Eps 1 Nurseta Satria Karangtirta - Kho Ping Hoo
Baca online Nurseta Satria Karangtirta - Kho Ping Hoo
Cersil Nurseta Satria Karangtirta - Kho Ping Hoo.
Nurseta Satria Karang Tirta (seri ke 02 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 01 TANAH PERDIKAN Lemah Citra merupakan sebuah dusun yang tidak banyak penduduknya.
Tanahnya subur, loh jinawi, tanahnya gembur airnya cukup, bahkan di musim kemarau pun sumber air di lereng bukit yang membentuk anak sungai itu tidak pernah kering.
Segala tumbuh-tumbuhan yang ditanam para petani tumbuh dengan suburnya sehingga tanah perdikan itu kalau dilihat dari atas bukit tampak ijo royo-royo menyegarkan penglihatan.
Hawanya pun sejuk di waktu pagi dan sore, hangat di siang hari, tidak terlalu dingin dan tidak terlalu panas.
Penduduknya percaya, bahkan yakin bahwa tanah di situ mendapatkan berkat yang berlimpah dari Sang Hyang Widhi karena tanah perdikan itu milik Sang Empu Bharada, seorang pertapa yang selain sakti mandraguna, juga luhur budi pekertinya, bijaksana, setia kepada Kerajaan Kahuripan dan selalu menjadi pembela kebenaran dan keadilan, menjadi penentang kejahatan dan keangkaramurkaan.
Tanah perdikan Lemah Citra itu merupakan tanah yang dihadiahkan Sang Prabu Erlangga kepada Sang Empu Bharada.
Wibawa Sang Empu yang bijaksana itu mendatangkan suasana tenteram dan damai di tanah perdikan itu.
Para penduduknya setiap hari bekerja dengan gembira dan tenang, yakin bahwa semua orang yang diperbudak nafsu-nafsunya menjadi tunduk dan lemah kalau memasuki daerah itu sehingga tidak pernah ada yang berani melakukan kejahatan.
Para penduduknya merasa berkecukupan sandang pangan papan.
Walaupun pakaian mereka sederhana, makanan juga seadanya dan rumah tinggal bersahaja, namun perasaan cukup itu letaknya dalam hati sanubari.
Berbahagialah orang yang merasa cukup hidupnya sehingga dalam keadaan bagaimana pun juga, dia akan selalu memuji syukur dan berterima kasih kepada Sang Hyang Widhi atas semua kasih dan berkatNya.
Apa pun yang dimakan terasa nikmat, apa pun yang dikenakan di badan terasa nyaman, dan bagaimanapun keadaan rumahnya terasa menyenangkan.
Demikianlah keadaan hati seorang yang selalu merasa diberkati dan menyerah kepada Sang Hyang Widhi, bukan menyerah lalu diam saja, melainkan penyerahan yang mendasari usaha sekuat memampuannya.
Berikhtiar atau berusaha sekuat kemampuannya sebagai kewajiban hidup mempergunakan semua alat tubuh dan pikiran menggarap bumi dan hasilnya sebagai pemenuhan kebutuhan hidup jasmani.
Penyerahan sebagai kesadaran bahwa di atas semua kuasa manusia ada Yang Maha Kuasa, di atas semua peraturan manusia terdapat Yang Maha Pengatur, dan di atas semua rencana manusia terdapat Yang Maha Pengatur.
Malam itu hawanya amat dingin di Lemah Citra.
Tanah dan segala yang berada di atasnya basah semua karena sejak sore tadi hujan turun deras dan menjelang tengah malam baru reda.
Akan tetapi malam itu gelap karena masih ada sisa mendung mengambang di atas Lemah Citra.
Tidak tampak seorang pun di luar rumah.
Semua orang merasa lebih enak berada di rumah bahkan sebagian besar telah tidur pulas karena pekerjaan sehari tadi cukup melelahkan.
Alangkah nikmatnya tidur malam itu setelah siang tadi bekerja berat.
Tubuh lelah, udara dingin, hati akal pikiran tidak terganggu apa pun.
Tidur di dalam rumah sederhana, di atas amben kayu atau bambu beralaskan tikar pun sudah nyaman sekali.
Rumah Empu Bharada yang terbuat dari kayu jati, juga hadiah Sang Prabu Erlangga juga sunyi.
Para cantrik yang menjadi murid merangkap pelayan Sang Empu, sudah tidur semua.
Kesunyian malam menjadi syahdu dengan adanya suara mahJuk malam, kutu-kutu walang atogo (segala macam serangga belalang dan jangkerik).
Dalam bilik sanggar pamujan yang sederhana, Empu Bharada duduk bersila di atas bale-bale di mana dia biasa duduk bersamadhi.
Dia tidak tidur, melainkan sedang tenggelam dalam samadhi, membiarkan sukmanya mengadakan kontak dengan Hyang Widhi Wasa melalui Suara Kehidupan yang tidak pernah berhenti mengiang ngiang dalam kepalanya, berpusat di belakang kedua matanya.
Seluruh keadaan dirinya berpusat pada suara itu yang kini terdengar bagaikan air hujan, atau berdesahnya angin di antara daun-daun, berkericiknya air sungai, begitu tenang, begitu menghanyutkan.
Suara-suara dari luar yang tertangkap oleh pendengarannya, suara keheningan (suaraning asepi), suara kutu-kutu walang atogo, seolah nyanyian yang mengikuti alunan lagu sorgawi yang terdengar tiada hentinya dalam kepalanya, terasa oleh seluruh panca inderanya, namun tidak menimbulkan suatu rangsangan, bahkan menenteramkan segala sesuatu yang berada di luar maupun di dalam dirinya.
Sang Empu membiarkan dirinya hanyut dalam suasana yang maha agung itu.
Tiba-tiba penglihatan batinnya melihat segala itu terjadi dengan jelas.
Dia melihat suatu tempat yang juga bukan dapat dinamakan tempat tertentu, bentuknya tidak dapat direka atau dikenal oleh akal pikiran, namun terasa amat indahnya.
Keindahan yang juga tidak dapat dikenal oleh akal pikiran, atau lebih tepat disebut kebahagiaan.
Lalu tiba-tiba Sang Empu mengerutkan alisnya.
Dia melihat atau lebih tepat merasakan angkara murka dan segala macam nafsu daya rendah berdatangan, bagaikan raksasa-raksasa dalam pewayangan, mengamuk dan mengacau tempat itu sehingga dia melihat kegelapan, kilat menyambar-nyambar, awan gelap menyelubungi dan menutupi semua keindahan atau kebahagiaan itu.
Menuruti nalurinya Empu Bharada segera berdoa, setelah dia merasa tidak kuasa melawan gerombolan raksasa itu.
"Duh Gusti, hanya kepada Padukalah hamba mengharapkan pertolongan. Terjadilah, duh Gusti, segala kehendak Paduka..."
Dengan khidmat dia berdoa terus dan tiba-tiba dia melihat cahaya putih meluncur dan cahaya putih ini menerjang gerombolan pengacau dan perlahan-lahan membuyar dan menghilanglah semua awan kegelapan yang tadi menutupi semua keindahan yang membahagiakan tadi.
Empu Bharada membuka kedua matanya.
Laki-laki setengah tua itu berusia sekitar lima puluh tahun, wajahnya cukup tampan dengan jenggot panjang hitam, matanya agak cekung dengan sinar yang lembut namun penuh wibawa, mulutnya selalu terhias senyum simpul membayangkan kesabaran dan pengertian.
Tubuhnya tinggi agak kurus.
Pakaiannya sederhana saja, serba hitam.
Empu Bharada ini merupakan seorang tokoh yang terkenal dan dihormati semua orang di kota raja Kahuripan.
Bahkan Sang Prabu Erlangga dan semua ponggawa Kahuripan menghormatinya.
Biarpun tidak menduduki jabatan apa pun karena dia tidak mau terikat oleh jabatan, Empu Bharada merupakan seorang yang selalu dimintai nasihat oleh Sang Prabu Erlangga apabila kerajaan menghadapi persoalan yang rumit.
Empu Bharada tak dapat melupakan cahaya putih yang mengusir semua kegelapan tadi.
Dia mengangguk-angguk.
"Duh Gusti, terima kasih bahwa dalam kegelapan Paduka mengirim Nur Seta (Cahaya Putih),"
Gumamnya. Lalu dia mengerutkan alisnya dan berbisik.
"Nurseta...?"
Dia mengangguk-angguk lagi dan menyimpan pengertian yang memasuki hati akal pikirannya untuk dirinya sendiri.
Dia tidak boleh membuka hal-hal yang belum terjadi kepada siapapun juga.
Kehendak dan rencana Sang Hyang Widhi Wasa harus tetap menjadi rahasia bagi manusia yang tidak berhak mengungkap atau mengetahuinya.
Empu Bharada lalu bangkit dan keluar dari sanggar pamujan, memasuki kamarnya dan merebahkan diri di atas pembaringan untuk membiarkan tubuhnya tidur, beristirahat.
Pemuda itu berjalan tergesa-gesa.
Dia seorang pemuda yang masih muda, usianya sekitar dua puluh tahun.
Wajahnya tampan, dengan mata lebar dan hidung mancung, mulutnya tersenyum mengejek.
Tubuhnya tinggi tegap sehingga dia tampak gagah.
Pakaiannya mewah dan dia seorang pemuda pesolek.
Sepasang matanya lincah dan terkadang mencorong tajam.
Akan tetapi pada saat itu, wajah yang tampan itu tampak muram, bahkan kedua matanya agak kemerahan, tanda bahwa pemuda itu menderita kelelahan lahir batin.
Pemuda ini bernama Linggajaya, murid Sang Resi Bajrasakti, datuk Kerajaan Wengker (Ponorogo).
Sebagai murid Resi Bajrasakti, Lingga jaya telah menguasai ilmu-ilmu yang ampuh, menjadi sakti dan dia sudah diangkat sebagai seorang senopati muda di Kerajaan Wengker dan mendapatkan nama pangkat Linggawijaya.
Senopati muda Linggawijaya!
Akan tetapi kini hatinya kesal sehingga wajahnya Nampak murung.
Dia merasa penasaran, kecewa dan marah sekali.
Sebagai senopati muda, dia mewakili Kerajaan Wengker, mengadakan persekutuan dengan para kadipaten atau kerajaan kecil lain seperti Kerajaan Wura-wuri di Lwarang (Lawang), Kerajaan Parang Siluman di pantai Laut Kidul dan dengan Kerajaan Siluman Laut Kidul di pantai Laut Kidul sebelah timur.
Namun persekutuan itu gagal menguasai Kahuripan, gagal menjatuhkan Sang Prabu Erlangga.
Kedudukan Sang Prabu Erlangga terlampau kuat dengan bantuan patihnya yang digdaya, yaitu Ki Patih Narotama dan banyak satria yang gagah perkasa dan sakti.
Usaha persekutuan itu gagal, bahkan mereka dipukul cerai-berai, banyak yang tewas dan sisanya melarikan diri, termasuk dia.
Dia harus melarikan diri, kembali ke Kerajaan Wengker.
Akan tetapi dia ingin singgah dulu di dusun Karang Tirta, kampong halamannya di mana ayahnya, Ki Suramenggala, menjadi Lurah Karang Tirta.
Segala keindahan yang terbentang luas di sekelilingnya ketika dia melakukan perjalanan dari Kahuripan ke Karang Tirta itu sama sekali tidak nampak olehnya.
Bahkan segala yang indah tampak buruk membosankan bagi Linggajaya yang hatinya sedang kesal dan murung.
Keindahan penglihatan, kemerduan pendengaran, segala hal yang menggembirakan hanya dapat terasa oleh hati yang bahagia.
Segala sesuatu serba indah dan mengenakkan.
Namun, apabila hati sedang murung, apapun juga terasa hampa dan tidak enak, tidak menyenangkan.
Mulut tersenyum berubah cemberut, mata bersinar berubah keruh, wajah berseri berubah suram muram.
Untuk melupakan kekesalan hatinya, Linggajaya atau Senopati Linggawijaya mengerahkan ilmunya lalu berlari cepat.
Tubuhnya meluncur cepat sekali seperti larinya seekor kijang menuju ke dusun Karang Tirta.
Dia telah menjadi senopati muda di Wengker.
Untuk apa ayahnya menjadi lurah yang dibawahi Kahuripan?
Dia akan memboyong keluarga ayahnya ke Wengker agar ikut menikmati kemuliaan yang diperolehnya di kerajaan itu.
Ketika dia memasuki dusun, beberapa orang dusun bertemu dengan dia.
Akan tetapi Linggajaya melihat betapa mereka itu, laki-laki maupun perempuan, hanya memandangnya sepintas lalu membuang muka, seolah-olah tidak mengenalnya atau tidak memperdulikannya.
Dia merasa heran bukan main.
Padahal, semua penduduk Karang tirta tahu belaka siapa dia!
Setelah dewasa dia pernah pulang ke dusun ini dan semua orang menghormatinya karena selain dia putera Ki Lurah Suramenggala, juga semua orang tahu bahwa dia seorang yang sakti mandraguna.
Dahulu, semua orang menghormat dan takut kepadanya, mencari muka, apa lagi para gadisnya, bersaing untuk merebut perhatiannya.
Akan tetapi mengapa sekarang mereka semua memalingkan muka darinya.
Bahkan ketika ada beberapa orang perawan dusun melihatnya, mereka membalikkan tubuh dan pergi menjajahnya!
Karena merasa heran, juga penasaran, dia mempercepat langkahnya dara mengejar seorang laki-laki setengah tua.
Dia menangkap lengan orang itu dan dengan kasar menariknya sehingga oraag itu hampir terpelanting.
Ketika orapg itu memandang dan mengenalnya, wajahnya berubah pucat dan matanya membayangkan ketakutan.
"Hemm, apakah engkau juga tidak mengenal aku?"
Bentak Linggajaya dengan ketus. Orang itu menjawab gagap "Saya... saya mengenal. Denmas adalah... Denmas Linggajaya..."
"Hemm, mengapa semua orang tidak ada yang menyapaku? Mengapa mereka tidak mau memandangku? Apa yang telah terjadi di dusun ini? Hayo jawab yang jelas!"
Linggajaya membentak.
"Maaf.... Denmas... karena.... karena ayah Denmas, Ki Lurah Suramenggala telah diusir dari dusun ini sehingga ketika melihat Andika memasuki dusun, kami semua takut terlibat dan lebih baik pura-pura tidak tahu dan menjauhkan diri."
Linggajaya terbelalak, kaget mendengar keterangan itu.
"Hayo ceritakan apa yang terjadi dengan Ayahku, ceritakan yang jelas semuanya. Awas, kalau engkau berani berbohong, akan kuhancurkan kepalamu!"
Dengan suara ditenang-tenangkan namun lirih, orang itu lalu bercerita.
"Beberapa bulan yang lalu, Ki Patih Narotama datang kedusun ini, Denmas, dan beliau yang memecat Ki Lurah Suramenggala dan mengusirnya keluar dari Karang Tirta. Sebagai pengganti lurah baru di sini, Ki Patih Narotama mengangkat Ki Lurah Pujosaputro."
"Keparat!"
Linggajaya mengepal tinju dengan geram.
"Dan ke mana perginya Ayahku?"
"Saya tidak tahu, Denmas. Saya kira tidak ada yang tahu karena Ki Suramenggala bersama keluarganya meninggalkan dusun ini tanpa pamit dan tidak memberi tahu ke mana perginya."
"Hemm, Ki Pujosaputro yang diangkat menjadi lurah baru itu, siapakah dia?"
"Dia adalah penduduk Karang Tirta sejak dulu, Denmas."
"Di mana lurah baru itu? Di mana rumahnya?"
"Dia menempati bekas rumah Ki Su-ramenggala...."
Linggajaya berkelebat pergi, meninggalkan orang itu terlongong dan tergesa-gesa dia lalu berlari pergi.
Ketika memasuki pekarangan bekas rumahnya, rumah Ayahnya, Linggajaya melihat empat orang laki-laki duduk di pendopo.
Mereka adalah para pembantu lurah.
Ki Lurah Pujosaputro sendiri tidak tampak karena dia berada di dalam.
Empat orang laki-laki itu terkejut sekali ketika tiba-tiba ada bayangan berkelebat dan tahu-tahu di depan mereka, telah berdiri Linggajaya yang tentu saja telah mereka kenal dengan baik.
Memang sejak Ki Lurah Suramenggala terusir dari Karang Tirta dan lurah dusun itu digantikan Ki Lurah Pujosaputro seperti telah ditentukan Ki Patih Narotama, seluruh penduduk Karang Tirta merasa lega dan senang.
Kehidupan di dusun itu menjadi tenteram dan kehidupan gotong-royong dapat dilaksanakan dengan rela dan sepenuh hati karena tidak ada lagi penindasan yang dilakukan oleh yang berkuasa di dusun itu.
Tidak ada lagi tekanan dan paksaan, tidak ada lagi pasukan jagabaya yang bertindak seperti tukang pukul.
Akan tetapi di samping perasaan senang dan tenteram ini, tetap saja semua orang merasa gelisah kalau mereka teringat akan Linggajaya, putera Ki Suramenggala.
Pemuda itu berwatak keras dan kejam, juga memiliki kesaktian.
Mereka membayangkan betapa akan kacaunya kalau pemuda itu muncul dan mengamuk karena ayahnya dicopot dari kedudukannya sebagai lurah dan diusir dari dusun itu.
Maka, dapat dimengerti betapa orang' yang ditanyai Linggajaya menjadi ketakutan dan dia berlari cepat dan menceritakan pertemuannya itu dengan para penduduk.
Demikian pula, empat orang petugas kelurahan itu gemetar dari muka mereka pucat begitu mereka mengenal siapa yang berdiri di depan mereka.
"Keparat, kalian sudah bosan hidup berani mengambil alih rumah dan kedudukan-Bapakku?"
Bentak Linggajaya dengan suara mengguntur sehingga menggetarkan seluruh rumah itu.
"Bukan kami... Denmas.... kami hanya... hanya melaksanakan perintah membantu Ki Lurah Pujosaputro..."
Seorang di antara mereka yang masih ada sisa keberanian untuk bicara sedangkan tiga orang lainnya sudah berjongkok dengan tubuh menggigil.
"Mana dia Pujosaputro? Suruh dia keluar, akan kuremukkan kepalanya!"
Linggajaya lalu menggunakan kedua tangan dan kakinya menampar dan menendangi meja kursi yang berada di ruangan pendopo itu sehingga prabotan itu hancur berantakan dan mengeluarkan suara hiruk pikuk.
Seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun muncul dari dalam.
Pakaiannya tidak mentereng akan tetapi berbeda dengan pakaian para petani dan sikapnya tenang.
"Anakmas Linggajaya, tenang dan bersabarlah. Ada persoalan dapat diurus dan dibicarakan, tidak perlu menggunakan kekerasan seperti itu."
Linggajaya memutar tubuh menghadapi orang itu.
"Engkau yang bernama Pujosaputro?"
"Benar, akulah Ki Pujosaputro."
"Hemm, tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Engkau telah berani mengambil-alih kedudukan Bapakku dan mengusirnya dari rumah kami ini. Engkau keparat, harus mati di tanganku!"
"Nanti dulu, Anakmas."
Kata Ki Lurah Pujosaputro yang walaupun tahu bahwa nyawanya terancam hebat, dia masih bersikap tenang dan tidak takut karena merasa tidak bersalah.
"Semua ini bukan kemauanku. Gusti Patih Narotama yang mencopot Kakang Suramenggala dan yang mengangkat aku menjadi lurah di sini."
"Tidak perlu menggertak aku dengan nama Ki Patih Narotama! Siapapun juga yang mengangkatmu, engkau harus mati di tanganku!"
Setelah berkata demikian, tangan kirinya bergerak ke depan seperti melempar sesuatu.
Terdengar suara mendengung-dengung seolah ada banyak sekali tawon beterbangan dan tampak sinar hitam menyambar ke arah Ki Lurah Pujosaputro.
Serangan itu sesungguhnya dahsyat sekali, merupakan ancaman maut yang mengerikan karena itu adalah Aji Bramara Sewu (Seribu Lebah) berupa senjata rahasia pasir yang dilemparkan dengan tenaga sakti diperkuat tenaga sihir.
Kalau mengenai tubuh lawan, pasir pasir itu akan menembus kulit memasuki daging dan meracuni tubuh sehingga lawan yang terkena pasir itu akan tewas dengan tubuh gosong!
Pada saat yang amat gawat dan berbahaya bagi keselamatan Ki Lurah Pujosaputro itu, tiba-tiba dari pintu dalam tampak sesosok bayangan berkelebat dan begitu ia mendorong kedua tangannya bergantian ke arah sinar hitam yang meluncur dari tangan Linggajaya, segenggam pasir itu terpukul runtuh!
Linggajaya terkejut dan memandang dengan sinar mata mencorong marah.
Kiranya yang muncul dan yang memukul runtuh pasirnya dengan pukulan jarak lauh yang ampuh itu seorang gadis cantik jelita.
Gadis itu masih muda sekali, usianya sekitar delapan belas tahun.
Tubuh yang sedang dan ramping itu berkulit putih kuning mulus, dengan lekuk lengkung yang indah menggairahkan, bagaikan setangkai bunga mawar yang sedang mekar semerbak harum.
Rambutnya yang hitam panjang itu digelung sederhana, menempel di tengkuk.
Sinom lembut melingkar-lingkar di sekitar atas dahi dan pelipisnya.
Alisnya melengkung kecil hitam, melindungi sepasang mata bintang yang jeli dan jernih.
Hidungnya mancung dan mulutnya memiliki bibir yang merah basah tanpa gincu dan setitik hitam tahi lalat di dagu membuat wajah itu manis sekali.
Akan tetapi sinar mata yang jeli itu tampak mencorong membayangkan kekerasan hati dan saat itu jelas ia tampak marah bukan main.
Kedua matanya menatap wajah Linggajaya dengan sinar berapi.
Linggajaya memandang heran dan marah.
Tentu saja dia mengenal baik gadis itu.
Gadis itu adalah Puspa Dewi, puteri Nyi Lasmi, seorang janda yang kemudian diambil sebagai selir oleh Ayahnya sehingga Puspa Dewi termasuk Adik tirinya walaupun tidak ada hubungan darah sama sekali di antara mereka karena ayah ibu mereka berlainan.
"Puspa Dewi!"
Dia menegur dengan marah.
"Engkau menentangku, membela orang yang telah mengambil-alih kedudukan Ayah kita?"
"Linggajaya, Ki Suramenggala Bapakmu itu bukan Ayahku lagi! Diantara kita tidak ada hubungan apa pun lagi, kita adalah orang asing satu sama lain"
"Ngawur kau! Ibumu adalah selir Bapakku, bagaimana engkau bisa berkata begitu? Engkau hendak murtad terhadap Ibu kandungmu sendiri yang tentu membela Ayahku yang menjadi suaminya?"
Pada saat itu terdengar suara yang lembut namun tegas.
"Linggajaya, aku tidak mengikuti Ayahmu yang melarikan diri. Aku bukan isterinya lagi!"
Linggajaya menoleh dan melihat seorang wanita berusia sekitar tiga puluh delapan tahun yang berwajah manis berdiri di ambang pintu.
Itu adalah Nyi Lasmi, ibu kandung Puspa Dewi yang tadinya menjadi selir ayahnya selama beberapa tahun akan tetapi tidak mempunyai anak.
"Bagus! Ternyata memang keluargamu merupakan orang-orang yang tak mengenal budi, murtad, bankan menjadi pengkhianat!"
Linggajaya marah sekali.
Tanpa adanya urusan ayahnya ini saja dia sudah merasa marah kepada Puspa Dewi.
Gadis ini telah diaku anak oleh gurunya sendiri, yaitu Nyi Dewi Durgakumala, seorang datuk wanita yang sakti mandraguna dan biarpun usianya sudah lima puluh tahun namun tampak cantik seperti baru berusia tiga puluh tahun saja.
