuchin menemui dan mengasih hormat kepada paman angkatnya itu.
Wanyen Lieh lihat Jamukha bertubuh jangkung kurus, kumis kuningnya jarang, akan tetapi sepasang matanya sangat tajam dan berpengaruh, menandakan ketangkasannya.
Dilain pihak, Sangum adalah berkulit putih, tubuhnya gemuk, tanda dari hidup senang dan dimanjakan, dia tidak mirip dengan seorang yang dibesarkan di gurun pasir.
Jalan lagi satu hari, rombongan ini sudah mendekati tempat kediaman Wang Khan.
Justru itu dua serdadunya Temuchin yang bertugas jalan dimuka sekali, lari balik dengan laporannya bahwa di sebelah depan ada menghalang tentaranya bangsa Naiman yang berjumlah tiga puluh ribu jiwa.
Wanyen Yung Chi terkejut.
"Hendak apakah mereka itu?"
Dia tanya, hatinya goncang.
"Kelihatannya mereka hendak menyerang,"
Sahut di juru warta.
"Jumlahnya mereka agaknya lebih banyak dari jumlah kita…"
Kata Yung Chi tidak lancar. Temuchin tidak beri kesempatan untuk orang bicara lebih banyak.
"Pergilah kau tanya mereka!"
Ia perintahkan Mukhali.
Dengan membawa sepuluh pengiring, Mukhali larikan kudanya ke depan.
Karena hal ini, pasukan ini jadi tertunda keberangkatannya.
Berselang tidak lama, Mukhali telah kembali dengan laporannya.
"Bangsa Naiman mendengar putra raja kerajaan Kim datang menganugrahkan Khan kami yang terbesar, mereka juga menghendaki anugerah itu. Mereka bilang, apabila mereka tidak diberi anugerah, mereka hendak tangkap dan tahan kedua putra raja Kim."
Wanyen Yung Chi menjadi kaget, wajahnya berubah, tetapi ia mencoba mengendalikan diri. Wanyen Lieh sebaliknya segera mengatur pasukan perangnya, untuk bersiap sedia.
"Kakak,"
Berkata Mukhali kepada Temuchin.
"Bangsa Naiman itu sering merampas binatang piaraan kita, mereka sangat suka mengganggu, apakah hari ini kita mesti lepaskan saja pada mereka?"
Temuchin melihat sekitarnya, ia telah lantas dapat memikirkannya.
"Saudara,"
Katanya.
"Biarlah kedua putra raja Kim yang besar ini melihat sepak terjang kita!"
Ia pun lantas bersiul nyaring satu kali, disusul sama dua kali cambukan ke udara dari cambuknya, atas mana tentara Mongolia menyambut dengan seruan perang mereka berulangkali.
Dua saudara Wanyen tidak menyangka mendengar itu dan dan menyaksikan sikap orang, mereka terperanjat.
Segera terlihat debu mengepul di sebelah depan, dan musuh segera mulai tampak.
Tentara terdepan dari pihak Mongol sebaliknya telah mundur kepada barisan mereka.
"Adik,"
Wanyen Yung Chi teriaki saudaranya.
"Lekas suruh tentara kita maju! Ini orang-orang Mongol tidak ada gunanya!"
"Biarlah mereka yang bertempur lebih dulu,"
Wanyen Lieh membisiki kakaknya. Mendengar itu barulah Yung Chi sadar dan manggut-manggut. Tentara Mongol masih perdengarkan suara mereka yang nyaring tetapi mereka tidak bergeming.
"Taruh kata kamu berterika-teriak hingga langit bergerak bumi bergoyang, apakah dengan begitu dapat tentara musuh dibikin mundur?"
Berkata Yung Chi. Itu waktu Boroul berada di samping kiri, ia berkata kepada Tuli.
"Pangeran kecil, kau turut aku, jangan kau ketinggalan. Kau lihat bagaimana kami nanti menghajar musuh!"
Tuli mengangguk.
Bersama-sama Kwee Ceng, ia telad tentaranya ialah berkoak-koak dengan seruan peperangan.
Dalam tempo yang cepat sekali, tentara musuh sudah datang dekat beberapa ratus tindak, walaupun demikian, tentara Mongol tetap tidak bergerak, mereka tetap berteriak-teriak saja.
Wanyen Lieh menjadi heran.
"Lepas panah!"
Ia mengasih titah.
Ia khawatir tentara Naiman nanti keburu mendahulukan menyerbu kepada mareka.
Tentara Kim menurut titah, mereka lantas menghujani anak panah.
Jarak di antara kedua pihak masih cukup jauh, anak panahnya tentara Kim ini tidak sampai kepada musuh, semuanya jatuh di hadapan mereka itu.
Hanya sementara itu, karena orang datang semakin dekat, Wanyen Yung Chi dapat lihat wajah tentara Naiman itu sangat bengis, sambil mengertak gigi, mereka kepraki kuda mereka untuk menerjang.
Mau tidak mau, Yung berkhawatir pula.
Siwaktu itu, cambuknya Temuchin mengalun pula di tengah udara, suaranya nyaring.
Sekali ini serempak berhentilah seruan-seruan peperangan tentara Mongol itu, yang sebaliknya lalu membagi diri dalam dua sayap, masing-masing dipimpin Temuchin sendiri berdua dengan Jamukha, keduanya ini lantas lari ke tanah tinggi di samping mereka, guna menduduki tempat yang bagus, tentara mereka mengikuti untuk turut ambil kedudukan bagus itu.
Sesudah itu, dari tempat yang lebih tinggi, mereka lantas menyerang tentara Naiman.
Karena ini adalah penyerangan dari jauh, merka menggunai anak panah.
Kepala perang Naiman rupanya melihat kedudukannya tak selayaknya, ia memimpin untuk mencoba merampas kedudukan itu.
Tentara Mongol membuat tembok bentengan yang terdiri dari semacam permadani, benda tebal itu dipasang di depan mereka dengan diri mereka teraling, penyerangan panah dilanjuti.
Hampir semua panah mereka yang gagal.
Temuchin dari tempat yang tinggi menyaksikan penyerangan pihaknya itu, yang membuat musuh kacau, lantas ia berikan titahnya.
"Jelmi, pergi kau serbu bagian belakangnya!"
Jelmi menerima titah itu, dengan membawa goloknya yang besar, ia pergi dengan seribu serdadunya.
Ia ambil jalan memotong.
Jebe dengan tombak panjang di tangan, maju di paling muka.
Sebagai orang baru, ia ingin membuat jasa.
Ia mendekam di bebokong kudanya.
Dalam tempo yang pendek, barisan belakang Naiman menjadi kalu.
Kejadian ini membingungkan pasukan yang berada di sebelah depan.
Selagi kepala perang Naiman bersangsi, Jamukha bersama Sangum menyerang dari kiri dan kanan.
Atas ini, musuh lantas lari serabutan, untuk kembali ke jalan darimana tadi mereka datang.
Jelmi tidak merintangi musuh lari terus, ia biarkan mereka dihajar oleh kawan-kawannya, hanya sesudah musuh tinggal kira-kira dua ribu jiwa lebih, baru ia memegat.
Siasatnya ini memberi hasil.
Musuh menjadi kecil nyalinya, mereka turun dari kuda mereka dan menyerah.
Sebagi kesudahan pertempuran, musuh terbinasa dan luka seribu lebih, tertawan dua ribu lebih.
Di pihak Mongolia, kematian dan luka Cuma seratus lebih.
Temuchin titahkan loloskan seragam tentara Naiman itu, jumlah mereka dua ribu lebih dipecah empat yang sebagian diserahkan kepada dua saudara Wanyen, yang sebagian untuk Wang Khan, yang sebagian untuk Jamukha san yang sisanya untuk dirinya sendiri.
Untuk serdadu-serdadunya yang terbinasa, ia memberi keluarganya lima ekor kuda serta empat tawanan Naiman sebagai budak.
Baru sekarang Wanyen Yung Chi sadar atas caranya bangsa Mongol itu berperang, dengan gembira ia rundingkan itu.
Wanyen Lieh sebaliknya gentar hatinya.
Dengan jumlah yang lebih kecil, Temuchin dan Jamukha telah kalahkan musuhnya yang lebih besar jumlahnya.
"Dengan orang Mongol saling bunuh, maka kami bangsa Kim di Utara dapat merasai aman sentosa,"
Ia berpikir.
"Kalau Temuchin dan Jamukha bisa persatukan pelbagai suku bangsa Mongol itu, itu artinya negaraku tak aman lagi…"
Oleh karena ini, ia menjadi berpikir keras. Itu waktu terlihat pula debu mengepul jauh di sebelah depan. Itulah tanda dari datangnya lagi satu pasukan perang.
"Bagus!"
Berseru Wanyen Yung Chi.
"Hajar pula padanya!"
Akan tetapi juru warta Mongol datang dengan wartanya.
"Wang Khan sendiri datang dengan pasukan perangnya!"
Mendengar itu Temuchin bersama Jamukha dan Sangum lantas pergi menyambut.
Wang Khan tiba untuk lantas lompatb turun dari kudanya, terus ia tuntun Temuchin dan Jamukha di tangan kiri dan kanannya, untuk berjalan kaki menemui dua saudara Wanyen, di depan kuda dua saudara ini, ia menjalankan kehormatan.
Wanyen Lieh memasang mata kepada Wang Khan, yang tubuhnya gemuk, kumis dan jenggotnya telah putih bagaikan perak.
Dia mengenakan jubah hitam dari kulit binatang tiauw dengan pinggang dilibat ikat pinggang emas.
Nampaknya ia keren sekali.
Segera Wanyen Lieh turun dari kudanya, guna membalas menghormat.
