Eps 2 Nurseta Satria Karangtirta - Kho Ping Hoo
Baca online Nurseta Satria Karangtirta - Kho Ping Hoo
Cersil Nurseta Satria Karangtirta - Kho Ping Hoo.
"Gayatri, semangatmu itu memang mengagumkan. Engkau tidak pernah menyerah dan putus asa. Alangkah baiknya kalau semua orang memiliki semangat seperti yang kau miliki. Hanya sayang sekali, Gayatri, semangatmu itu kau pergunakan untuk tekadmu untuk membalas dendam yang merupakan keangkara-murkaan!"
"Tidak perlu memberi wejangan padaku, Ekadenta! Sekarang dengar omonganku. Aku tidak akan melanggar janjiku yang dulu, yaitu aku pribadi tidak akan mengganggu Erlangga dan Narotama kalau aku kalah olehmu. Sebaliknya kalau engkau yang kalah, aku dapat melakukan apa saja sesuka hatiku!"
"Hemm, engkau tidak akan dapat menang, Gayatri, karena nafsu dendam kemarahanmu meracuni dirimu sendiri dan membuatmu lemah."
"Andaikata aku kalah juga, aku masih dapat melampiaskan dendamku kepada Erlangga dan Narotama, dua orang murid Resi Satyadharma itu! Aku akan mengajarkan ilmu-ilmuku kepada para pimpinan Kerajaan Wengker, aku akan membentuk pasukan siluman yang akan menghancurkan Kahuripan!"
"Engkau boleh mencobanya, Gayatri. Engkau tidak akan dapat mengubah apa yang telah digariskan Sang Hyang Widhi Wasa. Engkau akan menyesal kelak. Sadar dan bertaubatlah, Gayatri, aku dengan senang hati akan membimbingmu dan menemanimu."
"Tidak! Kecuali kalau engkau mau mengambil aku sebagai isterimu..."
"Gayatri, mengapa engkau masih menginginkan hal itu? Kita bukan orang muda lagi."
"Huh, engkau selalu saja menolak, karena itu sebelum dendamku kepada murid-murid Resi Satyadharma terlaksana, aku akan selalu hidup dalam penasaran."
"Sekali lagi, sadarlah, Gayatri. Yakinlah bahwa kasih sayangku kepadamu tidak pernah hilang."
"Kalau begitu mengapa engkau tidak mau menjadi suamiku?"
"Bukan, bukan itu, Gayatri. Cintaku kepadamu tidak dikotori nafsu."
"Huh, itulah yang diajarkan oleh Resi Satyadharma sehingga engkau menolak menikah denganku. Sudahlah, sambut ini, Ekadenta!"
Nenek itu mendorongkan kedua tangannya yang terbuka ke depan.
Kedua tangannya dijulurkan ke arah kakek itu dan dari kedua telapak tangan nenek itu meluncur sinar yang membawa bola-bola api menyerang kakek itu.
Nurseta yang menonton sambil bersembunyi di balik semak belukar, terbelalak.
Bukan main Serangan seperti itu hanya dapat dilakukan orang yang sudah memiliki tenaga sakti yang tinggi sekali!
Dia melihat kakek itu masih berdiri tenang dan tersenyum.
Setelah bola-bola api itu meluncur dekat, dia pun menjulurkan kedua tangannya dan dari telapak tangan kakek itu berkelebat sinar putih yang menyambar ke arah bola-bola api dalam sinar merah itu.
"Darrr....! Darrr....!"
Dua bola api itu meledak dan padam, sedangkan sinar merah itu terpental ke belakang dan kembali menghilang ke telapak tangan nenek itu.
Sinar putih juga berkelebat pulang ke telapak tangan kakek itu.
Nenek itu mengeluarkan teriakan melengking dan ia menggerak-gerakkan lagi kedua tangannya yang didorong ke arah kakek itu.
Kini bukan bola-bola api yang keluar, melainkan asap hitam bergulung-gulung menyerbu ke arah kakek itu.
Nurseta cepat menutup hidungnya dengan tangan karena dia mencium bau yang amat keras, amis dan tajam menusuk hidung, bau yang keluar dari asap hitam itu sehingga dia tahu bahwa asap itu malah lebih berbahaya daripada bola-bola api yang membakar itu.
Asap hitam ini mengandung racun yang ganas!
"Shanti-shanti-shanti!
Segala macam ilmu sesat kau pelajari, Gayatri.
Sungguh sayang!"
Kakek itu berkata lalu kembali kedua tangannya mendorong ke depan dan dari telapak tangannya kini menyambar asap putih. Terjadi "pertempuran"
Antara asap hitam dan asap putih.
Dorong-mendorong sehingga sebentar asap putih terdorong akan tetapi segera asap hitam yang berbalik terdorong.
Akhirnya, asap hitam terdorong terus sampai kembali ke telapak tangan nenek itu.
Sebelum asap hitam yang mendorong itu menyentuh Si Nenek, kakek itu telah menyimpan kembali asap putih.
"Sudahlah, Gayatri, untuk apa semua ini kita lakukan? Hanya akan menjadi buah tertawaan anak-anak saja."
Kata kakek itu membujuk dengan suara halus, sama sekali tidak marah atau mengejek. Bahkan suaranya mengandung penuh kasih sayang seperti seorang kakak terhadap adiknya.
"Aku belum kalah"
Nenek itu membentak galak, matanya mencorong liar.
la lalu bersedakap (melipat kedua lengan di depan dada) dan memejamkan kedua matanya, alisnya berkerut dan mukanya ditundukkan, mulutnya berkemak kenuk membaca mantera.
Nurseta menonton dengan jantung berdebar-debar.
Tanpa disangka-sangka, dia diam-diam telah menjadi saksi pertandingan adu kesaktian dari dua orang yang benar-benar sakti mandraguna.
Kini dia melihat ada uap hitam perlahan-lahan mengepul keluar dari kepala nenek itu.
Uap itu menjadi semakin tebal dan menjadi sebuah bentuk, makin lama semakin jelas dan uap itu kini menjadi seekor harimau yang besar.
Harimau jadi-jadian itu mengaum dan menubruk ke arah kakek itu.
Kakek yang bernama Bhagawan Ekadenta itu juga melipat kedua lengannya ke depan dada, memejamkan kedua matanya dan dari kepalanya keluar uap putih yang tidak membentuk apa-apa hanya menjadi seperti segumpal awan menyambut tubrukan harimau hitam itu.
Binatang jadi-jadian itu menggereng seperti kesakitan, masih mencoba untuk menggigit, mencakar dan menubruk, namun sia-sia karena selalu terpental ke belakang.
Akhirnya harimau hitam itu kembali menjadi asap.
Kini nenek yang bernama Gayatri, yang sesungguhnya setelah tua kini disebut Nini Bumigarbo, membaca mantram dengan suara agak keras dan uap hitam itu kini membentuk seekor naga yang hitam dan amat menyeramkan bagi Nurseta yang menontonnya.
Naga hitam itu sepasang matanya seperti sinar menyilaukan, moncongnya terbuka dan menyemburkan api bernyala-nyala!
"Om, shanti-shanti-shanti!
Nirboyo sedyo rahayu!
Kembalilah ke asalmu'"
Bhagawan Ekadenta berkata lirih dan uap putih itu menyambar ke depan.
Terjadi pertempuran yang lebih dahsyat dari tadi.
Agaknya ilmu sihir menjadikan naga ini lebih kuat daripada harimau tadi.
Nenek Bumigarbo dapat bertahan lebih lama sehingga sempat Bhagawan Ekadenta berkeringat pada dahinya.
Akan tetapi ketika dia meniup dengan mulutnya ke arah naga jadi-jadian ini, seolah uap seperti mega putih itu menjadi lebih kuat dan naga jadi-jadian itu pun terpukul dan lenyap.
Nenek Bumigarbo terengah-engah dan tampak marah sekali sehingga wajah yang tadinya masih tampak cantik itu kini menjadi menyeramkan.
Matanya berkilat, cuping hidungnya kembang kempis, mulutnya agak terbuka dan menyeringai.
"Gayatri, mari kita sudahi saja main-main yang tidak ada gunanya ini."
Kata Bhagawan Ekadenta.
Akan tetapi nenek itu agaknya semakin penasaran.
Ia mengeluarkan teriakan melengking-lengking dan disusul pembacaan mantram dan begitu ada asap hitam mengepul, nenek yang cantik itu berubah menjadi seorang raksasa wanita yang amat mengerikan.
Ia telah berubah menjadi Leak!
Matanya merah mencorong dan melotot, giginya bertaring dan taringnya menonjol keluar, lidahnya terjulur keluar dari mulutnya, panjang dan merah, menetes-neteskan air liur, payudaranya panjang bergantungan, kedua tangan dan kedua kakinya berkuku panjang.
Sungguh, baru melihatnya saja orang biasa dapat jatuh pingsan saking takut dan ngerinya.
Nurseta yang mengintai, terbelalak dan dia bergidik ketika mencium bau dupa yang wanginya memuakkan, seperti bunga-bunga yang mulai membusuk.
SAMBIL mengeluarkan teriakan-teriakan gemuruh, Leak itu menerjang Bhagawan Ekadema!
Amat cepat dan ganas gerakannya ketika menyerang.
Akan tetapi Sang Bhagawan tetap tenang dan dengan gerakan halus dia dapat menghindarkan diri dari setiap serangan.
"Gayatri, sudahlah, aku sungguh tidak ingin menyakitimu!"
Beberapa kali Bhagawan Ekadenta berseru dengan suara memohon.
Namun, Leak itu menyerang semakin ganas.
Nurseta menonton dengan hati tegang dan hampir tak pernah berkedip saking kagumnya.
Belum pernah dia menyaksikan pertandingan aji kesaktian sehebat ini.
Dia sendiri tidak takut andaikata menghadapi nenek itu, akan tetapi dia ragu apakah dia akan mampu menandinginya.
Nenek itu memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi dan berbahaya sekali.
Akan tetapi kakek itu lebih hebat lagi, dan dia merasa amat kagum sungguhpun tidak merasa heran karena kini dia mengetahui bahwa kakek dan nenek ini agaknya masih ada hubungan persaudaraan seperguruan, maka tentu saja memiliki aji kesaktian yang luar biasa.
Kini dua orang tua itu bertanding dengan seru.
Gerakan mereka makin lama semakin cepat sehingga yang tampak kini hanya bayangan hitam dan putih yang saling sambar.
"Maafkan aku, Gayatri!"
Terdengar suara kakek itu.
"Auhh...!"
Nenek itu menjerit dan terhuyung ke belakang.
Agaknya ia terkena tamparan tangan kakek itu.
Akan tetapi kabut hitam menyelubungi tubuhnya dan ketika kabut itu lenyap, nenek itu pun sudah tidak ada lagi.
Bhagawan Ekadenta berhenti bergerak, menghela napas panjang tiga kali lalu memutar tubuhnya menghadap ke arah semak belukar dan berkata lembut namun dengan nada memerintah.
"Keluarlah Andika dari balik semak!"
Nurseta tidak terkejut.
Orang yang demikian sakti mandraguna, tidaklah mengherankan kalau dapat mengetahui bahwa ada orang bersembunyi di balik semak-semak.
Maka dia pun cepat keluar dari balik semak-semak, menghampiri kakek itu dan langsung dia berjongkok dan menyembah depan kaki Bhagawan Ekadenta.
"Mohon seribu ampun, Eyang, bahwa saya telah lancing berani sembunyi dan mengintai dari balik semak-semak karena untuk keluar memperlihatkan diri saya tidak berani."
"Orang muda, Andika siapakah?"
"Nama saya Nurseta, Eyang."
Kakek itu tersenyum dan mengangguk-angguk sambil mengelus jenggotnya yang panjang.
Teringat dia akan pertemuannya dengan Sang Empu Bharada, sahabat baiknya dan sama-sama tokoh yang setia kepada Kahuripan.
Empu Bharada menceritakan tentang penglihatannya bahwa ada bahaya mengancam Kahuripan, dan sambil lalu Empu Bharada bercerita tentang seorang pemuda bernama Nurseta murid mendiang Empu Dewamurti yang menjadi sahabat baik Empu Bharada, yang dalam penglihatannya merupakan cahaya putih (Nur Seta) yang ikut mengusir kegelapan yang menyelubungi Kahuripan.
Juga bahwa Nurseta telah berjasa ketika Kahuripan dilanda kemelut dengan adanya pemberontakai yang dilakukan Pangeran Hendratama dibantu oleh persekutuan para kerajaan kecil.
Bahkan lebih dari itu, Nurseta yang telah menemukan dan mengembalikan Sang Megatantra, keris pusaka yang telah puluhan tahun hilang dari kerajaan Mataram.
Dan kini, tanpa di sengaja, pemuda itu telah duduk bersimpuh dan menyembahnya.
"Kulihat engkau telah memiliki kekuatan sehingga tidak terpengaruh kekuatar sihir yang amat ganas yang dipergunakan Nini Bumigarbo tadi. Siapakah gurumu, Nurseta?"
Bhagawan Ekadenta bertanya untuk memperoleh keterangan dari pemuda itu sendiri sungguhpun dia sudah mendapat keterangan dari Empu Bharada.
"Saya pernah mendapat bimbingan dari mendiang Eyang Guru Empu Dewamurti, Eyang."
"Mendiang Kakang Empu Dewamurti adalah Kakak seperguruanku, Nurseta. Aku mendengar bahwa beliau wafat setelah terluka oleh pengeroyokan lima orang datuk sesat dari kerajaan-kerajaan Siluman Laut Kidul, Wengker dan Wurawuri. Bagaimana hal itu dapat terjadi dan apakah engkau tidak membela gurumu?"
"Ampun, Eyang. Ketika pengeroyokan tu terjadi, saya sedang tidak berada di pondok sehingga saya tidak sempat membela Eyang Guru."
"Hemm, dan engkau sama sekali tidak mencari mereka yang membunuh gurumu untuk membalas dendam?"
Bhagawan ekadenta menguji.
"Tidak, Eyang. Mendiang Eyang Guru sudah menanamkan kesadaran kepada saya bahwa dendam kebencian merupakan racun bagi batin sendiri. Kalau saya mencari mereka dan membunuh mereka untuk membalas dendam, berarti saya telah mengingkari janji saya kepada Eyang Guru untuk menaati pesan terakhirnya."
Wajah Bhagawan Ekadenta berseri.
"Sadhu-sadhu-sadhu, beruntung sekali Kakang Empu Dewamurti mempunyai engkau sebagai muridnya! Dan lebih beruntung lagi Kerajaan Kahuripan mempunyai seorang kawula seperti engkau, Nurseta. Engkau memiliki jiwa satriya."
"Harap Eyang ketahui bahwa saya ini hanyalah seorang dusun dari desa Karang Tirta yang bodoh."
Kata Nurseta dengan rendah hati secara tulus, bukan berpura-pura.
Melihat kakek ini tadi bertanding melawan Nini Bumigarbo, dia benar-benar merasa seperti seorang anak kecil yang lemah dan semua aji kanuragan yang di kuasai hanya sebagai mainan anak-anak belaka.
"Tidak Nurseta. Engkau adalah seorang satriya dan mendiang Kakang Empu Dewamurti telah memberi bimbingan yang baik sekali kepadamu. Mungkin hanya kurang polesan saja."
"Saya mohon petunjuk Eyang."
"Baik, engkau memang berhak menerimanya. Mari kuberi polesan selama tiga bulan kepadamu, Nurseta."
Bukan main girangnya hati Nurseta.
Dia lalu membangun sebuah pondok sederhana di mana dulu pondok gurunya berada.
Semenjak hari itu, selama tiga bulan lamanya Bhagawan Ekadenta memberi petunjuk oleh memoles dan mematangkan semua aji kesaktian yang telah dikuasai Nurseta.
Bukan itu saja, akan tetapi dia juga mendengar tentang Nini Bumigarbo yang amat sakti itu akan memperkuat Kerajaan Wengker agar kerajaan itu dapat menjatuhkan Kahuripan.
Bahkan nenek itu telah mengambil Dewi Mayangsari, permaisuri Wengker, menjadi muridnya.
"Karena itu, kalau engkau membela Kahuripan, waspada dan berhati-hatilah terhadap Kerajaan Wengker karena mungkin kerajaan itulah yang akan merupakan musuh yang paling berbahaya bagi Kahuripan di samping tentu saja Kerajaan Parang Siluman karena di sana terdapat banyak orang sakti, terutama Lasmini dan Mandarl bekas selir Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama, dan Ki Nagakumala". Setelah menerima gemblengan selami tiga bulan, kesaktian Nurseta meningkat dengan pesat. Pada malam terakhir, ketika Nurseta masih tidur, dia mendengar suara lapat-lapat namun jelas.
"Nurseta, kita berpisah. Aku melanjutkan perjalananku."
Itu adalah suara Bhagawan Ekadenta.
Nurseta cepat melompat bangun, akan tetapi kakek itu sudah tidak berada dalam pondok itu lagi.
Dia tahu bahwa percuma saja mencoba untuk mengejar atau mencari karena bagaimanapun juga, tingkat kepandaiannya masih jauh selisihnya dibanding tingkat Sang Bhagawan itu.
Gadis itu melangkah santai memasuki gapura kota raja Kahuripan yang sudah dikenalnya dengan baik.
Masih terbayang dalam ingatannya, seolah baru kemarin dulu terjadi, ketika ia diselundupkan ke istana Sang Prabu Erlangga dan diterima oleh Puteri Mandari, ketika itu masih menjadi selir Sang Prabu Erlangga.
Sebagai wakil Kerajaan Wura-wuri ia menyamar sebagai pelayan pribadi Puteri Mandari, namun akhirnya ia sadar dan membalik, membela Kahuripan dan menentang persekutuan pemberontak.
Puspa Dewi menghela napas panjang.
Ia teringat kepada ibunya dan kembali menghela napas.
Kasihan ibunya, hidup menderita sejak berpisah dari ayahnya.
Setelah berpisah dari Sang Maha Resi Satyadarma yang telah menggemblengnya selama tiga bulan, ia langsung saja pergi ke kota raja untuk melanjutkan keinginannya yang ia tunda selama tiga bulan.
Keinginan itu adalah menemui ayah kandungnya dan menegurnya karena telah menyia-nyiakan ibunya.
Akan tetapi hati Puspa Dewi sudah berubah sama sekali semenjak ia digembleng Sang Maha Resi Satyadharma.
Kalau dulu ia merasa penasaran dan ingin memberi teguran kepada ayahnya, kini kemarahannya sudah tidak berbekas lagi.
Ia hanya ingin bertemu dan melihat ayahnya, juga ia ingin menceritakan kepada ayahnya tentang penderitaan ibunya selama ini.
Biarpun masih ada sisa ketegasan dalam sikap Puspa Dewi, jujur dan terbuka, namun sifatnya yang liar kini sudah berubah, la lembut dan suka tersenyum ramah, juga pandai dan kuat menahan gejolak perasaannya.
Setelah bertanya-tanya, dengan mudah Puspa Dewi mendapat keterangan di mana gedung tempat tinggal Tumenggung Jayatanu, senopati Kahuripan.
Juga ia mendapat keterangan bahwa Prasetyo kini telah menjadi seorang senopati pula, akan tetapi tetap tinggal di rumah mertuanya, yaitu Tumenggung Jayatanu.
Prasetyo telah memperoleh kedudukan dan kini menjadi Senopati Yudajaya.
Setelah mengetahui di mana tempat tinggal ayah kandungnya, yaitu Prasetyo yang kini bernama Senopati Yudajaya, ia segera mencari rumah itu.
Tak lama kemudian ia sudah berdiri di tepi jalan, tepat di depan sebuah gedung besar yang bagian depannya memiliki pekarangan luas dan di belakang pintu gapura terdapat sebuah gardu di mana terdapat beberapa orang perajurit melakukan penjagaan.
Sampai lama Puspa Dewi berdiri di situ.
Jantungnya berdebar tegang, akan tetapi juga merasa betapa janggalnya keadaan itu.
Ayah kandungnya hidup di gedung yang besar dan megah ini sebagai seorang senopati yang memiliki kekuasaan, harta, dan kemuliaan.
Rurnah tempat tinggalnya saja dijaga selusin orang perajurit.
Akan tetapi ibunya?
Terlunta-lunta, miskin dan papa.
Ibunya rela hidup sengsara, berkorban demi cintanya kepada pria yang namanya Prasetyo, yang kini menjadi Senopati Yudajaya.
Panas juga rasa hatinya mengingat akan keadaan ibunya, akan tetapi sekali menarik napas panjang saja ia sudah menenangkan hatinya kembali.
Matahari pagi telah naik cukup tinggi sehingga sinarnya menerangi pekarangan yang terhias hamparan rumput hijau sehingga tertimpa cahaya matahari tampak hijau indah dan menyegarkan pandang mata.
Selusin orang perajurit penjaga itu agaknya juga terpengaruh kecerahan pagi yang mendatangkan kegembiraan dalan hati mereka sehingga mereka duduk bergerombol dan bercakap-cakap sambil tertawa-tawa, agaknya mereka bersenda-gurau di antara mereka.
Puda saat itu terdengar derap kaki kuda dan seekor kuda berbulu putih yang besar dan bagus sekali muncul dari belakang, melalui sisi sebelah kiri gedung.
Para perajurit penjaga memandang dan mereka menghentikan percakapan, memandang kagum.
Juga Puspa Dewi memandang dengan kagum.
Bukan hanya kagum kepada kuda yang indah itu akan tetapi lebih kagum lagi melihat orang yang menunggang kuda itu.
Penunggang kuda putih itu seorang gadis yang usianya sekitar delapan belas tahun.
Rambutnya hitam panjang sampai ke pinggul, agak berombak dan ketika diterpa angin, berkibar dan sebagian rambutnya menyapu dan menutupi sebelah mukanya yang berkulit putih.
Wajah itu cantik jelita dan anggun, terutama sepasang matanya yang seperti bintang dan bibirnya yang merah membasah.
Tubuhnya sintal padat dengan pinggang ramping.
Kedua kaki yang telanjang dari betis ke bawah itu putih dan halus mulus, tampak kekuningan ketika menempel ketat di kanan kiri perut kuda berbulu putih itu.
Pakaian..gadis Itu jelas menunjukkan bahwa ia seorang gadis bangsawan.
Akan tetapi cara ia menunggang kuda, memegang kendali dengan sebelah tangan kiri dan tangan kanannya menepuk-nepuk punggung kuda sambil bicara dengan suara nyaring.
"Hirr... bagus, Nagadenta, hayo loncat.....!"
Kedua kakinya menendang-nendang perut kuda di kanan kiri dan kuda putih besar yang terlatih itu lalu berlari congklang setengah berlompatan di atas lapangan rumput di pekarangan luas itu.
Kuda itu dilarikan congklahg mengitari pekarangan.
Tubuh yang indah itu duduknya tegak, bergerak lentur mengikuti gerakan kuda, menandakan bahwa gadis itu memang mahir menunggang kuda.
Tampak serasi sekali antara gadis dan kuda itu sehingga tampak indah sekali.
Puspa Dewi sendiri kagum melihatnya.
"Heii, Nimas, mau apa Andika sejak tadi berdiri di situ? Harap segera tinggalkan tempat ini karena sikap Andika dapat menimbulkan kecurigaan."
Kepala pasukan jaga yang usianya sekitar empat puluh tahun menegur dengan suara halus namun tegas.
Puspa Dewi yang tadinya tertarik dan menonton gadis penunggang kuda itu melarikan kudanya memutari pekarangan, kini menghadapi kepala jaga itu.
Ia melihat betapa semua perajurit jaga kini memandang dan memperhatikannya.
"Maaf, Paman."
Kata Puspa Dewi halus dan orang yang setahun lalu mengenalnya akan terheran menyaksikan sikapnya dan mendengar suaranya yang lembut ramah, tidak seperti biasanya lincah dan galak.
"Saya hendak mencari seorang laki-laki bernama Prasetyo."
"Prasetyo....?"
Kepala jaga itu mengerutkan alisnya, memejamkan matanya, mengingat-ingat. Lalu dia membuka matanya kembali, memandang kepada Puspa Dewi dan menggeleng kepalanya.