Belum lama ini, kurang lebih setahun yang lalu, Nyi Dewi Durgakumala menjadi permaisuri dari Raja Wura-wuri bernama Adipati Bhismaprabhawa.
Karena gurunya yang menjadi ibu angkatnya menjadi permaisuri Wura-wuri, maka otomatis Puspa Dewi menjadi sekar kedaton (bunga, istana) Wura-wuri, menjadi puteri Sang Adipati Bhismaprabhawa.
Nah, sebagai puteri istana Wura-wuri, Puspa Dewi menjadi utusan atau wakil Kerajaan Wura-wuri untuk bergabung dan bersekutu dengan para kadipaten yang menentang Kahuripan dan berusaha menjatuhkan Sang Prabu Erlangga dari tahtanya.
Akan tetapi apa yang terjadi?
Puspa Dewi ini berkhianat!
Ketika persekutuan itu membantu Pangeran Hendratama yang hendak merebut kekuasaan Sang Prabu Erlangga, Puspa Dewi berbalik membantu Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama, menggagalkan usaha pemberontakan yang didukung para kadipaten itu.
Demikianlah, untuk perbuatan Puspa Dewi yang dianggapnya berkhianat itu saja Linggajaya sudah marah sekali.
Apalagi sekarang gadis itu muncul dan menentang dia dan Ayahnya, bahkan ibu Puspa Dewi sudah melepaskan diri dari Ayahnya.
Tentu saja Linggajaya menjadi marah dan membenci gadis yang tadinya digilainya itu karena memang Puspa Dewi amat cantik jelita.
"Linggajaya tidak perlu engkau membuka mulutmu yang busuk itu!"
Puspa Dewi yang galak itu membentak marah karena Linggajaya mengatakan ia dan Ibunya tidak mengenal budi, murtad dan pengkhianat.
"Semua tahu orang-orang macam apa adanya keluargamu! Ayahmu adalah seorang yang kejam dan jahat sekali, mengandalkan kedudukannya sebagai lurah dan memaksakan kehendaknya menindas rakyat di Karang Tirta selama bertahun-tahun. Siapa tidak tahu akan hal itu? Dan engkau sendiri, engkau adalah seorang muda yang jahat dan kejam. Engkau bersekutu dengan Pangeran Hendratama yang memberontak terhadap Sang Prabu Erlangga! Nah, siapakah yang menjadi pengkhianat? Bukankah engkau juga seorang kawula Kahuripan?"
"Bocah sombong!"
Linggajaya segera menyerang dengan melakukan pukulan jarak jauh.
Pukulan Aji Gelap Sewu itu dahsyat bukan main, mendatangkan angin yang amat kuat.
Namun Puspa Dewi yang maklum akan ketangguhan lawan, sudah siap sejak tadi dan segera menyambut dengan kedua kaki membuat kuda-kuda depan belakang, lutut ditekuk dan kedua tangannya terpentang seperti seekor burung terbang.
Pada saat lawannya mendorongkan kedua tangan kearahnya, ia pun menggerakkan tangan dari kanan kiri menyambut dengan dorongan yang kuat.
Itulah Guntur Geni yang tidak kalah dahsyatnya.
"Syuuuut.... blarrr....!!"
Sebuah meja besar yang berada di antara mereka pecah berantakan ketika dua tenaga sakti itu bertemu di udara dan menghimpit meja itu dari kanan kiri!
Baik Linggajaya maupun Puspa Dewi terdorong mundur tiga langkah sebagai akibat pertemuan dua tenaga sakti yang dahsyat itu.
Linggajaya yang selalu menganggap diri sendiri paling hebat, merasa penasaran sekali.
Dia tahu bahwa Puspa Dewi adalah murid terkasih dari Nyi Dewi Durgakumala yang sakti mandraguna yang merupakan seorang datuk berasal dari Blambangan dan kini menjadi Permaisuri Kerajaan Wura-wuri, maka tentu saja gadis itu memiliki kepandaian tinggi.
Akan tetapi dia merasa malu kalau kalah oleh seorang gadis muda.
Maka dengan marah dia sudah melolos senjata andalannya, yaitu sebatang pecut yang tadinya dipergunakan sebagai ikat pinggang.
Begitu di lolos, dia menggerakkan pecut itu ke atas.
"Tar-tar-tar-tarrr...!"
Pecut itu meledak-ledak di atas kepalanya dan tampaklah sinar berapi dan asap hitam seolah-olah ujung pecut itu mengeluarkan percikan api ketika dilecutkan.
Inilah pecut yang disebut Pecut Tatit Geni, senjata yang ampuh dan berbahaya sekali bagi lawannya.
Namun Puspa Dewi sama sekali tidak merasa gentar.
Bibirnya yang tipis dan merah membasah itu bahkan tersenyum.
Tangan kanannya meraih ke punggung dan tampak sinar hitam berkelebat.
Sebatang pedang telah berada di tangan kanannya.
Pedang itu mengeluarkan sinar hitam yang menyeramkan.
Itulah Pedang Candrasa Langking, pedang pusaka pemberian gurunya yang juga mengakuinya sebagai anak, yaitu Nyi Dewi Durgakumala.
Pedang ini bukan saja tajam dan amat kuat karena terbuat dari baja hitam yang langka, akan tetapi juga mengandung racun yang amat berbahaya.
Tergores sedikit saja oleh pedang ini, kalau lawan tidak memiliki obat penawar racun yang manjur, lawan itu akan tewas.
Kalau Linggajaya merasa penasaran kalau tidak dapat mengalahkan Puspa Dewi, sebaliknya gadis jelita ini maklum akan ketangguhan lawan dan tidak memandang ringan, maka sikapnya lebih hati-hati dan waspada dibandingkan Linggajaya yang sombong dan dibakar kemarahan dan penasaran.
"Heeiiitt... tar-tar-tarrr...!"
Linggajaya nenyerang dengan pecutnya.
Sinar pecutnya yang kemerahan menyambar-nyambar dari atas, bagaikan halilintar menyambar-nyambar kearah kepala Puspa Dewi.
Namun, gadis cantik jelita yang sakti mandraguna ini pun menggerakkan pelangnya.
Tampaklah sinar hitam bergulung-gulung dan mengeluarkan bunyi berdengung-dengung.
Terjadilah perkelahian mati-matian di ruangan pendopo kelurahan itu.
Orang-orang yang menonton, termasuk Nyi Lasmi, ibu Puspa Dewi, tentu saja menjadi ngeri menyaksikan sinar hitam dan sinar merah bergulung-gulung dan setiap kali ia sinar mencuat dan mengenai meja atau kursi, prabot itu tentu terbelah!
Di antara gulungan kedua sinar itu terkadang diselingi bunyi berdencing dan tampak bara api berpijar apabila kedua sennjata ampuh itu bertemu.
Tiba-tiba terdengar sorak-sorai dan puluhan bahkan ratusan orang-orang menyerbu ke dalam pekarangan rumah kelurahan itu.
Mereka semua mengacung-ncungkan berbagai senjata tajam.
Mereka adalah para pria penduduk Dusun Karang Tirta!
Laki-laki yang tadi dimintai keterangan oleh Linggajaya ternyata memberitahukan kepada para pemuda yang segera mengumpulkan semua pria yang berada di dusun.
Mereka tahu bahwa tentu putera bekas lurah Ki Suramenggala yang terkenal jahat itu akan mengganggu lurah yang baru.
Maka mereka lalu membawa senjata seadanya dan menyerbu kelurahan untuk melindungi Ki Lurah Pujosaputro yang mereka suka dan hormati karena lurah baru yang diangkat oleh Ki Patih Narotama itu ternyata merupakan seorang pemimpin yang adil, jujur, dan baik.
Linggajaya yang sedang bertanding melawan Puspa Dewi dan belum juga dapat mendesak gadis yang ternyata amat tangguh itu, menengok dan terkejut melihat ratusan orang itu.
Diam-diam dia merasa heran.
Dahulu, ketika Ayahnya yang menjadi lurah, para penduduk itu bagaikan sekawanan domba yang jinak dan lemah, menurut saja digiring kemana, tak pernah ada yang berani menentang.
Akan tetapi sekarang, mereka itu bagaikan sekawanan banteng yang siap menerjang siapa yang berani mengganggu kampung halaman mereka!
Merasa terancam bahaya kalau harus melawan Puspa Dewi yang dibantu ratusan orang Linggajaya lalu melompat jauh ke belakang dan dengan beberapa lompatan jauh dia sudah keluar dari pekarangan kelulrahan dan cepat melarikan diri meninggalkan dusun Karang Tirta, menuju ke barat, untuk kembali ke Kerajaan Wengker.
Kalau sudah tiba di sana, dia akan mengirim orang-orang untuk menyelidiki dan mencari kemana perginya Ayahnya dan sekeluarga ayahnya.
Wajah Linggajaya semakin muram dan keruh.
Dia merasa nelangsa, merasa betapa segala yang dia lakukan ternyata menemui kegagalan.
Usaha menjatuhkan Sang Prabu Erlangga dengan persekutuan yang tadinya tampak kuat dan meyakinkan itu, ternyata gagal dan persekutuan ttu diporak porandakan para pendukung Sang Prabu Erlangga sehingga mereka yang lolos dari maut terpaksa harus melarikan diri, kembali ke kadipaten masing-masing, termasuk dia yang harus kembali ke Kerajaan atau Kadipaten Wengker.
Kemudian, keinginannya untuk bertemu keluarga ayahnya dan mengajak mereka pindah ke Wengker juga gagal.
Bukan saja mendengar Ayahnya dipecat dari kedudukan lurah dan diusir dari Karang Tirta, bahkan niatnya membunuh lurah baru juga gagal karena Puspa Dewi melindungi lurah baru itu.
Dia terpaksa melarikan diri melihat Puspa Dewi hendak dibantu ratusan penduduk Karang Tirta!
"Sialan!"
Gerutunya dengan jengkel.
Dia merasa lelah sekali karena semenjak meninggalkan Karang Tirta, dia melakukan perjalanan siang malam dan hanya berhenti untuk melewatkan malam gelap, Bahkan dia lupa makan selama berhari-hari sehingga wajahnya yang tampan kelihatan agak kurus, matanya cekung.
Dia tiba di tepi Kali Watu.
Air sungai itu penuh karena beberapa hari ini hampir setiap malam turun hujan.
"Sialan!"
Gerutunya.
Kerajaan atau Kadipaten Wengker, ibu kotanya, sudah tak berapa jauh lagi dan dia terhalang oleh sungai ini.
Tiba-tiba dia mendengar suara orang bertembang, suara seorang laki-laki, suaranya biasa saja namun mengandung getaran yang menyentuh kalbu dan amat menarik perhatian sehingga Linggajaya menghentikan langkahnya dan mendengarkan penuh perhatian.
Tembang Dandang Gendis.
"Poma-poma, den gatekna kaki Uripira ana ing ngalam donya Saka Sibe Hyang jektine mulo kono tan suwung ing tumindak kang sarwa becik srana panembahira mring Hyang kang maha Gung mula yekti nyatanira maka Gusti yen mulih bali mring Gusti mengkono Karsanira."
Linggajaya tertegun. Bagaikan kilat isi tembang itu menyusup ke dalam benaknya. Dia tahu arti kata-kata itu yang kalau diterjemahkan kurang lebih begini .
"Camkan dan perhatikanlah, nak hidupmu di dalam dunia ini sesungguhnya berkat Kasih Hyang Widhi karena itu jangan kosongkan hidupmu dari tindakan yang serba baik (bajik) disertai penyembahanmu kepada Hyang Maha Agung maka sungguh kenyataannya datang dari Tuhan berpulang kepada Tuhan demikianlah kehendak-Nya."
Mulut Linggajaya menyeringai.
Huh, omong kosong orang-orang lemah, cemoohnya dan dia segera melangkah ke arah datangnya suara.
Akhirnya dia menemukan orang yang bertembang tadi.
Dia seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun lebih, Tubuhnya tinggi kurus namun tampak sehat dengan kulitnya yang halus kemerahan.
Wajahnya tampak lembut dan terang tampak agung dan penuh wibawa dengan jenggotnya yang panjang.
Rambutnya digelung ke atas dan pakaiannya sederhana, seperti pakaian pertapa.
Laki-laki itu memegang sebatang walesan (tangkai pancing) dan duduk di atas perahunya diam tak bergerak seperti patung.
"Hai, orang tua! Keluarlah dari perahumu dan kesinilah, aku mau bicara denganmu!"
Kata Linggajaya, suaranya terdengar memerintah.
Laki-laki setengah tua itu menoleh dan tersenyum.
Diam-diam Linggajaya terkejut melihat sepasang mata yang sekilas mencorong seperti mata harimau di tempat gelap, akan tetapi segera berubah lembut.
"Ada keperluan apakah dengan aku orang muda?"
"Sudahlah, jangan banyak bertanya. Keluarlah dari perahumu dan naiklah ke sini. Jangan banyak membantah atau engkau kulemparkan ke air!"
Orang itu bangkit berdiri dan melangkah keluar dari perahunya, melangkah ke darat lalu mendaki, meninggalkan perahunya yang diikat pada batu di tepi sungai.
Linggajaya memandang kepada kakek yang kelihatan ringkih (lemah) itu, lalu tersenyum.
"Nah, engkau tunggu saja di sini, aku mau memakai perahumu menyeberang."
Dia lalu melompat ke dalam perahu, melepaskan ikatannya dan mendayung perahu ke tengah tanpa menoleh lagi kepada kakek pemilik perahu yang ditinggalkannya itu.
Karena arus air yang memenuhi Kali Watu itu agak kuat, Linggajaya mengerahkan tenaganya untuk mendayung.
Akhirnya dia tiba di seberang dan tiba-tiba dia mendengar suara di belakangnya.
"Tinggalkan saja perahu itu, biar aku yang akan mengikatnya pada batang pohon itu."
Linggajaya terkejut dan dia menoleh ke belakang.
Matanya terbelalak lebar ketika dia melihat kakek pemilik perahu tadi berjalan mengikuti perahunya.
Berjalan di atas air!
Saking heran dan kagetnya, dia melompat dari perahu itu ke darat.
Dia melihat betapa dengan tenang kakek itu menarik tali perahu dan mengikatkan perahunya kepada akar sebatang pohon yang tumbuh di tepi sungai, lalu kakek itu melangkah ke darat.
Kini Linggajaya maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang kakek yang sakti mandraguna.
Gurunya, Sang Resi Bajrasakti, pernah bercerita kepadanya bahwa di nusantara itu terdapat beberapa orang yang demikian saktinya sehingga dapat berjalan di atas air.
Sekarang dia melihat dengan mata sendiri, maka tanpa ragu-ragu lagi dia lalu menjatuhkan diri menyembah di depan kaki orang itu.
"Heh-heh, apa yang kaulakukan ini orang muda?" ' "Paman yang mulia, saya Linggajaya mohon sudilah kiranya Paman menerima saya sebagai murid Paman."
"Hemm, Linggajaya, apa yang ingin kau pelajari dari orang seperti aku ini?"
"Paman, saya ingin mempelajari aji-aji kesaktian dari Paman."
"Aji kesaktian? Untuk apa? Kulihat engkau seorang pemuda yang sakti mandraguna. Untuk apa engkau ingin menambah kesaktianmu?"
"Untuk melawan mereka yang pernah mengalahkan saya, Paman, Untuk dapat memenuhi cita-cita saya dan untuk mencapai semua cita-cita itu, saya harus memiliki aji kesaktian yang tidak dapat dikalahkan siapapun juga."
"Ha-ha-ha-ha!"
Kakek itu tertawa geli.
"Betapa pun saktinya seorang manusia, dalam dunia ini kesaktian itu tiada lain hanya seperti permainan kanak-kanak, Linggajaya. Tidak ada manusia paling sakti di dunia ini. Betapa pun saktinya manusia tidak mampu menentang datangnya usia tua dan penyakit yang datang dan membuat dia lemah, juga tidak berdaya terhadap datangnya Sang Yama-dipati (Dewa Maut) yang mengambil nyawanya. Linggajaya, untuk mengalahkan semua musuh di dunia ini, caranya hanya satu."
"Apakah caranya itu, Paman?"
"Mari kita duduk di sana agar lebih santai kita bicara."
Kakek itu mengajak Linggajaya duduk di atas rumput tebal. Kemudian dia melanjutkan.
"Cara untuk mengalahkan semua musuhmu hanya satu, yaitu engkau harus lebih dulu dapat mengalahkan dirimu sendiri."
"Diri saya sendiri?"
"Ya, dirimu yang palsu, yang mengaku-aku sebagai jati dirimu, yaitu hati akal pikiran berikut seluruh anggauta tubuhmu yang telah dikuasai nafsu-nafsu setan. Jasmanimu yang selalu haus akan kenikmatan, lapar akan kesenangan yang menimbulkan dendam, kemarahan, kebencian, iri hati, angkara murka. Nah, jasmanimu yang kotor berasal dari debu itulah yang harus kau kalahkan lebih dulu. Dengan demikian, rohanimu yang tumbuh, bersatu dengan Kekuasaan Sang Hyang Widhi sehingga segala tindakanmu akan terbimbing oleh-Nya dan segala tindakan, ucapanmu, pikiranmu hanya menjadi alat yang dipilih oleh-Nya untuk menyalurkan berkat kepada sesama hidupmu di dunia ini."
"Wah, saya tidak mengerti, Paman. Saya ini seorang manusia hidup, untuk apa kalau tidak mengejar kebahagiaan hidup? Dan kebahagiaan hidup hanya dapat diperoleh kalau kita mempunyai kedudukan tinggi, memiliki kekuasaan, memiliki harta benda berlimpah, dan untuk mendapatkan itu, saya harus memiliki aji kesaktian yang tidak terkalahkan untuk memusnahkan semua musuh dan saingan saya!"
Kakek itu menghela napas panjang.
"Jagad Dewa Bathara! Gusti, segala Kehendak dan Rencana Paduka pasti terjadi, hamba tidak kuasa mengubahnya."
Ucapan ini dia keluarkan lirih seperti bicara kepada diri sendiri. Kemudian dia memandang kepada Linggajaya.
"Linggajaya, ceritakan dulu siapa dirimu dan apa kedudukanmu."
Karena dia menemukan kakek ini di daerah Kadipaten Wengker, bahkan tempat itu pun sudah dekat dengan ibu kota Wengker, tanpa ragu lagi Linggajaya lalu membuat pengakuan.
"Ketahuilah, Paman. Saya adalah senopati muda Linggajaya Kerajaan Wengker, murid Sang Resi Bajrasakti yang menjadi penasehat Sang Adipati Wengker. Baru-baru ini saya mengalami kegagalan di Kahuripan dan saya ingin membalas kekalahan itu. Akan saya hancurkan dan tundukkan Kerajaan Kahuripan, akan saya binasakan Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama, musuh-musuh besar saya. Untuk itu saya harus memiliki aji kesaktian yang lebih tinggi daripada mereka. Maka, demi kejayaan Kerajaan Wengker, bantulah saya, Paman. Terimalah saya menjadi murid Paman untuk mempelajari semua aji kesaktian yang Paman kuasai!"
"Jagad Dewa Bathara...! Andika telah keliru memahami hidup ini, Angger. Keliru, sungguh keliru kalau engkau berpendapat bahwa kedudukan, kekuasaan dan harta benda menjadi sarana manusia merasakan kebahagiaan hidup. Sarana kesenangan, mungkin. Akan tetapi apakah artinya kesenangan? Kesenangan itu tipis dan rapuh sekali, orang muda. Saat kepala atau sakit gigi saja sudah dapal mengusir semua kesenangan! Jenguklah orang-orang yang berkuasa dan orang-orang yang kaya-raya. Betapa mereka itu selalu dikejar rasa gelisah dan takut kehilangan kekuasaan, kedudukan atau harta benda. Makanan mewah hanya terasa lezat dalam bayangan seorang yang tidak mampu mengadakannya. Rumah dan istana mewah megah hanya terasa indah dan nyaman dalam bayangan seorang yang rumahnya kecil dan sederhana. Tengok keadaan mereka yang berkedudukan tinggi dan yang kaya-raya, dan lihatlah kenyataannya! Mereka yang setiap hari mendapat hidangan yang serba mahal dan mewah, sama sekali tidak merasakan kenikmatan hidangan itu, bahkan merasa bosan dan merindukan hidangan sederhana yang biasa dimakan para petani sederhana! Mereka yang tinggal dalam istana megah tidak lagi merasakan keindahannya, tidak merasakan kenyamanannya karena mereka merasa jenuh, mungkin mereka merindukan lapangan terbuka dimana mereka dapat bermandikan cahaya matahari, menghirup udara pegunungan segar dan berteduh di bawah pohon yang rindang! Kenikmatan hanya dapat dirasakan orang yang hatinya tenteram dan damai, Angger. Dan rasa tenteram dan damai itu hanya dapat dirasakan orang yang setiap saat berserah diri terhadap Kekuasaan Hyang Widhi. Penyerahan diri ini akan mendatangkan bimbingan kepada kita sehingga apa pun yang kita pikirkan, ucapkan dan lakukan pasti didasari Kasih yang datangnya dari Hyang Widhi Wasa dan kalau semua gerakan hati akal pikiran dan tubuh ini didasari Kasih atas bimbingan-Nya, sudah pasti benar dan baik. Kalau sudah begitu, ketenteraman dan kedamaian itu ada, sehingga Kebahagiaan selalu berada bersama kita."
"Wah, Paman. Saya ingin berguru kepada Paman mempelajari aji-aji kesaktian, bukan untuk mendengarkan wejangan-wejangan yang memusingkan itu."
Kata Linggajaya sambil mengerutkan alisnya dan suaranya terdengar penasaran dan hilang kesabarannya.
"Hemm, jawablah dulu, Senopati Linggawijaya! Seorang murid sudah semestinya menaati semua perintah gurunya. Nah, kalau Andika ingin menjadi muridku, siapkah Andika untuk menaati perintahku?"
Setelah diam meragu sesaat, Linggajaya yang ingin sekali memperoleh aji kesaktian dari kakek ini, menjawab.
"Tentu saja, saya siap dan bersedia menaati perintah Bapa Guru."
Dia langsung saja menyebut bapa guru.
"Bagus, kalau begitu perintahku yang pertama adalah begini. Mulai saat ini, berhentilah menjadi Senopati Kerajaan Wengker dan jangan lagi memusuhi Sang Prabu Erlangga."
Mendengar ini, Linggajaya bangkit berdiri. Mukanya merah, alisnya berkerut dan pandang matanya berkilat penuh kemarahan.
"Apa? Kiranya engkau adalah seorang pembela Kahuripan?"
Teriaknya penasaran.
"Aku tidak mencampuri permusuhan antara kerajaan. Aku hanya membela siapa saja yang benar, membela keadilan dan kebenaran dan menentang yang jahat."
"Keparat, kiranya engkau pun seorang pengkhianat, kawula Wengker akan tetapi membela Kahuripan!"
Dengan marah sekali Linggajaya lalu melompat ke depan dan mengerahkan seluruh tenaganya, menghantam ke arah kepala kakek itu dengan Aji Gelap Sewu! "Wuuuttt.... wirrr....!!!"
Tubuh Linggajaya terpental ke belakang seolah diterbangkan angin taufan!
Tadi dia memukul, akan tetapi pukulannya seolah mengenai perisai lunak yang tidak kelihatan, yang membuat tenaga pukulannya membalik dan tubuhnya terlempar ke belakang lalu terbanting jatuh!
Linggajaya terbelalak, merasa dadanya agak sesak.
Dia cepat bangkit berdiri, memandang ke arah kakek itu yang masih duduk bersila di atas rumput dengan sikap tenang dan mulut tersenyum sabar.
Linggajaya bukan bodoh.
Dia maklum bahwa orang itu memiliki kesaktian luar biasa dan dia mengerti pula bahwa kalau dia menyerang lagi dengan menggunakan senjata, tentu akibatnya akan semakin parah baginya.
"Orang tua, aku yang muda sekarang mengaku kalah. Akan tetapi katakan siapa namamu agar lain kali aku dapat mencarimu untuk menebus kekalahan ini!"