Tidak demikian dengan Wanyen Yung Chi, yang Cuma rangkap kedua tangannya dari atas kuda.
"Hamba dengar bangsa Naiman hendak berbuat kurang ajar,"
Berkata Wang Khan.
"Oleh karena khawatir kedua pangeran kaget maka hamba datang bersama tentaraku ini. Syukur ketiga anak-anakku telah dapat membinasakan mereka!"
Lantas dengan hormat sekali, Wang Khan undung kedua utusan Kim itu datang ke tendanya.
Wanyen Lieh berpikir apabila ia dapatkan di dalam segala hal Wang Khan ada lebih unggul dari Temuchin.
Tidak heran kalau Khan ini menjagoi di Utara..
banyak suka lainnya yang takluk padanya, dan tentaranya kuat.
Ia menginsyafi ancaman bahaya dari pihak ini.
Setelah selesai upacara penganugerahan, malam itu Wang Khan jamu tetamunya.
Ia menyuguhkan nyanyian dan tari-tarian oleh budak-budak wanitanya.
Ramai sekali pesta itu.
Tengah berpesta, Wanyen Lieh berkata.
"Aku ingin menyaksikan orang-orang gagah perkasa bangsa Mongolia."
"Dua anak angkatku ini adalah orang-orang gagah perkasa bangsa Mongol,"
Berkata Wang Khan sambil tertawa seraya menunjuk ke arah Temuchin dan Jamukha.
Sangum tidak puas mendengar perkataan ayahnya itu, untuk mengendalikan diri, saban-saban ia cegluk arakanya dari cawannya yang besar.
Wanyen Lieh awas matanya, ia lihat ketidakpuasaan orang.
"Putramu terlebih gagah lagi,"
Ia puji putra Khan itu.
"Kenapa loo-enghiong tidak menyebut-nyebut dia?"
Sengaja pangeran Kim ini memanggil loo-enghiong, pendekar tua, kepada Khan itu.
"Jikalau aku telah menutup mata nanti, sudah sewajarnya dialah yang nanti menggantikan aku memimpin suku kita,"
Berkata Wang Khan sambil tertawa.
"Dia mana dapat dibandingkan dengan kedua anak angkatku? Jamukha pandai dan cerdik, den Temuchin gagah tak tertandingkan. Dengan tangan kosong Temuchin bakal membangun negara. Orang gagah yang mana yang tidak bakal menjual jiwanya untuk Temuchin?"
"Apakah sebawahan loo-engjiong tak dapat melawan dia?"
Wanyen Lieh tanya.
Temuchin lirik putra raja Kim ini.
Kata-kata orang ada mengandung pancingan atau unsur merenggangkan.
Ia lantas berhati-hati sendirinya.
Wang Khan urut kumisnya, ia tidak menjawab.
Ia hanya menghirup araknya.
"Pernah bangsa Naiman rampas beberapa laksa binatang ternakku,"
Katanya kemudian.
"Syukur Temuchin kirim empat panglimanya untuk membantu aku, dengan begitu semua binatang itu dapat dirampas pulang. Anakku? Ah…."
Mendengar itu, air mukanya Sangum berubah, ia letaki cangkir araknya dengan separuh dibanting.
"Apakah kegunaanku?"
Temuchin lekas berkata.
"Istriku dirampas orang, untuk itu adalah ayah angkatku dan saudara angkatku yang membantu aku merampas pulang."
"Bagaimana dengan empat panglimamu yang kesohor gagah itu?"
Wanyen Lieh tanya.
"Mana mereka itu? Aku ingin melihatnya."
"Suruhlah mereka masuk kemari!"
Wang Khan berkata pula pada Temuchin.
Denga perlahan-lahan Temuchin tepuk-tepuk tangannya, segera setelah itu empat perwira masuk ke dalam tenda.
Wanyen Lieh mengawasi.
Yang pertama adalah satu orang yang romannya lemah lembut, yang kulitnya putih sekali.
Dialah Mukhali yang pandai mengatur tentara.
Yang kedua ada bertubuh kekar dan sepasang matanya tajam seperti burung elang, ialah sahabatnya Temuchin, yaitu Borchu.
Yang ketiga ada berpotongan kecil dan kate tetapi gesit gerakkannya, ia adalah Boroul.
Dan yang keempat ada seorang yang dengan seluruh lengannya bercacat bekas bacokan golok, yang mukanya merah bagai darah.
Dialah Chi’laun yang dulu hari pernah tolongi Temuchin dari ancaman malapetaka.
Merekalah orang-orang peperangan yang berjasa membangun negara Mongolia yang Temuchin sendiri menyebutnya empat panglima gagah.
Wanyen Lieh puji mereka itu satu persatu, ia haturkan secawan arak pada masing-masingnya.
Habis orang minum, ia berkata pula.
"Tadi di medan perang, ada satu panglima dengan seragam hitam, dia menerjang musuh bukan main gagahnya. Siapakah dia?"
"Dia adalah Jebe, pemimpin komponiku yang baru,"
Temuchin menjawab.
"Coba suruh dia masuk kemari untuk minum satu cangkir,"
Wanyen Lieh minta.
Temuchin meluluskan, ia beri titah untuk memanggil Jebe.
Jebe sudah lantas muncul.
Diberikan arak, ia menghanturkan terima kasih.
Ketika ia hendak hirup araknya itu, tiba-tiba Sangum berseru.
"Kau cuma kepala komponi yang rendah pangkatnya, cara bagaimana kau beri minum dari cawan emasku?!"
Jebe kaget berbareng murka.
Batal ia minum, ia lantas mengawasi Temuchin.
Menurut kebiasaan bangsa Mongol, mencegah orang minum arak adalah satu penghinaan besar, apapula dilakukan di muka orang banyak.
Maka itu Temuchin berpikir.
"Dengan memandang ayah angkat, biar aku kasih dia ampun."
"Mari cawan itu! Aku berdahaga, kasih aku yang minum!"
Ia ambil cawan itu dari tangannya punggawanya itu, ia lantas tenggak isinya. Dengan mata bengis Jebe awasi Sangum, terus ia bertindak keluar.
"Kau kembali!"
Sangum memanggil dengan membentak. Jebe tidak ambil peduli, ia bertindak terus seraya angkat kepalanya. Sangum kecele, tetapi ia kata kepada Temuchin.
"Saudara Temuchin ada punya empat pendekar tetapi asal aku keluarkan satu makhluk, tentu empat-empatnya mereka dapat dimakan habis dengan sekali telan!"
Ia pun tertawa dingin.
"Makhluk apakah itu?"
Wanyen Yung Chi bertanya.
"Mari kita pergi keluar untuk melihatnya,"
Sangum mengajak.
"Kita lagi gembira minum arak di sini, kau hendak mengacau apa lagi!"
Wang Khan menegur putranya. Wanyen Yung Chi hendak melihat keramaian, ia berkata.
"Minum arak saja pun kurang gembira, mari kita melihat yang lainnya!"
Ia pun lantas berbangkit dan bertindak keluar.
Terpaksa orang banyak turut keluar pula.
Di luar tenda, bangsa Mongol telah menumpuk beberapa ratus api unggun, mereka tengah berminum, kapan mereka tampak Khan mereka muncul, semuanya lantas bangkit berdiri.
Di terangnya api unggun, Temuchin lihat wajahnya Jebe merah.
Ia mengerti bawahannya itu penasaran dan gusar.
Ia tahu juga bagaimana mesti perlakukan orang polos demikian.
"Ambil arak!"
Ia menitah. Dia lantas dibawakan satu poci besar. Ia angkat poci itu, terus ia berkata dengan nyaring.
"Hari ini kita hajar bangsa Naiman hingga mereka dapatkan kekalahan besar, dengan begitu kamu semua telah bercape lelah…!"
Tentara itu berteriak.
"Adalah Wang Khan, Temuchin Kha Khan dan Jamukha Khan yang memimpin kita menghajar mereka!"
"Hari ini aku telah lihat seseorang yang luar biasa beraninya yang sudah menyerbu ke belakang barisan musuh,"
Temuchin berkata pula.
"Beruntun tiga kali dia menyerbu bolak-balik! Siapakah dia?!"
"Itulah Siphu-thio Jebe!"
Sahut banyak serdadu.
"Apa siphu-thio!"
Berkata Temuchin.
"Dia-lah pekhu-thio!"
Dengan begitu, dengan sendirinya, sejenak itu juga, Temuchin telah naiki pangkatnya Jebe menjadi pemimpin eskadron.
Untuk sejenak, orang melengak, tetapi segera mereka mengerti, maka dengan kegirangan mereka berseru.
"Jebe gagah berani, dia pantas menjadi pekhu-thio!"
"Ambil kopiah perangku!"
Kata Temuchin kepada Jelmi. Jelmi menurut dan menyerahkan kopiah itu dengan kedua tangannya. Temuchin menyambuti, terus ia angkat kopiahnya itu tinggi-tinggi.
"Inilah kopiahku, yang aku pakai untuk membasmi musuh!"
Dia berkata dengan suara nyaring.
"Sekarang hendak aku pakai ini sebagai gantinya cawan arak!"
Ia buka tutp poci arak, isinya ia tuang ke dalam kopiah besi itu.
Ia lantas menghirup satu ceglukan, habis itu, kopiah itu ia sadurkan kepada Jebe.
Pekhu-thio itu menjadi sangat bersyukur, sambil tekuk sebelah kakinya, ia ulurkan tangannya untuk menyambuti, terus ia mencegluk beberapa kali.
"Biarpun cawan emas yang paling berharga di kolong langit ini, tidaklah itu dapat melawan kopiah besi dari Kha Khan ini!"
Katanya perlahan.
Temuchin tersenyum.