"Aku tidak mengenal orang yang bernama Prasetyo. Hei, kawan-kawan, apakah kalian mengenal seorang bernama Prasetyo?"
Sebelas orang perajurif itu berbisik-bisik lalu menggelengkan kepala mereka.
"Tidak ada yang mengenal siapa Prasetyo itu, Kakang Jiman!"
Kata seseorang kepada kepala jaga.
"Sayang sekali, Ninmas. Kami tidak mengenal orang yang bernama Prasetyo itu. Di mana rumahnya?"
Puspa Dewi menuding ke arah rumah gedung itu.
"Rumahnya di sini."
Para perajurit itu saling pandang dan ada yang tertawa geli, bahkan ada yang mulai memandang Puspa Dewi dengan alis berkerut, mengira bahwa gadis itu tentu tidak waras!
Si kepala jaga bernama Jiman itu pun mengerutkan alis dan memandang wajah Puspa Dewi dengan aneh karena menduga gadis cantik itu agak miring ingatannya.
"Engkau keliru, Nimas atau mungkin engkau sedang bingung! Semua orang di kota raja ini tahu belaka bahwa gedung ini adalah milik Gusti Tumenggung Dayatanu, senopati tua Kerajaan Kahuripan!"
"Ya-ya... Tumenggung Jayatanu. Aku mencari Prasetyo, mantu Sang Tumenggung itu!"
Kepala jaga itu semakin yakin bahwa gadis cantik di depannya ini memang agak miring alias tidak waras ingatannya.
Dia memandang dengan pandang mata mengandung iba.
Sayang, pikirnya, gadis yang begini cantik jelita ternyata setengah gila?
"Sadarlah, Nimas.
Engkau salah masuk dan salah sangka.
Mantu Gusti Tumenggung Jayatanu bernama Senopati Yudajaya!"
Puspa Dewi tertegun. Kelirukah dia? Ah, tidak mungkin.
"Paman, tentu ada mantunya yang bernama Prasetyo."
"Tidak ada! Mantunya hanya seorang saja karena puterinya memang hanya seorang dan nama mantunya adalah Senopati Yudajaya. Ah, pergilah, Nimas, engkau menjadi tontonan orang nanti. Pulanglah ke rumahmu."
Kepala jaga itu membujuk.
"Kalau begitu, aku ingin, bertemu dengan Senopati Yudajaya itu, Paman. Hadapkan aku padanya!"
Ki Jiman mengaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal.
Dia menjadi serba salah menghadapi gadis yang agaknya gendeng (idiot) ini!
Kalau dia melapor kepada Senopati Yudajaya dan mempertemukan Sang Senopati itu dengan seorang gadis gila, tentu dia akan mendapat marah besar dan juga mendapat malu.
Akan tetapi kalau tidak, gadis ini agaknya nekat dan bagaimana kalau gadis gila ini mengamuk?"
"Wah, tidak begitu mudah, Nimas,"
Dia membujuk.
"Tidak mudah menghadap dan bertemu dengan Senopati Yudajaya. kami tidak berani mengganggunya karena kami tentu akan mendapat marah!"
Dia lalu membujuk lagi.
"Karena itu pulanglah saja, Nimas. Orang tuamu tentu sedang mencarimu."
Kesabaran Puspa Dewi menipis, la sudah mencoba untuk membujuk dan mendesak.
Namun kepala jaga ini agaknya kukuh tidak mau mempertemukannya dengan Senopati Yudajaya, bahkan melihat sikap nya seolah meragukan kewarasan otaknyal "Sudahlah, kalau kalian tidak dapat menolongku, biar aku mencari dan menghadap sendiri!"
Setelah berkata demikian, Puspa Dewi lalu melangkah masuk dan ingin pergi menyeberangi pekarangan menuju ke rumah besar itu.
"Hee! Perlahan dulu!"
Kepala jaga itu berseru dan dua belas orang perajurit itu lalu menghadang dan melintangkan tombak mereka untuk mencegah Puspa Dewi melangkah maju.
"Andika tidak boleh masuk!"
Kata kepala jaga. Kini agak marah karena jengkel harus melayani gadis yang jelas agak gila ini.
"Hemm, kalian tidak mau melaporkan ke dalam, tidak mau menolongku dan ketika aku hendak mencari dan menghadap sendiri, kalian menghalangi aku! Minggirlah kalian!"
"Nimas, lebih baik engkau keluar dan pulanglah, jangan membikin kekacauan di sini. Kami tidak ingin bersikap kasar kepada seorang wanita. Keluarlah!"
Kepala jaga itu bersama teman-temannya, menggunakan tombak yang dillntangkan untuk memaksa dan mendorong Puspa Dewi keluar dari dalam pintu gapura itu.
Melihat betapa selusin orang itu berkeras hendak mendorongnya keluar, Puspa Dewi lalu mendorongkan kedua tangannya yang menangkap tombak Ki Jirnan yang didorongkan kepadanya.
"Wuuuttt...!"
Bagaikan sekumpulan daun kering tertiup angin, dua belas orang perajurit itu terlempar ke belakang dan berpelantingan.
Tentu saja mereka terkejut bukan main.
Terdengar derap kaki kuda dan kuda putih itu sudah tiba di situ.
Agaknya tadi ketika mengitari pekarangan, gadis penunggang kuda itu melihat peristiwa ini dan ia cepat melarikan kuda menghampiri.
"Apa yang terjadi di sini, Paman Jiman?"
Sambil merangkak bangun seperti juga teman-temannya yang tidak terluka, hanya terkejut saja, Ki Jiman berkata.
"Den Roro, gadis pengacau ini memaksa kami untuk melaporkan kepada Gusti Senopati Yudajaya bahwa ia ingin bertemu. Ia hendak nekad masuk dan ketika kami menghalanginya, la mendorong kami."
Gadis itu melompat turun dari atas punggung kudanya.
Atas isarat gadis itu, seorang perajunt yang paling dekat segera melompat dan menerima kendali kuda.
Dia segera membawa kuda itu menjauh.
Sejenak gadis itu mengamati Puspa Dewi dari kepala sampai ke kaki.
Tubuh mereka sama sintal padat, sama ramping.
Wajah mereka juga sama-sama cantik jelita, walaupun bentuknya berlainan.
Setelah cukup mengamati Puspa Dewi, gadis itu bertanya, suaranya dan sikapnya menunjukkan kebangsawanannya, anggun dan agak tinggi hati.
"Siapakah engkau dan mau apa engkau mencari Ayahku?"
"Ayahmu?"
"Senopati Yudajaya, dia adalah Ayahku. Mengapa engkau hendak bertemu dengan dia? Siapa engkau?"
Puspa Dewi tertegun dan kini ia yang mengamati gadis di depannya itu dari kepala sampai ke kaki penuh perhatian. Gadis ini puteri ayah kandungnya? "Kau... kau puteri Senopati Yudajaya?"
Tanyanya dengan suara tidak percaya.
"Hemm, seluruh penduduk Kahuripan mengenal siapa aku. Aku adalah Niken Harni, puteri tunggal Senopati Yudajaya dan engkau agaknya tidak percaya? Manusia aneh, siapa sih engkau ini?"
"Aku... namaku Puspa Dewi."
Kata Puspa Dewi, agak bingung karena kini ia berhadapan dengan puteri ayahnya, berarti gadis ini adalah Adik tirinya, satu ayah berlainan ibu.
Inilah agaknya anak dari Dyah Mularsih seperti yang diceritakan ibunya.
Dyah Mularsih puteri Senopati Jayatanu yang menjadi isteri ke dua ayahnya!
Pada saat itu, terdengar derap kaki kuda dan seorang laki-laki berusia hampir enam puluh tahun, gagah dan tegak di atas kudanya, memasuki gapura dan melihat ribut-ribut, dia melompat turun.
Gerakannya masih sigap dan melihat pakaiannya tentu dia seorang berpangkat.
"Hei, ada apa ribut-ribut ini? Niken, ada terjadi apakah?"
Tanya orang itu yang bukan lain adalah Tumenggung Jayataun, Kakek dari Niken Harni. Dengan suara manja Niken Harni mendekati kakek itu dan berkata sambil menudingkan telunjuknya ke arah Puspa Dewi.
"Gadis itu, Kanjeng Eyang, membikin kacau dan berkeras hendak menemui Ayah, namanya Puspa Dewi."
"Puspa Dewi....??"
Senopati Tumenggung Jayatanu cepat memandang dan matanya terbelalak lebar ketika dia melihat Puspa Dewi, kemudian dia cepat mencabut kerisnya dan berseru.
"Benar! Ia Puspa Dewi, mata-mata Wura-wuri yang dulu menyelundup ke istana dan menjadi pelayan pribadi selir Mandari yang berkhianat! Para pengawal, tangkap ia! Kalau melawan bunuh mata-mata ini, karena tentu ia berniat buruk terhadap kita!"
Seorang perajurit memukul kentungan dan dari dalam gedung datang berlarian belasan orang pengawal yang memegang senjata klewang atau tombak.
Mendengar perintah Sang Tumenggung, mereka semua yang berjumlah sekitar dua puluh lima orang bersama regu penjaga, mengepung Puspa Dewi dengan senjata siap menyerang.
"Puspa Dewi, menyerahlah kami tangkap agar kami tidak perlu menggunakan tangan kejam membunuhmu!"
Bentak seorang perwira pengawal, lalu dia sendiri bersama dua orang memasuki kepungan dengan niat untuk menangkap Puspa Dewi.
Dua orang perajurit itu lalu menjulurkan tangan hendak menelikung kedua lengan Puspa Dewi.
Akan tetapi gadis ini hanya tersenyum saja dan sebelum tangan-tangan itu menyentuhnya, ia menggerakkan kedua tangannya dan dua orang itu bersama Sang Perwira terpelanting keras sampai terguling-guling!
Melihat ini.
Tumenggung Jayatanu menjadi marah.
Dia merasa yakin bahwa gadis yang dia dengar merupakan Sekar Kedaton Kerajaan Wura-wuri itu tentu akan mengamuk dan melakukan pembunuhan-pembunuhan.
Maka dia membentak memberi aba-aba.
"Serbu! Bunuh mata-mata Wura-wuri ini!"
Dua puluh lebih orang itu segera menerjang dengan senjata mereka.
Belasan batang tombak, klewang dan keris menyambar-nyambar bagaikan hujan ke arah tubuh Puspa Dewi.
Akan tetapi Puspa Dewi tetap tenang dan tersenyum.
Kalau saja dirinya dikeroyok seperti itu setahun yang lalu, tentu dia akan marah dan mengamuk.
Entah betapa banyak pengeroyok yang akan roboh tewas.
Akan tetapi sekarang ia tidak membiarkan nafsu amarah mempengaruhinya.
Apalagi para pengeroyok itu bukan orang-orang jahat.
Maka ia lalu mengerahkan tenaga saktinya dan menggerakkan tubuhnya.
Kedua tangannya berkelebatan dan dari kedua tangan itu menyambar angin yang kuat sekali sehingga mereka yang berani mendekat tentu terpelanting dan roboh dengan tubuh babak bundas (lecet-lecet) akan tetapi tidak ada yang terluka berat, apalagi tewas.
Namun, setelah dua puluh lima orang itu terpelanting roboh, mereka merasa jerih dan maklum bahwa gadis itu memiliki kesaktian yang hebatl Niken Harni yang sejak kecil sudah mempelajari aji kanuragan, melihat semua perajurit berpelantingan, menjadi marah.
Ia mencabut sebatang patrem (keris kecil) dan melontarkannya ke arah Puspa Dewi.
Melempar patrem ini merupakan satu di antara keahlian gadis cantik ini.
Pernah ia merobohkan seekor harimau dengan lontaran patremnya yang tepat mengenai leher harimau itu.
Pada saat hamper berbareng, Tumenggung Jayatanu juga sudah melontarkan sebatang tombak ke arah Puspa Dewi.
Dua buah senjata itu meluncur dengan cepat, terutama tombak itu mengeluarkan suara berdesing dan menyambar seperti kilat ke arah perut Puspa Dewi, sedangkan patrern itu menyambar ke arah lehernya!
Puspa Dewi tidak marah, la dapat mengerti mengapa Tumenggung Jayatanu langsung saja memusuhinya.
Tentu Tumenggung Jayatanu tidak tahu bahwa dulu itu ia membela Kahuripan dan masih saja dianggap sebagai Sekar Kedaton Wengker yang ikut dalam persekutuan pemberontak.
Yang tahu akan hal itu hanyalah Ki Patih Narotama, Nurseta, dan Dyah Untari, selir Sang Prabu Erlangga.
Agaknya Sang Prabu Erlangga tentu mengetahui pula, mendengar dari laporan Dyah Untari.
Selain mereka, mungkin hanya beberapa orang senopati atau pejabat tinggi yang dekat dengan raja dan patih itu yang mengetahuinya.
Kalau hanya mendengar bahwa ia adalah wakil Wura-wuri dalam persekutuan pemberontak itu, tentu saja ia akan dimusuhi, seperti sikap Tumenggung Jayatanu ini.
Ketika patrem dan tombak itu menyambar ke arahnya, kedua tangan Puspa Dewi bergerak dan ia sudah menyambar dan menangkap dua buah senjata yang menyerangnya itu.
"Krek-krek-krek...!"
Dengan tenang saja kedua tangan gadis itu lalu mematah-matahkan patrem dan tombak itu, demikian mudahnya seperti orang mernatah-matahkan dua batang lidi saja!
Tentu saja Tumenggung Jayatanu dan cucunya, Niken Harni, terbelalak memandang dengan muka pucat.
Pada saat itu, tampak seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun, berwajah tampan dan ganteng, berpakaian seperti seorang perwira, berlari cepat memasuki pintu gapura itu.
Dia melihat dua puluh lima orang perajurit yang masih tampak ketakutan dan babak belur itu, lalu melihat Tumenggung Jayatanu dan Niken Harni berdiri terbelalak dan muka mereka pucat memandang kepada seorang gadis cantik.
Dia segera maju menghampiri dan pandang matanya seperti melekat kepada Puspa Dewi.
Puspa Dewi juga memandang kepada laki-laki itu.
"Ayah, perempuan ini datang mengacau dan mengancam kita!"
Kata Niken Harni kepada laki-laki yang baru datang.
Akan tetapi Senopati Yudajaya atau ketika dahulu bernama Prasetyo, seolah tidak mendengar ucapan puterinya dan tetap memandang kepada Puspa Dewi seperti terpesona.
Setelah tiba di depan Puspa Dewi dalam jarak sekitar tiga tombak, dia berhenti melangkah dan berdiri dengan mata tetap terbelalak.
(Lanjut ke
Jilid 05) Nurseta Satria Karang Tirta (seri ke 02 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 05
"Lasmi.... engkau.... Lasmi...."
Dia berseru perlahan dan terputus-putus. Hati Puspa Dewi merasa terharu sekali, akan tetapi juga merasa penasaran dan kecewa.
"Hemm, masih ada orang yang ingat kepada Nyi Lasmi? Selama, sembilan belas tahun ia hidup terlantar, terlunta-lunta dan sengsara, akibat ulah seorang laki-laki kejam bernama Prasetyo!"
Prasetyo, atau Senopati Yudajaya, menjadi pucat wajahnya dan dia mengamati wajah dan bentuk tubuh Puspa Dewi penuh selidik.
Kini baru dia menyadari bahwa wanita di depannya ini tidak mungkin Lasmi yang sekarang tentu jauh lebih tua.
"Andika.... siapakah? Di mana kini... Lasmi isteriku?"
"Prasetyo, gadis ini adalah seorang telik sandi dari Wurawuri! la dahulu mewakili Wura-wuri dalam persekutuan pemberontak pimpinan Pangeran Hendratama. la ini sekar Kedaton dari Wura-wuri yang jahat!"
"Benar, Ayah! Puspa Dewi ini jahat dan hendak membunuh Ayah!"
Kata Niken Harni. Tubuh Prasetyo gemetar dan wajahnya menjadi pucat ketika dia menatap Puspa Dewi dengan mata terbelalak.
"Puspa Dewi.... kau Puspa Dewi.... puteri dari Lasmi....?"
Puspa Dewi tersenyum.
"Hemm, Andika masih ingat kepada Ibu dan Anak yang telah Andika telantarkan, Andika tinggal begitu saja dengan kejam karena Andika mabok kesenangan dan kedudukan? Begitukah sikap seorang satriya, seorang suami dan Ayah yang bertanggung jawab?"
Tubuh Prasetyo gemetar seolah lumpuh semua urat dan syarafnya dan dia terkulai dan jatuh berlutut, menutupi mukanya dengan kedua tangan .
"....aduhh ... Lasmi... ampunkan aku.... ampunkan aku...."
Laki-laki yang gagah petkasa itu menangis tanpa suara dan kedua pundaknya bergoyang-goyang, tubuhnya terguncang.
"Ayah....!"
Niken Harni menubruk ayahnya. Kemudian ia meloncat berdiri dengan muka merah dan mata berkilat memandang kepada Puspa Dewi.
"Puspa Dewi! Jangan sembarangan menuduh Ayahku! Kalau engkau hendak menghina dan membunuh Ayahku, langkahi dulu mayatku!"
Dengan gagah Niken Harni menantang Puspa Dewi, sungguhpun ia tahu benar betapa saktinya gadis itu. Tumenggung Jayatanu maju menghampiri Puspa Dewi.
"Andika keliru kalau menuduh Prasetyo seorang suami dan Ayah yang tidak bertanggung jawab. Selama ini dia juga menderita dan sudah berusaha mencari Lasmi tanpa hasil. Kalau mau mencari siapa yang bersalah, akulah yang bersalah."
Hati Puspa Dewi seperti diremas-remas.
Ia sudah merasa terharu dan kasihan melihat laki-laki yang menjadi ayah kandungnya itu, menangis menyesali perbuatannya dan minta ampun, ditambah lagi pembelaan adik tirinya yang menantang maut untuk membela ayahnya, dan sikap Tumenggung Jayatanu yang mengakui bersalah.
Tak dapat ditahannya lagi, beberapa butir air mata mengalir turun dari sepasang matanya, la lalu melangkah menghampiri Prasetyo yang masih berlutut dan kepala menunduk dan kedua tangan menutupi mukanya.
Niken Harni dan Tumenggung Jayatanu mengikuti Puspa Dewi dengan khawatir, siap untuk melindungi Prasetyo kalau-kalau akan diserang Puspa Dewi.
Dalam jarak satu tombak Puspa Dewi berhenti dan berdiri di depan ayahnya, memandang laki-laki yang masih berlutut dan menangis tanpa suara itu.
Air mata semakin deras keluar dari kedua matanya, mengalir di atas kedua pipinya.
"Ayah... bangunlah...."
Katanya lirih.
Prasetyo atau Senopati Yudajaya menurunkan kedua tangannya, mengangkat mukanya yang pucat dan basah air mata itu memandang kepada Puspa Dewi dan dengan kaki gemetar dia bangkit berdiri.
Ayah dan anak ini sejenak saling pandang.
"Engkau... engkau Puspa Dewi, anak Lasmi.... kau.... anakku...."
"Ayah....!!"
Mereka saling tubruk dan saling rangkul, keduanya menangis. Prasetyo mendekap kepala itu ke dadanya, menengadah dengan mata basah.
"Duh Gusti.... terima kasih atas anugerah yang membahagiakan ini....! Puspa Dewi, anakku, engkau mau memaafkan Ayahmu ini?"
Puspa Dewi tidak dapat menjawab dengan suara karena keharuan serasa mencekik lehernya, la hanya mengangguk dalam rangkulan ayahnya.
"Ibumu di mana?"
Sebelum Puspa Dewi menjawab. Tumenggung Jayatanu berkata.
"Sebaiknya kita masuk dan bicara di dalam. Tidak enak dan tidak leluasa bicara di sini."
Prasetyo teringat bahwa di situ banyak perajurit yang kini memandang ke arah mereka dengan heran.
"Mari, Anakku, kita bicara di dalam."
Puspa Dewi tidak membantah dan membiarkan dirinya digandeng ayahnya memasuki gedung tumenggungan itu.
Tumenggung Jayatanu dan Niken Harni mengikuti dari belakang.
Hati kakek dan cucunya ini merasa lega bahwa Puspa Dewi tidak jadi mengamuk seperti yang mereka kira.
Nyai Tumenggung menyambut dan ketika ia mendengar bahwa gadis yang datang itu adalah puteri Prasetyo dan Lasmi, ia memegang kedua tangan Puspa Dewi dan berkata lembut.
"Ah, Cicuku! Engkau Cucuku juga karena sudah lama Ayahmu mencari-carimu sehingga kami juga merasa prihatin sekali."
Pada saat itu, seorang wanita berusia sekitar tiga puluh enam tahun yang berwajah lembut muncul.
Ketika ia mendengar bahwa gadis itu adalah Puspa Dewi, ia merangkulnya dan suaranya serak karena terharu ketika bicara.
"Aduh, Anakku! Kami semua bingung memikirkan Ibumu. Ayahmu selalu merasa menyesal dan berduka kalau teringat kepada Ibumu dan engkau. Mengapa Mbakyu Lasmi tidak mau tinggal di sini? Di mana adanya Mbakyu Lasmi sekarang dan mengapa ia tidak ikut datang ke sini?"
Puspa Dewi merasa terharu dan diam-diam ia harus mengakui bahwa keluarga Tumenggung Jayatanu adalah orang-orang yang baik hati, tidak seperti yang semula ia duga.
Biarpun mereka adalah orang-orang bangsawan, namun sama sekali tidak angkuh, bahkan ibu tirinya yang tadinya ia benci karena ia anggap wanita itu merebut ayahnya dari samping ibunya, bersikap demikian ramah dan baik.
Mereka kini duduk mengitari sebuah meja bundar.
Keharuan sudah mereda dan mereka dapat bersikap biasa, bahkan Prasetyo kini sudah berseri wajahnya, jelas dia berbahagia sekali dapat bertemu dengan puterinya.
Tumenggung Jayatanu masih merasa penasaran dan dia berkata.
"Wah, aku telah salah sangka. Kukira tadi bahwa engkau adalah puteri Kerajaan Wura-wuri yang dulu membantu persekutuan pemberontak dan kini datang untuk melakukan kekacauan!"
Katanya sambil tersenyum lebar.
"Tentu hanya merupakan persamaan nama yang kebetulan saja."
"Eyang tidak salah sangka. Memang sayalah Sekar Kedaton Wura-wuri itu, Eyang."
"Apa...??"
Tumenggung Jayatanu berseru kaget sambil bangkit berdiri dari kursinya.
Juga Niken Harni, Dyah Mularsih, dan Nyai Tumenggung terkejut dan memandang kepada Puspa Dewi dengan mata terbelalak.
Akan tetapi Prasetyo atau Senopati Yudajaya tetap tenang bahkan dia tertawa dan berkata.
"Kanjeng Rama dan semua saja harap jangan kaget dan khawatir. Saya telah mendengar dari Gusti Patih Narotama bahwa Puspa Dewi yang tadinya mewakili Wura-wuri bersekutu dengan pemberontak itu telah mengubah sikap, berbalik membela Kahuripan dan menentang persekutuan pemberontak. Bahkan, Gusti Patih memerintahkan kepada saya dan pasukan khusus untuk menyelidiki di mana adanya Puspa Dewi dan mengundangnya ke istana karena Gusti Sinuhun berkenan ingin bertemu dengannya. Tadinya saya mengira bahwa tentu Puspa Dewi yang dimaksudkan sebagai puteri Wura-wuri itu bukan anak saya, tentu hanya persamaan nama yang kebetulan saja. Akan tetapi, baru saja Puspa Dewi mengaku bahwa Sekar Kedaton Wura-wuri itu memang ia orangnya! Nah, Puspa Dewi Anakku, engkau telah membuat kami semua menjadi heran, bingung dan bertanya-tanya. Apakah... apakah..."
Wajah Prasetyo berubah, jelas ia tampak rikuh dan segan mengajukan pertanyaan selanjutnya.
"Apakah apa, Ayah?"
Puspa Dewi mendorongnya.