Kakek setengah tua itu masih tersenyum.
"Senopati Linggajaya, aku adalah Bhagawan Ekadenta. Aku menasihati engkau agar tidak memusuhi Sang Prabu Erlangga karena kalau engkau lanjutkan akibatnya akan buruk bagi dirimu sendiri. Keangkara-murkaan hanya tampak unggul pada permulaannya saja, akan tetapi pada akhirnya akan hancur. Camkanlah kata-kataku ini."
Akan tetapi Linggajaya tidak mau mendengarkan lagi.
Dia sudah melompat jauh dan melarikan diri menuju ibu kota Wengker.
Dia tidak akan melupakan nama Bhagawan Ekadenta.
Biarpun orang sakti mandraguna itu tidak mengaku sebagai pendukung atau pembela Kahuripan, namun jelas dia tidak akan berpihak kepada Wengker kalau terjadi perang antara kedua kerajaan itu.
Berarti, Bhagawan Ekadenta termasuk jajaran orang-orang yang tidak disuka dan harus dimusuhinya.
Kegagalan yang dialami persekutuan para tokoh kerajaan Wengker, Wura-wuri, Parang Siluman, dan Kerajaan Laut Kidul, membuat Adipati Adhamapanuda, Raja Wengker, menjadi kecewa dan kehilangan semangat untuk menentang Kahuripan.
Dan untuk menghibur hatinya karena kekecewaannya itu, hampir setiap hari Sang Adipati Adhamapanuda mengadakan pesta untuk dirinya sendiri.
Permaisurinya yang cantik genit diperintahkan untuk mempersiapkan segala keperluan untuk bersenang-senang itu.
Pesta itu diadakan hampir setiap malam, dengan menghidangkan bermacam-macam masakan daging bermacam hewan, bukan saja daging hewan ternak, melainkan dia memerintahkan agar dimasakkan daging binatang-binatang yang tidak umum dimakan orang.
Yang menjadi kesukaan Adipati Adhamapanuda adalah daging macan dipanggang setengah matang, bahkan lebih mentah daripada matang, dengan darah masih merah basah.
Minum-minuman towak dan arak yang memabokkan juga menjadi kegemarannya.
Sambil makan minum dilayani Dewi Mayangsari, permaisuri yang cantik genit, dibantu pula oleh tujuh orang selirnya, Adipati Adhamapanuda nonton dan mendengarkan para waranggana berjoget dan bertembang.
Joget para penari di Kadipaten Wengker sungguh jauh bedanya dengan tarian para penari Kahuripan yang tariannya lembut dan sopan.
Tarian para penari Wengker ini kasar dan gerakannya menggairahkan, penuh daya tarik membangkitkan berahi dengan memutar-mutar pundak, perut dan pinggul.
Kalau sudah makan kenyang dan minum sampai mabok, Adipati Adhamapanuda lalu bersenang-senang dengan para selirnya.
Akan tetapi, keadaan ini amat tidak menyenangkan hati Dewi Mayangsari.
Ialah yang selalu mendesak suaminya agar menentang Kahuripan dan berusaha membunuh Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama dari Kerajaan Kahuripan.
Kini melihat suaminya setelah persekutuan menentang Kahuripan itu gagal lalu setiap malam bersenang-senang, sama sekali tidak ada semangat untuk menentang Kahuripan, ia menjadi kesal dan marah.
Ia selalu menolak kalau suaminya mengajaknya bersenang-senang, tidak mau menanggapi kalau suaminya mengajaknya memadu kasih dalam kamarnya.
Ia mewakilkan kepada para selir muda untuk melayani Sang Adipati.
Dewi Mayangsari berusia hampir tiga puluh tahun, cantik jelita dengan tubuh padat langsing, tampak jauh lebih muda.
Dalam usia dua puluh tahun, ia menjadi permaisuri Adipati Adhamapanuda yang ketika itu berusia tiga puluh tujuh tahun.
Sekarang ia berusia sekitar dua puluh delapan tahun.
Delapan tahun menjadi permaisuri Adipati Adahamapanuda dan belum mempunyai keturunan.
Dewi Mayangsari sejak kecil mendapat pendidikan aji kanuragan karena ia adalah puteri seorang tokoh warok yang sakti, yaitu Ki Surogeni yang menjadi guru para warok di Wengker.
Di antara para murid itu adalah Ki Wirobento dan Wirobandrek.
Akan tetapi, tingkat kepandaian Dewi Mayangsari kini jauh lebih tinggi dibandingkan tingkat ayahnya sendiri!
Hal ini adalah karena selama tiga tahun ia mendapat guru baru.
Gurunya itu adalah Nini Bumigarbo yang di waktu mudanya bernama Ni Gayatri.
Nini Bumigarbo ini seorang datuk wanita yang sakti mandraguna.
Pada suatu malam, tiga tahun lebih yang lalu, Nini Bumigarbo secara aneh tiba-tiba muncul dalam kamar Dewi Mayangsari.
Tentu saja permaisuri ini terkejut bukan main.
Akan tetapi segera ia mengerti bahwa nenek yang muncul secara aneh seperti setan ini adalah seorang yang amat sakti yang memilih ia menjadi murid.
Nini Bumigarbo mengambil Dewi Mayangsari sebagai murid dengan syarat bahwa Dewi Mayangsari harus berusaha sekuat tenaga untuk menggerakkan suaminya agar memerangi Kahuripan dan berusaha membunuh Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama!
Setelah digembleng dengan tekun selama tiga tahun, Dewi Mayangsari menguasai ilmu-ilmu yang dahsyat, juga pandai menggunakan ilmu sihir yang menyeramkan.
Nini Bumigarbo kembali mengulang pesannya agar muridnya ini berusaha membunuh Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama.
"Harap Kanjeng Ibu Guru tidak khawatir. Saya pasti akan memusuhi Kahuripan dan akan berusaha agar dapat membunuh Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama. Tanpa perintah itu pun, sejak dahulu memang Kerajaan Wengker menjadi musuh besar Kahuripan. Akan tetapi mengapa Ibu Guru menghendaki kematian mereka berdua?"
Nini Bumigarbo menghela napas panjang.
"Aku menaruh dendam sakit hati kepada guru mereka, yaitu Resi Satyadharma. Karena membunuh resi yang amat sakti mandraguna itu tidak mungkin dapat kulakukan, maka aku sudah puas kalau dapat membunuh kedua orang muridnya itu."
"Akan tetapi Paduka memiliki kesaktian demikian tinggi, mengapa tidak Paduka bunuh saja mereka berdua itu sejak dulu?"
"Ah, kalau saja aku ada kesempatan untuk itu. Akan tetapi, tidak, Dewi Mayangsari, aku tidak dapat membunuh mereka dengan tanganku sendiri. Karena itulah maka aku memilih engkau untuk mewakili aku membunuh mereka."
"Mengapa tidak dapat?"
"Itu merupakan rahasiaku. Sudahlah, jangan banyak bertanya. Engkau sudah berjanji akan membunuh mereka, dan dengan bantuan pasukan Wengker dan juga orang-orang pandai di Wengker seperti Resi Bajrasakti, Senopati Linggawijaya dan lain-lain, engkau pasti akan berhasil."
Nini Bumigarbo tentu saja tidak mau menceritakan bahwa ia sudah berjanji kepada Bhagawan Ekadenta untuk tidak membunuh raja dan patihnya itu, maka ia tidak dapat turun tangan sendiri.
Kemudian Nini Bumigarbo berpamit dan meninggalkan istana Wengker.
Demikianlah mengapa Dewi Mayangsari menjadi kesal hatinya melihat suaminya agaknya tidak mau lagi menyerang Kahuripan dan kini hanya bersenang-senang saja.
Kalau pasukan Wengker tidak dikerahkan untuk menyerang Kahuripan, bagaimana mungkin ia akan dapat memenuhi perintah gurunya untuk membunuh Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama?.
Sore itu, seperti biasa, Adipati Adhamapanuda yang berusia empat puluh lima tahun itu mulai dengan pesta poranya.
Kini Dewi Mayangsari tidak lagi melayaninya makan.
Sudah beberapa hari ia tidak mau ikut berpesta dengan suaminya.
Bahkan sore itu ia keluar dari istana memasuki tamansari yang indah.
Matahari telah condong ke barat dan Dewi Mayangsari duduk termenung di atas bangku taman.
Sinar matahari yang kemerahan mengelus wajahnya.
Sepasang pipi yang berkulit halus dan putih kuning itu menjadi kemerahan oleh sinar matahari.
Alis yang hitam kecil melengkung itu berkerut, (Lanjut ke
Jilid 02) Nurseta Satria Karang Tirta (seri ke 02 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 02 bibir yang mungil kemerahan itu cemberut dan sinar matanya sayu, terkadang menyinarkan kemarahan.
Hidung yang kecil mancung itu berkali-kali menarik napas panjang.
Ia semakin muak dan benci kepada suaminya, Sang Adipati Adhamapanuda.
Dulu ia mau menjadi isterinya karena sebagai puteri seorang warok ia menjadi permaisuri adipati, berarti naik derajatnya.
Akan tetapi ia tidak pernah dapat mencinta Adipati Adhamapanuda yang bertubuh tinggi besar, mukanya penuh brewok dan tubuhnya berbulu seperti monyet, suaranya parau besar menjemukan.
Kini ia merasa kecewa, maka ia semakin muak dan benci kepada orang yang menjadi suaminya itu.
Suaminya itu mulai bermalas-malasan dan setiap malam makan minum bersenang-senang dengan para selirnya setelah mendengar pelaporan Linggajaya tentang kegagalan usaha persekutuan membantu pemberontak menggulingkan Sang Prabu Erlangga.
Sementara itu, di bagian lain dari bangunan istana itu, Linggajaya berunding dengan gurunya, Sang Resi Bajrasakti.
"Engkau benar, Linggajaya. Kerajaan Wengker harus dijadikan sebuah kerajaan yang besar dan jaya dan sekarang Inilah saatnya. Aku mendukung rencanamu itu. Adipati Adhamapanuda sudah sepatutnya disingkirkan. Dia lemah dan dibawah pimpinannya, tidak dapat diharapkan Wengker akan dapat menjatuhkan Kahuripan. Rencanamu yang pertama dan kedua harus kaulaksanakan sendiri dan engkau harus berhati-hati sekali karena Dewi Mayangsari sekarang bukan seperti dulu lagi. Ingat, ia adalah murid Nini Bumigarbo, walaupun aku sendiri belum tahu ajian apa saja yang ia dapatkan dari datuk wanita itu, namun aku yakin ia tentu memiliki kepandaian tinggi sekarang. Engkau harus pandai-pandai menarik dan menguasai hatinya. Nanti pada tahap ke tiga dan terakhir, akulah yang akan membantumu dan memperkuat kedudukanmu."
"Terima kasih, Bapa Guru!"
Kata Linggajaya girang.
"Harap jangan khawatir, rencana kita pasti berhasil."
"Sudahlah, cepat berangkat dan laksanakan!"
Sore itu, selagi Adipati Adhamapanuda mulai dengan pestanya makan minum sambil mendengarkan alunan suara pesinden dan menonton para penari bertubuh sintal memutar-mutar pinggul mereka, Linggajaya atau Senopati Linggawijaya tahu bahwa Permaisuri Dewi Mayangsari tidak ikut berpesta.
Dia sudah tahu bahwa permaisuri cantik itu diam-diam tidak suka dengan pesta pora yang dilakukan suaminya dan kini tengah duduk makan angin sejuk di dalam taman.
Linggajaya telah mandi sehingga tubuhnya segar, wajahnya yang tampan berseri.
Dia mengenakan pakaian baru, bersolek sehingga bertambah ganteng.
Pakaiannya menyiarkan bau harum cendana.
Ketika memasuki taman dan melihat Sang Permaisuri duduk termenung seorang diri di atas bangku taman yang panjang sambil memandang ke arah kolam di depannya, di mana tumbuh bunga-bunga teratai merah dan putih, dan banyak ikan berwarna hitam, putih, kuning dan merah berenang hilir mudik, Linggajaya menghampiri dari belakang.
Diam-diam dia berkemak-kemik membaca mantera Aji Pameletan Mimi-Mintuna.
Setelah membaca mantera, dia mengerahkan tenaganya dan meniup ke arah tubuh Dewi Mayangsari dari belakang, dalam jarak satu tombak lebih.
Dewi Mayangsari yang sedang melamun merasa ada angina menghembus tengkuknya dan hidungnya mencium harum cendana.
Jantungnya berdebar dan ia merasa ada sesuatu ketidak wajaran yang membuat tubuhnya terasa panas dingin dan jantungnya berdegup kencang, la lalu bangkit berdiri dan memutar tubuhnya.
Dewi Mayangsari tidak pantas menjadi murid Nini Bumigarbo kalau ia begitu mudah tunduk oleh aji pengasihan.
Ia segera dapat menyadari bahwa pemuda tampan yang berdiri di depannya ini tentu menggunakan aji pengasihan.
Ia mengerahkan tenaga batinnya dan pengaruh aji pengasihan yang membuat tubuhnya panas dingin dan jantungnya berdebar-debar itu pun lenyap.
"Hemm, Senopati Linggawijaya. Biar digunakan seribu satu macam aji pengasihan, kalau aku menolak, siapa akan mampu memaksaku? Sebaliknya, tanpa aji pengasihan, kalau aku mau, siapa pula yang akan melarangnya?"
Wajah Linggajaya berubah kemerahan.
Gurunya benar.
Dia harus berhati-hati terhadap wanita ini.
Jelas bahwa aji pengasihannya yang amat kuat itu dapat ditolaknya!
Akan tetapi dia tidak putus asa, bahkan mendapatkan harapan baik.
Bukankah permaisuri itu tadi juga mengatakan bahwa tanpa pengasihan sekalipun, kalau ia mau, siapa yang dapat melarangnya?
Maka dia segera tersenyum manis dan membungkuk dengan sembah ke depan dada.
"Maafkan saya, Gusti Puteri. Kalau kehadiran saya mengganggu peristirahan Paduka, biarlah saya mengundurkan diri."
"Tidak, Linggajaya. Kebetulan engkau datang. Aku ingin mengajakmu bicara tentang Kahuripan."
"Ah, terima kasih, Gusti Puteri. Saya akan senang sekali kalau dapat menceritakan dengan jelas apa yang Paduka ingin ketahui."
Setelah berkata demikian Linggajaya yang pandai mengambil hati itu lalu duduk di atas rumput di depan permaisuri.
"Nah, saya siap mendengarkan dan melaksanakan semua perintah Paduka."
"Ah, engkau adalah senopati muda kami. Tidak perlu merendahkan diri seperti seorang hamba sahaya, Linggajaya. Duduklah di bangku ini agar kita dapat lebih leluasa dan enak bicara."
"Saya tidak berani, Gusti Puteri."
"Hayolah, takut apa? Aku yang memerintahmu. Bangkit dan duduk di bangku ini."
Linggajaya tidak membantah lagi lalu duduk di atas bangku, memilih di ujung sana.
Tentu saja hatinya girang sekali akan tetapi dia tidak memperlihatkan kegembiraan itu dan bersikap sopan dan penuh hormat kepada permaisuri yang sedang dipikatnya itu.
"Linggawijaya, bagaimana menurut pendapatmu. Apakah Kerajaan Kahuripan yang dipimpin Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama itu benar-benar amat tangguh sehingga tidak mungkin ditalukkan?"
Linggajaya berpikir sejenak, lalu mengerutkan alisnya dan berkata.
"Menurut pendapat saya, Gusti Puteri, mereka itu juga manusia-manusia biasa saja dan pasukan Kahuripan tidaklah tangguh benar sehingga mereka itu pasti dapat ditalukkan!"
Suaranya mengandung ketegasan dan keyakinan.
"Hemm, kalau begitu, Senopati Linggawijaya, mengapa pemberontakkan Pangeran Hendratama yang didukung para tokoh yang mewakili Empat Kerajaan termasuk engkau sendiri, gagal sama sekali?"
"Kegagalan itu disebakan oleh beberapa hal, Gusti Puteri. Pertama, Pangeran Hendratama itu tidak becus menghimpun laskar sehingga pasukan Kahuripan yang dapat dibujuk untuk mendukungnya hanya sedikit dan tidak setia sehingga ketika bertempur, banyak yang cepat menyerah dan melarikan diri. Kedua, di antara para wakil Empat Kerajaan ada yang berkhianat, yaitu Puspa Dewi, murid dan juga anak angkat Nyi Dewi Durgakumala yang menjadi Permaisuri Wura-wuri. Ia berkhianat dengan berbalik membela Kahuripan dan lebih dari itu, ia sengaja mengirim laporan terlambat sehingga Wura-wuri terlambat pula mengirim bantuan pasukan. Dan yang ke tiga, sungguh menggemaskan, dua orang puteri Parang Siluman itu, agaknya mereka yang telah menjadi selir-selir Sang Prabu Erlangga dan Ki patih Narotama...."
"Maksudmu Puteri Mandari dan Lasmini?"
"Benar, Gusti Puteri. Mereka itu menjemukan sekali, agaknya mereka tidak tega kepada raja dan patihnya itu, atau mungkin karena terlanjur mencinta mereka sehingga tidak melakukan usaha sungguh-sungguh, bahkan mereka melarikan diri lebih dulu kembali ke Parang Siluman. Kalau saja ketiga hal itu tidak terjadi, sudah pasti sekarang Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama telah dapat dibinasakan dan Kahuripan dapat ditalukkan."
"Ya, sayang sekali. Akan tetapi setelah usaha itu gagal, mengapa sama sekali tidak ada gerakan dari semua Empat Kerajaan?"
"Itulah yang membuat saya merasa jengkel dan juga menyesal, Gusti Puteri. Mereka itu mungkin ketakutan terhadap Kahuripan setelah kegagalan itu sehingga tidak ada yang perduli lagi. Bahkan ada yang bersembunyi di balik pelesir berfoya-foya, mungkin agar tidak diketahui bahwa di dalam hati, mereka itu sebenarnya ketakutan. Ah, maafkan saya, Gusti Puteri! Bukan maksud saya untuk... maksud saya... saya tidak menyinggung Gusti Adipati...."
DEWI MAYANGSARI tersenyum memandang wajah pemuda itu.
"Tidak, Senopati Llnggawijaya, aku tidak menyalahkan engkau. Memang apa yang kaukatakan itu benar dan tepat sekalli cocok dengan suara hatiku. Mereka itu memang orang-orang pengecut! Termasuk Adipati Adhamapanudal. Ketahuilah Llnggawijaya, tidak ada orang yang merasa lebih penasaran lebih benci dan muak, daripada aku sendiri melihat ulah Adipati Adhamapanuda yang setiap hari hanya berpesta pora, mabok-mabokan, sedikit pun tidak mempunyai semangat untuk menentang musuh besar kita Kahuripan. Sungguh aku merasa muak dan benci sekali padanya!"
"Maaf, Gusti Puteri. Kalau Paduka tidak pernah mengeluarkan isi hati seperti itu, tentu saya tidak akan berani mengusulkan ini. Akan tetapi kalau Paduka menderita batin melihat semua foya-foya yang menyakitkan hati itu, mengapa Paduka tidak memegang sendiri kendalinya?"
"Lingga.... apa maksudmu?"
Berdebar rasa jantung Lingga jaya mendengar namanya disebut Lingga saja dan terdengar begitu mesra.
Dia menatap wajah wanita itu dan sepasang matanya membayangkan kemesraan dan cinta yang jelas sekali tampak, apalagi oleh seorang wanita yang sudah hampir tiga puluh tahun usianya, sudah mengenal betul apa yang terpancar dari dalam hati pria melalui pandang matanya.
Maka, permaisuri cantik itu pun segera mengetahui bahwa Sang Senopati muda ini tergila-gila kepadanya!
Hal seperti ini tidak aneh baginya karena banyak sudah laki-laki yang memandang kepadanya seperti itu!
Akan tetapi selama Ini la tidak pernah melayani para pria yang tergila-gila kepadanya.
Pertama karena la harus memegang kehormatannya sebagai seorang prameswari yang dimuliakan orang, ke dua karena ia tidak merasa tertarik kepada seorang pun di antara para pengagumnya Itu.
Akan tetapi kini, sejak setahun yang lalu ketika Linggajaya dibawa Resi Bajrasakti menghadap Sang Adipati, la sudah tertarik oleh ketampanan dan kegagahan pemuda itu.
Bahkan la yang mengusulkan kepada suaminya untuk mengangkat Linggajaya menjadi senopati dengan nama Llnggawijaya.
Dan kini, baru sekali ini mereka duduk bercakap-cakap berdua saja, ia semakin tertarik karena terdapat persamaan perasaan dan pendapat.
Maka ketika pandang matanya bertemu dengan sinar mata yang terang-terangan menyatakan kekaguman dan cinta dari pemuda itu, ia merasa jantungnya berdegup tegang.
''Maksud saya, Gusti Puteri.
Kalau Paduka yang memegang kendali atau memimpin langsung Kerajaan Wengker Ini, maka kita dapat menghimpun kekuatan dan kerajaan kitalah yang akan mampu menghancurkan Kahuripan dan membinasakan Erlangga dan Narotama!"
"Kita...?"
Permaisuri itu mendesak dan memandang tajam penuh selidik ke arah wajah Linggajaya.
"Ya, Paduka dan saya, kita ini. Saya akan membantu Paduka dengan setia dan saya rela berkorban nyawa untuk membantu Paduka!"
Dewi Mayangsari mulai terpikat.
Linggajaya memang seorang pemuda yang ganteng dan tutur bahasanya juga lembut, sopan dan memikat.
Ditambah lagi dengan sinar matanya yang mengandung daya meruntuhkan hati wanita, senyumnya yang menawan.
Hati Dewi Mayangsari yang memang sedang jengkel melihat ulah suaminya, segera terpikat.
"Lingga, katakan terus terang, mengapa engkau rela berkorban nyawa untukku? Mengapa? Hayo jawab, Lingga."
Pemuda itu menundukkan mukanya, tampak rikuh.
"Saya.... saya tidak berani menjawab Gusti Puteri. Saya takut Paduka akan marah kepada saya."
Cuaca mulai gelap.
Senja telah tua dan cuaca remang-remang, malam mulai menjelang.
Ada sesuatu dalam suara pemuda itu yang menggetarkan jantung Dewi Mayangsari.
Agar dapat melihat lebih jelas wajah dan sinar mata pemuda itu.
Dewi Mayangsari menggeser duduknya mendekat dan la emegang sebelah tangan Linggajaya.
Jari-jari tangan mereka saling menggenggam dan keduanya merasa kehangatan yang menggairahkan menyelinap dari tangan itu ke seluruh tubuh.
Melihat pemuda Itu diam saja seolah ketakutan, Dewi Mayangsari berkata lirih.
"Jangan takut, Lingga. Bagaimana aku dapat marah kepada engkau yang begini setia kepadaku? Katakan sajalah terus terang karena aku ingin sekali mengetahui. Mengapa engkau rela berkorban nyawa untukku?"
"Karena.... karena saya.... hemm, maafkan saya.... sesungguhnya saya mencinta Paduka dengan seluruh jiwa raga saya!" . Pernyataan cinta itu terdengar seperti bunyi gamelan dari sorgaloka bagi telinga Dewi Mayangsari. Betapa Indahnya! Dewi Mayangsari dibakar gairah berahi yang belum pernah ia rasakan sehingga sukar dikatakan siapa yang memulai lebih dulu, akan tetapi tahu-tahu dua orang itu saling rangkul dengan mesra. Dua orang itu tenggelam dalam gelora nafsu sehingga mereka lupa segala. Dewi Mayangsari lupa bahwa ia adalah seorang permaisuri, isteri Sang Adipati, sedangkan Linggajaya lupa bahwa dia seorang ponggawa, diangkat oleh Sang Adipati Adhamapanuda yang kini dia khianati. Selagi keduanya berasyik-masyuk seperti mabok sehingga kehilangan kewaspadaan, mereka tidak tahu kalau ada bayangan tinggi besar menghampiri mereka sampai dekat.