Ia sambuti pulang kopiahnya itu, untuk dipakai di kepalanya.
Semua punggawa dan serdadu Mongol itu tahu Jebe telah menerima penghinaan, akan tetapi menyaksikan sikapnya pemimpin mereka itu, mereka lantas bertempik sorak.
"Sungguh satu manusia yang luar biasa!"
Pikir Wanyen Lieh.
"Kalau sekarang dia suruh Jebe mati, Jebe tentulah rela!"
Beda dari saudaranya, Wanyen Yung Chi justru pikirkan saja kata-katanya Sangum tentang empat pahlawannya Temuchin. Ia suruh pengiringnya ambil kursi kulit harimau, di atas itu ia duduk bercokol.
"Kau ada punya makhluk apa yang demikian hebat, hingga ia dapat menelan keempat pahlawan?"
Dia tanya Sangum. Sangum tersenyum.
"Apakah emapt pahlawan saudara angkatnya Temuchin?"
Ia mengulangi.
"Mana dia empat pahlawan yang menggetarkan padang pasir itu?"
Mukhali berempat lantas menghampirinya dan memberi hormat sambil menjura.
Sangum berpaling, untuk bicara perlahan sekali dengan satu pengiringnya.
Pengiring itu menyahuti, terus ia mundurkan diri.
Tidak selang lama lantas orang mendengar suara mengaumnya seekor binatang liar, disusul mana munculnya binatang itu sendiri, yaitu dua ekor macam tutul yang besar, yang bulunya belang bertotolan, dua pasang matanya bersinar mencorot, jalannya ayal-ayalan tetapi sikapnya sangat bengis.
Wanyen Yung Chi kaget hingga ia raba goloknya, setelah mana kedua macam tutul itu sudah datang sekat api unggun, baru hatinya lega.
Binatang itu dikalungi dengan kalung kulit dan setiap ekornya dituntun dua orang yang tubuhnya besar, mereka itu masing-masing mencekal sebatang galah.
Sebab mereka itu adalah si pemelihara binatang buas itu.
Adalah umum orang Mongol memelihara macam tutul, yang dipakai untuk berburu.
Macam tutul baik tenaga maupun kegalakannya melebihi anjing pemburu.
Tapi binatang ini sangat kuat makannya, dari itu kalau bukannya pangeran atau bangsawan, orang tak dapat memeliharanya.
"Kakak,"
Kata Sangum kepada Temuchin.
"Empat pahlawanmu adalah orang-orang gagah, jikalau mereka dapat dengan tangan kosong membinasakan dua ekor macanku ini, barulah aku sangat takluk kepadamu!"
Mendengar ini, keempat pahlawan menjadi sangat dongkol. Mereka dalam hati kecilnya berkata.
"Sudah kau hinakan Jebe, sekarang kau hinakan kami juga. Adakah kami babi hutan atau serigala maka kami hendak diadu sama macan tutulmu?"
Juga Temuchin menjadi sangat tidak senang. Maka ia berkata.
"Aku menyayangi keempat pahlawanku sebagai jiwaku sendiri, cara bagaimana aku bisa biarkan mereka berkelahi sama macan tutul?"
Sangum tertawa terbahak.
"Begitu?"
Ia mengejek.
"Buat apakah mengepul menjadi orang gagah kalau dua ekor macanku saja takut dilawan?"
Diantara empat pahlawan itu, Chi’laun yang paling keras tabiatnya. Ia lantas bertindak maju ke depan.
"Khan yang maha besar,"
Katanya.
"Tidak apa orang tertawakan kami, tetapi kau, tak dapat kau hilang muka! Nanti aku lawan macan tutul itu!"
Wanyen Yung Chi menjadi sangat girang. Ia lantas loloskan sebuah cincinnya yang bermata berlian, ia lempari itu ke tanah.
"Asal kau menang, cincin itu menjadi kepunyaanmu!"
Katanya. Chi’laun tidak pandang cincin itu, ia hanya bertindak lagi. Mukhali tarik kawannya itu. Dia berkata.
"Kita menggentarkan padang pasir, membunuh musuh, kita telah membunuh cukup banyak, tetapi macan tutul? bisakah binatang itu memimpin tentara? Bisakah binatang itu mengatur tentara bersembunyi dan mengurung musuh?"
Temuchin pun segera berkata.
"Saudara Sangum, kau menang!"
Dan ia bertindak menjemputi cincin tadi, untuk diletaki di tangannya saudara angkat itu.
Sangum masuki cincin itu ke jari tangannya, ia tertawa besar dan lama.
Ia angkat jari tangannya itu, ia pertontonkan ke empat penjuru.
Tentaranya Wang Khan lantas saja bersorak-sorai.
Jamukha mengerutkan alis, ia tapinya diam saja.
Temuchin juga bersikap tenang dan agung.
Sampai di situ, empat pahlawannya itu mengundurkan diri.
Lenyap kegembiraannya Yung Chi karena gagal menyaksikan pertandingan antara manusia lawan binatang liar itu, tak sudi ia minum arak lebih jauh, ia lants pulang ke tendanya untuk tidur.
Besok paginya Tuli dan Kwee Ceng dengan bergandengan tangan pergi bermain, tanpa terasa mereka bertindak semakin jauh dari tenda mereka.
Tiba-tiba ada seekor kelinci putih lari lewat di samping mereka.
Tuli keluarkan panah kecilnya dan memanah.
Tepat kelinci itu terpanah perutnya.
Tapi tenaganya Tuli sangat terbatas, kelinci itu masih dapat lari terus dengan bawa anak panah yang nancap diperutnya itu.
Tuli bersama Kwee Ceng lantas mengejar dengan berteriak-teriak.
Kelinci itu lari serintasan, lantas ia roboh dengan sendirinya.
Girang Tuli berdua, mereka lompat maju untuk menubruk.
Justru itu dari samping mereka, yang merupakan rimba, muncul serombongan anak-anak, satu yang berumur kira-kira sepuluh tahun, dengan sangat sebat, telah mendahului menyambar binatang itu, dia cabut anak panahnya dan lalu ia buang ke tanah, kemudian setelah ia mengawasi Tuli berdua, dia lari bersama bangkai kelinci itu!
Tuli lantas berteriak.
"Eh, kelinci itu akulah yang memanahnya! Kenapa kau bawa lari?!"
Bocah itu menoleh, dia tertawa.
"Siapa yang bilang, kau yang memanah?"
Tanyanya.
"Panah ini toh kepunyaanku!"
Jawab Tuli. Bocah itu yang telah berhenti berlari berdiri sepasang alisnya, matanya pun melotot.
"Kelinci ini adalah piaraanku!"
Dia kata.
"Sudah bagus aku tidak minta ganti rugi!"
"Tidak tahu malu!"
Bentak Tuli.
"Terang ini adalah kelinci liar!"
Bocah itu galak, ia menghampiri Tuli dan mendorong pundak orang.
"Kau maki siapa?!"
Tegurnya.
"Kakekku ialah Wang Khan! Ayahku ialah Sangum! kau tahu tidak?! Taruh kata benar kelinci kaulah kau yang panahm kalau aku hendak ambil, habis bagaimana?!"
"Ayahku Temuchin!"
Kata Tuli dengan sama jumbawanya.
"Fui!"
Bocah itu menghina.
"Ayahmu adalah hantu cilik yang nyalinya kecil, dia takuti kakekku, dia juga takuti ayahku!"
Bocah itu adalah Tusaga, putra tunggal dari Sangum atau cucunya Wang Khan.
Mulainya Sangum dapat satu putri, selang lama, barulah ia dapatkan putranya ini, lalu ia tidak punya anak lain lagi.
Karena itu, putranya ini sangat disayangi dan dimanjakan, hingga Tusaga menjadi kepala besar.
Temuchin telah berpisah lama dengan Wang Khan dan Sangum, karenanya, anak-anak mereka tidak kenal satu sama lain.
Tuli gusar sekali yang ayahnya diperhina orang.
"Siapa yang bilang?!"
Ia tanya dengan bengis.
"Ayahku tidak takuti siapa juga!"
"Ibumu telah orang rampas, adalah ayahku dan kakekku yang pergi menolongi merampas pulang!"
Sahut Tusaga.
"Apakah kau sangka aku tidak ketahui hal itu? Maka apa artinya kalau aku naru ambil ini kelinci kecil?"
Memang dahulu hari Wang Khan telah bantu anak angkatnya itu, Sangum ingat baik-baik peristiwa itu dan menceritakan kepada orang lain hingga Tusaga yang masih kecil mendapat tahu juga.
Sebaliknya Tuli tidak tahu suatu apa, sebab Temuchin anggap hal itu memalukan dan tidak pernah memberitahukan putranya, apapula putranya itu masih kecil.
Meski begitu, Tuli gusar sekali.
"Akan aku beritahu ayahku!"
Katanya. Ia putar tubuhnya untuk berlalu. Tusaga tertawa terbahak.
"Ayahmu takuti ayahku, kau mengadu juga bisa apa?"
Katanya.
"Tadi malam ayahku keluarkan dua macan tutulnya, empat pahlawan dari ayahmu lantas tak berni bergiming!"
Tuli bertambah gusar. Di antara empat pahlawan, Boroul adalah gurunya.
"Guruku tak takut harimau, apapula segala macan tutul!"
Serunya sengit.
"Hanya guruku tidak hendak melayani!"
Tiba-tiba Tusaga maju dan tangannya melayang ke kuping orang.
"Kau berani membantah?!"
Dia membentak.
"Kau tidak takuti aku?"
Tuli melengak.
Ia tidak sangka orang berani pukul padanya.
Kwee ceng panas hati semenjak tadi, sekarang ia tidak dapat mengatasi pula dirinya.