"Apakah... maaf, apakah Ibumu kini menjadi permaisuri di Wura-wuri?"
Puspa Dewi menggeleng kepalanya.
"Sebelum aku memberi penjelasan dan menceritakan pengalaman Ibu dan saya, saya harap Ayah suka menceritakan dulu bagaimana dan mengapa Ayah dan Ibu sampai berpisah."
Prasetyo memandang kepada isterinya dan Dyah Mularsih berkata dengan lembut dan tenang.
"Kakangmas Prasetyo, tidak perlu sangsi dan bimbang, ceritakan saja semuanya. Anakmu Puspa Dewi memang berhak untuk mengetahui segalanya agar terhapus semua sangkaan yang keliru."
"Benar kata-kata isterimu itu. Keterbukaan itu penting sekali bagi sebuah keluarga agar terdapat saling pengertian. Kesalahan yang terlanjur dilakukan dapat ditebus dengan penyesalan dan pengakuan secara jujur."
Kata'Tumenggung Jayatanu Mendengar ucapan ibu tiri dan kakek tirinya itu, Puspa Dewi menjadi rikuh dan merasa tidak enak hati.
Mereka begitu terbuka dan sikap mereka membayangkan bahwa mereka adalah keluarga yang terhormat dan baik budi.
"Baiklah, Puspa Dewi. Begini ceritanya. Aku menikah dengan Lasmi, Ibumu itu dan kami hidup berbahagia di kota raja ini di mana aku bekerja sebagai seorang perwira pengawal. Ketika Ibumu mengandung, ia minta pulang ke dusun Munggung agar kalau ia melahirkan, ia akan dekat dengan Ibunya yang akan merawatnya. Aku mengantarnya pulang ke Munggung."
"Ibu telah bercerita tentang itu kepada saya. Setelah Ibu tinggal di Munggung sampai saya terlahir, Ayah telah menikah lagi..."
Puspa dewi memandang kepada Dyah Mularsih dan merasa rikuh.
"Maaf, Ibu... saya tidak bermaksud menuntut, hanya menceritakan yang sebenarnya."
Dyah Mularsih tersenyum.
"Tidak mengapa, Anakku, memang sudah semestinya begitu. Kami saling mencinta dan ketika aku mendengar bahwa Ayahmu telah beristeri, aku yang sudah terlanjur saling jatuh cinta, dapat menerima untuk menjadi isteri kedua."
"Begitulah, Puspa Dewi."
Prasetyo melanjutkan.
"Sesungguhnya, tidak ada niatku semula untuk tidak setia kepada Lasmi. Akan tetapi, berbulan-bulan aku hidup seorang diri di kota raja, dan pada suatu hari, secara kebetulan aku menolong Ibumu ini, Dyah Mularsih, yang terancam bahaya karena kuda yang ditungganginya kabur dengan liar. Aku berhasil menyelamatkannya dan sejak saat itu, kami saling jatuh cinta. Akhirnya, karena akrab dengannya, aku harus bertanggung jawab menikahinya. Aku mengajak Ibumu yang telah melahirkan untuk kuboyong ke sini, akan tetapi Ibumu tidak mau, berkeras ia menolak untuk kuboyong ke rumah ini."
"Itu benar, Puspa Dewi. Bahkan aku sendiri yang mendesak Ayahmu agar Mbakyu Lasmi diboyong ke sini dan hidup satu keluarga dengan kami. Akan tetapi ia selalu menolak."
"Ibu juga telah menceritakan hal Itu. Ibu menolak karena merasa malu kalau harus tinggal di sini yang dianggapnya mondok di rumah madunya. Ia rela dimadu, akan tetapi Ibu yang merasa sebagai orang kecil yang miskin, tidak mau merendahkan diri. Saya kira hal ini tidak buruk karena kalau seorang wanita dusun yang miskin tidak memiliki harga diri, lalu apa yang ia miliki?"
"ah, Cucuku!"
Kata Tumenggung Jayatanu.
"Ibumu seorang wanita yang berhati keras. Ia berkeras tidak mau pindah kesini sehingga tentu saja amat sukar bagi Ayahmu memiliki dua orang istrri yang tempat tinggalnya jauh terpisah. Setelah jelas Ibumu tidak mau pindah dan Ayahmu menjadi bingung, aku lalu minta Ayahmu mengambil keputusan dan bertanggung jawab. Tidak mungkin dia mempunyai dua orang isteri yang terpisah jauh tempat tinggalnya. Maka jalan satu-satunya adalah Ayahmu harus memilih salah satu, yaitu menceraikan Dyah Mularsih dan hidup bersama Ibumu, atau Ibumu dan hidup dengan kami di sini. Ya, itulah yang menjadikan persoalan, cucuku "
Kata Tumenggung Jayatanu ".
"Ya, demikianlah, Puspa Dewi. Aku menjadi bingung sekali. Aku mendatangi Diajeng Lasmi dan kuceritakan hal itu. Kuceritakan bahwa aku merasa berat untuk menceraikan salah seorang, apalagi kedua orang isteriku sama-sama telah mempunyai anak. Lasmi mempunyai engkau dan Dyah Mularsih mempunyai Niken Harni ini. Aku menjadi serba salah dan aku masih seringkali berkunjung ke Munggung, bahkan ketika engkau baru berusia beberapa hulan, Ibumu diganggu dan hendak dikawin dengan paksa oleh Darsikun putera seorang demang. Ibumu menolak dan Bapak mertuaku, yaitu Ayah dari Ibumu, membela Lasmi akan tetapi dia malah tewas dibunuh. Pada saat itu aku datang dan kubunuh Darsikun dan dua orang tukang pukulnya. Setelah terjadi hal itu, tak lama kemudian, Nenekmu Ibu mertuaku, sakit-sakitan dan meninggal dunia pula. Kemudian, tanpa memberitahu kepadaku, Ibumu mengajak engkau pergi. Tidak ada orang mengetahui kemana perginya dan percayalah, kami berusaha mencari Ibumu akan tetapi gagal, Ibumu seolah-olah hilang tak meninggalkan jejak, dan tak tentu rimbanya."
Prasetyo berhenti dan memandang kepada anaknya dengan sedih.
"Mbakyu Puspa Dewi, sejak aku dapat mengingat, Ayahku selalu berduka mengingat Ibu Lasmi dan engkau sehingga aku, Ibu, Kakek dan Nenek juga ikut bersedih. Semua keluarga mengharapkan dapat bertemu dan mengajak Ibu Lasmi dan engkau hidup bersama kami di sini."
Kata Niken Harni yang tadi ikut pula mengeluarkan air mata karena haru melihat ayahnya dan kakek tirinya.
"Nah, sekarang tiba giliranmu, Puspa Dewi. Ceritakanlah, apa yang terjadi dengan Ibumu dan engkau setelah meninggalkan Munggung?"
Tanya Prasetyo.
Daun pintu diketuk dan percakapan terhenti.
Setelah diperbolehkan masuk, seorang pelayan datang membawa Baki (nampan) berisi cangkir-cangkir minuman.
Setelah menaruh minuman di atas meja, Nyai Tumenggung memberi isyarat dengan tangannya agar pelayan itu cepat pergi meninggalkan ruangan itu.
"Baiklah, sekarang saya akan menceritakan semua, akan tetapi dengan singkat saja karena sesungguhnya amat tidak menyenangkan menceritakan semua pengalaman buruk itu. Menurut penuturan Ibuku, setelah meninggalkan Munggung Ibu membawa saya merantau dan selalu menyembunyikan nama agar tidak mudah dilacak ke mana Ibu pergi. Akhirnya, setelah merantau dengan susah payah, mengalami banyak penderitaan, berpindah-pindah dari satu dusun ke dusun lain, selalu memilih dusun yang sunyi terpencil, Ibu tinggal di dusun Karang Tirta, ketika itu saya berusia sekitar enam tahun."
"Kasihan Diajeng Lasmi."
Kata Prasetyo terharu. 'Ketika itu Ibumu sih muda, mengapa tidak menikah lagi?"
Tanya Tumenggung Jayatanu.
"Kata Ibu, selama itu memang banyak laki-laki yang meminangnya sebagai isteri, akan tetapi semua Ibu tolak karena Ibu hanya ingin hidup berdua dengan saya dan tidak ingin diganggu dengan kehadiran orang lain. Kami tinggal di Karung Tirta dan Ibu merasa tenteram dan tenang di sana sehingga sampai bertahun-tahun kami tidak pindah lagi. Ketika saya berusia tiga belas tahun, terjadilah peristiwa yang mengubah sama sekali kehidupan Ibu dan saya. Saya diculik dan dibawa lari Nyi Dewi Durgakumala."
"Aduh! Nyi Dewi Durgakumala, datuk sesat dari Wura-wuri itu?"
Kata Tumenggung Jayatanu kaget.
"Benar, Eyang. Saya tidak boleh meninggalkannya dan kalau saya nekat tentu saya akan dibunuhnya. Akan tetapi, ia bersikap baik sekali kepada saya. Ia mengambil saya menjadi muridnya dan mengajarkan aji kanuragan kepada saya."
"Wah, pantas engkau digdaya sekali, Mbakayu Puspa Dewi!"
Seru Niken Harni.
"Engkau harus mengajarkan kesaktianmu kepadaku!"
"Niken, biarkan Mbakayumu melanjutkan ceritanya dulu!"
Kata Prasetyo, menegur puterinya.
"Akan tetapi, Nyi Dewi Durgakumala terkenal sebagai seorang datuk wanita yang amat jahat dan kejam...."
Kata Tumenggung Jayatanu dengan suara meragu sambil menatap wajah Puspa Dewi, seolah dia khawatir mendengar gadis itu mempunyai guru sejahat itu.
"Memang benar. Eyang, la jahat sekali dan melakukan banyak kekejaman sehingga seringkali bentrok dengan saya. Akan tetapi, ia menyayang saya dan menganggap saya sebagai anaknya sendiri sehingga sering juga ia mendengar omongan saya dan membatalkan perbuatan jahatnya. Kemudian, Nyi Dewi Durgakumala menjadi isteri Adipati Bhismaprabhawa dari Wura-wuri. Karena saya telah diakui sebagai anak oleh Nyi Dewi Durgakurnala, maka dengan sendirinya saya menjadi Sekar Kedaton Kerajaan Wura-wuri. Sebagai puteri angkat Permaisuri Wura-wuri, saya dijadikan utusan yang mewakili Wura-wuri dalam persekutuan para kadipaten yang bergabung dengan pemberontak di Kahuripan, untuk menjatuhkan Sang Prabu Erlangga yang mereka musuhi."
"Lalu engkau diselundupkan ke istana Sang Prabu Erlangga sebagai pelayan pribadi Selir Mandari, begitu yang kudengar sehingga aku mengira engkau tentu memusuhi Kahuripan. Baru sekarang aku mendengar dari Prasetyo tadi bahwa engkau malah membela Kahuripan dan menentang para pemberontak."
Kata Tumenggung Jayatanu.
"Saya tidak dapat menolak perintah Adipati Bhismaprabhawa dan Nyi Dewi Durgakumala maka saya lalu berangkat ke Kahuripan dan secara rahasia bergabung dengan persekutuan itu. Akan tetapi setelah saya bertemu dengan Ki Patih Narotama dan Sang Prabu Erlangga, saya menjadi tahu bahwa Kahuripan dipimpin orang-orang yang bijaksana, sebaliknya persekutuan itu terdiri dari orang-orang yang jahat dan sesat. Maka setelah menyadari hal itu, saya membalik, membela Kahuripan dan menentang persekutuan itu dapat dihancurkan, tentu saja saya tidak berani kembali ke Wura-wuri karena mereka tentu akan memusuhi saya yang telah mengkhianati mereka."
"Engkau sama sekali bukan pengkhianat, Puspa Dewi."
Kata Prasetyo.
"Engkau adalah Anakku dan Lasmi. Kami berdua adalah kawula Kahuripan, maka engkau juga kawida Kahuripan yang sudah semestinya membela Kahuripan dan menentang mereka yang memusuhi Kahuripan. Akan tetapi, bagaimana dengan Ibumu?"
Puspa Dewi merasa tidak enak sekali untuk menceritakan ibunya. Akan tetapi ia tidak dapat mengelak dan memang lebih baik berterus terang, la pun siap membela ibunya kalau dianggap bersalah.
"Sampai saya berusia tiga belas tahun, selama itu Ibu tidak mau menjadi isteri orang karena Ibu ingin hidup berdua dengan saya tanpa ada gangguan seorang suami yang tentu akan menjadi Ayah tiriku. Akan tetapi saya diculik Nyi Dewi Durgakumala. Ibu menjadi bingung dan kehilangan pegangan. Saya adalah satu-satunya orang yang dekat dengannya dan menjadi tumpuan harapannya akan tetapi saya hilang tanpa ada yang mengetahui ke mana saya dilarikan penculik. Dalam keadaan bingung, gelisah, duka yang membuat Ibu putus asa itu, datang uluran tangan dari Ki Lurah Suramenggala, lurah dusun Karang Tirta."
"Ah, Lurah Suramenggala yang dipecat oleh Gusti Patih Narotama itu?"
Tumenggung Jayatanu berseru.
"Jadi Eyang sudah mengetahui hal itu?"
"Aku hanya mendengar bahwa Gusti Patih telah memecat Lurah Karang Tirta yang dianggap nyeleweng dan Ki Suramenggala beserta seluruh keluarganya diusir keluar dari dusun Karang Tirta. Lalu bagaimana selanjutnya dengan Ibumu?"
"Dalam keadaan gelisah, bingung dan putus asa itu Ibu dihibur oleh Ki Lurah Suramenggala. Sikap lurah itu baik sekali kepada Ibu, bahkan menjanjikan akan mencari saya sampai dapat ditemukan. Tentu saja dalam keadaan seperti itu, datang uluran tangan, Ibu berterima kasih sekali dan... dan Ibu tidak dapat menolak ketika Ki Suramenggala mengambilnya menjadi selirnya."
Puspa Dewi menghentikan kata-katanya dan mengamati wajah ayahnya dengan penuh selidik untuk mengetahui bagaimana tanggapan batin pria itu terhadap cerita tentang ibunya.
Sepasang alis Prasetyo berkerut, dia mengangkat muka setelah tadi menunduk, memandang kepada Puspa Dewi dan menghela napas panjang.
"Diajeng Lasmi berhak untuk menikah lagi dengan pria mana pun yang ia sukai, malah sebetulnya hal itu sudah sejak dulu ia lakukan."
Yang lain-lain diam saja tidak memberi komentar karena maklum bahwa urusan itu rawan dan peka sekali bagi perasaan Prasetyo dan terutama Puspa Dewi.
Melihat sikap dan mendengar ucapan ayahnya, Puspa Dewi merasa lega.
Ayah kandungnya ini ternyata seorang yang bijaksana.
Andaikata ayahnya menyambut cerita itu dengan memperlihatkan kemarahan, ia tentu akan menegur ayahnya untuk bercermin dan melihat bahwa keadaan ibunya itu dialah yang menjadi sebabnya.
Kini, melihat sikap ayahnya, Puspa Dewi juga menghela napas panjang "Sayang sekali, Ibu yang sedang kebingungan karena kehilangan saya itu, ternyata salah lihat, dan salah pilih.
Lurah itu bagaikan musang berbulu ayam atau srigala bermuka domba.
Dia menolong Ibu bukan karena dia merasa iba, bukan karena kebaikan hatinya, melainkan karena memang sejak dulu dia menaksir Ibu.
Maka dapat dibayangkan betapa kesengsaraan Ibu semakin parah, sudah kehilangan saya, bertambah lagi menjadi selir orang yang ternyata berwatak buruk dan jahat."
"Duh Gusti.... kasihan Diajeng Lasmi, terlunta-lunta dan semua itu gara-gara aku..."
Prasetyo mengeluh.
"Yang bersalah adalah aku."
Kata Dyah Mularsih sambil menundukkan mukanya.
"Aku telah merampas Kakangmas Prasetyo dari Ibumu, Puspa Dewi."
"Tidak, Akulah yang bersalah!"
Kata Tumenggung Jayatanu.
"Kalau aku membiarkan Prasetyo tinggal di rumahnya sendiri, tentu hal ini tidak berlarut-larut."
"Akan tetapi rumah sebesar ini, apakah harus ditinggali kita berdua saja?"
Nyai Tumenggung membantah suaminya, lalu berpaling kepada Puspa Dewi.
"Puspa Dewi, aku tidak tahan untuk berpisah dari Anakku Dyah Mularsih adalah Anakku satu-satunya, bagaimana mungkin kami membiarkan ia pergi ikut suaminya pindah ke rumah lain membiarkan kami berdua orang tua kesepian dalam rumah sebesar ini? Aku memang bersalah, karena akulah yang membujuk Eyangmu untuk melarang agar Dyah Mularsih jangan pindah meninggalkan kami."
Mendengar ucapan mereka dan melihat betapa mereka itu bersungguh-sungguh merasa bersalah dan menyatakan penyesalan mereka dalam suara mereka, Puspa Dewi menghela napas panjang dan berkata.
"Sesungguhnya, Ibuku juga bersalah, la terlalu keras hati dan berkukuh tidak mau diboyong Ayah ke sini, andaikata ketika itu ia mau, tentu tidak timbul persoalan lagi."
Tiba-tiba terdengar suara tawa yang tentu saja terdengar janggal dan memecahkan suasana haru dan serius tadi. Suara tawa merdu dari mulut Niken Harni.
"He-he-he-hi-hik! Semua orang mengaku salah. Eyang Kakung (Kakek) bersalah, Eyang Puteri (Nenek) bersalah, Ayah bersalah, Ibu bersalah, dan menurut Mbakayu Puspa Dewi, Ibu Lasmi juga bersalah! Mbakayu Puspa Dewi, lalu kita berdua ini bagaimana? Apakah kita berdua sebagai Anak-anak mereka juga bersalah?"
Puspa Dewi tertawa dan semua orang tertawa sehingga suasananya berubah gembira.
Ternyata pengakuan bersalah dari dirinya sendiri itu mendatangkan kelegaan yang membangkitkan kegembiraan!
"Yah, beginilah seharusnya.
Dunia penuh pertikaian, permusuhan, semua itu dikarenakan setiap orang merasa benar sendiri dan mencari-cari kesalahan orang lain sehingga saling menyalahkan yang menimbulkan permusuhan.
Kalau saja kita masing-masing mencari dan menemukan lalu berani mengakui kesalahan sendiri masing-masing, dunia ini tentu akan damai dan tenteram.
Pertaubatan dan pembaharuan langkah hidup dimulai dengan pengakuan kesalahan diri sendiri."
Kata Tumenggung Jayatanu. Semua orang terdiam dan ucapan itu mendatangkan kesan mendalam.
"Puspa Dewi, lalu bagaimana dengan Ibumu? Bagaimana keadaannya sekarang dan di mana ia berada?"
Tanya Prasetyo atau Senopati Yudajaya.
"Tadi Eyang Tumenggung sudah menceritakan bahwa Gusti Patih Narotama membikin pembersihan di dusun Karang Tirta. Ki Lurah Suramenggala dipecat dan diusir dari Karang Tirta. Ibu menggunakan kesempatan ini untuk membebaskan diri dari Ki Suramenggala dan tidak mau ikut dia pergi. Ibu lalu diterima oleh Ki Pujosaputro beserta keluarganya. Ki Pujosaputro adalah lurah baru Karang Tirta hasil pilihan penduduk dusun itu dan disahkan oleh Gusti Patih Narotama. Semua yang terjadi itu saya ketahui dari penuturan Ibu. Ketika saya berada di sana, pada suatu hari datang lima orang senopati Wura-wuri yang diperintahkan Adipati Bhismaprabhawa untuk menangkap saya. Tentu saja saya tidak mau dan terjadi perkelahian. Saya dikeroyok lima orang senopati itu. Kemudian mereka bertindak curang. Seorang di antara mereka menangkap Ibuku dan mengancam saya untuk menyerah, kalau tidak mereka akan membunuh Ibuku."
"Wah, licik! Curang! Kalau aku berada di sana, tentu aku akan membantumu, Mbakayu Puspa Dewi!"
Teriak Niken Harni sambil bangkit berdiri dan mengepal kedua tangannya! "Niken, biarkan Mbakayumu melanjutkan ceritanya."
Kata Prasetyo dan Niken Harni duduk kembali.
"Pada saat yang gawat karena saya meragu harus berbuat apa, dan Ibu berteriak agar aku tidak menyerah, tiba-tiba muncul seorang kakek yang sakti mandraguna dan dia membuat lima orang Wura-wuri itu ketakutan dan melarikan diri. Kakek itu lalu pergi begitu saja. Saya merasa kagum dan penasaran. Saya kejar dia dan akhirnya setelah kami berkejaran semalam suntuk, kakek itu mengalah dan berhenti. Beliau lalu memberi pelajaran kepada saya selama tiga bulan."
"Mbakayu Puspa Dewi, siapakah Kakek itu? Kalau dia begitu sakti mandraguna, saya pun ingin menjadi muridnya!"
"Nama beliau adalah Sang Maha Resi Satyadharma dari Gunung Agung di Bali-dwipa."
"Jagad Dewa Bathara....!"
Tumenggung Jayatanu berseru dengan kagum dan heran.
"Maha Resi Satyadarma? Beliau adalah guru Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama!"
"Benar, Eyang. Beliau juga memberitahu saya akan hal itu."
"Waduh! Hebat engkau, Mbakayu! Engkau menjadi saudara seperguruan Gusti Sinuhun dan Gusti Patih!"
"Ah, mana bisa dikatakan begitu, Niken. Kedua Beliau itu adalah murid-murid Eyang Maha Resi Satyadharma selama bertahun-tahun, sedangkan aku hanya mendapat polesan selama tiga bulan saja."
"Niken, jangan memotong cerita Mbakayumul"
Nyai Tumenggung menegur cucunya.
"Baik... baik...!"
Niken cemberut manja.
"Nah, silakan melanjutkan ceritamu, Mbakayu Dewi."
"Setelah membimbing saya selama tiga bulan, Eyang Resi lalu berpisah dari saya dan saya langsung pergi ke kota raja untuk mencari Ayah dan menceritakan segala hal mengenai Ibu. Sungguh menyesal sekali kedatangan saya menimbulkan kekacauan, Eyang. Mohon diampuni kelancangan saya."
Tumenggung Jayatanu, isterinya, juga Prasetyo dan Dyah Mularsih, merasa terharu mendengar ucapan terakhir Puspa Dewi itu.
"Ah, itu hanya kesalahpaharhan di pihak kami, Puspa Dewi."
Kata Tumenggung Jayatanu.
"Niken Harni, engkau mendengar semua cerita Mbakayumu tadi? Nah, contohlah sikap dan sepak terjang Mbakayumu itu, jangan sekali-kali bersikap tinggi hati dan manja."
Niken cemberut.
"Aih, Ibu...! Siapa sih yang tinggi hati dan manja?"
"Jadi sekarang Diajeng Lasmi masih berada di Karang Tirta?"
"Benar, Ayah. Di rumah Ki Lurah Pujosaputro."
"Kalau begitu, kita berangkat ke sana, sekarang juga untuk menjemputnya!"
"Aku ikut, Ayah!"
Kata Niken Harni.
"Sebaiknya kita semua pergi ke sana beramai-ramai menjemput Mbakayu Lasmi. Dengan begitu ia tentu maklum akan maksud baik kita dan mau ikut ke sini."
Kata Dyah Mularsih.
"Isterimu benar, Prasetyo. Akan tetapi sebelum kita pergi ke Karang Tirta, aku ingin lebih dulu menghadapkan Puspa Dewi kepada Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama karena memang aku pernah ditugaskan untuk mencari Puspa Dewi dan membawanya menghadap ke istana. Puspa Dewi, engkau tidak keberatan untuk menghadap kedua Beliau itu, bukan?"
"Tentu saja tidak, Eyang. Kalau memang Gusti Sinuhun dan Gusti Patih memanggil saya, saya akan menghadap dengan senang hati."
Puspa Dewi diterima oleh keluarga Tumenggung Jayatanu sebagai keluarga sendiri sehingga ia merasa senang.