"Hordah!"
Orang bertubuh raksasa itu membentak.
"Siapa Andika, berani mencuri masuk tamansari?"
Dewi Mayangsari dan Linggajaya terkejut.
Buaian asmara tadi membuat mereka mabok dan lengah.
Mereka mengenal suara yang membentak itu.
Suara Limantoko, pengawal pribadi Adipati Adhamapanuda yang bertubuh raksasa dan memiliki tenaga sekuat gajah.
Akan tetapi jagoan ini pernah dikalahkan Linggajaya ketika pemuda itu baru datang di Wengker menghadap Sang Adipati kemudian dia diuji dan dihadapkan kepada raksasa ini.
Karena selagi bermesraan tadi mereka ketahuan Limantoko, maka Dewi Mayangsari berbisik kepada kekasihnya.
"Lingga, bunuh dia!"
Tanpa diperintah dua kali, Linggajaya melompat dan bagaikan seekor harimau kelaparan, dia menerkam dan menerjang pengawal pribadi Sang Adipati itu.
Karena dia menyerang untuk membunuh maka dia sudah mencabut kerisnya yang luk tiga belas, yaitu keris pusaka Kyai Candalamanik pemberian Resi Bajrasakti.
Serangannya demikian tiba-tiba dan cepat datangnya sehingga Limantoko tidak sempat menghindar lagi.
"Capp....!"
Keris pusaka yang mengandung racun itu memasuki rongga dada Limantoko dan mengenai jantungnya.
"Auggghhh....!"
Limantoko terhuyung sambil mendekap luka di dada yang mengucurkan darah. Akan tetapi selagi dia hendak berteriak, Linggajaya sudah menyusulkan sebuah tamparan Aji Siung Naga ke arah kepalanya.
"Wuuutt... prakkk"
Kepala itu pecah berantakan. Tubuh Limantoko terpelanting dan dia tewas seketika.
"Bagus, Lingga."
Dewi Mayangsari memuji.
"Kebetulan sekali. Kelancangan Limantoko ini menguntungkan kita. Dengarkan baik-baik, Lingga. Kita harus segera lakukan Ini."
Dewi Mayangsari mendekati kekasihnya, merangkul pundaknya dan menempelkan mulutnya dekat telinga Linggajaya.
Pemuda itu terkejut, akan tetapi hanya sebentar.
Kecerdikan Mayangsari membuatnya kagum.
Dia mencium bibir wanita itu dan berbisik.
"Akan kulakukan semua perintahmu, Dewi. Mari kita laksanakan seperti yang kaurencanakan itu."
Kini sikap dan kata-kata Linggajaya terhadap Dewi Mayangsari sudah berubah sama sekail, bukan sikap seorang bawahan terhadap atasan atau junjungannya, melainkan sikap dan kata-kata seorang laki-laki terhadap kekasihnya!
Terjadi kesibukan di malam yang gelap itu.
Sang Adipati Adhamapanuda sendiri masih tenggelam ke dalam pesta poranya, makan minum sepuasnya sambil menonton para penari menggoyang pundak dan pinggul sambil bernyanyi gembira.
Seperti biasa, para selir Sang Adipati, tujuh orang jumlahnya, melayani suami mereka dan ikut pula makan minum dengan gembira.
Dari permaisuri dan tujuh orang selirnya.
Adipati Adhamapanuda hanya mempunyai dua orang putera yang dilahirkan dua orang selirnya.
Dua orang puteranya itu bernama Rajendra dan Mahendra, berusia sepuluh dan delapan tahun.
Karena dua orang kakak dan adik ini tidak mempunyai saudara lain, maka mereka akrab sekali dan tidur pun mereka minta agar sekamar.
Mereka memiliki sebuah kamar sendiri, kamar yang cukup luas dan mewah.
Dan mereka ditemani seorang inang pengasuh, seorang wanita setengah tua berusia empat puluhan tahun.
Pada malam hari itu, seperti biasa, Raden Rajendra dan Raden Mahendra sudah berada dalam kamar mereka.
Mereka memang tidak diperbolehkan ikut hadir dalam pesta Sang Adipati Adhamapanuda.
Mereka bermain-main dalam kamar ditemani Nyai Ranu, sang inang pengasuh.
Suara gamelan terdengar sampai ke kamar mereka.
Seperti biasa pada malam-malam pesta yang lalu, para penghuni istana kadipaten tertarik untuk nonton pesta itu, walaupun tidak hadir di ruangan itu.
Tujuan mereka tertarik untuk menonton dan mendengarkan para penari yang berjoget sambil bertembang.
Karena perhatian para pelayan dan pengawal tertuju ke arah ruangan pesta, maka suasana dalam istana itu menjadi sunyi.
Tiba-tiba daun pintu kamar kedua orang pangeran muda itu terbuka dari luar.
Linggajaya melompat masuk sambil membawa sebuah ruyung besar.
Nyai Ranu terkejut dan menjerit.
Akan tetapi hanya satu kali saja ia menjerit karena ruyung Itu telah menyambar dan terdengar suara gaduh ketika kepalanya disambar ruyung dan tubuhnya terbanting ke atas lantai, tewas seketika!
Dua orang pangeran kecil itu terbelalak lalu berloncatan berdiri dengan muka pucat.
Melihat pengasuh mereka roboh mandi darah, mereka lalu menjerit minta tolong.
Akan tetapi Linggajaya sudah bergerak cepat, ruyungnya menyambar-nyambar dan dua orang pangeran kecil itu pun roboh dengan kepala pecah dan tewas seketika.
Setelah itu, Linggajaya cepat keluar, menyeret mayat Limantoko, setelah berada dalam kamar dia menaruh ruyung ke dalam tangan pengawal pribadi Sang Adipati itu dan dia sendiri berdiri dengan keris pusaka Candalamanik di tangan kanan!
Jeritan-jeritan itu memancing datangnya para pengawal dan pelayan.
Mereka terkejut sekali ketika memasuki kamar Pangeran.
Setelah mendengar dari Linggajaya bahwa Limantoko membunuh dua Pangeran dan pengasuh mereka, para pengawal segera lari melaporkan malapetaka ini kepada Sang Adipati Adahamapanuda.
Mendengar laporan mengerikan itu, Sang Adipati dan tujuh orang selirnya berlari-lari menuju ke kamar itu.
Tampak pula Sang Permaisuri Dewi Mayangsari keluar dari kamarnya dan ikut berlarian bersama mereka.
Dua orang selir Sang Adipati, ibu kandung dua orang Pangeran itu, menjerit-jerit, menubruk mayat anak-anak mereka dan meraung-raung.
Para selir lain dan para pelayan wanita juga ikut menangis sehingga suasana menjadi riuh dan menyedihkan.
Sang Adipati Adhamapanuda yang setengah mabok itu berdiri dengan wajah pucat memandang ke arah mayat kedua orang puteranya, lalu kepada mayat Limantoko.
Dia terhuyung akan roboh, akan tetapi Dewi Mayangsari cepat menangkap lengannya dan diajaknya suaminya itu keluar kamar.
Ia menarik Sang Adipati duduk di atas bangku yang terdapat di luar kamar, lalu berteriak memanggil.
"Senopati Linggawijaya, Andika ke sinilah!"
Sang Permaisuri memanggil.
Linggajaya yang sedang bercerita kepada para pengawai, cepat keluar dan menjatuhkan diri duduk bersila menghadap Sang Adipati.
Akan tetapi, saking kaget dan sedihnya, Adipati Adhamapanuda tidak dapat bicara dan diam saja sambil memandang Linggajaya dengan bingung.
Dewi Mayangsari yang bertanya kepada Linggajaya dengan suara lantang.
"Hei, Senopati Linggawijaya! Cepat ceritakan selengkapnya dengan jelas, apa yang telah terjadi di sini? Andika menjadi saksi tunggal, awas, jangan berbohong!"
Karena pertanyaan itu diajukan dengan suara lantang, semua orang mendengarnya dan kini mereka yang berada dalam kamar pun keluar untuk mendengarkan jawaban Senopati Linggawijaya.
Linggajaya lalu berkata dengan sikap hormat kepada Adipati Adhamapanuda.
"Maafkan hamba, Gusti Adipati dan Gusti Puteri, hamba sungguh menyesal sekali bahwa hamba terlambat dan tidak dapat menyelamatkan kedua orang Gusti Pangeran Alit (kecil) dari malapetaka yang membawa maut. Tadi hamba keluar dari kamar hamba dengan maksud menonton tarian. Akan tetapi hamba melihat berkelebatnya bayangan dan ketika hamba membayanginya, bayangan itu lenyap. Hamba menjadi curiga dan hamba kembali ke kamar untuk mengambil keris pusaka hamba. Ketika hamba keluar lagi dari kamar, hamba mendengar jeritan-jeritan dari kamar Gusti Pangeran ini, maka hamba cepat berlari ke sini. Ternyata hamba melihat Limantoko telah membunuh kedua orang Gusti Pangeran dan inang pengasuh mereka. Hamba segera menyerangnya dengan keris, lalu memukulnya dengan tangan kiri sehingga dia roboh dan tewas. Begitulah, Gusti, apa yang telah terjadi dan hamba menyesal sekali bahwa hamba terlambat menyelamatkan para Gusti Pangeran."
"Duh Jagad Dewa Bathara...!"
Adipati Adhamapanuda mengeluh dengan suaranya yang biasanya besar itu menjadi semakin parau.
"Mengapa Limantoko dapat melakukan kekejian ini? Padahal, sudah lama dia menjadi pengawal pribadiku yang setial Mengapa dia lakukan ini? Apa dia sudah gila....?"
Resi Bajrasakti yang baru saja datang ke tempat itu, menghampiri Sang Adipati, menyentuh lengannya dan berkata dengan suaranya yang penuh wibawa.
"Harap Paduka tenang, Adimas Adipati. Kematian adalah hak Sang Yamadipati dan sudah ditentukan oleh para dewa. Saya dapat menduga mengapa Limantoko melakukan perbuatan ini."
"Mengapa, Kakang Resi? Mengapa dia membunuh putera-puteraku?"
"Tentu saja bukan keluar dari hatinya sendiri, tidak ada sesuatu yang menguntungkan dia dengan membunuh kedua orang putera Paduka. Maka jelaslah bahwa dia pasti dipengaruhi orang lain dan siapa orang yang begitu membenci Paduka sehingga tega melakukan pembunuhan ini? Hanya ada satu orang, yaitu Sang Prabu Erlangga! Kerajaan Wengker merupakan musuh bebuyutan Kahuripan, maka saya merasa yakin bahwa peristiwa ini pasti didalangi oleh Raja Kahuripan itu."
Hening sejenak. Lalu tiba-tiba Adipati Adhamapanuda mengeluarkan teriakan parau seperti seekor binatang buas terluka.
"Jahanam engkau Erlangga"
Setelah berteriak seperti itu, Adipati Adhamapanuda terkulai lemas dan jatuh pingsan.
Dewi Mayangsari, dibantu para selir, segera mengangkat Sang Adipati ke dalam kamarnya.
Sejak saat itu, Adipati Adhamapanuda jatuh sakit.
Tidak ada dukun yang dapat mengobatinya.
Makin hari penyakitnya semakin parah.
Dewi Mayangsari, permaisurinya, turun tangan sendiri merawat Sang Adipati siang malam.
Bahkan ia tidak memperbolehkan selir-selir Sang Adipati menggantikannya merawat suami mereka.
Permaisuri ini merawat suaminya dengan penuh ketekunan dan tampaknya amat mencinta Sang Adipati.
Sementara itu.
ketika Adipati Adhamapanuda sakit berat, yang menggantikannya untuk sementara menangani urusan pemerintahan kadipaten adalah penasihatnya, Sang Resi.
Bajrasakti dibantu Senopati Muda Linggawijaya.
Dan ternyata dua orang ini dapat melaksanakan tugasnya dengan baik sekali.
Bahkan mengadakan perubahan-perubahan dan perombakan, terutama sekali ditujukan untuk memperkuat Kerajaan wengker.
Menambah jumlah pasukan dengan menerima para sukarelawan, memperbesar upah para perajurit, menambah kesejahteraan mereka.
Tentu saja tindakan Senopati Muda Linggawljaya itu mendapat sambutan gembira oleh pasukan Wengker dan dia memperoleh dukungan banyak pihak.
Kurang lebih setengah bulan sejak terjadinya peristiwa pembunuhan itu, Sang Adipati Adhamapanuda meninggal dunia karena penyakitnya yang tak dapat disembuhkan oleh para dukun dan ahli pengobatan.
Menurut kebiasaan atau peraturan yang sudah-sudah, kematian seorang raja atau adipati biasanya disusul dengan pengangkatan seorang adipati baru yang diambil dari seorang puteranya.
Akan tetapi karena dua orang putera Adipati Adhamapanuda sudah meninggal dunia, maka kedudukannya dapat digantikan oleh permaisurinya, apalagi mengingat bahwa Dewi Mayangsari seorang yang sakti mandraguna.
Akan tetapi, Dewi Mayangsari secara suka rela menyerahkan kedudukan adipati kepada Linggajaya.
Usul Dewi Mayangsari ini disetujui dan didukung pula oleh Sang Resi Bajrasakti.
Kalau dua orang yang tadinya memang telah merupakan orang-orang yang kekuasaannya hanya di bawah kekuasaan Sang Adipati mendukung pengangkatan Linggajaya sebagal Adipati baru di Wengker, siapa yang berani menentang?
Akhirnya semua ponggawa menyetujui pengangkatan itu dan mulai hari itu, Linggajaya dinobatkan sebagai Adipati Wengker dengan nama Sang Adipati Linggawijaya!
Penobatan sebagai adipati itu dirayakan oleh semua orang, dari para ponggawa, para perajurit dan juga rakyat Wengker.
Akan tetapi malam harinya, tiga orang mengadakan pesta sendiri yang hanya dihadiri mereka bertiga.
Mereka adalah adipati baru, Linggawijaya, Dewi Mayangsari, dan Resi Bajrasakti yang merasa gembira sekali.
Siasat mereka berhasil dengan baik sekali.
Tidak sukar bagi kita untuk menduga apa yang sebenarnya terjadi.
Setelah Linggajaya dan Dewi Mayangsari membunuh Limantoko karena pengawal itu memergoki mereka bermain asmara, lalu Dewi Mayangsari dan Linggajaya melaksanakan siasat mereka yang amat kejam.
Linggajaya membunuh dua orang pangeran kecil dan inang pengasuh mereka dengan menjatuhkan fitnah kepada Limantoko yang mayatnya dibawa ke kamar pangeran itu dan ruyungnya dipakai Linggajaya untuk melakukan pembunuhan.
Kemudian tiba giliran Dewi Mayangsari yang mencampurkan racun dalam minuman Adipati Adhamapanuda.
Sebagai murid Nini Bumigarbo tentu saja la pandai menggunakan racun, apalagi dibantu oleh Resi Bajrasakti sehingga tidak ada seorang pun ahli pengobatan yang dapat mengetahui bahwa Sang Adipati sakit karena keracunan.
Setelah Adipati Adhamapanuda tewas, giliran Resi Bajrasakti untuk mempergunakan pengaruh dan kekuasaannya sebagai penasihat adipati, untuk mendukung usul Dewi Mayangsari agar Linggajaya yang menggantikan kedudukan sebagai Adipati Wengker yang baru!
Setelah Adipati Linggawijaya menjadi penguasa Kerajaan Wengker, dia lalu mengangkat Dewi Mayangsari menjadi permaisurinya.
Kenyataan itu pun tidak mengherankan karena semua orang tahu bahwa biarpun usia wanita itu sudah dua puluh delapan tahun, namun ia masih amat cantik jelita dan tampaknya tidak lebih tua daripada Sang Adipati baru.
Tidak ada seorang pun, kecuali para bekas selir Adipati Adhamapanuda, yang menentang pengangkatan Dewi Mayangsari ini.
Tentu saja para bekas selir itu pun tidak ada yang berani berkutik.
Sang Resi Bajrasakti tentu saja mendapat kedudukan yang terhormat, bukan saja sebagai penasihat agung, akan tetapi juga sebagai guru Sang Adipati.
Tercapailah apa yang dikejar dan diinginkan tiga orang ini sehingga mereka mendapatkan kesenangan besar dalam hati mereka.
Mereka merasa senang?
Mungkin, akan tetapi seperti segala macam kesenangan di dunia ini, hanya sementara saja dan biasanya tidak bertahan lama.
Kesenangan sebagai buah dari pohon (perbuatan) kejahatan seringkali menjadi kutukan yang mendatangkan penderitaan.
Kesenangan duniawi hanya kesenangan jasmani dan apa yang menyenangkan jasmani biasanya disusul kebosanan karena hati akal pikiran segera mengejar yang lain lagi yang dianggap akan lebih menyenangkan daripada yang sudah diperoleh dan yang mulai membosankan itu.
Kesenangan memang dapat dicari dari dikejar, didapatkan lalu mendatangkan kebosanan dan disusul pengejaran lagi kepada kesenangan yang lain.
Demikian selanjutnya selama hidup.
Manusia dipermainkan dan dipancing kuasa kegelapan dengan umpan berupa kesenangan dan kenikmatan, yang membuat kita mata gelap dan untuk mencapai kesenangan itu kita terjang apa saja yang menghalangi kita untuk mendapatkannya.
Bahkan kita rela melakukan perbuatan sejahat apa pun.
Padahal yang dikejar-kejar Itu hanyalah kosong dan yang lambat laun membosankan.
Kalau kita sudah dicengkeram dan dikuasai nafsu angkara murka ini, kita tidak dapat menikmati apa pun yang telah kita miliki dan selalu membayangkan bahwa apa yang belum kita dapatkan dan yang sedang kita kejar-kejar Itulah yang akan menyenangkan sekali!
Hidup kita ini hanya akan menjadi serangkaian kesenangan semu, disusul kebosanan lalu keinginan mengejar kesenangan lain, kebosanan lagi dan demikian selanjutnya.
Pengejaran ini mendatangkan persaingan, perebutan, permusuhan, penghalalan segala cara, semakin menebalnya si-aku yang menipiskan bahkan menghilangkan kasih terhadap sesama kita serta pelanggaran terhadap larangan-larangan yang difirmankan dalam agama-agama.
Berbahagialah mereka yang dapat menerima apa pun yang mereka dapatkan, besar atau kecil, banyak atau sedikit, bahkan baik atau buruk, dengan puji syukur dan terima kasih kepada Sang Hyang Widhi karena hanya mereka inilah yang dapat apa yang disebut sebagai kebahagiaan itu.
Lihatlah di sana, seorang buruh petani menghadapi nasi dengan ikan asin dan sambal yang dibawa isterinya, makan dengan lahap dan lezatnya sungguh pun hampir setiap hari makannya hanya itu-itu juga, berikut sekendi ari.
Dan tak jauh di sana, si pemilik sawah, menghadapi nasi dan masakan daging ayam beberapa macam, berikut minuman kopi panas dan teh kental, bersungut-sungut ketika makan, sama sekali tidak dapat menikmati makanannya, mengomel kepada isterinya, mencela makanan itu mengapa lauknya daging ayam bukan daging kambing.
Si juragan ini hampir setiap hari mengomel, tidak pernah dapat menikmati apa yang dihadapinya!
Memang, syarat menikmati makanan adalah perut iapar, tubuh lelah, badan sehat.
Akan tetapi yang lebih utama adalah hati akal pikiran yang tenteram dan ketenteraman itu hanya dapat dirasakan orang yang selalu berserah diri dan memanjatkan puji syukur dan terima kasih dalam hatinya kepada Sang Hyang Widhi atas semua Kasih dan Berkah yang diiimpahkan-Nya kepada kita.
Setelah Puspa Dewi berada dirumah Ki Lurah Pusosaputro di dusun Karang Tirta, ia banyak duduk diam melamun keadaan dirinya dan ibunya.
Ibunya, ketika ia berusia lima tahun dan diculik Nyi Dewi Durgakumala, telah menjadi seorang janda muda.
Ibunya tentu saja merasa berduka dan putus asa ketika ia hilang dan akhirnya karena membutuhkan perlindungan dan hiburan, ibunya terbujuk oleh Ki Lurah Suramenggala dan menjadi selir lurah yang wataknya kejam dan jahat Itu.
Kemudian, ketika Ki Suramenggala dipecat sebagai lurah oleh Ki Patih Narotama dan diusir dari Karang Tirta, Nyi Lasmi, ibunya itu, tidak mau ikut dan untuk sementara tinggal di rumah kelurahan yang kini dihuni lurah baru yang diangkat Ki Patih Narotama, yaitu Ki Lurah Pujosaputro.
Berarti kini ibunya dan ia mondok di rumah Ki Pujosaputro itu.
Ia sendiri mengalami banyak hal yang saling bertentangan dengan batinnya.
Sejak berusia lima tahun, ia diambil murid, bahkan kemudian diaku sebagai anak, oleh datuk wanita Nyi Dewi Durgakumala itu.
Ia dilatih aji kanuragan, juga disayang oleh Nyi Dewi Durgakumala.
Biarpun ia merasa benci kalau melihat gurunya itu berbuat kejam dan hina, menculik dan mempermainkan pria-pria muda, namun karena gurunya amat sayang kepadanya, ia tidak dapat berbuat apa-apa kecuali menegurnya.
Saking sayang kepadanya, gurunya itu kadang-kadang menurut kalau ia tegur agar menghentikan perbuatannya yang jahat.
Kemudian, ibu angkat atau gurunya itu menjadi permaisuri Sang Adipati Bhismaprabawa, Raja Wura-wuri.
Dengan sendirinya ia sebagai puteri permaisuri Wura-wuri, lalu menjadi Sekar Kedaton (Bunga Istana) Kerajaan Wura-wuri.
Ketika Kerajaan Wura-wuri ikut pula dalam persekutuan empat kerajaan kecil berusaha membantu Pangeran Hendratama memberontak terhadap Sang Prabu Erlangga, Adipati Bhismaprabawa mengangkat puteri angkatnya itu, Puspa Dewi menjadi utusan dan wakil Wura-wuri.
Sebetulnya dalam hatinya, Puspa Dewi tidak setuju dengan gerakan memusuhi Kahuripan ini, akan tetapi karena merasa berhutang budi kepada gurunya yang menganggap ia puterinya sendiri, terpaksa ia menerima tugas itu dan bergabunglah ia dengan persekutuan pemberontakan itu.
Akan tetapi, pertemuan dan perkenalannya dengan Ki Patih Narotama dan Nurseta satria Karang Tirta murid mendiang Empu Dewamurti itu menambah kesadarannya bahwa dengan menjadi wakil Wura-wuri berarti ia membantu pihak yang jahat dan bersalah.
Sikap dan nasihat kedua orang itu menambah kuat keyakinannya bahwa tidak semestinya ia membela Wurawuri yang bersekutu dengan kerajaan-kerajaan lain yang dipimpin dan diwakili orang-orang jahat.
Maka, dalam gerakan itu, ia membalik dan bahkan membantu pihak Kahuripan.
La menyadari bahwa sebagai orang yang lahir di Karang Tirta wilayah Kahuripan, ia adalah kawula Kahuripan dan tidak semestinya ia membantu pihak jahat yang hendak memusuhi Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama yang arif bijaksana itu.
Setelah perang usai dan persekutuan pemberontak dapat dihancurkan oleh Kahuripan, tentu saja Puspa Dewi tidak berani kembali ke Kerajaan Wura-wuri.
Ia tahu bahwa Adipati Wura-wuri dan juga gurunya yang menjadi permaisuri Wurawuri pasti marah sekali kepadanya.
Karena itu, setelah perang usai, ia kembali ke dusun Karang Tirta.
Bukan main lega dan girang hatinya mendapat kenyataan bahwa Nyi Lasmi, ibu kandungnya kini telah melepaskan diri dari Ki Suramenggala dan ibunya mondok di rumah lurah baru yang diangkat oleh Ki Patih Narotama.