Dia maju dan seruduk perutnya Tusaga!
Putranya Sangum juga tidak menyangka-nyangka, tidak ampun lagi dia roboh terjengkang.
Tuli tertawa seraya tepuk-tepuk tangan.
"Bagus!"
Dia bersorak.
Kemudian dengan tarik tangannya Kwee ceng, ia lari.
Kawan-kawannya Tusaga tidak tinggal diam dan mengejar, maka itu, mereka lantas jadi berkelahi bergumul, kepalan dan kaki digunakan semua.
Tusaga murka sekali, dia merayap bangun, dia pun turut menyerbu.
Pihaknya kebanyakan terlebih tua usianya, dan merekapun berjumlah lebih banyak orang, sebentar saja Kwee Ceng dan Tuli kena dipukul jatuh, lalu ditindihkan.
Tubuh Kwee Ceng diduduki Tusaga, sembari memukul bebokong orang, dia ini berkata.
"Kau menyerah, aku kasih ampun!"
Kwee Ceng berontak, sia-sia saja, ia tak dapat bergerak.
Tuli pun tak dapat bergeming, ditindih oleh dua lawan.
Dalam saat tegang dari bocah-bocah ini, dari kejauhan ada terdengar kelenengan unta, lalu ditepi sungai tertampak rombongan pedagang dari gurun pasir.
Salah satu diantaranya yang menunggang kuda putih, tertawa apabila ia lihat bocah-bocah itu sedang berkelahi.
"Bagus! Kamu lagi berkelahi!"
Katanya. Tapi kapan ia telah datang dekat dan lihat dua anak dikepung beramai, dua bocah itu telah babak-belur dan matang biru mukanya, ia kata nyaring.
"Tidak malukah kamu?! Lekas lepaskan mereka!"
"Minggir! Jangan banyak omong disini!"
Bentak Tusaga. Dia adalah putranya satu jago di Utara, dia termanjakan, siapapun tidak berani lawan padanya. Maka itu ia menjadi besar kepala.
"Hai anak, kau galak sekali!"
Kata penunggang kuda itu.
"Lepas tanganmu!"
Ketika itu telah tiba beberapa yang lainnya, lalu satu nona berkata.
"Shako, jangan usilan, amri kita melanjutkan perjalanan."
"Kau lihat sendiri, kau lihat sendiri!"
Kata orang yang dipanggil shako itu – shako – kakak nomor tiga.
Rombongan kalifah itu terdiri antaranya dari Kanglam Cit Koay, itu tujuh Manusia Aneh dari Kanglam.
Mereka dengar Toan Thian Tek kabur ke utara, mereka menyusul hingga ke gurun pasir.
Untuk enam tahun lamanya mereka mondar-mandir, selama itu tidak pernah mereka dengar halnya si orang she Toan itu.
Mereka semua mengerti bahasa Mongol.
Han Siauw Eng adalah si nona, apabila ia telah melihat denagn tegas, ia lompat turun dari kudanya, ia tarik dua bocah yang mengerubuti Tuli, ia menyempar hingga orang berguling.
"Dua mengepung satu, tak malukah kamu?!"
Tegurnya.
Tuli lompat bangun begitu lekas ia merasai tubuhnya enteng.
Tusaga menyaksikan kejadian itu, ia heran.
Justru ia melengek, Kwee Ceng berontak dan loloskan dirinya seraya lompat bangun juga, lalu bersama kawannya ia angkat kaki!
"Kejar!"
Teriak Tusaga gusar.
"Kejar!"
Ia ajak kawan-kawannya mengubar. Kanglam Cit Koay pada tersenyum, Mereka ingat masa kecilnya mereka, yang pun bengal dan gemar berkelahi.
"Hayolah jalan!"
Berkata Kwa Tin Ok.
"Kita jangan bikin pasar keburu bubar, nanti kita tak dapat menanyai orang!"
Itu waktu Tusaga beramai telah dapat candak Tuli berdua, mereka itu kembali kena dikurung.
"Menyerah atau tidak?"Tusaga tanya. Tuli dengan mata bersinar hawa amarah, menggelengkan kepala.
"Hajar lagi padanya!"
Tusaga memberi komando. Anak-anak itu pun lantas maju. Tiba-tiba sebuah benda berkelebat di tangannya Kwee Ceng.
"Siapa berani maju!"
Ia berseru.
Nyata ia mencekal sebatang pisau belati.
Lie Peng menyayangi putranya, senjata peninggalan suaminya itu ia serahkan kepada sang putra, untuk sang putra yang simpan.
Ia mengharap pisau belati itu, sebagai mustika dapat mengusir pengaruh-pengaruh jahat.
Menampak orang bersenjata, Tusaga semua tidak berani maju.
Biauw Ciu Si-seng Cu Cong, yang telah larikan kudanya, lihat sinar berkelebat berkilau itu, ia manjadi heran.
Banyak sudah ia mencuri barang-barang berharga kepunyaan pembesar rakus atau hartawan jahat, maka itu matanya tak pernah salah.
"Benda itu pasti mustika adanya,"
Ia berpikir.
"Perlu aku lihat, benda apakah itu…"
Maka itu ia larikan kudanya ke arah anak-anak itu hingga ia menampak Kwee Ceng dengan belati di tangan, sikapnya gagah sekali.
ia menjadi heran.
Kenapa sebuah mustika berada di tangan satu bocah?
Ia jadi awasi Kwee Ceng begitu pun semua bocah lainnya.
Semua mereka mengenakan kulit binatang yang mahal, kecuali Kwee Ceng yang dilehernya pun berkalung gelang emas yang indah.
Jadi mereka mestinya adalah anak-anak bangsawan Mongolia.
"Mestinya bocah ini telah curi senjata ayahnya,"
Si setan tangan ulung berpikir pula.
"Dia tentu curi itu untuk dibuat main. Bukannya tak halal kalau aku ambil barangnya orang bansawan…"
Dengan timbul keinginannya akan punyai belati itu, Cu Cong lompat turun dari kudanya, dia dekati semua bocah itu sambil ia tertawa haha-hihi.
"Jangan berkelahi, jangan berkelahi!"
Katanya.
"Hayolah kamu baik-baik bermain…!"
Ia menyelip di antara bocah-bocah itu, atau sekejap saja belati di tangan Kwee Ceng telah pindah ke dalam cekalannya.
Jangan kata baharu Kwee Ceng, satu anak kecil, walaupun kangzusi.com orang kosen lainnya, pasti dapat senjatanya dirampasnya.
Ia lompat pula untuk naik ke atas kudanya, sambil tertawa berkakakan, ia susul kawan-kawannya.
"Tak jelek untungku hari ini, aku dapat mustika!"
Kata ia.
"Jieko, tak dapat kau ubah tabiatmu yang suka mencopet itu!"
Kata Siauw Bie To Thio A Seng.
"Mustika apakah itu? Mari kasih aku lihat,"
Minta Lauw-sie In Hiap Coan Kim Hoat.
Cu Cong ayun tangannya, melemparkan.
Bersinar berkilau belati itu diantara sinar matahari, bagaikan sinar bianglala, hingga semua Kanglam Cit Koay heran dan memuji.
Kim Hoat pun merasa memegang benda yang rasanya dingin.
"Bagus!"
Ia segera memuji, lalu tangannya menyambar ke batu di dekatnya, batu mana terus terbabat kutung. Kemudian ia lihat gagangnya pisau, ia jadi terperanjat. Ia dapatkan ukiran dua huruf "
Yo kang".
"Eh, ini namanya orang Han!"
Katanya.
"Kenapa belati ini terjatuh ke dalam tangan orang Mongol? Yo Kang? Yo Kang? Tidak pernah aku dengar orang gagah dengan nama ini….Siapa tak gagah tak pantas ia mempunyai belati ini….."
Bab 9. Si Mayat Perunggu dan Si Mayat Besi Untuk sesaat, Kim Hoat berdiam. Kemudian dia bertanya pula pada kakaknya yang tertua.
"Toako, takukah kau siapa Yo Kang?"
"Yo Kang? Tak pernah aku dengar nama itu…"
Jawab Tin Ok.
Yo Kang itu adalah nama yang Khu Cie Kee berikan untuk anak yang masih ada dalam kandungannya Pauw Sek Yok, istrinya Yo Tiat Sim.
Tiat Sim dan Siauw Thian telah saling mengasih tanda mata belati yang terukir nama Yo Kang dan Kwee Ceng, dari itu, tentu saja Kanglam Cit Koay tidak kenal nama Yo Kang itu.
Coan Kim Hoat sabar dan teliti, ia berpikir terus.
Lantas ia ingat akan sesuatu.
Ia berkata kemudian.
"Orang yang khu Totiang cari adalah istrinya Yo Tiat Sim. Entah Yo Kang ini ada hubungannya sama Yo Tiat Sim atau tidak…"
Enam tahun sudah tujuh saudara ini merantau di gurun apsir tanpa ada hasilnya, sekarang mereka dapati ada titik terang, mereka jadi bersemangat, mereka tak hendak melepaskannya dengan begitu saja.
"Marilah kita tanya bocah itu!"
Siauw Eng mengusulkan.
Han Po Kie mempunyai kuda yang paling gesit, ia mendahului berlari kepada kawanan bocah itu yang telah kembali bergumul berkelahi.
Ia berteriak-teriak menyuruh mereka berhenti berkelahi, tetapi ia tidak dipedulikan, maka ia turun dari kudanya, dan kemudian ia langsung tarik beberapa bocah dan balingkan mereka ke pinggiran.
Tusaga lihat orang kuat, ia tak berani berkelahi terus.
Tapi ia tuding Tuli dan menantang.