Apalagi kalau membayangkan bahwa ibunya akan diterima pula, bersatu dengan ayahnya, hatinya merasa gembira sekali.
Setelah tinggal semalam di gedung tumenggungan itu, pada keesokan harinya Tumenggung Jayatanu mengajak Puspa Dewi untuk menghadap Ki Patih Narotama di kepatihan.
Kebetulan sekali Ki Patih berada di rumah sehingga mereka dapat diterima langsung.
Ki Patih Narotama menerima mereka di ruangan depan dan wajahnya berseri ketika dia mengenal siapa yang datang bersama Tumenggung Jayatanu.
"Ah, kiranya Paman Tumenggung Jayatanu yang datang. Dan ini... bukankah Puspa Dewi...? Silakan duduk, mari silakan duduk di sini."
Ki Patih menerima sembah mereka dan mempersilakan duduk di atas kursi, berhadapan dengan dia.
Ki Patih Narotama memang bersikap lembut dan ramah kepada para pamong praja yang menjadi bawahannya.
Dia tidak mau kalau dia dihormati secara berlebihan seperti seorang raja dan selalu menerima para bawahannya dengan sama-sama duduk di atas kursi.
"Paman Tumenggung, saya merasa gembira sekali Paman datang membawa Puspa Dewi."
"Sesungguhnya, Gusti Patih, saya juga merasa berbahagia sekali dapat bertemu dengan Cucu saya ini dan membawanya ke hadapan Paduka."
"Cucu? Apakah Puspa Dewi ini cucumu, Paman?"
"Benar, Gusti, ia adalah Cucu saya, maksud saya Cucu tiri, karena dia adalah anak kandung mantu saya Senopati Yudajaya dari isteri yang pertama."
"Hemm, benarkah ini, Puspa Dewi? Setahuku Andika adalah murid Nyi Durgakumala, bahkan kemudian Andika menjadi Sekar Kedaton Wura-wuri ketika Gurumu yang mengangkatmu sebagai anak Itu menjadi permaisuri wura wuri! Bagaimanakah sebetulnya semua ini? Coba jelaskan agar aku tidak menjadi ragu dan bingung."
Puspa Dewi menyembah, la pernah bertemu dengan Ki Patih Narotama ini.
Bahkan ketika itu, ia mencari Ki Patih Narotama untuk membunuhnya atas perintah gurunya, Nyi Dewi Durgakumala yang mendendam kepada patih itu.
Akan tetapi, selain ia tidak mampu menandingi Ki Patih Narotama yang sakti mandraguna, juga sebaliknya patih itu memberi wejangan-wejangan yang menyadarkan pikiran dan membuka mata batinnya bahwa gurunya adalah seorang yang amat sesat.
Pertemuannya dengan Nurseta, dan terutama dengan Ki Patih Narotama inilah yang membuat ia sadar dan mendorongnya untuk membela Kahuripan dan menentang persekutuan pemberontak yang berusaha menggulingkan Sang Prabu Erlangga dari tahta.
Maka, gadis ini amat menghormati Ki Patih Narotama dan sebelum menjawab pertanyaan tadi, ia lebih dulu menyembah dengan hormat.
"Memang riwayat hamba agak ruwet, Gusti. Hamba sendiri baru saja mengetahui siapa Ayah hamba dan bahwa Eyang Tumenggung ini adalah Eyang hamba. Ketika hamba masih kecil, Ibu hamba berpisah dari Ayah hamba dan tinggal di dusun Karang Tirta."
"Hemm, sekarang aku ingat. Ketika aku melakukan penyelidikan ke Karang Tirta, aku mendengar bahwa Ki Suramenggala mempunyai dua orang anak yang digdaya, puteranya sendiri adalah Si Linggajaya yang jahat itu dan puteri tirinya adalah Puspa Dewi. Kemudian setelah aku mengusir Ki Suramenggala, aku melihat Nyi Lasmi yang tidak mau ikut dan menangis, menceritakan bahwa ia terpaksa menjadi selir Ki Suramenggala yang hidup sewenang-wenang sebagai lurah di Karang Tirta. Nyi Lasmi itukah Ibumu?"
"Benar, Gusti. Hamba diaku sebagai anak oleh guru hamba, Nyi Dewi Durgarkumala dan setelah guru hamba menjadi permaisuri Kerajaan Wura-wuri hamba menjadi Sekar Keraton. Maka hamba tidak dapat menolak ketika hamba diutus menjadi wakil Wura-wuri untuk bergabung dengan kadipaten lain yang berusaha untuk menjatuhkan Sang Prabu Erlangga dari tahta. Akan tetapi setelah melihat kenyataan bahwa Kahuripan berada di pihak benar dan para kadipaten yang bersekutu dengan pemberontak Pangeran Hendratama adalah pihak yang sesat, hamba mengambil keputusan untuk berbalik membela Kahuripan dan menentang persekutuan itu."
"Ya, untuk itu Sang Prabu Erlangga dan aku merasa gembira dan berterima kasih kepadamu, Puspa Dewi. Maka para senopati termasuk Paman Tumenggung Jayatanu dipesan agar mencarimu dan kalau bertemu denganmu mengajak engkau datang menghadap. Lanjutkan ceritamu."
"Setelah perang usai, hamba kembali ke Karang Tirta dan mendengar bahwa Ibu hamba telah dapat terbebas dari Ki Suramenggala, hamba merasa lega karena sesungguhnya hamba juga tidak suka mempunyai Ayah tiri seperti Ki Suramenggala yang kejam dan jahat. Ketika itu, Ibu hamba berterus terang kepada hamba bahwa Ayah kandung hamba sesungguhnya belum mati seperti yang ia ceritakan sebelumnya. Setelah ia menceritakan tentang Ayah kandung hamba, hamba lalu mencarinya ke kota raja dan akhirnya hamba bertemu dengan Ayah kandung hamba, juga dengan Eyang Tumenggung Jayatanu dan semua keluarganya. Nah, demikianlah Gusti Patih dan atas kehendak Eyang Tumenggung, sekarang hamba dibawa menghadap Paduka."
KI PATIH NAROTAMA mengangguk-angguk.
"Bagus sekali, dan aku ikut merasa gembira bahwa akhirnya engkau dapat bertemu kembali dengan Ayahmu Senopati Yudajaya dan keluarganya dan lebih senang lagi bahwa engkau telah menyadari bahwa sudah semestinya engkau membela Kahuripan karena engkau kawula Kahuripan mengingat bahwa Karang Tirta adalah wilayah Kahuripan, Puspa Dewi. Sekarang, marilah engkau dan Paman Tumenggung kuantar menghadap Gusti Sinuhun."
Mereka bertiga lalu pergi ke istana dan seperti biasa, Ki Patih Narotama adalah satu-satunya pembantu Sang Prabu Erlangga yang dengan mudah dapat keluar masuk istana tanpa pengawasan atau pertanyaan.
Ketika pengawal dalam keraton melaporkan, Sang Prabu Erlangga dengan gembira siap menerima Ki Patih Narotama yang membawa Tumenggung Jayatanu dan Puspa Dewi datang menghadap.
Sang Prabu Erlangga juga menyatakan kegembiraan hatinya, dan berterima kasih kepada Puspa Dewi akan apa yang pernah ia lakukan ketika ia membela Kahuripan dan menentang persekutuan di mana ia tadinya menjadi wakil.
Akan tetapi ketika Sang Prabu Erlangga menawarkan kedudukan sebagai perwira pengawal wanita yang menjaga keselamatan para penghuni istana bagian keputren, Puspa Dewi menolak halus dengan sembah.
"Mohon beribu ampun, Gusti. Bukan hamba semata menolak anugerah yang Paduka berikan kepada hamba. Hamba menghaturkan banyak terima kasih dan hamba merasa berbahagia sekali atas kemurahan hati Paduka kepada hamba. Akan tetapi, Gusti, pada waktu ini hamba masih ingin bebas dari semua ikatan. Hamba ingin merasakan kebahagiaan hidup berkumpul dengan kedua orang tua hamba, hal yang sejak kecil hamba rindukan. Walaupun hamba tidak menjadi seorang punggawa, namun setiap saat hamba siap membela kerajaan Paduka apabila ada pihak yang mengganggu, Gusti."
Sang Prabu Erlangga mengangguk-angguk, tersenyum.
"Kami dapat memaklumi pendirianmu itu, Puspa Dewi. Baiklah, kami pasti akan menghubungimu apa bila kami membutuhkan bantuan. Sekarang terimalah hadiah dari kami ini. Pusaka yang berbentuk patrem Ini disebut Sang Cundrik Arum, hasil tempaan Sang Empu Ramahadi di jaman Jawa Kandha. Pernah menjadi pusaka ageman (pakaian) Sang Permaisuri Bathari Nawangsih dari Kerajaan Medang Kamulan. Pusaka ini, selain ampuh dan memiliki daya pelindung dan penyembuhan, juga dengan memegang pusaka ini Andika dapat memasuki istana kami sewaktu-waktu sebagai seorang kepercayaan kami, Puspa Dewi."
Puspa Dewi merasa senang, bangga dan terharu menerima pusaka yang tak ternilai harganya itu.
Ia berlutut menyembah, menerima pusaka berbentuk patrem atau cundrik itu sambil menghaturkan banyak terima kasih.
Setelah menerima hadiah lain berupa beberapa perangkat pakaian berikut perhiasan yang serba indah, Puspa Dewi diperkenankan mundur bersama Tumenggung Jayatanu, sedangkan Ki Patih Narotama masih tinggal di istana untuk berbincang-bincang dengan Sang Prabu Erlangga.
Dapat dibayangkan betapa bahagianya hati Puspa Dewi.
Senopati Yudajaya atau Prasetyo, ayah Puspa Dewi dan seluruh keluarga Sang Tumenggung ikut merasa senang.
Kemudian keluarga itu berkemas dan pada hari yang sudah mereka pilih dan tentukan, berangkatlah keluarga yang terdiri dari Tumenggung Jayatanu, Nyai Tumenggung, Senopati Yudajaya, Dyah Mularsih, Niken Harni, Puspa Dewi dan selosin perajurit pengawal berikut kusirnya, dalam dua buah kereta, menuju ke dusun Karang Tirta.
Dusun Karang Tirta kini merupakan dusun yang jauh lebih makmur dibandingkan tahun-tahun yang lalu.
Rumah-rumah para penduduk telah diperbaiki semua.
Juga melihat pakaian mereka dan keadaan kesehatan tubuh mereka, mudah diketahui bahwa seluruh penduduk dusun itu sudah terangkat dari lembah kemiskinan.
Setidaknya mereka sudah tercukupi kebutuhan sandang-pangan-papan (pakaian, makan, dan rumah tinggal).
Semua ini terjadi dengan cepat berkat kebijaksanaan Ki Lurah Pujosaputro, pengganti Ki Lurah Suramenggala yang dicopot oleh Ki Narotama kemudian diusir dari dusun Karang Tirta.
Tak dapat disangkal kenyataan bahwa kemakmuran tidak jatuh begitu saja dari langit!
Kebutuhan hidup manusia tidak begitu saja disediakan Sang Hyang Widhi, walaupun jelas bahwa semua bahannya memang hasil ciptaan Yang Maha Pencipta.
Sang Hyang Widhi menciptakan tanah, air, hawa udara, sinar matahari, juga benih tanaman-tanaman.
Semua benda ini tidak dapat dibuat oleh manusia dan memang sudah dianugerahkan kepada manusia untuk kepentingan hidup manusia.
Namun, semua benda itu tidak ada gunanya kalau tidak diolah, dikerjakan, diusahakan oleh manusia sendiri.
Jasmani kita, berikut hati akal pikiran, juga merupakan ciptaan Yang Maha Kasih, dan setiap bagian tubuh kita sudah dibuat sedemikian rupa sehingga cocok dan tepat untuk dikerjakan demi kesejahteraan hidup kita.
Berkat dari Yang Maha Kasih Itu tidak dapat dipisahkan dengan usaha kita, merupakan dwitunggal yang tidak dapat dipisahkan dan harus bekerja sama untuk kesejahteraan dan kelangsungan hidup kita.
Semua bahan yang telah disediakan oleh-Nya itu tidak akan ada gunanya kalau tidak kita olah dan kerjakan, yaitu kita cangkul, kita airi, kita pupuk, kita pelihara dan rawat dengan baik.
Sebaliknya, betapa hebat pun kita berusaha, tanpa adanya satu saja dari semua bahan yang sudah disediakan oleh-Nya itu, juga tidak akan dapat menghasilkan apa-apa.
Itu merupakan tugas pribadi untuk mempertahankan hidup, yaitu bekerja!
Akan tetapi kita hidup bermasyarakat, bernegara, berpemerintahan, terdiri dari banyak orang.
Para penduduk Karang Tirta terdiri dari ratusan orang.
Masyarakat perlu diatur, dengan hukum-hukum agar tidak kacau dan saling berebut.
Jelas bahwa kehidupan rakyat diatur oleh hukum, agar tertib, agar adil dan membawa rakyat kepada kemakmuran atau kesejahteraan seperti yang diidamkan setiap orang di mana pun di dunia ini.
Apakah adanya peraturan hukum menjamin datangnya kemakmuran rakyat?
Hukum adalah barang mati!
Karena itu, tangan-tangan yang memegang dan menguasai pelaksanaan hukum itulah yang sepenuhnya diserahi wewenang dan tugas untuk memakmurkan rakyatnya.
Jelas, ditangan para pemimpinlah terletak kunci untuk membuka pintu kemakmuran bagi rakyatnya.
Di Karang Tirta, orang pertama yang paling berkuasa adalah Sang Lurah.
Sesungguhnya, di tangannyalah tergenggam nasib para penduduk Karang Tirta.
Ketika Ki Lurah Suramenggala menjadi lurah, dia bukan merupakan seorang pemimpin yang baik.
Dia menggunakan semua sumber hasil tanah dan sumber tenaga manusia menjadi sumber penghasilan yang berlimpahan untuk dirinya sendiri, untuk dia dan keluarganya.
Rakyat diperas habis-habisan sehingga kehidupan penduduk Karang Tirta berada di bawah garis kemiskinan, sedangkan kehidupan Sang Lurah dan orang-orang yang dekat dengannya, sanak saudara dan para pembantunya, hidup bermewah-mewah dan berlebihan, kaya raya dan makmur.
Padahal Ki Suramenggala dan para pembantunya selalu menganjurkan agar penduduk Karang Tirta berprihatin, hidup hemat dan serba kekurangan demi pembangunan Karang Tirta untuk kemakmuran kehidupan anak cucu kelak!
Semua pembantu lurah, dari carik sampai jagabaya dan pamong yang paling rendah pangkatnya, tidak ada yang jujur.
Semua memeras rakyat de-ngan dalih pembangunan dusun, akan tetapi uangnya mereka kantongi sendiri.
Para jagabaya yang semestinya menjaga keamanan penduduk, bahkan menjadi penggangu keamanan.
Hukum yang dilaksanakan adalah hukum lurah dan para pembantunya, mudah saja memutar-balikkan fakta, menyalahkan yang benar dan membenarkan yang salah demi keuntungan para penguasa itu.
Semua ini terjadi karena Ki Lurah Suramenggala tidak menjadi tauladan yang baik sebagaimana seharusnya seorang pemimpin.
Dia sebagai orang nomor satu di Karang Tirta, bertangan kotor melakukan penindasan, mengandalkan kekuasaan untuk melaksanakan segala kehendaknya, menumpuk harta tanpa memperdulikan kemiskinan penduduk.
Kalau pemimpin tertinggi di dusun Karang Tirta itu bertangan kotor, bagaimana mungkin para pembantunya, para pamong praja, dapat bertangan bersih?
Mereka juga melakukan segala macam kejahatan demi menum-puk harta.
Atasannya tidak mungkin berani menegur karena atasan itu, sendiri tangannya kotor,demikian atasannya lagi sampai kepada yang paling atas di dusun itu, yakni Ki Lurah Suramenggala!
Jadilah semua pamong itu bertangan kotor!
Untunglah bahwa Kerajaan Kahuripan dipimpin Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama yang bertangan bersih, berhati jujur dan bersikap bijaksana.
Ki Patih Narotama yang bertangan bersih, ketika melihat seorang bawahannya, yaitu Ki Lurah Suramenggala, bertangan kotor, langsung saja dia berani memberantasnya.
Dia melakukan pembersihan tanpa sungkan karena dia sendiri bertangan bersih!
Atas pilihan penduduk, disetujui oleh Ki Patih Narotama, dusun Karang Tirta kini dipimpin oleh Ki Lurah Pujosaputro.
Lurah Pujosaputro ini adalah seorang lurah yang baik, pemimpin yang bijaksana.
Dia selalu ingat bahwa dia menjadi lurah karena ada rakyat yang memilihnya, dan rakyat memilihnya karena rakyat percaya bahwa dia akan menjadi pemimpin yang baik, yang memperhatikan kesejahteraan rakyat dusun Karang Tirta.
Dan ternyata harapan penduduk Karang Tirta tidak sia-sia.
Ki Lurah Pujosaputro benar-benar mendahulukan kepentingan penduduk daripada kepentingan diri dan keluarganya sendiri.
Dia tidak mau menumpuk harta dari perasan keringat rakyat, tidak mau memperkaya diri sendiri dan hasil tanah pedusunan dinikmati penduduk yang mengolahnya.
Ki Lurah Pujosaputro sekeluarganya hidup biasa saja, tidak berlebihan dan tentu saja sebagai lurah, juga tidak kekurangan.
Karena kebijaksanaannya ini, penduduk suka dan hormat kepadanya.
Ada saja yang mengirimi hasil palawija, buah-buahan dan hasil usaha lain kepada keluarga Ki Lurah.
Kehidupan penduduk Karang Tirta meningkat dengan pesat dan semua orang merasa gembira.
Kini penduduk Karang Tirta tidak merasa iri kepada dusun-dusun lain yang makmur karena kebijaksanaan lurah masing-masing.
Karena lurahnya bertangan bersih, bawahannya, para pamong, tidak ada yang berani bermain kotor dan karena pamong prajanya jujur dan adil, rakyatnya juga senang dan menaati semua peraturan dan hukum yang diberlakukan sama rata, bukan untuk menindas yang bawah dan memenangkan yang atas.
Akan tetapi, menjadi sebuah kenyataan yang membuat kebanyakan orang, terutama yang imannya kurang penuh, menjadi penasaran, betapa banyaknya terjadi orang-orang yang dalam hidupnya dikenal sebagai orang yang baik budi, mengalami bencana dan kesengsaraan, sebaliknya orang yang angkara murka dan mementingkan diri sendiri dan suka melakukan perbuatan jahat, hidupnya bergelimang kesenangan dan kemuliaan!
Tentu saja ini sebetulnya hanya menurut pandangan jasmaniah belaka.
Pada suatu malam, belasan orang yang berpakaian serba hitam dan bersikap sombong dan bengis memasuki dusun Karang Tirta.
Ketika empat orang pemuda dusun yang bertugas jaga malam menghadang dan bertanya karena melihat betapa dua belas orang itu tidak mereka kenal dan di antara mereka terdapat dua orang yang berpakaian mewah, rombongan itu tanpa banyak cakap lagi menyerang dan merobohkan empat orang pemuda itu sehingga mereka tidak mampu bangkit kembali karena setelah dipukul pingsan!
Rombongan terdiri dari dua belas orang itu lalu melangkah lebar dan cepat menuju rumah Ki Lurah Pujosaputro.
Dua orang pemimpin rombongan yang berpakaian mewah itu adalah Wirobento yang tinggi besar bersenjata pecut berujung besi-besi kecil dan Wirobandrek yang juga tinggi besar dengan senjata sepasang kolor merah.
Kakak beradik ini merupakan sepasang warok yang terkenal sesat, berusia sekitar tiga puluh dua dan tiga puluh tahun.
"Adi Bandrek, bagaimana kalau gadis sakti Puspa Dewi itu berada di Karang Tirta ini?"
Kata Ki Wirobento dengan suara yang membayangkan perasaan gentar.
"Kakang Bento, mengapa khawatir? Hal ini tidak mungkin karena para penyelidik sudah melaporkan dengan jelas bahwa saat ini gadis itu tidak berada di sini. Kita aman! Pula, bukankah ia telah menjadi Sekar Kedaton Wura-wuri?"
"Hemm, tidak mungkin ia dapat diterima di Wura-wuri setelah ia mengkhianati persekutuan di mana Wura-wuri juga terlibat itu. Aku khawatir kalau-kalau para penyelidik salah duga dan ia nanti akan melakukan pengejaran terhadap kita. Ia sakti mandraguna, Bandrek, kita sama sekali bukan tandingannya."
"Ah, Kakang Bento, tidak perlu takut. Asalkan kita sudah dapat meringkus Nyi Lasmi, Puspa Dewi tidak akan berani berkutik. Kita jadikan Ibunya itu sebagal sandera dan kita lihat saja, apa yang akan dapat ia lakukan!"
"Kamu benar, Bandrek. Mari kita bereskan mereka dan tangkap Nyi Lasmi sesuai dengan pesan Ki Suramenggala!"
Setelah tiba di rumah Ki Lurah Pujosaputro, dua belas orang itu lalu menyerbu.
Mereka mendobrak dan menjebol pintu lalu menerjang ke dalam rumah besar itu.
Lima orang pemuda yang sedang berjaga di samping rumah, cepat berlari mendatangi, akan tetapi mereka berlima segera roboh disambut serangan orang-orang yang rata-rata memiliki kedigdayaan itu.
Dua belas orang itu lalu mengamuk.
Sesuai dengan perintah yang mereka terima dari Ki Suramenggala yang kini telah berada di Kerajaan Wengker sebagai orang yang tinggi kedudukannya sebagai ayah Sang Adipati Linggawijaya, mereka membacok siapa saja yang mereka temukan di dalam rumah kelurahan itu.
Ketika Ki Pujosaputro dan isterinya muncul dari kamar, mereka berdua disambut bacokan golok yang membuat mereka tewas seketika.
Ketika mereka menemukan Nyi Lasmi, mereka meringkusnya dan Ki Wirobandrek segera memanggul wanita yang telah diikat kaki tangannya itu di atas pundaknya dan dua belas orang itu berusaha mencari orang-orang lain yang menjadi penghuni rumah Itu.
Tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan gaduh di luar kelurahan dan dua belas orang itu ketika melihat betapa puluhan, bahkan mungkin seratus lebih pemuda dusun dating sambil membawa segala macam senjata dengan sikap mengancam, mereka menjadi gentar juga.
Mereka hanya dua belas orang dan sungguhpun mereka merupakan jagoan-jagoan tangguh, namun menghadapi demikian banyak orang mereka menjadi ketakutan dan segera dua belas orang itu melarikan diri sambil memutar senjata mereka untuk menjaga diri.
Para pemuda dusun Karang Tirta, setelah mengetahui bahwa gerombolan itu melakukan pembunuhan terhadap para penghuni rumah Ki Lurah, segera melakukan pengejaran sambil membawa obor.
Akan tetapi, dua belas orang itu telah lenyap dalam hutan yang lebat.
Terpaksa mereka kembali dengan tangan hampa.
Seluruh penduduk dusun Karang Tirta berduka setelah mengetahui bahwa Ki Lurah Pujosaputro yang mereka sayangi dan hormati telah dibunuh.
Juga semua keluarganya dan para pelayan.
Hanya ada seorang pelayan wanita yang lolos dari maut karena ia bersembunyi di tempat gelap sambil mengintai ketakutan.
Gerombolan itu tidak melihatnya maka ia selamat.
Setelah mereka mengadakan penelitian, ada enam orang pemuda yang berjaga malam tewas, lainnya luka-luka, dan penghuni rumah kelurahan itu hanya seorang yang selamat, yang lainnya, Ki Lurah Pujosaputro dan isterinya serta keluarganya yang berjumlah sembilan orang berikut pelayan, semua tewas!
Mereka juga mendapat kenyataan bahwa Nyi Lasmi lenyap, dan ada yang melihat malam tadi bahwa wanita itu diculik, dipanggul dan dilarikan penjahat.
Gegerlah dusun Karang Tirta!