Ia memang tidak suka kepada Ki Suramenggala itu, juga kepada putera sang lurah itu, ialah Linggajaya yang la kenal sebagai seorang pemuda yang berkelakuan buruk itu.
Seperti telah diceritakan terdahulu, Puspa Dewi telah berada di rumah Ki Lurah Pujosaputro dimana ibunya mondok ketika Linggajaya menyerbu kelurahan itu Puspa Dewi melawannya dan Linggajaya melarikan diri melihat ratusan orang penduduk mengancam hendak mengeroyoknya.
Puspa Dewi menghela napas panjang ketika teringat akan semua itu.
Dua bulan telah lewat semenjak Linggajaya menyerbu kelurahan.
Ia merasa bosan berdiam diri di rumah itu, juga merasa tidak enak.
Ia dan ibunya mondok di rumah orang.
Apakah ibunya tidak mempunyai keluarga?
Juga keluarga dari pihak ayahnya?
Ia sendiri sampai sekarang belum tahu siapa sebenarnya ayah kandungnya yang oleh ibunya dahulu dikatakan telah tiada, telah meninggal dunia.
Pasti ada keluarga, baik dari pihak ibunya ataupun dari pihak ayahnya.
Jauh lebih baik menumpang di rumah keluarga sendiri daripada di rumah orang lain.
Ia merasa, sungkan sekali terhadap Ki Lurah Pujosaputro sekeluarga yang bersikap baik sekali.
"Dewi, mengapa engkau menghela napas?"
Tiba-tiba suara Ibunya yang lembut menariknya keluar dari dunia lamunannya.
"Oh, Ibu. Duduklah Ibu. Kebetulan sekali, aku ingin bercakap-cakap dengan Ibu."
Puspa Dewi menggandeng tangan Ibunya dan diajaknya duduk di atas bangku panjang yang berada di kamar mereka.
Waktu itu, malam dingin memasuki kamar menembus jendela kamar Itu.
Dari jendela yang terbuka, mereka duduk menghadap keluar dan dapat melihat bulan tiga perempat mengambang di langit yang cerah.
Dua orang wanita Ini mempunyai wajah yang mirip.
Puspa Dewi yang berusia sekitar sembilan belas tahun itu bertubuh padat ramping, dengan kulit yang putih kuning mulus seperti kulit ibunya.
Ibunya, Nyi Lasmi, juga masih cantik walaupun usianya sudah tiga puluh enam tahun lebih.
Bagi orang yang tidak mengenal mereka, melihat mereka duduk berduaan itu pasti mengira bahwa mereka itu kakak dan adiknya, bukan ibu dan puterinya.
"Ibu,"
Kata Puspa Dewi dengan hati-hati dan suaranya lirih.
"sejak tadi aku melamun dan memikirkan keadaan kita, Ibu. Terus terang saja, aku merasa rikuh (sungkan) sekali kepada Paman Lurah Pujosaputro dan keluarganya. Apakah kita akan mondok seperti ini terus dan merepotkan mereka?"
Nyi Lasml merangkul anaknya dan tersenyum.
"Tentu saja tidak, Dewi. Kalau tadinya aku mondok di sini, itu adalah karena desakan Ki Lurah sekeluarga mengingat bahwa aku hidup seorang diri. Setelah sekarang engkau pulang, tentu saja kita akan mencari tempat tinggal lain dan tidak lagi mondok di sini menyusahkan mereka. Akan tetapi aku masih bingung, Dewi. Kemana kita harus pindah? Ketahuilah bahwa ketika melepaskan diri dari Suramenggala, aku tidak membawa apa-apa. Selama ini, sandang pangan (pakaian dan makan) dan semua keperluanku ditanggung oleh Ki Lurah sekeluarga."
Puspa Dewi menghibur Ibunya.
"Untuk itu harap Ibu tidak khawatir. Aku menyimpan banyak perhiasan yang lebih dari cukup untuk membeli rumah dan pekarangan. Perhiasan itu kudapat dari Kerajaan Wura-wuri di mana aku dijadikan puteri istana. Akan tetapi, sudah kuceritakan kepada Ibu bahwa aku tidak akan kembali ke sana karena aku pasti akan ditangkap dan dihukum berat. Juga aku tidak ingin tinggal di Karang Tirta, Ibu. Aku ingin pergi bersama Ibu dan pindah ke tempat yang jauh dari sini."
"Hemm, ke manakah, Anakku?"
"Ibu, apakah Ibu tidak mempunyai saudara? Kakak atau Adik, atau Paman dan Bibi? Juga orang tua Ibu atau orang tua Ayah? Tidak mungkin kalau Ibu dan mendiang Ayahku tidak mempunyai keluarga sama sekali. Mari kita ke sana, Ibu, ke rumah keluarga ibu atau Ayah. Aku ingin mengenal keluarga orang tuaku, Ibu. Ibu, engkau mengapa?"
Puspa Dewi merangkul Ibunya ketika melihat betapa Nyi Lasmi menangis terisak-isak sambil menutupi muka dengan kedua tangannya.
"Ibu, mengapa Ibu menangis?"
Gadis itu merasa heran sekali, juga khawatir karena tidak biasanya Ibunya bersikap cengeng, apalagi menangis tanpa sebab.
Nyi Lasmi berusaha menahan tangisnya.
Puspa Dewi membantunya menghapus air matanya yang membasahi Kedua pipi Ibunya.
"Nah, tenangkanlah hatimu, Ibu. Ceritakanlah kepadaku, Ibu, agar kalau ada hal yang membuat Ibu berduka aku dapat ikut merasakannya."
Nyi Lasmi sudah dapat menghentikan tangisnya. Ia kini telah lebih tenang dan ia memegang kedua tangan puterinya seolah mencari perlindungan atau kekuatan.
"Anakku, Puspa Dewi, mendengar engkau bertanya tentang Ayah kandungmu, tentang keluarga kami, aku menjadi sedih. Maklumilah kelemahanku, Anakku, karena sejak bertahun-tahun ini aku selalu menekan perasaan ini. Sekarang, setelah engkau dewasa dan engkau menjadi seorang gadis yang sakti dan tangguh, kukira sudah tiba waktunya aku menceritakan semuanya kepadamu."
"Ceritakanlah, Ibu. Ceritakan tentang mendiang Ayahku."
Desak gadis itu.
"Nama Ayah Prasetyo, Ibu? Nama yang bagus sekali. Tentu mendiang Ayahku seorang tampan dan gagah sekali!"
Nyi Lasmi menghela napas panjang.
"Sekarang akan kuceritakan semuanya, Dewi, tidak ada yang perlu kurahasiakan lagi. Dengarlah baik-baik. Dahulu sebagai seorang gadis berusia enam belas tahun aku tinggal di dusun Munggung, sebelah timur ibu kota Kahuripan."
"Wah, aku dapat membayangkan. Ibu tentu merupakan seorang gadis cantik jelita, menjadi kembang dusun Munggung!"
"Yaahh, kecantikan yang bagi seorang wanita terkadang lebih banyak mendatangkan godaan dan kesusahan daripada kesenangan. Aku memang dianggap sebagai kembang dusun Munggung, dan hal itulah yang mendatangkan kesengsaraan bagiku. Aku berkenalan dengan seorang perwira pasukan pengawal yang masih muda, berusia dua puluh tahun dan kami saling bertemu dan berkenalan ketika perwira itu mengawal Tumenggung Jayatanu dari Kahuripan yang sedang berkunjung ke Munggung."
"Perwira itu tentu Prasetyo yang gagah!"
Kata Puspa Dewi.
"Engkau benar. Kami saling jatuh cinta dan setahun kemudian setelah kami berkenalan kami menikah dengan restu orang tua kami masing-masing. Aku ikut suamiku tinggal di kota raja, tinggal di rumah asrama yang disediakan Tumenggung Jayatanu untuk para perwira pasukan pengawalnya. Akan tetapi ketika aku mengandung dan kandunganku sudah delapan bulan, suamiku mengantar aku pulang ke Munggung agar kalau aku melahirkan, ada Ibuku yang merawatku"
"Dan yang Ibu kandung Itu adalah aku, bukan?"
"Benar, Anakku. Akan tetapi bersama dengan kelahiranmu yang mendatangkan kebahagiaan besar dalam hatiku, dating pula berita yang menghancurkan hatiku."
Puspa Dewi mengerutkan alisnya dan memandang wajah .Ibunya dengan tajam penuh selidik.
"Berita apakah Itu, Ibu?"
"Berita bahwa... bahwa Kakangmas Prasetyo, Ayah kandungmu itu... dia terpaksa menikah dengan Dyah Mularsih..."
"Eh...?"
Puspa Dewi mengerutkan alisnya dan sinar matanya mencorong.
"Siapa itu Dyah Mularsih, Ibu?"
"Dyah, Mularsih Itu anak tunggal dari Tumenggung Jayatanu,"
"Akan tetapi, mengapa Ayah terpaksa harus menikah dengannya?"
"Karena.... diam-diam Ayahmu, Kakangmas Prasetyo itu diam-diam memadu kasih dengan gadis bangsawan itu sehingga... Dyah Mularsih mengandung."
"Ah! Mengapa Ayah begitu. Ibu?"
"Aku tidak bisa menyalahkah Ayahmu. Dia seorang laki-laki muda yang gagah dan tampan. Sebetulnya puteri tumenggung itulah yang tergila-gila kepada Ayahmu dan selalu mengejarnya. Ayahmu ketika itu masih muda, dan aku sedang mengandung... maka tidak dapat aku menyalahkan kalau dia itu jatuh dan mengadakah hubungan sehingga Dyah Mularsih mengandung. Terpaksa dia harus bertang-gungjawab dan tidak dapat menolak ketika diharuskan menikah dengan gadis itu. Aku pun ketika itu menerima kenyataan dan menyabarkan hati, tidak merasa keberatan dimadu."
"Hmm, kalau begitu tidak ada persoalan lagi. Lalu mengapa Ayah meninggal dunia dalam usia muda, Ibu?"
"Nanti dulu, Dewi, biar kulanjutkan ceritaku. Setelah menjadi mantu Tumenggung Jayatanu, tentu saja Kakangmas Prasetyo lalu diboyong dan pindah tinggal di rumah gedung Tumenggung Jayatanu. Aku merasa malu untuk ikut ke sana, Dewi. Ayahmu memang datang dan hendak memboyong kita berdua ke rumah mertuanya, akan tetapi aku menolak. Aku malu, Anakku, membayangkan bahwa aku harus mondok dirumah maduku."
"Ibu benar! Kita orang kecil dan miskin tidak perlu menyembah-nyembah dan menjilati kaki orang-orang berpangkat dan berharta! Lalu bagaimana, Ibu?"
"Penolakanku itu membuat Sang Tumenggung marah. Ketika Ayahmu datang ke rumah kita, Sang Tumenggung menyusul datang dan di depan orang tuaku dan aku, Tumenggung Jayatanu memaksa Ayahmu untuk memilih. Dia tetap menjadi perwira dan mantu Sang Tumenggung dan tinggal di katumenggungan, menceraikan aku, atau dia memilih hidup bersama aku dan tidak diaku lagi sebagai mantu Sang Tumenggung dan bercerai dari Dyah Mularsih!"
"Hemm, pilihan yang tegas dan adil juga. Lalu bagaimana, Ibu? Ayah memilih yang mana?"
"Ayahmu bingung, Dewi. Kalau dia memilih hidup bersamaku, berarti dia dipecat dari pangkatnya sebagai perwira, padahal Ayahmu berkeinginan keras untuk meningkatkan pangkatnya sampai mendapat kedudukan tinggi. Pula dia harus meninggalkan Dyah Mularsih yang sedang mengandung. Dia bingung sekali dan aku merasa kasihan kepadanya, Dewi. Aku terlalu mencinta Ayahmu dan rela berkorban. Maka aku menganjurkan dia untuk meninggalkan kita dan melanjutkan pekerjaannya di kota raja."
"Ah, Ibu....!"
"Itulah yang sebaiknya untuk Ayahmu, Dewi. Kalau dia melakukan anjuranku, berarti yang berkorban perasaan hanya aku seorang. Akan tetapi sebaliknya kalau dia memilih hidup bersamaku dan meninggalkan Dyah Mularsih dan kedudukannya, berarti yang berkorban dua orang, yaitu Dyah Mularsih dan calon anaknya yang ditinggal suami dan Ayah, juga Kakangmas Prasetyo sendiri yang selain berdosa meninggalkan anak isteri di tumenggungan, juga kehilangan kedudukannya yang baik. Aku terlalu mencinta Ayahmu, Dewi, tidak tega aku melihat dia sengsara dan berduka karena memilih hidup bersamaku."
"Aih, Ibu, engkau terlalu mulia...."
"Tidak, Dewi, aku hanya melakukan Itu karena mencinta suamiku. Nah, setelah aku mengambil keputusan bercerai dari Ayahmu, muncul malapetaka lain yang disebabkan pula oleh apa yang dinamakan kecantikan itu. Seorang laki-laki putera demang yang memang sejak dulu agaknya jatuh cinta padaku, akan tetapi niatnya memperisteri aku gagal karena aku sudah menjadi isteri Ayahmu, ketika mendengar bahwa aku telah berpisah dari Ayahmu, lalu mencoba mendekati aku. Aku menolaknya karena selain aku tidak cinta padanya, aku juga sudah berjanji dalam hatiku bahwa aku tidak akan menikah lagi, akan hidup bersama engkau. Akan tetapi laki-laki itu menjadi penasaran dan hendak menggunakan paksaan. Dia datang bersama dua orang jagoannya dan hendak membawa aku dengan paksa. Ayahku melarangnya sehingga terjadi perkelahian dan tentu saja Ayahku tidak mampu melawan dua orang jagoan itu. Ayahku tertikam keris dan tewas..."
"Jahanam!"
Puspa Dewi membentak dan mengepal tinju.
"Sabar dan tenanglah. Dewi, biar kulanjutkan. Setelah Ayahku roboh dan Si Darsikun, putera demang itu menyeret aku yang menggendong engkau yang baru berusia enam bulan, dibantu oleh dua orang jagoannya, hendak memaksa aku masuk ke dalam keretanya, tiba-tiba muncul Kakangmas Prasetyo."
"Ayahku....!"
"Ya, ternyata Ayahmu kadang-kadang masih menjenguk kita. Dia bahkan masih memikirkan kebutuhan kita walaupun sudah bukan menjadi suamiku yang resmi lagi. Melihat aku diseret-seret tiga orang dan Ayahku tewas ditangisi Ibuku, Kakangmas Prasetyo marah dan mengamuk. Putera Demang itu, Si Darsikun dan dua orang anak buahnya, dihajar sampai mati."
"Bagus! Aku ikut bangga, Ayah ternyata masih melindungi Ibu!"
"Akan tetapi kematian Ayahku itu membuat Ibuku berduka sekali sehingga ia jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia sekitar sebulan setelah Ayahku meninggal. Dan aku mendengar berita bahwa Kakangmes Prasetyo mendapat kemarahan dan teguran keras dari mertuanya. Tumenggung Jayatanu marah karena Ayahmu telah membunuh putera demang dan dua orang jagoannya itu, juga menegur aku karena pembunuhan itu dilakukan Kakangmas Prasetyo karena hendak membelaku. Aku tidak ingin menyusahkan Ayahmu, Dewi, maka setelah Ibuku meninggal aku lalu pergi meninggalkan desa Munggung. Aku tahu bahwa kalau aku masih tinggal di Munggung, tentu Kakangmas Prasetyo masih suka datang menjenguk kita dan hal ini tidak disuka oleh keluarga katumenggungan. Berarti aku akan mengganggu kebahagiaannya. Muka aku mengalah dan aku pergi meninggalkan Munggung tanpa pamit kepadanya."
"Ah, mengapa begitu, Ibu? Kasihan Ayah."
"Tidak, Dewi. Dia tadinya sudah disuruh memilih menceraikan aku atau menceraikan Dyah Mularsih. Dia memilih menceraikan aku karena berat meninggalkan kedudukannya. Dia sudah memilih dan dia harus bertanggung Jawab dan berani menanggung akibat pilihannya itu. Aku lalu pergi merantau sampai jauh dan akhirnya setelah berpindah-pindah tempat selama belasan tahun, aku dan engkau tinggal di Karang Tirta."
"Apakah Ibu tidak pergi ke keluarga yang lain. Apakah Ibu tidak mempunyai saudara?"
"Tidak, Dewi. Aku adalah anak tunggal. Selama belasan tahun aku dapat mempertahankan janjiku untuk tidak menikah lagi. Aku sudah merasa berbahagia hidup berdua denganmu dalam keadaan miskin dan seadanya. Akan tetapi kemudian terjadilah malapetaka Itu. Engkau diculik orang! Dunia terasa hancur bagiku, kebahagiaanku hilang dan aku merana, kehilangan pegangan dan bingung. Dalam keadaan seperti Itu, datang uluran tangan Ki Lurah Suramenggala yang mengalami nasib yang sama, yaitu puteranya juga diculik orang. Dialah yang menghiburku, membantuku sehingga akhirnya aku dapat terbujuk dan menjadi selirnya. Akan tetapi engkau tahu, aku tidak pernah merasa berbahagia menjadi selirnya, apalagi setelah engkau pulang dan engkau kelihatan tidak suka melihat aku menjadi selir laki-laki yang kasar dan kejam itu."
"Memang aku merasa tidak suka, Ibu. Akan tetapi karena sudah terlanjur, maka aku pun tidak berani menyatakan ketidaksenanganku."
"Aku mengerti, Dewi. Kemudian engkau pergi lagi dan pada waktu engkau tidak ada, datang Ki Patih Narotama dan Ki Suramenggala dipecat oleh Ki Patih Narotama, kemudian dia diusir dari Karang Tirta. Kesempatan itu aku pergunakan untuk melepaskan diri darinya karena sebelumnya, aku tidak berani melepaskan diri. Nah, aku lalu mondok di sini, Dewi, dan keluarga Ki Pujosaputro sekeluarga menerimaku dengan baik."
"Ibu, kalau begitu.... mengapa Ayah meninggal dunia?"
"Tidak, Dewi. Setelah aku pergi meninggalkan Munggung, aku tidak pernah bertemu lagi dengan dia dan tidak pernah mendengar beritanya."
"Akan tetapi Ibu.... dulu selalu mengatakan bahwa Ayahku sudah meninggal?"
"Terpaksa aku berbohong padamu, Dewi, karena tidak mungkin kita pergi ke sana menemuinya, hal Itu akan mengganggu ketenteraman hidupnya."
"Jadi... dia masih hidup?"
Tanya Puspa Dewi setengah berteriak.
"Aku tidak tahu, Dewi. Mungkin dia masih hidup, akan tetapi tidak perlu kita membicarakan tentang dia. Tidak perlu mengganggu dia dan jangan sampai mengganggu kebahagiaan hidupnya."
Puspa Dewi bangkit berdiri, mengerutkan alisnya dan matanya menyinarkan kemarahan.
"Ibu terlalu lemahi Ibu menyiksa diri sendiri! Ibu bodoh!"
Ia membentak-bentak saking penasaran dan marah kepada Ayah kandungnya.
"Dewi, Ibumu ini mencinta Ayah kandungmu dan cinta sejati memerlukan pengorbanan. Aku rela sengsara asal dia bahagia, Dewi." (Lanjut ke
Jilid 03) Nurseta Satria Karang Tirta (seri ke 02 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 03
"Tidak bisa! Mungkin saja Ibu begitu lemah dan bodoh. Akan tetapi apakah Ibu tidak ingat aku? Aku ini juga anaknya, anak Prasetyo itu! Apakah aku juga harus berkorban? Ibu berkorban hidup sengsara dan menyeret aku pula, sedangkan Prasetyo itu enak-enakan, hidup bersenang-senang di kota raja! Tidak benar ini, Ibu. Aku yang akan menegurnya, aku yang akan membuka matanya, menyadarkan betapa besar dosanya terhadap Ibu!"
"Dewi..!"
Nyi Lasmi mengeluh dan menangis.Tiba-tiba terdengar suara orang dari luar rumah.
"Puspa Dewi, atas nama Gusti Adipati Bhismaprabhawa dan Gusti Puteri Dewi Durgakumala, kami perintahkan agar Andika keluar dan menyerah untuk kami tangkap dan kami hadapkan kepada beliau di Kerajaan Wura-wuri!"
Suara itu terdengar menggelegar karena diteriakkan dengan dorongan tenaga dalam yang kuat.
Mendengar suara ini, Puspa Dewi yang sedang marah karena cerita Ibunya, segera mendengus marah dan tubuhnya berkelebat keluar rumah.
"Dewi...!"
Nyi Lasmi berseru penuh kekhawatiran lalu terhuyung-huyung mengejar keluar.
Setibanya di pekarangan depan rumah kelurahan, Puspa Dewi berhadapan dengan lima orang laki-laki.
Sinar lampu yang tergantung di depan pendopo menambah terangnya sinar bulan sehingga la segera mengenal siapa lima orang itu.
Tiga orang di antara mereka adalah senopati-senopati yang terkenal dari Kerajaan Wura-wuri.
Mereka terkenal dengan julukan Tri Kala (Tiga Kala) yang terdiri dari Kala Muka, berusia enam puluh tahun, tinggi kurus dengan muka meruncing seperti muka tikus, mulutnya cemberut wajahnya keruh, pakaiannya mewah seperti pakaian bangsawan.
Orang ke dua adalah Kala Manik, berusia lima puluh lima tahun, tubuhnya gendut pendek, mulutnya tersenyum-senyum mengejek, di pinggangnya tergantung sebatang klewang (semacam golok), juga pakaiannya mewah.
Orang ke tiga adalah Kala Teja berusia sekitar lima puluh tahun, kepalanya gundul, tubuhnya tinggi besar dan wajahnya bengis, di pinggangnya tergantung sebatang ruyung.
Tri Kala ini adalah senopati-senopati Kerajaan Wura-wuri, terkenal sakti mandraguna.
Akan tetapi tentu saja Puspa Dewi sama sekali tidak gentar terhadap mereka.
Dulu, ketika ia ditugaskan oleh Adipati Bhismaprabhawa dan permaisurinya yang baru, yaitu Nyi Dewi Durgakmala yang menjadi gurunya, ia pernah diuji kedigdayaannya oleh Sang Adipati yang menyuruh Tri Kala ini menghadangnya.
Dalam pertandingan itu, ia dapat mengalahkan tiga orang senopati ini.
Maka, melihat mereka, Puspa Dewi memandang rendah.
Akan tetapi, selain tiga orang senopati Wura-wuri ini, ada dua orang lain menyertai mereka.
Dua orang yang pernah bertemu dengannya, bahkan ia sempat bertanding melawan mereka.
Puspa Dewi teringat akan pengalaman nya sekitar setahun yang lalu ketika ia membantu Nurseta yang dikeroyok oleh tiga orang, yaitu Mayang Gupita yang menjadi Ratu Kerajaan Siluman Laut Kidul, Dibyo Mamangkoro, dan Cekel Aksomolo, dua orang datuk sesat yang sakti.
Ia dan Nurseta berhasil mengalahkan dan mengusir mereka.
Kini, seorang di antara dua orang yang datang bersama Tri Kala adalah satu di antara mereka itu, yaitu Cekel Aksomolo yang berusia sekitar tiga puluh tahun, berpakaian seperti pertapa, membawa seuntai tasbeh berwarna hitam.
Tubuhnya tinggi kurus, agak bongkok dan mukanya mengingatkan orang akan tokoh penasihat Kurawa dalam cerita pewayangan yang bernama Bhagawan Durna.
Adapun orang ke dua belum pernah dilihatnya.
Dia seorang laki-laki berusia sekitar dua puluh delapan tahun, pakaiannya juga mewah, tubuhnya tinggi tegap dan wajahnya cukup tampan dan gagah, matanya yang tajam itu memandang Puspa Dewi penuh gairah dan sinar matanya seolah menggerayangi seluruh tubuh gadis itu, membuat Puspa Dewi mengerutkan alis dengan hati panas.