"Dua ekor anjing cilik, jikalau kau berani, besok kita bertempur pula disini!"
"Baik, besok kita bertempur pula disini!"
Tuli terima tantangan itu.
Ia sudah lantas memikir, kalau sebentar ia pulang, hendak ia meminta bantuan Ogatai, kakaknya yang nomor tiga, dengan siapa ia paling erat hubungannya, sedang kakaknya itupun kuat.
Ia percaya Ogagati akan suka membantu padanya.
Kwee ceng dengan muka berlumuran darah, mengulurkan tangannya pada Cu Cong.
"Mari kasih pulang!"
Katanya. Dengan berani ia minta belatinya kembali.
"Gampang untuk pulangi padamu!"
Kata Cu Cong sambil tertawa, seraya tangannya mencekal belati orang. Tapi kau mesti omong dulu biar terang, darimana kau peroleh belati ini?"
Dengan tangan bajunya Kwee ceng susuti darah yang masih mengalir dari hidungnya.
"Ibuku yang berikan padaku,"
Sahutnya.
"Apakah she ayahmu?"
Cu Cong tanya pula. Bocah itu melengak. Ia tak punya ayah, tak dapat ia menjawab. Kemudian ia menggeleng kepalanya. Cit Koay lihat orang rada tolol, mereka menjadi putus asa.
"Apakah kau she Yo?"
Coan Kim Hoat kemudian menanya.
Ia penasaran.
Kwee menggeleng-gelengkan kepalanya pula.
Kanglam Cit Koay paling menjunjung kehormatan, mereka pegang satu kepercayaan sekalipun terhadap satu bocah, maka itu Cu Cong lantas serahkan belati itu kembali kepada Kwee Ceng., sedang Han Siauw Eng keluarkan sapu tangannya, untuk susuti orang punya darah di hidung.
"Pergilah kau pulang,"
Katanya dengan halus dan ramah.
"Lain kali jangan kau berkelahi pula."
Lantas Cit Koay berangkat, akan susul rombongan kalifah yang mereka ikuti. Kwee Ceng menjublak mengawasi orang pergi.
"Kwee Ceng, mari pulang!"
Tuli lantas mengajak. Cit Koay belum jalan jauh. Tin Ok mempunyai kupingnya paling lihay pendengarannya dibandingkan dengan saudara-saudaranya, ia dengar panggilan "Kwee Ceng"
Dari Tuli, mendadak ia rasai tubuhnya menggetar, tanpa bersangsi pula, ia putar kudanya akan kembali kepada si bocah.
"Eh, anak, apakah kau bernama Kwee Ceng?"
Ia tanya dengan sabar. Kwee Ceng menberikan penyahutan yang membenarkan. Bukan kepalang girangnya Tin Ok.
"Siapakah nama ibumu?"
Tanya pula, cepat.
"Ibu ialah ibu…."
Kwee Ceng menjawab. Tin Ok menggaruk-garuk kepalanya.
"Mari antar aku kepada ibumu, Maukah kau?"
Ia tanya lagi.
"Ibuku tidak ada disini,"
Bocah itu menjawab. Tin Ok dengar suara yang tak simpatik. Kemudian dia berkata kepada adiknya paling kecil.
"Cit moay, kaulah ynag tanya dia."
Siauw Eng lompat turun dari kudanya dan ia menghampiri bocah itu.
"Mana ayahmu?"
Dia tanya, suaranya tetap ramah.
"Orang telah celakai ayahku hingga terbinasa,"
Sahut bocah itu.
"Nanti kalau aku sudah besar, hendak aku cari musuh itu untuk membalaskan sakit hati ayahku!"
"Apakah namanya ayahmu itu?"
Siauw Eng tanya pula. Ia bernafsu, hingga suaranya sedikit menggetar. Kwee Ceng menggoyang kepala.
"Siapakah namanya itu orang yang membunuh ayahmu?!"
Tin Ok turt tanya, suaranya dingin. Sambil kertak gigi, Kwee Ceng jawab.
"Dia bernama Toan Thian Tek!"
Memang Lie Peng telah memberitahukan kepada anaknya itu she dan namanya Thian Tek, malah roman mukanya dan potongan tubuhnya.
Nyonya Kwee tahu, jiwanya terancam bayaha sembarang waktu, maka itu ia telah berikan penjelasan kepada anaknya, supaya apabila ada terjadi sesautu atas dirinya, putranya itu sudah tahu segala sesuatunya.
Ia pun telah memberitahukannya berulangkali, hingga Kwee Ceng ingat semua itu.
Cit Koay girang bukan kepalang, si nona Han sampai berseru, sedang Kwa Tin Ok memuji kepada Thian.
Lucunya adalah Thio A Seng, yang sudah rangkul Lam Hie Jin, sementara si cebol Han Po Kie jumpalitan si atas kudanya.
Tuli dan Kwee Ceng mengawasi, mereka merasa lucu dan heran.
"Adik kecil, mari duduk, mari kita bicara perlahan-lahan…"
Nona Han berkata dengan suaranya ynag tetap ramah.
"Mari pulang!"
Mengajak Tuli, Ia hendak cari kakaknya yang ketiga, untuk ajaki saudarany itu besok membantui ia melawan Tusaga.
"Aku mau pulang,"
Kwee ceng berkata kepada Han Siauw Eng. Ia tarik tangannya Tuli dan ia putari tubuhnya, untuk berjalan pergi.
"Eh, eh, tunggu dulu,"
Po Kie memanggil.
"Kau tak dapat pergi! Biarkan sahabatmu pulang lebih dulu..!"
Melihat sikap orang yang luar biasa, dua bocah itu menjadi takut, mereka lantas lari. Po Kie berlompat, untuk sambar pundaknya Kwee Ceng.
"Shatee, jangan semberono!"
Cu Cong cegah adiknya yang nomor tiga itu.
Ia pun bergerak, untuk halangi tangan adiknya.
Po Kie heran, ia batal membekuk bocah itu.
Cu Cong lari untuk susul kedua bocah itu, ia lantas jemput tiga butir batu kecil.
"Aku akan main sulap untuk kamu!"
Katanya sembari tertawa, sikapnya manis. Tuli dan Kwee Ceng berhenti berlari, mereka berdiam mengawasi. Cu Cong genggam ketiga batu itu di telapak tangan kanannya.
"Menghilanglah!"
Ia berseru. Kapan ia membuka kepalan tangannya, batu itu telah lenyap. Kedua bocah itu heran, mereka mendelong.
"Nelusup masuk!"
Seru Cu Cong, yang tepuk kopiahnya. Terus ia buka kopiahnya itu, di dalam situ ada tiga butir batu itu.
"Bagus!"
Seru Tuli dan Kwee Ceng. Tanpa merasa, mereka menjadi tertarik. Itu waktu terdengar suara belibis mendatangi, lalu tertampak burungnya terbang mendatangi dalam dua rombongan, datangnya dari utara.
"Akan aku suruh toako main sulap,"
Kata ia, yang dapat pikiran baru. Ia lantas rogoh keluar sepotong sapu tangan, yang mana ia kasihkan kepada Tuli, sambil menunjuk kepada Kwa Tin Ok, ia kata.
"Kau tutup matanya."
Tuli menurut, ia ikat matanya orang she Kwa itu.
"Mau main petak umpat?"
Tanyanya tertawa.
"Bukan,"
Sahut Cu Cong.
"Tanpa mata, ia dapat panah burung belibis itu."
Ia terus serahkan gendewa dan anak panah kepada kakaknya.
"Aku tidak percaya,"
Kata Tuli.
Itu waktu kedua rombongan belibis sudah terbang mendekat, Cu Cong menimpuk dengan tiga butir batunya, membuat burung-burung itu menjadi kaget, yang jadi pemimpinnya berbunyi.
Justru karena burung itu berbunyi dan hendak merubah tujuan, panahnya Tin Ok sudah meleset, jitu sekali, burung itu terpanah batang lehernya dan bersama anak panahnya, jatuh ke tanah.
"Bagus! Bagus!"
Tuli dan Kwee Ceng berseru dengan gembira. Mereka pun lari untuk pungut burung itu, hendak diserahkan pada Kwa Tin Ok. Mereka sangat kagum.
"Tadi mereka bertujuh atau berdelapan mengerubuti kamu berdua,"
Berkata Cu Cong.
"Coba kamu ada punya kepandaian, kamu tidak usah takut lagi kepada mereka."
"Besok kita bakal berkelahi pula, aku akan minta bantuan kakakku,"
Kata Tuli.
"Minta bantuan kakakmu?"
Kata Cu Cong.
"Hm, itulah tidak ada faedahnya. Aku akan ajari kau sedikit kepandaian, aku tanggung besok kamu bakal dapat kalahkan mereka."
"Kami berdua dapat kalahkan mereka berdelapan?"
Tegaskan Tuli.
"Ya!"
Cu Cong beri kepastian. Tuli girang sekali.
"Baik! Nah, kau ajarkanlah aku!"
Cu Cong awasi Kwee Ceng, yang berdiri diam saja, dia agaknya tidak tertarik.
"Apakah kau tidak ingin belajar?"
Ia tanya bocah itu.
"Ibuku bilang, tidak boleh aku berkelahi,"
Kwee Ceng menjawab.
"Kalau aku belajar kepandaian untuk memukul orang, ibu tnetu tidak senang."
"Hm, bocah bernyali kecil!"
Kata Po Kie perlahan.
"Habis, kenapa tadi kamu berkelahi?"
Cu Cong tanya lagi.
"Mereka itu yang serang kami duluan."
Jawab Kwee Ceng lagi. Tin Ok campur bicara, suaranya tetap dingin.
"Kalau kau bertemu dengan sama Toan Thian Tek, musuhmu itu, habis bagaimana?!"