Semua penduduk wanita menangisi musibah itu, dan yang laki-laki marah dan penasaran, akan tetapi mereka tidak mampu berbuat sesuatu karena ada yang mendengar percakapan para gerombolan itu bahwa mereka adalah orang-orang Kerajaan Wengker, anak buah Ki Lurah Suramenggala yang datang untuk membalas dendam dan menculik Nyi Lasmi yang dulu menjadi selirnya kemudian tidak mau ikut ketika Ki Sura-menggala terusir keluar dari Karang Tirta.
Para penduduk yang berkabung itu hanya dapat merawat semua jenazah dan menguburkannya.
Ki Lurah Warsita, lurah dari Karang Sari yang terletak dekat Karang Tirta dan merupakan lurah yang baik dan menjadi sahabat Ki Lurah Pujosaputro, begitu mendengar musibah itu, cepat datang dan mengatur sendiri semua urusan di Karang Tirta.
Juga Ki Lurah Warsita lalu mengumpulkan para pemuda Karang Tirta dan karang Sari untuk bersatu melakukan penjagaan terutama di waktu malam untuk melawan kalau-kalau para pengacau itu datang lagi.
Dia juga segera mengirim laporan tentang musibah itu ke kota raja Kahuripan.
Utusan ke kota raja ini terdiri dari tiga orang, di pimpin oleh Ki Tejomoyo, seorang kakek yang dianggap sebagai sesepuh Karang Tirta.
(Lanjut ke
Jilid 06) Nurseta Satria Karang Tirta (seri ke 02 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 06 Akan tetapi baru melakukan perjalanan setengah hari, utusan ini bertemu dengan rombongan terdiri dari dua kereta yang dikawal selosin perajurit.
Melihat ini, tiga orang dusun Karang Tirta itu mengenal bahwa seregu perajurit itu adalah perajurit Kahuripan, maka mereka berhenti di tepi jalan dengan membungkuk hormat karena orang yang berada di kereta dan dikawal pasukan itu pasti seorang priyagung (bangsawan).
"Paman Tejomoyo...!"
Tiba-tiba seorang gadis melompat turun dari dalam kereta yang sudah berhenti dan begitu Tejomoyo mengenal siapa gadis yang mengenalinya itu, dia segera menghampiri, lalu berjongkok dan menangis.
"Aduh, Nakayu Puspa Dewi....!"
Dia tidak dapat melanjutkan karena sudah menangis mengguguk sambil mendeprok dan menutupi muka dengan kedua tangan.
Dua orang temannya yang juga mengenal siapa gadis itu, memberi hormat dan juga tidak berani bicara, tidak sampai hati menyampaikan berita yang amat menyedihkan itu.
"Paman, ada apakah? Mengapa Paman bersikap begini? Berdirilah Paman dan ceritakan dengan tenang."
Puspa Dewi memegang kedua bahu kakek itu dan membantunya bangkit berdiri.
Ki Tejomoyo berusaha menenangkan hatinya dengan menghela napas panjang berulang kali.
Akhirnya dia dapat tenang dan menghentikan tangisnya.
"Malapetaka menimpa Karang Tirta..."
"Apa yang terjadi? Puspa Dewi, siapa orang itu dan apa yang terjadi?"
Tumenggung Jayatanu keluar pula dari keretanya dan melihat seorang laki-laki berpakaian bangsawan tinggi, Ki Tejomoyo dan dua orang temannya segera berjongkok dan menyembah.
"Eyang, ini adalah Paman Tejomoyo dan dua orang temannya itu saya kenal sebagai penduduk Karang Tirta pula. Paman Tejomoyo ini adalah Eyang Tumenggung Jayatanu, maka ceritakan apa yang terjadi, jangan membuat kami bingung dan penasaran."
"Ampunkah hamba bertiga, Gusti Tumenggung. Hamba tidak tahu bahwa Paduka yang lewat maka hamba tidak menyambut dengan hormat."
Kata Ki Tejomoyo dengan sikap hormat.
"Tidak mengapa, Ki Tejomoyo. Sekarang ceritakan apa yang telah terjadi di Karang Tirta sehingga Andika sampai menangis sedih."
"Aduh, katiwasan, Gusti! Baru kemarin malam terjadinya. Segerombolan orang berjumlah belasan datang menyerbu rumah Ki Lurah Pujosaputro dan mengamuk, membunuhi penghuni rumah kalurahan..."
Puspa Dewi menyambar lengan Ki Tejomoyo dan bertanya dengan nyaring.
"ibuku...! Bagaimana dengan Ibuku...?"
Prasetyo atau Senopati Yudajaya yang juga sudah turun dan menghampiri mereka berkata.
"Dewi tenanglah. Engkau menyakiti lengan Paman ini."
Puspa Dewi sadar dan melepaskan Lengan Ki Tejomoyo yang meringis kesakitan karena lengannya serasa dijepit besi! "Nyi Lasmi... diculik gerombolan..."
Puspa Dewi berkelebat dan lenyap dari situ. Ia telah menggunakan ilmunya berlari cepat seperti terbang menuju dusun Karang Tirta. Prasetyo berkata kepada Ki Tejomoyo.
"Paman, ceritakan dengan ringkas apa yang telah terjadi."
Dia pun merasa khawatir sekali akan keselamatan Nyi Lasmi.
Dengan singkat Ki Tejomoyo menceritakan tentang penyerbuan gerombolan yang membunuh seluruh penghuni rumah Ki Pujosaputro dan hanya seorang pelayan wanita yang lolos dari maut.
Juga Nyi Lasmi lenyap diculik gerombolan.
Tumenggung Jayatanu marah sekali.
Wajahnya yang gagah itu menjadi kemerahan.
"Keparat! Akan kuhajar mereka! Hayo, Prasetyo, kita cepat membalapkan kereta menyusul Puspa Dewi ke Karang Tirta! Dan Andika, Ki Tejomoyo, tadinya hendak pergi kemanakah?"
"Hamba diutus Ki Lurah Warsita dari Karang Sari untuk pergi melaporkan peristiwa itu ke kota raja."
"Kalau begitu lanjutkan perjalananmu dan setelah tiba di sana laporkanlah peristiwa ini kepada Gusti Patih Narotama."
"Baik, Gusti Tumenggung."
Dua buah kereta itu dijalankan lagi dengan cepat menuju Karang Tirta dan tiga orang utusan dari Karang Tirta itu melanjutkan perjalanan mereka ke kota raja Kahuripan Sementara itu Puspa Dewi telah memasuki pintu gerbang dusun Karang Tirta.
Semua orang yang melihatnya menyambut dengan wajah sedih dan segera mengikuti gadis yang cepat lari menuju ke rumah kelurahan itu.
Jerit tangis para wanita menyambut kedatangan Puspa Dewi di rumah itu.
Puspa Dewi dikepung banyak orang.
Wajah gadis itu agak pucat, akan tetapi ia tetap tenang, lalu ia mengangkat kedua tangan memberi isyarat agar semua orang menghentikan tangis dan suara mereka yang bising.
"Kuharap Andika sekalian berhenti menangis dan saling bicara sendiri. Aku sekarang ingin mendengar keterangan yang sejelasnya tentang peristiwa ini. Siapa yang lebih mengetahui akan peristiwa ini? Aku mendengar Bibi Katmi lolos dari maut, tentu ia lebih mengetahui. Mana Bibi Katmi?"
Nyi Katmi yang tadinya menangis di sudut lalu maju menghampiri Puspa Dewi.
la dipersilakan duduk berhadapan dengan Puspa Dewi, sedangkan orang-orang lain tidak gaduh lagi, mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Nah, Bibi Katmi, hapuskan air matamu dan tenanglah. Sekarang ceritakan dengan rinci apa yang telah terjadi kemarin malam."
Nyi Katmi lalu menceritakan dengan suara terharu dan sambil menahan tangisnya.
"Malam itu saya mendengar teriakan-teriakan kesakitan. Ketika saya keluar dari kamar saya melihat belasan orang berpakaian serba hitam membunuhi semua penghuni rumah dengan kejam. Mereka menggunakan klewang (golok). Karena takut, saya terkulai dan jatuh menelungkup dalam keadaan setengah pingsan. Akan tetapi saya masih dapat melihat Mas Ajeng Lasmi dipanggul seorang penjahat dengan kaki tangan terikat dan mendengar ia menangis dan memaki-maki. Karena tidak tahan melihat banjir darah yang terjadi malam itu, saya tidak dapat bangun dan hanya dapat pura-pura mati sambil menahan tangis. Mungkin mereka mengira bahwa saya telah mati, maka tidak ada yang mengganggu saya."
"Apakah engkau mendengar mereka bicara yang menunjukkan siapa mereka?"
Tanya Puspa Dewi.
"Saya mendengar percakapan singkat dua orang di antara mereka. Yang memanggul Mas Ajeng Lasmi berkata;
"Wah, wanita ini masih denok lembut!"
Lalu orang ke dua menjawab, 'Awas, ia itu selir Bendoro Menggung Suramenggala, jangan main-main!' Hanya itulah yang saya dengar."
Wajah Puspa Dewi menjadi merah sekali dan ia mengepal tangan kanannya.
"Jahanam Suramenggala yang melakukan ini, keparat!"
Tiba-tiba seorang laki-laki yang usianya sekitar dua puluh enam tahun berkata.
"Saya juga mendengar percakapan dua orang tinggi besar yang memimpin gerombolan itu, Mas Ayu..."
Orang ini menderita luka serangan gerombolan dan lengan kanan dan paha kirinya masih dibalut.
"Hemm, bagus, Kakang Canang. Cepat ceritakan!"
Kata Puspa Dewi sambil memandang pemuda itu.
"Ketika itu saya dan teman-teman melakukan penjagaan di gapura desa ketika dua belas orang berpakaian hitam itu menyerbu masuk. Sebelum dapat berbuat banyak, kami telah mereka serang dan saya pun menderita luka-luka dan roboh. Pada saat itu, saya mendengar dua orang pemimpin mereka bicara. Yang seorang berkata, 'Kita harus berhasil, kalau tidak Gusti Adipati Linggawijaya tentu akan marah kepada kita'. Kemudian orang ke dua berkata, 'Bukan hanya Gusti Adipati, akan tetapi terutama sekali Tumenggung Suramenggala, ayah Gusti Adipati itu, tentu akan menghukum kita. Kabarnya dia lebih kejam dibandingkan puteranya'. Nah, itulah percakapan mereka."
Puspa Dewi mengerutkan alisnya mendengar keterangan itu.
Adipati Linggawijaya?
Setahunya, adipati di Wengker bernama Adipati Adhamapanuda.
Ah, tentu Linggajaya kini telah menjadi adipati di Wengker dan Ki Suramenggala sekarang menjadi Tumenggung Suramenggala karena dia Ayah Linggajaya.
Tidak salah lagi.
Tentu Ki Suramenggala dan Linggajaya yang mendalangi pembantaian keluarga Ki Lurah Pujosaputro dan menculik Ibunya.
Puspa Dewi lalu meninggalkan pesan kepada mereka yang berada di situ untuk melaporkan kepada Tumenggung Jayatanu dan Senopati Yudajaya yang akan tiba di dusun itu tak lama lagi bahwa ia langsung melakukan pengejaran terhadap para pembunuh dan penculik Ibunya ke Kerajaan Wengker.
Setelah meninggalkan pesan itu, Puspa Dewi segera melesat lenyap dan sudah berlari dengan cepat sekali keluar dusun Karang Tirta menuju ke kota raja atau kota Kadipaten Wengker.
Menjelang sore, dua buah kereta yang ditumpangi keluarga Tumenggung Jayatanu tiba di dalam dusun Karang Tirta.
Para penduduk menyambut dengan hormat.
Setelah Tumenggung Jayatanu dan Senopati Yudajaya mendengar keterangan para penduduk tentang penyerbuan orang-orang Wengker dan membantai keluarga Ki Lurah dan menculik Nyi Lasmi, mereka menjadi marah sekali.
Terutama Senopati Yudajaya selain marah juga merasa sedih dan iba kepada Nyi Lasmi, isterinya yang hidup terlunta-lunta setelah berpisah darinya.
Menurut gejolak hatinya.
Ingin ia langsung menyusul Puspa Dewi yang oleh para penduduk dikabarkan melakukan pengejaran ke Kadipaten Wengker.
Akan tetapi Tumenggung Jayatanu mencegahnya.
"Sungguh tidak bijaksana kalau engkau menyusul puterimu ke sana sekarang."
Kata Kakek itu.
"Kadipaten Wengker mempunyai banyak sekali orang sakti dan mereka juga mempunyai pasukan yang kuat. Engkau akan mencelakai diri sendiri dan tidak akan dapat menyelamatkan Nyi Lasmi kalau mengejar sendiri."
"Akan tetapi, Kanjeng Rama! Lasmi dan Dewi berada di sana! Saya harus membela mereka!"
"Tentu saja kita harus membela mereka, akan tetapi bukan seorang diri. Kita melaporkan ke kota raja dan mengerahkan pasukan untuk melakukan pengejaran ke pedalaman Wengker. Mengenal isterimu Lasmi dan puterimu Puspa Dewi, jangan terlalu dikhawatirkan. Penculik itu tidak akan membunuh Lasmi karena kalau demikian halnya, tentu ia sudah dibunuh bersama anggauta keluarga Ki Pujosaputro, tidak perlu susah-susah diculik. Dan tentang Puspa Dewi, tidak usah khawatir. Puterimu itu adalah seorang yang sakti mandraguna, tidak sembarang orang dapat mengganggunya. Ia Pasti dapat menjaga diri, bahkan tidak mustahil ia akan mampu menolong Ibunya."
Tiba-tiba terdengar teriakan Nyai Tumenggung.
"Aduh, cucuku Ken Harni menghilang...!!"
Tumenggung Jayatanu dan Prasetyo cepat berlari memasuki rumah dan Nyai tumenggung dengan wajah pucat memberitahukan bahwa sejak tadi ia tidak melihat Niken Harni.
Dicari-cari juga tidak dapat ditemukan.
"Tadi ia bersamaku, lalu bilang hendak keluar berjalan-jalan sebentar,"
Kata Dyah Mularsih yang juga kebingungan dan khawatir.
"Akan tetapi sampai sekarang ia tidak kembali!"
Prasetyo atau Senopati Yudajaya cepat berlari ke belakang di mana kuda dan kereta berada.
Akan tetapi kusir dan para Prajurit juga tidak melihat Niken Harni.
Dia berlari keluar dan bertanya-tanya kepada semua orang yang dijumpai di dusun Itu.
Akhirnya seorang pemuda yang berada dekat pintu gapura melaporkan bahwa tadi dia melihat gadis bangsawan itu berlari cepat meninggalkan dusun Karang Tirta.
Dengan jantung berdebar tegang dan hatinya gelisah sekali, Prasetyo kembali kepada mertuanya.
"Ada yang melihat Niken berlari meninggalkan dusun!"
Katanya.
"Aduh, bocah ngeyel (tidak penurut) itu! Ia tentu pergi menyusul Puspa Dewi! Ia memasuki gua harimau, sungguh berbahaya sekali!"
Tumenggung Jayatanu berseru.
"Ah, bagaimana ini?"
Nyi Tumenggung menangis.
"Kakangmas Prasetyo, Paduka harus cepat menyusul anak kita!"
Dyah Mularsih mendesak suaminya.
"Tentu saja!"
Jawab Prasetyo.
"Aku akan menyusul mereka sekarang juga, bahaya apa pun akan kutempuh untuk menyelamatkan mereka bertiga!"
Baru saja Prasetyo melangkah hendak keluar, Tumenggung Jayatanu memegang lengan mantunya.
"Nanti dulu, Prasetyo. Sebagai seorang senopati, engkau tidak boleh sembrono. Semua harus diperhitungkan dengan matang agar dapat mengatur siasat sehingga usaha kita tidak gagal. Kalau engkau nekat hendak memasuki Wengker engkau bawalah selosin perajurit pengawal itu. Mereka adalah perajurit-perajurit yang cukup terlatih dan tangguh. Sementara itu, aku akan cepat minta bantuan ke Kahuripan agar dikirim pasukan yang kuat dan aku akan memimpin sendiri pasukan itu menyusul ke Wengker."
Prasetyo mengangguk.
"Sendika dhawuh (siap melaksanakan perintah), Kanjeng Rama!"
Dia lalu memandang kepada isterinya.
"Jangan khawatir, Diajeng, aku pasti akan dapat membawa pulang anak kita."
"Bukan hanya Niken yang kuharapkan akan dapat ditolong, Kakangmas, akan tetapi juga Puspa Dewi dan Ibunya."
Kata Dyah Mularsih.
Prasetyo lalu mengumpulkan selosin orang perajurit pengawal lalu dia memimpin mereka naik kuda dan menuju keselatan, ke arah Kadipaten Wengker yang dianggap daerah berbahaya.
Sementara itu, Tumenggung Jayatanu cepat mengirim utusan yang menyusul perjalanan Tejomoyo dan dua orang temannya untuk minta bantuan kepada Ki Patih Narotama.
Sambil menanti datangnya pasukan, Nyai Tumenggung, Dyah Mularsih dan Tumenggung Jayatanu sendiri bermalam didusun Karang Sari yang dekat dari Karang Tirta, di rumah Ki Lurah Warsita.
Ki Suramenggala yang usianya sekitar lima puluh satu tahun itu tertawa bergelak.
Tubuhnya yang tinggi besar terguncang, matanya bersinar-sinar ketika dia tertawa senang.
"Ha-ha-ha! Lasmi, akhirnya engkau datang juga untuk melayani suamimu dengan penuh kesetiaan dan kasih sayang! Lasmi, wong ayu denok, betapa aku rindu kepadamu!"
Nyi Lasmi yang tadi diturunkan ke atas lantai dalam ruangan itu oleh Ki Wirobandrek yang segera keluar dari ruangan itu, duduk bersimpuh dan menggosok-gosok pergelangan tangannya yang terasa nyeri karena terlalu lama diikat dan baru saja dilepaskan setelah ia dibawa ke depan Ki Suramenggala.
Diam-diam ia merasa heran sekali.
Rumah di mana ia dihadapkan bekas suaminya itu merupakan sebuah gedung mewah sekali, dan Ki Suramenggala mengenakan pakaian seperti seorang bangsawan tinggi!
Tidak ada orang lain di ruangan itu karena memang Ki Suramenggala menghendaki demikian.
Biarpun di dalam hatinya Nyi Lasmi merasa penasaran dan bersedih sekali mengingat akan pembantaian yang dilakukan terhadap Ki Lurah Pujosaputro sekeluarga, dan ia maklum pula bahwa dirinya berada dalam cengkeraman laki-laki yang jahat itu, namun ia sama sekali tidak merasa takut.
Ia tahu benar bahwa Ki Suramenggala amat menyayangnya dan pasti tidak akan menyakitinya.
Cinta laki-laki itu kepadanya hanyalah cinta berahi yang didorong nafsu semata.
"Mari, Lasmi, ke sinilah kupeluk kupondong untuk melepaskan rinduku yang sudah menulang-sumsum!"
Ki Suramenggala melangkah maju dan membungkuk hendak meraih tubuh Nyi Lasmi.
Akan tetapi Nyi Lasmi menepiskan tangannya dan bangkit berdiri, agak terhuyung karena kedua kakinya juga terasa kaku kejang karena terlalu lama diikat.
"Jangan sentuh aku!"
Bentaknya ketus.
"Aku bukan isterimu lagi!"
"Ah, jangan begitu, manisku. Jangan bersikap jual mahal...!"
Laki-laki itu menggoda sambil menyeringai dan matanya bersinar-sinar penuh gairah nafsu memandang tubuh Nyi Lasmi yang masih tampak padat dan denok itu.
"Ki Suramenggala, aku bukan isterimu lagi dan tidak sudi melayanimu. Andika seorang yang berhati kejam dan jahat! Andika menyuruh anak buah Andika membunuhi Ki Lurah Pujosaputro sekeluarga, padahal mereka tidak bersalah. Mereka adalah orang-orang yang baik budi dan Andika membantai mereka. Alangkah kejamnya!"
"Wah, Lasmi, sayangku. Jangan berpendapat seperti itu. Siapa bilang dia tidak bersalah? Dia merampas kedudukanku sebagai Lurah Karang Tirta."
"Dia menjadi lurah karena pilihan penduduk Karang Tirta, dan Andika dipecat bukan olehnya, melainkan oleh Gusti Patih Narotama! Seharusnya kepada Gusti Patih itu Andika membalas dendam, bukan kepada Ki Lurah Pujosaputro sekeluarga!"
"Ha-ha-ha, akan tiba saatnya aku membunuh Narotama dengan kerisku! Sudahlah mari kita bersenang-senang, yayi (Adinda) Lasmi! Sekarang derajatmu akan meningkat tinggi sekali. Kalau dulu engkau hanya selir lurah, sekarang menjadi selir tercinta seorang tumenggung! Ketahuilah, manis, aku sekarang adalah Tumenggung Suramenggala dan anakku Linggajaya itu sekarang menjadi raja, menjadi Adipati Linggawijaya dari Kerajaan Wengker ini, ha-ha-ha!"
Diam-diam Nyi Lasml menjadi terkejut dan heran.
Sukar membayangkan Linggajaya kini menjadi raja!
Akan tetapi, mendengar bahwa Ki Suramenggala kini menjadi tumenggung, tidak membuat ia senang menjadi selirnya.
Sebetulnya, beberapa bulan saja setelah diambil sebagal selir oleh Ki Suramenggala, ia sudah merasa tidak suka kepada orang yang berwatak kejam dan congkak ini.
Kalau dulu ia bertahan, hal itu karena terpaksa, ia kehilangan puterinya dan Ki Suramenggala amat menyayangnya dan laki-laki itu menjadi satu-satunya orang yang dapat dijadikan tempat ia berlindung dan bersandar.
Akan tetapi, setelah ia terbebas dari cengkeraman orang itu, apalagi setelah melihat betapa kejamnya Ki Suramenggala mengirim anak buahnya membantai Ki Lurah Pujosaputro sekeluarga, kini ia merasa muak dan benci kepadanya.
"Ki Suramenggala, tidak ada gunanya Andika membujuk rayu padaku. Aku tidak sudi menjadi selirmu, tidak sudi melayanimu. Andaikata Andika menjadi raja besar sekalipun aku tidak ingin nunut mukti (ikut menikmati kemuliaan) denganmu. Andika jahat dan kejam sekali, dan aku benci padamu!"
"Hemm, apa yang kau andalkan maka engkau berani bersikap seperti ini kepadaku, Lasmi? Puterimu Puspa Dewi pun tidak akan mampu berbuat sesuatu dan kalau ia berani muncul, ia pasti akan menjadi tawanan kami pula! Apa kaukira engkau akan dapat melepaskan diri dariku? Dapat melawan kehendakku?"
"Aku seorang yang lemah dan tidak akan mampu melawan manusia berwatak iblis seperti engkau, Ki Suramenggala. Akan tetapi aku tidak sudi menyerah dan kalau engkau memaksaku, aku akan bunuh diri!"
Ki Suramenggala menjadi marah sekali.
Kalau saja wanita lain yang berani menolak keinginannya dan merendahkannya seperti itu, tentu sudah dihantamnya seketika dan membunuh atau menyiksanya.
Akan tetapi, dia memang amat mencinta Nyi Lasmi, sungguhpun cintanya itu terdorong oleh gairah nafsunya.
Dia tidak jadi menyentuh Nyi Lasmi, lalu duduk di atas kursi dan menggebrak meja di depannya.
"Brakkk...!"
Wajah Ki Suramenggala berubah merah seperti udang direbus.
Dia menahan kekecewaan dan kemarahannya.
Tadinya ia membayangkan bahwa melihat dia kini menjadi tumenggung, ayah dari Raja Wengker, Nyi Lasmi pasti akan senang dan bangga hatinya dan akan melayaninya dengan manis, menyerahkan diri sebulatnya kepadanya.
Akan tetapi ternyata kenyataannya sungguh amat berlawanan.
Wanita itu bukan hanya menolak dan tidak sudi melayaninya, bahkan membencinya dan merendahkannya.