Pria gagah ini adalah Senopati Gandarwo, seorang senopati muda yang baru diangkat menjadi senopati di Wura-wuri.
Biarpun dia senopati muda, namun tingkat kedigdayaannya melebihi Tri Kala!
Ki Gandarwo ini adalah adik seperguruan Cekel Aksomolo, maka tentu saja dia sakti mandraguna.
Setelah diangkat menjadi senopati muda di Wura-wuri oleh Sang Adipati yang dibujuk oleh permaisurinya, Nyi Dewi Durgakumala, Ki Gandarwo mengundang kakak seperguruannya, Cekel Aksomolo untuk berkunjung ke Wurawuri dan membantu kerajaan itu.
Ki Gandarwo ini adalah seorang yang wataknya mata keranjang dan dia memang diam-diam telah menjalin hubungan asmara gelap dengan Nyi Dewi Durgakumala.
"Hemm, kiranya Tri Kala yang datang membuat ribut!"
Kata Puspa Dewi dan suaranya yang merdu itu mengandung ancaman yang membuat Tri Kala merasa tergetar jantungnya dan gentar.
"Aku tadi mendengar ada yang hendak menangkap aku? Hemm, coba ulangi, siapa keparat yang berani hendak menangkap aku?"
"Ha-ha, akulah yang diutus Kanjeng Adipati Bhismaprabhawa dan Kanjeng Puteri Dewi Durgakumala untuk memanggil engkau menghadap beliau ke Kerajaan Wura-wuri. Andika inikah yang bernama Puspa Dewi? Wah, ternyata Andika melampaui semua gambaran yang kudapatkan. Andika jauh lebih cantik jelita daripada yang dikabarkan orang. Puteri Puspa Dewi, karena Andika adalah sekar kedaton Wura-wuri, maka kami persilakan Andika untuk bersama kami pulang ke Wura-wuri, jangan sampai kami terpaksa harus menangkap Andika."
Makin dalam kerut sepasang alis yang hitam melengkung indah itu. Puspa Dewi merasa sebal melihat lagak dan gaya pemuda itu.
"Kamu siapakah?"
Bentaknya ketus.
"Ha-ha-ha, Andika belum mengenal saya? Saya adalah seorang senopati baru, Ki Gandarwo namaku, aku masih perjaka dan belum beristeri."
Puspa Dewi tidak mampu menahan kemarahannya lagi.
"Jahanam busuk, mampus kamu!"
Gadis itu sudah melompat dan menerjang Ki Candarwo dengan aji pukulan Guntur Geni. Tangan gadis itu tampak kemerahan seperti bara api ketika tangannya menampar ke arah kepala Ki Gandarwo.
"Haiiittt...!"
Bentaknya melengking.
Ki Gandarwo terkejut setengah mati ketika merasa ada hawa panas menyambar dari tangan gadis itu.
Akan tetapi dia bukan orang lemah.
Ki Gandarwo adalah adik seperguruan Cekel Aksomolo, maka tentu saja dia sudah memiliki aji kanuragan yang cukup tinggi.
Melihat datangnya pukulan yang tidak dapat dielakkan lagi itu, dia mengangkat tangannya untuk menangkis sambil mengerahkan tenaga saktinya.
"Syuuuttt... desss...."
Ki Gandarwo mengeluarkan teriakan kaget.
Tubuhnya terpental dan terbanting ke atas tanah karena terdorong tenaga yang amat kuat.
Untung dia memiliki kekebalan dan dengan menggulingkan tubuhnya dia menjauhkan diri agar jangan disusuli serangan selanjutnya oleh Puspa Dewi.
Puspa Dewi memang mengejar dan hendak memukul lagi.
Ia amat benci kepada pemuda yang ceriwis dan banyak lagak itu dan ingin membunuhnya.
Akan tetapi pada saat itu, Tri Kala dan Cekel Aksomolo sudah menghadangnya.
Puspa Dewi memandang kepada empat orang itu dengan sinar mata berkilat.
"Minggir atau kubunuh juga kalian!"
"Gusti Puteri,"
Kata Kala Muka yang cemberut.
"Harap paduka tidak menyusahkan kami. Kami hanya melaksanakan perintah Gusti Adipati dan Gusti Puteri, Ibu Paduka."
"Cukup! Pergilah dan jangan ganggu aku lagi!"
"Heh-heh, agaknya puteri ini hendak memberontak terhadap Kadipaten Wura-wuri!"
Kata Cekel Aksomolo dengan suara nya yang tinggi seperti suara wanita.
"Tri Kala Kalau aku tidak mau ikut kalian ke Wura-wuri, habis kalian mau apa?"
Puspa Dewi menantang.
"Gusti Adipati memerintahkan kami untuk membawa Paduka ke Wura-wuri, baik Paduka mau atau tidak. Kalau Paduka tidak mau, terpaksa kami mempergunakan kekerasan."
"Kalian kira aku takut terhadap kalian berlima? Majulah kalian, tambah lagi kalau kurang banyak! Aku tidak akan mundur selangkah pun!"
"Wah, galaknya! He-he-hi-hik! Mari, kita gempur gadis sombong ini"
Kata Cekel Aksomolo sambil memutar-mutar tasbeh hitam di tangannya sehingga terdengar bunyi berkeritikan tajam menembus telinga.
Bunyi biji-biji tasbeh yang diputar ini bukan sembarangan karena dapat dipergunakan untuk menyerang lawan melalui pendengarannya.
Kalau lawan yang diserang tidak memiliki tenaga sakti yang kuat, dia dapat roboh hanya karena diserang suara itu.
Gendang telinganya dapat pecah dan jantungnya terguncang.
Dan untaian tasbeh itu pun dapat menjadi senjata ampuh, bahkan biji-biji tasbeh itu dapat menjadi senjata rahasia yang disebut Ganitri (biji tasbeh) dan dapat mengejar lawan seperti tawon-tawon yang beracun.
Kala Muka juga sudah mencabut keris nya.
Kala Manik mempersiapkan klewang dan Kala Teja meloloskan ruyungnya.
Ki Gandarwo juga sudah siap siaga dengan pedangnya.
Lima orang itu, dengan senjata andalan masing masing di tangan, kini perlahan-lahan bergerak mengepung Puspa Dewi.
Namun gadis yang baru berusia sembilan belas tahun itu sama sekali tidak takut.
Ia mencabut pedangnya dan tampak sinar hitam berkelebat dengan suara berdesing.
Ia melintangkan pedangnya depan dada, berdiri tegak dan tidak bergerak sedikit pun.
Tentu saja ia tidak dapat melihat dua orang di antara lima pengeroyok itu yang mengepung di belakangnya.
Akan tetapi, perasaan dan pendengaran Puspa Dewi dapat menggantikan penglihatannya.
Ki Gandarwo, senopati muda Wura-wuri yang bertindak sebagai pemimpin rombongan, dan pada saat itu sedang marah karena tadi dia terpental dan terbanting roboh ketika beradu tenaga melawan Puspa Dewi.
"Serang... !"
Dia memberi komando dan lima orang itu sudah bergerak menyerang dari depan, kanan kiri dan belakang.
Senjata mereka menyambar-nyambar dengan ganasnya.
Puspa Dewi menggerakkan tubuhnya dan tampak sinar hitam bergulung-gulung di seputar dirinya ketika ia mainkan pedang hitam itu.
Puspa Dewi bukan hanya melindungi dirinya dengan perisai sinar pedangnya, melainkan ia juga membagi-bagi serangan dengan pukulan jarak jauh, yaitu Aji Guntur Geni.
Aji pukulan ini memang dahsyat sekali, menyambar-nyambar mengeluarkan hawa panas.
Akan tetapi lima orang lawannya juga bukan orang-orang lemah, terutama sekali Cekel Aksomolo dan Ki Gandarwo.
Betapapun juga, menghadapi amukan Puspa Dewi yang mengeluarkan seluruh kesaktiannya itu, mereka kewalahan juga.
Mereka sudah mencoba untuk mendesak, namun senjata mereka selalu terpental apabila bertemu dengan gulungan sinar hitam itu.
Selain itu, mereka harus waspada dan cepat mengelak apabila dorongan telapak tangan kiri Puspa Dewi yang mengandung hawa panas itu menyambar ke arah muka.
"Cring-cring-trangg...!"
Bunyi dentingan nyaring dari bertemunya pedang hitam di tangan Puspa Dewi dengan senjata para pengeroyoknya diikuti percikan bunga api membuat orang-orang yang datang merasa ngeri.
Penduduk dusun yang mendengar akan adanya keributan di pekarangan Lurah Karang Tirta, berbondong-bondong datang menonton.
Akan tetapi mereka hanya bergerombol di luar pekarangan, tidak berani masuk melihat betapa Puspa Dewi dikeroyok lima orang dan mereka bertanding dengan cepat sekali.
Tubuh mereka berkelebatan, sukar diikuti pandang mata penduduk dusun itu.
"Puspa Dewi...!"
Tiba-tiba Nyi Lasmi yang sudah berada di ambang pintu depan berteriak, penuh kekhawatiran.
Ia lalu berlari keluar dari pendopo, menghampiri medan perkelahian dengan nekat karena khawatir akan keselamatan puterinya.
"Ibu, jangan mendekat"
Teriak Puspa Dewi ketika melihat Ibunya mendekati tempat yang berbahaya bagi Ibunya itu.
Akan tetapi ia harus mencurahkan perhatiannya kepada para pengeroyoknya karena sedikit saja ia membagi perhatiannya tadi, nyaris pundaknya terkena sambaran ruyung di tangan Kala Teja.
Cepat ia mengelebatkan pedangnya menangkis karena serangan ruyung itu diikuti tusukan keris di tangan Kala Muka.
"Trangg.... cringgg....!"
Kala Teja dan Kala Muka terhuyung karena tangkisan pedang hitam itu kuat bukan main.
Akan tetapi terdengar bunyi mendesing pedang Ki Candarwo sudah menyambar dengan bacokan ke arah lehernya dari belakang.
Puspa Dewi memutar tubuh dan.
karena pedangnya tidak keburu menangkis, ia menggunakan tangan kiri untuk menampar pedang yang menyambarnya itu.
"Wuuuttt.... plakk!"
Ki Gandarwo juga terhuyung ke belakang.
"Rrrik-tik-tik-tik....!"
Tasbeh di tangan Cekel Aksomolo kini menyambar ganas, diikuti tikaman klewang di tangan Kala Manik. Puspa Dewi kini sudah sempat mengelebatkan pedangnya yang sekaligus menangkis dua senjata itu.
"Trakk-tranggg...!"
Dua senjata lawan itupun terpental dan selagi Puspa Dewi hendak membalas serangan, tiba-tiba ia mendengar ibunya menjerit.
"Ouhhh...., lepaskan aku, keparat!"
Puspa Dewi cepat melompat ke belakang dan memutar tubuh memandang.
Ia marah sekali melihat ibunya sudah diringkus Ki Gandarwo.
Nyi Lasmi mencoba untuk melepaskan diri dengan meronta-ronta, akan tetapi tentu saja ia tidak mampu berkutik melawan Ki Gandarwo yang kuat, kedua tangan Nyi Lasmi ditelikung ke belakang dan pergelangan kedua tangannya dicengkeram tangan kiri Ki Gandarwo yang menggunakan pedang di tangan kanannya untuk mengancam Nyi Lasmi dengan menempelkan pedangnya di leher wanita itu.
Sepasang mata Puspa Dewi berkilat.
Suaranya terdengar mengandung kekuatan dahsyat.
"Jahanam pengecut! Lepaskan Ibuku!"
"Puspa Dewi, menyerahlah dan aku akan melepaskan Ibumu."
Kata Ki Gandarwo, tegang dan gentar hatinya beradu pandang mata dengan gadis itu.
"Lepaskan atau kubunuh kamu!"
Kembali Puspa Dewi membentak dan pedang hitam di tangannya sudah bergetar.
"Mungkin aku mati di tanganmu, akan tetapi Ibumu akan lebih dulu mati!"
Kata Ki Gandarwo sambil menempelkan pedangnya lebih ketat di leher Nyi Lasmi.
"Dewi, jangan mau menyerah! Tidak mengapa dia membunuhku. Ibumu tidak takut mati!"
Nyi Lasmi berteriak. Ki Gandarwo tentu saja menjadi panik mendengar ini.
"Puspa Dewi, sekali lagi menyerahlah dan aku akan melepaskan Ibumu!"
Kala Muka lalu berkata.
"Gusti Puteri, sebaiknya Paduka menyerah saja dan membiarkan kami membawa Paduka menghadap Gusti Adipati."
Puspa Dewi merasa bingung dan tidak berdaya.
Lalu la berpikir cepat.
Yang terpenting sekarang adalah agar ibunya selamat.
Biarlah ia menyerah dan ditangkap, karena kalau ibunya selamat ia sendiri nanti akan dapat mencari jalan untuk melepaskan diri.
"Baiklah, aku menyerah. Lepaskan Ibuku."
"Ho-ho-hi-hik, tidak mudah begitu saja Andika menipu kami, Puspa Dewi!"
Kata Cekel Aksomolo sambi! tertawa.
"Jangan lepaskan dulu wanita itu, Gandarwo. Kalau ia dilepaskan, Puspa Dewi tentu akan melawan lagi. Puspa Dewi, kalau benar engkau mau menyerah,. lepaskan dulu pedangmu dan biarkan aku mengikat kedua tanganmu! Kalau engkau tidak menurut, terpaksa Ibumu kami bunuh dulu!"
Puspa Dewi maklum, bahwa percuma saja berbantahan dengan mereka.
Ia benar-benar ingin menolong ibunya, maka ia melepaskan pedang Candrasa Langking sehingga pedang hitam itu jatuh ke atas tanah.
Kemudian ia merangkap kedua tangan di belakang tubuhnya, menyerah untuk diikat!
Sambil terkekeh Cekel Aksomolo berkata kepada adik seperguruannya.
"Gandarwo, hati-hati, jangan sampai wanita itu terlepas sebelum Puspa Dewi kuikat kedua tangannya. Kalau ia menyerang jangan ragu-ragu, bunuh saja Ibunya itu lebih dulu!"
SETELAH berkata demikian, Cekel Aksomolo melolos sebatang sabuk lawe kuning dari ikat pinggangnya dan mengikat kedua pergelangan tangan Puspa Dewi di belakang tubuhnya.
Puspa Dewi tidak berdaya, tidak mau membahayakan keselamatan Ibunya.
Akan tetapi ia juga merasa bahwa tali yang dipergunakan mengikat kedua pergelangan tangannya itu bukan tali biasa, melainkan sabuk lawe yang sudah dirajah, yaitu di-manterai dan diisi dengan kekuatan sihir sehingga tidak akan mudah ia dapat melepaskan diri.
Setelah kedua tangannya terikat, Puspa Dewi berseru kepada Ki Gandarwo.
"Sekarang bebaskan Ibuku!"
Akan tetapi Ki Gandarwo tertawa.
"Ha ha ha, kami tidak mau terancam bahaya engkau mengamuk lagi, Puspa Dewi. Ibumu akan kami bawa pula agar kalau dalam perjalanan engkau membuat ulah, kami dapat membunuhnya!"
Ki Gandarwo lalu mendorong Nyi Lasmi.
"Hayo kau ikut dengan kami!"
Nyi Lasmi lari menghampiri dan merangkul Puspa Dewi.
"Ah, Dewi, mengapa engkau menyerah? Kini malah kita berdua yang tertawan. Mereka ini orang-orang yang licik dan curang!"
Tiba-tiba puluhan orang dusun penduduk Karang Tirta berduyun-duyun memasuki pekarangan itu sambil berteriak-teriak menuntut agar Puspa Dewi dan Nyi Lasmi dilepaskan.
Sikap mereka marah dan mengancam, bahkan ada yang mengacung acungkan parang, pisau, tongkat dan lain-lain.
Melihat ini, Tri Kala menyambut mereka dengan tamparan dan tendangan.
Belasan orang kocar-kacir, berpelantingan dan yang lain menjadi Jerih lalu mundur.
Akan tetapi ada seorang kakek yang tidak ikut mundur, bahkan dia melangkah maju dengan tenang.
Semua orang, termasuk Puspa Dewi, memandang ke arah kakek itu.
Sinar bulan ditambah sinar lampu dari pendopo cukup terang sehingga Puspa Dewi dapat melihat wajah kakek itu dengan jelas.
Kakek itu sukar ditaksir berapa usianya, akan tetapi agaknya sudah lebih dari enam puluh tahun.
Tubuhnya tinggi tegap dan masih tegak, langkahnya juga tegap, walaupun lembut dan perlahan.
Pakaian kakek itu berupa jubah berwarna kuning yang potongannya amat sederhana.
Rambutnya panjang dan hampir putih semua, dibiarkan terurai di atas pundak dan punggungnya, yang di atas dibelah tengah.
Dahinya lebar, mata seperti mata kanak-kanak, bening lembut dan mata itu juga tampak gembira, sesuai dengan mulutnya yang selalu mengembangkan senyum.
Wajah kakek ini termasuk tampan dan gerak-geriknya lembut.
Melihat ini, Puspa Dewi mengerutkan alisnya.
Kakek itu mencari mati, pikirnya, ia tidak mau kalau ada orang lain sampai menjadi korban karena hendak membelanya.
Maka ia cepat berseru dengan lantang.
"Eyang, pergilah jangan mendekat, jangan mencampuri umsanku. Berbahaya sekali bagimu. Pergilah, Eyang!"
Kakek itu memandang kepadanya dan senyumnya mengembang dan ketika pandang mata mereka bertemu, Puspa Dewi terkejut dan tertegun.
Ia pernah melihat pandang mata seperti itu dan ia teringat.
Yang memiliki pandang mata seperti itu adalah Ki Patih Narotama, Sang Prabu Erlangga, dan Nurseta!
Akan tetapi, pandang mata mereka, bahkan sinar mata Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama sekalipun, tidak sekuat dan sehebat sinar mata kakek ini yang membuat ia tertegun dan seolah tidak dapat mengeluarkan kata-kata lagi, hanya memandang dengan terbelalak.
Kini kakek itu sudah tiba di depan Tri Kala.
Kala Muka membentak marah.
"Heh, pergi kamu! Apakah kamu ingin pula kupukul?"
"Shanti shanti shanti...!"
Kakek itu berkata lirih namun suaranya terdengar oleh semua orang, begitu jelas terdengar walaupun lirih, bahkan terdengar oleh penduduk dusun yang berada di luar pekarangan.
"Aku tidak ingin dipukul, akan tetapi kalau Andika ingin memukulku, silakan."
Kata-katanya diucapkan dengan lembut dan bukan merupakan tantangan, lebih seperti orang menyerah.
Mendengar jawaban ini, Kaia Muka menjadi marah.
Tadi dia tidak segera menampar atau menendang karena dia melihat orang itu tampak ringkih dan pakaiannya bukan seperti orang dusun, lebih mirip pakaian seorang pertapa atau pendeta.
Kini, mendengar ucapan itu, dia melompat ke depan dan melayangkan tangan kanannya untuk menampar dada orang itu sambil membentak marah.
"Pergilah kamu!!"
Semua orang memandang dengan hati tegang dan ngeri.
Kakek itu tentu akan terpental dan terbanting keras seperti mereka yang tadi terkena tendangan atau tamparan tiga orang itu.
Akan tetapi, semua orang terbelalak ketika melihat bahwa yang terjengkang bukan kakek yang dipukul, melainkan Kala Muka sendiri!
Padahal, semua orang melihat bahwa tamparan itu belum sampai menyentuh dada kakek itu.
Kakek itu tersenyum dan wajahnya yang bersih, tanpa jenggot tanpa kumis itu, tampak sabar.
"Shanti-shanti-shanti..., Andika memetik buah perbuatan Andika sendiri, Ki Sanak."
Ucapan yang maksudnya menasihati itu diterima oleh Kala Muka sebagai ejekan.
Dia melompat berdiri dan kini dia menyerang lagi, menggunakan kedua tangannya, memukul dengan dorongan penuh tenaga sakti ke arah dada kakek itu.
Akibatnya lebih parah lagi.
Tubuh Kala Muka terpental sampai tiga tombak dan terbanting keras.
Padahal serangannya tadi belum menyentuh dada lawannya!
Kini tiga orang Kala itu maklum bahwa kakek itu bukan orang biasa, melainkan seorang yang memiliki kesaktian.
Maka, dengan marah mereka bertiga mengeluarkan senjata masing-masing.
Kala Muka mencabut kerisnya, Kala Manik mengeluarkan klewangnya dan Kala Teja mengeluarkan ruyungnya.
Kakek ini harus dibunuh dulu agar jangan menjadi penghalang.
Seperti dikomando, ketiganya menerjang ke depan.
Kala Muka menusukkan kerisnya ke arah perut, Kala Manik membacokkan klewangnya ke arah leher dan Kala Teja menghantamkan ruyungnya ke arah kepala.
Kakek itu masih diam saja, berdiri santai dengan mulut tersenyum.
Semua orang merasa ngeri bahkan banyak yang memejamkan mata, tidak tega melihat tubuh kakek itu menjadi bulan-bulanan tiga macam senjata itu.
Akan tetapi kembali mereka terbelalak heran ketika melihat betapa sebelum senjata itu menyentuh tubuh kakek itu, Tri Kala terpental ke belakang dan terbanting jatuh sampai terguling-guling.
Melihat ini, lima orang itu terkejut bukan main.
Kini mereka menyadari sepenuhnya bahwa kakek itu bukan hanya sakti biasa saja, melainkan sakti mandraguna.
"Orang tua, kalau Andika masih menentang kami, terpaksa kubunuh wanita ini!"
Kata Gandarwo.
Dia menekan pedangnya lebih kuat ke leher Nyi Lasmi.
Akan tetapi kakek itu menuding ke arahnya dan tiba-tiba Ki Gandarwo terjengkang sehingga Nyi Lasmi terlepas dari pegangannya.
Nyi Lasmi berlari menghampiri Tuspa Dewi, akan tetapi Cekel Aksomolo menghadangnya dan hendak menangkapnya.
Kembali kakek itu menudingkan telunjuknya ke arah Cekel Aksomolo dan laki-laki yang seperti Pendeta Durna ini terpelanting!
Melihat semua ini, Kala Muka yang sudah mendapat pesan Adipati Bhismaprabhawa bahwa kalau tidak dapat menangkap Puspa Dewi lebih baik gadis itu dibunuh saja, lalu menggunakan kesempatan itu untuk membawa kerisnya dan lari menghampiri Puspa Dewi, langsung menusukkan kerisnya ke arah lambung gadis itu!
Biarpun kedua lengannya diikat ke belakang tubuhnya, namun Puspa Dewi masih dapat bergerak dengan lincah.
Ia mengelak dari tusukan keris itu dengan loncatan ke samping, kemudian ia memutar tubuhnya dengan cepat dan kakinya mencuat, merupakan tendangan kilat yang menyambar ke arah tubuh Kala,Muka.
"Wuuuttt... desss!"
Tubuh Kala Muka terlempar dan jatuh berdebuk di atas tanah.
Melihat keadaan mereka kini terancam bahaya, tanpa dikomando lagi lima orang itu segera melarikan diri meninggalkan pekarangan dan sebentar saja mereka lenyap ditelan kegelapan malam.
Nyi Lasmi berusaha untuk melepaskan ikatan pada kedua pergelangan tangan puterinya, akan tetapi, tidak berhasil.
Ikatan itu kuat bukan main.
"Mari kubantu melepaskan ikatan itu,"
Terdengar suara lembut. Nyi Lasmi menengok dan ia melihat kakek tadi sudah berdiri di dekatnya.
"Ah, terima kasih, Paman. Tolonglah, ikatan itu kuat bukan main dan saya tidak dapat membukanya."
Kakek itu tersenyum dan tangannya menyentuh ikatan sabuk lawe itu.
Tiba-tiba saja ikatan itu putus dan kedua tangan Puspa Dewi bebas!