Ia tanya. Kedua matanya Kwee Ceng bersinar.
"Akan aku bunuh dia, untuk balaskan dendaman ayahku!"
Sahutnya.
"Ayahmu pandai silat, dia masih dapat dibunuh musuhnya,"
Ton Ok kata pula.
"Kau tidak belajar ilmu kepandaian, bagaimana kau dapat membalas dendam?"
Kwee Ceng tercengang. Kemudian air matanya mengalir keluar. Cu Cong menunjuk ke gunung di sebelah kiri.
"Kalau kau hendak belajar kepandaian guna menuntut balas untuk ayahmu,"
Ia bilang.
"Sebentar tengah malam kau pergi ke sana untuk cari kami. Cuma kamu sendiri yang dapat datang, kau tidak boleh beritahukan kepada orang lain. Kau berani tidak? Apakah kau takut setan?"
Kwee Ceng masih berdiri menjublak.
"Kau ajarakan aku saja!"
Tuli bilang. Tiba-tiba Cu Cong tarik tangannya bocah itu, kakinya mengaggaet. Tuli rubuh seketika. Ia merayap bangun dengan murka."Kenapa kau serang aku?"
Tegurnya.
"Ini dia yang dibilang ilmu kepandaian,"
Cu Cong tertawa.
"Mengertikah kau?"
Nyata Tuli sangat cerdas, segera ia mengerti. Ia manggut-manggut.
"Coba ajarakan aku pula,"
Ia minta.
Cu Cong menyambar dengan kepalannya, Tuli berkelit ke kiri.
Tapi di sini ia dipapaki tangan kiri si penyerang, tepat kena hidungnya, tapi Cuma hidung nempel, kepalan kiri itu segera ditarik pulang.
Bukan kepalang girangnya putra Temuchin itu.
"Bagus! bagus!"
Ia berseru.
"Kau ajari aku lagi!"
Cu Cong mendak, untuk mendongko, lalu ia seruduk pinggang orang.
Tampa ampun Tuli berguling, tapi belum sempat ia terbanting ke tanah, Coan Kim Hoat sudah sambar tubuhnya, untuk di kasih tetap berdiri .
"Paman, ajari aku pula!"
Seru Tuli. Ia girang luar biasa.
"Sekarang kau pelajari dulu tiga jurus ini,"
Kata Cu Cong sambil tertawa.
"Kalau kau sudah bisa, orang dewasa juga nanti tidak gampang-gampang kalahkan kau. Cukup sudah!"
Ia lantas berpaling kepada Kwee Ceng, akan tanya.
"Apakah kau pun sudah mengerti?"
Kwee Ceng lagi menjublak, ia menggeleng kepala.
Cit Koay hilang kegembiraannya melihat Tuli demikian cerdas tapi bocah she Kwee ini begitu tolol.
Siauw Eng sampai menghela napas dan air matanya berlinang.
"Sudah, kita jangan terlalu capekan hati sekarang,"
Kata Kim Hoat kemudian.
"Paling benar kita sambut ibu dan anak ini pulang ke Kanglam, kita serahkan mereka kepada Khu Totiang. Dalam hal janji pibu, kita menyerah kalah saja…"
"Anak ini miskin bakatnya, dia tak berbakatbelajar silat,"
Bilang Cu Cong.
"Ya, aku lihat dia tidak punya kekerasan hati,"
Kata Po Kie.
"Ia bakal gagal…"
Dalam dialek orang Kanglam, Cit Koay berdamai.
"Nach, pergilah kamu!"
Kata Siauw Eng akhirnya.
Ia ulurkan tangan kepada kedua bocah itu, atas mana Tuli tarik tangan Kwee Ceng untuk diajak pergi, ia snediri sangat kegirangan.
Selama mereka itu berbicara, Cuma Lam San Ciauw-cu Lam Hie Jin si Tukang Kayu dari Lam San, Gunung Selatan yang berdiam saja.
"Eh, sietee, apa katamu?"
Tin Ok tegur adiknya yang keempat itu.
"Baik,"
Sahut Lam Hie Jin.
"Apa yang baik?"
Menegaskan Cu Cong.
"Anak itu baik,"
Jawab adik keempatnya itu.
"Beginilah biasanya sieko!"
Kata Siauw Eng, tak sabaran.
"Susah sekali untuk sieko membuka mulut emasnya, tak hendak ia mengatakannya lebih sepatah kata!"
Hie Jin tertawa.
"Di waktu kecil, aku tolol sekali,"
Katanya.
Lam San Ciauw-cu memang pendiam, untuk mengeluarkan sepatah kata, ia memikirkan dahulu, maka itu asal ia membuka mulut, kata-katanya tentu tepat.
Karena itu juga, enam saudaranya biasa hargakan pikirannya.
Sekarang mendengar keterangannya itu, mereka bagaikan mendapat sinar terang.
"Kalau begitu, kita tunggu sampai nanti malam,"
Kata Cu Cong kemudian.
"Kita lihat dia berani taua tidak datang seorang diri."
"Kebanyakan ia tidak berani,"
Kata Kim Hoat.
"Baik aku cari tahu dulu tempat tinggalnya."
Dan ia lompat turun dari kudanya, dari jauh-jauh ia mengikuti Kwee Ceng dan Tuli.
Ia lihat mereka masuk ke dalam tenda.
Malam itu Cit Koay berkumpul di atas bukit.
Mereka menanti sampai tengah malam, sampai bintang-bintang mulai menggeser, tak ada bayangan Kwee Ceng si bocah itu.
Cu Cong lantas saja menghela napas.
"Kanglam Cit Koay sudah malang melintang seumur hidupnya, kali ini mereka rubuh di tangannya satu imam…!"
Katanya masgul. Selagi tujuh saudara itu berduka, tiba-tiba Po Kie berseru tertahan.
"Eh..!"
Dan tangannya pun menunjuk ke depan di mana ada gombolan pohon.
"Apa itu?"
Katanya.
Ketika itu sang rembulan yang terang sudah sampai di tengah-tengah langit, sinarnya sampai kepada rumput tabal di mana ada tiga tumpuk benda putih yang nampaknya aneh.
Coan Kim Hoat lompat menghampiri benda itu, maka ia kenali itu sekumpulan tengkorak, yang bertumpuk rapi dalam tiga tumpukan.
"Entah bocah nakal siapa sudah bermain di sini, tengkorak orang diatur begini…"
Katanya.
"Eh…apakah ini? Jieko, mari!"
Suaranya sangat kedengarannya sangat terkejut, maka kecuali Kwa Tin Ok, yang lima saudara lainnya lantas menghampiri saudara she Coan itu.
"Lihat!"
Katanya lagi kemudian, yang sodorkan sebuah tengkorak kepada Cu Cong.
Cu Cong dapatkan lima liang di embun-embunan tengkorak itu, romannya seperti bekas jari tangan.
Ia ulur tangannya, tepat lima jarinya masuk ke dalam semua laing itu.
Jadi itu bukanlah perkerjaannya satu bocah cilik.
Ia pungut dua tengkorak lainnya, di situpun kedapatan masing-masing lima jari tangan yang sama.
Ia jadi heran dan bersangsi.
"Mustahil benar ada orang membuat liang ini dengan jeriji tangannya?"
Ia kata dalam hatinya. Ia tak berani utarakan kesangsiannya ini.
"Mungkinkah disini ada hantu gunung?"
Tanya Siauw Eng.
"Hantu tukang geregas manusia…"
"Benar, itulah siluman,"
Po Kie membenarkan adiknya itu.
"Tetapi kenapa tengkorak-tengkorak ini diatur begini rapi?"
Kim Hoat tanya. Saudara ini bersangsi. Kwa Tin Ok dengar saudara-saudaranya itu berbicara. Tiba-tina ia lompat mendekati mereka itu.
"Bagaimana itu diatur rapinya?"
Tanya ia.
"Semuanya terdiri dari tiga tumpuk, teraur sebagai segi tiga, dan saban tumpukannya sembilan tengkorak."
Coan Kim Hoat kasih keterangan pada kakaknya yang tak dapat melihat itu.
"Benarkah itu terbagi pula dalam tiga tingkat?"
Tin Ok tanya.
"Tingkat ynag bawah lima, tingkat tengah tiga dan tingkat atas satu buah?"
"Eh, toako!"
Seru Kim Hoat heran.
"Kenapa toako ketahui itu?"
Tin Ok perlihatkan roman cemas. Ia tidak menjawab. Hanya segera I berkata.
"Lekas jalan seratus tindak, ke arah timur utara dan barat utara! Lihat ada apakah di sana!"
Menampak sikap luar biasa dari saudara tua itu, yang biasanya sangat tabah, enam adik angkat itu lekas bekerja, yang tiga pergi ke timur utara, yang tiga lagi ke barat utara.
"Disini pun ada tumpukan tengkorak!"
Begitu suaranya Han Siauw Eng di timur utara dan Thi A Seng di barat utara. Kwa Tin Ok lari ke arah barat utara itu.
"Inilah saat mati hidup kita, jangan bersuara keras,"
Kata ia, suaranya perlahan tetapi nadanya tegas. Thio A Seng bertiga terkejut. Tin Ok lantas lari ke arah timur utara ke Han Siauw Eng, ia pun cegah mereka bertiga omong keras-keras.
"Siluman atau musuh?"
Tanya Cu Cong.
"Mataku buta, kakiku pincang, semua itu adalah hadiah mereka…"
Sahut kakak tertua ini.
A Seng bertiga lari berkumpul sama kakak mereka itu, mereka dengar perkataan si kakak, mereka semuanya jadi heran.