"Keparat engkau, Lasmi! Tidak tahu disayang orang, manusia tak mengenal budi! Keras kepala kau! Baik, aku akan melunakkan kekerasan hatimu itu!"
Ki Suramenggala lalu bertepuk tangan dan dua orang perajurit pengawal memasuki ruangan itu dan berdiri dengan sikap hormat.
"Bawa wanita ini dan masukkan dalam kamar tahanan di belakang! Awas, perlakukan ia baik-baik dan jangan ada yang mengganggunya! Cukupi semua kebutuhannya akan tetapi jangan sekali-kali memberi makan padanya. Aku sendiri yang akan memberi makan. Kerjakan!"
"Sendika (siap melaksanakan perintah), Gusti Tumenggung!"
Jawab pengawal dan mereka segera memegang lengan Nyi Lasmi dari kanan kiri dengan halus.
Akan tetapi Nyi Lasmi menepiskan kedua tangan yang memegang lengannya itu dan dengan sikap tegak ia berjalan keluar dari ruangan dikawal dua orang perajurit yang membawanya ke dalam sebuah kamar tahanan di bagian belakang gedung katumenggungan itu.
Nyi Lasmi dikeram dalam kamar sebagai tahanan.
Ia memang diperlakukan dengan hormat dan baik oleh para pengawal dan pelayan, akan tetapi sama sekali tidak diberi makan.
Setelah sehari semalam ia tidak makan, pada keesokan harinya Ki Suramenggala sendiri memasuki kamar dan menyerahkan sepiring nasi bersama lauk-pauknya kepada Nyi Lasmi Tentu saja di dalam makanan ini telah diisi kekuatan sihir untuk melunakkan dan menundukkan hati wanita yang masih amat dicinta oleh Ki Suramenggala itu.
Akan tetapi dengan penuh kebencian dalam sinar matanya.
Nyi Lasmi memandang piring yang disodorkan oleh Ki Suramenggala itu dengan alis berkerut.
"Aku tidak sudi makan suguhanmu! Lebih baik mati kelaparan!"
Wanita itu membentak ketus dan tangannya menampar piring sehingga terlepas dari tangan Ki Suramenggala dan isinya berserakan di atas lantai.
Ki Suramenggala terkejut sekali, tidak menyangka Nyi Lasmi akan berbuat demikian.
Dia sudah mengepal tinju, siap memukul saking marahnya.
Nyi Lasmi berdiri tegak dan menanti pukulan dengan mata terbuka, penuh tantangan.
Melihat wajah itu, Ki Suramenggala tidak tega memukul dan dia hanya menghela napas panjang lalu keluar dari kamar itu.
Pelayan segera datang membersihkan lantai.
Ki Suramenggala menemui puteranya di istana Kerajaan Wengker.
Kebetulan sekali pada waktu itu, Linggajaya yang kini menjadi Adipati Linggawijaya, raja Kerajaan Wengker, sedang bercakap-cakap dalam ruangan pribadinya dengan isterinya, Permaisuri Dewi Mayangsari, dan Sang Resi Bajrasakti.
Mereka sedang membicarakan tentang permusuhan mereka dengan Kahuripan, atau lebih tepat kebencian mereka yang membuat mereka selalu memusuhi Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama.
Sejak menjadi raja di Wengker, Adipati Linggawijaya tidak pernah melupakan kebenciannya terhadap raja dan patih Kahuripan itu, bersama semua satria yang membela Kahuripan.
Dia ingin sekali menundukkan Kahuripan, karena kalau dia dapat menguasai Kahuripan, dia akan menjadi raja besar yang akhirnya dapat menguasai seluruh Nusantara!
Sang Adipati Linggawijaya tampak berbeda dengan ketika dia masih menjadi Linggajaya pemuda Karang Tirta putera KiLurah Suramenggala.
Memang, sejak dahulu dia merupakan seorang pemuda pesolek dan tampan.
Akan tetapi sekarang dia mengenakan pakaian kebesaran yang serba gemerlapan dan tampak anggun berwibawa sekali, sungguhpun usianya masih amat muda, baru sekitar dua puluh satu tahun!
Di sampingnya duduk Dewi Mayangsari yang kini menjadi permaisurinya.
Wanita ini pun berpakaian serba indah dan harus diakui bahwa ia cantik sekali dan sungguhpun usianya sudah sekitar dua puluh sembilan tahun, namun ia tidak tampak lebih tua daripada Adipati Linggawijaya!
Kulitnya yang agak hitam namun halus bersih itu membuat ia tampak semakin manis.
Tidak akan ada yang menyangka bahwa dalam tubuh yang ramping padat, wajah cantik manis dengan sinar mata dan senyum genit ini, terdapat kekuatan yang amat dahsyat karena ia yang tadinya memang sudah digdaya ini mendapat tambahan banyak ajian yang serba hebat dari gurunya yang baru, yaitu Nini Bumigarbo.
Seperti kita ketahui, Nini Bumigarbo yang sakti mandraguna itu amat membenci Sang Maha Resi Satyadarma karena Sang Resi ini telah memberi wejangan kepada Ekadenta sehingga Ekadenta mengambil keputusan untuk menjadi Brahmacari (pantang menikah).
Padahal Ekadenta, kakak seperguruannya Itu adalah juga kekasihnya dan sebelumnya mereka berdua yang saling mencinta telah bersepakat untuk menjadi suami isteri.
Keputusan Ekadenta untuk tidak menikah selama hidupnya tentu saja membuat Gayatri, yaitu nama Nini Bumigarbo ketika masih gadis muda, berduka sekali dan ia membenci Sang Maha Resi Satyadharma.
Akan tetapi ia tidak berani melampiaskan kebenciannya kepada pendeta yang sakti mandraguna itu.
Ia tahu bahwa ia tidak akan pernah menang melawan Sang Maha Resi.
Maka, ia lalu berusaha untuk membunuh dua orang murid terkasih dari Maha Resi Satyadharma, yaitu Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama.
Akan tetapi, sungguh menjengkelkan hatinya, Ekadenta selalu menentangnya dan bekas kakak seperguruan dan juga kekasihnya itu membela raja dan patih itu.
Beberapa kali ia bertanding, namun selalu kalah oleh Bhagawan Ekadenta yang juga bernama Bhagawan Oitendrya.
Akhirnya Nini Bumigarbo mengambil Dewi Mayangsari, permaisuri Kerajaan Wengker sebagai murid.
Ia menurunkan kepandaiannya kepada permaisuri itu dengan maksud agar melalui muridnya ini, ia akan dapat melampiaskan sakit hatinya dengan menyerang dan kalau mungkin membunuh Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama.
Berhadapan dengan suami Isteri pimpinan Kerajaan Wengker itu, duduk Sang Resi Bajrasakti, kakek yang berusia sekitar lima puluh enam tahun, bertubuh tinggi besar dengan muka penuh brewok dan berkulit hitam arang.
Seperti kita ketahui, Resi Bajrasakti ini sejak dulu menjadi tokoh Wengker dan dia adalah guru Adipati Linggawijaya.
Setelah muridnya itu menjadi Adipati Wengker, Resi Bajrasakti diangkat menjadi Guru Kerajaan atau penasihat pribadi Sang Adipati.
Kedudukan ini amat tinggi dan dia memiliki kekuasaan besar, hanya di bawah kekuasaan Sang Adipati dan Sang Permaisuri.
Mereka bertiga sedang berbincang-bincang membicarakan keinginan mereka untuk menggempur Kahuripan.
Mereka bertiga memang sama-sama membenci Kahuripan.
Resi Bajrasakti membenci Kahuripan karena sejak dulu ia memang menjadi tokoh Wengker yang selalu memusuhi Kahuripan, akan tetapi dia sering kali kalah bertanding melawan para tokoh Kahuripan.
Permaisuri Dewi Mayangsari membenci Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama karena selain sejak dulu menjadi musuh bebuyutan, ditambah lagi desakan Nini Bumigarbo agar ia menyerang dan membunuh raja dan patih Kahuripan itu.
Adapun Adipati Linggawijaya sendiri, dia ingin merampas kedudukan sebagai maharaja di Kahuripan yang memiliki wilayah luas sekali.
Selagi mereka bercakap-cakap, datanglah Tumenggung Suramenggala.
Sebagai ayah Sang Adipati, tentu saja para pengawal tidak berani melarangnya untuk kapan saja memasuki Istana.
Melihat kedatangan ayahnya, Adipati Linggawijaya mempersilakan Tumenggung Suramenggala duduk di sebelah Resi Bajrasakti.
Dia memandang wajah ayahnya yang tampak keruh.
"Kanjeng Rama, apakah yang menyusahkan hati Rama?"
Adipati Linggawijaya bertanya.
Semenjak dia menjadi adipati dan ayahnya menjadi tumenggung, dia mengubah panggilannya.
Kalau dulu memanggil ayahnya cukup bapak saja, sekarang menjadi kanjeng rama, tentu saja untuk disesuaikan dengan kedudukannya!
Tumenggung Suramenggala menghela napas.
"Siapa lagi yang dapat menyusahkan hatiku kalau bukan Ibunda Nyi Lasmi itu? Ia berkeras tidak mau kembali sebagai keluarga kita."
Wajah bekas lurah itu menjadi merah dan alisnya berkerut.
"Bukan saja ia menolak, bahkan menghina dan setelah sehari semalam tidak diberi makan, tadi ia menolak dan menampar tumpah nasi yang kubawakan untuknya. Ah, perempuan itu sungguh keras kepala!"
"Kanjeng Rama, mengapa Andika bersedih hanya karena penolakan seorang perempuan dusun seperti itu?"
Kata Dewi Mayangsari.
"Kalau Andika menghendaki selir baru, saya dapat mencarikan seorang perawan cantik untuk Andika!"
"Benar sekali apa yang dikatakan Yayi Ratu Dewi Mayangsari, Kanjeng Rama. Untuk apa memusingkan penolakan perempuan itu? Ia bukan apa-apa bagi keluarga kita, bahkan selama menjadi selir Kanjeng Rama, ia tidak menurunkan anak. Sebaiknya dibunuh saja perempuan itu!"
Kata Adipati Linggawijaya.
"Baik sekali usul itu, Kanjeng Rama."
Kata Dewi Mayangsari.
"Memang sebaiknya dibunuh saja perempuan sombong tak tahu diri itu! Seorang perempuan dusun, janda lagi, berani menolak untuk menjadi selir Kanjeng Rama Tumenggung?"
Mendengar ucapan puteranya dan mantunya itu, Tumenggung Suramenggala termenung, alisnya berkerut.
"Ah, aku... aku tidak tega untuk membunuhnya..."
"Ah, itu mudah saja, Kanjeng Rama? Biar kita suruh saja seorang perajurit pengawal untuk membunuhnya. Kalau Kanjeng Rama tidak tega ia dibunuh di sini, biar ia dibawa keluar istana, ke dalam sebuah hutan lalu dibunuh."
Tumenggung Suramenggala menghela napas panjang beberapa kali lalu mengangguk-angguk.
"Agaknya tidak ada jalan lain..."
"Saya tidak setuju kalau Nyi Lasmi dibunuh!"
Tiga orang itu memandang Resi Bajrasakti yang mengeluarkan kata-kata itu. Adipati Linggawijaya tertawa.
"Ha-ha-heh-heh, agaknya Bapa Resi tertarik kepada Nyi Lasmi?"
Tanyanya. Resi Bajrasakti juga tertawa.
"Ha-ha-ha, Ananda Adipati, lima orang selir yang masih muda-muda itu sudah cukup banyak bagi saya, untuk apa menambah lagi dengan seorang perempuan yang sudah setengah tua? Bukan itu maksud saya."
"Hemm, kalau begitu, mengapa Bapa Resi tidak setuju kalau ia dibunuh?"
"Ingat, wanita itu adalah Ibu kandung Puspa dewi!"
"Kami tidak takut!"
Kata Adipati Linggawijaya dan Dewi Mayangsari berbareng. Adipati Linggawijaya menyambung.
"Biar ia datang ke sini kalau ia berani, kita akan tangkap gadis liar itu!"
"Bukan begitu maksud saya! Akan tetapi kita pun tahu bahwa Puspa Dewi adalah Sekar Kedaton Wura-wuri yang sudah mengkhianati Wura-wuri. Mengapa kita tidak menggunakan Nyi Lasmi untuk berjasa terhadap Wura-wuri sehingga kita papat bekerja sama semakin erat dengan Kerajaan Wura-wuri? Adipati Bhimaprabhawa, terutama permaisurinya, Nyi Dewi Durgakumala, pasti marah sekali kepada Puspa Dewi dan ingin sekali menangkap gadis itu. Nah, lebih baik kita serahkan Nyi Lasmi kepada mereka. Wura-wuri dapat memancing datangnya Puspa Dewi dengan Ibu kandung gadis itu sebagai sandera dan akhirnya mereka dapat menangkapnya. Dengan demikian sekali tepuk kita mendapatkan dua keuntungan, karena Wura-wuri tentu akan berterima kasih kepada kita."
Adipati Linggawijaya dan permaisurinya mengangguk-angguk senang.
"Gagasan yang baik sekali itu, Bapa Resi! Bagaimana, Kanjeng Rama, apakah Andika juga setuju dengan usul itu?"
Tumenggung Suramenggala menghela napas panjang.
"Terserah, aku sudah pusing memikirkan kekerasan hati Nyi Lasmi. Biarlah, kalau ia tidak mau melayani aku, masih banyak wanita yang bersedia melakukannya dengan senang hati."
"Tentu saja, Kanjeng Rama. Saya akan mencarikan pengganti Nyi Lasmi, seorang gadis muda yang cantik jelita untuk menghibur hati Kanjeng Rama."
Kata Dewi Mayangsari.
Setelah mengakhiri percakapan itu, Adipati Longgawijaya lalu membuat sepucuk surat kepada Adipati Bhismaprabhawa dan Nyi Dewi Durgakumala, yang isinya menyerahkan Nyi Lasmi, ibu kandung Puspa Dewi, kepada Wura-wuri sebagai tanda persahabatan karena Wengker juga merasa penasaran akan pengkhianatan Puspa Dewi terhadap Wura-wuri dan persekutuan mereka bersama sehingga usaha mereka menghancurkan Kahuripan gagal.
Perjalanan dari Wengker ke Wura-wuri tidak dekat, dengan berkuda pun akan memakan waktu sedikitnya lima hari.
Maka, Adipati Linggawijaya lalu mengutus dua orang jagoan Wengker yang berjasa menculik Nyi Lasmi dari Karang Tirta, yaitu Wirobento dan Wlrobandrek, memimpin selosin orang perajurit pilihan, untuk mengawal Nyi Lasmi dan mengantarkannya ke kota raja Wura-wuri.
Berangkatlah rombongan itu setelah untuk yang terakhir kalinya Tumenggung Suramenggala membujuk Nyi Lasmi untuk menyerah kepadanya daripada dibawa ke Wura-wuri akan tetapi Nyi Lasmi berkeras menolak.
Empat belas orang pengawal itu menunggang kuda dan Nyi Lasmi terpaksa juga menunggang kuda karena kalau ia berkeras tidak mau, ia akan diboncengkan oleh Wirobandrek di atas seekor kuda.
Wanita itu memilih menunggang kuda sendiri, dan ia memang sudah terbiasa menunggang kuda dahulu ketika menjadi selir Ki Suramenggala di Karang Tirta.
Pemuda Cina itu berusia sekitar dua puluh tujuh tahun.
Pakaiannya sederhana dan dari pakaiannya yang sama dengan pakaian pemuda pribumi dapat diketahui bahwa pemuda Cina itu tentu sudah lama berada di Nusa Jawa sehingga sudah dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan penduduk pribumi.
Tubuhnya tinggi agak kurus, mukanya pucat kuning.
Matanya yang sipit mengandung sinar tajam.
Di punggungnya terselip siang-to (sepasang golok).
Bahkan rambutnya pun digelung ke atas model rambut para pria pribumi.
Yang membuat orang dapat menyangka bahwa dia seorang asing adalah kekuningan kulitnya dan kesipitan matanya.
Juga kalau dia bicara, walaupun fasih bicara daerah, tetap saja masih agak cadel (pelo).
Pemuda Cina itu adalah seorang pemuda dari Negeri Cina yang melarikan diri ke Nusa Jawa karena ia dikejar-kejar beberapa orang jagoan yang hendak membunuhnya.
Sekitar tujuh tahun yang lalu pemuda Cina yang bernama The Jiauw Lan ini tinggal di sebuah dusun dekat kota raja Nan-king.
Sejak muda dia telah pandai bermain silat dan hidup sebagai seorang pendekar yang menentang kejahatan.
Pada suatu hari dia melihat Bong Kongcu (Tuan muda Bong), putera seorang pembesar kota raja bersama beberapa orang jagoannya mengganggu seorang gadis.
The Jiauw Lan marah dan menghajar pemuda bangsawan dan jagoan-jagoannya itu dan menyelamatkan gadis yang diganggu.
Akan tetapi ternyata peristiwa Itu mendatangkan malapetaka besar bagi The Jiauw Lan.
Ketika dia tidak berada di rumah, serombongan anak buah Bong Kongcu menyerbu rumahnya dan ayah ibunya dibunuh.
Adiknya, seorang gadis remaja yang ketika itu berusia sekitar tiga belas tahun hilang entah ke mana.
The Jiauw Lan menjadi marah sekali.
Dia membalas dendam, menyerbu rumah Bangsawan Bong dan berhasil membunuh Bong Kongcu dan beberapa orang jagoannya.
Perbuatan ini tentu saja menggemparkan kota raja dan dia terpaksa melarikan diri dan menjadi orang buruan.
Pembesar Bong tidak mau menerima begitu saja dan dia menyuruh para pembunuh bayaran untuk mencari dan mengejar Jiauw Lan untuk dibunuh.
Belum puas dengan ini, Pembesar Bong juga memaksa kekasih Jiauw Lan yang bernama Mei Hwa yang sudah bertunangan dengannya, untuk menjadi selir Bangsawan Bong.
Hal ini dilakukan pembesar Itu bukan sekedar memuaskan nafsunya, akan tetapi terutama sekali untuk membalas dendam kepada Jiauw Lan yang telah membunuh puteranya.
Demikianlah, Jiauw Lan terpaksa melarikan diri berlayar ke selatan karena daratan Cina merupakan tempat yang tidak aman baginya.
Setelah tiba di Nusa Jawa, dia merantau, berpindah-pindah tempat dan akhirnya dia mengasingkan diri di Danau Sarangan, di lereng Gunung Lawu.
Sungguh di luar dugaannya, Pembesar Bong yang masih mendendam kepadanya, berhasil membujuk gurunya yang berjuluk Pek I Kiam-sian (Dewa Pedang Baju Putih) bernama Souw Kiat untuk mencarinya sampai ke Nusa Jawa.
Gurunya itu masih ditemani dua orang paman gurunya yang bernama Gan Hok dan Giam Lun.
Kurang lebih dua tahun yang lalu, secara kebetulan The Jiauw Lan menyelamatkan Puteri Listyarini, Isteri Ki Patih Narotama yang diculik penjahat.
Ki Patih Narotama datang untuk menjemput isterinya yang diselamatkan Jiauw Lan.
Akan tetapi kedatangan Ki Patih Narotama agak terlambat sehingga kedahuluan munculnya guru dan dua orang paman guru Jiauw Lan.
Percuma saja Jiauw Lan melawan.
Dia terluka dan dirobohkan bahkan menerima Hwe tok-ciang (Tangan Racun Api) dari Pek I Kiamsian yang hendak membuat bekas muridnya itu cacat dan kehilangan tenaga saktinya sebagai hukuman.
Akan tetapi, Ki Patih Narotama yang sakti mandraguna, mempergunakan tongkat pusakanya Tunggul Manik yang dapat memunahkan racun dari tubuh Jiauw Lan sehingga pemuda Cina itu selamat.
Jadilah dia sahabat baik Ki Patih Narotama yang berterima kasih, bahkan Listyarini menganggap dia sebagai saudara.
Akan tetapi Jiauw Lan menolak ketika hendak diajak ke Kahuripan.
Dia lebih suka mengasingkan diri dan merantau.
Sejak pertemuan dan perkenalannya dengan Listyarini yang menganggap dia sebagai kakak angkat, Jiauw Lan menggunakan nama Tejoranu.
Listyiarini tidak dapat menyebut nama The Jiauw Lan dan menyebutnya Tejoranu!
Demikianlah sedikit riwayat singkat The Jiauw Lan yang kini bernama Ki Tejoranu.
Beberapa bulan yang lalu dia bertemu dengan seorang Cina lain di kaki Gunung Lawu.
Kebetulan sekali dia mengenal laki-laki itu yang bernama Tan Sek.
Dari Tan Sek Inilah dia memperoleh berita yang mengejutkan, mengherankan akan tetapi juga menyenangkan.
Kenalannya itu bercerita banyak tentang The Kim Lan, adik perempuannya yang hilang ketika ayah Ibunya terbunuh dan ketika itu berusia tiga belas tahun.
Menurut penuturan Tan Sek, adiknya itu kini telah menjadi seorang gadis yang amat lihai setelah berguru kepada seorang hwesio (Pendeta Buddha) dari Kuil Siaw Lim.
Yang menggembirakan adalah berita bahwa The Kim Lan, adiknya yang kini menjadi seorang gadis berusia sekitar dua puluh tahun, menyusulnya ke Jawa dan kini sedang mencarinya.
"Sejak dua bulan ini, Adikmu, The Kim Lan itu berada di sekitar Gunung Kawi."
Demikian Tan Sek, temannya itu bercerita.
Mendengar cerita temannya itu, Ki Tejoranu merasa gembira sekali dan dia segera melakukan perjalanan menuju Gunung Kawi!
Setelah tiba di daerah Gunung Kawi, dia merantau di sekitar gunung itu untuk mencari adiknya yang menurut Tan Sek berada di situ.
Akan tetapi sampai hari itu, dia belum juga dapat menemukan The Kim Lan.
Pagi hari itu dia berjalan dengan penuh semangat karena malam tadi, di sebuah dusun di mana dia bermalam, dia mendengar dari seorang penduduk yang melihat seorang gadis Cina berjalan menuju ke barat.
Mendengar ini, pagi-pagi sekali Ki Tejoranu berangkat ke barat untuk menyusul gadis Cina itu, hampir yakin bahwa gadis itu tentu adiknya karena pada waktu itu langka menemukan seorang gadis Cina di pedalaman.
Kalaupun ada wanita Cina, yang belum begitu banyak, mereka itu tentu berada di kota-kota di pesisir utara.
Selagi dia berjalan sambil dengan teliti memandang ke sekeliling untuk menemukan jejak adiknya, dia mendengar derap kaki kuda dari belakang.
Ki Tejoranu cepat menyelinap di balik pohon besar untuk mengintai siapa yang datang itu.
Dia melihat lima orang menunggang kuda lewat di jalan yang kasar itu.
Mereka adalah dua belas orang perajurit yang dipimpin dua orang laki-laki tinggi besar berpakaian mewah.
Yang mengherankan hatinya adalah ketika dia melihat seorang wanita di antara mereka.
Wanita itu pun menunggang kuda, diapit oleh dua orang pemimpin pasukan.
Melihat wanita itu berwajah sedih, bahkan jelas tampak bahwa ia habis menangis, kedua matanya agak merah membengkak, hati Ki Tejoranu tertarik.
Timbul jiwa kependekarannya.
Dia mencium keadaan yang tidak wajar, tentu ada yang tidak beres dalam rombongan itu.
Siapa tahu, wanita itu membutuhkan pertolongan.
Maka Ki Tejoranu cepat berlari mengikuti rombongan berkuda itu.
Jalan itu memasuki sebuah hutan.
Matahari mulai naik tinggi dan Ki Wirobente yang memimpin pasukan bersama Ki Wirobandrek mengantar Nyi Lasmi ke Kerajaan Wura-wuri, memberi aba-aba untuk berhenti.
Dia memerintahkan berhenti ketika melihat Nyi Lasmi tampak lemas dan duduknya mulai miring-miring hampir jatuh.