Puspa Dewi tadi melihat kesaktian kakek iru, dan kini kembali memperlihatkan kesaktiannya.
Ikatan yang demikian kuat sekali sentuh saja sudah putus!
Maka tanpa ragu lagi ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kaki orang tua itu dan menyembah.
"Kanjeng Eyang, banyak terima kasih atas pertolongan Eyang. Saya berhutang budi dan nyawa kepada Eyang. Saya mohon, sudilah kiranya Eyang menerima saya menjadi murid Eyang agar saya mendapat kesempatan untuk melayani Eyang."
"Sadhu-sadhu-sadhu...! Hanya Sang Hyang Widhi Maha Penolong dan hanya kepada Dia-lah kita mengucapkan syukur dan terima kasih. Shanti-shanti-shanti....'"
Kakek itu lalu memutar tubuhnya dan melangkah pergi dari situ.
"Kanjeng Eyang....!"
Puspa Dewi bangkit dan hendak mengejar.
"Dewi...!"
Nyi Lasmi mengejar dan merangkul puterinya.
"Engkau hendak ke mana, Nak?"
"Ibu, Ibu melihat tadi betapa saktinya Kakek itu. Aku harus berguru kepadanya, Ibu, agar kelak dapat melawan orang-orang jahat itu. Sebaiknya Ibu tinggal di rumah Paman Lurah sini dulu dan menunggu sampai saya pulang. Saya harus berguru kepada Kakek itu lalu saya akan pergi mengunjungi Ayah Prasetyo!"
Setelah berkata demikian, sekali melompat Puspa Dewi sudah lenyap ditelan kegelapan malam.
"Dewi....!"
Akan tetapi teriakan dan panggilan Nyi Lasmi itu tidak mendapatkan jawaban.
Ki Lurah Pujosaputro dan keluarganya yang sejak tadi mengintai dan tidak berani keluar, kini berlari menghampiri Nyi Lasmi yang menangis.
Mereka menghibur Nyi Lasmi dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
Para penduduk juga bubaran dan kembali ke rumah masing-masing, tiada hentinya membicarakan peristiwa yang mereka tonton tadi.
Hati Puspa Dewi merasa girang karena akhirnya ia dapat melihat bayangan kakek itu.
Untung bulan tidak terhalang mendung sehingga ia dapat melihat bayangan itu.
la segera mengerahkan tenaganya untuk mengejar, tidak berani memanggil-manggil karena khawatir akan mendatangkan kesan lancang atau kurang ajar.
Akan tetapi, Puspa Dewi tertegun dan membelalak-belalakkan kedua matanya untuk memandang lebih jelas menembus cuaca yang remang-remang itu.
Ia mengerahkan tenaga saktinya untuk berlari cepat, diseling loncatan-loncatan jauh, akan tetapi sungguh aneh bukan main, karena jarak antara ia dan kakek itu tetap sama!
Ia tidak pernah dapat mendekati, padahal ia mengerahkan ilmu berlari cepat dan kakek itu tampaknya hanya berjalan seenaknya, melangkah satu-satu.
Puspa Dewi menjadi penasaran sekali dan terus melakukan pengejaran ke manapun bayangan kakek itu pergi.
Ternyata kakek itu tidak pernah berhenti sejenak pun!
Dia terus saja melangkah, tampak santai namun kenyataannya, Puspa Dewi yang mengerahkan tenaga sakti untuk berlari cepat sama sekali tidak pernah dapat menyusulnya.
Puspa Dewi sudah merasa lelah sekali karena selama lebih dari setengah malam ia terus berlari cepat yang menggunakan banyak tenaga.
Sampai matahari fajar mulai menyingsing, kakek itu tidak pernah berhenti, bahkan kini mendaki bukit-bukit dari Pegunungan Seribu.
Makin payahlah Puspa Dewi melakukan pengejaran karena sekarang ia harus berlari mendaki bukit dan menuruni jurang!
Setelah matahari naik agak tinggi, Puspa Dewi tidak kuat lagi dan ia pun roboh terguling.
Ia bangkit lagi, akan tetapi terguling lagi karena kedua kakinya sudah tidak kuat lagi menyangga tubuhnya!
Ia merasa nelangsa sekali, akan tetapi tidak berani memanggil kakek itu.
Selain takut dianggap kurang ajar, ia pun mempunyai harga diri, bahkan ketinggian hati.
Ia memang mohon dijadikan murid, akan tetapi untuk minta-minta, nanti dulu!
Maka, ia kini merebahkan tubuhnya dan membiarkan tubuh yang berdenyut-denyut karena penat itu mengaso.
Alangkah nikmtnya rebahan beglnil Bau tanah terasa sedap harum, bahkan bau daun-daun yang membusuk terasa sedap.
Dan sinar matahari yang terpecah-pecah oleh celah-celah daun pohon itu tampak amat indah.
"Sadhu-sadhu-sadhu....!"
Bagaikan mendapat semangat dan tenaga baru, Puspa Dewi bangkit duduk dan ternyata kakek tadi kini sudah berdiri di depannya sambil tersenyum lebar.
Betapa ramah senyum itu, dan betapa sabar penuh pengertian sinar mata yang lembut itu!
Puspa Dewi lalu menyembah.
"Eyang, sekiranya Eyang berkenan, sudilah kiranya Eyang menerima saya sebagai murid."
"Bocah manis, sungguh besar sekali tekad dan semangatmu. Jarang ada seorang bocah, apalagi seorang wanita, memiliki tekad dan semangat seperti yang telah engkau perlihatkan. Aku akan menjadi seorang berhati keras dan kejam kalau tidak menuruti keinginanmu yang amat besar itu."
"Aduh Eyang, terima kasih.... terima kasih....!"
Puspa Dewi menyembah-nyembah dan....
ia menangis saking girang hatinya.
Kakek itu lalu duduk di atas batu di bawah pohon, berhadapan dengan Puspa Dewi yang duduk bersimpuh di depannya.
Semua rasa lelah tadi kini lenyap, tak terasa lagi oleh Puspa Dewi.
"Anak baik, siapakah namamu?"
"Nama saya Puspa Dewi, Eyang."
"Siapa orang tuamu dan di mana mereka? Apakah di dusun tadi?"
"Ibu saya bernama Nyi Lasmi dan tinggal di dusun Karang Tirta tadi, Eyang. Akan tetapi Ayah saya bernama Prasetyo dan tinggal di kota raja Kahuripan."
Puspa Dewi sudah merasa bimbang apa yang harus ia ceritakan kalau kakek itu bertanya mengapa ayah dan ibunya berpisah. Akan tetapi agaknya kakek itu tidak hendak bertanya tentang hal itu.
"Puspa Dewi, aku melihat bahwa engkau telah memiliki aji kanuragan yang cukup tangguh walaupun agak liar. Akan tetapi sukurlah, sifat aji-ajimu itu tidak nempengaruhi jiwamu. Dari siapakah engkau mempelajari semua ilmu itu?"
"Guru saya adalah Nyi Dewi Durgakumala yang sekarang menjadi permaisuri di Kerajaan Wura-wuri, Eyang."
"Nyi Dewi Durgakumala? Shanti-shanti-shanti....! Pantas ilmumu seperti itu sifatnya. Akan tetapi sungguh engkau patut bersukur kepada Hyang Widhi bahwa watak Nyi Durgakumala tidak menurun kepadamu. Sekarang jawablah, mengapa engkau ingin sekali menjadi muridku7"
"Saya melihat Eyang seorang yang sakti mandraguna dan saya ingin mempelajari ilmu yang lebih tinggi agar kuat untuk menghadapi semua tantangan orang-orang yang jahat seperti yang tadi menyerang saya. Saya pun ingin menggunakan tenaga saya untuk berbakti kepada Kahuripan. Sesungguhnya, guru saya, Nyi Durgakumala telah mengakui saya sebagai puteri angkatnya dan saya bahkan diangkat menjadi Sekar Kedaton di Wura-wuri. Akan tetapi karena saya melihat watak orang-orang Wura-wuri yang sesat dan saya .melihat kebijaksanaan Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama, maka saya mengambil keputusan untuk membela Kahuripan karena sebagai penduduk dusun Karang Tirta saya adalah kawula Kahuripan Eyang,"
"Memang engkau berjodoh dengan aku, puspa Dewi. Akan tetapi, melihat tingkat kepandaianmu, aku hanya ingin memoles saja dan mencoba untuk melenyapkan sisa-sisa sifat liar dari ilmumu. Dan untuk itu, aku hanya dapat membimbingmu selama tiga bulan dan selanjutnya, Sang Hyang Widhi sendiri yang dengan kemahakuasaan-Nya akan menjadi guru dan pembimbingmu" ''Terima kasih, Eyang. Saya akan menaati semua bimbingan dan petunjuk Eyang" ''Sekarang karena aku sedang melakukan perjalanan dan tidak mempunyai tempat tinggal, carikan sebuah tempat tinggal yang baik untuk kita berdua tinggal selama tiga bulan, yang terpencil dan tidak berdekatan dengan orang lain."
"Baik, Eyang. Silakan Eyang menunggu di sini, saya akan mencarikan tempat tinggal yang Eyang kehendaki itu."
Setelah berkata demikian, biarpun tadi kedua kakinya demikian lelahnya sampai berdiri pun ia tidak mampu, kini timbul semangat yang demikian besarnya sehingga semua kelelahan itu tidak terasa lagi dan Puspa Dewi lalu mencari-cari sebuah tempat yang baik seperti yang dikehendaki kakek itu.
Sambil mencari-cari di sekitar bukit-bukit Pegunungan Kidul, Puspa Dewi masih merasa kagum dan heran akan kesaktian kakek itu.
Baru teringat olehnya bahwa ia belum mengetahui siapa nama kakek yang kini menjadi gurunya itu.
Nanti saja, pikirnya, sekarang yang terpenting mencari tempat tinggal yang dibutuhkan gurunya itu.
Akhirnya setelah matahari mulai condong ke barat, ia menemukan sebuah guha yang cukup luas dan bersih, lantainya juga merupakan batu datar sehingga cukup enak untuk dijadikan tempat tinggal.
Juga guha itu terletak di sebuah bukit yang jauh dari dusun karena dari atas ia hanya melihat sebuah dusun kecil di kaki bukit.
Guha itu terletak sejauh bukit dari tempat di mana ia meninggalkan kakek itu.
Dengan girang Puspa Dewi siap untuk kembali ke tempat tadi dan memberitahukan gurunya bahwa ia sudah menemukan tempat tinggal yang baik.
Akan tetapi baru saja ia keluar dari dalam guha yang diselidikinya tadi, kakek itu telah duduk bersila di atas sebuah batu besar yang berada tepat di depan guha!
"Eyang Guru....!"
Puspa Dewi berseru dengan girang, heran dan kagum sambil bersimpuh dan menyembah di depan batu yang diduduki kakek itu. Kakek itu tersenyum dan wajahnya berseri.
"Bagus, Puspa Dewi, tempat yang kautemukan ini cukup indah, bersih dan hawanya sejuk sekali. Aku suka tempat ini, Puspa Dewi."
"Saya bersyukur sekali, Eyang. Perkenankan saya mencari kayu-kayu, untuk membuat api unggun di waktu malam pengusir nyamuk dan mimik (kutu terbang kecil yang suka menggigit), dan rumput kering untuk tilam Eyang mengaso."
Gurunya mengangguk dan dari wajah yang lembut itu dapat dilihat bahwa dia suka sekali kepada murid baru ini.
Puspa Dewi lalu pergi lagi.
Tanpa mengenal lelah ia mengumpulkan kayu dan rumput kering, lalu menggotongnya ke dalam guha.
Kayu-kayu kering itu ia tumpuk di ujung guha dan rumput kering yang sudah ia pilih, yang benar-benar kering dan bersih dari tanah, ia tumpuk dan rapikan di atas bagian yang paling tinggi dari lantai guha itu.
Tempat itu memang yang paling enak untuk berbaring atau duduk.
Ia sendiri menaburkan rumput kering di sudut yang lain untuk tempat ia mengaso.
Setelah selesai, ia mempersilakan gurunya memasuki guha.
Kakek itu masuk ke dalam guha dan tersenyum-senyum melihat tumpukan kayu dan rumput kering itu.
"Ini saya persiapkan untuk tempat Eyang mengaso."
Katanya menunjuk ke arah tumpukan rumput di lantai yang paling tinggi itu. Gurunya mengangguk-angguk, lalu naik dan duduk bersila di atas tumpukan rumput kering.
"Nyaman di sini."
Katanya memuji.
"Eyang, sekarang perkenankan saya mencari semua kebutuhan untuk makan dan minum Eyang. Saya akan turun bukit pergi ke dusun di bawah sana. Saudara-saudara di dusun itu pasti dapat menyediakan semua kebutuhan kita."
"Hemm, bagaimana caranya engkau akan mendapatkan dari mereka? Orang-orang dusun itu hidupnya sudah serba sederhana bahkan kekurangan. Bagaimana mungkin mereka memberikan sebagian dari milik mereka yang sedikit itu kepadamu?"
"Eyang, tentu saja saya tidak tega minta kepada mereka. Akan tetapi saya mempunyai perhiasan-perhiasan dari emas ini untuk ditukar dengan kebutuhan kita. Mereka dapat menjual emas ini di kota dan dapat membeli keperluan mereka yang lebih banyak."
Puspa Dewi memperlihatkan perhiasannya berupa gelang kalung, cincin dan lain-lain yang amat mahal harganya kepada gurunya.
Ia mendapatkan semua perhiasan yang amat indah dan mahal Itu dari Adipati Wura-wuri ketika ia berada di istana Wura-wuri sebagai Sekar Kedaton.
Kakek itu mengangguk-angguk.
"Bagus, memang sepatutnya begitu. Para Saudara di dusun itu perlu diberi bantuan, bukan dimintai bantuan. Akan tetapi jangan pergi sekarang, Puspa Dewi. Sebentar lagi malam tiba. Besok saja pagi-pagi engkau cari semua kebutuhan itu. Yang penting sekarang cobalah cari dimana adanya air jernih untuk membersihkan badan dari debu. Pergilah ke sana."
Kakek itu menunjuk dengan tangan kirinya ke arah selatan.
Puspa Dewi lalu keluar dari guha dan menuju ke arah yang ditunjuk gurunya.
Dan...
belum jauh ia pergi, ia melihat sumber air mancur dari sebuah batu besar.
Sejenak ia berdiri tertegun memandang air mancur itu, seolah terpesona dan tidak percaya.
Dewakah kakek guru-nya itu?
Banyak keajaiban dilakukan kakek itu.
Cara kakek itu membuat lima orang penyerangnya melarikan diri ketakutan karena semua serangan membalik dan memukul penyerangnya sendiri sebelum senjata penyerang itu menyentuh tubuhnya.
Kemudian ketika ia melakukan pengejaran, kakek yang jalan santai itu tidak dapat ia susul padahal ia lari dengan pengerahan tenaga saktinya.
Setelah itu, ketika ia mencari guha dan menemukannya, tahu-tahu gurunya telah berada di depan guha!
Dan sekarang, gurunya itu seolah sudah tahu bahwa di sebelah selatan guha, tidak jauh dari situ, terdapat air yang dibutuhkan.
Segera ia berlari memasuki guha dan menghadap gurunya.
"Eyang, betul terdapat sebuah pancuran air jernih di sana!"
"Bagus, biar aku membersihkan badan lebih dulu,"
Kata kakek itu dan dia lalu bangkit berdiri dan melangkah perlahan keluar dari guha menuju pancuran itu.
Puspa Dewi duduk termenung, masih terpesona oleh rasa kagum dan heran terhadap gurunya.
Tampaknya demikian ringkih, namun tubuh yang tampak ringkih itu ternyata mengandung kekuatan yang amat hebat!
Tak lama kemudian kakek itu memasuki guha kembali.
Wajahnya segar dan basah, demikian pula tangan dan kakinya Dia tertawa lembut kepada Puspa Dewi "Sekarang giliranmu membersihkan badanmu, Puspa Dewi.
Cepatlah sebelum keburu gelap."
Dengan hati gembira Puspa Dewi mandi di pancuran.
Biarpun ia tidak dapat berganti pakaian karena kepergian-nya secara mendadak sehingga tidak sempat membawa pakaian pengganti, namun tubuhnya terasa segar bukan main.
Juga rasa lelahnya lenyap ketika ia minum air pancuran yang amat jernih itu.
Ketika ia kembali ke dalam guha, dalam keremangan cuaca senja ia melihat gurunya duduk bersila di atas tumpukan rumput dengan kedua mata terpejam.
Puspa Dewi tahu bahwa kakek itu sedang tenggelam dalam samadhi, maka ia tidak mau mengganggunya.
Malam mulai gelap, bulan belum muncul.
Ia membuat api unggun di mulut guha, lalu duduk dekat api unggun yang menghangatkan badan dan mengusir nyamuk.
Puspa Dewi duduk melamun dekat api unggun.
Karena melamun, Puspa Dewi lupa akan waktu.
Seperti biasa, kalau dilupakan, waktu melesat cepat sekali tanpa terasa.
Sesekali gadis itu menambah kayu kering agar api unggun itu tidak padam, la merasa perutnya menagih nasi, berkeruyuk seperti ayam hutan bersahut-sahutan.
"Puspa Dewi, engkau lapar?"
Puspa Dewi tersentak dan sadar dari lamunannya.
Cepat ia menengok dan gurunya sudah berdiri di situ.
Ia cepat bangkit berdiri dan mukanya terasa panas.
Tentu mukanya berubah merah karena malu mendengar pertanyaan gurunya.
Apakah gurunya itu mendengar bunyi dari dalam perutnya yang berkeruyuk tadi?
Ia memandang wajah gurunya dan ikut tersenyum lalu mengangguk.
"Benar, Eyang."
"Ha-ha-ha."
Kakek itu tertawa lembut.
"Bagus sekali, Puspa Dewi. Memang orang tidak perlu munafik menyembunyikan kelemahannya. Bukan engkau saja, perutku ini pun menagih karena sudah tiga hari tiga malam tidak menerima makanan. Akan tetapi, kita tahan malam ini lagi. Besok engkau boleh mencari makanan untuk perut kita. Sekarang, padamkan api unggun itu. Sinarnya mengganggu keindahan sinar bulan yang sudah muncul. Mari kita duduk di atas batu depan guha."
Mereka berdua duduk berhadapan di atas batu depan guha.
Sejenak mereka berdiam diri dan sinar bulan membuat suasana seperti dalam dongeng atau seperti dalam dunia lain, penuh keindahan ajaib, mengandung rahasia keagungan yang meresap melalui udara yang sejuk sampai ke tulang sumsum.
"Nah, sekarang kita sempat bercakap-cakap, Puspa Dewi. Engkau belum menceritakan semua pengalamanmu sampai engkau dikeroyok lima orang itu. Akan tetapi sebelum itu, adakah sesuatu yang ingin kau tanyakan kepadaku?"
Kembali Puspa Dewi tertegun.
Kakek ini seolah dapat menjenguk isi hatinya.
Memang sejak siang tadi ia ingin sekali bertanya siapa adanya kakek yang luar biasa ini.
Kini ia diberi kesempatan bertanya, maka ia segera berkata.
"Mohon maaf, Eyang. Kalau saya boleh bertanya, siapakah asma (nama besar) Eyang? Eyang datang dari mana dan hendak ke mana? Maafkan kalau pertanyaan saya ini lancang."
"Ha-ha, sama sekali tidak lancang, Puspa Dewi. Sudah sewajarnya seorang murid mengetahui nama gurunya. Aku adalah Resi Satyadharma, pertapaanku di Gunung Agung, Bali-dwipa. Aku sedang mengadakan perjalanan berkunjung ke Kahuripan dan kebetulan bertemu denganmu, maka aku menunda kunjunganku selama tiga bulan untuk membimbingmu."
Nama itu tidak berkesan apa-apa dalam hati Puspa Dewi karena ia memang belum pernah mendengarnya. Ia tahu bahwa di Nusa Bali memang terdapat banyak orang-orang sakti.
"Nah, sekarang ceritakanlah tentang pengalamanmu dan mengapa engkau tadi dikeroyok orang-orang itu."
"Mereka berlima itu adalah para senopati Wura-wuri yang hendak memaksa saya kembali ke Wura-wuri, Eyang. Karena saya telah bersalah terhadap Wura-wuri dan saya tahu bahwa Guru saya Nyi Dewi Durgakumala pasti marah dan tidak mau mengampuni saya, maka saya menolak ketika diajak ke Wurawuri. Selain itu, juga saya telah mengambil kepastian untuk memutuskan semua hubungan saya dengan Nyi Dewi Durgakumala dan Kerajaan Wura-wuri."
"Mengapa engkau dimusuhi mereka, Puspa Dewi?"
"Karena saya telah mengkhianati Kerajaan Wura-wuri, Eyang."
Kakek itu tersenyum lebar. Dia senang melihat betapa gadis itu amat jujur. Mudah dan enak saja mengakui bahwa ia telah menjadi pengkhianat! "Hemm, begitukah? Coba ceritakan."
Puspa Dewi menceritakan betapa sebagai anak angkat Nyi Dewi Durgakumala ia menjadi Sekar Kedaton di Wura-wuri, kemudian ia diberi tugas oleh Sang Adipati Bhismaprabhawa dan Nyi Dewi Durgakumala untuk mewakili Wura-Wuri dalam persekutuan dengan para kadipaten lain, membantu gerakan Pangeran Hendratama yang memberontak kepada Sang Prabu Erlangga.
Akan tetapi, setelah berhasil diselundupkan ke dalam istana Kerajaan Kahuripan, Ia membalik, membantu Kahuripan dan menentang persekutuan yang hendak menjatuhkan Sang Prabu Erlangga.
"Demikianlah, Eyang. Karena saya telah mengkhianati Wura-wuri, maka saya tidak mau kembali kesana menerima hukuman."
Kakek itu mengangguk-angguk setelah mendengarkan cerita Puspa Dewi yang panjang lebar itu.
"Aku senang melihat kejujuranmu, Puspa Dewi. Akan tetapi katakan, mengapa engkau mengkhianati Wura-wuri di mana engkau telah diangkat menjadi Sekar Kedaton?"
"Arnpun, Eyang. Tadinya memang saya hendak membela Wura-wuri karena saya telah menjadi Sekar Kedaton. Akan tetapi setelah berada di Kahuripan dan bertemu dengan Nurseta, Ki Patih Narotama dan Sang Prabu Erlangga, saya menyadari akan kesalahan saya. Pertama, saya sesungguhnya adalah kawula Kahuripan. Ke dua, saya melihat betapa para pimpinan Kahuripan itu bijaksana sekali, sebaliknya saya melihat betapa persekutuan itu terdiri dari orang-orang jahat. Ketiga, saya memang sejak dulu selalu menentang perbuatan Nyi Dewi Durgakumala yang amat keji, walaupun ia menjadi guru saya. Karena semua itulah saya lalu membalik, membela Kahuripan dan menentang persekutuan jahat itu, Eyang.".
"Sadhu-sadhu-sadhu, bersyukurlah kepada Sang Hyang Widhi yang telah memberimu kesadaran itu, Puspa Dewi sehingga engkau tidak terseret ke dalam kesesatan. Engkau telah berjasa besar untuk Kahuripan, mungkin pertemuanmu dengan aku ini merupakan imbalan jasamu. Ketahuilah, Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama yang telah kau bantu itu, mereka adalah murid-muridku, Puspa Dewi."
"Ahhh....!"
Puspa Dewi menyembah.
"Sungguh merupakan anugerah besar sekali Eyang sudi menerimaku sebagai murid."
Gadis itu merasa girang sekali.
Pantas kakek ini demikian sakti mandraguna!
Kiranya guru dari Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama yang amat sakti itu!
Pada keesokan harinya, Puspa Dewi menuruni bukit dan mendapatkan semua kebutuhannya untuk makanan dan pengganti pakaiannya.
Juga ia mendapatkan pakaian untuk pengganti pakaian gurunya.
Sejak hari itu, Puspa Dewi mendapat gemblengan dari Sang Resi Satyadharma.