Tin Ok angkat saudara sama enam orang itu, cinta mereka bagaikan cintanya saudara-saudara kandung, meski begitu, ia paling benci orang menyebut-nyebut cacadnya itu.
Semua saudaranya sangka, cacadnya itu disebabkan kecelekan semenjak kecil, tidak ada yang berani menanyakan, sekarang barulah mereka itu ketahui, itulah sebabnya perbuatan musuh.
Tin Ok Demikian lihay, ia toh kalah, dari situ bisa diduga betapa lihaynya musuh itu.
"Apakah tumpukan disini pun tiga?"
Tanya Tin Ok.
"Benar,"
Sahut Siauw Eng.
"Dan setiap tumpukannya terdiri dari sembilan tengkorak?"
Sekali ini Tin Ok menanya perlahan sekali. Nona Han menghitung.
"Yang satu sembilan,"
Jawabnya kemudian.
"Yang satunya delapan…"
"Coba hitung yang sebelah sana, lekas!"
Kata Tin Ok mendesak sekali. Siauw Eng lari ke barat utara, sambil membungkuk ia menghitung, dengan lekas, lalu dengan lekas pula ia lari balik.
"Yang di sana setiap tumpukannya tujuh tengkorak,"
Ia beritahu.
"Kalau begitu, mereka akan segera kembali!"
Kata Tin Ok, kembali dengan suara perlahan. Enam saudara itu mengawasi dengan melengak, mereka menantikan penjelasan.
"Merekalah Tong Sie dan Tiat Sie,"
Tin Ok bilang. Cu Cong terkejut hingga ia berjingkrak.
"Bukankah Tong Sie dan Tat Sie sudah lama mati?"
Dia tanya.
"Kenapa mereka masih ada di dalam dunia ini?"
"Aku juga menyangka mereka sudah mati, kiranya mereka sembuniy disini dan secara diam-diam tengah menyakinkan ilmu Kiu Im Pek-kut Jiauw,"
Kata Tin Ok.
"Saudara-saudara lekas naik ke kudamu masing-masing, segera kabur ke selatan, sekali-kali jangan kamu kembali! Sesudah kabur seribu lie, tunggu aku selama sepuluh hari, jikalau sepuluh hari aku tidak datang menyusul kamu, kamu tidak usah menunggui lebih lama lagi…!"
"Toako, apakah katamu?"
Tanya Siauw Eng gelisah.
"Kita sudah minum arak bercampur darah, kita sudah bersumpah untuk hidup atau mati bersama, maka itu kenapa kau anjurkan kita lari menyingkir?"
Tin Ok goyangi tangannya berulang-ulang.
"Lekas pergi, lekas pergi!"
Katanya mendesak.
"Lambat sedikit atau sudah tidak keburu lagi!"
Han Po Kie menjadi gusar.
"Apakah kau sangka kita orang-orang yang tidak berbudi?!"
Dia tanya membentak.
"Mereka berdua lihay luar biasa,"
Tin Ok bilang.
"Mereka sekarang lagi menyakinkan ilmu Kiu im Pek-kut Jiauw itu, walaupun mereka belum dapat merampunginya, mereka toh sudah paham delapan atau sembilan bagian, dari itu sekalipun kita bertujuh, kita pasti bukan tandingan mereka. Kenapa kita mesti antaran jiwa secara sia-sia?"
Enam saudara itu ketahui kakak mereka ini beradat tinggi, belum pernah ia puji kepandaian lain orang, sekali pula Khu Cie Kee yang lihay, dia berani lawan, tetapi sekarang ia jeri terhadap dua orang itu, Tong Sie si Mayat Perunggu dan Tiat Sie si mayat Besi, mereka mau percaya sang kakak tidaklah tengah berdusta.
Tentu saja, karenanya mereka menjadi ragu-ragu.
"Kalau begitu, marilah kita pergi bersama-sama,"
Kim Hoat mengajak. Tin Ok tidak setuju, dengan dingin ia berkata.
"Mereka sudah celakai aku seumur hidup, saki hati ini tak dapat tidak dibalas!"
Lam Hie Jin segera campur bicara.
"Ada rejeki kita mencicipi bersama, ada kesusahan kita derita bersama juga!"
Katanya.
Ia omong singkat tetapi kata-katanya sangat tepat yang tak dapat diubah lagi.
Tin Ok menjadi diam dan berpikir.
Sadarlah ia bahwa saudara-saudaranya itu sudah berkeputusan bulat.
Dia akhirnya menghela napas.
"Baiklah kalau begitu,"
Katanya kemudian.
"Aku cuma minta kalian semua suka berlaku hati-hati. Tong Sie itu ialah pria dan Tat Sie itu wanita, mereka berdua itu adalah suami-istri. Sekarang ini tak ada tempo untuk menjelaskan tentang mereka itu, Cuma hendak aku pesan masing-masing jaga lah diri dengan hati-hati dari cengkraman mereka. Liok-tee, coba jalan seratus tindak ke selatan, lihat benar atau tidak di sana ada sebuah peti mati."
Coan Kim Hoat, adik yang nomor enam, segera lari ke arah selatan.
Setelah seratus tindak, ia tidak lihat peti mati yang disebutukan kakaknya itu, ia Cuma nampak unjungnya sebuah batu lempangan muncul dari dalam tanah, batu itu kotor dengan tanah dan ketutupan rumput hijau.
Ia tarik batu itu tetapi tidak bergeming.
Dengan menggape, ia panggil saudara-saudaranya yeng mengawasi ke arahnya.
Mereka itu segera saja menghampirinya.
Thio A Seng, Lam Hie Jin dan Han Po Kie, setelah melihat batu itu, bantui saudaranya untuk mencabut.
Sekarang barulah papan batu itu dapat disingkirkan.
Di bawah sinar rembulan, di bawah batu itu tertampak sebuat peti mati bercorak kotak atau peti batu dan di dalam situ rebah dua mayat.
Kwa Tin Ok, setelah ia diberitahukan adanya kedua mayat itu, sudah lantas lompat turun ke dalam peti mati yang besar itu.
"Musuhku itu bakal lekas datang kemari untuk melatih ilmu silatnya itu, sebagai alatnya ialah kedua mayat ini,"
Berkata ia.
"Maka itu sekarang hendak aku sembunyi di sini, untuk bokong pada mereka. Saudara-saudara pergi kau ambil tempat berlindung di empat penjuru, jaga supaya mereka tidak dapat ketahui. Kamu mesti menunggu sampai aku telah tidak dapat bertahan, baru kamu keluar untuk mengepung mereka, itu waktu jangan kamu main kasihan-kasihan lagi. Cara membokong ini bukanlah cara yang benar akan tetapi musuh terlalu tangguh dan telangas, tanpa cara ini jiwa kita bertujuh bakalan tidak dapat ditolongi lagi!"
Tin Ok omong dengan perlahan-lahan, tapi kata-katanya ditandaskan setiap patah. Semua saudaranya itu menyahuti dengan janji akan menaati.
"Nusuh itu sangat cerdik dan getap,"
Tin Ok berkata pula dengan pesannya.
"Sedikit saja ada kelisikan, mereka bakal dapat tahu. Sekarang tutuplah papan batu ini, Cuma tinggali sedikit liang kecil untuk aku bernapas."
Enam saudara itu menurut, mereka lantas bekerja.
Perlahan-lahan mereka letaki tutup peti mayat yang istimewa itu.
Kemudian, denagn siapakn masing-masing senjatanya, mereka pencar diri ke empat penjuru untuk sembunyi sambil memasang mata.
Di situ ada banyak pepohonan dan rumput tebal.
Han Siauw Eng adalah orang yang hatinya paling berkhawatir dan paling heran pula.
Semenjak ia kenal kakaknya yang tertua itu, inilah pertama kalinya ia dapatkan sikap yang tegang sekali dari kakaknya itu.
Ia bersembunyi di samping Cu Cong, maka itu sambil berbisik ia tanya ini kakak nomor dua.
"Jieko, Tong Sie dan Tiat Sie itu makhluk macam apa?"
"Merekalah yang di dalam dunia kang-ouw kesohor sebagai Hek Hong Siang Sat,"
Sahut sang kakak denagn perlahan.
"Di masanya mereka itu malang-melintang di utara, kau masih kecil sekali citmoay, maka itu kau tidak ketahui tentang mereka. Dua orang itu snagat kejam, ilmu silat mereka lihay sekali, baik di Jalan Hitam, maupun di Jalan Putih, siapa dengar mereka, hatinya ciut. Bukan sedikit orang gagah yang roboh di tangan mereka itu."
"Kenapakah mereka itu tak hendak dikepung beramai-ramai?"
Siauw Eng tanya pula.
"Menurut katanya mendiang guru,"
Cu Cong menerangkan pula.
"Orang-orang gagah dari Selatan dan Utara Sungai Besar pernah tiga kali mengadakan perhimpunan besar di gunung Heng San, lalu beruntun tiga tahun mereka mencoba mengepung Hek Hong Siang Sat, mereka itu dapat lolos. Begitu lihat banyak orang, mereka lantas sembunyikan diri, setelah orang bubaran, mereka muncul pula. Setahu bagaimana, belakangan orang tidak lihat lagi bekas-bekas tapak mereka, maka beberapa tahun kemudian orang anggap, karena dosa kejahatannya sudah meluap, mereka itu telah menemui ajalnya. Tidak disangka-sangka sekarang, di tempat belukar seperti ini, di tara ini, kita menemui mereka itu."
"Apakah nama mereka itu?"
Siauw Eng masih menanya.
"Yang pria, yang disebut Tong Sie itu, si Mayat Perunggu, bernama Tan Hian Hong,"
Sahut kakak keduanya itu.