"Kita berhenti mengaso di sini. Nyi Lasmi, turunlah, Andika boleh beristirahat menghilangkan lelah."
Katanya kepada Nyi Lasmi.
Dengan tubuh lemas karena kelelahan dan kelaparan, Nyi Lasmi turun dari atas punggung kudanya dan terkulai, duduk mendeprok di atas tanah.
Wirobandrek lalu menghampiri Nyi Lasmi yang masih duduk mendeprok di atas tanah, menjulurkan tangan menawarkan tempat minuman dan sebungkus makanan.
"Nih, makan dan minumlah dulu, Nyi Lasmi, agar engkau tidak lemah dan sakit."
Akan tetapi Nyi Lasmi menggeleng kepalanya.
"Biarkan aku mati saja, aku tidak ingin menjadi sandera untuk memancing Anakku...."
"Kakang Bento, kalau perempuan ini tidak mau makan dan mati kelaparan di jalan, kita tentu akan dipersalahkan oleh Tumenggung Suramenggala."
"Benar, Adi Bandrek. Gusti Adipati Linggawijaya tidak akan mengampuni kita. Maka, paksa saja ia makan!"
KI WIROBENTO lalu memegang kedua lengan Nyi Lasmi, ditelikung ke belakang dan Ki Wirobandrek mulai memaksa Nyi Lasmi makan dengan menjejalkan nasi ke mulut wanita itu.
Nyi Lasmi mengatupkan mulutnya dan membuang muka ke kanan kiri untuk menghindarkan jejalan makanan pada mulutnya.
Ki Tejoranu marah sekali melihat hal ini.
Akan tetapi sebelum dia melompat keluar untuk menolong wanita itu, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.
"Orang-orang jahat!"
Dan berkelebatlah bayangan orang dan tahu-tahu muncul seorang gadis berpakaian serba biru.
Sekali pandang saja orang dapat mengetahui bahwa ia tentu seorang gadis Cina.
Hal ini dapat dikenal dari bentuk pakaiannya, dan gelung rambutnya ke atas.
Gadis ini berusia sekitar dua puluh tahun, bertubuh ramping padat dan wajahnya manis, berkulit putih kuning.
Di punggungnya tergantung sebatang pedang.
Begitu muncul, gadis itu telah melompat dekat Nyi Lasmi dan cepat sekali tangan kanannya menghantam ke arah tubuh Wirobento dan kaki kirinya menendang ke arah tubuh Wirobandrek.
Dua orang jagoan Wengker ini bukan orang lemah.
Melihat betapa pukulan dan tendangan itu mendatangkan angin serangan yang kuat, mereka maklum bahwa mereka diserang seorang yang digdaya, maka mereka cepat berlompatan ke belakang untuk mengelak.
Gadis itu lalu berkata dengan suara nyaring namun ucapannya cadel (pelo).
"Bibi, jangan takut! Aku akan menghajar mereka!"
Setelah berkata demikian, gadis Cina itu sudah mencabut pedangnya dan tampak sinar berkelebat ketika pedangnya tercabut.
Ki Tejoranu membelalakkan matanya yang sipit.
Jantungnya berdebar kencang dan hatinya merasa terharu sekali.
Sukar untuk mengenali gadis Cina itu, akan tetapi dia masih teringat bahwa mata dan mulut gadis itu adalah mata dan mulut The Kim Lan, adik perempuannya yang ketika mereka berpisah masih merupakan seorang gadis remaja cilik berusia tiga belas tahun.
Tentu saja dia tidak berani menegur gadis itu sebagai adiknya, takut kalau kalau dugaannya salah, maka dia hanya mengintai saja dan siap siaga kalau-kalau gadis itu membutuhkan bantuan.
Dua orang kakak beradik jagoan Wengker itu marah bukan main ketika mereka melihat seorang gadis asing menyerang mereka.
Melihat gadis itu sudah mencabut pedang, Ki Wirobandrek berteriak kepada anak buahnya.
"Perempuan bosan hidup berani mencampuri urusan kami! Kawan-kawan, bunuh perempuan itu!"
Dua belas orang perajurit Wengker yang rata-rata bertubuh tinggi besar dan berwajah bengis itu segera mencabut golok mereka dan mereka maju menghampiri gadis itu.
Gadis Cina itu tidak ingin Nyi Lasmi ikut terkepung sehingga membahayakan keselamatannya, maka ia berlari menjauhi sehingga ketika ia terkepung, Nyi Lasmi tidak ikut dikepung, ia berdiri dengan gagahnya dalam kepungan dua belas orang itu, berdiri dengan kedua kaki agak terpentang dan kedua lutut ditekuk, tangan kiri terbuka dan lurus miring di depan dada, sedangkan pedang di tangan kanan melintang di atas kepalanya.
Tubuhnya tidak bergerak, akan tetapi sepasang matanya yang tajam itu mengerling ke kanan kiri.
Sikapnya tenang seolah ia sama sekali tidak gentar menghadapi pengepungan selosin perajurit Wengker itu.
Ki Tejoranu mengenal sikap itu sebagai kuda-kuda ilmu pedang Siauw-lim-pai, maka semakin yakinlah hatinya bahwa gadis itu tentu adiknya yang sedang dia cari-cari.
Bukankah Tan Sek menceritakan bahwa adiknya itu telah berguru kepada seorang hwesio Siauw-lim-pai?
Tiba-tiba, dua orang pengepung yang berdiri di belakang gadis itu, setelah mendapat isyarat kedipan mata dan Ki Wirobento, segera menggerakkan golok menyerang gadis itu dari belakang, tanpa memberi peringatan.
Dua batang golok menyambar, yang satu membacok kepala, yang kedua menusuk punggung!
Akan tetapi gadis itu agaknya telah memiliki tingkat kepandaian tinggi.
Biarpun kedua matanya tidak dapat melihat datangnya penyerangan dari belakang, namun pendengarannya yang sudah terlatih tajam, dapat menangkap gerakan serangan Itu.
Tubuhnya tiba-tiba membalik, pedangnya berkelebat bagaikan kilat menyambar.
"Cring... trangg....!"
Bunga api berpijar dan dua orang penyerang itu terpelanting dan mengaduh karena setelah pedang tadi menangkis golok mereka, pedang itu mencuat dengan kecepatan kilat dan tidak terduga-duga, merobek baju dan kulit dada mereka sehingga tergores panjang, cukup dalam sehingga mereka terluka parah.
Sepuluh orang perajurit yang lain menjadi marah dan mereka segera menyerbu dan menyerang membabi-buta dan tidak teratur lagi.
Dengan kacau mereka membacok dengan golok mereka.
Akan tetapi tiba-tiba mereka menjadi bingung karena tubuh gadis yang mereka keroyok itu berkelebatan amat cepatnya, merupakan bayang-bayang biru yang berkelebatan terlindung gulungan sinar pedangnya yang seperti kilat.
Terdengar suara berkerontangan berulang-ulang disusul golok-golok terpental dan tubuh para pengeroyok berpelantingan!
Lima orang pengeroyok roboh dan sisanya, lima orang lagi menjadi gentar.
Melihat ini, Ki Wirobento dan Ki Wirobandrek berseru nyaring dan mereka berdua sudah menerjang maju membantu para anak buah yang tinggal lima orang itu.
Ki Wirobento sudah menggerakkan pecutnya yang ujungnya dipasangi paku-paku atau besi-besi kecil yang runcing tajam.
Hebat sekali senjata ini, yang menyambar-nyambar dahsyat.
Sementara itu, Ki Wirobandrek menggunakan senjata andalannya yang merupakan senjata pusaka para warok, yaitu sepasang ujung kolor berwarna merah.
Ujung kolor yang lemas ini sama sekali tidak boleh dipandang ringan karena sudah dirajah (dipasangi mantra) dan mengandung racun yang amat kuat.
Setelah dua orang jagoan Wengker ini maju mengeroyok dan senjata mereka bergulung-gulung sinarnya, menyambar dengan dahsyat dari semua jurusan, gadis itu tampak kaget dan mulailah ia terdesak dan main mundur walaupun putaran pedangnya membentuk gulungan sinar yang melindungi tubuhnya.
Biarpun dua orang jagoan Wengker dan sisa anak buahnya yang tinggal lima orang itu sukar untuk dapat menembus perisai gulungan sinar pedang itu, namun gadis itu pun sama sekali tidak memperoleh kesempatan untuk balas menyerang.
Melihat ini, Ki Tejoranu sudah tidak dapat menahan hatinya lagi.
Dia melompat keluar sambil mencabut siang-to (sepasang golok) dan berseru dengan nyaring.
"Adikku, jangan khawatir. Aku datang membantumu!"
Ucapan itu menggunakan bahasa Cina. Gadis itu cepat melompat ke belakang dan menoleh. Matanya yang tajam terbelalak dan mulutnya berteriak girang.
"Koko (Kakak) Jiauw Lan.....!"
Ki Tejoranu sudah menyerbu dan kini mereka berdua menyambut pengeroyokan tujuh orang itu.
Setelah Ki Tejoranu maju, walaupun tingkat kepandaiannya tidak lebih tinggi daripada tingkat gadis itu, namun tentu saja Ki Wirobento dan Ki Wirobandrek kini terkejut dan terdesak mundur.
Bahkan dalam waktu singkat, dua orang anak buahnya sudah roboh lagi.
Maklum bahwa mereka tidak akan mampu menandingi gadis Cina dan orang yang muncul membantunya itu, Ki Wirobento dan Ki Wirobandrek lalu melarikan diri, diikuti dua belas orang anak buah mereka yang saling bantu dan kabur dengan kuda mereka.
Gadis itu tidak mengejar dan kini ia berhadapan dengan Ki Tejoranu, saling pandang dengan penuh perhatian.
Kemudian, seperti digerakkan tenaga gaib, dua orang itu saling tubruk dan saling rangkul.
"Lan-ko (Kakak Lan).... ahh.... Lan-ko....!"
Gadis itu menangis dalam rangkulan Ki Tejoranu.
Laki-laki itu pun tidak dapat menahan tangisnya, walaupun tanpa mengeluarkan suara.
Laki-laki yang sudah tergembleng bertahun-tahun dalam kepahitan dan kesengsaraan itu tidak dapat menahan keharuan dan kebahagiaan hatinya dapat bertemu dengan adik kandungnya, hal yang sama sekali tidak pernah dia impikan!
"Kim Lan, Adikku....!"
Nyi Lasmi bangkit berdiri dan memandang kepada dua orang itu dengan heran.
Ia tahu bahwa dua orang itulah yang telah membebaskannya dari tangan orang-orang Wengker tadi.
Gadis Cina itu demikian gagah dan tangkas, mengingatkan ia akan Puspa Dewi, puterinya.
Melihat betapa dua orang itu saling rangkul sambil menangis, ia merasa terharu pula walaupun ia tidak mengerti siapa mereka dan mengapa mereka menangis karena ia tidak dapat mengerti bahasa mereka.
Yang jelas baginya adalah bahwa mereka orang-orang baik yang telah menolongnya.
Biarpun Ki Tejoranu atau The Jiauw Lan dan The Kim Lan, kakak beradik itu sedang tenggelam ke dalam kebahagiaan yang mengharukan namun mereka memiliki pendengaran dan perasaan yang (Lanjut ke
Jilid 07) Nurseta Satria Karang Tirta (seri ke 02 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 07 sudah terlatih baik.
Maka keduanya segera dapat mengetahui ketika Nyi Lasmi menghampiri mereka.
Mereka saling melepaskan rangkulan dan Ki Tejoranu berkata lirih kepada Kim Lan dalam bahasa Cina.
"Adikku, nanti saja kita bicara tentang kita. Sekarang kita bicara dulu dengan wanita ini."
Setelah berkata demikian, keduanya menghadapi Nyi Lasmi sambil menghapus air mata mereka dan tersenyum kepada Nyi Lasmi.
Senyum yang tulus karena keduanya memang sedang merasa senang sekali dapat saling bertemu.
"Maafkan kami... karena kami hampir melupakan Andika... eh, perkenalkan, saya bernama Ki Tejoranu dan ini Adik kandungku, namanya The Kim Lan..."
Ki Tejoranu memperkenalkan dirinya dan adiknya.
Nyi Lasmi terharu.
Dua orang penolongnya ini sungguh aneh!
Mereka malah minta maaf kepadanya!
"Saya yang minta maaf kepada Andika berdua, Kisanak, karena saya telah merepotkan Andika berdua.
Andika telah menolong saya terlepas dari bahaya yang bagi saya lebih mengerikan daripada maut."
Suara Nyi Lasmi tergetar.
"Saya bernama Lasmi..."
Baru sampai sekian Nyi Lasmi bicara, ia yang sejak tadi menahan diri sekuatnya kini tidak dapat menahan lagi dan ia terkulai dan pingsan dalam rangkulan The Kim Lan.
Ia tentu sudah roboh kalau tidak cepat dirangkul gadis Cina itu.
Kelelahan yang luar biasa karena selama tiga hari sama sekali tidak makan, ditambah kekhawatiran dan ketegangan membuat ia pingsan setelah mendapat kebebasan.
"Koko, ia pingsan."
Kata Kim Lan sambil merebahkan tubuh Nyi Lasmi ke atas tanah. Ki Tejoranu cepat memeriksa denyut nadi pergelangan tangan Nyi Lasmi.
"Hemm, kasihan sekali wanita ini, Lan-moi (Adik Lan). Menurut denyut nadinya, ia lemah sekali, agaknya ia menderita kelaparan, juga batinnya tertekan dan ketakutan. Engkau mempunyai sedikit makanan dan minuman?"
Kim Lan mengambil buntalan yang tadi ia tinggalkan di bawah pohon dan mengambil beberapa ketela merah bakar dan seguci air.
"Ini air bersih, Koko. Sebaiknya ia diberi minum, akan tetapi harus dibikin sadar dulu.".
"Engkau dapat melakukannya?"
Gadis itu mengangguk.
"Aku pernah mempelajari beberapa ilmu pengobatan dari suhu (guru)."
Setelah berkata demikian, Kim Lan lalu menekan beberapa bagian tubuh Nyi Lasmi dengan jarinya sambil mengerahkan sin-kang (tenaga sakti), yaitu di antara pangkal ibu jari dan telunjuk, lalu di bibir atas tepat di bawah hidung, dan mengurut punggung.
Sebentar saja Nyi Lasmi mengeluh dan membuka kedua matanya.
Ia bergerak hendak bangkit.
Kim Lan membantunya sehingga ia dapat duduk.
Suara gadis Cina itu lembut akan tetapi cadel sekali sungguhpun cukup dapat dimengerti Nyi Lasmi.
"Bibi, tenangkan hatimu dan minumlah air ini lebih dulu."
Setelah berkata demikian, Kim Lan mendekatkan cawan yang sudah diisi air ke mulut Nyi Lasmi yang tidak membantah dan minum air di cawan itu sampai habis. Ketika ia hendak bicara, Kim Lan mencegahnya.
"Nanti saja kita bicara, Bibi. Sekarang, makanlah dulu ubi bakar ini. Maaf, kami hanya mempunyai makanan ini dan tidak memberi yang lebih baik. Bibi perlu makan agar menjadi kuat kembali."
Nyi Lasmi juga tidak membantah.
Ia tahu benar bahwa gadis asing ini bermaksud baik, tadi telah menyelamatkannya.
Apalagi perutnya memang lapar sekali, maka tanpa malu-malu lagi ia menerima ketela bakar itu dan memakannya.
Setelah menghabiskan tiga potong ketela bakar dan minum lagi dua cawan air, Nyi Lasmi merasa sehat dan segar kembali.
Ia memandang kepada dua orang kakak beradik itu, lalu menghela napas panjang dan berkata.
"Ah, orang-orang tadi sungguh kejam dan jahat...."
"Bibi yang baik, kami baru akan mengetahui apakah mereka itu benar-benar jahat kalau kami sudah mendengar bibi menceritakan siapa mereka dan mengapa mereka menawan Andika."
Kata Ki Tejoranu.
Nyi Lasmi lalu menceritakan tentang penyerbuan orang-orang Wengker ke Karang Tirta, membunuh lurah dan sekeluarganya dan menculiknya.
Ia tidak merasa perlu untuk menceritakan tentang bekas suaminya, Ki Suramenggala, hanya menceritakan bahwa ia tidak mau ketika hendak diselir seorang tumenggung di Wengker.
"Karena penolakanku itu, tumenggung itu menyuruh anak buahnya membawa aku ke Wura-wuri untuk diserahkan penguasa di sana."
"Akan tetapi, mengapa Bibi dibawa ke sana?"
Tanya Kim Lan yang sudah mengetahui pula akan adanya Kerajaan Wura-wuri.
"Karena Kerajaan Wura-wuri memusuhi anakku, maka agar aku dijadikan sandera untuk memaksa anakku menyerahkan diri. Aahhh, betapa jahatnya mereka itu, padahal mereka adalah bangsaku sendiri, sedangkan kalian yang bangsa asing begini baik kepadaku."
Mendengar ini, Kim Lan dan Tejoranu bicara dalam bahasa Cina sampai beberapa lamanya, kemudian Ki Tejoranu berkata kepada Nyi Lasmi "Bibi, kami tadi menanggapi pendapat Bibi tadi.
Begini, Bibi Lasmi yang baik.
Di bagian mana di dunia ini, bangsa apa pun juga, sama saja keadaannya.
Ada yang baik, tentu ada pula yang jahat.
Bangsamu, bangsa negara ini, banyak yang baik budi.
Sedangkan bangsa kami, bangsa Cina, juga amat banyak yang jahat, bahkan jahat sekali.
Ketahuilah bahwa kami berdua sampai merantau di negara ini karena melarikan diri dari kejaran orang-orang jahat sekali di negara kami.
Yang jahat itu bukan bangsanya, Bibi, melainkan orangnya, pribadinya masing-masing tanpa melihat kebangsaannya.
Memang sudah demikian semestinya di dunia ini, Bibi.
Ada yang baik, pasti ada yang buruk, seperti ada terang pasti ada gelap.
Kalau tidak ada baik, tidak ada pula sebutan buruk, sebaliknya kalau tidak ada buruk, juga tidak ada pula sebutan baik.
Kalau terang terus, tentu tidak ada gelap, dan kalau gelap terus, juga tidak ada terang.
Baik buruk itu saling mengadakan, dan kita manusia berhak untuk memilih, kalau memilih menjadi alat Thian (Tuhan) tentu prilakunya baik, sebaliknya, kalau memilih menjadi alat Setan, tentu prilakunya buruk atau jahat."
Nyi Lasmi memandang kagum.
"Pendapat seperti itu keluar dari pikiran Nak Kim Lan ini? Semuda ini telah memiliki kebijaksanaan seperti itu, sungguh mengagumkan sekali!"
"Aih, Bibi, aku juga hanya mendengar dari apa yang diajarkan guruku, dan guruku itu seorang pendeta Buddha."
Kata Kim Lan yang sudah pandai menangkap arti ucapan bahasa daerah, akan tetapi kalau harus bicara yang panjang-panjang ia masih merasa kaku.
Karena itu tadi ia minta kakaknya yang bicara karena kakaknya yang sudah tujuh tahun berada di Nusa Jawa tentu saja lebih fasih bicara bahasa daerah.
"Engkau murid seorang pendeta Buddha? Ah, di sini juga banyak pendeta Buddha dan pendeta Hindu. Akan tetapi sungguh menyedihkan, aku melihat banyak pendeta Buddha atau Hindu masih saja melakukan perbuatan yang buruk dan jahat."
Sekarang Ki Tejoranu sendiri yang menjawab langsung.
"Keadaan seperti itu pun sama saja, Terjadi di Cina, Negara kami, Bibi. Kalau di sini terdapat Agama Buddha dan Agama Hindu, di Cina terdapat Agama Buddha dan Agama To. Di sana juga terdapat banyak para pemeluk kedua agama itu, bahkan juga Pendeta Buddha atau Pendeta To berprilaku sesat dan jahat! Kembali di sini bukan agamanya yang salah. Agama apa pun mengajarkan manusia untuk menjadi baik, saling tolong dan membangun dunia ini menjadi tempat yang indah tenteram penuh kedamaian dan kebahagiaan. Jadi yang jahat itu manusianya, oknumnya dan hal itu dapat terjadi kepada orang itu karena dia tidak menghayati agamanya, tidak menghormati agamanya, bahkan mencemarkan agamanya."
"Guruku pernah berkata kepadaku, Bibi,"
Kim Lan menyambung dengan ucapan yang cadel (pelo) akan tetapi cukup jelas.
"Katanya, kalau ada seorang beragama Buddha melakukan pencurian, maka sesungguhnya dia itu bukan umat Buddha, melainkan maling yang mengaku-aku sebagai umat Buddha. Kalau ada orang beragama To melakukan kejahatan maka sesungguhnya dia bukan umat Agama To, melainkan seorang penjahat yang mengaku-aku beragama To. Kalau dua orang itu benar-benar beragama Buddha, maupun Agama To atau agama apa pun juga, sudah pasti dia tidak melakukan kejahatan karena agamanya melarangnya melakukan kejahatan."
Nyi Lasmi mendengarkan dengan kagum.
"Wah, mendengar kalian bicara, aku teringat akan puteriku. Anakku Puspa Dewi selain digdaya juga seringkali bicara tentang kehidupan dan kebenaran seperti itu."
"Aih, puteri Bibi juga seorang pendekar rupanya!"
Seru Kim Lan.
"Aku tahu bahwa di sini. seperti juga di Cina sana, terdapat banyak wanita yang sakti mandraguna dan gagah perkasa. Kalau begitu, bagaimana Bibi dapat ditawan penjahat? Apakah puteri Bibi tidak mampu mengalahkan mereka tadi?"
Tanya Ki Tejoranu.
"Hemm, kalau puteriku berada di Karang Tirta ketika para penjahat itu menyerbu, tentu mereka semua sudah roboh oleh Puspa Dewi. Sayangnya, ketika itu ia sedang pergi ke kota raja Kahuripan. Akan tetapi kalau ia pulang, tentu ia akan melakukan pengejaran dan mencariku."
Melihat Nyi Lasmi masih tampak lemas, The Kim Lan lalu berkata.
"Bibi Lasmi, sebaiknya Bibi mengaso dulu untuk memulihkan kekuatan tubuh Bibi. Maafkan kami, karena kami kakak beradik baru saling bertemu setelah berpisah selama tujuh tahun, sekarang ingin sekali kami membicarakan urusan pribadi kami."
Nyi Lasmi tersenyum dan mengangguk, lalu duduk bersandar pada sebatang pohon sambil memejamkan matanya.
Hatinya yang kembali tenang, kelelahan, kantuk karena selama beberapa malam tidak dapat tidur, membuat ia sebentar saja tertidur.
Ki Tejoranu mengajak adiknya duduk agak menjauh dari Nyi Lasmi agar tidak mengganggu wanita yang sedang pulas itu.
Ki Tejoranu lalu menceritakan semua pengalamannya sejak dia terpaksa melarikan diri menjadi buronan dari pengejaran para jagoan yang dikirim Bangsawan Bong untuk membalas dendam atas kematian puteranya, Bong Kongcu di tangannya.
Dia menceritakan pula bahwa dia nyaris tewas di tangan gurunya sendiri, Pek I Kiam-sian (Dewa Pedang Baju Putih), Souw Kiat dan kedua orang paman gurunya bernama Gan Hok dan Giam Lun.
"Masih baik nasibku, karena Thian (Tuhan) masih melindungiku sehingga dalam keadaan terluka parah itu muncul Gusti Patih Narotama yang sakti sehingga aku dapat diobatinya sampai pulih kembali tenagaku."
Dia menceritakan peristiwa itu dan Kim Lan mendengarkan dengan kagum. Setelah kakaknya berhenti bercerita, ia berseru kagum.
"Wah, hebat sekali Ki Patih Narotama itu, Lan-ko (Kakak Lan)! Kalau tidak ada dia, belum tentu hari ini aku dapat bertemu denganmu. Aku ingin sekali berjumpa dengan Ki Patih Narotama untuk menyampaikan sendiri terima kasihku."