Bukan hanya semua aji kesaktiannya yang dipoles oleh Sang Resi itu sehingga hilang sifat liar dan kejamnya, dan ia menerima pula ji pukulan yang dahsyat, latihan menghimpun tenaga sakti.
Akan tetapi lebih daripada itu, Puspa Dewi menerima penggemblengan batin sehingga ia mampu menerima sentuhan kekuasaan Sang Hyang Widhi Wasa.
Sang waktu meluncur dengan cepat sekali sehingga tanpa dirasakan dan disadari oleh Puspa Dewi, tahu-tahu tiga bulan telah lewat semenjak ia tinggal di gua bukit Pegunungan Kidul itu bersama Maha Resi Satyadharma.
la baru menyadari ketika pada malam bulan purnama yang amat indah itu, Resi Satyadharma mengajaknya duduk di luar guha.
"Nini, rupanya engkau tidak menyadari bahwa sudah tiga bulan kita berada di tempat ini."
Kata Kakek itu setelah mereka seperti biasa, duduk saling berhadapan di atas batu-batu depan guha.
Hati Puspa Dewi terkejut sekali menyadari bahwa saatnya tiba ia harus berpisah dari gurunya yang selama tiga bulan ini telah memberi banyak sekali kepadanya.
Bukan hanya aji-aji kesaktian, akan tetapi terutama sekali kesadaran yang mengubah sama sekali keadaan batinnya sehingga ia menyadari betapa selama ini ia berdekatan dengan segala kesesatan yang dilakukan Nyi Dewi Durgakumala dan para tokoh lain.
Akan tetapi, kekejutan itu sama sekali tidak tampak pada wajahnya, juga tidak membuatnya berduka karena ia menyadari sepenuhnya bahwa memang sudah seharusnya demikian.
Ketika gurunya menerimanya sebagai murid, gurunya telah mengatakan bahwa dia hanya membimbingnya selama tiga bulan.
"Benar, Eyang. Saya hampir melupakan waktu. Saya hanya mohon doa restu Eyang agar saya akan mampu menerapkan dalam kehidupan saya selanjutnya apa yang telah Eyang ajarkan selama ini."
"Bagus, Puspa Dewi. Sekarang, pada saat terakhir kita berkumpul ini, aku ingin mengajakmu bercakap-cakap tentang kehidupan ini. Kalau ada hal-hal yang merisaukan hati dan membuatmu penasaran, tanyakanlah padaku, Nini. Aku akan mengajakmu bersama-sama meneliti, mempertimbangkan dan menyelidiki sehingga semua hal itu akan dapat kita mengerti dengan jelas."
Puspa Dewi mengingat-ingat.
"Memang banyak hal yang membuat saya merasa penasaran karena saya melihat ketidak-adilan terjadi di mana-mana, Eyang. Saya melihat banyak rakyat, terutama di dusun-dusun yang termasuk wilayah Kerajaan Wura-wuri, hidup di bawah garis kemiskinan. Pemerintah Kerajaan Wura-wuri memungut pajak dan pungutan-pungutan iain yang besar kepada rakyat, menganjurkan rakyat Wura-wuri agar hidup seadanya karena Wura-wuri sedang membangun, yang katanya untuk kepentingan rakyat jelata pula. Akan tetapi apa yang saya lihat di istana Sang Adipati Bhismaprabawa dan juga gedung-gedung para pamong praja yang tinggi kedudukannya, kehidupan mereka serba mewah dan kaya raya. Rakyat tidak ada yang berani memprotes, karena perbuatan ini pasti mengakibatkan dia ditangkap, disiksa dan dihukum dituduh sebagai pemberontak. Eyang, bagaimana bisa terjadi seperti itu?"
Sang Maha Resi Satyadharma menghela napas panjang.
"Hal seperti itu selalu terjadi dalam kerajaan yang dipimpin orang-orang yang menjadi budak budak nafsunya sendiri, Nini. Nafsunya sendiri yang memperbudaknya sehingga dia tidak segan untuk menipu rakyat untuk memperkaya diri sendiri, menggunakan kekuasaannya sehingga sewenang-wenang, menerapkan aji mumpung (selagi ada kesempatan), menganggap diri sendiri yang paling berkuasa, lupa bahwa ada Yang Maha Kuasa yang menyaksikan setiap kejahatannya yang terselubung sikap manis membujuk bujuk itu. Lupa hahwa harta dan kekuasaan itu hanya merupakan embel (Lanjut ke
Jilid 04) Nurseta Satria Karang Tirta (seri ke 02 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 04 embel sementara saja, sewaktu-waktu harta dan kekuasaan akan meninggalkannya atau dia yang akan meninggalkan harta dan kekuasaan itu dan mempertanggung jawabkan semua perbuatannya di depan Sang Hyang Widhi yang Maha Adil dan Maha Kuasa."
"Akan tetapi, Eyang. Mereka itu, dari yang paling tinggi kedudukannya sampai yang paling rendah, adalah orang-orang pandai! Bahkan saya melihat banyak orang-orang yang mengaku dirinya sebagai pendeta dan pertapa, ahli-ahli pengetahuan, ahli-ahli agama, melakukan banyak perbuatan yang buruk dan jahat. Tidak mungkin kalau mereka itu tidak tahu bahwa perbuatan mereka itu jahat. Bagaimana ini, Eyang?"
"Itulah kuatnya pengaruh nafsu daya rendah, Nini. Nafsu jauh lebih kuat daripada pengetahuan. Hal ini sudah terbukti di mana-mana. Bahkan di jaman dahulu, dalam cerita Ramayana, yang bernama Sang Prabu Rahwana atau Dasamuka itu adalah seorang maharaja yang juga terkenal sebagai ahli weda, pengetahuannya tentang agama sudah lengkap. Akan tetapi dia pun terkenal sebagai seorang yang jahat dan kejam. Apakah dia tidak tahu bahwa segala kekejamannya itu berdosa dan jahat, berlawanan dengan pelajaran dalam kitab-kitab Weda? Tentu saja dia tahu! Juga buktinya di jaman sekarang, apakah para pamong praja yang melakukan pemerasan, kesewenang-wenangan dan pencurian harta itu tidak tahu bahwa perbuatan mereka jahat? Apakah para maling tidak tahu bahwa mendiri itu jahat? mereka semua itu tahu belaka, akan tetapi nafsu daya rendah menguasai hati akal pikiran mereka. Nafsu memberi iming-iming (umpan penarik) berupa kesenangan, yang enak-enak dan kenikmatan sehingga manusia tidak kuasa melawan kuasa daya rendah yang digerakkan iblis itu. Bahkan nafsu daya rendah dengan pandainya menjadi pembela dan membenarkan semua perbuatan jahat itu dengan alasan-alasan yang kedengarannya masuk akal."
"Waduh, kalau begitu bagaimana baiknya bagi manusia untuk dapat menghindarkan diri dan mematikan nafsu daya rendah, Eyang?"
"Ha-ha-ha, menghindarkan diri dan mematikan nafsu daya rendah? Tidak mungkin, Puspa Dewi! Nafsu-nafsu daya rendah itu sudah disertakan kepada kita sejak kita lahir! Nafsu merupakan abdi yang melayani kehidupan kita di dunia ini, yang mendatangkan segala keindahan pada panca indera kita, mendatangkan segala kenikmatan hidup sehingga kita dapat bersyukur dan selalu Ingat akan Kasih-sayang Sang Hyang Widhi kepada kita. Akan tetapi, justeru pelayan kita yang amat berguna bagi hidup kita itu akan menjadi sumber kesesatan yang akan menyeret kita ke dalam dosa kalau Iblis mempergunakannya. Karena ingin mengejar kesenangan yang dijadikan umpan oleh Iblis, kita menjadi lemah dan diperbudak oleh nafsu kita sendiri. Citalah yang menjadi budak dan melakukan apapun juga demi memperoleh kesenangan yang kita kejar-kejar. Nafsu adalah sebagian dari diri kita, tidak mungkin kita hindarkan atau matikan. Nafsu harus tetap menduduki tempatnya yang semula dan wajar-yaitu menjadi pelayan kita, barulah kehidupan kita dapat sesuai dengan kehendak Sang Hyang Widhi, yaitu berusaha untuk menyejahterakan dunia, bukan menyejahterakan diri pribadi, si-aku dan keluargaku, sahabatku, golonganku dan segala yang berbuntut dengan ku lainnya."
"Lalu, apakah dalam kehidupan ini kita tidak boleh merasakan kesenangan. Eyang?"
"Tentu saja boleh! Kesenangan itu merupakan berkat dari Sang Hyang Widhi. Sudah sejak Jahir kesenangan itu dianugerahkan kepada kita, melalui panca indrya kita dan diterima oleh hati sehingga kita merasa senang. Kesenangan yang wajar datangnya kita terima dengan penuh rasa syukur kepada Sang Pemberi rasa kesenangan itu. Akan tetapi kaiau kita sudah mengejar-ngejarnya karena diiming-imingi rasa serba enak dan nikmat, kita terperangkap ke dalam jebakan iblis. Untuk mengejar kesenangan kita lalu menggunakan segala macam cara, tidak memakai lagi pertimbangan dan tidak sungkan melakukan kejahatan yang merugikan orang lain."
"Akan tetapi bagaimana caranya untuk dapat menundukkan nafsu daya rendah sehingga tetap menjadi pelayan kita dan tidak menjadi majikan kita, Eyang?"
"Dengan hati akal pikiran, akan teramat sulit untuk dapat menundukkan nafsu. Akan tetapi dengan berserah diri lahir batin sepenuhnya kepada Sang Hyang Widhi, yaitu Sang Maha Pencipta yang juga menciptakan nafsu daya rendah sebagai peserta kita, maka seperti juga Raden Werkudara yang membuka pintu hatinya dan membiarkan Sang Dewaruci (Roh Suci) bertahta dalam dirinya, maka kita akan dibimbingnya dan dengan sendirinya nafsu daya rendah akan tunduk dan menduduki tempatnya yang semula, yaitu menjadi hamba manusia."
"Terima kasih atas semua petunjuk Eyang. Akan tetapi ada satu hai lagi yang ingin saya ketahui, Eyang. Bagaimana caranya agar rakyat jelata hidup makmur?"
"Satu-satunya syarat agar rakyat dapat hidup sejahtera adalah mutu para pemimpinnya. Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama telah menaati semua petunjukku. Mereka adalah pemimpin Kerajaan Kahuripan yang bijaksana. Kalau rajanya bijaksana, pamong-pamongnya tentu juga mengikuti tauladannya. Seorang raja dapat menjadi raja karena dipilih rakyatnya. Tanpa rakyat, apa artinya raja, apa artinya penguasa? Karena itu, seorang pemimpin harus menjadi suri tauladan. Kalau dia bijaksana, bawahannya pasti tidak berani melakukan penyelewengan karena raja tentu akan bertindak menghukumnya. Akan tetapi kalau rajanya sendiri menyeleweng, bagaimana dia dapat menindak bawahannya yang melakukan penyelewengan? Raja yang bijaksana otomatis membuat para pamong menjadi bijaksana pula dan kebijaksanaannya itu juga dapat mengatur sehingga kehidupan rakyat menjadi sejahtera."
"Kalau begitu, tidak ada lagi golongan rakyat yang kaya raya berlebihan dan tidak ada yang melarat dan miskin sekali, Eyang?"
Kakek itu tersenyum.
"Tentu saja bukan begitu, Puspa Dewi. Sudah semestinya ada yang tinggi dan ada yang rendah, ada yang berhasil dalam usahanya yang jujur dan wajar sehingga menjadi kaya dan ada pula yang kurang berhasil. Akan tetapi kalau para pemimpin pandai mengatur, tidak akan ada rakyat yang demikian melaratnya sehingga tidak mendapatkan sandang pangan papan yang layak. Yang kaya harus mengangkat keadaan yang miskin dan mempergunakan modalnya untuk membuka lapangan kerja, membagikan sebagian keuntungannya kepada karyawannya sebagai imbalan karena itu merupakan hak mereka, adapun yang tidak kaya dan menjadi karyawan dapat menyumbangkan tenaga dan ketrampilannya untuk bekerja dengan jujur dan setia sehingga apa yang diusahakan dari perpaduan ini akan mengalami kemajuan untuk keuntungan mereka bersama. Kerajaan, seperti yang dilakukan Sang Prabu Erlangga, harus mengerahkan segala kemampuan untuk berbuat atas dasar kebenaran dan keadilan, mengangkat mereka yang lemah, membagi kesejahteraan secara adil sehingga semua orang merasa diperlakukan dengan adil dan akibatnya, seluruh rakyat mendukung pemerintah raja itu. Karena itu, bagi sebuah kerajaan, yang paling penting dan harus diutamakan adalah pembangunan watak dan budi pekertinya, terutama di kalangan para pamong prajanya. Kalau watak dan budi pekerti mereka sudah sehat, pembangunan apapun juga yang dilakukan pemerintah, pasti akan berjalan mulus dan baik tanpa ada gangguan. Mengertikah engkau, Puspa Dewi."
"Akan tetapi, semua orang percaya akan Sang Hyang Widhi Wasa, semua orang beragama, akan tetapi mengapa begitu banyaknya orang yang mengaku beragama masih melakukan kejahatan, Eyang?"
"Itulah, Nini, yang memprihatinkan. Agama hanya menjadi bahan pemikiran dan perdebatan belaka, hanya sampai dan berhenti di pikiran, tidak menyentuh jiwa. Bukan orang beragama yang melakukan kejahatan, akan tetapi pelaku kejahatan itu adalah seorang penjahat yang mengaku beragama' Kalau dia benar-benar beragama, menaati semua petunjuk agamanya, sudah pasti dia tidak akan melakukan kejahatan karena hal itu dilarang oleh agamanya. Maka, seperti telah kau rasakan sendiri setelah engkau membuka pintu hatimu dan membiarkan Kekuasaan Hyang Widhi memasuki sanubarimu, jiwamu terbimbing dan otomatis nafsu daya rendah akan tetap menjadi peserta dan pelayan. Nah, kurasa sudahi cukup jelas bagimu. Kini sudah tiba saatnya kita berpisah, Puspa Dewi."
"Sekarang, Eyang? Bukankah besok pagi..."
"Tidak, sekarang juga, Nini. Sudah tiba saatnya aku harus pergi. Jaga dirimu baik-baik."
Kakek itu lalu bangkit berdiri. Sebelum Puspa Dewi sempal bicara lagi, Sang Maha Resi Satyadharma berkata.
"Selamat tinggal dan selamat berpisah, Nini!"
Dan tiba-tiba ada halimun putih yang menyelimuti tubuhnya sehingga dia tidak tampak lagi.
Ketika halimun itu melayang seperti terbawa angin malam, kakek itu sudah tidak berada di situ lagi.
Dengan hati terharu Puspa Dewi lalu menyembah penuh khidmat dan berbisik.
"Eyang Guru, selamat jalan dan banyak terima kasih saya haturkan...."
Puspa Dewi menghormati kepergian gurunya itu dengan duduk bersamadhi di situ sampai keesokan harinya.
Barulah ia membersihkan badan di pancuran, berganti pakaian lalu membawa buntalan pakaiannya dan meninggalkan guha itu, meninggalkan semua kenangan selama tiga bulan hidup bersama Sang Maha Resi Satyadharma di guha itu.
Pemuda itu berjalan dengan santai mendaki Gunung Arjuna.
Usianya sekitar dua puluh dua tahun.
Wajahnya sederhana namun ada sesuatu yang menarik hati dan menimbulkan rasa suka pada orang yang memandangnya.
Mungkin sinar mata yang lembut dan senyumnya yang ramah penuh kesabaran itulah yang membuat orang tertarik.
Tidak tampan seperti Arjuna, akan tetapi juga tidak buruk.
Kulitnya agak gelap akan tetapi bersih.
Tubuhnya sedang namun tegap dan jalannya tegak, lenggangnya seperti seekor harimau.
Pemuda ini adalah Nurseta.
Dia mendaki gunung itu karena tertarik akan keindahannya dan ingin sekali menikmati keindahan alam pegunungan itu.
Dia berjalan perlahan sambil mengenang semua pengalaman hidupnya yang penuh liku-liku.
Ketika kecil dia tinggal di dusun Karang Tirta bersama Ayah Ibunya.
Akan tetapi, ketika dia berusia sepuluh tahun, tiba-tiba saja Ayah dan Ibunya pergi meninggalkan dia hidup seorang diri di dusun Karang Tirta.
Dia hidup sebagai kacung dan pelayan pada Lurah dusun Karang Tirta itu, baru kemudian dia ketahui Ki Lurah itu jahat dan curang.
Semua harta peninggalan orang tuanya diambil lurah itu.
Ketika dia berusia sekitar enam belas tahun, dia diambil murid oleh seorang pertapa yang amat sakti, yaitu Empu Dewamurti dan diajak ke lereng Gunung Arjuna yang kini dia daki.
Selain ingin menikmati keindahan alam, dia pun mengunjungi bekas tempat dia tinggal menjadi murid Empu Dewamurti selama kurang lebih lima tahun.
Nurseta melanjutkan kenangannya.
Setelah Empu Dewamurti wafat karena luka-luka setelah dikeroyok tiga orang datuk senopati Wura-wuri bernama Tri Kala (Tiga Kala) yang terdiri dari Kala Muka, Kala Manik dan Kala Teja, bersama Resi Bajrasakti datuk Kerajaan Wengker, dan Ratu Mayang Gupita dari Kerajaan Siluman Laut Kidul, dia memperabukan jenazah gurunya dan menyebarkan abunya di permukaan lereng Gunung Arjuna seperti yang dipesan gurunya sebelum wafat.
Akan tetapi gurunya itu wanti-wanti (dengan tegas) meninggalkan pesan kepadanya agar dia jangan membalas dendam kepada orang-orang dari kerajaan itu.
Tentu saja dia boleh membela Kahuripan dan menentang tiga kerajaan itu kalau mereka mengganggu Kahuripan dan boleh menentang mereka, akan tetapi tidak berdasar balas dendam.
Setelah itu dia mengalami banyak suka duka dalam hidupnya, membela Kahuripan dan mengembalikan Keris Pusaka Megatantra, yang dia temukan di tegal Karang Tirta, kepada Sang Prabu Erlangga yang berhak karena keris itu adalah keris pusaka Mataram.
Dia juga membela Kahuripan dari pengeroyokan kerajaan-kcrajaan kecil yang bersekutu dengan pemberontak Pangeran Hendratama sehingga semua pemberontak dan sekutunya dapat dipukul mundur.
Dia telah bertemu dengan Senopati Sindukerta di kota raja.
Senopati ini adalah kakeknya, ayah dari ibunya yang bernama Endang Sawitri.
Ternyata dahulu, Senopati Sindukerta tidak setuju kalau puterinya itu menjadi isteri Dharmaguna, seorang sastrawan putera seorang pendeta miskin.
Akan tetapi karena sudah saling mencinta, Endang Sawitri dan Dharmaguna melarikan diri berdua.
Senopati Sindukerta menyuruh para perajurit mencari, namun tidak berhasil.
Akhirnya suami isteri itu mempunyai seorang anak, yaitu dirinya.
Mereka masih terus berpindah-pindah dalam pelarian mereka sampai akhirnya bersama Nurseta mereka tinggal di dusun Karang Tirta sampai dia berusia sepuluh tahun.
Setelah dia menjadi dewasa dan menyelidiki, dia tahu bahwa orang tuanya pergi meninggalkan dia karena mereka dilaporkan oleh Ki Lurah Suramenggala yang jahat.
Dia mendengar semua itu dari kakeknya, Senopati Sindukerta.
Kini dia melakukan perjalanan untuk mencari ayah ibunya yang melarikan diri.
Berbulan-bulan dia merantau, namun belum juga dia dapat menemukan mereka.
Pada pagi hari ini, ketika lewat di kaki Gunung Arjuna, dia melihat pemandangan yang indah lalu teringat kepada mendiang Empu Dewamurti.
Maka dia lalu mendaki gunung itu dengan santai sambil menikmati pemandangan alam yang dilewatinya.
Tentu saja dia masih ingat akan jalan pendakian yang paling mudah karena dia sudah hafal.
Selama lima tahun dia tinggal di lereng gunung itu dan seringkali naik turun melalui jalan pendakian itu.
Tiba-tiba pendengarannya yang tajam menangkap suara melengking nyaring.
Suara itu demikian tajam dan kuatnya sehingga dia harus cepat mengerahkan tenaga saktinya karena suara itu menyerang pendengarannya dan langsung menyerang jantung!
Dia terkejut bukan main karena maklum bahwa siapa pun orangnya yang mengeluarkan lengkingan yang membawa getaran sehebat itu, tentu seorang sakti mandraguna!
Dia lalu berlompatan mendaki lereng Gunung Arjuna, ke arah suara melengking yang mengeluarkan gaung panjang seolah suara setan penunggu jurang menyambut lengkingan tadi.
Karena dia mempergunakan Aji Bayu Sakti, maka tubuhnya seolah melayang cepat sekali dan tak lama kemudian dia sudah mendekam di balik semak-semak memandang ke depan dengan jantung berdebar.
Di depannya terbentang lapangan rumput yang landai dan di sana dia melihat dua orang saling berhadapan.
Seorang kakek dan seorang nenek.
Kakek itu berusia sekitar lima puluh tiga tahun, tubuhnya tinggi kurus, wajahnya masih memperlihatkan bekas ketampanannya.
Jenggotnya panjang dan pakaiannya yang hanya kain putih dibelit-belitkan di tubuhnya itu menunjukkan bahwa dia seorang pertapa atau seorang pendeta.
Gerak-geriknya lembut dan mulutnya membayangkan senyum, akan tetapi pada saat itu, kedua matanya mengeluarkan sinar berkilat yang ditujukan kepada nenek yang berdiri di depannya dengan jarak kurang lebih lima tombak.
Nurseta kini memandang ke arah nenek itu.
Nenek itu berusia sekitar lima puluh satu tahun, masih tampak cantik, rambutnya panjang dan masih hitam, agak berombak dibiarkan terurai di atas kedua pundak dan punggungnya.
Mulut yang bibirnya masih merah itu tersenyum mengejek matanya mencorong liar.
Pakaiannya serba hitam!
Tiba-tiba nenek itu membuka mulut dan terdengarlah lengkingan yang tinggi dan dahsyat sekali.
Nurseta yang bersembunyi sejauh sepuluh tombak itu merasa jantungnya terguncang biarpun dia sudah melindungi dirinya dengan pengerahan tenaga saktinya.
Akan tetapi kakek berpakaian putih itu sama sekali tidak tampak terpengaruh walaupun lengkingan itu merupakan serangan hebat yang langsung diarahkan kepadanya.
Dia malah tersenyum dan setelah suara melengking itu berhenti, tinggal gaungnya saja yang menggema di bawah sana, kakek itu berkata, suaranya lembut namun dapat terdengar jelas oleh Nurseta.
"Sudahlah, Gayatri, mengapa selama puluhan tahun engkau masih memelihara kebencian di dalam hatimu? Mengapa engkau membiarkan racun dendam itu merusak batinmu? Sadarlah bahwa kekuatan Setan bagaimanapun hebatnya tidak akan mampu menandingi Kekuasaan Sang Hyang Widhi. Pertentangan antara yang benar dan yang salah akhirnya akan dimenangkan oleh yang benar karena Sang Hyang Widhi selalu membimbing mereka yang benar. Sadar dan bertaubatlah, Ga-yatri, dan aku yakin bahwa Yang Maha Kasih dan Maha Pengampun tentu akan mengampuni dan membimbingmu ke arah jalan yang benar."
"Ekadenta manusia sombong! Jangan mengira bahwa setelah aku kalah dahulu itu, aku tidak berani lagi menantangmu. Selama ini aku terus memperdalam ajianku dan sekali ini aku pasti akan dapat menebus semua kekalahanku yang sudah-sudah."
Baca Juga: Jodoh Rajawali 10
Baca Juga: Pendekar Super Sakti 25