"Dia berparas muka semu kuning hangus seperti perunggu, pada wajahnya itu tak pernah tampak tanda kemurkaan atau tertawa, dia beroman seperti mayat saja, maka itu orang juluki dia Tong Sie."
"Kalau begitu yang wanita, Tiat Sie itu, mestinya berkulit hitam legam?"
"Tidak salah! Dia she Bwee, namanya Tiauw Hong."
"Toako menyebut ilmu Kiu Im Pek-kut Jiauw, ilmu apakah itu?"
Tanya adiknya lagi.
"Tentang ilmu itu belum pernah aku mendengarnya,"
Jawab sang kakak. Siauw Eng diam sejenak. Lalu ia menyambung lagi.
"Kenapa toako tak pernah sebut-sebut itu? Mustahilkah…"
Nona ini berhenti berbicara dengan tiba-tiba, sebab Cu Cong mendekap mulutnya yang kecil mungil itu.
"Sstt!"
Berbisik sang kakak itu seraya tangannya menunjuk ke bawah bukit.
Siauw Eng segera memasang matanya ke arah tempat ynag ditunjuk itu.
Di bawah terangnya sinar rembulan, ia tampak seuatu benda hitam lagi bergerak-gerak cepat di atas tanah berpasir.
"Sungguh memalukan,"
Ia mengeluh di dalam hatinya.
"Kiranya jieko waspada sekali, sambil memberi keterangan padaku, ia terus pasang matanya."
Sebentar saja benda itu sudah datang semakin dekat.
Maka sekarang tampaklah dengan nyata.
Itulah dua orang, yang berjalan rapat satu dengan lain, hingga mereka merupakan sebagai satu bayangan yang besar.
Enam saudara dari Kanglam itu menahan napas, semuanya bersipa sedia.
Cu Cong cekal kipasnya peranti menotok jalan darah.
Siauw Eng tancap pedangnya ke tanah, guna cegah sinarnya berkilauan.
Sekarang terdengar suara pasir disebabkan tindakan kaki, suara itu menyebabkan ketegangan di hati ke enam bersaudara itu.
Kapan sebentar kemudian tindakan kaki tak menerbitkan suara pula, di atas bukit itu tertampak dua orang bagai bayangan, berdiri diam.
Dilihat dari kepalanya, yang memakai kopiah kulit, yang satu mirip orang Mongol.
Ynag kedua yang rambutnya panjang dan memain atas tiupan angin, adalah seorang wanita.
"Mestinya dia Tong Sie dan Tiat Sie,"
Pikir Siauw Eng.
"Sekarang ingin aku saksikan bagaimana mereka melatih diri…."
Si wanita sudah lantas berjalan mengitari si pria, nyata terdengar buku tulang-tulangnya bersuara meretek, mengikuti jalannya, dari lambat menjadi cepat, suaranya semakin keras.
Enam saudara itu menjadi heran.
"Tenaga dalamnya begitu hebat, pantas toako memuji mereka,"
Pikir mereka.
Wanita itu gerak-geraki kedua tangannya, diulur dan ditarik, saban-saban terdengar suara mereteknya.
Rambutnya pun mengikuti bergerak-gerak juga.
Siauw Eng bernyali besar tetapi ia toh menggigil pula.
Tiba-tiba si wanita itu angkat tangan kanannya, disusul sama tangan kirinya menyerang dada si pria.
Heran enam saudara itu.
"Dapatkah si pria, degan darah dagingnya manusia, bertahan terhadap serangan itu?"
Tanya mereka di dalam hati.
Selagi begitu, si wanita sudah menyerang pula, ke perut, beruntun hingga tujuh kali, setiap serangan bertambah cepat, bertambah hebat.
Si pria tapinya mirip mayat, tubuhnya tidaj bergeming, ia tak bersuara.
Tapat sampai pukulan yang ke sembilan, wanita itu lompat mencelat, jumpalitan, kepala di bawah, kaki di atas, tangan kirinya menyambar kopiah si pria, tangan kanannya, dengan lima jari, mencengkeram ke ubun-ubun si pria.
Hampir Siauw Eng menjerit karena kagetnya.
Si wanita sebaliknya tertawa besar dan panjang, kapan tangan kanannya di tarik, lima jarinya berlumuran darah pula.
Sembari mengawasi tangannya itu, ia masih tertawa.
Tiba-tiba saja ia menoleh ke arah Siauw Eng, hingga si nona dapat nampak wajah orang – satu wajah hitam manis, usianya ditaksir kira-kira empatpuluh tahun.
Hanya aneh, walaupun ia tertawa, mukanya tidak tersenyum.
Sekarang enam saudara itu ketahui, si pria bukan Tong Sie, si suami, hanya seorang yang lain, yang rupanya ditangkap untuk dijadikan bahan atau korabn latihan Kiu Im Pek-kut Jiauw, Cengkeraman Tulang Putih.
Maka terang sudah, wanita itu adalah Tiat Sie Bwee Tiauw Hong, si Mayat Besi, sang sistri.
dengan sendirinya mereka menjadi membenci kekejaman wanita itu.
Seberhentinyatertawa, Tiauw Hong geraki kedua tangannya, untuk merobek membuka pakaiannya pria korbannya itu.
di Utara ini, dimana hawa udara adalah sangat dingin, orang memakai baju dalam kulit, tetapi sekarang, gampang saja si wanita ini menelanjangi pria itu, tubuh siapa lalu ia letaki di tanah.
habis itu, dengan rangkap kedua tangannya, si wanita itu berjinjit, berlompatan mengitari korbannya itu.
Diwaktu melompat, dia tidak tekuk dengkulnya, tidak membungkuk tubuhnya.
Dia lompat tingginya beberapa kaki, lempang jegar.
Disamping heran dan gusar, enam saudara itu merasa kagum.
Wanita itu berhenti berlompatan dan berputaran sesudah ia berpekik keras dan panjang sambil ia lompat tinggi berjumpalitan dua kali, ia turun di sisi mayat, dua tangannya dipakai menjambak dada dan perut mayat itu, untuk menarik keluar isi perut orang.
Di bawah sinar rembulan, wanita itu memeriksa, lalau ia membuangnya setiap isi perut itu, paru-paru dan jantung, yang semuanya telah tak utuh lagi.
Nyatalah, dengan sembilan kali serangannya – Kiu im – wanita ini membikin rusak isi perut pria itu, dan ia memeriksa itu, untuk membuktikan sampai di mana hasil latihannya itu.
Bukan kepalang gusarnya Siauw Eng.
ia dapat menduga, tumpukan tengkorak itu terang adalah korban-korbannya wanita kejam ini.
Tanpa merasa, ia cabut pedangnya, hendak ia menerjang wanita itu.
Disaat berbahaya itu, Cu Cong tarik si nona dan menggoyangi tangannya.
Saudara yang kedua ini telah berpikir.
Tiat Sie bersendirian, biar dia lihay, kalau dikepung bertujuh, kita pasti dapat melawan.
Kalau dia terbunuh lebih dahulu, jadi lebih gampang untuk melayani Tong Sie.
Kalau mereka ada berdua, tak dapat mereka layani…..Tapi, siapa tahu Tong Sie bersembunyi di mana?
siapa tahu kalau dia muncul mendadak, untuk membokong kita?
Toako telah memikir jauh, baiklah kita taai pesannya.
Biar toako yang mendahului…"
Habis memeriksa isi perut mayat, Tiat Sie nampaknya puas, ia lantas duduk numprah di tanah.
Dengan menghadapi rembulan, ia tarik napasnya keluar masuk, untuk melatih tenaga dalamnya.
Ia duduk dengan membelakangi Cu Cong dan Siauw Eng, nampak nyata bebokongnya bergerak-gerak.
"Kalau sekarang aku tikam dia, sembilan puluh sembilan persen, aku dapat tublas tembus bebokongnya!2 pikir si nona Han.
"Hanya kalau aku gagal, akibatnya mesti hebat sekali……………"
Karena ini, karena ragu-ragu, ia bergemetar sendiri.
Tegang hatinya.
Cu Cong pun sama tegangnya sampai ia menahan napasnya.
habis melatih napasnya, Bwee Tiauw Hong bangkit berdiri.
Ia lantas seret mayat korbannya, dibawa ke peti mayat di mana Kwa Tin Ok umpatkan diri.
Ia membungkuk, untuk angkat tutup peti mati istimewa itu.
Enam saudara itu bersiap.
Begitu tutup dibuka, hendak mereka menerjang berbareng.
Tiba-tiba Bwee Tiauw Hong mendengar berkelisiknya daun pohon di sebelah belakangnya.
Perlahan sekali suara itu, seperti desairnya angin.
ia toh berpaling dengan segera.
ia dapat lihat seperti bayangannya satu kepala orang di atas pohon.
Tak ayal lagi, berbareng dengan pekiknya, ia lompat ke arah pohon itu.
Itulah Ma Ong Sin Han Po Kie yang sembunyi di pohon itu.
Ia bertubuh kate, ia percaya dengan sembunyi di atas pohon, ia tak bakal dapat dilihat.
Ia hendak berlompat turun ketika tubuhnya bergerak bangun, ia tidak sangka, ia dapat dipergoki wanita lihay itu yang segera menerjang ke arahnya.
Tanpa sangsi ia kerahkan tenaganya, akan sambut wnaita itu dengan cambuknya Kim-liong-pian.
Ia mengarah ke lengan.
Bwee Tiauw Hong tidak berkelit atau menangkis, sebaliknya, ia papaki cambuk itu, untuk terus disambar, untuk dicekal dan dibarengi ditarik dengan keras!
Baca Juga: Nurseta Satria Karangtirta Kho Ping Hoo
Baca Juga: Nurseta Satria Karangtirta 1