"Hal itu mudah dilakukan, Adikku. Gusti Patih Narotama telah menerima aku sebagai seorang sahabat dan kalau kita pergi ke kota raja Kahuripan dan menghadapnya, tentu kita akan diterima dengan baik. Sekarang, ceritakan pengalamanmu sejak kita saling berpisah sampai hari ini kita bertemu di sini, Kim Lan."
Gadis itu lalu bercerita.
Ketika rumah orang tua mereka diserbu orang-orangnya Bangsawan Bong dan ayah ibu mereka terbunuh, Kim Lan yang ketika itu berusia dua belas tahun melarikan diri dari pintu belakang dengan ketakutan.
Ketika akhirnya ia dapat keluar dari dusun dan tiba di jalan dekat hutan, tiba-tiba ia melihat ada seorang laki-laki tinggi besar lari mengejarnya.
Kim Lan menjadi ketakutan dan lari semakin kencang, akan tetapi sebentar saja laki-laki itu, seorang di antara para jagoan yang menyerbu rumahnya, dapat menangkapnya.
Kim Lan meronta-ronta, namun ia tidak berdaya dan laki-laki itu sambil tertawa-tawa memondongnya sambil memuji kecantikan gadis cilik itu dengan kurang ajar.
Tiba-tiba muncul seorang hwesio (pendeta Buddha) yang kepalanya gundul, berjubah longgar dan memegang sebatang tongkat pendeta.
Menghadang di depan jagoan itu sambil minta agar penjahat itu melepaskan Kim Lan.
Penjahat itu marah dan menyerangnya dengan golok, akan tetapi dengan mudah hwesio tua itu merobohkan si jagoan yang lari terbirit-birit meninggalkan Kim Lan.
Hwesio itu adalah Ho Kong Hwesio, seorang tokoh Siauwlim-pai yang tinggi ilmunya.
Dia menolong Kim Lan dan selanjutnya Kim Lan menjadi muridnya.
Setelah berusia sembilan belas tahun.
Kim Lan tamat belajar.
Ia segera pergi ke kota raja Nanking untuk mencari keterangan di mana adanya kakaknya, yaitu The Jiauw Lan yang kini bernama Ki Tejoranu.
Ia mendengar bahwa kakaknya telah menjadi buronan karena membunuh Bong Kongcu.
Juga ia mendengar akan nasib tunangan kakaknya, yaitu Mei Hwa, yang dipaksa menjadi selir Bangsawan Bong.
Ia mendengar betapa tunangan kakaknya itu membunuh diri tak lama setelah dipaksa menjadi selir Bangsawan Bong.
Kim Lan menjadi marah dan pada suatu malam, ia berhasil memasuki gedung keluarga Bangsawan Bong dan membunuh pembesar itu.
Kota raja menjadi gempar dan Kim Lan melarikan diri.
Ketika ia mendengar bahwa kakaknya melarikan diri ke Nusa Jawa ia lalu menumpang perahu dagang yang berlayar ke selatan dan tiba di Nusa Jawa.
Ia merantau dan mencari kakaknya, bertanya-tanya kepada orang-orang Cina yang dijumpainya kalau kalau ada yang bertemu dengan kakaknya.
Juga ia pesan kepada mereka bahwa kalau mereka bertemu dengan kakaknya itu, agar diberitahu bahwa ia telah berada di Tanah Jawa dan untuk sementara tinggal di sekitar kaki Gunung Kawi.
"Demikianlah, Lan-ko. Tadi aku melihat Bibi Lasmi ini dibawa dengan paksa oleh gerombolan orang itu, maka aku lalu turun tangan menolongnya. Sungguh membahagiakan sekali melihat engkau muncul, Lan-ko!"
Ki Tejoranu menghela napas panjang.
"Terima kasih kepada Thian (Tuhan) bahwa kita berdua dapat bertemu dalam keadaan selamat, Adikku. Siapa mengira bahwa kita berdua telah kehilangan ayah ibu dan kini berada di Tanah Jawa, jauh sekali dari tanah air kita? Kita tidak berani pulang karena pasti ada banyak orang akan membunuh kita, terutama sekali setelah engkau menewaskan Pembesar Bong. Pemerintah tentu menganggap kita berdua orang-orang jahat yang harus dihukum. Semua ini gara-gara keluarga Bong yang jahat itu!"
"Sudahlah, tidak perlu kita sesali nasib. Lan-Ko. Bagaimana pun juga, kita sudah membalas sakit hati kita, engkau sudah membunuh Bong Kongcu, dan aku sudah membunuh Pembesar Bong. Berarti kematian ayah ibu dan kematian Enci Mei Hwa telah terbalas."
Kakak dan adik ini bercakap-cakap melepaskan kerinduan hati mereka dan setelah Nyi Lasmi terbangun dari tidurnya, barulah mereka berdua menghampirinya.
"Bibi Lasmi, bagaimana sekarang keadaan badanmu?"
Tanya Kim Lan. Nyi Lasmi kini dapat tersenyum dan ia berkata.
"Wah, badanku terasa segar dan kuat kembali, Kim Lan. Terima kasih atas pertolongan kalian kakak beradik yang berbudi baik!"
"Bibi, mari kami antar bibi pulang ke Karang Tirta. Kita harus dapat sampai di sebuah dusun sebelum gelap."
Kata Ki Tejoranu.
Saat itu sudah menjelang sore dan semua kuda sudah dibawa gerombolan tadi dan ada yang melarikan diri ketika terjadi perkelahian sehingga mereka terpaksa berjalan kaki menuju dusun terdekat di mana mereka dapat melewatkan malam dengan mondok di rumah keluarga petani.
Pada suatu pagi yang cerah, Nyi Lasmi, Ki Tejoranu, dan The Kim Lan berjalan santai menuju ke selatan.
Perjalanan sore itu lambat sekali karena selain mereka berjalan kaki, juga Nyi Lasmi adalah seorang wanita lemah.
Andaikata Ki Tejoranu melakukan perjalanan berdua dengan Kim Lan, tentu mereka dapat menggunakan kepandaian mereka untuk berlari cepat.
Telah dua malam mereka menginap di dusun-dusun yang mereka lewati dan pagi ini, mereka berjalan dan tiba di jalan umum di luar dusun yang sepi.
Di kanan kiri jalan berbatu-batu itu terdapat hamparan tanah persawahan yang kering kerontang karena waktu itu adalah musim kemarau.
Tanah yang luas itu retak-retak dan tidak dapat ditanami.
Para petani tidak dapat menggarap sawah, menanti datangnya hujan.
Daerah itu jauh dari sungai, maka mereka hanya mengharapkan air hujan untuk mengairi tanah persawahan mereka.
Biarpun matahari masih muda, namun panasnya sudah menyengat badan dan memancing keluarnya keringat.
Terutama sekali Nyi Lasmi merasa lelah setelah melakukah perjalanan selama dua hari itu, walaupun seringkali mereka terpaksa mengaso karena kelemahan dan kelelahan Nyi Lasmi.
Mereka melangkah santai, tidak bercakap-cakap.
Agaknya bahan percakapan mereka telah habis dibicarakan selama dua hari itu.
Mereka termenung, agaknya tenggelam ke dalam kenangan mereka masing-masing.
Tiba-tiba Ki Tejoranu dan The Kim Lan memandang jauh ke depan dengan alis berkerut.
Mereka berdua dapat mendengar derap kaki banyak kuda walaupun belum dapat melihat mereka karena jalan di depan itu membelok ke kanan dan pandang mata terhalang pepohonan.
"Hati-hati!"
Kata Ki Tejoranu kepada adiknya dalam bahasa Cina.
"Aku siap!"
Jawab Kim Lan. Mereka lalu mengajak Nyi Lasmi berhenti di bawah sebatang pohon trembesi.
"Bibi Lasmi, duduklah di sini. Kita mengaso."
Kata Kim Lan.
"Apa yang terjadi?"
Tanya Nyi Lasmi yang dapat melihat ketegangan pada wajah kakak beradik itu.
"Bibi duduk saja di sini. Ada serombongan orang berkuda lewat. Mudah-mudahan bukan orang jahat."
Kata Ki Tejoranu, lalu dia bersama adiknya berdiri di tepi jalan, di depan Nyi Lasmi untuk melindungi wanita itu.
Rombongan itu muncul di jalan tikungan.
Mereka terdiri dari belasan orang dan kakak beradik itu segera mengetahui bahwa mereka adalah musuh ketika melihat bahwa dua orang pimpinan gerombolan yang membawa Nyi Lasmi tadi berada di antara mereka.
Namun kakak beradik ini tidak menjadi gentar dan mereka siap siaga menghadapi segala kemungkinan.
Memang, dua orang warok dari Kerajaan Wengker, Ki Wirobento dan Wirobandrek, berada di antara orang-orang itu.
Ketika mereka dikalahkan Ki Tejoranu dan Kim Lan, dua orang ini segera pergi ke Kerajaan Wura-wuri yang sudah tidak jauh lagi dan segera menyerahkan surat yang ditulis Adipati Linggawijaya kepada Adipati Wura-wuri, dan menceritakan bahwa Nyi Lasmi, ibu kandung Puspa Dewi, dirampas oleh seorang pemuda dan seorang gadis Cina.
Mendengar ini, Nyi Dewi Durgakumala, permaisuri Wurawuri guru Puspa Dewi itu menjadi marah.
Ia ingin sekali dapat menangkap Puspa Dewi, muridnya yang berkhianat terhadap Wura-wuri, akan tetapi maklum betapa sukarnya menangkap gadis perkasa itu.
Kalau ibu kandungnya dapat ditangkap, tentu gadis itu akan menyerahkan diri.
Maka, Adipati Bhismaprabhawa dan permaisurinya, Nyi Dewi Durgakumala segera mengutus Tri Kala yaitu Kala Muka, Kala Manik, dan Kala Teja, diperkuat lagi dengan Ki Gandarwo yang sakti, membantu rombongan utusan Kerajaan Wengker itu untuk menangkap kembali Nyi Lasmi.
Rombongan itu berhenti di depan Ki Tejoranu dan Kim Lan.
Ki Wirobento yang tinggi besar itu dengan suara parau menuding ke arah kakak beradik itu.
"Mereka inilah jahanam yang merampas tawanan kami dan yang duduk di bawah pohon itulah Nyi Lasmi yang harus kami antarkan ke Wura-wuri!"
Ki Gandarwo melompat dari atas kuda, diikuti yang lain.
Beberapa orang anak buah mereka lalu membawa kuda itu menjauh agar binatang-binatang itu tidak menjadi ketakutan dan kabur.
Dengan lagak gagah Ki Gandarwo melangkah maju memandang Ki Tejoranu dan Kim Lan, lalu membentak dengan suara nyaring berwibawa.
"Siapakah kalian berdua yang berani mati merampas Nyi Lasmi yang menjadi tawanan kami?"
Ki Tejoranu memandang orang itu penuh perhatian.
Seorang pria muda yang gagah dan tampan, berpakaian mewah, di pinggangnya tergantung sebatang pedang dan tubuhnya tegap.
Usianya sekitar dua puluh delapan tahun.
"Namaku Tejoranu dan ini adikku bernama The Kim Lan!"
"Hemm, engkau seorang Cina?"
Ki Gandarwo bertanya.
"Benar, aku berasal dari Negeri Cina."
"Mengapa kalian orang-orang Cina berani merampas tawanan kami?"
"Kami melihat seorang wanita dipaksa dan di luar kehendaknya dibawa rombongan dari Wengker. Melihat hal yang sewenang-wenang ini, tentu saja kami harus menolongnya. Kalianlah yang merampas kemerdekaan orang."
"Keparat! Kalian mencampuri urusan keluarga orang lain!"
Ki Gandarwo membentak dan belasan orang itu mulai mengepung. Melihat betapa kakak beradik yang menolongnya itu terancam pengeroyokan, Nyi Lasmi bangkit berdiri dan berkata kepada mereka.
"Ki Tejoranu dan Kim Lan, pergilah kalian dari sini dan jangan mencampuri urusan ini. Biarkan mereka menawanku, aku akan menghadapi mereka. Jangan kalian berdua mengorbankan nyawa untukku!"
Mendengar ucapan Nyi Lasmi, Ki Tejoranu dan Kim Lan menjadi semakin bersemangat.
Wanita yang lemah itu ternyata memiliki watak yang gagah!
"Jangan khawatir, Bibi Lasmi.
Kami akan menghajar orang-orang jahat yang sewenang-wenang ini!"
Kata Kim Lan.
Ki Gandarwo, senopati muda Wura-wuri itu adalah seorang mata keranjang.
Diam-diam dia telah menjadi kekasih gelap Sang Permaisuri Wura-wuri, Nyi Dewi Durgakumala sehingga memiliki kekuasaan besar di Wura-wuri.
Kini, melihat Kim Lan, timbul berahinya.
Banyak sudah dia mendapatkan wanita-wanita cantik, akan tetapi belum pernah dia bertemu dengan seorang gadis Cina yang cantik seperti Kim Lan ini.
Maka, timbul keinginan hatinya untuk menangkap gadis itu dan dijadikan kekasihnya.
Melihat gadis itu bersikap gagah, dia semakin kagum.
Dia memberi aba-aba kepada kawan-kawannya.
"Tangkap atau bunuh saja pemuda Cina itu! Gadis ini aku yang tangkap!"
Setelah berkata demikian, Ki Gandarwo lalu menerjang ke arah Kim Lan, kedua lengannya yang kekar itu dikembangkan lalu kedua tangannya menyambar untuk menangkap gadis itu dari kanan kiri.
Tentu saja dia memandang ringan Kim Lan karena dia adalah orang terkuat di Wura-wuri, tentu saja di bawah Nyi Dewi Durgakumala yang sakti mandra-guna.
"Wuuussss...!"
Ki Gandarwo terkejut karena kalau tadi tampaknya gadis itu tidak akan mampu menghindarkan diri dari kedua tangannya yang menyambar dari kanan kiri, tiba-tiba saja gadis itu melesat bagaikan bayang-bayang dan dia menangkap angin belaka!
Melihat bayangan gadis itu berkelebat ke sebelah kirinya, dia menubruk lagi ke kiri.
Sekali ini Kim Lan menggunakan kedua tangannya untuk menangkis dari samping.
"Dukkk...!!"
Ki Gandarwo semakin terkejut.
Tangkisan itu membuat kedua lengannya terasa tergetar hebat!
Kiranya gadis ini benar-benar kuat dan memiliki kedigdayaan!
Pantas saja dua orang warok dari Wengker itu dan anak buah mereka tidak mampu mengalahkannya.
"Haaaiiittt!"
Kini Ki Gandarwo tidak memandang ringan lagi dan dia tahu bahwa kalau dia ingin menang, dia harus menyerang sungguh-sungguh.
Mengikuti bentakannya itu, tangan kirinya mencengkeram ke arah muka Kim Lan dan tangan kanannya menyusul dengan pukulan ke arah perut!
Serangan ini hebat sekali karena dilakukan dengan pengerahan tenaga yang amat kuat.
Kim Lan mengenal serangan maut yang berbahaya, ia mengandalkan kelincahan gerakannya untuk memutar ke kiri mengelak cengkeraman ke arah mukanya dan dari samping tangannya membuat gerakan setengah lingkaran menangkis pukulan ke arah parutnya.
"Plakk!"
Begitu tangan Ki Gandarwo tertangkis, Kim Lan mundur dua langkah lalu kaki kirinya mencuat dengan cepat menendang ke arah perut lawan.
"Plakk...!"
Biarpun Ki Gandarwo sudah mengelak dan miringkan tubuhnya, tetap saja kaki kecil gadis itu menyerempet pinggulnya sehingga dia terhuyung walaupun tidak terluka!
Marahlah Ki Gandarwo.
Dia mencabut pedangnya dan dua orang anak buah membantunya mengeroyok Kim Lan.
Kim Lan mencabut pedangnya dan ia segera memutar pedangnya menyambut serangan tiga orang pengeroyoknya.
Biarpun Ki Gandarwo merupakan lawan tangguh dan dua orang yang membantunya juga bukan orang lemah, namun Kim Lan yang memiliki gerakan yang gesit sekali itu dapat mengimbangi serangan mereka dengan serangan balasan yang tidak kalah dahsyatnya sehingga terjadilah perkelahian yang seru.
Sementara itu, Tri Kala juga sudah menerjang dan mengeroyok Ki Tejoranu.
Melihat tiga orang senopati Wura-wuri ini menerjang dengan senjata mereka, Kala Muka menggunakan keris, Kala Manik menggunakan klewang dan Kala Teja menggunakan ruyung dan gerakan mereka cukup hebat, Ki Tejoranu cepat mencabut sepasang goloknya dan dia pun melawan mati-matian!
Kakak beradik itu masing-masing dikeroyok tiga orang yang tangguh.
Pertempuran itu berjalan seru dan ketika dua orang senopati Wengker, yaitu Wirobento dan Wirobandrek melihat betapa sampai puluhan jurus teman-temannya belum juga mampu merobohkan dua orang Itu, mereka segera memnberi isyarat kepada anak buah mereka untuk maju mengeroyok.
Lima orang anak buah menerjang Ki Tejoranu dan lima orang lagi mengeroyok Kim Lan sehingga kini dua orang kakak beradik itu masing-masing menghadapi pengeroyokan delapan orang!
Tentu saja mereka berdua menjadi kerepotan dan terkepung ketat.
"Kita larikan Nyi Lasmi ke Wurawuri!"
Kata Wirobento kepada Wirobandrek.
Melihat dua orang kakak beradik itu terkepung ketat sehingga tidak mungkin lagi melindungi Nyi Lasmi yang berdiri dengan muka pucat, mengkhawatirkan keselamatan dua orang penolongnya, dua orang senopati Wengker ini segera berloncatan menghampiri dan Nyi Lasmi tidak mampu menghindar ketika Wirobento menangkapnya, memanggul tubuhnya dan melarikan diri dikawal Wirobandrek.
Keduanya lalu menunggang kuda dan melarikan Nyi Lasmi, hendak membawanya ke Wura-wuri untuk diserahkan kepada Adipati Wura-wuri seperti diperintahkan Adipati Linggawijaya.
Belum jauh mereka membalapkan kuda meninggalkan tempat pertempuran, tiba-tiba kuda yang mereka tunggangi berhenti, meringkik dan mengangkat kaki depan ke atas.
Dua orang senopati Wengker itu terkejut dan melihat bahwa ada seorang laki-laki gagah berdiri menghadang di tengah jalan.
Laki-laki itu mengangkat kedua tangannya ke depan seolah mendorong dan ada angin menyambar dan itulah agaknya yang membuat dua ekor kuda itu meringkik seperti ketakutan!
Dua orang itu terpaksa melompat turun dari atas punggung kuda dan Wirobento membawa Nyi Lasmi turun.
Dua ekor kuda itu lalu melarikan diri ketakutan!
Mereka bertiga memandang ke arah pria itu.
Seorang pria yang bertubuh tegap gagah, usianya sekitar tiga puluh tiga tahun, berpakaian dari kain yang indah namun bentuknya sederhana, wajahnya yang tampan itu tersenyum penuh pengertian dan sepasang matanya mengeluarkan sinar mencorong penuh wibawa.
Begitu melihat pria itu, Nyi Lasmi segera menjatuhkan diri berlutut menghadapnya dan berkata.
"Gusti Patih Narotama..."
Wirobento dan Wirobandrek juga pernah melihat Patih Kahuripan ini dan mereka merasa terkejut bukan main.
Akan tetapi mereka adalah senopati yang tentu saja mengandalkan kesaktian sendiri.
Walaupun mereka sudah mendengar akan kesaktian Ki Patih Narotama, mereka belum pernah bertanding melawannya, maka mereka segera melangkah maju dan tanpa banyak cakap lagi mereka sudah menyerang Ki Patih Narotama.
Wirobento menyerang dengan pecutnya yang berujung besi, sedangkan Wirobandrek menyerang dengan sepasang kolor merahnya.
Ki Patih Narotama melompat ke belakang sehingga serangan mereka luput.
"Tahan! Siapakah Andika berdua dan siapa pula wanita itu? Mengapa Andika berdua melarikannya?"
"Andika Ki Patih Narotama? Harap jangan mencampuri urusan kami! Ini adalah urusan keluarga Gusti Permaisuri Wura-wuri, dan ingatlah, Ki Patih Narotama. Kehadiranmu di sini sudah merupakan pelanggaran wilayah Wura-wuri!"
"Hemm, siapa pun adanya Andika berdua, dan di mana pun aku berada, kalau aku melihat dua orang laki-laki bertindak kasar memaksa seorang wanita lemah ikut pergi di luar kehendaknya, aku pasti tidak akan tinggal diam dan menentangnya. Bebaskan wanita ini dan pergilah kalian. Aku tidak ingin berurusan dengan kalian!"
"Keparat, Ki Patih Narotama. Dalam suasana tidak ada perang Andika mengacau di sini. Ketahuilah, kami adalah Senopati Wirobento dan Wirobandrek dari Kerajaan Wengker. Kami melaksanakan perintah Kanjeng Adipati Wengker untuk mengantarkan wanita ini ke Wura-wuri dan menyerahkannya kepada Kanjeng Adipati Wura-wuri dan Gusti Permaisuri. Maka, harap Andika mundur dan jangan mencampuri urusan ini!"
Ki Patih Narotama lalu bertanya kepada Nyi Lasmi.
"Bibi, Ceritakan, apa yang sesungguhnya terjadi? Jangan takut, aku akan melindungimu."
Nyi Lasmi yang masih berlutut lalu berkata.
"Gusti Patih, Paduka mungkin lupa kepada hamba. Hamba adalah Ibu kandung Puspa Dewi yang tinggal di Karang Tirta menumpang di rumah keluarga Ki Lurah Pujosaputro yang dulu paduka angkat menggantikan Suramenggala."
"Ah, benar. Sekarang aku ingat. Jadi Andika penduduk Karang Tirta. Bagaimana dapat dibawa dua orang senopati Wengker ini?"
"Aduh, ketiwasan (celaka), Gusti. Gerombolan jahat dari Wengker, utusan Suramenggala, telah..."
Tiba-tiba Wirobento dan Wirobandrek menggereng dan keduanya sudah menubruk ke arah Nyi Lasmi untuk membunuh wanita itu.
Akan tetapi tiba-tiba tubuh Ki Patih Narotama berkelebat dan menyambut terjangan dua orang itu.
"Werrr... des! Desss...!!"
Dua orang senopati Wengker itu terpental dan roboh terbanting sampai terguling-guling saking kuatnya tangkisan Ki Patih Narotama yang mengandung angina sekuat badai menerpa mereka!
Biarpun tidak terluka karena memang Ki Patih Narotama tidak berniat membunuh mereka, dua orang senopati itu terkejut bukan main dan maklum bahwa mereka sama sekali bukan tandingan ki patih yang sakti mandraguna itu, mereka segera bangkit dan melarikan diri.
Ki Patih Narotama menghampiri Nyi Lasmi.
"Bibi, sekarang ceritakan semua apa yang telah terjadi."
"Ampun, Gusti.... hamba mohon sudilah kiranya Paduka menolong dua orang yang membela hamba dan sekarang dikeroyok banyak orang. Hamba khawatir..."
"Hemm, di mana mereka?"
"Di sana, Gusti!"
Nyi Lasmi menuding ke arah tempat perkelahian tadi.
"Hamba takut terlambat, Gusti. Yang mengeroyok banyak sekali...!"
"Mari kita ke sana!"
Ki Patih Narotama memegang lengan Nyi Lasmi dan wanita itu menahan jeritnya ketika merasa betapa tubuhnya terbawa seolah terbang cepatnya.
Kedua kakinya tidak menyentuh tanah.
Sebentar saja mereka sudah tiba di tempat perkelahian itu dan Ki Patih Narotama melihat betapa seorang laki-laki tinggi kurus bermuka pucat kuning menggunakan sepasang golok mengamuk, dikeroyok delapan orang!
Dan tak jauh dari situ, tampak seorang gadis Cina dengan gagahnya melawan delapan orang pengeroyok lain.
Baca Juga: Kisah Para Pendekar Pulau Es 15
Baca Juga: Kisah Para Pendekar Pulau Es 5